Dua Syarat Pergi Jihad

Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah ditanya, Kami pernah mendengar bahwa jihad harus memenuhi dua syarat yaitu izin ulil amri kaum muslimin (pemerintah kaum muslimin) dan izin kedua orang tua. Apa nasehat engkau untuk kami –wafaqokumullah-? Kami pernah mendengar bahwa ada yang berfatwa kepada para pemuda untuk berangkat jihad ke ‘Iraq. Syaikh hafizhohullah menjawab, Memang betul bahwa berangkat jihad harus memenuhi dua syarat sebagaimana yang disebutkan oleh si penanya. Seandainya ada yang mengatakan bahwa jihad ke ‘Iraq adalah jihad yang syar’i –jika memang betul demikian-, maka tidak boleh engkau berangkat jihat hingga orang tuamu ridho (mengizinkan). Itu syarat pertama. Karena mengizinkanmu adalah hak mereka dan wajib bagi engkau untuk mentaatinya. Kedua, harus dengan izin ulil amri (pemerintah). Karena kewajibanmu adalah untuk mentaati ulil amri (pemerintah) karena engkau adalah sebagai rakyat dan engkau berada di bawah wewenang pemerintah. Oleh karenanya engkau wajib mentaati pemerintah. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisa’: 59). Yang termasuk ulil amri adalah yang mengatur urusan kenegeraan, kemaslahatan dan yang menyatakan adanya keadaan darurat. Mereka yang mengatur demikian sesuai dengan kewenangan mereka. Kewajibanmu adalah tetap bersama jama’ah kaum muslimin. Tetap taatlah pada kedua orang tuamu dan tetaplah taat di bawah ulil amri. Tidak mengapa jika kalian mendo’akan kaum muslimin di mana saja mereka berada, di ‘Irak maupun tempat lainnya. Do’akan mereka agar selalu mendapat pertolongan dan kekuatan. Diambil dari Majmu’atu Rosail Da’wiyyah wa Manhajiyah, Syaikh Sholeh Al Fauzan, terbitan Al Mirots An Nabawiyah, hal. 367-368 Riyadh-KSA, 15 Shofar 1432 H (19/01/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Bolehkah Memberontak dan Apakah Demonstrasi itu Jihad? Jihad dengan Ilmu vs Jihad dengan Senjata Tagsjihad

Dua Syarat Pergi Jihad

Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah ditanya, Kami pernah mendengar bahwa jihad harus memenuhi dua syarat yaitu izin ulil amri kaum muslimin (pemerintah kaum muslimin) dan izin kedua orang tua. Apa nasehat engkau untuk kami –wafaqokumullah-? Kami pernah mendengar bahwa ada yang berfatwa kepada para pemuda untuk berangkat jihad ke ‘Iraq. Syaikh hafizhohullah menjawab, Memang betul bahwa berangkat jihad harus memenuhi dua syarat sebagaimana yang disebutkan oleh si penanya. Seandainya ada yang mengatakan bahwa jihad ke ‘Iraq adalah jihad yang syar’i –jika memang betul demikian-, maka tidak boleh engkau berangkat jihat hingga orang tuamu ridho (mengizinkan). Itu syarat pertama. Karena mengizinkanmu adalah hak mereka dan wajib bagi engkau untuk mentaatinya. Kedua, harus dengan izin ulil amri (pemerintah). Karena kewajibanmu adalah untuk mentaati ulil amri (pemerintah) karena engkau adalah sebagai rakyat dan engkau berada di bawah wewenang pemerintah. Oleh karenanya engkau wajib mentaati pemerintah. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisa’: 59). Yang termasuk ulil amri adalah yang mengatur urusan kenegeraan, kemaslahatan dan yang menyatakan adanya keadaan darurat. Mereka yang mengatur demikian sesuai dengan kewenangan mereka. Kewajibanmu adalah tetap bersama jama’ah kaum muslimin. Tetap taatlah pada kedua orang tuamu dan tetaplah taat di bawah ulil amri. Tidak mengapa jika kalian mendo’akan kaum muslimin di mana saja mereka berada, di ‘Irak maupun tempat lainnya. Do’akan mereka agar selalu mendapat pertolongan dan kekuatan. Diambil dari Majmu’atu Rosail Da’wiyyah wa Manhajiyah, Syaikh Sholeh Al Fauzan, terbitan Al Mirots An Nabawiyah, hal. 367-368 Riyadh-KSA, 15 Shofar 1432 H (19/01/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Bolehkah Memberontak dan Apakah Demonstrasi itu Jihad? Jihad dengan Ilmu vs Jihad dengan Senjata Tagsjihad
Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah ditanya, Kami pernah mendengar bahwa jihad harus memenuhi dua syarat yaitu izin ulil amri kaum muslimin (pemerintah kaum muslimin) dan izin kedua orang tua. Apa nasehat engkau untuk kami –wafaqokumullah-? Kami pernah mendengar bahwa ada yang berfatwa kepada para pemuda untuk berangkat jihad ke ‘Iraq. Syaikh hafizhohullah menjawab, Memang betul bahwa berangkat jihad harus memenuhi dua syarat sebagaimana yang disebutkan oleh si penanya. Seandainya ada yang mengatakan bahwa jihad ke ‘Iraq adalah jihad yang syar’i –jika memang betul demikian-, maka tidak boleh engkau berangkat jihat hingga orang tuamu ridho (mengizinkan). Itu syarat pertama. Karena mengizinkanmu adalah hak mereka dan wajib bagi engkau untuk mentaatinya. Kedua, harus dengan izin ulil amri (pemerintah). Karena kewajibanmu adalah untuk mentaati ulil amri (pemerintah) karena engkau adalah sebagai rakyat dan engkau berada di bawah wewenang pemerintah. Oleh karenanya engkau wajib mentaati pemerintah. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisa’: 59). Yang termasuk ulil amri adalah yang mengatur urusan kenegeraan, kemaslahatan dan yang menyatakan adanya keadaan darurat. Mereka yang mengatur demikian sesuai dengan kewenangan mereka. Kewajibanmu adalah tetap bersama jama’ah kaum muslimin. Tetap taatlah pada kedua orang tuamu dan tetaplah taat di bawah ulil amri. Tidak mengapa jika kalian mendo’akan kaum muslimin di mana saja mereka berada, di ‘Irak maupun tempat lainnya. Do’akan mereka agar selalu mendapat pertolongan dan kekuatan. Diambil dari Majmu’atu Rosail Da’wiyyah wa Manhajiyah, Syaikh Sholeh Al Fauzan, terbitan Al Mirots An Nabawiyah, hal. 367-368 Riyadh-KSA, 15 Shofar 1432 H (19/01/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Bolehkah Memberontak dan Apakah Demonstrasi itu Jihad? Jihad dengan Ilmu vs Jihad dengan Senjata Tagsjihad


Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah ditanya, Kami pernah mendengar bahwa jihad harus memenuhi dua syarat yaitu izin ulil amri kaum muslimin (pemerintah kaum muslimin) dan izin kedua orang tua. Apa nasehat engkau untuk kami –wafaqokumullah-? Kami pernah mendengar bahwa ada yang berfatwa kepada para pemuda untuk berangkat jihad ke ‘Iraq. Syaikh hafizhohullah menjawab, Memang betul bahwa berangkat jihad harus memenuhi dua syarat sebagaimana yang disebutkan oleh si penanya. Seandainya ada yang mengatakan bahwa jihad ke ‘Iraq adalah jihad yang syar’i –jika memang betul demikian-, maka tidak boleh engkau berangkat jihat hingga orang tuamu ridho (mengizinkan). Itu syarat pertama. Karena mengizinkanmu adalah hak mereka dan wajib bagi engkau untuk mentaatinya. Kedua, harus dengan izin ulil amri (pemerintah). Karena kewajibanmu adalah untuk mentaati ulil amri (pemerintah) karena engkau adalah sebagai rakyat dan engkau berada di bawah wewenang pemerintah. Oleh karenanya engkau wajib mentaati pemerintah. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisa’: 59). Yang termasuk ulil amri adalah yang mengatur urusan kenegeraan, kemaslahatan dan yang menyatakan adanya keadaan darurat. Mereka yang mengatur demikian sesuai dengan kewenangan mereka. Kewajibanmu adalah tetap bersama jama’ah kaum muslimin. Tetap taatlah pada kedua orang tuamu dan tetaplah taat di bawah ulil amri. Tidak mengapa jika kalian mendo’akan kaum muslimin di mana saja mereka berada, di ‘Irak maupun tempat lainnya. Do’akan mereka agar selalu mendapat pertolongan dan kekuatan. Diambil dari Majmu’atu Rosail Da’wiyyah wa Manhajiyah, Syaikh Sholeh Al Fauzan, terbitan Al Mirots An Nabawiyah, hal. 367-368 Riyadh-KSA, 15 Shofar 1432 H (19/01/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Bolehkah Memberontak dan Apakah Demonstrasi itu Jihad? Jihad dengan Ilmu vs Jihad dengan Senjata Tagsjihad

Wudhu Sesuai Petunjuk Rasul (2)

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala rosulillah wa’ ala aalihi wa shohbihi wa sallam. Artikel berikut adalah lanjutan dari penjelasan Ibnul Qoyyim rahimahullah yang kami sarikan dari kitab beliau Zaadul Ma’ad berisi penjelasan tata cara wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Moga bermanfaat. Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika wudhu adalah sebagai berikut: Tidak Pernah Meninggalkan Berkumur-kumur dan Memasukkan Air dalam Hidung (9) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berwudhu selalu berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung. Dan tidak diketahui sekali pun juga kalau beliau meninggalkan berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung. Tertib dan Berturut-turut dalam Berwudhu (10) Demikian pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengusap anggota wudhunya sesuai urutan dan berturut-turut (tidak ada selang waktu antara anggota wudhu yang satu dan lainnya). Beliau tidak pernah meninggalkan hal ini sama sekali. Cara Mengusap Kepala (11) Cara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap kepala yaitu kadang beliau mengusap ‘imamah (penutup kepala yang sulit dilepas), kadang pula mengusap ‘imamah dan ubannya sekaligus. [Jadi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengusap kepala bukan hanya mengusap ubannya saja. Beliau mengusap ubannya saat beliau menggunakan ‘imamah dan turut mengusap ‘imamah] Membasuh Kaki (12) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam wudhunya selalu mencuci kedua kakinya secara langsung jika saat itu beliau tidak menggunakan khuf atau kaos kaki. Namun beliau mengusap khuf dan kaos kaki jika beliau memang dalam kondisi mengenakannya. [Khuf = sepatu yang menutup mata kaki] Mengusap Telinga Sekaligus dengan Kepala (13) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengusap telinga langsung dengan kepalanya. Saat mengusap telinga, beliau mengusap bagian luar dan bagian dalamnya. Tidak Perlu Mengusap Leher (14) Sedangkan mengenai mengusap leher tidak ada satu pun hadits yang shahih yang mengajarkannya. Yang Dibaca Sebelum dan Sesudah Wudhu (15) Sebelum berwudhu tidak ada yang beliau ucapkan kecuali ucapan tasmiyah (bismillah) dan ucapan setelah wudhu: “Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluh” (HR. Muslim), ditambah ucapan: “Allahummaj’alnii minat tawwaabiin waj’alnii minal mutathohhiriin” (HR. Tirmidzi). [Artinya: Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Ya Allah jadikanlah aku di antara orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang suci] Niat Sebelum Wudhu (16) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengucapkan di awal wudhu: “Nawaitu rof’al hadatsi … (Saya berniat menghilangkan hadats …)”. Beliau pun tidak menganjurkannya. Tidak ada seorang sahabat yang melakukannya sama sekali. Tidak pula diriwayatkan mengenai anjuran amalan ini dari satu hadits pun baik dengan sanad yang shahih atau pun dho’if sekali pun. Tidak Berlebihan dalam Berwudhu (17) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membasuh anggota wudhunya lebih dari tiga kali. (18) Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membasuh tangan lebih dari siku dan membasuh kaki lebih dari mata kaki. Menyela-nyela Jenggot dan Jari Jemari (19) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menyela-nyela jengotnya, namun itu bukan jadi rutinitas. (20) Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa menyela-nyela jari jemarinya dan memerintahkan untuk demikian.   -Alhamdulillah, selesai petunjuk wudhu-   Diterjemahkan secara bebas dari Muhadzdzab Zaadul Ma’ad (Ibnul Qayyim), disusun ulang oleh Sa’ad bin ‘Abdurrahman al Hushain, hal. 26-27.   Riyadh-KSA, 2 Safar 1432 H, 06/01/2011 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.remajaislam.com, dipublish ulang oleh www.rumaysho.com

Wudhu Sesuai Petunjuk Rasul (2)

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala rosulillah wa’ ala aalihi wa shohbihi wa sallam. Artikel berikut adalah lanjutan dari penjelasan Ibnul Qoyyim rahimahullah yang kami sarikan dari kitab beliau Zaadul Ma’ad berisi penjelasan tata cara wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Moga bermanfaat. Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika wudhu adalah sebagai berikut: Tidak Pernah Meninggalkan Berkumur-kumur dan Memasukkan Air dalam Hidung (9) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berwudhu selalu berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung. Dan tidak diketahui sekali pun juga kalau beliau meninggalkan berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung. Tertib dan Berturut-turut dalam Berwudhu (10) Demikian pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengusap anggota wudhunya sesuai urutan dan berturut-turut (tidak ada selang waktu antara anggota wudhu yang satu dan lainnya). Beliau tidak pernah meninggalkan hal ini sama sekali. Cara Mengusap Kepala (11) Cara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap kepala yaitu kadang beliau mengusap ‘imamah (penutup kepala yang sulit dilepas), kadang pula mengusap ‘imamah dan ubannya sekaligus. [Jadi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengusap kepala bukan hanya mengusap ubannya saja. Beliau mengusap ubannya saat beliau menggunakan ‘imamah dan turut mengusap ‘imamah] Membasuh Kaki (12) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam wudhunya selalu mencuci kedua kakinya secara langsung jika saat itu beliau tidak menggunakan khuf atau kaos kaki. Namun beliau mengusap khuf dan kaos kaki jika beliau memang dalam kondisi mengenakannya. [Khuf = sepatu yang menutup mata kaki] Mengusap Telinga Sekaligus dengan Kepala (13) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengusap telinga langsung dengan kepalanya. Saat mengusap telinga, beliau mengusap bagian luar dan bagian dalamnya. Tidak Perlu Mengusap Leher (14) Sedangkan mengenai mengusap leher tidak ada satu pun hadits yang shahih yang mengajarkannya. Yang Dibaca Sebelum dan Sesudah Wudhu (15) Sebelum berwudhu tidak ada yang beliau ucapkan kecuali ucapan tasmiyah (bismillah) dan ucapan setelah wudhu: “Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluh” (HR. Muslim), ditambah ucapan: “Allahummaj’alnii minat tawwaabiin waj’alnii minal mutathohhiriin” (HR. Tirmidzi). [Artinya: Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Ya Allah jadikanlah aku di antara orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang suci] Niat Sebelum Wudhu (16) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengucapkan di awal wudhu: “Nawaitu rof’al hadatsi … (Saya berniat menghilangkan hadats …)”. Beliau pun tidak menganjurkannya. Tidak ada seorang sahabat yang melakukannya sama sekali. Tidak pula diriwayatkan mengenai anjuran amalan ini dari satu hadits pun baik dengan sanad yang shahih atau pun dho’if sekali pun. Tidak Berlebihan dalam Berwudhu (17) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membasuh anggota wudhunya lebih dari tiga kali. (18) Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membasuh tangan lebih dari siku dan membasuh kaki lebih dari mata kaki. Menyela-nyela Jenggot dan Jari Jemari (19) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menyela-nyela jengotnya, namun itu bukan jadi rutinitas. (20) Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa menyela-nyela jari jemarinya dan memerintahkan untuk demikian.   -Alhamdulillah, selesai petunjuk wudhu-   Diterjemahkan secara bebas dari Muhadzdzab Zaadul Ma’ad (Ibnul Qayyim), disusun ulang oleh Sa’ad bin ‘Abdurrahman al Hushain, hal. 26-27.   Riyadh-KSA, 2 Safar 1432 H, 06/01/2011 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.remajaislam.com, dipublish ulang oleh www.rumaysho.com
Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala rosulillah wa’ ala aalihi wa shohbihi wa sallam. Artikel berikut adalah lanjutan dari penjelasan Ibnul Qoyyim rahimahullah yang kami sarikan dari kitab beliau Zaadul Ma’ad berisi penjelasan tata cara wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Moga bermanfaat. Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika wudhu adalah sebagai berikut: Tidak Pernah Meninggalkan Berkumur-kumur dan Memasukkan Air dalam Hidung (9) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berwudhu selalu berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung. Dan tidak diketahui sekali pun juga kalau beliau meninggalkan berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung. Tertib dan Berturut-turut dalam Berwudhu (10) Demikian pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengusap anggota wudhunya sesuai urutan dan berturut-turut (tidak ada selang waktu antara anggota wudhu yang satu dan lainnya). Beliau tidak pernah meninggalkan hal ini sama sekali. Cara Mengusap Kepala (11) Cara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap kepala yaitu kadang beliau mengusap ‘imamah (penutup kepala yang sulit dilepas), kadang pula mengusap ‘imamah dan ubannya sekaligus. [Jadi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengusap kepala bukan hanya mengusap ubannya saja. Beliau mengusap ubannya saat beliau menggunakan ‘imamah dan turut mengusap ‘imamah] Membasuh Kaki (12) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam wudhunya selalu mencuci kedua kakinya secara langsung jika saat itu beliau tidak menggunakan khuf atau kaos kaki. Namun beliau mengusap khuf dan kaos kaki jika beliau memang dalam kondisi mengenakannya. [Khuf = sepatu yang menutup mata kaki] Mengusap Telinga Sekaligus dengan Kepala (13) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengusap telinga langsung dengan kepalanya. Saat mengusap telinga, beliau mengusap bagian luar dan bagian dalamnya. Tidak Perlu Mengusap Leher (14) Sedangkan mengenai mengusap leher tidak ada satu pun hadits yang shahih yang mengajarkannya. Yang Dibaca Sebelum dan Sesudah Wudhu (15) Sebelum berwudhu tidak ada yang beliau ucapkan kecuali ucapan tasmiyah (bismillah) dan ucapan setelah wudhu: “Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluh” (HR. Muslim), ditambah ucapan: “Allahummaj’alnii minat tawwaabiin waj’alnii minal mutathohhiriin” (HR. Tirmidzi). [Artinya: Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Ya Allah jadikanlah aku di antara orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang suci] Niat Sebelum Wudhu (16) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengucapkan di awal wudhu: “Nawaitu rof’al hadatsi … (Saya berniat menghilangkan hadats …)”. Beliau pun tidak menganjurkannya. Tidak ada seorang sahabat yang melakukannya sama sekali. Tidak pula diriwayatkan mengenai anjuran amalan ini dari satu hadits pun baik dengan sanad yang shahih atau pun dho’if sekali pun. Tidak Berlebihan dalam Berwudhu (17) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membasuh anggota wudhunya lebih dari tiga kali. (18) Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membasuh tangan lebih dari siku dan membasuh kaki lebih dari mata kaki. Menyela-nyela Jenggot dan Jari Jemari (19) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menyela-nyela jengotnya, namun itu bukan jadi rutinitas. (20) Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa menyela-nyela jari jemarinya dan memerintahkan untuk demikian.   -Alhamdulillah, selesai petunjuk wudhu-   Diterjemahkan secara bebas dari Muhadzdzab Zaadul Ma’ad (Ibnul Qayyim), disusun ulang oleh Sa’ad bin ‘Abdurrahman al Hushain, hal. 26-27.   Riyadh-KSA, 2 Safar 1432 H, 06/01/2011 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.remajaislam.com, dipublish ulang oleh www.rumaysho.com


Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala rosulillah wa’ ala aalihi wa shohbihi wa sallam. Artikel berikut adalah lanjutan dari penjelasan Ibnul Qoyyim rahimahullah yang kami sarikan dari kitab beliau Zaadul Ma’ad berisi penjelasan tata cara wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Moga bermanfaat. Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika wudhu adalah sebagai berikut: Tidak Pernah Meninggalkan Berkumur-kumur dan Memasukkan Air dalam Hidung (9) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berwudhu selalu berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung. Dan tidak diketahui sekali pun juga kalau beliau meninggalkan berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung. Tertib dan Berturut-turut dalam Berwudhu (10) Demikian pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengusap anggota wudhunya sesuai urutan dan berturut-turut (tidak ada selang waktu antara anggota wudhu yang satu dan lainnya). Beliau tidak pernah meninggalkan hal ini sama sekali. Cara Mengusap Kepala (11) Cara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap kepala yaitu kadang beliau mengusap ‘imamah (penutup kepala yang sulit dilepas), kadang pula mengusap ‘imamah dan ubannya sekaligus. [Jadi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengusap kepala bukan hanya mengusap ubannya saja. Beliau mengusap ubannya saat beliau menggunakan ‘imamah dan turut mengusap ‘imamah] Membasuh Kaki (12) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam wudhunya selalu mencuci kedua kakinya secara langsung jika saat itu beliau tidak menggunakan khuf atau kaos kaki. Namun beliau mengusap khuf dan kaos kaki jika beliau memang dalam kondisi mengenakannya. [Khuf = sepatu yang menutup mata kaki] Mengusap Telinga Sekaligus dengan Kepala (13) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengusap telinga langsung dengan kepalanya. Saat mengusap telinga, beliau mengusap bagian luar dan bagian dalamnya. Tidak Perlu Mengusap Leher (14) Sedangkan mengenai mengusap leher tidak ada satu pun hadits yang shahih yang mengajarkannya. Yang Dibaca Sebelum dan Sesudah Wudhu (15) Sebelum berwudhu tidak ada yang beliau ucapkan kecuali ucapan tasmiyah (bismillah) dan ucapan setelah wudhu: “Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluh” (HR. Muslim), ditambah ucapan: “Allahummaj’alnii minat tawwaabiin waj’alnii minal mutathohhiriin” (HR. Tirmidzi). [Artinya: Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Ya Allah jadikanlah aku di antara orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang suci] Niat Sebelum Wudhu (16) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengucapkan di awal wudhu: “Nawaitu rof’al hadatsi … (Saya berniat menghilangkan hadats …)”. Beliau pun tidak menganjurkannya. Tidak ada seorang sahabat yang melakukannya sama sekali. Tidak pula diriwayatkan mengenai anjuran amalan ini dari satu hadits pun baik dengan sanad yang shahih atau pun dho’if sekali pun. Tidak Berlebihan dalam Berwudhu (17) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membasuh anggota wudhunya lebih dari tiga kali. (18) Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membasuh tangan lebih dari siku dan membasuh kaki lebih dari mata kaki. Menyela-nyela Jenggot dan Jari Jemari (19) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menyela-nyela jengotnya, namun itu bukan jadi rutinitas. (20) Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa menyela-nyela jari jemarinya dan memerintahkan untuk demikian.   -Alhamdulillah, selesai petunjuk wudhu-   Diterjemahkan secara bebas dari Muhadzdzab Zaadul Ma’ad (Ibnul Qayyim), disusun ulang oleh Sa’ad bin ‘Abdurrahman al Hushain, hal. 26-27.   Riyadh-KSA, 2 Safar 1432 H, 06/01/2011 Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.remajaislam.com, dipublish ulang oleh www.rumaysho.com

Wudhu Sesuai Petunjuk Rasul (1)

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala rosulillah. Berikut adalah bahasan dari Ibnul Qoyyim rahimahullah yang kami sarikan dari kitab beliau Zaadul Ma’ad berisi penjelasan tata cara wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penjelasan ini amat bermanfaat bagi kaum muslimin karena dibangun di atas dalil-dalil yang shahih. Moga bermanfaat. Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika wudhu adalah sebagai berikut: Berwudhu Setiap Kali Shalat (1) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berwudhu setiap kali mau shalat. Inilah kondisi beliau pada umumnya. Kadang juga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu untuk beberapa shalat dengan sekali wudhu. (HR. Muslim) Berwudhu dengan Tidak Boros Menggunakan Air (2) Kadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dengan satu mud, kadang pula dengan sepertiganya, atau kadang lebih dari itu. [Satu mud = ukuran dua telapak tangan penuh] (3) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang sangat hemat ketika menggunakan air saat berwudhu. Beliau pun mewanti-wanti umatnya –dalam hadits yang sifatnya umum- agar jangan sampai boros. Beliau pun mengabari bahwa di antara umatnya ada yang berlebih-lebihan dalam thoharoh (bersuci). (HR. Ahmad) Jumlah Membasuh Setiap Anggota Wudhu (4) Telah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau ketika membasuh setiap anggota wudhu, kadang satu kali-satu kali, kadang dua kali-dua kali, dan kadang tiga kali-tiga kali. Kadang pula beliau membasuh sebagian anggota wudhu ada yang dua kali dan yang lainnya tiga kali. Cara Beliau Berkumur-kumur dan Memasukkan air dalam Hidung (5) Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung, kadang dengan satu cidukan, kadang dua cidukan, dan kadang tiga cidukan. (6) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menyambungkan antara berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung (dengan satu cidukan, satu kali jalan). Beliau mengambil sebagian cidukan untuk mulut dan sebagiannya lagi untuk hidungnya. Adapun jika katakan tadi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung dengan dua atau tiga kali cidukan, maka itu ada kemungkinan kalau beliau memisah antara keduanya. Namun yang sesuai petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menyambungkan antara keduanya. Sebagaimana disebutkan dalam Shahihain (Bukhari-Muslim) dari hadits ‘Abdullah bin Zaid, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung sekaligus dari satu telapak tangan dan beliau melakukan seperti ini sebanyak tiga kali.” Dalam lafazh lainnya, “Beliau berkumur-kumur dan mengeluarkan air dari hidung sebanyak tiga kali.” Inilah penjelasan yang tepat (shahih) tentang berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung. (7) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menggunakan tangan kanan ketika memasukkan air dalam hidung dan mengeluarkannya dengan tangan kiri. Mengusap Kepala (8) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengusap seluruh kepala (bukan sebagiannya saja). Kadang beliau mengusapnya dengan menarik tangan yang telah dibasahi dari belakang ke depan dan beliau tarik lagi ke belakang. -bersambung insya Allah-   Diterjemahkan secara bebas dari Muhadzdzab Zaadul Ma’ad (Ibnul Qayyim), disusun ulang oleh Sa’ad bin ‘Abdurrahman al Hushain, hal. 26   Riyadh-KSA, 17th Muharram 1432 H, 23/12/2010 Artikel www.remajaislam.com, dipublish ulang oleh www.rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

Wudhu Sesuai Petunjuk Rasul (1)

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala rosulillah. Berikut adalah bahasan dari Ibnul Qoyyim rahimahullah yang kami sarikan dari kitab beliau Zaadul Ma’ad berisi penjelasan tata cara wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penjelasan ini amat bermanfaat bagi kaum muslimin karena dibangun di atas dalil-dalil yang shahih. Moga bermanfaat. Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika wudhu adalah sebagai berikut: Berwudhu Setiap Kali Shalat (1) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berwudhu setiap kali mau shalat. Inilah kondisi beliau pada umumnya. Kadang juga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu untuk beberapa shalat dengan sekali wudhu. (HR. Muslim) Berwudhu dengan Tidak Boros Menggunakan Air (2) Kadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dengan satu mud, kadang pula dengan sepertiganya, atau kadang lebih dari itu. [Satu mud = ukuran dua telapak tangan penuh] (3) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang sangat hemat ketika menggunakan air saat berwudhu. Beliau pun mewanti-wanti umatnya –dalam hadits yang sifatnya umum- agar jangan sampai boros. Beliau pun mengabari bahwa di antara umatnya ada yang berlebih-lebihan dalam thoharoh (bersuci). (HR. Ahmad) Jumlah Membasuh Setiap Anggota Wudhu (4) Telah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau ketika membasuh setiap anggota wudhu, kadang satu kali-satu kali, kadang dua kali-dua kali, dan kadang tiga kali-tiga kali. Kadang pula beliau membasuh sebagian anggota wudhu ada yang dua kali dan yang lainnya tiga kali. Cara Beliau Berkumur-kumur dan Memasukkan air dalam Hidung (5) Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung, kadang dengan satu cidukan, kadang dua cidukan, dan kadang tiga cidukan. (6) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menyambungkan antara berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung (dengan satu cidukan, satu kali jalan). Beliau mengambil sebagian cidukan untuk mulut dan sebagiannya lagi untuk hidungnya. Adapun jika katakan tadi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung dengan dua atau tiga kali cidukan, maka itu ada kemungkinan kalau beliau memisah antara keduanya. Namun yang sesuai petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menyambungkan antara keduanya. Sebagaimana disebutkan dalam Shahihain (Bukhari-Muslim) dari hadits ‘Abdullah bin Zaid, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung sekaligus dari satu telapak tangan dan beliau melakukan seperti ini sebanyak tiga kali.” Dalam lafazh lainnya, “Beliau berkumur-kumur dan mengeluarkan air dari hidung sebanyak tiga kali.” Inilah penjelasan yang tepat (shahih) tentang berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung. (7) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menggunakan tangan kanan ketika memasukkan air dalam hidung dan mengeluarkannya dengan tangan kiri. Mengusap Kepala (8) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengusap seluruh kepala (bukan sebagiannya saja). Kadang beliau mengusapnya dengan menarik tangan yang telah dibasahi dari belakang ke depan dan beliau tarik lagi ke belakang. -bersambung insya Allah-   Diterjemahkan secara bebas dari Muhadzdzab Zaadul Ma’ad (Ibnul Qayyim), disusun ulang oleh Sa’ad bin ‘Abdurrahman al Hushain, hal. 26   Riyadh-KSA, 17th Muharram 1432 H, 23/12/2010 Artikel www.remajaislam.com, dipublish ulang oleh www.rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal
Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala rosulillah. Berikut adalah bahasan dari Ibnul Qoyyim rahimahullah yang kami sarikan dari kitab beliau Zaadul Ma’ad berisi penjelasan tata cara wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penjelasan ini amat bermanfaat bagi kaum muslimin karena dibangun di atas dalil-dalil yang shahih. Moga bermanfaat. Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika wudhu adalah sebagai berikut: Berwudhu Setiap Kali Shalat (1) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berwudhu setiap kali mau shalat. Inilah kondisi beliau pada umumnya. Kadang juga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu untuk beberapa shalat dengan sekali wudhu. (HR. Muslim) Berwudhu dengan Tidak Boros Menggunakan Air (2) Kadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dengan satu mud, kadang pula dengan sepertiganya, atau kadang lebih dari itu. [Satu mud = ukuran dua telapak tangan penuh] (3) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang sangat hemat ketika menggunakan air saat berwudhu. Beliau pun mewanti-wanti umatnya –dalam hadits yang sifatnya umum- agar jangan sampai boros. Beliau pun mengabari bahwa di antara umatnya ada yang berlebih-lebihan dalam thoharoh (bersuci). (HR. Ahmad) Jumlah Membasuh Setiap Anggota Wudhu (4) Telah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau ketika membasuh setiap anggota wudhu, kadang satu kali-satu kali, kadang dua kali-dua kali, dan kadang tiga kali-tiga kali. Kadang pula beliau membasuh sebagian anggota wudhu ada yang dua kali dan yang lainnya tiga kali. Cara Beliau Berkumur-kumur dan Memasukkan air dalam Hidung (5) Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung, kadang dengan satu cidukan, kadang dua cidukan, dan kadang tiga cidukan. (6) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menyambungkan antara berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung (dengan satu cidukan, satu kali jalan). Beliau mengambil sebagian cidukan untuk mulut dan sebagiannya lagi untuk hidungnya. Adapun jika katakan tadi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung dengan dua atau tiga kali cidukan, maka itu ada kemungkinan kalau beliau memisah antara keduanya. Namun yang sesuai petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menyambungkan antara keduanya. Sebagaimana disebutkan dalam Shahihain (Bukhari-Muslim) dari hadits ‘Abdullah bin Zaid, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung sekaligus dari satu telapak tangan dan beliau melakukan seperti ini sebanyak tiga kali.” Dalam lafazh lainnya, “Beliau berkumur-kumur dan mengeluarkan air dari hidung sebanyak tiga kali.” Inilah penjelasan yang tepat (shahih) tentang berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung. (7) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menggunakan tangan kanan ketika memasukkan air dalam hidung dan mengeluarkannya dengan tangan kiri. Mengusap Kepala (8) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengusap seluruh kepala (bukan sebagiannya saja). Kadang beliau mengusapnya dengan menarik tangan yang telah dibasahi dari belakang ke depan dan beliau tarik lagi ke belakang. -bersambung insya Allah-   Diterjemahkan secara bebas dari Muhadzdzab Zaadul Ma’ad (Ibnul Qayyim), disusun ulang oleh Sa’ad bin ‘Abdurrahman al Hushain, hal. 26   Riyadh-KSA, 17th Muharram 1432 H, 23/12/2010 Artikel www.remajaislam.com, dipublish ulang oleh www.rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal


Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala rosulillah. Berikut adalah bahasan dari Ibnul Qoyyim rahimahullah yang kami sarikan dari kitab beliau Zaadul Ma’ad berisi penjelasan tata cara wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penjelasan ini amat bermanfaat bagi kaum muslimin karena dibangun di atas dalil-dalil yang shahih. Moga bermanfaat. Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika wudhu adalah sebagai berikut: Berwudhu Setiap Kali Shalat (1) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berwudhu setiap kali mau shalat. Inilah kondisi beliau pada umumnya. Kadang juga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu untuk beberapa shalat dengan sekali wudhu. (HR. Muslim) Berwudhu dengan Tidak Boros Menggunakan Air (2) Kadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dengan satu mud, kadang pula dengan sepertiganya, atau kadang lebih dari itu. [Satu mud = ukuran dua telapak tangan penuh] (3) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang sangat hemat ketika menggunakan air saat berwudhu. Beliau pun mewanti-wanti umatnya –dalam hadits yang sifatnya umum- agar jangan sampai boros. Beliau pun mengabari bahwa di antara umatnya ada yang berlebih-lebihan dalam thoharoh (bersuci). (HR. Ahmad) Jumlah Membasuh Setiap Anggota Wudhu (4) Telah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau ketika membasuh setiap anggota wudhu, kadang satu kali-satu kali, kadang dua kali-dua kali, dan kadang tiga kali-tiga kali. Kadang pula beliau membasuh sebagian anggota wudhu ada yang dua kali dan yang lainnya tiga kali. Cara Beliau Berkumur-kumur dan Memasukkan air dalam Hidung (5) Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung, kadang dengan satu cidukan, kadang dua cidukan, dan kadang tiga cidukan. (6) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menyambungkan antara berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung (dengan satu cidukan, satu kali jalan). Beliau mengambil sebagian cidukan untuk mulut dan sebagiannya lagi untuk hidungnya. Adapun jika katakan tadi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung dengan dua atau tiga kali cidukan, maka itu ada kemungkinan kalau beliau memisah antara keduanya. Namun yang sesuai petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menyambungkan antara keduanya. Sebagaimana disebutkan dalam Shahihain (Bukhari-Muslim) dari hadits ‘Abdullah bin Zaid, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung sekaligus dari satu telapak tangan dan beliau melakukan seperti ini sebanyak tiga kali.” Dalam lafazh lainnya, “Beliau berkumur-kumur dan mengeluarkan air dari hidung sebanyak tiga kali.” Inilah penjelasan yang tepat (shahih) tentang berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung. (7) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menggunakan tangan kanan ketika memasukkan air dalam hidung dan mengeluarkannya dengan tangan kiri. Mengusap Kepala (8) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengusap seluruh kepala (bukan sebagiannya saja). Kadang beliau mengusapnya dengan menarik tangan yang telah dibasahi dari belakang ke depan dan beliau tarik lagi ke belakang. -bersambung insya Allah-   Diterjemahkan secara bebas dari Muhadzdzab Zaadul Ma’ad (Ibnul Qayyim), disusun ulang oleh Sa’ad bin ‘Abdurrahman al Hushain, hal. 26   Riyadh-KSA, 17th Muharram 1432 H, 23/12/2010 Artikel www.remajaislam.com, dipublish ulang oleh www.rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal

Celaan Bagi Orang yang Meremehkan Shalat Rawatib

Pertanyaan: Bagaimana dengan seseorang yang tidak mau merutinkan shalat sunnah rawatib?   Jawaban: Barangsiapa yang terus-terusan meninggalkan shalat sunnah rawatib, ini menunjukkan kurangnya agamanya dan persaksiannya bisa jadi tertolak. Inilah yang menjadi pendapat Imam Ahmad, Imam Asy Syafi’i dan selainnya. [Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 23/127]   Baca tentang shalat sunnah rawatib secara lebih lengkap di sini.   Riyadh-KSA, 14 Shafar 1432 H (18/01/2011) www.rumaysho.com Tagsshalat rawatib

Celaan Bagi Orang yang Meremehkan Shalat Rawatib

Pertanyaan: Bagaimana dengan seseorang yang tidak mau merutinkan shalat sunnah rawatib?   Jawaban: Barangsiapa yang terus-terusan meninggalkan shalat sunnah rawatib, ini menunjukkan kurangnya agamanya dan persaksiannya bisa jadi tertolak. Inilah yang menjadi pendapat Imam Ahmad, Imam Asy Syafi’i dan selainnya. [Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 23/127]   Baca tentang shalat sunnah rawatib secara lebih lengkap di sini.   Riyadh-KSA, 14 Shafar 1432 H (18/01/2011) www.rumaysho.com Tagsshalat rawatib
Pertanyaan: Bagaimana dengan seseorang yang tidak mau merutinkan shalat sunnah rawatib?   Jawaban: Barangsiapa yang terus-terusan meninggalkan shalat sunnah rawatib, ini menunjukkan kurangnya agamanya dan persaksiannya bisa jadi tertolak. Inilah yang menjadi pendapat Imam Ahmad, Imam Asy Syafi’i dan selainnya. [Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 23/127]   Baca tentang shalat sunnah rawatib secara lebih lengkap di sini.   Riyadh-KSA, 14 Shafar 1432 H (18/01/2011) www.rumaysho.com Tagsshalat rawatib


Pertanyaan: Bagaimana dengan seseorang yang tidak mau merutinkan shalat sunnah rawatib?   Jawaban: Barangsiapa yang terus-terusan meninggalkan shalat sunnah rawatib, ini menunjukkan kurangnya agamanya dan persaksiannya bisa jadi tertolak. Inilah yang menjadi pendapat Imam Ahmad, Imam Asy Syafi’i dan selainnya. [Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 23/127]   Baca tentang shalat sunnah rawatib secara lebih lengkap di sini.   Riyadh-KSA, 14 Shafar 1432 H (18/01/2011) www.rumaysho.com Tagsshalat rawatib

Beli Emas Secara Kredit

Apakah boleh jual beli emas secara kredit atau pembayaran bertempo? Pertanyaan: Apakah boleh menukar emas dengan uang yang dibayar secara kredit sebagaimana membeli barang lainnya? Atau harus dengan tunai di majelis tanpa menunda pembayaran sedikit pun? Apa dalil yang membolehkan atau tidaknya hal ini? Karena sebagian orang ada yang membeli perhiasan (emas) dengan cara kredit semacam ini. Jawaban: Tidak boleh menukar emas dengan uang, walaupun keduanya tidak sama jenis kecuali dengan syarat harus tunai dalam satu majelis. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menjelaskan barang-barang yang termasuk riba dalam sabdanya, فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ “Jika berbeda jenis, maka juallah terserah kalian, asalkan tunai”[1] Wa billahit taufiq, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabtnya. Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ Yang menandatangani fatwa ini: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alu Syaikh selaku ketua; Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan, Syaikh Sholeh Al Fauzan, Syaikh Bakr Abu Zaid selaku anggota Pertanyaan kedua dari fatwa no. 20790, 11/96-97   Riyadh KSA, 13 Shafar 1432 H (17/01/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Jual Beli Emas via Internet [1] HR. Muslim no. 1587 Tagskredit riba

Beli Emas Secara Kredit

Apakah boleh jual beli emas secara kredit atau pembayaran bertempo? Pertanyaan: Apakah boleh menukar emas dengan uang yang dibayar secara kredit sebagaimana membeli barang lainnya? Atau harus dengan tunai di majelis tanpa menunda pembayaran sedikit pun? Apa dalil yang membolehkan atau tidaknya hal ini? Karena sebagian orang ada yang membeli perhiasan (emas) dengan cara kredit semacam ini. Jawaban: Tidak boleh menukar emas dengan uang, walaupun keduanya tidak sama jenis kecuali dengan syarat harus tunai dalam satu majelis. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menjelaskan barang-barang yang termasuk riba dalam sabdanya, فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ “Jika berbeda jenis, maka juallah terserah kalian, asalkan tunai”[1] Wa billahit taufiq, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabtnya. Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ Yang menandatangani fatwa ini: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alu Syaikh selaku ketua; Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan, Syaikh Sholeh Al Fauzan, Syaikh Bakr Abu Zaid selaku anggota Pertanyaan kedua dari fatwa no. 20790, 11/96-97   Riyadh KSA, 13 Shafar 1432 H (17/01/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Jual Beli Emas via Internet [1] HR. Muslim no. 1587 Tagskredit riba
Apakah boleh jual beli emas secara kredit atau pembayaran bertempo? Pertanyaan: Apakah boleh menukar emas dengan uang yang dibayar secara kredit sebagaimana membeli barang lainnya? Atau harus dengan tunai di majelis tanpa menunda pembayaran sedikit pun? Apa dalil yang membolehkan atau tidaknya hal ini? Karena sebagian orang ada yang membeli perhiasan (emas) dengan cara kredit semacam ini. Jawaban: Tidak boleh menukar emas dengan uang, walaupun keduanya tidak sama jenis kecuali dengan syarat harus tunai dalam satu majelis. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menjelaskan barang-barang yang termasuk riba dalam sabdanya, فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ “Jika berbeda jenis, maka juallah terserah kalian, asalkan tunai”[1] Wa billahit taufiq, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabtnya. Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ Yang menandatangani fatwa ini: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alu Syaikh selaku ketua; Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan, Syaikh Sholeh Al Fauzan, Syaikh Bakr Abu Zaid selaku anggota Pertanyaan kedua dari fatwa no. 20790, 11/96-97   Riyadh KSA, 13 Shafar 1432 H (17/01/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Jual Beli Emas via Internet [1] HR. Muslim no. 1587 Tagskredit riba


Apakah boleh jual beli emas secara kredit atau pembayaran bertempo? Pertanyaan: Apakah boleh menukar emas dengan uang yang dibayar secara kredit sebagaimana membeli barang lainnya? Atau harus dengan tunai di majelis tanpa menunda pembayaran sedikit pun? Apa dalil yang membolehkan atau tidaknya hal ini? Karena sebagian orang ada yang membeli perhiasan (emas) dengan cara kredit semacam ini. Jawaban: Tidak boleh menukar emas dengan uang, walaupun keduanya tidak sama jenis kecuali dengan syarat harus tunai dalam satu majelis. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menjelaskan barang-barang yang termasuk riba dalam sabdanya, فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ “Jika berbeda jenis, maka juallah terserah kalian, asalkan tunai”[1] Wa billahit taufiq, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabtnya. Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ Yang menandatangani fatwa ini: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alu Syaikh selaku ketua; Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan, Syaikh Sholeh Al Fauzan, Syaikh Bakr Abu Zaid selaku anggota Pertanyaan kedua dari fatwa no. 20790, 11/96-97   Riyadh KSA, 13 Shafar 1432 H (17/01/2011) www.rumaysho.com Baca Juga: Jual Beli Emas via Internet [1] HR. Muslim no. 1587 Tagskredit riba

Bentuk-Bentuk Perendahan Sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam – Golongan Al Qur’aniun

Golongan Al Qur’aniun (hanya menerima Al-qur’an dan menolak sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam yang shahih)Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda:لاَ أُلْفِيَنَّ أحدَكم مُتَّكِئًا على أريكته يأتيه الأمر من أمري مما أمرت به أو نهيت عنه فيقول لا ندري ما وجدنا في كتاب الله اتبعناه“Aku sungguh tidak ingin mendapati salah seorang dari kalian dalam keadaan bertelekan di atas dipannya, datang kepadanya suatu perkara agama baik perintahku maupun laranganku lalu ia berkata, “Kami tidak tahu, apa yang kami temui dalam Al-Qur’an maka kami laksanakan””[1]Berkata Al-Mubarokfuri, “Hadits ini adalah salah satu dari dalil-dalil dan tanda-tanda kenabian. Sungguh apa yang dikabarkan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam ini telah menjadi kenyataan. Ada seseorang di Funjab di daerah India menamakan dirinya Ahli Qur’an, namun sungguh jauh berbeda antara dia dan ahli Qur’an yang hakiki. Yang benar ia adalah ahli kekufuran. Padahal sebelum itu ia adalah termasuk orang-orang yang sholeh lalu syaitanpun menyesatkannya dan menggelincirkannya dan menjauhkannya dari jalan yang lurus. Maka akhirnya diapun mengucapkan kata-kata yang bukan merupakan perkataan orang-orang yang beragama Islam. Dia menolak keras seluruh hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam dan sibuk dengan penolakan ini. Ia berkata, “Seluruh hadits-hadits ini merupakan kedustaan dan kebohongan atas nama Allah, yang benar hanyalah wajib mengamalkan Al-Qur’an yang agung saja, tidak perlu mengamalkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam walaupun hadits-hadits tersebut shahih dan mutawatir. Barangsiapa yang beramal tidak hanya dengan Al-Qur’an saja maka dia termasuk dalam firman Allah (وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ﴾ (المائدة: من الآية44)“Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. 5:44)Dan perkataan-perkataannya yang lain yang merupakan kekufuran. Dia telah memiliki pengikut yang banyak yang merupakan orang-orang bodoh. Para pengikutnya menjadikannya sebagai imam (pemimpin) mereka. Para ulama di zamannya telah memvonis akan kafirnya orang ini.”[2]أَلآ إني أُوْتِيْتُ الكتابَ ومثلَه معه لاَ يُوْشِكُ رَجُلٌ شبعان على أريكته يقول عليكم بهذا القرآن فما وجدتم فيه من حلال فأَحِلُّوْهُ وما وجدتم فيه من حرام فحرموه ألا لا يحل لكم لحم الحمار الأهلي ولا كل ذي ناب من السَّبُعِ ولا لُقَطَةُ مُعاهَدٍ إلا أن يستغني عنها صاحبُها ومن نزل بقوم فعليهم أن يَقْرُوْهُ فإن لم يَقْرُوْهُ فله أن يُعْقِبَهم بمثلِ قِرَاه“Ketahuilah, sesungguhnya aku telah diberikan (oleh Allah) Al-Quran dan yang semisalnya (yaitu sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam) bersama Al-Qur’an. Sungguh hampir ada seorang laki-laki yang duduk di atas dipannya dalam keadaan kekenyangan berkata, “Wajib bagi kalian (untuk berpegang) dengan Al-Qur’an ini, apa yang kalian temui dalam Al-Qur’an dari hal-hal yang halal maka halalkanlah dan apa yang kalian temui berupa hal-hal yang diharamkan maka haramkanlah”. Ketahuilah tidak halal bagi kalian daging keledai negri dan tidak halal juga semua hewan bertaring dari binatang buas dan tidak halal juga apa yang terjatuh dari orang kafir mu’ahad (yaitu yang memiliki perjanjian damai dengan kaum muslimin) kecuali jika ia sudah tidak membutuhkannya. Barangsiapa yang mampir di suatu kaum maka wajib bagi kaum tersebut untuk menjamunya. Jika mereka tidak menjamunya maka boleh baginya untuk mengambil ganti seharga nilai jamuan mereka”[3]Berkata At-Thibi, “Pada pengulangan perkataan tanbih (yaitu perkataan أَلآ dan  لاَ) menunjukan buruk dan penghinaan yang timbul dari kemarahan yang sangat besar terhadap orang yang meninggalkan sunnah dan meninggalkan beramal dengan hadits Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam dan mencukupkan beramal dengan Al-Qur’an saja. (Kemarahan ini timbul akibat meninggalkan hadits karena Al-Qur’an-pen) bagaimana lagi dengan orang yang mengutamakan akalnya (sehingga meninggalkan hadits karena akalnya)??[4]Apa yang dikawatirkan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam sekarang telah terjadi. Betapa banyak orang yang menolak hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam dengan dalih Al-Qur’an sudah cukup sebagai petunjuk dan kita tidak butuh kepada sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam. Lupakah mereka dengan firman Allah( وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾ (الحشر: من الآية7)Apa saja yang datang dari Rasul kepada kalian maka terimalah dia, dan apa saja yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS. 59:7)Tidakkah mereka membaca firman Allah:(وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلاغُ الْمُبِينُ﴾ (النور: من الآية54)“Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tiada lain kewajiban rasul hanya menyampaikan (amanat Allah) dengan terang” (QS 24:54)Allah telah menyebutkan tentang kewajiban taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam dalam Al-Qur’an sebanyak 33 kali, apakah mereka tidak membacanya??عن عبد الله قال لعنَ اللهُ الواشماتِ والمُوْتَشِمَاتِ والْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجاَتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ فبلغ ذلك امرأة من بني أسد يقال لها أم يعقوب فجاءت فقالت إنه بلغني أنك لعنت كيت وكيت فقال ومالي لا ألعن من لعن رسول الله  صلى الله عليه وسلم  ومن هو في كتاب الله فقالت لقد قرأت ما بين اللوحين فما وجدت فيه ما تقول قال لئن كنت قرأتيه لقد وجدتيه أما قرأت   وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا   قالت بلى قال فإنه قد نهى عنه قالت فإني أرى أهلَك يفعلونه قال فاذْهبِي فانْظُرِي فذهبت فنظرتْ فلم تر من حاجتها شيئا فقال لو كانت كذلك ما جامعَتْنَاDari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “Allah melaknat para wanita pembuat tato, para wanita yang minta untuk di tato, para wanita yang menghilangkan rambut yang tumbuh di wajah, para wanita yang meminta untuk dihilangkan rambut yang tumbuh di wajahnya, para wanita yang mengkikir giginya (sehingga timbul kerenggangan diantara gigi-giginya) untuk memperindah gigi-giginya, yaitu para wanita[5] yang merubah ciptaan Allah”. Perkataan Ibnu Mas’ud inipun sampai kepada seorang wanita dari bani Asad yang dikenal dengan Ummu Ya’qub lalu iapun mendatangi Ibnu Mas’ud dan berkata kepadanya, “Telah sampai kepadaku bahwasanya engkau melaknat demikian dan demikian”. Ibnu Mas’ud berkata, “Kenapa aku tidak melaknat orang yang telah dilaknat oleh Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam dan telah disebutkan dalam Al-Qur’an (bahwa dia terlaknat)”. Wanita itu berkata, “Aku telah membaca apa yang diantara dua sampul (yaitu tempat diletakkannya lembaran-lembaran Al-Qur’an) namun aku tidak mendapatkan apa yang engkau katakan[6]”. Ibnu Mas’ud berkata, “Kalau engkau telah membaca Al-Qur’an (seluruhnya) tentunya engkau telah mendapatkan hal itu. Tidakkah engkau membaca firman Allah(وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾ (الحشر: من الآية7)Apa saja yang datang dari Rasul kepada kalian maka terimalah dia, dan apa saja yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS. 59:7)??”Wanita itu berkata, “Tentu saya telah membacanya”. Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam telah melarang perbuatan-perbuatan tersebut”. Wanita tersebut berkata, “Sesungguhnya istrimu (yaitu Zainab binti Abdillah Ats-Tsaqofi) telah melakukan hal-hal terlarang tersebut!”. Ibnu Mas’ud berkata, “pergilah engkau dan lihatlah (apa benar hal itu)!”. Maka wanita itupun pergi dan sama sekali tidak mendapatkan apa yang dia katakan. Maka Ibnu Mas’ud berkata, “Kalau memang istriku sebagaimana yang engkau katakan maka ia tidak akan berkumpul denganku (yaitu akan aku ceraikan dia)[7]!!”عن عبد الله بن أبي بكر بن عبد الرحمن أنه قال لعبد الله بن عمر إنا نجد صلاة الحضر وصلاة الخوف في القرآن ولا نجد صلاة السفر في القرآن فقال له عبد الله بن عمر ابن أخي إن الله جل وعلا بعث إلينا محمدا رسول الله  صلى الله عليه وسلم  ولا نعلم شيئا فإنما نفعل كما رأيناه يفعلDari Abdullah bin Abu Bakr bin Abdurrahman ia berkata kepada Abdullah bin Umar, “Kita menemukan sholat orang mukim (yiatu sholat biasa tatkala tidak safar) dan sholat khouf (sholat dalam keadaan perang) dalam Al-Quran namun kita tidak menemukan solat safar dalam Al-Qur’an”. Maka Abdullah bin Umar berkata kepadanya, “Wahai anak saudaraku sesungguhnya Allah telah mengutus kepada kita Muhammad sebagai rasul (utusan) Allah sedangkan kita tidak mengetahui apa-apa, kita hanya tinggal melakukan sebagaimana yang kita lihat Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam melakukannya”[8]Dari Abu Nadroh atau selainnya berkata, “Kami sedang duduk bersama ‘Imron bin Husain dan kami sedang mengulang-ngulang ilmu, lalu ada seseorang yang berkata, “Janganlah kalian berbicara kecuali dengan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an”. Imronpun berkata, “Sungguh engkau adalah orang yang goblok, apakah engkau temui dalam Al-Quran (penjelasan) bahwa sholat dhuhur  dan sholat ashar empat rakaat, bacaan dalam kedua sholat tersebut tidak dikeraskan?, sholat magrib tiga rakaat, pada dua rakaat pertama dibaca dengan suara keras adapun rakaat yang ketiga tidak?, sholat isya empat rakaat, dua rakaat yang pertama dibaca dengan suara yang keras adapun dua rakaat yang terakhir tidak??”[9]Kita tanyakan kepada para pengingkar sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam, “Bagaimana cara kalian sholat dan haji??, bukankah dalam Al-Qur’an Allah hanya mengatakan وَأَقِيْمُا الصَّلاَةَ “Dan dirikanlah sholat!”  dan hanya berfirman ( ﴿وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً﴾ (adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah) tanpa menjelaskan tata cara sholat dan tata cara haji??. Ataukah kalian katakan bahwa Allah memerintahkan sholat dan haji tanpa menjelaskan tata caranya??, ataukah kalian mengatakan bahwa ibadah sholat dan haji tidak wajib karena tidak jelas tata caranya?? Apakah masuk akal Allah memerintahkan seseorang untuk melaksanakan suatu perkara tanpa menjelaskan tata cara pelaksanaannya??. Apakah kalian juga mengingkari adanya adzan sholat karena tidak terdapat dalam Al-Qur’an?? Demikian juga zakat, tidak terdapat tata cara penunaiannya dalam Al-Qur’an apakah juga kalian ingkari??, bahkan bisa dikatakan hampir seluruh hukum-hukum yang disebutkan dalam Al-Qur’an hanya secara global adapun perinciannya dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam, apakah lantas kalian menolak hampir seluruh syari’at Islam???? Maka tidak diragukan lagi akan kekafiran kalian.Umar bin Al-Khottob berkata,إِنَّهُ سيأتي ناسٌ يُجادلونكم بشُبُهاتِ القُرآن، فَخذوهم بالسُنَنِ فَإن أصحابَ السنن أعلمُ بكتاب الله“Sesungguhnya akan datang golongan manusia yang mereka mendebat kalian dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an yang syubhat[10] maka lawanlah mereka dengan sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam, karena sesungguhnya orang-orang yang menguasai sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam merekalah yang paling paham dengan kandungan Al-Qur’an”[11] Firanda Andirjawww.firanda.comCatatan Kaki:[1] HR At-Thirmidzi no 2800, Abu Dawud no 4605, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani[2] Tuhfatul Ahwadzi 7/461[3] HR Abu Dawud, Dishohihkan oleh syaikh Al-Albani dalam silsilah shahihah 6/871. Dikatakan bahwa hukum yang terakhir ini (boleh bagi sang tamu untuk mengambil ganti senilai hara jamuan) adalah jika tamu tersebut adalah orang yang dalam keadaan darurat (‘Aunul Ma’bud 12/232)[4] Sebagaimana dinukil oleh Al-Mubarokfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi 7/462[5] Dan sifat ini (yang merubah ciptaan Allah) mencakup seluruh wanita yang disebutkan sebelumnya (yang mentato, yang minta di tato, yang menghilangkan rambut yang tumbuh di wajah, yang meminta untuk dihilangkan rambut yang tumbuh di wajahnya, dan yang mengkikir giginya hingga ada kerenggangan diantara gigi-giginya). Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam mengatakan    المُغَيِّرَاتِ tanpa huruf wawu وَ (Umdatul qori’ 19/225)[6] (yaitu aku tidak mendapatkan dalam Al-Qur’an penyebutan bahwa para wanita-wanita tersebut terlaknat)[7] Umdatul Qori 19/226. dalam riwayat yang lain مَا جَامَعْتُهَا “ aku tidak akan manjimaknya (menggaulinya)”. HR Al-Bukhati no 4886, 4887, 5931, 5939, 5943, dan 5948[8] Mawarid Adz-Dzom’an 1/56[9] At-Tamhid, karya Ibnu Abdilbar 1/151[10] Ayat-ayat Al-Qur’an ada yang muhkam dan ada yang syubhat. Adapun yang muhkam yaitu ayat-ayat yang jelas maknanya sehingga tidak bisa ditarik ulur maknanya. Adapun ayat yang sybuhat adalah ayat yang jelas maknanya bagi orang-orang yang dalam ilmunya namun kurang jelas maknanya bagi orang-orang yang ilmunya kurang. Sehingga oang-orang yang di dalam hatinya ada kesesatan akan memanfaatkan ayat-ayat seperti ini untuk mendukung hawa nafsu mereka.[11] Atsar riwayat Ad-Darimi no 119

