Alasan Sebagian Orang dalam Membela Maulid

Posting kali ini masih merupakan kelanjutan dari posting sebelumnya. Yang kami angkat adalah beberapa kerancuan dari orang yang membela acara maulid Nabi dan jawaban dari kerancuan tersebut. Semoga bermanfaat. Daftar Isi tutup 1. [Pertama] Maulid adalah Bentuk Rasa Syukur, Pengagungan dan Penghormatan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 2. [Kedua] Maulid Nabi adalah Bid’ah Hasanah (Bid’ah yang baik) 3. [Ketiga] Niatannya Supaya Lebih Mengenal Sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam 4. [Keempat] Nabi memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa [Pertama] Maulid adalah Bentuk Rasa Syukur, Pengagungan dan Penghormatan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Cukup kami jawab, kalau memang maulid adalah bentuk syukur, mengapa sejak generasi sahabat hingga imam mazhab yang empat tidak ada yang melakukan perayaan ini[?] Apakah keimanan mereka lebih rendah dibanding orang-orang sekarang yang merayakannya[?] Apakah orang ini menyangka lebih mendapat petunjuk daripada generasi awal tersebut[?] Semoga kita dapat merenungkan perkataan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikut. لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ “Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.” Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, pada tafsir surat Al Ahqof ayat 11) Juga kami katakan, “Mengapa ucapan syukur, penghormatan dan pengagungan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya sekali dalam setahun, hanya pada 12 Rabi’ul Awwal? Mengagungkan, mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bersyukur bukan hanya sekali setahun, namun setiap saat dengan mentaati dan selalu ittiba’ pada beliau.” [Kedua] Maulid Nabi adalah Bid’ah Hasanah (Bid’ah yang baik) Perkataan ini muncul karena mereka melihat para ulama yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah sayyi’ah atau dholalah (sesat/jelek). Jadi menurut mereka tidak semua bid’ah itu sesat. Ingatlah saudaraku, bid’ah dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dikenal sama sekali adanya bid’ah hasanah. Bahkan yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diyakini oleh sahabat, setiap bid’ah adalah sesat. Perhatikanlah sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berikut. أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih) Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً “Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah) Lihatlah perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Kita akan melihat bahwa mereka mengatakan semua bid’ah itu sesat, tanpa ada pengecualian. Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa ‘Umar bin Al Khaththab pernah menyatakan bahwa shalat tarawih yang dia hidupkan adalah “sebaik-baik bid’ah”? Dari perkataan beliau ini menurut mereka, ada bid’ah hasanah (yang baik). Sanggahan: Ingatlah para sahabat tidak mungkin melakukan bid’ah. Yang dimaksud dengan bid’ah dalam perkataan ‘Umar adalah bid’ah secara bahasa Arab yang berarti sesuatu yang baru. Jika ada yang masih ngotot bahwa tidak semua bid’ah sesat, ada di sana bid’ah yang baik (hasanah), maka cukup kami katakan: Kalau ‘Umar menghidupkan shalat tarawih dan beliau katakan sebagai bid’ah, hal ini ada dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melaksanakan shalat tarawih di awal-awal Ramadhan. Namun karena takut amalan tersebut dianggap wajib, maka beliau tidak menunaikannya lagi. Jadi, intinya ‘Umar memiliki dasar dari perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang, apa maulid Nabi memiliki dasar dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana shalat tarawih yang dihidupkan oleh ‘Umar[?] Jawabannya tidak sama sekali. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah merayakan hari kelahirannya, begitu pula para sahabat, tabi’in, dan para imam madzhab tidak ada yang merayakannya. Sehingga maulid tidak bisa kita sebut bid’ah hasanah. Yang lebih tepat maulid adalah bid’ah madzmumah (tercela) sebagaimana yang dikatakan oleh Asy Syuqairiy dan Al Fakihaniy yang telah kami sebutkan dalam tulisan sebelumnya. [Ketiga] Niatannya Supaya Lebih Mengenal Sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Mungkin ada yang berseloroh, kalau melakukannya dengan niatan ibadah maka bid’ah, tapi kalau sekedar memperingati agar lebih mengenal sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka mubah, bahkan bisa jadi sunnah atau wajib, karena setiap muslim wajib mengenal Nabinya. Kita katakan kepadanya bahwa itu tidak benar! Sungguh ironis, seorang yang mengaku cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengenalinya kok hanya setahun sekali?! Mengenal sosok beliau tidaklah dibatasi oleh bulan atau tanggal tertentu. Jika ia dibatasi oleh waktu tertentu, apalagi dengan cara tertentu pula, maka sudah masuk ke dalam lingkup bid’ah. Lebih dari itu, sangat mustahil atau kecil kemungkinannya bila tidak disertai niat merayakan hari kelahiran beliau, yang ini pun sesungguhnya sudah masuk ke dalam lingkup tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang Nashrani yang dibenci oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Mereka (orang Nashrani) merayakan kelahiran Nabi Isa melalui natalan, sedangkan mereka merayakan kelahiran Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui natalan. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus) Sudikah kita mengenal dan mengenang Nabi, namun beliau sendiri tidak suka dengan cara yang kita lakukan?! Dan siapa bilang harus mengenal sosok Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam cuma melalui acara maulid yang hanya diadakan sekali setahun[?] Bukankah masih ada cara lain yang sesuai tuntutan dan tidak tasyabbuh (meniru-niru) orang kafir. [Keempat] Nabi memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa Sebagian beralasan dengan puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Senin, karena pada hari tersebut adalah hari kelahirannya. Ini berarti hari kelahiran boleh dirayakan. Ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanyakan mengenai puasa pada hari Senin, beliau pun menjawab, « ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ ». “Hari tersebut adalah hari kelahiranku, hari aku diangkat sebagai Rasul atau pertama kali aku menerima wahyu.” (HR. Muslim [Muslim: 14-Kitab Ash Shiyam, 36-Bab Anjuran Puasa Tiga Hari Setiap Bulannya]) Sanggahan: Bagaimana mungkin dalil di atas menjadi dalil untuk merayakan hari kelahiran beliau[?] Ini sungguh tidak tepat dalam berdalil. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melaksanakan puasa pada tanggal kelahirannya yaitu tanggal 12 Rabiul Awwal, dan itu kalau benar pada tanggal tersebut beliau lahir. Karena dalam masalah tanggal kelahiran beliau masih terdapat perselisihan. Yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan adalah puasa pada hari Senin bukan pada 12 Rabiul Awwal[!] Seharusnya kalau mau mengenang hari kelahiran Nabi dengan dalil di atas, maka perayaan Maulid harus setiap pekan bukan setiap tahun. Semoga Allah senantiasa memberi taufik. Insya Allah berikutnya kami akan sampaikan syubhat (kerancuan lainnya). Semoga Allah beri kemudahan. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Rabu, 6 Rabi’ul Awwal 1430 H Baca Juga: Ulama Ahlus Sunnah Menyikapi Maulid Nabi Hukum Menghadiri Perayaan Maulid Nabi Tagsmaulid maulid nabi

Alasan Sebagian Orang dalam Membela Maulid

Posting kali ini masih merupakan kelanjutan dari posting sebelumnya. Yang kami angkat adalah beberapa kerancuan dari orang yang membela acara maulid Nabi dan jawaban dari kerancuan tersebut. Semoga bermanfaat. Daftar Isi tutup 1. [Pertama] Maulid adalah Bentuk Rasa Syukur, Pengagungan dan Penghormatan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 2. [Kedua] Maulid Nabi adalah Bid’ah Hasanah (Bid’ah yang baik) 3. [Ketiga] Niatannya Supaya Lebih Mengenal Sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam 4. [Keempat] Nabi memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa [Pertama] Maulid adalah Bentuk Rasa Syukur, Pengagungan dan Penghormatan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Cukup kami jawab, kalau memang maulid adalah bentuk syukur, mengapa sejak generasi sahabat hingga imam mazhab yang empat tidak ada yang melakukan perayaan ini[?] Apakah keimanan mereka lebih rendah dibanding orang-orang sekarang yang merayakannya[?] Apakah orang ini menyangka lebih mendapat petunjuk daripada generasi awal tersebut[?] Semoga kita dapat merenungkan perkataan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikut. لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ “Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.” Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, pada tafsir surat Al Ahqof ayat 11) Juga kami katakan, “Mengapa ucapan syukur, penghormatan dan pengagungan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya sekali dalam setahun, hanya pada 12 Rabi’ul Awwal? Mengagungkan, mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bersyukur bukan hanya sekali setahun, namun setiap saat dengan mentaati dan selalu ittiba’ pada beliau.” [Kedua] Maulid Nabi adalah Bid’ah Hasanah (Bid’ah yang baik) Perkataan ini muncul karena mereka melihat para ulama yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah sayyi’ah atau dholalah (sesat/jelek). Jadi menurut mereka tidak semua bid’ah itu sesat. Ingatlah saudaraku, bid’ah dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dikenal sama sekali adanya bid’ah hasanah. Bahkan yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diyakini oleh sahabat, setiap bid’ah adalah sesat. Perhatikanlah sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berikut. أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih) Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً “Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah) Lihatlah perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Kita akan melihat bahwa mereka mengatakan semua bid’ah itu sesat, tanpa ada pengecualian. Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa ‘Umar bin Al Khaththab pernah menyatakan bahwa shalat tarawih yang dia hidupkan adalah “sebaik-baik bid’ah”? Dari perkataan beliau ini menurut mereka, ada bid’ah hasanah (yang baik). Sanggahan: Ingatlah para sahabat tidak mungkin melakukan bid’ah. Yang dimaksud dengan bid’ah dalam perkataan ‘Umar adalah bid’ah secara bahasa Arab yang berarti sesuatu yang baru. Jika ada yang masih ngotot bahwa tidak semua bid’ah sesat, ada di sana bid’ah yang baik (hasanah), maka cukup kami katakan: Kalau ‘Umar menghidupkan shalat tarawih dan beliau katakan sebagai bid’ah, hal ini ada dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melaksanakan shalat tarawih di awal-awal Ramadhan. Namun karena takut amalan tersebut dianggap wajib, maka beliau tidak menunaikannya lagi. Jadi, intinya ‘Umar memiliki dasar dari perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang, apa maulid Nabi memiliki dasar dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana shalat tarawih yang dihidupkan oleh ‘Umar[?] Jawabannya tidak sama sekali. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah merayakan hari kelahirannya, begitu pula para sahabat, tabi’in, dan para imam madzhab tidak ada yang merayakannya. Sehingga maulid tidak bisa kita sebut bid’ah hasanah. Yang lebih tepat maulid adalah bid’ah madzmumah (tercela) sebagaimana yang dikatakan oleh Asy Syuqairiy dan Al Fakihaniy yang telah kami sebutkan dalam tulisan sebelumnya. [Ketiga] Niatannya Supaya Lebih Mengenal Sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Mungkin ada yang berseloroh, kalau melakukannya dengan niatan ibadah maka bid’ah, tapi kalau sekedar memperingati agar lebih mengenal sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka mubah, bahkan bisa jadi sunnah atau wajib, karena setiap muslim wajib mengenal Nabinya. Kita katakan kepadanya bahwa itu tidak benar! Sungguh ironis, seorang yang mengaku cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengenalinya kok hanya setahun sekali?! Mengenal sosok beliau tidaklah dibatasi oleh bulan atau tanggal tertentu. Jika ia dibatasi oleh waktu tertentu, apalagi dengan cara tertentu pula, maka sudah masuk ke dalam lingkup bid’ah. Lebih dari itu, sangat mustahil atau kecil kemungkinannya bila tidak disertai niat merayakan hari kelahiran beliau, yang ini pun sesungguhnya sudah masuk ke dalam lingkup tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang Nashrani yang dibenci oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Mereka (orang Nashrani) merayakan kelahiran Nabi Isa melalui natalan, sedangkan mereka merayakan kelahiran Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui natalan. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus) Sudikah kita mengenal dan mengenang Nabi, namun beliau sendiri tidak suka dengan cara yang kita lakukan?! Dan siapa bilang harus mengenal sosok Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam cuma melalui acara maulid yang hanya diadakan sekali setahun[?] Bukankah masih ada cara lain yang sesuai tuntutan dan tidak tasyabbuh (meniru-niru) orang kafir. [Keempat] Nabi memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa Sebagian beralasan dengan puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Senin, karena pada hari tersebut adalah hari kelahirannya. Ini berarti hari kelahiran boleh dirayakan. Ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanyakan mengenai puasa pada hari Senin, beliau pun menjawab, « ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ ». “Hari tersebut adalah hari kelahiranku, hari aku diangkat sebagai Rasul atau pertama kali aku menerima wahyu.” (HR. Muslim [Muslim: 14-Kitab Ash Shiyam, 36-Bab Anjuran Puasa Tiga Hari Setiap Bulannya]) Sanggahan: Bagaimana mungkin dalil di atas menjadi dalil untuk merayakan hari kelahiran beliau[?] Ini sungguh tidak tepat dalam berdalil. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melaksanakan puasa pada tanggal kelahirannya yaitu tanggal 12 Rabiul Awwal, dan itu kalau benar pada tanggal tersebut beliau lahir. Karena dalam masalah tanggal kelahiran beliau masih terdapat perselisihan. Yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan adalah puasa pada hari Senin bukan pada 12 Rabiul Awwal[!] Seharusnya kalau mau mengenang hari kelahiran Nabi dengan dalil di atas, maka perayaan Maulid harus setiap pekan bukan setiap tahun. Semoga Allah senantiasa memberi taufik. Insya Allah berikutnya kami akan sampaikan syubhat (kerancuan lainnya). Semoga Allah beri kemudahan. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Rabu, 6 Rabi’ul Awwal 1430 H Baca Juga: Ulama Ahlus Sunnah Menyikapi Maulid Nabi Hukum Menghadiri Perayaan Maulid Nabi Tagsmaulid maulid nabi
Posting kali ini masih merupakan kelanjutan dari posting sebelumnya. Yang kami angkat adalah beberapa kerancuan dari orang yang membela acara maulid Nabi dan jawaban dari kerancuan tersebut. Semoga bermanfaat. Daftar Isi tutup 1. [Pertama] Maulid adalah Bentuk Rasa Syukur, Pengagungan dan Penghormatan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 2. [Kedua] Maulid Nabi adalah Bid’ah Hasanah (Bid’ah yang baik) 3. [Ketiga] Niatannya Supaya Lebih Mengenal Sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam 4. [Keempat] Nabi memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa [Pertama] Maulid adalah Bentuk Rasa Syukur, Pengagungan dan Penghormatan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Cukup kami jawab, kalau memang maulid adalah bentuk syukur, mengapa sejak generasi sahabat hingga imam mazhab yang empat tidak ada yang melakukan perayaan ini[?] Apakah keimanan mereka lebih rendah dibanding orang-orang sekarang yang merayakannya[?] Apakah orang ini menyangka lebih mendapat petunjuk daripada generasi awal tersebut[?] Semoga kita dapat merenungkan perkataan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikut. لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ “Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.” Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, pada tafsir surat Al Ahqof ayat 11) Juga kami katakan, “Mengapa ucapan syukur, penghormatan dan pengagungan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya sekali dalam setahun, hanya pada 12 Rabi’ul Awwal? Mengagungkan, mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bersyukur bukan hanya sekali setahun, namun setiap saat dengan mentaati dan selalu ittiba’ pada beliau.” [Kedua] Maulid Nabi adalah Bid’ah Hasanah (Bid’ah yang baik) Perkataan ini muncul karena mereka melihat para ulama yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah sayyi’ah atau dholalah (sesat/jelek). Jadi menurut mereka tidak semua bid’ah itu sesat. Ingatlah saudaraku, bid’ah dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dikenal sama sekali adanya bid’ah hasanah. Bahkan yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diyakini oleh sahabat, setiap bid’ah adalah sesat. Perhatikanlah sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berikut. أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih) Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً “Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah) Lihatlah perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Kita akan melihat bahwa mereka mengatakan semua bid’ah itu sesat, tanpa ada pengecualian. Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa ‘Umar bin Al Khaththab pernah menyatakan bahwa shalat tarawih yang dia hidupkan adalah “sebaik-baik bid’ah”? Dari perkataan beliau ini menurut mereka, ada bid’ah hasanah (yang baik). Sanggahan: Ingatlah para sahabat tidak mungkin melakukan bid’ah. Yang dimaksud dengan bid’ah dalam perkataan ‘Umar adalah bid’ah secara bahasa Arab yang berarti sesuatu yang baru. Jika ada yang masih ngotot bahwa tidak semua bid’ah sesat, ada di sana bid’ah yang baik (hasanah), maka cukup kami katakan: Kalau ‘Umar menghidupkan shalat tarawih dan beliau katakan sebagai bid’ah, hal ini ada dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melaksanakan shalat tarawih di awal-awal Ramadhan. Namun karena takut amalan tersebut dianggap wajib, maka beliau tidak menunaikannya lagi. Jadi, intinya ‘Umar memiliki dasar dari perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang, apa maulid Nabi memiliki dasar dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana shalat tarawih yang dihidupkan oleh ‘Umar[?] Jawabannya tidak sama sekali. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah merayakan hari kelahirannya, begitu pula para sahabat, tabi’in, dan para imam madzhab tidak ada yang merayakannya. Sehingga maulid tidak bisa kita sebut bid’ah hasanah. Yang lebih tepat maulid adalah bid’ah madzmumah (tercela) sebagaimana yang dikatakan oleh Asy Syuqairiy dan Al Fakihaniy yang telah kami sebutkan dalam tulisan sebelumnya. [Ketiga] Niatannya Supaya Lebih Mengenal Sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Mungkin ada yang berseloroh, kalau melakukannya dengan niatan ibadah maka bid’ah, tapi kalau sekedar memperingati agar lebih mengenal sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka mubah, bahkan bisa jadi sunnah atau wajib, karena setiap muslim wajib mengenal Nabinya. Kita katakan kepadanya bahwa itu tidak benar! Sungguh ironis, seorang yang mengaku cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengenalinya kok hanya setahun sekali?! Mengenal sosok beliau tidaklah dibatasi oleh bulan atau tanggal tertentu. Jika ia dibatasi oleh waktu tertentu, apalagi dengan cara tertentu pula, maka sudah masuk ke dalam lingkup bid’ah. Lebih dari itu, sangat mustahil atau kecil kemungkinannya bila tidak disertai niat merayakan hari kelahiran beliau, yang ini pun sesungguhnya sudah masuk ke dalam lingkup tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang Nashrani yang dibenci oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Mereka (orang Nashrani) merayakan kelahiran Nabi Isa melalui natalan, sedangkan mereka merayakan kelahiran Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui natalan. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus) Sudikah kita mengenal dan mengenang Nabi, namun beliau sendiri tidak suka dengan cara yang kita lakukan?! Dan siapa bilang harus mengenal sosok Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam cuma melalui acara maulid yang hanya diadakan sekali setahun[?] Bukankah masih ada cara lain yang sesuai tuntutan dan tidak tasyabbuh (meniru-niru) orang kafir. [Keempat] Nabi memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa Sebagian beralasan dengan puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Senin, karena pada hari tersebut adalah hari kelahirannya. Ini berarti hari kelahiran boleh dirayakan. Ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanyakan mengenai puasa pada hari Senin, beliau pun menjawab, « ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ ». “Hari tersebut adalah hari kelahiranku, hari aku diangkat sebagai Rasul atau pertama kali aku menerima wahyu.” (HR. Muslim [Muslim: 14-Kitab Ash Shiyam, 36-Bab Anjuran Puasa Tiga Hari Setiap Bulannya]) Sanggahan: Bagaimana mungkin dalil di atas menjadi dalil untuk merayakan hari kelahiran beliau[?] Ini sungguh tidak tepat dalam berdalil. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melaksanakan puasa pada tanggal kelahirannya yaitu tanggal 12 Rabiul Awwal, dan itu kalau benar pada tanggal tersebut beliau lahir. Karena dalam masalah tanggal kelahiran beliau masih terdapat perselisihan. Yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan adalah puasa pada hari Senin bukan pada 12 Rabiul Awwal[!] Seharusnya kalau mau mengenang hari kelahiran Nabi dengan dalil di atas, maka perayaan Maulid harus setiap pekan bukan setiap tahun. Semoga Allah senantiasa memberi taufik. Insya Allah berikutnya kami akan sampaikan syubhat (kerancuan lainnya). Semoga Allah beri kemudahan. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Rabu, 6 Rabi’ul Awwal 1430 H Baca Juga: Ulama Ahlus Sunnah Menyikapi Maulid Nabi Hukum Menghadiri Perayaan Maulid Nabi Tagsmaulid maulid nabi


Posting kali ini masih merupakan kelanjutan dari posting sebelumnya. Yang kami angkat adalah beberapa kerancuan dari orang yang membela acara maulid Nabi dan jawaban dari kerancuan tersebut. Semoga bermanfaat. Daftar Isi tutup 1. [Pertama] Maulid adalah Bentuk Rasa Syukur, Pengagungan dan Penghormatan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 2. [Kedua] Maulid Nabi adalah Bid’ah Hasanah (Bid’ah yang baik) 3. [Ketiga] Niatannya Supaya Lebih Mengenal Sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam 4. [Keempat] Nabi memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa [Pertama] Maulid adalah Bentuk Rasa Syukur, Pengagungan dan Penghormatan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Cukup kami jawab, kalau memang maulid adalah bentuk syukur, mengapa sejak generasi sahabat hingga imam mazhab yang empat tidak ada yang melakukan perayaan ini[?] Apakah keimanan mereka lebih rendah dibanding orang-orang sekarang yang merayakannya[?] Apakah orang ini menyangka lebih mendapat petunjuk daripada generasi awal tersebut[?] Semoga kita dapat merenungkan perkataan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikut. لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ “Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.” Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, pada tafsir surat Al Ahqof ayat 11) Juga kami katakan, “Mengapa ucapan syukur, penghormatan dan pengagungan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya sekali dalam setahun, hanya pada 12 Rabi’ul Awwal? Mengagungkan, mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bersyukur bukan hanya sekali setahun, namun setiap saat dengan mentaati dan selalu ittiba’ pada beliau.” [Kedua] Maulid Nabi adalah Bid’ah Hasanah (Bid’ah yang baik) Perkataan ini muncul karena mereka melihat para ulama yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah sayyi’ah atau dholalah (sesat/jelek). Jadi menurut mereka tidak semua bid’ah itu sesat. Ingatlah saudaraku, bid’ah dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dikenal sama sekali adanya bid’ah hasanah. Bahkan yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diyakini oleh sahabat, setiap bid’ah adalah sesat. Perhatikanlah sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berikut. أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih) Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً “Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah) Lihatlah perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Kita akan melihat bahwa mereka mengatakan semua bid’ah itu sesat, tanpa ada pengecualian. Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa ‘Umar bin Al Khaththab pernah menyatakan bahwa shalat tarawih yang dia hidupkan adalah “sebaik-baik bid’ah”? Dari perkataan beliau ini menurut mereka, ada bid’ah hasanah (yang baik). Sanggahan: Ingatlah para sahabat tidak mungkin melakukan bid’ah. Yang dimaksud dengan bid’ah dalam perkataan ‘Umar adalah bid’ah secara bahasa Arab yang berarti sesuatu yang baru. Jika ada yang masih ngotot bahwa tidak semua bid’ah sesat, ada di sana bid’ah yang baik (hasanah), maka cukup kami katakan: Kalau ‘Umar menghidupkan shalat tarawih dan beliau katakan sebagai bid’ah, hal ini ada dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melaksanakan shalat tarawih di awal-awal Ramadhan. Namun karena takut amalan tersebut dianggap wajib, maka beliau tidak menunaikannya lagi. Jadi, intinya ‘Umar memiliki dasar dari perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang, apa maulid Nabi memiliki dasar dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana shalat tarawih yang dihidupkan oleh ‘Umar[?] Jawabannya tidak sama sekali. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah merayakan hari kelahirannya, begitu pula para sahabat, tabi’in, dan para imam madzhab tidak ada yang merayakannya. Sehingga maulid tidak bisa kita sebut bid’ah hasanah. Yang lebih tepat maulid adalah bid’ah madzmumah (tercela) sebagaimana yang dikatakan oleh Asy Syuqairiy dan Al Fakihaniy yang telah kami sebutkan dalam tulisan sebelumnya. [Ketiga] Niatannya Supaya Lebih Mengenal Sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Mungkin ada yang berseloroh, kalau melakukannya dengan niatan ibadah maka bid’ah, tapi kalau sekedar memperingati agar lebih mengenal sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka mubah, bahkan bisa jadi sunnah atau wajib, karena setiap muslim wajib mengenal Nabinya. Kita katakan kepadanya bahwa itu tidak benar! Sungguh ironis, seorang yang mengaku cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengenalinya kok hanya setahun sekali?! Mengenal sosok beliau tidaklah dibatasi oleh bulan atau tanggal tertentu. Jika ia dibatasi oleh waktu tertentu, apalagi dengan cara tertentu pula, maka sudah masuk ke dalam lingkup bid’ah. Lebih dari itu, sangat mustahil atau kecil kemungkinannya bila tidak disertai niat merayakan hari kelahiran beliau, yang ini pun sesungguhnya sudah masuk ke dalam lingkup tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang Nashrani yang dibenci oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Mereka (orang Nashrani) merayakan kelahiran Nabi Isa melalui natalan, sedangkan mereka merayakan kelahiran Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui natalan. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus) Sudikah kita mengenal dan mengenang Nabi, namun beliau sendiri tidak suka dengan cara yang kita lakukan?! Dan siapa bilang harus mengenal sosok Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam cuma melalui acara maulid yang hanya diadakan sekali setahun[?] Bukankah masih ada cara lain yang sesuai tuntutan dan tidak tasyabbuh (meniru-niru) orang kafir. [Keempat] Nabi memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa Sebagian beralasan dengan puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Senin, karena pada hari tersebut adalah hari kelahirannya. Ini berarti hari kelahiran boleh dirayakan. Ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanyakan mengenai puasa pada hari Senin, beliau pun menjawab, « ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ ». “Hari tersebut adalah hari kelahiranku, hari aku diangkat sebagai Rasul atau pertama kali aku menerima wahyu.” (HR. Muslim [Muslim: 14-Kitab Ash Shiyam, 36-Bab Anjuran Puasa Tiga Hari Setiap Bulannya]) Sanggahan: Bagaimana mungkin dalil di atas menjadi dalil untuk merayakan hari kelahiran beliau[?] Ini sungguh tidak tepat dalam berdalil. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melaksanakan puasa pada tanggal kelahirannya yaitu tanggal 12 Rabiul Awwal, dan itu kalau benar pada tanggal tersebut beliau lahir. Karena dalam masalah tanggal kelahiran beliau masih terdapat perselisihan. Yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan adalah puasa pada hari Senin bukan pada 12 Rabiul Awwal[!] Seharusnya kalau mau mengenang hari kelahiran Nabi dengan dalil di atas, maka perayaan Maulid harus setiap pekan bukan setiap tahun. Semoga Allah senantiasa memberi taufik. Insya Allah berikutnya kami akan sampaikan syubhat (kerancuan lainnya). Semoga Allah beri kemudahan. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Rabu, 6 Rabi’ul Awwal 1430 H Baca Juga: Ulama Ahlus Sunnah Menyikapi Maulid Nabi Hukum Menghadiri Perayaan Maulid Nabi Tagsmaulid maulid nabi

Lakukanlah Puasa Sunnah Minimal Sebulan 3 Kali

Minimal seorang muslim melakukan puasa sunnah sebanyak tiga kali dalam sebulan. Yang utama adalah melakukan puasa pada ayyamul bidh (13, 14, 15 hijriyah). Dalil Anjuran [Dalil pertama] Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ “Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: [1] berpuasa tiga hari setiap bulannya, [2] mengerjakan shalat Dhuha, [3] mengerjakan shalat witir sebelum tidur.”[1] [Dalil Kedua] Mu’adzah bertanya pada ‘Aisyah, أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَتْ نَعَمْ. قُلْتُ مِنْ أَيِّهِ كَانَ يَصُومُ قَالَتْ كَانَ لاَ يُبَالِى مِنْ أَيِّهِ صَامَ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa tiga hari setiap bulannya?” ‘Aisyah menjawab, “Iya.” Mu’adzah lalu bertanya, “Pada hari apa beliau melakukan puasa tersebut?” ‘Aisyah menjawab, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau).”[2] [Dalil Ketiga] Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ وَلَا سَفَرٍ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada ayyamul biidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.”[3] [Dalil Keempat] Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya, يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ “Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).”[4] [Dalil Kelima] Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ “Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.”[5] Pelajaran Penting Dianjurkan berpuasa tiga hari setiap bulannya, pada hari apa saja. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin menjelaskan, “Puasa tiga hari setiap bulannya boleh dilakukan pada sepuluh hari pertama, pertengahan bulan atau sepuluh hari terakhir dari bulan Hijriyah, atau pula pada setiap sepuluh hari tadi masing-masing satu hari. Puasa tersebut bisa pula dilakukan setiap pekan satu hari puasa. Ini semuanya boleh dan melakukan puasa tiga hari setiap bulannya ada keluasan melakukannya di hari mana saja. Oleh karena itu, ‘Aisyah mengatakan, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau di awal, pertengahan atau akhir bulan hijriyah)”.”[6] Hari yang utama untuk berpuasa adalah pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah yang dikenal dengan ayyamul biid. Ada pula yang mengatakan bahwa ayyamul biid adalah hari ke-12, 13 dan 14. Namun pendapat pertama tadi lebih kuat. Hari ini disebut dengan ayyamul biid (biid = putih, ayyamul = hari) karena pada malam ke-13, 14, dan 15 malam itu bersinar putih dikarenakan bulan purnama yang muncul pada saat itu. Faedah Puasa Tiga Hari Setiap Bulan Menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Melakukan puasa tiga hari setiap bulannya seperti melakukan puasa sepanjang tahun karena pahala satu kebaikan adalah sepuluh kebaikan semisal. Berarti puasa tiga hari setiap bulan sama dengan puasa sebanyak tiga puluh hari setiap bulan. Jadi seolah-olah ia berpuasa sepanjang tahun.[7] Memberi istirahat pada anggota badan setiap bulannya. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com 9 Rabi’ul Awwal 1431 H   [1] HR. Bukhari no. 1178. [2] HR. Tirmidzi no. 763 dan Ibnu Majah no. 1709. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. [3] HR. An Nasai no. 2345. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Ash Shohihah no. 580. [4] HR. Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2424. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. [5] HR. Bukhari no. 1979. [6] Syarh Riyadhus Sholihin, 3/470. [7] Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin di Syarh Riyadhus Sholihin, 3/469. Tagspuasa ayyamul bidh

Lakukanlah Puasa Sunnah Minimal Sebulan 3 Kali

Minimal seorang muslim melakukan puasa sunnah sebanyak tiga kali dalam sebulan. Yang utama adalah melakukan puasa pada ayyamul bidh (13, 14, 15 hijriyah). Dalil Anjuran [Dalil pertama] Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ “Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: [1] berpuasa tiga hari setiap bulannya, [2] mengerjakan shalat Dhuha, [3] mengerjakan shalat witir sebelum tidur.”[1] [Dalil Kedua] Mu’adzah bertanya pada ‘Aisyah, أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَتْ نَعَمْ. قُلْتُ مِنْ أَيِّهِ كَانَ يَصُومُ قَالَتْ كَانَ لاَ يُبَالِى مِنْ أَيِّهِ صَامَ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa tiga hari setiap bulannya?” ‘Aisyah menjawab, “Iya.” Mu’adzah lalu bertanya, “Pada hari apa beliau melakukan puasa tersebut?” ‘Aisyah menjawab, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau).”[2] [Dalil Ketiga] Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ وَلَا سَفَرٍ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada ayyamul biidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.”[3] [Dalil Keempat] Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya, يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ “Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).”[4] [Dalil Kelima] Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ “Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.”[5] Pelajaran Penting Dianjurkan berpuasa tiga hari setiap bulannya, pada hari apa saja. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin menjelaskan, “Puasa tiga hari setiap bulannya boleh dilakukan pada sepuluh hari pertama, pertengahan bulan atau sepuluh hari terakhir dari bulan Hijriyah, atau pula pada setiap sepuluh hari tadi masing-masing satu hari. Puasa tersebut bisa pula dilakukan setiap pekan satu hari puasa. Ini semuanya boleh dan melakukan puasa tiga hari setiap bulannya ada keluasan melakukannya di hari mana saja. Oleh karena itu, ‘Aisyah mengatakan, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau di awal, pertengahan atau akhir bulan hijriyah)”.”[6] Hari yang utama untuk berpuasa adalah pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah yang dikenal dengan ayyamul biid. Ada pula yang mengatakan bahwa ayyamul biid adalah hari ke-12, 13 dan 14. Namun pendapat pertama tadi lebih kuat. Hari ini disebut dengan ayyamul biid (biid = putih, ayyamul = hari) karena pada malam ke-13, 14, dan 15 malam itu bersinar putih dikarenakan bulan purnama yang muncul pada saat itu. Faedah Puasa Tiga Hari Setiap Bulan Menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Melakukan puasa tiga hari setiap bulannya seperti melakukan puasa sepanjang tahun karena pahala satu kebaikan adalah sepuluh kebaikan semisal. Berarti puasa tiga hari setiap bulan sama dengan puasa sebanyak tiga puluh hari setiap bulan. Jadi seolah-olah ia berpuasa sepanjang tahun.[7] Memberi istirahat pada anggota badan setiap bulannya. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com 9 Rabi’ul Awwal 1431 H   [1] HR. Bukhari no. 1178. [2] HR. Tirmidzi no. 763 dan Ibnu Majah no. 1709. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. [3] HR. An Nasai no. 2345. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Ash Shohihah no. 580. [4] HR. Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2424. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. [5] HR. Bukhari no. 1979. [6] Syarh Riyadhus Sholihin, 3/470. [7] Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin di Syarh Riyadhus Sholihin, 3/469. Tagspuasa ayyamul bidh
Minimal seorang muslim melakukan puasa sunnah sebanyak tiga kali dalam sebulan. Yang utama adalah melakukan puasa pada ayyamul bidh (13, 14, 15 hijriyah). Dalil Anjuran [Dalil pertama] Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ “Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: [1] berpuasa tiga hari setiap bulannya, [2] mengerjakan shalat Dhuha, [3] mengerjakan shalat witir sebelum tidur.”[1] [Dalil Kedua] Mu’adzah bertanya pada ‘Aisyah, أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَتْ نَعَمْ. قُلْتُ مِنْ أَيِّهِ كَانَ يَصُومُ قَالَتْ كَانَ لاَ يُبَالِى مِنْ أَيِّهِ صَامَ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa tiga hari setiap bulannya?” ‘Aisyah menjawab, “Iya.” Mu’adzah lalu bertanya, “Pada hari apa beliau melakukan puasa tersebut?” ‘Aisyah menjawab, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau).”[2] [Dalil Ketiga] Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ وَلَا سَفَرٍ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada ayyamul biidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.”[3] [Dalil Keempat] Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya, يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ “Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).”[4] [Dalil Kelima] Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ “Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.”[5] Pelajaran Penting Dianjurkan berpuasa tiga hari setiap bulannya, pada hari apa saja. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin menjelaskan, “Puasa tiga hari setiap bulannya boleh dilakukan pada sepuluh hari pertama, pertengahan bulan atau sepuluh hari terakhir dari bulan Hijriyah, atau pula pada setiap sepuluh hari tadi masing-masing satu hari. Puasa tersebut bisa pula dilakukan setiap pekan satu hari puasa. Ini semuanya boleh dan melakukan puasa tiga hari setiap bulannya ada keluasan melakukannya di hari mana saja. Oleh karena itu, ‘Aisyah mengatakan, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau di awal, pertengahan atau akhir bulan hijriyah)”.”[6] Hari yang utama untuk berpuasa adalah pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah yang dikenal dengan ayyamul biid. Ada pula yang mengatakan bahwa ayyamul biid adalah hari ke-12, 13 dan 14. Namun pendapat pertama tadi lebih kuat. Hari ini disebut dengan ayyamul biid (biid = putih, ayyamul = hari) karena pada malam ke-13, 14, dan 15 malam itu bersinar putih dikarenakan bulan purnama yang muncul pada saat itu. Faedah Puasa Tiga Hari Setiap Bulan Menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Melakukan puasa tiga hari setiap bulannya seperti melakukan puasa sepanjang tahun karena pahala satu kebaikan adalah sepuluh kebaikan semisal. Berarti puasa tiga hari setiap bulan sama dengan puasa sebanyak tiga puluh hari setiap bulan. Jadi seolah-olah ia berpuasa sepanjang tahun.[7] Memberi istirahat pada anggota badan setiap bulannya. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com 9 Rabi’ul Awwal 1431 H   [1] HR. Bukhari no. 1178. [2] HR. Tirmidzi no. 763 dan Ibnu Majah no. 1709. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. [3] HR. An Nasai no. 2345. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Ash Shohihah no. 580. [4] HR. Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2424. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. [5] HR. Bukhari no. 1979. [6] Syarh Riyadhus Sholihin, 3/470. [7] Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin di Syarh Riyadhus Sholihin, 3/469. Tagspuasa ayyamul bidh


Minimal seorang muslim melakukan puasa sunnah sebanyak tiga kali dalam sebulan. Yang utama adalah melakukan puasa pada ayyamul bidh (13, 14, 15 hijriyah). Dalil Anjuran [Dalil pertama] Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ “Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: [1] berpuasa tiga hari setiap bulannya, [2] mengerjakan shalat Dhuha, [3] mengerjakan shalat witir sebelum tidur.”[1] [Dalil Kedua] Mu’adzah bertanya pada ‘Aisyah, أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَتْ نَعَمْ. قُلْتُ مِنْ أَيِّهِ كَانَ يَصُومُ قَالَتْ كَانَ لاَ يُبَالِى مِنْ أَيِّهِ صَامَ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa tiga hari setiap bulannya?” ‘Aisyah menjawab, “Iya.” Mu’adzah lalu bertanya, “Pada hari apa beliau melakukan puasa tersebut?” ‘Aisyah menjawab, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau).”[2] [Dalil Ketiga] Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ وَلَا سَفَرٍ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada ayyamul biidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.”[3] [Dalil Keempat] Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya, يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ “Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).”[4] [Dalil Kelima] Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ “Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.”[5] Pelajaran Penting Dianjurkan berpuasa tiga hari setiap bulannya, pada hari apa saja. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin menjelaskan, “Puasa tiga hari setiap bulannya boleh dilakukan pada sepuluh hari pertama, pertengahan bulan atau sepuluh hari terakhir dari bulan Hijriyah, atau pula pada setiap sepuluh hari tadi masing-masing satu hari. Puasa tersebut bisa pula dilakukan setiap pekan satu hari puasa. Ini semuanya boleh dan melakukan puasa tiga hari setiap bulannya ada keluasan melakukannya di hari mana saja. Oleh karena itu, ‘Aisyah mengatakan, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau di awal, pertengahan atau akhir bulan hijriyah)”.”[6] Hari yang utama untuk berpuasa adalah pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah yang dikenal dengan ayyamul biid. Ada pula yang mengatakan bahwa ayyamul biid adalah hari ke-12, 13 dan 14. Namun pendapat pertama tadi lebih kuat. Hari ini disebut dengan ayyamul biid (biid = putih, ayyamul = hari) karena pada malam ke-13, 14, dan 15 malam itu bersinar putih dikarenakan bulan purnama yang muncul pada saat itu. Faedah Puasa Tiga Hari Setiap Bulan Menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Melakukan puasa tiga hari setiap bulannya seperti melakukan puasa sepanjang tahun karena pahala satu kebaikan adalah sepuluh kebaikan semisal. Berarti puasa tiga hari setiap bulan sama dengan puasa sebanyak tiga puluh hari setiap bulan. Jadi seolah-olah ia berpuasa sepanjang tahun.[7] Memberi istirahat pada anggota badan setiap bulannya. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com 9 Rabi’ul Awwal 1431 H   [1] HR. Bukhari no. 1178. [2] HR. Tirmidzi no. 763 dan Ibnu Majah no. 1709. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. [3] HR. An Nasai no. 2345. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Ash Shohihah no. 580. [4] HR. Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2424. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. [5] HR. Bukhari no. 1979. [6] Syarh Riyadhus Sholihin, 3/470. [7] Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin di Syarh Riyadhus Sholihin, 3/469. Tagspuasa ayyamul bidh

Ulama Ahlus Sunnah Menyikapi Maulid Nabi

Sebagai kelanjutan dari pembahasan Maulid Nabi, berikut kami sampaikan beberapa pendapat ulama Ahlus Sunnah dalam menyikapi perayaan tersebut. Semoga bermanfaat.  [Pertama] Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni Ad Dimasqi mengatakan, “Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu Idul Fithri dan Idul Adha) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab, hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan ’Idul Abror-; ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya.” (Majmu’ Fatawa, 25/298) [Kedua] Muhammad bin ‘Abdus Salam Khodr Asy Syuqairiy membawakan pasal “Di bulan Rabi’ul Awwal dan Bid’ah Maulid”. Dalam pasal tersebut, beliau rahimahullah mengatakan, “Bulan Rabi’ul Awwal ini tidaklah dikhusukan dengan shalat, dzikr, ‘ibadah, nafkah atau sedekah tertentu. Bulan ini bukanlah bulan yang di dalamnya terdapat hari besar Islam seperti berkumpul-kumpul dan adanya ‘ied sebagaimana digariskan oleh syari’at. … Bulan ini memang adalah hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sekaligus pula bulan ini adalah waktu wafatnya beliau. Bagaimana seseorang bersenang-senang dengan hari kelahiran beliau sekaligus juga kematiannya [?] Jika hari kelahiran beliau dijadikan perayaan, maka itu termasuk perayaan yang bid’ah yang mungkar. Tidak ada dalam syari’at maupun dalam akal yang membenarkan hal ini. Jika dalam maulid terdapat kebaikan,lalu mengapa perayaan ini dilalaikan oleh Abu Bakar, ‘Umar, Utsman, ‘Ali, dan sahabat lainnya, juga tabi’in dan yang mengikuti mereka [?] Tidak disangsikan lagi, perayaan yang diada-adakan ini adalah kelakuan orang-orang sufi, orang yang serakah pada makanan, orang yang gemar menyiakan waktu dengan permainan sia-sia dan pengagung bid’ah. …” Lalu beliau melanjutkan dengan perkataan yang menghujam, “Lantas faedah apa yang bisa diperoleh, pahala apa yang bisa diraih dari penghamburan harta yang memberatkan [?]” (As Sunan wal Mubtada’at Al Muta’alliqoh Bil Adzkari wash Sholawat, 138-139) [Ketiga] Seorang ulama Malikiyah, Syaikh Tajuddin ‘Umar bin ‘Ali –yang lebih terkenal dengan Al Fakihaniy- mengatakan bahwa maulid adalah bid’ah madzmumah (bid’ah yang tercela). Beliau memiliki kitab tersendiri yang beliau namakan “Al Mawrid fil Kalam ‘ala ‘Amalil Mawlid (Pernyataan mengenai amalan Maulid)”. Beliau rahimahullah mengatakan, “Aku tidak mengetahui bahwa maulid memiliki dasar dari Al Kitab dan As Sunnah sama sekali. Tidak ada juga dari satu pun ulama yang dijadikan qudwah (teladan) dalam agama menunjukkan bahwa maulid berasal dari pendapat para ulama terdahulu. Bahkan maulid adalah suatu bid’ah yang diada-adakan, yang sangat digemari oleh orang yang senang menghabiskan waktu dengan sia-sia, sangat pula disenangi oleh orang serakah pada makanan. Kalau mau dikatakan maulid masuk di mana dari lima hukum taklifi (yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram), maka yang tepat perayaan maulid bukanlah suatu yang wajib secara ijma’ (kesepakatan para ulama) atau pula bukan sesuatu yang dianjurkan (sunnah).  Karena yang namanya sesuatu yang dianjurkan (sunnah) tidak dicela orang yang meninggalkannya. Sedangkan maulid tidaklah dirayakan oleh sahabat, tabi’in dan ulama sepanjang pengetahuan kami. Inilah jawabanku terhadap hal ini. Dan tidak bisa dikatakan merayakan maulid itu mubah karena yang namanya bid’ah dalam agama –berdasarkan kesepakatan para ulama kaum muslimin- tidak bisa disebut mubah. Jadi, maulid hanya bisa kita katakan terlarang atau haram.” (Al Hawiy Lilfatawa Lis Suyuthi, 1/183) Semoga bermanfaat. Baca Juga: Benarkah Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar, Shalahuddin Al Ayubi Pro Maulid Nabi? Merayakan Maulid Nabi dalam Rangka Mengagungkan Nabi   Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Rabu, 6 Rabi’ul Awwal 1430 H Tagsmaulid maulid nabi

Ulama Ahlus Sunnah Menyikapi Maulid Nabi

Sebagai kelanjutan dari pembahasan Maulid Nabi, berikut kami sampaikan beberapa pendapat ulama Ahlus Sunnah dalam menyikapi perayaan tersebut. Semoga bermanfaat.  [Pertama] Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni Ad Dimasqi mengatakan, “Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu Idul Fithri dan Idul Adha) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab, hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan ’Idul Abror-; ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya.” (Majmu’ Fatawa, 25/298) [Kedua] Muhammad bin ‘Abdus Salam Khodr Asy Syuqairiy membawakan pasal “Di bulan Rabi’ul Awwal dan Bid’ah Maulid”. Dalam pasal tersebut, beliau rahimahullah mengatakan, “Bulan Rabi’ul Awwal ini tidaklah dikhusukan dengan shalat, dzikr, ‘ibadah, nafkah atau sedekah tertentu. Bulan ini bukanlah bulan yang di dalamnya terdapat hari besar Islam seperti berkumpul-kumpul dan adanya ‘ied sebagaimana digariskan oleh syari’at. … Bulan ini memang adalah hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sekaligus pula bulan ini adalah waktu wafatnya beliau. Bagaimana seseorang bersenang-senang dengan hari kelahiran beliau sekaligus juga kematiannya [?] Jika hari kelahiran beliau dijadikan perayaan, maka itu termasuk perayaan yang bid’ah yang mungkar. Tidak ada dalam syari’at maupun dalam akal yang membenarkan hal ini. Jika dalam maulid terdapat kebaikan,lalu mengapa perayaan ini dilalaikan oleh Abu Bakar, ‘Umar, Utsman, ‘Ali, dan sahabat lainnya, juga tabi’in dan yang mengikuti mereka [?] Tidak disangsikan lagi, perayaan yang diada-adakan ini adalah kelakuan orang-orang sufi, orang yang serakah pada makanan, orang yang gemar menyiakan waktu dengan permainan sia-sia dan pengagung bid’ah. …” Lalu beliau melanjutkan dengan perkataan yang menghujam, “Lantas faedah apa yang bisa diperoleh, pahala apa yang bisa diraih dari penghamburan harta yang memberatkan [?]” (As Sunan wal Mubtada’at Al Muta’alliqoh Bil Adzkari wash Sholawat, 138-139) [Ketiga] Seorang ulama Malikiyah, Syaikh Tajuddin ‘Umar bin ‘Ali –yang lebih terkenal dengan Al Fakihaniy- mengatakan bahwa maulid adalah bid’ah madzmumah (bid’ah yang tercela). Beliau memiliki kitab tersendiri yang beliau namakan “Al Mawrid fil Kalam ‘ala ‘Amalil Mawlid (Pernyataan mengenai amalan Maulid)”. Beliau rahimahullah mengatakan, “Aku tidak mengetahui bahwa maulid memiliki dasar dari Al Kitab dan As Sunnah sama sekali. Tidak ada juga dari satu pun ulama yang dijadikan qudwah (teladan) dalam agama menunjukkan bahwa maulid berasal dari pendapat para ulama terdahulu. Bahkan maulid adalah suatu bid’ah yang diada-adakan, yang sangat digemari oleh orang yang senang menghabiskan waktu dengan sia-sia, sangat pula disenangi oleh orang serakah pada makanan. Kalau mau dikatakan maulid masuk di mana dari lima hukum taklifi (yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram), maka yang tepat perayaan maulid bukanlah suatu yang wajib secara ijma’ (kesepakatan para ulama) atau pula bukan sesuatu yang dianjurkan (sunnah).  Karena yang namanya sesuatu yang dianjurkan (sunnah) tidak dicela orang yang meninggalkannya. Sedangkan maulid tidaklah dirayakan oleh sahabat, tabi’in dan ulama sepanjang pengetahuan kami. Inilah jawabanku terhadap hal ini. Dan tidak bisa dikatakan merayakan maulid itu mubah karena yang namanya bid’ah dalam agama –berdasarkan kesepakatan para ulama kaum muslimin- tidak bisa disebut mubah. Jadi, maulid hanya bisa kita katakan terlarang atau haram.” (Al Hawiy Lilfatawa Lis Suyuthi, 1/183) Semoga bermanfaat. Baca Juga: Benarkah Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar, Shalahuddin Al Ayubi Pro Maulid Nabi? Merayakan Maulid Nabi dalam Rangka Mengagungkan Nabi   Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Rabu, 6 Rabi’ul Awwal 1430 H Tagsmaulid maulid nabi
Sebagai kelanjutan dari pembahasan Maulid Nabi, berikut kami sampaikan beberapa pendapat ulama Ahlus Sunnah dalam menyikapi perayaan tersebut. Semoga bermanfaat.  [Pertama] Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni Ad Dimasqi mengatakan, “Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu Idul Fithri dan Idul Adha) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab, hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan ’Idul Abror-; ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya.” (Majmu’ Fatawa, 25/298) [Kedua] Muhammad bin ‘Abdus Salam Khodr Asy Syuqairiy membawakan pasal “Di bulan Rabi’ul Awwal dan Bid’ah Maulid”. Dalam pasal tersebut, beliau rahimahullah mengatakan, “Bulan Rabi’ul Awwal ini tidaklah dikhusukan dengan shalat, dzikr, ‘ibadah, nafkah atau sedekah tertentu. Bulan ini bukanlah bulan yang di dalamnya terdapat hari besar Islam seperti berkumpul-kumpul dan adanya ‘ied sebagaimana digariskan oleh syari’at. … Bulan ini memang adalah hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sekaligus pula bulan ini adalah waktu wafatnya beliau. Bagaimana seseorang bersenang-senang dengan hari kelahiran beliau sekaligus juga kematiannya [?] Jika hari kelahiran beliau dijadikan perayaan, maka itu termasuk perayaan yang bid’ah yang mungkar. Tidak ada dalam syari’at maupun dalam akal yang membenarkan hal ini. Jika dalam maulid terdapat kebaikan,lalu mengapa perayaan ini dilalaikan oleh Abu Bakar, ‘Umar, Utsman, ‘Ali, dan sahabat lainnya, juga tabi’in dan yang mengikuti mereka [?] Tidak disangsikan lagi, perayaan yang diada-adakan ini adalah kelakuan orang-orang sufi, orang yang serakah pada makanan, orang yang gemar menyiakan waktu dengan permainan sia-sia dan pengagung bid’ah. …” Lalu beliau melanjutkan dengan perkataan yang menghujam, “Lantas faedah apa yang bisa diperoleh, pahala apa yang bisa diraih dari penghamburan harta yang memberatkan [?]” (As Sunan wal Mubtada’at Al Muta’alliqoh Bil Adzkari wash Sholawat, 138-139) [Ketiga] Seorang ulama Malikiyah, Syaikh Tajuddin ‘Umar bin ‘Ali –yang lebih terkenal dengan Al Fakihaniy- mengatakan bahwa maulid adalah bid’ah madzmumah (bid’ah yang tercela). Beliau memiliki kitab tersendiri yang beliau namakan “Al Mawrid fil Kalam ‘ala ‘Amalil Mawlid (Pernyataan mengenai amalan Maulid)”. Beliau rahimahullah mengatakan, “Aku tidak mengetahui bahwa maulid memiliki dasar dari Al Kitab dan As Sunnah sama sekali. Tidak ada juga dari satu pun ulama yang dijadikan qudwah (teladan) dalam agama menunjukkan bahwa maulid berasal dari pendapat para ulama terdahulu. Bahkan maulid adalah suatu bid’ah yang diada-adakan, yang sangat digemari oleh orang yang senang menghabiskan waktu dengan sia-sia, sangat pula disenangi oleh orang serakah pada makanan. Kalau mau dikatakan maulid masuk di mana dari lima hukum taklifi (yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram), maka yang tepat perayaan maulid bukanlah suatu yang wajib secara ijma’ (kesepakatan para ulama) atau pula bukan sesuatu yang dianjurkan (sunnah).  Karena yang namanya sesuatu yang dianjurkan (sunnah) tidak dicela orang yang meninggalkannya. Sedangkan maulid tidaklah dirayakan oleh sahabat, tabi’in dan ulama sepanjang pengetahuan kami. Inilah jawabanku terhadap hal ini. Dan tidak bisa dikatakan merayakan maulid itu mubah karena yang namanya bid’ah dalam agama –berdasarkan kesepakatan para ulama kaum muslimin- tidak bisa disebut mubah. Jadi, maulid hanya bisa kita katakan terlarang atau haram.” (Al Hawiy Lilfatawa Lis Suyuthi, 1/183) Semoga bermanfaat. Baca Juga: Benarkah Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar, Shalahuddin Al Ayubi Pro Maulid Nabi? Merayakan Maulid Nabi dalam Rangka Mengagungkan Nabi   Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Rabu, 6 Rabi’ul Awwal 1430 H Tagsmaulid maulid nabi


Sebagai kelanjutan dari pembahasan Maulid Nabi, berikut kami sampaikan beberapa pendapat ulama Ahlus Sunnah dalam menyikapi perayaan tersebut. Semoga bermanfaat.  [Pertama] Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni Ad Dimasqi mengatakan, “Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu Idul Fithri dan Idul Adha) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab, hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan ’Idul Abror-; ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya.” (Majmu’ Fatawa, 25/298) [Kedua] Muhammad bin ‘Abdus Salam Khodr Asy Syuqairiy membawakan pasal “Di bulan Rabi’ul Awwal dan Bid’ah Maulid”. Dalam pasal tersebut, beliau rahimahullah mengatakan, “Bulan Rabi’ul Awwal ini tidaklah dikhusukan dengan shalat, dzikr, ‘ibadah, nafkah atau sedekah tertentu. Bulan ini bukanlah bulan yang di dalamnya terdapat hari besar Islam seperti berkumpul-kumpul dan adanya ‘ied sebagaimana digariskan oleh syari’at. … Bulan ini memang adalah hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sekaligus pula bulan ini adalah waktu wafatnya beliau. Bagaimana seseorang bersenang-senang dengan hari kelahiran beliau sekaligus juga kematiannya [?] Jika hari kelahiran beliau dijadikan perayaan, maka itu termasuk perayaan yang bid’ah yang mungkar. Tidak ada dalam syari’at maupun dalam akal yang membenarkan hal ini. Jika dalam maulid terdapat kebaikan,lalu mengapa perayaan ini dilalaikan oleh Abu Bakar, ‘Umar, Utsman, ‘Ali, dan sahabat lainnya, juga tabi’in dan yang mengikuti mereka [?] Tidak disangsikan lagi, perayaan yang diada-adakan ini adalah kelakuan orang-orang sufi, orang yang serakah pada makanan, orang yang gemar menyiakan waktu dengan permainan sia-sia dan pengagung bid’ah. …” Lalu beliau melanjutkan dengan perkataan yang menghujam, “Lantas faedah apa yang bisa diperoleh, pahala apa yang bisa diraih dari penghamburan harta yang memberatkan [?]” (As Sunan wal Mubtada’at Al Muta’alliqoh Bil Adzkari wash Sholawat, 138-139) [Ketiga] Seorang ulama Malikiyah, Syaikh Tajuddin ‘Umar bin ‘Ali –yang lebih terkenal dengan Al Fakihaniy- mengatakan bahwa maulid adalah bid’ah madzmumah (bid’ah yang tercela). Beliau memiliki kitab tersendiri yang beliau namakan “Al Mawrid fil Kalam ‘ala ‘Amalil Mawlid (Pernyataan mengenai amalan Maulid)”. Beliau rahimahullah mengatakan, “Aku tidak mengetahui bahwa maulid memiliki dasar dari Al Kitab dan As Sunnah sama sekali. Tidak ada juga dari satu pun ulama yang dijadikan qudwah (teladan) dalam agama menunjukkan bahwa maulid berasal dari pendapat para ulama terdahulu. Bahkan maulid adalah suatu bid’ah yang diada-adakan, yang sangat digemari oleh orang yang senang menghabiskan waktu dengan sia-sia, sangat pula disenangi oleh orang serakah pada makanan. Kalau mau dikatakan maulid masuk di mana dari lima hukum taklifi (yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram), maka yang tepat perayaan maulid bukanlah suatu yang wajib secara ijma’ (kesepakatan para ulama) atau pula bukan sesuatu yang dianjurkan (sunnah).  Karena yang namanya sesuatu yang dianjurkan (sunnah) tidak dicela orang yang meninggalkannya. Sedangkan maulid tidaklah dirayakan oleh sahabat, tabi’in dan ulama sepanjang pengetahuan kami. Inilah jawabanku terhadap hal ini. Dan tidak bisa dikatakan merayakan maulid itu mubah karena yang namanya bid’ah dalam agama –berdasarkan kesepakatan para ulama kaum muslimin- tidak bisa disebut mubah. Jadi, maulid hanya bisa kita katakan terlarang atau haram.” (Al Hawiy Lilfatawa Lis Suyuthi, 1/183) Semoga bermanfaat. Baca Juga: Benarkah Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar, Shalahuddin Al Ayubi Pro Maulid Nabi? Merayakan Maulid Nabi dalam Rangka Mengagungkan Nabi   Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Rabu, 6 Rabi’ul Awwal 1430 H Tagsmaulid maulid nabi

Sejarah Kelam Maulid Nabi

Jika kita menelusuri dalam kitab tarikh (sejarah), perayaan Maulid Nabi tidak kita temukan pada masa sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan empat Imam Madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad), padahal mereka adalah orang-orang yang sangat cinta dan mengagungkan Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling paham mengenai sunnah Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan paling semangat dalam mengikuti setiap ajaran beliau. Perlu diketahui pula bahwa -menurut pakar sejarah yang terpercaya-, yang pertama kali mempelopori acara Maulid Nabi adalah Dinasti ‘Ubaidiyyun atau disebut juga Fatimiyyun (silsilah keturunannya disandarkan pada Fatimah). Sebagai buktinya adalah penjelasan berikut ini. Al Maqriziy, seorang pakar sejarah mengatakan, “Para khalifah Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari ‘Asyura, maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah al Zahra, maulid khalifah yang sedang berkuasa, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Ramadhan, perayaan malam penutup Ramadhan, perayaan ‘Idul Fithri, perayaan ‘Idul Adha, perayaan ‘Idul Ghadir, perayaan musim dingin dan musim panas, perayaan malam Al Kholij, hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), hari Al Khomisul ‘Adas (3 hari sebelum paskah), dan hari Rukubaat.” (Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar, 1/490. Dinukil dari Al Maulid, hal. 20 dan Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 145-146) Asy Syaikh Bakhit Al Muti’iy, mufti negeri Mesir dalam kitabnya Ahsanul Kalam (hal. 44) mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu: perayaan Maulid (hari kelahiran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maulid ‘Ali, maulid Fatimah, maulid Al Hasan, maulid Al Husain –radhiyallahu ‘anhum- dan maulid khalifah yang berkuasa saat itu yaitu Al Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H. Begitu pula Asy Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al Ibda’ fi Madhoril Ibtida’ (hal. 251) dan Al Ustadz ‘Ali Fikriy dalam Al Muhadhorot Al Fikriyah (hal. 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun). (Dinukil dari Al Maulid, hal. 20) Fatimiyyun yang Sebenarnya Kebanyakan orang belum mengetahui siapakah Fatimiyyun atau ‘Ubaidiyyun. Seolah-olah Fatimiyyun ini adalah orang-orang sholeh dan punya i’tiqod baik untuk mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi senyatanya tidak demikian. Banyak ulama menyatakan sesatnya mereka dan berusaha membongkar kesesatan mereka. Al Qodhi Al Baqillaniy menulis kitab khusus untuk membantah Fatimiyyun yang beliau namakan “Kasyful Asror wa Hatkul Astar (Menyingkap rahasia dan mengoyak tirai)”. Dalam kitab tersebut, beliau membuka kedok Fatimiyyun dengan mengatakan, “Mereka adalah suatu kaum yang menampakkan pemahaman Rafidhah (Syi’ah) dan menyembunyikan kekufuran semata.” Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni Ad Dimasqiy mengatakan, “Tidak disangsikan lagi, jika kita melihat pada sejarah kerajaan Fatimiyyun, kebanyakan dari raja (penguasa) mereka adalah orang-orang yang zholim, sering menerjang perkara yang haram, jauh dari melakukan perkara yang wajib, paling semangat dalam menampakkan bid’ah yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, dan menjadi pendukung orang munafik dan ahli bid’ah. Perlu diketahui, para ulama telah sepakat bahwa Daulah Bani Umayyah, Bani Al ‘Abbas (‘Abbasiyah) lebih dekat pada ajaran Allah dan Rasul-Nya, lebih berilmu, lebih unggul dalam keimanan daripada Daulah Fatimiyyun. Dua daulah tadi lebih sedikit berbuat bid’ah dan maksiat daripada Daulah Fatimiyyun. Begitu pula khalifah kedua daulah tadi lebih utama daripada Daulah Fatimiyyun.” Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Bani Fatimiyyun adalah di antara manusia yang paling fasik (banyak bermaksiat) dan paling kufur.” (Majmu’ Fatawa, 35/127)   Apakah Fathimiyyun Memiliki Nasab sampai Fatimah? Bani Fatimiyyun atau ‘Ubaidiyyun juga menyatakan bahwa mereka memiliki nasab (silsilah keturunan) sampai Fatimah. Ini hanyalah suatu kedustaan. Tidak ada satu pun ulama yang menyatakan demikian. Ahmad bin ‘Abdul Halim juga mengatakan dalam halaman yang sama,  “Sudah diketahui bersama dan tidak bisa disangsikan lagi bahwa siapa yang menganggap mereka di atas keimanan dan ketakwaan atau menganggap mereka memiliki silsilah keturunan sampai Fatimah, sungguh ini adalah suatu anggapan tanpa dasar ilmu sama sekali. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al Israa’: 36). Begitu juga Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali orang yang bersaksi pada kebenaran sedangkan mereka mengetahuinya.” (QS. Az Zukhruf: 86). Allah Ta’ala juga mengatakan saudara Yusuf (yang artinya), “Dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui.” (QS. Yusuf: 81). Perlu diketahui bahwa tidak ada satu pun ulama yang menyatakan benarnya silsilah keturunan mereka sampai pada Fatimah.” Begitu pula Ibnu Khallikan mengatakan, “Para ulama peneliti nasab mengingkari klaim mereka dalam nasab [yang katanya sampai pada Fatimah].” (Wafayatul A’yan, 3/117-118) Perhatikanlah pula perkataan Al Maqrizy di atas, begitu banyak perayaan yang dilakukan oleh Fatimiyyun dalam setahun, kurang lebih ada 25 perayaan. Bahkan lebih parah lagi mereka juga mengadakan perayaan hari raya orang Majusi dan Nashrani yaitu hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), dan hari Al Khomisul ‘Adas (perayaan tiga hari selelum Paskah). Ini pertanda bahwa mereka jauh dari Islam. Bahkan perayaan-perayaan maulid yang diadakan oleh Fatimiyyun tadi hanyalah untuk menarik banyak masa supaya mengikuti madzhab mereka. Jika kita menilik aqidah mereka, maka akan nampak bahwa mereka memiliki aqidah yang rusak dan mereka adalah pelopor dakwah Batiniyyah yang sesat. (Lihat Al Bida’ Al Hawliyah, 146, 158) ‘Abdullah At Tuwaijiriy mengatakan, “Al Qodhi Abu Bakr Al Baqillaniy dalam kitabnya ‘yang menyingkap rahasia dan mengoyak tirai Bani ‘Ubaidiyyun’, beliau menyebutkan bahwa Bani Fatimiyyun adalah keturunan Majusi. Cara beragama mereka lebih parah dari Yahudi dan Nashrani. Bahkan yang paling ekstrim di antara mereka mengklaim ‘Ali sebagai ilah (Tuhan yang disembah) atau ada sebagian mereka yang mengklaim ‘Ali memiliki kenabian. Sungguh Bani Fatimiyyun ini lebih kufur dari Yahudi dan Nashrani. Al Qodhi Abu Ya’la dalam kitabnya Al Mu’tamad menjelaskan panjang lebar mengenai kemunafikan dan kekufuran Bani Fatimiyyun. Begitu pula Abu Hamid Al Ghozali membantah aqidah mereka dalam kitabnya Fadho-ihul Bathiniyyah (Mengungkap kesalahan aliran Batiniyyah).” (Al Bida’ Al Hawliyah, 142-143) Inilah sejarah yang kelam dari Maulid Nabi. Namun, kebanyakan orang tidak mengetahui sejarah ini atau mungkin sengaja menyembunyikannya. Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan: Pertama: Maulid Nabi tidak ada asal usulnya sama sekali dari salafush sholeh. Tidak kita  temukan pada sahabat atau para tabi’in yang merayakannya, bahkan dari imam madzhab. Kedua: Munculnya Maulid Nabi adalah pada masa Daulah Fatimiyyun sekitar abad tiga Hijriyah. Daulah Fatimiyyun sendiri dibinasakan oleh Shalahuddin Al Ayubi pada tahun 546 H. Ketiga: Fatimiyyun memiliki banyak penyimpangan dalam masalah aqidah sampai aliran ekstrim di antara mereka mengaku Ali sebagai Tuhan. Fatimiyyun adalah orang-orang yang gemar berbuat bid’ah, maksiat dan  jauh dari ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Keempat: Merayakan Maulid Nabi berarti telah mengikuti Daulah Fatimiyyun yang pertama kali memunculkan perayaan maulid. Dan ini berarti telah ikut-ikutan dalam tradisi orang yang jauh dari Islam, senang berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunannya, telah menyerupai di antara orang yang paling fasiq dan paling kufur. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus) Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. Baca Juga: Benarkah Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar, Shalahuddin Al Ayubi Pro Maulid Nabi? Hukum Menghadiri Perayaan Maulid Nabi Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Rabu, 6 Rabi’ul Awwal 1430 H Tagsmaulid maulid nabi

