Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 189 – MERANGSANG ANAK DENGAN HADIAH

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 189 – MERANGSANG ANAK DENGAN HADIAH Posted on October 21, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 189MERANGSANG ANAK DENGAN HADIAH Dalam Islam, ada banyak sarana yang bisa digunakan untuk menunjang keberhasilan dalam mendidik anak. Salah satunya adalah pemberian hadiah. Karena hadiah bisa memotivasi anak untuk menjalankan kebaikan dan merangsang mereka agar konsisten menjalankannya. Sebab ia merasa jerih payah dan perjuangannya dihargai. Sehingga wajar bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan, “‌تَهادُوا ‌تَحابُوا” “Hendaklah kalian saling memberi hadiah; niscaya kalian akan saling mencintai”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no. 594) dan sanadnya dinilai baik oleh al-‘Irâqiy. Agar Efek Hadiah Maksimal Berikut beberapa poin penting yang perlu diperhatikan agar efek positif pemberian hadiah maksimal: Pertama: Landasi hadiah dengan kasih sayang Rata-rata anak akan merasa senang saat mendapatkan hadiah. Apalagi bila hadiah tersebut adalah hal yang disukainya. Namun kesenangan sesaat kurang maksimal dalam membangkitkan semangat. Berbeda dengan kasih sayang, kedekatan dan kehangatan cinta orang tua. Maka, hadiah harus didasari kasih sayang, bukan sekedar untuk memuaskan keinginan anak. Kedua: Hadiah bisa berwujud materi dan non materi Wujud hadiah yang diberikan kepada anak bisa berupa materi; seperti makanan, minuman, sepatu, tas dan yang semisal. Bisa juga berwujud non materi; seperti pujian, ciuman, pelukan dan yang serupa itu. Contoh pemberian hadiah berupa materi: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberi hadiah untuk seorang putri kecil bernama Ummu Khalid berupa baju. Beliau sendiri yang memakaikannya dan mendoakan agar awet. Lalu bersabda, “Wahai Ummu Khalid, ini bagus sekali”. [HR. Bukhari (no. 5823)]. Adapun contoh hadiah non materi: Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membariskan Abdullah, Ubaidillah dan sejumlah anak-anak pamannya; al-Abbas dalam satu barisan. Lalu beliau bersabda, “Siapa yang paling dulu sampai kepadaku, dia akan mendapat ini dan itu”. Maka mereka pun berlomba lari menuju tempat Nabi shallallahu ‘alahi wasallam berada. Setelah sampai, ada yang memeluk punggung dan adapula yang memeluk dada beliau. Beliau menciumi mereka semua, serta menepati janjinya. [HR. Ahmad (no. 1836) dan dinilai lemah oleh al-Albaniy]. Ketiga: Iringi hadiah dengan nasehat Manusia bisa termotivasi dengan rangsangan internal dan eksternal. Rangsangan internal adalah kesadaran hati tentang pentingnya melakukan kebaikan. Menumbuhkan kesadaran ini perlu proses. Salah satu caranya adalah dengan memberikan hadiah. Walaupun hadiah merupakan rangsangan eksternal, namun bila diiringi dengan nasehat; insyaAllah lama kelamaan akan membangkitkan rangsangan internal. Maka saat memberikan hadiah, orang tua perlu memberikan wejangan dan nasehat mengenai keuntungan ukhrawi yang akan didapatkan anak dari kebaikan yang dilakukannya. Jelaskan besarnya pahala dari Allah dan keindahan surga-Nya. Juga terangkan betapa ngerinya neraka, bagi orang yang melakukan kejahatan. Keempat: Imbangkan hadiah dengan hukuman Dalam Islam ada sepasang metode, yaitu targhîb dan tarhîb, yaitu motivasi dan ancaman, atau kelembutan dan sikap keras. Jadi, hadiah bukan satu-satunya cara untuk merangsang anak melakukan kebaikan. Hal tersebut telah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam mendidik para sahabat. Beliau pernah menghukum Sawâd bin Ghaziyyah radhiyallahu ‘anhu akibat tidak lurus ketika berbaris. Akan tetapi dalam satu waktu beliau bersedia dibalas, walaupun akhirnya sahabat tersebut memeluk Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. [HR. Ibn Ishaq dalam as-Sirah dan isnadnya dinilai hasan oleh al-Albaniy]. Namun hendaknya, hukuman tidak lebih dominan dibanding hadiah. Sebab sikap lembut dalam Islam lebih dikedepankan dibanding sikap keras. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Sya’ban 1445 / 19 Februari 2024 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 188 – MENGGALI POTENSI ANAKSerial Fiqih Pendidikan Anak No: 190 – MELINDUNGI ANAK DARI KEJAHATAN SETAN SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 189 – MERANGSANG ANAK DENGAN HADIAH

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 189 – MERANGSANG ANAK DENGAN HADIAH Posted on October 21, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 189MERANGSANG ANAK DENGAN HADIAH Dalam Islam, ada banyak sarana yang bisa digunakan untuk menunjang keberhasilan dalam mendidik anak. Salah satunya adalah pemberian hadiah. Karena hadiah bisa memotivasi anak untuk menjalankan kebaikan dan merangsang mereka agar konsisten menjalankannya. Sebab ia merasa jerih payah dan perjuangannya dihargai. Sehingga wajar bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan, “‌تَهادُوا ‌تَحابُوا” “Hendaklah kalian saling memberi hadiah; niscaya kalian akan saling mencintai”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no. 594) dan sanadnya dinilai baik oleh al-‘Irâqiy. Agar Efek Hadiah Maksimal Berikut beberapa poin penting yang perlu diperhatikan agar efek positif pemberian hadiah maksimal: Pertama: Landasi hadiah dengan kasih sayang Rata-rata anak akan merasa senang saat mendapatkan hadiah. Apalagi bila hadiah tersebut adalah hal yang disukainya. Namun kesenangan sesaat kurang maksimal dalam membangkitkan semangat. Berbeda dengan kasih sayang, kedekatan dan kehangatan cinta orang tua. Maka, hadiah harus didasari kasih sayang, bukan sekedar untuk memuaskan keinginan anak. Kedua: Hadiah bisa berwujud materi dan non materi Wujud hadiah yang diberikan kepada anak bisa berupa materi; seperti makanan, minuman, sepatu, tas dan yang semisal. Bisa juga berwujud non materi; seperti pujian, ciuman, pelukan dan yang serupa itu. Contoh pemberian hadiah berupa materi: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberi hadiah untuk seorang putri kecil bernama Ummu Khalid berupa baju. Beliau sendiri yang memakaikannya dan mendoakan agar awet. Lalu bersabda, “Wahai Ummu Khalid, ini bagus sekali”. [HR. Bukhari (no. 5823)]. Adapun contoh hadiah non materi: Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membariskan Abdullah, Ubaidillah dan sejumlah anak-anak pamannya; al-Abbas dalam satu barisan. Lalu beliau bersabda, “Siapa yang paling dulu sampai kepadaku, dia akan mendapat ini dan itu”. Maka mereka pun berlomba lari menuju tempat Nabi shallallahu ‘alahi wasallam berada. Setelah sampai, ada yang memeluk punggung dan adapula yang memeluk dada beliau. Beliau menciumi mereka semua, serta menepati janjinya. [HR. Ahmad (no. 1836) dan dinilai lemah oleh al-Albaniy]. Ketiga: Iringi hadiah dengan nasehat Manusia bisa termotivasi dengan rangsangan internal dan eksternal. Rangsangan internal adalah kesadaran hati tentang pentingnya melakukan kebaikan. Menumbuhkan kesadaran ini perlu proses. Salah satu caranya adalah dengan memberikan hadiah. Walaupun hadiah merupakan rangsangan eksternal, namun bila diiringi dengan nasehat; insyaAllah lama kelamaan akan membangkitkan rangsangan internal. Maka saat memberikan hadiah, orang tua perlu memberikan wejangan dan nasehat mengenai keuntungan ukhrawi yang akan didapatkan anak dari kebaikan yang dilakukannya. Jelaskan besarnya pahala dari Allah dan keindahan surga-Nya. Juga terangkan betapa ngerinya neraka, bagi orang yang melakukan kejahatan. Keempat: Imbangkan hadiah dengan hukuman Dalam Islam ada sepasang metode, yaitu targhîb dan tarhîb, yaitu motivasi dan ancaman, atau kelembutan dan sikap keras. Jadi, hadiah bukan satu-satunya cara untuk merangsang anak melakukan kebaikan. Hal tersebut telah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam mendidik para sahabat. Beliau pernah menghukum Sawâd bin Ghaziyyah radhiyallahu ‘anhu akibat tidak lurus ketika berbaris. Akan tetapi dalam satu waktu beliau bersedia dibalas, walaupun akhirnya sahabat tersebut memeluk Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. [HR. Ibn Ishaq dalam as-Sirah dan isnadnya dinilai hasan oleh al-Albaniy]. Namun hendaknya, hukuman tidak lebih dominan dibanding hadiah. Sebab sikap lembut dalam Islam lebih dikedepankan dibanding sikap keras. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Sya’ban 1445 / 19 Februari 2024 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 188 – MENGGALI POTENSI ANAKSerial Fiqih Pendidikan Anak No: 190 – MELINDUNGI ANAK DARI KEJAHATAN SETAN SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories
Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 189 – MERANGSANG ANAK DENGAN HADIAH Posted on October 21, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 189MERANGSANG ANAK DENGAN HADIAH Dalam Islam, ada banyak sarana yang bisa digunakan untuk menunjang keberhasilan dalam mendidik anak. Salah satunya adalah pemberian hadiah. Karena hadiah bisa memotivasi anak untuk menjalankan kebaikan dan merangsang mereka agar konsisten menjalankannya. Sebab ia merasa jerih payah dan perjuangannya dihargai. Sehingga wajar bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan, “‌تَهادُوا ‌تَحابُوا” “Hendaklah kalian saling memberi hadiah; niscaya kalian akan saling mencintai”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no. 594) dan sanadnya dinilai baik oleh al-‘Irâqiy. Agar Efek Hadiah Maksimal Berikut beberapa poin penting yang perlu diperhatikan agar efek positif pemberian hadiah maksimal: Pertama: Landasi hadiah dengan kasih sayang Rata-rata anak akan merasa senang saat mendapatkan hadiah. Apalagi bila hadiah tersebut adalah hal yang disukainya. Namun kesenangan sesaat kurang maksimal dalam membangkitkan semangat. Berbeda dengan kasih sayang, kedekatan dan kehangatan cinta orang tua. Maka, hadiah harus didasari kasih sayang, bukan sekedar untuk memuaskan keinginan anak. Kedua: Hadiah bisa berwujud materi dan non materi Wujud hadiah yang diberikan kepada anak bisa berupa materi; seperti makanan, minuman, sepatu, tas dan yang semisal. Bisa juga berwujud non materi; seperti pujian, ciuman, pelukan dan yang serupa itu. Contoh pemberian hadiah berupa materi: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberi hadiah untuk seorang putri kecil bernama Ummu Khalid berupa baju. Beliau sendiri yang memakaikannya dan mendoakan agar awet. Lalu bersabda, “Wahai Ummu Khalid, ini bagus sekali”. [HR. Bukhari (no. 5823)]. Adapun contoh hadiah non materi: Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membariskan Abdullah, Ubaidillah dan sejumlah anak-anak pamannya; al-Abbas dalam satu barisan. Lalu beliau bersabda, “Siapa yang paling dulu sampai kepadaku, dia akan mendapat ini dan itu”. Maka mereka pun berlomba lari menuju tempat Nabi shallallahu ‘alahi wasallam berada. Setelah sampai, ada yang memeluk punggung dan adapula yang memeluk dada beliau. Beliau menciumi mereka semua, serta menepati janjinya. [HR. Ahmad (no. 1836) dan dinilai lemah oleh al-Albaniy]. Ketiga: Iringi hadiah dengan nasehat Manusia bisa termotivasi dengan rangsangan internal dan eksternal. Rangsangan internal adalah kesadaran hati tentang pentingnya melakukan kebaikan. Menumbuhkan kesadaran ini perlu proses. Salah satu caranya adalah dengan memberikan hadiah. Walaupun hadiah merupakan rangsangan eksternal, namun bila diiringi dengan nasehat; insyaAllah lama kelamaan akan membangkitkan rangsangan internal. Maka saat memberikan hadiah, orang tua perlu memberikan wejangan dan nasehat mengenai keuntungan ukhrawi yang akan didapatkan anak dari kebaikan yang dilakukannya. Jelaskan besarnya pahala dari Allah dan keindahan surga-Nya. Juga terangkan betapa ngerinya neraka, bagi orang yang melakukan kejahatan. Keempat: Imbangkan hadiah dengan hukuman Dalam Islam ada sepasang metode, yaitu targhîb dan tarhîb, yaitu motivasi dan ancaman, atau kelembutan dan sikap keras. Jadi, hadiah bukan satu-satunya cara untuk merangsang anak melakukan kebaikan. Hal tersebut telah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam mendidik para sahabat. Beliau pernah menghukum Sawâd bin Ghaziyyah radhiyallahu ‘anhu akibat tidak lurus ketika berbaris. Akan tetapi dalam satu waktu beliau bersedia dibalas, walaupun akhirnya sahabat tersebut memeluk Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. [HR. Ibn Ishaq dalam as-Sirah dan isnadnya dinilai hasan oleh al-Albaniy]. Namun hendaknya, hukuman tidak lebih dominan dibanding hadiah. Sebab sikap lembut dalam Islam lebih dikedepankan dibanding sikap keras. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Sya’ban 1445 / 19 Februari 2024 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 188 – MENGGALI POTENSI ANAKSerial Fiqih Pendidikan Anak No: 190 – MELINDUNGI ANAK DARI KEJAHATAN SETAN SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories


Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 189 – MERANGSANG ANAK DENGAN HADIAH Posted on October 21, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 189MERANGSANG ANAK DENGAN HADIAH Dalam Islam, ada banyak sarana yang bisa digunakan untuk menunjang keberhasilan dalam mendidik anak. Salah satunya adalah pemberian hadiah. Karena hadiah bisa memotivasi anak untuk menjalankan kebaikan dan merangsang mereka agar konsisten menjalankannya. Sebab ia merasa jerih payah dan perjuangannya dihargai. Sehingga wajar bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan, “‌تَهادُوا ‌تَحابُوا” “Hendaklah kalian saling memberi hadiah; niscaya kalian akan saling mencintai”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no. 594) dan sanadnya dinilai baik oleh al-‘Irâqiy. Agar Efek Hadiah Maksimal Berikut beberapa poin penting yang perlu diperhatikan agar efek positif pemberian hadiah maksimal: Pertama: Landasi hadiah dengan kasih sayang Rata-rata anak akan merasa senang saat mendapatkan hadiah. Apalagi bila hadiah tersebut adalah hal yang disukainya. Namun kesenangan sesaat kurang maksimal dalam membangkitkan semangat. Berbeda dengan kasih sayang, kedekatan dan kehangatan cinta orang tua. Maka, hadiah harus didasari kasih sayang, bukan sekedar untuk memuaskan keinginan anak. Kedua: Hadiah bisa berwujud materi dan non materi Wujud hadiah yang diberikan kepada anak bisa berupa materi; seperti makanan, minuman, sepatu, tas dan yang semisal. Bisa juga berwujud non materi; seperti pujian, ciuman, pelukan dan yang serupa itu. Contoh pemberian hadiah berupa materi: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberi hadiah untuk seorang putri kecil bernama Ummu Khalid berupa baju. Beliau sendiri yang memakaikannya dan mendoakan agar awet. Lalu bersabda, “Wahai Ummu Khalid, ini bagus sekali”. [HR. Bukhari (no. 5823)]. Adapun contoh hadiah non materi: Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membariskan Abdullah, Ubaidillah dan sejumlah anak-anak pamannya; al-Abbas dalam satu barisan. Lalu beliau bersabda, “Siapa yang paling dulu sampai kepadaku, dia akan mendapat ini dan itu”. Maka mereka pun berlomba lari menuju tempat Nabi shallallahu ‘alahi wasallam berada. Setelah sampai, ada yang memeluk punggung dan adapula yang memeluk dada beliau. Beliau menciumi mereka semua, serta menepati janjinya. [HR. Ahmad (no. 1836) dan dinilai lemah oleh al-Albaniy]. Ketiga: Iringi hadiah dengan nasehat Manusia bisa termotivasi dengan rangsangan internal dan eksternal. Rangsangan internal adalah kesadaran hati tentang pentingnya melakukan kebaikan. Menumbuhkan kesadaran ini perlu proses. Salah satu caranya adalah dengan memberikan hadiah. Walaupun hadiah merupakan rangsangan eksternal, namun bila diiringi dengan nasehat; insyaAllah lama kelamaan akan membangkitkan rangsangan internal. Maka saat memberikan hadiah, orang tua perlu memberikan wejangan dan nasehat mengenai keuntungan ukhrawi yang akan didapatkan anak dari kebaikan yang dilakukannya. Jelaskan besarnya pahala dari Allah dan keindahan surga-Nya. Juga terangkan betapa ngerinya neraka, bagi orang yang melakukan kejahatan. Keempat: Imbangkan hadiah dengan hukuman Dalam Islam ada sepasang metode, yaitu targhîb dan tarhîb, yaitu motivasi dan ancaman, atau kelembutan dan sikap keras. Jadi, hadiah bukan satu-satunya cara untuk merangsang anak melakukan kebaikan. Hal tersebut telah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam mendidik para sahabat. Beliau pernah menghukum Sawâd bin Ghaziyyah radhiyallahu ‘anhu akibat tidak lurus ketika berbaris. Akan tetapi dalam satu waktu beliau bersedia dibalas, walaupun akhirnya sahabat tersebut memeluk Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. [HR. Ibn Ishaq dalam as-Sirah dan isnadnya dinilai hasan oleh al-Albaniy]. Namun hendaknya, hukuman tidak lebih dominan dibanding hadiah. Sebab sikap lembut dalam Islam lebih dikedepankan dibanding sikap keras. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 9 Sya’ban 1445 / 19 Februari 2024 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 188 – MENGGALI POTENSI ANAKSerial Fiqih Pendidikan Anak No: 190 – MELINDUNGI ANAK DARI KEJAHATAN SETAN SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 190 – MELINDUNGI ANAK DARI KEJAHATAN SETAN

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 190 – MELINDUNGI ANAK DARI KEJAHATAN SETAN Posted on October 21, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 190MELINDUNGI ANAK DARI KEJAHATAN SETAN Setan adalah musuh manusia. Dia berupaya sekuat tenaga untuk mengganggunya dan menyesatkannya. Demi merealisasikan tujuan jahat tersebut, berbagai cara dia tempuh. Tidak peduli apakah targetnya pria atau wanita, pejabat atau rakyat biasa, kaya atau miskin, tua atau muda, bahkan anak kecil sekalipun. Karena itulah Islam mengajarkan beberapa hal dalam rangka untuk melindungi anak dari kejahatan setan. Di antaranya: Pertama: Membacakan dzikir untuk anak Saat anak belum masuk usia tamyiz (-+ sebelum umur 7 tahun), maka orang tua bisa membacakan dzikir perlindungan untuk anaknya. Sebagaimana dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat mendoakan kedua cucu beliau; Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma. “أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ ‌عَيْنٍ ‌لامَّةٍ “ “Aku memohonkan perlindungan untuk kalian berdua menggunakan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari setiap setan dan binatang berbisa, serta pandangan mata yang jahat”. HR. Bukhari (no. 3371) dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sedangkan ini adalah redaksi Ahmad (no. 2112). Doa ini bisa dibaca kapan saja. Jika jumlah anak tiga orang atau lebih, maka dibaca “U’îdzukum…”. Bila satu anak laki-laki, dibaca: “U’îdzuka…”. Jika satu anak perempuan, dibaca: “U’îdzuki”. Kedua: Melatih anak membaca dzikir Jika anak telah berusia tujuh tahun ke atas, maka hendaknya ia dibimbing dan dilatih untuk membaca dzikir sendiri. Semisal dzikir pagi dan petang, dzikir sebelum tidur, dzikir keluar rumah dan lain-lain. Lakukan pelatihan itu secara bertahap; supaya anak tidak merasa terlalu dibebani. Misalnya: di tahap awal anak diminta untuk membaca Ayat Kursi, al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas setiap pagi dan petang. Setelah terbiasa, silakan ditambahkan bacaan-bacaan lainnya yang dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketiga: Mencegah anak keluar rumah ketika setan berkeliaran Yakni sesaat sebelum matahari terbenam hingga waktu masuk waktu Isya. Kecuali bila keluar rumahnya untuk berangkat ke masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ، فَأَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا، وَأَوْكُوا قِرَبَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهَا شَيْئًا، وَأَطْفِئُوا مَصَابِيحَكُمْ” “Jika malam mulai akan gelap, cegahlah anak-anak kalian (untuk keluar rumah); karena saat itu setan berkeliaran. Bila telah lewat sebagian malam biarkanlah mereka (jika ada keperluan untuk keluar rumah). Tutuplah pintu-pintu dan ucapkanlah basmalah; karena sesungguhnya setan tidak akan bisa membuka pintu yang tertutup. Tutuplah teko kalian dan ucapkanlah basmalah. Tutupilah bejana kalian walaupun dengan meletakkan sesuatu di atasnya dan bacalah basmalah. Matikanlah lampu kalian”. HR. Bukhari (no. 3280) dan Muslim (no. 5218) dari Jabir radhiyallahu ‘anhu dengan redaksi Muslim. “لَا تُرْسِلُوا فَوَاشِيَكُمْ وَصِبْيَانَكُمْ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ حَتَّى تَذْهَبَ ‌فَحْمَةُ ‌الْعِشَاءِ، فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْبَعِثُ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ حَتَّى تَذْهَبَ ‌فَحْمَةُ ‌الْعِشَاءِ” “Janganlah melepaskan hewan ternak dan anak-anak kalian di saat matahari terbenam hingga gelapnya Isya lewat. Sungguh para setan itu berkeliaran ketika matahari terbenam hingga gelapnya Isya berlalu”. HR. Muslim (no. 2013) dari Jabir radhiyallahu ‘anhu. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Sya’ban 1445 / 4 Maret 2024 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 189 – MERANGSANG ANAK DENGAN HADIAHSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 205 – DOA MASUK RUMAH Bag-2 SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 190 – MELINDUNGI ANAK DARI KEJAHATAN SETAN

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 190 – MELINDUNGI ANAK DARI KEJAHATAN SETAN Posted on October 21, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 190MELINDUNGI ANAK DARI KEJAHATAN SETAN Setan adalah musuh manusia. Dia berupaya sekuat tenaga untuk mengganggunya dan menyesatkannya. Demi merealisasikan tujuan jahat tersebut, berbagai cara dia tempuh. Tidak peduli apakah targetnya pria atau wanita, pejabat atau rakyat biasa, kaya atau miskin, tua atau muda, bahkan anak kecil sekalipun. Karena itulah Islam mengajarkan beberapa hal dalam rangka untuk melindungi anak dari kejahatan setan. Di antaranya: Pertama: Membacakan dzikir untuk anak Saat anak belum masuk usia tamyiz (-+ sebelum umur 7 tahun), maka orang tua bisa membacakan dzikir perlindungan untuk anaknya. Sebagaimana dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat mendoakan kedua cucu beliau; Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma. “أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ ‌عَيْنٍ ‌لامَّةٍ “ “Aku memohonkan perlindungan untuk kalian berdua menggunakan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari setiap setan dan binatang berbisa, serta pandangan mata yang jahat”. HR. Bukhari (no. 3371) dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sedangkan ini adalah redaksi Ahmad (no. 2112). Doa ini bisa dibaca kapan saja. Jika jumlah anak tiga orang atau lebih, maka dibaca “U’îdzukum…”. Bila satu anak laki-laki, dibaca: “U’îdzuka…”. Jika satu anak perempuan, dibaca: “U’îdzuki”. Kedua: Melatih anak membaca dzikir Jika anak telah berusia tujuh tahun ke atas, maka hendaknya ia dibimbing dan dilatih untuk membaca dzikir sendiri. Semisal dzikir pagi dan petang, dzikir sebelum tidur, dzikir keluar rumah dan lain-lain. Lakukan pelatihan itu secara bertahap; supaya anak tidak merasa terlalu dibebani. Misalnya: di tahap awal anak diminta untuk membaca Ayat Kursi, al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas setiap pagi dan petang. Setelah terbiasa, silakan ditambahkan bacaan-bacaan lainnya yang dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketiga: Mencegah anak keluar rumah ketika setan berkeliaran Yakni sesaat sebelum matahari terbenam hingga waktu masuk waktu Isya. Kecuali bila keluar rumahnya untuk berangkat ke masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ، فَأَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا، وَأَوْكُوا قِرَبَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهَا شَيْئًا، وَأَطْفِئُوا مَصَابِيحَكُمْ” “Jika malam mulai akan gelap, cegahlah anak-anak kalian (untuk keluar rumah); karena saat itu setan berkeliaran. Bila telah lewat sebagian malam biarkanlah mereka (jika ada keperluan untuk keluar rumah). Tutuplah pintu-pintu dan ucapkanlah basmalah; karena sesungguhnya setan tidak akan bisa membuka pintu yang tertutup. Tutuplah teko kalian dan ucapkanlah basmalah. Tutupilah bejana kalian walaupun dengan meletakkan sesuatu di atasnya dan bacalah basmalah. Matikanlah lampu kalian”. HR. Bukhari (no. 3280) dan Muslim (no. 5218) dari Jabir radhiyallahu ‘anhu dengan redaksi Muslim. “لَا تُرْسِلُوا فَوَاشِيَكُمْ وَصِبْيَانَكُمْ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ حَتَّى تَذْهَبَ ‌فَحْمَةُ ‌الْعِشَاءِ، فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْبَعِثُ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ حَتَّى تَذْهَبَ ‌فَحْمَةُ ‌الْعِشَاءِ” “Janganlah melepaskan hewan ternak dan anak-anak kalian di saat matahari terbenam hingga gelapnya Isya lewat. Sungguh para setan itu berkeliaran ketika matahari terbenam hingga gelapnya Isya berlalu”. HR. Muslim (no. 2013) dari Jabir radhiyallahu ‘anhu. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Sya’ban 1445 / 4 Maret 2024 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 189 – MERANGSANG ANAK DENGAN HADIAHSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 205 – DOA MASUK RUMAH Bag-2 SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories
Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 190 – MELINDUNGI ANAK DARI KEJAHATAN SETAN Posted on October 21, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 190MELINDUNGI ANAK DARI KEJAHATAN SETAN Setan adalah musuh manusia. Dia berupaya sekuat tenaga untuk mengganggunya dan menyesatkannya. Demi merealisasikan tujuan jahat tersebut, berbagai cara dia tempuh. Tidak peduli apakah targetnya pria atau wanita, pejabat atau rakyat biasa, kaya atau miskin, tua atau muda, bahkan anak kecil sekalipun. Karena itulah Islam mengajarkan beberapa hal dalam rangka untuk melindungi anak dari kejahatan setan. Di antaranya: Pertama: Membacakan dzikir untuk anak Saat anak belum masuk usia tamyiz (-+ sebelum umur 7 tahun), maka orang tua bisa membacakan dzikir perlindungan untuk anaknya. Sebagaimana dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat mendoakan kedua cucu beliau; Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma. “أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ ‌عَيْنٍ ‌لامَّةٍ “ “Aku memohonkan perlindungan untuk kalian berdua menggunakan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari setiap setan dan binatang berbisa, serta pandangan mata yang jahat”. HR. Bukhari (no. 3371) dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sedangkan ini adalah redaksi Ahmad (no. 2112). Doa ini bisa dibaca kapan saja. Jika jumlah anak tiga orang atau lebih, maka dibaca “U’îdzukum…”. Bila satu anak laki-laki, dibaca: “U’îdzuka…”. Jika satu anak perempuan, dibaca: “U’îdzuki”. Kedua: Melatih anak membaca dzikir Jika anak telah berusia tujuh tahun ke atas, maka hendaknya ia dibimbing dan dilatih untuk membaca dzikir sendiri. Semisal dzikir pagi dan petang, dzikir sebelum tidur, dzikir keluar rumah dan lain-lain. Lakukan pelatihan itu secara bertahap; supaya anak tidak merasa terlalu dibebani. Misalnya: di tahap awal anak diminta untuk membaca Ayat Kursi, al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas setiap pagi dan petang. Setelah terbiasa, silakan ditambahkan bacaan-bacaan lainnya yang dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketiga: Mencegah anak keluar rumah ketika setan berkeliaran Yakni sesaat sebelum matahari terbenam hingga waktu masuk waktu Isya. Kecuali bila keluar rumahnya untuk berangkat ke masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ، فَأَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا، وَأَوْكُوا قِرَبَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهَا شَيْئًا، وَأَطْفِئُوا مَصَابِيحَكُمْ” “Jika malam mulai akan gelap, cegahlah anak-anak kalian (untuk keluar rumah); karena saat itu setan berkeliaran. Bila telah lewat sebagian malam biarkanlah mereka (jika ada keperluan untuk keluar rumah). Tutuplah pintu-pintu dan ucapkanlah basmalah; karena sesungguhnya setan tidak akan bisa membuka pintu yang tertutup. Tutuplah teko kalian dan ucapkanlah basmalah. Tutupilah bejana kalian walaupun dengan meletakkan sesuatu di atasnya dan bacalah basmalah. Matikanlah lampu kalian”. HR. Bukhari (no. 3280) dan Muslim (no. 5218) dari Jabir radhiyallahu ‘anhu dengan redaksi Muslim. “لَا تُرْسِلُوا فَوَاشِيَكُمْ وَصِبْيَانَكُمْ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ حَتَّى تَذْهَبَ ‌فَحْمَةُ ‌الْعِشَاءِ، فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْبَعِثُ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ حَتَّى تَذْهَبَ ‌فَحْمَةُ ‌الْعِشَاءِ” “Janganlah melepaskan hewan ternak dan anak-anak kalian di saat matahari terbenam hingga gelapnya Isya lewat. Sungguh para setan itu berkeliaran ketika matahari terbenam hingga gelapnya Isya berlalu”. HR. Muslim (no. 2013) dari Jabir radhiyallahu ‘anhu. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Sya’ban 1445 / 4 Maret 2024 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 189 – MERANGSANG ANAK DENGAN HADIAHSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 205 – DOA MASUK RUMAH Bag-2 SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories


Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 190 – MELINDUNGI ANAK DARI KEJAHATAN SETAN Posted on October 21, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 190MELINDUNGI ANAK DARI KEJAHATAN SETAN Setan adalah musuh manusia. Dia berupaya sekuat tenaga untuk mengganggunya dan menyesatkannya. Demi merealisasikan tujuan jahat tersebut, berbagai cara dia tempuh. Tidak peduli apakah targetnya pria atau wanita, pejabat atau rakyat biasa, kaya atau miskin, tua atau muda, bahkan anak kecil sekalipun. Karena itulah Islam mengajarkan beberapa hal dalam rangka untuk melindungi anak dari kejahatan setan. Di antaranya: Pertama: Membacakan dzikir untuk anak Saat anak belum masuk usia tamyiz (-+ sebelum umur 7 tahun), maka orang tua bisa membacakan dzikir perlindungan untuk anaknya. Sebagaimana dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat mendoakan kedua cucu beliau; Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma. “أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ ‌عَيْنٍ ‌لامَّةٍ “ “Aku memohonkan perlindungan untuk kalian berdua menggunakan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari setiap setan dan binatang berbisa, serta pandangan mata yang jahat”. HR. Bukhari (no. 3371) dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sedangkan ini adalah redaksi Ahmad (no. 2112). Doa ini bisa dibaca kapan saja. Jika jumlah anak tiga orang atau lebih, maka dibaca “U’îdzukum…”. Bila satu anak laki-laki, dibaca: “U’îdzuka…”. Jika satu anak perempuan, dibaca: “U’îdzuki”. Kedua: Melatih anak membaca dzikir Jika anak telah berusia tujuh tahun ke atas, maka hendaknya ia dibimbing dan dilatih untuk membaca dzikir sendiri. Semisal dzikir pagi dan petang, dzikir sebelum tidur, dzikir keluar rumah dan lain-lain. Lakukan pelatihan itu secara bertahap; supaya anak tidak merasa terlalu dibebani. Misalnya: di tahap awal anak diminta untuk membaca Ayat Kursi, al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas setiap pagi dan petang. Setelah terbiasa, silakan ditambahkan bacaan-bacaan lainnya yang dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketiga: Mencegah anak keluar rumah ketika setan berkeliaran Yakni sesaat sebelum matahari terbenam hingga waktu masuk waktu Isya. Kecuali bila keluar rumahnya untuk berangkat ke masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ، فَأَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا، وَأَوْكُوا قِرَبَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهَا شَيْئًا، وَأَطْفِئُوا مَصَابِيحَكُمْ” “Jika malam mulai akan gelap, cegahlah anak-anak kalian (untuk keluar rumah); karena saat itu setan berkeliaran. Bila telah lewat sebagian malam biarkanlah mereka (jika ada keperluan untuk keluar rumah). Tutuplah pintu-pintu dan ucapkanlah basmalah; karena sesungguhnya setan tidak akan bisa membuka pintu yang tertutup. Tutuplah teko kalian dan ucapkanlah basmalah. Tutupilah bejana kalian walaupun dengan meletakkan sesuatu di atasnya dan bacalah basmalah. Matikanlah lampu kalian”. HR. Bukhari (no. 3280) dan Muslim (no. 5218) dari Jabir radhiyallahu ‘anhu dengan redaksi Muslim. “لَا تُرْسِلُوا فَوَاشِيَكُمْ وَصِبْيَانَكُمْ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ حَتَّى تَذْهَبَ ‌فَحْمَةُ ‌الْعِشَاءِ، فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْبَعِثُ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ حَتَّى تَذْهَبَ ‌فَحْمَةُ ‌الْعِشَاءِ” “Janganlah melepaskan hewan ternak dan anak-anak kalian di saat matahari terbenam hingga gelapnya Isya lewat. Sungguh para setan itu berkeliaran ketika matahari terbenam hingga gelapnya Isya berlalu”. HR. Muslim (no. 2013) dari Jabir radhiyallahu ‘anhu. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Sya’ban 1445 / 4 Maret 2024 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 189 – MERANGSANG ANAK DENGAN HADIAHSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 205 – DOA MASUK RUMAH Bag-2 SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 187 – MELERAI PERTIKAIAN ANTAR ANAK

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 187 – MELERAI PERTIKAIAN ANTAR ANAK Posted on October 20, 2024October 20, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 187MELERAI PERTIKAIAN ANTAR ANAK Pertikaian bahkan perkelahian fisik antar kakak-adik kerap terjadi. Akibatnya ada sebagian orang tua yang menganggapnya biasa, sehingga merasa tidak perlu melerai. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat menghadapi kasus serupa, tidak membiarkannya. Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Dua bocah berkelahi. Bocah pertama dari golongan Muhajirin, dan yang kedua dari golongan Anshar. Akhirnya bocah pertama berteriak, “Wahai orang-orang Muhajirin!”. Bocah kedua berteriak, “Wahai orang-orang Anshar!”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun keluar dan berkata, “Apa-apaan ini! Mengapa slogan jahiliyah kembali diteriakkan?”. Para sahabat menjelaskan, “Tidak wahai Rasulullah. Ini ada dua bocah berkelahi. Salah satunya memukul pantat temannya”. Beliau bersabda, “Baiklah. Seorang muslim harus membantu saudaranya yang berbuat zalim atau yang terzalimi. Bila ia berbuat zalim, maka bantulah ia dengan mencegahnya dari kezaliman itu. Namun bila terzalimi, maka bantulah ia dengan cara menolongnya”. HR. Muslim (no. 2584). Langkah-langkah Praktis Melerai Berikut beberapa langkah praktis melerai pertikaian yang terjadi di antara anak-anak: Pertama: Emosi orang tua jangan terpancing Sebab ayah atau ibu harus berperan sebagai juru damai. Bila histeris atau panik; maka ia akan menjadi bagian dari masalah, bukan solusi masalah. Jika emosi akan terpancing, bacalah ta’awudz dan lakukanlah relaksasi pernapasan. Dengan cara menarik napas dalam-dalam dan tahan di dalam paru dengan hitungan 1-4. Lalu keluarkan udara secara perlahan-lahan. Hingga tubuh menjadi kendur dan terasa rileks. Kedua: Jangan berpihak sebelum memahami duduk permasalahan Tidak sedikit orang tua yang terburu-buru menyimpulkan bahwa yang salah adalah kakak dan yang benar adalah adik. Padahal belum tentu kenyataannya demikian. Bila sikap ini terjadi berulang kali, bisa mengakibatkan munculnya perasaan dendam di hati anak yang terzalimi. Padahal pertikaian itu terjadi karena ada sebabnya. Bisa jadi kakak yang benar dan adik yang salah, atau sebaliknya, atau dua-duanya salah, atau dua-duanya benar, namun akibat salah paham, terjadilah pertengkaran. Maka berilah kesempatan yang sama kepada keduanya untuk bercerita. Biasanya masing-masing anak akan membela diri dan menyalahkan lawannya. Namun bila mendengarkannya secara seksama dan dengan kepala dingin, insyaAllah akan bisa disimpulkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Ketiga: Redakan dengan pengalihan Salah satu cara bagus untuk meredakan amarah adalah metode pengalihan. Yakni dengan melakukan kegiatan lain. Misalnya orang tua bercerita tema berbeda, atau mengajak mereka jalan-jalan keluar rumah, atau membeli jajan, atau bermain bersama. Sehingga fokus mereka tidak lagi kepada pertengkaran. Justru perhatian mereka teralihkan terhadap aktivitas baru yang tidak ada hubungannya dengan pertikaian. Ini sangat manjur untuk meredakan tensi pertengkaran. Keempat: Nasehati saat suasana kondusif Agar nasehat efektif dan bisa diterima, perlu pemilihan waktu yang pas. Biasanya, nasehat kurang mendapatkan respon yang baik, bila orang yang dinasehati sedang tidak mood. Maka, bila pertengkaran antar anak sudah mereda dan suasana mulai mencair; nasehatilah mereka. Ajak mereka untuk berpikir betapa buruknya pertengkaran antar saudara, terlebih sesama muslim, yang justru seharusnya selalu akur ibarat satu tubuh. Tanamkan nasehat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan bahwa yang tua harus menyayangi yang muda, dan yang muda harus menghormati yang tua: »لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ ‌يَرْحَمْ ‌صَغِيرَنَا ‌وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا« “Bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua”. HR. Tirmidziy (no. 1919) dan dinilai sahih oleh al-Albaniy. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Rajab 1445 / 15 Januari 2024 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 186 – BERLAKU ADIL KEPADA ANAKSerial Fiqih Pendidikan Anak No: 188 – MENGGALI POTENSI ANAK SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 187 – MELERAI PERTIKAIAN ANTAR ANAK

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 187 – MELERAI PERTIKAIAN ANTAR ANAK Posted on October 20, 2024October 20, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 187MELERAI PERTIKAIAN ANTAR ANAK Pertikaian bahkan perkelahian fisik antar kakak-adik kerap terjadi. Akibatnya ada sebagian orang tua yang menganggapnya biasa, sehingga merasa tidak perlu melerai. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat menghadapi kasus serupa, tidak membiarkannya. Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Dua bocah berkelahi. Bocah pertama dari golongan Muhajirin, dan yang kedua dari golongan Anshar. Akhirnya bocah pertama berteriak, “Wahai orang-orang Muhajirin!”. Bocah kedua berteriak, “Wahai orang-orang Anshar!”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun keluar dan berkata, “Apa-apaan ini! Mengapa slogan jahiliyah kembali diteriakkan?”. Para sahabat menjelaskan, “Tidak wahai Rasulullah. Ini ada dua bocah berkelahi. Salah satunya memukul pantat temannya”. Beliau bersabda, “Baiklah. Seorang muslim harus membantu saudaranya yang berbuat zalim atau yang terzalimi. Bila ia berbuat zalim, maka bantulah ia dengan mencegahnya dari kezaliman itu. Namun bila terzalimi, maka bantulah ia dengan cara menolongnya”. HR. Muslim (no. 2584). Langkah-langkah Praktis Melerai Berikut beberapa langkah praktis melerai pertikaian yang terjadi di antara anak-anak: Pertama: Emosi orang tua jangan terpancing Sebab ayah atau ibu harus berperan sebagai juru damai. Bila histeris atau panik; maka ia akan menjadi bagian dari masalah, bukan solusi masalah. Jika emosi akan terpancing, bacalah ta’awudz dan lakukanlah relaksasi pernapasan. Dengan cara menarik napas dalam-dalam dan tahan di dalam paru dengan hitungan 1-4. Lalu keluarkan udara secara perlahan-lahan. Hingga tubuh menjadi kendur dan terasa rileks. Kedua: Jangan berpihak sebelum memahami duduk permasalahan Tidak sedikit orang tua yang terburu-buru menyimpulkan bahwa yang salah adalah kakak dan yang benar adalah adik. Padahal belum tentu kenyataannya demikian. Bila sikap ini terjadi berulang kali, bisa mengakibatkan munculnya perasaan dendam di hati anak yang terzalimi. Padahal pertikaian itu terjadi karena ada sebabnya. Bisa jadi kakak yang benar dan adik yang salah, atau sebaliknya, atau dua-duanya salah, atau dua-duanya benar, namun akibat salah paham, terjadilah pertengkaran. Maka berilah kesempatan yang sama kepada keduanya untuk bercerita. Biasanya masing-masing anak akan membela diri dan menyalahkan lawannya. Namun bila mendengarkannya secara seksama dan dengan kepala dingin, insyaAllah akan bisa disimpulkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Ketiga: Redakan dengan pengalihan Salah satu cara bagus untuk meredakan amarah adalah metode pengalihan. Yakni dengan melakukan kegiatan lain. Misalnya orang tua bercerita tema berbeda, atau mengajak mereka jalan-jalan keluar rumah, atau membeli jajan, atau bermain bersama. Sehingga fokus mereka tidak lagi kepada pertengkaran. Justru perhatian mereka teralihkan terhadap aktivitas baru yang tidak ada hubungannya dengan pertikaian. Ini sangat manjur untuk meredakan tensi pertengkaran. Keempat: Nasehati saat suasana kondusif Agar nasehat efektif dan bisa diterima, perlu pemilihan waktu yang pas. Biasanya, nasehat kurang mendapatkan respon yang baik, bila orang yang dinasehati sedang tidak mood. Maka, bila pertengkaran antar anak sudah mereda dan suasana mulai mencair; nasehatilah mereka. Ajak mereka untuk berpikir betapa buruknya pertengkaran antar saudara, terlebih sesama muslim, yang justru seharusnya selalu akur ibarat satu tubuh. Tanamkan nasehat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan bahwa yang tua harus menyayangi yang muda, dan yang muda harus menghormati yang tua: »لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ ‌يَرْحَمْ ‌صَغِيرَنَا ‌وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا« “Bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua”. HR. Tirmidziy (no. 1919) dan dinilai sahih oleh al-Albaniy. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Rajab 1445 / 15 Januari 2024 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 186 – BERLAKU ADIL KEPADA ANAKSerial Fiqih Pendidikan Anak No: 188 – MENGGALI POTENSI ANAK SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories
Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 187 – MELERAI PERTIKAIAN ANTAR ANAK Posted on October 20, 2024October 20, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 187MELERAI PERTIKAIAN ANTAR ANAK Pertikaian bahkan perkelahian fisik antar kakak-adik kerap terjadi. Akibatnya ada sebagian orang tua yang menganggapnya biasa, sehingga merasa tidak perlu melerai. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat menghadapi kasus serupa, tidak membiarkannya. Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Dua bocah berkelahi. Bocah pertama dari golongan Muhajirin, dan yang kedua dari golongan Anshar. Akhirnya bocah pertama berteriak, “Wahai orang-orang Muhajirin!”. Bocah kedua berteriak, “Wahai orang-orang Anshar!”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun keluar dan berkata, “Apa-apaan ini! Mengapa slogan jahiliyah kembali diteriakkan?”. Para sahabat menjelaskan, “Tidak wahai Rasulullah. Ini ada dua bocah berkelahi. Salah satunya memukul pantat temannya”. Beliau bersabda, “Baiklah. Seorang muslim harus membantu saudaranya yang berbuat zalim atau yang terzalimi. Bila ia berbuat zalim, maka bantulah ia dengan mencegahnya dari kezaliman itu. Namun bila terzalimi, maka bantulah ia dengan cara menolongnya”. HR. Muslim (no. 2584). Langkah-langkah Praktis Melerai Berikut beberapa langkah praktis melerai pertikaian yang terjadi di antara anak-anak: Pertama: Emosi orang tua jangan terpancing Sebab ayah atau ibu harus berperan sebagai juru damai. Bila histeris atau panik; maka ia akan menjadi bagian dari masalah, bukan solusi masalah. Jika emosi akan terpancing, bacalah ta’awudz dan lakukanlah relaksasi pernapasan. Dengan cara menarik napas dalam-dalam dan tahan di dalam paru dengan hitungan 1-4. Lalu keluarkan udara secara perlahan-lahan. Hingga tubuh menjadi kendur dan terasa rileks. Kedua: Jangan berpihak sebelum memahami duduk permasalahan Tidak sedikit orang tua yang terburu-buru menyimpulkan bahwa yang salah adalah kakak dan yang benar adalah adik. Padahal belum tentu kenyataannya demikian. Bila sikap ini terjadi berulang kali, bisa mengakibatkan munculnya perasaan dendam di hati anak yang terzalimi. Padahal pertikaian itu terjadi karena ada sebabnya. Bisa jadi kakak yang benar dan adik yang salah, atau sebaliknya, atau dua-duanya salah, atau dua-duanya benar, namun akibat salah paham, terjadilah pertengkaran. Maka berilah kesempatan yang sama kepada keduanya untuk bercerita. Biasanya masing-masing anak akan membela diri dan menyalahkan lawannya. Namun bila mendengarkannya secara seksama dan dengan kepala dingin, insyaAllah akan bisa disimpulkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Ketiga: Redakan dengan pengalihan Salah satu cara bagus untuk meredakan amarah adalah metode pengalihan. Yakni dengan melakukan kegiatan lain. Misalnya orang tua bercerita tema berbeda, atau mengajak mereka jalan-jalan keluar rumah, atau membeli jajan, atau bermain bersama. Sehingga fokus mereka tidak lagi kepada pertengkaran. Justru perhatian mereka teralihkan terhadap aktivitas baru yang tidak ada hubungannya dengan pertikaian. Ini sangat manjur untuk meredakan tensi pertengkaran. Keempat: Nasehati saat suasana kondusif Agar nasehat efektif dan bisa diterima, perlu pemilihan waktu yang pas. Biasanya, nasehat kurang mendapatkan respon yang baik, bila orang yang dinasehati sedang tidak mood. Maka, bila pertengkaran antar anak sudah mereda dan suasana mulai mencair; nasehatilah mereka. Ajak mereka untuk berpikir betapa buruknya pertengkaran antar saudara, terlebih sesama muslim, yang justru seharusnya selalu akur ibarat satu tubuh. Tanamkan nasehat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan bahwa yang tua harus menyayangi yang muda, dan yang muda harus menghormati yang tua: »لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ ‌يَرْحَمْ ‌صَغِيرَنَا ‌وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا« “Bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua”. HR. Tirmidziy (no. 1919) dan dinilai sahih oleh al-Albaniy. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Rajab 1445 / 15 Januari 2024 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 186 – BERLAKU ADIL KEPADA ANAKSerial Fiqih Pendidikan Anak No: 188 – MENGGALI POTENSI ANAK SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories


Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 187 – MELERAI PERTIKAIAN ANTAR ANAK Posted on October 20, 2024October 20, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 187MELERAI PERTIKAIAN ANTAR ANAK Pertikaian bahkan perkelahian fisik antar kakak-adik kerap terjadi. Akibatnya ada sebagian orang tua yang menganggapnya biasa, sehingga merasa tidak perlu melerai. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat menghadapi kasus serupa, tidak membiarkannya. Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Dua bocah berkelahi. Bocah pertama dari golongan Muhajirin, dan yang kedua dari golongan Anshar. Akhirnya bocah pertama berteriak, “Wahai orang-orang Muhajirin!”. Bocah kedua berteriak, “Wahai orang-orang Anshar!”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun keluar dan berkata, “Apa-apaan ini! Mengapa slogan jahiliyah kembali diteriakkan?”. Para sahabat menjelaskan, “Tidak wahai Rasulullah. Ini ada dua bocah berkelahi. Salah satunya memukul pantat temannya”. Beliau bersabda, “Baiklah. Seorang muslim harus membantu saudaranya yang berbuat zalim atau yang terzalimi. Bila ia berbuat zalim, maka bantulah ia dengan mencegahnya dari kezaliman itu. Namun bila terzalimi, maka bantulah ia dengan cara menolongnya”. HR. Muslim (no. 2584). Langkah-langkah Praktis Melerai Berikut beberapa langkah praktis melerai pertikaian yang terjadi di antara anak-anak: Pertama: Emosi orang tua jangan terpancing Sebab ayah atau ibu harus berperan sebagai juru damai. Bila histeris atau panik; maka ia akan menjadi bagian dari masalah, bukan solusi masalah. Jika emosi akan terpancing, bacalah ta’awudz dan lakukanlah relaksasi pernapasan. Dengan cara menarik napas dalam-dalam dan tahan di dalam paru dengan hitungan 1-4. Lalu keluarkan udara secara perlahan-lahan. Hingga tubuh menjadi kendur dan terasa rileks. Kedua: Jangan berpihak sebelum memahami duduk permasalahan Tidak sedikit orang tua yang terburu-buru menyimpulkan bahwa yang salah adalah kakak dan yang benar adalah adik. Padahal belum tentu kenyataannya demikian. Bila sikap ini terjadi berulang kali, bisa mengakibatkan munculnya perasaan dendam di hati anak yang terzalimi. Padahal pertikaian itu terjadi karena ada sebabnya. Bisa jadi kakak yang benar dan adik yang salah, atau sebaliknya, atau dua-duanya salah, atau dua-duanya benar, namun akibat salah paham, terjadilah pertengkaran. Maka berilah kesempatan yang sama kepada keduanya untuk bercerita. Biasanya masing-masing anak akan membela diri dan menyalahkan lawannya. Namun bila mendengarkannya secara seksama dan dengan kepala dingin, insyaAllah akan bisa disimpulkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Ketiga: Redakan dengan pengalihan Salah satu cara bagus untuk meredakan amarah adalah metode pengalihan. Yakni dengan melakukan kegiatan lain. Misalnya orang tua bercerita tema berbeda, atau mengajak mereka jalan-jalan keluar rumah, atau membeli jajan, atau bermain bersama. Sehingga fokus mereka tidak lagi kepada pertengkaran. Justru perhatian mereka teralihkan terhadap aktivitas baru yang tidak ada hubungannya dengan pertikaian. Ini sangat manjur untuk meredakan tensi pertengkaran. Keempat: Nasehati saat suasana kondusif Agar nasehat efektif dan bisa diterima, perlu pemilihan waktu yang pas. Biasanya, nasehat kurang mendapatkan respon yang baik, bila orang yang dinasehati sedang tidak mood. Maka, bila pertengkaran antar anak sudah mereda dan suasana mulai mencair; nasehatilah mereka. Ajak mereka untuk berpikir betapa buruknya pertengkaran antar saudara, terlebih sesama muslim, yang justru seharusnya selalu akur ibarat satu tubuh. Tanamkan nasehat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan bahwa yang tua harus menyayangi yang muda, dan yang muda harus menghormati yang tua: »لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ ‌يَرْحَمْ ‌صَغِيرَنَا ‌وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا« “Bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua”. HR. Tirmidziy (no. 1919) dan dinilai sahih oleh al-Albaniy. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Rajab 1445 / 15 Januari 2024 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 186 – BERLAKU ADIL KEPADA ANAKSerial Fiqih Pendidikan Anak No: 188 – MENGGALI POTENSI ANAK SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 186 – BERLAKU ADIL KEPADA ANAK

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 186 – BERLAKU ADIL KEPADA ANAK Posted on October 20, 2024October 20, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 186BERLAKU ADIL KEPADA ANAK Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi keadilan dalam segala hal. Termasuk dalam sikap orang tua terhadap putra-putrinya. Orang tua harus berlaku adil kepada anak-anaknya. Baik dalam pemberian materi, maupun dalam ekspresi kasih sayang. Jika tidak, pasti akan timbul banyak akibat buruk. An-Nu’mân bin Basyîr radhiyallahu ‘anhuma bercerita, سَأَلَتْ أُمِّي أَبِي بَعْضَ المَوْهِبَةِ لِي مِنْ مَالِهِ، ثُمَّ بَدَا لَهُ فَوَهَبَهَا لِي، فَقَالَتْ: لَا أَرْضَى حَتَّى تُشْهِدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَخَذَ بِيَدِي وَأَنَا غُلَامٌ، فَأَتَى بِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: إِنَّ أُمَّهُ بِنْتَ رَوَاحَةَ سَأَلَتْنِي بَعْضَ المَوْهِبَةِ لِهَذَا، قَالَ: «أَلَكَ وَلَدٌ سِوَاهُ؟»، قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَأُرَاهُ، قَالَ: «‌لَا ‌تُشْهِدْنِي ‌عَلَى ‌جَوْرٍ» Suatu hari ibuku meminta dari ayahku agar memberiku sebagian dari hartanya. Beliaupun mengabulkan permintaan tersebut. Ternyata ibuku berkata, “Aku tidak rela, hingga engkau menjadikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai saksi atas pemberian ini”. Maka ayahku menggandeng tanganku—saat itu aku masih kecil—hingga datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ayahku berkata, “Putri Rawahah; ibu anak ini meminta padaku agar memberi anaknya pemberian”. Beliau bersabda, “Apakah engkau memiliki anak selain dia?”. Ayahku menjawab, “Ya”. Maka beliaupun bersabda, “Jangan engkau menjadikanku saksi atas kezaliman”. HR. Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat lain disebutkan, «‌أَعْطَيْتَ ‌سَائِرَ ‌وَلَدِكَ مِثْلَ هَذَا؟»، قَالَ: لَا، قَالَ: «فَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ»، قَالَ: فَرَجَعَ فَرَدَّ عَطِيَّتَهُ “Apakah engkau memberi semua anakmu seperti ini?”. Ayahku menjawab, “Tidak”. Beliau bersabda, “Takutlah kepada Allah. Berbuat adillah kepada anak-anakmu”. Maka kemudian pemberian tersebut dikembalikan”. HR. Bukhari. Dalam riwayat lain termaktub, «‌أَيَسُرُّكَ ‌أَنْ ‌يَكُونُوا ‌إِلَيْكَ فِي الْبِرِّ سَوَاءً؟» قَالَ: بَلَى، قَالَ: «فَلَا إِذًا» “Apakah engkau suka bila semua anakmu sama dalam berbakti kepadamu?”. Ayahku menjawab, “Tentu”. Beliau bersabda, “Jika demikian, jangan engkau memberi sebagian anakmu dan tidak memberi sebagian yang lain”. HR. Muslim. Hadits-hadits di atas menunjukkan wajibnya bersikap adil dalam hal pemberian materi. Tidak boleh memberi sebagian anak dan tidak memberi sebagian yang lain. Adapun mengenai kadar atau nominal yang diberikan, maka itu berdasarkan kebutuhan masing-masing anak. Selain wajib berlaku adil dalam pemberian materi, orang tua juga harus bersikap adil dalam mengekspresikan kasih sayangnya. Al-Hasan al-Bashriy rahimahullah bercerita, بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ أَصْحَابَهُ إِذْ جَاءَ صَبِيٌّ حَتَّى انْتَهَى إِلَى أَبِيهِ فِي نَاحِيَةِ الْقَوْمِ فَمَسَحَ رَأْسَهُ وَأَقْعَدَهُ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى قَالَ: فَلَبِثَ قَلِيلًا فَجَاءَتِ ابْنَةٌ لَهُ حَتَّى انْتَهَتْ إِلَيْهِ فَمَسَحَ رَأْسَهَا وَأَقْعَدَهَا فِي الْأَرْضِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «‌فَهَلَّا ‌عَلَى ‌فَخِذِكَ ‌الْأُخْرَى» فَحَمَلَهَا عَلَى فَخِذِهِ الْأُخْرَى فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْآنَ عَدَلْتَ» Konon diriwayatkan bahwa saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berbincang dengan para sahabatnya, datang seorang bayi laki-laki hingga tiba di tempat duduk ayahnya. Maka si ayah mengusap kepala bayinya dan memangkunya di paha kanan. Tidak lama kemudian datang anak perempuannya. Si ayah mengusap kepala putrinya, lalu mendudukkannya di lantai. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Mengapa engkau tidak memangkunya di pahamu yang lain?”. Akhirnya si ayah memangku putrinya di paha kirinya. Saat itu beliau bersabda, “Sekarang engkau baru berlaku adil”. HR. Ibn Abi Dun-ya dalam kitab an-Nafaqah ‘ala al-‘Iyâl. Hadits ini mursal. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Jumada Tsaniyah 1445 / 25 Desember 2023 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 204 – DOA MASUK RUMAH Bag-1Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 187 – MELERAI PERTIKAIAN ANTAR ANAK SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 186 – BERLAKU ADIL KEPADA ANAK

