Penyaluran Kurban untuk Desa Miskin Gunungkidul Sekitarnya (1434 H)

Insya Allah, tahun ini pihak Pesantren Darush Sholihin akan menyalurkan kurban kembali ke sekitar Pesantren dan Gunungkidul sekitarnya seperti yang sudah berlangsung tahun sebelumnya. Di mana tahun lalu telah berhasil disalurkan 122 ekor kambing dan 4 ekor sapi sebagaimana terdapat laporan kurban 1433 H. Tahun 1434 H ini, kembali akan disalurkan kurban berupa kambing maupun sapi ke desa binaan pesantren. Masjid Tempat Penyaluran Kurban 15 masjid binaan Pesantren Darush Sholihin di Dusun Warak sekitarnya, 15 desa binaan Ustadz Sa’id (Mudir Al I’tisham Wonosari) disebar di Wonosari sekitarnya, 5 desa binaan Ustadz Musthofa Jaryono di Panggang dan Saptosari sekitarnya, 3 desa binaan Ustadz Muslam di Imogiri Bantul. Perkiraan masjid yang akan disalurkan: 38 masjid. Perkiraan qurban yang dibutuhkan: 130 ekor kambing (minimal). Biaya Kurban 1- Kambing standar (ukuran berat: 22-30 kg): Rp.1.300.000 s/d Rp.1.600.000,-2- Kambing super (ukuran berat: 31-40 kg): Rp.1.700.000 s/d Rp.2.000.000,-3- Kambing istimewa (ukuran berat: 41-55 kg): Rp.2.000.000 s/d Rp.2.500.000,-4- Sapi: Rp.10.500.000,- dengan patungan untuk 7 orang @ Rp.1.500.000,- Biaya di atas sudah include (termasuk) biaya transportasi ke masjid-masjid, upah penyembelihan dan administrasi. Jika tidak mencukupi, kekurangannya akan ditanggung pihak Pesantren Darush Sholihin. Keterangan: Kambing standar rata-rata berjenis kelamin betina. Cara Penyaluran Melalui Transfer Uang Bagi yang berminat menyalurkan dananya untuk kurban di desa miskin Gunungkidul dan sekitarnya, silakan menyalurkan lewat rekening Usaha Mandiri Pesantren Darush Sholihin: 1- Rekening BCA KCP Wonosari 8950212188 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. 2- Rekening Mandiri Wonosari 900-00-1943432-4 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Lalu kirim konfirmasi via sms 0852 00 171 222 atau via PIN BB 2A04EA0F dengan format: nama shohibul qurban, alamat, keperluan transfer, tanggal transfer, rekening tujuan, jumlah kurban, jenis kelas kambing . Contoh format: Ahmad sekeluarga#Jogja#qurban#28 Agustus 2013#Rp.1.700.000#Bank Mandiri#1 kambing#super. Kontak kami: 0852 00 171 222 (Usaha Mandiri Pesantren Darush Sholihin) Jika butuh rekening lain, silakan hubungi kontak di atas. Setelah transfer, nanti akan diminta email atau no HP untuk konfirmasi atau pemberitahuan bahwa kurban telah disembelih pada hari H. Batas Akhir Penerimaan Dana Kurban 20 Dzulqo’dah 1434 H (Kamis, 26 September 2013), pukul 23.59 WIB Manfaat Menyalurkan Kurban ke Daerah Lain Syaikh Sulaiman bin Nashir Al Ulwan berkata, “Kami melihat tidak mengapa berfatwa membolehkan memindahkan penyembelihan qurban ke daerah lain di mana di daerah tersebut kaum muslimin sangat butuh. Sejumlah besar kaum muslimin saat ini tergeletak di tanah, di bawah langit terbuka, dalam keadaan tak punya apa-apa, bahkan ada yang sampai mati kelaparan, dan perlunya kita berdiri bersanding dengan mereka karena mereka memang betul-betul butuh uluran tangan kita. Kita bisa membantu keadaan mereka dengan zakat dan sedekah, juga dengan qurban yang ditransfer ke negeri mereka. Jadi syari’at qurban sebenarnya tidak mengharuskan melakukan di negeri shohibul qurban. Walau kita tidak bisa menyantap hasil qurban yang kita miliki, namun kita memperoleh keutamaan karena telah menolong fakir miskin yang muslim yang benar-benar butuh.” Selengkapnya lihat di sini Ibnul Qayyim berkata, “Penyembelihan yang dilakukan di waktu mulia lebih afdhol daripada sedekah senilai penyembelihan tersebut. Oleh karenanya jika seseorang bersedekah untuk menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik tamattu’ dan qiron meskipun dengan sedekah yang bernilai berlipat ganda, tentu tidak bisa menyamai keutamaan udhiyah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim no. 2558) السَّاعِى عَلَى اْلأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِيْنِ كَالْمُجَاهِدِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ –وَأَحْسِبُهُ قَالَ-: وَكَالْقَائِمِ لاَ يَفْتُرُ وَكَالصَّائِمِ لاَ يُفْطِرُ. “Orang yang membiayai kehidupan para janda dan orang-orang miskin bagaikan orang yang berjihad fii sabiilillaah.” –Saya (perawi) kira beliau bersabda-, “Dan bagaikan orang yang shalat tanpa merasa bosan serta bagaikan orang yang berpuasa terus-menerus” (HR. Muslim no. 2982). Semoga Allah membalas kebaikan kaum muslimin yang telah turut serta dalam donasi kurban Pesantren Darush Sholihin pada tahun 1434 H ini. — Pimpinan Pesantren Darush SholihinMuhammad Abduh Tuasikal, MSc   Ruwaifi.Com | DarushSholihin.Com | Rumaysho.Com Sumber: http://ruwaifi.com/kurban-gunungkidul-sekitarnya-1434-h/ Tagstebar qurban

Penyaluran Kurban untuk Desa Miskin Gunungkidul Sekitarnya (1434 H)

Insya Allah, tahun ini pihak Pesantren Darush Sholihin akan menyalurkan kurban kembali ke sekitar Pesantren dan Gunungkidul sekitarnya seperti yang sudah berlangsung tahun sebelumnya. Di mana tahun lalu telah berhasil disalurkan 122 ekor kambing dan 4 ekor sapi sebagaimana terdapat laporan kurban 1433 H. Tahun 1434 H ini, kembali akan disalurkan kurban berupa kambing maupun sapi ke desa binaan pesantren. Masjid Tempat Penyaluran Kurban 15 masjid binaan Pesantren Darush Sholihin di Dusun Warak sekitarnya, 15 desa binaan Ustadz Sa’id (Mudir Al I’tisham Wonosari) disebar di Wonosari sekitarnya, 5 desa binaan Ustadz Musthofa Jaryono di Panggang dan Saptosari sekitarnya, 3 desa binaan Ustadz Muslam di Imogiri Bantul. Perkiraan masjid yang akan disalurkan: 38 masjid. Perkiraan qurban yang dibutuhkan: 130 ekor kambing (minimal). Biaya Kurban 1- Kambing standar (ukuran berat: 22-30 kg): Rp.1.300.000 s/d Rp.1.600.000,-2- Kambing super (ukuran berat: 31-40 kg): Rp.1.700.000 s/d Rp.2.000.000,-3- Kambing istimewa (ukuran berat: 41-55 kg): Rp.2.000.000 s/d Rp.2.500.000,-4- Sapi: Rp.10.500.000,- dengan patungan untuk 7 orang @ Rp.1.500.000,- Biaya di atas sudah include (termasuk) biaya transportasi ke masjid-masjid, upah penyembelihan dan administrasi. Jika tidak mencukupi, kekurangannya akan ditanggung pihak Pesantren Darush Sholihin. Keterangan: Kambing standar rata-rata berjenis kelamin betina. Cara Penyaluran Melalui Transfer Uang Bagi yang berminat menyalurkan dananya untuk kurban di desa miskin Gunungkidul dan sekitarnya, silakan menyalurkan lewat rekening Usaha Mandiri Pesantren Darush Sholihin: 1- Rekening BCA KCP Wonosari 8950212188 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. 2- Rekening Mandiri Wonosari 900-00-1943432-4 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Lalu kirim konfirmasi via sms 0852 00 171 222 atau via PIN BB 2A04EA0F dengan format: nama shohibul qurban, alamat, keperluan transfer, tanggal transfer, rekening tujuan, jumlah kurban, jenis kelas kambing . Contoh format: Ahmad sekeluarga#Jogja#qurban#28 Agustus 2013#Rp.1.700.000#Bank Mandiri#1 kambing#super. Kontak kami: 0852 00 171 222 (Usaha Mandiri Pesantren Darush Sholihin) Jika butuh rekening lain, silakan hubungi kontak di atas. Setelah transfer, nanti akan diminta email atau no HP untuk konfirmasi atau pemberitahuan bahwa kurban telah disembelih pada hari H. Batas Akhir Penerimaan Dana Kurban 20 Dzulqo’dah 1434 H (Kamis, 26 September 2013), pukul 23.59 WIB Manfaat Menyalurkan Kurban ke Daerah Lain Syaikh Sulaiman bin Nashir Al Ulwan berkata, “Kami melihat tidak mengapa berfatwa membolehkan memindahkan penyembelihan qurban ke daerah lain di mana di daerah tersebut kaum muslimin sangat butuh. Sejumlah besar kaum muslimin saat ini tergeletak di tanah, di bawah langit terbuka, dalam keadaan tak punya apa-apa, bahkan ada yang sampai mati kelaparan, dan perlunya kita berdiri bersanding dengan mereka karena mereka memang betul-betul butuh uluran tangan kita. Kita bisa membantu keadaan mereka dengan zakat dan sedekah, juga dengan qurban yang ditransfer ke negeri mereka. Jadi syari’at qurban sebenarnya tidak mengharuskan melakukan di negeri shohibul qurban. Walau kita tidak bisa menyantap hasil qurban yang kita miliki, namun kita memperoleh keutamaan karena telah menolong fakir miskin yang muslim yang benar-benar butuh.” Selengkapnya lihat di sini Ibnul Qayyim berkata, “Penyembelihan yang dilakukan di waktu mulia lebih afdhol daripada sedekah senilai penyembelihan tersebut. Oleh karenanya jika seseorang bersedekah untuk menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik tamattu’ dan qiron meskipun dengan sedekah yang bernilai berlipat ganda, tentu tidak bisa menyamai keutamaan udhiyah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim no. 2558) السَّاعِى عَلَى اْلأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِيْنِ كَالْمُجَاهِدِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ –وَأَحْسِبُهُ قَالَ-: وَكَالْقَائِمِ لاَ يَفْتُرُ وَكَالصَّائِمِ لاَ يُفْطِرُ. “Orang yang membiayai kehidupan para janda dan orang-orang miskin bagaikan orang yang berjihad fii sabiilillaah.” –Saya (perawi) kira beliau bersabda-, “Dan bagaikan orang yang shalat tanpa merasa bosan serta bagaikan orang yang berpuasa terus-menerus” (HR. Muslim no. 2982). Semoga Allah membalas kebaikan kaum muslimin yang telah turut serta dalam donasi kurban Pesantren Darush Sholihin pada tahun 1434 H ini. — Pimpinan Pesantren Darush SholihinMuhammad Abduh Tuasikal, MSc   Ruwaifi.Com | DarushSholihin.Com | Rumaysho.Com Sumber: http://ruwaifi.com/kurban-gunungkidul-sekitarnya-1434-h/ Tagstebar qurban
Insya Allah, tahun ini pihak Pesantren Darush Sholihin akan menyalurkan kurban kembali ke sekitar Pesantren dan Gunungkidul sekitarnya seperti yang sudah berlangsung tahun sebelumnya. Di mana tahun lalu telah berhasil disalurkan 122 ekor kambing dan 4 ekor sapi sebagaimana terdapat laporan kurban 1433 H. Tahun 1434 H ini, kembali akan disalurkan kurban berupa kambing maupun sapi ke desa binaan pesantren. Masjid Tempat Penyaluran Kurban 15 masjid binaan Pesantren Darush Sholihin di Dusun Warak sekitarnya, 15 desa binaan Ustadz Sa’id (Mudir Al I’tisham Wonosari) disebar di Wonosari sekitarnya, 5 desa binaan Ustadz Musthofa Jaryono di Panggang dan Saptosari sekitarnya, 3 desa binaan Ustadz Muslam di Imogiri Bantul. Perkiraan masjid yang akan disalurkan: 38 masjid. Perkiraan qurban yang dibutuhkan: 130 ekor kambing (minimal). Biaya Kurban 1- Kambing standar (ukuran berat: 22-30 kg): Rp.1.300.000 s/d Rp.1.600.000,-2- Kambing super (ukuran berat: 31-40 kg): Rp.1.700.000 s/d Rp.2.000.000,-3- Kambing istimewa (ukuran berat: 41-55 kg): Rp.2.000.000 s/d Rp.2.500.000,-4- Sapi: Rp.10.500.000,- dengan patungan untuk 7 orang @ Rp.1.500.000,- Biaya di atas sudah include (termasuk) biaya transportasi ke masjid-masjid, upah penyembelihan dan administrasi. Jika tidak mencukupi, kekurangannya akan ditanggung pihak Pesantren Darush Sholihin. Keterangan: Kambing standar rata-rata berjenis kelamin betina. Cara Penyaluran Melalui Transfer Uang Bagi yang berminat menyalurkan dananya untuk kurban di desa miskin Gunungkidul dan sekitarnya, silakan menyalurkan lewat rekening Usaha Mandiri Pesantren Darush Sholihin: 1- Rekening BCA KCP Wonosari 8950212188 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. 2- Rekening Mandiri Wonosari 900-00-1943432-4 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Lalu kirim konfirmasi via sms 0852 00 171 222 atau via PIN BB 2A04EA0F dengan format: nama shohibul qurban, alamat, keperluan transfer, tanggal transfer, rekening tujuan, jumlah kurban, jenis kelas kambing . Contoh format: Ahmad sekeluarga#Jogja#qurban#28 Agustus 2013#Rp.1.700.000#Bank Mandiri#1 kambing#super. Kontak kami: 0852 00 171 222 (Usaha Mandiri Pesantren Darush Sholihin) Jika butuh rekening lain, silakan hubungi kontak di atas. Setelah transfer, nanti akan diminta email atau no HP untuk konfirmasi atau pemberitahuan bahwa kurban telah disembelih pada hari H. Batas Akhir Penerimaan Dana Kurban 20 Dzulqo’dah 1434 H (Kamis, 26 September 2013), pukul 23.59 WIB Manfaat Menyalurkan Kurban ke Daerah Lain Syaikh Sulaiman bin Nashir Al Ulwan berkata, “Kami melihat tidak mengapa berfatwa membolehkan memindahkan penyembelihan qurban ke daerah lain di mana di daerah tersebut kaum muslimin sangat butuh. Sejumlah besar kaum muslimin saat ini tergeletak di tanah, di bawah langit terbuka, dalam keadaan tak punya apa-apa, bahkan ada yang sampai mati kelaparan, dan perlunya kita berdiri bersanding dengan mereka karena mereka memang betul-betul butuh uluran tangan kita. Kita bisa membantu keadaan mereka dengan zakat dan sedekah, juga dengan qurban yang ditransfer ke negeri mereka. Jadi syari’at qurban sebenarnya tidak mengharuskan melakukan di negeri shohibul qurban. Walau kita tidak bisa menyantap hasil qurban yang kita miliki, namun kita memperoleh keutamaan karena telah menolong fakir miskin yang muslim yang benar-benar butuh.” Selengkapnya lihat di sini Ibnul Qayyim berkata, “Penyembelihan yang dilakukan di waktu mulia lebih afdhol daripada sedekah senilai penyembelihan tersebut. Oleh karenanya jika seseorang bersedekah untuk menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik tamattu’ dan qiron meskipun dengan sedekah yang bernilai berlipat ganda, tentu tidak bisa menyamai keutamaan udhiyah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim no. 2558) السَّاعِى عَلَى اْلأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِيْنِ كَالْمُجَاهِدِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ –وَأَحْسِبُهُ قَالَ-: وَكَالْقَائِمِ لاَ يَفْتُرُ وَكَالصَّائِمِ لاَ يُفْطِرُ. “Orang yang membiayai kehidupan para janda dan orang-orang miskin bagaikan orang yang berjihad fii sabiilillaah.” –Saya (perawi) kira beliau bersabda-, “Dan bagaikan orang yang shalat tanpa merasa bosan serta bagaikan orang yang berpuasa terus-menerus” (HR. Muslim no. 2982). Semoga Allah membalas kebaikan kaum muslimin yang telah turut serta dalam donasi kurban Pesantren Darush Sholihin pada tahun 1434 H ini. — Pimpinan Pesantren Darush SholihinMuhammad Abduh Tuasikal, MSc   Ruwaifi.Com | DarushSholihin.Com | Rumaysho.Com Sumber: http://ruwaifi.com/kurban-gunungkidul-sekitarnya-1434-h/ Tagstebar qurban


Insya Allah, tahun ini pihak Pesantren Darush Sholihin akan menyalurkan kurban kembali ke sekitar Pesantren dan Gunungkidul sekitarnya seperti yang sudah berlangsung tahun sebelumnya. Di mana tahun lalu telah berhasil disalurkan 122 ekor kambing dan 4 ekor sapi sebagaimana terdapat laporan kurban 1433 H. Tahun 1434 H ini, kembali akan disalurkan kurban berupa kambing maupun sapi ke desa binaan pesantren. Masjid Tempat Penyaluran Kurban 15 masjid binaan Pesantren Darush Sholihin di Dusun Warak sekitarnya, 15 desa binaan Ustadz Sa’id (Mudir Al I’tisham Wonosari) disebar di Wonosari sekitarnya, 5 desa binaan Ustadz Musthofa Jaryono di Panggang dan Saptosari sekitarnya, 3 desa binaan Ustadz Muslam di Imogiri Bantul. Perkiraan masjid yang akan disalurkan: 38 masjid. Perkiraan qurban yang dibutuhkan: 130 ekor kambing (minimal). Biaya Kurban 1- Kambing standar (ukuran berat: 22-30 kg): Rp.1.300.000 s/d Rp.1.600.000,-2- Kambing super (ukuran berat: 31-40 kg): Rp.1.700.000 s/d Rp.2.000.000,-3- Kambing istimewa (ukuran berat: 41-55 kg): Rp.2.000.000 s/d Rp.2.500.000,-4- Sapi: Rp.10.500.000,- dengan patungan untuk 7 orang @ Rp.1.500.000,- Biaya di atas sudah include (termasuk) biaya transportasi ke masjid-masjid, upah penyembelihan dan administrasi. Jika tidak mencukupi, kekurangannya akan ditanggung pihak Pesantren Darush Sholihin. Keterangan: Kambing standar rata-rata berjenis kelamin betina. Cara Penyaluran Melalui Transfer Uang Bagi yang berminat menyalurkan dananya untuk kurban di desa miskin Gunungkidul dan sekitarnya, silakan menyalurkan lewat rekening Usaha Mandiri Pesantren Darush Sholihin: 1- Rekening BCA KCP Wonosari 8950212188 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. 2- Rekening Mandiri Wonosari 900-00-1943432-4 atas nama Muhammad Abduh Tuasikal. Lalu kirim konfirmasi via sms 0852 00 171 222 atau via PIN BB 2A04EA0F dengan format: nama shohibul qurban, alamat, keperluan transfer, tanggal transfer, rekening tujuan, jumlah kurban, jenis kelas kambing . Contoh format: Ahmad sekeluarga#Jogja#qurban#28 Agustus 2013#Rp.1.700.000#Bank Mandiri#1 kambing#super. Kontak kami: 0852 00 171 222 (Usaha Mandiri Pesantren Darush Sholihin) Jika butuh rekening lain, silakan hubungi kontak di atas. Setelah transfer, nanti akan diminta email atau no HP untuk konfirmasi atau pemberitahuan bahwa kurban telah disembelih pada hari H. Batas Akhir Penerimaan Dana Kurban 20 Dzulqo’dah 1434 H (Kamis, 26 September 2013), pukul 23.59 WIB Manfaat Menyalurkan Kurban ke Daerah Lain Syaikh Sulaiman bin Nashir Al Ulwan berkata, “Kami melihat tidak mengapa berfatwa membolehkan memindahkan penyembelihan qurban ke daerah lain di mana di daerah tersebut kaum muslimin sangat butuh. Sejumlah besar kaum muslimin saat ini tergeletak di tanah, di bawah langit terbuka, dalam keadaan tak punya apa-apa, bahkan ada yang sampai mati kelaparan, dan perlunya kita berdiri bersanding dengan mereka karena mereka memang betul-betul butuh uluran tangan kita. Kita bisa membantu keadaan mereka dengan zakat dan sedekah, juga dengan qurban yang ditransfer ke negeri mereka. Jadi syari’at qurban sebenarnya tidak mengharuskan melakukan di negeri shohibul qurban. Walau kita tidak bisa menyantap hasil qurban yang kita miliki, namun kita memperoleh keutamaan karena telah menolong fakir miskin yang muslim yang benar-benar butuh.” Selengkapnya lihat di sini Ibnul Qayyim berkata, “Penyembelihan yang dilakukan di waktu mulia lebih afdhol daripada sedekah senilai penyembelihan tersebut. Oleh karenanya jika seseorang bersedekah untuk menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik tamattu’ dan qiron meskipun dengan sedekah yang bernilai berlipat ganda, tentu tidak bisa menyamai keutamaan udhiyah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim no. 2558) السَّاعِى عَلَى اْلأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِيْنِ كَالْمُجَاهِدِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ –وَأَحْسِبُهُ قَالَ-: وَكَالْقَائِمِ لاَ يَفْتُرُ وَكَالصَّائِمِ لاَ يُفْطِرُ. “Orang yang membiayai kehidupan para janda dan orang-orang miskin bagaikan orang yang berjihad fii sabiilillaah.” –Saya (perawi) kira beliau bersabda-, “Dan bagaikan orang yang shalat tanpa merasa bosan serta bagaikan orang yang berpuasa terus-menerus” (HR. Muslim no. 2982). Semoga Allah membalas kebaikan kaum muslimin yang telah turut serta dalam donasi kurban Pesantren Darush Sholihin pada tahun 1434 H ini. — Pimpinan Pesantren Darush SholihinMuhammad Abduh Tuasikal, MSc   Ruwaifi.Com | DarushSholihin.Com | Rumaysho.Com Sumber: http://ruwaifi.com/kurban-gunungkidul-sekitarnya-1434-h/ Tagstebar qurban

Terhinakan Karena Maksiat

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkataوكان من دعاء بعض السلف : اللَهُمَّ أَعِزَّنِي بِطَاعَتِكَ ، وَلاَ تُذِلَّنِي بِمَعْصِيَتِكَ .“Diantara doa sebagian generasi as-salaf as-sholih : “Ya Allah, muliakanlah aku dengan ketaatan kepadaMu, dan janganlah Engkau hinakan diriku dengan bermaksiat kepadaMu” (Ad-Daa’ wa ad-Dawaa’ 94) 

Terhinakan Karena Maksiat

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkataوكان من دعاء بعض السلف : اللَهُمَّ أَعِزَّنِي بِطَاعَتِكَ ، وَلاَ تُذِلَّنِي بِمَعْصِيَتِكَ .“Diantara doa sebagian generasi as-salaf as-sholih : “Ya Allah, muliakanlah aku dengan ketaatan kepadaMu, dan janganlah Engkau hinakan diriku dengan bermaksiat kepadaMu” (Ad-Daa’ wa ad-Dawaa’ 94) 
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkataوكان من دعاء بعض السلف : اللَهُمَّ أَعِزَّنِي بِطَاعَتِكَ ، وَلاَ تُذِلَّنِي بِمَعْصِيَتِكَ .“Diantara doa sebagian generasi as-salaf as-sholih : “Ya Allah, muliakanlah aku dengan ketaatan kepadaMu, dan janganlah Engkau hinakan diriku dengan bermaksiat kepadaMu” (Ad-Daa’ wa ad-Dawaa’ 94) 


Ibnul Qoyyim rahimahullah berkataوكان من دعاء بعض السلف : اللَهُمَّ أَعِزَّنِي بِطَاعَتِكَ ، وَلاَ تُذِلَّنِي بِمَعْصِيَتِكَ .“Diantara doa sebagian generasi as-salaf as-sholih : “Ya Allah, muliakanlah aku dengan ketaatan kepadaMu, dan janganlah Engkau hinakan diriku dengan bermaksiat kepadaMu” (Ad-Daa’ wa ad-Dawaa’ 94) 

Selamat tinggal Indonesia ….