Bentuk-Bentuk Perendahan Sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam – Golongan Al Qur’aniun

Golongan Al Qur’aniun (hanya menerima Al-qur’an dan menolak sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam yang shahih)Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda:لاَ أُلْفِيَنَّ أحدَكم مُتَّكِئًا على أريكته يأتيه الأمر من أمري مما أمرت به أو نهيت عنه فيقول لا ندري ما وجدنا في كتاب الله اتبعناه“Aku sungguh tidak ingin mendapati salah seorang dari kalian dalam keadaan bertelekan di atas dipannya, datang kepadanya suatu perkara agama baik perintahku maupun laranganku lalu ia berkata, “Kami tidak tahu, apa yang kami temui dalam Al-Qur’an maka kami laksanakan””[1]Berkata Al-Mubarokfuri, “Hadits ini adalah salah satu dari dalil-dalil dan tanda-tanda kenabian. Sungguh apa yang dikabarkan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam ini telah menjadi kenyataan. Ada seseorang di Funjab di daerah India menamakan dirinya Ahli Qur’an, namun sungguh jauh berbeda antara dia dan ahli Qur’an yang hakiki. Yang benar ia adalah ahli kekufuran. Padahal sebelum itu ia adalah termasuk orang-orang yang sholeh lalu syaitanpun menyesatkannya dan menggelincirkannya dan menjauhkannya dari jalan yang lurus. Maka akhirnya diapun mengucapkan kata-kata yang bukan merupakan perkataan orang-orang yang beragama Islam. Dia menolak keras seluruh hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam dan sibuk dengan penolakan ini. Ia berkata, “Seluruh hadits-hadits ini merupakan kedustaan dan kebohongan atas nama Allah, yang benar hanyalah wajib mengamalkan Al-Qur’an yang agung saja, tidak perlu mengamalkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam walaupun hadits-hadits tersebut shahih dan mutawatir. Barangsiapa yang beramal tidak hanya dengan Al-Qur’an saja maka dia termasuk dalam firman Allah (وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ﴾ (المائدة: من الآية44)“Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. 5:44)Dan perkataan-perkataannya yang lain yang merupakan kekufuran. Dia telah memiliki pengikut yang banyak yang merupakan orang-orang bodoh. Para pengikutnya menjadikannya sebagai imam (pemimpin) mereka. Para ulama di zamannya telah memvonis akan kafirnya orang ini.”[2]أَلآ إني أُوْتِيْتُ الكتابَ ومثلَه معه لاَ يُوْشِكُ رَجُلٌ شبعان على أريكته يقول عليكم بهذا القرآن فما وجدتم فيه من حلال فأَحِلُّوْهُ وما وجدتم فيه من حرام فحرموه ألا لا يحل لكم لحم الحمار الأهلي ولا كل ذي ناب من السَّبُعِ ولا لُقَطَةُ مُعاهَدٍ إلا أن يستغني عنها صاحبُها ومن نزل بقوم فعليهم أن يَقْرُوْهُ فإن لم يَقْرُوْهُ فله أن يُعْقِبَهم بمثلِ قِرَاه“Ketahuilah, sesungguhnya aku telah diberikan (oleh Allah) Al-Quran dan yang semisalnya (yaitu sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam) bersama Al-Qur’an. Sungguh hampir ada seorang laki-laki yang duduk di atas dipannya dalam keadaan kekenyangan berkata, “Wajib bagi kalian (untuk berpegang) dengan Al-Qur’an ini, apa yang kalian temui dalam Al-Qur’an dari hal-hal yang halal maka halalkanlah dan apa yang kalian temui berupa hal-hal yang diharamkan maka haramkanlah”. Ketahuilah tidak halal bagi kalian daging keledai negri dan tidak halal juga semua hewan bertaring dari binatang buas dan tidak halal juga apa yang terjatuh dari orang kafir mu’ahad (yaitu yang memiliki perjanjian damai dengan kaum muslimin) kecuali jika ia sudah tidak membutuhkannya. Barangsiapa yang mampir di suatu kaum maka wajib bagi kaum tersebut untuk menjamunya. Jika mereka tidak menjamunya maka boleh baginya untuk mengambil ganti seharga nilai jamuan mereka”[3]Berkata At-Thibi, “Pada pengulangan perkataan tanbih (yaitu perkataan أَلآ dan  لاَ) menunjukan buruk dan penghinaan yang timbul dari kemarahan yang sangat besar terhadap orang yang meninggalkan sunnah dan meninggalkan beramal dengan hadits Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam dan mencukupkan beramal dengan Al-Qur’an saja. (Kemarahan ini timbul akibat meninggalkan hadits karena Al-Qur’an-pen) bagaimana lagi dengan orang yang mengutamakan akalnya (sehingga meninggalkan hadits karena akalnya)??[4]Apa yang dikawatirkan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam sekarang telah terjadi. Betapa banyak orang yang menolak hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam dengan dalih Al-Qur’an sudah cukup sebagai petunjuk dan kita tidak butuh kepada sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam. Lupakah mereka dengan firman Allah( وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾ (الحشر: من الآية7)Apa saja yang datang dari Rasul kepada kalian maka terimalah dia, dan apa saja yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS. 59:7)Tidakkah mereka membaca firman Allah:(وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلاغُ الْمُبِينُ﴾ (النور: من الآية54)“Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tiada lain kewajiban rasul hanya menyampaikan (amanat Allah) dengan terang” (QS 24:54)Allah telah menyebutkan tentang kewajiban taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam dalam Al-Qur’an sebanyak 33 kali, apakah mereka tidak membacanya??عن عبد الله قال لعنَ اللهُ الواشماتِ والمُوْتَشِمَاتِ والْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجاَتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ فبلغ ذلك امرأة من بني أسد يقال لها أم يعقوب فجاءت فقالت إنه بلغني أنك لعنت كيت وكيت فقال ومالي لا ألعن من لعن رسول الله  صلى الله عليه وسلم  ومن هو في كتاب الله فقالت لقد قرأت ما بين اللوحين فما وجدت فيه ما تقول قال لئن كنت قرأتيه لقد وجدتيه أما قرأت   وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا   قالت بلى قال فإنه قد نهى عنه قالت فإني أرى أهلَك يفعلونه قال فاذْهبِي فانْظُرِي فذهبت فنظرتْ فلم تر من حاجتها شيئا فقال لو كانت كذلك ما جامعَتْنَاDari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “Allah melaknat para wanita pembuat tato, para wanita yang minta untuk di tato, para wanita yang menghilangkan rambut yang tumbuh di wajah, para wanita yang meminta untuk dihilangkan rambut yang tumbuh di wajahnya, para wanita yang mengkikir giginya (sehingga timbul kerenggangan diantara gigi-giginya) untuk memperindah gigi-giginya, yaitu para wanita[5] yang merubah ciptaan Allah”. Perkataan Ibnu Mas’ud inipun sampai kepada seorang wanita dari bani Asad yang dikenal dengan Ummu Ya’qub lalu iapun mendatangi Ibnu Mas’ud dan berkata kepadanya, “Telah sampai kepadaku bahwasanya engkau melaknat demikian dan demikian”. Ibnu Mas’ud berkata, “Kenapa aku tidak melaknat orang yang telah dilaknat oleh Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam dan telah disebutkan dalam Al-Qur’an (bahwa dia terlaknat)”. Wanita itu berkata, “Aku telah membaca apa yang diantara dua sampul (yaitu tempat diletakkannya lembaran-lembaran Al-Qur’an) namun aku tidak mendapatkan apa yang engkau katakan[6]”. Ibnu Mas’ud berkata, “Kalau engkau telah membaca Al-Qur’an (seluruhnya) tentunya engkau telah mendapatkan hal itu. Tidakkah engkau membaca firman Allah(وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾ (الحشر: من الآية7)Apa saja yang datang dari Rasul kepada kalian maka terimalah dia, dan apa saja yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS. 59:7)??”Wanita itu berkata, “Tentu saya telah membacanya”. Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam telah melarang perbuatan-perbuatan tersebut”. Wanita tersebut berkata, “Sesungguhnya istrimu (yaitu Zainab binti Abdillah Ats-Tsaqofi) telah melakukan hal-hal terlarang tersebut!”. Ibnu Mas’ud berkata, “pergilah engkau dan lihatlah (apa benar hal itu)!”. Maka wanita itupun pergi dan sama sekali tidak mendapatkan apa yang dia katakan. Maka Ibnu Mas’ud berkata, “Kalau memang istriku sebagaimana yang engkau katakan maka ia tidak akan berkumpul denganku (yaitu akan aku ceraikan dia)[7]!!”عن عبد الله بن أبي بكر بن عبد الرحمن أنه قال لعبد الله بن عمر إنا نجد صلاة الحضر وصلاة الخوف في القرآن ولا نجد صلاة السفر في القرآن فقال له عبد الله بن عمر ابن أخي إن الله جل وعلا بعث إلينا محمدا رسول الله  صلى الله عليه وسلم  ولا نعلم شيئا فإنما نفعل كما رأيناه يفعلDari Abdullah bin Abu Bakr bin Abdurrahman ia berkata kepada Abdullah bin Umar, “Kita menemukan sholat orang mukim (yiatu sholat biasa tatkala tidak safar) dan sholat khouf (sholat dalam keadaan perang) dalam Al-Quran namun kita tidak menemukan solat safar dalam Al-Qur’an”. Maka Abdullah bin Umar berkata kepadanya, “Wahai anak saudaraku sesungguhnya Allah telah mengutus kepada kita Muhammad sebagai rasul (utusan) Allah sedangkan kita tidak mengetahui apa-apa, kita hanya tinggal melakukan sebagaimana yang kita lihat Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam melakukannya”[8]Dari Abu Nadroh atau selainnya berkata, “Kami sedang duduk bersama ‘Imron bin Husain dan kami sedang mengulang-ngulang ilmu, lalu ada seseorang yang berkata, “Janganlah kalian berbicara kecuali dengan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an”. Imronpun berkata, “Sungguh engkau adalah orang yang goblok, apakah engkau temui dalam Al-Quran (penjelasan) bahwa sholat dhuhur  dan sholat ashar empat rakaat, bacaan dalam kedua sholat tersebut tidak dikeraskan?, sholat magrib tiga rakaat, pada dua rakaat pertama dibaca dengan suara keras adapun rakaat yang ketiga tidak?, sholat isya empat rakaat, dua rakaat yang pertama dibaca dengan suara yang keras adapun dua rakaat yang terakhir tidak??”[9]Kita tanyakan kepada para pengingkar sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam, “Bagaimana cara kalian sholat dan haji??, bukankah dalam Al-Qur’an Allah hanya mengatakan وَأَقِيْمُا الصَّلاَةَ “Dan dirikanlah sholat!”  dan hanya berfirman ( ﴿وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً﴾ (adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah) tanpa menjelaskan tata cara sholat dan tata cara haji??. Ataukah kalian katakan bahwa Allah memerintahkan sholat dan haji tanpa menjelaskan tata caranya??, ataukah kalian mengatakan bahwa ibadah sholat dan haji tidak wajib karena tidak jelas tata caranya?? Apakah masuk akal Allah memerintahkan seseorang untuk melaksanakan suatu perkara tanpa menjelaskan tata cara pelaksanaannya??. Apakah kalian juga mengingkari adanya adzan sholat karena tidak terdapat dalam Al-Qur’an?? Demikian juga zakat, tidak terdapat tata cara penunaiannya dalam Al-Qur’an apakah juga kalian ingkari??, bahkan bisa dikatakan hampir seluruh hukum-hukum yang disebutkan dalam Al-Qur’an hanya secara global adapun perinciannya dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam, apakah lantas kalian menolak hampir seluruh syari’at Islam???? Maka tidak diragukan lagi akan kekafiran kalian.Umar bin Al-Khottob berkata,إِنَّهُ سيأتي ناسٌ يُجادلونكم بشُبُهاتِ القُرآن، فَخذوهم بالسُنَنِ فَإن أصحابَ السنن أعلمُ بكتاب الله“Sesungguhnya akan datang golongan manusia yang mereka mendebat kalian dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an yang syubhat[10] maka lawanlah mereka dengan sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam, karena sesungguhnya orang-orang yang menguasai sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam merekalah yang paling paham dengan kandungan Al-Qur’an”[11] Firanda Andirjawww.firanda.comCatatan Kaki:[1] HR At-Thirmidzi no 2800, Abu Dawud no 4605, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani[2] Tuhfatul Ahwadzi 7/461[3] HR Abu Dawud, Dishohihkan oleh syaikh Al-Albani dalam silsilah shahihah 6/871. Dikatakan bahwa hukum yang terakhir ini (boleh bagi sang tamu untuk mengambil ganti senilai hara jamuan) adalah jika tamu tersebut adalah orang yang dalam keadaan darurat (‘Aunul Ma’bud 12/232)[4] Sebagaimana dinukil oleh Al-Mubarokfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi 7/462[5] Dan sifat ini (yang merubah ciptaan Allah) mencakup seluruh wanita yang disebutkan sebelumnya (yang mentato, yang minta di tato, yang menghilangkan rambut yang tumbuh di wajah, yang meminta untuk dihilangkan rambut yang tumbuh di wajahnya, dan yang mengkikir giginya hingga ada kerenggangan diantara gigi-giginya). Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam mengatakan    المُغَيِّرَاتِ tanpa huruf wawu وَ (Umdatul qori’ 19/225)[6] (yaitu aku tidak mendapatkan dalam Al-Qur’an penyebutan bahwa para wanita-wanita tersebut terlaknat)[7] Umdatul Qori 19/226. dalam riwayat yang lain مَا جَامَعْتُهَا “ aku tidak akan manjimaknya (menggaulinya)”. HR Al-Bukhati no 4886, 4887, 5931, 5939, 5943, dan 5948[8] Mawarid Adz-Dzom’an 1/56[9] At-Tamhid, karya Ibnu Abdilbar 1/151[10] Ayat-ayat Al-Qur’an ada yang muhkam dan ada yang syubhat. Adapun yang muhkam yaitu ayat-ayat yang jelas maknanya sehingga tidak bisa ditarik ulur maknanya. Adapun ayat yang sybuhat adalah ayat yang jelas maknanya bagi orang-orang yang dalam ilmunya namun kurang jelas maknanya bagi orang-orang yang ilmunya kurang. Sehingga oang-orang yang di dalam hatinya ada kesesatan akan memanfaatkan ayat-ayat seperti ini untuk mendukung hawa nafsu mereka.[11] Atsar riwayat Ad-Darimi no 119
Golongan Al Qur’aniun (hanya menerima Al-qur’an dan menolak sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam yang shahih)Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda:لاَ أُلْفِيَنَّ أحدَكم مُتَّكِئًا على أريكته يأتيه الأمر من أمري مما أمرت به أو نهيت عنه فيقول لا ندري ما وجدنا في كتاب الله اتبعناه“Aku sungguh tidak ingin mendapati salah seorang dari kalian dalam keadaan bertelekan di atas dipannya, datang kepadanya suatu perkara agama baik perintahku maupun laranganku lalu ia berkata, “Kami tidak tahu, apa yang kami temui dalam Al-Qur’an maka kami laksanakan””[1]Berkata Al-Mubarokfuri, “Hadits ini adalah salah satu dari dalil-dalil dan tanda-tanda kenabian. Sungguh apa yang dikabarkan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam ini telah menjadi kenyataan. Ada seseorang di Funjab di daerah India menamakan dirinya Ahli Qur’an, namun sungguh jauh berbeda antara dia dan ahli Qur’an yang hakiki. Yang benar ia adalah ahli kekufuran. Padahal sebelum itu ia adalah termasuk orang-orang yang sholeh lalu syaitanpun menyesatkannya dan menggelincirkannya dan menjauhkannya dari jalan yang lurus. Maka akhirnya diapun mengucapkan kata-kata yang bukan merupakan perkataan orang-orang yang beragama Islam. Dia menolak keras seluruh hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam dan sibuk dengan penolakan ini. Ia berkata, “Seluruh hadits-hadits ini merupakan kedustaan dan kebohongan atas nama Allah, yang benar hanyalah wajib mengamalkan Al-Qur’an yang agung saja, tidak perlu mengamalkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam walaupun hadits-hadits tersebut shahih dan mutawatir. Barangsiapa yang beramal tidak hanya dengan Al-Qur’an saja maka dia termasuk dalam firman Allah (وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ﴾ (المائدة: من الآية44)“Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. 5:44)Dan perkataan-perkataannya yang lain yang merupakan kekufuran. Dia telah memiliki pengikut yang banyak yang merupakan orang-orang bodoh. Para pengikutnya menjadikannya sebagai imam (pemimpin) mereka. Para ulama di zamannya telah memvonis akan kafirnya orang ini.”[2]أَلآ إني أُوْتِيْتُ الكتابَ ومثلَه معه لاَ يُوْشِكُ رَجُلٌ شبعان على أريكته يقول عليكم بهذا القرآن فما وجدتم فيه من حلال فأَحِلُّوْهُ وما وجدتم فيه من حرام فحرموه ألا لا يحل لكم لحم الحمار الأهلي ولا كل ذي ناب من السَّبُعِ ولا لُقَطَةُ مُعاهَدٍ إلا أن يستغني عنها صاحبُها ومن نزل بقوم فعليهم أن يَقْرُوْهُ فإن لم يَقْرُوْهُ فله أن يُعْقِبَهم بمثلِ قِرَاه“Ketahuilah, sesungguhnya aku telah diberikan (oleh Allah) Al-Quran dan yang semisalnya (yaitu sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam) bersama Al-Qur’an. Sungguh hampir ada seorang laki-laki yang duduk di atas dipannya dalam keadaan kekenyangan berkata, “Wajib bagi kalian (untuk berpegang) dengan Al-Qur’an ini, apa yang kalian temui dalam Al-Qur’an dari hal-hal yang halal maka halalkanlah dan apa yang kalian temui berupa hal-hal yang diharamkan maka haramkanlah”. Ketahuilah tidak halal bagi kalian daging keledai negri dan tidak halal juga semua hewan bertaring dari binatang buas dan tidak halal juga apa yang terjatuh dari orang kafir mu’ahad (yaitu yang memiliki perjanjian damai dengan kaum muslimin) kecuali jika ia sudah tidak membutuhkannya. Barangsiapa yang mampir di suatu kaum maka wajib bagi kaum tersebut untuk menjamunya. Jika mereka tidak menjamunya maka boleh baginya untuk mengambil ganti seharga nilai jamuan mereka”[3]Berkata At-Thibi, “Pada pengulangan perkataan tanbih (yaitu perkataan أَلآ dan  لاَ) menunjukan buruk dan penghinaan yang timbul dari kemarahan yang sangat besar terhadap orang yang meninggalkan sunnah dan meninggalkan beramal dengan hadits Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam dan mencukupkan beramal dengan Al-Qur’an saja. (Kemarahan ini timbul akibat meninggalkan hadits karena Al-Qur’an-pen) bagaimana lagi dengan orang yang mengutamakan akalnya (sehingga meninggalkan hadits karena akalnya)??[4]Apa yang dikawatirkan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam sekarang telah terjadi. Betapa banyak orang yang menolak hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam dengan dalih Al-Qur’an sudah cukup sebagai petunjuk dan kita tidak butuh kepada sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam. Lupakah mereka dengan firman Allah( وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾ (الحشر: من الآية7)Apa saja yang datang dari Rasul kepada kalian maka terimalah dia, dan apa saja yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS. 59:7)Tidakkah mereka membaca firman Allah:(وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلاغُ الْمُبِينُ﴾ (النور: من الآية54)“Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tiada lain kewajiban rasul hanya menyampaikan (amanat Allah) dengan terang” (QS 24:54)Allah telah menyebutkan tentang kewajiban taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam dalam Al-Qur’an sebanyak 33 kali, apakah mereka tidak membacanya??عن عبد الله قال لعنَ اللهُ الواشماتِ والمُوْتَشِمَاتِ والْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجاَتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ فبلغ ذلك امرأة من بني أسد يقال لها أم يعقوب فجاءت فقالت إنه بلغني أنك لعنت كيت وكيت فقال ومالي لا ألعن من لعن رسول الله  صلى الله عليه وسلم  ومن هو في كتاب الله فقالت لقد قرأت ما بين اللوحين فما وجدت فيه ما تقول قال لئن كنت قرأتيه لقد وجدتيه أما قرأت   وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا   قالت بلى قال فإنه قد نهى عنه قالت فإني أرى أهلَك يفعلونه قال فاذْهبِي فانْظُرِي فذهبت فنظرتْ فلم تر من حاجتها شيئا فقال لو كانت كذلك ما جامعَتْنَاDari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “Allah melaknat para wanita pembuat tato, para wanita yang minta untuk di tato, para wanita yang menghilangkan rambut yang tumbuh di wajah, para wanita yang meminta untuk dihilangkan rambut yang tumbuh di wajahnya, para wanita yang mengkikir giginya (sehingga timbul kerenggangan diantara gigi-giginya) untuk memperindah gigi-giginya, yaitu para wanita[5] yang merubah ciptaan Allah”. Perkataan Ibnu Mas’ud inipun sampai kepada seorang wanita dari bani Asad yang dikenal dengan Ummu Ya’qub lalu iapun mendatangi Ibnu Mas’ud dan berkata kepadanya, “Telah sampai kepadaku bahwasanya engkau melaknat demikian dan demikian”. Ibnu Mas’ud berkata, “Kenapa aku tidak melaknat orang yang telah dilaknat oleh Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam dan telah disebutkan dalam Al-Qur’an (bahwa dia terlaknat)”. Wanita itu berkata, “Aku telah membaca apa yang diantara dua sampul (yaitu tempat diletakkannya lembaran-lembaran Al-Qur’an) namun aku tidak mendapatkan apa yang engkau katakan[6]”. Ibnu Mas’ud berkata, “Kalau engkau telah membaca Al-Qur’an (seluruhnya) tentunya engkau telah mendapatkan hal itu. Tidakkah engkau membaca firman Allah(وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾ (الحشر: من الآية7)Apa saja yang datang dari Rasul kepada kalian maka terimalah dia, dan apa saja yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS. 59:7)??”Wanita itu berkata, “Tentu saya telah membacanya”. Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam telah melarang perbuatan-perbuatan tersebut”. Wanita tersebut berkata, “Sesungguhnya istrimu (yaitu Zainab binti Abdillah Ats-Tsaqofi) telah melakukan hal-hal terlarang tersebut!”. Ibnu Mas’ud berkata, “pergilah engkau dan lihatlah (apa benar hal itu)!”. Maka wanita itupun pergi dan sama sekali tidak mendapatkan apa yang dia katakan. Maka Ibnu Mas’ud berkata, “Kalau memang istriku sebagaimana yang engkau katakan maka ia tidak akan berkumpul denganku (yaitu akan aku ceraikan dia)[7]!!”عن عبد الله بن أبي بكر بن عبد الرحمن أنه قال لعبد الله بن عمر إنا نجد صلاة الحضر وصلاة الخوف في القرآن ولا نجد صلاة السفر في القرآن فقال له عبد الله بن عمر ابن أخي إن الله جل وعلا بعث إلينا محمدا رسول الله  صلى الله عليه وسلم  ولا نعلم شيئا فإنما نفعل كما رأيناه يفعلDari Abdullah bin Abu Bakr bin Abdurrahman ia berkata kepada Abdullah bin Umar, “Kita menemukan sholat orang mukim (yiatu sholat biasa tatkala tidak safar) dan sholat khouf (sholat dalam keadaan perang) dalam Al-Quran namun kita tidak menemukan solat safar dalam Al-Qur’an”. Maka Abdullah bin Umar berkata kepadanya, “Wahai anak saudaraku sesungguhnya Allah telah mengutus kepada kita Muhammad sebagai rasul (utusan) Allah sedangkan kita tidak mengetahui apa-apa, kita hanya tinggal melakukan sebagaimana yang kita lihat Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam melakukannya”[8]Dari Abu Nadroh atau selainnya berkata, “Kami sedang duduk bersama ‘Imron bin Husain dan kami sedang mengulang-ngulang ilmu, lalu ada seseorang yang berkata, “Janganlah kalian berbicara kecuali dengan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an”. Imronpun berkata, “Sungguh engkau adalah orang yang goblok, apakah engkau temui dalam Al-Quran (penjelasan) bahwa sholat dhuhur  dan sholat ashar empat rakaat, bacaan dalam kedua sholat tersebut tidak dikeraskan?, sholat magrib tiga rakaat, pada dua rakaat pertama dibaca dengan suara keras adapun rakaat yang ketiga tidak?, sholat isya empat rakaat, dua rakaat yang pertama dibaca dengan suara yang keras adapun dua rakaat yang terakhir tidak??”[9]Kita tanyakan kepada para pengingkar sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam, “Bagaimana cara kalian sholat dan haji??, bukankah dalam Al-Qur’an Allah hanya mengatakan وَأَقِيْمُا الصَّلاَةَ “Dan dirikanlah sholat!”  dan hanya berfirman ( ﴿وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً﴾ (adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah) tanpa menjelaskan tata cara sholat dan tata cara haji??. Ataukah kalian katakan bahwa Allah memerintahkan sholat dan haji tanpa menjelaskan tata caranya??, ataukah kalian mengatakan bahwa ibadah sholat dan haji tidak wajib karena tidak jelas tata caranya?? Apakah masuk akal Allah memerintahkan seseorang untuk melaksanakan suatu perkara tanpa menjelaskan tata cara pelaksanaannya??. Apakah kalian juga mengingkari adanya adzan sholat karena tidak terdapat dalam Al-Qur’an?? Demikian juga zakat, tidak terdapat tata cara penunaiannya dalam Al-Qur’an apakah juga kalian ingkari??, bahkan bisa dikatakan hampir seluruh hukum-hukum yang disebutkan dalam Al-Qur’an hanya secara global adapun perinciannya dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam, apakah lantas kalian menolak hampir seluruh syari’at Islam???? Maka tidak diragukan lagi akan kekafiran kalian.Umar bin Al-Khottob berkata,إِنَّهُ سيأتي ناسٌ يُجادلونكم بشُبُهاتِ القُرآن، فَخذوهم بالسُنَنِ فَإن أصحابَ السنن أعلمُ بكتاب الله“Sesungguhnya akan datang golongan manusia yang mereka mendebat kalian dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an yang syubhat[10] maka lawanlah mereka dengan sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam, karena sesungguhnya orang-orang yang menguasai sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam merekalah yang paling paham dengan kandungan Al-Qur’an”[11] Firanda Andirjawww.firanda.comCatatan Kaki:[1] HR At-Thirmidzi no 2800, Abu Dawud no 4605, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani[2] Tuhfatul Ahwadzi 7/461[3] HR Abu Dawud, Dishohihkan oleh syaikh Al-Albani dalam silsilah shahihah 6/871. Dikatakan bahwa hukum yang terakhir ini (boleh bagi sang tamu untuk mengambil ganti senilai hara jamuan) adalah jika tamu tersebut adalah orang yang dalam keadaan darurat (‘Aunul Ma’bud 12/232)[4] Sebagaimana dinukil oleh Al-Mubarokfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi 7/462[5] Dan sifat ini (yang merubah ciptaan Allah) mencakup seluruh wanita yang disebutkan sebelumnya (yang mentato, yang minta di tato, yang menghilangkan rambut yang tumbuh di wajah, yang meminta untuk dihilangkan rambut yang tumbuh di wajahnya, dan yang mengkikir giginya hingga ada kerenggangan diantara gigi-giginya). Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam mengatakan    المُغَيِّرَاتِ tanpa huruf wawu وَ (Umdatul qori’ 19/225)[6] (yaitu aku tidak mendapatkan dalam Al-Qur’an penyebutan bahwa para wanita-wanita tersebut terlaknat)[7] Umdatul Qori 19/226. dalam riwayat yang lain مَا جَامَعْتُهَا “ aku tidak akan manjimaknya (menggaulinya)”. HR Al-Bukhati no 4886, 4887, 5931, 5939, 5943, dan 5948[8] Mawarid Adz-Dzom’an 1/56[9] At-Tamhid, karya Ibnu Abdilbar 1/151[10] Ayat-ayat Al-Qur’an ada yang muhkam dan ada yang syubhat. Adapun yang muhkam yaitu ayat-ayat yang jelas maknanya sehingga tidak bisa ditarik ulur maknanya. Adapun ayat yang sybuhat adalah ayat yang jelas maknanya bagi orang-orang yang dalam ilmunya namun kurang jelas maknanya bagi orang-orang yang ilmunya kurang. Sehingga oang-orang yang di dalam hatinya ada kesesatan akan memanfaatkan ayat-ayat seperti ini untuk mendukung hawa nafsu mereka.[11] Atsar riwayat Ad-Darimi no 119


Golongan Al Qur’aniun (hanya menerima Al-qur’an dan menolak sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam yang shahih)Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda:لاَ أُلْفِيَنَّ أحدَكم مُتَّكِئًا على أريكته يأتيه الأمر من أمري مما أمرت به أو نهيت عنه فيقول لا ندري ما وجدنا في كتاب الله اتبعناه“Aku sungguh tidak ingin mendapati salah seorang dari kalian dalam keadaan bertelekan di atas dipannya, datang kepadanya suatu perkara agama baik perintahku maupun laranganku lalu ia berkata, “Kami tidak tahu, apa yang kami temui dalam Al-Qur’an maka kami laksanakan””[1]Berkata Al-Mubarokfuri, “Hadits ini adalah salah satu dari dalil-dalil dan tanda-tanda kenabian. Sungguh apa yang dikabarkan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam ini telah menjadi kenyataan. Ada seseorang di Funjab di daerah India menamakan dirinya Ahli Qur’an, namun sungguh jauh berbeda antara dia dan ahli Qur’an yang hakiki. Yang benar ia adalah ahli kekufuran. Padahal sebelum itu ia adalah termasuk orang-orang yang sholeh lalu syaitanpun menyesatkannya dan menggelincirkannya dan menjauhkannya dari jalan yang lurus. Maka akhirnya diapun mengucapkan kata-kata yang bukan merupakan perkataan orang-orang yang beragama Islam. Dia menolak keras seluruh hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam dan sibuk dengan penolakan ini. Ia berkata, “Seluruh hadits-hadits ini merupakan kedustaan dan kebohongan atas nama Allah, yang benar hanyalah wajib mengamalkan Al-Qur’an yang agung saja, tidak perlu mengamalkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam walaupun hadits-hadits tersebut shahih dan mutawatir. Barangsiapa yang beramal tidak hanya dengan Al-Qur’an saja maka dia termasuk dalam firman Allah (وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ﴾ (المائدة: من الآية44)“Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. 5:44)Dan perkataan-perkataannya yang lain yang merupakan kekufuran. Dia telah memiliki pengikut yang banyak yang merupakan orang-orang bodoh. Para pengikutnya menjadikannya sebagai imam (pemimpin) mereka. Para ulama di zamannya telah memvonis akan kafirnya orang ini.”[2]أَلآ إني أُوْتِيْتُ الكتابَ ومثلَه معه لاَ يُوْشِكُ رَجُلٌ شبعان على أريكته يقول عليكم بهذا القرآن فما وجدتم فيه من حلال فأَحِلُّوْهُ وما وجدتم فيه من حرام فحرموه ألا لا يحل لكم لحم الحمار الأهلي ولا كل ذي ناب من السَّبُعِ ولا لُقَطَةُ مُعاهَدٍ إلا أن يستغني عنها صاحبُها ومن نزل بقوم فعليهم أن يَقْرُوْهُ فإن لم يَقْرُوْهُ فله أن يُعْقِبَهم بمثلِ قِرَاه“Ketahuilah, sesungguhnya aku telah diberikan (oleh Allah) Al-Quran dan yang semisalnya (yaitu sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam) bersama Al-Qur’an. Sungguh hampir ada seorang laki-laki yang duduk di atas dipannya dalam keadaan kekenyangan berkata, “Wajib bagi kalian (untuk berpegang) dengan Al-Qur’an ini, apa yang kalian temui dalam Al-Qur’an dari hal-hal yang halal maka halalkanlah dan apa yang kalian temui berupa hal-hal yang diharamkan maka haramkanlah”. Ketahuilah tidak halal bagi kalian daging keledai negri dan tidak halal juga semua hewan bertaring dari binatang buas dan tidak halal juga apa yang terjatuh dari orang kafir mu’ahad (yaitu yang memiliki perjanjian damai dengan kaum muslimin) kecuali jika ia sudah tidak membutuhkannya. Barangsiapa yang mampir di suatu kaum maka wajib bagi kaum tersebut untuk menjamunya. Jika mereka tidak menjamunya maka boleh baginya untuk mengambil ganti seharga nilai jamuan mereka”[3]Berkata At-Thibi, “Pada pengulangan perkataan tanbih (yaitu perkataan أَلآ dan  لاَ) menunjukan buruk dan penghinaan yang timbul dari kemarahan yang sangat besar terhadap orang yang meninggalkan sunnah dan meninggalkan beramal dengan hadits Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam dan mencukupkan beramal dengan Al-Qur’an saja. (Kemarahan ini timbul akibat meninggalkan hadits karena Al-Qur’an-pen) bagaimana lagi dengan orang yang mengutamakan akalnya (sehingga meninggalkan hadits karena akalnya)??[4]Apa yang dikawatirkan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam sekarang telah terjadi. Betapa banyak orang yang menolak hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam dengan dalih Al-Qur’an sudah cukup sebagai petunjuk dan kita tidak butuh kepada sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam. Lupakah mereka dengan firman Allah( وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾ (الحشر: من الآية7)Apa saja yang datang dari Rasul kepada kalian maka terimalah dia, dan apa saja yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS. 59:7)Tidakkah mereka membaca firman Allah:(وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلاغُ الْمُبِينُ﴾ (النور: من الآية54)“Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tiada lain kewajiban rasul hanya menyampaikan (amanat Allah) dengan terang” (QS 24:54)Allah telah menyebutkan tentang kewajiban taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam dalam Al-Qur’an sebanyak 33 kali, apakah mereka tidak membacanya??عن عبد الله قال لعنَ اللهُ الواشماتِ والمُوْتَشِمَاتِ والْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجاَتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ فبلغ ذلك امرأة من بني أسد يقال لها أم يعقوب فجاءت فقالت إنه بلغني أنك لعنت كيت وكيت فقال ومالي لا ألعن من لعن رسول الله  صلى الله عليه وسلم  ومن هو في كتاب الله فقالت لقد قرأت ما بين اللوحين فما وجدت فيه ما تقول قال لئن كنت قرأتيه لقد وجدتيه أما قرأت   وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا   قالت بلى قال فإنه قد نهى عنه قالت فإني أرى أهلَك يفعلونه قال فاذْهبِي فانْظُرِي فذهبت فنظرتْ فلم تر من حاجتها شيئا فقال لو كانت كذلك ما جامعَتْنَاDari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “Allah melaknat para wanita pembuat tato, para wanita yang minta untuk di tato, para wanita yang menghilangkan rambut yang tumbuh di wajah, para wanita yang meminta untuk dihilangkan rambut yang tumbuh di wajahnya, para wanita yang mengkikir giginya (sehingga timbul kerenggangan diantara gigi-giginya) untuk memperindah gigi-giginya, yaitu para wanita[5] yang merubah ciptaan Allah”. Perkataan Ibnu Mas’ud inipun sampai kepada seorang wanita dari bani Asad yang dikenal dengan Ummu Ya’qub lalu iapun mendatangi Ibnu Mas’ud dan berkata kepadanya, “Telah sampai kepadaku bahwasanya engkau melaknat demikian dan demikian”. Ibnu Mas’ud berkata, “Kenapa aku tidak melaknat orang yang telah dilaknat oleh Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam dan telah disebutkan dalam Al-Qur’an (bahwa dia terlaknat)”. Wanita itu berkata, “Aku telah membaca apa yang diantara dua sampul (yaitu tempat diletakkannya lembaran-lembaran Al-Qur’an) namun aku tidak mendapatkan apa yang engkau katakan[6]”. Ibnu Mas’ud berkata, “Kalau engkau telah membaca Al-Qur’an (seluruhnya) tentunya engkau telah mendapatkan hal itu. Tidakkah engkau membaca firman Allah(وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾ (الحشر: من الآية7)Apa saja yang datang dari Rasul kepada kalian maka terimalah dia, dan apa saja yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS. 59:7)??”Wanita itu berkata, “Tentu saya telah membacanya”. Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam telah melarang perbuatan-perbuatan tersebut”. Wanita tersebut berkata, “Sesungguhnya istrimu (yaitu Zainab binti Abdillah Ats-Tsaqofi) telah melakukan hal-hal terlarang tersebut!”. Ibnu Mas’ud berkata, “pergilah engkau dan lihatlah (apa benar hal itu)!”. Maka wanita itupun pergi dan sama sekali tidak mendapatkan apa yang dia katakan. Maka Ibnu Mas’ud berkata, “Kalau memang istriku sebagaimana yang engkau katakan maka ia tidak akan berkumpul denganku (yaitu akan aku ceraikan dia)[7]!!”عن عبد الله بن أبي بكر بن عبد الرحمن أنه قال لعبد الله بن عمر إنا نجد صلاة الحضر وصلاة الخوف في القرآن ولا نجد صلاة السفر في القرآن فقال له عبد الله بن عمر ابن أخي إن الله جل وعلا بعث إلينا محمدا رسول الله  صلى الله عليه وسلم  ولا نعلم شيئا فإنما نفعل كما رأيناه يفعلDari Abdullah bin Abu Bakr bin Abdurrahman ia berkata kepada Abdullah bin Umar, “Kita menemukan sholat orang mukim (yiatu sholat biasa tatkala tidak safar) dan sholat khouf (sholat dalam keadaan perang) dalam Al-Quran namun kita tidak menemukan solat safar dalam Al-Qur’an”. Maka Abdullah bin Umar berkata kepadanya, “Wahai anak saudaraku sesungguhnya Allah telah mengutus kepada kita Muhammad sebagai rasul (utusan) Allah sedangkan kita tidak mengetahui apa-apa, kita hanya tinggal melakukan sebagaimana yang kita lihat Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam melakukannya”[8]Dari Abu Nadroh atau selainnya berkata, “Kami sedang duduk bersama ‘Imron bin Husain dan kami sedang mengulang-ngulang ilmu, lalu ada seseorang yang berkata, “Janganlah kalian berbicara kecuali dengan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an”. Imronpun berkata, “Sungguh engkau adalah orang yang goblok, apakah engkau temui dalam Al-Quran (penjelasan) bahwa sholat dhuhur  dan sholat ashar empat rakaat, bacaan dalam kedua sholat tersebut tidak dikeraskan?, sholat magrib tiga rakaat, pada dua rakaat pertama dibaca dengan suara keras adapun rakaat yang ketiga tidak?, sholat isya empat rakaat, dua rakaat yang pertama dibaca dengan suara yang keras adapun dua rakaat yang terakhir tidak??”[9]Kita tanyakan kepada para pengingkar sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam, “Bagaimana cara kalian sholat dan haji??, bukankah dalam Al-Qur’an Allah hanya mengatakan وَأَقِيْمُا الصَّلاَةَ “Dan dirikanlah sholat!”  dan hanya berfirman ( ﴿وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً﴾ (adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah) tanpa menjelaskan tata cara sholat dan tata cara haji??. Ataukah kalian katakan bahwa Allah memerintahkan sholat dan haji tanpa menjelaskan tata caranya??, ataukah kalian mengatakan bahwa ibadah sholat dan haji tidak wajib karena tidak jelas tata caranya?? Apakah masuk akal Allah memerintahkan seseorang untuk melaksanakan suatu perkara tanpa menjelaskan tata cara pelaksanaannya??. Apakah kalian juga mengingkari adanya adzan sholat karena tidak terdapat dalam Al-Qur’an?? Demikian juga zakat, tidak terdapat tata cara penunaiannya dalam Al-Qur’an apakah juga kalian ingkari??, bahkan bisa dikatakan hampir seluruh hukum-hukum yang disebutkan dalam Al-Qur’an hanya secara global adapun perinciannya dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam, apakah lantas kalian menolak hampir seluruh syari’at Islam???? Maka tidak diragukan lagi akan kekafiran kalian.Umar bin Al-Khottob berkata,إِنَّهُ سيأتي ناسٌ يُجادلونكم بشُبُهاتِ القُرآن، فَخذوهم بالسُنَنِ فَإن أصحابَ السنن أعلمُ بكتاب الله“Sesungguhnya akan datang golongan manusia yang mereka mendebat kalian dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an yang syubhat[10] maka lawanlah mereka dengan sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam, karena sesungguhnya orang-orang yang menguasai sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam merekalah yang paling paham dengan kandungan Al-Qur’an”[11] Firanda Andirjawww.firanda.comCatatan Kaki:[1] HR At-Thirmidzi no 2800, Abu Dawud no 4605, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani[2] Tuhfatul Ahwadzi 7/461[3] HR Abu Dawud, Dishohihkan oleh syaikh Al-Albani dalam silsilah shahihah 6/871. Dikatakan bahwa hukum yang terakhir ini (boleh bagi sang tamu untuk mengambil ganti senilai hara jamuan) adalah jika tamu tersebut adalah orang yang dalam keadaan darurat (‘Aunul Ma’bud 12/232)[4] Sebagaimana dinukil oleh Al-Mubarokfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi 7/462[5] Dan sifat ini (yang merubah ciptaan Allah) mencakup seluruh wanita yang disebutkan sebelumnya (yang mentato, yang minta di tato, yang menghilangkan rambut yang tumbuh di wajah, yang meminta untuk dihilangkan rambut yang tumbuh di wajahnya, dan yang mengkikir giginya hingga ada kerenggangan diantara gigi-giginya). Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam mengatakan    المُغَيِّرَاتِ tanpa huruf wawu وَ (Umdatul qori’ 19/225)[6] (yaitu aku tidak mendapatkan dalam Al-Qur’an penyebutan bahwa para wanita-wanita tersebut terlaknat)[7] Umdatul Qori 19/226. dalam riwayat yang lain مَا جَامَعْتُهَا “ aku tidak akan manjimaknya (menggaulinya)”. HR Al-Bukhati no 4886, 4887, 5931, 5939, 5943, dan 5948[8] Mawarid Adz-Dzom’an 1/56[9] At-Tamhid, karya Ibnu Abdilbar 1/151[10] Ayat-ayat Al-Qur’an ada yang muhkam dan ada yang syubhat. Adapun yang muhkam yaitu ayat-ayat yang jelas maknanya sehingga tidak bisa ditarik ulur maknanya. Adapun ayat yang sybuhat adalah ayat yang jelas maknanya bagi orang-orang yang dalam ilmunya namun kurang jelas maknanya bagi orang-orang yang ilmunya kurang. Sehingga oang-orang yang di dalam hatinya ada kesesatan akan memanfaatkan ayat-ayat seperti ini untuk mendukung hawa nafsu mereka.[11] Atsar riwayat Ad-Darimi no 119

10 Pelebur Dosa (2)

Alhamdulillah, wash shalaatu was salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in. Pembaca sekalian yang moga selalu dalam penjagaan Allah dan senantiasa mendapatkan barokah dari-Nya. Tulisan kali ini adalah tulisan yang tertunda sebelumnya, silakan lihat di sini. Baru sempat saat ini rumaysho.com melanjutkannya. Bahasan ini adalah bahasan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengenai apa saja yang termasuk pelebur dosa yang nanti akan beliau jelaskan sampai sepuluh rincian. Insya Allah rumaysho.com akan menyicilnya perlahan-lahan. Moga Allah mudahkan dan memberikan kekuatan. Allahumma yassir wa a’in. Ketiga: Amalan kebaikan sebagai pelebur dosa. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, وَأَقِمِ الصَّلاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Huud: 114) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إذَا اُجْتُنِبَتْ الْكَبَائِرُ “Di antara shalat lima waktu, di antara Jum’at yang satu dan Jum’at yang berikutnya, di antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan yang berikutnya, akan mengampuni dosa-dosa di antara kedunya asalkan dosa-dosa besar dijauhi.”[1] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan atas dasar iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”[2] Dalam hadits lain, beliau bersabda, مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ “Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.”[3] Dalam hadits lain disebutkan, فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ “Keluarga, harta, dan anak dapat menjerumuskan seseorang dalam maksiat (fitnah). Namun fitnah itu akan terhapus dengan shalat, shaum, shadaqah, amr ma’ruf (mengajak pada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran).”[4] Hadits lain pula, مَنْ أَعْتَقَ رَقَبَةً مُؤْمِنَةً أَعْتَقَ اللَّهُ بِكُلِّ عُضْوٍ مِنْهَا عُضْوًا مِنْهُ مِنْ النَّارِ حَتَّى فَرْجَهُ بِفَرْجِهِ “Barangsiapa yang memerdekakan seorang budak mukminah, maka Allah akan memerdakan setiap anggota tubuhnya dari neraka. Sampai pun kemaluannya yang ia memerdekakan, itu pun akan selamat.”[5] Hadits-hadits di atas dan semisalnya terdapat dalam kitab shahih. Dalam hadits lain disebutkan pula, الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَالْحَسَدُ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ “Sedekah itu akan memadamkan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api. Hasad akan memakan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar.”[6] Yang menjadi masalah dalam memahami hadits-hadits di atas, ada yang memahami bahwa amalan kebaikan itu hanya menghapuskan dosa-dosa kecil saja. Adapun dosa besar, itu baru bisa terhapus dengan taubat. Sebagaimana dalam sebagian hadits disebutkan, مَا اُجْتُنِبَتْ الْكَبَائِرُ “Selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” Maka kami akan menjawab masalah ini dari beberapa sisi. -Bahasan bahwa kebaikan tidak selamanya menghapus dosa kecil, bisa pula dosa besar akan diulas dalam bahasan terakhir dari serial ini karena membutuhkan bahasan yang panjang dari Ibnu Taimiyah. Insya Allah …- Sumber: Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, 7/489 *** Inti dari bahasan ini adalah dengan melakukan amalan kebaikan bisa menghapuskan dosa. Jadi jangan remehkan kebaikan sekecil pun juga. Wallahu walliyut taufiq.   Riyadh-KSA, 12 Shafar 1432 H (16/01/2011) www.rumaysho.com [1] HR. Muslim no. 233, dari Abu Hurairah. [2] HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760, dari Abu Hurairah. [3] HR. Bukhari no. 1521, dari Abu Hurairah. [4] HR. Bukhari no. 3586 dan Muslim no. 144. Kata Ibnu Baththol, hadits ini semakna dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Ath Thagobun: 15) (Lihat Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/194, Asy Syamilah) [5] HR. Bukhari no. 6715 dan Muslim no. 1509. [6] HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Tagsdosa besar

10 Pelebur Dosa (2)

Alhamdulillah, wash shalaatu was salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in. Pembaca sekalian yang moga selalu dalam penjagaan Allah dan senantiasa mendapatkan barokah dari-Nya. Tulisan kali ini adalah tulisan yang tertunda sebelumnya, silakan lihat di sini. Baru sempat saat ini rumaysho.com melanjutkannya. Bahasan ini adalah bahasan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengenai apa saja yang termasuk pelebur dosa yang nanti akan beliau jelaskan sampai sepuluh rincian. Insya Allah rumaysho.com akan menyicilnya perlahan-lahan. Moga Allah mudahkan dan memberikan kekuatan. Allahumma yassir wa a’in. Ketiga: Amalan kebaikan sebagai pelebur dosa. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, وَأَقِمِ الصَّلاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Huud: 114) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إذَا اُجْتُنِبَتْ الْكَبَائِرُ “Di antara shalat lima waktu, di antara Jum’at yang satu dan Jum’at yang berikutnya, di antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan yang berikutnya, akan mengampuni dosa-dosa di antara kedunya asalkan dosa-dosa besar dijauhi.”[1] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan atas dasar iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”[2] Dalam hadits lain, beliau bersabda, مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ “Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.”[3] Dalam hadits lain disebutkan, فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ “Keluarga, harta, dan anak dapat menjerumuskan seseorang dalam maksiat (fitnah). Namun fitnah itu akan terhapus dengan shalat, shaum, shadaqah, amr ma’ruf (mengajak pada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran).”[4] Hadits lain pula, مَنْ أَعْتَقَ رَقَبَةً مُؤْمِنَةً أَعْتَقَ اللَّهُ بِكُلِّ عُضْوٍ مِنْهَا عُضْوًا مِنْهُ مِنْ النَّارِ حَتَّى فَرْجَهُ بِفَرْجِهِ “Barangsiapa yang memerdekakan seorang budak mukminah, maka Allah akan memerdakan setiap anggota tubuhnya dari neraka. Sampai pun kemaluannya yang ia memerdekakan, itu pun akan selamat.”[5] Hadits-hadits di atas dan semisalnya terdapat dalam kitab shahih. Dalam hadits lain disebutkan pula, الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَالْحَسَدُ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ “Sedekah itu akan memadamkan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api. Hasad akan memakan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar.”[6] Yang menjadi masalah dalam memahami hadits-hadits di atas, ada yang memahami bahwa amalan kebaikan itu hanya menghapuskan dosa-dosa kecil saja. Adapun dosa besar, itu baru bisa terhapus dengan taubat. Sebagaimana dalam sebagian hadits disebutkan, مَا اُجْتُنِبَتْ الْكَبَائِرُ “Selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” Maka kami akan menjawab masalah ini dari beberapa sisi. -Bahasan bahwa kebaikan tidak selamanya menghapus dosa kecil, bisa pula dosa besar akan diulas dalam bahasan terakhir dari serial ini karena membutuhkan bahasan yang panjang dari Ibnu Taimiyah. Insya Allah …- Sumber: Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, 7/489 *** Inti dari bahasan ini adalah dengan melakukan amalan kebaikan bisa menghapuskan dosa. Jadi jangan remehkan kebaikan sekecil pun juga. Wallahu walliyut taufiq.   Riyadh-KSA, 12 Shafar 1432 H (16/01/2011) www.rumaysho.com [1] HR. Muslim no. 233, dari Abu Hurairah. [2] HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760, dari Abu Hurairah. [3] HR. Bukhari no. 1521, dari Abu Hurairah. [4] HR. Bukhari no. 3586 dan Muslim no. 144. Kata Ibnu Baththol, hadits ini semakna dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Ath Thagobun: 15) (Lihat Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/194, Asy Syamilah) [5] HR. Bukhari no. 6715 dan Muslim no. 1509. [6] HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Tagsdosa besar
Alhamdulillah, wash shalaatu was salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in. Pembaca sekalian yang moga selalu dalam penjagaan Allah dan senantiasa mendapatkan barokah dari-Nya. Tulisan kali ini adalah tulisan yang tertunda sebelumnya, silakan lihat di sini. Baru sempat saat ini rumaysho.com melanjutkannya. Bahasan ini adalah bahasan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengenai apa saja yang termasuk pelebur dosa yang nanti akan beliau jelaskan sampai sepuluh rincian. Insya Allah rumaysho.com akan menyicilnya perlahan-lahan. Moga Allah mudahkan dan memberikan kekuatan. Allahumma yassir wa a’in. Ketiga: Amalan kebaikan sebagai pelebur dosa. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, وَأَقِمِ الصَّلاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Huud: 114) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إذَا اُجْتُنِبَتْ الْكَبَائِرُ “Di antara shalat lima waktu, di antara Jum’at yang satu dan Jum’at yang berikutnya, di antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan yang berikutnya, akan mengampuni dosa-dosa di antara kedunya asalkan dosa-dosa besar dijauhi.”[1] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan atas dasar iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”[2] Dalam hadits lain, beliau bersabda, مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ “Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.”[3] Dalam hadits lain disebutkan, فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ “Keluarga, harta, dan anak dapat menjerumuskan seseorang dalam maksiat (fitnah). Namun fitnah itu akan terhapus dengan shalat, shaum, shadaqah, amr ma’ruf (mengajak pada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran).”[4] Hadits lain pula, مَنْ أَعْتَقَ رَقَبَةً مُؤْمِنَةً أَعْتَقَ اللَّهُ بِكُلِّ عُضْوٍ مِنْهَا عُضْوًا مِنْهُ مِنْ النَّارِ حَتَّى فَرْجَهُ بِفَرْجِهِ “Barangsiapa yang memerdekakan seorang budak mukminah, maka Allah akan memerdakan setiap anggota tubuhnya dari neraka. Sampai pun kemaluannya yang ia memerdekakan, itu pun akan selamat.”[5] Hadits-hadits di atas dan semisalnya terdapat dalam kitab shahih. Dalam hadits lain disebutkan pula, الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَالْحَسَدُ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ “Sedekah itu akan memadamkan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api. Hasad akan memakan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar.”[6] Yang menjadi masalah dalam memahami hadits-hadits di atas, ada yang memahami bahwa amalan kebaikan itu hanya menghapuskan dosa-dosa kecil saja. Adapun dosa besar, itu baru bisa terhapus dengan taubat. Sebagaimana dalam sebagian hadits disebutkan, مَا اُجْتُنِبَتْ الْكَبَائِرُ “Selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” Maka kami akan menjawab masalah ini dari beberapa sisi. -Bahasan bahwa kebaikan tidak selamanya menghapus dosa kecil, bisa pula dosa besar akan diulas dalam bahasan terakhir dari serial ini karena membutuhkan bahasan yang panjang dari Ibnu Taimiyah. Insya Allah …- Sumber: Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, 7/489 *** Inti dari bahasan ini adalah dengan melakukan amalan kebaikan bisa menghapuskan dosa. Jadi jangan remehkan kebaikan sekecil pun juga. Wallahu walliyut taufiq.   Riyadh-KSA, 12 Shafar 1432 H (16/01/2011) www.rumaysho.com [1] HR. Muslim no. 233, dari Abu Hurairah. [2] HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760, dari Abu Hurairah. [3] HR. Bukhari no. 1521, dari Abu Hurairah. [4] HR. Bukhari no. 3586 dan Muslim no. 144. Kata Ibnu Baththol, hadits ini semakna dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Ath Thagobun: 15) (Lihat Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/194, Asy Syamilah) [5] HR. Bukhari no. 6715 dan Muslim no. 1509. [6] HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Tagsdosa besar


