GILA-kah ANDA?

Ibnu Hazm rahimahullah berkata :الْعقْلُ وَالرَّاحَةُ وَهُوَ إِطْرَاحُ الْمُبَالاَةِ بِكَلَامِ النَّاس وَاسْتِعْمَال المبالاة بِكَلَام الْخَالِق عَزَّ وَجل، بَلْ هَذَا بَاب الْعقل والراحة كلهَا، مَنْ قَدَّرَ أَنه يَسْلَمُ مِنْ طَعْنِ النَّاسِ وَعَيْبِهِمْ فَهُوَ مَجْنُون“Kecerdasan dan rileks (istirahat) adalah dengan sikap tidak peduli (cuek bebek) terhadap perkataan/komentar manusia dan dengan memperdulikan/memperhatikan perkataan sang Pencipta Azza wa Jalla. Ini adalah pintu kecerdasan dan seluruh peristirahatan. Barang siapa yang menyangka ia bisa selamat dari celaan manusia dan cercaan mereka maka ia adalah orang gila.” (Al-Akhlaaq wa As-Siyar fi mudawaatin nufuus hal 17)Sungguh benar pernyataan Ibnu Hazm di atas…, betapapun baik diri anda dan betapa dermawan dan mulia, tetap anda tidak mungkin selamat dari celaan manusia. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang terkumpulkan padanya banyak sifat yang mulia, kecerdasan, kedermawanan, kelembutan, kefasihan, kemampuan berhujjah…toh beliau tetap dikatakan orang gila, penyair gila, penyihir, bahkan tersihir..!!!Karenanya anda tidak akan selamat dari perkataan manusia –sama saja apakah kondisi anda sebagai orang baik maupun sebagai orang buruk-. Jika anda baik, maka akan dicela oleh orang-orang yang buruk. Namun jika anda buruk maka anda akan dicela oleh orang-orang yang baik. Terlebih lagi banyak manusia –baik manusia baik maupun bejat- yang hobinya mengomentari orang lain !!. Jangakan orang yang masih hidup…, bahkan mayat yang telah terpendam berabad-abad pun tidak selamat dari ocehan dan komentar mereka.Sebagaimana dikatakan :رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ“Keridhoan manusia adalah tujuan yang tidak mungkin tercapai”Jika perkaranya demikian –yaitu bagaimanapun keadaan anda tetap akan dicela dan dihina- maka hendaknya anda mencari keridhoan Allah. Maka disitulah anda akan menemukan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan. Hati anda akan rileks dan santai, tidak sibuk memikirkan komentar-komentar orang yang memuji anda, apalagi komentar orang-orang yang memusuhi Anda.Ibnu Abdis Salaam (Sulthoonul Ulamaa’) rahimahullah berkata :وَفِي رِضَا اللهِ كِفَايَةٌ عَنْ رِضَا كُلِّ أَحَدٍ :Keridoan Allah mencukupkan dari membutuhkan keridhoan siapapun…فَلَيْتَكَ تَحْلُو ، وَالحَيَاةُ مَرِيرَةٌ ، ** وَلَيْتَكَ تَرْضَى وَالأَنَامُ غِضَابُDuhai seandainya Engkau manis/ridho meskipun kehidupan ini pahit…Duhai seandainya Engkau ridho meskipun seluruh manusia marah…(Thobaqoot Asy-Syaafi’iyyah Al-Kubroo 8/228)Sungguh Terhina…Benar…sungguh terhina seseorang yang mencari keridhoan manusia dengan mendatangkan kemurkaan Allah !!!.Dalam sunan At-Tirimidzi:كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ أَنِ اكْتُبِي إِلَيَّ كِتَابًا تُوصِينِي فِيهِ، وَلَا تُكْثِرِي عَلَيَّ، فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ إِلَى مُعَاوِيَةَ: سَلَامٌ عَلَيْكَ. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنِ التَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنِ التَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ، وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ»Mu’awiyah menulis surat kepada Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu ‘anhaa (seraya berkata) : “Tulislah untukku sebuah tulisan berisikan wasiatmu kepadaku, akan tetapi jangan panjang-panjang !”.Maka Aisyahpun menulis kepada Mu’awiyah : “Assalamu ‘alaikum, Amma ba’du : Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : ((Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia maka Allah akan menjaganya dari beban (gangguan) manusia. Dan barang siapa yang mencari keridhoan manusia dengan (menyebabkan) kemarahan Allah maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia)). Wassalaamu’alaika” (HR At-Tirmidzi no 2414 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albaani)Dalam riwayat yang lain :مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَى الناس عنه ومن التمس رضى النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عليه الناس“Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan)  kemarahan manusia maka Allah akan meridhoinya dan Allah menjadikan manusia ridho kepadanya. Dan barang siapa yang mencari keridhoan manusia dengan (menyebabkan) kemarahan Allah maka Allah akan marah kepadanya dan akan menjadikan manusia marah kepadanya” (HR Ibnu Hibaan no 276)Jika seseorang nekat melakukan kemaksiatan yang mendatangkan kemurkaan Allah agar ia diridhoi oleh manusia dan tidak dibenci oleh mereka, maka ia telah menyebabkan kemurkaan Allah dan juga kemurkaan manusia, meskipun beberapa saat ia akan meraih keridhoan manusia akan tetapi itu hanyalah fatamorgana.Kalaupun ia selamat dari cercaan manusia yang ia harapakan keridhoannya, maka ia tidak akan selamat dari cercaan manusia yang lain.Kalaupun ia selamat dari seluruh cercaan manusia…maka tidak mungkin akan berlanjut keselamatan tersebut hingga akhir hidupnya. Suatu saat, cepat atau lambat maka Allah akan menjadikan manusia membencinya…!!. Sungguh telah berkali-kali kita mendapati sebagian orang yang dahulunya sangat dicintai, seluruh perkataannya diambil dan dijadikan dalil…, namun sekarang justru orang-orang yang dahulunya menyanjung-nyanjungnya malah berbalik menjatuhkan dan mencelanya…Kalaupun ia selamat di dunia dari ocehan manusia hingga akhir hidupnya, maka ia tidak akan bisa selamat dari kemarahan Allah pada hari kiamat kelak. Karenanya :Janganlah engkau ikut berghibah riya hanya agar sahabatmu yang sedang menggibah saudaramu senang, dan merasa engkau ikut serta dalam pembicaraannya. Akan tetapi tegurlah dia, belalah kehormatan saudaramu..meskipun bisa jadi mengakibatkan ia marah dan membencimu. Inilah penerapan “Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia”Janganlah engkau ikut-ikutan mentahdzir seseorang yang engkau tidak memiliki keyakinan pasti akan kesesatannya, hanya sekedar karena ingin selamat dari para sahabatmu yang suka mentahdzir. Justru tegurlah mereka yang suka memakan bangkai saudaranya meskipun mereka marah padamu. Adapun jika engkau yakin dan pasti -bukan karena perasaan dan persangkaan, atau bila perlu engkau melihat kesesatannya secara langsung bukan melalui perantara-, maka silahkanlah engkau mentahdzir dan tidak usah pedulikan ocehan manusia.Adapun seseorang yang ikut berghibah ria atau ikut-ikutan mentahdzir ala MLM hanya karena nggak enak sama ustadznya, atau takut ditahdzir sama syaikhnya…maka ketahuilah bahwasanya ustadz dan syaikhnya tersebut tidak akan memperdulikannya pada hari kiamat kelak…hari persidangan Allah Ta’aala.Tunjukkanlah bahwa anda adalah seorang yang bertauhid dan berusaha meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Dan diantara bentuk syirik kecil adalah beramal sholeh demi mendapatkan pujian dan sanjungan manusia. Demikian juga diantara syirik kecil adalah mentahdzir dan mentabdi’ serta menyatakan sesat kepada orang yang tidak pantas untuk dikatakan demikian hanya karena takut ditahdzir oleh manusia. Akan tetapi jika anda yakin –tanpa ragu- serta anda melihat adanya kemaslahatan yang pasti maka silahkanlah mentahdzir dan mentabdi’ sepuas-puasya !!!.Jika anda dicerca dan dihinakan karena tidak menjatuhkan harga diri saudara anda bahkan karena membela harga diri saudara anda, maka ingatlah cercaan manusia tidak akan memberi kemudorotan kepada anda, karena hal ini telah dijamin oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya :مَنِ التَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ“Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia maka Allah akan menjaganya dari beban (gangguan) manusia”Ingatlah kapan saja anda berfikir bahwa dengan ikut-ikutan mengghibah dan mentahdzir maka anda akan selamat dari cercaan manusia, maka ketahuilah saat itu anda sedang berperan menjadi orang gila –sebagaimana pernyataan Ibnu Hazm rahimahullah-. Wallahu A’lam bis-showaab.Diantara praktik para ulama akan hal ini adalah apa yang diterapkan oleh As-Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri hafizohulloh (yang pernah menjabat sebagai anggota al-Lajnah Ad-Daaimah dan kibarul ulama), yang telah menulis sebuah risalah tentang masalah keimanan, dimana beliau tidak sepakat dengan Syaikh Ali Hasan hafizohulloh tentang permasalahan keimanan. Tatkala beliau akan mengisi dauroh dan semajelis dengan syaikh Ali Hasan, maka sebagian ikhwan (du’at) menasehati beliau, dan mengkhawatirkan beliau akan dicerca setelah itu. Kekhawatiran ini disampaikan langsung kepada beliau, yang membuat beliau sempat berfikir panjang. Akan tetapi beliau tetap ingin berangkat ke Surabaya. Bahkan tatkala ada seorang ustadz yang lain menyampaikan hal ini kembali kepada beliau, maka beliau menjawab dengan menyebutkan hadits :“Barang siapa yang mencari kerdhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia maka Allah akan meridhoinya”. Maka terdiamlah sang ustadz mendengar jawaban beliau yang penuh keyakinan tersebut.Saya sendiri mendengar langsung tatkala beliau diminta oleh orang Arab agar tidak berangkat ke Surabaya, maka beliau menjawab dengan tegas : “Syaikh Ali Hasan adalah saudara kita, salafi aqidahnya, meskipun ia menyelisihi kita dalam sebagian permasalahan, akan tetapi kita saling menasehati, dan tidaklah perpecahan kita kecuali menyenangkan ahlul bid’ah”. Hafizokallahu syaikhonaa…

GILA-kah ANDA?

Ibnu Hazm rahimahullah berkata :الْعقْلُ وَالرَّاحَةُ وَهُوَ إِطْرَاحُ الْمُبَالاَةِ بِكَلَامِ النَّاس وَاسْتِعْمَال المبالاة بِكَلَام الْخَالِق عَزَّ وَجل، بَلْ هَذَا بَاب الْعقل والراحة كلهَا، مَنْ قَدَّرَ أَنه يَسْلَمُ مِنْ طَعْنِ النَّاسِ وَعَيْبِهِمْ فَهُوَ مَجْنُون“Kecerdasan dan rileks (istirahat) adalah dengan sikap tidak peduli (cuek bebek) terhadap perkataan/komentar manusia dan dengan memperdulikan/memperhatikan perkataan sang Pencipta Azza wa Jalla. Ini adalah pintu kecerdasan dan seluruh peristirahatan. Barang siapa yang menyangka ia bisa selamat dari celaan manusia dan cercaan mereka maka ia adalah orang gila.” (Al-Akhlaaq wa As-Siyar fi mudawaatin nufuus hal 17)Sungguh benar pernyataan Ibnu Hazm di atas…, betapapun baik diri anda dan betapa dermawan dan mulia, tetap anda tidak mungkin selamat dari celaan manusia. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang terkumpulkan padanya banyak sifat yang mulia, kecerdasan, kedermawanan, kelembutan, kefasihan, kemampuan berhujjah…toh beliau tetap dikatakan orang gila, penyair gila, penyihir, bahkan tersihir..!!!Karenanya anda tidak akan selamat dari perkataan manusia –sama saja apakah kondisi anda sebagai orang baik maupun sebagai orang buruk-. Jika anda baik, maka akan dicela oleh orang-orang yang buruk. Namun jika anda buruk maka anda akan dicela oleh orang-orang yang baik. Terlebih lagi banyak manusia –baik manusia baik maupun bejat- yang hobinya mengomentari orang lain !!. Jangakan orang yang masih hidup…, bahkan mayat yang telah terpendam berabad-abad pun tidak selamat dari ocehan dan komentar mereka.Sebagaimana dikatakan :رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ“Keridhoan manusia adalah tujuan yang tidak mungkin tercapai”Jika perkaranya demikian –yaitu bagaimanapun keadaan anda tetap akan dicela dan dihina- maka hendaknya anda mencari keridhoan Allah. Maka disitulah anda akan menemukan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan. Hati anda akan rileks dan santai, tidak sibuk memikirkan komentar-komentar orang yang memuji anda, apalagi komentar orang-orang yang memusuhi Anda.Ibnu Abdis Salaam (Sulthoonul Ulamaa’) rahimahullah berkata :وَفِي رِضَا اللهِ كِفَايَةٌ عَنْ رِضَا كُلِّ أَحَدٍ :Keridoan Allah mencukupkan dari membutuhkan keridhoan siapapun…فَلَيْتَكَ تَحْلُو ، وَالحَيَاةُ مَرِيرَةٌ ، ** وَلَيْتَكَ تَرْضَى وَالأَنَامُ غِضَابُDuhai seandainya Engkau manis/ridho meskipun kehidupan ini pahit…Duhai seandainya Engkau ridho meskipun seluruh manusia marah…(Thobaqoot Asy-Syaafi’iyyah Al-Kubroo 8/228)Sungguh Terhina…Benar…sungguh terhina seseorang yang mencari keridhoan manusia dengan mendatangkan kemurkaan Allah !!!.Dalam sunan At-Tirimidzi:كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ أَنِ اكْتُبِي إِلَيَّ كِتَابًا تُوصِينِي فِيهِ، وَلَا تُكْثِرِي عَلَيَّ، فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ إِلَى مُعَاوِيَةَ: سَلَامٌ عَلَيْكَ. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنِ التَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنِ التَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ، وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ»Mu’awiyah menulis surat kepada Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu ‘anhaa (seraya berkata) : “Tulislah untukku sebuah tulisan berisikan wasiatmu kepadaku, akan tetapi jangan panjang-panjang !”.Maka Aisyahpun menulis kepada Mu’awiyah : “Assalamu ‘alaikum, Amma ba’du : Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : ((Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia maka Allah akan menjaganya dari beban (gangguan) manusia. Dan barang siapa yang mencari keridhoan manusia dengan (menyebabkan) kemarahan Allah maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia)). Wassalaamu’alaika” (HR At-Tirmidzi no 2414 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albaani)Dalam riwayat yang lain :مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَى الناس عنه ومن التمس رضى النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عليه الناس“Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan)  kemarahan manusia maka Allah akan meridhoinya dan Allah menjadikan manusia ridho kepadanya. Dan barang siapa yang mencari keridhoan manusia dengan (menyebabkan) kemarahan Allah maka Allah akan marah kepadanya dan akan menjadikan manusia marah kepadanya” (HR Ibnu Hibaan no 276)Jika seseorang nekat melakukan kemaksiatan yang mendatangkan kemurkaan Allah agar ia diridhoi oleh manusia dan tidak dibenci oleh mereka, maka ia telah menyebabkan kemurkaan Allah dan juga kemurkaan manusia, meskipun beberapa saat ia akan meraih keridhoan manusia akan tetapi itu hanyalah fatamorgana.Kalaupun ia selamat dari cercaan manusia yang ia harapakan keridhoannya, maka ia tidak akan selamat dari cercaan manusia yang lain.Kalaupun ia selamat dari seluruh cercaan manusia…maka tidak mungkin akan berlanjut keselamatan tersebut hingga akhir hidupnya. Suatu saat, cepat atau lambat maka Allah akan menjadikan manusia membencinya…!!. Sungguh telah berkali-kali kita mendapati sebagian orang yang dahulunya sangat dicintai, seluruh perkataannya diambil dan dijadikan dalil…, namun sekarang justru orang-orang yang dahulunya menyanjung-nyanjungnya malah berbalik menjatuhkan dan mencelanya…Kalaupun ia selamat di dunia dari ocehan manusia hingga akhir hidupnya, maka ia tidak akan bisa selamat dari kemarahan Allah pada hari kiamat kelak. Karenanya :Janganlah engkau ikut berghibah riya hanya agar sahabatmu yang sedang menggibah saudaramu senang, dan merasa engkau ikut serta dalam pembicaraannya. Akan tetapi tegurlah dia, belalah kehormatan saudaramu..meskipun bisa jadi mengakibatkan ia marah dan membencimu. Inilah penerapan “Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia”Janganlah engkau ikut-ikutan mentahdzir seseorang yang engkau tidak memiliki keyakinan pasti akan kesesatannya, hanya sekedar karena ingin selamat dari para sahabatmu yang suka mentahdzir. Justru tegurlah mereka yang suka memakan bangkai saudaranya meskipun mereka marah padamu. Adapun jika engkau yakin dan pasti -bukan karena perasaan dan persangkaan, atau bila perlu engkau melihat kesesatannya secara langsung bukan melalui perantara-, maka silahkanlah engkau mentahdzir dan tidak usah pedulikan ocehan manusia.Adapun seseorang yang ikut berghibah ria atau ikut-ikutan mentahdzir ala MLM hanya karena nggak enak sama ustadznya, atau takut ditahdzir sama syaikhnya…maka ketahuilah bahwasanya ustadz dan syaikhnya tersebut tidak akan memperdulikannya pada hari kiamat kelak…hari persidangan Allah Ta’aala.Tunjukkanlah bahwa anda adalah seorang yang bertauhid dan berusaha meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Dan diantara bentuk syirik kecil adalah beramal sholeh demi mendapatkan pujian dan sanjungan manusia. Demikian juga diantara syirik kecil adalah mentahdzir dan mentabdi’ serta menyatakan sesat kepada orang yang tidak pantas untuk dikatakan demikian hanya karena takut ditahdzir oleh manusia. Akan tetapi jika anda yakin –tanpa ragu- serta anda melihat adanya kemaslahatan yang pasti maka silahkanlah mentahdzir dan mentabdi’ sepuas-puasya !!!.Jika anda dicerca dan dihinakan karena tidak menjatuhkan harga diri saudara anda bahkan karena membela harga diri saudara anda, maka ingatlah cercaan manusia tidak akan memberi kemudorotan kepada anda, karena hal ini telah dijamin oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya :مَنِ التَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ“Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia maka Allah akan menjaganya dari beban (gangguan) manusia”Ingatlah kapan saja anda berfikir bahwa dengan ikut-ikutan mengghibah dan mentahdzir maka anda akan selamat dari cercaan manusia, maka ketahuilah saat itu anda sedang berperan menjadi orang gila –sebagaimana pernyataan Ibnu Hazm rahimahullah-. Wallahu A’lam bis-showaab.Diantara praktik para ulama akan hal ini adalah apa yang diterapkan oleh As-Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri hafizohulloh (yang pernah menjabat sebagai anggota al-Lajnah Ad-Daaimah dan kibarul ulama), yang telah menulis sebuah risalah tentang masalah keimanan, dimana beliau tidak sepakat dengan Syaikh Ali Hasan hafizohulloh tentang permasalahan keimanan. Tatkala beliau akan mengisi dauroh dan semajelis dengan syaikh Ali Hasan, maka sebagian ikhwan (du’at) menasehati beliau, dan mengkhawatirkan beliau akan dicerca setelah itu. Kekhawatiran ini disampaikan langsung kepada beliau, yang membuat beliau sempat berfikir panjang. Akan tetapi beliau tetap ingin berangkat ke Surabaya. Bahkan tatkala ada seorang ustadz yang lain menyampaikan hal ini kembali kepada beliau, maka beliau menjawab dengan menyebutkan hadits :“Barang siapa yang mencari kerdhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia maka Allah akan meridhoinya”. Maka terdiamlah sang ustadz mendengar jawaban beliau yang penuh keyakinan tersebut.Saya sendiri mendengar langsung tatkala beliau diminta oleh orang Arab agar tidak berangkat ke Surabaya, maka beliau menjawab dengan tegas : “Syaikh Ali Hasan adalah saudara kita, salafi aqidahnya, meskipun ia menyelisihi kita dalam sebagian permasalahan, akan tetapi kita saling menasehati, dan tidaklah perpecahan kita kecuali menyenangkan ahlul bid’ah”. Hafizokallahu syaikhonaa…
Ibnu Hazm rahimahullah berkata :الْعقْلُ وَالرَّاحَةُ وَهُوَ إِطْرَاحُ الْمُبَالاَةِ بِكَلَامِ النَّاس وَاسْتِعْمَال المبالاة بِكَلَام الْخَالِق عَزَّ وَجل، بَلْ هَذَا بَاب الْعقل والراحة كلهَا، مَنْ قَدَّرَ أَنه يَسْلَمُ مِنْ طَعْنِ النَّاسِ وَعَيْبِهِمْ فَهُوَ مَجْنُون“Kecerdasan dan rileks (istirahat) adalah dengan sikap tidak peduli (cuek bebek) terhadap perkataan/komentar manusia dan dengan memperdulikan/memperhatikan perkataan sang Pencipta Azza wa Jalla. Ini adalah pintu kecerdasan dan seluruh peristirahatan. Barang siapa yang menyangka ia bisa selamat dari celaan manusia dan cercaan mereka maka ia adalah orang gila.” (Al-Akhlaaq wa As-Siyar fi mudawaatin nufuus hal 17)Sungguh benar pernyataan Ibnu Hazm di atas…, betapapun baik diri anda dan betapa dermawan dan mulia, tetap anda tidak mungkin selamat dari celaan manusia. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang terkumpulkan padanya banyak sifat yang mulia, kecerdasan, kedermawanan, kelembutan, kefasihan, kemampuan berhujjah…toh beliau tetap dikatakan orang gila, penyair gila, penyihir, bahkan tersihir..!!!Karenanya anda tidak akan selamat dari perkataan manusia –sama saja apakah kondisi anda sebagai orang baik maupun sebagai orang buruk-. Jika anda baik, maka akan dicela oleh orang-orang yang buruk. Namun jika anda buruk maka anda akan dicela oleh orang-orang yang baik. Terlebih lagi banyak manusia –baik manusia baik maupun bejat- yang hobinya mengomentari orang lain !!. Jangakan orang yang masih hidup…, bahkan mayat yang telah terpendam berabad-abad pun tidak selamat dari ocehan dan komentar mereka.Sebagaimana dikatakan :رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ“Keridhoan manusia adalah tujuan yang tidak mungkin tercapai”Jika perkaranya demikian –yaitu bagaimanapun keadaan anda tetap akan dicela dan dihina- maka hendaknya anda mencari keridhoan Allah. Maka disitulah anda akan menemukan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan. Hati anda akan rileks dan santai, tidak sibuk memikirkan komentar-komentar orang yang memuji anda, apalagi komentar orang-orang yang memusuhi Anda.Ibnu Abdis Salaam (Sulthoonul Ulamaa’) rahimahullah berkata :وَفِي رِضَا اللهِ كِفَايَةٌ عَنْ رِضَا كُلِّ أَحَدٍ :Keridoan Allah mencukupkan dari membutuhkan keridhoan siapapun…فَلَيْتَكَ تَحْلُو ، وَالحَيَاةُ مَرِيرَةٌ ، ** وَلَيْتَكَ تَرْضَى وَالأَنَامُ غِضَابُDuhai seandainya Engkau manis/ridho meskipun kehidupan ini pahit…Duhai seandainya Engkau ridho meskipun seluruh manusia marah…(Thobaqoot Asy-Syaafi’iyyah Al-Kubroo 8/228)Sungguh Terhina…Benar…sungguh terhina seseorang yang mencari keridhoan manusia dengan mendatangkan kemurkaan Allah !!!.Dalam sunan At-Tirimidzi:كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ أَنِ اكْتُبِي إِلَيَّ كِتَابًا تُوصِينِي فِيهِ، وَلَا تُكْثِرِي عَلَيَّ، فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ إِلَى مُعَاوِيَةَ: سَلَامٌ عَلَيْكَ. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنِ التَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنِ التَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ، وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ»Mu’awiyah menulis surat kepada Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu ‘anhaa (seraya berkata) : “Tulislah untukku sebuah tulisan berisikan wasiatmu kepadaku, akan tetapi jangan panjang-panjang !”.Maka Aisyahpun menulis kepada Mu’awiyah : “Assalamu ‘alaikum, Amma ba’du : Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : ((Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia maka Allah akan menjaganya dari beban (gangguan) manusia. Dan barang siapa yang mencari keridhoan manusia dengan (menyebabkan) kemarahan Allah maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia)). Wassalaamu’alaika” (HR At-Tirmidzi no 2414 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albaani)Dalam riwayat yang lain :مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَى الناس عنه ومن التمس رضى النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عليه الناس“Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan)  kemarahan manusia maka Allah akan meridhoinya dan Allah menjadikan manusia ridho kepadanya. Dan barang siapa yang mencari keridhoan manusia dengan (menyebabkan) kemarahan Allah maka Allah akan marah kepadanya dan akan menjadikan manusia marah kepadanya” (HR Ibnu Hibaan no 276)Jika seseorang nekat melakukan kemaksiatan yang mendatangkan kemurkaan Allah agar ia diridhoi oleh manusia dan tidak dibenci oleh mereka, maka ia telah menyebabkan kemurkaan Allah dan juga kemurkaan manusia, meskipun beberapa saat ia akan meraih keridhoan manusia akan tetapi itu hanyalah fatamorgana.Kalaupun ia selamat dari cercaan manusia yang ia harapakan keridhoannya, maka ia tidak akan selamat dari cercaan manusia yang lain.Kalaupun ia selamat dari seluruh cercaan manusia…maka tidak mungkin akan berlanjut keselamatan tersebut hingga akhir hidupnya. Suatu saat, cepat atau lambat maka Allah akan menjadikan manusia membencinya…!!. Sungguh telah berkali-kali kita mendapati sebagian orang yang dahulunya sangat dicintai, seluruh perkataannya diambil dan dijadikan dalil…, namun sekarang justru orang-orang yang dahulunya menyanjung-nyanjungnya malah berbalik menjatuhkan dan mencelanya…Kalaupun ia selamat di dunia dari ocehan manusia hingga akhir hidupnya, maka ia tidak akan bisa selamat dari kemarahan Allah pada hari kiamat kelak. Karenanya :Janganlah engkau ikut berghibah riya hanya agar sahabatmu yang sedang menggibah saudaramu senang, dan merasa engkau ikut serta dalam pembicaraannya. Akan tetapi tegurlah dia, belalah kehormatan saudaramu..meskipun bisa jadi mengakibatkan ia marah dan membencimu. Inilah penerapan “Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia”Janganlah engkau ikut-ikutan mentahdzir seseorang yang engkau tidak memiliki keyakinan pasti akan kesesatannya, hanya sekedar karena ingin selamat dari para sahabatmu yang suka mentahdzir. Justru tegurlah mereka yang suka memakan bangkai saudaranya meskipun mereka marah padamu. Adapun jika engkau yakin dan pasti -bukan karena perasaan dan persangkaan, atau bila perlu engkau melihat kesesatannya secara langsung bukan melalui perantara-, maka silahkanlah engkau mentahdzir dan tidak usah pedulikan ocehan manusia.Adapun seseorang yang ikut berghibah ria atau ikut-ikutan mentahdzir ala MLM hanya karena nggak enak sama ustadznya, atau takut ditahdzir sama syaikhnya…maka ketahuilah bahwasanya ustadz dan syaikhnya tersebut tidak akan memperdulikannya pada hari kiamat kelak…hari persidangan Allah Ta’aala.Tunjukkanlah bahwa anda adalah seorang yang bertauhid dan berusaha meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Dan diantara bentuk syirik kecil adalah beramal sholeh demi mendapatkan pujian dan sanjungan manusia. Demikian juga diantara syirik kecil adalah mentahdzir dan mentabdi’ serta menyatakan sesat kepada orang yang tidak pantas untuk dikatakan demikian hanya karena takut ditahdzir oleh manusia. Akan tetapi jika anda yakin –tanpa ragu- serta anda melihat adanya kemaslahatan yang pasti maka silahkanlah mentahdzir dan mentabdi’ sepuas-puasya !!!.Jika anda dicerca dan dihinakan karena tidak menjatuhkan harga diri saudara anda bahkan karena membela harga diri saudara anda, maka ingatlah cercaan manusia tidak akan memberi kemudorotan kepada anda, karena hal ini telah dijamin oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya :مَنِ التَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ“Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia maka Allah akan menjaganya dari beban (gangguan) manusia”Ingatlah kapan saja anda berfikir bahwa dengan ikut-ikutan mengghibah dan mentahdzir maka anda akan selamat dari cercaan manusia, maka ketahuilah saat itu anda sedang berperan menjadi orang gila –sebagaimana pernyataan Ibnu Hazm rahimahullah-. Wallahu A’lam bis-showaab.Diantara praktik para ulama akan hal ini adalah apa yang diterapkan oleh As-Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri hafizohulloh (yang pernah menjabat sebagai anggota al-Lajnah Ad-Daaimah dan kibarul ulama), yang telah menulis sebuah risalah tentang masalah keimanan, dimana beliau tidak sepakat dengan Syaikh Ali Hasan hafizohulloh tentang permasalahan keimanan. Tatkala beliau akan mengisi dauroh dan semajelis dengan syaikh Ali Hasan, maka sebagian ikhwan (du’at) menasehati beliau, dan mengkhawatirkan beliau akan dicerca setelah itu. Kekhawatiran ini disampaikan langsung kepada beliau, yang membuat beliau sempat berfikir panjang. Akan tetapi beliau tetap ingin berangkat ke Surabaya. Bahkan tatkala ada seorang ustadz yang lain menyampaikan hal ini kembali kepada beliau, maka beliau menjawab dengan menyebutkan hadits :“Barang siapa yang mencari kerdhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia maka Allah akan meridhoinya”. Maka terdiamlah sang ustadz mendengar jawaban beliau yang penuh keyakinan tersebut.Saya sendiri mendengar langsung tatkala beliau diminta oleh orang Arab agar tidak berangkat ke Surabaya, maka beliau menjawab dengan tegas : “Syaikh Ali Hasan adalah saudara kita, salafi aqidahnya, meskipun ia menyelisihi kita dalam sebagian permasalahan, akan tetapi kita saling menasehati, dan tidaklah perpecahan kita kecuali menyenangkan ahlul bid’ah”. Hafizokallahu syaikhonaa…