Sejarah Kelam Maulid Nabi

Jika kita menelusuri dalam kitab tarikh (sejarah), perayaan Maulid Nabi tidak kita temukan pada masa sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan empat Imam Madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad), padahal mereka adalah orang-orang yang sangat cinta dan mengagungkan Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling paham mengenai sunnah Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan paling semangat dalam mengikuti setiap ajaran beliau. Perlu diketahui pula bahwa -menurut pakar sejarah yang terpercaya-, yang pertama kali mempelopori acara Maulid Nabi adalah Dinasti ‘Ubaidiyyun atau disebut juga Fatimiyyun (silsilah keturunannya disandarkan pada Fatimah). Sebagai buktinya adalah penjelasan berikut ini. Al Maqriziy, seorang pakar sejarah mengatakan, “Para khalifah Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari ‘Asyura, maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah al Zahra, maulid khalifah yang sedang berkuasa, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Ramadhan, perayaan malam penutup Ramadhan, perayaan ‘Idul Fithri, perayaan ‘Idul Adha, perayaan ‘Idul Ghadir, perayaan musim dingin dan musim panas, perayaan malam Al Kholij, hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), hari Al Khomisul ‘Adas (3 hari sebelum paskah), dan hari Rukubaat.” (Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar, 1/490. Dinukil dari Al Maulid, hal. 20 dan Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 145-146) Asy Syaikh Bakhit Al Muti’iy, mufti negeri Mesir dalam kitabnya Ahsanul Kalam (hal. 44) mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu: perayaan Maulid (hari kelahiran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maulid ‘Ali, maulid Fatimah, maulid Al Hasan, maulid Al Husain –radhiyallahu ‘anhum- dan maulid khalifah yang berkuasa saat itu yaitu Al Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H. Begitu pula Asy Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al Ibda’ fi Madhoril Ibtida’ (hal. 251) dan Al Ustadz ‘Ali Fikriy dalam Al Muhadhorot Al Fikriyah (hal. 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun). (Dinukil dari Al Maulid, hal. 20) Fatimiyyun yang Sebenarnya Kebanyakan orang belum mengetahui siapakah Fatimiyyun atau ‘Ubaidiyyun. Seolah-olah Fatimiyyun ini adalah orang-orang sholeh dan punya i’tiqod baik untuk mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi senyatanya tidak demikian. Banyak ulama menyatakan sesatnya mereka dan berusaha membongkar kesesatan mereka. Al Qodhi Al Baqillaniy menulis kitab khusus untuk membantah Fatimiyyun yang beliau namakan “Kasyful Asror wa Hatkul Astar (Menyingkap rahasia dan mengoyak tirai)”. Dalam kitab tersebut, beliau membuka kedok Fatimiyyun dengan mengatakan, “Mereka adalah suatu kaum yang menampakkan pemahaman Rafidhah (Syi’ah) dan menyembunyikan kekufuran semata.” Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni Ad Dimasqiy mengatakan, “Tidak disangsikan lagi, jika kita melihat pada sejarah kerajaan Fatimiyyun, kebanyakan dari raja (penguasa) mereka adalah orang-orang yang zholim, sering menerjang perkara yang haram, jauh dari melakukan perkara yang wajib, paling semangat dalam menampakkan bid’ah yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, dan menjadi pendukung orang munafik dan ahli bid’ah. Perlu diketahui, para ulama telah sepakat bahwa Daulah Bani Umayyah, Bani Al ‘Abbas (‘Abbasiyah) lebih dekat pada ajaran Allah dan Rasul-Nya, lebih berilmu, lebih unggul dalam keimanan daripada Daulah Fatimiyyun. Dua daulah tadi lebih sedikit berbuat bid’ah dan maksiat daripada Daulah Fatimiyyun. Begitu pula khalifah kedua daulah tadi lebih utama daripada Daulah Fatimiyyun.” Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Bani Fatimiyyun adalah di antara manusia yang paling fasik (banyak bermaksiat) dan paling kufur.” (Majmu’ Fatawa, 35/127)   Apakah Fathimiyyun Memiliki Nasab sampai Fatimah? Bani Fatimiyyun atau ‘Ubaidiyyun juga menyatakan bahwa mereka memiliki nasab (silsilah keturunan) sampai Fatimah. Ini hanyalah suatu kedustaan. Tidak ada satu pun ulama yang menyatakan demikian. Ahmad bin ‘Abdul Halim juga mengatakan dalam halaman yang sama,  “Sudah diketahui bersama dan tidak bisa disangsikan lagi bahwa siapa yang menganggap mereka di atas keimanan dan ketakwaan atau menganggap mereka memiliki silsilah keturunan sampai Fatimah, sungguh ini adalah suatu anggapan tanpa dasar ilmu sama sekali. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al Israa’: 36). Begitu juga Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali orang yang bersaksi pada kebenaran sedangkan mereka mengetahuinya.” (QS. Az Zukhruf: 86). Allah Ta’ala juga mengatakan saudara Yusuf (yang artinya), “Dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui.” (QS. Yusuf: 81). Perlu diketahui bahwa tidak ada satu pun ulama yang menyatakan benarnya silsilah keturunan mereka sampai pada Fatimah.” Begitu pula Ibnu Khallikan mengatakan, “Para ulama peneliti nasab mengingkari klaim mereka dalam nasab [yang katanya sampai pada Fatimah].” (Wafayatul A’yan, 3/117-118) Perhatikanlah pula perkataan Al Maqrizy di atas, begitu banyak perayaan yang dilakukan oleh Fatimiyyun dalam setahun, kurang lebih ada 25 perayaan. Bahkan lebih parah lagi mereka juga mengadakan perayaan hari raya orang Majusi dan Nashrani yaitu hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), dan hari Al Khomisul ‘Adas (perayaan tiga hari selelum Paskah). Ini pertanda bahwa mereka jauh dari Islam. Bahkan perayaan-perayaan maulid yang diadakan oleh Fatimiyyun tadi hanyalah untuk menarik banyak masa supaya mengikuti madzhab mereka. Jika kita menilik aqidah mereka, maka akan nampak bahwa mereka memiliki aqidah yang rusak dan mereka adalah pelopor dakwah Batiniyyah yang sesat. (Lihat Al Bida’ Al Hawliyah, 146, 158) ‘Abdullah At Tuwaijiriy mengatakan, “Al Qodhi Abu Bakr Al Baqillaniy dalam kitabnya ‘yang menyingkap rahasia dan mengoyak tirai Bani ‘Ubaidiyyun’, beliau menyebutkan bahwa Bani Fatimiyyun adalah keturunan Majusi. Cara beragama mereka lebih parah dari Yahudi dan Nashrani. Bahkan yang paling ekstrim di antara mereka mengklaim ‘Ali sebagai ilah (Tuhan yang disembah) atau ada sebagian mereka yang mengklaim ‘Ali memiliki kenabian. Sungguh Bani Fatimiyyun ini lebih kufur dari Yahudi dan Nashrani. Al Qodhi Abu Ya’la dalam kitabnya Al Mu’tamad menjelaskan panjang lebar mengenai kemunafikan dan kekufuran Bani Fatimiyyun. Begitu pula Abu Hamid Al Ghozali membantah aqidah mereka dalam kitabnya Fadho-ihul Bathiniyyah (Mengungkap kesalahan aliran Batiniyyah).” (Al Bida’ Al Hawliyah, 142-143) Inilah sejarah yang kelam dari Maulid Nabi. Namun, kebanyakan orang tidak mengetahui sejarah ini atau mungkin sengaja menyembunyikannya. Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan: Pertama: Maulid Nabi tidak ada asal usulnya sama sekali dari salafush sholeh. Tidak kita  temukan pada sahabat atau para tabi’in yang merayakannya, bahkan dari imam madzhab. Kedua: Munculnya Maulid Nabi adalah pada masa Daulah Fatimiyyun sekitar abad tiga Hijriyah. Daulah Fatimiyyun sendiri dibinasakan oleh Shalahuddin Al Ayubi pada tahun 546 H. Ketiga: Fatimiyyun memiliki banyak penyimpangan dalam masalah aqidah sampai aliran ekstrim di antara mereka mengaku Ali sebagai Tuhan. Fatimiyyun adalah orang-orang yang gemar berbuat bid’ah, maksiat dan  jauh dari ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Keempat: Merayakan Maulid Nabi berarti telah mengikuti Daulah Fatimiyyun yang pertama kali memunculkan perayaan maulid. Dan ini berarti telah ikut-ikutan dalam tradisi orang yang jauh dari Islam, senang berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunannya, telah menyerupai di antara orang yang paling fasiq dan paling kufur. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus) Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. Baca Juga: Benarkah Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar, Shalahuddin Al Ayubi Pro Maulid Nabi? Hukum Menghadiri Perayaan Maulid Nabi Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Rabu, 6 Rabi’ul Awwal 1430 H Tagsmaulid maulid nabi
Jika kita menelusuri dalam kitab tarikh (sejarah), perayaan Maulid Nabi tidak kita temukan pada masa sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan empat Imam Madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad), padahal mereka adalah orang-orang yang sangat cinta dan mengagungkan Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling paham mengenai sunnah Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan paling semangat dalam mengikuti setiap ajaran beliau. Perlu diketahui pula bahwa -menurut pakar sejarah yang terpercaya-, yang pertama kali mempelopori acara Maulid Nabi adalah Dinasti ‘Ubaidiyyun atau disebut juga Fatimiyyun (silsilah keturunannya disandarkan pada Fatimah). Sebagai buktinya adalah penjelasan berikut ini. Al Maqriziy, seorang pakar sejarah mengatakan, “Para khalifah Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari ‘Asyura, maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah al Zahra, maulid khalifah yang sedang berkuasa, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Ramadhan, perayaan malam penutup Ramadhan, perayaan ‘Idul Fithri, perayaan ‘Idul Adha, perayaan ‘Idul Ghadir, perayaan musim dingin dan musim panas, perayaan malam Al Kholij, hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), hari Al Khomisul ‘Adas (3 hari sebelum paskah), dan hari Rukubaat.” (Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar, 1/490. Dinukil dari Al Maulid, hal. 20 dan Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 145-146) Asy Syaikh Bakhit Al Muti’iy, mufti negeri Mesir dalam kitabnya Ahsanul Kalam (hal. 44) mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu: perayaan Maulid (hari kelahiran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maulid ‘Ali, maulid Fatimah, maulid Al Hasan, maulid Al Husain –radhiyallahu ‘anhum- dan maulid khalifah yang berkuasa saat itu yaitu Al Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H. Begitu pula Asy Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al Ibda’ fi Madhoril Ibtida’ (hal. 251) dan Al Ustadz ‘Ali Fikriy dalam Al Muhadhorot Al Fikriyah (hal. 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun). (Dinukil dari Al Maulid, hal. 20) Fatimiyyun yang Sebenarnya Kebanyakan orang belum mengetahui siapakah Fatimiyyun atau ‘Ubaidiyyun. Seolah-olah Fatimiyyun ini adalah orang-orang sholeh dan punya i’tiqod baik untuk mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi senyatanya tidak demikian. Banyak ulama menyatakan sesatnya mereka dan berusaha membongkar kesesatan mereka. Al Qodhi Al Baqillaniy menulis kitab khusus untuk membantah Fatimiyyun yang beliau namakan “Kasyful Asror wa Hatkul Astar (Menyingkap rahasia dan mengoyak tirai)”. Dalam kitab tersebut, beliau membuka kedok Fatimiyyun dengan mengatakan, “Mereka adalah suatu kaum yang menampakkan pemahaman Rafidhah (Syi’ah) dan menyembunyikan kekufuran semata.” Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni Ad Dimasqiy mengatakan, “Tidak disangsikan lagi, jika kita melihat pada sejarah kerajaan Fatimiyyun, kebanyakan dari raja (penguasa) mereka adalah orang-orang yang zholim, sering menerjang perkara yang haram, jauh dari melakukan perkara yang wajib, paling semangat dalam menampakkan bid’ah yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, dan menjadi pendukung orang munafik dan ahli bid’ah. Perlu diketahui, para ulama telah sepakat bahwa Daulah Bani Umayyah, Bani Al ‘Abbas (‘Abbasiyah) lebih dekat pada ajaran Allah dan Rasul-Nya, lebih berilmu, lebih unggul dalam keimanan daripada Daulah Fatimiyyun. Dua daulah tadi lebih sedikit berbuat bid’ah dan maksiat daripada Daulah Fatimiyyun. Begitu pula khalifah kedua daulah tadi lebih utama daripada Daulah Fatimiyyun.” Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Bani Fatimiyyun adalah di antara manusia yang paling fasik (banyak bermaksiat) dan paling kufur.” (Majmu’ Fatawa, 35/127)   Apakah Fathimiyyun Memiliki Nasab sampai Fatimah? Bani Fatimiyyun atau ‘Ubaidiyyun juga menyatakan bahwa mereka memiliki nasab (silsilah keturunan) sampai Fatimah. Ini hanyalah suatu kedustaan. Tidak ada satu pun ulama yang menyatakan demikian. Ahmad bin ‘Abdul Halim juga mengatakan dalam halaman yang sama,  “Sudah diketahui bersama dan tidak bisa disangsikan lagi bahwa siapa yang menganggap mereka di atas keimanan dan ketakwaan atau menganggap mereka memiliki silsilah keturunan sampai Fatimah, sungguh ini adalah suatu anggapan tanpa dasar ilmu sama sekali. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al Israa’: 36). Begitu juga Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali orang yang bersaksi pada kebenaran sedangkan mereka mengetahuinya.” (QS. Az Zukhruf: 86). Allah Ta’ala juga mengatakan saudara Yusuf (yang artinya), “Dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui.” (QS. Yusuf: 81). Perlu diketahui bahwa tidak ada satu pun ulama yang menyatakan benarnya silsilah keturunan mereka sampai pada Fatimah.” Begitu pula Ibnu Khallikan mengatakan, “Para ulama peneliti nasab mengingkari klaim mereka dalam nasab [yang katanya sampai pada Fatimah].” (Wafayatul A’yan, 3/117-118) Perhatikanlah pula perkataan Al Maqrizy di atas, begitu banyak perayaan yang dilakukan oleh Fatimiyyun dalam setahun, kurang lebih ada 25 perayaan. Bahkan lebih parah lagi mereka juga mengadakan perayaan hari raya orang Majusi dan Nashrani yaitu hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), dan hari Al Khomisul ‘Adas (perayaan tiga hari selelum Paskah). Ini pertanda bahwa mereka jauh dari Islam. Bahkan perayaan-perayaan maulid yang diadakan oleh Fatimiyyun tadi hanyalah untuk menarik banyak masa supaya mengikuti madzhab mereka. Jika kita menilik aqidah mereka, maka akan nampak bahwa mereka memiliki aqidah yang rusak dan mereka adalah pelopor dakwah Batiniyyah yang sesat. (Lihat Al Bida’ Al Hawliyah, 146, 158) ‘Abdullah At Tuwaijiriy mengatakan, “Al Qodhi Abu Bakr Al Baqillaniy dalam kitabnya ‘yang menyingkap rahasia dan mengoyak tirai Bani ‘Ubaidiyyun’, beliau menyebutkan bahwa Bani Fatimiyyun adalah keturunan Majusi. Cara beragama mereka lebih parah dari Yahudi dan Nashrani. Bahkan yang paling ekstrim di antara mereka mengklaim ‘Ali sebagai ilah (Tuhan yang disembah) atau ada sebagian mereka yang mengklaim ‘Ali memiliki kenabian. Sungguh Bani Fatimiyyun ini lebih kufur dari Yahudi dan Nashrani. Al Qodhi Abu Ya’la dalam kitabnya Al Mu’tamad menjelaskan panjang lebar mengenai kemunafikan dan kekufuran Bani Fatimiyyun. Begitu pula Abu Hamid Al Ghozali membantah aqidah mereka dalam kitabnya Fadho-ihul Bathiniyyah (Mengungkap kesalahan aliran Batiniyyah).” (Al Bida’ Al Hawliyah, 142-143) Inilah sejarah yang kelam dari Maulid Nabi. Namun, kebanyakan orang tidak mengetahui sejarah ini atau mungkin sengaja menyembunyikannya. Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan: Pertama: Maulid Nabi tidak ada asal usulnya sama sekali dari salafush sholeh. Tidak kita  temukan pada sahabat atau para tabi’in yang merayakannya, bahkan dari imam madzhab. Kedua: Munculnya Maulid Nabi adalah pada masa Daulah Fatimiyyun sekitar abad tiga Hijriyah. Daulah Fatimiyyun sendiri dibinasakan oleh Shalahuddin Al Ayubi pada tahun 546 H. Ketiga: Fatimiyyun memiliki banyak penyimpangan dalam masalah aqidah sampai aliran ekstrim di antara mereka mengaku Ali sebagai Tuhan. Fatimiyyun adalah orang-orang yang gemar berbuat bid’ah, maksiat dan  jauh dari ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Keempat: Merayakan Maulid Nabi berarti telah mengikuti Daulah Fatimiyyun yang pertama kali memunculkan perayaan maulid. Dan ini berarti telah ikut-ikutan dalam tradisi orang yang jauh dari Islam, senang berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunannya, telah menyerupai di antara orang yang paling fasiq dan paling kufur. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus) Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. Baca Juga: Benarkah Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar, Shalahuddin Al Ayubi Pro Maulid Nabi? Hukum Menghadiri Perayaan Maulid Nabi Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Rabu, 6 Rabi’ul Awwal 1430 H Tagsmaulid maulid nabi


Jika kita menelusuri dalam kitab tarikh (sejarah), perayaan Maulid Nabi tidak kita temukan pada masa sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan empat Imam Madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad), padahal mereka adalah orang-orang yang sangat cinta dan mengagungkan Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling paham mengenai sunnah Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan paling semangat dalam mengikuti setiap ajaran beliau. Perlu diketahui pula bahwa -menurut pakar sejarah yang terpercaya-, yang pertama kali mempelopori acara Maulid Nabi adalah Dinasti ‘Ubaidiyyun atau disebut juga Fatimiyyun (silsilah keturunannya disandarkan pada Fatimah). Sebagai buktinya adalah penjelasan berikut ini. Al Maqriziy, seorang pakar sejarah mengatakan, “Para khalifah Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari ‘Asyura, maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah al Zahra, maulid khalifah yang sedang berkuasa, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Ramadhan, perayaan malam penutup Ramadhan, perayaan ‘Idul Fithri, perayaan ‘Idul Adha, perayaan ‘Idul Ghadir, perayaan musim dingin dan musim panas, perayaan malam Al Kholij, hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), hari Al Khomisul ‘Adas (3 hari sebelum paskah), dan hari Rukubaat.” (Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar, 1/490. Dinukil dari Al Maulid, hal. 20 dan Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 145-146) Asy Syaikh Bakhit Al Muti’iy, mufti negeri Mesir dalam kitabnya Ahsanul Kalam (hal. 44) mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu: perayaan Maulid (hari kelahiran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maulid ‘Ali, maulid Fatimah, maulid Al Hasan, maulid Al Husain –radhiyallahu ‘anhum- dan maulid khalifah yang berkuasa saat itu yaitu Al Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H. Begitu pula Asy Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al Ibda’ fi Madhoril Ibtida’ (hal. 251) dan Al Ustadz ‘Ali Fikriy dalam Al Muhadhorot Al Fikriyah (hal. 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun). (Dinukil dari Al Maulid, hal. 20) Fatimiyyun yang Sebenarnya Kebanyakan orang belum mengetahui siapakah Fatimiyyun atau ‘Ubaidiyyun. Seolah-olah Fatimiyyun ini adalah orang-orang sholeh dan punya i’tiqod baik untuk mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi senyatanya tidak demikian. Banyak ulama menyatakan sesatnya mereka dan berusaha membongkar kesesatan mereka. Al Qodhi Al Baqillaniy menulis kitab khusus untuk membantah Fatimiyyun yang beliau namakan “Kasyful Asror wa Hatkul Astar (Menyingkap rahasia dan mengoyak tirai)”. Dalam kitab tersebut, beliau membuka kedok Fatimiyyun dengan mengatakan, “Mereka adalah suatu kaum yang menampakkan pemahaman Rafidhah (Syi’ah) dan menyembunyikan kekufuran semata.” Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni Ad Dimasqiy mengatakan, “Tidak disangsikan lagi, jika kita melihat pada sejarah kerajaan Fatimiyyun, kebanyakan dari raja (penguasa) mereka adalah orang-orang yang zholim, sering menerjang perkara yang haram, jauh dari melakukan perkara yang wajib, paling semangat dalam menampakkan bid’ah yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, dan menjadi pendukung orang munafik dan ahli bid’ah. Perlu diketahui, para ulama telah sepakat bahwa Daulah Bani Umayyah, Bani Al ‘Abbas (‘Abbasiyah) lebih dekat pada ajaran Allah dan Rasul-Nya, lebih berilmu, lebih unggul dalam keimanan daripada Daulah Fatimiyyun. Dua daulah tadi lebih sedikit berbuat bid’ah dan maksiat daripada Daulah Fatimiyyun. Begitu pula khalifah kedua daulah tadi lebih utama daripada Daulah Fatimiyyun.” Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Bani Fatimiyyun adalah di antara manusia yang paling fasik (banyak bermaksiat) dan paling kufur.” (Majmu’ Fatawa, 35/127)   Apakah Fathimiyyun Memiliki Nasab sampai Fatimah? Bani Fatimiyyun atau ‘Ubaidiyyun juga menyatakan bahwa mereka memiliki nasab (silsilah keturunan) sampai Fatimah. Ini hanyalah suatu kedustaan. Tidak ada satu pun ulama yang menyatakan demikian. Ahmad bin ‘Abdul Halim juga mengatakan dalam halaman yang sama,  “Sudah diketahui bersama dan tidak bisa disangsikan lagi bahwa siapa yang menganggap mereka di atas keimanan dan ketakwaan atau menganggap mereka memiliki silsilah keturunan sampai Fatimah, sungguh ini adalah suatu anggapan tanpa dasar ilmu sama sekali. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al Israa’: 36). Begitu juga Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali orang yang bersaksi pada kebenaran sedangkan mereka mengetahuinya.” (QS. Az Zukhruf: 86). Allah Ta’ala juga mengatakan saudara Yusuf (yang artinya), “Dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui.” (QS. Yusuf: 81). Perlu diketahui bahwa tidak ada satu pun ulama yang menyatakan benarnya silsilah keturunan mereka sampai pada Fatimah.” Begitu pula Ibnu Khallikan mengatakan, “Para ulama peneliti nasab mengingkari klaim mereka dalam nasab [yang katanya sampai pada Fatimah].” (Wafayatul A’yan, 3/117-118) Perhatikanlah pula perkataan Al Maqrizy di atas, begitu banyak perayaan yang dilakukan oleh Fatimiyyun dalam setahun, kurang lebih ada 25 perayaan. Bahkan lebih parah lagi mereka juga mengadakan perayaan hari raya orang Majusi dan Nashrani yaitu hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), dan hari Al Khomisul ‘Adas (perayaan tiga hari selelum Paskah). Ini pertanda bahwa mereka jauh dari Islam. Bahkan perayaan-perayaan maulid yang diadakan oleh Fatimiyyun tadi hanyalah untuk menarik banyak masa supaya mengikuti madzhab mereka. Jika kita menilik aqidah mereka, maka akan nampak bahwa mereka memiliki aqidah yang rusak dan mereka adalah pelopor dakwah Batiniyyah yang sesat. (Lihat Al Bida’ Al Hawliyah, 146, 158) ‘Abdullah At Tuwaijiriy mengatakan, “Al Qodhi Abu Bakr Al Baqillaniy dalam kitabnya ‘yang menyingkap rahasia dan mengoyak tirai Bani ‘Ubaidiyyun’, beliau menyebutkan bahwa Bani Fatimiyyun adalah keturunan Majusi. Cara beragama mereka lebih parah dari Yahudi dan Nashrani. Bahkan yang paling ekstrim di antara mereka mengklaim ‘Ali sebagai ilah (Tuhan yang disembah) atau ada sebagian mereka yang mengklaim ‘Ali memiliki kenabian. Sungguh Bani Fatimiyyun ini lebih kufur dari Yahudi dan Nashrani. Al Qodhi Abu Ya’la dalam kitabnya Al Mu’tamad menjelaskan panjang lebar mengenai kemunafikan dan kekufuran Bani Fatimiyyun. Begitu pula Abu Hamid Al Ghozali membantah aqidah mereka dalam kitabnya Fadho-ihul Bathiniyyah (Mengungkap kesalahan aliran Batiniyyah).” (Al Bida’ Al Hawliyah, 142-143) Inilah sejarah yang kelam dari Maulid Nabi. Namun, kebanyakan orang tidak mengetahui sejarah ini atau mungkin sengaja menyembunyikannya. Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan: Pertama: Maulid Nabi tidak ada asal usulnya sama sekali dari salafush sholeh. Tidak kita  temukan pada sahabat atau para tabi’in yang merayakannya, bahkan dari imam madzhab. Kedua: Munculnya Maulid Nabi adalah pada masa Daulah Fatimiyyun sekitar abad tiga Hijriyah. Daulah Fatimiyyun sendiri dibinasakan oleh Shalahuddin Al Ayubi pada tahun 546 H. Ketiga: Fatimiyyun memiliki banyak penyimpangan dalam masalah aqidah sampai aliran ekstrim di antara mereka mengaku Ali sebagai Tuhan. Fatimiyyun adalah orang-orang yang gemar berbuat bid’ah, maksiat dan  jauh dari ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Keempat: Merayakan Maulid Nabi berarti telah mengikuti Daulah Fatimiyyun yang pertama kali memunculkan perayaan maulid. Dan ini berarti telah ikut-ikutan dalam tradisi orang yang jauh dari Islam, senang berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunannya, telah menyerupai di antara orang yang paling fasiq dan paling kufur. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus) Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. Baca Juga: Benarkah Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar, Shalahuddin Al Ayubi Pro Maulid Nabi? Hukum Menghadiri Perayaan Maulid Nabi Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Rabu, 6 Rabi’ul Awwal 1430 H Tagsmaulid maulid nabi

Sahkah Nikah Sirri

Nikah sirri dalam fiqih kontemporer lebih dikenal dengan istilah nikah ‘urfi (zawaj ‘urfi). Nikah ‘urfi adalah suatu pernikahan yang memenuhi syarat-syarat pernikahan tetapi tidak dicatat secara resmi oleh pegawai pemerintah yang menangani pernikahan (baca: KUA). Dari sini, dapat kita pahami bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan yang menonjol antara pernikahan syar’i dengan pernikahan ‘urfi (nikah sirri). Perbedaannya hanyalah antara resmi dan tidak resmi. Karena pernikahan ‘urfi adalah sah dalam pandangan syar’i disebabkan terpenuhinya semua persyaratan nikah seperti adanya wali dan saksi, hanya saja belum dianggap resmi oleh pemerintah karena belum tercatat oleh pegawai KUA setempat sehingga mudah untuk digugat. Mengenai nikah ‘urfi ini, berikut kami bawakan Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Tetap Riset Ilmiyyah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) no. 7910, pertanyaan ketiga. Pertanyaan: س3: المسلم والمسلمة مطالبان من حيث القانون بالحضور في مكتب تسجيل الزواج، فيذهب الرجل والمرأة إلى المكتب قبل الزواج مع الشهود، ويتم هناك الإيجاب والقبول، فهل هذا يكون نكاحا شرعيا، فإذا كان الجواب بالنفي فهل المسلم أو المسلمة يلزمه التسجيل القانوني قبل عقد النكاح الشرعي، مع العلم بأن التسجيل هذا يفيد كلا من الزوج أو الزوجة حقه عند حصول النزاع؟ “Dalam undang-undang Negara, seorang muslim dan muslimah yang ingin menikah dituntut untuk datang ke kantor pencatatan akad nikah (baca: KUA), sehingga keduanya-pun datang ke KUA bersama para saksi dan melangsungkan akad nikah di sana. Apakah ini yang disebut nikah yang syar’i? Bila jawabannya adalah tidak, maka apakah muslim dan muslimah harus mendaftar dan mencatat sebelum akad nikah sesuai dengan undang-undang? Perlu diketahui bahwa pencatatan semacam ini sangat bermanfaat bagi suami istri ketika terjadi percekcokan antara mereka.” Jawab: ج3: إذا تم القبول والإيجاب مع بقية شروط النكاح وانتفاء موانعه صح، وإذا كان تقييده قانونا يتوقف عليه ما للطرفين من المصالح الشرعية الحاضرة والمستقبلة للنكاح وجب ذلك. وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم. Apabila telah terjadi akad ijab qobul dan semua syarat nikah telah terpenuhi serta tidak ada penghalang yang membatalkan akad tersebut, maka pernikahan semacam ini, hukumnya adalah sah. Namun apabila terdapat peraturan/undang-undang bahwa pencatatan akad nikah membawa masalahat bagi kedua mempelai baik untuk masa sekarang maupun masa depan, maka pencatatan akad ini (seperti di KUA, pen) wajib dipatuhi. Wa billahit taufiq. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shohbihi wa sallam. Yang menandatangani fatwa ini: Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz Wakil Ketua: Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Ghodyan, Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud Kesimpulan Pertama: Nikah sirri, yaitu nikah tanpa melalui pencatatan KUA adalah nikah yang sah selama memenuhi syarat-syarat pernikahan seperti adanya wali. Kedua: Pencatatan nikah memang tidak ada pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, namun itu hanyalah politik syar’i yang tidak bertentangan dengan agama, bahkan memiliki banyak manfaat. Ketiga: Wajib bagi setiap muslim untuk mentaati peraturan pemerintah dengan melakukan pencatatan akad di KUA dan tidak melanggarnya karena ini termasuk salah satu bentuk ketaatan kepada pemimpin. Karena Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu.” (QS. An-Nisa’: 59). Dari sini dapat kita katakan bahwa nikah tanpa KUA hukumnya sah karena semua syarat nikah telah terpenuhi hanya saja berdosa karena melanggar peraturan pemerintah yang bukan maksiat. Kami sarankan agar pembaca bisa membaca artikel Al Ustadz Abu Ubaidah hafizhohullah di link berikut: http://abiubaidah.com/nikah-tanpa-kua.html/ Hanya Allah yang beri taufik. Diselesaikan di Panggang, Gunung Kidul, 10 Rabi’ul Awwal 1431 H Baca Juga: Berbohong Agar Bisa Menikahi Wanita Kaya Sudah Menikah Namun Belum Juga KAYA *** Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Tagskesalahan nikah

Sahkah Nikah Sirri

Nikah sirri dalam fiqih kontemporer lebih dikenal dengan istilah nikah ‘urfi (zawaj ‘urfi). Nikah ‘urfi adalah suatu pernikahan yang memenuhi syarat-syarat pernikahan tetapi tidak dicatat secara resmi oleh pegawai pemerintah yang menangani pernikahan (baca: KUA). Dari sini, dapat kita pahami bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan yang menonjol antara pernikahan syar’i dengan pernikahan ‘urfi (nikah sirri). Perbedaannya hanyalah antara resmi dan tidak resmi. Karena pernikahan ‘urfi adalah sah dalam pandangan syar’i disebabkan terpenuhinya semua persyaratan nikah seperti adanya wali dan saksi, hanya saja belum dianggap resmi oleh pemerintah karena belum tercatat oleh pegawai KUA setempat sehingga mudah untuk digugat. Mengenai nikah ‘urfi ini, berikut kami bawakan Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Tetap Riset Ilmiyyah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) no. 7910, pertanyaan ketiga. Pertanyaan: س3: المسلم والمسلمة مطالبان من حيث القانون بالحضور في مكتب تسجيل الزواج، فيذهب الرجل والمرأة إلى المكتب قبل الزواج مع الشهود، ويتم هناك الإيجاب والقبول، فهل هذا يكون نكاحا شرعيا، فإذا كان الجواب بالنفي فهل المسلم أو المسلمة يلزمه التسجيل القانوني قبل عقد النكاح الشرعي، مع العلم بأن التسجيل هذا يفيد كلا من الزوج أو الزوجة حقه عند حصول النزاع؟ “Dalam undang-undang Negara, seorang muslim dan muslimah yang ingin menikah dituntut untuk datang ke kantor pencatatan akad nikah (baca: KUA), sehingga keduanya-pun datang ke KUA bersama para saksi dan melangsungkan akad nikah di sana. Apakah ini yang disebut nikah yang syar’i? Bila jawabannya adalah tidak, maka apakah muslim dan muslimah harus mendaftar dan mencatat sebelum akad nikah sesuai dengan undang-undang? Perlu diketahui bahwa pencatatan semacam ini sangat bermanfaat bagi suami istri ketika terjadi percekcokan antara mereka.” Jawab: ج3: إذا تم القبول والإيجاب مع بقية شروط النكاح وانتفاء موانعه صح، وإذا كان تقييده قانونا يتوقف عليه ما للطرفين من المصالح الشرعية الحاضرة والمستقبلة للنكاح وجب ذلك. وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم. Apabila telah terjadi akad ijab qobul dan semua syarat nikah telah terpenuhi serta tidak ada penghalang yang membatalkan akad tersebut, maka pernikahan semacam ini, hukumnya adalah sah. Namun apabila terdapat peraturan/undang-undang bahwa pencatatan akad nikah membawa masalahat bagi kedua mempelai baik untuk masa sekarang maupun masa depan, maka pencatatan akad ini (seperti di KUA, pen) wajib dipatuhi. Wa billahit taufiq. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shohbihi wa sallam. Yang menandatangani fatwa ini: Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz Wakil Ketua: Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Ghodyan, Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud Kesimpulan Pertama: Nikah sirri, yaitu nikah tanpa melalui pencatatan KUA adalah nikah yang sah selama memenuhi syarat-syarat pernikahan seperti adanya wali. Kedua: Pencatatan nikah memang tidak ada pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, namun itu hanyalah politik syar’i yang tidak bertentangan dengan agama, bahkan memiliki banyak manfaat. Ketiga: Wajib bagi setiap muslim untuk mentaati peraturan pemerintah dengan melakukan pencatatan akad di KUA dan tidak melanggarnya karena ini termasuk salah satu bentuk ketaatan kepada pemimpin. Karena Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu.” (QS. An-Nisa’: 59). Dari sini dapat kita katakan bahwa nikah tanpa KUA hukumnya sah karena semua syarat nikah telah terpenuhi hanya saja berdosa karena melanggar peraturan pemerintah yang bukan maksiat. Kami sarankan agar pembaca bisa membaca artikel Al Ustadz Abu Ubaidah hafizhohullah di link berikut: http://abiubaidah.com/nikah-tanpa-kua.html/ Hanya Allah yang beri taufik. Diselesaikan di Panggang, Gunung Kidul, 10 Rabi’ul Awwal 1431 H Baca Juga: Berbohong Agar Bisa Menikahi Wanita Kaya Sudah Menikah Namun Belum Juga KAYA *** Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Tagskesalahan nikah
Nikah sirri dalam fiqih kontemporer lebih dikenal dengan istilah nikah ‘urfi (zawaj ‘urfi). Nikah ‘urfi adalah suatu pernikahan yang memenuhi syarat-syarat pernikahan tetapi tidak dicatat secara resmi oleh pegawai pemerintah yang menangani pernikahan (baca: KUA). Dari sini, dapat kita pahami bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan yang menonjol antara pernikahan syar’i dengan pernikahan ‘urfi (nikah sirri). Perbedaannya hanyalah antara resmi dan tidak resmi. Karena pernikahan ‘urfi adalah sah dalam pandangan syar’i disebabkan terpenuhinya semua persyaratan nikah seperti adanya wali dan saksi, hanya saja belum dianggap resmi oleh pemerintah karena belum tercatat oleh pegawai KUA setempat sehingga mudah untuk digugat. Mengenai nikah ‘urfi ini, berikut kami bawakan Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Tetap Riset Ilmiyyah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) no. 7910, pertanyaan ketiga. Pertanyaan: س3: المسلم والمسلمة مطالبان من حيث القانون بالحضور في مكتب تسجيل الزواج، فيذهب الرجل والمرأة إلى المكتب قبل الزواج مع الشهود، ويتم هناك الإيجاب والقبول، فهل هذا يكون نكاحا شرعيا، فإذا كان الجواب بالنفي فهل المسلم أو المسلمة يلزمه التسجيل القانوني قبل عقد النكاح الشرعي، مع العلم بأن التسجيل هذا يفيد كلا من الزوج أو الزوجة حقه عند حصول النزاع؟ “Dalam undang-undang Negara, seorang muslim dan muslimah yang ingin menikah dituntut untuk datang ke kantor pencatatan akad nikah (baca: KUA), sehingga keduanya-pun datang ke KUA bersama para saksi dan melangsungkan akad nikah di sana. Apakah ini yang disebut nikah yang syar’i? Bila jawabannya adalah tidak, maka apakah muslim dan muslimah harus mendaftar dan mencatat sebelum akad nikah sesuai dengan undang-undang? Perlu diketahui bahwa pencatatan semacam ini sangat bermanfaat bagi suami istri ketika terjadi percekcokan antara mereka.” Jawab: ج3: إذا تم القبول والإيجاب مع بقية شروط النكاح وانتفاء موانعه صح، وإذا كان تقييده قانونا يتوقف عليه ما للطرفين من المصالح الشرعية الحاضرة والمستقبلة للنكاح وجب ذلك. وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم. Apabila telah terjadi akad ijab qobul dan semua syarat nikah telah terpenuhi serta tidak ada penghalang yang membatalkan akad tersebut, maka pernikahan semacam ini, hukumnya adalah sah. Namun apabila terdapat peraturan/undang-undang bahwa pencatatan akad nikah membawa masalahat bagi kedua mempelai baik untuk masa sekarang maupun masa depan, maka pencatatan akad ini (seperti di KUA, pen) wajib dipatuhi. Wa billahit taufiq. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shohbihi wa sallam. Yang menandatangani fatwa ini: Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz Wakil Ketua: Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Ghodyan, Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud Kesimpulan Pertama: Nikah sirri, yaitu nikah tanpa melalui pencatatan KUA adalah nikah yang sah selama memenuhi syarat-syarat pernikahan seperti adanya wali. Kedua: Pencatatan nikah memang tidak ada pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, namun itu hanyalah politik syar’i yang tidak bertentangan dengan agama, bahkan memiliki banyak manfaat. Ketiga: Wajib bagi setiap muslim untuk mentaati peraturan pemerintah dengan melakukan pencatatan akad di KUA dan tidak melanggarnya karena ini termasuk salah satu bentuk ketaatan kepada pemimpin. Karena Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu.” (QS. An-Nisa’: 59). Dari sini dapat kita katakan bahwa nikah tanpa KUA hukumnya sah karena semua syarat nikah telah terpenuhi hanya saja berdosa karena melanggar peraturan pemerintah yang bukan maksiat. Kami sarankan agar pembaca bisa membaca artikel Al Ustadz Abu Ubaidah hafizhohullah di link berikut: http://abiubaidah.com/nikah-tanpa-kua.html/ Hanya Allah yang beri taufik. Diselesaikan di Panggang, Gunung Kidul, 10 Rabi’ul Awwal 1431 H Baca Juga: Berbohong Agar Bisa Menikahi Wanita Kaya Sudah Menikah Namun Belum Juga KAYA *** Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Tagskesalahan nikah


Nikah sirri dalam fiqih kontemporer lebih dikenal dengan istilah nikah ‘urfi (zawaj ‘urfi). Nikah ‘urfi adalah suatu pernikahan yang memenuhi syarat-syarat pernikahan tetapi tidak dicatat secara resmi oleh pegawai pemerintah yang menangani pernikahan (baca: KUA). Dari sini, dapat kita pahami bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan yang menonjol antara pernikahan syar’i dengan pernikahan ‘urfi (nikah sirri). Perbedaannya hanyalah antara resmi dan tidak resmi. Karena pernikahan ‘urfi adalah sah dalam pandangan syar’i disebabkan terpenuhinya semua persyaratan nikah seperti adanya wali dan saksi, hanya saja belum dianggap resmi oleh pemerintah karena belum tercatat oleh pegawai KUA setempat sehingga mudah untuk digugat. Mengenai nikah ‘urfi ini, berikut kami bawakan Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Tetap Riset Ilmiyyah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) no. 7910, pertanyaan ketiga. Pertanyaan: س3: المسلم والمسلمة مطالبان من حيث القانون بالحضور في مكتب تسجيل الزواج، فيذهب الرجل والمرأة إلى المكتب قبل الزواج مع الشهود، ويتم هناك الإيجاب والقبول، فهل هذا يكون نكاحا شرعيا، فإذا كان الجواب بالنفي فهل المسلم أو المسلمة يلزمه التسجيل القانوني قبل عقد النكاح الشرعي، مع العلم بأن التسجيل هذا يفيد كلا من الزوج أو الزوجة حقه عند حصول النزاع؟ “Dalam undang-undang Negara, seorang muslim dan muslimah yang ingin menikah dituntut untuk datang ke kantor pencatatan akad nikah (baca: KUA), sehingga keduanya-pun datang ke KUA bersama para saksi dan melangsungkan akad nikah di sana. Apakah ini yang disebut nikah yang syar’i? Bila jawabannya adalah tidak, maka apakah muslim dan muslimah harus mendaftar dan mencatat sebelum akad nikah sesuai dengan undang-undang? Perlu diketahui bahwa pencatatan semacam ini sangat bermanfaat bagi suami istri ketika terjadi percekcokan antara mereka.” Jawab: ج3: إذا تم القبول والإيجاب مع بقية شروط النكاح وانتفاء موانعه صح، وإذا كان تقييده قانونا يتوقف عليه ما للطرفين من المصالح الشرعية الحاضرة والمستقبلة للنكاح وجب ذلك. وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم. Apabila telah terjadi akad ijab qobul dan semua syarat nikah telah terpenuhi serta tidak ada penghalang yang membatalkan akad tersebut, maka pernikahan semacam ini, hukumnya adalah sah. Namun apabila terdapat peraturan/undang-undang bahwa pencatatan akad nikah membawa masalahat bagi kedua mempelai baik untuk masa sekarang maupun masa depan, maka pencatatan akad ini (seperti di KUA, pen) wajib dipatuhi. Wa billahit taufiq. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shohbihi wa sallam. Yang menandatangani fatwa ini: Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz Wakil Ketua: Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Ghodyan, Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud Kesimpulan Pertama: Nikah sirri, yaitu nikah tanpa melalui pencatatan KUA adalah nikah yang sah selama memenuhi syarat-syarat pernikahan seperti adanya wali. Kedua: Pencatatan nikah memang tidak ada pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, namun itu hanyalah politik syar’i yang tidak bertentangan dengan agama, bahkan memiliki banyak manfaat. Ketiga: Wajib bagi setiap muslim untuk mentaati peraturan pemerintah dengan melakukan pencatatan akad di KUA dan tidak melanggarnya karena ini termasuk salah satu bentuk ketaatan kepada pemimpin. Karena Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu.” (QS. An-Nisa’: 59). Dari sini dapat kita katakan bahwa nikah tanpa KUA hukumnya sah karena semua syarat nikah telah terpenuhi hanya saja berdosa karena melanggar peraturan pemerintah yang bukan maksiat. Kami sarankan agar pembaca bisa membaca artikel Al Ustadz Abu Ubaidah hafizhohullah di link berikut: http://abiubaidah.com/nikah-tanpa-kua.html/ Hanya Allah yang beri taufik. Diselesaikan di Panggang, Gunung Kidul, 10 Rabi’ul Awwal 1431 H Baca Juga: Berbohong Agar Bisa Menikahi Wanita Kaya Sudah Menikah Namun Belum Juga KAYA *** Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Tagskesalahan nikah

Bukti Cinta Nabi yang Benar dan Keliru

Seperti apa bukti cinta kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi akhir zaman, kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman. Dengan berbagai macam cara seseorang akan mencurahkan usahanya untuk membuktikan cintanya pada kekasihnya. Begitu pula kecintaan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap orang pun punya berbagai cara untuk membuktikannya. Namun tidak semua cara tersebut benar, ada di sana cara-cara yang keliru. Itulah yang nanti diangkat pada tulisan kali ini. Semoga Allah memudahkan dan memberikan kepahaman. Daftar Isi tutup 1. Kewajiban Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 2. Bukti Cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 3. Bukti Cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Bukanlah dengan Berbuat Bid’ah Kewajiban Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah: 24). Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,  “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.”[1] Ancaman keras inilah yang menunjukkan bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari makhluk lainnya adalah wajib. Bahkan tidak boleh seseorang mencintai dirinya hingga melebihi kecintaan pada nabinya. Allah Ta’ala berfirman, النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (QS. Al Ahzab: 6). Syihabuddin Al Alusi rahimahullah mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memerintahkan sesuatu dan tidak ridho pada umatnya kecuali jika ada maslahat dan mendatangkan keselamatan bagi mereka. Berbeda dengan jiwa mereka sendiri. Jiwa tersebut selalu mengajak pada keburukan.”[2] Oleh karena itu, kecintaan pada beliau mesti didahulukan daripada kecintaan pada diri sendiri. ‘Abdullah bin Hisyam berkata, “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau memegang tangan Umar bin Khaththab radhiyallahu ’anhu. Lalu Umar berkata, ”Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali terhadap diriku sendiri.” Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berkata, لاَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ ”Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya (imanmu belum sempurna). Tetapi aku harus lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Kemudian ’Umar berkata, ”Sekarang, demi Allah. Engkau (Rasulullah) lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berkata, ”Saat ini pula wahai Umar, (imanmu telah sempurna).”[3] Bukti Cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Pertama: Mendahulukan dan mengutamakan beliau dari siapa pun Hal ini dikarenakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk pilihan dari Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِى هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِى مِنْ بَنِى هَاشِمٍ “Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah yang terbaik dari keturunan Isma’il. Lalu Allah pilih Quraisy yang terbaik dari Kinanah. Allah pun memilih Bani Hasyim yang terbaik dari Quraisy. Lalu Allah pilih aku sebagai yang terbaik dari Bani Hasyim.”[4] Di antara bentuk mendahulukan dan mengutamakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari siapa pun yaitu apabila pendapat ulama, kyai atau ustadz yang menjadi rujukannya bertentangan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka yang didahulukan adalah pendapat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Asy Syafi’i rahimahullah, “Kaum muslimin telah sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena perkataan yang lainnya.”[5] Kedua: Membenarkan segala yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Termasuk prinsip keimanan dan pilarnya yang utama ialah mengimani kemaksuman Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dari dusta atau buhtan (fitnah) dan membenarkan segala yang dikabarkan beliau tentang perkara yang telah berlalu, sekarang, dan akan datang. Karena Allah Ta’ala berfirman, وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى (1) مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (2) وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4) ”Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An Najm: 1-4) Ketiga: Beradab di sisi Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Di antara bentuk adab kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah memuji beliau dengan pujian yang layak baginya. Pujian yang paling mendalam ialah pujian yang diberikan oleh Rabb-nya dan pujian beliau terhadap dirinya sendiri, dan yang paling utama adalah shalawat dan salam kepada beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ “Orang yang bakhil (pelit) adalah orang yang apabila namaku disebut di sisinya, dia tidak bershalawat kepadaku.”[6] Keempat: Ittiba’ (mencontoh) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berpegang pada petunjuknya. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.” (QS. Ali Imron: 31) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), janganlah membuat bid’ah. Karena (ajaran Nabi) itu sudah cukup bagi kalian. Semua amalan yang tanpa tuntunan Nabi (baca: bid’ah) adalah sesat.”[7] Kelima: Berhakim kepada ajaran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Sesungguhnya berhukum dengan ajaran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah salah satu prinsip mahabbah (cinta) dan ittiba’ (mengikuti Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam). Tidak ada iman bagi orang yang tidak berhukum dan menerima dengan sepenuhnya syari’atnya. Allah Ta’ala berfirman, فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65) Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Setiap orang yang keluar dari ajaran dan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Allah telah bersumpah dengan diri-Nya yang disucikan, bahwa dia tidak beriman sehingga ridha dengan hukum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala yang diperselisihkan di antara mereka dari perkara-perkara agama dan dunia serta tidak ada dalam hati mereka rasa keberatan terhadap hukumnya.”[8] Keenam: Membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Membela dan menolong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah salah satu tanda kecintaan dan pengagungan. Allah Ta’ala berfirman, لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ “(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hasyr: 8) Di antara contoh pembelaaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti diceritakan dalam kisah berikut. Ketika umat Islam mengalami kekalahan, Anas bin Nadhr pada perang Uhud mengatakan, ”Ya Allah, aku memohon ampun kepadamu terhadap perbuatan para sahabat dan aku berlepas diri dari-Mu dari perbuatan kaum musyrik.”  Kemudian ia maju lalu Sa’ad menemuinya. Anas lalu berkata, ”Wahai Sa’ad bin Mu’adz, surga. Demi Rabbnya Nadhr, sesungguhnya aku mencium bau surga dari Uhud.” ”Wahai Rasulullah, aku tidak mampu berbuat sebagaimana yang diperbuatnya,” ujar Sa’ad. Anas bin Malik berkata, ”Kemudian kami dapati padanya 87 sabetan pedang, tikaman tombak, atau lemparan panah. Kami mendapatinya telah gugur dan kaum musyrikin telah mencincang-cincangnya. Tidak ada seorang pun yang mengenalinya kecuali saudara perempuannya yang mengenalinya dari jari telunjuknya.”[9] Bentuk membela Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengharuskan beberapa hal, di antaranya: [1] Membela para sahabat Nabi –radhiyallahu ’anhum- Rasulullah shallahu ’alaihi wa sallam bersabda, لَا تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ ”Janganlah mencaci maki salah seorang sahabatku. Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak menyamai satu mud (yang diinfakkan) salah seorang mereka dan tidak pula separuhnya.”[10] Di antara hak-hak para sahabat adalah mencintai dan meridhoi mereka. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr: 10) Sungguh aneh jika ada yang mencela sahabat sebagaimana yang dilakukan oleh Rafidhah (Syi’ah). Mereka sama saja mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Malik dan selainnya rahimahumullah mengatakan, “Sesungguhnya Rafidhah hanyalah ingin mencela Rasul. Jika seseorang mengatakan bahwa orang itu jelek, maka berarti sahabat-sahabatnya juga jelek. Jika seseorang mengatakan bahwa orang itu sholih, maka sahabatnya juga demikian.”[11] Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Adapun Rafidhah, maka merekalah orang-orang yang sering mencela sahabat Nabi dan perkataan mereka. Hakikatnya, apa yang ada di batin mereka adalah mencela risalah Muhammad.”[12] [2] Membela para isteri Nabi, para Ummahatul Mu’minin –radhiyallahu ’anhunna- Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Siapa saja yang mencela Abu Bakr, maka ia pantas dihukum cambuk. Siapa saja yang mencela Aisyah, maka ia pantas untuk dibunuh.” Ada yang menanyakan pada Imam Malik, ”Mengapa bisa demikian?” Beliau menjawab, ”Barangsiapa mencela mereka, maka ia telah mencela Al Qur’an karena Allah Ta’ala berfirman (agar tidak lagi menyebarkan berita bohong mengenai Aisyah, pen), يَعِظُكُمَ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ “Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. An Nur: 17)”[13] Ketujuh: Membela ajaran (sunnah) Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Termasuk membela ajaran beliau shallallahu ’alaihi wa sallam ialah memelihara dan menyebarkannya, menjaganya dari ulah kaum batil, penyimpangan kaum yang berlebih-lebihan dan ta’wil (penyimpangan) kaum yang bodoh, begitu pula dengan membantah syubhat kaum zindiq  dan pengecam sunnahnya, serta menjelaskan kedustaan-kedustaan mereka. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam telah mendo’akan keceriaan wajah bagi siapa yang membela panji sunnah ini dengan sabdanya, نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ فَرُبَّ مُبَلِّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ “Semoga Allah memberikan kenikmatan pada seseorang yang mendengar sabda kami lalu ia menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya. Betapa banyak orang yang diberi berita lebih paham daripada orang yang mendengar.”[14] Kedelapan: Menyebarkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Di antara kesempurnaan cinta dan pengagungan kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ialah berkeinginan kuat untuk menyebarkan ajaran (sunnah)nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.”[15] Yang disampaikan pada umat adalah yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan sesuatu yang tidak ada tuntunannya. Bukti Cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Bukanlah dengan Berbuat Bid’ah Sebagaimana telah kami sebutkan di atas bahwa di antara bukti cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan menyebarkan sunnah (ajaran) beliau. Oleh karenanya, konsekuensi dari hal ini adalah dengan mematikan bid’ah, kesesatan dan berbagai ajaran menyimpang lainnya. Karena sesungguhnya melakukan bid’ah (ajaran yang tanpa tuntunan) dalam agama berarti bukan melakukan kecintaan yang sebenarnya, walaupun mereka menyebutnya cinta.[16] Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”[17] Kecintaan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebenarnya adalah dengan tunduk pada ajaran beliau, mengikuti jejak beliau, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan serta bersemangat tidak melakukan penambahan dan pengurangan dalam ajarannya.[18] Contoh cinta Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam yang keliru adalah dengan melakukan bid’ah maulid nabi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu Idul Fithri dan Idul Adha) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab, hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan ’Idul Abror-; ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya.”[19] Nantikan pembahasan kami tentang perayaan Maulid Nabi, sejarah dan pandangan ulama mengenai perayaan tersebut. Semoga Allah mudahkan. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Wisma MTI, Pogung Kidul, 10 Rabi’ul Awwal 1431 H Baca Juga: Khutbah Jumat: Ini Tanda Tidak Cinta pada Nabi Teladan Sahabat dalam Mencintai Nabi [1] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 7/164, Muassasah Al Qurthubah. [2] Ruhul Ma’ani, Syihabuddin Al Alusi, 16/42, Mawqi’ At Tafaasir. [3] HR. Bukhari no. 6632. [4] HR. Muslim no. 2276, Watsilah bin Al Asqo’ [5] I’lamul Muwaqi’in ‘an Robbil ‘Alamin, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/7, Darul Jail, 1973. [6] HR. Tirmidzi no. 3546 dan Ahmad (1/201). At Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shohih ghorib. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih [7] Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih. [8] Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 28/471, Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H. [9] HR. Bukhari no. 2805, 4048 dan Muslim no. 1903. [10] HR. Muslim no. 2541. [11] Minhajus Sunnah An Nabawiyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 7/459, Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, tahun 1406 H. [12] Minhajus Sunnah An Nabawiyah, 3/463. [13] Ash Shorim Al Maslul ‘ala Syatimir Rosul, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 568, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1417 H. [14] HR. Abu Daud no. 3660, At Tirmidz no. 2656, Ibnu Majah no. 232 dan Ahmad (5/183). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat makna hadits ini dalam Faidul Qodir, Al Munawi, 6/370, Mawqi’ Ya’sub. [15] HR. Bukhari no. 3461 [16] Lihat penjelasan dalam tulisan Mahabbatun Nabi wa Ta’zhimuhu (yang terdapat dalam kumpulan risalah Huququn Nabi baina Ijlal wal Ikhlal), ‘Abdul Lathif bin Muhammad Al Hasan, hal. 89, Maktabah Al Mulk Fahd, cetakan pertama, 1422 H. [17] HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718 [18] Lihat Mahabbatun Nabi wa Ta’zhimuhu, hal. 89. [19] Majmu’ Fatawa, 25/298. Tagscinta nabi maulid