Alhamdulillah, wash shalaatu was salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in. Pembaca sekalian yang moga selalu dalam penjagaan Allah dan senantiasa mendapatkan barokah dari-Nya. Tulisan kali ini adalah tulisan yang tertunda sebelumnya, silakan lihat di sini. Baru sempat saat ini rumaysho.com melanjutkannya. Bahasan ini adalah bahasan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengenai apa saja yang termasuk pelebur dosa yang nanti akan beliau jelaskan sampai sepuluh rincian. Insya Allah rumaysho.com akan menyicilnya perlahan-lahan. Moga Allah mudahkan dan memberikan kekuatan. Allahumma yassir wa a’in. Ketiga: Amalan kebaikan sebagai pelebur dosa. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, وَأَقِمِ الصَّلاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Huud: 114) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إذَا اُجْتُنِبَتْ الْكَبَائِرُ “Di antara shalat lima waktu, di antara Jum’at yang satu dan Jum’at yang berikutnya, di antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan yang berikutnya, akan mengampuni dosa-dosa di antara kedunya asalkan dosa-dosa besar dijauhi.”[1] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan atas dasar iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”[2] Dalam hadits lain, beliau bersabda, مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ “Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.”[3] Dalam hadits lain disebutkan, فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ “Keluarga, harta, dan anak dapat menjerumuskan seseorang dalam maksiat (fitnah). Namun fitnah itu akan terhapus dengan shalat, shaum, shadaqah, amr ma’ruf (mengajak pada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran).”[4] Hadits lain pula, مَنْ أَعْتَقَ رَقَبَةً مُؤْمِنَةً أَعْتَقَ اللَّهُ بِكُلِّ عُضْوٍ مِنْهَا عُضْوًا مِنْهُ مِنْ النَّارِ حَتَّى فَرْجَهُ بِفَرْجِهِ “Barangsiapa yang memerdekakan seorang budak mukminah, maka Allah akan memerdakan setiap anggota tubuhnya dari neraka. Sampai pun kemaluannya yang ia memerdekakan, itu pun akan selamat.”[5] Hadits-hadits di atas dan semisalnya terdapat dalam kitab shahih. Dalam hadits lain disebutkan pula, الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَالْحَسَدُ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ “Sedekah itu akan memadamkan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api. Hasad akan memakan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar.”[6] Yang menjadi masalah dalam memahami hadits-hadits di atas, ada yang memahami bahwa amalan kebaikan itu hanya menghapuskan dosa-dosa kecil saja. Adapun dosa besar, itu baru bisa terhapus dengan taubat. Sebagaimana dalam sebagian hadits disebutkan, مَا اُجْتُنِبَتْ الْكَبَائِرُ “Selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” Maka kami akan menjawab masalah ini dari beberapa sisi. -Bahasan bahwa kebaikan tidak selamanya menghapus dosa kecil, bisa pula dosa besar akan diulas dalam bahasan terakhir dari serial ini karena membutuhkan bahasan yang panjang dari Ibnu Taimiyah. Insya Allah …- Sumber: Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, 7/489 *** Inti dari bahasan ini adalah dengan melakukan amalan kebaikan bisa menghapuskan dosa. Jadi jangan remehkan kebaikan sekecil pun juga. Wallahu walliyut taufiq.   Riyadh-KSA, 12 Shafar 1432 H (16/01/2011) www.rumaysho.com [1] HR. Muslim no. 233, dari Abu Hurairah. [2] HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760, dari Abu Hurairah. [3] HR. Bukhari no. 1521, dari Abu Hurairah. [4] HR. Bukhari no. 3586 dan Muslim no. 144. Kata Ibnu Baththol, hadits ini semakna dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Ath Thagobun: 15) (Lihat Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/194, Asy Syamilah) [5] HR. Bukhari no. 6715 dan Muslim no. 1509. [6] HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Tagsdosa besar

Buah dari Tawakkal

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Buah dari tawakkal kepada Allah Ta’ala amatlah banyak. Yang paling utama adalah “Allah akan mencukupi segala urusan orang yang bertawakkal.”   Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 3) Barangsiapa yang menyandarkan urusannya pada Allah, hanya menyandarkan kepada Allah semata, ia pun mengakui bahwa tidak ada yang bisa mendatangkan kebaikan dan menghilangkan bahaya selain Allah, maka sebagaimana dalam ayat dikatakan, “Allah-lah yang akan mencukupinya.” Yaitu Allah menyelamatkannya dari berbagai bahaya. Karena yang namanya balasan sesuai dengan amal perbuatan. Ketika seseorang bertawakkal pada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, Allah pun membalasnya dengan mencukupinya, yaitu memudahkan urusannya. Allah yang akan memudahkan urusannya dan tidak menyandarkan pada selain-Nya. Inilah sebesar-besarnya buah tawakkal. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللَّهُ “Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu.” (QS. Al Anfal: 64) وَإِنْ يُرِيدُوا أَنْ يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللَّهُ هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ “Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (yang akan mencukupimu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin.” (QS. Al Anfal: 62) Jadi buah yang paling utama dari tawakkal pada Allah adalah Allah akan memberi kecukupan pada orang yang bertawakkal pada-Nya. Oleh karenanya, Allah berfirman mengenai keadaan Nabi Nuh ‘alaihis salam, di mana beliau berkata pada kaumnya, إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآَيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُونِ “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (QS. Yunus: 71) Allah berfirman mengenai Nabi Hud ‘alaihis salam, أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (54) مِنْ دُونِهِ فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنْظِرُونِ (55) إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آَخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (56) “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Rabbku dan Rabbmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Rabbku di atas jalan yang lurus.” (QS. Hud: 54-56) Allah berfirman mengenai Nabi Syu’aib alaihis salam, وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ “Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud: 88) Allah berfirman mengenai Nabinya –Muhammad- ‘alaihish sholaatu was salaam, قُلِ ادْعُوا شُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ كِيدُونِ فَلَا تُنْظِرُونِ (195) إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ (196) وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَكُمْ وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ (197) “Katakanlah: “Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)-ku. tanpa memberi tangguh (kepada-ku)”. Sesungguhnya Pelindungku ialah yang telah menurunkan Al kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang shaleh. Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.” (QS. Al A’rof: 195-197) Dari penjelasan di atas, Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan mengenai para rasul-Nya yang mulia di mana mereka tidak mendapatkan bahaya dari kaum dan sesembahan kaum mereka. Apa kuncinya? Karena mereka bertawakkal pada Allah. Siapa saja yang bertawakkal pada Allah, pasti Allah akan mencukupinya. Buah tawakkal yang kedua, buah tawakkal yang lain adalah mendapatkan cinta Allah. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imron: 159) Barangsiapa yang benar-benar bertawakkal pada Allah, maka Allah akan mencintainya. Jika Allah telah mencintainya, maka ia akan merasakan kebahagiaan di dunia dan akhirat, ia akan menjadi orang-orang yang dicintai di sisi-Nya dan menjadi wali-Nya. Buah tawakkal yang ketiga, orang yang bertawakkal akan mudah mengerjakan hal yang bermanfaat tanpa ada rasa takut dan gentar kecuali pada Allah. Contohnya, orang yang berjihad di medan perang melawan orang-orang kafir, mereka melakukan  hal ini karena mereka tawakkal pada Allah. Usaha mereka dengan tawakkal inilah yang mendatangkan keberanian dan kekuatan saat itu. Musuh-musuh dan kesulitan di hadapan mereka dianggap ringan berkat tawakkal. Mereka akhirnya jika toh mati, akan merasakan mati di jalan Allah. Merekalah yang mendapatkan syahid di jalan Allah. Ini semua karena sebab tawakkal. Buah tawakkal yang keempat, seseorang akan bersemangat dalam mencari rizki, mencari ilmu dan melakukan segala sesuatu yang bermanfaat. Itulah yang namanya orang yang bertawakkal, ia punya semangat dalam melakukan hal-hal bermanfaat semacam ini. Karena ia tahu bahwa Allah akan bersama dan menolong setiap orang yang bertawakkal. Akhirnya ia pun bersamangat ketika dalam perkara agama dan dunianya yang bermanfaat, ia jadinya tidak bermalas-malasan. Kita dapat menyaksikan bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum, merekalah orang yang paling bersemangat. Mereka benar-benar merealisasikan tawakkal pada Allah. Sampai-sampai karena sifat ini yang mereka miliki, mereka bisa menaklukan berbagai negeri di ujung timur dan barat melalui jihad mereka. Mereka pun membuka hati melalui dakwah mereka di jalan Allah. Ini semua bisa terwujud karena mereka benar-benar merealisasikan tawakkal pada Allah. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (QS. Al Maidah: 54). Mereka sama sekali tidak takut pada celaan orang yang mencela ketika mereka berjuang di jalan Allah. Bisa demikian karena mereka benar-benar merealisasikan tawakkal pada Allah. Mereka benar-benar menyandarkan dirinya pada Allah dan mereka tidak berpaling pada yang lain, baik ketika itu manusia ridho atau pun tidak. Yang senantiasa mereka cari adalah ridho Allah. Dalam hadits disebutkan, من التمس رضا الله بسخط الناس رضي الله عنه وأرضى عنه الناس ، ومن التمس رضا الناس بسخط الله سخط الله عليه وأسخط عليه الناس “Barangsiapa yang mencari ridho Allah dan awalnya manusia murka (tidak suka), maka Allah akan ridho padanya dan membuat manusia pun akan ridho padanya. Sedangkan barangsiapa yang mencari ridho manusia dan membuat Allah murka, maka Allah akan murka padanya dan akan membuat manusia pun murka.”[1] Bersandar pada Allah dan tawakkal pada-Nya serta menyerahkan segala urusan pada Allah Ta’ala, itulah yang menjadi asas tauhid, asas amal dan asas kebaikan. Bahkan Allah menjadi tawakkal ini syarat keimanan. Allah Ta’ala berfirman, وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al Maidah: 23) Pelajaran Penting Ada pelajaran penting yang mesti diperhatikan dalam memahami arti tawakkal. Tawakkal harus terkumpul dalamnya dua syarat yaitu: (1) menyandarkan hati pada Allah, dan (2) melakukan usaha (sebab). Sehingga tidak benar jika orang hanya berusaha namun tidak menyandarkan hatinya pada Allah karena segala sesuatu di tangan Allah. Dan tidak tepat pula jika seseorang hanya bersandar pada Allah, namun tidak ada usaha yang ia lakukan. Ada sebuah kisah yang bisa jadi pelajaran. ‘Umar bin Khottob pernah melihat sekelompok orang yang ngaku-ngaku sebagai orang yang bertawakkal, namun mereka tidak melakukan usaha apa-apa. ‘Umar bertanya pada mereka, “Siapa kalian?” “Kami adalah mutawakkiluun, orang yang bertawakkal”, jawab mereka. ‘Umar lantas menjawab, “Tidak. Kalian adalah muta-akkalun (artinya, orang yang hanya menanti diberi makan).” Yaitu mereka itu sebenarnya hanyalah orang yang hanya butuh pada uluran tangan orang lain dan bukan orang yang bertawakkal. Karena orang yang bertawakkal harusnya melakukan usaha. ‘Umar bin Al Khottob pun pernah mengatakan, لقد علمتم أن السماء لا تمطر ذهبا ولا فضة “Kalian telah mengetahui bahwa langit sama sekali tidak menurunkan hujan emas atau hujan perak.” Ini beliau katakan untuk mengingkari orang yang hanya duduk untuk ibadah namun tidak punya untuk meraih rizki. Mereka sebenarnya orang-orang pemalas yang butuh ularan tangan orang lain. Lantas ‘Umar pun menghardik mereka. Lalu mengatakan perkataan di atas. Demikian penjelasan singkat mengenai buah tawakkal yang kami sarikan dari penjelasan Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah (Ulama besar di Kerajaan Saudi Arabia, Riyadh) dalam kumpulan risalahnya. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Reference: Majmu’atu Rosail Da’wiyyah wa Manhajiyyah, Syaikh Sholeh Al Fauzan, hal. 270, 280-283, terbitan Al Mirots An Nabawi. Riyadh KSA, 11 Shafar 1432 H (15/01/2011) www.rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal   [1] HR. Tirmidzi no. 2414, Ibnu Hibban 1/510, dari hadits ‘Aisyah. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih. Tagstawakkal

Buah dari Tawakkal

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Buah dari tawakkal kepada Allah Ta’ala amatlah banyak. Yang paling utama adalah “Allah akan mencukupi segala urusan orang yang bertawakkal.”   Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 3) Barangsiapa yang menyandarkan urusannya pada Allah, hanya menyandarkan kepada Allah semata, ia pun mengakui bahwa tidak ada yang bisa mendatangkan kebaikan dan menghilangkan bahaya selain Allah, maka sebagaimana dalam ayat dikatakan, “Allah-lah yang akan mencukupinya.” Yaitu Allah menyelamatkannya dari berbagai bahaya. Karena yang namanya balasan sesuai dengan amal perbuatan. Ketika seseorang bertawakkal pada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, Allah pun membalasnya dengan mencukupinya, yaitu memudahkan urusannya. Allah yang akan memudahkan urusannya dan tidak menyandarkan pada selain-Nya. Inilah sebesar-besarnya buah tawakkal. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللَّهُ “Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu.” (QS. Al Anfal: 64) وَإِنْ يُرِيدُوا أَنْ يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللَّهُ هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ “Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (yang akan mencukupimu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin.” (QS. Al Anfal: 62) Jadi buah yang paling utama dari tawakkal pada Allah adalah Allah akan memberi kecukupan pada orang yang bertawakkal pada-Nya. Oleh karenanya, Allah berfirman mengenai keadaan Nabi Nuh ‘alaihis salam, di mana beliau berkata pada kaumnya, إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآَيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُونِ “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (QS. Yunus: 71) Allah berfirman mengenai Nabi Hud ‘alaihis salam, أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (54) مِنْ دُونِهِ فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنْظِرُونِ (55) إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آَخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (56) “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Rabbku dan Rabbmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Rabbku di atas jalan yang lurus.” (QS. Hud: 54-56) Allah berfirman mengenai Nabi Syu’aib alaihis salam, وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ “Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud: 88) Allah berfirman mengenai Nabinya –Muhammad- ‘alaihish sholaatu was salaam, قُلِ ادْعُوا شُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ كِيدُونِ فَلَا تُنْظِرُونِ (195) إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ (196) وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَكُمْ وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ (197) “Katakanlah: “Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)-ku. tanpa memberi tangguh (kepada-ku)”. Sesungguhnya Pelindungku ialah yang telah menurunkan Al kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang shaleh. Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.” (QS. Al A’rof: 195-197) Dari penjelasan di atas, Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan mengenai para rasul-Nya yang mulia di mana mereka tidak mendapatkan bahaya dari kaum dan sesembahan kaum mereka. Apa kuncinya? Karena mereka bertawakkal pada Allah. Siapa saja yang bertawakkal pada Allah, pasti Allah akan mencukupinya. Buah tawakkal yang kedua, buah tawakkal yang lain adalah mendapatkan cinta Allah. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imron: 159) Barangsiapa yang benar-benar bertawakkal pada Allah, maka Allah akan mencintainya. Jika Allah telah mencintainya, maka ia akan merasakan kebahagiaan di dunia dan akhirat, ia akan menjadi orang-orang yang dicintai di sisi-Nya dan menjadi wali-Nya. Buah tawakkal yang ketiga, orang yang bertawakkal akan mudah mengerjakan hal yang bermanfaat tanpa ada rasa takut dan gentar kecuali pada Allah. Contohnya, orang yang berjihad di medan perang melawan orang-orang kafir, mereka melakukan  hal ini karena mereka tawakkal pada Allah. Usaha mereka dengan tawakkal inilah yang mendatangkan keberanian dan kekuatan saat itu. Musuh-musuh dan kesulitan di hadapan mereka dianggap ringan berkat tawakkal. Mereka akhirnya jika toh mati, akan merasakan mati di jalan Allah. Merekalah yang mendapatkan syahid di jalan Allah. Ini semua karena sebab tawakkal. Buah tawakkal yang keempat, seseorang akan bersemangat dalam mencari rizki, mencari ilmu dan melakukan segala sesuatu yang bermanfaat. Itulah yang namanya orang yang bertawakkal, ia punya semangat dalam melakukan hal-hal bermanfaat semacam ini. Karena ia tahu bahwa Allah akan bersama dan menolong setiap orang yang bertawakkal. Akhirnya ia pun bersamangat ketika dalam perkara agama dan dunianya yang bermanfaat, ia jadinya tidak bermalas-malasan. Kita dapat menyaksikan bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum, merekalah orang yang paling bersemangat. Mereka benar-benar merealisasikan tawakkal pada Allah. Sampai-sampai karena sifat ini yang mereka miliki, mereka bisa menaklukan berbagai negeri di ujung timur dan barat melalui jihad mereka. Mereka pun membuka hati melalui dakwah mereka di jalan Allah. Ini semua bisa terwujud karena mereka benar-benar merealisasikan tawakkal pada Allah. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (QS. Al Maidah: 54). Mereka sama sekali tidak takut pada celaan orang yang mencela ketika mereka berjuang di jalan Allah. Bisa demikian karena mereka benar-benar merealisasikan tawakkal pada Allah. Mereka benar-benar menyandarkan dirinya pada Allah dan mereka tidak berpaling pada yang lain, baik ketika itu manusia ridho atau pun tidak. Yang senantiasa mereka cari adalah ridho Allah. Dalam hadits disebutkan, من التمس رضا الله بسخط الناس رضي الله عنه وأرضى عنه الناس ، ومن التمس رضا الناس بسخط الله سخط الله عليه وأسخط عليه الناس “Barangsiapa yang mencari ridho Allah dan awalnya manusia murka (tidak suka), maka Allah akan ridho padanya dan membuat manusia pun akan ridho padanya. Sedangkan barangsiapa yang mencari ridho manusia dan membuat Allah murka, maka Allah akan murka padanya dan akan membuat manusia pun murka.”[1] Bersandar pada Allah dan tawakkal pada-Nya serta menyerahkan segala urusan pada Allah Ta’ala, itulah yang menjadi asas tauhid, asas amal dan asas kebaikan. Bahkan Allah menjadi tawakkal ini syarat keimanan. Allah Ta’ala berfirman, وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al Maidah: 23) Pelajaran Penting Ada pelajaran penting yang mesti diperhatikan dalam memahami arti tawakkal. Tawakkal harus terkumpul dalamnya dua syarat yaitu: (1) menyandarkan hati pada Allah, dan (2) melakukan usaha (sebab). Sehingga tidak benar jika orang hanya berusaha namun tidak menyandarkan hatinya pada Allah karena segala sesuatu di tangan Allah. Dan tidak tepat pula jika seseorang hanya bersandar pada Allah, namun tidak ada usaha yang ia lakukan. Ada sebuah kisah yang bisa jadi pelajaran. ‘Umar bin Khottob pernah melihat sekelompok orang yang ngaku-ngaku sebagai orang yang bertawakkal, namun mereka tidak melakukan usaha apa-apa. ‘Umar bertanya pada mereka, “Siapa kalian?” “Kami adalah mutawakkiluun, orang yang bertawakkal”, jawab mereka. ‘Umar lantas menjawab, “Tidak. Kalian adalah muta-akkalun (artinya, orang yang hanya menanti diberi makan).” Yaitu mereka itu sebenarnya hanyalah orang yang hanya butuh pada uluran tangan orang lain dan bukan orang yang bertawakkal. Karena orang yang bertawakkal harusnya melakukan usaha. ‘Umar bin Al Khottob pun pernah mengatakan, لقد علمتم أن السماء لا تمطر ذهبا ولا فضة “Kalian telah mengetahui bahwa langit sama sekali tidak menurunkan hujan emas atau hujan perak.” Ini beliau katakan untuk mengingkari orang yang hanya duduk untuk ibadah namun tidak punya untuk meraih rizki. Mereka sebenarnya orang-orang pemalas yang butuh ularan tangan orang lain. Lantas ‘Umar pun menghardik mereka. Lalu mengatakan perkataan di atas. Demikian penjelasan singkat mengenai buah tawakkal yang kami sarikan dari penjelasan Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah (Ulama besar di Kerajaan Saudi Arabia, Riyadh) dalam kumpulan risalahnya. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Reference: Majmu’atu Rosail Da’wiyyah wa Manhajiyyah, Syaikh Sholeh Al Fauzan, hal. 270, 280-283, terbitan Al Mirots An Nabawi. Riyadh KSA, 11 Shafar 1432 H (15/01/2011) www.rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal   [1] HR. Tirmidzi no. 2414, Ibnu Hibban 1/510, dari hadits ‘Aisyah. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih. Tagstawakkal
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Buah dari tawakkal kepada Allah Ta’ala amatlah banyak. Yang paling utama adalah “Allah akan mencukupi segala urusan orang yang bertawakkal.”   Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 3) Barangsiapa yang menyandarkan urusannya pada Allah, hanya menyandarkan kepada Allah semata, ia pun mengakui bahwa tidak ada yang bisa mendatangkan kebaikan dan menghilangkan bahaya selain Allah, maka sebagaimana dalam ayat dikatakan, “Allah-lah yang akan mencukupinya.” Yaitu Allah menyelamatkannya dari berbagai bahaya. Karena yang namanya balasan sesuai dengan amal perbuatan. Ketika seseorang bertawakkal pada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, Allah pun membalasnya dengan mencukupinya, yaitu memudahkan urusannya. Allah yang akan memudahkan urusannya dan tidak menyandarkan pada selain-Nya. Inilah sebesar-besarnya buah tawakkal. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللَّهُ “Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu.” (QS. Al Anfal: 64) وَإِنْ يُرِيدُوا أَنْ يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللَّهُ هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ “Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (yang akan mencukupimu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin.” (QS. Al Anfal: 62) Jadi buah yang paling utama dari tawakkal pada Allah adalah Allah akan memberi kecukupan pada orang yang bertawakkal pada-Nya. Oleh karenanya, Allah berfirman mengenai keadaan Nabi Nuh ‘alaihis salam, di mana beliau berkata pada kaumnya, إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآَيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُونِ “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (QS. Yunus: 71) Allah berfirman mengenai Nabi Hud ‘alaihis salam, أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (54) مِنْ دُونِهِ فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنْظِرُونِ (55) إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آَخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (56) “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Rabbku dan Rabbmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Rabbku di atas jalan yang lurus.” (QS. Hud: 54-56) Allah berfirman mengenai Nabi Syu’aib alaihis salam, وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ “Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud: 88) Allah berfirman mengenai Nabinya –Muhammad- ‘alaihish sholaatu was salaam, قُلِ ادْعُوا شُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ كِيدُونِ فَلَا تُنْظِرُونِ (195) إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ (196) وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَكُمْ وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ (197) “Katakanlah: “Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)-ku. tanpa memberi tangguh (kepada-ku)”. Sesungguhnya Pelindungku ialah yang telah menurunkan Al kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang shaleh. Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.” (QS. Al A’rof: 195-197) Dari penjelasan di atas, Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan mengenai para rasul-Nya yang mulia di mana mereka tidak mendapatkan bahaya dari kaum dan sesembahan kaum mereka. Apa kuncinya? Karena mereka bertawakkal pada Allah. Siapa saja yang bertawakkal pada Allah, pasti Allah akan mencukupinya. Buah tawakkal yang kedua, buah tawakkal yang lain adalah mendapatkan cinta Allah. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imron: 159) Barangsiapa yang benar-benar bertawakkal pada Allah, maka Allah akan mencintainya. Jika Allah telah mencintainya, maka ia akan merasakan kebahagiaan di dunia dan akhirat, ia akan menjadi orang-orang yang dicintai di sisi-Nya dan menjadi wali-Nya. Buah tawakkal yang ketiga, orang yang bertawakkal akan mudah mengerjakan hal yang bermanfaat tanpa ada rasa takut dan gentar kecuali pada Allah. Contohnya, orang yang berjihad di medan perang melawan orang-orang kafir, mereka melakukan  hal ini karena mereka tawakkal pada Allah. Usaha mereka dengan tawakkal inilah yang mendatangkan keberanian dan kekuatan saat itu. Musuh-musuh dan kesulitan di hadapan mereka dianggap ringan berkat tawakkal. Mereka akhirnya jika toh mati, akan merasakan mati di jalan Allah. Merekalah yang mendapatkan syahid di jalan Allah. Ini semua karena sebab tawakkal. Buah tawakkal yang keempat, seseorang akan bersemangat dalam mencari rizki, mencari ilmu dan melakukan segala sesuatu yang bermanfaat. Itulah yang namanya orang yang bertawakkal, ia punya semangat dalam melakukan hal-hal bermanfaat semacam ini. Karena ia tahu bahwa Allah akan bersama dan menolong setiap orang yang bertawakkal. Akhirnya ia pun bersamangat ketika dalam perkara agama dan dunianya yang bermanfaat, ia jadinya tidak bermalas-malasan. Kita dapat menyaksikan bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum, merekalah orang yang paling bersemangat. Mereka benar-benar merealisasikan tawakkal pada Allah. Sampai-sampai karena sifat ini yang mereka miliki, mereka bisa menaklukan berbagai negeri di ujung timur dan barat melalui jihad mereka. Mereka pun membuka hati melalui dakwah mereka di jalan Allah. Ini semua bisa terwujud karena mereka benar-benar merealisasikan tawakkal pada Allah. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (QS. Al Maidah: 54). Mereka sama sekali tidak takut pada celaan orang yang mencela ketika mereka berjuang di jalan Allah. Bisa demikian karena mereka benar-benar merealisasikan tawakkal pada Allah. Mereka benar-benar menyandarkan dirinya pada Allah dan mereka tidak berpaling pada yang lain, baik ketika itu manusia ridho atau pun tidak. Yang senantiasa mereka cari adalah ridho Allah. Dalam hadits disebutkan, من التمس رضا الله بسخط الناس رضي الله عنه وأرضى عنه الناس ، ومن التمس رضا الناس بسخط الله سخط الله عليه وأسخط عليه الناس “Barangsiapa yang mencari ridho Allah dan awalnya manusia murka (tidak suka), maka Allah akan ridho padanya dan membuat manusia pun akan ridho padanya. Sedangkan barangsiapa yang mencari ridho manusia dan membuat Allah murka, maka Allah akan murka padanya dan akan membuat manusia pun murka.”[1] Bersandar pada Allah dan tawakkal pada-Nya serta menyerahkan segala urusan pada Allah Ta’ala, itulah yang menjadi asas tauhid, asas amal dan asas kebaikan. Bahkan Allah menjadi tawakkal ini syarat keimanan. Allah Ta’ala berfirman, وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al Maidah: 23) Pelajaran Penting Ada pelajaran penting yang mesti diperhatikan dalam memahami arti tawakkal. Tawakkal harus terkumpul dalamnya dua syarat yaitu: (1) menyandarkan hati pada Allah, dan (2) melakukan usaha (sebab). Sehingga tidak benar jika orang hanya berusaha namun tidak menyandarkan hatinya pada Allah karena segala sesuatu di tangan Allah. Dan tidak tepat pula jika seseorang hanya bersandar pada Allah, namun tidak ada usaha yang ia lakukan. Ada sebuah kisah yang bisa jadi pelajaran. ‘Umar bin Khottob pernah melihat sekelompok orang yang ngaku-ngaku sebagai orang yang bertawakkal, namun mereka tidak melakukan usaha apa-apa. ‘Umar bertanya pada mereka, “Siapa kalian?” “Kami adalah mutawakkiluun, orang yang bertawakkal”, jawab mereka. ‘Umar lantas menjawab, “Tidak. Kalian adalah muta-akkalun (artinya, orang yang hanya menanti diberi makan).” Yaitu mereka itu sebenarnya hanyalah orang yang hanya butuh pada uluran tangan orang lain dan bukan orang yang bertawakkal. Karena orang yang bertawakkal harusnya melakukan usaha. ‘Umar bin Al Khottob pun pernah mengatakan, لقد علمتم أن السماء لا تمطر ذهبا ولا فضة “Kalian telah mengetahui bahwa langit sama sekali tidak menurunkan hujan emas atau hujan perak.” Ini beliau katakan untuk mengingkari orang yang hanya duduk untuk ibadah namun tidak punya untuk meraih rizki. Mereka sebenarnya orang-orang pemalas yang butuh ularan tangan orang lain. Lantas ‘Umar pun menghardik mereka. Lalu mengatakan perkataan di atas. Demikian penjelasan singkat mengenai buah tawakkal yang kami sarikan dari penjelasan Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah (Ulama besar di Kerajaan Saudi Arabia, Riyadh) dalam kumpulan risalahnya. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Reference: Majmu’atu Rosail Da’wiyyah wa Manhajiyyah, Syaikh Sholeh Al Fauzan, hal. 270, 280-283, terbitan Al Mirots An Nabawi. Riyadh KSA, 11 Shafar 1432 H (15/01/2011) www.rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal   [1] HR. Tirmidzi no. 2414, Ibnu Hibban 1/510, dari hadits ‘Aisyah. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih. Tagstawakkal


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Buah dari tawakkal kepada Allah Ta’ala amatlah banyak. Yang paling utama adalah “Allah akan mencukupi segala urusan orang yang bertawakkal.”   Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 3) Barangsiapa yang menyandarkan urusannya pada Allah, hanya menyandarkan kepada Allah semata, ia pun mengakui bahwa tidak ada yang bisa mendatangkan kebaikan dan menghilangkan bahaya selain Allah, maka sebagaimana dalam ayat dikatakan, “Allah-lah yang akan mencukupinya.” Yaitu Allah menyelamatkannya dari berbagai bahaya. Karena yang namanya balasan sesuai dengan amal perbuatan. Ketika seseorang bertawakkal pada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, Allah pun membalasnya dengan mencukupinya, yaitu memudahkan urusannya. Allah yang akan memudahkan urusannya dan tidak menyandarkan pada selain-Nya. Inilah sebesar-besarnya buah tawakkal. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللَّهُ “Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu.” (QS. Al Anfal: 64) وَإِنْ يُرِيدُوا أَنْ يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللَّهُ هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ “Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (yang akan mencukupimu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin.” (QS. Al Anfal: 62) Jadi buah yang paling utama dari tawakkal pada Allah adalah Allah akan memberi kecukupan pada orang yang bertawakkal pada-Nya. Oleh karenanya, Allah berfirman mengenai keadaan Nabi Nuh ‘alaihis salam, di mana beliau berkata pada kaumnya, إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآَيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُونِ “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (QS. Yunus: 71) Allah berfirman mengenai Nabi Hud ‘alaihis salam, أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (54) مِنْ دُونِهِ فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنْظِرُونِ (55) إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آَخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (56) “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Rabbku dan Rabbmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Rabbku di atas jalan yang lurus.” (QS. Hud: 54-56) Allah berfirman mengenai Nabi Syu’aib alaihis salam, وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ “Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud: 88) Allah berfirman mengenai Nabinya –Muhammad- ‘alaihish sholaatu was salaam, قُلِ ادْعُوا شُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ كِيدُونِ فَلَا تُنْظِرُونِ (195) إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ (196) وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَكُمْ وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ (197) “Katakanlah: “Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)-ku. tanpa memberi tangguh (kepada-ku)”. Sesungguhnya Pelindungku ialah yang telah menurunkan Al kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang shaleh. Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.” (QS. Al A’rof: 195-197) Dari penjelasan di atas, Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan mengenai para rasul-Nya yang mulia di mana mereka tidak mendapatkan bahaya dari kaum dan sesembahan kaum mereka. Apa kuncinya? Karena mereka bertawakkal pada Allah. Siapa saja yang bertawakkal pada Allah, pasti Allah akan mencukupinya. Buah tawakkal yang kedua, buah tawakkal yang lain adalah mendapatkan cinta Allah. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imron: 159) Barangsiapa yang benar-benar bertawakkal pada Allah, maka Allah akan mencintainya. Jika Allah telah mencintainya, maka ia akan merasakan kebahagiaan di dunia dan akhirat, ia akan menjadi orang-orang yang dicintai di sisi-Nya dan menjadi wali-Nya. Buah tawakkal yang ketiga, orang yang bertawakkal akan mudah mengerjakan hal yang bermanfaat tanpa ada rasa takut dan gentar kecuali pada Allah. Contohnya, orang yang berjihad di medan perang melawan orang-orang kafir, mereka melakukan  hal ini karena mereka tawakkal pada Allah. Usaha mereka dengan tawakkal inilah yang mendatangkan keberanian dan kekuatan saat itu. Musuh-musuh dan kesulitan di hadapan mereka dianggap ringan berkat tawakkal. Mereka akhirnya jika toh mati, akan merasakan mati di jalan Allah. Merekalah yang mendapatkan syahid di jalan Allah. Ini semua karena sebab tawakkal. Buah tawakkal yang keempat, seseorang akan bersemangat dalam mencari rizki, mencari ilmu dan melakukan segala sesuatu yang bermanfaat. Itulah yang namanya orang yang bertawakkal, ia punya semangat dalam melakukan hal-hal bermanfaat semacam ini. Karena ia tahu bahwa Allah akan bersama dan menolong setiap orang yang bertawakkal. Akhirnya ia pun bersamangat ketika dalam perkara agama dan dunianya yang bermanfaat, ia jadinya tidak bermalas-malasan. Kita dapat menyaksikan bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum, merekalah orang yang paling bersemangat. Mereka benar-benar merealisasikan tawakkal pada Allah. Sampai-sampai karena sifat ini yang mereka miliki, mereka bisa menaklukan berbagai negeri di ujung timur dan barat melalui jihad mereka. Mereka pun membuka hati melalui dakwah mereka di jalan Allah. Ini semua bisa terwujud karena mereka benar-benar merealisasikan tawakkal pada Allah. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (QS. Al Maidah: 54). Mereka sama sekali tidak takut pada celaan orang yang mencela ketika mereka berjuang di jalan Allah. Bisa demikian karena mereka benar-benar merealisasikan tawakkal pada Allah. Mereka benar-benar menyandarkan dirinya pada Allah dan mereka tidak berpaling pada yang lain, baik ketika itu manusia ridho atau pun tidak. Yang senantiasa mereka cari adalah ridho Allah. Dalam hadits disebutkan, من التمس رضا الله بسخط الناس رضي الله عنه وأرضى عنه الناس ، ومن التمس رضا الناس بسخط الله سخط الله عليه وأسخط عليه الناس “Barangsiapa yang mencari ridho Allah dan awalnya manusia murka (tidak suka), maka Allah akan ridho padanya dan membuat manusia pun akan ridho padanya. Sedangkan barangsiapa yang mencari ridho manusia dan membuat Allah murka, maka Allah akan murka padanya dan akan membuat manusia pun murka.”[1] Bersandar pada Allah dan tawakkal pada-Nya serta menyerahkan segala urusan pada Allah Ta’ala, itulah yang menjadi asas tauhid, asas amal dan asas kebaikan. Bahkan Allah menjadi tawakkal ini syarat keimanan. Allah Ta’ala berfirman, وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al Maidah: 23) Pelajaran Penting Ada pelajaran penting yang mesti diperhatikan dalam memahami arti tawakkal. Tawakkal harus terkumpul dalamnya dua syarat yaitu: (1) menyandarkan hati pada Allah, dan (2) melakukan usaha (sebab). Sehingga tidak benar jika orang hanya berusaha namun tidak menyandarkan hatinya pada Allah karena segala sesuatu di tangan Allah. Dan tidak tepat pula jika seseorang hanya bersandar pada Allah, namun tidak ada usaha yang ia lakukan. Ada sebuah kisah yang bisa jadi pelajaran. ‘Umar bin Khottob pernah melihat sekelompok orang yang ngaku-ngaku sebagai orang yang bertawakkal, namun mereka tidak melakukan usaha apa-apa. ‘Umar bertanya pada mereka, “Siapa kalian?” “Kami adalah mutawakkiluun, orang yang bertawakkal”, jawab mereka. ‘Umar lantas menjawab, “Tidak. Kalian adalah muta-akkalun (artinya, orang yang hanya menanti diberi makan).” Yaitu mereka itu sebenarnya hanyalah orang yang hanya butuh pada uluran tangan orang lain dan bukan orang yang bertawakkal. Karena orang yang bertawakkal harusnya melakukan usaha. ‘Umar bin Al Khottob pun pernah mengatakan, لقد علمتم أن السماء لا تمطر ذهبا ولا فضة “Kalian telah mengetahui bahwa langit sama sekali tidak menurunkan hujan emas atau hujan perak.” Ini beliau katakan untuk mengingkari orang yang hanya duduk untuk ibadah namun tidak punya untuk meraih rizki. Mereka sebenarnya orang-orang pemalas yang butuh ularan tangan orang lain. Lantas ‘Umar pun menghardik mereka. Lalu mengatakan perkataan di atas. Demikian penjelasan singkat mengenai buah tawakkal yang kami sarikan dari penjelasan Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah (Ulama besar di Kerajaan Saudi Arabia, Riyadh) dalam kumpulan risalahnya. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Reference: Majmu’atu Rosail Da’wiyyah wa Manhajiyyah, Syaikh Sholeh Al Fauzan, hal. 270, 280-283, terbitan Al Mirots An Nabawi. Riyadh KSA, 11 Shafar 1432 H (15/01/2011) www.rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal   [1] HR. Tirmidzi no. 2414, Ibnu Hibban 1/510, dari hadits ‘Aisyah. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih. Tagstawakkal

Berjihad Melawan Riyaa’

Berkata As-Suusi rahimahullah:الإِخْلاَصُ فَقْدُ رُؤْيَةِ الإِخْلاَصِ، فَإِنَّ مَنْ شَاهَدَ فِي إخْلاَصِهِ الإِخْلاَصَ فَقَدْ احْتَاجَ إِخْلاَصُهُ إِلَى إِخْلاَصٍ“Ikhlas adalah hilangnya perasaan memandang bahwa diri sudah ikhlash, karena barang siapa yang melihat tatkala dia sudah ikhlash bahwasanya ia adalah seorang yang ikhlash maka keikhlasannya tersebut butuh pada keikhlasan” (Tazkiyatun Nufuus 4)Yusuf bin Al-Husain Ar-Roozi rahimahullah berkata :أَعَزُّ شَيْءٍ في الدُّنْيَا الإخْلاَصُ، وَكَمْ أَجْتَهِدُ فِي إِسْقَاط الرِّيَاءِ عَنْ قَلْبِي وَكَأَنَّهُ يَنْبُتُ فِيْهِ عَلَى لَوْنٍ آخَرَ“Perkara yang paling berat di dunia adalah ikhlas, betapa sering aku berijtihad (bersungguh-sungguh) untuk menghilangkan riyaa’ dari hatiku akan tetapi seakan-akan riyaa’ tersebut kembali muncul lagi dalam bentuk yang lain” (Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam 42)Untuk berjihad melawan riyaa’ maka dibangun diatas ilmu dan usaha. Adapun ilmu maka ada empat hal yang harus kita renungkan atau kita pikirkan, yaitu :Pertama : Akibat buruk bagi seorang yang riyaa di akhiratKedua : Akibat buruk bagi orang yang riyaa’ di duniaKetiga : Merenungkan hakekat oang yang kita harapkan pujiannya.Keempat : Merenungkan hakekat diri kita Kesudahan orang yang riyaa’ di akhirat:Pertama : Barang siapa yang riyaa’ dan sum’ah di dunia maka di akhirat kelak ia akan dipermalukan oleh Allah di hadapan khalayak ramai.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ“Barangsiapa yang memperdengarkan maka Allah akan memperdengarkan tentangnya, dan barangsiapa yang memperlihatkan (riyaa’) maka Allah akan memperlihatkan tentang dia” (HR Al-Bukhari no 6499)Al-Khotthobi berkata, “Maknanya adalah barang siapa yang mengamalkan sebuah amalan tanpa ikhlas, akan tetapi karena ingin dilihat oleh masyarakat dan disebut-sebut oleh mereka maka ia akan dibalas atas perbuatannya tersebut, yaitu Allah akan membongkarnya dan menampakan apa yang dulu disembunyikannya” (Fathul Baari 11/344-345)Al-Mubaarokfuuri berkata, “Barangsiapa yang menjadikan dirinya tersohor dengan kabaikan atau yang lainnya karena kesombongan atau karena riyaa’ maka Allah akan mensohorkannya pada hari kiamat kelak dihadapan khalayak manusia di padang mahsyar dengan membongkar bahwasanya ia adalah orang yang riyaa’ pendusta. Allah mengabarkan kepada manusia riyaa’nya dan sum’ahnya, maka terbongkarlah aibnya di hadapan manusia” (Tuhfatul Ahwazi 4/186).Diantara makna hadits ini sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar adalah :–         Barangsiapa yang mengesankan bahwasanya ia telah melakukan suatu amal sholeh padahal ia tidak melakukannya maka Allah akan membongkar kebohongannya tersebut (lihat Fathul Baari 11/337)–         Barangsiapa yang beramal dengan mengesankan kepada masyarakat bahwasanya ia adalah orang yang ikhlas namun ternyata beramal karena riyaa’, maka pada hari kiamat kelak Allah akan menunjukan pahala amalannya tersebut seakan-akan pahala amalan tersebut untuknya namun ternyata Allah menghalanginya dari pahala tersebut. (lihat Fathul Baari 11/337)Oleh karenanya para pembaca yang budiman, sebelum kita melakukan riyaa’ maka renungkanlah apakah kita siap untuk dipermalukan oleh Allah pada hari kiamat kelak??!. Kita menampakkan pada guru kita, pada murid-murid kita, pada sahabat-sahabat kita seakan-akan kita selalu beramal karena Allah, ternyata kita hanya menipu mereka, ternyata kita hanya mengharapkan pujian atau penghormatan mereka. Bagaimana jika Allah membongkar busuknya niat kita di hadapan mereka…, tentunya kita sangat dipermalukan. Wall’iyaadzu billah.Kedua : Setelah orang-orang yang riyaa’ dipermalukan oleh Allah di hadapan seluruh manusia di padang mahsyar lantas orang-orang yang riyaa’ itulah yang pertama kali diadzab oleh Allah.Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata: Aku mendengar Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ، رَجُلٌ اسْتَشْهَدَ فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَى اسْتَشْهَدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، لَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيْءٌ، فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ، وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا فَعَلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، لَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَّادٌ، فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ“Sesungguhnya manusia paling pertama yang akan dihisab urusannya pada hari kiamat adalah: Seorang lelaki yang mati syahid, lalu dia didatangkan lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmatNya (yang telah diberikan kepadanya-pen) maka diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat dengan nikat-nikmat tersebut?” dia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu berperang agar kamu dikatakan pemberani, dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka. Dan (orang kedua adalah) seseorang yang mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan dia membaca (menghafal)  Al-Qur`an. Maka dia didatangkan lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmatNya (yang telah diberikan kepadanya -pen) maka diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” dia menjawab, “Aku mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur`an karena-Mu.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu menuntut ilmu agar kamu dikatakan seorang alim dan kamu membaca Al-Qur`an agar dikatakan, “Dia adalah qari`,”  dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka. Dan (yang ketiga adalah) seseorang yang diberikan keluasan (harta) oleh Allah dan Dia memberikan kepadanya semua jenis harta. Maka dia didatangkan lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmatNya (yang telah diberikan kepadanya-pen) maka diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” dia menjawab, “Aku tidak menyisakan satu jalanpun yang Engkau senang kalau seseorang berinfak di situ kecuali aku berinfak di situ untuk-Mu.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu melakukan itu agar dikatakan, “Dia adalah orang yang dermawan,” dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka.” (HR. Muslim mo. 1905)Nasib orang yang riyaa’ di duniaPertama : Orang yang riyaa’ senantiasa di atas kegelisahan. Karena amal yang ia kerjakan dibangun di atas mencari pujian orang lain, maka ia akan selalu menderita, baik sebelum beramal, tatkala sedang beramal, maupun setelah beramal. Iapun juga selalu menderita baik dipuji apalagi jika tidak dipuji.Sebelum beramal ia akan gelisah memikirkan amal apa dan bagaimana bisa ia lakukan agar ia dipuji manusia, ia khawatir jika amalannya salah atau kurang baik maka ia akan dicela dan tidak dipuji serta tidak dihargai atau dihormati orang lain.Tatakala beramalpun demikian, perasaan tersebut masih terus menyertai hatinya. Apalagi setelah beramal, maka gelisahpun semakin menjadi-jadi menanti pujian yang diharap-harapkan.Jika ternyata pujian yang diharapkan tak kunjung tiba maka hatinya sangat kesal… seakan-akan tersayat-sayat… ungkapan penyesalanpun bertumpuk di hatinya.. seraya berkata, “Percuma saya memberi sedekah kepadanya, ia adalah orang yang tidak tahu berterima kasih…”, “percuma saya menolong si fulan, ia tidak menghargai pertolonganku..”. “Percuma saya berhaji dengan mengeluarkan uang puluhan juta, toh masyarakat tidak menghormatiku dan tidak memanggilku dengan gelaran pak haji…”. “Percuma saya memberi ceramah-ceramah agama kepada mereka, toh mereka kurang menghormati saya…”Jika akhirnya pujian dan sanjungan yang ditungu-tunggu itupun tiba ternyata … terkadang pujian tersebut tidak seperti yang ia harapkan. Ia ingin agar sanjungan dan penghormatan yang ia raih lebih daripada apa yang ia dengar. Maka menderitalah hatinya.Jika pujian yang ia nanti-nantikan ternyata sesuai dengan yang ia harapkan maka iapun bahagia sekali…kepalanyapun membesar… hatinya berbinar-binar…, akan tetapi ketahuilah para pembaca yang dirahmati Allah… kebahagiaan tersebut hanyalah semu.. karena sebentar lagi ia akan kembali menderita karena hatinya bergejolak ingin pujian tersebut langgeng dan abadi… namun kenyataannya terkadang pujian tersebut hanya sebentar saja.. lalu sirna. Hatinya kembali gelisah… kapan ia dipuji lagi seperti pujian tersebut…??!!.Kedua : Orang yang riyaa’ memang terkadang meraih pujian dan sanjungan yang ia harapkan dari masyarakat. Jadilah ia tersohor dan dikenal harum namanya oleh masyarakat. Hal ini sebagaimana yang ditunjukan oleh haditsمَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ“Barangsiapa yang memperdengarkan maka Allah akan memperdengarkan tentangnya, dan barangsiapa yang memperlihatkan (riyaa’) maka Allah akan memperlihatkan tentang dia” (HR Al-Bukhari no 6499)Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan bahwasanya di antara tafsiran dari hadits ini adalah bahwasanya makna dari ((Allah memperdengarkan tentangnya)) adalah barangsiapa yang beramal dengan maksud untuk meraih kedudukan dan kehormatan di masyarakat dan bukan karena mengharap wajah Allah maka Allah akan menjadikan dia bahan pembicaraan di antara orang-orang yang ia ingin dihormati oleh mereka. Akan tetapi ia tidak akan mendapatkan pahala di akhirat. (lihat Fathul Baari 11/336-337)Dan hal ini sesuai dengan firman Allahمَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ (١٥)أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١٦)Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (QS Huud : 15-16).Oleh karenanya bukanlah hal yang mengherankan kalau seseorang yang riyaa’ dipuji-puji dan dielu-elukan oleh masyarakat. Karena itulah memang yang ia inginkan dan Allah mengabulkan keinginannya tersebut tanpa mengurangi sama sekali. Hal ini juga ditunjukkan oleh hadits yang telah lalu tentang tiga orang yang pertama kali diadzab di akhirat kelak, di mana keinginan mereka untuk dikenal sebagai pahlawan pemberani, dikenal sebagai seorang yang alim, dan dikenal sebagai dermawan dikabulkan oleh Allah.Akan tetapi para pembaca yang budiman, apakah pujian dan sanjungan ini akan lenggeng dan kekal…??? Tentunya tidak, Allah terkadang membongkar aibnya dan kedustaannya tersebut di dunia sebelum di akhirat.Ibnu Hajr rahimahullah menyebutkan bahwa di antara makna hadits ((Allah memperdengarkan tentangnya)) adalah barangsiapa yang beramal sholeh karena ingin disebut-sebut maka Allah akan membuat ia tersohor di antara orang-orang yang ia harapkan pujian mereka akan tetapi tersohor dengan celaan, dikarenakan busuknya niatnya. (lihat Fathul Baari 11/337).Hal ini dikuatkan dengan sebuah hadits berikut ini :عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْتَقَى هُوَ وَالْمُشْرِكُونَ فَاقْتَتَلُوا فَلَمَّا مَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى عَسْكَرِهِ وَمَالَ الْآخَرُونَ إِلَى عَسْكَرِهِمْ وَفِي أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ لَا يَدَعُ لَهُمْ شَاذَّةً وَلَا فَاذَّةً إِلَّا اتَّبَعَهَا يَضْرِبُهَا بِسَيْفِهِ فَقَالَ مَا أَجْزَأَ مِنَّا الْيَوْمَ أَحَدٌ كَمَا أَجْزَأَ فُلَانٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ أَنَا صَاحِبُهُ قَالَ فَخَرَجَ مَعَهُ كُلَّمَا وَقَفَ وَقَفَ مَعَهُ وَإِذَا أَسْرَعَ أَسْرَعَ مَعَهُ قَالَ فَجُرِحَ الرَّجُلُ جُرْحًا شَدِيدًا فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ بِالْأَرْضِ وَذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَى سَيْفِهِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَخَرَجَ الرَّجُلُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ وَمَا ذَاكَ قَالَ الرَّجُلُ الَّذِي ذَكَرْتَ آنِفًا أَنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَأَعْظَمَ النَّاسُ ذَلِكَ فَقُلْتُ أَنَا لَكُمْ بِهِ فَخَرَجْتُ فِي طَلَبِهِ ثُمَّ جُرِحَ جُرْحًا شَدِيدًا فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ فِي الْأَرْضِ وَذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَيْهِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِDari sahabat Sahl bin Sa’ad  As-Saa’idi radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berperang melawan kaum musyrikin. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke pasukan perangnya dan kaum musyrikinpun telah kembali kepasukan perang mereka (untuk menanti perang selanjutnya-pen), dan diantara sahabat-sahabat Nabi (yang ikut berperang) ada seseorang yang tidak seorang musyrikpun yang menyendiri dari pasukan musyrikin atau terpisah dari kumpulan kaum musyrikin kecuali ia mengikutinya dan menikamnya dengan pedangnya, maka ada yang berkata, “Tidak ada diantara kita yang memuaskan kita pada perang hari ini sebagaimana yang dilakukan oleh si fulan”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Adapun si fulan maka termasuk penduduk api neraka”. Salah seorang berkata, “Saya akan menemani (membuntuti) si fulan tersebut”. Maka iapun mengikuti si fulan tersebut, jika si fulan berhenti maka ia ikut berhenti, jika sifulan berjalan cepat, iapun berjalan cepat. Maka si fulan ini (setelah berperang-pen) terluka parah, maka iapun segera membunuh dirinya. Ia meletakkan pedangnya di tanah kemudian mata pedangnya ia letakkan di dadanya, lalu pun menindihkan dadanya ke pedang tersebut maka iapun membunuh dirinya. Orang yang membuntutinya segera menuju ke Rasulullah dan berkata, “Aku bersaksi bahwasanya engkau adalah utusan Allah”. Rasulullah berkata, “Ada apa?”. Ia berkata, “Orang yang tadi engkau sebutkan bahwasanya ia masuk neraka !!, lantas orang-orangpun merasa heran, lalu aku berkata biarlah aku yang akan mengeceknya. Maka akupun keluar mengikutinya, lalu iapun terluka sangat parah lantas iapun meletakkan pedangnya diatanah dan meletakkan mata pedangnya di dadanya lalu iapun menindihkan dadanya ke mata pedang tersebut, dan iapun membunuh dirinya”.Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Sesungguhnya seseorang sungguh-sungguh melakukan amalan penghuni surga menurut apa yang nampak bagi manusia padahal ia termasuk penghuni neraka, dan seseorang melakukan amalan penghuni neraka menurut apa yang nampak bagi manusia padahal ia termasuk penduduk surga” (HR Al-Bukhari no 2898 dan Muslim no 179)Maka Sungguh benar perkataan Hammad bin Salamah :مَنْ طَلَبَ الْحَدِيْثَ لِغَيْرِ اللهِ مُكِرَ بِهِ“Barangsiapa yang mencari hadits bukan kerana Allah maka akan dibuat makar kepadanya” (Al-Jaami’ li Akhlaaq Ar-Roowi wa Aaadaabus Saami’ 1/126 no 20)Kita dapati adanya orang-orang yang tersohor dengan ilmunya, jadilah ia pemimpin para dai, namun ternyata pada akhirnya iapun ditinggalkan oleh para pengikutnya…. Semua ini karena buruknya niat yang tersembunyi.Hakikat orang yang kita harapkan pujiannyaTahukah kita siapa hakikat orang yang kita harapkan pujiannya tatkala kita beribadah?, tatkala kita sholat dengan menghinakan jidat kita di tanah?, tatkala kita menuntut ilmu dengan susah payah?, tatkala cape untuk berdakwah??!!Saya mengajak para pembaca sekalian merenungkan hakikat orang yang kita harapkan pujiannya tersebut…Pertama : Manusia yang berada di hadapan kita, yang kita harapkan pujiannya adalah makhluk yang tidak bisa memberi manfaat dan mudhorot kedua : Lihatlah manusia yang …kita harapkan pujiannya, ternyata merupakan makhluk yang sangat lemah, coba lihat dan ingat tatkala ia sedang sakit dan terbaring di rumah sakit, maka perihalnya seperti anak kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa. Makhluk yang seperti ini maka buat apa kita mengharapkan pujiannya??Ketiga : Jika manusia yang kita harapkan pujiannya itu meninggal dan tidak dikubur tentunya akan menimbulkan bau yang sangat busuk dan mengganggu. Bahkan bau busuknya bisa mengganggu warga sekampung, bahkan busuknya mayatnya bisa menimbulkan beraneka ragam penyakit. Jika perkaranya demikian, maka apakah pantas kita mengharapkan pujian dari makhluk yang seperti ini??!!Keempat : Bisa jadi kita lebih baik daripada makhluk yang kita harapkan pujiannya tersebut, kalau begitu buat apa mengharap pujian dari orang yang lebih rendah dari kita..??Kelima : Makhluk yang kita harapkan pujiannya ini memang memuji kita dengan pujian yang indah, tapi coba kalau dia bermasalah dengan kita, tentunya akan memaki kita juga dengan makian yang lebih indah juga.Keenam : Orang yang riyaa’ pada hari kiamat disuruh mencari pahala dari orang-orang yang dia dahulu mengharapkan pujian dan penghormatan dari mereka tatkala di dunia.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :إِنَّ أَّخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَُرُ، قَالُوْا : وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ؟ قَالَ : الرِّيَاءُ، يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِأَصْحَابِ ذَلكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إذَا جَازَى النَّاسَ : اِذْهَبُوْا إِلَى الَّذِيْنَ كُنْتُمْ تُرَاءُوْنَ فِي الدُّنْيَا، فَانْظُرُوْا هَلْ تَجِدُوْنَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً ؟!“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil”. Mereka berkata, “Apakah itu syirik kecil?”. Nabi berkata, “Riyaa’, pada hari kiamat tatkala Allah membalas perbuatan manusia maka Allah berkata kepada orang-orang yang riyaa’ : “Pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu di dunia kalian riyaa kepada mereka, maka lihatlah apakah kalian akan mendapatkan balasan amalan (riyaa) kalian di sisi mereka??!” (Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam ash-Shahihah no 951).Para pembaca yang budiman apakah orang-orang yang kita harapkan pujian mereka akan bisa membantu kita sedikitpun di akhirat kelak?, apakah mereka bisa memberikan sedikitpun ganjaran amal sholeh kita?. Jawabannya tentu tidak.Ketujuh : Meskipun kita dipuji setinggi langit akan tetapi kita yang lebih tahu tentang hakikat diri kita yang penuh dengan dosa. jika seandainya satu dosa kita saja dibongkar oleh Allah maka seluruh orang yang tadinya memuji kita tentu akan berbalik mencela kita….wallahu a’lamHakikat kita yang dipujiSesungguhnya pujian dan sanjungan orang lain kepada kita tidaklah akan merubah hakikat kita di hadapan Allah Yang maha Mengetahui apa yang nampak dan tersembunyi. Orang lain boleh terpedaya dengan penampilan kita… dengan indahnya perkataan kita… dengan ta’jubnya tulisan-tulisan kita… akan tetapi kitalah yang lebih tahu tentang hakikat diri kita yang penuh dosa.Sungguh indah perkataan Muhammad bin waasi’ rahimahullah :لَوْ كَانَ لِلذُّنُوْبِ رِيْحٌ مَا جَلَسَ إِلَيَّ أَحَدٌ“Jika seandainya dosa-dosa itu mengeluarkan bau maka tidak seorangpun yang akan duduk denganku” (Siyaar A’laam An-Nubalaa’ 6/120)Jika setiap dosa yang kita lakukan memiliki bau busuk yang khas tentunya akan keluar beraneka ragam bau yang busuk dari tubuh kita. Maka semua orang akan lari dari kita.Jika seandainya Allah membongkar satu saja aib kita yang selama ini kita sembunyikan tentunya semua orang yang tadinya memuji dan menghormati serta menyanjung kita akan berbalik mencela dan merendahkan. Wallahul musta’aan.Sebagai renungan maka silahkan membaca kembali artikel ini (https://www.firanda.com/index.php/artikel/wejangan/27-wasiat-ibnu-masud-1-qkalau-kalian-mengetahui-dosa-dosaku-maka-tidak-akan-ada-dua-orang-yang-berjalan-di-belakangkuq-) dan juga artikel (https://www.firanda.com/index.php/artikel/34-penyakit-hati/105-kenapa-mesti-ujub)Akhirnya… selamat berjuang dan berjihad melawan riyaa… sungguh jihad yang sangat sulit.., sungguh jihad yang tiada hentinya… hingga nafas yang terakhir.Madinah Munawwarah, 10 Safar 1432 / 14 Januari 2011Firanda Andirjawww.firanda.com