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 186 – BERLAKU ADIL KEPADA ANAK Posted on October 20, 2024October 20, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 186BERLAKU ADIL KEPADA ANAK Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi keadilan dalam segala hal. Termasuk dalam sikap orang tua terhadap putra-putrinya. Orang tua harus berlaku adil kepada anak-anaknya. Baik dalam pemberian materi, maupun dalam ekspresi kasih sayang. Jika tidak, pasti akan timbul banyak akibat buruk. An-Nu’mân bin Basyîr radhiyallahu ‘anhuma bercerita, سَأَلَتْ أُمِّي أَبِي بَعْضَ المَوْهِبَةِ لِي مِنْ مَالِهِ، ثُمَّ بَدَا لَهُ فَوَهَبَهَا لِي، فَقَالَتْ: لَا أَرْضَى حَتَّى تُشْهِدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَخَذَ بِيَدِي وَأَنَا غُلَامٌ، فَأَتَى بِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: إِنَّ أُمَّهُ بِنْتَ رَوَاحَةَ سَأَلَتْنِي بَعْضَ المَوْهِبَةِ لِهَذَا، قَالَ: «أَلَكَ وَلَدٌ سِوَاهُ؟»، قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَأُرَاهُ، قَالَ: «‌لَا ‌تُشْهِدْنِي ‌عَلَى ‌جَوْرٍ» Suatu hari ibuku meminta dari ayahku agar memberiku sebagian dari hartanya. Beliaupun mengabulkan permintaan tersebut. Ternyata ibuku berkata, “Aku tidak rela, hingga engkau menjadikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai saksi atas pemberian ini”. Maka ayahku menggandeng tanganku—saat itu aku masih kecil—hingga datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ayahku berkata, “Putri Rawahah; ibu anak ini meminta padaku agar memberi anaknya pemberian”. Beliau bersabda, “Apakah engkau memiliki anak selain dia?”. Ayahku menjawab, “Ya”. Maka beliaupun bersabda, “Jangan engkau menjadikanku saksi atas kezaliman”. HR. Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat lain disebutkan, «‌أَعْطَيْتَ ‌سَائِرَ ‌وَلَدِكَ مِثْلَ هَذَا؟»، قَالَ: لَا، قَالَ: «فَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ»، قَالَ: فَرَجَعَ فَرَدَّ عَطِيَّتَهُ “Apakah engkau memberi semua anakmu seperti ini?”. Ayahku menjawab, “Tidak”. Beliau bersabda, “Takutlah kepada Allah. Berbuat adillah kepada anak-anakmu”. Maka kemudian pemberian tersebut dikembalikan”. HR. Bukhari. Dalam riwayat lain termaktub, «‌أَيَسُرُّكَ ‌أَنْ ‌يَكُونُوا ‌إِلَيْكَ فِي الْبِرِّ سَوَاءً؟» قَالَ: بَلَى، قَالَ: «فَلَا إِذًا» “Apakah engkau suka bila semua anakmu sama dalam berbakti kepadamu?”. Ayahku menjawab, “Tentu”. Beliau bersabda, “Jika demikian, jangan engkau memberi sebagian anakmu dan tidak memberi sebagian yang lain”. HR. Muslim. Hadits-hadits di atas menunjukkan wajibnya bersikap adil dalam hal pemberian materi. Tidak boleh memberi sebagian anak dan tidak memberi sebagian yang lain. Adapun mengenai kadar atau nominal yang diberikan, maka itu berdasarkan kebutuhan masing-masing anak. Selain wajib berlaku adil dalam pemberian materi, orang tua juga harus bersikap adil dalam mengekspresikan kasih sayangnya. Al-Hasan al-Bashriy rahimahullah bercerita, بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ أَصْحَابَهُ إِذْ جَاءَ صَبِيٌّ حَتَّى انْتَهَى إِلَى أَبِيهِ فِي نَاحِيَةِ الْقَوْمِ فَمَسَحَ رَأْسَهُ وَأَقْعَدَهُ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى قَالَ: فَلَبِثَ قَلِيلًا فَجَاءَتِ ابْنَةٌ لَهُ حَتَّى انْتَهَتْ إِلَيْهِ فَمَسَحَ رَأْسَهَا وَأَقْعَدَهَا فِي الْأَرْضِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «‌فَهَلَّا ‌عَلَى ‌فَخِذِكَ ‌الْأُخْرَى» فَحَمَلَهَا عَلَى فَخِذِهِ الْأُخْرَى فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْآنَ عَدَلْتَ» Konon diriwayatkan bahwa saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berbincang dengan para sahabatnya, datang seorang bayi laki-laki hingga tiba di tempat duduk ayahnya. Maka si ayah mengusap kepala bayinya dan memangkunya di paha kanan. Tidak lama kemudian datang anak perempuannya. Si ayah mengusap kepala putrinya, lalu mendudukkannya di lantai. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Mengapa engkau tidak memangkunya di pahamu yang lain?”. Akhirnya si ayah memangku putrinya di paha kirinya. Saat itu beliau bersabda, “Sekarang engkau baru berlaku adil”. HR. Ibn Abi Dun-ya dalam kitab an-Nafaqah ‘ala al-‘Iyâl. Hadits ini mursal. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Jumada Tsaniyah 1445 / 25 Desember 2023 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 204 – DOA MASUK RUMAH Bag-1Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 187 – MELERAI PERTIKAIAN ANTAR ANAK SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories
Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 186 – BERLAKU ADIL KEPADA ANAK Posted on October 20, 2024October 20, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 186BERLAKU ADIL KEPADA ANAK Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi keadilan dalam segala hal. Termasuk dalam sikap orang tua terhadap putra-putrinya. Orang tua harus berlaku adil kepada anak-anaknya. Baik dalam pemberian materi, maupun dalam ekspresi kasih sayang. Jika tidak, pasti akan timbul banyak akibat buruk. An-Nu’mân bin Basyîr radhiyallahu ‘anhuma bercerita, سَأَلَتْ أُمِّي أَبِي بَعْضَ المَوْهِبَةِ لِي مِنْ مَالِهِ، ثُمَّ بَدَا لَهُ فَوَهَبَهَا لِي، فَقَالَتْ: لَا أَرْضَى حَتَّى تُشْهِدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَخَذَ بِيَدِي وَأَنَا غُلَامٌ، فَأَتَى بِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: إِنَّ أُمَّهُ بِنْتَ رَوَاحَةَ سَأَلَتْنِي بَعْضَ المَوْهِبَةِ لِهَذَا، قَالَ: «أَلَكَ وَلَدٌ سِوَاهُ؟»، قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَأُرَاهُ، قَالَ: «‌لَا ‌تُشْهِدْنِي ‌عَلَى ‌جَوْرٍ» Suatu hari ibuku meminta dari ayahku agar memberiku sebagian dari hartanya. Beliaupun mengabulkan permintaan tersebut. Ternyata ibuku berkata, “Aku tidak rela, hingga engkau menjadikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai saksi atas pemberian ini”. Maka ayahku menggandeng tanganku—saat itu aku masih kecil—hingga datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ayahku berkata, “Putri Rawahah; ibu anak ini meminta padaku agar memberi anaknya pemberian”. Beliau bersabda, “Apakah engkau memiliki anak selain dia?”. Ayahku menjawab, “Ya”. Maka beliaupun bersabda, “Jangan engkau menjadikanku saksi atas kezaliman”. HR. Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat lain disebutkan, «‌أَعْطَيْتَ ‌سَائِرَ ‌وَلَدِكَ مِثْلَ هَذَا؟»، قَالَ: لَا، قَالَ: «فَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ»، قَالَ: فَرَجَعَ فَرَدَّ عَطِيَّتَهُ “Apakah engkau memberi semua anakmu seperti ini?”. Ayahku menjawab, “Tidak”. Beliau bersabda, “Takutlah kepada Allah. Berbuat adillah kepada anak-anakmu”. Maka kemudian pemberian tersebut dikembalikan”. HR. Bukhari. Dalam riwayat lain termaktub, «‌أَيَسُرُّكَ ‌أَنْ ‌يَكُونُوا ‌إِلَيْكَ فِي الْبِرِّ سَوَاءً؟» قَالَ: بَلَى، قَالَ: «فَلَا إِذًا» “Apakah engkau suka bila semua anakmu sama dalam berbakti kepadamu?”. Ayahku menjawab, “Tentu”. Beliau bersabda, “Jika demikian, jangan engkau memberi sebagian anakmu dan tidak memberi sebagian yang lain”. HR. Muslim. Hadits-hadits di atas menunjukkan wajibnya bersikap adil dalam hal pemberian materi. Tidak boleh memberi sebagian anak dan tidak memberi sebagian yang lain. Adapun mengenai kadar atau nominal yang diberikan, maka itu berdasarkan kebutuhan masing-masing anak. Selain wajib berlaku adil dalam pemberian materi, orang tua juga harus bersikap adil dalam mengekspresikan kasih sayangnya. Al-Hasan al-Bashriy rahimahullah bercerita, بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ أَصْحَابَهُ إِذْ جَاءَ صَبِيٌّ حَتَّى انْتَهَى إِلَى أَبِيهِ فِي نَاحِيَةِ الْقَوْمِ فَمَسَحَ رَأْسَهُ وَأَقْعَدَهُ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى قَالَ: فَلَبِثَ قَلِيلًا فَجَاءَتِ ابْنَةٌ لَهُ حَتَّى انْتَهَتْ إِلَيْهِ فَمَسَحَ رَأْسَهَا وَأَقْعَدَهَا فِي الْأَرْضِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «‌فَهَلَّا ‌عَلَى ‌فَخِذِكَ ‌الْأُخْرَى» فَحَمَلَهَا عَلَى فَخِذِهِ الْأُخْرَى فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْآنَ عَدَلْتَ» Konon diriwayatkan bahwa saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berbincang dengan para sahabatnya, datang seorang bayi laki-laki hingga tiba di tempat duduk ayahnya. Maka si ayah mengusap kepala bayinya dan memangkunya di paha kanan. Tidak lama kemudian datang anak perempuannya. Si ayah mengusap kepala putrinya, lalu mendudukkannya di lantai. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Mengapa engkau tidak memangkunya di pahamu yang lain?”. Akhirnya si ayah memangku putrinya di paha kirinya. Saat itu beliau bersabda, “Sekarang engkau baru berlaku adil”. HR. Ibn Abi Dun-ya dalam kitab an-Nafaqah ‘ala al-‘Iyâl. Hadits ini mursal. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Jumada Tsaniyah 1445 / 25 Desember 2023 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 204 – DOA MASUK RUMAH Bag-1Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 187 – MELERAI PERTIKAIAN ANTAR ANAK SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories


Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 186 – BERLAKU ADIL KEPADA ANAK Posted on October 20, 2024October 20, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 186BERLAKU ADIL KEPADA ANAK Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi keadilan dalam segala hal. Termasuk dalam sikap orang tua terhadap putra-putrinya. Orang tua harus berlaku adil kepada anak-anaknya. Baik dalam pemberian materi, maupun dalam ekspresi kasih sayang. Jika tidak, pasti akan timbul banyak akibat buruk. An-Nu’mân bin Basyîr radhiyallahu ‘anhuma bercerita, سَأَلَتْ أُمِّي أَبِي بَعْضَ المَوْهِبَةِ لِي مِنْ مَالِهِ، ثُمَّ بَدَا لَهُ فَوَهَبَهَا لِي، فَقَالَتْ: لَا أَرْضَى حَتَّى تُشْهِدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَخَذَ بِيَدِي وَأَنَا غُلَامٌ، فَأَتَى بِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: إِنَّ أُمَّهُ بِنْتَ رَوَاحَةَ سَأَلَتْنِي بَعْضَ المَوْهِبَةِ لِهَذَا، قَالَ: «أَلَكَ وَلَدٌ سِوَاهُ؟»، قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَأُرَاهُ، قَالَ: «‌لَا ‌تُشْهِدْنِي ‌عَلَى ‌جَوْرٍ» Suatu hari ibuku meminta dari ayahku agar memberiku sebagian dari hartanya. Beliaupun mengabulkan permintaan tersebut. Ternyata ibuku berkata, “Aku tidak rela, hingga engkau menjadikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai saksi atas pemberian ini”. Maka ayahku menggandeng tanganku—saat itu aku masih kecil—hingga datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ayahku berkata, “Putri Rawahah; ibu anak ini meminta padaku agar memberi anaknya pemberian”. Beliau bersabda, “Apakah engkau memiliki anak selain dia?”. Ayahku menjawab, “Ya”. Maka beliaupun bersabda, “Jangan engkau menjadikanku saksi atas kezaliman”. HR. Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat lain disebutkan, «‌أَعْطَيْتَ ‌سَائِرَ ‌وَلَدِكَ مِثْلَ هَذَا؟»، قَالَ: لَا، قَالَ: «فَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ»، قَالَ: فَرَجَعَ فَرَدَّ عَطِيَّتَهُ “Apakah engkau memberi semua anakmu seperti ini?”. Ayahku menjawab, “Tidak”. Beliau bersabda, “Takutlah kepada Allah. Berbuat adillah kepada anak-anakmu”. Maka kemudian pemberian tersebut dikembalikan”. HR. Bukhari. Dalam riwayat lain termaktub, «‌أَيَسُرُّكَ ‌أَنْ ‌يَكُونُوا ‌إِلَيْكَ فِي الْبِرِّ سَوَاءً؟» قَالَ: بَلَى، قَالَ: «فَلَا إِذًا» “Apakah engkau suka bila semua anakmu sama dalam berbakti kepadamu?”. Ayahku menjawab, “Tentu”. Beliau bersabda, “Jika demikian, jangan engkau memberi sebagian anakmu dan tidak memberi sebagian yang lain”. HR. Muslim. Hadits-hadits di atas menunjukkan wajibnya bersikap adil dalam hal pemberian materi. Tidak boleh memberi sebagian anak dan tidak memberi sebagian yang lain. Adapun mengenai kadar atau nominal yang diberikan, maka itu berdasarkan kebutuhan masing-masing anak. Selain wajib berlaku adil dalam pemberian materi, orang tua juga harus bersikap adil dalam mengekspresikan kasih sayangnya. Al-Hasan al-Bashriy rahimahullah bercerita, بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ أَصْحَابَهُ إِذْ جَاءَ صَبِيٌّ حَتَّى انْتَهَى إِلَى أَبِيهِ فِي نَاحِيَةِ الْقَوْمِ فَمَسَحَ رَأْسَهُ وَأَقْعَدَهُ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى قَالَ: فَلَبِثَ قَلِيلًا فَجَاءَتِ ابْنَةٌ لَهُ حَتَّى انْتَهَتْ إِلَيْهِ فَمَسَحَ رَأْسَهَا وَأَقْعَدَهَا فِي الْأَرْضِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «‌فَهَلَّا ‌عَلَى ‌فَخِذِكَ ‌الْأُخْرَى» فَحَمَلَهَا عَلَى فَخِذِهِ الْأُخْرَى فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْآنَ عَدَلْتَ» Konon diriwayatkan bahwa saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berbincang dengan para sahabatnya, datang seorang bayi laki-laki hingga tiba di tempat duduk ayahnya. Maka si ayah mengusap kepala bayinya dan memangkunya di paha kanan. Tidak lama kemudian datang anak perempuannya. Si ayah mengusap kepala putrinya, lalu mendudukkannya di lantai. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Mengapa engkau tidak memangkunya di pahamu yang lain?”. Akhirnya si ayah memangku putrinya di paha kirinya. Saat itu beliau bersabda, “Sekarang engkau baru berlaku adil”. HR. Ibn Abi Dun-ya dalam kitab an-Nafaqah ‘ala al-‘Iyâl. Hadits ini mursal. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Jumada Tsaniyah 1445 / 25 Desember 2023 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 204 – DOA MASUK RUMAH Bag-1Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 187 – MELERAI PERTIKAIAN ANTAR ANAK SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 188 – MENGGALI POTENSI ANAK

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 188 – MENGGALI POTENSI ANAK Posted on October 20, 2024October 20, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 188MENGGALI POTENSI ANAK Siapapun yang mencermati kehidupan para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, akan menemukan beragamnya keunggulan masing-masing mereka. Ada yang menjadi pemimpin, semisal empat orang Khulafaur Rasyidin radhiyallahu ‘anhum. Ada yang menjadi da’i, seperti Mush’ab bin ‘Umair dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma. Ada yang menjadi saudagar, contohnya Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu. Ada yang menjadi panglima perang, seperti Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu. Dan masih banyak contoh lainnya. Ajaibnya semua dari mereka sangat menonjol di bidang masing-masing. Anak-anak kita terlahir dalam keadaan memiliki minat dan kecenderungan yang berbeda-beda. Walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama. Sejatinya itu adalah petunjuk awal bagi orang tua dan guru untuk menggali dan menemukan potensi unggul setiap anak. Langkah Praktis Menggali Potensi Anak Berikut beberapa langkah praktis dalam menggali potensi anak-anak kita: Pertama: Bangunlah pondasi yang kuat Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, walau berbeda-beda profesi, namun semuanya memiliki pondasi keimanan yang kokoh. Itu sangat penting untuk membentengi seseorang dari hal-hal negatif dalam kehidupannya. Maka orang tua harus menanamkan akidah yang kuat pada diri anak-anaknya. Juga mengajari mereka mana profesi yang halal dan mana yang haram. Mana hobi yang baik dan mana yang buruk. Ini sangat penting; agar anak tidak salah memilih. Kedua: Buatlah daftar minat dan bakat Setelah anak dirasa cukup mengetahui beragam aktivitas dan profesi yang positif, kita memintanya untuk membuat daftar profesi atau kegiatan tersebut. Misalnya: ustadz, dokter, arsitek, petani, peternak, chef, penulis buku, programmer, dll. Lalu kita memintanya untuk membuat penilaian atau skoring dari bidang-bidang yang diminatinya. Caranya: memberi angka 10 untuk yang paling diminatinya, dan angka 1 untuk yang paling kurang diminatinya. Ketiga: Lakukan uji coba minat dan bakat Mintalah anak untuk mengurutkan bidang apa saja yang dia beri nilai/skor 8 keatas. Lalu berilah ia kesempatan untuk menggali lebih jauh hal yang diminatinya tersebut. Dengan cara membaca buku-buku yang berhubungan dengan bidang tadi, atau mencari informasi di internet, atau bertemu dengan tokoh-tokoh ahli di bidang tersebut. Setelah itu, kita menyusun rencana untuk anak guna mencoba bidang-bidang tadi. Dalam dunia dakwah misalnya, kita memberi kesempatan anak untuk berlatih menyiapkan materi ceramah keagamaan dan menyampaikannya. Di bidang pertanian, kita mengajak untuk menanam pohon dan merawatnya. Di bidang kuliner, kita memberi kesempatan untuk memasak menu yang disukainya. Coba dan lakukan satu persatu pada masing-masing bidang tersebut secara sabar. Sampai akhirnya kita menemukan satu bidang yang amat diminati anak dan ia sangat cepat menguasainya. Serta jarang bosan untuk melakukannya. Maka itu artinya kita telah berhasil menemukan potensi unggul anak. Jika ternyata potensi unggul anak kita lebih dari satu bidang, maka perhatikanlah apakah sifatnya saling mendukung dan bisa dikerjakan bersama atau tidak? Jika iya, maka tidak masalah keduanya dilakukan bersama. Jika tidak, maka anak dipersilahkan untuk memilih salah satunya. No Bidang yang diminati Skor minat Skor bakat Skor konsistensi Rata-rata 1 Berdakwah 10 9 7 8.6 2 Bertani 9 7 8 8 3 Arsitektur 8 8 9 8.3 4 Memasak 8 6 7 7 Dari contoh di atas, kita melihat skoring tertinggi adalah bidang dakwah. Maka itulah potensi anak. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Rajab 1445 / 29 Januari 2024 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 187 – MELERAI PERTIKAIAN ANTAR ANAKSerial Fiqih Pendidikan Anak No: 189 – MERANGSANG ANAK DENGAN HADIAH SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 188 – MENGGALI POTENSI ANAK

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 188 – MENGGALI POTENSI ANAK Posted on October 20, 2024October 20, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 188MENGGALI POTENSI ANAK Siapapun yang mencermati kehidupan para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, akan menemukan beragamnya keunggulan masing-masing mereka. Ada yang menjadi pemimpin, semisal empat orang Khulafaur Rasyidin radhiyallahu ‘anhum. Ada yang menjadi da’i, seperti Mush’ab bin ‘Umair dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma. Ada yang menjadi saudagar, contohnya Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu. Ada yang menjadi panglima perang, seperti Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu. Dan masih banyak contoh lainnya. Ajaibnya semua dari mereka sangat menonjol di bidang masing-masing. Anak-anak kita terlahir dalam keadaan memiliki minat dan kecenderungan yang berbeda-beda. Walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama. Sejatinya itu adalah petunjuk awal bagi orang tua dan guru untuk menggali dan menemukan potensi unggul setiap anak. Langkah Praktis Menggali Potensi Anak Berikut beberapa langkah praktis dalam menggali potensi anak-anak kita: Pertama: Bangunlah pondasi yang kuat Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, walau berbeda-beda profesi, namun semuanya memiliki pondasi keimanan yang kokoh. Itu sangat penting untuk membentengi seseorang dari hal-hal negatif dalam kehidupannya. Maka orang tua harus menanamkan akidah yang kuat pada diri anak-anaknya. Juga mengajari mereka mana profesi yang halal dan mana yang haram. Mana hobi yang baik dan mana yang buruk. Ini sangat penting; agar anak tidak salah memilih. Kedua: Buatlah daftar minat dan bakat Setelah anak dirasa cukup mengetahui beragam aktivitas dan profesi yang positif, kita memintanya untuk membuat daftar profesi atau kegiatan tersebut. Misalnya: ustadz, dokter, arsitek, petani, peternak, chef, penulis buku, programmer, dll. Lalu kita memintanya untuk membuat penilaian atau skoring dari bidang-bidang yang diminatinya. Caranya: memberi angka 10 untuk yang paling diminatinya, dan angka 1 untuk yang paling kurang diminatinya. Ketiga: Lakukan uji coba minat dan bakat Mintalah anak untuk mengurutkan bidang apa saja yang dia beri nilai/skor 8 keatas. Lalu berilah ia kesempatan untuk menggali lebih jauh hal yang diminatinya tersebut. Dengan cara membaca buku-buku yang berhubungan dengan bidang tadi, atau mencari informasi di internet, atau bertemu dengan tokoh-tokoh ahli di bidang tersebut. Setelah itu, kita menyusun rencana untuk anak guna mencoba bidang-bidang tadi. Dalam dunia dakwah misalnya, kita memberi kesempatan anak untuk berlatih menyiapkan materi ceramah keagamaan dan menyampaikannya. Di bidang pertanian, kita mengajak untuk menanam pohon dan merawatnya. Di bidang kuliner, kita memberi kesempatan untuk memasak menu yang disukainya. Coba dan lakukan satu persatu pada masing-masing bidang tersebut secara sabar. Sampai akhirnya kita menemukan satu bidang yang amat diminati anak dan ia sangat cepat menguasainya. Serta jarang bosan untuk melakukannya. Maka itu artinya kita telah berhasil menemukan potensi unggul anak. Jika ternyata potensi unggul anak kita lebih dari satu bidang, maka perhatikanlah apakah sifatnya saling mendukung dan bisa dikerjakan bersama atau tidak? Jika iya, maka tidak masalah keduanya dilakukan bersama. Jika tidak, maka anak dipersilahkan untuk memilih salah satunya. No Bidang yang diminati Skor minat Skor bakat Skor konsistensi Rata-rata 1 Berdakwah 10 9 7 8.6 2 Bertani 9 7 8 8 3 Arsitektur 8 8 9 8.3 4 Memasak 8 6 7 7 Dari contoh di atas, kita melihat skoring tertinggi adalah bidang dakwah. Maka itulah potensi anak. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Rajab 1445 / 29 Januari 2024 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 187 – MELERAI PERTIKAIAN ANTAR ANAKSerial Fiqih Pendidikan Anak No: 189 – MERANGSANG ANAK DENGAN HADIAH SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories
Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 188 – MENGGALI POTENSI ANAK Posted on October 20, 2024October 20, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 188MENGGALI POTENSI ANAK Siapapun yang mencermati kehidupan para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, akan menemukan beragamnya keunggulan masing-masing mereka. Ada yang menjadi pemimpin, semisal empat orang Khulafaur Rasyidin radhiyallahu ‘anhum. Ada yang menjadi da’i, seperti Mush’ab bin ‘Umair dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma. Ada yang menjadi saudagar, contohnya Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu. Ada yang menjadi panglima perang, seperti Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu. Dan masih banyak contoh lainnya. Ajaibnya semua dari mereka sangat menonjol di bidang masing-masing. Anak-anak kita terlahir dalam keadaan memiliki minat dan kecenderungan yang berbeda-beda. Walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama. Sejatinya itu adalah petunjuk awal bagi orang tua dan guru untuk menggali dan menemukan potensi unggul setiap anak. Langkah Praktis Menggali Potensi Anak Berikut beberapa langkah praktis dalam menggali potensi anak-anak kita: Pertama: Bangunlah pondasi yang kuat Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, walau berbeda-beda profesi, namun semuanya memiliki pondasi keimanan yang kokoh. Itu sangat penting untuk membentengi seseorang dari hal-hal negatif dalam kehidupannya. Maka orang tua harus menanamkan akidah yang kuat pada diri anak-anaknya. Juga mengajari mereka mana profesi yang halal dan mana yang haram. Mana hobi yang baik dan mana yang buruk. Ini sangat penting; agar anak tidak salah memilih. Kedua: Buatlah daftar minat dan bakat Setelah anak dirasa cukup mengetahui beragam aktivitas dan profesi yang positif, kita memintanya untuk membuat daftar profesi atau kegiatan tersebut. Misalnya: ustadz, dokter, arsitek, petani, peternak, chef, penulis buku, programmer, dll. Lalu kita memintanya untuk membuat penilaian atau skoring dari bidang-bidang yang diminatinya. Caranya: memberi angka 10 untuk yang paling diminatinya, dan angka 1 untuk yang paling kurang diminatinya. Ketiga: Lakukan uji coba minat dan bakat Mintalah anak untuk mengurutkan bidang apa saja yang dia beri nilai/skor 8 keatas. Lalu berilah ia kesempatan untuk menggali lebih jauh hal yang diminatinya tersebut. Dengan cara membaca buku-buku yang berhubungan dengan bidang tadi, atau mencari informasi di internet, atau bertemu dengan tokoh-tokoh ahli di bidang tersebut. Setelah itu, kita menyusun rencana untuk anak guna mencoba bidang-bidang tadi. Dalam dunia dakwah misalnya, kita memberi kesempatan anak untuk berlatih menyiapkan materi ceramah keagamaan dan menyampaikannya. Di bidang pertanian, kita mengajak untuk menanam pohon dan merawatnya. Di bidang kuliner, kita memberi kesempatan untuk memasak menu yang disukainya. Coba dan lakukan satu persatu pada masing-masing bidang tersebut secara sabar. Sampai akhirnya kita menemukan satu bidang yang amat diminati anak dan ia sangat cepat menguasainya. Serta jarang bosan untuk melakukannya. Maka itu artinya kita telah berhasil menemukan potensi unggul anak. Jika ternyata potensi unggul anak kita lebih dari satu bidang, maka perhatikanlah apakah sifatnya saling mendukung dan bisa dikerjakan bersama atau tidak? Jika iya, maka tidak masalah keduanya dilakukan bersama. Jika tidak, maka anak dipersilahkan untuk memilih salah satunya. No Bidang yang diminati Skor minat Skor bakat Skor konsistensi Rata-rata 1 Berdakwah 10 9 7 8.6 2 Bertani 9 7 8 8 3 Arsitektur 8 8 9 8.3 4 Memasak 8 6 7 7 Dari contoh di atas, kita melihat skoring tertinggi adalah bidang dakwah. Maka itulah potensi anak. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Rajab 1445 / 29 Januari 2024 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 187 – MELERAI PERTIKAIAN ANTAR ANAKSerial Fiqih Pendidikan Anak No: 189 – MERANGSANG ANAK DENGAN HADIAH SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories


Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 188 – MENGGALI POTENSI ANAK Posted on October 20, 2024October 20, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 188MENGGALI POTENSI ANAK Siapapun yang mencermati kehidupan para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, akan menemukan beragamnya keunggulan masing-masing mereka. Ada yang menjadi pemimpin, semisal empat orang Khulafaur Rasyidin radhiyallahu ‘anhum. Ada yang menjadi da’i, seperti Mush’ab bin ‘Umair dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma. Ada yang menjadi saudagar, contohnya Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu. Ada yang menjadi panglima perang, seperti Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu. Dan masih banyak contoh lainnya. Ajaibnya semua dari mereka sangat menonjol di bidang masing-masing. Anak-anak kita terlahir dalam keadaan memiliki minat dan kecenderungan yang berbeda-beda. Walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama. Sejatinya itu adalah petunjuk awal bagi orang tua dan guru untuk menggali dan menemukan potensi unggul setiap anak. Langkah Praktis Menggali Potensi Anak Berikut beberapa langkah praktis dalam menggali potensi anak-anak kita: Pertama: Bangunlah pondasi yang kuat Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, walau berbeda-beda profesi, namun semuanya memiliki pondasi keimanan yang kokoh. Itu sangat penting untuk membentengi seseorang dari hal-hal negatif dalam kehidupannya. Maka orang tua harus menanamkan akidah yang kuat pada diri anak-anaknya. Juga mengajari mereka mana profesi yang halal dan mana yang haram. Mana hobi yang baik dan mana yang buruk. Ini sangat penting; agar anak tidak salah memilih. Kedua: Buatlah daftar minat dan bakat Setelah anak dirasa cukup mengetahui beragam aktivitas dan profesi yang positif, kita memintanya untuk membuat daftar profesi atau kegiatan tersebut. Misalnya: ustadz, dokter, arsitek, petani, peternak, chef, penulis buku, programmer, dll. Lalu kita memintanya untuk membuat penilaian atau skoring dari bidang-bidang yang diminatinya. Caranya: memberi angka 10 untuk yang paling diminatinya, dan angka 1 untuk yang paling kurang diminatinya. Ketiga: Lakukan uji coba minat dan bakat Mintalah anak untuk mengurutkan bidang apa saja yang dia beri nilai/skor 8 keatas. Lalu berilah ia kesempatan untuk menggali lebih jauh hal yang diminatinya tersebut. Dengan cara membaca buku-buku yang berhubungan dengan bidang tadi, atau mencari informasi di internet, atau bertemu dengan tokoh-tokoh ahli di bidang tersebut. Setelah itu, kita menyusun rencana untuk anak guna mencoba bidang-bidang tadi. Dalam dunia dakwah misalnya, kita memberi kesempatan anak untuk berlatih menyiapkan materi ceramah keagamaan dan menyampaikannya. Di bidang pertanian, kita mengajak untuk menanam pohon dan merawatnya. Di bidang kuliner, kita memberi kesempatan untuk memasak menu yang disukainya. Coba dan lakukan satu persatu pada masing-masing bidang tersebut secara sabar. Sampai akhirnya kita menemukan satu bidang yang amat diminati anak dan ia sangat cepat menguasainya. Serta jarang bosan untuk melakukannya. Maka itu artinya kita telah berhasil menemukan potensi unggul anak. Jika ternyata potensi unggul anak kita lebih dari satu bidang, maka perhatikanlah apakah sifatnya saling mendukung dan bisa dikerjakan bersama atau tidak? Jika iya, maka tidak masalah keduanya dilakukan bersama. Jika tidak, maka anak dipersilahkan untuk memilih salah satunya. No Bidang yang diminati Skor minat Skor bakat Skor konsistensi Rata-rata 1 Berdakwah 10 9 7 8.6 2 Bertani 9 7 8 8 3 Arsitektur 8 8 9 8.3 4 Memasak 8 6 7 7 Dari contoh di atas, kita melihat skoring tertinggi adalah bidang dakwah. Maka itulah potensi anak. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Rajab 1445 / 29 Januari 2024 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 187 – MELERAI PERTIKAIAN ANTAR ANAKSerial Fiqih Pendidikan Anak No: 189 – MERANGSANG ANAK DENGAN HADIAH SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories

Adakah Wali dalam Agama Lain?