Bukti Cinta Nabi yang Benar dan Keliru

Seperti apa bukti cinta kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi akhir zaman, kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman. Dengan berbagai macam cara seseorang akan mencurahkan usahanya untuk membuktikan cintanya pada kekasihnya. Begitu pula kecintaan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap orang pun punya berbagai cara untuk membuktikannya. Namun tidak semua cara tersebut benar, ada di sana cara-cara yang keliru. Itulah yang nanti diangkat pada tulisan kali ini. Semoga Allah memudahkan dan memberikan kepahaman. Daftar Isi tutup 1. Kewajiban Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 2. Bukti Cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 3. Bukti Cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Bukanlah dengan Berbuat Bid’ah Kewajiban Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah: 24). Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,  “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.”[1] Ancaman keras inilah yang menunjukkan bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari makhluk lainnya adalah wajib. Bahkan tidak boleh seseorang mencintai dirinya hingga melebihi kecintaan pada nabinya. Allah Ta’ala berfirman, النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (QS. Al Ahzab: 6). Syihabuddin Al Alusi rahimahullah mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memerintahkan sesuatu dan tidak ridho pada umatnya kecuali jika ada maslahat dan mendatangkan keselamatan bagi mereka. Berbeda dengan jiwa mereka sendiri. Jiwa tersebut selalu mengajak pada keburukan.”[2] Oleh karena itu, kecintaan pada beliau mesti didahulukan daripada kecintaan pada diri sendiri. ‘Abdullah bin Hisyam berkata, “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau memegang tangan Umar bin Khaththab radhiyallahu ’anhu. Lalu Umar berkata, ”Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali terhadap diriku sendiri.” Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berkata, لاَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ ”Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya (imanmu belum sempurna). Tetapi aku harus lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Kemudian ’Umar berkata, ”Sekarang, demi Allah. Engkau (Rasulullah) lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berkata, ”Saat ini pula wahai Umar, (imanmu telah sempurna).”[3] Bukti Cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Pertama: Mendahulukan dan mengutamakan beliau dari siapa pun Hal ini dikarenakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk pilihan dari Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِى هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِى مِنْ بَنِى هَاشِمٍ “Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah yang terbaik dari keturunan Isma’il. Lalu Allah pilih Quraisy yang terbaik dari Kinanah. Allah pun memilih Bani Hasyim yang terbaik dari Quraisy. Lalu Allah pilih aku sebagai yang terbaik dari Bani Hasyim.”[4] Di antara bentuk mendahulukan dan mengutamakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari siapa pun yaitu apabila pendapat ulama, kyai atau ustadz yang menjadi rujukannya bertentangan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka yang didahulukan adalah pendapat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Asy Syafi’i rahimahullah, “Kaum muslimin telah sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena perkataan yang lainnya.”[5] Kedua: Membenarkan segala yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Termasuk prinsip keimanan dan pilarnya yang utama ialah mengimani kemaksuman Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dari dusta atau buhtan (fitnah) dan membenarkan segala yang dikabarkan beliau tentang perkara yang telah berlalu, sekarang, dan akan datang. Karena Allah Ta’ala berfirman, وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى (1) مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (2) وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4) ”Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An Najm: 1-4) Ketiga: Beradab di sisi Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Di antara bentuk adab kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah memuji beliau dengan pujian yang layak baginya. Pujian yang paling mendalam ialah pujian yang diberikan oleh Rabb-nya dan pujian beliau terhadap dirinya sendiri, dan yang paling utama adalah shalawat dan salam kepada beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ “Orang yang bakhil (pelit) adalah orang yang apabila namaku disebut di sisinya, dia tidak bershalawat kepadaku.”[6] Keempat: Ittiba’ (mencontoh) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berpegang pada petunjuknya. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.” (QS. Ali Imron: 31) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), janganlah membuat bid’ah. Karena (ajaran Nabi) itu sudah cukup bagi kalian. Semua amalan yang tanpa tuntunan Nabi (baca: bid’ah) adalah sesat.”[7] Kelima: Berhakim kepada ajaran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Sesungguhnya berhukum dengan ajaran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah salah satu prinsip mahabbah (cinta) dan ittiba’ (mengikuti Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam). Tidak ada iman bagi orang yang tidak berhukum dan menerima dengan sepenuhnya syari’atnya. Allah Ta’ala berfirman, فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65) Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Setiap orang yang keluar dari ajaran dan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Allah telah bersumpah dengan diri-Nya yang disucikan, bahwa dia tidak beriman sehingga ridha dengan hukum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala yang diperselisihkan di antara mereka dari perkara-perkara agama dan dunia serta tidak ada dalam hati mereka rasa keberatan terhadap hukumnya.”[8] Keenam: Membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Membela dan menolong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah salah satu tanda kecintaan dan pengagungan. Allah Ta’ala berfirman, لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ “(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hasyr: 8) Di antara contoh pembelaaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti diceritakan dalam kisah berikut. Ketika umat Islam mengalami kekalahan, Anas bin Nadhr pada perang Uhud mengatakan, ”Ya Allah, aku memohon ampun kepadamu terhadap perbuatan para sahabat dan aku berlepas diri dari-Mu dari perbuatan kaum musyrik.”  Kemudian ia maju lalu Sa’ad menemuinya. Anas lalu berkata, ”Wahai Sa’ad bin Mu’adz, surga. Demi Rabbnya Nadhr, sesungguhnya aku mencium bau surga dari Uhud.” ”Wahai Rasulullah, aku tidak mampu berbuat sebagaimana yang diperbuatnya,” ujar Sa’ad. Anas bin Malik berkata, ”Kemudian kami dapati padanya 87 sabetan pedang, tikaman tombak, atau lemparan panah. Kami mendapatinya telah gugur dan kaum musyrikin telah mencincang-cincangnya. Tidak ada seorang pun yang mengenalinya kecuali saudara perempuannya yang mengenalinya dari jari telunjuknya.”[9] Bentuk membela Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengharuskan beberapa hal, di antaranya: [1] Membela para sahabat Nabi –radhiyallahu ’anhum- Rasulullah shallahu ’alaihi wa sallam bersabda, لَا تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ ”Janganlah mencaci maki salah seorang sahabatku. Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak menyamai satu mud (yang diinfakkan) salah seorang mereka dan tidak pula separuhnya.”[10] Di antara hak-hak para sahabat adalah mencintai dan meridhoi mereka. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr: 10) Sungguh aneh jika ada yang mencela sahabat sebagaimana yang dilakukan oleh Rafidhah (Syi’ah). Mereka sama saja mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Malik dan selainnya rahimahumullah mengatakan, “Sesungguhnya Rafidhah hanyalah ingin mencela Rasul. Jika seseorang mengatakan bahwa orang itu jelek, maka berarti sahabat-sahabatnya juga jelek. Jika seseorang mengatakan bahwa orang itu sholih, maka sahabatnya juga demikian.”[11] Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Adapun Rafidhah, maka merekalah orang-orang yang sering mencela sahabat Nabi dan perkataan mereka. Hakikatnya, apa yang ada di batin mereka adalah mencela risalah Muhammad.”[12] [2] Membela para isteri Nabi, para Ummahatul Mu’minin –radhiyallahu ’anhunna- Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Siapa saja yang mencela Abu Bakr, maka ia pantas dihukum cambuk. Siapa saja yang mencela Aisyah, maka ia pantas untuk dibunuh.” Ada yang menanyakan pada Imam Malik, ”Mengapa bisa demikian?” Beliau menjawab, ”Barangsiapa mencela mereka, maka ia telah mencela Al Qur’an karena Allah Ta’ala berfirman (agar tidak lagi menyebarkan berita bohong mengenai Aisyah, pen), يَعِظُكُمَ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ “Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. An Nur: 17)”[13] Ketujuh: Membela ajaran (sunnah) Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Termasuk membela ajaran beliau shallallahu ’alaihi wa sallam ialah memelihara dan menyebarkannya, menjaganya dari ulah kaum batil, penyimpangan kaum yang berlebih-lebihan dan ta’wil (penyimpangan) kaum yang bodoh, begitu pula dengan membantah syubhat kaum zindiq  dan pengecam sunnahnya, serta menjelaskan kedustaan-kedustaan mereka. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam telah mendo’akan keceriaan wajah bagi siapa yang membela panji sunnah ini dengan sabdanya, نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ فَرُبَّ مُبَلِّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ “Semoga Allah memberikan kenikmatan pada seseorang yang mendengar sabda kami lalu ia menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya. Betapa banyak orang yang diberi berita lebih paham daripada orang yang mendengar.”[14] Kedelapan: Menyebarkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Di antara kesempurnaan cinta dan pengagungan kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ialah berkeinginan kuat untuk menyebarkan ajaran (sunnah)nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.”[15] Yang disampaikan pada umat adalah yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan sesuatu yang tidak ada tuntunannya. Bukti Cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Bukanlah dengan Berbuat Bid’ah Sebagaimana telah kami sebutkan di atas bahwa di antara bukti cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan menyebarkan sunnah (ajaran) beliau. Oleh karenanya, konsekuensi dari hal ini adalah dengan mematikan bid’ah, kesesatan dan berbagai ajaran menyimpang lainnya. Karena sesungguhnya melakukan bid’ah (ajaran yang tanpa tuntunan) dalam agama berarti bukan melakukan kecintaan yang sebenarnya, walaupun mereka menyebutnya cinta.[16] Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”[17] Kecintaan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebenarnya adalah dengan tunduk pada ajaran beliau, mengikuti jejak beliau, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan serta bersemangat tidak melakukan penambahan dan pengurangan dalam ajarannya.[18] Contoh cinta Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam yang keliru adalah dengan melakukan bid’ah maulid nabi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu Idul Fithri dan Idul Adha) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab, hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan ’Idul Abror-; ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya.”[19] Nantikan pembahasan kami tentang perayaan Maulid Nabi, sejarah dan pandangan ulama mengenai perayaan tersebut. Semoga Allah mudahkan. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Wisma MTI, Pogung Kidul, 10 Rabi’ul Awwal 1431 H Baca Juga: Khutbah Jumat: Ini Tanda Tidak Cinta pada Nabi Teladan Sahabat dalam Mencintai Nabi [1] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 7/164, Muassasah Al Qurthubah. [2] Ruhul Ma’ani, Syihabuddin Al Alusi, 16/42, Mawqi’ At Tafaasir. [3] HR. Bukhari no. 6632. [4] HR. Muslim no. 2276, Watsilah bin Al Asqo’ [5] I’lamul Muwaqi’in ‘an Robbil ‘Alamin, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/7, Darul Jail, 1973. [6] HR. Tirmidzi no. 3546 dan Ahmad (1/201). At Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shohih ghorib. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih [7] Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih. [8] Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 28/471, Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H. [9] HR. Bukhari no. 2805, 4048 dan Muslim no. 1903. [10] HR. Muslim no. 2541. [11] Minhajus Sunnah An Nabawiyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 7/459, Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, tahun 1406 H. [12] Minhajus Sunnah An Nabawiyah, 3/463. [13] Ash Shorim Al Maslul ‘ala Syatimir Rosul, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 568, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1417 H. [14] HR. Abu Daud no. 3660, At Tirmidz no. 2656, Ibnu Majah no. 232 dan Ahmad (5/183). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat makna hadits ini dalam Faidul Qodir, Al Munawi, 6/370, Mawqi’ Ya’sub. [15] HR. Bukhari no. 3461 [16] Lihat penjelasan dalam tulisan Mahabbatun Nabi wa Ta’zhimuhu (yang terdapat dalam kumpulan risalah Huququn Nabi baina Ijlal wal Ikhlal), ‘Abdul Lathif bin Muhammad Al Hasan, hal. 89, Maktabah Al Mulk Fahd, cetakan pertama, 1422 H. [17] HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718 [18] Lihat Mahabbatun Nabi wa Ta’zhimuhu, hal. 89. [19] Majmu’ Fatawa, 25/298. Tagscinta nabi maulid
Seperti apa bukti cinta kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi akhir zaman, kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman. Dengan berbagai macam cara seseorang akan mencurahkan usahanya untuk membuktikan cintanya pada kekasihnya. Begitu pula kecintaan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap orang pun punya berbagai cara untuk membuktikannya. Namun tidak semua cara tersebut benar, ada di sana cara-cara yang keliru. Itulah yang nanti diangkat pada tulisan kali ini. Semoga Allah memudahkan dan memberikan kepahaman. Daftar Isi tutup 1. Kewajiban Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 2. Bukti Cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 3. Bukti Cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Bukanlah dengan Berbuat Bid’ah Kewajiban Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah: 24). Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,  “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.”[1] Ancaman keras inilah yang menunjukkan bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari makhluk lainnya adalah wajib. Bahkan tidak boleh seseorang mencintai dirinya hingga melebihi kecintaan pada nabinya. Allah Ta’ala berfirman, النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (QS. Al Ahzab: 6). Syihabuddin Al Alusi rahimahullah mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memerintahkan sesuatu dan tidak ridho pada umatnya kecuali jika ada maslahat dan mendatangkan keselamatan bagi mereka. Berbeda dengan jiwa mereka sendiri. Jiwa tersebut selalu mengajak pada keburukan.”[2] Oleh karena itu, kecintaan pada beliau mesti didahulukan daripada kecintaan pada diri sendiri. ‘Abdullah bin Hisyam berkata, “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau memegang tangan Umar bin Khaththab radhiyallahu ’anhu. Lalu Umar berkata, ”Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali terhadap diriku sendiri.” Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berkata, لاَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ ”Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya (imanmu belum sempurna). Tetapi aku harus lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Kemudian ’Umar berkata, ”Sekarang, demi Allah. Engkau (Rasulullah) lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berkata, ”Saat ini pula wahai Umar, (imanmu telah sempurna).”[3] Bukti Cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Pertama: Mendahulukan dan mengutamakan beliau dari siapa pun Hal ini dikarenakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk pilihan dari Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِى هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِى مِنْ بَنِى هَاشِمٍ “Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah yang terbaik dari keturunan Isma’il. Lalu Allah pilih Quraisy yang terbaik dari Kinanah. Allah pun memilih Bani Hasyim yang terbaik dari Quraisy. Lalu Allah pilih aku sebagai yang terbaik dari Bani Hasyim.”[4] Di antara bentuk mendahulukan dan mengutamakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari siapa pun yaitu apabila pendapat ulama, kyai atau ustadz yang menjadi rujukannya bertentangan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka yang didahulukan adalah pendapat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Asy Syafi’i rahimahullah, “Kaum muslimin telah sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena perkataan yang lainnya.”[5] Kedua: Membenarkan segala yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Termasuk prinsip keimanan dan pilarnya yang utama ialah mengimani kemaksuman Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dari dusta atau buhtan (fitnah) dan membenarkan segala yang dikabarkan beliau tentang perkara yang telah berlalu, sekarang, dan akan datang. Karena Allah Ta’ala berfirman, وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى (1) مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (2) وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4) ”Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An Najm: 1-4) Ketiga: Beradab di sisi Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Di antara bentuk adab kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah memuji beliau dengan pujian yang layak baginya. Pujian yang paling mendalam ialah pujian yang diberikan oleh Rabb-nya dan pujian beliau terhadap dirinya sendiri, dan yang paling utama adalah shalawat dan salam kepada beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ “Orang yang bakhil (pelit) adalah orang yang apabila namaku disebut di sisinya, dia tidak bershalawat kepadaku.”[6] Keempat: Ittiba’ (mencontoh) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berpegang pada petunjuknya. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.” (QS. Ali Imron: 31) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), janganlah membuat bid’ah. Karena (ajaran Nabi) itu sudah cukup bagi kalian. Semua amalan yang tanpa tuntunan Nabi (baca: bid’ah) adalah sesat.”[7] Kelima: Berhakim kepada ajaran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Sesungguhnya berhukum dengan ajaran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah salah satu prinsip mahabbah (cinta) dan ittiba’ (mengikuti Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam). Tidak ada iman bagi orang yang tidak berhukum dan menerima dengan sepenuhnya syari’atnya. Allah Ta’ala berfirman, فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65) Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Setiap orang yang keluar dari ajaran dan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Allah telah bersumpah dengan diri-Nya yang disucikan, bahwa dia tidak beriman sehingga ridha dengan hukum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala yang diperselisihkan di antara mereka dari perkara-perkara agama dan dunia serta tidak ada dalam hati mereka rasa keberatan terhadap hukumnya.”[8] Keenam: Membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Membela dan menolong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah salah satu tanda kecintaan dan pengagungan. Allah Ta’ala berfirman, لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ “(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hasyr: 8) Di antara contoh pembelaaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti diceritakan dalam kisah berikut. Ketika umat Islam mengalami kekalahan, Anas bin Nadhr pada perang Uhud mengatakan, ”Ya Allah, aku memohon ampun kepadamu terhadap perbuatan para sahabat dan aku berlepas diri dari-Mu dari perbuatan kaum musyrik.”  Kemudian ia maju lalu Sa’ad menemuinya. Anas lalu berkata, ”Wahai Sa’ad bin Mu’adz, surga. Demi Rabbnya Nadhr, sesungguhnya aku mencium bau surga dari Uhud.” ”Wahai Rasulullah, aku tidak mampu berbuat sebagaimana yang diperbuatnya,” ujar Sa’ad. Anas bin Malik berkata, ”Kemudian kami dapati padanya 87 sabetan pedang, tikaman tombak, atau lemparan panah. Kami mendapatinya telah gugur dan kaum musyrikin telah mencincang-cincangnya. Tidak ada seorang pun yang mengenalinya kecuali saudara perempuannya yang mengenalinya dari jari telunjuknya.”[9] Bentuk membela Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengharuskan beberapa hal, di antaranya: [1] Membela para sahabat Nabi –radhiyallahu ’anhum- Rasulullah shallahu ’alaihi wa sallam bersabda, لَا تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ ”Janganlah mencaci maki salah seorang sahabatku. Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak menyamai satu mud (yang diinfakkan) salah seorang mereka dan tidak pula separuhnya.”[10] Di antara hak-hak para sahabat adalah mencintai dan meridhoi mereka. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr: 10) Sungguh aneh jika ada yang mencela sahabat sebagaimana yang dilakukan oleh Rafidhah (Syi’ah). Mereka sama saja mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Malik dan selainnya rahimahumullah mengatakan, “Sesungguhnya Rafidhah hanyalah ingin mencela Rasul. Jika seseorang mengatakan bahwa orang itu jelek, maka berarti sahabat-sahabatnya juga jelek. Jika seseorang mengatakan bahwa orang itu sholih, maka sahabatnya juga demikian.”[11] Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Adapun Rafidhah, maka merekalah orang-orang yang sering mencela sahabat Nabi dan perkataan mereka. Hakikatnya, apa yang ada di batin mereka adalah mencela risalah Muhammad.”[12] [2] Membela para isteri Nabi, para Ummahatul Mu’minin –radhiyallahu ’anhunna- Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Siapa saja yang mencela Abu Bakr, maka ia pantas dihukum cambuk. Siapa saja yang mencela Aisyah, maka ia pantas untuk dibunuh.” Ada yang menanyakan pada Imam Malik, ”Mengapa bisa demikian?” Beliau menjawab, ”Barangsiapa mencela mereka, maka ia telah mencela Al Qur’an karena Allah Ta’ala berfirman (agar tidak lagi menyebarkan berita bohong mengenai Aisyah, pen), يَعِظُكُمَ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ “Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. An Nur: 17)”[13] Ketujuh: Membela ajaran (sunnah) Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Termasuk membela ajaran beliau shallallahu ’alaihi wa sallam ialah memelihara dan menyebarkannya, menjaganya dari ulah kaum batil, penyimpangan kaum yang berlebih-lebihan dan ta’wil (penyimpangan) kaum yang bodoh, begitu pula dengan membantah syubhat kaum zindiq  dan pengecam sunnahnya, serta menjelaskan kedustaan-kedustaan mereka. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam telah mendo’akan keceriaan wajah bagi siapa yang membela panji sunnah ini dengan sabdanya, نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ فَرُبَّ مُبَلِّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ “Semoga Allah memberikan kenikmatan pada seseorang yang mendengar sabda kami lalu ia menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya. Betapa banyak orang yang diberi berita lebih paham daripada orang yang mendengar.”[14] Kedelapan: Menyebarkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Di antara kesempurnaan cinta dan pengagungan kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ialah berkeinginan kuat untuk menyebarkan ajaran (sunnah)nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.”[15] Yang disampaikan pada umat adalah yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan sesuatu yang tidak ada tuntunannya. Bukti Cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Bukanlah dengan Berbuat Bid’ah Sebagaimana telah kami sebutkan di atas bahwa di antara bukti cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan menyebarkan sunnah (ajaran) beliau. Oleh karenanya, konsekuensi dari hal ini adalah dengan mematikan bid’ah, kesesatan dan berbagai ajaran menyimpang lainnya. Karena sesungguhnya melakukan bid’ah (ajaran yang tanpa tuntunan) dalam agama berarti bukan melakukan kecintaan yang sebenarnya, walaupun mereka menyebutnya cinta.[16] Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”[17] Kecintaan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebenarnya adalah dengan tunduk pada ajaran beliau, mengikuti jejak beliau, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan serta bersemangat tidak melakukan penambahan dan pengurangan dalam ajarannya.[18] Contoh cinta Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam yang keliru adalah dengan melakukan bid’ah maulid nabi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu Idul Fithri dan Idul Adha) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab, hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan ’Idul Abror-; ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya.”[19] Nantikan pembahasan kami tentang perayaan Maulid Nabi, sejarah dan pandangan ulama mengenai perayaan tersebut. Semoga Allah mudahkan. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Wisma MTI, Pogung Kidul, 10 Rabi’ul Awwal 1431 H Baca Juga: Khutbah Jumat: Ini Tanda Tidak Cinta pada Nabi Teladan Sahabat dalam Mencintai Nabi [1] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 7/164, Muassasah Al Qurthubah. [2] Ruhul Ma’ani, Syihabuddin Al Alusi, 16/42, Mawqi’ At Tafaasir. [3] HR. Bukhari no. 6632. [4] HR. Muslim no. 2276, Watsilah bin Al Asqo’ [5] I’lamul Muwaqi’in ‘an Robbil ‘Alamin, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/7, Darul Jail, 1973. [6] HR. Tirmidzi no. 3546 dan Ahmad (1/201). At Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shohih ghorib. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih [7] Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih. [8] Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 28/471, Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H. [9] HR. Bukhari no. 2805, 4048 dan Muslim no. 1903. [10] HR. Muslim no. 2541. [11] Minhajus Sunnah An Nabawiyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 7/459, Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, tahun 1406 H. [12] Minhajus Sunnah An Nabawiyah, 3/463. [13] Ash Shorim Al Maslul ‘ala Syatimir Rosul, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 568, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1417 H. [14] HR. Abu Daud no. 3660, At Tirmidz no. 2656, Ibnu Majah no. 232 dan Ahmad (5/183). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat makna hadits ini dalam Faidul Qodir, Al Munawi, 6/370, Mawqi’ Ya’sub. [15] HR. Bukhari no. 3461 [16] Lihat penjelasan dalam tulisan Mahabbatun Nabi wa Ta’zhimuhu (yang terdapat dalam kumpulan risalah Huququn Nabi baina Ijlal wal Ikhlal), ‘Abdul Lathif bin Muhammad Al Hasan, hal. 89, Maktabah Al Mulk Fahd, cetakan pertama, 1422 H. [17] HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718 [18] Lihat Mahabbatun Nabi wa Ta’zhimuhu, hal. 89. [19] Majmu’ Fatawa, 25/298. Tagscinta nabi maulid


Seperti apa bukti cinta kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi akhir zaman, kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman. Dengan berbagai macam cara seseorang akan mencurahkan usahanya untuk membuktikan cintanya pada kekasihnya. Begitu pula kecintaan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap orang pun punya berbagai cara untuk membuktikannya. Namun tidak semua cara tersebut benar, ada di sana cara-cara yang keliru. Itulah yang nanti diangkat pada tulisan kali ini. Semoga Allah memudahkan dan memberikan kepahaman. Daftar Isi tutup 1. Kewajiban Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 2. Bukti Cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 3. Bukti Cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Bukanlah dengan Berbuat Bid’ah Kewajiban Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah: 24). Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,  “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.”[1] Ancaman keras inilah yang menunjukkan bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari makhluk lainnya adalah wajib. Bahkan tidak boleh seseorang mencintai dirinya hingga melebihi kecintaan pada nabinya. Allah Ta’ala berfirman, النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (QS. Al Ahzab: 6). Syihabuddin Al Alusi rahimahullah mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memerintahkan sesuatu dan tidak ridho pada umatnya kecuali jika ada maslahat dan mendatangkan keselamatan bagi mereka. Berbeda dengan jiwa mereka sendiri. Jiwa tersebut selalu mengajak pada keburukan.”[2] Oleh karena itu, kecintaan pada beliau mesti didahulukan daripada kecintaan pada diri sendiri. ‘Abdullah bin Hisyam berkata, “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau memegang tangan Umar bin Khaththab radhiyallahu ’anhu. Lalu Umar berkata, ”Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali terhadap diriku sendiri.” Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berkata, لاَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ ”Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya (imanmu belum sempurna). Tetapi aku harus lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Kemudian ’Umar berkata, ”Sekarang, demi Allah. Engkau (Rasulullah) lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berkata, ”Saat ini pula wahai Umar, (imanmu telah sempurna).”[3] Bukti Cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Pertama: Mendahulukan dan mengutamakan beliau dari siapa pun Hal ini dikarenakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk pilihan dari Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِى هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِى مِنْ بَنِى هَاشِمٍ “Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah yang terbaik dari keturunan Isma’il. Lalu Allah pilih Quraisy yang terbaik dari Kinanah. Allah pun memilih Bani Hasyim yang terbaik dari Quraisy. Lalu Allah pilih aku sebagai yang terbaik dari Bani Hasyim.”[4] Di antara bentuk mendahulukan dan mengutamakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari siapa pun yaitu apabila pendapat ulama, kyai atau ustadz yang menjadi rujukannya bertentangan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka yang didahulukan adalah pendapat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Asy Syafi’i rahimahullah, “Kaum muslimin telah sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena perkataan yang lainnya.”[5] Kedua: Membenarkan segala yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Termasuk prinsip keimanan dan pilarnya yang utama ialah mengimani kemaksuman Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dari dusta atau buhtan (fitnah) dan membenarkan segala yang dikabarkan beliau tentang perkara yang telah berlalu, sekarang, dan akan datang. Karena Allah Ta’ala berfirman, وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى (1) مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (2) وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4) ”Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An Najm: 1-4) Ketiga: Beradab di sisi Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Di antara bentuk adab kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah memuji beliau dengan pujian yang layak baginya. Pujian yang paling mendalam ialah pujian yang diberikan oleh Rabb-nya dan pujian beliau terhadap dirinya sendiri, dan yang paling utama adalah shalawat dan salam kepada beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ “Orang yang bakhil (pelit) adalah orang yang apabila namaku disebut di sisinya, dia tidak bershalawat kepadaku.”[6] Keempat: Ittiba’ (mencontoh) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berpegang pada petunjuknya. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.” (QS. Ali Imron: 31) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), janganlah membuat bid’ah. Karena (ajaran Nabi) itu sudah cukup bagi kalian. Semua amalan yang tanpa tuntunan Nabi (baca: bid’ah) adalah sesat.”[7] Kelima: Berhakim kepada ajaran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Sesungguhnya berhukum dengan ajaran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah salah satu prinsip mahabbah (cinta) dan ittiba’ (mengikuti Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam). Tidak ada iman bagi orang yang tidak berhukum dan menerima dengan sepenuhnya syari’atnya. Allah Ta’ala berfirman, فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65) Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Setiap orang yang keluar dari ajaran dan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Allah telah bersumpah dengan diri-Nya yang disucikan, bahwa dia tidak beriman sehingga ridha dengan hukum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala yang diperselisihkan di antara mereka dari perkara-perkara agama dan dunia serta tidak ada dalam hati mereka rasa keberatan terhadap hukumnya.”[8] Keenam: Membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Membela dan menolong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah salah satu tanda kecintaan dan pengagungan. Allah Ta’ala berfirman, لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ “(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hasyr: 8) Di antara contoh pembelaaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti diceritakan dalam kisah berikut. Ketika umat Islam mengalami kekalahan, Anas bin Nadhr pada perang Uhud mengatakan, ”Ya Allah, aku memohon ampun kepadamu terhadap perbuatan para sahabat dan aku berlepas diri dari-Mu dari perbuatan kaum musyrik.”  Kemudian ia maju lalu Sa’ad menemuinya. Anas lalu berkata, ”Wahai Sa’ad bin Mu’adz, surga. Demi Rabbnya Nadhr, sesungguhnya aku mencium bau surga dari Uhud.” ”Wahai Rasulullah, aku tidak mampu berbuat sebagaimana yang diperbuatnya,” ujar Sa’ad. Anas bin Malik berkata, ”Kemudian kami dapati padanya 87 sabetan pedang, tikaman tombak, atau lemparan panah. Kami mendapatinya telah gugur dan kaum musyrikin telah mencincang-cincangnya. Tidak ada seorang pun yang mengenalinya kecuali saudara perempuannya yang mengenalinya dari jari telunjuknya.”[9] Bentuk membela Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengharuskan beberapa hal, di antaranya: [1] Membela para sahabat Nabi –radhiyallahu ’anhum- Rasulullah shallahu ’alaihi wa sallam bersabda, لَا تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ ”Janganlah mencaci maki salah seorang sahabatku. Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak menyamai satu mud (yang diinfakkan) salah seorang mereka dan tidak pula separuhnya.”[10] Di antara hak-hak para sahabat adalah mencintai dan meridhoi mereka. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr: 10) Sungguh aneh jika ada yang mencela sahabat sebagaimana yang dilakukan oleh Rafidhah (Syi’ah). Mereka sama saja mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Malik dan selainnya rahimahumullah mengatakan, “Sesungguhnya Rafidhah hanyalah ingin mencela Rasul. Jika seseorang mengatakan bahwa orang itu jelek, maka berarti sahabat-sahabatnya juga jelek. Jika seseorang mengatakan bahwa orang itu sholih, maka sahabatnya juga demikian.”[11] Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Adapun Rafidhah, maka merekalah orang-orang yang sering mencela sahabat Nabi dan perkataan mereka. Hakikatnya, apa yang ada di batin mereka adalah mencela risalah Muhammad.”[12] [2] Membela para isteri Nabi, para Ummahatul Mu’minin –radhiyallahu ’anhunna- Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Siapa saja yang mencela Abu Bakr, maka ia pantas dihukum cambuk. Siapa saja yang mencela Aisyah, maka ia pantas untuk dibunuh.” Ada yang menanyakan pada Imam Malik, ”Mengapa bisa demikian?” Beliau menjawab, ”Barangsiapa mencela mereka, maka ia telah mencela Al Qur’an karena Allah Ta’ala berfirman (agar tidak lagi menyebarkan berita bohong mengenai Aisyah, pen), يَعِظُكُمَ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ “Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. An Nur: 17)”[13] Ketujuh: Membela ajaran (sunnah) Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Termasuk membela ajaran beliau shallallahu ’alaihi wa sallam ialah memelihara dan menyebarkannya, menjaganya dari ulah kaum batil, penyimpangan kaum yang berlebih-lebihan dan ta’wil (penyimpangan) kaum yang bodoh, begitu pula dengan membantah syubhat kaum zindiq  dan pengecam sunnahnya, serta menjelaskan kedustaan-kedustaan mereka. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam telah mendo’akan keceriaan wajah bagi siapa yang membela panji sunnah ini dengan sabdanya, نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ فَرُبَّ مُبَلِّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ “Semoga Allah memberikan kenikmatan pada seseorang yang mendengar sabda kami lalu ia menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya. Betapa banyak orang yang diberi berita lebih paham daripada orang yang mendengar.”[14] Kedelapan: Menyebarkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Di antara kesempurnaan cinta dan pengagungan kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ialah berkeinginan kuat untuk menyebarkan ajaran (sunnah)nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.”[15] Yang disampaikan pada umat adalah yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan sesuatu yang tidak ada tuntunannya. Bukti Cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Bukanlah dengan Berbuat Bid’ah Sebagaimana telah kami sebutkan di atas bahwa di antara bukti cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan menyebarkan sunnah (ajaran) beliau. Oleh karenanya, konsekuensi dari hal ini adalah dengan mematikan bid’ah, kesesatan dan berbagai ajaran menyimpang lainnya. Karena sesungguhnya melakukan bid’ah (ajaran yang tanpa tuntunan) dalam agama berarti bukan melakukan kecintaan yang sebenarnya, walaupun mereka menyebutnya cinta.[16] Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”[17] Kecintaan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebenarnya adalah dengan tunduk pada ajaran beliau, mengikuti jejak beliau, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan serta bersemangat tidak melakukan penambahan dan pengurangan dalam ajarannya.[18] Contoh cinta Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam yang keliru adalah dengan melakukan bid’ah maulid nabi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu Idul Fithri dan Idul Adha) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab, hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan ’Idul Abror-; ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya.”[19] Nantikan pembahasan kami tentang perayaan Maulid Nabi, sejarah dan pandangan ulama mengenai perayaan tersebut. Semoga Allah mudahkan. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Wisma MTI, Pogung Kidul, 10 Rabi’ul Awwal 1431 H Baca Juga: Khutbah Jumat: Ini Tanda Tidak Cinta pada Nabi Teladan Sahabat dalam Mencintai Nabi [1] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 7/164, Muassasah Al Qurthubah. [2] Ruhul Ma’ani, Syihabuddin Al Alusi, 16/42, Mawqi’ At Tafaasir. [3] HR. Bukhari no. 6632. [4] HR. Muslim no. 2276, Watsilah bin Al Asqo’ [5] I’lamul Muwaqi’in ‘an Robbil ‘Alamin, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/7, Darul Jail, 1973. [6] HR. Tirmidzi no. 3546 dan Ahmad (1/201). At Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shohih ghorib. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih [7] Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih. [8] Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 28/471, Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H. [9] HR. Bukhari no. 2805, 4048 dan Muslim no. 1903. [10] HR. Muslim no. 2541. [11] Minhajus Sunnah An Nabawiyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 7/459, Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, tahun 1406 H. [12] Minhajus Sunnah An Nabawiyah, 3/463. [13] Ash Shorim Al Maslul ‘ala Syatimir Rosul, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 568, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1417 H. [14] HR. Abu Daud no. 3660, At Tirmidz no. 2656, Ibnu Majah no. 232 dan Ahmad (5/183). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat makna hadits ini dalam Faidul Qodir, Al Munawi, 6/370, Mawqi’ Ya’sub. [15] HR. Bukhari no. 3461 [16] Lihat penjelasan dalam tulisan Mahabbatun Nabi wa Ta’zhimuhu (yang terdapat dalam kumpulan risalah Huququn Nabi baina Ijlal wal Ikhlal), ‘Abdul Lathif bin Muhammad Al Hasan, hal. 89, Maktabah Al Mulk Fahd, cetakan pertama, 1422 H. [17] HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718 [18] Lihat Mahabbatun Nabi wa Ta’zhimuhu, hal. 89. [19] Majmu’ Fatawa, 25/298. Tagscinta nabi maulid

Teladan Sahabat dalam Mencintai Nabi

Para sahabat –radhiyallahu ’anhum ajma’in– mendapatkan kemuliaan karena bertemu langsung dengan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Mereka memiliki kesempurnaan cinta dan pengagungan yang mengungguli manusia lainnya. Belum ada dan tidak akan pernah ada orang-orang sesudah para sahabat ini yang menyamai bagaimana mereka mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. [Pertama] Ali bin Abi Tholib –radhiyallahu ’anhu– pernah ditanya, ”Bagaimana cinta kalian kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam?” Ia menjawab, ”Demi Allah, beliau lebih kami cintai daripada harta, anak-anak, ayah, dan ibu kami serta kami juga lebih mencintai beliau daripada air dingin pada saat dahaga.” [Kedua] Abu Sufyan bin Harb –saat ia masih kafir- pernah bertanya kepada Zaid bin ad-Datsinah –radhiyallahu ’anhu-, (ketika dia dikeluarkan penduduk Mekkah dari al-Haram untuk dibunuh dan dia menjadi tawanan mereka): ”Katakanlah, demi Allah, wahai Zaid! Apakah kamu suka apabila Muhammad sekarang menggantikan kedudukanmu lalu kami memukul lehernya, sedangkan kamu berada di tengah keluargamu?” Dia menjawab,”Demi Allah, aku tidak rela bila Muhammad sekarang berada di tempatnya saat ini terkena sebuah duri yang menyakitinya, sedangkan aku duduk di tengah keluargaku.” Abu Sufyan berkata, ”Aku tidak pernah melihat seorang pun yang mencintai seseorang seperti kecintaan para sahabat Muhammad kepada Muhammad.” [Ketiga] Dari Anas bin Malik –radhiyallahu ’anhu-, dia menuturkan, “Tatkala perang Uhud, para penduduk Madinah melarikan diri sambil berteriak, ’Muhammad terbunuh’ sehingga banyak teriakan di penjuru Madinah, maka keluarlah seorang perempuan dari Anshar dengan berikat pinggang. Kemudian ia diberi kabar mengenai kematian anak, ayah, suami, dan saudaranya. Saya tidak tahu siapakah di antara mereka yang terbunuh terlebih dahulu. Ketika perempuan ini melewati salah seorang dari mereka, ia bertanya, ”Siapakah yang mati ini?” Mereka menjawab, ”Ayahmu, saudaramu, suami, anakmu!” Namun dia malah bertanya, ”Apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam?” Mereka menjawab, ”Majulah ke depan.” Setelah sampai kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, ia memegang ujung baju beliau kemudian mengatakan, ”Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah. Aku tidak peduli, asal engkau selamat dari orang yang jahat.”[1] Dalam sebuah riwayat, ia mengatakan,”Setiap musibah terasa ringan setelah melihatmu selamat.”[2] [Keempat] Amr bin al-Ash –radhiyallahu ’anhu– berkata, ”Tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai daripada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan tidak ada yang lebih mulia di mataku dibandingkan beliau. Aku tidak mampu menatap beliau demi mengagungkannya. Seandainya aku ditanya, tentang sifat-sifat beliau, tentu aku tidak sanggup menyebutkannya, karena aku tidak pernah menatap beliau dengan pandangan yang tajam.” [Kelima] Di antara keinginan menggebu-gebu para sahabat –radhiyallahu ’alaihim ajma’in- untuk memuliakan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan tidak menyakiti beliau ialah perkataan Anas bin Malik: ”Sungguh, pintu-pintu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dahulu diketuk dengan kuku[3].” Tatkala turun firman Allah Ta’ala: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al Hujurat: 2) Ibnu az-Zubair berkata, ”Umar tidak pernah memperdengarkan suaranya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sesudah turun ayat ini, kecuali bila ingin meminta penjelasan pada beliau.”[4] Sementara Tsabit bin Qais, orang yang suaranya sangat keras, pernah mengeraskan suaranya di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia duduk di rumahnya dengan kepala tertunduk karena dirinya merasa sebagai ahli neraka dengan sebab kerasnya suara tersebut, sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira kepadanya dengan surga.[5] [6] Lihatlah bagaimana teladan dari para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memuliakan beliau! Sudah sepantasnya kita bisa meneladani hal ini. Ketika beliau telah wafat, maka bentuk pengagungan kita adalah dengan memuliakan hadits beliau dan memperjuangkannya dari berbagai bentuk penyimpangan. Hanya Allah yang beri taufik. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel http://muslim.or.id Wisma MTI, Siang hari, 28 Jumada Tsaniyah 1428 Baca Juga: Inilah Alasan Mencintai Nabi [1] HR. Ath-Thabrani dalam al-Ausath, dan disebutkan dalam Majma’ Az Zawa’id, al-Haitsami, dan ia menyebutkan bahwa para perawinya terpercaya kecuali satu orang yang tidak dikenalnya. [2] HR. Ibnu Hisyam dalam as Sirah; diriwayatkan pula oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah. [3] Hal ini karena pengagungan sahabat pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (-ed) [4] Al Bukhari [5] Lihat Al Bukhari [6] Bab ini diringkas dari Huququn Nabi bainal Ijlal wal Ikhlal, hal.70-73. Bisa pula dilihat pada edisi terjemahan berjudul ‘Setetes Air Mata Cinta’, hal.90-94, penerbit Darul Haq. Tagscinta nabi maulid nabi muhammad

Teladan Sahabat dalam Mencintai Nabi

Para sahabat –radhiyallahu ’anhum ajma’in– mendapatkan kemuliaan karena bertemu langsung dengan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Mereka memiliki kesempurnaan cinta dan pengagungan yang mengungguli manusia lainnya. Belum ada dan tidak akan pernah ada orang-orang sesudah para sahabat ini yang menyamai bagaimana mereka mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. [Pertama] Ali bin Abi Tholib –radhiyallahu ’anhu– pernah ditanya, ”Bagaimana cinta kalian kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam?” Ia menjawab, ”Demi Allah, beliau lebih kami cintai daripada harta, anak-anak, ayah, dan ibu kami serta kami juga lebih mencintai beliau daripada air dingin pada saat dahaga.” [Kedua] Abu Sufyan bin Harb –saat ia masih kafir- pernah bertanya kepada Zaid bin ad-Datsinah –radhiyallahu ’anhu-, (ketika dia dikeluarkan penduduk Mekkah dari al-Haram untuk dibunuh dan dia menjadi tawanan mereka): ”Katakanlah, demi Allah, wahai Zaid! Apakah kamu suka apabila Muhammad sekarang menggantikan kedudukanmu lalu kami memukul lehernya, sedangkan kamu berada di tengah keluargamu?” Dia menjawab,”Demi Allah, aku tidak rela bila Muhammad sekarang berada di tempatnya saat ini terkena sebuah duri yang menyakitinya, sedangkan aku duduk di tengah keluargaku.” Abu Sufyan berkata, ”Aku tidak pernah melihat seorang pun yang mencintai seseorang seperti kecintaan para sahabat Muhammad kepada Muhammad.” [Ketiga] Dari Anas bin Malik –radhiyallahu ’anhu-, dia menuturkan, “Tatkala perang Uhud, para penduduk Madinah melarikan diri sambil berteriak, ’Muhammad terbunuh’ sehingga banyak teriakan di penjuru Madinah, maka keluarlah seorang perempuan dari Anshar dengan berikat pinggang. Kemudian ia diberi kabar mengenai kematian anak, ayah, suami, dan saudaranya. Saya tidak tahu siapakah di antara mereka yang terbunuh terlebih dahulu. Ketika perempuan ini melewati salah seorang dari mereka, ia bertanya, ”Siapakah yang mati ini?” Mereka menjawab, ”Ayahmu, saudaramu, suami, anakmu!” Namun dia malah bertanya, ”Apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam?” Mereka menjawab, ”Majulah ke depan.” Setelah sampai kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, ia memegang ujung baju beliau kemudian mengatakan, ”Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah. Aku tidak peduli, asal engkau selamat dari orang yang jahat.”[1] Dalam sebuah riwayat, ia mengatakan,”Setiap musibah terasa ringan setelah melihatmu selamat.”[2] [Keempat] Amr bin al-Ash –radhiyallahu ’anhu– berkata, ”Tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai daripada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan tidak ada yang lebih mulia di mataku dibandingkan beliau. Aku tidak mampu menatap beliau demi mengagungkannya. Seandainya aku ditanya, tentang sifat-sifat beliau, tentu aku tidak sanggup menyebutkannya, karena aku tidak pernah menatap beliau dengan pandangan yang tajam.” [Kelima] Di antara keinginan menggebu-gebu para sahabat –radhiyallahu ’alaihim ajma’in- untuk memuliakan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan tidak menyakiti beliau ialah perkataan Anas bin Malik: ”Sungguh, pintu-pintu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dahulu diketuk dengan kuku[3].” Tatkala turun firman Allah Ta’ala: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al Hujurat: 2) Ibnu az-Zubair berkata, ”Umar tidak pernah memperdengarkan suaranya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sesudah turun ayat ini, kecuali bila ingin meminta penjelasan pada beliau.”[4] Sementara Tsabit bin Qais, orang yang suaranya sangat keras, pernah mengeraskan suaranya di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia duduk di rumahnya dengan kepala tertunduk karena dirinya merasa sebagai ahli neraka dengan sebab kerasnya suara tersebut, sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira kepadanya dengan surga.[5] [6] Lihatlah bagaimana teladan dari para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memuliakan beliau! Sudah sepantasnya kita bisa meneladani hal ini. Ketika beliau telah wafat, maka bentuk pengagungan kita adalah dengan memuliakan hadits beliau dan memperjuangkannya dari berbagai bentuk penyimpangan. Hanya Allah yang beri taufik. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel http://muslim.or.id Wisma MTI, Siang hari, 28 Jumada Tsaniyah 1428 Baca Juga: Inilah Alasan Mencintai Nabi [1] HR. Ath-Thabrani dalam al-Ausath, dan disebutkan dalam Majma’ Az Zawa’id, al-Haitsami, dan ia menyebutkan bahwa para perawinya terpercaya kecuali satu orang yang tidak dikenalnya. [2] HR. Ibnu Hisyam dalam as Sirah; diriwayatkan pula oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah. [3] Hal ini karena pengagungan sahabat pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (-ed) [4] Al Bukhari [5] Lihat Al Bukhari [6] Bab ini diringkas dari Huququn Nabi bainal Ijlal wal Ikhlal, hal.70-73. Bisa pula dilihat pada edisi terjemahan berjudul ‘Setetes Air Mata Cinta’, hal.90-94, penerbit Darul Haq. Tagscinta nabi maulid nabi muhammad
Para sahabat –radhiyallahu ’anhum ajma’in– mendapatkan kemuliaan karena bertemu langsung dengan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Mereka memiliki kesempurnaan cinta dan pengagungan yang mengungguli manusia lainnya. Belum ada dan tidak akan pernah ada orang-orang sesudah para sahabat ini yang menyamai bagaimana mereka mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. [Pertama] Ali bin Abi Tholib –radhiyallahu ’anhu– pernah ditanya, ”Bagaimana cinta kalian kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam?” Ia menjawab, ”Demi Allah, beliau lebih kami cintai daripada harta, anak-anak, ayah, dan ibu kami serta kami juga lebih mencintai beliau daripada air dingin pada saat dahaga.” [Kedua] Abu Sufyan bin Harb –saat ia masih kafir- pernah bertanya kepada Zaid bin ad-Datsinah –radhiyallahu ’anhu-, (ketika dia dikeluarkan penduduk Mekkah dari al-Haram untuk dibunuh dan dia menjadi tawanan mereka): ”Katakanlah, demi Allah, wahai Zaid! Apakah kamu suka apabila Muhammad sekarang menggantikan kedudukanmu lalu kami memukul lehernya, sedangkan kamu berada di tengah keluargamu?” Dia menjawab,”Demi Allah, aku tidak rela bila Muhammad sekarang berada di tempatnya saat ini terkena sebuah duri yang menyakitinya, sedangkan aku duduk di tengah keluargaku.” Abu Sufyan berkata, ”Aku tidak pernah melihat seorang pun yang mencintai seseorang seperti kecintaan para sahabat Muhammad kepada Muhammad.” [Ketiga] Dari Anas bin Malik –radhiyallahu ’anhu-, dia menuturkan, “Tatkala perang Uhud, para penduduk Madinah melarikan diri sambil berteriak, ’Muhammad terbunuh’ sehingga banyak teriakan di penjuru Madinah, maka keluarlah seorang perempuan dari Anshar dengan berikat pinggang. Kemudian ia diberi kabar mengenai kematian anak, ayah, suami, dan saudaranya. Saya tidak tahu siapakah di antara mereka yang terbunuh terlebih dahulu. Ketika perempuan ini melewati salah seorang dari mereka, ia bertanya, ”Siapakah yang mati ini?” Mereka menjawab, ”Ayahmu, saudaramu, suami, anakmu!” Namun dia malah bertanya, ”Apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam?” Mereka menjawab, ”Majulah ke depan.” Setelah sampai kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, ia memegang ujung baju beliau kemudian mengatakan, ”Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah. Aku tidak peduli, asal engkau selamat dari orang yang jahat.”[1] Dalam sebuah riwayat, ia mengatakan,”Setiap musibah terasa ringan setelah melihatmu selamat.”[2] [Keempat] Amr bin al-Ash –radhiyallahu ’anhu– berkata, ”Tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai daripada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan tidak ada yang lebih mulia di mataku dibandingkan beliau. Aku tidak mampu menatap beliau demi mengagungkannya. Seandainya aku ditanya, tentang sifat-sifat beliau, tentu aku tidak sanggup menyebutkannya, karena aku tidak pernah menatap beliau dengan pandangan yang tajam.” [Kelima] Di antara keinginan menggebu-gebu para sahabat –radhiyallahu ’alaihim ajma’in- untuk memuliakan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan tidak menyakiti beliau ialah perkataan Anas bin Malik: ”Sungguh, pintu-pintu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dahulu diketuk dengan kuku[3].” Tatkala turun firman Allah Ta’ala: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al Hujurat: 2) Ibnu az-Zubair berkata, ”Umar tidak pernah memperdengarkan suaranya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sesudah turun ayat ini, kecuali bila ingin meminta penjelasan pada beliau.”[4] Sementara Tsabit bin Qais, orang yang suaranya sangat keras, pernah mengeraskan suaranya di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia duduk di rumahnya dengan kepala tertunduk karena dirinya merasa sebagai ahli neraka dengan sebab kerasnya suara tersebut, sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira kepadanya dengan surga.[5] [6] Lihatlah bagaimana teladan dari para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memuliakan beliau! Sudah sepantasnya kita bisa meneladani hal ini. Ketika beliau telah wafat, maka bentuk pengagungan kita adalah dengan memuliakan hadits beliau dan memperjuangkannya dari berbagai bentuk penyimpangan. Hanya Allah yang beri taufik. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel http://muslim.or.id Wisma MTI, Siang hari, 28 Jumada Tsaniyah 1428 Baca Juga: Inilah Alasan Mencintai Nabi [1] HR. Ath-Thabrani dalam al-Ausath, dan disebutkan dalam Majma’ Az Zawa’id, al-Haitsami, dan ia menyebutkan bahwa para perawinya terpercaya kecuali satu orang yang tidak dikenalnya. [2] HR. Ibnu Hisyam dalam as Sirah; diriwayatkan pula oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah. [3] Hal ini karena pengagungan sahabat pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (-ed) [4] Al Bukhari [5] Lihat Al Bukhari [6] Bab ini diringkas dari Huququn Nabi bainal Ijlal wal Ikhlal, hal.70-73. Bisa pula dilihat pada edisi terjemahan berjudul ‘Setetes Air Mata Cinta’, hal.90-94, penerbit Darul Haq. Tagscinta nabi maulid nabi muhammad


Para sahabat –radhiyallahu ’anhum ajma’in– mendapatkan kemuliaan karena bertemu langsung dengan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Mereka memiliki kesempurnaan cinta dan pengagungan yang mengungguli manusia lainnya. Belum ada dan tidak akan pernah ada orang-orang sesudah para sahabat ini yang menyamai bagaimana mereka mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. [Pertama] Ali bin Abi Tholib –radhiyallahu ’anhu– pernah ditanya, ”Bagaimana cinta kalian kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam?” Ia menjawab, ”Demi Allah, beliau lebih kami cintai daripada harta, anak-anak, ayah, dan ibu kami serta kami juga lebih mencintai beliau daripada air dingin pada saat dahaga.” [Kedua] Abu Sufyan bin Harb –saat ia masih kafir- pernah bertanya kepada Zaid bin ad-Datsinah –radhiyallahu ’anhu-, (ketika dia dikeluarkan penduduk Mekkah dari al-Haram untuk dibunuh dan dia menjadi tawanan mereka): ”Katakanlah, demi Allah, wahai Zaid! Apakah kamu suka apabila Muhammad sekarang menggantikan kedudukanmu lalu kami memukul lehernya, sedangkan kamu berada di tengah keluargamu?” Dia menjawab,”Demi Allah, aku tidak rela bila Muhammad sekarang berada di tempatnya saat ini terkena sebuah duri yang menyakitinya, sedangkan aku duduk di tengah keluargaku.” Abu Sufyan berkata, ”Aku tidak pernah melihat seorang pun yang mencintai seseorang seperti kecintaan para sahabat Muhammad kepada Muhammad.” [Ketiga] Dari Anas bin Malik –radhiyallahu ’anhu-, dia menuturkan, “Tatkala perang Uhud, para penduduk Madinah melarikan diri sambil berteriak, ’Muhammad terbunuh’ sehingga banyak teriakan di penjuru Madinah, maka keluarlah seorang perempuan dari Anshar dengan berikat pinggang. Kemudian ia diberi kabar mengenai kematian anak, ayah, suami, dan saudaranya. Saya tidak tahu siapakah di antara mereka yang terbunuh terlebih dahulu. Ketika perempuan ini melewati salah seorang dari mereka, ia bertanya, ”Siapakah yang mati ini?” Mereka menjawab, ”Ayahmu, saudaramu, suami, anakmu!” Namun dia malah bertanya, ”Apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam?” Mereka menjawab, ”Majulah ke depan.” Setelah sampai kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, ia memegang ujung baju beliau kemudian mengatakan, ”Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah. Aku tidak peduli, asal engkau selamat dari orang yang jahat.”[1] Dalam sebuah riwayat, ia mengatakan,”Setiap musibah terasa ringan setelah melihatmu selamat.”[2] [Keempat] Amr bin al-Ash –radhiyallahu ’anhu– berkata, ”Tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai daripada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan tidak ada yang lebih mulia di mataku dibandingkan beliau. Aku tidak mampu menatap beliau demi mengagungkannya. Seandainya aku ditanya, tentang sifat-sifat beliau, tentu aku tidak sanggup menyebutkannya, karena aku tidak pernah menatap beliau dengan pandangan yang tajam.” [Kelima] Di antara keinginan menggebu-gebu para sahabat –radhiyallahu ’alaihim ajma’in- untuk memuliakan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan tidak menyakiti beliau ialah perkataan Anas bin Malik: ”Sungguh, pintu-pintu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dahulu diketuk dengan kuku[3].” Tatkala turun firman Allah Ta’ala: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al Hujurat: 2) Ibnu az-Zubair berkata, ”Umar tidak pernah memperdengarkan suaranya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sesudah turun ayat ini, kecuali bila ingin meminta penjelasan pada beliau.”[4] Sementara Tsabit bin Qais, orang yang suaranya sangat keras, pernah mengeraskan suaranya di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia duduk di rumahnya dengan kepala tertunduk karena dirinya merasa sebagai ahli neraka dengan sebab kerasnya suara tersebut, sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira kepadanya dengan surga.[5] [6] Lihatlah bagaimana teladan dari para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memuliakan beliau! Sudah sepantasnya kita bisa meneladani hal ini. Ketika beliau telah wafat, maka bentuk pengagungan kita adalah dengan memuliakan hadits beliau dan memperjuangkannya dari berbagai bentuk penyimpangan. Hanya Allah yang beri taufik. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel http://muslim.or.id Wisma MTI, Siang hari, 28 Jumada Tsaniyah 1428 Baca Juga: Inilah Alasan Mencintai Nabi [1] HR. Ath-Thabrani dalam al-Ausath, dan disebutkan dalam Majma’ Az Zawa’id, al-Haitsami, dan ia menyebutkan bahwa para perawinya terpercaya kecuali satu orang yang tidak dikenalnya. [2] HR. Ibnu Hisyam dalam as Sirah; diriwayatkan pula oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah. [3] Hal ini karena pengagungan sahabat pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (-ed) [4] Al Bukhari [5] Lihat Al Bukhari [6] Bab ini diringkas dari Huququn Nabi bainal Ijlal wal Ikhlal, hal.70-73. Bisa pula dilihat pada edisi terjemahan berjudul ‘Setetes Air Mata Cinta’, hal.90-94, penerbit Darul Haq. Tagscinta nabi maulid nabi muhammad

Jangan Sampai Remehkan Amalan Sunnah

Mungkin sebagian orang menganggap cukup dengan amalan-amalan wajib. Amalan sunnah yah kadang saja dilakukan, jika ada waktu, atau lagi “mood“. Inilah anggapan sebagian orang awam. Namun sebenarnya jika kita meneliti apa yang diberitahukan oleh Allah dan Rasul-Nya, sungguh amalan sunnah memiliki keistimewaan yang luar biasa yang bisa mendukung sempurnanya amalan wajib yang kita lakukan. Silakan simak dalam artikel ringkas berikut ini mengenai keutamaan amalan sunnah. Daftar Isi tutup 1. Pertama: Menggapai wali Allah yang terdepan 2. Kedua: Melengkapi Kekurangan pada Amalan Wajib 3. Ketiga: Allah akan beri petunjuk pada pendengaran, penglihatan, kaki dan tangannya, serta doanya pun mustajab Pertama: Menggapai wali Allah yang terdepan Orang yang rajin mengamalkan amalan sunnah, maka ia akan menjadi wali Allah yang istimewa. Lalu apa yang dimaksud wali Allah? Allah Ta’ala berfirman, أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 62-63) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, فَكُلُّ مَنْ كَانَ مُؤْمِنًا تَقِيًّا كَانَ لِلَّهِ وَلِيًّا “Setiap orang mukmin (beriman) dan bertakwa, maka dialah wali Allah.”[1] Jadi wali Allah bukanlah orang yang memiliki ilmu sakti, bisa terbang, memakai tasbih dan surban. Namun yang dimaksud wali Allah sebagaimana yang disebutkan oleh Allah sendiri dalam surat Yunus di atas. “Syarat disebut wali Allah adalah beriman dan bertakwa”[2]. Jadi jika orang-orang yang disebut wali malah orang yang tidak shalat dan gemar maksiat, maka itu bukanlah wali. Kalau mau disebut wali, maka pantasnya dia disebut wali setan. Perlu diketahui bahwa wali Allah ada dua macam: [1] As Saabiquun Al Muqorrobun (wali Allah terdepan) dan [2] Al Abror Ash-habul yamin (wali Allah pertengahan). As saabiquun al muqorrobun adalah hamba Allah yang selalu mendekatkan diri pada Allah dengan amalan sunnah di samping melakukan yang wajib serta dia meninggalkan yang haram sekaligus yang makruh. Al Abror ash-habul yamin adalah hamba Allah yang hanya mendekatkan diri pada Allah dengan amalan yang wajib dan meninggalkan yang haram, ia tidak membebani dirinya dengan amalan sunnah dan tidak menahan diri dari berlebihan dalam yang mubah. Mereka inilah yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ (1) لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ (2) خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ (3) إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا (4) وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (5) فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا (6) وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةً (7) فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (8) وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (9) وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11) فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (12) ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ (13) وَقَلِيلٌ مِنَ الْآَخِرِينَ (14) “Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan, dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.” (QS. Al Waqi’ah: 1-14)[3] Kedua: Melengkapi Kekurangan pada Amalan Wajib Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ “Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada manusia di hari kiamat nanti adalah shalat. Allah ‘azza wa jalla berkata kepada malaikat-Nya dan Dia-lah yang lebih tahu, “Lihatlah pada shalat hamba-Ku. Apakah shalatnya sempurna ataukah tidak? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun jika dalam shalatnya ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah. Jika hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allah berfirman: sempurnakanlah kekurangan yang  ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya.” Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini.”[4] Hadits ini pertanda bahwa amalan sunnah (seperti puasa sunnah) bisa menyempurnakan kekurangan yang ada pada puasa wajib sebagaimana halnya shalat. Oleh karena itu, jika kita merasa ada kekurangan dalam amalan wajib, maka perbanyaklah amalan sunnah. Ketiga: Allah akan beri petunjuk pada pendengaran, penglihatan, kaki dan tangannya, serta doanya pun mustajab Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ “Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.”[5] Orang yang senantiasa melakukan amalan sunnah (mustahab) di samping melakukan amalan wajib, akan mendapatkan kecintaan Allah, lalu Allah akan memberi petunjuk pada pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya. Allah juga akan memberikan orang seperti ini keutamaan dengan mustajabnya do’a.[6] Semoga bermanfaat. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Diselesaikan di wisma MTI, Pogung Kidul-Jogja, 9 Rabi’ul Awwal 1431 H Baca Juga: Meninggalkan Amalan Sunnah Karena Merasa Tidak Wajib Dosa Karena Meninggalkan Amalan Sunnah [1] Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 2/224, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H. [2] Majmu’ Al Fatawa, 6/10. [3] Lihat Al furqon baina awliyair rohman wa awliyaisy syaithon, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 51, Maktabah Ar Rusyd, cetakan kedua, tahun 1424 H. [4] HR. Abu Daud no. 864, Ibnu Majah no. 1426. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. [5] HR. Bukhari no. 2506. [6] Faedah dari Fathul Qowil Matin, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abad, hadits ke-38. Tagsamalan sunnah wali Allah

Jangan Sampai Remehkan Amalan Sunnah

Mungkin sebagian orang menganggap cukup dengan amalan-amalan wajib. Amalan sunnah yah kadang saja dilakukan, jika ada waktu, atau lagi “mood“. Inilah anggapan sebagian orang awam. Namun sebenarnya jika kita meneliti apa yang diberitahukan oleh Allah dan Rasul-Nya, sungguh amalan sunnah memiliki keistimewaan yang luar biasa yang bisa mendukung sempurnanya amalan wajib yang kita lakukan. Silakan simak dalam artikel ringkas berikut ini mengenai keutamaan amalan sunnah. Daftar Isi tutup 1. Pertama: Menggapai wali Allah yang terdepan 2. Kedua: Melengkapi Kekurangan pada Amalan Wajib 3. Ketiga: Allah akan beri petunjuk pada pendengaran, penglihatan, kaki dan tangannya, serta doanya pun mustajab Pertama: Menggapai wali Allah yang terdepan Orang yang rajin mengamalkan amalan sunnah, maka ia akan menjadi wali Allah yang istimewa. Lalu apa yang dimaksud wali Allah? Allah Ta’ala berfirman, أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 62-63) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, فَكُلُّ مَنْ كَانَ مُؤْمِنًا تَقِيًّا كَانَ لِلَّهِ وَلِيًّا “Setiap orang mukmin (beriman) dan bertakwa, maka dialah wali Allah.”[1] Jadi wali Allah bukanlah orang yang memiliki ilmu sakti, bisa terbang, memakai tasbih dan surban. Namun yang dimaksud wali Allah sebagaimana yang disebutkan oleh Allah sendiri dalam surat Yunus di atas. “Syarat disebut wali Allah adalah beriman dan bertakwa”[2]. Jadi jika orang-orang yang disebut wali malah orang yang tidak shalat dan gemar maksiat, maka itu bukanlah wali. Kalau mau disebut wali, maka pantasnya dia disebut wali setan. Perlu diketahui bahwa wali Allah ada dua macam: [1] As Saabiquun Al Muqorrobun (wali Allah terdepan) dan [2] Al Abror Ash-habul yamin (wali Allah pertengahan). As saabiquun al muqorrobun adalah hamba Allah yang selalu mendekatkan diri pada Allah dengan amalan sunnah di samping melakukan yang wajib serta dia meninggalkan yang haram sekaligus yang makruh. Al Abror ash-habul yamin adalah hamba Allah yang hanya mendekatkan diri pada Allah dengan amalan yang wajib dan meninggalkan yang haram, ia tidak membebani dirinya dengan amalan sunnah dan tidak menahan diri dari berlebihan dalam yang mubah. Mereka inilah yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ (1) لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ (2) خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ (3) إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا (4) وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (5) فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا (6) وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةً (7) فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (8) وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (9) وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11) فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (12) ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ (13) وَقَلِيلٌ مِنَ الْآَخِرِينَ (14) “Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan, dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.” (QS. Al Waqi’ah: 1-14)[3] Kedua: Melengkapi Kekurangan pada Amalan Wajib Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ “Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada manusia di hari kiamat nanti adalah shalat. Allah ‘azza wa jalla berkata kepada malaikat-Nya dan Dia-lah yang lebih tahu, “Lihatlah pada shalat hamba-Ku. Apakah shalatnya sempurna ataukah tidak? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun jika dalam shalatnya ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah. Jika hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allah berfirman: sempurnakanlah kekurangan yang  ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya.” Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini.”[4] Hadits ini pertanda bahwa amalan sunnah (seperti puasa sunnah) bisa menyempurnakan kekurangan yang ada pada puasa wajib sebagaimana halnya shalat. Oleh karena itu, jika kita merasa ada kekurangan dalam amalan wajib, maka perbanyaklah amalan sunnah. Ketiga: Allah akan beri petunjuk pada pendengaran, penglihatan, kaki dan tangannya, serta doanya pun mustajab Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ “Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.”[5] Orang yang senantiasa melakukan amalan sunnah (mustahab) di samping melakukan amalan wajib, akan mendapatkan kecintaan Allah, lalu Allah akan memberi petunjuk pada pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya. Allah juga akan memberikan orang seperti ini keutamaan dengan mustajabnya do’a.[6] Semoga bermanfaat. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Diselesaikan di wisma MTI, Pogung Kidul-Jogja, 9 Rabi’ul Awwal 1431 H Baca Juga: Meninggalkan Amalan Sunnah Karena Merasa Tidak Wajib Dosa Karena Meninggalkan Amalan Sunnah [1] Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 2/224, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H. [2] Majmu’ Al Fatawa, 6/10. [3] Lihat Al furqon baina awliyair rohman wa awliyaisy syaithon, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 51, Maktabah Ar Rusyd, cetakan kedua, tahun 1424 H. [4] HR. Abu Daud no. 864, Ibnu Majah no. 1426. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. [5] HR. Bukhari no. 2506. [6] Faedah dari Fathul Qowil Matin, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abad, hadits ke-38. Tagsamalan sunnah wali Allah
Mungkin sebagian orang menganggap cukup dengan amalan-amalan wajib. Amalan sunnah yah kadang saja dilakukan, jika ada waktu, atau lagi “mood“. Inilah anggapan sebagian orang awam. Namun sebenarnya jika kita meneliti apa yang diberitahukan oleh Allah dan Rasul-Nya, sungguh amalan sunnah memiliki keistimewaan yang luar biasa yang bisa mendukung sempurnanya amalan wajib yang kita lakukan. Silakan simak dalam artikel ringkas berikut ini mengenai keutamaan amalan sunnah. Daftar Isi tutup 1. Pertama: Menggapai wali Allah yang terdepan 2. Kedua: Melengkapi Kekurangan pada Amalan Wajib 3. Ketiga: Allah akan beri petunjuk pada pendengaran, penglihatan, kaki dan tangannya, serta doanya pun mustajab Pertama: Menggapai wali Allah yang terdepan Orang yang rajin mengamalkan amalan sunnah, maka ia akan menjadi wali Allah yang istimewa. Lalu apa yang dimaksud wali Allah? Allah Ta’ala berfirman, أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 62-63) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, فَكُلُّ مَنْ كَانَ مُؤْمِنًا تَقِيًّا كَانَ لِلَّهِ وَلِيًّا “Setiap orang mukmin (beriman) dan bertakwa, maka dialah wali Allah.”[1] Jadi wali Allah bukanlah orang yang memiliki ilmu sakti, bisa terbang, memakai tasbih dan surban. Namun yang dimaksud wali Allah sebagaimana yang disebutkan oleh Allah sendiri dalam surat Yunus di atas. “Syarat disebut wali Allah adalah beriman dan bertakwa”[2]. Jadi jika orang-orang yang disebut wali malah orang yang tidak shalat dan gemar maksiat, maka itu bukanlah wali. Kalau mau disebut wali, maka pantasnya dia disebut wali setan. Perlu diketahui bahwa wali Allah ada dua macam: [1] As Saabiquun Al Muqorrobun (wali Allah terdepan) dan [2] Al Abror Ash-habul yamin (wali Allah pertengahan). As saabiquun al muqorrobun adalah hamba Allah yang selalu mendekatkan diri pada Allah dengan amalan sunnah di samping melakukan yang wajib serta dia meninggalkan yang haram sekaligus yang makruh. Al Abror ash-habul yamin adalah hamba Allah yang hanya mendekatkan diri pada Allah dengan amalan yang wajib dan meninggalkan yang haram, ia tidak membebani dirinya dengan amalan sunnah dan tidak menahan diri dari berlebihan dalam yang mubah. Mereka inilah yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ (1) لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ (2) خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ (3) إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا (4) وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (5) فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا (6) وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةً (7) فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (8) وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (9) وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11) فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (12) ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ (13) وَقَلِيلٌ مِنَ الْآَخِرِينَ (14) “Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan, dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.” (QS. Al Waqi’ah: 1-14)[3] Kedua: Melengkapi Kekurangan pada Amalan Wajib Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ “Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada manusia di hari kiamat nanti adalah shalat. Allah ‘azza wa jalla berkata kepada malaikat-Nya dan Dia-lah yang lebih tahu, “Lihatlah pada shalat hamba-Ku. Apakah shalatnya sempurna ataukah tidak? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun jika dalam shalatnya ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah. Jika hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allah berfirman: sempurnakanlah kekurangan yang  ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya.” Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini.”[4] Hadits ini pertanda bahwa amalan sunnah (seperti puasa sunnah) bisa menyempurnakan kekurangan yang ada pada puasa wajib sebagaimana halnya shalat. Oleh karena itu, jika kita merasa ada kekurangan dalam amalan wajib, maka perbanyaklah amalan sunnah. Ketiga: Allah akan beri petunjuk pada pendengaran, penglihatan, kaki dan tangannya, serta doanya pun mustajab Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ “Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.”[5] Orang yang senantiasa melakukan amalan sunnah (mustahab) di samping melakukan amalan wajib, akan mendapatkan kecintaan Allah, lalu Allah akan memberi petunjuk pada pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya. Allah juga akan memberikan orang seperti ini keutamaan dengan mustajabnya do’a.[6] Semoga bermanfaat. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Diselesaikan di wisma MTI, Pogung Kidul-Jogja, 9 Rabi’ul Awwal 1431 H Baca Juga: Meninggalkan Amalan Sunnah Karena Merasa Tidak Wajib Dosa Karena Meninggalkan Amalan Sunnah [1] Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 2/224, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H. [2] Majmu’ Al Fatawa, 6/10. [3] Lihat Al furqon baina awliyair rohman wa awliyaisy syaithon, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 51, Maktabah Ar Rusyd, cetakan kedua, tahun 1424 H. [4] HR. Abu Daud no. 864, Ibnu Majah no. 1426. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. [5] HR. Bukhari no. 2506. [6] Faedah dari Fathul Qowil Matin, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abad, hadits ke-38. Tagsamalan sunnah wali Allah


