Sifat ‘Ibadurrahman (Bag. 5): Menjauhi Majelis Kebatilan, Mengagungkan Firman Allah, dan Perhatian dalam Berdoa

Daftar Isi ToggleMenjauhi majelis yang isinya kebatilan dan kemungkaranMengagungkan firman Allah dan mengamalkannyaPerhatian dalam berdoa dan merendahkan diri di hadapan AllahMenjauhi majelis yang isinya kebatilan dan kemungkaranAllah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَٱلَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ ٱلزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا۟ بِٱللَّغْوِ مَرُّوا۟ كِرَامًا“Dan orang-orang yang tidak menghadiri (memberikan) persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka melaluinya dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)Salah satu akhlak ‘ibadurrahman dan keindahan sifat mereka ialah bahwa mereka selalu menjauhkan diri dari majelis yang dipenuhi kemungkaran, yang isinya hanyalah kebatilan dan ucapan yang Allah larang. Ini sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَٱلَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ ٱلزُّورَ“Dan orang-orang yang tidak menghadiri persaksian palsu, ..” (QS. Al-Furqan: 72)Maksudnya, mereka tidak menghadiri majelisnya, tidak mendatanginya, dan tidak berkumpul bersama para pelakunya.Yang termasuk dalam cakupan ayat tersebut adalah majelis-majelis yang isinya hanya seputar maksiat dan dosa saja, seperti gosip (gibah), adu domba (namimah), mengejek atau merendahkan (kehormatan) orang lain, kedustaan, nyanyian, menampakkan atau mempertontonkan maksiat (terang-terangan), serta hal-hal keji lainnya yang seringkali ditayangkan di televisi, smartphone (HP), dan media lainnya.Termasuk juga dalam ayat di atas adalah majelis-majelis yang menggencarkan atau menyebarkan pemikiran sesat dan menyimpang, kerusakan pemikiran, dan amalan sesat yang biasanya dipopulerkan oleh orang-orang yang sesat dan menyesatkan. Termasuk juga perayaan-perayaan orang-orang musyrik maupun acara khusus mereka. Seorang muslim tidak boleh menghadirinya, apalagi memberi ucapan selamat atau ikut bergembira dengan diadakannya perayaan itu.Maka, semua yang telah disebutkan di atas termasuk dalam maksud ayat tersebut. Oleh karenanya, para ulama salaf menafsirkan makna ‘az-zūr’ dalam berbagai macam ungkapan untuk menjelaskannya.Setelah menyebutkan berbagai macam pendapat mengenai ayat tersebut dari para salaf as-shalih, Al-Hafizh Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah menjelaskan,فأولى الأقوال بالصواب في تأويله أن يُقال: والذين لا يشهدون شيئًا من الباطل؛ لا شركًا، ولا غناءً، ولا كذبًا، ولا غيره، وكلُّ ما لَزِمَه اسمُ الزُّور؛ لأن الله عمَّ في وصفهم إيّاهم أنهم: لا يشهدون الزور“Pendapat yang paling tepat dalam menafsirkannya adalah bahwa yang dimaksudkan (ayat) itu adalah mereka tidak menghadiri sesuatu pun yang di dalamnya ada kebatilan, baik itu kesyirikan, nyanyian, kedustaan, atau semisalnya, serta segala sesuatu yang termasuk dalam makna ‘az-zūr’ (kepalsuan atau kebatilan). Karenanya, Allah menyebut mereka (hamba-hamba Ar-Rahman) dengan sifat tidak menghadiri ‘az-zūr’.” (Lihat Jāmi‘ al-Bayān, 17: 523)Hamba-hamba Ar-Rahman pastinya tidak mungkin menghadiri majelis-majelis tersebut dalam bentuk apa pun, dan yang paling utama ialah mereka tidak ingin terjatuh dalam (melakukan) kebatilan itu sendiri.Pada potongan ayat tersebut, Allah Ta’ala juga berfirman,وَإِذَا مَرُّوا۟ بِٱللَّغْوِ مَرُّوا۟ كِرَامًا“Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka melaluinya dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)Maksudnya, mereka tidak bermaksud mendatanginya dan tidak pula sengaja mendekatinya. Akan tetapi, jika mereka kebetulan (terpaksa) melewati sebuah majelis yang penuh dengan kemungkaran atau kebatilan, maka mereka akan melewatinya dengan menjaga (kehormatan) diri darinya, tidak peduli dengannya, serta menjauhkan diri dari duduk bersama di dalamnya.Mengagungkan firman Allah dan mengamalkannyaAllah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya dalam keadaan tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan: 73)Firman Allah Tabaraka wa Ta’ala sangatlah agung dan mulia di hati ‘Ibadurrahman (hamba-hamba Ar-Rahman). Mereka tidak menolaknya maupun berpaling darinya, tetapi mereka justru mengagungkannya, memuliakannya, mendengarkannya dengan baik, dan mengambil manfaat darinya.Pada firman Allah ‘Azza wa Jalla,لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا“Mereka tidaklah menghadapinya dalam keadaan tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan: 73)Maksudnya, pada saat mereka mendengarkan firman Allah, mereka tidak bersikap sebagaimana orang tuli yang tidak bisa mendengar, maupun orang buta yang tidak bisa melihat. Sebaliknya, mereka mendengarkan dengan baik (sungguh-sungguh), mengambil pelajaran (manfaat), lalu mengamalkan hukum dan petunjuk-Nya.Qatadah bin Di‘amah rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini,لَمْ يَصِمُّوا عَنِ الحَقِّ، ولَمْ يَعْمَوا فِيهِ، هُم قَومٌ عَقَلوا عن الله، فانتفعوا بما سَمِعوا من كتابِ الله“Mereka tidak menutup telinga dari kebenaran dan tidak berpura-pura buta terhadapnya. Mereka adalah orang-orang yang mau memahami ajaran Allah, sehingga bisa mengambil manfaat dari apa yang mereka dengar dalam Kitab-Nya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dalam Tafsir-nya, 8: 2740)Allah ‘Azza wa Jalla mencela orang-orang yang bersikap menyombongkan diri terhadap ayat-ayat Allah dan petunjuk-Nya. Kesombongan tersebut akan menyeretnya kepada dosa sehingga ia terus-menerus berada dalam kebatilan. Allah mengancamnya dengan azab neraka Jahanam. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُ ٱتَّقِ ٱللَّهَ أَخَذَتْهُ ٱلْعِزَّةُ بِٱلْإِثْمِ ۚ فَحَسْبُهُۥ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئْسَ ٱلْمِهَادُ“Dan apabila dikatakan kepadanya, ‘Bertakwalah kepada Allah’, kesombongan dirinya mendorongnya terus berbuat dosa. Maka cukuplah (balasan) baginya neraka Jahanam, dan sungguh, neraka itu seburuk-buruknya tempat tinggal.” (QS. Al-Baqarah: 206)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ أَبْغَضَ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ: اتَّقِ اللهَ، فَيَقُولُ: عَلَيْكَ نَفْسُك“Sesungguhnya ucapan yang paling Allah benci adalah saat seseorang berkata kepada yang lainnya, ‘Bertakwalah kepada Allah’, lalu ia menjawab, ‘Urus saja dirimu sendiri’.” (HR. An-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra no. 10619, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah no. 2598)Perhatian dalam berdoa dan merendahkan diri di hadapan AllahAllah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa’.” (QS. Al-Furqan: 74)Di antara kesempurnaan sifat para hamba Ar-Rahman adalah perhatian mereka terhadap doa. Mereka sangat bergantung kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, berlindung kepada-Nya, kembali kepada-Nya, dan semua kebutuhan serta urusan agama maupun dunia mereka hanya mereka harapkan dari Allah Ta’ala semata, dan tiada sekutu bagi-Nya.Kemudian ketika berdoa, mereka sangat bersemangat dalam berdoa dengan doa-doa yang penuh dengan faidah dan sangat bermanfaat. Misalnya, mereka berdoa,رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)Doa ini termasuk doa yang paling lengkap (faidahnya) dan paling bermanfaat. Di dalamnya terkandung permohonan seorang hamba agar hatinya merasa bahagia (tenang dan nyaman) dengan keluarga yang saleh, yaitu pasangan dan anak-anak yang baik dalam ibadah, akhlak, muamalah, kehidupan, senantiasa berbakti kepada orang tua, dan kebaikan-kebaikan yang lainnya.Kemudian, dalam doa mereka,وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”, mengandung permohonan agar diri mereka terlebih dulu dibenahi dan diperbaiki sehingga bisa menuntun dan menunjukkan kebaikan kepada orang lain.Karena seseorang tidak akan bisa menjadi suri teladan dan pemimpin yang baik bagi orang-orang yang bertakwa, jika dirinya sendiri belum meneladani orang-orang bertakwa sebelum dirinya. Ia harus terlebih dulu menanamkan kebaikan pada dirinya, berusaha sungguh-sungguh meraih sifat-sifat yang baik dan mulia tersebut. Pada saat itulah, orang-orang yang bertakwa akan bersemangat untuk meneladani dan mengikuti dirinya, serta mengambil manfaat dari bimbingan dan petunjuknya.Oleh karena itu, setiap muslim sepantasnya bersemangat untuk senantiasa mengamalkan dan sering melafalkan doa ini, agar ia memperoleh kebaikan besar yang terkandung di dalamnya.[Selesai]Kembali ke bagian 4 Mulai dari bagian 1***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi:Kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 23–29.

Sifat ‘Ibadurrahman (Bag. 5): Menjauhi Majelis Kebatilan, Mengagungkan Firman Allah, dan Perhatian dalam Berdoa

Daftar Isi ToggleMenjauhi majelis yang isinya kebatilan dan kemungkaranMengagungkan firman Allah dan mengamalkannyaPerhatian dalam berdoa dan merendahkan diri di hadapan AllahMenjauhi majelis yang isinya kebatilan dan kemungkaranAllah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَٱلَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ ٱلزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا۟ بِٱللَّغْوِ مَرُّوا۟ كِرَامًا“Dan orang-orang yang tidak menghadiri (memberikan) persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka melaluinya dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)Salah satu akhlak ‘ibadurrahman dan keindahan sifat mereka ialah bahwa mereka selalu menjauhkan diri dari majelis yang dipenuhi kemungkaran, yang isinya hanyalah kebatilan dan ucapan yang Allah larang. Ini sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَٱلَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ ٱلزُّورَ“Dan orang-orang yang tidak menghadiri persaksian palsu, ..” (QS. Al-Furqan: 72)Maksudnya, mereka tidak menghadiri majelisnya, tidak mendatanginya, dan tidak berkumpul bersama para pelakunya.Yang termasuk dalam cakupan ayat tersebut adalah majelis-majelis yang isinya hanya seputar maksiat dan dosa saja, seperti gosip (gibah), adu domba (namimah), mengejek atau merendahkan (kehormatan) orang lain, kedustaan, nyanyian, menampakkan atau mempertontonkan maksiat (terang-terangan), serta hal-hal keji lainnya yang seringkali ditayangkan di televisi, smartphone (HP), dan media lainnya.Termasuk juga dalam ayat di atas adalah majelis-majelis yang menggencarkan atau menyebarkan pemikiran sesat dan menyimpang, kerusakan pemikiran, dan amalan sesat yang biasanya dipopulerkan oleh orang-orang yang sesat dan menyesatkan. Termasuk juga perayaan-perayaan orang-orang musyrik maupun acara khusus mereka. Seorang muslim tidak boleh menghadirinya, apalagi memberi ucapan selamat atau ikut bergembira dengan diadakannya perayaan itu.Maka, semua yang telah disebutkan di atas termasuk dalam maksud ayat tersebut. Oleh karenanya, para ulama salaf menafsirkan makna ‘az-zūr’ dalam berbagai macam ungkapan untuk menjelaskannya.Setelah menyebutkan berbagai macam pendapat mengenai ayat tersebut dari para salaf as-shalih, Al-Hafizh Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah menjelaskan,فأولى الأقوال بالصواب في تأويله أن يُقال: والذين لا يشهدون شيئًا من الباطل؛ لا شركًا، ولا غناءً، ولا كذبًا، ولا غيره، وكلُّ ما لَزِمَه اسمُ الزُّور؛ لأن الله عمَّ في وصفهم إيّاهم أنهم: لا يشهدون الزور“Pendapat yang paling tepat dalam menafsirkannya adalah bahwa yang dimaksudkan (ayat) itu adalah mereka tidak menghadiri sesuatu pun yang di dalamnya ada kebatilan, baik itu kesyirikan, nyanyian, kedustaan, atau semisalnya, serta segala sesuatu yang termasuk dalam makna ‘az-zūr’ (kepalsuan atau kebatilan). Karenanya, Allah menyebut mereka (hamba-hamba Ar-Rahman) dengan sifat tidak menghadiri ‘az-zūr’.” (Lihat Jāmi‘ al-Bayān, 17: 523)Hamba-hamba Ar-Rahman pastinya tidak mungkin menghadiri majelis-majelis tersebut dalam bentuk apa pun, dan yang paling utama ialah mereka tidak ingin terjatuh dalam (melakukan) kebatilan itu sendiri.Pada potongan ayat tersebut, Allah Ta’ala juga berfirman,وَإِذَا مَرُّوا۟ بِٱللَّغْوِ مَرُّوا۟ كِرَامًا“Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka melaluinya dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)Maksudnya, mereka tidak bermaksud mendatanginya dan tidak pula sengaja mendekatinya. Akan tetapi, jika mereka kebetulan (terpaksa) melewati sebuah majelis yang penuh dengan kemungkaran atau kebatilan, maka mereka akan melewatinya dengan menjaga (kehormatan) diri darinya, tidak peduli dengannya, serta menjauhkan diri dari duduk bersama di dalamnya.Mengagungkan firman Allah dan mengamalkannyaAllah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya dalam keadaan tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan: 73)Firman Allah Tabaraka wa Ta’ala sangatlah agung dan mulia di hati ‘Ibadurrahman (hamba-hamba Ar-Rahman). Mereka tidak menolaknya maupun berpaling darinya, tetapi mereka justru mengagungkannya, memuliakannya, mendengarkannya dengan baik, dan mengambil manfaat darinya.Pada firman Allah ‘Azza wa Jalla,لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا“Mereka tidaklah menghadapinya dalam keadaan tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan: 73)Maksudnya, pada saat mereka mendengarkan firman Allah, mereka tidak bersikap sebagaimana orang tuli yang tidak bisa mendengar, maupun orang buta yang tidak bisa melihat. Sebaliknya, mereka mendengarkan dengan baik (sungguh-sungguh), mengambil pelajaran (manfaat), lalu mengamalkan hukum dan petunjuk-Nya.Qatadah bin Di‘amah rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini,لَمْ يَصِمُّوا عَنِ الحَقِّ، ولَمْ يَعْمَوا فِيهِ، هُم قَومٌ عَقَلوا عن الله، فانتفعوا بما سَمِعوا من كتابِ الله“Mereka tidak menutup telinga dari kebenaran dan tidak berpura-pura buta terhadapnya. Mereka adalah orang-orang yang mau memahami ajaran Allah, sehingga bisa mengambil manfaat dari apa yang mereka dengar dalam Kitab-Nya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dalam Tafsir-nya, 8: 2740)Allah ‘Azza wa Jalla mencela orang-orang yang bersikap menyombongkan diri terhadap ayat-ayat Allah dan petunjuk-Nya. Kesombongan tersebut akan menyeretnya kepada dosa sehingga ia terus-menerus berada dalam kebatilan. Allah mengancamnya dengan azab neraka Jahanam. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُ ٱتَّقِ ٱللَّهَ أَخَذَتْهُ ٱلْعِزَّةُ بِٱلْإِثْمِ ۚ فَحَسْبُهُۥ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئْسَ ٱلْمِهَادُ“Dan apabila dikatakan kepadanya, ‘Bertakwalah kepada Allah’, kesombongan dirinya mendorongnya terus berbuat dosa. Maka cukuplah (balasan) baginya neraka Jahanam, dan sungguh, neraka itu seburuk-buruknya tempat tinggal.” (QS. Al-Baqarah: 206)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ أَبْغَضَ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ: اتَّقِ اللهَ، فَيَقُولُ: عَلَيْكَ نَفْسُك“Sesungguhnya ucapan yang paling Allah benci adalah saat seseorang berkata kepada yang lainnya, ‘Bertakwalah kepada Allah’, lalu ia menjawab, ‘Urus saja dirimu sendiri’.” (HR. An-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra no. 10619, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah no. 2598)Perhatian dalam berdoa dan merendahkan diri di hadapan AllahAllah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa’.” (QS. Al-Furqan: 74)Di antara kesempurnaan sifat para hamba Ar-Rahman adalah perhatian mereka terhadap doa. Mereka sangat bergantung kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, berlindung kepada-Nya, kembali kepada-Nya, dan semua kebutuhan serta urusan agama maupun dunia mereka hanya mereka harapkan dari Allah Ta’ala semata, dan tiada sekutu bagi-Nya.Kemudian ketika berdoa, mereka sangat bersemangat dalam berdoa dengan doa-doa yang penuh dengan faidah dan sangat bermanfaat. Misalnya, mereka berdoa,رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)Doa ini termasuk doa yang paling lengkap (faidahnya) dan paling bermanfaat. Di dalamnya terkandung permohonan seorang hamba agar hatinya merasa bahagia (tenang dan nyaman) dengan keluarga yang saleh, yaitu pasangan dan anak-anak yang baik dalam ibadah, akhlak, muamalah, kehidupan, senantiasa berbakti kepada orang tua, dan kebaikan-kebaikan yang lainnya.Kemudian, dalam doa mereka,وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”, mengandung permohonan agar diri mereka terlebih dulu dibenahi dan diperbaiki sehingga bisa menuntun dan menunjukkan kebaikan kepada orang lain.Karena seseorang tidak akan bisa menjadi suri teladan dan pemimpin yang baik bagi orang-orang yang bertakwa, jika dirinya sendiri belum meneladani orang-orang bertakwa sebelum dirinya. Ia harus terlebih dulu menanamkan kebaikan pada dirinya, berusaha sungguh-sungguh meraih sifat-sifat yang baik dan mulia tersebut. Pada saat itulah, orang-orang yang bertakwa akan bersemangat untuk meneladani dan mengikuti dirinya, serta mengambil manfaat dari bimbingan dan petunjuknya.Oleh karena itu, setiap muslim sepantasnya bersemangat untuk senantiasa mengamalkan dan sering melafalkan doa ini, agar ia memperoleh kebaikan besar yang terkandung di dalamnya.[Selesai]Kembali ke bagian 4 Mulai dari bagian 1***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi:Kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 23–29.
Daftar Isi ToggleMenjauhi majelis yang isinya kebatilan dan kemungkaranMengagungkan firman Allah dan mengamalkannyaPerhatian dalam berdoa dan merendahkan diri di hadapan AllahMenjauhi majelis yang isinya kebatilan dan kemungkaranAllah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَٱلَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ ٱلزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا۟ بِٱللَّغْوِ مَرُّوا۟ كِرَامًا“Dan orang-orang yang tidak menghadiri (memberikan) persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka melaluinya dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)Salah satu akhlak ‘ibadurrahman dan keindahan sifat mereka ialah bahwa mereka selalu menjauhkan diri dari majelis yang dipenuhi kemungkaran, yang isinya hanyalah kebatilan dan ucapan yang Allah larang. Ini sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَٱلَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ ٱلزُّورَ“Dan orang-orang yang tidak menghadiri persaksian palsu, ..” (QS. Al-Furqan: 72)Maksudnya, mereka tidak menghadiri majelisnya, tidak mendatanginya, dan tidak berkumpul bersama para pelakunya.Yang termasuk dalam cakupan ayat tersebut adalah majelis-majelis yang isinya hanya seputar maksiat dan dosa saja, seperti gosip (gibah), adu domba (namimah), mengejek atau merendahkan (kehormatan) orang lain, kedustaan, nyanyian, menampakkan atau mempertontonkan maksiat (terang-terangan), serta hal-hal keji lainnya yang seringkali ditayangkan di televisi, smartphone (HP), dan media lainnya.Termasuk juga dalam ayat di atas adalah majelis-majelis yang menggencarkan atau menyebarkan pemikiran sesat dan menyimpang, kerusakan pemikiran, dan amalan sesat yang biasanya dipopulerkan oleh orang-orang yang sesat dan menyesatkan. Termasuk juga perayaan-perayaan orang-orang musyrik maupun acara khusus mereka. Seorang muslim tidak boleh menghadirinya, apalagi memberi ucapan selamat atau ikut bergembira dengan diadakannya perayaan itu.Maka, semua yang telah disebutkan di atas termasuk dalam maksud ayat tersebut. Oleh karenanya, para ulama salaf menafsirkan makna ‘az-zūr’ dalam berbagai macam ungkapan untuk menjelaskannya.Setelah menyebutkan berbagai macam pendapat mengenai ayat tersebut dari para salaf as-shalih, Al-Hafizh Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah menjelaskan,فأولى الأقوال بالصواب في تأويله أن يُقال: والذين لا يشهدون شيئًا من الباطل؛ لا شركًا، ولا غناءً، ولا كذبًا، ولا غيره، وكلُّ ما لَزِمَه اسمُ الزُّور؛ لأن الله عمَّ في وصفهم إيّاهم أنهم: لا يشهدون الزور“Pendapat yang paling tepat dalam menafsirkannya adalah bahwa yang dimaksudkan (ayat) itu adalah mereka tidak menghadiri sesuatu pun yang di dalamnya ada kebatilan, baik itu kesyirikan, nyanyian, kedustaan, atau semisalnya, serta segala sesuatu yang termasuk dalam makna ‘az-zūr’ (kepalsuan atau kebatilan). Karenanya, Allah menyebut mereka (hamba-hamba Ar-Rahman) dengan sifat tidak menghadiri ‘az-zūr’.” (Lihat Jāmi‘ al-Bayān, 17: 523)Hamba-hamba Ar-Rahman pastinya tidak mungkin menghadiri majelis-majelis tersebut dalam bentuk apa pun, dan yang paling utama ialah mereka tidak ingin terjatuh dalam (melakukan) kebatilan itu sendiri.Pada potongan ayat tersebut, Allah Ta’ala juga berfirman,وَإِذَا مَرُّوا۟ بِٱللَّغْوِ مَرُّوا۟ كِرَامًا“Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka melaluinya dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)Maksudnya, mereka tidak bermaksud mendatanginya dan tidak pula sengaja mendekatinya. Akan tetapi, jika mereka kebetulan (terpaksa) melewati sebuah majelis yang penuh dengan kemungkaran atau kebatilan, maka mereka akan melewatinya dengan menjaga (kehormatan) diri darinya, tidak peduli dengannya, serta menjauhkan diri dari duduk bersama di dalamnya.Mengagungkan firman Allah dan mengamalkannyaAllah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya dalam keadaan tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan: 73)Firman Allah Tabaraka wa Ta’ala sangatlah agung dan mulia di hati ‘Ibadurrahman (hamba-hamba Ar-Rahman). Mereka tidak menolaknya maupun berpaling darinya, tetapi mereka justru mengagungkannya, memuliakannya, mendengarkannya dengan baik, dan mengambil manfaat darinya.Pada firman Allah ‘Azza wa Jalla,لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا“Mereka tidaklah menghadapinya dalam keadaan tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan: 73)Maksudnya, pada saat mereka mendengarkan firman Allah, mereka tidak bersikap sebagaimana orang tuli yang tidak bisa mendengar, maupun orang buta yang tidak bisa melihat. Sebaliknya, mereka mendengarkan dengan baik (sungguh-sungguh), mengambil pelajaran (manfaat), lalu mengamalkan hukum dan petunjuk-Nya.Qatadah bin Di‘amah rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini,لَمْ يَصِمُّوا عَنِ الحَقِّ، ولَمْ يَعْمَوا فِيهِ، هُم قَومٌ عَقَلوا عن الله، فانتفعوا بما سَمِعوا من كتابِ الله“Mereka tidak menutup telinga dari kebenaran dan tidak berpura-pura buta terhadapnya. Mereka adalah orang-orang yang mau memahami ajaran Allah, sehingga bisa mengambil manfaat dari apa yang mereka dengar dalam Kitab-Nya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dalam Tafsir-nya, 8: 2740)Allah ‘Azza wa Jalla mencela orang-orang yang bersikap menyombongkan diri terhadap ayat-ayat Allah dan petunjuk-Nya. Kesombongan tersebut akan menyeretnya kepada dosa sehingga ia terus-menerus berada dalam kebatilan. Allah mengancamnya dengan azab neraka Jahanam. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُ ٱتَّقِ ٱللَّهَ أَخَذَتْهُ ٱلْعِزَّةُ بِٱلْإِثْمِ ۚ فَحَسْبُهُۥ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئْسَ ٱلْمِهَادُ“Dan apabila dikatakan kepadanya, ‘Bertakwalah kepada Allah’, kesombongan dirinya mendorongnya terus berbuat dosa. Maka cukuplah (balasan) baginya neraka Jahanam, dan sungguh, neraka itu seburuk-buruknya tempat tinggal.” (QS. Al-Baqarah: 206)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ أَبْغَضَ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ: اتَّقِ اللهَ، فَيَقُولُ: عَلَيْكَ نَفْسُك“Sesungguhnya ucapan yang paling Allah benci adalah saat seseorang berkata kepada yang lainnya, ‘Bertakwalah kepada Allah’, lalu ia menjawab, ‘Urus saja dirimu sendiri’.” (HR. An-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra no. 10619, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah no. 2598)Perhatian dalam berdoa dan merendahkan diri di hadapan AllahAllah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa’.” (QS. Al-Furqan: 74)Di antara kesempurnaan sifat para hamba Ar-Rahman adalah perhatian mereka terhadap doa. Mereka sangat bergantung kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, berlindung kepada-Nya, kembali kepada-Nya, dan semua kebutuhan serta urusan agama maupun dunia mereka hanya mereka harapkan dari Allah Ta’ala semata, dan tiada sekutu bagi-Nya.Kemudian ketika berdoa, mereka sangat bersemangat dalam berdoa dengan doa-doa yang penuh dengan faidah dan sangat bermanfaat. Misalnya, mereka berdoa,رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)Doa ini termasuk doa yang paling lengkap (faidahnya) dan paling bermanfaat. Di dalamnya terkandung permohonan seorang hamba agar hatinya merasa bahagia (tenang dan nyaman) dengan keluarga yang saleh, yaitu pasangan dan anak-anak yang baik dalam ibadah, akhlak, muamalah, kehidupan, senantiasa berbakti kepada orang tua, dan kebaikan-kebaikan yang lainnya.Kemudian, dalam doa mereka,وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”, mengandung permohonan agar diri mereka terlebih dulu dibenahi dan diperbaiki sehingga bisa menuntun dan menunjukkan kebaikan kepada orang lain.Karena seseorang tidak akan bisa menjadi suri teladan dan pemimpin yang baik bagi orang-orang yang bertakwa, jika dirinya sendiri belum meneladani orang-orang bertakwa sebelum dirinya. Ia harus terlebih dulu menanamkan kebaikan pada dirinya, berusaha sungguh-sungguh meraih sifat-sifat yang baik dan mulia tersebut. Pada saat itulah, orang-orang yang bertakwa akan bersemangat untuk meneladani dan mengikuti dirinya, serta mengambil manfaat dari bimbingan dan petunjuknya.Oleh karena itu, setiap muslim sepantasnya bersemangat untuk senantiasa mengamalkan dan sering melafalkan doa ini, agar ia memperoleh kebaikan besar yang terkandung di dalamnya.[Selesai]Kembali ke bagian 4 Mulai dari bagian 1***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi:Kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 23–29.


Daftar Isi ToggleMenjauhi majelis yang isinya kebatilan dan kemungkaranMengagungkan firman Allah dan mengamalkannyaPerhatian dalam berdoa dan merendahkan diri di hadapan AllahMenjauhi majelis yang isinya kebatilan dan kemungkaranAllah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَٱلَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ ٱلزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا۟ بِٱللَّغْوِ مَرُّوا۟ كِرَامًا“Dan orang-orang yang tidak menghadiri (memberikan) persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka melaluinya dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)Salah satu akhlak ‘ibadurrahman dan keindahan sifat mereka ialah bahwa mereka selalu menjauhkan diri dari majelis yang dipenuhi kemungkaran, yang isinya hanyalah kebatilan dan ucapan yang Allah larang. Ini sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,وَٱلَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ ٱلزُّورَ“Dan orang-orang yang tidak menghadiri persaksian palsu, ..” (QS. Al-Furqan: 72)Maksudnya, mereka tidak menghadiri majelisnya, tidak mendatanginya, dan tidak berkumpul bersama para pelakunya.Yang termasuk dalam cakupan ayat tersebut adalah majelis-majelis yang isinya hanya seputar maksiat dan dosa saja, seperti gosip (gibah), adu domba (namimah), mengejek atau merendahkan (kehormatan) orang lain, kedustaan, nyanyian, menampakkan atau mempertontonkan maksiat (terang-terangan), serta hal-hal keji lainnya yang seringkali ditayangkan di televisi, smartphone (HP), dan media lainnya.Termasuk juga dalam ayat di atas adalah majelis-majelis yang menggencarkan atau menyebarkan pemikiran sesat dan menyimpang, kerusakan pemikiran, dan amalan sesat yang biasanya dipopulerkan oleh orang-orang yang sesat dan menyesatkan. Termasuk juga perayaan-perayaan orang-orang musyrik maupun acara khusus mereka. Seorang muslim tidak boleh menghadirinya, apalagi memberi ucapan selamat atau ikut bergembira dengan diadakannya perayaan itu.Maka, semua yang telah disebutkan di atas termasuk dalam maksud ayat tersebut. Oleh karenanya, para ulama salaf menafsirkan makna ‘az-zūr’ dalam berbagai macam ungkapan untuk menjelaskannya.Setelah menyebutkan berbagai macam pendapat mengenai ayat tersebut dari para salaf as-shalih, Al-Hafizh Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah menjelaskan,فأولى الأقوال بالصواب في تأويله أن يُقال: والذين لا يشهدون شيئًا من الباطل؛ لا شركًا، ولا غناءً، ولا كذبًا، ولا غيره، وكلُّ ما لَزِمَه اسمُ الزُّور؛ لأن الله عمَّ في وصفهم إيّاهم أنهم: لا يشهدون الزور“Pendapat yang paling tepat dalam menafsirkannya adalah bahwa yang dimaksudkan (ayat) itu adalah mereka tidak menghadiri sesuatu pun yang di dalamnya ada kebatilan, baik itu kesyirikan, nyanyian, kedustaan, atau semisalnya, serta segala sesuatu yang termasuk dalam makna ‘az-zūr’ (kepalsuan atau kebatilan). Karenanya, Allah menyebut mereka (hamba-hamba Ar-Rahman) dengan sifat tidak menghadiri ‘az-zūr’.” (Lihat Jāmi‘ al-Bayān, 17: 523)Hamba-hamba Ar-Rahman pastinya tidak mungkin menghadiri majelis-majelis tersebut dalam bentuk apa pun, dan yang paling utama ialah mereka tidak ingin terjatuh dalam (melakukan) kebatilan itu sendiri.Pada potongan ayat tersebut, Allah Ta’ala juga berfirman,وَإِذَا مَرُّوا۟ بِٱللَّغْوِ مَرُّوا۟ كِرَامًا“Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka melaluinya dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)Maksudnya, mereka tidak bermaksud mendatanginya dan tidak pula sengaja mendekatinya. Akan tetapi, jika mereka kebetulan (terpaksa) melewati sebuah majelis yang penuh dengan kemungkaran atau kebatilan, maka mereka akan melewatinya dengan menjaga (kehormatan) diri darinya, tidak peduli dengannya, serta menjauhkan diri dari duduk bersama di dalamnya.Mengagungkan firman Allah dan mengamalkannyaAllah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya dalam keadaan tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan: 73)Firman Allah Tabaraka wa Ta’ala sangatlah agung dan mulia di hati ‘Ibadurrahman (hamba-hamba Ar-Rahman). Mereka tidak menolaknya maupun berpaling darinya, tetapi mereka justru mengagungkannya, memuliakannya, mendengarkannya dengan baik, dan mengambil manfaat darinya.Pada firman Allah ‘Azza wa Jalla,لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا“Mereka tidaklah menghadapinya dalam keadaan tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan: 73)Maksudnya, pada saat mereka mendengarkan firman Allah, mereka tidak bersikap sebagaimana orang tuli yang tidak bisa mendengar, maupun orang buta yang tidak bisa melihat. Sebaliknya, mereka mendengarkan dengan baik (sungguh-sungguh), mengambil pelajaran (manfaat), lalu mengamalkan hukum dan petunjuk-Nya.Qatadah bin Di‘amah rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini,لَمْ يَصِمُّوا عَنِ الحَقِّ، ولَمْ يَعْمَوا فِيهِ، هُم قَومٌ عَقَلوا عن الله، فانتفعوا بما سَمِعوا من كتابِ الله“Mereka tidak menutup telinga dari kebenaran dan tidak berpura-pura buta terhadapnya. Mereka adalah orang-orang yang mau memahami ajaran Allah, sehingga bisa mengambil manfaat dari apa yang mereka dengar dalam Kitab-Nya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dalam Tafsir-nya, 8: 2740)Allah ‘Azza wa Jalla mencela orang-orang yang bersikap menyombongkan diri terhadap ayat-ayat Allah dan petunjuk-Nya. Kesombongan tersebut akan menyeretnya kepada dosa sehingga ia terus-menerus berada dalam kebatilan. Allah mengancamnya dengan azab neraka Jahanam. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,وَإِذَا قِيلَ لَهُ ٱتَّقِ ٱللَّهَ أَخَذَتْهُ ٱلْعِزَّةُ بِٱلْإِثْمِ ۚ فَحَسْبُهُۥ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئْسَ ٱلْمِهَادُ“Dan apabila dikatakan kepadanya, ‘Bertakwalah kepada Allah’, kesombongan dirinya mendorongnya terus berbuat dosa. Maka cukuplah (balasan) baginya neraka Jahanam, dan sungguh, neraka itu seburuk-buruknya tempat tinggal.” (QS. Al-Baqarah: 206)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ أَبْغَضَ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ: اتَّقِ اللهَ، فَيَقُولُ: عَلَيْكَ نَفْسُك“Sesungguhnya ucapan yang paling Allah benci adalah saat seseorang berkata kepada yang lainnya, ‘Bertakwalah kepada Allah’, lalu ia menjawab, ‘Urus saja dirimu sendiri’.” (HR. An-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra no. 10619, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah no. 2598)Perhatian dalam berdoa dan merendahkan diri di hadapan AllahAllah ‘Azza wa Jalla berfirman,وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa’.” (QS. Al-Furqan: 74)Di antara kesempurnaan sifat para hamba Ar-Rahman adalah perhatian mereka terhadap doa. Mereka sangat bergantung kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, berlindung kepada-Nya, kembali kepada-Nya, dan semua kebutuhan serta urusan agama maupun dunia mereka hanya mereka harapkan dari Allah Ta’ala semata, dan tiada sekutu bagi-Nya.Kemudian ketika berdoa, mereka sangat bersemangat dalam berdoa dengan doa-doa yang penuh dengan faidah dan sangat bermanfaat. Misalnya, mereka berdoa,رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)Doa ini termasuk doa yang paling lengkap (faidahnya) dan paling bermanfaat. Di dalamnya terkandung permohonan seorang hamba agar hatinya merasa bahagia (tenang dan nyaman) dengan keluarga yang saleh, yaitu pasangan dan anak-anak yang baik dalam ibadah, akhlak, muamalah, kehidupan, senantiasa berbakti kepada orang tua, dan kebaikan-kebaikan yang lainnya.Kemudian, dalam doa mereka,وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا“Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”, mengandung permohonan agar diri mereka terlebih dulu dibenahi dan diperbaiki sehingga bisa menuntun dan menunjukkan kebaikan kepada orang lain.Karena seseorang tidak akan bisa menjadi suri teladan dan pemimpin yang baik bagi orang-orang yang bertakwa, jika dirinya sendiri belum meneladani orang-orang bertakwa sebelum dirinya. Ia harus terlebih dulu menanamkan kebaikan pada dirinya, berusaha sungguh-sungguh meraih sifat-sifat yang baik dan mulia tersebut. Pada saat itulah, orang-orang yang bertakwa akan bersemangat untuk meneladani dan mengikuti dirinya, serta mengambil manfaat dari bimbingan dan petunjuknya.Oleh karena itu, setiap muslim sepantasnya bersemangat untuk senantiasa mengamalkan dan sering melafalkan doa ini, agar ia memperoleh kebaikan besar yang terkandung di dalamnya.[Selesai]Kembali ke bagian 4 Mulai dari bagian 1***Penerjemah: Chrisna Tri HartadiArtikel Muslim.or.id Referensi:Kitab Shifatu ‘Ibadirrahman, karya Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 23–29.

Siapa Penghuni Al-A’raf? Mereka yang Tertahan di Antara Surga dan Neraka

Di antara rahasia besar hari kiamat adalah keberadaan Al-A‘rāf—tempat tinggi di antara surga dan neraka. Di sanalah sekelompok manusia berdiri, melihat penghuni surga dengan harapan dan penghuni neraka dengan ketakutan. Banyak ulama membahas siapakah mereka sebenarnya, bahkan ada yang berpendapat bahwa mereka adalah para malaikat. Namun, para ulama besar seperti As-Suyūṭī menjelaskan bahwa pendapat tersebut tidak tepat. Sebab, penghuni Al-A‘rāf adalah manusia, bukan malaikat, sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan tafsir para sahabat.  Daftar Isi tutup 1. Siapakah Ashābul A‘rāf? Tempat Antara Surga dan Neraka 2. Penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah 3. Pendapat Lain tentang Siapa Penghuni Al-A‘rāf 4. Tonton video selengkapnya  Siapakah Ashābul A‘rāf? Tempat Antara Surga dan NerakaAda satu tempat di antara surga dan neraka yang disebut Al-A‘rāf. Tempat ini adalah dinding tinggi yang berada di antara keduanya. Dari tempat tersebut, orang-orang yang menempatinya bisa melihat penghuni surga dan juga penghuni neraka. Pada akhirnya, Allah ‘azza wa jalla akan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya dan tidak menjadikan mereka penghuni neraka. Pendapat yang paling kuat menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang amal baik dan amal buruknya seimbang — tidak cukup berat untuk langsung ke surga, namun juga tidak cukup buruk untuk masuk neraka.Allah Ta‘ala berfirman:وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ وَعَلَى ٱلْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّۭا بِسِيمَٰهُمْ وَنَادَوْا۟ أَصْحَٰبَ ٱلْجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ. وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَٰرُهُمْ تِلْقَآءَ أَصْحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُوا۟ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ. وَنَادَىٰٓ أَصْحَٰبُ ٱلْأَعْرَافِ رِجَالًۭا يَعْرِفُونَهُم بِسِيمَٰهُمْ قَالُوا۟ مَآ أَغْنَىٰ عَنكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ. أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحْمَةٍۢ ۚ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَآ أَنتُمْ تَحْزَنُونَ“Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding. Dan di atas Al-A‘rāf ada orang-orang yang mengenal masing-masing (penghuni surga dan neraka) dengan tanda-tandanya. Mereka menyeru penghuni surga, ‘Semoga kesejahteraan atas kalian!’ Mereka belum masuk ke surga, tetapi sangat berharap untuk masuk. Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama orang-orang yang zalim.’ Dan penghuni Al-A‘rāf menyeru orang-orang (yang mereka kenal) di neraka, ‘Apakah manfaat bagi kalian harta dan kesombongan yang dulu kalian miliki?’ Lalu dikatakan kepada mereka, ‘Inikah orang-orang yang dulu kalian sumpah bahwa Allah tidak akan memberi rahmat kepada mereka? (Sekarang dikatakan kepada mereka:) Masuklah kalian ke dalam surga, tidak ada ketakutan atas kalian dan kalian tidak akan bersedih hati.’” (QS. Al-A‘rāf: 46–49) Penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullahIbnul Qayyim menjelaskan: “Firman Allah “Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding” maksudnya adalah ada penghalang antara penghuni surga dan penghuni neraka. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah dinding besar yang dipasang di antara keduanya. Bagian dalamnya (yang menghadap surga) berisi rahmat, sedangkan bagian luarnya (yang menghadap neraka) berisi azab.Al-A‘rāf adalah bentuk jamak dari kata ‘urf, yang berarti tempat tinggi. Maka Al-A‘rāf adalah dinding tinggi di antara surga dan neraka, dan di atasnya terdapat orang-orang yang disebut penghuni Al-A‘rāf.”Hudzaifah dan Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā berkata: “Mereka adalah kaum yang amal baik dan amal buruknya seimbang. Amal buruk mereka tidak cukup untuk memasukkan mereka ke surga, namun amal baik mereka juga tidak cukup untuk memasukkan mereka ke neraka. Maka mereka ditahan di tempat itu sampai Allah menetapkan keputusan-Nya, kemudian memasukkan mereka ke surga dengan karunia dan rahmat-Nya.”Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu juga berkata: “Orang yang amal baik dan buruknya seimbang termasuk penghuni Al-A‘rāf. Mereka berdiri di atas shirath (jembatan), lalu mengenali penghuni surga dan penghuni neraka. Ketika melihat penghuni surga, mereka berkata, “Semoga keselamatan bagi kalian”. Dan ketika pandangan mereka diarahkan kepada penghuni neraka, mereka berdoa, “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama orang-orang yang zalim”.”Adapun orang-orang yang memiliki banyak amal baik, mereka diberi cahaya di depan dan di tangan kanan mereka. Setiap orang akan diberi cahaya sesuai kadar imannya. Ketika mereka melewati shirath, Allah akan mencabut cahaya dari orang-orang munafik. Melihat hal itu, penghuni surga berdoa:رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا“Ya Rabb kami, sempurnakanlah cahaya kami.”Sedangkan penghuni Al-A‘rāf tidak dicabut cahayanya. Allah berfirman tentang mereka:لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ“Mereka belum masuk surga, tetapi mereka sangat berharap untuk masuk.”Harapan itu muncul karena mereka masih memiliki cahaya di tangan mereka. Setelah itu, mereka pun akhirnya dimasukkan ke dalam surga dan menjadi kelompok terakhir yang memasukinya — tanpa pernah merasakan azab neraka.Baca juga: Penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid mengenai Ashabul A’raf Pendapat Lain tentang Siapa Penghuni Al-A‘rāfSebagian ulama juga menyebutkan beberapa pendapat lain:Mereka adalah orang-orang yang ikut berjihad tanpa izin orang tua, lalu gugur di medan perang. Mereka bebas dari neraka karena mati syahid, namun tertahan dari surga karena durhaka kepada orang tua.Ada yang mengatakan, mereka adalah orang-orang yang salah satu dari kedua orang tuanya rida sedangkan yang lain tidak. Maka mereka ditahan di Al-A‘rāf hingga Allah memutuskan perkara mereka.Ada pula yang mengatakan, mereka adalah orang-orang yang hidup di masa fatrah (masa kekosongan wahyu) dan anak-anak orang kafir.Pendapat lain menyebut bahwa mereka adalah orang-orang beriman yang memiliki kedudukan tinggi, sehingga mereka berada di tempat tinggi untuk melihat penghuni surga dan neraka.Sebagian menyebut mereka adalah para malaikat, bukan dari kalangan manusia.Namun, pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah — adalah pendapat pertama, yaitu mereka yang amal baik dan buruknya seimbang. Pendapat inilah yang diriwayatkan dari sejumlah sahabat Nabi ﷺ dengan sanad yang paling kuat.Akhirnya, Allah berfirman kepada mereka:ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَا أَنتُمْ تَحْزَنُونَ“Masuklah kalian ke dalam surga, tidak ada ketakutan atas kalian dan kalian tidak akan bersedih hati.”(Ibnul Qayyim, Ṭarīq al-Hijratain, hlm. 564–567, dengan ringkasan). Tonton video selengkapnyaMizan di Hari Kiamat: Saat Amal Baik dan Buruk Dihitung Satu per Satu – Ustadz Dr. M Abduh Tuasikal — Kamis, 1 Jumadilawal 1447 H, 23 Oktober 2025 @ GunungkidulDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal-a‘raf amal baik dan buruk as-suyuthi hari kiamat ibnul qayyim keadilan Allah manusia di hari kiamat surga dan neraka tafsir al-qur’an tafsir surat al-a‘raf

Siapa Penghuni Al-A’raf? Mereka yang Tertahan di Antara Surga dan Neraka

Di antara rahasia besar hari kiamat adalah keberadaan Al-A‘rāf—tempat tinggi di antara surga dan neraka. Di sanalah sekelompok manusia berdiri, melihat penghuni surga dengan harapan dan penghuni neraka dengan ketakutan. Banyak ulama membahas siapakah mereka sebenarnya, bahkan ada yang berpendapat bahwa mereka adalah para malaikat. Namun, para ulama besar seperti As-Suyūṭī menjelaskan bahwa pendapat tersebut tidak tepat. Sebab, penghuni Al-A‘rāf adalah manusia, bukan malaikat, sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan tafsir para sahabat.  Daftar Isi tutup 1. Siapakah Ashābul A‘rāf? Tempat Antara Surga dan Neraka 2. Penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah 3. Pendapat Lain tentang Siapa Penghuni Al-A‘rāf 4. Tonton video selengkapnya  Siapakah Ashābul A‘rāf? Tempat Antara Surga dan NerakaAda satu tempat di antara surga dan neraka yang disebut Al-A‘rāf. Tempat ini adalah dinding tinggi yang berada di antara keduanya. Dari tempat tersebut, orang-orang yang menempatinya bisa melihat penghuni surga dan juga penghuni neraka. Pada akhirnya, Allah ‘azza wa jalla akan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya dan tidak menjadikan mereka penghuni neraka. Pendapat yang paling kuat menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang amal baik dan amal buruknya seimbang — tidak cukup berat untuk langsung ke surga, namun juga tidak cukup buruk untuk masuk neraka.Allah Ta‘ala berfirman:وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ وَعَلَى ٱلْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّۭا بِسِيمَٰهُمْ وَنَادَوْا۟ أَصْحَٰبَ ٱلْجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ. وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَٰرُهُمْ تِلْقَآءَ أَصْحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُوا۟ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ. وَنَادَىٰٓ أَصْحَٰبُ ٱلْأَعْرَافِ رِجَالًۭا يَعْرِفُونَهُم بِسِيمَٰهُمْ قَالُوا۟ مَآ أَغْنَىٰ عَنكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ. أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحْمَةٍۢ ۚ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَآ أَنتُمْ تَحْزَنُونَ“Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding. Dan di atas Al-A‘rāf ada orang-orang yang mengenal masing-masing (penghuni surga dan neraka) dengan tanda-tandanya. Mereka menyeru penghuni surga, ‘Semoga kesejahteraan atas kalian!’ Mereka belum masuk ke surga, tetapi sangat berharap untuk masuk. Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama orang-orang yang zalim.’ Dan penghuni Al-A‘rāf menyeru orang-orang (yang mereka kenal) di neraka, ‘Apakah manfaat bagi kalian harta dan kesombongan yang dulu kalian miliki?’ Lalu dikatakan kepada mereka, ‘Inikah orang-orang yang dulu kalian sumpah bahwa Allah tidak akan memberi rahmat kepada mereka? (Sekarang dikatakan kepada mereka:) Masuklah kalian ke dalam surga, tidak ada ketakutan atas kalian dan kalian tidak akan bersedih hati.’” (QS. Al-A‘rāf: 46–49) Penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullahIbnul Qayyim menjelaskan: “Firman Allah “Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding” maksudnya adalah ada penghalang antara penghuni surga dan penghuni neraka. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah dinding besar yang dipasang di antara keduanya. Bagian dalamnya (yang menghadap surga) berisi rahmat, sedangkan bagian luarnya (yang menghadap neraka) berisi azab.Al-A‘rāf adalah bentuk jamak dari kata ‘urf, yang berarti tempat tinggi. Maka Al-A‘rāf adalah dinding tinggi di antara surga dan neraka, dan di atasnya terdapat orang-orang yang disebut penghuni Al-A‘rāf.”Hudzaifah dan Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā berkata: “Mereka adalah kaum yang amal baik dan amal buruknya seimbang. Amal buruk mereka tidak cukup untuk memasukkan mereka ke surga, namun amal baik mereka juga tidak cukup untuk memasukkan mereka ke neraka. Maka mereka ditahan di tempat itu sampai Allah menetapkan keputusan-Nya, kemudian memasukkan mereka ke surga dengan karunia dan rahmat-Nya.”Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu juga berkata: “Orang yang amal baik dan buruknya seimbang termasuk penghuni Al-A‘rāf. Mereka berdiri di atas shirath (jembatan), lalu mengenali penghuni surga dan penghuni neraka. Ketika melihat penghuni surga, mereka berkata, “Semoga keselamatan bagi kalian”. Dan ketika pandangan mereka diarahkan kepada penghuni neraka, mereka berdoa, “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama orang-orang yang zalim”.”Adapun orang-orang yang memiliki banyak amal baik, mereka diberi cahaya di depan dan di tangan kanan mereka. Setiap orang akan diberi cahaya sesuai kadar imannya. Ketika mereka melewati shirath, Allah akan mencabut cahaya dari orang-orang munafik. Melihat hal itu, penghuni surga berdoa:رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا“Ya Rabb kami, sempurnakanlah cahaya kami.”Sedangkan penghuni Al-A‘rāf tidak dicabut cahayanya. Allah berfirman tentang mereka:لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ“Mereka belum masuk surga, tetapi mereka sangat berharap untuk masuk.”Harapan itu muncul karena mereka masih memiliki cahaya di tangan mereka. Setelah itu, mereka pun akhirnya dimasukkan ke dalam surga dan menjadi kelompok terakhir yang memasukinya — tanpa pernah merasakan azab neraka.Baca juga: Penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid mengenai Ashabul A’raf Pendapat Lain tentang Siapa Penghuni Al-A‘rāfSebagian ulama juga menyebutkan beberapa pendapat lain:Mereka adalah orang-orang yang ikut berjihad tanpa izin orang tua, lalu gugur di medan perang. Mereka bebas dari neraka karena mati syahid, namun tertahan dari surga karena durhaka kepada orang tua.Ada yang mengatakan, mereka adalah orang-orang yang salah satu dari kedua orang tuanya rida sedangkan yang lain tidak. Maka mereka ditahan di Al-A‘rāf hingga Allah memutuskan perkara mereka.Ada pula yang mengatakan, mereka adalah orang-orang yang hidup di masa fatrah (masa kekosongan wahyu) dan anak-anak orang kafir.Pendapat lain menyebut bahwa mereka adalah orang-orang beriman yang memiliki kedudukan tinggi, sehingga mereka berada di tempat tinggi untuk melihat penghuni surga dan neraka.Sebagian menyebut mereka adalah para malaikat, bukan dari kalangan manusia.Namun, pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah — adalah pendapat pertama, yaitu mereka yang amal baik dan buruknya seimbang. Pendapat inilah yang diriwayatkan dari sejumlah sahabat Nabi ﷺ dengan sanad yang paling kuat.Akhirnya, Allah berfirman kepada mereka:ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَا أَنتُمْ تَحْزَنُونَ“Masuklah kalian ke dalam surga, tidak ada ketakutan atas kalian dan kalian tidak akan bersedih hati.”(Ibnul Qayyim, Ṭarīq al-Hijratain, hlm. 564–567, dengan ringkasan). Tonton video selengkapnyaMizan di Hari Kiamat: Saat Amal Baik dan Buruk Dihitung Satu per Satu – Ustadz Dr. M Abduh Tuasikal — Kamis, 1 Jumadilawal 1447 H, 23 Oktober 2025 @ GunungkidulDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal-a‘raf amal baik dan buruk as-suyuthi hari kiamat ibnul qayyim keadilan Allah manusia di hari kiamat surga dan neraka tafsir al-qur’an tafsir surat al-a‘raf
Di antara rahasia besar hari kiamat adalah keberadaan Al-A‘rāf—tempat tinggi di antara surga dan neraka. Di sanalah sekelompok manusia berdiri, melihat penghuni surga dengan harapan dan penghuni neraka dengan ketakutan. Banyak ulama membahas siapakah mereka sebenarnya, bahkan ada yang berpendapat bahwa mereka adalah para malaikat. Namun, para ulama besar seperti As-Suyūṭī menjelaskan bahwa pendapat tersebut tidak tepat. Sebab, penghuni Al-A‘rāf adalah manusia, bukan malaikat, sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan tafsir para sahabat.  Daftar Isi tutup 1. Siapakah Ashābul A‘rāf? Tempat Antara Surga dan Neraka 2. Penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah 3. Pendapat Lain tentang Siapa Penghuni Al-A‘rāf 4. Tonton video selengkapnya  Siapakah Ashābul A‘rāf? Tempat Antara Surga dan NerakaAda satu tempat di antara surga dan neraka yang disebut Al-A‘rāf. Tempat ini adalah dinding tinggi yang berada di antara keduanya. Dari tempat tersebut, orang-orang yang menempatinya bisa melihat penghuni surga dan juga penghuni neraka. Pada akhirnya, Allah ‘azza wa jalla akan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya dan tidak menjadikan mereka penghuni neraka. Pendapat yang paling kuat menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang amal baik dan amal buruknya seimbang — tidak cukup berat untuk langsung ke surga, namun juga tidak cukup buruk untuk masuk neraka.Allah Ta‘ala berfirman:وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ وَعَلَى ٱلْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّۭا بِسِيمَٰهُمْ وَنَادَوْا۟ أَصْحَٰبَ ٱلْجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ. وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَٰرُهُمْ تِلْقَآءَ أَصْحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُوا۟ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ. وَنَادَىٰٓ أَصْحَٰبُ ٱلْأَعْرَافِ رِجَالًۭا يَعْرِفُونَهُم بِسِيمَٰهُمْ قَالُوا۟ مَآ أَغْنَىٰ عَنكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ. أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحْمَةٍۢ ۚ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَآ أَنتُمْ تَحْزَنُونَ“Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding. Dan di atas Al-A‘rāf ada orang-orang yang mengenal masing-masing (penghuni surga dan neraka) dengan tanda-tandanya. Mereka menyeru penghuni surga, ‘Semoga kesejahteraan atas kalian!’ Mereka belum masuk ke surga, tetapi sangat berharap untuk masuk. Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama orang-orang yang zalim.’ Dan penghuni Al-A‘rāf menyeru orang-orang (yang mereka kenal) di neraka, ‘Apakah manfaat bagi kalian harta dan kesombongan yang dulu kalian miliki?’ Lalu dikatakan kepada mereka, ‘Inikah orang-orang yang dulu kalian sumpah bahwa Allah tidak akan memberi rahmat kepada mereka? (Sekarang dikatakan kepada mereka:) Masuklah kalian ke dalam surga, tidak ada ketakutan atas kalian dan kalian tidak akan bersedih hati.’” (QS. Al-A‘rāf: 46–49) Penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullahIbnul Qayyim menjelaskan: “Firman Allah “Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding” maksudnya adalah ada penghalang antara penghuni surga dan penghuni neraka. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah dinding besar yang dipasang di antara keduanya. Bagian dalamnya (yang menghadap surga) berisi rahmat, sedangkan bagian luarnya (yang menghadap neraka) berisi azab.Al-A‘rāf adalah bentuk jamak dari kata ‘urf, yang berarti tempat tinggi. Maka Al-A‘rāf adalah dinding tinggi di antara surga dan neraka, dan di atasnya terdapat orang-orang yang disebut penghuni Al-A‘rāf.”Hudzaifah dan Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā berkata: “Mereka adalah kaum yang amal baik dan amal buruknya seimbang. Amal buruk mereka tidak cukup untuk memasukkan mereka ke surga, namun amal baik mereka juga tidak cukup untuk memasukkan mereka ke neraka. Maka mereka ditahan di tempat itu sampai Allah menetapkan keputusan-Nya, kemudian memasukkan mereka ke surga dengan karunia dan rahmat-Nya.”Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu juga berkata: “Orang yang amal baik dan buruknya seimbang termasuk penghuni Al-A‘rāf. Mereka berdiri di atas shirath (jembatan), lalu mengenali penghuni surga dan penghuni neraka. Ketika melihat penghuni surga, mereka berkata, “Semoga keselamatan bagi kalian”. Dan ketika pandangan mereka diarahkan kepada penghuni neraka, mereka berdoa, “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama orang-orang yang zalim”.”Adapun orang-orang yang memiliki banyak amal baik, mereka diberi cahaya di depan dan di tangan kanan mereka. Setiap orang akan diberi cahaya sesuai kadar imannya. Ketika mereka melewati shirath, Allah akan mencabut cahaya dari orang-orang munafik. Melihat hal itu, penghuni surga berdoa:رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا“Ya Rabb kami, sempurnakanlah cahaya kami.”Sedangkan penghuni Al-A‘rāf tidak dicabut cahayanya. Allah berfirman tentang mereka:لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ“Mereka belum masuk surga, tetapi mereka sangat berharap untuk masuk.”Harapan itu muncul karena mereka masih memiliki cahaya di tangan mereka. Setelah itu, mereka pun akhirnya dimasukkan ke dalam surga dan menjadi kelompok terakhir yang memasukinya — tanpa pernah merasakan azab neraka.Baca juga: Penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid mengenai Ashabul A’raf Pendapat Lain tentang Siapa Penghuni Al-A‘rāfSebagian ulama juga menyebutkan beberapa pendapat lain:Mereka adalah orang-orang yang ikut berjihad tanpa izin orang tua, lalu gugur di medan perang. Mereka bebas dari neraka karena mati syahid, namun tertahan dari surga karena durhaka kepada orang tua.Ada yang mengatakan, mereka adalah orang-orang yang salah satu dari kedua orang tuanya rida sedangkan yang lain tidak. Maka mereka ditahan di Al-A‘rāf hingga Allah memutuskan perkara mereka.Ada pula yang mengatakan, mereka adalah orang-orang yang hidup di masa fatrah (masa kekosongan wahyu) dan anak-anak orang kafir.Pendapat lain menyebut bahwa mereka adalah orang-orang beriman yang memiliki kedudukan tinggi, sehingga mereka berada di tempat tinggi untuk melihat penghuni surga dan neraka.Sebagian menyebut mereka adalah para malaikat, bukan dari kalangan manusia.Namun, pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah — adalah pendapat pertama, yaitu mereka yang amal baik dan buruknya seimbang. Pendapat inilah yang diriwayatkan dari sejumlah sahabat Nabi ﷺ dengan sanad yang paling kuat.Akhirnya, Allah berfirman kepada mereka:ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَا أَنتُمْ تَحْزَنُونَ“Masuklah kalian ke dalam surga, tidak ada ketakutan atas kalian dan kalian tidak akan bersedih hati.”(Ibnul Qayyim, Ṭarīq al-Hijratain, hlm. 564–567, dengan ringkasan). Tonton video selengkapnyaMizan di Hari Kiamat: Saat Amal Baik dan Buruk Dihitung Satu per Satu – Ustadz Dr. M Abduh Tuasikal — Kamis, 1 Jumadilawal 1447 H, 23 Oktober 2025 @ GunungkidulDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal-a‘raf amal baik dan buruk as-suyuthi hari kiamat ibnul qayyim keadilan Allah manusia di hari kiamat surga dan neraka tafsir al-qur’an tafsir surat al-a‘raf


Di antara rahasia besar hari kiamat adalah keberadaan Al-A‘rāf—tempat tinggi di antara surga dan neraka. Di sanalah sekelompok manusia berdiri, melihat penghuni surga dengan harapan dan penghuni neraka dengan ketakutan. Banyak ulama membahas siapakah mereka sebenarnya, bahkan ada yang berpendapat bahwa mereka adalah para malaikat. Namun, para ulama besar seperti As-Suyūṭī menjelaskan bahwa pendapat tersebut tidak tepat. Sebab, penghuni Al-A‘rāf adalah manusia, bukan malaikat, sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan tafsir para sahabat.  Daftar Isi tutup 1. Siapakah Ashābul A‘rāf? Tempat Antara Surga dan Neraka 2. Penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah 3. Pendapat Lain tentang Siapa Penghuni Al-A‘rāf 4. Tonton video selengkapnya  Siapakah Ashābul A‘rāf? Tempat Antara Surga dan NerakaAda satu tempat di antara surga dan neraka yang disebut Al-A‘rāf. Tempat ini adalah dinding tinggi yang berada di antara keduanya. Dari tempat tersebut, orang-orang yang menempatinya bisa melihat penghuni surga dan juga penghuni neraka. Pada akhirnya, Allah ‘azza wa jalla akan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya dan tidak menjadikan mereka penghuni neraka. Pendapat yang paling kuat menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang amal baik dan amal buruknya seimbang — tidak cukup berat untuk langsung ke surga, namun juga tidak cukup buruk untuk masuk neraka.Allah Ta‘ala berfirman:وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ وَعَلَى ٱلْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّۭا بِسِيمَٰهُمْ وَنَادَوْا۟ أَصْحَٰبَ ٱلْجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ. وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَٰرُهُمْ تِلْقَآءَ أَصْحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُوا۟ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ. وَنَادَىٰٓ أَصْحَٰبُ ٱلْأَعْرَافِ رِجَالًۭا يَعْرِفُونَهُم بِسِيمَٰهُمْ قَالُوا۟ مَآ أَغْنَىٰ عَنكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ. أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحْمَةٍۢ ۚ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَآ أَنتُمْ تَحْزَنُونَ“Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding. Dan di atas Al-A‘rāf ada orang-orang yang mengenal masing-masing (penghuni surga dan neraka) dengan tanda-tandanya. Mereka menyeru penghuni surga, ‘Semoga kesejahteraan atas kalian!’ Mereka belum masuk ke surga, tetapi sangat berharap untuk masuk. Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama orang-orang yang zalim.’ Dan penghuni Al-A‘rāf menyeru orang-orang (yang mereka kenal) di neraka, ‘Apakah manfaat bagi kalian harta dan kesombongan yang dulu kalian miliki?’ Lalu dikatakan kepada mereka, ‘Inikah orang-orang yang dulu kalian sumpah bahwa Allah tidak akan memberi rahmat kepada mereka? (Sekarang dikatakan kepada mereka:) Masuklah kalian ke dalam surga, tidak ada ketakutan atas kalian dan kalian tidak akan bersedih hati.’” (QS. Al-A‘rāf: 46–49) Penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullahIbnul Qayyim menjelaskan: “Firman Allah “Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding” maksudnya adalah ada penghalang antara penghuni surga dan penghuni neraka. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah dinding besar yang dipasang di antara keduanya. Bagian dalamnya (yang menghadap surga) berisi rahmat, sedangkan bagian luarnya (yang menghadap neraka) berisi azab.Al-A‘rāf adalah bentuk jamak dari kata ‘urf, yang berarti tempat tinggi. Maka Al-A‘rāf adalah dinding tinggi di antara surga dan neraka, dan di atasnya terdapat orang-orang yang disebut penghuni Al-A‘rāf.”Hudzaifah dan Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā berkata: “Mereka adalah kaum yang amal baik dan amal buruknya seimbang. Amal buruk mereka tidak cukup untuk memasukkan mereka ke surga, namun amal baik mereka juga tidak cukup untuk memasukkan mereka ke neraka. Maka mereka ditahan di tempat itu sampai Allah menetapkan keputusan-Nya, kemudian memasukkan mereka ke surga dengan karunia dan rahmat-Nya.”Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu juga berkata: “Orang yang amal baik dan buruknya seimbang termasuk penghuni Al-A‘rāf. Mereka berdiri di atas shirath (jembatan), lalu mengenali penghuni surga dan penghuni neraka. Ketika melihat penghuni surga, mereka berkata, “Semoga keselamatan bagi kalian”. Dan ketika pandangan mereka diarahkan kepada penghuni neraka, mereka berdoa, “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama orang-orang yang zalim”.”Adapun orang-orang yang memiliki banyak amal baik, mereka diberi cahaya di depan dan di tangan kanan mereka. Setiap orang akan diberi cahaya sesuai kadar imannya. Ketika mereka melewati shirath, Allah akan mencabut cahaya dari orang-orang munafik. Melihat hal itu, penghuni surga berdoa:رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا“Ya Rabb kami, sempurnakanlah cahaya kami.”Sedangkan penghuni Al-A‘rāf tidak dicabut cahayanya. Allah berfirman tentang mereka:لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ“Mereka belum masuk surga, tetapi mereka sangat berharap untuk masuk.”Harapan itu muncul karena mereka masih memiliki cahaya di tangan mereka. Setelah itu, mereka pun akhirnya dimasukkan ke dalam surga dan menjadi kelompok terakhir yang memasukinya — tanpa pernah merasakan azab neraka.Baca juga: Penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid mengenai Ashabul A’raf Pendapat Lain tentang Siapa Penghuni Al-A‘rāfSebagian ulama juga menyebutkan beberapa pendapat lain:Mereka adalah orang-orang yang ikut berjihad tanpa izin orang tua, lalu gugur di medan perang. Mereka bebas dari neraka karena mati syahid, namun tertahan dari surga karena durhaka kepada orang tua.Ada yang mengatakan, mereka adalah orang-orang yang salah satu dari kedua orang tuanya rida sedangkan yang lain tidak. Maka mereka ditahan di Al-A‘rāf hingga Allah memutuskan perkara mereka.Ada pula yang mengatakan, mereka adalah orang-orang yang hidup di masa fatrah (masa kekosongan wahyu) dan anak-anak orang kafir.Pendapat lain menyebut bahwa mereka adalah orang-orang beriman yang memiliki kedudukan tinggi, sehingga mereka berada di tempat tinggi untuk melihat penghuni surga dan neraka.Sebagian menyebut mereka adalah para malaikat, bukan dari kalangan manusia.Namun, pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah — adalah pendapat pertama, yaitu mereka yang amal baik dan buruknya seimbang. Pendapat inilah yang diriwayatkan dari sejumlah sahabat Nabi ﷺ dengan sanad yang paling kuat.Akhirnya, Allah berfirman kepada mereka:ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَا أَنتُمْ تَحْزَنُونَ“Masuklah kalian ke dalam surga, tidak ada ketakutan atas kalian dan kalian tidak akan bersedih hati.”(Ibnul Qayyim, Ṭarīq al-Hijratain, hlm. 564–567, dengan ringkasan). Tonton video selengkapnyaMizan di Hari Kiamat: Saat Amal Baik dan Buruk Dihitung Satu per Satu – Ustadz Dr. M Abduh Tuasikal — Kamis, 1 Jumadilawal 1447 H, 23 Oktober 2025 @ GunungkidulDr. Muhammad Abduh TuasikalArtikel Rumaysho.Com Tagsal-a‘raf amal baik dan buruk as-suyuthi hari kiamat ibnul qayyim keadilan Allah manusia di hari kiamat surga dan neraka tafsir al-qur’an tafsir surat al-a‘raf