Ibnu Hazm rahimahullah berkata :الْعقْلُ وَالرَّاحَةُ وَهُوَ إِطْرَاحُ الْمُبَالاَةِ بِكَلَامِ النَّاس وَاسْتِعْمَال المبالاة بِكَلَام الْخَالِق عَزَّ وَجل، بَلْ هَذَا بَاب الْعقل والراحة كلهَا، مَنْ قَدَّرَ أَنه يَسْلَمُ مِنْ طَعْنِ النَّاسِ وَعَيْبِهِمْ فَهُوَ مَجْنُون“Kecerdasan dan rileks (istirahat) adalah dengan sikap tidak peduli (cuek bebek) terhadap perkataan/komentar manusia dan dengan memperdulikan/memperhatikan perkataan sang Pencipta Azza wa Jalla. Ini adalah pintu kecerdasan dan seluruh peristirahatan. Barang siapa yang menyangka ia bisa selamat dari celaan manusia dan cercaan mereka maka ia adalah orang gila.” (Al-Akhlaaq wa As-Siyar fi mudawaatin nufuus hal 17)Sungguh benar pernyataan Ibnu Hazm di atas…, betapapun baik diri anda dan betapa dermawan dan mulia, tetap anda tidak mungkin selamat dari celaan manusia. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang terkumpulkan padanya banyak sifat yang mulia, kecerdasan, kedermawanan, kelembutan, kefasihan, kemampuan berhujjah…toh beliau tetap dikatakan orang gila, penyair gila, penyihir, bahkan tersihir..!!!Karenanya anda tidak akan selamat dari perkataan manusia –sama saja apakah kondisi anda sebagai orang baik maupun sebagai orang buruk-. Jika anda baik, maka akan dicela oleh orang-orang yang buruk. Namun jika anda buruk maka anda akan dicela oleh orang-orang yang baik. Terlebih lagi banyak manusia –baik manusia baik maupun bejat- yang hobinya mengomentari orang lain !!. Jangakan orang yang masih hidup…, bahkan mayat yang telah terpendam berabad-abad pun tidak selamat dari ocehan dan komentar mereka.Sebagaimana dikatakan :رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ“Keridhoan manusia adalah tujuan yang tidak mungkin tercapai”Jika perkaranya demikian –yaitu bagaimanapun keadaan anda tetap akan dicela dan dihina- maka hendaknya anda mencari keridhoan Allah. Maka disitulah anda akan menemukan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan. Hati anda akan rileks dan santai, tidak sibuk memikirkan komentar-komentar orang yang memuji anda, apalagi komentar orang-orang yang memusuhi Anda.Ibnu Abdis Salaam (Sulthoonul Ulamaa’) rahimahullah berkata :وَفِي رِضَا اللهِ كِفَايَةٌ عَنْ رِضَا كُلِّ أَحَدٍ :Keridoan Allah mencukupkan dari membutuhkan keridhoan siapapun…فَلَيْتَكَ تَحْلُو ، وَالحَيَاةُ مَرِيرَةٌ ، ** وَلَيْتَكَ تَرْضَى وَالأَنَامُ غِضَابُDuhai seandainya Engkau manis/ridho meskipun kehidupan ini pahit…Duhai seandainya Engkau ridho meskipun seluruh manusia marah…(Thobaqoot Asy-Syaafi’iyyah Al-Kubroo 8/228)Sungguh Terhina…Benar…sungguh terhina seseorang yang mencari keridhoan manusia dengan mendatangkan kemurkaan Allah !!!.Dalam sunan At-Tirimidzi:كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ أَنِ اكْتُبِي إِلَيَّ كِتَابًا تُوصِينِي فِيهِ، وَلَا تُكْثِرِي عَلَيَّ، فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ إِلَى مُعَاوِيَةَ: سَلَامٌ عَلَيْكَ. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنِ التَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنِ التَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ، وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ»Mu’awiyah menulis surat kepada Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu ‘anhaa (seraya berkata) : “Tulislah untukku sebuah tulisan berisikan wasiatmu kepadaku, akan tetapi jangan panjang-panjang !”.Maka Aisyahpun menulis kepada Mu’awiyah : “Assalamu ‘alaikum, Amma ba’du : Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : ((Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia maka Allah akan menjaganya dari beban (gangguan) manusia. Dan barang siapa yang mencari keridhoan manusia dengan (menyebabkan) kemarahan Allah maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia)). Wassalaamu’alaika” (HR At-Tirmidzi no 2414 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albaani)Dalam riwayat yang lain :مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَى الناس عنه ومن التمس رضى النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عليه الناس“Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan)  kemarahan manusia maka Allah akan meridhoinya dan Allah menjadikan manusia ridho kepadanya. Dan barang siapa yang mencari keridhoan manusia dengan (menyebabkan) kemarahan Allah maka Allah akan marah kepadanya dan akan menjadikan manusia marah kepadanya” (HR Ibnu Hibaan no 276)Jika seseorang nekat melakukan kemaksiatan yang mendatangkan kemurkaan Allah agar ia diridhoi oleh manusia dan tidak dibenci oleh mereka, maka ia telah menyebabkan kemurkaan Allah dan juga kemurkaan manusia, meskipun beberapa saat ia akan meraih keridhoan manusia akan tetapi itu hanyalah fatamorgana.Kalaupun ia selamat dari cercaan manusia yang ia harapakan keridhoannya, maka ia tidak akan selamat dari cercaan manusia yang lain.Kalaupun ia selamat dari seluruh cercaan manusia…maka tidak mungkin akan berlanjut keselamatan tersebut hingga akhir hidupnya. Suatu saat, cepat atau lambat maka Allah akan menjadikan manusia membencinya…!!. Sungguh telah berkali-kali kita mendapati sebagian orang yang dahulunya sangat dicintai, seluruh perkataannya diambil dan dijadikan dalil…, namun sekarang justru orang-orang yang dahulunya menyanjung-nyanjungnya malah berbalik menjatuhkan dan mencelanya…Kalaupun ia selamat di dunia dari ocehan manusia hingga akhir hidupnya, maka ia tidak akan bisa selamat dari kemarahan Allah pada hari kiamat kelak. Karenanya :Janganlah engkau ikut berghibah riya hanya agar sahabatmu yang sedang menggibah saudaramu senang, dan merasa engkau ikut serta dalam pembicaraannya. Akan tetapi tegurlah dia, belalah kehormatan saudaramu..meskipun bisa jadi mengakibatkan ia marah dan membencimu. Inilah penerapan “Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia”Janganlah engkau ikut-ikutan mentahdzir seseorang yang engkau tidak memiliki keyakinan pasti akan kesesatannya, hanya sekedar karena ingin selamat dari para sahabatmu yang suka mentahdzir. Justru tegurlah mereka yang suka memakan bangkai saudaranya meskipun mereka marah padamu. Adapun jika engkau yakin dan pasti -bukan karena perasaan dan persangkaan, atau bila perlu engkau melihat kesesatannya secara langsung bukan melalui perantara-, maka silahkanlah engkau mentahdzir dan tidak usah pedulikan ocehan manusia.Adapun seseorang yang ikut berghibah ria atau ikut-ikutan mentahdzir ala MLM hanya karena nggak enak sama ustadznya, atau takut ditahdzir sama syaikhnya…maka ketahuilah bahwasanya ustadz dan syaikhnya tersebut tidak akan memperdulikannya pada hari kiamat kelak…hari persidangan Allah Ta’aala.Tunjukkanlah bahwa anda adalah seorang yang bertauhid dan berusaha meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Dan diantara bentuk syirik kecil adalah beramal sholeh demi mendapatkan pujian dan sanjungan manusia. Demikian juga diantara syirik kecil adalah mentahdzir dan mentabdi’ serta menyatakan sesat kepada orang yang tidak pantas untuk dikatakan demikian hanya karena takut ditahdzir oleh manusia. Akan tetapi jika anda yakin –tanpa ragu- serta anda melihat adanya kemaslahatan yang pasti maka silahkanlah mentahdzir dan mentabdi’ sepuas-puasya !!!.Jika anda dicerca dan dihinakan karena tidak menjatuhkan harga diri saudara anda bahkan karena membela harga diri saudara anda, maka ingatlah cercaan manusia tidak akan memberi kemudorotan kepada anda, karena hal ini telah dijamin oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya :مَنِ التَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ“Barang siapa yang mencari keridhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia maka Allah akan menjaganya dari beban (gangguan) manusia”Ingatlah kapan saja anda berfikir bahwa dengan ikut-ikutan mengghibah dan mentahdzir maka anda akan selamat dari cercaan manusia, maka ketahuilah saat itu anda sedang berperan menjadi orang gila –sebagaimana pernyataan Ibnu Hazm rahimahullah-. Wallahu A’lam bis-showaab.Diantara praktik para ulama akan hal ini adalah apa yang diterapkan oleh As-Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri hafizohulloh (yang pernah menjabat sebagai anggota al-Lajnah Ad-Daaimah dan kibarul ulama), yang telah menulis sebuah risalah tentang masalah keimanan, dimana beliau tidak sepakat dengan Syaikh Ali Hasan hafizohulloh tentang permasalahan keimanan. Tatkala beliau akan mengisi dauroh dan semajelis dengan syaikh Ali Hasan, maka sebagian ikhwan (du’at) menasehati beliau, dan mengkhawatirkan beliau akan dicerca setelah itu. Kekhawatiran ini disampaikan langsung kepada beliau, yang membuat beliau sempat berfikir panjang. Akan tetapi beliau tetap ingin berangkat ke Surabaya. Bahkan tatkala ada seorang ustadz yang lain menyampaikan hal ini kembali kepada beliau, maka beliau menjawab dengan menyebutkan hadits :“Barang siapa yang mencari kerdhoan Allah dengan (menyebabkan) kemarahan manusia maka Allah akan meridhoinya”. Maka terdiamlah sang ustadz mendengar jawaban beliau yang penuh keyakinan tersebut.Saya sendiri mendengar langsung tatkala beliau diminta oleh orang Arab agar tidak berangkat ke Surabaya, maka beliau menjawab dengan tegas : “Syaikh Ali Hasan adalah saudara kita, salafi aqidahnya, meskipun ia menyelisihi kita dalam sebagian permasalahan, akan tetapi kita saling menasehati, dan tidaklah perpecahan kita kecuali menyenangkan ahlul bid’ah”. Hafizokallahu syaikhonaa…

Bagaimana Cara Melihat Kedudukan Kita Disisi Allah

Sebagian ulama besar berkata :مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ مَنْزِلَتَهُ عِنْدَ اللهِ فَلْيَنْظُرْ كَيْفَ مَنْزِلَةُ اللهِ عِنْدَهُ“Barang siapa yang ingin melihat kedudukan dirinya di sisi Allah maka hendaklah ia melihat kedudukan Allah di sisinya” (Thobaqoot Asy-Syaafi’iyyah Al-Kubroo 8/229)Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamمَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“Barang siapa yang suka berjumpa dengan Allah maka Allah suka berjumpa dengannya, dan barang siapa yang benci bertemu dengan Allah maka Allah benci untuk bertemu dengannya” (HR Muslim)Engkau tahu kedudukan Allah disisimu tatkala engkau lebih memilih hangatnya selimut dan indahnya tidur daripada memenuhi panggilan Allah untuk sholat subuh berjama’ah…Engkau tahu kedudukan Allah di hatimu tatkala engkau mengumbar pandanganmu padahal Allah telah menyerumu..”Katakanlah kepada para lelaki mukmin untuk menundukan sebagian pandangan mereka…”

Bagaimana Cara Melihat Kedudukan Kita Disisi Allah

Sebagian ulama besar berkata :مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ مَنْزِلَتَهُ عِنْدَ اللهِ فَلْيَنْظُرْ كَيْفَ مَنْزِلَةُ اللهِ عِنْدَهُ“Barang siapa yang ingin melihat kedudukan dirinya di sisi Allah maka hendaklah ia melihat kedudukan Allah di sisinya” (Thobaqoot Asy-Syaafi’iyyah Al-Kubroo 8/229)Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamمَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“Barang siapa yang suka berjumpa dengan Allah maka Allah suka berjumpa dengannya, dan barang siapa yang benci bertemu dengan Allah maka Allah benci untuk bertemu dengannya” (HR Muslim)Engkau tahu kedudukan Allah disisimu tatkala engkau lebih memilih hangatnya selimut dan indahnya tidur daripada memenuhi panggilan Allah untuk sholat subuh berjama’ah…Engkau tahu kedudukan Allah di hatimu tatkala engkau mengumbar pandanganmu padahal Allah telah menyerumu..”Katakanlah kepada para lelaki mukmin untuk menundukan sebagian pandangan mereka…”
Sebagian ulama besar berkata :مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ مَنْزِلَتَهُ عِنْدَ اللهِ فَلْيَنْظُرْ كَيْفَ مَنْزِلَةُ اللهِ عِنْدَهُ“Barang siapa yang ingin melihat kedudukan dirinya di sisi Allah maka hendaklah ia melihat kedudukan Allah di sisinya” (Thobaqoot Asy-Syaafi’iyyah Al-Kubroo 8/229)Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamمَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“Barang siapa yang suka berjumpa dengan Allah maka Allah suka berjumpa dengannya, dan barang siapa yang benci bertemu dengan Allah maka Allah benci untuk bertemu dengannya” (HR Muslim)Engkau tahu kedudukan Allah disisimu tatkala engkau lebih memilih hangatnya selimut dan indahnya tidur daripada memenuhi panggilan Allah untuk sholat subuh berjama’ah…Engkau tahu kedudukan Allah di hatimu tatkala engkau mengumbar pandanganmu padahal Allah telah menyerumu..”Katakanlah kepada para lelaki mukmin untuk menundukan sebagian pandangan mereka…”


Sebagian ulama besar berkata :مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ مَنْزِلَتَهُ عِنْدَ اللهِ فَلْيَنْظُرْ كَيْفَ مَنْزِلَةُ اللهِ عِنْدَهُ“Barang siapa yang ingin melihat kedudukan dirinya di sisi Allah maka hendaklah ia melihat kedudukan Allah di sisinya” (Thobaqoot Asy-Syaafi’iyyah Al-Kubroo 8/229)Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamمَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“Barang siapa yang suka berjumpa dengan Allah maka Allah suka berjumpa dengannya, dan barang siapa yang benci bertemu dengan Allah maka Allah benci untuk bertemu dengannya” (HR Muslim)Engkau tahu kedudukan Allah disisimu tatkala engkau lebih memilih hangatnya selimut dan indahnya tidur daripada memenuhi panggilan Allah untuk sholat subuh berjama’ah…Engkau tahu kedudukan Allah di hatimu tatkala engkau mengumbar pandanganmu padahal Allah telah menyerumu..”Katakanlah kepada para lelaki mukmin untuk menundukan sebagian pandangan mereka…”

Kenalilah Kejelekan!

Seorang muslim tidak hanya mempelajari yang baik-baik saja. Namun hendaknya ia dalam hidupnya juga mempelajari kejelekan. Bukan berarti ia ingin melakukannya, namun justru untuk ia hindari. Coba bayangkan jika kita tidak mengenal bagaimana bentuk binatang buas. Suatu saat kita memasuki hutan belantara yang ‘so’ pasti banyak hewan seram di dalamnya. Jika seseorang tidak mengetahui bagaimana bentuk singa misalnya, malah ia sangka singa adalah binatang jinak padahal nantinya bisa menerkam dan menewaskannya. Demikian halnya kejelekan wahai ikhwah, kita pun harus tahu. Kita harus tahu seluk beluk syirik, kita harus paham manakah ajaran yang tidak ada tuntunan, manakah larangan Allah yang digolongkan dosa besar. Itu semua dipelajari supaya kita bisa hindari dan tidak terjerumus dalam syirik, bid’ah atau maksiat. Hanya Allah yang benar-benar beri petunjuk … Lihatlah seorang sahabat yang mulia yaitu Hudzaifah Ibnul Yaman, begitu semangat mengenali kejelekan, di samping ia juga paham amalan baik. Hudzaifah berkata, “Manusia dahulu biasa bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kebaikan. Aku sendiri sering bertanya mengenai kejelekan supaya aku tidak terjerumus di dalamnya.” ( HR. Bukhari no. 3411 dan Muslim no. 1847) Syaikh Sulaiman At Tamimi rahimahullah berkata, “Siapa yang tidak mengenal kecuali kebaikan saja tentu ia bisa saja mendatangi kejelekan karena ia tidak mengetahuinya. Bisa jadi ia terjerumus di dalamnya atau ia tidak mengingkari kejelekan tersebut seperti orang yang mengetahuinya. Karenanya Umar bin Khottob berkata, “Sungguh akan terlepas tali Islam perlahan demi perlahan ketika seseorang berada dalam Islam namun tidak mengenal perkara jahiliyah.” Lihat Dar’u Ta’arudh Al ‘Aql wan Naql karya Ibnu Taimiyah dan Al Jawabul Kafi karya Ibnul Qayyim. Dinukil dari Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 283. Ibnu Taimiyah rahumahullah mengatakan, “Karenanya para sahabat nabi mereka lebih kuat iman dan lebih semangat dalam jihad daripada orang-orang setelah mereka. Itu karena mereka mengenal kebaikan, di samping itu pula mengenal kejelekan. Mereka sangat semangat mengenali kebaikan dan begitu benci pada kejelekan. Karena mereka tahu bagaimana akibat baik dari iman dan amalan shalih, serta akibat jelek dari orang yang berbuat kekafiran dan maksiat.” (Fatawal Kubro, 2: 341) Demikian faedah-faedah yang Rumaysho.Com peroleh dari kitab Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 283-284. Moga bermanfaat.   Referensi: Taisir Al ‘Azizil Hamid fii Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin Abdil Wahhab, terbitan Darush Shumai’i, cetakan kedua, tahun 1429 H.   Disusun di Pesawat Batik Air saat safar Jogja JKT, 15 Safar 1435 H Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmaksiat syirik

Kenalilah Kejelekan!

Seorang muslim tidak hanya mempelajari yang baik-baik saja. Namun hendaknya ia dalam hidupnya juga mempelajari kejelekan. Bukan berarti ia ingin melakukannya, namun justru untuk ia hindari. Coba bayangkan jika kita tidak mengenal bagaimana bentuk binatang buas. Suatu saat kita memasuki hutan belantara yang ‘so’ pasti banyak hewan seram di dalamnya. Jika seseorang tidak mengetahui bagaimana bentuk singa misalnya, malah ia sangka singa adalah binatang jinak padahal nantinya bisa menerkam dan menewaskannya. Demikian halnya kejelekan wahai ikhwah, kita pun harus tahu. Kita harus tahu seluk beluk syirik, kita harus paham manakah ajaran yang tidak ada tuntunan, manakah larangan Allah yang digolongkan dosa besar. Itu semua dipelajari supaya kita bisa hindari dan tidak terjerumus dalam syirik, bid’ah atau maksiat. Hanya Allah yang benar-benar beri petunjuk … Lihatlah seorang sahabat yang mulia yaitu Hudzaifah Ibnul Yaman, begitu semangat mengenali kejelekan, di samping ia juga paham amalan baik. Hudzaifah berkata, “Manusia dahulu biasa bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kebaikan. Aku sendiri sering bertanya mengenai kejelekan supaya aku tidak terjerumus di dalamnya.” ( HR. Bukhari no. 3411 dan Muslim no. 1847) Syaikh Sulaiman At Tamimi rahimahullah berkata, “Siapa yang tidak mengenal kecuali kebaikan saja tentu ia bisa saja mendatangi kejelekan karena ia tidak mengetahuinya. Bisa jadi ia terjerumus di dalamnya atau ia tidak mengingkari kejelekan tersebut seperti orang yang mengetahuinya. Karenanya Umar bin Khottob berkata, “Sungguh akan terlepas tali Islam perlahan demi perlahan ketika seseorang berada dalam Islam namun tidak mengenal perkara jahiliyah.” Lihat Dar’u Ta’arudh Al ‘Aql wan Naql karya Ibnu Taimiyah dan Al Jawabul Kafi karya Ibnul Qayyim. Dinukil dari Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 283. Ibnu Taimiyah rahumahullah mengatakan, “Karenanya para sahabat nabi mereka lebih kuat iman dan lebih semangat dalam jihad daripada orang-orang setelah mereka. Itu karena mereka mengenal kebaikan, di samping itu pula mengenal kejelekan. Mereka sangat semangat mengenali kebaikan dan begitu benci pada kejelekan. Karena mereka tahu bagaimana akibat baik dari iman dan amalan shalih, serta akibat jelek dari orang yang berbuat kekafiran dan maksiat.” (Fatawal Kubro, 2: 341) Demikian faedah-faedah yang Rumaysho.Com peroleh dari kitab Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 283-284. Moga bermanfaat.   Referensi: Taisir Al ‘Azizil Hamid fii Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin Abdil Wahhab, terbitan Darush Shumai’i, cetakan kedua, tahun 1429 H.   Disusun di Pesawat Batik Air saat safar Jogja JKT, 15 Safar 1435 H Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmaksiat syirik
Seorang muslim tidak hanya mempelajari yang baik-baik saja. Namun hendaknya ia dalam hidupnya juga mempelajari kejelekan. Bukan berarti ia ingin melakukannya, namun justru untuk ia hindari. Coba bayangkan jika kita tidak mengenal bagaimana bentuk binatang buas. Suatu saat kita memasuki hutan belantara yang ‘so’ pasti banyak hewan seram di dalamnya. Jika seseorang tidak mengetahui bagaimana bentuk singa misalnya, malah ia sangka singa adalah binatang jinak padahal nantinya bisa menerkam dan menewaskannya. Demikian halnya kejelekan wahai ikhwah, kita pun harus tahu. Kita harus tahu seluk beluk syirik, kita harus paham manakah ajaran yang tidak ada tuntunan, manakah larangan Allah yang digolongkan dosa besar. Itu semua dipelajari supaya kita bisa hindari dan tidak terjerumus dalam syirik, bid’ah atau maksiat. Hanya Allah yang benar-benar beri petunjuk … Lihatlah seorang sahabat yang mulia yaitu Hudzaifah Ibnul Yaman, begitu semangat mengenali kejelekan, di samping ia juga paham amalan baik. Hudzaifah berkata, “Manusia dahulu biasa bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kebaikan. Aku sendiri sering bertanya mengenai kejelekan supaya aku tidak terjerumus di dalamnya.” ( HR. Bukhari no. 3411 dan Muslim no. 1847) Syaikh Sulaiman At Tamimi rahimahullah berkata, “Siapa yang tidak mengenal kecuali kebaikan saja tentu ia bisa saja mendatangi kejelekan karena ia tidak mengetahuinya. Bisa jadi ia terjerumus di dalamnya atau ia tidak mengingkari kejelekan tersebut seperti orang yang mengetahuinya. Karenanya Umar bin Khottob berkata, “Sungguh akan terlepas tali Islam perlahan demi perlahan ketika seseorang berada dalam Islam namun tidak mengenal perkara jahiliyah.” Lihat Dar’u Ta’arudh Al ‘Aql wan Naql karya Ibnu Taimiyah dan Al Jawabul Kafi karya Ibnul Qayyim. Dinukil dari Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 283. Ibnu Taimiyah rahumahullah mengatakan, “Karenanya para sahabat nabi mereka lebih kuat iman dan lebih semangat dalam jihad daripada orang-orang setelah mereka. Itu karena mereka mengenal kebaikan, di samping itu pula mengenal kejelekan. Mereka sangat semangat mengenali kebaikan dan begitu benci pada kejelekan. Karena mereka tahu bagaimana akibat baik dari iman dan amalan shalih, serta akibat jelek dari orang yang berbuat kekafiran dan maksiat.” (Fatawal Kubro, 2: 341) Demikian faedah-faedah yang Rumaysho.Com peroleh dari kitab Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 283-284. Moga bermanfaat.   Referensi: Taisir Al ‘Azizil Hamid fii Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin Abdil Wahhab, terbitan Darush Shumai’i, cetakan kedua, tahun 1429 H.   Disusun di Pesawat Batik Air saat safar Jogja JKT, 15 Safar 1435 H Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmaksiat syirik