Berjihad Melawan Riyaa’

Berkata As-Suusi rahimahullah:الإِخْلاَصُ فَقْدُ رُؤْيَةِ الإِخْلاَصِ، فَإِنَّ مَنْ شَاهَدَ فِي إخْلاَصِهِ الإِخْلاَصَ فَقَدْ احْتَاجَ إِخْلاَصُهُ إِلَى إِخْلاَصٍ“Ikhlas adalah hilangnya perasaan memandang bahwa diri sudah ikhlash, karena barang siapa yang melihat tatkala dia sudah ikhlash bahwasanya ia adalah seorang yang ikhlash maka keikhlasannya tersebut butuh pada keikhlasan” (Tazkiyatun Nufuus 4)Yusuf bin Al-Husain Ar-Roozi rahimahullah berkata :أَعَزُّ شَيْءٍ في الدُّنْيَا الإخْلاَصُ، وَكَمْ أَجْتَهِدُ فِي إِسْقَاط الرِّيَاءِ عَنْ قَلْبِي وَكَأَنَّهُ يَنْبُتُ فِيْهِ عَلَى لَوْنٍ آخَرَ“Perkara yang paling berat di dunia adalah ikhlas, betapa sering aku berijtihad (bersungguh-sungguh) untuk menghilangkan riyaa’ dari hatiku akan tetapi seakan-akan riyaa’ tersebut kembali muncul lagi dalam bentuk yang lain” (Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam 42)Untuk berjihad melawan riyaa’ maka dibangun diatas ilmu dan usaha. Adapun ilmu maka ada empat hal yang harus kita renungkan atau kita pikirkan, yaitu :Pertama : Akibat buruk bagi seorang yang riyaa di akhiratKedua : Akibat buruk bagi orang yang riyaa’ di duniaKetiga : Merenungkan hakekat oang yang kita harapkan pujiannya.Keempat : Merenungkan hakekat diri kita Kesudahan orang yang riyaa’ di akhirat:Pertama : Barang siapa yang riyaa’ dan sum’ah di dunia maka di akhirat kelak ia akan dipermalukan oleh Allah di hadapan khalayak ramai.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ“Barangsiapa yang memperdengarkan maka Allah akan memperdengarkan tentangnya, dan barangsiapa yang memperlihatkan (riyaa’) maka Allah akan memperlihatkan tentang dia” (HR Al-Bukhari no 6499)Al-Khotthobi berkata, “Maknanya adalah barang siapa yang mengamalkan sebuah amalan tanpa ikhlas, akan tetapi karena ingin dilihat oleh masyarakat dan disebut-sebut oleh mereka maka ia akan dibalas atas perbuatannya tersebut, yaitu Allah akan membongkarnya dan menampakan apa yang dulu disembunyikannya” (Fathul Baari 11/344-345)Al-Mubaarokfuuri berkata, “Barangsiapa yang menjadikan dirinya tersohor dengan kabaikan atau yang lainnya karena kesombongan atau karena riyaa’ maka Allah akan mensohorkannya pada hari kiamat kelak dihadapan khalayak manusia di padang mahsyar dengan membongkar bahwasanya ia adalah orang yang riyaa’ pendusta. Allah mengabarkan kepada manusia riyaa’nya dan sum’ahnya, maka terbongkarlah aibnya di hadapan manusia” (Tuhfatul Ahwazi 4/186).Diantara makna hadits ini sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar adalah :–         Barangsiapa yang mengesankan bahwasanya ia telah melakukan suatu amal sholeh padahal ia tidak melakukannya maka Allah akan membongkar kebohongannya tersebut (lihat Fathul Baari 11/337)–         Barangsiapa yang beramal dengan mengesankan kepada masyarakat bahwasanya ia adalah orang yang ikhlas namun ternyata beramal karena riyaa’, maka pada hari kiamat kelak Allah akan menunjukan pahala amalannya tersebut seakan-akan pahala amalan tersebut untuknya namun ternyata Allah menghalanginya dari pahala tersebut. (lihat Fathul Baari 11/337)Oleh karenanya para pembaca yang budiman, sebelum kita melakukan riyaa’ maka renungkanlah apakah kita siap untuk dipermalukan oleh Allah pada hari kiamat kelak??!. Kita menampakkan pada guru kita, pada murid-murid kita, pada sahabat-sahabat kita seakan-akan kita selalu beramal karena Allah, ternyata kita hanya menipu mereka, ternyata kita hanya mengharapkan pujian atau penghormatan mereka. Bagaimana jika Allah membongkar busuknya niat kita di hadapan mereka…, tentunya kita sangat dipermalukan. Wall’iyaadzu billah.Kedua : Setelah orang-orang yang riyaa’ dipermalukan oleh Allah di hadapan seluruh manusia di padang mahsyar lantas orang-orang yang riyaa’ itulah yang pertama kali diadzab oleh Allah.Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata: Aku mendengar Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ، رَجُلٌ اسْتَشْهَدَ فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَى اسْتَشْهَدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، لَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيْءٌ، فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ، وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا فَعَلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، لَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَّادٌ، فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ“Sesungguhnya manusia paling pertama yang akan dihisab urusannya pada hari kiamat adalah: Seorang lelaki yang mati syahid, lalu dia didatangkan lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmatNya (yang telah diberikan kepadanya-pen) maka diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat dengan nikat-nikmat tersebut?” dia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu berperang agar kamu dikatakan pemberani, dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka. Dan (orang kedua adalah) seseorang yang mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan dia membaca (menghafal)  Al-Qur`an. Maka dia didatangkan lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmatNya (yang telah diberikan kepadanya -pen) maka diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” dia menjawab, “Aku mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur`an karena-Mu.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu menuntut ilmu agar kamu dikatakan seorang alim dan kamu membaca Al-Qur`an agar dikatakan, “Dia adalah qari`,”  dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka. Dan (yang ketiga adalah) seseorang yang diberikan keluasan (harta) oleh Allah dan Dia memberikan kepadanya semua jenis harta. Maka dia didatangkan lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmatNya (yang telah diberikan kepadanya-pen) maka diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” dia menjawab, “Aku tidak menyisakan satu jalanpun yang Engkau senang kalau seseorang berinfak di situ kecuali aku berinfak di situ untuk-Mu.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu melakukan itu agar dikatakan, “Dia adalah orang yang dermawan,” dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka.” (HR. Muslim mo. 1905)Nasib orang yang riyaa’ di duniaPertama : Orang yang riyaa’ senantiasa di atas kegelisahan. Karena amal yang ia kerjakan dibangun di atas mencari pujian orang lain, maka ia akan selalu menderita, baik sebelum beramal, tatkala sedang beramal, maupun setelah beramal. Iapun juga selalu menderita baik dipuji apalagi jika tidak dipuji.Sebelum beramal ia akan gelisah memikirkan amal apa dan bagaimana bisa ia lakukan agar ia dipuji manusia, ia khawatir jika amalannya salah atau kurang baik maka ia akan dicela dan tidak dipuji serta tidak dihargai atau dihormati orang lain.Tatakala beramalpun demikian, perasaan tersebut masih terus menyertai hatinya. Apalagi setelah beramal, maka gelisahpun semakin menjadi-jadi menanti pujian yang diharap-harapkan.Jika ternyata pujian yang diharapkan tak kunjung tiba maka hatinya sangat kesal… seakan-akan tersayat-sayat… ungkapan penyesalanpun bertumpuk di hatinya.. seraya berkata, “Percuma saya memberi sedekah kepadanya, ia adalah orang yang tidak tahu berterima kasih…”, “percuma saya menolong si fulan, ia tidak menghargai pertolonganku..”. “Percuma saya berhaji dengan mengeluarkan uang puluhan juta, toh masyarakat tidak menghormatiku dan tidak memanggilku dengan gelaran pak haji…”. “Percuma saya memberi ceramah-ceramah agama kepada mereka, toh mereka kurang menghormati saya…”Jika akhirnya pujian dan sanjungan yang ditungu-tunggu itupun tiba ternyata … terkadang pujian tersebut tidak seperti yang ia harapkan. Ia ingin agar sanjungan dan penghormatan yang ia raih lebih daripada apa yang ia dengar. Maka menderitalah hatinya.Jika pujian yang ia nanti-nantikan ternyata sesuai dengan yang ia harapkan maka iapun bahagia sekali…kepalanyapun membesar… hatinya berbinar-binar…, akan tetapi ketahuilah para pembaca yang dirahmati Allah… kebahagiaan tersebut hanyalah semu.. karena sebentar lagi ia akan kembali menderita karena hatinya bergejolak ingin pujian tersebut langgeng dan abadi… namun kenyataannya terkadang pujian tersebut hanya sebentar saja.. lalu sirna. Hatinya kembali gelisah… kapan ia dipuji lagi seperti pujian tersebut…??!!.Kedua : Orang yang riyaa’ memang terkadang meraih pujian dan sanjungan yang ia harapkan dari masyarakat. Jadilah ia tersohor dan dikenal harum namanya oleh masyarakat. Hal ini sebagaimana yang ditunjukan oleh haditsمَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ“Barangsiapa yang memperdengarkan maka Allah akan memperdengarkan tentangnya, dan barangsiapa yang memperlihatkan (riyaa’) maka Allah akan memperlihatkan tentang dia” (HR Al-Bukhari no 6499)Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan bahwasanya di antara tafsiran dari hadits ini adalah bahwasanya makna dari ((Allah memperdengarkan tentangnya)) adalah barangsiapa yang beramal dengan maksud untuk meraih kedudukan dan kehormatan di masyarakat dan bukan karena mengharap wajah Allah maka Allah akan menjadikan dia bahan pembicaraan di antara orang-orang yang ia ingin dihormati oleh mereka. Akan tetapi ia tidak akan mendapatkan pahala di akhirat. (lihat Fathul Baari 11/336-337)Dan hal ini sesuai dengan firman Allahمَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ (١٥)أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١٦)Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (QS Huud : 15-16).Oleh karenanya bukanlah hal yang mengherankan kalau seseorang yang riyaa’ dipuji-puji dan dielu-elukan oleh masyarakat. Karena itulah memang yang ia inginkan dan Allah mengabulkan keinginannya tersebut tanpa mengurangi sama sekali. Hal ini juga ditunjukkan oleh hadits yang telah lalu tentang tiga orang yang pertama kali diadzab di akhirat kelak, di mana keinginan mereka untuk dikenal sebagai pahlawan pemberani, dikenal sebagai seorang yang alim, dan dikenal sebagai dermawan dikabulkan oleh Allah.Akan tetapi para pembaca yang budiman, apakah pujian dan sanjungan ini akan lenggeng dan kekal…??? Tentunya tidak, Allah terkadang membongkar aibnya dan kedustaannya tersebut di dunia sebelum di akhirat.Ibnu Hajr rahimahullah menyebutkan bahwa di antara makna hadits ((Allah memperdengarkan tentangnya)) adalah barangsiapa yang beramal sholeh karena ingin disebut-sebut maka Allah akan membuat ia tersohor di antara orang-orang yang ia harapkan pujian mereka akan tetapi tersohor dengan celaan, dikarenakan busuknya niatnya. (lihat Fathul Baari 11/337).Hal ini dikuatkan dengan sebuah hadits berikut ini :عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْتَقَى هُوَ وَالْمُشْرِكُونَ فَاقْتَتَلُوا فَلَمَّا مَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى عَسْكَرِهِ وَمَالَ الْآخَرُونَ إِلَى عَسْكَرِهِمْ وَفِي أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ لَا يَدَعُ لَهُمْ شَاذَّةً وَلَا فَاذَّةً إِلَّا اتَّبَعَهَا يَضْرِبُهَا بِسَيْفِهِ فَقَالَ مَا أَجْزَأَ مِنَّا الْيَوْمَ أَحَدٌ كَمَا أَجْزَأَ فُلَانٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ أَنَا صَاحِبُهُ قَالَ فَخَرَجَ مَعَهُ كُلَّمَا وَقَفَ وَقَفَ مَعَهُ وَإِذَا أَسْرَعَ أَسْرَعَ مَعَهُ قَالَ فَجُرِحَ الرَّجُلُ جُرْحًا شَدِيدًا فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ بِالْأَرْضِ وَذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَى سَيْفِهِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَخَرَجَ الرَّجُلُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ وَمَا ذَاكَ قَالَ الرَّجُلُ الَّذِي ذَكَرْتَ آنِفًا أَنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَأَعْظَمَ النَّاسُ ذَلِكَ فَقُلْتُ أَنَا لَكُمْ بِهِ فَخَرَجْتُ فِي طَلَبِهِ ثُمَّ جُرِحَ جُرْحًا شَدِيدًا فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ فِي الْأَرْضِ وَذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَيْهِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِDari sahabat Sahl bin Sa’ad  As-Saa’idi radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berperang melawan kaum musyrikin. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke pasukan perangnya dan kaum musyrikinpun telah kembali kepasukan perang mereka (untuk menanti perang selanjutnya-pen), dan diantara sahabat-sahabat Nabi (yang ikut berperang) ada seseorang yang tidak seorang musyrikpun yang menyendiri dari pasukan musyrikin atau terpisah dari kumpulan kaum musyrikin kecuali ia mengikutinya dan menikamnya dengan pedangnya, maka ada yang berkata, “Tidak ada diantara kita yang memuaskan kita pada perang hari ini sebagaimana yang dilakukan oleh si fulan”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Adapun si fulan maka termasuk penduduk api neraka”. Salah seorang berkata, “Saya akan menemani (membuntuti) si fulan tersebut”. Maka iapun mengikuti si fulan tersebut, jika si fulan berhenti maka ia ikut berhenti, jika sifulan berjalan cepat, iapun berjalan cepat. Maka si fulan ini (setelah berperang-pen) terluka parah, maka iapun segera membunuh dirinya. Ia meletakkan pedangnya di tanah kemudian mata pedangnya ia letakkan di dadanya, lalu pun menindihkan dadanya ke pedang tersebut maka iapun membunuh dirinya. Orang yang membuntutinya segera menuju ke Rasulullah dan berkata, “Aku bersaksi bahwasanya engkau adalah utusan Allah”. Rasulullah berkata, “Ada apa?”. Ia berkata, “Orang yang tadi engkau sebutkan bahwasanya ia masuk neraka !!, lantas orang-orangpun merasa heran, lalu aku berkata biarlah aku yang akan mengeceknya. Maka akupun keluar mengikutinya, lalu iapun terluka sangat parah lantas iapun meletakkan pedangnya diatanah dan meletakkan mata pedangnya di dadanya lalu iapun menindihkan dadanya ke mata pedang tersebut, dan iapun membunuh dirinya”.Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Sesungguhnya seseorang sungguh-sungguh melakukan amalan penghuni surga menurut apa yang nampak bagi manusia padahal ia termasuk penghuni neraka, dan seseorang melakukan amalan penghuni neraka menurut apa yang nampak bagi manusia padahal ia termasuk penduduk surga” (HR Al-Bukhari no 2898 dan Muslim no 179)Maka Sungguh benar perkataan Hammad bin Salamah :مَنْ طَلَبَ الْحَدِيْثَ لِغَيْرِ اللهِ مُكِرَ بِهِ“Barangsiapa yang mencari hadits bukan kerana Allah maka akan dibuat makar kepadanya” (Al-Jaami’ li Akhlaaq Ar-Roowi wa Aaadaabus Saami’ 1/126 no 20)Kita dapati adanya orang-orang yang tersohor dengan ilmunya, jadilah ia pemimpin para dai, namun ternyata pada akhirnya iapun ditinggalkan oleh para pengikutnya…. Semua ini karena buruknya niat yang tersembunyi.Hakikat orang yang kita harapkan pujiannyaTahukah kita siapa hakikat orang yang kita harapkan pujiannya tatkala kita beribadah?, tatkala kita sholat dengan menghinakan jidat kita di tanah?, tatkala kita menuntut ilmu dengan susah payah?, tatkala cape untuk berdakwah??!!Saya mengajak para pembaca sekalian merenungkan hakikat orang yang kita harapkan pujiannya tersebut…Pertama : Manusia yang berada di hadapan kita, yang kita harapkan pujiannya adalah makhluk yang tidak bisa memberi manfaat dan mudhorot kedua : Lihatlah manusia yang …kita harapkan pujiannya, ternyata merupakan makhluk yang sangat lemah, coba lihat dan ingat tatkala ia sedang sakit dan terbaring di rumah sakit, maka perihalnya seperti anak kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa. Makhluk yang seperti ini maka buat apa kita mengharapkan pujiannya??Ketiga : Jika manusia yang kita harapkan pujiannya itu meninggal dan tidak dikubur tentunya akan menimbulkan bau yang sangat busuk dan mengganggu. Bahkan bau busuknya bisa mengganggu warga sekampung, bahkan busuknya mayatnya bisa menimbulkan beraneka ragam penyakit. Jika perkaranya demikian, maka apakah pantas kita mengharapkan pujian dari makhluk yang seperti ini??!!Keempat : Bisa jadi kita lebih baik daripada makhluk yang kita harapkan pujiannya tersebut, kalau begitu buat apa mengharap pujian dari orang yang lebih rendah dari kita..??Kelima : Makhluk yang kita harapkan pujiannya ini memang memuji kita dengan pujian yang indah, tapi coba kalau dia bermasalah dengan kita, tentunya akan memaki kita juga dengan makian yang lebih indah juga.Keenam : Orang yang riyaa’ pada hari kiamat disuruh mencari pahala dari orang-orang yang dia dahulu mengharapkan pujian dan penghormatan dari mereka tatkala di dunia.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :إِنَّ أَّخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَُرُ، قَالُوْا : وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ؟ قَالَ : الرِّيَاءُ، يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِأَصْحَابِ ذَلكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إذَا جَازَى النَّاسَ : اِذْهَبُوْا إِلَى الَّذِيْنَ كُنْتُمْ تُرَاءُوْنَ فِي الدُّنْيَا، فَانْظُرُوْا هَلْ تَجِدُوْنَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً ؟!“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil”. Mereka berkata, “Apakah itu syirik kecil?”. Nabi berkata, “Riyaa’, pada hari kiamat tatkala Allah membalas perbuatan manusia maka Allah berkata kepada orang-orang yang riyaa’ : “Pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu di dunia kalian riyaa kepada mereka, maka lihatlah apakah kalian akan mendapatkan balasan amalan (riyaa) kalian di sisi mereka??!” (Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam ash-Shahihah no 951).Para pembaca yang budiman apakah orang-orang yang kita harapkan pujian mereka akan bisa membantu kita sedikitpun di akhirat kelak?, apakah mereka bisa memberikan sedikitpun ganjaran amal sholeh kita?. Jawabannya tentu tidak.Ketujuh : Meskipun kita dipuji setinggi langit akan tetapi kita yang lebih tahu tentang hakikat diri kita yang penuh dengan dosa. jika seandainya satu dosa kita saja dibongkar oleh Allah maka seluruh orang yang tadinya memuji kita tentu akan berbalik mencela kita….wallahu a’lamHakikat kita yang dipujiSesungguhnya pujian dan sanjungan orang lain kepada kita tidaklah akan merubah hakikat kita di hadapan Allah Yang maha Mengetahui apa yang nampak dan tersembunyi. Orang lain boleh terpedaya dengan penampilan kita… dengan indahnya perkataan kita… dengan ta’jubnya tulisan-tulisan kita… akan tetapi kitalah yang lebih tahu tentang hakikat diri kita yang penuh dosa.Sungguh indah perkataan Muhammad bin waasi’ rahimahullah :لَوْ كَانَ لِلذُّنُوْبِ رِيْحٌ مَا جَلَسَ إِلَيَّ أَحَدٌ“Jika seandainya dosa-dosa itu mengeluarkan bau maka tidak seorangpun yang akan duduk denganku” (Siyaar A’laam An-Nubalaa’ 6/120)Jika setiap dosa yang kita lakukan memiliki bau busuk yang khas tentunya akan keluar beraneka ragam bau yang busuk dari tubuh kita. Maka semua orang akan lari dari kita.Jika seandainya Allah membongkar satu saja aib kita yang selama ini kita sembunyikan tentunya semua orang yang tadinya memuji dan menghormati serta menyanjung kita akan berbalik mencela dan merendahkan. Wallahul musta’aan.Sebagai renungan maka silahkan membaca kembali artikel ini (https://www.firanda.com/index.php/artikel/wejangan/27-wasiat-ibnu-masud-1-qkalau-kalian-mengetahui-dosa-dosaku-maka-tidak-akan-ada-dua-orang-yang-berjalan-di-belakangkuq-) dan juga artikel (https://www.firanda.com/index.php/artikel/34-penyakit-hati/105-kenapa-mesti-ujub)Akhirnya… selamat berjuang dan berjihad melawan riyaa… sungguh jihad yang sangat sulit.., sungguh jihad yang tiada hentinya… hingga nafas yang terakhir.Madinah Munawwarah, 10 Safar 1432 / 14 Januari 2011Firanda Andirjawww.firanda.com
Berkata As-Suusi rahimahullah:الإِخْلاَصُ فَقْدُ رُؤْيَةِ الإِخْلاَصِ، فَإِنَّ مَنْ شَاهَدَ فِي إخْلاَصِهِ الإِخْلاَصَ فَقَدْ احْتَاجَ إِخْلاَصُهُ إِلَى إِخْلاَصٍ“Ikhlas adalah hilangnya perasaan memandang bahwa diri sudah ikhlash, karena barang siapa yang melihat tatkala dia sudah ikhlash bahwasanya ia adalah seorang yang ikhlash maka keikhlasannya tersebut butuh pada keikhlasan” (Tazkiyatun Nufuus 4)Yusuf bin Al-Husain Ar-Roozi rahimahullah berkata :أَعَزُّ شَيْءٍ في الدُّنْيَا الإخْلاَصُ، وَكَمْ أَجْتَهِدُ فِي إِسْقَاط الرِّيَاءِ عَنْ قَلْبِي وَكَأَنَّهُ يَنْبُتُ فِيْهِ عَلَى لَوْنٍ آخَرَ“Perkara yang paling berat di dunia adalah ikhlas, betapa sering aku berijtihad (bersungguh-sungguh) untuk menghilangkan riyaa’ dari hatiku akan tetapi seakan-akan riyaa’ tersebut kembali muncul lagi dalam bentuk yang lain” (Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam 42)Untuk berjihad melawan riyaa’ maka dibangun diatas ilmu dan usaha. Adapun ilmu maka ada empat hal yang harus kita renungkan atau kita pikirkan, yaitu :Pertama : Akibat buruk bagi seorang yang riyaa di akhiratKedua : Akibat buruk bagi orang yang riyaa’ di duniaKetiga : Merenungkan hakekat oang yang kita harapkan pujiannya.Keempat : Merenungkan hakekat diri kita Kesudahan orang yang riyaa’ di akhirat:Pertama : Barang siapa yang riyaa’ dan sum’ah di dunia maka di akhirat kelak ia akan dipermalukan oleh Allah di hadapan khalayak ramai.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ“Barangsiapa yang memperdengarkan maka Allah akan memperdengarkan tentangnya, dan barangsiapa yang memperlihatkan (riyaa’) maka Allah akan memperlihatkan tentang dia” (HR Al-Bukhari no 6499)Al-Khotthobi berkata, “Maknanya adalah barang siapa yang mengamalkan sebuah amalan tanpa ikhlas, akan tetapi karena ingin dilihat oleh masyarakat dan disebut-sebut oleh mereka maka ia akan dibalas atas perbuatannya tersebut, yaitu Allah akan membongkarnya dan menampakan apa yang dulu disembunyikannya” (Fathul Baari 11/344-345)Al-Mubaarokfuuri berkata, “Barangsiapa yang menjadikan dirinya tersohor dengan kabaikan atau yang lainnya karena kesombongan atau karena riyaa’ maka Allah akan mensohorkannya pada hari kiamat kelak dihadapan khalayak manusia di padang mahsyar dengan membongkar bahwasanya ia adalah orang yang riyaa’ pendusta. Allah mengabarkan kepada manusia riyaa’nya dan sum’ahnya, maka terbongkarlah aibnya di hadapan manusia” (Tuhfatul Ahwazi 4/186).Diantara makna hadits ini sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar adalah :–         Barangsiapa yang mengesankan bahwasanya ia telah melakukan suatu amal sholeh padahal ia tidak melakukannya maka Allah akan membongkar kebohongannya tersebut (lihat Fathul Baari 11/337)–         Barangsiapa yang beramal dengan mengesankan kepada masyarakat bahwasanya ia adalah orang yang ikhlas namun ternyata beramal karena riyaa’, maka pada hari kiamat kelak Allah akan menunjukan pahala amalannya tersebut seakan-akan pahala amalan tersebut untuknya namun ternyata Allah menghalanginya dari pahala tersebut. (lihat Fathul Baari 11/337)Oleh karenanya para pembaca yang budiman, sebelum kita melakukan riyaa’ maka renungkanlah apakah kita siap untuk dipermalukan oleh Allah pada hari kiamat kelak??!. Kita menampakkan pada guru kita, pada murid-murid kita, pada sahabat-sahabat kita seakan-akan kita selalu beramal karena Allah, ternyata kita hanya menipu mereka, ternyata kita hanya mengharapkan pujian atau penghormatan mereka. Bagaimana jika Allah membongkar busuknya niat kita di hadapan mereka…, tentunya kita sangat dipermalukan. Wall’iyaadzu billah.Kedua : Setelah orang-orang yang riyaa’ dipermalukan oleh Allah di hadapan seluruh manusia di padang mahsyar lantas orang-orang yang riyaa’ itulah yang pertama kali diadzab oleh Allah.Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata: Aku mendengar Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ، رَجُلٌ اسْتَشْهَدَ فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَى اسْتَشْهَدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، لَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيْءٌ، فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ، وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا فَعَلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، لَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَّادٌ، فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ“Sesungguhnya manusia paling pertama yang akan dihisab urusannya pada hari kiamat adalah: Seorang lelaki yang mati syahid, lalu dia didatangkan lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmatNya (yang telah diberikan kepadanya-pen) maka diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat dengan nikat-nikmat tersebut?” dia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu berperang agar kamu dikatakan pemberani, dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka. Dan (orang kedua adalah) seseorang yang mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan dia membaca (menghafal)  Al-Qur`an. Maka dia didatangkan lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmatNya (yang telah diberikan kepadanya -pen) maka diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” dia menjawab, “Aku mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur`an karena-Mu.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu menuntut ilmu agar kamu dikatakan seorang alim dan kamu membaca Al-Qur`an agar dikatakan, “Dia adalah qari`,”  dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka. Dan (yang ketiga adalah) seseorang yang diberikan keluasan (harta) oleh Allah dan Dia memberikan kepadanya semua jenis harta. Maka dia didatangkan lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmatNya (yang telah diberikan kepadanya-pen) maka diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” dia menjawab, “Aku tidak menyisakan satu jalanpun yang Engkau senang kalau seseorang berinfak di situ kecuali aku berinfak di situ untuk-Mu.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu melakukan itu agar dikatakan, “Dia adalah orang yang dermawan,” dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka.” (HR. Muslim mo. 1905)Nasib orang yang riyaa’ di duniaPertama : Orang yang riyaa’ senantiasa di atas kegelisahan. Karena amal yang ia kerjakan dibangun di atas mencari pujian orang lain, maka ia akan selalu menderita, baik sebelum beramal, tatkala sedang beramal, maupun setelah beramal. Iapun juga selalu menderita baik dipuji apalagi jika tidak dipuji.Sebelum beramal ia akan gelisah memikirkan amal apa dan bagaimana bisa ia lakukan agar ia dipuji manusia, ia khawatir jika amalannya salah atau kurang baik maka ia akan dicela dan tidak dipuji serta tidak dihargai atau dihormati orang lain.Tatakala beramalpun demikian, perasaan tersebut masih terus menyertai hatinya. Apalagi setelah beramal, maka gelisahpun semakin menjadi-jadi menanti pujian yang diharap-harapkan.Jika ternyata pujian yang diharapkan tak kunjung tiba maka hatinya sangat kesal… seakan-akan tersayat-sayat… ungkapan penyesalanpun bertumpuk di hatinya.. seraya berkata, “Percuma saya memberi sedekah kepadanya, ia adalah orang yang tidak tahu berterima kasih…”, “percuma saya menolong si fulan, ia tidak menghargai pertolonganku..”. “Percuma saya berhaji dengan mengeluarkan uang puluhan juta, toh masyarakat tidak menghormatiku dan tidak memanggilku dengan gelaran pak haji…”. “Percuma saya memberi ceramah-ceramah agama kepada mereka, toh mereka kurang menghormati saya…”Jika akhirnya pujian dan sanjungan yang ditungu-tunggu itupun tiba ternyata … terkadang pujian tersebut tidak seperti yang ia harapkan. Ia ingin agar sanjungan dan penghormatan yang ia raih lebih daripada apa yang ia dengar. Maka menderitalah hatinya.Jika pujian yang ia nanti-nantikan ternyata sesuai dengan yang ia harapkan maka iapun bahagia sekali…kepalanyapun membesar… hatinya berbinar-binar…, akan tetapi ketahuilah para pembaca yang dirahmati Allah… kebahagiaan tersebut hanyalah semu.. karena sebentar lagi ia akan kembali menderita karena hatinya bergejolak ingin pujian tersebut langgeng dan abadi… namun kenyataannya terkadang pujian tersebut hanya sebentar saja.. lalu sirna. Hatinya kembali gelisah… kapan ia dipuji lagi seperti pujian tersebut…??!!.Kedua : Orang yang riyaa’ memang terkadang meraih pujian dan sanjungan yang ia harapkan dari masyarakat. Jadilah ia tersohor dan dikenal harum namanya oleh masyarakat. Hal ini sebagaimana yang ditunjukan oleh haditsمَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ“Barangsiapa yang memperdengarkan maka Allah akan memperdengarkan tentangnya, dan barangsiapa yang memperlihatkan (riyaa’) maka Allah akan memperlihatkan tentang dia” (HR Al-Bukhari no 6499)Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan bahwasanya di antara tafsiran dari hadits ini adalah bahwasanya makna dari ((Allah memperdengarkan tentangnya)) adalah barangsiapa yang beramal dengan maksud untuk meraih kedudukan dan kehormatan di masyarakat dan bukan karena mengharap wajah Allah maka Allah akan menjadikan dia bahan pembicaraan di antara orang-orang yang ia ingin dihormati oleh mereka. Akan tetapi ia tidak akan mendapatkan pahala di akhirat. (lihat Fathul Baari 11/336-337)Dan hal ini sesuai dengan firman Allahمَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ (١٥)أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١٦)Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (QS Huud : 15-16).Oleh karenanya bukanlah hal yang mengherankan kalau seseorang yang riyaa’ dipuji-puji dan dielu-elukan oleh masyarakat. Karena itulah memang yang ia inginkan dan Allah mengabulkan keinginannya tersebut tanpa mengurangi sama sekali. Hal ini juga ditunjukkan oleh hadits yang telah lalu tentang tiga orang yang pertama kali diadzab di akhirat kelak, di mana keinginan mereka untuk dikenal sebagai pahlawan pemberani, dikenal sebagai seorang yang alim, dan dikenal sebagai dermawan dikabulkan oleh Allah.Akan tetapi para pembaca yang budiman, apakah pujian dan sanjungan ini akan lenggeng dan kekal…??? Tentunya tidak, Allah terkadang membongkar aibnya dan kedustaannya tersebut di dunia sebelum di akhirat.Ibnu Hajr rahimahullah menyebutkan bahwa di antara makna hadits ((Allah memperdengarkan tentangnya)) adalah barangsiapa yang beramal sholeh karena ingin disebut-sebut maka Allah akan membuat ia tersohor di antara orang-orang yang ia harapkan pujian mereka akan tetapi tersohor dengan celaan, dikarenakan busuknya niatnya. (lihat Fathul Baari 11/337).Hal ini dikuatkan dengan sebuah hadits berikut ini :عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْتَقَى هُوَ وَالْمُشْرِكُونَ فَاقْتَتَلُوا فَلَمَّا مَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى عَسْكَرِهِ وَمَالَ الْآخَرُونَ إِلَى عَسْكَرِهِمْ وَفِي أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ لَا يَدَعُ لَهُمْ شَاذَّةً وَلَا فَاذَّةً إِلَّا اتَّبَعَهَا يَضْرِبُهَا بِسَيْفِهِ فَقَالَ مَا أَجْزَأَ مِنَّا الْيَوْمَ أَحَدٌ كَمَا أَجْزَأَ فُلَانٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ أَنَا صَاحِبُهُ قَالَ فَخَرَجَ مَعَهُ كُلَّمَا وَقَفَ وَقَفَ مَعَهُ وَإِذَا أَسْرَعَ أَسْرَعَ مَعَهُ قَالَ فَجُرِحَ الرَّجُلُ جُرْحًا شَدِيدًا فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ بِالْأَرْضِ وَذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَى سَيْفِهِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَخَرَجَ الرَّجُلُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ وَمَا ذَاكَ قَالَ الرَّجُلُ الَّذِي ذَكَرْتَ آنِفًا أَنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَأَعْظَمَ النَّاسُ ذَلِكَ فَقُلْتُ أَنَا لَكُمْ بِهِ فَخَرَجْتُ فِي طَلَبِهِ ثُمَّ جُرِحَ جُرْحًا شَدِيدًا فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ فِي الْأَرْضِ وَذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَيْهِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِDari sahabat Sahl bin Sa’ad  As-Saa’idi radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berperang melawan kaum musyrikin. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke pasukan perangnya dan kaum musyrikinpun telah kembali kepasukan perang mereka (untuk menanti perang selanjutnya-pen), dan diantara sahabat-sahabat Nabi (yang ikut berperang) ada seseorang yang tidak seorang musyrikpun yang menyendiri dari pasukan musyrikin atau terpisah dari kumpulan kaum musyrikin kecuali ia mengikutinya dan menikamnya dengan pedangnya, maka ada yang berkata, “Tidak ada diantara kita yang memuaskan kita pada perang hari ini sebagaimana yang dilakukan oleh si fulan”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Adapun si fulan maka termasuk penduduk api neraka”. Salah seorang berkata, “Saya akan menemani (membuntuti) si fulan tersebut”. Maka iapun mengikuti si fulan tersebut, jika si fulan berhenti maka ia ikut berhenti, jika sifulan berjalan cepat, iapun berjalan cepat. Maka si fulan ini (setelah berperang-pen) terluka parah, maka iapun segera membunuh dirinya. Ia meletakkan pedangnya di tanah kemudian mata pedangnya ia letakkan di dadanya, lalu pun menindihkan dadanya ke pedang tersebut maka iapun membunuh dirinya. Orang yang membuntutinya segera menuju ke Rasulullah dan berkata, “Aku bersaksi bahwasanya engkau adalah utusan Allah”. Rasulullah berkata, “Ada apa?”. Ia berkata, “Orang yang tadi engkau sebutkan bahwasanya ia masuk neraka !!, lantas orang-orangpun merasa heran, lalu aku berkata biarlah aku yang akan mengeceknya. Maka akupun keluar mengikutinya, lalu iapun terluka sangat parah lantas iapun meletakkan pedangnya diatanah dan meletakkan mata pedangnya di dadanya lalu iapun menindihkan dadanya ke mata pedang tersebut, dan iapun membunuh dirinya”.Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Sesungguhnya seseorang sungguh-sungguh melakukan amalan penghuni surga menurut apa yang nampak bagi manusia padahal ia termasuk penghuni neraka, dan seseorang melakukan amalan penghuni neraka menurut apa yang nampak bagi manusia padahal ia termasuk penduduk surga” (HR Al-Bukhari no 2898 dan Muslim no 179)Maka Sungguh benar perkataan Hammad bin Salamah :مَنْ طَلَبَ الْحَدِيْثَ لِغَيْرِ اللهِ مُكِرَ بِهِ“Barangsiapa yang mencari hadits bukan kerana Allah maka akan dibuat makar kepadanya” (Al-Jaami’ li Akhlaaq Ar-Roowi wa Aaadaabus Saami’ 1/126 no 20)Kita dapati adanya orang-orang yang tersohor dengan ilmunya, jadilah ia pemimpin para dai, namun ternyata pada akhirnya iapun ditinggalkan oleh para pengikutnya…. Semua ini karena buruknya niat yang tersembunyi.Hakikat orang yang kita harapkan pujiannyaTahukah kita siapa hakikat orang yang kita harapkan pujiannya tatkala kita beribadah?, tatkala kita sholat dengan menghinakan jidat kita di tanah?, tatkala kita menuntut ilmu dengan susah payah?, tatkala cape untuk berdakwah??!!Saya mengajak para pembaca sekalian merenungkan hakikat orang yang kita harapkan pujiannya tersebut…Pertama : Manusia yang berada di hadapan kita, yang kita harapkan pujiannya adalah makhluk yang tidak bisa memberi manfaat dan mudhorot kedua : Lihatlah manusia yang …kita harapkan pujiannya, ternyata merupakan makhluk yang sangat lemah, coba lihat dan ingat tatkala ia sedang sakit dan terbaring di rumah sakit, maka perihalnya seperti anak kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa. Makhluk yang seperti ini maka buat apa kita mengharapkan pujiannya??Ketiga : Jika manusia yang kita harapkan pujiannya itu meninggal dan tidak dikubur tentunya akan menimbulkan bau yang sangat busuk dan mengganggu. Bahkan bau busuknya bisa mengganggu warga sekampung, bahkan busuknya mayatnya bisa menimbulkan beraneka ragam penyakit. Jika perkaranya demikian, maka apakah pantas kita mengharapkan pujian dari makhluk yang seperti ini??!!Keempat : Bisa jadi kita lebih baik daripada makhluk yang kita harapkan pujiannya tersebut, kalau begitu buat apa mengharap pujian dari orang yang lebih rendah dari kita..??Kelima : Makhluk yang kita harapkan pujiannya ini memang memuji kita dengan pujian yang indah, tapi coba kalau dia bermasalah dengan kita, tentunya akan memaki kita juga dengan makian yang lebih indah juga.Keenam : Orang yang riyaa’ pada hari kiamat disuruh mencari pahala dari orang-orang yang dia dahulu mengharapkan pujian dan penghormatan dari mereka tatkala di dunia.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :إِنَّ أَّخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَُرُ، قَالُوْا : وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ؟ قَالَ : الرِّيَاءُ، يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِأَصْحَابِ ذَلكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إذَا جَازَى النَّاسَ : اِذْهَبُوْا إِلَى الَّذِيْنَ كُنْتُمْ تُرَاءُوْنَ فِي الدُّنْيَا، فَانْظُرُوْا هَلْ تَجِدُوْنَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً ؟!“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil”. Mereka berkata, “Apakah itu syirik kecil?”. Nabi berkata, “Riyaa’, pada hari kiamat tatkala Allah membalas perbuatan manusia maka Allah berkata kepada orang-orang yang riyaa’ : “Pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu di dunia kalian riyaa kepada mereka, maka lihatlah apakah kalian akan mendapatkan balasan amalan (riyaa) kalian di sisi mereka??!” (Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam ash-Shahihah no 951).Para pembaca yang budiman apakah orang-orang yang kita harapkan pujian mereka akan bisa membantu kita sedikitpun di akhirat kelak?, apakah mereka bisa memberikan sedikitpun ganjaran amal sholeh kita?. Jawabannya tentu tidak.Ketujuh : Meskipun kita dipuji setinggi langit akan tetapi kita yang lebih tahu tentang hakikat diri kita yang penuh dengan dosa. jika seandainya satu dosa kita saja dibongkar oleh Allah maka seluruh orang yang tadinya memuji kita tentu akan berbalik mencela kita….wallahu a’lamHakikat kita yang dipujiSesungguhnya pujian dan sanjungan orang lain kepada kita tidaklah akan merubah hakikat kita di hadapan Allah Yang maha Mengetahui apa yang nampak dan tersembunyi. Orang lain boleh terpedaya dengan penampilan kita… dengan indahnya perkataan kita… dengan ta’jubnya tulisan-tulisan kita… akan tetapi kitalah yang lebih tahu tentang hakikat diri kita yang penuh dosa.Sungguh indah perkataan Muhammad bin waasi’ rahimahullah :لَوْ كَانَ لِلذُّنُوْبِ رِيْحٌ مَا جَلَسَ إِلَيَّ أَحَدٌ“Jika seandainya dosa-dosa itu mengeluarkan bau maka tidak seorangpun yang akan duduk denganku” (Siyaar A’laam An-Nubalaa’ 6/120)Jika setiap dosa yang kita lakukan memiliki bau busuk yang khas tentunya akan keluar beraneka ragam bau yang busuk dari tubuh kita. Maka semua orang akan lari dari kita.Jika seandainya Allah membongkar satu saja aib kita yang selama ini kita sembunyikan tentunya semua orang yang tadinya memuji dan menghormati serta menyanjung kita akan berbalik mencela dan merendahkan. Wallahul musta’aan.Sebagai renungan maka silahkan membaca kembali artikel ini (https://www.firanda.com/index.php/artikel/wejangan/27-wasiat-ibnu-masud-1-qkalau-kalian-mengetahui-dosa-dosaku-maka-tidak-akan-ada-dua-orang-yang-berjalan-di-belakangkuq-) dan juga artikel (https://www.firanda.com/index.php/artikel/34-penyakit-hati/105-kenapa-mesti-ujub)Akhirnya… selamat berjuang dan berjihad melawan riyaa… sungguh jihad yang sangat sulit.., sungguh jihad yang tiada hentinya… hingga nafas yang terakhir.Madinah Munawwarah, 10 Safar 1432 / 14 Januari 2011Firanda Andirjawww.firanda.com