Mungkin sebagian orang menganggap cukup dengan amalan-amalan wajib. Amalan sunnah yah kadang saja dilakukan, jika ada waktu, atau lagi “mood“. Inilah anggapan sebagian orang awam. Namun sebenarnya jika kita meneliti apa yang diberitahukan oleh Allah dan Rasul-Nya, sungguh amalan sunnah memiliki keistimewaan yang luar biasa yang bisa mendukung sempurnanya amalan wajib yang kita lakukan. Silakan simak dalam artikel ringkas berikut ini mengenai keutamaan amalan sunnah. Daftar Isi tutup 1. Pertama: Menggapai wali Allah yang terdepan 2. Kedua: Melengkapi Kekurangan pada Amalan Wajib 3. Ketiga: Allah akan beri petunjuk pada pendengaran, penglihatan, kaki dan tangannya, serta doanya pun mustajab Pertama: Menggapai wali Allah yang terdepan Orang yang rajin mengamalkan amalan sunnah, maka ia akan menjadi wali Allah yang istimewa. Lalu apa yang dimaksud wali Allah? Allah Ta’ala berfirman, أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 62-63) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, فَكُلُّ مَنْ كَانَ مُؤْمِنًا تَقِيًّا كَانَ لِلَّهِ وَلِيًّا “Setiap orang mukmin (beriman) dan bertakwa, maka dialah wali Allah.”[1] Jadi wali Allah bukanlah orang yang memiliki ilmu sakti, bisa terbang, memakai tasbih dan surban. Namun yang dimaksud wali Allah sebagaimana yang disebutkan oleh Allah sendiri dalam surat Yunus di atas. “Syarat disebut wali Allah adalah beriman dan bertakwa”[2]. Jadi jika orang-orang yang disebut wali malah orang yang tidak shalat dan gemar maksiat, maka itu bukanlah wali. Kalau mau disebut wali, maka pantasnya dia disebut wali setan. Perlu diketahui bahwa wali Allah ada dua macam: [1] As Saabiquun Al Muqorrobun (wali Allah terdepan) dan [2] Al Abror Ash-habul yamin (wali Allah pertengahan). As saabiquun al muqorrobun adalah hamba Allah yang selalu mendekatkan diri pada Allah dengan amalan sunnah di samping melakukan yang wajib serta dia meninggalkan yang haram sekaligus yang makruh. Al Abror ash-habul yamin adalah hamba Allah yang hanya mendekatkan diri pada Allah dengan amalan yang wajib dan meninggalkan yang haram, ia tidak membebani dirinya dengan amalan sunnah dan tidak menahan diri dari berlebihan dalam yang mubah. Mereka inilah yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ (1) لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ (2) خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ (3) إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا (4) وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (5) فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا (6) وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةً (7) فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (8) وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (9) وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11) فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (12) ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ (13) وَقَلِيلٌ مِنَ الْآَخِرِينَ (14) “Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan, dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.” (QS. Al Waqi’ah: 1-14)[3] Kedua: Melengkapi Kekurangan pada Amalan Wajib Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ “Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada manusia di hari kiamat nanti adalah shalat. Allah ‘azza wa jalla berkata kepada malaikat-Nya dan Dia-lah yang lebih tahu, “Lihatlah pada shalat hamba-Ku. Apakah shalatnya sempurna ataukah tidak? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun jika dalam shalatnya ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah. Jika hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allah berfirman: sempurnakanlah kekurangan yang  ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya.” Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini.”[4] Hadits ini pertanda bahwa amalan sunnah (seperti puasa sunnah) bisa menyempurnakan kekurangan yang ada pada puasa wajib sebagaimana halnya shalat. Oleh karena itu, jika kita merasa ada kekurangan dalam amalan wajib, maka perbanyaklah amalan sunnah. Ketiga: Allah akan beri petunjuk pada pendengaran, penglihatan, kaki dan tangannya, serta doanya pun mustajab Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ “Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.”[5] Orang yang senantiasa melakukan amalan sunnah (mustahab) di samping melakukan amalan wajib, akan mendapatkan kecintaan Allah, lalu Allah akan memberi petunjuk pada pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya. Allah juga akan memberikan orang seperti ini keutamaan dengan mustajabnya do’a.[6] Semoga bermanfaat. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Diselesaikan di wisma MTI, Pogung Kidul-Jogja, 9 Rabi’ul Awwal 1431 H Baca Juga: Meninggalkan Amalan Sunnah Karena Merasa Tidak Wajib Dosa Karena Meninggalkan Amalan Sunnah [1] Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 2/224, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H. [2] Majmu’ Al Fatawa, 6/10. [3] Lihat Al furqon baina awliyair rohman wa awliyaisy syaithon, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 51, Maktabah Ar Rusyd, cetakan kedua, tahun 1424 H. [4] HR. Abu Daud no. 864, Ibnu Majah no. 1426. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. [5] HR. Bukhari no. 2506. [6] Faedah dari Fathul Qowil Matin, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abad, hadits ke-38. Tagsamalan sunnah wali Allah

Inilah Alasan Mencintai Nabi

Tahukah Anda apa alasan mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam? Inilah alasannya. Mencintai seseorang dapat kembali kepada 2 alasan : Pertama, berkaitan dengan dzat orang yang dicintai Semakin sempurna orang yang dicintai, maka di situlah tempat tumbuhnya kecintaan. Sedangkan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam adalah manusia yang paling luar biasa dan sempurna dalam akhlaq, kepribadian, sifat dan dzatnya. Di antara sifat beliau adalah begitu perhatian pada umatnya, begitu lembut dan kasih sayang pada mereka. Sebagaimana Allah mensifati beliau dalam firman-Nya, لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ ”Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah: 128) Kedua, berkaitan dengan faedah yang akan diperoleh Buah dari Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam   Sungguh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tidak butuh pada kecintaan kita padanya. Dengan adanya kecintaan ini, tidak akan menambah kedudukannya yang mulia dan tidak adanya kecintaan ini pula, tidak akan mengurangi kemuliaan beliau. Karena beliau adalah orang yang paling dicintai di sisi Allah Ta’ala. Barang siapa yang mengikuti beliau shallallahu ’alaihi wa sallam (ittiba’), maka Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosanya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ”Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31) Tidak bisa diambil faedah dari kecintaan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam kecuali bagi siapa yang mencintai beliau. Orang yang demikianlah yang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Penjabaran dari faedah di atas dapat dilihat dalam pembahasan berikut ini. # Mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam merupakan sebab mendapatkan manisnya iman Allah menjadikan sebab-sebab untuk mendapatkan manisnya iman. Di antara sebab tersebut adalah mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melebihi seluruh makhluk. Telah diriwayatkan dari Imam Bukhari dan Muslim dari Anas –radhiyallahu ’anhu- , Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ “Tiga perkara yang membuat seseorang akan mendapatkan manisnya iman yaitu : Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya, dia mencintai saudaranya, tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah, dan dia benci kembali pada kekufuran sebagaimana dia benci dilemparkan dalam api.” Dan yang dimaksudkan dengan (حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ)  -sebagaimana disebutkan para ulama rahimahumullah– adalah merasakan kelezatan melakukan ketaatan, bersabar dan merasa nikmat dalam beragama, dan yang demikian juga berpengaruh pada perihal keduniaan. # Mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam akan menjadikan seseorang bersama beliau di akhirat Diriwayatkan dari Imam Muslim, Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu– berkata: “Datang seorang laki-laki pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya: “Kapan hari kiamat datang?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya:”Apa yang engkau persiapkan untuk hari kiamat?” Dia menjawab,”Cinta Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” Anas –radhiyallahu ‘anhu– berkata: Tidaklah kami sangat bergembira setelah nikmat Islam kecuali setelah mendengar sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” Anas –radhiyallahu ‘anhu– berkata:”Maka sungguh aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar, dan Umar –radhiyallahu ‘anhuma-. Dan saya berharap bisa bersama mereka, walaupun amalanku tidaklah seperti mereka.” Allahu akbar!! Renungkanlah begitu agung dan mulianya balasan bagi orang yang mencintai Nabi yang mulia –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.[1] #  Mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam akan memperoleh kesempurnaan iman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ “Seseorang tidaklah beriman (dengan sempurna, peny) hingga aku lebih dicintainya dari anak dan orang tuanya serta manusia seluruhnya.”[2] Kesempurnaan iman ini hanya akan diperoleh dengan mentaati dan tunduk patuh, tanpa ada keraguan sedikitpun. فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa’: 65) #  Mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam merupakan bagian dari dzikrullah yang akan membuahkan hilangnya kesedihan, perbaikan keadaan, dan ampunan dosa. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآَمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ “Dan orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.” (Muhammad: 2) Dengan dua alasan ini –yang berkaitan dengan sifat dan faedah dari mencintai beliau yang disebutkan di atas- tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tidak mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.[3] Semoga bermanfaat. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Wisma MTI, Siang hari, 28 Jumada Tsaniyah 1428 H Baca Juga: Inilah Faedah Bagi yang Mencintai Nabinya Teladan Sahabat dalam Mencintai Nabi [1] Semoga kita termasuk orang-orang yang mencintai beliau (dengan benar) sehingga kita dapat bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam di akhirat kelak. Amin Yaa Mujibad Da’awat. (-peny) [2] HR. Muslim [3] Bab ini diringkas dari Huququn Nabi bainal Ijlal wal Ikhlal, hal.40-46, Hubbun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wa ‘alamatuhu, hal. 13-15. Dan ada sedikit tambahan dari editor. Tagscinta nabi

Inilah Alasan Mencintai Nabi

Tahukah Anda apa alasan mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam? Inilah alasannya. Mencintai seseorang dapat kembali kepada 2 alasan : Pertama, berkaitan dengan dzat orang yang dicintai Semakin sempurna orang yang dicintai, maka di situlah tempat tumbuhnya kecintaan. Sedangkan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam adalah manusia yang paling luar biasa dan sempurna dalam akhlaq, kepribadian, sifat dan dzatnya. Di antara sifat beliau adalah begitu perhatian pada umatnya, begitu lembut dan kasih sayang pada mereka. Sebagaimana Allah mensifati beliau dalam firman-Nya, لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ ”Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah: 128) Kedua, berkaitan dengan faedah yang akan diperoleh Buah dari Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam   Sungguh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tidak butuh pada kecintaan kita padanya. Dengan adanya kecintaan ini, tidak akan menambah kedudukannya yang mulia dan tidak adanya kecintaan ini pula, tidak akan mengurangi kemuliaan beliau. Karena beliau adalah orang yang paling dicintai di sisi Allah Ta’ala. Barang siapa yang mengikuti beliau shallallahu ’alaihi wa sallam (ittiba’), maka Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosanya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ”Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31) Tidak bisa diambil faedah dari kecintaan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam kecuali bagi siapa yang mencintai beliau. Orang yang demikianlah yang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Penjabaran dari faedah di atas dapat dilihat dalam pembahasan berikut ini. # Mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam merupakan sebab mendapatkan manisnya iman Allah menjadikan sebab-sebab untuk mendapatkan manisnya iman. Di antara sebab tersebut adalah mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melebihi seluruh makhluk. Telah diriwayatkan dari Imam Bukhari dan Muslim dari Anas –radhiyallahu ’anhu- , Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ “Tiga perkara yang membuat seseorang akan mendapatkan manisnya iman yaitu : Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya, dia mencintai saudaranya, tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah, dan dia benci kembali pada kekufuran sebagaimana dia benci dilemparkan dalam api.” Dan yang dimaksudkan dengan (حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ)  -sebagaimana disebutkan para ulama rahimahumullah– adalah merasakan kelezatan melakukan ketaatan, bersabar dan merasa nikmat dalam beragama, dan yang demikian juga berpengaruh pada perihal keduniaan. # Mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam akan menjadikan seseorang bersama beliau di akhirat Diriwayatkan dari Imam Muslim, Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu– berkata: “Datang seorang laki-laki pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya: “Kapan hari kiamat datang?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya:”Apa yang engkau persiapkan untuk hari kiamat?” Dia menjawab,”Cinta Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” Anas –radhiyallahu ‘anhu– berkata: Tidaklah kami sangat bergembira setelah nikmat Islam kecuali setelah mendengar sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” Anas –radhiyallahu ‘anhu– berkata:”Maka sungguh aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar, dan Umar –radhiyallahu ‘anhuma-. Dan saya berharap bisa bersama mereka, walaupun amalanku tidaklah seperti mereka.” Allahu akbar!! Renungkanlah begitu agung dan mulianya balasan bagi orang yang mencintai Nabi yang mulia –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.[1] #  Mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam akan memperoleh kesempurnaan iman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ “Seseorang tidaklah beriman (dengan sempurna, peny) hingga aku lebih dicintainya dari anak dan orang tuanya serta manusia seluruhnya.”[2] Kesempurnaan iman ini hanya akan diperoleh dengan mentaati dan tunduk patuh, tanpa ada keraguan sedikitpun. فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa’: 65) #  Mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam merupakan bagian dari dzikrullah yang akan membuahkan hilangnya kesedihan, perbaikan keadaan, dan ampunan dosa. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآَمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ “Dan orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.” (Muhammad: 2) Dengan dua alasan ini –yang berkaitan dengan sifat dan faedah dari mencintai beliau yang disebutkan di atas- tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tidak mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.[3] Semoga bermanfaat. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Wisma MTI, Siang hari, 28 Jumada Tsaniyah 1428 H Baca Juga: Inilah Faedah Bagi yang Mencintai Nabinya Teladan Sahabat dalam Mencintai Nabi [1] Semoga kita termasuk orang-orang yang mencintai beliau (dengan benar) sehingga kita dapat bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam di akhirat kelak. Amin Yaa Mujibad Da’awat. (-peny) [2] HR. Muslim [3] Bab ini diringkas dari Huququn Nabi bainal Ijlal wal Ikhlal, hal.40-46, Hubbun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wa ‘alamatuhu, hal. 13-15. Dan ada sedikit tambahan dari editor. Tagscinta nabi
Tahukah Anda apa alasan mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam? Inilah alasannya. Mencintai seseorang dapat kembali kepada 2 alasan : Pertama, berkaitan dengan dzat orang yang dicintai Semakin sempurna orang yang dicintai, maka di situlah tempat tumbuhnya kecintaan. Sedangkan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam adalah manusia yang paling luar biasa dan sempurna dalam akhlaq, kepribadian, sifat dan dzatnya. Di antara sifat beliau adalah begitu perhatian pada umatnya, begitu lembut dan kasih sayang pada mereka. Sebagaimana Allah mensifati beliau dalam firman-Nya, لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ ”Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah: 128) Kedua, berkaitan dengan faedah yang akan diperoleh Buah dari Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam   Sungguh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tidak butuh pada kecintaan kita padanya. Dengan adanya kecintaan ini, tidak akan menambah kedudukannya yang mulia dan tidak adanya kecintaan ini pula, tidak akan mengurangi kemuliaan beliau. Karena beliau adalah orang yang paling dicintai di sisi Allah Ta’ala. Barang siapa yang mengikuti beliau shallallahu ’alaihi wa sallam (ittiba’), maka Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosanya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ”Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31) Tidak bisa diambil faedah dari kecintaan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam kecuali bagi siapa yang mencintai beliau. Orang yang demikianlah yang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Penjabaran dari faedah di atas dapat dilihat dalam pembahasan berikut ini. # Mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam merupakan sebab mendapatkan manisnya iman Allah menjadikan sebab-sebab untuk mendapatkan manisnya iman. Di antara sebab tersebut adalah mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melebihi seluruh makhluk. Telah diriwayatkan dari Imam Bukhari dan Muslim dari Anas –radhiyallahu ’anhu- , Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ “Tiga perkara yang membuat seseorang akan mendapatkan manisnya iman yaitu : Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya, dia mencintai saudaranya, tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah, dan dia benci kembali pada kekufuran sebagaimana dia benci dilemparkan dalam api.” Dan yang dimaksudkan dengan (حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ)  -sebagaimana disebutkan para ulama rahimahumullah– adalah merasakan kelezatan melakukan ketaatan, bersabar dan merasa nikmat dalam beragama, dan yang demikian juga berpengaruh pada perihal keduniaan. # Mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam akan menjadikan seseorang bersama beliau di akhirat Diriwayatkan dari Imam Muslim, Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu– berkata: “Datang seorang laki-laki pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya: “Kapan hari kiamat datang?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya:”Apa yang engkau persiapkan untuk hari kiamat?” Dia menjawab,”Cinta Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” Anas –radhiyallahu ‘anhu– berkata: Tidaklah kami sangat bergembira setelah nikmat Islam kecuali setelah mendengar sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” Anas –radhiyallahu ‘anhu– berkata:”Maka sungguh aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar, dan Umar –radhiyallahu ‘anhuma-. Dan saya berharap bisa bersama mereka, walaupun amalanku tidaklah seperti mereka.” Allahu akbar!! Renungkanlah begitu agung dan mulianya balasan bagi orang yang mencintai Nabi yang mulia –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.[1] #  Mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam akan memperoleh kesempurnaan iman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ “Seseorang tidaklah beriman (dengan sempurna, peny) hingga aku lebih dicintainya dari anak dan orang tuanya serta manusia seluruhnya.”[2] Kesempurnaan iman ini hanya akan diperoleh dengan mentaati dan tunduk patuh, tanpa ada keraguan sedikitpun. فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa’: 65) #  Mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam merupakan bagian dari dzikrullah yang akan membuahkan hilangnya kesedihan, perbaikan keadaan, dan ampunan dosa. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآَمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ “Dan orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.” (Muhammad: 2) Dengan dua alasan ini –yang berkaitan dengan sifat dan faedah dari mencintai beliau yang disebutkan di atas- tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tidak mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.[3] Semoga bermanfaat. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Wisma MTI, Siang hari, 28 Jumada Tsaniyah 1428 H Baca Juga: Inilah Faedah Bagi yang Mencintai Nabinya Teladan Sahabat dalam Mencintai Nabi [1] Semoga kita termasuk orang-orang yang mencintai beliau (dengan benar) sehingga kita dapat bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam di akhirat kelak. Amin Yaa Mujibad Da’awat. (-peny) [2] HR. Muslim [3] Bab ini diringkas dari Huququn Nabi bainal Ijlal wal Ikhlal, hal.40-46, Hubbun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wa ‘alamatuhu, hal. 13-15. Dan ada sedikit tambahan dari editor. Tagscinta nabi


Tahukah Anda apa alasan mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam? Inilah alasannya. Mencintai seseorang dapat kembali kepada 2 alasan : Pertama, berkaitan dengan dzat orang yang dicintai Semakin sempurna orang yang dicintai, maka di situlah tempat tumbuhnya kecintaan. Sedangkan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam adalah manusia yang paling luar biasa dan sempurna dalam akhlaq, kepribadian, sifat dan dzatnya. Di antara sifat beliau adalah begitu perhatian pada umatnya, begitu lembut dan kasih sayang pada mereka. Sebagaimana Allah mensifati beliau dalam firman-Nya, لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ ”Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah: 128) Kedua, berkaitan dengan faedah yang akan diperoleh Buah dari Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam   Sungguh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tidak butuh pada kecintaan kita padanya. Dengan adanya kecintaan ini, tidak akan menambah kedudukannya yang mulia dan tidak adanya kecintaan ini pula, tidak akan mengurangi kemuliaan beliau. Karena beliau adalah orang yang paling dicintai di sisi Allah Ta’ala. Barang siapa yang mengikuti beliau shallallahu ’alaihi wa sallam (ittiba’), maka Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosanya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ”Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31) Tidak bisa diambil faedah dari kecintaan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam kecuali bagi siapa yang mencintai beliau. Orang yang demikianlah yang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Penjabaran dari faedah di atas dapat dilihat dalam pembahasan berikut ini. # Mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam merupakan sebab mendapatkan manisnya iman Allah menjadikan sebab-sebab untuk mendapatkan manisnya iman. Di antara sebab tersebut adalah mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melebihi seluruh makhluk. Telah diriwayatkan dari Imam Bukhari dan Muslim dari Anas –radhiyallahu ’anhu- , Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ “Tiga perkara yang membuat seseorang akan mendapatkan manisnya iman yaitu : Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya, dia mencintai saudaranya, tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah, dan dia benci kembali pada kekufuran sebagaimana dia benci dilemparkan dalam api.” Dan yang dimaksudkan dengan (حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ)  -sebagaimana disebutkan para ulama rahimahumullah– adalah merasakan kelezatan melakukan ketaatan, bersabar dan merasa nikmat dalam beragama, dan yang demikian juga berpengaruh pada perihal keduniaan. # Mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam akan menjadikan seseorang bersama beliau di akhirat Diriwayatkan dari Imam Muslim, Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu– berkata: “Datang seorang laki-laki pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya: “Kapan hari kiamat datang?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya:”Apa yang engkau persiapkan untuk hari kiamat?” Dia menjawab,”Cinta Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” Anas –radhiyallahu ‘anhu– berkata: Tidaklah kami sangat bergembira setelah nikmat Islam kecuali setelah mendengar sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” Anas –radhiyallahu ‘anhu– berkata:”Maka sungguh aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar, dan Umar –radhiyallahu ‘anhuma-. Dan saya berharap bisa bersama mereka, walaupun amalanku tidaklah seperti mereka.” Allahu akbar!! Renungkanlah begitu agung dan mulianya balasan bagi orang yang mencintai Nabi yang mulia –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.[1] #  Mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam akan memperoleh kesempurnaan iman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ “Seseorang tidaklah beriman (dengan sempurna, peny) hingga aku lebih dicintainya dari anak dan orang tuanya serta manusia seluruhnya.”[2] Kesempurnaan iman ini hanya akan diperoleh dengan mentaati dan tunduk patuh, tanpa ada keraguan sedikitpun. فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa’: 65) #  Mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam merupakan bagian dari dzikrullah yang akan membuahkan hilangnya kesedihan, perbaikan keadaan, dan ampunan dosa. Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآَمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ “Dan orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.” (Muhammad: 2) Dengan dua alasan ini –yang berkaitan dengan sifat dan faedah dari mencintai beliau yang disebutkan di atas- tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tidak mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.[3] Semoga bermanfaat. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Wisma MTI, Siang hari, 28 Jumada Tsaniyah 1428 H Baca Juga: Inilah Faedah Bagi yang Mencintai Nabinya Teladan Sahabat dalam Mencintai Nabi [1] Semoga kita termasuk orang-orang yang mencintai beliau (dengan benar) sehingga kita dapat bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam di akhirat kelak. Amin Yaa Mujibad Da’awat. (-peny) [2] HR. Muslim [3] Bab ini diringkas dari Huququn Nabi bainal Ijlal wal Ikhlal, hal.40-46, Hubbun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wa ‘alamatuhu, hal. 13-15. Dan ada sedikit tambahan dari editor. Tagscinta nabi

Ganjaran Bagi Yang Gemar Puasa Sunnah

Tidakkah engkau tahu pahala yang melimpah di balik amalan puasa sunnah. Semoga dengan mengetahui hal ini membuat kita semakin giat melakukannya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”” (HR. Muslim no. 1151) Dalam riwayat lain dikatakan, قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى “Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”.” (HR. Bukhari no. 1904) Dalam riwayat Ahmad dikatakan, قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ الْعَمَلِ كَفَّارَةٌ إِلاَّ الصَّوْمَ وَالصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ “Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan  puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya”.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim) Daftar Isi tutup 1. Pahala yang Tak Terhingga Bagi Orang yang Berpuasa 2. Amalan Puasa Khusus untuk Allah 3. Sebab Pahala Puasa, Seseorang Memasuki Surga 4. Dua Kebahagiaan yang Diraih Orang yang Berpuasa 5. Bau Mulut Orang yang Berpuasa di Sisi Allah 6. Ganjaran Puasa Lainnya 6.1. # Puasa adalah perisai dari api neraka 6.2. # Amalan puasa akan memberikan syafa’at bagi orang yang menjalankannya 6.3. # Bagi orang yang berpuasa akan disediakan pintu surga Ar Royyan Pahala yang Tak Terhingga Bagi Orang yang Berpuasa Dari riwayat pertama, dikatakan bahwa setiap amalan akan dilipatgandakan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kebaikan yang semisal. Kemudian dikecualikan amalan puasa. Amalan puasa tidaklah dilipatgandakan seperti tadi. Amalan puasa tidak dibatasi lipatan pahalanya. Oleh karena itu, amalan puasa akan dilipatgandakan oleh Allah hingga berlipat-lipat tanpa ada batasan bilangan. Kenapa bisa demikian? Ibnu Rajab Al Hambali –semoga Allah merahmati beliau- mengatakan, ”Karena puasa adalah bagian dari kesabaran”. Mengenai ganjaran orang yang bersabar, Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10). Al Auza’i mengatakan, “Pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa ditakar dan ditimbang. Mereka benar-benar akan mendapatkan ketinggian derajat.” As Sudi mengatakan, “Balasan orang yang bersabar adalah surga.”[1] Sabar itu ada tiga macam yaitu [1] sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah, [2] sabar dalam meninggalkan yang haram dan [3] sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan. Ketiga macam bentuk sabar ini, semuanya terdapat dalam amalan puasa. Dalam puasa tentu saja di dalamnya ada bentuk melakukan ketaatan, menjauhi hal-hal yang diharamkan, juga dalam puasa seseorang berusaha bersabar dari hal-hal yang menyakitkan seperti menahan diri dari rasa lapar, dahaga, dan lemahnya badan. Itulah mengapa amalan puasa bisa meraih pahala tak terhingga sebagaimana sabar. Baca Juga: Wanita Menjalankan Puasa Sunnah Harus dengan Izin Suami Amalan Puasa Khusus untuk Allah Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”. Riwayat ini menunjukkan bahwa setiap amalan manusia adalah untuknya. Sedangkan amalan puasa, Allah khususkan untuk diri-Nya. Allah menyandarkan amalan tersebut untuk-Nya. Kenapa Allah bisa menyandarkan amalan puasa untuk-Nya? [Alasan pertama] Karena di dalam puasa, seseorang meninggalkan berbagai kesenangan dan berbagai syahwat. Hal ini tidak didapati dalam amalan lainnya. Dalam ibadah ihram, memang ada perintah meninggalkan jima’ (berhubungan badan dengan istri) dan meninggalkan berbagai harum-haruman. Namun bentuk kesenangan lain dalam ibadah ihram tidak ditinggalkan. Begitu pula dengan  ibadah shalat. Dalam shalat memang kita dituntut untuk meninggalkan makan dan minum. Namun itu dalam waktu yang singkat. Bahkan ketika hendak shalat, jika makanan telah dihidangkan dan kita merasa butuh pada makanan tersebut, kita dianjurkan untuk menyantap makanan tadi dan boleh menunda shalat ketika dalam kondisi seperti itu. Jadi dalam amalan puasa terdapat bentuk meninggalkan berbagai macam syahwat yang tidak kita jumpai pada amalan lainnya. Jika seseorang telah melakukan ini semua –seperti meninggalkan  hubungan badan dengan istri dan meninggalkan makan-minum ketika puasa-, dan dia meninggalkan itu semua karena Allah, padahal tidak ada yang memperhatikan apa yang dia lakukan tersebut selain Allah, maka ini menunjukkan benarnya iman orang yang melakukan semacam ini. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu Rajab, “Inilah yang menunjukkan benarnya iman orang tersebut.” Orang yang melakukan puasa seperti itu selalu menyadari bahwa dia berada dalam pengawasan Allah meskipun dia berada sendirian. Dia telah mengharamkan melakukan berbagai macam syahwat yang dia sukai. Dia lebih suka mentaati Rabbnya, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya karena takut pada siksaan dan selalu mengharap ganjaran-Nya. Sebagian salaf mengatakan, “Beruntunglah orang yang meninggalkan syahwat yang ada di hadapannya karena mengharap janji Rabb yang tidak nampak di hadapannya.”. Oleh karena itu, Allah membalas orang yang melakukan puasa seperti ini dan Dia pun mengkhususkan amalan puasa tersebut untuk-Nya dibanding amalan-amalan lainnya. [Alasan kedua] Puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabbnya yang tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Amalan puasa berasal dari niat batin yang hanya Allah saja yang mengetahuinya dan dalam amalan puasa ini terdapat bentuk meninggalkan berbagai syahwat. Oleh karena itu, Imam Ahmad dan selainnya mengatakan, “Dalam puasa sulit sekali terdapat riya’ (ingin dilihat/dipuji orang lain).” Dari dua alasan inilah, Allah menyandarkan amalan puasa pada-Nya berbeda dengan amalan lainnya. Sebab Pahala Puasa, Seseorang Memasuki Surga Lalu dalam riwayat lainnya dikatakan, “Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan  puasa adalah untuk-Ku.” Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan, “Pada hari kiamat nanti, Allah Ta’ala akan menghisab hamba-Nya. Setiap amalan akan menembus berbagai macam kezholiman yang pernah dilakukan, hingga tidak tersisa satu pun kecuali satu amalan yaitu puasa. Amalan puasa ini akan Allah simpan dan akhirnya Allah memasukkan orang tersebut ke surga.” Jadi, amalan puasa adalah untuk Allah Ta’ala. Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang pun mengambil ganjaran amalan puasa tersebut sebagai tebusan baginya. Ganjaran amalan puasa akan disimpan bagi pelakunya di sisi Allah Ta’ala. Dengan kata lain, seluruh amalan kebaikan dapat menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan oleh pelakunya. Sehingga karena banyaknya dosa yang dilakukan, seseorang tidak lagi memiliki pahala kebaikan apa-apa. Ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa hari kiamat nanti antara amalan kejelekan dan kebaikan akan ditimbang, satu yang lainnya akan saling memangkas. Lalu tersisalah satu kebaikan dari amalan-amalan kebaikan tadi yang menyebabkan pelakunya masuk surga. Itulah amalan puasa yang akan tersimpan di sisi Allah. Amalan kebaikan lain akan memangkas kejelekan yang dilakukan oleh seorang hamba. Ketika tidak tersisa satu kebaikan kecuali puasa, Allah akan menyimpan amalan puasa tersebut dan akan memasukkan hamba yang memiliki simpanan amalan puasa tadi ke dalam surga. Baca Juga: Apakah Nabi Shalat Malam dan Puasa Sunnah Terus Menerus? Dua Kebahagiaan yang Diraih Orang yang Berpuasa Dalam hadits di atas dikatakan, “Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya.” Kebahagiaan pertama adalah ketika seseorang berbuka puasa. Ketika berbuka, jiwa begitu ingin mendapat hiburan dari hal-hal yang dia rasakan tidak menyenangkan ketika berpuasa, yaitu jiwa sangat senang menjumpai makanan, minuman dan menggauli istri. Jika seseorang dilarang dari berbagai macam syahwat ketika berpuasa, dia akan merasa senang jika hal tersebut diperbolehkan lagi. Kebahagiaan kedua adalah ketika seorang hamba berjumpa dengan Rabbnya yaitu dia akan jumpai pahala amalan puasa yang dia lakukan tersimpan di sisi Allah. Itulah ganjaran besar yang sangat dia butuhkan. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا “Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al Muzammil: 20) يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا “Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya).” (QS. Ali Imron: 30) فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.” (QS. Az Zalzalah: 7) Baca Juga: Lakukanlah Puasa Sunnah Minimal Sebulan 3 Kali Bau Mulut Orang yang Berpuasa di Sisi Allah Ganjaran bagi orang yang berpuasa yang disebutkan pula dalam hadits di atas , “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” Seperti kita tahu bersama bahwa bau mulut orang yang berpuasa apalagi di siang hari sungguh tidak mengenakkan. Namun bau mulut seperti ini adalah bau yang menyenangkan di sisi Allah karena bau ini dihasilkan dari amalan ketaatan dank arena mengharap ridho Allah. Sebagaimana pula darah orang yang mati syahid pada hari kiamat nanti, warnanya adalah warna darah, namun baunya adalah bau minyak kasturi. Harumnya bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah ini ada dua sebab: [Pertama] Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Allah di dunia. Ketika di akhirat, Allah pun menampakkan amalan puasa ini sehingga makhluk pun tahu bahwa dia adalah orang yang gemar berpuasa. Allah memberitahukan amalan puasa yang dia lakukan di hadapan manusia lainnya karena dulu di dunia, dia berusaha keras menyembunyikan amalan tersebut dari orang lain. Inilah bau mulut yang harum yang dinampakkan oleh Allah di hari kiamat nanti karena amalan rahasia yang dia lakukan. [Kedua] Barangsiapa yang beribadah dan mentaati Allah, selalu mengharap ridho Allah di dunia melalui amalan yang dia lakukan, lalu muncul dari amalannya tersebut bekas yang tidak terasa enak bagi jiwa di dunia, maka bekas seperti ini tidaklah dibenci di sisi Allah. Bahkan bekas tersebut adalah sesuatu yang Allah cintai dan baik di sisi-Nya. Hal ini dikarenakan bekas yang tidak terasa enak tersebut  muncul karena melakukan ketaatan dan mengharap ridho Allah. Oleh karena itu, Allah pun membalasnya dengan memberikan bau harum pada mulutnya yang menyenangkan seluruh makhluk, walaupun bau tersebut tidak terasa enak di sisi makluk ketika di dunia.[2] Baca Juga: Bolehkah Membatalkan Puasa Sunnah di Saat Undangan Makan? Ganjaran Puasa Lainnya # Puasa adalah perisai dari api neraka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ ”Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari api neraka.”[3] # Amalan puasa akan memberikan syafa’at bagi orang yang menjalankannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ ”Amalan puasa dan amalan Al Qur’an itu akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Amalan puasa akan berkata, “Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat, karenanya perkenankan aku untuk memberikan syafa’at kepadanya”. Dan amalan Al Qur’an pula berkata, “Saya telah melarangnya dari tidur pada malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya.” Beliau bersabda, “Maka syafa’at keduanya diperkenankan”.“[4] # Bagi orang yang berpuasa akan disediakan pintu surga Ar Royyan Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ ”Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang bernama Ar-Royyaan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Dikatakan kepada mereka, “Di mana orang-orang yang berpuasa?” Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk, pintu tersebut ditutup dan tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut”[5] Semoga dengan mengetahui keutamaan ini kita bisa lebih giat memperbanyakan amalan puasa sunnah. Hanya Allah yang beri taufik. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Baca Juga: Apakah Nabi Shalat Malam dan Puasa Sunnah Terus Menerus? Niat Puasa Sunnah Boleh di Pagi Hari [1] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 12/117, Muassasah Qurthubah. [2] Pembahasan ini kami sarikan dari Latho’if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, 268-290 ditambah beberapa sumber lainnya. [3] HR. Ahmad dan Baihaqi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ [4] HR. Ahmad, Hakim, Thabrani, periwayatnya shahih sebagaimana dikatakan oleh Al Haytsami dalam Majma’ Zawaid. [5] HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152. Tagskeutamaan puasa

Ganjaran Bagi Yang Gemar Puasa Sunnah

Tidakkah engkau tahu pahala yang melimpah di balik amalan puasa sunnah. Semoga dengan mengetahui hal ini membuat kita semakin giat melakukannya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”” (HR. Muslim no. 1151) Dalam riwayat lain dikatakan, قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى “Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”.” (HR. Bukhari no. 1904) Dalam riwayat Ahmad dikatakan, قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ الْعَمَلِ كَفَّارَةٌ إِلاَّ الصَّوْمَ وَالصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ “Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan  puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya”.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim) Daftar Isi tutup 1. Pahala yang Tak Terhingga Bagi Orang yang Berpuasa 2. Amalan Puasa Khusus untuk Allah 3. Sebab Pahala Puasa, Seseorang Memasuki Surga 4. Dua Kebahagiaan yang Diraih Orang yang Berpuasa 5. Bau Mulut Orang yang Berpuasa di Sisi Allah 6. Ganjaran Puasa Lainnya 6.1. # Puasa adalah perisai dari api neraka 6.2. # Amalan puasa akan memberikan syafa’at bagi orang yang menjalankannya 6.3. # Bagi orang yang berpuasa akan disediakan pintu surga Ar Royyan Pahala yang Tak Terhingga Bagi Orang yang Berpuasa Dari riwayat pertama, dikatakan bahwa setiap amalan akan dilipatgandakan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kebaikan yang semisal. Kemudian dikecualikan amalan puasa. Amalan puasa tidaklah dilipatgandakan seperti tadi. Amalan puasa tidak dibatasi lipatan pahalanya. Oleh karena itu, amalan puasa akan dilipatgandakan oleh Allah hingga berlipat-lipat tanpa ada batasan bilangan. Kenapa bisa demikian? Ibnu Rajab Al Hambali –semoga Allah merahmati beliau- mengatakan, ”Karena puasa adalah bagian dari kesabaran”. Mengenai ganjaran orang yang bersabar, Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10). Al Auza’i mengatakan, “Pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa ditakar dan ditimbang. Mereka benar-benar akan mendapatkan ketinggian derajat.” As Sudi mengatakan, “Balasan orang yang bersabar adalah surga.”[1] Sabar itu ada tiga macam yaitu [1] sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah, [2] sabar dalam meninggalkan yang haram dan [3] sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan. Ketiga macam bentuk sabar ini, semuanya terdapat dalam amalan puasa. Dalam puasa tentu saja di dalamnya ada bentuk melakukan ketaatan, menjauhi hal-hal yang diharamkan, juga dalam puasa seseorang berusaha bersabar dari hal-hal yang menyakitkan seperti menahan diri dari rasa lapar, dahaga, dan lemahnya badan. Itulah mengapa amalan puasa bisa meraih pahala tak terhingga sebagaimana sabar. Baca Juga: Wanita Menjalankan Puasa Sunnah Harus dengan Izin Suami Amalan Puasa Khusus untuk Allah Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”. Riwayat ini menunjukkan bahwa setiap amalan manusia adalah untuknya. Sedangkan amalan puasa, Allah khususkan untuk diri-Nya. Allah menyandarkan amalan tersebut untuk-Nya. Kenapa Allah bisa menyandarkan amalan puasa untuk-Nya? [Alasan pertama] Karena di dalam puasa, seseorang meninggalkan berbagai kesenangan dan berbagai syahwat. Hal ini tidak didapati dalam amalan lainnya. Dalam ibadah ihram, memang ada perintah meninggalkan jima’ (berhubungan badan dengan istri) dan meninggalkan berbagai harum-haruman. Namun bentuk kesenangan lain dalam ibadah ihram tidak ditinggalkan. Begitu pula dengan  ibadah shalat. Dalam shalat memang kita dituntut untuk meninggalkan makan dan minum. Namun itu dalam waktu yang singkat. Bahkan ketika hendak shalat, jika makanan telah dihidangkan dan kita merasa butuh pada makanan tersebut, kita dianjurkan untuk menyantap makanan tadi dan boleh menunda shalat ketika dalam kondisi seperti itu. Jadi dalam amalan puasa terdapat bentuk meninggalkan berbagai macam syahwat yang tidak kita jumpai pada amalan lainnya. Jika seseorang telah melakukan ini semua –seperti meninggalkan  hubungan badan dengan istri dan meninggalkan makan-minum ketika puasa-, dan dia meninggalkan itu semua karena Allah, padahal tidak ada yang memperhatikan apa yang dia lakukan tersebut selain Allah, maka ini menunjukkan benarnya iman orang yang melakukan semacam ini. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu Rajab, “Inilah yang menunjukkan benarnya iman orang tersebut.” Orang yang melakukan puasa seperti itu selalu menyadari bahwa dia berada dalam pengawasan Allah meskipun dia berada sendirian. Dia telah mengharamkan melakukan berbagai macam syahwat yang dia sukai. Dia lebih suka mentaati Rabbnya, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya karena takut pada siksaan dan selalu mengharap ganjaran-Nya. Sebagian salaf mengatakan, “Beruntunglah orang yang meninggalkan syahwat yang ada di hadapannya karena mengharap janji Rabb yang tidak nampak di hadapannya.”. Oleh karena itu, Allah membalas orang yang melakukan puasa seperti ini dan Dia pun mengkhususkan amalan puasa tersebut untuk-Nya dibanding amalan-amalan lainnya. [Alasan kedua] Puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabbnya yang tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Amalan puasa berasal dari niat batin yang hanya Allah saja yang mengetahuinya dan dalam amalan puasa ini terdapat bentuk meninggalkan berbagai syahwat. Oleh karena itu, Imam Ahmad dan selainnya mengatakan, “Dalam puasa sulit sekali terdapat riya’ (ingin dilihat/dipuji orang lain).” Dari dua alasan inilah, Allah menyandarkan amalan puasa pada-Nya berbeda dengan amalan lainnya. Sebab Pahala Puasa, Seseorang Memasuki Surga Lalu dalam riwayat lainnya dikatakan, “Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan  puasa adalah untuk-Ku.” Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan, “Pada hari kiamat nanti, Allah Ta’ala akan menghisab hamba-Nya. Setiap amalan akan menembus berbagai macam kezholiman yang pernah dilakukan, hingga tidak tersisa satu pun kecuali satu amalan yaitu puasa. Amalan puasa ini akan Allah simpan dan akhirnya Allah memasukkan orang tersebut ke surga.” Jadi, amalan puasa adalah untuk Allah Ta’ala. Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang pun mengambil ganjaran amalan puasa tersebut sebagai tebusan baginya. Ganjaran amalan puasa akan disimpan bagi pelakunya di sisi Allah Ta’ala. Dengan kata lain, seluruh amalan kebaikan dapat menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan oleh pelakunya. Sehingga karena banyaknya dosa yang dilakukan, seseorang tidak lagi memiliki pahala kebaikan apa-apa. Ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa hari kiamat nanti antara amalan kejelekan dan kebaikan akan ditimbang, satu yang lainnya akan saling memangkas. Lalu tersisalah satu kebaikan dari amalan-amalan kebaikan tadi yang menyebabkan pelakunya masuk surga. Itulah amalan puasa yang akan tersimpan di sisi Allah. Amalan kebaikan lain akan memangkas kejelekan yang dilakukan oleh seorang hamba. Ketika tidak tersisa satu kebaikan kecuali puasa, Allah akan menyimpan amalan puasa tersebut dan akan memasukkan hamba yang memiliki simpanan amalan puasa tadi ke dalam surga. Baca Juga: Apakah Nabi Shalat Malam dan Puasa Sunnah Terus Menerus? Dua Kebahagiaan yang Diraih Orang yang Berpuasa Dalam hadits di atas dikatakan, “Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya.” Kebahagiaan pertama adalah ketika seseorang berbuka puasa. Ketika berbuka, jiwa begitu ingin mendapat hiburan dari hal-hal yang dia rasakan tidak menyenangkan ketika berpuasa, yaitu jiwa sangat senang menjumpai makanan, minuman dan menggauli istri. Jika seseorang dilarang dari berbagai macam syahwat ketika berpuasa, dia akan merasa senang jika hal tersebut diperbolehkan lagi. Kebahagiaan kedua adalah ketika seorang hamba berjumpa dengan Rabbnya yaitu dia akan jumpai pahala amalan puasa yang dia lakukan tersimpan di sisi Allah. Itulah ganjaran besar yang sangat dia butuhkan. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا “Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al Muzammil: 20) يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا “Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya).” (QS. Ali Imron: 30) فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.” (QS. Az Zalzalah: 7) Baca Juga: Lakukanlah Puasa Sunnah Minimal Sebulan 3 Kali Bau Mulut Orang yang Berpuasa di Sisi Allah Ganjaran bagi orang yang berpuasa yang disebutkan pula dalam hadits di atas , “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” Seperti kita tahu bersama bahwa bau mulut orang yang berpuasa apalagi di siang hari sungguh tidak mengenakkan. Namun bau mulut seperti ini adalah bau yang menyenangkan di sisi Allah karena bau ini dihasilkan dari amalan ketaatan dank arena mengharap ridho Allah. Sebagaimana pula darah orang yang mati syahid pada hari kiamat nanti, warnanya adalah warna darah, namun baunya adalah bau minyak kasturi. Harumnya bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah ini ada dua sebab: [Pertama] Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Allah di dunia. Ketika di akhirat, Allah pun menampakkan amalan puasa ini sehingga makhluk pun tahu bahwa dia adalah orang yang gemar berpuasa. Allah memberitahukan amalan puasa yang dia lakukan di hadapan manusia lainnya karena dulu di dunia, dia berusaha keras menyembunyikan amalan tersebut dari orang lain. Inilah bau mulut yang harum yang dinampakkan oleh Allah di hari kiamat nanti karena amalan rahasia yang dia lakukan. [Kedua] Barangsiapa yang beribadah dan mentaati Allah, selalu mengharap ridho Allah di dunia melalui amalan yang dia lakukan, lalu muncul dari amalannya tersebut bekas yang tidak terasa enak bagi jiwa di dunia, maka bekas seperti ini tidaklah dibenci di sisi Allah. Bahkan bekas tersebut adalah sesuatu yang Allah cintai dan baik di sisi-Nya. Hal ini dikarenakan bekas yang tidak terasa enak tersebut  muncul karena melakukan ketaatan dan mengharap ridho Allah. Oleh karena itu, Allah pun membalasnya dengan memberikan bau harum pada mulutnya yang menyenangkan seluruh makhluk, walaupun bau tersebut tidak terasa enak di sisi makluk ketika di dunia.[2] Baca Juga: Bolehkah Membatalkan Puasa Sunnah di Saat Undangan Makan? Ganjaran Puasa Lainnya # Puasa adalah perisai dari api neraka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ ”Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari api neraka.”[3] # Amalan puasa akan memberikan syafa’at bagi orang yang menjalankannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ ”Amalan puasa dan amalan Al Qur’an itu akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Amalan puasa akan berkata, “Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat, karenanya perkenankan aku untuk memberikan syafa’at kepadanya”. Dan amalan Al Qur’an pula berkata, “Saya telah melarangnya dari tidur pada malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya.” Beliau bersabda, “Maka syafa’at keduanya diperkenankan”.“[4] # Bagi orang yang berpuasa akan disediakan pintu surga Ar Royyan Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ ”Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang bernama Ar-Royyaan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Dikatakan kepada mereka, “Di mana orang-orang yang berpuasa?” Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk, pintu tersebut ditutup dan tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut”[5] Semoga dengan mengetahui keutamaan ini kita bisa lebih giat memperbanyakan amalan puasa sunnah. Hanya Allah yang beri taufik. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Baca Juga: Apakah Nabi Shalat Malam dan Puasa Sunnah Terus Menerus? Niat Puasa Sunnah Boleh di Pagi Hari [1] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 12/117, Muassasah Qurthubah. [2] Pembahasan ini kami sarikan dari Latho’if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, 268-290 ditambah beberapa sumber lainnya. [3] HR. Ahmad dan Baihaqi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ [4] HR. Ahmad, Hakim, Thabrani, periwayatnya shahih sebagaimana dikatakan oleh Al Haytsami dalam Majma’ Zawaid. [5] HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152. Tagskeutamaan puasa
Tidakkah engkau tahu pahala yang melimpah di balik amalan puasa sunnah. Semoga dengan mengetahui hal ini membuat kita semakin giat melakukannya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”” (HR. Muslim no. 1151) Dalam riwayat lain dikatakan, قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى “Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”.” (HR. Bukhari no. 1904) Dalam riwayat Ahmad dikatakan, قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ الْعَمَلِ كَفَّارَةٌ إِلاَّ الصَّوْمَ وَالصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ “Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan  puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya”.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim) Daftar Isi tutup 1. Pahala yang Tak Terhingga Bagi Orang yang Berpuasa 2. Amalan Puasa Khusus untuk Allah 3. Sebab Pahala Puasa, Seseorang Memasuki Surga 4. Dua Kebahagiaan yang Diraih Orang yang Berpuasa 5. Bau Mulut Orang yang Berpuasa di Sisi Allah 6. Ganjaran Puasa Lainnya 6.1. # Puasa adalah perisai dari api neraka 6.2. # Amalan puasa akan memberikan syafa’at bagi orang yang menjalankannya 6.3. # Bagi orang yang berpuasa akan disediakan pintu surga Ar Royyan Pahala yang Tak Terhingga Bagi Orang yang Berpuasa Dari riwayat pertama, dikatakan bahwa setiap amalan akan dilipatgandakan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kebaikan yang semisal. Kemudian dikecualikan amalan puasa. Amalan puasa tidaklah dilipatgandakan seperti tadi. Amalan puasa tidak dibatasi lipatan pahalanya. Oleh karena itu, amalan puasa akan dilipatgandakan oleh Allah hingga berlipat-lipat tanpa ada batasan bilangan. Kenapa bisa demikian? Ibnu Rajab Al Hambali –semoga Allah merahmati beliau- mengatakan, ”Karena puasa adalah bagian dari kesabaran”. Mengenai ganjaran orang yang bersabar, Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10). Al Auza’i mengatakan, “Pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa ditakar dan ditimbang. Mereka benar-benar akan mendapatkan ketinggian derajat.” As Sudi mengatakan, “Balasan orang yang bersabar adalah surga.”[1] Sabar itu ada tiga macam yaitu [1] sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah, [2] sabar dalam meninggalkan yang haram dan [3] sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan. Ketiga macam bentuk sabar ini, semuanya terdapat dalam amalan puasa. Dalam puasa tentu saja di dalamnya ada bentuk melakukan ketaatan, menjauhi hal-hal yang diharamkan, juga dalam puasa seseorang berusaha bersabar dari hal-hal yang menyakitkan seperti menahan diri dari rasa lapar, dahaga, dan lemahnya badan. Itulah mengapa amalan puasa bisa meraih pahala tak terhingga sebagaimana sabar. Baca Juga: Wanita Menjalankan Puasa Sunnah Harus dengan Izin Suami Amalan Puasa Khusus untuk Allah Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”. Riwayat ini menunjukkan bahwa setiap amalan manusia adalah untuknya. Sedangkan amalan puasa, Allah khususkan untuk diri-Nya. Allah menyandarkan amalan tersebut untuk-Nya. Kenapa Allah bisa menyandarkan amalan puasa untuk-Nya? [Alasan pertama] Karena di dalam puasa, seseorang meninggalkan berbagai kesenangan dan berbagai syahwat. Hal ini tidak didapati dalam amalan lainnya. Dalam ibadah ihram, memang ada perintah meninggalkan jima’ (berhubungan badan dengan istri) dan meninggalkan berbagai harum-haruman. Namun bentuk kesenangan lain dalam ibadah ihram tidak ditinggalkan. Begitu pula dengan  ibadah shalat. Dalam shalat memang kita dituntut untuk meninggalkan makan dan minum. Namun itu dalam waktu yang singkat. Bahkan ketika hendak shalat, jika makanan telah dihidangkan dan kita merasa butuh pada makanan tersebut, kita dianjurkan untuk menyantap makanan tadi dan boleh menunda shalat ketika dalam kondisi seperti itu. Jadi dalam amalan puasa terdapat bentuk meninggalkan berbagai macam syahwat yang tidak kita jumpai pada amalan lainnya. Jika seseorang telah melakukan ini semua –seperti meninggalkan  hubungan badan dengan istri dan meninggalkan makan-minum ketika puasa-, dan dia meninggalkan itu semua karena Allah, padahal tidak ada yang memperhatikan apa yang dia lakukan tersebut selain Allah, maka ini menunjukkan benarnya iman orang yang melakukan semacam ini. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu Rajab, “Inilah yang menunjukkan benarnya iman orang tersebut.” Orang yang melakukan puasa seperti itu selalu menyadari bahwa dia berada dalam pengawasan Allah meskipun dia berada sendirian. Dia telah mengharamkan melakukan berbagai macam syahwat yang dia sukai. Dia lebih suka mentaati Rabbnya, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya karena takut pada siksaan dan selalu mengharap ganjaran-Nya. Sebagian salaf mengatakan, “Beruntunglah orang yang meninggalkan syahwat yang ada di hadapannya karena mengharap janji Rabb yang tidak nampak di hadapannya.”. Oleh karena itu, Allah membalas orang yang melakukan puasa seperti ini dan Dia pun mengkhususkan amalan puasa tersebut untuk-Nya dibanding amalan-amalan lainnya. [Alasan kedua] Puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabbnya yang tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Amalan puasa berasal dari niat batin yang hanya Allah saja yang mengetahuinya dan dalam amalan puasa ini terdapat bentuk meninggalkan berbagai syahwat. Oleh karena itu, Imam Ahmad dan selainnya mengatakan, “Dalam puasa sulit sekali terdapat riya’ (ingin dilihat/dipuji orang lain).” Dari dua alasan inilah, Allah menyandarkan amalan puasa pada-Nya berbeda dengan amalan lainnya. Sebab Pahala Puasa, Seseorang Memasuki Surga Lalu dalam riwayat lainnya dikatakan, “Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan  puasa adalah untuk-Ku.” Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan, “Pada hari kiamat nanti, Allah Ta’ala akan menghisab hamba-Nya. Setiap amalan akan menembus berbagai macam kezholiman yang pernah dilakukan, hingga tidak tersisa satu pun kecuali satu amalan yaitu puasa. Amalan puasa ini akan Allah simpan dan akhirnya Allah memasukkan orang tersebut ke surga.” Jadi, amalan puasa adalah untuk Allah Ta’ala. Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang pun mengambil ganjaran amalan puasa tersebut sebagai tebusan baginya. Ganjaran amalan puasa akan disimpan bagi pelakunya di sisi Allah Ta’ala. Dengan kata lain, seluruh amalan kebaikan dapat menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan oleh pelakunya. Sehingga karena banyaknya dosa yang dilakukan, seseorang tidak lagi memiliki pahala kebaikan apa-apa. Ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa hari kiamat nanti antara amalan kejelekan dan kebaikan akan ditimbang, satu yang lainnya akan saling memangkas. Lalu tersisalah satu kebaikan dari amalan-amalan kebaikan tadi yang menyebabkan pelakunya masuk surga. Itulah amalan puasa yang akan tersimpan di sisi Allah. Amalan kebaikan lain akan memangkas kejelekan yang dilakukan oleh seorang hamba. Ketika tidak tersisa satu kebaikan kecuali puasa, Allah akan menyimpan amalan puasa tersebut dan akan memasukkan hamba yang memiliki simpanan amalan puasa tadi ke dalam surga. Baca Juga: Apakah Nabi Shalat Malam dan Puasa Sunnah Terus Menerus? Dua Kebahagiaan yang Diraih Orang yang Berpuasa Dalam hadits di atas dikatakan, “Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya.” Kebahagiaan pertama adalah ketika seseorang berbuka puasa. Ketika berbuka, jiwa begitu ingin mendapat hiburan dari hal-hal yang dia rasakan tidak menyenangkan ketika berpuasa, yaitu jiwa sangat senang menjumpai makanan, minuman dan menggauli istri. Jika seseorang dilarang dari berbagai macam syahwat ketika berpuasa, dia akan merasa senang jika hal tersebut diperbolehkan lagi. Kebahagiaan kedua adalah ketika seorang hamba berjumpa dengan Rabbnya yaitu dia akan jumpai pahala amalan puasa yang dia lakukan tersimpan di sisi Allah. Itulah ganjaran besar yang sangat dia butuhkan. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا “Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al Muzammil: 20) يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا “Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya).” (QS. Ali Imron: 30) فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.” (QS. Az Zalzalah: 7) Baca Juga: Lakukanlah Puasa Sunnah Minimal Sebulan 3 Kali Bau Mulut Orang yang Berpuasa di Sisi Allah Ganjaran bagi orang yang berpuasa yang disebutkan pula dalam hadits di atas , “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” Seperti kita tahu bersama bahwa bau mulut orang yang berpuasa apalagi di siang hari sungguh tidak mengenakkan. Namun bau mulut seperti ini adalah bau yang menyenangkan di sisi Allah karena bau ini dihasilkan dari amalan ketaatan dank arena mengharap ridho Allah. Sebagaimana pula darah orang yang mati syahid pada hari kiamat nanti, warnanya adalah warna darah, namun baunya adalah bau minyak kasturi. Harumnya bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah ini ada dua sebab: [Pertama] Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Allah di dunia. Ketika di akhirat, Allah pun menampakkan amalan puasa ini sehingga makhluk pun tahu bahwa dia adalah orang yang gemar berpuasa. Allah memberitahukan amalan puasa yang dia lakukan di hadapan manusia lainnya karena dulu di dunia, dia berusaha keras menyembunyikan amalan tersebut dari orang lain. Inilah bau mulut yang harum yang dinampakkan oleh Allah di hari kiamat nanti karena amalan rahasia yang dia lakukan. [Kedua] Barangsiapa yang beribadah dan mentaati Allah, selalu mengharap ridho Allah di dunia melalui amalan yang dia lakukan, lalu muncul dari amalannya tersebut bekas yang tidak terasa enak bagi jiwa di dunia, maka bekas seperti ini tidaklah dibenci di sisi Allah. Bahkan bekas tersebut adalah sesuatu yang Allah cintai dan baik di sisi-Nya. Hal ini dikarenakan bekas yang tidak terasa enak tersebut  muncul karena melakukan ketaatan dan mengharap ridho Allah. Oleh karena itu, Allah pun membalasnya dengan memberikan bau harum pada mulutnya yang menyenangkan seluruh makhluk, walaupun bau tersebut tidak terasa enak di sisi makluk ketika di dunia.[2] Baca Juga: Bolehkah Membatalkan Puasa Sunnah di Saat Undangan Makan? Ganjaran Puasa Lainnya # Puasa adalah perisai dari api neraka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ ”Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari api neraka.”[3] # Amalan puasa akan memberikan syafa’at bagi orang yang menjalankannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ ”Amalan puasa dan amalan Al Qur’an itu akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Amalan puasa akan berkata, “Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat, karenanya perkenankan aku untuk memberikan syafa’at kepadanya”. Dan amalan Al Qur’an pula berkata, “Saya telah melarangnya dari tidur pada malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya.” Beliau bersabda, “Maka syafa’at keduanya diperkenankan”.“[4] # Bagi orang yang berpuasa akan disediakan pintu surga Ar Royyan Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ ”Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang bernama Ar-Royyaan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Dikatakan kepada mereka, “Di mana orang-orang yang berpuasa?” Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk, pintu tersebut ditutup dan tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut”[5] Semoga dengan mengetahui keutamaan ini kita bisa lebih giat memperbanyakan amalan puasa sunnah. Hanya Allah yang beri taufik. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Baca Juga: Apakah Nabi Shalat Malam dan Puasa Sunnah Terus Menerus? Niat Puasa Sunnah Boleh di Pagi Hari [1] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 12/117, Muassasah Qurthubah. [2] Pembahasan ini kami sarikan dari Latho’if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, 268-290 ditambah beberapa sumber lainnya. [3] HR. Ahmad dan Baihaqi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ [4] HR. Ahmad, Hakim, Thabrani, periwayatnya shahih sebagaimana dikatakan oleh Al Haytsami dalam Majma’ Zawaid. [5] HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152. Tagskeutamaan puasa


