Taat pada Pemimpin pada Selain Perkara Maksiat

Tatkala senang dan tidak suka, tetap wajib taat terhadap keputusan dan perintah kaum muslimin. Beda dengan sikap sebagian golongan yang enggan taat pada pemimpinnya, lebih mementingkan kepentingan individu dan golongan dibanding persatuan kaum muslimin. Padahal mentaati pemimpin atau penguasa demi terjaganya kemaslahatan bersama lebih pantas diutamakan.   Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Sholihin pada hadits no. 663 dengan judul bab yang beliau bawakan, “Wajib taat terhadap pemimpin kaum muslimin selain dalam hal maksiat dan haram taat pada mereka dalam hal maksiat.” Berikut hadits yang beliau bawa. عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ » Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bagi setiap muslim, wajib taat dan mendengar kepada pemimpin (penguasa) kaum muslimin dalam hal yang disukai maupun hal yang tidak disukai (dibenci) kecuali jika diperintahkan dalam maksiat. Jika diperintahkan dalam hal maksiat, maka tidak boleh menerima perintah tersebut dan tidak boleh taat.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 7144 dan Muslim no. 1839).   Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Wajib mentaati pemimpin atau imam kaum muslimin dalam segala perkara, baik dalam keadaan suka maupun tidak suka. 2- Tidak boleh mentaati penguasa dalam hal maksiat, tidak ada ketaatan dalam bermaksiat pada Allah. 3- Setiap muslim wajib mengenyampingkan kepentingan individu dan kelompok, lalu memilih perkara yang lebih menyatukan kaum muslimin. Semoga faedah dari hadits di atas bermanfaat bagi kita sekalian. Semoga bisa diamalkan. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1:654.     Disusun @ Soeta Airport saat safar menuju Papua, 10.47 pm, 26 Dzulhijjah 1434 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsaqidah iman maksiat pemimpin

Taat pada Pemimpin pada Selain Perkara Maksiat

Tatkala senang dan tidak suka, tetap wajib taat terhadap keputusan dan perintah kaum muslimin. Beda dengan sikap sebagian golongan yang enggan taat pada pemimpinnya, lebih mementingkan kepentingan individu dan golongan dibanding persatuan kaum muslimin. Padahal mentaati pemimpin atau penguasa demi terjaganya kemaslahatan bersama lebih pantas diutamakan.   Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Sholihin pada hadits no. 663 dengan judul bab yang beliau bawakan, “Wajib taat terhadap pemimpin kaum muslimin selain dalam hal maksiat dan haram taat pada mereka dalam hal maksiat.” Berikut hadits yang beliau bawa. عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ » Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bagi setiap muslim, wajib taat dan mendengar kepada pemimpin (penguasa) kaum muslimin dalam hal yang disukai maupun hal yang tidak disukai (dibenci) kecuali jika diperintahkan dalam maksiat. Jika diperintahkan dalam hal maksiat, maka tidak boleh menerima perintah tersebut dan tidak boleh taat.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 7144 dan Muslim no. 1839).   Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Wajib mentaati pemimpin atau imam kaum muslimin dalam segala perkara, baik dalam keadaan suka maupun tidak suka. 2- Tidak boleh mentaati penguasa dalam hal maksiat, tidak ada ketaatan dalam bermaksiat pada Allah. 3- Setiap muslim wajib mengenyampingkan kepentingan individu dan kelompok, lalu memilih perkara yang lebih menyatukan kaum muslimin. Semoga faedah dari hadits di atas bermanfaat bagi kita sekalian. Semoga bisa diamalkan. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1:654.     Disusun @ Soeta Airport saat safar menuju Papua, 10.47 pm, 26 Dzulhijjah 1434 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsaqidah iman maksiat pemimpin
Tatkala senang dan tidak suka, tetap wajib taat terhadap keputusan dan perintah kaum muslimin. Beda dengan sikap sebagian golongan yang enggan taat pada pemimpinnya, lebih mementingkan kepentingan individu dan golongan dibanding persatuan kaum muslimin. Padahal mentaati pemimpin atau penguasa demi terjaganya kemaslahatan bersama lebih pantas diutamakan.   Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Sholihin pada hadits no. 663 dengan judul bab yang beliau bawakan, “Wajib taat terhadap pemimpin kaum muslimin selain dalam hal maksiat dan haram taat pada mereka dalam hal maksiat.” Berikut hadits yang beliau bawa. عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ » Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bagi setiap muslim, wajib taat dan mendengar kepada pemimpin (penguasa) kaum muslimin dalam hal yang disukai maupun hal yang tidak disukai (dibenci) kecuali jika diperintahkan dalam maksiat. Jika diperintahkan dalam hal maksiat, maka tidak boleh menerima perintah tersebut dan tidak boleh taat.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 7144 dan Muslim no. 1839).   Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Wajib mentaati pemimpin atau imam kaum muslimin dalam segala perkara, baik dalam keadaan suka maupun tidak suka. 2- Tidak boleh mentaati penguasa dalam hal maksiat, tidak ada ketaatan dalam bermaksiat pada Allah. 3- Setiap muslim wajib mengenyampingkan kepentingan individu dan kelompok, lalu memilih perkara yang lebih menyatukan kaum muslimin. Semoga faedah dari hadits di atas bermanfaat bagi kita sekalian. Semoga bisa diamalkan. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1:654.     Disusun @ Soeta Airport saat safar menuju Papua, 10.47 pm, 26 Dzulhijjah 1434 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsaqidah iman maksiat pemimpin


Tatkala senang dan tidak suka, tetap wajib taat terhadap keputusan dan perintah kaum muslimin. Beda dengan sikap sebagian golongan yang enggan taat pada pemimpinnya, lebih mementingkan kepentingan individu dan golongan dibanding persatuan kaum muslimin. Padahal mentaati pemimpin atau penguasa demi terjaganya kemaslahatan bersama lebih pantas diutamakan.   Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Sholihin pada hadits no. 663 dengan judul bab yang beliau bawakan, “Wajib taat terhadap pemimpin kaum muslimin selain dalam hal maksiat dan haram taat pada mereka dalam hal maksiat.” Berikut hadits yang beliau bawa. عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ » Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bagi setiap muslim, wajib taat dan mendengar kepada pemimpin (penguasa) kaum muslimin dalam hal yang disukai maupun hal yang tidak disukai (dibenci) kecuali jika diperintahkan dalam maksiat. Jika diperintahkan dalam hal maksiat, maka tidak boleh menerima perintah tersebut dan tidak boleh taat.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 7144 dan Muslim no. 1839).   Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Wajib mentaati pemimpin atau imam kaum muslimin dalam segala perkara, baik dalam keadaan suka maupun tidak suka. 2- Tidak boleh mentaati penguasa dalam hal maksiat, tidak ada ketaatan dalam bermaksiat pada Allah. 3- Setiap muslim wajib mengenyampingkan kepentingan individu dan kelompok, lalu memilih perkara yang lebih menyatukan kaum muslimin. Semoga faedah dari hadits di atas bermanfaat bagi kita sekalian. Semoga bisa diamalkan. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1:654.     Disusun @ Soeta Airport saat safar menuju Papua, 10.47 pm, 26 Dzulhijjah 1434 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsaqidah iman maksiat pemimpin

Semangat Para Sahabat dalam Meraih Surga

Lihatlah semangat para sahabat dalam meraih surga dan bersemangat melakukan kebaikan. Hadits berikut ini dibawakan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Riyadhus Sholihin pada Bab “Bersegera dalam Kebaikan dan Motivasi untuk Melakukannya Tanpa Menunda-nunda“, pada hadits no. 89. Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ أُحُدٍ أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فَأَيْنَ أَنَا قَالَ « فِى الْجَنَّةِ » فَأَلْقَى تَمَرَاتٍ فِى يَدِهِ ، ثُمَّ قَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ “Ada seseorang yang berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perang Uhud, “Bagaimana jika aku terbunuh, di manakah aku?” Beliau bersabda, “Engkau di surga.” Ia pun melempar kurma yang ada di tangannya, lantas ia berperang hingga akhirnya terbunuh. (HR. Bukhari no. 4046 dan Muslim no. 1899). Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Hadits di atas mengajarkan untuk bersegera dalam kebaikan dan tidak terlalu sibuk dengan hal-hal yang sia-sia dan melalaikan dari mengingat Allah. 2- Dianjurkan bertanya bagi yang tidak tahu. 3- Para sahabat begitu cinta pada surga dan mereka semangat untuk memasukinya. 4- Sahabat begitu zuhud terhadap dunia dan lebih suka untuk mati syahid di jalan Allah. 5- Siapa saja yang mati syahid di jalan Allah, maka ia termasuk penduduk surga selama ia selamat dari berbagai utang. Semoga faedah di atas bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 151-152. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) @ Hotel Syari’ah Rawamangun, Pulo Gadung, Jakarta, sehabis ‘Isya’, 26 Dzulhijjah 1434 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com seharga Rp.85.000,-, silakan PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan lihat toko online Ruwaifi.Com. Tagsiman surga

Semangat Para Sahabat dalam Meraih Surga

Lihatlah semangat para sahabat dalam meraih surga dan bersemangat melakukan kebaikan. Hadits berikut ini dibawakan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Riyadhus Sholihin pada Bab “Bersegera dalam Kebaikan dan Motivasi untuk Melakukannya Tanpa Menunda-nunda“, pada hadits no. 89. Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ أُحُدٍ أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فَأَيْنَ أَنَا قَالَ « فِى الْجَنَّةِ » فَأَلْقَى تَمَرَاتٍ فِى يَدِهِ ، ثُمَّ قَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ “Ada seseorang yang berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perang Uhud, “Bagaimana jika aku terbunuh, di manakah aku?” Beliau bersabda, “Engkau di surga.” Ia pun melempar kurma yang ada di tangannya, lantas ia berperang hingga akhirnya terbunuh. (HR. Bukhari no. 4046 dan Muslim no. 1899). Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Hadits di atas mengajarkan untuk bersegera dalam kebaikan dan tidak terlalu sibuk dengan hal-hal yang sia-sia dan melalaikan dari mengingat Allah. 2- Dianjurkan bertanya bagi yang tidak tahu. 3- Para sahabat begitu cinta pada surga dan mereka semangat untuk memasukinya. 4- Sahabat begitu zuhud terhadap dunia dan lebih suka untuk mati syahid di jalan Allah. 5- Siapa saja yang mati syahid di jalan Allah, maka ia termasuk penduduk surga selama ia selamat dari berbagai utang. Semoga faedah di atas bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 151-152. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) @ Hotel Syari’ah Rawamangun, Pulo Gadung, Jakarta, sehabis ‘Isya’, 26 Dzulhijjah 1434 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com seharga Rp.85.000,-, silakan PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan lihat toko online Ruwaifi.Com. Tagsiman surga
Lihatlah semangat para sahabat dalam meraih surga dan bersemangat melakukan kebaikan. Hadits berikut ini dibawakan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Riyadhus Sholihin pada Bab “Bersegera dalam Kebaikan dan Motivasi untuk Melakukannya Tanpa Menunda-nunda“, pada hadits no. 89. Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ أُحُدٍ أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فَأَيْنَ أَنَا قَالَ « فِى الْجَنَّةِ » فَأَلْقَى تَمَرَاتٍ فِى يَدِهِ ، ثُمَّ قَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ “Ada seseorang yang berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perang Uhud, “Bagaimana jika aku terbunuh, di manakah aku?” Beliau bersabda, “Engkau di surga.” Ia pun melempar kurma yang ada di tangannya, lantas ia berperang hingga akhirnya terbunuh. (HR. Bukhari no. 4046 dan Muslim no. 1899). Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Hadits di atas mengajarkan untuk bersegera dalam kebaikan dan tidak terlalu sibuk dengan hal-hal yang sia-sia dan melalaikan dari mengingat Allah. 2- Dianjurkan bertanya bagi yang tidak tahu. 3- Para sahabat begitu cinta pada surga dan mereka semangat untuk memasukinya. 4- Sahabat begitu zuhud terhadap dunia dan lebih suka untuk mati syahid di jalan Allah. 5- Siapa saja yang mati syahid di jalan Allah, maka ia termasuk penduduk surga selama ia selamat dari berbagai utang. Semoga faedah di atas bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 151-152. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) @ Hotel Syari’ah Rawamangun, Pulo Gadung, Jakarta, sehabis ‘Isya’, 26 Dzulhijjah 1434 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com seharga Rp.85.000,-, silakan PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan lihat toko online Ruwaifi.Com. Tagsiman surga


Lihatlah semangat para sahabat dalam meraih surga dan bersemangat melakukan kebaikan. Hadits berikut ini dibawakan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Riyadhus Sholihin pada Bab “Bersegera dalam Kebaikan dan Motivasi untuk Melakukannya Tanpa Menunda-nunda“, pada hadits no. 89. Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ أُحُدٍ أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فَأَيْنَ أَنَا قَالَ « فِى الْجَنَّةِ » فَأَلْقَى تَمَرَاتٍ فِى يَدِهِ ، ثُمَّ قَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ “Ada seseorang yang berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perang Uhud, “Bagaimana jika aku terbunuh, di manakah aku?” Beliau bersabda, “Engkau di surga.” Ia pun melempar kurma yang ada di tangannya, lantas ia berperang hingga akhirnya terbunuh. (HR. Bukhari no. 4046 dan Muslim no. 1899). Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Hadits di atas mengajarkan untuk bersegera dalam kebaikan dan tidak terlalu sibuk dengan hal-hal yang sia-sia dan melalaikan dari mengingat Allah. 2- Dianjurkan bertanya bagi yang tidak tahu. 3- Para sahabat begitu cinta pada surga dan mereka semangat untuk memasukinya. 4- Sahabat begitu zuhud terhadap dunia dan lebih suka untuk mati syahid di jalan Allah. 5- Siapa saja yang mati syahid di jalan Allah, maka ia termasuk penduduk surga selama ia selamat dari berbagai utang. Semoga faedah di atas bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 151-152. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) @ Hotel Syari’ah Rawamangun, Pulo Gadung, Jakarta, sehabis ‘Isya’, 26 Dzulhijjah 1434 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com seharga Rp.85.000,-, silakan PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan lihat toko online Ruwaifi.Com. Tagsiman surga

Ibadah Ringan yang Nilainya Istimewa

Ibadah Ringan yang Nilainya Istimewa Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ دَخَلَ السُّوقَ، فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ، وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ Siapa yang masuk pasar, kemudian dia membaca: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ Maka Allah akan mencatat untuknya 1 juta pahala, menghapurkan darinya 1 juta dosa, dan mengangkat 1 juta derajatnya. (HR. Turmudzi 3428, Ibn asadsrefre efregftt Majah 2235 dan dinilai hasan oleh al-Albani) Mengapa dzikir masuk pasar ini pahalanya sangat besar? Karena dzikir ini dibaca pada saat umumnya orang lupa Allah. Orang ini masuk pasar dengan berdzikir, di tengah banyak orang lupa dengan akhirat, sehingga dia menjadi hamba yang istimewa. Perbanyak dzikir, di saat banyak orang lupa dzikir.