Seorang muslim tidak hanya mempelajari yang baik-baik saja. Namun hendaknya ia dalam hidupnya juga mempelajari kejelekan. Bukan berarti ia ingin melakukannya, namun justru untuk ia hindari. Coba bayangkan jika kita tidak mengenal bagaimana bentuk binatang buas. Suatu saat kita memasuki hutan belantara yang ‘so’ pasti banyak hewan seram di dalamnya. Jika seseorang tidak mengetahui bagaimana bentuk singa misalnya, malah ia sangka singa adalah binatang jinak padahal nantinya bisa menerkam dan menewaskannya. Demikian halnya kejelekan wahai ikhwah, kita pun harus tahu. Kita harus tahu seluk beluk syirik, kita harus paham manakah ajaran yang tidak ada tuntunan, manakah larangan Allah yang digolongkan dosa besar. Itu semua dipelajari supaya kita bisa hindari dan tidak terjerumus dalam syirik, bid’ah atau maksiat. Hanya Allah yang benar-benar beri petunjuk … Lihatlah seorang sahabat yang mulia yaitu Hudzaifah Ibnul Yaman, begitu semangat mengenali kejelekan, di samping ia juga paham amalan baik. Hudzaifah berkata, “Manusia dahulu biasa bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kebaikan. Aku sendiri sering bertanya mengenai kejelekan supaya aku tidak terjerumus di dalamnya.” ( HR. Bukhari no. 3411 dan Muslim no. 1847) Syaikh Sulaiman At Tamimi rahimahullah berkata, “Siapa yang tidak mengenal kecuali kebaikan saja tentu ia bisa saja mendatangi kejelekan karena ia tidak mengetahuinya. Bisa jadi ia terjerumus di dalamnya atau ia tidak mengingkari kejelekan tersebut seperti orang yang mengetahuinya. Karenanya Umar bin Khottob berkata, “Sungguh akan terlepas tali Islam perlahan demi perlahan ketika seseorang berada dalam Islam namun tidak mengenal perkara jahiliyah.” Lihat Dar’u Ta’arudh Al ‘Aql wan Naql karya Ibnu Taimiyah dan Al Jawabul Kafi karya Ibnul Qayyim. Dinukil dari Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 283. Ibnu Taimiyah rahumahullah mengatakan, “Karenanya para sahabat nabi mereka lebih kuat iman dan lebih semangat dalam jihad daripada orang-orang setelah mereka. Itu karena mereka mengenal kebaikan, di samping itu pula mengenal kejelekan. Mereka sangat semangat mengenali kebaikan dan begitu benci pada kejelekan. Karena mereka tahu bagaimana akibat baik dari iman dan amalan shalih, serta akibat jelek dari orang yang berbuat kekafiran dan maksiat.” (Fatawal Kubro, 2: 341) Demikian faedah-faedah yang Rumaysho.Com peroleh dari kitab Taisir Al ‘Azizil Hamid, 1: 283-284. Moga bermanfaat.   Referensi: Taisir Al ‘Azizil Hamid fii Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin Abdil Wahhab, terbitan Darush Shumai’i, cetakan kedua, tahun 1429 H.   Disusun di Pesawat Batik Air saat safar Jogja JKT, 15 Safar 1435 H Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsmaksiat syirik

Bahaya Meninggalkan Shalat (4): Perkataan Tabi’in

Sepeninggal para sahabat Nabi yaitu para tabi’in juga menganggap bahwa meninggalkan shalat bisa membuat seseorang itu kafir. Mereka yang berpendapat demikian adalah Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rohuwyah, Abdullah bin Al Mubarok, Ibrohim An Nakho’iy, Al Hakam bin ‘Utaibah, Ayyub As Sikhtiyaniy, Abu Daud Ath Thoyalisiy, Abu Bakr bin Abi Syaibah, dan Abu Khoitsamah Zuhair bin Harb. Berikut adalah sebagian perkataan mereka yang masih kami nukil dari kitab yang sama. Muhammad bin Nashr berkata bahwa Muhammad bin Yahya telah menceritakan kepada kami, (dia berkata) bahwa Abu Nu’man telah menceritakan kepada kami, (dia berkata bahwa) Hammad bin Zaid (berkata) dari Ayyub As Sikhtiyaniy berkata, ”Meninggalkan shalat adalah suatu kekafiran dan hal ini tidaklah dipersilisihkan.” Muhammad menceritakan dari Ibnul Mubarok, dia berkata,”Barangsiapa mengakhirkan shalat hingga luput waktunya dengan sengaja tanpa ada udzur (alasan), maka dia telah kafir.” Yahya bin Ma’in mengatakan, ”Dikatakan kepada Abdullah bin Al Mubarok,’Orang-orang mengatakan : Barangsiapa tidak berpuasa (Ramadhan, pen) dan tidak menunaikan shalat setelah mengakui (kewajibannya, pen), maka dia adalah mu’min yang sempurna imannya.’ Lalu Abdullah bin Al Mubarok mengatakan,’Kami tidaklah mengatakan seperti yang mereka katakan. Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa alasan sampai dia memasukkan satu waktu ke waktu lainnya, maka dia kafir’. Abu Abdillah Muhammad bin Nashr mengatakan,”Aku mendengar Ishaq bin Rohuwyah berkata, ’Telah shohih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa meninggalkan shalat adalah kafir.” — Akhukum fillah : Muhammad Abduh Tuasikal Disusun di Pesantren Darush Sholihin, 14 Safar 1435 H Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsmeninggalkan shalat

Bahaya Meninggalkan Shalat (4): Perkataan Tabi’in

Sepeninggal para sahabat Nabi yaitu para tabi’in juga menganggap bahwa meninggalkan shalat bisa membuat seseorang itu kafir. Mereka yang berpendapat demikian adalah Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rohuwyah, Abdullah bin Al Mubarok, Ibrohim An Nakho’iy, Al Hakam bin ‘Utaibah, Ayyub As Sikhtiyaniy, Abu Daud Ath Thoyalisiy, Abu Bakr bin Abi Syaibah, dan Abu Khoitsamah Zuhair bin Harb. Berikut adalah sebagian perkataan mereka yang masih kami nukil dari kitab yang sama. Muhammad bin Nashr berkata bahwa Muhammad bin Yahya telah menceritakan kepada kami, (dia berkata) bahwa Abu Nu’man telah menceritakan kepada kami, (dia berkata bahwa) Hammad bin Zaid (berkata) dari Ayyub As Sikhtiyaniy berkata, ”Meninggalkan shalat adalah suatu kekafiran dan hal ini tidaklah dipersilisihkan.” Muhammad menceritakan dari Ibnul Mubarok, dia berkata,”Barangsiapa mengakhirkan shalat hingga luput waktunya dengan sengaja tanpa ada udzur (alasan), maka dia telah kafir.” Yahya bin Ma’in mengatakan, ”Dikatakan kepada Abdullah bin Al Mubarok,’Orang-orang mengatakan : Barangsiapa tidak berpuasa (Ramadhan, pen) dan tidak menunaikan shalat setelah mengakui (kewajibannya, pen), maka dia adalah mu’min yang sempurna imannya.’ Lalu Abdullah bin Al Mubarok mengatakan,’Kami tidaklah mengatakan seperti yang mereka katakan. Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa alasan sampai dia memasukkan satu waktu ke waktu lainnya, maka dia kafir’. Abu Abdillah Muhammad bin Nashr mengatakan,”Aku mendengar Ishaq bin Rohuwyah berkata, ’Telah shohih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa meninggalkan shalat adalah kafir.” — Akhukum fillah : Muhammad Abduh Tuasikal Disusun di Pesantren Darush Sholihin, 14 Safar 1435 H Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsmeninggalkan shalat
Sepeninggal para sahabat Nabi yaitu para tabi’in juga menganggap bahwa meninggalkan shalat bisa membuat seseorang itu kafir. Mereka yang berpendapat demikian adalah Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rohuwyah, Abdullah bin Al Mubarok, Ibrohim An Nakho’iy, Al Hakam bin ‘Utaibah, Ayyub As Sikhtiyaniy, Abu Daud Ath Thoyalisiy, Abu Bakr bin Abi Syaibah, dan Abu Khoitsamah Zuhair bin Harb. Berikut adalah sebagian perkataan mereka yang masih kami nukil dari kitab yang sama. Muhammad bin Nashr berkata bahwa Muhammad bin Yahya telah menceritakan kepada kami, (dia berkata) bahwa Abu Nu’man telah menceritakan kepada kami, (dia berkata bahwa) Hammad bin Zaid (berkata) dari Ayyub As Sikhtiyaniy berkata, ”Meninggalkan shalat adalah suatu kekafiran dan hal ini tidaklah dipersilisihkan.” Muhammad menceritakan dari Ibnul Mubarok, dia berkata,”Barangsiapa mengakhirkan shalat hingga luput waktunya dengan sengaja tanpa ada udzur (alasan), maka dia telah kafir.” Yahya bin Ma’in mengatakan, ”Dikatakan kepada Abdullah bin Al Mubarok,’Orang-orang mengatakan : Barangsiapa tidak berpuasa (Ramadhan, pen) dan tidak menunaikan shalat setelah mengakui (kewajibannya, pen), maka dia adalah mu’min yang sempurna imannya.’ Lalu Abdullah bin Al Mubarok mengatakan,’Kami tidaklah mengatakan seperti yang mereka katakan. Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa alasan sampai dia memasukkan satu waktu ke waktu lainnya, maka dia kafir’. Abu Abdillah Muhammad bin Nashr mengatakan,”Aku mendengar Ishaq bin Rohuwyah berkata, ’Telah shohih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa meninggalkan shalat adalah kafir.” — Akhukum fillah : Muhammad Abduh Tuasikal Disusun di Pesantren Darush Sholihin, 14 Safar 1435 H Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsmeninggalkan shalat


Sepeninggal para sahabat Nabi yaitu para tabi’in juga menganggap bahwa meninggalkan shalat bisa membuat seseorang itu kafir. Mereka yang berpendapat demikian adalah Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rohuwyah, Abdullah bin Al Mubarok, Ibrohim An Nakho’iy, Al Hakam bin ‘Utaibah, Ayyub As Sikhtiyaniy, Abu Daud Ath Thoyalisiy, Abu Bakr bin Abi Syaibah, dan Abu Khoitsamah Zuhair bin Harb. Berikut adalah sebagian perkataan mereka yang masih kami nukil dari kitab yang sama. Muhammad bin Nashr berkata bahwa Muhammad bin Yahya telah menceritakan kepada kami, (dia berkata) bahwa Abu Nu’man telah menceritakan kepada kami, (dia berkata bahwa) Hammad bin Zaid (berkata) dari Ayyub As Sikhtiyaniy berkata, ”Meninggalkan shalat adalah suatu kekafiran dan hal ini tidaklah dipersilisihkan.” Muhammad menceritakan dari Ibnul Mubarok, dia berkata,”Barangsiapa mengakhirkan shalat hingga luput waktunya dengan sengaja tanpa ada udzur (alasan), maka dia telah kafir.” Yahya bin Ma’in mengatakan, ”Dikatakan kepada Abdullah bin Al Mubarok,’Orang-orang mengatakan : Barangsiapa tidak berpuasa (Ramadhan, pen) dan tidak menunaikan shalat setelah mengakui (kewajibannya, pen), maka dia adalah mu’min yang sempurna imannya.’ Lalu Abdullah bin Al Mubarok mengatakan,’Kami tidaklah mengatakan seperti yang mereka katakan. Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa alasan sampai dia memasukkan satu waktu ke waktu lainnya, maka dia kafir’. Abu Abdillah Muhammad bin Nashr mengatakan,”Aku mendengar Ishaq bin Rohuwyah berkata, ’Telah shohih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa meninggalkan shalat adalah kafir.” — Akhukum fillah : Muhammad Abduh Tuasikal Disusun di Pesantren Darush Sholihin, 14 Safar 1435 H Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsmeninggalkan shalat

Islam Melarang Menyiksa Binatang

Islam sangat menjunjung tinggi kasih sayang, sampai pada hewan yang akan disembelih pun tidak boleh disiksa. Kita dilarang menyiksa binatang saat menyembelih seperti mengikatnya lantas dipanah. Berikut dua hadits yang dibawakan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitab beliau Bulughul Marom no.  1347 dan 1350. وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – “لَا تَتَّخِذُوا شَيْئاً فِيهِ اَلرُّوحُ غَرَضًا” – رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah jadikan hewan yang bernyawa itu sebagai sasaran (tembak atau panah).” Diriwayatkan oleh Muslim. (HR. Muslim no. 1957). وَعَنْ جَابِرِ بنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: – نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يُقْتَلَ شَيْءٌ مِنَ اَلدَّوَابِّ صَبْرًا – رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang pembunuhan binatang dengan diikat lantas dipanah.” Diriwayatkan oleh Muslim. (HR. Muslim no. 1959). Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Diharamkan menjadikan hewan sebagai sasaran tembak dengan mengikatnya lalu dipanah karena hal itu termasuk bentuk penyiksaan pada binatang. Di dalamnya ada bentuk pengrusakan, membuang-buang harta, dan tidak melakukan penyembelihan yang syar’i. 2- Jika ada hewan yang mampu disembelih, maka dilarang  membunuhnya dengan. Semestinya hewan tersebut disembelih. Sedangkan hewan yang tidak mampu disembelih, maka boleh memburunya dengan dipanah di bagian mana saja dari tubuhnya. 3- Islam mengajarkan untuk menyayangi manusia dan hewan, segala bentuk penyiksaan terhadap hewan itu diharamkan. Demikian beberapa faedah dari dua hadits di atas, moga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Minhatul ‘Allam fii Syarhi Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H, 9: 243, 255, 256. — Disusun selepas Ashar di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Safar 1435 H, 03:59 PM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsadab hewan berburu kurban

Islam Melarang Menyiksa Binatang

Islam sangat menjunjung tinggi kasih sayang, sampai pada hewan yang akan disembelih pun tidak boleh disiksa. Kita dilarang menyiksa binatang saat menyembelih seperti mengikatnya lantas dipanah. Berikut dua hadits yang dibawakan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitab beliau Bulughul Marom no.  1347 dan 1350. وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – “لَا تَتَّخِذُوا شَيْئاً فِيهِ اَلرُّوحُ غَرَضًا” – رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah jadikan hewan yang bernyawa itu sebagai sasaran (tembak atau panah).” Diriwayatkan oleh Muslim. (HR. Muslim no. 1957). وَعَنْ جَابِرِ بنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: – نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يُقْتَلَ شَيْءٌ مِنَ اَلدَّوَابِّ صَبْرًا – رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang pembunuhan binatang dengan diikat lantas dipanah.” Diriwayatkan oleh Muslim. (HR. Muslim no. 1959). Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Diharamkan menjadikan hewan sebagai sasaran tembak dengan mengikatnya lalu dipanah karena hal itu termasuk bentuk penyiksaan pada binatang. Di dalamnya ada bentuk pengrusakan, membuang-buang harta, dan tidak melakukan penyembelihan yang syar’i. 2- Jika ada hewan yang mampu disembelih, maka dilarang  membunuhnya dengan. Semestinya hewan tersebut disembelih. Sedangkan hewan yang tidak mampu disembelih, maka boleh memburunya dengan dipanah di bagian mana saja dari tubuhnya. 3- Islam mengajarkan untuk menyayangi manusia dan hewan, segala bentuk penyiksaan terhadap hewan itu diharamkan. Demikian beberapa faedah dari dua hadits di atas, moga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Minhatul ‘Allam fii Syarhi Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H, 9: 243, 255, 256. — Disusun selepas Ashar di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Safar 1435 H, 03:59 PM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsadab hewan berburu kurban
Islam sangat menjunjung tinggi kasih sayang, sampai pada hewan yang akan disembelih pun tidak boleh disiksa. Kita dilarang menyiksa binatang saat menyembelih seperti mengikatnya lantas dipanah. Berikut dua hadits yang dibawakan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitab beliau Bulughul Marom no.  1347 dan 1350. وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – “لَا تَتَّخِذُوا شَيْئاً فِيهِ اَلرُّوحُ غَرَضًا” – رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah jadikan hewan yang bernyawa itu sebagai sasaran (tembak atau panah).” Diriwayatkan oleh Muslim. (HR. Muslim no. 1957). وَعَنْ جَابِرِ بنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: – نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يُقْتَلَ شَيْءٌ مِنَ اَلدَّوَابِّ صَبْرًا – رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang pembunuhan binatang dengan diikat lantas dipanah.” Diriwayatkan oleh Muslim. (HR. Muslim no. 1959). Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Diharamkan menjadikan hewan sebagai sasaran tembak dengan mengikatnya lalu dipanah karena hal itu termasuk bentuk penyiksaan pada binatang. Di dalamnya ada bentuk pengrusakan, membuang-buang harta, dan tidak melakukan penyembelihan yang syar’i. 2- Jika ada hewan yang mampu disembelih, maka dilarang  membunuhnya dengan. Semestinya hewan tersebut disembelih. Sedangkan hewan yang tidak mampu disembelih, maka boleh memburunya dengan dipanah di bagian mana saja dari tubuhnya. 3- Islam mengajarkan untuk menyayangi manusia dan hewan, segala bentuk penyiksaan terhadap hewan itu diharamkan. Demikian beberapa faedah dari dua hadits di atas, moga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Minhatul ‘Allam fii Syarhi Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H, 9: 243, 255, 256. — Disusun selepas Ashar di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Safar 1435 H, 03:59 PM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsadab hewan berburu kurban


Islam sangat menjunjung tinggi kasih sayang, sampai pada hewan yang akan disembelih pun tidak boleh disiksa. Kita dilarang menyiksa binatang saat menyembelih seperti mengikatnya lantas dipanah. Berikut dua hadits yang dibawakan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitab beliau Bulughul Marom no.  1347 dan 1350. وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – “لَا تَتَّخِذُوا شَيْئاً فِيهِ اَلرُّوحُ غَرَضًا” – رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah jadikan hewan yang bernyawa itu sebagai sasaran (tembak atau panah).” Diriwayatkan oleh Muslim. (HR. Muslim no. 1957). وَعَنْ جَابِرِ بنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: – نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يُقْتَلَ شَيْءٌ مِنَ اَلدَّوَابِّ صَبْرًا – رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang pembunuhan binatang dengan diikat lantas dipanah.” Diriwayatkan oleh Muslim. (HR. Muslim no. 1959). Beberapa faedah dari hadits di atas: 1- Diharamkan menjadikan hewan sebagai sasaran tembak dengan mengikatnya lalu dipanah karena hal itu termasuk bentuk penyiksaan pada binatang. Di dalamnya ada bentuk pengrusakan, membuang-buang harta, dan tidak melakukan penyembelihan yang syar’i. 2- Jika ada hewan yang mampu disembelih, maka dilarang  membunuhnya dengan. Semestinya hewan tersebut disembelih. Sedangkan hewan yang tidak mampu disembelih, maka boleh memburunya dengan dipanah di bagian mana saja dari tubuhnya. 3- Islam mengajarkan untuk menyayangi manusia dan hewan, segala bentuk penyiksaan terhadap hewan itu diharamkan. Demikian beberapa faedah dari dua hadits di atas, moga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Minhatul ‘Allam fii Syarhi Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H, 9: 243, 255, 256. — Disusun selepas Ashar di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Safar 1435 H, 03:59 PM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsadab hewan berburu kurban

Kajian Rumaysho.Com di Jakarta 17-18 Desember 2013

Tiga kajian penting di Jakarta pada hari Rabu dan Kamis besok (15-16 Safar 1435 H) yang bisa dihadiri dengan pembicara Muhammad Abduh Tuasikal (Pengasuh Rumaysho.Com, Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id, Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul). 1- Kajian di Majelis Taklim As Sunnah Waktu: Rabu, 18 Desember 2013, pukul 09.30 – 11.30 WIB Tema : Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (Bedah Buku) Tempat: Masjid Nurul Iman, Jl. Raya Cilangkap 1B, Cipayung,  Jakarta Timur Info : 021.93831347 (MT. Assunnah, Cilangkap) 2- Kajian di Wesal TV (Live) Waktu: Rabu, 18 Desember 2013, pukul 20.00 – 21.30 WIB Tema: Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (Bedah Buku) Saksikan di TV Parabola Anda. 3- Kajian di Majelis Taklim Al Hujjah Waktu: Kamis, 19 Desember  2013, pukul 09.00 – 11.00 WIB. Tema: Faedah hadits “70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab” Tempat: Masjid At Taqwa, Jl. Sriwijaya Raya, Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Info: WA 0818960013, BBM 74E8CD63 (Majelis Taklim Al Hujjah)   Sampaikan info ini pada kaum muslimin lainnya … — Info www.rumaysho.com Tagskajian islam

Kajian Rumaysho.Com di Jakarta 17-18 Desember 2013

Tiga kajian penting di Jakarta pada hari Rabu dan Kamis besok (15-16 Safar 1435 H) yang bisa dihadiri dengan pembicara Muhammad Abduh Tuasikal (Pengasuh Rumaysho.Com, Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id, Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul). 1- Kajian di Majelis Taklim As Sunnah Waktu: Rabu, 18 Desember 2013, pukul 09.30 – 11.30 WIB Tema : Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (Bedah Buku) Tempat: Masjid Nurul Iman, Jl. Raya Cilangkap 1B, Cipayung,  Jakarta Timur Info : 021.93831347 (MT. Assunnah, Cilangkap) 2- Kajian di Wesal TV (Live) Waktu: Rabu, 18 Desember 2013, pukul 20.00 – 21.30 WIB Tema: Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (Bedah Buku) Saksikan di TV Parabola Anda. 3- Kajian di Majelis Taklim Al Hujjah Waktu: Kamis, 19 Desember  2013, pukul 09.00 – 11.00 WIB. Tema: Faedah hadits “70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab” Tempat: Masjid At Taqwa, Jl. Sriwijaya Raya, Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Info: WA 0818960013, BBM 74E8CD63 (Majelis Taklim Al Hujjah)   Sampaikan info ini pada kaum muslimin lainnya … — Info www.rumaysho.com Tagskajian islam
Tiga kajian penting di Jakarta pada hari Rabu dan Kamis besok (15-16 Safar 1435 H) yang bisa dihadiri dengan pembicara Muhammad Abduh Tuasikal (Pengasuh Rumaysho.Com, Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id, Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul). 1- Kajian di Majelis Taklim As Sunnah Waktu: Rabu, 18 Desember 2013, pukul 09.30 – 11.30 WIB Tema : Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (Bedah Buku) Tempat: Masjid Nurul Iman, Jl. Raya Cilangkap 1B, Cipayung,  Jakarta Timur Info : 021.93831347 (MT. Assunnah, Cilangkap) 2- Kajian di Wesal TV (Live) Waktu: Rabu, 18 Desember 2013, pukul 20.00 – 21.30 WIB Tema: Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (Bedah Buku) Saksikan di TV Parabola Anda. 3- Kajian di Majelis Taklim Al Hujjah Waktu: Kamis, 19 Desember  2013, pukul 09.00 – 11.00 WIB. Tema: Faedah hadits “70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab” Tempat: Masjid At Taqwa, Jl. Sriwijaya Raya, Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Info: WA 0818960013, BBM 74E8CD63 (Majelis Taklim Al Hujjah)   Sampaikan info ini pada kaum muslimin lainnya … — Info www.rumaysho.com Tagskajian islam


Tiga kajian penting di Jakarta pada hari Rabu dan Kamis besok (15-16 Safar 1435 H) yang bisa dihadiri dengan pembicara Muhammad Abduh Tuasikal (Pengasuh Rumaysho.Com, Pimpinan Redaksi Muslim.Or.Id, Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul). 1- Kajian di Majelis Taklim As Sunnah Waktu: Rabu, 18 Desember 2013, pukul 09.30 – 11.30 WIB Tema : Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (Bedah Buku) Tempat: Masjid Nurul Iman, Jl. Raya Cilangkap 1B, Cipayung,  Jakarta Timur Info : 021.93831347 (MT. Assunnah, Cilangkap) 2- Kajian di Wesal TV (Live) Waktu: Rabu, 18 Desember 2013, pukul 20.00 – 21.30 WIB Tema: Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris (Bedah Buku) Saksikan di TV Parabola Anda. 3- Kajian di Majelis Taklim Al Hujjah Waktu: Kamis, 19 Desember  2013, pukul 09.00 – 11.00 WIB. Tema: Faedah hadits “70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab” Tempat: Masjid At Taqwa, Jl. Sriwijaya Raya, Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Info: WA 0818960013, BBM 74E8CD63 (Majelis Taklim Al Hujjah)   Sampaikan info ini pada kaum muslimin lainnya … — Info www.rumaysho.com Tagskajian islam

Gelar Takfiri, Pantaskah ??