Selamat tinggal para sahabatku para pejuang dakwah….Mereka yang mengorbankan harta dan waktunya untuk agama Allah…Tidak ada yang sia-sia…Setiap tetes keringat… Setiap kerutan dahi karena memikirkan dakwah… Setiap senyuman yg ditebar karena dakwah…setiap detik yg bergulir….Semuanya tercatat…kalian akan melihat buahnya…di hari yang dollar dan dinar tiada harganya… Teruskanlah perjuangan kalian di bumi pertiwi tercinta… Jangan pernah pesimis…jika disertai usah dan doa maka optimislah…!!!أستودعكم الله الذي لا تضيع ودائعهSelamat tinggal pula bebek goreng…, mie ayam…sate madura…gado-gado..menuju nasi mandi dan ayam al-baik…

Selamat tinggal Indonesia ….

Selamat tinggal para sahabatku para pejuang dakwah….Mereka yang mengorbankan harta dan waktunya untuk agama Allah…Tidak ada yang sia-sia…Setiap tetes keringat… Setiap kerutan dahi karena memikirkan dakwah… Setiap senyuman yg ditebar karena dakwah…setiap detik yg bergulir….Semuanya tercatat…kalian akan melihat buahnya…di hari yang dollar dan dinar tiada harganya… Teruskanlah perjuangan kalian di bumi pertiwi tercinta… Jangan pernah pesimis…jika disertai usah dan doa maka optimislah…!!!أستودعكم الله الذي لا تضيع ودائعهSelamat tinggal pula bebek goreng…, mie ayam…sate madura…gado-gado..menuju nasi mandi dan ayam al-baik…
Selamat tinggal para sahabatku para pejuang dakwah….Mereka yang mengorbankan harta dan waktunya untuk agama Allah…Tidak ada yang sia-sia…Setiap tetes keringat… Setiap kerutan dahi karena memikirkan dakwah… Setiap senyuman yg ditebar karena dakwah…setiap detik yg bergulir….Semuanya tercatat…kalian akan melihat buahnya…di hari yang dollar dan dinar tiada harganya… Teruskanlah perjuangan kalian di bumi pertiwi tercinta… Jangan pernah pesimis…jika disertai usah dan doa maka optimislah…!!!أستودعكم الله الذي لا تضيع ودائعهSelamat tinggal pula bebek goreng…, mie ayam…sate madura…gado-gado..menuju nasi mandi dan ayam al-baik…


Selamat tinggal para sahabatku para pejuang dakwah….Mereka yang mengorbankan harta dan waktunya untuk agama Allah…Tidak ada yang sia-sia…Setiap tetes keringat… Setiap kerutan dahi karena memikirkan dakwah… Setiap senyuman yg ditebar karena dakwah…setiap detik yg bergulir….Semuanya tercatat…kalian akan melihat buahnya…di hari yang dollar dan dinar tiada harganya… Teruskanlah perjuangan kalian di bumi pertiwi tercinta… Jangan pernah pesimis…jika disertai usah dan doa maka optimislah…!!!أستودعكم الله الذي لا تضيع ودائعهSelamat tinggal pula bebek goreng…, mie ayam…sate madura…gado-gado..menuju nasi mandi dan ayam al-baik…

Akhir Waktu Dzikir Petang

Kapan akhir waktu dzikir petang (sore)? Mengenai masalah awal waktu dzikir petang sudah dikaji dalam artikel “Kapan Waktu Dzikir Pagi dan Petang?” Kesimpulan yang penulis pilih, awal waktu dzikir petang dimulai dari tenggelamnya matahari. Namun mengenai waktu akhirnya yang dipilih adalah hingga pertengahan malam. Mengenai akhir waktu dzikir petang inilah yang akan penulis kembali ulas. Perlu diketahui bahwa penulis mengambil kesimpulan di atas dari kitab yang ditulis oleh seorang ulama yang bernama Abu ’Abdil Baari Al ’Ied bin Sa’ad Sarifiy dalam kitab beliau Tabshirotul A’masy bi Wakti Adzkarish Shobaah wal Masaa’. Jadi, kesimpulan yang penulis ambil bukanlah kesimpulan penulis pribadi. Namun pendapat yang dipilih adalah setelah melihat ulasan dalil yang memuaskan dari Syaikh dari kitab beliau tadi. Berikut kami kembali menukil dari kitab tersebut tentang akhir waktu dzikir petang. Syaikh Abu ‘Abdil Baari berkata, “Aku sedikit menambah penjelasan mengenai akhir waktu dzikir petang. Sependek pengetahuanku, tidak ada dalil shahih dan sharih (tegas) yang mungkin dijadikan sandaran (khusus) tentang pembahatan akhir waktu dzikir petang. Oleh karenanya, kita mesti merujuk pada dalil syar’i yang sifatnya umum. Karena dari dalil umum tersebut, kita bisa mendapat isyarat atau petunjuk akan masalah itu sehingga bisa membantu dalam menentukan akhir waktu dzikir petang. Jika kita kembali merujuk pada hadits ‘Utsman yang telah disebutkan sebelumnya, مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِى صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ “Tidaklah seorang hamba mengucapkan di pagi setiap harinya dan di petang setiap malamnya …“[1] Kita bisa ambil kesimpulan dari hadits ini bahwa yang dimaksud masaa’ (petang) adalah sebagian malam, bukan keseluruhan malam. Ini adalah kesimpulan karena memahami hadits nabawi dan juga pemahaman dari atsar Ibnu ‘Abbas yang telah disebutkan di mana beliau menjadikan masaa’ (petang) sebagai waktu khusus untuk shalat Maghrib. Sedangkan waktu Maghrib dianggap bisa menyatu dengan waktu ‘Isya’ bagi orang yang menjamak shalat saat safar, begitu juga ketika jamak saat mukim bagi yang punya hajat. Kami simpulkan bahwa waktu akhir dzikir masaa’ (petang) adalah pertengahan malam. Alasan lainnya pula karena waktu akhir shalat ‘Isya adalah pertengahan malam. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam hadits seperti hadits Abu Hurairah, إِنَّ لِلصَّلاَةِ أَوَّلاً وَآخِرًا وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ صَلاَةِ الظُّهْرِ حِينَ تَزُولُ الشَّمْسُ وَآخِرَ وَقْتِهَا حِينَ يَدْخُلُ وَقْتُ الْعَصْرِ وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ صَلاَةِ الْعَصْرِ حِينَ يَدْخُلُ وَقْتُهَا وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِينَ تَصْفَرُّ الشَّمْسُ وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ الْمَغْرِبِ حِينَ تَغْرُبُ الشَّمْسُ وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِينَ يَغِيبُ الأُفُقُ وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ الْعِشَاءِ الآخِرَةِ حِينَ يَغِيبُ الأُفُقُ وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِينَ يَنْتَصِفُ اللَّيْلُ وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ الْفَجْرِ حِينَ يَطْلُعُ الْفَجْرُ وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ “Shalat itu memiliki waktu awal dan akhir. Awal waktu shalat Zhuhur adalah ketika matahari tergelincir ke arah barat dan waktu akhirnya adalah ketika masuk waktu ‘Ashar. Waktu shalat ‘Ashar adalah ketika masuk waktunya dan akhir waktunya adalah saat matahari menguning. Waktu shalat Maghrib adalah ketika matahari tenggelam hingga cahaya di ufuk barat hilang. Waktu shalat ‘Isya’ adalah ketika cahaya di ufuk barat hilang dan akhir waktu Isya’ adalah hingga pertengahan malam. Sedangkan awal waktu shalat Shubuh adalah ketika terbit fajar dan akhir waktunya adalah ketika matahari terbit.” Hadits di atas dikeluarkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (2/ 232/ 7172) dan Tirmidzi dalam Sunannya (1/ 282/151), Ad Daruquthni dalam Sunannya (1/ 262), Al Baihaqi dalam Sunannya (1/ 375) dan Syaikh Al Albani menshahihkannya dalam Ash Shahihah (1696). Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai waktu shalat, lantas beliau menjawab, وَقْتُ صَلاَةِ الْفَجْرِ مَا لَمْ يَطْلُعْ قَرْنُ الشَّمْسِ الأَوَّلُ وَوَقْتُ صَلاَةِ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ عَنْ بَطْنِ السَّمَاءِ مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ وَيَسْقُطْ قَرْنُهَا الأَوَّلُ وَوَقْتُ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ مَا لَمْ يَسْقُطِ الشَّفَقُ وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ “Waktu shalat Shubuh adalah selama tanduk matahari pertama belum muncul (maksudnya: terbit matahari). Waktu shalat Zhuhur adalah ketika matahari telah tergelincir (ke barat) dari puncaknya selama belum masuk waktu shalat ‘Ashar. Waktu shalat ‘Ashar adalah selama matahari belum menguning dan belum gugur tanduk matahari yang pertama. Waktu shalat Maghrib adalah ketika matahari tenggelam selama cahaya di ufuk barat belum hilang. Sedangkan waktu shalat ‘Isya’ adalah hingga pertengahan malam.“. Hadits di atas dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya (2/ 105/ 1420) dan dikeluarkan pula oleh lainnya. Imam Syafi’i rahimahullah berkata dalam Ahkamul Qur’an (1/ 57), beliau mengatakan mengenai firman Allah, فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ “Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari” (QS. Ar Rum: 17) yaitu maksudnya adalah waktu Maghrib dan ‘Isya’. وَحِينَ تُصْبِحُونَ “dan waktu kamu berada di waktu subuh” yaitu maksudnya adalah waktu Shubuh. وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا “dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari” yaitu maksudnya adalah waktu ‘Ashar. وَحِينَ تُظْهِرُونَ “dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur” yaitu maksudnya adalah waktu Zhuhur. Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Itulah yang semisal dikatakan. Wallahu a’lam.” Ibnu Taimiyah juga mengatakan dalam Jami’ul Masail (6/ 344), dan telah disebutkan mengena dalil waktu shalat dalam ayat lainnya, فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ  وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ “Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur” (QS. Ar Rum: 17-18). Jelaslah bahwa bagi Allah segala puji di langit dan di bumi ketika pagi, ketika masaa’ (petang), ketika ‘asyiy, dan ketika izhar. Yang dimaksud masaa’ adalah saat Maghrib dan ‘Isya’. Yang dimaksud Shubuh adalah saat telah terbit fajar. Yang dimaksud ‘asyiy adalah waktu ‘Ashar. Sedangkan izhar adalah ketika Zhuhur. Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi rahimahullah dalam Adhwaul Bayan (1/280) berkata bahwa di antara ayat yang mengisyaratkan waktu shalat sebagaimana dikatakan oleh para ulama adalah firman Allah, فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ  وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ “Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur” (QS. Ar Rum: 17-18). Yang dimaksud tasbih dalam ayat di atas adalah shalat. Adapun maksud masaa’ dalam ayat tersebu adalah Maghrib dan ‘Isya’. Hiina tusbihun yang dimaksud adalah waktu Shubuh. Sedangkan ‘asyiya yang dimaksud adalah waktu ‘Ashar. Dan terakhir hiina tuzhiruun adalah waktu shalat Zhuhur. (*) Demikian penjelasan dari Abu ’Abdil Baari Al ’Ied bin Sa’ad Sarifiy dalam kitab beliau Tabshirotul A’masy bi Wakti Adzkarish Shobaah wal Masaa’ (hal. 33-35) tentang akhir waktu Shalat ‘Isya’. Kesimpulannya, dzikir petang boleh dibaca hingga pertengahan malam. Waktu malam dihitung mulai dari Maghrib hingga Shubuh, yaitu sekitar 10 jam. Pertengahan itulah yang dimaksud. Penjelasan di atas sekaligus menguatkan bahwa yang dimaksud masaa’ (waktu dzikir petang) adalah malam hari. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam hadits ‘Utsman yang telah lewat, وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ “Dan waktu masaa’ (petang) setiap malamnya“. Begitu pula dikuatkan dengan penjelasan Imam Syafi’i, Ibnu Taimiyah dan Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi yang menafsirkan masaa’ (petang) dengan waktu Maghrib dan Isya’. Sehingga kesimpulan yang penulis pilih, dzikir masaa‘ (petang) dimulai dari tenggelamnya matahari (waktu Maghrib) dan berakhir pada pertengahan malam. Wallahu a’lam bish showab. Baca pula di Rumaysho.Com: 1. Bacaan dzikir pagi. 2. Bacaan dzikir petang. Hanya Allah yang memberi petunjuk dan kepahaman. Referensi: Tabshirotul A’masy bi Wakti Adzkarish Shobaah wal Masaa’, Abu ’Abdil Baari Al ’Ied bin Sa’ad Sarifiy, terbitan Maktabah Al Ghuroba’ Al Atsariyyah, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 33-35. Selesai disusun pukul 08.59 WIB di pagi penuh berkah, 22 Syawal 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul Artikel www.rumaysho.com   [1] Hadits selengkapnya dari ‘Utsman, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِى صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَيَضُرُّهُ شَىْءٌ » “Tidaklah seseorang mengucapkan di pagi setiap harinya dan di waktu petang (masaa’) setiap malamnya bacaan ‘bismillahilladzi laa yadhurrru ma’asmihi sya-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘alim’ (Dengan menyebut nama Allah yang tidak ada yang bisa memberikan celakan dengan nama-Nya di bumi maupun di langit, Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka tidak ada yang bisa mencelakainya.'” (HR. Tirmidzi no. 3388 dan Ibnu Majah no. 3869. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Tagsdzikir pagi petang dzikir petang