Ibadah Ringan yang Nilainya Istimewa

Ibadah Ringan yang Nilainya Istimewa Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ دَخَلَ السُّوقَ، فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ، وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ Siapa yang masuk pasar, kemudian dia membaca: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ Maka Allah akan mencatat untuknya 1 juta pahala, menghapurkan darinya 1 juta dosa, dan mengangkat 1 juta derajatnya. (HR. Turmudzi 3428, Ibn asadsrefre efregftt Majah 2235 dan dinilai hasan oleh al-Albani) Mengapa dzikir masuk pasar ini pahalanya sangat besar? Karena dzikir ini dibaca pada saat umumnya orang lupa Allah. Orang ini masuk pasar dengan berdzikir, di tengah banyak orang lupa dengan akhirat, sehingga dia menjadi hamba yang istimewa. Perbanyak dzikir, di saat banyak orang lupa dzikir.
Ibadah Ringan yang Nilainya Istimewa Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ دَخَلَ السُّوقَ، فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ، وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ Siapa yang masuk pasar, kemudian dia membaca: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ Maka Allah akan mencatat untuknya 1 juta pahala, menghapurkan darinya 1 juta dosa, dan mengangkat 1 juta derajatnya. (HR. Turmudzi 3428, Ibn asadsrefre efregftt Majah 2235 dan dinilai hasan oleh al-Albani) Mengapa dzikir masuk pasar ini pahalanya sangat besar? Karena dzikir ini dibaca pada saat umumnya orang lupa Allah. Orang ini masuk pasar dengan berdzikir, di tengah banyak orang lupa dengan akhirat, sehingga dia menjadi hamba yang istimewa. Perbanyak dzikir, di saat banyak orang lupa dzikir.


Ibadah Ringan yang Nilainya Istimewa Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ دَخَلَ السُّوقَ، فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ، وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ Siapa yang masuk pasar, kemudian dia membaca: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ Maka Allah akan mencatat untuknya 1 juta pahala, menghapurkan darinya 1 juta dosa, dan mengangkat 1 juta derajatnya. (HR. Turmudzi 3428, Ibn asadsrefre efregftt Majah 2235 dan dinilai hasan oleh al-Albani) Mengapa dzikir masuk pasar ini pahalanya sangat besar? Karena dzikir ini dibaca pada saat umumnya orang lupa Allah. Orang ini masuk pasar dengan berdzikir, di tengah banyak orang lupa dengan akhirat, sehingga dia menjadi hamba yang istimewa. Perbanyak dzikir, di saat banyak orang lupa dzikir.

Syarat Mendapat Syafaat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam

Syarat Mendapat Syafaat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟ ”Ya Rasulullah, siapakah orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaat anda di hari kiamat?” Anda tahu bagaimana jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ooh.. orang yang bebahagia karena mendapatkan syafaatku adalah mereka yang memperingati hari kelahiranku…!!? Tapi ternyata jawabannya bukan demikian. Jawaban beliau, أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ، أَوْ نَفْسِهِ ”Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam hatinya atau dari dalam dirinya.” (HR. Ahmad 8858, Bukhari 99 dan yang lainnya). Mereka yang mendapat syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka yang mentauhidkan Allah, dan bukan mereka yang merayakan peringatan maulid beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syarat Mendapat Syafaat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam

Syarat Mendapat Syafaat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟ ”Ya Rasulullah, siapakah orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaat anda di hari kiamat?” Anda tahu bagaimana jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ooh.. orang yang bebahagia karena mendapatkan syafaatku adalah mereka yang memperingati hari kelahiranku…!!? Tapi ternyata jawabannya bukan demikian. Jawaban beliau, أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ، أَوْ نَفْسِهِ ”Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam hatinya atau dari dalam dirinya.” (HR. Ahmad 8858, Bukhari 99 dan yang lainnya). Mereka yang mendapat syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka yang mentauhidkan Allah, dan bukan mereka yang merayakan peringatan maulid beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Syarat Mendapat Syafaat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟ ”Ya Rasulullah, siapakah orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaat anda di hari kiamat?” Anda tahu bagaimana jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ooh.. orang yang bebahagia karena mendapatkan syafaatku adalah mereka yang memperingati hari kelahiranku…!!? Tapi ternyata jawabannya bukan demikian. Jawaban beliau, أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ، أَوْ نَفْسِهِ ”Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam hatinya atau dari dalam dirinya.” (HR. Ahmad 8858, Bukhari 99 dan yang lainnya). Mereka yang mendapat syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka yang mentauhidkan Allah, dan bukan mereka yang merayakan peringatan maulid beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Syarat Mendapat Syafaat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟ ”Ya Rasulullah, siapakah orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaat anda di hari kiamat?” Anda tahu bagaimana jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ooh.. orang yang bebahagia karena mendapatkan syafaatku adalah mereka yang memperingati hari kelahiranku…!!? Tapi ternyata jawabannya bukan demikian. Jawaban beliau, أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ، أَوْ نَفْسِهِ ”Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengikrarkan laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam hatinya atau dari dalam dirinya.” (HR. Ahmad 8858, Bukhari 99 dan yang lainnya). Mereka yang mendapat syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka yang mentauhidkan Allah, dan bukan mereka yang merayakan peringatan maulid beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Belajar Agama dan Berteman dengan Orang Sholeh, Benteng dari Kesesatan

Belajar Agama dan Berteman dengan Orang Sholeh, Benteng dari Kesesatan Allah menceritakan keadaan para sahabat, وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ Bagaimana mungkin kalian menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian? (QS. Ali Imran: 101) Allah menjamin para sahabat yang berada di sekitar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan menjadi kafir, karena dua hal: Mereka selalu mempelajari al-Quran Ada pembimbing, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengan mereka. Banyak orang jadi sesat, karena dia malas belajar, dan tidak mau bergaul dengan orang yang berilmu. Suatu ketika Maslamah bin Abdul Malik – seorang gubernur – memasuki kota Bashrah untuk menemui Hasan al-Bashri. Sebelum berjumpa dengan Hasan al-Bashri, beliau menemui Khalid bin Shafwan di kota itu, yang kenal dengan Hasan al-Bashri. Beliaupun tanya-tanya tentang kepribadian Hasan al-Bashri. Si Khalid pun bercerita tentang Hasan al-Bashri. Dia sampaikan bagaimana zuhudnya Hasan, wara’nya beliau, keluasan ilmunya, dan berbagai kelebihan Hasan al-Bashri. Mendengar keterangan ini, Sang gubernur langsung komentar, كيف يضل قوم فيهم مثل الحسن البصري “Bagaimana mungkin masyarakat jadi sesat, sementara di tengah-tengah mereka ada orang seperti Hasan al-Bashri.”

Belajar Agama dan Berteman dengan Orang Sholeh, Benteng dari Kesesatan

Belajar Agama dan Berteman dengan Orang Sholeh, Benteng dari Kesesatan Allah menceritakan keadaan para sahabat, وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ Bagaimana mungkin kalian menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian? (QS. Ali Imran: 101) Allah menjamin para sahabat yang berada di sekitar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan menjadi kafir, karena dua hal: Mereka selalu mempelajari al-Quran Ada pembimbing, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengan mereka. Banyak orang jadi sesat, karena dia malas belajar, dan tidak mau bergaul dengan orang yang berilmu. Suatu ketika Maslamah bin Abdul Malik – seorang gubernur – memasuki kota Bashrah untuk menemui Hasan al-Bashri. Sebelum berjumpa dengan Hasan al-Bashri, beliau menemui Khalid bin Shafwan di kota itu, yang kenal dengan Hasan al-Bashri. Beliaupun tanya-tanya tentang kepribadian Hasan al-Bashri. Si Khalid pun bercerita tentang Hasan al-Bashri. Dia sampaikan bagaimana zuhudnya Hasan, wara’nya beliau, keluasan ilmunya, dan berbagai kelebihan Hasan al-Bashri. Mendengar keterangan ini, Sang gubernur langsung komentar, كيف يضل قوم فيهم مثل الحسن البصري “Bagaimana mungkin masyarakat jadi sesat, sementara di tengah-tengah mereka ada orang seperti Hasan al-Bashri.”
Belajar Agama dan Berteman dengan Orang Sholeh, Benteng dari Kesesatan Allah menceritakan keadaan para sahabat, وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ Bagaimana mungkin kalian menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian? (QS. Ali Imran: 101) Allah menjamin para sahabat yang berada di sekitar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan menjadi kafir, karena dua hal: Mereka selalu mempelajari al-Quran Ada pembimbing, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengan mereka. Banyak orang jadi sesat, karena dia malas belajar, dan tidak mau bergaul dengan orang yang berilmu. Suatu ketika Maslamah bin Abdul Malik – seorang gubernur – memasuki kota Bashrah untuk menemui Hasan al-Bashri. Sebelum berjumpa dengan Hasan al-Bashri, beliau menemui Khalid bin Shafwan di kota itu, yang kenal dengan Hasan al-Bashri. Beliaupun tanya-tanya tentang kepribadian Hasan al-Bashri. Si Khalid pun bercerita tentang Hasan al-Bashri. Dia sampaikan bagaimana zuhudnya Hasan, wara’nya beliau, keluasan ilmunya, dan berbagai kelebihan Hasan al-Bashri. Mendengar keterangan ini, Sang gubernur langsung komentar, كيف يضل قوم فيهم مثل الحسن البصري “Bagaimana mungkin masyarakat jadi sesat, sementara di tengah-tengah mereka ada orang seperti Hasan al-Bashri.”


Belajar Agama dan Berteman dengan Orang Sholeh, Benteng dari Kesesatan Allah menceritakan keadaan para sahabat, وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ Bagaimana mungkin kalian menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian? (QS. Ali Imran: 101) Allah menjamin para sahabat yang berada di sekitar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan menjadi kafir, karena dua hal: Mereka selalu mempelajari al-Quran Ada pembimbing, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengan mereka. Banyak orang jadi sesat, karena dia malas belajar, dan tidak mau bergaul dengan orang yang berilmu. Suatu ketika Maslamah bin Abdul Malik – seorang gubernur – memasuki kota Bashrah untuk menemui Hasan al-Bashri. Sebelum berjumpa dengan Hasan al-Bashri, beliau menemui Khalid bin Shafwan di kota itu, yang kenal dengan Hasan al-Bashri. Beliaupun tanya-tanya tentang kepribadian Hasan al-Bashri. Si Khalid pun bercerita tentang Hasan al-Bashri. Dia sampaikan bagaimana zuhudnya Hasan, wara’nya beliau, keluasan ilmunya, dan berbagai kelebihan Hasan al-Bashri. Mendengar keterangan ini, Sang gubernur langsung komentar, كيف يضل قوم فيهم مثل الحسن البصري “Bagaimana mungkin masyarakat jadi sesat, sementara di tengah-tengah mereka ada orang seperti Hasan al-Bashri.”