Berkata As-Suusi rahimahullah:الإِخْلاَصُ فَقْدُ رُؤْيَةِ الإِخْلاَصِ، فَإِنَّ مَنْ شَاهَدَ فِي إخْلاَصِهِ الإِخْلاَصَ فَقَدْ احْتَاجَ إِخْلاَصُهُ إِلَى إِخْلاَصٍ“Ikhlas adalah hilangnya perasaan memandang bahwa diri sudah ikhlash, karena barang siapa yang melihat tatkala dia sudah ikhlash bahwasanya ia adalah seorang yang ikhlash maka keikhlasannya tersebut butuh pada keikhlasan” (Tazkiyatun Nufuus 4)Yusuf bin Al-Husain Ar-Roozi rahimahullah berkata :أَعَزُّ شَيْءٍ في الدُّنْيَا الإخْلاَصُ، وَكَمْ أَجْتَهِدُ فِي إِسْقَاط الرِّيَاءِ عَنْ قَلْبِي وَكَأَنَّهُ يَنْبُتُ فِيْهِ عَلَى لَوْنٍ آخَرَ“Perkara yang paling berat di dunia adalah ikhlas, betapa sering aku berijtihad (bersungguh-sungguh) untuk menghilangkan riyaa’ dari hatiku akan tetapi seakan-akan riyaa’ tersebut kembali muncul lagi dalam bentuk yang lain” (Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam 42)Untuk berjihad melawan riyaa’ maka dibangun diatas ilmu dan usaha. Adapun ilmu maka ada empat hal yang harus kita renungkan atau kita pikirkan, yaitu :Pertama : Akibat buruk bagi seorang yang riyaa di akhiratKedua : Akibat buruk bagi orang yang riyaa’ di duniaKetiga : Merenungkan hakekat oang yang kita harapkan pujiannya.Keempat : Merenungkan hakekat diri kita Kesudahan orang yang riyaa’ di akhirat:Pertama : Barang siapa yang riyaa’ dan sum’ah di dunia maka di akhirat kelak ia akan dipermalukan oleh Allah di hadapan khalayak ramai.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ“Barangsiapa yang memperdengarkan maka Allah akan memperdengarkan tentangnya, dan barangsiapa yang memperlihatkan (riyaa’) maka Allah akan memperlihatkan tentang dia” (HR Al-Bukhari no 6499)Al-Khotthobi berkata, “Maknanya adalah barang siapa yang mengamalkan sebuah amalan tanpa ikhlas, akan tetapi karena ingin dilihat oleh masyarakat dan disebut-sebut oleh mereka maka ia akan dibalas atas perbuatannya tersebut, yaitu Allah akan membongkarnya dan menampakan apa yang dulu disembunyikannya” (Fathul Baari 11/344-345)Al-Mubaarokfuuri berkata, “Barangsiapa yang menjadikan dirinya tersohor dengan kabaikan atau yang lainnya karena kesombongan atau karena riyaa’ maka Allah akan mensohorkannya pada hari kiamat kelak dihadapan khalayak manusia di padang mahsyar dengan membongkar bahwasanya ia adalah orang yang riyaa’ pendusta. Allah mengabarkan kepada manusia riyaa’nya dan sum’ahnya, maka terbongkarlah aibnya di hadapan manusia” (Tuhfatul Ahwazi 4/186).Diantara makna hadits ini sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar adalah :–         Barangsiapa yang mengesankan bahwasanya ia telah melakukan suatu amal sholeh padahal ia tidak melakukannya maka Allah akan membongkar kebohongannya tersebut (lihat Fathul Baari 11/337)–         Barangsiapa yang beramal dengan mengesankan kepada masyarakat bahwasanya ia adalah orang yang ikhlas namun ternyata beramal karena riyaa’, maka pada hari kiamat kelak Allah akan menunjukan pahala amalannya tersebut seakan-akan pahala amalan tersebut untuknya namun ternyata Allah menghalanginya dari pahala tersebut. (lihat Fathul Baari 11/337)Oleh karenanya para pembaca yang budiman, sebelum kita melakukan riyaa’ maka renungkanlah apakah kita siap untuk dipermalukan oleh Allah pada hari kiamat kelak??!. Kita menampakkan pada guru kita, pada murid-murid kita, pada sahabat-sahabat kita seakan-akan kita selalu beramal karena Allah, ternyata kita hanya menipu mereka, ternyata kita hanya mengharapkan pujian atau penghormatan mereka. Bagaimana jika Allah membongkar busuknya niat kita di hadapan mereka…, tentunya kita sangat dipermalukan. Wall’iyaadzu billah.Kedua : Setelah orang-orang yang riyaa’ dipermalukan oleh Allah di hadapan seluruh manusia di padang mahsyar lantas orang-orang yang riyaa’ itulah yang pertama kali diadzab oleh Allah.Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata: Aku mendengar Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ، رَجُلٌ اسْتَشْهَدَ فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَى اسْتَشْهَدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، لَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيْءٌ، فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ، وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا فَعَلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، لَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَّادٌ، فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ“Sesungguhnya manusia paling pertama yang akan dihisab urusannya pada hari kiamat adalah: Seorang lelaki yang mati syahid, lalu dia didatangkan lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmatNya (yang telah diberikan kepadanya-pen) maka diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat dengan nikat-nikmat tersebut?” dia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu berperang agar kamu dikatakan pemberani, dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka. Dan (orang kedua adalah) seseorang yang mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan dia membaca (menghafal)  Al-Qur`an. Maka dia didatangkan lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmatNya (yang telah diberikan kepadanya -pen) maka diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” dia menjawab, “Aku mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur`an karena-Mu.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu menuntut ilmu agar kamu dikatakan seorang alim dan kamu membaca Al-Qur`an agar dikatakan, “Dia adalah qari`,”  dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka. Dan (yang ketiga adalah) seseorang yang diberikan keluasan (harta) oleh Allah dan Dia memberikan kepadanya semua jenis harta. Maka dia didatangkan lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmatNya (yang telah diberikan kepadanya-pen) maka diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” dia menjawab, “Aku tidak menyisakan satu jalanpun yang Engkau senang kalau seseorang berinfak di situ kecuali aku berinfak di situ untuk-Mu.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu melakukan itu agar dikatakan, “Dia adalah orang yang dermawan,” dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka.” (HR. Muslim mo. 1905)Nasib orang yang riyaa’ di duniaPertama : Orang yang riyaa’ senantiasa di atas kegelisahan. Karena amal yang ia kerjakan dibangun di atas mencari pujian orang lain, maka ia akan selalu menderita, baik sebelum beramal, tatkala sedang beramal, maupun setelah beramal. Iapun juga selalu menderita baik dipuji apalagi jika tidak dipuji.Sebelum beramal ia akan gelisah memikirkan amal apa dan bagaimana bisa ia lakukan agar ia dipuji manusia, ia khawatir jika amalannya salah atau kurang baik maka ia akan dicela dan tidak dipuji serta tidak dihargai atau dihormati orang lain.Tatakala beramalpun demikian, perasaan tersebut masih terus menyertai hatinya. Apalagi setelah beramal, maka gelisahpun semakin menjadi-jadi menanti pujian yang diharap-harapkan.Jika ternyata pujian yang diharapkan tak kunjung tiba maka hatinya sangat kesal… seakan-akan tersayat-sayat… ungkapan penyesalanpun bertumpuk di hatinya.. seraya berkata, “Percuma saya memberi sedekah kepadanya, ia adalah orang yang tidak tahu berterima kasih…”, “percuma saya menolong si fulan, ia tidak menghargai pertolonganku..”. “Percuma saya berhaji dengan mengeluarkan uang puluhan juta, toh masyarakat tidak menghormatiku dan tidak memanggilku dengan gelaran pak haji…”. “Percuma saya memberi ceramah-ceramah agama kepada mereka, toh mereka kurang menghormati saya…”Jika akhirnya pujian dan sanjungan yang ditungu-tunggu itupun tiba ternyata … terkadang pujian tersebut tidak seperti yang ia harapkan. Ia ingin agar sanjungan dan penghormatan yang ia raih lebih daripada apa yang ia dengar. Maka menderitalah hatinya.Jika pujian yang ia nanti-nantikan ternyata sesuai dengan yang ia harapkan maka iapun bahagia sekali…kepalanyapun membesar… hatinya berbinar-binar…, akan tetapi ketahuilah para pembaca yang dirahmati Allah… kebahagiaan tersebut hanyalah semu.. karena sebentar lagi ia akan kembali menderita karena hatinya bergejolak ingin pujian tersebut langgeng dan abadi… namun kenyataannya terkadang pujian tersebut hanya sebentar saja.. lalu sirna. Hatinya kembali gelisah… kapan ia dipuji lagi seperti pujian tersebut…??!!.Kedua : Orang yang riyaa’ memang terkadang meraih pujian dan sanjungan yang ia harapkan dari masyarakat. Jadilah ia tersohor dan dikenal harum namanya oleh masyarakat. Hal ini sebagaimana yang ditunjukan oleh haditsمَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ“Barangsiapa yang memperdengarkan maka Allah akan memperdengarkan tentangnya, dan barangsiapa yang memperlihatkan (riyaa’) maka Allah akan memperlihatkan tentang dia” (HR Al-Bukhari no 6499)Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan bahwasanya di antara tafsiran dari hadits ini adalah bahwasanya makna dari ((Allah memperdengarkan tentangnya)) adalah barangsiapa yang beramal dengan maksud untuk meraih kedudukan dan kehormatan di masyarakat dan bukan karena mengharap wajah Allah maka Allah akan menjadikan dia bahan pembicaraan di antara orang-orang yang ia ingin dihormati oleh mereka. Akan tetapi ia tidak akan mendapatkan pahala di akhirat. (lihat Fathul Baari 11/336-337)Dan hal ini sesuai dengan firman Allahمَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ (١٥)أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١٦)Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (QS Huud : 15-16).Oleh karenanya bukanlah hal yang mengherankan kalau seseorang yang riyaa’ dipuji-puji dan dielu-elukan oleh masyarakat. Karena itulah memang yang ia inginkan dan Allah mengabulkan keinginannya tersebut tanpa mengurangi sama sekali. Hal ini juga ditunjukkan oleh hadits yang telah lalu tentang tiga orang yang pertama kali diadzab di akhirat kelak, di mana keinginan mereka untuk dikenal sebagai pahlawan pemberani, dikenal sebagai seorang yang alim, dan dikenal sebagai dermawan dikabulkan oleh Allah.Akan tetapi para pembaca yang budiman, apakah pujian dan sanjungan ini akan lenggeng dan kekal…??? Tentunya tidak, Allah terkadang membongkar aibnya dan kedustaannya tersebut di dunia sebelum di akhirat.Ibnu Hajr rahimahullah menyebutkan bahwa di antara makna hadits ((Allah memperdengarkan tentangnya)) adalah barangsiapa yang beramal sholeh karena ingin disebut-sebut maka Allah akan membuat ia tersohor di antara orang-orang yang ia harapkan pujian mereka akan tetapi tersohor dengan celaan, dikarenakan busuknya niatnya. (lihat Fathul Baari 11/337).Hal ini dikuatkan dengan sebuah hadits berikut ini :عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْتَقَى هُوَ وَالْمُشْرِكُونَ فَاقْتَتَلُوا فَلَمَّا مَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى عَسْكَرِهِ وَمَالَ الْآخَرُونَ إِلَى عَسْكَرِهِمْ وَفِي أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ لَا يَدَعُ لَهُمْ شَاذَّةً وَلَا فَاذَّةً إِلَّا اتَّبَعَهَا يَضْرِبُهَا بِسَيْفِهِ فَقَالَ مَا أَجْزَأَ مِنَّا الْيَوْمَ أَحَدٌ كَمَا أَجْزَأَ فُلَانٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ أَنَا صَاحِبُهُ قَالَ فَخَرَجَ مَعَهُ كُلَّمَا وَقَفَ وَقَفَ مَعَهُ وَإِذَا أَسْرَعَ أَسْرَعَ مَعَهُ قَالَ فَجُرِحَ الرَّجُلُ جُرْحًا شَدِيدًا فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ بِالْأَرْضِ وَذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَى سَيْفِهِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَخَرَجَ الرَّجُلُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ وَمَا ذَاكَ قَالَ الرَّجُلُ الَّذِي ذَكَرْتَ آنِفًا أَنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَأَعْظَمَ النَّاسُ ذَلِكَ فَقُلْتُ أَنَا لَكُمْ بِهِ فَخَرَجْتُ فِي طَلَبِهِ ثُمَّ جُرِحَ جُرْحًا شَدِيدًا فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ فِي الْأَرْضِ وَذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَيْهِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِDari sahabat Sahl bin Sa’ad  As-Saa’idi radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berperang melawan kaum musyrikin. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke pasukan perangnya dan kaum musyrikinpun telah kembali kepasukan perang mereka (untuk menanti perang selanjutnya-pen), dan diantara sahabat-sahabat Nabi (yang ikut berperang) ada seseorang yang tidak seorang musyrikpun yang menyendiri dari pasukan musyrikin atau terpisah dari kumpulan kaum musyrikin kecuali ia mengikutinya dan menikamnya dengan pedangnya, maka ada yang berkata, “Tidak ada diantara kita yang memuaskan kita pada perang hari ini sebagaimana yang dilakukan oleh si fulan”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Adapun si fulan maka termasuk penduduk api neraka”. Salah seorang berkata, “Saya akan menemani (membuntuti) si fulan tersebut”. Maka iapun mengikuti si fulan tersebut, jika si fulan berhenti maka ia ikut berhenti, jika sifulan berjalan cepat, iapun berjalan cepat. Maka si fulan ini (setelah berperang-pen) terluka parah, maka iapun segera membunuh dirinya. Ia meletakkan pedangnya di tanah kemudian mata pedangnya ia letakkan di dadanya, lalu pun menindihkan dadanya ke pedang tersebut maka iapun membunuh dirinya. Orang yang membuntutinya segera menuju ke Rasulullah dan berkata, “Aku bersaksi bahwasanya engkau adalah utusan Allah”. Rasulullah berkata, “Ada apa?”. Ia berkata, “Orang yang tadi engkau sebutkan bahwasanya ia masuk neraka !!, lantas orang-orangpun merasa heran, lalu aku berkata biarlah aku yang akan mengeceknya. Maka akupun keluar mengikutinya, lalu iapun terluka sangat parah lantas iapun meletakkan pedangnya diatanah dan meletakkan mata pedangnya di dadanya lalu iapun menindihkan dadanya ke mata pedang tersebut, dan iapun membunuh dirinya”.Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Sesungguhnya seseorang sungguh-sungguh melakukan amalan penghuni surga menurut apa yang nampak bagi manusia padahal ia termasuk penghuni neraka, dan seseorang melakukan amalan penghuni neraka menurut apa yang nampak bagi manusia padahal ia termasuk penduduk surga” (HR Al-Bukhari no 2898 dan Muslim no 179)Maka Sungguh benar perkataan Hammad bin Salamah :مَنْ طَلَبَ الْحَدِيْثَ لِغَيْرِ اللهِ مُكِرَ بِهِ“Barangsiapa yang mencari hadits bukan kerana Allah maka akan dibuat makar kepadanya” (Al-Jaami’ li Akhlaaq Ar-Roowi wa Aaadaabus Saami’ 1/126 no 20)Kita dapati adanya orang-orang yang tersohor dengan ilmunya, jadilah ia pemimpin para dai, namun ternyata pada akhirnya iapun ditinggalkan oleh para pengikutnya…. Semua ini karena buruknya niat yang tersembunyi.Hakikat orang yang kita harapkan pujiannyaTahukah kita siapa hakikat orang yang kita harapkan pujiannya tatkala kita beribadah?, tatkala kita sholat dengan menghinakan jidat kita di tanah?, tatkala kita menuntut ilmu dengan susah payah?, tatkala cape untuk berdakwah??!!Saya mengajak para pembaca sekalian merenungkan hakikat orang yang kita harapkan pujiannya tersebut…Pertama : Manusia yang berada di hadapan kita, yang kita harapkan pujiannya adalah makhluk yang tidak bisa memberi manfaat dan mudhorot kedua : Lihatlah manusia yang …kita harapkan pujiannya, ternyata merupakan makhluk yang sangat lemah, coba lihat dan ingat tatkala ia sedang sakit dan terbaring di rumah sakit, maka perihalnya seperti anak kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa. Makhluk yang seperti ini maka buat apa kita mengharapkan pujiannya??Ketiga : Jika manusia yang kita harapkan pujiannya itu meninggal dan tidak dikubur tentunya akan menimbulkan bau yang sangat busuk dan mengganggu. Bahkan bau busuknya bisa mengganggu warga sekampung, bahkan busuknya mayatnya bisa menimbulkan beraneka ragam penyakit. Jika perkaranya demikian, maka apakah pantas kita mengharapkan pujian dari makhluk yang seperti ini??!!Keempat : Bisa jadi kita lebih baik daripada makhluk yang kita harapkan pujiannya tersebut, kalau begitu buat apa mengharap pujian dari orang yang lebih rendah dari kita..??Kelima : Makhluk yang kita harapkan pujiannya ini memang memuji kita dengan pujian yang indah, tapi coba kalau dia bermasalah dengan kita, tentunya akan memaki kita juga dengan makian yang lebih indah juga.Keenam : Orang yang riyaa’ pada hari kiamat disuruh mencari pahala dari orang-orang yang dia dahulu mengharapkan pujian dan penghormatan dari mereka tatkala di dunia.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :إِنَّ أَّخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَُرُ، قَالُوْا : وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ؟ قَالَ : الرِّيَاءُ، يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِأَصْحَابِ ذَلكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إذَا جَازَى النَّاسَ : اِذْهَبُوْا إِلَى الَّذِيْنَ كُنْتُمْ تُرَاءُوْنَ فِي الدُّنْيَا، فَانْظُرُوْا هَلْ تَجِدُوْنَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً ؟!“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil”. Mereka berkata, “Apakah itu syirik kecil?”. Nabi berkata, “Riyaa’, pada hari kiamat tatkala Allah membalas perbuatan manusia maka Allah berkata kepada orang-orang yang riyaa’ : “Pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu di dunia kalian riyaa kepada mereka, maka lihatlah apakah kalian akan mendapatkan balasan amalan (riyaa) kalian di sisi mereka??!” (Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam ash-Shahihah no 951).Para pembaca yang budiman apakah orang-orang yang kita harapkan pujian mereka akan bisa membantu kita sedikitpun di akhirat kelak?, apakah mereka bisa memberikan sedikitpun ganjaran amal sholeh kita?. Jawabannya tentu tidak.Ketujuh : Meskipun kita dipuji setinggi langit akan tetapi kita yang lebih tahu tentang hakikat diri kita yang penuh dengan dosa. jika seandainya satu dosa kita saja dibongkar oleh Allah maka seluruh orang yang tadinya memuji kita tentu akan berbalik mencela kita….wallahu a’lamHakikat kita yang dipujiSesungguhnya pujian dan sanjungan orang lain kepada kita tidaklah akan merubah hakikat kita di hadapan Allah Yang maha Mengetahui apa yang nampak dan tersembunyi. Orang lain boleh terpedaya dengan penampilan kita… dengan indahnya perkataan kita… dengan ta’jubnya tulisan-tulisan kita… akan tetapi kitalah yang lebih tahu tentang hakikat diri kita yang penuh dosa.Sungguh indah perkataan Muhammad bin waasi’ rahimahullah :لَوْ كَانَ لِلذُّنُوْبِ رِيْحٌ مَا جَلَسَ إِلَيَّ أَحَدٌ“Jika seandainya dosa-dosa itu mengeluarkan bau maka tidak seorangpun yang akan duduk denganku” (Siyaar A’laam An-Nubalaa’ 6/120)Jika setiap dosa yang kita lakukan memiliki bau busuk yang khas tentunya akan keluar beraneka ragam bau yang busuk dari tubuh kita. Maka semua orang akan lari dari kita.Jika seandainya Allah membongkar satu saja aib kita yang selama ini kita sembunyikan tentunya semua orang yang tadinya memuji dan menghormati serta menyanjung kita akan berbalik mencela dan merendahkan. Wallahul musta’aan.Sebagai renungan maka silahkan membaca kembali artikel ini (https://www.firanda.com/index.php/artikel/wejangan/27-wasiat-ibnu-masud-1-qkalau-kalian-mengetahui-dosa-dosaku-maka-tidak-akan-ada-dua-orang-yang-berjalan-di-belakangkuq-) dan juga artikel (https://www.firanda.com/index.php/artikel/34-penyakit-hati/105-kenapa-mesti-ujub)Akhirnya… selamat berjuang dan berjihad melawan riyaa… sungguh jihad yang sangat sulit.., sungguh jihad yang tiada hentinya… hingga nafas yang terakhir.Madinah Munawwarah, 10 Safar 1432 / 14 Januari 2011Firanda Andirjawww.firanda.com

Mengerjakan Shalat Tahiyatul Masjid Saat Adzan

Pertanyaan: Bolehkah mengerjakan shalat tahiyatul masjid di saat muadzin mengumandangkan adzan? Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah menjelaskan, Jika seseorang memasuki masjid dan muadzin sedang mengumandangkan adzan, maka ia punya pilihan. Ia boleh saja melaksanakan shalat tahiyatul masjid ketika dikumandangkan adzan atau ia boleh pula menjawab adzan terlebih dahulu. Namun yang afdhol adalah menjawab adzan kemudian ia shalat. Hal ini dilakukan supaya ia bisa mengerjakan dua ibadah (yaitu menjawab adzan terlebih dahulu, baru melakukan shalat sunnah tahiyyatul masjid, pen) dan ini berarti ia mengumpulkan dua pahala sekaligus. Sumber: http://www.ibnbaz.org.sa/mat/8788 Moga mendapat ilmu bermanfaat. Alhamdulillah …   Riyadh-KSA, 11 Shafar 1432 H, 15/01/2011 www.rumaysho.com Baca Juga: Doa antara Adzan dan Iqomah, Doa yang Mustajab Apakah Perlu Menjawab Adzan di TV/ Radio? Tagsazan shalat tahiyatul masjid

Mengerjakan Shalat Tahiyatul Masjid Saat Adzan

Pertanyaan: Bolehkah mengerjakan shalat tahiyatul masjid di saat muadzin mengumandangkan adzan? Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah menjelaskan, Jika seseorang memasuki masjid dan muadzin sedang mengumandangkan adzan, maka ia punya pilihan. Ia boleh saja melaksanakan shalat tahiyatul masjid ketika dikumandangkan adzan atau ia boleh pula menjawab adzan terlebih dahulu. Namun yang afdhol adalah menjawab adzan kemudian ia shalat. Hal ini dilakukan supaya ia bisa mengerjakan dua ibadah (yaitu menjawab adzan terlebih dahulu, baru melakukan shalat sunnah tahiyyatul masjid, pen) dan ini berarti ia mengumpulkan dua pahala sekaligus. Sumber: http://www.ibnbaz.org.sa/mat/8788 Moga mendapat ilmu bermanfaat. Alhamdulillah …   Riyadh-KSA, 11 Shafar 1432 H, 15/01/2011 www.rumaysho.com Baca Juga: Doa antara Adzan dan Iqomah, Doa yang Mustajab Apakah Perlu Menjawab Adzan di TV/ Radio? Tagsazan shalat tahiyatul masjid
Pertanyaan: Bolehkah mengerjakan shalat tahiyatul masjid di saat muadzin mengumandangkan adzan? Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah menjelaskan, Jika seseorang memasuki masjid dan muadzin sedang mengumandangkan adzan, maka ia punya pilihan. Ia boleh saja melaksanakan shalat tahiyatul masjid ketika dikumandangkan adzan atau ia boleh pula menjawab adzan terlebih dahulu. Namun yang afdhol adalah menjawab adzan kemudian ia shalat. Hal ini dilakukan supaya ia bisa mengerjakan dua ibadah (yaitu menjawab adzan terlebih dahulu, baru melakukan shalat sunnah tahiyyatul masjid, pen) dan ini berarti ia mengumpulkan dua pahala sekaligus. Sumber: http://www.ibnbaz.org.sa/mat/8788 Moga mendapat ilmu bermanfaat. Alhamdulillah …   Riyadh-KSA, 11 Shafar 1432 H, 15/01/2011 www.rumaysho.com Baca Juga: Doa antara Adzan dan Iqomah, Doa yang Mustajab Apakah Perlu Menjawab Adzan di TV/ Radio? Tagsazan shalat tahiyatul masjid


Pertanyaan: Bolehkah mengerjakan shalat tahiyatul masjid di saat muadzin mengumandangkan adzan? Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah menjelaskan, Jika seseorang memasuki masjid dan muadzin sedang mengumandangkan adzan, maka ia punya pilihan. Ia boleh saja melaksanakan shalat tahiyatul masjid ketika dikumandangkan adzan atau ia boleh pula menjawab adzan terlebih dahulu. Namun yang afdhol adalah menjawab adzan kemudian ia shalat. Hal ini dilakukan supaya ia bisa mengerjakan dua ibadah (yaitu menjawab adzan terlebih dahulu, baru melakukan shalat sunnah tahiyyatul masjid, pen) dan ini berarti ia mengumpulkan dua pahala sekaligus. Sumber: http://www.ibnbaz.org.sa/mat/8788 Moga mendapat ilmu bermanfaat. Alhamdulillah …   Riyadh-KSA, 11 Shafar 1432 H, 15/01/2011 www.rumaysho.com Baca Juga: Doa antara Adzan dan Iqomah, Doa yang Mustajab Apakah Perlu Menjawab Adzan di TV/ Radio? Tagsazan shalat tahiyatul masjid

Hukum Do’a Secara Berjama’ah Setelah Shalat

Dzikir berjama’ah setelah shalat lima waktu, bagaimana hukum hal ini? Amalan semacam ini seringkali kita saksikan di beberapa masjid di daerah kita. Berikut keterangan bermanfaat dari Syaikhul Islam Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan, Adapun do’a imam bersama makmum setelah shalat lima waktu secara berjama’ah dengan mengeraskan suara atau boleh jadi suaranya tidak dikeraskan, maka ini bukanlah ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diperintahkan dan bukan ajaran yang dirutinkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah sama sekali melakukan seperti itu. Sebagian ulama dari kalangan Syafi’iyah dan Hambali memang menganjurkan yang demikian, namun itu hanya di waktu shalat Shubuh dan Ashar karena setelah itu tidak ada lagi shalat. [Al Majmu’atul ‘Aliyyah min Kutub wa Rosail wa Fatawa Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, Dar Ibnil Jauzi, hal. 134-135] *** Demikian keterangan singkat beliau. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.”[1] Imam Malik rahimahullah berkata, إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُخْطِىءُ وَأُصِيْبُ فَانْظُرُوا فِي قَوْلِي فَكُلُّ مَا وَافَقَ الكِتَابَ وَالسُّنَّةَ فَخُذُوْا بِهِ وَمَا لَمْ يُوَافِقْ االكِتَابَ وَالسُّنَّةّ فَاتْرُكُوْهُ “Sesungguhnya aku hanyalah manusia yang bisa keliru dan benar. Lihatlah setiap perkataanku, jika itu mencocoki Al Qur’an dan Hadits Nabawi, maka ambillah. Sedangkan jika itu tidak mencocoki Al Qur’an dan Hadits Nabawi, maka tinggalkanlah.[2] Wallahu waliyyut taufiq.   Riyadh-KSA, at night after ‘Isya, 9 Shafar 1432 H (13/01/2011) www.rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal [1] Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih [2] I’lamul Muwaqi’in, 1/75 Tagscara shalat

Hukum Do’a Secara Berjama’ah Setelah Shalat

Dzikir berjama’ah setelah shalat lima waktu, bagaimana hukum hal ini? Amalan semacam ini seringkali kita saksikan di beberapa masjid di daerah kita. Berikut keterangan bermanfaat dari Syaikhul Islam Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan, Adapun do’a imam bersama makmum setelah shalat lima waktu secara berjama’ah dengan mengeraskan suara atau boleh jadi suaranya tidak dikeraskan, maka ini bukanlah ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diperintahkan dan bukan ajaran yang dirutinkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah sama sekali melakukan seperti itu. Sebagian ulama dari kalangan Syafi’iyah dan Hambali memang menganjurkan yang demikian, namun itu hanya di waktu shalat Shubuh dan Ashar karena setelah itu tidak ada lagi shalat. [Al Majmu’atul ‘Aliyyah min Kutub wa Rosail wa Fatawa Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, Dar Ibnil Jauzi, hal. 134-135] *** Demikian keterangan singkat beliau. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.”[1] Imam Malik rahimahullah berkata, إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُخْطِىءُ وَأُصِيْبُ فَانْظُرُوا فِي قَوْلِي فَكُلُّ مَا وَافَقَ الكِتَابَ وَالسُّنَّةَ فَخُذُوْا بِهِ وَمَا لَمْ يُوَافِقْ االكِتَابَ وَالسُّنَّةّ فَاتْرُكُوْهُ “Sesungguhnya aku hanyalah manusia yang bisa keliru dan benar. Lihatlah setiap perkataanku, jika itu mencocoki Al Qur’an dan Hadits Nabawi, maka ambillah. Sedangkan jika itu tidak mencocoki Al Qur’an dan Hadits Nabawi, maka tinggalkanlah.[2] Wallahu waliyyut taufiq.   Riyadh-KSA, at night after ‘Isya, 9 Shafar 1432 H (13/01/2011) www.rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal [1] Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih [2] I’lamul Muwaqi’in, 1/75 Tagscara shalat
Dzikir berjama’ah setelah shalat lima waktu, bagaimana hukum hal ini? Amalan semacam ini seringkali kita saksikan di beberapa masjid di daerah kita. Berikut keterangan bermanfaat dari Syaikhul Islam Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan, Adapun do’a imam bersama makmum setelah shalat lima waktu secara berjama’ah dengan mengeraskan suara atau boleh jadi suaranya tidak dikeraskan, maka ini bukanlah ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diperintahkan dan bukan ajaran yang dirutinkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah sama sekali melakukan seperti itu. Sebagian ulama dari kalangan Syafi’iyah dan Hambali memang menganjurkan yang demikian, namun itu hanya di waktu shalat Shubuh dan Ashar karena setelah itu tidak ada lagi shalat. [Al Majmu’atul ‘Aliyyah min Kutub wa Rosail wa Fatawa Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, Dar Ibnil Jauzi, hal. 134-135] *** Demikian keterangan singkat beliau. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.”[1] Imam Malik rahimahullah berkata, إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُخْطِىءُ وَأُصِيْبُ فَانْظُرُوا فِي قَوْلِي فَكُلُّ مَا وَافَقَ الكِتَابَ وَالسُّنَّةَ فَخُذُوْا بِهِ وَمَا لَمْ يُوَافِقْ االكِتَابَ وَالسُّنَّةّ فَاتْرُكُوْهُ “Sesungguhnya aku hanyalah manusia yang bisa keliru dan benar. Lihatlah setiap perkataanku, jika itu mencocoki Al Qur’an dan Hadits Nabawi, maka ambillah. Sedangkan jika itu tidak mencocoki Al Qur’an dan Hadits Nabawi, maka tinggalkanlah.[2] Wallahu waliyyut taufiq.   Riyadh-KSA, at night after ‘Isya, 9 Shafar 1432 H (13/01/2011) www.rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal [1] Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih [2] I’lamul Muwaqi’in, 1/75 Tagscara shalat


Dzikir berjama’ah setelah shalat lima waktu, bagaimana hukum hal ini? Amalan semacam ini seringkali kita saksikan di beberapa masjid di daerah kita. Berikut keterangan bermanfaat dari Syaikhul Islam Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan, Adapun do’a imam bersama makmum setelah shalat lima waktu secara berjama’ah dengan mengeraskan suara atau boleh jadi suaranya tidak dikeraskan, maka ini bukanlah ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diperintahkan dan bukan ajaran yang dirutinkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah sama sekali melakukan seperti itu. Sebagian ulama dari kalangan Syafi’iyah dan Hambali memang menganjurkan yang demikian, namun itu hanya di waktu shalat Shubuh dan Ashar karena setelah itu tidak ada lagi shalat. [Al Majmu’atul ‘Aliyyah min Kutub wa Rosail wa Fatawa Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, Dar Ibnil Jauzi, hal. 134-135] *** Demikian keterangan singkat beliau. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.”[1] Imam Malik rahimahullah berkata, إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُخْطِىءُ وَأُصِيْبُ فَانْظُرُوا فِي قَوْلِي فَكُلُّ مَا وَافَقَ الكِتَابَ وَالسُّنَّةَ فَخُذُوْا بِهِ وَمَا لَمْ يُوَافِقْ االكِتَابَ وَالسُّنَّةّ فَاتْرُكُوْهُ “Sesungguhnya aku hanyalah manusia yang bisa keliru dan benar. Lihatlah setiap perkataanku, jika itu mencocoki Al Qur’an dan Hadits Nabawi, maka ambillah. Sedangkan jika itu tidak mencocoki Al Qur’an dan Hadits Nabawi, maka tinggalkanlah.[2] Wallahu waliyyut taufiq.   Riyadh-KSA, at night after ‘Isya, 9 Shafar 1432 H (13/01/2011) www.rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal [1] Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih [2] I’lamul Muwaqi’in, 1/75 Tagscara shalat

Ya Allah, Hisablah Aku dengan Hisab yang Mudah

Sebuah doa yang patut kita hafal dan amalkan demi meraih hisab yang mudah di akhirat kelak. عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ فِى بَعْضِ صَلاَتِهِ « اللَّهُمَّ حَاسِبْنِى حِسَاباً يَسِيرًا ». فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ مَا الْحِسَابُ الْيَسِيرُ قَالَ « أَنْ يَنْظُرَ فِى كِتَابِهِ فَيَتَجَاوَزَ عَنْهُ إِنَّهُ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَوْمَئِذٍ يَا عَائِشَةُ هَلَكَ وَكُلُّ مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ يُكَفِّرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةُ تَشُوكُهُ » Dari Aisyah, ia berkata, saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca, “Allahumma haasibnii hisaabay yasiiroo (Ya Allah hisablah aku dengan hisab yang mudah).” Ketika beliau berpaling saya bekata, “Wahai Nabi Allah, apa yang dimaksud dengan hisab yang mudah?” Beliau bersabda, “Seseorang yang Allah melihat kitabnya lalu memaafkannya. Karena orang yang diperdebatkan hisabnya pada hari itu, pasti celaka wahai Aisyah. Dan setiap musibah yang menimpa orang beriman Allah akan menghapus (dosanya) karenanya, bahkan sampai duri yang menusuknya.” [1] Yang dimaksud dengan do’a tersebut diterangkan dalam hadits di atas. Maksud “hisab yang mudah” adalah saat di mana dosa-dosa seorang mukmin di hadapkan pada Allah, lalu ia pun mengakui dosa-dosanya itu. Kemudian setelah itu Allah mengampuni dosa-dosanya setelah ia bersendirian dengan Allah dan tidak ada seorang pun yang melihatnya ketika itu. Dari Shafwan bin Muhriz bahwa seorang laki-laki pernah bertanya kepada Ibnu Umar, “Bagaimana Anda mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang An Najwa (bisikan di hari kiamat)?” Ibnu Umar menjawab, يَدْنُو أَحَدُكُمْ مِنْ رَبِّهِ حَتَّى يَضَعَ كَنَفَهُ عَلَيْهِ فَيَقُولُ عَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا . فَيَقُولُ نَعَمْ . وَيَقُولُ عَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا . فَيَقُولُ نَعَمْ . فَيُقَرِّرُهُ ثُمَّ يَقُولُ إِنِّى سَتَرْتُ عَلَيْكَ فِى الدُّنْيَا ، فَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ “Yaitu salah seorang dari kalian akan mendekat kepada Rabb-nya. Kemudian Dia meletakkan naungan-Nya di atasnya. Kemudian Dia berfirman, “Apakah kamu telah berbuat ini dan ini?” Hamba itu menjawab, “Ya, benar.” Dia berfirman lagi, “Apakah kamu telah melakukan ini dan ini?” Hamba itu menjawab, “Ya, benar.” Dia pun mengulang-ulang pertanyannya, kemudian berfirman, “Sesungguhnya Aku telah menutupi dosa-dosa tadi (merahasiakannya) di dunia dan pada hari ini aku telah mengampuninya bagimu.”[2] Inilah yang dimaksudkan dengan hisab yang mudah di mana dosa-dosa seorang hamba yang beriman itu dimaafkan. Moga Allah mudahkan bagi kita untuk mendapatkan kemudahan hisab semacam ini di akhirat kelak saat hari perhitungan. Aamiin Yaa Mujibad Du’aa’. Referensi: Syarh Do’a minal Kitab was Sunnah (Sa’id bin Wahf Al Qohthoni), Mahir bin ‘Abdul Humaid bin Muqoddam, soft file (.doc) Riyadh-KSA, 8 Shofar 1432 H (12/01/2011) www.rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal Baca Juga: Syarhus Sunnah: Hisab Allah itu Begitu Cepat Sekadar Masa Tidur Qailulah Shalat itu Yang Pertama Kali Akan Dihisab [1] HR. Ahmad 6/48. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih selain perkataan: “Saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca: “Allahumma haasibnii hisaabay yasiiroo”. Ini adalah tambahan di mana Muhammad bin Ishaq bersendirian dalam meriwayatkannya. [2] HR. Bukhari no. 6070.

Ya Allah, Hisablah Aku dengan Hisab yang Mudah

Sebuah doa yang patut kita hafal dan amalkan demi meraih hisab yang mudah di akhirat kelak. عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ فِى بَعْضِ صَلاَتِهِ « اللَّهُمَّ حَاسِبْنِى حِسَاباً يَسِيرًا ». فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ مَا الْحِسَابُ الْيَسِيرُ قَالَ « أَنْ يَنْظُرَ فِى كِتَابِهِ فَيَتَجَاوَزَ عَنْهُ إِنَّهُ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَوْمَئِذٍ يَا عَائِشَةُ هَلَكَ وَكُلُّ مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ يُكَفِّرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةُ تَشُوكُهُ » Dari Aisyah, ia berkata, saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca, “Allahumma haasibnii hisaabay yasiiroo (Ya Allah hisablah aku dengan hisab yang mudah).” Ketika beliau berpaling saya bekata, “Wahai Nabi Allah, apa yang dimaksud dengan hisab yang mudah?” Beliau bersabda, “Seseorang yang Allah melihat kitabnya lalu memaafkannya. Karena orang yang diperdebatkan hisabnya pada hari itu, pasti celaka wahai Aisyah. Dan setiap musibah yang menimpa orang beriman Allah akan menghapus (dosanya) karenanya, bahkan sampai duri yang menusuknya.” [1] Yang dimaksud dengan do’a tersebut diterangkan dalam hadits di atas. Maksud “hisab yang mudah” adalah saat di mana dosa-dosa seorang mukmin di hadapkan pada Allah, lalu ia pun mengakui dosa-dosanya itu. Kemudian setelah itu Allah mengampuni dosa-dosanya setelah ia bersendirian dengan Allah dan tidak ada seorang pun yang melihatnya ketika itu. Dari Shafwan bin Muhriz bahwa seorang laki-laki pernah bertanya kepada Ibnu Umar, “Bagaimana Anda mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang An Najwa (bisikan di hari kiamat)?” Ibnu Umar menjawab, يَدْنُو أَحَدُكُمْ مِنْ رَبِّهِ حَتَّى يَضَعَ كَنَفَهُ عَلَيْهِ فَيَقُولُ عَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا . فَيَقُولُ نَعَمْ . وَيَقُولُ عَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا . فَيَقُولُ نَعَمْ . فَيُقَرِّرُهُ ثُمَّ يَقُولُ إِنِّى سَتَرْتُ عَلَيْكَ فِى الدُّنْيَا ، فَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ “Yaitu salah seorang dari kalian akan mendekat kepada Rabb-nya. Kemudian Dia meletakkan naungan-Nya di atasnya. Kemudian Dia berfirman, “Apakah kamu telah berbuat ini dan ini?” Hamba itu menjawab, “Ya, benar.” Dia berfirman lagi, “Apakah kamu telah melakukan ini dan ini?” Hamba itu menjawab, “Ya, benar.” Dia pun mengulang-ulang pertanyannya, kemudian berfirman, “Sesungguhnya Aku telah menutupi dosa-dosa tadi (merahasiakannya) di dunia dan pada hari ini aku telah mengampuninya bagimu.”[2] Inilah yang dimaksudkan dengan hisab yang mudah di mana dosa-dosa seorang hamba yang beriman itu dimaafkan. Moga Allah mudahkan bagi kita untuk mendapatkan kemudahan hisab semacam ini di akhirat kelak saat hari perhitungan. Aamiin Yaa Mujibad Du’aa’. Referensi: Syarh Do’a minal Kitab was Sunnah (Sa’id bin Wahf Al Qohthoni), Mahir bin ‘Abdul Humaid bin Muqoddam, soft file (.doc) Riyadh-KSA, 8 Shofar 1432 H (12/01/2011) www.rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal Baca Juga: Syarhus Sunnah: Hisab Allah itu Begitu Cepat Sekadar Masa Tidur Qailulah Shalat itu Yang Pertama Kali Akan Dihisab [1] HR. Ahmad 6/48. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih selain perkataan: “Saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca: “Allahumma haasibnii hisaabay yasiiroo”. Ini adalah tambahan di mana Muhammad bin Ishaq bersendirian dalam meriwayatkannya. [2] HR. Bukhari no. 6070.
Sebuah doa yang patut kita hafal dan amalkan demi meraih hisab yang mudah di akhirat kelak. عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ فِى بَعْضِ صَلاَتِهِ « اللَّهُمَّ حَاسِبْنِى حِسَاباً يَسِيرًا ». فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ مَا الْحِسَابُ الْيَسِيرُ قَالَ « أَنْ يَنْظُرَ فِى كِتَابِهِ فَيَتَجَاوَزَ عَنْهُ إِنَّهُ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَوْمَئِذٍ يَا عَائِشَةُ هَلَكَ وَكُلُّ مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ يُكَفِّرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةُ تَشُوكُهُ » Dari Aisyah, ia berkata, saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca, “Allahumma haasibnii hisaabay yasiiroo (Ya Allah hisablah aku dengan hisab yang mudah).” Ketika beliau berpaling saya bekata, “Wahai Nabi Allah, apa yang dimaksud dengan hisab yang mudah?” Beliau bersabda, “Seseorang yang Allah melihat kitabnya lalu memaafkannya. Karena orang yang diperdebatkan hisabnya pada hari itu, pasti celaka wahai Aisyah. Dan setiap musibah yang menimpa orang beriman Allah akan menghapus (dosanya) karenanya, bahkan sampai duri yang menusuknya.” [1] Yang dimaksud dengan do’a tersebut diterangkan dalam hadits di atas. Maksud “hisab yang mudah” adalah saat di mana dosa-dosa seorang mukmin di hadapkan pada Allah, lalu ia pun mengakui dosa-dosanya itu. Kemudian setelah itu Allah mengampuni dosa-dosanya setelah ia bersendirian dengan Allah dan tidak ada seorang pun yang melihatnya ketika itu. Dari Shafwan bin Muhriz bahwa seorang laki-laki pernah bertanya kepada Ibnu Umar, “Bagaimana Anda mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang An Najwa (bisikan di hari kiamat)?” Ibnu Umar menjawab, يَدْنُو أَحَدُكُمْ مِنْ رَبِّهِ حَتَّى يَضَعَ كَنَفَهُ عَلَيْهِ فَيَقُولُ عَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا . فَيَقُولُ نَعَمْ . وَيَقُولُ عَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا . فَيَقُولُ نَعَمْ . فَيُقَرِّرُهُ ثُمَّ يَقُولُ إِنِّى سَتَرْتُ عَلَيْكَ فِى الدُّنْيَا ، فَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ “Yaitu salah seorang dari kalian akan mendekat kepada Rabb-nya. Kemudian Dia meletakkan naungan-Nya di atasnya. Kemudian Dia berfirman, “Apakah kamu telah berbuat ini dan ini?” Hamba itu menjawab, “Ya, benar.” Dia berfirman lagi, “Apakah kamu telah melakukan ini dan ini?” Hamba itu menjawab, “Ya, benar.” Dia pun mengulang-ulang pertanyannya, kemudian berfirman, “Sesungguhnya Aku telah menutupi dosa-dosa tadi (merahasiakannya) di dunia dan pada hari ini aku telah mengampuninya bagimu.”[2] Inilah yang dimaksudkan dengan hisab yang mudah di mana dosa-dosa seorang hamba yang beriman itu dimaafkan. Moga Allah mudahkan bagi kita untuk mendapatkan kemudahan hisab semacam ini di akhirat kelak saat hari perhitungan. Aamiin Yaa Mujibad Du’aa’. Referensi: Syarh Do’a minal Kitab was Sunnah (Sa’id bin Wahf Al Qohthoni), Mahir bin ‘Abdul Humaid bin Muqoddam, soft file (.doc) Riyadh-KSA, 8 Shofar 1432 H (12/01/2011) www.rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal Baca Juga: Syarhus Sunnah: Hisab Allah itu Begitu Cepat Sekadar Masa Tidur Qailulah Shalat itu Yang Pertama Kali Akan Dihisab [1] HR. Ahmad 6/48. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih selain perkataan: “Saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca: “Allahumma haasibnii hisaabay yasiiroo”. Ini adalah tambahan di mana Muhammad bin Ishaq bersendirian dalam meriwayatkannya. [2] HR. Bukhari no. 6070.


Sebuah doa yang patut kita hafal dan amalkan demi meraih hisab yang mudah di akhirat kelak. عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ فِى بَعْضِ صَلاَتِهِ « اللَّهُمَّ حَاسِبْنِى حِسَاباً يَسِيرًا ». فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ مَا الْحِسَابُ الْيَسِيرُ قَالَ « أَنْ يَنْظُرَ فِى كِتَابِهِ فَيَتَجَاوَزَ عَنْهُ إِنَّهُ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَوْمَئِذٍ يَا عَائِشَةُ هَلَكَ وَكُلُّ مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ يُكَفِّرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةُ تَشُوكُهُ » Dari Aisyah, ia berkata, saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca, “Allahumma haasibnii hisaabay yasiiroo (Ya Allah hisablah aku dengan hisab yang mudah).” Ketika beliau berpaling saya bekata, “Wahai Nabi Allah, apa yang dimaksud dengan hisab yang mudah?” Beliau bersabda, “Seseorang yang Allah melihat kitabnya lalu memaafkannya. Karena orang yang diperdebatkan hisabnya pada hari itu, pasti celaka wahai Aisyah. Dan setiap musibah yang menimpa orang beriman Allah akan menghapus (dosanya) karenanya, bahkan sampai duri yang menusuknya.” [1] Yang dimaksud dengan do’a tersebut diterangkan dalam hadits di atas. Maksud “hisab yang mudah” adalah saat di mana dosa-dosa seorang mukmin di hadapkan pada Allah, lalu ia pun mengakui dosa-dosanya itu. Kemudian setelah itu Allah mengampuni dosa-dosanya setelah ia bersendirian dengan Allah dan tidak ada seorang pun yang melihatnya ketika itu. Dari Shafwan bin Muhriz bahwa seorang laki-laki pernah bertanya kepada Ibnu Umar, “Bagaimana Anda mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang An Najwa (bisikan di hari kiamat)?” Ibnu Umar menjawab, يَدْنُو أَحَدُكُمْ مِنْ رَبِّهِ حَتَّى يَضَعَ كَنَفَهُ عَلَيْهِ فَيَقُولُ عَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا . فَيَقُولُ نَعَمْ . وَيَقُولُ عَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا . فَيَقُولُ نَعَمْ . فَيُقَرِّرُهُ ثُمَّ يَقُولُ إِنِّى سَتَرْتُ عَلَيْكَ فِى الدُّنْيَا ، فَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ “Yaitu salah seorang dari kalian akan mendekat kepada Rabb-nya. Kemudian Dia meletakkan naungan-Nya di atasnya. Kemudian Dia berfirman, “Apakah kamu telah berbuat ini dan ini?” Hamba itu menjawab, “Ya, benar.” Dia berfirman lagi, “Apakah kamu telah melakukan ini dan ini?” Hamba itu menjawab, “Ya, benar.” Dia pun mengulang-ulang pertanyannya, kemudian berfirman, “Sesungguhnya Aku telah menutupi dosa-dosa tadi (merahasiakannya) di dunia dan pada hari ini aku telah mengampuninya bagimu.”[2] Inilah yang dimaksudkan dengan hisab yang mudah di mana dosa-dosa seorang hamba yang beriman itu dimaafkan. Moga Allah mudahkan bagi kita untuk mendapatkan kemudahan hisab semacam ini di akhirat kelak saat hari perhitungan. Aamiin Yaa Mujibad Du’aa’. Referensi: Syarh Do’a minal Kitab was Sunnah (Sa’id bin Wahf Al Qohthoni), Mahir bin ‘Abdul Humaid bin Muqoddam, soft file (.doc) Riyadh-KSA, 8 Shofar 1432 H (12/01/2011) www.rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal Baca Juga: Syarhus Sunnah: Hisab Allah itu Begitu Cepat Sekadar Masa Tidur Qailulah Shalat itu Yang Pertama Kali Akan Dihisab [1] HR. Ahmad 6/48. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih selain perkataan: “Saya telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sebagian shalatnya membaca: “Allahumma haasibnii hisaabay yasiiroo”. Ini adalah tambahan di mana Muhammad bin Ishaq bersendirian dalam meriwayatkannya. [2] HR. Bukhari no. 6070.

Sekali lagi : Tipu muslihat Abu Salafy CS (bag 2)