Tidakkah engkau tahu pahala yang melimpah di balik amalan puasa sunnah. Semoga dengan mengetahui hal ini membuat kita semakin giat melakukannya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”” (HR. Muslim no. 1151) Dalam riwayat lain dikatakan, قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى “Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”.” (HR. Bukhari no. 1904) Dalam riwayat Ahmad dikatakan, قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ الْعَمَلِ كَفَّارَةٌ إِلاَّ الصَّوْمَ وَالصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ “Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan  puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya”.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim) Daftar Isi tutup 1. Pahala yang Tak Terhingga Bagi Orang yang Berpuasa 2. Amalan Puasa Khusus untuk Allah 3. Sebab Pahala Puasa, Seseorang Memasuki Surga 4. Dua Kebahagiaan yang Diraih Orang yang Berpuasa 5. Bau Mulut Orang yang Berpuasa di Sisi Allah 6. Ganjaran Puasa Lainnya 6.1. # Puasa adalah perisai dari api neraka 6.2. # Amalan puasa akan memberikan syafa’at bagi orang yang menjalankannya 6.3. # Bagi orang yang berpuasa akan disediakan pintu surga Ar Royyan Pahala yang Tak Terhingga Bagi Orang yang Berpuasa Dari riwayat pertama, dikatakan bahwa setiap amalan akan dilipatgandakan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kebaikan yang semisal. Kemudian dikecualikan amalan puasa. Amalan puasa tidaklah dilipatgandakan seperti tadi. Amalan puasa tidak dibatasi lipatan pahalanya. Oleh karena itu, amalan puasa akan dilipatgandakan oleh Allah hingga berlipat-lipat tanpa ada batasan bilangan. Kenapa bisa demikian? Ibnu Rajab Al Hambali –semoga Allah merahmati beliau- mengatakan, ”Karena puasa adalah bagian dari kesabaran”. Mengenai ganjaran orang yang bersabar, Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10). Al Auza’i mengatakan, “Pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa ditakar dan ditimbang. Mereka benar-benar akan mendapatkan ketinggian derajat.” As Sudi mengatakan, “Balasan orang yang bersabar adalah surga.”[1] Sabar itu ada tiga macam yaitu [1] sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah, [2] sabar dalam meninggalkan yang haram dan [3] sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan. Ketiga macam bentuk sabar ini, semuanya terdapat dalam amalan puasa. Dalam puasa tentu saja di dalamnya ada bentuk melakukan ketaatan, menjauhi hal-hal yang diharamkan, juga dalam puasa seseorang berusaha bersabar dari hal-hal yang menyakitkan seperti menahan diri dari rasa lapar, dahaga, dan lemahnya badan. Itulah mengapa amalan puasa bisa meraih pahala tak terhingga sebagaimana sabar. Baca Juga: Wanita Menjalankan Puasa Sunnah Harus dengan Izin Suami Amalan Puasa Khusus untuk Allah Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”. Riwayat ini menunjukkan bahwa setiap amalan manusia adalah untuknya. Sedangkan amalan puasa, Allah khususkan untuk diri-Nya. Allah menyandarkan amalan tersebut untuk-Nya. Kenapa Allah bisa menyandarkan amalan puasa untuk-Nya? [Alasan pertama] Karena di dalam puasa, seseorang meninggalkan berbagai kesenangan dan berbagai syahwat. Hal ini tidak didapati dalam amalan lainnya. Dalam ibadah ihram, memang ada perintah meninggalkan jima’ (berhubungan badan dengan istri) dan meninggalkan berbagai harum-haruman. Namun bentuk kesenangan lain dalam ibadah ihram tidak ditinggalkan. Begitu pula dengan  ibadah shalat. Dalam shalat memang kita dituntut untuk meninggalkan makan dan minum. Namun itu dalam waktu yang singkat. Bahkan ketika hendak shalat, jika makanan telah dihidangkan dan kita merasa butuh pada makanan tersebut, kita dianjurkan untuk menyantap makanan tadi dan boleh menunda shalat ketika dalam kondisi seperti itu. Jadi dalam amalan puasa terdapat bentuk meninggalkan berbagai macam syahwat yang tidak kita jumpai pada amalan lainnya. Jika seseorang telah melakukan ini semua –seperti meninggalkan  hubungan badan dengan istri dan meninggalkan makan-minum ketika puasa-, dan dia meninggalkan itu semua karena Allah, padahal tidak ada yang memperhatikan apa yang dia lakukan tersebut selain Allah, maka ini menunjukkan benarnya iman orang yang melakukan semacam ini. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu Rajab, “Inilah yang menunjukkan benarnya iman orang tersebut.” Orang yang melakukan puasa seperti itu selalu menyadari bahwa dia berada dalam pengawasan Allah meskipun dia berada sendirian. Dia telah mengharamkan melakukan berbagai macam syahwat yang dia sukai. Dia lebih suka mentaati Rabbnya, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya karena takut pada siksaan dan selalu mengharap ganjaran-Nya. Sebagian salaf mengatakan, “Beruntunglah orang yang meninggalkan syahwat yang ada di hadapannya karena mengharap janji Rabb yang tidak nampak di hadapannya.”. Oleh karena itu, Allah membalas orang yang melakukan puasa seperti ini dan Dia pun mengkhususkan amalan puasa tersebut untuk-Nya dibanding amalan-amalan lainnya. [Alasan kedua] Puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabbnya yang tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Amalan puasa berasal dari niat batin yang hanya Allah saja yang mengetahuinya dan dalam amalan puasa ini terdapat bentuk meninggalkan berbagai syahwat. Oleh karena itu, Imam Ahmad dan selainnya mengatakan, “Dalam puasa sulit sekali terdapat riya’ (ingin dilihat/dipuji orang lain).” Dari dua alasan inilah, Allah menyandarkan amalan puasa pada-Nya berbeda dengan amalan lainnya. Sebab Pahala Puasa, Seseorang Memasuki Surga Lalu dalam riwayat lainnya dikatakan, “Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan  puasa adalah untuk-Ku.” Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan, “Pada hari kiamat nanti, Allah Ta’ala akan menghisab hamba-Nya. Setiap amalan akan menembus berbagai macam kezholiman yang pernah dilakukan, hingga tidak tersisa satu pun kecuali satu amalan yaitu puasa. Amalan puasa ini akan Allah simpan dan akhirnya Allah memasukkan orang tersebut ke surga.” Jadi, amalan puasa adalah untuk Allah Ta’ala. Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang pun mengambil ganjaran amalan puasa tersebut sebagai tebusan baginya. Ganjaran amalan puasa akan disimpan bagi pelakunya di sisi Allah Ta’ala. Dengan kata lain, seluruh amalan kebaikan dapat menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan oleh pelakunya. Sehingga karena banyaknya dosa yang dilakukan, seseorang tidak lagi memiliki pahala kebaikan apa-apa. Ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa hari kiamat nanti antara amalan kejelekan dan kebaikan akan ditimbang, satu yang lainnya akan saling memangkas. Lalu tersisalah satu kebaikan dari amalan-amalan kebaikan tadi yang menyebabkan pelakunya masuk surga. Itulah amalan puasa yang akan tersimpan di sisi Allah. Amalan kebaikan lain akan memangkas kejelekan yang dilakukan oleh seorang hamba. Ketika tidak tersisa satu kebaikan kecuali puasa, Allah akan menyimpan amalan puasa tersebut dan akan memasukkan hamba yang memiliki simpanan amalan puasa tadi ke dalam surga. Baca Juga: Apakah Nabi Shalat Malam dan Puasa Sunnah Terus Menerus? Dua Kebahagiaan yang Diraih Orang yang Berpuasa Dalam hadits di atas dikatakan, “Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya.” Kebahagiaan pertama adalah ketika seseorang berbuka puasa. Ketika berbuka, jiwa begitu ingin mendapat hiburan dari hal-hal yang dia rasakan tidak menyenangkan ketika berpuasa, yaitu jiwa sangat senang menjumpai makanan, minuman dan menggauli istri. Jika seseorang dilarang dari berbagai macam syahwat ketika berpuasa, dia akan merasa senang jika hal tersebut diperbolehkan lagi. Kebahagiaan kedua adalah ketika seorang hamba berjumpa dengan Rabbnya yaitu dia akan jumpai pahala amalan puasa yang dia lakukan tersimpan di sisi Allah. Itulah ganjaran besar yang sangat dia butuhkan. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا “Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al Muzammil: 20) يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا “Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya).” (QS. Ali Imron: 30) فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.” (QS. Az Zalzalah: 7) Baca Juga: Lakukanlah Puasa Sunnah Minimal Sebulan 3 Kali Bau Mulut Orang yang Berpuasa di Sisi Allah Ganjaran bagi orang yang berpuasa yang disebutkan pula dalam hadits di atas , “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” Seperti kita tahu bersama bahwa bau mulut orang yang berpuasa apalagi di siang hari sungguh tidak mengenakkan. Namun bau mulut seperti ini adalah bau yang menyenangkan di sisi Allah karena bau ini dihasilkan dari amalan ketaatan dank arena mengharap ridho Allah. Sebagaimana pula darah orang yang mati syahid pada hari kiamat nanti, warnanya adalah warna darah, namun baunya adalah bau minyak kasturi. Harumnya bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah ini ada dua sebab: [Pertama] Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Allah di dunia. Ketika di akhirat, Allah pun menampakkan amalan puasa ini sehingga makhluk pun tahu bahwa dia adalah orang yang gemar berpuasa. Allah memberitahukan amalan puasa yang dia lakukan di hadapan manusia lainnya karena dulu di dunia, dia berusaha keras menyembunyikan amalan tersebut dari orang lain. Inilah bau mulut yang harum yang dinampakkan oleh Allah di hari kiamat nanti karena amalan rahasia yang dia lakukan. [Kedua] Barangsiapa yang beribadah dan mentaati Allah, selalu mengharap ridho Allah di dunia melalui amalan yang dia lakukan, lalu muncul dari amalannya tersebut bekas yang tidak terasa enak bagi jiwa di dunia, maka bekas seperti ini tidaklah dibenci di sisi Allah. Bahkan bekas tersebut adalah sesuatu yang Allah cintai dan baik di sisi-Nya. Hal ini dikarenakan bekas yang tidak terasa enak tersebut  muncul karena melakukan ketaatan dan mengharap ridho Allah. Oleh karena itu, Allah pun membalasnya dengan memberikan bau harum pada mulutnya yang menyenangkan seluruh makhluk, walaupun bau tersebut tidak terasa enak di sisi makluk ketika di dunia.[2] Baca Juga: Bolehkah Membatalkan Puasa Sunnah di Saat Undangan Makan? Ganjaran Puasa Lainnya # Puasa adalah perisai dari api neraka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ ”Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari api neraka.”[3] # Amalan puasa akan memberikan syafa’at bagi orang yang menjalankannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ ”Amalan puasa dan amalan Al Qur’an itu akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Amalan puasa akan berkata, “Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat, karenanya perkenankan aku untuk memberikan syafa’at kepadanya”. Dan amalan Al Qur’an pula berkata, “Saya telah melarangnya dari tidur pada malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya.” Beliau bersabda, “Maka syafa’at keduanya diperkenankan”.“[4] # Bagi orang yang berpuasa akan disediakan pintu surga Ar Royyan Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ ”Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang bernama Ar-Royyaan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Dikatakan kepada mereka, “Di mana orang-orang yang berpuasa?” Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk, pintu tersebut ditutup dan tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut”[5] Semoga dengan mengetahui keutamaan ini kita bisa lebih giat memperbanyakan amalan puasa sunnah. Hanya Allah yang beri taufik. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Baca Juga: Apakah Nabi Shalat Malam dan Puasa Sunnah Terus Menerus? Niat Puasa Sunnah Boleh di Pagi Hari [1] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 12/117, Muassasah Qurthubah. [2] Pembahasan ini kami sarikan dari Latho’if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, 268-290 ditambah beberapa sumber lainnya. [3] HR. Ahmad dan Baihaqi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ [4] HR. Ahmad, Hakim, Thabrani, periwayatnya shahih sebagaimana dikatakan oleh Al Haytsami dalam Majma’ Zawaid. [5] HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152. Tagskeutamaan puasa

Menjawab Kerancuan VCD Pelecehan Islam (Seri 3)

Para pengunjung setia Rumaysho.com yang semoga selalu mendapatkan penjagaan Allah, selanjutnya kita masuk ke pembahasan terakhir dari jawaban terhadap kerancuan yang dimunculkan dalam VCD Pelecehan Islam. Dalam serial terakhir ini, kita akan melihat Mohammad Ali Makrus menyatakan bahwa yang disembelih oleh Ibrahim bukanlah Ismail, namun Ishaq. Begitu pula dalam serial ini kita akan melihat bentuk-bentuk pelecehan lainnya. Terakhir, kami suguhkan bagaimanakah kita menangkal kristenisasi. Semoga bermanfaat. Kerancuan Kelima Dia juga mengatakan,”Isi dalam Al Qur’an itu tidak ada satu pun yang salah, namun hanya terjadi kesalah pahaman. Contoh kecil adalah dalam perayaan Idul Adha. Menurut Islam yang disembelih adalah Ismail sedangkan menurut Kristen adalah Iskak (mungkin yang dimaksudkan adalah Ishaq, pen).” Kemudian dia mengatakan,”Mana dalilnya yang menyatakan bahwa yang disembelih adalah Ismail?” Lalu dia begitu tegasnya mengatakan,”Tidak ada satu pun ayat yang menyatakan bahwa yang disembelih adalah Ismail. Justru yang disembelih oleh Ibrahim adalah Ishaq walaupun pada akhirnya diganti domba. Di dalam kitab suci Al Qur’an, yang dikatakan disembelih adalah Ishaq bukan Ismail.” Bantahan: Kami begitu heran, kok dia begitu lancangnya menyatakan demikian sebagaimana dia menyatakan pula bahwa tidak ada satu ayat pun yang memerintahkan mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena dia mengatakan dengan membawa nama Al Qur’an maka kami akan buktikan dengan membawa ayat dan tafsir mengenai hal ini. Marilah kita lihat tentang kisah Ibrahim, Isma’il dan Ishaq pada Surat Ash Shafaat ayat 100-113. رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (111) وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ (112) وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ (113) “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar (yaitu Ismail). Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.” Lalu apakah betul anak yang disembelih adalah Ishaq? Hal ini sudah dijawab oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Mari kita lihat! “Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar”. Anak ini adalah Ismail ‘alaihis salam. Karena Ismail adalah anak pertama Ibrahim ‘alaihis salam. Dan Ismail lebih tua daripada Ishaq dengan kesepakatan (ijma’) kaum muslimin dan ahlul kitab (Yahudi dan Nashrani, pen). Bahkan di dalam Kitab mereka (Taurat dan Injil, pen), Isma’il lahir pada saat Ibrahim berumur 86 tahun, sedangkan Ishaq lahir pada saat Ibrahim beumur 99 tahun. Menurut Ahlul Kitab, sesungguhnya Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya yang wahid (tunggal). Dan di naskah lain dikatakan ‘bikr (anak pertama)’. Lalu mereka melempar (menghilangkan) perkataan ini dengan melakukan kedustaan dan kebohongan, yaitu sengaja mengganti dengan nama Ishaq. Mereka tidak membolehkan (menyetujui) hal ini karena menyelisihi nash kitab mereka. Sesungguhnya mereka mengganti dengan nama Ishaq karena Ishaq adalah bapak mereka. Sedangkan Isma’il adalah bapak orang Arab. Oleh karena itu mereka dengki kepada orang Arab (umat Islam), lalu menambahkan demikian dan mereka merubah nama anak pertama Ibrahim ini. Sebagian ulama juga telah berpendapat bahwa yang disembelih adalah Ishaq sebagaimana diceritakan dari beberapa salaf, bahkan dikatakan pula oleh beberapa orang sahabat. Dan pendapat ini tidaklah berlandaskan pada Kitab (Al Qur’an) maupun Sunnah. Aku menduga bahwa hal ini tidaklah didapatkan kecuali dari berita Ahli Kitab lalu diambil oleh kaum muslimin tanpa ada hajat (kebutuhan). Padahal Al Qur’an telah menjadi saksi dan petunjuk bahwa yang disembelih adalah Isma’il. Karena Ismail telah disebut dengan ‘seorang anak yang amat sabar’ dan sisebutkan bahwa dia disembelih. Kemudian dikatakan pada ayat berikutnya ‘Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh’. Dan tatkala malaikat memberi kabar mengenai kelahiran Ishaq, mereka mengatakan, { إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلامٍ عَلِيمٍ } “Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki yang alim” (QS. Al Hijr [15] : 53) Kemudian Allah firmankan pula, { فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ } “Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan setelah Ishak  adalah Ya’qub.” (QS. Hud [11] : 71) Yaitu akan lahir bagi Ibrahim dalam kehidupan Ibrahim dan Istrinya Ya’qub. Ya’qub inilah yang darinya akan lahir keturunan dan cucu Ibrahim. Dan telah lewat di atas bahwa tidak boleh setelah ini, Ibrahim diperintahkan menyembelih Ishaq padahal dia masih kecil (lihat umur Ishaq dan Ismail di atas selisih 13 tahun). Karena Allah Ta’ala telah menjanjikan bagi Ibrahim dan istrinya keturunan dan cucu. Bagaimana mungkin setelah ini, Ibrahim diperintahkan menyembelih Ishaq sedangkan dia masih kecil? Sedangkan Isma’il disifati dengan ‘hilm’ (sabar) di sini karena hal ini lebih sesuai dengan konteks ayat.” Demikianlah penjelasan dari Ibnu Katsir. Tafsiran yang lainnya pula –yang insya Allah akan lebih memperjelas- adalah perkataan Syaikh Muhammad Amin Asy Syinqithi dalam tafsirnya Adwa’ul Bayan. Beliau rahimahullah mengatakan,”Ketahuilah –semoga Allah memberi taufik kepadaku dan kepada engkau-. Sesungguhnya Al Qur’an Al ‘Azhim telah menunjukkan pada dua tempat bahwa yang disembelih adalah Isma’il dan bukanlah Ishaq. Yang pertama pada surat Ash Shoffaat dan yang kedua pada surat Hud.” Yang pertama adalah pada surat Ash Shoffaat sebagaimana telah kami tunjukkan di atas dan yang kedua adalah surat Hud ayat 71 di atas. Ringkasnya, Syaikh Muhammad Asy Syinqithi menjelaskan bahwa : # Yang menunjukkan bahwa Isma’il-lah yang disembelih adalah berdasarkan konteks ayat. Dapat kita lihat dari jalan cerita ayat ini. Pada awalnya Ibrahim dikabarkan akan mendapatkan anak yang amat sabar. Kemudian pada ayat 112, Ibrahim dikabarkan akan mendapatkan Ishaq yang akan lahir darinya cucu yaitu Ya’qub. Maka hal ini menunjukkan bahwa berita pertama adalah berbeda dengan berita kedua. Karena tidak boleh membawa maksud Al Qur’an bahwa berita pertama adalah mengenai Ishaq. Kemudian setelah disembelih, lalu pada akhir kisah disebut lagi ‘telah Kami kabarkan pada Ibrahim mengenai Ishaq’. Maka ini merupakan pengulangan tanpa ada faedah dan apa gunanya Allah menurunkannya berulang. Oleh karena itu, ayat ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa yang anak yang diberitakan pertama kali lalu disembelih adalah Isma’il. Sedangkan berita mengenai Ishaq adalah nash yang berdiri sendiri setelah itu. # Adapun pada ayat kedua yaitu surat Hud ayat 17. Yaitu bahwasanya utusan Allah dari malaikat menyampaikan kabar gembira kepada Ibrahim mengenai Ishaq. Lalu Ishaq akan melahirkan Ya’qub. Maka sungguh tidak masuk akal, Ibrahim diperintahkan menyembelih Ishaq padahal dia masih kecil dan Ibrahim telah meyakini bahwa dia akan hidup hingga Ya’qub lahir. Dari penjelasan ini, kita dapat lihat siapakah yang salah paham, Si Habib ini ataukah para ulama ahli tafsir. Tentu ulama ahli tafsir lebih berilmu dan lebih paham daripada dia.   Bentuk Pelecehan terhadap Umat Islam dalam VCD Ini [1]      Menyebut umat Islam dengan Bani Kedar yang merupakan singkatan dari ‘kedelai liar’. Sungguh ini pelecehan yang sangat keterlaluan! [2]      Orang kristen lahir dari perempuan-perempuan merdeka (berasal dari Istri Nabi Ibrahim yang bernama Sarah) jadi orang kristen adalah anak-anak Raja. Sedangkan umat Islam berasal dari perempuan-perempuan hamba (alias budak, karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan keturunan Nabi Isma’il yang ibunya adalah Hajar yang merupakan budak). [3]      Orang kristen adalah majikan sedangkan orang Islam adalah pembantu. Yang namanya pembantu pasti bangunnya lebih cepat dari majikan karena pembantu harus bersih-bersih dulu dan masak karena itulah tugas pembantu. Kenapa harus bayar pembantu kalau dia bangun belakangan? Oleh karena itu, orang Islam bangunnya lebih cepat yaitu pada waktu adzan shubuh sedangkan orang kristen masih kemul-kemulan. [4]      Air zam-zam itu tidak ada. Yang ada adalah air hasil penyulingan made in PDAM Saudi Arabia. [5]      Hadirnya shalawat itu ada riwayatnya sendiri. Shalawat ini turun ketika Nabi Muhammad mau meninggal. [6]      Umat Islam bangun pagi untuk shalat shubuh karena dua alasan : [a] Yesus itu dibangkitkan pada waktu shubuh dan [b] Yesus akan datang pada hari kiamat pada waktu shubuh. Itulah dua alasan kenapa umat Islam melakukan shalat pada waktu shubuh. [7]      Sumur zam-zam itu ditulis dengan tatanan huruf alif lam mim. Alif adalah Allah, Lam itu air, sedangkan Mim adalah kehidupan. [8]      Yesus ditulis di Al Qur’an 75% sedangkan Muhammad cuma 2%. [9]      Orang yang naik haji kemudian keliling Ka’bah sebanyak 7x kemudian melempar jumroh dikatakan sebagai permainan anak kecil. [10]  Hajar aswad itu dihuni oleh 8888 jin yang dikepalai oleh 1 jin yang bernama Hudha Al Fitiri. Cium hajar aswad dikatakan mencium jin dan ini dilakukan dengan rebutan. Pikiran orang yang mencium hajar aswad itu perlu dibawa ke pskiater, karena jin kok jadi rebutan untuk dicium.   PENANGKAL KRISTENISASI   Hanya Islam yang Benar Allah ta’ala berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia, ”Dan barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat nanti dia pasti termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran [3] : 85). Al Alusi menerangkan di dalam tafsirnya bahwa ayat ini turun terkait dengan sekelompok orang yang murtad. Jumlah mereka ada 12 orang. Mereka meninggalkan Madinah dan mendatangi Mekah sebagai orang yang telah kafir. Di antara mereka terdapat Al Harits bin Suwaid Al Anshari. Di dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa siapa saja yang memilih ajaran selain syari’at Nabi Muhammad setelah beliau diutus maka ajaran itu tidak diterima oleh Allah (Ruhul ma’ani, Maktabah Syamilah) Allah ta’ala berfirman, وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلا الإيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ ، صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ أَلا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الأمُورُ “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.” (QS. Asy Syura [42] : 52-53) Allah menyatakan kafirnya orang yang menganggap Nabi ‘Isa adalah titisan Allah. Allah berfirman yang artinya, “Sungguh telah kafir orang yang berkata bahwa Al Masih putera Maryam adalah Allah…” (QS. Al Maa’idah [5] : 17). Allah juga menolak mentah-mentah paham trinitas di dalam Kitab-Nya. Allah berfirman yang artinya, “Sungguh telah kafir orang yang mengatakan bahwa Allah adalah satu di antara tiga oknum…” (QS. Al Maa’idah [5] : 73). Orang Kafir Kekal di Neraka Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab (Yahudi atau Nasrani) dan orang-orang musyrik pasti akan kekal berada di dalam neraka. Mereka itulah sejelek-jelek makhluk.” (QS. Al  Bayyinah [98] : 6). Ath Thabari menerangkan di dalam kitab tafsirnya bahwa yang dimaksud dengan ahli kitab adalah Yahudi dan Nasrani (Tafsir Ath Thabari, Maktabah Syamilah). Allah ta’ala pun menyatakan bahwa seandainya orang kafir memiliki kekayaan dua kali lipat isi bumi ini untuk dijadikan sebagai penebus siksa maka itu tidak akan diterima oleh Allah. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya seandainya orang-orang kafir itu mempunyai kekayaan sepenuh isi bumi dan yang semisalnya bersama itu demi menebus siksa pada hari kiamat maka hal itu tidak akan diterima dari mereka, dan mereka memang berhak menerima siksa yang sangat pedih.” (QS. Al Maa’idah [5] : 36) Kaum muslimin sekalian, semoga Allah mencurahkan taufik-Nya kepada kita. Setelah kita perhatikan ayat-ayat di atas maka tidak ada lagi alasan bagi siapa pun untuk rela melepas aqidah Islam dari dalam dada. Bagaimana mungkin? Allah telah menyatakan bahwa Islam-lah agama yang benar. Allah telah menyatakan bahwa kerugian pasti didapatkan oleh selain pemeluk Islam. Dan Allah pun telah menyatakan bahwa agama Nasrani adalah agama kekafiran. Dan Allah pun menegaskan bahwa hukuman bagi orang kafir adalah kekal di dalam neraka. Lantas siapakah yang merelakan jiwa dan raganya untuk disiksa di dalam api neraka yang menyala-nyala ?! Wahai umat Islam, selamatkanlah diri kalian dari kehancuran. Ancaman bagi orang yang meninggalkan kebenaran Sungguh sangat mengerikan ancaman yang Allah tujukan kepada orang yang sengaja menentang Allah dan mengambil jalan lain di luar jalan orang-orang yang beriman. Allah ta’ala berfirman, وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا ”Barang siapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti jalan selain jalannya kaum beriman maka niscaya Kami akan membiarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami pun akan memasukkannya ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.” (QS. An Nisaa’ [4] : 115) Allah ta’ala juga berirman, فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ”Maka hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisih urusan rasul, kalau-kalau tiba-tiba mereka itu tertimpa fitnah atau azab yang pedih.” (QS. An Nuur [24] : 63) Maka dari itu, mengenali hakikat jalan lurus adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar-tawar. Jalan yang lurus itu adalah Shirathalladziina an’amta ‘alaihim. Jalan tersebut adalah jalan orang-orang yang mendapat karunia nikmat dari Allah. Ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhaalliin. Bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan tersesat. Dengan demikian ada tiga buah jalan yang terbentang. Satu jalan menuju kebahagiaan, dan dua jalan yang lain berakhir dengan kesengsaraan. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan,”Jalan yang lurus ini adalah jalan orang-orang yang diberi kenikmatan khusus oleh Allah, yaitu jalan para nabi, orang-orang yang shiddiq, para syuhada dan orang-orang shalih. Bukan jalan orang yang dimurkai, yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran namun sengaja mencampakkannya seperti halnya kaum Yahudi dan orang-orang semacam mereka. Dan jalan ini bukanlah  jalan yang ditempuh orang yang sesat; yaitu orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan mereka, seperti halnya kaum Nasrani dan orang-orang semacam mereka.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 39) Dengan demikian jalan yang lurus adalah jalan Islam. Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan sebuah riwayat dari Maimun bin Mihran dari Ibnu ‘Abbas bahwa makna shirathal mustaqim adalah Islam, tafsiran serupa dikatakan oleh beberapa orang sahabat yang lain. Sedangkan menurut Mujahid yang dimaksud dengan shirathal mustaqim adalah kebenaran (lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/36) Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Dan semoga Allah memperbaiki keadaan mereka, memberikan mereka bashiroh (ilmu dan keyakinan), dan menunjuki mereka kepada shirotol mustaqim yaitu jalan para Nabi, para shidiqin, para syuhada’, dan orang-orang sholih, sehingga mereka dapat terselamatkan pada hari yang tidak bermanfaat harta maupun anak kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Shalawat dan Salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal dan Abu Mushlih Ari Wahyudi Editor: Ustadz Aris Munandar, SS Artikel https://rumaysho.com Ditulis pada bulan Syawwal 1428 H   Tagstrinitas

Menjawab Kerancuan VCD Pelecehan Islam (Seri 3)

Para pengunjung setia Rumaysho.com yang semoga selalu mendapatkan penjagaan Allah, selanjutnya kita masuk ke pembahasan terakhir dari jawaban terhadap kerancuan yang dimunculkan dalam VCD Pelecehan Islam. Dalam serial terakhir ini, kita akan melihat Mohammad Ali Makrus menyatakan bahwa yang disembelih oleh Ibrahim bukanlah Ismail, namun Ishaq. Begitu pula dalam serial ini kita akan melihat bentuk-bentuk pelecehan lainnya. Terakhir, kami suguhkan bagaimanakah kita menangkal kristenisasi. Semoga bermanfaat. Kerancuan Kelima Dia juga mengatakan,”Isi dalam Al Qur’an itu tidak ada satu pun yang salah, namun hanya terjadi kesalah pahaman. Contoh kecil adalah dalam perayaan Idul Adha. Menurut Islam yang disembelih adalah Ismail sedangkan menurut Kristen adalah Iskak (mungkin yang dimaksudkan adalah Ishaq, pen).” Kemudian dia mengatakan,”Mana dalilnya yang menyatakan bahwa yang disembelih adalah Ismail?” Lalu dia begitu tegasnya mengatakan,”Tidak ada satu pun ayat yang menyatakan bahwa yang disembelih adalah Ismail. Justru yang disembelih oleh Ibrahim adalah Ishaq walaupun pada akhirnya diganti domba. Di dalam kitab suci Al Qur’an, yang dikatakan disembelih adalah Ishaq bukan Ismail.” Bantahan: Kami begitu heran, kok dia begitu lancangnya menyatakan demikian sebagaimana dia menyatakan pula bahwa tidak ada satu ayat pun yang memerintahkan mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena dia mengatakan dengan membawa nama Al Qur’an maka kami akan buktikan dengan membawa ayat dan tafsir mengenai hal ini. Marilah kita lihat tentang kisah Ibrahim, Isma’il dan Ishaq pada Surat Ash Shafaat ayat 100-113. رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (111) وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ (112) وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ (113) “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar (yaitu Ismail). Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.” Lalu apakah betul anak yang disembelih adalah Ishaq? Hal ini sudah dijawab oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Mari kita lihat! “Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar”. Anak ini adalah Ismail ‘alaihis salam. Karena Ismail adalah anak pertama Ibrahim ‘alaihis salam. Dan Ismail lebih tua daripada Ishaq dengan kesepakatan (ijma’) kaum muslimin dan ahlul kitab (Yahudi dan Nashrani, pen). Bahkan di dalam Kitab mereka (Taurat dan Injil, pen), Isma’il lahir pada saat Ibrahim berumur 86 tahun, sedangkan Ishaq lahir pada saat Ibrahim beumur 99 tahun. Menurut Ahlul Kitab, sesungguhnya Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya yang wahid (tunggal). Dan di naskah lain dikatakan ‘bikr (anak pertama)’. Lalu mereka melempar (menghilangkan) perkataan ini dengan melakukan kedustaan dan kebohongan, yaitu sengaja mengganti dengan nama Ishaq. Mereka tidak membolehkan (menyetujui) hal ini karena menyelisihi nash kitab mereka. Sesungguhnya mereka mengganti dengan nama Ishaq karena Ishaq adalah bapak mereka. Sedangkan Isma’il adalah bapak orang Arab. Oleh karena itu mereka dengki kepada orang Arab (umat Islam), lalu menambahkan demikian dan mereka merubah nama anak pertama Ibrahim ini. Sebagian ulama juga telah berpendapat bahwa yang disembelih adalah Ishaq sebagaimana diceritakan dari beberapa salaf, bahkan dikatakan pula oleh beberapa orang sahabat. Dan pendapat ini tidaklah berlandaskan pada Kitab (Al Qur’an) maupun Sunnah. Aku menduga bahwa hal ini tidaklah didapatkan kecuali dari berita Ahli Kitab lalu diambil oleh kaum muslimin tanpa ada hajat (kebutuhan). Padahal Al Qur’an telah menjadi saksi dan petunjuk bahwa yang disembelih adalah Isma’il. Karena Ismail telah disebut dengan ‘seorang anak yang amat sabar’ dan sisebutkan bahwa dia disembelih. Kemudian dikatakan pada ayat berikutnya ‘Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh’. Dan tatkala malaikat memberi kabar mengenai kelahiran Ishaq, mereka mengatakan, { إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلامٍ عَلِيمٍ } “Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki yang alim” (QS. Al Hijr [15] : 53) Kemudian Allah firmankan pula, { فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ } “Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan setelah Ishak  adalah Ya’qub.” (QS. Hud [11] : 71) Yaitu akan lahir bagi Ibrahim dalam kehidupan Ibrahim dan Istrinya Ya’qub. Ya’qub inilah yang darinya akan lahir keturunan dan cucu Ibrahim. Dan telah lewat di atas bahwa tidak boleh setelah ini, Ibrahim diperintahkan menyembelih Ishaq padahal dia masih kecil (lihat umur Ishaq dan Ismail di atas selisih 13 tahun). Karena Allah Ta’ala telah menjanjikan bagi Ibrahim dan istrinya keturunan dan cucu. Bagaimana mungkin setelah ini, Ibrahim diperintahkan menyembelih Ishaq sedangkan dia masih kecil? Sedangkan Isma’il disifati dengan ‘hilm’ (sabar) di sini karena hal ini lebih sesuai dengan konteks ayat.” Demikianlah penjelasan dari Ibnu Katsir. Tafsiran yang lainnya pula –yang insya Allah akan lebih memperjelas- adalah perkataan Syaikh Muhammad Amin Asy Syinqithi dalam tafsirnya Adwa’ul Bayan. Beliau rahimahullah mengatakan,”Ketahuilah –semoga Allah memberi taufik kepadaku dan kepada engkau-. Sesungguhnya Al Qur’an Al ‘Azhim telah menunjukkan pada dua tempat bahwa yang disembelih adalah Isma’il dan bukanlah Ishaq. Yang pertama pada surat Ash Shoffaat dan yang kedua pada surat Hud.” Yang pertama adalah pada surat Ash Shoffaat sebagaimana telah kami tunjukkan di atas dan yang kedua adalah surat Hud ayat 71 di atas. Ringkasnya, Syaikh Muhammad Asy Syinqithi menjelaskan bahwa : # Yang menunjukkan bahwa Isma’il-lah yang disembelih adalah berdasarkan konteks ayat. Dapat kita lihat dari jalan cerita ayat ini. Pada awalnya Ibrahim dikabarkan akan mendapatkan anak yang amat sabar. Kemudian pada ayat 112, Ibrahim dikabarkan akan mendapatkan Ishaq yang akan lahir darinya cucu yaitu Ya’qub. Maka hal ini menunjukkan bahwa berita pertama adalah berbeda dengan berita kedua. Karena tidak boleh membawa maksud Al Qur’an bahwa berita pertama adalah mengenai Ishaq. Kemudian setelah disembelih, lalu pada akhir kisah disebut lagi ‘telah Kami kabarkan pada Ibrahim mengenai Ishaq’. Maka ini merupakan pengulangan tanpa ada faedah dan apa gunanya Allah menurunkannya berulang. Oleh karena itu, ayat ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa yang anak yang diberitakan pertama kali lalu disembelih adalah Isma’il. Sedangkan berita mengenai Ishaq adalah nash yang berdiri sendiri setelah itu. # Adapun pada ayat kedua yaitu surat Hud ayat 17. Yaitu bahwasanya utusan Allah dari malaikat menyampaikan kabar gembira kepada Ibrahim mengenai Ishaq. Lalu Ishaq akan melahirkan Ya’qub. Maka sungguh tidak masuk akal, Ibrahim diperintahkan menyembelih Ishaq padahal dia masih kecil dan Ibrahim telah meyakini bahwa dia akan hidup hingga Ya’qub lahir. Dari penjelasan ini, kita dapat lihat siapakah yang salah paham, Si Habib ini ataukah para ulama ahli tafsir. Tentu ulama ahli tafsir lebih berilmu dan lebih paham daripada dia.   Bentuk Pelecehan terhadap Umat Islam dalam VCD Ini [1]      Menyebut umat Islam dengan Bani Kedar yang merupakan singkatan dari ‘kedelai liar’. Sungguh ini pelecehan yang sangat keterlaluan! [2]      Orang kristen lahir dari perempuan-perempuan merdeka (berasal dari Istri Nabi Ibrahim yang bernama Sarah) jadi orang kristen adalah anak-anak Raja. Sedangkan umat Islam berasal dari perempuan-perempuan hamba (alias budak, karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan keturunan Nabi Isma’il yang ibunya adalah Hajar yang merupakan budak). [3]      Orang kristen adalah majikan sedangkan orang Islam adalah pembantu. Yang namanya pembantu pasti bangunnya lebih cepat dari majikan karena pembantu harus bersih-bersih dulu dan masak karena itulah tugas pembantu. Kenapa harus bayar pembantu kalau dia bangun belakangan? Oleh karena itu, orang Islam bangunnya lebih cepat yaitu pada waktu adzan shubuh sedangkan orang kristen masih kemul-kemulan. [4]      Air zam-zam itu tidak ada. Yang ada adalah air hasil penyulingan made in PDAM Saudi Arabia. [5]      Hadirnya shalawat itu ada riwayatnya sendiri. Shalawat ini turun ketika Nabi Muhammad mau meninggal. [6]      Umat Islam bangun pagi untuk shalat shubuh karena dua alasan : [a] Yesus itu dibangkitkan pada waktu shubuh dan [b] Yesus akan datang pada hari kiamat pada waktu shubuh. Itulah dua alasan kenapa umat Islam melakukan shalat pada waktu shubuh. [7]      Sumur zam-zam itu ditulis dengan tatanan huruf alif lam mim. Alif adalah Allah, Lam itu air, sedangkan Mim adalah kehidupan. [8]      Yesus ditulis di Al Qur’an 75% sedangkan Muhammad cuma 2%. [9]      Orang yang naik haji kemudian keliling Ka’bah sebanyak 7x kemudian melempar jumroh dikatakan sebagai permainan anak kecil. [10]  Hajar aswad itu dihuni oleh 8888 jin yang dikepalai oleh 1 jin yang bernama Hudha Al Fitiri. Cium hajar aswad dikatakan mencium jin dan ini dilakukan dengan rebutan. Pikiran orang yang mencium hajar aswad itu perlu dibawa ke pskiater, karena jin kok jadi rebutan untuk dicium.   PENANGKAL KRISTENISASI   Hanya Islam yang Benar Allah ta’ala berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia, ”Dan barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat nanti dia pasti termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran [3] : 85). Al Alusi menerangkan di dalam tafsirnya bahwa ayat ini turun terkait dengan sekelompok orang yang murtad. Jumlah mereka ada 12 orang. Mereka meninggalkan Madinah dan mendatangi Mekah sebagai orang yang telah kafir. Di antara mereka terdapat Al Harits bin Suwaid Al Anshari. Di dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa siapa saja yang memilih ajaran selain syari’at Nabi Muhammad setelah beliau diutus maka ajaran itu tidak diterima oleh Allah (Ruhul ma’ani, Maktabah Syamilah) Allah ta’ala berfirman, وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلا الإيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ ، صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ أَلا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الأمُورُ “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.” (QS. Asy Syura [42] : 52-53) Allah menyatakan kafirnya orang yang menganggap Nabi ‘Isa adalah titisan Allah. Allah berfirman yang artinya, “Sungguh telah kafir orang yang berkata bahwa Al Masih putera Maryam adalah Allah…” (QS. Al Maa’idah [5] : 17). Allah juga menolak mentah-mentah paham trinitas di dalam Kitab-Nya. Allah berfirman yang artinya, “Sungguh telah kafir orang yang mengatakan bahwa Allah adalah satu di antara tiga oknum…” (QS. Al Maa’idah [5] : 73). Orang Kafir Kekal di Neraka Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab (Yahudi atau Nasrani) dan orang-orang musyrik pasti akan kekal berada di dalam neraka. Mereka itulah sejelek-jelek makhluk.” (QS. Al  Bayyinah [98] : 6). Ath Thabari menerangkan di dalam kitab tafsirnya bahwa yang dimaksud dengan ahli kitab adalah Yahudi dan Nasrani (Tafsir Ath Thabari, Maktabah Syamilah). Allah ta’ala pun menyatakan bahwa seandainya orang kafir memiliki kekayaan dua kali lipat isi bumi ini untuk dijadikan sebagai penebus siksa maka itu tidak akan diterima oleh Allah. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya seandainya orang-orang kafir itu mempunyai kekayaan sepenuh isi bumi dan yang semisalnya bersama itu demi menebus siksa pada hari kiamat maka hal itu tidak akan diterima dari mereka, dan mereka memang berhak menerima siksa yang sangat pedih.” (QS. Al Maa’idah [5] : 36) Kaum muslimin sekalian, semoga Allah mencurahkan taufik-Nya kepada kita. Setelah kita perhatikan ayat-ayat di atas maka tidak ada lagi alasan bagi siapa pun untuk rela melepas aqidah Islam dari dalam dada. Bagaimana mungkin? Allah telah menyatakan bahwa Islam-lah agama yang benar. Allah telah menyatakan bahwa kerugian pasti didapatkan oleh selain pemeluk Islam. Dan Allah pun telah menyatakan bahwa agama Nasrani adalah agama kekafiran. Dan Allah pun menegaskan bahwa hukuman bagi orang kafir adalah kekal di dalam neraka. Lantas siapakah yang merelakan jiwa dan raganya untuk disiksa di dalam api neraka yang menyala-nyala ?! Wahai umat Islam, selamatkanlah diri kalian dari kehancuran. Ancaman bagi orang yang meninggalkan kebenaran Sungguh sangat mengerikan ancaman yang Allah tujukan kepada orang yang sengaja menentang Allah dan mengambil jalan lain di luar jalan orang-orang yang beriman. Allah ta’ala berfirman, وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا ”Barang siapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti jalan selain jalannya kaum beriman maka niscaya Kami akan membiarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami pun akan memasukkannya ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.” (QS. An Nisaa’ [4] : 115) Allah ta’ala juga berirman, فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ”Maka hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisih urusan rasul, kalau-kalau tiba-tiba mereka itu tertimpa fitnah atau azab yang pedih.” (QS. An Nuur [24] : 63) Maka dari itu, mengenali hakikat jalan lurus adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar-tawar. Jalan yang lurus itu adalah Shirathalladziina an’amta ‘alaihim. Jalan tersebut adalah jalan orang-orang yang mendapat karunia nikmat dari Allah. Ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhaalliin. Bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan tersesat. Dengan demikian ada tiga buah jalan yang terbentang. Satu jalan menuju kebahagiaan, dan dua jalan yang lain berakhir dengan kesengsaraan. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan,”Jalan yang lurus ini adalah jalan orang-orang yang diberi kenikmatan khusus oleh Allah, yaitu jalan para nabi, orang-orang yang shiddiq, para syuhada dan orang-orang shalih. Bukan jalan orang yang dimurkai, yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran namun sengaja mencampakkannya seperti halnya kaum Yahudi dan orang-orang semacam mereka. Dan jalan ini bukanlah  jalan yang ditempuh orang yang sesat; yaitu orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan mereka, seperti halnya kaum Nasrani dan orang-orang semacam mereka.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 39) Dengan demikian jalan yang lurus adalah jalan Islam. Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan sebuah riwayat dari Maimun bin Mihran dari Ibnu ‘Abbas bahwa makna shirathal mustaqim adalah Islam, tafsiran serupa dikatakan oleh beberapa orang sahabat yang lain. Sedangkan menurut Mujahid yang dimaksud dengan shirathal mustaqim adalah kebenaran (lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/36) Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Dan semoga Allah memperbaiki keadaan mereka, memberikan mereka bashiroh (ilmu dan keyakinan), dan menunjuki mereka kepada shirotol mustaqim yaitu jalan para Nabi, para shidiqin, para syuhada’, dan orang-orang sholih, sehingga mereka dapat terselamatkan pada hari yang tidak bermanfaat harta maupun anak kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Shalawat dan Salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal dan Abu Mushlih Ari Wahyudi Editor: Ustadz Aris Munandar, SS Artikel https://rumaysho.com Ditulis pada bulan Syawwal 1428 H   Tagstrinitas
Para pengunjung setia Rumaysho.com yang semoga selalu mendapatkan penjagaan Allah, selanjutnya kita masuk ke pembahasan terakhir dari jawaban terhadap kerancuan yang dimunculkan dalam VCD Pelecehan Islam. Dalam serial terakhir ini, kita akan melihat Mohammad Ali Makrus menyatakan bahwa yang disembelih oleh Ibrahim bukanlah Ismail, namun Ishaq. Begitu pula dalam serial ini kita akan melihat bentuk-bentuk pelecehan lainnya. Terakhir, kami suguhkan bagaimanakah kita menangkal kristenisasi. Semoga bermanfaat. Kerancuan Kelima Dia juga mengatakan,”Isi dalam Al Qur’an itu tidak ada satu pun yang salah, namun hanya terjadi kesalah pahaman. Contoh kecil adalah dalam perayaan Idul Adha. Menurut Islam yang disembelih adalah Ismail sedangkan menurut Kristen adalah Iskak (mungkin yang dimaksudkan adalah Ishaq, pen).” Kemudian dia mengatakan,”Mana dalilnya yang menyatakan bahwa yang disembelih adalah Ismail?” Lalu dia begitu tegasnya mengatakan,”Tidak ada satu pun ayat yang menyatakan bahwa yang disembelih adalah Ismail. Justru yang disembelih oleh Ibrahim adalah Ishaq walaupun pada akhirnya diganti domba. Di dalam kitab suci Al Qur’an, yang dikatakan disembelih adalah Ishaq bukan Ismail.” Bantahan: Kami begitu heran, kok dia begitu lancangnya menyatakan demikian sebagaimana dia menyatakan pula bahwa tidak ada satu ayat pun yang memerintahkan mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena dia mengatakan dengan membawa nama Al Qur’an maka kami akan buktikan dengan membawa ayat dan tafsir mengenai hal ini. Marilah kita lihat tentang kisah Ibrahim, Isma’il dan Ishaq pada Surat Ash Shafaat ayat 100-113. رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (111) وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ (112) وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ (113) “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar (yaitu Ismail). Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.” Lalu apakah betul anak yang disembelih adalah Ishaq? Hal ini sudah dijawab oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Mari kita lihat! “Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar”. Anak ini adalah Ismail ‘alaihis salam. Karena Ismail adalah anak pertama Ibrahim ‘alaihis salam. Dan Ismail lebih tua daripada Ishaq dengan kesepakatan (ijma’) kaum muslimin dan ahlul kitab (Yahudi dan Nashrani, pen). Bahkan di dalam Kitab mereka (Taurat dan Injil, pen), Isma’il lahir pada saat Ibrahim berumur 86 tahun, sedangkan Ishaq lahir pada saat Ibrahim beumur 99 tahun. Menurut Ahlul Kitab, sesungguhnya Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya yang wahid (tunggal). Dan di naskah lain dikatakan ‘bikr (anak pertama)’. Lalu mereka melempar (menghilangkan) perkataan ini dengan melakukan kedustaan dan kebohongan, yaitu sengaja mengganti dengan nama Ishaq. Mereka tidak membolehkan (menyetujui) hal ini karena menyelisihi nash kitab mereka. Sesungguhnya mereka mengganti dengan nama Ishaq karena Ishaq adalah bapak mereka. Sedangkan Isma’il adalah bapak orang Arab. Oleh karena itu mereka dengki kepada orang Arab (umat Islam), lalu menambahkan demikian dan mereka merubah nama anak pertama Ibrahim ini. Sebagian ulama juga telah berpendapat bahwa yang disembelih adalah Ishaq sebagaimana diceritakan dari beberapa salaf, bahkan dikatakan pula oleh beberapa orang sahabat. Dan pendapat ini tidaklah berlandaskan pada Kitab (Al Qur’an) maupun Sunnah. Aku menduga bahwa hal ini tidaklah didapatkan kecuali dari berita Ahli Kitab lalu diambil oleh kaum muslimin tanpa ada hajat (kebutuhan). Padahal Al Qur’an telah menjadi saksi dan petunjuk bahwa yang disembelih adalah Isma’il. Karena Ismail telah disebut dengan ‘seorang anak yang amat sabar’ dan sisebutkan bahwa dia disembelih. Kemudian dikatakan pada ayat berikutnya ‘Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh’. Dan tatkala malaikat memberi kabar mengenai kelahiran Ishaq, mereka mengatakan, { إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلامٍ عَلِيمٍ } “Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki yang alim” (QS. Al Hijr [15] : 53) Kemudian Allah firmankan pula, { فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ } “Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan setelah Ishak  adalah Ya’qub.” (QS. Hud [11] : 71) Yaitu akan lahir bagi Ibrahim dalam kehidupan Ibrahim dan Istrinya Ya’qub. Ya’qub inilah yang darinya akan lahir keturunan dan cucu Ibrahim. Dan telah lewat di atas bahwa tidak boleh setelah ini, Ibrahim diperintahkan menyembelih Ishaq padahal dia masih kecil (lihat umur Ishaq dan Ismail di atas selisih 13 tahun). Karena Allah Ta’ala telah menjanjikan bagi Ibrahim dan istrinya keturunan dan cucu. Bagaimana mungkin setelah ini, Ibrahim diperintahkan menyembelih Ishaq sedangkan dia masih kecil? Sedangkan Isma’il disifati dengan ‘hilm’ (sabar) di sini karena hal ini lebih sesuai dengan konteks ayat.” Demikianlah penjelasan dari Ibnu Katsir. Tafsiran yang lainnya pula –yang insya Allah akan lebih memperjelas- adalah perkataan Syaikh Muhammad Amin Asy Syinqithi dalam tafsirnya Adwa’ul Bayan. Beliau rahimahullah mengatakan,”Ketahuilah –semoga Allah memberi taufik kepadaku dan kepada engkau-. Sesungguhnya Al Qur’an Al ‘Azhim telah menunjukkan pada dua tempat bahwa yang disembelih adalah Isma’il dan bukanlah Ishaq. Yang pertama pada surat Ash Shoffaat dan yang kedua pada surat Hud.” Yang pertama adalah pada surat Ash Shoffaat sebagaimana telah kami tunjukkan di atas dan yang kedua adalah surat Hud ayat 71 di atas. Ringkasnya, Syaikh Muhammad Asy Syinqithi menjelaskan bahwa : # Yang menunjukkan bahwa Isma’il-lah yang disembelih adalah berdasarkan konteks ayat. Dapat kita lihat dari jalan cerita ayat ini. Pada awalnya Ibrahim dikabarkan akan mendapatkan anak yang amat sabar. Kemudian pada ayat 112, Ibrahim dikabarkan akan mendapatkan Ishaq yang akan lahir darinya cucu yaitu Ya’qub. Maka hal ini menunjukkan bahwa berita pertama adalah berbeda dengan berita kedua. Karena tidak boleh membawa maksud Al Qur’an bahwa berita pertama adalah mengenai Ishaq. Kemudian setelah disembelih, lalu pada akhir kisah disebut lagi ‘telah Kami kabarkan pada Ibrahim mengenai Ishaq’. Maka ini merupakan pengulangan tanpa ada faedah dan apa gunanya Allah menurunkannya berulang. Oleh karena itu, ayat ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa yang anak yang diberitakan pertama kali lalu disembelih adalah Isma’il. Sedangkan berita mengenai Ishaq adalah nash yang berdiri sendiri setelah itu. # Adapun pada ayat kedua yaitu surat Hud ayat 17. Yaitu bahwasanya utusan Allah dari malaikat menyampaikan kabar gembira kepada Ibrahim mengenai Ishaq. Lalu Ishaq akan melahirkan Ya’qub. Maka sungguh tidak masuk akal, Ibrahim diperintahkan menyembelih Ishaq padahal dia masih kecil dan Ibrahim telah meyakini bahwa dia akan hidup hingga Ya’qub lahir. Dari penjelasan ini, kita dapat lihat siapakah yang salah paham, Si Habib ini ataukah para ulama ahli tafsir. Tentu ulama ahli tafsir lebih berilmu dan lebih paham daripada dia.   Bentuk Pelecehan terhadap Umat Islam dalam VCD Ini [1]      Menyebut umat Islam dengan Bani Kedar yang merupakan singkatan dari ‘kedelai liar’. Sungguh ini pelecehan yang sangat keterlaluan! [2]      Orang kristen lahir dari perempuan-perempuan merdeka (berasal dari Istri Nabi Ibrahim yang bernama Sarah) jadi orang kristen adalah anak-anak Raja. Sedangkan umat Islam berasal dari perempuan-perempuan hamba (alias budak, karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan keturunan Nabi Isma’il yang ibunya adalah Hajar yang merupakan budak). [3]      Orang kristen adalah majikan sedangkan orang Islam adalah pembantu. Yang namanya pembantu pasti bangunnya lebih cepat dari majikan karena pembantu harus bersih-bersih dulu dan masak karena itulah tugas pembantu. Kenapa harus bayar pembantu kalau dia bangun belakangan? Oleh karena itu, orang Islam bangunnya lebih cepat yaitu pada waktu adzan shubuh sedangkan orang kristen masih kemul-kemulan. [4]      Air zam-zam itu tidak ada. Yang ada adalah air hasil penyulingan made in PDAM Saudi Arabia. [5]      Hadirnya shalawat itu ada riwayatnya sendiri. Shalawat ini turun ketika Nabi Muhammad mau meninggal. [6]      Umat Islam bangun pagi untuk shalat shubuh karena dua alasan : [a] Yesus itu dibangkitkan pada waktu shubuh dan [b] Yesus akan datang pada hari kiamat pada waktu shubuh. Itulah dua alasan kenapa umat Islam melakukan shalat pada waktu shubuh. [7]      Sumur zam-zam itu ditulis dengan tatanan huruf alif lam mim. Alif adalah Allah, Lam itu air, sedangkan Mim adalah kehidupan. [8]      Yesus ditulis di Al Qur’an 75% sedangkan Muhammad cuma 2%. [9]      Orang yang naik haji kemudian keliling Ka’bah sebanyak 7x kemudian melempar jumroh dikatakan sebagai permainan anak kecil. [10]  Hajar aswad itu dihuni oleh 8888 jin yang dikepalai oleh 1 jin yang bernama Hudha Al Fitiri. Cium hajar aswad dikatakan mencium jin dan ini dilakukan dengan rebutan. Pikiran orang yang mencium hajar aswad itu perlu dibawa ke pskiater, karena jin kok jadi rebutan untuk dicium.   PENANGKAL KRISTENISASI   Hanya Islam yang Benar Allah ta’ala berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia, ”Dan barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat nanti dia pasti termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran [3] : 85). Al Alusi menerangkan di dalam tafsirnya bahwa ayat ini turun terkait dengan sekelompok orang yang murtad. Jumlah mereka ada 12 orang. Mereka meninggalkan Madinah dan mendatangi Mekah sebagai orang yang telah kafir. Di antara mereka terdapat Al Harits bin Suwaid Al Anshari. Di dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa siapa saja yang memilih ajaran selain syari’at Nabi Muhammad setelah beliau diutus maka ajaran itu tidak diterima oleh Allah (Ruhul ma’ani, Maktabah Syamilah) Allah ta’ala berfirman, وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلا الإيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ ، صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ أَلا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الأمُورُ “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.” (QS. Asy Syura [42] : 52-53) Allah menyatakan kafirnya orang yang menganggap Nabi ‘Isa adalah titisan Allah. Allah berfirman yang artinya, “Sungguh telah kafir orang yang berkata bahwa Al Masih putera Maryam adalah Allah…” (QS. Al Maa’idah [5] : 17). Allah juga menolak mentah-mentah paham trinitas di dalam Kitab-Nya. Allah berfirman yang artinya, “Sungguh telah kafir orang yang mengatakan bahwa Allah adalah satu di antara tiga oknum…” (QS. Al Maa’idah [5] : 73). Orang Kafir Kekal di Neraka Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab (Yahudi atau Nasrani) dan orang-orang musyrik pasti akan kekal berada di dalam neraka. Mereka itulah sejelek-jelek makhluk.” (QS. Al  Bayyinah [98] : 6). Ath Thabari menerangkan di dalam kitab tafsirnya bahwa yang dimaksud dengan ahli kitab adalah Yahudi dan Nasrani (Tafsir Ath Thabari, Maktabah Syamilah). Allah ta’ala pun menyatakan bahwa seandainya orang kafir memiliki kekayaan dua kali lipat isi bumi ini untuk dijadikan sebagai penebus siksa maka itu tidak akan diterima oleh Allah. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya seandainya orang-orang kafir itu mempunyai kekayaan sepenuh isi bumi dan yang semisalnya bersama itu demi menebus siksa pada hari kiamat maka hal itu tidak akan diterima dari mereka, dan mereka memang berhak menerima siksa yang sangat pedih.” (QS. Al Maa’idah [5] : 36) Kaum muslimin sekalian, semoga Allah mencurahkan taufik-Nya kepada kita. Setelah kita perhatikan ayat-ayat di atas maka tidak ada lagi alasan bagi siapa pun untuk rela melepas aqidah Islam dari dalam dada. Bagaimana mungkin? Allah telah menyatakan bahwa Islam-lah agama yang benar. Allah telah menyatakan bahwa kerugian pasti didapatkan oleh selain pemeluk Islam. Dan Allah pun telah menyatakan bahwa agama Nasrani adalah agama kekafiran. Dan Allah pun menegaskan bahwa hukuman bagi orang kafir adalah kekal di dalam neraka. Lantas siapakah yang merelakan jiwa dan raganya untuk disiksa di dalam api neraka yang menyala-nyala ?! Wahai umat Islam, selamatkanlah diri kalian dari kehancuran. Ancaman bagi orang yang meninggalkan kebenaran Sungguh sangat mengerikan ancaman yang Allah tujukan kepada orang yang sengaja menentang Allah dan mengambil jalan lain di luar jalan orang-orang yang beriman. Allah ta’ala berfirman, وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا ”Barang siapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti jalan selain jalannya kaum beriman maka niscaya Kami akan membiarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami pun akan memasukkannya ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.” (QS. An Nisaa’ [4] : 115) Allah ta’ala juga berirman, فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ”Maka hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisih urusan rasul, kalau-kalau tiba-tiba mereka itu tertimpa fitnah atau azab yang pedih.” (QS. An Nuur [24] : 63) Maka dari itu, mengenali hakikat jalan lurus adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar-tawar. Jalan yang lurus itu adalah Shirathalladziina an’amta ‘alaihim. Jalan tersebut adalah jalan orang-orang yang mendapat karunia nikmat dari Allah. Ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhaalliin. Bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan tersesat. Dengan demikian ada tiga buah jalan yang terbentang. Satu jalan menuju kebahagiaan, dan dua jalan yang lain berakhir dengan kesengsaraan. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan,”Jalan yang lurus ini adalah jalan orang-orang yang diberi kenikmatan khusus oleh Allah, yaitu jalan para nabi, orang-orang yang shiddiq, para syuhada dan orang-orang shalih. Bukan jalan orang yang dimurkai, yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran namun sengaja mencampakkannya seperti halnya kaum Yahudi dan orang-orang semacam mereka. Dan jalan ini bukanlah  jalan yang ditempuh orang yang sesat; yaitu orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan mereka, seperti halnya kaum Nasrani dan orang-orang semacam mereka.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 39) Dengan demikian jalan yang lurus adalah jalan Islam. Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan sebuah riwayat dari Maimun bin Mihran dari Ibnu ‘Abbas bahwa makna shirathal mustaqim adalah Islam, tafsiran serupa dikatakan oleh beberapa orang sahabat yang lain. Sedangkan menurut Mujahid yang dimaksud dengan shirathal mustaqim adalah kebenaran (lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/36) Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Dan semoga Allah memperbaiki keadaan mereka, memberikan mereka bashiroh (ilmu dan keyakinan), dan menunjuki mereka kepada shirotol mustaqim yaitu jalan para Nabi, para shidiqin, para syuhada’, dan orang-orang sholih, sehingga mereka dapat terselamatkan pada hari yang tidak bermanfaat harta maupun anak kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Shalawat dan Salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal dan Abu Mushlih Ari Wahyudi Editor: Ustadz Aris Munandar, SS Artikel https://rumaysho.com Ditulis pada bulan Syawwal 1428 H   Tagstrinitas