Dakwah Kebenaran Pasti Dimusuhi

Dakwah Kebenaran Pasti Dimusuhi Tidak ada satupun nabi yang Allah utus, kecuali mereka dimusuhi oleh sebagian kaumnya. يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُون Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang Rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. (QS. Yasin: 30) Di ayat lain, Allah berfirman, وَكَمْ أَرْسَلْنَا مِنْ نَبِيٍّ فِي الْأَوَّلِينَ ( ) وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu. ( ) dan tiada seorang nabipun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. (QS. Az-Zukhruf: 6 – 7) Karena itu, jika ada gerakan dakwah yang memiliki prinsip: toleransi sepenuhnya kepada masyarakat, sampaikan yang tidak bertentangan dengan prinsip & kebiasaan masyarakat jangan sampaikan masalah khilafiyah jangan membuat masyarakat memusuhi dakwah, dan seterusnya. Bisa dipastikan ini dakwah yang tidak sesuai dengan prinsip dakwah para nabi. Dakwah bukan mencari musuh, dan bukan pula mencari penggemar. Dakwah adalah menyampaikan kebenaran, dan bagian dari sunatullah, pasti dimusuhi pasukan iblis.

Dakwah Kebenaran Pasti Dimusuhi

Dakwah Kebenaran Pasti Dimusuhi Tidak ada satupun nabi yang Allah utus, kecuali mereka dimusuhi oleh sebagian kaumnya. يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُون Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang Rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. (QS. Yasin: 30) Di ayat lain, Allah berfirman, وَكَمْ أَرْسَلْنَا مِنْ نَبِيٍّ فِي الْأَوَّلِينَ ( ) وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu. ( ) dan tiada seorang nabipun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. (QS. Az-Zukhruf: 6 – 7) Karena itu, jika ada gerakan dakwah yang memiliki prinsip: toleransi sepenuhnya kepada masyarakat, sampaikan yang tidak bertentangan dengan prinsip & kebiasaan masyarakat jangan sampaikan masalah khilafiyah jangan membuat masyarakat memusuhi dakwah, dan seterusnya. Bisa dipastikan ini dakwah yang tidak sesuai dengan prinsip dakwah para nabi. Dakwah bukan mencari musuh, dan bukan pula mencari penggemar. Dakwah adalah menyampaikan kebenaran, dan bagian dari sunatullah, pasti dimusuhi pasukan iblis.
Dakwah Kebenaran Pasti Dimusuhi Tidak ada satupun nabi yang Allah utus, kecuali mereka dimusuhi oleh sebagian kaumnya. يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُون Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang Rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. (QS. Yasin: 30) Di ayat lain, Allah berfirman, وَكَمْ أَرْسَلْنَا مِنْ نَبِيٍّ فِي الْأَوَّلِينَ ( ) وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu. ( ) dan tiada seorang nabipun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. (QS. Az-Zukhruf: 6 – 7) Karena itu, jika ada gerakan dakwah yang memiliki prinsip: toleransi sepenuhnya kepada masyarakat, sampaikan yang tidak bertentangan dengan prinsip & kebiasaan masyarakat jangan sampaikan masalah khilafiyah jangan membuat masyarakat memusuhi dakwah, dan seterusnya. Bisa dipastikan ini dakwah yang tidak sesuai dengan prinsip dakwah para nabi. Dakwah bukan mencari musuh, dan bukan pula mencari penggemar. Dakwah adalah menyampaikan kebenaran, dan bagian dari sunatullah, pasti dimusuhi pasukan iblis.


Dakwah Kebenaran Pasti Dimusuhi Tidak ada satupun nabi yang Allah utus, kecuali mereka dimusuhi oleh sebagian kaumnya. يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُون Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang Rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. (QS. Yasin: 30) Di ayat lain, Allah berfirman, وَكَمْ أَرْسَلْنَا مِنْ نَبِيٍّ فِي الْأَوَّلِينَ ( ) وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu. ( ) dan tiada seorang nabipun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. (QS. Az-Zukhruf: 6 – 7) Karena itu, jika ada gerakan dakwah yang memiliki prinsip: toleransi sepenuhnya kepada masyarakat, sampaikan yang tidak bertentangan dengan prinsip & kebiasaan masyarakat jangan sampaikan masalah khilafiyah jangan membuat masyarakat memusuhi dakwah, dan seterusnya. Bisa dipastikan ini dakwah yang tidak sesuai dengan prinsip dakwah para nabi. Dakwah bukan mencari musuh, dan bukan pula mencari penggemar. Dakwah adalah menyampaikan kebenaran, dan bagian dari sunatullah, pasti dimusuhi pasukan iblis.

Memerangi Kemiskinan = Memerangi Aurat

Memerangi Kemiskinan = Memerangi Aurat Ketika Adam dimasukkan ke dalam surga, beliau mendapat jaminan: Tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang, karena tidak memiliki pakaian. فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَى ( ) إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَى Kami berkata: “Hai Adam, Sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. ( ) Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. (QS. Thaha: 117 – 118) Banyak orang koar-koar memperjuangkan anti kemiskinan, perangi kelaparan. Tapi mereka kurang semangat memerangi ’penampakan’ aurat, atau bahkan menjadi pendukungnya. Nikmat makanan dirasakan oleh manusia dan binatang. Nikmat menutup aurat, tidak bisa dirasakan oleh ’binatang’ [dalam tanda kutip].

Memerangi Kemiskinan = Memerangi Aurat

Memerangi Kemiskinan = Memerangi Aurat Ketika Adam dimasukkan ke dalam surga, beliau mendapat jaminan: Tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang, karena tidak memiliki pakaian. فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَى ( ) إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَى Kami berkata: “Hai Adam, Sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. ( ) Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. (QS. Thaha: 117 – 118) Banyak orang koar-koar memperjuangkan anti kemiskinan, perangi kelaparan. Tapi mereka kurang semangat memerangi ’penampakan’ aurat, atau bahkan menjadi pendukungnya. Nikmat makanan dirasakan oleh manusia dan binatang. Nikmat menutup aurat, tidak bisa dirasakan oleh ’binatang’ [dalam tanda kutip].
Memerangi Kemiskinan = Memerangi Aurat Ketika Adam dimasukkan ke dalam surga, beliau mendapat jaminan: Tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang, karena tidak memiliki pakaian. فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَى ( ) إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَى Kami berkata: “Hai Adam, Sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. ( ) Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. (QS. Thaha: 117 – 118) Banyak orang koar-koar memperjuangkan anti kemiskinan, perangi kelaparan. Tapi mereka kurang semangat memerangi ’penampakan’ aurat, atau bahkan menjadi pendukungnya. Nikmat makanan dirasakan oleh manusia dan binatang. Nikmat menutup aurat, tidak bisa dirasakan oleh ’binatang’ [dalam tanda kutip].


Memerangi Kemiskinan = Memerangi Aurat Ketika Adam dimasukkan ke dalam surga, beliau mendapat jaminan: Tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang, karena tidak memiliki pakaian. فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَى ( ) إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَى Kami berkata: “Hai Adam, Sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. ( ) Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. (QS. Thaha: 117 – 118) Banyak orang koar-koar memperjuangkan anti kemiskinan, perangi kelaparan. Tapi mereka kurang semangat memerangi ’penampakan’ aurat, atau bahkan menjadi pendukungnya. Nikmat makanan dirasakan oleh manusia dan binatang. Nikmat menutup aurat, tidak bisa dirasakan oleh ’binatang’ [dalam tanda kutip].

Rajin Dzikir dan Membaca al-Quran, Akan Melindungi dari Pemikiran Sesat

Rajin Dzikir dan Membaca al-Quran, Akan Melindungi dari Pemikiran Sesat Allah menyebut orang yang sesat, sebagai orang yang lalai dalam berdzikir, dan suka mengikuti hawa nafsu. وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi: 28) hfyn hgyt gtyuji Untuk melindungi diri dari pemikiran sesat, perbanyak dzikir dan membaca al-Quran. Pernahkah kita saksikan ada acara khataman al-Quran yang diselenggarakan JIL? Adakah tokoh JIL yang ngaku paling ’ilmiah’ itu, yang hafal al-Quran?

Rajin Dzikir dan Membaca al-Quran, Akan Melindungi dari Pemikiran Sesat

Rajin Dzikir dan Membaca al-Quran, Akan Melindungi dari Pemikiran Sesat Allah menyebut orang yang sesat, sebagai orang yang lalai dalam berdzikir, dan suka mengikuti hawa nafsu. وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi: 28) hfyn hgyt gtyuji Untuk melindungi diri dari pemikiran sesat, perbanyak dzikir dan membaca al-Quran. Pernahkah kita saksikan ada acara khataman al-Quran yang diselenggarakan JIL? Adakah tokoh JIL yang ngaku paling ’ilmiah’ itu, yang hafal al-Quran?
Rajin Dzikir dan Membaca al-Quran, Akan Melindungi dari Pemikiran Sesat Allah menyebut orang yang sesat, sebagai orang yang lalai dalam berdzikir, dan suka mengikuti hawa nafsu. وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi: 28) hfyn hgyt gtyuji Untuk melindungi diri dari pemikiran sesat, perbanyak dzikir dan membaca al-Quran. Pernahkah kita saksikan ada acara khataman al-Quran yang diselenggarakan JIL? Adakah tokoh JIL yang ngaku paling ’ilmiah’ itu, yang hafal al-Quran?


Rajin Dzikir dan Membaca al-Quran, Akan Melindungi dari Pemikiran Sesat Allah menyebut orang yang sesat, sebagai orang yang lalai dalam berdzikir, dan suka mengikuti hawa nafsu. وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi: 28) hfyn hgyt gtyuji Untuk melindungi diri dari pemikiran sesat, perbanyak dzikir dan membaca al-Quran. Pernahkah kita saksikan ada acara khataman al-Quran yang diselenggarakan JIL? Adakah tokoh JIL yang ngaku paling ’ilmiah’ itu, yang hafal al-Quran?

Orang bodoh akan Membodohkan orang lain untuk Menutupi Kebodohannya

Orang bodoh akan Membodohkan orang lain untuk Menutupi Kebodohannya Orang bodoh, untuk menutupi kebodohannya, dia membodohkan orang lain. Di QS. Al-Baqarah: 67, Allah menceritakan, Ketika Nabi Musa memerintahkan Bani Israil untuk menyembelih sapi, mereka menganggap perintah Musa ini sbg tindakan kebodohan. Padahal bani Israil yg bodoh, krn tidak tahu rahasia dibalik perintah nabinya. Mereka membodohkan Musa untuk menutuppi kebodohannya. وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (Ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya (bani Israil): “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi.” Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan Kami buah ejekan?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang bodoh”.

Orang bodoh akan Membodohkan orang lain untuk Menutupi Kebodohannya

Orang bodoh akan Membodohkan orang lain untuk Menutupi Kebodohannya Orang bodoh, untuk menutupi kebodohannya, dia membodohkan orang lain. Di QS. Al-Baqarah: 67, Allah menceritakan, Ketika Nabi Musa memerintahkan Bani Israil untuk menyembelih sapi, mereka menganggap perintah Musa ini sbg tindakan kebodohan. Padahal bani Israil yg bodoh, krn tidak tahu rahasia dibalik perintah nabinya. Mereka membodohkan Musa untuk menutuppi kebodohannya. وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (Ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya (bani Israil): “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi.” Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan Kami buah ejekan?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang bodoh”.
Orang bodoh akan Membodohkan orang lain untuk Menutupi Kebodohannya Orang bodoh, untuk menutupi kebodohannya, dia membodohkan orang lain. Di QS. Al-Baqarah: 67, Allah menceritakan, Ketika Nabi Musa memerintahkan Bani Israil untuk menyembelih sapi, mereka menganggap perintah Musa ini sbg tindakan kebodohan. Padahal bani Israil yg bodoh, krn tidak tahu rahasia dibalik perintah nabinya. Mereka membodohkan Musa untuk menutuppi kebodohannya. وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (Ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya (bani Israil): “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi.” Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan Kami buah ejekan?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang bodoh”.


Orang bodoh akan Membodohkan orang lain untuk Menutupi Kebodohannya Orang bodoh, untuk menutupi kebodohannya, dia membodohkan orang lain. Di QS. Al-Baqarah: 67, Allah menceritakan, Ketika Nabi Musa memerintahkan Bani Israil untuk menyembelih sapi, mereka menganggap perintah Musa ini sbg tindakan kebodohan. Padahal bani Israil yg bodoh, krn tidak tahu rahasia dibalik perintah nabinya. Mereka membodohkan Musa untuk menutuppi kebodohannya. وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (Ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya (bani Israil): “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi.” Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan Kami buah ejekan?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang bodoh”.

Dzikir Istimewa yang Membuat Doa Mustajab

Dzikir Istimewa yang Membuat Doa Mustajab Dari ‘Ubadah bin Shamit, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَن تَعارَّ من الليل فقال: لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ، ثم قال: اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي – أو دعا – استُجِيبَ له، فإنْ توضأ وصلى قُبِلتْ صلاتُه “Barangsiapa yang terjaga di malam hari ketika tidur, kemudian dia membaca: لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ، اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي kemudian dia mengucapkan: “Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa)ku”, atau dia berdoa (dengan doa yang lain), maka akan dikabulkan doanya, jika dia berwudhu dan melaksanakan shalat maka akan diterima shalatnya” (HR. Bukhari 1103, Abu Dawud 5060, Tirmidzi 3414 & Ibnu Majah 3878) Dzikir di atas sangat ringan, namun membuat doa yang dipanjatkan ketika itu menjadi mustajab. Karena dzikir ini hanya mungkin diucapkan oleh orang yang hatinya selalu bergantung kepada Allah. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan: “Perbuatan yang disebutkan dalam hadits ini hanyalah mampu dilakukan oleh orang telah terbiasa, senang dan banyak berzikir kepada Allah, sehingga zikir tersebut menjadi kebiasaan dirinya sewaktu tidur dan terjaga. Sehingga Allah memuliakan orang yang demikian sifatnya dengan mengabulkan doanya dan menerima shalatnya. (Fathul Baari, 3/40).