Tidak diragukan saudara-saudara kita yang terjerat dalam pemahaman takfiri (suka mengkafirkan) adalah saudara-saudara yang semangat menegakkan syari’at Islam. Akan tetapi tentunya bukan hanya mereka saja yang rindu untuk ditegakkan syari’at Islam. Demikian juga bukan hanya mereka yang benci kepada kesyirikan dan kekufuran, akan tetapi masih banyak saudara-saudara mereka yang lain yang juga benci dan selalu memperingatkan umat akan bahaya kesyirikan dengan berbagai macam jenisnya.Hanya saja saudara-saudara kita –yang hobi mengkafirkan- tersebut sangat memfokuskan pembahasan kesyirikan pada permasalahan “Berhukum dengan selain hukum Allah”. Berangkat dari kesalahpahaman tentang permasalahan “Berhukum dengan selain hukum Allah” maka menimbulkan pengkafiran berantai ala “MLM”.  Tentu saudaraku yang “hobi” mengkafirkan tidak suka atau tidak ridho dengan gelar yang buruk ini “Takfiri” jika distempelkan dan dicapkan pada dirinya. Karena bagaimanapun gelar “takfiri” sangat bermakna konotasi. Akan tetapi jika kita kembali kepada kenyataan aqidah dan praktek mereka…ternyata inilah sifat dan gelar yang tepat dan sangat pas jika ditempelkan kepada saudara-saudara kita yang berpemahaman takfir tersebut. Terlebih lagi jika kita menelaah pernyataan-pernyataan berani yang dilontarkan oleh tokoh-tokoh mereka (dalam hal ini adalah Ustadz Aman Abdurrahman dan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir), sebagaimana yang telah dinukil oleh situs-situs pendukung dan penebar pemahaman kedua ustadz ini seperti : (1) Arrahmah.com, (2) Millahibrahim.wordpress.com, dan (3) voa-islam.comBerikut contoh-contoh pengkafiranberantai tersebut, sebagaimana termaktub dalam situs-situs tersebut :Pertama : Arab Saudi negara kafir.          Seorang muslim tentunya bahagia masih ada suatu negara yang masih menegakkan hukum Islam, hukum rajam bagi yang berzina, hukum pemotongan tangan bagi yang mencuri, qisos (dipenggal kepala) pagi yang membunuh orang lain dengan sengaja tanpa hak, qisosbagi yang mempraktekan sihir, dll. Itulah negara Arab Saudi, yang pada negara tersebut tidak akan ditemukan sebuah tempat ibadah agama lain…, tidak akan ditemukan perayaan hari natal…, tidak akan ditemukan bar dan discotik.., apalagi tempat lokalisasi perzinahan, serta keamanan yang luar biasa. Sebagaimana hal ini bisa dirasakan oleh para jama’ah haji. Tidak ada kuburan yang disembah.., tidak ada penyembelihan kepada jin.., dan tidak ada praktik-praktikesyirikan secara terang-terangan. Demikian juga Arab Saudi adalah satu-satunya negara yang memiliki Lembaga al-AmrbilMa’ruufwaAn-Nahyu ‘anal-Munkar. Tentunya tidak ada yang mengatakan bahwa Arab Saudi adalah negara Islam yang sempurna…??. Tidak seorangpun yang menyatakan demikian. Bahkan kita sendiri melihat masih ada kekurangan pada kerajaan Arab Saudi. Akan tetapi itulah negara yang terbaik yang adasaatini, yang kita terus memohon kepada Allah agar tetap menjaga negara ini dan mengarahkannya kepada yang lebih baik.Akan tetapi anehnya, ada seorang ustadz yang bukannya mendoakan agar Arab Saudi menjadi lebih baik, akan tetapi malah berbahagia jika Arab Saudi runtuh..!?. Dalam sebuah tulisan yang berjudul “Masa-masa akhir menjelang runtuhnya Thaghut Saudi”, UstadzAman Abdurrahman berkata : ((Arab Saudi adalah negara paling akhir dalam keterbongkaran kekafiran dan kethaghutan mereka, yang selama ini mayoritas umat Islam atau bahkan aktivis Islam meyakini bahwa Saudi adalah negara Islam. Hari demi hari semakin terbongkar kekafiran mereka di hadapan umat Islam dan bahkan di hadapan para syaikh mereka yang selama ini selalu melindungi dan menjadi pilar pengokoh kekuasaan mereka. Bergembiralah wahai kaum muslimin dengan semakin nyatanya kejahatan Dinasti Saudi dan kekafiran mereka serta loyalitas mereka kepada Salibis Amerika dan Zionis Yahudi. Tunggulah saatnya kehancuran mereka dan penguasaan ikhwan tauhid setelahnya)), silahkan baca (http://millahibrahim.wordpress.com/2013/08/17/masa-masa-akhir-menjelang-runtuhnya-thaghut-saudi/)Entah apa yang dikehendaki oleh Ustadz Aman Abdurrahman ini…?!, apakah ia ingin Arab Saudi hancur, lalu ia bersama rekan-rekannya mendirikan negara Islam di Arab Saudi menggantikan raja Saudi, lalu menyerang Amerika dan Yahudi??. Apakah semudah itu…??. Apakah itu yang hendak digembira riakan??. Ingin agar tidak ada yang mengatur jama’ah haji dan umroh…Selanjutnya… Kedua : Indonesia negara musyrik dan kafirJika Arab Saudi yang menjalankan hukum Islam saja divonis kafir maka bagaimana lagi nasib NKRI?. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir berkata : “Negara Indonesia (NKRI) adalah negara musyrik dan kafir”  (silahkan baca http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2013/08/15/26277/ustadz-baasyir-indonesia-berhukum-thaghut-umat-islam-dilarang-patuh/#sthash.H5wyoNld.dpbs).Selanjutnya … Ketiga : Kepala Negara Indonesia Kafir.Jika negaranya kafir, maka tentunya sang presidennya juga kafir, karena menjalankan kekafiran dengan berhukum dengan hukum selain hukum Allah kafir. Presiden Indonesia SBY disebut oleh mereka sebagai thaghut (gembong kekufuran), silahkan lihat http://www.arrahmah.com/read/2012/01/11/17338-ustadz-abu-bakar-baasyir-penguasa-nkri-sejak-merdeka-hingga-saat-ini-adalah-thaghut.html).Jangankan presiden NKRI bahkan tokoh Ikhwanul Muslimin yaitu Mursi -presiden Mesir- juga divonis kafir tatkala menjadi presiden (silahkan baca http://millahibrahim.wordpress.com/2013/10/17/penjelasan-kekafiran-mursiy-saat-menjadi-presiden-mesir/).Selanjutnya … Keempat : Pegawai negeri secara umum kafir (meskipun tidak semuanya). Sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Ustadz andalan kaum takfiri yaitu Aman Abdurrahman (silahkan lihat http://www.arrahmah.com/read/2007/11/29/1317-status-pegawai-negeri-pemerintahan-thaghut.html)Karena negara Indonesia negara kafir dan musyrik, demikian juga kepala negaranya yang berhukum dengan hukum kafir, maka yang bekerja sebagai pegawai negara tersebut juga terancam kafir.Perinciannya sebagai berikut;–         Seluruh kepala negara (baik presiden, Amir, maupun Raja) adalah kafir bahkan thaghut (gembong dan penyebab kekufuran berantai). Aman Abdurrahman berkata ((Penguasa zhalim yang merubah aturan-aturan (hukum) Allah, thaghut semacam ini adalah banyak sekali dan sudah bersifat lembaga resmi pemerintahan negara-negara pada umumnya di zaman sekarang ini. Contohnya tidaklah jauh seperti parlemen, lembaga inilah yang memegang kedaulatan dan wewenang pembuatan hukum/undang-undang. Lembaga ini akan membuat hukum atau tidak, dan baik hukum yang digulirkan itu seperti hukum Islam atau menyelisihinya maka tetap saja lembaga berikut anggota-anggotanya ini adalah thaghut, meskipun sebahagiannya mengaku memperjuangkan syari’at Islam. Begitu juga Presiden/ Raja/Emir atau para bawahannya yang suka membuat SK atau TAP yang menyelisihi aturan Allah, mereka itu adalah thaghut)), silahkan baca (http://millahibrahim.wordpress.com/seri-materi-tauhid/seri-4-siapakah-thaghut/)–         Seluruh anggota DPR dan MPR kafir, karena membuat hukum selain hukum Allah–         Seluruh jaksa dan hakim adalah kafir, dan seluruh yang bekerja di departemen kehakiman dan pengadilan konsekuensinya juga kafir–         Seluruh anggota polisi kafir, karena ikut membela negara yang berhukum dengan hukum Allah–         Seluruh anggota ABRI, baik angkatan udara, angkatan laut, maupun angkata darat, semuanya kafir karena ikut membela negara kafir Indonesia yang berhukum dengan selain hukum AllahAman Abdurrahman berkata ((seperti anggota MPR/DPR, baik dia disumpah ataupun tidak maka dia tetap kafir, juga hakim, jaksa, tentara, polisi, baik mereka ada sumpah ataupun tidak, mereka tetap orang kafir))Setelah itu rantai pengkafiran berlanjut :–         Mengkafirkan semua yang membantu terlaksananya sidang-sidang DPR/MPR. Aman Abdurrahman berkata ((Atau orang bekerja di sekretariat gedung DPR/MPR, dimana dia yang mengatur program-program atau berbagai acara rapat atau sidang mejelisthaghut ini)).Ini melazimkan pengkafiran yang ngawur membabi buta, sehingga semua orang yang kerjaannya ada hubungan dengan kegiatan DPR/MPR maka dihukum kafir !!. Termasuk para pedagang yang menyediakan makanan dalam sidang-sidang tersebut.., para tukang sapu yang membersihkan ruangan sidang tersebut…, pokoknya semua yang iktu nimbrung membantu jalannya persidangan DPR/MPR maka divonis kafir–         Semua pegawai negeri yang tatkala menjadi pegawai negeri disumpah maka dia telah kafir. Aman Abdurrahman berkata ((apapun bentuk dinasnya selama ada sumpah untuk loyal kepada hukum thaghut maka dia kafir)) (lihat http://millahibrahim.wordpress.com/2007/11/02/status-bekerja-di-dinas-pemerintahan-thaghut/). Ini merupakan bentuk pengkafiran pegawai negeri secara menyeluruh, karena rata-rata pegawai negeri terkena sumpah–         Sekedar menyanyikan lagu garuda pancasila meskipun meyakini kebatilan dan kesyirikan pancasila sudah cukup untuk menjadikan penyanyi tersebut otomatis kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Pancasila adalah falsafah syirik, maka orang-orang yang ‘sekedar’ ikut menyanyikan lagu Garuda Pancasila adalah telah keluar dari Islam, baik karena alasan basa-basi atau karena takut (kecuali dipaksa), meskipun dia itu benci dengan Pancasila dan para pendukungnya serta cinta kepada Tauhid dan kaum muwahhidin, karena dia mengikuti orang-orang musyrik dalam kemusyrikannya)) (lihat http://millahibrahim.wordpress.com/seri-materi-tauhid/seri-8-hukum-berloyalitas-kepada-musyrikin/)–         Pejabat yang mengatakan “kami hanya menjalankan tugas/prosedur atasan” maka telah kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Bila saja orang yang mengikuti apa yang membuat murka Allah telah divonis murtad oleh-Nya, maka apa gerangan dengan banyaknya orang yang berposisi sebagai bawahan mengatakan kepada masyarakat “Kami hanya menjalankan tugas” setelah sang pejabat atasan membuat undang-undang kafir kemudian si bawahan itu melaksanakannya))–         Hanya sekedar anak-anak mengikuti pelajaran PMP atau PPKN maka otomatis menjadi kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Bila orang yang taat dalam sebagian kekafiran Allah SubhanahuWaTa’ala memvonisnya sebagai orang murtad, maka apa gerangan dengan:…Anak-anak sekolah mengikuti pelajaran falsafah syirik dengan alasan mengikuti proses pembelajaran dan berkata: “Karena jika tidak (ikut), maka kami tidak akan lulus”))–         Anak-anak aja dikafirkan apalagi mahasiswa. Aman Abdurrahman berkata ((Seperti saat ujian siswa memuji Pancasila, demokrasi, Undang Undang Dasar 1945, dan lain-lain. Atau kagum dengannya atau bangga dengannya demi mendapatkan nilai ujian, maka dia itu kafir meskipun benci akan hal-hal itu dan para pendukungnya serta cinta kepada Tauhid dan kaum muwahhidin.))–         Seluruh pemilik sekolah resmi yang diakui pemerintah adalah kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Seperti itu pula orang yang ingin membuat lembaga yang diakui thaghut, sedangkan thaghut mensyaratkan adanya mata pelajaran falsafah syirik (mis. PPKN) lalu mereka menerima syarat itu, maka hukumnya sama saja.))–         Bahkan meskipun berdusta akan menyetujui tetap saja divonis kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Bahkan bila dia berjanji dusta untuk memenuhi syarat itu terhadap thaghut, tetap hukumnya sama saja)) Kelima : Yang menyatakan para bombers sebagai teroris divonis kafir. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir berkata : “Kalau ada umat Islam yang menganggap alqaidah sebagai teroris maka batal syahadatnya” (lihat http://www.youtube.com/watch?v=ZKQ3vue2T80, lihat juga http://www.youtube.com/watch?v=ZLDZ-vMevw4). Semua ini adalah bentuk mengkafirkan dengan kelaziman. Jika ada orang yang menyatakan mujahid (tukang bom) adalah teroris maka berarti ia telah membantu Amerika dalam menyerang kaum muslimin. Dan barang siapa yang membantu Amerika untuk menyerang kaum muslimin maka ia telah kafir !!! Keenam : Warga negara Indonesia (bahkan kaum muslimin dunia) pada umumnya kafir          Ini sangat jelas dari perincian di atas. Jika anak-anak yang ikut belajar filsafah syirik (PMP atau PPKN) dianggap musyrik, maka sesungguhnya hampir seluruh warga negara Indonesia yang pernah berlajar di bangku sekolah telah kafir !!!. Dan kebanyakan mereka belum bertaubat dari kekafiran mereka.Demikian juga betapa banyak warga negara Indonesia yang menyatakan praktik bom bali merupakan bentuk praktek teroris??. Apakah mereka semuanya telah batal syahadatnya??, telah kafir??. Sungguh hanya segelintir kecil warga negara Indonesia yang mendukung al-Qoidah dan para bombers di Bali??. Nah sisanya bagaimana??. Semua telah batal syahadatnya??. Bahkan bukan Cuma warga negara Indonesia…, hampir seluruh warga negara Saudi juga tidak setuju dengan pengeboman membabi buta yang dilakukan oleh para teroris dengan slogan jihad. Apakah mereka juga kafir??. Nah para imam masjid al-Haram dan Al-Masjid Nabawi juga kafir dan murtad?? Kesimpulan : Sepertinya –mohon maaf  wahai para saudaraku yang kami cintai, yang hobi mengkafirkan- memang sepertinya sangat pantas dan cocok jika kalian disebut “Takfiri” (Tukang mengkafirkan). Dan saya rasa kalian –wahai saudara-saudaraku- tidak menolak gelaran ini, karena memang kalian wahai saudara-saudaraku meyakininya bahkan menggembar-gemborkannya…bahkan membanggakannya !!!Bersambung….Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 14-02-1435 H / 17-12-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com 

Gelar Takfiri, Pantaskah ??