Alhamdulillah atas segala nikmat yang Allah karuniakan kepada kita semua, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya serta seluruh sahabatnya.Alhamdulillah tanggapan dari ustadz Abu Salafy yang ana tunggu-tunggu akhirnya muncul juga. Meskipun ustadz Abu salafy langsung meloncat ke tulisan ana yang kedua yang belum selesai. Sebenarnya ada dua perkara yang ana lebih tunggu lagi dari sang ustadzPertama : Menunggu tanggapan beliau terhadap tulisan saya (https://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/76-mengungkap-tipu-muslihat-abu-salafy-cs), karena pada tulisan inilah nampak tipu muslihat yang dilakukan oleh sang ustadz.Kedua : Saya ingin berkenalan dengan sang ustadz dan ingin bisa berdialog langsung dengan beliau. Masih tanda tanya besar dalam hati saya, apakah Abu Salafy ini satu orang atau sebuah lembaga anti wahabi?, lantas apa sebenarnya aqidah yang sedang diperjuangkan oleh Abu Salafy?, Apakah beliau ini seorang yang bermadzhab Asy’ari ataukah Jahmiah?!!Ataukah bermadzhab Syi’ah?!!, hal ini mengingat :– Sang ustadz Abu Slafy mengutuk Mu’aawiyah, yang ini merupakan propaganda orang-orang syi’ah, dan ana ingin tahu dari beliau apakah ada ulama Ahlus Sunnah yang mengutuk Mu’aawiyah?. Untuk masalah Mu’aawiyah radhiallahu ‘anhu insyaa Allah akan ada pembahasan khusus– dan juga sang ustadz ternyata menukil dari kitabnya orang syi’ah.– Aqidah yang diperjuangkan oleh ustadz Abu Salafy (bahwasanya Allah tidak di atas) juga merupakan aqidah orang syi’ah– Sang ustadz sangat getol membantah dan mengejek-ngejek Syaikhul Islaam Ibnu Taimiyyah yang sangat getol membantah aqidah orang syi’ah. Kita tahu betapa besar kebencian orang-orang syi’ah kepada Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang telah mengupas habis syubhat-syubhat mereka dalam kitab beliau “Minhaajus Sunnah An-Nabawiyaah”.Jika memang sang ustadz adalah seorang syi’ah maka tentunya kedustaan dan taqiyyah itu merupakan hal yang biasa.Oleh karenanya saya sangat ingin agar sang ustadz menampakkan jati diri sang ustadz kalau memang sang ustadz “maaf- maaf saja” adalah seorang lelaki…Wallahul Musta’aan.Berikut ini tanggapan saya terhadap tulisan ustadz Abu Salafy dalam web beliau (http://abusalafy.wordpress.com/2011/01/08/benarkan-kaum-musyik-arab-beriman-kepada-tauhid-rububiyyah-allah-bantahan-untuk-ustad-firanda-i/)Berdusta atas Nama Imam Al-QurthubiUstadz Abu Salafy berkata :((Tentang ayat 61 surah al Ankabut:وَ لَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّماواتِ وَ الْأَرْضَ وَ سَخَّرَ الشَّمْسَ وَ الْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka:” Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan” Tentu mereka akan menjawab:” Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).”– Al Qurthubi berkata:“… maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar) maksudnya: Bagaimana mereka kafir dengan keesaan-Ku dan berbalik dari menyembah-Ku. Artinya: Sesungguhnya mereka akan mengatakan jawaban itu dengan lisan mereka saja ketika ditegakkan hujjah-hujjah atas mereka, sementara hakikatnya mereka tidak mengatakan (berpendapat)nya.” [1] Tafsir al Jâmi’ Li Ahkâm al Qur’ân,13/161 Abu Salafy Berkata: Saya tidak mengerti bagaimana saudara Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja dapat tidak membaca ketarangan Imam al Qurthubi di atas pada tafsiran ayat 61 dan ia hanya menampilkan tafsiran ayat 63? Padahal ketika menukil keterangan az Zamakhsyari, misalnya ia jusrtu menampilkan ketarangan tentang tafsir ayat 61! Apakah itu ia sengaja ia lakukan untuk menutup-nutupi kenyataan sebab tidak banyak santri yang akan berkessempatan mengeceknya, apalagi kaum awam?! Atau karena alasan lain. Allahu A’lam. Saya tidak akan berburuk sangka kepadanya)) Demikian perkataan Abu Salafy.Firanda berkata : Saya balik bertanya “Kenapa Abu Salafy tidak menampilkan perkataan Imam Al-Qurthubi dengan bahasa arabnya, ” Apakah itu ia sengaja ia lakukan untuk menutup-nutupi kenyataan, sebab tidak banyak santri yang akan berkesempatan mengeceknya, apalagi kaum awam?! Atau karena alasan lain”??Para pembaca yang budiman untuk mengungkap kedustaan Abu Salafy –sebagaimana kedustaan-kedustaannya yang lainnya yang telah saya ungkap- maka saya akan menukil perkataan Imam Al-Qurthubi tatkala menafsirkan ayat 61 dari surat Al-Ankabuut;Beliau rahimahullah berkata : ““… maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)” maksudnya : bagaimana mereka kafir kepada pentauhidanku dan berpaling dari beribadah kepadaku?” (Tafsir A-Qurthubi tafsir Al-Ankabuut ayat 61)Demikian terjemahan yang benar, akan tetapi lihat bagaimana terjemahan Abu salafi diatas, ternyata ia melakukan tipu muslihat dari dua sisi :Pertama : Tipu muslihat yang pertama Abu salafy menterjemahkan perkataan Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya “بِتَوْحِيْدِي” dengan “Keesaanku” sehingga terjemahan perkataan Imam Al-Qurthubi menjadi “Bagaimana mereka kafir dengan keesaan-Ku ” Yang mengesankan seakan-akan Imam Al-Qurthubi menyatakan bahwsanya orang-orang musyrik Arab mengingkari keesaan Allah dalam tauhid Rububiyyah. Padahal yang dimaksud oleh Imam Al-Qurtubhi dengan tauhid di sini adalah tauhid dalam penyembahan, yaitu tauhid Ulluhiyah, oleh karenanya setelah itu Al-Qurthubi berkata “وَيَنْقَلِبُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيِ” yang artinya, “Dan mereka (kaum muyrikin Arab) berpaling dari beribadah kepadaku?”. Sehingga kalau kita melihat perkataan Al-Qurthubi secara utuh yaitu : ((bagaimana mereka kafir kepada pentauhidanku dan berpaling dari beribadah kepadaku?)) maka jelas maksudnya kaum musyrikin Arab tidak bertauhid kepada Allah dengan memalingkan ibadah kepada selain Allah. Di sinilah letak keanehan kaum musyrikin, bagaimana bisa mereka berpaling dari bertauhid kepada Allah dan dan beribadah kepada selain Allah padahal mereka mengakui Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan yang mengatur perjalanan matahari dan bumi?. Ayat ini dibawakan oleh Allah dalam rangka membantah kaum musyrikin Arab yang mengakui rububiyah Allah akan tetapi tidak mentauhidkan Allah.Jika asalnya mereka tidak mengakui rububiyah Allah maka apa gunanya istifhaam ingkari (pertanyaan Allah yang menunjukan pengingkaran) “?. Kalau mereka tidak percaya adanya Allah maka sudah jelas mereka tidak menyembah Allah.Adapun perkataan Imam Al-Qurthubi yang menegaskan bahwasanya kaum musyrikin Arab mengakui rububiyah Allah maka sangatlah banyak, para pembaca bisa membaca kembali (https://www.firanda.com/index.php/home/31/82-persangkaan-abu-salafy-al-majhuul-bahwasanya-kaum-musyrikin-arab-tidak-mengakui-rububiyyah-allah)Kedua : Tipu muslihat yang kedua ini lebih parah daripada tipu muslihat yang di atas. Bagaimana?, Abu salafy memasukkan perkatannya sendiri setelah perkataan Imam Al-Qurthubi dan mengesankan bahwa perkataannya tersebut adalah perkataan Imam Al-Qurthubi, sehingga Abu Salafy meletakkan tanda footnote[1] setelah perkataannya sendiri dan bukan setelah perkataan Imam Al-Qurthubi”Mari kita lihat kembali perkataan Abu Salafy :((Al Qurthubi berkata: “… maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar) maksudnya: Bagaimana mereka kafir dengan keesaan-Ku dan berbalik dari menyembah-Ku. Artinya: Sesungguhnya mereka akan mengatakan jawaban itu dengan lisan mereka saja ketika ditegakkan hujjah-hujjah atas mereka, sementara hakikatnya mereka tidak mengatakan (berpendapat)nya.” [1] Tafsir al Jâmi’ Li Ahkâm al Qur’ân,13/161))Bahkan untuk memperhalus tipu muslihatnya Abu Salafy menghitamkan/menebalkan perkataannya tersebut, karena itulah perkataan yang sangat penting. Ternyata… itu bukan perkataan Imam Al-Qurthubi akan tetapi perkataannya sendiri….!!!!???Maka saya menghadiahkan kepada Abu Salafy perkataan Abu Salafy sendiri ((Apakah itu ia sengaja ia lakukan untuk menutup-nutupi kenyataan sebab tidak banyak santri yang akan berkessempatan mengeceknya, apalagi kaum awam?! Atau karena alasan lain ?!)) Abu Salafy Tidak Paham Perkataan Para Ulama Tafsir Abu Salafy berkata : ((Tentang Ayat 31 surah Yunus:قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّماءِ وَ الْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَ الْأَبْصارَ وَ مَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَ يُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَ مَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَ فَلا تَتَّقُونَ“Katakanlah:” Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan” Maka mereka akan menjawab:” Allah”. Maka katakanlah:” Mengapa kamu tidak bertakwa) (kepada- Nya).”* Al Qurthubui juga berkata:“Maka mereka akan menjawab:’Allah’.” Sebab mereka meyakini bahwa Sang pencipta adalah Allah. Atau mereka akan mengatakan dia adalah “Allah” jika mereka mau berfikir dan bersikap obyektif.”[2]* Ibnu ‘Athiyyah berkata tentang ayat di atas: “Maka mereka akan menjawab:’Allah’.” Tidak ada jalan bagi mereka kecuali mengatakannya dan mereka tidak dapat menentang dengan selainnya.[3] * Imam al baidhawi berkata:“Maka mereka akan menjawab:’Allah’.” Sebab mereka tidak dapat menentang dan membantah dalam masalah ini mengingat begitu jelasnya bukti.[4] * Al Gharnâthi berkata tentang ayat 31 di atas:“Katakanlah:” Siapakah yang memberi rezeki kepadamu ….. “ Ayat ini adalah berargumentasi atas kaum kafir dengan hujjah yang banyak lagi jelas yang tiada jalan bagi mereka melainkan mengakuinya.”[5]Abu Salafy berkata: Dan selain mereka banyak Anda temukan keterangan serupa di antaranya dalam tafsir Fathu al Qadîr; karya asy Syaukâni dan al jawâhir al Hisân karya ats Tsa’âlibi… demikian juga keterangan mereka pada ayat surah al Mu’minun ayat 84-92!)) Demikianlah perkataan Abu SalafyPara pembaca yang budiman, pada poin ini kembali Abu Salafy melancarkan tipu muslihatnya setelah berdusta atas nama Imam Al-Qurthubi. Hal ini nampak dari dua sisi: Pertama : Terus terang saya heran dengan ustadz Abu Salafi ini, coba para pembaca membaca perkataan para mufassir di atas. Apakah ada isyarat –bahkan meskipun isyarat dari jauh- dari para ahli tafsir tersebut bahwasanya kaum musyrikin Arab hanyalah berpura-pura tatkala menyatakan bahawasanya Allah lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan memberikan rizki??!!.Justru perkataan para ahli tafsir yang disampaikan oleh ustadz Abu Salafi semuanya mendukung tafsiran salaf bahwasanya kaum musyrikin mengakui rububiyah Allah, sehingga Allah melazimkan kepada mereka bahwasanya jika mereka mengakui Rububiyah Allah maka seharusnya mereka hanya menyembah Allah saja, yaitu seharusnya mereka juga bertauhid uluhiyah. Apakah Abu Salafy yang jago mengkritik Ibnu taimiyyah dan Albani tidak bisa faham perkataan yang ia tulis sendiri yang merupakan terjemahan perkataan para ahli tafsiir??. Sekali lagi saya harap Abu salafy lain kali kalau menerjemahkan perkataan para ulama dicantumkan teks arabnya, kawatir salah menerjemahkan, atau sudah benar terjemahannya namun salah kesimpulannya sebagaimana di sini. Kedua : Abu Salafy menyebutkan banyak ahli tafsir dalam pernyataannya di atas agar mengesankan kepada para pembaca bahwasanya yang berpendapat seperti dia adalah banyak dari kalangan ulama. Padahal ini hanya tipu muslihat saja. Justru seluruh perkataan ahli tafsir yang ia sebutkan mendukung apa yang telah ana jelaskan, bahwasanya kaum musyrikin Arab mengakui bahwasanya Allah-lah satu-satunya yang telah menciptakan langit dan bumi. Secara tidak langsung bisa dikatakan Abu Salafy juga telah berdusta atas nama para ahli tafsir tersebut yang telah ia nukilkan di sini.Adapun perkataan Abu Salafy ((Dari sini dapat Anda saksikan bahwa keterangan saya bukan mengada-ngada dan tanpa dasar rujukan kepada para ahli tafsir! Jika saudara Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja tidak sependapat dengan saya dalam memahami ayat-ayat di atas itu adalah hak dia. Tetapi ia tidak berhak menganggap apa yang dia pilih adalah satu-satunya tafsiran dalam ayat-ayat tersebut apalagi memaksa orang lain menerima pilihannya itu!)) Firanda berkata : Praktekanlah perkataanmu ini wahai abu salafy pada diri anda. Bukankah syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab telah menafsirkan dengan tafsiran salaf bahwasanya kaum musyrikin Arab mengakui rububiyah Allah, lantas mengapa anda sewot untuk membantah beliau, apalagi membantah beliau rahimahullah dengan nekad berdusta atas nama Imam Al-Qurthubi secara sengaja??, dan juga berdusta atas nama para ahli tafsir secara tidak langsung??!!Abu Salafy Berusaha untuk Melegalkan Pendapatnya dari Mujahid rahimahullah. Abu Salafy berkata : ((Ibnu Jarîr Menukil Bahwa Mujahid berpendapat Seperti Pendapat yang Kami KemukakanKetika menafsirkan ayat 22 surah al Baqarah, Ibnu Jarîr ath Thabari menukil dua pendapat tentang siapa yang menjadi alamat pembicaraan Allah dengan firman-Nya:فَلاَ تَجْعَلُوْا ِللهِ أَندَاداً وَ أَنتُمْ تَعْلَمُوْنَ“Oleh karena itu, janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui (bahwa tidak satupun dari para sekutu itu yang menciptakanmu dan memberikan rezeki kepadamu).”Pendapat pertama: yang dimaksud adalah kaum Musyrik dan juga Ahlul Kitab. Pendapat ini dinukil dari Ibnu Abbas ra.Pendapat kedua: Yang dimaksud adalah Ahlul Kitab. Kaum Musyrik tidak termasuk. Ini pendapat Mujahid. Juga dari generasi Salaf.“Kemudian Ibnu Jarîr ath Thabari berkomentar, “Dalam hemat saya yang mendorong Mujahid berta’wil seperti itu dan menyandarkan alamat pembicaraan itu hanya kepada Ahlul Kitab; Taurat dan Injil bukan selain mereka adalah anggapan bahwa bangsa Arab tidak mengetahui bahwa Allah itu adalah Sang Pencipta, Pemberi Rizki karena mereka mengingkari dan mengkufuri keesaan Tuhan mereka dan mempersekutukan-Nya dalam penyembahan sesembahan lain. Memang ini adalah pendapat yang juga ada. Hanya saja Allah SWT mengabarkan dalam kitab-Nya bahwa mereka itu mengakui keesaan Allah hanya saja mereka menyekutukan-Nya dalam penghambaan sesembahan-sesembahan lain.”[6]Betapa pun ath Thabari tidak memilih pendapat Mujahid namun adalah bukti bahwa di kalangan para penafsir Salaf ada yang berpendapat seperti itu!)) Demikian perkataan Abu SalafyFiranda berkata : Untuk menjelaskan hal ini maka saya katakan : Pertama : Marilah kita lihat tafsiran Mujahid yang sebenarnya dengan sanadnya sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jariir At-Thobari dan Ibnu Abi Hatim.Adapun dalam tafsir At-Thobari (1/393) maka sebagai berikut: “…Dari Sufyaan (At-Tsauri) dari seseorang dari Muhahid ((Janganlah kalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah padahal kalian mengetahui)) bahwasanya Allah adalah sesembahan yang Esa (sebagaimana tersebut) di Tauroot dan Injiil”Adapun pada tafsir Ibnu Abi Haatim (1/62 no 232) adalah sebagai berikut: “…Dari Sufyaan (At-Tsauri) dari seseorang yang mengabarkan kepadanya dari Muhahid tentang firman Allah ((Janganlah kalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah padahal kalian mengetahui)) beliau (Mujahid) berkata : bahwasanya kalian mengetahui Allah adalah sesembahan yang Esa (sebagaimana tersebut) di Tauroot dan Injiil”Para pembaca yang budiman, Mujahid bin Jabr Abul Hajjaaj wafat pada tahun 101 atau 102 atau 103 Hijriah (lihat Tahdziib At-Thdziib 4/25-26 atau Taqriib At-Tahdziib hal 921) adapun Sufyaan adalah Sufyaan bin Sa’iid bin Masruuq Ats-Tsauri maka beliau wafat pada tahun 161 (lihat Tahdziib At-Tahdziib 2/56-58 atau Taqriib At-Tahdziib hal 394)Sufyan At-Tsauri tidak termasuk daftar orang-orang yang meriwayatkan dari Mujahid dan juga sebaliknya Mujahid bukanlah termasuk daftar orang-orang yang diambil riwayatnya oleh Sufyaan (silahkan kedua daftar tersebut dalam kita Tahdziib At-Tahdziib). Dan Sufyaan At-Tsauri meninggal tatkala berumur 64 tahun pada tahun 161 H (lihat Taqriib At-Tahdziib hal 394), berarti Sufyaan lahir sekitar tahun 97 Hijriyah. Hal ini menunjukan bahwa tatkala Mujahid meninggal pada tahun 102 Hijriyah berarti tatkala itu Sufyaan berumur sekitar 5 tahun. Oleh karenanya Sufyan meriwayatkan dari Mujahid dengan perantara.Dalam dua sanad hadits di atas sangatlah nampak bahwasanya ada perantara antara Sufyan dan Mujahid yang majhul, dan dalam ilmu hadits sanad yang seperti ini hukumnya lemah. Dan hal ini tentunya diketahui oleh ustadz Abu Salafy yang pandai mengkritik syaikh Al-Albani rahimahullah. Jika seandainya Sufyan termasuk murid Mujahid namun meriwayatkan dengan perantara yang majhul dari Mujahid maka para ulama hadits menghukumnya sebagai sanad yang lemah, apalagi jika ternyata Sufyaan bukan termasuk dari muridnya Mujahid??!!Kedua : Ada tafsiran dengan banyak sanad yang bersambung dari Mujahid yang mendukung pendapat Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah dan berseberangan dengan pendapat Abu Salafy.At-Thobari membawakan riwayat-riwayat tersebut dalam tafsirnya (13/374-375) sebagaimana berikut ini: Dalam atsar-atsar di atas Mujahid menafsirkan tentang orang-orang musyrik secara umum (tanpa membatasi pada Ahlul Kitab saja) bahwasanya mereka beriman bahwasanya Allah pencipta mereka, yang memberi rizki kepada mereka, dan yang mematikan mereka.Bahkan dalam atsar yang terakhir Mujahid (dan juga Ikrimah dan ‘Aamir) mereka berkata, “Tidak seorangpun kecuali ia mengetahui bahwasanya Allah-lah yang menciptakannya dan menciptakan langit dan bumi” (Lihat Tafsir At-Thobari 13/375)Lantas kenapa ustadz Abu Salafy memilih tafsir dari Mujahid dengan sanad yang lemah dan meninggalkan tafsiran-tafsiran beliau dengan sanad yang bersambung?!!Ketiga : Kalaupun tafsiran Mujahid yang disebutkan oleh Abu Salafy adalah tafsiran yang shahih maka hal ini sama sekali tidak menunjukkan bahwasanya beliau menyatakan bahwa kaum musyrikin Arab mengingkari adanya Allah sebagaimana pernyataan Abu Salafy.Coba perhatikan perkataan Mujahid (dengan sanad yang lemah tersebut) :“Bahwasanya kalian mengetahui Allah adalah sesembahan yang Esa (sebagaimana tersebut) di Tauroot dan Injiil”Dalam perkataan di atas sama sekali tidak ada pernyataan Mujahid bahwasanya kaum musyrikin Arab mengingkari adanya Allah. Beliau hanya menjelaskan bahwasanya ayat 22 dari surat Al-Baqoroh tersebut berkenaan dengan ahlul kitab Yahudi dan Nasoro.Oleh karenanya apa yang dikatakan oleh At-Thobari ((Dalam hemat saya yang mendorong Mujahid berta’wil seperti itu dan menyandarkan alamat pembicaraan itu hanya kepada Ahlul Kitab; Taurat dan Injil bukan selain mereka adalah anggapan bahwa bangsa Arab tidak mengetahui bahwa Allah itu adalah Sang Pencipta, Pemberi Rizki karena mereka mengingkari dan mengkufuri keesaan Tuhan mereka dan mempersekutukan-Nya dalam penyembahan sesembahan lain. Memang ini adalah pendapat yang juga ada. Hanya saja Allah SWT mengabarkan dalam kitab-Nya bahwa mereka itu mengakui keesaan Allah hanya saja mereka menyekutukan-Nya dalam penghambaan sesembahan-sesembahan lain)) maka itu hanyalah praduga Imam At-Thobari, namun kita tidak menerima praduga tersebut karena beberapa hal diantaranya :– Riwayat tafsiran Mujahid ini lemah– Lafal dari tafsiran Mujahid tidak menunjukan akan hal itu– Riwayat yang bersambung dari Mujahid menunjukan kaum musyrikin Arab juga mengakui adanya Allah dan mengakui rububiyah AllahTipu Muslihat BerikutnyaAbu Salafy menyebutkan pendapat-pendapat lain dari para ulama tentang tafsir ayat 106 dari surat Yusuf dengan mengesankan kepada para pembaca bahwa tafsiran-tafsiran tersebut mendukung pendapat dia bahwasanya kaum musyrikin Arab mengingkari adanya Allah. Padahal tafsiran-tafsiran yang ada tersebut sama sekali tidak menafikan percayanya kaum musyrikin Arab dengan rububiyah Allah.Abu Salafy berkata ((Tentang Ayat 106 Surah YusufAllah SWT berfitman:وَ ما يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلاَّ وَ هُمْ مُشْرِكُونَ“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).”Adapun tentang ayat di atas, maka perlu diketahui bahwa selain tafsir yang disebutkan saudara kita Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja juga ada pendapat lain yang disampaikan oleh Ibnu Jauzi (w. 597 H) dalam tafsirnya yang jalas menerangkan bahwa mereka yang dimaksud bukankah Mukmin sejatinya…ia berkata, “Jika dikatakan, ‘Bagaimana Allah mensifati si musyrik itu dengan keimanan?’ Maka jawabnya, ‘Sesungguhnya yang dimaksud bukanlah hakikat keimanan, akan tetapi maknanya bahwa kebanyakan mereka meskipun mereka menampakkan keimanan dengan lisan-lisan mereka, mereka itu adalah orang-orang musyrik.”[7]Ibnu ‘Athiyah (W.546 H) menukil Ibnu Abbas ra. sebagai berkata, “Ayat itu untuk Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani) mereka beriman kepada Allah kemudian mereka menyekutukan-Nya dari sisi kekafiran mereka kepada nabi-Nya. Atau dari sisi perkataan mereka Uzair itu anak Tuhan. Isa anak Tuhan… .”[8]Adapun Ibnu Abi Hâtim ia menukil dua riwayat tentang tafsir ayat ini. Pertama, bahwa ayat ini berbicarta tentang syirik ashghar/kecil. Maksudnya adalah riyâ’. Ia berkata, ‘…. Dari Zakariya ibn Zurarah ayahku bercerita kepadaku, ia baerkata, ‘Aku bertanya kepada Abu Ja’far Muhammad ibn Ali tentang ayat: “Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” Maka berkata Abu Ja’far, “Syirik dalam ketaatan. Seperti ucapann seorang, ‘Anda bukan karena Allah dan karena si fulan, … .”[9]Pendapat Ibnu Jarîr ath ThabariSeperti dikutip saudara kita dari Ibnu Jarîr ath Thabari bahwa ia berkata:Perkataan tentang ta’wil firman Allah “Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah kecuali mereka berbuat kesyirikan” (QS Yusuf : 106)Allah berkata: Dan tidaklah kebanyakan mereka –yaitu yang telah disifati oleh Allah dengan firmanNyaوَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya” mengakui bahwasanya Allah pencipta mereka, pemberi rizki kepada mereka, dan pencipta segala sesuatu melainkan mereka berbuat kesyirikian kepada Allah dalam peribadatan mereka kepada patung-patung dan arca-arca dan menjadikan selain Allah sebagai tandingan bagi Allah dan persangkaan mereka bahwasanya Allah memiliki anak. Maha tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan. Dan para ahli tafsir berpendapat seperti pendapat kami ini.”[10]Dari kutipan itu kita dapat menyaksikan bagaimana Imam ath Thabari sadar bahwa kemusyrikan mereka dalam penyembahan itu meskipun mereka beriman dalam pengesaan Allah dalam urusan penciptaan dan pengaturan, bukanlah sebab tunggal. Tetapi di samping itu dikeranakan mereka mengaku bahwa Allah punya anak.)) demikian perkataan Abu SalafyTipu Muslihat Abu Salafy dalam pemaparan diatas dari dua sisi : Pertama : Tidak amanah dalam menukil perkataan Ibnul Jauzii. Sebagai bukti maka saya akan membawakan perkataan Ibnul Jauzi tersebut secara lengkap.Abu Salafy menukil perkataan Ibnul Jauzi ((“Jika dikatakan, ‘Bagaimana Allah mensifati si musyrik itu dengan keimanan?’ Maka jawabnya, ‘Sesungguhnya yang dimaksud bukanlah hakikat keimanan, akan tetapi maknanya bahwa kebanyakan mereka meskipun mereka menampakkan keimanan dengan lisan-lisan mereka, mereka itu adalah orang-orang musyrik.)) maka jika seseorang membacanya dengan sekilas maka seakan-akan mengesankan bahwasanya Ibnul Jauzi berpendapat bahwasanya kaum muysrik arab tidak beriman dengan rububiyah Allah, mereka hanya beriman dengan lisan mereka saja.Berikut nukilan Ibnul Jauzi rahimahullah secara lengkap ((Firman Allah ((“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain))), maka tentang kaum musyrikin di sini ada tiga pendapat.Pendapat Pertama : Mereka adalah kaum musyrikin, kemudian tentang makna ayat yang berkaitan dengan kaum musyrikin ini ada dua pendapat. Yang pertama bahwasanya mereka beriman bahwasanya Allah pencipta mereka dan yang memberi rizqi kepada mereka dan mereka berbuat kesyirikan kepada Allah, Abu Sholeh meriwayatkan tafsiran ini dari Ibnu Abbaas, dan ini pendapat Mujahid, Ikrimah, As-Sya’bi, dan Qotaadah .Yang kedua ayat ini turun tentang talbiyahnya kaum musyrikin Arab, mereka berkata, “Aku memenuhi panggilanMu Yaa Allah, aku memenuhi penggilanMu Yaa Allah tidak ada syarikat bagiMu, kecuali syarikat milikMu, Engkau memiliki syarikat itu,dan syarikat itu tidak memiliki”. Tafsir ini diriwayatkan oleh Ad-Dhohaak dari Ibnu Abbaas.Pendapat Kedua : Mereka adalah kaum Nashrani, mereka beriman bahwasanya Allah adalah pencipta mereka dan pemberi rizki bagi mereka, meskipun demikian mereka berbuat kesyirikan kepada Allah. Tafsiran ini diriwayatkan oleh Al-‘Aufi dari Ibnu AbbaasPendapat Ketiga : Mereka adalah kaum munafiq, mereka beriman secara dzohir karena riyaa’ kepada orang-orang akan tetapi dalam batin mereka kafir kepada Allah, ini tafsiran Al-HasanJika dikatakan, ‘Bagaimana Allah mensifati si musyrik itu dengan keimanan?’ Maka jawabnya, ‘Sesungguhnya yang dimaksud bukanlah hakikat keimanan, akan tetapi maknanya bahwa kebanyakan mereka meskipun mereka menampakkan keimanan dengan lisan-lisan mereka, mereka itu adalah orang-orang musyrik)) Demikian perkataan Ibnu Jauzii secara lengkap.Perkataan Ibnul jauzi yang dinukil oleh Abu Salafy sama sekali tidak menunjukan bahwa kaum musyrikin baik kaum musyrikin Arab maupun kaum Nashrani tidak percaya kepada adanya Allah. Akan tetapi Ibnul Jauzii sedang menjelaskan tentang kaum musyrikin yang disifati beriman oleh Allah karena pada hekekatnya keimanan mereka itu bukan iman yang haqiqi, meskipun mereka mengakui dengan lisan-lisan mereka tentang rubuiyah Allah (Allah pencipta dan pemberi rizki) namun mereka berbuat kesyirikan dalam peribadatan. Karena Ibnul Jauzi telah menyatakan dalam tafsirnya tatkala menafsirkan ayat 61 dari surat Al-Ankabuut (tanpa menyebutkan khilaf sama sekali tentang tafsiran ayat 61 ini) bahwasanya kaum muyrikin Mekah mengimani bahwasanya Allah yang menciptakan mereka dan memberi rizki kepada mereka. Ibnul Jauzii berkata : “Firman Allah ((Jika engkau bertanya kepada mereka…)) yakni kaum kafir Mekah, dan mereka mengakui bahwasanya Allah adalah pencipta dan Maha pemberi rizki. Hanyalah Allah memerintahkan Nabi untuk berkata “Alhamdulillah” yaitu atas pengakuan mereka (tersebut). Karena hal ini menjadikan mereka terkonsekuensikan dengan hujjah, maka wajib bagi mereka untuk bertauhid (yaitu dalam peribadatan-pen). ((Akan tetapi kebanyakan mereka tidak memikirkan)) mentauhidkan Allah padahal mereka mengakui bahwasanya Allah adalah Maha Pencipta” (Zaadul Masiir 6/283)Kedua : Abu Salafy mengesankan kepada para pembaca bahwa jika ada pendapat yang lain dalam satu ayat berarti mendukung pendapatnya bahwasanya kaum musyrikin Arab tidak mengakui adanya Allah. Ini merupakan tipu muslihat yang cukup halus sekali. Pendalilan Abu salafy ini bisa benar jika ada satu tafsir dari seluruh ayat dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa kaum musyrikin Arab tidak mengakui adanya Allah. Namun kenyataannya tidak ada satu tafsiranpun dari ayat-ayat di atas yang menyatakan pendapat Abu Salafy.Oleh karenanya saya meminta Abu Salafy tolong tunjukan kepada saya satu tafsir saja dari ulama salaf (tentunya dengan sanad yang bersambung dan shahih) atau bahkan dari ulama kholaf yang menyatakan bahwasanya kaum musyrikin Arab tidak mengakui adanya Allah, dan pengakuan mereka hanyalah pura-pura saja???!!!Jika para pembaca membaca para perkataan semua Ahli tafsir yang dinukil oleh Abu Salafy maka seluruh ahli tafsir tersebut setuju bahwasanya kaum muysrikin Arab mengakui bahwasanya Allah yang menciptakan mereka dan memberi rizki kepada mereka.Adapun nukilan dari Ibnu Jauzi maka telah lalu, adapun nukilan dari Ibnu Athiyyah (yang disampaikan oleh Abu Salafy secara tidak lengkap) maka secara lengkapnya sbb :Ibnu ‘Athiyyah berkata, “Dan firman Allah ((Dan kebanyakan mereka tidak beriman…)). Ibnu Abbaas berkata : ayat ini tentang Ahlul Kitab yang mereka beriman kepada Allah kemudian mereka berbuat kesyirikan dari sisi mereka kafir kepada nabi Allah, atau dari sisi perkataan mereka “Uzair adalah anak Allah” dan Al-Masiih adalah anak Allah”.Ikrimah, Mujaahid, Qotaadah, dan Ibnu Zaid mengatakan bahwasanya ayat ini tentang kaum kafir Arab, dan keimanan mereka adalah pengakuan mereka bahwasanya Allah Maha Pencipta, Maha pemberi Rizki, Yang mematikan, maka Allah menamakan pengakuan mereka ini keimanan meskipun keimanan tersebut disudahi dengan kesyirikan mereka terhadap berhala-berhala dan patung-patung. Ini hanya iman secara bahasa saja dari sisi pembenaran hal-hal tersebut.Dan dikatakan bahwasanya ayat ini turun disebabkan perkataan kaum Quraisy tatkala thowaf dan talbiyah “Ya Allah tidak ada syarikat bagiMu kecuali syarikat milik-Mu, Engkau memilikinya dan ia tidak memiliki” (Al-Muharroor Al-Wajiiz 3/285)Demikian juga tafsiran para ahli tafsir yang lainnya, tidak seorangpun dari mereka yang menyatakan bahwa kaum musyrikin Arab mengingkari adanya Allah.Kesimpulan :Pertama : Abu Salafy telah berdusta atas nama Imam Al-Qurthubi. Dan ini adalah hal yang ringan bagi Abu Salafy, jika ia telah berani berdusta atas nama Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu (sebagaimana dalam bantahan ana : tentang tipu muslihat Abu salafy cs) maka bagaimana lagi dengan Imam Al-Qurthubi??!!Kedua : Abu Salafy tidak paham perkataan para ahli tafsir. Sehingga akhirnya salah menyimpulkan. Inilah yang membuat saya malas untuk membantah abu salafy lebih jauh lagi, karena begitu soknya ia membantah Ibnu Taimiyyah, ana khawatir ia rupanya salah paham dengan perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Ketiga : Semakin jelas bahwasanya Abu Salafy dalam tafsirannya (bahwasanya kaum musyrikin arab sebenarnya mengingkari adanya Allah dan hanya pura-pura tatkala menyatakan Allah yang menciptakan langit dan bumi) tidak mengikuti satupun pendapat dari kalangan salaf. Maka abu salafy hendaknya mengganti gelarnya dari abu salafy menjadi abu kholafi.Bahkan tidak ada seorangpun dari para ahli tafsir dari kholaf yang berpendapat dengan pendapatnya. Oleh karenanya tafsiran Abu salafy tersebut adalah bid’ah dalam ilmu tafsir yang tidak pernah dinyatakan oleh seorangpun dari kalangan salaf dan kholaf. Dan saya tidak akan mencabut pernyataan tafsiran bid’ah ini sampai Abu Salafy mendatangkan satu ulama saja dari salaf maupun kholaf yang berpendapat seperti pendapatnya. Oleh karenanya tidak pantas juga gelar abu salafy diganti menjadi abu kholafy, akan tetapi yang pantas adalah abu bid’ah??!!. Dan gelar inipun masih baik, namun tidak pantas bagi orang yang tidak berani menampakan jati dirinya untuk berdialog. Oleh karena itu ana kawatir abu salafy ini bukanlah seorang laki-laki akan tetapi seorang wanita. Jadi yang paling pantas adalah digelari ummu bid’ah.Keempat : Jika Abu salafy tidak bisa mendatangkan satu ahli tafsir saja baik dari salaf maupun kholaf maka saya menjadi curiga bahwasanya Abu Salafy bukan hanya mendukung aqidah kaum Rofidhoh, bahkan juga mendukung kaum Jaringan Islam Liberal yang membolehkan menafsirkan dengan hawa nafsu sendiri !!!!Kelima : Jika Abu Salafy berhasil mendatangkan pendapat satu ulama saja yang menyatakan bahwa kaum musyrikin Arab mengingkari adanya Allah maka saya katakan bahwasanya :1) Pendapat tersebut sangatlah lemah karena bertentangan dengan dalil yang begitu banyak yang telah disebutkan oleh para ahli tafsir. Dan sebagian dalil-dalil tersebut telah saya sebutkan dalam tulisan saya di (https://www.firanda.com/index.php/home/31/82-persangkaan-abu-salafy-al-majhuul-bahwasanya-kaum-musyrikin-arab-tidak-mengakui-rububiyyah-allah)2) Sekali lagi orang yang berpendapat dengan pendapat Abu Salafy ini telah dikatakan dungu oleh Ibnu Jariir At-Thobari, beliau berkata “Sebagian orang dungu menyangka bahwasanya orang-orang Arab tidak mengetahui Ar-Rohmaan dan kalimat Ar-Rohman tidak terdapat dalam bahasa mereka, karenanya kaum musyrikin berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ((Siapakah Ar-Rohmaan itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami (bersujud kepada-Nya )”?,)) QS Al-Furqoon : 60, (mereka mengatakan demikian –red) karena mereka mengingkai nama ini. Seakan-akan merupakan hal yang mustahil menurut orang dungu ini kalau kaum musyrikin mengingkari sesuatu yang mereka tahu akan kebenarannya. Atau seakan-akan orang dungu ini tidak membaca firman Allah ((Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepada mereka (yaitu orang-orang yahudi-red) mengetahuinya)) yaitu mengetahui (kebenaran) Nabi Muhmmad, namun meskipun demikian mereka mendustakannya dan menolak kenabiannya. Maka dari sini diketahui bahwasanya mereka (kaum musyrikin Arab) terkadang menolak apa yang mereka telah tahu kebenarannya dan telah jelas diketahui oleh mereka” (Tafsiir At-Thobari 1/130)Dan pengingkaran kaum musyrikin Arab itu hanyalah karena sikap ngeyel, bukan karena mereka tidak mengetahui nama Ar-Rohmaan. Kalau orang yang menyangka bahwasanya kaum musyrikin Arab tidak tahu penamaan Allah dengan Ar-Rohmaan telah dicap “Orang dungu” oleh Ibnu Jariir, maka bagaimana lagi orang yang menyangka bahwasanya kaum musyrikin Arab tidak mengetahui wujudnya Allah…??? (sebagaimana yang disangkakan oleh Abu Salafy, sehingga tidak ada tuhan bagi mereka kecuali arca-arca dan berhala-berhala mereka), maka entah cap apa yang akan diberikan oleh Ibnu Jariir At-Thobari??!!Keenam : Saya meminta Abu Salafy jangan lari diskusi, dan saya harap diskusi kita teatur. Oleh karenanya silahkan menanggapi tulisan pertama saya (https://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/76-mengungkap-tipu-muslihat-abu-salafy-cs) yang mengungkap kedustaan dan manipulasi anda. Itu dulu yang saya tunggu !!!!!!. Dan janganlah anda bersembunyi dibalik perkataan sombong anda ((Tadinya saya tidak tertarik untuk meladeni artikel yang digelar di www.firanda.com yang mengkritik tulisan saya, sebab terkesan tidak memahami pesan inti apa yang saya tulis. Tetapi demi kebenaran dan agar tidak dianggap lari dari medan diskusi maka saya pun menyempatkan diri menulis tanggapan ini…. itupun hanya sekedarnya.. tidak menyoroti seluruh poin yang perlu ditanggapi!)). Buktikanlah bahwa anda adalah seorang laki-laki yang berani dialog !!!Bersambung…!!!Madinah Munawwarah, 07 Safar 1432 / 11 Januari 2011Firanda Andirja www.firanda.com 

Sekali lagi : Tipu muslihat Abu Salafy CS (bag 2)