Dzikir Istimewa yang Membuat Doa Mustajab

Dzikir Istimewa yang Membuat Doa Mustajab Dari ‘Ubadah bin Shamit, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَن تَعارَّ من الليل فقال: لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ، ثم قال: اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي – أو دعا – استُجِيبَ له، فإنْ توضأ وصلى قُبِلتْ صلاتُه “Barangsiapa yang terjaga di malam hari ketika tidur, kemudian dia membaca: لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ، اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي kemudian dia mengucapkan: “Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa)ku”, atau dia berdoa (dengan doa yang lain), maka akan dikabulkan doanya, jika dia berwudhu dan melaksanakan shalat maka akan diterima shalatnya” (HR. Bukhari 1103, Abu Dawud 5060, Tirmidzi 3414 & Ibnu Majah 3878) Dzikir di atas sangat ringan, namun membuat doa yang dipanjatkan ketika itu menjadi mustajab. Karena dzikir ini hanya mungkin diucapkan oleh orang yang hatinya selalu bergantung kepada Allah. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan: “Perbuatan yang disebutkan dalam hadits ini hanyalah mampu dilakukan oleh orang telah terbiasa, senang dan banyak berzikir kepada Allah, sehingga zikir tersebut menjadi kebiasaan dirinya sewaktu tidur dan terjaga. Sehingga Allah memuliakan orang yang demikian sifatnya dengan mengabulkan doanya dan menerima shalatnya. (Fathul Baari, 3/40).
Dzikir Istimewa yang Membuat Doa Mustajab Dari ‘Ubadah bin Shamit, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَن تَعارَّ من الليل فقال: لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ، ثم قال: اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي – أو دعا – استُجِيبَ له، فإنْ توضأ وصلى قُبِلتْ صلاتُه “Barangsiapa yang terjaga di malam hari ketika tidur, kemudian dia membaca: لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ، اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي kemudian dia mengucapkan: “Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa)ku”, atau dia berdoa (dengan doa yang lain), maka akan dikabulkan doanya, jika dia berwudhu dan melaksanakan shalat maka akan diterima shalatnya” (HR. Bukhari 1103, Abu Dawud 5060, Tirmidzi 3414 & Ibnu Majah 3878) Dzikir di atas sangat ringan, namun membuat doa yang dipanjatkan ketika itu menjadi mustajab. Karena dzikir ini hanya mungkin diucapkan oleh orang yang hatinya selalu bergantung kepada Allah. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan: “Perbuatan yang disebutkan dalam hadits ini hanyalah mampu dilakukan oleh orang telah terbiasa, senang dan banyak berzikir kepada Allah, sehingga zikir tersebut menjadi kebiasaan dirinya sewaktu tidur dan terjaga. Sehingga Allah memuliakan orang yang demikian sifatnya dengan mengabulkan doanya dan menerima shalatnya. (Fathul Baari, 3/40).


Dzikir Istimewa yang Membuat Doa Mustajab Dari ‘Ubadah bin Shamit, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَن تَعارَّ من الليل فقال: لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ، ثم قال: اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي – أو دعا – استُجِيبَ له، فإنْ توضأ وصلى قُبِلتْ صلاتُه “Barangsiapa yang terjaga di malam hari ketika tidur, kemudian dia membaca: لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ ولهُ الْحَمْدُ وهُوَ على كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، الحمدُ للهِ، وسبحانَ اللهِ، ولا إله إلا اللهُ، واللهُ أَكْبَرُ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلا بِاللهِ، اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي kemudian dia mengucapkan: “Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa)ku”, atau dia berdoa (dengan doa yang lain), maka akan dikabulkan doanya, jika dia berwudhu dan melaksanakan shalat maka akan diterima shalatnya” (HR. Bukhari 1103, Abu Dawud 5060, Tirmidzi 3414 & Ibnu Majah 3878) Dzikir di atas sangat ringan, namun membuat doa yang dipanjatkan ketika itu menjadi mustajab. Karena dzikir ini hanya mungkin diucapkan oleh orang yang hatinya selalu bergantung kepada Allah. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan: “Perbuatan yang disebutkan dalam hadits ini hanyalah mampu dilakukan oleh orang telah terbiasa, senang dan banyak berzikir kepada Allah, sehingga zikir tersebut menjadi kebiasaan dirinya sewaktu tidur dan terjaga. Sehingga Allah memuliakan orang yang demikian sifatnya dengan mengabulkan doanya dan menerima shalatnya. (Fathul Baari, 3/40).

Idrus Ramli Nekat Berdusta Demi Menuduh Firanda Berdusta

Alhamdulillah saya tidak pernah berusaha –sekalipun- untuk mencari-cari kedustaan al-Ustadz Idrus Ramli, meskipun konon saya dengar beliau sering berdusta, wallahu A’lam akan kebenaran isu tersebut. Akan tetapi kedustaan al-Ustadz Idrus Ramli tanpa sengaja diungkap oleh seorang pengikutnya yang membuat sebuah status yang mengesankan bahwa saya seorang pendusta. (silahkan lihat di https://www.facebook.com/Virusan/posts/570136863056995?comment_id=4459533&offset=0&total_comments=63¬if_t=mentions_comment)Dari situ saya jadi tahu ternyata al-Ustadz Idrus Ramli nekat berdusta untuk menjatuhkan saya sehingga menuduh saya berdusta !!!!Dalam artikelnya yang berjudul ((Menjawab Dusta Firanda Yang Anti Tahlilan)) Al-Ustadz Idrus Ramli berkata : ((KRITIKAN DR FIRANDA:Ustadz Muhamad Idrus Ramli telah menyebutkan takhrij atsar ini dengan baik. Akan tetapi perlu pembahasan dari dua sisi, sisi keabsahan atsar ini, dan sisi kandungan atsar ini. PERTAMA: Keabsahan Atsar IniAtsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-’Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus.Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309) adapun Sufyaan bin Sa’id bin Masruuq Ats-Tsauri lahir pada tahun 97 H (lihat Siyar A’laam An-Nubalaa 7/230). Meskipun Sufyan Ats-Tsaury mendapati zaman Thoowus, hanya saja tidak ada dalil yang menunjukan bahwa Sufyan pernah mendengar dari Thowus.TANGGAPAN: “Doktor Firanda, pernyataan Anda yang tertulis: “Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus”, bukan pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar, akan tetapi pernyataan sang pentahqiq, yaitu Basim Inayat yang kuliah di Universitas Wahabi. Anda sepertinya kurang teliti. Kutipan Anda, sangat jelas mengesankan bahwa penilaian riwayat tersebut berasal dari al-Hafizh Ibnu Hajar, bukan sang pentahqiq. Cukup sebagai bantahan terhadap Anda yang mengaburkan keshahihan riwayat tersebut, adalah pernyataan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi tentang riwayat tersebut:)) (silahkan lihat http://www.idrusramli.com/2013/menjawab-dusta-firanda-yang-anti-tahlilan/)Tanggapan :    Coba para pembaca perhatikan bagaimana trik al-Ustadz Idrus Ramli dalam berdusta. Pertama kali ia menukil perkataan saya sbb :((Atsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-’Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus.)) Setelah itu iapun membantah perkataan tersebut dengan berkata ((Doktor Firanda, pernyataan Anda yang tertulis: “Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus”, bukan pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar, akan tetapi pernyataan sang pentahqiq, yaitu Basim Inayat yang kuliah di Universitas Wahabi. Anda sepertinya kurang teliti. Kutipan Anda, sangat jelas mengesankan bahwa penilaian riwayat tersebut berasal dari al-Hafizh Ibnu Hajar, bukan sang pentahqiq. Cukup sebagai bantahan terhadap Anda yang mengaburkan keshahihan riwayat tersebut, adalah pernyataan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi tentang riwayat tersebut)), demikian perkataan sang ustadz.    Anehnya al-Ustadz Idrus Ramli tidak mencantumkan link artikel saya tersebut, karena barang siapa yang mengecek langsung artikel saya maka akan sangat ketahuan dusta sang ustadz. Adapun murid-murid sang ustadz (sebagaimana yang telah mengungkap kedustaaan sang ustadz) ternyata langsung menelan mentah-mentah vonis sang ustadz sebagai kebenaran untuk mengejek saya tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu….!!!Mari kita lihat apa sesungguhnya yang telah saya tuliskan dalam artikel saya, yaitu sebagai berikut :((Atsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-‘Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:Imam Ahmad berkata: Telah menyampaikan kepada kami Hasyim bin Al-Qoosim, telah menyampaikan kepada kami al-Asyja’iy, dari Sufyan berkata, Thowus telah berkata: “Sesungguhnya mayat-mayat diuji dalam kuburan mereka tujuh hari, maka mereka (para salaf-pen) suka untuk bersedekah makanan atas nama mayat-mayat tersebut pada hari-hari tersebut.”Dan dari jalan Al-Imam Ahmad bin Hanbal juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitabnya Hilyatul Auliyaa’ (4/11) sebagaimana berikut ini:Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus. Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309) adapun Sufyaan bin Sa’id bin Masruuq Ats-Tsauri lahir pada tahun 97 H (lihat Siyar A’laam An-Nubalaa 7/230). Meskipun Sufyan Ats-Tsaury mendapati zaman Thoowus, hanya saja tidak ada dalil yang menunjukan bahwa Sufyan pernah mendengar dari Thowus….)) (silahkan baca di https://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/423-dalil-bolehnya-tahlilan)Silahkan para pembaca menilai…, sangat jelas sekali saya menukil perkataan Ibnu Hajar dengan mencantumkan scan bukunya, lalu setelah itu saya menukil perkataan Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Awliyaa’ yang saya juga mencantumkan scan kitabnya, setelah baru saya berkomentar sbb :  ((Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus. Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309)…..dst)) Antara perkataan saya dengan perkataan Ibnu Hajar ada perkataan Abu Nu’aim (disertai scan kitabnya). Lantas ternyata Idrus Ramli melakukan trik dustanya –dalam menukil perkataan saya- dengan sengaja menghapuskan perkataan Abu Nu’aim, sehingga seakan-akan saya telah berdusta atas nama Ibnu Hajar. Wallahul Musta’aan. Kalau Idrus Ramli pintar sedikit harusnya dia menuduh saya telah berdusta atas nama Abu Nu’aim bukan atas nama Ibnu Hajar (karena komentar saya saya tuliskan setelah menukil perkataan Abu Nu’aim bukan setelah menukil perkataan Ibnu Hajar), agar trik dustanya lebih keren dikit. !!! Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 25-12-1434 H / 30 Oktober 2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com  