Akhir Waktu Dzikir Petang

Kapan akhir waktu dzikir petang (sore)? Mengenai masalah awal waktu dzikir petang sudah dikaji dalam artikel “Kapan Waktu Dzikir Pagi dan Petang?” Kesimpulan yang penulis pilih, awal waktu dzikir petang dimulai dari tenggelamnya matahari. Namun mengenai waktu akhirnya yang dipilih adalah hingga pertengahan malam. Mengenai akhir waktu dzikir petang inilah yang akan penulis kembali ulas. Perlu diketahui bahwa penulis mengambil kesimpulan di atas dari kitab yang ditulis oleh seorang ulama yang bernama Abu ’Abdil Baari Al ’Ied bin Sa’ad Sarifiy dalam kitab beliau Tabshirotul A’masy bi Wakti Adzkarish Shobaah wal Masaa’. Jadi, kesimpulan yang penulis ambil bukanlah kesimpulan penulis pribadi. Namun pendapat yang dipilih adalah setelah melihat ulasan dalil yang memuaskan dari Syaikh dari kitab beliau tadi. Berikut kami kembali menukil dari kitab tersebut tentang akhir waktu dzikir petang. Syaikh Abu ‘Abdil Baari berkata, “Aku sedikit menambah penjelasan mengenai akhir waktu dzikir petang. Sependek pengetahuanku, tidak ada dalil shahih dan sharih (tegas) yang mungkin dijadikan sandaran (khusus) tentang pembahatan akhir waktu dzikir petang. Oleh karenanya, kita mesti merujuk pada dalil syar’i yang sifatnya umum. Karena dari dalil umum tersebut, kita bisa mendapat isyarat atau petunjuk akan masalah itu sehingga bisa membantu dalam menentukan akhir waktu dzikir petang. Jika kita kembali merujuk pada hadits ‘Utsman yang telah disebutkan sebelumnya, مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِى صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ “Tidaklah seorang hamba mengucapkan di pagi setiap harinya dan di petang setiap malamnya …“[1] Kita bisa ambil kesimpulan dari hadits ini bahwa yang dimaksud masaa’ (petang) adalah sebagian malam, bukan keseluruhan malam. Ini adalah kesimpulan karena memahami hadits nabawi dan juga pemahaman dari atsar Ibnu ‘Abbas yang telah disebutkan di mana beliau menjadikan masaa’ (petang) sebagai waktu khusus untuk shalat Maghrib. Sedangkan waktu Maghrib dianggap bisa menyatu dengan waktu ‘Isya’ bagi orang yang menjamak shalat saat safar, begitu juga ketika jamak saat mukim bagi yang punya hajat. Kami simpulkan bahwa waktu akhir dzikir masaa’ (petang) adalah pertengahan malam. Alasan lainnya pula karena waktu akhir shalat ‘Isya adalah pertengahan malam. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam hadits seperti hadits Abu Hurairah, إِنَّ لِلصَّلاَةِ أَوَّلاً وَآخِرًا وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ صَلاَةِ الظُّهْرِ حِينَ تَزُولُ الشَّمْسُ وَآخِرَ وَقْتِهَا حِينَ يَدْخُلُ وَقْتُ الْعَصْرِ وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ صَلاَةِ الْعَصْرِ حِينَ يَدْخُلُ وَقْتُهَا وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِينَ تَصْفَرُّ الشَّمْسُ وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ الْمَغْرِبِ حِينَ تَغْرُبُ الشَّمْسُ وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِينَ يَغِيبُ الأُفُقُ وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ الْعِشَاءِ الآخِرَةِ حِينَ يَغِيبُ الأُفُقُ وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِينَ يَنْتَصِفُ اللَّيْلُ وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ الْفَجْرِ حِينَ يَطْلُعُ الْفَجْرُ وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ “Shalat itu memiliki waktu awal dan akhir. Awal waktu shalat Zhuhur adalah ketika matahari tergelincir ke arah barat dan waktu akhirnya adalah ketika masuk waktu ‘Ashar. Waktu shalat ‘Ashar adalah ketika masuk waktunya dan akhir waktunya adalah saat matahari menguning. Waktu shalat Maghrib adalah ketika matahari tenggelam hingga cahaya di ufuk barat hilang. Waktu shalat ‘Isya’ adalah ketika cahaya di ufuk barat hilang dan akhir waktu Isya’ adalah hingga pertengahan malam. Sedangkan awal waktu shalat Shubuh adalah ketika terbit fajar dan akhir waktunya adalah ketika matahari terbit.” Hadits di atas dikeluarkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (2/ 232/ 7172) dan Tirmidzi dalam Sunannya (1/ 282/151), Ad Daruquthni dalam Sunannya (1/ 262), Al Baihaqi dalam Sunannya (1/ 375) dan Syaikh Al Albani menshahihkannya dalam Ash Shahihah (1696). Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai waktu shalat, lantas beliau menjawab, وَقْتُ صَلاَةِ الْفَجْرِ مَا لَمْ يَطْلُعْ قَرْنُ الشَّمْسِ الأَوَّلُ وَوَقْتُ صَلاَةِ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ عَنْ بَطْنِ السَّمَاءِ مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ وَيَسْقُطْ قَرْنُهَا الأَوَّلُ وَوَقْتُ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ مَا لَمْ يَسْقُطِ الشَّفَقُ وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ “Waktu shalat Shubuh adalah selama tanduk matahari pertama belum muncul (maksudnya: terbit matahari). Waktu shalat Zhuhur adalah ketika matahari telah tergelincir (ke barat) dari puncaknya selama belum masuk waktu shalat ‘Ashar. Waktu shalat ‘Ashar adalah selama matahari belum menguning dan belum gugur tanduk matahari yang pertama. Waktu shalat Maghrib adalah ketika matahari tenggelam selama cahaya di ufuk barat belum hilang. Sedangkan waktu shalat ‘Isya’ adalah hingga pertengahan malam.“. Hadits di atas dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya (2/ 105/ 1420) dan dikeluarkan pula oleh lainnya. Imam Syafi’i rahimahullah berkata dalam Ahkamul Qur’an (1/ 57), beliau mengatakan mengenai firman Allah, فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ “Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari” (QS. Ar Rum: 17) yaitu maksudnya adalah waktu Maghrib dan ‘Isya’. وَحِينَ تُصْبِحُونَ “dan waktu kamu berada di waktu subuh” yaitu maksudnya adalah waktu Shubuh. وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا “dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari” yaitu maksudnya adalah waktu ‘Ashar. وَحِينَ تُظْهِرُونَ “dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur” yaitu maksudnya adalah waktu Zhuhur. Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Itulah yang semisal dikatakan. Wallahu a’lam.” Ibnu Taimiyah juga mengatakan dalam Jami’ul Masail (6/ 344), dan telah disebutkan mengena dalil waktu shalat dalam ayat lainnya, فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ  وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ “Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur” (QS. Ar Rum: 17-18). Jelaslah bahwa bagi Allah segala puji di langit dan di bumi ketika pagi, ketika masaa’ (petang), ketika ‘asyiy, dan ketika izhar. Yang dimaksud masaa’ adalah saat Maghrib dan ‘Isya’. Yang dimaksud Shubuh adalah saat telah terbit fajar. Yang dimaksud ‘asyiy adalah waktu ‘Ashar. Sedangkan izhar adalah ketika Zhuhur. Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi rahimahullah dalam Adhwaul Bayan (1/280) berkata bahwa di antara ayat yang mengisyaratkan waktu shalat sebagaimana dikatakan oleh para ulama adalah firman Allah, فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ  وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ “Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur” (QS. Ar Rum: 17-18). Yang dimaksud tasbih dalam ayat di atas adalah shalat. Adapun maksud masaa’ dalam ayat tersebu adalah Maghrib dan ‘Isya’. Hiina tusbihun yang dimaksud adalah waktu Shubuh. Sedangkan ‘asyiya yang dimaksud adalah waktu ‘Ashar. Dan terakhir hiina tuzhiruun adalah waktu shalat Zhuhur. (*) Demikian penjelasan dari Abu ’Abdil Baari Al ’Ied bin Sa’ad Sarifiy dalam kitab beliau Tabshirotul A’masy bi Wakti Adzkarish Shobaah wal Masaa’ (hal. 33-35) tentang akhir waktu Shalat ‘Isya’. Kesimpulannya, dzikir petang boleh dibaca hingga pertengahan malam. Waktu malam dihitung mulai dari Maghrib hingga Shubuh, yaitu sekitar 10 jam. Pertengahan itulah yang dimaksud. Penjelasan di atas sekaligus menguatkan bahwa yang dimaksud masaa’ (waktu dzikir petang) adalah malam hari. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam hadits ‘Utsman yang telah lewat, وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ “Dan waktu masaa’ (petang) setiap malamnya“. Begitu pula dikuatkan dengan penjelasan Imam Syafi’i, Ibnu Taimiyah dan Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi yang menafsirkan masaa’ (petang) dengan waktu Maghrib dan Isya’. Sehingga kesimpulan yang penulis pilih, dzikir masaa‘ (petang) dimulai dari tenggelamnya matahari (waktu Maghrib) dan berakhir pada pertengahan malam. Wallahu a’lam bish showab. Baca pula di Rumaysho.Com: 1. Bacaan dzikir pagi. 2. Bacaan dzikir petang. Hanya Allah yang memberi petunjuk dan kepahaman. Referensi: Tabshirotul A’masy bi Wakti Adzkarish Shobaah wal Masaa’, Abu ’Abdil Baari Al ’Ied bin Sa’ad Sarifiy, terbitan Maktabah Al Ghuroba’ Al Atsariyyah, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 33-35. Selesai disusun pukul 08.59 WIB di pagi penuh berkah, 22 Syawal 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul Artikel www.rumaysho.com   [1] Hadits selengkapnya dari ‘Utsman, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِى صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَيَضُرُّهُ شَىْءٌ » “Tidaklah seseorang mengucapkan di pagi setiap harinya dan di waktu petang (masaa’) setiap malamnya bacaan ‘bismillahilladzi laa yadhurrru ma’asmihi sya-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘alim’ (Dengan menyebut nama Allah yang tidak ada yang bisa memberikan celakan dengan nama-Nya di bumi maupun di langit, Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka tidak ada yang bisa mencelakainya.'” (HR. Tirmidzi no. 3388 dan Ibnu Majah no. 3869. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Tagsdzikir pagi petang dzikir petang
Kapan akhir waktu dzikir petang (sore)? Mengenai masalah awal waktu dzikir petang sudah dikaji dalam artikel “Kapan Waktu Dzikir Pagi dan Petang?” Kesimpulan yang penulis pilih, awal waktu dzikir petang dimulai dari tenggelamnya matahari. Namun mengenai waktu akhirnya yang dipilih adalah hingga pertengahan malam. Mengenai akhir waktu dzikir petang inilah yang akan penulis kembali ulas. Perlu diketahui bahwa penulis mengambil kesimpulan di atas dari kitab yang ditulis oleh seorang ulama yang bernama Abu ’Abdil Baari Al ’Ied bin Sa’ad Sarifiy dalam kitab beliau Tabshirotul A’masy bi Wakti Adzkarish Shobaah wal Masaa’. Jadi, kesimpulan yang penulis ambil bukanlah kesimpulan penulis pribadi. Namun pendapat yang dipilih adalah setelah melihat ulasan dalil yang memuaskan dari Syaikh dari kitab beliau tadi. Berikut kami kembali menukil dari kitab tersebut tentang akhir waktu dzikir petang. Syaikh Abu ‘Abdil Baari berkata, “Aku sedikit menambah penjelasan mengenai akhir waktu dzikir petang. Sependek pengetahuanku, tidak ada dalil shahih dan sharih (tegas) yang mungkin dijadikan sandaran (khusus) tentang pembahatan akhir waktu dzikir petang. Oleh karenanya, kita mesti merujuk pada dalil syar’i yang sifatnya umum. Karena dari dalil umum tersebut, kita bisa mendapat isyarat atau petunjuk akan masalah itu sehingga bisa membantu dalam menentukan akhir waktu dzikir petang. Jika kita kembali merujuk pada hadits ‘Utsman yang telah disebutkan sebelumnya, مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِى صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ “Tidaklah seorang hamba mengucapkan di pagi setiap harinya dan di petang setiap malamnya …“[1] Kita bisa ambil kesimpulan dari hadits ini bahwa yang dimaksud masaa’ (petang) adalah sebagian malam, bukan keseluruhan malam. Ini adalah kesimpulan karena memahami hadits nabawi dan juga pemahaman dari atsar Ibnu ‘Abbas yang telah disebutkan di mana beliau menjadikan masaa’ (petang) sebagai waktu khusus untuk shalat Maghrib. Sedangkan waktu Maghrib dianggap bisa menyatu dengan waktu ‘Isya’ bagi orang yang menjamak shalat saat safar, begitu juga ketika jamak saat mukim bagi yang punya hajat. Kami simpulkan bahwa waktu akhir dzikir masaa’ (petang) adalah pertengahan malam. Alasan lainnya pula karena waktu akhir shalat ‘Isya adalah pertengahan malam. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam hadits seperti hadits Abu Hurairah, إِنَّ لِلصَّلاَةِ أَوَّلاً وَآخِرًا وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ صَلاَةِ الظُّهْرِ حِينَ تَزُولُ الشَّمْسُ وَآخِرَ وَقْتِهَا حِينَ يَدْخُلُ وَقْتُ الْعَصْرِ وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ صَلاَةِ الْعَصْرِ حِينَ يَدْخُلُ وَقْتُهَا وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِينَ تَصْفَرُّ الشَّمْسُ وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ الْمَغْرِبِ حِينَ تَغْرُبُ الشَّمْسُ وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِينَ يَغِيبُ الأُفُقُ وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ الْعِشَاءِ الآخِرَةِ حِينَ يَغِيبُ الأُفُقُ وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِينَ يَنْتَصِفُ اللَّيْلُ وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ الْفَجْرِ حِينَ يَطْلُعُ الْفَجْرُ وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ “Shalat itu memiliki waktu awal dan akhir. Awal waktu shalat Zhuhur adalah ketika matahari tergelincir ke arah barat dan waktu akhirnya adalah ketika masuk waktu ‘Ashar. Waktu shalat ‘Ashar adalah ketika masuk waktunya dan akhir waktunya adalah saat matahari menguning. Waktu shalat Maghrib adalah ketika matahari tenggelam hingga cahaya di ufuk barat hilang. Waktu shalat ‘Isya’ adalah ketika cahaya di ufuk barat hilang dan akhir waktu Isya’ adalah hingga pertengahan malam. Sedangkan awal waktu shalat Shubuh adalah ketika terbit fajar dan akhir waktunya adalah ketika matahari terbit.” Hadits di atas dikeluarkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (2/ 232/ 7172) dan Tirmidzi dalam Sunannya (1/ 282/151), Ad Daruquthni dalam Sunannya (1/ 262), Al Baihaqi dalam Sunannya (1/ 375) dan Syaikh Al Albani menshahihkannya dalam Ash Shahihah (1696). Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai waktu shalat, lantas beliau menjawab, وَقْتُ صَلاَةِ الْفَجْرِ مَا لَمْ يَطْلُعْ قَرْنُ الشَّمْسِ الأَوَّلُ وَوَقْتُ صَلاَةِ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ عَنْ بَطْنِ السَّمَاءِ مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ وَيَسْقُطْ قَرْنُهَا الأَوَّلُ وَوَقْتُ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ مَا لَمْ يَسْقُطِ الشَّفَقُ وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ “Waktu shalat Shubuh adalah selama tanduk matahari pertama belum muncul (maksudnya: terbit matahari). Waktu shalat Zhuhur adalah ketika matahari telah tergelincir (ke barat) dari puncaknya selama belum masuk waktu shalat ‘Ashar. Waktu shalat ‘Ashar adalah selama matahari belum menguning dan belum gugur tanduk matahari yang pertama. Waktu shalat Maghrib adalah ketika matahari tenggelam selama cahaya di ufuk barat belum hilang. Sedangkan waktu shalat ‘Isya’ adalah hingga pertengahan malam.“. Hadits di atas dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya (2/ 105/ 1420) dan dikeluarkan pula oleh lainnya. Imam Syafi’i rahimahullah berkata dalam Ahkamul Qur’an (1/ 57), beliau mengatakan mengenai firman Allah, فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ “Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari” (QS. Ar Rum: 17) yaitu maksudnya adalah waktu Maghrib dan ‘Isya’. وَحِينَ تُصْبِحُونَ “dan waktu kamu berada di waktu subuh” yaitu maksudnya adalah waktu Shubuh. وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا “dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari” yaitu maksudnya adalah waktu ‘Ashar. وَحِينَ تُظْهِرُونَ “dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur” yaitu maksudnya adalah waktu Zhuhur. Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Itulah yang semisal dikatakan. Wallahu a’lam.” Ibnu Taimiyah juga mengatakan dalam Jami’ul Masail (6/ 344), dan telah disebutkan mengena dalil waktu shalat dalam ayat lainnya, فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ  وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ “Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur” (QS. Ar Rum: 17-18). Jelaslah bahwa bagi Allah segala puji di langit dan di bumi ketika pagi, ketika masaa’ (petang), ketika ‘asyiy, dan ketika izhar. Yang dimaksud masaa’ adalah saat Maghrib dan ‘Isya’. Yang dimaksud Shubuh adalah saat telah terbit fajar. Yang dimaksud ‘asyiy adalah waktu ‘Ashar. Sedangkan izhar adalah ketika Zhuhur. Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi rahimahullah dalam Adhwaul Bayan (1/280) berkata bahwa di antara ayat yang mengisyaratkan waktu shalat sebagaimana dikatakan oleh para ulama adalah firman Allah, فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ  وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ “Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur” (QS. Ar Rum: 17-18). Yang dimaksud tasbih dalam ayat di atas adalah shalat. Adapun maksud masaa’ dalam ayat tersebu adalah Maghrib dan ‘Isya’. Hiina tusbihun yang dimaksud adalah waktu Shubuh. Sedangkan ‘asyiya yang dimaksud adalah waktu ‘Ashar. Dan terakhir hiina tuzhiruun adalah waktu shalat Zhuhur. (*) Demikian penjelasan dari Abu ’Abdil Baari Al ’Ied bin Sa’ad Sarifiy dalam kitab beliau Tabshirotul A’masy bi Wakti Adzkarish Shobaah wal Masaa’ (hal. 33-35) tentang akhir waktu Shalat ‘Isya’. Kesimpulannya, dzikir petang boleh dibaca hingga pertengahan malam. Waktu malam dihitung mulai dari Maghrib hingga Shubuh, yaitu sekitar 10 jam. Pertengahan itulah yang dimaksud. Penjelasan di atas sekaligus menguatkan bahwa yang dimaksud masaa’ (waktu dzikir petang) adalah malam hari. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam hadits ‘Utsman yang telah lewat, وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ “Dan waktu masaa’ (petang) setiap malamnya“. Begitu pula dikuatkan dengan penjelasan Imam Syafi’i, Ibnu Taimiyah dan Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi yang menafsirkan masaa’ (petang) dengan waktu Maghrib dan Isya’. Sehingga kesimpulan yang penulis pilih, dzikir masaa‘ (petang) dimulai dari tenggelamnya matahari (waktu Maghrib) dan berakhir pada pertengahan malam. Wallahu a’lam bish showab. Baca pula di Rumaysho.Com: 1. Bacaan dzikir pagi. 2. Bacaan dzikir petang. Hanya Allah yang memberi petunjuk dan kepahaman. Referensi: Tabshirotul A’masy bi Wakti Adzkarish Shobaah wal Masaa’, Abu ’Abdil Baari Al ’Ied bin Sa’ad Sarifiy, terbitan Maktabah Al Ghuroba’ Al Atsariyyah, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 33-35. Selesai disusun pukul 08.59 WIB di pagi penuh berkah, 22 Syawal 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul Artikel www.rumaysho.com   [1] Hadits selengkapnya dari ‘Utsman, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِى صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَيَضُرُّهُ شَىْءٌ » “Tidaklah seseorang mengucapkan di pagi setiap harinya dan di waktu petang (masaa’) setiap malamnya bacaan ‘bismillahilladzi laa yadhurrru ma’asmihi sya-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘alim’ (Dengan menyebut nama Allah yang tidak ada yang bisa memberikan celakan dengan nama-Nya di bumi maupun di langit, Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka tidak ada yang bisa mencelakainya.'” (HR. Tirmidzi no. 3388 dan Ibnu Majah no. 3869. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Tagsdzikir pagi petang dzikir petang


Kapan akhir waktu dzikir petang (sore)? Mengenai masalah awal waktu dzikir petang sudah dikaji dalam artikel “Kapan Waktu Dzikir Pagi dan Petang?” Kesimpulan yang penulis pilih, awal waktu dzikir petang dimulai dari tenggelamnya matahari. Namun mengenai waktu akhirnya yang dipilih adalah hingga pertengahan malam. Mengenai akhir waktu dzikir petang inilah yang akan penulis kembali ulas. Perlu diketahui bahwa penulis mengambil kesimpulan di atas dari kitab yang ditulis oleh seorang ulama yang bernama Abu ’Abdil Baari Al ’Ied bin Sa’ad Sarifiy dalam kitab beliau Tabshirotul A’masy bi Wakti Adzkarish Shobaah wal Masaa’. Jadi, kesimpulan yang penulis ambil bukanlah kesimpulan penulis pribadi. Namun pendapat yang dipilih adalah setelah melihat ulasan dalil yang memuaskan dari Syaikh dari kitab beliau tadi. Berikut kami kembali menukil dari kitab tersebut tentang akhir waktu dzikir petang. Syaikh Abu ‘Abdil Baari berkata, “Aku sedikit menambah penjelasan mengenai akhir waktu dzikir petang. Sependek pengetahuanku, tidak ada dalil shahih dan sharih (tegas) yang mungkin dijadikan sandaran (khusus) tentang pembahatan akhir waktu dzikir petang. Oleh karenanya, kita mesti merujuk pada dalil syar’i yang sifatnya umum. Karena dari dalil umum tersebut, kita bisa mendapat isyarat atau petunjuk akan masalah itu sehingga bisa membantu dalam menentukan akhir waktu dzikir petang. Jika kita kembali merujuk pada hadits ‘Utsman yang telah disebutkan sebelumnya, مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِى صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ “Tidaklah seorang hamba mengucapkan di pagi setiap harinya dan di petang setiap malamnya …“[1] Kita bisa ambil kesimpulan dari hadits ini bahwa yang dimaksud masaa’ (petang) adalah sebagian malam, bukan keseluruhan malam. Ini adalah kesimpulan karena memahami hadits nabawi dan juga pemahaman dari atsar Ibnu ‘Abbas yang telah disebutkan di mana beliau menjadikan masaa’ (petang) sebagai waktu khusus untuk shalat Maghrib. Sedangkan waktu Maghrib dianggap bisa menyatu dengan waktu ‘Isya’ bagi orang yang menjamak shalat saat safar, begitu juga ketika jamak saat mukim bagi yang punya hajat. Kami simpulkan bahwa waktu akhir dzikir masaa’ (petang) adalah pertengahan malam. Alasan lainnya pula karena waktu akhir shalat ‘Isya adalah pertengahan malam. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam hadits seperti hadits Abu Hurairah, إِنَّ لِلصَّلاَةِ أَوَّلاً وَآخِرًا وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ صَلاَةِ الظُّهْرِ حِينَ تَزُولُ الشَّمْسُ وَآخِرَ وَقْتِهَا حِينَ يَدْخُلُ وَقْتُ الْعَصْرِ وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ صَلاَةِ الْعَصْرِ حِينَ يَدْخُلُ وَقْتُهَا وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِينَ تَصْفَرُّ الشَّمْسُ وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ الْمَغْرِبِ حِينَ تَغْرُبُ الشَّمْسُ وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِينَ يَغِيبُ الأُفُقُ وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ الْعِشَاءِ الآخِرَةِ حِينَ يَغِيبُ الأُفُقُ وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِينَ يَنْتَصِفُ اللَّيْلُ وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ الْفَجْرِ حِينَ يَطْلُعُ الْفَجْرُ وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ “Shalat itu memiliki waktu awal dan akhir. Awal waktu shalat Zhuhur adalah ketika matahari tergelincir ke arah barat dan waktu akhirnya adalah ketika masuk waktu ‘Ashar. Waktu shalat ‘Ashar adalah ketika masuk waktunya dan akhir waktunya adalah saat matahari menguning. Waktu shalat Maghrib adalah ketika matahari tenggelam hingga cahaya di ufuk barat hilang. Waktu shalat ‘Isya’ adalah ketika cahaya di ufuk barat hilang dan akhir waktu Isya’ adalah hingga pertengahan malam. Sedangkan awal waktu shalat Shubuh adalah ketika terbit fajar dan akhir waktunya adalah ketika matahari terbit.” Hadits di atas dikeluarkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (2/ 232/ 7172) dan Tirmidzi dalam Sunannya (1/ 282/151), Ad Daruquthni dalam Sunannya (1/ 262), Al Baihaqi dalam Sunannya (1/ 375) dan Syaikh Al Albani menshahihkannya dalam Ash Shahihah (1696). Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai waktu shalat, lantas beliau menjawab, وَقْتُ صَلاَةِ الْفَجْرِ مَا لَمْ يَطْلُعْ قَرْنُ الشَّمْسِ الأَوَّلُ وَوَقْتُ صَلاَةِ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ عَنْ بَطْنِ السَّمَاءِ مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ وَيَسْقُطْ قَرْنُهَا الأَوَّلُ وَوَقْتُ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ مَا لَمْ يَسْقُطِ الشَّفَقُ وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ “Waktu shalat Shubuh adalah selama tanduk matahari pertama belum muncul (maksudnya: terbit matahari). Waktu shalat Zhuhur adalah ketika matahari telah tergelincir (ke barat) dari puncaknya selama belum masuk waktu shalat ‘Ashar. Waktu shalat ‘Ashar adalah selama matahari belum menguning dan belum gugur tanduk matahari yang pertama. Waktu shalat Maghrib adalah ketika matahari tenggelam selama cahaya di ufuk barat belum hilang. Sedangkan waktu shalat ‘Isya’ adalah hingga pertengahan malam.“. Hadits di atas dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya (2/ 105/ 1420) dan dikeluarkan pula oleh lainnya. Imam Syafi’i rahimahullah berkata dalam Ahkamul Qur’an (1/ 57), beliau mengatakan mengenai firman Allah, فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ “Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari” (QS. Ar Rum: 17) yaitu maksudnya adalah waktu Maghrib dan ‘Isya’. وَحِينَ تُصْبِحُونَ “dan waktu kamu berada di waktu subuh” yaitu maksudnya adalah waktu Shubuh. وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا “dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari” yaitu maksudnya adalah waktu ‘Ashar. وَحِينَ تُظْهِرُونَ “dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur” yaitu maksudnya adalah waktu Zhuhur. Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Itulah yang semisal dikatakan. Wallahu a’lam.” Ibnu Taimiyah juga mengatakan dalam Jami’ul Masail (6/ 344), dan telah disebutkan mengena dalil waktu shalat dalam ayat lainnya, فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ  وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ “Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur” (QS. Ar Rum: 17-18). Jelaslah bahwa bagi Allah segala puji di langit dan di bumi ketika pagi, ketika masaa’ (petang), ketika ‘asyiy, dan ketika izhar. Yang dimaksud masaa’ adalah saat Maghrib dan ‘Isya’. Yang dimaksud Shubuh adalah saat telah terbit fajar. Yang dimaksud ‘asyiy adalah waktu ‘Ashar. Sedangkan izhar adalah ketika Zhuhur. Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi rahimahullah dalam Adhwaul Bayan (1/280) berkata bahwa di antara ayat yang mengisyaratkan waktu shalat sebagaimana dikatakan oleh para ulama adalah firman Allah, فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ  وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ “Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur” (QS. Ar Rum: 17-18). Yang dimaksud tasbih dalam ayat di atas adalah shalat. Adapun maksud masaa’ dalam ayat tersebu adalah Maghrib dan ‘Isya’. Hiina tusbihun yang dimaksud adalah waktu Shubuh. Sedangkan ‘asyiya yang dimaksud adalah waktu ‘Ashar. Dan terakhir hiina tuzhiruun adalah waktu shalat Zhuhur. (*) Demikian penjelasan dari Abu ’Abdil Baari Al ’Ied bin Sa’ad Sarifiy dalam kitab beliau Tabshirotul A’masy bi Wakti Adzkarish Shobaah wal Masaa’ (hal. 33-35) tentang akhir waktu Shalat ‘Isya’. Kesimpulannya, dzikir petang boleh dibaca hingga pertengahan malam. Waktu malam dihitung mulai dari Maghrib hingga Shubuh, yaitu sekitar 10 jam. Pertengahan itulah yang dimaksud. Penjelasan di atas sekaligus menguatkan bahwa yang dimaksud masaa’ (waktu dzikir petang) adalah malam hari. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam hadits ‘Utsman yang telah lewat, وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ “Dan waktu masaa’ (petang) setiap malamnya“. Begitu pula dikuatkan dengan penjelasan Imam Syafi’i, Ibnu Taimiyah dan Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi yang menafsirkan masaa’ (petang) dengan waktu Maghrib dan Isya’. Sehingga kesimpulan yang penulis pilih, dzikir masaa‘ (petang) dimulai dari tenggelamnya matahari (waktu Maghrib) dan berakhir pada pertengahan malam. Wallahu a’lam bish showab. Baca pula di Rumaysho.Com: 1. Bacaan dzikir pagi. 2. Bacaan dzikir petang. Hanya Allah yang memberi petunjuk dan kepahaman. Referensi: Tabshirotul A’masy bi Wakti Adzkarish Shobaah wal Masaa’, Abu ’Abdil Baari Al ’Ied bin Sa’ad Sarifiy, terbitan Maktabah Al Ghuroba’ Al Atsariyyah, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 33-35. Selesai disusun pukul 08.59 WIB di pagi penuh berkah, 22 Syawal 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul Artikel www.rumaysho.com   [1] Hadits selengkapnya dari ‘Utsman, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِى صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَيَضُرُّهُ شَىْءٌ » “Tidaklah seseorang mengucapkan di pagi setiap harinya dan di waktu petang (masaa’) setiap malamnya bacaan ‘bismillahilladzi laa yadhurrru ma’asmihi sya-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘alim’ (Dengan menyebut nama Allah yang tidak ada yang bisa memberikan celakan dengan nama-Nya di bumi maupun di langit, Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka tidak ada yang bisa mencelakainya.'” (HR. Tirmidzi no. 3388 dan Ibnu Majah no. 3869. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Tagsdzikir pagi petang dzikir petang