Fikih Utang Piutang (Bag. 11): Hadiah dari Pengutang untuk Pemberi Utang

Daftar Isi ToggleHukum pemberian hadiah dari pengutang sebelum utang lunasBolehnya memberikan hadiah pada beberapa keadaanTidak jauh berbeda dengan pembahasan sebelumnya, masih terkait dengan “manfaat” yang ada pada akad utang piutang. Pembahasan sebelumnya terkait dengan utang yang mendatangkan keuntungan atau manfaat. Adapun pembahasan ini terkait dengan “hadiah” yang diberikan oleh pengutang kepada pemberi utang dalam status utang belum lunas.Apakah dalam kurun waktu berjalannya akad utang piutang, diperbolehkan bagi pengutang untuk memberikan sesuatu berupa hadiah, manfaat, dan lain sebagainya kepada pemberi utang? Ataukah justru hal ini terlarang?Terkait dengan pembahasan ini, gambaran sederhananya adalah sebagaimana berikut ini:A memiliki utang kepada B sebesar Rp1.000.000. Dalam status utang masih berjalan, A memberikan hadiah kepada B dengan nominal yang tidak besar. Inilah yang dimaksud dengan memberi hadiah dalam status utang masih berjalan.Atau gambaran lain, yang sering terjadi yaitu:A menitip untuk dibelikan nasi goreng kepada B dengan cara “ditalangi”, artinya menggunakan uang B terlebih dahulu. Sehingga dalam hal ini, statusnya adalah utang. A berutang kepada B seharga nasi goreng tersebut. Sesampainya B di rumah, A pun langsung mengajak B untuk makan nasi goreng yang dibeli tersebut bersama A, sebelum A membayar utangnya. Maka manfaat yang diterima oleh B (berupa makan nasi goreng bareng A) hukumnya adalah tambahan dari utang tersebut.Hukum pemberian hadiah dari pengutang sebelum utang lunasSecara hukum asal, pengutang tidak diperbolehkan memberikan hadiah apapun selama utang masih berstatus belum dilunasi. Karena tidaklah hadiah diberikan kecuali karena adanya utang piutang tersebut, istilahnya “karena pemberi utang sudah berbuat baik” atau dalam rangka membalas kebaikan pemberi utang. Sehingga pengutang pun ingin membalasnya dengan memberikannya hadiah.Yang demikian ini tentunya tidak diperbolehkan. Sebagaimana kaidah yang telah berlalu, bahwasanya setiap tambahan manfaat dari utang piutang, maka hukumnya adalah riba.Terkait dengan hal ini, terdapat hadis dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا أَقرَضَ أَحَدُكُم قَرضاً، فَأَهدَى لَهُ، أَو حَمَلَهُ عَلَى الدَّابَّةِ، فَلَا يَركَبُهَا وَلَا يَقبَلُهُ، إِلَّا أَن يَكُونَ جَرَى بَينَهُ وَبَينَهُ قَبلَ ذَلِكَ“Jika salah seorang dari kalian meminjamkan suatu pinjaman, kemudian pengutang memberikan kepadanya hadiah, atau (menawarkan) untuk membawanya di atas hewan tunggangannya, maka janganlah ia menunggangi hewannya dan menerimanya, kecuali jika hal tersebut sudah (biasa) terjadi antara dia dan peminjam sebelum adanya utang piutang tersebut.” (HR. Ibnu Majah dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani)Selain hadis ini, terdapat atsar yang lain dari para sahabat akan terlarangnya hal yang demikian. Sebagaimana dalam hadis Abu Burdah, beliau berkata, “Aku mendatangi Madinah, kemudian bertemu dengan Abdullah bin Salam radiyallahu ‘anhu, kemudian beliau berkata,إِنَّكَ بِأَرضٍ الرِّبَا بِهَا فَاشٍ، إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ، فَأَهدَى إِلَيكَ حِملَ تِبنٍ، أَو حِملَ شَعِيرٍ، أَو حِملَ قَتٍّ ، فَلَا تَأخُذهُ فَإِنَّهُ رِبَا“Sesungguhnya engkau berada di negeri yang riba telah menyebar di dalamnya. Jika engkau memiliki piutang atas seseorang, lalu ia menghadiahkan kepadamu satu muatan jerami, atau satu muatan jelai (gandum), atau satu muatan rumput kering, jangan engkau menerimanya, karena itu adalah riba.” (HR. Bukhari)Sehingga hukum asalnya adalah pengutang tidak boleh memberikan hadiah atau yang semisalnya kepada pemberi utang, sebagaimana pula pemberi utang tidak boleh menerima pemberian hadiah atau yang semisalnya dari pengutang. Karena yang demikian termasuk riba.Bolehnya memberikan hadiah pada beberapa keadaanDari hukum asal di atas, terdapat beberapa pengecualian berupa bolehnya memberikan hadiah ketika akad utang piutang sedang berlangsung. Hal seperti ini cukup banyak ditemukan di tengah-tengah masyarakat dalam bentuk yang beraneka ragam.Setidaknya terdapat tiga pengecualian diperbolehkannya pengutang memberikan hadiah kepada pemberi utang:Pertama, jika kebiasaan seperti itu (saling memberi hadiah) sudah terjadi sebelum akad utang piutang berlangsung. Maka hadiah tersebut boleh diterima, sebagaimana yang terdapat pada hadis dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu, إِلَّا أَن يَكُونَ جَرَى بَينَهُ وَبَينَهُ قَبلَ ذَلِكَ“Kecuali jika hal tersebut sudah (biasa) terjadi antara dia dan peminjam sebelum adanya utang piutang tersebut.”Seperti halnya teman dekat, sahabat, kerabat, keluarga yang sudah terbiasa saling memberi hadiah. Tatkala akad utang piutang sedang berjalan, maka tidak mengapa pihak pengutang memberikan hadiah dan boleh bagi pemberi utang untuk menerimanya. Karena hadiah di sini bukan lagi soal “tambahan atau manfaat”, namun karena kebiasaan antara kedua belah pihak yang telah berjalan sebelum adanya akad utang piutang.Kedua, jika pemberi pinjaman berniat untuk membalas hadiah itu dengan hal serupa yang bermanfaat bagi si pemberi hadiah (pengutang), maka boleh baginya menerimanya. Maksudnya, setelah pengutang memberikan hadiah, pemberi utang membalas kembali hadiah yang diberikan kepada pengutang.Ketiga, jika hadiah itu diperhitungkan sebagai bagian dari pelunasan utangnya, maka hal inipun boleh diterima oleh pemberi utang. Yakni, pengutang menyampaikan bahwa hadiah itu seharga sekian, dan hadiah itu sebagai bentuk pembayaran dari sebagian utangnya.Sehingga kesimpulan dari pembahasan ini, memberikan hadiah dalam kondisi akad utang piutang sedang berlangsung, hukum asalnya tidak diperbolehkan. Namun, terdapat beberapa pengecualian dari hukum asal ini, artinya boleh dalam beberapa keadaan sebagaimana yang telah disebutkan di atas.Semoga penjelasan ini bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 10 Lanjut ke bagian 12***Depok, 25 Rabi’ul akhir 1447/ 18 Oktober 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Fiqhul Mu’amalat Al-Maliyah Al-Muyassar.

Fikih Utang Piutang (Bag. 11): Hadiah dari Pengutang untuk Pemberi Utang

Daftar Isi ToggleHukum pemberian hadiah dari pengutang sebelum utang lunasBolehnya memberikan hadiah pada beberapa keadaanTidak jauh berbeda dengan pembahasan sebelumnya, masih terkait dengan “manfaat” yang ada pada akad utang piutang. Pembahasan sebelumnya terkait dengan utang yang mendatangkan keuntungan atau manfaat. Adapun pembahasan ini terkait dengan “hadiah” yang diberikan oleh pengutang kepada pemberi utang dalam status utang belum lunas.Apakah dalam kurun waktu berjalannya akad utang piutang, diperbolehkan bagi pengutang untuk memberikan sesuatu berupa hadiah, manfaat, dan lain sebagainya kepada pemberi utang? Ataukah justru hal ini terlarang?Terkait dengan pembahasan ini, gambaran sederhananya adalah sebagaimana berikut ini:A memiliki utang kepada B sebesar Rp1.000.000. Dalam status utang masih berjalan, A memberikan hadiah kepada B dengan nominal yang tidak besar. Inilah yang dimaksud dengan memberi hadiah dalam status utang masih berjalan.Atau gambaran lain, yang sering terjadi yaitu:A menitip untuk dibelikan nasi goreng kepada B dengan cara “ditalangi”, artinya menggunakan uang B terlebih dahulu. Sehingga dalam hal ini, statusnya adalah utang. A berutang kepada B seharga nasi goreng tersebut. Sesampainya B di rumah, A pun langsung mengajak B untuk makan nasi goreng yang dibeli tersebut bersama A, sebelum A membayar utangnya. Maka manfaat yang diterima oleh B (berupa makan nasi goreng bareng A) hukumnya adalah tambahan dari utang tersebut.Hukum pemberian hadiah dari pengutang sebelum utang lunasSecara hukum asal, pengutang tidak diperbolehkan memberikan hadiah apapun selama utang masih berstatus belum dilunasi. Karena tidaklah hadiah diberikan kecuali karena adanya utang piutang tersebut, istilahnya “karena pemberi utang sudah berbuat baik” atau dalam rangka membalas kebaikan pemberi utang. Sehingga pengutang pun ingin membalasnya dengan memberikannya hadiah.Yang demikian ini tentunya tidak diperbolehkan. Sebagaimana kaidah yang telah berlalu, bahwasanya setiap tambahan manfaat dari utang piutang, maka hukumnya adalah riba.Terkait dengan hal ini, terdapat hadis dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا أَقرَضَ أَحَدُكُم قَرضاً، فَأَهدَى لَهُ، أَو حَمَلَهُ عَلَى الدَّابَّةِ، فَلَا يَركَبُهَا وَلَا يَقبَلُهُ، إِلَّا أَن يَكُونَ جَرَى بَينَهُ وَبَينَهُ قَبلَ ذَلِكَ“Jika salah seorang dari kalian meminjamkan suatu pinjaman, kemudian pengutang memberikan kepadanya hadiah, atau (menawarkan) untuk membawanya di atas hewan tunggangannya, maka janganlah ia menunggangi hewannya dan menerimanya, kecuali jika hal tersebut sudah (biasa) terjadi antara dia dan peminjam sebelum adanya utang piutang tersebut.” (HR. Ibnu Majah dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani)Selain hadis ini, terdapat atsar yang lain dari para sahabat akan terlarangnya hal yang demikian. Sebagaimana dalam hadis Abu Burdah, beliau berkata, “Aku mendatangi Madinah, kemudian bertemu dengan Abdullah bin Salam radiyallahu ‘anhu, kemudian beliau berkata,إِنَّكَ بِأَرضٍ الرِّبَا بِهَا فَاشٍ، إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ، فَأَهدَى إِلَيكَ حِملَ تِبنٍ، أَو حِملَ شَعِيرٍ، أَو حِملَ قَتٍّ ، فَلَا تَأخُذهُ فَإِنَّهُ رِبَا“Sesungguhnya engkau berada di negeri yang riba telah menyebar di dalamnya. Jika engkau memiliki piutang atas seseorang, lalu ia menghadiahkan kepadamu satu muatan jerami, atau satu muatan jelai (gandum), atau satu muatan rumput kering, jangan engkau menerimanya, karena itu adalah riba.” (HR. Bukhari)Sehingga hukum asalnya adalah pengutang tidak boleh memberikan hadiah atau yang semisalnya kepada pemberi utang, sebagaimana pula pemberi utang tidak boleh menerima pemberian hadiah atau yang semisalnya dari pengutang. Karena yang demikian termasuk riba.Bolehnya memberikan hadiah pada beberapa keadaanDari hukum asal di atas, terdapat beberapa pengecualian berupa bolehnya memberikan hadiah ketika akad utang piutang sedang berlangsung. Hal seperti ini cukup banyak ditemukan di tengah-tengah masyarakat dalam bentuk yang beraneka ragam.Setidaknya terdapat tiga pengecualian diperbolehkannya pengutang memberikan hadiah kepada pemberi utang:Pertama, jika kebiasaan seperti itu (saling memberi hadiah) sudah terjadi sebelum akad utang piutang berlangsung. Maka hadiah tersebut boleh diterima, sebagaimana yang terdapat pada hadis dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu, إِلَّا أَن يَكُونَ جَرَى بَينَهُ وَبَينَهُ قَبلَ ذَلِكَ“Kecuali jika hal tersebut sudah (biasa) terjadi antara dia dan peminjam sebelum adanya utang piutang tersebut.”Seperti halnya teman dekat, sahabat, kerabat, keluarga yang sudah terbiasa saling memberi hadiah. Tatkala akad utang piutang sedang berjalan, maka tidak mengapa pihak pengutang memberikan hadiah dan boleh bagi pemberi utang untuk menerimanya. Karena hadiah di sini bukan lagi soal “tambahan atau manfaat”, namun karena kebiasaan antara kedua belah pihak yang telah berjalan sebelum adanya akad utang piutang.Kedua, jika pemberi pinjaman berniat untuk membalas hadiah itu dengan hal serupa yang bermanfaat bagi si pemberi hadiah (pengutang), maka boleh baginya menerimanya. Maksudnya, setelah pengutang memberikan hadiah, pemberi utang membalas kembali hadiah yang diberikan kepada pengutang.Ketiga, jika hadiah itu diperhitungkan sebagai bagian dari pelunasan utangnya, maka hal inipun boleh diterima oleh pemberi utang. Yakni, pengutang menyampaikan bahwa hadiah itu seharga sekian, dan hadiah itu sebagai bentuk pembayaran dari sebagian utangnya.Sehingga kesimpulan dari pembahasan ini, memberikan hadiah dalam kondisi akad utang piutang sedang berlangsung, hukum asalnya tidak diperbolehkan. Namun, terdapat beberapa pengecualian dari hukum asal ini, artinya boleh dalam beberapa keadaan sebagaimana yang telah disebutkan di atas.Semoga penjelasan ini bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 10 Lanjut ke bagian 12***Depok, 25 Rabi’ul akhir 1447/ 18 Oktober 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Fiqhul Mu’amalat Al-Maliyah Al-Muyassar.
Daftar Isi ToggleHukum pemberian hadiah dari pengutang sebelum utang lunasBolehnya memberikan hadiah pada beberapa keadaanTidak jauh berbeda dengan pembahasan sebelumnya, masih terkait dengan “manfaat” yang ada pada akad utang piutang. Pembahasan sebelumnya terkait dengan utang yang mendatangkan keuntungan atau manfaat. Adapun pembahasan ini terkait dengan “hadiah” yang diberikan oleh pengutang kepada pemberi utang dalam status utang belum lunas.Apakah dalam kurun waktu berjalannya akad utang piutang, diperbolehkan bagi pengutang untuk memberikan sesuatu berupa hadiah, manfaat, dan lain sebagainya kepada pemberi utang? Ataukah justru hal ini terlarang?Terkait dengan pembahasan ini, gambaran sederhananya adalah sebagaimana berikut ini:A memiliki utang kepada B sebesar Rp1.000.000. Dalam status utang masih berjalan, A memberikan hadiah kepada B dengan nominal yang tidak besar. Inilah yang dimaksud dengan memberi hadiah dalam status utang masih berjalan.Atau gambaran lain, yang sering terjadi yaitu:A menitip untuk dibelikan nasi goreng kepada B dengan cara “ditalangi”, artinya menggunakan uang B terlebih dahulu. Sehingga dalam hal ini, statusnya adalah utang. A berutang kepada B seharga nasi goreng tersebut. Sesampainya B di rumah, A pun langsung mengajak B untuk makan nasi goreng yang dibeli tersebut bersama A, sebelum A membayar utangnya. Maka manfaat yang diterima oleh B (berupa makan nasi goreng bareng A) hukumnya adalah tambahan dari utang tersebut.Hukum pemberian hadiah dari pengutang sebelum utang lunasSecara hukum asal, pengutang tidak diperbolehkan memberikan hadiah apapun selama utang masih berstatus belum dilunasi. Karena tidaklah hadiah diberikan kecuali karena adanya utang piutang tersebut, istilahnya “karena pemberi utang sudah berbuat baik” atau dalam rangka membalas kebaikan pemberi utang. Sehingga pengutang pun ingin membalasnya dengan memberikannya hadiah.Yang demikian ini tentunya tidak diperbolehkan. Sebagaimana kaidah yang telah berlalu, bahwasanya setiap tambahan manfaat dari utang piutang, maka hukumnya adalah riba.Terkait dengan hal ini, terdapat hadis dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا أَقرَضَ أَحَدُكُم قَرضاً، فَأَهدَى لَهُ، أَو حَمَلَهُ عَلَى الدَّابَّةِ، فَلَا يَركَبُهَا وَلَا يَقبَلُهُ، إِلَّا أَن يَكُونَ جَرَى بَينَهُ وَبَينَهُ قَبلَ ذَلِكَ“Jika salah seorang dari kalian meminjamkan suatu pinjaman, kemudian pengutang memberikan kepadanya hadiah, atau (menawarkan) untuk membawanya di atas hewan tunggangannya, maka janganlah ia menunggangi hewannya dan menerimanya, kecuali jika hal tersebut sudah (biasa) terjadi antara dia dan peminjam sebelum adanya utang piutang tersebut.” (HR. Ibnu Majah dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani)Selain hadis ini, terdapat atsar yang lain dari para sahabat akan terlarangnya hal yang demikian. Sebagaimana dalam hadis Abu Burdah, beliau berkata, “Aku mendatangi Madinah, kemudian bertemu dengan Abdullah bin Salam radiyallahu ‘anhu, kemudian beliau berkata,إِنَّكَ بِأَرضٍ الرِّبَا بِهَا فَاشٍ، إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ، فَأَهدَى إِلَيكَ حِملَ تِبنٍ، أَو حِملَ شَعِيرٍ، أَو حِملَ قَتٍّ ، فَلَا تَأخُذهُ فَإِنَّهُ رِبَا“Sesungguhnya engkau berada di negeri yang riba telah menyebar di dalamnya. Jika engkau memiliki piutang atas seseorang, lalu ia menghadiahkan kepadamu satu muatan jerami, atau satu muatan jelai (gandum), atau satu muatan rumput kering, jangan engkau menerimanya, karena itu adalah riba.” (HR. Bukhari)Sehingga hukum asalnya adalah pengutang tidak boleh memberikan hadiah atau yang semisalnya kepada pemberi utang, sebagaimana pula pemberi utang tidak boleh menerima pemberian hadiah atau yang semisalnya dari pengutang. Karena yang demikian termasuk riba.Bolehnya memberikan hadiah pada beberapa keadaanDari hukum asal di atas, terdapat beberapa pengecualian berupa bolehnya memberikan hadiah ketika akad utang piutang sedang berlangsung. Hal seperti ini cukup banyak ditemukan di tengah-tengah masyarakat dalam bentuk yang beraneka ragam.Setidaknya terdapat tiga pengecualian diperbolehkannya pengutang memberikan hadiah kepada pemberi utang:Pertama, jika kebiasaan seperti itu (saling memberi hadiah) sudah terjadi sebelum akad utang piutang berlangsung. Maka hadiah tersebut boleh diterima, sebagaimana yang terdapat pada hadis dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu, إِلَّا أَن يَكُونَ جَرَى بَينَهُ وَبَينَهُ قَبلَ ذَلِكَ“Kecuali jika hal tersebut sudah (biasa) terjadi antara dia dan peminjam sebelum adanya utang piutang tersebut.”Seperti halnya teman dekat, sahabat, kerabat, keluarga yang sudah terbiasa saling memberi hadiah. Tatkala akad utang piutang sedang berjalan, maka tidak mengapa pihak pengutang memberikan hadiah dan boleh bagi pemberi utang untuk menerimanya. Karena hadiah di sini bukan lagi soal “tambahan atau manfaat”, namun karena kebiasaan antara kedua belah pihak yang telah berjalan sebelum adanya akad utang piutang.Kedua, jika pemberi pinjaman berniat untuk membalas hadiah itu dengan hal serupa yang bermanfaat bagi si pemberi hadiah (pengutang), maka boleh baginya menerimanya. Maksudnya, setelah pengutang memberikan hadiah, pemberi utang membalas kembali hadiah yang diberikan kepada pengutang.Ketiga, jika hadiah itu diperhitungkan sebagai bagian dari pelunasan utangnya, maka hal inipun boleh diterima oleh pemberi utang. Yakni, pengutang menyampaikan bahwa hadiah itu seharga sekian, dan hadiah itu sebagai bentuk pembayaran dari sebagian utangnya.Sehingga kesimpulan dari pembahasan ini, memberikan hadiah dalam kondisi akad utang piutang sedang berlangsung, hukum asalnya tidak diperbolehkan. Namun, terdapat beberapa pengecualian dari hukum asal ini, artinya boleh dalam beberapa keadaan sebagaimana yang telah disebutkan di atas.Semoga penjelasan ini bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 10 Lanjut ke bagian 12***Depok, 25 Rabi’ul akhir 1447/ 18 Oktober 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Fiqhul Mu’amalat Al-Maliyah Al-Muyassar.


Daftar Isi ToggleHukum pemberian hadiah dari pengutang sebelum utang lunasBolehnya memberikan hadiah pada beberapa keadaanTidak jauh berbeda dengan pembahasan sebelumnya, masih terkait dengan “manfaat” yang ada pada akad utang piutang. Pembahasan sebelumnya terkait dengan utang yang mendatangkan keuntungan atau manfaat. Adapun pembahasan ini terkait dengan “hadiah” yang diberikan oleh pengutang kepada pemberi utang dalam status utang belum lunas.Apakah dalam kurun waktu berjalannya akad utang piutang, diperbolehkan bagi pengutang untuk memberikan sesuatu berupa hadiah, manfaat, dan lain sebagainya kepada pemberi utang? Ataukah justru hal ini terlarang?Terkait dengan pembahasan ini, gambaran sederhananya adalah sebagaimana berikut ini:A memiliki utang kepada B sebesar Rp1.000.000. Dalam status utang masih berjalan, A memberikan hadiah kepada B dengan nominal yang tidak besar. Inilah yang dimaksud dengan memberi hadiah dalam status utang masih berjalan.Atau gambaran lain, yang sering terjadi yaitu:A menitip untuk dibelikan nasi goreng kepada B dengan cara “ditalangi”, artinya menggunakan uang B terlebih dahulu. Sehingga dalam hal ini, statusnya adalah utang. A berutang kepada B seharga nasi goreng tersebut. Sesampainya B di rumah, A pun langsung mengajak B untuk makan nasi goreng yang dibeli tersebut bersama A, sebelum A membayar utangnya. Maka manfaat yang diterima oleh B (berupa makan nasi goreng bareng A) hukumnya adalah tambahan dari utang tersebut.Hukum pemberian hadiah dari pengutang sebelum utang lunasSecara hukum asal, pengutang tidak diperbolehkan memberikan hadiah apapun selama utang masih berstatus belum dilunasi. Karena tidaklah hadiah diberikan kecuali karena adanya utang piutang tersebut, istilahnya “karena pemberi utang sudah berbuat baik” atau dalam rangka membalas kebaikan pemberi utang. Sehingga pengutang pun ingin membalasnya dengan memberikannya hadiah.Yang demikian ini tentunya tidak diperbolehkan. Sebagaimana kaidah yang telah berlalu, bahwasanya setiap tambahan manfaat dari utang piutang, maka hukumnya adalah riba.Terkait dengan hal ini, terdapat hadis dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا أَقرَضَ أَحَدُكُم قَرضاً، فَأَهدَى لَهُ، أَو حَمَلَهُ عَلَى الدَّابَّةِ، فَلَا يَركَبُهَا وَلَا يَقبَلُهُ، إِلَّا أَن يَكُونَ جَرَى بَينَهُ وَبَينَهُ قَبلَ ذَلِكَ“Jika salah seorang dari kalian meminjamkan suatu pinjaman, kemudian pengutang memberikan kepadanya hadiah, atau (menawarkan) untuk membawanya di atas hewan tunggangannya, maka janganlah ia menunggangi hewannya dan menerimanya, kecuali jika hal tersebut sudah (biasa) terjadi antara dia dan peminjam sebelum adanya utang piutang tersebut.” (HR. Ibnu Majah dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani)Selain hadis ini, terdapat atsar yang lain dari para sahabat akan terlarangnya hal yang demikian. Sebagaimana dalam hadis Abu Burdah, beliau berkata, “Aku mendatangi Madinah, kemudian bertemu dengan Abdullah bin Salam radiyallahu ‘anhu, kemudian beliau berkata,إِنَّكَ بِأَرضٍ الرِّبَا بِهَا فَاشٍ، إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ، فَأَهدَى إِلَيكَ حِملَ تِبنٍ، أَو حِملَ شَعِيرٍ، أَو حِملَ قَتٍّ ، فَلَا تَأخُذهُ فَإِنَّهُ رِبَا“Sesungguhnya engkau berada di negeri yang riba telah menyebar di dalamnya. Jika engkau memiliki piutang atas seseorang, lalu ia menghadiahkan kepadamu satu muatan jerami, atau satu muatan jelai (gandum), atau satu muatan rumput kering, jangan engkau menerimanya, karena itu adalah riba.” (HR. Bukhari)Sehingga hukum asalnya adalah pengutang tidak boleh memberikan hadiah atau yang semisalnya kepada pemberi utang, sebagaimana pula pemberi utang tidak boleh menerima pemberian hadiah atau yang semisalnya dari pengutang. Karena yang demikian termasuk riba.Bolehnya memberikan hadiah pada beberapa keadaanDari hukum asal di atas, terdapat beberapa pengecualian berupa bolehnya memberikan hadiah ketika akad utang piutang sedang berlangsung. Hal seperti ini cukup banyak ditemukan di tengah-tengah masyarakat dalam bentuk yang beraneka ragam.Setidaknya terdapat tiga pengecualian diperbolehkannya pengutang memberikan hadiah kepada pemberi utang:Pertama, jika kebiasaan seperti itu (saling memberi hadiah) sudah terjadi sebelum akad utang piutang berlangsung. Maka hadiah tersebut boleh diterima, sebagaimana yang terdapat pada hadis dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu, إِلَّا أَن يَكُونَ جَرَى بَينَهُ وَبَينَهُ قَبلَ ذَلِكَ“Kecuali jika hal tersebut sudah (biasa) terjadi antara dia dan peminjam sebelum adanya utang piutang tersebut.”Seperti halnya teman dekat, sahabat, kerabat, keluarga yang sudah terbiasa saling memberi hadiah. Tatkala akad utang piutang sedang berjalan, maka tidak mengapa pihak pengutang memberikan hadiah dan boleh bagi pemberi utang untuk menerimanya. Karena hadiah di sini bukan lagi soal “tambahan atau manfaat”, namun karena kebiasaan antara kedua belah pihak yang telah berjalan sebelum adanya akad utang piutang.Kedua, jika pemberi pinjaman berniat untuk membalas hadiah itu dengan hal serupa yang bermanfaat bagi si pemberi hadiah (pengutang), maka boleh baginya menerimanya. Maksudnya, setelah pengutang memberikan hadiah, pemberi utang membalas kembali hadiah yang diberikan kepada pengutang.Ketiga, jika hadiah itu diperhitungkan sebagai bagian dari pelunasan utangnya, maka hal inipun boleh diterima oleh pemberi utang. Yakni, pengutang menyampaikan bahwa hadiah itu seharga sekian, dan hadiah itu sebagai bentuk pembayaran dari sebagian utangnya.Sehingga kesimpulan dari pembahasan ini, memberikan hadiah dalam kondisi akad utang piutang sedang berlangsung, hukum asalnya tidak diperbolehkan. Namun, terdapat beberapa pengecualian dari hukum asal ini, artinya boleh dalam beberapa keadaan sebagaimana yang telah disebutkan di atas.Semoga penjelasan ini bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.[Bersambung]Kembali ke bagian 10 Lanjut ke bagian 12***Depok, 25 Rabi’ul akhir 1447/ 18 Oktober 2025Penulis: Zia AbdurrofiArtikel Muslim.or.id Referensi:Disarikan dari kitab Fiqhul Mu’amalat Al-Maliyah Al-Muyassar.

Membaca atau Mendengar Al-Qur’an, Mana yang Lebih Banyak Pahalanya? – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Apakah pahala mendengarkan bacaan Al-Qur’an sama dengan pahala membacanya? Yang tampak (dari dalil-dalilnya) adalah pahala membaca Al-Qur’an lebih besar. Sebagaimana sabda Nabi ‘alaihis shalatu wassalam: “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali.” (HR. At-Tirmidzi). Namun, mendengarkan bacaan Al-Qur’an juga memiliki keutamaan dan pahala tersendiri. Allah ‘Azza wa Jalla mengabarkan bahwa mendengarkan Al-Qur’an dapat menambah keimanan. “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya.” (QS. Al-Anfal: 2). Namun pahala orang yang mendengar bacaan Al-Quran lebih sedikit daripada pahala orang yang membacanya. Di antara dalilnya adalah bahwa mayoritas tuntunan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam adalah membaca Al-Qur’an, sedangkan tuntunan beliau dalam mendengarkan bacaan orang lain hanya sedikit. Seandainya pahalanya sama, niscaya tuntunan mendengarkan bacaan orang lain tidak akan sedikit. Selain itu, tidak ada dalil yang tegas yang menunjukkan bahwa pahala mendengarkan Al-Qur’an setara dengan pahala membacanya. Maka, pendapat yang lebih kuat adalah pahala membaca Al-Qur’an lebih besar. Meski demikian, seorang Muslim tetap memperoleh pahala ketika mendengarkan Al-Qur’an, dan hal itu termasuk sebab bertambahnya keimanan. Maka, hendaklah seorang Muslim memvariasikan kedua aktivitas ini. Oleh sebab itu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ibnu Mas’ud: “Bacalah untukku!” Ibnu Mas‘ud berkata, “Aku membacakan untukmu, sedangkan Al-Qur’an diturunkan kepadamu?” Beliau menjawab, “Aku suka mendengarnya dari orang lain.” Seakan-akan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam suka mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain ketika itu. Maka, yang seharusnya dilakukan adalah memvariasikan: membaca Al-Qur’an, dan inilah yang lebih banyak dilakukan, sebagaimana yang paling banyak dilakukan oleh Nabi ‘alaihis shalatu wassalam. Namun, terkadang juga mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain. ===== هَلْ أَجْرُ الِاسْتِمَاعِ لِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ مِثْلُ أَجْرِ تِلَاوَتِهِ؟ الَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ أَجْرَ التِّلَاوَةِ أَعْظَمُ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَكِنْ الِاسْتِمَاعُ فِيهِ فَضْلٌ وَأَجْرٌ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ا أَخْبَرَ بِأَنَّ الِاسْتِمَاعَ لِلْقُرْآنِ أَنَّهُ يَزِيدُ بِهِ الْأَيْمَانُ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا لَكِنَّ أَجْرَ وَثَوَابَ الْمُسْتَمِعِ الَّذِي يَظْهَرُ أَنَّهُ أَقَلُّ مِنْ أَجْرِ وَثَوَابِ الْقَارِئِ وَمِمَّا يَدُلُّ لِهَذَا أَنَّ غَالِبَ هَدْيِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ هُوَ التِّلَاوَةُ التِّلَاوَةُ وَأَمَّا اسْتِمَاعُهُ لِلتِّلَاوَةِ مِنْ غَيْرِهِ قَلِيلٌ وَلَوْ كَانَ الْأَجْرُ وَاحِدًا لَمَا كَانَ الِاسْتِمَاعُ قَلِيلًا ثُمَّ أَيْضًا هُوَ لَا يُوجَدُ دَلِيلٌ ظَاهِرٌ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ ثَوَابَ الِاسْتِمَاعِ يُعَادِلُ أَجْرَ ثَوَابِ التِّلَاوَةِ فَالَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ ثَوَابَ التِّلَاوَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا وَثَوَابًا وَالِاسْتِمَاعُ أَيْضًا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُ وَهُوَ مِمَّا يَزِيدُ بِهِ الْأَيْمَانُ وَالَّذِي يَنْبَغِي أَنَّ الْمُسْلِمَ يُنَوِّعُ وَلِهَذَا لَمَّا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ اقْرَأْ عَلَيَّ قَالَ أَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟ قَالَ إِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي كَأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَحَبَّ أَنْ يَسْتَمِعَ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ لِلتِّلَاوَةِ مِنْ غَيْرِهِ فَالَّذِي يَنْبَغِي هُوَ التَّنْوِيْعُ يَعْنِي يَتْلُو القُرْآنَ وَيَكُونُ هَذَا هُوَ الْغَالِبُ كَمَا كَانَ هُوَ الْغَالِبُ مِنْ هَدْيِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَكِنْ يَسْتَمِعُ أَحْيَانًا لِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ مِنْ غَيْرِهِ

Membaca atau Mendengar Al-Qur’an, Mana yang Lebih Banyak Pahalanya? – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Apakah pahala mendengarkan bacaan Al-Qur’an sama dengan pahala membacanya? Yang tampak (dari dalil-dalilnya) adalah pahala membaca Al-Qur’an lebih besar. Sebagaimana sabda Nabi ‘alaihis shalatu wassalam: “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali.” (HR. At-Tirmidzi). Namun, mendengarkan bacaan Al-Qur’an juga memiliki keutamaan dan pahala tersendiri. Allah ‘Azza wa Jalla mengabarkan bahwa mendengarkan Al-Qur’an dapat menambah keimanan. “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya.” (QS. Al-Anfal: 2). Namun pahala orang yang mendengar bacaan Al-Quran lebih sedikit daripada pahala orang yang membacanya. Di antara dalilnya adalah bahwa mayoritas tuntunan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam adalah membaca Al-Qur’an, sedangkan tuntunan beliau dalam mendengarkan bacaan orang lain hanya sedikit. Seandainya pahalanya sama, niscaya tuntunan mendengarkan bacaan orang lain tidak akan sedikit. Selain itu, tidak ada dalil yang tegas yang menunjukkan bahwa pahala mendengarkan Al-Qur’an setara dengan pahala membacanya. Maka, pendapat yang lebih kuat adalah pahala membaca Al-Qur’an lebih besar. Meski demikian, seorang Muslim tetap memperoleh pahala ketika mendengarkan Al-Qur’an, dan hal itu termasuk sebab bertambahnya keimanan. Maka, hendaklah seorang Muslim memvariasikan kedua aktivitas ini. Oleh sebab itu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ibnu Mas’ud: “Bacalah untukku!” Ibnu Mas‘ud berkata, “Aku membacakan untukmu, sedangkan Al-Qur’an diturunkan kepadamu?” Beliau menjawab, “Aku suka mendengarnya dari orang lain.” Seakan-akan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam suka mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain ketika itu. Maka, yang seharusnya dilakukan adalah memvariasikan: membaca Al-Qur’an, dan inilah yang lebih banyak dilakukan, sebagaimana yang paling banyak dilakukan oleh Nabi ‘alaihis shalatu wassalam. Namun, terkadang juga mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain. ===== هَلْ أَجْرُ الِاسْتِمَاعِ لِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ مِثْلُ أَجْرِ تِلَاوَتِهِ؟ الَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ أَجْرَ التِّلَاوَةِ أَعْظَمُ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَكِنْ الِاسْتِمَاعُ فِيهِ فَضْلٌ وَأَجْرٌ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ا أَخْبَرَ بِأَنَّ الِاسْتِمَاعَ لِلْقُرْآنِ أَنَّهُ يَزِيدُ بِهِ الْأَيْمَانُ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا لَكِنَّ أَجْرَ وَثَوَابَ الْمُسْتَمِعِ الَّذِي يَظْهَرُ أَنَّهُ أَقَلُّ مِنْ أَجْرِ وَثَوَابِ الْقَارِئِ وَمِمَّا يَدُلُّ لِهَذَا أَنَّ غَالِبَ هَدْيِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ هُوَ التِّلَاوَةُ التِّلَاوَةُ وَأَمَّا اسْتِمَاعُهُ لِلتِّلَاوَةِ مِنْ غَيْرِهِ قَلِيلٌ وَلَوْ كَانَ الْأَجْرُ وَاحِدًا لَمَا كَانَ الِاسْتِمَاعُ قَلِيلًا ثُمَّ أَيْضًا هُوَ لَا يُوجَدُ دَلِيلٌ ظَاهِرٌ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ ثَوَابَ الِاسْتِمَاعِ يُعَادِلُ أَجْرَ ثَوَابِ التِّلَاوَةِ فَالَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ ثَوَابَ التِّلَاوَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا وَثَوَابًا وَالِاسْتِمَاعُ أَيْضًا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُ وَهُوَ مِمَّا يَزِيدُ بِهِ الْأَيْمَانُ وَالَّذِي يَنْبَغِي أَنَّ الْمُسْلِمَ يُنَوِّعُ وَلِهَذَا لَمَّا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ اقْرَأْ عَلَيَّ قَالَ أَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟ قَالَ إِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي كَأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَحَبَّ أَنْ يَسْتَمِعَ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ لِلتِّلَاوَةِ مِنْ غَيْرِهِ فَالَّذِي يَنْبَغِي هُوَ التَّنْوِيْعُ يَعْنِي يَتْلُو القُرْآنَ وَيَكُونُ هَذَا هُوَ الْغَالِبُ كَمَا كَانَ هُوَ الْغَالِبُ مِنْ هَدْيِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَكِنْ يَسْتَمِعُ أَحْيَانًا لِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ مِنْ غَيْرِهِ
Apakah pahala mendengarkan bacaan Al-Qur’an sama dengan pahala membacanya? Yang tampak (dari dalil-dalilnya) adalah pahala membaca Al-Qur’an lebih besar. Sebagaimana sabda Nabi ‘alaihis shalatu wassalam: “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali.” (HR. At-Tirmidzi). Namun, mendengarkan bacaan Al-Qur’an juga memiliki keutamaan dan pahala tersendiri. Allah ‘Azza wa Jalla mengabarkan bahwa mendengarkan Al-Qur’an dapat menambah keimanan. “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya.” (QS. Al-Anfal: 2). Namun pahala orang yang mendengar bacaan Al-Quran lebih sedikit daripada pahala orang yang membacanya. Di antara dalilnya adalah bahwa mayoritas tuntunan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam adalah membaca Al-Qur’an, sedangkan tuntunan beliau dalam mendengarkan bacaan orang lain hanya sedikit. Seandainya pahalanya sama, niscaya tuntunan mendengarkan bacaan orang lain tidak akan sedikit. Selain itu, tidak ada dalil yang tegas yang menunjukkan bahwa pahala mendengarkan Al-Qur’an setara dengan pahala membacanya. Maka, pendapat yang lebih kuat adalah pahala membaca Al-Qur’an lebih besar. Meski demikian, seorang Muslim tetap memperoleh pahala ketika mendengarkan Al-Qur’an, dan hal itu termasuk sebab bertambahnya keimanan. Maka, hendaklah seorang Muslim memvariasikan kedua aktivitas ini. Oleh sebab itu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ibnu Mas’ud: “Bacalah untukku!” Ibnu Mas‘ud berkata, “Aku membacakan untukmu, sedangkan Al-Qur’an diturunkan kepadamu?” Beliau menjawab, “Aku suka mendengarnya dari orang lain.” Seakan-akan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam suka mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain ketika itu. Maka, yang seharusnya dilakukan adalah memvariasikan: membaca Al-Qur’an, dan inilah yang lebih banyak dilakukan, sebagaimana yang paling banyak dilakukan oleh Nabi ‘alaihis shalatu wassalam. Namun, terkadang juga mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain. ===== هَلْ أَجْرُ الِاسْتِمَاعِ لِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ مِثْلُ أَجْرِ تِلَاوَتِهِ؟ الَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ أَجْرَ التِّلَاوَةِ أَعْظَمُ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَكِنْ الِاسْتِمَاعُ فِيهِ فَضْلٌ وَأَجْرٌ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ا أَخْبَرَ بِأَنَّ الِاسْتِمَاعَ لِلْقُرْآنِ أَنَّهُ يَزِيدُ بِهِ الْأَيْمَانُ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا لَكِنَّ أَجْرَ وَثَوَابَ الْمُسْتَمِعِ الَّذِي يَظْهَرُ أَنَّهُ أَقَلُّ مِنْ أَجْرِ وَثَوَابِ الْقَارِئِ وَمِمَّا يَدُلُّ لِهَذَا أَنَّ غَالِبَ هَدْيِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ هُوَ التِّلَاوَةُ التِّلَاوَةُ وَأَمَّا اسْتِمَاعُهُ لِلتِّلَاوَةِ مِنْ غَيْرِهِ قَلِيلٌ وَلَوْ كَانَ الْأَجْرُ وَاحِدًا لَمَا كَانَ الِاسْتِمَاعُ قَلِيلًا ثُمَّ أَيْضًا هُوَ لَا يُوجَدُ دَلِيلٌ ظَاهِرٌ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ ثَوَابَ الِاسْتِمَاعِ يُعَادِلُ أَجْرَ ثَوَابِ التِّلَاوَةِ فَالَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ ثَوَابَ التِّلَاوَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا وَثَوَابًا وَالِاسْتِمَاعُ أَيْضًا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُ وَهُوَ مِمَّا يَزِيدُ بِهِ الْأَيْمَانُ وَالَّذِي يَنْبَغِي أَنَّ الْمُسْلِمَ يُنَوِّعُ وَلِهَذَا لَمَّا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ اقْرَأْ عَلَيَّ قَالَ أَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟ قَالَ إِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي كَأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَحَبَّ أَنْ يَسْتَمِعَ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ لِلتِّلَاوَةِ مِنْ غَيْرِهِ فَالَّذِي يَنْبَغِي هُوَ التَّنْوِيْعُ يَعْنِي يَتْلُو القُرْآنَ وَيَكُونُ هَذَا هُوَ الْغَالِبُ كَمَا كَانَ هُوَ الْغَالِبُ مِنْ هَدْيِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَكِنْ يَسْتَمِعُ أَحْيَانًا لِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ مِنْ غَيْرِهِ


Apakah pahala mendengarkan bacaan Al-Qur’an sama dengan pahala membacanya? Yang tampak (dari dalil-dalilnya) adalah pahala membaca Al-Qur’an lebih besar. Sebagaimana sabda Nabi ‘alaihis shalatu wassalam: “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali.” (HR. At-Tirmidzi). Namun, mendengarkan bacaan Al-Qur’an juga memiliki keutamaan dan pahala tersendiri. Allah ‘Azza wa Jalla mengabarkan bahwa mendengarkan Al-Qur’an dapat menambah keimanan. “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya.” (QS. Al-Anfal: 2). Namun pahala orang yang mendengar bacaan Al-Quran lebih sedikit daripada pahala orang yang membacanya. Di antara dalilnya adalah bahwa mayoritas tuntunan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam adalah membaca Al-Qur’an, sedangkan tuntunan beliau dalam mendengarkan bacaan orang lain hanya sedikit. Seandainya pahalanya sama, niscaya tuntunan mendengarkan bacaan orang lain tidak akan sedikit. Selain itu, tidak ada dalil yang tegas yang menunjukkan bahwa pahala mendengarkan Al-Qur’an setara dengan pahala membacanya. Maka, pendapat yang lebih kuat adalah pahala membaca Al-Qur’an lebih besar. Meski demikian, seorang Muslim tetap memperoleh pahala ketika mendengarkan Al-Qur’an, dan hal itu termasuk sebab bertambahnya keimanan. Maka, hendaklah seorang Muslim memvariasikan kedua aktivitas ini. Oleh sebab itu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ibnu Mas’ud: “Bacalah untukku!” Ibnu Mas‘ud berkata, “Aku membacakan untukmu, sedangkan Al-Qur’an diturunkan kepadamu?” Beliau menjawab, “Aku suka mendengarnya dari orang lain.” Seakan-akan Nabi ‘alaihis shalatu wassalam suka mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain ketika itu. Maka, yang seharusnya dilakukan adalah memvariasikan: membaca Al-Qur’an, dan inilah yang lebih banyak dilakukan, sebagaimana yang paling banyak dilakukan oleh Nabi ‘alaihis shalatu wassalam. Namun, terkadang juga mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain. ===== هَلْ أَجْرُ الِاسْتِمَاعِ لِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ مِثْلُ أَجْرِ تِلَاوَتِهِ؟ الَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ أَجْرَ التِّلَاوَةِ أَعْظَمُ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَكِنْ الِاسْتِمَاعُ فِيهِ فَضْلٌ وَأَجْرٌ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ا أَخْبَرَ بِأَنَّ الِاسْتِمَاعَ لِلْقُرْآنِ أَنَّهُ يَزِيدُ بِهِ الْأَيْمَانُ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا لَكِنَّ أَجْرَ وَثَوَابَ الْمُسْتَمِعِ الَّذِي يَظْهَرُ أَنَّهُ أَقَلُّ مِنْ أَجْرِ وَثَوَابِ الْقَارِئِ وَمِمَّا يَدُلُّ لِهَذَا أَنَّ غَالِبَ هَدْيِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ هُوَ التِّلَاوَةُ التِّلَاوَةُ وَأَمَّا اسْتِمَاعُهُ لِلتِّلَاوَةِ مِنْ غَيْرِهِ قَلِيلٌ وَلَوْ كَانَ الْأَجْرُ وَاحِدًا لَمَا كَانَ الِاسْتِمَاعُ قَلِيلًا ثُمَّ أَيْضًا هُوَ لَا يُوجَدُ دَلِيلٌ ظَاهِرٌ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ ثَوَابَ الِاسْتِمَاعِ يُعَادِلُ أَجْرَ ثَوَابِ التِّلَاوَةِ فَالَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ ثَوَابَ التِّلَاوَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا وَثَوَابًا وَالِاسْتِمَاعُ أَيْضًا يُؤْجَرُ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُ وَهُوَ مِمَّا يَزِيدُ بِهِ الْأَيْمَانُ وَالَّذِي يَنْبَغِي أَنَّ الْمُسْلِمَ يُنَوِّعُ وَلِهَذَا لَمَّا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ اقْرَأْ عَلَيَّ قَالَ أَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟ قَالَ إِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي كَأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَحَبَّ أَنْ يَسْتَمِعَ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ لِلتِّلَاوَةِ مِنْ غَيْرِهِ فَالَّذِي يَنْبَغِي هُوَ التَّنْوِيْعُ يَعْنِي يَتْلُو القُرْآنَ وَيَكُونُ هَذَا هُوَ الْغَالِبُ كَمَا كَانَ هُوَ الْغَالِبُ مِنْ هَدْيِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَكِنْ يَسْتَمِعُ أَحْيَانًا لِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ مِنْ غَيْرِهِ

Imam Syafi’i Sakit, Muridnya Salah Ucap, Tapi Lihat Cara Beliau Menyikapinya! – Syaikh Utsman Khamis

Imam Asy-Syafi’i pernah dijenguk oleh muridnya, Ar-Rabi’. Saat itu, Imam Asy-Syafi’i sedang sakit. Lalu muridnya berkata kepadanya, “Semoga Allah menambahkan untukmu…” Apa katanya tadi? “Semoga Allah menguatkan lemahmu, wahai Imam.” “Semoga Allah menguatkan lemahmu, wahai Imam.” Kalimat “Semoga Allah menguatkan lemahmu” memiliki dua kemungkinan makna. Pertama: “Semoga Allah menguatkan lemahmu,” artinya semoga Allah menguatkan dirimu. Kedua: “Semoga Allah menguatkan lemahmu,” artinya semoga Allah menambah kelemahanmu. Imam Asy-Syafi’i—yang ketika itu sedang sakit—adalah sosok yang lembut, semoga Allah merahmatinya. Beliau pun menjawab, “Andai Allah menambah kelemahanku, aku pasti mati.” Maksudnya: “Jika sakitku bertambah parah, aku tidak sanggup menahannya.” “Jika kelemahanku diperkuat, aku pasti mati.” Muridnya segera berkata, “Demi Allah, wahai Imam, aku tidak bermaksud demikian!” “Aku maksudkan: semoga Allah menguatkan lemahmu, dalam makna yang kedua, yaitu semoga Allah menghilangkan kelemahanmu dan menggantinya dengan kekuatan.” Ia menegaskan, “Demi Allah, aku tidak bermaksud yang pertama itu!” Maka Asy-Syafi’i berkata, “Demi Allah! Sekalipun kamu menghinaku, pasti aku tahu bahwa itu bukan maksudmu.” Inilah yang disebut berbaik sangka. Banyak orang, ketika mendengar satu kalimat yang bisa ditafsirkan dalam tujuh belas makna, justru memilih satu makna yang paling buruk di antaranya. Berbaik sangkalah terhadap saudara-saudara kalian! Bahkan, ada yang pernah bercerita kepadaku bahwa ia menasihati seseorang, tapi orang itu malah marah. Mungkin caranya menasihati kurang baik, tapi wahai saudaraku, terimalah nasihat itu dan ambil kebaikannya. Sebagian orang memang tidak pandai dalam menyampaikan nasihat, tetapi apakah ucapannya benar atau tidak? Bahkan jika ucapannya tidak benar sekalipun, cukup katakan, “Jazakallahu khairan,” lalu terimalah dengan lapang dada. Bersikaplah lembut terhadap saudara-saudaramu. Permudahlah urusan mereka. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. ===== يَعْنِي الشَّافِعِيُّ دَخَلَ عَلَيْهِ تِلْمِيذُهُ الرَّبِيعُ وَكَانَ الشَّافِعِيُّ مَرِيضًا فَقَالَ لَهُ تِلْمِيذُهُ زَادَكَ اللَّهُ أَيْش قَال؟ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ يَا إِمَامُ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ يَا إِمَامُ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ تَحْتَمِلُ مَعْنَيَيْنِ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ يَعْنِي قَوَّاكَ وَقَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ زَادَ اللَّهُ ضَعْفَكَ الشَّافِعِيُّ وَهُوَ مَرِيضٌ كَانَتْ يَعْنِي نَفْسُهُ لَطِيفَةٌ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى فَقَالَ لَوْ قَوَّى ضَعْفِي لَمِتُّ يَعْنِي أَكْثَرَ مِنْ شِدَّتِهِ أَمُوتُ مَا أَقْدِرُ لَوْ قَوَّى ضَعْفِي لَمِتُّ فَقَالَ يَا إِمَامُ وَاللّهِ مَا قَصَدْتُ هَذَا يَعْنِي قَصَدْتُ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ الثَّانِيَةَ الَّتِي هِيَ أَزَالَ اللَّهُ الْضَّعْفَ وَأَبْدَلَهُ قُوَّةً قَالَ وَاللّهِ مَا قَصَدْتُ هَذِهِ فَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَاللَّهِ لَوْ سَبَبْتَنِي لَعَلِمْتُ إِنَّكَ لَا تَقْصِدُ هَذَا إِحْسَانُ الظَّنِّ هَذَا النَّاسُ حِينَ كَلِمَةٍ تَحْتَمِلُ سَبْعَةَ عَشَرَ مَعْنًى يَأْخُذُ مِنْ سَبْعَةَ عَشَرَ الَّذِي هُو الَّذِي فِيهَا الشَّيْنُ أَحْسِنُوا الظَّنَّ بِإِخْوَانِكُمْ يَعْنِي حَتَّى حَدَّثَنِي بَعْضُهُمْ أَنَّهُ قَدَّمَ نَصِيحَةً إِلَى أَحَدِهِمْ فَغَضِبَ لَعَلَّ أُسْلُوبَهُ كَانَ سَيِّئًا وَكَذَا لَكِنْ يَا أَخِي تَقَبَّلْ خَلَاصٌ خُذِ الْخَيْرَ بَعْضُ النَّاسِ قَدْ يَكُونُ أُسْلُوبُهُ لَيْس جَيِّدًا لَكِنْ الْكَلَامُ الَّذِي قَالَه صَحَّ وَلَا لَا؟ حَتَّى لَوْ لَمْ يَكُنْ صَحَّ طَيِّبٌ قُلْ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْراً وَتَقَبَّلْ لِيْنُوا بَيْنَ أَيْدِي إِخْوَانِكُمْ يَعْنِي سَهِّلِ الْأُمُورَ اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ

Imam Syafi’i Sakit, Muridnya Salah Ucap, Tapi Lihat Cara Beliau Menyikapinya! – Syaikh Utsman Khamis

Imam Asy-Syafi’i pernah dijenguk oleh muridnya, Ar-Rabi’. Saat itu, Imam Asy-Syafi’i sedang sakit. Lalu muridnya berkata kepadanya, “Semoga Allah menambahkan untukmu…” Apa katanya tadi? “Semoga Allah menguatkan lemahmu, wahai Imam.” “Semoga Allah menguatkan lemahmu, wahai Imam.” Kalimat “Semoga Allah menguatkan lemahmu” memiliki dua kemungkinan makna. Pertama: “Semoga Allah menguatkan lemahmu,” artinya semoga Allah menguatkan dirimu. Kedua: “Semoga Allah menguatkan lemahmu,” artinya semoga Allah menambah kelemahanmu. Imam Asy-Syafi’i—yang ketika itu sedang sakit—adalah sosok yang lembut, semoga Allah merahmatinya. Beliau pun menjawab, “Andai Allah menambah kelemahanku, aku pasti mati.” Maksudnya: “Jika sakitku bertambah parah, aku tidak sanggup menahannya.” “Jika kelemahanku diperkuat, aku pasti mati.” Muridnya segera berkata, “Demi Allah, wahai Imam, aku tidak bermaksud demikian!” “Aku maksudkan: semoga Allah menguatkan lemahmu, dalam makna yang kedua, yaitu semoga Allah menghilangkan kelemahanmu dan menggantinya dengan kekuatan.” Ia menegaskan, “Demi Allah, aku tidak bermaksud yang pertama itu!” Maka Asy-Syafi’i berkata, “Demi Allah! Sekalipun kamu menghinaku, pasti aku tahu bahwa itu bukan maksudmu.” Inilah yang disebut berbaik sangka. Banyak orang, ketika mendengar satu kalimat yang bisa ditafsirkan dalam tujuh belas makna, justru memilih satu makna yang paling buruk di antaranya. Berbaik sangkalah terhadap saudara-saudara kalian! Bahkan, ada yang pernah bercerita kepadaku bahwa ia menasihati seseorang, tapi orang itu malah marah. Mungkin caranya menasihati kurang baik, tapi wahai saudaraku, terimalah nasihat itu dan ambil kebaikannya. Sebagian orang memang tidak pandai dalam menyampaikan nasihat, tetapi apakah ucapannya benar atau tidak? Bahkan jika ucapannya tidak benar sekalipun, cukup katakan, “Jazakallahu khairan,” lalu terimalah dengan lapang dada. Bersikaplah lembut terhadap saudara-saudaramu. Permudahlah urusan mereka. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. ===== يَعْنِي الشَّافِعِيُّ دَخَلَ عَلَيْهِ تِلْمِيذُهُ الرَّبِيعُ وَكَانَ الشَّافِعِيُّ مَرِيضًا فَقَالَ لَهُ تِلْمِيذُهُ زَادَكَ اللَّهُ أَيْش قَال؟ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ يَا إِمَامُ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ يَا إِمَامُ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ تَحْتَمِلُ مَعْنَيَيْنِ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ يَعْنِي قَوَّاكَ وَقَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ زَادَ اللَّهُ ضَعْفَكَ الشَّافِعِيُّ وَهُوَ مَرِيضٌ كَانَتْ يَعْنِي نَفْسُهُ لَطِيفَةٌ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى فَقَالَ لَوْ قَوَّى ضَعْفِي لَمِتُّ يَعْنِي أَكْثَرَ مِنْ شِدَّتِهِ أَمُوتُ مَا أَقْدِرُ لَوْ قَوَّى ضَعْفِي لَمِتُّ فَقَالَ يَا إِمَامُ وَاللّهِ مَا قَصَدْتُ هَذَا يَعْنِي قَصَدْتُ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ الثَّانِيَةَ الَّتِي هِيَ أَزَالَ اللَّهُ الْضَّعْفَ وَأَبْدَلَهُ قُوَّةً قَالَ وَاللّهِ مَا قَصَدْتُ هَذِهِ فَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَاللَّهِ لَوْ سَبَبْتَنِي لَعَلِمْتُ إِنَّكَ لَا تَقْصِدُ هَذَا إِحْسَانُ الظَّنِّ هَذَا النَّاسُ حِينَ كَلِمَةٍ تَحْتَمِلُ سَبْعَةَ عَشَرَ مَعْنًى يَأْخُذُ مِنْ سَبْعَةَ عَشَرَ الَّذِي هُو الَّذِي فِيهَا الشَّيْنُ أَحْسِنُوا الظَّنَّ بِإِخْوَانِكُمْ يَعْنِي حَتَّى حَدَّثَنِي بَعْضُهُمْ أَنَّهُ قَدَّمَ نَصِيحَةً إِلَى أَحَدِهِمْ فَغَضِبَ لَعَلَّ أُسْلُوبَهُ كَانَ سَيِّئًا وَكَذَا لَكِنْ يَا أَخِي تَقَبَّلْ خَلَاصٌ خُذِ الْخَيْرَ بَعْضُ النَّاسِ قَدْ يَكُونُ أُسْلُوبُهُ لَيْس جَيِّدًا لَكِنْ الْكَلَامُ الَّذِي قَالَه صَحَّ وَلَا لَا؟ حَتَّى لَوْ لَمْ يَكُنْ صَحَّ طَيِّبٌ قُلْ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْراً وَتَقَبَّلْ لِيْنُوا بَيْنَ أَيْدِي إِخْوَانِكُمْ يَعْنِي سَهِّلِ الْأُمُورَ اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ
Imam Asy-Syafi’i pernah dijenguk oleh muridnya, Ar-Rabi’. Saat itu, Imam Asy-Syafi’i sedang sakit. Lalu muridnya berkata kepadanya, “Semoga Allah menambahkan untukmu…” Apa katanya tadi? “Semoga Allah menguatkan lemahmu, wahai Imam.” “Semoga Allah menguatkan lemahmu, wahai Imam.” Kalimat “Semoga Allah menguatkan lemahmu” memiliki dua kemungkinan makna. Pertama: “Semoga Allah menguatkan lemahmu,” artinya semoga Allah menguatkan dirimu. Kedua: “Semoga Allah menguatkan lemahmu,” artinya semoga Allah menambah kelemahanmu. Imam Asy-Syafi’i—yang ketika itu sedang sakit—adalah sosok yang lembut, semoga Allah merahmatinya. Beliau pun menjawab, “Andai Allah menambah kelemahanku, aku pasti mati.” Maksudnya: “Jika sakitku bertambah parah, aku tidak sanggup menahannya.” “Jika kelemahanku diperkuat, aku pasti mati.” Muridnya segera berkata, “Demi Allah, wahai Imam, aku tidak bermaksud demikian!” “Aku maksudkan: semoga Allah menguatkan lemahmu, dalam makna yang kedua, yaitu semoga Allah menghilangkan kelemahanmu dan menggantinya dengan kekuatan.” Ia menegaskan, “Demi Allah, aku tidak bermaksud yang pertama itu!” Maka Asy-Syafi’i berkata, “Demi Allah! Sekalipun kamu menghinaku, pasti aku tahu bahwa itu bukan maksudmu.” Inilah yang disebut berbaik sangka. Banyak orang, ketika mendengar satu kalimat yang bisa ditafsirkan dalam tujuh belas makna, justru memilih satu makna yang paling buruk di antaranya. Berbaik sangkalah terhadap saudara-saudara kalian! Bahkan, ada yang pernah bercerita kepadaku bahwa ia menasihati seseorang, tapi orang itu malah marah. Mungkin caranya menasihati kurang baik, tapi wahai saudaraku, terimalah nasihat itu dan ambil kebaikannya. Sebagian orang memang tidak pandai dalam menyampaikan nasihat, tetapi apakah ucapannya benar atau tidak? Bahkan jika ucapannya tidak benar sekalipun, cukup katakan, “Jazakallahu khairan,” lalu terimalah dengan lapang dada. Bersikaplah lembut terhadap saudara-saudaramu. Permudahlah urusan mereka. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. ===== يَعْنِي الشَّافِعِيُّ دَخَلَ عَلَيْهِ تِلْمِيذُهُ الرَّبِيعُ وَكَانَ الشَّافِعِيُّ مَرِيضًا فَقَالَ لَهُ تِلْمِيذُهُ زَادَكَ اللَّهُ أَيْش قَال؟ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ يَا إِمَامُ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ يَا إِمَامُ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ تَحْتَمِلُ مَعْنَيَيْنِ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ يَعْنِي قَوَّاكَ وَقَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ زَادَ اللَّهُ ضَعْفَكَ الشَّافِعِيُّ وَهُوَ مَرِيضٌ كَانَتْ يَعْنِي نَفْسُهُ لَطِيفَةٌ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى فَقَالَ لَوْ قَوَّى ضَعْفِي لَمِتُّ يَعْنِي أَكْثَرَ مِنْ شِدَّتِهِ أَمُوتُ مَا أَقْدِرُ لَوْ قَوَّى ضَعْفِي لَمِتُّ فَقَالَ يَا إِمَامُ وَاللّهِ مَا قَصَدْتُ هَذَا يَعْنِي قَصَدْتُ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ الثَّانِيَةَ الَّتِي هِيَ أَزَالَ اللَّهُ الْضَّعْفَ وَأَبْدَلَهُ قُوَّةً قَالَ وَاللّهِ مَا قَصَدْتُ هَذِهِ فَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَاللَّهِ لَوْ سَبَبْتَنِي لَعَلِمْتُ إِنَّكَ لَا تَقْصِدُ هَذَا إِحْسَانُ الظَّنِّ هَذَا النَّاسُ حِينَ كَلِمَةٍ تَحْتَمِلُ سَبْعَةَ عَشَرَ مَعْنًى يَأْخُذُ مِنْ سَبْعَةَ عَشَرَ الَّذِي هُو الَّذِي فِيهَا الشَّيْنُ أَحْسِنُوا الظَّنَّ بِإِخْوَانِكُمْ يَعْنِي حَتَّى حَدَّثَنِي بَعْضُهُمْ أَنَّهُ قَدَّمَ نَصِيحَةً إِلَى أَحَدِهِمْ فَغَضِبَ لَعَلَّ أُسْلُوبَهُ كَانَ سَيِّئًا وَكَذَا لَكِنْ يَا أَخِي تَقَبَّلْ خَلَاصٌ خُذِ الْخَيْرَ بَعْضُ النَّاسِ قَدْ يَكُونُ أُسْلُوبُهُ لَيْس جَيِّدًا لَكِنْ الْكَلَامُ الَّذِي قَالَه صَحَّ وَلَا لَا؟ حَتَّى لَوْ لَمْ يَكُنْ صَحَّ طَيِّبٌ قُلْ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْراً وَتَقَبَّلْ لِيْنُوا بَيْنَ أَيْدِي إِخْوَانِكُمْ يَعْنِي سَهِّلِ الْأُمُورَ اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ


Imam Asy-Syafi’i pernah dijenguk oleh muridnya, Ar-Rabi’. Saat itu, Imam Asy-Syafi’i sedang sakit. Lalu muridnya berkata kepadanya, “Semoga Allah menambahkan untukmu…” Apa katanya tadi? “Semoga Allah menguatkan lemahmu, wahai Imam.” “Semoga Allah menguatkan lemahmu, wahai Imam.” Kalimat “Semoga Allah menguatkan lemahmu” memiliki dua kemungkinan makna. Pertama: “Semoga Allah menguatkan lemahmu,” artinya semoga Allah menguatkan dirimu. Kedua: “Semoga Allah menguatkan lemahmu,” artinya semoga Allah menambah kelemahanmu. Imam Asy-Syafi’i—yang ketika itu sedang sakit—adalah sosok yang lembut, semoga Allah merahmatinya. Beliau pun menjawab, “Andai Allah menambah kelemahanku, aku pasti mati.” Maksudnya: “Jika sakitku bertambah parah, aku tidak sanggup menahannya.” “Jika kelemahanku diperkuat, aku pasti mati.” Muridnya segera berkata, “Demi Allah, wahai Imam, aku tidak bermaksud demikian!” “Aku maksudkan: semoga Allah menguatkan lemahmu, dalam makna yang kedua, yaitu semoga Allah menghilangkan kelemahanmu dan menggantinya dengan kekuatan.” Ia menegaskan, “Demi Allah, aku tidak bermaksud yang pertama itu!” Maka Asy-Syafi’i berkata, “Demi Allah! Sekalipun kamu menghinaku, pasti aku tahu bahwa itu bukan maksudmu.” Inilah yang disebut berbaik sangka. Banyak orang, ketika mendengar satu kalimat yang bisa ditafsirkan dalam tujuh belas makna, justru memilih satu makna yang paling buruk di antaranya. Berbaik sangkalah terhadap saudara-saudara kalian! Bahkan, ada yang pernah bercerita kepadaku bahwa ia menasihati seseorang, tapi orang itu malah marah. Mungkin caranya menasihati kurang baik, tapi wahai saudaraku, terimalah nasihat itu dan ambil kebaikannya. Sebagian orang memang tidak pandai dalam menyampaikan nasihat, tetapi apakah ucapannya benar atau tidak? Bahkan jika ucapannya tidak benar sekalipun, cukup katakan, “Jazakallahu khairan,” lalu terimalah dengan lapang dada. Bersikaplah lembut terhadap saudara-saudaramu. Permudahlah urusan mereka. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. ===== يَعْنِي الشَّافِعِيُّ دَخَلَ عَلَيْهِ تِلْمِيذُهُ الرَّبِيعُ وَكَانَ الشَّافِعِيُّ مَرِيضًا فَقَالَ لَهُ تِلْمِيذُهُ زَادَكَ اللَّهُ أَيْش قَال؟ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ يَا إِمَامُ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ يَا إِمَامُ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ تَحْتَمِلُ مَعْنَيَيْنِ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ يَعْنِي قَوَّاكَ وَقَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ زَادَ اللَّهُ ضَعْفَكَ الشَّافِعِيُّ وَهُوَ مَرِيضٌ كَانَتْ يَعْنِي نَفْسُهُ لَطِيفَةٌ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى فَقَالَ لَوْ قَوَّى ضَعْفِي لَمِتُّ يَعْنِي أَكْثَرَ مِنْ شِدَّتِهِ أَمُوتُ مَا أَقْدِرُ لَوْ قَوَّى ضَعْفِي لَمِتُّ فَقَالَ يَا إِمَامُ وَاللّهِ مَا قَصَدْتُ هَذَا يَعْنِي قَصَدْتُ قَوَّى اللَّهُ ضَعْفَكَ الثَّانِيَةَ الَّتِي هِيَ أَزَالَ اللَّهُ الْضَّعْفَ وَأَبْدَلَهُ قُوَّةً قَالَ وَاللّهِ مَا قَصَدْتُ هَذِهِ فَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَاللَّهِ لَوْ سَبَبْتَنِي لَعَلِمْتُ إِنَّكَ لَا تَقْصِدُ هَذَا إِحْسَانُ الظَّنِّ هَذَا النَّاسُ حِينَ كَلِمَةٍ تَحْتَمِلُ سَبْعَةَ عَشَرَ مَعْنًى يَأْخُذُ مِنْ سَبْعَةَ عَشَرَ الَّذِي هُو الَّذِي فِيهَا الشَّيْنُ أَحْسِنُوا الظَّنَّ بِإِخْوَانِكُمْ يَعْنِي حَتَّى حَدَّثَنِي بَعْضُهُمْ أَنَّهُ قَدَّمَ نَصِيحَةً إِلَى أَحَدِهِمْ فَغَضِبَ لَعَلَّ أُسْلُوبَهُ كَانَ سَيِّئًا وَكَذَا لَكِنْ يَا أَخِي تَقَبَّلْ خَلَاصٌ خُذِ الْخَيْرَ بَعْضُ النَّاسِ قَدْ يَكُونُ أُسْلُوبُهُ لَيْس جَيِّدًا لَكِنْ الْكَلَامُ الَّذِي قَالَه صَحَّ وَلَا لَا؟ حَتَّى لَوْ لَمْ يَكُنْ صَحَّ طَيِّبٌ قُلْ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْراً وَتَقَبَّلْ لِيْنُوا بَيْنَ أَيْدِي إِخْوَانِكُمْ يَعْنِي سَهِّلِ الْأُمُورَ اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ

Penjelasan Makna Kalimat: Laa ilaha illallah

(Dari Kitab Al-Mahshul Al-Jami’ Li-Syuruh Tsalatsah Al-Ushul) شرح معنى لا إله إلا الله (المحصول الجامع لشروح ثلاثة الأصول) Oleh: Dr. Fahd bin Badi Al-Mursyidi د. فهد بن بادي المرشدي قال المصنف رحمه الله: (لا إله): نَافِيًا جَمِيعَ مَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ الله. (إِلا الله): مُثْبِتًا الْعِبَادَةَ للهِ وَحْدَهُ، لا شَرِيكَ لَهُ فِي عِبَادَتِهِ؛ كَمَا أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ شَرِيكٌ فِي مُلْكِهِ. Penulis Rahimahullah berkata: “Laa ilaha” (Tidak ada tuhan): Yakni sebagai penafian semua yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. “Illallah” (Selain Allah): Yakni sebagai penetapan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak punya sekutu dalam peribadatan kepada-Nya, sebagaimana tidak punya sekutu dalam kekuasaan-Nya. الشرح الإجمالي: شهادة التوحيد: “لا إله إلا الله” مركبة من: النفي والإثبات، وهما ركناها، فـالنفي في قول: (لا إله)، وهذا يتضمَّن نفي استحقاق العبادة عن كل من سوى الله عز وجل؛ أي: (نافيًا جميع ما يعبد من دون الله)، والإثبات في قول: (إلا الله)، وهذا يتضمن إثبات العبادة لله عز وجل وحده لا شريك له؛ أي: (مثبتًا العبادة لله وحده، لا شريك له في عبادته؛ كما أنه لا شريك له في ملكه)؛ فإذا كان هو الذي له الملك كله، لا شريك له فيه، وهو خالق كل شيء، فيجب أن يكون هو المعبود وحده [شرح الأصول الثلاثة، عبدالرحمن بن ناصر البراك (26).]. Penjelasan singkat: Kesaksian atas keesaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Laa ilaha illallah” tersusun dari penafian dan penetapan yang merupakan rukun dari kalimat ini. Penafiannya terdapat pada kata “Laa ilaha” (Tidak ada Tuhan). Kalimat ini mengandung penafian hak untuk disembah terhadap seluruh zat selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yakni menafikan segala hal yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sedangkan penetapan dalam kalimat “illallah” (kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala) mengandung penetapan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja yang tidak punya sekutu. Yakni menetapkan ibadah hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata, Dia tidak punya sekutu dalam penyembahan kepada-Nya, sebagaimana tidak punya sekutu juga dalam kekuasaan-Nya. Apabila Zat yang memiliki seluruh kekuasaan, tidak ada sekutu-Nya, dan pencipta segala sesuatu, maka sudah seharusnya tidak ada yang disembah selain Dia. (Kitab Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah karya Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak, hlm. 26). الشرح التفصيلي: قال المصنف: ((لا إله) نافيًا جميع ما يعبد من دون الله، (إلا الله) مثبتًا العبادة لله وحده): فبيَّن أن كلمة التوحيد “لا إله إلا الله” مكونة من نفي وإثبات، هما ركناها: النفي: (لا إله)، والإثبات: (إلا الله)، والنفي المحض ليس بتوحيد، وكذلك الإثبات المحض، فلا بد من الجمع بينهما؛ حتى يتحقق التوحيد وينتفي الشرك، فدلالة هذه الكلمة العظيمة على إثبات الإلهية لله وحده، أعظم من دلالة قولنا: الله إله؛ لأن النفي والإثبات يجعل الشيء المقصود محصورًا بما ذُكر فقط، ولا يعدوه إلى غيره، فالمقصود أن يكون التأله لله جل وعلا وحده لا شريك له[ينظر: حاشية ثلاثة الأصول، عبدالرحمن بن قاسم (52)؛ والمحصول من شرح ثلاثة الأصول، عبدالله الغنيمان (140).] Penjelasan rinci: Penulis mengatakan, “‘Laa ilaha’ (Tidak ada Tuhan) sebagai penafian atas segala hal yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. ‘Illallah’ (Selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala) sebagai penetapan bahwa ibadah hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata.” Beliau menjelaskan bahwa kalimat “Laa ilaha illallah” terdiri atas penafian dan penetapan, dan dua hal ini adalah rukun dari kalimat tersebut, penafian ada pada kalimat “Laa ilaha” (Tidak ada Tuhan), dan penetapan ada pada kalimat “Illallah” (Selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala). Penafian saja bukanlah tauhid, demikian juga penetapan saja, sehingga harus terhimpun dua hal ini agar tauhid dapat terwujud dan kesyirikan dapat tersingkirkan. Makna yang terkandung dalam kalimat yang agung ini tentang penetapan ketuhanan bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja lebih mendalam daripada jika kita sekedar mengucapkan kalimat “Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Tuhan”, karena penafian dan penetapan ini menjadikan makna yang dimaksudkan terbatas pada yang tersebut saja, dan tidak berlaku pada selainnya. Makna yang dimaksudkan adalah ketuhanan yang milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja, tanpa ada sekutu satupun bagi-Nya. (Lihat: Kitab Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul karya Abdurrahman bin Qasim, hlm. 52, dan Al-Mahshul Min Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Abdullah Al-Ghunaiman, hlm. 140). فالذي يقول (لا إله إلا الله)، يقول: أنفي جميع ما يُعبد من دون الله، وأُثبت العبادة لله، فـ(لا) نافية للجنس، و(إله) اسمها، وخبرها محذوف تقديره (حق)؛ فالله هو الحق، وعبادته وحده هي الحق، وعبادة غيره منفية بـ(لا) في هذه الكلمة، فــ(لا إله) تتضمن نفي وجود معبود بحق سوى الله، فالمنفي بـ(لا) في هذه الكلمة هو عبادة غير الله؛ لأنها عبادة بالباطل، فقول: (لا إله): هذا نفي للآلهة الباطلة، وليس نفيًا لجميع الآلهة، وبه يُعلم أن المستثنى (إلا الله) مُخرج من المستثنى منه (لا إله)، ومن حكمه، فلا يدخل أصلًا في المنفي حتى يُستثنى منه، ولا يدخل في حكمه حتى يخرج منه [ينظر: حاشية ثلاثة الأصول، عبدالرحمن بن قاسم (52)؛ وشرح ثلاثة الأصول، عبدالله بن إبراهيم القرعاوي (81).]. Sehingga orang yang mengatakan “Laa ilaha illallah” seakan-akan mengucapkan, “Saya menafikan segala hal yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan menetapkan ibadah adalah hak milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata. Kata “Laa” di sini memiliki makna penafian segala jenis dari kata setelahnya yang dinafikan. Sedangkan kata “ilaha” adalah kata yang dinafikan. Adapun penjelasnya tidak disebutkan secara langsung, yaitu “yang hak (benar)”. Jadi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu benar, beribadah kepada-Nya semata itu benar, dan beribadah kepada selain-Nya ternafikan dengan kata “Laa” di kalimat ini. Sehingga kata “Laa ilaha” mengandung penafian adanya sesembahan yang benar selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Yang dinafikan dengan kata “Laa” pada kalimat ini adalah peribadatan kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena itu merupakan ibadah yang batil, sehingga kata “Laa ilaha” ini menafikan semua sesembahan yang batil, bukan menafikan seluruh sesembahan. Dari sini dapat diketahui bahwa pengecualian dalam kalimat “Illallah” (kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala) tidak masuk dalam Al-mustatsna minhu – unsur yang menjadi asal pengecualian – “Tidak ada tuhan”, sehingga pada dasarnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak masuk dalam penafian itu dan tidak masuk dalam hukumnya. (Lihat: Kitab Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul karya Abdurrahman bin Qasim, hlm. 52, dan Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Abdullah bin Ibrahim Al-Qar’awi, hlm. 81). قال المصنف: (لا شريك له في عبادته، كما أنه ليس له شريك في ملكه)؛ أي: كما أن الله تعالى هو المتفرد في ملكه، فيجب أن يُفرد بالعبادة، فإن من أظلم الظلم أن يُجْعَلَ المخلوق الذي ليس شريكًا لله في الملك، شريكًا لله في العبادة، تعالى الله وتقدس، وهذا كالدليل لما تقدم ذكره من تقرير أنه لا معبود بحق إلا الله، ووجه هذا أنه لا يستحق العبادة إلا الله عز وجل، كما أنه ليس له شريك في ملكه، وهذا استدلال بتوحيد الربوبية على توحيد الإلهية، فالإقرار بأن الله عز وجل ليس له شريك في ملكه لا على وجه الاستقلال ولا على وجه الإشاعة، يلزم منه لزومًا أكيدًا أن الله جل وعلا واحد في استحقاقه العبادة، لا يستحق العبادة إلا هو، لا شريك له، كما أنه هو وحده له الملك لا شريك له، والله جل وعلا بَيَّن في القرآن أنه لو كان له شريك في الملك – في ملكه – لابتغى إليه سبيلًا؛ قال جل وعلا: ﴿ قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا ﴾ [الإسراء: 42]، فلو كان معه آلهة – معبودات تستحق العبادة فعلًا – للزِمَ أن يكون لهم نصيب في ملك الله؛ لأنه لا يستحق العبادة إلا من يملِك النفع والضر، والله جل وعلا ليس معه أحد في ملكه، بل هو المتوحد في ملكه، وينتج من ذلك ويلزم أنه هو المستحق للعبادة وحده [شرح ثلاثة الأصول، صالح بن عبدالعزيز آل الشيخ (140)؛ وينظر: شرح الأصول الثلاثة، د. خالد المصلح (43).]. Penulis berkata, “Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak punya sekutu dalam peribadatan kepada-Nya, sebagaimana tidak punya sekutu dalam kekuasaan-Nya.” Yakni karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu Maha Esa dalam kekuasaan-Nya, maka wajib diesakan juga dalam penyembahan-Nya, karena suatu kezaliman terbesar jika makhluk yang bukan sekutu Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kekuasaan-Nya tapi dijadikan sekutu Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam penyembahan kepada-Nya, Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari hal itu.  Ini seperti dalil yang telah disebutkan sebelumnya tentang pengikraran bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hal ini karena tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana halnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tidak memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya. Ini merupakan bentuk pembentukan argumen melalui tauhid rububiyah untuk menjelaskan tauhid uluhiyah, karena pengikraran bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya – baik itu dalam artian independen atau artian umum – maka sudah menjadi konsekuensi pasti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah satu-satunya yang berhak untuk disembah, tidak ada yang berhak disembah kecuali Dia, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana Dia Maha Esa dalam kekuasaan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa seandainya Dia memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya, niscaya sekutu itu akan mencari jalan untuk menyaingi-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Seandainya ada tuhan-tuhan (lain) di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada (Tuhan) Pemilik ʻArasy (untuk mengalahkan atau menyaingi-Nya).’” (QS. Al-Isra: 42). Seandainya bersama Allah Subhanahu Wa Ta’ala terdapat tuhan-tuhan – sesembahan yang memang berhak disembah – pasti mereka punya bagian dalam kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena tidak berhak disembah kecuali zat yang memiliki kuasa untuk memberi manfaat dan mudharat, sedangkan tidak ada apapun bersama Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kuasa-Nya itu, tapi Dia adalah Yang Maha Esa dalam kekuasaan-Nya, sehingga sudah menjadi konsekuensi dari hal ini bahwa hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata yang berhak untuk disembah. (Kitab Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Shalih bin Abdul Aziz Alu Asy-Syaikh, hlm. 140. Lihat juga, Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Dr. Khalid Al-Mushlih, hlm. 43). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/140976/شرح-معنى-لا-إله-إلا-الله/ Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 297 times, 1 visit(s) today Post Views: 331 QRIS donasi Yufid

Penjelasan Makna Kalimat: Laa ilaha illallah

(Dari Kitab Al-Mahshul Al-Jami’ Li-Syuruh Tsalatsah Al-Ushul) شرح معنى لا إله إلا الله (المحصول الجامع لشروح ثلاثة الأصول) Oleh: Dr. Fahd bin Badi Al-Mursyidi د. فهد بن بادي المرشدي قال المصنف رحمه الله: (لا إله): نَافِيًا جَمِيعَ مَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ الله. (إِلا الله): مُثْبِتًا الْعِبَادَةَ للهِ وَحْدَهُ، لا شَرِيكَ لَهُ فِي عِبَادَتِهِ؛ كَمَا أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ شَرِيكٌ فِي مُلْكِهِ. Penulis Rahimahullah berkata: “Laa ilaha” (Tidak ada tuhan): Yakni sebagai penafian semua yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. “Illallah” (Selain Allah): Yakni sebagai penetapan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak punya sekutu dalam peribadatan kepada-Nya, sebagaimana tidak punya sekutu dalam kekuasaan-Nya. الشرح الإجمالي: شهادة التوحيد: “لا إله إلا الله” مركبة من: النفي والإثبات، وهما ركناها، فـالنفي في قول: (لا إله)، وهذا يتضمَّن نفي استحقاق العبادة عن كل من سوى الله عز وجل؛ أي: (نافيًا جميع ما يعبد من دون الله)، والإثبات في قول: (إلا الله)، وهذا يتضمن إثبات العبادة لله عز وجل وحده لا شريك له؛ أي: (مثبتًا العبادة لله وحده، لا شريك له في عبادته؛ كما أنه لا شريك له في ملكه)؛ فإذا كان هو الذي له الملك كله، لا شريك له فيه، وهو خالق كل شيء، فيجب أن يكون هو المعبود وحده [شرح الأصول الثلاثة، عبدالرحمن بن ناصر البراك (26).]. Penjelasan singkat: Kesaksian atas keesaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Laa ilaha illallah” tersusun dari penafian dan penetapan yang merupakan rukun dari kalimat ini. Penafiannya terdapat pada kata “Laa ilaha” (Tidak ada Tuhan). Kalimat ini mengandung penafian hak untuk disembah terhadap seluruh zat selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yakni menafikan segala hal yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sedangkan penetapan dalam kalimat “illallah” (kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala) mengandung penetapan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja yang tidak punya sekutu. Yakni menetapkan ibadah hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata, Dia tidak punya sekutu dalam penyembahan kepada-Nya, sebagaimana tidak punya sekutu juga dalam kekuasaan-Nya. Apabila Zat yang memiliki seluruh kekuasaan, tidak ada sekutu-Nya, dan pencipta segala sesuatu, maka sudah seharusnya tidak ada yang disembah selain Dia. (Kitab Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah karya Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak, hlm. 26). الشرح التفصيلي: قال المصنف: ((لا إله) نافيًا جميع ما يعبد من دون الله، (إلا الله) مثبتًا العبادة لله وحده): فبيَّن أن كلمة التوحيد “لا إله إلا الله” مكونة من نفي وإثبات، هما ركناها: النفي: (لا إله)، والإثبات: (إلا الله)، والنفي المحض ليس بتوحيد، وكذلك الإثبات المحض، فلا بد من الجمع بينهما؛ حتى يتحقق التوحيد وينتفي الشرك، فدلالة هذه الكلمة العظيمة على إثبات الإلهية لله وحده، أعظم من دلالة قولنا: الله إله؛ لأن النفي والإثبات يجعل الشيء المقصود محصورًا بما ذُكر فقط، ولا يعدوه إلى غيره، فالمقصود أن يكون التأله لله جل وعلا وحده لا شريك له[ينظر: حاشية ثلاثة الأصول، عبدالرحمن بن قاسم (52)؛ والمحصول من شرح ثلاثة الأصول، عبدالله الغنيمان (140).] Penjelasan rinci: Penulis mengatakan, “‘Laa ilaha’ (Tidak ada Tuhan) sebagai penafian atas segala hal yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. ‘Illallah’ (Selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala) sebagai penetapan bahwa ibadah hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata.” Beliau menjelaskan bahwa kalimat “Laa ilaha illallah” terdiri atas penafian dan penetapan, dan dua hal ini adalah rukun dari kalimat tersebut, penafian ada pada kalimat “Laa ilaha” (Tidak ada Tuhan), dan penetapan ada pada kalimat “Illallah” (Selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala). Penafian saja bukanlah tauhid, demikian juga penetapan saja, sehingga harus terhimpun dua hal ini agar tauhid dapat terwujud dan kesyirikan dapat tersingkirkan. Makna yang terkandung dalam kalimat yang agung ini tentang penetapan ketuhanan bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja lebih mendalam daripada jika kita sekedar mengucapkan kalimat “Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Tuhan”, karena penafian dan penetapan ini menjadikan makna yang dimaksudkan terbatas pada yang tersebut saja, dan tidak berlaku pada selainnya. Makna yang dimaksudkan adalah ketuhanan yang milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja, tanpa ada sekutu satupun bagi-Nya. (Lihat: Kitab Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul karya Abdurrahman bin Qasim, hlm. 52, dan Al-Mahshul Min Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Abdullah Al-Ghunaiman, hlm. 140). فالذي يقول (لا إله إلا الله)، يقول: أنفي جميع ما يُعبد من دون الله، وأُثبت العبادة لله، فـ(لا) نافية للجنس، و(إله) اسمها، وخبرها محذوف تقديره (حق)؛ فالله هو الحق، وعبادته وحده هي الحق، وعبادة غيره منفية بـ(لا) في هذه الكلمة، فــ(لا إله) تتضمن نفي وجود معبود بحق سوى الله، فالمنفي بـ(لا) في هذه الكلمة هو عبادة غير الله؛ لأنها عبادة بالباطل، فقول: (لا إله): هذا نفي للآلهة الباطلة، وليس نفيًا لجميع الآلهة، وبه يُعلم أن المستثنى (إلا الله) مُخرج من المستثنى منه (لا إله)، ومن حكمه، فلا يدخل أصلًا في المنفي حتى يُستثنى منه، ولا يدخل في حكمه حتى يخرج منه [ينظر: حاشية ثلاثة الأصول، عبدالرحمن بن قاسم (52)؛ وشرح ثلاثة الأصول، عبدالله بن إبراهيم القرعاوي (81).]. Sehingga orang yang mengatakan “Laa ilaha illallah” seakan-akan mengucapkan, “Saya menafikan segala hal yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan menetapkan ibadah adalah hak milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata. Kata “Laa” di sini memiliki makna penafian segala jenis dari kata setelahnya yang dinafikan. Sedangkan kata “ilaha” adalah kata yang dinafikan. Adapun penjelasnya tidak disebutkan secara langsung, yaitu “yang hak (benar)”. Jadi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu benar, beribadah kepada-Nya semata itu benar, dan beribadah kepada selain-Nya ternafikan dengan kata “Laa” di kalimat ini. Sehingga kata “Laa ilaha” mengandung penafian adanya sesembahan yang benar selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Yang dinafikan dengan kata “Laa” pada kalimat ini adalah peribadatan kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena itu merupakan ibadah yang batil, sehingga kata “Laa ilaha” ini menafikan semua sesembahan yang batil, bukan menafikan seluruh sesembahan. Dari sini dapat diketahui bahwa pengecualian dalam kalimat “Illallah” (kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala) tidak masuk dalam Al-mustatsna minhu – unsur yang menjadi asal pengecualian – “Tidak ada tuhan”, sehingga pada dasarnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak masuk dalam penafian itu dan tidak masuk dalam hukumnya. (Lihat: Kitab Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul karya Abdurrahman bin Qasim, hlm. 52, dan Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Abdullah bin Ibrahim Al-Qar’awi, hlm. 81). قال المصنف: (لا شريك له في عبادته، كما أنه ليس له شريك في ملكه)؛ أي: كما أن الله تعالى هو المتفرد في ملكه، فيجب أن يُفرد بالعبادة، فإن من أظلم الظلم أن يُجْعَلَ المخلوق الذي ليس شريكًا لله في الملك، شريكًا لله في العبادة، تعالى الله وتقدس، وهذا كالدليل لما تقدم ذكره من تقرير أنه لا معبود بحق إلا الله، ووجه هذا أنه لا يستحق العبادة إلا الله عز وجل، كما أنه ليس له شريك في ملكه، وهذا استدلال بتوحيد الربوبية على توحيد الإلهية، فالإقرار بأن الله عز وجل ليس له شريك في ملكه لا على وجه الاستقلال ولا على وجه الإشاعة، يلزم منه لزومًا أكيدًا أن الله جل وعلا واحد في استحقاقه العبادة، لا يستحق العبادة إلا هو، لا شريك له، كما أنه هو وحده له الملك لا شريك له، والله جل وعلا بَيَّن في القرآن أنه لو كان له شريك في الملك – في ملكه – لابتغى إليه سبيلًا؛ قال جل وعلا: ﴿ قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا ﴾ [الإسراء: 42]، فلو كان معه آلهة – معبودات تستحق العبادة فعلًا – للزِمَ أن يكون لهم نصيب في ملك الله؛ لأنه لا يستحق العبادة إلا من يملِك النفع والضر، والله جل وعلا ليس معه أحد في ملكه، بل هو المتوحد في ملكه، وينتج من ذلك ويلزم أنه هو المستحق للعبادة وحده [شرح ثلاثة الأصول، صالح بن عبدالعزيز آل الشيخ (140)؛ وينظر: شرح الأصول الثلاثة، د. خالد المصلح (43).]. Penulis berkata, “Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak punya sekutu dalam peribadatan kepada-Nya, sebagaimana tidak punya sekutu dalam kekuasaan-Nya.” Yakni karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu Maha Esa dalam kekuasaan-Nya, maka wajib diesakan juga dalam penyembahan-Nya, karena suatu kezaliman terbesar jika makhluk yang bukan sekutu Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kekuasaan-Nya tapi dijadikan sekutu Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam penyembahan kepada-Nya, Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari hal itu.  Ini seperti dalil yang telah disebutkan sebelumnya tentang pengikraran bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hal ini karena tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana halnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tidak memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya. Ini merupakan bentuk pembentukan argumen melalui tauhid rububiyah untuk menjelaskan tauhid uluhiyah, karena pengikraran bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya – baik itu dalam artian independen atau artian umum – maka sudah menjadi konsekuensi pasti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah satu-satunya yang berhak untuk disembah, tidak ada yang berhak disembah kecuali Dia, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana Dia Maha Esa dalam kekuasaan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa seandainya Dia memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya, niscaya sekutu itu akan mencari jalan untuk menyaingi-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Seandainya ada tuhan-tuhan (lain) di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada (Tuhan) Pemilik ʻArasy (untuk mengalahkan atau menyaingi-Nya).’” (QS. Al-Isra: 42). Seandainya bersama Allah Subhanahu Wa Ta’ala terdapat tuhan-tuhan – sesembahan yang memang berhak disembah – pasti mereka punya bagian dalam kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena tidak berhak disembah kecuali zat yang memiliki kuasa untuk memberi manfaat dan mudharat, sedangkan tidak ada apapun bersama Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kuasa-Nya itu, tapi Dia adalah Yang Maha Esa dalam kekuasaan-Nya, sehingga sudah menjadi konsekuensi dari hal ini bahwa hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata yang berhak untuk disembah. (Kitab Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Shalih bin Abdul Aziz Alu Asy-Syaikh, hlm. 140. Lihat juga, Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Dr. Khalid Al-Mushlih, hlm. 43). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/140976/شرح-معنى-لا-إله-إلا-الله/ Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 297 times, 1 visit(s) today Post Views: 331 QRIS donasi Yufid
(Dari Kitab Al-Mahshul Al-Jami’ Li-Syuruh Tsalatsah Al-Ushul) شرح معنى لا إله إلا الله (المحصول الجامع لشروح ثلاثة الأصول) Oleh: Dr. Fahd bin Badi Al-Mursyidi د. فهد بن بادي المرشدي قال المصنف رحمه الله: (لا إله): نَافِيًا جَمِيعَ مَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ الله. (إِلا الله): مُثْبِتًا الْعِبَادَةَ للهِ وَحْدَهُ، لا شَرِيكَ لَهُ فِي عِبَادَتِهِ؛ كَمَا أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ شَرِيكٌ فِي مُلْكِهِ. Penulis Rahimahullah berkata: “Laa ilaha” (Tidak ada tuhan): Yakni sebagai penafian semua yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. “Illallah” (Selain Allah): Yakni sebagai penetapan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak punya sekutu dalam peribadatan kepada-Nya, sebagaimana tidak punya sekutu dalam kekuasaan-Nya. الشرح الإجمالي: شهادة التوحيد: “لا إله إلا الله” مركبة من: النفي والإثبات، وهما ركناها، فـالنفي في قول: (لا إله)، وهذا يتضمَّن نفي استحقاق العبادة عن كل من سوى الله عز وجل؛ أي: (نافيًا جميع ما يعبد من دون الله)، والإثبات في قول: (إلا الله)، وهذا يتضمن إثبات العبادة لله عز وجل وحده لا شريك له؛ أي: (مثبتًا العبادة لله وحده، لا شريك له في عبادته؛ كما أنه لا شريك له في ملكه)؛ فإذا كان هو الذي له الملك كله، لا شريك له فيه، وهو خالق كل شيء، فيجب أن يكون هو المعبود وحده [شرح الأصول الثلاثة، عبدالرحمن بن ناصر البراك (26).]. Penjelasan singkat: Kesaksian atas keesaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Laa ilaha illallah” tersusun dari penafian dan penetapan yang merupakan rukun dari kalimat ini. Penafiannya terdapat pada kata “Laa ilaha” (Tidak ada Tuhan). Kalimat ini mengandung penafian hak untuk disembah terhadap seluruh zat selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yakni menafikan segala hal yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sedangkan penetapan dalam kalimat “illallah” (kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala) mengandung penetapan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja yang tidak punya sekutu. Yakni menetapkan ibadah hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata, Dia tidak punya sekutu dalam penyembahan kepada-Nya, sebagaimana tidak punya sekutu juga dalam kekuasaan-Nya. Apabila Zat yang memiliki seluruh kekuasaan, tidak ada sekutu-Nya, dan pencipta segala sesuatu, maka sudah seharusnya tidak ada yang disembah selain Dia. (Kitab Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah karya Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak, hlm. 26). الشرح التفصيلي: قال المصنف: ((لا إله) نافيًا جميع ما يعبد من دون الله، (إلا الله) مثبتًا العبادة لله وحده): فبيَّن أن كلمة التوحيد “لا إله إلا الله” مكونة من نفي وإثبات، هما ركناها: النفي: (لا إله)، والإثبات: (إلا الله)، والنفي المحض ليس بتوحيد، وكذلك الإثبات المحض، فلا بد من الجمع بينهما؛ حتى يتحقق التوحيد وينتفي الشرك، فدلالة هذه الكلمة العظيمة على إثبات الإلهية لله وحده، أعظم من دلالة قولنا: الله إله؛ لأن النفي والإثبات يجعل الشيء المقصود محصورًا بما ذُكر فقط، ولا يعدوه إلى غيره، فالمقصود أن يكون التأله لله جل وعلا وحده لا شريك له[ينظر: حاشية ثلاثة الأصول، عبدالرحمن بن قاسم (52)؛ والمحصول من شرح ثلاثة الأصول، عبدالله الغنيمان (140).] Penjelasan rinci: Penulis mengatakan, “‘Laa ilaha’ (Tidak ada Tuhan) sebagai penafian atas segala hal yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. ‘Illallah’ (Selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala) sebagai penetapan bahwa ibadah hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata.” Beliau menjelaskan bahwa kalimat “Laa ilaha illallah” terdiri atas penafian dan penetapan, dan dua hal ini adalah rukun dari kalimat tersebut, penafian ada pada kalimat “Laa ilaha” (Tidak ada Tuhan), dan penetapan ada pada kalimat “Illallah” (Selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala). Penafian saja bukanlah tauhid, demikian juga penetapan saja, sehingga harus terhimpun dua hal ini agar tauhid dapat terwujud dan kesyirikan dapat tersingkirkan. Makna yang terkandung dalam kalimat yang agung ini tentang penetapan ketuhanan bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja lebih mendalam daripada jika kita sekedar mengucapkan kalimat “Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Tuhan”, karena penafian dan penetapan ini menjadikan makna yang dimaksudkan terbatas pada yang tersebut saja, dan tidak berlaku pada selainnya. Makna yang dimaksudkan adalah ketuhanan yang milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja, tanpa ada sekutu satupun bagi-Nya. (Lihat: Kitab Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul karya Abdurrahman bin Qasim, hlm. 52, dan Al-Mahshul Min Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Abdullah Al-Ghunaiman, hlm. 140). فالذي يقول (لا إله إلا الله)، يقول: أنفي جميع ما يُعبد من دون الله، وأُثبت العبادة لله، فـ(لا) نافية للجنس، و(إله) اسمها، وخبرها محذوف تقديره (حق)؛ فالله هو الحق، وعبادته وحده هي الحق، وعبادة غيره منفية بـ(لا) في هذه الكلمة، فــ(لا إله) تتضمن نفي وجود معبود بحق سوى الله، فالمنفي بـ(لا) في هذه الكلمة هو عبادة غير الله؛ لأنها عبادة بالباطل، فقول: (لا إله): هذا نفي للآلهة الباطلة، وليس نفيًا لجميع الآلهة، وبه يُعلم أن المستثنى (إلا الله) مُخرج من المستثنى منه (لا إله)، ومن حكمه، فلا يدخل أصلًا في المنفي حتى يُستثنى منه، ولا يدخل في حكمه حتى يخرج منه [ينظر: حاشية ثلاثة الأصول، عبدالرحمن بن قاسم (52)؛ وشرح ثلاثة الأصول، عبدالله بن إبراهيم القرعاوي (81).]. Sehingga orang yang mengatakan “Laa ilaha illallah” seakan-akan mengucapkan, “Saya menafikan segala hal yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan menetapkan ibadah adalah hak milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata. Kata “Laa” di sini memiliki makna penafian segala jenis dari kata setelahnya yang dinafikan. Sedangkan kata “ilaha” adalah kata yang dinafikan. Adapun penjelasnya tidak disebutkan secara langsung, yaitu “yang hak (benar)”. Jadi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu benar, beribadah kepada-Nya semata itu benar, dan beribadah kepada selain-Nya ternafikan dengan kata “Laa” di kalimat ini. Sehingga kata “Laa ilaha” mengandung penafian adanya sesembahan yang benar selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Yang dinafikan dengan kata “Laa” pada kalimat ini adalah peribadatan kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena itu merupakan ibadah yang batil, sehingga kata “Laa ilaha” ini menafikan semua sesembahan yang batil, bukan menafikan seluruh sesembahan. Dari sini dapat diketahui bahwa pengecualian dalam kalimat “Illallah” (kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala) tidak masuk dalam Al-mustatsna minhu – unsur yang menjadi asal pengecualian – “Tidak ada tuhan”, sehingga pada dasarnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak masuk dalam penafian itu dan tidak masuk dalam hukumnya. (Lihat: Kitab Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul karya Abdurrahman bin Qasim, hlm. 52, dan Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Abdullah bin Ibrahim Al-Qar’awi, hlm. 81). قال المصنف: (لا شريك له في عبادته، كما أنه ليس له شريك في ملكه)؛ أي: كما أن الله تعالى هو المتفرد في ملكه، فيجب أن يُفرد بالعبادة، فإن من أظلم الظلم أن يُجْعَلَ المخلوق الذي ليس شريكًا لله في الملك، شريكًا لله في العبادة، تعالى الله وتقدس، وهذا كالدليل لما تقدم ذكره من تقرير أنه لا معبود بحق إلا الله، ووجه هذا أنه لا يستحق العبادة إلا الله عز وجل، كما أنه ليس له شريك في ملكه، وهذا استدلال بتوحيد الربوبية على توحيد الإلهية، فالإقرار بأن الله عز وجل ليس له شريك في ملكه لا على وجه الاستقلال ولا على وجه الإشاعة، يلزم منه لزومًا أكيدًا أن الله جل وعلا واحد في استحقاقه العبادة، لا يستحق العبادة إلا هو، لا شريك له، كما أنه هو وحده له الملك لا شريك له، والله جل وعلا بَيَّن في القرآن أنه لو كان له شريك في الملك – في ملكه – لابتغى إليه سبيلًا؛ قال جل وعلا: ﴿ قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا ﴾ [الإسراء: 42]، فلو كان معه آلهة – معبودات تستحق العبادة فعلًا – للزِمَ أن يكون لهم نصيب في ملك الله؛ لأنه لا يستحق العبادة إلا من يملِك النفع والضر، والله جل وعلا ليس معه أحد في ملكه، بل هو المتوحد في ملكه، وينتج من ذلك ويلزم أنه هو المستحق للعبادة وحده [شرح ثلاثة الأصول، صالح بن عبدالعزيز آل الشيخ (140)؛ وينظر: شرح الأصول الثلاثة، د. خالد المصلح (43).]. Penulis berkata, “Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak punya sekutu dalam peribadatan kepada-Nya, sebagaimana tidak punya sekutu dalam kekuasaan-Nya.” Yakni karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu Maha Esa dalam kekuasaan-Nya, maka wajib diesakan juga dalam penyembahan-Nya, karena suatu kezaliman terbesar jika makhluk yang bukan sekutu Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kekuasaan-Nya tapi dijadikan sekutu Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam penyembahan kepada-Nya, Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari hal itu.  Ini seperti dalil yang telah disebutkan sebelumnya tentang pengikraran bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hal ini karena tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana halnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tidak memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya. Ini merupakan bentuk pembentukan argumen melalui tauhid rububiyah untuk menjelaskan tauhid uluhiyah, karena pengikraran bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya – baik itu dalam artian independen atau artian umum – maka sudah menjadi konsekuensi pasti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah satu-satunya yang berhak untuk disembah, tidak ada yang berhak disembah kecuali Dia, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana Dia Maha Esa dalam kekuasaan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa seandainya Dia memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya, niscaya sekutu itu akan mencari jalan untuk menyaingi-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Seandainya ada tuhan-tuhan (lain) di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada (Tuhan) Pemilik ʻArasy (untuk mengalahkan atau menyaingi-Nya).’” (QS. Al-Isra: 42). Seandainya bersama Allah Subhanahu Wa Ta’ala terdapat tuhan-tuhan – sesembahan yang memang berhak disembah – pasti mereka punya bagian dalam kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena tidak berhak disembah kecuali zat yang memiliki kuasa untuk memberi manfaat dan mudharat, sedangkan tidak ada apapun bersama Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kuasa-Nya itu, tapi Dia adalah Yang Maha Esa dalam kekuasaan-Nya, sehingga sudah menjadi konsekuensi dari hal ini bahwa hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata yang berhak untuk disembah. (Kitab Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Shalih bin Abdul Aziz Alu Asy-Syaikh, hlm. 140. Lihat juga, Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Dr. Khalid Al-Mushlih, hlm. 43). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/140976/شرح-معنى-لا-إله-إلا-الله/ Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 297 times, 1 visit(s) today Post Views: 331 QRIS donasi Yufid


(Dari Kitab Al-Mahshul Al-Jami’ Li-Syuruh Tsalatsah Al-Ushul) شرح معنى لا إله إلا الله (المحصول الجامع لشروح ثلاثة الأصول) Oleh: Dr. Fahd bin Badi Al-Mursyidi د. فهد بن بادي المرشدي قال المصنف رحمه الله: (لا إله): نَافِيًا جَمِيعَ مَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ الله. (إِلا الله): مُثْبِتًا الْعِبَادَةَ للهِ وَحْدَهُ، لا شَرِيكَ لَهُ فِي عِبَادَتِهِ؛ كَمَا أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ شَرِيكٌ فِي مُلْكِهِ. Penulis Rahimahullah berkata: “Laa ilaha” (Tidak ada tuhan): Yakni sebagai penafian semua yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. “Illallah” (Selain Allah): Yakni sebagai penetapan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak punya sekutu dalam peribadatan kepada-Nya, sebagaimana tidak punya sekutu dalam kekuasaan-Nya. الشرح الإجمالي: شهادة التوحيد: “لا إله إلا الله” مركبة من: النفي والإثبات، وهما ركناها، فـالنفي في قول: (لا إله)، وهذا يتضمَّن نفي استحقاق العبادة عن كل من سوى الله عز وجل؛ أي: (نافيًا جميع ما يعبد من دون الله)، والإثبات في قول: (إلا الله)، وهذا يتضمن إثبات العبادة لله عز وجل وحده لا شريك له؛ أي: (مثبتًا العبادة لله وحده، لا شريك له في عبادته؛ كما أنه لا شريك له في ملكه)؛ فإذا كان هو الذي له الملك كله، لا شريك له فيه، وهو خالق كل شيء، فيجب أن يكون هو المعبود وحده [شرح الأصول الثلاثة، عبدالرحمن بن ناصر البراك (26).]. Penjelasan singkat: Kesaksian atas keesaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Laa ilaha illallah” tersusun dari penafian dan penetapan yang merupakan rukun dari kalimat ini. Penafiannya terdapat pada kata “Laa ilaha” (Tidak ada Tuhan). Kalimat ini mengandung penafian hak untuk disembah terhadap seluruh zat selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yakni menafikan segala hal yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sedangkan penetapan dalam kalimat “illallah” (kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala) mengandung penetapan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja yang tidak punya sekutu. Yakni menetapkan ibadah hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata, Dia tidak punya sekutu dalam penyembahan kepada-Nya, sebagaimana tidak punya sekutu juga dalam kekuasaan-Nya. Apabila Zat yang memiliki seluruh kekuasaan, tidak ada sekutu-Nya, dan pencipta segala sesuatu, maka sudah seharusnya tidak ada yang disembah selain Dia. (Kitab Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah karya Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak, hlm. 26). الشرح التفصيلي: قال المصنف: ((لا إله) نافيًا جميع ما يعبد من دون الله، (إلا الله) مثبتًا العبادة لله وحده): فبيَّن أن كلمة التوحيد “لا إله إلا الله” مكونة من نفي وإثبات، هما ركناها: النفي: (لا إله)، والإثبات: (إلا الله)، والنفي المحض ليس بتوحيد، وكذلك الإثبات المحض، فلا بد من الجمع بينهما؛ حتى يتحقق التوحيد وينتفي الشرك، فدلالة هذه الكلمة العظيمة على إثبات الإلهية لله وحده، أعظم من دلالة قولنا: الله إله؛ لأن النفي والإثبات يجعل الشيء المقصود محصورًا بما ذُكر فقط، ولا يعدوه إلى غيره، فالمقصود أن يكون التأله لله جل وعلا وحده لا شريك له[ينظر: حاشية ثلاثة الأصول، عبدالرحمن بن قاسم (52)؛ والمحصول من شرح ثلاثة الأصول، عبدالله الغنيمان (140).] Penjelasan rinci: Penulis mengatakan, “‘Laa ilaha’ (Tidak ada Tuhan) sebagai penafian atas segala hal yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. ‘Illallah’ (Selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala) sebagai penetapan bahwa ibadah hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata.” Beliau menjelaskan bahwa kalimat “Laa ilaha illallah” terdiri atas penafian dan penetapan, dan dua hal ini adalah rukun dari kalimat tersebut, penafian ada pada kalimat “Laa ilaha” (Tidak ada Tuhan), dan penetapan ada pada kalimat “Illallah” (Selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala). Penafian saja bukanlah tauhid, demikian juga penetapan saja, sehingga harus terhimpun dua hal ini agar tauhid dapat terwujud dan kesyirikan dapat tersingkirkan. Makna yang terkandung dalam kalimat yang agung ini tentang penetapan ketuhanan bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja lebih mendalam daripada jika kita sekedar mengucapkan kalimat “Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Tuhan”, karena penafian dan penetapan ini menjadikan makna yang dimaksudkan terbatas pada yang tersebut saja, dan tidak berlaku pada selainnya. Makna yang dimaksudkan adalah ketuhanan yang milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja, tanpa ada sekutu satupun bagi-Nya. (Lihat: Kitab Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul karya Abdurrahman bin Qasim, hlm. 52, dan Al-Mahshul Min Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Abdullah Al-Ghunaiman, hlm. 140). فالذي يقول (لا إله إلا الله)، يقول: أنفي جميع ما يُعبد من دون الله، وأُثبت العبادة لله، فـ(لا) نافية للجنس، و(إله) اسمها، وخبرها محذوف تقديره (حق)؛ فالله هو الحق، وعبادته وحده هي الحق، وعبادة غيره منفية بـ(لا) في هذه الكلمة، فــ(لا إله) تتضمن نفي وجود معبود بحق سوى الله، فالمنفي بـ(لا) في هذه الكلمة هو عبادة غير الله؛ لأنها عبادة بالباطل، فقول: (لا إله): هذا نفي للآلهة الباطلة، وليس نفيًا لجميع الآلهة، وبه يُعلم أن المستثنى (إلا الله) مُخرج من المستثنى منه (لا إله)، ومن حكمه، فلا يدخل أصلًا في المنفي حتى يُستثنى منه، ولا يدخل في حكمه حتى يخرج منه [ينظر: حاشية ثلاثة الأصول، عبدالرحمن بن قاسم (52)؛ وشرح ثلاثة الأصول، عبدالله بن إبراهيم القرعاوي (81).]. Sehingga orang yang mengatakan “Laa ilaha illallah” seakan-akan mengucapkan, “Saya menafikan segala hal yang disembah selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan menetapkan ibadah adalah hak milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata. Kata “Laa” di sini memiliki makna penafian segala jenis dari kata setelahnya yang dinafikan. Sedangkan kata “ilaha” adalah kata yang dinafikan. Adapun penjelasnya tidak disebutkan secara langsung, yaitu “yang hak (benar)”. Jadi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu benar, beribadah kepada-Nya semata itu benar, dan beribadah kepada selain-Nya ternafikan dengan kata “Laa” di kalimat ini. Sehingga kata “Laa ilaha” mengandung penafian adanya sesembahan yang benar selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Yang dinafikan dengan kata “Laa” pada kalimat ini adalah peribadatan kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena itu merupakan ibadah yang batil, sehingga kata “Laa ilaha” ini menafikan semua sesembahan yang batil, bukan menafikan seluruh sesembahan. Dari sini dapat diketahui bahwa pengecualian dalam kalimat “Illallah” (kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala) tidak masuk dalam Al-mustatsna minhu – unsur yang menjadi asal pengecualian – “Tidak ada tuhan”, sehingga pada dasarnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak masuk dalam penafian itu dan tidak masuk dalam hukumnya. (Lihat: Kitab Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul karya Abdurrahman bin Qasim, hlm. 52, dan Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Abdullah bin Ibrahim Al-Qar’awi, hlm. 81). قال المصنف: (لا شريك له في عبادته، كما أنه ليس له شريك في ملكه)؛ أي: كما أن الله تعالى هو المتفرد في ملكه، فيجب أن يُفرد بالعبادة، فإن من أظلم الظلم أن يُجْعَلَ المخلوق الذي ليس شريكًا لله في الملك، شريكًا لله في العبادة، تعالى الله وتقدس، وهذا كالدليل لما تقدم ذكره من تقرير أنه لا معبود بحق إلا الله، ووجه هذا أنه لا يستحق العبادة إلا الله عز وجل، كما أنه ليس له شريك في ملكه، وهذا استدلال بتوحيد الربوبية على توحيد الإلهية، فالإقرار بأن الله عز وجل ليس له شريك في ملكه لا على وجه الاستقلال ولا على وجه الإشاعة، يلزم منه لزومًا أكيدًا أن الله جل وعلا واحد في استحقاقه العبادة، لا يستحق العبادة إلا هو، لا شريك له، كما أنه هو وحده له الملك لا شريك له، والله جل وعلا بَيَّن في القرآن أنه لو كان له شريك في الملك – في ملكه – لابتغى إليه سبيلًا؛ قال جل وعلا: ﴿ قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا ﴾ [الإسراء: 42]، فلو كان معه آلهة – معبودات تستحق العبادة فعلًا – للزِمَ أن يكون لهم نصيب في ملك الله؛ لأنه لا يستحق العبادة إلا من يملِك النفع والضر، والله جل وعلا ليس معه أحد في ملكه، بل هو المتوحد في ملكه، وينتج من ذلك ويلزم أنه هو المستحق للعبادة وحده [شرح ثلاثة الأصول، صالح بن عبدالعزيز آل الشيخ (140)؛ وينظر: شرح الأصول الثلاثة، د. خالد المصلح (43).]. Penulis berkata, “Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak punya sekutu dalam peribadatan kepada-Nya, sebagaimana tidak punya sekutu dalam kekuasaan-Nya.” Yakni karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu Maha Esa dalam kekuasaan-Nya, maka wajib diesakan juga dalam penyembahan-Nya, karena suatu kezaliman terbesar jika makhluk yang bukan sekutu Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kekuasaan-Nya tapi dijadikan sekutu Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam penyembahan kepada-Nya, Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari hal itu.  Ini seperti dalil yang telah disebutkan sebelumnya tentang pengikraran bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hal ini karena tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana halnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tidak memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya. Ini merupakan bentuk pembentukan argumen melalui tauhid rububiyah untuk menjelaskan tauhid uluhiyah, karena pengikraran bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya – baik itu dalam artian independen atau artian umum – maka sudah menjadi konsekuensi pasti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah satu-satunya yang berhak untuk disembah, tidak ada yang berhak disembah kecuali Dia, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana Dia Maha Esa dalam kekuasaan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa seandainya Dia memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya, niscaya sekutu itu akan mencari jalan untuk menyaingi-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Seandainya ada tuhan-tuhan (lain) di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada (Tuhan) Pemilik ʻArasy (untuk mengalahkan atau menyaingi-Nya).’” (QS. Al-Isra: 42). Seandainya bersama Allah Subhanahu Wa Ta’ala terdapat tuhan-tuhan – sesembahan yang memang berhak disembah – pasti mereka punya bagian dalam kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena tidak berhak disembah kecuali zat yang memiliki kuasa untuk memberi manfaat dan mudharat, sedangkan tidak ada apapun bersama Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kuasa-Nya itu, tapi Dia adalah Yang Maha Esa dalam kekuasaan-Nya, sehingga sudah menjadi konsekuensi dari hal ini bahwa hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata yang berhak untuk disembah. (Kitab Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Shalih bin Abdul Aziz Alu Asy-Syaikh, hlm. 140. Lihat juga, Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Dr. Khalid Al-Mushlih, hlm. 43). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/140976/شرح-معنى-لا-إله-إلا-الله/ Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 297 times, 1 visit(s) today Post Views: 331 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Mengenal Nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Kandungan makna nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Makna bahasa dari “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Makna “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” bagi hambaBeriman bahwa “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” ini termasuk Asmaul HusnaMendekatkan diri kepada AllahMemperbanyak doa dan tidak berputus asa darinyaSetiap nama Allah mengandung makna yang agung dan menjadi pintu bagi seorang hamba untuk lebih dekat kepada Rabb-nya. Di antara nama-nama tersebut adalah al-Qariib dan al-Mujiib, yang menunjukkan bahwa Allah selalu dekat dengan hamba-Nya dan mengabulkan doa-doa mereka.Dalam artikel ini, kita akan membahas dalil-dalil yang menetapkan nama Allah al-Qariib dan al-Mujiib, makna yang terkandung di dalam keduanya, serta dampaknya bagi kehidupan seorang mukmin. Semoga pembahasan ini menumbuhkan rasa harap, ketenangan, dan semangat untuk selalu berdoa serta bersandar kepada Allah dalam segala keadaan.Dalil nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Allah menggabungkan dua nama ini dalam firman-Nya,وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًاۚ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَٱسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَٱسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِۚ إِنَّ رَبِّى قَرِيبٌۭ مُّجِيبٌۭ“Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Shalih. Ia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada sesembahan yang benar bagi kalian selain-Nya. Dia telah menciptakan kalian dari bumi dan menjadikan kalian makmur di dalamnya. Maka mohonlah ampun kepada-Nya, lalu bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbku Mahadekat lagi Maha Mengabulkan (doa).’” (QS. Hūd: 61)Nama al-Mujiib tidak disebutkan di tempat lain dalam Al-Qur’an selain ayat ini, sedangkan nama al-Qariib disebutkan dalam dua ayat lainnya, yaitu:Firman Allah Ta‘ālā,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۭ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِي وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 186)Firman-Nya pula,قُلْ إِن ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِيَ إِلَى رَبِّي إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ“Katakanlah, ‘Jika aku sesat, maka sesungguhnya aku hanya sesat atas diriku sendiri. Dan jika aku mendapat petunjuk, maka itu karena wahyu yang diwahyukan Rabbku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat.’” (QS. Saba’: 50) [1]Kandungan makna nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Qariib adalah ṣifah musyabbahah (sifat tetap) dengan wazan faʿīl (menunjukkan sifat yang terus-menerus atau tetap). Sedangkan Mujiib, adalah isim fāʿil (kata kerja pelaku) dari kata kerja ajaba (أجاب), asal katanya adalah mujwibun (مجوب), di mana huruf wāw diganti dengan yāʼ (sehingga menjadi mujiib). [2]Asal kata dari Qariib adalah al-qurb (القرب) yang secara bahasa berarti kebalikan dari buʻd (jauh). [3]Bentuk kedekatan itu ada beberapa macam:Kedekatan tempat (qurb al-makān),Kedekatan waktu (qurb az-zamān),Kedekatan kedudukan atau status (qurb al-manzilah). [4]Sedangkan asal kata Mujiib adalah al-jaub (الجوب). Ibnu Faris mengatakan tentang makna kata ini,(جوب) الْجِيمُ وَالْوَاوُ وَالْبَاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ خَرْقُ الشَّيْءِ. يُقَالُ جُبْتُ الْأَرْضَ جَوْبًا“Huruf jim, waw, dan baa membentuk satu akar kata yang memiliki makna dasar ‘melubangi atau membelah sesuatu’. Contohnya: Jubtu al-arḍ jawban (جُبْتُ الْأَرْضَ جَوْبًا) artinya, ‘Aku telah membelah bumi (melintasinya)’.” [5]Makna “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” dalam konteks AllahIbnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menyebutkan, tentang tafsir firman Allah Ta’ala di surah Hud ayat ke-61,إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌbeliau mengatakan,إن ربِّي قريبٌ ممن أخْلَصَ له العبادةَ، ورَغِبَ إليه في التوبةِ، مجيبٌ له إذا دَعاه“Sesungguhnya Rabb-ku dekat dengan siapa saja yang mengikhlaskan ibadah kepada-Nya dan kembali bertobat kepada-Nya dengan penuh harap; dan Dia akan mengabulkan permohonannya ketika ia berdoa kepada-Nya.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Si’diy mengatakan, “al-Qariib, al-Mujiib” — maksudnya: Dia Ta‘ala adalah al-Qariib (Maha Dekat) dari setiap makhluk. Kedekatan Allah Ta‘ala itu ada dua jenis: (1) kedekatan umum terhadap seluruh makhluk-Nya, melalui ilmu-Nya, pengawasan-Nya, perhatian-Nya, dan penglihatan-Nya yang meliputi segala sesuatu; dan (2) kedekatan khusus terhadap hamba-hamba-Nya yang beribadah kepada-Nya, yang memohon kepada-Nya, dan mencintai-Nya.Ini adalah bentuk kedekatan yang hakikatnya tidak dapat dijangkau oleh akal, tetapi dapat dikenali melalui dampaknya — seperti kelembutan-Nya kepada hamba-Nya, perhatian-Nya, taufik dan bimbingan-Nya.Di antara dampaknya adalah: Allah mengabulkan doa para pemohon, dan menerima tobat para hamba yang kembali kepada-Nya.Maka, Allah adalah al-Mujiib — Maha Mengabulkan — baik pengabulan secara umum untuk siapa pun yang berdoa kapan pun dan di mana pun mereka berada, dalam keadaan seperti apa pun, sebagaimana telah dijanjikan-Nya secara mutlak.Dan Allah juga al-Mujiib secara khusus bagi mereka yang menjawab seruan-Nya dan tunduk kepada syariat-Nya. Allah juga al-Mujiib bagi orang-orang yang berada dalam kondisi darurat, yang telah putus harapan dari makhluk, lalu bergantung sepenuhnya kepada Allah dengan penuh harap, takut, dan cinta. [7]Apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunah tentang kedekatan dan penyertaan-Nya tidaklah bertentangan dengan ketinggian dan keagungan-Nya, karena tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah Subḥānahu wa Ta’ala, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [8]Konsekuensi dari nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” bagi hambaPenetapan nama “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini adalah beberapa konsekuensi dari sisi hamba: Beriman bahwa “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” ini termasuk Asmaul HusnaSeorang hamba hendaknya meyakini bahwa Al-Qarīb dan Al-Mujīb termasuk dalam Al-Asmaul Husna (nama-nama Allah yang paling baik), sebagaimana telah disebutkan dalil-dalilnya. Mendekatkan diri kepada AllahSemakin sempurna seorang hamba dalam menjalani tingkatan-tingkatan ubudiyah (peribadahan), maka ia akan semakin dekat kepada Allah Ta‘ala.Dalam Shahihain, Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,يقول الله تعالى: مَنْ تقرَّب إلي شبراً؛ تقرَّبْتُ إليه ذِراعاً، ومَنْ تقرَّب إليَّ ذِراعاً؛ تقرّبتُ إليه باعاً، ومَنْ أتَاني يمشي؛ أتَيته هَرْولةً“Allah berfirman: Barang siapa yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta; barang siapa mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa; dan barang siapa datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.” (HR. Bukhari dan Muslim) [9]Semakin sempurna ubudiyah seseorang, semakin dekat pula ia kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah adalah Maha Baik, Maha Pemurah, Maha Pemberi kebaikan. Ia memberikan kepada hamba-Nya sesuai kadar kebutuhan dan kesungguhan hamba tersebut. [10] Memperbanyak doa dan tidak berputus asa darinyaTerdapat banyak hadis dalam sunah Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam yang mendorong untuk memperbanyak doa, dan menjelaskan bahwa Allah Tabāraka wa Ta‘ālā mengabulkan doa-doa orang yang berdoa dan memberikan kepada siapa yang memohon kepada-Nya.Disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad, al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, al-Hakim, dan lainnya dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallāhu ‘anhu, Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما من مسلم يدعو بدعوة ليس فيها إثم ولا قطيعةُ رَحِمٍ إلا أعطاه الله بها إحدى ثلاث: إما أَنْ تُعَجَّل له دعوته، وإما أن يَدَّخِرَها له في الآخرة، وإما أن يصرف عنه من السُّوء مثلها“Tidaklah seorang muslim berdoa dengan satu doa yang tidak mengandung dosa atau memutuskan tali silaturahmi, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal: (1) Dikabulkan segera doanya, (2) Disimpan untuknya di akhirat, atau (3) Dihindarkan dari keburukan yang sebanding dengannya.” Mereka bertanya, “Kalau begitu, kita akan memperbanyak (doa)?”Beliau bersabda,الله أكثر“Allah lebih banyak (pemberiannya).” (at-Targhib wa at-Tarhib, no. 1633, sahih) [11]Semoga pemahaman yang benar tentang kedua nama Allah tersebut (Al-Qariib dan Al-Mujiib) menguatkan keyakinan kita kepada-Nya, mendorong kita untuk memperbanyak doa dan ibadah, menumbuhkan harapan dan rasa takut hanya kepada-Nya, serta menjauhkan kita dari syirik dan segala bentuk ketergantungan kepada selain-Nya. Āmīn.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Ghafuur”***Rumdin PPIA Sragen, 28 Rabiul awal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Ibn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad asy-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439.Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi. Catatan kaki:[1] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 282.[2] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 228.[3] Maʻjam Maqāyīs al-Lughah, 5: 80.[4] at-Taʻlīq al-Asnā, hal. 273.[5] Maʻjam Maqāyīs al-Lughah, 1: 491. Lebih detail lagi, lihat Al-Miṣbāḥ al-Munīr fī Gharīb al-Syarḥ al-Kabīr, 1: 113.[6] Tafsīr at-Ṭabarī, 12: 454.[7] Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 949. Lihat juga penjelasan lebih rinci dalam Fiqh al-Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 282-283.[8] Lihat at-Ta‘liq al-Asnā, hal. 273–278.[9] Lihat Majmū‘ Fatāwā Ibn Taimiyah (5: 465–467) tentang penjelasan beliau terhadap hadis ini.[10] Disarikan dari an-Nahj al-Asma, hal. 512–519.[11] Fiqh al-Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 285

Mengenal Nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”

Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Kandungan makna nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Makna bahasa dari “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Makna “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” bagi hambaBeriman bahwa “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” ini termasuk Asmaul HusnaMendekatkan diri kepada AllahMemperbanyak doa dan tidak berputus asa darinyaSetiap nama Allah mengandung makna yang agung dan menjadi pintu bagi seorang hamba untuk lebih dekat kepada Rabb-nya. Di antara nama-nama tersebut adalah al-Qariib dan al-Mujiib, yang menunjukkan bahwa Allah selalu dekat dengan hamba-Nya dan mengabulkan doa-doa mereka.Dalam artikel ini, kita akan membahas dalil-dalil yang menetapkan nama Allah al-Qariib dan al-Mujiib, makna yang terkandung di dalam keduanya, serta dampaknya bagi kehidupan seorang mukmin. Semoga pembahasan ini menumbuhkan rasa harap, ketenangan, dan semangat untuk selalu berdoa serta bersandar kepada Allah dalam segala keadaan.Dalil nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Allah menggabungkan dua nama ini dalam firman-Nya,وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًاۚ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَٱسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَٱسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِۚ إِنَّ رَبِّى قَرِيبٌۭ مُّجِيبٌۭ“Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Shalih. Ia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada sesembahan yang benar bagi kalian selain-Nya. Dia telah menciptakan kalian dari bumi dan menjadikan kalian makmur di dalamnya. Maka mohonlah ampun kepada-Nya, lalu bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbku Mahadekat lagi Maha Mengabulkan (doa).’” (QS. Hūd: 61)Nama al-Mujiib tidak disebutkan di tempat lain dalam Al-Qur’an selain ayat ini, sedangkan nama al-Qariib disebutkan dalam dua ayat lainnya, yaitu:Firman Allah Ta‘ālā,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۭ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِي وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 186)Firman-Nya pula,قُلْ إِن ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِيَ إِلَى رَبِّي إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ“Katakanlah, ‘Jika aku sesat, maka sesungguhnya aku hanya sesat atas diriku sendiri. Dan jika aku mendapat petunjuk, maka itu karena wahyu yang diwahyukan Rabbku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat.’” (QS. Saba’: 50) [1]Kandungan makna nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Qariib adalah ṣifah musyabbahah (sifat tetap) dengan wazan faʿīl (menunjukkan sifat yang terus-menerus atau tetap). Sedangkan Mujiib, adalah isim fāʿil (kata kerja pelaku) dari kata kerja ajaba (أجاب), asal katanya adalah mujwibun (مجوب), di mana huruf wāw diganti dengan yāʼ (sehingga menjadi mujiib). [2]Asal kata dari Qariib adalah al-qurb (القرب) yang secara bahasa berarti kebalikan dari buʻd (jauh). [3]Bentuk kedekatan itu ada beberapa macam:Kedekatan tempat (qurb al-makān),Kedekatan waktu (qurb az-zamān),Kedekatan kedudukan atau status (qurb al-manzilah). [4]Sedangkan asal kata Mujiib adalah al-jaub (الجوب). Ibnu Faris mengatakan tentang makna kata ini,(جوب) الْجِيمُ وَالْوَاوُ وَالْبَاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ خَرْقُ الشَّيْءِ. يُقَالُ جُبْتُ الْأَرْضَ جَوْبًا“Huruf jim, waw, dan baa membentuk satu akar kata yang memiliki makna dasar ‘melubangi atau membelah sesuatu’. Contohnya: Jubtu al-arḍ jawban (جُبْتُ الْأَرْضَ جَوْبًا) artinya, ‘Aku telah membelah bumi (melintasinya)’.” [5]Makna “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” dalam konteks AllahIbnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menyebutkan, tentang tafsir firman Allah Ta’ala di surah Hud ayat ke-61,إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌbeliau mengatakan,إن ربِّي قريبٌ ممن أخْلَصَ له العبادةَ، ورَغِبَ إليه في التوبةِ، مجيبٌ له إذا دَعاه“Sesungguhnya Rabb-ku dekat dengan siapa saja yang mengikhlaskan ibadah kepada-Nya dan kembali bertobat kepada-Nya dengan penuh harap; dan Dia akan mengabulkan permohonannya ketika ia berdoa kepada-Nya.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Si’diy mengatakan, “al-Qariib, al-Mujiib” — maksudnya: Dia Ta‘ala adalah al-Qariib (Maha Dekat) dari setiap makhluk. Kedekatan Allah Ta‘ala itu ada dua jenis: (1) kedekatan umum terhadap seluruh makhluk-Nya, melalui ilmu-Nya, pengawasan-Nya, perhatian-Nya, dan penglihatan-Nya yang meliputi segala sesuatu; dan (2) kedekatan khusus terhadap hamba-hamba-Nya yang beribadah kepada-Nya, yang memohon kepada-Nya, dan mencintai-Nya.Ini adalah bentuk kedekatan yang hakikatnya tidak dapat dijangkau oleh akal, tetapi dapat dikenali melalui dampaknya — seperti kelembutan-Nya kepada hamba-Nya, perhatian-Nya, taufik dan bimbingan-Nya.Di antara dampaknya adalah: Allah mengabulkan doa para pemohon, dan menerima tobat para hamba yang kembali kepada-Nya.Maka, Allah adalah al-Mujiib — Maha Mengabulkan — baik pengabulan secara umum untuk siapa pun yang berdoa kapan pun dan di mana pun mereka berada, dalam keadaan seperti apa pun, sebagaimana telah dijanjikan-Nya secara mutlak.Dan Allah juga al-Mujiib secara khusus bagi mereka yang menjawab seruan-Nya dan tunduk kepada syariat-Nya. Allah juga al-Mujiib bagi orang-orang yang berada dalam kondisi darurat, yang telah putus harapan dari makhluk, lalu bergantung sepenuhnya kepada Allah dengan penuh harap, takut, dan cinta. [7]Apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunah tentang kedekatan dan penyertaan-Nya tidaklah bertentangan dengan ketinggian dan keagungan-Nya, karena tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah Subḥānahu wa Ta’ala, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [8]Konsekuensi dari nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” bagi hambaPenetapan nama “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini adalah beberapa konsekuensi dari sisi hamba: Beriman bahwa “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” ini termasuk Asmaul HusnaSeorang hamba hendaknya meyakini bahwa Al-Qarīb dan Al-Mujīb termasuk dalam Al-Asmaul Husna (nama-nama Allah yang paling baik), sebagaimana telah disebutkan dalil-dalilnya. Mendekatkan diri kepada AllahSemakin sempurna seorang hamba dalam menjalani tingkatan-tingkatan ubudiyah (peribadahan), maka ia akan semakin dekat kepada Allah Ta‘ala.Dalam Shahihain, Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,يقول الله تعالى: مَنْ تقرَّب إلي شبراً؛ تقرَّبْتُ إليه ذِراعاً، ومَنْ تقرَّب إليَّ ذِراعاً؛ تقرّبتُ إليه باعاً، ومَنْ أتَاني يمشي؛ أتَيته هَرْولةً“Allah berfirman: Barang siapa yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta; barang siapa mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa; dan barang siapa datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.” (HR. Bukhari dan Muslim) [9]Semakin sempurna ubudiyah seseorang, semakin dekat pula ia kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah adalah Maha Baik, Maha Pemurah, Maha Pemberi kebaikan. Ia memberikan kepada hamba-Nya sesuai kadar kebutuhan dan kesungguhan hamba tersebut. [10] Memperbanyak doa dan tidak berputus asa darinyaTerdapat banyak hadis dalam sunah Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam yang mendorong untuk memperbanyak doa, dan menjelaskan bahwa Allah Tabāraka wa Ta‘ālā mengabulkan doa-doa orang yang berdoa dan memberikan kepada siapa yang memohon kepada-Nya.Disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad, al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, al-Hakim, dan lainnya dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallāhu ‘anhu, Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما من مسلم يدعو بدعوة ليس فيها إثم ولا قطيعةُ رَحِمٍ إلا أعطاه الله بها إحدى ثلاث: إما أَنْ تُعَجَّل له دعوته، وإما أن يَدَّخِرَها له في الآخرة، وإما أن يصرف عنه من السُّوء مثلها“Tidaklah seorang muslim berdoa dengan satu doa yang tidak mengandung dosa atau memutuskan tali silaturahmi, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal: (1) Dikabulkan segera doanya, (2) Disimpan untuknya di akhirat, atau (3) Dihindarkan dari keburukan yang sebanding dengannya.” Mereka bertanya, “Kalau begitu, kita akan memperbanyak (doa)?”Beliau bersabda,الله أكثر“Allah lebih banyak (pemberiannya).” (at-Targhib wa at-Tarhib, no. 1633, sahih) [11]Semoga pemahaman yang benar tentang kedua nama Allah tersebut (Al-Qariib dan Al-Mujiib) menguatkan keyakinan kita kepada-Nya, mendorong kita untuk memperbanyak doa dan ibadah, menumbuhkan harapan dan rasa takut hanya kepada-Nya, serta menjauhkan kita dari syirik dan segala bentuk ketergantungan kepada selain-Nya. Āmīn.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Ghafuur”***Rumdin PPIA Sragen, 28 Rabiul awal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Ibn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad asy-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439.Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi. Catatan kaki:[1] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 282.[2] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 228.[3] Maʻjam Maqāyīs al-Lughah, 5: 80.[4] at-Taʻlīq al-Asnā, hal. 273.[5] Maʻjam Maqāyīs al-Lughah, 1: 491. Lebih detail lagi, lihat Al-Miṣbāḥ al-Munīr fī Gharīb al-Syarḥ al-Kabīr, 1: 113.[6] Tafsīr at-Ṭabarī, 12: 454.[7] Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 949. Lihat juga penjelasan lebih rinci dalam Fiqh al-Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 282-283.[8] Lihat at-Ta‘liq al-Asnā, hal. 273–278.[9] Lihat Majmū‘ Fatāwā Ibn Taimiyah (5: 465–467) tentang penjelasan beliau terhadap hadis ini.[10] Disarikan dari an-Nahj al-Asma, hal. 512–519.[11] Fiqh al-Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 285
Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Kandungan makna nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Makna bahasa dari “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Makna “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” bagi hambaBeriman bahwa “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” ini termasuk Asmaul HusnaMendekatkan diri kepada AllahMemperbanyak doa dan tidak berputus asa darinyaSetiap nama Allah mengandung makna yang agung dan menjadi pintu bagi seorang hamba untuk lebih dekat kepada Rabb-nya. Di antara nama-nama tersebut adalah al-Qariib dan al-Mujiib, yang menunjukkan bahwa Allah selalu dekat dengan hamba-Nya dan mengabulkan doa-doa mereka.Dalam artikel ini, kita akan membahas dalil-dalil yang menetapkan nama Allah al-Qariib dan al-Mujiib, makna yang terkandung di dalam keduanya, serta dampaknya bagi kehidupan seorang mukmin. Semoga pembahasan ini menumbuhkan rasa harap, ketenangan, dan semangat untuk selalu berdoa serta bersandar kepada Allah dalam segala keadaan.Dalil nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Allah menggabungkan dua nama ini dalam firman-Nya,وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًاۚ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَٱسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَٱسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِۚ إِنَّ رَبِّى قَرِيبٌۭ مُّجِيبٌۭ“Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Shalih. Ia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada sesembahan yang benar bagi kalian selain-Nya. Dia telah menciptakan kalian dari bumi dan menjadikan kalian makmur di dalamnya. Maka mohonlah ampun kepada-Nya, lalu bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbku Mahadekat lagi Maha Mengabulkan (doa).’” (QS. Hūd: 61)Nama al-Mujiib tidak disebutkan di tempat lain dalam Al-Qur’an selain ayat ini, sedangkan nama al-Qariib disebutkan dalam dua ayat lainnya, yaitu:Firman Allah Ta‘ālā,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۭ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِي وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 186)Firman-Nya pula,قُلْ إِن ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِيَ إِلَى رَبِّي إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ“Katakanlah, ‘Jika aku sesat, maka sesungguhnya aku hanya sesat atas diriku sendiri. Dan jika aku mendapat petunjuk, maka itu karena wahyu yang diwahyukan Rabbku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat.’” (QS. Saba’: 50) [1]Kandungan makna nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Qariib adalah ṣifah musyabbahah (sifat tetap) dengan wazan faʿīl (menunjukkan sifat yang terus-menerus atau tetap). Sedangkan Mujiib, adalah isim fāʿil (kata kerja pelaku) dari kata kerja ajaba (أجاب), asal katanya adalah mujwibun (مجوب), di mana huruf wāw diganti dengan yāʼ (sehingga menjadi mujiib). [2]Asal kata dari Qariib adalah al-qurb (القرب) yang secara bahasa berarti kebalikan dari buʻd (jauh). [3]Bentuk kedekatan itu ada beberapa macam:Kedekatan tempat (qurb al-makān),Kedekatan waktu (qurb az-zamān),Kedekatan kedudukan atau status (qurb al-manzilah). [4]Sedangkan asal kata Mujiib adalah al-jaub (الجوب). Ibnu Faris mengatakan tentang makna kata ini,(جوب) الْجِيمُ وَالْوَاوُ وَالْبَاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ خَرْقُ الشَّيْءِ. يُقَالُ جُبْتُ الْأَرْضَ جَوْبًا“Huruf jim, waw, dan baa membentuk satu akar kata yang memiliki makna dasar ‘melubangi atau membelah sesuatu’. Contohnya: Jubtu al-arḍ jawban (جُبْتُ الْأَرْضَ جَوْبًا) artinya, ‘Aku telah membelah bumi (melintasinya)’.” [5]Makna “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” dalam konteks AllahIbnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menyebutkan, tentang tafsir firman Allah Ta’ala di surah Hud ayat ke-61,إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌbeliau mengatakan,إن ربِّي قريبٌ ممن أخْلَصَ له العبادةَ، ورَغِبَ إليه في التوبةِ، مجيبٌ له إذا دَعاه“Sesungguhnya Rabb-ku dekat dengan siapa saja yang mengikhlaskan ibadah kepada-Nya dan kembali bertobat kepada-Nya dengan penuh harap; dan Dia akan mengabulkan permohonannya ketika ia berdoa kepada-Nya.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Si’diy mengatakan, “al-Qariib, al-Mujiib” — maksudnya: Dia Ta‘ala adalah al-Qariib (Maha Dekat) dari setiap makhluk. Kedekatan Allah Ta‘ala itu ada dua jenis: (1) kedekatan umum terhadap seluruh makhluk-Nya, melalui ilmu-Nya, pengawasan-Nya, perhatian-Nya, dan penglihatan-Nya yang meliputi segala sesuatu; dan (2) kedekatan khusus terhadap hamba-hamba-Nya yang beribadah kepada-Nya, yang memohon kepada-Nya, dan mencintai-Nya.Ini adalah bentuk kedekatan yang hakikatnya tidak dapat dijangkau oleh akal, tetapi dapat dikenali melalui dampaknya — seperti kelembutan-Nya kepada hamba-Nya, perhatian-Nya, taufik dan bimbingan-Nya.Di antara dampaknya adalah: Allah mengabulkan doa para pemohon, dan menerima tobat para hamba yang kembali kepada-Nya.Maka, Allah adalah al-Mujiib — Maha Mengabulkan — baik pengabulan secara umum untuk siapa pun yang berdoa kapan pun dan di mana pun mereka berada, dalam keadaan seperti apa pun, sebagaimana telah dijanjikan-Nya secara mutlak.Dan Allah juga al-Mujiib secara khusus bagi mereka yang menjawab seruan-Nya dan tunduk kepada syariat-Nya. Allah juga al-Mujiib bagi orang-orang yang berada dalam kondisi darurat, yang telah putus harapan dari makhluk, lalu bergantung sepenuhnya kepada Allah dengan penuh harap, takut, dan cinta. [7]Apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunah tentang kedekatan dan penyertaan-Nya tidaklah bertentangan dengan ketinggian dan keagungan-Nya, karena tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah Subḥānahu wa Ta’ala, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [8]Konsekuensi dari nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” bagi hambaPenetapan nama “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini adalah beberapa konsekuensi dari sisi hamba: Beriman bahwa “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” ini termasuk Asmaul HusnaSeorang hamba hendaknya meyakini bahwa Al-Qarīb dan Al-Mujīb termasuk dalam Al-Asmaul Husna (nama-nama Allah yang paling baik), sebagaimana telah disebutkan dalil-dalilnya. Mendekatkan diri kepada AllahSemakin sempurna seorang hamba dalam menjalani tingkatan-tingkatan ubudiyah (peribadahan), maka ia akan semakin dekat kepada Allah Ta‘ala.Dalam Shahihain, Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,يقول الله تعالى: مَنْ تقرَّب إلي شبراً؛ تقرَّبْتُ إليه ذِراعاً، ومَنْ تقرَّب إليَّ ذِراعاً؛ تقرّبتُ إليه باعاً، ومَنْ أتَاني يمشي؛ أتَيته هَرْولةً“Allah berfirman: Barang siapa yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta; barang siapa mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa; dan barang siapa datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.” (HR. Bukhari dan Muslim) [9]Semakin sempurna ubudiyah seseorang, semakin dekat pula ia kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah adalah Maha Baik, Maha Pemurah, Maha Pemberi kebaikan. Ia memberikan kepada hamba-Nya sesuai kadar kebutuhan dan kesungguhan hamba tersebut. [10] Memperbanyak doa dan tidak berputus asa darinyaTerdapat banyak hadis dalam sunah Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam yang mendorong untuk memperbanyak doa, dan menjelaskan bahwa Allah Tabāraka wa Ta‘ālā mengabulkan doa-doa orang yang berdoa dan memberikan kepada siapa yang memohon kepada-Nya.Disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad, al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, al-Hakim, dan lainnya dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallāhu ‘anhu, Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما من مسلم يدعو بدعوة ليس فيها إثم ولا قطيعةُ رَحِمٍ إلا أعطاه الله بها إحدى ثلاث: إما أَنْ تُعَجَّل له دعوته، وإما أن يَدَّخِرَها له في الآخرة، وإما أن يصرف عنه من السُّوء مثلها“Tidaklah seorang muslim berdoa dengan satu doa yang tidak mengandung dosa atau memutuskan tali silaturahmi, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal: (1) Dikabulkan segera doanya, (2) Disimpan untuknya di akhirat, atau (3) Dihindarkan dari keburukan yang sebanding dengannya.” Mereka bertanya, “Kalau begitu, kita akan memperbanyak (doa)?”Beliau bersabda,الله أكثر“Allah lebih banyak (pemberiannya).” (at-Targhib wa at-Tarhib, no. 1633, sahih) [11]Semoga pemahaman yang benar tentang kedua nama Allah tersebut (Al-Qariib dan Al-Mujiib) menguatkan keyakinan kita kepada-Nya, mendorong kita untuk memperbanyak doa dan ibadah, menumbuhkan harapan dan rasa takut hanya kepada-Nya, serta menjauhkan kita dari syirik dan segala bentuk ketergantungan kepada selain-Nya. Āmīn.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Ghafuur”***Rumdin PPIA Sragen, 28 Rabiul awal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Ibn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad asy-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439.Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi. Catatan kaki:[1] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 282.[2] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 228.[3] Maʻjam Maqāyīs al-Lughah, 5: 80.[4] at-Taʻlīq al-Asnā, hal. 273.[5] Maʻjam Maqāyīs al-Lughah, 1: 491. Lebih detail lagi, lihat Al-Miṣbāḥ al-Munīr fī Gharīb al-Syarḥ al-Kabīr, 1: 113.[6] Tafsīr at-Ṭabarī, 12: 454.[7] Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 949. Lihat juga penjelasan lebih rinci dalam Fiqh al-Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 282-283.[8] Lihat at-Ta‘liq al-Asnā, hal. 273–278.[9] Lihat Majmū‘ Fatāwā Ibn Taimiyah (5: 465–467) tentang penjelasan beliau terhadap hadis ini.[10] Disarikan dari an-Nahj al-Asma, hal. 512–519.[11] Fiqh al-Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 285


Daftar Isi ToggleDalil nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Kandungan makna nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Makna bahasa dari “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Makna “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” dalam konteks AllahKonsekuensi dari nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” bagi hambaBeriman bahwa “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” ini termasuk Asmaul HusnaMendekatkan diri kepada AllahMemperbanyak doa dan tidak berputus asa darinyaSetiap nama Allah mengandung makna yang agung dan menjadi pintu bagi seorang hamba untuk lebih dekat kepada Rabb-nya. Di antara nama-nama tersebut adalah al-Qariib dan al-Mujiib, yang menunjukkan bahwa Allah selalu dekat dengan hamba-Nya dan mengabulkan doa-doa mereka.Dalam artikel ini, kita akan membahas dalil-dalil yang menetapkan nama Allah al-Qariib dan al-Mujiib, makna yang terkandung di dalam keduanya, serta dampaknya bagi kehidupan seorang mukmin. Semoga pembahasan ini menumbuhkan rasa harap, ketenangan, dan semangat untuk selalu berdoa serta bersandar kepada Allah dalam segala keadaan.Dalil nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Allah menggabungkan dua nama ini dalam firman-Nya,وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًاۚ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَٱسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَٱسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِۚ إِنَّ رَبِّى قَرِيبٌۭ مُّجِيبٌۭ“Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Shalih. Ia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada sesembahan yang benar bagi kalian selain-Nya. Dia telah menciptakan kalian dari bumi dan menjadikan kalian makmur di dalamnya. Maka mohonlah ampun kepada-Nya, lalu bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbku Mahadekat lagi Maha Mengabulkan (doa).’” (QS. Hūd: 61)Nama al-Mujiib tidak disebutkan di tempat lain dalam Al-Qur’an selain ayat ini, sedangkan nama al-Qariib disebutkan dalam dua ayat lainnya, yaitu:Firman Allah Ta‘ālā,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۭ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِي وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 186)Firman-Nya pula,قُلْ إِن ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِيَ إِلَى رَبِّي إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ“Katakanlah, ‘Jika aku sesat, maka sesungguhnya aku hanya sesat atas diriku sendiri. Dan jika aku mendapat petunjuk, maka itu karena wahyu yang diwahyukan Rabbku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat.’” (QS. Saba’: 50) [1]Kandungan makna nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.Makna bahasa dari “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib”Qariib adalah ṣifah musyabbahah (sifat tetap) dengan wazan faʿīl (menunjukkan sifat yang terus-menerus atau tetap). Sedangkan Mujiib, adalah isim fāʿil (kata kerja pelaku) dari kata kerja ajaba (أجاب), asal katanya adalah mujwibun (مجوب), di mana huruf wāw diganti dengan yāʼ (sehingga menjadi mujiib). [2]Asal kata dari Qariib adalah al-qurb (القرب) yang secara bahasa berarti kebalikan dari buʻd (jauh). [3]Bentuk kedekatan itu ada beberapa macam:Kedekatan tempat (qurb al-makān),Kedekatan waktu (qurb az-zamān),Kedekatan kedudukan atau status (qurb al-manzilah). [4]Sedangkan asal kata Mujiib adalah al-jaub (الجوب). Ibnu Faris mengatakan tentang makna kata ini,(جوب) الْجِيمُ وَالْوَاوُ وَالْبَاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ خَرْقُ الشَّيْءِ. يُقَالُ جُبْتُ الْأَرْضَ جَوْبًا“Huruf jim, waw, dan baa membentuk satu akar kata yang memiliki makna dasar ‘melubangi atau membelah sesuatu’. Contohnya: Jubtu al-arḍ jawban (جُبْتُ الْأَرْضَ جَوْبًا) artinya, ‘Aku telah membelah bumi (melintasinya)’.” [5]Makna “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” dalam konteks AllahIbnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menyebutkan, tentang tafsir firman Allah Ta’ala di surah Hud ayat ke-61,إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌbeliau mengatakan,إن ربِّي قريبٌ ممن أخْلَصَ له العبادةَ، ورَغِبَ إليه في التوبةِ، مجيبٌ له إذا دَعاه“Sesungguhnya Rabb-ku dekat dengan siapa saja yang mengikhlaskan ibadah kepada-Nya dan kembali bertobat kepada-Nya dengan penuh harap; dan Dia akan mengabulkan permohonannya ketika ia berdoa kepada-Nya.” [6]Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Si’diy mengatakan, “al-Qariib, al-Mujiib” — maksudnya: Dia Ta‘ala adalah al-Qariib (Maha Dekat) dari setiap makhluk. Kedekatan Allah Ta‘ala itu ada dua jenis: (1) kedekatan umum terhadap seluruh makhluk-Nya, melalui ilmu-Nya, pengawasan-Nya, perhatian-Nya, dan penglihatan-Nya yang meliputi segala sesuatu; dan (2) kedekatan khusus terhadap hamba-hamba-Nya yang beribadah kepada-Nya, yang memohon kepada-Nya, dan mencintai-Nya.Ini adalah bentuk kedekatan yang hakikatnya tidak dapat dijangkau oleh akal, tetapi dapat dikenali melalui dampaknya — seperti kelembutan-Nya kepada hamba-Nya, perhatian-Nya, taufik dan bimbingan-Nya.Di antara dampaknya adalah: Allah mengabulkan doa para pemohon, dan menerima tobat para hamba yang kembali kepada-Nya.Maka, Allah adalah al-Mujiib — Maha Mengabulkan — baik pengabulan secara umum untuk siapa pun yang berdoa kapan pun dan di mana pun mereka berada, dalam keadaan seperti apa pun, sebagaimana telah dijanjikan-Nya secara mutlak.Dan Allah juga al-Mujiib secara khusus bagi mereka yang menjawab seruan-Nya dan tunduk kepada syariat-Nya. Allah juga al-Mujiib bagi orang-orang yang berada dalam kondisi darurat, yang telah putus harapan dari makhluk, lalu bergantung sepenuhnya kepada Allah dengan penuh harap, takut, dan cinta. [7]Apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunah tentang kedekatan dan penyertaan-Nya tidaklah bertentangan dengan ketinggian dan keagungan-Nya, karena tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah Subḥānahu wa Ta’ala, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [8]Konsekuensi dari nama Allah “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” bagi hambaPenetapan nama “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini adalah beberapa konsekuensi dari sisi hamba: Beriman bahwa “Al-Qariib” dan “Al-Mujiib” ini termasuk Asmaul HusnaSeorang hamba hendaknya meyakini bahwa Al-Qarīb dan Al-Mujīb termasuk dalam Al-Asmaul Husna (nama-nama Allah yang paling baik), sebagaimana telah disebutkan dalil-dalilnya. Mendekatkan diri kepada AllahSemakin sempurna seorang hamba dalam menjalani tingkatan-tingkatan ubudiyah (peribadahan), maka ia akan semakin dekat kepada Allah Ta‘ala.Dalam Shahihain, Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,يقول الله تعالى: مَنْ تقرَّب إلي شبراً؛ تقرَّبْتُ إليه ذِراعاً، ومَنْ تقرَّب إليَّ ذِراعاً؛ تقرّبتُ إليه باعاً، ومَنْ أتَاني يمشي؛ أتَيته هَرْولةً“Allah berfirman: Barang siapa yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta; barang siapa mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa; dan barang siapa datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.” (HR. Bukhari dan Muslim) [9]Semakin sempurna ubudiyah seseorang, semakin dekat pula ia kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah adalah Maha Baik, Maha Pemurah, Maha Pemberi kebaikan. Ia memberikan kepada hamba-Nya sesuai kadar kebutuhan dan kesungguhan hamba tersebut. [10] Memperbanyak doa dan tidak berputus asa darinyaTerdapat banyak hadis dalam sunah Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam yang mendorong untuk memperbanyak doa, dan menjelaskan bahwa Allah Tabāraka wa Ta‘ālā mengabulkan doa-doa orang yang berdoa dan memberikan kepada siapa yang memohon kepada-Nya.Disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad, al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, al-Hakim, dan lainnya dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallāhu ‘anhu, Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,ما من مسلم يدعو بدعوة ليس فيها إثم ولا قطيعةُ رَحِمٍ إلا أعطاه الله بها إحدى ثلاث: إما أَنْ تُعَجَّل له دعوته، وإما أن يَدَّخِرَها له في الآخرة، وإما أن يصرف عنه من السُّوء مثلها“Tidaklah seorang muslim berdoa dengan satu doa yang tidak mengandung dosa atau memutuskan tali silaturahmi, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal: (1) Dikabulkan segera doanya, (2) Disimpan untuknya di akhirat, atau (3) Dihindarkan dari keburukan yang sebanding dengannya.” Mereka bertanya, “Kalau begitu, kita akan memperbanyak (doa)?”Beliau bersabda,الله أكثر“Allah lebih banyak (pemberiannya).” (at-Targhib wa at-Tarhib, no. 1633, sahih) [11]Semoga pemahaman yang benar tentang kedua nama Allah tersebut (Al-Qariib dan Al-Mujiib) menguatkan keyakinan kita kepada-Nya, mendorong kita untuk memperbanyak doa dan ibadah, menumbuhkan harapan dan rasa takut hanya kepada-Nya, serta menjauhkan kita dari syirik dan segala bentuk ketergantungan kepada selain-Nya. Āmīn.Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Ghafuur”***Rumdin PPIA Sragen, 28 Rabiul awal 1447Penulis: Prasetyo Abu Ka’abArtikel Muslim.or.id Referensi utama:Ibn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad asy-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439.Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. Al-Mishbahul Munir fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi. Catatan kaki:[1] Fiqhul Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 282.[2] Al-Bayan fi Tasrif Mufradat al-Qur’an ‘ala Hamisy al-Mushaf al-Sharif, hal. 228.[3] Maʻjam Maqāyīs al-Lughah, 5: 80.[4] at-Taʻlīq al-Asnā, hal. 273.[5] Maʻjam Maqāyīs al-Lughah, 1: 491. Lebih detail lagi, lihat Al-Miṣbāḥ al-Munīr fī Gharīb al-Syarḥ al-Kabīr, 1: 113.[6] Tafsīr at-Ṭabarī, 12: 454.[7] Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 949. Lihat juga penjelasan lebih rinci dalam Fiqh al-Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 282-283.[8] Lihat at-Ta‘liq al-Asnā, hal. 273–278.[9] Lihat Majmū‘ Fatāwā Ibn Taimiyah (5: 465–467) tentang penjelasan beliau terhadap hadis ini.[10] Disarikan dari an-Nahj al-Asma, hal. 512–519.[11] Fiqh al-Asmā’ al-Ḥusnā, hal. 285

Sunnah saat Hujan Turun: Buka Kepala & Ucapkan Doa Ini – Syaikh Sa’ad al-Khatslan

Sunnah ketika turun hujan bagi seorang Muslim adalah: [PERTAMA]Menyingkap penutup kepalanya. Ia menyingkap syal, sorban, atau apa pun yang menutupi kepalanya, sehingga kepalanya terbuka agar air hujan mengenainya. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Dahulu kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari, lalu turunlah hujan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyingkap kepalanya hingga terkena air hujan, lalu Nabi bersabda, ‘Hujan ini masih baru dari Tuhannya.’” (HR. Muslim). Maksud “masih baru dari Tuhannya” adalah hujan ini baru saja diciptakan oleh Allah. Hal ini menjadi dalil bahwa sunnah bagi seorang Muslim ketika turun hujan adalah menyingkap kepalanya, dan membiarkan air hujan mengenai kepala, kedua lengan, serta bagian tubuh lain yang memungkinkan. Inilah sunnah ketika turun hujan. [KEDUA]Selain itu, dianjurkan pula mengucapkan: MUTHIRNAA BIFADHLILLAAHI WA ROHMATIHI (Kami diguyur hujan atas karunia dan rahmat Allah). (HR. Bukhari dan Muslim). Janganlah menisbatkan turunnya hujan kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla, karena hal itu termasuk mengingkari nikmat. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah Shalat Subuh bersama para Sahabat setelah hujan turun pada malam harinya. Setelah shalat, beliau bertanya kepada mereka, “Tahukah kalian apa yang difirmankan Tuhan kalian?” Allah berfirman: “Pada pagi hari ini, di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Barang siapa mengatakan, ‘Kami diguyur hujan atas karunia dan rahmat Allah,’ maka ia beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang. Namun, barang siapa berkata, ‘Kami diguyur hujan karena bintang ini dan itu,’ maka ia kafir terhadap-Ku dan beriman kepada bintang.” (HR. Bukhari dan Muslim). Yang dimaksud dengan “kafir” dalam hadis ini—menurut para ulama—adalah kufur nikmat, yaitu bentuk kekufuran yang lebih ringan (kufur ashghar), karena ia menisbatkan nikmat turunnya hujan kepada selain Allah. Oleh sebab itu, wahai saudara Muslimku, hendaklah engkau berhati-hati setelah turun hujan, dan jangan sekali-kali menisbatkan hujan kepada selain Allah. Namun hendaklah kamu katakan: MUTHIRNAA BIFADHLILLAAHI WA ROHMATIHI (Kami diguyur hujan atas karunia dan rahmat Allah). ===== السُّنَّةُ عِنْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ أَنْ يَحْسِرَ الْمُسْلِمُ عَنْ رَأْسِهِ فَيَحْسِرُ شِمَاغَهُ أَوْ غُتْرَتَهُ أَوْ أَيَّ شَيْءٍ فَوْقَ رَأْسِهِ بِحَيْثُ يَكُونُ رَأْسُهُ مَكْشُوفًا حَتَّى يُصِيبَهُ الْمَطَرُ وَقَدْ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَنَزَلَ مَطَرٌ فَحَسَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَأْسِهِ حَتَّى أَصَابَهُ الْمَطَرُ وَقَالَ إِنَّهُ حَدِيْثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ وَمَعْنَى حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ أَيْ بِتَكْوِينِ رَبِّهِ إِيَّاهُ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السُّنَّةَ عِنْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ أَنَّ الْمُسْلِمَ يَحْسِرُ عَنْ رَأْسِهِ وَيَجْعَلُ الْمَطَرَ يُصِيبُ رَأْسَهُ وَذِرَاعَيْهِ وَمَا أَمْكَنَ مِنْ جَسَدِهِ فَهَذِهِ هِيَ السُّنَّةُ عِنْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ كَذَلِكَ أَيْضًا يَنْبَغِي أَنْ يَقُولَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ وَأَنْ لَا يَنْسِبَ نُزُولَ الْمَطَرِ إِلَى غَيْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ هَذَا يَدْخُلُ فِي كُفْرِ النِّعْمَةِ وَقَدْ جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِأَصْحَابِهِ يَوْمًا صَلَاةَ الْفَجْرِ وَعَلَى إِثْرِ مَطَرٍ نَزَلَ بِاللَّيْلِ فَلَمَّا صَلَّى بِهِمْ صَلَاةَ الْفَجْرِ قَالَ لَهُمْ أَتَدْرُوْنَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالَ أَصْبَحَ الْيَوْمَ مِنْ عِبَادِيْ مُؤْمِنٌ بِيْ وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِيْ كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْعِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِيْ مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ وَالْمَقْصُودُ بِالْكُفْرِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ كُفْرُ النِّعْمَةِ وَهُوَ كُفْرٌ أَصْغَرُ لِأَنَّهُ نَسَبَ نِعْمَةَ نُزُولِ الْمَطَرِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمَ بَعْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ أَنْ تَكُونَ حَذِرًا وَلَا تَنْسِبِ الْمَطَرَ لِغَيْرِ اللَّهِ وَإِنَّمَا تَقُولُ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ

Sunnah saat Hujan Turun: Buka Kepala & Ucapkan Doa Ini – Syaikh Sa’ad al-Khatslan

Sunnah ketika turun hujan bagi seorang Muslim adalah: [PERTAMA]Menyingkap penutup kepalanya. Ia menyingkap syal, sorban, atau apa pun yang menutupi kepalanya, sehingga kepalanya terbuka agar air hujan mengenainya. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Dahulu kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari, lalu turunlah hujan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyingkap kepalanya hingga terkena air hujan, lalu Nabi bersabda, ‘Hujan ini masih baru dari Tuhannya.’” (HR. Muslim). Maksud “masih baru dari Tuhannya” adalah hujan ini baru saja diciptakan oleh Allah. Hal ini menjadi dalil bahwa sunnah bagi seorang Muslim ketika turun hujan adalah menyingkap kepalanya, dan membiarkan air hujan mengenai kepala, kedua lengan, serta bagian tubuh lain yang memungkinkan. Inilah sunnah ketika turun hujan. [KEDUA]Selain itu, dianjurkan pula mengucapkan: MUTHIRNAA BIFADHLILLAAHI WA ROHMATIHI (Kami diguyur hujan atas karunia dan rahmat Allah). (HR. Bukhari dan Muslim). Janganlah menisbatkan turunnya hujan kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla, karena hal itu termasuk mengingkari nikmat. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah Shalat Subuh bersama para Sahabat setelah hujan turun pada malam harinya. Setelah shalat, beliau bertanya kepada mereka, “Tahukah kalian apa yang difirmankan Tuhan kalian?” Allah berfirman: “Pada pagi hari ini, di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Barang siapa mengatakan, ‘Kami diguyur hujan atas karunia dan rahmat Allah,’ maka ia beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang. Namun, barang siapa berkata, ‘Kami diguyur hujan karena bintang ini dan itu,’ maka ia kafir terhadap-Ku dan beriman kepada bintang.” (HR. Bukhari dan Muslim). Yang dimaksud dengan “kafir” dalam hadis ini—menurut para ulama—adalah kufur nikmat, yaitu bentuk kekufuran yang lebih ringan (kufur ashghar), karena ia menisbatkan nikmat turunnya hujan kepada selain Allah. Oleh sebab itu, wahai saudara Muslimku, hendaklah engkau berhati-hati setelah turun hujan, dan jangan sekali-kali menisbatkan hujan kepada selain Allah. Namun hendaklah kamu katakan: MUTHIRNAA BIFADHLILLAAHI WA ROHMATIHI (Kami diguyur hujan atas karunia dan rahmat Allah). ===== السُّنَّةُ عِنْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ أَنْ يَحْسِرَ الْمُسْلِمُ عَنْ رَأْسِهِ فَيَحْسِرُ شِمَاغَهُ أَوْ غُتْرَتَهُ أَوْ أَيَّ شَيْءٍ فَوْقَ رَأْسِهِ بِحَيْثُ يَكُونُ رَأْسُهُ مَكْشُوفًا حَتَّى يُصِيبَهُ الْمَطَرُ وَقَدْ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَنَزَلَ مَطَرٌ فَحَسَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَأْسِهِ حَتَّى أَصَابَهُ الْمَطَرُ وَقَالَ إِنَّهُ حَدِيْثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ وَمَعْنَى حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ أَيْ بِتَكْوِينِ رَبِّهِ إِيَّاهُ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السُّنَّةَ عِنْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ أَنَّ الْمُسْلِمَ يَحْسِرُ عَنْ رَأْسِهِ وَيَجْعَلُ الْمَطَرَ يُصِيبُ رَأْسَهُ وَذِرَاعَيْهِ وَمَا أَمْكَنَ مِنْ جَسَدِهِ فَهَذِهِ هِيَ السُّنَّةُ عِنْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ كَذَلِكَ أَيْضًا يَنْبَغِي أَنْ يَقُولَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ وَأَنْ لَا يَنْسِبَ نُزُولَ الْمَطَرِ إِلَى غَيْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ هَذَا يَدْخُلُ فِي كُفْرِ النِّعْمَةِ وَقَدْ جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِأَصْحَابِهِ يَوْمًا صَلَاةَ الْفَجْرِ وَعَلَى إِثْرِ مَطَرٍ نَزَلَ بِاللَّيْلِ فَلَمَّا صَلَّى بِهِمْ صَلَاةَ الْفَجْرِ قَالَ لَهُمْ أَتَدْرُوْنَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالَ أَصْبَحَ الْيَوْمَ مِنْ عِبَادِيْ مُؤْمِنٌ بِيْ وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِيْ كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْعِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِيْ مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ وَالْمَقْصُودُ بِالْكُفْرِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ كُفْرُ النِّعْمَةِ وَهُوَ كُفْرٌ أَصْغَرُ لِأَنَّهُ نَسَبَ نِعْمَةَ نُزُولِ الْمَطَرِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمَ بَعْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ أَنْ تَكُونَ حَذِرًا وَلَا تَنْسِبِ الْمَطَرَ لِغَيْرِ اللَّهِ وَإِنَّمَا تَقُولُ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ
Sunnah ketika turun hujan bagi seorang Muslim adalah: [PERTAMA]Menyingkap penutup kepalanya. Ia menyingkap syal, sorban, atau apa pun yang menutupi kepalanya, sehingga kepalanya terbuka agar air hujan mengenainya. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Dahulu kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari, lalu turunlah hujan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyingkap kepalanya hingga terkena air hujan, lalu Nabi bersabda, ‘Hujan ini masih baru dari Tuhannya.’” (HR. Muslim). Maksud “masih baru dari Tuhannya” adalah hujan ini baru saja diciptakan oleh Allah. Hal ini menjadi dalil bahwa sunnah bagi seorang Muslim ketika turun hujan adalah menyingkap kepalanya, dan membiarkan air hujan mengenai kepala, kedua lengan, serta bagian tubuh lain yang memungkinkan. Inilah sunnah ketika turun hujan. [KEDUA]Selain itu, dianjurkan pula mengucapkan: MUTHIRNAA BIFADHLILLAAHI WA ROHMATIHI (Kami diguyur hujan atas karunia dan rahmat Allah). (HR. Bukhari dan Muslim). Janganlah menisbatkan turunnya hujan kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla, karena hal itu termasuk mengingkari nikmat. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah Shalat Subuh bersama para Sahabat setelah hujan turun pada malam harinya. Setelah shalat, beliau bertanya kepada mereka, “Tahukah kalian apa yang difirmankan Tuhan kalian?” Allah berfirman: “Pada pagi hari ini, di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Barang siapa mengatakan, ‘Kami diguyur hujan atas karunia dan rahmat Allah,’ maka ia beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang. Namun, barang siapa berkata, ‘Kami diguyur hujan karena bintang ini dan itu,’ maka ia kafir terhadap-Ku dan beriman kepada bintang.” (HR. Bukhari dan Muslim). Yang dimaksud dengan “kafir” dalam hadis ini—menurut para ulama—adalah kufur nikmat, yaitu bentuk kekufuran yang lebih ringan (kufur ashghar), karena ia menisbatkan nikmat turunnya hujan kepada selain Allah. Oleh sebab itu, wahai saudara Muslimku, hendaklah engkau berhati-hati setelah turun hujan, dan jangan sekali-kali menisbatkan hujan kepada selain Allah. Namun hendaklah kamu katakan: MUTHIRNAA BIFADHLILLAAHI WA ROHMATIHI (Kami diguyur hujan atas karunia dan rahmat Allah). ===== السُّنَّةُ عِنْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ أَنْ يَحْسِرَ الْمُسْلِمُ عَنْ رَأْسِهِ فَيَحْسِرُ شِمَاغَهُ أَوْ غُتْرَتَهُ أَوْ أَيَّ شَيْءٍ فَوْقَ رَأْسِهِ بِحَيْثُ يَكُونُ رَأْسُهُ مَكْشُوفًا حَتَّى يُصِيبَهُ الْمَطَرُ وَقَدْ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَنَزَلَ مَطَرٌ فَحَسَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَأْسِهِ حَتَّى أَصَابَهُ الْمَطَرُ وَقَالَ إِنَّهُ حَدِيْثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ وَمَعْنَى حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ أَيْ بِتَكْوِينِ رَبِّهِ إِيَّاهُ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السُّنَّةَ عِنْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ أَنَّ الْمُسْلِمَ يَحْسِرُ عَنْ رَأْسِهِ وَيَجْعَلُ الْمَطَرَ يُصِيبُ رَأْسَهُ وَذِرَاعَيْهِ وَمَا أَمْكَنَ مِنْ جَسَدِهِ فَهَذِهِ هِيَ السُّنَّةُ عِنْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ كَذَلِكَ أَيْضًا يَنْبَغِي أَنْ يَقُولَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ وَأَنْ لَا يَنْسِبَ نُزُولَ الْمَطَرِ إِلَى غَيْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ هَذَا يَدْخُلُ فِي كُفْرِ النِّعْمَةِ وَقَدْ جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِأَصْحَابِهِ يَوْمًا صَلَاةَ الْفَجْرِ وَعَلَى إِثْرِ مَطَرٍ نَزَلَ بِاللَّيْلِ فَلَمَّا صَلَّى بِهِمْ صَلَاةَ الْفَجْرِ قَالَ لَهُمْ أَتَدْرُوْنَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالَ أَصْبَحَ الْيَوْمَ مِنْ عِبَادِيْ مُؤْمِنٌ بِيْ وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِيْ كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْعِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِيْ مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ وَالْمَقْصُودُ بِالْكُفْرِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ كُفْرُ النِّعْمَةِ وَهُوَ كُفْرٌ أَصْغَرُ لِأَنَّهُ نَسَبَ نِعْمَةَ نُزُولِ الْمَطَرِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمَ بَعْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ أَنْ تَكُونَ حَذِرًا وَلَا تَنْسِبِ الْمَطَرَ لِغَيْرِ اللَّهِ وَإِنَّمَا تَقُولُ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ


Sunnah ketika turun hujan bagi seorang Muslim adalah: [PERTAMA]Menyingkap penutup kepalanya. Ia menyingkap syal, sorban, atau apa pun yang menutupi kepalanya, sehingga kepalanya terbuka agar air hujan mengenainya. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Dahulu kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari, lalu turunlah hujan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyingkap kepalanya hingga terkena air hujan, lalu Nabi bersabda, ‘Hujan ini masih baru dari Tuhannya.’” (HR. Muslim). Maksud “masih baru dari Tuhannya” adalah hujan ini baru saja diciptakan oleh Allah. Hal ini menjadi dalil bahwa sunnah bagi seorang Muslim ketika turun hujan adalah menyingkap kepalanya, dan membiarkan air hujan mengenai kepala, kedua lengan, serta bagian tubuh lain yang memungkinkan. Inilah sunnah ketika turun hujan. [KEDUA]Selain itu, dianjurkan pula mengucapkan: MUTHIRNAA BIFADHLILLAAHI WA ROHMATIHI (Kami diguyur hujan atas karunia dan rahmat Allah). (HR. Bukhari dan Muslim). Janganlah menisbatkan turunnya hujan kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla, karena hal itu termasuk mengingkari nikmat. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah Shalat Subuh bersama para Sahabat setelah hujan turun pada malam harinya. Setelah shalat, beliau bertanya kepada mereka, “Tahukah kalian apa yang difirmankan Tuhan kalian?” Allah berfirman: “Pada pagi hari ini, di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Barang siapa mengatakan, ‘Kami diguyur hujan atas karunia dan rahmat Allah,’ maka ia beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang. Namun, barang siapa berkata, ‘Kami diguyur hujan karena bintang ini dan itu,’ maka ia kafir terhadap-Ku dan beriman kepada bintang.” (HR. Bukhari dan Muslim). Yang dimaksud dengan “kafir” dalam hadis ini—menurut para ulama—adalah kufur nikmat, yaitu bentuk kekufuran yang lebih ringan (kufur ashghar), karena ia menisbatkan nikmat turunnya hujan kepada selain Allah. Oleh sebab itu, wahai saudara Muslimku, hendaklah engkau berhati-hati setelah turun hujan, dan jangan sekali-kali menisbatkan hujan kepada selain Allah. Namun hendaklah kamu katakan: MUTHIRNAA BIFADHLILLAAHI WA ROHMATIHI (Kami diguyur hujan atas karunia dan rahmat Allah). ===== السُّنَّةُ عِنْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ أَنْ يَحْسِرَ الْمُسْلِمُ عَنْ رَأْسِهِ فَيَحْسِرُ شِمَاغَهُ أَوْ غُتْرَتَهُ أَوْ أَيَّ شَيْءٍ فَوْقَ رَأْسِهِ بِحَيْثُ يَكُونُ رَأْسُهُ مَكْشُوفًا حَتَّى يُصِيبَهُ الْمَطَرُ وَقَدْ جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَنَزَلَ مَطَرٌ فَحَسَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَأْسِهِ حَتَّى أَصَابَهُ الْمَطَرُ وَقَالَ إِنَّهُ حَدِيْثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ وَمَعْنَى حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ أَيْ بِتَكْوِينِ رَبِّهِ إِيَّاهُ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ السُّنَّةَ عِنْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ أَنَّ الْمُسْلِمَ يَحْسِرُ عَنْ رَأْسِهِ وَيَجْعَلُ الْمَطَرَ يُصِيبُ رَأْسَهُ وَذِرَاعَيْهِ وَمَا أَمْكَنَ مِنْ جَسَدِهِ فَهَذِهِ هِيَ السُّنَّةُ عِنْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ كَذَلِكَ أَيْضًا يَنْبَغِي أَنْ يَقُولَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ وَأَنْ لَا يَنْسِبَ نُزُولَ الْمَطَرِ إِلَى غَيْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِنَّ هَذَا يَدْخُلُ فِي كُفْرِ النِّعْمَةِ وَقَدْ جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِأَصْحَابِهِ يَوْمًا صَلَاةَ الْفَجْرِ وَعَلَى إِثْرِ مَطَرٍ نَزَلَ بِاللَّيْلِ فَلَمَّا صَلَّى بِهِمْ صَلَاةَ الْفَجْرِ قَالَ لَهُمْ أَتَدْرُوْنَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالَ أَصْبَحَ الْيَوْمَ مِنْ عِبَادِيْ مُؤْمِنٌ بِيْ وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِيْ كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْعِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِيْ مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ وَالْمَقْصُودُ بِالْكُفْرِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ كُفْرُ النِّعْمَةِ وَهُوَ كُفْرٌ أَصْغَرُ لِأَنَّهُ نَسَبَ نِعْمَةَ نُزُولِ الْمَطَرِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَيَنْبَغِي لَكَ أَخِي الْمُسْلِمَ بَعْدَ نُزُولِ الْمَطَرِ أَنْ تَكُونَ حَذِرًا وَلَا تَنْسِبِ الْمَطَرَ لِغَيْرِ اللَّهِ وَإِنَّمَا تَقُولُ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ

Mau Cita-Citamu Terwujud? Usaha + Amal + Harapan kepada Allah – Syaikh Abdullah Al-Ma’yuf

“… mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah.” (QS. Al-Baqarah: 218) Syaikh Abdurrahman memiliki ucapan yang bagus dalam hal ini, wahai saudara-saudara, dan saya anjurkan kepada kalian untuk merujuk kitab ini. Bacalah kitab tersebut, semoga Allah memberkahi kalian. Beliau—semoga Allah merahmatinya—berkata atau menyebutkan: bahwa harapan tidak mungkin terwujud kecuali dengan apa? Dengan menjalankan sebab-sebab yang membawa kepada kebahagiaan. Adapun harapan yang tidak disertai dengan usaha, maka itu adalah harapan orang-orang lemah dan yang tidak beramal. Syaikh menambahkan, “Dia bagaikan orang yang mengharapkan anak, tetapi tidak menikah.” Maka, wajib bagi seseorang untuk menjalankan sebab-sebab yang mendatangkan harapannya. Dari mana Syaikh—semoga Allah merahmatinya—mengambil faedah ini? Dari firman Allah tentang orang-orang yang melakukan sebab-sebab: mereka beriman, berhijrah, dan berjihad… (Lihat QS. Al-Baqarah: 218). Kemudian Allah berfirman: “… mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah.” Lalu beliau menyebutkan faedah kedua dari ayat ini: Sebanyak apa pun amal yang dikerjakan seseorang, ia tetap tidak boleh bersandar atau bertumpu pada amalannya itu. Namun, hendaklah ia hanya berharap rahmat Allah. Dari mana faedah ini kita dapat, wahai saudara-saudara? Yaitu dari kenyataan bahwa mereka telah beriman, berhijrah, dan berjihad. Namun kendati demikian, mereka tetap hanya mengharapkan rahmat Allah ‘Azza wa Jalla. “Mereka itulah yang mengharapkan…” Mereka tidak dipastikan mendapat rahmat, wahai saudara-saudara! Dari sini kita memahami bahwa jika seseorang mengerjakan amal saleh, ia tidak boleh memastikan bahwa amalnya diterima, akan tetapi hendaklah ia berharap dengan harapan yang melahirkan sangkaan baik kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Benar! Ia berbaik sangka kepada Tuhannya, bahwa jika ia mengerjakan amal saleh, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih pemurah daripada sekadar menerima amal itu. Akan tetapi, ia tidak boleh meyakini bahwa cukup dengan beramal, lalu urusannya selesai. Tidak! Melainkan ia terus beramal, dan tetap dalam keadaan apa, wahai saudara-saudara? Tetap berharap kepada Tuhannya Subhanahu wa bihamdihi. ===== أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ الشَّيْخُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ لَهُ كَلَامٌ حَسَنٌ يَا إِخْوَانِي وَأَنَا أُوصِيْكُمْ بِالرُّجُوعِ إِلَى هَذَا الْكِتَابِ اقْرَؤُوْهُ بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَوْ ذَكَرَ أَنَّ الرَّجَاءَ لَا يَكُونُ إِلَّا بِمَاذَا؟ بِفِعْلِ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ أَمَّا إِذَا كَانَ الرَّجَاءُ دُونَ أَسْبَابٍ فَهُوَ رَجَاءُ الْعَاجِزِينَ وَالْبَطَّالِيْنَ قَالَ وَهُوَ كَمَنَ يَرْجُو وَلَدًا دُونَ أَنْ يَتَزَوَّجَ فَلَا بُدَّ مِنْ فِعْلِ أَسْبَابِ الرَّجَاءِ مِنْ أَيْنَ أَخَذَ هَذَا رَحِمَهُ اللَّهُ؟ فَعَلُوا الْأَسْبَابَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا ثُمَّ قَالَ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ ذَكَرَ لَطِيفَةً ثَانِيَةً فِي هَذِهِ الْآيَةِ وَهِيَ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَهْمَا عَمِلَ مِنَ الْأَعْمَالِ فَلَا يُعَوِّلُ عَلَى عَمَلِهِ وَلَا يَرْكَنُ إِلَيْهِ وَإِنَّمَا يَرْجُو مِنْ أَيْنَ أَخَذْنَاهُ يَا إِخْوَانُ؟ أَنَّ هَؤُلَاءِ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا وَمَعَ ذَلِكَ كَانُوا يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أُولَئِكَ يَرْجُونَ مَا قُطِعَ لَهُمْ يَا إِخْوَانِي بِالرَّحْمَةِ وَفِيهِ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا عَمِلَ الْعَمَلَ الصَّالِحَ لَا يَقْطَعُ لِنَفْسِهِ بِالْقَبُولِ وَلَكِنْ يَرْجُو رَجَاءً يُورِثُهُ حُسْنَ الظَّنِّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ نَعَمْ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ أَنَّهُ إِذَا عَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَكْرَمُ مِنْهُ لَكِنْ لَا يَعْتَقِدُ أَنَّهُ خَلَاصٌ عَمِلَ وَانْتَهَى الْأَمْرُ لَا بَلْ يَعْمَلُ وَلَا يَزَالُ مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ رَاجِيًا لِرَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ

Mau Cita-Citamu Terwujud? Usaha + Amal + Harapan kepada Allah – Syaikh Abdullah Al-Ma’yuf

“… mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah.” (QS. Al-Baqarah: 218) Syaikh Abdurrahman memiliki ucapan yang bagus dalam hal ini, wahai saudara-saudara, dan saya anjurkan kepada kalian untuk merujuk kitab ini. Bacalah kitab tersebut, semoga Allah memberkahi kalian. Beliau—semoga Allah merahmatinya—berkata atau menyebutkan: bahwa harapan tidak mungkin terwujud kecuali dengan apa? Dengan menjalankan sebab-sebab yang membawa kepada kebahagiaan. Adapun harapan yang tidak disertai dengan usaha, maka itu adalah harapan orang-orang lemah dan yang tidak beramal. Syaikh menambahkan, “Dia bagaikan orang yang mengharapkan anak, tetapi tidak menikah.” Maka, wajib bagi seseorang untuk menjalankan sebab-sebab yang mendatangkan harapannya. Dari mana Syaikh—semoga Allah merahmatinya—mengambil faedah ini? Dari firman Allah tentang orang-orang yang melakukan sebab-sebab: mereka beriman, berhijrah, dan berjihad… (Lihat QS. Al-Baqarah: 218). Kemudian Allah berfirman: “… mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah.” Lalu beliau menyebutkan faedah kedua dari ayat ini: Sebanyak apa pun amal yang dikerjakan seseorang, ia tetap tidak boleh bersandar atau bertumpu pada amalannya itu. Namun, hendaklah ia hanya berharap rahmat Allah. Dari mana faedah ini kita dapat, wahai saudara-saudara? Yaitu dari kenyataan bahwa mereka telah beriman, berhijrah, dan berjihad. Namun kendati demikian, mereka tetap hanya mengharapkan rahmat Allah ‘Azza wa Jalla. “Mereka itulah yang mengharapkan…” Mereka tidak dipastikan mendapat rahmat, wahai saudara-saudara! Dari sini kita memahami bahwa jika seseorang mengerjakan amal saleh, ia tidak boleh memastikan bahwa amalnya diterima, akan tetapi hendaklah ia berharap dengan harapan yang melahirkan sangkaan baik kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Benar! Ia berbaik sangka kepada Tuhannya, bahwa jika ia mengerjakan amal saleh, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih pemurah daripada sekadar menerima amal itu. Akan tetapi, ia tidak boleh meyakini bahwa cukup dengan beramal, lalu urusannya selesai. Tidak! Melainkan ia terus beramal, dan tetap dalam keadaan apa, wahai saudara-saudara? Tetap berharap kepada Tuhannya Subhanahu wa bihamdihi. ===== أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ الشَّيْخُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ لَهُ كَلَامٌ حَسَنٌ يَا إِخْوَانِي وَأَنَا أُوصِيْكُمْ بِالرُّجُوعِ إِلَى هَذَا الْكِتَابِ اقْرَؤُوْهُ بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَوْ ذَكَرَ أَنَّ الرَّجَاءَ لَا يَكُونُ إِلَّا بِمَاذَا؟ بِفِعْلِ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ أَمَّا إِذَا كَانَ الرَّجَاءُ دُونَ أَسْبَابٍ فَهُوَ رَجَاءُ الْعَاجِزِينَ وَالْبَطَّالِيْنَ قَالَ وَهُوَ كَمَنَ يَرْجُو وَلَدًا دُونَ أَنْ يَتَزَوَّجَ فَلَا بُدَّ مِنْ فِعْلِ أَسْبَابِ الرَّجَاءِ مِنْ أَيْنَ أَخَذَ هَذَا رَحِمَهُ اللَّهُ؟ فَعَلُوا الْأَسْبَابَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا ثُمَّ قَالَ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ ذَكَرَ لَطِيفَةً ثَانِيَةً فِي هَذِهِ الْآيَةِ وَهِيَ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَهْمَا عَمِلَ مِنَ الْأَعْمَالِ فَلَا يُعَوِّلُ عَلَى عَمَلِهِ وَلَا يَرْكَنُ إِلَيْهِ وَإِنَّمَا يَرْجُو مِنْ أَيْنَ أَخَذْنَاهُ يَا إِخْوَانُ؟ أَنَّ هَؤُلَاءِ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا وَمَعَ ذَلِكَ كَانُوا يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أُولَئِكَ يَرْجُونَ مَا قُطِعَ لَهُمْ يَا إِخْوَانِي بِالرَّحْمَةِ وَفِيهِ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا عَمِلَ الْعَمَلَ الصَّالِحَ لَا يَقْطَعُ لِنَفْسِهِ بِالْقَبُولِ وَلَكِنْ يَرْجُو رَجَاءً يُورِثُهُ حُسْنَ الظَّنِّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ نَعَمْ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ أَنَّهُ إِذَا عَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَكْرَمُ مِنْهُ لَكِنْ لَا يَعْتَقِدُ أَنَّهُ خَلَاصٌ عَمِلَ وَانْتَهَى الْأَمْرُ لَا بَلْ يَعْمَلُ وَلَا يَزَالُ مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ رَاجِيًا لِرَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ
“… mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah.” (QS. Al-Baqarah: 218) Syaikh Abdurrahman memiliki ucapan yang bagus dalam hal ini, wahai saudara-saudara, dan saya anjurkan kepada kalian untuk merujuk kitab ini. Bacalah kitab tersebut, semoga Allah memberkahi kalian. Beliau—semoga Allah merahmatinya—berkata atau menyebutkan: bahwa harapan tidak mungkin terwujud kecuali dengan apa? Dengan menjalankan sebab-sebab yang membawa kepada kebahagiaan. Adapun harapan yang tidak disertai dengan usaha, maka itu adalah harapan orang-orang lemah dan yang tidak beramal. Syaikh menambahkan, “Dia bagaikan orang yang mengharapkan anak, tetapi tidak menikah.” Maka, wajib bagi seseorang untuk menjalankan sebab-sebab yang mendatangkan harapannya. Dari mana Syaikh—semoga Allah merahmatinya—mengambil faedah ini? Dari firman Allah tentang orang-orang yang melakukan sebab-sebab: mereka beriman, berhijrah, dan berjihad… (Lihat QS. Al-Baqarah: 218). Kemudian Allah berfirman: “… mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah.” Lalu beliau menyebutkan faedah kedua dari ayat ini: Sebanyak apa pun amal yang dikerjakan seseorang, ia tetap tidak boleh bersandar atau bertumpu pada amalannya itu. Namun, hendaklah ia hanya berharap rahmat Allah. Dari mana faedah ini kita dapat, wahai saudara-saudara? Yaitu dari kenyataan bahwa mereka telah beriman, berhijrah, dan berjihad. Namun kendati demikian, mereka tetap hanya mengharapkan rahmat Allah ‘Azza wa Jalla. “Mereka itulah yang mengharapkan…” Mereka tidak dipastikan mendapat rahmat, wahai saudara-saudara! Dari sini kita memahami bahwa jika seseorang mengerjakan amal saleh, ia tidak boleh memastikan bahwa amalnya diterima, akan tetapi hendaklah ia berharap dengan harapan yang melahirkan sangkaan baik kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Benar! Ia berbaik sangka kepada Tuhannya, bahwa jika ia mengerjakan amal saleh, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih pemurah daripada sekadar menerima amal itu. Akan tetapi, ia tidak boleh meyakini bahwa cukup dengan beramal, lalu urusannya selesai. Tidak! Melainkan ia terus beramal, dan tetap dalam keadaan apa, wahai saudara-saudara? Tetap berharap kepada Tuhannya Subhanahu wa bihamdihi. ===== أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ الشَّيْخُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ لَهُ كَلَامٌ حَسَنٌ يَا إِخْوَانِي وَأَنَا أُوصِيْكُمْ بِالرُّجُوعِ إِلَى هَذَا الْكِتَابِ اقْرَؤُوْهُ بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَوْ ذَكَرَ أَنَّ الرَّجَاءَ لَا يَكُونُ إِلَّا بِمَاذَا؟ بِفِعْلِ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ أَمَّا إِذَا كَانَ الرَّجَاءُ دُونَ أَسْبَابٍ فَهُوَ رَجَاءُ الْعَاجِزِينَ وَالْبَطَّالِيْنَ قَالَ وَهُوَ كَمَنَ يَرْجُو وَلَدًا دُونَ أَنْ يَتَزَوَّجَ فَلَا بُدَّ مِنْ فِعْلِ أَسْبَابِ الرَّجَاءِ مِنْ أَيْنَ أَخَذَ هَذَا رَحِمَهُ اللَّهُ؟ فَعَلُوا الْأَسْبَابَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا ثُمَّ قَالَ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ ذَكَرَ لَطِيفَةً ثَانِيَةً فِي هَذِهِ الْآيَةِ وَهِيَ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَهْمَا عَمِلَ مِنَ الْأَعْمَالِ فَلَا يُعَوِّلُ عَلَى عَمَلِهِ وَلَا يَرْكَنُ إِلَيْهِ وَإِنَّمَا يَرْجُو مِنْ أَيْنَ أَخَذْنَاهُ يَا إِخْوَانُ؟ أَنَّ هَؤُلَاءِ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا وَمَعَ ذَلِكَ كَانُوا يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أُولَئِكَ يَرْجُونَ مَا قُطِعَ لَهُمْ يَا إِخْوَانِي بِالرَّحْمَةِ وَفِيهِ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا عَمِلَ الْعَمَلَ الصَّالِحَ لَا يَقْطَعُ لِنَفْسِهِ بِالْقَبُولِ وَلَكِنْ يَرْجُو رَجَاءً يُورِثُهُ حُسْنَ الظَّنِّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ نَعَمْ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ أَنَّهُ إِذَا عَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَكْرَمُ مِنْهُ لَكِنْ لَا يَعْتَقِدُ أَنَّهُ خَلَاصٌ عَمِلَ وَانْتَهَى الْأَمْرُ لَا بَلْ يَعْمَلُ وَلَا يَزَالُ مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ رَاجِيًا لِرَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ


“… mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah.” (QS. Al-Baqarah: 218) Syaikh Abdurrahman memiliki ucapan yang bagus dalam hal ini, wahai saudara-saudara, dan saya anjurkan kepada kalian untuk merujuk kitab ini. Bacalah kitab tersebut, semoga Allah memberkahi kalian. Beliau—semoga Allah merahmatinya—berkata atau menyebutkan: bahwa harapan tidak mungkin terwujud kecuali dengan apa? Dengan menjalankan sebab-sebab yang membawa kepada kebahagiaan. Adapun harapan yang tidak disertai dengan usaha, maka itu adalah harapan orang-orang lemah dan yang tidak beramal. Syaikh menambahkan, “Dia bagaikan orang yang mengharapkan anak, tetapi tidak menikah.” Maka, wajib bagi seseorang untuk menjalankan sebab-sebab yang mendatangkan harapannya. Dari mana Syaikh—semoga Allah merahmatinya—mengambil faedah ini? Dari firman Allah tentang orang-orang yang melakukan sebab-sebab: mereka beriman, berhijrah, dan berjihad… (Lihat QS. Al-Baqarah: 218). Kemudian Allah berfirman: “… mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah.” Lalu beliau menyebutkan faedah kedua dari ayat ini: Sebanyak apa pun amal yang dikerjakan seseorang, ia tetap tidak boleh bersandar atau bertumpu pada amalannya itu. Namun, hendaklah ia hanya berharap rahmat Allah. Dari mana faedah ini kita dapat, wahai saudara-saudara? Yaitu dari kenyataan bahwa mereka telah beriman, berhijrah, dan berjihad. Namun kendati demikian, mereka tetap hanya mengharapkan rahmat Allah ‘Azza wa Jalla. “Mereka itulah yang mengharapkan…” Mereka tidak dipastikan mendapat rahmat, wahai saudara-saudara! Dari sini kita memahami bahwa jika seseorang mengerjakan amal saleh, ia tidak boleh memastikan bahwa amalnya diterima, akan tetapi hendaklah ia berharap dengan harapan yang melahirkan sangkaan baik kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Benar! Ia berbaik sangka kepada Tuhannya, bahwa jika ia mengerjakan amal saleh, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih pemurah daripada sekadar menerima amal itu. Akan tetapi, ia tidak boleh meyakini bahwa cukup dengan beramal, lalu urusannya selesai. Tidak! Melainkan ia terus beramal, dan tetap dalam keadaan apa, wahai saudara-saudara? Tetap berharap kepada Tuhannya Subhanahu wa bihamdihi. ===== أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ الشَّيْخُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ لَهُ كَلَامٌ حَسَنٌ يَا إِخْوَانِي وَأَنَا أُوصِيْكُمْ بِالرُّجُوعِ إِلَى هَذَا الْكِتَابِ اقْرَؤُوْهُ بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَوْ ذَكَرَ أَنَّ الرَّجَاءَ لَا يَكُونُ إِلَّا بِمَاذَا؟ بِفِعْلِ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ أَمَّا إِذَا كَانَ الرَّجَاءُ دُونَ أَسْبَابٍ فَهُوَ رَجَاءُ الْعَاجِزِينَ وَالْبَطَّالِيْنَ قَالَ وَهُوَ كَمَنَ يَرْجُو وَلَدًا دُونَ أَنْ يَتَزَوَّجَ فَلَا بُدَّ مِنْ فِعْلِ أَسْبَابِ الرَّجَاءِ مِنْ أَيْنَ أَخَذَ هَذَا رَحِمَهُ اللَّهُ؟ فَعَلُوا الْأَسْبَابَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا ثُمَّ قَالَ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ ذَكَرَ لَطِيفَةً ثَانِيَةً فِي هَذِهِ الْآيَةِ وَهِيَ أَنَّ الْإِنْسَانَ مَهْمَا عَمِلَ مِنَ الْأَعْمَالِ فَلَا يُعَوِّلُ عَلَى عَمَلِهِ وَلَا يَرْكَنُ إِلَيْهِ وَإِنَّمَا يَرْجُو مِنْ أَيْنَ أَخَذْنَاهُ يَا إِخْوَانُ؟ أَنَّ هَؤُلَاءِ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا وَمَعَ ذَلِكَ كَانُوا يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أُولَئِكَ يَرْجُونَ مَا قُطِعَ لَهُمْ يَا إِخْوَانِي بِالرَّحْمَةِ وَفِيهِ أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا عَمِلَ الْعَمَلَ الصَّالِحَ لَا يَقْطَعُ لِنَفْسِهِ بِالْقَبُولِ وَلَكِنْ يَرْجُو رَجَاءً يُورِثُهُ حُسْنَ الظَّنِّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ نَعَمْ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ أَنَّهُ إِذَا عَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَكْرَمُ مِنْهُ لَكِنْ لَا يَعْتَقِدُ أَنَّهُ خَلَاصٌ عَمِلَ وَانْتَهَى الْأَمْرُ لَا بَلْ يَعْمَلُ وَلَا يَزَالُ مَاذَا يَا إِخْوَانُ؟ رَاجِيًا لِرَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ

Hubungan antara Takwa dengan Akhlak Mulia

Daftar Isi ToggleHubungan antara takwa dengan akhlak yang muliaMemadukan antara khouf dan roja’Sebenar-benar takwaHubungan antara takwa dengan akhlak yang muliaDari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai sebab yang terbanyak membuat orang masuk ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang bagus.” (HR. Tirmidzi dan dinyatakan hasan oleh al-Albani)Para ulama menjelaskan bahwa di dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandengkan antara takwa dengan akhlak yang mulia; karena dengan takwa akan memperbaiki hubungan hamba dengan Allah, sedangkan dengan akhlak yang mulia akan memperbaiki hubungan hamba dengan sesama manusia. (Lihat keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah yang dikutip oleh Syekh Abdurrazzaq al-Badr dalam Ahaditsul Akhlaq, hal. 7)Akhlak mulia menjadi sebab Allah mencintai seorang hamba. Dari Usamah bin Syarik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hamba Allah yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bagus akhlaknya.” (HR. Thabrani dalam al-Kabir dan al-Hakim dalam al-Mustadrak, disahihkan oleh al-Albani)Termasuk sebab untuk meraih cinta Allah adalah memberikan manfaat kepada umat manusia; dan ini pun termasuk bagian dari akhlak yang mulia. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling bermanfaat bagi manusia…” (HR. Thabrani dalam al-Kabir dan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya, sanadnya dihasankan al-Albani)Dan di antara bentuk akhlak yang mulia adalah beristigfar dan bertobat kepada Allah. Karena itulah, Allah pun menyandingkan tauhid dengan istigfar. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mencontohkan,واللَّهِ إنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وأَتُوبُ إلَيْهِ في اليَومِ أكْثَرَ مِن سَبْعِينَ مَرَّةً“Demi Allah, sesungguhnya aku beristigfar (memohon ampunan) kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih banyak dari 70 kali.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu)Mak-hul meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa beliau berkata,ما رأيت أحدًا أكثر استغفارًا من رسول الله صلى الله عليه وسلم“Tidaklah aku melihat seseorang yang lebih banyak istigfarnya dibandingkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Kemudian beliau (Mak-hul) mengatakan,ما رأيت أكثر استغفارًا من أبى هريرة“Tidaklah aku melihat ada orang yang lebih banyak beristigfar daripada Abu Hurairah.” (Riwayat ini dinukil oleh Ibnu Baththal dalam Syarh Shahih Bukhari)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,طوبى لِمَن وجد في صحيفته استغفاراً كثيراً“Beruntunglah bagi orang yang mendapati di dalam lembaran catatan amalnya nanti ucapan istighfar yang banyak.” (HR. Ibnu Majah dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ’anhu, dinyatakan sahih oleh al-Albani)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir-akhir hidupnya setelah sekian lama menjalani perjuangan dakwah dengan jiwa dan raganya pun diperintahkan oleh Allah untuk beristigfar kepada-Nya, sebagaimana disebutkan dalam surah an-Nashr. “Maka sucikanlah dengan memuji Rabbmu dan mohon ampunlah kepada-Nya..”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua umatku pasti masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat pun bertanya, “Siapakah orang yang enggan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barangsiapa taat kepadaku, maka dia masuk surga; dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka dia lah orang yang enggan itu.” (HR. Bukhari)Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata,إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ: رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيم“Sungguh dahulu kami sering menghitung kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu majelis beliau mengucapkan kalimat ‘Rabbighfirlii wa tub ‘alayya, innaka antat tawwaabur rahiim‘ (yang artinya), “Wahai Rabbku, ampunilah aku dan berikanlah tobat kepadaku, sesungguhnya Engkau Mahapenerima tobat lagi Mahapenyayang.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إلى اللهِ، فإنِّي أَتُوبُ في اليَومِ إلَيْهِ مِئَةَ مَرَّةٍ‘Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertobat kepada Allah dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim dari al-Aghar al-Muzani radhiyallahu ’anhu)Memadukan antara khouf dan roja’Di antara perkara yang sangat kita butuhkan pada masa seperti sekarang ini adalah keberadaan akidah khouf dan roja’ di dalam hati. Para ulama menggambarkan bahwa seyogyanya seorang mukmin hidup di alam dunia ini seperti seekor burung dengan dua belah sayap dan kepalanya.Adapun kedua belah sayap itu ibarat dari khouf dan roja’. Khouf yaitu rasa takut kepada Allah, takut terhadap hukuman dan azab-Nya. Roja’ yaitu harapan kepada Allah dan pahala dari-Nya. Sementara yang menjadi kepalanya adalah mahabbah (rasa cinta); yaitu cinta kepada Allah dan apa-apa yang Allah cintai. Dengan ketiga unsur inilah seorang muslim membangun amal dan ketaatannya kepada Allah.Allah berfirman,نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ، وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ“Beritakanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku lah Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang, dan sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih.” (QS. al-Hijr: 49-50)Syekh Muhammad bin Abdullah as-Subayyil rahimahullah (wafat 1434 H) mengatakan,ولذا ينبغي على المؤمن أن يعيش في هذه الدنيا كالطائر الذي له جناحان ورأس ، أما الجناحان : فالخوف والرجاء ، وأما الرأس فالمحبة“Oleh sebab itu, semestinya seorang mukmin hidup di alam dunia ini seperti seekor burung yang memiliki dua belah sayap dan sebuah kepala. Adapun kedua sayap itu adalah takut dan harapan, sedangkan yang menjadi kepalanya adalah kecintaan.” (Lihat Fatawa al-‘Aqidah dalam website resmi beliau. Link artikel: https://alsubail.af.org.sa/ar/node/210)Di antara buah dan manfaat dari khouf adalah segera bertobat kepada Allah dari dosa dan maksiat kemudian berusaha menjauhi perbuatan dosa. Sementara buah dari roja’ adalah tidak berputus asa dari rahmat Allah. Adapun kecintaan merupakan penggerak utama dalam melakukan berbagai amal kebaikan. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa hati-hati manusia itu tercipta dalam keadaan mencintai Dzat Yang berbuat baik kepadanya.Takwa kepada Allah juga ditegakkan di atas pilar khouf dan roja’. Oleh sebab itu, Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Takwa adalah kamu melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena mengharapkan pahala dari Allah, dan kamu meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut hukuman Allah.” (Disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Risalah Tabukiyah)Allah berfirman,وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ“Dan sesungguhnya Aku (Allah) benar-benar Maha Pengampun terhadap orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh kemudian mengikuti petunjuk.” (QS. Thaha: 82)Sebenar-benar takwaAllah berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)Di dalam ayat yang mulia ini, Allah memerintahkan kepada segenap kaum beriman; yaitu orang-orang yang Allah berikan nikmat keimanan di dalam hatinya dan ketundukan beribadah kepada Allah dengan jiwa dan raganya. Sebuah perintah untuk bertakwa kepada Allah; yaitu mencakup sikap patuh dan tunduk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Di dalam ayat ini, Allah juga melarang mereka dari meninggalkan agama dan keimanan yang telah mereka pegang selama ini.Ibnu Katsir rahimahullah menukil penafsiran dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu tentang maksud dari perintah bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu berkata,أن يطاع فلا يعصى ، وأن يذكر فلا ينسى ، وأن يشكر فلا يكفر“Yaitu Allah ditaati, tidak didurhakai. Allah diingat dan tidak dilupakan. Allah disyukuri dan tidak boleh dikufuri.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir surah Ali ‘Imran ayat 102)Di dalam kalimat yang ringkas ini, Ibnu Mas’ud menjelaskan kepada kita beberapa simpul ketakwaan. Bahwa takwa kepada Allah itu dibangun di atas 3 landasan; ketaatan, zikir, dan syukur. Taat kepada Allah mencakup melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Termasuk bentuk ketaatan adalah sabar dan tawakal kepada Allah. Zikir kepada Allah mencakup kalimat tauhid, kalimat tasbih, tahmid, takbir, dan membaca al-Qur’an. Adapun syukur kepada Allah meliputi keyakinan di dalam hati, ucapan dengan lisan berupa pujian kepada Allah dan menggunakan nikmat yang Allah berikan dalam kebaikan.Sahl bin Abdullah rahimahullah mengatakan, “Syukur adalah bersungguh-sungguh dalam mengerahkan ketaatan dengan disertai tindakan menjauhi maksiat dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan.” (Lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 2: 105; karya al-Qurthubi)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Adapun syukur, ia adalah menunaikan ketaatan kepada-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai hal yang dicintai-Nya baik yang bersifat lahir maupun batin.” (Lihat al-Fawa’id, hal. 193 penerbit ar-Rusyd)Syekh Sa’ad bin Nashir asy-Syatsri hafizhahullah menerangkan bahwa hakikat syukur adalah menunaikan hak atas nikmat yang Allah berikan. Syukur mencakup tiga aspek. Dengan hati, ia mengakui bahwa nikmat itu datang dari Allah. Dengan lisan, ia menceritakan nikmat yang Allah berikan dan menyandarkan nikmat itu kepada-Nya. Dan dengan anggota badan, ia gunakan nikmat itu dalam hal-hal yang mendatangkan keridhaan Allah. Dengan demikian, syukur mencakup segala bentuk amal ketaatan. (Lihat Syarh Mutun al-‘Aqidah, hal. 220)Baca juga: Bertakwalah Kepada Allah Menurut Kesanggupanmu***Penulis: Ari WahyudiArtikel Muslim.or.id

Hubungan antara Takwa dengan Akhlak Mulia

Daftar Isi ToggleHubungan antara takwa dengan akhlak yang muliaMemadukan antara khouf dan roja’Sebenar-benar takwaHubungan antara takwa dengan akhlak yang muliaDari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai sebab yang terbanyak membuat orang masuk ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang bagus.” (HR. Tirmidzi dan dinyatakan hasan oleh al-Albani)Para ulama menjelaskan bahwa di dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandengkan antara takwa dengan akhlak yang mulia; karena dengan takwa akan memperbaiki hubungan hamba dengan Allah, sedangkan dengan akhlak yang mulia akan memperbaiki hubungan hamba dengan sesama manusia. (Lihat keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah yang dikutip oleh Syekh Abdurrazzaq al-Badr dalam Ahaditsul Akhlaq, hal. 7)Akhlak mulia menjadi sebab Allah mencintai seorang hamba. Dari Usamah bin Syarik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hamba Allah yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bagus akhlaknya.” (HR. Thabrani dalam al-Kabir dan al-Hakim dalam al-Mustadrak, disahihkan oleh al-Albani)Termasuk sebab untuk meraih cinta Allah adalah memberikan manfaat kepada umat manusia; dan ini pun termasuk bagian dari akhlak yang mulia. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling bermanfaat bagi manusia…” (HR. Thabrani dalam al-Kabir dan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya, sanadnya dihasankan al-Albani)Dan di antara bentuk akhlak yang mulia adalah beristigfar dan bertobat kepada Allah. Karena itulah, Allah pun menyandingkan tauhid dengan istigfar. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mencontohkan,واللَّهِ إنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وأَتُوبُ إلَيْهِ في اليَومِ أكْثَرَ مِن سَبْعِينَ مَرَّةً“Demi Allah, sesungguhnya aku beristigfar (memohon ampunan) kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih banyak dari 70 kali.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu)Mak-hul meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa beliau berkata,ما رأيت أحدًا أكثر استغفارًا من رسول الله صلى الله عليه وسلم“Tidaklah aku melihat seseorang yang lebih banyak istigfarnya dibandingkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Kemudian beliau (Mak-hul) mengatakan,ما رأيت أكثر استغفارًا من أبى هريرة“Tidaklah aku melihat ada orang yang lebih banyak beristigfar daripada Abu Hurairah.” (Riwayat ini dinukil oleh Ibnu Baththal dalam Syarh Shahih Bukhari)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,طوبى لِمَن وجد في صحيفته استغفاراً كثيراً“Beruntunglah bagi orang yang mendapati di dalam lembaran catatan amalnya nanti ucapan istighfar yang banyak.” (HR. Ibnu Majah dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ’anhu, dinyatakan sahih oleh al-Albani)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir-akhir hidupnya setelah sekian lama menjalani perjuangan dakwah dengan jiwa dan raganya pun diperintahkan oleh Allah untuk beristigfar kepada-Nya, sebagaimana disebutkan dalam surah an-Nashr. “Maka sucikanlah dengan memuji Rabbmu dan mohon ampunlah kepada-Nya..”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua umatku pasti masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat pun bertanya, “Siapakah orang yang enggan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barangsiapa taat kepadaku, maka dia masuk surga; dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka dia lah orang yang enggan itu.” (HR. Bukhari)Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata,إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ: رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيم“Sungguh dahulu kami sering menghitung kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu majelis beliau mengucapkan kalimat ‘Rabbighfirlii wa tub ‘alayya, innaka antat tawwaabur rahiim‘ (yang artinya), “Wahai Rabbku, ampunilah aku dan berikanlah tobat kepadaku, sesungguhnya Engkau Mahapenerima tobat lagi Mahapenyayang.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إلى اللهِ، فإنِّي أَتُوبُ في اليَومِ إلَيْهِ مِئَةَ مَرَّةٍ‘Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertobat kepada Allah dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim dari al-Aghar al-Muzani radhiyallahu ’anhu)Memadukan antara khouf dan roja’Di antara perkara yang sangat kita butuhkan pada masa seperti sekarang ini adalah keberadaan akidah khouf dan roja’ di dalam hati. Para ulama menggambarkan bahwa seyogyanya seorang mukmin hidup di alam dunia ini seperti seekor burung dengan dua belah sayap dan kepalanya.Adapun kedua belah sayap itu ibarat dari khouf dan roja’. Khouf yaitu rasa takut kepada Allah, takut terhadap hukuman dan azab-Nya. Roja’ yaitu harapan kepada Allah dan pahala dari-Nya. Sementara yang menjadi kepalanya adalah mahabbah (rasa cinta); yaitu cinta kepada Allah dan apa-apa yang Allah cintai. Dengan ketiga unsur inilah seorang muslim membangun amal dan ketaatannya kepada Allah.Allah berfirman,نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ، وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ“Beritakanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku lah Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang, dan sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih.” (QS. al-Hijr: 49-50)Syekh Muhammad bin Abdullah as-Subayyil rahimahullah (wafat 1434 H) mengatakan,ولذا ينبغي على المؤمن أن يعيش في هذه الدنيا كالطائر الذي له جناحان ورأس ، أما الجناحان : فالخوف والرجاء ، وأما الرأس فالمحبة“Oleh sebab itu, semestinya seorang mukmin hidup di alam dunia ini seperti seekor burung yang memiliki dua belah sayap dan sebuah kepala. Adapun kedua sayap itu adalah takut dan harapan, sedangkan yang menjadi kepalanya adalah kecintaan.” (Lihat Fatawa al-‘Aqidah dalam website resmi beliau. Link artikel: https://alsubail.af.org.sa/ar/node/210)Di antara buah dan manfaat dari khouf adalah segera bertobat kepada Allah dari dosa dan maksiat kemudian berusaha menjauhi perbuatan dosa. Sementara buah dari roja’ adalah tidak berputus asa dari rahmat Allah. Adapun kecintaan merupakan penggerak utama dalam melakukan berbagai amal kebaikan. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa hati-hati manusia itu tercipta dalam keadaan mencintai Dzat Yang berbuat baik kepadanya.Takwa kepada Allah juga ditegakkan di atas pilar khouf dan roja’. Oleh sebab itu, Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Takwa adalah kamu melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena mengharapkan pahala dari Allah, dan kamu meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut hukuman Allah.” (Disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Risalah Tabukiyah)Allah berfirman,وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ“Dan sesungguhnya Aku (Allah) benar-benar Maha Pengampun terhadap orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh kemudian mengikuti petunjuk.” (QS. Thaha: 82)Sebenar-benar takwaAllah berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)Di dalam ayat yang mulia ini, Allah memerintahkan kepada segenap kaum beriman; yaitu orang-orang yang Allah berikan nikmat keimanan di dalam hatinya dan ketundukan beribadah kepada Allah dengan jiwa dan raganya. Sebuah perintah untuk bertakwa kepada Allah; yaitu mencakup sikap patuh dan tunduk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Di dalam ayat ini, Allah juga melarang mereka dari meninggalkan agama dan keimanan yang telah mereka pegang selama ini.Ibnu Katsir rahimahullah menukil penafsiran dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu tentang maksud dari perintah bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu berkata,أن يطاع فلا يعصى ، وأن يذكر فلا ينسى ، وأن يشكر فلا يكفر“Yaitu Allah ditaati, tidak didurhakai. Allah diingat dan tidak dilupakan. Allah disyukuri dan tidak boleh dikufuri.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir surah Ali ‘Imran ayat 102)Di dalam kalimat yang ringkas ini, Ibnu Mas’ud menjelaskan kepada kita beberapa simpul ketakwaan. Bahwa takwa kepada Allah itu dibangun di atas 3 landasan; ketaatan, zikir, dan syukur. Taat kepada Allah mencakup melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Termasuk bentuk ketaatan adalah sabar dan tawakal kepada Allah. Zikir kepada Allah mencakup kalimat tauhid, kalimat tasbih, tahmid, takbir, dan membaca al-Qur’an. Adapun syukur kepada Allah meliputi keyakinan di dalam hati, ucapan dengan lisan berupa pujian kepada Allah dan menggunakan nikmat yang Allah berikan dalam kebaikan.Sahl bin Abdullah rahimahullah mengatakan, “Syukur adalah bersungguh-sungguh dalam mengerahkan ketaatan dengan disertai tindakan menjauhi maksiat dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan.” (Lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 2: 105; karya al-Qurthubi)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Adapun syukur, ia adalah menunaikan ketaatan kepada-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai hal yang dicintai-Nya baik yang bersifat lahir maupun batin.” (Lihat al-Fawa’id, hal. 193 penerbit ar-Rusyd)Syekh Sa’ad bin Nashir asy-Syatsri hafizhahullah menerangkan bahwa hakikat syukur adalah menunaikan hak atas nikmat yang Allah berikan. Syukur mencakup tiga aspek. Dengan hati, ia mengakui bahwa nikmat itu datang dari Allah. Dengan lisan, ia menceritakan nikmat yang Allah berikan dan menyandarkan nikmat itu kepada-Nya. Dan dengan anggota badan, ia gunakan nikmat itu dalam hal-hal yang mendatangkan keridhaan Allah. Dengan demikian, syukur mencakup segala bentuk amal ketaatan. (Lihat Syarh Mutun al-‘Aqidah, hal. 220)Baca juga: Bertakwalah Kepada Allah Menurut Kesanggupanmu***Penulis: Ari WahyudiArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleHubungan antara takwa dengan akhlak yang muliaMemadukan antara khouf dan roja’Sebenar-benar takwaHubungan antara takwa dengan akhlak yang muliaDari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai sebab yang terbanyak membuat orang masuk ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang bagus.” (HR. Tirmidzi dan dinyatakan hasan oleh al-Albani)Para ulama menjelaskan bahwa di dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandengkan antara takwa dengan akhlak yang mulia; karena dengan takwa akan memperbaiki hubungan hamba dengan Allah, sedangkan dengan akhlak yang mulia akan memperbaiki hubungan hamba dengan sesama manusia. (Lihat keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah yang dikutip oleh Syekh Abdurrazzaq al-Badr dalam Ahaditsul Akhlaq, hal. 7)Akhlak mulia menjadi sebab Allah mencintai seorang hamba. Dari Usamah bin Syarik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hamba Allah yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bagus akhlaknya.” (HR. Thabrani dalam al-Kabir dan al-Hakim dalam al-Mustadrak, disahihkan oleh al-Albani)Termasuk sebab untuk meraih cinta Allah adalah memberikan manfaat kepada umat manusia; dan ini pun termasuk bagian dari akhlak yang mulia. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling bermanfaat bagi manusia…” (HR. Thabrani dalam al-Kabir dan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya, sanadnya dihasankan al-Albani)Dan di antara bentuk akhlak yang mulia adalah beristigfar dan bertobat kepada Allah. Karena itulah, Allah pun menyandingkan tauhid dengan istigfar. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mencontohkan,واللَّهِ إنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وأَتُوبُ إلَيْهِ في اليَومِ أكْثَرَ مِن سَبْعِينَ مَرَّةً“Demi Allah, sesungguhnya aku beristigfar (memohon ampunan) kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih banyak dari 70 kali.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu)Mak-hul meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa beliau berkata,ما رأيت أحدًا أكثر استغفارًا من رسول الله صلى الله عليه وسلم“Tidaklah aku melihat seseorang yang lebih banyak istigfarnya dibandingkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Kemudian beliau (Mak-hul) mengatakan,ما رأيت أكثر استغفارًا من أبى هريرة“Tidaklah aku melihat ada orang yang lebih banyak beristigfar daripada Abu Hurairah.” (Riwayat ini dinukil oleh Ibnu Baththal dalam Syarh Shahih Bukhari)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,طوبى لِمَن وجد في صحيفته استغفاراً كثيراً“Beruntunglah bagi orang yang mendapati di dalam lembaran catatan amalnya nanti ucapan istighfar yang banyak.” (HR. Ibnu Majah dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ’anhu, dinyatakan sahih oleh al-Albani)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir-akhir hidupnya setelah sekian lama menjalani perjuangan dakwah dengan jiwa dan raganya pun diperintahkan oleh Allah untuk beristigfar kepada-Nya, sebagaimana disebutkan dalam surah an-Nashr. “Maka sucikanlah dengan memuji Rabbmu dan mohon ampunlah kepada-Nya..”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua umatku pasti masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat pun bertanya, “Siapakah orang yang enggan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barangsiapa taat kepadaku, maka dia masuk surga; dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka dia lah orang yang enggan itu.” (HR. Bukhari)Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata,إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ: رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيم“Sungguh dahulu kami sering menghitung kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu majelis beliau mengucapkan kalimat ‘Rabbighfirlii wa tub ‘alayya, innaka antat tawwaabur rahiim‘ (yang artinya), “Wahai Rabbku, ampunilah aku dan berikanlah tobat kepadaku, sesungguhnya Engkau Mahapenerima tobat lagi Mahapenyayang.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إلى اللهِ، فإنِّي أَتُوبُ في اليَومِ إلَيْهِ مِئَةَ مَرَّةٍ‘Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertobat kepada Allah dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim dari al-Aghar al-Muzani radhiyallahu ’anhu)Memadukan antara khouf dan roja’Di antara perkara yang sangat kita butuhkan pada masa seperti sekarang ini adalah keberadaan akidah khouf dan roja’ di dalam hati. Para ulama menggambarkan bahwa seyogyanya seorang mukmin hidup di alam dunia ini seperti seekor burung dengan dua belah sayap dan kepalanya.Adapun kedua belah sayap itu ibarat dari khouf dan roja’. Khouf yaitu rasa takut kepada Allah, takut terhadap hukuman dan azab-Nya. Roja’ yaitu harapan kepada Allah dan pahala dari-Nya. Sementara yang menjadi kepalanya adalah mahabbah (rasa cinta); yaitu cinta kepada Allah dan apa-apa yang Allah cintai. Dengan ketiga unsur inilah seorang muslim membangun amal dan ketaatannya kepada Allah.Allah berfirman,نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ، وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ“Beritakanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku lah Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang, dan sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih.” (QS. al-Hijr: 49-50)Syekh Muhammad bin Abdullah as-Subayyil rahimahullah (wafat 1434 H) mengatakan,ولذا ينبغي على المؤمن أن يعيش في هذه الدنيا كالطائر الذي له جناحان ورأس ، أما الجناحان : فالخوف والرجاء ، وأما الرأس فالمحبة“Oleh sebab itu, semestinya seorang mukmin hidup di alam dunia ini seperti seekor burung yang memiliki dua belah sayap dan sebuah kepala. Adapun kedua sayap itu adalah takut dan harapan, sedangkan yang menjadi kepalanya adalah kecintaan.” (Lihat Fatawa al-‘Aqidah dalam website resmi beliau. Link artikel: https://alsubail.af.org.sa/ar/node/210)Di antara buah dan manfaat dari khouf adalah segera bertobat kepada Allah dari dosa dan maksiat kemudian berusaha menjauhi perbuatan dosa. Sementara buah dari roja’ adalah tidak berputus asa dari rahmat Allah. Adapun kecintaan merupakan penggerak utama dalam melakukan berbagai amal kebaikan. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa hati-hati manusia itu tercipta dalam keadaan mencintai Dzat Yang berbuat baik kepadanya.Takwa kepada Allah juga ditegakkan di atas pilar khouf dan roja’. Oleh sebab itu, Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Takwa adalah kamu melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena mengharapkan pahala dari Allah, dan kamu meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut hukuman Allah.” (Disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Risalah Tabukiyah)Allah berfirman,وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ“Dan sesungguhnya Aku (Allah) benar-benar Maha Pengampun terhadap orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh kemudian mengikuti petunjuk.” (QS. Thaha: 82)Sebenar-benar takwaAllah berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)Di dalam ayat yang mulia ini, Allah memerintahkan kepada segenap kaum beriman; yaitu orang-orang yang Allah berikan nikmat keimanan di dalam hatinya dan ketundukan beribadah kepada Allah dengan jiwa dan raganya. Sebuah perintah untuk bertakwa kepada Allah; yaitu mencakup sikap patuh dan tunduk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Di dalam ayat ini, Allah juga melarang mereka dari meninggalkan agama dan keimanan yang telah mereka pegang selama ini.Ibnu Katsir rahimahullah menukil penafsiran dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu tentang maksud dari perintah bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu berkata,أن يطاع فلا يعصى ، وأن يذكر فلا ينسى ، وأن يشكر فلا يكفر“Yaitu Allah ditaati, tidak didurhakai. Allah diingat dan tidak dilupakan. Allah disyukuri dan tidak boleh dikufuri.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir surah Ali ‘Imran ayat 102)Di dalam kalimat yang ringkas ini, Ibnu Mas’ud menjelaskan kepada kita beberapa simpul ketakwaan. Bahwa takwa kepada Allah itu dibangun di atas 3 landasan; ketaatan, zikir, dan syukur. Taat kepada Allah mencakup melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Termasuk bentuk ketaatan adalah sabar dan tawakal kepada Allah. Zikir kepada Allah mencakup kalimat tauhid, kalimat tasbih, tahmid, takbir, dan membaca al-Qur’an. Adapun syukur kepada Allah meliputi keyakinan di dalam hati, ucapan dengan lisan berupa pujian kepada Allah dan menggunakan nikmat yang Allah berikan dalam kebaikan.Sahl bin Abdullah rahimahullah mengatakan, “Syukur adalah bersungguh-sungguh dalam mengerahkan ketaatan dengan disertai tindakan menjauhi maksiat dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan.” (Lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 2: 105; karya al-Qurthubi)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Adapun syukur, ia adalah menunaikan ketaatan kepada-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai hal yang dicintai-Nya baik yang bersifat lahir maupun batin.” (Lihat al-Fawa’id, hal. 193 penerbit ar-Rusyd)Syekh Sa’ad bin Nashir asy-Syatsri hafizhahullah menerangkan bahwa hakikat syukur adalah menunaikan hak atas nikmat yang Allah berikan. Syukur mencakup tiga aspek. Dengan hati, ia mengakui bahwa nikmat itu datang dari Allah. Dengan lisan, ia menceritakan nikmat yang Allah berikan dan menyandarkan nikmat itu kepada-Nya. Dan dengan anggota badan, ia gunakan nikmat itu dalam hal-hal yang mendatangkan keridhaan Allah. Dengan demikian, syukur mencakup segala bentuk amal ketaatan. (Lihat Syarh Mutun al-‘Aqidah, hal. 220)Baca juga: Bertakwalah Kepada Allah Menurut Kesanggupanmu***Penulis: Ari WahyudiArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleHubungan antara takwa dengan akhlak yang muliaMemadukan antara khouf dan roja’Sebenar-benar takwaHubungan antara takwa dengan akhlak yang muliaDari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai sebab yang terbanyak membuat orang masuk ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang bagus.” (HR. Tirmidzi dan dinyatakan hasan oleh al-Albani)Para ulama menjelaskan bahwa di dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandengkan antara takwa dengan akhlak yang mulia; karena dengan takwa akan memperbaiki hubungan hamba dengan Allah, sedangkan dengan akhlak yang mulia akan memperbaiki hubungan hamba dengan sesama manusia. (Lihat keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah yang dikutip oleh Syekh Abdurrazzaq al-Badr dalam Ahaditsul Akhlaq, hal. 7)Akhlak mulia menjadi sebab Allah mencintai seorang hamba. Dari Usamah bin Syarik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hamba Allah yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bagus akhlaknya.” (HR. Thabrani dalam al-Kabir dan al-Hakim dalam al-Mustadrak, disahihkan oleh al-Albani)Termasuk sebab untuk meraih cinta Allah adalah memberikan manfaat kepada umat manusia; dan ini pun termasuk bagian dari akhlak yang mulia. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling bermanfaat bagi manusia…” (HR. Thabrani dalam al-Kabir dan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya, sanadnya dihasankan al-Albani)Dan di antara bentuk akhlak yang mulia adalah beristigfar dan bertobat kepada Allah. Karena itulah, Allah pun menyandingkan tauhid dengan istigfar. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mencontohkan,واللَّهِ إنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وأَتُوبُ إلَيْهِ في اليَومِ أكْثَرَ مِن سَبْعِينَ مَرَّةً“Demi Allah, sesungguhnya aku beristigfar (memohon ampunan) kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih banyak dari 70 kali.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu)Mak-hul meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa beliau berkata,ما رأيت أحدًا أكثر استغفارًا من رسول الله صلى الله عليه وسلم“Tidaklah aku melihat seseorang yang lebih banyak istigfarnya dibandingkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Kemudian beliau (Mak-hul) mengatakan,ما رأيت أكثر استغفارًا من أبى هريرة“Tidaklah aku melihat ada orang yang lebih banyak beristigfar daripada Abu Hurairah.” (Riwayat ini dinukil oleh Ibnu Baththal dalam Syarh Shahih Bukhari)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,طوبى لِمَن وجد في صحيفته استغفاراً كثيراً“Beruntunglah bagi orang yang mendapati di dalam lembaran catatan amalnya nanti ucapan istighfar yang banyak.” (HR. Ibnu Majah dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ’anhu, dinyatakan sahih oleh al-Albani)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir-akhir hidupnya setelah sekian lama menjalani perjuangan dakwah dengan jiwa dan raganya pun diperintahkan oleh Allah untuk beristigfar kepada-Nya, sebagaimana disebutkan dalam surah an-Nashr. “Maka sucikanlah dengan memuji Rabbmu dan mohon ampunlah kepada-Nya..”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua umatku pasti masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat pun bertanya, “Siapakah orang yang enggan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barangsiapa taat kepadaku, maka dia masuk surga; dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka dia lah orang yang enggan itu.” (HR. Bukhari)Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata,إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ: رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيم“Sungguh dahulu kami sering menghitung kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu majelis beliau mengucapkan kalimat ‘Rabbighfirlii wa tub ‘alayya, innaka antat tawwaabur rahiim‘ (yang artinya), “Wahai Rabbku, ampunilah aku dan berikanlah tobat kepadaku, sesungguhnya Engkau Mahapenerima tobat lagi Mahapenyayang.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إلى اللهِ، فإنِّي أَتُوبُ في اليَومِ إلَيْهِ مِئَةَ مَرَّةٍ‘Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertobat kepada Allah dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim dari al-Aghar al-Muzani radhiyallahu ’anhu)Memadukan antara khouf dan roja’Di antara perkara yang sangat kita butuhkan pada masa seperti sekarang ini adalah keberadaan akidah khouf dan roja’ di dalam hati. Para ulama menggambarkan bahwa seyogyanya seorang mukmin hidup di alam dunia ini seperti seekor burung dengan dua belah sayap dan kepalanya.Adapun kedua belah sayap itu ibarat dari khouf dan roja’. Khouf yaitu rasa takut kepada Allah, takut terhadap hukuman dan azab-Nya. Roja’ yaitu harapan kepada Allah dan pahala dari-Nya. Sementara yang menjadi kepalanya adalah mahabbah (rasa cinta); yaitu cinta kepada Allah dan apa-apa yang Allah cintai. Dengan ketiga unsur inilah seorang muslim membangun amal dan ketaatannya kepada Allah.Allah berfirman,نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ، وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ“Beritakanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku lah Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang, dan sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih.” (QS. al-Hijr: 49-50)Syekh Muhammad bin Abdullah as-Subayyil rahimahullah (wafat 1434 H) mengatakan,ولذا ينبغي على المؤمن أن يعيش في هذه الدنيا كالطائر الذي له جناحان ورأس ، أما الجناحان : فالخوف والرجاء ، وأما الرأس فالمحبة“Oleh sebab itu, semestinya seorang mukmin hidup di alam dunia ini seperti seekor burung yang memiliki dua belah sayap dan sebuah kepala. Adapun kedua sayap itu adalah takut dan harapan, sedangkan yang menjadi kepalanya adalah kecintaan.” (Lihat Fatawa al-‘Aqidah dalam website resmi beliau. Link artikel: https://alsubail.af.org.sa/ar/node/210)Di antara buah dan manfaat dari khouf adalah segera bertobat kepada Allah dari dosa dan maksiat kemudian berusaha menjauhi perbuatan dosa. Sementara buah dari roja’ adalah tidak berputus asa dari rahmat Allah. Adapun kecintaan merupakan penggerak utama dalam melakukan berbagai amal kebaikan. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa hati-hati manusia itu tercipta dalam keadaan mencintai Dzat Yang berbuat baik kepadanya.Takwa kepada Allah juga ditegakkan di atas pilar khouf dan roja’. Oleh sebab itu, Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Takwa adalah kamu melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena mengharapkan pahala dari Allah, dan kamu meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut hukuman Allah.” (Disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Risalah Tabukiyah)Allah berfirman,وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ“Dan sesungguhnya Aku (Allah) benar-benar Maha Pengampun terhadap orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh kemudian mengikuti petunjuk.” (QS. Thaha: 82)Sebenar-benar takwaAllah berfirman,يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)Di dalam ayat yang mulia ini, Allah memerintahkan kepada segenap kaum beriman; yaitu orang-orang yang Allah berikan nikmat keimanan di dalam hatinya dan ketundukan beribadah kepada Allah dengan jiwa dan raganya. Sebuah perintah untuk bertakwa kepada Allah; yaitu mencakup sikap patuh dan tunduk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Di dalam ayat ini, Allah juga melarang mereka dari meninggalkan agama dan keimanan yang telah mereka pegang selama ini.Ibnu Katsir rahimahullah menukil penafsiran dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu tentang maksud dari perintah bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu berkata,أن يطاع فلا يعصى ، وأن يذكر فلا ينسى ، وأن يشكر فلا يكفر“Yaitu Allah ditaati, tidak didurhakai. Allah diingat dan tidak dilupakan. Allah disyukuri dan tidak boleh dikufuri.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir surah Ali ‘Imran ayat 102)Di dalam kalimat yang ringkas ini, Ibnu Mas’ud menjelaskan kepada kita beberapa simpul ketakwaan. Bahwa takwa kepada Allah itu dibangun di atas 3 landasan; ketaatan, zikir, dan syukur. Taat kepada Allah mencakup melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Termasuk bentuk ketaatan adalah sabar dan tawakal kepada Allah. Zikir kepada Allah mencakup kalimat tauhid, kalimat tasbih, tahmid, takbir, dan membaca al-Qur’an. Adapun syukur kepada Allah meliputi keyakinan di dalam hati, ucapan dengan lisan berupa pujian kepada Allah dan menggunakan nikmat yang Allah berikan dalam kebaikan.Sahl bin Abdullah rahimahullah mengatakan, “Syukur adalah bersungguh-sungguh dalam mengerahkan ketaatan dengan disertai tindakan menjauhi maksiat dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan.” (Lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 2: 105; karya al-Qurthubi)Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Adapun syukur, ia adalah menunaikan ketaatan kepada-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai hal yang dicintai-Nya baik yang bersifat lahir maupun batin.” (Lihat al-Fawa’id, hal. 193 penerbit ar-Rusyd)Syekh Sa’ad bin Nashir asy-Syatsri hafizhahullah menerangkan bahwa hakikat syukur adalah menunaikan hak atas nikmat yang Allah berikan. Syukur mencakup tiga aspek. Dengan hati, ia mengakui bahwa nikmat itu datang dari Allah. Dengan lisan, ia menceritakan nikmat yang Allah berikan dan menyandarkan nikmat itu kepada-Nya. Dan dengan anggota badan, ia gunakan nikmat itu dalam hal-hal yang mendatangkan keridhaan Allah. Dengan demikian, syukur mencakup segala bentuk amal ketaatan. (Lihat Syarh Mutun al-‘Aqidah, hal. 220)Baca juga: Bertakwalah Kepada Allah Menurut Kesanggupanmu***Penulis: Ari WahyudiArtikel Muslim.or.id

Mengenal Bagaimana Rasulullah Duduk dan Bersandar

Daftar Isi ToggleDuduknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamBersandarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamBersandar ketika dudukBersandar ketika berdiriPenutupDuduk dan bersandar merupakan salah satu aktivitas yang pasti dilakukan oleh manusia. Setiap orang juga tentunya memiliki kebiasaan masing-masing untuk duduk dan bersandar. Hal tersebut juga berlaku pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memiliki cara duduk dan bersandar juga. Lalu bagaimana Rasulullah duduk dan bersandar?Sebagai seorang muslim, tentunya kita sangat mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satu bukti cinta kita tentunya dengan berusaha mengenali beliau, juga meniru dan meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada artikel ini, akan kita bahas mengenai cara duduk Rasulullah dan juga cara beliau bersandar.Duduknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamDuduk merupakan hal yang tentunya biasa dilakukan oleh manusia pada umumnya, Rasulullah pun tentu melakukannya. Salah satu posisi duduk yang dilakukan oleh Nabi adalah duduk qurfusha’. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Qailah binti Makhramah, ia berkata,عن قَيْلَةَ بنتِ مَخْرَمَةَ أنها رَأَتْ رسولَ اللهِ – صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم في المسجدِ، وهو قاعدٌ القُرْفُصاءَ، قالت فلما رأيتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم المُتَخَشِّعَ في الجِلْسَة أُرْعِدْتُ من الفَرَقِ“Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid, beliau sedang duduk dengan duduk qurfusha’.” Ia berkata, “Ketika aku melihat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dalam keadaan penuh kekhusyukan saat duduk itu, aku gemetar karena kewibawaan beliau.” (HR. Abu Daud)Lalu apa itu duduk qurfusha’? Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizahullah menjelaskan bahwa duduk qurfusha’ itu bisa diartikan menjadi dua, yaitu:Pertama, duduk dengan merapatkan paha dan menempelkannya pada perut dan memeluk kedua lutut dengan kedua tangannya.Gambar1. Duduk Qurfusha’ Pada Arti PertamaKedua, duduk dengan bersandar pada kedua lututnya seperti duduk tasyahud, lalu menempelkan perutnya pada kedua pahanya, dan meletakkan kedua tangannya di bawah ketiak.Gambar 2. Duduk Qurfusha’ Pada Arti KeduaTerdapat hadis lain yang menunjukkan bagaimana Rasulullah duduk ketika beliau berada di dalam masjid. Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,كان رسولُ اللهِ إذا جلس في المسجدِ احتبَى بيديْهِ“Apabila Rasulullah duduk di masjid, beliau duduk ihtibā’ dengan kedua tangannya.” (HR. Tirmidzi)Hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah duduk dengan duduk ihtiba’. Duduk ihtiba’ adalah seseorang duduk di atas pantatnya, lalu menekukkan perut dan kedua kakinya ke arah pahanya, sambil memegang kedua betisnya dengan tangannya dari depan.Gambar 3. Duduk Ihtiba’Selain duduk, beliau juga terkadang istirahat sambil berbaring ketika di masjid. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatan oleh Sufyan bin Uyainah,حدثنا سفيان بن عيينة عن الزهري عن عباد بن تميم عن عمه أنه رأى النبي صلى الله عليه وسلم مستلقيا في المسجد واضعا إحدى رجليه على الأخرى“Sufyān bin ‘Uyainah meriwayatkan dari az-Zuhrī, dari ‘Abbād bin Tamīm, dari pamannya, bahwa ia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaring di masjid dengan meletakkan salah satu kakinya di atas kaki yang lain.” (HR. Bukhari)Perbuatan Rasulullah yang ditunjukkan oleh hadis tersebut merupakan suatu hal yang terkadang dilakukan orang-orang pada umumnya ketika beristirahat. Hal ini diperbolehkan jika dilakukan kadang-kadang ketika beristirahat atau semisalnya. Akan tetapi, perlu diperhatikan atau dipastikan agar aurat tidak tersingkap ketika berbaring dalam keadaan seperti ini. Hal tersebut karena ada sebuah hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Jabir radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,نَهَى عَنْ اشْتِمَالِ الصَّمَّاءِ، وَأَنْ يَرْفَعَ الرَّجُلُ إِحْدَى رِجْلَيْهِ عَلَى الْأُخْرَى وَهُوَ مُسْتَلْقٍ عَلَى ظَهْرِهِ“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang isytimal aṣ-sammaa’ (cara berpakaian tertentu yang membungkus tubuh dengan kain tanpa celah tangan), dan (melarang) seorang laki-laki mengangkat salah satu kakinya di atas kaki yang lain sementara ia berbaring telentang di atas punggungnya.” (HR. Muslim)Dua hadis di atas sekilas tentunya terlihat bertentangan, di mana satu hadis menyebutkan beliau melakukan dan hadis lain menyebutkan beliau melarangnya. Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizahullah menjelaskan kompromi kedua hadis tersebut. Beliau berkata,يحمل حديثُ النهي فيما إذا كان الإنسانُ لا يأْمَنُ أن تنكشف عورته كالمؤتزر، أمَّا إِن أَمِنَ ذلك كالمتسرول فلا حرج عليه“Hadis yang melarang berlaku ketika seseorang itu memungkinkan untuk terlihatnya auratnya, seperti orang yang menggunakan sarung. Adapun jika aman dari tersingkapnya aurat, seperti orang yang menggunakan sirwal, maka tidak mengapa.”Bersandarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga merupkan seorang manusia yang tentunya memiliki rasa lelah sehingga perlu bersandar. Beliau terkadang bersandar ketika duduk yang biasanya merupakan sebuah kebiasaan dan juga bersandar ketika berdiri yang biasanya karena beliau lelah atau sedang sakit atau lemah.Bersandar ketika dudukKetika duduk, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam biasanya bersandar. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis, beliau bersabda,أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ ثَلَاثًا. قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ. وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ: أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ. قَالَ: فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا: لَيْتَهُ سَكَت“Maukah kalian aku beritahukan dosa-dosa yang paling besar?” (Beliau mengulanginya tiga kali) Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua.” Saat itu beliau sedang bersandar, lalu duduk tegak dan berkata, “Ketahuilah, perkataan dusta.” Beliau terus-menerus mengulanginya, hingga kami berkata, “Semoga beliau diam.” (HR. Bukhari)Hadis tersebut menunjukkan bahwa beliau duduk dalam keadaan bersandar. Lalu bagaimana cara beliau bersandar? Dalam sebuah hadis lain yang diriwayatkan oleh Jabir bin Samuroh, ia berkata,رأَيتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ متَّكئًا علَى وسادةٍ علَى يسارِه“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersandar pada sebuah bantal di sisi kirinya.” (HR. Tirmidzi)Hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang bersandar pada sebuah bantal. Pada hadis di atas, disebutkan bahwa beliau bersandar pada bagian kiri tubuh beliau, tapi beliau juga terkadang bersandar pada bagian kanan tubuh beliau. Posisi duduk seperti ini memang terkadang dibutuhkan oleh manusia karena bisa mengistirahatkan badan.Walaupun beliau duduk dengan cara bersandar, beliau tidak melakukan hal tersebut ketika makan. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,لا آكلُ وأنا مُتَّكئٌ“Aku tidak makan dalam keadaan bersandar.” (HR. Tirmidzi)Bersandar ketika berdiriBeliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga terkadang bersandar ketika berdiri atau berjalan ketika sedang sakit. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,أنَّ النَّبيَّ كان شاكيًا خرج وهو يتَّكِئُ على أسامةَ بنِ زيدٍ عليه ثوبٌ قطَريٌّ قد توشَّح به  فصلَّى بهم“Sesungguhnya ketika sedang sakit, Nabi keluar dengan bersandar pada Usāmah bin Zaid. Ketika itu, beliau mengenakan kain qathri yang diselendangkan, lalu beliau pun mengimami mereka salat.” (HR. Tirmidzi)Kondisi beliau pada hadis di atas adalah ketika sakit beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum wafat. Ketika itu, beliau sudah lemah sehingga butuh bantuan berdiri sehingga bersandar pada Usamah bin Zaid radhiyallahu ’anhu.PenutupDemikianlah beberapa hadis yang menunjukkan bagaimana Rasulullah duduk dan bersandar. Semoga dengan mengenal Rasulullah dari sisi kebiasaan dan kehidupan beliau, hal itu bisa membuat kita lebih mengenal dan mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca juga: Mengenal Sifat Tawaduk Rasulullah***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:Syarah Syamail Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Mengenal Bagaimana Rasulullah Duduk dan Bersandar

Daftar Isi ToggleDuduknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamBersandarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamBersandar ketika dudukBersandar ketika berdiriPenutupDuduk dan bersandar merupakan salah satu aktivitas yang pasti dilakukan oleh manusia. Setiap orang juga tentunya memiliki kebiasaan masing-masing untuk duduk dan bersandar. Hal tersebut juga berlaku pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memiliki cara duduk dan bersandar juga. Lalu bagaimana Rasulullah duduk dan bersandar?Sebagai seorang muslim, tentunya kita sangat mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satu bukti cinta kita tentunya dengan berusaha mengenali beliau, juga meniru dan meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada artikel ini, akan kita bahas mengenai cara duduk Rasulullah dan juga cara beliau bersandar.Duduknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamDuduk merupakan hal yang tentunya biasa dilakukan oleh manusia pada umumnya, Rasulullah pun tentu melakukannya. Salah satu posisi duduk yang dilakukan oleh Nabi adalah duduk qurfusha’. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Qailah binti Makhramah, ia berkata,عن قَيْلَةَ بنتِ مَخْرَمَةَ أنها رَأَتْ رسولَ اللهِ – صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم في المسجدِ، وهو قاعدٌ القُرْفُصاءَ، قالت فلما رأيتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم المُتَخَشِّعَ في الجِلْسَة أُرْعِدْتُ من الفَرَقِ“Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid, beliau sedang duduk dengan duduk qurfusha’.” Ia berkata, “Ketika aku melihat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dalam keadaan penuh kekhusyukan saat duduk itu, aku gemetar karena kewibawaan beliau.” (HR. Abu Daud)Lalu apa itu duduk qurfusha’? Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizahullah menjelaskan bahwa duduk qurfusha’ itu bisa diartikan menjadi dua, yaitu:Pertama, duduk dengan merapatkan paha dan menempelkannya pada perut dan memeluk kedua lutut dengan kedua tangannya.Gambar1. Duduk Qurfusha’ Pada Arti PertamaKedua, duduk dengan bersandar pada kedua lututnya seperti duduk tasyahud, lalu menempelkan perutnya pada kedua pahanya, dan meletakkan kedua tangannya di bawah ketiak.Gambar 2. Duduk Qurfusha’ Pada Arti KeduaTerdapat hadis lain yang menunjukkan bagaimana Rasulullah duduk ketika beliau berada di dalam masjid. Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,كان رسولُ اللهِ إذا جلس في المسجدِ احتبَى بيديْهِ“Apabila Rasulullah duduk di masjid, beliau duduk ihtibā’ dengan kedua tangannya.” (HR. Tirmidzi)Hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah duduk dengan duduk ihtiba’. Duduk ihtiba’ adalah seseorang duduk di atas pantatnya, lalu menekukkan perut dan kedua kakinya ke arah pahanya, sambil memegang kedua betisnya dengan tangannya dari depan.Gambar 3. Duduk Ihtiba’Selain duduk, beliau juga terkadang istirahat sambil berbaring ketika di masjid. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatan oleh Sufyan bin Uyainah,حدثنا سفيان بن عيينة عن الزهري عن عباد بن تميم عن عمه أنه رأى النبي صلى الله عليه وسلم مستلقيا في المسجد واضعا إحدى رجليه على الأخرى“Sufyān bin ‘Uyainah meriwayatkan dari az-Zuhrī, dari ‘Abbād bin Tamīm, dari pamannya, bahwa ia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaring di masjid dengan meletakkan salah satu kakinya di atas kaki yang lain.” (HR. Bukhari)Perbuatan Rasulullah yang ditunjukkan oleh hadis tersebut merupakan suatu hal yang terkadang dilakukan orang-orang pada umumnya ketika beristirahat. Hal ini diperbolehkan jika dilakukan kadang-kadang ketika beristirahat atau semisalnya. Akan tetapi, perlu diperhatikan atau dipastikan agar aurat tidak tersingkap ketika berbaring dalam keadaan seperti ini. Hal tersebut karena ada sebuah hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Jabir radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,نَهَى عَنْ اشْتِمَالِ الصَّمَّاءِ، وَأَنْ يَرْفَعَ الرَّجُلُ إِحْدَى رِجْلَيْهِ عَلَى الْأُخْرَى وَهُوَ مُسْتَلْقٍ عَلَى ظَهْرِهِ“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang isytimal aṣ-sammaa’ (cara berpakaian tertentu yang membungkus tubuh dengan kain tanpa celah tangan), dan (melarang) seorang laki-laki mengangkat salah satu kakinya di atas kaki yang lain sementara ia berbaring telentang di atas punggungnya.” (HR. Muslim)Dua hadis di atas sekilas tentunya terlihat bertentangan, di mana satu hadis menyebutkan beliau melakukan dan hadis lain menyebutkan beliau melarangnya. Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizahullah menjelaskan kompromi kedua hadis tersebut. Beliau berkata,يحمل حديثُ النهي فيما إذا كان الإنسانُ لا يأْمَنُ أن تنكشف عورته كالمؤتزر، أمَّا إِن أَمِنَ ذلك كالمتسرول فلا حرج عليه“Hadis yang melarang berlaku ketika seseorang itu memungkinkan untuk terlihatnya auratnya, seperti orang yang menggunakan sarung. Adapun jika aman dari tersingkapnya aurat, seperti orang yang menggunakan sirwal, maka tidak mengapa.”Bersandarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga merupkan seorang manusia yang tentunya memiliki rasa lelah sehingga perlu bersandar. Beliau terkadang bersandar ketika duduk yang biasanya merupakan sebuah kebiasaan dan juga bersandar ketika berdiri yang biasanya karena beliau lelah atau sedang sakit atau lemah.Bersandar ketika dudukKetika duduk, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam biasanya bersandar. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis, beliau bersabda,أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ ثَلَاثًا. قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ. وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ: أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ. قَالَ: فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا: لَيْتَهُ سَكَت“Maukah kalian aku beritahukan dosa-dosa yang paling besar?” (Beliau mengulanginya tiga kali) Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua.” Saat itu beliau sedang bersandar, lalu duduk tegak dan berkata, “Ketahuilah, perkataan dusta.” Beliau terus-menerus mengulanginya, hingga kami berkata, “Semoga beliau diam.” (HR. Bukhari)Hadis tersebut menunjukkan bahwa beliau duduk dalam keadaan bersandar. Lalu bagaimana cara beliau bersandar? Dalam sebuah hadis lain yang diriwayatkan oleh Jabir bin Samuroh, ia berkata,رأَيتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ متَّكئًا علَى وسادةٍ علَى يسارِه“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersandar pada sebuah bantal di sisi kirinya.” (HR. Tirmidzi)Hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang bersandar pada sebuah bantal. Pada hadis di atas, disebutkan bahwa beliau bersandar pada bagian kiri tubuh beliau, tapi beliau juga terkadang bersandar pada bagian kanan tubuh beliau. Posisi duduk seperti ini memang terkadang dibutuhkan oleh manusia karena bisa mengistirahatkan badan.Walaupun beliau duduk dengan cara bersandar, beliau tidak melakukan hal tersebut ketika makan. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,لا آكلُ وأنا مُتَّكئٌ“Aku tidak makan dalam keadaan bersandar.” (HR. Tirmidzi)Bersandar ketika berdiriBeliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga terkadang bersandar ketika berdiri atau berjalan ketika sedang sakit. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,أنَّ النَّبيَّ كان شاكيًا خرج وهو يتَّكِئُ على أسامةَ بنِ زيدٍ عليه ثوبٌ قطَريٌّ قد توشَّح به  فصلَّى بهم“Sesungguhnya ketika sedang sakit, Nabi keluar dengan bersandar pada Usāmah bin Zaid. Ketika itu, beliau mengenakan kain qathri yang diselendangkan, lalu beliau pun mengimami mereka salat.” (HR. Tirmidzi)Kondisi beliau pada hadis di atas adalah ketika sakit beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum wafat. Ketika itu, beliau sudah lemah sehingga butuh bantuan berdiri sehingga bersandar pada Usamah bin Zaid radhiyallahu ’anhu.PenutupDemikianlah beberapa hadis yang menunjukkan bagaimana Rasulullah duduk dan bersandar. Semoga dengan mengenal Rasulullah dari sisi kebiasaan dan kehidupan beliau, hal itu bisa membuat kita lebih mengenal dan mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca juga: Mengenal Sifat Tawaduk Rasulullah***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:Syarah Syamail Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.
Daftar Isi ToggleDuduknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamBersandarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamBersandar ketika dudukBersandar ketika berdiriPenutupDuduk dan bersandar merupakan salah satu aktivitas yang pasti dilakukan oleh manusia. Setiap orang juga tentunya memiliki kebiasaan masing-masing untuk duduk dan bersandar. Hal tersebut juga berlaku pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memiliki cara duduk dan bersandar juga. Lalu bagaimana Rasulullah duduk dan bersandar?Sebagai seorang muslim, tentunya kita sangat mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satu bukti cinta kita tentunya dengan berusaha mengenali beliau, juga meniru dan meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada artikel ini, akan kita bahas mengenai cara duduk Rasulullah dan juga cara beliau bersandar.Duduknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamDuduk merupakan hal yang tentunya biasa dilakukan oleh manusia pada umumnya, Rasulullah pun tentu melakukannya. Salah satu posisi duduk yang dilakukan oleh Nabi adalah duduk qurfusha’. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Qailah binti Makhramah, ia berkata,عن قَيْلَةَ بنتِ مَخْرَمَةَ أنها رَأَتْ رسولَ اللهِ – صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم في المسجدِ، وهو قاعدٌ القُرْفُصاءَ، قالت فلما رأيتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم المُتَخَشِّعَ في الجِلْسَة أُرْعِدْتُ من الفَرَقِ“Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid, beliau sedang duduk dengan duduk qurfusha’.” Ia berkata, “Ketika aku melihat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dalam keadaan penuh kekhusyukan saat duduk itu, aku gemetar karena kewibawaan beliau.” (HR. Abu Daud)Lalu apa itu duduk qurfusha’? Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizahullah menjelaskan bahwa duduk qurfusha’ itu bisa diartikan menjadi dua, yaitu:Pertama, duduk dengan merapatkan paha dan menempelkannya pada perut dan memeluk kedua lutut dengan kedua tangannya.Gambar1. Duduk Qurfusha’ Pada Arti PertamaKedua, duduk dengan bersandar pada kedua lututnya seperti duduk tasyahud, lalu menempelkan perutnya pada kedua pahanya, dan meletakkan kedua tangannya di bawah ketiak.Gambar 2. Duduk Qurfusha’ Pada Arti KeduaTerdapat hadis lain yang menunjukkan bagaimana Rasulullah duduk ketika beliau berada di dalam masjid. Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,كان رسولُ اللهِ إذا جلس في المسجدِ احتبَى بيديْهِ“Apabila Rasulullah duduk di masjid, beliau duduk ihtibā’ dengan kedua tangannya.” (HR. Tirmidzi)Hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah duduk dengan duduk ihtiba’. Duduk ihtiba’ adalah seseorang duduk di atas pantatnya, lalu menekukkan perut dan kedua kakinya ke arah pahanya, sambil memegang kedua betisnya dengan tangannya dari depan.Gambar 3. Duduk Ihtiba’Selain duduk, beliau juga terkadang istirahat sambil berbaring ketika di masjid. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatan oleh Sufyan bin Uyainah,حدثنا سفيان بن عيينة عن الزهري عن عباد بن تميم عن عمه أنه رأى النبي صلى الله عليه وسلم مستلقيا في المسجد واضعا إحدى رجليه على الأخرى“Sufyān bin ‘Uyainah meriwayatkan dari az-Zuhrī, dari ‘Abbād bin Tamīm, dari pamannya, bahwa ia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaring di masjid dengan meletakkan salah satu kakinya di atas kaki yang lain.” (HR. Bukhari)Perbuatan Rasulullah yang ditunjukkan oleh hadis tersebut merupakan suatu hal yang terkadang dilakukan orang-orang pada umumnya ketika beristirahat. Hal ini diperbolehkan jika dilakukan kadang-kadang ketika beristirahat atau semisalnya. Akan tetapi, perlu diperhatikan atau dipastikan agar aurat tidak tersingkap ketika berbaring dalam keadaan seperti ini. Hal tersebut karena ada sebuah hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Jabir radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,نَهَى عَنْ اشْتِمَالِ الصَّمَّاءِ، وَأَنْ يَرْفَعَ الرَّجُلُ إِحْدَى رِجْلَيْهِ عَلَى الْأُخْرَى وَهُوَ مُسْتَلْقٍ عَلَى ظَهْرِهِ“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang isytimal aṣ-sammaa’ (cara berpakaian tertentu yang membungkus tubuh dengan kain tanpa celah tangan), dan (melarang) seorang laki-laki mengangkat salah satu kakinya di atas kaki yang lain sementara ia berbaring telentang di atas punggungnya.” (HR. Muslim)Dua hadis di atas sekilas tentunya terlihat bertentangan, di mana satu hadis menyebutkan beliau melakukan dan hadis lain menyebutkan beliau melarangnya. Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizahullah menjelaskan kompromi kedua hadis tersebut. Beliau berkata,يحمل حديثُ النهي فيما إذا كان الإنسانُ لا يأْمَنُ أن تنكشف عورته كالمؤتزر، أمَّا إِن أَمِنَ ذلك كالمتسرول فلا حرج عليه“Hadis yang melarang berlaku ketika seseorang itu memungkinkan untuk terlihatnya auratnya, seperti orang yang menggunakan sarung. Adapun jika aman dari tersingkapnya aurat, seperti orang yang menggunakan sirwal, maka tidak mengapa.”Bersandarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga merupkan seorang manusia yang tentunya memiliki rasa lelah sehingga perlu bersandar. Beliau terkadang bersandar ketika duduk yang biasanya merupakan sebuah kebiasaan dan juga bersandar ketika berdiri yang biasanya karena beliau lelah atau sedang sakit atau lemah.Bersandar ketika dudukKetika duduk, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam biasanya bersandar. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis, beliau bersabda,أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ ثَلَاثًا. قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ. وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ: أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ. قَالَ: فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا: لَيْتَهُ سَكَت“Maukah kalian aku beritahukan dosa-dosa yang paling besar?” (Beliau mengulanginya tiga kali) Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua.” Saat itu beliau sedang bersandar, lalu duduk tegak dan berkata, “Ketahuilah, perkataan dusta.” Beliau terus-menerus mengulanginya, hingga kami berkata, “Semoga beliau diam.” (HR. Bukhari)Hadis tersebut menunjukkan bahwa beliau duduk dalam keadaan bersandar. Lalu bagaimana cara beliau bersandar? Dalam sebuah hadis lain yang diriwayatkan oleh Jabir bin Samuroh, ia berkata,رأَيتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ متَّكئًا علَى وسادةٍ علَى يسارِه“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersandar pada sebuah bantal di sisi kirinya.” (HR. Tirmidzi)Hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang bersandar pada sebuah bantal. Pada hadis di atas, disebutkan bahwa beliau bersandar pada bagian kiri tubuh beliau, tapi beliau juga terkadang bersandar pada bagian kanan tubuh beliau. Posisi duduk seperti ini memang terkadang dibutuhkan oleh manusia karena bisa mengistirahatkan badan.Walaupun beliau duduk dengan cara bersandar, beliau tidak melakukan hal tersebut ketika makan. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,لا آكلُ وأنا مُتَّكئٌ“Aku tidak makan dalam keadaan bersandar.” (HR. Tirmidzi)Bersandar ketika berdiriBeliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga terkadang bersandar ketika berdiri atau berjalan ketika sedang sakit. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,أنَّ النَّبيَّ كان شاكيًا خرج وهو يتَّكِئُ على أسامةَ بنِ زيدٍ عليه ثوبٌ قطَريٌّ قد توشَّح به  فصلَّى بهم“Sesungguhnya ketika sedang sakit, Nabi keluar dengan bersandar pada Usāmah bin Zaid. Ketika itu, beliau mengenakan kain qathri yang diselendangkan, lalu beliau pun mengimami mereka salat.” (HR. Tirmidzi)Kondisi beliau pada hadis di atas adalah ketika sakit beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum wafat. Ketika itu, beliau sudah lemah sehingga butuh bantuan berdiri sehingga bersandar pada Usamah bin Zaid radhiyallahu ’anhu.PenutupDemikianlah beberapa hadis yang menunjukkan bagaimana Rasulullah duduk dan bersandar. Semoga dengan mengenal Rasulullah dari sisi kebiasaan dan kehidupan beliau, hal itu bisa membuat kita lebih mengenal dan mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca juga: Mengenal Sifat Tawaduk Rasulullah***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:Syarah Syamail Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.