Idrus Ramli Nekat Berdusta Demi Menuduh Firanda Berdusta

Alhamdulillah saya tidak pernah berusaha –sekalipun- untuk mencari-cari kedustaan al-Ustadz Idrus Ramli, meskipun konon saya dengar beliau sering berdusta, wallahu A’lam akan kebenaran isu tersebut. Akan tetapi kedustaan al-Ustadz Idrus Ramli tanpa sengaja diungkap oleh seorang pengikutnya yang membuat sebuah status yang mengesankan bahwa saya seorang pendusta. (silahkan lihat di https://www.facebook.com/Virusan/posts/570136863056995?comment_id=4459533&offset=0&total_comments=63¬if_t=mentions_comment)Dari situ saya jadi tahu ternyata al-Ustadz Idrus Ramli nekat berdusta untuk menjatuhkan saya sehingga menuduh saya berdusta !!!!Dalam artikelnya yang berjudul ((Menjawab Dusta Firanda Yang Anti Tahlilan)) Al-Ustadz Idrus Ramli berkata : ((KRITIKAN DR FIRANDA:Ustadz Muhamad Idrus Ramli telah menyebutkan takhrij atsar ini dengan baik. Akan tetapi perlu pembahasan dari dua sisi, sisi keabsahan atsar ini, dan sisi kandungan atsar ini. PERTAMA: Keabsahan Atsar IniAtsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-’Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus.Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309) adapun Sufyaan bin Sa’id bin Masruuq Ats-Tsauri lahir pada tahun 97 H (lihat Siyar A’laam An-Nubalaa 7/230). Meskipun Sufyan Ats-Tsaury mendapati zaman Thoowus, hanya saja tidak ada dalil yang menunjukan bahwa Sufyan pernah mendengar dari Thowus.TANGGAPAN: “Doktor Firanda, pernyataan Anda yang tertulis: “Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus”, bukan pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar, akan tetapi pernyataan sang pentahqiq, yaitu Basim Inayat yang kuliah di Universitas Wahabi. Anda sepertinya kurang teliti. Kutipan Anda, sangat jelas mengesankan bahwa penilaian riwayat tersebut berasal dari al-Hafizh Ibnu Hajar, bukan sang pentahqiq. Cukup sebagai bantahan terhadap Anda yang mengaburkan keshahihan riwayat tersebut, adalah pernyataan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi tentang riwayat tersebut:)) (silahkan lihat http://www.idrusramli.com/2013/menjawab-dusta-firanda-yang-anti-tahlilan/)Tanggapan :    Coba para pembaca perhatikan bagaimana trik al-Ustadz Idrus Ramli dalam berdusta. Pertama kali ia menukil perkataan saya sbb :((Atsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-’Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus.)) Setelah itu iapun membantah perkataan tersebut dengan berkata ((Doktor Firanda, pernyataan Anda yang tertulis: “Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus”, bukan pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar, akan tetapi pernyataan sang pentahqiq, yaitu Basim Inayat yang kuliah di Universitas Wahabi. Anda sepertinya kurang teliti. Kutipan Anda, sangat jelas mengesankan bahwa penilaian riwayat tersebut berasal dari al-Hafizh Ibnu Hajar, bukan sang pentahqiq. Cukup sebagai bantahan terhadap Anda yang mengaburkan keshahihan riwayat tersebut, adalah pernyataan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi tentang riwayat tersebut)), demikian perkataan sang ustadz.    Anehnya al-Ustadz Idrus Ramli tidak mencantumkan link artikel saya tersebut, karena barang siapa yang mengecek langsung artikel saya maka akan sangat ketahuan dusta sang ustadz. Adapun murid-murid sang ustadz (sebagaimana yang telah mengungkap kedustaaan sang ustadz) ternyata langsung menelan mentah-mentah vonis sang ustadz sebagai kebenaran untuk mengejek saya tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu….!!!Mari kita lihat apa sesungguhnya yang telah saya tuliskan dalam artikel saya, yaitu sebagai berikut :((Atsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-‘Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:Imam Ahmad berkata: Telah menyampaikan kepada kami Hasyim bin Al-Qoosim, telah menyampaikan kepada kami al-Asyja’iy, dari Sufyan berkata, Thowus telah berkata: “Sesungguhnya mayat-mayat diuji dalam kuburan mereka tujuh hari, maka mereka (para salaf-pen) suka untuk bersedekah makanan atas nama mayat-mayat tersebut pada hari-hari tersebut.”Dan dari jalan Al-Imam Ahmad bin Hanbal juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitabnya Hilyatul Auliyaa’ (4/11) sebagaimana berikut ini:Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus. Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309) adapun Sufyaan bin Sa’id bin Masruuq Ats-Tsauri lahir pada tahun 97 H (lihat Siyar A’laam An-Nubalaa 7/230). Meskipun Sufyan Ats-Tsaury mendapati zaman Thoowus, hanya saja tidak ada dalil yang menunjukan bahwa Sufyan pernah mendengar dari Thowus….)) (silahkan baca di https://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/423-dalil-bolehnya-tahlilan)Silahkan para pembaca menilai…, sangat jelas sekali saya menukil perkataan Ibnu Hajar dengan mencantumkan scan bukunya, lalu setelah itu saya menukil perkataan Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Awliyaa’ yang saya juga mencantumkan scan kitabnya, setelah baru saya berkomentar sbb :  ((Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus. Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309)…..dst)) Antara perkataan saya dengan perkataan Ibnu Hajar ada perkataan Abu Nu’aim (disertai scan kitabnya). Lantas ternyata Idrus Ramli melakukan trik dustanya –dalam menukil perkataan saya- dengan sengaja menghapuskan perkataan Abu Nu’aim, sehingga seakan-akan saya telah berdusta atas nama Ibnu Hajar. Wallahul Musta’aan. Kalau Idrus Ramli pintar sedikit harusnya dia menuduh saya telah berdusta atas nama Abu Nu’aim bukan atas nama Ibnu Hajar (karena komentar saya saya tuliskan setelah menukil perkataan Abu Nu’aim bukan setelah menukil perkataan Ibnu Hajar), agar trik dustanya lebih keren dikit. !!! Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 25-12-1434 H / 30 Oktober 2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com  
Alhamdulillah saya tidak pernah berusaha –sekalipun- untuk mencari-cari kedustaan al-Ustadz Idrus Ramli, meskipun konon saya dengar beliau sering berdusta, wallahu A’lam akan kebenaran isu tersebut. Akan tetapi kedustaan al-Ustadz Idrus Ramli tanpa sengaja diungkap oleh seorang pengikutnya yang membuat sebuah status yang mengesankan bahwa saya seorang pendusta. (silahkan lihat di https://www.facebook.com/Virusan/posts/570136863056995?comment_id=4459533&offset=0&total_comments=63¬if_t=mentions_comment)Dari situ saya jadi tahu ternyata al-Ustadz Idrus Ramli nekat berdusta untuk menjatuhkan saya sehingga menuduh saya berdusta !!!!Dalam artikelnya yang berjudul ((Menjawab Dusta Firanda Yang Anti Tahlilan)) Al-Ustadz Idrus Ramli berkata : ((KRITIKAN DR FIRANDA:Ustadz Muhamad Idrus Ramli telah menyebutkan takhrij atsar ini dengan baik. Akan tetapi perlu pembahasan dari dua sisi, sisi keabsahan atsar ini, dan sisi kandungan atsar ini. PERTAMA: Keabsahan Atsar IniAtsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-’Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus.Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309) adapun Sufyaan bin Sa’id bin Masruuq Ats-Tsauri lahir pada tahun 97 H (lihat Siyar A’laam An-Nubalaa 7/230). Meskipun Sufyan Ats-Tsaury mendapati zaman Thoowus, hanya saja tidak ada dalil yang menunjukan bahwa Sufyan pernah mendengar dari Thowus.TANGGAPAN: “Doktor Firanda, pernyataan Anda yang tertulis: “Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus”, bukan pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar, akan tetapi pernyataan sang pentahqiq, yaitu Basim Inayat yang kuliah di Universitas Wahabi. Anda sepertinya kurang teliti. Kutipan Anda, sangat jelas mengesankan bahwa penilaian riwayat tersebut berasal dari al-Hafizh Ibnu Hajar, bukan sang pentahqiq. Cukup sebagai bantahan terhadap Anda yang mengaburkan keshahihan riwayat tersebut, adalah pernyataan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi tentang riwayat tersebut:)) (silahkan lihat http://www.idrusramli.com/2013/menjawab-dusta-firanda-yang-anti-tahlilan/)Tanggapan :    Coba para pembaca perhatikan bagaimana trik al-Ustadz Idrus Ramli dalam berdusta. Pertama kali ia menukil perkataan saya sbb :((Atsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-’Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus.)) Setelah itu iapun membantah perkataan tersebut dengan berkata ((Doktor Firanda, pernyataan Anda yang tertulis: “Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus”, bukan pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar, akan tetapi pernyataan sang pentahqiq, yaitu Basim Inayat yang kuliah di Universitas Wahabi. Anda sepertinya kurang teliti. Kutipan Anda, sangat jelas mengesankan bahwa penilaian riwayat tersebut berasal dari al-Hafizh Ibnu Hajar, bukan sang pentahqiq. Cukup sebagai bantahan terhadap Anda yang mengaburkan keshahihan riwayat tersebut, adalah pernyataan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi tentang riwayat tersebut)), demikian perkataan sang ustadz.    Anehnya al-Ustadz Idrus Ramli tidak mencantumkan link artikel saya tersebut, karena barang siapa yang mengecek langsung artikel saya maka akan sangat ketahuan dusta sang ustadz. Adapun murid-murid sang ustadz (sebagaimana yang telah mengungkap kedustaaan sang ustadz) ternyata langsung menelan mentah-mentah vonis sang ustadz sebagai kebenaran untuk mengejek saya tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu….!!!Mari kita lihat apa sesungguhnya yang telah saya tuliskan dalam artikel saya, yaitu sebagai berikut :((Atsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-‘Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:Imam Ahmad berkata: Telah menyampaikan kepada kami Hasyim bin Al-Qoosim, telah menyampaikan kepada kami al-Asyja’iy, dari Sufyan berkata, Thowus telah berkata: “Sesungguhnya mayat-mayat diuji dalam kuburan mereka tujuh hari, maka mereka (para salaf-pen) suka untuk bersedekah makanan atas nama mayat-mayat tersebut pada hari-hari tersebut.”Dan dari jalan Al-Imam Ahmad bin Hanbal juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitabnya Hilyatul Auliyaa’ (4/11) sebagaimana berikut ini:Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus. Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309) adapun Sufyaan bin Sa’id bin Masruuq Ats-Tsauri lahir pada tahun 97 H (lihat Siyar A’laam An-Nubalaa 7/230). Meskipun Sufyan Ats-Tsaury mendapati zaman Thoowus, hanya saja tidak ada dalil yang menunjukan bahwa Sufyan pernah mendengar dari Thowus….)) (silahkan baca di https://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/423-dalil-bolehnya-tahlilan)Silahkan para pembaca menilai…, sangat jelas sekali saya menukil perkataan Ibnu Hajar dengan mencantumkan scan bukunya, lalu setelah itu saya menukil perkataan Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Awliyaa’ yang saya juga mencantumkan scan kitabnya, setelah baru saya berkomentar sbb :  ((Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus. Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309)…..dst)) Antara perkataan saya dengan perkataan Ibnu Hajar ada perkataan Abu Nu’aim (disertai scan kitabnya). Lantas ternyata Idrus Ramli melakukan trik dustanya –dalam menukil perkataan saya- dengan sengaja menghapuskan perkataan Abu Nu’aim, sehingga seakan-akan saya telah berdusta atas nama Ibnu Hajar. Wallahul Musta’aan. Kalau Idrus Ramli pintar sedikit harusnya dia menuduh saya telah berdusta atas nama Abu Nu’aim bukan atas nama Ibnu Hajar (karena komentar saya saya tuliskan setelah menukil perkataan Abu Nu’aim bukan setelah menukil perkataan Ibnu Hajar), agar trik dustanya lebih keren dikit. !!! Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 25-12-1434 H / 30 Oktober 2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com  