Tafsir Surat Iqro’ (2): Sombong dengan Banyak Harta

Orang beriman selalu butuh pada Allah. Sedangkan sifat orang kafir merasa dirinya-lah sebab segala-galanya. Orang yang melampaui batas merasa dirinya itu sehat karena dirinya itu sendiri. Biasanya juga ia selalu sombong karena punya banyak harta. Inilah lanjutan dari surat Iqro’ (Al ‘Alaq) yang sebelumnya telah kita bahas.   Allah Ta’ala berfirman, كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى (6) أَنْ رَآَهُ اسْتَغْنَى (7) إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى (8) “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu).” (QS. Al ‘Alaq: 6-8). Manusia Telah Melampaui Batas Al Qurthubi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan thugyan (layathgho) dalam ayat adalah melampaui batas dalam bermaksiat. (Tafsir Al Qurthubi, 10: 75) Dalam ayat di atas, Allah mengabarkan bahwa manusia begitu bangga dan sombong ketika melihat dirinyalah yang paling banyak harta. Lalu Allah memberikan ancaman dalam ayat selanjutnya yang artinya, “ Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu).” Maksudnya adalah kita semua akan kembali pada Allah lalu kita akan dihisab. Kita akan ditanya dari mana harta kita dikumulkan. Kita pun akan ditanya ke mana harta kita dimanfaatkan. Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Ahzhim, 7: 604. Asy Syaukani mengatakan bahwa sesungguhnya manusia benar-benar telah melampaui batas sehingga menjadi sombong atas Rabbnya. Ada yang memaksudkan manusia dalam ayat ke-6 tersebut adalah Abu Jahl. Lihat Fathul Qodir, 5: 628. Mengenai ayat ketujuh, Asy Syaukani menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah manusia melihat dirinya serba cukup. Itulah mengapa disebut melampaui batas. Melihat dalam ayat tersebut bermakna mengetahui. Mengenai anggapan bahwa yang dimaksud secara khusus tentang ayat yang kita kaji adalah Abu Jahl tidaklah tepat. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Manusia (yang dimaksud dalam ayat ke-6) bukanlah person tertentu. Bahkan yang dimaksud adalah jenis manusia. Setiap orang yang merasa karena dirinyalah sebab segala-galanya, dialah yang dikatakan melampaui batas. Thughyan yang dimaksud dalam ayat adalah melampaui batas. Jika seseorang merasa diri sudah cukup dan tidak butuh pada rahmat Allah, dialah orang yang sombong atau melampaui batas. Jika ia tidak merasa butuh lagi pada Allah dalam menghilangkan kesulitan, itulah yang dikatakan sombong. Jika seseorang merasa dirinya cukup dengan sehat yang ia miliki, maka ia lupa dulu pernah sakit. Jika ia merasa kenyang dengan sendirinya, maka ia lupa dulu pernah lapar. Jika ia merasa sudah cukup dengan menutupi diri dengan pakaian yang ia miliki, maka ia lupa jika dulu ia pernah tidak memiliki apa-apa untuk berpakaian. Jadi di antara sikap sombong manusia adalah ia merasa dirinya-lah sebab segala-galanya, bukan dari Allah. Namun orang mukmin berbeda dengan kondisi tadi. Orang mukmin selalu butuh pada Allah. Ia tidak pernah lepas dari kebutuhan pada-Nya walau sekejap mata. Ia benar-benar setiap waktu terus butuh pada Allah.” (Tafsir Al Qur’an Al Karim – Juz ‘Amma, hal. 264). Dua Orang yang Tidak Pernah Puas Ada dua orang yang tidak pernah puas yaitu pencari ilmu akhirat (ilmu diin) dan pencari dunia. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas, مَنْهُومَانِ لاَ يَشْبَعَانِ : طَالِبُ عِلْمٍ وَطَالِبُ دُنْيَا “Ada dua orang yang begitu rakus dan tidak pernah merasa kenyang: (1) penuntut ilmu (agama) dan (2) pencari dunia.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrok 1: 92. Dishahihkan oleh Al Hakim dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi). Karena memang demikian, orang yang saking gandrungnya tidak akan pernah puas sehingga terus mencari dunia dan dunia. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ “Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048) Sedangkan penuntut ilmu akan terus mencari ilmu dan ilmu setiap hari, setiap waktu dan di setiap tempat. Karena mengetahui bagaimanakah agung dan utamanya ilmu agama. Masih berlanjut tafsir surat iqro’ dalam pertemuan lainnya, insya Allah. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Fathul Qodir, Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Asy Syaukani, terbitan Dar Ibni Hazm dan Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H. Tafsir Al Qurthubi (Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an), Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad Al Anshori, terbitan Darul Fikr, cetakan pertama, tahun 1428 H. Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H. Tafsir Al Qur’an Al Karim – Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Dar Tsuraya, cetakan ketiga, tahun 1424 H. — Selesai disusun pukul 10.37 WIB, 22 Syawal 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul Artikel www.rumaysho.com   Silakan follow status kami via Twitter @RumayshoCom, FB Muhammad Abduh Tuasikal dan FB Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat Kunjungi tiga web kami lainnya: (1) Pesantren DarushSholihin, (2) Bisnis Pesantren di Ruwaifi.Com, (3) Belajar tentang Plastik Tagssombong tafsir juz amma

Tafsir Surat Iqro’ (2): Sombong dengan Banyak Harta

Orang beriman selalu butuh pada Allah. Sedangkan sifat orang kafir merasa dirinya-lah sebab segala-galanya. Orang yang melampaui batas merasa dirinya itu sehat karena dirinya itu sendiri. Biasanya juga ia selalu sombong karena punya banyak harta. Inilah lanjutan dari surat Iqro’ (Al ‘Alaq) yang sebelumnya telah kita bahas.   Allah Ta’ala berfirman, كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى (6) أَنْ رَآَهُ اسْتَغْنَى (7) إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى (8) “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu).” (QS. Al ‘Alaq: 6-8). Manusia Telah Melampaui Batas Al Qurthubi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan thugyan (layathgho) dalam ayat adalah melampaui batas dalam bermaksiat. (Tafsir Al Qurthubi, 10: 75) Dalam ayat di atas, Allah mengabarkan bahwa manusia begitu bangga dan sombong ketika melihat dirinyalah yang paling banyak harta. Lalu Allah memberikan ancaman dalam ayat selanjutnya yang artinya, “ Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu).” Maksudnya adalah kita semua akan kembali pada Allah lalu kita akan dihisab. Kita akan ditanya dari mana harta kita dikumulkan. Kita pun akan ditanya ke mana harta kita dimanfaatkan. Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Ahzhim, 7: 604. Asy Syaukani mengatakan bahwa sesungguhnya manusia benar-benar telah melampaui batas sehingga menjadi sombong atas Rabbnya. Ada yang memaksudkan manusia dalam ayat ke-6 tersebut adalah Abu Jahl. Lihat Fathul Qodir, 5: 628. Mengenai ayat ketujuh, Asy Syaukani menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah manusia melihat dirinya serba cukup. Itulah mengapa disebut melampaui batas. Melihat dalam ayat tersebut bermakna mengetahui. Mengenai anggapan bahwa yang dimaksud secara khusus tentang ayat yang kita kaji adalah Abu Jahl tidaklah tepat. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Manusia (yang dimaksud dalam ayat ke-6) bukanlah person tertentu. Bahkan yang dimaksud adalah jenis manusia. Setiap orang yang merasa karena dirinyalah sebab segala-galanya, dialah yang dikatakan melampaui batas. Thughyan yang dimaksud dalam ayat adalah melampaui batas. Jika seseorang merasa diri sudah cukup dan tidak butuh pada rahmat Allah, dialah orang yang sombong atau melampaui batas. Jika ia tidak merasa butuh lagi pada Allah dalam menghilangkan kesulitan, itulah yang dikatakan sombong. Jika seseorang merasa dirinya cukup dengan sehat yang ia miliki, maka ia lupa dulu pernah sakit. Jika ia merasa kenyang dengan sendirinya, maka ia lupa dulu pernah lapar. Jika ia merasa sudah cukup dengan menutupi diri dengan pakaian yang ia miliki, maka ia lupa jika dulu ia pernah tidak memiliki apa-apa untuk berpakaian. Jadi di antara sikap sombong manusia adalah ia merasa dirinya-lah sebab segala-galanya, bukan dari Allah. Namun orang mukmin berbeda dengan kondisi tadi. Orang mukmin selalu butuh pada Allah. Ia tidak pernah lepas dari kebutuhan pada-Nya walau sekejap mata. Ia benar-benar setiap waktu terus butuh pada Allah.” (Tafsir Al Qur’an Al Karim – Juz ‘Amma, hal. 264). Dua Orang yang Tidak Pernah Puas Ada dua orang yang tidak pernah puas yaitu pencari ilmu akhirat (ilmu diin) dan pencari dunia. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas, مَنْهُومَانِ لاَ يَشْبَعَانِ : طَالِبُ عِلْمٍ وَطَالِبُ دُنْيَا “Ada dua orang yang begitu rakus dan tidak pernah merasa kenyang: (1) penuntut ilmu (agama) dan (2) pencari dunia.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrok 1: 92. Dishahihkan oleh Al Hakim dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi). Karena memang demikian, orang yang saking gandrungnya tidak akan pernah puas sehingga terus mencari dunia dan dunia. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ “Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048) Sedangkan penuntut ilmu akan terus mencari ilmu dan ilmu setiap hari, setiap waktu dan di setiap tempat. Karena mengetahui bagaimanakah agung dan utamanya ilmu agama. Masih berlanjut tafsir surat iqro’ dalam pertemuan lainnya, insya Allah. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Fathul Qodir, Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Asy Syaukani, terbitan Dar Ibni Hazm dan Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H. Tafsir Al Qurthubi (Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an), Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad Al Anshori, terbitan Darul Fikr, cetakan pertama, tahun 1428 H. Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H. Tafsir Al Qur’an Al Karim – Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Dar Tsuraya, cetakan ketiga, tahun 1424 H. — Selesai disusun pukul 10.37 WIB, 22 Syawal 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul Artikel www.rumaysho.com   Silakan follow status kami via Twitter @RumayshoCom, FB Muhammad Abduh Tuasikal dan FB Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat Kunjungi tiga web kami lainnya: (1) Pesantren DarushSholihin, (2) Bisnis Pesantren di Ruwaifi.Com, (3) Belajar tentang Plastik Tagssombong tafsir juz amma
Orang beriman selalu butuh pada Allah. Sedangkan sifat orang kafir merasa dirinya-lah sebab segala-galanya. Orang yang melampaui batas merasa dirinya itu sehat karena dirinya itu sendiri. Biasanya juga ia selalu sombong karena punya banyak harta. Inilah lanjutan dari surat Iqro’ (Al ‘Alaq) yang sebelumnya telah kita bahas.   Allah Ta’ala berfirman, كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى (6) أَنْ رَآَهُ اسْتَغْنَى (7) إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى (8) “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu).” (QS. Al ‘Alaq: 6-8). Manusia Telah Melampaui Batas Al Qurthubi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan thugyan (layathgho) dalam ayat adalah melampaui batas dalam bermaksiat. (Tafsir Al Qurthubi, 10: 75) Dalam ayat di atas, Allah mengabarkan bahwa manusia begitu bangga dan sombong ketika melihat dirinyalah yang paling banyak harta. Lalu Allah memberikan ancaman dalam ayat selanjutnya yang artinya, “ Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu).” Maksudnya adalah kita semua akan kembali pada Allah lalu kita akan dihisab. Kita akan ditanya dari mana harta kita dikumulkan. Kita pun akan ditanya ke mana harta kita dimanfaatkan. Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Ahzhim, 7: 604. Asy Syaukani mengatakan bahwa sesungguhnya manusia benar-benar telah melampaui batas sehingga menjadi sombong atas Rabbnya. Ada yang memaksudkan manusia dalam ayat ke-6 tersebut adalah Abu Jahl. Lihat Fathul Qodir, 5: 628. Mengenai ayat ketujuh, Asy Syaukani menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah manusia melihat dirinya serba cukup. Itulah mengapa disebut melampaui batas. Melihat dalam ayat tersebut bermakna mengetahui. Mengenai anggapan bahwa yang dimaksud secara khusus tentang ayat yang kita kaji adalah Abu Jahl tidaklah tepat. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Manusia (yang dimaksud dalam ayat ke-6) bukanlah person tertentu. Bahkan yang dimaksud adalah jenis manusia. Setiap orang yang merasa karena dirinyalah sebab segala-galanya, dialah yang dikatakan melampaui batas. Thughyan yang dimaksud dalam ayat adalah melampaui batas. Jika seseorang merasa diri sudah cukup dan tidak butuh pada rahmat Allah, dialah orang yang sombong atau melampaui batas. Jika ia tidak merasa butuh lagi pada Allah dalam menghilangkan kesulitan, itulah yang dikatakan sombong. Jika seseorang merasa dirinya cukup dengan sehat yang ia miliki, maka ia lupa dulu pernah sakit. Jika ia merasa kenyang dengan sendirinya, maka ia lupa dulu pernah lapar. Jika ia merasa sudah cukup dengan menutupi diri dengan pakaian yang ia miliki, maka ia lupa jika dulu ia pernah tidak memiliki apa-apa untuk berpakaian. Jadi di antara sikap sombong manusia adalah ia merasa dirinya-lah sebab segala-galanya, bukan dari Allah. Namun orang mukmin berbeda dengan kondisi tadi. Orang mukmin selalu butuh pada Allah. Ia tidak pernah lepas dari kebutuhan pada-Nya walau sekejap mata. Ia benar-benar setiap waktu terus butuh pada Allah.” (Tafsir Al Qur’an Al Karim – Juz ‘Amma, hal. 264). Dua Orang yang Tidak Pernah Puas Ada dua orang yang tidak pernah puas yaitu pencari ilmu akhirat (ilmu diin) dan pencari dunia. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas, مَنْهُومَانِ لاَ يَشْبَعَانِ : طَالِبُ عِلْمٍ وَطَالِبُ دُنْيَا “Ada dua orang yang begitu rakus dan tidak pernah merasa kenyang: (1) penuntut ilmu (agama) dan (2) pencari dunia.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrok 1: 92. Dishahihkan oleh Al Hakim dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi). Karena memang demikian, orang yang saking gandrungnya tidak akan pernah puas sehingga terus mencari dunia dan dunia. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ “Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048) Sedangkan penuntut ilmu akan terus mencari ilmu dan ilmu setiap hari, setiap waktu dan di setiap tempat. Karena mengetahui bagaimanakah agung dan utamanya ilmu agama. Masih berlanjut tafsir surat iqro’ dalam pertemuan lainnya, insya Allah. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Fathul Qodir, Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Asy Syaukani, terbitan Dar Ibni Hazm dan Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H. Tafsir Al Qurthubi (Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an), Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad Al Anshori, terbitan Darul Fikr, cetakan pertama, tahun 1428 H. Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H. Tafsir Al Qur’an Al Karim – Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Dar Tsuraya, cetakan ketiga, tahun 1424 H. — Selesai disusun pukul 10.37 WIB, 22 Syawal 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul Artikel www.rumaysho.com   Silakan follow status kami via Twitter @RumayshoCom, FB Muhammad Abduh Tuasikal dan FB Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat Kunjungi tiga web kami lainnya: (1) Pesantren DarushSholihin, (2) Bisnis Pesantren di Ruwaifi.Com, (3) Belajar tentang Plastik Tagssombong tafsir juz amma


Orang beriman selalu butuh pada Allah. Sedangkan sifat orang kafir merasa dirinya-lah sebab segala-galanya. Orang yang melampaui batas merasa dirinya itu sehat karena dirinya itu sendiri. Biasanya juga ia selalu sombong karena punya banyak harta. Inilah lanjutan dari surat Iqro’ (Al ‘Alaq) yang sebelumnya telah kita bahas.   Allah Ta’ala berfirman, كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى (6) أَنْ رَآَهُ اسْتَغْنَى (7) إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى (8) “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu).” (QS. Al ‘Alaq: 6-8). Manusia Telah Melampaui Batas Al Qurthubi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan thugyan (layathgho) dalam ayat adalah melampaui batas dalam bermaksiat. (Tafsir Al Qurthubi, 10: 75) Dalam ayat di atas, Allah mengabarkan bahwa manusia begitu bangga dan sombong ketika melihat dirinyalah yang paling banyak harta. Lalu Allah memberikan ancaman dalam ayat selanjutnya yang artinya, “ Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu).” Maksudnya adalah kita semua akan kembali pada Allah lalu kita akan dihisab. Kita akan ditanya dari mana harta kita dikumulkan. Kita pun akan ditanya ke mana harta kita dimanfaatkan. Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Ahzhim, 7: 604. Asy Syaukani mengatakan bahwa sesungguhnya manusia benar-benar telah melampaui batas sehingga menjadi sombong atas Rabbnya. Ada yang memaksudkan manusia dalam ayat ke-6 tersebut adalah Abu Jahl. Lihat Fathul Qodir, 5: 628. Mengenai ayat ketujuh, Asy Syaukani menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah manusia melihat dirinya serba cukup. Itulah mengapa disebut melampaui batas. Melihat dalam ayat tersebut bermakna mengetahui. Mengenai anggapan bahwa yang dimaksud secara khusus tentang ayat yang kita kaji adalah Abu Jahl tidaklah tepat. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Manusia (yang dimaksud dalam ayat ke-6) bukanlah person tertentu. Bahkan yang dimaksud adalah jenis manusia. Setiap orang yang merasa karena dirinyalah sebab segala-galanya, dialah yang dikatakan melampaui batas. Thughyan yang dimaksud dalam ayat adalah melampaui batas. Jika seseorang merasa diri sudah cukup dan tidak butuh pada rahmat Allah, dialah orang yang sombong atau melampaui batas. Jika ia tidak merasa butuh lagi pada Allah dalam menghilangkan kesulitan, itulah yang dikatakan sombong. Jika seseorang merasa dirinya cukup dengan sehat yang ia miliki, maka ia lupa dulu pernah sakit. Jika ia merasa kenyang dengan sendirinya, maka ia lupa dulu pernah lapar. Jika ia merasa sudah cukup dengan menutupi diri dengan pakaian yang ia miliki, maka ia lupa jika dulu ia pernah tidak memiliki apa-apa untuk berpakaian. Jadi di antara sikap sombong manusia adalah ia merasa dirinya-lah sebab segala-galanya, bukan dari Allah. Namun orang mukmin berbeda dengan kondisi tadi. Orang mukmin selalu butuh pada Allah. Ia tidak pernah lepas dari kebutuhan pada-Nya walau sekejap mata. Ia benar-benar setiap waktu terus butuh pada Allah.” (Tafsir Al Qur’an Al Karim – Juz ‘Amma, hal. 264). Dua Orang yang Tidak Pernah Puas Ada dua orang yang tidak pernah puas yaitu pencari ilmu akhirat (ilmu diin) dan pencari dunia. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas, مَنْهُومَانِ لاَ يَشْبَعَانِ : طَالِبُ عِلْمٍ وَطَالِبُ دُنْيَا “Ada dua orang yang begitu rakus dan tidak pernah merasa kenyang: (1) penuntut ilmu (agama) dan (2) pencari dunia.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrok 1: 92. Dishahihkan oleh Al Hakim dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi). Karena memang demikian, orang yang saking gandrungnya tidak akan pernah puas sehingga terus mencari dunia dan dunia. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ “Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048) Sedangkan penuntut ilmu akan terus mencari ilmu dan ilmu setiap hari, setiap waktu dan di setiap tempat. Karena mengetahui bagaimanakah agung dan utamanya ilmu agama. Masih berlanjut tafsir surat iqro’ dalam pertemuan lainnya, insya Allah. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Fathul Qodir, Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Asy Syaukani, terbitan Dar Ibni Hazm dan Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H. Tafsir Al Qurthubi (Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an), Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad Al Anshori, terbitan Darul Fikr, cetakan pertama, tahun 1428 H. Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H. Tafsir Al Qur’an Al Karim – Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Dar Tsuraya, cetakan ketiga, tahun 1424 H. — Selesai disusun pukul 10.37 WIB, 22 Syawal 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul Artikel www.rumaysho.com   Silakan follow status kami via Twitter @RumayshoCom, FB Muhammad Abduh Tuasikal dan FB Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat Kunjungi tiga web kami lainnya: (1) Pesantren DarushSholihin, (2) Bisnis Pesantren di Ruwaifi.Com, (3) Belajar tentang Plastik Tagssombong tafsir juz amma

Bantahan untuk Orang Musyrik (4): Orang Musyrik Ternyata Rajin Ibadah

Kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, ternyata orang musyrik juga rajin ibadah. Lalu di mana salah  mereka sehingga mereka tetap dinilai kafir? Mereka beribadah pada Allah, namun juga di lain waktu beribadah kepada selain Allah. Jadi mereka menduakan Allah dalam peribadatan, itulah maksud syirik yang sebenarnya. Sama dengan pelaku kesyirikan saat ini, di antara mereka adalah orang yang rajin ibadah, jidatnya “ireng” (hitam) atau bahkan sudah menunaikan ibadah haji sampai berulang kali, juga bergelar pemuka atau tokoh agama. Namun mereka telah salah jalan karena teganya menduakan Allah dalam ibadah. Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah berkata, “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– diutus di tengah-tengah kaum yang rajin ibadah, berhaji dan rajin bersedekah serta rajin berdzikir pada Allah. Akan tetapi, mereka menjadikan sebagian makhluk perantara antara diri mereka dengan Allah. Mereka berkata, “Kami ingin mendekatkan diri pada Allah dan kami ingin syafa’at mereka di sisi Allah.” Mereka yang dimintai syafa’at itu adalah para malaikat, ‘Isa, Maryam, dan orang sholih lainnya.” (*) Ini penggalan keempat dari pernyataan Syaikh Muhammad rahimahullah dalam risalah beliau Kasyfu Syubuhaat. Orang Musyrik Ternyata Rajin Ibadah Memang benar orang jahiliyah di masa silam adalah orang yang rajin ibadah. Di antara mereka adalah orang yang rajin berpuasa, mereka pun rajin shalat, mereka pun orang yang rajin berdo’a, bahkan mereka pun berhaji. Mereka juga menunaikan zakat, sedekah, rajin menjalin hubungan dengan kerabat (baca: silaturahim), dan suka berqurban. Mereka pun mendekatkan diri pada Allah dengan melakukan thawaf, menyendiri untuk ibadah (tahannuts), i’tikaf, dan bersuci dari hadits besar serta selain itu. Mereka tidak hanya punya i’tiqod (keyakinan) bahwa Allah adalah pencipta dan memiliki sifat-sifat rububiyah yang lain, itu saja. Namun mereka juga beribadah pada Allah dengan shalat, zakat, haji dan puasa. Sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Muhammad rahimahullah bahwa mereka itu melakukan haji dan rajin bersedekah. Orang Musyrik Bersuci dari Hadats Orang Arab dahulu sudah dikenal bahwa mereka pun bersuci dari hadats dan dari junub karena keluarnya mani. Ketika keadaan junub seperti itu mereka menyingkir dari tempat ibadah. Junub pun berarti menjauh sebagaimana ditemukan dalam ayat Al Qur’an, وَالْجَارِ الْجُنُبِ “dan tetangga yang jauh” (QS. An Nisa’: 36). Tetangga dalam ayat ini berarti jauh. Oleh karena itu, orang yang keluar mani kala itu disebut dalam keadaan junub karena mereka dahulu diperintah menjauh dari Ka’bah. Mereka menjauh dari tempat ibadah sampai mereka suci. Jadi bersuci dari junub sudah ma’ruf di kalangan orang Arab termasuk kalangan orang musyrik di masa silam. Adapun bersuci dari hadats kecil, maka itu hanya terdapat pada sedikit kelompok dari orang Arab dahulu. Begitu pula ditemukan bahwa para wanita juga bersuci dari haidh. Ini pun sudah sangat dikenal di masa silam. Intinya, orang Arab di masa silam sudah mengenal thoharoh atau bersuci. Orang Musyrik Juga Berpuasa Orang musyrik di masa silam juga berpuasa denagn puasa yang berbeda dengan yang kita lakukan. Sebagaimana diceritakan dalam hadits berikut, عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – قَالَتْ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Dahulu orang Quraisy di masa Jahiliyah melakukan puasa ‘Asyura. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melakukan puasa tersebut. Ketika beliau tiba di Madinah, beliau melakukan puasa ‘Asyura itu dan memerintahkan para sahabat untuk melakukannya. Ketika puasa Ramadhan diwajibkan, beliau meninggalkan puasa ‘Asyura. Beliau pun mengatakan bahwa siapa yang mau, ia bisa berpuasa. Siapa yang mau, ia bisa meninggalkannya.” (HR. Bukhari no. 2002). Orang Musyrik Melakukan Shalat dan I’tikaf Orang musyrik juga melakukan shalat dengan ruku’ dan do’a yang mereka menyebutnya dengan shalat. Itu sudah sangat ma’ruf di tengah-tengah mereka. Namun dalam shalat tersebut tidak ada sujud. Begitu pula mereka melakukan i’tikaf dalam rangka ibadah. Sebagaimana hadits yang ma’ruf dari Ibnu ‘Umar, عَنِ ابْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – أَنَّ عُمَرَ سَأَلَ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ كُنْتُ نَذَرْتُ فِى الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، قَالَ « فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ » Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia pernah bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku pernah bernazar di masa jahiliyah untuk beri’tikaf semalam di Masjidil Haram.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Tunaikanlah nazarmu.” (HR. Bukhari no. 2032 dan Muslim no. 1656). Begitu pula orang musyrik di masa silam biasa menyepi untuk melakukan ibadah (baca: tahannuts). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menyepi untuk beribadah di goa Hira sehingga menerima wahyu. Ibadah Lain yang Dilakukan Orang Musyrik Sebagaimana Syaikh Muhammad rahimahullah mengatakan di atas bahwa orang  musyrik juga rajin sedekah. Orang musyrik pun rajin berdzikir dengan memuji Allah sebagaimana ditemukan dalam sya’ir-sya’ir Arab. Dan juga sudah sangat ma’ruf, orang musyrik melakukan haji dan umrah di Baitullah. Berbagai cerita di atas dapat dibuktikan dari kitab-kitab semacam Bulughul Arob karangan Al Alusi, Adyanul ‘Arob karya ‘Ali Al Jarim, dan juga kitab Tarikhul ‘Arob Al Mufashol Qoblal Islam. Terus Apa Masalahnya? Sebagaimana sudah terbukti bahwa orang -musyrik- Arab tidaklah jauh dari ibadah. Ibadah yang mereka adalah warisan dari ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, sebagiannya lagi adalah dari ajaran Nabi Musa ‘alaihis salam.  Orang musyrik itu mengakui tauhid rububiyah, yaitu bahwa Allah adalah pencipta, pemberi rezeki, penguasa jagad raya dan pengatur alam semesta. Sebagaimana ayat yang membuktikan hal ini, قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (QS. Yunus: 31). Jadi masalahnya, bukanlah dalam keimanan pada rububiyah. Masalahnya adalah mereka menduakan Allah dalam ibadah. Mereka menjadi hamba yang bertauhid (muwahhid) dalam hal rububiyah dan bahkan mereka adalah ahli ibadah. Namun hal itu tidak bisa menjadikan mereka sebagai seorang muslim. Karena orang musyrik beribadah kepada Allah dan juga beribadah kepada selain Allah. Mereka tidak mau beribadah kepada Allah semata. Di samping Allah, mereka juga beribadah kepada berhala mereka yang merupakan wujud orang sholih. Jadi, inti masalahnya karena orang musyrik itu menduakan Allah dalam ibadah. Itulah alasan kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi orang musyrik dan mengafirkan mereka. Dan bukan sama sekali, orang musyrik menyembah Laata, ‘Uzza, Manat, dan lainnya karena mereka adalah pencipta dan pemberi rezeki. Namun mereka menyembahnya hanya sebagai perantara dan pemberi syafa’at. Pembahasan di atas penulis sarikan dan kembangkan dari penjelasan Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Syaikh hafizhohullah dalam kitab beliau Syarh Kasyfi Syubuhaat. Semoga Allah memberi kepahaman dan hidayah.   Referensi: Syarh Kasyfi Syubuhaat, Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Syaikh, terbitan Maktabah Daril Hijaz, cetakan pertama, tahun 1433 H, hal. 53-58. — Selesai disusun menjelang shalat Maghrib, 21 Syawal 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul Artikel www.rumaysho.com   Silakan follow status kami via Twitter @RumayshoCom, FB Muhammad Abduh Tuasikal dan FB Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat Kunjungi tiga web kami lainnya: (1) Pesantren DarushSholihin, (2) Bisnis Pesantren di Ruwaifi.Com, (3) Belajar tentang Plastik Tagskasyfu syubuhaat