Tidak diragukan saudara-saudara kita yang terjerat dalam pemahaman takfiri (suka mengkafirkan) adalah saudara-saudara yang semangat menegakkan syari’at Islam. Akan tetapi tentunya bukan hanya mereka saja yang rindu untuk ditegakkan syari’at Islam. Demikian juga bukan hanya mereka yang benci kepada kesyirikan dan kekufuran, akan tetapi masih banyak saudara-saudara mereka yang lain yang juga benci dan selalu memperingatkan umat akan bahaya kesyirikan dengan berbagai macam jenisnya.Hanya saja saudara-saudara kita –yang hobi mengkafirkan- tersebut sangat memfokuskan pembahasan kesyirikan pada permasalahan “Berhukum dengan selain hukum Allah”. Berangkat dari kesalahpahaman tentang permasalahan “Berhukum dengan selain hukum Allah” maka menimbulkan pengkafiran berantai ala “MLM”.  Tentu saudaraku yang “hobi” mengkafirkan tidak suka atau tidak ridho dengan gelar yang buruk ini “Takfiri” jika distempelkan dan dicapkan pada dirinya. Karena bagaimanapun gelar “takfiri” sangat bermakna konotasi. Akan tetapi jika kita kembali kepada kenyataan aqidah dan praktek mereka…ternyata inilah sifat dan gelar yang tepat dan sangat pas jika ditempelkan kepada saudara-saudara kita yang berpemahaman takfir tersebut. Terlebih lagi jika kita menelaah pernyataan-pernyataan berani yang dilontarkan oleh tokoh-tokoh mereka (dalam hal ini adalah Ustadz Aman Abdurrahman dan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir), sebagaimana yang telah dinukil oleh situs-situs pendukung dan penebar pemahaman kedua ustadz ini seperti : (1) Arrahmah.com, (2) Millahibrahim.wordpress.com, dan (3) voa-islam.comBerikut contoh-contoh pengkafiranberantai tersebut, sebagaimana termaktub dalam situs-situs tersebut :Pertama : Arab Saudi negara kafir.          Seorang muslim tentunya bahagia masih ada suatu negara yang masih menegakkan hukum Islam, hukum rajam bagi yang berzina, hukum pemotongan tangan bagi yang mencuri, qisos (dipenggal kepala) pagi yang membunuh orang lain dengan sengaja tanpa hak, qisosbagi yang mempraktekan sihir, dll. Itulah negara Arab Saudi, yang pada negara tersebut tidak akan ditemukan sebuah tempat ibadah agama lain…, tidak akan ditemukan perayaan hari natal…, tidak akan ditemukan bar dan discotik.., apalagi tempat lokalisasi perzinahan, serta keamanan yang luar biasa. Sebagaimana hal ini bisa dirasakan oleh para jama’ah haji. Tidak ada kuburan yang disembah.., tidak ada penyembelihan kepada jin.., dan tidak ada praktik-praktikesyirikan secara terang-terangan. Demikian juga Arab Saudi adalah satu-satunya negara yang memiliki Lembaga al-AmrbilMa’ruufwaAn-Nahyu ‘anal-Munkar. Tentunya tidak ada yang mengatakan bahwa Arab Saudi adalah negara Islam yang sempurna…??. Tidak seorangpun yang menyatakan demikian. Bahkan kita sendiri melihat masih ada kekurangan pada kerajaan Arab Saudi. Akan tetapi itulah negara yang terbaik yang adasaatini, yang kita terus memohon kepada Allah agar tetap menjaga negara ini dan mengarahkannya kepada yang lebih baik.Akan tetapi anehnya, ada seorang ustadz yang bukannya mendoakan agar Arab Saudi menjadi lebih baik, akan tetapi malah berbahagia jika Arab Saudi runtuh..!?. Dalam sebuah tulisan yang berjudul “Masa-masa akhir menjelang runtuhnya Thaghut Saudi”, UstadzAman Abdurrahman berkata : ((Arab Saudi adalah negara paling akhir dalam keterbongkaran kekafiran dan kethaghutan mereka, yang selama ini mayoritas umat Islam atau bahkan aktivis Islam meyakini bahwa Saudi adalah negara Islam. Hari demi hari semakin terbongkar kekafiran mereka di hadapan umat Islam dan bahkan di hadapan para syaikh mereka yang selama ini selalu melindungi dan menjadi pilar pengokoh kekuasaan mereka. Bergembiralah wahai kaum muslimin dengan semakin nyatanya kejahatan Dinasti Saudi dan kekafiran mereka serta loyalitas mereka kepada Salibis Amerika dan Zionis Yahudi. Tunggulah saatnya kehancuran mereka dan penguasaan ikhwan tauhid setelahnya)), silahkan baca (http://millahibrahim.wordpress.com/2013/08/17/masa-masa-akhir-menjelang-runtuhnya-thaghut-saudi/)Entah apa yang dikehendaki oleh Ustadz Aman Abdurrahman ini…?!, apakah ia ingin Arab Saudi hancur, lalu ia bersama rekan-rekannya mendirikan negara Islam di Arab Saudi menggantikan raja Saudi, lalu menyerang Amerika dan Yahudi??. Apakah semudah itu…??. Apakah itu yang hendak digembira riakan??. Ingin agar tidak ada yang mengatur jama’ah haji dan umroh…Selanjutnya… Kedua : Indonesia negara musyrik dan kafirJika Arab Saudi yang menjalankan hukum Islam saja divonis kafir maka bagaimana lagi nasib NKRI?. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir berkata : “Negara Indonesia (NKRI) adalah negara musyrik dan kafir”  (silahkan baca http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2013/08/15/26277/ustadz-baasyir-indonesia-berhukum-thaghut-umat-islam-dilarang-patuh/#sthash.H5wyoNld.dpbs).Selanjutnya … Ketiga : Kepala Negara Indonesia Kafir.Jika negaranya kafir, maka tentunya sang presidennya juga kafir, karena menjalankan kekafiran dengan berhukum dengan hukum selain hukum Allah kafir. Presiden Indonesia SBY disebut oleh mereka sebagai thaghut (gembong kekufuran), silahkan lihat http://www.arrahmah.com/read/2012/01/11/17338-ustadz-abu-bakar-baasyir-penguasa-nkri-sejak-merdeka-hingga-saat-ini-adalah-thaghut.html).Jangankan presiden NKRI bahkan tokoh Ikhwanul Muslimin yaitu Mursi -presiden Mesir- juga divonis kafir tatkala menjadi presiden (silahkan baca http://millahibrahim.wordpress.com/2013/10/17/penjelasan-kekafiran-mursiy-saat-menjadi-presiden-mesir/).Selanjutnya … Keempat : Pegawai negeri secara umum kafir (meskipun tidak semuanya). Sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Ustadz andalan kaum takfiri yaitu Aman Abdurrahman (silahkan lihat http://www.arrahmah.com/read/2007/11/29/1317-status-pegawai-negeri-pemerintahan-thaghut.html)Karena negara Indonesia negara kafir dan musyrik, demikian juga kepala negaranya yang berhukum dengan hukum kafir, maka yang bekerja sebagai pegawai negara tersebut juga terancam kafir.Perinciannya sebagai berikut;–         Seluruh kepala negara (baik presiden, Amir, maupun Raja) adalah kafir bahkan thaghut (gembong dan penyebab kekufuran berantai). Aman Abdurrahman berkata ((Penguasa zhalim yang merubah aturan-aturan (hukum) Allah, thaghut semacam ini adalah banyak sekali dan sudah bersifat lembaga resmi pemerintahan negara-negara pada umumnya di zaman sekarang ini. Contohnya tidaklah jauh seperti parlemen, lembaga inilah yang memegang kedaulatan dan wewenang pembuatan hukum/undang-undang. Lembaga ini akan membuat hukum atau tidak, dan baik hukum yang digulirkan itu seperti hukum Islam atau menyelisihinya maka tetap saja lembaga berikut anggota-anggotanya ini adalah thaghut, meskipun sebahagiannya mengaku memperjuangkan syari’at Islam. Begitu juga Presiden/ Raja/Emir atau para bawahannya yang suka membuat SK atau TAP yang menyelisihi aturan Allah, mereka itu adalah thaghut)), silahkan baca (http://millahibrahim.wordpress.com/seri-materi-tauhid/seri-4-siapakah-thaghut/)–         Seluruh anggota DPR dan MPR kafir, karena membuat hukum selain hukum Allah–         Seluruh jaksa dan hakim adalah kafir, dan seluruh yang bekerja di departemen kehakiman dan pengadilan konsekuensinya juga kafir–         Seluruh anggota polisi kafir, karena ikut membela negara yang berhukum dengan hukum Allah–         Seluruh anggota ABRI, baik angkatan udara, angkatan laut, maupun angkata darat, semuanya kafir karena ikut membela negara kafir Indonesia yang berhukum dengan selain hukum AllahAman Abdurrahman berkata ((seperti anggota MPR/DPR, baik dia disumpah ataupun tidak maka dia tetap kafir, juga hakim, jaksa, tentara, polisi, baik mereka ada sumpah ataupun tidak, mereka tetap orang kafir))Setelah itu rantai pengkafiran berlanjut :–         Mengkafirkan semua yang membantu terlaksananya sidang-sidang DPR/MPR. Aman Abdurrahman berkata ((Atau orang bekerja di sekretariat gedung DPR/MPR, dimana dia yang mengatur program-program atau berbagai acara rapat atau sidang mejelisthaghut ini)).Ini melazimkan pengkafiran yang ngawur membabi buta, sehingga semua orang yang kerjaannya ada hubungan dengan kegiatan DPR/MPR maka dihukum kafir !!. Termasuk para pedagang yang menyediakan makanan dalam sidang-sidang tersebut.., para tukang sapu yang membersihkan ruangan sidang tersebut…, pokoknya semua yang iktu nimbrung membantu jalannya persidangan DPR/MPR maka divonis kafir–         Semua pegawai negeri yang tatkala menjadi pegawai negeri disumpah maka dia telah kafir. Aman Abdurrahman berkata ((apapun bentuk dinasnya selama ada sumpah untuk loyal kepada hukum thaghut maka dia kafir)) (lihat http://millahibrahim.wordpress.com/2007/11/02/status-bekerja-di-dinas-pemerintahan-thaghut/). Ini merupakan bentuk pengkafiran pegawai negeri secara menyeluruh, karena rata-rata pegawai negeri terkena sumpah–         Sekedar menyanyikan lagu garuda pancasila meskipun meyakini kebatilan dan kesyirikan pancasila sudah cukup untuk menjadikan penyanyi tersebut otomatis kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Pancasila adalah falsafah syirik, maka orang-orang yang ‘sekedar’ ikut menyanyikan lagu Garuda Pancasila adalah telah keluar dari Islam, baik karena alasan basa-basi atau karena takut (kecuali dipaksa), meskipun dia itu benci dengan Pancasila dan para pendukungnya serta cinta kepada Tauhid dan kaum muwahhidin, karena dia mengikuti orang-orang musyrik dalam kemusyrikannya)) (lihat http://millahibrahim.wordpress.com/seri-materi-tauhid/seri-8-hukum-berloyalitas-kepada-musyrikin/)–         Pejabat yang mengatakan “kami hanya menjalankan tugas/prosedur atasan” maka telah kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Bila saja orang yang mengikuti apa yang membuat murka Allah telah divonis murtad oleh-Nya, maka apa gerangan dengan banyaknya orang yang berposisi sebagai bawahan mengatakan kepada masyarakat “Kami hanya menjalankan tugas” setelah sang pejabat atasan membuat undang-undang kafir kemudian si bawahan itu melaksanakannya))–         Hanya sekedar anak-anak mengikuti pelajaran PMP atau PPKN maka otomatis menjadi kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Bila orang yang taat dalam sebagian kekafiran Allah SubhanahuWaTa’ala memvonisnya sebagai orang murtad, maka apa gerangan dengan:…Anak-anak sekolah mengikuti pelajaran falsafah syirik dengan alasan mengikuti proses pembelajaran dan berkata: “Karena jika tidak (ikut), maka kami tidak akan lulus”))–         Anak-anak aja dikafirkan apalagi mahasiswa. Aman Abdurrahman berkata ((Seperti saat ujian siswa memuji Pancasila, demokrasi, Undang Undang Dasar 1945, dan lain-lain. Atau kagum dengannya atau bangga dengannya demi mendapatkan nilai ujian, maka dia itu kafir meskipun benci akan hal-hal itu dan para pendukungnya serta cinta kepada Tauhid dan kaum muwahhidin.))–         Seluruh pemilik sekolah resmi yang diakui pemerintah adalah kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Seperti itu pula orang yang ingin membuat lembaga yang diakui thaghut, sedangkan thaghut mensyaratkan adanya mata pelajaran falsafah syirik (mis. PPKN) lalu mereka menerima syarat itu, maka hukumnya sama saja.))–         Bahkan meskipun berdusta akan menyetujui tetap saja divonis kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Bahkan bila dia berjanji dusta untuk memenuhi syarat itu terhadap thaghut, tetap hukumnya sama saja)) Kelima : Yang menyatakan para bombers sebagai teroris divonis kafir. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir berkata : “Kalau ada umat Islam yang menganggap alqaidah sebagai teroris maka batal syahadatnya” (lihat http://www.youtube.com/watch?v=ZKQ3vue2T80, lihat juga http://www.youtube.com/watch?v=ZLDZ-vMevw4). Semua ini adalah bentuk mengkafirkan dengan kelaziman. Jika ada orang yang menyatakan mujahid (tukang bom) adalah teroris maka berarti ia telah membantu Amerika dalam menyerang kaum muslimin. Dan barang siapa yang membantu Amerika untuk menyerang kaum muslimin maka ia telah kafir !!! Keenam : Warga negara Indonesia (bahkan kaum muslimin dunia) pada umumnya kafir          Ini sangat jelas dari perincian di atas. Jika anak-anak yang ikut belajar filsafah syirik (PMP atau PPKN) dianggap musyrik, maka sesungguhnya hampir seluruh warga negara Indonesia yang pernah berlajar di bangku sekolah telah kafir !!!. Dan kebanyakan mereka belum bertaubat dari kekafiran mereka.Demikian juga betapa banyak warga negara Indonesia yang menyatakan praktik bom bali merupakan bentuk praktek teroris??. Apakah mereka semuanya telah batal syahadatnya??, telah kafir??. Sungguh hanya segelintir kecil warga negara Indonesia yang mendukung al-Qoidah dan para bombers di Bali??. Nah sisanya bagaimana??. Semua telah batal syahadatnya??. Bahkan bukan Cuma warga negara Indonesia…, hampir seluruh warga negara Saudi juga tidak setuju dengan pengeboman membabi buta yang dilakukan oleh para teroris dengan slogan jihad. Apakah mereka juga kafir??. Nah para imam masjid al-Haram dan Al-Masjid Nabawi juga kafir dan murtad?? Kesimpulan : Sepertinya –mohon maaf  wahai para saudaraku yang kami cintai, yang hobi mengkafirkan- memang sepertinya sangat pantas dan cocok jika kalian disebut “Takfiri” (Tukang mengkafirkan). Dan saya rasa kalian –wahai saudara-saudaraku- tidak menolak gelaran ini, karena memang kalian wahai saudara-saudaraku meyakininya bahkan menggembar-gemborkannya…bahkan membanggakannya !!!Bersambung….Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 14-02-1435 H / 17-12-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com 
Tidak diragukan saudara-saudara kita yang terjerat dalam pemahaman takfiri (suka mengkafirkan) adalah saudara-saudara yang semangat menegakkan syari’at Islam. Akan tetapi tentunya bukan hanya mereka saja yang rindu untuk ditegakkan syari’at Islam. Demikian juga bukan hanya mereka yang benci kepada kesyirikan dan kekufuran, akan tetapi masih banyak saudara-saudara mereka yang lain yang juga benci dan selalu memperingatkan umat akan bahaya kesyirikan dengan berbagai macam jenisnya.Hanya saja saudara-saudara kita –yang hobi mengkafirkan- tersebut sangat memfokuskan pembahasan kesyirikan pada permasalahan “Berhukum dengan selain hukum Allah”. Berangkat dari kesalahpahaman tentang permasalahan “Berhukum dengan selain hukum Allah” maka menimbulkan pengkafiran berantai ala “MLM”.  Tentu saudaraku yang “hobi” mengkafirkan tidak suka atau tidak ridho dengan gelar yang buruk ini “Takfiri” jika distempelkan dan dicapkan pada dirinya. Karena bagaimanapun gelar “takfiri” sangat bermakna konotasi. Akan tetapi jika kita kembali kepada kenyataan aqidah dan praktek mereka…ternyata inilah sifat dan gelar yang tepat dan sangat pas jika ditempelkan kepada saudara-saudara kita yang berpemahaman takfir tersebut. Terlebih lagi jika kita menelaah pernyataan-pernyataan berani yang dilontarkan oleh tokoh-tokoh mereka (dalam hal ini adalah Ustadz Aman Abdurrahman dan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir), sebagaimana yang telah dinukil oleh situs-situs pendukung dan penebar pemahaman kedua ustadz ini seperti : (1) Arrahmah.com, (2) Millahibrahim.wordpress.com, dan (3) voa-islam.comBerikut contoh-contoh pengkafiranberantai tersebut, sebagaimana termaktub dalam situs-situs tersebut :Pertama : Arab Saudi negara kafir.          Seorang muslim tentunya bahagia masih ada suatu negara yang masih menegakkan hukum Islam, hukum rajam bagi yang berzina, hukum pemotongan tangan bagi yang mencuri, qisos (dipenggal kepala) pagi yang membunuh orang lain dengan sengaja tanpa hak, qisosbagi yang mempraktekan sihir, dll. Itulah negara Arab Saudi, yang pada negara tersebut tidak akan ditemukan sebuah tempat ibadah agama lain…, tidak akan ditemukan perayaan hari natal…, tidak akan ditemukan bar dan discotik.., apalagi tempat lokalisasi perzinahan, serta keamanan yang luar biasa. Sebagaimana hal ini bisa dirasakan oleh para jama’ah haji. Tidak ada kuburan yang disembah.., tidak ada penyembelihan kepada jin.., dan tidak ada praktik-praktikesyirikan secara terang-terangan. Demikian juga Arab Saudi adalah satu-satunya negara yang memiliki Lembaga al-AmrbilMa’ruufwaAn-Nahyu ‘anal-Munkar. Tentunya tidak ada yang mengatakan bahwa Arab Saudi adalah negara Islam yang sempurna…??. Tidak seorangpun yang menyatakan demikian. Bahkan kita sendiri melihat masih ada kekurangan pada kerajaan Arab Saudi. Akan tetapi itulah negara yang terbaik yang adasaatini, yang kita terus memohon kepada Allah agar tetap menjaga negara ini dan mengarahkannya kepada yang lebih baik.Akan tetapi anehnya, ada seorang ustadz yang bukannya mendoakan agar Arab Saudi menjadi lebih baik, akan tetapi malah berbahagia jika Arab Saudi runtuh..!?. Dalam sebuah tulisan yang berjudul “Masa-masa akhir menjelang runtuhnya Thaghut Saudi”, UstadzAman Abdurrahman berkata : ((Arab Saudi adalah negara paling akhir dalam keterbongkaran kekafiran dan kethaghutan mereka, yang selama ini mayoritas umat Islam atau bahkan aktivis Islam meyakini bahwa Saudi adalah negara Islam. Hari demi hari semakin terbongkar kekafiran mereka di hadapan umat Islam dan bahkan di hadapan para syaikh mereka yang selama ini selalu melindungi dan menjadi pilar pengokoh kekuasaan mereka. Bergembiralah wahai kaum muslimin dengan semakin nyatanya kejahatan Dinasti Saudi dan kekafiran mereka serta loyalitas mereka kepada Salibis Amerika dan Zionis Yahudi. Tunggulah saatnya kehancuran mereka dan penguasaan ikhwan tauhid setelahnya)), silahkan baca (http://millahibrahim.wordpress.com/2013/08/17/masa-masa-akhir-menjelang-runtuhnya-thaghut-saudi/)Entah apa yang dikehendaki oleh Ustadz Aman Abdurrahman ini…?!, apakah ia ingin Arab Saudi hancur, lalu ia bersama rekan-rekannya mendirikan negara Islam di Arab Saudi menggantikan raja Saudi, lalu menyerang Amerika dan Yahudi??. Apakah semudah itu…??. Apakah itu yang hendak digembira riakan??. Ingin agar tidak ada yang mengatur jama’ah haji dan umroh…Selanjutnya… Kedua : Indonesia negara musyrik dan kafirJika Arab Saudi yang menjalankan hukum Islam saja divonis kafir maka bagaimana lagi nasib NKRI?. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir berkata : “Negara Indonesia (NKRI) adalah negara musyrik dan kafir”  (silahkan baca http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2013/08/15/26277/ustadz-baasyir-indonesia-berhukum-thaghut-umat-islam-dilarang-patuh/#sthash.H5wyoNld.dpbs).Selanjutnya … Ketiga : Kepala Negara Indonesia Kafir.Jika negaranya kafir, maka tentunya sang presidennya juga kafir, karena menjalankan kekafiran dengan berhukum dengan hukum selain hukum Allah kafir. Presiden Indonesia SBY disebut oleh mereka sebagai thaghut (gembong kekufuran), silahkan lihat http://www.arrahmah.com/read/2012/01/11/17338-ustadz-abu-bakar-baasyir-penguasa-nkri-sejak-merdeka-hingga-saat-ini-adalah-thaghut.html).Jangankan presiden NKRI bahkan tokoh Ikhwanul Muslimin yaitu Mursi -presiden Mesir- juga divonis kafir tatkala menjadi presiden (silahkan baca http://millahibrahim.wordpress.com/2013/10/17/penjelasan-kekafiran-mursiy-saat-menjadi-presiden-mesir/).Selanjutnya … Keempat : Pegawai negeri secara umum kafir (meskipun tidak semuanya). Sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Ustadz andalan kaum takfiri yaitu Aman Abdurrahman (silahkan lihat http://www.arrahmah.com/read/2007/11/29/1317-status-pegawai-negeri-pemerintahan-thaghut.html)Karena negara Indonesia negara kafir dan musyrik, demikian juga kepala negaranya yang berhukum dengan hukum kafir, maka yang bekerja sebagai pegawai negara tersebut juga terancam kafir.Perinciannya sebagai berikut;–         Seluruh kepala negara (baik presiden, Amir, maupun Raja) adalah kafir bahkan thaghut (gembong dan penyebab kekufuran berantai). Aman Abdurrahman berkata ((Penguasa zhalim yang merubah aturan-aturan (hukum) Allah, thaghut semacam ini adalah banyak sekali dan sudah bersifat lembaga resmi pemerintahan negara-negara pada umumnya di zaman sekarang ini. Contohnya tidaklah jauh seperti parlemen, lembaga inilah yang memegang kedaulatan dan wewenang pembuatan hukum/undang-undang. Lembaga ini akan membuat hukum atau tidak, dan baik hukum yang digulirkan itu seperti hukum Islam atau menyelisihinya maka tetap saja lembaga berikut anggota-anggotanya ini adalah thaghut, meskipun sebahagiannya mengaku memperjuangkan syari’at Islam. Begitu juga Presiden/ Raja/Emir atau para bawahannya yang suka membuat SK atau TAP yang menyelisihi aturan Allah, mereka itu adalah thaghut)), silahkan baca (http://millahibrahim.wordpress.com/seri-materi-tauhid/seri-4-siapakah-thaghut/)–         Seluruh anggota DPR dan MPR kafir, karena membuat hukum selain hukum Allah–         Seluruh jaksa dan hakim adalah kafir, dan seluruh yang bekerja di departemen kehakiman dan pengadilan konsekuensinya juga kafir–         Seluruh anggota polisi kafir, karena ikut membela negara yang berhukum dengan hukum Allah–         Seluruh anggota ABRI, baik angkatan udara, angkatan laut, maupun angkata darat, semuanya kafir karena ikut membela negara kafir Indonesia yang berhukum dengan selain hukum AllahAman Abdurrahman berkata ((seperti anggota MPR/DPR, baik dia disumpah ataupun tidak maka dia tetap kafir, juga hakim, jaksa, tentara, polisi, baik mereka ada sumpah ataupun tidak, mereka tetap orang kafir))Setelah itu rantai pengkafiran berlanjut :–         Mengkafirkan semua yang membantu terlaksananya sidang-sidang DPR/MPR. Aman Abdurrahman berkata ((Atau orang bekerja di sekretariat gedung DPR/MPR, dimana dia yang mengatur program-program atau berbagai acara rapat atau sidang mejelisthaghut ini)).Ini melazimkan pengkafiran yang ngawur membabi buta, sehingga semua orang yang kerjaannya ada hubungan dengan kegiatan DPR/MPR maka dihukum kafir !!. Termasuk para pedagang yang menyediakan makanan dalam sidang-sidang tersebut.., para tukang sapu yang membersihkan ruangan sidang tersebut…, pokoknya semua yang iktu nimbrung membantu jalannya persidangan DPR/MPR maka divonis kafir–         Semua pegawai negeri yang tatkala menjadi pegawai negeri disumpah maka dia telah kafir. Aman Abdurrahman berkata ((apapun bentuk dinasnya selama ada sumpah untuk loyal kepada hukum thaghut maka dia kafir)) (lihat http://millahibrahim.wordpress.com/2007/11/02/status-bekerja-di-dinas-pemerintahan-thaghut/). Ini merupakan bentuk pengkafiran pegawai negeri secara menyeluruh, karena rata-rata pegawai negeri terkena sumpah–         Sekedar menyanyikan lagu garuda pancasila meskipun meyakini kebatilan dan kesyirikan pancasila sudah cukup untuk menjadikan penyanyi tersebut otomatis kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Pancasila adalah falsafah syirik, maka orang-orang yang ‘sekedar’ ikut menyanyikan lagu Garuda Pancasila adalah telah keluar dari Islam, baik karena alasan basa-basi atau karena takut (kecuali dipaksa), meskipun dia itu benci dengan Pancasila dan para pendukungnya serta cinta kepada Tauhid dan kaum muwahhidin, karena dia mengikuti orang-orang musyrik dalam kemusyrikannya)) (lihat http://millahibrahim.wordpress.com/seri-materi-tauhid/seri-8-hukum-berloyalitas-kepada-musyrikin/)–         Pejabat yang mengatakan “kami hanya menjalankan tugas/prosedur atasan” maka telah kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Bila saja orang yang mengikuti apa yang membuat murka Allah telah divonis murtad oleh-Nya, maka apa gerangan dengan banyaknya orang yang berposisi sebagai bawahan mengatakan kepada masyarakat “Kami hanya menjalankan tugas” setelah sang pejabat atasan membuat undang-undang kafir kemudian si bawahan itu melaksanakannya))–         Hanya sekedar anak-anak mengikuti pelajaran PMP atau PPKN maka otomatis menjadi kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Bila orang yang taat dalam sebagian kekafiran Allah SubhanahuWaTa’ala memvonisnya sebagai orang murtad, maka apa gerangan dengan:…Anak-anak sekolah mengikuti pelajaran falsafah syirik dengan alasan mengikuti proses pembelajaran dan berkata: “Karena jika tidak (ikut), maka kami tidak akan lulus”))–         Anak-anak aja dikafirkan apalagi mahasiswa. Aman Abdurrahman berkata ((Seperti saat ujian siswa memuji Pancasila, demokrasi, Undang Undang Dasar 1945, dan lain-lain. Atau kagum dengannya atau bangga dengannya demi mendapatkan nilai ujian, maka dia itu kafir meskipun benci akan hal-hal itu dan para pendukungnya serta cinta kepada Tauhid dan kaum muwahhidin.))–         Seluruh pemilik sekolah resmi yang diakui pemerintah adalah kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Seperti itu pula orang yang ingin membuat lembaga yang diakui thaghut, sedangkan thaghut mensyaratkan adanya mata pelajaran falsafah syirik (mis. PPKN) lalu mereka menerima syarat itu, maka hukumnya sama saja.))–         Bahkan meskipun berdusta akan menyetujui tetap saja divonis kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Bahkan bila dia berjanji dusta untuk memenuhi syarat itu terhadap thaghut, tetap hukumnya sama saja)) Kelima : Yang menyatakan para bombers sebagai teroris divonis kafir. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir berkata : “Kalau ada umat Islam yang menganggap alqaidah sebagai teroris maka batal syahadatnya” (lihat http://www.youtube.com/watch?v=ZKQ3vue2T80, lihat juga http://www.youtube.com/watch?v=ZLDZ-vMevw4). Semua ini adalah bentuk mengkafirkan dengan kelaziman. Jika ada orang yang menyatakan mujahid (tukang bom) adalah teroris maka berarti ia telah membantu Amerika dalam menyerang kaum muslimin. Dan barang siapa yang membantu Amerika untuk menyerang kaum muslimin maka ia telah kafir !!! Keenam : Warga negara Indonesia (bahkan kaum muslimin dunia) pada umumnya kafir          Ini sangat jelas dari perincian di atas. Jika anak-anak yang ikut belajar filsafah syirik (PMP atau PPKN) dianggap musyrik, maka sesungguhnya hampir seluruh warga negara Indonesia yang pernah berlajar di bangku sekolah telah kafir !!!. Dan kebanyakan mereka belum bertaubat dari kekafiran mereka.Demikian juga betapa banyak warga negara Indonesia yang menyatakan praktik bom bali merupakan bentuk praktek teroris??. Apakah mereka semuanya telah batal syahadatnya??, telah kafir??. Sungguh hanya segelintir kecil warga negara Indonesia yang mendukung al-Qoidah dan para bombers di Bali??. Nah sisanya bagaimana??. Semua telah batal syahadatnya??. Bahkan bukan Cuma warga negara Indonesia…, hampir seluruh warga negara Saudi juga tidak setuju dengan pengeboman membabi buta yang dilakukan oleh para teroris dengan slogan jihad. Apakah mereka juga kafir??. Nah para imam masjid al-Haram dan Al-Masjid Nabawi juga kafir dan murtad?? Kesimpulan : Sepertinya –mohon maaf  wahai para saudaraku yang kami cintai, yang hobi mengkafirkan- memang sepertinya sangat pantas dan cocok jika kalian disebut “Takfiri” (Tukang mengkafirkan). Dan saya rasa kalian –wahai saudara-saudaraku- tidak menolak gelaran ini, karena memang kalian wahai saudara-saudaraku meyakininya bahkan menggembar-gemborkannya…bahkan membanggakannya !!!Bersambung….Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 14-02-1435 H / 17-12-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com 