Alhamdulillah saya tidak pernah berusaha –sekalipun- untuk mencari-cari kedustaan al-Ustadz Idrus Ramli, meskipun konon saya dengar beliau sering berdusta, wallahu A’lam akan kebenaran isu tersebut. Akan tetapi kedustaan al-Ustadz Idrus Ramli tanpa sengaja diungkap oleh seorang pengikutnya yang membuat sebuah status yang mengesankan bahwa saya seorang pendusta. (silahkan lihat di https://www.facebook.com/Virusan/posts/570136863056995?comment_id=4459533&offset=0&total_comments=63&notif_t=mentions_comment)Dari situ saya jadi tahu ternyata al-Ustadz Idrus Ramli nekat berdusta untuk menjatuhkan saya sehingga menuduh saya berdusta !!!!Dalam artikelnya yang berjudul ((Menjawab Dusta Firanda Yang Anti Tahlilan)) Al-Ustadz Idrus Ramli berkata : ((KRITIKAN DR FIRANDA:Ustadz Muhamad Idrus Ramli telah menyebutkan takhrij atsar ini dengan baik. Akan tetapi perlu pembahasan dari dua sisi, sisi keabsahan atsar ini, dan sisi kandungan atsar ini. PERTAMA: Keabsahan Atsar IniAtsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-’Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus.Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309) adapun Sufyaan bin Sa’id bin Masruuq Ats-Tsauri lahir pada tahun 97 H (lihat Siyar A’laam An-Nubalaa 7/230). Meskipun Sufyan Ats-Tsaury mendapati zaman Thoowus, hanya saja tidak ada dalil yang menunjukan bahwa Sufyan pernah mendengar dari Thowus.TANGGAPAN: “Doktor Firanda, pernyataan Anda yang tertulis: “Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus”, bukan pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar, akan tetapi pernyataan sang pentahqiq, yaitu Basim Inayat yang kuliah di Universitas Wahabi. Anda sepertinya kurang teliti. Kutipan Anda, sangat jelas mengesankan bahwa penilaian riwayat tersebut berasal dari al-Hafizh Ibnu Hajar, bukan sang pentahqiq. Cukup sebagai bantahan terhadap Anda yang mengaburkan keshahihan riwayat tersebut, adalah pernyataan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi tentang riwayat tersebut:)) (silahkan lihat http://www.idrusramli.com/2013/menjawab-dusta-firanda-yang-anti-tahlilan/)Tanggapan :    Coba para pembaca perhatikan bagaimana trik al-Ustadz Idrus Ramli dalam berdusta. Pertama kali ia menukil perkataan saya sbb :((Atsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-’Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus.)) Setelah itu iapun membantah perkataan tersebut dengan berkata ((Doktor Firanda, pernyataan Anda yang tertulis: “Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus”, bukan pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar, akan tetapi pernyataan sang pentahqiq, yaitu Basim Inayat yang kuliah di Universitas Wahabi. Anda sepertinya kurang teliti. Kutipan Anda, sangat jelas mengesankan bahwa penilaian riwayat tersebut berasal dari al-Hafizh Ibnu Hajar, bukan sang pentahqiq. Cukup sebagai bantahan terhadap Anda yang mengaburkan keshahihan riwayat tersebut, adalah pernyataan al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Hawi lil-Fatawi tentang riwayat tersebut)), demikian perkataan sang ustadz.    Anehnya al-Ustadz Idrus Ramli tidak mencantumkan link artikel saya tersebut, karena barang siapa yang mengecek langsung artikel saya maka akan sangat ketahuan dusta sang ustadz. Adapun murid-murid sang ustadz (sebagaimana yang telah mengungkap kedustaaan sang ustadz) ternyata langsung menelan mentah-mentah vonis sang ustadz sebagai kebenaran untuk mengejek saya tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu….!!!Mari kita lihat apa sesungguhnya yang telah saya tuliskan dalam artikel saya, yaitu sebagai berikut :((Atsar ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafiz Ibnu Hajar dalam Al-Mathoolib al-‘Aaliyah (5/330 no 834), sebagaimana berikut:Imam Ahmad berkata: Telah menyampaikan kepada kami Hasyim bin Al-Qoosim, telah menyampaikan kepada kami al-Asyja’iy, dari Sufyan berkata, Thowus telah berkata: “Sesungguhnya mayat-mayat diuji dalam kuburan mereka tujuh hari, maka mereka (para salaf-pen) suka untuk bersedekah makanan atas nama mayat-mayat tersebut pada hari-hari tersebut.”Dan dari jalan Al-Imam Ahmad bin Hanbal juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitabnya Hilyatul Auliyaa’ (4/11) sebagaimana berikut ini:Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus. Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309) adapun Sufyaan bin Sa’id bin Masruuq Ats-Tsauri lahir pada tahun 97 H (lihat Siyar A’laam An-Nubalaa 7/230). Meskipun Sufyan Ats-Tsaury mendapati zaman Thoowus, hanya saja tidak ada dalil yang menunjukan bahwa Sufyan pernah mendengar dari Thowus….)) (silahkan baca di https://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/423-dalil-bolehnya-tahlilan)Silahkan para pembaca menilai…, sangat jelas sekali saya menukil perkataan Ibnu Hajar dengan mencantumkan scan bukunya, lalu setelah itu saya menukil perkataan Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Awliyaa’ yang saya juga mencantumkan scan kitabnya, setelah baru saya berkomentar sbb :  ((Seluruh perawi atsar di atas adalah tsiqoh, hanya saja sanadnya terputus antara Sufyan dan Thoowuus. Thoowuus bin Kaisaan Al-Yamaani wafat 106 H (Taqriibut Tahdziib hal 281 no 3309)…..dst)) Antara perkataan saya dengan perkataan Ibnu Hajar ada perkataan Abu Nu’aim (disertai scan kitabnya). Lantas ternyata Idrus Ramli melakukan trik dustanya –dalam menukil perkataan saya- dengan sengaja menghapuskan perkataan Abu Nu’aim, sehingga seakan-akan saya telah berdusta atas nama Ibnu Hajar. Wallahul Musta’aan. Kalau Idrus Ramli pintar sedikit harusnya dia menuduh saya telah berdusta atas nama Abu Nu’aim bukan atas nama Ibnu Hajar (karena komentar saya saya tuliskan setelah menukil perkataan Abu Nu’aim bukan setelah menukil perkataan Ibnu Hajar), agar trik dustanya lebih keren dikit. !!! Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 25-12-1434 H / 30 Oktober 2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com  

Teladan Ulama: Terus Semangat dalam Belajar

Ilmu Islam adalah ilmu yang punya keutamaan yang besar untuk dipelajari. Ketika seseorang mempelajarinya, maka ia mesti memupuk terus rasa semangat sehingga tidak kendor. Bagaimana teladan ulama dalam hal semangat belajar?   Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ “Semangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah pada Allah, dan jangan malas (patah semangat).” (HR. Muslim no. 2664). Imam Nawawi mengatakan tentang hadits di atas, “Bersemangatlah dalam melakukan ketaatan pada Allah, selalu berharaplah pada Allah dan carilah dengan meminta tolong pada-Nya. Jangan patah semangat, yaitu jangan malas dalam melakukan ketaatan dan jangan lemah dari mencari pertolongan. ” (Syarh Shahih Muslim, 16: 194). Guru kami, Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi hafizhohullah menyebutkan ada tiga cara agar tidak kendor semangat dalam belajar yang beliau simpulkan dari hadits di atas: 1- Semangat untuk meraih ilmu yang bermanfaat. Ketika seseorang mendapatkan hal yang bermanfaat tersebut, hendaklah ia terus semangat untuk meraihnya. 2- Meminta tolong pada Allah untuk meraih ilmu tersebut. 3- Tidak patah semangat untuk meraih tujuan. Mari kita lihat beberapa perkataan ulama salaf yang menunjukkan semangat mereka dalam belajar. Al Junaid rahimahullah, ما طلب أحد شيئا بجد وصدق إلا ناله فإن لم ينله كله ناله بعضه “Tidaklah seseorang mencari sesuatu dengan sungguh-sungguh dan penuh kejujuran, melainkan ia akan meraihnya. Jika ia tidak seluruhnya, ia pasti meraih sebagiannya.” Lihat saja bagaimana semangat para ulama. Ketika Imam Ahmad bin Hambal masih usia beliau, terkadang ia sudah keluar menuju halaqoh para ulama sebelum Shubuh. Ibunya saat itu mengambil bajunya dan mengatakan -sebagai tanda sayang pada Imam Ahmad-, “Tunggu saja sampai suara adzan dikumandangkan atau tiba waktu Shubuh.” Coba perhatikan, Imam Ahmad sebelum Shubuh saja sudah bersiap-siap untuk belajar, sedangkan mata kita saat itu masih sulit untuk bangkit dari tidur yang nyenyak! Lihat pula bagaimana semangat Al Khotib Al Baghdadi ketika membaca kitab Shahih Al Bukhari hingga tuntas pada gurunya Isma’il Al Hiriy dalam tiga kali majelis. Bagaimana majelis tersebut? Majelis pertama dan kedua dibacakan kitab shahih tersebut mulai dari Maghrib hingga Shubuh. Majelis ketiga, shahih Bukhari dibacakan dari waktu Dhuha hingga Maghrib dan dilanjutkan terus hingga terbit fajar Shubuh. Lihat pula semangatnya Abu Muhammad bin At Tabban dalam awal-awal belajar. Ia ketika itu belajar dalam seluruh malam. Karena begitu sayang, ibunya sampai melarang ia membaca di malam hari seperti itu. Caranya agar bisa terus belajar, Abu Muhammad mengambil lampu dan diletakkan di bawah baskom sehingga dikira dirinya sudah tidur. Jika ibunya telah tidur, ia mengambil kembali lampu tersebut dan ia melanjutkan belajarnya di malam hari. Subhanallah! Luar biasa semangat Abu Muhammad rahimahullah dalam belajar. Bagaimana dengan kita yang terus malas-malasan bahkan mungkin tidak pernah mengenal begadang dalam menimba ilmu Islam? Ibnu ‘Aqil ketika usianya mencapai 80 tahun, ia bersenandung: Semangatku tidaklah luntur di masa tuaku, Begitu pula semangatku dalam ibadah tidaklah usang. Walau terdapat uban di rambut kepalaku, namun tidak melunturkan semangatku. Hanya Allah yang memberi taufik untuk terus semangat dalam belajar. Referensi: Ta’zhimul ‘Ilmi karya guru kami Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi, hal. 14-16. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) @ Nasmoco Sleman, Selasa pagi, 24 Dzulhijjah 1434 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com seharga Rp.85.000,-, silakan PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan lihat toko online Ruwaifi.Com. Tagsbelajar belajar agama

Teladan Ulama: Terus Semangat dalam Belajar

Ilmu Islam adalah ilmu yang punya keutamaan yang besar untuk dipelajari. Ketika seseorang mempelajarinya, maka ia mesti memupuk terus rasa semangat sehingga tidak kendor. Bagaimana teladan ulama dalam hal semangat belajar?   Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ “Semangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah pada Allah, dan jangan malas (patah semangat).” (HR. Muslim no. 2664). Imam Nawawi mengatakan tentang hadits di atas, “Bersemangatlah dalam melakukan ketaatan pada Allah, selalu berharaplah pada Allah dan carilah dengan meminta tolong pada-Nya. Jangan patah semangat, yaitu jangan malas dalam melakukan ketaatan dan jangan lemah dari mencari pertolongan. ” (Syarh Shahih Muslim, 16: 194). Guru kami, Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi hafizhohullah menyebutkan ada tiga cara agar tidak kendor semangat dalam belajar yang beliau simpulkan dari hadits di atas: 1- Semangat untuk meraih ilmu yang bermanfaat. Ketika seseorang mendapatkan hal yang bermanfaat tersebut, hendaklah ia terus semangat untuk meraihnya. 2- Meminta tolong pada Allah untuk meraih ilmu tersebut. 3- Tidak patah semangat untuk meraih tujuan. Mari kita lihat beberapa perkataan ulama salaf yang menunjukkan semangat mereka dalam belajar. Al Junaid rahimahullah, ما طلب أحد شيئا بجد وصدق إلا ناله فإن لم ينله كله ناله بعضه “Tidaklah seseorang mencari sesuatu dengan sungguh-sungguh dan penuh kejujuran, melainkan ia akan meraihnya. Jika ia tidak seluruhnya, ia pasti meraih sebagiannya.” Lihat saja bagaimana semangat para ulama. Ketika Imam Ahmad bin Hambal masih usia beliau, terkadang ia sudah keluar menuju halaqoh para ulama sebelum Shubuh. Ibunya saat itu mengambil bajunya dan mengatakan -sebagai tanda sayang pada Imam Ahmad-, “Tunggu saja sampai suara adzan dikumandangkan atau tiba waktu Shubuh.” Coba perhatikan, Imam Ahmad sebelum Shubuh saja sudah bersiap-siap untuk belajar, sedangkan mata kita saat itu masih sulit untuk bangkit dari tidur yang nyenyak! Lihat pula bagaimana semangat Al Khotib Al Baghdadi ketika membaca kitab Shahih Al Bukhari hingga tuntas pada gurunya Isma’il Al Hiriy dalam tiga kali majelis. Bagaimana majelis tersebut? Majelis pertama dan kedua dibacakan kitab shahih tersebut mulai dari Maghrib hingga Shubuh. Majelis ketiga, shahih Bukhari dibacakan dari waktu Dhuha hingga Maghrib dan dilanjutkan terus hingga terbit fajar Shubuh. Lihat pula semangatnya Abu Muhammad bin At Tabban dalam awal-awal belajar. Ia ketika itu belajar dalam seluruh malam. Karena begitu sayang, ibunya sampai melarang ia membaca di malam hari seperti itu. Caranya agar bisa terus belajar, Abu Muhammad mengambil lampu dan diletakkan di bawah baskom sehingga dikira dirinya sudah tidur. Jika ibunya telah tidur, ia mengambil kembali lampu tersebut dan ia melanjutkan belajarnya di malam hari. Subhanallah! Luar biasa semangat Abu Muhammad rahimahullah dalam belajar. Bagaimana dengan kita yang terus malas-malasan bahkan mungkin tidak pernah mengenal begadang dalam menimba ilmu Islam? Ibnu ‘Aqil ketika usianya mencapai 80 tahun, ia bersenandung: Semangatku tidaklah luntur di masa tuaku, Begitu pula semangatku dalam ibadah tidaklah usang. Walau terdapat uban di rambut kepalaku, namun tidak melunturkan semangatku. Hanya Allah yang memberi taufik untuk terus semangat dalam belajar. Referensi: Ta’zhimul ‘Ilmi karya guru kami Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi, hal. 14-16. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) @ Nasmoco Sleman, Selasa pagi, 24 Dzulhijjah 1434 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com seharga Rp.85.000,-, silakan PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan lihat toko online Ruwaifi.Com. Tagsbelajar belajar agama
Ilmu Islam adalah ilmu yang punya keutamaan yang besar untuk dipelajari. Ketika seseorang mempelajarinya, maka ia mesti memupuk terus rasa semangat sehingga tidak kendor. Bagaimana teladan ulama dalam hal semangat belajar?   Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ “Semangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah pada Allah, dan jangan malas (patah semangat).” (HR. Muslim no. 2664). Imam Nawawi mengatakan tentang hadits di atas, “Bersemangatlah dalam melakukan ketaatan pada Allah, selalu berharaplah pada Allah dan carilah dengan meminta tolong pada-Nya. Jangan patah semangat, yaitu jangan malas dalam melakukan ketaatan dan jangan lemah dari mencari pertolongan. ” (Syarh Shahih Muslim, 16: 194). Guru kami, Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi hafizhohullah menyebutkan ada tiga cara agar tidak kendor semangat dalam belajar yang beliau simpulkan dari hadits di atas: 1- Semangat untuk meraih ilmu yang bermanfaat. Ketika seseorang mendapatkan hal yang bermanfaat tersebut, hendaklah ia terus semangat untuk meraihnya. 2- Meminta tolong pada Allah untuk meraih ilmu tersebut. 3- Tidak patah semangat untuk meraih tujuan. Mari kita lihat beberapa perkataan ulama salaf yang menunjukkan semangat mereka dalam belajar. Al Junaid rahimahullah, ما طلب أحد شيئا بجد وصدق إلا ناله فإن لم ينله كله ناله بعضه “Tidaklah seseorang mencari sesuatu dengan sungguh-sungguh dan penuh kejujuran, melainkan ia akan meraihnya. Jika ia tidak seluruhnya, ia pasti meraih sebagiannya.” Lihat saja bagaimana semangat para ulama. Ketika Imam Ahmad bin Hambal masih usia beliau, terkadang ia sudah keluar menuju halaqoh para ulama sebelum Shubuh. Ibunya saat itu mengambil bajunya dan mengatakan -sebagai tanda sayang pada Imam Ahmad-, “Tunggu saja sampai suara adzan dikumandangkan atau tiba waktu Shubuh.” Coba perhatikan, Imam Ahmad sebelum Shubuh saja sudah bersiap-siap untuk belajar, sedangkan mata kita saat itu masih sulit untuk bangkit dari tidur yang nyenyak! Lihat pula bagaimana semangat Al Khotib Al Baghdadi ketika membaca kitab Shahih Al Bukhari hingga tuntas pada gurunya Isma’il Al Hiriy dalam tiga kali majelis. Bagaimana majelis tersebut? Majelis pertama dan kedua dibacakan kitab shahih tersebut mulai dari Maghrib hingga Shubuh. Majelis ketiga, shahih Bukhari dibacakan dari waktu Dhuha hingga Maghrib dan dilanjutkan terus hingga terbit fajar Shubuh. Lihat pula semangatnya Abu Muhammad bin At Tabban dalam awal-awal belajar. Ia ketika itu belajar dalam seluruh malam. Karena begitu sayang, ibunya sampai melarang ia membaca di malam hari seperti itu. Caranya agar bisa terus belajar, Abu Muhammad mengambil lampu dan diletakkan di bawah baskom sehingga dikira dirinya sudah tidur. Jika ibunya telah tidur, ia mengambil kembali lampu tersebut dan ia melanjutkan belajarnya di malam hari. Subhanallah! Luar biasa semangat Abu Muhammad rahimahullah dalam belajar. Bagaimana dengan kita yang terus malas-malasan bahkan mungkin tidak pernah mengenal begadang dalam menimba ilmu Islam? Ibnu ‘Aqil ketika usianya mencapai 80 tahun, ia bersenandung: Semangatku tidaklah luntur di masa tuaku, Begitu pula semangatku dalam ibadah tidaklah usang. Walau terdapat uban di rambut kepalaku, namun tidak melunturkan semangatku. Hanya Allah yang memberi taufik untuk terus semangat dalam belajar. Referensi: Ta’zhimul ‘Ilmi karya guru kami Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi, hal. 14-16. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) @ Nasmoco Sleman, Selasa pagi, 24 Dzulhijjah 1434 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com seharga Rp.85.000,-, silakan PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan lihat toko online Ruwaifi.Com. Tagsbelajar belajar agama