Bantahan untuk Orang Musyrik (4): Orang Musyrik Ternyata Rajin Ibadah

Kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, ternyata orang musyrik juga rajin ibadah. Lalu di mana salah  mereka sehingga mereka tetap dinilai kafir? Mereka beribadah pada Allah, namun juga di lain waktu beribadah kepada selain Allah. Jadi mereka menduakan Allah dalam peribadatan, itulah maksud syirik yang sebenarnya. Sama dengan pelaku kesyirikan saat ini, di antara mereka adalah orang yang rajin ibadah, jidatnya “ireng” (hitam) atau bahkan sudah menunaikan ibadah haji sampai berulang kali, juga bergelar pemuka atau tokoh agama. Namun mereka telah salah jalan karena teganya menduakan Allah dalam ibadah. Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah berkata, “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– diutus di tengah-tengah kaum yang rajin ibadah, berhaji dan rajin bersedekah serta rajin berdzikir pada Allah. Akan tetapi, mereka menjadikan sebagian makhluk perantara antara diri mereka dengan Allah. Mereka berkata, “Kami ingin mendekatkan diri pada Allah dan kami ingin syafa’at mereka di sisi Allah.” Mereka yang dimintai syafa’at itu adalah para malaikat, ‘Isa, Maryam, dan orang sholih lainnya.” (*) Ini penggalan keempat dari pernyataan Syaikh Muhammad rahimahullah dalam risalah beliau Kasyfu Syubuhaat. Orang Musyrik Ternyata Rajin Ibadah Memang benar orang jahiliyah di masa silam adalah orang yang rajin ibadah. Di antara mereka adalah orang yang rajin berpuasa, mereka pun rajin shalat, mereka pun orang yang rajin berdo’a, bahkan mereka pun berhaji. Mereka juga menunaikan zakat, sedekah, rajin menjalin hubungan dengan kerabat (baca: silaturahim), dan suka berqurban. Mereka pun mendekatkan diri pada Allah dengan melakukan thawaf, menyendiri untuk ibadah (tahannuts), i’tikaf, dan bersuci dari hadits besar serta selain itu. Mereka tidak hanya punya i’tiqod (keyakinan) bahwa Allah adalah pencipta dan memiliki sifat-sifat rububiyah yang lain, itu saja. Namun mereka juga beribadah pada Allah dengan shalat, zakat, haji dan puasa. Sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Muhammad rahimahullah bahwa mereka itu melakukan haji dan rajin bersedekah. Orang Musyrik Bersuci dari Hadats Orang Arab dahulu sudah dikenal bahwa mereka pun bersuci dari hadats dan dari junub karena keluarnya mani. Ketika keadaan junub seperti itu mereka menyingkir dari tempat ibadah. Junub pun berarti menjauh sebagaimana ditemukan dalam ayat Al Qur’an, وَالْجَارِ الْجُنُبِ “dan tetangga yang jauh” (QS. An Nisa’: 36). Tetangga dalam ayat ini berarti jauh. Oleh karena itu, orang yang keluar mani kala itu disebut dalam keadaan junub karena mereka dahulu diperintah menjauh dari Ka’bah. Mereka menjauh dari tempat ibadah sampai mereka suci. Jadi bersuci dari junub sudah ma’ruf di kalangan orang Arab termasuk kalangan orang musyrik di masa silam. Adapun bersuci dari hadats kecil, maka itu hanya terdapat pada sedikit kelompok dari orang Arab dahulu. Begitu pula ditemukan bahwa para wanita juga bersuci dari haidh. Ini pun sudah sangat dikenal di masa silam. Intinya, orang Arab di masa silam sudah mengenal thoharoh atau bersuci. Orang Musyrik Juga Berpuasa Orang musyrik di masa silam juga berpuasa denagn puasa yang berbeda dengan yang kita lakukan. Sebagaimana diceritakan dalam hadits berikut, عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – قَالَتْ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Dahulu orang Quraisy di masa Jahiliyah melakukan puasa ‘Asyura. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melakukan puasa tersebut. Ketika beliau tiba di Madinah, beliau melakukan puasa ‘Asyura itu dan memerintahkan para sahabat untuk melakukannya. Ketika puasa Ramadhan diwajibkan, beliau meninggalkan puasa ‘Asyura. Beliau pun mengatakan bahwa siapa yang mau, ia bisa berpuasa. Siapa yang mau, ia bisa meninggalkannya.” (HR. Bukhari no. 2002). Orang Musyrik Melakukan Shalat dan I’tikaf Orang musyrik juga melakukan shalat dengan ruku’ dan do’a yang mereka menyebutnya dengan shalat. Itu sudah sangat ma’ruf di tengah-tengah mereka. Namun dalam shalat tersebut tidak ada sujud. Begitu pula mereka melakukan i’tikaf dalam rangka ibadah. Sebagaimana hadits yang ma’ruf dari Ibnu ‘Umar, عَنِ ابْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – أَنَّ عُمَرَ سَأَلَ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ كُنْتُ نَذَرْتُ فِى الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، قَالَ « فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ » Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia pernah bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku pernah bernazar di masa jahiliyah untuk beri’tikaf semalam di Masjidil Haram.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Tunaikanlah nazarmu.” (HR. Bukhari no. 2032 dan Muslim no. 1656). Begitu pula orang musyrik di masa silam biasa menyepi untuk melakukan ibadah (baca: tahannuts). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menyepi untuk beribadah di goa Hira sehingga menerima wahyu. Ibadah Lain yang Dilakukan Orang Musyrik Sebagaimana Syaikh Muhammad rahimahullah mengatakan di atas bahwa orang  musyrik juga rajin sedekah. Orang musyrik pun rajin berdzikir dengan memuji Allah sebagaimana ditemukan dalam sya’ir-sya’ir Arab. Dan juga sudah sangat ma’ruf, orang musyrik melakukan haji dan umrah di Baitullah. Berbagai cerita di atas dapat dibuktikan dari kitab-kitab semacam Bulughul Arob karangan Al Alusi, Adyanul ‘Arob karya ‘Ali Al Jarim, dan juga kitab Tarikhul ‘Arob Al Mufashol Qoblal Islam. Terus Apa Masalahnya? Sebagaimana sudah terbukti bahwa orang -musyrik- Arab tidaklah jauh dari ibadah. Ibadah yang mereka adalah warisan dari ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, sebagiannya lagi adalah dari ajaran Nabi Musa ‘alaihis salam.  Orang musyrik itu mengakui tauhid rububiyah, yaitu bahwa Allah adalah pencipta, pemberi rezeki, penguasa jagad raya dan pengatur alam semesta. Sebagaimana ayat yang membuktikan hal ini, قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (QS. Yunus: 31). Jadi masalahnya, bukanlah dalam keimanan pada rububiyah. Masalahnya adalah mereka menduakan Allah dalam ibadah. Mereka menjadi hamba yang bertauhid (muwahhid) dalam hal rububiyah dan bahkan mereka adalah ahli ibadah. Namun hal itu tidak bisa menjadikan mereka sebagai seorang muslim. Karena orang musyrik beribadah kepada Allah dan juga beribadah kepada selain Allah. Mereka tidak mau beribadah kepada Allah semata. Di samping Allah, mereka juga beribadah kepada berhala mereka yang merupakan wujud orang sholih. Jadi, inti masalahnya karena orang musyrik itu menduakan Allah dalam ibadah. Itulah alasan kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi orang musyrik dan mengafirkan mereka. Dan bukan sama sekali, orang musyrik menyembah Laata, ‘Uzza, Manat, dan lainnya karena mereka adalah pencipta dan pemberi rezeki. Namun mereka menyembahnya hanya sebagai perantara dan pemberi syafa’at. Pembahasan di atas penulis sarikan dan kembangkan dari penjelasan Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Syaikh hafizhohullah dalam kitab beliau Syarh Kasyfi Syubuhaat. Semoga Allah memberi kepahaman dan hidayah.   Referensi: Syarh Kasyfi Syubuhaat, Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Syaikh, terbitan Maktabah Daril Hijaz, cetakan pertama, tahun 1433 H, hal. 53-58. — Selesai disusun menjelang shalat Maghrib, 21 Syawal 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul Artikel www.rumaysho.com   Silakan follow status kami via Twitter @RumayshoCom, FB Muhammad Abduh Tuasikal dan FB Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat Kunjungi tiga web kami lainnya: (1) Pesantren DarushSholihin, (2) Bisnis Pesantren di Ruwaifi.Com, (3) Belajar tentang Plastik Tagskasyfu syubuhaat
Kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, ternyata orang musyrik juga rajin ibadah. Lalu di mana salah  mereka sehingga mereka tetap dinilai kafir? Mereka beribadah pada Allah, namun juga di lain waktu beribadah kepada selain Allah. Jadi mereka menduakan Allah dalam peribadatan, itulah maksud syirik yang sebenarnya. Sama dengan pelaku kesyirikan saat ini, di antara mereka adalah orang yang rajin ibadah, jidatnya “ireng” (hitam) atau bahkan sudah menunaikan ibadah haji sampai berulang kali, juga bergelar pemuka atau tokoh agama. Namun mereka telah salah jalan karena teganya menduakan Allah dalam ibadah. Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah berkata, “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– diutus di tengah-tengah kaum yang rajin ibadah, berhaji dan rajin bersedekah serta rajin berdzikir pada Allah. Akan tetapi, mereka menjadikan sebagian makhluk perantara antara diri mereka dengan Allah. Mereka berkata, “Kami ingin mendekatkan diri pada Allah dan kami ingin syafa’at mereka di sisi Allah.” Mereka yang dimintai syafa’at itu adalah para malaikat, ‘Isa, Maryam, dan orang sholih lainnya.” (*) Ini penggalan keempat dari pernyataan Syaikh Muhammad rahimahullah dalam risalah beliau Kasyfu Syubuhaat. Orang Musyrik Ternyata Rajin Ibadah Memang benar orang jahiliyah di masa silam adalah orang yang rajin ibadah. Di antara mereka adalah orang yang rajin berpuasa, mereka pun rajin shalat, mereka pun orang yang rajin berdo’a, bahkan mereka pun berhaji. Mereka juga menunaikan zakat, sedekah, rajin menjalin hubungan dengan kerabat (baca: silaturahim), dan suka berqurban. Mereka pun mendekatkan diri pada Allah dengan melakukan thawaf, menyendiri untuk ibadah (tahannuts), i’tikaf, dan bersuci dari hadits besar serta selain itu. Mereka tidak hanya punya i’tiqod (keyakinan) bahwa Allah adalah pencipta dan memiliki sifat-sifat rububiyah yang lain, itu saja. Namun mereka juga beribadah pada Allah dengan shalat, zakat, haji dan puasa. Sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Muhammad rahimahullah bahwa mereka itu melakukan haji dan rajin bersedekah. Orang Musyrik Bersuci dari Hadats Orang Arab dahulu sudah dikenal bahwa mereka pun bersuci dari hadats dan dari junub karena keluarnya mani. Ketika keadaan junub seperti itu mereka menyingkir dari tempat ibadah. Junub pun berarti menjauh sebagaimana ditemukan dalam ayat Al Qur’an, وَالْجَارِ الْجُنُبِ “dan tetangga yang jauh” (QS. An Nisa’: 36). Tetangga dalam ayat ini berarti jauh. Oleh karena itu, orang yang keluar mani kala itu disebut dalam keadaan junub karena mereka dahulu diperintah menjauh dari Ka’bah. Mereka menjauh dari tempat ibadah sampai mereka suci. Jadi bersuci dari junub sudah ma’ruf di kalangan orang Arab termasuk kalangan orang musyrik di masa silam. Adapun bersuci dari hadats kecil, maka itu hanya terdapat pada sedikit kelompok dari orang Arab dahulu. Begitu pula ditemukan bahwa para wanita juga bersuci dari haidh. Ini pun sudah sangat dikenal di masa silam. Intinya, orang Arab di masa silam sudah mengenal thoharoh atau bersuci. Orang Musyrik Juga Berpuasa Orang musyrik di masa silam juga berpuasa denagn puasa yang berbeda dengan yang kita lakukan. Sebagaimana diceritakan dalam hadits berikut, عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – قَالَتْ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Dahulu orang Quraisy di masa Jahiliyah melakukan puasa ‘Asyura. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melakukan puasa tersebut. Ketika beliau tiba di Madinah, beliau melakukan puasa ‘Asyura itu dan memerintahkan para sahabat untuk melakukannya. Ketika puasa Ramadhan diwajibkan, beliau meninggalkan puasa ‘Asyura. Beliau pun mengatakan bahwa siapa yang mau, ia bisa berpuasa. Siapa yang mau, ia bisa meninggalkannya.” (HR. Bukhari no. 2002). Orang Musyrik Melakukan Shalat dan I’tikaf Orang musyrik juga melakukan shalat dengan ruku’ dan do’a yang mereka menyebutnya dengan shalat. Itu sudah sangat ma’ruf di tengah-tengah mereka. Namun dalam shalat tersebut tidak ada sujud. Begitu pula mereka melakukan i’tikaf dalam rangka ibadah. Sebagaimana hadits yang ma’ruf dari Ibnu ‘Umar, عَنِ ابْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – أَنَّ عُمَرَ سَأَلَ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ كُنْتُ نَذَرْتُ فِى الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، قَالَ « فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ » Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia pernah bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku pernah bernazar di masa jahiliyah untuk beri’tikaf semalam di Masjidil Haram.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Tunaikanlah nazarmu.” (HR. Bukhari no. 2032 dan Muslim no. 1656). Begitu pula orang musyrik di masa silam biasa menyepi untuk melakukan ibadah (baca: tahannuts). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menyepi untuk beribadah di goa Hira sehingga menerima wahyu. Ibadah Lain yang Dilakukan Orang Musyrik Sebagaimana Syaikh Muhammad rahimahullah mengatakan di atas bahwa orang  musyrik juga rajin sedekah. Orang musyrik pun rajin berdzikir dengan memuji Allah sebagaimana ditemukan dalam sya’ir-sya’ir Arab. Dan juga sudah sangat ma’ruf, orang musyrik melakukan haji dan umrah di Baitullah. Berbagai cerita di atas dapat dibuktikan dari kitab-kitab semacam Bulughul Arob karangan Al Alusi, Adyanul ‘Arob karya ‘Ali Al Jarim, dan juga kitab Tarikhul ‘Arob Al Mufashol Qoblal Islam. Terus Apa Masalahnya? Sebagaimana sudah terbukti bahwa orang -musyrik- Arab tidaklah jauh dari ibadah. Ibadah yang mereka adalah warisan dari ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, sebagiannya lagi adalah dari ajaran Nabi Musa ‘alaihis salam.  Orang musyrik itu mengakui tauhid rububiyah, yaitu bahwa Allah adalah pencipta, pemberi rezeki, penguasa jagad raya dan pengatur alam semesta. Sebagaimana ayat yang membuktikan hal ini, قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (QS. Yunus: 31). Jadi masalahnya, bukanlah dalam keimanan pada rububiyah. Masalahnya adalah mereka menduakan Allah dalam ibadah. Mereka menjadi hamba yang bertauhid (muwahhid) dalam hal rububiyah dan bahkan mereka adalah ahli ibadah. Namun hal itu tidak bisa menjadikan mereka sebagai seorang muslim. Karena orang musyrik beribadah kepada Allah dan juga beribadah kepada selain Allah. Mereka tidak mau beribadah kepada Allah semata. Di samping Allah, mereka juga beribadah kepada berhala mereka yang merupakan wujud orang sholih. Jadi, inti masalahnya karena orang musyrik itu menduakan Allah dalam ibadah. Itulah alasan kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi orang musyrik dan mengafirkan mereka. Dan bukan sama sekali, orang musyrik menyembah Laata, ‘Uzza, Manat, dan lainnya karena mereka adalah pencipta dan pemberi rezeki. Namun mereka menyembahnya hanya sebagai perantara dan pemberi syafa’at. Pembahasan di atas penulis sarikan dan kembangkan dari penjelasan Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Syaikh hafizhohullah dalam kitab beliau Syarh Kasyfi Syubuhaat. Semoga Allah memberi kepahaman dan hidayah.   Referensi: Syarh Kasyfi Syubuhaat, Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Syaikh, terbitan Maktabah Daril Hijaz, cetakan pertama, tahun 1433 H, hal. 53-58. — Selesai disusun menjelang shalat Maghrib, 21 Syawal 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul Artikel www.rumaysho.com   Silakan follow status kami via Twitter @RumayshoCom, FB Muhammad Abduh Tuasikal dan FB Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat Kunjungi tiga web kami lainnya: (1) Pesantren DarushSholihin, (2) Bisnis Pesantren di Ruwaifi.Com, (3) Belajar tentang Plastik Tagskasyfu syubuhaat


Kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, ternyata orang musyrik juga rajin ibadah. Lalu di mana salah  mereka sehingga mereka tetap dinilai kafir? Mereka beribadah pada Allah, namun juga di lain waktu beribadah kepada selain Allah. Jadi mereka menduakan Allah dalam peribadatan, itulah maksud syirik yang sebenarnya. Sama dengan pelaku kesyirikan saat ini, di antara mereka adalah orang yang rajin ibadah, jidatnya “ireng” (hitam) atau bahkan sudah menunaikan ibadah haji sampai berulang kali, juga bergelar pemuka atau tokoh agama. Namun mereka telah salah jalan karena teganya menduakan Allah dalam ibadah. Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah berkata, “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– diutus di tengah-tengah kaum yang rajin ibadah, berhaji dan rajin bersedekah serta rajin berdzikir pada Allah. Akan tetapi, mereka menjadikan sebagian makhluk perantara antara diri mereka dengan Allah. Mereka berkata, “Kami ingin mendekatkan diri pada Allah dan kami ingin syafa’at mereka di sisi Allah.” Mereka yang dimintai syafa’at itu adalah para malaikat, ‘Isa, Maryam, dan orang sholih lainnya.” (*) Ini penggalan keempat dari pernyataan Syaikh Muhammad rahimahullah dalam risalah beliau Kasyfu Syubuhaat. Orang Musyrik Ternyata Rajin Ibadah Memang benar orang jahiliyah di masa silam adalah orang yang rajin ibadah. Di antara mereka adalah orang yang rajin berpuasa, mereka pun rajin shalat, mereka pun orang yang rajin berdo’a, bahkan mereka pun berhaji. Mereka juga menunaikan zakat, sedekah, rajin menjalin hubungan dengan kerabat (baca: silaturahim), dan suka berqurban. Mereka pun mendekatkan diri pada Allah dengan melakukan thawaf, menyendiri untuk ibadah (tahannuts), i’tikaf, dan bersuci dari hadits besar serta selain itu. Mereka tidak hanya punya i’tiqod (keyakinan) bahwa Allah adalah pencipta dan memiliki sifat-sifat rububiyah yang lain, itu saja. Namun mereka juga beribadah pada Allah dengan shalat, zakat, haji dan puasa. Sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Muhammad rahimahullah bahwa mereka itu melakukan haji dan rajin bersedekah. Orang Musyrik Bersuci dari Hadats Orang Arab dahulu sudah dikenal bahwa mereka pun bersuci dari hadats dan dari junub karena keluarnya mani. Ketika keadaan junub seperti itu mereka menyingkir dari tempat ibadah. Junub pun berarti menjauh sebagaimana ditemukan dalam ayat Al Qur’an, وَالْجَارِ الْجُنُبِ “dan tetangga yang jauh” (QS. An Nisa’: 36). Tetangga dalam ayat ini berarti jauh. Oleh karena itu, orang yang keluar mani kala itu disebut dalam keadaan junub karena mereka dahulu diperintah menjauh dari Ka’bah. Mereka menjauh dari tempat ibadah sampai mereka suci. Jadi bersuci dari junub sudah ma’ruf di kalangan orang Arab termasuk kalangan orang musyrik di masa silam. Adapun bersuci dari hadats kecil, maka itu hanya terdapat pada sedikit kelompok dari orang Arab dahulu. Begitu pula ditemukan bahwa para wanita juga bersuci dari haidh. Ini pun sudah sangat dikenal di masa silam. Intinya, orang Arab di masa silam sudah mengenal thoharoh atau bersuci. Orang Musyrik Juga Berpuasa Orang musyrik di masa silam juga berpuasa denagn puasa yang berbeda dengan yang kita lakukan. Sebagaimana diceritakan dalam hadits berikut, عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – قَالَتْ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Dahulu orang Quraisy di masa Jahiliyah melakukan puasa ‘Asyura. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melakukan puasa tersebut. Ketika beliau tiba di Madinah, beliau melakukan puasa ‘Asyura itu dan memerintahkan para sahabat untuk melakukannya. Ketika puasa Ramadhan diwajibkan, beliau meninggalkan puasa ‘Asyura. Beliau pun mengatakan bahwa siapa yang mau, ia bisa berpuasa. Siapa yang mau, ia bisa meninggalkannya.” (HR. Bukhari no. 2002). Orang Musyrik Melakukan Shalat dan I’tikaf Orang musyrik juga melakukan shalat dengan ruku’ dan do’a yang mereka menyebutnya dengan shalat. Itu sudah sangat ma’ruf di tengah-tengah mereka. Namun dalam shalat tersebut tidak ada sujud. Begitu pula mereka melakukan i’tikaf dalam rangka ibadah. Sebagaimana hadits yang ma’ruf dari Ibnu ‘Umar, عَنِ ابْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – أَنَّ عُمَرَ سَأَلَ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ كُنْتُ نَذَرْتُ فِى الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، قَالَ « فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ » Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia pernah bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku pernah bernazar di masa jahiliyah untuk beri’tikaf semalam di Masjidil Haram.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Tunaikanlah nazarmu.” (HR. Bukhari no. 2032 dan Muslim no. 1656). Begitu pula orang musyrik di masa silam biasa menyepi untuk melakukan ibadah (baca: tahannuts). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menyepi untuk beribadah di goa Hira sehingga menerima wahyu. Ibadah Lain yang Dilakukan Orang Musyrik Sebagaimana Syaikh Muhammad rahimahullah mengatakan di atas bahwa orang  musyrik juga rajin sedekah. Orang musyrik pun rajin berdzikir dengan memuji Allah sebagaimana ditemukan dalam sya’ir-sya’ir Arab. Dan juga sudah sangat ma’ruf, orang musyrik melakukan haji dan umrah di Baitullah. Berbagai cerita di atas dapat dibuktikan dari kitab-kitab semacam Bulughul Arob karangan Al Alusi, Adyanul ‘Arob karya ‘Ali Al Jarim, dan juga kitab Tarikhul ‘Arob Al Mufashol Qoblal Islam. Terus Apa Masalahnya? Sebagaimana sudah terbukti bahwa orang -musyrik- Arab tidaklah jauh dari ibadah. Ibadah yang mereka adalah warisan dari ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, sebagiannya lagi adalah dari ajaran Nabi Musa ‘alaihis salam.  Orang musyrik itu mengakui tauhid rububiyah, yaitu bahwa Allah adalah pencipta, pemberi rezeki, penguasa jagad raya dan pengatur alam semesta. Sebagaimana ayat yang membuktikan hal ini, قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (QS. Yunus: 31). Jadi masalahnya, bukanlah dalam keimanan pada rububiyah. Masalahnya adalah mereka menduakan Allah dalam ibadah. Mereka menjadi hamba yang bertauhid (muwahhid) dalam hal rububiyah dan bahkan mereka adalah ahli ibadah. Namun hal itu tidak bisa menjadikan mereka sebagai seorang muslim. Karena orang musyrik beribadah kepada Allah dan juga beribadah kepada selain Allah. Mereka tidak mau beribadah kepada Allah semata. Di samping Allah, mereka juga beribadah kepada berhala mereka yang merupakan wujud orang sholih. Jadi, inti masalahnya karena orang musyrik itu menduakan Allah dalam ibadah. Itulah alasan kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi orang musyrik dan mengafirkan mereka. Dan bukan sama sekali, orang musyrik menyembah Laata, ‘Uzza, Manat, dan lainnya karena mereka adalah pencipta dan pemberi rezeki. Namun mereka menyembahnya hanya sebagai perantara dan pemberi syafa’at. Pembahasan di atas penulis sarikan dan kembangkan dari penjelasan Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Syaikh hafizhohullah dalam kitab beliau Syarh Kasyfi Syubuhaat. Semoga Allah memberi kepahaman dan hidayah.   Referensi: Syarh Kasyfi Syubuhaat, Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Syaikh, terbitan Maktabah Daril Hijaz, cetakan pertama, tahun 1433 H, hal. 53-58. — Selesai disusun menjelang shalat Maghrib, 21 Syawal 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul Artikel www.rumaysho.com   Silakan follow status kami via Twitter @RumayshoCom, FB Muhammad Abduh Tuasikal dan FB Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat Kunjungi tiga web kami lainnya: (1) Pesantren DarushSholihin, (2) Bisnis Pesantren di Ruwaifi.Com, (3) Belajar tentang Plastik Tagskasyfu syubuhaat

Kajian Rumaysho.Com di Surabaya 31/08 dan 01/09

Insya Allah Kajian Tematik Rumaysho.Com akan hadir di Surabaya pada Sabtu dan Ahad besok (31 Agustus dan 1 September 2013), bagi yang punya waktu senggang dan ingin meraih ilmu yang bermanfaat, silakan hadir.   Pemateri: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc  (Pengasuh Rumaysho.Com, Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id, murid Syaikh Sholeh bin  Fauzan Al Fauzan dan Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri) Rincian jadwal selengkapnya:   Sabtu, 31 Agustus 2013   Pukul 09.00 di Masjid Lingkar Timur Sidoarjo Materi: Polemik Hukum Imunisasi dan Vaksin   Pukul 15.00 di Masjid A Yani (depan PENS ITS) Materi: Tips & Trick Sukses Belajar Agama dan Sukses Kuliah   Pukul 18.00 di Mushalla Nurul Hidayah (Jl. Menanggal III no. 25) Materi: Bahaya Riba di Sekitar Kita   Ahad, 1 September 2013   Pukul 04.30 Masjid Al Wahyu (Jl. Wisma Menanggal VI no. 4) Materi: Awal Mula Munculnya Kesyirikan   Pukul 09.00 Masjid Jami’ Mekkah (Bendul Merisi) Bedah Buku: Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris   [Dapatkan materi kajian dengan meng-klik link di judul materi]   Ibnul Qayyim berkata, “Seandainya keutamaan ilmu hanyalah kedekatan pada Rabbul ‘alamin (Allah Ta’ala), dikaitkan dengan para malaikat, berteman dengan penduduk langit, maka itu sudah mencukupi untuk menerangkan akan keutamaan ilmu. Apalagi kemuliaan dunia dan akhirat senantiasa meliputi orang yang berilmu dan dengan ilmulah syarat untuk mencapainya” (Miftah Daaris Sa’adah, 1: 104). Semoga Allah senantiasa memudahkan langkah kaki dalam menuntut ilmu.   Info www.rumaysho.com, pagi hari 22 Syawal 1434 H Tagskajian islam

Kajian Rumaysho.Com di Surabaya 31/08 dan 01/09

Insya Allah Kajian Tematik Rumaysho.Com akan hadir di Surabaya pada Sabtu dan Ahad besok (31 Agustus dan 1 September 2013), bagi yang punya waktu senggang dan ingin meraih ilmu yang bermanfaat, silakan hadir.   Pemateri: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc  (Pengasuh Rumaysho.Com, Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id, murid Syaikh Sholeh bin  Fauzan Al Fauzan dan Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri) Rincian jadwal selengkapnya:   Sabtu, 31 Agustus 2013   Pukul 09.00 di Masjid Lingkar Timur Sidoarjo Materi: Polemik Hukum Imunisasi dan Vaksin   Pukul 15.00 di Masjid A Yani (depan PENS ITS) Materi: Tips & Trick Sukses Belajar Agama dan Sukses Kuliah   Pukul 18.00 di Mushalla Nurul Hidayah (Jl. Menanggal III no. 25) Materi: Bahaya Riba di Sekitar Kita   Ahad, 1 September 2013   Pukul 04.30 Masjid Al Wahyu (Jl. Wisma Menanggal VI no. 4) Materi: Awal Mula Munculnya Kesyirikan   Pukul 09.00 Masjid Jami’ Mekkah (Bendul Merisi) Bedah Buku: Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris   [Dapatkan materi kajian dengan meng-klik link di judul materi]   Ibnul Qayyim berkata, “Seandainya keutamaan ilmu hanyalah kedekatan pada Rabbul ‘alamin (Allah Ta’ala), dikaitkan dengan para malaikat, berteman dengan penduduk langit, maka itu sudah mencukupi untuk menerangkan akan keutamaan ilmu. Apalagi kemuliaan dunia dan akhirat senantiasa meliputi orang yang berilmu dan dengan ilmulah syarat untuk mencapainya” (Miftah Daaris Sa’adah, 1: 104). Semoga Allah senantiasa memudahkan langkah kaki dalam menuntut ilmu.   Info www.rumaysho.com, pagi hari 22 Syawal 1434 H Tagskajian islam
Insya Allah Kajian Tematik Rumaysho.Com akan hadir di Surabaya pada Sabtu dan Ahad besok (31 Agustus dan 1 September 2013), bagi yang punya waktu senggang dan ingin meraih ilmu yang bermanfaat, silakan hadir.   Pemateri: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc  (Pengasuh Rumaysho.Com, Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id, murid Syaikh Sholeh bin  Fauzan Al Fauzan dan Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri) Rincian jadwal selengkapnya:   Sabtu, 31 Agustus 2013   Pukul 09.00 di Masjid Lingkar Timur Sidoarjo Materi: Polemik Hukum Imunisasi dan Vaksin   Pukul 15.00 di Masjid A Yani (depan PENS ITS) Materi: Tips & Trick Sukses Belajar Agama dan Sukses Kuliah   Pukul 18.00 di Mushalla Nurul Hidayah (Jl. Menanggal III no. 25) Materi: Bahaya Riba di Sekitar Kita   Ahad, 1 September 2013   Pukul 04.30 Masjid Al Wahyu (Jl. Wisma Menanggal VI no. 4) Materi: Awal Mula Munculnya Kesyirikan   Pukul 09.00 Masjid Jami’ Mekkah (Bendul Merisi) Bedah Buku: Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris   [Dapatkan materi kajian dengan meng-klik link di judul materi]   Ibnul Qayyim berkata, “Seandainya keutamaan ilmu hanyalah kedekatan pada Rabbul ‘alamin (Allah Ta’ala), dikaitkan dengan para malaikat, berteman dengan penduduk langit, maka itu sudah mencukupi untuk menerangkan akan keutamaan ilmu. Apalagi kemuliaan dunia dan akhirat senantiasa meliputi orang yang berilmu dan dengan ilmulah syarat untuk mencapainya” (Miftah Daaris Sa’adah, 1: 104). Semoga Allah senantiasa memudahkan langkah kaki dalam menuntut ilmu.   Info www.rumaysho.com, pagi hari 22 Syawal 1434 H Tagskajian islam


Insya Allah Kajian Tematik Rumaysho.Com akan hadir di Surabaya pada Sabtu dan Ahad besok (31 Agustus dan 1 September 2013), bagi yang punya waktu senggang dan ingin meraih ilmu yang bermanfaat, silakan hadir.   Pemateri: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc  (Pengasuh Rumaysho.Com, Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id, murid Syaikh Sholeh bin  Fauzan Al Fauzan dan Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri) Rincian jadwal selengkapnya:   Sabtu, 31 Agustus 2013   Pukul 09.00 di Masjid Lingkar Timur Sidoarjo Materi: Polemik Hukum Imunisasi dan Vaksin   Pukul 15.00 di Masjid A Yani (depan PENS ITS) Materi: Tips & Trick Sukses Belajar Agama dan Sukses Kuliah   Pukul 18.00 di Mushalla Nurul Hidayah (Jl. Menanggal III no. 25) Materi: Bahaya Riba di Sekitar Kita   Ahad, 1 September 2013   Pukul 04.30 Masjid Al Wahyu (Jl. Wisma Menanggal VI no. 4) Materi: Awal Mula Munculnya Kesyirikan   Pukul 09.00 Masjid Jami’ Mekkah (Bendul Merisi) Bedah Buku: Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris   [Dapatkan materi kajian dengan meng-klik link di judul materi]   Ibnul Qayyim berkata, “Seandainya keutamaan ilmu hanyalah kedekatan pada Rabbul ‘alamin (Allah Ta’ala), dikaitkan dengan para malaikat, berteman dengan penduduk langit, maka itu sudah mencukupi untuk menerangkan akan keutamaan ilmu. Apalagi kemuliaan dunia dan akhirat senantiasa meliputi orang yang berilmu dan dengan ilmulah syarat untuk mencapainya” (Miftah Daaris Sa’adah, 1: 104). Semoga Allah senantiasa memudahkan langkah kaki dalam menuntut ilmu.   Info www.rumaysho.com, pagi hari 22 Syawal 1434 H Tagskajian islam

Mengatasi Kembalinya Misi Kristenisasi ke Dusun Srunggo

Dusun Srunggo terletak di wilayah kabupaten Bantul paling Ujung selatan berbatasan dengan kabupaten Gunungkidul, merupakan daerah perbukitan dengan penduduk beragama Islam dan bermata pencaharian sebagai petani. Dusun ini terkenal dengan objek wisata Goa Cerme. Untuk kesempatan kali ini, Rumaysho.Com dengan Pesantren Darush Sholihin binaannya akan kembali menggulirkan pasar murah di Dusun Srunggo, Imogiri, Bantul. Dusun ini berada kurang lebih 20 km dari Pesantren DS. Rencana akan diadakan pasar murah di dusun tersebut untuk mengatasi Kristenisasi yang secara tersembunyi mulai masuk kembali ke Dusun tersebut. Telah disepakati bahwa pasar murah tersebut akan dilaksanakan tanggal 8 September 2013, pukul 10.00 WIB. Di mana pasar murah kali ini adalah kerjasama Pesantren Darush Sholihin dengan Ustadz Muslam, pengajar di Ponpes Jamillurrahman Bantul. Pasca Gempa 27 Mei 2006 Kami pernah terjun sesaat pasca gempa 2006 di Dusun Srunggo. Seperti daerah lain keadaan 7 tahun yang lalu sangat parah. Banyak bangunan yang roboh karena Srunggo dekat dengan pusat Gempa. Di samping fisik yang roboh, iman pun mulai bergoncang karena gencarnya misionaris yang masuk ke dusun tersebut untuk menyalurkan bantuan dan menggencarkan misi mereka. Yayasan misionaris yang masuk diwilayah dusun srunggo antara lain : 1- YKPMI : Yayasan Kasih Peduli Masyarakat Indonesia 2- YTI : Yayasan Transformasi Indonesia 3- YTB : Yayasan Tanggul Bencana 4- LOVE JOGJA : Kasih Buat Jogja 5- JRJ : Jaringan Relawan Jogja Dengan cara mendekati para tokoh masyarakat, kadus, RT, dan lain-lain mereka berusaha mencari simpati masyarakat dengan embel-embel bantuan sosial dan kemanusiaan. Misionaris dengan Misinya Pasca Gempa 1- Membagikan sembako dengan syarat harus diambil sendiri, berkumpul di posko serta bersama-sama belajar bernyanyi lagu-lagu gereja dulu. 2- Pagi, siang, sore, misionaris membagi susu keliling kerumah-rumah penduduk, khususnya pada hari Jum’at siang saat shalat Jum’at berlangsung. 3- Misionaris membawa anak-anak kecil ke kebun binatang Gembira Loka dari pagi sampai sore tanpa ada waktu shalat. 4- Misionaris mengadakan lomba masak ibu-ibu dan remaja putri mulai ba’da dhuhur sampai maghrib tanpa ada waktu shalat ashar, bahkan terkadang sampai menjelalang Isya 5- Misionaris menawarkan pengobatan gratis hingga sehat pada warga yang sakit  dengan syarat ganti KTP (pindah agama) 6- Misionaris menawarkan kepada warga untuk dibuatkan rumah dengan syarat ganti KTP (pindah agama) 7- Misionaris memberikan les pada anak-anak SD sampai SMP dari sebelum maghrib sampai jam sembilan malam, sehingga mereka tidak sempat mengerjakan shalat maghrib. 8- Misionaris mendatangi rumah-rumah warga  dengan embel-embel silaturahmi, dan berdialog dengan mereka yang ternyata sedikit demi sedikit menjelek-jelekan Islam dan membagus-baguskan agama mereka. 9- Misionaris mengajak anak-anak untuk menyanyikan lagu-lagu gereja. 10- Misionaris membagikan boneka bunda Maria, yang bila ditekan bisa berbicara dengan bahasa Inggris yang ternyata isinya menceritakan tentang Yesus. 11- Misionaris membagikan alat-alat belajar, seperti buku tulis, penggaris, dan lain-lain yang ada tulisan “I Love Jesus”. Maka jangan heran jika pasca gempa, ada seorang yang bernama “Muslimah” namun menikah dengan laki-laki non-muslim. Padahal nikah seperti ini adalah nikah yang tidak sah dan tidak ketahuan lagi si Muslimah aktif di masjid. Misi Misionaris Saat Ini Walau memang warga Srunggo mayoritas masih tetap berada dalam agamanya, namun misi misionaris masih tetap terus ada. Sebagaimana kami dengar dari Ustadz Muslam bahwa rencana warga Srunggo akan diberi utangan oleh Yayasan “Kristen” untuk memperbagus rumah mereka. Program ini pun sudah mulai jalan. Karena Yayasan tersebut sudah mendekati Pak Dukuh untuk mendata rumah warga yang berhak mendapat bantuan ini. Di samping itu, program jangka panjang mereka adalah: 1- Menjadikan objek wisata Goa Cerme sebagai tempat pembaptisan dengan nama Goa Maria 2- Mereka mengatakan bahwa sebelum bisa mengkristenkan masyarakat Srunggo mereka tidak akan pergi/ mundur dari misi ini. (Sumber Al Hadid Team) Membentengi Akidah Warga Srunggo dengan Pendirian PAUD dan TK Misi dari Ustadz Muslam selanjutnya, walau sudah berlangsung beberapa tahun di dusun Srunggo adalah mendirikan bangunan PAUD dan TK Asy Syuhada’. Selama ini kegiatan belajar mengajar hanya meminjam masjid. Padahal jumlah santri terus meningkat, sehingga perlu adanya bangunan permanen yang bisa menyokong kegiatan belajar mengajar. Donasi yang dibutuhkan adalah Rp.101.677.500,- (seratus satu juta enam ratus tujuh puluh tujuh lima ratus rupiah). Dana ini akan diusahakan dari pasar murah ini. Berikut foto tempat yang akan didirikan PAUD dan TK. Segala kebenaran info di atas bisa menghubungi Ustadz Muslam: 0821 346 08 036. Bagi yang Ingin Turut Serta dalam Donasi Bagi yang ingin turut serta dalam donasi pasar murah dan pendirian PAUD-TK Asy Syuhada’, silakan kirim donasinya ke rekening Pesantren Darush Sholihin: 1- Rekening BCA KCP Kaliurang: 8610123881. 2- Rekening BNI Syariah: 0194475165. 3- Rekening BSM KCP Wonosari: 3107011155. 4- Rekening BRI Yogyakarta: 0029-01-101480-50-9. (semua rekening di atas atas nama Muhammad Abduh Tuasikal) Setelah mengirimkan donasi, silakan kirim konfirmasi ulang ke 0815 680 7937 (via SMS) dengan mengetik nama donatur, alamat, tanggal transfer, rekening tujuan, besar donasi, keperluan transfer. Contoh format: Rini#Jogja#28/08/2013#BRI#Rp.500.000#pasar murah Srunggo. Paket sembako akan dibagikan kepada 348 KK, di dalamnya sudah terdata 150 KK yang miskin. Isi paket sembako: (1) beras 1 kg, (2) gula pasir 1/2 kg, (3) minyak goreng 1/2 L, (4) 1 kaleng sardines 450 gr, (5) teh jawa 1 bungkus. Satu paket sembako akan dijual seharga Rp.15.000,-. Pendapatan tersebut akan digunakan seluruhnya untuk pembangunan PAUD-TK Asy Syuhada’. Kontak konfirmasi berita: 0815 680 7937, PIN BB: 2707392F (Ustadz Abduh Tuasikal). Semoga Allah membalas kebaikan bapak/ibu yang telah turut serta dalam donasi ini dengan pahala melimpah, moga jadi amal jariyah dan bermanfaat untuk pada hari yang tidak ada lagi bermanfaat dinar maupun dirham. Mohon bisa membantu menyebarkan info ini pada rekan muslim lainnya. — Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Muhammad Abduh Tuasikal, MSc   Rumaysho.Com | DarushSholihin.Com Tagskristenisasi