Tidak diragukan saudara-saudara kita yang terjerat dalam pemahaman takfiri (suka mengkafirkan) adalah saudara-saudara yang semangat menegakkan syari’at Islam. Akan tetapi tentunya bukan hanya mereka saja yang rindu untuk ditegakkan syari’at Islam. Demikian juga bukan hanya mereka yang benci kepada kesyirikan dan kekufuran, akan tetapi masih banyak saudara-saudara mereka yang lain yang juga benci dan selalu memperingatkan umat akan bahaya kesyirikan dengan berbagai macam jenisnya.Hanya saja saudara-saudara kita –yang hobi mengkafirkan- tersebut sangat memfokuskan pembahasan kesyirikan pada permasalahan “Berhukum dengan selain hukum Allah”. Berangkat dari kesalahpahaman tentang permasalahan “Berhukum dengan selain hukum Allah” maka menimbulkan pengkafiran berantai ala “MLM”.  Tentu saudaraku yang “hobi” mengkafirkan tidak suka atau tidak ridho dengan gelar yang buruk ini “Takfiri” jika distempelkan dan dicapkan pada dirinya. Karena bagaimanapun gelar “takfiri” sangat bermakna konotasi. Akan tetapi jika kita kembali kepada kenyataan aqidah dan praktek mereka…ternyata inilah sifat dan gelar yang tepat dan sangat pas jika ditempelkan kepada saudara-saudara kita yang berpemahaman takfir tersebut. Terlebih lagi jika kita menelaah pernyataan-pernyataan berani yang dilontarkan oleh tokoh-tokoh mereka (dalam hal ini adalah Ustadz Aman Abdurrahman dan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir), sebagaimana yang telah dinukil oleh situs-situs pendukung dan penebar pemahaman kedua ustadz ini seperti : (1) Arrahmah.com, (2) Millahibrahim.wordpress.com, dan (3) voa-islam.comBerikut contoh-contoh pengkafiranberantai tersebut, sebagaimana termaktub dalam situs-situs tersebut :Pertama : Arab Saudi negara kafir.          Seorang muslim tentunya bahagia masih ada suatu negara yang masih menegakkan hukum Islam, hukum rajam bagi yang berzina, hukum pemotongan tangan bagi yang mencuri, qisos (dipenggal kepala) pagi yang membunuh orang lain dengan sengaja tanpa hak, qisosbagi yang mempraktekan sihir, dll. Itulah negara Arab Saudi, yang pada negara tersebut tidak akan ditemukan sebuah tempat ibadah agama lain…, tidak akan ditemukan perayaan hari natal…, tidak akan ditemukan bar dan discotik.., apalagi tempat lokalisasi perzinahan, serta keamanan yang luar biasa. Sebagaimana hal ini bisa dirasakan oleh para jama’ah haji. Tidak ada kuburan yang disembah.., tidak ada penyembelihan kepada jin.., dan tidak ada praktik-praktikesyirikan secara terang-terangan. Demikian juga Arab Saudi adalah satu-satunya negara yang memiliki Lembaga al-AmrbilMa’ruufwaAn-Nahyu ‘anal-Munkar. Tentunya tidak ada yang mengatakan bahwa Arab Saudi adalah negara Islam yang sempurna…??. Tidak seorangpun yang menyatakan demikian. Bahkan kita sendiri melihat masih ada kekurangan pada kerajaan Arab Saudi. Akan tetapi itulah negara yang terbaik yang adasaatini, yang kita terus memohon kepada Allah agar tetap menjaga negara ini dan mengarahkannya kepada yang lebih baik.Akan tetapi anehnya, ada seorang ustadz yang bukannya mendoakan agar Arab Saudi menjadi lebih baik, akan tetapi malah berbahagia jika Arab Saudi runtuh..!?. Dalam sebuah tulisan yang berjudul “Masa-masa akhir menjelang runtuhnya Thaghut Saudi”, UstadzAman Abdurrahman berkata : ((Arab Saudi adalah negara paling akhir dalam keterbongkaran kekafiran dan kethaghutan mereka, yang selama ini mayoritas umat Islam atau bahkan aktivis Islam meyakini bahwa Saudi adalah negara Islam. Hari demi hari semakin terbongkar kekafiran mereka di hadapan umat Islam dan bahkan di hadapan para syaikh mereka yang selama ini selalu melindungi dan menjadi pilar pengokoh kekuasaan mereka. Bergembiralah wahai kaum muslimin dengan semakin nyatanya kejahatan Dinasti Saudi dan kekafiran mereka serta loyalitas mereka kepada Salibis Amerika dan Zionis Yahudi. Tunggulah saatnya kehancuran mereka dan penguasaan ikhwan tauhid setelahnya)), silahkan baca (http://millahibrahim.wordpress.com/2013/08/17/masa-masa-akhir-menjelang-runtuhnya-thaghut-saudi/)Entah apa yang dikehendaki oleh Ustadz Aman Abdurrahman ini…?!, apakah ia ingin Arab Saudi hancur, lalu ia bersama rekan-rekannya mendirikan negara Islam di Arab Saudi menggantikan raja Saudi, lalu menyerang Amerika dan Yahudi??. Apakah semudah itu…??. Apakah itu yang hendak digembira riakan??. Ingin agar tidak ada yang mengatur jama’ah haji dan umroh…Selanjutnya… Kedua : Indonesia negara musyrik dan kafirJika Arab Saudi yang menjalankan hukum Islam saja divonis kafir maka bagaimana lagi nasib NKRI?. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir berkata : “Negara Indonesia (NKRI) adalah negara musyrik dan kafir”  (silahkan baca http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2013/08/15/26277/ustadz-baasyir-indonesia-berhukum-thaghut-umat-islam-dilarang-patuh/#sthash.H5wyoNld.dpbs).Selanjutnya … Ketiga : Kepala Negara Indonesia Kafir.Jika negaranya kafir, maka tentunya sang presidennya juga kafir, karena menjalankan kekafiran dengan berhukum dengan hukum selain hukum Allah kafir. Presiden Indonesia SBY disebut oleh mereka sebagai thaghut (gembong kekufuran), silahkan lihat http://www.arrahmah.com/read/2012/01/11/17338-ustadz-abu-bakar-baasyir-penguasa-nkri-sejak-merdeka-hingga-saat-ini-adalah-thaghut.html).Jangankan presiden NKRI bahkan tokoh Ikhwanul Muslimin yaitu Mursi -presiden Mesir- juga divonis kafir tatkala menjadi presiden (silahkan baca http://millahibrahim.wordpress.com/2013/10/17/penjelasan-kekafiran-mursiy-saat-menjadi-presiden-mesir/).Selanjutnya … Keempat : Pegawai negeri secara umum kafir (meskipun tidak semuanya). Sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Ustadz andalan kaum takfiri yaitu Aman Abdurrahman (silahkan lihat http://www.arrahmah.com/read/2007/11/29/1317-status-pegawai-negeri-pemerintahan-thaghut.html)Karena negara Indonesia negara kafir dan musyrik, demikian juga kepala negaranya yang berhukum dengan hukum kafir, maka yang bekerja sebagai pegawai negara tersebut juga terancam kafir.Perinciannya sebagai berikut;–         Seluruh kepala negara (baik presiden, Amir, maupun Raja) adalah kafir bahkan thaghut (gembong dan penyebab kekufuran berantai). Aman Abdurrahman berkata ((Penguasa zhalim yang merubah aturan-aturan (hukum) Allah, thaghut semacam ini adalah banyak sekali dan sudah bersifat lembaga resmi pemerintahan negara-negara pada umumnya di zaman sekarang ini. Contohnya tidaklah jauh seperti parlemen, lembaga inilah yang memegang kedaulatan dan wewenang pembuatan hukum/undang-undang. Lembaga ini akan membuat hukum atau tidak, dan baik hukum yang digulirkan itu seperti hukum Islam atau menyelisihinya maka tetap saja lembaga berikut anggota-anggotanya ini adalah thaghut, meskipun sebahagiannya mengaku memperjuangkan syari’at Islam. Begitu juga Presiden/ Raja/Emir atau para bawahannya yang suka membuat SK atau TAP yang menyelisihi aturan Allah, mereka itu adalah thaghut)), silahkan baca (http://millahibrahim.wordpress.com/seri-materi-tauhid/seri-4-siapakah-thaghut/)–         Seluruh anggota DPR dan MPR kafir, karena membuat hukum selain hukum Allah–         Seluruh jaksa dan hakim adalah kafir, dan seluruh yang bekerja di departemen kehakiman dan pengadilan konsekuensinya juga kafir–         Seluruh anggota polisi kafir, karena ikut membela negara yang berhukum dengan hukum Allah–         Seluruh anggota ABRI, baik angkatan udara, angkatan laut, maupun angkata darat, semuanya kafir karena ikut membela negara kafir Indonesia yang berhukum dengan selain hukum AllahAman Abdurrahman berkata ((seperti anggota MPR/DPR, baik dia disumpah ataupun tidak maka dia tetap kafir, juga hakim, jaksa, tentara, polisi, baik mereka ada sumpah ataupun tidak, mereka tetap orang kafir))Setelah itu rantai pengkafiran berlanjut :–         Mengkafirkan semua yang membantu terlaksananya sidang-sidang DPR/MPR. Aman Abdurrahman berkata ((Atau orang bekerja di sekretariat gedung DPR/MPR, dimana dia yang mengatur program-program atau berbagai acara rapat atau sidang mejelisthaghut ini)).Ini melazimkan pengkafiran yang ngawur membabi buta, sehingga semua orang yang kerjaannya ada hubungan dengan kegiatan DPR/MPR maka dihukum kafir !!. Termasuk para pedagang yang menyediakan makanan dalam sidang-sidang tersebut.., para tukang sapu yang membersihkan ruangan sidang tersebut…, pokoknya semua yang iktu nimbrung membantu jalannya persidangan DPR/MPR maka divonis kafir–         Semua pegawai negeri yang tatkala menjadi pegawai negeri disumpah maka dia telah kafir. Aman Abdurrahman berkata ((apapun bentuk dinasnya selama ada sumpah untuk loyal kepada hukum thaghut maka dia kafir)) (lihat http://millahibrahim.wordpress.com/2007/11/02/status-bekerja-di-dinas-pemerintahan-thaghut/). Ini merupakan bentuk pengkafiran pegawai negeri secara menyeluruh, karena rata-rata pegawai negeri terkena sumpah–         Sekedar menyanyikan lagu garuda pancasila meskipun meyakini kebatilan dan kesyirikan pancasila sudah cukup untuk menjadikan penyanyi tersebut otomatis kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Pancasila adalah falsafah syirik, maka orang-orang yang ‘sekedar’ ikut menyanyikan lagu Garuda Pancasila adalah telah keluar dari Islam, baik karena alasan basa-basi atau karena takut (kecuali dipaksa), meskipun dia itu benci dengan Pancasila dan para pendukungnya serta cinta kepada Tauhid dan kaum muwahhidin, karena dia mengikuti orang-orang musyrik dalam kemusyrikannya)) (lihat http://millahibrahim.wordpress.com/seri-materi-tauhid/seri-8-hukum-berloyalitas-kepada-musyrikin/)–         Pejabat yang mengatakan “kami hanya menjalankan tugas/prosedur atasan” maka telah kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Bila saja orang yang mengikuti apa yang membuat murka Allah telah divonis murtad oleh-Nya, maka apa gerangan dengan banyaknya orang yang berposisi sebagai bawahan mengatakan kepada masyarakat “Kami hanya menjalankan tugas” setelah sang pejabat atasan membuat undang-undang kafir kemudian si bawahan itu melaksanakannya))–         Hanya sekedar anak-anak mengikuti pelajaran PMP atau PPKN maka otomatis menjadi kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Bila orang yang taat dalam sebagian kekafiran Allah SubhanahuWaTa’ala memvonisnya sebagai orang murtad, maka apa gerangan dengan:…Anak-anak sekolah mengikuti pelajaran falsafah syirik dengan alasan mengikuti proses pembelajaran dan berkata: “Karena jika tidak (ikut), maka kami tidak akan lulus”))–         Anak-anak aja dikafirkan apalagi mahasiswa. Aman Abdurrahman berkata ((Seperti saat ujian siswa memuji Pancasila, demokrasi, Undang Undang Dasar 1945, dan lain-lain. Atau kagum dengannya atau bangga dengannya demi mendapatkan nilai ujian, maka dia itu kafir meskipun benci akan hal-hal itu dan para pendukungnya serta cinta kepada Tauhid dan kaum muwahhidin.))–         Seluruh pemilik sekolah resmi yang diakui pemerintah adalah kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Seperti itu pula orang yang ingin membuat lembaga yang diakui thaghut, sedangkan thaghut mensyaratkan adanya mata pelajaran falsafah syirik (mis. PPKN) lalu mereka menerima syarat itu, maka hukumnya sama saja.))–         Bahkan meskipun berdusta akan menyetujui tetap saja divonis kafir. Aman Abdurrahman berkata ((Bahkan bila dia berjanji dusta untuk memenuhi syarat itu terhadap thaghut, tetap hukumnya sama saja)) Kelima : Yang menyatakan para bombers sebagai teroris divonis kafir. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir berkata : “Kalau ada umat Islam yang menganggap alqaidah sebagai teroris maka batal syahadatnya” (lihat http://www.youtube.com/watch?v=ZKQ3vue2T80, lihat juga http://www.youtube.com/watch?v=ZLDZ-vMevw4). Semua ini adalah bentuk mengkafirkan dengan kelaziman. Jika ada orang yang menyatakan mujahid (tukang bom) adalah teroris maka berarti ia telah membantu Amerika dalam menyerang kaum muslimin. Dan barang siapa yang membantu Amerika untuk menyerang kaum muslimin maka ia telah kafir !!! Keenam : Warga negara Indonesia (bahkan kaum muslimin dunia) pada umumnya kafir          Ini sangat jelas dari perincian di atas. Jika anak-anak yang ikut belajar filsafah syirik (PMP atau PPKN) dianggap musyrik, maka sesungguhnya hampir seluruh warga negara Indonesia yang pernah berlajar di bangku sekolah telah kafir !!!. Dan kebanyakan mereka belum bertaubat dari kekafiran mereka.Demikian juga betapa banyak warga negara Indonesia yang menyatakan praktik bom bali merupakan bentuk praktek teroris??. Apakah mereka semuanya telah batal syahadatnya??, telah kafir??. Sungguh hanya segelintir kecil warga negara Indonesia yang mendukung al-Qoidah dan para bombers di Bali??. Nah sisanya bagaimana??. Semua telah batal syahadatnya??. Bahkan bukan Cuma warga negara Indonesia…, hampir seluruh warga negara Saudi juga tidak setuju dengan pengeboman membabi buta yang dilakukan oleh para teroris dengan slogan jihad. Apakah mereka juga kafir??. Nah para imam masjid al-Haram dan Al-Masjid Nabawi juga kafir dan murtad?? Kesimpulan : Sepertinya –mohon maaf  wahai para saudaraku yang kami cintai, yang hobi mengkafirkan- memang sepertinya sangat pantas dan cocok jika kalian disebut “Takfiri” (Tukang mengkafirkan). Dan saya rasa kalian –wahai saudara-saudaraku- tidak menolak gelaran ini, karena memang kalian wahai saudara-saudaraku meyakininya bahkan menggembar-gemborkannya…bahkan membanggakannya !!!Bersambung….Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 14-02-1435 H / 17-12-2013 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com 

Jangan Pernah Menyangka Hahwa Istiqomahmu dan Ketegaranmu Merupakan Pruduk Murni Keberhasilanmu

Jangan pernah menyangka bahwa istiqomahmu dan ketegaranmu merupakan pruduk murni keberhasilanmu dan ketaatanmu, sesungguhnya Allah telah berkata kpd NabiNya :وَلَوْلَا أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, (Al-Isroo’ : 74)Ini pernyataan Allah tentang Nabi, bagaimana lagi dengan dirimu? Tatkala Allah memilihmu untuk menempuh jalan hidayah, bukanlah karena engkau sosok spesial karena ketaatanmu, akan tetapi karena rahmat Allah yang meliputimu. Bisa saja Allah mencabut rahmatNya darimu kapan saja Allah kehendaki. Karenanya janganlah pernah bangga dan terpedaya oleh amalan dan ketaatanmu, dan jangan pernah pula merendahkan orang yg tersesat…, karena kalau bukan rahmat dan kasih sayang Allah kepadamu, maka bisa jadi engkaulah yg berada di posisi orang yg tersesat tersebut

Jangan Pernah Menyangka Hahwa Istiqomahmu dan Ketegaranmu Merupakan Pruduk Murni Keberhasilanmu

Jangan pernah menyangka bahwa istiqomahmu dan ketegaranmu merupakan pruduk murni keberhasilanmu dan ketaatanmu, sesungguhnya Allah telah berkata kpd NabiNya :وَلَوْلَا أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, (Al-Isroo’ : 74)Ini pernyataan Allah tentang Nabi, bagaimana lagi dengan dirimu? Tatkala Allah memilihmu untuk menempuh jalan hidayah, bukanlah karena engkau sosok spesial karena ketaatanmu, akan tetapi karena rahmat Allah yang meliputimu. Bisa saja Allah mencabut rahmatNya darimu kapan saja Allah kehendaki. Karenanya janganlah pernah bangga dan terpedaya oleh amalan dan ketaatanmu, dan jangan pernah pula merendahkan orang yg tersesat…, karena kalau bukan rahmat dan kasih sayang Allah kepadamu, maka bisa jadi engkaulah yg berada di posisi orang yg tersesat tersebut
Jangan pernah menyangka bahwa istiqomahmu dan ketegaranmu merupakan pruduk murni keberhasilanmu dan ketaatanmu, sesungguhnya Allah telah berkata kpd NabiNya :وَلَوْلَا أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, (Al-Isroo’ : 74)Ini pernyataan Allah tentang Nabi, bagaimana lagi dengan dirimu? Tatkala Allah memilihmu untuk menempuh jalan hidayah, bukanlah karena engkau sosok spesial karena ketaatanmu, akan tetapi karena rahmat Allah yang meliputimu. Bisa saja Allah mencabut rahmatNya darimu kapan saja Allah kehendaki. Karenanya janganlah pernah bangga dan terpedaya oleh amalan dan ketaatanmu, dan jangan pernah pula merendahkan orang yg tersesat…, karena kalau bukan rahmat dan kasih sayang Allah kepadamu, maka bisa jadi engkaulah yg berada di posisi orang yg tersesat tersebut


Jangan pernah menyangka bahwa istiqomahmu dan ketegaranmu merupakan pruduk murni keberhasilanmu dan ketaatanmu, sesungguhnya Allah telah berkata kpd NabiNya :وَلَوْلَا أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, (Al-Isroo’ : 74)Ini pernyataan Allah tentang Nabi, bagaimana lagi dengan dirimu? Tatkala Allah memilihmu untuk menempuh jalan hidayah, bukanlah karena engkau sosok spesial karena ketaatanmu, akan tetapi karena rahmat Allah yang meliputimu. Bisa saja Allah mencabut rahmatNya darimu kapan saja Allah kehendaki. Karenanya janganlah pernah bangga dan terpedaya oleh amalan dan ketaatanmu, dan jangan pernah pula merendahkan orang yg tersesat…, karena kalau bukan rahmat dan kasih sayang Allah kepadamu, maka bisa jadi engkaulah yg berada di posisi orang yg tersesat tersebut

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 44: Batu pun Bertasbih

16DecSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 44: Batu pun BertasbihDecember 16, 2013Belajar Islam, Fikih, Nasihat dan Faidah Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 44 BATU PUN BERTASBIH   Dikarenakan keagungan Allah dan kemuliaan-Nya, maka seluruh makhluk pun bertasbih kepada-Nya. Langit, bumi, gunung, pohon, matahari, bulan, hewan, burung dan segala sesuatu, semuanya bertasbih mensucikan Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an ditegaskan, “تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ، إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا”. Artinya: “Tujuh lapis langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya. Namun kalian tidak memahami tasbih mereka. Sesungguh-Nya Dia Maha Penyantun lagi Pengampun”. QS. Al-Isra’ (17): 44. Ayat di atas dan masih banyak ayat lainnya, menjelaskan pada kita bahwa seluruh makhluk bertasbih, entah itu makhluk hidup maupun benda mati. Dan mereka bertasbih secara nyata, bukan ilusi belaka. Dalam kitabnya Tahdzîb al-Lughah, Imam al-Azhary (w. 370 H) menjelaskan bahwa seluruh makhluk Allah bersujud kepada-Nya dengan nyata, sebagaimana mereka bertasbih kepada Allah ta’ala juga dengan nyata. Kita para manusia tidaklah dibebani oleh Allah untuk mengetahui tata cara para makhluk itu dalam bertasbih dan bersujud kepada-Nya. Allah ta’ala menjelaskan, “أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ”. Artinya: “Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pepohonan, hewan-hewan yang melata dan banyak di antara manusia”. QS. Al-Hajj (22): 18. Bertasbihnya para makhluk tersebut di atas bukanlah suatu perkara yang aneh. Di zaman Nabi shallallahu’alaihiwasallam saja para sahabat biasa mendengar makanan bertasbih. Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu menuturkan, “لَقَدْ رَأَيْتُ الْمَاءَ يَنْبُعُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَقَدْ كُنَّا نَسْمَعُ تَسْبِيحَ الطَّعَامِ وَهُوَ يُؤْكَلُ” “Sungguh aku telah melihat air memancar dari antara jari-jari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Dan sungguh kami juga mendengar makanan bertasbih saat dimakan”. HR. Bukhari. Insan yang beriman akan percaya dengan apa yang disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah tanpa merasa ragu. Selain itu juga akan mengambil pelajaran, bahwa jika bebatuan yang tak bernyawa dan tak berakal saja bersujud, bertasbih dan merasa takut kepada Allah, bagaimana halnya dengan para manusia? Mereka telah dikaruniai akal, dianugerahi hati, dimuliakan dengan iman, andaikan tidak juga sujud, bertasbih dan merasa takut kepada Allah, alangkah kerasnya hati mereka?? Na’udzubillah min dzalik… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Shafar 1435 / 16 Desember 2013   * Diringkas dan diterjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/213-218). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 44: Batu pun Bertasbih

16DecSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 44: Batu pun BertasbihDecember 16, 2013Belajar Islam, Fikih, Nasihat dan Faidah Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 44 BATU PUN BERTASBIH   Dikarenakan keagungan Allah dan kemuliaan-Nya, maka seluruh makhluk pun bertasbih kepada-Nya. Langit, bumi, gunung, pohon, matahari, bulan, hewan, burung dan segala sesuatu, semuanya bertasbih mensucikan Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an ditegaskan, “تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ، إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا”. Artinya: “Tujuh lapis langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya. Namun kalian tidak memahami tasbih mereka. Sesungguh-Nya Dia Maha Penyantun lagi Pengampun”. QS. Al-Isra’ (17): 44. Ayat di atas dan masih banyak ayat lainnya, menjelaskan pada kita bahwa seluruh makhluk bertasbih, entah itu makhluk hidup maupun benda mati. Dan mereka bertasbih secara nyata, bukan ilusi belaka. Dalam kitabnya Tahdzîb al-Lughah, Imam al-Azhary (w. 370 H) menjelaskan bahwa seluruh makhluk Allah bersujud kepada-Nya dengan nyata, sebagaimana mereka bertasbih kepada Allah ta’ala juga dengan nyata. Kita para manusia tidaklah dibebani oleh Allah untuk mengetahui tata cara para makhluk itu dalam bertasbih dan bersujud kepada-Nya. Allah ta’ala menjelaskan, “أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ”. Artinya: “Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pepohonan, hewan-hewan yang melata dan banyak di antara manusia”. QS. Al-Hajj (22): 18. Bertasbihnya para makhluk tersebut di atas bukanlah suatu perkara yang aneh. Di zaman Nabi shallallahu’alaihiwasallam saja para sahabat biasa mendengar makanan bertasbih. Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu menuturkan, “لَقَدْ رَأَيْتُ الْمَاءَ يَنْبُعُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَقَدْ كُنَّا نَسْمَعُ تَسْبِيحَ الطَّعَامِ وَهُوَ يُؤْكَلُ” “Sungguh aku telah melihat air memancar dari antara jari-jari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Dan sungguh kami juga mendengar makanan bertasbih saat dimakan”. HR. Bukhari. Insan yang beriman akan percaya dengan apa yang disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah tanpa merasa ragu. Selain itu juga akan mengambil pelajaran, bahwa jika bebatuan yang tak bernyawa dan tak berakal saja bersujud, bertasbih dan merasa takut kepada Allah, bagaimana halnya dengan para manusia? Mereka telah dikaruniai akal, dianugerahi hati, dimuliakan dengan iman, andaikan tidak juga sujud, bertasbih dan merasa takut kepada Allah, alangkah kerasnya hati mereka?? Na’udzubillah min dzalik… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Shafar 1435 / 16 Desember 2013   * Diringkas dan diterjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/213-218). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
16DecSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 44: Batu pun BertasbihDecember 16, 2013Belajar Islam, Fikih, Nasihat dan Faidah Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 44 BATU PUN BERTASBIH   Dikarenakan keagungan Allah dan kemuliaan-Nya, maka seluruh makhluk pun bertasbih kepada-Nya. Langit, bumi, gunung, pohon, matahari, bulan, hewan, burung dan segala sesuatu, semuanya bertasbih mensucikan Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an ditegaskan, “تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ، إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا”. Artinya: “Tujuh lapis langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya. Namun kalian tidak memahami tasbih mereka. Sesungguh-Nya Dia Maha Penyantun lagi Pengampun”. QS. Al-Isra’ (17): 44. Ayat di atas dan masih banyak ayat lainnya, menjelaskan pada kita bahwa seluruh makhluk bertasbih, entah itu makhluk hidup maupun benda mati. Dan mereka bertasbih secara nyata, bukan ilusi belaka. Dalam kitabnya Tahdzîb al-Lughah, Imam al-Azhary (w. 370 H) menjelaskan bahwa seluruh makhluk Allah bersujud kepada-Nya dengan nyata, sebagaimana mereka bertasbih kepada Allah ta’ala juga dengan nyata. Kita para manusia tidaklah dibebani oleh Allah untuk mengetahui tata cara para makhluk itu dalam bertasbih dan bersujud kepada-Nya. Allah ta’ala menjelaskan, “أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ”. Artinya: “Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pepohonan, hewan-hewan yang melata dan banyak di antara manusia”. QS. Al-Hajj (22): 18. Bertasbihnya para makhluk tersebut di atas bukanlah suatu perkara yang aneh. Di zaman Nabi shallallahu’alaihiwasallam saja para sahabat biasa mendengar makanan bertasbih. Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu menuturkan, “لَقَدْ رَأَيْتُ الْمَاءَ يَنْبُعُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَقَدْ كُنَّا نَسْمَعُ تَسْبِيحَ الطَّعَامِ وَهُوَ يُؤْكَلُ” “Sungguh aku telah melihat air memancar dari antara jari-jari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Dan sungguh kami juga mendengar makanan bertasbih saat dimakan”. HR. Bukhari. Insan yang beriman akan percaya dengan apa yang disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah tanpa merasa ragu. Selain itu juga akan mengambil pelajaran, bahwa jika bebatuan yang tak bernyawa dan tak berakal saja bersujud, bertasbih dan merasa takut kepada Allah, bagaimana halnya dengan para manusia? Mereka telah dikaruniai akal, dianugerahi hati, dimuliakan dengan iman, andaikan tidak juga sujud, bertasbih dan merasa takut kepada Allah, alangkah kerasnya hati mereka?? Na’udzubillah min dzalik… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Shafar 1435 / 16 Desember 2013   * Diringkas dan diterjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/213-218). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


16DecSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 44: Batu pun BertasbihDecember 16, 2013Belajar Islam, Fikih, Nasihat dan Faidah Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 44 BATU PUN BERTASBIH   Dikarenakan keagungan Allah dan kemuliaan-Nya, maka seluruh makhluk pun bertasbih kepada-Nya. Langit, bumi, gunung, pohon, matahari, bulan, hewan, burung dan segala sesuatu, semuanya bertasbih mensucikan Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an ditegaskan, “تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ، إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا”. Artinya: “Tujuh lapis langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya. Namun kalian tidak memahami tasbih mereka. Sesungguh-Nya Dia Maha Penyantun lagi Pengampun”. QS. Al-Isra’ (17): 44. Ayat di atas dan masih banyak ayat lainnya, menjelaskan pada kita bahwa seluruh makhluk bertasbih, entah itu makhluk hidup maupun benda mati. Dan mereka bertasbih secara nyata, bukan ilusi belaka. Dalam kitabnya Tahdzîb al-Lughah, Imam al-Azhary (w. 370 H) menjelaskan bahwa seluruh makhluk Allah bersujud kepada-Nya dengan nyata, sebagaimana mereka bertasbih kepada Allah ta’ala juga dengan nyata. Kita para manusia tidaklah dibebani oleh Allah untuk mengetahui tata cara para makhluk itu dalam bertasbih dan bersujud kepada-Nya. Allah ta’ala menjelaskan, “أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ”. Artinya: “Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pepohonan, hewan-hewan yang melata dan banyak di antara manusia”. QS. Al-Hajj (22): 18. Bertasbihnya para makhluk tersebut di atas bukanlah suatu perkara yang aneh. Di zaman Nabi shallallahu’alaihiwasallam saja para sahabat biasa mendengar makanan bertasbih. Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu menuturkan, “لَقَدْ رَأَيْتُ الْمَاءَ يَنْبُعُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَقَدْ كُنَّا نَسْمَعُ تَسْبِيحَ الطَّعَامِ وَهُوَ يُؤْكَلُ” “Sungguh aku telah melihat air memancar dari antara jari-jari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Dan sungguh kami juga mendengar makanan bertasbih saat dimakan”. HR. Bukhari. Insan yang beriman akan percaya dengan apa yang disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah tanpa merasa ragu. Selain itu juga akan mengambil pelajaran, bahwa jika bebatuan yang tak bernyawa dan tak berakal saja bersujud, bertasbih dan merasa takut kepada Allah, bagaimana halnya dengan para manusia? Mereka telah dikaruniai akal, dianugerahi hati, dimuliakan dengan iman, andaikan tidak juga sujud, bertasbih dan merasa takut kepada Allah, alangkah kerasnya hati mereka?? Na’udzubillah min dzalik… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Shafar 1435 / 16 Desember 2013   * Diringkas dan diterjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/213-218). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Adakah Lebaran Di Suria…??

Seorang Penyair berkata :يا عيد مهلا فما في الدار روادوليس تلعب في الساحات أوﻻدWahai hari lebaran… Tunggu dulu… Tidak ada di negeri ini pengunjungnya…فالشام تمسي وتضحي وابتسامتهاغارت وآﻻمها في القلب تزدادNegeri Syaam (Suria) di pagi dan sore hari hilanglah senyumannya…Penderitaannya dihati semakin bertambah… وأهلها بين مقتول ومعتقلونازح بات لا مأوى ولا زادPenduduknya terbunuh dan terpenjara….Atau terasing…bermalam tanpa tempat bernaung dan tanpa bekal…جارت عليها ذئاب الكفر قاطبةوأترعت كأسها بالذل أوغادSeluruh serigala kafir telah menzoliminya…Serigala-serigala kafir tersebut telah memenuhi cangkir negeri Syaam (suria) dengan kehinaan dan kerendahan…والمسلمون موات مالهم أثرمليارهم إذ يجد الجد آحادKaum muslimin hanyalah mayat-mayat yang tak berbekas…Jumlah mereka yang milyaran… Hanya segelintir oranglah yang serius (memperdulikan)…فيا أسود الوغى في شام عزتناأنتم على ضعفكم لله أجنادWahai para singa peperangan di negeri Syaam kejayaan kami…Meskipun kalian lemah akan tetapi kalianlah pasukan Allah yang sesungguhnya …شدوا على الجرح لا يأس ولا وهنفالنصر آت ولكن ثم ميعادIkatlah luka kalian jangan pernah ada putus asa dan kelemahan…Sesungguhnya kemenangan akan datang, akan tetapi ada waktunya….ويومها تمسح المأساة دمعتهاوتملأ الشام أفراح وأعيادMaka pada haribitu kesedihan dan penderitaan akan menghapus air matanya….Lalu negeri Syam (Suria) pun akan dipenuhi kegembiraan dan hari-hari lebaran….(Di tengah kegembiraanmu…mereka di sana membutuhkan ketulusan doamu…)

Adakah Lebaran Di Suria…??