Pertanyaan: Ada yang mengatakan bahwa dalam agama-agama lain pun terdapat wali-wali yang memiliki keajaiban-keajaiban sehingga membuktikan bahwa agama lain pun benar. Karena Tuhan juga mengirimkan wali-wali yang menolong agama tersebut. Bagaimana membantah syubhat ini?  Jawaban: Alhamdulillaah, ash-shalaatu wassalaamu ‘ala Rasulillaah, wa ‘ala alihi wa man waalaah, ammaa ba’du, Benar bahwa dalam agama-agama lain didapati ada istilah santo, bhagawan, atau semisalnya yang diklaim sebagai orang suci dan memiliki keajaiban-keajaiban.  Apakah mereka wali? Apakah ini bukti bahwa agama lain juga benar karena ada wali di antara mereka?  Telah jelas bagi kita, definisi wali dalam Al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman: مَا كَانُوا أَوْلِيَاءَهُ إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلَّا الْمُتَّقُونَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ “Dan mereka (kaum Musyrikin) bukanlah wali-wali Allah. Wali-wali Allah hanyalah orang-orang yang bertakwa. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui” (QS. Al-Anfal: 34). Ath-Thabari rahimahullah menuturkan: يعني: الذين يتقون الله بأداء فرائضه, واجتناب معاصيه “Wali Allah adalah yang bertakwa kepada Allah, menjalankan semua kewajiban dari Allah, dan meninggalkan semua larangan Allah” (Tafsir Ath-Thabari). Allah ta’ala berfirman: أَلَآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَكَانُوا۟ يَتَّقُونَ “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka bertakwa” (QS. Yunus: 62-63). Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah dalam kitab Taisir Karimirrahman menjelaskan: وهم الذين آمنوا بالله ورسوله، وأفردوا الله بالتوحيد والعبادة، وأخلصوا له الدين “Wali Allah adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka mentauhidkan Allah dalam ibadah dan mengikhlaskan amalan hanya kepada Allah” (Taisir Karimirrahman). Sehingga orang yang melakukan kesyirikan, melakukan penyembahan kepada selain Allah, sama sekali bukanlah wali Allah.  Dan sekedar melakukan keajaiban-keajaiban, tidak serta-merta disebut wali Allah. Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan tentang fenomena adanya “orang-orang suci” dan “wali” dalam kepercayaan kaum Musyrikin.  Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Sebagian orang ada yang menganggap bahwa semua yang memiliki keajaiban-keajaiban, dia adalah wali Allah. Ini semua adalah kekeliruan… oleh karena itu Anda dapati mereka menyebutkan bahwa di kalangan kaum musyrikin dan Ahlul Kitab pun terdapat “wali” yang membantu mereka memerangi kaum muslimin. Dan mereka diklaim sebagai wali Allah. Dan di antara mereka juga berdusta bahwa ada orang-orang yang ajaib di tengah mereka. Pendapat yang benar adalah pendapat ketiga, bahwa memang di tengah mereka ada “wali” dari kalangan mereka (kaum musyrikin) yang menolong mereka, namun bukan wali Allah ‘azza wa jalla“. (Dinukil dari Syarah Kasyfusy Syubuhat Syaikh Ibnu Al–Utsaimin, hal. 108). Imam Asy-Syafi’i rahimahullah juga mengatakan: إذا رأيتم الرجل يمشي على الماء ويطير في الهواء فلا تغتروا به حتى تعرضوا أمره على الكتاب والسنة “Kalau engkau melihat orang yang bisa berjalan di atas air atau terbang di udara, maka jangan tertipu olehnya sampai ditimbang perkaranya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah” (Adabusy Syafi’i wa Manaqibuhu hal. 184). Maka bisa jadi di tengah kaum musyrikin dan penganut agama-agama lain memang ada orang-orang yang sakti nan ajaib yang membantu mereka melakukan kesyirikan, menyembah selain Allah atau untuk memerangi kaum muslimin. Namun itu bukanlah wali Allah namun wali setan. Dan ini sama sekali tidak membuktikan kebenaran agama mereka sama sekali. Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  *** URUNAN MEMBUAT VIDEO DAKWAH YUFID.TV Yufid.TV membuka kesempatan untukmu, berupa amal jariyah menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Kami namakan “Gerakan Urunan Membuat Video Yufid.TV”. Anda dapat menyumbang dalam jumlah berapa pun untuk membuat video Yufid.TV, Yufid Kids, dan Yufid EDU. Anda boleh sumbangan Rp 5.000,- atau kurang itu. Semoga ini menjadi tabungan amal jariyahmu, menjadi peninggalan yang pahalanya tetap mengalir kepadamu di dunia dan ketika kamu sudah di alam kubur. Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) PayPal: [email protected] Mari kita renungkan Surat Yasin Ayat ke-12 ini: إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ Artinya:  “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan KAMI MENULISKAN APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN DAN BEKAS-BEKAS YANG MEREKA TINGGALKAN. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12) Apa bekas-bekas kebaikan yang akan kita tinggalkan sehingga itu akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah? 🔍 Pohon Zakum, Cara Membuat Orang Kesurupan Dengan Cepat, Doa Rukiyah, Bacaan Ijab Kabul, Niat Puasa Pengganti Bulan Ramadhan Visited 623 times, 1 visit(s) today Post Views: 966 QRIS donasi Yufid

Adakah Wali dalam Agama Lain?

Pertanyaan: Ada yang mengatakan bahwa dalam agama-agama lain pun terdapat wali-wali yang memiliki keajaiban-keajaiban sehingga membuktikan bahwa agama lain pun benar. Karena Tuhan juga mengirimkan wali-wali yang menolong agama tersebut. Bagaimana membantah syubhat ini?  Jawaban: Alhamdulillaah, ash-shalaatu wassalaamu ‘ala Rasulillaah, wa ‘ala alihi wa man waalaah, ammaa ba’du, Benar bahwa dalam agama-agama lain didapati ada istilah santo, bhagawan, atau semisalnya yang diklaim sebagai orang suci dan memiliki keajaiban-keajaiban.  Apakah mereka wali? Apakah ini bukti bahwa agama lain juga benar karena ada wali di antara mereka?  Telah jelas bagi kita, definisi wali dalam Al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman: مَا كَانُوا أَوْلِيَاءَهُ إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلَّا الْمُتَّقُونَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ “Dan mereka (kaum Musyrikin) bukanlah wali-wali Allah. Wali-wali Allah hanyalah orang-orang yang bertakwa. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui” (QS. Al-Anfal: 34). Ath-Thabari rahimahullah menuturkan: يعني: الذين يتقون الله بأداء فرائضه, واجتناب معاصيه “Wali Allah adalah yang bertakwa kepada Allah, menjalankan semua kewajiban dari Allah, dan meninggalkan semua larangan Allah” (Tafsir Ath-Thabari). Allah ta’ala berfirman: أَلَآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَكَانُوا۟ يَتَّقُونَ “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka bertakwa” (QS. Yunus: 62-63). Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah dalam kitab Taisir Karimirrahman menjelaskan: وهم الذين آمنوا بالله ورسوله، وأفردوا الله بالتوحيد والعبادة، وأخلصوا له الدين “Wali Allah adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka mentauhidkan Allah dalam ibadah dan mengikhlaskan amalan hanya kepada Allah” (Taisir Karimirrahman). Sehingga orang yang melakukan kesyirikan, melakukan penyembahan kepada selain Allah, sama sekali bukanlah wali Allah.  Dan sekedar melakukan keajaiban-keajaiban, tidak serta-merta disebut wali Allah. Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan tentang fenomena adanya “orang-orang suci” dan “wali” dalam kepercayaan kaum Musyrikin.  Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Sebagian orang ada yang menganggap bahwa semua yang memiliki keajaiban-keajaiban, dia adalah wali Allah. Ini semua adalah kekeliruan… oleh karena itu Anda dapati mereka menyebutkan bahwa di kalangan kaum musyrikin dan Ahlul Kitab pun terdapat “wali” yang membantu mereka memerangi kaum muslimin. Dan mereka diklaim sebagai wali Allah. Dan di antara mereka juga berdusta bahwa ada orang-orang yang ajaib di tengah mereka. Pendapat yang benar adalah pendapat ketiga, bahwa memang di tengah mereka ada “wali” dari kalangan mereka (kaum musyrikin) yang menolong mereka, namun bukan wali Allah ‘azza wa jalla“. (Dinukil dari Syarah Kasyfusy Syubuhat Syaikh Ibnu Al–Utsaimin, hal. 108). Imam Asy-Syafi’i rahimahullah juga mengatakan: إذا رأيتم الرجل يمشي على الماء ويطير في الهواء فلا تغتروا به حتى تعرضوا أمره على الكتاب والسنة “Kalau engkau melihat orang yang bisa berjalan di atas air atau terbang di udara, maka jangan tertipu olehnya sampai ditimbang perkaranya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah” (Adabusy Syafi’i wa Manaqibuhu hal. 184). Maka bisa jadi di tengah kaum musyrikin dan penganut agama-agama lain memang ada orang-orang yang sakti nan ajaib yang membantu mereka melakukan kesyirikan, menyembah selain Allah atau untuk memerangi kaum muslimin. Namun itu bukanlah wali Allah namun wali setan. Dan ini sama sekali tidak membuktikan kebenaran agama mereka sama sekali. Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  *** URUNAN MEMBUAT VIDEO DAKWAH YUFID.TV Yufid.TV membuka kesempatan untukmu, berupa amal jariyah menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Kami namakan “Gerakan Urunan Membuat Video Yufid.TV”. Anda dapat menyumbang dalam jumlah berapa pun untuk membuat video Yufid.TV, Yufid Kids, dan Yufid EDU. Anda boleh sumbangan Rp 5.000,- atau kurang itu. Semoga ini menjadi tabungan amal jariyahmu, menjadi peninggalan yang pahalanya tetap mengalir kepadamu di dunia dan ketika kamu sudah di alam kubur. Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) PayPal: [email protected] Mari kita renungkan Surat Yasin Ayat ke-12 ini: إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ Artinya:  “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan KAMI MENULISKAN APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN DAN BEKAS-BEKAS YANG MEREKA TINGGALKAN. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12) Apa bekas-bekas kebaikan yang akan kita tinggalkan sehingga itu akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah? 🔍 Pohon Zakum, Cara Membuat Orang Kesurupan Dengan Cepat, Doa Rukiyah, Bacaan Ijab Kabul, Niat Puasa Pengganti Bulan Ramadhan Visited 623 times, 1 visit(s) today Post Views: 966 QRIS donasi Yufid
Pertanyaan: Ada yang mengatakan bahwa dalam agama-agama lain pun terdapat wali-wali yang memiliki keajaiban-keajaiban sehingga membuktikan bahwa agama lain pun benar. Karena Tuhan juga mengirimkan wali-wali yang menolong agama tersebut. Bagaimana membantah syubhat ini?  Jawaban: Alhamdulillaah, ash-shalaatu wassalaamu ‘ala Rasulillaah, wa ‘ala alihi wa man waalaah, ammaa ba’du, Benar bahwa dalam agama-agama lain didapati ada istilah santo, bhagawan, atau semisalnya yang diklaim sebagai orang suci dan memiliki keajaiban-keajaiban.  Apakah mereka wali? Apakah ini bukti bahwa agama lain juga benar karena ada wali di antara mereka?  Telah jelas bagi kita, definisi wali dalam Al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman: مَا كَانُوا أَوْلِيَاءَهُ إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلَّا الْمُتَّقُونَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ “Dan mereka (kaum Musyrikin) bukanlah wali-wali Allah. Wali-wali Allah hanyalah orang-orang yang bertakwa. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui” (QS. Al-Anfal: 34). Ath-Thabari rahimahullah menuturkan: يعني: الذين يتقون الله بأداء فرائضه, واجتناب معاصيه “Wali Allah adalah yang bertakwa kepada Allah, menjalankan semua kewajiban dari Allah, dan meninggalkan semua larangan Allah” (Tafsir Ath-Thabari). Allah ta’ala berfirman: أَلَآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَكَانُوا۟ يَتَّقُونَ “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka bertakwa” (QS. Yunus: 62-63). Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah dalam kitab Taisir Karimirrahman menjelaskan: وهم الذين آمنوا بالله ورسوله، وأفردوا الله بالتوحيد والعبادة، وأخلصوا له الدين “Wali Allah adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka mentauhidkan Allah dalam ibadah dan mengikhlaskan amalan hanya kepada Allah” (Taisir Karimirrahman). Sehingga orang yang melakukan kesyirikan, melakukan penyembahan kepada selain Allah, sama sekali bukanlah wali Allah.  Dan sekedar melakukan keajaiban-keajaiban, tidak serta-merta disebut wali Allah. Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan tentang fenomena adanya “orang-orang suci” dan “wali” dalam kepercayaan kaum Musyrikin.  Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Sebagian orang ada yang menganggap bahwa semua yang memiliki keajaiban-keajaiban, dia adalah wali Allah. Ini semua adalah kekeliruan… oleh karena itu Anda dapati mereka menyebutkan bahwa di kalangan kaum musyrikin dan Ahlul Kitab pun terdapat “wali” yang membantu mereka memerangi kaum muslimin. Dan mereka diklaim sebagai wali Allah. Dan di antara mereka juga berdusta bahwa ada orang-orang yang ajaib di tengah mereka. Pendapat yang benar adalah pendapat ketiga, bahwa memang di tengah mereka ada “wali” dari kalangan mereka (kaum musyrikin) yang menolong mereka, namun bukan wali Allah ‘azza wa jalla“. (Dinukil dari Syarah Kasyfusy Syubuhat Syaikh Ibnu Al–Utsaimin, hal. 108). Imam Asy-Syafi’i rahimahullah juga mengatakan: إذا رأيتم الرجل يمشي على الماء ويطير في الهواء فلا تغتروا به حتى تعرضوا أمره على الكتاب والسنة “Kalau engkau melihat orang yang bisa berjalan di atas air atau terbang di udara, maka jangan tertipu olehnya sampai ditimbang perkaranya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah” (Adabusy Syafi’i wa Manaqibuhu hal. 184). Maka bisa jadi di tengah kaum musyrikin dan penganut agama-agama lain memang ada orang-orang yang sakti nan ajaib yang membantu mereka melakukan kesyirikan, menyembah selain Allah atau untuk memerangi kaum muslimin. Namun itu bukanlah wali Allah namun wali setan. Dan ini sama sekali tidak membuktikan kebenaran agama mereka sama sekali. Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  *** URUNAN MEMBUAT VIDEO DAKWAH YUFID.TV Yufid.TV membuka kesempatan untukmu, berupa amal jariyah menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Kami namakan “Gerakan Urunan Membuat Video Yufid.TV”. Anda dapat menyumbang dalam jumlah berapa pun untuk membuat video Yufid.TV, Yufid Kids, dan Yufid EDU. Anda boleh sumbangan Rp 5.000,- atau kurang itu. Semoga ini menjadi tabungan amal jariyahmu, menjadi peninggalan yang pahalanya tetap mengalir kepadamu di dunia dan ketika kamu sudah di alam kubur. Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) PayPal: [email protected] Mari kita renungkan Surat Yasin Ayat ke-12 ini: إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ Artinya:  “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan KAMI MENULISKAN APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN DAN BEKAS-BEKAS YANG MEREKA TINGGALKAN. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12) Apa bekas-bekas kebaikan yang akan kita tinggalkan sehingga itu akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah? 🔍 Pohon Zakum, Cara Membuat Orang Kesurupan Dengan Cepat, Doa Rukiyah, Bacaan Ijab Kabul, Niat Puasa Pengganti Bulan Ramadhan Visited 623 times, 1 visit(s) today Post Views: 966 QRIS donasi Yufid


Pertanyaan: Ada yang mengatakan bahwa dalam agama-agama lain pun terdapat wali-wali yang memiliki keajaiban-keajaiban sehingga membuktikan bahwa agama lain pun benar. Karena Tuhan juga mengirimkan wali-wali yang menolong agama tersebut. Bagaimana membantah syubhat ini?  Jawaban: Alhamdulillaah, ash-shalaatu wassalaamu ‘ala Rasulillaah, wa ‘ala alihi wa man waalaah, ammaa ba’du, Benar bahwa dalam agama-agama lain didapati ada istilah santo, bhagawan, atau semisalnya yang diklaim sebagai orang suci dan memiliki keajaiban-keajaiban.  Apakah mereka wali? Apakah ini bukti bahwa agama lain juga benar karena ada wali di antara mereka?  Telah jelas bagi kita, definisi wali dalam Al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman: مَا كَانُوا أَوْلِيَاءَهُ إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلَّا الْمُتَّقُونَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ “Dan mereka (kaum Musyrikin) bukanlah wali-wali Allah. Wali-wali Allah hanyalah orang-orang yang bertakwa. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui” (QS. Al-Anfal: 34). Ath-Thabari rahimahullah menuturkan: يعني: الذين يتقون الله بأداء فرائضه, واجتناب معاصيه “Wali Allah adalah yang bertakwa kepada Allah, menjalankan semua kewajiban dari Allah, dan meninggalkan semua larangan Allah” (Tafsir Ath-Thabari). Allah ta’ala berfirman: أَلَآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَكَانُوا۟ يَتَّقُونَ “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka bertakwa” (QS. Yunus: 62-63). Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah dalam kitab Taisir Karimirrahman menjelaskan: وهم الذين آمنوا بالله ورسوله، وأفردوا الله بالتوحيد والعبادة، وأخلصوا له الدين “Wali Allah adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka mentauhidkan Allah dalam ibadah dan mengikhlaskan amalan hanya kepada Allah” (Taisir Karimirrahman). Sehingga orang yang melakukan kesyirikan, melakukan penyembahan kepada selain Allah, sama sekali bukanlah wali Allah.  Dan sekedar melakukan keajaiban-keajaiban, tidak serta-merta disebut wali Allah. Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan tentang fenomena adanya “orang-orang suci” dan “wali” dalam kepercayaan kaum Musyrikin.  Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Sebagian orang ada yang menganggap bahwa semua yang memiliki keajaiban-keajaiban, dia adalah wali Allah. Ini semua adalah kekeliruan… oleh karena itu Anda dapati mereka menyebutkan bahwa di kalangan kaum musyrikin dan Ahlul Kitab pun terdapat “wali” yang membantu mereka memerangi kaum muslimin. Dan mereka diklaim sebagai wali Allah. Dan di antara mereka juga berdusta bahwa ada orang-orang yang ajaib di tengah mereka. Pendapat yang benar adalah pendapat ketiga, bahwa memang di tengah mereka ada “wali” dari kalangan mereka (kaum musyrikin) yang menolong mereka, namun bukan wali Allah ‘azza wa jalla“. (Dinukil dari Syarah Kasyfusy Syubuhat Syaikh Ibnu Al–Utsaimin, hal. 108). Imam Asy-Syafi’i rahimahullah juga mengatakan: إذا رأيتم الرجل يمشي على الماء ويطير في الهواء فلا تغتروا به حتى تعرضوا أمره على الكتاب والسنة “Kalau engkau melihat orang yang bisa berjalan di atas air atau terbang di udara, maka jangan tertipu olehnya sampai ditimbang perkaranya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah” (Adabusy Syafi’i wa Manaqibuhu hal. 184). Maka bisa jadi di tengah kaum musyrikin dan penganut agama-agama lain memang ada orang-orang yang sakti nan ajaib yang membantu mereka melakukan kesyirikan, menyembah selain Allah atau untuk memerangi kaum muslimin. Namun itu bukanlah wali Allah namun wali setan. Dan ini sama sekali tidak membuktikan kebenaran agama mereka sama sekali. Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik. Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.  *** URUNAN MEMBUAT VIDEO DAKWAH YUFID.TV Yufid.TV membuka kesempatan untukmu, berupa amal jariyah menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Kami namakan “Gerakan Urunan Membuat Video Yufid.TV”. Anda dapat menyumbang dalam jumlah berapa pun untuk membuat video Yufid.TV, Yufid Kids, dan Yufid EDU. Anda boleh sumbangan Rp 5.000,- atau kurang itu. Semoga ini menjadi tabungan amal jariyahmu, menjadi peninggalan yang pahalanya tetap mengalir kepadamu di dunia dan ketika kamu sudah di alam kubur. Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke: BANK SYARIAH INDONESIA 7086882242a.n. YAYASAN YUFID NETWORKKode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi) PayPal: [email protected] Mari kita renungkan Surat Yasin Ayat ke-12 ini: إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ Artinya:  “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan KAMI MENULISKAN APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN DAN BEKAS-BEKAS YANG MEREKA TINGGALKAN. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12) Apa bekas-bekas kebaikan yang akan kita tinggalkan sehingga itu akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah? 🔍 Pohon Zakum, Cara Membuat Orang Kesurupan Dengan Cepat, Doa Rukiyah, Bacaan Ijab Kabul, Niat Puasa Pengganti Bulan Ramadhan Visited 623 times, 1 visit(s) today Post Views: 966 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

BEBAS MEMILIH PINTU SURGA*

BEBAS MEMILIH PINTU SURGA* Posted on October 18, 2024by Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA Bisa masuk surga adalah sebuah karunia yang sangat besar dari Allah. Apalagi jika masuk surganya bebas melalui pintu manapun. Tentu tidak sembarang orang bisa mendapatkan keistimewaan itu. Sebab ia harus menjadi sosok yang ideal dalam banyak sisi. Berikut hal-hal yang harus dipenuhi seseorang bila ingin bebas memilih pintu surga: Pertama: Berakidah Benar Akidah adalah pondasi dalam beragama. Sehingga keabsahan akidah sangat berpengaruh pada kebenaran dalam beragama. Maka hal pertama yang harus diprioritaskan dalam kehidupan manusia adalah mempelajari akidah yang benar, lalu mengimaninya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan prinsip-prinsip akidah yang benar dalam sabdanya, «مَنْ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، ‌وَأَنَّ ‌عِيسَى ‌عَبْدُ اللهِ وَابْنُ أَمَتِهِ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ، وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ، وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ اللهُ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ» “Siapapun yang mengucapkan: aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Allah satu-satu-Nya, tak ada sekutu bagi-Nya. Dan sungguh Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Serta sesungguhnya Isa adalah hamba Allah dan putra dari hamba perempuan-Nya, kalimat-Nya disampaikan kepada Maryam dan ruh berasal dari-Nya. Serta meyakini bahwa surga benar-benar ada dan neraka juga benar-benar ada; niscaya Allah akan memasukkannya melalui delapan pintu surga manapun yang diinginkannya”. HR. Bukhari (no. 3435) dan Muslim (no. 46) dari ‘Ubâdah bin Shâmit radhiyallahu ‘anhu. Ini redaksi Muslim. Kedua: Tekun Beribadah Bila akidah diibaratkan akar pohon, maka ibadah bagaikan batangnya. Akar yang sehat dan kokoh akan menumbuhkan batang yang kuat. Sebaliknya akar yang lemah dan sakit-sakitan bakal menumbuhkan batang yang ringkih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, «مَنْ عَبَدَ اللهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، فَأَقَامَ الصَّلَاةَ، وَآتَى الزَّكَاةَ، وَسَمِعَ وَأَطَاعَ؛ فَإِنَّ اللهَ يُدْخِلُهُ ‌مِنْ ‌أَيِّ ‌أَبْوَابِ ‌الْجَنَّةِ ‌شَاءَ، وَلَهَا ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ» “Barang siapa yang beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, lalu menegakkan shalat, membayarkan zakat, mendengar dan taat (kepada pemerintah dalam kebaikan); sungguh Allah akan memasukkannya melalui pintu surga manapun yang diinginkannya. Surga memiliki delapan pintu”. HR. Ahmad (no. 22768) dari ‘Ubâdah bin Shâmit radhiyallahu ‘anhu. Isnadnya dinilai hasan oleh al-Arna’uth. Ketiga: Berakhlak Mulia Manusia adalah makhluk sosial. Mau tidak mau dia harus berinteraksi dengan sesama. Maka selain bermodalkan akidah yang benar dan ibadah yang tekun, dia harus berakhlak mulia. Terlebih kepada orang-orang terdekatnya. Yakni: ayah, ibu, suami, istri dan anak. Dalam sebuah hadits dijelaskan, «‌إِذَا ‌صَلَّتِ ‌الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ» “Bila seorang wanita shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: masuklah ke surga melalui pintu manapun yang kau inginkan”. HR. Ahmad (no. 1661) dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban. Menurut al-Albaniy dan al-Arna’uth hadits ini hasan lighairihi. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 15 Rabi’uts Tsani 1446 / 18 Oktober 2024 AGEN KEBAIKANREG:NAMA#JENIS KELAMIN#KOTA = 081128087654 Facebookwww.facebook.com/UstadzAbdullahZaen/ Telegramhttps://t.me/ustadzabdullahzaen Soundcloudhttps://soundcloud.com/ustadzabdullahzaen Instagramhttps://www.instagram.com/abdullahzaenofficial/ Youtubehttps://www.youtube.com/c/ustadzabdullahzaenma No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 185 – MAKAN BERSAMA ANAKSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 203 – DOA KELUAR RUMAH Bag-2 SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories

BEBAS MEMILIH PINTU SURGA*

BEBAS MEMILIH PINTU SURGA* Posted on October 18, 2024by Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA Bisa masuk surga adalah sebuah karunia yang sangat besar dari Allah. Apalagi jika masuk surganya bebas melalui pintu manapun. Tentu tidak sembarang orang bisa mendapatkan keistimewaan itu. Sebab ia harus menjadi sosok yang ideal dalam banyak sisi. Berikut hal-hal yang harus dipenuhi seseorang bila ingin bebas memilih pintu surga: Pertama: Berakidah Benar Akidah adalah pondasi dalam beragama. Sehingga keabsahan akidah sangat berpengaruh pada kebenaran dalam beragama. Maka hal pertama yang harus diprioritaskan dalam kehidupan manusia adalah mempelajari akidah yang benar, lalu mengimaninya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan prinsip-prinsip akidah yang benar dalam sabdanya, «مَنْ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، ‌وَأَنَّ ‌عِيسَى ‌عَبْدُ اللهِ وَابْنُ أَمَتِهِ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ، وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ، وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ اللهُ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ» “Siapapun yang mengucapkan: aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Allah satu-satu-Nya, tak ada sekutu bagi-Nya. Dan sungguh Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Serta sesungguhnya Isa adalah hamba Allah dan putra dari hamba perempuan-Nya, kalimat-Nya disampaikan kepada Maryam dan ruh berasal dari-Nya. Serta meyakini bahwa surga benar-benar ada dan neraka juga benar-benar ada; niscaya Allah akan memasukkannya melalui delapan pintu surga manapun yang diinginkannya”. HR. Bukhari (no. 3435) dan Muslim (no. 46) dari ‘Ubâdah bin Shâmit radhiyallahu ‘anhu. Ini redaksi Muslim. Kedua: Tekun Beribadah Bila akidah diibaratkan akar pohon, maka ibadah bagaikan batangnya. Akar yang sehat dan kokoh akan menumbuhkan batang yang kuat. Sebaliknya akar yang lemah dan sakit-sakitan bakal menumbuhkan batang yang ringkih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, «مَنْ عَبَدَ اللهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، فَأَقَامَ الصَّلَاةَ، وَآتَى الزَّكَاةَ، وَسَمِعَ وَأَطَاعَ؛ فَإِنَّ اللهَ يُدْخِلُهُ ‌مِنْ ‌أَيِّ ‌أَبْوَابِ ‌الْجَنَّةِ ‌شَاءَ، وَلَهَا ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ» “Barang siapa yang beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, lalu menegakkan shalat, membayarkan zakat, mendengar dan taat (kepada pemerintah dalam kebaikan); sungguh Allah akan memasukkannya melalui pintu surga manapun yang diinginkannya. Surga memiliki delapan pintu”. HR. Ahmad (no. 22768) dari ‘Ubâdah bin Shâmit radhiyallahu ‘anhu. Isnadnya dinilai hasan oleh al-Arna’uth. Ketiga: Berakhlak Mulia Manusia adalah makhluk sosial. Mau tidak mau dia harus berinteraksi dengan sesama. Maka selain bermodalkan akidah yang benar dan ibadah yang tekun, dia harus berakhlak mulia. Terlebih kepada orang-orang terdekatnya. Yakni: ayah, ibu, suami, istri dan anak. Dalam sebuah hadits dijelaskan, «‌إِذَا ‌صَلَّتِ ‌الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ» “Bila seorang wanita shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: masuklah ke surga melalui pintu manapun yang kau inginkan”. HR. Ahmad (no. 1661) dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban. Menurut al-Albaniy dan al-Arna’uth hadits ini hasan lighairihi. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 15 Rabi’uts Tsani 1446 / 18 Oktober 2024 AGEN KEBAIKANREG:NAMA#JENIS KELAMIN#KOTA = 081128087654 Facebookwww.facebook.com/UstadzAbdullahZaen/ Telegramhttps://t.me/ustadzabdullahzaen Soundcloudhttps://soundcloud.com/ustadzabdullahzaen Instagramhttps://www.instagram.com/abdullahzaenofficial/ Youtubehttps://www.youtube.com/c/ustadzabdullahzaenma No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 185 – MAKAN BERSAMA ANAKSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 203 – DOA KELUAR RUMAH Bag-2 SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories
BEBAS MEMILIH PINTU SURGA* Posted on October 18, 2024by Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA Bisa masuk surga adalah sebuah karunia yang sangat besar dari Allah. Apalagi jika masuk surganya bebas melalui pintu manapun. Tentu tidak sembarang orang bisa mendapatkan keistimewaan itu. Sebab ia harus menjadi sosok yang ideal dalam banyak sisi. Berikut hal-hal yang harus dipenuhi seseorang bila ingin bebas memilih pintu surga: Pertama: Berakidah Benar Akidah adalah pondasi dalam beragama. Sehingga keabsahan akidah sangat berpengaruh pada kebenaran dalam beragama. Maka hal pertama yang harus diprioritaskan dalam kehidupan manusia adalah mempelajari akidah yang benar, lalu mengimaninya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan prinsip-prinsip akidah yang benar dalam sabdanya, «مَنْ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، ‌وَأَنَّ ‌عِيسَى ‌عَبْدُ اللهِ وَابْنُ أَمَتِهِ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ، وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ، وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ اللهُ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ» “Siapapun yang mengucapkan: aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Allah satu-satu-Nya, tak ada sekutu bagi-Nya. Dan sungguh Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Serta sesungguhnya Isa adalah hamba Allah dan putra dari hamba perempuan-Nya, kalimat-Nya disampaikan kepada Maryam dan ruh berasal dari-Nya. Serta meyakini bahwa surga benar-benar ada dan neraka juga benar-benar ada; niscaya Allah akan memasukkannya melalui delapan pintu surga manapun yang diinginkannya”. HR. Bukhari (no. 3435) dan Muslim (no. 46) dari ‘Ubâdah bin Shâmit radhiyallahu ‘anhu. Ini redaksi Muslim. Kedua: Tekun Beribadah Bila akidah diibaratkan akar pohon, maka ibadah bagaikan batangnya. Akar yang sehat dan kokoh akan menumbuhkan batang yang kuat. Sebaliknya akar yang lemah dan sakit-sakitan bakal menumbuhkan batang yang ringkih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, «مَنْ عَبَدَ اللهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، فَأَقَامَ الصَّلَاةَ، وَآتَى الزَّكَاةَ، وَسَمِعَ وَأَطَاعَ؛ فَإِنَّ اللهَ يُدْخِلُهُ ‌مِنْ ‌أَيِّ ‌أَبْوَابِ ‌الْجَنَّةِ ‌شَاءَ، وَلَهَا ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ» “Barang siapa yang beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, lalu menegakkan shalat, membayarkan zakat, mendengar dan taat (kepada pemerintah dalam kebaikan); sungguh Allah akan memasukkannya melalui pintu surga manapun yang diinginkannya. Surga memiliki delapan pintu”. HR. Ahmad (no. 22768) dari ‘Ubâdah bin Shâmit radhiyallahu ‘anhu. Isnadnya dinilai hasan oleh al-Arna’uth. Ketiga: Berakhlak Mulia Manusia adalah makhluk sosial. Mau tidak mau dia harus berinteraksi dengan sesama. Maka selain bermodalkan akidah yang benar dan ibadah yang tekun, dia harus berakhlak mulia. Terlebih kepada orang-orang terdekatnya. Yakni: ayah, ibu, suami, istri dan anak. Dalam sebuah hadits dijelaskan, «‌إِذَا ‌صَلَّتِ ‌الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ» “Bila seorang wanita shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: masuklah ke surga melalui pintu manapun yang kau inginkan”. HR. Ahmad (no. 1661) dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban. Menurut al-Albaniy dan al-Arna’uth hadits ini hasan lighairihi. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 15 Rabi’uts Tsani 1446 / 18 Oktober 2024 AGEN KEBAIKANREG:NAMA#JENIS KELAMIN#KOTA = 081128087654 Facebookwww.facebook.com/UstadzAbdullahZaen/ Telegramhttps://t.me/ustadzabdullahzaen Soundcloudhttps://soundcloud.com/ustadzabdullahzaen Instagramhttps://www.instagram.com/abdullahzaenofficial/ Youtubehttps://www.youtube.com/c/ustadzabdullahzaenma No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 185 – MAKAN BERSAMA ANAKSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 203 – DOA KELUAR RUMAH Bag-2 SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories


BEBAS MEMILIH PINTU SURGA* Posted on October 18, 2024by Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA Bisa masuk surga adalah sebuah karunia yang sangat besar dari Allah. Apalagi jika masuk surganya bebas melalui pintu manapun. Tentu tidak sembarang orang bisa mendapatkan keistimewaan itu. Sebab ia harus menjadi sosok yang ideal dalam banyak sisi. Berikut hal-hal yang harus dipenuhi seseorang bila ingin bebas memilih pintu surga: Pertama: Berakidah Benar Akidah adalah pondasi dalam beragama. Sehingga keabsahan akidah sangat berpengaruh pada kebenaran dalam beragama. Maka hal pertama yang harus diprioritaskan dalam kehidupan manusia adalah mempelajari akidah yang benar, lalu mengimaninya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan prinsip-prinsip akidah yang benar dalam sabdanya, «مَنْ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، ‌وَأَنَّ ‌عِيسَى ‌عَبْدُ اللهِ وَابْنُ أَمَتِهِ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ، وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ، وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ اللهُ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ» “Siapapun yang mengucapkan: aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Allah satu-satu-Nya, tak ada sekutu bagi-Nya. Dan sungguh Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Serta sesungguhnya Isa adalah hamba Allah dan putra dari hamba perempuan-Nya, kalimat-Nya disampaikan kepada Maryam dan ruh berasal dari-Nya. Serta meyakini bahwa surga benar-benar ada dan neraka juga benar-benar ada; niscaya Allah akan memasukkannya melalui delapan pintu surga manapun yang diinginkannya”. HR. Bukhari (no. 3435) dan Muslim (no. 46) dari ‘Ubâdah bin Shâmit radhiyallahu ‘anhu. Ini redaksi Muslim. Kedua: Tekun Beribadah Bila akidah diibaratkan akar pohon, maka ibadah bagaikan batangnya. Akar yang sehat dan kokoh akan menumbuhkan batang yang kuat. Sebaliknya akar yang lemah dan sakit-sakitan bakal menumbuhkan batang yang ringkih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, «مَنْ عَبَدَ اللهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، فَأَقَامَ الصَّلَاةَ، وَآتَى الزَّكَاةَ، وَسَمِعَ وَأَطَاعَ؛ فَإِنَّ اللهَ يُدْخِلُهُ ‌مِنْ ‌أَيِّ ‌أَبْوَابِ ‌الْجَنَّةِ ‌شَاءَ، وَلَهَا ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ» “Barang siapa yang beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, lalu menegakkan shalat, membayarkan zakat, mendengar dan taat (kepada pemerintah dalam kebaikan); sungguh Allah akan memasukkannya melalui pintu surga manapun yang diinginkannya. Surga memiliki delapan pintu”. HR. Ahmad (no. 22768) dari ‘Ubâdah bin Shâmit radhiyallahu ‘anhu. Isnadnya dinilai hasan oleh al-Arna’uth. Ketiga: Berakhlak Mulia Manusia adalah makhluk sosial. Mau tidak mau dia harus berinteraksi dengan sesama. Maka selain bermodalkan akidah yang benar dan ibadah yang tekun, dia harus berakhlak mulia. Terlebih kepada orang-orang terdekatnya. Yakni: ayah, ibu, suami, istri dan anak. Dalam sebuah hadits dijelaskan, «‌إِذَا ‌صَلَّتِ ‌الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ» “Bila seorang wanita shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: masuklah ke surga melalui pintu manapun yang kau inginkan”. HR. Ahmad (no. 1661) dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban. Menurut al-Albaniy dan al-Arna’uth hadits ini hasan lighairihi. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 15 Rabi’uts Tsani 1446 / 18 Oktober 2024 AGEN KEBAIKANREG:NAMA#JENIS KELAMIN#KOTA = 081128087654 Facebookwww.facebook.com/UstadzAbdullahZaen/ Telegramhttps://t.me/ustadzabdullahzaen Soundcloudhttps://soundcloud.com/ustadzabdullahzaen Instagramhttps://www.instagram.com/abdullahzaenofficial/ Youtubehttps://www.youtube.com/c/ustadzabdullahzaenma No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 185 – MAKAN BERSAMA ANAKSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 203 – DOA KELUAR RUMAH Bag-2 SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 185 – MAKAN BERSAMA ANAK

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 185 – MAKAN BERSAMA ANAK Posted on October 18, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 185MAKAN BERSAMA ANAK Salah satu aktivitas yang banyak manfaatnya, namun sayang belakangan ini kerap ditinggalkan, adalah makan bersama anak. Jikapun ada keluarga yang masih mempraktekkannya, kerap momen istimewa ini terganggu dengan hadirnya benda asing di tangan masing-masing. Yakni HP! Maka alangkah baiknya, kebiasaan makan bersama keluarga, kita hidupkan kembali. Sebab hal ini sangat penting dan banyak manfaatnya. Antara lain: Pertama: Mengakrabkan hubungan Kebersamaan anggota keluarga dalam sebuah aktivitas, mutlak diperlukan; guna membangun keakraban hubungan antar mereka. Apalagi di zaman ini, di mana masing-masing anggota keluarga seringkali terjebak dalam rutinitas pekerjaan yang menguras tenaga, pikiran dan waktu. Akibatnya terjadilah kerenggangan hubungan di antara anggota keluarga. Nah, momen makan bersama keluarga, menjadi salah satu solusi untuk merajut keharmonisan dan kedekatan antara orang tua dengan putra-putrinya. Sebab di situ akan terjadi obrolan ringan dan interaksi antar mereka. Kedua: Momen Memberikan Nasehat Salah satu faktor yang penting untuk diperhatikan saat akan menyampaikan nasehat, adalah mencari momen yang pas. Agar nasehat itu lebih mudah untuk diterima. Suasana akrab makan bersama, menjadi salah satu alternatif waktu terbaik dalam memberikan nasehat. Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun juga memanfaatkan momen tersebut. Umar bin Abi Salamah radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “كُنْتُ غُلاَمًا فِي حَجْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ» فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِي بَعْدُ” Dahulu saat kecil, aku dirawat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika makan bersama, tanganku bergerak kesana kemari di nampan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Nak, bacalah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu, dan ambillah makanan yang terdekat denganmu”. Umar berkata, “Semenjak mendapatkan nasehat tersebut, aku selalu menerapkan adab-adab tersebut setiap kali makan”. HR. Bukhari (No. 5376) dan Muslim (No. 2022). Kandungan hadits ini pernah kita kupas di Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 177. Ketiga: Meraih Keberkahan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menganjurkan makan bersama; agar mendapatkan keberkahan dari Allah ta’ala. Dalam sebuah hadits disebutkan: إِنَّ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلَا نَشْبَعُ، قَالَ: «‌فَلَعَلَّكُمْ ‌تَفْتَرِقُونَ؟» قَالُوا: نَعَمْ، قَالَ: «فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ» Bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melapor, “Wahai Rasulullah, mengapa kami sudah makan, namun tidak kenyang?”. Beliau pun bertanya, “Apakah kalian makan sendiri-sendiri?”. Mereka menjawab, “Ya”. Beliau bersabda, “Makanlah bersama-sama, dan bacalah basmalah; niscaya makanan kalian akan diberkahi”. HR. Abu Dawud (no. 3764) dan dinilai hasan oleh al-Albaniy. Keempat: Menjaga Pola Makan Tetap Baik Salah satu pemicu munculnya gangguan pencernaan, adalah tidak idealnya pola makan. Yakni sering telat makan, dan cenderung lebih suka jajan di luar. Maka untuk mengantisipasi hal tersebut, orang tua bisa mengajak anak untuk mulai menata pola makannya dengan tepat. Caranya adalah dengan mengajak makan bersama. Setidaknya, jika anak lebih sering makan di rumah, maka waktu makannya akan lebih teratur, dan kebutuhan nutrisinya lebih terpantau dan tercukupi insyaAllah. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 13 Jumadal Ula 1445 / 27 Nopember 2023 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 184 – MEMBERIKAN KEPERCAYAAN PADA ANAKBEBAS MEMILIH PINTU SURGA* SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 185 – MAKAN BERSAMA ANAK

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 185 – MAKAN BERSAMA ANAK Posted on October 18, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 185MAKAN BERSAMA ANAK Salah satu aktivitas yang banyak manfaatnya, namun sayang belakangan ini kerap ditinggalkan, adalah makan bersama anak. Jikapun ada keluarga yang masih mempraktekkannya, kerap momen istimewa ini terganggu dengan hadirnya benda asing di tangan masing-masing. Yakni HP! Maka alangkah baiknya, kebiasaan makan bersama keluarga, kita hidupkan kembali. Sebab hal ini sangat penting dan banyak manfaatnya. Antara lain: Pertama: Mengakrabkan hubungan Kebersamaan anggota keluarga dalam sebuah aktivitas, mutlak diperlukan; guna membangun keakraban hubungan antar mereka. Apalagi di zaman ini, di mana masing-masing anggota keluarga seringkali terjebak dalam rutinitas pekerjaan yang menguras tenaga, pikiran dan waktu. Akibatnya terjadilah kerenggangan hubungan di antara anggota keluarga. Nah, momen makan bersama keluarga, menjadi salah satu solusi untuk merajut keharmonisan dan kedekatan antara orang tua dengan putra-putrinya. Sebab di situ akan terjadi obrolan ringan dan interaksi antar mereka. Kedua: Momen Memberikan Nasehat Salah satu faktor yang penting untuk diperhatikan saat akan menyampaikan nasehat, adalah mencari momen yang pas. Agar nasehat itu lebih mudah untuk diterima. Suasana akrab makan bersama, menjadi salah satu alternatif waktu terbaik dalam memberikan nasehat. Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun juga memanfaatkan momen tersebut. Umar bin Abi Salamah radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “كُنْتُ غُلاَمًا فِي حَجْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ» فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِي بَعْدُ” Dahulu saat kecil, aku dirawat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika makan bersama, tanganku bergerak kesana kemari di nampan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Nak, bacalah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu, dan ambillah makanan yang terdekat denganmu”. Umar berkata, “Semenjak mendapatkan nasehat tersebut, aku selalu menerapkan adab-adab tersebut setiap kali makan”. HR. Bukhari (No. 5376) dan Muslim (No. 2022). Kandungan hadits ini pernah kita kupas di Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 177. Ketiga: Meraih Keberkahan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menganjurkan makan bersama; agar mendapatkan keberkahan dari Allah ta’ala. Dalam sebuah hadits disebutkan: إِنَّ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلَا نَشْبَعُ، قَالَ: «‌فَلَعَلَّكُمْ ‌تَفْتَرِقُونَ؟» قَالُوا: نَعَمْ، قَالَ: «فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ» Bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melapor, “Wahai Rasulullah, mengapa kami sudah makan, namun tidak kenyang?”. Beliau pun bertanya, “Apakah kalian makan sendiri-sendiri?”. Mereka menjawab, “Ya”. Beliau bersabda, “Makanlah bersama-sama, dan bacalah basmalah; niscaya makanan kalian akan diberkahi”. HR. Abu Dawud (no. 3764) dan dinilai hasan oleh al-Albaniy. Keempat: Menjaga Pola Makan Tetap Baik Salah satu pemicu munculnya gangguan pencernaan, adalah tidak idealnya pola makan. Yakni sering telat makan, dan cenderung lebih suka jajan di luar. Maka untuk mengantisipasi hal tersebut, orang tua bisa mengajak anak untuk mulai menata pola makannya dengan tepat. Caranya adalah dengan mengajak makan bersama. Setidaknya, jika anak lebih sering makan di rumah, maka waktu makannya akan lebih teratur, dan kebutuhan nutrisinya lebih terpantau dan tercukupi insyaAllah. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 13 Jumadal Ula 1445 / 27 Nopember 2023 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 184 – MEMBERIKAN KEPERCAYAAN PADA ANAKBEBAS MEMILIH PINTU SURGA* SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories
Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 185 – MAKAN BERSAMA ANAK Posted on October 18, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 185MAKAN BERSAMA ANAK Salah satu aktivitas yang banyak manfaatnya, namun sayang belakangan ini kerap ditinggalkan, adalah makan bersama anak. Jikapun ada keluarga yang masih mempraktekkannya, kerap momen istimewa ini terganggu dengan hadirnya benda asing di tangan masing-masing. Yakni HP! Maka alangkah baiknya, kebiasaan makan bersama keluarga, kita hidupkan kembali. Sebab hal ini sangat penting dan banyak manfaatnya. Antara lain: Pertama: Mengakrabkan hubungan Kebersamaan anggota keluarga dalam sebuah aktivitas, mutlak diperlukan; guna membangun keakraban hubungan antar mereka. Apalagi di zaman ini, di mana masing-masing anggota keluarga seringkali terjebak dalam rutinitas pekerjaan yang menguras tenaga, pikiran dan waktu. Akibatnya terjadilah kerenggangan hubungan di antara anggota keluarga. Nah, momen makan bersama keluarga, menjadi salah satu solusi untuk merajut keharmonisan dan kedekatan antara orang tua dengan putra-putrinya. Sebab di situ akan terjadi obrolan ringan dan interaksi antar mereka. Kedua: Momen Memberikan Nasehat Salah satu faktor yang penting untuk diperhatikan saat akan menyampaikan nasehat, adalah mencari momen yang pas. Agar nasehat itu lebih mudah untuk diterima. Suasana akrab makan bersama, menjadi salah satu alternatif waktu terbaik dalam memberikan nasehat. Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun juga memanfaatkan momen tersebut. Umar bin Abi Salamah radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “كُنْتُ غُلاَمًا فِي حَجْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ» فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِي بَعْدُ” Dahulu saat kecil, aku dirawat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika makan bersama, tanganku bergerak kesana kemari di nampan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Nak, bacalah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu, dan ambillah makanan yang terdekat denganmu”. Umar berkata, “Semenjak mendapatkan nasehat tersebut, aku selalu menerapkan adab-adab tersebut setiap kali makan”. HR. Bukhari (No. 5376) dan Muslim (No. 2022). Kandungan hadits ini pernah kita kupas di Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 177. Ketiga: Meraih Keberkahan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menganjurkan makan bersama; agar mendapatkan keberkahan dari Allah ta’ala. Dalam sebuah hadits disebutkan: إِنَّ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلَا نَشْبَعُ، قَالَ: «‌فَلَعَلَّكُمْ ‌تَفْتَرِقُونَ؟» قَالُوا: نَعَمْ، قَالَ: «فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ» Bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melapor, “Wahai Rasulullah, mengapa kami sudah makan, namun tidak kenyang?”. Beliau pun bertanya, “Apakah kalian makan sendiri-sendiri?”. Mereka menjawab, “Ya”. Beliau bersabda, “Makanlah bersama-sama, dan bacalah basmalah; niscaya makanan kalian akan diberkahi”. HR. Abu Dawud (no. 3764) dan dinilai hasan oleh al-Albaniy. Keempat: Menjaga Pola Makan Tetap Baik Salah satu pemicu munculnya gangguan pencernaan, adalah tidak idealnya pola makan. Yakni sering telat makan, dan cenderung lebih suka jajan di luar. Maka untuk mengantisipasi hal tersebut, orang tua bisa mengajak anak untuk mulai menata pola makannya dengan tepat. Caranya adalah dengan mengajak makan bersama. Setidaknya, jika anak lebih sering makan di rumah, maka waktu makannya akan lebih teratur, dan kebutuhan nutrisinya lebih terpantau dan tercukupi insyaAllah. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 13 Jumadal Ula 1445 / 27 Nopember 2023 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 184 – MEMBERIKAN KEPERCAYAAN PADA ANAKBEBAS MEMILIH PINTU SURGA* SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories


Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 185 – MAKAN BERSAMA ANAK Posted on October 18, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 185MAKAN BERSAMA ANAK Salah satu aktivitas yang banyak manfaatnya, namun sayang belakangan ini kerap ditinggalkan, adalah makan bersama anak. Jikapun ada keluarga yang masih mempraktekkannya, kerap momen istimewa ini terganggu dengan hadirnya benda asing di tangan masing-masing. Yakni HP! Maka alangkah baiknya, kebiasaan makan bersama keluarga, kita hidupkan kembali. Sebab hal ini sangat penting dan banyak manfaatnya. Antara lain: Pertama: Mengakrabkan hubungan Kebersamaan anggota keluarga dalam sebuah aktivitas, mutlak diperlukan; guna membangun keakraban hubungan antar mereka. Apalagi di zaman ini, di mana masing-masing anggota keluarga seringkali terjebak dalam rutinitas pekerjaan yang menguras tenaga, pikiran dan waktu. Akibatnya terjadilah kerenggangan hubungan di antara anggota keluarga. Nah, momen makan bersama keluarga, menjadi salah satu solusi untuk merajut keharmonisan dan kedekatan antara orang tua dengan putra-putrinya. Sebab di situ akan terjadi obrolan ringan dan interaksi antar mereka. Kedua: Momen Memberikan Nasehat Salah satu faktor yang penting untuk diperhatikan saat akan menyampaikan nasehat, adalah mencari momen yang pas. Agar nasehat itu lebih mudah untuk diterima. Suasana akrab makan bersama, menjadi salah satu alternatif waktu terbaik dalam memberikan nasehat. Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun juga memanfaatkan momen tersebut. Umar bin Abi Salamah radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “كُنْتُ غُلاَمًا فِي حَجْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ» فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِي بَعْدُ” Dahulu saat kecil, aku dirawat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika makan bersama, tanganku bergerak kesana kemari di nampan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Nak, bacalah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu, dan ambillah makanan yang terdekat denganmu”. Umar berkata, “Semenjak mendapatkan nasehat tersebut, aku selalu menerapkan adab-adab tersebut setiap kali makan”. HR. Bukhari (No. 5376) dan Muslim (No. 2022). Kandungan hadits ini pernah kita kupas di Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 177. Ketiga: Meraih Keberkahan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menganjurkan makan bersama; agar mendapatkan keberkahan dari Allah ta’ala. Dalam sebuah hadits disebutkan: إِنَّ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلَا نَشْبَعُ، قَالَ: «‌فَلَعَلَّكُمْ ‌تَفْتَرِقُونَ؟» قَالُوا: نَعَمْ، قَالَ: «فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ» Bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melapor, “Wahai Rasulullah, mengapa kami sudah makan, namun tidak kenyang?”. Beliau pun bertanya, “Apakah kalian makan sendiri-sendiri?”. Mereka menjawab, “Ya”. Beliau bersabda, “Makanlah bersama-sama, dan bacalah basmalah; niscaya makanan kalian akan diberkahi”. HR. Abu Dawud (no. 3764) dan dinilai hasan oleh al-Albaniy. Keempat: Menjaga Pola Makan Tetap Baik Salah satu pemicu munculnya gangguan pencernaan, adalah tidak idealnya pola makan. Yakni sering telat makan, dan cenderung lebih suka jajan di luar. Maka untuk mengantisipasi hal tersebut, orang tua bisa mengajak anak untuk mulai menata pola makannya dengan tepat. Caranya adalah dengan mengajak makan bersama. Setidaknya, jika anak lebih sering makan di rumah, maka waktu makannya akan lebih teratur, dan kebutuhan nutrisinya lebih terpantau dan tercukupi insyaAllah. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 13 Jumadal Ula 1445 / 27 Nopember 2023 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 184 – MEMBERIKAN KEPERCAYAAN PADA ANAKBEBAS MEMILIH PINTU SURGA* SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories

Apa Kitab Terbaik Untuk Menenangkan Hati? – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Penanya berkata, “Bisakah Anda tunjukkan kepada kami beberapa judul buku tentang pemahaman hati?”Ya, al-Quran al-Karim. Al-Quran al-Karim adalah kitab paling agung dalam pemahaman hati. Maka perbanyaklah membaca al-Quran al-Karim, karena al-Quran al-Karim dapat melapangkan dada dan menenangkan hati.Juga akan dibukakan pintu pemahaman hati bagi orang yang senantiasa membaca al-Quran, yang tidak mungkin didapatkan dari selainnya.Lalu jika kamu hendak minta ditunjukkan buku-buku yang bersumber dari al-Quran al-Karim, maka di antara buku yang paling bermanfaat yang ditulis para Ulama Ahlussunnah adalah yang ditulis oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah dalam kitab “at-Tuhfah al-Iraqiyah” dan kitab lainnya. Serta kitab yang ditulis muridnya, Ibnu al-Qayyim dalam kitab “al-Jawab al-Kafi” dan “Ighatsah al-Lahfan”. Dua kitab ini adalah kitab Ibnu al-Qayyim yang terbaik dalam bidang ini.Kitab-kitab ini termasuk buku ajar di negara kita (Saudi Arabia), terlebih lagi kitab yang pertama tadi. Kitab “al-Jawab al-Kafi” dulu ditetapkan untuk dibaca di masjid-masjid di negara ini.Dulu para imam masjid diperintahkan membacakan kitab “al-Jawab al-Kafi” kepada para jamaah, karena di dalamnya terdapat banyak kandungan-kandungan penting yang berkaitan dengan pemahaman hati dan psikologi jiwa.Demikian juga ucapan Abu al-Faraj Ibnu Rajab (bagus dalam pemahaman hati). Ucapan beliau sangat bermanfaat dalam bidang ini, seperti yang ada dalam kitab “Istinsyaq Nasim al-Uns” dan lainnya. ==== يَقُوْلُ هَلْ تَدُلُّنَا عَلَى بَعْضِ كُتُبِ فِقْهِ الْقُلُوبِ؟ نَعَمْ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ هُوَ أَعْظَمُ كُتُبِ فِقْهِ الْقُلُوبِ فَاسْتَكْثِرْ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ فَإِنَّ الْقُرْآنَ الْكَرِيمَ تَنْشَرِحُ بِهِ الصُّدُوْرُ وَتَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ وَيُفْتَحُ لِلْإِنْسَانِ مَعَ تِكْرَارِ النَّظَرِ فِيهِ مِنْ فِقْهِ الْقُلُوبِ مَا لَا يَكُونُ فِي غَيْرِهِ وَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَسْتَرْشِدَ بِكُتُبٍ اسْتَمَدَّتْ مِنَ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ فَإِنَّ مِنْ أَنْفَعِ مَا كَتَبَهُ عُلَمَاءُ أَهْلِ السُّنَّةِ مَا كَتَبَهُ أَبُو الْعَبَّاسِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ فِي التُّحْفَةِ الْعِرَاقِيَّةِ وَغَيْرِهَا وَمَا كَتَبَهُ تِلْمِيذُهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي الْجَوَابِ الْكَافِي وَإِغَاثَةِ اللَّهْفَانِ وَهَذَانِ الْكِتَابَانِ هُمَا مِنْ أَعْظَمِ كُتُبِ ابْنِ الْقَيِّمِ فِي هَذَا الْبَابِ وَكَانَ مِنْ كُتُبِ التَّعْلِيمِ فِي قُطْرِنَا وَلَا سِيَّمَا الْكِتَابُ الْأَوَّلُ فَإِنَّ كِتَابَ الْجَوَابِ الْكَافِي كَانَ مُقَرَّرًا قِرَاءَتُهُ فِي الْمَسَاجِدِ فِي هَذِهِ الْبِلَادِ فَكَانَ الْأَئِمَّةُ يُؤْمَرُوْنَ بِقِرَاءَةِ كِتَابِ الْجَوَابِ الْكَافِي عَلَى النَّاسِ لِمَا فِيهِ مِنْ مَعَانٍ عَظِيمَةٍ تَتَعَلَّقُ بِفِقْهِ الْقُلُوبِ وَأَحْوَالِ النَّفْسِ وَكَذَلِكَ كَلَامُ أَبِي الْفَرَجِ ابْنِ رَجَبٍ فَإِنَّ كَلَامَهُ نَافِعٌ جِدًّا فِي هَذَا الْمَقَامِ كَكِتَابِ اسْتِنْشَاقِ نَسِيمِ الْأُنْسِ أَوْ غَيْرِهِ

Apa Kitab Terbaik Untuk Menenangkan Hati? – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Penanya berkata, “Bisakah Anda tunjukkan kepada kami beberapa judul buku tentang pemahaman hati?”Ya, al-Quran al-Karim. Al-Quran al-Karim adalah kitab paling agung dalam pemahaman hati. Maka perbanyaklah membaca al-Quran al-Karim, karena al-Quran al-Karim dapat melapangkan dada dan menenangkan hati.Juga akan dibukakan pintu pemahaman hati bagi orang yang senantiasa membaca al-Quran, yang tidak mungkin didapatkan dari selainnya.Lalu jika kamu hendak minta ditunjukkan buku-buku yang bersumber dari al-Quran al-Karim, maka di antara buku yang paling bermanfaat yang ditulis para Ulama Ahlussunnah adalah yang ditulis oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah dalam kitab “at-Tuhfah al-Iraqiyah” dan kitab lainnya. Serta kitab yang ditulis muridnya, Ibnu al-Qayyim dalam kitab “al-Jawab al-Kafi” dan “Ighatsah al-Lahfan”. Dua kitab ini adalah kitab Ibnu al-Qayyim yang terbaik dalam bidang ini.Kitab-kitab ini termasuk buku ajar di negara kita (Saudi Arabia), terlebih lagi kitab yang pertama tadi. Kitab “al-Jawab al-Kafi” dulu ditetapkan untuk dibaca di masjid-masjid di negara ini.Dulu para imam masjid diperintahkan membacakan kitab “al-Jawab al-Kafi” kepada para jamaah, karena di dalamnya terdapat banyak kandungan-kandungan penting yang berkaitan dengan pemahaman hati dan psikologi jiwa.Demikian juga ucapan Abu al-Faraj Ibnu Rajab (bagus dalam pemahaman hati). Ucapan beliau sangat bermanfaat dalam bidang ini, seperti yang ada dalam kitab “Istinsyaq Nasim al-Uns” dan lainnya. ==== يَقُوْلُ هَلْ تَدُلُّنَا عَلَى بَعْضِ كُتُبِ فِقْهِ الْقُلُوبِ؟ نَعَمْ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ هُوَ أَعْظَمُ كُتُبِ فِقْهِ الْقُلُوبِ فَاسْتَكْثِرْ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ فَإِنَّ الْقُرْآنَ الْكَرِيمَ تَنْشَرِحُ بِهِ الصُّدُوْرُ وَتَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ وَيُفْتَحُ لِلْإِنْسَانِ مَعَ تِكْرَارِ النَّظَرِ فِيهِ مِنْ فِقْهِ الْقُلُوبِ مَا لَا يَكُونُ فِي غَيْرِهِ وَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَسْتَرْشِدَ بِكُتُبٍ اسْتَمَدَّتْ مِنَ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ فَإِنَّ مِنْ أَنْفَعِ مَا كَتَبَهُ عُلَمَاءُ أَهْلِ السُّنَّةِ مَا كَتَبَهُ أَبُو الْعَبَّاسِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ فِي التُّحْفَةِ الْعِرَاقِيَّةِ وَغَيْرِهَا وَمَا كَتَبَهُ تِلْمِيذُهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي الْجَوَابِ الْكَافِي وَإِغَاثَةِ اللَّهْفَانِ وَهَذَانِ الْكِتَابَانِ هُمَا مِنْ أَعْظَمِ كُتُبِ ابْنِ الْقَيِّمِ فِي هَذَا الْبَابِ وَكَانَ مِنْ كُتُبِ التَّعْلِيمِ فِي قُطْرِنَا وَلَا سِيَّمَا الْكِتَابُ الْأَوَّلُ فَإِنَّ كِتَابَ الْجَوَابِ الْكَافِي كَانَ مُقَرَّرًا قِرَاءَتُهُ فِي الْمَسَاجِدِ فِي هَذِهِ الْبِلَادِ فَكَانَ الْأَئِمَّةُ يُؤْمَرُوْنَ بِقِرَاءَةِ كِتَابِ الْجَوَابِ الْكَافِي عَلَى النَّاسِ لِمَا فِيهِ مِنْ مَعَانٍ عَظِيمَةٍ تَتَعَلَّقُ بِفِقْهِ الْقُلُوبِ وَأَحْوَالِ النَّفْسِ وَكَذَلِكَ كَلَامُ أَبِي الْفَرَجِ ابْنِ رَجَبٍ فَإِنَّ كَلَامَهُ نَافِعٌ جِدًّا فِي هَذَا الْمَقَامِ كَكِتَابِ اسْتِنْشَاقِ نَسِيمِ الْأُنْسِ أَوْ غَيْرِهِ
Penanya berkata, “Bisakah Anda tunjukkan kepada kami beberapa judul buku tentang pemahaman hati?”Ya, al-Quran al-Karim. Al-Quran al-Karim adalah kitab paling agung dalam pemahaman hati. Maka perbanyaklah membaca al-Quran al-Karim, karena al-Quran al-Karim dapat melapangkan dada dan menenangkan hati.Juga akan dibukakan pintu pemahaman hati bagi orang yang senantiasa membaca al-Quran, yang tidak mungkin didapatkan dari selainnya.Lalu jika kamu hendak minta ditunjukkan buku-buku yang bersumber dari al-Quran al-Karim, maka di antara buku yang paling bermanfaat yang ditulis para Ulama Ahlussunnah adalah yang ditulis oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah dalam kitab “at-Tuhfah al-Iraqiyah” dan kitab lainnya. Serta kitab yang ditulis muridnya, Ibnu al-Qayyim dalam kitab “al-Jawab al-Kafi” dan “Ighatsah al-Lahfan”. Dua kitab ini adalah kitab Ibnu al-Qayyim yang terbaik dalam bidang ini.Kitab-kitab ini termasuk buku ajar di negara kita (Saudi Arabia), terlebih lagi kitab yang pertama tadi. Kitab “al-Jawab al-Kafi” dulu ditetapkan untuk dibaca di masjid-masjid di negara ini.Dulu para imam masjid diperintahkan membacakan kitab “al-Jawab al-Kafi” kepada para jamaah, karena di dalamnya terdapat banyak kandungan-kandungan penting yang berkaitan dengan pemahaman hati dan psikologi jiwa.Demikian juga ucapan Abu al-Faraj Ibnu Rajab (bagus dalam pemahaman hati). Ucapan beliau sangat bermanfaat dalam bidang ini, seperti yang ada dalam kitab “Istinsyaq Nasim al-Uns” dan lainnya. ==== يَقُوْلُ هَلْ تَدُلُّنَا عَلَى بَعْضِ كُتُبِ فِقْهِ الْقُلُوبِ؟ نَعَمْ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ هُوَ أَعْظَمُ كُتُبِ فِقْهِ الْقُلُوبِ فَاسْتَكْثِرْ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ فَإِنَّ الْقُرْآنَ الْكَرِيمَ تَنْشَرِحُ بِهِ الصُّدُوْرُ وَتَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ وَيُفْتَحُ لِلْإِنْسَانِ مَعَ تِكْرَارِ النَّظَرِ فِيهِ مِنْ فِقْهِ الْقُلُوبِ مَا لَا يَكُونُ فِي غَيْرِهِ وَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَسْتَرْشِدَ بِكُتُبٍ اسْتَمَدَّتْ مِنَ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ فَإِنَّ مِنْ أَنْفَعِ مَا كَتَبَهُ عُلَمَاءُ أَهْلِ السُّنَّةِ مَا كَتَبَهُ أَبُو الْعَبَّاسِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ فِي التُّحْفَةِ الْعِرَاقِيَّةِ وَغَيْرِهَا وَمَا كَتَبَهُ تِلْمِيذُهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي الْجَوَابِ الْكَافِي وَإِغَاثَةِ اللَّهْفَانِ وَهَذَانِ الْكِتَابَانِ هُمَا مِنْ أَعْظَمِ كُتُبِ ابْنِ الْقَيِّمِ فِي هَذَا الْبَابِ وَكَانَ مِنْ كُتُبِ التَّعْلِيمِ فِي قُطْرِنَا وَلَا سِيَّمَا الْكِتَابُ الْأَوَّلُ فَإِنَّ كِتَابَ الْجَوَابِ الْكَافِي كَانَ مُقَرَّرًا قِرَاءَتُهُ فِي الْمَسَاجِدِ فِي هَذِهِ الْبِلَادِ فَكَانَ الْأَئِمَّةُ يُؤْمَرُوْنَ بِقِرَاءَةِ كِتَابِ الْجَوَابِ الْكَافِي عَلَى النَّاسِ لِمَا فِيهِ مِنْ مَعَانٍ عَظِيمَةٍ تَتَعَلَّقُ بِفِقْهِ الْقُلُوبِ وَأَحْوَالِ النَّفْسِ وَكَذَلِكَ كَلَامُ أَبِي الْفَرَجِ ابْنِ رَجَبٍ فَإِنَّ كَلَامَهُ نَافِعٌ جِدًّا فِي هَذَا الْمَقَامِ كَكِتَابِ اسْتِنْشَاقِ نَسِيمِ الْأُنْسِ أَوْ غَيْرِهِ


Penanya berkata, “Bisakah Anda tunjukkan kepada kami beberapa judul buku tentang pemahaman hati?”Ya, al-Quran al-Karim. Al-Quran al-Karim adalah kitab paling agung dalam pemahaman hati. Maka perbanyaklah membaca al-Quran al-Karim, karena al-Quran al-Karim dapat melapangkan dada dan menenangkan hati.Juga akan dibukakan pintu pemahaman hati bagi orang yang senantiasa membaca al-Quran, yang tidak mungkin didapatkan dari selainnya.Lalu jika kamu hendak minta ditunjukkan buku-buku yang bersumber dari al-Quran al-Karim, maka di antara buku yang paling bermanfaat yang ditulis para Ulama Ahlussunnah adalah yang ditulis oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah dalam kitab “at-Tuhfah al-Iraqiyah” dan kitab lainnya. Serta kitab yang ditulis muridnya, Ibnu al-Qayyim dalam kitab “al-Jawab al-Kafi” dan “Ighatsah al-Lahfan”. Dua kitab ini adalah kitab Ibnu al-Qayyim yang terbaik dalam bidang ini.Kitab-kitab ini termasuk buku ajar di negara kita (Saudi Arabia), terlebih lagi kitab yang pertama tadi. Kitab “al-Jawab al-Kafi” dulu ditetapkan untuk dibaca di masjid-masjid di negara ini.Dulu para imam masjid diperintahkan membacakan kitab “al-Jawab al-Kafi” kepada para jamaah, karena di dalamnya terdapat banyak kandungan-kandungan penting yang berkaitan dengan pemahaman hati dan psikologi jiwa.Demikian juga ucapan Abu al-Faraj Ibnu Rajab (bagus dalam pemahaman hati). Ucapan beliau sangat bermanfaat dalam bidang ini, seperti yang ada dalam kitab “Istinsyaq Nasim al-Uns” dan lainnya. ==== يَقُوْلُ هَلْ تَدُلُّنَا عَلَى بَعْضِ كُتُبِ فِقْهِ الْقُلُوبِ؟ نَعَمْ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ هُوَ أَعْظَمُ كُتُبِ فِقْهِ الْقُلُوبِ فَاسْتَكْثِرْ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ فَإِنَّ الْقُرْآنَ الْكَرِيمَ تَنْشَرِحُ بِهِ الصُّدُوْرُ وَتَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ وَيُفْتَحُ لِلْإِنْسَانِ مَعَ تِكْرَارِ النَّظَرِ فِيهِ مِنْ فِقْهِ الْقُلُوبِ مَا لَا يَكُونُ فِي غَيْرِهِ وَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَسْتَرْشِدَ بِكُتُبٍ اسْتَمَدَّتْ مِنَ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ فَإِنَّ مِنْ أَنْفَعِ مَا كَتَبَهُ عُلَمَاءُ أَهْلِ السُّنَّةِ مَا كَتَبَهُ أَبُو الْعَبَّاسِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ فِي التُّحْفَةِ الْعِرَاقِيَّةِ وَغَيْرِهَا وَمَا كَتَبَهُ تِلْمِيذُهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي الْجَوَابِ الْكَافِي وَإِغَاثَةِ اللَّهْفَانِ وَهَذَانِ الْكِتَابَانِ هُمَا مِنْ أَعْظَمِ كُتُبِ ابْنِ الْقَيِّمِ فِي هَذَا الْبَابِ وَكَانَ مِنْ كُتُبِ التَّعْلِيمِ فِي قُطْرِنَا وَلَا سِيَّمَا الْكِتَابُ الْأَوَّلُ فَإِنَّ كِتَابَ الْجَوَابِ الْكَافِي كَانَ مُقَرَّرًا قِرَاءَتُهُ فِي الْمَسَاجِدِ فِي هَذِهِ الْبِلَادِ فَكَانَ الْأَئِمَّةُ يُؤْمَرُوْنَ بِقِرَاءَةِ كِتَابِ الْجَوَابِ الْكَافِي عَلَى النَّاسِ لِمَا فِيهِ مِنْ مَعَانٍ عَظِيمَةٍ تَتَعَلَّقُ بِفِقْهِ الْقُلُوبِ وَأَحْوَالِ النَّفْسِ وَكَذَلِكَ كَلَامُ أَبِي الْفَرَجِ ابْنِ رَجَبٍ فَإِنَّ كَلَامَهُ نَافِعٌ جِدًّا فِي هَذَا الْمَقَامِ كَكِتَابِ اسْتِنْشَاقِ نَسِيمِ الْأُنْسِ أَوْ غَيْرِهِ

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 204 – DOA MASUK RUMAH Bag-1

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 204 – DOA MASUK RUMAH Bag-1 Posted on October 18, 2024October 18, 2024by Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 204DOA MASUK RUMAH Bag-1 Berkesempatan untuk tinggal di rumah adalah karunia Allah yang harus disyukuri. Betapa banyak orang yang menggelandang di kolong jembatan atau di emperan toko. Salah satu wujud syukurnya adalah dengan rutin membaca doa yang diajarkan Islam saat masuk rumah. Di antara redaksi doa tersebut adalah: «بِسْمِ اللهِ» “Bismillah”. Dalil Landasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, «إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: “لَا مَبِيتَ لَكُمْ وَلَا عَشَاءَ”، وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ: “أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ” وَإِذَا لَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ: “أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ» “Bila seseorang memasuki rumahnya dan berdzikir kepada Allah (dengan membaca basmalah) saat masuk dan makan; maka setan akan berkata, “Kalian tidak mendapatkan tempat menginap dan makanan (di rumah ini). Namun jika ia masuk lalu tidak membaca basmalah, setan akan berkata, “Kalian menemukan tempat menginap”. Bila ia tidak membaca basmalah sebelum makan; niscaya setan akan berkata, “Kalian mendapatkan tempat menginap dan makanan”. HR. Muslim (no. 5230) dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu. Renungan Kandungan Hadits di atas menjelaskan manfaat membaca basmalah saat masuk rumah serta sebelum makan dan minum. Yaitu mendapat perlindungan Allah dari kejahatan setan. Sebab setan selalu menguntit manusia dalam setiap aktivitasnya. Bila ia berdzikir mengingat Allah, maka setan akan mundur dan menjauhinya. Sehingga manusia terjaga dari makar setan dan tipudayanya. Setan itu memiliki siasat untuk maju dan mundur. Dia akan maju manakala kita lalai dari berdzikir. Sebaliknya dia bakal mundur, manakala kita menyerangnya dengan dzikrullah. Jika kita menginginkan agar setan selalu mundur, maka kita pun harus senantiasa memukulnya terus dengan dzikir. “Dzikir merupakan cemeti untuk mencambuk setan. Sebagaimana para penjahat dibuat jera dengan pukulan cemeti, kayu atau besi. Dzikrullah akan memukul dan menyakiti setan, persis seperti cemeti akan menyakiti orang yang disabet dengannya. Karena itulah setannya orang yang beriman berbadan kurus, lemah dan ceking. Sebab selalu disiksa dengan dzikir dan ketaatan pada Allah … Kebalikannya, setan yang bersama orang fasik, hidup dalam keenakan, sehingga dia kuat dan sombong. Barang siapa yang tidak pernah menyiksa setannya di dunia ini dengan dzikrullah, tauhid, istighfar dan ketaatan pada Allah, ia bakal ‘disiksa’ oleh setannya di neraka. Hanya ada dua pilihan: manusia menyiksa setannya, atau ia disiksa oleh setannya”. Allah ta’ala berfirman, “‌وَمَنْ ‌يَعْشُ ‌عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ” Artinya: “Barang siapa yang enggan mengingat Allah; niscaya Kami akan membiarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya”. QS. Az-Zukhruf (43): 36. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Shafar 1445 / 11 September 2023 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 203 – DOA KELUAR RUMAH Bag-2Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 186 – BERLAKU ADIL KEPADA ANAK SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 204 – DOA MASUK RUMAH Bag-1

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 204 – DOA MASUK RUMAH Bag-1 Posted on October 18, 2024October 18, 2024by Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 204DOA MASUK RUMAH Bag-1 Berkesempatan untuk tinggal di rumah adalah karunia Allah yang harus disyukuri. Betapa banyak orang yang menggelandang di kolong jembatan atau di emperan toko. Salah satu wujud syukurnya adalah dengan rutin membaca doa yang diajarkan Islam saat masuk rumah. Di antara redaksi doa tersebut adalah: «بِسْمِ اللهِ» “Bismillah”. Dalil Landasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, «إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: “لَا مَبِيتَ لَكُمْ وَلَا عَشَاءَ”، وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ: “أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ” وَإِذَا لَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ: “أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ» “Bila seseorang memasuki rumahnya dan berdzikir kepada Allah (dengan membaca basmalah) saat masuk dan makan; maka setan akan berkata, “Kalian tidak mendapatkan tempat menginap dan makanan (di rumah ini). Namun jika ia masuk lalu tidak membaca basmalah, setan akan berkata, “Kalian menemukan tempat menginap”. Bila ia tidak membaca basmalah sebelum makan; niscaya setan akan berkata, “Kalian mendapatkan tempat menginap dan makanan”. HR. Muslim (no. 5230) dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu. Renungan Kandungan Hadits di atas menjelaskan manfaat membaca basmalah saat masuk rumah serta sebelum makan dan minum. Yaitu mendapat perlindungan Allah dari kejahatan setan. Sebab setan selalu menguntit manusia dalam setiap aktivitasnya. Bila ia berdzikir mengingat Allah, maka setan akan mundur dan menjauhinya. Sehingga manusia terjaga dari makar setan dan tipudayanya. Setan itu memiliki siasat untuk maju dan mundur. Dia akan maju manakala kita lalai dari berdzikir. Sebaliknya dia bakal mundur, manakala kita menyerangnya dengan dzikrullah. Jika kita menginginkan agar setan selalu mundur, maka kita pun harus senantiasa memukulnya terus dengan dzikir. “Dzikir merupakan cemeti untuk mencambuk setan. Sebagaimana para penjahat dibuat jera dengan pukulan cemeti, kayu atau besi. Dzikrullah akan memukul dan menyakiti setan, persis seperti cemeti akan menyakiti orang yang disabet dengannya. Karena itulah setannya orang yang beriman berbadan kurus, lemah dan ceking. Sebab selalu disiksa dengan dzikir dan ketaatan pada Allah … Kebalikannya, setan yang bersama orang fasik, hidup dalam keenakan, sehingga dia kuat dan sombong. Barang siapa yang tidak pernah menyiksa setannya di dunia ini dengan dzikrullah, tauhid, istighfar dan ketaatan pada Allah, ia bakal ‘disiksa’ oleh setannya di neraka. Hanya ada dua pilihan: manusia menyiksa setannya, atau ia disiksa oleh setannya”. Allah ta’ala berfirman, “‌وَمَنْ ‌يَعْشُ ‌عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ” Artinya: “Barang siapa yang enggan mengingat Allah; niscaya Kami akan membiarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya”. QS. Az-Zukhruf (43): 36. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Shafar 1445 / 11 September 2023 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 203 – DOA KELUAR RUMAH Bag-2Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 186 – BERLAKU ADIL KEPADA ANAK SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories
Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 204 – DOA MASUK RUMAH Bag-1 Posted on October 18, 2024October 18, 2024by Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 204DOA MASUK RUMAH Bag-1 Berkesempatan untuk tinggal di rumah adalah karunia Allah yang harus disyukuri. Betapa banyak orang yang menggelandang di kolong jembatan atau di emperan toko. Salah satu wujud syukurnya adalah dengan rutin membaca doa yang diajarkan Islam saat masuk rumah. Di antara redaksi doa tersebut adalah: «بِسْمِ اللهِ» “Bismillah”. Dalil Landasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, «إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: “لَا مَبِيتَ لَكُمْ وَلَا عَشَاءَ”، وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ: “أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ” وَإِذَا لَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ: “أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ» “Bila seseorang memasuki rumahnya dan berdzikir kepada Allah (dengan membaca basmalah) saat masuk dan makan; maka setan akan berkata, “Kalian tidak mendapatkan tempat menginap dan makanan (di rumah ini). Namun jika ia masuk lalu tidak membaca basmalah, setan akan berkata, “Kalian menemukan tempat menginap”. Bila ia tidak membaca basmalah sebelum makan; niscaya setan akan berkata, “Kalian mendapatkan tempat menginap dan makanan”. HR. Muslim (no. 5230) dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu. Renungan Kandungan Hadits di atas menjelaskan manfaat membaca basmalah saat masuk rumah serta sebelum makan dan minum. Yaitu mendapat perlindungan Allah dari kejahatan setan. Sebab setan selalu menguntit manusia dalam setiap aktivitasnya. Bila ia berdzikir mengingat Allah, maka setan akan mundur dan menjauhinya. Sehingga manusia terjaga dari makar setan dan tipudayanya. Setan itu memiliki siasat untuk maju dan mundur. Dia akan maju manakala kita lalai dari berdzikir. Sebaliknya dia bakal mundur, manakala kita menyerangnya dengan dzikrullah. Jika kita menginginkan agar setan selalu mundur, maka kita pun harus senantiasa memukulnya terus dengan dzikir. “Dzikir merupakan cemeti untuk mencambuk setan. Sebagaimana para penjahat dibuat jera dengan pukulan cemeti, kayu atau besi. Dzikrullah akan memukul dan menyakiti setan, persis seperti cemeti akan menyakiti orang yang disabet dengannya. Karena itulah setannya orang yang beriman berbadan kurus, lemah dan ceking. Sebab selalu disiksa dengan dzikir dan ketaatan pada Allah … Kebalikannya, setan yang bersama orang fasik, hidup dalam keenakan, sehingga dia kuat dan sombong. Barang siapa yang tidak pernah menyiksa setannya di dunia ini dengan dzikrullah, tauhid, istighfar dan ketaatan pada Allah, ia bakal ‘disiksa’ oleh setannya di neraka. Hanya ada dua pilihan: manusia menyiksa setannya, atau ia disiksa oleh setannya”. Allah ta’ala berfirman, “‌وَمَنْ ‌يَعْشُ ‌عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ” Artinya: “Barang siapa yang enggan mengingat Allah; niscaya Kami akan membiarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya”. QS. Az-Zukhruf (43): 36. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Shafar 1445 / 11 September 2023 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 203 – DOA KELUAR RUMAH Bag-2Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 186 – BERLAKU ADIL KEPADA ANAK SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories


Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 204 – DOA MASUK RUMAH Bag-1 Posted on October 18, 2024October 18, 2024by Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 204DOA MASUK RUMAH Bag-1 Berkesempatan untuk tinggal di rumah adalah karunia Allah yang harus disyukuri. Betapa banyak orang yang menggelandang di kolong jembatan atau di emperan toko. Salah satu wujud syukurnya adalah dengan rutin membaca doa yang diajarkan Islam saat masuk rumah. Di antara redaksi doa tersebut adalah: «بِسْمِ اللهِ» “Bismillah”. Dalil Landasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, «إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: “لَا مَبِيتَ لَكُمْ وَلَا عَشَاءَ”، وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ: “أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ” وَإِذَا لَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ: “أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ» “Bila seseorang memasuki rumahnya dan berdzikir kepada Allah (dengan membaca basmalah) saat masuk dan makan; maka setan akan berkata, “Kalian tidak mendapatkan tempat menginap dan makanan (di rumah ini). Namun jika ia masuk lalu tidak membaca basmalah, setan akan berkata, “Kalian menemukan tempat menginap”. Bila ia tidak membaca basmalah sebelum makan; niscaya setan akan berkata, “Kalian mendapatkan tempat menginap dan makanan”. HR. Muslim (no. 5230) dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu. Renungan Kandungan Hadits di atas menjelaskan manfaat membaca basmalah saat masuk rumah serta sebelum makan dan minum. Yaitu mendapat perlindungan Allah dari kejahatan setan. Sebab setan selalu menguntit manusia dalam setiap aktivitasnya. Bila ia berdzikir mengingat Allah, maka setan akan mundur dan menjauhinya. Sehingga manusia terjaga dari makar setan dan tipudayanya. Setan itu memiliki siasat untuk maju dan mundur. Dia akan maju manakala kita lalai dari berdzikir. Sebaliknya dia bakal mundur, manakala kita menyerangnya dengan dzikrullah. Jika kita menginginkan agar setan selalu mundur, maka kita pun harus senantiasa memukulnya terus dengan dzikir. “Dzikir merupakan cemeti untuk mencambuk setan. Sebagaimana para penjahat dibuat jera dengan pukulan cemeti, kayu atau besi. Dzikrullah akan memukul dan menyakiti setan, persis seperti cemeti akan menyakiti orang yang disabet dengannya. Karena itulah setannya orang yang beriman berbadan kurus, lemah dan ceking. Sebab selalu disiksa dengan dzikir dan ketaatan pada Allah … Kebalikannya, setan yang bersama orang fasik, hidup dalam keenakan, sehingga dia kuat dan sombong. Barang siapa yang tidak pernah menyiksa setannya di dunia ini dengan dzikrullah, tauhid, istighfar dan ketaatan pada Allah, ia bakal ‘disiksa’ oleh setannya di neraka. Hanya ada dua pilihan: manusia menyiksa setannya, atau ia disiksa oleh setannya”. Allah ta’ala berfirman, “‌وَمَنْ ‌يَعْشُ ‌عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ” Artinya: “Barang siapa yang enggan mengingat Allah; niscaya Kami akan membiarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya”. QS. Az-Zukhruf (43): 36. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Shafar 1445 / 11 September 2023 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 203 – DOA KELUAR RUMAH Bag-2Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 186 – BERLAKU ADIL KEPADA ANAK SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 203 – DOA KELUAR RUMAH Bag-2