Alhamdulillah atas segala nikmat yang Allah karuniakan kepada kita semua, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya serta seluruh sahabatnya.Alhamdulillah tanggapan dari ustadz Abu Salafy yang ana tunggu-tunggu akhirnya muncul juga. Meskipun ustadz Abu salafy langsung meloncat ke tulisan ana yang kedua yang belum selesai. Sebenarnya ada dua perkara yang ana lebih tunggu lagi dari sang ustadzPertama : Menunggu tanggapan beliau terhadap tulisan saya (https://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/76-mengungkap-tipu-muslihat-abu-salafy-cs), karena pada tulisan inilah nampak tipu muslihat yang dilakukan oleh sang ustadz.Kedua : Saya ingin berkenalan dengan sang ustadz dan ingin bisa berdialog langsung dengan beliau. Masih tanda tanya besar dalam hati saya, apakah Abu Salafy ini satu orang atau sebuah lembaga anti wahabi?, lantas apa sebenarnya aqidah yang sedang diperjuangkan oleh Abu Salafy?, Apakah beliau ini seorang yang bermadzhab Asy’ari ataukah Jahmiah?!!Ataukah bermadzhab Syi’ah?!!, hal ini mengingat :– Sang ustadz Abu Slafy mengutuk Mu’aawiyah, yang ini merupakan propaganda orang-orang syi’ah, dan ana ingin tahu dari beliau apakah ada ulama Ahlus Sunnah yang mengutuk Mu’aawiyah?. Untuk masalah Mu’aawiyah radhiallahu ‘anhu insyaa Allah akan ada pembahasan khusus– dan juga sang ustadz ternyata menukil dari kitabnya orang syi’ah.– Aqidah yang diperjuangkan oleh ustadz Abu Salafy (bahwasanya Allah tidak di atas) juga merupakan aqidah orang syi’ah– Sang ustadz sangat getol membantah dan mengejek-ngejek Syaikhul Islaam Ibnu Taimiyyah yang sangat getol membantah aqidah orang syi’ah. Kita tahu betapa besar kebencian orang-orang syi’ah kepada Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang telah mengupas habis syubhat-syubhat mereka dalam kitab beliau “Minhaajus Sunnah An-Nabawiyaah”.Jika memang sang ustadz adalah seorang syi’ah maka tentunya kedustaan dan taqiyyah itu merupakan hal yang biasa.Oleh karenanya saya sangat ingin agar sang ustadz menampakkan jati diri sang ustadz kalau memang sang ustadz “maaf- maaf saja” adalah seorang lelaki…Wallahul Musta’aan.Berikut ini tanggapan saya terhadap tulisan ustadz Abu Salafy dalam web beliau (http://abusalafy.wordpress.com/2011/01/08/benarkan-kaum-musyik-arab-beriman-kepada-tauhid-rububiyyah-allah-bantahan-untuk-ustad-firanda-i/)Berdusta atas Nama Imam Al-QurthubiUstadz Abu Salafy berkata :((Tentang ayat 61 surah al Ankabut:وَ لَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّماواتِ وَ الْأَرْضَ وَ سَخَّرَ الشَّمْسَ وَ الْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka:” Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan” Tentu mereka akan menjawab:” Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).”– Al Qurthubi berkata:“… maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar) maksudnya: Bagaimana mereka kafir dengan keesaan-Ku dan berbalik dari menyembah-Ku. Artinya: Sesungguhnya mereka akan mengatakan jawaban itu dengan lisan mereka saja ketika ditegakkan hujjah-hujjah atas mereka, sementara hakikatnya mereka tidak mengatakan (berpendapat)nya.” [1] Tafsir al Jâmi’ Li Ahkâm al Qur’ân,13/161 Abu Salafy Berkata: Saya tidak mengerti bagaimana saudara Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja dapat tidak membaca ketarangan Imam al Qurthubi di atas pada tafsiran ayat 61 dan ia hanya menampilkan tafsiran ayat 63? Padahal ketika menukil keterangan az Zamakhsyari, misalnya ia jusrtu menampilkan ketarangan tentang tafsir ayat 61! Apakah itu ia sengaja ia lakukan untuk menutup-nutupi kenyataan sebab tidak banyak santri yang akan berkessempatan mengeceknya, apalagi kaum awam?! Atau karena alasan lain. Allahu A’lam. Saya tidak akan berburuk sangka kepadanya)) Demikian perkataan Abu Salafy.Firanda berkata : Saya balik bertanya “Kenapa Abu Salafy tidak menampilkan perkataan Imam Al-Qurthubi dengan bahasa arabnya, ” Apakah itu ia sengaja ia lakukan untuk menutup-nutupi kenyataan, sebab tidak banyak santri yang akan berkesempatan mengeceknya, apalagi kaum awam?! Atau karena alasan lain”??Para pembaca yang budiman untuk mengungkap kedustaan Abu Salafy –sebagaimana kedustaan-kedustaannya yang lainnya yang telah saya ungkap- maka saya akan menukil perkataan Imam Al-Qurthubi tatkala menafsirkan ayat 61 dari surat Al-Ankabuut;Beliau rahimahullah berkata : ““… maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)” maksudnya : bagaimana mereka kafir kepada pentauhidanku dan berpaling dari beribadah kepadaku?” (Tafsir A-Qurthubi tafsir Al-Ankabuut ayat 61)Demikian terjemahan yang benar, akan tetapi lihat bagaimana terjemahan Abu salafi diatas, ternyata ia melakukan tipu muslihat dari dua sisi :Pertama : Tipu muslihat yang pertama Abu salafy menterjemahkan perkataan Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya “بِتَوْحِيْدِي” dengan “Keesaanku” sehingga terjemahan perkataan Imam Al-Qurthubi menjadi “Bagaimana mereka kafir dengan keesaan-Ku ” Yang mengesankan seakan-akan Imam Al-Qurthubi menyatakan bahwsanya orang-orang musyrik Arab mengingkari keesaan Allah dalam tauhid Rububiyyah. Padahal yang dimaksud oleh Imam Al-Qurtubhi dengan tauhid di sini adalah tauhid dalam penyembahan, yaitu tauhid Ulluhiyah, oleh karenanya setelah itu Al-Qurthubi berkata “وَيَنْقَلِبُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيِ” yang artinya, “Dan mereka (kaum muyrikin Arab) berpaling dari beribadah kepadaku?”. Sehingga kalau kita melihat perkataan Al-Qurthubi secara utuh yaitu : ((bagaimana mereka kafir kepada pentauhidanku dan berpaling dari beribadah kepadaku?)) maka jelas maksudnya kaum musyrikin Arab tidak bertauhid kepada Allah dengan memalingkan ibadah kepada selain Allah. Di sinilah letak keanehan kaum musyrikin, bagaimana bisa mereka berpaling dari bertauhid kepada Allah dan dan beribadah kepada selain Allah padahal mereka mengakui Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan yang mengatur perjalanan matahari dan bumi?. Ayat ini dibawakan oleh Allah dalam rangka membantah kaum musyrikin Arab yang mengakui rububiyah Allah akan tetapi tidak mentauhidkan Allah.Jika asalnya mereka tidak mengakui rububiyah Allah maka apa gunanya istifhaam ingkari (pertanyaan Allah yang menunjukan pengingkaran) “?. Kalau mereka tidak percaya adanya Allah maka sudah jelas mereka tidak menyembah Allah.Adapun perkataan Imam Al-Qurthubi yang menegaskan bahwasanya kaum musyrikin Arab mengakui rububiyah Allah maka sangatlah banyak, para pembaca bisa membaca kembali (https://www.firanda.com/index.php/home/31/82-persangkaan-abu-salafy-al-majhuul-bahwasanya-kaum-musyrikin-arab-tidak-mengakui-rububiyyah-allah)Kedua : Tipu muslihat yang kedua ini lebih parah daripada tipu muslihat yang di atas. Bagaimana?, Abu salafy memasukkan perkatannya sendiri setelah perkataan Imam Al-Qurthubi dan mengesankan bahwa perkataannya tersebut adalah perkataan Imam Al-Qurthubi, sehingga Abu Salafy meletakkan tanda footnote[1] setelah perkataannya sendiri dan bukan setelah perkataan Imam Al-Qurthubi”Mari kita lihat kembali perkataan Abu Salafy :((Al Qurthubi berkata: “… maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar) maksudnya: Bagaimana mereka kafir dengan keesaan-Ku dan berbalik dari menyembah-Ku. Artinya: Sesungguhnya mereka akan mengatakan jawaban itu dengan lisan mereka saja ketika ditegakkan hujjah-hujjah atas mereka, sementara hakikatnya mereka tidak mengatakan (berpendapat)nya.” [1] Tafsir al Jâmi’ Li Ahkâm al Qur’ân,13/161))Bahkan untuk memperhalus tipu muslihatnya Abu Salafy menghitamkan/menebalkan perkataannya tersebut, karena itulah perkataan yang sangat penting. Ternyata… itu bukan perkataan Imam Al-Qurthubi akan tetapi perkataannya sendiri….!!!!???Maka saya menghadiahkan kepada Abu Salafy perkataan Abu Salafy sendiri ((Apakah itu ia sengaja ia lakukan untuk menutup-nutupi kenyataan sebab tidak banyak santri yang akan berkessempatan mengeceknya, apalagi kaum awam?! Atau karena alasan lain ?!)) Abu Salafy Tidak Paham Perkataan Para Ulama Tafsir Abu Salafy berkata : ((Tentang Ayat 31 surah Yunus:قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّماءِ وَ الْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَ الْأَبْصارَ وَ مَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَ يُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَ مَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَ فَلا تَتَّقُونَ“Katakanlah:” Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan” Maka mereka akan menjawab:” Allah”. Maka katakanlah:” Mengapa kamu tidak bertakwa) (kepada- Nya).”* Al Qurthubui juga berkata:“Maka mereka akan menjawab:’Allah’.” Sebab mereka meyakini bahwa Sang pencipta adalah Allah. Atau mereka akan mengatakan dia adalah “Allah” jika mereka mau berfikir dan bersikap obyektif.”[2]* Ibnu ‘Athiyyah berkata tentang ayat di atas: “Maka mereka akan menjawab:’Allah’.” Tidak ada jalan bagi mereka kecuali mengatakannya dan mereka tidak dapat menentang dengan selainnya.[3] * Imam al baidhawi berkata:“Maka mereka akan menjawab:’Allah’.” Sebab mereka tidak dapat menentang dan membantah dalam masalah ini mengingat begitu jelasnya bukti.[4] * Al Gharnâthi berkata tentang ayat 31 di atas:“Katakanlah:” Siapakah yang memberi rezeki kepadamu ….. “ Ayat ini adalah berargumentasi atas kaum kafir dengan hujjah yang banyak lagi jelas yang tiada jalan bagi mereka melainkan mengakuinya.”[5]Abu Salafy berkata: Dan selain mereka banyak Anda temukan keterangan serupa di antaranya dalam tafsir Fathu al Qadîr; karya asy Syaukâni dan al jawâhir al Hisân karya ats Tsa’âlibi… demikian juga keterangan mereka pada ayat surah al Mu’minun ayat 84-92!)) Demikianlah perkataan Abu SalafyPara pembaca yang budiman, pada poin ini kembali Abu Salafy melancarkan tipu muslihatnya setelah berdusta atas nama Imam Al-Qurthubi. Hal ini nampak dari dua sisi: Pertama : Terus terang saya heran dengan ustadz Abu Salafi ini, coba para pembaca membaca perkataan para mufassir di atas. Apakah ada isyarat –bahkan meskipun isyarat dari jauh- dari para ahli tafsir tersebut bahwasanya kaum musyrikin Arab hanyalah berpura-pura tatkala menyatakan bahawasanya Allah lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan memberikan rizki??!!.Justru perkataan para ahli tafsir yang disampaikan oleh ustadz Abu Salafi semuanya mendukung tafsiran salaf bahwasanya kaum musyrikin mengakui rububiyah Allah, sehingga Allah melazimkan kepada mereka bahwasanya jika mereka mengakui Rububiyah Allah maka seharusnya mereka hanya menyembah Allah saja, yaitu seharusnya mereka juga bertauhid uluhiyah. Apakah Abu Salafy yang jago mengkritik Ibnu taimiyyah dan Albani tidak bisa faham perkataan yang ia tulis sendiri yang merupakan terjemahan perkataan para ahli tafsiir??. Sekali lagi saya harap Abu salafy lain kali kalau menerjemahkan perkataan para ulama dicantumkan teks arabnya, kawatir salah menerjemahkan, atau sudah benar terjemahannya namun salah kesimpulannya sebagaimana di sini. Kedua : Abu Salafy menyebutkan banyak ahli tafsir dalam pernyataannya di atas agar mengesankan kepada para pembaca bahwasanya yang berpendapat seperti dia adalah banyak dari kalangan ulama. Padahal ini hanya tipu muslihat saja. Justru seluruh perkataan ahli tafsir yang ia sebutkan mendukung apa yang telah ana jelaskan, bahwasanya kaum musyrikin Arab mengakui bahwasanya Allah-lah satu-satunya yang telah menciptakan langit dan bumi. Secara tidak langsung bisa dikatakan Abu Salafy juga telah berdusta atas nama para ahli tafsir tersebut yang telah ia nukilkan di sini.Adapun perkataan Abu Salafy ((Dari sini dapat Anda saksikan bahwa keterangan saya bukan mengada-ngada dan tanpa dasar rujukan kepada para ahli tafsir! Jika saudara Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja tidak sependapat dengan saya dalam memahami ayat-ayat di atas itu adalah hak dia. Tetapi ia tidak berhak menganggap apa yang dia pilih adalah satu-satunya tafsiran dalam ayat-ayat tersebut apalagi memaksa orang lain menerima pilihannya itu!)) Firanda berkata : Praktekanlah perkataanmu ini wahai abu salafy pada diri anda. Bukankah syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab telah menafsirkan dengan tafsiran salaf bahwasanya kaum musyrikin Arab mengakui rububiyah Allah, lantas mengapa anda sewot untuk membantah beliau, apalagi membantah beliau rahimahullah dengan nekad berdusta atas nama Imam Al-Qurthubi secara sengaja??, dan juga berdusta atas nama para ahli tafsir secara tidak langsung??!!Abu Salafy Berusaha untuk Melegalkan Pendapatnya dari Mujahid rahimahullah. Abu Salafy berkata : ((Ibnu Jarîr Menukil Bahwa Mujahid berpendapat Seperti Pendapat yang Kami KemukakanKetika menafsirkan ayat 22 surah al Baqarah, Ibnu Jarîr ath Thabari menukil dua pendapat tentang siapa yang menjadi alamat pembicaraan Allah dengan firman-Nya:فَلاَ تَجْعَلُوْا ِللهِ أَندَاداً وَ أَنتُمْ تَعْلَمُوْنَ“Oleh karena itu, janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui (bahwa tidak satupun dari para sekutu itu yang menciptakanmu dan memberikan rezeki kepadamu).”Pendapat pertama: yang dimaksud adalah kaum Musyrik dan juga Ahlul Kitab. Pendapat ini dinukil dari Ibnu Abbas ra.Pendapat kedua: Yang dimaksud adalah Ahlul Kitab. Kaum Musyrik tidak termasuk. Ini pendapat Mujahid. Juga dari generasi Salaf.“Kemudian Ibnu Jarîr ath Thabari berkomentar, “Dalam hemat saya yang mendorong Mujahid berta’wil seperti itu dan menyandarkan alamat pembicaraan itu hanya kepada Ahlul Kitab; Taurat dan Injil bukan selain mereka adalah anggapan bahwa bangsa Arab tidak mengetahui bahwa Allah itu adalah Sang Pencipta, Pemberi Rizki karena mereka mengingkari dan mengkufuri keesaan Tuhan mereka dan mempersekutukan-Nya dalam penyembahan sesembahan lain. Memang ini adalah pendapat yang juga ada. Hanya saja Allah SWT mengabarkan dalam kitab-Nya bahwa mereka itu mengakui keesaan Allah hanya saja mereka menyekutukan-Nya dalam penghambaan sesembahan-sesembahan lain.”[6]Betapa pun ath Thabari tidak memilih pendapat Mujahid namun adalah bukti bahwa di kalangan para penafsir Salaf ada yang berpendapat seperti itu!)) Demikian perkataan Abu SalafyFiranda berkata : Untuk menjelaskan hal ini maka saya katakan : Pertama : Marilah kita lihat tafsiran Mujahid yang sebenarnya dengan sanadnya sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jariir At-Thobari dan Ibnu Abi Hatim.Adapun dalam tafsir At-Thobari (1/393) maka sebagai berikut: “…Dari Sufyaan (At-Tsauri) dari seseorang dari Muhahid ((Janganlah kalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah padahal kalian mengetahui)) bahwasanya Allah adalah sesembahan yang Esa (sebagaimana tersebut) di Tauroot dan Injiil”Adapun pada tafsir Ibnu Abi Haatim (1/62 no 232) adalah sebagai berikut: “…Dari Sufyaan (At-Tsauri) dari seseorang yang mengabarkan kepadanya dari Muhahid tentang firman Allah ((Janganlah kalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah padahal kalian mengetahui)) beliau (Mujahid) berkata : bahwasanya kalian mengetahui Allah adalah sesembahan yang Esa (sebagaimana tersebut) di Tauroot dan Injiil”Para pembaca yang budiman, Mujahid bin Jabr Abul Hajjaaj wafat pada tahun 101 atau 102 atau 103 Hijriah (lihat Tahdziib At-Thdziib 4/25-26 atau Taqriib At-Tahdziib hal 921) adapun Sufyaan adalah Sufyaan bin Sa’iid bin Masruuq Ats-Tsauri maka beliau wafat pada tahun 161 (lihat Tahdziib At-Tahdziib 2/56-58 atau Taqriib At-Tahdziib hal 394)Sufyan At-Tsauri tidak termasuk daftar orang-orang yang meriwayatkan dari Mujahid dan juga sebaliknya Mujahid bukanlah termasuk daftar orang-orang yang diambil riwayatnya oleh Sufyaan (silahkan kedua daftar tersebut dalam kita Tahdziib At-Tahdziib). Dan Sufyaan At-Tsauri meninggal tatkala berumur 64 tahun pada tahun 161 H (lihat Taqriib At-Tahdziib hal 394), berarti Sufyaan lahir sekitar tahun 97 Hijriyah. Hal ini menunjukan bahwa tatkala Mujahid meninggal pada tahun 102 Hijriyah berarti tatkala itu Sufyaan berumur sekitar 5 tahun. Oleh karenanya Sufyan meriwayatkan dari Mujahid dengan perantara.Dalam dua sanad hadits di atas sangatlah nampak bahwasanya ada perantara antara Sufyan dan Mujahid yang majhul, dan dalam ilmu hadits sanad yang seperti ini hukumnya lemah. Dan hal ini tentunya diketahui oleh ustadz Abu Salafy yang pandai mengkritik syaikh Al-Albani rahimahullah. Jika seandainya Sufyan termasuk murid Mujahid namun meriwayatkan dengan perantara yang majhul dari Mujahid maka para ulama hadits menghukumnya sebagai sanad yang lemah, apalagi jika ternyata Sufyaan bukan termasuk dari muridnya Mujahid??!!Kedua : Ada tafsiran dengan banyak sanad yang bersambung dari Mujahid yang mendukung pendapat Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah dan berseberangan dengan pendapat Abu Salafy.At-Thobari membawakan riwayat-riwayat tersebut dalam tafsirnya (13/374-375) sebagaimana berikut ini: Dalam atsar-atsar di atas Mujahid menafsirkan tentang orang-orang musyrik secara umum (tanpa membatasi pada Ahlul Kitab saja) bahwasanya mereka beriman bahwasanya Allah pencipta mereka, yang memberi rizki kepada mereka, dan yang mematikan mereka.Bahkan dalam atsar yang terakhir Mujahid (dan juga Ikrimah dan ‘Aamir) mereka berkata, “Tidak seorangpun kecuali ia mengetahui bahwasanya Allah-lah yang menciptakannya dan menciptakan langit dan bumi” (Lihat Tafsir At-Thobari 13/375)Lantas kenapa ustadz Abu Salafy memilih tafsir dari Mujahid dengan sanad yang lemah dan meninggalkan tafsiran-tafsiran beliau dengan sanad yang bersambung?!!Ketiga : Kalaupun tafsiran Mujahid yang disebutkan oleh Abu Salafy adalah tafsiran yang shahih maka hal ini sama sekali tidak menunjukkan bahwasanya beliau menyatakan bahwa kaum musyrikin Arab mengingkari adanya Allah sebagaimana pernyataan Abu Salafy.Coba perhatikan perkataan Mujahid (dengan sanad yang lemah tersebut) :“Bahwasanya kalian mengetahui Allah adalah sesembahan yang Esa (sebagaimana tersebut) di Tauroot dan Injiil”Dalam perkataan di atas sama sekali tidak ada pernyataan Mujahid bahwasanya kaum musyrikin Arab mengingkari adanya Allah. Beliau hanya menjelaskan bahwasanya ayat 22 dari surat Al-Baqoroh tersebut berkenaan dengan ahlul kitab Yahudi dan Nasoro.Oleh karenanya apa yang dikatakan oleh At-Thobari ((Dalam hemat saya yang mendorong Mujahid berta’wil seperti itu dan menyandarkan alamat pembicaraan itu hanya kepada Ahlul Kitab; Taurat dan Injil bukan selain mereka adalah anggapan bahwa bangsa Arab tidak mengetahui bahwa Allah itu adalah Sang Pencipta, Pemberi Rizki karena mereka mengingkari dan mengkufuri keesaan Tuhan mereka dan mempersekutukan-Nya dalam penyembahan sesembahan lain. Memang ini adalah pendapat yang juga ada. Hanya saja Allah SWT mengabarkan dalam kitab-Nya bahwa mereka itu mengakui keesaan Allah hanya saja mereka menyekutukan-Nya dalam penghambaan sesembahan-sesembahan lain)) maka itu hanyalah praduga Imam At-Thobari, namun kita tidak menerima praduga tersebut karena beberapa hal diantaranya :– Riwayat tafsiran Mujahid ini lemah– Lafal dari tafsiran Mujahid tidak menunjukan akan hal itu– Riwayat yang bersambung dari Mujahid menunjukan kaum musyrikin Arab juga mengakui adanya Allah dan mengakui rububiyah AllahTipu Muslihat BerikutnyaAbu Salafy menyebutkan pendapat-pendapat lain dari para ulama tentang tafsir ayat 106 dari surat Yusuf dengan mengesankan kepada para pembaca bahwa tafsiran-tafsiran tersebut mendukung pendapat dia bahwasanya kaum musyrikin Arab mengingkari adanya Allah. Padahal tafsiran-tafsiran yang ada tersebut sama sekali tidak menafikan percayanya kaum musyrikin Arab dengan rububiyah Allah.Abu Salafy berkata ((Tentang Ayat 106 Surah YusufAllah SWT berfitman:وَ ما يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلاَّ وَ هُمْ مُشْرِكُونَ“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).”Adapun tentang ayat di atas, maka perlu diketahui bahwa selain tafsir yang disebutkan saudara kita Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja juga ada pendapat lain yang disampaikan oleh Ibnu Jauzi (w. 597 H) dalam tafsirnya yang jalas menerangkan bahwa mereka yang dimaksud bukankah Mukmin sejatinya…ia berkata, “Jika dikatakan, ‘Bagaimana Allah mensifati si musyrik itu dengan keimanan?’ Maka jawabnya, ‘Sesungguhnya yang dimaksud bukanlah hakikat keimanan, akan tetapi maknanya bahwa kebanyakan mereka meskipun mereka menampakkan keimanan dengan lisan-lisan mereka, mereka itu adalah orang-orang musyrik.”[7]Ibnu ‘Athiyah (W.546 H) menukil Ibnu Abbas ra. sebagai berkata, “Ayat itu untuk Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani) mereka beriman kepada Allah kemudian mereka menyekutukan-Nya dari sisi kekafiran mereka kepada nabi-Nya. Atau dari sisi perkataan mereka Uzair itu anak Tuhan. Isa anak Tuhan… .”[8]Adapun Ibnu Abi Hâtim ia menukil dua riwayat tentang tafsir ayat ini. Pertama, bahwa ayat ini berbicarta tentang syirik ashghar/kecil. Maksudnya adalah riyâ’. Ia berkata, ‘…. Dari Zakariya ibn Zurarah ayahku bercerita kepadaku, ia baerkata, ‘Aku bertanya kepada Abu Ja’far Muhammad ibn Ali tentang ayat: “Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” Maka berkata Abu Ja’far, “Syirik dalam ketaatan. Seperti ucapann seorang, ‘Anda bukan karena Allah dan karena si fulan, … .”[9]Pendapat Ibnu Jarîr ath ThabariSeperti dikutip saudara kita dari Ibnu Jarîr ath Thabari bahwa ia berkata:Perkataan tentang ta’wil firman Allah “Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah kecuali mereka berbuat kesyirikan” (QS Yusuf : 106)Allah berkata: Dan tidaklah kebanyakan mereka –yaitu yang telah disifati oleh Allah dengan firmanNyaوَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya” mengakui bahwasanya Allah pencipta mereka, pemberi rizki kepada mereka, dan pencipta segala sesuatu melainkan mereka berbuat kesyirikian kepada Allah dalam peribadatan mereka kepada patung-patung dan arca-arca dan menjadikan selain Allah sebagai tandingan bagi Allah dan persangkaan mereka bahwasanya Allah memiliki anak. Maha tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan. Dan para ahli tafsir berpendapat seperti pendapat kami ini.”[10]Dari kutipan itu kita dapat menyaksikan bagaimana Imam ath Thabari sadar bahwa kemusyrikan mereka dalam penyembahan itu meskipun mereka beriman dalam pengesaan Allah dalam urusan penciptaan dan pengaturan, bukanlah sebab tunggal. Tetapi di samping itu dikeranakan mereka mengaku bahwa Allah punya anak.)) demikian perkataan Abu SalafyTipu Muslihat Abu Salafy dalam pemaparan diatas dari dua sisi : Pertama : Tidak amanah dalam menukil perkataan Ibnul Jauzii. Sebagai bukti maka saya akan membawakan perkataan Ibnul Jauzi tersebut secara lengkap.Abu Salafy menukil perkataan Ibnul Jauzi ((“Jika dikatakan, ‘Bagaimana Allah mensifati si musyrik itu dengan keimanan?’ Maka jawabnya, ‘Sesungguhnya yang dimaksud bukanlah hakikat keimanan, akan tetapi maknanya bahwa kebanyakan mereka meskipun mereka menampakkan keimanan dengan lisan-lisan mereka, mereka itu adalah orang-orang musyrik.)) maka jika seseorang membacanya dengan sekilas maka seakan-akan mengesankan bahwasanya Ibnul Jauzi berpendapat bahwasanya kaum muysrik arab tidak beriman dengan rububiyah Allah, mereka hanya beriman dengan lisan mereka saja.Berikut nukilan Ibnul Jauzi rahimahullah secara lengkap ((Firman Allah ((“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain))), maka tentang kaum musyrikin di sini ada tiga pendapat.Pendapat Pertama : Mereka adalah kaum musyrikin, kemudian tentang makna ayat yang berkaitan dengan kaum musyrikin ini ada dua pendapat. Yang pertama bahwasanya mereka beriman bahwasanya Allah pencipta mereka dan yang memberi rizqi kepada mereka dan mereka berbuat kesyirikan kepada Allah, Abu Sholeh meriwayatkan tafsiran ini dari Ibnu Abbaas, dan ini pendapat Mujahid, Ikrimah, As-Sya’bi, dan Qotaadah .Yang kedua ayat ini turun tentang talbiyahnya kaum musyrikin Arab, mereka berkata, “Aku memenuhi panggilanMu Yaa Allah, aku memenuhi penggilanMu Yaa Allah tidak ada syarikat bagiMu, kecuali syarikat milikMu, Engkau memiliki syarikat itu,dan syarikat itu tidak memiliki”. Tafsir ini diriwayatkan oleh Ad-Dhohaak dari Ibnu Abbaas.Pendapat Kedua : Mereka adalah kaum Nashrani, mereka beriman bahwasanya Allah adalah pencipta mereka dan pemberi rizki bagi mereka, meskipun demikian mereka berbuat kesyirikan kepada Allah. Tafsiran ini diriwayatkan oleh Al-‘Aufi dari Ibnu AbbaasPendapat Ketiga : Mereka adalah kaum munafiq, mereka beriman secara dzohir karena riyaa’ kepada orang-orang akan tetapi dalam batin mereka kafir kepada Allah, ini tafsiran Al-HasanJika dikatakan, ‘Bagaimana Allah mensifati si musyrik itu dengan keimanan?’ Maka jawabnya, ‘Sesungguhnya yang dimaksud bukanlah hakikat keimanan, akan tetapi maknanya bahwa kebanyakan mereka meskipun mereka menampakkan keimanan dengan lisan-lisan mereka, mereka itu adalah orang-orang musyrik)) Demikian perkataan Ibnu Jauzii secara lengkap.Perkataan Ibnul jauzi yang dinukil oleh Abu Salafy sama sekali tidak menunjukan bahwa kaum musyrikin baik kaum musyrikin Arab maupun kaum Nashrani tidak percaya kepada adanya Allah. Akan tetapi Ibnul Jauzii sedang menjelaskan tentang kaum musyrikin yang disifati beriman oleh Allah karena pada hekekatnya keimanan mereka itu bukan iman yang haqiqi, meskipun mereka mengakui dengan lisan-lisan mereka tentang rubuiyah Allah (Allah pencipta dan pemberi rizki) namun mereka berbuat kesyirikan dalam peribadatan. Karena Ibnul Jauzi telah menyatakan dalam tafsirnya tatkala menafsirkan ayat 61 dari surat Al-Ankabuut (tanpa menyebutkan khilaf sama sekali tentang tafsiran ayat 61 ini) bahwasanya kaum muyrikin Mekah mengimani bahwasanya Allah yang menciptakan mereka dan memberi rizki kepada mereka. Ibnul Jauzii berkata : “Firman Allah ((Jika engkau bertanya kepada mereka…)) yakni kaum kafir Mekah, dan mereka mengakui bahwasanya Allah adalah pencipta dan Maha pemberi rizki. Hanyalah Allah memerintahkan Nabi untuk berkata “Alhamdulillah” yaitu atas pengakuan mereka (tersebut). Karena hal ini menjadikan mereka terkonsekuensikan dengan hujjah, maka wajib bagi mereka untuk bertauhid (yaitu dalam peribadatan-pen). ((Akan tetapi kebanyakan mereka tidak memikirkan)) mentauhidkan Allah padahal mereka mengakui bahwasanya Allah adalah Maha Pencipta” (Zaadul Masiir 6/283)Kedua : Abu Salafy mengesankan kepada para pembaca bahwa jika ada pendapat yang lain dalam satu ayat berarti mendukung pendapatnya bahwasanya kaum musyrikin Arab tidak mengakui adanya Allah. Ini merupakan tipu muslihat yang cukup halus sekali. Pendalilan Abu salafy ini bisa benar jika ada satu tafsir dari seluruh ayat dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa kaum musyrikin Arab tidak mengakui adanya Allah. Namun kenyataannya tidak ada satu tafsiranpun dari ayat-ayat di atas yang menyatakan pendapat Abu Salafy.Oleh karenanya saya meminta Abu Salafy tolong tunjukan kepada saya satu tafsir saja dari ulama salaf (tentunya dengan sanad yang bersambung dan shahih) atau bahkan dari ulama kholaf yang menyatakan bahwasanya kaum musyrikin Arab tidak mengakui adanya Allah, dan pengakuan mereka hanyalah pura-pura saja???!!!Jika para pembaca membaca para perkataan semua Ahli tafsir yang dinukil oleh Abu Salafy maka seluruh ahli tafsir tersebut setuju bahwasanya kaum muysrikin Arab mengakui bahwasanya Allah yang menciptakan mereka dan memberi rizki kepada mereka.Adapun nukilan dari Ibnu Jauzi maka telah lalu, adapun nukilan dari Ibnu Athiyyah (yang disampaikan oleh Abu Salafy secara tidak lengkap) maka secara lengkapnya sbb :Ibnu ‘Athiyyah berkata, “Dan firman Allah ((Dan kebanyakan mereka tidak beriman…)). Ibnu Abbaas berkata : ayat ini tentang Ahlul Kitab yang mereka beriman kepada Allah kemudian mereka berbuat kesyirikan dari sisi mereka kafir kepada nabi Allah, atau dari sisi perkataan mereka “Uzair adalah anak Allah” dan Al-Masiih adalah anak Allah”.Ikrimah, Mujaahid, Qotaadah, dan Ibnu Zaid mengatakan bahwasanya ayat ini tentang kaum kafir Arab, dan keimanan mereka adalah pengakuan mereka bahwasanya Allah Maha Pencipta, Maha pemberi Rizki, Yang mematikan, maka Allah menamakan pengakuan mereka ini keimanan meskipun keimanan tersebut disudahi dengan kesyirikan mereka terhadap berhala-berhala dan patung-patung. Ini hanya iman secara bahasa saja dari sisi pembenaran hal-hal tersebut.Dan dikatakan bahwasanya ayat ini turun disebabkan perkataan kaum Quraisy tatkala thowaf dan talbiyah “Ya Allah tidak ada syarikat bagiMu kecuali syarikat milik-Mu, Engkau memilikinya dan ia tidak memiliki” (Al-Muharroor Al-Wajiiz 3/285)Demikian juga tafsiran para ahli tafsir yang lainnya, tidak seorangpun dari mereka yang menyatakan bahwa kaum musyrikin Arab mengingkari adanya Allah.Kesimpulan :Pertama : Abu Salafy telah berdusta atas nama Imam Al-Qurthubi. Dan ini adalah hal yang ringan bagi Abu Salafy, jika ia telah berani berdusta atas nama Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu (sebagaimana dalam bantahan ana : tentang tipu muslihat Abu salafy cs) maka bagaimana lagi dengan Imam Al-Qurthubi??!!Kedua : Abu Salafy tidak paham perkataan para ahli tafsir. Sehingga akhirnya salah menyimpulkan. Inilah yang membuat saya malas untuk membantah abu salafy lebih jauh lagi, karena begitu soknya ia membantah Ibnu Taimiyyah, ana khawatir ia rupanya salah paham dengan perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Ketiga : Semakin jelas bahwasanya Abu Salafy dalam tafsirannya (bahwasanya kaum musyrikin arab sebenarnya mengingkari adanya Allah dan hanya pura-pura tatkala menyatakan Allah yang menciptakan langit dan bumi) tidak mengikuti satupun pendapat dari kalangan salaf. Maka abu salafy hendaknya mengganti gelarnya dari abu salafy menjadi abu kholafi.Bahkan tidak ada seorangpun dari para ahli tafsir dari kholaf yang berpendapat dengan pendapatnya. Oleh karenanya tafsiran Abu salafy tersebut adalah bid’ah dalam ilmu tafsir yang tidak pernah dinyatakan oleh seorangpun dari kalangan salaf dan kholaf. Dan saya tidak akan mencabut pernyataan tafsiran bid’ah ini sampai Abu Salafy mendatangkan satu ulama saja dari salaf maupun kholaf yang berpendapat seperti pendapatnya. Oleh karenanya tidak pantas juga gelar abu salafy diganti menjadi abu kholafy, akan tetapi yang pantas adalah abu bid’ah??!!. Dan gelar inipun masih baik, namun tidak pantas bagi orang yang tidak berani menampakan jati dirinya untuk berdialog. Oleh karena itu ana kawatir abu salafy ini bukanlah seorang laki-laki akan tetapi seorang wanita. Jadi yang paling pantas adalah digelari ummu bid’ah.Keempat : Jika Abu salafy tidak bisa mendatangkan satu ahli tafsir saja baik dari salaf maupun kholaf maka saya menjadi curiga bahwasanya Abu Salafy bukan hanya mendukung aqidah kaum Rofidhoh, bahkan juga mendukung kaum Jaringan Islam Liberal yang membolehkan menafsirkan dengan hawa nafsu sendiri !!!!Kelima : Jika Abu Salafy berhasil mendatangkan pendapat satu ulama saja yang menyatakan bahwa kaum musyrikin Arab mengingkari adanya Allah maka saya katakan bahwasanya :1) Pendapat tersebut sangatlah lemah karena bertentangan dengan dalil yang begitu banyak yang telah disebutkan oleh para ahli tafsir. Dan sebagian dalil-dalil tersebut telah saya sebutkan dalam tulisan saya di (https://www.firanda.com/index.php/home/31/82-persangkaan-abu-salafy-al-majhuul-bahwasanya-kaum-musyrikin-arab-tidak-mengakui-rububiyyah-allah)2) Sekali lagi orang yang berpendapat dengan pendapat Abu Salafy ini telah dikatakan dungu oleh Ibnu Jariir At-Thobari, beliau berkata “Sebagian orang dungu menyangka bahwasanya orang-orang Arab tidak mengetahui Ar-Rohmaan dan kalimat Ar-Rohman tidak terdapat dalam bahasa mereka, karenanya kaum musyrikin berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ((Siapakah Ar-Rohmaan itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami (bersujud kepada-Nya )”?,)) QS Al-Furqoon : 60, (mereka mengatakan demikian –red) karena mereka mengingkai nama ini. Seakan-akan merupakan hal yang mustahil menurut orang dungu ini kalau kaum musyrikin mengingkari sesuatu yang mereka tahu akan kebenarannya. Atau seakan-akan orang dungu ini tidak membaca firman Allah ((Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepada mereka (yaitu orang-orang yahudi-red) mengetahuinya)) yaitu mengetahui (kebenaran) Nabi Muhmmad, namun meskipun demikian mereka mendustakannya dan menolak kenabiannya. Maka dari sini diketahui bahwasanya mereka (kaum musyrikin Arab) terkadang menolak apa yang mereka telah tahu kebenarannya dan telah jelas diketahui oleh mereka” (Tafsiir At-Thobari 1/130)Dan pengingkaran kaum musyrikin Arab itu hanyalah karena sikap ngeyel, bukan karena mereka tidak mengetahui nama Ar-Rohmaan. Kalau orang yang menyangka bahwasanya kaum musyrikin Arab tidak tahu penamaan Allah dengan Ar-Rohmaan telah dicap “Orang dungu” oleh Ibnu Jariir, maka bagaimana lagi orang yang menyangka bahwasanya kaum musyrikin Arab tidak mengetahui wujudnya Allah…??? (sebagaimana yang disangkakan oleh Abu Salafy, sehingga tidak ada tuhan bagi mereka kecuali arca-arca dan berhala-berhala mereka), maka entah cap apa yang akan diberikan oleh Ibnu Jariir At-Thobari??!!Keenam : Saya meminta Abu Salafy jangan lari diskusi, dan saya harap diskusi kita teatur. Oleh karenanya silahkan menanggapi tulisan pertama saya (https://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/76-mengungkap-tipu-muslihat-abu-salafy-cs) yang mengungkap kedustaan dan manipulasi anda. Itu dulu yang saya tunggu !!!!!!. Dan janganlah anda bersembunyi dibalik perkataan sombong anda ((Tadinya saya tidak tertarik untuk meladeni artikel yang digelar di www.firanda.com yang mengkritik tulisan saya, sebab terkesan tidak memahami pesan inti apa yang saya tulis. Tetapi demi kebenaran dan agar tidak dianggap lari dari medan diskusi maka saya pun menyempatkan diri menulis tanggapan ini…. itupun hanya sekedarnya.. tidak menyoroti seluruh poin yang perlu ditanggapi!)). Buktikanlah bahwa anda adalah seorang laki-laki yang berani dialog !!!Bersambung…!!!Madinah Munawwarah, 07 Safar 1432 / 11 Januari 2011Firanda Andirja www.firanda.com 
Alhamdulillah atas segala nikmat yang Allah karuniakan kepada kita semua, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya serta seluruh sahabatnya.Alhamdulillah tanggapan dari ustadz Abu Salafy yang ana tunggu-tunggu akhirnya muncul juga. Meskipun ustadz Abu salafy langsung meloncat ke tulisan ana yang kedua yang belum selesai. Sebenarnya ada dua perkara yang ana lebih tunggu lagi dari sang ustadzPertama : Menunggu tanggapan beliau terhadap tulisan saya (https://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/76-mengungkap-tipu-muslihat-abu-salafy-cs), karena pada tulisan inilah nampak tipu muslihat yang dilakukan oleh sang ustadz.Kedua : Saya ingin berkenalan dengan sang ustadz dan ingin bisa berdialog langsung dengan beliau. Masih tanda tanya besar dalam hati saya, apakah Abu Salafy ini satu orang atau sebuah lembaga anti wahabi?, lantas apa sebenarnya aqidah yang sedang diperjuangkan oleh Abu Salafy?, Apakah beliau ini seorang yang bermadzhab Asy’ari ataukah Jahmiah?!!Ataukah bermadzhab Syi’ah?!!, hal ini mengingat :– Sang ustadz Abu Slafy mengutuk Mu’aawiyah, yang ini merupakan propaganda orang-orang syi’ah, dan ana ingin tahu dari beliau apakah ada ulama Ahlus Sunnah yang mengutuk Mu’aawiyah?. Untuk masalah Mu’aawiyah radhiallahu ‘anhu insyaa Allah akan ada pembahasan khusus– dan juga sang ustadz ternyata menukil dari kitabnya orang syi’ah.– Aqidah yang diperjuangkan oleh ustadz Abu Salafy (bahwasanya Allah tidak di atas) juga merupakan aqidah orang syi’ah– Sang ustadz sangat getol membantah dan mengejek-ngejek Syaikhul Islaam Ibnu Taimiyyah yang sangat getol membantah aqidah orang syi’ah. Kita tahu betapa besar kebencian orang-orang syi’ah kepada Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang telah mengupas habis syubhat-syubhat mereka dalam kitab beliau “Minhaajus Sunnah An-Nabawiyaah”.Jika memang sang ustadz adalah seorang syi’ah maka tentunya kedustaan dan taqiyyah itu merupakan hal yang biasa.Oleh karenanya saya sangat ingin agar sang ustadz menampakkan jati diri sang ustadz kalau memang sang ustadz “maaf- maaf saja” adalah seorang lelaki…Wallahul Musta’aan.Berikut ini tanggapan saya terhadap tulisan ustadz Abu Salafy dalam web beliau (http://abusalafy.wordpress.com/2011/01/08/benarkan-kaum-musyik-arab-beriman-kepada-tauhid-rububiyyah-allah-bantahan-untuk-ustad-firanda-i/)Berdusta atas Nama Imam Al-QurthubiUstadz Abu Salafy berkata :((Tentang ayat 61 surah al Ankabut:وَ لَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّماواتِ وَ الْأَرْضَ وَ سَخَّرَ الشَّمْسَ وَ الْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka:” Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan” Tentu mereka akan menjawab:” Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).”– Al Qurthubi berkata:“… maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar) maksudnya: Bagaimana mereka kafir dengan keesaan-Ku dan berbalik dari menyembah-Ku. Artinya: Sesungguhnya mereka akan mengatakan jawaban itu dengan lisan mereka saja ketika ditegakkan hujjah-hujjah atas mereka, sementara hakikatnya mereka tidak mengatakan (berpendapat)nya.” [1] Tafsir al Jâmi’ Li Ahkâm al Qur’ân,13/161 Abu Salafy Berkata: Saya tidak mengerti bagaimana saudara Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja dapat tidak membaca ketarangan Imam al Qurthubi di atas pada tafsiran ayat 61 dan ia hanya menampilkan tafsiran ayat 63? Padahal ketika menukil keterangan az Zamakhsyari, misalnya ia jusrtu menampilkan ketarangan tentang tafsir ayat 61! Apakah itu ia sengaja ia lakukan untuk menutup-nutupi kenyataan sebab tidak banyak santri yang akan berkessempatan mengeceknya, apalagi kaum awam?! Atau karena alasan lain. Allahu A’lam. Saya tidak akan berburuk sangka kepadanya)) Demikian perkataan Abu Salafy.Firanda berkata : Saya balik bertanya “Kenapa Abu Salafy tidak menampilkan perkataan Imam Al-Qurthubi dengan bahasa arabnya, ” Apakah itu ia sengaja ia lakukan untuk menutup-nutupi kenyataan, sebab tidak banyak santri yang akan berkesempatan mengeceknya, apalagi kaum awam?! Atau karena alasan lain”??Para pembaca yang budiman untuk mengungkap kedustaan Abu Salafy –sebagaimana kedustaan-kedustaannya yang lainnya yang telah saya ungkap- maka saya akan menukil perkataan Imam Al-Qurthubi tatkala menafsirkan ayat 61 dari surat Al-Ankabuut;Beliau rahimahullah berkata : ““… maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)” maksudnya : bagaimana mereka kafir kepada pentauhidanku dan berpaling dari beribadah kepadaku?” (Tafsir A-Qurthubi tafsir Al-Ankabuut ayat 61)Demikian terjemahan yang benar, akan tetapi lihat bagaimana terjemahan Abu salafi diatas, ternyata ia melakukan tipu muslihat dari dua sisi :Pertama : Tipu muslihat yang pertama Abu salafy menterjemahkan perkataan Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya “بِتَوْحِيْدِي” dengan “Keesaanku” sehingga terjemahan perkataan Imam Al-Qurthubi menjadi “Bagaimana mereka kafir dengan keesaan-Ku ” Yang mengesankan seakan-akan Imam Al-Qurthubi menyatakan bahwsanya orang-orang musyrik Arab mengingkari keesaan Allah dalam tauhid Rububiyyah. Padahal yang dimaksud oleh Imam Al-Qurtubhi dengan tauhid di sini adalah tauhid dalam penyembahan, yaitu tauhid Ulluhiyah, oleh karenanya setelah itu Al-Qurthubi berkata “وَيَنْقَلِبُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيِ” yang artinya, “Dan mereka (kaum muyrikin Arab) berpaling dari beribadah kepadaku?”. Sehingga kalau kita melihat perkataan Al-Qurthubi secara utuh yaitu : ((bagaimana mereka kafir kepada pentauhidanku dan berpaling dari beribadah kepadaku?)) maka jelas maksudnya kaum musyrikin Arab tidak bertauhid kepada Allah dengan memalingkan ibadah kepada selain Allah. Di sinilah letak keanehan kaum musyrikin, bagaimana bisa mereka berpaling dari bertauhid kepada Allah dan dan beribadah kepada selain Allah padahal mereka mengakui Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan yang mengatur perjalanan matahari dan bumi?. Ayat ini dibawakan oleh Allah dalam rangka membantah kaum musyrikin Arab yang mengakui rububiyah Allah akan tetapi tidak mentauhidkan Allah.Jika asalnya mereka tidak mengakui rububiyah Allah maka apa gunanya istifhaam ingkari (pertanyaan Allah yang menunjukan pengingkaran) “?. Kalau mereka tidak percaya adanya Allah maka sudah jelas mereka tidak menyembah Allah.Adapun perkataan Imam Al-Qurthubi yang menegaskan bahwasanya kaum musyrikin Arab mengakui rububiyah Allah maka sangatlah banyak, para pembaca bisa membaca kembali (https://www.firanda.com/index.php/home/31/82-persangkaan-abu-salafy-al-majhuul-bahwasanya-kaum-musyrikin-arab-tidak-mengakui-rububiyyah-allah)Kedua : Tipu muslihat yang kedua ini lebih parah daripada tipu muslihat yang di atas. Bagaimana?, Abu salafy memasukkan perkatannya sendiri setelah perkataan Imam Al-Qurthubi dan mengesankan bahwa perkataannya tersebut adalah perkataan Imam Al-Qurthubi, sehingga Abu Salafy meletakkan tanda footnote[1] setelah perkataannya sendiri dan bukan setelah perkataan Imam Al-Qurthubi”Mari kita lihat kembali perkataan Abu Salafy :((Al Qurthubi berkata: “… maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar) maksudnya: Bagaimana mereka kafir dengan keesaan-Ku dan berbalik dari menyembah-Ku. Artinya: Sesungguhnya mereka akan mengatakan jawaban itu dengan lisan mereka saja ketika ditegakkan hujjah-hujjah atas mereka, sementara hakikatnya mereka tidak mengatakan (berpendapat)nya.” [1] Tafsir al Jâmi’ Li Ahkâm al Qur’ân,13/161))Bahkan untuk memperhalus tipu muslihatnya Abu Salafy menghitamkan/menebalkan perkataannya tersebut, karena itulah perkataan yang sangat penting. Ternyata… itu bukan perkataan Imam Al-Qurthubi akan tetapi perkataannya sendiri….!!!!???Maka saya menghadiahkan kepada Abu Salafy perkataan Abu Salafy sendiri ((Apakah itu ia sengaja ia lakukan untuk menutup-nutupi kenyataan sebab tidak banyak santri yang akan berkessempatan mengeceknya, apalagi kaum awam?! Atau karena alasan lain ?!)) Abu Salafy Tidak Paham Perkataan Para Ulama Tafsir Abu Salafy berkata : ((Tentang Ayat 31 surah Yunus:قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّماءِ وَ الْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَ الْأَبْصارَ وَ مَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَ يُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَ مَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَ فَلا تَتَّقُونَ“Katakanlah:” Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan” Maka mereka akan menjawab:” Allah”. Maka katakanlah:” Mengapa kamu tidak bertakwa) (kepada- Nya).”* Al Qurthubui juga berkata:“Maka mereka akan menjawab:’Allah’.” Sebab mereka meyakini bahwa Sang pencipta adalah Allah. Atau mereka akan mengatakan dia adalah “Allah” jika mereka mau berfikir dan bersikap obyektif.”[2]* Ibnu ‘Athiyyah berkata tentang ayat di atas: “Maka mereka akan menjawab:’Allah’.” Tidak ada jalan bagi mereka kecuali mengatakannya dan mereka tidak dapat menentang dengan selainnya.[3] * Imam al baidhawi berkata:“Maka mereka akan menjawab:’Allah’.” Sebab mereka tidak dapat menentang dan membantah dalam masalah ini mengingat begitu jelasnya bukti.[4] * Al Gharnâthi berkata tentang ayat 31 di atas:“Katakanlah:” Siapakah yang memberi rezeki kepadamu ….. “ Ayat ini adalah berargumentasi atas kaum kafir dengan hujjah yang banyak lagi jelas yang tiada jalan bagi mereka melainkan mengakuinya.”[5]Abu Salafy berkata: Dan selain mereka banyak Anda temukan keterangan serupa di antaranya dalam tafsir Fathu al Qadîr; karya asy Syaukâni dan al jawâhir al Hisân karya ats Tsa’âlibi… demikian juga keterangan mereka pada ayat surah al Mu’minun ayat 84-92!)) Demikianlah perkataan Abu SalafyPara pembaca yang budiman, pada poin ini kembali Abu Salafy melancarkan tipu muslihatnya setelah berdusta atas nama Imam Al-Qurthubi. Hal ini nampak dari dua sisi: Pertama : Terus terang saya heran dengan ustadz Abu Salafi ini, coba para pembaca membaca perkataan para mufassir di atas. Apakah ada isyarat –bahkan meskipun isyarat dari jauh- dari para ahli tafsir tersebut bahwasanya kaum musyrikin Arab hanyalah berpura-pura tatkala menyatakan bahawasanya Allah lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan memberikan rizki??!!.Justru perkataan para ahli tafsir yang disampaikan oleh ustadz Abu Salafi semuanya mendukung tafsiran salaf bahwasanya kaum musyrikin mengakui rububiyah Allah, sehingga Allah melazimkan kepada mereka bahwasanya jika mereka mengakui Rububiyah Allah maka seharusnya mereka hanya menyembah Allah saja, yaitu seharusnya mereka juga bertauhid uluhiyah. Apakah Abu Salafy yang jago mengkritik Ibnu taimiyyah dan Albani tidak bisa faham perkataan yang ia tulis sendiri yang merupakan terjemahan perkataan para ahli tafsiir??. Sekali lagi saya harap Abu salafy lain kali kalau menerjemahkan perkataan para ulama dicantumkan teks arabnya, kawatir salah menerjemahkan, atau sudah benar terjemahannya namun salah kesimpulannya sebagaimana di sini. Kedua : Abu Salafy menyebutkan banyak ahli tafsir dalam pernyataannya di atas agar mengesankan kepada para pembaca bahwasanya yang berpendapat seperti dia adalah banyak dari kalangan ulama. Padahal ini hanya tipu muslihat saja. Justru seluruh perkataan ahli tafsir yang ia sebutkan mendukung apa yang telah ana jelaskan, bahwasanya kaum musyrikin Arab mengakui bahwasanya Allah-lah satu-satunya yang telah menciptakan langit dan bumi. Secara tidak langsung bisa dikatakan Abu Salafy juga telah berdusta atas nama para ahli tafsir tersebut yang telah ia nukilkan di sini.Adapun perkataan Abu Salafy ((Dari sini dapat Anda saksikan bahwa keterangan saya bukan mengada-ngada dan tanpa dasar rujukan kepada para ahli tafsir! Jika saudara Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja tidak sependapat dengan saya dalam memahami ayat-ayat di atas itu adalah hak dia. Tetapi ia tidak berhak menganggap apa yang dia pilih adalah satu-satunya tafsiran dalam ayat-ayat tersebut apalagi memaksa orang lain menerima pilihannya itu!)) Firanda berkata : Praktekanlah perkataanmu ini wahai abu salafy pada diri anda. Bukankah syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab telah menafsirkan dengan tafsiran salaf bahwasanya kaum musyrikin Arab mengakui rububiyah Allah, lantas mengapa anda sewot untuk membantah beliau, apalagi membantah beliau rahimahullah dengan nekad berdusta atas nama Imam Al-Qurthubi secara sengaja??, dan juga berdusta atas nama para ahli tafsir secara tidak langsung??!!Abu Salafy Berusaha untuk Melegalkan Pendapatnya dari Mujahid rahimahullah. Abu Salafy berkata : ((Ibnu Jarîr Menukil Bahwa Mujahid berpendapat Seperti Pendapat yang Kami KemukakanKetika menafsirkan ayat 22 surah al Baqarah, Ibnu Jarîr ath Thabari menukil dua pendapat tentang siapa yang menjadi alamat pembicaraan Allah dengan firman-Nya:فَلاَ تَجْعَلُوْا ِللهِ أَندَاداً وَ أَنتُمْ تَعْلَمُوْنَ“Oleh karena itu, janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui (bahwa tidak satupun dari para sekutu itu yang menciptakanmu dan memberikan rezeki kepadamu).”Pendapat pertama: yang dimaksud adalah kaum Musyrik dan juga Ahlul Kitab. Pendapat ini dinukil dari Ibnu Abbas ra.Pendapat kedua: Yang dimaksud adalah Ahlul Kitab. Kaum Musyrik tidak termasuk. Ini pendapat Mujahid. Juga dari generasi Salaf.“Kemudian Ibnu Jarîr ath Thabari berkomentar, “Dalam hemat saya yang mendorong Mujahid berta’wil seperti itu dan menyandarkan alamat pembicaraan itu hanya kepada Ahlul Kitab; Taurat dan Injil bukan selain mereka adalah anggapan bahwa bangsa Arab tidak mengetahui bahwa Allah itu adalah Sang Pencipta, Pemberi Rizki karena mereka mengingkari dan mengkufuri keesaan Tuhan mereka dan mempersekutukan-Nya dalam penyembahan sesembahan lain. Memang ini adalah pendapat yang juga ada. Hanya saja Allah SWT mengabarkan dalam kitab-Nya bahwa mereka itu mengakui keesaan Allah hanya saja mereka menyekutukan-Nya dalam penghambaan sesembahan-sesembahan lain.”[6]Betapa pun ath Thabari tidak memilih pendapat Mujahid namun adalah bukti bahwa di kalangan para penafsir Salaf ada yang berpendapat seperti itu!)) Demikian perkataan Abu SalafyFiranda berkata : Untuk menjelaskan hal ini maka saya katakan : Pertama : Marilah kita lihat tafsiran Mujahid yang sebenarnya dengan sanadnya sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jariir At-Thobari dan Ibnu Abi Hatim.Adapun dalam tafsir At-Thobari (1/393) maka sebagai berikut: “…Dari Sufyaan (At-Tsauri) dari seseorang dari Muhahid ((Janganlah kalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah padahal kalian mengetahui)) bahwasanya Allah adalah sesembahan yang Esa (sebagaimana tersebut) di Tauroot dan Injiil”Adapun pada tafsir Ibnu Abi Haatim (1/62 no 232) adalah sebagai berikut: “…Dari Sufyaan (At-Tsauri) dari seseorang yang mengabarkan kepadanya dari Muhahid tentang firman Allah ((Janganlah kalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah padahal kalian mengetahui)) beliau (Mujahid) berkata : bahwasanya kalian mengetahui Allah adalah sesembahan yang Esa (sebagaimana tersebut) di Tauroot dan Injiil”Para pembaca yang budiman, Mujahid bin Jabr Abul Hajjaaj wafat pada tahun 101 atau 102 atau 103 Hijriah (lihat Tahdziib At-Thdziib 4/25-26 atau Taqriib At-Tahdziib hal 921) adapun Sufyaan adalah Sufyaan bin Sa’iid bin Masruuq Ats-Tsauri maka beliau wafat pada tahun 161 (lihat Tahdziib At-Tahdziib 2/56-58 atau Taqriib At-Tahdziib hal 394)Sufyan At-Tsauri tidak termasuk daftar orang-orang yang meriwayatkan dari Mujahid dan juga sebaliknya Mujahid bukanlah termasuk daftar orang-orang yang diambil riwayatnya oleh Sufyaan (silahkan kedua daftar tersebut dalam kita Tahdziib At-Tahdziib). Dan Sufyaan At-Tsauri meninggal tatkala berumur 64 tahun pada tahun 161 H (lihat Taqriib At-Tahdziib hal 394), berarti Sufyaan lahir sekitar tahun 97 Hijriyah. Hal ini menunjukan bahwa tatkala Mujahid meninggal pada tahun 102 Hijriyah berarti tatkala itu Sufyaan berumur sekitar 5 tahun. Oleh karenanya Sufyan meriwayatkan dari Mujahid dengan perantara.Dalam dua sanad hadits di atas sangatlah nampak bahwasanya ada perantara antara Sufyan dan Mujahid yang majhul, dan dalam ilmu hadits sanad yang seperti ini hukumnya lemah. Dan hal ini tentunya diketahui oleh ustadz Abu Salafy yang pandai mengkritik syaikh Al-Albani rahimahullah. Jika seandainya Sufyan termasuk murid Mujahid namun meriwayatkan dengan perantara yang majhul dari Mujahid maka para ulama hadits menghukumnya sebagai sanad yang lemah, apalagi jika ternyata Sufyaan bukan termasuk dari muridnya Mujahid??!!Kedua : Ada tafsiran dengan banyak sanad yang bersambung dari Mujahid yang mendukung pendapat Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah dan berseberangan dengan pendapat Abu Salafy.At-Thobari membawakan riwayat-riwayat tersebut dalam tafsirnya (13/374-375) sebagaimana berikut ini: Dalam atsar-atsar di atas Mujahid menafsirkan tentang orang-orang musyrik secara umum (tanpa membatasi pada Ahlul Kitab saja) bahwasanya mereka beriman bahwasanya Allah pencipta mereka, yang memberi rizki kepada mereka, dan yang mematikan mereka.Bahkan dalam atsar yang terakhir Mujahid (dan juga Ikrimah dan ‘Aamir) mereka berkata, “Tidak seorangpun kecuali ia mengetahui bahwasanya Allah-lah yang menciptakannya dan menciptakan langit dan bumi” (Lihat Tafsir At-Thobari 13/375)Lantas kenapa ustadz Abu Salafy memilih tafsir dari Mujahid dengan sanad yang lemah dan meninggalkan tafsiran-tafsiran beliau dengan sanad yang bersambung?!!Ketiga : Kalaupun tafsiran Mujahid yang disebutkan oleh Abu Salafy adalah tafsiran yang shahih maka hal ini sama sekali tidak menunjukkan bahwasanya beliau menyatakan bahwa kaum musyrikin Arab mengingkari adanya Allah sebagaimana pernyataan Abu Salafy.Coba perhatikan perkataan Mujahid (dengan sanad yang lemah tersebut) :“Bahwasanya kalian mengetahui Allah adalah sesembahan yang Esa (sebagaimana tersebut) di Tauroot dan Injiil”Dalam perkataan di atas sama sekali tidak ada pernyataan Mujahid bahwasanya kaum musyrikin Arab mengingkari adanya Allah. Beliau hanya menjelaskan bahwasanya ayat 22 dari surat Al-Baqoroh tersebut berkenaan dengan ahlul kitab Yahudi dan Nasoro.Oleh karenanya apa yang dikatakan oleh At-Thobari ((Dalam hemat saya yang mendorong Mujahid berta’wil seperti itu dan menyandarkan alamat pembicaraan itu hanya kepada Ahlul Kitab; Taurat dan Injil bukan selain mereka adalah anggapan bahwa bangsa Arab tidak mengetahui bahwa Allah itu adalah Sang Pencipta, Pemberi Rizki karena mereka mengingkari dan mengkufuri keesaan Tuhan mereka dan mempersekutukan-Nya dalam penyembahan sesembahan lain. Memang ini adalah pendapat yang juga ada. Hanya saja Allah SWT mengabarkan dalam kitab-Nya bahwa mereka itu mengakui keesaan Allah hanya saja mereka menyekutukan-Nya dalam penghambaan sesembahan-sesembahan lain)) maka itu hanyalah praduga Imam At-Thobari, namun kita tidak menerima praduga tersebut karena beberapa hal diantaranya :– Riwayat tafsiran Mujahid ini lemah– Lafal dari tafsiran Mujahid tidak menunjukan akan hal itu– Riwayat yang bersambung dari Mujahid menunjukan kaum musyrikin Arab juga mengakui adanya Allah dan mengakui rububiyah AllahTipu Muslihat BerikutnyaAbu Salafy menyebutkan pendapat-pendapat lain dari para ulama tentang tafsir ayat 106 dari surat Yusuf dengan mengesankan kepada para pembaca bahwa tafsiran-tafsiran tersebut mendukung pendapat dia bahwasanya kaum musyrikin Arab mengingkari adanya Allah. Padahal tafsiran-tafsiran yang ada tersebut sama sekali tidak menafikan percayanya kaum musyrikin Arab dengan rububiyah Allah.Abu Salafy berkata ((Tentang Ayat 106 Surah YusufAllah SWT berfitman:وَ ما يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلاَّ وَ هُمْ مُشْرِكُونَ“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).”Adapun tentang ayat di atas, maka perlu diketahui bahwa selain tafsir yang disebutkan saudara kita Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja juga ada pendapat lain yang disampaikan oleh Ibnu Jauzi (w. 597 H) dalam tafsirnya yang jalas menerangkan bahwa mereka yang dimaksud bukankah Mukmin sejatinya…ia berkata, “Jika dikatakan, ‘Bagaimana Allah mensifati si musyrik itu dengan keimanan?’ Maka jawabnya, ‘Sesungguhnya yang dimaksud bukanlah hakikat keimanan, akan tetapi maknanya bahwa kebanyakan mereka meskipun mereka menampakkan keimanan dengan lisan-lisan mereka, mereka itu adalah orang-orang musyrik.”[7]Ibnu ‘Athiyah (W.546 H) menukil Ibnu Abbas ra. sebagai berkata, “Ayat itu untuk Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani) mereka beriman kepada Allah kemudian mereka menyekutukan-Nya dari sisi kekafiran mereka kepada nabi-Nya. Atau dari sisi perkataan mereka Uzair itu anak Tuhan. Isa anak Tuhan… .”[8]Adapun Ibnu Abi Hâtim ia menukil dua riwayat tentang tafsir ayat ini. Pertama, bahwa ayat ini berbicarta tentang syirik ashghar/kecil. Maksudnya adalah riyâ’. Ia berkata, ‘…. Dari Zakariya ibn Zurarah ayahku bercerita kepadaku, ia baerkata, ‘Aku bertanya kepada Abu Ja’far Muhammad ibn Ali tentang ayat: “Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” Maka berkata Abu Ja’far, “Syirik dalam ketaatan. Seperti ucapann seorang, ‘Anda bukan karena Allah dan karena si fulan, … .”[9]Pendapat Ibnu Jarîr ath ThabariSeperti dikutip saudara kita dari Ibnu Jarîr ath Thabari bahwa ia berkata:Perkataan tentang ta’wil firman Allah “Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah kecuali mereka berbuat kesyirikan” (QS Yusuf : 106)Allah berkata: Dan tidaklah kebanyakan mereka –yaitu yang telah disifati oleh Allah dengan firmanNyaوَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya” mengakui bahwasanya Allah pencipta mereka, pemberi rizki kepada mereka, dan pencipta segala sesuatu melainkan mereka berbuat kesyirikian kepada Allah dalam peribadatan mereka kepada patung-patung dan arca-arca dan menjadikan selain Allah sebagai tandingan bagi Allah dan persangkaan mereka bahwasanya Allah memiliki anak. Maha tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan. Dan para ahli tafsir berpendapat seperti pendapat kami ini.”[10]Dari kutipan itu kita dapat menyaksikan bagaimana Imam ath Thabari sadar bahwa kemusyrikan mereka dalam penyembahan itu meskipun mereka beriman dalam pengesaan Allah dalam urusan penciptaan dan pengaturan, bukanlah sebab tunggal. Tetapi di samping itu dikeranakan mereka mengaku bahwa Allah punya anak.)) demikian perkataan Abu SalafyTipu Muslihat Abu Salafy dalam pemaparan diatas dari dua sisi : Pertama : Tidak amanah dalam menukil perkataan Ibnul Jauzii. Sebagai bukti maka saya akan membawakan perkataan Ibnul Jauzi tersebut secara lengkap.Abu Salafy menukil perkataan Ibnul Jauzi ((“Jika dikatakan, ‘Bagaimana Allah mensifati si musyrik itu dengan keimanan?’ Maka jawabnya, ‘Sesungguhnya yang dimaksud bukanlah hakikat keimanan, akan tetapi maknanya bahwa kebanyakan mereka meskipun mereka menampakkan keimanan dengan lisan-lisan mereka, mereka itu adalah orang-orang musyrik.)) maka jika seseorang membacanya dengan sekilas maka seakan-akan mengesankan bahwasanya Ibnul Jauzi berpendapat bahwasanya kaum muysrik arab tidak beriman dengan rububiyah Allah, mereka hanya beriman dengan lisan mereka saja.Berikut nukilan Ibnul Jauzi rahimahullah secara lengkap ((Firman Allah ((“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain))), maka tentang kaum musyrikin di sini ada tiga pendapat.Pendapat Pertama : Mereka adalah kaum musyrikin, kemudian tentang makna ayat yang berkaitan dengan kaum musyrikin ini ada dua pendapat. Yang pertama bahwasanya mereka beriman bahwasanya Allah pencipta mereka dan yang memberi rizqi kepada mereka dan mereka berbuat kesyirikan kepada Allah, Abu Sholeh meriwayatkan tafsiran ini dari Ibnu Abbaas, dan ini pendapat Mujahid, Ikrimah, As-Sya’bi, dan Qotaadah .Yang kedua ayat ini turun tentang talbiyahnya kaum musyrikin Arab, mereka berkata, “Aku memenuhi panggilanMu Yaa Allah, aku memenuhi penggilanMu Yaa Allah tidak ada syarikat bagiMu, kecuali syarikat milikMu, Engkau memiliki syarikat itu,dan syarikat itu tidak memiliki”. Tafsir ini diriwayatkan oleh Ad-Dhohaak dari Ibnu Abbaas.Pendapat Kedua : Mereka adalah kaum Nashrani, mereka beriman bahwasanya Allah adalah pencipta mereka dan pemberi rizki bagi mereka, meskipun demikian mereka berbuat kesyirikan kepada Allah. Tafsiran ini diriwayatkan oleh Al-‘Aufi dari Ibnu AbbaasPendapat Ketiga : Mereka adalah kaum munafiq, mereka beriman secara dzohir karena riyaa’ kepada orang-orang akan tetapi dalam batin mereka kafir kepada Allah, ini tafsiran Al-HasanJika dikatakan, ‘Bagaimana Allah mensifati si musyrik itu dengan keimanan?’ Maka jawabnya, ‘Sesungguhnya yang dimaksud bukanlah hakikat keimanan, akan tetapi maknanya bahwa kebanyakan mereka meskipun mereka menampakkan keimanan dengan lisan-lisan mereka, mereka itu adalah orang-orang musyrik)) Demikian perkataan Ibnu Jauzii secara lengkap.Perkataan Ibnul jauzi yang dinukil oleh Abu Salafy sama sekali tidak menunjukan bahwa kaum musyrikin baik kaum musyrikin Arab maupun kaum Nashrani tidak percaya kepada adanya Allah. Akan tetapi Ibnul Jauzii sedang menjelaskan tentang kaum musyrikin yang disifati beriman oleh Allah karena pada hekekatnya keimanan mereka itu bukan iman yang haqiqi, meskipun mereka mengakui dengan lisan-lisan mereka tentang rubuiyah Allah (Allah pencipta dan pemberi rizki) namun mereka berbuat kesyirikan dalam peribadatan. Karena Ibnul Jauzi telah menyatakan dalam tafsirnya tatkala menafsirkan ayat 61 dari surat Al-Ankabuut (tanpa menyebutkan khilaf sama sekali tentang tafsiran ayat 61 ini) bahwasanya kaum muyrikin Mekah mengimani bahwasanya Allah yang menciptakan mereka dan memberi rizki kepada mereka. Ibnul Jauzii berkata : “Firman Allah ((Jika engkau bertanya kepada mereka…)) yakni kaum kafir Mekah, dan mereka mengakui bahwasanya Allah adalah pencipta dan Maha pemberi rizki. Hanyalah Allah memerintahkan Nabi untuk berkata “Alhamdulillah” yaitu atas pengakuan mereka (tersebut). Karena hal ini menjadikan mereka terkonsekuensikan dengan hujjah, maka wajib bagi mereka untuk bertauhid (yaitu dalam peribadatan-pen). ((Akan tetapi kebanyakan mereka tidak memikirkan)) mentauhidkan Allah padahal mereka mengakui bahwasanya Allah adalah Maha Pencipta” (Zaadul Masiir 6/283)Kedua : Abu Salafy mengesankan kepada para pembaca bahwa jika ada pendapat yang lain dalam satu ayat berarti mendukung pendapatnya bahwasanya kaum musyrikin Arab tidak mengakui adanya Allah. Ini merupakan tipu muslihat yang cukup halus sekali. Pendalilan Abu salafy ini bisa benar jika ada satu tafsir dari seluruh ayat dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa kaum musyrikin Arab tidak mengakui adanya Allah. Namun kenyataannya tidak ada satu tafsiranpun dari ayat-ayat di atas yang menyatakan pendapat Abu Salafy.Oleh karenanya saya meminta Abu Salafy tolong tunjukan kepada saya satu tafsir saja dari ulama salaf (tentunya dengan sanad yang bersambung dan shahih) atau bahkan dari ulama kholaf yang menyatakan bahwasanya kaum musyrikin Arab tidak mengakui adanya Allah, dan pengakuan mereka hanyalah pura-pura saja???!!!Jika para pembaca membaca para perkataan semua Ahli tafsir yang dinukil oleh Abu Salafy maka seluruh ahli tafsir tersebut setuju bahwasanya kaum muysrikin Arab mengakui bahwasanya Allah yang menciptakan mereka dan memberi rizki kepada mereka.Adapun nukilan dari Ibnu Jauzi maka telah lalu, adapun nukilan dari Ibnu Athiyyah (yang disampaikan oleh Abu Salafy secara tidak lengkap) maka secara lengkapnya sbb :Ibnu ‘Athiyyah berkata, “Dan firman Allah ((Dan kebanyakan mereka tidak beriman…)). Ibnu Abbaas berkata : ayat ini tentang Ahlul Kitab yang mereka beriman kepada Allah kemudian mereka berbuat kesyirikan dari sisi mereka kafir kepada nabi Allah, atau dari sisi perkataan mereka “Uzair adalah anak Allah” dan Al-Masiih adalah anak Allah”.Ikrimah, Mujaahid, Qotaadah, dan Ibnu Zaid mengatakan bahwasanya ayat ini tentang kaum kafir Arab, dan keimanan mereka adalah pengakuan mereka bahwasanya Allah Maha Pencipta, Maha pemberi Rizki, Yang mematikan, maka Allah menamakan pengakuan mereka ini keimanan meskipun keimanan tersebut disudahi dengan kesyirikan mereka terhadap berhala-berhala dan patung-patung. Ini hanya iman secara bahasa saja dari sisi pembenaran hal-hal tersebut.Dan dikatakan bahwasanya ayat ini turun disebabkan perkataan kaum Quraisy tatkala thowaf dan talbiyah “Ya Allah tidak ada syarikat bagiMu kecuali syarikat milik-Mu, Engkau memilikinya dan ia tidak memiliki” (Al-Muharroor Al-Wajiiz 3/285)Demikian juga tafsiran para ahli tafsir yang lainnya, tidak seorangpun dari mereka yang menyatakan bahwa kaum musyrikin Arab mengingkari adanya Allah.Kesimpulan :Pertama : Abu Salafy telah berdusta atas nama Imam Al-Qurthubi. Dan ini adalah hal yang ringan bagi Abu Salafy, jika ia telah berani berdusta atas nama Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu (sebagaimana dalam bantahan ana : tentang tipu muslihat Abu salafy cs) maka bagaimana lagi dengan Imam Al-Qurthubi??!!Kedua : Abu Salafy tidak paham perkataan para ahli tafsir. Sehingga akhirnya salah menyimpulkan. Inilah yang membuat saya malas untuk membantah abu salafy lebih jauh lagi, karena begitu soknya ia membantah Ibnu Taimiyyah, ana khawatir ia rupanya salah paham dengan perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Ketiga : Semakin jelas bahwasanya Abu Salafy dalam tafsirannya (bahwasanya kaum musyrikin arab sebenarnya mengingkari adanya Allah dan hanya pura-pura tatkala menyatakan Allah yang menciptakan langit dan bumi) tidak mengikuti satupun pendapat dari kalangan salaf. Maka abu salafy hendaknya mengganti gelarnya dari abu salafy menjadi abu kholafi.Bahkan tidak ada seorangpun dari para ahli tafsir dari kholaf yang berpendapat dengan pendapatnya. Oleh karenanya tafsiran Abu salafy tersebut adalah bid’ah dalam ilmu tafsir yang tidak pernah dinyatakan oleh seorangpun dari kalangan salaf dan kholaf. Dan saya tidak akan mencabut pernyataan tafsiran bid’ah ini sampai Abu Salafy mendatangkan satu ulama saja dari salaf maupun kholaf yang berpendapat seperti pendapatnya. Oleh karenanya tidak pantas juga gelar abu salafy diganti menjadi abu kholafy, akan tetapi yang pantas adalah abu bid’ah??!!. Dan gelar inipun masih baik, namun tidak pantas bagi orang yang tidak berani menampakan jati dirinya untuk berdialog. Oleh karena itu ana kawatir abu salafy ini bukanlah seorang laki-laki akan tetapi seorang wanita. Jadi yang paling pantas adalah digelari ummu bid’ah.Keempat : Jika Abu salafy tidak bisa mendatangkan satu ahli tafsir saja baik dari salaf maupun kholaf maka saya menjadi curiga bahwasanya Abu Salafy bukan hanya mendukung aqidah kaum Rofidhoh, bahkan juga mendukung kaum Jaringan Islam Liberal yang membolehkan menafsirkan dengan hawa nafsu sendiri !!!!Kelima : Jika Abu Salafy berhasil mendatangkan pendapat satu ulama saja yang menyatakan bahwa kaum musyrikin Arab mengingkari adanya Allah maka saya katakan bahwasanya :1) Pendapat tersebut sangatlah lemah karena bertentangan dengan dalil yang begitu banyak yang telah disebutkan oleh para ahli tafsir. Dan sebagian dalil-dalil tersebut telah saya sebutkan dalam tulisan saya di (https://www.firanda.com/index.php/home/31/82-persangkaan-abu-salafy-al-majhuul-bahwasanya-kaum-musyrikin-arab-tidak-mengakui-rububiyyah-allah)2) Sekali lagi orang yang berpendapat dengan pendapat Abu Salafy ini telah dikatakan dungu oleh Ibnu Jariir At-Thobari, beliau berkata “Sebagian orang dungu menyangka bahwasanya orang-orang Arab tidak mengetahui Ar-Rohmaan dan kalimat Ar-Rohman tidak terdapat dalam bahasa mereka, karenanya kaum musyrikin berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ((Siapakah Ar-Rohmaan itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami (bersujud kepada-Nya )”?,)) QS Al-Furqoon : 60, (mereka mengatakan demikian –red) karena mereka mengingkai nama ini. Seakan-akan merupakan hal yang mustahil menurut orang dungu ini kalau kaum musyrikin mengingkari sesuatu yang mereka tahu akan kebenarannya. Atau seakan-akan orang dungu ini tidak membaca firman Allah ((Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepada mereka (yaitu orang-orang yahudi-red) mengetahuinya)) yaitu mengetahui (kebenaran) Nabi Muhmmad, namun meskipun demikian mereka mendustakannya dan menolak kenabiannya. Maka dari sini diketahui bahwasanya mereka (kaum musyrikin Arab) terkadang menolak apa yang mereka telah tahu kebenarannya dan telah jelas diketahui oleh mereka” (Tafsiir At-Thobari 1/130)Dan pengingkaran kaum musyrikin Arab itu hanyalah karena sikap ngeyel, bukan karena mereka tidak mengetahui nama Ar-Rohmaan. Kalau orang yang menyangka bahwasanya kaum musyrikin Arab tidak tahu penamaan Allah dengan Ar-Rohmaan telah dicap “Orang dungu” oleh Ibnu Jariir, maka bagaimana lagi orang yang menyangka bahwasanya kaum musyrikin Arab tidak mengetahui wujudnya Allah…??? (sebagaimana yang disangkakan oleh Abu Salafy, sehingga tidak ada tuhan bagi mereka kecuali arca-arca dan berhala-berhala mereka), maka entah cap apa yang akan diberikan oleh Ibnu Jariir At-Thobari??!!Keenam : Saya meminta Abu Salafy jangan lari diskusi, dan saya harap diskusi kita teatur. Oleh karenanya silahkan menanggapi tulisan pertama saya (https://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/76-mengungkap-tipu-muslihat-abu-salafy-cs) yang mengungkap kedustaan dan manipulasi anda. Itu dulu yang saya tunggu !!!!!!. Dan janganlah anda bersembunyi dibalik perkataan sombong anda ((Tadinya saya tidak tertarik untuk meladeni artikel yang digelar di www.firanda.com yang mengkritik tulisan saya, sebab terkesan tidak memahami pesan inti apa yang saya tulis. Tetapi demi kebenaran dan agar tidak dianggap lari dari medan diskusi maka saya pun menyempatkan diri menulis tanggapan ini…. itupun hanya sekedarnya.. tidak menyoroti seluruh poin yang perlu ditanggapi!)). Buktikanlah bahwa anda adalah seorang laki-laki yang berani dialog !!!Bersambung…!!!Madinah Munawwarah, 07 Safar 1432 / 11 Januari 2011Firanda Andirja www.firanda.com 