Mengatasi Kembalinya Misi Kristenisasi ke Dusun Srunggo

Dusun Srunggo terletak di wilayah kabupaten Bantul paling Ujung selatan berbatasan dengan kabupaten Gunungkidul, merupakan daerah perbukitan dengan penduduk beragama Islam dan bermata pencaharian sebagai petani. Dusun ini terkenal dengan objek wisata Goa Cerme. Untuk kesempatan kali ini, Rumaysho.Com dengan Pesantren Darush Sholihin binaannya akan kembali menggulirkan pasar murah di Dusun Srunggo, Imogiri, Bantul. Dusun ini berada kurang lebih 20 km dari Pesantren DS. Rencana akan diadakan pasar murah di dusun tersebut untuk mengatasi Kristenisasi yang secara tersembunyi mulai masuk kembali ke Dusun tersebut. Telah disepakati bahwa pasar murah tersebut akan dilaksanakan tanggal 8 September 2013, pukul 10.00 WIB. Di mana pasar murah kali ini adalah kerjasama Pesantren Darush Sholihin dengan Ustadz Muslam, pengajar di Ponpes Jamillurrahman Bantul. Pasca Gempa 27 Mei 2006 Kami pernah terjun sesaat pasca gempa 2006 di Dusun Srunggo. Seperti daerah lain keadaan 7 tahun yang lalu sangat parah. Banyak bangunan yang roboh karena Srunggo dekat dengan pusat Gempa. Di samping fisik yang roboh, iman pun mulai bergoncang karena gencarnya misionaris yang masuk ke dusun tersebut untuk menyalurkan bantuan dan menggencarkan misi mereka. Yayasan misionaris yang masuk diwilayah dusun srunggo antara lain : 1- YKPMI : Yayasan Kasih Peduli Masyarakat Indonesia 2- YTI : Yayasan Transformasi Indonesia 3- YTB : Yayasan Tanggul Bencana 4- LOVE JOGJA : Kasih Buat Jogja 5- JRJ : Jaringan Relawan Jogja Dengan cara mendekati para tokoh masyarakat, kadus, RT, dan lain-lain mereka berusaha mencari simpati masyarakat dengan embel-embel bantuan sosial dan kemanusiaan. Misionaris dengan Misinya Pasca Gempa 1- Membagikan sembako dengan syarat harus diambil sendiri, berkumpul di posko serta bersama-sama belajar bernyanyi lagu-lagu gereja dulu. 2- Pagi, siang, sore, misionaris membagi susu keliling kerumah-rumah penduduk, khususnya pada hari Jum’at siang saat shalat Jum’at berlangsung. 3- Misionaris membawa anak-anak kecil ke kebun binatang Gembira Loka dari pagi sampai sore tanpa ada waktu shalat. 4- Misionaris mengadakan lomba masak ibu-ibu dan remaja putri mulai ba’da dhuhur sampai maghrib tanpa ada waktu shalat ashar, bahkan terkadang sampai menjelalang Isya 5- Misionaris menawarkan pengobatan gratis hingga sehat pada warga yang sakit  dengan syarat ganti KTP (pindah agama) 6- Misionaris menawarkan kepada warga untuk dibuatkan rumah dengan syarat ganti KTP (pindah agama) 7- Misionaris memberikan les pada anak-anak SD sampai SMP dari sebelum maghrib sampai jam sembilan malam, sehingga mereka tidak sempat mengerjakan shalat maghrib. 8- Misionaris mendatangi rumah-rumah warga  dengan embel-embel silaturahmi, dan berdialog dengan mereka yang ternyata sedikit demi sedikit menjelek-jelekan Islam dan membagus-baguskan agama mereka. 9- Misionaris mengajak anak-anak untuk menyanyikan lagu-lagu gereja. 10- Misionaris membagikan boneka bunda Maria, yang bila ditekan bisa berbicara dengan bahasa Inggris yang ternyata isinya menceritakan tentang Yesus. 11- Misionaris membagikan alat-alat belajar, seperti buku tulis, penggaris, dan lain-lain yang ada tulisan “I Love Jesus”. Maka jangan heran jika pasca gempa, ada seorang yang bernama “Muslimah” namun menikah dengan laki-laki non-muslim. Padahal nikah seperti ini adalah nikah yang tidak sah dan tidak ketahuan lagi si Muslimah aktif di masjid. Misi Misionaris Saat Ini Walau memang warga Srunggo mayoritas masih tetap berada dalam agamanya, namun misi misionaris masih tetap terus ada. Sebagaimana kami dengar dari Ustadz Muslam bahwa rencana warga Srunggo akan diberi utangan oleh Yayasan “Kristen” untuk memperbagus rumah mereka. Program ini pun sudah mulai jalan. Karena Yayasan tersebut sudah mendekati Pak Dukuh untuk mendata rumah warga yang berhak mendapat bantuan ini. Di samping itu, program jangka panjang mereka adalah: 1- Menjadikan objek wisata Goa Cerme sebagai tempat pembaptisan dengan nama Goa Maria 2- Mereka mengatakan bahwa sebelum bisa mengkristenkan masyarakat Srunggo mereka tidak akan pergi/ mundur dari misi ini. (Sumber Al Hadid Team) Membentengi Akidah Warga Srunggo dengan Pendirian PAUD dan TK Misi dari Ustadz Muslam selanjutnya, walau sudah berlangsung beberapa tahun di dusun Srunggo adalah mendirikan bangunan PAUD dan TK Asy Syuhada’. Selama ini kegiatan belajar mengajar hanya meminjam masjid. Padahal jumlah santri terus meningkat, sehingga perlu adanya bangunan permanen yang bisa menyokong kegiatan belajar mengajar. Donasi yang dibutuhkan adalah Rp.101.677.500,- (seratus satu juta enam ratus tujuh puluh tujuh lima ratus rupiah). Dana ini akan diusahakan dari pasar murah ini. Berikut foto tempat yang akan didirikan PAUD dan TK. Segala kebenaran info di atas bisa menghubungi Ustadz Muslam: 0821 346 08 036. Bagi yang Ingin Turut Serta dalam Donasi Bagi yang ingin turut serta dalam donasi pasar murah dan pendirian PAUD-TK Asy Syuhada’, silakan kirim donasinya ke rekening Pesantren Darush Sholihin: 1- Rekening BCA KCP Kaliurang: 8610123881. 2- Rekening BNI Syariah: 0194475165. 3- Rekening BSM KCP Wonosari: 3107011155. 4- Rekening BRI Yogyakarta: 0029-01-101480-50-9. (semua rekening di atas atas nama Muhammad Abduh Tuasikal) Setelah mengirimkan donasi, silakan kirim konfirmasi ulang ke 0815 680 7937 (via SMS) dengan mengetik nama donatur, alamat, tanggal transfer, rekening tujuan, besar donasi, keperluan transfer. Contoh format: Rini#Jogja#28/08/2013#BRI#Rp.500.000#pasar murah Srunggo. Paket sembako akan dibagikan kepada 348 KK, di dalamnya sudah terdata 150 KK yang miskin. Isi paket sembako: (1) beras 1 kg, (2) gula pasir 1/2 kg, (3) minyak goreng 1/2 L, (4) 1 kaleng sardines 450 gr, (5) teh jawa 1 bungkus. Satu paket sembako akan dijual seharga Rp.15.000,-. Pendapatan tersebut akan digunakan seluruhnya untuk pembangunan PAUD-TK Asy Syuhada’. Kontak konfirmasi berita: 0815 680 7937, PIN BB: 2707392F (Ustadz Abduh Tuasikal). Semoga Allah membalas kebaikan bapak/ibu yang telah turut serta dalam donasi ini dengan pahala melimpah, moga jadi amal jariyah dan bermanfaat untuk pada hari yang tidak ada lagi bermanfaat dinar maupun dirham. Mohon bisa membantu menyebarkan info ini pada rekan muslim lainnya. — Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Muhammad Abduh Tuasikal, MSc   Rumaysho.Com | DarushSholihin.Com Tagskristenisasi
Dusun Srunggo terletak di wilayah kabupaten Bantul paling Ujung selatan berbatasan dengan kabupaten Gunungkidul, merupakan daerah perbukitan dengan penduduk beragama Islam dan bermata pencaharian sebagai petani. Dusun ini terkenal dengan objek wisata Goa Cerme. Untuk kesempatan kali ini, Rumaysho.Com dengan Pesantren Darush Sholihin binaannya akan kembali menggulirkan pasar murah di Dusun Srunggo, Imogiri, Bantul. Dusun ini berada kurang lebih 20 km dari Pesantren DS. Rencana akan diadakan pasar murah di dusun tersebut untuk mengatasi Kristenisasi yang secara tersembunyi mulai masuk kembali ke Dusun tersebut. Telah disepakati bahwa pasar murah tersebut akan dilaksanakan tanggal 8 September 2013, pukul 10.00 WIB. Di mana pasar murah kali ini adalah kerjasama Pesantren Darush Sholihin dengan Ustadz Muslam, pengajar di Ponpes Jamillurrahman Bantul. Pasca Gempa 27 Mei 2006 Kami pernah terjun sesaat pasca gempa 2006 di Dusun Srunggo. Seperti daerah lain keadaan 7 tahun yang lalu sangat parah. Banyak bangunan yang roboh karena Srunggo dekat dengan pusat Gempa. Di samping fisik yang roboh, iman pun mulai bergoncang karena gencarnya misionaris yang masuk ke dusun tersebut untuk menyalurkan bantuan dan menggencarkan misi mereka. Yayasan misionaris yang masuk diwilayah dusun srunggo antara lain : 1- YKPMI : Yayasan Kasih Peduli Masyarakat Indonesia 2- YTI : Yayasan Transformasi Indonesia 3- YTB : Yayasan Tanggul Bencana 4- LOVE JOGJA : Kasih Buat Jogja 5- JRJ : Jaringan Relawan Jogja Dengan cara mendekati para tokoh masyarakat, kadus, RT, dan lain-lain mereka berusaha mencari simpati masyarakat dengan embel-embel bantuan sosial dan kemanusiaan. Misionaris dengan Misinya Pasca Gempa 1- Membagikan sembako dengan syarat harus diambil sendiri, berkumpul di posko serta bersama-sama belajar bernyanyi lagu-lagu gereja dulu. 2- Pagi, siang, sore, misionaris membagi susu keliling kerumah-rumah penduduk, khususnya pada hari Jum’at siang saat shalat Jum’at berlangsung. 3- Misionaris membawa anak-anak kecil ke kebun binatang Gembira Loka dari pagi sampai sore tanpa ada waktu shalat. 4- Misionaris mengadakan lomba masak ibu-ibu dan remaja putri mulai ba’da dhuhur sampai maghrib tanpa ada waktu shalat ashar, bahkan terkadang sampai menjelalang Isya 5- Misionaris menawarkan pengobatan gratis hingga sehat pada warga yang sakit  dengan syarat ganti KTP (pindah agama) 6- Misionaris menawarkan kepada warga untuk dibuatkan rumah dengan syarat ganti KTP (pindah agama) 7- Misionaris memberikan les pada anak-anak SD sampai SMP dari sebelum maghrib sampai jam sembilan malam, sehingga mereka tidak sempat mengerjakan shalat maghrib. 8- Misionaris mendatangi rumah-rumah warga  dengan embel-embel silaturahmi, dan berdialog dengan mereka yang ternyata sedikit demi sedikit menjelek-jelekan Islam dan membagus-baguskan agama mereka. 9- Misionaris mengajak anak-anak untuk menyanyikan lagu-lagu gereja. 10- Misionaris membagikan boneka bunda Maria, yang bila ditekan bisa berbicara dengan bahasa Inggris yang ternyata isinya menceritakan tentang Yesus. 11- Misionaris membagikan alat-alat belajar, seperti buku tulis, penggaris, dan lain-lain yang ada tulisan “I Love Jesus”. Maka jangan heran jika pasca gempa, ada seorang yang bernama “Muslimah” namun menikah dengan laki-laki non-muslim. Padahal nikah seperti ini adalah nikah yang tidak sah dan tidak ketahuan lagi si Muslimah aktif di masjid. Misi Misionaris Saat Ini Walau memang warga Srunggo mayoritas masih tetap berada dalam agamanya, namun misi misionaris masih tetap terus ada. Sebagaimana kami dengar dari Ustadz Muslam bahwa rencana warga Srunggo akan diberi utangan oleh Yayasan “Kristen” untuk memperbagus rumah mereka. Program ini pun sudah mulai jalan. Karena Yayasan tersebut sudah mendekati Pak Dukuh untuk mendata rumah warga yang berhak mendapat bantuan ini. Di samping itu, program jangka panjang mereka adalah: 1- Menjadikan objek wisata Goa Cerme sebagai tempat pembaptisan dengan nama Goa Maria 2- Mereka mengatakan bahwa sebelum bisa mengkristenkan masyarakat Srunggo mereka tidak akan pergi/ mundur dari misi ini. (Sumber Al Hadid Team) Membentengi Akidah Warga Srunggo dengan Pendirian PAUD dan TK Misi dari Ustadz Muslam selanjutnya, walau sudah berlangsung beberapa tahun di dusun Srunggo adalah mendirikan bangunan PAUD dan TK Asy Syuhada’. Selama ini kegiatan belajar mengajar hanya meminjam masjid. Padahal jumlah santri terus meningkat, sehingga perlu adanya bangunan permanen yang bisa menyokong kegiatan belajar mengajar. Donasi yang dibutuhkan adalah Rp.101.677.500,- (seratus satu juta enam ratus tujuh puluh tujuh lima ratus rupiah). Dana ini akan diusahakan dari pasar murah ini. Berikut foto tempat yang akan didirikan PAUD dan TK. Segala kebenaran info di atas bisa menghubungi Ustadz Muslam: 0821 346 08 036. Bagi yang Ingin Turut Serta dalam Donasi Bagi yang ingin turut serta dalam donasi pasar murah dan pendirian PAUD-TK Asy Syuhada’, silakan kirim donasinya ke rekening Pesantren Darush Sholihin: 1- Rekening BCA KCP Kaliurang: 8610123881. 2- Rekening BNI Syariah: 0194475165. 3- Rekening BSM KCP Wonosari: 3107011155. 4- Rekening BRI Yogyakarta: 0029-01-101480-50-9. (semua rekening di atas atas nama Muhammad Abduh Tuasikal) Setelah mengirimkan donasi, silakan kirim konfirmasi ulang ke 0815 680 7937 (via SMS) dengan mengetik nama donatur, alamat, tanggal transfer, rekening tujuan, besar donasi, keperluan transfer. Contoh format: Rini#Jogja#28/08/2013#BRI#Rp.500.000#pasar murah Srunggo. Paket sembako akan dibagikan kepada 348 KK, di dalamnya sudah terdata 150 KK yang miskin. Isi paket sembako: (1) beras 1 kg, (2) gula pasir 1/2 kg, (3) minyak goreng 1/2 L, (4) 1 kaleng sardines 450 gr, (5) teh jawa 1 bungkus. Satu paket sembako akan dijual seharga Rp.15.000,-. Pendapatan tersebut akan digunakan seluruhnya untuk pembangunan PAUD-TK Asy Syuhada’. Kontak konfirmasi berita: 0815 680 7937, PIN BB: 2707392F (Ustadz Abduh Tuasikal). Semoga Allah membalas kebaikan bapak/ibu yang telah turut serta dalam donasi ini dengan pahala melimpah, moga jadi amal jariyah dan bermanfaat untuk pada hari yang tidak ada lagi bermanfaat dinar maupun dirham. Mohon bisa membantu menyebarkan info ini pada rekan muslim lainnya. — Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Muhammad Abduh Tuasikal, MSc   Rumaysho.Com | DarushSholihin.Com Tagskristenisasi


Dusun Srunggo terletak di wilayah kabupaten Bantul paling Ujung selatan berbatasan dengan kabupaten Gunungkidul, merupakan daerah perbukitan dengan penduduk beragama Islam dan bermata pencaharian sebagai petani. Dusun ini terkenal dengan objek wisata Goa Cerme. Untuk kesempatan kali ini, Rumaysho.Com dengan Pesantren Darush Sholihin binaannya akan kembali menggulirkan pasar murah di Dusun Srunggo, Imogiri, Bantul. Dusun ini berada kurang lebih 20 km dari Pesantren DS. Rencana akan diadakan pasar murah di dusun tersebut untuk mengatasi Kristenisasi yang secara tersembunyi mulai masuk kembali ke Dusun tersebut. Telah disepakati bahwa pasar murah tersebut akan dilaksanakan tanggal 8 September 2013, pukul 10.00 WIB. Di mana pasar murah kali ini adalah kerjasama Pesantren Darush Sholihin dengan Ustadz Muslam, pengajar di Ponpes Jamillurrahman Bantul. Pasca Gempa 27 Mei 2006 Kami pernah terjun sesaat pasca gempa 2006 di Dusun Srunggo. Seperti daerah lain keadaan 7 tahun yang lalu sangat parah. Banyak bangunan yang roboh karena Srunggo dekat dengan pusat Gempa. Di samping fisik yang roboh, iman pun mulai bergoncang karena gencarnya misionaris yang masuk ke dusun tersebut untuk menyalurkan bantuan dan menggencarkan misi mereka. Yayasan misionaris yang masuk diwilayah dusun srunggo antara lain : 1- YKPMI : Yayasan Kasih Peduli Masyarakat Indonesia 2- YTI : Yayasan Transformasi Indonesia 3- YTB : Yayasan Tanggul Bencana 4- LOVE JOGJA : Kasih Buat Jogja 5- JRJ : Jaringan Relawan Jogja Dengan cara mendekati para tokoh masyarakat, kadus, RT, dan lain-lain mereka berusaha mencari simpati masyarakat dengan embel-embel bantuan sosial dan kemanusiaan. Misionaris dengan Misinya Pasca Gempa 1- Membagikan sembako dengan syarat harus diambil sendiri, berkumpul di posko serta bersama-sama belajar bernyanyi lagu-lagu gereja dulu. 2- Pagi, siang, sore, misionaris membagi susu keliling kerumah-rumah penduduk, khususnya pada hari Jum’at siang saat shalat Jum’at berlangsung. 3- Misionaris membawa anak-anak kecil ke kebun binatang Gembira Loka dari pagi sampai sore tanpa ada waktu shalat. 4- Misionaris mengadakan lomba masak ibu-ibu dan remaja putri mulai ba’da dhuhur sampai maghrib tanpa ada waktu shalat ashar, bahkan terkadang sampai menjelalang Isya 5- Misionaris menawarkan pengobatan gratis hingga sehat pada warga yang sakit  dengan syarat ganti KTP (pindah agama) 6- Misionaris menawarkan kepada warga untuk dibuatkan rumah dengan syarat ganti KTP (pindah agama) 7- Misionaris memberikan les pada anak-anak SD sampai SMP dari sebelum maghrib sampai jam sembilan malam, sehingga mereka tidak sempat mengerjakan shalat maghrib. 8- Misionaris mendatangi rumah-rumah warga  dengan embel-embel silaturahmi, dan berdialog dengan mereka yang ternyata sedikit demi sedikit menjelek-jelekan Islam dan membagus-baguskan agama mereka. 9- Misionaris mengajak anak-anak untuk menyanyikan lagu-lagu gereja. 10- Misionaris membagikan boneka bunda Maria, yang bila ditekan bisa berbicara dengan bahasa Inggris yang ternyata isinya menceritakan tentang Yesus. 11- Misionaris membagikan alat-alat belajar, seperti buku tulis, penggaris, dan lain-lain yang ada tulisan “I Love Jesus”. Maka jangan heran jika pasca gempa, ada seorang yang bernama “Muslimah” namun menikah dengan laki-laki non-muslim. Padahal nikah seperti ini adalah nikah yang tidak sah dan tidak ketahuan lagi si Muslimah aktif di masjid. Misi Misionaris Saat Ini Walau memang warga Srunggo mayoritas masih tetap berada dalam agamanya, namun misi misionaris masih tetap terus ada. Sebagaimana kami dengar dari Ustadz Muslam bahwa rencana warga Srunggo akan diberi utangan oleh Yayasan “Kristen” untuk memperbagus rumah mereka. Program ini pun sudah mulai jalan. Karena Yayasan tersebut sudah mendekati Pak Dukuh untuk mendata rumah warga yang berhak mendapat bantuan ini. Di samping itu, program jangka panjang mereka adalah: 1- Menjadikan objek wisata Goa Cerme sebagai tempat pembaptisan dengan nama Goa Maria 2- Mereka mengatakan bahwa sebelum bisa mengkristenkan masyarakat Srunggo mereka tidak akan pergi/ mundur dari misi ini. (Sumber Al Hadid Team) Membentengi Akidah Warga Srunggo dengan Pendirian PAUD dan TK Misi dari Ustadz Muslam selanjutnya, walau sudah berlangsung beberapa tahun di dusun Srunggo adalah mendirikan bangunan PAUD dan TK Asy Syuhada’. Selama ini kegiatan belajar mengajar hanya meminjam masjid. Padahal jumlah santri terus meningkat, sehingga perlu adanya bangunan permanen yang bisa menyokong kegiatan belajar mengajar. Donasi yang dibutuhkan adalah Rp.101.677.500,- (seratus satu juta enam ratus tujuh puluh tujuh lima ratus rupiah). Dana ini akan diusahakan dari pasar murah ini. Berikut foto tempat yang akan didirikan PAUD dan TK. Segala kebenaran info di atas bisa menghubungi Ustadz Muslam: 0821 346 08 036. Bagi yang Ingin Turut Serta dalam Donasi Bagi yang ingin turut serta dalam donasi pasar murah dan pendirian PAUD-TK Asy Syuhada’, silakan kirim donasinya ke rekening Pesantren Darush Sholihin: 1- Rekening BCA KCP Kaliurang: 8610123881. 2- Rekening BNI Syariah: 0194475165. 3- Rekening BSM KCP Wonosari: 3107011155. 4- Rekening BRI Yogyakarta: 0029-01-101480-50-9. (semua rekening di atas atas nama Muhammad Abduh Tuasikal) Setelah mengirimkan donasi, silakan kirim konfirmasi ulang ke 0815 680 7937 (via SMS) dengan mengetik nama donatur, alamat, tanggal transfer, rekening tujuan, besar donasi, keperluan transfer. Contoh format: Rini#Jogja#28/08/2013#BRI#Rp.500.000#pasar murah Srunggo. Paket sembako akan dibagikan kepada 348 KK, di dalamnya sudah terdata 150 KK yang miskin. Isi paket sembako: (1) beras 1 kg, (2) gula pasir 1/2 kg, (3) minyak goreng 1/2 L, (4) 1 kaleng sardines 450 gr, (5) teh jawa 1 bungkus. Satu paket sembako akan dijual seharga Rp.15.000,-. Pendapatan tersebut akan digunakan seluruhnya untuk pembangunan PAUD-TK Asy Syuhada’. Kontak konfirmasi berita: 0815 680 7937, PIN BB: 2707392F (Ustadz Abduh Tuasikal). Semoga Allah membalas kebaikan bapak/ibu yang telah turut serta dalam donasi ini dengan pahala melimpah, moga jadi amal jariyah dan bermanfaat untuk pada hari yang tidak ada lagi bermanfaat dinar maupun dirham. Mohon bisa membantu menyebarkan info ini pada rekan muslim lainnya. — Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Muhammad Abduh Tuasikal, MSc   Rumaysho.Com | DarushSholihin.Com Tagskristenisasi

Tidak Memakai Pakaian Ihram Ketika Thawaf Ifadhah

Thawaf (tawaf) ifadhah merupakan salah satu rukun haji yang telah disepakati. Thawaf ini biasa disebut thawaf ziyaroh atau thawaf fardh. Dan biasa pula disebut thawaf rukn karena ia merupakan rukun haji. Thawaf ini tidak bisa tergantikan. Setelah dari ‘Arofah, mabit di Muzdalifah lalu ke Mina pada hari ‘ied, lalu melempar jumrah, lalu nahr (melakukan penyembelihan) dan menggunduli kepala, kemudian jama’ah haji mendatangi Makkah, lalu thawaf keliling ka’bah untuk melaksanakan thawaf ifadhah. Jika demikian, apakah ketika thawaf ifadhah sudah bisa memakai pakaian bebas, tidak lagi mengenakan pakaian ihram? Yang Dilakukan pada Hari Kesepuluh Dzulhijjah Yang dilakukan pada hari Nahr (Idul Adha, 10 Dzulhijjah) oleh Jama’ah Haji adalah: 1-      Melempar jumrah ‘aqobah 2-      Menyembelih hadyu 3-      Mencukur rambut kepala 4-      Melakukan thowaf ifadhah Guru kami, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath Thorifiy -semoga Allah memberkahi umur beliau- mengatakan, “Jika salah satu dari amalan haji pada hari kesepuluh di atas dimajukan dari yang lain, maka tidaklah masalah. Jika seseorang menyembelih dulu sebelum melempar jumrah, atau mencukur sebelum menyembelih, atau melakukan thawaf ifadhah sebelum melempar jumrah dan mencukur, maka tidaklah mengapa. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanyakan demikian dan beliau menjawab tidaklah mengapa. Namun yang disunnahkan adalah mengikuti sebagaimana yang beliau lakukan yaitu: melempar jumrah, lalu menyembelih, lalu mencukur, kemudian melakukan thawaf (ifadhah).” (Shifat Hajjatin Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, hal. 196). Silakan baca selengkapnya mengenai: Amalan Haji pada Saat Idul Adha. Tahallul Awwal Setelah melempar jumrah ‘aqobah dan mencukur rambut kepala, maka seseorang sudah dianggap tahallul awwal. Artinya larangan ihram sudah bisa dilakukan selain yang berkaitan dengan wanita. Jadi ketika itu sudah bisa melepas kain ihram dan bisa memakai baju bebas dan bisa pula memakai wangi-wangian. Barulah setelah itu, ia beranjak ke Masjidil Haram untuk menunaikan thawaf ifadhah yang merupakan rukun haji. Kalau dikatakan sudah boleh melepas pakaian ihram, maka berarti boleh memakai pakaian bebas setelah tahallul awwal. Kapan Disebut Tahallul Awwal? Menurut ulama Syafi’iyah dan Hambali, disebut tahallul awwal jika telah melakukan dua dari tiga perkara berikut: 1- melempar jumrah ‘aqobah 2- menyembelih hadyu (nahr) 3- mencukur atau memendekkan rambut. Setelah tahallul awwal ini -disebut pula tahallul shugro-, maka boleh memakai baju bebas (mencopot pakaian ihram). Ketika telah tahallul awwal, semua hal dibolehkan kecuali jima’ (berhubungan intim) dengan pasangan. Adapun dalil bolehnya memakai pakaian biasa setelah melempar jumrah ‘aqobah adalah hadits di mana Ibnu ‘Abbas berkata, إِذَا رَمَيْتُمُ الْجَمْرَةَ فَقَدْ حَلَّ لَكُمْ كُلُّ شَىْءٍ إِلاَّ النِّسَاءَ “Jika kalian telah melempar jumrah ‘aqobah, maka telah halal segala sesuatu kecuali berhubungan intim dengan wanita.” (HR. Ibnu Majah no. 3041 dan An Nasai no. 3086. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Semoga Allah memberi hidayah untuk meraih ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, terbitan Kementrian Agama Kuwait, 10: 247-250. Shifat Hajjatin Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, -guru kami- Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq Ath Thorifi, terbitan Maktabah Daril Minhaj, cetakan ketiga, tahun 1433 H. — Selesai disusun pukul 21.47 WIB, 20 Syawal 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul Artikel www.rumaysho.com Tagshaji ihram umrah