Para pengunjung setia Rumaysho.com yang semoga selalu mendapatkan penjagaan Allah, selanjutnya kita masuk ke pembahasan terakhir dari jawaban terhadap kerancuan yang dimunculkan dalam VCD Pelecehan Islam. Dalam serial terakhir ini, kita akan melihat Mohammad Ali Makrus menyatakan bahwa yang disembelih oleh Ibrahim bukanlah Ismail, namun Ishaq. Begitu pula dalam serial ini kita akan melihat bentuk-bentuk pelecehan lainnya. Terakhir, kami suguhkan bagaimanakah kita menangkal kristenisasi. Semoga bermanfaat. Kerancuan Kelima Dia juga mengatakan,”Isi dalam Al Qur’an itu tidak ada satu pun yang salah, namun hanya terjadi kesalah pahaman. Contoh kecil adalah dalam perayaan Idul Adha. Menurut Islam yang disembelih adalah Ismail sedangkan menurut Kristen adalah Iskak (mungkin yang dimaksudkan adalah Ishaq, pen).” Kemudian dia mengatakan,”Mana dalilnya yang menyatakan bahwa yang disembelih adalah Ismail?” Lalu dia begitu tegasnya mengatakan,”Tidak ada satu pun ayat yang menyatakan bahwa yang disembelih adalah Ismail. Justru yang disembelih oleh Ibrahim adalah Ishaq walaupun pada akhirnya diganti domba. Di dalam kitab suci Al Qur’an, yang dikatakan disembelih adalah Ishaq bukan Ismail.” Bantahan: Kami begitu heran, kok dia begitu lancangnya menyatakan demikian sebagaimana dia menyatakan pula bahwa tidak ada satu ayat pun yang memerintahkan mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena dia mengatakan dengan membawa nama Al Qur’an maka kami akan buktikan dengan membawa ayat dan tafsir mengenai hal ini. Marilah kita lihat tentang kisah Ibrahim, Isma’il dan Ishaq pada Surat Ash Shafaat ayat 100-113. رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (111) وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ (112) وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ (113) “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar (yaitu Ismail). Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.” Lalu apakah betul anak yang disembelih adalah Ishaq? Hal ini sudah dijawab oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Mari kita lihat! “Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar”. Anak ini adalah Ismail ‘alaihis salam. Karena Ismail adalah anak pertama Ibrahim ‘alaihis salam. Dan Ismail lebih tua daripada Ishaq dengan kesepakatan (ijma’) kaum muslimin dan ahlul kitab (Yahudi dan Nashrani, pen). Bahkan di dalam Kitab mereka (Taurat dan Injil, pen), Isma’il lahir pada saat Ibrahim berumur 86 tahun, sedangkan Ishaq lahir pada saat Ibrahim beumur 99 tahun. Menurut Ahlul Kitab, sesungguhnya Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya yang wahid (tunggal). Dan di naskah lain dikatakan ‘bikr (anak pertama)’. Lalu mereka melempar (menghilangkan) perkataan ini dengan melakukan kedustaan dan kebohongan, yaitu sengaja mengganti dengan nama Ishaq. Mereka tidak membolehkan (menyetujui) hal ini karena menyelisihi nash kitab mereka. Sesungguhnya mereka mengganti dengan nama Ishaq karena Ishaq adalah bapak mereka. Sedangkan Isma’il adalah bapak orang Arab. Oleh karena itu mereka dengki kepada orang Arab (umat Islam), lalu menambahkan demikian dan mereka merubah nama anak pertama Ibrahim ini. Sebagian ulama juga telah berpendapat bahwa yang disembelih adalah Ishaq sebagaimana diceritakan dari beberapa salaf, bahkan dikatakan pula oleh beberapa orang sahabat. Dan pendapat ini tidaklah berlandaskan pada Kitab (Al Qur’an) maupun Sunnah. Aku menduga bahwa hal ini tidaklah didapatkan kecuali dari berita Ahli Kitab lalu diambil oleh kaum muslimin tanpa ada hajat (kebutuhan). Padahal Al Qur’an telah menjadi saksi dan petunjuk bahwa yang disembelih adalah Isma’il. Karena Ismail telah disebut dengan ‘seorang anak yang amat sabar’ dan sisebutkan bahwa dia disembelih. Kemudian dikatakan pada ayat berikutnya ‘Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh’. Dan tatkala malaikat memberi kabar mengenai kelahiran Ishaq, mereka mengatakan, { إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلامٍ عَلِيمٍ } “Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki yang alim” (QS. Al Hijr [15] : 53) Kemudian Allah firmankan pula, { فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ } “Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan setelah Ishak  adalah Ya’qub.” (QS. Hud [11] : 71) Yaitu akan lahir bagi Ibrahim dalam kehidupan Ibrahim dan Istrinya Ya’qub. Ya’qub inilah yang darinya akan lahir keturunan dan cucu Ibrahim. Dan telah lewat di atas bahwa tidak boleh setelah ini, Ibrahim diperintahkan menyembelih Ishaq padahal dia masih kecil (lihat umur Ishaq dan Ismail di atas selisih 13 tahun). Karena Allah Ta’ala telah menjanjikan bagi Ibrahim dan istrinya keturunan dan cucu. Bagaimana mungkin setelah ini, Ibrahim diperintahkan menyembelih Ishaq sedangkan dia masih kecil? Sedangkan Isma’il disifati dengan ‘hilm’ (sabar) di sini karena hal ini lebih sesuai dengan konteks ayat.” Demikianlah penjelasan dari Ibnu Katsir. Tafsiran yang lainnya pula –yang insya Allah akan lebih memperjelas- adalah perkataan Syaikh Muhammad Amin Asy Syinqithi dalam tafsirnya Adwa’ul Bayan. Beliau rahimahullah mengatakan,”Ketahuilah –semoga Allah memberi taufik kepadaku dan kepada engkau-. Sesungguhnya Al Qur’an Al ‘Azhim telah menunjukkan pada dua tempat bahwa yang disembelih adalah Isma’il dan bukanlah Ishaq. Yang pertama pada surat Ash Shoffaat dan yang kedua pada surat Hud.” Yang pertama adalah pada surat Ash Shoffaat sebagaimana telah kami tunjukkan di atas dan yang kedua adalah surat Hud ayat 71 di atas. Ringkasnya, Syaikh Muhammad Asy Syinqithi menjelaskan bahwa : # Yang menunjukkan bahwa Isma’il-lah yang disembelih adalah berdasarkan konteks ayat. Dapat kita lihat dari jalan cerita ayat ini. Pada awalnya Ibrahim dikabarkan akan mendapatkan anak yang amat sabar. Kemudian pada ayat 112, Ibrahim dikabarkan akan mendapatkan Ishaq yang akan lahir darinya cucu yaitu Ya’qub. Maka hal ini menunjukkan bahwa berita pertama adalah berbeda dengan berita kedua. Karena tidak boleh membawa maksud Al Qur’an bahwa berita pertama adalah mengenai Ishaq. Kemudian setelah disembelih, lalu pada akhir kisah disebut lagi ‘telah Kami kabarkan pada Ibrahim mengenai Ishaq’. Maka ini merupakan pengulangan tanpa ada faedah dan apa gunanya Allah menurunkannya berulang. Oleh karena itu, ayat ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa yang anak yang diberitakan pertama kali lalu disembelih adalah Isma’il. Sedangkan berita mengenai Ishaq adalah nash yang berdiri sendiri setelah itu. # Adapun pada ayat kedua yaitu surat Hud ayat 17. Yaitu bahwasanya utusan Allah dari malaikat menyampaikan kabar gembira kepada Ibrahim mengenai Ishaq. Lalu Ishaq akan melahirkan Ya’qub. Maka sungguh tidak masuk akal, Ibrahim diperintahkan menyembelih Ishaq padahal dia masih kecil dan Ibrahim telah meyakini bahwa dia akan hidup hingga Ya’qub lahir. Dari penjelasan ini, kita dapat lihat siapakah yang salah paham, Si Habib ini ataukah para ulama ahli tafsir. Tentu ulama ahli tafsir lebih berilmu dan lebih paham daripada dia.   Bentuk Pelecehan terhadap Umat Islam dalam VCD Ini [1]      Menyebut umat Islam dengan Bani Kedar yang merupakan singkatan dari ‘kedelai liar’. Sungguh ini pelecehan yang sangat keterlaluan! [2]      Orang kristen lahir dari perempuan-perempuan merdeka (berasal dari Istri Nabi Ibrahim yang bernama Sarah) jadi orang kristen adalah anak-anak Raja. Sedangkan umat Islam berasal dari perempuan-perempuan hamba (alias budak, karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan keturunan Nabi Isma’il yang ibunya adalah Hajar yang merupakan budak). [3]      Orang kristen adalah majikan sedangkan orang Islam adalah pembantu. Yang namanya pembantu pasti bangunnya lebih cepat dari majikan karena pembantu harus bersih-bersih dulu dan masak karena itulah tugas pembantu. Kenapa harus bayar pembantu kalau dia bangun belakangan? Oleh karena itu, orang Islam bangunnya lebih cepat yaitu pada waktu adzan shubuh sedangkan orang kristen masih kemul-kemulan. [4]      Air zam-zam itu tidak ada. Yang ada adalah air hasil penyulingan made in PDAM Saudi Arabia. [5]      Hadirnya shalawat itu ada riwayatnya sendiri. Shalawat ini turun ketika Nabi Muhammad mau meninggal. [6]      Umat Islam bangun pagi untuk shalat shubuh karena dua alasan : [a] Yesus itu dibangkitkan pada waktu shubuh dan [b] Yesus akan datang pada hari kiamat pada waktu shubuh. Itulah dua alasan kenapa umat Islam melakukan shalat pada waktu shubuh. [7]      Sumur zam-zam itu ditulis dengan tatanan huruf alif lam mim. Alif adalah Allah, Lam itu air, sedangkan Mim adalah kehidupan. [8]      Yesus ditulis di Al Qur’an 75% sedangkan Muhammad cuma 2%. [9]      Orang yang naik haji kemudian keliling Ka’bah sebanyak 7x kemudian melempar jumroh dikatakan sebagai permainan anak kecil. [10]  Hajar aswad itu dihuni oleh 8888 jin yang dikepalai oleh 1 jin yang bernama Hudha Al Fitiri. Cium hajar aswad dikatakan mencium jin dan ini dilakukan dengan rebutan. Pikiran orang yang mencium hajar aswad itu perlu dibawa ke pskiater, karena jin kok jadi rebutan untuk dicium.   PENANGKAL KRISTENISASI   Hanya Islam yang Benar Allah ta’ala berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia, ”Dan barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat nanti dia pasti termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran [3] : 85). Al Alusi menerangkan di dalam tafsirnya bahwa ayat ini turun terkait dengan sekelompok orang yang murtad. Jumlah mereka ada 12 orang. Mereka meninggalkan Madinah dan mendatangi Mekah sebagai orang yang telah kafir. Di antara mereka terdapat Al Harits bin Suwaid Al Anshari. Di dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa siapa saja yang memilih ajaran selain syari’at Nabi Muhammad setelah beliau diutus maka ajaran itu tidak diterima oleh Allah (Ruhul ma’ani, Maktabah Syamilah) Allah ta’ala berfirman, وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلا الإيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ ، صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ أَلا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الأمُورُ “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.” (QS. Asy Syura [42] : 52-53) Allah menyatakan kafirnya orang yang menganggap Nabi ‘Isa adalah titisan Allah. Allah berfirman yang artinya, “Sungguh telah kafir orang yang berkata bahwa Al Masih putera Maryam adalah Allah…” (QS. Al Maa’idah [5] : 17). Allah juga menolak mentah-mentah paham trinitas di dalam Kitab-Nya. Allah berfirman yang artinya, “Sungguh telah kafir orang yang mengatakan bahwa Allah adalah satu di antara tiga oknum…” (QS. Al Maa’idah [5] : 73). Orang Kafir Kekal di Neraka Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab (Yahudi atau Nasrani) dan orang-orang musyrik pasti akan kekal berada di dalam neraka. Mereka itulah sejelek-jelek makhluk.” (QS. Al  Bayyinah [98] : 6). Ath Thabari menerangkan di dalam kitab tafsirnya bahwa yang dimaksud dengan ahli kitab adalah Yahudi dan Nasrani (Tafsir Ath Thabari, Maktabah Syamilah). Allah ta’ala pun menyatakan bahwa seandainya orang kafir memiliki kekayaan dua kali lipat isi bumi ini untuk dijadikan sebagai penebus siksa maka itu tidak akan diterima oleh Allah. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya seandainya orang-orang kafir itu mempunyai kekayaan sepenuh isi bumi dan yang semisalnya bersama itu demi menebus siksa pada hari kiamat maka hal itu tidak akan diterima dari mereka, dan mereka memang berhak menerima siksa yang sangat pedih.” (QS. Al Maa’idah [5] : 36) Kaum muslimin sekalian, semoga Allah mencurahkan taufik-Nya kepada kita. Setelah kita perhatikan ayat-ayat di atas maka tidak ada lagi alasan bagi siapa pun untuk rela melepas aqidah Islam dari dalam dada. Bagaimana mungkin? Allah telah menyatakan bahwa Islam-lah agama yang benar. Allah telah menyatakan bahwa kerugian pasti didapatkan oleh selain pemeluk Islam. Dan Allah pun telah menyatakan bahwa agama Nasrani adalah agama kekafiran. Dan Allah pun menegaskan bahwa hukuman bagi orang kafir adalah kekal di dalam neraka. Lantas siapakah yang merelakan jiwa dan raganya untuk disiksa di dalam api neraka yang menyala-nyala ?! Wahai umat Islam, selamatkanlah diri kalian dari kehancuran. Ancaman bagi orang yang meninggalkan kebenaran Sungguh sangat mengerikan ancaman yang Allah tujukan kepada orang yang sengaja menentang Allah dan mengambil jalan lain di luar jalan orang-orang yang beriman. Allah ta’ala berfirman, وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا ”Barang siapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan dia mengikuti jalan selain jalannya kaum beriman maka niscaya Kami akan membiarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami pun akan memasukkannya ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.” (QS. An Nisaa’ [4] : 115) Allah ta’ala juga berirman, فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ”Maka hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisih urusan rasul, kalau-kalau tiba-tiba mereka itu tertimpa fitnah atau azab yang pedih.” (QS. An Nuur [24] : 63) Maka dari itu, mengenali hakikat jalan lurus adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar-tawar. Jalan yang lurus itu adalah Shirathalladziina an’amta ‘alaihim. Jalan tersebut adalah jalan orang-orang yang mendapat karunia nikmat dari Allah. Ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhaalliin. Bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan tersesat. Dengan demikian ada tiga buah jalan yang terbentang. Satu jalan menuju kebahagiaan, dan dua jalan yang lain berakhir dengan kesengsaraan. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan,”Jalan yang lurus ini adalah jalan orang-orang yang diberi kenikmatan khusus oleh Allah, yaitu jalan para nabi, orang-orang yang shiddiq, para syuhada dan orang-orang shalih. Bukan jalan orang yang dimurkai, yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran namun sengaja mencampakkannya seperti halnya kaum Yahudi dan orang-orang semacam mereka. Dan jalan ini bukanlah  jalan yang ditempuh orang yang sesat; yaitu orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan mereka, seperti halnya kaum Nasrani dan orang-orang semacam mereka.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 39) Dengan demikian jalan yang lurus adalah jalan Islam. Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan sebuah riwayat dari Maimun bin Mihran dari Ibnu ‘Abbas bahwa makna shirathal mustaqim adalah Islam, tafsiran serupa dikatakan oleh beberapa orang sahabat yang lain. Sedangkan menurut Mujahid yang dimaksud dengan shirathal mustaqim adalah kebenaran (lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/36) Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Dan semoga Allah memperbaiki keadaan mereka, memberikan mereka bashiroh (ilmu dan keyakinan), dan menunjuki mereka kepada shirotol mustaqim yaitu jalan para Nabi, para shidiqin, para syuhada’, dan orang-orang sholih, sehingga mereka dapat terselamatkan pada hari yang tidak bermanfaat harta maupun anak kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Shalawat dan Salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal dan Abu Mushlih Ari Wahyudi Editor: Ustadz Aris Munandar, SS Artikel https://rumaysho.com Ditulis pada bulan Syawwal 1428 H   Tagstrinitas

Menjawab Kerancuan VCD Pelecehan Islam (Seri 2)

Para pengunjung setia Rumaysho.com, selanjutnya kita akan melihat kerancuan-kerancuan yang kembali dibawakan oleh Makrus Ali. Di antara kerancuan beliau lagi adalah ia menyatakan bahwa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meracuni beliau sehingga beliau mati gara-gara racun tersebut. Ia pun mengatakan bahwa dalam Al Qur’an sama sekali tidak pernah disebut “ikutilah Nabi Muhammad”, namun yang ada adalah “ikutilah Isa”. Temukan jawaban dari kerancuan ini dalam artikel seri kedua berikut. Kerancuan Ketiga Dia mengatakan,”Hadirnya shalawat itu ada riwayatnya sendiri. Pada saat Muhammad berusia 61 tahun, beliau tidak bisa mendeteksi racun yang berada dalam tubuhnya. Nabi Muhammad diracuni oleh istrinya sendiri, yaitu istri yang ke-17 (total istri nabi adalah 22) selama dua tahun. Lalu beliau katakan,”Setelah [mungkin: telah, ed] diturunkan bahasa shalawat dengan bacaan ‘Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammadin’, kemudian Nabi Muhammad meninggal.” Bantahan: Orang yang mengaku Habib ini mengatakan bahwa Nabi pada usia 61 tahun pernah diracuni oleh istrinya sendiri lalu setelah dua tahun meninggal. Dalam kitab Ar Rohiqul Makhtum yang ditulis oleh Syaikh Al Mubarakfury (yang mendapatkan juara I dalam penulisan sejarah nabi), dikisahkan bahwa setelah perang Khaibar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah diracuni oleh seorang wanita yang bernama Zainab binti Al Harits, istri Sallam bin Misykam. Wanita ini pernah memberikan daging domba yang telah dipanggang dan disisipkan racun pada bagian paha domba tersebut. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerimanya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menggigit dengan satu kunyahan. Namun kemudian beliau memuntahkannya lagi dan tidak menelannya. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tulang ini mengabarkan kepadaku bahwa di dalam daging ini telah disusupi racun.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil wanita tadi dan dia pun mengakuinya. Kemudian dikisahkan lagi dalam kitab yang sama mengenai hari terakhir kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada hari Senin Tanggal 12 Rabi’ul Awwal 11 H, rasa sakit beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin parah. Ditambah lagi pengaruh racun yang disusupkan dalam daging oleh wanita Yahudi yang beliau makan sewaktu di Khaibar sehingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit karena makanan yang sempat kucicipi di Khaibar. Inilah saatnya bagiku untuk merasakan bagaimana terputusnya nadiku karena racun tersebut.” Inilah kisah akhir kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang dapat kita lihat bahwa memang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah diracuni, tetapi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah diracuni oleh istri beliau sendiri. Beliau diracuni oleh Zainab binti Al Harits, istri Sallam bin Misykam, seorang wanita Yahudi. Jika kita lihat dalam kitab Ar Rohiqul Makhtum, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Zainab itu ada 2, yaitu : [1]   Zainab binti Khuzaimah bin Al Harits. Dia berasal dari Bani Hilal bin Amir bin Sha’sha’ah. Sebelumnya dia adalah istri Abdullah bin Jahsy, yang mati syahid pada perang Uhud, lalu dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun 4 H. Namun dia meninggal dua atau tiga bulan setelah pernikahan ini. Komentar : Jika kita lihat nama wanita yang meracuni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mungkin hampir sama dengan nama istri beliau ini yaitu sama-sama ada Al Harits. Namun jika kita melihat pada tahun 4 H lebih beberapa bulan, istri beliau ini sudah meninggal. Bagaimana mungkin istri beliau ini meracuni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ataukah mungkin dia meracuni Nabi tatkala dia sudah berada di kuburan? Ini sangat tidak mungkin! Padahal peristiwa peracunan tadi terjadi pada saat Nabi berusia 61 tahun (sekitar tahun 9 H) sebagaimana perkataan Si Habib ini. Namun perlu diketahui bahwasanya peracunan ini terjadi bukan pada saat Nabi berusia 61 tahun karena peracunan ini terjadi pada saat perang Khaibar. Sedangkan perang Khaibar sebagaimana dalam buku sejarah Nabi terjadi pada tahun 7 H, dan itu tatkala Nabi berusia sekitar 59 tahun. [2]   Zainab binti Jahsy bin Rayyab. Dia berasal dari Bani Asad bin Khuzaimah dan putri bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Sebelumnya dia adalah istri Zaid bin Haritsah, yang dianggap sebagai putra beliau sendiri. Zaid menceraikannya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya pada bulan Sya’ban pada tahun 6 H. Komentar : Kalau kita melihat dari nama istri Nabi yang kedua ini, jelas namanya berbeda dengan wanita yang meracuni Nabi. Maka sungguh ngawur orang yang menyatakan istri Nabi-lah yang meracuni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia menyebutkan bahwa jumlah total istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 22. Menurut pendapat yang kuat, istri yang dinikahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada 11 : [1]      Khadijah binti Khuwailid; [2]      Saudah binti Zum’ah; [3]      Aisyah binti Abu Bakar Ash Shidiq; [4]      Hafshoh binti Umar bin Al Khaththab; [5]      Zainab binti Khuzaimah; [6]      Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah; [7]      Zainab binti Jahsy bin Rayyab; [8]      Juwairiyyah binti Al Harits; [9]      Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan; [10]  Shafiyah binti Huyai bin Akhthab; [11]  Maimunah binti Al Harits. Mereka inilah para wanita yang pernah dinikahi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan beliau hidup bersama mereka. Ada dua orang yang meninggal dunia semasa beliau masih hidup yaitu Khadijah dan Zainab binti Khuzaimah, yang berarti beliau meninggal dunia dengan meninggalkan sembilan janda. Sedangkan dua wanita lainnya yang tidak hidup bersama beliau, salah seorang di antaranya berasal dari Bani Kilab dan satunya lagi berasal dari Kindah yang dikenal dengan nama Al Juwainiyah. Namun ada perbedaan pendapat dalam masalah ini. Adapun wanita yang beliau nikahi bukan sebagai wanita merdeka adalah Mariyah Al Qibthiyah, yang dihadiahkan oleh Al Maquqis dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki anak dari wanita ini yang bernama Ibrahim. Namun Ibrahim meninggal semasa hidup beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah. Selain Mariyah adalah Raihanah binti Zaid An Nadhiriyah atau Al Qurzhiyah, yang sebelumnya termasuk tawanan Quraizhah. Beliau memilihnya untuk diri beliau sendiri. Ada yang berpendapat bahwa dia juga termasuk istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dimerdekakan lalu dinikahi. Pendapat pertama dipilih oleh Ibnul Qayyim. Sedangkan Abu Ubaidah menambahkan dua wanita lainnya. Komentar : Jika kita melihat dari kitab sejarah Nabi ini terlihat bahwasanya total istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik wanita merdeka dan budak = 11 + 2 wanita yang tidak hidup bersama Nabi + 2 budak wanita + 2 wanita yang disebut Abu Ubaidah = 17 wanita. Lihatlah, jika kita tidak memperhatikan perselisihan yang ada, jumlah total istri Nabi adalah 17. Kami tidak mengetahui dari kitab mana beliau mengatakan pendapatnya itu. Perlu diperhatikan bahwa dalam teks shalawat yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan tidak terdapat lafadz ‘sayyidina’. Agar lebih yakin dengan yang kami katakan, lihatlah fatwa dari komisi Fatwa di Saudi Arabia (Lajnah Daimah) berikut ini. السؤال الثالث من الفتوى رقم ( 4276 ) س3: هل يجوز أن نقول أثناء كلامنا على رسول الله صلى الله عليه وسلم: سيدنا محمد في غير المأثور عنه كالصلاة الإبراهيمية أو غير ذلك؟ Pertanyaan Ketiga dari Fatawa no. 4276 Soal : Bolehkan kita mengatakan dalam sanjungan kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Sayyidina Muhammad’ dalam shalawat yang ma’tsur sebagaimana shalawat Ibrahimiyyah atau selainnya? ج3: الصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم في التشهد لم يرد فيها – فيما نعلم – كلمة سيدنا أي: (اللهم صل على سيدنا محمد ..إلخ) وهكذا صفة الأذان والإقامة فلا يقال فيها سيدنا، لعدم ورود ذلك في الأحاديث الصحيحة التي علم فيها النبي صلى الله عليه وسلم أصحابه كيفية الصلاة عليه وكيفية الأذان والإقامة، ولأن العبادات توقيفية فلا يزاد فيها ما لم يشرعه الله سبحانه وتعالى، أما الإتيان بها في غير ذلك فلا بأس، لقوله صلى الله عليه وسلم: أخرجه أحمد 1 / 5، 281، 295، 3 / 2، 144، ومسلم 4 / 1782 برقم (2278)، وأبو داود 5 / 54 برقم (4673) والترمذي 4 / 622، 5 / 587 برقم (2434، 3615 ) وابن ماجه 2 / 1440 برقم (4308) . أنا سيد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر Jawab : Shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tasyahud, sepengetahuan kami tidak terdapat kalimat sayyidina yaitu ‘Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad …’. Begitu juga pada do’a sesudah adzan dan iqomah tidak terdapat pula kalimat sayyidina. Alasannya karena tidak ada dalil shohih (yang bisa diterima, pen) yang menyebutkan bahwa Nabi mengajarkan para sahabatnya mengenai tata cara shalawat kepada beliau atau pun adzan dan iqomah. Dan juga hal ini dikarenakan ibadah adalah tauqifiyyah (harus ada dalil untuk dilaksanakan, pen). Tidak boleh seseorang menambah ajaran yang bukan syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun menggunakan lafadz sayyidina selain dari yang demikian maka tidaklah mengapa. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : أنا سيد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر “Aku adalah sayyid anak Adam pada hari kiamat maka janganlah berbangga diri.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah). وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم. اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء عضو … عضو … الرئيس عبد الله بن قعود … عبد الله بن غديان … عبد العزيز بن عبد الله بن باز Kerancuan Keempat Beliau juga mengatakan,”Saudara kita dari Bani Kedar (beliau menyebut umat Islam dengan istilah ini yang maksudnya adalah keledai liar, pen) juga menantikan Yesus. Dalam surat Az Zukhruf: 61 jelas di sana dikatakan, وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (61) (Namun beliau salah membaca ayat ini dengan menghilangkan huruf lam pada kata sa’ah dan menghilangkan kata biha serta menutup ayat dengan hadza shirothol mustaqim, pen). Beliau artikan,’Sesungguhnya Isa adalah (tanda kiamat) sebagai hakim yang adil, maka ikutilah aku (Isa). Aku adalah jalan yang lurus’. Jadi dalam ayat ini Al Qur’an memerintahkan untuk mengikuti Isa. Dan tidak ada satu pun ayat yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad ngomong ikutilah aku. Tapi hanya ada satu kata dalam Al Qur’an yaitu ikutilah aku yaitu Isa.” Bantahan: Marilah kita lihat arti sebenarnya dari Surat Az Zukhruf ayat 61 (yang terdapat kesalahan bacaan dari beliau) dengan merujuk Al Qur’an terjemahan. Arti ayat tersebut adalah,”Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.” Lalu bagaimana tafsir ulama mengenai ayat ini? Ibnu Katsir dalam Tafsirul Qur’anil ‘Azhim mengatakan, ”Tafsir dari Ibnu Ishaq telah disebutkan, yaitu yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah diutusnya Isa ‘alaihis salam di mana beliau ‘alaihis salam akan menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta dan penyakit kusta serta penyakit lainnya.” Kemudian selanjutnya Ibnu Katsir mengatakan,”Yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah mengenai turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam sebelum hari kiamat. Sebagaimana terdapat pula dalam firman Allah, وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepada Isa (‘alaihis salam) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An Nisa’ [4] : 159). Hal ini juga dikuatkan dengan qiro’ah (bacaan) lain dari ayat ini, “وإنه لعَلَم للساعة” Yang artinya ‘Sungguh Isa adalah sebagai tanda datangnya hari kiamat’ yaitu Isa sebagai tanda atau petunjuk akan terjadinya kiamat. Dan Mujahid berkata mengenai ayat ini bahwa sebagai tanda hari kiamat adalah keluarnya Isa bin Maryam sebelum hari kiamat. Demikianlah yag diriwayatkan dari Abu Huroiroh, Ibnu Abbas, Abul ‘Aliyah, Abu Malik, ‘Ikrimah, Qotadah, Adh Dhohak, dan selainnya. Juga terdapat hadits mutawatir (melalui banyak jalan periwayatan) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Isa ‘alaihis salam akan turun sebelum hari kiamat sebagai imam dan hakim yang adil. Janganlah ragu-ragu dengan hari kiamat (bukan dengan Isa, pen). Sesungguhnya hari kiamat itu pasti terjadi dan bukan sesuatu yang mustahil. Ikutilah Aku mengenai yang Aku sampaikan kepada kalian dengannya (tentang turunnya Isa). Inilah jalan yang lurus.” Pertanyaan : Apakah Yesus turun kembali untuk membela orang Nashrani? Dijawab oleh Al Baghowi dalam tafsirnya, beliau berkata, وروينا عن النبي صلى الله عليه وسلم: “ليوشكن أن ينزل فيكم ابن مريم حكمًا عادلا يكسر الصليب، ويقتل الخنزير ويضع الجزية، وتهلك في زمانه الملل كلها إلا الإسلام”. ”Kami telah mendapatkan riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,’Sungguh hampir dekat waktunya turun di tengah-tengah kalian (Isa) bin Maryam sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghilangkan jizyah (upeti, karena kafir dzimmi sudah tidak ada lagi. Semuanya muslim, ed). Akan dihancurkan seluruh agama di zaman beliau kecuali Islam’.”(HR. Bukhari) Perhatikan Nabi Isa akan datang bukan untuk membela agama Nashrani, tetapi akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghancurkan agama tersebut. Dan yang dimaksudkan bahwa beliau menjadi hakim yang adil adalah beliau menjadi hakim dengan menggunakan syari’at Islam, bukan dengan syari’at Nashrani atau syari’at yang baru. Karena tatkala Isa bin Maryam itu turun, syari’at Islam masih tetap berlaku dan tidak terhapus. Bahkan Nabi Isa akan menjadi salah seorang hakim umat ini. Yang menguatkan hal ini adalah hadits yang diriwayatkan Thobroni, dari Abdullah bin Mughoffal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَنْزِل عِيسَى اِبْن مَرْيَم مُصَدِّقًا بِمُحَمَّدِ عَلَى مِلَّته “Isa bin Maryam akan turun dengan membenarkan agama yang dibawa Nabi Muhammad.” Lihatlah penjelasan tentang hal ini di Fathul Bari, Ibnu Hajar. Bahkan Nabi Isa akan menjadi makmum di belakang imam kaum muslimin karena Allah memuliakan umat ini. Al Baghowi menceritakan dalam tafsirnya bahwa ketika Isa mendatangi Baitul Maqdis sedangkan orang-orang sedang melakukan shalat Ashar, maka Imam di masjid itu mundur dan menyuruh Isa untuk maju. Namun, Nabi Isa enggan, dan dia tetap shalat di belakang Imam tadi dengan syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Abu Daud dan Ahmad). Lalu beliau mengartikan ayat itu dengan,’maka ikutilah aku (Isa). Aku adalah jalan yang lurus’. Waduh! Untuk mendukung pendapatnya dan pemikirannya, dia mengartikan ‘ikutilah Aku’ di sini dengan ‘ikutilah Isa’. Di dalam Al Qur’an Terjemahan saja tidak ditulis seperti itu, tetapi ‘ikutilah Aku, Inilah jalan yang lurus’. Lihatlah kata ‘aku’ dalam Al Qur’an terjemahan ditulis dengan huruf kapital (bukan huruf kecil) yang berarti ‘ikutilah Allah’ dan bukan ikutilah Isa. Agar lebih jelas, kita lihat tafsir dari para ulama ahli tafsir mengenai ayat ‘Ikutilah Aku’ Ibnu Jarir Ath Thobary mengatakan,”Ikutilah Aku yaitu Ta’atlah pada-Ku (Allah), lakukanlah segala sesuatu yang Aku perintahkan kepada kalian dan jauhilah yang Aku larang.” Ibnu Katsir mengatakan,”Ikutilah Aku yaitu ikutilah yang Aku sampaikan kepada kalian dengannya.” Al Baghowi mengatakan,”Ibnu ‘Abbas berkata,’Janganlah mendustakan hari kiamat. Ikutilah Aku di atas tauhid. Inilah jalan yang lurus yang Aku berada di atas-Nya.” Dalam Tafsir Jalalain disebutkan,”Dan katakanlah kepada mereka, ikutilah Aku di atas tauhid. Inilah yang Aku perintahkan dengannya, yaitu jalan yang lurus.” Syaikh As Sa’di mengatakan,”Ikutilah Aku dengan mengikuti yang Aku perintahkan pada kalian dan menjauhi yang Aku larang. Inilah jalan yang lurus yang mengantarkan kepada Allah ‘azza wa jalla.” Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi mengatakan,”Ikutilah Aku yaitu katakanlah kepada mereka, wahai rasul Kami, ikutilah Aku di atas tauhid dan petunjuk yang Aku datangkan pada kalian. Inilah jalan yang lurus yaitu Islam dan Tauhid yang akan memalingkan kalian dari was-was dan kesesatan.” Inilah tafsiran para ulama yang sangat jauh berbeda dengan tafsiran orang ini yang terlalu banyak membuat kesalahan dalam menafsirkan dan memahami Al Qur’an. ‘Ikutilah Aku’ dalam ayat ini bukan berarti ‘Ikutilah Isa’ tetapi Ikutilah Allah di atas tauhid sebagaimana menurut salah satu penafsiran ulama. Kemudian beliau mengatakan,”Dan tidak ada satu pun ayat yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad ngomong ikutilah aku. Tapi hanya ada satu kata dalam Al Qur’an yaitu ikutilah aku yaitu Isa.” Baik, kami akan buktikan kedustaan beliau ini. Lihatlah firman Allah Ta’ala berikut, semoga menjadi perenungan bagi kita semua. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imron [3] : 31) Bagaimana tafsiran ayat ini? Al Baghowi dalam tafsirnya mengatakan,”Ayat ini diturunkan kepada Yahudi dan Nashrani yang mengatakan,’Kami adalah anak Allah dan yang paling dicintai-Nya’. Kemudian Adh-Dhohak mengatakan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiam di sekitar orang Quraisy yang sedang memajang berhala-berhala mereka di Masjidil Harom dan menggantungkan pada berhala-berhala itu telur burung unta dan di telinganya diberi shunuf (anting-anting) dan mereka sujud di hadapannya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,”Wahai orang-orang Quraisy, Demi Allah, sungguh kalian telah menyelisihi (mendurhakai) agama ayah kalian –yaitu Ibrahim dan Isma’il-. Kemudian orang Quraisy mengatakan,”Sesungguhnya kami menyembah berhala-berhala tersebut karena kecintaan kami kepada Allah untuk mendapatkan diri kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Maka Allah Ta’ala mengatakan,”Katakanlah wahai Muhammad (kepada orang-orang musyrik, pen), jika kalian mencintai Allah dan menyembah berhala untuk mendekatkan diri kalian kepada-Nya, ikutilah aku (Muhammad, pen) maka Allah akan mencintai kalian.  Karena sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian dan sebagian hujjah (bukti) bagi kalian. Yaitu ikutilah syari’atku (syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen) dan sunnahku (jalan hidupku) maka Allah akan mencintai kalian. Maka kecintaan kaum mukminin kepada Allah adalah dengan mengikuti perintah Allah dan taat kepada-Nya dan mengharap ridho-Nya. Dan kecintaan Allah kepada kaum mukminin adalah pujian Allah kepada mereka, ganjaran untuk mereka, dan ampunan Allah untuk mereka. Oleh karena itu Allah mengatakan (yang artinya),” Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku”. Setelah kita mencermati Surat Ali Imron ayat 31 ini dan tafsirnya, maka jelaslah bahwa di dalam Al Qur’an terdapat perintah untuk mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah sebagai bantahan kepada ‘habib’ ini yang menyatakan tidak ada satu ayat pun yang menyebutkan perintah untuk mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh klaim dan perkataan beliau ini hanya omong kosong belaka. Dan satu ayat ini saja sudah cukup sebagai bukti. Oleh karena itu, kalau kaum Nashrani benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah perintah-Nya untuk mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan masuk ke dalam agama Islam ini. Karena Nabi kalian juga telah mengisahkan tentang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Allah firmankan, وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ (6) “Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”” (QS. Ash Shof [61] : 6) Begitu juga kitab kalian (Injil) telah menceritakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman, مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (29) “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Muhammad [48] : 29). Oleh karena itulah, masuklah dalam agama Islam karena agama inilah yang diterima di sisi Allah. -bersambung insya Allah-   Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal dan Abu Mushlih Ari Wahyudi Artikel https://rumaysho.com Ditulis di bulan Syawal 1428 H  

Menjawab Kerancuan VCD Pelecehan Islam (Seri 2)

Para pengunjung setia Rumaysho.com, selanjutnya kita akan melihat kerancuan-kerancuan yang kembali dibawakan oleh Makrus Ali. Di antara kerancuan beliau lagi adalah ia menyatakan bahwa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meracuni beliau sehingga beliau mati gara-gara racun tersebut. Ia pun mengatakan bahwa dalam Al Qur’an sama sekali tidak pernah disebut “ikutilah Nabi Muhammad”, namun yang ada adalah “ikutilah Isa”. Temukan jawaban dari kerancuan ini dalam artikel seri kedua berikut. Kerancuan Ketiga Dia mengatakan,”Hadirnya shalawat itu ada riwayatnya sendiri. Pada saat Muhammad berusia 61 tahun, beliau tidak bisa mendeteksi racun yang berada dalam tubuhnya. Nabi Muhammad diracuni oleh istrinya sendiri, yaitu istri yang ke-17 (total istri nabi adalah 22) selama dua tahun. Lalu beliau katakan,”Setelah [mungkin: telah, ed] diturunkan bahasa shalawat dengan bacaan ‘Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammadin’, kemudian Nabi Muhammad meninggal.” Bantahan: Orang yang mengaku Habib ini mengatakan bahwa Nabi pada usia 61 tahun pernah diracuni oleh istrinya sendiri lalu setelah dua tahun meninggal. Dalam kitab Ar Rohiqul Makhtum yang ditulis oleh Syaikh Al Mubarakfury (yang mendapatkan juara I dalam penulisan sejarah nabi), dikisahkan bahwa setelah perang Khaibar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah diracuni oleh seorang wanita yang bernama Zainab binti Al Harits, istri Sallam bin Misykam. Wanita ini pernah memberikan daging domba yang telah dipanggang dan disisipkan racun pada bagian paha domba tersebut. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerimanya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menggigit dengan satu kunyahan. Namun kemudian beliau memuntahkannya lagi dan tidak menelannya. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tulang ini mengabarkan kepadaku bahwa di dalam daging ini telah disusupi racun.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil wanita tadi dan dia pun mengakuinya. Kemudian dikisahkan lagi dalam kitab yang sama mengenai hari terakhir kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada hari Senin Tanggal 12 Rabi’ul Awwal 11 H, rasa sakit beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin parah. Ditambah lagi pengaruh racun yang disusupkan dalam daging oleh wanita Yahudi yang beliau makan sewaktu di Khaibar sehingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit karena makanan yang sempat kucicipi di Khaibar. Inilah saatnya bagiku untuk merasakan bagaimana terputusnya nadiku karena racun tersebut.” Inilah kisah akhir kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang dapat kita lihat bahwa memang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah diracuni, tetapi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah diracuni oleh istri beliau sendiri. Beliau diracuni oleh Zainab binti Al Harits, istri Sallam bin Misykam, seorang wanita Yahudi. Jika kita lihat dalam kitab Ar Rohiqul Makhtum, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Zainab itu ada 2, yaitu : [1]   Zainab binti Khuzaimah bin Al Harits. Dia berasal dari Bani Hilal bin Amir bin Sha’sha’ah. Sebelumnya dia adalah istri Abdullah bin Jahsy, yang mati syahid pada perang Uhud, lalu dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun 4 H. Namun dia meninggal dua atau tiga bulan setelah pernikahan ini. Komentar : Jika kita lihat nama wanita yang meracuni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mungkin hampir sama dengan nama istri beliau ini yaitu sama-sama ada Al Harits. Namun jika kita melihat pada tahun 4 H lebih beberapa bulan, istri beliau ini sudah meninggal. Bagaimana mungkin istri beliau ini meracuni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ataukah mungkin dia meracuni Nabi tatkala dia sudah berada di kuburan? Ini sangat tidak mungkin! Padahal peristiwa peracunan tadi terjadi pada saat Nabi berusia 61 tahun (sekitar tahun 9 H) sebagaimana perkataan Si Habib ini. Namun perlu diketahui bahwasanya peracunan ini terjadi bukan pada saat Nabi berusia 61 tahun karena peracunan ini terjadi pada saat perang Khaibar. Sedangkan perang Khaibar sebagaimana dalam buku sejarah Nabi terjadi pada tahun 7 H, dan itu tatkala Nabi berusia sekitar 59 tahun. [2]   Zainab binti Jahsy bin Rayyab. Dia berasal dari Bani Asad bin Khuzaimah dan putri bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Sebelumnya dia adalah istri Zaid bin Haritsah, yang dianggap sebagai putra beliau sendiri. Zaid menceraikannya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya pada bulan Sya’ban pada tahun 6 H. Komentar : Kalau kita melihat dari nama istri Nabi yang kedua ini, jelas namanya berbeda dengan wanita yang meracuni Nabi. Maka sungguh ngawur orang yang menyatakan istri Nabi-lah yang meracuni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia menyebutkan bahwa jumlah total istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 22. Menurut pendapat yang kuat, istri yang dinikahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada 11 : [1]      Khadijah binti Khuwailid; [2]      Saudah binti Zum’ah; [3]      Aisyah binti Abu Bakar Ash Shidiq; [4]      Hafshoh binti Umar bin Al Khaththab; [5]      Zainab binti Khuzaimah; [6]      Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah; [7]      Zainab binti Jahsy bin Rayyab; [8]      Juwairiyyah binti Al Harits; [9]      Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan; [10]  Shafiyah binti Huyai bin Akhthab; [11]  Maimunah binti Al Harits. Mereka inilah para wanita yang pernah dinikahi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan beliau hidup bersama mereka. Ada dua orang yang meninggal dunia semasa beliau masih hidup yaitu Khadijah dan Zainab binti Khuzaimah, yang berarti beliau meninggal dunia dengan meninggalkan sembilan janda. Sedangkan dua wanita lainnya yang tidak hidup bersama beliau, salah seorang di antaranya berasal dari Bani Kilab dan satunya lagi berasal dari Kindah yang dikenal dengan nama Al Juwainiyah. Namun ada perbedaan pendapat dalam masalah ini. Adapun wanita yang beliau nikahi bukan sebagai wanita merdeka adalah Mariyah Al Qibthiyah, yang dihadiahkan oleh Al Maquqis dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki anak dari wanita ini yang bernama Ibrahim. Namun Ibrahim meninggal semasa hidup beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah. Selain Mariyah adalah Raihanah binti Zaid An Nadhiriyah atau Al Qurzhiyah, yang sebelumnya termasuk tawanan Quraizhah. Beliau memilihnya untuk diri beliau sendiri. Ada yang berpendapat bahwa dia juga termasuk istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dimerdekakan lalu dinikahi. Pendapat pertama dipilih oleh Ibnul Qayyim. Sedangkan Abu Ubaidah menambahkan dua wanita lainnya. Komentar : Jika kita melihat dari kitab sejarah Nabi ini terlihat bahwasanya total istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik wanita merdeka dan budak = 11 + 2 wanita yang tidak hidup bersama Nabi + 2 budak wanita + 2 wanita yang disebut Abu Ubaidah = 17 wanita. Lihatlah, jika kita tidak memperhatikan perselisihan yang ada, jumlah total istri Nabi adalah 17. Kami tidak mengetahui dari kitab mana beliau mengatakan pendapatnya itu. Perlu diperhatikan bahwa dalam teks shalawat yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan tidak terdapat lafadz ‘sayyidina’. Agar lebih yakin dengan yang kami katakan, lihatlah fatwa dari komisi Fatwa di Saudi Arabia (Lajnah Daimah) berikut ini. السؤال الثالث من الفتوى رقم ( 4276 ) س3: هل يجوز أن نقول أثناء كلامنا على رسول الله صلى الله عليه وسلم: سيدنا محمد في غير المأثور عنه كالصلاة الإبراهيمية أو غير ذلك؟ Pertanyaan Ketiga dari Fatawa no. 4276 Soal : Bolehkan kita mengatakan dalam sanjungan kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Sayyidina Muhammad’ dalam shalawat yang ma’tsur sebagaimana shalawat Ibrahimiyyah atau selainnya? ج3: الصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم في التشهد لم يرد فيها – فيما نعلم – كلمة سيدنا أي: (اللهم صل على سيدنا محمد ..إلخ) وهكذا صفة الأذان والإقامة فلا يقال فيها سيدنا، لعدم ورود ذلك في الأحاديث الصحيحة التي علم فيها النبي صلى الله عليه وسلم أصحابه كيفية الصلاة عليه وكيفية الأذان والإقامة، ولأن العبادات توقيفية فلا يزاد فيها ما لم يشرعه الله سبحانه وتعالى، أما الإتيان بها في غير ذلك فلا بأس، لقوله صلى الله عليه وسلم: أخرجه أحمد 1 / 5، 281، 295، 3 / 2، 144، ومسلم 4 / 1782 برقم (2278)، وأبو داود 5 / 54 برقم (4673) والترمذي 4 / 622، 5 / 587 برقم (2434، 3615 ) وابن ماجه 2 / 1440 برقم (4308) . أنا سيد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر Jawab : Shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tasyahud, sepengetahuan kami tidak terdapat kalimat sayyidina yaitu ‘Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad …’. Begitu juga pada do’a sesudah adzan dan iqomah tidak terdapat pula kalimat sayyidina. Alasannya karena tidak ada dalil shohih (yang bisa diterima, pen) yang menyebutkan bahwa Nabi mengajarkan para sahabatnya mengenai tata cara shalawat kepada beliau atau pun adzan dan iqomah. Dan juga hal ini dikarenakan ibadah adalah tauqifiyyah (harus ada dalil untuk dilaksanakan, pen). Tidak boleh seseorang menambah ajaran yang bukan syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun menggunakan lafadz sayyidina selain dari yang demikian maka tidaklah mengapa. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : أنا سيد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر “Aku adalah sayyid anak Adam pada hari kiamat maka janganlah berbangga diri.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah). وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم. اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء عضو … عضو … الرئيس عبد الله بن قعود … عبد الله بن غديان … عبد العزيز بن عبد الله بن باز Kerancuan Keempat Beliau juga mengatakan,”Saudara kita dari Bani Kedar (beliau menyebut umat Islam dengan istilah ini yang maksudnya adalah keledai liar, pen) juga menantikan Yesus. Dalam surat Az Zukhruf: 61 jelas di sana dikatakan, وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (61) (Namun beliau salah membaca ayat ini dengan menghilangkan huruf lam pada kata sa’ah dan menghilangkan kata biha serta menutup ayat dengan hadza shirothol mustaqim, pen). Beliau artikan,’Sesungguhnya Isa adalah (tanda kiamat) sebagai hakim yang adil, maka ikutilah aku (Isa). Aku adalah jalan yang lurus’. Jadi dalam ayat ini Al Qur’an memerintahkan untuk mengikuti Isa. Dan tidak ada satu pun ayat yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad ngomong ikutilah aku. Tapi hanya ada satu kata dalam Al Qur’an yaitu ikutilah aku yaitu Isa.” Bantahan: Marilah kita lihat arti sebenarnya dari Surat Az Zukhruf ayat 61 (yang terdapat kesalahan bacaan dari beliau) dengan merujuk Al Qur’an terjemahan. Arti ayat tersebut adalah,”Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.” Lalu bagaimana tafsir ulama mengenai ayat ini? Ibnu Katsir dalam Tafsirul Qur’anil ‘Azhim mengatakan, ”Tafsir dari Ibnu Ishaq telah disebutkan, yaitu yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah diutusnya Isa ‘alaihis salam di mana beliau ‘alaihis salam akan menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta dan penyakit kusta serta penyakit lainnya.” Kemudian selanjutnya Ibnu Katsir mengatakan,”Yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah mengenai turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam sebelum hari kiamat. Sebagaimana terdapat pula dalam firman Allah, وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepada Isa (‘alaihis salam) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An Nisa’ [4] : 159). Hal ini juga dikuatkan dengan qiro’ah (bacaan) lain dari ayat ini, “وإنه لعَلَم للساعة” Yang artinya ‘Sungguh Isa adalah sebagai tanda datangnya hari kiamat’ yaitu Isa sebagai tanda atau petunjuk akan terjadinya kiamat. Dan Mujahid berkata mengenai ayat ini bahwa sebagai tanda hari kiamat adalah keluarnya Isa bin Maryam sebelum hari kiamat. Demikianlah yag diriwayatkan dari Abu Huroiroh, Ibnu Abbas, Abul ‘Aliyah, Abu Malik, ‘Ikrimah, Qotadah, Adh Dhohak, dan selainnya. Juga terdapat hadits mutawatir (melalui banyak jalan periwayatan) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Isa ‘alaihis salam akan turun sebelum hari kiamat sebagai imam dan hakim yang adil. Janganlah ragu-ragu dengan hari kiamat (bukan dengan Isa, pen). Sesungguhnya hari kiamat itu pasti terjadi dan bukan sesuatu yang mustahil. Ikutilah Aku mengenai yang Aku sampaikan kepada kalian dengannya (tentang turunnya Isa). Inilah jalan yang lurus.” Pertanyaan : Apakah Yesus turun kembali untuk membela orang Nashrani? Dijawab oleh Al Baghowi dalam tafsirnya, beliau berkata, وروينا عن النبي صلى الله عليه وسلم: “ليوشكن أن ينزل فيكم ابن مريم حكمًا عادلا يكسر الصليب، ويقتل الخنزير ويضع الجزية، وتهلك في زمانه الملل كلها إلا الإسلام”. ”Kami telah mendapatkan riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,’Sungguh hampir dekat waktunya turun di tengah-tengah kalian (Isa) bin Maryam sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghilangkan jizyah (upeti, karena kafir dzimmi sudah tidak ada lagi. Semuanya muslim, ed). Akan dihancurkan seluruh agama di zaman beliau kecuali Islam’.”(HR. Bukhari) Perhatikan Nabi Isa akan datang bukan untuk membela agama Nashrani, tetapi akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghancurkan agama tersebut. Dan yang dimaksudkan bahwa beliau menjadi hakim yang adil adalah beliau menjadi hakim dengan menggunakan syari’at Islam, bukan dengan syari’at Nashrani atau syari’at yang baru. Karena tatkala Isa bin Maryam itu turun, syari’at Islam masih tetap berlaku dan tidak terhapus. Bahkan Nabi Isa akan menjadi salah seorang hakim umat ini. Yang menguatkan hal ini adalah hadits yang diriwayatkan Thobroni, dari Abdullah bin Mughoffal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَنْزِل عِيسَى اِبْن مَرْيَم مُصَدِّقًا بِمُحَمَّدِ عَلَى مِلَّته “Isa bin Maryam akan turun dengan membenarkan agama yang dibawa Nabi Muhammad.” Lihatlah penjelasan tentang hal ini di Fathul Bari, Ibnu Hajar. Bahkan Nabi Isa akan menjadi makmum di belakang imam kaum muslimin karena Allah memuliakan umat ini. Al Baghowi menceritakan dalam tafsirnya bahwa ketika Isa mendatangi Baitul Maqdis sedangkan orang-orang sedang melakukan shalat Ashar, maka Imam di masjid itu mundur dan menyuruh Isa untuk maju. Namun, Nabi Isa enggan, dan dia tetap shalat di belakang Imam tadi dengan syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Abu Daud dan Ahmad). Lalu beliau mengartikan ayat itu dengan,’maka ikutilah aku (Isa). Aku adalah jalan yang lurus’. Waduh! Untuk mendukung pendapatnya dan pemikirannya, dia mengartikan ‘ikutilah Aku’ di sini dengan ‘ikutilah Isa’. Di dalam Al Qur’an Terjemahan saja tidak ditulis seperti itu, tetapi ‘ikutilah Aku, Inilah jalan yang lurus’. Lihatlah kata ‘aku’ dalam Al Qur’an terjemahan ditulis dengan huruf kapital (bukan huruf kecil) yang berarti ‘ikutilah Allah’ dan bukan ikutilah Isa. Agar lebih jelas, kita lihat tafsir dari para ulama ahli tafsir mengenai ayat ‘Ikutilah Aku’ Ibnu Jarir Ath Thobary mengatakan,”Ikutilah Aku yaitu Ta’atlah pada-Ku (Allah), lakukanlah segala sesuatu yang Aku perintahkan kepada kalian dan jauhilah yang Aku larang.” Ibnu Katsir mengatakan,”Ikutilah Aku yaitu ikutilah yang Aku sampaikan kepada kalian dengannya.” Al Baghowi mengatakan,”Ibnu ‘Abbas berkata,’Janganlah mendustakan hari kiamat. Ikutilah Aku di atas tauhid. Inilah jalan yang lurus yang Aku berada di atas-Nya.” Dalam Tafsir Jalalain disebutkan,”Dan katakanlah kepada mereka, ikutilah Aku di atas tauhid. Inilah yang Aku perintahkan dengannya, yaitu jalan yang lurus.” Syaikh As Sa’di mengatakan,”Ikutilah Aku dengan mengikuti yang Aku perintahkan pada kalian dan menjauhi yang Aku larang. Inilah jalan yang lurus yang mengantarkan kepada Allah ‘azza wa jalla.” Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi mengatakan,”Ikutilah Aku yaitu katakanlah kepada mereka, wahai rasul Kami, ikutilah Aku di atas tauhid dan petunjuk yang Aku datangkan pada kalian. Inilah jalan yang lurus yaitu Islam dan Tauhid yang akan memalingkan kalian dari was-was dan kesesatan.” Inilah tafsiran para ulama yang sangat jauh berbeda dengan tafsiran orang ini yang terlalu banyak membuat kesalahan dalam menafsirkan dan memahami Al Qur’an. ‘Ikutilah Aku’ dalam ayat ini bukan berarti ‘Ikutilah Isa’ tetapi Ikutilah Allah di atas tauhid sebagaimana menurut salah satu penafsiran ulama. Kemudian beliau mengatakan,”Dan tidak ada satu pun ayat yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad ngomong ikutilah aku. Tapi hanya ada satu kata dalam Al Qur’an yaitu ikutilah aku yaitu Isa.” Baik, kami akan buktikan kedustaan beliau ini. Lihatlah firman Allah Ta’ala berikut, semoga menjadi perenungan bagi kita semua. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imron [3] : 31) Bagaimana tafsiran ayat ini? Al Baghowi dalam tafsirnya mengatakan,”Ayat ini diturunkan kepada Yahudi dan Nashrani yang mengatakan,’Kami adalah anak Allah dan yang paling dicintai-Nya’. Kemudian Adh-Dhohak mengatakan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiam di sekitar orang Quraisy yang sedang memajang berhala-berhala mereka di Masjidil Harom dan menggantungkan pada berhala-berhala itu telur burung unta dan di telinganya diberi shunuf (anting-anting) dan mereka sujud di hadapannya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,”Wahai orang-orang Quraisy, Demi Allah, sungguh kalian telah menyelisihi (mendurhakai) agama ayah kalian –yaitu Ibrahim dan Isma’il-. Kemudian orang Quraisy mengatakan,”Sesungguhnya kami menyembah berhala-berhala tersebut karena kecintaan kami kepada Allah untuk mendapatkan diri kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Maka Allah Ta’ala mengatakan,”Katakanlah wahai Muhammad (kepada orang-orang musyrik, pen), jika kalian mencintai Allah dan menyembah berhala untuk mendekatkan diri kalian kepada-Nya, ikutilah aku (Muhammad, pen) maka Allah akan mencintai kalian.  Karena sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian dan sebagian hujjah (bukti) bagi kalian. Yaitu ikutilah syari’atku (syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen) dan sunnahku (jalan hidupku) maka Allah akan mencintai kalian. Maka kecintaan kaum mukminin kepada Allah adalah dengan mengikuti perintah Allah dan taat kepada-Nya dan mengharap ridho-Nya. Dan kecintaan Allah kepada kaum mukminin adalah pujian Allah kepada mereka, ganjaran untuk mereka, dan ampunan Allah untuk mereka. Oleh karena itu Allah mengatakan (yang artinya),” Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku”. Setelah kita mencermati Surat Ali Imron ayat 31 ini dan tafsirnya, maka jelaslah bahwa di dalam Al Qur’an terdapat perintah untuk mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah sebagai bantahan kepada ‘habib’ ini yang menyatakan tidak ada satu ayat pun yang menyebutkan perintah untuk mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh klaim dan perkataan beliau ini hanya omong kosong belaka. Dan satu ayat ini saja sudah cukup sebagai bukti. Oleh karena itu, kalau kaum Nashrani benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah perintah-Nya untuk mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan masuk ke dalam agama Islam ini. Karena Nabi kalian juga telah mengisahkan tentang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Allah firmankan, وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ (6) “Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”” (QS. Ash Shof [61] : 6) Begitu juga kitab kalian (Injil) telah menceritakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman, مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (29) “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Muhammad [48] : 29). Oleh karena itulah, masuklah dalam agama Islam karena agama inilah yang diterima di sisi Allah. -bersambung insya Allah-   Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal dan Abu Mushlih Ari Wahyudi Artikel https://rumaysho.com Ditulis di bulan Syawal 1428 H  
Para pengunjung setia Rumaysho.com, selanjutnya kita akan melihat kerancuan-kerancuan yang kembali dibawakan oleh Makrus Ali. Di antara kerancuan beliau lagi adalah ia menyatakan bahwa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meracuni beliau sehingga beliau mati gara-gara racun tersebut. Ia pun mengatakan bahwa dalam Al Qur’an sama sekali tidak pernah disebut “ikutilah Nabi Muhammad”, namun yang ada adalah “ikutilah Isa”. Temukan jawaban dari kerancuan ini dalam artikel seri kedua berikut. Kerancuan Ketiga Dia mengatakan,”Hadirnya shalawat itu ada riwayatnya sendiri. Pada saat Muhammad berusia 61 tahun, beliau tidak bisa mendeteksi racun yang berada dalam tubuhnya. Nabi Muhammad diracuni oleh istrinya sendiri, yaitu istri yang ke-17 (total istri nabi adalah 22) selama dua tahun. Lalu beliau katakan,”Setelah [mungkin: telah, ed] diturunkan bahasa shalawat dengan bacaan ‘Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammadin’, kemudian Nabi Muhammad meninggal.” Bantahan: Orang yang mengaku Habib ini mengatakan bahwa Nabi pada usia 61 tahun pernah diracuni oleh istrinya sendiri lalu setelah dua tahun meninggal. Dalam kitab Ar Rohiqul Makhtum yang ditulis oleh Syaikh Al Mubarakfury (yang mendapatkan juara I dalam penulisan sejarah nabi), dikisahkan bahwa setelah perang Khaibar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah diracuni oleh seorang wanita yang bernama Zainab binti Al Harits, istri Sallam bin Misykam. Wanita ini pernah memberikan daging domba yang telah dipanggang dan disisipkan racun pada bagian paha domba tersebut. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerimanya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menggigit dengan satu kunyahan. Namun kemudian beliau memuntahkannya lagi dan tidak menelannya. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tulang ini mengabarkan kepadaku bahwa di dalam daging ini telah disusupi racun.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil wanita tadi dan dia pun mengakuinya. Kemudian dikisahkan lagi dalam kitab yang sama mengenai hari terakhir kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada hari Senin Tanggal 12 Rabi’ul Awwal 11 H, rasa sakit beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin parah. Ditambah lagi pengaruh racun yang disusupkan dalam daging oleh wanita Yahudi yang beliau makan sewaktu di Khaibar sehingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit karena makanan yang sempat kucicipi di Khaibar. Inilah saatnya bagiku untuk merasakan bagaimana terputusnya nadiku karena racun tersebut.” Inilah kisah akhir kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang dapat kita lihat bahwa memang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah diracuni, tetapi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah diracuni oleh istri beliau sendiri. Beliau diracuni oleh Zainab binti Al Harits, istri Sallam bin Misykam, seorang wanita Yahudi. Jika kita lihat dalam kitab Ar Rohiqul Makhtum, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Zainab itu ada 2, yaitu : [1]   Zainab binti Khuzaimah bin Al Harits. Dia berasal dari Bani Hilal bin Amir bin Sha’sha’ah. Sebelumnya dia adalah istri Abdullah bin Jahsy, yang mati syahid pada perang Uhud, lalu dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun 4 H. Namun dia meninggal dua atau tiga bulan setelah pernikahan ini. Komentar : Jika kita lihat nama wanita yang meracuni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mungkin hampir sama dengan nama istri beliau ini yaitu sama-sama ada Al Harits. Namun jika kita melihat pada tahun 4 H lebih beberapa bulan, istri beliau ini sudah meninggal. Bagaimana mungkin istri beliau ini meracuni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ataukah mungkin dia meracuni Nabi tatkala dia sudah berada di kuburan? Ini sangat tidak mungkin! Padahal peristiwa peracunan tadi terjadi pada saat Nabi berusia 61 tahun (sekitar tahun 9 H) sebagaimana perkataan Si Habib ini. Namun perlu diketahui bahwasanya peracunan ini terjadi bukan pada saat Nabi berusia 61 tahun karena peracunan ini terjadi pada saat perang Khaibar. Sedangkan perang Khaibar sebagaimana dalam buku sejarah Nabi terjadi pada tahun 7 H, dan itu tatkala Nabi berusia sekitar 59 tahun. [2]   Zainab binti Jahsy bin Rayyab. Dia berasal dari Bani Asad bin Khuzaimah dan putri bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Sebelumnya dia adalah istri Zaid bin Haritsah, yang dianggap sebagai putra beliau sendiri. Zaid menceraikannya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya pada bulan Sya’ban pada tahun 6 H. Komentar : Kalau kita melihat dari nama istri Nabi yang kedua ini, jelas namanya berbeda dengan wanita yang meracuni Nabi. Maka sungguh ngawur orang yang menyatakan istri Nabi-lah yang meracuni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia menyebutkan bahwa jumlah total istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 22. Menurut pendapat yang kuat, istri yang dinikahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada 11 : [1]      Khadijah binti Khuwailid; [2]      Saudah binti Zum’ah; [3]      Aisyah binti Abu Bakar Ash Shidiq; [4]      Hafshoh binti Umar bin Al Khaththab; [5]      Zainab binti Khuzaimah; [6]      Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah; [7]      Zainab binti Jahsy bin Rayyab; [8]      Juwairiyyah binti Al Harits; [9]      Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan; [10]  Shafiyah binti Huyai bin Akhthab; [11]  Maimunah binti Al Harits. Mereka inilah para wanita yang pernah dinikahi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan beliau hidup bersama mereka. Ada dua orang yang meninggal dunia semasa beliau masih hidup yaitu Khadijah dan Zainab binti Khuzaimah, yang berarti beliau meninggal dunia dengan meninggalkan sembilan janda. Sedangkan dua wanita lainnya yang tidak hidup bersama beliau, salah seorang di antaranya berasal dari Bani Kilab dan satunya lagi berasal dari Kindah yang dikenal dengan nama Al Juwainiyah. Namun ada perbedaan pendapat dalam masalah ini. Adapun wanita yang beliau nikahi bukan sebagai wanita merdeka adalah Mariyah Al Qibthiyah, yang dihadiahkan oleh Al Maquqis dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki anak dari wanita ini yang bernama Ibrahim. Namun Ibrahim meninggal semasa hidup beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah. Selain Mariyah adalah Raihanah binti Zaid An Nadhiriyah atau Al Qurzhiyah, yang sebelumnya termasuk tawanan Quraizhah. Beliau memilihnya untuk diri beliau sendiri. Ada yang berpendapat bahwa dia juga termasuk istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dimerdekakan lalu dinikahi. Pendapat pertama dipilih oleh Ibnul Qayyim. Sedangkan Abu Ubaidah menambahkan dua wanita lainnya. Komentar : Jika kita melihat dari kitab sejarah Nabi ini terlihat bahwasanya total istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik wanita merdeka dan budak = 11 + 2 wanita yang tidak hidup bersama Nabi + 2 budak wanita + 2 wanita yang disebut Abu Ubaidah = 17 wanita. Lihatlah, jika kita tidak memperhatikan perselisihan yang ada, jumlah total istri Nabi adalah 17. Kami tidak mengetahui dari kitab mana beliau mengatakan pendapatnya itu. Perlu diperhatikan bahwa dalam teks shalawat yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan tidak terdapat lafadz ‘sayyidina’. Agar lebih yakin dengan yang kami katakan, lihatlah fatwa dari komisi Fatwa di Saudi Arabia (Lajnah Daimah) berikut ini. السؤال الثالث من الفتوى رقم ( 4276 ) س3: هل يجوز أن نقول أثناء كلامنا على رسول الله صلى الله عليه وسلم: سيدنا محمد في غير المأثور عنه كالصلاة الإبراهيمية أو غير ذلك؟ Pertanyaan Ketiga dari Fatawa no. 4276 Soal : Bolehkan kita mengatakan dalam sanjungan kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Sayyidina Muhammad’ dalam shalawat yang ma’tsur sebagaimana shalawat Ibrahimiyyah atau selainnya? ج3: الصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم في التشهد لم يرد فيها – فيما نعلم – كلمة سيدنا أي: (اللهم صل على سيدنا محمد ..إلخ) وهكذا صفة الأذان والإقامة فلا يقال فيها سيدنا، لعدم ورود ذلك في الأحاديث الصحيحة التي علم فيها النبي صلى الله عليه وسلم أصحابه كيفية الصلاة عليه وكيفية الأذان والإقامة، ولأن العبادات توقيفية فلا يزاد فيها ما لم يشرعه الله سبحانه وتعالى، أما الإتيان بها في غير ذلك فلا بأس، لقوله صلى الله عليه وسلم: أخرجه أحمد 1 / 5، 281، 295، 3 / 2، 144، ومسلم 4 / 1782 برقم (2278)، وأبو داود 5 / 54 برقم (4673) والترمذي 4 / 622، 5 / 587 برقم (2434، 3615 ) وابن ماجه 2 / 1440 برقم (4308) . أنا سيد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر Jawab : Shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tasyahud, sepengetahuan kami tidak terdapat kalimat sayyidina yaitu ‘Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad …’. Begitu juga pada do’a sesudah adzan dan iqomah tidak terdapat pula kalimat sayyidina. Alasannya karena tidak ada dalil shohih (yang bisa diterima, pen) yang menyebutkan bahwa Nabi mengajarkan para sahabatnya mengenai tata cara shalawat kepada beliau atau pun adzan dan iqomah. Dan juga hal ini dikarenakan ibadah adalah tauqifiyyah (harus ada dalil untuk dilaksanakan, pen). Tidak boleh seseorang menambah ajaran yang bukan syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun menggunakan lafadz sayyidina selain dari yang demikian maka tidaklah mengapa. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : أنا سيد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر “Aku adalah sayyid anak Adam pada hari kiamat maka janganlah berbangga diri.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah). وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم. اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء عضو … عضو … الرئيس عبد الله بن قعود … عبد الله بن غديان … عبد العزيز بن عبد الله بن باز Kerancuan Keempat Beliau juga mengatakan,”Saudara kita dari Bani Kedar (beliau menyebut umat Islam dengan istilah ini yang maksudnya adalah keledai liar, pen) juga menantikan Yesus. Dalam surat Az Zukhruf: 61 jelas di sana dikatakan, وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (61) (Namun beliau salah membaca ayat ini dengan menghilangkan huruf lam pada kata sa’ah dan menghilangkan kata biha serta menutup ayat dengan hadza shirothol mustaqim, pen). Beliau artikan,’Sesungguhnya Isa adalah (tanda kiamat) sebagai hakim yang adil, maka ikutilah aku (Isa). Aku adalah jalan yang lurus’. Jadi dalam ayat ini Al Qur’an memerintahkan untuk mengikuti Isa. Dan tidak ada satu pun ayat yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad ngomong ikutilah aku. Tapi hanya ada satu kata dalam Al Qur’an yaitu ikutilah aku yaitu Isa.” Bantahan: Marilah kita lihat arti sebenarnya dari Surat Az Zukhruf ayat 61 (yang terdapat kesalahan bacaan dari beliau) dengan merujuk Al Qur’an terjemahan. Arti ayat tersebut adalah,”Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.” Lalu bagaimana tafsir ulama mengenai ayat ini? Ibnu Katsir dalam Tafsirul Qur’anil ‘Azhim mengatakan, ”Tafsir dari Ibnu Ishaq telah disebutkan, yaitu yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah diutusnya Isa ‘alaihis salam di mana beliau ‘alaihis salam akan menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta dan penyakit kusta serta penyakit lainnya.” Kemudian selanjutnya Ibnu Katsir mengatakan,”Yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah mengenai turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam sebelum hari kiamat. Sebagaimana terdapat pula dalam firman Allah, وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepada Isa (‘alaihis salam) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An Nisa’ [4] : 159). Hal ini juga dikuatkan dengan qiro’ah (bacaan) lain dari ayat ini, “وإنه لعَلَم للساعة” Yang artinya ‘Sungguh Isa adalah sebagai tanda datangnya hari kiamat’ yaitu Isa sebagai tanda atau petunjuk akan terjadinya kiamat. Dan Mujahid berkata mengenai ayat ini bahwa sebagai tanda hari kiamat adalah keluarnya Isa bin Maryam sebelum hari kiamat. Demikianlah yag diriwayatkan dari Abu Huroiroh, Ibnu Abbas, Abul ‘Aliyah, Abu Malik, ‘Ikrimah, Qotadah, Adh Dhohak, dan selainnya. Juga terdapat hadits mutawatir (melalui banyak jalan periwayatan) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Isa ‘alaihis salam akan turun sebelum hari kiamat sebagai imam dan hakim yang adil. Janganlah ragu-ragu dengan hari kiamat (bukan dengan Isa, pen). Sesungguhnya hari kiamat itu pasti terjadi dan bukan sesuatu yang mustahil. Ikutilah Aku mengenai yang Aku sampaikan kepada kalian dengannya (tentang turunnya Isa). Inilah jalan yang lurus.” Pertanyaan : Apakah Yesus turun kembali untuk membela orang Nashrani? Dijawab oleh Al Baghowi dalam tafsirnya, beliau berkata, وروينا عن النبي صلى الله عليه وسلم: “ليوشكن أن ينزل فيكم ابن مريم حكمًا عادلا يكسر الصليب، ويقتل الخنزير ويضع الجزية، وتهلك في زمانه الملل كلها إلا الإسلام”. ”Kami telah mendapatkan riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,’Sungguh hampir dekat waktunya turun di tengah-tengah kalian (Isa) bin Maryam sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghilangkan jizyah (upeti, karena kafir dzimmi sudah tidak ada lagi. Semuanya muslim, ed). Akan dihancurkan seluruh agama di zaman beliau kecuali Islam’.”(HR. Bukhari) Perhatikan Nabi Isa akan datang bukan untuk membela agama Nashrani, tetapi akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghancurkan agama tersebut. Dan yang dimaksudkan bahwa beliau menjadi hakim yang adil adalah beliau menjadi hakim dengan menggunakan syari’at Islam, bukan dengan syari’at Nashrani atau syari’at yang baru. Karena tatkala Isa bin Maryam itu turun, syari’at Islam masih tetap berlaku dan tidak terhapus. Bahkan Nabi Isa akan menjadi salah seorang hakim umat ini. Yang menguatkan hal ini adalah hadits yang diriwayatkan Thobroni, dari Abdullah bin Mughoffal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَنْزِل عِيسَى اِبْن مَرْيَم مُصَدِّقًا بِمُحَمَّدِ عَلَى مِلَّته “Isa bin Maryam akan turun dengan membenarkan agama yang dibawa Nabi Muhammad.” Lihatlah penjelasan tentang hal ini di Fathul Bari, Ibnu Hajar. Bahkan Nabi Isa akan menjadi makmum di belakang imam kaum muslimin karena Allah memuliakan umat ini. Al Baghowi menceritakan dalam tafsirnya bahwa ketika Isa mendatangi Baitul Maqdis sedangkan orang-orang sedang melakukan shalat Ashar, maka Imam di masjid itu mundur dan menyuruh Isa untuk maju. Namun, Nabi Isa enggan, dan dia tetap shalat di belakang Imam tadi dengan syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Abu Daud dan Ahmad). Lalu beliau mengartikan ayat itu dengan,’maka ikutilah aku (Isa). Aku adalah jalan yang lurus’. Waduh! Untuk mendukung pendapatnya dan pemikirannya, dia mengartikan ‘ikutilah Aku’ di sini dengan ‘ikutilah Isa’. Di dalam Al Qur’an Terjemahan saja tidak ditulis seperti itu, tetapi ‘ikutilah Aku, Inilah jalan yang lurus’. Lihatlah kata ‘aku’ dalam Al Qur’an terjemahan ditulis dengan huruf kapital (bukan huruf kecil) yang berarti ‘ikutilah Allah’ dan bukan ikutilah Isa. Agar lebih jelas, kita lihat tafsir dari para ulama ahli tafsir mengenai ayat ‘Ikutilah Aku’ Ibnu Jarir Ath Thobary mengatakan,”Ikutilah Aku yaitu Ta’atlah pada-Ku (Allah), lakukanlah segala sesuatu yang Aku perintahkan kepada kalian dan jauhilah yang Aku larang.” Ibnu Katsir mengatakan,”Ikutilah Aku yaitu ikutilah yang Aku sampaikan kepada kalian dengannya.” Al Baghowi mengatakan,”Ibnu ‘Abbas berkata,’Janganlah mendustakan hari kiamat. Ikutilah Aku di atas tauhid. Inilah jalan yang lurus yang Aku berada di atas-Nya.” Dalam Tafsir Jalalain disebutkan,”Dan katakanlah kepada mereka, ikutilah Aku di atas tauhid. Inilah yang Aku perintahkan dengannya, yaitu jalan yang lurus.” Syaikh As Sa’di mengatakan,”Ikutilah Aku dengan mengikuti yang Aku perintahkan pada kalian dan menjauhi yang Aku larang. Inilah jalan yang lurus yang mengantarkan kepada Allah ‘azza wa jalla.” Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi mengatakan,”Ikutilah Aku yaitu katakanlah kepada mereka, wahai rasul Kami, ikutilah Aku di atas tauhid dan petunjuk yang Aku datangkan pada kalian. Inilah jalan yang lurus yaitu Islam dan Tauhid yang akan memalingkan kalian dari was-was dan kesesatan.” Inilah tafsiran para ulama yang sangat jauh berbeda dengan tafsiran orang ini yang terlalu banyak membuat kesalahan dalam menafsirkan dan memahami Al Qur’an. ‘Ikutilah Aku’ dalam ayat ini bukan berarti ‘Ikutilah Isa’ tetapi Ikutilah Allah di atas tauhid sebagaimana menurut salah satu penafsiran ulama. Kemudian beliau mengatakan,”Dan tidak ada satu pun ayat yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad ngomong ikutilah aku. Tapi hanya ada satu kata dalam Al Qur’an yaitu ikutilah aku yaitu Isa.” Baik, kami akan buktikan kedustaan beliau ini. Lihatlah firman Allah Ta’ala berikut, semoga menjadi perenungan bagi kita semua. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imron [3] : 31) Bagaimana tafsiran ayat ini? Al Baghowi dalam tafsirnya mengatakan,”Ayat ini diturunkan kepada Yahudi dan Nashrani yang mengatakan,’Kami adalah anak Allah dan yang paling dicintai-Nya’. Kemudian Adh-Dhohak mengatakan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiam di sekitar orang Quraisy yang sedang memajang berhala-berhala mereka di Masjidil Harom dan menggantungkan pada berhala-berhala itu telur burung unta dan di telinganya diberi shunuf (anting-anting) dan mereka sujud di hadapannya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,”Wahai orang-orang Quraisy, Demi Allah, sungguh kalian telah menyelisihi (mendurhakai) agama ayah kalian –yaitu Ibrahim dan Isma’il-. Kemudian orang Quraisy mengatakan,”Sesungguhnya kami menyembah berhala-berhala tersebut karena kecintaan kami kepada Allah untuk mendapatkan diri kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Maka Allah Ta’ala mengatakan,”Katakanlah wahai Muhammad (kepada orang-orang musyrik, pen), jika kalian mencintai Allah dan menyembah berhala untuk mendekatkan diri kalian kepada-Nya, ikutilah aku (Muhammad, pen) maka Allah akan mencintai kalian.  Karena sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian dan sebagian hujjah (bukti) bagi kalian. Yaitu ikutilah syari’atku (syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen) dan sunnahku (jalan hidupku) maka Allah akan mencintai kalian. Maka kecintaan kaum mukminin kepada Allah adalah dengan mengikuti perintah Allah dan taat kepada-Nya dan mengharap ridho-Nya. Dan kecintaan Allah kepada kaum mukminin adalah pujian Allah kepada mereka, ganjaran untuk mereka, dan ampunan Allah untuk mereka. Oleh karena itu Allah mengatakan (yang artinya),” Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku”. Setelah kita mencermati Surat Ali Imron ayat 31 ini dan tafsirnya, maka jelaslah bahwa di dalam Al Qur’an terdapat perintah untuk mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah sebagai bantahan kepada ‘habib’ ini yang menyatakan tidak ada satu ayat pun yang menyebutkan perintah untuk mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh klaim dan perkataan beliau ini hanya omong kosong belaka. Dan satu ayat ini saja sudah cukup sebagai bukti. Oleh karena itu, kalau kaum Nashrani benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah perintah-Nya untuk mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan masuk ke dalam agama Islam ini. Karena Nabi kalian juga telah mengisahkan tentang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Allah firmankan, وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ (6) “Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”” (QS. Ash Shof [61] : 6) Begitu juga kitab kalian (Injil) telah menceritakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman, مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (29) “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Muhammad [48] : 29). Oleh karena itulah, masuklah dalam agama Islam karena agama inilah yang diterima di sisi Allah. -bersambung insya Allah-   Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal dan Abu Mushlih Ari Wahyudi Artikel https://rumaysho.com Ditulis di bulan Syawal 1428 H  