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 203 – DOA KELUAR RUMAH Bag-2 Posted on October 18, 2024by Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 203DOA KELUAR RUMAH Bag-2 Salah satu momen yang selalu dialami oleh setiap manusia adalah: keluar rumah untuk melakukan berbagai urusan, duniawi maupun ukhrawi. Karena itulah aktivitas ini mendapatkan perhatian dalam agama kita. Islam mengajarkan berbagai adab yang semestinya diperhatikan. Salah satunya adalah membaca doa keluar rumah. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas salah satu redaksi doa tersebut. Berikut redaksi yang lainnya: «اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ» “Allôhumma a’ûdzubika an adhilla au udholla, au azilla au uzalla, au adzlima au udzlama, au ajhala au yujhala ‘alayya”. Dalil Landasan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menuturkan, مَا خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ بَيْتِي قَطُّ إِلَّا رَفَعَ طَرْفَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ: «اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ» “Setiap kali Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar rumah, pasti beliau selalu mengangkat pandangannya ke langit seraya berdoa, “Allôhumma a’ûdzubika an adhilla au udholla, au azilla au uzalla, au adzlima au udzlama, au ajhala au yujhala ‘alayya (Ya Allah aku memohon perlindungan kepada-Mu agar (1) Tidak tersesat atau disesatkan orang lain, (2) Agar tidak tergelincir atau digelincirkan orang lain, (3) Agar tidak berbuat zalim atau dizalimi orang lain, serta (4) Agar tidak berbuat bodoh atau dibodohi orang lain)”. HR. Abu Dawud (no. 5094) dan dinilai hasan oleh Ibn Hajar al-‘Asqalâniy dalam Natâ’ij al-Afkâr (1/156). Renungan Kandungan Saat keluar rumah, mau tidak mau kita akan berinteraksi dengan orang lain. Padahal mereka amat beragam, ada yang baik dan ada yang jahat. Maka agar tidak terjerumus kepada hal-hal negatif, kita sangat membutuhkan perlindungan Allah ta’ala. Karena itulah di dalam hadits di atas, kita diajari untuk memohon perlindungan kepada-Nya dari empat macam keburukan. Entah itu sebagai pelaku atau sebagai korban: Pertama: Kesesatan Di setiap helaan nafas, kita selalu membutuhkan hidayah dan petunjuk dari Allah. Karena itulah kita memohon perlindungan kepada-Nya dari kesesatan, atau menyesatkan orang lain, atau disesatkan orang lain. Sangat mungkin seseorang keluar rumah tanpa ada niat melakukan keburukan, namun ternyata ia bertemu orang lain yang berupaya untuk menyesatkannya. Sehingga kita sangat perlu membaca doa ini. Kedua: Ketergelinciran Keburukan jenis ini identik dengan ketidaksengajaan. Baik menjadi pelaku keburukan tanpa disadari, maupun menjadi korban keburukan tanpa disengaja. Itu bisa saja terjadi, karena minimnya ilmu. Seperti orang yang terjerumus kepada syirik atau riba, akibat dia tidak tahu bahwa itu adalah syirik atau riba. Ketiga: Kezaliman Kezaliman ini bisa menyasar tubuh seseorang, harga dirinya, hartanya, keluarganya, atau hal lainnya. Lantaran adanya potensi tersebut, maka kita pun meminta perlindungan kepada Allah agar tidak menjadi pelaku kezaliman atau menjadi korbannya. Keempat: Kebodohan Kebodohan bisa bermakna perilaku bodoh atau ketidaktahuan. Contoh perilaku bodoh adalah melakukan tindak memalukan yang tidak pantas di depan umum. Sedangkan ketidaktahuan itu semisal tidak mengetahui hal-hal yang seharusnya diketahui, serta tidak ada yang mengajari. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Shafar 1445 / 28 Agustus 2023 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation BEBAS MEMILIH PINTU SURGA*Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 204 – DOA MASUK RUMAH Bag-1 SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 203 – DOA KELUAR RUMAH Bag-2

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 203 – DOA KELUAR RUMAH Bag-2 Posted on October 18, 2024by Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 203DOA KELUAR RUMAH Bag-2 Salah satu momen yang selalu dialami oleh setiap manusia adalah: keluar rumah untuk melakukan berbagai urusan, duniawi maupun ukhrawi. Karena itulah aktivitas ini mendapatkan perhatian dalam agama kita. Islam mengajarkan berbagai adab yang semestinya diperhatikan. Salah satunya adalah membaca doa keluar rumah. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas salah satu redaksi doa tersebut. Berikut redaksi yang lainnya: «اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ» “Allôhumma a’ûdzubika an adhilla au udholla, au azilla au uzalla, au adzlima au udzlama, au ajhala au yujhala ‘alayya”. Dalil Landasan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menuturkan, مَا خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ بَيْتِي قَطُّ إِلَّا رَفَعَ طَرْفَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ: «اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ» “Setiap kali Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar rumah, pasti beliau selalu mengangkat pandangannya ke langit seraya berdoa, “Allôhumma a’ûdzubika an adhilla au udholla, au azilla au uzalla, au adzlima au udzlama, au ajhala au yujhala ‘alayya (Ya Allah aku memohon perlindungan kepada-Mu agar (1) Tidak tersesat atau disesatkan orang lain, (2) Agar tidak tergelincir atau digelincirkan orang lain, (3) Agar tidak berbuat zalim atau dizalimi orang lain, serta (4) Agar tidak berbuat bodoh atau dibodohi orang lain)”. HR. Abu Dawud (no. 5094) dan dinilai hasan oleh Ibn Hajar al-‘Asqalâniy dalam Natâ’ij al-Afkâr (1/156). Renungan Kandungan Saat keluar rumah, mau tidak mau kita akan berinteraksi dengan orang lain. Padahal mereka amat beragam, ada yang baik dan ada yang jahat. Maka agar tidak terjerumus kepada hal-hal negatif, kita sangat membutuhkan perlindungan Allah ta’ala. Karena itulah di dalam hadits di atas, kita diajari untuk memohon perlindungan kepada-Nya dari empat macam keburukan. Entah itu sebagai pelaku atau sebagai korban: Pertama: Kesesatan Di setiap helaan nafas, kita selalu membutuhkan hidayah dan petunjuk dari Allah. Karena itulah kita memohon perlindungan kepada-Nya dari kesesatan, atau menyesatkan orang lain, atau disesatkan orang lain. Sangat mungkin seseorang keluar rumah tanpa ada niat melakukan keburukan, namun ternyata ia bertemu orang lain yang berupaya untuk menyesatkannya. Sehingga kita sangat perlu membaca doa ini. Kedua: Ketergelinciran Keburukan jenis ini identik dengan ketidaksengajaan. Baik menjadi pelaku keburukan tanpa disadari, maupun menjadi korban keburukan tanpa disengaja. Itu bisa saja terjadi, karena minimnya ilmu. Seperti orang yang terjerumus kepada syirik atau riba, akibat dia tidak tahu bahwa itu adalah syirik atau riba. Ketiga: Kezaliman Kezaliman ini bisa menyasar tubuh seseorang, harga dirinya, hartanya, keluarganya, atau hal lainnya. Lantaran adanya potensi tersebut, maka kita pun meminta perlindungan kepada Allah agar tidak menjadi pelaku kezaliman atau menjadi korbannya. Keempat: Kebodohan Kebodohan bisa bermakna perilaku bodoh atau ketidaktahuan. Contoh perilaku bodoh adalah melakukan tindak memalukan yang tidak pantas di depan umum. Sedangkan ketidaktahuan itu semisal tidak mengetahui hal-hal yang seharusnya diketahui, serta tidak ada yang mengajari. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Shafar 1445 / 28 Agustus 2023 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation BEBAS MEMILIH PINTU SURGA*Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 204 – DOA MASUK RUMAH Bag-1 SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories
Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 203 – DOA KELUAR RUMAH Bag-2 Posted on October 18, 2024by Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 203DOA KELUAR RUMAH Bag-2 Salah satu momen yang selalu dialami oleh setiap manusia adalah: keluar rumah untuk melakukan berbagai urusan, duniawi maupun ukhrawi. Karena itulah aktivitas ini mendapatkan perhatian dalam agama kita. Islam mengajarkan berbagai adab yang semestinya diperhatikan. Salah satunya adalah membaca doa keluar rumah. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas salah satu redaksi doa tersebut. Berikut redaksi yang lainnya: «اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ» “Allôhumma a’ûdzubika an adhilla au udholla, au azilla au uzalla, au adzlima au udzlama, au ajhala au yujhala ‘alayya”. Dalil Landasan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menuturkan, مَا خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ بَيْتِي قَطُّ إِلَّا رَفَعَ طَرْفَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ: «اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ» “Setiap kali Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar rumah, pasti beliau selalu mengangkat pandangannya ke langit seraya berdoa, “Allôhumma a’ûdzubika an adhilla au udholla, au azilla au uzalla, au adzlima au udzlama, au ajhala au yujhala ‘alayya (Ya Allah aku memohon perlindungan kepada-Mu agar (1) Tidak tersesat atau disesatkan orang lain, (2) Agar tidak tergelincir atau digelincirkan orang lain, (3) Agar tidak berbuat zalim atau dizalimi orang lain, serta (4) Agar tidak berbuat bodoh atau dibodohi orang lain)”. HR. Abu Dawud (no. 5094) dan dinilai hasan oleh Ibn Hajar al-‘Asqalâniy dalam Natâ’ij al-Afkâr (1/156). Renungan Kandungan Saat keluar rumah, mau tidak mau kita akan berinteraksi dengan orang lain. Padahal mereka amat beragam, ada yang baik dan ada yang jahat. Maka agar tidak terjerumus kepada hal-hal negatif, kita sangat membutuhkan perlindungan Allah ta’ala. Karena itulah di dalam hadits di atas, kita diajari untuk memohon perlindungan kepada-Nya dari empat macam keburukan. Entah itu sebagai pelaku atau sebagai korban: Pertama: Kesesatan Di setiap helaan nafas, kita selalu membutuhkan hidayah dan petunjuk dari Allah. Karena itulah kita memohon perlindungan kepada-Nya dari kesesatan, atau menyesatkan orang lain, atau disesatkan orang lain. Sangat mungkin seseorang keluar rumah tanpa ada niat melakukan keburukan, namun ternyata ia bertemu orang lain yang berupaya untuk menyesatkannya. Sehingga kita sangat perlu membaca doa ini. Kedua: Ketergelinciran Keburukan jenis ini identik dengan ketidaksengajaan. Baik menjadi pelaku keburukan tanpa disadari, maupun menjadi korban keburukan tanpa disengaja. Itu bisa saja terjadi, karena minimnya ilmu. Seperti orang yang terjerumus kepada syirik atau riba, akibat dia tidak tahu bahwa itu adalah syirik atau riba. Ketiga: Kezaliman Kezaliman ini bisa menyasar tubuh seseorang, harga dirinya, hartanya, keluarganya, atau hal lainnya. Lantaran adanya potensi tersebut, maka kita pun meminta perlindungan kepada Allah agar tidak menjadi pelaku kezaliman atau menjadi korbannya. Keempat: Kebodohan Kebodohan bisa bermakna perilaku bodoh atau ketidaktahuan. Contoh perilaku bodoh adalah melakukan tindak memalukan yang tidak pantas di depan umum. Sedangkan ketidaktahuan itu semisal tidak mengetahui hal-hal yang seharusnya diketahui, serta tidak ada yang mengajari. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Shafar 1445 / 28 Agustus 2023 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation BEBAS MEMILIH PINTU SURGA*Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 204 – DOA MASUK RUMAH Bag-1 SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories


Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 203 – DOA KELUAR RUMAH Bag-2 Posted on October 18, 2024by Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 203DOA KELUAR RUMAH Bag-2 Salah satu momen yang selalu dialami oleh setiap manusia adalah: keluar rumah untuk melakukan berbagai urusan, duniawi maupun ukhrawi. Karena itulah aktivitas ini mendapatkan perhatian dalam agama kita. Islam mengajarkan berbagai adab yang semestinya diperhatikan. Salah satunya adalah membaca doa keluar rumah. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas salah satu redaksi doa tersebut. Berikut redaksi yang lainnya: «اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ» “Allôhumma a’ûdzubika an adhilla au udholla, au azilla au uzalla, au adzlima au udzlama, au ajhala au yujhala ‘alayya”. Dalil Landasan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menuturkan, مَا خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ بَيْتِي قَطُّ إِلَّا رَفَعَ طَرْفَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ: «اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ» “Setiap kali Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar rumah, pasti beliau selalu mengangkat pandangannya ke langit seraya berdoa, “Allôhumma a’ûdzubika an adhilla au udholla, au azilla au uzalla, au adzlima au udzlama, au ajhala au yujhala ‘alayya (Ya Allah aku memohon perlindungan kepada-Mu agar (1) Tidak tersesat atau disesatkan orang lain, (2) Agar tidak tergelincir atau digelincirkan orang lain, (3) Agar tidak berbuat zalim atau dizalimi orang lain, serta (4) Agar tidak berbuat bodoh atau dibodohi orang lain)”. HR. Abu Dawud (no. 5094) dan dinilai hasan oleh Ibn Hajar al-‘Asqalâniy dalam Natâ’ij al-Afkâr (1/156). Renungan Kandungan Saat keluar rumah, mau tidak mau kita akan berinteraksi dengan orang lain. Padahal mereka amat beragam, ada yang baik dan ada yang jahat. Maka agar tidak terjerumus kepada hal-hal negatif, kita sangat membutuhkan perlindungan Allah ta’ala. Karena itulah di dalam hadits di atas, kita diajari untuk memohon perlindungan kepada-Nya dari empat macam keburukan. Entah itu sebagai pelaku atau sebagai korban: Pertama: Kesesatan Di setiap helaan nafas, kita selalu membutuhkan hidayah dan petunjuk dari Allah. Karena itulah kita memohon perlindungan kepada-Nya dari kesesatan, atau menyesatkan orang lain, atau disesatkan orang lain. Sangat mungkin seseorang keluar rumah tanpa ada niat melakukan keburukan, namun ternyata ia bertemu orang lain yang berupaya untuk menyesatkannya. Sehingga kita sangat perlu membaca doa ini. Kedua: Ketergelinciran Keburukan jenis ini identik dengan ketidaksengajaan. Baik menjadi pelaku keburukan tanpa disadari, maupun menjadi korban keburukan tanpa disengaja. Itu bisa saja terjadi, karena minimnya ilmu. Seperti orang yang terjerumus kepada syirik atau riba, akibat dia tidak tahu bahwa itu adalah syirik atau riba. Ketiga: Kezaliman Kezaliman ini bisa menyasar tubuh seseorang, harga dirinya, hartanya, keluarganya, atau hal lainnya. Lantaran adanya potensi tersebut, maka kita pun meminta perlindungan kepada Allah agar tidak menjadi pelaku kezaliman atau menjadi korbannya. Keempat: Kebodohan Kebodohan bisa bermakna perilaku bodoh atau ketidaktahuan. Contoh perilaku bodoh adalah melakukan tindak memalukan yang tidak pantas di depan umum. Sedangkan ketidaktahuan itu semisal tidak mengetahui hal-hal yang seharusnya diketahui, serta tidak ada yang mengajari. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Shafar 1445 / 28 Agustus 2023 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation BEBAS MEMILIH PINTU SURGA*Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 204 – DOA MASUK RUMAH Bag-1 SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories

Bagaimana Keadaan Hatimu dengan Allah? (Bagian 2)

كيف حال قلبك مع الله؟ Oleh: Musthofa Ibrahim Ruslan مصطفى إبراهيم رسلان كيف حالك مع التوبة والاستغفار؟ قال سبحانه: ﴿ فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ﴾ [نوح: 10 – 12]، وقال – صلى الله عليه وسلم -: ((من قال: أستغفر اللهَ الذي لا إله إلا هو الحيُّ القيومُ وأتوب إليه، غُفِرَ له وإن كان قد فر من الزحف))؛ صحيح: أبو داود. Bagaimana Keadaanmu dengan Tobat dan Istighfar Allah Ta’ala berfirman: فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu – sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun – niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنْ الزَّحْفِ “Barang siapa yang membaca: ASTAGHFIRULLAAH ALLADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QOYYUUMU WA ATUUBU ILAHI (Saya memohon ampun kepada Allah Yang Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri; dan aku bertobat kepada-Nya); maka akan diampuni dosa-dosanya walaupun ia pernah lari dari medan perang.” (Hadis ini sahih; diriwayatkan oleh Abu Daud). وكلُّ ابنِ آدم خطَّاء، وخيرُ الخطَّائين التوابون، فهل تُبْنَا إلى الله – سبحانه – من الكذب والغيبة والنميمة، والعجب والكبر، والنظر المحرم والبهتان، والعدوان والأذى والإساءة، وأكل الحرام والبذاءة والإهمال، والتفرق والتكلف والجبن، والجفاء والجهل، والحسد والحقد، والخبث والخداع والخيانة، والدياثة والربا والرشوة، والسفاهة وسوء الخُلق وسوء الظن، وسوء المعاملة والضَّلال والطمع، والطيش والظلم والعتو، والعقوق والغدر والغفلة، والفحش والفساد والقذف، والقسوة واللَّغو، واللؤم والمكْر، والمَنِّ والنفاق ونقض العهد؟ نحتاج إلى محاسبة فورية للنفس قبلَ أنْ نُطالِب بمحاسبة الغير! قال ابن عباس – رضي الله عنهما -: “إنَّ للحسنة لنورًا في القلب، وضياءً في الوجه، وقوةً في البدن، وسعةً في الرزق، ومحبةً في قلوب الخلق، وإنَّ للسيئة لظلمةً في القلب، وسوادًا في الوجه، ووهنًا في البدن، وضيقًا في الرِّزق، وبغضةً في قلوب الخلق”؛ “الزهد والورع والعبادة”؛ لابن القيم. Seluruh manusia pasti pernah bersalah, tapi sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang senantiasa bertobat. Lalu apakah kita sudah bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari dosa dusta, gibah, namimah, ujub, sombong, melihat hal yang haram, tuduhan, kezaliman, mengganggu orang lain, berlaku buruk terhadap orang lain, memakan harta haram, ucapan kotor, lalai, berpecah belah, sikap berlebih lebihan, kepengecutan, ketidakpedulian, kejahilan, iri, dengki, kebencian, penipuan, pengkhianatan, pelacuran, riba, suap, tindakan bodoh, akhlak tercela, prasangka buruk, perilaku yang buruk, kesesatan, ketamakan, menuduh orang lain berbuat keji, sikap kasar, omong kosong, pelit, tipu daya, mengungkit pemberian, kemunafikan, dan menyelisihi perjanjian? Kita harus segera mengintrospeksi diri sebelum kita mencari-cari kesalahan orang lain! Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Sesungguhnya amal kebaikan dapat mendatangkan cahaya dalam hati, kecerahan di wajah, kekuatan di badan, kelapangan dalam rezeki, dan kecintaan dalam hati para makhluk. Sedangkan amal keburukan dapat mendatangkan kegelapan dalam hati, kesuraman di wajah, kelemahan di badan, kesempitan dalam rezeki, dan kebencian dalam hati para makhluk.” (Kitab: “az-Zuhd wa al-Wara’ wa al-Ibadah” karya Ibnu al-Qayyim). هل تُبنا من استعظامِ النِّعمة والرُّكونِ إليها مع نسيان إضافتها إلى المنعم؟ الأمر جدٌّ ليس بالهين، قال – سبحانه -: ﴿ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ ﴾ [التكاثر : 8]، قال زيد بن أسلم – رضي الله عنه -: عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – في هذه الآية: ((يعني: شِبَعَ البطون، وباردَ الشَّراب، وظلالَ المساكن، واعتدالَ الخلق، ولذةَ النوم))؛ رواه ابن أبي حاتم (“تفسير ابن كثير”). Apakah Kita Sudah Bertobat dari Mengingkari Kenikmatan, dan Terbuai dalam Kenikmatan Disertai Kelalaian dalam Mensyukuri Sang Pemberi Nikmat? Ini merupakan perkara serius, bukan perkara remeh. Allah Ta’ala berfirman: ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ “Kemudian kalian pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kalian nikmati di dunia).” (QS. At-Takatsur: 8). Zaid bin Aslam radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang maksud ayat ini, “Yaitu kenikmatan pada kenyangnya perut, minuman yang segar, naungan tempat tinggal, badan yang sempurna (tanpa cacat), dan nyenyaknya tidur.” (HR. Ibnu Abi Hatim). (Disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir). الواحد منَّا إذا قام بركعتين، أو صام يومًا، أو تصدق بصدقةٍ، أو عمل عملاً صالحًا، أو دعا النَّاس إلى خير – ركن إلى عمله وإلى نفسِه، ونسي منَّةَ الله عليه؛ أنه – سبحانه – هو الذي أعانه ووفَّقه لهذا العمل؛ عن سلمةَ بنِ الأكوع – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: ((لا يزال الرَّجلُ يذهب بنفسِه حتَّى يكتب في الجبَّارين، فيصيبه ما أصابهم))؛ حسن: الترمذي Salah seorang dari kita apabila selesai melaksanakan shalat dua rakaat, puasa satu hari, bersedekah, melakukan suatu amal saleh, atau mengajak orang lain menuju kebaikan; dia condong kepada amalan dan dirinya, lalu melupakan kenikmatan dari Allah; padahal Dialah yang menolong dan memberinya kemudahan untuk menjalankan amalan tersebut.  Diriwayatkan dari Salamah bin al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَذْهَبُ بِنَفْسِهِ حَتَّى يُكْتَبَ فِي الْجَبَّارِينَ فَيُصِيبُهُ مَا أَصَابَهُمْ “Tidaklah seseorang senantiasa menyombongkan dirinya hingga dia dituliskan termasuk dalam golongan orang-orang yang berlaku semena-mena, sehingga dia akan tertimpa apa yang telah menimpa mereka.” (Hadis dengan derajat hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi). فالمسألة ليست مسألة كفٍّ عن الذنب والمعصية فحسْب، لا؛ بل ربما يكفُّ المرء عن المعصية الظاهرة فتعجبه نفسه، فيقع فيما هو أشد من الذَّنب؛ عن أنس – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: ((لو لم تذنبوا، لخشيتُ عليكم ما هو أكبر منه؛ العجب))؛ قال المنذري في الترغيب والترهيب: رواه البزار بإسناد جي Perkara ini bukan hanya perkara menahan diri dari dosa dan kemaksiatan semata; tidak! Karena bisa jadi seseorang menahan diri dari kemaksiatan yang terang-terangan, sehingga dirinya merasa ujub (membangga-banggakan diri sendiri), sehingga dia terjerumus ke dalam hal yang lebih besar dari dosa itu sendiri.  Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَخَشِيتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْهُ العُجْبُ “Seandainya kalian tidak berbuat dosa, aku pasti khawatir kalian akan melakukan dosa yang lebih besar daripada itu, yaitu ujub.” (al-Mundziri mengatakan dalam kitab “at-Targhib wa at-Tarhib”, “Diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan sanad yang baik). وقال مالك بن دينار – رحمه الله -: “رحم اللهُ عبدًا قال لنفسِه: ألستِ صاحبة كذا؟ ألست صاحبة كذا؟ ثمَّ ذمَّها، ثمَّ خطمها، ثمَّ ألزمها كتابَ الله – عزَّ وجلَّ – فكان لها قائدًا”؛ (“محاسبة النفس”؛ لابن أبي الدنيا)، فكفى بالمرء علمًا أنْ يخشى اللَّهَ، وكفى بالمرء جهلاً أن يُعجَب بعلمِه؛ عن مسروق: “الإحياء”. Malik bin Dinar rahimahullah pernah berkata, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berkata kepada dirinya sendiri, ‘Bukankah kamu pelaku dosa ini?! Bukankah kamu pelaku dosa itu?!’ Dia mencela dirinya, membungkamnya, dan menjadikannya berpegang pada Kitab Allah ‘Azza wa Jalla; sehingga dia telah menjadi pengarah bagi dirinya sendiri.” (Kitab “Muhasabah an-Nafs” karya Ibnu Abi ad-Dunya). Cukuplah seseorang dianggap berilmu jika dia takut kepada Allah; dan cukuplah seseorang dianggap bodoh jika dia bangga dengan amalannya. (Diriwayatkan dari Masruq dalam kitab “al-Ihya’”). كيف حالك مع القرآن والذكر؟ قال عثمان – رضي الله عنه -: “لو طَهُرَتْ قلوبُكم، ما شبعتم من كلامِ ربكم”، وقال ابن مسعود – رضي الله عنه -: “من أحبَّ القرآنَ أحب اللهَ ورسولَه”؛ “جامع العلوم والحكم”، وقال الحسن: “رحم اللهُ عبدًا عرض نفسَه وعمله على كتاب الله، فإن وافق كتابَ الله، حمد الله وسأله الزيادة، وإن خالف كتاب الله، أعتب نفسَه ورجع من قريب”؛ “أخلاق أهل القرآن”؛ للآجري. Bagaimana Keadaanmu dengan Al-Quran dan Zikir? Utsman radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seandainya hati kalian bersih, niscaya kalian tidak akan kenyang dengan firman Tuhan kalian!” Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barang siapa yang mencintai al-Quran, maka dia telah mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (Kitab: “Jami al-Ulum wa al-Hikmah”). Al-Hasan berkata, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang menimbang dirinya dan amalannya dengan Kitab Allah; apabila sesuai dengan Kitab Allah, maka dia bertahmid memuji Allah dan memohon peningkatan kepada-Nya; tapi jika menyelisihi Kitab Allah, maka dia menasihati dirinya dan segera bertobat.” (Kitab: “Akhlaq Ahl al-Quran” karya al-Ajurri). والذِّكر مبذولٌ لكل الناس، لا يحتاج إلى كثير كُلفة، ومع ذلك فأمةٌ منا لا يُستهان بها تفشل حتى في هذا المشعر السهل الهيِّن، قال – صلى الله عليه وسلم -: ((ما تستقل الشمس فيبقى شيءٌ من خلقِ الله إلا سبَّح الله بحمده، إلا ما كان من الشياطين، وأغبياء بني آدم))؛ أخرجه أبو نعيم في الحلية. وعن أبي هريرة – رضي الله عنه -: عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: أنَّه قال: ((من قعد مقعدًا لم يذكرِ اللَّهَ فيه، كانت عليه من اللَّه تِرَةٌ، ومن اضطجع مضجعًا لا يذكر اللَّهَ فيه، كانت عليه من اللَّه تِرَةٌ))، أي: تبعة ونقص وحسرة؛ حسن: أبو داود. وكلُّ امريءٍ حجيجُ نفسِه، فكفانا غفلة، وهلمَّ إلى يقظة عاجلة، فربَّ شروقٍ لا غروبَ له، وربَّ ليل لا نهار له، وكم من رجلٍ أصبح من أهل الدنيا وأمسى من أهل الآخرة! Zikir dapat dilakukan oleh setiap orang, tidak memerlukan usaha besar. Kendati demikian, banyak sekali dari kita yang gagal bahkan dalam ibadah yang sangat mudah ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَا تَسْتَقِلُّ الشَّمْسُ فَيَبْقَى شَيْءٌ مِنْ خَلْقِ اللهِ إِلَّا سَبَّحَ اللهَ بِحَمْدِهِ، إِلَّا مَا كَانَ مِنَ الشَّيَاطِيْنِ، وَأَغْبِيَاءِ بَنِي آدَمَ “Tidaklah matahari itu terbit lalu ada satu makhluk Allah kecuali dia bertasbih memuji kepada Allah, kecuali makhluk dari golongan setan dan orang-orang bodoh dari Bani Adam.” (Diriwayatkan oleh Abu Na’im dalam kitab “al-Hilyah”). Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: مَنْ قعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرِ الله تَعَالَى فِيهِ كَانَت عَلَيْهِ مِنَ اللهِ ترَة، وَمَن اضطجَعَ مُضْطَجَعًا لا يَذْكرُ الله تَعَالَى فِيهِ كَاَنتْ عَليْه مِنَ اللهِ تِرَةٌ “Barang siapa yang duduk di suatu tempat, lalu tidak menyebut nama Allah (berzikir) di sana, maka itu di sisi Allah akan menjadi kerugian baginya. Dan barang siapa berbaring lalu tidak menyebut nama Allah (berzikir) di sana, maka itu akan menjadi kerugian baginya di sisi Allah.” (Hadis ini derajatnya hasan, diriwayatkan oleh Abu Daud).  Yakni menjadi penuntut, kekurangan, dan kerugian. Setiap orang yang menjadi penuntut bagi dirinya sendiri. Oleh sebab itu, cukuplah kita dari kelalaian, dan mari kita segera sadar; karena bisa jadi matahari yang terbit ini tidak lagi tenggelam, dan malam tidak lagi disongsong siang. Betapa banyak orang yang pada pagi hari masih menjadi penghuni dunia, lalu pada sore harinya dia telah menjadi penghuni akhirat! *) Artikel ini diterjemahkan oleh tim Yufid Network. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/30941/كيف-حال-قلبك-مع-الله؟/#_ftnref1 PDF Sumber Artikel. 🔍 Pohon Zakum, Cara Membuat Orang Kesurupan Dengan Cepat, Doa Rukiyah, Bacaan Ijab Kabul, Niat Puasa Pengganti Bulan Ramadhan Visited 722 times, 1 visit(s) today Post Views: 828 QRIS donasi Yufid