Ilmu Islam adalah ilmu yang punya keutamaan yang besar untuk dipelajari. Ketika seseorang mempelajarinya, maka ia mesti memupuk terus rasa semangat sehingga tidak kendor. Bagaimana teladan ulama dalam hal semangat belajar?   Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ “Semangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah pada Allah, dan jangan malas (patah semangat).” (HR. Muslim no. 2664). Imam Nawawi mengatakan tentang hadits di atas, “Bersemangatlah dalam melakukan ketaatan pada Allah, selalu berharaplah pada Allah dan carilah dengan meminta tolong pada-Nya. Jangan patah semangat, yaitu jangan malas dalam melakukan ketaatan dan jangan lemah dari mencari pertolongan. ” (Syarh Shahih Muslim, 16: 194). Guru kami, Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi hafizhohullah menyebutkan ada tiga cara agar tidak kendor semangat dalam belajar yang beliau simpulkan dari hadits di atas: 1- Semangat untuk meraih ilmu yang bermanfaat. Ketika seseorang mendapatkan hal yang bermanfaat tersebut, hendaklah ia terus semangat untuk meraihnya. 2- Meminta tolong pada Allah untuk meraih ilmu tersebut. 3- Tidak patah semangat untuk meraih tujuan. Mari kita lihat beberapa perkataan ulama salaf yang menunjukkan semangat mereka dalam belajar. Al Junaid rahimahullah, ما طلب أحد شيئا بجد وصدق إلا ناله فإن لم ينله كله ناله بعضه “Tidaklah seseorang mencari sesuatu dengan sungguh-sungguh dan penuh kejujuran, melainkan ia akan meraihnya. Jika ia tidak seluruhnya, ia pasti meraih sebagiannya.” Lihat saja bagaimana semangat para ulama. Ketika Imam Ahmad bin Hambal masih usia beliau, terkadang ia sudah keluar menuju halaqoh para ulama sebelum Shubuh. Ibunya saat itu mengambil bajunya dan mengatakan -sebagai tanda sayang pada Imam Ahmad-, “Tunggu saja sampai suara adzan dikumandangkan atau tiba waktu Shubuh.” Coba perhatikan, Imam Ahmad sebelum Shubuh saja sudah bersiap-siap untuk belajar, sedangkan mata kita saat itu masih sulit untuk bangkit dari tidur yang nyenyak! Lihat pula bagaimana semangat Al Khotib Al Baghdadi ketika membaca kitab Shahih Al Bukhari hingga tuntas pada gurunya Isma’il Al Hiriy dalam tiga kali majelis. Bagaimana majelis tersebut? Majelis pertama dan kedua dibacakan kitab shahih tersebut mulai dari Maghrib hingga Shubuh. Majelis ketiga, shahih Bukhari dibacakan dari waktu Dhuha hingga Maghrib dan dilanjutkan terus hingga terbit fajar Shubuh. Lihat pula semangatnya Abu Muhammad bin At Tabban dalam awal-awal belajar. Ia ketika itu belajar dalam seluruh malam. Karena begitu sayang, ibunya sampai melarang ia membaca di malam hari seperti itu. Caranya agar bisa terus belajar, Abu Muhammad mengambil lampu dan diletakkan di bawah baskom sehingga dikira dirinya sudah tidur. Jika ibunya telah tidur, ia mengambil kembali lampu tersebut dan ia melanjutkan belajarnya di malam hari. Subhanallah! Luar biasa semangat Abu Muhammad rahimahullah dalam belajar. Bagaimana dengan kita yang terus malas-malasan bahkan mungkin tidak pernah mengenal begadang dalam menimba ilmu Islam? Ibnu ‘Aqil ketika usianya mencapai 80 tahun, ia bersenandung: Semangatku tidaklah luntur di masa tuaku, Begitu pula semangatku dalam ibadah tidaklah usang. Walau terdapat uban di rambut kepalaku, namun tidak melunturkan semangatku. Hanya Allah yang memberi taufik untuk terus semangat dalam belajar. Referensi: Ta’zhimul ‘Ilmi karya guru kami Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi, hal. 14-16. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) @ Nasmoco Sleman, Selasa pagi, 24 Dzulhijjah 1434 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com seharga Rp.85.000,-, silakan PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Silakan lihat toko online Ruwaifi.Com. Tagsbelajar belajar agama

Nasehat Bagi yang Mandul dan Tak Kunjung Hamil

Ada yang sudah lama menikah namun tak juga dianugerahi anak. Boleh jadi salah satu dari suami istri tersebut mandul. Adakah nasehat dalam hal ini? Pernah ditanyakan pada Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, “Ada seorang wanita terus gelisah karena ia tak kunjung hamil. Kadang ia terus-terusan menangis dan banyak berpikir dan ingin berpaling dari kehidupan dunia ini. Apa hukumnya? Dan apa nasehat padanya?” Jawab para ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Daimah, “Tidak pantas bagi wanita semacam ini untuk gelisah dan banyak menangis karena tak kunjung hamil. Karena memiliki keturunan pada pasangan laki-laki dan perempuan yaitu mendapatkan anak laki-laki saja atau perempuan saja atau mendapatkan anak laki-laki dan perempuan, begitu pula tidak memiliki keturunan, itu semua sudah menjadi takdir Allah. Allah Ta’ala berfirman, لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ (49) أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ (50) “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Asy Syura: 49-50). Allah-lah yang lebih tahu siapa yang berhak mendapat bagian-bagian tadi. Allah pula yang mampu menentukan manusia itu bervariasi (bertingkat-tingkat). Cobalah yang bertanya melihat pada kisah Yahya bin Zakariya dan ‘Isa bin Maryam ‘alaihimash sholaatu was salaam. Kedua orang tuanya belum memiliki anak sebelumnya. Maka bagi wanita yang bertanya hendaklah pun ia ridho pada ketentuan Allah dan hendaklah ia banyak meminta akan hajatnya pada Allah. Di balik ketentuan Allah itu ada hikmah yang besar dan ketentuan yang tiada disangka. Tidak terlarang jika wanita tersebut datang kepada dokter wanita spesialis untuk bertanya perihal kehamilan, atau ia datang pada dokter laki-laki spesialis jika tidak mendapati keberadaan dokter wanita. Moga saja dengan konsultasi semacam itu, ia mendapatkan solusi untuk mendapatkan keturunan ketika sebelumnya tak kunjung hamil. Begitu pula untuk sang suami, hendaklah ia pun mendatangi dokter laki-laki spesialis agar mendapatkan jalan keluar karena boleh jadi masalahnya adalah pada diri suami. Wa billahit taufiq, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, fatwa no. 8844. Ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz selaku ketua dan Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan sebagai anggota. Dinukil dari Al Fatawa Al Muta’alliqoh bith Thib wa Ahkamil Marodh, terbitan Darul Ifta’ Al Lajnah Ad Daimah, hal. 309. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) @ Kantor Pesantren Darush Sholihin, Senin sore ba’da ‘Ashar, 23 Dzulhijjah 1434 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com seharga Rp.85.000,-, silakan PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Tersedia pula buku-buku karangan Rumaysho.Com seperti Buku Dzikir Pagi Petang dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris. Silakan lihat toko online Ruwaifi.Com. Tagsberobat mandul

Nasehat Bagi yang Mandul dan Tak Kunjung Hamil

Ada yang sudah lama menikah namun tak juga dianugerahi anak. Boleh jadi salah satu dari suami istri tersebut mandul. Adakah nasehat dalam hal ini? Pernah ditanyakan pada Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, “Ada seorang wanita terus gelisah karena ia tak kunjung hamil. Kadang ia terus-terusan menangis dan banyak berpikir dan ingin berpaling dari kehidupan dunia ini. Apa hukumnya? Dan apa nasehat padanya?” Jawab para ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Daimah, “Tidak pantas bagi wanita semacam ini untuk gelisah dan banyak menangis karena tak kunjung hamil. Karena memiliki keturunan pada pasangan laki-laki dan perempuan yaitu mendapatkan anak laki-laki saja atau perempuan saja atau mendapatkan anak laki-laki dan perempuan, begitu pula tidak memiliki keturunan, itu semua sudah menjadi takdir Allah. Allah Ta’ala berfirman, لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ (49) أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ (50) “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Asy Syura: 49-50). Allah-lah yang lebih tahu siapa yang berhak mendapat bagian-bagian tadi. Allah pula yang mampu menentukan manusia itu bervariasi (bertingkat-tingkat). Cobalah yang bertanya melihat pada kisah Yahya bin Zakariya dan ‘Isa bin Maryam ‘alaihimash sholaatu was salaam. Kedua orang tuanya belum memiliki anak sebelumnya. Maka bagi wanita yang bertanya hendaklah pun ia ridho pada ketentuan Allah dan hendaklah ia banyak meminta akan hajatnya pada Allah. Di balik ketentuan Allah itu ada hikmah yang besar dan ketentuan yang tiada disangka. Tidak terlarang jika wanita tersebut datang kepada dokter wanita spesialis untuk bertanya perihal kehamilan, atau ia datang pada dokter laki-laki spesialis jika tidak mendapati keberadaan dokter wanita. Moga saja dengan konsultasi semacam itu, ia mendapatkan solusi untuk mendapatkan keturunan ketika sebelumnya tak kunjung hamil. Begitu pula untuk sang suami, hendaklah ia pun mendatangi dokter laki-laki spesialis agar mendapatkan jalan keluar karena boleh jadi masalahnya adalah pada diri suami. Wa billahit taufiq, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, fatwa no. 8844. Ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz selaku ketua dan Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan sebagai anggota. Dinukil dari Al Fatawa Al Muta’alliqoh bith Thib wa Ahkamil Marodh, terbitan Darul Ifta’ Al Lajnah Ad Daimah, hal. 309. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) @ Kantor Pesantren Darush Sholihin, Senin sore ba’da ‘Ashar, 23 Dzulhijjah 1434 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com seharga Rp.85.000,-, silakan PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Tersedia pula buku-buku karangan Rumaysho.Com seperti Buku Dzikir Pagi Petang dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris. Silakan lihat toko online Ruwaifi.Com. Tagsberobat mandul
Ada yang sudah lama menikah namun tak juga dianugerahi anak. Boleh jadi salah satu dari suami istri tersebut mandul. Adakah nasehat dalam hal ini? Pernah ditanyakan pada Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, “Ada seorang wanita terus gelisah karena ia tak kunjung hamil. Kadang ia terus-terusan menangis dan banyak berpikir dan ingin berpaling dari kehidupan dunia ini. Apa hukumnya? Dan apa nasehat padanya?” Jawab para ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Daimah, “Tidak pantas bagi wanita semacam ini untuk gelisah dan banyak menangis karena tak kunjung hamil. Karena memiliki keturunan pada pasangan laki-laki dan perempuan yaitu mendapatkan anak laki-laki saja atau perempuan saja atau mendapatkan anak laki-laki dan perempuan, begitu pula tidak memiliki keturunan, itu semua sudah menjadi takdir Allah. Allah Ta’ala berfirman, لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ (49) أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ (50) “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Asy Syura: 49-50). Allah-lah yang lebih tahu siapa yang berhak mendapat bagian-bagian tadi. Allah pula yang mampu menentukan manusia itu bervariasi (bertingkat-tingkat). Cobalah yang bertanya melihat pada kisah Yahya bin Zakariya dan ‘Isa bin Maryam ‘alaihimash sholaatu was salaam. Kedua orang tuanya belum memiliki anak sebelumnya. Maka bagi wanita yang bertanya hendaklah pun ia ridho pada ketentuan Allah dan hendaklah ia banyak meminta akan hajatnya pada Allah. Di balik ketentuan Allah itu ada hikmah yang besar dan ketentuan yang tiada disangka. Tidak terlarang jika wanita tersebut datang kepada dokter wanita spesialis untuk bertanya perihal kehamilan, atau ia datang pada dokter laki-laki spesialis jika tidak mendapati keberadaan dokter wanita. Moga saja dengan konsultasi semacam itu, ia mendapatkan solusi untuk mendapatkan keturunan ketika sebelumnya tak kunjung hamil. Begitu pula untuk sang suami, hendaklah ia pun mendatangi dokter laki-laki spesialis agar mendapatkan jalan keluar karena boleh jadi masalahnya adalah pada diri suami. Wa billahit taufiq, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, fatwa no. 8844. Ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz selaku ketua dan Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan sebagai anggota. Dinukil dari Al Fatawa Al Muta’alliqoh bith Thib wa Ahkamil Marodh, terbitan Darul Ifta’ Al Lajnah Ad Daimah, hal. 309. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) @ Kantor Pesantren Darush Sholihin, Senin sore ba’da ‘Ashar, 23 Dzulhijjah 1434 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com seharga Rp.85.000,-, silakan PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Tersedia pula buku-buku karangan Rumaysho.Com seperti Buku Dzikir Pagi Petang dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris. Silakan lihat toko online Ruwaifi.Com. Tagsberobat mandul