Para pengunjung setia Rumaysho.com, selanjutnya kita akan melihat kerancuan-kerancuan yang kembali dibawakan oleh Makrus Ali. Di antara kerancuan beliau lagi adalah ia menyatakan bahwa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meracuni beliau sehingga beliau mati gara-gara racun tersebut. Ia pun mengatakan bahwa dalam Al Qur’an sama sekali tidak pernah disebut “ikutilah Nabi Muhammad”, namun yang ada adalah “ikutilah Isa”. Temukan jawaban dari kerancuan ini dalam artikel seri kedua berikut. Kerancuan Ketiga Dia mengatakan,”Hadirnya shalawat itu ada riwayatnya sendiri. Pada saat Muhammad berusia 61 tahun, beliau tidak bisa mendeteksi racun yang berada dalam tubuhnya. Nabi Muhammad diracuni oleh istrinya sendiri, yaitu istri yang ke-17 (total istri nabi adalah 22) selama dua tahun. Lalu beliau katakan,”Setelah [mungkin: telah, ed] diturunkan bahasa shalawat dengan bacaan ‘Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammadin’, kemudian Nabi Muhammad meninggal.” Bantahan: Orang yang mengaku Habib ini mengatakan bahwa Nabi pada usia 61 tahun pernah diracuni oleh istrinya sendiri lalu setelah dua tahun meninggal. Dalam kitab Ar Rohiqul Makhtum yang ditulis oleh Syaikh Al Mubarakfury (yang mendapatkan juara I dalam penulisan sejarah nabi), dikisahkan bahwa setelah perang Khaibar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah diracuni oleh seorang wanita yang bernama Zainab binti Al Harits, istri Sallam bin Misykam. Wanita ini pernah memberikan daging domba yang telah dipanggang dan disisipkan racun pada bagian paha domba tersebut. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerimanya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menggigit dengan satu kunyahan. Namun kemudian beliau memuntahkannya lagi dan tidak menelannya. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tulang ini mengabarkan kepadaku bahwa di dalam daging ini telah disusupi racun.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil wanita tadi dan dia pun mengakuinya. Kemudian dikisahkan lagi dalam kitab yang sama mengenai hari terakhir kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada hari Senin Tanggal 12 Rabi’ul Awwal 11 H, rasa sakit beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin parah. Ditambah lagi pengaruh racun yang disusupkan dalam daging oleh wanita Yahudi yang beliau makan sewaktu di Khaibar sehingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit karena makanan yang sempat kucicipi di Khaibar. Inilah saatnya bagiku untuk merasakan bagaimana terputusnya nadiku karena racun tersebut.” Inilah kisah akhir kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang dapat kita lihat bahwa memang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah diracuni, tetapi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah diracuni oleh istri beliau sendiri. Beliau diracuni oleh Zainab binti Al Harits, istri Sallam bin Misykam, seorang wanita Yahudi. Jika kita lihat dalam kitab Ar Rohiqul Makhtum, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Zainab itu ada 2, yaitu : [1]   Zainab binti Khuzaimah bin Al Harits. Dia berasal dari Bani Hilal bin Amir bin Sha’sha’ah. Sebelumnya dia adalah istri Abdullah bin Jahsy, yang mati syahid pada perang Uhud, lalu dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun 4 H. Namun dia meninggal dua atau tiga bulan setelah pernikahan ini. Komentar : Jika kita lihat nama wanita yang meracuni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mungkin hampir sama dengan nama istri beliau ini yaitu sama-sama ada Al Harits. Namun jika kita melihat pada tahun 4 H lebih beberapa bulan, istri beliau ini sudah meninggal. Bagaimana mungkin istri beliau ini meracuni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ataukah mungkin dia meracuni Nabi tatkala dia sudah berada di kuburan? Ini sangat tidak mungkin! Padahal peristiwa peracunan tadi terjadi pada saat Nabi berusia 61 tahun (sekitar tahun 9 H) sebagaimana perkataan Si Habib ini. Namun perlu diketahui bahwasanya peracunan ini terjadi bukan pada saat Nabi berusia 61 tahun karena peracunan ini terjadi pada saat perang Khaibar. Sedangkan perang Khaibar sebagaimana dalam buku sejarah Nabi terjadi pada tahun 7 H, dan itu tatkala Nabi berusia sekitar 59 tahun. [2]   Zainab binti Jahsy bin Rayyab. Dia berasal dari Bani Asad bin Khuzaimah dan putri bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Sebelumnya dia adalah istri Zaid bin Haritsah, yang dianggap sebagai putra beliau sendiri. Zaid menceraikannya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya pada bulan Sya’ban pada tahun 6 H. Komentar : Kalau kita melihat dari nama istri Nabi yang kedua ini, jelas namanya berbeda dengan wanita yang meracuni Nabi. Maka sungguh ngawur orang yang menyatakan istri Nabi-lah yang meracuni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia menyebutkan bahwa jumlah total istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 22. Menurut pendapat yang kuat, istri yang dinikahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada 11 : [1]      Khadijah binti Khuwailid; [2]      Saudah binti Zum’ah; [3]      Aisyah binti Abu Bakar Ash Shidiq; [4]      Hafshoh binti Umar bin Al Khaththab; [5]      Zainab binti Khuzaimah; [6]      Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah; [7]      Zainab binti Jahsy bin Rayyab; [8]      Juwairiyyah binti Al Harits; [9]      Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan; [10]  Shafiyah binti Huyai bin Akhthab; [11]  Maimunah binti Al Harits. Mereka inilah para wanita yang pernah dinikahi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan beliau hidup bersama mereka. Ada dua orang yang meninggal dunia semasa beliau masih hidup yaitu Khadijah dan Zainab binti Khuzaimah, yang berarti beliau meninggal dunia dengan meninggalkan sembilan janda. Sedangkan dua wanita lainnya yang tidak hidup bersama beliau, salah seorang di antaranya berasal dari Bani Kilab dan satunya lagi berasal dari Kindah yang dikenal dengan nama Al Juwainiyah. Namun ada perbedaan pendapat dalam masalah ini. Adapun wanita yang beliau nikahi bukan sebagai wanita merdeka adalah Mariyah Al Qibthiyah, yang dihadiahkan oleh Al Maquqis dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki anak dari wanita ini yang bernama Ibrahim. Namun Ibrahim meninggal semasa hidup beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah. Selain Mariyah adalah Raihanah binti Zaid An Nadhiriyah atau Al Qurzhiyah, yang sebelumnya termasuk tawanan Quraizhah. Beliau memilihnya untuk diri beliau sendiri. Ada yang berpendapat bahwa dia juga termasuk istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dimerdekakan lalu dinikahi. Pendapat pertama dipilih oleh Ibnul Qayyim. Sedangkan Abu Ubaidah menambahkan dua wanita lainnya. Komentar : Jika kita melihat dari kitab sejarah Nabi ini terlihat bahwasanya total istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik wanita merdeka dan budak = 11 + 2 wanita yang tidak hidup bersama Nabi + 2 budak wanita + 2 wanita yang disebut Abu Ubaidah = 17 wanita. Lihatlah, jika kita tidak memperhatikan perselisihan yang ada, jumlah total istri Nabi adalah 17. Kami tidak mengetahui dari kitab mana beliau mengatakan pendapatnya itu. Perlu diperhatikan bahwa dalam teks shalawat yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan tidak terdapat lafadz ‘sayyidina’. Agar lebih yakin dengan yang kami katakan, lihatlah fatwa dari komisi Fatwa di Saudi Arabia (Lajnah Daimah) berikut ini. السؤال الثالث من الفتوى رقم ( 4276 ) س3: هل يجوز أن نقول أثناء كلامنا على رسول الله صلى الله عليه وسلم: سيدنا محمد في غير المأثور عنه كالصلاة الإبراهيمية أو غير ذلك؟ Pertanyaan Ketiga dari Fatawa no. 4276 Soal : Bolehkan kita mengatakan dalam sanjungan kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Sayyidina Muhammad’ dalam shalawat yang ma’tsur sebagaimana shalawat Ibrahimiyyah atau selainnya? ج3: الصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم في التشهد لم يرد فيها – فيما نعلم – كلمة سيدنا أي: (اللهم صل على سيدنا محمد ..إلخ) وهكذا صفة الأذان والإقامة فلا يقال فيها سيدنا، لعدم ورود ذلك في الأحاديث الصحيحة التي علم فيها النبي صلى الله عليه وسلم أصحابه كيفية الصلاة عليه وكيفية الأذان والإقامة، ولأن العبادات توقيفية فلا يزاد فيها ما لم يشرعه الله سبحانه وتعالى، أما الإتيان بها في غير ذلك فلا بأس، لقوله صلى الله عليه وسلم: أخرجه أحمد 1 / 5، 281، 295، 3 / 2، 144، ومسلم 4 / 1782 برقم (2278)، وأبو داود 5 / 54 برقم (4673) والترمذي 4 / 622، 5 / 587 برقم (2434، 3615 ) وابن ماجه 2 / 1440 برقم (4308) . أنا سيد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر Jawab : Shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tasyahud, sepengetahuan kami tidak terdapat kalimat sayyidina yaitu ‘Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad …’. Begitu juga pada do’a sesudah adzan dan iqomah tidak terdapat pula kalimat sayyidina. Alasannya karena tidak ada dalil shohih (yang bisa diterima, pen) yang menyebutkan bahwa Nabi mengajarkan para sahabatnya mengenai tata cara shalawat kepada beliau atau pun adzan dan iqomah. Dan juga hal ini dikarenakan ibadah adalah tauqifiyyah (harus ada dalil untuk dilaksanakan, pen). Tidak boleh seseorang menambah ajaran yang bukan syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun menggunakan lafadz sayyidina selain dari yang demikian maka tidaklah mengapa. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : أنا سيد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر “Aku adalah sayyid anak Adam pada hari kiamat maka janganlah berbangga diri.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah). وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم. اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء عضو … عضو … الرئيس عبد الله بن قعود … عبد الله بن غديان … عبد العزيز بن عبد الله بن باز Kerancuan Keempat Beliau juga mengatakan,”Saudara kita dari Bani Kedar (beliau menyebut umat Islam dengan istilah ini yang maksudnya adalah keledai liar, pen) juga menantikan Yesus. Dalam surat Az Zukhruf: 61 jelas di sana dikatakan, وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (61) (Namun beliau salah membaca ayat ini dengan menghilangkan huruf lam pada kata sa’ah dan menghilangkan kata biha serta menutup ayat dengan hadza shirothol mustaqim, pen). Beliau artikan,’Sesungguhnya Isa adalah (tanda kiamat) sebagai hakim yang adil, maka ikutilah aku (Isa). Aku adalah jalan yang lurus’. Jadi dalam ayat ini Al Qur’an memerintahkan untuk mengikuti Isa. Dan tidak ada satu pun ayat yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad ngomong ikutilah aku. Tapi hanya ada satu kata dalam Al Qur’an yaitu ikutilah aku yaitu Isa.” Bantahan: Marilah kita lihat arti sebenarnya dari Surat Az Zukhruf ayat 61 (yang terdapat kesalahan bacaan dari beliau) dengan merujuk Al Qur’an terjemahan. Arti ayat tersebut adalah,”Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.” Lalu bagaimana tafsir ulama mengenai ayat ini? Ibnu Katsir dalam Tafsirul Qur’anil ‘Azhim mengatakan, ”Tafsir dari Ibnu Ishaq telah disebutkan, yaitu yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah diutusnya Isa ‘alaihis salam di mana beliau ‘alaihis salam akan menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta dan penyakit kusta serta penyakit lainnya.” Kemudian selanjutnya Ibnu Katsir mengatakan,”Yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah mengenai turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam sebelum hari kiamat. Sebagaimana terdapat pula dalam firman Allah, وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepada Isa (‘alaihis salam) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An Nisa’ [4] : 159). Hal ini juga dikuatkan dengan qiro’ah (bacaan) lain dari ayat ini, “وإنه لعَلَم للساعة” Yang artinya ‘Sungguh Isa adalah sebagai tanda datangnya hari kiamat’ yaitu Isa sebagai tanda atau petunjuk akan terjadinya kiamat. Dan Mujahid berkata mengenai ayat ini bahwa sebagai tanda hari kiamat adalah keluarnya Isa bin Maryam sebelum hari kiamat. Demikianlah yag diriwayatkan dari Abu Huroiroh, Ibnu Abbas, Abul ‘Aliyah, Abu Malik, ‘Ikrimah, Qotadah, Adh Dhohak, dan selainnya. Juga terdapat hadits mutawatir (melalui banyak jalan periwayatan) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Isa ‘alaihis salam akan turun sebelum hari kiamat sebagai imam dan hakim yang adil. Janganlah ragu-ragu dengan hari kiamat (bukan dengan Isa, pen). Sesungguhnya hari kiamat itu pasti terjadi dan bukan sesuatu yang mustahil. Ikutilah Aku mengenai yang Aku sampaikan kepada kalian dengannya (tentang turunnya Isa). Inilah jalan yang lurus.” Pertanyaan : Apakah Yesus turun kembali untuk membela orang Nashrani? Dijawab oleh Al Baghowi dalam tafsirnya, beliau berkata, وروينا عن النبي صلى الله عليه وسلم: “ليوشكن أن ينزل فيكم ابن مريم حكمًا عادلا يكسر الصليب، ويقتل الخنزير ويضع الجزية، وتهلك في زمانه الملل كلها إلا الإسلام”. ”Kami telah mendapatkan riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,’Sungguh hampir dekat waktunya turun di tengah-tengah kalian (Isa) bin Maryam sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghilangkan jizyah (upeti, karena kafir dzimmi sudah tidak ada lagi. Semuanya muslim, ed). Akan dihancurkan seluruh agama di zaman beliau kecuali Islam’.”(HR. Bukhari) Perhatikan Nabi Isa akan datang bukan untuk membela agama Nashrani, tetapi akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghancurkan agama tersebut. Dan yang dimaksudkan bahwa beliau menjadi hakim yang adil adalah beliau menjadi hakim dengan menggunakan syari’at Islam, bukan dengan syari’at Nashrani atau syari’at yang baru. Karena tatkala Isa bin Maryam itu turun, syari’at Islam masih tetap berlaku dan tidak terhapus. Bahkan Nabi Isa akan menjadi salah seorang hakim umat ini. Yang menguatkan hal ini adalah hadits yang diriwayatkan Thobroni, dari Abdullah bin Mughoffal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَنْزِل عِيسَى اِبْن مَرْيَم مُصَدِّقًا بِمُحَمَّدِ عَلَى مِلَّته “Isa bin Maryam akan turun dengan membenarkan agama yang dibawa Nabi Muhammad.” Lihatlah penjelasan tentang hal ini di Fathul Bari, Ibnu Hajar. Bahkan Nabi Isa akan menjadi makmum di belakang imam kaum muslimin karena Allah memuliakan umat ini. Al Baghowi menceritakan dalam tafsirnya bahwa ketika Isa mendatangi Baitul Maqdis sedangkan orang-orang sedang melakukan shalat Ashar, maka Imam di masjid itu mundur dan menyuruh Isa untuk maju. Namun, Nabi Isa enggan, dan dia tetap shalat di belakang Imam tadi dengan syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Abu Daud dan Ahmad). Lalu beliau mengartikan ayat itu dengan,’maka ikutilah aku (Isa). Aku adalah jalan yang lurus’. Waduh! Untuk mendukung pendapatnya dan pemikirannya, dia mengartikan ‘ikutilah Aku’ di sini dengan ‘ikutilah Isa’. Di dalam Al Qur’an Terjemahan saja tidak ditulis seperti itu, tetapi ‘ikutilah Aku, Inilah jalan yang lurus’. Lihatlah kata ‘aku’ dalam Al Qur’an terjemahan ditulis dengan huruf kapital (bukan huruf kecil) yang berarti ‘ikutilah Allah’ dan bukan ikutilah Isa. Agar lebih jelas, kita lihat tafsir dari para ulama ahli tafsir mengenai ayat ‘Ikutilah Aku’ Ibnu Jarir Ath Thobary mengatakan,”Ikutilah Aku yaitu Ta’atlah pada-Ku (Allah), lakukanlah segala sesuatu yang Aku perintahkan kepada kalian dan jauhilah yang Aku larang.” Ibnu Katsir mengatakan,”Ikutilah Aku yaitu ikutilah yang Aku sampaikan kepada kalian dengannya.” Al Baghowi mengatakan,”Ibnu ‘Abbas berkata,’Janganlah mendustakan hari kiamat. Ikutilah Aku di atas tauhid. Inilah jalan yang lurus yang Aku berada di atas-Nya.” Dalam Tafsir Jalalain disebutkan,”Dan katakanlah kepada mereka, ikutilah Aku di atas tauhid. Inilah yang Aku perintahkan dengannya, yaitu jalan yang lurus.” Syaikh As Sa’di mengatakan,”Ikutilah Aku dengan mengikuti yang Aku perintahkan pada kalian dan menjauhi yang Aku larang. Inilah jalan yang lurus yang mengantarkan kepada Allah ‘azza wa jalla.” Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi mengatakan,”Ikutilah Aku yaitu katakanlah kepada mereka, wahai rasul Kami, ikutilah Aku di atas tauhid dan petunjuk yang Aku datangkan pada kalian. Inilah jalan yang lurus yaitu Islam dan Tauhid yang akan memalingkan kalian dari was-was dan kesesatan.” Inilah tafsiran para ulama yang sangat jauh berbeda dengan tafsiran orang ini yang terlalu banyak membuat kesalahan dalam menafsirkan dan memahami Al Qur’an. ‘Ikutilah Aku’ dalam ayat ini bukan berarti ‘Ikutilah Isa’ tetapi Ikutilah Allah di atas tauhid sebagaimana menurut salah satu penafsiran ulama. Kemudian beliau mengatakan,”Dan tidak ada satu pun ayat yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad ngomong ikutilah aku. Tapi hanya ada satu kata dalam Al Qur’an yaitu ikutilah aku yaitu Isa.” Baik, kami akan buktikan kedustaan beliau ini. Lihatlah firman Allah Ta’ala berikut, semoga menjadi perenungan bagi kita semua. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imron [3] : 31) Bagaimana tafsiran ayat ini? Al Baghowi dalam tafsirnya mengatakan,”Ayat ini diturunkan kepada Yahudi dan Nashrani yang mengatakan,’Kami adalah anak Allah dan yang paling dicintai-Nya’. Kemudian Adh-Dhohak mengatakan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiam di sekitar orang Quraisy yang sedang memajang berhala-berhala mereka di Masjidil Harom dan menggantungkan pada berhala-berhala itu telur burung unta dan di telinganya diberi shunuf (anting-anting) dan mereka sujud di hadapannya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,”Wahai orang-orang Quraisy, Demi Allah, sungguh kalian telah menyelisihi (mendurhakai) agama ayah kalian –yaitu Ibrahim dan Isma’il-. Kemudian orang Quraisy mengatakan,”Sesungguhnya kami menyembah berhala-berhala tersebut karena kecintaan kami kepada Allah untuk mendapatkan diri kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Maka Allah Ta’ala mengatakan,”Katakanlah wahai Muhammad (kepada orang-orang musyrik, pen), jika kalian mencintai Allah dan menyembah berhala untuk mendekatkan diri kalian kepada-Nya, ikutilah aku (Muhammad, pen) maka Allah akan mencintai kalian.  Karena sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian dan sebagian hujjah (bukti) bagi kalian. Yaitu ikutilah syari’atku (syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen) dan sunnahku (jalan hidupku) maka Allah akan mencintai kalian. Maka kecintaan kaum mukminin kepada Allah adalah dengan mengikuti perintah Allah dan taat kepada-Nya dan mengharap ridho-Nya. Dan kecintaan Allah kepada kaum mukminin adalah pujian Allah kepada mereka, ganjaran untuk mereka, dan ampunan Allah untuk mereka. Oleh karena itu Allah mengatakan (yang artinya),” Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku”. Setelah kita mencermati Surat Ali Imron ayat 31 ini dan tafsirnya, maka jelaslah bahwa di dalam Al Qur’an terdapat perintah untuk mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah sebagai bantahan kepada ‘habib’ ini yang menyatakan tidak ada satu ayat pun yang menyebutkan perintah untuk mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh klaim dan perkataan beliau ini hanya omong kosong belaka. Dan satu ayat ini saja sudah cukup sebagai bukti. Oleh karena itu, kalau kaum Nashrani benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah perintah-Nya untuk mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan masuk ke dalam agama Islam ini. Karena Nabi kalian juga telah mengisahkan tentang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Allah firmankan, وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ (6) “Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”” (QS. Ash Shof [61] : 6) Begitu juga kitab kalian (Injil) telah menceritakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman, مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (29) “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Muhammad [48] : 29). Oleh karena itulah, masuklah dalam agama Islam karena agama inilah yang diterima di sisi Allah. -bersambung insya Allah-   Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal dan Abu Mushlih Ari Wahyudi Artikel https://rumaysho.com Ditulis di bulan Syawal 1428 H  

Menjadi Wali Allah Terdepan Melalui Amalan Sunnah

Bagaimana menjadi wali Allah? Faedah dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Al Furqon baina awliya ar rohman wa awliya asy syaithon: Orang yang rajin mengamalkan amalan sunnah, maka ia akan menjadi wali Allah yang istimewa. Perlu diketahui bahwa wali Allah ada dua macam: [1] As Saabiquun Al Muqorrobun (wali Allah terdepan) dan [2] Al Abror Ash-habul yamin (wali Allah pertengahan). As saabiquun al muqorrobun adalah hamba Allah yang selalu mendekatkan diri pada Allah dengan amalan sunnah di samping melakukan yang wajib serta dia meninggalkan yang haram sekaligus yang makruh. Al Abror ash-habul yamin adalah hamba Allah yang hanya mendekatkan diri pada Allah dengan amalan yang wajib dan meninggalkan yang haram, ia tidak membebani dirinya dengan amalan sunnah dan tidak menahan diri dari berlebihan dalam yang mubah. Mereka inilah yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ (1) لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ (2) خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ (3) إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا (4) وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (5) فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا (6) وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةً (7) فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (8) وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (9) وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11) فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (12) ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ (13) وَقَلِيلٌ مِنَ الْآَخِرِينَ (14) “Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan, dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.” (QS. Al Waqi’ah: 1-14)[1]   Mudah-mudahan kita selalu dimudahkan oleh Allah mendapatkan faedah ilmu setiap harinya.   Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Panggang, Gunung Kidul, 4 Rabi’ul Awwal 1431 H (18/02/2010) Baca Juga: Antara Wali Allah dan Wali Setan Tingkatan Wali Allah [1] Lihat Al furqon baina awliyair rohman wa awliyaisy syaithon, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 51, Maktabah Ar Rusyd, cetakan kedua, tahun 1424 H. Tagsamalan sunnah wali Allah

Menjadi Wali Allah Terdepan Melalui Amalan Sunnah

Bagaimana menjadi wali Allah? Faedah dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Al Furqon baina awliya ar rohman wa awliya asy syaithon: Orang yang rajin mengamalkan amalan sunnah, maka ia akan menjadi wali Allah yang istimewa. Perlu diketahui bahwa wali Allah ada dua macam: [1] As Saabiquun Al Muqorrobun (wali Allah terdepan) dan [2] Al Abror Ash-habul yamin (wali Allah pertengahan). As saabiquun al muqorrobun adalah hamba Allah yang selalu mendekatkan diri pada Allah dengan amalan sunnah di samping melakukan yang wajib serta dia meninggalkan yang haram sekaligus yang makruh. Al Abror ash-habul yamin adalah hamba Allah yang hanya mendekatkan diri pada Allah dengan amalan yang wajib dan meninggalkan yang haram, ia tidak membebani dirinya dengan amalan sunnah dan tidak menahan diri dari berlebihan dalam yang mubah. Mereka inilah yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ (1) لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ (2) خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ (3) إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا (4) وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (5) فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا (6) وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةً (7) فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (8) وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (9) وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11) فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (12) ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ (13) وَقَلِيلٌ مِنَ الْآَخِرِينَ (14) “Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan, dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.” (QS. Al Waqi’ah: 1-14)[1]   Mudah-mudahan kita selalu dimudahkan oleh Allah mendapatkan faedah ilmu setiap harinya.   Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Panggang, Gunung Kidul, 4 Rabi’ul Awwal 1431 H (18/02/2010) Baca Juga: Antara Wali Allah dan Wali Setan Tingkatan Wali Allah [1] Lihat Al furqon baina awliyair rohman wa awliyaisy syaithon, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 51, Maktabah Ar Rusyd, cetakan kedua, tahun 1424 H. Tagsamalan sunnah wali Allah
Bagaimana menjadi wali Allah? Faedah dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Al Furqon baina awliya ar rohman wa awliya asy syaithon: Orang yang rajin mengamalkan amalan sunnah, maka ia akan menjadi wali Allah yang istimewa. Perlu diketahui bahwa wali Allah ada dua macam: [1] As Saabiquun Al Muqorrobun (wali Allah terdepan) dan [2] Al Abror Ash-habul yamin (wali Allah pertengahan). As saabiquun al muqorrobun adalah hamba Allah yang selalu mendekatkan diri pada Allah dengan amalan sunnah di samping melakukan yang wajib serta dia meninggalkan yang haram sekaligus yang makruh. Al Abror ash-habul yamin adalah hamba Allah yang hanya mendekatkan diri pada Allah dengan amalan yang wajib dan meninggalkan yang haram, ia tidak membebani dirinya dengan amalan sunnah dan tidak menahan diri dari berlebihan dalam yang mubah. Mereka inilah yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ (1) لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ (2) خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ (3) إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا (4) وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (5) فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا (6) وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةً (7) فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (8) وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (9) وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11) فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (12) ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ (13) وَقَلِيلٌ مِنَ الْآَخِرِينَ (14) “Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan, dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.” (QS. Al Waqi’ah: 1-14)[1]   Mudah-mudahan kita selalu dimudahkan oleh Allah mendapatkan faedah ilmu setiap harinya.   Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Panggang, Gunung Kidul, 4 Rabi’ul Awwal 1431 H (18/02/2010) Baca Juga: Antara Wali Allah dan Wali Setan Tingkatan Wali Allah [1] Lihat Al furqon baina awliyair rohman wa awliyaisy syaithon, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 51, Maktabah Ar Rusyd, cetakan kedua, tahun 1424 H. Tagsamalan sunnah wali Allah


Bagaimana menjadi wali Allah? Faedah dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Al Furqon baina awliya ar rohman wa awliya asy syaithon: Orang yang rajin mengamalkan amalan sunnah, maka ia akan menjadi wali Allah yang istimewa. Perlu diketahui bahwa wali Allah ada dua macam: [1] As Saabiquun Al Muqorrobun (wali Allah terdepan) dan [2] Al Abror Ash-habul yamin (wali Allah pertengahan). As saabiquun al muqorrobun adalah hamba Allah yang selalu mendekatkan diri pada Allah dengan amalan sunnah di samping melakukan yang wajib serta dia meninggalkan yang haram sekaligus yang makruh. Al Abror ash-habul yamin adalah hamba Allah yang hanya mendekatkan diri pada Allah dengan amalan yang wajib dan meninggalkan yang haram, ia tidak membebani dirinya dengan amalan sunnah dan tidak menahan diri dari berlebihan dalam yang mubah. Mereka inilah yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ (1) لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ (2) خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ (3) إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا (4) وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (5) فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا (6) وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةً (7) فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (8) وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (9) وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11) فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (12) ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ (13) وَقَلِيلٌ مِنَ الْآَخِرِينَ (14) “Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan, dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.” (QS. Al Waqi’ah: 1-14)[1]   Mudah-mudahan kita selalu dimudahkan oleh Allah mendapatkan faedah ilmu setiap harinya.   Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.com Panggang, Gunung Kidul, 4 Rabi’ul Awwal 1431 H (18/02/2010) Baca Juga: Antara Wali Allah dan Wali Setan Tingkatan Wali Allah [1] Lihat Al furqon baina awliyair rohman wa awliyaisy syaithon, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 51, Maktabah Ar Rusyd, cetakan kedua, tahun 1424 H. Tagsamalan sunnah wali Allah

Menjawab Kerancuan VCD Pelecehan Islam (Seri 1)

Kaum muslimin yang semoga dirahmati oleh Allah. Baru-baru ini muncul kembali sebuah VCD yang meresahkan kaum muslimin di daerah Sumenep-Jawa Timur. Namun sebenarnya VCD ini sudah tersebar sejak tahun 2007. Kami sendiri pun sudah menyaksikan VCD tersebut dan telah membuat sanggahan dari kerancuan yang dimunculkan. Sanggahan tersebut kami susun bersama saudara kami Al Fadhil Ustadz Abu Mushlih Ari Wahyudi dan sudah dipublish di www.muslim.or.id pada bulan Syawal 1428 H. Berikut kami sampaikan kembali artikel tersebut dan kami bagi menjadi tiga seri. Silakan lihat link berita tersebut di sini. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad nabi dan rasul terakhir yang diutus Rabb alam semesta dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, supaya beliau menjadi rahmat bagi seluruh alam. Amma ba’du. Kaum muslimin, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Di tengah masyarakat kita belakangan ini muncul sebuah VCD yang meresahkan. Di dalam VCD ini ditampilkan ceramah seorang murtad (sebagaimana tampak dari pengakuannya sendiri, entah itu jujur atau tidak) yang bernama Mohamad Ali Makrus Attamimi [jika benar dia berasal dari kabilah Tamim maka pengakuannya sebagai keturunan Nabi jelas sebuah kedustaan. Kabilah Tamim bukanlah kabilah Nabi, ed]. Seorang penyair mengatakan, كُلٌّ يَدَّعِي وَصْلاً لِلَيْلَى وَلَيْلَى لَا تُقِرُّ لَهُمْ بِذَاكَا Semua orang mengaku punya hubungan dengan Laila Namun Laila tidak mengakui ucapan mereka Disebutkan bahwa dia adalah mantan aktifis FPI, seorang keturunan habib (masih ada silsilah keturunan dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), dan juga pernah menjadi anggota Tim Pemburu Hantu Reality Show TV (Lativi) bahkan lebih parah lagi orang ini menyatakan sendiri bahwa dia pernah menjabat sebagai ‘penasehat paguyuban paranormal’ berarti sangat menggandrungi dunia perdukunan dan kesyrikan. Dan yang paling menyedihkan adalah disebutkan bahwa ‘dia menemukan kebenaran’ (artinya meninggalkan Islam dan memeluk agama Nashrani[1], wal ‘iyadzu billah!), padahal pada hakikatnya dia telah terseret dalam arus kesesatan yang nyata. Semoga Allah menyelamatkan kita dari tipu daya syaitan dan bala tentaranya. Karena kita yakin bahwa sesungguhnya tipu daya syaitan itu sangat lemah. Dengan bekal ilmu, kesabaran dan ketakwaan maka tipu daya mereka tidak akan bisa membahayakan kita barang sedikitpun. Sebelum lebih jauh berbicara tentang kasus ini maka perlu kami ingatkan di sini bahwa berita-berita yang bertebaran di sekitar kita perlu diteliti dari mana datangnya. Apalagi jika berita ini datang dari orang kafir, maka berita mereka tidak layak untuk dipercaya, apalagi yang terkait dengan masalah agama. Karena Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ ”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat [49] : 6) Syaikh As Sa’di dalam Taisir Karimir Rahman mengatakan,”Apabila seorang fasik (yang sering melakukan dosa besar sebagaimana ditafsirkan dalam Aysarut Tafasir, pen) menceritakan suatu berita, hendaklah diteliti terlebih dahulu dan tidak menelan mentah-mentah berita tersebut begitu saja karena hal ini dapat menimbulkan bahaya yang besar dan terjatuh dalam dosa. Jika berita dari orang fasik ini diterima seperti berita dari orang yang jujur dan adil maka akan timbul kerusakan jiwa dan harta tanpa alasan yang benar.” Oleh karena itu, setiap berita dari orang yang fasik hendaklah diteliti terlebih dahulu kebenarannya, jangan diterima terlebih dahulu apalagi berita dari orang kafir (Nashrani) yang lebih jelek dari orang yang melakukan dosa besar dan masih muslim. Perhatikanlah hal ini! Kami sendiri pernah mengalami, pada suatu saat ada seorang tamu mengaku bernama Imron yang diundang oleh jama’ah pengajian di suatu masjid di Jogjakarta untuk menceritakan kisah masuk Islamnya. Orang ini mengaku sebagai muallaf yang sebelumnya telah menempuh pendidikan kependetaan di Sulawesi kemudian setelah dia menemukan Islam sebagai ajaran yang benar maka dia pun masuk Islam dan melarikan diri ke Jogjakarta, bahkan kemudian dia ditampung di sebuah pondok pesantren. Setelah berlalu beberapa waktu lamanya ternyata terbukti bahwa orang tersebut adalah orang Nashrani yang sengaja mengelabui kaum muslimin dan sedang mengadakan penelitian untuk kepentingan mereka. Copyan VCD tersebut kami dapatkan dari seorang teman yang melaporkan bahwa video ini terbukti disebarkan dengan cara ‘ditanam’ di komputer-komputer yang ada di sebagian warnet. Di dalam VCD tersebut banyak terdapat kerancuan dan kekacauan pemahaman yang dilontarkan oleh orang yang mengaku keturunan habib ini. Dan di dalamnya terdapat pula pelecehan terhadap ajaran Islam. Mudah-mudahan melalui tulisan ini berdasarkan ilmu yang kami ketahui, Allah memudahkan kami untuk menjelaskan berbagai kerancuan pemikiran dan pelecehan yang dilakukan oleh orang yang mengaku sebagai habib ini. “Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal” (QS. Ali Imran [3] : 122) Kerancuan Pertama Dia menyatakan bahwa kata ‘muslim’ di dalam Al Qur’an (seperti dalam ayat wa laa tamuutunna illa wa antum muslimuun) itu lebih luas maknanya daripada sekedar orang yang beragama Islam. Menurutnya, muslim adalah karakter/sifat yang melekat pada setiap orang yang taat dan tunduk kepada perintah firman Tuhan, sedangkan Islam identik dengan agama. Sehingga firman Allah (yang artinya),”Janganlah kalian mati kecuali sebagai muslim.” tidak bisa dimaknai ‘janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam’. Dengan kata lain, dia ingin mengatakan bahwa yang bisa selamat bukan hanya pemeluk agama Islam. Oleh sebab itu dia menyebut penafsiran para ulama kita terhadap kata ‘muslim’ dalam Al Qur’an sebagai ‘orang yang beragama Islam’ adalah kekeliruan (salah kaprah) yang dibudayakan. Bantahan : Sesungguhnya perkataan orang ini tidak ada bedanya dengan perkataan orang-orang Liberal yang menafsirkan ‘muslim’ sebagai setiap orang yang pasrah kepada Dzat Yang Maha Benar yaitu Allah Ta’ala. Sehingga siapa pun orangnya –menurut mereka- asalkan dia pasrah kepada Allah maka dia adalah seorang muslim dan mendapatkan jaminan surga. Kalau kita mau secara ringkas membantahnya, maka dapat kita katakan bahwa sebenarnya perkataan semacam ini hanya muncul dari orang yang tidak faham kandungan Al Qur’an. Nah, apakah perkataan orang yang tidak paham isi Al Qur’an bisa dijadikan pegangan ? Untuk lebih membuktikan kekeliruan fatal ini maka akan kami sebutkan beberapa ayat Al Qur’an beserta tafsiran para ahli tafsir yang bertolak belakang dengan penafsiran di atas. Pertama; Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Ibrahim bukanlah seorang Yahudi ataupun Nasrani akan tetapi dia adalah seorang hanif dan muslim serta bukan termasuk golongan kaum musyrikin.” (QS. Ali-‘Imran [3] : 67) Ibnu Jarir Ath-Thabari mengatakan,”Ini merupakan pendustaan dari Allah ‘azza wa jalla terhadap klaim orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mendebat ajaran Nabi Ibrahim dan millahnya. Mereka mengklaim bahwa Nabi Ibrahim menganut agama yang mereka anut. Ayat ini juga menjadi penegasan sikap berlepas diri Ibrahim dari perbuatan mereka itu. Allah menegaskan bahwa sesungguhnya merekalah (Yahudi dan Nasrani) yang menyelisihi agama yang beliau bawa. Ini pun menjadi kata putus dari Allah ‘azza wa jalla bagi seluruh pemeluk Islam dan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menetapkan bahwa mereka itulah sebenarnya yang menganut ajaran agama Ibrahim dan berjalan di atas jalan dan syariat yang beliau gariskan dan bukannya para pemeluk agama-agama selain agama yang mereka peluk/Islam” (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, Maktabah Syamilah) Dari penafsiran di atas jelas bagi kita bahwa makna Islam yang dikehendaki oleh Al Qur’an yaitu mengikuti ajaran Nabi Ibrahim yang lurus yaitu menyembah Allah semata dan tidak berbuat syirik. Dan inilah ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para nabi yang lainnya. Dan itu berarti muslim adalah yang tidak menganut agama Yahudi maupun Nasrani namun mengikuti nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sudah Allah tegaskan pada ayat di atas dan diperjelas oleh ayat-ayat lainnya berikut ini. Kedua; Allah jalla wa ‘ala berfirman, ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengikuti millah Ibrahim dengan hanif...” (QS. An-Nahl [16] : 123) Imam ahli tafsir Ibnu Jari Ath-Thabari menafsirkan kata-kata ‘dengan hanif’ dalam ayat tersebut (QS. An-Nahl : 123) adalah dengan “istiqamah di atas agama Islam”. Ibnu Katsir berkata bahwa makna kata hanif ialah almunharif qashdan ‘anisysyirki ilat tauhid : sengaja menjauhi dan meninggalkan syirik menuju tauhid. Al-Baghawi mengatakan bahwa makna hanif adalah,”muslim yang lurus berada di atas agama Islam.” Al-Alusi mengatakan bahwa makna hanif adalah,”Berpaling dari semua agama yang batil menuju agama yang haq dan tidak bergeser darinya.” Tafsiran serupa disampaikan oleh Asy-Syaukani  dalam Fathul Qadir. Syaikh As-Sa’di mengatakan bahwa makna haniif adalah muqbilan ‘alallah bil mahabbah wal inaabah wal ‘ubuudiyah mu’ridhan ‘an man siwaahu : menghadapkan jiwa raga kepada Allah dengan rasa cinta, taubat dan penghambaan serta berpaling dari segala sesembahan selain-Nya. Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazaa’iri mengatakan tentang makna hanif adalah condong kepada agama yang lurus yaitu Islam (Lihat Maktabah Syamilah) Ketiga; Allah ‘azza wa jalla berfirman, إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ “Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam….” (QS. Ali-‘Imraan [3] : 19) Al-Baghawi mengatakan tentang makna ayat ini yaitu agama yang diridhai dan benar (hanya Islam). Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna Islam di dalam ayat ini adalah mengikuti ajaran rasul Allah yang diutus kepada mereka di setiap masa sampai ditutupnya risalah dengan diutusnya Muhammad shallallahu a’alaihi wa sallam yang menutup semua jalan menuju Allah kecuali satu jalan yang dibentangkan oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu orang-orang sesudah diutusnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menghadap Allah dalam keadaan menganut agama selain syari’at beliau maka tidak akan diterima. Ath-Thabari membawakan riwayat dari Qatadah yang menafsirkan ayat ini : Yang dimaksud Islam di sini adalah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah serta mengakui ajaran dari sisi Allah yang dibawa olehnya (Rasulullah). Itulah agama Allah yang disyari’atkan untuk diri-Nya. Dan dengan agama itulah Allah mengutus para rasul-Nya. Dan itu pulalah agama yang ditunjukkan oleh para wali-Nya (kepada umat manusia). Allah tidak menerima selain agama itu dan tidak akan memberikan balasan pahala kecuali dengannya. (Maktabah Syamilah) Keempat; Allah juga berfirman, وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ “Dan barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia akan termasuk golongan yang menderita kerugian.” (QS. Ali-‘Imraan [3] : 85) Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima oleh Allah. Imam Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa barangsiapa yang menempuh jalan selain yang disyari’atkan Allah maka tidak akan menerimanya. Imam Al-Baghawi menjelaskan bahwa ayat ini turun pada  kisah 12 orang yang murtad dari Islam dan keluar meninggalkan Madinah dan mendatangi Mekkah dalam keadaan sebagai orang kafir, diantara mereka ada Al-Harits bin Suwaid Al-Anshari. Syaikh As-Sa’di berkata : barangsiapa yang beragama kepada Allah dengan selain agama Islam yang telah diridhai Allah bagi hamba-hamba-Nya maka amalnya tertolak dan tidak diterima …(Maktabah Syamilah) Dari keempat buah ayat di atas beserta tafsirannya, maka semakin jelaslah bagi kita bahwa jalan yang akan menyelamatkan umat manusia adalah berpegang teguh agama Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan agama-agama yang lain selain Islam. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata : Pengertian Islam dalam makna yang luas adalah beribadah kepada Allah dengan syari’at-Nya sejak masa Allah mengutus para Rasul hingga tegaknya hari kiamat. Pengertian Islam inilah yang dimaksud oleh Allah dalam banyak ayat yang menunjukkan bahwa syari’at-syari’at terdahulu semuanya juga disebut berislam kepada Allah ‘azza wa jalla, seperti firman Allah yang menceritakan tentang Ibrahim,“Wahai Rabb kami jadikanlah kami berdua orang yang muslim kepada-Mu dan juga anak keturunan Kami sebagai umat yang muslim kepada-Mu.” (QS. Al-Baqarah [2] : 128) Beliau melanjutkan: Adapun Islam dalam pengertian yang sempit semenjak pengutusan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hanya mencakup agama yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu disebabkan agama yang beliau ajarkan menjadi penghapus seluruh agama terdahulu. Sehingga siapa saja (orang sesudah beliau) yang mengikuti beliau menjadi muslim dan siapa saja yang menentang beliau maka dia bukanlah muslim. Maka para pengikut rasul terdahulu adalah orang muslim di masa rasul mereka. Orang Yahudi adalah kaum muslimin di masa Musa ‘alaihis salam. Begitu pula orang Nasrani adalah kaum muslimin di masa Isa ‘alaihis salam. Adapun ketika Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diutus kemudian mereka mengingkari risalah beliau maka mereka bukan lagi kaum muslimin. Agama Islam dalam pengertian inilah agama yang sekarang diterima di sisi Allah dan akan bermanfaat bagi pemeluknya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali-‘Imraan [3] : 19) Dan Allah juga berfirman,“Dan barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia akan termasuk golongan yang menderita kerugian.” (QS. Ali-‘Imraan [3] : 85) Seperti inilah keislaman yang dianugerahkan Allah kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta umatnya. Allah ta’ala berfirman,“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagimu agamamu dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku atasmu. Dan Aku pun ridha Islam sebagai agama bagimu.” (QS. Al-Maa’idah [5]  : 3) (Syarh Tsalatsatil Ushul, hal. 20-21) Terakhir, seandainya istilah Islam bukanlah nama untuk sebuah agama formal namun sikap pasrah apapun agama formal yang dianut lalu apa makna dan terjemah hadits berikut ini, عَنِ ابْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ » . Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Islam dibangun atas lima perkara: (1) syahahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, (2) menegakkan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) naik haji, dan (5) berpuasa di bulan Ramadhan.”  (HR Bukhari no. 8 dan Muslim no. 122) Lalu adakah ajaran syahadat, shalat dst  sebagaimana dalam hadits di atas di agama-agama formal selain Islam?! (ed). Kerancuan Kedua Dia mengatakan pula Isa itu bukanlah nama, namun Isa adalah gelar sehingga Isa disebut ‘At Tauhid’ (satu-satunya) sehingga yang dituliskan oleh Al Qur’an adalah Al Masih Isa ‘alaihis salam. Dia mengatakan selanjutnya,”Al Masih adalah orang yang diurapi (diusap, pen) Tuhan, Isa adalah Esa, sedangkan ‘alaihis salam adalah pemberi/penjamin keselamatan (atau disebut Nabi pembawa Syafa’at). Sehingga kalau Al Masih Isa ‘alaihis salam diringkas jadi satu menjadi ‘Dialah orang yang diurapi (diusap, pen) Tuhan dan satu-satunya penjamin keselamatan (bukan salah satu penjamin keselamatan)’.” Bantahan : Setelah kami memeriksa di dalam Al Qur’an, ternyata tidak terdapat ayat yang menyebut Isa dengan Al Masih Isa ‘alaihis salam. Yang ada hanya menyebutnya dengan Al Masih Isa bin Maryam. Seperti terdapat pada tiga ayat yaitu Ali Imran : 45, An Nisa : 157, An Nisa : 171. Namun yang kami permasalahkan bukanlah penyebutan Isa dengan sebutan lengkap Al Masih Isa ‘alaihis salam. Yang kami permasalahkan pertama kali adalah penafsiran Isa dengan At Tauhid yang artinya satu-satunya. Setelah kami periksa di kamus Bahasa Arab yaitu Al Qomus Al Muhith dan Al Mu’jamul Wasith, ternyata kata Isa tidak memiliki asal kata atau tidak digunakan kecuali sebagai nama. Karena dalam bahasa Arab, ada nama yang penggunaannya sebagai nama saja disebut dengan Al ‘Alam Al Murtajal seperti Sa’ad, Yusuf, Zainab, Mu’awiyah. Dan juga ada nama yang digunakan untuk selain nama disebut dengan Al ‘Alam Al Manqul seperti Mahmud (yang artinya dipuji), Karim (yang artinya mulia), Syarif (yang artinya mulia), Anwar (yang artinya cahaya). Dan nama Isa berarti termasuk Al ‘Alam Al Murtajal dan tidak digunakan atau tidak berasal dari kata lainnya. Lalu apakah betul Isa berarti At Tauhid (satu-satunya)? Kami tidak tahu ‘Si Habib’ ini mendapatkan makna demikian dari mana. Atau mungkin dia ambil makna tersebut dari kata Esa dari bahasa Sansekerta yang artinya satu. Kalau betul dia mengambil dari kata Esa (yang mirip dengan Isa, namun sangat jauh maknanya), maka sungguh dia telah melakukan kesalahan yang fatal. Bagaimana mungkin bahasa Arab diartikan dengan bahasa Sansekerta?! Kemudian permasalahan kedua adalah kalimat ‘alaihis salam yang diartikan pemberi/penjamin keselamatan (atau disebut Nabi pembawa Syafa’at). Kalau kami menilai, beliau tidak melalui jalan ilmiah dalam menafsirkan hal ini karena beliau tidak pernah menyebutkan sumber atau rujukan dari perkataannya. Dalam kitab Ad Dalail wal Isyarot ‘ala Kasyfi Syubuhat, hal. 17 dikatakan bahwa kalimat ‘alaihis salam merupakan kalimat do’a yang digunakan untuk rasul wahyu dan rasul manusia. Rasul wahyu adalah Jibril ‘alaihis salam. Sedangkan rasul manusia adalah para rasul yaitu Nuh, Musa, Isa, dan lain-lain. Para ulama menyendirikan istilah ‘alaihis salam ini untuk rasul wahyu dan rasul manusia dan berbeda dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dipuji dengan shalawat dan salam (dengan digandengkan) [karena inilah yang Allah perintahkan dalam QS. Al Ahzab. Oleh karena itu orang yang hanya ber-shalawat atau hanya mendoakan keselamatan dinilai tidak melaksanakan perintah Allah dalam ayat tersebut, ed]. Sedangkan untuk Jibril dan Nabi lainnya hanya dipuji dengan As Salam saja. Inilah istilah umum yang telah dijalankan oleh para ulama sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa. Lalu apa yang dimaksud dengan As Salam? Apakah pemberi keselamatan sebagaimana dikatakan oleh dia? Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin –semoga Allah merahmati beliau- dalam Syarhul Mumthi’ I/12 mengatakan,”As Salam adalah selamat dari berbagai kekurangan dan bencana.” Dalam Kamus Al Munawwir hal. 654, kata As Salam berasal dari kata kerja salima yang berarti selamat. Kata as salam sendiri termasuk mashdar yaitu kata kerja yang dibendakan sehingga as salam berarti keselamatan. Jadi secara bahasa ‘alaihis salam berarti ‘semoga keselamatan tercurah kepadanya’. Inilah pengertian yang tepat dan sangat jauh berbeda dengan apa yang dikatakan Si Habib ini, atau mungkin dia kurang memahami bahasa Arab. Lalu apa makna shalawat? Syaikh Al Utsaimin dalam kitab yang sama mengatakan,”Sebagian ulama mengatakan bahwa makna shalawat dari Allah adalah rahmat, dari malaikat adalah ampunan (istighfar), sedangkan dari manusia adalah do’a. Namun yang tepat (benar) sebagaimana yang dikatakan Abul ‘Aliyah,’Shalawat dari Allah dari pujian-Nya kepada orang dishalawati di sisi para malaikat yang didekatkan. Dan ini meliputi lebih rahmat yang muthlaq.’ Oleh karena itu, makna shalawat kepada Nabi Muhammad adalah Allah memuji beliau di sisi para malaikat yang didekatkan.” Apabila shalawat digabungkan dengan salam (shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka salam berarti menghilangkan dari beliau berbagai kekurangan dan shalawat berarti menetapkan bagi beliau kesempurnaan. Dalam perkataan beliau selanjutnya, dia mengatakan bahwa Yesus adalah pemberi keselamatan yang berarti pemberi syafa’at sedangkan Nabi Muhammad adalah peminta syafa’at. Lalu beliau ajukan pertanyaan : Manakah yang dipilih, pemberi syafa’at (Yesus) atau orang yang hanya meminta syafa’at? Sungguh sangat keterlaluan. Sudah salah mengartikan, malah menyuruh orang awam yang kurang memahami bahasa Arab untuk menentukan pilihan : memilih Yesus sebagai pemberi syafa’at atau Muhammad sebagai peminta syafa’at. Semoga Allah melindungi kita dari tipu daya musuh-musuh Islam. -bersambung insya Allah-   Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal dan Abu Mushlih Ari Wahyudi Artikel https://rumaysho.com Ditulis pada bulan Syawwal 1428 H [1] Sebut mereka dengan nama yang Allah berikan untuk mereka dalam al Qur’an, (ed). Janganlah menyebut mereka dengan Kristiani. Tagsliberal

Menjawab Kerancuan VCD Pelecehan Islam (Seri 1)