Tidak Memakai Pakaian Ihram Ketika Thawaf Ifadhah

Thawaf (tawaf) ifadhah merupakan salah satu rukun haji yang telah disepakati. Thawaf ini biasa disebut thawaf ziyaroh atau thawaf fardh. Dan biasa pula disebut thawaf rukn karena ia merupakan rukun haji. Thawaf ini tidak bisa tergantikan. Setelah dari ‘Arofah, mabit di Muzdalifah lalu ke Mina pada hari ‘ied, lalu melempar jumrah, lalu nahr (melakukan penyembelihan) dan menggunduli kepala, kemudian jama’ah haji mendatangi Makkah, lalu thawaf keliling ka’bah untuk melaksanakan thawaf ifadhah. Jika demikian, apakah ketika thawaf ifadhah sudah bisa memakai pakaian bebas, tidak lagi mengenakan pakaian ihram? Yang Dilakukan pada Hari Kesepuluh Dzulhijjah Yang dilakukan pada hari Nahr (Idul Adha, 10 Dzulhijjah) oleh Jama’ah Haji adalah: 1-      Melempar jumrah ‘aqobah 2-      Menyembelih hadyu 3-      Mencukur rambut kepala 4-      Melakukan thowaf ifadhah Guru kami, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath Thorifiy -semoga Allah memberkahi umur beliau- mengatakan, “Jika salah satu dari amalan haji pada hari kesepuluh di atas dimajukan dari yang lain, maka tidaklah masalah. Jika seseorang menyembelih dulu sebelum melempar jumrah, atau mencukur sebelum menyembelih, atau melakukan thawaf ifadhah sebelum melempar jumrah dan mencukur, maka tidaklah mengapa. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanyakan demikian dan beliau menjawab tidaklah mengapa. Namun yang disunnahkan adalah mengikuti sebagaimana yang beliau lakukan yaitu: melempar jumrah, lalu menyembelih, lalu mencukur, kemudian melakukan thawaf (ifadhah).” (Shifat Hajjatin Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, hal. 196). Silakan baca selengkapnya mengenai: Amalan Haji pada Saat Idul Adha. Tahallul Awwal Setelah melempar jumrah ‘aqobah dan mencukur rambut kepala, maka seseorang sudah dianggap tahallul awwal. Artinya larangan ihram sudah bisa dilakukan selain yang berkaitan dengan wanita. Jadi ketika itu sudah bisa melepas kain ihram dan bisa memakai baju bebas dan bisa pula memakai wangi-wangian. Barulah setelah itu, ia beranjak ke Masjidil Haram untuk menunaikan thawaf ifadhah yang merupakan rukun haji. Kalau dikatakan sudah boleh melepas pakaian ihram, maka berarti boleh memakai pakaian bebas setelah tahallul awwal. Kapan Disebut Tahallul Awwal? Menurut ulama Syafi’iyah dan Hambali, disebut tahallul awwal jika telah melakukan dua dari tiga perkara berikut: 1- melempar jumrah ‘aqobah 2- menyembelih hadyu (nahr) 3- mencukur atau memendekkan rambut. Setelah tahallul awwal ini -disebut pula tahallul shugro-, maka boleh memakai baju bebas (mencopot pakaian ihram). Ketika telah tahallul awwal, semua hal dibolehkan kecuali jima’ (berhubungan intim) dengan pasangan. Adapun dalil bolehnya memakai pakaian biasa setelah melempar jumrah ‘aqobah adalah hadits di mana Ibnu ‘Abbas berkata, إِذَا رَمَيْتُمُ الْجَمْرَةَ فَقَدْ حَلَّ لَكُمْ كُلُّ شَىْءٍ إِلاَّ النِّسَاءَ “Jika kalian telah melempar jumrah ‘aqobah, maka telah halal segala sesuatu kecuali berhubungan intim dengan wanita.” (HR. Ibnu Majah no. 3041 dan An Nasai no. 3086. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Semoga Allah memberi hidayah untuk meraih ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, terbitan Kementrian Agama Kuwait, 10: 247-250. Shifat Hajjatin Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, -guru kami- Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq Ath Thorifi, terbitan Maktabah Daril Minhaj, cetakan ketiga, tahun 1433 H. — Selesai disusun pukul 21.47 WIB, 20 Syawal 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul Artikel www.rumaysho.com Tagshaji ihram umrah
Thawaf (tawaf) ifadhah merupakan salah satu rukun haji yang telah disepakati. Thawaf ini biasa disebut thawaf ziyaroh atau thawaf fardh. Dan biasa pula disebut thawaf rukn karena ia merupakan rukun haji. Thawaf ini tidak bisa tergantikan. Setelah dari ‘Arofah, mabit di Muzdalifah lalu ke Mina pada hari ‘ied, lalu melempar jumrah, lalu nahr (melakukan penyembelihan) dan menggunduli kepala, kemudian jama’ah haji mendatangi Makkah, lalu thawaf keliling ka’bah untuk melaksanakan thawaf ifadhah. Jika demikian, apakah ketika thawaf ifadhah sudah bisa memakai pakaian bebas, tidak lagi mengenakan pakaian ihram? Yang Dilakukan pada Hari Kesepuluh Dzulhijjah Yang dilakukan pada hari Nahr (Idul Adha, 10 Dzulhijjah) oleh Jama’ah Haji adalah: 1-      Melempar jumrah ‘aqobah 2-      Menyembelih hadyu 3-      Mencukur rambut kepala 4-      Melakukan thowaf ifadhah Guru kami, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath Thorifiy -semoga Allah memberkahi umur beliau- mengatakan, “Jika salah satu dari amalan haji pada hari kesepuluh di atas dimajukan dari yang lain, maka tidaklah masalah. Jika seseorang menyembelih dulu sebelum melempar jumrah, atau mencukur sebelum menyembelih, atau melakukan thawaf ifadhah sebelum melempar jumrah dan mencukur, maka tidaklah mengapa. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanyakan demikian dan beliau menjawab tidaklah mengapa. Namun yang disunnahkan adalah mengikuti sebagaimana yang beliau lakukan yaitu: melempar jumrah, lalu menyembelih, lalu mencukur, kemudian melakukan thawaf (ifadhah).” (Shifat Hajjatin Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, hal. 196). Silakan baca selengkapnya mengenai: Amalan Haji pada Saat Idul Adha. Tahallul Awwal Setelah melempar jumrah ‘aqobah dan mencukur rambut kepala, maka seseorang sudah dianggap tahallul awwal. Artinya larangan ihram sudah bisa dilakukan selain yang berkaitan dengan wanita. Jadi ketika itu sudah bisa melepas kain ihram dan bisa memakai baju bebas dan bisa pula memakai wangi-wangian. Barulah setelah itu, ia beranjak ke Masjidil Haram untuk menunaikan thawaf ifadhah yang merupakan rukun haji. Kalau dikatakan sudah boleh melepas pakaian ihram, maka berarti boleh memakai pakaian bebas setelah tahallul awwal. Kapan Disebut Tahallul Awwal? Menurut ulama Syafi’iyah dan Hambali, disebut tahallul awwal jika telah melakukan dua dari tiga perkara berikut: 1- melempar jumrah ‘aqobah 2- menyembelih hadyu (nahr) 3- mencukur atau memendekkan rambut. Setelah tahallul awwal ini -disebut pula tahallul shugro-, maka boleh memakai baju bebas (mencopot pakaian ihram). Ketika telah tahallul awwal, semua hal dibolehkan kecuali jima’ (berhubungan intim) dengan pasangan. Adapun dalil bolehnya memakai pakaian biasa setelah melempar jumrah ‘aqobah adalah hadits di mana Ibnu ‘Abbas berkata, إِذَا رَمَيْتُمُ الْجَمْرَةَ فَقَدْ حَلَّ لَكُمْ كُلُّ شَىْءٍ إِلاَّ النِّسَاءَ “Jika kalian telah melempar jumrah ‘aqobah, maka telah halal segala sesuatu kecuali berhubungan intim dengan wanita.” (HR. Ibnu Majah no. 3041 dan An Nasai no. 3086. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Semoga Allah memberi hidayah untuk meraih ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, terbitan Kementrian Agama Kuwait, 10: 247-250. Shifat Hajjatin Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, -guru kami- Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq Ath Thorifi, terbitan Maktabah Daril Minhaj, cetakan ketiga, tahun 1433 H. — Selesai disusun pukul 21.47 WIB, 20 Syawal 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul Artikel www.rumaysho.com Tagshaji ihram umrah


Thawaf (tawaf) ifadhah merupakan salah satu rukun haji yang telah disepakati. Thawaf ini biasa disebut thawaf ziyaroh atau thawaf fardh. Dan biasa pula disebut thawaf rukn karena ia merupakan rukun haji. Thawaf ini tidak bisa tergantikan. Setelah dari ‘Arofah, mabit di Muzdalifah lalu ke Mina pada hari ‘ied, lalu melempar jumrah, lalu nahr (melakukan penyembelihan) dan menggunduli kepala, kemudian jama’ah haji mendatangi Makkah, lalu thawaf keliling ka’bah untuk melaksanakan thawaf ifadhah. Jika demikian, apakah ketika thawaf ifadhah sudah bisa memakai pakaian bebas, tidak lagi mengenakan pakaian ihram? Yang Dilakukan pada Hari Kesepuluh Dzulhijjah Yang dilakukan pada hari Nahr (Idul Adha, 10 Dzulhijjah) oleh Jama’ah Haji adalah: 1-      Melempar jumrah ‘aqobah 2-      Menyembelih hadyu 3-      Mencukur rambut kepala 4-      Melakukan thowaf ifadhah Guru kami, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath Thorifiy -semoga Allah memberkahi umur beliau- mengatakan, “Jika salah satu dari amalan haji pada hari kesepuluh di atas dimajukan dari yang lain, maka tidaklah masalah. Jika seseorang menyembelih dulu sebelum melempar jumrah, atau mencukur sebelum menyembelih, atau melakukan thawaf ifadhah sebelum melempar jumrah dan mencukur, maka tidaklah mengapa. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanyakan demikian dan beliau menjawab tidaklah mengapa. Namun yang disunnahkan adalah mengikuti sebagaimana yang beliau lakukan yaitu: melempar jumrah, lalu menyembelih, lalu mencukur, kemudian melakukan thawaf (ifadhah).” (Shifat Hajjatin Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, hal. 196). Silakan baca selengkapnya mengenai: Amalan Haji pada Saat Idul Adha. Tahallul Awwal Setelah melempar jumrah ‘aqobah dan mencukur rambut kepala, maka seseorang sudah dianggap tahallul awwal. Artinya larangan ihram sudah bisa dilakukan selain yang berkaitan dengan wanita. Jadi ketika itu sudah bisa melepas kain ihram dan bisa memakai baju bebas dan bisa pula memakai wangi-wangian. Barulah setelah itu, ia beranjak ke Masjidil Haram untuk menunaikan thawaf ifadhah yang merupakan rukun haji. Kalau dikatakan sudah boleh melepas pakaian ihram, maka berarti boleh memakai pakaian bebas setelah tahallul awwal. Kapan Disebut Tahallul Awwal? Menurut ulama Syafi’iyah dan Hambali, disebut tahallul awwal jika telah melakukan dua dari tiga perkara berikut: 1- melempar jumrah ‘aqobah 2- menyembelih hadyu (nahr) 3- mencukur atau memendekkan rambut. Setelah tahallul awwal ini -disebut pula tahallul shugro-, maka boleh memakai baju bebas (mencopot pakaian ihram). Ketika telah tahallul awwal, semua hal dibolehkan kecuali jima’ (berhubungan intim) dengan pasangan. Adapun dalil bolehnya memakai pakaian biasa setelah melempar jumrah ‘aqobah adalah hadits di mana Ibnu ‘Abbas berkata, إِذَا رَمَيْتُمُ الْجَمْرَةَ فَقَدْ حَلَّ لَكُمْ كُلُّ شَىْءٍ إِلاَّ النِّسَاءَ “Jika kalian telah melempar jumrah ‘aqobah, maka telah halal segala sesuatu kecuali berhubungan intim dengan wanita.” (HR. Ibnu Majah no. 3041 dan An Nasai no. 3086. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Semoga Allah memberi hidayah untuk meraih ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, terbitan Kementrian Agama Kuwait, 10: 247-250. Shifat Hajjatin Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, -guru kami- Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq Ath Thorifi, terbitan Maktabah Daril Minhaj, cetakan ketiga, tahun 1433 H. — Selesai disusun pukul 21.47 WIB, 20 Syawal 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul Artikel www.rumaysho.com Tagshaji ihram umrah

YAKIN DIKABULKAN

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :«ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ»“Berdoalah dengan yakin bahwa Allah mengabulkan doamu, dan ketahuilah bahwasanya Allah tdk akan mengabulkan doa dari hati yang lalai” (HR At-Thirmidzi)Jika doa iblis saja dikabulkan, Allah berfirman :قَالَ أَنظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَIblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”.قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنظَرِينَAllah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh”. (QS Al-A’raaf :14-15)Jika orang musyrik terkadang doanya dikabulkan…, Allah berfirman فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَMaka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah) (QS Al-Ankabuut : 25)Lantas bagaimana tdk dikabulkan seorang mukmin yang berdoa di sepertiga malam terakhir, seraya mengadahkan kedua tangannya, disertai aliran air mata??? 

YAKIN DIKABULKAN

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :«ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ»“Berdoalah dengan yakin bahwa Allah mengabulkan doamu, dan ketahuilah bahwasanya Allah tdk akan mengabulkan doa dari hati yang lalai” (HR At-Thirmidzi)Jika doa iblis saja dikabulkan, Allah berfirman :قَالَ أَنظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَIblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”.قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنظَرِينَAllah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh”. (QS Al-A’raaf :14-15)Jika orang musyrik terkadang doanya dikabulkan…, Allah berfirman فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَMaka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah) (QS Al-Ankabuut : 25)Lantas bagaimana tdk dikabulkan seorang mukmin yang berdoa di sepertiga malam terakhir, seraya mengadahkan kedua tangannya, disertai aliran air mata??? 
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :«ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ»“Berdoalah dengan yakin bahwa Allah mengabulkan doamu, dan ketahuilah bahwasanya Allah tdk akan mengabulkan doa dari hati yang lalai” (HR At-Thirmidzi)Jika doa iblis saja dikabulkan, Allah berfirman :قَالَ أَنظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَIblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”.قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنظَرِينَAllah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh”. (QS Al-A’raaf :14-15)Jika orang musyrik terkadang doanya dikabulkan…, Allah berfirman فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَMaka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah) (QS Al-Ankabuut : 25)Lantas bagaimana tdk dikabulkan seorang mukmin yang berdoa di sepertiga malam terakhir, seraya mengadahkan kedua tangannya, disertai aliran air mata??? 


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :«ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ»“Berdoalah dengan yakin bahwa Allah mengabulkan doamu, dan ketahuilah bahwasanya Allah tdk akan mengabulkan doa dari hati yang lalai” (HR At-Thirmidzi)Jika doa iblis saja dikabulkan, Allah berfirman :قَالَ أَنظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَIblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”.قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنظَرِينَAllah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh”. (QS Al-A’raaf :14-15)Jika orang musyrik terkadang doanya dikabulkan…, Allah berfirman فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَMaka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah) (QS Al-Ankabuut : 25)Lantas bagaimana tdk dikabulkan seorang mukmin yang berdoa di sepertiga malam terakhir, seraya mengadahkan kedua tangannya, disertai aliran air mata??? 

Renungan Atas Fitnah di Mesir

Renungan…Semua orang berakal sehat tentu mengecam kezoliman pihak militer yang membunuhi warga Mesir….Akan tetapi bukanlah sikap bijak memprovokasi rakyat mesir yg tidak memiliki kekuatan untuk berdemonstrasi sehingga mengakibatkan tertumpahnya darah kaum muslimin…apalagi dgn slogan yang indah… (jihaad…!!)Sikap bijak adalah semua fatwa yang mengarahkan kpd ketenangan, baik dengan menasehati pihak militer agar mereka menghentikan tindakan kejam mereka, demikian pula dengan menyeru para demonstran untuk kembali ke rumah-rumah mereka… Siapakah yang bahagia dengan tewasnya ribuan rakyat mesir…?? tidak lain kecuali hanya orang-orang kafir.Adakah seorang muslim yang senang jika akhirnya orang-orang kafir baik Amerika atau Israil akhirnya mau ikut campur menangani konflik Mesir…??!!Para ulama telah menjelaskan bahwa boleh rakyat memberontak jika telah memenuhi 2 persyaratan :1) penguasa telah kafir2) ada kekuatan yang mampu untuk menggulingkan penguasa tersebutkenyataannya persyaratan pertamapun masih sulit untuk dipenuhi, taruhlah pihak militer dikendalikan oleh orang-orang sekuler akan tetapi apakah mereka sudah sampai pada tahapan kafir???Terlebih lagi persyaratan yang kedua….???Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mekah melihat keluarga Ammar bin Yaasir dibunuh demikian juga para budak disiksa maka Nabi hanya memerintahkan mereka untuk bersabar…karena kekuatan kaum musimin yang tdk berimbang tatkala itu.Akhirnya kita hanya bisa berdoa semoga Allah menghilangkan fitnah dari Mesir dan menjaga darah saudara-saudara kita kaum muslimin

Renungan Atas Fitnah di Mesir

Renungan…Semua orang berakal sehat tentu mengecam kezoliman pihak militer yang membunuhi warga Mesir….Akan tetapi bukanlah sikap bijak memprovokasi rakyat mesir yg tidak memiliki kekuatan untuk berdemonstrasi sehingga mengakibatkan tertumpahnya darah kaum muslimin…apalagi dgn slogan yang indah… (jihaad…!!)Sikap bijak adalah semua fatwa yang mengarahkan kpd ketenangan, baik dengan menasehati pihak militer agar mereka menghentikan tindakan kejam mereka, demikian pula dengan menyeru para demonstran untuk kembali ke rumah-rumah mereka… Siapakah yang bahagia dengan tewasnya ribuan rakyat mesir…?? tidak lain kecuali hanya orang-orang kafir.Adakah seorang muslim yang senang jika akhirnya orang-orang kafir baik Amerika atau Israil akhirnya mau ikut campur menangani konflik Mesir…??!!Para ulama telah menjelaskan bahwa boleh rakyat memberontak jika telah memenuhi 2 persyaratan :1) penguasa telah kafir2) ada kekuatan yang mampu untuk menggulingkan penguasa tersebutkenyataannya persyaratan pertamapun masih sulit untuk dipenuhi, taruhlah pihak militer dikendalikan oleh orang-orang sekuler akan tetapi apakah mereka sudah sampai pada tahapan kafir???Terlebih lagi persyaratan yang kedua….???Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mekah melihat keluarga Ammar bin Yaasir dibunuh demikian juga para budak disiksa maka Nabi hanya memerintahkan mereka untuk bersabar…karena kekuatan kaum musimin yang tdk berimbang tatkala itu.Akhirnya kita hanya bisa berdoa semoga Allah menghilangkan fitnah dari Mesir dan menjaga darah saudara-saudara kita kaum muslimin
Renungan…Semua orang berakal sehat tentu mengecam kezoliman pihak militer yang membunuhi warga Mesir….Akan tetapi bukanlah sikap bijak memprovokasi rakyat mesir yg tidak memiliki kekuatan untuk berdemonstrasi sehingga mengakibatkan tertumpahnya darah kaum muslimin…apalagi dgn slogan yang indah… (jihaad…!!)Sikap bijak adalah semua fatwa yang mengarahkan kpd ketenangan, baik dengan menasehati pihak militer agar mereka menghentikan tindakan kejam mereka, demikian pula dengan menyeru para demonstran untuk kembali ke rumah-rumah mereka… Siapakah yang bahagia dengan tewasnya ribuan rakyat mesir…?? tidak lain kecuali hanya orang-orang kafir.Adakah seorang muslim yang senang jika akhirnya orang-orang kafir baik Amerika atau Israil akhirnya mau ikut campur menangani konflik Mesir…??!!Para ulama telah menjelaskan bahwa boleh rakyat memberontak jika telah memenuhi 2 persyaratan :1) penguasa telah kafir2) ada kekuatan yang mampu untuk menggulingkan penguasa tersebutkenyataannya persyaratan pertamapun masih sulit untuk dipenuhi, taruhlah pihak militer dikendalikan oleh orang-orang sekuler akan tetapi apakah mereka sudah sampai pada tahapan kafir???Terlebih lagi persyaratan yang kedua….???Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mekah melihat keluarga Ammar bin Yaasir dibunuh demikian juga para budak disiksa maka Nabi hanya memerintahkan mereka untuk bersabar…karena kekuatan kaum musimin yang tdk berimbang tatkala itu.Akhirnya kita hanya bisa berdoa semoga Allah menghilangkan fitnah dari Mesir dan menjaga darah saudara-saudara kita kaum muslimin


Renungan…Semua orang berakal sehat tentu mengecam kezoliman pihak militer yang membunuhi warga Mesir….Akan tetapi bukanlah sikap bijak memprovokasi rakyat mesir yg tidak memiliki kekuatan untuk berdemonstrasi sehingga mengakibatkan tertumpahnya darah kaum muslimin…apalagi dgn slogan yang indah… (jihaad…!!)Sikap bijak adalah semua fatwa yang mengarahkan kpd ketenangan, baik dengan menasehati pihak militer agar mereka menghentikan tindakan kejam mereka, demikian pula dengan menyeru para demonstran untuk kembali ke rumah-rumah mereka… Siapakah yang bahagia dengan tewasnya ribuan rakyat mesir…?? tidak lain kecuali hanya orang-orang kafir.Adakah seorang muslim yang senang jika akhirnya orang-orang kafir baik Amerika atau Israil akhirnya mau ikut campur menangani konflik Mesir…??!!Para ulama telah menjelaskan bahwa boleh rakyat memberontak jika telah memenuhi 2 persyaratan :1) penguasa telah kafir2) ada kekuatan yang mampu untuk menggulingkan penguasa tersebutkenyataannya persyaratan pertamapun masih sulit untuk dipenuhi, taruhlah pihak militer dikendalikan oleh orang-orang sekuler akan tetapi apakah mereka sudah sampai pada tahapan kafir???Terlebih lagi persyaratan yang kedua….???Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mekah melihat keluarga Ammar bin Yaasir dibunuh demikian juga para budak disiksa maka Nabi hanya memerintahkan mereka untuk bersabar…karena kekuatan kaum musimin yang tdk berimbang tatkala itu.Akhirnya kita hanya bisa berdoa semoga Allah menghilangkan fitnah dari Mesir dan menjaga darah saudara-saudara kita kaum muslimin
Prev     Next