Ada yang sudah lama menikah namun tak juga dianugerahi anak. Boleh jadi salah satu dari suami istri tersebut mandul. Adakah nasehat dalam hal ini? Pernah ditanyakan pada Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, “Ada seorang wanita terus gelisah karena ia tak kunjung hamil. Kadang ia terus-terusan menangis dan banyak berpikir dan ingin berpaling dari kehidupan dunia ini. Apa hukumnya? Dan apa nasehat padanya?” Jawab para ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Daimah, “Tidak pantas bagi wanita semacam ini untuk gelisah dan banyak menangis karena tak kunjung hamil. Karena memiliki keturunan pada pasangan laki-laki dan perempuan yaitu mendapatkan anak laki-laki saja atau perempuan saja atau mendapatkan anak laki-laki dan perempuan, begitu pula tidak memiliki keturunan, itu semua sudah menjadi takdir Allah. Allah Ta’ala berfirman, لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ (49) أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ (50) “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Asy Syura: 49-50). Allah-lah yang lebih tahu siapa yang berhak mendapat bagian-bagian tadi. Allah pula yang mampu menentukan manusia itu bervariasi (bertingkat-tingkat). Cobalah yang bertanya melihat pada kisah Yahya bin Zakariya dan ‘Isa bin Maryam ‘alaihimash sholaatu was salaam. Kedua orang tuanya belum memiliki anak sebelumnya. Maka bagi wanita yang bertanya hendaklah pun ia ridho pada ketentuan Allah dan hendaklah ia banyak meminta akan hajatnya pada Allah. Di balik ketentuan Allah itu ada hikmah yang besar dan ketentuan yang tiada disangka. Tidak terlarang jika wanita tersebut datang kepada dokter wanita spesialis untuk bertanya perihal kehamilan, atau ia datang pada dokter laki-laki spesialis jika tidak mendapati keberadaan dokter wanita. Moga saja dengan konsultasi semacam itu, ia mendapatkan solusi untuk mendapatkan keturunan ketika sebelumnya tak kunjung hamil. Begitu pula untuk sang suami, hendaklah ia pun mendatangi dokter laki-laki spesialis agar mendapatkan jalan keluar karena boleh jadi masalahnya adalah pada diri suami. Wa billahit taufiq, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, fatwa no. 8844. Ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz selaku ketua dan Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan sebagai anggota. Dinukil dari Al Fatawa Al Muta’alliqoh bith Thib wa Ahkamil Marodh, terbitan Darul Ifta’ Al Lajnah Ad Daimah, hal. 309. — Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) @ Kantor Pesantren Darush Sholihin, Senin sore ba’da ‘Ashar, 23 Dzulhijjah 1434 H — Bagi yang berminat dengan kaos Rumaysho.Com seharga Rp.85.000,-, silakan PIN BB: 2A04EA0F atau sms ke 0852 00 171 222. Tersedia pula buku-buku karangan Rumaysho.Com seperti Buku Dzikir Pagi Petang dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris. Silakan lihat toko online Ruwaifi.Com. Tagsberobat mandul

Ta’ad (singkatan dari ta’addud)

Sekelompok suami berkumpul dan berbicara tentang poligami (ta’addud). Namun mereka takut ketahuan istri-istri mereka yg sering mencuri dengar pembicaraan mereka dari dalam rumah, maka para suami tersebut sepakat untuk menyingkat kata ta’addud menjadi ta’ad (yang sekilas terdengar menjadi ta’at) agar disangka oleh istri-istri mereka bahwa mereka sedang membicarakan tentang keta’atan kepada Allah dan bukan tentang poligami.Diantara pembicaraan mereka adalah :… Kita harus ta’at….Kalau kita ta’at maka sebaiknya diam-diam lebih baik (lebih ikhlas)…Kita harus mendukung ta’at…Demikianlah pembicaraan mereka…tentang ta’ad sementara dud nya tdk pernah mereka ucapkan karena takut ketahuan(Demikian tutur salah seorang dari kumpulan para suami tersebut kepada saya)Seorang Guru Matematika Berbicara tentang Poligami di salah satu stasiun TV Arab :Kalau dipikir, fungsi seorang istri untuk benar-benar melayani suami dalam setahun kira-kira hanya seratus hari (sepertiga tahun)Hal ini disimpulkan dari 365 hari (setahun) – (dikurangi) masa haid (7×12) – waktu ziarohnya ke rumah ortunya/kerabatnya – masa sakitnya – kalau hamil? – masa nifasnya –…. Intinya ada waktu-waktu yg istri tdk bisa melayani suami dgn baik, yang membuktikan butuhnya wanita/istri yg lain dalam memenuhi kekosongan tersebut.Akan tetapi…., kami guru matematika hanya menghitung, yang mempraktekan poligami adalah guru agama (ustadz) bukan guru matematika..,(Ini hanya tuturan sang guru matematika, bisa jadi teori dan penjumlahan yg ia utarakan tdk disetujui) 

Ta’ad (singkatan dari ta’addud)

Sekelompok suami berkumpul dan berbicara tentang poligami (ta’addud). Namun mereka takut ketahuan istri-istri mereka yg sering mencuri dengar pembicaraan mereka dari dalam rumah, maka para suami tersebut sepakat untuk menyingkat kata ta’addud menjadi ta’ad (yang sekilas terdengar menjadi ta’at) agar disangka oleh istri-istri mereka bahwa mereka sedang membicarakan tentang keta’atan kepada Allah dan bukan tentang poligami.Diantara pembicaraan mereka adalah :… Kita harus ta’at….Kalau kita ta’at maka sebaiknya diam-diam lebih baik (lebih ikhlas)…Kita harus mendukung ta’at…Demikianlah pembicaraan mereka…tentang ta’ad sementara dud nya tdk pernah mereka ucapkan karena takut ketahuan(Demikian tutur salah seorang dari kumpulan para suami tersebut kepada saya)Seorang Guru Matematika Berbicara tentang Poligami di salah satu stasiun TV Arab :Kalau dipikir, fungsi seorang istri untuk benar-benar melayani suami dalam setahun kira-kira hanya seratus hari (sepertiga tahun)Hal ini disimpulkan dari 365 hari (setahun) – (dikurangi) masa haid (7×12) – waktu ziarohnya ke rumah ortunya/kerabatnya – masa sakitnya – kalau hamil? – masa nifasnya –…. Intinya ada waktu-waktu yg istri tdk bisa melayani suami dgn baik, yang membuktikan butuhnya wanita/istri yg lain dalam memenuhi kekosongan tersebut.Akan tetapi…., kami guru matematika hanya menghitung, yang mempraktekan poligami adalah guru agama (ustadz) bukan guru matematika..,(Ini hanya tuturan sang guru matematika, bisa jadi teori dan penjumlahan yg ia utarakan tdk disetujui) 
Sekelompok suami berkumpul dan berbicara tentang poligami (ta’addud). Namun mereka takut ketahuan istri-istri mereka yg sering mencuri dengar pembicaraan mereka dari dalam rumah, maka para suami tersebut sepakat untuk menyingkat kata ta’addud menjadi ta’ad (yang sekilas terdengar menjadi ta’at) agar disangka oleh istri-istri mereka bahwa mereka sedang membicarakan tentang keta’atan kepada Allah dan bukan tentang poligami.Diantara pembicaraan mereka adalah :… Kita harus ta’at….Kalau kita ta’at maka sebaiknya diam-diam lebih baik (lebih ikhlas)…Kita harus mendukung ta’at…Demikianlah pembicaraan mereka…tentang ta’ad sementara dud nya tdk pernah mereka ucapkan karena takut ketahuan(Demikian tutur salah seorang dari kumpulan para suami tersebut kepada saya)Seorang Guru Matematika Berbicara tentang Poligami di salah satu stasiun TV Arab :Kalau dipikir, fungsi seorang istri untuk benar-benar melayani suami dalam setahun kira-kira hanya seratus hari (sepertiga tahun)Hal ini disimpulkan dari 365 hari (setahun) – (dikurangi) masa haid (7×12) – waktu ziarohnya ke rumah ortunya/kerabatnya – masa sakitnya – kalau hamil? – masa nifasnya –…. Intinya ada waktu-waktu yg istri tdk bisa melayani suami dgn baik, yang membuktikan butuhnya wanita/istri yg lain dalam memenuhi kekosongan tersebut.Akan tetapi…., kami guru matematika hanya menghitung, yang mempraktekan poligami adalah guru agama (ustadz) bukan guru matematika..,(Ini hanya tuturan sang guru matematika, bisa jadi teori dan penjumlahan yg ia utarakan tdk disetujui) 


Sekelompok suami berkumpul dan berbicara tentang poligami (ta’addud). Namun mereka takut ketahuan istri-istri mereka yg sering mencuri dengar pembicaraan mereka dari dalam rumah, maka para suami tersebut sepakat untuk menyingkat kata ta’addud menjadi ta’ad (yang sekilas terdengar menjadi ta’at) agar disangka oleh istri-istri mereka bahwa mereka sedang membicarakan tentang keta’atan kepada Allah dan bukan tentang poligami.Diantara pembicaraan mereka adalah :… Kita harus ta’at….Kalau kita ta’at maka sebaiknya diam-diam lebih baik (lebih ikhlas)…Kita harus mendukung ta’at…Demikianlah pembicaraan mereka…tentang ta’ad sementara dud nya tdk pernah mereka ucapkan karena takut ketahuan(Demikian tutur salah seorang dari kumpulan para suami tersebut kepada saya)Seorang Guru Matematika Berbicara tentang Poligami di salah satu stasiun TV Arab :Kalau dipikir, fungsi seorang istri untuk benar-benar melayani suami dalam setahun kira-kira hanya seratus hari (sepertiga tahun)Hal ini disimpulkan dari 365 hari (setahun) – (dikurangi) masa haid (7×12) – waktu ziarohnya ke rumah ortunya/kerabatnya – masa sakitnya – kalau hamil? – masa nifasnya –…. Intinya ada waktu-waktu yg istri tdk bisa melayani suami dgn baik, yang membuktikan butuhnya wanita/istri yg lain dalam memenuhi kekosongan tersebut.Akan tetapi…., kami guru matematika hanya menghitung, yang mempraktekan poligami adalah guru agama (ustadz) bukan guru matematika..,(Ini hanya tuturan sang guru matematika, bisa jadi teori dan penjumlahan yg ia utarakan tdk disetujui) 
Prev     Next