Kaum muslimin yang semoga dirahmati oleh Allah. Baru-baru ini muncul kembali sebuah VCD yang meresahkan kaum muslimin di daerah Sumenep-Jawa Timur. Namun sebenarnya VCD ini sudah tersebar sejak tahun 2007. Kami sendiri pun sudah menyaksikan VCD tersebut dan telah membuat sanggahan dari kerancuan yang dimunculkan. Sanggahan tersebut kami susun bersama saudara kami Al Fadhil Ustadz Abu Mushlih Ari Wahyudi dan sudah dipublish di www.muslim.or.id pada bulan Syawal 1428 H. Berikut kami sampaikan kembali artikel tersebut dan kami bagi menjadi tiga seri. Silakan lihat link berita tersebut di sini. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad nabi dan rasul terakhir yang diutus Rabb alam semesta dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, supaya beliau menjadi rahmat bagi seluruh alam. Amma ba’du. Kaum muslimin, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Di tengah masyarakat kita belakangan ini muncul sebuah VCD yang meresahkan. Di dalam VCD ini ditampilkan ceramah seorang murtad (sebagaimana tampak dari pengakuannya sendiri, entah itu jujur atau tidak) yang bernama Mohamad Ali Makrus Attamimi [jika benar dia berasal dari kabilah Tamim maka pengakuannya sebagai keturunan Nabi jelas sebuah kedustaan. Kabilah Tamim bukanlah kabilah Nabi, ed]. Seorang penyair mengatakan, كُلٌّ يَدَّعِي وَصْلاً لِلَيْلَى وَلَيْلَى لَا تُقِرُّ لَهُمْ بِذَاكَا Semua orang mengaku punya hubungan dengan Laila Namun Laila tidak mengakui ucapan mereka Disebutkan bahwa dia adalah mantan aktifis FPI, seorang keturunan habib (masih ada silsilah keturunan dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), dan juga pernah menjadi anggota Tim Pemburu Hantu Reality Show TV (Lativi) bahkan lebih parah lagi orang ini menyatakan sendiri bahwa dia pernah menjabat sebagai ‘penasehat paguyuban paranormal’ berarti sangat menggandrungi dunia perdukunan dan kesyrikan. Dan yang paling menyedihkan adalah disebutkan bahwa ‘dia menemukan kebenaran’ (artinya meninggalkan Islam dan memeluk agama Nashrani[1], wal ‘iyadzu billah!), padahal pada hakikatnya dia telah terseret dalam arus kesesatan yang nyata. Semoga Allah menyelamatkan kita dari tipu daya syaitan dan bala tentaranya. Karena kita yakin bahwa sesungguhnya tipu daya syaitan itu sangat lemah. Dengan bekal ilmu, kesabaran dan ketakwaan maka tipu daya mereka tidak akan bisa membahayakan kita barang sedikitpun. Sebelum lebih jauh berbicara tentang kasus ini maka perlu kami ingatkan di sini bahwa berita-berita yang bertebaran di sekitar kita perlu diteliti dari mana datangnya. Apalagi jika berita ini datang dari orang kafir, maka berita mereka tidak layak untuk dipercaya, apalagi yang terkait dengan masalah agama. Karena Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ ”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat [49] : 6) Syaikh As Sa’di dalam Taisir Karimir Rahman mengatakan,”Apabila seorang fasik (yang sering melakukan dosa besar sebagaimana ditafsirkan dalam Aysarut Tafasir, pen) menceritakan suatu berita, hendaklah diteliti terlebih dahulu dan tidak menelan mentah-mentah berita tersebut begitu saja karena hal ini dapat menimbulkan bahaya yang besar dan terjatuh dalam dosa. Jika berita dari orang fasik ini diterima seperti berita dari orang yang jujur dan adil maka akan timbul kerusakan jiwa dan harta tanpa alasan yang benar.” Oleh karena itu, setiap berita dari orang yang fasik hendaklah diteliti terlebih dahulu kebenarannya, jangan diterima terlebih dahulu apalagi berita dari orang kafir (Nashrani) yang lebih jelek dari orang yang melakukan dosa besar dan masih muslim. Perhatikanlah hal ini! Kami sendiri pernah mengalami, pada suatu saat ada seorang tamu mengaku bernama Imron yang diundang oleh jama’ah pengajian di suatu masjid di Jogjakarta untuk menceritakan kisah masuk Islamnya. Orang ini mengaku sebagai muallaf yang sebelumnya telah menempuh pendidikan kependetaan di Sulawesi kemudian setelah dia menemukan Islam sebagai ajaran yang benar maka dia pun masuk Islam dan melarikan diri ke Jogjakarta, bahkan kemudian dia ditampung di sebuah pondok pesantren. Setelah berlalu beberapa waktu lamanya ternyata terbukti bahwa orang tersebut adalah orang Nashrani yang sengaja mengelabui kaum muslimin dan sedang mengadakan penelitian untuk kepentingan mereka. Copyan VCD tersebut kami dapatkan dari seorang teman yang melaporkan bahwa video ini terbukti disebarkan dengan cara ‘ditanam’ di komputer-komputer yang ada di sebagian warnet. Di dalam VCD tersebut banyak terdapat kerancuan dan kekacauan pemahaman yang dilontarkan oleh orang yang mengaku keturunan habib ini. Dan di dalamnya terdapat pula pelecehan terhadap ajaran Islam. Mudah-mudahan melalui tulisan ini berdasarkan ilmu yang kami ketahui, Allah memudahkan kami untuk menjelaskan berbagai kerancuan pemikiran dan pelecehan yang dilakukan oleh orang yang mengaku sebagai habib ini. “Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal” (QS. Ali Imran [3] : 122) Kerancuan Pertama Dia menyatakan bahwa kata ‘muslim’ di dalam Al Qur’an (seperti dalam ayat wa laa tamuutunna illa wa antum muslimuun) itu lebih luas maknanya daripada sekedar orang yang beragama Islam. Menurutnya, muslim adalah karakter/sifat yang melekat pada setiap orang yang taat dan tunduk kepada perintah firman Tuhan, sedangkan Islam identik dengan agama. Sehingga firman Allah (yang artinya),”Janganlah kalian mati kecuali sebagai muslim.” tidak bisa dimaknai ‘janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam’. Dengan kata lain, dia ingin mengatakan bahwa yang bisa selamat bukan hanya pemeluk agama Islam. Oleh sebab itu dia menyebut penafsiran para ulama kita terhadap kata ‘muslim’ dalam Al Qur’an sebagai ‘orang yang beragama Islam’ adalah kekeliruan (salah kaprah) yang dibudayakan. Bantahan : Sesungguhnya perkataan orang ini tidak ada bedanya dengan perkataan orang-orang Liberal yang menafsirkan ‘muslim’ sebagai setiap orang yang pasrah kepada Dzat Yang Maha Benar yaitu Allah Ta’ala. Sehingga siapa pun orangnya –menurut mereka- asalkan dia pasrah kepada Allah maka dia adalah seorang muslim dan mendapatkan jaminan surga. Kalau kita mau secara ringkas membantahnya, maka dapat kita katakan bahwa sebenarnya perkataan semacam ini hanya muncul dari orang yang tidak faham kandungan Al Qur’an. Nah, apakah perkataan orang yang tidak paham isi Al Qur’an bisa dijadikan pegangan ? Untuk lebih membuktikan kekeliruan fatal ini maka akan kami sebutkan beberapa ayat Al Qur’an beserta tafsiran para ahli tafsir yang bertolak belakang dengan penafsiran di atas. Pertama; Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Ibrahim bukanlah seorang Yahudi ataupun Nasrani akan tetapi dia adalah seorang hanif dan muslim serta bukan termasuk golongan kaum musyrikin.” (QS. Ali-‘Imran [3] : 67) Ibnu Jarir Ath-Thabari mengatakan,”Ini merupakan pendustaan dari Allah ‘azza wa jalla terhadap klaim orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mendebat ajaran Nabi Ibrahim dan millahnya. Mereka mengklaim bahwa Nabi Ibrahim menganut agama yang mereka anut. Ayat ini juga menjadi penegasan sikap berlepas diri Ibrahim dari perbuatan mereka itu. Allah menegaskan bahwa sesungguhnya merekalah (Yahudi dan Nasrani) yang menyelisihi agama yang beliau bawa. Ini pun menjadi kata putus dari Allah ‘azza wa jalla bagi seluruh pemeluk Islam dan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menetapkan bahwa mereka itulah sebenarnya yang menganut ajaran agama Ibrahim dan berjalan di atas jalan dan syariat yang beliau gariskan dan bukannya para pemeluk agama-agama selain agama yang mereka peluk/Islam” (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, Maktabah Syamilah) Dari penafsiran di atas jelas bagi kita bahwa makna Islam yang dikehendaki oleh Al Qur’an yaitu mengikuti ajaran Nabi Ibrahim yang lurus yaitu menyembah Allah semata dan tidak berbuat syirik. Dan inilah ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para nabi yang lainnya. Dan itu berarti muslim adalah yang tidak menganut agama Yahudi maupun Nasrani namun mengikuti nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sudah Allah tegaskan pada ayat di atas dan diperjelas oleh ayat-ayat lainnya berikut ini. Kedua; Allah jalla wa ‘ala berfirman, ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengikuti millah Ibrahim dengan hanif...” (QS. An-Nahl [16] : 123) Imam ahli tafsir Ibnu Jari Ath-Thabari menafsirkan kata-kata ‘dengan hanif’ dalam ayat tersebut (QS. An-Nahl : 123) adalah dengan “istiqamah di atas agama Islam”. Ibnu Katsir berkata bahwa makna kata hanif ialah almunharif qashdan ‘anisysyirki ilat tauhid : sengaja menjauhi dan meninggalkan syirik menuju tauhid. Al-Baghawi mengatakan bahwa makna hanif adalah,”muslim yang lurus berada di atas agama Islam.” Al-Alusi mengatakan bahwa makna hanif adalah,”Berpaling dari semua agama yang batil menuju agama yang haq dan tidak bergeser darinya.” Tafsiran serupa disampaikan oleh Asy-Syaukani  dalam Fathul Qadir. Syaikh As-Sa’di mengatakan bahwa makna haniif adalah muqbilan ‘alallah bil mahabbah wal inaabah wal ‘ubuudiyah mu’ridhan ‘an man siwaahu : menghadapkan jiwa raga kepada Allah dengan rasa cinta, taubat dan penghambaan serta berpaling dari segala sesembahan selain-Nya. Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazaa’iri mengatakan tentang makna hanif adalah condong kepada agama yang lurus yaitu Islam (Lihat Maktabah Syamilah) Ketiga; Allah ‘azza wa jalla berfirman, إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ “Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam….” (QS. Ali-‘Imraan [3] : 19) Al-Baghawi mengatakan tentang makna ayat ini yaitu agama yang diridhai dan benar (hanya Islam). Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna Islam di dalam ayat ini adalah mengikuti ajaran rasul Allah yang diutus kepada mereka di setiap masa sampai ditutupnya risalah dengan diutusnya Muhammad shallallahu a’alaihi wa sallam yang menutup semua jalan menuju Allah kecuali satu jalan yang dibentangkan oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu orang-orang sesudah diutusnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menghadap Allah dalam keadaan menganut agama selain syari’at beliau maka tidak akan diterima. Ath-Thabari membawakan riwayat dari Qatadah yang menafsirkan ayat ini : Yang dimaksud Islam di sini adalah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah serta mengakui ajaran dari sisi Allah yang dibawa olehnya (Rasulullah). Itulah agama Allah yang disyari’atkan untuk diri-Nya. Dan dengan agama itulah Allah mengutus para rasul-Nya. Dan itu pulalah agama yang ditunjukkan oleh para wali-Nya (kepada umat manusia). Allah tidak menerima selain agama itu dan tidak akan memberikan balasan pahala kecuali dengannya. (Maktabah Syamilah) Keempat; Allah juga berfirman, وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ “Dan barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia akan termasuk golongan yang menderita kerugian.” (QS. Ali-‘Imraan [3] : 85) Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima oleh Allah. Imam Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa barangsiapa yang menempuh jalan selain yang disyari’atkan Allah maka tidak akan menerimanya. Imam Al-Baghawi menjelaskan bahwa ayat ini turun pada  kisah 12 orang yang murtad dari Islam dan keluar meninggalkan Madinah dan mendatangi Mekkah dalam keadaan sebagai orang kafir, diantara mereka ada Al-Harits bin Suwaid Al-Anshari. Syaikh As-Sa’di berkata : barangsiapa yang beragama kepada Allah dengan selain agama Islam yang telah diridhai Allah bagi hamba-hamba-Nya maka amalnya tertolak dan tidak diterima …(Maktabah Syamilah) Dari keempat buah ayat di atas beserta tafsirannya, maka semakin jelaslah bagi kita bahwa jalan yang akan menyelamatkan umat manusia adalah berpegang teguh agama Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan agama-agama yang lain selain Islam. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata : Pengertian Islam dalam makna yang luas adalah beribadah kepada Allah dengan syari’at-Nya sejak masa Allah mengutus para Rasul hingga tegaknya hari kiamat. Pengertian Islam inilah yang dimaksud oleh Allah dalam banyak ayat yang menunjukkan bahwa syari’at-syari’at terdahulu semuanya juga disebut berislam kepada Allah ‘azza wa jalla, seperti firman Allah yang menceritakan tentang Ibrahim,“Wahai Rabb kami jadikanlah kami berdua orang yang muslim kepada-Mu dan juga anak keturunan Kami sebagai umat yang muslim kepada-Mu.” (QS. Al-Baqarah [2] : 128) Beliau melanjutkan: Adapun Islam dalam pengertian yang sempit semenjak pengutusan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hanya mencakup agama yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu disebabkan agama yang beliau ajarkan menjadi penghapus seluruh agama terdahulu. Sehingga siapa saja (orang sesudah beliau) yang mengikuti beliau menjadi muslim dan siapa saja yang menentang beliau maka dia bukanlah muslim. Maka para pengikut rasul terdahulu adalah orang muslim di masa rasul mereka. Orang Yahudi adalah kaum muslimin di masa Musa ‘alaihis salam. Begitu pula orang Nasrani adalah kaum muslimin di masa Isa ‘alaihis salam. Adapun ketika Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diutus kemudian mereka mengingkari risalah beliau maka mereka bukan lagi kaum muslimin. Agama Islam dalam pengertian inilah agama yang sekarang diterima di sisi Allah dan akan bermanfaat bagi pemeluknya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali-‘Imraan [3] : 19) Dan Allah juga berfirman,“Dan barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia akan termasuk golongan yang menderita kerugian.” (QS. Ali-‘Imraan [3] : 85) Seperti inilah keislaman yang dianugerahkan Allah kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta umatnya. Allah ta’ala berfirman,“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagimu agamamu dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku atasmu. Dan Aku pun ridha Islam sebagai agama bagimu.” (QS. Al-Maa’idah [5]  : 3) (Syarh Tsalatsatil Ushul, hal. 20-21) Terakhir, seandainya istilah Islam bukanlah nama untuk sebuah agama formal namun sikap pasrah apapun agama formal yang dianut lalu apa makna dan terjemah hadits berikut ini, عَنِ ابْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ » . Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Islam dibangun atas lima perkara: (1) syahahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, (2) menegakkan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) naik haji, dan (5) berpuasa di bulan Ramadhan.”  (HR Bukhari no. 8 dan Muslim no. 122) Lalu adakah ajaran syahadat, shalat dst  sebagaimana dalam hadits di atas di agama-agama formal selain Islam?! (ed). Kerancuan Kedua Dia mengatakan pula Isa itu bukanlah nama, namun Isa adalah gelar sehingga Isa disebut ‘At Tauhid’ (satu-satunya) sehingga yang dituliskan oleh Al Qur’an adalah Al Masih Isa ‘alaihis salam. Dia mengatakan selanjutnya,”Al Masih adalah orang yang diurapi (diusap, pen) Tuhan, Isa adalah Esa, sedangkan ‘alaihis salam adalah pemberi/penjamin keselamatan (atau disebut Nabi pembawa Syafa’at). Sehingga kalau Al Masih Isa ‘alaihis salam diringkas jadi satu menjadi ‘Dialah orang yang diurapi (diusap, pen) Tuhan dan satu-satunya penjamin keselamatan (bukan salah satu penjamin keselamatan)’.” Bantahan : Setelah kami memeriksa di dalam Al Qur’an, ternyata tidak terdapat ayat yang menyebut Isa dengan Al Masih Isa ‘alaihis salam. Yang ada hanya menyebutnya dengan Al Masih Isa bin Maryam. Seperti terdapat pada tiga ayat yaitu Ali Imran : 45, An Nisa : 157, An Nisa : 171. Namun yang kami permasalahkan bukanlah penyebutan Isa dengan sebutan lengkap Al Masih Isa ‘alaihis salam. Yang kami permasalahkan pertama kali adalah penafsiran Isa dengan At Tauhid yang artinya satu-satunya. Setelah kami periksa di kamus Bahasa Arab yaitu Al Qomus Al Muhith dan Al Mu’jamul Wasith, ternyata kata Isa tidak memiliki asal kata atau tidak digunakan kecuali sebagai nama. Karena dalam bahasa Arab, ada nama yang penggunaannya sebagai nama saja disebut dengan Al ‘Alam Al Murtajal seperti Sa’ad, Yusuf, Zainab, Mu’awiyah. Dan juga ada nama yang digunakan untuk selain nama disebut dengan Al ‘Alam Al Manqul seperti Mahmud (yang artinya dipuji), Karim (yang artinya mulia), Syarif (yang artinya mulia), Anwar (yang artinya cahaya). Dan nama Isa berarti termasuk Al ‘Alam Al Murtajal dan tidak digunakan atau tidak berasal dari kata lainnya. Lalu apakah betul Isa berarti At Tauhid (satu-satunya)? Kami tidak tahu ‘Si Habib’ ini mendapatkan makna demikian dari mana. Atau mungkin dia ambil makna tersebut dari kata Esa dari bahasa Sansekerta yang artinya satu. Kalau betul dia mengambil dari kata Esa (yang mirip dengan Isa, namun sangat jauh maknanya), maka sungguh dia telah melakukan kesalahan yang fatal. Bagaimana mungkin bahasa Arab diartikan dengan bahasa Sansekerta?! Kemudian permasalahan kedua adalah kalimat ‘alaihis salam yang diartikan pemberi/penjamin keselamatan (atau disebut Nabi pembawa Syafa’at). Kalau kami menilai, beliau tidak melalui jalan ilmiah dalam menafsirkan hal ini karena beliau tidak pernah menyebutkan sumber atau rujukan dari perkataannya. Dalam kitab Ad Dalail wal Isyarot ‘ala Kasyfi Syubuhat, hal. 17 dikatakan bahwa kalimat ‘alaihis salam merupakan kalimat do’a yang digunakan untuk rasul wahyu dan rasul manusia. Rasul wahyu adalah Jibril ‘alaihis salam. Sedangkan rasul manusia adalah para rasul yaitu Nuh, Musa, Isa, dan lain-lain. Para ulama menyendirikan istilah ‘alaihis salam ini untuk rasul wahyu dan rasul manusia dan berbeda dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dipuji dengan shalawat dan salam (dengan digandengkan) [karena inilah yang Allah perintahkan dalam QS. Al Ahzab. Oleh karena itu orang yang hanya ber-shalawat atau hanya mendoakan keselamatan dinilai tidak melaksanakan perintah Allah dalam ayat tersebut, ed]. Sedangkan untuk Jibril dan Nabi lainnya hanya dipuji dengan As Salam saja. Inilah istilah umum yang telah dijalankan oleh para ulama sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa. Lalu apa yang dimaksud dengan As Salam? Apakah pemberi keselamatan sebagaimana dikatakan oleh dia? Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin –semoga Allah merahmati beliau- dalam Syarhul Mumthi’ I/12 mengatakan,”As Salam adalah selamat dari berbagai kekurangan dan bencana.” Dalam Kamus Al Munawwir hal. 654, kata As Salam berasal dari kata kerja salima yang berarti selamat. Kata as salam sendiri termasuk mashdar yaitu kata kerja yang dibendakan sehingga as salam berarti keselamatan. Jadi secara bahasa ‘alaihis salam berarti ‘semoga keselamatan tercurah kepadanya’. Inilah pengertian yang tepat dan sangat jauh berbeda dengan apa yang dikatakan Si Habib ini, atau mungkin dia kurang memahami bahasa Arab. Lalu apa makna shalawat? Syaikh Al Utsaimin dalam kitab yang sama mengatakan,”Sebagian ulama mengatakan bahwa makna shalawat dari Allah adalah rahmat, dari malaikat adalah ampunan (istighfar), sedangkan dari manusia adalah do’a. Namun yang tepat (benar) sebagaimana yang dikatakan Abul ‘Aliyah,’Shalawat dari Allah dari pujian-Nya kepada orang dishalawati di sisi para malaikat yang didekatkan. Dan ini meliputi lebih rahmat yang muthlaq.’ Oleh karena itu, makna shalawat kepada Nabi Muhammad adalah Allah memuji beliau di sisi para malaikat yang didekatkan.” Apabila shalawat digabungkan dengan salam (shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka salam berarti menghilangkan dari beliau berbagai kekurangan dan shalawat berarti menetapkan bagi beliau kesempurnaan. Dalam perkataan beliau selanjutnya, dia mengatakan bahwa Yesus adalah pemberi keselamatan yang berarti pemberi syafa’at sedangkan Nabi Muhammad adalah peminta syafa’at. Lalu beliau ajukan pertanyaan : Manakah yang dipilih, pemberi syafa’at (Yesus) atau orang yang hanya meminta syafa’at? Sungguh sangat keterlaluan. Sudah salah mengartikan, malah menyuruh orang awam yang kurang memahami bahasa Arab untuk menentukan pilihan : memilih Yesus sebagai pemberi syafa’at atau Muhammad sebagai peminta syafa’at. Semoga Allah melindungi kita dari tipu daya musuh-musuh Islam. -bersambung insya Allah-   Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal dan Abu Mushlih Ari Wahyudi Artikel https://rumaysho.com Ditulis pada bulan Syawwal 1428 H [1] Sebut mereka dengan nama yang Allah berikan untuk mereka dalam al Qur’an, (ed). Janganlah menyebut mereka dengan Kristiani. Tagsliberal
Kaum muslimin yang semoga dirahmati oleh Allah. Baru-baru ini muncul kembali sebuah VCD yang meresahkan kaum muslimin di daerah Sumenep-Jawa Timur. Namun sebenarnya VCD ini sudah tersebar sejak tahun 2007. Kami sendiri pun sudah menyaksikan VCD tersebut dan telah membuat sanggahan dari kerancuan yang dimunculkan. Sanggahan tersebut kami susun bersama saudara kami Al Fadhil Ustadz Abu Mushlih Ari Wahyudi dan sudah dipublish di www.muslim.or.id pada bulan Syawal 1428 H. Berikut kami sampaikan kembali artikel tersebut dan kami bagi menjadi tiga seri. Silakan lihat link berita tersebut di sini. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad nabi dan rasul terakhir yang diutus Rabb alam semesta dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, supaya beliau menjadi rahmat bagi seluruh alam. Amma ba’du. Kaum muslimin, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Di tengah masyarakat kita belakangan ini muncul sebuah VCD yang meresahkan. Di dalam VCD ini ditampilkan ceramah seorang murtad (sebagaimana tampak dari pengakuannya sendiri, entah itu jujur atau tidak) yang bernama Mohamad Ali Makrus Attamimi [jika benar dia berasal dari kabilah Tamim maka pengakuannya sebagai keturunan Nabi jelas sebuah kedustaan. Kabilah Tamim bukanlah kabilah Nabi, ed]. Seorang penyair mengatakan, كُلٌّ يَدَّعِي وَصْلاً لِلَيْلَى وَلَيْلَى لَا تُقِرُّ لَهُمْ بِذَاكَا Semua orang mengaku punya hubungan dengan Laila Namun Laila tidak mengakui ucapan mereka Disebutkan bahwa dia adalah mantan aktifis FPI, seorang keturunan habib (masih ada silsilah keturunan dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), dan juga pernah menjadi anggota Tim Pemburu Hantu Reality Show TV (Lativi) bahkan lebih parah lagi orang ini menyatakan sendiri bahwa dia pernah menjabat sebagai ‘penasehat paguyuban paranormal’ berarti sangat menggandrungi dunia perdukunan dan kesyrikan. Dan yang paling menyedihkan adalah disebutkan bahwa ‘dia menemukan kebenaran’ (artinya meninggalkan Islam dan memeluk agama Nashrani[1], wal ‘iyadzu billah!), padahal pada hakikatnya dia telah terseret dalam arus kesesatan yang nyata. Semoga Allah menyelamatkan kita dari tipu daya syaitan dan bala tentaranya. Karena kita yakin bahwa sesungguhnya tipu daya syaitan itu sangat lemah. Dengan bekal ilmu, kesabaran dan ketakwaan maka tipu daya mereka tidak akan bisa membahayakan kita barang sedikitpun. Sebelum lebih jauh berbicara tentang kasus ini maka perlu kami ingatkan di sini bahwa berita-berita yang bertebaran di sekitar kita perlu diteliti dari mana datangnya. Apalagi jika berita ini datang dari orang kafir, maka berita mereka tidak layak untuk dipercaya, apalagi yang terkait dengan masalah agama. Karena Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ ”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat [49] : 6) Syaikh As Sa’di dalam Taisir Karimir Rahman mengatakan,”Apabila seorang fasik (yang sering melakukan dosa besar sebagaimana ditafsirkan dalam Aysarut Tafasir, pen) menceritakan suatu berita, hendaklah diteliti terlebih dahulu dan tidak menelan mentah-mentah berita tersebut begitu saja karena hal ini dapat menimbulkan bahaya yang besar dan terjatuh dalam dosa. Jika berita dari orang fasik ini diterima seperti berita dari orang yang jujur dan adil maka akan timbul kerusakan jiwa dan harta tanpa alasan yang benar.” Oleh karena itu, setiap berita dari orang yang fasik hendaklah diteliti terlebih dahulu kebenarannya, jangan diterima terlebih dahulu apalagi berita dari orang kafir (Nashrani) yang lebih jelek dari orang yang melakukan dosa besar dan masih muslim. Perhatikanlah hal ini! Kami sendiri pernah mengalami, pada suatu saat ada seorang tamu mengaku bernama Imron yang diundang oleh jama’ah pengajian di suatu masjid di Jogjakarta untuk menceritakan kisah masuk Islamnya. Orang ini mengaku sebagai muallaf yang sebelumnya telah menempuh pendidikan kependetaan di Sulawesi kemudian setelah dia menemukan Islam sebagai ajaran yang benar maka dia pun masuk Islam dan melarikan diri ke Jogjakarta, bahkan kemudian dia ditampung di sebuah pondok pesantren. Setelah berlalu beberapa waktu lamanya ternyata terbukti bahwa orang tersebut adalah orang Nashrani yang sengaja mengelabui kaum muslimin dan sedang mengadakan penelitian untuk kepentingan mereka. Copyan VCD tersebut kami dapatkan dari seorang teman yang melaporkan bahwa video ini terbukti disebarkan dengan cara ‘ditanam’ di komputer-komputer yang ada di sebagian warnet. Di dalam VCD tersebut banyak terdapat kerancuan dan kekacauan pemahaman yang dilontarkan oleh orang yang mengaku keturunan habib ini. Dan di dalamnya terdapat pula pelecehan terhadap ajaran Islam. Mudah-mudahan melalui tulisan ini berdasarkan ilmu yang kami ketahui, Allah memudahkan kami untuk menjelaskan berbagai kerancuan pemikiran dan pelecehan yang dilakukan oleh orang yang mengaku sebagai habib ini. “Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal” (QS. Ali Imran [3] : 122) Kerancuan Pertama Dia menyatakan bahwa kata ‘muslim’ di dalam Al Qur’an (seperti dalam ayat wa laa tamuutunna illa wa antum muslimuun) itu lebih luas maknanya daripada sekedar orang yang beragama Islam. Menurutnya, muslim adalah karakter/sifat yang melekat pada setiap orang yang taat dan tunduk kepada perintah firman Tuhan, sedangkan Islam identik dengan agama. Sehingga firman Allah (yang artinya),”Janganlah kalian mati kecuali sebagai muslim.” tidak bisa dimaknai ‘janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam’. Dengan kata lain, dia ingin mengatakan bahwa yang bisa selamat bukan hanya pemeluk agama Islam. Oleh sebab itu dia menyebut penafsiran para ulama kita terhadap kata ‘muslim’ dalam Al Qur’an sebagai ‘orang yang beragama Islam’ adalah kekeliruan (salah kaprah) yang dibudayakan. Bantahan : Sesungguhnya perkataan orang ini tidak ada bedanya dengan perkataan orang-orang Liberal yang menafsirkan ‘muslim’ sebagai setiap orang yang pasrah kepada Dzat Yang Maha Benar yaitu Allah Ta’ala. Sehingga siapa pun orangnya –menurut mereka- asalkan dia pasrah kepada Allah maka dia adalah seorang muslim dan mendapatkan jaminan surga. Kalau kita mau secara ringkas membantahnya, maka dapat kita katakan bahwa sebenarnya perkataan semacam ini hanya muncul dari orang yang tidak faham kandungan Al Qur’an. Nah, apakah perkataan orang yang tidak paham isi Al Qur’an bisa dijadikan pegangan ? Untuk lebih membuktikan kekeliruan fatal ini maka akan kami sebutkan beberapa ayat Al Qur’an beserta tafsiran para ahli tafsir yang bertolak belakang dengan penafsiran di atas. Pertama; Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Ibrahim bukanlah seorang Yahudi ataupun Nasrani akan tetapi dia adalah seorang hanif dan muslim serta bukan termasuk golongan kaum musyrikin.” (QS. Ali-‘Imran [3] : 67) Ibnu Jarir Ath-Thabari mengatakan,”Ini merupakan pendustaan dari Allah ‘azza wa jalla terhadap klaim orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mendebat ajaran Nabi Ibrahim dan millahnya. Mereka mengklaim bahwa Nabi Ibrahim menganut agama yang mereka anut. Ayat ini juga menjadi penegasan sikap berlepas diri Ibrahim dari perbuatan mereka itu. Allah menegaskan bahwa sesungguhnya merekalah (Yahudi dan Nasrani) yang menyelisihi agama yang beliau bawa. Ini pun menjadi kata putus dari Allah ‘azza wa jalla bagi seluruh pemeluk Islam dan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menetapkan bahwa mereka itulah sebenarnya yang menganut ajaran agama Ibrahim dan berjalan di atas jalan dan syariat yang beliau gariskan dan bukannya para pemeluk agama-agama selain agama yang mereka peluk/Islam” (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, Maktabah Syamilah) Dari penafsiran di atas jelas bagi kita bahwa makna Islam yang dikehendaki oleh Al Qur’an yaitu mengikuti ajaran Nabi Ibrahim yang lurus yaitu menyembah Allah semata dan tidak berbuat syirik. Dan inilah ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para nabi yang lainnya. Dan itu berarti muslim adalah yang tidak menganut agama Yahudi maupun Nasrani namun mengikuti nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sudah Allah tegaskan pada ayat di atas dan diperjelas oleh ayat-ayat lainnya berikut ini. Kedua; Allah jalla wa ‘ala berfirman, ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengikuti millah Ibrahim dengan hanif...” (QS. An-Nahl [16] : 123) Imam ahli tafsir Ibnu Jari Ath-Thabari menafsirkan kata-kata ‘dengan hanif’ dalam ayat tersebut (QS. An-Nahl : 123) adalah dengan “istiqamah di atas agama Islam”. Ibnu Katsir berkata bahwa makna kata hanif ialah almunharif qashdan ‘anisysyirki ilat tauhid : sengaja menjauhi dan meninggalkan syirik menuju tauhid. Al-Baghawi mengatakan bahwa makna hanif adalah,”muslim yang lurus berada di atas agama Islam.” Al-Alusi mengatakan bahwa makna hanif adalah,”Berpaling dari semua agama yang batil menuju agama yang haq dan tidak bergeser darinya.” Tafsiran serupa disampaikan oleh Asy-Syaukani  dalam Fathul Qadir. Syaikh As-Sa’di mengatakan bahwa makna haniif adalah muqbilan ‘alallah bil mahabbah wal inaabah wal ‘ubuudiyah mu’ridhan ‘an man siwaahu : menghadapkan jiwa raga kepada Allah dengan rasa cinta, taubat dan penghambaan serta berpaling dari segala sesembahan selain-Nya. Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazaa’iri mengatakan tentang makna hanif adalah condong kepada agama yang lurus yaitu Islam (Lihat Maktabah Syamilah) Ketiga; Allah ‘azza wa jalla berfirman, إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ “Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam….” (QS. Ali-‘Imraan [3] : 19) Al-Baghawi mengatakan tentang makna ayat ini yaitu agama yang diridhai dan benar (hanya Islam). Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna Islam di dalam ayat ini adalah mengikuti ajaran rasul Allah yang diutus kepada mereka di setiap masa sampai ditutupnya risalah dengan diutusnya Muhammad shallallahu a’alaihi wa sallam yang menutup semua jalan menuju Allah kecuali satu jalan yang dibentangkan oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu orang-orang sesudah diutusnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menghadap Allah dalam keadaan menganut agama selain syari’at beliau maka tidak akan diterima. Ath-Thabari membawakan riwayat dari Qatadah yang menafsirkan ayat ini : Yang dimaksud Islam di sini adalah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah serta mengakui ajaran dari sisi Allah yang dibawa olehnya (Rasulullah). Itulah agama Allah yang disyari’atkan untuk diri-Nya. Dan dengan agama itulah Allah mengutus para rasul-Nya. Dan itu pulalah agama yang ditunjukkan oleh para wali-Nya (kepada umat manusia). Allah tidak menerima selain agama itu dan tidak akan memberikan balasan pahala kecuali dengannya. (Maktabah Syamilah) Keempat; Allah juga berfirman, وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ “Dan barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia akan termasuk golongan yang menderita kerugian.” (QS. Ali-‘Imraan [3] : 85) Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima oleh Allah. Imam Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa barangsiapa yang menempuh jalan selain yang disyari’atkan Allah maka tidak akan menerimanya. Imam Al-Baghawi menjelaskan bahwa ayat ini turun pada  kisah 12 orang yang murtad dari Islam dan keluar meninggalkan Madinah dan mendatangi Mekkah dalam keadaan sebagai orang kafir, diantara mereka ada Al-Harits bin Suwaid Al-Anshari. Syaikh As-Sa’di berkata : barangsiapa yang beragama kepada Allah dengan selain agama Islam yang telah diridhai Allah bagi hamba-hamba-Nya maka amalnya tertolak dan tidak diterima …(Maktabah Syamilah) Dari keempat buah ayat di atas beserta tafsirannya, maka semakin jelaslah bagi kita bahwa jalan yang akan menyelamatkan umat manusia adalah berpegang teguh agama Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan agama-agama yang lain selain Islam. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata : Pengertian Islam dalam makna yang luas adalah beribadah kepada Allah dengan syari’at-Nya sejak masa Allah mengutus para Rasul hingga tegaknya hari kiamat. Pengertian Islam inilah yang dimaksud oleh Allah dalam banyak ayat yang menunjukkan bahwa syari’at-syari’at terdahulu semuanya juga disebut berislam kepada Allah ‘azza wa jalla, seperti firman Allah yang menceritakan tentang Ibrahim,“Wahai Rabb kami jadikanlah kami berdua orang yang muslim kepada-Mu dan juga anak keturunan Kami sebagai umat yang muslim kepada-Mu.” (QS. Al-Baqarah [2] : 128) Beliau melanjutkan: Adapun Islam dalam pengertian yang sempit semenjak pengutusan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hanya mencakup agama yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu disebabkan agama yang beliau ajarkan menjadi penghapus seluruh agama terdahulu. Sehingga siapa saja (orang sesudah beliau) yang mengikuti beliau menjadi muslim dan siapa saja yang menentang beliau maka dia bukanlah muslim. Maka para pengikut rasul terdahulu adalah orang muslim di masa rasul mereka. Orang Yahudi adalah kaum muslimin di masa Musa ‘alaihis salam. Begitu pula orang Nasrani adalah kaum muslimin di masa Isa ‘alaihis salam. Adapun ketika Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diutus kemudian mereka mengingkari risalah beliau maka mereka bukan lagi kaum muslimin. Agama Islam dalam pengertian inilah agama yang sekarang diterima di sisi Allah dan akan bermanfaat bagi pemeluknya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali-‘Imraan [3] : 19) Dan Allah juga berfirman,“Dan barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia akan termasuk golongan yang menderita kerugian.” (QS. Ali-‘Imraan [3] : 85) Seperti inilah keislaman yang dianugerahkan Allah kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta umatnya. Allah ta’ala berfirman,“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagimu agamamu dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku atasmu. Dan Aku pun ridha Islam sebagai agama bagimu.” (QS. Al-Maa’idah [5]  : 3) (Syarh Tsalatsatil Ushul, hal. 20-21) Terakhir, seandainya istilah Islam bukanlah nama untuk sebuah agama formal namun sikap pasrah apapun agama formal yang dianut lalu apa makna dan terjemah hadits berikut ini, عَنِ ابْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ » . Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Islam dibangun atas lima perkara: (1) syahahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, (2) menegakkan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) naik haji, dan (5) berpuasa di bulan Ramadhan.”  (HR Bukhari no. 8 dan Muslim no. 122) Lalu adakah ajaran syahadat, shalat dst  sebagaimana dalam hadits di atas di agama-agama formal selain Islam?! (ed). Kerancuan Kedua Dia mengatakan pula Isa itu bukanlah nama, namun Isa adalah gelar sehingga Isa disebut ‘At Tauhid’ (satu-satunya) sehingga yang dituliskan oleh Al Qur’an adalah Al Masih Isa ‘alaihis salam. Dia mengatakan selanjutnya,”Al Masih adalah orang yang diurapi (diusap, pen) Tuhan, Isa adalah Esa, sedangkan ‘alaihis salam adalah pemberi/penjamin keselamatan (atau disebut Nabi pembawa Syafa’at). Sehingga kalau Al Masih Isa ‘alaihis salam diringkas jadi satu menjadi ‘Dialah orang yang diurapi (diusap, pen) Tuhan dan satu-satunya penjamin keselamatan (bukan salah satu penjamin keselamatan)’.” Bantahan : Setelah kami memeriksa di dalam Al Qur’an, ternyata tidak terdapat ayat yang menyebut Isa dengan Al Masih Isa ‘alaihis salam. Yang ada hanya menyebutnya dengan Al Masih Isa bin Maryam. Seperti terdapat pada tiga ayat yaitu Ali Imran : 45, An Nisa : 157, An Nisa : 171. Namun yang kami permasalahkan bukanlah penyebutan Isa dengan sebutan lengkap Al Masih Isa ‘alaihis salam. Yang kami permasalahkan pertama kali adalah penafsiran Isa dengan At Tauhid yang artinya satu-satunya. Setelah kami periksa di kamus Bahasa Arab yaitu Al Qomus Al Muhith dan Al Mu’jamul Wasith, ternyata kata Isa tidak memiliki asal kata atau tidak digunakan kecuali sebagai nama. Karena dalam bahasa Arab, ada nama yang penggunaannya sebagai nama saja disebut dengan Al ‘Alam Al Murtajal seperti Sa’ad, Yusuf, Zainab, Mu’awiyah. Dan juga ada nama yang digunakan untuk selain nama disebut dengan Al ‘Alam Al Manqul seperti Mahmud (yang artinya dipuji), Karim (yang artinya mulia), Syarif (yang artinya mulia), Anwar (yang artinya cahaya). Dan nama Isa berarti termasuk Al ‘Alam Al Murtajal dan tidak digunakan atau tidak berasal dari kata lainnya. Lalu apakah betul Isa berarti At Tauhid (satu-satunya)? Kami tidak tahu ‘Si Habib’ ini mendapatkan makna demikian dari mana. Atau mungkin dia ambil makna tersebut dari kata Esa dari bahasa Sansekerta yang artinya satu. Kalau betul dia mengambil dari kata Esa (yang mirip dengan Isa, namun sangat jauh maknanya), maka sungguh dia telah melakukan kesalahan yang fatal. Bagaimana mungkin bahasa Arab diartikan dengan bahasa Sansekerta?! Kemudian permasalahan kedua adalah kalimat ‘alaihis salam yang diartikan pemberi/penjamin keselamatan (atau disebut Nabi pembawa Syafa’at). Kalau kami menilai, beliau tidak melalui jalan ilmiah dalam menafsirkan hal ini karena beliau tidak pernah menyebutkan sumber atau rujukan dari perkataannya. Dalam kitab Ad Dalail wal Isyarot ‘ala Kasyfi Syubuhat, hal. 17 dikatakan bahwa kalimat ‘alaihis salam merupakan kalimat do’a yang digunakan untuk rasul wahyu dan rasul manusia. Rasul wahyu adalah Jibril ‘alaihis salam. Sedangkan rasul manusia adalah para rasul yaitu Nuh, Musa, Isa, dan lain-lain. Para ulama menyendirikan istilah ‘alaihis salam ini untuk rasul wahyu dan rasul manusia dan berbeda dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dipuji dengan shalawat dan salam (dengan digandengkan) [karena inilah yang Allah perintahkan dalam QS. Al Ahzab. Oleh karena itu orang yang hanya ber-shalawat atau hanya mendoakan keselamatan dinilai tidak melaksanakan perintah Allah dalam ayat tersebut, ed]. Sedangkan untuk Jibril dan Nabi lainnya hanya dipuji dengan As Salam saja. Inilah istilah umum yang telah dijalankan oleh para ulama sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa. Lalu apa yang dimaksud dengan As Salam? Apakah pemberi keselamatan sebagaimana dikatakan oleh dia? Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin –semoga Allah merahmati beliau- dalam Syarhul Mumthi’ I/12 mengatakan,”As Salam adalah selamat dari berbagai kekurangan dan bencana.” Dalam Kamus Al Munawwir hal. 654, kata As Salam berasal dari kata kerja salima yang berarti selamat. Kata as salam sendiri termasuk mashdar yaitu kata kerja yang dibendakan sehingga as salam berarti keselamatan. Jadi secara bahasa ‘alaihis salam berarti ‘semoga keselamatan tercurah kepadanya’. Inilah pengertian yang tepat dan sangat jauh berbeda dengan apa yang dikatakan Si Habib ini, atau mungkin dia kurang memahami bahasa Arab. Lalu apa makna shalawat? Syaikh Al Utsaimin dalam kitab yang sama mengatakan,”Sebagian ulama mengatakan bahwa makna shalawat dari Allah adalah rahmat, dari malaikat adalah ampunan (istighfar), sedangkan dari manusia adalah do’a. Namun yang tepat (benar) sebagaimana yang dikatakan Abul ‘Aliyah,’Shalawat dari Allah dari pujian-Nya kepada orang dishalawati di sisi para malaikat yang didekatkan. Dan ini meliputi lebih rahmat yang muthlaq.’ Oleh karena itu, makna shalawat kepada Nabi Muhammad adalah Allah memuji beliau di sisi para malaikat yang didekatkan.” Apabila shalawat digabungkan dengan salam (shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka salam berarti menghilangkan dari beliau berbagai kekurangan dan shalawat berarti menetapkan bagi beliau kesempurnaan. Dalam perkataan beliau selanjutnya, dia mengatakan bahwa Yesus adalah pemberi keselamatan yang berarti pemberi syafa’at sedangkan Nabi Muhammad adalah peminta syafa’at. Lalu beliau ajukan pertanyaan : Manakah yang dipilih, pemberi syafa’at (Yesus) atau orang yang hanya meminta syafa’at? Sungguh sangat keterlaluan. Sudah salah mengartikan, malah menyuruh orang awam yang kurang memahami bahasa Arab untuk menentukan pilihan : memilih Yesus sebagai pemberi syafa’at atau Muhammad sebagai peminta syafa’at. Semoga Allah melindungi kita dari tipu daya musuh-musuh Islam. -bersambung insya Allah-   Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal dan Abu Mushlih Ari Wahyudi Artikel https://rumaysho.com Ditulis pada bulan Syawwal 1428 H [1] Sebut mereka dengan nama yang Allah berikan untuk mereka dalam al Qur’an, (ed). Janganlah menyebut mereka dengan Kristiani. Tagsliberal


Kaum muslimin yang semoga dirahmati oleh Allah. Baru-baru ini muncul kembali sebuah VCD yang meresahkan kaum muslimin di daerah Sumenep-Jawa Timur. Namun sebenarnya VCD ini sudah tersebar sejak tahun 2007. Kami sendiri pun sudah menyaksikan VCD tersebut dan telah membuat sanggahan dari kerancuan yang dimunculkan. Sanggahan tersebut kami susun bersama saudara kami Al Fadhil Ustadz Abu Mushlih Ari Wahyudi dan sudah dipublish di www.muslim.or.id pada bulan Syawal 1428 H. Berikut kami sampaikan kembali artikel tersebut dan kami bagi menjadi tiga seri. Silakan lihat link berita tersebut di sini. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad nabi dan rasul terakhir yang diutus Rabb alam semesta dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, supaya beliau menjadi rahmat bagi seluruh alam. Amma ba’du. Kaum muslimin, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Di tengah masyarakat kita belakangan ini muncul sebuah VCD yang meresahkan. Di dalam VCD ini ditampilkan ceramah seorang murtad (sebagaimana tampak dari pengakuannya sendiri, entah itu jujur atau tidak) yang bernama Mohamad Ali Makrus Attamimi [jika benar dia berasal dari kabilah Tamim maka pengakuannya sebagai keturunan Nabi jelas sebuah kedustaan. Kabilah Tamim bukanlah kabilah Nabi, ed]. Seorang penyair mengatakan, كُلٌّ يَدَّعِي وَصْلاً لِلَيْلَى وَلَيْلَى لَا تُقِرُّ لَهُمْ بِذَاكَا Semua orang mengaku punya hubungan dengan Laila Namun Laila tidak mengakui ucapan mereka Disebutkan bahwa dia adalah mantan aktifis FPI, seorang keturunan habib (masih ada silsilah keturunan dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), dan juga pernah menjadi anggota Tim Pemburu Hantu Reality Show TV (Lativi) bahkan lebih parah lagi orang ini menyatakan sendiri bahwa dia pernah menjabat sebagai ‘penasehat paguyuban paranormal’ berarti sangat menggandrungi dunia perdukunan dan kesyrikan. Dan yang paling menyedihkan adalah disebutkan bahwa ‘dia menemukan kebenaran’ (artinya meninggalkan Islam dan memeluk agama Nashrani[1], wal ‘iyadzu billah!), padahal pada hakikatnya dia telah terseret dalam arus kesesatan yang nyata. Semoga Allah menyelamatkan kita dari tipu daya syaitan dan bala tentaranya. Karena kita yakin bahwa sesungguhnya tipu daya syaitan itu sangat lemah. Dengan bekal ilmu, kesabaran dan ketakwaan maka tipu daya mereka tidak akan bisa membahayakan kita barang sedikitpun. Sebelum lebih jauh berbicara tentang kasus ini maka perlu kami ingatkan di sini bahwa berita-berita yang bertebaran di sekitar kita perlu diteliti dari mana datangnya. Apalagi jika berita ini datang dari orang kafir, maka berita mereka tidak layak untuk dipercaya, apalagi yang terkait dengan masalah agama. Karena Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ ”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat [49] : 6) Syaikh As Sa’di dalam Taisir Karimir Rahman mengatakan,”Apabila seorang fasik (yang sering melakukan dosa besar sebagaimana ditafsirkan dalam Aysarut Tafasir, pen) menceritakan suatu berita, hendaklah diteliti terlebih dahulu dan tidak menelan mentah-mentah berita tersebut begitu saja karena hal ini dapat menimbulkan bahaya yang besar dan terjatuh dalam dosa. Jika berita dari orang fasik ini diterima seperti berita dari orang yang jujur dan adil maka akan timbul kerusakan jiwa dan harta tanpa alasan yang benar.” Oleh karena itu, setiap berita dari orang yang fasik hendaklah diteliti terlebih dahulu kebenarannya, jangan diterima terlebih dahulu apalagi berita dari orang kafir (Nashrani) yang lebih jelek dari orang yang melakukan dosa besar dan masih muslim. Perhatikanlah hal ini! Kami sendiri pernah mengalami, pada suatu saat ada seorang tamu mengaku bernama Imron yang diundang oleh jama’ah pengajian di suatu masjid di Jogjakarta untuk menceritakan kisah masuk Islamnya. Orang ini mengaku sebagai muallaf yang sebelumnya telah menempuh pendidikan kependetaan di Sulawesi kemudian setelah dia menemukan Islam sebagai ajaran yang benar maka dia pun masuk Islam dan melarikan diri ke Jogjakarta, bahkan kemudian dia ditampung di sebuah pondok pesantren. Setelah berlalu beberapa waktu lamanya ternyata terbukti bahwa orang tersebut adalah orang Nashrani yang sengaja mengelabui kaum muslimin dan sedang mengadakan penelitian untuk kepentingan mereka. Copyan VCD tersebut kami dapatkan dari seorang teman yang melaporkan bahwa video ini terbukti disebarkan dengan cara ‘ditanam’ di komputer-komputer yang ada di sebagian warnet. Di dalam VCD tersebut banyak terdapat kerancuan dan kekacauan pemahaman yang dilontarkan oleh orang yang mengaku keturunan habib ini. Dan di dalamnya terdapat pula pelecehan terhadap ajaran Islam. Mudah-mudahan melalui tulisan ini berdasarkan ilmu yang kami ketahui, Allah memudahkan kami untuk menjelaskan berbagai kerancuan pemikiran dan pelecehan yang dilakukan oleh orang yang mengaku sebagai habib ini. “Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal” (QS. Ali Imran [3] : 122) Kerancuan Pertama Dia menyatakan bahwa kata ‘muslim’ di dalam Al Qur’an (seperti dalam ayat wa laa tamuutunna illa wa antum muslimuun) itu lebih luas maknanya daripada sekedar orang yang beragama Islam. Menurutnya, muslim adalah karakter/sifat yang melekat pada setiap orang yang taat dan tunduk kepada perintah firman Tuhan, sedangkan Islam identik dengan agama. Sehingga firman Allah (yang artinya),”Janganlah kalian mati kecuali sebagai muslim.” tidak bisa dimaknai ‘janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam’. Dengan kata lain, dia ingin mengatakan bahwa yang bisa selamat bukan hanya pemeluk agama Islam. Oleh sebab itu dia menyebut penafsiran para ulama kita terhadap kata ‘muslim’ dalam Al Qur’an sebagai ‘orang yang beragama Islam’ adalah kekeliruan (salah kaprah) yang dibudayakan. Bantahan : Sesungguhnya perkataan orang ini tidak ada bedanya dengan perkataan orang-orang Liberal yang menafsirkan ‘muslim’ sebagai setiap orang yang pasrah kepada Dzat Yang Maha Benar yaitu Allah Ta’ala. Sehingga siapa pun orangnya –menurut mereka- asalkan dia pasrah kepada Allah maka dia adalah seorang muslim dan mendapatkan jaminan surga. Kalau kita mau secara ringkas membantahnya, maka dapat kita katakan bahwa sebenarnya perkataan semacam ini hanya muncul dari orang yang tidak faham kandungan Al Qur’an. Nah, apakah perkataan orang yang tidak paham isi Al Qur’an bisa dijadikan pegangan ? Untuk lebih membuktikan kekeliruan fatal ini maka akan kami sebutkan beberapa ayat Al Qur’an beserta tafsiran para ahli tafsir yang bertolak belakang dengan penafsiran di atas. Pertama; Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Ibrahim bukanlah seorang Yahudi ataupun Nasrani akan tetapi dia adalah seorang hanif dan muslim serta bukan termasuk golongan kaum musyrikin.” (QS. Ali-‘Imran [3] : 67) Ibnu Jarir Ath-Thabari mengatakan,”Ini merupakan pendustaan dari Allah ‘azza wa jalla terhadap klaim orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mendebat ajaran Nabi Ibrahim dan millahnya. Mereka mengklaim bahwa Nabi Ibrahim menganut agama yang mereka anut. Ayat ini juga menjadi penegasan sikap berlepas diri Ibrahim dari perbuatan mereka itu. Allah menegaskan bahwa sesungguhnya merekalah (Yahudi dan Nasrani) yang menyelisihi agama yang beliau bawa. Ini pun menjadi kata putus dari Allah ‘azza wa jalla bagi seluruh pemeluk Islam dan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menetapkan bahwa mereka itulah sebenarnya yang menganut ajaran agama Ibrahim dan berjalan di atas jalan dan syariat yang beliau gariskan dan bukannya para pemeluk agama-agama selain agama yang mereka peluk/Islam” (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, Maktabah Syamilah) Dari penafsiran di atas jelas bagi kita bahwa makna Islam yang dikehendaki oleh Al Qur’an yaitu mengikuti ajaran Nabi Ibrahim yang lurus yaitu menyembah Allah semata dan tidak berbuat syirik. Dan inilah ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para nabi yang lainnya. Dan itu berarti muslim adalah yang tidak menganut agama Yahudi maupun Nasrani namun mengikuti nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sudah Allah tegaskan pada ayat di atas dan diperjelas oleh ayat-ayat lainnya berikut ini. Kedua; Allah jalla wa ‘ala berfirman, ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengikuti millah Ibrahim dengan hanif...” (QS. An-Nahl [16] : 123) Imam ahli tafsir Ibnu Jari Ath-Thabari menafsirkan kata-kata ‘dengan hanif’ dalam ayat tersebut (QS. An-Nahl : 123) adalah dengan “istiqamah di atas agama Islam”. Ibnu Katsir berkata bahwa makna kata hanif ialah almunharif qashdan ‘anisysyirki ilat tauhid : sengaja menjauhi dan meninggalkan syirik menuju tauhid. Al-Baghawi mengatakan bahwa makna hanif adalah,”muslim yang lurus berada di atas agama Islam.” Al-Alusi mengatakan bahwa makna hanif adalah,”Berpaling dari semua agama yang batil menuju agama yang haq dan tidak bergeser darinya.” Tafsiran serupa disampaikan oleh Asy-Syaukani  dalam Fathul Qadir. Syaikh As-Sa’di mengatakan bahwa makna haniif adalah muqbilan ‘alallah bil mahabbah wal inaabah wal ‘ubuudiyah mu’ridhan ‘an man siwaahu : menghadapkan jiwa raga kepada Allah dengan rasa cinta, taubat dan penghambaan serta berpaling dari segala sesembahan selain-Nya. Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazaa’iri mengatakan tentang makna hanif adalah condong kepada agama yang lurus yaitu Islam (Lihat Maktabah Syamilah) Ketiga; Allah ‘azza wa jalla berfirman, إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ “Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam….” (QS. Ali-‘Imraan [3] : 19) Al-Baghawi mengatakan tentang makna ayat ini yaitu agama yang diridhai dan benar (hanya Islam). Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna Islam di dalam ayat ini adalah mengikuti ajaran rasul Allah yang diutus kepada mereka di setiap masa sampai ditutupnya risalah dengan diutusnya Muhammad shallallahu a’alaihi wa sallam yang menutup semua jalan menuju Allah kecuali satu jalan yang dibentangkan oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu orang-orang sesudah diutusnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menghadap Allah dalam keadaan menganut agama selain syari’at beliau maka tidak akan diterima. Ath-Thabari membawakan riwayat dari Qatadah yang menafsirkan ayat ini : Yang dimaksud Islam di sini adalah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah serta mengakui ajaran dari sisi Allah yang dibawa olehnya (Rasulullah). Itulah agama Allah yang disyari’atkan untuk diri-Nya. Dan dengan agama itulah Allah mengutus para rasul-Nya. Dan itu pulalah agama yang ditunjukkan oleh para wali-Nya (kepada umat manusia). Allah tidak menerima selain agama itu dan tidak akan memberikan balasan pahala kecuali dengannya. (Maktabah Syamilah) Keempat; Allah juga berfirman, وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ “Dan barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia akan termasuk golongan yang menderita kerugian.” (QS. Ali-‘Imraan [3] : 85) Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima oleh Allah. Imam Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa barangsiapa yang menempuh jalan selain yang disyari’atkan Allah maka tidak akan menerimanya. Imam Al-Baghawi menjelaskan bahwa ayat ini turun pada  kisah 12 orang yang murtad dari Islam dan keluar meninggalkan Madinah dan mendatangi Mekkah dalam keadaan sebagai orang kafir, diantara mereka ada Al-Harits bin Suwaid Al-Anshari. Syaikh As-Sa’di berkata : barangsiapa yang beragama kepada Allah dengan selain agama Islam yang telah diridhai Allah bagi hamba-hamba-Nya maka amalnya tertolak dan tidak diterima …(Maktabah Syamilah) Dari keempat buah ayat di atas beserta tafsirannya, maka semakin jelaslah bagi kita bahwa jalan yang akan menyelamatkan umat manusia adalah berpegang teguh agama Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggalkan agama-agama yang lain selain Islam. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata : Pengertian Islam dalam makna yang luas adalah beribadah kepada Allah dengan syari’at-Nya sejak masa Allah mengutus para Rasul hingga tegaknya hari kiamat. Pengertian Islam inilah yang dimaksud oleh Allah dalam banyak ayat yang menunjukkan bahwa syari’at-syari’at terdahulu semuanya juga disebut berislam kepada Allah ‘azza wa jalla, seperti firman Allah yang menceritakan tentang Ibrahim,“Wahai Rabb kami jadikanlah kami berdua orang yang muslim kepada-Mu dan juga anak keturunan Kami sebagai umat yang muslim kepada-Mu.” (QS. Al-Baqarah [2] : 128) Beliau melanjutkan: Adapun Islam dalam pengertian yang sempit semenjak pengutusan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hanya mencakup agama yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu disebabkan agama yang beliau ajarkan menjadi penghapus seluruh agama terdahulu. Sehingga siapa saja (orang sesudah beliau) yang mengikuti beliau menjadi muslim dan siapa saja yang menentang beliau maka dia bukanlah muslim. Maka para pengikut rasul terdahulu adalah orang muslim di masa rasul mereka. Orang Yahudi adalah kaum muslimin di masa Musa ‘alaihis salam. Begitu pula orang Nasrani adalah kaum muslimin di masa Isa ‘alaihis salam. Adapun ketika Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diutus kemudian mereka mengingkari risalah beliau maka mereka bukan lagi kaum muslimin. Agama Islam dalam pengertian inilah agama yang sekarang diterima di sisi Allah dan akan bermanfaat bagi pemeluknya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali-‘Imraan [3] : 19) Dan Allah juga berfirman,“Dan barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia akan termasuk golongan yang menderita kerugian.” (QS. Ali-‘Imraan [3] : 85) Seperti inilah keislaman yang dianugerahkan Allah kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta umatnya. Allah ta’ala berfirman,“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagimu agamamu dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku atasmu. Dan Aku pun ridha Islam sebagai agama bagimu.” (QS. Al-Maa’idah [5]  : 3) (Syarh Tsalatsatil Ushul, hal. 20-21) Terakhir, seandainya istilah Islam bukanlah nama untuk sebuah agama formal namun sikap pasrah apapun agama formal yang dianut lalu apa makna dan terjemah hadits berikut ini, عَنِ ابْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ » . Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Islam dibangun atas lima perkara: (1) syahahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, (2) menegakkan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) naik haji, dan (5) berpuasa di bulan Ramadhan.”  (HR Bukhari no. 8 dan Muslim no. 122) Lalu adakah ajaran syahadat, shalat dst  sebagaimana dalam hadits di atas di agama-agama formal selain Islam?! (ed). Kerancuan Kedua Dia mengatakan pula Isa itu bukanlah nama, namun Isa adalah gelar sehingga Isa disebut ‘At Tauhid’ (satu-satunya) sehingga yang dituliskan oleh Al Qur’an adalah Al Masih Isa ‘alaihis salam. Dia mengatakan selanjutnya,”Al Masih adalah orang yang diurapi (diusap, pen) Tuhan, Isa adalah Esa, sedangkan ‘alaihis salam adalah pemberi/penjamin keselamatan (atau disebut Nabi pembawa Syafa’at). Sehingga kalau Al Masih Isa ‘alaihis salam diringkas jadi satu menjadi ‘Dialah orang yang diurapi (diusap, pen) Tuhan dan satu-satunya penjamin keselamatan (bukan salah satu penjamin keselamatan)’.” Bantahan : Setelah kami memeriksa di dalam Al Qur’an, ternyata tidak terdapat ayat yang menyebut Isa dengan Al Masih Isa ‘alaihis salam. Yang ada hanya menyebutnya dengan Al Masih Isa bin Maryam. Seperti terdapat pada tiga ayat yaitu Ali Imran : 45, An Nisa : 157, An Nisa : 171. Namun yang kami permasalahkan bukanlah penyebutan Isa dengan sebutan lengkap Al Masih Isa ‘alaihis salam. Yang kami permasalahkan pertama kali adalah penafsiran Isa dengan At Tauhid yang artinya satu-satunya. Setelah kami periksa di kamus Bahasa Arab yaitu Al Qomus Al Muhith dan Al Mu’jamul Wasith, ternyata kata Isa tidak memiliki asal kata atau tidak digunakan kecuali sebagai nama. Karena dalam bahasa Arab, ada nama yang penggunaannya sebagai nama saja disebut dengan Al ‘Alam Al Murtajal seperti Sa’ad, Yusuf, Zainab, Mu’awiyah. Dan juga ada nama yang digunakan untuk selain nama disebut dengan Al ‘Alam Al Manqul seperti Mahmud (yang artinya dipuji), Karim (yang artinya mulia), Syarif (yang artinya mulia), Anwar (yang artinya cahaya). Dan nama Isa berarti termasuk Al ‘Alam Al Murtajal dan tidak digunakan atau tidak berasal dari kata lainnya. Lalu apakah betul Isa berarti At Tauhid (satu-satunya)? Kami tidak tahu ‘Si Habib’ ini mendapatkan makna demikian dari mana. Atau mungkin dia ambil makna tersebut dari kata Esa dari bahasa Sansekerta yang artinya satu. Kalau betul dia mengambil dari kata Esa (yang mirip dengan Isa, namun sangat jauh maknanya), maka sungguh dia telah melakukan kesalahan yang fatal. Bagaimana mungkin bahasa Arab diartikan dengan bahasa Sansekerta?! Kemudian permasalahan kedua adalah kalimat ‘alaihis salam yang diartikan pemberi/penjamin keselamatan (atau disebut Nabi pembawa Syafa’at). Kalau kami menilai, beliau tidak melalui jalan ilmiah dalam menafsirkan hal ini karena beliau tidak pernah menyebutkan sumber atau rujukan dari perkataannya. Dalam kitab Ad Dalail wal Isyarot ‘ala Kasyfi Syubuhat, hal. 17 dikatakan bahwa kalimat ‘alaihis salam merupakan kalimat do’a yang digunakan untuk rasul wahyu dan rasul manusia. Rasul wahyu adalah Jibril ‘alaihis salam. Sedangkan rasul manusia adalah para rasul yaitu Nuh, Musa, Isa, dan lain-lain. Para ulama menyendirikan istilah ‘alaihis salam ini untuk rasul wahyu dan rasul manusia dan berbeda dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dipuji dengan shalawat dan salam (dengan digandengkan) [karena inilah yang Allah perintahkan dalam QS. Al Ahzab. Oleh karena itu orang yang hanya ber-shalawat atau hanya mendoakan keselamatan dinilai tidak melaksanakan perintah Allah dalam ayat tersebut, ed]. Sedangkan untuk Jibril dan Nabi lainnya hanya dipuji dengan As Salam saja. Inilah istilah umum yang telah dijalankan oleh para ulama sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa. Lalu apa yang dimaksud dengan As Salam? Apakah pemberi keselamatan sebagaimana dikatakan oleh dia? Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin –semoga Allah merahmati beliau- dalam Syarhul Mumthi’ I/12 mengatakan,”As Salam adalah selamat dari berbagai kekurangan dan bencana.” Dalam Kamus Al Munawwir hal. 654, kata As Salam berasal dari kata kerja salima yang berarti selamat. Kata as salam sendiri termasuk mashdar yaitu kata kerja yang dibendakan sehingga as salam berarti keselamatan. Jadi secara bahasa ‘alaihis salam berarti ‘semoga keselamatan tercurah kepadanya’. Inilah pengertian yang tepat dan sangat jauh berbeda dengan apa yang dikatakan Si Habib ini, atau mungkin dia kurang memahami bahasa Arab. Lalu apa makna shalawat? Syaikh Al Utsaimin dalam kitab yang sama mengatakan,”Sebagian ulama mengatakan bahwa makna shalawat dari Allah adalah rahmat, dari malaikat adalah ampunan (istighfar), sedangkan dari manusia adalah do’a. Namun yang tepat (benar) sebagaimana yang dikatakan Abul ‘Aliyah,’Shalawat dari Allah dari pujian-Nya kepada orang dishalawati di sisi para malaikat yang didekatkan. Dan ini meliputi lebih rahmat yang muthlaq.’ Oleh karena itu, makna shalawat kepada Nabi Muhammad adalah Allah memuji beliau di sisi para malaikat yang didekatkan.” Apabila shalawat digabungkan dengan salam (shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka salam berarti menghilangkan dari beliau berbagai kekurangan dan shalawat berarti menetapkan bagi beliau kesempurnaan. Dalam perkataan beliau selanjutnya, dia mengatakan bahwa Yesus adalah pemberi keselamatan yang berarti pemberi syafa’at sedangkan Nabi Muhammad adalah peminta syafa’at. Lalu beliau ajukan pertanyaan : Manakah yang dipilih, pemberi syafa’at (Yesus) atau orang yang hanya meminta syafa’at? Sungguh sangat keterlaluan. Sudah salah mengartikan, malah menyuruh orang awam yang kurang memahami bahasa Arab untuk menentukan pilihan : memilih Yesus sebagai pemberi syafa’at atau Muhammad sebagai peminta syafa’at. Semoga Allah melindungi kita dari tipu daya musuh-musuh Islam. -bersambung insya Allah-   Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal dan Abu Mushlih Ari Wahyudi Artikel https://rumaysho.com Ditulis pada bulan Syawwal 1428 H [1] Sebut mereka dengan nama yang Allah berikan untuk mereka dalam al Qur’an, (ed). Janganlah menyebut mereka dengan Kristiani. Tagsliberal
Prev     Next