Daftar Isi ToggleDuduknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamBersandarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamBersandar ketika dudukBersandar ketika berdiriPenutupDuduk dan bersandar merupakan salah satu aktivitas yang pasti dilakukan oleh manusia. Setiap orang juga tentunya memiliki kebiasaan masing-masing untuk duduk dan bersandar. Hal tersebut juga berlaku pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memiliki cara duduk dan bersandar juga. Lalu bagaimana Rasulullah duduk dan bersandar?Sebagai seorang muslim, tentunya kita sangat mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satu bukti cinta kita tentunya dengan berusaha mengenali beliau, juga meniru dan meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada artikel ini, akan kita bahas mengenai cara duduk Rasulullah dan juga cara beliau bersandar.Duduknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamDuduk merupakan hal yang tentunya biasa dilakukan oleh manusia pada umumnya, Rasulullah pun tentu melakukannya. Salah satu posisi duduk yang dilakukan oleh Nabi adalah duduk qurfusha’. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Qailah binti Makhramah, ia berkata,عن قَيْلَةَ بنتِ مَخْرَمَةَ أنها رَأَتْ رسولَ اللهِ – صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم في المسجدِ، وهو قاعدٌ القُرْفُصاءَ، قالت فلما رأيتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم المُتَخَشِّعَ في الجِلْسَة أُرْعِدْتُ من الفَرَقِ“Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid, beliau sedang duduk dengan duduk qurfusha’.” Ia berkata, “Ketika aku melihat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dalam keadaan penuh kekhusyukan saat duduk itu, aku gemetar karena kewibawaan beliau.” (HR. Abu Daud)Lalu apa itu duduk qurfusha’? Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizahullah menjelaskan bahwa duduk qurfusha’ itu bisa diartikan menjadi dua, yaitu:Pertama, duduk dengan merapatkan paha dan menempelkannya pada perut dan memeluk kedua lutut dengan kedua tangannya.<img decoding="async" class="size-medium wp-image-110349 aligncenter" src="https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Qurfusha-1-300x213.webp" alt="" width="300" height="213" srcset="https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Qurfusha-1-300x213.webp 300w, https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Qurfusha-1-120x86.webp 120w, https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Qurfusha-1-350x250.webp 350w, https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Qurfusha-1.webp 699w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />Gambar1. Duduk Qurfusha’ Pada Arti PertamaKedua, duduk dengan bersandar pada kedua lututnya seperti duduk tasyahud, lalu menempelkan perutnya pada kedua pahanya, dan meletakkan kedua tangannya di bawah ketiak.<img loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-110350 aligncenter" src="https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Qurfusha-2-300x242.jpg" alt="" width="300" height="242" srcset="https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Qurfusha-2-300x242.jpg 300w, https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Qurfusha-2.jpg 623w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />Gambar 2. Duduk Qurfusha’ Pada Arti KeduaTerdapat hadis lain yang menunjukkan bagaimana Rasulullah duduk ketika beliau berada di dalam masjid. Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,كان رسولُ اللهِ إذا جلس في المسجدِ احتبَى بيديْهِ“Apabila Rasulullah duduk di masjid, beliau duduk ihtibā’ dengan kedua tangannya.” (HR. Tirmidzi)Hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah duduk dengan duduk ihtiba’. Duduk ihtiba’ adalah seseorang duduk di atas pantatnya, lalu menekukkan perut dan kedua kakinya ke arah pahanya, sambil memegang kedua betisnya dengan tangannya dari depan.<img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-110351" src="https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Ihtiba-300x300.webp" alt="" width="300" height="300" srcset="https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Ihtiba-300x300.webp 300w, https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Ihtiba-150x150.webp 150w, https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Ihtiba-768x768.webp 768w, https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Ihtiba-75x75.webp 75w, https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Ihtiba-350x350.webp 350w, https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Ihtiba-750x750.webp 750w, https://muslim.or.id/wp-content/uploads/2025/10/Ihtiba.webp 1024w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />Gambar 3. Duduk Ihtiba’Selain duduk, beliau juga terkadang istirahat sambil berbaring ketika di masjid. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatan oleh Sufyan bin Uyainah,حدثنا سفيان بن عيينة عن الزهري عن عباد بن تميم عن عمه أنه رأى النبي صلى الله عليه وسلم مستلقيا في المسجد واضعا إحدى رجليه على الأخرى“Sufyān bin ‘Uyainah meriwayatkan dari az-Zuhrī, dari ‘Abbād bin Tamīm, dari pamannya, bahwa ia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaring di masjid dengan meletakkan salah satu kakinya di atas kaki yang lain.” (HR. Bukhari)Perbuatan Rasulullah yang ditunjukkan oleh hadis tersebut merupakan suatu hal yang terkadang dilakukan orang-orang pada umumnya ketika beristirahat. Hal ini diperbolehkan jika dilakukan kadang-kadang ketika beristirahat atau semisalnya. Akan tetapi, perlu diperhatikan atau dipastikan agar aurat tidak tersingkap ketika berbaring dalam keadaan seperti ini. Hal tersebut karena ada sebuah hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Jabir radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,نَهَى عَنْ اشْتِمَالِ الصَّمَّاءِ، وَأَنْ يَرْفَعَ الرَّجُلُ إِحْدَى رِجْلَيْهِ عَلَى الْأُخْرَى وَهُوَ مُسْتَلْقٍ عَلَى ظَهْرِهِ“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang isytimal aṣ-sammaa’ (cara berpakaian tertentu yang membungkus tubuh dengan kain tanpa celah tangan), dan (melarang) seorang laki-laki mengangkat salah satu kakinya di atas kaki yang lain sementara ia berbaring telentang di atas punggungnya.” (HR. Muslim)Dua hadis di atas sekilas tentunya terlihat bertentangan, di mana satu hadis menyebutkan beliau melakukan dan hadis lain menyebutkan beliau melarangnya. Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizahullah menjelaskan kompromi kedua hadis tersebut. Beliau berkata,يحمل حديثُ النهي فيما إذا كان الإنسانُ لا يأْمَنُ أن تنكشف عورته كالمؤتزر، أمَّا إِن أَمِنَ ذلك كالمتسرول فلا حرج عليه“Hadis yang melarang berlaku ketika seseorang itu memungkinkan untuk terlihatnya auratnya, seperti orang yang menggunakan sarung. Adapun jika aman dari tersingkapnya aurat, seperti orang yang menggunakan sirwal, maka tidak mengapa.”Bersandarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga merupkan seorang manusia yang tentunya memiliki rasa lelah sehingga perlu bersandar. Beliau terkadang bersandar ketika duduk yang biasanya merupakan sebuah kebiasaan dan juga bersandar ketika berdiri yang biasanya karena beliau lelah atau sedang sakit atau lemah.Bersandar ketika dudukKetika duduk, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam biasanya bersandar. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis, beliau bersabda,أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ ثَلَاثًا. قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ. وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ: أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ. قَالَ: فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا: لَيْتَهُ سَكَت“Maukah kalian aku beritahukan dosa-dosa yang paling besar?” (Beliau mengulanginya tiga kali) Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua.” Saat itu beliau sedang bersandar, lalu duduk tegak dan berkata, “Ketahuilah, perkataan dusta.” Beliau terus-menerus mengulanginya, hingga kami berkata, “Semoga beliau diam.” (HR. Bukhari)Hadis tersebut menunjukkan bahwa beliau duduk dalam keadaan bersandar. Lalu bagaimana cara beliau bersandar? Dalam sebuah hadis lain yang diriwayatkan oleh Jabir bin Samuroh, ia berkata,رأَيتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ متَّكئًا علَى وسادةٍ علَى يسارِه“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersandar pada sebuah bantal di sisi kirinya.” (HR. Tirmidzi)Hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang bersandar pada sebuah bantal. Pada hadis di atas, disebutkan bahwa beliau bersandar pada bagian kiri tubuh beliau, tapi beliau juga terkadang bersandar pada bagian kanan tubuh beliau. Posisi duduk seperti ini memang terkadang dibutuhkan oleh manusia karena bisa mengistirahatkan badan.Walaupun beliau duduk dengan cara bersandar, beliau tidak melakukan hal tersebut ketika makan. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,لا آكلُ وأنا مُتَّكئٌ“Aku tidak makan dalam keadaan bersandar.” (HR. Tirmidzi)Bersandar ketika berdiriBeliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga terkadang bersandar ketika berdiri atau berjalan ketika sedang sakit. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu, beliau berkata,أنَّ النَّبيَّ كان شاكيًا خرج وهو يتَّكِئُ على أسامةَ بنِ زيدٍ عليه ثوبٌ قطَريٌّ قد توشَّح به  فصلَّى بهم“Sesungguhnya ketika sedang sakit, Nabi keluar dengan bersandar pada Usāmah bin Zaid. Ketika itu, beliau mengenakan kain qathri yang diselendangkan, lalu beliau pun mengimami mereka salat.” (HR. Tirmidzi)Kondisi beliau pada hadis di atas adalah ketika sakit beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum wafat. Ketika itu, beliau sudah lemah sehingga butuh bantuan berdiri sehingga bersandar pada Usamah bin Zaid radhiyallahu ’anhu.PenutupDemikianlah beberapa hadis yang menunjukkan bagaimana Rasulullah duduk dan bersandar. Semoga dengan mengenal Rasulullah dari sisi kebiasaan dan kehidupan beliau, hal itu bisa membuat kita lebih mengenal dan mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Baca juga: Mengenal Sifat Tawaduk Rasulullah***Penulis: Firdian IkhwansyahArtikel Muslim.or.id Referensi:Syarah Syamail Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Akibat Lalai Terhadap Waktu

Daftar Isi ToggleKematian adalah kepastian, kelalaian adalah pilihanDampak kelalaianKematian vs. kelalaianBentuk-bentuk menyia-nyiakan waktuBagaimana menyelamatkan diri dari bahaya ini?Hiduplah dengan dua prinsip utama: iman dan amal salehManfaatkan lima kesempatan sebelum datang lima penghalangPerbanyak zikir dan mengingat kematianBuat agenda dan evaluasi diri (muhasabah)Mari berubah, mulai dari sekarang!Segala puji bagi Allah, Rabb yang mengatur malam dan siang sebagai tanda dan peringatan bagi hamba-hamba-Nya yang berfikir. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan dalam segala detik kebaikan, serta kepada keluarganya, sahabatnya, dan kita semua yang senantiasa berusaha meneladaninya.Saudaraku seiman, dalam hiruk-pikuk dunia yang serba cepat ini, waktu terasa berlalu begitu saja. Hari berganti hari, pekan berganti pekan, tanpa terasa usia kita pun bertambah. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan merenungi: untuk apa saja waktu yang telah berlalu itu digunakan? Apakah untuk hal-hal yang mendatangkan rida-Nya atau justru untuk kelalaian yang menjerumuskan?Sebuah peringatan sangat keras dan mendalam disampaikan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah. Beliau berkata,إضاعةُ الوقت أشدُّ من الموت ؛ لأنَّ إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة، والموتُ يقطعك عن الدنيا وأهلها“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya.” (Al-Fawaid, hal. 44)Subhanallah! Betapa tajam dan dalamnya nasihat ini. Beliau menyamakan kelalaian akan waktu dengan sebuah bahaya yang tingkatannya bahkan melebihi kematian. Mengapa bisa demikian?Kematian adalah kepastian, kelalaian adalah pilihanKematian adalah sesuatu yang pasti datangnya. Karena kematian adalah ajaibul ajal (peristiwa yang telah ditentukan) yang akan memutuskan setiap makhluk dari kehidupan dunianya, serta sebagai takdir yang harus dijalani. Namun, menyia-nyiakan waktu adalah pilihan. Sadar atau tidak, kita memalingkan amanah waktu dari pengisian yang benar. Berbuat dosa karena terlena adalah pilihan. Bermalas-malasan dari ibadah adalah pilihan. Inilah yang membuatnya sangat berbahaya karena kita akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihan kita tersebut.Allah Ta’ala telah memberikan kita akal dan hidayah untuk membedakan antara yang haq dan batil. Setiap detik yang berlalu, kita sebenarnya sedang membuat pilihan: memilih untuk taat atau maksiat, memilih untuk berzikir atau berlalu, memilih untuk menuntut ilmu atau menghabiskan waktu dengan hiburan yang melalaikan. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman,يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian semuanya melakukan dosa pada malam dan siang hari, padahal Aku Maha mengampuni dosa semuanya. Maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni kalian.” (HR. Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa pintu untuk memilih tobat dan mengisi waktu dengan kebaikan selalu terbuka lebar selama nyawa masih dikandung badan.Rasulullah ﷺ telah memperingatkan tentang dua nikmat yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)Kelalaian terhadap waktu adalah bentuk ketidaksyukuran kita terhadap nikmat Allah yang paling mendasar. Kita diberikan modal kehidupan, namun kita sia-siakan modal itu untuk hal-hal yang tidak menghasilkan ‘keuntungan’ untuk kehidupan abadi kita kelak. Betapa meruginya seorang pedagang yang menyia-nyiakan modal utamanya.Oleh karena itu, ketika ajal menjemput, tidak ada lagi pilihan. Saat itu, berakhir sudah semua kesempatan untuk beramal. Namun, selama jantung masih berdetak, pilihan untuk bertobat, berubah, dan memanfaatkan waktu dengan optimal masih sepenuhnya berada di tangan kita. Kelalaian adalah kezaliman kita terhadap diri sendiri karena menyia-nyiakan kesempatan emas yang Allah berikan.Dampak kelalaianKematian memutuskan kita dari dunia yang fana dan mengakhiri kesempatan kita untuk beramal. Sedangkan menyia-nyiakan waktu memutuskan hubungan kita dengan Allah dan akhirat selagi kita masih hidup dan memiliki kesempatan untuk berubah. Orang yang lalai akan waktunya, hatinya bisa menjadi keras, sulit menerima kebenaran, dan menjauh dari mengingat Allah. Ini adalah ‘kematian’ dalam kehidupan, kematian hati sebelum kematian jasad. Na’udzubillah min dzalik.Dampak dari kelalaian ini bersifat gradual dan seringkali tidak disadari. Seperti besi yang berkarat secara perlahan, hati yang tidak pernah dirawat dengan zikir dan ibadah akan menjadi kotor dan berkarat. Allah berfirman,كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Sekali-kali tidak! Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)Setiap kali kita memilih untuk melalaikan waktu, sekat antara kita dan Allah akan semakin menebal, membuat kita semakin sulit merasakan manisnya iman dan lezatnya ketaatan.Inilah yang disebut dengan ghaflah (lalai) dalam terminologi Al-Qur’an. Allah menggambarkan keadaan orang-orang yang lalai sebagai orang yang tidur, tetapi mata hati mereka tertutup sehingga tidak dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah. “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)…” (QS. Al-A’raf: 179). Mereka hidup, bernafas, dan beraktivitas, tetapi hakikatnya mereka telah ‘mati’ karena hati mereka tidak terhubung dengan Penciptanya.Oleh karenanya, kematian jasad hanya memindahkan seseorang dari satu keadaan kepada keadaan lain sesuai amalnya. Sedangkan kematian hati dalam kelalaian adalah sebuah kemunduran dan kehancuran yang terjadi di dunia, yang menjadi penyebab utama kesengsaraan di akhirat. Maka, berbahagialah orang yang selalu memeriksa hatinya dan menjaganya dari kelalaian dengan selalu mengingat Allah.Kematian vs. kelalaianBagi seorang muslim yang meninggal dalam ketaatan, kematian adalah pintu menuju kehidupan abadi yang penuh kenikmatan. Kematian justru menjadi persinggahan menuju surga. Sebaliknya, kelalaian dalam menghabiskan waktu adalah benih-benih yang akan menuai kesengsaraan, baik di dunia (gelisah, tidak berkah) maupun di akhirat (penyesalan dan azab).Kematian bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan yang sesungguhnya. Dunia hanyalah ladang amal, sedangkan akhirat adalah tempat menuai hasil dari apa yang kita tanam. Barang siapa yang mengisi waktunya dengan amal saleh, maka kematian menjadi perantara menuju kebahagiaan. Namun, siapa saja yang lalai, maka kematian menjadi awal dari penyesalan panjang yang tak berujung.Allah Ta’ala berfirman,حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ٱرْجِعُونِ . لَعَلِّيٓ أَعْمَلُ صَٰلِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّآ ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا ۖ وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ“(Demikianlah keadaan orang kafir) hingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Rabb-ku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)Ayat ini menegaskan bahwa penyesalan setelah kematian tidak akan bermanfaat. Kesempatan untuk beramal hanya ada di dunia. Maka, siapa saja yang menyia-nyiakan waktunya, seakan ia menunda kebahagiaan abadi dengan menukar waktunya untuk sesuatu yang fana.Sungguh indah ucapan para salaf, “Dunia adalah ladang akhirat.” Jika ladang ini tidak ditanami dengan amal saleh, maka ia akan gersang tanpa hasil. Sebaliknya, orang yang menabur amal baik akan memanen kebahagiaan di akhirat. Karena itu, setiap detik kehidupan adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan.Bentuk-bentuk menyia-nyiakan waktuMenyia-nyiakan waktu tidak hanya berarti duduk-duduk tanpa melakukan apa-apa. Perbuatan ini memiliki banyak wajah yang seringkali tersamarkan, bahkan dianggap sebagai hal yang normal:Banyak berbicara tanpa guna: Terlalu banyak obrolan duniawi, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), dan perkataan dusta.Bermain media sosial berlebihan: Scroll tanpa batas, melihat-lihat hal yang tidak bermanfaat, atau bahkan menjadi alat untuk riya’ dan pamer.Terlalu sibuk dengan urusan dunia: Bekerja memang ibadah, tetapi jika sampai melalaikan salat, menguras waktu untuk keluarga, atau lupa untuk berzikir, maka ia telah berubah menjadi kelalaian.Menunda-nunda amal kebaikan: “Nanti saja salatnya”; “besok saja sedekahnya”; “masih muda, tobatnya nanti saja.” Ini adalah jerat setan yang paling ampuh.Bergaul dengan orang-orang yang lalai: Berteman dengan orang yang tidak mengingatkan kita kepada Allah akan membuat kita terbawa dalam kubangan kelalaian.Bagaimana menyelamatkan diri dari bahaya ini?Rasulullah ﷺ telah memberikan kita panduan untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.Hiduplah dengan dua prinsip utama: iman dan amal salehAllah berfirman,وَالعَصرِ . إِنَّ الإِنسانَ لَفى خُسرٍ . إِلَّا الَّذينَ آمَنوا وَعَمِلُوا الصّالِحاتِ وَتَواصَوا بِالحَقِّ وَتَواصَوا بِالصَّبرِ“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1-3)Surah ini adalah pedoman hidup. Selamat dari kerugian hanya dengan empat syarat: iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.Manfaatkan lima kesempatan sebelum datang lima penghalangRasulullah ﷺ bersabda,اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim)Perbanyak zikir dan mengingat kematianSenantiasa mengingat Allah akan membuat hati hidup dan tidak lalai. Mengingat kematian akan memotivasi kita untuk tidak menunda-nunda amal kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan.” (HR. An-Nasa’i no. 1824, Tirmidzi no. 2307, Ibnu Majah no. 4258, dan Ahmad 2: 292)Buat agenda dan evaluasi diri (muhasabah)Sebagaimana para salafussalih, biasakan untuk mengevaluasi diri setiap hari. Apa yang telah dilakukan pagi, siang, dan sore? Untuk apa saja waktu dihabiskan? Allah berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…” (QS. Al-Hasyr: 18)Mari berubah, mulai dari sekarang!Saudaraku, waktu adalah kehidupan. Kehidupan kita hakikatnya adalah kumpulan dari detik, menit, dan jam yang kita lalui. Maka, membiarkan waktu berlalu tanpa makna sama saja dengan membiarkan kehidupan kita habis dengan sia-sia.Mari kita jadikan peringatan Ibnul Qayyim ini sebagai cambuk untuk bangkit. Jangan tunggu nanti, karena kita tidak tahu apakah nanti itu masih ada. Isilah waktu dengan tilawah Qur’an, salat sunah, menuntut ilmu, sedekah, silaturahim, dan semua amal yang mendekatkan diri kepada-Nya.Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur dengan memanfaatkan waktu untuk ketaatan, dan melindungi kita dari kelalaian yang membinasakan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam.Baca juga: Nikmat Waktu dalam Pandangan Seorang Muslim***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Akibat Lalai Terhadap Waktu

Daftar Isi ToggleKematian adalah kepastian, kelalaian adalah pilihanDampak kelalaianKematian vs. kelalaianBentuk-bentuk menyia-nyiakan waktuBagaimana menyelamatkan diri dari bahaya ini?Hiduplah dengan dua prinsip utama: iman dan amal salehManfaatkan lima kesempatan sebelum datang lima penghalangPerbanyak zikir dan mengingat kematianBuat agenda dan evaluasi diri (muhasabah)Mari berubah, mulai dari sekarang!Segala puji bagi Allah, Rabb yang mengatur malam dan siang sebagai tanda dan peringatan bagi hamba-hamba-Nya yang berfikir. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan dalam segala detik kebaikan, serta kepada keluarganya, sahabatnya, dan kita semua yang senantiasa berusaha meneladaninya.Saudaraku seiman, dalam hiruk-pikuk dunia yang serba cepat ini, waktu terasa berlalu begitu saja. Hari berganti hari, pekan berganti pekan, tanpa terasa usia kita pun bertambah. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan merenungi: untuk apa saja waktu yang telah berlalu itu digunakan? Apakah untuk hal-hal yang mendatangkan rida-Nya atau justru untuk kelalaian yang menjerumuskan?Sebuah peringatan sangat keras dan mendalam disampaikan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah. Beliau berkata,إضاعةُ الوقت أشدُّ من الموت ؛ لأنَّ إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة، والموتُ يقطعك عن الدنيا وأهلها“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya.” (Al-Fawaid, hal. 44)Subhanallah! Betapa tajam dan dalamnya nasihat ini. Beliau menyamakan kelalaian akan waktu dengan sebuah bahaya yang tingkatannya bahkan melebihi kematian. Mengapa bisa demikian?Kematian adalah kepastian, kelalaian adalah pilihanKematian adalah sesuatu yang pasti datangnya. Karena kematian adalah ajaibul ajal (peristiwa yang telah ditentukan) yang akan memutuskan setiap makhluk dari kehidupan dunianya, serta sebagai takdir yang harus dijalani. Namun, menyia-nyiakan waktu adalah pilihan. Sadar atau tidak, kita memalingkan amanah waktu dari pengisian yang benar. Berbuat dosa karena terlena adalah pilihan. Bermalas-malasan dari ibadah adalah pilihan. Inilah yang membuatnya sangat berbahaya karena kita akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihan kita tersebut.Allah Ta’ala telah memberikan kita akal dan hidayah untuk membedakan antara yang haq dan batil. Setiap detik yang berlalu, kita sebenarnya sedang membuat pilihan: memilih untuk taat atau maksiat, memilih untuk berzikir atau berlalu, memilih untuk menuntut ilmu atau menghabiskan waktu dengan hiburan yang melalaikan. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman,يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian semuanya melakukan dosa pada malam dan siang hari, padahal Aku Maha mengampuni dosa semuanya. Maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni kalian.” (HR. Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa pintu untuk memilih tobat dan mengisi waktu dengan kebaikan selalu terbuka lebar selama nyawa masih dikandung badan.Rasulullah ﷺ telah memperingatkan tentang dua nikmat yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)Kelalaian terhadap waktu adalah bentuk ketidaksyukuran kita terhadap nikmat Allah yang paling mendasar. Kita diberikan modal kehidupan, namun kita sia-siakan modal itu untuk hal-hal yang tidak menghasilkan ‘keuntungan’ untuk kehidupan abadi kita kelak. Betapa meruginya seorang pedagang yang menyia-nyiakan modal utamanya.Oleh karena itu, ketika ajal menjemput, tidak ada lagi pilihan. Saat itu, berakhir sudah semua kesempatan untuk beramal. Namun, selama jantung masih berdetak, pilihan untuk bertobat, berubah, dan memanfaatkan waktu dengan optimal masih sepenuhnya berada di tangan kita. Kelalaian adalah kezaliman kita terhadap diri sendiri karena menyia-nyiakan kesempatan emas yang Allah berikan.Dampak kelalaianKematian memutuskan kita dari dunia yang fana dan mengakhiri kesempatan kita untuk beramal. Sedangkan menyia-nyiakan waktu memutuskan hubungan kita dengan Allah dan akhirat selagi kita masih hidup dan memiliki kesempatan untuk berubah. Orang yang lalai akan waktunya, hatinya bisa menjadi keras, sulit menerima kebenaran, dan menjauh dari mengingat Allah. Ini adalah ‘kematian’ dalam kehidupan, kematian hati sebelum kematian jasad. Na’udzubillah min dzalik.Dampak dari kelalaian ini bersifat gradual dan seringkali tidak disadari. Seperti besi yang berkarat secara perlahan, hati yang tidak pernah dirawat dengan zikir dan ibadah akan menjadi kotor dan berkarat. Allah berfirman,كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Sekali-kali tidak! Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)Setiap kali kita memilih untuk melalaikan waktu, sekat antara kita dan Allah akan semakin menebal, membuat kita semakin sulit merasakan manisnya iman dan lezatnya ketaatan.Inilah yang disebut dengan ghaflah (lalai) dalam terminologi Al-Qur’an. Allah menggambarkan keadaan orang-orang yang lalai sebagai orang yang tidur, tetapi mata hati mereka tertutup sehingga tidak dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah. “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)…” (QS. Al-A’raf: 179). Mereka hidup, bernafas, dan beraktivitas, tetapi hakikatnya mereka telah ‘mati’ karena hati mereka tidak terhubung dengan Penciptanya.Oleh karenanya, kematian jasad hanya memindahkan seseorang dari satu keadaan kepada keadaan lain sesuai amalnya. Sedangkan kematian hati dalam kelalaian adalah sebuah kemunduran dan kehancuran yang terjadi di dunia, yang menjadi penyebab utama kesengsaraan di akhirat. Maka, berbahagialah orang yang selalu memeriksa hatinya dan menjaganya dari kelalaian dengan selalu mengingat Allah.Kematian vs. kelalaianBagi seorang muslim yang meninggal dalam ketaatan, kematian adalah pintu menuju kehidupan abadi yang penuh kenikmatan. Kematian justru menjadi persinggahan menuju surga. Sebaliknya, kelalaian dalam menghabiskan waktu adalah benih-benih yang akan menuai kesengsaraan, baik di dunia (gelisah, tidak berkah) maupun di akhirat (penyesalan dan azab).Kematian bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan yang sesungguhnya. Dunia hanyalah ladang amal, sedangkan akhirat adalah tempat menuai hasil dari apa yang kita tanam. Barang siapa yang mengisi waktunya dengan amal saleh, maka kematian menjadi perantara menuju kebahagiaan. Namun, siapa saja yang lalai, maka kematian menjadi awal dari penyesalan panjang yang tak berujung.Allah Ta’ala berfirman,حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ٱرْجِعُونِ . لَعَلِّيٓ أَعْمَلُ صَٰلِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّآ ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا ۖ وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ“(Demikianlah keadaan orang kafir) hingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Rabb-ku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)Ayat ini menegaskan bahwa penyesalan setelah kematian tidak akan bermanfaat. Kesempatan untuk beramal hanya ada di dunia. Maka, siapa saja yang menyia-nyiakan waktunya, seakan ia menunda kebahagiaan abadi dengan menukar waktunya untuk sesuatu yang fana.Sungguh indah ucapan para salaf, “Dunia adalah ladang akhirat.” Jika ladang ini tidak ditanami dengan amal saleh, maka ia akan gersang tanpa hasil. Sebaliknya, orang yang menabur amal baik akan memanen kebahagiaan di akhirat. Karena itu, setiap detik kehidupan adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan.Bentuk-bentuk menyia-nyiakan waktuMenyia-nyiakan waktu tidak hanya berarti duduk-duduk tanpa melakukan apa-apa. Perbuatan ini memiliki banyak wajah yang seringkali tersamarkan, bahkan dianggap sebagai hal yang normal:Banyak berbicara tanpa guna: Terlalu banyak obrolan duniawi, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), dan perkataan dusta.Bermain media sosial berlebihan: Scroll tanpa batas, melihat-lihat hal yang tidak bermanfaat, atau bahkan menjadi alat untuk riya’ dan pamer.Terlalu sibuk dengan urusan dunia: Bekerja memang ibadah, tetapi jika sampai melalaikan salat, menguras waktu untuk keluarga, atau lupa untuk berzikir, maka ia telah berubah menjadi kelalaian.Menunda-nunda amal kebaikan: “Nanti saja salatnya”; “besok saja sedekahnya”; “masih muda, tobatnya nanti saja.” Ini adalah jerat setan yang paling ampuh.Bergaul dengan orang-orang yang lalai: Berteman dengan orang yang tidak mengingatkan kita kepada Allah akan membuat kita terbawa dalam kubangan kelalaian.Bagaimana menyelamatkan diri dari bahaya ini?Rasulullah ﷺ telah memberikan kita panduan untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.Hiduplah dengan dua prinsip utama: iman dan amal salehAllah berfirman,وَالعَصرِ . إِنَّ الإِنسانَ لَفى خُسرٍ . إِلَّا الَّذينَ آمَنوا وَعَمِلُوا الصّالِحاتِ وَتَواصَوا بِالحَقِّ وَتَواصَوا بِالصَّبرِ“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1-3)Surah ini adalah pedoman hidup. Selamat dari kerugian hanya dengan empat syarat: iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.Manfaatkan lima kesempatan sebelum datang lima penghalangRasulullah ﷺ bersabda,اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim)Perbanyak zikir dan mengingat kematianSenantiasa mengingat Allah akan membuat hati hidup dan tidak lalai. Mengingat kematian akan memotivasi kita untuk tidak menunda-nunda amal kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan.” (HR. An-Nasa’i no. 1824, Tirmidzi no. 2307, Ibnu Majah no. 4258, dan Ahmad 2: 292)Buat agenda dan evaluasi diri (muhasabah)Sebagaimana para salafussalih, biasakan untuk mengevaluasi diri setiap hari. Apa yang telah dilakukan pagi, siang, dan sore? Untuk apa saja waktu dihabiskan? Allah berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…” (QS. Al-Hasyr: 18)Mari berubah, mulai dari sekarang!Saudaraku, waktu adalah kehidupan. Kehidupan kita hakikatnya adalah kumpulan dari detik, menit, dan jam yang kita lalui. Maka, membiarkan waktu berlalu tanpa makna sama saja dengan membiarkan kehidupan kita habis dengan sia-sia.Mari kita jadikan peringatan Ibnul Qayyim ini sebagai cambuk untuk bangkit. Jangan tunggu nanti, karena kita tidak tahu apakah nanti itu masih ada. Isilah waktu dengan tilawah Qur’an, salat sunah, menuntut ilmu, sedekah, silaturahim, dan semua amal yang mendekatkan diri kepada-Nya.Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur dengan memanfaatkan waktu untuk ketaatan, dan melindungi kita dari kelalaian yang membinasakan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam.Baca juga: Nikmat Waktu dalam Pandangan Seorang Muslim***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id
Daftar Isi ToggleKematian adalah kepastian, kelalaian adalah pilihanDampak kelalaianKematian vs. kelalaianBentuk-bentuk menyia-nyiakan waktuBagaimana menyelamatkan diri dari bahaya ini?Hiduplah dengan dua prinsip utama: iman dan amal salehManfaatkan lima kesempatan sebelum datang lima penghalangPerbanyak zikir dan mengingat kematianBuat agenda dan evaluasi diri (muhasabah)Mari berubah, mulai dari sekarang!Segala puji bagi Allah, Rabb yang mengatur malam dan siang sebagai tanda dan peringatan bagi hamba-hamba-Nya yang berfikir. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan dalam segala detik kebaikan, serta kepada keluarganya, sahabatnya, dan kita semua yang senantiasa berusaha meneladaninya.Saudaraku seiman, dalam hiruk-pikuk dunia yang serba cepat ini, waktu terasa berlalu begitu saja. Hari berganti hari, pekan berganti pekan, tanpa terasa usia kita pun bertambah. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan merenungi: untuk apa saja waktu yang telah berlalu itu digunakan? Apakah untuk hal-hal yang mendatangkan rida-Nya atau justru untuk kelalaian yang menjerumuskan?Sebuah peringatan sangat keras dan mendalam disampaikan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah. Beliau berkata,إضاعةُ الوقت أشدُّ من الموت ؛ لأنَّ إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة، والموتُ يقطعك عن الدنيا وأهلها“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya.” (Al-Fawaid, hal. 44)Subhanallah! Betapa tajam dan dalamnya nasihat ini. Beliau menyamakan kelalaian akan waktu dengan sebuah bahaya yang tingkatannya bahkan melebihi kematian. Mengapa bisa demikian?Kematian adalah kepastian, kelalaian adalah pilihanKematian adalah sesuatu yang pasti datangnya. Karena kematian adalah ajaibul ajal (peristiwa yang telah ditentukan) yang akan memutuskan setiap makhluk dari kehidupan dunianya, serta sebagai takdir yang harus dijalani. Namun, menyia-nyiakan waktu adalah pilihan. Sadar atau tidak, kita memalingkan amanah waktu dari pengisian yang benar. Berbuat dosa karena terlena adalah pilihan. Bermalas-malasan dari ibadah adalah pilihan. Inilah yang membuatnya sangat berbahaya karena kita akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihan kita tersebut.Allah Ta’ala telah memberikan kita akal dan hidayah untuk membedakan antara yang haq dan batil. Setiap detik yang berlalu, kita sebenarnya sedang membuat pilihan: memilih untuk taat atau maksiat, memilih untuk berzikir atau berlalu, memilih untuk menuntut ilmu atau menghabiskan waktu dengan hiburan yang melalaikan. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman,يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian semuanya melakukan dosa pada malam dan siang hari, padahal Aku Maha mengampuni dosa semuanya. Maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni kalian.” (HR. Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa pintu untuk memilih tobat dan mengisi waktu dengan kebaikan selalu terbuka lebar selama nyawa masih dikandung badan.Rasulullah ﷺ telah memperingatkan tentang dua nikmat yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)Kelalaian terhadap waktu adalah bentuk ketidaksyukuran kita terhadap nikmat Allah yang paling mendasar. Kita diberikan modal kehidupan, namun kita sia-siakan modal itu untuk hal-hal yang tidak menghasilkan ‘keuntungan’ untuk kehidupan abadi kita kelak. Betapa meruginya seorang pedagang yang menyia-nyiakan modal utamanya.Oleh karena itu, ketika ajal menjemput, tidak ada lagi pilihan. Saat itu, berakhir sudah semua kesempatan untuk beramal. Namun, selama jantung masih berdetak, pilihan untuk bertobat, berubah, dan memanfaatkan waktu dengan optimal masih sepenuhnya berada di tangan kita. Kelalaian adalah kezaliman kita terhadap diri sendiri karena menyia-nyiakan kesempatan emas yang Allah berikan.Dampak kelalaianKematian memutuskan kita dari dunia yang fana dan mengakhiri kesempatan kita untuk beramal. Sedangkan menyia-nyiakan waktu memutuskan hubungan kita dengan Allah dan akhirat selagi kita masih hidup dan memiliki kesempatan untuk berubah. Orang yang lalai akan waktunya, hatinya bisa menjadi keras, sulit menerima kebenaran, dan menjauh dari mengingat Allah. Ini adalah ‘kematian’ dalam kehidupan, kematian hati sebelum kematian jasad. Na’udzubillah min dzalik.Dampak dari kelalaian ini bersifat gradual dan seringkali tidak disadari. Seperti besi yang berkarat secara perlahan, hati yang tidak pernah dirawat dengan zikir dan ibadah akan menjadi kotor dan berkarat. Allah berfirman,كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Sekali-kali tidak! Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)Setiap kali kita memilih untuk melalaikan waktu, sekat antara kita dan Allah akan semakin menebal, membuat kita semakin sulit merasakan manisnya iman dan lezatnya ketaatan.Inilah yang disebut dengan ghaflah (lalai) dalam terminologi Al-Qur’an. Allah menggambarkan keadaan orang-orang yang lalai sebagai orang yang tidur, tetapi mata hati mereka tertutup sehingga tidak dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah. “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)…” (QS. Al-A’raf: 179). Mereka hidup, bernafas, dan beraktivitas, tetapi hakikatnya mereka telah ‘mati’ karena hati mereka tidak terhubung dengan Penciptanya.Oleh karenanya, kematian jasad hanya memindahkan seseorang dari satu keadaan kepada keadaan lain sesuai amalnya. Sedangkan kematian hati dalam kelalaian adalah sebuah kemunduran dan kehancuran yang terjadi di dunia, yang menjadi penyebab utama kesengsaraan di akhirat. Maka, berbahagialah orang yang selalu memeriksa hatinya dan menjaganya dari kelalaian dengan selalu mengingat Allah.Kematian vs. kelalaianBagi seorang muslim yang meninggal dalam ketaatan, kematian adalah pintu menuju kehidupan abadi yang penuh kenikmatan. Kematian justru menjadi persinggahan menuju surga. Sebaliknya, kelalaian dalam menghabiskan waktu adalah benih-benih yang akan menuai kesengsaraan, baik di dunia (gelisah, tidak berkah) maupun di akhirat (penyesalan dan azab).Kematian bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan yang sesungguhnya. Dunia hanyalah ladang amal, sedangkan akhirat adalah tempat menuai hasil dari apa yang kita tanam. Barang siapa yang mengisi waktunya dengan amal saleh, maka kematian menjadi perantara menuju kebahagiaan. Namun, siapa saja yang lalai, maka kematian menjadi awal dari penyesalan panjang yang tak berujung.Allah Ta’ala berfirman,حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ٱرْجِعُونِ . لَعَلِّيٓ أَعْمَلُ صَٰلِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّآ ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا ۖ وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ“(Demikianlah keadaan orang kafir) hingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Rabb-ku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)Ayat ini menegaskan bahwa penyesalan setelah kematian tidak akan bermanfaat. Kesempatan untuk beramal hanya ada di dunia. Maka, siapa saja yang menyia-nyiakan waktunya, seakan ia menunda kebahagiaan abadi dengan menukar waktunya untuk sesuatu yang fana.Sungguh indah ucapan para salaf, “Dunia adalah ladang akhirat.” Jika ladang ini tidak ditanami dengan amal saleh, maka ia akan gersang tanpa hasil. Sebaliknya, orang yang menabur amal baik akan memanen kebahagiaan di akhirat. Karena itu, setiap detik kehidupan adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan.Bentuk-bentuk menyia-nyiakan waktuMenyia-nyiakan waktu tidak hanya berarti duduk-duduk tanpa melakukan apa-apa. Perbuatan ini memiliki banyak wajah yang seringkali tersamarkan, bahkan dianggap sebagai hal yang normal:Banyak berbicara tanpa guna: Terlalu banyak obrolan duniawi, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), dan perkataan dusta.Bermain media sosial berlebihan: Scroll tanpa batas, melihat-lihat hal yang tidak bermanfaat, atau bahkan menjadi alat untuk riya’ dan pamer.Terlalu sibuk dengan urusan dunia: Bekerja memang ibadah, tetapi jika sampai melalaikan salat, menguras waktu untuk keluarga, atau lupa untuk berzikir, maka ia telah berubah menjadi kelalaian.Menunda-nunda amal kebaikan: “Nanti saja salatnya”; “besok saja sedekahnya”; “masih muda, tobatnya nanti saja.” Ini adalah jerat setan yang paling ampuh.Bergaul dengan orang-orang yang lalai: Berteman dengan orang yang tidak mengingatkan kita kepada Allah akan membuat kita terbawa dalam kubangan kelalaian.Bagaimana menyelamatkan diri dari bahaya ini?Rasulullah ﷺ telah memberikan kita panduan untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.Hiduplah dengan dua prinsip utama: iman dan amal salehAllah berfirman,وَالعَصرِ . إِنَّ الإِنسانَ لَفى خُسرٍ . إِلَّا الَّذينَ آمَنوا وَعَمِلُوا الصّالِحاتِ وَتَواصَوا بِالحَقِّ وَتَواصَوا بِالصَّبرِ“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1-3)Surah ini adalah pedoman hidup. Selamat dari kerugian hanya dengan empat syarat: iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.Manfaatkan lima kesempatan sebelum datang lima penghalangRasulullah ﷺ bersabda,اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim)Perbanyak zikir dan mengingat kematianSenantiasa mengingat Allah akan membuat hati hidup dan tidak lalai. Mengingat kematian akan memotivasi kita untuk tidak menunda-nunda amal kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan.” (HR. An-Nasa’i no. 1824, Tirmidzi no. 2307, Ibnu Majah no. 4258, dan Ahmad 2: 292)Buat agenda dan evaluasi diri (muhasabah)Sebagaimana para salafussalih, biasakan untuk mengevaluasi diri setiap hari. Apa yang telah dilakukan pagi, siang, dan sore? Untuk apa saja waktu dihabiskan? Allah berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…” (QS. Al-Hasyr: 18)Mari berubah, mulai dari sekarang!Saudaraku, waktu adalah kehidupan. Kehidupan kita hakikatnya adalah kumpulan dari detik, menit, dan jam yang kita lalui. Maka, membiarkan waktu berlalu tanpa makna sama saja dengan membiarkan kehidupan kita habis dengan sia-sia.Mari kita jadikan peringatan Ibnul Qayyim ini sebagai cambuk untuk bangkit. Jangan tunggu nanti, karena kita tidak tahu apakah nanti itu masih ada. Isilah waktu dengan tilawah Qur’an, salat sunah, menuntut ilmu, sedekah, silaturahim, dan semua amal yang mendekatkan diri kepada-Nya.Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur dengan memanfaatkan waktu untuk ketaatan, dan melindungi kita dari kelalaian yang membinasakan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam.Baca juga: Nikmat Waktu dalam Pandangan Seorang Muslim***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id


Daftar Isi ToggleKematian adalah kepastian, kelalaian adalah pilihanDampak kelalaianKematian vs. kelalaianBentuk-bentuk menyia-nyiakan waktuBagaimana menyelamatkan diri dari bahaya ini?Hiduplah dengan dua prinsip utama: iman dan amal salehManfaatkan lima kesempatan sebelum datang lima penghalangPerbanyak zikir dan mengingat kematianBuat agenda dan evaluasi diri (muhasabah)Mari berubah, mulai dari sekarang!Segala puji bagi Allah, Rabb yang mengatur malam dan siang sebagai tanda dan peringatan bagi hamba-hamba-Nya yang berfikir. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan dalam segala detik kebaikan, serta kepada keluarganya, sahabatnya, dan kita semua yang senantiasa berusaha meneladaninya.Saudaraku seiman, dalam hiruk-pikuk dunia yang serba cepat ini, waktu terasa berlalu begitu saja. Hari berganti hari, pekan berganti pekan, tanpa terasa usia kita pun bertambah. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan merenungi: untuk apa saja waktu yang telah berlalu itu digunakan? Apakah untuk hal-hal yang mendatangkan rida-Nya atau justru untuk kelalaian yang menjerumuskan?Sebuah peringatan sangat keras dan mendalam disampaikan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah. Beliau berkata,إضاعةُ الوقت أشدُّ من الموت ؛ لأنَّ إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة، والموتُ يقطعك عن الدنيا وأهلها“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya.” (Al-Fawaid, hal. 44)Subhanallah! Betapa tajam dan dalamnya nasihat ini. Beliau menyamakan kelalaian akan waktu dengan sebuah bahaya yang tingkatannya bahkan melebihi kematian. Mengapa bisa demikian?Kematian adalah kepastian, kelalaian adalah pilihanKematian adalah sesuatu yang pasti datangnya. Karena kematian adalah ajaibul ajal (peristiwa yang telah ditentukan) yang akan memutuskan setiap makhluk dari kehidupan dunianya, serta sebagai takdir yang harus dijalani. Namun, menyia-nyiakan waktu adalah pilihan. Sadar atau tidak, kita memalingkan amanah waktu dari pengisian yang benar. Berbuat dosa karena terlena adalah pilihan. Bermalas-malasan dari ibadah adalah pilihan. Inilah yang membuatnya sangat berbahaya karena kita akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihan kita tersebut.Allah Ta’ala telah memberikan kita akal dan hidayah untuk membedakan antara yang haq dan batil. Setiap detik yang berlalu, kita sebenarnya sedang membuat pilihan: memilih untuk taat atau maksiat, memilih untuk berzikir atau berlalu, memilih untuk menuntut ilmu atau menghabiskan waktu dengan hiburan yang melalaikan. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman,يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian semuanya melakukan dosa pada malam dan siang hari, padahal Aku Maha mengampuni dosa semuanya. Maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni kalian.” (HR. Muslim)Hadis ini menunjukkan bahwa pintu untuk memilih tobat dan mengisi waktu dengan kebaikan selalu terbuka lebar selama nyawa masih dikandung badan.Rasulullah ﷺ telah memperingatkan tentang dua nikmat yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)Kelalaian terhadap waktu adalah bentuk ketidaksyukuran kita terhadap nikmat Allah yang paling mendasar. Kita diberikan modal kehidupan, namun kita sia-siakan modal itu untuk hal-hal yang tidak menghasilkan ‘keuntungan’ untuk kehidupan abadi kita kelak. Betapa meruginya seorang pedagang yang menyia-nyiakan modal utamanya.Oleh karena itu, ketika ajal menjemput, tidak ada lagi pilihan. Saat itu, berakhir sudah semua kesempatan untuk beramal. Namun, selama jantung masih berdetak, pilihan untuk bertobat, berubah, dan memanfaatkan waktu dengan optimal masih sepenuhnya berada di tangan kita. Kelalaian adalah kezaliman kita terhadap diri sendiri karena menyia-nyiakan kesempatan emas yang Allah berikan.Dampak kelalaianKematian memutuskan kita dari dunia yang fana dan mengakhiri kesempatan kita untuk beramal. Sedangkan menyia-nyiakan waktu memutuskan hubungan kita dengan Allah dan akhirat selagi kita masih hidup dan memiliki kesempatan untuk berubah. Orang yang lalai akan waktunya, hatinya bisa menjadi keras, sulit menerima kebenaran, dan menjauh dari mengingat Allah. Ini adalah ‘kematian’ dalam kehidupan, kematian hati sebelum kematian jasad. Na’udzubillah min dzalik.Dampak dari kelalaian ini bersifat gradual dan seringkali tidak disadari. Seperti besi yang berkarat secara perlahan, hati yang tidak pernah dirawat dengan zikir dan ibadah akan menjadi kotor dan berkarat. Allah berfirman,كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ“Sekali-kali tidak! Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)Setiap kali kita memilih untuk melalaikan waktu, sekat antara kita dan Allah akan semakin menebal, membuat kita semakin sulit merasakan manisnya iman dan lezatnya ketaatan.Inilah yang disebut dengan ghaflah (lalai) dalam terminologi Al-Qur’an. Allah menggambarkan keadaan orang-orang yang lalai sebagai orang yang tidur, tetapi mata hati mereka tertutup sehingga tidak dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah. “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)…” (QS. Al-A’raf: 179). Mereka hidup, bernafas, dan beraktivitas, tetapi hakikatnya mereka telah ‘mati’ karena hati mereka tidak terhubung dengan Penciptanya.Oleh karenanya, kematian jasad hanya memindahkan seseorang dari satu keadaan kepada keadaan lain sesuai amalnya. Sedangkan kematian hati dalam kelalaian adalah sebuah kemunduran dan kehancuran yang terjadi di dunia, yang menjadi penyebab utama kesengsaraan di akhirat. Maka, berbahagialah orang yang selalu memeriksa hatinya dan menjaganya dari kelalaian dengan selalu mengingat Allah.Kematian vs. kelalaianBagi seorang muslim yang meninggal dalam ketaatan, kematian adalah pintu menuju kehidupan abadi yang penuh kenikmatan. Kematian justru menjadi persinggahan menuju surga. Sebaliknya, kelalaian dalam menghabiskan waktu adalah benih-benih yang akan menuai kesengsaraan, baik di dunia (gelisah, tidak berkah) maupun di akhirat (penyesalan dan azab).Kematian bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan yang sesungguhnya. Dunia hanyalah ladang amal, sedangkan akhirat adalah tempat menuai hasil dari apa yang kita tanam. Barang siapa yang mengisi waktunya dengan amal saleh, maka kematian menjadi perantara menuju kebahagiaan. Namun, siapa saja yang lalai, maka kematian menjadi awal dari penyesalan panjang yang tak berujung.Allah Ta’ala berfirman,حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ٱرْجِعُونِ . لَعَلِّيٓ أَعْمَلُ صَٰلِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّآ ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا ۖ وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ“(Demikianlah keadaan orang kafir) hingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Rabb-ku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)Ayat ini menegaskan bahwa penyesalan setelah kematian tidak akan bermanfaat. Kesempatan untuk beramal hanya ada di dunia. Maka, siapa saja yang menyia-nyiakan waktunya, seakan ia menunda kebahagiaan abadi dengan menukar waktunya untuk sesuatu yang fana.Sungguh indah ucapan para salaf, “Dunia adalah ladang akhirat.” Jika ladang ini tidak ditanami dengan amal saleh, maka ia akan gersang tanpa hasil. Sebaliknya, orang yang menabur amal baik akan memanen kebahagiaan di akhirat. Karena itu, setiap detik kehidupan adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan.Bentuk-bentuk menyia-nyiakan waktuMenyia-nyiakan waktu tidak hanya berarti duduk-duduk tanpa melakukan apa-apa. Perbuatan ini memiliki banyak wajah yang seringkali tersamarkan, bahkan dianggap sebagai hal yang normal:Banyak berbicara tanpa guna: Terlalu banyak obrolan duniawi, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), dan perkataan dusta.Bermain media sosial berlebihan: Scroll tanpa batas, melihat-lihat hal yang tidak bermanfaat, atau bahkan menjadi alat untuk riya’ dan pamer.Terlalu sibuk dengan urusan dunia: Bekerja memang ibadah, tetapi jika sampai melalaikan salat, menguras waktu untuk keluarga, atau lupa untuk berzikir, maka ia telah berubah menjadi kelalaian.Menunda-nunda amal kebaikan: “Nanti saja salatnya”; “besok saja sedekahnya”; “masih muda, tobatnya nanti saja.” Ini adalah jerat setan yang paling ampuh.Bergaul dengan orang-orang yang lalai: Berteman dengan orang yang tidak mengingatkan kita kepada Allah akan membuat kita terbawa dalam kubangan kelalaian.Bagaimana menyelamatkan diri dari bahaya ini?Rasulullah ﷺ telah memberikan kita panduan untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.Hiduplah dengan dua prinsip utama: iman dan amal salehAllah berfirman,وَالعَصرِ . إِنَّ الإِنسانَ لَفى خُسرٍ . إِلَّا الَّذينَ آمَنوا وَعَمِلُوا الصّالِحاتِ وَتَواصَوا بِالحَقِّ وَتَواصَوا بِالصَّبرِ“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1-3)Surah ini adalah pedoman hidup. Selamat dari kerugian hanya dengan empat syarat: iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.Manfaatkan lima kesempatan sebelum datang lima penghalangRasulullah ﷺ bersabda,اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim)Perbanyak zikir dan mengingat kematianSenantiasa mengingat Allah akan membuat hati hidup dan tidak lalai. Mengingat kematian akan memotivasi kita untuk tidak menunda-nunda amal kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan.” (HR. An-Nasa’i no. 1824, Tirmidzi no. 2307, Ibnu Majah no. 4258, dan Ahmad 2: 292)Buat agenda dan evaluasi diri (muhasabah)Sebagaimana para salafussalih, biasakan untuk mengevaluasi diri setiap hari. Apa yang telah dilakukan pagi, siang, dan sore? Untuk apa saja waktu dihabiskan? Allah berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…” (QS. Al-Hasyr: 18)Mari berubah, mulai dari sekarang!Saudaraku, waktu adalah kehidupan. Kehidupan kita hakikatnya adalah kumpulan dari detik, menit, dan jam yang kita lalui. Maka, membiarkan waktu berlalu tanpa makna sama saja dengan membiarkan kehidupan kita habis dengan sia-sia.Mari kita jadikan peringatan Ibnul Qayyim ini sebagai cambuk untuk bangkit. Jangan tunggu nanti, karena kita tidak tahu apakah nanti itu masih ada. Isilah waktu dengan tilawah Qur’an, salat sunah, menuntut ilmu, sedekah, silaturahim, dan semua amal yang mendekatkan diri kepada-Nya.Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur dengan memanfaatkan waktu untuk ketaatan, dan melindungi kita dari kelalaian yang membinasakan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam.Baca juga: Nikmat Waktu dalam Pandangan Seorang Muslim***Penulis: Fauzan HidayatArtikel Muslim.or.id

Dan siapa yang Dapat Mengampuni Dosa-Dosa Selain Allah?

وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ Oleh: Fatimah Al-Amir فاطمة الأمير قد تحدِّثك نفسك بأن الذنوب كثيرة، والأخطاء عظيمة، وتبدأ نفسك بالتردد في الدخول إلى عالم التوبة، وتشرد فيما فعلت من الذنوب فيما مضى، وكيف لم تترك من المعاصي شيئًا إلا وقد فعلتَه، فتبدأ الذكريات تقضُّ مضجعَك، وتؤرِّق نومك، وتنغِّص حياتك، ويتسلل الشيطان إلى نفسك، فيوهمك أنه لا توبة لك بعد كل ما اقترفت سابقًا من الزلات والهفوات. فتتذكر كيف مضت السنون من حياتك متسربة من بين يديك؛ فتبكي وتتحسر وفي ذلك صدق التوبة، ثم تتساءل: هل يغفر الله لي؟ هل أضمن قبول توبتي إن تبت إلى الله؟ أقول لكم: إخوتي إن لنا ربًّا يغفر ويمحو الذنوب، وقد سبقت رحمته وعفوه غضبه، فلماذا نشكك في قبول توبتنا؟ ولنتأمل هذه الآية الكريمة: ﴿ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ﴾ [الأعراف: 156]. Mungkin hatimu pernah bergumam kepadamu bahwa dosa-dosamu sangat banyak dan kesalahan-kesalahanmu amat besar. Lalu hatimu mulai ragu untuk memasuki alam pertobatan, mengenang dosa-dosa yang telah ia kerjakan di masa lampau, dan bagaimana kamu tidak membiarkan satupun kemaksiatan kecuali kamu kerjakan. Ingatan-ingatan itu mulai mengusik tempat tidurmu, mengganggu tidurmu, dan memperkeruh hidupmu, serta setan mulai menyusup ke dalam dirimu untuk membuatmu mengira bahwa tidak ada lagi tobat bagimu setelah segala kesalahan dan dosa yang telah kamu perbuat. Kemudian kamu teringat bagaimana tahun demi tahun kehidupanmu menyusup di hadapanmu, sehingga kamu menangis dan menyesal. Ketika itulah datang keinginan tulus untuk bertobat, lalu kamu bertanya-tanya, “Apakah Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengampuniku? Apakah aku dapat menjamin tobatku dapat diterima jika aku bertobat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala?” Saya katakan kepada kalian: Wahai saudara-saudaraku! Kita memiliki Tuhan Yang Maha Mengampuni dan Menghapus dosa-dosa. Rahmat dan ampunan-Nya melebihi kemurkaan-Nya. Mengapa kita ragu terhadap penerimaan tobat kita? Marilah kita menghayati ayat yang mulia ini: وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’raf: 156). إلى كل من استصعب مغفرة الذنوب وقبول التوبة: أبواب الله مفتوحة متى طرقتها أنت، ولكن تجنَّب أن تشترط على الله في قبول المغفرة؛ كأن تقول: سأتوب إن غفر الله لي، وانظروا إلى رواية إسلام عمرو بن العاص يقول: “فلما جعل الله الإسلام في قلبي، أتيت النبي صلى الله عليه وسلم وقلت: ابسط يمينك فلأبايعك، فبسط يمينة فقبضت يدي، قال: مالك يا عمرو؟ قال: قلت: أردت أن اشترط؟ قال: تشترط بماذا؟ قلت: أن يغفر لي، قال: أما علمت يا عمرو أن الإسلام يهدِم ما قبله، وأن الهجرة تهدم ما كانت قبلها، وأن الحج يهدم ما كان قبله؟. Bagi setiap orang yang merasa sulit menggapai ampunan atas dosa-dosa dan penerimaan tobatnya: Pintu-pintu Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa terbuka setiap kali kamu mengetuknya. Namun, jangan sampai kamu menetapkan syarat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menerima tobatmu, seakan-akan kamu berkata, “Aku akan bertobat, asalkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuniku.” Perhatikanlah kisah keislaman Amru bin Al-Ash yang dia ceritakan sendiri, “Ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menetapkan Islam dalam hatiku, aku segera mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan berkata, ‘Tolong julurkanlah tangan engkau, karena sungguh aku akan berbaiat kepada engkau.’ Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pun menjulurkan tangan kanan beliau lalu menggenggam tanganku. Lalu beliau bertanya, ‘Ada apa denganmu, wahai Amru?’ Aku menjawab, ‘Aku ingin menetapkan syarat.’ Beliau bertanya lagi, ‘Syarat apa?’ Aku menjawab, ‘Syarat bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala harus mengampuniku.’ Beliau lalu bersabda, ‘Tidakkah kamu mengetahui, wahai Amru! Bahwa masuk Islam akan menggugurkan dosa yang ada sebelumnya, dan hijrah juga akan menggugurkan dosa yang ada sebelumnya, serta haji juga akan menggugurkan dosa yang ada sebelumnya?’” ولو تأملنا هذه الرواية لزال ما في النفس من تساؤلات، وخلا القلب من تسلُّلات الشيطان؛ لأن معنى التواب أنه غافر الذنوب جميعها متى طرقت أبوابه، فلا يجوز الاشتراط على صاحب الكرم والجود والعطاء: ﴿ قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴾ [الزمر: 53]. Seandainya kita memperhatikan dengan baik kisah ini, niscaya pertanyaan-pertanyaan itu akan hilang dari dalam diri, dan hembusan-hembusan keraguan dari setan akan sirna dari hati, karena makna dari Maha Penerima Tobat yakni mengampuni seluruh dosa, selagi pintu-pintu tobat-Nya diketuk. Oleh sebab itu, tidak boleh ada pengajuan syarat terhadap Yang Maha Pemurah, Maha Dermawan, dan Maha Pemberi.  قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53). انظروا إلى رحمة الله عز وجل: ﴿ لَا تَقْنَطُـوا مِن رَحْمَةِ اللهِ ﴾؛ أي: يا أيتها الأنفس، لا تيئَسوا ولا تحزنوا، فتلقوا بأيديكم إلى التهلكة، وتقولوا: قد كثُرت ذنوبنا، وتراكمت عيوبنا، فليس لها طريق ولا سبيل، فتبقى القلوب بسبب ذلك مُصرة على العصيان، سالكة دروب الضلال، متزودة بكل معاني الغفلة والكسل، ولكن اعلموا أن ربكم يغفـر الذنوب جميعًا من الشرك، والقتل والزنا والربا والظلم، وغير ذلك من الذنوب، ولهذا كانت من أسمائه أنه التواب؛ فانفُض الشك في قبولها، وأقبل تُفتحْ لك أبواب الخير والتوبة متى طرقتها. Lihatlah bagaimana rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Janganlah berputus asa dari rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.” Yakni, wahai manusia! Janganlah kalian berputus asa dan bersedih sehingga membuat kalian menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan, dan mengucapkan, “Sungguh dosa-dosa kita amat banyak dan keburukan-keburukan kita sudah menggunung!” Sehingga diri kalian merasa tidak punya lagi jalan keluar, lalu karena hal itu, hati kalian terus melakukan kemaksiatan, menempuh jalan kesesatan, dan menambah segala bentuk kelalaian dan kelengahan. Namun, justru ketahuilah bahwa Tuhan kalian Maha Mengampuni segala dosa, baik itu berupa dosa kesyirikan, pembunuhan, zina, riba, kezaliman, dan dosa-dosa lainnya. Oleh sebab itulah, salah satu nama-Nya adalah “At-Tawwab”, Maha Penerima Tobat. Jadi, tepislah segala keraguan terhadap penerimaan tobat, dan menghadaplah kepada-Nya niscaya dibukakan bagimu pintu-pintu kebaikan dan tobat, selagi kamu mengetuknya. أما الإحساس الذي قد يداخلك، فإنه نابع من عدم يقين النفس بسعة رحمة الخالق، ونقص في الإيمان، وضعف بداخل القلوب ووساوس من الشيطان أن الله لن يغفر لك! فاطُرد كل هؤلاء، واستعذ بالله، وانطلق لتنعم بركاب التوبة، ومغفرة الذنوب جميعها. Adapun perasaan ragu yang terkadang muncul dalam dirimu, maka itu berasal dari ketidakyakinan diri terhadap luasnya rahmat Sang Pencipta, kurangnya iman, dan kelemahan yang ada dalam hati serta bisikan dari setan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan mengampunimu! Oleh sebab itu, usirlah itu semua, mohonlah pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan bangkitlah agar kamu dapat menikmati pertobatan dan ampunan segala dosa. إذًا فلتنظر إلى نفسك، فإن رأيت روحَك وقد صعدت وأبحرتْ في سفينة التوبة، وبدأت تتصارع عليك الأفكار والهواجس كأمواج البحار التي تعصف بالسفينة وركابها تارةً إلى اليمين، وتارةً أخرى إلى اليسار، فبنت تلك الأفكار حاجزًا عاليًا تقول لك: لن تُغفر ذنوبك، ولن تُقبل توبتك، حينها ينتابك الفزع والهلع، وتشعر بغصة تخنق روحك، وتنزل تلك اللآلئ الصغيرة، وتُرفع تلك العيون الذابلة والقلوب المستجيرة، ولم تنطق إلا بكلمة واحدة: يا رب. تنطقها بكل جوارحك ويهتز لها جميعُ جسدك؛ فتشعر بصداها وصدقها، وكأن الكون كله يصرخ معك، ويمر أمام عينك شريط من الذكريات يعرض عليك كلَّ أخطائك وتقصيرك، بدايةً من ترك الصلاة، وهجر القرآن، وترك الفرائض والسُّنن، ومرورًا بفعل الصغائر والكبائر من الذنوب، فتهلع أكثر وتتساءل أكثر: هل يغفر الله لي؟ Jadi, lihatlah dirimu sendiri! Ketika kamu mendapati ruhmu telah berlayar di atas bahtera pertobatan, lalu pikiran-pikiran dan bisikan-bisikan buruk mulai mengamuk bagaikan deburan ombak yang mengombang-ambingkan bahtera dan penumpangnya ke kiri dan ke kanan, sehingga pikiran-pikiran itu mulai menjadi tembok pemisah yang tinggi, “Dosamu tidak akan diampuni! Tobatmu tidak akan diterima!” Ketika itu, ketakutan dan kekhawatiran silih berganti menyudutkanmu dan kamu merasakan sesuatu mencekik ruhmu. Namun, butir-butir harapan mulai turun, mengangkat kembali mata yang sayu dan hati yang berharap pertolongan, yang kamu ucapkan hanya kalimat, “Ya Tuhanku!” Kamu mengucapkannya sepenuh jiwa dan raga dan seluruh tubuhmu bergetar olehnya, sehingga kamu merasakan getaran dan ketulusannya, seakan-akan alam semesta ikut berseru bersamamu. Lalu di depan matamu terlintas rekaman ingatan-ingatan tentang segala kesalahan dan kelalaianmu, mulai dari meninggalkan shalat, mengabaikan Al-Qur’an, melupakan amal-amal wajib dan sunnah, hingga segala dosa kecil dan besar. Kamu kemudian semakin bertanya-tanya, “Apakah Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengampuniku?” فما هي إلا لحظات حتى يَمُن الله عليك، وتملأ رُوحك السكينةُ، وتبدأ علامات قبول التوبة في الظهور، فيطمئن قلبك بعدما تداخلت به الظنون أن الله لن يغفر لك، فتشعر أن الكون بكل ما فيه مسخر لتنعم بركاب التائبين. Tidak lama setelah itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala melimpahkan karunia kepadamu, memenuhi jiwamu dengan ketenangan, dan tanda-tanda penerimaan tobatmu mulai terlihat, sehingga hatimu menjadi damai, yang sebelumnya penuh dengan prasangka bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan mengampunimu, kemudian kamu merasa bahwa alam semesta dengan segala yang ada di dalamnya bergerak agar menuntunmu bergabung bersama kafilah orang-orang yang bertobat. أقبل ولا تخِف، أبحر ولا تتردَّد، اطرق يُفتحْ لك، هروِل يُستجاب لك، لماذا؟! لأنه الله، لأنه التواب، لأنه الغفور؛ عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: سمعتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (قال اللهُ تعالى: يا بنَ آدَم، إِنَّك ما دَعَوتَني ورَجَوتَني غَفَرتُ لِكَ على ما كان منكَ ولا أُبالي، يا بن آدَمَ لو بَلَغَت ذُنوبُك عَنَانَ السَّماءِ ثمَّ استَغفرَتَنِي غَفَرتُ لَكَ، يا بنَ آدَمَ إنك لو أتَيتَنِي بقُرابِ الأرضِ خَطَايَا ثم لقِيتنِي لا تُشرِكُ بي شَيئًا لأتَيتُكَ بقُرابها مغفِرة)؛ رواه الترمذي، وقال: حديث حسن صحيح. Datanglah dan jangan takut! Berlayarlah dan jangan ragu! Ketuklah pasti akan dibukakan untukmu! Bersegeralah niscaya kamu akan disambut! Mengapa demikian? Karena Dia adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Dia Maha Penerima Tobat, karena Dia Maha Pengampun. Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: قال اللهُ تعالى: يا بنَ آدَم، إِنَّك ما دَعَوتَني ورَجَوتَني غَفَرتُ لِكَ على ما كان منكَ ولا أُبالي، يا بن آدَمَ لو بَلَغَت ذُنوبُك عَنَانَ السَّماءِ ثمَّ استَغفرَتَنِي غَفَرتُ لَكَ، يا بنَ آدَمَ إنك لو أتَيتَنِي بقُرابِ الأرضِ خَطَايَا ثم لقِيتنِي لا تُشرِكُ بي شَيئًا لأتَيتُكَ بقُرابها مغفِرة  “Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘Wahai anak Adam! Sesungguhnya tidaklah kamu berdoa dan berharap kepadaku, melainkan Aku akan mengampunimu atas segala dosa darimu tanpa Aku pedulikan! Wahai anak Adam! Seandainya dosamu mencapai awan di langit, lalu kamu memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu! Wahai anak Adam! Sungguh seandainya kamu datang kepada-Ku membawa dosa-dosa sepenuh bumi, tapi kamu menemuiku tanpa menyekutukan-Ku dengan apapun, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.’” (HR. At-Tirmidzi, dan ia mengatakan, “Hadis ini hasan sahih”). فما خاب عبد طرَق أبواب الله مستجيرًا به إلا وقد عفا عنه مهما بلغت خطاياه، واعلم أن لكل عبد سفينة لن تُبحر بدونه مهما طال بك الوقت، فإن فاتتك تلك فابحثْ عن الأخرى، فإنها تنتظرك بشوق فلا تجعلها تبحر بدونك. Tidak ada seorang hamba yang mengetuk pintu-pintu Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan mengharap pertolongan-Nya, melainkan Dia akan mengampuninya, sebesar apa pun dosa-dosanya. Ketahuilah bahwa setiap hamba punya bahtera yang tidak akan berlayar tanpa dirinya, selama apa pun ia harus menunggu. Apabila bahtera itu meninggalkanmu, maka carilah bahtera berikutnya, karena ia akan terus menunggumu dengan penuh kerinduan, maka jangan biarkan ia berlayar tanpamu. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/135271/ومن-يغفر-الذنوب-إلا-الله/ومنيغفرالذنوبإلاالله/ Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 131 times, 1 visit(s) today Post Views: 227 QRIS donasi Yufid

Dan siapa yang Dapat Mengampuni Dosa-Dosa Selain Allah?

وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ Oleh: Fatimah Al-Amir فاطمة الأمير قد تحدِّثك نفسك بأن الذنوب كثيرة، والأخطاء عظيمة، وتبدأ نفسك بالتردد في الدخول إلى عالم التوبة، وتشرد فيما فعلت من الذنوب فيما مضى، وكيف لم تترك من المعاصي شيئًا إلا وقد فعلتَه، فتبدأ الذكريات تقضُّ مضجعَك، وتؤرِّق نومك، وتنغِّص حياتك، ويتسلل الشيطان إلى نفسك، فيوهمك أنه لا توبة لك بعد كل ما اقترفت سابقًا من الزلات والهفوات. فتتذكر كيف مضت السنون من حياتك متسربة من بين يديك؛ فتبكي وتتحسر وفي ذلك صدق التوبة، ثم تتساءل: هل يغفر الله لي؟ هل أضمن قبول توبتي إن تبت إلى الله؟ أقول لكم: إخوتي إن لنا ربًّا يغفر ويمحو الذنوب، وقد سبقت رحمته وعفوه غضبه، فلماذا نشكك في قبول توبتنا؟ ولنتأمل هذه الآية الكريمة: ﴿ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ﴾ [الأعراف: 156]. Mungkin hatimu pernah bergumam kepadamu bahwa dosa-dosamu sangat banyak dan kesalahan-kesalahanmu amat besar. Lalu hatimu mulai ragu untuk memasuki alam pertobatan, mengenang dosa-dosa yang telah ia kerjakan di masa lampau, dan bagaimana kamu tidak membiarkan satupun kemaksiatan kecuali kamu kerjakan. Ingatan-ingatan itu mulai mengusik tempat tidurmu, mengganggu tidurmu, dan memperkeruh hidupmu, serta setan mulai menyusup ke dalam dirimu untuk membuatmu mengira bahwa tidak ada lagi tobat bagimu setelah segala kesalahan dan dosa yang telah kamu perbuat. Kemudian kamu teringat bagaimana tahun demi tahun kehidupanmu menyusup di hadapanmu, sehingga kamu menangis dan menyesal. Ketika itulah datang keinginan tulus untuk bertobat, lalu kamu bertanya-tanya, “Apakah Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengampuniku? Apakah aku dapat menjamin tobatku dapat diterima jika aku bertobat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala?” Saya katakan kepada kalian: Wahai saudara-saudaraku! Kita memiliki Tuhan Yang Maha Mengampuni dan Menghapus dosa-dosa. Rahmat dan ampunan-Nya melebihi kemurkaan-Nya. Mengapa kita ragu terhadap penerimaan tobat kita? Marilah kita menghayati ayat yang mulia ini: وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’raf: 156). إلى كل من استصعب مغفرة الذنوب وقبول التوبة: أبواب الله مفتوحة متى طرقتها أنت، ولكن تجنَّب أن تشترط على الله في قبول المغفرة؛ كأن تقول: سأتوب إن غفر الله لي، وانظروا إلى رواية إسلام عمرو بن العاص يقول: “فلما جعل الله الإسلام في قلبي، أتيت النبي صلى الله عليه وسلم وقلت: ابسط يمينك فلأبايعك، فبسط يمينة فقبضت يدي، قال: مالك يا عمرو؟ قال: قلت: أردت أن اشترط؟ قال: تشترط بماذا؟ قلت: أن يغفر لي، قال: أما علمت يا عمرو أن الإسلام يهدِم ما قبله، وأن الهجرة تهدم ما كانت قبلها، وأن الحج يهدم ما كان قبله؟. Bagi setiap orang yang merasa sulit menggapai ampunan atas dosa-dosa dan penerimaan tobatnya: Pintu-pintu Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa terbuka setiap kali kamu mengetuknya. Namun, jangan sampai kamu menetapkan syarat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menerima tobatmu, seakan-akan kamu berkata, “Aku akan bertobat, asalkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuniku.” Perhatikanlah kisah keislaman Amru bin Al-Ash yang dia ceritakan sendiri, “Ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menetapkan Islam dalam hatiku, aku segera mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan berkata, ‘Tolong julurkanlah tangan engkau, karena sungguh aku akan berbaiat kepada engkau.’ Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pun menjulurkan tangan kanan beliau lalu menggenggam tanganku. Lalu beliau bertanya, ‘Ada apa denganmu, wahai Amru?’ Aku menjawab, ‘Aku ingin menetapkan syarat.’ Beliau bertanya lagi, ‘Syarat apa?’ Aku menjawab, ‘Syarat bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala harus mengampuniku.’ Beliau lalu bersabda, ‘Tidakkah kamu mengetahui, wahai Amru! Bahwa masuk Islam akan menggugurkan dosa yang ada sebelumnya, dan hijrah juga akan menggugurkan dosa yang ada sebelumnya, serta haji juga akan menggugurkan dosa yang ada sebelumnya?’” ولو تأملنا هذه الرواية لزال ما في النفس من تساؤلات، وخلا القلب من تسلُّلات الشيطان؛ لأن معنى التواب أنه غافر الذنوب جميعها متى طرقت أبوابه، فلا يجوز الاشتراط على صاحب الكرم والجود والعطاء: ﴿ قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴾ [الزمر: 53]. Seandainya kita memperhatikan dengan baik kisah ini, niscaya pertanyaan-pertanyaan itu akan hilang dari dalam diri, dan hembusan-hembusan keraguan dari setan akan sirna dari hati, karena makna dari Maha Penerima Tobat yakni mengampuni seluruh dosa, selagi pintu-pintu tobat-Nya diketuk. Oleh sebab itu, tidak boleh ada pengajuan syarat terhadap Yang Maha Pemurah, Maha Dermawan, dan Maha Pemberi.  قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53). انظروا إلى رحمة الله عز وجل: ﴿ لَا تَقْنَطُـوا مِن رَحْمَةِ اللهِ ﴾؛ أي: يا أيتها الأنفس، لا تيئَسوا ولا تحزنوا، فتلقوا بأيديكم إلى التهلكة، وتقولوا: قد كثُرت ذنوبنا، وتراكمت عيوبنا، فليس لها طريق ولا سبيل، فتبقى القلوب بسبب ذلك مُصرة على العصيان، سالكة دروب الضلال، متزودة بكل معاني الغفلة والكسل، ولكن اعلموا أن ربكم يغفـر الذنوب جميعًا من الشرك، والقتل والزنا والربا والظلم، وغير ذلك من الذنوب، ولهذا كانت من أسمائه أنه التواب؛ فانفُض الشك في قبولها، وأقبل تُفتحْ لك أبواب الخير والتوبة متى طرقتها. Lihatlah bagaimana rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Janganlah berputus asa dari rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.” Yakni, wahai manusia! Janganlah kalian berputus asa dan bersedih sehingga membuat kalian menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan, dan mengucapkan, “Sungguh dosa-dosa kita amat banyak dan keburukan-keburukan kita sudah menggunung!” Sehingga diri kalian merasa tidak punya lagi jalan keluar, lalu karena hal itu, hati kalian terus melakukan kemaksiatan, menempuh jalan kesesatan, dan menambah segala bentuk kelalaian dan kelengahan. Namun, justru ketahuilah bahwa Tuhan kalian Maha Mengampuni segala dosa, baik itu berupa dosa kesyirikan, pembunuhan, zina, riba, kezaliman, dan dosa-dosa lainnya. Oleh sebab itulah, salah satu nama-Nya adalah “At-Tawwab”, Maha Penerima Tobat. Jadi, tepislah segala keraguan terhadap penerimaan tobat, dan menghadaplah kepada-Nya niscaya dibukakan bagimu pintu-pintu kebaikan dan tobat, selagi kamu mengetuknya. أما الإحساس الذي قد يداخلك، فإنه نابع من عدم يقين النفس بسعة رحمة الخالق، ونقص في الإيمان، وضعف بداخل القلوب ووساوس من الشيطان أن الله لن يغفر لك! فاطُرد كل هؤلاء، واستعذ بالله، وانطلق لتنعم بركاب التوبة، ومغفرة الذنوب جميعها. Adapun perasaan ragu yang terkadang muncul dalam dirimu, maka itu berasal dari ketidakyakinan diri terhadap luasnya rahmat Sang Pencipta, kurangnya iman, dan kelemahan yang ada dalam hati serta bisikan dari setan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan mengampunimu! Oleh sebab itu, usirlah itu semua, mohonlah pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan bangkitlah agar kamu dapat menikmati pertobatan dan ampunan segala dosa. إذًا فلتنظر إلى نفسك، فإن رأيت روحَك وقد صعدت وأبحرتْ في سفينة التوبة، وبدأت تتصارع عليك الأفكار والهواجس كأمواج البحار التي تعصف بالسفينة وركابها تارةً إلى اليمين، وتارةً أخرى إلى اليسار، فبنت تلك الأفكار حاجزًا عاليًا تقول لك: لن تُغفر ذنوبك، ولن تُقبل توبتك، حينها ينتابك الفزع والهلع، وتشعر بغصة تخنق روحك، وتنزل تلك اللآلئ الصغيرة، وتُرفع تلك العيون الذابلة والقلوب المستجيرة، ولم تنطق إلا بكلمة واحدة: يا رب. تنطقها بكل جوارحك ويهتز لها جميعُ جسدك؛ فتشعر بصداها وصدقها، وكأن الكون كله يصرخ معك، ويمر أمام عينك شريط من الذكريات يعرض عليك كلَّ أخطائك وتقصيرك، بدايةً من ترك الصلاة، وهجر القرآن، وترك الفرائض والسُّنن، ومرورًا بفعل الصغائر والكبائر من الذنوب، فتهلع أكثر وتتساءل أكثر: هل يغفر الله لي؟ Jadi, lihatlah dirimu sendiri! Ketika kamu mendapati ruhmu telah berlayar di atas bahtera pertobatan, lalu pikiran-pikiran dan bisikan-bisikan buruk mulai mengamuk bagaikan deburan ombak yang mengombang-ambingkan bahtera dan penumpangnya ke kiri dan ke kanan, sehingga pikiran-pikiran itu mulai menjadi tembok pemisah yang tinggi, “Dosamu tidak akan diampuni! Tobatmu tidak akan diterima!” Ketika itu, ketakutan dan kekhawatiran silih berganti menyudutkanmu dan kamu merasakan sesuatu mencekik ruhmu. Namun, butir-butir harapan mulai turun, mengangkat kembali mata yang sayu dan hati yang berharap pertolongan, yang kamu ucapkan hanya kalimat, “Ya Tuhanku!” Kamu mengucapkannya sepenuh jiwa dan raga dan seluruh tubuhmu bergetar olehnya, sehingga kamu merasakan getaran dan ketulusannya, seakan-akan alam semesta ikut berseru bersamamu. Lalu di depan matamu terlintas rekaman ingatan-ingatan tentang segala kesalahan dan kelalaianmu, mulai dari meninggalkan shalat, mengabaikan Al-Qur’an, melupakan amal-amal wajib dan sunnah, hingga segala dosa kecil dan besar. Kamu kemudian semakin bertanya-tanya, “Apakah Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengampuniku?” فما هي إلا لحظات حتى يَمُن الله عليك، وتملأ رُوحك السكينةُ، وتبدأ علامات قبول التوبة في الظهور، فيطمئن قلبك بعدما تداخلت به الظنون أن الله لن يغفر لك، فتشعر أن الكون بكل ما فيه مسخر لتنعم بركاب التائبين. Tidak lama setelah itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala melimpahkan karunia kepadamu, memenuhi jiwamu dengan ketenangan, dan tanda-tanda penerimaan tobatmu mulai terlihat, sehingga hatimu menjadi damai, yang sebelumnya penuh dengan prasangka bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan mengampunimu, kemudian kamu merasa bahwa alam semesta dengan segala yang ada di dalamnya bergerak agar menuntunmu bergabung bersama kafilah orang-orang yang bertobat. أقبل ولا تخِف، أبحر ولا تتردَّد، اطرق يُفتحْ لك، هروِل يُستجاب لك، لماذا؟! لأنه الله، لأنه التواب، لأنه الغفور؛ عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: سمعتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (قال اللهُ تعالى: يا بنَ آدَم، إِنَّك ما دَعَوتَني ورَجَوتَني غَفَرتُ لِكَ على ما كان منكَ ولا أُبالي، يا بن آدَمَ لو بَلَغَت ذُنوبُك عَنَانَ السَّماءِ ثمَّ استَغفرَتَنِي غَفَرتُ لَكَ، يا بنَ آدَمَ إنك لو أتَيتَنِي بقُرابِ الأرضِ خَطَايَا ثم لقِيتنِي لا تُشرِكُ بي شَيئًا لأتَيتُكَ بقُرابها مغفِرة)؛ رواه الترمذي، وقال: حديث حسن صحيح. Datanglah dan jangan takut! Berlayarlah dan jangan ragu! Ketuklah pasti akan dibukakan untukmu! Bersegeralah niscaya kamu akan disambut! Mengapa demikian? Karena Dia adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Dia Maha Penerima Tobat, karena Dia Maha Pengampun. Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: قال اللهُ تعالى: يا بنَ آدَم، إِنَّك ما دَعَوتَني ورَجَوتَني غَفَرتُ لِكَ على ما كان منكَ ولا أُبالي، يا بن آدَمَ لو بَلَغَت ذُنوبُك عَنَانَ السَّماءِ ثمَّ استَغفرَتَنِي غَفَرتُ لَكَ، يا بنَ آدَمَ إنك لو أتَيتَنِي بقُرابِ الأرضِ خَطَايَا ثم لقِيتنِي لا تُشرِكُ بي شَيئًا لأتَيتُكَ بقُرابها مغفِرة  “Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘Wahai anak Adam! Sesungguhnya tidaklah kamu berdoa dan berharap kepadaku, melainkan Aku akan mengampunimu atas segala dosa darimu tanpa Aku pedulikan! Wahai anak Adam! Seandainya dosamu mencapai awan di langit, lalu kamu memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu! Wahai anak Adam! Sungguh seandainya kamu datang kepada-Ku membawa dosa-dosa sepenuh bumi, tapi kamu menemuiku tanpa menyekutukan-Ku dengan apapun, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.’” (HR. At-Tirmidzi, dan ia mengatakan, “Hadis ini hasan sahih”). فما خاب عبد طرَق أبواب الله مستجيرًا به إلا وقد عفا عنه مهما بلغت خطاياه، واعلم أن لكل عبد سفينة لن تُبحر بدونه مهما طال بك الوقت، فإن فاتتك تلك فابحثْ عن الأخرى، فإنها تنتظرك بشوق فلا تجعلها تبحر بدونك. Tidak ada seorang hamba yang mengetuk pintu-pintu Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan mengharap pertolongan-Nya, melainkan Dia akan mengampuninya, sebesar apa pun dosa-dosanya. Ketahuilah bahwa setiap hamba punya bahtera yang tidak akan berlayar tanpa dirinya, selama apa pun ia harus menunggu. Apabila bahtera itu meninggalkanmu, maka carilah bahtera berikutnya, karena ia akan terus menunggumu dengan penuh kerinduan, maka jangan biarkan ia berlayar tanpamu. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/135271/ومن-يغفر-الذنوب-إلا-الله/ومنيغفرالذنوبإلاالله/ Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 131 times, 1 visit(s) today Post Views: 227 QRIS donasi Yufid
وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ Oleh: Fatimah Al-Amir فاطمة الأمير قد تحدِّثك نفسك بأن الذنوب كثيرة، والأخطاء عظيمة، وتبدأ نفسك بالتردد في الدخول إلى عالم التوبة، وتشرد فيما فعلت من الذنوب فيما مضى، وكيف لم تترك من المعاصي شيئًا إلا وقد فعلتَه، فتبدأ الذكريات تقضُّ مضجعَك، وتؤرِّق نومك، وتنغِّص حياتك، ويتسلل الشيطان إلى نفسك، فيوهمك أنه لا توبة لك بعد كل ما اقترفت سابقًا من الزلات والهفوات. فتتذكر كيف مضت السنون من حياتك متسربة من بين يديك؛ فتبكي وتتحسر وفي ذلك صدق التوبة، ثم تتساءل: هل يغفر الله لي؟ هل أضمن قبول توبتي إن تبت إلى الله؟ أقول لكم: إخوتي إن لنا ربًّا يغفر ويمحو الذنوب، وقد سبقت رحمته وعفوه غضبه، فلماذا نشكك في قبول توبتنا؟ ولنتأمل هذه الآية الكريمة: ﴿ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ﴾ [الأعراف: 156]. Mungkin hatimu pernah bergumam kepadamu bahwa dosa-dosamu sangat banyak dan kesalahan-kesalahanmu amat besar. Lalu hatimu mulai ragu untuk memasuki alam pertobatan, mengenang dosa-dosa yang telah ia kerjakan di masa lampau, dan bagaimana kamu tidak membiarkan satupun kemaksiatan kecuali kamu kerjakan. Ingatan-ingatan itu mulai mengusik tempat tidurmu, mengganggu tidurmu, dan memperkeruh hidupmu, serta setan mulai menyusup ke dalam dirimu untuk membuatmu mengira bahwa tidak ada lagi tobat bagimu setelah segala kesalahan dan dosa yang telah kamu perbuat. Kemudian kamu teringat bagaimana tahun demi tahun kehidupanmu menyusup di hadapanmu, sehingga kamu menangis dan menyesal. Ketika itulah datang keinginan tulus untuk bertobat, lalu kamu bertanya-tanya, “Apakah Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengampuniku? Apakah aku dapat menjamin tobatku dapat diterima jika aku bertobat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala?” Saya katakan kepada kalian: Wahai saudara-saudaraku! Kita memiliki Tuhan Yang Maha Mengampuni dan Menghapus dosa-dosa. Rahmat dan ampunan-Nya melebihi kemurkaan-Nya. Mengapa kita ragu terhadap penerimaan tobat kita? Marilah kita menghayati ayat yang mulia ini: وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’raf: 156). إلى كل من استصعب مغفرة الذنوب وقبول التوبة: أبواب الله مفتوحة متى طرقتها أنت، ولكن تجنَّب أن تشترط على الله في قبول المغفرة؛ كأن تقول: سأتوب إن غفر الله لي، وانظروا إلى رواية إسلام عمرو بن العاص يقول: “فلما جعل الله الإسلام في قلبي، أتيت النبي صلى الله عليه وسلم وقلت: ابسط يمينك فلأبايعك، فبسط يمينة فقبضت يدي، قال: مالك يا عمرو؟ قال: قلت: أردت أن اشترط؟ قال: تشترط بماذا؟ قلت: أن يغفر لي، قال: أما علمت يا عمرو أن الإسلام يهدِم ما قبله، وأن الهجرة تهدم ما كانت قبلها، وأن الحج يهدم ما كان قبله؟. Bagi setiap orang yang merasa sulit menggapai ampunan atas dosa-dosa dan penerimaan tobatnya: Pintu-pintu Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa terbuka setiap kali kamu mengetuknya. Namun, jangan sampai kamu menetapkan syarat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menerima tobatmu, seakan-akan kamu berkata, “Aku akan bertobat, asalkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuniku.” Perhatikanlah kisah keislaman Amru bin Al-Ash yang dia ceritakan sendiri, “Ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menetapkan Islam dalam hatiku, aku segera mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan berkata, ‘Tolong julurkanlah tangan engkau, karena sungguh aku akan berbaiat kepada engkau.’ Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pun menjulurkan tangan kanan beliau lalu menggenggam tanganku. Lalu beliau bertanya, ‘Ada apa denganmu, wahai Amru?’ Aku menjawab, ‘Aku ingin menetapkan syarat.’ Beliau bertanya lagi, ‘Syarat apa?’ Aku menjawab, ‘Syarat bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala harus mengampuniku.’ Beliau lalu bersabda, ‘Tidakkah kamu mengetahui, wahai Amru! Bahwa masuk Islam akan menggugurkan dosa yang ada sebelumnya, dan hijrah juga akan menggugurkan dosa yang ada sebelumnya, serta haji juga akan menggugurkan dosa yang ada sebelumnya?’” ولو تأملنا هذه الرواية لزال ما في النفس من تساؤلات، وخلا القلب من تسلُّلات الشيطان؛ لأن معنى التواب أنه غافر الذنوب جميعها متى طرقت أبوابه، فلا يجوز الاشتراط على صاحب الكرم والجود والعطاء: ﴿ قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴾ [الزمر: 53]. Seandainya kita memperhatikan dengan baik kisah ini, niscaya pertanyaan-pertanyaan itu akan hilang dari dalam diri, dan hembusan-hembusan keraguan dari setan akan sirna dari hati, karena makna dari Maha Penerima Tobat yakni mengampuni seluruh dosa, selagi pintu-pintu tobat-Nya diketuk. Oleh sebab itu, tidak boleh ada pengajuan syarat terhadap Yang Maha Pemurah, Maha Dermawan, dan Maha Pemberi.  قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53). انظروا إلى رحمة الله عز وجل: ﴿ لَا تَقْنَطُـوا مِن رَحْمَةِ اللهِ ﴾؛ أي: يا أيتها الأنفس، لا تيئَسوا ولا تحزنوا، فتلقوا بأيديكم إلى التهلكة، وتقولوا: قد كثُرت ذنوبنا، وتراكمت عيوبنا، فليس لها طريق ولا سبيل، فتبقى القلوب بسبب ذلك مُصرة على العصيان، سالكة دروب الضلال، متزودة بكل معاني الغفلة والكسل، ولكن اعلموا أن ربكم يغفـر الذنوب جميعًا من الشرك، والقتل والزنا والربا والظلم، وغير ذلك من الذنوب، ولهذا كانت من أسمائه أنه التواب؛ فانفُض الشك في قبولها، وأقبل تُفتحْ لك أبواب الخير والتوبة متى طرقتها. Lihatlah bagaimana rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Janganlah berputus asa dari rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.” Yakni, wahai manusia! Janganlah kalian berputus asa dan bersedih sehingga membuat kalian menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan, dan mengucapkan, “Sungguh dosa-dosa kita amat banyak dan keburukan-keburukan kita sudah menggunung!” Sehingga diri kalian merasa tidak punya lagi jalan keluar, lalu karena hal itu, hati kalian terus melakukan kemaksiatan, menempuh jalan kesesatan, dan menambah segala bentuk kelalaian dan kelengahan. Namun, justru ketahuilah bahwa Tuhan kalian Maha Mengampuni segala dosa, baik itu berupa dosa kesyirikan, pembunuhan, zina, riba, kezaliman, dan dosa-dosa lainnya. Oleh sebab itulah, salah satu nama-Nya adalah “At-Tawwab”, Maha Penerima Tobat. Jadi, tepislah segala keraguan terhadap penerimaan tobat, dan menghadaplah kepada-Nya niscaya dibukakan bagimu pintu-pintu kebaikan dan tobat, selagi kamu mengetuknya. أما الإحساس الذي قد يداخلك، فإنه نابع من عدم يقين النفس بسعة رحمة الخالق، ونقص في الإيمان، وضعف بداخل القلوب ووساوس من الشيطان أن الله لن يغفر لك! فاطُرد كل هؤلاء، واستعذ بالله، وانطلق لتنعم بركاب التوبة، ومغفرة الذنوب جميعها. Adapun perasaan ragu yang terkadang muncul dalam dirimu, maka itu berasal dari ketidakyakinan diri terhadap luasnya rahmat Sang Pencipta, kurangnya iman, dan kelemahan yang ada dalam hati serta bisikan dari setan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan mengampunimu! Oleh sebab itu, usirlah itu semua, mohonlah pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan bangkitlah agar kamu dapat menikmati pertobatan dan ampunan segala dosa. إذًا فلتنظر إلى نفسك، فإن رأيت روحَك وقد صعدت وأبحرتْ في سفينة التوبة، وبدأت تتصارع عليك الأفكار والهواجس كأمواج البحار التي تعصف بالسفينة وركابها تارةً إلى اليمين، وتارةً أخرى إلى اليسار، فبنت تلك الأفكار حاجزًا عاليًا تقول لك: لن تُغفر ذنوبك، ولن تُقبل توبتك، حينها ينتابك الفزع والهلع، وتشعر بغصة تخنق روحك، وتنزل تلك اللآلئ الصغيرة، وتُرفع تلك العيون الذابلة والقلوب المستجيرة، ولم تنطق إلا بكلمة واحدة: يا رب. تنطقها بكل جوارحك ويهتز لها جميعُ جسدك؛ فتشعر بصداها وصدقها، وكأن الكون كله يصرخ معك، ويمر أمام عينك شريط من الذكريات يعرض عليك كلَّ أخطائك وتقصيرك، بدايةً من ترك الصلاة، وهجر القرآن، وترك الفرائض والسُّنن، ومرورًا بفعل الصغائر والكبائر من الذنوب، فتهلع أكثر وتتساءل أكثر: هل يغفر الله لي؟ Jadi, lihatlah dirimu sendiri! Ketika kamu mendapati ruhmu telah berlayar di atas bahtera pertobatan, lalu pikiran-pikiran dan bisikan-bisikan buruk mulai mengamuk bagaikan deburan ombak yang mengombang-ambingkan bahtera dan penumpangnya ke kiri dan ke kanan, sehingga pikiran-pikiran itu mulai menjadi tembok pemisah yang tinggi, “Dosamu tidak akan diampuni! Tobatmu tidak akan diterima!” Ketika itu, ketakutan dan kekhawatiran silih berganti menyudutkanmu dan kamu merasakan sesuatu mencekik ruhmu. Namun, butir-butir harapan mulai turun, mengangkat kembali mata yang sayu dan hati yang berharap pertolongan, yang kamu ucapkan hanya kalimat, “Ya Tuhanku!” Kamu mengucapkannya sepenuh jiwa dan raga dan seluruh tubuhmu bergetar olehnya, sehingga kamu merasakan getaran dan ketulusannya, seakan-akan alam semesta ikut berseru bersamamu. Lalu di depan matamu terlintas rekaman ingatan-ingatan tentang segala kesalahan dan kelalaianmu, mulai dari meninggalkan shalat, mengabaikan Al-Qur’an, melupakan amal-amal wajib dan sunnah, hingga segala dosa kecil dan besar. Kamu kemudian semakin bertanya-tanya, “Apakah Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengampuniku?” فما هي إلا لحظات حتى يَمُن الله عليك، وتملأ رُوحك السكينةُ، وتبدأ علامات قبول التوبة في الظهور، فيطمئن قلبك بعدما تداخلت به الظنون أن الله لن يغفر لك، فتشعر أن الكون بكل ما فيه مسخر لتنعم بركاب التائبين. Tidak lama setelah itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala melimpahkan karunia kepadamu, memenuhi jiwamu dengan ketenangan, dan tanda-tanda penerimaan tobatmu mulai terlihat, sehingga hatimu menjadi damai, yang sebelumnya penuh dengan prasangka bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan mengampunimu, kemudian kamu merasa bahwa alam semesta dengan segala yang ada di dalamnya bergerak agar menuntunmu bergabung bersama kafilah orang-orang yang bertobat. أقبل ولا تخِف، أبحر ولا تتردَّد، اطرق يُفتحْ لك، هروِل يُستجاب لك، لماذا؟! لأنه الله، لأنه التواب، لأنه الغفور؛ عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: سمعتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (قال اللهُ تعالى: يا بنَ آدَم، إِنَّك ما دَعَوتَني ورَجَوتَني غَفَرتُ لِكَ على ما كان منكَ ولا أُبالي، يا بن آدَمَ لو بَلَغَت ذُنوبُك عَنَانَ السَّماءِ ثمَّ استَغفرَتَنِي غَفَرتُ لَكَ، يا بنَ آدَمَ إنك لو أتَيتَنِي بقُرابِ الأرضِ خَطَايَا ثم لقِيتنِي لا تُشرِكُ بي شَيئًا لأتَيتُكَ بقُرابها مغفِرة)؛ رواه الترمذي، وقال: حديث حسن صحيح. Datanglah dan jangan takut! Berlayarlah dan jangan ragu! Ketuklah pasti akan dibukakan untukmu! Bersegeralah niscaya kamu akan disambut! Mengapa demikian? Karena Dia adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Dia Maha Penerima Tobat, karena Dia Maha Pengampun. Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: قال اللهُ تعالى: يا بنَ آدَم، إِنَّك ما دَعَوتَني ورَجَوتَني غَفَرتُ لِكَ على ما كان منكَ ولا أُبالي، يا بن آدَمَ لو بَلَغَت ذُنوبُك عَنَانَ السَّماءِ ثمَّ استَغفرَتَنِي غَفَرتُ لَكَ، يا بنَ آدَمَ إنك لو أتَيتَنِي بقُرابِ الأرضِ خَطَايَا ثم لقِيتنِي لا تُشرِكُ بي شَيئًا لأتَيتُكَ بقُرابها مغفِرة  “Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘Wahai anak Adam! Sesungguhnya tidaklah kamu berdoa dan berharap kepadaku, melainkan Aku akan mengampunimu atas segala dosa darimu tanpa Aku pedulikan! Wahai anak Adam! Seandainya dosamu mencapai awan di langit, lalu kamu memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu! Wahai anak Adam! Sungguh seandainya kamu datang kepada-Ku membawa dosa-dosa sepenuh bumi, tapi kamu menemuiku tanpa menyekutukan-Ku dengan apapun, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.’” (HR. At-Tirmidzi, dan ia mengatakan, “Hadis ini hasan sahih”). فما خاب عبد طرَق أبواب الله مستجيرًا به إلا وقد عفا عنه مهما بلغت خطاياه، واعلم أن لكل عبد سفينة لن تُبحر بدونه مهما طال بك الوقت، فإن فاتتك تلك فابحثْ عن الأخرى، فإنها تنتظرك بشوق فلا تجعلها تبحر بدونك. Tidak ada seorang hamba yang mengetuk pintu-pintu Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan mengharap pertolongan-Nya, melainkan Dia akan mengampuninya, sebesar apa pun dosa-dosanya. Ketahuilah bahwa setiap hamba punya bahtera yang tidak akan berlayar tanpa dirinya, selama apa pun ia harus menunggu. Apabila bahtera itu meninggalkanmu, maka carilah bahtera berikutnya, karena ia akan terus menunggumu dengan penuh kerinduan, maka jangan biarkan ia berlayar tanpamu. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/135271/ومن-يغفر-الذنوب-إلا-الله/ومنيغفرالذنوبإلاالله/ Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 131 times, 1 visit(s) today Post Views: 227 QRIS donasi Yufid


وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ Oleh: Fatimah Al-Amir فاطمة الأمير قد تحدِّثك نفسك بأن الذنوب كثيرة، والأخطاء عظيمة، وتبدأ نفسك بالتردد في الدخول إلى عالم التوبة، وتشرد فيما فعلت من الذنوب فيما مضى، وكيف لم تترك من المعاصي شيئًا إلا وقد فعلتَه، فتبدأ الذكريات تقضُّ مضجعَك، وتؤرِّق نومك، وتنغِّص حياتك، ويتسلل الشيطان إلى نفسك، فيوهمك أنه لا توبة لك بعد كل ما اقترفت سابقًا من الزلات والهفوات. فتتذكر كيف مضت السنون من حياتك متسربة من بين يديك؛ فتبكي وتتحسر وفي ذلك صدق التوبة، ثم تتساءل: هل يغفر الله لي؟ هل أضمن قبول توبتي إن تبت إلى الله؟ أقول لكم: إخوتي إن لنا ربًّا يغفر ويمحو الذنوب، وقد سبقت رحمته وعفوه غضبه، فلماذا نشكك في قبول توبتنا؟ ولنتأمل هذه الآية الكريمة: ﴿ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ﴾ [الأعراف: 156]. Mungkin hatimu pernah bergumam kepadamu bahwa dosa-dosamu sangat banyak dan kesalahan-kesalahanmu amat besar. Lalu hatimu mulai ragu untuk memasuki alam pertobatan, mengenang dosa-dosa yang telah ia kerjakan di masa lampau, dan bagaimana kamu tidak membiarkan satupun kemaksiatan kecuali kamu kerjakan. Ingatan-ingatan itu mulai mengusik tempat tidurmu, mengganggu tidurmu, dan memperkeruh hidupmu, serta setan mulai menyusup ke dalam dirimu untuk membuatmu mengira bahwa tidak ada lagi tobat bagimu setelah segala kesalahan dan dosa yang telah kamu perbuat. Kemudian kamu teringat bagaimana tahun demi tahun kehidupanmu menyusup di hadapanmu, sehingga kamu menangis dan menyesal. Ketika itulah datang keinginan tulus untuk bertobat, lalu kamu bertanya-tanya, “Apakah Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengampuniku? Apakah aku dapat menjamin tobatku dapat diterima jika aku bertobat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala?” Saya katakan kepada kalian: Wahai saudara-saudaraku! Kita memiliki Tuhan Yang Maha Mengampuni dan Menghapus dosa-dosa. Rahmat dan ampunan-Nya melebihi kemurkaan-Nya. Mengapa kita ragu terhadap penerimaan tobat kita? Marilah kita menghayati ayat yang mulia ini: وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’raf: 156). إلى كل من استصعب مغفرة الذنوب وقبول التوبة: أبواب الله مفتوحة متى طرقتها أنت، ولكن تجنَّب أن تشترط على الله في قبول المغفرة؛ كأن تقول: سأتوب إن غفر الله لي، وانظروا إلى رواية إسلام عمرو بن العاص يقول: “فلما جعل الله الإسلام في قلبي، أتيت النبي صلى الله عليه وسلم وقلت: ابسط يمينك فلأبايعك، فبسط يمينة فقبضت يدي، قال: مالك يا عمرو؟ قال: قلت: أردت أن اشترط؟ قال: تشترط بماذا؟ قلت: أن يغفر لي، قال: أما علمت يا عمرو أن الإسلام يهدِم ما قبله، وأن الهجرة تهدم ما كانت قبلها، وأن الحج يهدم ما كان قبله؟. Bagi setiap orang yang merasa sulit menggapai ampunan atas dosa-dosa dan penerimaan tobatnya: Pintu-pintu Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa terbuka setiap kali kamu mengetuknya. Namun, jangan sampai kamu menetapkan syarat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menerima tobatmu, seakan-akan kamu berkata, “Aku akan bertobat, asalkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuniku.” Perhatikanlah kisah keislaman Amru bin Al-Ash yang dia ceritakan sendiri, “Ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menetapkan Islam dalam hatiku, aku segera mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan berkata, ‘Tolong julurkanlah tangan engkau, karena sungguh aku akan berbaiat kepada engkau.’ Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pun menjulurkan tangan kanan beliau lalu menggenggam tanganku. Lalu beliau bertanya, ‘Ada apa denganmu, wahai Amru?’ Aku menjawab, ‘Aku ingin menetapkan syarat.’ Beliau bertanya lagi, ‘Syarat apa?’ Aku menjawab, ‘Syarat bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala harus mengampuniku.’ Beliau lalu bersabda, ‘Tidakkah kamu mengetahui, wahai Amru! Bahwa masuk Islam akan menggugurkan dosa yang ada sebelumnya, dan hijrah juga akan menggugurkan dosa yang ada sebelumnya, serta haji juga akan menggugurkan dosa yang ada sebelumnya?’” ولو تأملنا هذه الرواية لزال ما في النفس من تساؤلات، وخلا القلب من تسلُّلات الشيطان؛ لأن معنى التواب أنه غافر الذنوب جميعها متى طرقت أبوابه، فلا يجوز الاشتراط على صاحب الكرم والجود والعطاء: ﴿ قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴾ [الزمر: 53]. Seandainya kita memperhatikan dengan baik kisah ini, niscaya pertanyaan-pertanyaan itu akan hilang dari dalam diri, dan hembusan-hembusan keraguan dari setan akan sirna dari hati, karena makna dari Maha Penerima Tobat yakni mengampuni seluruh dosa, selagi pintu-pintu tobat-Nya diketuk. Oleh sebab itu, tidak boleh ada pengajuan syarat terhadap Yang Maha Pemurah, Maha Dermawan, dan Maha Pemberi.  قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53). انظروا إلى رحمة الله عز وجل: ﴿ لَا تَقْنَطُـوا مِن رَحْمَةِ اللهِ ﴾؛ أي: يا أيتها الأنفس، لا تيئَسوا ولا تحزنوا، فتلقوا بأيديكم إلى التهلكة، وتقولوا: قد كثُرت ذنوبنا، وتراكمت عيوبنا، فليس لها طريق ولا سبيل، فتبقى القلوب بسبب ذلك مُصرة على العصيان، سالكة دروب الضلال، متزودة بكل معاني الغفلة والكسل، ولكن اعلموا أن ربكم يغفـر الذنوب جميعًا من الشرك، والقتل والزنا والربا والظلم، وغير ذلك من الذنوب، ولهذا كانت من أسمائه أنه التواب؛ فانفُض الشك في قبولها، وأقبل تُفتحْ لك أبواب الخير والتوبة متى طرقتها. Lihatlah bagaimana rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Janganlah berputus asa dari rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.” Yakni, wahai manusia! Janganlah kalian berputus asa dan bersedih sehingga membuat kalian menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan, dan mengucapkan, “Sungguh dosa-dosa kita amat banyak dan keburukan-keburukan kita sudah menggunung!” Sehingga diri kalian merasa tidak punya lagi jalan keluar, lalu karena hal itu, hati kalian terus melakukan kemaksiatan, menempuh jalan kesesatan, dan menambah segala bentuk kelalaian dan kelengahan. Namun, justru ketahuilah bahwa Tuhan kalian Maha Mengampuni segala dosa, baik itu berupa dosa kesyirikan, pembunuhan, zina, riba, kezaliman, dan dosa-dosa lainnya. Oleh sebab itulah, salah satu nama-Nya adalah “At-Tawwab”, Maha Penerima Tobat. Jadi, tepislah segala keraguan terhadap penerimaan tobat, dan menghadaplah kepada-Nya niscaya dibukakan bagimu pintu-pintu kebaikan dan tobat, selagi kamu mengetuknya. أما الإحساس الذي قد يداخلك، فإنه نابع من عدم يقين النفس بسعة رحمة الخالق، ونقص في الإيمان، وضعف بداخل القلوب ووساوس من الشيطان أن الله لن يغفر لك! فاطُرد كل هؤلاء، واستعذ بالله، وانطلق لتنعم بركاب التوبة، ومغفرة الذنوب جميعها. Adapun perasaan ragu yang terkadang muncul dalam dirimu, maka itu berasal dari ketidakyakinan diri terhadap luasnya rahmat Sang Pencipta, kurangnya iman, dan kelemahan yang ada dalam hati serta bisikan dari setan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan mengampunimu! Oleh sebab itu, usirlah itu semua, mohonlah pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan bangkitlah agar kamu dapat menikmati pertobatan dan ampunan segala dosa. إذًا فلتنظر إلى نفسك، فإن رأيت روحَك وقد صعدت وأبحرتْ في سفينة التوبة، وبدأت تتصارع عليك الأفكار والهواجس كأمواج البحار التي تعصف بالسفينة وركابها تارةً إلى اليمين، وتارةً أخرى إلى اليسار، فبنت تلك الأفكار حاجزًا عاليًا تقول لك: لن تُغفر ذنوبك، ولن تُقبل توبتك، حينها ينتابك الفزع والهلع، وتشعر بغصة تخنق روحك، وتنزل تلك اللآلئ الصغيرة، وتُرفع تلك العيون الذابلة والقلوب المستجيرة، ولم تنطق إلا بكلمة واحدة: يا رب. تنطقها بكل جوارحك ويهتز لها جميعُ جسدك؛ فتشعر بصداها وصدقها، وكأن الكون كله يصرخ معك، ويمر أمام عينك شريط من الذكريات يعرض عليك كلَّ أخطائك وتقصيرك، بدايةً من ترك الصلاة، وهجر القرآن، وترك الفرائض والسُّنن، ومرورًا بفعل الصغائر والكبائر من الذنوب، فتهلع أكثر وتتساءل أكثر: هل يغفر الله لي؟ Jadi, lihatlah dirimu sendiri! Ketika kamu mendapati ruhmu telah berlayar di atas bahtera pertobatan, lalu pikiran-pikiran dan bisikan-bisikan buruk mulai mengamuk bagaikan deburan ombak yang mengombang-ambingkan bahtera dan penumpangnya ke kiri dan ke kanan, sehingga pikiran-pikiran itu mulai menjadi tembok pemisah yang tinggi, “Dosamu tidak akan diampuni! Tobatmu tidak akan diterima!” Ketika itu, ketakutan dan kekhawatiran silih berganti menyudutkanmu dan kamu merasakan sesuatu mencekik ruhmu. Namun, butir-butir harapan mulai turun, mengangkat kembali mata yang sayu dan hati yang berharap pertolongan, yang kamu ucapkan hanya kalimat, “Ya Tuhanku!” Kamu mengucapkannya sepenuh jiwa dan raga dan seluruh tubuhmu bergetar olehnya, sehingga kamu merasakan getaran dan ketulusannya, seakan-akan alam semesta ikut berseru bersamamu. Lalu di depan matamu terlintas rekaman ingatan-ingatan tentang segala kesalahan dan kelalaianmu, mulai dari meninggalkan shalat, mengabaikan Al-Qur’an, melupakan amal-amal wajib dan sunnah, hingga segala dosa kecil dan besar. Kamu kemudian semakin bertanya-tanya, “Apakah Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengampuniku?” فما هي إلا لحظات حتى يَمُن الله عليك، وتملأ رُوحك السكينةُ، وتبدأ علامات قبول التوبة في الظهور، فيطمئن قلبك بعدما تداخلت به الظنون أن الله لن يغفر لك، فتشعر أن الكون بكل ما فيه مسخر لتنعم بركاب التائبين. Tidak lama setelah itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala melimpahkan karunia kepadamu, memenuhi jiwamu dengan ketenangan, dan tanda-tanda penerimaan tobatmu mulai terlihat, sehingga hatimu menjadi damai, yang sebelumnya penuh dengan prasangka bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan mengampunimu, kemudian kamu merasa bahwa alam semesta dengan segala yang ada di dalamnya bergerak agar menuntunmu bergabung bersama kafilah orang-orang yang bertobat. أقبل ولا تخِف، أبحر ولا تتردَّد، اطرق يُفتحْ لك، هروِل يُستجاب لك، لماذا؟! لأنه الله، لأنه التواب، لأنه الغفور؛ عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: سمعتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (قال اللهُ تعالى: يا بنَ آدَم، إِنَّك ما دَعَوتَني ورَجَوتَني غَفَرتُ لِكَ على ما كان منكَ ولا أُبالي، يا بن آدَمَ لو بَلَغَت ذُنوبُك عَنَانَ السَّماءِ ثمَّ استَغفرَتَنِي غَفَرتُ لَكَ، يا بنَ آدَمَ إنك لو أتَيتَنِي بقُرابِ الأرضِ خَطَايَا ثم لقِيتنِي لا تُشرِكُ بي شَيئًا لأتَيتُكَ بقُرابها مغفِرة)؛ رواه الترمذي، وقال: حديث حسن صحيح. Datanglah dan jangan takut! Berlayarlah dan jangan ragu! Ketuklah pasti akan dibukakan untukmu! Bersegeralah niscaya kamu akan disambut! Mengapa demikian? Karena Dia adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Dia Maha Penerima Tobat, karena Dia Maha Pengampun. Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: قال اللهُ تعالى: يا بنَ آدَم، إِنَّك ما دَعَوتَني ورَجَوتَني غَفَرتُ لِكَ على ما كان منكَ ولا أُبالي، يا بن آدَمَ لو بَلَغَت ذُنوبُك عَنَانَ السَّماءِ ثمَّ استَغفرَتَنِي غَفَرتُ لَكَ، يا بنَ آدَمَ إنك لو أتَيتَنِي بقُرابِ الأرضِ خَطَايَا ثم لقِيتنِي لا تُشرِكُ بي شَيئًا لأتَيتُكَ بقُرابها مغفِرة  “Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘Wahai anak Adam! Sesungguhnya tidaklah kamu berdoa dan berharap kepadaku, melainkan Aku akan mengampunimu atas segala dosa darimu tanpa Aku pedulikan! Wahai anak Adam! Seandainya dosamu mencapai awan di langit, lalu kamu memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu! Wahai anak Adam! Sungguh seandainya kamu datang kepada-Ku membawa dosa-dosa sepenuh bumi, tapi kamu menemuiku tanpa menyekutukan-Ku dengan apapun, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.’” (HR. At-Tirmidzi, dan ia mengatakan, “Hadis ini hasan sahih”). فما خاب عبد طرَق أبواب الله مستجيرًا به إلا وقد عفا عنه مهما بلغت خطاياه، واعلم أن لكل عبد سفينة لن تُبحر بدونه مهما طال بك الوقت، فإن فاتتك تلك فابحثْ عن الأخرى، فإنها تنتظرك بشوق فلا تجعلها تبحر بدونك. Tidak ada seorang hamba yang mengetuk pintu-pintu Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan mengharap pertolongan-Nya, melainkan Dia akan mengampuninya, sebesar apa pun dosa-dosanya. Ketahuilah bahwa setiap hamba punya bahtera yang tidak akan berlayar tanpa dirinya, selama apa pun ia harus menunggu. Apabila bahtera itu meninggalkanmu, maka carilah bahtera berikutnya, karena ia akan terus menunggumu dengan penuh kerinduan, maka jangan biarkan ia berlayar tanpamu. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/135271/ومن-يغفر-الذنوب-إلا-الله/ومنيغفرالذنوبإلاالله/ Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 131 times, 1 visit(s) today Post Views: 227 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Makna Kesaksian bahwa Muhammad adalah Utusan Allah

[Dari Kitab Al-Mahshul Al-Jami Li-Syuruh TsalatsahAl-Ushul] معنى شهادة أن محمدًا رسول الله Oleh: Dr. Fahd bin Badi Al-Mursyidi د. فهد بن بادي المرشدي قال المصنف رحمه الله: (وَمَعْنَى “شَهَادَة أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ الله”: طَاعَتُهُ فِيمَا أَمَرَ، وَتَصْدِيقُهُ فِيمَا أَخْبَرَ، واجْتِنَابُ مَا عنه نهى وزجر، وألا يُعْبَدَ الله إِلا بِمَا شَرَعَ). Penulis Rahimahullah berkata, “Makna bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah utusan Allah yakni menaati apa yang beliau perintahkan, membenarkan apa yang beliau kabarkan, menjauhi apa yang beliau larang, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang disyariatkan.” الشرح الإجمالي: (ومعنى شهادة أن محمدًا رسول الله)، أي: مقتضى هذه الشهادة هي: (طاعته فيما أمر) من التوحيد والصلاة والزكاة، وغيرها من الواجبات والمستحبات، (وتصديقه فيما أخبَر) به عن الآخرة والجنة والنار، وغير ذلك من أخبار الأمم الماضية، أو الأمور المستقبلة، (واجتناب ما عنه نهى وزجر)؛ كالشرك والبدع وعقوق الوالدين والزنا والربا، وغير ذلك، (وألا يعبد الله إلا بما شرع) الله سبحانه في كتابه، وما جاء به رسوله صلى الله عليه وسلم، فمن عبَدَ الله بغير ما شرع، فعمله باطل مردود عليه [ينظر: حاشية ثلاثة الأصول، عبدالرحمن بن قاسم (57)؛ وتيسير الوصول شرح ثلاثة الأصول، د. عبدالمحسن القاسم (137)؛ وشرح الأصول الثلاثة، عبدالرحمن البراك (28)]. Penjelasan singkat: Maksud dari perkataan di atas: “Makna bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah utusan Allah” yakni konsekuensi dari kesaksian ini adalah “menaati apa yang beliau perintahkan” berupa pengesaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, shalat, zakat, dan amalan-amalan lain yang wajib dan sunnah, “membenarkan apa yang beliau kabarkan” tentang akhirat, surga, neraka, dan kisah dari umat-umat terdahulu dan perkara-perkara di masa depan, “menjauhi apa yang beliau larang” seperti syirik, bid’ah, durhaka terhadap orang tua, zina, riba, dan lain sebagainya, “dan tidak beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kecuali dengan apa yang disyariatkan” yakni oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Kitab-Nya dan yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Siapa yang beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan selain apa yang disyariatkan, maka amalannya batal dan tertolak. (Lihat: Kitab Hasyiyah Tsalatsah al-Ushul karya Abdurrahman bin Qasim, hlm. 57, Taisir Al-Wushul Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Dr. Abdul Muhsin Al-Qasim, hlm. 137, dan Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Abdurrahman Al-Barrak, hlm. 28). الشرح التفصيلي: سبق فيما مضى بيان أن الشهادة لا تكون شهادة، حتى يجتمع فيها ثلاث مراتب: علم الشاهد بها، واعتقاد صحة ما شهد به، وتكلم الشاهد بذلك ونطقه به، وأن يُعْلِم الشاهد ويخبر غيره بما يشهد به، فمعنى شهادة أنَّ محمدًا رسول الله أن يعلَم العبد ويعتقد ويتكلم، ويُخبر أنَّ محمدًا بن عبدالله الهاشمي القرشي المكي رسولٌ من عند الله جلَّ وعلا إلى جميع الخلق من الجن والإنس، أُنزل عليه الوحي فبلَّغ ذلك؛ لأن الرسول مُبلِّغ[ينظر: شرح ثلاثة الأصول، محمد بن صالح العثيمين (75)]. Penjelasan rinci: Telah diuraikan sebelumnya bahwa kesaksian tidak akan menjadi kesaksian hingga terkumpul di dalamnya tiga tahapan, (1) orang yang bersaksi telah memahami kandungan kesaksian, (2) meyakini kebenaran apa yang dia persaksikan, (3) melafalkan kesaksian disertai dengan mengabarkan kesaksian itu kepada orang lain. Jadi, makna bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah Rasul Allah Subhanahu Wa Ta’ala yakni seseorang harus mengetahui, meyakini, dan mengucapkan dan menyampaikannya bahwa Muhammad bin Abdullah Al-Hasyimi Al-Makki adalah utusan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada seluruh makhluk dari golongan jin dan manusia, yang diturunkan wahyu kepada beliau kemudian beliau menyampaikannya, karena hakikat rasul adalah penyampai risalah. (Lihat: Kitab Syarh Tsalatsah al-Ushul karya Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hlm. 75). وهناك من يُفسِّر شهادة أنَّ محمدًا رسول الله بمقتضاها؛ أي: بمعناها الذي تقتضيه، كما فعل المصنف؛ حيث قال: (ومعنى شهادة أنَّ محمدًا رسول الله: طاعته فيما أمر، وتصديقه فيما أخبر، واجتناب ما عنه نهى وزجَر، وألا يعبد الله إلا بما شرَع)، فمعنى شهادة أن محمدًا رسول الله من طريق اللزوم: أنها تقتضي أمورًا أربعة: Jadi, ada ulama yang menafsirkan kesaksian bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan cara menyebutkan konsekuensinya, yakni dengan maknanya yang menjadi konsekuensinya, sebagaimana yang definisi yang dijelaskan oleh penulis yang mengatakan, “Makna bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallamadalah utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yakni menaati apa yang beliau perintahkan, membenarkan apa yang beliau kabarkan, menjauhi apa yang beliau larang, dan tidak beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kecuali dengan apa yang disyariatkan.” Dalam artian lain, kesaksian bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah rasul Allah Subhanahu Wa Ta’ala berdasarkan definisi tersebut memiliki empat konsekuensi, yaitu: الأمر الأول: طاعته فيما أمر، فإن ما جاء به النبي صلى الله عليه وسلم؛ إما أن يكون خبرًا، فالواجب فيه التصديق، وإما أن يكون أمرًا، فالواجب فيه الانقياد والتسليم، فالواجب في الأخبار التصديق، والواجب في الأحكام الطاعة والانقياد[شرح الأصول الثلاثة، د. خالد المصلح (48)]، فالشهادة بأن محمدًا رسول من عند الله تقتضي طاعته فيما أمر؛ لأنه إذا أمر فإن الآمر هو الله جل وعلا، فإذا اعتقد أن هذا الذي جاء به محمد صلى الله عليه وسلم لم يأتِ به من عنده وإنما هو رسول، فمقتضى ذلك: أن يطيعه فيما أمر، لكونه شهد بأنه رسول الله، فإن لم يطعه فيما أمَر اعتقادًا أنه لا يُطاع، كان ذلك تكذيبًا لشهادته، فمن قال أشهد أن محمدًا رسول الله، وهو يعتقد أنه لا تلزمه طاعة الرسول صلى الله عليه وسلم، فحاله حال المنافقين، شهادته مردودة، وهو كاذبٌ في شهادته، وأما إذا اعتقد أنه تجب عليه طاعة الرسول صلى الله عليه وسلم فيما أمر، ولكنه خالف لغلبة هوى، فهذا يكون عاصيًا، قد نقص من تحقيقه لشهادة أن محمدًا رسول الله بقدر مخالفته[شرح ثلاثة الأصول، صالح بن عبدالعزيز آل الشيخ (145)]، وما أُمر به على نوعين: ما كان على سبيل الوجوب، فتجب الطاعة فيه، وما كان على سبيل الاستحباب، فتُستحب الطاعة فيه. Pertama: Menaati apa yang beliau perintahkan Apa yang Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam sampaikan punya dua kemungkinan: antara (1) berupa kabar berita, dan kewajiban kita terhadap hal ini adalah mempercayainya, dan (2) berupa perintah, dan kewajiban kita terhadap hal ini adalah taat dan tunduk. Jadi, kewajiban terhadap kabar berita dari beliau adalah mempercayai, dan kewajiban terhadap hukum-hukum dari beliau adalah menaati dan menjalankan. (Kitab Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah karya Dr. Khalid Al-Mushlih, hlm. 48). Jadi, kesaksian bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah rasul yang diutus oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki konsekuensi berupa ketaatan terhadap apa yang beliau perintahkan, karena apabila beliau memerintahkan sesuatu, maka pemberi perintah yang sebenarnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Apabila seseorang meyakini bahwa risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam bukanlah perkara yang beliau buat-buat sendiri, tapi beliau hanya seorang utusan untuk menyampaikan, maka konsekuensinya adalah dia harus menaati perintah beliau, karena dia telah bersaksi bahwa dia adalah utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Namun, apabila dia tidak menaati perintah beliau karena meyakini bahwa beliau tidak perlu ditaati, maka itu memerupakan bentuk pendustaan terhadap kesaksiannya sendiri. Orang yang mengucapkan, “Saya bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah rasul Allah” sedangkan dia meyakini bahwa tidak wajib menaati Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, maka keadaannya seperti orang-orang munafik, dan kesaksiannya tertolak karena dusta dalam kesaksiannya. Sedangkan apabila dia meyakini bahwa wajib menaati perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, tapi dia terkadang menyelisihi perintah beliau karena tumbang oleh hawa nafsunya, maka dia adalah pelaku maksiat, dan tingkat penerapan kesaksiannya bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah rasul Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkurang sesuai dengan kadar penyelisihannya. (Kitab Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Shalih bin Abdul Aziz Ali Asy-Syaikh, jilid 145). Kemudian apa yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam terbagi menjadi dua macam: (1) perintah yang wajib sehingga harus dikerjakan, (2) dan perintah yang sunnah sehingga pelaksanaannya bersifat anjuran. قال ابن القيم رحمه الله تعالى: «الشهادة لرسول الله بأنه نبي لا تُدخل الإنسانَ في الإسلام ما لم يلتزم طاعته ومتابعته، فشهادة عمه أبي طالب له بأنه صادق، وأن دينه من خير أديان البرية دينًا لم تُدْخِلهُ هذه الشهادة في الإسلام، ومن تأمَّل ما في السير والأخبار الثابتة من شهادة كثير من أهل الكتاب والمشركين له صلى الله عليه وسلم بالرسالة، وأنه صادق، ولم تدخلهم هذه الشهادة في الإسلام، علِمَ أن الإسلام أمرٌ وراء ذلك، وأنه ليس هو المعرفة فقط، ولا المعرفة والإقرار فقط، بل المعرفة والإقرار والانقياد، والتزام طاعته ودينه ظاهرًا وباطنًا»[زاد المعاد (3 /638)]. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah Nabi tidak serta-merta menjadikan seseorang masuk Islam, selagi dia belum berkomitmen untuk menaati dan mengikuti beliau, karena kesaksian paman beliau, Abu Thalib bahwa beliau itu benar dan agama beliau lebih baik daripada agama-agama manusia tidak serta-merta menjadikannya masuk Islam. Orang yang mencermati sejarah dan riwayat-riwayat shahih tentang kesaksian dari banyak Ahli Kitab dan orang-orang musyrik bahwa beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan orang yang benar tidak menjadikan mereka masuk Islam, maka orang yang mencermati itu pasti menjadi tahu bahwa keislaman adalah perkara yang lebih dari itu, bukan hanya tentang pengetahuan saja, dan bukan sekedar pengetahuan dan pengikraran semata, tapi Islam adalah tentang pengetahuan, pengikraran, ketaatan, dan komitmen terhadap ketaatan kepada beliau dan agama beliau secara lahir dan batin.” (Kitab Zad al-Ma’ad jilid 3 hlm. 638). الأمر الثاني: تصديقه فيما أخبر، فالخبر يستوجب التصديق، كما أن الأمر يستوجب الانقياد، فما أخبر به النبي صلى الله عليه وسلم من الغيب هو وحيٌ من عند الله، فكل ما أتى من أخبار الغيبيات من الكلام على الله جل وعلا وأسمائه وصفاته وأفعاله، وعن الجنة والنار، وعن أخبار الغيب، وقصص الماضين، هو كله بوحي من الله جل وعلا، فمقتضى الشهادة أنه رسول من عند الله: أن يُصدق في كل ما أخبر به، فالمؤمن يصدق رسول الله صلى الله عليه وسلم بما أخبر به، سواء عقل ذلك أو لم يعقله، وسواء أدرك ذلك بنظره أو لم يدركه [ينظر: شرح ثلاثة الأصول، صالح بن عبدالعزيز آل الشيخ (146)]. Kedua: Membenarkan apa yang beliau sampaikan Kabar dari beliau harus dipercaya, sebagaimana perintah beliau harus ditaati. Apa yang dikabarkan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang berupa perkara gaib adalah wahyu dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jadi, segala kabar yang tidak diketahui, seperti firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, surga dan neraka, kabar-kabar gaib, dan kisah-kisah kaum terdahulu, semua itu berdasarkan wahyu dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga konsekuensi dari kesaksian bahwa beliau adalah rasul yang diutus Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah harus dipercayai segala yang beliau sampaikan. Orang yang beriman harus membenarkan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, baik itu masuk akal baginya atau tidak, dan baik itu dapat dipahami oleh pandangannya atau tidak. (Lihat: Kitab Syarh Tsalatsah al-Ushul karya Shalih bin Abdul Aziz Ali Asy-Syaikh, jilid 146). الأمر الثالث: اجتناب ما عنه نهى وزجر، فما نهى عنه الرسول صلى الله عليه وسلم أو زجر عنه أو حرَّمه، فإنه يجب اجتنابه؛ كما قال جل وعلا: ﴿ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ﴾ [الحشر: 7]، والتعبير بلفظة (اجتناب) أولى من (ترك)؛ لأن الاجتناب هو التباعد بأن يكون العبد في جانب، والمنهيات في جانب آخر، ولا يكون ذلك إلا بترك المشتبهات التي لم يتضح للعبد حلها أو حرمتُها[تنبيه العقول إلى كنوز ثلاثة الأصول، د. عبدالرحمن الشمسان (2 /635)]. Ketiga: Menjauhi apa yang beliau larang Segala hal yang dilarang, diperingatkan, dan diharamkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam wajib ditinggalkan, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’alaa: وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا “Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7). Pemakaian diksi “menjauhi” lebih baik daripada dengan kata “meninggalkan”, karena menjauhi memiliki arti seorang hamba berada di satu sisi dan hal-hal yang terlarang berada di sisi yang lain, dan ini tidak akan terwujud kecuali dengan meninggalkan perkara-perkara syubhat yang belum jelas kehalalan dan keharamannya baginya. (Kitab Tanbih Al-Uqul Ila Kunuz Tsalatsah Al-Ushul karya Dr. Abdurrahman Asy-Syamsan, jilid 2 hlm. 635). الأمر الرابع: ألا يعبد الله إلا بما شرع، فلا يُعبد الله جل وعلا بالأهواء والبدع والمحدثات والآراء والاستحسانات المختلفة، وإنما يُعبد الله جل وعلا عن طريق واحدة، وهي طريق الرسول صلى الله عليه وسلم بما جاء به عن ربه جل وعلا[ينظر: شرح ثلاثة الأصول، صالح بن عبدالعزيز آل الشيخ (148)]، والضمير في قول المصنف: (وألا يعبد الله إلا بما شرع)؛ أي: بما شرعه الله عز وجل، فالضمير المستتر المتعلق بالفعل (شرع) عائد إلى الاسم الأحسن (الله) لا إلى الرسول، فتقدير الكلام: وألا يعبد الله إلا بما شرعه الله؛ لأن الرسول ليس له حق الشرع، وإنما الشرع حق خاص بالله جل وعلا، والنبي إنما هو مبلِّغ فيما يبلِّغه من شرع الله جل وعلا [ينظر: تعليقات على ثلاثة الأصول، صالح بن عبدالله العصيمي (37)]. Keempat: Tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang disyariatkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak boleh disembah dengan landasan hawa nafsu, bid’ah, hal yang dibuat-buat, pendapat-pendapat pribadi, dan kecondongan-kecondongan hati yang beraneka ragam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala hanya boleh disembah dengan satu cara, yaitu cara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang beliau dapatkan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (Lihat: Kitab Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Shalih bin Abdul Aziz Ali asy-Syaikh, jilid 148). Subjek dalam kalimat penulis, “Tidak beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kecuali dengan apa yang disyariatkan” yakni disyariatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jadi, subjek dari kata “disyariatkan” ini merujuk pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan kepada Rasul, sehingga kalimat lengkapnya adalah: Tidak beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kecuali dengan apa yang disyariatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam tidak memiliki hak untuk menetapkan syariat, tapi itu adalah hak prerogatif Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sedangkan Nabi adalah penyampai syariat yang ditetapkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. فإذا اعتقد المسلم ذلك كمُلت له شهادته أن محمدًا رسول الله، وصار مسلمًا حقًّا. ومقتضى هذه الشهادة أيضًا ألا يُعْتَقد أن لرسول الله صلى الله عليه وسلم حقًّا في الربوبية وتصريف الكون، أو حقًّا في العبادة، بل هو صلى الله عليه وسلم عبدٌ لا يُعْبد، ورسولٌ لا يُكَذَّب، ولا يملك لنفسه ولا لغيره شيئًا من النفع أو الضر إلا ما شاء الله؛ كما قال الله تعالى: ﴿ قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَي ﴾ [الأنعام: 50]، فهو عبد مأمور يتبع ما أُمر به[شرح ثلاثة الأصول، محمد بن صالح العثيمين (75)]. والمقصود: أن أول ما يجب على العبد في الركن الأول من أركان الإسلام الخمسة: معرفة معنى الشهادتين، مع النطق بها بلسانه، وأن يعمل بما دلت عليه[ينظر: حاشية ثلاثة الأصول، عبدالرحمن بن قاسم (58).]. Apabila seorang muslim telah meyakini hal ini, maka sempurnalah kesaksiannya bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah rasul Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menjadi Muslim yang hakiki. Di antara konsekuensi lain dari kesaksian ini juga adalah tidak meyakini Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam punya hak dalam mengatur alam semesta atau hak untuk disembah, tapi beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam hanyalah hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tidak boleh disembah, rasul yang tidak boleh didustakan, dan manusia yang tidak mampu mendatangkan manfaat dan mudharat bagi diri sendiri atau orang lain kecuali apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala kehendaki, sebagaimana yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan: قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَي “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan (rezeki) Allah ada padaku, aku (sendiri) tidak mengetahui yang gaib, dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.’” (QS. Al-An’am: 50). Beliau adalah seorang hamba yang diperintahkan dan menjalankan sesuai apa yang diperintahkan kepada beliau. (Kitab Syarh Tsalatsah al-Ushul karya Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hlm. 75). Kesimpulannya: Hal pertama yang wajib dilakukan seorang hamba dalam rukun pertama dari lima rukun Islam adalah mengenal makna dua kalimat syahadat, melafalkannya dengan lisannya dan mengamalkan konsekuensi dari kandungannya. (Lihat: Kitab Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul karya Abdurrahman bin Qasim, hlm. 58). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/141410/معنى-شهادة-أن-محمدا-رسول-الله/ Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 133 times, 1 visit(s) today Post Views: 283 QRIS donasi Yufid