Alhamdulillah atas segala nikmat yang Allah karuniakan kepada kita semua, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya serta seluruh sahabatnya.Alhamdulillah tanggapan dari ustadz Abu Salafy yang ana tunggu-tunggu akhirnya muncul juga. Meskipun ustadz Abu salafy langsung meloncat ke tulisan ana yang kedua yang belum selesai. Sebenarnya ada dua perkara yang ana lebih tunggu lagi dari sang ustadzPertama : Menunggu tanggapan beliau terhadap tulisan saya (https://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/76-mengungkap-tipu-muslihat-abu-salafy-cs), karena pada tulisan inilah nampak tipu muslihat yang dilakukan oleh sang ustadz.Kedua : Saya ingin berkenalan dengan sang ustadz dan ingin bisa berdialog langsung dengan beliau. Masih tanda tanya besar dalam hati saya, apakah Abu Salafy ini satu orang atau sebuah lembaga anti wahabi?, lantas apa sebenarnya aqidah yang sedang diperjuangkan oleh Abu Salafy?, Apakah beliau ini seorang yang bermadzhab Asy’ari ataukah Jahmiah?!!Ataukah bermadzhab Syi’ah?!!, hal ini mengingat :– Sang ustadz Abu Slafy mengutuk Mu’aawiyah, yang ini merupakan propaganda orang-orang syi’ah, dan ana ingin tahu dari beliau apakah ada ulama Ahlus Sunnah yang mengutuk Mu’aawiyah?. Untuk masalah Mu’aawiyah radhiallahu ‘anhu insyaa Allah akan ada pembahasan khusus– dan juga sang ustadz ternyata menukil dari kitabnya orang syi’ah.– Aqidah yang diperjuangkan oleh ustadz Abu Salafy (bahwasanya Allah tidak di atas) juga merupakan aqidah orang syi’ah– Sang ustadz sangat getol membantah dan mengejek-ngejek Syaikhul Islaam Ibnu Taimiyyah yang sangat getol membantah aqidah orang syi’ah. Kita tahu betapa besar kebencian orang-orang syi’ah kepada Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang telah mengupas habis syubhat-syubhat mereka dalam kitab beliau “Minhaajus Sunnah An-Nabawiyaah”.Jika memang sang ustadz adalah seorang syi’ah maka tentunya kedustaan dan taqiyyah itu merupakan hal yang biasa.Oleh karenanya saya sangat ingin agar sang ustadz menampakkan jati diri sang ustadz kalau memang sang ustadz “maaf- maaf saja” adalah seorang lelaki…Wallahul Musta’aan.Berikut ini tanggapan saya terhadap tulisan ustadz Abu Salafy dalam web beliau (http://abusalafy.wordpress.com/2011/01/08/benarkan-kaum-musyik-arab-beriman-kepada-tauhid-rububiyyah-allah-bantahan-untuk-ustad-firanda-i/)Berdusta atas Nama Imam Al-QurthubiUstadz Abu Salafy berkata :((Tentang ayat 61 surah al Ankabut:وَ لَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّماواتِ وَ الْأَرْضَ وَ سَخَّرَ الشَّمْسَ وَ الْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka:” Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan” Tentu mereka akan menjawab:” Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).”– Al Qurthubi berkata:“… maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar) maksudnya: Bagaimana mereka kafir dengan keesaan-Ku dan berbalik dari menyembah-Ku. Artinya: Sesungguhnya mereka akan mengatakan jawaban itu dengan lisan mereka saja ketika ditegakkan hujjah-hujjah atas mereka, sementara hakikatnya mereka tidak mengatakan (berpendapat)nya.” [1] Tafsir al Jâmi’ Li Ahkâm al Qur’ân,13/161 Abu Salafy Berkata: Saya tidak mengerti bagaimana saudara Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja dapat tidak membaca ketarangan Imam al Qurthubi di atas pada tafsiran ayat 61 dan ia hanya menampilkan tafsiran ayat 63? Padahal ketika menukil keterangan az Zamakhsyari, misalnya ia jusrtu menampilkan ketarangan tentang tafsir ayat 61! Apakah itu ia sengaja ia lakukan untuk menutup-nutupi kenyataan sebab tidak banyak santri yang akan berkessempatan mengeceknya, apalagi kaum awam?! Atau karena alasan lain. Allahu A’lam. Saya tidak akan berburuk sangka kepadanya)) Demikian perkataan Abu Salafy.Firanda berkata : Saya balik bertanya “Kenapa Abu Salafy tidak menampilkan perkataan Imam Al-Qurthubi dengan bahasa arabnya, ” Apakah itu ia sengaja ia lakukan untuk menutup-nutupi kenyataan, sebab tidak banyak santri yang akan berkesempatan mengeceknya, apalagi kaum awam?! Atau karena alasan lain”??Para pembaca yang budiman untuk mengungkap kedustaan Abu Salafy –sebagaimana kedustaan-kedustaannya yang lainnya yang telah saya ungkap- maka saya akan menukil perkataan Imam Al-Qurthubi tatkala menafsirkan ayat 61 dari surat Al-Ankabuut;Beliau rahimahullah berkata : ““… maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)” maksudnya : bagaimana mereka kafir kepada pentauhidanku dan berpaling dari beribadah kepadaku?” (Tafsir A-Qurthubi tafsir Al-Ankabuut ayat 61)Demikian terjemahan yang benar, akan tetapi lihat bagaimana terjemahan Abu salafi diatas, ternyata ia melakukan tipu muslihat dari dua sisi :Pertama : Tipu muslihat yang pertama Abu salafy menterjemahkan perkataan Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya “بِتَوْحِيْدِي” dengan “Keesaanku” sehingga terjemahan perkataan Imam Al-Qurthubi menjadi “Bagaimana mereka kafir dengan keesaan-Ku ” Yang mengesankan seakan-akan Imam Al-Qurthubi menyatakan bahwsanya orang-orang musyrik Arab mengingkari keesaan Allah dalam tauhid Rububiyyah. Padahal yang dimaksud oleh Imam Al-Qurtubhi dengan tauhid di sini adalah tauhid dalam penyembahan, yaitu tauhid Ulluhiyah, oleh karenanya setelah itu Al-Qurthubi berkata “وَيَنْقَلِبُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيِ” yang artinya, “Dan mereka (kaum muyrikin Arab) berpaling dari beribadah kepadaku?”. Sehingga kalau kita melihat perkataan Al-Qurthubi secara utuh yaitu : ((bagaimana mereka kafir kepada pentauhidanku dan berpaling dari beribadah kepadaku?)) maka jelas maksudnya kaum musyrikin Arab tidak bertauhid kepada Allah dengan memalingkan ibadah kepada selain Allah. Di sinilah letak keanehan kaum musyrikin, bagaimana bisa mereka berpaling dari bertauhid kepada Allah dan dan beribadah kepada selain Allah padahal mereka mengakui Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan yang mengatur perjalanan matahari dan bumi?. Ayat ini dibawakan oleh Allah dalam rangka membantah kaum musyrikin Arab yang mengakui rububiyah Allah akan tetapi tidak mentauhidkan Allah.Jika asalnya mereka tidak mengakui rububiyah Allah maka apa gunanya istifhaam ingkari (pertanyaan Allah yang menunjukan pengingkaran) “?. Kalau mereka tidak percaya adanya Allah maka sudah jelas mereka tidak menyembah Allah.Adapun perkataan Imam Al-Qurthubi yang menegaskan bahwasanya kaum musyrikin Arab mengakui rububiyah Allah maka sangatlah banyak, para pembaca bisa membaca kembali (https://www.firanda.com/index.php/home/31/82-persangkaan-abu-salafy-al-majhuul-bahwasanya-kaum-musyrikin-arab-tidak-mengakui-rububiyyah-allah)Kedua : Tipu muslihat yang kedua ini lebih parah daripada tipu muslihat yang di atas. Bagaimana?, Abu salafy memasukkan perkatannya sendiri setelah perkataan Imam Al-Qurthubi dan mengesankan bahwa perkataannya tersebut adalah perkataan Imam Al-Qurthubi, sehingga Abu Salafy meletakkan tanda footnote[1] setelah perkataannya sendiri dan bukan setelah perkataan Imam Al-Qurthubi”Mari kita lihat kembali perkataan Abu Salafy :((Al Qurthubi berkata: “… maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar) maksudnya: Bagaimana mereka kafir dengan keesaan-Ku dan berbalik dari menyembah-Ku. Artinya: Sesungguhnya mereka akan mengatakan jawaban itu dengan lisan mereka saja ketika ditegakkan hujjah-hujjah atas mereka, sementara hakikatnya mereka tidak mengatakan (berpendapat)nya.” [1] Tafsir al Jâmi’ Li Ahkâm al Qur’ân,13/161))Bahkan untuk memperhalus tipu muslihatnya Abu Salafy menghitamkan/menebalkan perkataannya tersebut, karena itulah perkataan yang sangat penting. Ternyata… itu bukan perkataan Imam Al-Qurthubi akan tetapi perkataannya sendiri….!!!!???Maka saya menghadiahkan kepada Abu Salafy perkataan Abu Salafy sendiri ((Apakah itu ia sengaja ia lakukan untuk menutup-nutupi kenyataan sebab tidak banyak santri yang akan berkessempatan mengeceknya, apalagi kaum awam?! Atau karena alasan lain ?!)) Abu Salafy Tidak Paham Perkataan Para Ulama Tafsir Abu Salafy berkata : ((Tentang Ayat 31 surah Yunus:قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّماءِ وَ الْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَ الْأَبْصارَ وَ مَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَ يُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَ مَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَ فَلا تَتَّقُونَ“Katakanlah:” Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan” Maka mereka akan menjawab:” Allah”. Maka katakanlah:” Mengapa kamu tidak bertakwa) (kepada- Nya).”* Al Qurthubui juga berkata:“Maka mereka akan menjawab:’Allah’.” Sebab mereka meyakini bahwa Sang pencipta adalah Allah. Atau mereka akan mengatakan dia adalah “Allah” jika mereka mau berfikir dan bersikap obyektif.”[2]* Ibnu ‘Athiyyah berkata tentang ayat di atas: “Maka mereka akan menjawab:’Allah’.” Tidak ada jalan bagi mereka kecuali mengatakannya dan mereka tidak dapat menentang dengan selainnya.[3] * Imam al baidhawi berkata:“Maka mereka akan menjawab:’Allah’.” Sebab mereka tidak dapat menentang dan membantah dalam masalah ini mengingat begitu jelasnya bukti.[4] * Al Gharnâthi berkata tentang ayat 31 di atas:“Katakanlah:” Siapakah yang memberi rezeki kepadamu ….. “ Ayat ini adalah berargumentasi atas kaum kafir dengan hujjah yang banyak lagi jelas yang tiada jalan bagi mereka melainkan mengakuinya.”[5]Abu Salafy berkata: Dan selain mereka banyak Anda temukan keterangan serupa di antaranya dalam tafsir Fathu al Qadîr; karya asy Syaukâni dan al jawâhir al Hisân karya ats Tsa’âlibi… demikian juga keterangan mereka pada ayat surah al Mu’minun ayat 84-92!)) Demikianlah perkataan Abu SalafyPara pembaca yang budiman, pada poin ini kembali Abu Salafy melancarkan tipu muslihatnya setelah berdusta atas nama Imam Al-Qurthubi. Hal ini nampak dari dua sisi: Pertama : Terus terang saya heran dengan ustadz Abu Salafi ini, coba para pembaca membaca perkataan para mufassir di atas. Apakah ada isyarat –bahkan meskipun isyarat dari jauh- dari para ahli tafsir tersebut bahwasanya kaum musyrikin Arab hanyalah berpura-pura tatkala menyatakan bahawasanya Allah lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan memberikan rizki??!!.Justru perkataan para ahli tafsir yang disampaikan oleh ustadz Abu Salafi semuanya mendukung tafsiran salaf bahwasanya kaum musyrikin mengakui rububiyah Allah, sehingga Allah melazimkan kepada mereka bahwasanya jika mereka mengakui Rububiyah Allah maka seharusnya mereka hanya menyembah Allah saja, yaitu seharusnya mereka juga bertauhid uluhiyah. Apakah Abu Salafy yang jago mengkritik Ibnu taimiyyah dan Albani tidak bisa faham perkataan yang ia tulis sendiri yang merupakan terjemahan perkataan para ahli tafsiir??. Sekali lagi saya harap Abu salafy lain kali kalau menerjemahkan perkataan para ulama dicantumkan teks arabnya, kawatir salah menerjemahkan, atau sudah benar terjemahannya namun salah kesimpulannya sebagaimana di sini. Kedua : Abu Salafy menyebutkan banyak ahli tafsir dalam pernyataannya di atas agar mengesankan kepada para pembaca bahwasanya yang berpendapat seperti dia adalah banyak dari kalangan ulama. Padahal ini hanya tipu muslihat saja. Justru seluruh perkataan ahli tafsir yang ia sebutkan mendukung apa yang telah ana jelaskan, bahwasanya kaum musyrikin Arab mengakui bahwasanya Allah-lah satu-satunya yang telah menciptakan langit dan bumi. Secara tidak langsung bisa dikatakan Abu Salafy juga telah berdusta atas nama para ahli tafsir tersebut yang telah ia nukilkan di sini.Adapun perkataan Abu Salafy ((Dari sini dapat Anda saksikan bahwa keterangan saya bukan mengada-ngada dan tanpa dasar rujukan kepada para ahli tafsir! Jika saudara Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja tidak sependapat dengan saya dalam memahami ayat-ayat di atas itu adalah hak dia. Tetapi ia tidak berhak menganggap apa yang dia pilih adalah satu-satunya tafsiran dalam ayat-ayat tersebut apalagi memaksa orang lain menerima pilihannya itu!)) Firanda berkata : Praktekanlah perkataanmu ini wahai abu salafy pada diri anda. Bukankah syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab telah menafsirkan dengan tafsiran salaf bahwasanya kaum musyrikin Arab mengakui rububiyah Allah, lantas mengapa anda sewot untuk membantah beliau, apalagi membantah beliau rahimahullah dengan nekad berdusta atas nama Imam Al-Qurthubi secara sengaja??, dan juga berdusta atas nama para ahli tafsir secara tidak langsung??!!Abu Salafy Berusaha untuk Melegalkan Pendapatnya dari Mujahid rahimahullah. Abu Salafy berkata : ((Ibnu Jarîr Menukil Bahwa Mujahid berpendapat Seperti Pendapat yang Kami KemukakanKetika menafsirkan ayat 22 surah al Baqarah, Ibnu Jarîr ath Thabari menukil dua pendapat tentang siapa yang menjadi alamat pembicaraan Allah dengan firman-Nya:فَلاَ تَجْعَلُوْا ِللهِ أَندَاداً وَ أَنتُمْ تَعْلَمُوْنَ“Oleh karena itu, janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui (bahwa tidak satupun dari para sekutu itu yang menciptakanmu dan memberikan rezeki kepadamu).”Pendapat pertama: yang dimaksud adalah kaum Musyrik dan juga Ahlul Kitab. Pendapat ini dinukil dari Ibnu Abbas ra.Pendapat kedua: Yang dimaksud adalah Ahlul Kitab. Kaum Musyrik tidak termasuk. Ini pendapat Mujahid. Juga dari generasi Salaf.“Kemudian Ibnu Jarîr ath Thabari berkomentar, “Dalam hemat saya yang mendorong Mujahid berta’wil seperti itu dan menyandarkan alamat pembicaraan itu hanya kepada Ahlul Kitab; Taurat dan Injil bukan selain mereka adalah anggapan bahwa bangsa Arab tidak mengetahui bahwa Allah itu adalah Sang Pencipta, Pemberi Rizki karena mereka mengingkari dan mengkufuri keesaan Tuhan mereka dan mempersekutukan-Nya dalam penyembahan sesembahan lain. Memang ini adalah pendapat yang juga ada. Hanya saja Allah SWT mengabarkan dalam kitab-Nya bahwa mereka itu mengakui keesaan Allah hanya saja mereka menyekutukan-Nya dalam penghambaan sesembahan-sesembahan lain.”[6]Betapa pun ath Thabari tidak memilih pendapat Mujahid namun adalah bukti bahwa di kalangan para penafsir Salaf ada yang berpendapat seperti itu!)) Demikian perkataan Abu SalafyFiranda berkata : Untuk menjelaskan hal ini maka saya katakan : Pertama : Marilah kita lihat tafsiran Mujahid yang sebenarnya dengan sanadnya sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jariir At-Thobari dan Ibnu Abi Hatim.Adapun dalam tafsir At-Thobari (1/393) maka sebagai berikut: “…Dari Sufyaan (At-Tsauri) dari seseorang dari Muhahid ((Janganlah kalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah padahal kalian mengetahui)) bahwasanya Allah adalah sesembahan yang Esa (sebagaimana tersebut) di Tauroot dan Injiil”Adapun pada tafsir Ibnu Abi Haatim (1/62 no 232) adalah sebagai berikut: “…Dari Sufyaan (At-Tsauri) dari seseorang yang mengabarkan kepadanya dari Muhahid tentang firman Allah ((Janganlah kalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah padahal kalian mengetahui)) beliau (Mujahid) berkata : bahwasanya kalian mengetahui Allah adalah sesembahan yang Esa (sebagaimana tersebut) di Tauroot dan Injiil”Para pembaca yang budiman, Mujahid bin Jabr Abul Hajjaaj wafat pada tahun 101 atau 102 atau 103 Hijriah (lihat Tahdziib At-Thdziib 4/25-26 atau Taqriib At-Tahdziib hal 921) adapun Sufyaan adalah Sufyaan bin Sa’iid bin Masruuq Ats-Tsauri maka beliau wafat pada tahun 161 (lihat Tahdziib At-Tahdziib 2/56-58 atau Taqriib At-Tahdziib hal 394)Sufyan At-Tsauri tidak termasuk daftar orang-orang yang meriwayatkan dari Mujahid dan juga sebaliknya Mujahid bukanlah termasuk daftar orang-orang yang diambil riwayatnya oleh Sufyaan (silahkan kedua daftar tersebut dalam kita Tahdziib At-Tahdziib). Dan Sufyaan At-Tsauri meninggal tatkala berumur 64 tahun pada tahun 161 H (lihat Taqriib At-Tahdziib hal 394), berarti Sufyaan lahir sekitar tahun 97 Hijriyah. Hal ini menunjukan bahwa tatkala Mujahid meninggal pada tahun 102 Hijriyah berarti tatkala itu Sufyaan berumur sekitar 5 tahun. Oleh karenanya Sufyan meriwayatkan dari Mujahid dengan perantara.Dalam dua sanad hadits di atas sangatlah nampak bahwasanya ada perantara antara Sufyan dan Mujahid yang majhul, dan dalam ilmu hadits sanad yang seperti ini hukumnya lemah. Dan hal ini tentunya diketahui oleh ustadz Abu Salafy yang pandai mengkritik syaikh Al-Albani rahimahullah. Jika seandainya Sufyan termasuk murid Mujahid namun meriwayatkan dengan perantara yang majhul dari Mujahid maka para ulama hadits menghukumnya sebagai sanad yang lemah, apalagi jika ternyata Sufyaan bukan termasuk dari muridnya Mujahid??!!Kedua : Ada tafsiran dengan banyak sanad yang bersambung dari Mujahid yang mendukung pendapat Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah dan berseberangan dengan pendapat Abu Salafy.At-Thobari membawakan riwayat-riwayat tersebut dalam tafsirnya (13/374-375) sebagaimana berikut ini: Dalam atsar-atsar di atas Mujahid menafsirkan tentang orang-orang musyrik secara umum (tanpa membatasi pada Ahlul Kitab saja) bahwasanya mereka beriman bahwasanya Allah pencipta mereka, yang memberi rizki kepada mereka, dan yang mematikan mereka.Bahkan dalam atsar yang terakhir Mujahid (dan juga Ikrimah dan ‘Aamir) mereka berkata, “Tidak seorangpun kecuali ia mengetahui bahwasanya Allah-lah yang menciptakannya dan menciptakan langit dan bumi” (Lihat Tafsir At-Thobari 13/375)Lantas kenapa ustadz Abu Salafy memilih tafsir dari Mujahid dengan sanad yang lemah dan meninggalkan tafsiran-tafsiran beliau dengan sanad yang bersambung?!!Ketiga : Kalaupun tafsiran Mujahid yang disebutkan oleh Abu Salafy adalah tafsiran yang shahih maka hal ini sama sekali tidak menunjukkan bahwasanya beliau menyatakan bahwa kaum musyrikin Arab mengingkari adanya Allah sebagaimana pernyataan Abu Salafy.Coba perhatikan perkataan Mujahid (dengan sanad yang lemah tersebut) :“Bahwasanya kalian mengetahui Allah adalah sesembahan yang Esa (sebagaimana tersebut) di Tauroot dan Injiil”Dalam perkataan di atas sama sekali tidak ada pernyataan Mujahid bahwasanya kaum musyrikin Arab mengingkari adanya Allah. Beliau hanya menjelaskan bahwasanya ayat 22 dari surat Al-Baqoroh tersebut berkenaan dengan ahlul kitab Yahudi dan Nasoro.Oleh karenanya apa yang dikatakan oleh At-Thobari ((Dalam hemat saya yang mendorong Mujahid berta’wil seperti itu dan menyandarkan alamat pembicaraan itu hanya kepada Ahlul Kitab; Taurat dan Injil bukan selain mereka adalah anggapan bahwa bangsa Arab tidak mengetahui bahwa Allah itu adalah Sang Pencipta, Pemberi Rizki karena mereka mengingkari dan mengkufuri keesaan Tuhan mereka dan mempersekutukan-Nya dalam penyembahan sesembahan lain. Memang ini adalah pendapat yang juga ada. Hanya saja Allah SWT mengabarkan dalam kitab-Nya bahwa mereka itu mengakui keesaan Allah hanya saja mereka menyekutukan-Nya dalam penghambaan sesembahan-sesembahan lain)) maka itu hanyalah praduga Imam At-Thobari, namun kita tidak menerima praduga tersebut karena beberapa hal diantaranya :– Riwayat tafsiran Mujahid ini lemah– Lafal dari tafsiran Mujahid tidak menunjukan akan hal itu– Riwayat yang bersambung dari Mujahid menunjukan kaum musyrikin Arab juga mengakui adanya Allah dan mengakui rububiyah AllahTipu Muslihat BerikutnyaAbu Salafy menyebutkan pendapat-pendapat lain dari para ulama tentang tafsir ayat 106 dari surat Yusuf dengan mengesankan kepada para pembaca bahwa tafsiran-tafsiran tersebut mendukung pendapat dia bahwasanya kaum musyrikin Arab mengingkari adanya Allah. Padahal tafsiran-tafsiran yang ada tersebut sama sekali tidak menafikan percayanya kaum musyrikin Arab dengan rububiyah Allah.Abu Salafy berkata ((Tentang Ayat 106 Surah YusufAllah SWT berfitman:وَ ما يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلاَّ وَ هُمْ مُشْرِكُونَ“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).”Adapun tentang ayat di atas, maka perlu diketahui bahwa selain tafsir yang disebutkan saudara kita Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja juga ada pendapat lain yang disampaikan oleh Ibnu Jauzi (w. 597 H) dalam tafsirnya yang jalas menerangkan bahwa mereka yang dimaksud bukankah Mukmin sejatinya…ia berkata, “Jika dikatakan, ‘Bagaimana Allah mensifati si musyrik itu dengan keimanan?’ Maka jawabnya, ‘Sesungguhnya yang dimaksud bukanlah hakikat keimanan, akan tetapi maknanya bahwa kebanyakan mereka meskipun mereka menampakkan keimanan dengan lisan-lisan mereka, mereka itu adalah orang-orang musyrik.”[7]Ibnu ‘Athiyah (W.546 H) menukil Ibnu Abbas ra. sebagai berkata, “Ayat itu untuk Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani) mereka beriman kepada Allah kemudian mereka menyekutukan-Nya dari sisi kekafiran mereka kepada nabi-Nya. Atau dari sisi perkataan mereka Uzair itu anak Tuhan. Isa anak Tuhan… .”[8]Adapun Ibnu Abi Hâtim ia menukil dua riwayat tentang tafsir ayat ini. Pertama, bahwa ayat ini berbicarta tentang syirik ashghar/kecil. Maksudnya adalah riyâ’. Ia berkata, ‘…. Dari Zakariya ibn Zurarah ayahku bercerita kepadaku, ia baerkata, ‘Aku bertanya kepada Abu Ja’far Muhammad ibn Ali tentang ayat: “Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” Maka berkata Abu Ja’far, “Syirik dalam ketaatan. Seperti ucapann seorang, ‘Anda bukan karena Allah dan karena si fulan, … .”[9]Pendapat Ibnu Jarîr ath ThabariSeperti dikutip saudara kita dari Ibnu Jarîr ath Thabari bahwa ia berkata:Perkataan tentang ta’wil firman Allah “Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah kecuali mereka berbuat kesyirikan” (QS Yusuf : 106)Allah berkata: Dan tidaklah kebanyakan mereka –yaitu yang telah disifati oleh Allah dengan firmanNyaوَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya” mengakui bahwasanya Allah pencipta mereka, pemberi rizki kepada mereka, dan pencipta segala sesuatu melainkan mereka berbuat kesyirikian kepada Allah dalam peribadatan mereka kepada patung-patung dan arca-arca dan menjadikan selain Allah sebagai tandingan bagi Allah dan persangkaan mereka bahwasanya Allah memiliki anak. Maha tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan. Dan para ahli tafsir berpendapat seperti pendapat kami ini.”[10]Dari kutipan itu kita dapat menyaksikan bagaimana Imam ath Thabari sadar bahwa kemusyrikan mereka dalam penyembahan itu meskipun mereka beriman dalam pengesaan Allah dalam urusan penciptaan dan pengaturan, bukanlah sebab tunggal. Tetapi di samping itu dikeranakan mereka mengaku bahwa Allah punya anak.)) demikian perkataan Abu SalafyTipu Muslihat Abu Salafy dalam pemaparan diatas dari dua sisi : Pertama : Tidak amanah dalam menukil perkataan Ibnul Jauzii. Sebagai bukti maka saya akan membawakan perkataan Ibnul Jauzi tersebut secara lengkap.Abu Salafy menukil perkataan Ibnul Jauzi ((“Jika dikatakan, ‘Bagaimana Allah mensifati si musyrik itu dengan keimanan?’ Maka jawabnya, ‘Sesungguhnya yang dimaksud bukanlah hakikat keimanan, akan tetapi maknanya bahwa kebanyakan mereka meskipun mereka menampakkan keimanan dengan lisan-lisan mereka, mereka itu adalah orang-orang musyrik.)) maka jika seseorang membacanya dengan sekilas maka seakan-akan mengesankan bahwasanya Ibnul Jauzi berpendapat bahwasanya kaum muysrik arab tidak beriman dengan rububiyah Allah, mereka hanya beriman dengan lisan mereka saja.Berikut nukilan Ibnul Jauzi rahimahullah secara lengkap ((Firman Allah ((“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain))), maka tentang kaum musyrikin di sini ada tiga pendapat.Pendapat Pertama : Mereka adalah kaum musyrikin, kemudian tentang makna ayat yang berkaitan dengan kaum musyrikin ini ada dua pendapat. Yang pertama bahwasanya mereka beriman bahwasanya Allah pencipta mereka dan yang memberi rizqi kepada mereka dan mereka berbuat kesyirikan kepada Allah, Abu Sholeh meriwayatkan tafsiran ini dari Ibnu Abbaas, dan ini pendapat Mujahid, Ikrimah, As-Sya’bi, dan Qotaadah .Yang kedua ayat ini turun tentang talbiyahnya kaum musyrikin Arab, mereka berkata, “Aku memenuhi panggilanMu Yaa Allah, aku memenuhi penggilanMu Yaa Allah tidak ada syarikat bagiMu, kecuali syarikat milikMu, Engkau memiliki syarikat itu,dan syarikat itu tidak memiliki”. Tafsir ini diriwayatkan oleh Ad-Dhohaak dari Ibnu Abbaas.Pendapat Kedua : Mereka adalah kaum Nashrani, mereka beriman bahwasanya Allah adalah pencipta mereka dan pemberi rizki bagi mereka, meskipun demikian mereka berbuat kesyirikan kepada Allah. Tafsiran ini diriwayatkan oleh Al-‘Aufi dari Ibnu AbbaasPendapat Ketiga : Mereka adalah kaum munafiq, mereka beriman secara dzohir karena riyaa’ kepada orang-orang akan tetapi dalam batin mereka kafir kepada Allah, ini tafsiran Al-HasanJika dikatakan, ‘Bagaimana Allah mensifati si musyrik itu dengan keimanan?’ Maka jawabnya, ‘Sesungguhnya yang dimaksud bukanlah hakikat keimanan, akan tetapi maknanya bahwa kebanyakan mereka meskipun mereka menampakkan keimanan dengan lisan-lisan mereka, mereka itu adalah orang-orang musyrik)) Demikian perkataan Ibnu Jauzii secara lengkap.Perkataan Ibnul jauzi yang dinukil oleh Abu Salafy sama sekali tidak menunjukan bahwa kaum musyrikin baik kaum musyrikin Arab maupun kaum Nashrani tidak percaya kepada adanya Allah. Akan tetapi Ibnul Jauzii sedang menjelaskan tentang kaum musyrikin yang disifati beriman oleh Allah karena pada hekekatnya keimanan mereka itu bukan iman yang haqiqi, meskipun mereka mengakui dengan lisan-lisan mereka tentang rubuiyah Allah (Allah pencipta dan pemberi rizki) namun mereka berbuat kesyirikan dalam peribadatan. Karena Ibnul Jauzi telah menyatakan dalam tafsirnya tatkala menafsirkan ayat 61 dari surat Al-Ankabuut (tanpa menyebutkan khilaf sama sekali tentang tafsiran ayat 61 ini) bahwasanya kaum muyrikin Mekah mengimani bahwasanya Allah yang menciptakan mereka dan memberi rizki kepada mereka. Ibnul Jauzii berkata : “Firman Allah ((Jika engkau bertanya kepada mereka…)) yakni kaum kafir Mekah, dan mereka mengakui bahwasanya Allah adalah pencipta dan Maha pemberi rizki. Hanyalah Allah memerintahkan Nabi untuk berkata “Alhamdulillah” yaitu atas pengakuan mereka (tersebut). Karena hal ini menjadikan mereka terkonsekuensikan dengan hujjah, maka wajib bagi mereka untuk bertauhid (yaitu dalam peribadatan-pen). ((Akan tetapi kebanyakan mereka tidak memikirkan)) mentauhidkan Allah padahal mereka mengakui bahwasanya Allah adalah Maha Pencipta” (Zaadul Masiir 6/283)Kedua : Abu Salafy mengesankan kepada para pembaca bahwa jika ada pendapat yang lain dalam satu ayat berarti mendukung pendapatnya bahwasanya kaum musyrikin Arab tidak mengakui adanya Allah. Ini merupakan tipu muslihat yang cukup halus sekali. Pendalilan Abu salafy ini bisa benar jika ada satu tafsir dari seluruh ayat dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa kaum musyrikin Arab tidak mengakui adanya Allah. Namun kenyataannya tidak ada satu tafsiranpun dari ayat-ayat di atas yang menyatakan pendapat Abu Salafy.Oleh karenanya saya meminta Abu Salafy tolong tunjukan kepada saya satu tafsir saja dari ulama salaf (tentunya dengan sanad yang bersambung dan shahih) atau bahkan dari ulama kholaf yang menyatakan bahwasanya kaum musyrikin Arab tidak mengakui adanya Allah, dan pengakuan mereka hanyalah pura-pura saja???!!!Jika para pembaca membaca para perkataan semua Ahli tafsir yang dinukil oleh Abu Salafy maka seluruh ahli tafsir tersebut setuju bahwasanya kaum muysrikin Arab mengakui bahwasanya Allah yang menciptakan mereka dan memberi rizki kepada mereka.Adapun nukilan dari Ibnu Jauzi maka telah lalu, adapun nukilan dari Ibnu Athiyyah (yang disampaikan oleh Abu Salafy secara tidak lengkap) maka secara lengkapnya sbb :Ibnu ‘Athiyyah berkata, “Dan firman Allah ((Dan kebanyakan mereka tidak beriman…)). Ibnu Abbaas berkata : ayat ini tentang Ahlul Kitab yang mereka beriman kepada Allah kemudian mereka berbuat kesyirikan dari sisi mereka kafir kepada nabi Allah, atau dari sisi perkataan mereka “Uzair adalah anak Allah” dan Al-Masiih adalah anak Allah”.Ikrimah, Mujaahid, Qotaadah, dan Ibnu Zaid mengatakan bahwasanya ayat ini tentang kaum kafir Arab, dan keimanan mereka adalah pengakuan mereka bahwasanya Allah Maha Pencipta, Maha pemberi Rizki, Yang mematikan, maka Allah menamakan pengakuan mereka ini keimanan meskipun keimanan tersebut disudahi dengan kesyirikan mereka terhadap berhala-berhala dan patung-patung. Ini hanya iman secara bahasa saja dari sisi pembenaran hal-hal tersebut.Dan dikatakan bahwasanya ayat ini turun disebabkan perkataan kaum Quraisy tatkala thowaf dan talbiyah “Ya Allah tidak ada syarikat bagiMu kecuali syarikat milik-Mu, Engkau memilikinya dan ia tidak memiliki” (Al-Muharroor Al-Wajiiz 3/285)Demikian juga tafsiran para ahli tafsir yang lainnya, tidak seorangpun dari mereka yang menyatakan bahwa kaum musyrikin Arab mengingkari adanya Allah.Kesimpulan :Pertama : Abu Salafy telah berdusta atas nama Imam Al-Qurthubi. Dan ini adalah hal yang ringan bagi Abu Salafy, jika ia telah berani berdusta atas nama Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu (sebagaimana dalam bantahan ana : tentang tipu muslihat Abu salafy cs) maka bagaimana lagi dengan Imam Al-Qurthubi??!!Kedua : Abu Salafy tidak paham perkataan para ahli tafsir. Sehingga akhirnya salah menyimpulkan. Inilah yang membuat saya malas untuk membantah abu salafy lebih jauh lagi, karena begitu soknya ia membantah Ibnu Taimiyyah, ana khawatir ia rupanya salah paham dengan perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Ketiga : Semakin jelas bahwasanya Abu Salafy dalam tafsirannya (bahwasanya kaum musyrikin arab sebenarnya mengingkari adanya Allah dan hanya pura-pura tatkala menyatakan Allah yang menciptakan langit dan bumi) tidak mengikuti satupun pendapat dari kalangan salaf. Maka abu salafy hendaknya mengganti gelarnya dari abu salafy menjadi abu kholafi.Bahkan tidak ada seorangpun dari para ahli tafsir dari kholaf yang berpendapat dengan pendapatnya. Oleh karenanya tafsiran Abu salafy tersebut adalah bid’ah dalam ilmu tafsir yang tidak pernah dinyatakan oleh seorangpun dari kalangan salaf dan kholaf. Dan saya tidak akan mencabut pernyataan tafsiran bid’ah ini sampai Abu Salafy mendatangkan satu ulama saja dari salaf maupun kholaf yang berpendapat seperti pendapatnya. Oleh karenanya tidak pantas juga gelar abu salafy diganti menjadi abu kholafy, akan tetapi yang pantas adalah abu bid’ah??!!. Dan gelar inipun masih baik, namun tidak pantas bagi orang yang tidak berani menampakan jati dirinya untuk berdialog. Oleh karena itu ana kawatir abu salafy ini bukanlah seorang laki-laki akan tetapi seorang wanita. Jadi yang paling pantas adalah digelari ummu bid’ah.Keempat : Jika Abu salafy tidak bisa mendatangkan satu ahli tafsir saja baik dari salaf maupun kholaf maka saya menjadi curiga bahwasanya Abu Salafy bukan hanya mendukung aqidah kaum Rofidhoh, bahkan juga mendukung kaum Jaringan Islam Liberal yang membolehkan menafsirkan dengan hawa nafsu sendiri !!!!Kelima : Jika Abu Salafy berhasil mendatangkan pendapat satu ulama saja yang menyatakan bahwa kaum musyrikin Arab mengingkari adanya Allah maka saya katakan bahwasanya :1) Pendapat tersebut sangatlah lemah karena bertentangan dengan dalil yang begitu banyak yang telah disebutkan oleh para ahli tafsir. Dan sebagian dalil-dalil tersebut telah saya sebutkan dalam tulisan saya di (https://www.firanda.com/index.php/home/31/82-persangkaan-abu-salafy-al-majhuul-bahwasanya-kaum-musyrikin-arab-tidak-mengakui-rububiyyah-allah)2) Sekali lagi orang yang berpendapat dengan pendapat Abu Salafy ini telah dikatakan dungu oleh Ibnu Jariir At-Thobari, beliau berkata “Sebagian orang dungu menyangka bahwasanya orang-orang Arab tidak mengetahui Ar-Rohmaan dan kalimat Ar-Rohman tidak terdapat dalam bahasa mereka, karenanya kaum musyrikin berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ((Siapakah Ar-Rohmaan itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami (bersujud kepada-Nya )”?,)) QS Al-Furqoon : 60, (mereka mengatakan demikian –red) karena mereka mengingkai nama ini. Seakan-akan merupakan hal yang mustahil menurut orang dungu ini kalau kaum musyrikin mengingkari sesuatu yang mereka tahu akan kebenarannya. Atau seakan-akan orang dungu ini tidak membaca firman Allah ((Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepada mereka (yaitu orang-orang yahudi-red) mengetahuinya)) yaitu mengetahui (kebenaran) Nabi Muhmmad, namun meskipun demikian mereka mendustakannya dan menolak kenabiannya. Maka dari sini diketahui bahwasanya mereka (kaum musyrikin Arab) terkadang menolak apa yang mereka telah tahu kebenarannya dan telah jelas diketahui oleh mereka” (Tafsiir At-Thobari 1/130)Dan pengingkaran kaum musyrikin Arab itu hanyalah karena sikap ngeyel, bukan karena mereka tidak mengetahui nama Ar-Rohmaan. Kalau orang yang menyangka bahwasanya kaum musyrikin Arab tidak tahu penamaan Allah dengan Ar-Rohmaan telah dicap “Orang dungu” oleh Ibnu Jariir, maka bagaimana lagi orang yang menyangka bahwasanya kaum musyrikin Arab tidak mengetahui wujudnya Allah…??? (sebagaimana yang disangkakan oleh Abu Salafy, sehingga tidak ada tuhan bagi mereka kecuali arca-arca dan berhala-berhala mereka), maka entah cap apa yang akan diberikan oleh Ibnu Jariir At-Thobari??!!Keenam : Saya meminta Abu Salafy jangan lari diskusi, dan saya harap diskusi kita teatur. Oleh karenanya silahkan menanggapi tulisan pertama saya (https://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/76-mengungkap-tipu-muslihat-abu-salafy-cs) yang mengungkap kedustaan dan manipulasi anda. Itu dulu yang saya tunggu !!!!!!. Dan janganlah anda bersembunyi dibalik perkataan sombong anda ((Tadinya saya tidak tertarik untuk meladeni artikel yang digelar di www.firanda.com yang mengkritik tulisan saya, sebab terkesan tidak memahami pesan inti apa yang saya tulis. Tetapi demi kebenaran dan agar tidak dianggap lari dari medan diskusi maka saya pun menyempatkan diri menulis tanggapan ini…. itupun hanya sekedarnya.. tidak menyoroti seluruh poin yang perlu ditanggapi!)). Buktikanlah bahwa anda adalah seorang laki-laki yang berani dialog !!!Bersambung…!!!Madinah Munawwarah, 07 Safar 1432 / 11 Januari 2011Firanda Andirja www.firanda.com 

Hukum Wanita Mengenakan Parfum

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah ditanya oleh seorang wanita: Bolehkah aku shalat dalam keadaan memakai parfum? Jazakumullah khoiron.   Jawaban Syaikh rahimahullah: Na’am. Shalat dalam keadaan memakai parfum itu dibolehkan, bahkan dibolehkan bagi laki-laki dan perempuan yang beriman. Akan tetapi wanita hanya boleh menggunakan parfum ketika berada di rumah di sisi suaminya. Dan tidak boleh seorang wanita menggunakan parfum ketika ia keluar ke pasar atau ke masjid. Adapun bagi laki-laki, ia dibolehkan untuk mengenakan parfum ketika berada di rumah, ketika ke pasar, atau ke masjid. Bahkan mengenakan parfum bagi pria termasuk sunnah para Rasul. Apabila seorang wanita shalat di rumahnya dalam keadaan memakai berbagai wangian …. , maka itu baik. Seperti itu tidaklah mengapa bahkan dianjurkan mengenakannya. Akan tetapi, ketika wanita tersebut keluar rumah, maka ia tidak boleh keluar dalam keadaan mengenakan parfum yang orang-orang dapat mencium baunya. Janganlah seorang wanita keluar ke pasar atau ke masjid dalam keadaan mengenakan parfum semacam itu. Hal ini dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya. [Fatawa Nur ‘alad Darb, 7/291, cetakan Ar Riasah Al ‘Ammah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, Riyadh-KSA, cetakan pertama, thn 1429 H] *** Yang dimaksudkan hadits larangan tersebut adalah sebagai berikut: Dari Abu Musa Al Asy’ary bahwanya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ “Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shohih) Dari Yahya bin Ja’dah, “Di masa pemerintahan Umar bin Khatab ada seorang perempuan yang keluar rumah dengan memakai wewangian. Di tengah jalan, Umar mencium bau harum dari perempuan tersebut maka Umar pun memukulinya dengan tongkat. Setelah itu beliau berkata, تخرجن متطيبات فيجد الرجال ريحكن وإنما قلوب الرجال عند أنوفهم اخرجن تفلات “Kalian, para perempuan keluar rumah dengan memakai wewangian sehingga para laki-laki mencium bau harum kalian?! Sesungguhnya hati laki-laki itu ditentukan oleh bau yang dicium oleh hidungnya. Keluarlah kalian dari rumah dengan tidak memakai wewangian”. (HR. Abdurrazaq dalam al Mushannaf no 8107) Dari Ibrahim, Umar (bin Khatab) memeriksa shaf shalat jamaah perempuan lalu beliau mencium bau harum dari kepala seorang perempuan. Beliau lantas berkata, لو أعلم أيتكن هي لفعلت ولفعلت لتطيب إحداكن لزوجها فإذا خرجت لبست أطمار وليدتها “Seandainya aku tahu siapa di antara kalian yang memakai wewangian niscaya aku akan melakukan tindakan demikian dan demikian. Hendaklah kalian memakai wewangian untuk suaminya. Jika keluar rumah hendaknya memakai kain jelek yang biasa dipakai oleh budak perempuan”. Ibrahim mengatakan, “Aku mendapatkan kabar bahwa perempuan yang memakai wewangian itu sampai ngompol karena takut (dengan Umar)”. (HR. Abdur Razaq no 8118) Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 7th Safar 1432 H, 11/01/2011 www.rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal Baca Juga: Musibah Wanita dengan Parfum Saat Keluar Rumah Polemik Parfum Beralkohol Tagspakaian muslimah

Hukum Wanita Mengenakan Parfum

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah ditanya oleh seorang wanita: Bolehkah aku shalat dalam keadaan memakai parfum? Jazakumullah khoiron.   Jawaban Syaikh rahimahullah: Na’am. Shalat dalam keadaan memakai parfum itu dibolehkan, bahkan dibolehkan bagi laki-laki dan perempuan yang beriman. Akan tetapi wanita hanya boleh menggunakan parfum ketika berada di rumah di sisi suaminya. Dan tidak boleh seorang wanita menggunakan parfum ketika ia keluar ke pasar atau ke masjid. Adapun bagi laki-laki, ia dibolehkan untuk mengenakan parfum ketika berada di rumah, ketika ke pasar, atau ke masjid. Bahkan mengenakan parfum bagi pria termasuk sunnah para Rasul. Apabila seorang wanita shalat di rumahnya dalam keadaan memakai berbagai wangian …. , maka itu baik. Seperti itu tidaklah mengapa bahkan dianjurkan mengenakannya. Akan tetapi, ketika wanita tersebut keluar rumah, maka ia tidak boleh keluar dalam keadaan mengenakan parfum yang orang-orang dapat mencium baunya. Janganlah seorang wanita keluar ke pasar atau ke masjid dalam keadaan mengenakan parfum semacam itu. Hal ini dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya. [Fatawa Nur ‘alad Darb, 7/291, cetakan Ar Riasah Al ‘Ammah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, Riyadh-KSA, cetakan pertama, thn 1429 H] *** Yang dimaksudkan hadits larangan tersebut adalah sebagai berikut: Dari Abu Musa Al Asy’ary bahwanya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ “Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shohih) Dari Yahya bin Ja’dah, “Di masa pemerintahan Umar bin Khatab ada seorang perempuan yang keluar rumah dengan memakai wewangian. Di tengah jalan, Umar mencium bau harum dari perempuan tersebut maka Umar pun memukulinya dengan tongkat. Setelah itu beliau berkata, تخرجن متطيبات فيجد الرجال ريحكن وإنما قلوب الرجال عند أنوفهم اخرجن تفلات “Kalian, para perempuan keluar rumah dengan memakai wewangian sehingga para laki-laki mencium bau harum kalian?! Sesungguhnya hati laki-laki itu ditentukan oleh bau yang dicium oleh hidungnya. Keluarlah kalian dari rumah dengan tidak memakai wewangian”. (HR. Abdurrazaq dalam al Mushannaf no 8107) Dari Ibrahim, Umar (bin Khatab) memeriksa shaf shalat jamaah perempuan lalu beliau mencium bau harum dari kepala seorang perempuan. Beliau lantas berkata, لو أعلم أيتكن هي لفعلت ولفعلت لتطيب إحداكن لزوجها فإذا خرجت لبست أطمار وليدتها “Seandainya aku tahu siapa di antara kalian yang memakai wewangian niscaya aku akan melakukan tindakan demikian dan demikian. Hendaklah kalian memakai wewangian untuk suaminya. Jika keluar rumah hendaknya memakai kain jelek yang biasa dipakai oleh budak perempuan”. Ibrahim mengatakan, “Aku mendapatkan kabar bahwa perempuan yang memakai wewangian itu sampai ngompol karena takut (dengan Umar)”. (HR. Abdur Razaq no 8118) Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 7th Safar 1432 H, 11/01/2011 www.rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal Baca Juga: Musibah Wanita dengan Parfum Saat Keluar Rumah Polemik Parfum Beralkohol Tagspakaian muslimah
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah ditanya oleh seorang wanita: Bolehkah aku shalat dalam keadaan memakai parfum? Jazakumullah khoiron.   Jawaban Syaikh rahimahullah: Na’am. Shalat dalam keadaan memakai parfum itu dibolehkan, bahkan dibolehkan bagi laki-laki dan perempuan yang beriman. Akan tetapi wanita hanya boleh menggunakan parfum ketika berada di rumah di sisi suaminya. Dan tidak boleh seorang wanita menggunakan parfum ketika ia keluar ke pasar atau ke masjid. Adapun bagi laki-laki, ia dibolehkan untuk mengenakan parfum ketika berada di rumah, ketika ke pasar, atau ke masjid. Bahkan mengenakan parfum bagi pria termasuk sunnah para Rasul. Apabila seorang wanita shalat di rumahnya dalam keadaan memakai berbagai wangian …. , maka itu baik. Seperti itu tidaklah mengapa bahkan dianjurkan mengenakannya. Akan tetapi, ketika wanita tersebut keluar rumah, maka ia tidak boleh keluar dalam keadaan mengenakan parfum yang orang-orang dapat mencium baunya. Janganlah seorang wanita keluar ke pasar atau ke masjid dalam keadaan mengenakan parfum semacam itu. Hal ini dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya. [Fatawa Nur ‘alad Darb, 7/291, cetakan Ar Riasah Al ‘Ammah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, Riyadh-KSA, cetakan pertama, thn 1429 H] *** Yang dimaksudkan hadits larangan tersebut adalah sebagai berikut: Dari Abu Musa Al Asy’ary bahwanya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ “Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shohih) Dari Yahya bin Ja’dah, “Di masa pemerintahan Umar bin Khatab ada seorang perempuan yang keluar rumah dengan memakai wewangian. Di tengah jalan, Umar mencium bau harum dari perempuan tersebut maka Umar pun memukulinya dengan tongkat. Setelah itu beliau berkata, تخرجن متطيبات فيجد الرجال ريحكن وإنما قلوب الرجال عند أنوفهم اخرجن تفلات “Kalian, para perempuan keluar rumah dengan memakai wewangian sehingga para laki-laki mencium bau harum kalian?! Sesungguhnya hati laki-laki itu ditentukan oleh bau yang dicium oleh hidungnya. Keluarlah kalian dari rumah dengan tidak memakai wewangian”. (HR. Abdurrazaq dalam al Mushannaf no 8107) Dari Ibrahim, Umar (bin Khatab) memeriksa shaf shalat jamaah perempuan lalu beliau mencium bau harum dari kepala seorang perempuan. Beliau lantas berkata, لو أعلم أيتكن هي لفعلت ولفعلت لتطيب إحداكن لزوجها فإذا خرجت لبست أطمار وليدتها “Seandainya aku tahu siapa di antara kalian yang memakai wewangian niscaya aku akan melakukan tindakan demikian dan demikian. Hendaklah kalian memakai wewangian untuk suaminya. Jika keluar rumah hendaknya memakai kain jelek yang biasa dipakai oleh budak perempuan”. Ibrahim mengatakan, “Aku mendapatkan kabar bahwa perempuan yang memakai wewangian itu sampai ngompol karena takut (dengan Umar)”. (HR. Abdur Razaq no 8118) Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 7th Safar 1432 H, 11/01/2011 www.rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal Baca Juga: Musibah Wanita dengan Parfum Saat Keluar Rumah Polemik Parfum Beralkohol Tagspakaian muslimah


Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah ditanya oleh seorang wanita: Bolehkah aku shalat dalam keadaan memakai parfum? Jazakumullah khoiron.   Jawaban Syaikh rahimahullah: Na’am. Shalat dalam keadaan memakai parfum itu dibolehkan, bahkan dibolehkan bagi laki-laki dan perempuan yang beriman. Akan tetapi wanita hanya boleh menggunakan parfum ketika berada di rumah di sisi suaminya. Dan tidak boleh seorang wanita menggunakan parfum ketika ia keluar ke pasar atau ke masjid. Adapun bagi laki-laki, ia dibolehkan untuk mengenakan parfum ketika berada di rumah, ketika ke pasar, atau ke masjid. Bahkan mengenakan parfum bagi pria termasuk sunnah para Rasul. Apabila seorang wanita shalat di rumahnya dalam keadaan memakai berbagai wangian …. , maka itu baik. Seperti itu tidaklah mengapa bahkan dianjurkan mengenakannya. Akan tetapi, ketika wanita tersebut keluar rumah, maka ia tidak boleh keluar dalam keadaan mengenakan parfum yang orang-orang dapat mencium baunya. Janganlah seorang wanita keluar ke pasar atau ke masjid dalam keadaan mengenakan parfum semacam itu. Hal ini dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya. [Fatawa Nur ‘alad Darb, 7/291, cetakan Ar Riasah Al ‘Ammah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, Riyadh-KSA, cetakan pertama, thn 1429 H] *** Yang dimaksudkan hadits larangan tersebut adalah sebagai berikut: Dari Abu Musa Al Asy’ary bahwanya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ “Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shohih) Dari Yahya bin Ja’dah, “Di masa pemerintahan Umar bin Khatab ada seorang perempuan yang keluar rumah dengan memakai wewangian. Di tengah jalan, Umar mencium bau harum dari perempuan tersebut maka Umar pun memukulinya dengan tongkat. Setelah itu beliau berkata, تخرجن متطيبات فيجد الرجال ريحكن وإنما قلوب الرجال عند أنوفهم اخرجن تفلات “Kalian, para perempuan keluar rumah dengan memakai wewangian sehingga para laki-laki mencium bau harum kalian?! Sesungguhnya hati laki-laki itu ditentukan oleh bau yang dicium oleh hidungnya. Keluarlah kalian dari rumah dengan tidak memakai wewangian”. (HR. Abdurrazaq dalam al Mushannaf no 8107) Dari Ibrahim, Umar (bin Khatab) memeriksa shaf shalat jamaah perempuan lalu beliau mencium bau harum dari kepala seorang perempuan. Beliau lantas berkata, لو أعلم أيتكن هي لفعلت ولفعلت لتطيب إحداكن لزوجها فإذا خرجت لبست أطمار وليدتها “Seandainya aku tahu siapa di antara kalian yang memakai wewangian niscaya aku akan melakukan tindakan demikian dan demikian. Hendaklah kalian memakai wewangian untuk suaminya. Jika keluar rumah hendaknya memakai kain jelek yang biasa dipakai oleh budak perempuan”. Ibrahim mengatakan, “Aku mendapatkan kabar bahwa perempuan yang memakai wewangian itu sampai ngompol karena takut (dengan Umar)”. (HR. Abdur Razaq no 8118) Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq. Riyadh-KSA, 7th Safar 1432 H, 11/01/2011 www.rumaysho.com Muhammad Abduh Tuasikal Baca Juga: Musibah Wanita dengan Parfum Saat Keluar Rumah Polemik Parfum Beralkohol Tagspakaian muslimah
Prev     Next