Seorang Penyair berkata :يا عيد مهلا فما في الدار روادوليس تلعب في الساحات أوﻻدWahai hari lebaran… Tunggu dulu… Tidak ada di negeri ini pengunjungnya…فالشام تمسي وتضحي وابتسامتهاغارت وآﻻمها في القلب تزدادNegeri Syaam (Suria) di pagi dan sore hari hilanglah senyumannya…Penderitaannya dihati semakin bertambah… وأهلها بين مقتول ومعتقلونازح بات لا مأوى ولا زادPenduduknya terbunuh dan terpenjara….Atau terasing…bermalam tanpa tempat bernaung dan tanpa bekal…جارت عليها ذئاب الكفر قاطبةوأترعت كأسها بالذل أوغادSeluruh serigala kafir telah menzoliminya…Serigala-serigala kafir tersebut telah memenuhi cangkir negeri Syaam (suria) dengan kehinaan dan kerendahan…والمسلمون موات مالهم أثرمليارهم إذ يجد الجد آحادKaum muslimin hanyalah mayat-mayat yang tak berbekas…Jumlah mereka yang milyaran… Hanya segelintir oranglah yang serius (memperdulikan)…فيا أسود الوغى في شام عزتناأنتم على ضعفكم لله أجنادWahai para singa peperangan di negeri Syaam kejayaan kami…Meskipun kalian lemah akan tetapi kalianlah pasukan Allah yang sesungguhnya …شدوا على الجرح لا يأس ولا وهنفالنصر آت ولكن ثم ميعادIkatlah luka kalian jangan pernah ada putus asa dan kelemahan…Sesungguhnya kemenangan akan datang, akan tetapi ada waktunya….ويومها تمسح المأساة دمعتهاوتملأ الشام أفراح وأعيادMaka pada haribitu kesedihan dan penderitaan akan menghapus air matanya….Lalu negeri Syam (Suria) pun akan dipenuhi kegembiraan dan hari-hari lebaran….(Di tengah kegembiraanmu…mereka di sana membutuhkan ketulusan doamu…)
Seorang Penyair berkata :يا عيد مهلا فما في الدار روادوليس تلعب في الساحات أوﻻدWahai hari lebaran… Tunggu dulu… Tidak ada di negeri ini pengunjungnya…فالشام تمسي وتضحي وابتسامتهاغارت وآﻻمها في القلب تزدادNegeri Syaam (Suria) di pagi dan sore hari hilanglah senyumannya…Penderitaannya dihati semakin bertambah… وأهلها بين مقتول ومعتقلونازح بات لا مأوى ولا زادPenduduknya terbunuh dan terpenjara….Atau terasing…bermalam tanpa tempat bernaung dan tanpa bekal…جارت عليها ذئاب الكفر قاطبةوأترعت كأسها بالذل أوغادSeluruh serigala kafir telah menzoliminya…Serigala-serigala kafir tersebut telah memenuhi cangkir negeri Syaam (suria) dengan kehinaan dan kerendahan…والمسلمون موات مالهم أثرمليارهم إذ يجد الجد آحادKaum muslimin hanyalah mayat-mayat yang tak berbekas…Jumlah mereka yang milyaran… Hanya segelintir oranglah yang serius (memperdulikan)…فيا أسود الوغى في شام عزتناأنتم على ضعفكم لله أجنادWahai para singa peperangan di negeri Syaam kejayaan kami…Meskipun kalian lemah akan tetapi kalianlah pasukan Allah yang sesungguhnya …شدوا على الجرح لا يأس ولا وهنفالنصر آت ولكن ثم ميعادIkatlah luka kalian jangan pernah ada putus asa dan kelemahan…Sesungguhnya kemenangan akan datang, akan tetapi ada waktunya….ويومها تمسح المأساة دمعتهاوتملأ الشام أفراح وأعيادMaka pada haribitu kesedihan dan penderitaan akan menghapus air matanya….Lalu negeri Syam (Suria) pun akan dipenuhi kegembiraan dan hari-hari lebaran….(Di tengah kegembiraanmu…mereka di sana membutuhkan ketulusan doamu…)


Seorang Penyair berkata :يا عيد مهلا فما في الدار روادوليس تلعب في الساحات أوﻻدWahai hari lebaran… Tunggu dulu… Tidak ada di negeri ini pengunjungnya…فالشام تمسي وتضحي وابتسامتهاغارت وآﻻمها في القلب تزدادNegeri Syaam (Suria) di pagi dan sore hari hilanglah senyumannya…Penderitaannya dihati semakin bertambah… وأهلها بين مقتول ومعتقلونازح بات لا مأوى ولا زادPenduduknya terbunuh dan terpenjara….Atau terasing…bermalam tanpa tempat bernaung dan tanpa bekal…جارت عليها ذئاب الكفر قاطبةوأترعت كأسها بالذل أوغادSeluruh serigala kafir telah menzoliminya…Serigala-serigala kafir tersebut telah memenuhi cangkir negeri Syaam (suria) dengan kehinaan dan kerendahan…والمسلمون موات مالهم أثرمليارهم إذ يجد الجد آحادKaum muslimin hanyalah mayat-mayat yang tak berbekas…Jumlah mereka yang milyaran… Hanya segelintir oranglah yang serius (memperdulikan)…فيا أسود الوغى في شام عزتناأنتم على ضعفكم لله أجنادWahai para singa peperangan di negeri Syaam kejayaan kami…Meskipun kalian lemah akan tetapi kalianlah pasukan Allah yang sesungguhnya …شدوا على الجرح لا يأس ولا وهنفالنصر آت ولكن ثم ميعادIkatlah luka kalian jangan pernah ada putus asa dan kelemahan…Sesungguhnya kemenangan akan datang, akan tetapi ada waktunya….ويومها تمسح المأساة دمعتهاوتملأ الشام أفراح وأعيادMaka pada haribitu kesedihan dan penderitaan akan menghapus air matanya….Lalu negeri Syam (Suria) pun akan dipenuhi kegembiraan dan hari-hari lebaran….(Di tengah kegembiraanmu…mereka di sana membutuhkan ketulusan doamu…)

Kaedah Fikih (13): Hukum Asal Daging

Bagaimana hukum asal daging? Misalnya, saat kita di supermarket ada daging ayam, apakah boleh kita membelinya padahal tidak tahu cara penyembelihannya? Dalam kaedah berikutnya Syaikh As Sa’di menyampaikan tentang hukum asal daging dengan mengatakan dalam bait sya’irnya, الأصل في الأبضاع واللحوم والنفس للمعصوم تحريمها حتى يجيء الحل فافهم هداك الله ما يحل Hukum asal hubungan biologis dan daging, begitu pula darah dan harta orang yang terjaga adalah haram sampai datang dalil yang menunjukkan halalnya, maka pahamilah apa yang telah didiktekan Jadi menurut Syaikh As Sa’di hukum asal daging adalah haram. Inilah pendapat sebagian ulama bahwa hukum asal daging itu haram. Asal dari pendapat ini adalah hadits ‘Adi radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا أَرْسَلَتَ كَلْبَكَ فَاذْكُرِ اسْمَ اَللَّهِ, فَإِنْ أَمْسَكَ عَلَيْكَ فَأَدْرَكْتَهُ حَيًّا فَاذْبَحْهُ, وَإِنْ أَدْرَكْتَهُ قَدْ قُتِلَ وَلَمْ يُؤْكَلْ مِنْهُ فَكُلْهُ, وَإِنْ وَجَدْتَ مَعَ كَلْبِكَ كَلْبًا غَيْرَهُ وَقَدْ قُتِلَ فَلَا تَأْكُلْ: فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي أَيَّهُمَا قَتَلَهُ “Jika engkau ingin melepas anjing (pemburu yang telah dilatih), maka ucapkanlah ‘bismillah’. Jika ia menangkap sesuatu untukmu, lalu engkau mendapati hasil buruan tersebut dalam keadaan hidup, maka sembelihlah. Jika engkau mendapati hasil buruan tersebut dibunuh oleh anjing buruan itu dan ia tidak memakannya, maka makanlah hasil buruan tersebut. Jika engkau mendapati anjingmu bersama anjing lain dan hewan buruan tersebut sudah ia bunuh, maka janganlah memakannya karena engkau tidaklah tahu siapa yang membunuh hewan buruan tersebut. (HR. Bukhari no. 5484 dan Muslim no. 1929). Hadits ini menunjukkan bahwa jika bergabung antara daging yang halal dan haram, maka dimenangkan sisi yang haram. Namun pendalilan seperti itu bukanlah membahas hukum asal daging. Sedangkan yang lebih tepat, kaedah yang menyatakan hukum asal daging itu halal. Dalil yang mendukung pendapat ini adalah firman Allah Ta’ala, قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً “Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai …” (QS. Al An’am: 145). Disebutkan dalam ayat ini, hukum asal daging itu halal sampai ada dalil yang mengharamkannya. Begitu juga dalilnya adalah ayat, وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ “Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya.” (QS.  Al An’am: 119). Ayat ini juga menunjukkan bahwa hukum asal daging itu halal hingga ada dalil yang menunjukkan haramnya. Begitu juga dijadikan dalil adalah firman Allah, إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, …” (QS. Al Baqarah: 173). Ayat ini menggunakan kalimat hasyr atau pembatasan dengan diawali “innama“. Ini menunjukkan bahwa selain dari yang diharamkan tersebut dihukumi seperti asalnya yaitu halal. Begitu pula dalil yang menunjukkan hukum asal daging adalah halal yaitu hadits berikut, عَنْ عَائِشَةَ  رضى الله عنها   أَنَّ قَوْمًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ قَوْمًا يَأْتُونَنَا بِاللَّحْمِ لاَ نَدْرِى أَذَكَرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ أَمْ لاَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – سَمُّوا اللَّهَ عَلَيْهِ وَكُلُوهُ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ada suatu kaum yang berkata, “Wahai Rasulullah, ada suatu kaum membawa daging kepada kami dan kami tidak tahu apakah daging tersebut saat disembelih dibacakan bismillah ataukah tidak.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Ucapkanlah bismillah lalu makanlah.” (HR. Bukhari no. 2057). Jika seandainya hukum asal daging itu adalah haram, maka tentu beliau akan mengatakan, “Janganlah makan sampai kalian itu halal.” Inilah beberapa alasan kenapa kaedah yang lebih tepat, hukum asal daging itu halal sampai ada dalil yang menunjukkan haramnya. Wallahu a’lam bish showwab.   Referensi: Syarh Al Manzhumatus Sa’diyah fil Qowa’id Al Fiqhiyyah, -guru kami- Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy Syatsri, terbitan Dar Kanuz Isybiliya, cetakan kedua, 1426 H, hal. 82-83. — Disusun selepas Zhuhur di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Safar 1435 H, 02:12 PM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsdaging qurban kaedah fikih

Kaedah Fikih (13): Hukum Asal Daging

Bagaimana hukum asal daging? Misalnya, saat kita di supermarket ada daging ayam, apakah boleh kita membelinya padahal tidak tahu cara penyembelihannya? Dalam kaedah berikutnya Syaikh As Sa’di menyampaikan tentang hukum asal daging dengan mengatakan dalam bait sya’irnya, الأصل في الأبضاع واللحوم والنفس للمعصوم تحريمها حتى يجيء الحل فافهم هداك الله ما يحل Hukum asal hubungan biologis dan daging, begitu pula darah dan harta orang yang terjaga adalah haram sampai datang dalil yang menunjukkan halalnya, maka pahamilah apa yang telah didiktekan Jadi menurut Syaikh As Sa’di hukum asal daging adalah haram. Inilah pendapat sebagian ulama bahwa hukum asal daging itu haram. Asal dari pendapat ini adalah hadits ‘Adi radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا أَرْسَلَتَ كَلْبَكَ فَاذْكُرِ اسْمَ اَللَّهِ, فَإِنْ أَمْسَكَ عَلَيْكَ فَأَدْرَكْتَهُ حَيًّا فَاذْبَحْهُ, وَإِنْ أَدْرَكْتَهُ قَدْ قُتِلَ وَلَمْ يُؤْكَلْ مِنْهُ فَكُلْهُ, وَإِنْ وَجَدْتَ مَعَ كَلْبِكَ كَلْبًا غَيْرَهُ وَقَدْ قُتِلَ فَلَا تَأْكُلْ: فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي أَيَّهُمَا قَتَلَهُ “Jika engkau ingin melepas anjing (pemburu yang telah dilatih), maka ucapkanlah ‘bismillah’. Jika ia menangkap sesuatu untukmu, lalu engkau mendapati hasil buruan tersebut dalam keadaan hidup, maka sembelihlah. Jika engkau mendapati hasil buruan tersebut dibunuh oleh anjing buruan itu dan ia tidak memakannya, maka makanlah hasil buruan tersebut. Jika engkau mendapati anjingmu bersama anjing lain dan hewan buruan tersebut sudah ia bunuh, maka janganlah memakannya karena engkau tidaklah tahu siapa yang membunuh hewan buruan tersebut. (HR. Bukhari no. 5484 dan Muslim no. 1929). Hadits ini menunjukkan bahwa jika bergabung antara daging yang halal dan haram, maka dimenangkan sisi yang haram. Namun pendalilan seperti itu bukanlah membahas hukum asal daging. Sedangkan yang lebih tepat, kaedah yang menyatakan hukum asal daging itu halal. Dalil yang mendukung pendapat ini adalah firman Allah Ta’ala, قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً “Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai …” (QS. Al An’am: 145). Disebutkan dalam ayat ini, hukum asal daging itu halal sampai ada dalil yang mengharamkannya. Begitu juga dalilnya adalah ayat, وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ “Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya.” (QS.  Al An’am: 119). Ayat ini juga menunjukkan bahwa hukum asal daging itu halal hingga ada dalil yang menunjukkan haramnya. Begitu juga dijadikan dalil adalah firman Allah, إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, …” (QS. Al Baqarah: 173). Ayat ini menggunakan kalimat hasyr atau pembatasan dengan diawali “innama“. Ini menunjukkan bahwa selain dari yang diharamkan tersebut dihukumi seperti asalnya yaitu halal. Begitu pula dalil yang menunjukkan hukum asal daging adalah halal yaitu hadits berikut, عَنْ عَائِشَةَ  رضى الله عنها   أَنَّ قَوْمًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ قَوْمًا يَأْتُونَنَا بِاللَّحْمِ لاَ نَدْرِى أَذَكَرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ أَمْ لاَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – سَمُّوا اللَّهَ عَلَيْهِ وَكُلُوهُ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ada suatu kaum yang berkata, “Wahai Rasulullah, ada suatu kaum membawa daging kepada kami dan kami tidak tahu apakah daging tersebut saat disembelih dibacakan bismillah ataukah tidak.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Ucapkanlah bismillah lalu makanlah.” (HR. Bukhari no. 2057). Jika seandainya hukum asal daging itu adalah haram, maka tentu beliau akan mengatakan, “Janganlah makan sampai kalian itu halal.” Inilah beberapa alasan kenapa kaedah yang lebih tepat, hukum asal daging itu halal sampai ada dalil yang menunjukkan haramnya. Wallahu a’lam bish showwab.   Referensi: Syarh Al Manzhumatus Sa’diyah fil Qowa’id Al Fiqhiyyah, -guru kami- Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy Syatsri, terbitan Dar Kanuz Isybiliya, cetakan kedua, 1426 H, hal. 82-83. — Disusun selepas Zhuhur di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Safar 1435 H, 02:12 PM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsdaging qurban kaedah fikih
Bagaimana hukum asal daging? Misalnya, saat kita di supermarket ada daging ayam, apakah boleh kita membelinya padahal tidak tahu cara penyembelihannya? Dalam kaedah berikutnya Syaikh As Sa’di menyampaikan tentang hukum asal daging dengan mengatakan dalam bait sya’irnya, الأصل في الأبضاع واللحوم والنفس للمعصوم تحريمها حتى يجيء الحل فافهم هداك الله ما يحل Hukum asal hubungan biologis dan daging, begitu pula darah dan harta orang yang terjaga adalah haram sampai datang dalil yang menunjukkan halalnya, maka pahamilah apa yang telah didiktekan Jadi menurut Syaikh As Sa’di hukum asal daging adalah haram. Inilah pendapat sebagian ulama bahwa hukum asal daging itu haram. Asal dari pendapat ini adalah hadits ‘Adi radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا أَرْسَلَتَ كَلْبَكَ فَاذْكُرِ اسْمَ اَللَّهِ, فَإِنْ أَمْسَكَ عَلَيْكَ فَأَدْرَكْتَهُ حَيًّا فَاذْبَحْهُ, وَإِنْ أَدْرَكْتَهُ قَدْ قُتِلَ وَلَمْ يُؤْكَلْ مِنْهُ فَكُلْهُ, وَإِنْ وَجَدْتَ مَعَ كَلْبِكَ كَلْبًا غَيْرَهُ وَقَدْ قُتِلَ فَلَا تَأْكُلْ: فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي أَيَّهُمَا قَتَلَهُ “Jika engkau ingin melepas anjing (pemburu yang telah dilatih), maka ucapkanlah ‘bismillah’. Jika ia menangkap sesuatu untukmu, lalu engkau mendapati hasil buruan tersebut dalam keadaan hidup, maka sembelihlah. Jika engkau mendapati hasil buruan tersebut dibunuh oleh anjing buruan itu dan ia tidak memakannya, maka makanlah hasil buruan tersebut. Jika engkau mendapati anjingmu bersama anjing lain dan hewan buruan tersebut sudah ia bunuh, maka janganlah memakannya karena engkau tidaklah tahu siapa yang membunuh hewan buruan tersebut. (HR. Bukhari no. 5484 dan Muslim no. 1929). Hadits ini menunjukkan bahwa jika bergabung antara daging yang halal dan haram, maka dimenangkan sisi yang haram. Namun pendalilan seperti itu bukanlah membahas hukum asal daging. Sedangkan yang lebih tepat, kaedah yang menyatakan hukum asal daging itu halal. Dalil yang mendukung pendapat ini adalah firman Allah Ta’ala, قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً “Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai …” (QS. Al An’am: 145). Disebutkan dalam ayat ini, hukum asal daging itu halal sampai ada dalil yang mengharamkannya. Begitu juga dalilnya adalah ayat, وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ “Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya.” (QS.  Al An’am: 119). Ayat ini juga menunjukkan bahwa hukum asal daging itu halal hingga ada dalil yang menunjukkan haramnya. Begitu juga dijadikan dalil adalah firman Allah, إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, …” (QS. Al Baqarah: 173). Ayat ini menggunakan kalimat hasyr atau pembatasan dengan diawali “innama“. Ini menunjukkan bahwa selain dari yang diharamkan tersebut dihukumi seperti asalnya yaitu halal. Begitu pula dalil yang menunjukkan hukum asal daging adalah halal yaitu hadits berikut, عَنْ عَائِشَةَ  رضى الله عنها   أَنَّ قَوْمًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ قَوْمًا يَأْتُونَنَا بِاللَّحْمِ لاَ نَدْرِى أَذَكَرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ أَمْ لاَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – سَمُّوا اللَّهَ عَلَيْهِ وَكُلُوهُ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ada suatu kaum yang berkata, “Wahai Rasulullah, ada suatu kaum membawa daging kepada kami dan kami tidak tahu apakah daging tersebut saat disembelih dibacakan bismillah ataukah tidak.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Ucapkanlah bismillah lalu makanlah.” (HR. Bukhari no. 2057). Jika seandainya hukum asal daging itu adalah haram, maka tentu beliau akan mengatakan, “Janganlah makan sampai kalian itu halal.” Inilah beberapa alasan kenapa kaedah yang lebih tepat, hukum asal daging itu halal sampai ada dalil yang menunjukkan haramnya. Wallahu a’lam bish showwab.   Referensi: Syarh Al Manzhumatus Sa’diyah fil Qowa’id Al Fiqhiyyah, -guru kami- Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy Syatsri, terbitan Dar Kanuz Isybiliya, cetakan kedua, 1426 H, hal. 82-83. — Disusun selepas Zhuhur di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Safar 1435 H, 02:12 PM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsdaging qurban kaedah fikih


Bagaimana hukum asal daging? Misalnya, saat kita di supermarket ada daging ayam, apakah boleh kita membelinya padahal tidak tahu cara penyembelihannya? Dalam kaedah berikutnya Syaikh As Sa’di menyampaikan tentang hukum asal daging dengan mengatakan dalam bait sya’irnya, الأصل في الأبضاع واللحوم والنفس للمعصوم تحريمها حتى يجيء الحل فافهم هداك الله ما يحل Hukum asal hubungan biologis dan daging, begitu pula darah dan harta orang yang terjaga adalah haram sampai datang dalil yang menunjukkan halalnya, maka pahamilah apa yang telah didiktekan Jadi menurut Syaikh As Sa’di hukum asal daging adalah haram. Inilah pendapat sebagian ulama bahwa hukum asal daging itu haram. Asal dari pendapat ini adalah hadits ‘Adi radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا أَرْسَلَتَ كَلْبَكَ فَاذْكُرِ اسْمَ اَللَّهِ, فَإِنْ أَمْسَكَ عَلَيْكَ فَأَدْرَكْتَهُ حَيًّا فَاذْبَحْهُ, وَإِنْ أَدْرَكْتَهُ قَدْ قُتِلَ وَلَمْ يُؤْكَلْ مِنْهُ فَكُلْهُ, وَإِنْ وَجَدْتَ مَعَ كَلْبِكَ كَلْبًا غَيْرَهُ وَقَدْ قُتِلَ فَلَا تَأْكُلْ: فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي أَيَّهُمَا قَتَلَهُ “Jika engkau ingin melepas anjing (pemburu yang telah dilatih), maka ucapkanlah ‘bismillah’. Jika ia menangkap sesuatu untukmu, lalu engkau mendapati hasil buruan tersebut dalam keadaan hidup, maka sembelihlah. Jika engkau mendapati hasil buruan tersebut dibunuh oleh anjing buruan itu dan ia tidak memakannya, maka makanlah hasil buruan tersebut. Jika engkau mendapati anjingmu bersama anjing lain dan hewan buruan tersebut sudah ia bunuh, maka janganlah memakannya karena engkau tidaklah tahu siapa yang membunuh hewan buruan tersebut. (HR. Bukhari no. 5484 dan Muslim no. 1929). Hadits ini menunjukkan bahwa jika bergabung antara daging yang halal dan haram, maka dimenangkan sisi yang haram. Namun pendalilan seperti itu bukanlah membahas hukum asal daging. Sedangkan yang lebih tepat, kaedah yang menyatakan hukum asal daging itu halal. Dalil yang mendukung pendapat ini adalah firman Allah Ta’ala, قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً “Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai …” (QS. Al An’am: 145). Disebutkan dalam ayat ini, hukum asal daging itu halal sampai ada dalil yang mengharamkannya. Begitu juga dalilnya adalah ayat, وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ “Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya.” (QS.  Al An’am: 119). Ayat ini juga menunjukkan bahwa hukum asal daging itu halal hingga ada dalil yang menunjukkan haramnya. Begitu juga dijadikan dalil adalah firman Allah, إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, …” (QS. Al Baqarah: 173). Ayat ini menggunakan kalimat hasyr atau pembatasan dengan diawali “innama“. Ini menunjukkan bahwa selain dari yang diharamkan tersebut dihukumi seperti asalnya yaitu halal. Begitu pula dalil yang menunjukkan hukum asal daging adalah halal yaitu hadits berikut, عَنْ عَائِشَةَ  رضى الله عنها   أَنَّ قَوْمًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ قَوْمًا يَأْتُونَنَا بِاللَّحْمِ لاَ نَدْرِى أَذَكَرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ أَمْ لاَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – سَمُّوا اللَّهَ عَلَيْهِ وَكُلُوهُ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ada suatu kaum yang berkata, “Wahai Rasulullah, ada suatu kaum membawa daging kepada kami dan kami tidak tahu apakah daging tersebut saat disembelih dibacakan bismillah ataukah tidak.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Ucapkanlah bismillah lalu makanlah.” (HR. Bukhari no. 2057). Jika seandainya hukum asal daging itu adalah haram, maka tentu beliau akan mengatakan, “Janganlah makan sampai kalian itu halal.” Inilah beberapa alasan kenapa kaedah yang lebih tepat, hukum asal daging itu halal sampai ada dalil yang menunjukkan haramnya. Wallahu a’lam bish showwab.   Referensi: Syarh Al Manzhumatus Sa’diyah fil Qowa’id Al Fiqhiyyah, -guru kami- Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy Syatsri, terbitan Dar Kanuz Isybiliya, cetakan kedua, 1426 H, hal. 82-83. — Disusun selepas Zhuhur di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Safar 1435 H, 02:12 PM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim. Tagsdaging qurban kaedah fikih