Makna Kesaksian bahwa Muhammad adalah Utusan Allah

[Dari Kitab Al-Mahshul Al-Jami Li-Syuruh TsalatsahAl-Ushul] معنى شهادة أن محمدًا رسول الله Oleh: Dr. Fahd bin Badi Al-Mursyidi د. فهد بن بادي المرشدي قال المصنف رحمه الله: (وَمَعْنَى “شَهَادَة أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ الله”: طَاعَتُهُ فِيمَا أَمَرَ، وَتَصْدِيقُهُ فِيمَا أَخْبَرَ، واجْتِنَابُ مَا عنه نهى وزجر، وألا يُعْبَدَ الله إِلا بِمَا شَرَعَ). Penulis Rahimahullah berkata, “Makna bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah utusan Allah yakni menaati apa yang beliau perintahkan, membenarkan apa yang beliau kabarkan, menjauhi apa yang beliau larang, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang disyariatkan.” الشرح الإجمالي: (ومعنى شهادة أن محمدًا رسول الله)، أي: مقتضى هذه الشهادة هي: (طاعته فيما أمر) من التوحيد والصلاة والزكاة، وغيرها من الواجبات والمستحبات، (وتصديقه فيما أخبَر) به عن الآخرة والجنة والنار، وغير ذلك من أخبار الأمم الماضية، أو الأمور المستقبلة، (واجتناب ما عنه نهى وزجر)؛ كالشرك والبدع وعقوق الوالدين والزنا والربا، وغير ذلك، (وألا يعبد الله إلا بما شرع) الله سبحانه في كتابه، وما جاء به رسوله صلى الله عليه وسلم، فمن عبَدَ الله بغير ما شرع، فعمله باطل مردود عليه [ينظر: حاشية ثلاثة الأصول، عبدالرحمن بن قاسم (57)؛ وتيسير الوصول شرح ثلاثة الأصول، د. عبدالمحسن القاسم (137)؛ وشرح الأصول الثلاثة، عبدالرحمن البراك (28)]. Penjelasan singkat: Maksud dari perkataan di atas: “Makna bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah utusan Allah” yakni konsekuensi dari kesaksian ini adalah “menaati apa yang beliau perintahkan” berupa pengesaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, shalat, zakat, dan amalan-amalan lain yang wajib dan sunnah, “membenarkan apa yang beliau kabarkan” tentang akhirat, surga, neraka, dan kisah dari umat-umat terdahulu dan perkara-perkara di masa depan, “menjauhi apa yang beliau larang” seperti syirik, bid’ah, durhaka terhadap orang tua, zina, riba, dan lain sebagainya, “dan tidak beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kecuali dengan apa yang disyariatkan” yakni oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Kitab-Nya dan yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Siapa yang beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan selain apa yang disyariatkan, maka amalannya batal dan tertolak. (Lihat: Kitab Hasyiyah Tsalatsah al-Ushul karya Abdurrahman bin Qasim, hlm. 57, Taisir Al-Wushul Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Dr. Abdul Muhsin Al-Qasim, hlm. 137, dan Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Abdurrahman Al-Barrak, hlm. 28). الشرح التفصيلي: سبق فيما مضى بيان أن الشهادة لا تكون شهادة، حتى يجتمع فيها ثلاث مراتب: علم الشاهد بها، واعتقاد صحة ما شهد به، وتكلم الشاهد بذلك ونطقه به، وأن يُعْلِم الشاهد ويخبر غيره بما يشهد به، فمعنى شهادة أنَّ محمدًا رسول الله أن يعلَم العبد ويعتقد ويتكلم، ويُخبر أنَّ محمدًا بن عبدالله الهاشمي القرشي المكي رسولٌ من عند الله جلَّ وعلا إلى جميع الخلق من الجن والإنس، أُنزل عليه الوحي فبلَّغ ذلك؛ لأن الرسول مُبلِّغ[ينظر: شرح ثلاثة الأصول، محمد بن صالح العثيمين (75)]. Penjelasan rinci: Telah diuraikan sebelumnya bahwa kesaksian tidak akan menjadi kesaksian hingga terkumpul di dalamnya tiga tahapan, (1) orang yang bersaksi telah memahami kandungan kesaksian, (2) meyakini kebenaran apa yang dia persaksikan, (3) melafalkan kesaksian disertai dengan mengabarkan kesaksian itu kepada orang lain. Jadi, makna bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah Rasul Allah Subhanahu Wa Ta’ala yakni seseorang harus mengetahui, meyakini, dan mengucapkan dan menyampaikannya bahwa Muhammad bin Abdullah Al-Hasyimi Al-Makki adalah utusan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada seluruh makhluk dari golongan jin dan manusia, yang diturunkan wahyu kepada beliau kemudian beliau menyampaikannya, karena hakikat rasul adalah penyampai risalah. (Lihat: Kitab Syarh Tsalatsah al-Ushul karya Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hlm. 75). وهناك من يُفسِّر شهادة أنَّ محمدًا رسول الله بمقتضاها؛ أي: بمعناها الذي تقتضيه، كما فعل المصنف؛ حيث قال: (ومعنى شهادة أنَّ محمدًا رسول الله: طاعته فيما أمر، وتصديقه فيما أخبر، واجتناب ما عنه نهى وزجَر، وألا يعبد الله إلا بما شرَع)، فمعنى شهادة أن محمدًا رسول الله من طريق اللزوم: أنها تقتضي أمورًا أربعة: Jadi, ada ulama yang menafsirkan kesaksian bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan cara menyebutkan konsekuensinya, yakni dengan maknanya yang menjadi konsekuensinya, sebagaimana yang definisi yang dijelaskan oleh penulis yang mengatakan, “Makna bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallamadalah utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yakni menaati apa yang beliau perintahkan, membenarkan apa yang beliau kabarkan, menjauhi apa yang beliau larang, dan tidak beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kecuali dengan apa yang disyariatkan.” Dalam artian lain, kesaksian bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah rasul Allah Subhanahu Wa Ta’ala berdasarkan definisi tersebut memiliki empat konsekuensi, yaitu: الأمر الأول: طاعته فيما أمر، فإن ما جاء به النبي صلى الله عليه وسلم؛ إما أن يكون خبرًا، فالواجب فيه التصديق، وإما أن يكون أمرًا، فالواجب فيه الانقياد والتسليم، فالواجب في الأخبار التصديق، والواجب في الأحكام الطاعة والانقياد[شرح الأصول الثلاثة، د. خالد المصلح (48)]، فالشهادة بأن محمدًا رسول من عند الله تقتضي طاعته فيما أمر؛ لأنه إذا أمر فإن الآمر هو الله جل وعلا، فإذا اعتقد أن هذا الذي جاء به محمد صلى الله عليه وسلم لم يأتِ به من عنده وإنما هو رسول، فمقتضى ذلك: أن يطيعه فيما أمر، لكونه شهد بأنه رسول الله، فإن لم يطعه فيما أمَر اعتقادًا أنه لا يُطاع، كان ذلك تكذيبًا لشهادته، فمن قال أشهد أن محمدًا رسول الله، وهو يعتقد أنه لا تلزمه طاعة الرسول صلى الله عليه وسلم، فحاله حال المنافقين، شهادته مردودة، وهو كاذبٌ في شهادته، وأما إذا اعتقد أنه تجب عليه طاعة الرسول صلى الله عليه وسلم فيما أمر، ولكنه خالف لغلبة هوى، فهذا يكون عاصيًا، قد نقص من تحقيقه لشهادة أن محمدًا رسول الله بقدر مخالفته[شرح ثلاثة الأصول، صالح بن عبدالعزيز آل الشيخ (145)]، وما أُمر به على نوعين: ما كان على سبيل الوجوب، فتجب الطاعة فيه، وما كان على سبيل الاستحباب، فتُستحب الطاعة فيه. Pertama: Menaati apa yang beliau perintahkan Apa yang Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam sampaikan punya dua kemungkinan: antara (1) berupa kabar berita, dan kewajiban kita terhadap hal ini adalah mempercayainya, dan (2) berupa perintah, dan kewajiban kita terhadap hal ini adalah taat dan tunduk. Jadi, kewajiban terhadap kabar berita dari beliau adalah mempercayai, dan kewajiban terhadap hukum-hukum dari beliau adalah menaati dan menjalankan. (Kitab Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah karya Dr. Khalid Al-Mushlih, hlm. 48). Jadi, kesaksian bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah rasul yang diutus oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki konsekuensi berupa ketaatan terhadap apa yang beliau perintahkan, karena apabila beliau memerintahkan sesuatu, maka pemberi perintah yang sebenarnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Apabila seseorang meyakini bahwa risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam bukanlah perkara yang beliau buat-buat sendiri, tapi beliau hanya seorang utusan untuk menyampaikan, maka konsekuensinya adalah dia harus menaati perintah beliau, karena dia telah bersaksi bahwa dia adalah utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Namun, apabila dia tidak menaati perintah beliau karena meyakini bahwa beliau tidak perlu ditaati, maka itu memerupakan bentuk pendustaan terhadap kesaksiannya sendiri. Orang yang mengucapkan, “Saya bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah rasul Allah” sedangkan dia meyakini bahwa tidak wajib menaati Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, maka keadaannya seperti orang-orang munafik, dan kesaksiannya tertolak karena dusta dalam kesaksiannya. Sedangkan apabila dia meyakini bahwa wajib menaati perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, tapi dia terkadang menyelisihi perintah beliau karena tumbang oleh hawa nafsunya, maka dia adalah pelaku maksiat, dan tingkat penerapan kesaksiannya bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah rasul Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkurang sesuai dengan kadar penyelisihannya. (Kitab Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Shalih bin Abdul Aziz Ali Asy-Syaikh, jilid 145). Kemudian apa yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam terbagi menjadi dua macam: (1) perintah yang wajib sehingga harus dikerjakan, (2) dan perintah yang sunnah sehingga pelaksanaannya bersifat anjuran. قال ابن القيم رحمه الله تعالى: «الشهادة لرسول الله بأنه نبي لا تُدخل الإنسانَ في الإسلام ما لم يلتزم طاعته ومتابعته، فشهادة عمه أبي طالب له بأنه صادق، وأن دينه من خير أديان البرية دينًا لم تُدْخِلهُ هذه الشهادة في الإسلام، ومن تأمَّل ما في السير والأخبار الثابتة من شهادة كثير من أهل الكتاب والمشركين له صلى الله عليه وسلم بالرسالة، وأنه صادق، ولم تدخلهم هذه الشهادة في الإسلام، علِمَ أن الإسلام أمرٌ وراء ذلك، وأنه ليس هو المعرفة فقط، ولا المعرفة والإقرار فقط، بل المعرفة والإقرار والانقياد، والتزام طاعته ودينه ظاهرًا وباطنًا»[زاد المعاد (3 /638)]. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah Nabi tidak serta-merta menjadikan seseorang masuk Islam, selagi dia belum berkomitmen untuk menaati dan mengikuti beliau, karena kesaksian paman beliau, Abu Thalib bahwa beliau itu benar dan agama beliau lebih baik daripada agama-agama manusia tidak serta-merta menjadikannya masuk Islam. Orang yang mencermati sejarah dan riwayat-riwayat shahih tentang kesaksian dari banyak Ahli Kitab dan orang-orang musyrik bahwa beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan orang yang benar tidak menjadikan mereka masuk Islam, maka orang yang mencermati itu pasti menjadi tahu bahwa keislaman adalah perkara yang lebih dari itu, bukan hanya tentang pengetahuan saja, dan bukan sekedar pengetahuan dan pengikraran semata, tapi Islam adalah tentang pengetahuan, pengikraran, ketaatan, dan komitmen terhadap ketaatan kepada beliau dan agama beliau secara lahir dan batin.” (Kitab Zad al-Ma’ad jilid 3 hlm. 638). الأمر الثاني: تصديقه فيما أخبر، فالخبر يستوجب التصديق، كما أن الأمر يستوجب الانقياد، فما أخبر به النبي صلى الله عليه وسلم من الغيب هو وحيٌ من عند الله، فكل ما أتى من أخبار الغيبيات من الكلام على الله جل وعلا وأسمائه وصفاته وأفعاله، وعن الجنة والنار، وعن أخبار الغيب، وقصص الماضين، هو كله بوحي من الله جل وعلا، فمقتضى الشهادة أنه رسول من عند الله: أن يُصدق في كل ما أخبر به، فالمؤمن يصدق رسول الله صلى الله عليه وسلم بما أخبر به، سواء عقل ذلك أو لم يعقله، وسواء أدرك ذلك بنظره أو لم يدركه [ينظر: شرح ثلاثة الأصول، صالح بن عبدالعزيز آل الشيخ (146)]. Kedua: Membenarkan apa yang beliau sampaikan Kabar dari beliau harus dipercaya, sebagaimana perintah beliau harus ditaati. Apa yang dikabarkan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang berupa perkara gaib adalah wahyu dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jadi, segala kabar yang tidak diketahui, seperti firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, surga dan neraka, kabar-kabar gaib, dan kisah-kisah kaum terdahulu, semua itu berdasarkan wahyu dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga konsekuensi dari kesaksian bahwa beliau adalah rasul yang diutus Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah harus dipercayai segala yang beliau sampaikan. Orang yang beriman harus membenarkan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, baik itu masuk akal baginya atau tidak, dan baik itu dapat dipahami oleh pandangannya atau tidak. (Lihat: Kitab Syarh Tsalatsah al-Ushul karya Shalih bin Abdul Aziz Ali Asy-Syaikh, jilid 146). الأمر الثالث: اجتناب ما عنه نهى وزجر، فما نهى عنه الرسول صلى الله عليه وسلم أو زجر عنه أو حرَّمه، فإنه يجب اجتنابه؛ كما قال جل وعلا: ﴿ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ﴾ [الحشر: 7]، والتعبير بلفظة (اجتناب) أولى من (ترك)؛ لأن الاجتناب هو التباعد بأن يكون العبد في جانب، والمنهيات في جانب آخر، ولا يكون ذلك إلا بترك المشتبهات التي لم يتضح للعبد حلها أو حرمتُها[تنبيه العقول إلى كنوز ثلاثة الأصول، د. عبدالرحمن الشمسان (2 /635)]. Ketiga: Menjauhi apa yang beliau larang Segala hal yang dilarang, diperingatkan, dan diharamkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam wajib ditinggalkan, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’alaa: وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا “Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7). Pemakaian diksi “menjauhi” lebih baik daripada dengan kata “meninggalkan”, karena menjauhi memiliki arti seorang hamba berada di satu sisi dan hal-hal yang terlarang berada di sisi yang lain, dan ini tidak akan terwujud kecuali dengan meninggalkan perkara-perkara syubhat yang belum jelas kehalalan dan keharamannya baginya. (Kitab Tanbih Al-Uqul Ila Kunuz Tsalatsah Al-Ushul karya Dr. Abdurrahman Asy-Syamsan, jilid 2 hlm. 635). الأمر الرابع: ألا يعبد الله إلا بما شرع، فلا يُعبد الله جل وعلا بالأهواء والبدع والمحدثات والآراء والاستحسانات المختلفة، وإنما يُعبد الله جل وعلا عن طريق واحدة، وهي طريق الرسول صلى الله عليه وسلم بما جاء به عن ربه جل وعلا[ينظر: شرح ثلاثة الأصول، صالح بن عبدالعزيز آل الشيخ (148)]، والضمير في قول المصنف: (وألا يعبد الله إلا بما شرع)؛ أي: بما شرعه الله عز وجل، فالضمير المستتر المتعلق بالفعل (شرع) عائد إلى الاسم الأحسن (الله) لا إلى الرسول، فتقدير الكلام: وألا يعبد الله إلا بما شرعه الله؛ لأن الرسول ليس له حق الشرع، وإنما الشرع حق خاص بالله جل وعلا، والنبي إنما هو مبلِّغ فيما يبلِّغه من شرع الله جل وعلا [ينظر: تعليقات على ثلاثة الأصول، صالح بن عبدالله العصيمي (37)]. Keempat: Tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang disyariatkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak boleh disembah dengan landasan hawa nafsu, bid’ah, hal yang dibuat-buat, pendapat-pendapat pribadi, dan kecondongan-kecondongan hati yang beraneka ragam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala hanya boleh disembah dengan satu cara, yaitu cara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang beliau dapatkan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (Lihat: Kitab Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Shalih bin Abdul Aziz Ali asy-Syaikh, jilid 148). Subjek dalam kalimat penulis, “Tidak beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kecuali dengan apa yang disyariatkan” yakni disyariatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jadi, subjek dari kata “disyariatkan” ini merujuk pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan kepada Rasul, sehingga kalimat lengkapnya adalah: Tidak beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kecuali dengan apa yang disyariatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam tidak memiliki hak untuk menetapkan syariat, tapi itu adalah hak prerogatif Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sedangkan Nabi adalah penyampai syariat yang ditetapkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. فإذا اعتقد المسلم ذلك كمُلت له شهادته أن محمدًا رسول الله، وصار مسلمًا حقًّا. ومقتضى هذه الشهادة أيضًا ألا يُعْتَقد أن لرسول الله صلى الله عليه وسلم حقًّا في الربوبية وتصريف الكون، أو حقًّا في العبادة، بل هو صلى الله عليه وسلم عبدٌ لا يُعْبد، ورسولٌ لا يُكَذَّب، ولا يملك لنفسه ولا لغيره شيئًا من النفع أو الضر إلا ما شاء الله؛ كما قال الله تعالى: ﴿ قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَي ﴾ [الأنعام: 50]، فهو عبد مأمور يتبع ما أُمر به[شرح ثلاثة الأصول، محمد بن صالح العثيمين (75)]. والمقصود: أن أول ما يجب على العبد في الركن الأول من أركان الإسلام الخمسة: معرفة معنى الشهادتين، مع النطق بها بلسانه، وأن يعمل بما دلت عليه[ينظر: حاشية ثلاثة الأصول، عبدالرحمن بن قاسم (58).]. Apabila seorang muslim telah meyakini hal ini, maka sempurnalah kesaksiannya bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah rasul Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menjadi Muslim yang hakiki. Di antara konsekuensi lain dari kesaksian ini juga adalah tidak meyakini Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam punya hak dalam mengatur alam semesta atau hak untuk disembah, tapi beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam hanyalah hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tidak boleh disembah, rasul yang tidak boleh didustakan, dan manusia yang tidak mampu mendatangkan manfaat dan mudharat bagi diri sendiri atau orang lain kecuali apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala kehendaki, sebagaimana yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan: قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَي “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan (rezeki) Allah ada padaku, aku (sendiri) tidak mengetahui yang gaib, dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.’” (QS. Al-An’am: 50). Beliau adalah seorang hamba yang diperintahkan dan menjalankan sesuai apa yang diperintahkan kepada beliau. (Kitab Syarh Tsalatsah al-Ushul karya Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hlm. 75). Kesimpulannya: Hal pertama yang wajib dilakukan seorang hamba dalam rukun pertama dari lima rukun Islam adalah mengenal makna dua kalimat syahadat, melafalkannya dengan lisannya dan mengamalkan konsekuensi dari kandungannya. (Lihat: Kitab Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul karya Abdurrahman bin Qasim, hlm. 58). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/141410/معنى-شهادة-أن-محمدا-رسول-الله/ Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 133 times, 1 visit(s) today Post Views: 283 QRIS donasi Yufid
[Dari Kitab Al-Mahshul Al-Jami Li-Syuruh TsalatsahAl-Ushul] معنى شهادة أن محمدًا رسول الله Oleh: Dr. Fahd bin Badi Al-Mursyidi د. فهد بن بادي المرشدي قال المصنف رحمه الله: (وَمَعْنَى “شَهَادَة أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ الله”: طَاعَتُهُ فِيمَا أَمَرَ، وَتَصْدِيقُهُ فِيمَا أَخْبَرَ، واجْتِنَابُ مَا عنه نهى وزجر، وألا يُعْبَدَ الله إِلا بِمَا شَرَعَ). Penulis Rahimahullah berkata, “Makna bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah utusan Allah yakni menaati apa yang beliau perintahkan, membenarkan apa yang beliau kabarkan, menjauhi apa yang beliau larang, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang disyariatkan.” الشرح الإجمالي: (ومعنى شهادة أن محمدًا رسول الله)، أي: مقتضى هذه الشهادة هي: (طاعته فيما أمر) من التوحيد والصلاة والزكاة، وغيرها من الواجبات والمستحبات، (وتصديقه فيما أخبَر) به عن الآخرة والجنة والنار، وغير ذلك من أخبار الأمم الماضية، أو الأمور المستقبلة، (واجتناب ما عنه نهى وزجر)؛ كالشرك والبدع وعقوق الوالدين والزنا والربا، وغير ذلك، (وألا يعبد الله إلا بما شرع) الله سبحانه في كتابه، وما جاء به رسوله صلى الله عليه وسلم، فمن عبَدَ الله بغير ما شرع، فعمله باطل مردود عليه [ينظر: حاشية ثلاثة الأصول، عبدالرحمن بن قاسم (57)؛ وتيسير الوصول شرح ثلاثة الأصول، د. عبدالمحسن القاسم (137)؛ وشرح الأصول الثلاثة، عبدالرحمن البراك (28)]. Penjelasan singkat: Maksud dari perkataan di atas: “Makna bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah utusan Allah” yakni konsekuensi dari kesaksian ini adalah “menaati apa yang beliau perintahkan” berupa pengesaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, shalat, zakat, dan amalan-amalan lain yang wajib dan sunnah, “membenarkan apa yang beliau kabarkan” tentang akhirat, surga, neraka, dan kisah dari umat-umat terdahulu dan perkara-perkara di masa depan, “menjauhi apa yang beliau larang” seperti syirik, bid’ah, durhaka terhadap orang tua, zina, riba, dan lain sebagainya, “dan tidak beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kecuali dengan apa yang disyariatkan” yakni oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Kitab-Nya dan yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Siapa yang beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan selain apa yang disyariatkan, maka amalannya batal dan tertolak. (Lihat: Kitab Hasyiyah Tsalatsah al-Ushul karya Abdurrahman bin Qasim, hlm. 57, Taisir Al-Wushul Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Dr. Abdul Muhsin Al-Qasim, hlm. 137, dan Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Abdurrahman Al-Barrak, hlm. 28). الشرح التفصيلي: سبق فيما مضى بيان أن الشهادة لا تكون شهادة، حتى يجتمع فيها ثلاث مراتب: علم الشاهد بها، واعتقاد صحة ما شهد به، وتكلم الشاهد بذلك ونطقه به، وأن يُعْلِم الشاهد ويخبر غيره بما يشهد به، فمعنى شهادة أنَّ محمدًا رسول الله أن يعلَم العبد ويعتقد ويتكلم، ويُخبر أنَّ محمدًا بن عبدالله الهاشمي القرشي المكي رسولٌ من عند الله جلَّ وعلا إلى جميع الخلق من الجن والإنس، أُنزل عليه الوحي فبلَّغ ذلك؛ لأن الرسول مُبلِّغ[ينظر: شرح ثلاثة الأصول، محمد بن صالح العثيمين (75)]. Penjelasan rinci: Telah diuraikan sebelumnya bahwa kesaksian tidak akan menjadi kesaksian hingga terkumpul di dalamnya tiga tahapan, (1) orang yang bersaksi telah memahami kandungan kesaksian, (2) meyakini kebenaran apa yang dia persaksikan, (3) melafalkan kesaksian disertai dengan mengabarkan kesaksian itu kepada orang lain. Jadi, makna bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah Rasul Allah Subhanahu Wa Ta’ala yakni seseorang harus mengetahui, meyakini, dan mengucapkan dan menyampaikannya bahwa Muhammad bin Abdullah Al-Hasyimi Al-Makki adalah utusan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada seluruh makhluk dari golongan jin dan manusia, yang diturunkan wahyu kepada beliau kemudian beliau menyampaikannya, karena hakikat rasul adalah penyampai risalah. (Lihat: Kitab Syarh Tsalatsah al-Ushul karya Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hlm. 75). وهناك من يُفسِّر شهادة أنَّ محمدًا رسول الله بمقتضاها؛ أي: بمعناها الذي تقتضيه، كما فعل المصنف؛ حيث قال: (ومعنى شهادة أنَّ محمدًا رسول الله: طاعته فيما أمر، وتصديقه فيما أخبر، واجتناب ما عنه نهى وزجَر، وألا يعبد الله إلا بما شرَع)، فمعنى شهادة أن محمدًا رسول الله من طريق اللزوم: أنها تقتضي أمورًا أربعة: Jadi, ada ulama yang menafsirkan kesaksian bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan cara menyebutkan konsekuensinya, yakni dengan maknanya yang menjadi konsekuensinya, sebagaimana yang definisi yang dijelaskan oleh penulis yang mengatakan, “Makna bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallamadalah utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yakni menaati apa yang beliau perintahkan, membenarkan apa yang beliau kabarkan, menjauhi apa yang beliau larang, dan tidak beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kecuali dengan apa yang disyariatkan.” Dalam artian lain, kesaksian bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah rasul Allah Subhanahu Wa Ta’ala berdasarkan definisi tersebut memiliki empat konsekuensi, yaitu: الأمر الأول: طاعته فيما أمر، فإن ما جاء به النبي صلى الله عليه وسلم؛ إما أن يكون خبرًا، فالواجب فيه التصديق، وإما أن يكون أمرًا، فالواجب فيه الانقياد والتسليم، فالواجب في الأخبار التصديق، والواجب في الأحكام الطاعة والانقياد[شرح الأصول الثلاثة، د. خالد المصلح (48)]، فالشهادة بأن محمدًا رسول من عند الله تقتضي طاعته فيما أمر؛ لأنه إذا أمر فإن الآمر هو الله جل وعلا، فإذا اعتقد أن هذا الذي جاء به محمد صلى الله عليه وسلم لم يأتِ به من عنده وإنما هو رسول، فمقتضى ذلك: أن يطيعه فيما أمر، لكونه شهد بأنه رسول الله، فإن لم يطعه فيما أمَر اعتقادًا أنه لا يُطاع، كان ذلك تكذيبًا لشهادته، فمن قال أشهد أن محمدًا رسول الله، وهو يعتقد أنه لا تلزمه طاعة الرسول صلى الله عليه وسلم، فحاله حال المنافقين، شهادته مردودة، وهو كاذبٌ في شهادته، وأما إذا اعتقد أنه تجب عليه طاعة الرسول صلى الله عليه وسلم فيما أمر، ولكنه خالف لغلبة هوى، فهذا يكون عاصيًا، قد نقص من تحقيقه لشهادة أن محمدًا رسول الله بقدر مخالفته[شرح ثلاثة الأصول، صالح بن عبدالعزيز آل الشيخ (145)]، وما أُمر به على نوعين: ما كان على سبيل الوجوب، فتجب الطاعة فيه، وما كان على سبيل الاستحباب، فتُستحب الطاعة فيه. Pertama: Menaati apa yang beliau perintahkan Apa yang Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam sampaikan punya dua kemungkinan: antara (1) berupa kabar berita, dan kewajiban kita terhadap hal ini adalah mempercayainya, dan (2) berupa perintah, dan kewajiban kita terhadap hal ini adalah taat dan tunduk. Jadi, kewajiban terhadap kabar berita dari beliau adalah mempercayai, dan kewajiban terhadap hukum-hukum dari beliau adalah menaati dan menjalankan. (Kitab Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah karya Dr. Khalid Al-Mushlih, hlm. 48). Jadi, kesaksian bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah rasul yang diutus oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki konsekuensi berupa ketaatan terhadap apa yang beliau perintahkan, karena apabila beliau memerintahkan sesuatu, maka pemberi perintah yang sebenarnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Apabila seseorang meyakini bahwa risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam bukanlah perkara yang beliau buat-buat sendiri, tapi beliau hanya seorang utusan untuk menyampaikan, maka konsekuensinya adalah dia harus menaati perintah beliau, karena dia telah bersaksi bahwa dia adalah utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Namun, apabila dia tidak menaati perintah beliau karena meyakini bahwa beliau tidak perlu ditaati, maka itu memerupakan bentuk pendustaan terhadap kesaksiannya sendiri. Orang yang mengucapkan, “Saya bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah rasul Allah” sedangkan dia meyakini bahwa tidak wajib menaati Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, maka keadaannya seperti orang-orang munafik, dan kesaksiannya tertolak karena dusta dalam kesaksiannya. Sedangkan apabila dia meyakini bahwa wajib menaati perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, tapi dia terkadang menyelisihi perintah beliau karena tumbang oleh hawa nafsunya, maka dia adalah pelaku maksiat, dan tingkat penerapan kesaksiannya bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah rasul Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkurang sesuai dengan kadar penyelisihannya. (Kitab Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Shalih bin Abdul Aziz Ali Asy-Syaikh, jilid 145). Kemudian apa yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam terbagi menjadi dua macam: (1) perintah yang wajib sehingga harus dikerjakan, (2) dan perintah yang sunnah sehingga pelaksanaannya bersifat anjuran. قال ابن القيم رحمه الله تعالى: «الشهادة لرسول الله بأنه نبي لا تُدخل الإنسانَ في الإسلام ما لم يلتزم طاعته ومتابعته، فشهادة عمه أبي طالب له بأنه صادق، وأن دينه من خير أديان البرية دينًا لم تُدْخِلهُ هذه الشهادة في الإسلام، ومن تأمَّل ما في السير والأخبار الثابتة من شهادة كثير من أهل الكتاب والمشركين له صلى الله عليه وسلم بالرسالة، وأنه صادق، ولم تدخلهم هذه الشهادة في الإسلام، علِمَ أن الإسلام أمرٌ وراء ذلك، وأنه ليس هو المعرفة فقط، ولا المعرفة والإقرار فقط، بل المعرفة والإقرار والانقياد، والتزام طاعته ودينه ظاهرًا وباطنًا»[زاد المعاد (3 /638)]. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah Nabi tidak serta-merta menjadikan seseorang masuk Islam, selagi dia belum berkomitmen untuk menaati dan mengikuti beliau, karena kesaksian paman beliau, Abu Thalib bahwa beliau itu benar dan agama beliau lebih baik daripada agama-agama manusia tidak serta-merta menjadikannya masuk Islam. Orang yang mencermati sejarah dan riwayat-riwayat shahih tentang kesaksian dari banyak Ahli Kitab dan orang-orang musyrik bahwa beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan orang yang benar tidak menjadikan mereka masuk Islam, maka orang yang mencermati itu pasti menjadi tahu bahwa keislaman adalah perkara yang lebih dari itu, bukan hanya tentang pengetahuan saja, dan bukan sekedar pengetahuan dan pengikraran semata, tapi Islam adalah tentang pengetahuan, pengikraran, ketaatan, dan komitmen terhadap ketaatan kepada beliau dan agama beliau secara lahir dan batin.” (Kitab Zad al-Ma’ad jilid 3 hlm. 638). الأمر الثاني: تصديقه فيما أخبر، فالخبر يستوجب التصديق، كما أن الأمر يستوجب الانقياد، فما أخبر به النبي صلى الله عليه وسلم من الغيب هو وحيٌ من عند الله، فكل ما أتى من أخبار الغيبيات من الكلام على الله جل وعلا وأسمائه وصفاته وأفعاله، وعن الجنة والنار، وعن أخبار الغيب، وقصص الماضين، هو كله بوحي من الله جل وعلا، فمقتضى الشهادة أنه رسول من عند الله: أن يُصدق في كل ما أخبر به، فالمؤمن يصدق رسول الله صلى الله عليه وسلم بما أخبر به، سواء عقل ذلك أو لم يعقله، وسواء أدرك ذلك بنظره أو لم يدركه [ينظر: شرح ثلاثة الأصول، صالح بن عبدالعزيز آل الشيخ (146)]. Kedua: Membenarkan apa yang beliau sampaikan Kabar dari beliau harus dipercaya, sebagaimana perintah beliau harus ditaati. Apa yang dikabarkan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang berupa perkara gaib adalah wahyu dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jadi, segala kabar yang tidak diketahui, seperti firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, surga dan neraka, kabar-kabar gaib, dan kisah-kisah kaum terdahulu, semua itu berdasarkan wahyu dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga konsekuensi dari kesaksian bahwa beliau adalah rasul yang diutus Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah harus dipercayai segala yang beliau sampaikan. Orang yang beriman harus membenarkan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, baik itu masuk akal baginya atau tidak, dan baik itu dapat dipahami oleh pandangannya atau tidak. (Lihat: Kitab Syarh Tsalatsah al-Ushul karya Shalih bin Abdul Aziz Ali Asy-Syaikh, jilid 146). الأمر الثالث: اجتناب ما عنه نهى وزجر، فما نهى عنه الرسول صلى الله عليه وسلم أو زجر عنه أو حرَّمه، فإنه يجب اجتنابه؛ كما قال جل وعلا: ﴿ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ﴾ [الحشر: 7]، والتعبير بلفظة (اجتناب) أولى من (ترك)؛ لأن الاجتناب هو التباعد بأن يكون العبد في جانب، والمنهيات في جانب آخر، ولا يكون ذلك إلا بترك المشتبهات التي لم يتضح للعبد حلها أو حرمتُها[تنبيه العقول إلى كنوز ثلاثة الأصول، د. عبدالرحمن الشمسان (2 /635)]. Ketiga: Menjauhi apa yang beliau larang Segala hal yang dilarang, diperingatkan, dan diharamkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam wajib ditinggalkan, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’alaa: وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا “Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7). Pemakaian diksi “menjauhi” lebih baik daripada dengan kata “meninggalkan”, karena menjauhi memiliki arti seorang hamba berada di satu sisi dan hal-hal yang terlarang berada di sisi yang lain, dan ini tidak akan terwujud kecuali dengan meninggalkan perkara-perkara syubhat yang belum jelas kehalalan dan keharamannya baginya. (Kitab Tanbih Al-Uqul Ila Kunuz Tsalatsah Al-Ushul karya Dr. Abdurrahman Asy-Syamsan, jilid 2 hlm. 635). الأمر الرابع: ألا يعبد الله إلا بما شرع، فلا يُعبد الله جل وعلا بالأهواء والبدع والمحدثات والآراء والاستحسانات المختلفة، وإنما يُعبد الله جل وعلا عن طريق واحدة، وهي طريق الرسول صلى الله عليه وسلم بما جاء به عن ربه جل وعلا[ينظر: شرح ثلاثة الأصول، صالح بن عبدالعزيز آل الشيخ (148)]، والضمير في قول المصنف: (وألا يعبد الله إلا بما شرع)؛ أي: بما شرعه الله عز وجل، فالضمير المستتر المتعلق بالفعل (شرع) عائد إلى الاسم الأحسن (الله) لا إلى الرسول، فتقدير الكلام: وألا يعبد الله إلا بما شرعه الله؛ لأن الرسول ليس له حق الشرع، وإنما الشرع حق خاص بالله جل وعلا، والنبي إنما هو مبلِّغ فيما يبلِّغه من شرع الله جل وعلا [ينظر: تعليقات على ثلاثة الأصول، صالح بن عبدالله العصيمي (37)]. Keempat: Tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang disyariatkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak boleh disembah dengan landasan hawa nafsu, bid’ah, hal yang dibuat-buat, pendapat-pendapat pribadi, dan kecondongan-kecondongan hati yang beraneka ragam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala hanya boleh disembah dengan satu cara, yaitu cara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang beliau dapatkan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (Lihat: Kitab Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Shalih bin Abdul Aziz Ali asy-Syaikh, jilid 148). Subjek dalam kalimat penulis, “Tidak beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kecuali dengan apa yang disyariatkan” yakni disyariatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jadi, subjek dari kata “disyariatkan” ini merujuk pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan kepada Rasul, sehingga kalimat lengkapnya adalah: Tidak beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kecuali dengan apa yang disyariatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam tidak memiliki hak untuk menetapkan syariat, tapi itu adalah hak prerogatif Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sedangkan Nabi adalah penyampai syariat yang ditetapkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. فإذا اعتقد المسلم ذلك كمُلت له شهادته أن محمدًا رسول الله، وصار مسلمًا حقًّا. ومقتضى هذه الشهادة أيضًا ألا يُعْتَقد أن لرسول الله صلى الله عليه وسلم حقًّا في الربوبية وتصريف الكون، أو حقًّا في العبادة، بل هو صلى الله عليه وسلم عبدٌ لا يُعْبد، ورسولٌ لا يُكَذَّب، ولا يملك لنفسه ولا لغيره شيئًا من النفع أو الضر إلا ما شاء الله؛ كما قال الله تعالى: ﴿ قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَي ﴾ [الأنعام: 50]، فهو عبد مأمور يتبع ما أُمر به[شرح ثلاثة الأصول، محمد بن صالح العثيمين (75)]. والمقصود: أن أول ما يجب على العبد في الركن الأول من أركان الإسلام الخمسة: معرفة معنى الشهادتين، مع النطق بها بلسانه، وأن يعمل بما دلت عليه[ينظر: حاشية ثلاثة الأصول، عبدالرحمن بن قاسم (58).]. Apabila seorang muslim telah meyakini hal ini, maka sempurnalah kesaksiannya bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah rasul Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menjadi Muslim yang hakiki. Di antara konsekuensi lain dari kesaksian ini juga adalah tidak meyakini Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam punya hak dalam mengatur alam semesta atau hak untuk disembah, tapi beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam hanyalah hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tidak boleh disembah, rasul yang tidak boleh didustakan, dan manusia yang tidak mampu mendatangkan manfaat dan mudharat bagi diri sendiri atau orang lain kecuali apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala kehendaki, sebagaimana yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan: قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَي “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan (rezeki) Allah ada padaku, aku (sendiri) tidak mengetahui yang gaib, dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.’” (QS. Al-An’am: 50). Beliau adalah seorang hamba yang diperintahkan dan menjalankan sesuai apa yang diperintahkan kepada beliau. (Kitab Syarh Tsalatsah al-Ushul karya Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hlm. 75). Kesimpulannya: Hal pertama yang wajib dilakukan seorang hamba dalam rukun pertama dari lima rukun Islam adalah mengenal makna dua kalimat syahadat, melafalkannya dengan lisannya dan mengamalkan konsekuensi dari kandungannya. (Lihat: Kitab Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul karya Abdurrahman bin Qasim, hlm. 58). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/141410/معنى-شهادة-أن-محمدا-رسول-الله/ Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 133 times, 1 visit(s) today Post Views: 283 QRIS donasi Yufid


[Dari Kitab Al-Mahshul Al-Jami Li-Syuruh TsalatsahAl-Ushul] معنى شهادة أن محمدًا رسول الله Oleh: Dr. Fahd bin Badi Al-Mursyidi د. فهد بن بادي المرشدي قال المصنف رحمه الله: (وَمَعْنَى “شَهَادَة أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ الله”: طَاعَتُهُ فِيمَا أَمَرَ، وَتَصْدِيقُهُ فِيمَا أَخْبَرَ، واجْتِنَابُ مَا عنه نهى وزجر، وألا يُعْبَدَ الله إِلا بِمَا شَرَعَ). Penulis Rahimahullah berkata, “Makna bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah utusan Allah yakni menaati apa yang beliau perintahkan, membenarkan apa yang beliau kabarkan, menjauhi apa yang beliau larang, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang disyariatkan.” الشرح الإجمالي: (ومعنى شهادة أن محمدًا رسول الله)، أي: مقتضى هذه الشهادة هي: (طاعته فيما أمر) من التوحيد والصلاة والزكاة، وغيرها من الواجبات والمستحبات، (وتصديقه فيما أخبَر) به عن الآخرة والجنة والنار، وغير ذلك من أخبار الأمم الماضية، أو الأمور المستقبلة، (واجتناب ما عنه نهى وزجر)؛ كالشرك والبدع وعقوق الوالدين والزنا والربا، وغير ذلك، (وألا يعبد الله إلا بما شرع) الله سبحانه في كتابه، وما جاء به رسوله صلى الله عليه وسلم، فمن عبَدَ الله بغير ما شرع، فعمله باطل مردود عليه [ينظر: حاشية ثلاثة الأصول، عبدالرحمن بن قاسم (57)؛ وتيسير الوصول شرح ثلاثة الأصول، د. عبدالمحسن القاسم (137)؛ وشرح الأصول الثلاثة، عبدالرحمن البراك (28)]. Penjelasan singkat: Maksud dari perkataan di atas: “Makna bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah utusan Allah” yakni konsekuensi dari kesaksian ini adalah “menaati apa yang beliau perintahkan” berupa pengesaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, shalat, zakat, dan amalan-amalan lain yang wajib dan sunnah, “membenarkan apa yang beliau kabarkan” tentang akhirat, surga, neraka, dan kisah dari umat-umat terdahulu dan perkara-perkara di masa depan, “menjauhi apa yang beliau larang” seperti syirik, bid’ah, durhaka terhadap orang tua, zina, riba, dan lain sebagainya, “dan tidak beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kecuali dengan apa yang disyariatkan” yakni oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Kitab-Nya dan yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Siapa yang beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan selain apa yang disyariatkan, maka amalannya batal dan tertolak. (Lihat: Kitab Hasyiyah Tsalatsah al-Ushul karya Abdurrahman bin Qasim, hlm. 57, Taisir Al-Wushul Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Dr. Abdul Muhsin Al-Qasim, hlm. 137, dan Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Abdurrahman Al-Barrak, hlm. 28). الشرح التفصيلي: سبق فيما مضى بيان أن الشهادة لا تكون شهادة، حتى يجتمع فيها ثلاث مراتب: علم الشاهد بها، واعتقاد صحة ما شهد به، وتكلم الشاهد بذلك ونطقه به، وأن يُعْلِم الشاهد ويخبر غيره بما يشهد به، فمعنى شهادة أنَّ محمدًا رسول الله أن يعلَم العبد ويعتقد ويتكلم، ويُخبر أنَّ محمدًا بن عبدالله الهاشمي القرشي المكي رسولٌ من عند الله جلَّ وعلا إلى جميع الخلق من الجن والإنس، أُنزل عليه الوحي فبلَّغ ذلك؛ لأن الرسول مُبلِّغ[ينظر: شرح ثلاثة الأصول، محمد بن صالح العثيمين (75)]. Penjelasan rinci: Telah diuraikan sebelumnya bahwa kesaksian tidak akan menjadi kesaksian hingga terkumpul di dalamnya tiga tahapan, (1) orang yang bersaksi telah memahami kandungan kesaksian, (2) meyakini kebenaran apa yang dia persaksikan, (3) melafalkan kesaksian disertai dengan mengabarkan kesaksian itu kepada orang lain. Jadi, makna bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah Rasul Allah Subhanahu Wa Ta’ala yakni seseorang harus mengetahui, meyakini, dan mengucapkan dan menyampaikannya bahwa Muhammad bin Abdullah Al-Hasyimi Al-Makki adalah utusan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada seluruh makhluk dari golongan jin dan manusia, yang diturunkan wahyu kepada beliau kemudian beliau menyampaikannya, karena hakikat rasul adalah penyampai risalah. (Lihat: Kitab Syarh Tsalatsah al-Ushul karya Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hlm. 75). وهناك من يُفسِّر شهادة أنَّ محمدًا رسول الله بمقتضاها؛ أي: بمعناها الذي تقتضيه، كما فعل المصنف؛ حيث قال: (ومعنى شهادة أنَّ محمدًا رسول الله: طاعته فيما أمر، وتصديقه فيما أخبر، واجتناب ما عنه نهى وزجَر، وألا يعبد الله إلا بما شرَع)، فمعنى شهادة أن محمدًا رسول الله من طريق اللزوم: أنها تقتضي أمورًا أربعة: Jadi, ada ulama yang menafsirkan kesaksian bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan cara menyebutkan konsekuensinya, yakni dengan maknanya yang menjadi konsekuensinya, sebagaimana yang definisi yang dijelaskan oleh penulis yang mengatakan, “Makna bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallamadalah utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yakni menaati apa yang beliau perintahkan, membenarkan apa yang beliau kabarkan, menjauhi apa yang beliau larang, dan tidak beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kecuali dengan apa yang disyariatkan.” Dalam artian lain, kesaksian bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah rasul Allah Subhanahu Wa Ta’ala berdasarkan definisi tersebut memiliki empat konsekuensi, yaitu: الأمر الأول: طاعته فيما أمر، فإن ما جاء به النبي صلى الله عليه وسلم؛ إما أن يكون خبرًا، فالواجب فيه التصديق، وإما أن يكون أمرًا، فالواجب فيه الانقياد والتسليم، فالواجب في الأخبار التصديق، والواجب في الأحكام الطاعة والانقياد[شرح الأصول الثلاثة، د. خالد المصلح (48)]، فالشهادة بأن محمدًا رسول من عند الله تقتضي طاعته فيما أمر؛ لأنه إذا أمر فإن الآمر هو الله جل وعلا، فإذا اعتقد أن هذا الذي جاء به محمد صلى الله عليه وسلم لم يأتِ به من عنده وإنما هو رسول، فمقتضى ذلك: أن يطيعه فيما أمر، لكونه شهد بأنه رسول الله، فإن لم يطعه فيما أمَر اعتقادًا أنه لا يُطاع، كان ذلك تكذيبًا لشهادته، فمن قال أشهد أن محمدًا رسول الله، وهو يعتقد أنه لا تلزمه طاعة الرسول صلى الله عليه وسلم، فحاله حال المنافقين، شهادته مردودة، وهو كاذبٌ في شهادته، وأما إذا اعتقد أنه تجب عليه طاعة الرسول صلى الله عليه وسلم فيما أمر، ولكنه خالف لغلبة هوى، فهذا يكون عاصيًا، قد نقص من تحقيقه لشهادة أن محمدًا رسول الله بقدر مخالفته[شرح ثلاثة الأصول، صالح بن عبدالعزيز آل الشيخ (145)]، وما أُمر به على نوعين: ما كان على سبيل الوجوب، فتجب الطاعة فيه، وما كان على سبيل الاستحباب، فتُستحب الطاعة فيه. Pertama: Menaati apa yang beliau perintahkan Apa yang Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam sampaikan punya dua kemungkinan: antara (1) berupa kabar berita, dan kewajiban kita terhadap hal ini adalah mempercayainya, dan (2) berupa perintah, dan kewajiban kita terhadap hal ini adalah taat dan tunduk. Jadi, kewajiban terhadap kabar berita dari beliau adalah mempercayai, dan kewajiban terhadap hukum-hukum dari beliau adalah menaati dan menjalankan. (Kitab Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah karya Dr. Khalid Al-Mushlih, hlm. 48). Jadi, kesaksian bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah rasul yang diutus oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki konsekuensi berupa ketaatan terhadap apa yang beliau perintahkan, karena apabila beliau memerintahkan sesuatu, maka pemberi perintah yang sebenarnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Apabila seseorang meyakini bahwa risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam bukanlah perkara yang beliau buat-buat sendiri, tapi beliau hanya seorang utusan untuk menyampaikan, maka konsekuensinya adalah dia harus menaati perintah beliau, karena dia telah bersaksi bahwa dia adalah utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Namun, apabila dia tidak menaati perintah beliau karena meyakini bahwa beliau tidak perlu ditaati, maka itu memerupakan bentuk pendustaan terhadap kesaksiannya sendiri. Orang yang mengucapkan, “Saya bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah rasul Allah” sedangkan dia meyakini bahwa tidak wajib menaati Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, maka keadaannya seperti orang-orang munafik, dan kesaksiannya tertolak karena dusta dalam kesaksiannya. Sedangkan apabila dia meyakini bahwa wajib menaati perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, tapi dia terkadang menyelisihi perintah beliau karena tumbang oleh hawa nafsunya, maka dia adalah pelaku maksiat, dan tingkat penerapan kesaksiannya bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah rasul Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkurang sesuai dengan kadar penyelisihannya. (Kitab Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Shalih bin Abdul Aziz Ali Asy-Syaikh, jilid 145). Kemudian apa yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam terbagi menjadi dua macam: (1) perintah yang wajib sehingga harus dikerjakan, (2) dan perintah yang sunnah sehingga pelaksanaannya bersifat anjuran. قال ابن القيم رحمه الله تعالى: «الشهادة لرسول الله بأنه نبي لا تُدخل الإنسانَ في الإسلام ما لم يلتزم طاعته ومتابعته، فشهادة عمه أبي طالب له بأنه صادق، وأن دينه من خير أديان البرية دينًا لم تُدْخِلهُ هذه الشهادة في الإسلام، ومن تأمَّل ما في السير والأخبار الثابتة من شهادة كثير من أهل الكتاب والمشركين له صلى الله عليه وسلم بالرسالة، وأنه صادق، ولم تدخلهم هذه الشهادة في الإسلام، علِمَ أن الإسلام أمرٌ وراء ذلك، وأنه ليس هو المعرفة فقط، ولا المعرفة والإقرار فقط، بل المعرفة والإقرار والانقياد، والتزام طاعته ودينه ظاهرًا وباطنًا»[زاد المعاد (3 /638)]. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah Nabi tidak serta-merta menjadikan seseorang masuk Islam, selagi dia belum berkomitmen untuk menaati dan mengikuti beliau, karena kesaksian paman beliau, Abu Thalib bahwa beliau itu benar dan agama beliau lebih baik daripada agama-agama manusia tidak serta-merta menjadikannya masuk Islam. Orang yang mencermati sejarah dan riwayat-riwayat shahih tentang kesaksian dari banyak Ahli Kitab dan orang-orang musyrik bahwa beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan orang yang benar tidak menjadikan mereka masuk Islam, maka orang yang mencermati itu pasti menjadi tahu bahwa keislaman adalah perkara yang lebih dari itu, bukan hanya tentang pengetahuan saja, dan bukan sekedar pengetahuan dan pengikraran semata, tapi Islam adalah tentang pengetahuan, pengikraran, ketaatan, dan komitmen terhadap ketaatan kepada beliau dan agama beliau secara lahir dan batin.” (Kitab Zad al-Ma’ad jilid 3 hlm. 638). الأمر الثاني: تصديقه فيما أخبر، فالخبر يستوجب التصديق، كما أن الأمر يستوجب الانقياد، فما أخبر به النبي صلى الله عليه وسلم من الغيب هو وحيٌ من عند الله، فكل ما أتى من أخبار الغيبيات من الكلام على الله جل وعلا وأسمائه وصفاته وأفعاله، وعن الجنة والنار، وعن أخبار الغيب، وقصص الماضين، هو كله بوحي من الله جل وعلا، فمقتضى الشهادة أنه رسول من عند الله: أن يُصدق في كل ما أخبر به، فالمؤمن يصدق رسول الله صلى الله عليه وسلم بما أخبر به، سواء عقل ذلك أو لم يعقله، وسواء أدرك ذلك بنظره أو لم يدركه [ينظر: شرح ثلاثة الأصول، صالح بن عبدالعزيز آل الشيخ (146)]. Kedua: Membenarkan apa yang beliau sampaikan Kabar dari beliau harus dipercaya, sebagaimana perintah beliau harus ditaati. Apa yang dikabarkan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang berupa perkara gaib adalah wahyu dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jadi, segala kabar yang tidak diketahui, seperti firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, surga dan neraka, kabar-kabar gaib, dan kisah-kisah kaum terdahulu, semua itu berdasarkan wahyu dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga konsekuensi dari kesaksian bahwa beliau adalah rasul yang diutus Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah harus dipercayai segala yang beliau sampaikan. Orang yang beriman harus membenarkan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, baik itu masuk akal baginya atau tidak, dan baik itu dapat dipahami oleh pandangannya atau tidak. (Lihat: Kitab Syarh Tsalatsah al-Ushul karya Shalih bin Abdul Aziz Ali Asy-Syaikh, jilid 146). الأمر الثالث: اجتناب ما عنه نهى وزجر، فما نهى عنه الرسول صلى الله عليه وسلم أو زجر عنه أو حرَّمه، فإنه يجب اجتنابه؛ كما قال جل وعلا: ﴿ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ﴾ [الحشر: 7]، والتعبير بلفظة (اجتناب) أولى من (ترك)؛ لأن الاجتناب هو التباعد بأن يكون العبد في جانب، والمنهيات في جانب آخر، ولا يكون ذلك إلا بترك المشتبهات التي لم يتضح للعبد حلها أو حرمتُها[تنبيه العقول إلى كنوز ثلاثة الأصول، د. عبدالرحمن الشمسان (2 /635)]. Ketiga: Menjauhi apa yang beliau larang Segala hal yang dilarang, diperingatkan, dan diharamkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam wajib ditinggalkan, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’alaa: وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا “Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7). Pemakaian diksi “menjauhi” lebih baik daripada dengan kata “meninggalkan”, karena menjauhi memiliki arti seorang hamba berada di satu sisi dan hal-hal yang terlarang berada di sisi yang lain, dan ini tidak akan terwujud kecuali dengan meninggalkan perkara-perkara syubhat yang belum jelas kehalalan dan keharamannya baginya. (Kitab Tanbih Al-Uqul Ila Kunuz Tsalatsah Al-Ushul karya Dr. Abdurrahman Asy-Syamsan, jilid 2 hlm. 635). الأمر الرابع: ألا يعبد الله إلا بما شرع، فلا يُعبد الله جل وعلا بالأهواء والبدع والمحدثات والآراء والاستحسانات المختلفة، وإنما يُعبد الله جل وعلا عن طريق واحدة، وهي طريق الرسول صلى الله عليه وسلم بما جاء به عن ربه جل وعلا[ينظر: شرح ثلاثة الأصول، صالح بن عبدالعزيز آل الشيخ (148)]، والضمير في قول المصنف: (وألا يعبد الله إلا بما شرع)؛ أي: بما شرعه الله عز وجل، فالضمير المستتر المتعلق بالفعل (شرع) عائد إلى الاسم الأحسن (الله) لا إلى الرسول، فتقدير الكلام: وألا يعبد الله إلا بما شرعه الله؛ لأن الرسول ليس له حق الشرع، وإنما الشرع حق خاص بالله جل وعلا، والنبي إنما هو مبلِّغ فيما يبلِّغه من شرع الله جل وعلا [ينظر: تعليقات على ثلاثة الأصول، صالح بن عبدالله العصيمي (37)]. Keempat: Tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang disyariatkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak boleh disembah dengan landasan hawa nafsu, bid’ah, hal yang dibuat-buat, pendapat-pendapat pribadi, dan kecondongan-kecondongan hati yang beraneka ragam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala hanya boleh disembah dengan satu cara, yaitu cara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang beliau dapatkan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (Lihat: Kitab Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Shalih bin Abdul Aziz Ali asy-Syaikh, jilid 148). Subjek dalam kalimat penulis, “Tidak beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kecuali dengan apa yang disyariatkan” yakni disyariatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jadi, subjek dari kata “disyariatkan” ini merujuk pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan kepada Rasul, sehingga kalimat lengkapnya adalah: Tidak beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kecuali dengan apa yang disyariatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam tidak memiliki hak untuk menetapkan syariat, tapi itu adalah hak prerogatif Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sedangkan Nabi adalah penyampai syariat yang ditetapkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. فإذا اعتقد المسلم ذلك كمُلت له شهادته أن محمدًا رسول الله، وصار مسلمًا حقًّا. ومقتضى هذه الشهادة أيضًا ألا يُعْتَقد أن لرسول الله صلى الله عليه وسلم حقًّا في الربوبية وتصريف الكون، أو حقًّا في العبادة، بل هو صلى الله عليه وسلم عبدٌ لا يُعْبد، ورسولٌ لا يُكَذَّب، ولا يملك لنفسه ولا لغيره شيئًا من النفع أو الضر إلا ما شاء الله؛ كما قال الله تعالى: ﴿ قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَي ﴾ [الأنعام: 50]، فهو عبد مأمور يتبع ما أُمر به[شرح ثلاثة الأصول، محمد بن صالح العثيمين (75)]. والمقصود: أن أول ما يجب على العبد في الركن الأول من أركان الإسلام الخمسة: معرفة معنى الشهادتين، مع النطق بها بلسانه، وأن يعمل بما دلت عليه[ينظر: حاشية ثلاثة الأصول، عبدالرحمن بن قاسم (58).]. Apabila seorang muslim telah meyakini hal ini, maka sempurnalah kesaksiannya bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah rasul Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menjadi Muslim yang hakiki. Di antara konsekuensi lain dari kesaksian ini juga adalah tidak meyakini Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam punya hak dalam mengatur alam semesta atau hak untuk disembah, tapi beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam hanyalah hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tidak boleh disembah, rasul yang tidak boleh didustakan, dan manusia yang tidak mampu mendatangkan manfaat dan mudharat bagi diri sendiri atau orang lain kecuali apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala kehendaki, sebagaimana yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan: قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَي “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan (rezeki) Allah ada padaku, aku (sendiri) tidak mengetahui yang gaib, dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.’” (QS. Al-An’am: 50). Beliau adalah seorang hamba yang diperintahkan dan menjalankan sesuai apa yang diperintahkan kepada beliau. (Kitab Syarh Tsalatsah al-Ushul karya Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hlm. 75). Kesimpulannya: Hal pertama yang wajib dilakukan seorang hamba dalam rukun pertama dari lima rukun Islam adalah mengenal makna dua kalimat syahadat, melafalkannya dengan lisannya dan mengamalkan konsekuensi dari kandungannya. (Lihat: Kitab Hasyiyah Tsalatsah Al-Ushul karya Abdurrahman bin Qasim, hlm. 58). Sumber: https://www.alukah.net/sharia/1001/141410/معنى-شهادة-أن-محمدا-رسول-الله/ Sumber artikel PDF 🔍 Cara Menghadiahkan Al Fatihah, Istri Yang Sabar, Pertanyaan Tauhid, Haid Sebulan 2x Visited 133 times, 1 visit(s) today Post Views: 283 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />
Prev     Next