Selamat Natal bagi Muslim

Bagaimana hukum mengucapkan selamat natal pada rekan atau teman yang beragama Nashrani? Apakah boleh seorang muslim mengucapkan selamat natal? Muslim: Aku Tidak Mau Mengucapkan Selamat Natal, Itu Prinsipku Ada diskusi menarik sebagai ilustrasi bahwa mengucapkan selamat natal tidaklah pantas bagi seorang muslim walau hanya sekedar kata-kata di lisan. (Muslimah = Muslim, Natali = Nashrani) Natali : Mengapa engkau tidak mengucapkan selamat natal padaku? Muslimah : Ooh maaf, untuk yang satu ini aku tidak bisa. Agama kami mengajarkan berbuat baik terhadap sesama termasuk pada non muslim. Namun jika ada sangkut paut dengan urusan agama, maka prinsip kami, “Lakum diinukum wa liyadiin“, bagi kalian agama kalian, bagi kami agama kami. Monggo kalian berhari raya, kami tidak mau turut campur. Demikian toleransi antar beragama dalam agama kami. Natali : Kenapa tidak mau ucapkan selamat? Bukankah itu hanya sekedar kata-kata? Teman muslimku yang lain mengucapkannya padaku. Muslimah : Mungkin mereka belum tahu kalau itu tidak boleh. Natali, coba seandainya saya suruh kamu mengucapkan “dua kalimat syahadat”, asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah, engkau mau? Natali : Oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya. Itu akan mengganggu kepercayaan saya. Muslimah : Kenapa gak mau? Bukankah itu hanya sekedar kata-kata? Ayo, ucapkanlah. Sekali saja. Natali : Baik, sekarang, saya mengerti. Inilah logika yang sederhana namun cerdas cukup menggambarkan kepada kita bagaimana seharusnya hubungan antara kedua umat yang berbeda keyakinan. Sementara hari ini banyak orang yang dianggap “tokoh” masyarakat level nasional/lokal dari kalangan muslim tampil sok humanis, pluralis, wisdom, menjadi pahlawan, pemimpin hebat kemudian mengucapkan “selamat natal” kepada umat Nashrani tanpa disadari hal tersebut telah merusak akidah dirinya dan umat Islam. Tentu ini menabrak tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Sosok muslim yang kehilangan jati diri, “muslim KTP” yang eksis terlepas dari pakem dan manhaj hidup yang digariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “selamat” artinya terhindar dari bencana, aman sentosa; sejahtera tidak kurang suatu apa; sehat; tidak mendapat gangguan, kerusakan dsb; beruntung; tercapai maksudnya; tidak gagal. Dengan begitu ucapan selamat artinya adalah doa (ucapan, pernyataan, dsb) yang mengandung harapan supaya sejahtera, tidak kurang suatu apa pun, beruntung, tercapai maksudnya, dsb. Adapun natal adalah sebuah perayaan kelahiran Yesus Kristus (Nabi Isa Al Masih ‘alaihis salam) yang dalam pandangan umat Nashrani saat ini ia adalah anak Tuhan dan Tuhan anak serta meyakini ajaran Trinitas. Lalu bagaimana bisa seorang muslim yang bertolak belakang dan jelas berbeda pemahamannya mengenai Nabi Isa mendoakan kaum Kristen keselamatan atas apa yang mereka pahami tadi? Padahal dengan sangat jelas Allah menyatakan mereka sebagai orang kafir, لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (72) لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (73) أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (74) مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآَيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (75) “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya?. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). ” (QS. Al Maidah: 72-75). Jadi, sekiranya ada umat muslim yang berkata, “Selamat Hari Natal” berarti dia menganggap, bahwa Yesus itu memang pernah lahir pada tanggal 25 Desember, sebagai anak Tuhan. Dan jelaslah hal ini haram. Karena telah merusak akidah Islamnya. Alasan Enggan Mengucapkan Selamat Natal 1- Natal bukan perayaan umat Islam Hari besar Islam hanyalah dua yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Perayaan natal, kelahiran Isa -menurut Nashrani- bukan perayaan umat Islam. Dan Islam tidak pernah menjadikan hari lahir nabi sebagai hari besar. Anas bin Malik mengatakan, كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’” (HR. An Nasa’i no. 1557. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani). 2- Sejarah natal yang sebenarnya berasal dari ritual penyembahan berhala Perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal tidak ada dalam Bibel dan Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya. Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen katolik pada abad ke-4 M. Dan peringatan inipun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Di mana kita ketahui bahwa abad ke-1 sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politheisme.Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katolik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/ budaya pangannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun=matahari: day=hari) yaitu kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember. Selengkapnya baca di RemajaIslam.Com. Jika natal berasal dari ritual penyembahan berhala, apakah pantas seorang  muslim yang memiliki prinsip tauhid menyetujui perayaan tersebut dengan ucapkan selamat? 3- Mengucapkan selamat natal termasuk loyal pada orang kafir. Islam memiliki prinsip wala dan baro’, yaitu loyal pada orang muslim dan tidak mendukung orang kafir. Termasuk bentuk dukungan dan loyal pada orang kafir adalah mengucapkan selamat natal. Inilah yang dikatakan oleh para ulama. Larangan loyal pada orang kafir menjadi prinsip Nabi Ibrahim sebagaimana disebutkan dalam ayat, قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Al Mumtahanah: 4) Bahkan Ibnu Hazm telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa loyal (wala’) pada orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan. (Al Muhalla, 11: 138). 4- Mengucapkan selamat natal haram berdasarkan ijma’ atau kata sepakat ulama. Ibnul Qayyim berkata, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” (Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 441) 5- Muslim diperintahkan menjauhi perayaan non muslim, bukan malah memeriahkan dan mengucapkan selamat. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak boleh kaum muslimin menghadiri perayaan non muslim dengan sepakat para ulama. Hal ini telah ditegaskan oleh para fuqoha dalam kitab-kitab mereka. Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dengan sanad yang shahih dari ‘Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, لا تدخلوا على المشركين في كنائسهم يوم عيدهم فإن السخطة تنزل عليهم “Janganlah kalian masuk pada non muslim di gereja-gereja mereka saat perayaan mereka. Karena saat itu sedang turun murka Allah.” Umar berkata, اجتنبوا أعداء الله في أعيادهم “Jauhilah musuh-musuh Allah di perayaan mereka.” Demikian apa yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 723-724. 6- Tidak boleh mendahulukan mengucapkan salam pada non muslim. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ “Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167). Mengucapkan selamat natal itu sama halnya dengan mengucapkan salam. Karena salam itu berarti mendoakan selamat. Hadits ini sudah secara jelas melarang mengucapkan selamat natal pada Nashrani. Demikian penjelasan dari Rumaysho.Com, moga semakin memantapkan akidah kita sebagai seorang muslim. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Disusun saat pagi penuh berkah di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Safar 1435 H, 06:49 AM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom Tagsnatal trinitas

Selamat Natal bagi Muslim

Bagaimana hukum mengucapkan selamat natal pada rekan atau teman yang beragama Nashrani? Apakah boleh seorang muslim mengucapkan selamat natal? Muslim: Aku Tidak Mau Mengucapkan Selamat Natal, Itu Prinsipku Ada diskusi menarik sebagai ilustrasi bahwa mengucapkan selamat natal tidaklah pantas bagi seorang muslim walau hanya sekedar kata-kata di lisan. (Muslimah = Muslim, Natali = Nashrani) Natali : Mengapa engkau tidak mengucapkan selamat natal padaku? Muslimah : Ooh maaf, untuk yang satu ini aku tidak bisa. Agama kami mengajarkan berbuat baik terhadap sesama termasuk pada non muslim. Namun jika ada sangkut paut dengan urusan agama, maka prinsip kami, “Lakum diinukum wa liyadiin“, bagi kalian agama kalian, bagi kami agama kami. Monggo kalian berhari raya, kami tidak mau turut campur. Demikian toleransi antar beragama dalam agama kami. Natali : Kenapa tidak mau ucapkan selamat? Bukankah itu hanya sekedar kata-kata? Teman muslimku yang lain mengucapkannya padaku. Muslimah : Mungkin mereka belum tahu kalau itu tidak boleh. Natali, coba seandainya saya suruh kamu mengucapkan “dua kalimat syahadat”, asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah, engkau mau? Natali : Oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya. Itu akan mengganggu kepercayaan saya. Muslimah : Kenapa gak mau? Bukankah itu hanya sekedar kata-kata? Ayo, ucapkanlah. Sekali saja. Natali : Baik, sekarang, saya mengerti. Inilah logika yang sederhana namun cerdas cukup menggambarkan kepada kita bagaimana seharusnya hubungan antara kedua umat yang berbeda keyakinan. Sementara hari ini banyak orang yang dianggap “tokoh” masyarakat level nasional/lokal dari kalangan muslim tampil sok humanis, pluralis, wisdom, menjadi pahlawan, pemimpin hebat kemudian mengucapkan “selamat natal” kepada umat Nashrani tanpa disadari hal tersebut telah merusak akidah dirinya dan umat Islam. Tentu ini menabrak tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Sosok muslim yang kehilangan jati diri, “muslim KTP” yang eksis terlepas dari pakem dan manhaj hidup yang digariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “selamat” artinya terhindar dari bencana, aman sentosa; sejahtera tidak kurang suatu apa; sehat; tidak mendapat gangguan, kerusakan dsb; beruntung; tercapai maksudnya; tidak gagal. Dengan begitu ucapan selamat artinya adalah doa (ucapan, pernyataan, dsb) yang mengandung harapan supaya sejahtera, tidak kurang suatu apa pun, beruntung, tercapai maksudnya, dsb. Adapun natal adalah sebuah perayaan kelahiran Yesus Kristus (Nabi Isa Al Masih ‘alaihis salam) yang dalam pandangan umat Nashrani saat ini ia adalah anak Tuhan dan Tuhan anak serta meyakini ajaran Trinitas. Lalu bagaimana bisa seorang muslim yang bertolak belakang dan jelas berbeda pemahamannya mengenai Nabi Isa mendoakan kaum Kristen keselamatan atas apa yang mereka pahami tadi? Padahal dengan sangat jelas Allah menyatakan mereka sebagai orang kafir, لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (72) لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (73) أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (74) مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآَيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (75) “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya?. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). ” (QS. Al Maidah: 72-75). Jadi, sekiranya ada umat muslim yang berkata, “Selamat Hari Natal” berarti dia menganggap, bahwa Yesus itu memang pernah lahir pada tanggal 25 Desember, sebagai anak Tuhan. Dan jelaslah hal ini haram. Karena telah merusak akidah Islamnya. Alasan Enggan Mengucapkan Selamat Natal 1- Natal bukan perayaan umat Islam Hari besar Islam hanyalah dua yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Perayaan natal, kelahiran Isa -menurut Nashrani- bukan perayaan umat Islam. Dan Islam tidak pernah menjadikan hari lahir nabi sebagai hari besar. Anas bin Malik mengatakan, كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’” (HR. An Nasa’i no. 1557. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani). 2- Sejarah natal yang sebenarnya berasal dari ritual penyembahan berhala Perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal tidak ada dalam Bibel dan Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya. Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen katolik pada abad ke-4 M. Dan peringatan inipun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Di mana kita ketahui bahwa abad ke-1 sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politheisme.Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katolik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/ budaya pangannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun=matahari: day=hari) yaitu kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember. Selengkapnya baca di RemajaIslam.Com. Jika natal berasal dari ritual penyembahan berhala, apakah pantas seorang  muslim yang memiliki prinsip tauhid menyetujui perayaan tersebut dengan ucapkan selamat? 3- Mengucapkan selamat natal termasuk loyal pada orang kafir. Islam memiliki prinsip wala dan baro’, yaitu loyal pada orang muslim dan tidak mendukung orang kafir. Termasuk bentuk dukungan dan loyal pada orang kafir adalah mengucapkan selamat natal. Inilah yang dikatakan oleh para ulama. Larangan loyal pada orang kafir menjadi prinsip Nabi Ibrahim sebagaimana disebutkan dalam ayat, قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Al Mumtahanah: 4) Bahkan Ibnu Hazm telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa loyal (wala’) pada orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan. (Al Muhalla, 11: 138). 4- Mengucapkan selamat natal haram berdasarkan ijma’ atau kata sepakat ulama. Ibnul Qayyim berkata, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” (Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 441) 5- Muslim diperintahkan menjauhi perayaan non muslim, bukan malah memeriahkan dan mengucapkan selamat. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak boleh kaum muslimin menghadiri perayaan non muslim dengan sepakat para ulama. Hal ini telah ditegaskan oleh para fuqoha dalam kitab-kitab mereka. Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dengan sanad yang shahih dari ‘Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, لا تدخلوا على المشركين في كنائسهم يوم عيدهم فإن السخطة تنزل عليهم “Janganlah kalian masuk pada non muslim di gereja-gereja mereka saat perayaan mereka. Karena saat itu sedang turun murka Allah.” Umar berkata, اجتنبوا أعداء الله في أعيادهم “Jauhilah musuh-musuh Allah di perayaan mereka.” Demikian apa yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 723-724. 6- Tidak boleh mendahulukan mengucapkan salam pada non muslim. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ “Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167). Mengucapkan selamat natal itu sama halnya dengan mengucapkan salam. Karena salam itu berarti mendoakan selamat. Hadits ini sudah secara jelas melarang mengucapkan selamat natal pada Nashrani. Demikian penjelasan dari Rumaysho.Com, moga semakin memantapkan akidah kita sebagai seorang muslim. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Disusun saat pagi penuh berkah di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Safar 1435 H, 06:49 AM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom Tagsnatal trinitas
Bagaimana hukum mengucapkan selamat natal pada rekan atau teman yang beragama Nashrani? Apakah boleh seorang muslim mengucapkan selamat natal? Muslim: Aku Tidak Mau Mengucapkan Selamat Natal, Itu Prinsipku Ada diskusi menarik sebagai ilustrasi bahwa mengucapkan selamat natal tidaklah pantas bagi seorang muslim walau hanya sekedar kata-kata di lisan. (Muslimah = Muslim, Natali = Nashrani) Natali : Mengapa engkau tidak mengucapkan selamat natal padaku? Muslimah : Ooh maaf, untuk yang satu ini aku tidak bisa. Agama kami mengajarkan berbuat baik terhadap sesama termasuk pada non muslim. Namun jika ada sangkut paut dengan urusan agama, maka prinsip kami, “Lakum diinukum wa liyadiin“, bagi kalian agama kalian, bagi kami agama kami. Monggo kalian berhari raya, kami tidak mau turut campur. Demikian toleransi antar beragama dalam agama kami. Natali : Kenapa tidak mau ucapkan selamat? Bukankah itu hanya sekedar kata-kata? Teman muslimku yang lain mengucapkannya padaku. Muslimah : Mungkin mereka belum tahu kalau itu tidak boleh. Natali, coba seandainya saya suruh kamu mengucapkan “dua kalimat syahadat”, asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah, engkau mau? Natali : Oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya. Itu akan mengganggu kepercayaan saya. Muslimah : Kenapa gak mau? Bukankah itu hanya sekedar kata-kata? Ayo, ucapkanlah. Sekali saja. Natali : Baik, sekarang, saya mengerti. Inilah logika yang sederhana namun cerdas cukup menggambarkan kepada kita bagaimana seharusnya hubungan antara kedua umat yang berbeda keyakinan. Sementara hari ini banyak orang yang dianggap “tokoh” masyarakat level nasional/lokal dari kalangan muslim tampil sok humanis, pluralis, wisdom, menjadi pahlawan, pemimpin hebat kemudian mengucapkan “selamat natal” kepada umat Nashrani tanpa disadari hal tersebut telah merusak akidah dirinya dan umat Islam. Tentu ini menabrak tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Sosok muslim yang kehilangan jati diri, “muslim KTP” yang eksis terlepas dari pakem dan manhaj hidup yang digariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “selamat” artinya terhindar dari bencana, aman sentosa; sejahtera tidak kurang suatu apa; sehat; tidak mendapat gangguan, kerusakan dsb; beruntung; tercapai maksudnya; tidak gagal. Dengan begitu ucapan selamat artinya adalah doa (ucapan, pernyataan, dsb) yang mengandung harapan supaya sejahtera, tidak kurang suatu apa pun, beruntung, tercapai maksudnya, dsb. Adapun natal adalah sebuah perayaan kelahiran Yesus Kristus (Nabi Isa Al Masih ‘alaihis salam) yang dalam pandangan umat Nashrani saat ini ia adalah anak Tuhan dan Tuhan anak serta meyakini ajaran Trinitas. Lalu bagaimana bisa seorang muslim yang bertolak belakang dan jelas berbeda pemahamannya mengenai Nabi Isa mendoakan kaum Kristen keselamatan atas apa yang mereka pahami tadi? Padahal dengan sangat jelas Allah menyatakan mereka sebagai orang kafir, لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (72) لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (73) أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (74) مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآَيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (75) “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya?. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). ” (QS. Al Maidah: 72-75). Jadi, sekiranya ada umat muslim yang berkata, “Selamat Hari Natal” berarti dia menganggap, bahwa Yesus itu memang pernah lahir pada tanggal 25 Desember, sebagai anak Tuhan. Dan jelaslah hal ini haram. Karena telah merusak akidah Islamnya. Alasan Enggan Mengucapkan Selamat Natal 1- Natal bukan perayaan umat Islam Hari besar Islam hanyalah dua yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Perayaan natal, kelahiran Isa -menurut Nashrani- bukan perayaan umat Islam. Dan Islam tidak pernah menjadikan hari lahir nabi sebagai hari besar. Anas bin Malik mengatakan, كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’” (HR. An Nasa’i no. 1557. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani). 2- Sejarah natal yang sebenarnya berasal dari ritual penyembahan berhala Perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal tidak ada dalam Bibel dan Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya. Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen katolik pada abad ke-4 M. Dan peringatan inipun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Di mana kita ketahui bahwa abad ke-1 sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politheisme.Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katolik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/ budaya pangannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun=matahari: day=hari) yaitu kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember. Selengkapnya baca di RemajaIslam.Com. Jika natal berasal dari ritual penyembahan berhala, apakah pantas seorang  muslim yang memiliki prinsip tauhid menyetujui perayaan tersebut dengan ucapkan selamat? 3- Mengucapkan selamat natal termasuk loyal pada orang kafir. Islam memiliki prinsip wala dan baro’, yaitu loyal pada orang muslim dan tidak mendukung orang kafir. Termasuk bentuk dukungan dan loyal pada orang kafir adalah mengucapkan selamat natal. Inilah yang dikatakan oleh para ulama. Larangan loyal pada orang kafir menjadi prinsip Nabi Ibrahim sebagaimana disebutkan dalam ayat, قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Al Mumtahanah: 4) Bahkan Ibnu Hazm telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa loyal (wala’) pada orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan. (Al Muhalla, 11: 138). 4- Mengucapkan selamat natal haram berdasarkan ijma’ atau kata sepakat ulama. Ibnul Qayyim berkata, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” (Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 441) 5- Muslim diperintahkan menjauhi perayaan non muslim, bukan malah memeriahkan dan mengucapkan selamat. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak boleh kaum muslimin menghadiri perayaan non muslim dengan sepakat para ulama. Hal ini telah ditegaskan oleh para fuqoha dalam kitab-kitab mereka. Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dengan sanad yang shahih dari ‘Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, لا تدخلوا على المشركين في كنائسهم يوم عيدهم فإن السخطة تنزل عليهم “Janganlah kalian masuk pada non muslim di gereja-gereja mereka saat perayaan mereka. Karena saat itu sedang turun murka Allah.” Umar berkata, اجتنبوا أعداء الله في أعيادهم “Jauhilah musuh-musuh Allah di perayaan mereka.” Demikian apa yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 723-724. 6- Tidak boleh mendahulukan mengucapkan salam pada non muslim. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ “Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167). Mengucapkan selamat natal itu sama halnya dengan mengucapkan salam. Karena salam itu berarti mendoakan selamat. Hadits ini sudah secara jelas melarang mengucapkan selamat natal pada Nashrani. Demikian penjelasan dari Rumaysho.Com, moga semakin memantapkan akidah kita sebagai seorang muslim. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Disusun saat pagi penuh berkah di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Safar 1435 H, 06:49 AM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom Tagsnatal trinitas


Bagaimana hukum mengucapkan selamat natal pada rekan atau teman yang beragama Nashrani? Apakah boleh seorang muslim mengucapkan selamat natal? Muslim: Aku Tidak Mau Mengucapkan Selamat Natal, Itu Prinsipku Ada diskusi menarik sebagai ilustrasi bahwa mengucapkan selamat natal tidaklah pantas bagi seorang muslim walau hanya sekedar kata-kata di lisan. (Muslimah = Muslim, Natali = Nashrani) Natali : Mengapa engkau tidak mengucapkan selamat natal padaku? Muslimah : Ooh maaf, untuk yang satu ini aku tidak bisa. Agama kami mengajarkan berbuat baik terhadap sesama termasuk pada non muslim. Namun jika ada sangkut paut dengan urusan agama, maka prinsip kami, “Lakum diinukum wa liyadiin“, bagi kalian agama kalian, bagi kami agama kami. Monggo kalian berhari raya, kami tidak mau turut campur. Demikian toleransi antar beragama dalam agama kami. Natali : Kenapa tidak mau ucapkan selamat? Bukankah itu hanya sekedar kata-kata? Teman muslimku yang lain mengucapkannya padaku. Muslimah : Mungkin mereka belum tahu kalau itu tidak boleh. Natali, coba seandainya saya suruh kamu mengucapkan “dua kalimat syahadat”, asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah, engkau mau? Natali : Oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya. Itu akan mengganggu kepercayaan saya. Muslimah : Kenapa gak mau? Bukankah itu hanya sekedar kata-kata? Ayo, ucapkanlah. Sekali saja. Natali : Baik, sekarang, saya mengerti. Inilah logika yang sederhana namun cerdas cukup menggambarkan kepada kita bagaimana seharusnya hubungan antara kedua umat yang berbeda keyakinan. Sementara hari ini banyak orang yang dianggap “tokoh” masyarakat level nasional/lokal dari kalangan muslim tampil sok humanis, pluralis, wisdom, menjadi pahlawan, pemimpin hebat kemudian mengucapkan “selamat natal” kepada umat Nashrani tanpa disadari hal tersebut telah merusak akidah dirinya dan umat Islam. Tentu ini menabrak tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Sosok muslim yang kehilangan jati diri, “muslim KTP” yang eksis terlepas dari pakem dan manhaj hidup yang digariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “selamat” artinya terhindar dari bencana, aman sentosa; sejahtera tidak kurang suatu apa; sehat; tidak mendapat gangguan, kerusakan dsb; beruntung; tercapai maksudnya; tidak gagal. Dengan begitu ucapan selamat artinya adalah doa (ucapan, pernyataan, dsb) yang mengandung harapan supaya sejahtera, tidak kurang suatu apa pun, beruntung, tercapai maksudnya, dsb. Adapun natal adalah sebuah perayaan kelahiran Yesus Kristus (Nabi Isa Al Masih ‘alaihis salam) yang dalam pandangan umat Nashrani saat ini ia adalah anak Tuhan dan Tuhan anak serta meyakini ajaran Trinitas. Lalu bagaimana bisa seorang muslim yang bertolak belakang dan jelas berbeda pemahamannya mengenai Nabi Isa mendoakan kaum Kristen keselamatan atas apa yang mereka pahami tadi? Padahal dengan sangat jelas Allah menyatakan mereka sebagai orang kafir, لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (72) لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (73) أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (74) مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآَيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (75) “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya?. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). ” (QS. Al Maidah: 72-75). Jadi, sekiranya ada umat muslim yang berkata, “Selamat Hari Natal” berarti dia menganggap, bahwa Yesus itu memang pernah lahir pada tanggal 25 Desember, sebagai anak Tuhan. Dan jelaslah hal ini haram. Karena telah merusak akidah Islamnya. Alasan Enggan Mengucapkan Selamat Natal 1- Natal bukan perayaan umat Islam Hari besar Islam hanyalah dua yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Perayaan natal, kelahiran Isa -menurut Nashrani- bukan perayaan umat Islam. Dan Islam tidak pernah menjadikan hari lahir nabi sebagai hari besar. Anas bin Malik mengatakan, كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’” (HR. An Nasa’i no. 1557. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani). 2- Sejarah natal yang sebenarnya berasal dari ritual penyembahan berhala Perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal tidak ada dalam Bibel dan Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya. Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen katolik pada abad ke-4 M. Dan peringatan inipun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Di mana kita ketahui bahwa abad ke-1 sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politheisme.Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katolik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/ budaya pangannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun=matahari: day=hari) yaitu kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember. Selengkapnya baca di RemajaIslam.Com. Jika natal berasal dari ritual penyembahan berhala, apakah pantas seorang  muslim yang memiliki prinsip tauhid menyetujui perayaan tersebut dengan ucapkan selamat? 3- Mengucapkan selamat natal termasuk loyal pada orang kafir. Islam memiliki prinsip wala dan baro’, yaitu loyal pada orang muslim dan tidak mendukung orang kafir. Termasuk bentuk dukungan dan loyal pada orang kafir adalah mengucapkan selamat natal. Inilah yang dikatakan oleh para ulama. Larangan loyal pada orang kafir menjadi prinsip Nabi Ibrahim sebagaimana disebutkan dalam ayat, قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Al Mumtahanah: 4) Bahkan Ibnu Hazm telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa loyal (wala’) pada orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan. (Al Muhalla, 11: 138). 4- Mengucapkan selamat natal haram berdasarkan ijma’ atau kata sepakat ulama. Ibnul Qayyim berkata, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” (Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 441) 5- Muslim diperintahkan menjauhi perayaan non muslim, bukan malah memeriahkan dan mengucapkan selamat. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak boleh kaum muslimin menghadiri perayaan non muslim dengan sepakat para ulama. Hal ini telah ditegaskan oleh para fuqoha dalam kitab-kitab mereka. Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dengan sanad yang shahih dari ‘Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, لا تدخلوا على المشركين في كنائسهم يوم عيدهم فإن السخطة تنزل عليهم “Janganlah kalian masuk pada non muslim di gereja-gereja mereka saat perayaan mereka. Karena saat itu sedang turun murka Allah.” Umar berkata, اجتنبوا أعداء الله في أعيادهم “Jauhilah musuh-musuh Allah di perayaan mereka.” Demikian apa yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 723-724. 6- Tidak boleh mendahulukan mengucapkan salam pada non muslim. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ “Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167). Mengucapkan selamat natal itu sama halnya dengan mengucapkan salam. Karena salam itu berarti mendoakan selamat. Hadits ini sudah secara jelas melarang mengucapkan selamat natal pada Nashrani. Demikian penjelasan dari Rumaysho.Com, moga semakin memantapkan akidah kita sebagai seorang muslim. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Disusun saat pagi penuh berkah di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Safar 1435 H, 06:49 AM Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom Tagsnatal trinitas
Prev     Next