Bagaimana Keadaan Hatimu dengan Allah? (Bagian 2)

كيف حال قلبك مع الله؟ Oleh: Musthofa Ibrahim Ruslan مصطفى إبراهيم رسلان كيف حالك مع التوبة والاستغفار؟ قال سبحانه: ﴿ فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ﴾ [نوح: 10 – 12]، وقال – صلى الله عليه وسلم -: ((من قال: أستغفر اللهَ الذي لا إله إلا هو الحيُّ القيومُ وأتوب إليه، غُفِرَ له وإن كان قد فر من الزحف))؛ صحيح: أبو داود. Bagaimana Keadaanmu dengan Tobat dan Istighfar Allah Ta’ala berfirman: فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu – sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun – niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنْ الزَّحْفِ “Barang siapa yang membaca: ASTAGHFIRULLAAH ALLADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QOYYUUMU WA ATUUBU ILAHI (Saya memohon ampun kepada Allah Yang Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri; dan aku bertobat kepada-Nya); maka akan diampuni dosa-dosanya walaupun ia pernah lari dari medan perang.” (Hadis ini sahih; diriwayatkan oleh Abu Daud). وكلُّ ابنِ آدم خطَّاء، وخيرُ الخطَّائين التوابون، فهل تُبْنَا إلى الله – سبحانه – من الكذب والغيبة والنميمة، والعجب والكبر، والنظر المحرم والبهتان، والعدوان والأذى والإساءة، وأكل الحرام والبذاءة والإهمال، والتفرق والتكلف والجبن، والجفاء والجهل، والحسد والحقد، والخبث والخداع والخيانة، والدياثة والربا والرشوة، والسفاهة وسوء الخُلق وسوء الظن، وسوء المعاملة والضَّلال والطمع، والطيش والظلم والعتو، والعقوق والغدر والغفلة، والفحش والفساد والقذف، والقسوة واللَّغو، واللؤم والمكْر، والمَنِّ والنفاق ونقض العهد؟ نحتاج إلى محاسبة فورية للنفس قبلَ أنْ نُطالِب بمحاسبة الغير! قال ابن عباس – رضي الله عنهما -: “إنَّ للحسنة لنورًا في القلب، وضياءً في الوجه، وقوةً في البدن، وسعةً في الرزق، ومحبةً في قلوب الخلق، وإنَّ للسيئة لظلمةً في القلب، وسوادًا في الوجه، ووهنًا في البدن، وضيقًا في الرِّزق، وبغضةً في قلوب الخلق”؛ “الزهد والورع والعبادة”؛ لابن القيم. Seluruh manusia pasti pernah bersalah, tapi sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang senantiasa bertobat. Lalu apakah kita sudah bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari dosa dusta, gibah, namimah, ujub, sombong, melihat hal yang haram, tuduhan, kezaliman, mengganggu orang lain, berlaku buruk terhadap orang lain, memakan harta haram, ucapan kotor, lalai, berpecah belah, sikap berlebih lebihan, kepengecutan, ketidakpedulian, kejahilan, iri, dengki, kebencian, penipuan, pengkhianatan, pelacuran, riba, suap, tindakan bodoh, akhlak tercela, prasangka buruk, perilaku yang buruk, kesesatan, ketamakan, menuduh orang lain berbuat keji, sikap kasar, omong kosong, pelit, tipu daya, mengungkit pemberian, kemunafikan, dan menyelisihi perjanjian? Kita harus segera mengintrospeksi diri sebelum kita mencari-cari kesalahan orang lain! Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Sesungguhnya amal kebaikan dapat mendatangkan cahaya dalam hati, kecerahan di wajah, kekuatan di badan, kelapangan dalam rezeki, dan kecintaan dalam hati para makhluk. Sedangkan amal keburukan dapat mendatangkan kegelapan dalam hati, kesuraman di wajah, kelemahan di badan, kesempitan dalam rezeki, dan kebencian dalam hati para makhluk.” (Kitab: “az-Zuhd wa al-Wara’ wa al-Ibadah” karya Ibnu al-Qayyim). هل تُبنا من استعظامِ النِّعمة والرُّكونِ إليها مع نسيان إضافتها إلى المنعم؟ الأمر جدٌّ ليس بالهين، قال – سبحانه -: ﴿ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ ﴾ [التكاثر : 8]، قال زيد بن أسلم – رضي الله عنه -: عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – في هذه الآية: ((يعني: شِبَعَ البطون، وباردَ الشَّراب، وظلالَ المساكن، واعتدالَ الخلق، ولذةَ النوم))؛ رواه ابن أبي حاتم (“تفسير ابن كثير”). Apakah Kita Sudah Bertobat dari Mengingkari Kenikmatan, dan Terbuai dalam Kenikmatan Disertai Kelalaian dalam Mensyukuri Sang Pemberi Nikmat? Ini merupakan perkara serius, bukan perkara remeh. Allah Ta’ala berfirman: ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ “Kemudian kalian pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kalian nikmati di dunia).” (QS. At-Takatsur: 8). Zaid bin Aslam radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang maksud ayat ini, “Yaitu kenikmatan pada kenyangnya perut, minuman yang segar, naungan tempat tinggal, badan yang sempurna (tanpa cacat), dan nyenyaknya tidur.” (HR. Ibnu Abi Hatim). (Disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir). الواحد منَّا إذا قام بركعتين، أو صام يومًا، أو تصدق بصدقةٍ، أو عمل عملاً صالحًا، أو دعا النَّاس إلى خير – ركن إلى عمله وإلى نفسِه، ونسي منَّةَ الله عليه؛ أنه – سبحانه – هو الذي أعانه ووفَّقه لهذا العمل؛ عن سلمةَ بنِ الأكوع – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: ((لا يزال الرَّجلُ يذهب بنفسِه حتَّى يكتب في الجبَّارين، فيصيبه ما أصابهم))؛ حسن: الترمذي Salah seorang dari kita apabila selesai melaksanakan shalat dua rakaat, puasa satu hari, bersedekah, melakukan suatu amal saleh, atau mengajak orang lain menuju kebaikan; dia condong kepada amalan dan dirinya, lalu melupakan kenikmatan dari Allah; padahal Dialah yang menolong dan memberinya kemudahan untuk menjalankan amalan tersebut.  Diriwayatkan dari Salamah bin al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَذْهَبُ بِنَفْسِهِ حَتَّى يُكْتَبَ فِي الْجَبَّارِينَ فَيُصِيبُهُ مَا أَصَابَهُمْ “Tidaklah seseorang senantiasa menyombongkan dirinya hingga dia dituliskan termasuk dalam golongan orang-orang yang berlaku semena-mena, sehingga dia akan tertimpa apa yang telah menimpa mereka.” (Hadis dengan derajat hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi). فالمسألة ليست مسألة كفٍّ عن الذنب والمعصية فحسْب، لا؛ بل ربما يكفُّ المرء عن المعصية الظاهرة فتعجبه نفسه، فيقع فيما هو أشد من الذَّنب؛ عن أنس – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: ((لو لم تذنبوا، لخشيتُ عليكم ما هو أكبر منه؛ العجب))؛ قال المنذري في الترغيب والترهيب: رواه البزار بإسناد جي Perkara ini bukan hanya perkara menahan diri dari dosa dan kemaksiatan semata; tidak! Karena bisa jadi seseorang menahan diri dari kemaksiatan yang terang-terangan, sehingga dirinya merasa ujub (membangga-banggakan diri sendiri), sehingga dia terjerumus ke dalam hal yang lebih besar dari dosa itu sendiri.  Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَخَشِيتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْهُ العُجْبُ “Seandainya kalian tidak berbuat dosa, aku pasti khawatir kalian akan melakukan dosa yang lebih besar daripada itu, yaitu ujub.” (al-Mundziri mengatakan dalam kitab “at-Targhib wa at-Tarhib”, “Diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan sanad yang baik). وقال مالك بن دينار – رحمه الله -: “رحم اللهُ عبدًا قال لنفسِه: ألستِ صاحبة كذا؟ ألست صاحبة كذا؟ ثمَّ ذمَّها، ثمَّ خطمها، ثمَّ ألزمها كتابَ الله – عزَّ وجلَّ – فكان لها قائدًا”؛ (“محاسبة النفس”؛ لابن أبي الدنيا)، فكفى بالمرء علمًا أنْ يخشى اللَّهَ، وكفى بالمرء جهلاً أن يُعجَب بعلمِه؛ عن مسروق: “الإحياء”. Malik bin Dinar rahimahullah pernah berkata, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berkata kepada dirinya sendiri, ‘Bukankah kamu pelaku dosa ini?! Bukankah kamu pelaku dosa itu?!’ Dia mencela dirinya, membungkamnya, dan menjadikannya berpegang pada Kitab Allah ‘Azza wa Jalla; sehingga dia telah menjadi pengarah bagi dirinya sendiri.” (Kitab “Muhasabah an-Nafs” karya Ibnu Abi ad-Dunya). Cukuplah seseorang dianggap berilmu jika dia takut kepada Allah; dan cukuplah seseorang dianggap bodoh jika dia bangga dengan amalannya. (Diriwayatkan dari Masruq dalam kitab “al-Ihya’”). كيف حالك مع القرآن والذكر؟ قال عثمان – رضي الله عنه -: “لو طَهُرَتْ قلوبُكم، ما شبعتم من كلامِ ربكم”، وقال ابن مسعود – رضي الله عنه -: “من أحبَّ القرآنَ أحب اللهَ ورسولَه”؛ “جامع العلوم والحكم”، وقال الحسن: “رحم اللهُ عبدًا عرض نفسَه وعمله على كتاب الله، فإن وافق كتابَ الله، حمد الله وسأله الزيادة، وإن خالف كتاب الله، أعتب نفسَه ورجع من قريب”؛ “أخلاق أهل القرآن”؛ للآجري. Bagaimana Keadaanmu dengan Al-Quran dan Zikir? Utsman radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seandainya hati kalian bersih, niscaya kalian tidak akan kenyang dengan firman Tuhan kalian!” Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barang siapa yang mencintai al-Quran, maka dia telah mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (Kitab: “Jami al-Ulum wa al-Hikmah”). Al-Hasan berkata, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang menimbang dirinya dan amalannya dengan Kitab Allah; apabila sesuai dengan Kitab Allah, maka dia bertahmid memuji Allah dan memohon peningkatan kepada-Nya; tapi jika menyelisihi Kitab Allah, maka dia menasihati dirinya dan segera bertobat.” (Kitab: “Akhlaq Ahl al-Quran” karya al-Ajurri). والذِّكر مبذولٌ لكل الناس، لا يحتاج إلى كثير كُلفة، ومع ذلك فأمةٌ منا لا يُستهان بها تفشل حتى في هذا المشعر السهل الهيِّن، قال – صلى الله عليه وسلم -: ((ما تستقل الشمس فيبقى شيءٌ من خلقِ الله إلا سبَّح الله بحمده، إلا ما كان من الشياطين، وأغبياء بني آدم))؛ أخرجه أبو نعيم في الحلية. وعن أبي هريرة – رضي الله عنه -: عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: أنَّه قال: ((من قعد مقعدًا لم يذكرِ اللَّهَ فيه، كانت عليه من اللَّه تِرَةٌ، ومن اضطجع مضجعًا لا يذكر اللَّهَ فيه، كانت عليه من اللَّه تِرَةٌ))، أي: تبعة ونقص وحسرة؛ حسن: أبو داود. وكلُّ امريءٍ حجيجُ نفسِه، فكفانا غفلة، وهلمَّ إلى يقظة عاجلة، فربَّ شروقٍ لا غروبَ له، وربَّ ليل لا نهار له، وكم من رجلٍ أصبح من أهل الدنيا وأمسى من أهل الآخرة! Zikir dapat dilakukan oleh setiap orang, tidak memerlukan usaha besar. Kendati demikian, banyak sekali dari kita yang gagal bahkan dalam ibadah yang sangat mudah ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَا تَسْتَقِلُّ الشَّمْسُ فَيَبْقَى شَيْءٌ مِنْ خَلْقِ اللهِ إِلَّا سَبَّحَ اللهَ بِحَمْدِهِ، إِلَّا مَا كَانَ مِنَ الشَّيَاطِيْنِ، وَأَغْبِيَاءِ بَنِي آدَمَ “Tidaklah matahari itu terbit lalu ada satu makhluk Allah kecuali dia bertasbih memuji kepada Allah, kecuali makhluk dari golongan setan dan orang-orang bodoh dari Bani Adam.” (Diriwayatkan oleh Abu Na’im dalam kitab “al-Hilyah”). Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: مَنْ قعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرِ الله تَعَالَى فِيهِ كَانَت عَلَيْهِ مِنَ اللهِ ترَة، وَمَن اضطجَعَ مُضْطَجَعًا لا يَذْكرُ الله تَعَالَى فِيهِ كَاَنتْ عَليْه مِنَ اللهِ تِرَةٌ “Barang siapa yang duduk di suatu tempat, lalu tidak menyebut nama Allah (berzikir) di sana, maka itu di sisi Allah akan menjadi kerugian baginya. Dan barang siapa berbaring lalu tidak menyebut nama Allah (berzikir) di sana, maka itu akan menjadi kerugian baginya di sisi Allah.” (Hadis ini derajatnya hasan, diriwayatkan oleh Abu Daud).  Yakni menjadi penuntut, kekurangan, dan kerugian. Setiap orang yang menjadi penuntut bagi dirinya sendiri. Oleh sebab itu, cukuplah kita dari kelalaian, dan mari kita segera sadar; karena bisa jadi matahari yang terbit ini tidak lagi tenggelam, dan malam tidak lagi disongsong siang. Betapa banyak orang yang pada pagi hari masih menjadi penghuni dunia, lalu pada sore harinya dia telah menjadi penghuni akhirat! *) Artikel ini diterjemahkan oleh tim Yufid Network. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/30941/كيف-حال-قلبك-مع-الله؟/#_ftnref1 PDF Sumber Artikel. 🔍 Pohon Zakum, Cara Membuat Orang Kesurupan Dengan Cepat, Doa Rukiyah, Bacaan Ijab Kabul, Niat Puasa Pengganti Bulan Ramadhan Visited 722 times, 1 visit(s) today Post Views: 828 QRIS donasi Yufid
كيف حال قلبك مع الله؟ Oleh: Musthofa Ibrahim Ruslan مصطفى إبراهيم رسلان كيف حالك مع التوبة والاستغفار؟ قال سبحانه: ﴿ فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ﴾ [نوح: 10 – 12]، وقال – صلى الله عليه وسلم -: ((من قال: أستغفر اللهَ الذي لا إله إلا هو الحيُّ القيومُ وأتوب إليه، غُفِرَ له وإن كان قد فر من الزحف))؛ صحيح: أبو داود. Bagaimana Keadaanmu dengan Tobat dan Istighfar Allah Ta’ala berfirman: فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu – sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun – niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنْ الزَّحْفِ “Barang siapa yang membaca: ASTAGHFIRULLAAH ALLADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QOYYUUMU WA ATUUBU ILAHI (Saya memohon ampun kepada Allah Yang Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri; dan aku bertobat kepada-Nya); maka akan diampuni dosa-dosanya walaupun ia pernah lari dari medan perang.” (Hadis ini sahih; diriwayatkan oleh Abu Daud). وكلُّ ابنِ آدم خطَّاء، وخيرُ الخطَّائين التوابون، فهل تُبْنَا إلى الله – سبحانه – من الكذب والغيبة والنميمة، والعجب والكبر، والنظر المحرم والبهتان، والعدوان والأذى والإساءة، وأكل الحرام والبذاءة والإهمال، والتفرق والتكلف والجبن، والجفاء والجهل، والحسد والحقد، والخبث والخداع والخيانة، والدياثة والربا والرشوة، والسفاهة وسوء الخُلق وسوء الظن، وسوء المعاملة والضَّلال والطمع، والطيش والظلم والعتو، والعقوق والغدر والغفلة، والفحش والفساد والقذف، والقسوة واللَّغو، واللؤم والمكْر، والمَنِّ والنفاق ونقض العهد؟ نحتاج إلى محاسبة فورية للنفس قبلَ أنْ نُطالِب بمحاسبة الغير! قال ابن عباس – رضي الله عنهما -: “إنَّ للحسنة لنورًا في القلب، وضياءً في الوجه، وقوةً في البدن، وسعةً في الرزق، ومحبةً في قلوب الخلق، وإنَّ للسيئة لظلمةً في القلب، وسوادًا في الوجه، ووهنًا في البدن، وضيقًا في الرِّزق، وبغضةً في قلوب الخلق”؛ “الزهد والورع والعبادة”؛ لابن القيم. Seluruh manusia pasti pernah bersalah, tapi sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang senantiasa bertobat. Lalu apakah kita sudah bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari dosa dusta, gibah, namimah, ujub, sombong, melihat hal yang haram, tuduhan, kezaliman, mengganggu orang lain, berlaku buruk terhadap orang lain, memakan harta haram, ucapan kotor, lalai, berpecah belah, sikap berlebih lebihan, kepengecutan, ketidakpedulian, kejahilan, iri, dengki, kebencian, penipuan, pengkhianatan, pelacuran, riba, suap, tindakan bodoh, akhlak tercela, prasangka buruk, perilaku yang buruk, kesesatan, ketamakan, menuduh orang lain berbuat keji, sikap kasar, omong kosong, pelit, tipu daya, mengungkit pemberian, kemunafikan, dan menyelisihi perjanjian? Kita harus segera mengintrospeksi diri sebelum kita mencari-cari kesalahan orang lain! Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Sesungguhnya amal kebaikan dapat mendatangkan cahaya dalam hati, kecerahan di wajah, kekuatan di badan, kelapangan dalam rezeki, dan kecintaan dalam hati para makhluk. Sedangkan amal keburukan dapat mendatangkan kegelapan dalam hati, kesuraman di wajah, kelemahan di badan, kesempitan dalam rezeki, dan kebencian dalam hati para makhluk.” (Kitab: “az-Zuhd wa al-Wara’ wa al-Ibadah” karya Ibnu al-Qayyim). هل تُبنا من استعظامِ النِّعمة والرُّكونِ إليها مع نسيان إضافتها إلى المنعم؟ الأمر جدٌّ ليس بالهين، قال – سبحانه -: ﴿ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ ﴾ [التكاثر : 8]، قال زيد بن أسلم – رضي الله عنه -: عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – في هذه الآية: ((يعني: شِبَعَ البطون، وباردَ الشَّراب، وظلالَ المساكن، واعتدالَ الخلق، ولذةَ النوم))؛ رواه ابن أبي حاتم (“تفسير ابن كثير”). Apakah Kita Sudah Bertobat dari Mengingkari Kenikmatan, dan Terbuai dalam Kenikmatan Disertai Kelalaian dalam Mensyukuri Sang Pemberi Nikmat? Ini merupakan perkara serius, bukan perkara remeh. Allah Ta’ala berfirman: ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ “Kemudian kalian pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kalian nikmati di dunia).” (QS. At-Takatsur: 8). Zaid bin Aslam radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang maksud ayat ini, “Yaitu kenikmatan pada kenyangnya perut, minuman yang segar, naungan tempat tinggal, badan yang sempurna (tanpa cacat), dan nyenyaknya tidur.” (HR. Ibnu Abi Hatim). (Disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir). الواحد منَّا إذا قام بركعتين، أو صام يومًا، أو تصدق بصدقةٍ، أو عمل عملاً صالحًا، أو دعا النَّاس إلى خير – ركن إلى عمله وإلى نفسِه، ونسي منَّةَ الله عليه؛ أنه – سبحانه – هو الذي أعانه ووفَّقه لهذا العمل؛ عن سلمةَ بنِ الأكوع – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: ((لا يزال الرَّجلُ يذهب بنفسِه حتَّى يكتب في الجبَّارين، فيصيبه ما أصابهم))؛ حسن: الترمذي Salah seorang dari kita apabila selesai melaksanakan shalat dua rakaat, puasa satu hari, bersedekah, melakukan suatu amal saleh, atau mengajak orang lain menuju kebaikan; dia condong kepada amalan dan dirinya, lalu melupakan kenikmatan dari Allah; padahal Dialah yang menolong dan memberinya kemudahan untuk menjalankan amalan tersebut.  Diriwayatkan dari Salamah bin al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَذْهَبُ بِنَفْسِهِ حَتَّى يُكْتَبَ فِي الْجَبَّارِينَ فَيُصِيبُهُ مَا أَصَابَهُمْ “Tidaklah seseorang senantiasa menyombongkan dirinya hingga dia dituliskan termasuk dalam golongan orang-orang yang berlaku semena-mena, sehingga dia akan tertimpa apa yang telah menimpa mereka.” (Hadis dengan derajat hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi). فالمسألة ليست مسألة كفٍّ عن الذنب والمعصية فحسْب، لا؛ بل ربما يكفُّ المرء عن المعصية الظاهرة فتعجبه نفسه، فيقع فيما هو أشد من الذَّنب؛ عن أنس – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: ((لو لم تذنبوا، لخشيتُ عليكم ما هو أكبر منه؛ العجب))؛ قال المنذري في الترغيب والترهيب: رواه البزار بإسناد جي Perkara ini bukan hanya perkara menahan diri dari dosa dan kemaksiatan semata; tidak! Karena bisa jadi seseorang menahan diri dari kemaksiatan yang terang-terangan, sehingga dirinya merasa ujub (membangga-banggakan diri sendiri), sehingga dia terjerumus ke dalam hal yang lebih besar dari dosa itu sendiri.  Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَخَشِيتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْهُ العُجْبُ “Seandainya kalian tidak berbuat dosa, aku pasti khawatir kalian akan melakukan dosa yang lebih besar daripada itu, yaitu ujub.” (al-Mundziri mengatakan dalam kitab “at-Targhib wa at-Tarhib”, “Diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan sanad yang baik). وقال مالك بن دينار – رحمه الله -: “رحم اللهُ عبدًا قال لنفسِه: ألستِ صاحبة كذا؟ ألست صاحبة كذا؟ ثمَّ ذمَّها، ثمَّ خطمها، ثمَّ ألزمها كتابَ الله – عزَّ وجلَّ – فكان لها قائدًا”؛ (“محاسبة النفس”؛ لابن أبي الدنيا)، فكفى بالمرء علمًا أنْ يخشى اللَّهَ، وكفى بالمرء جهلاً أن يُعجَب بعلمِه؛ عن مسروق: “الإحياء”. Malik bin Dinar rahimahullah pernah berkata, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berkata kepada dirinya sendiri, ‘Bukankah kamu pelaku dosa ini?! Bukankah kamu pelaku dosa itu?!’ Dia mencela dirinya, membungkamnya, dan menjadikannya berpegang pada Kitab Allah ‘Azza wa Jalla; sehingga dia telah menjadi pengarah bagi dirinya sendiri.” (Kitab “Muhasabah an-Nafs” karya Ibnu Abi ad-Dunya). Cukuplah seseorang dianggap berilmu jika dia takut kepada Allah; dan cukuplah seseorang dianggap bodoh jika dia bangga dengan amalannya. (Diriwayatkan dari Masruq dalam kitab “al-Ihya’”). كيف حالك مع القرآن والذكر؟ قال عثمان – رضي الله عنه -: “لو طَهُرَتْ قلوبُكم، ما شبعتم من كلامِ ربكم”، وقال ابن مسعود – رضي الله عنه -: “من أحبَّ القرآنَ أحب اللهَ ورسولَه”؛ “جامع العلوم والحكم”، وقال الحسن: “رحم اللهُ عبدًا عرض نفسَه وعمله على كتاب الله، فإن وافق كتابَ الله، حمد الله وسأله الزيادة، وإن خالف كتاب الله، أعتب نفسَه ورجع من قريب”؛ “أخلاق أهل القرآن”؛ للآجري. Bagaimana Keadaanmu dengan Al-Quran dan Zikir? Utsman radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seandainya hati kalian bersih, niscaya kalian tidak akan kenyang dengan firman Tuhan kalian!” Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barang siapa yang mencintai al-Quran, maka dia telah mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (Kitab: “Jami al-Ulum wa al-Hikmah”). Al-Hasan berkata, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang menimbang dirinya dan amalannya dengan Kitab Allah; apabila sesuai dengan Kitab Allah, maka dia bertahmid memuji Allah dan memohon peningkatan kepada-Nya; tapi jika menyelisihi Kitab Allah, maka dia menasihati dirinya dan segera bertobat.” (Kitab: “Akhlaq Ahl al-Quran” karya al-Ajurri). والذِّكر مبذولٌ لكل الناس، لا يحتاج إلى كثير كُلفة، ومع ذلك فأمةٌ منا لا يُستهان بها تفشل حتى في هذا المشعر السهل الهيِّن، قال – صلى الله عليه وسلم -: ((ما تستقل الشمس فيبقى شيءٌ من خلقِ الله إلا سبَّح الله بحمده، إلا ما كان من الشياطين، وأغبياء بني آدم))؛ أخرجه أبو نعيم في الحلية. وعن أبي هريرة – رضي الله عنه -: عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: أنَّه قال: ((من قعد مقعدًا لم يذكرِ اللَّهَ فيه، كانت عليه من اللَّه تِرَةٌ، ومن اضطجع مضجعًا لا يذكر اللَّهَ فيه، كانت عليه من اللَّه تِرَةٌ))، أي: تبعة ونقص وحسرة؛ حسن: أبو داود. وكلُّ امريءٍ حجيجُ نفسِه، فكفانا غفلة، وهلمَّ إلى يقظة عاجلة، فربَّ شروقٍ لا غروبَ له، وربَّ ليل لا نهار له، وكم من رجلٍ أصبح من أهل الدنيا وأمسى من أهل الآخرة! Zikir dapat dilakukan oleh setiap orang, tidak memerlukan usaha besar. Kendati demikian, banyak sekali dari kita yang gagal bahkan dalam ibadah yang sangat mudah ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَا تَسْتَقِلُّ الشَّمْسُ فَيَبْقَى شَيْءٌ مِنْ خَلْقِ اللهِ إِلَّا سَبَّحَ اللهَ بِحَمْدِهِ، إِلَّا مَا كَانَ مِنَ الشَّيَاطِيْنِ، وَأَغْبِيَاءِ بَنِي آدَمَ “Tidaklah matahari itu terbit lalu ada satu makhluk Allah kecuali dia bertasbih memuji kepada Allah, kecuali makhluk dari golongan setan dan orang-orang bodoh dari Bani Adam.” (Diriwayatkan oleh Abu Na’im dalam kitab “al-Hilyah”). Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: مَنْ قعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرِ الله تَعَالَى فِيهِ كَانَت عَلَيْهِ مِنَ اللهِ ترَة، وَمَن اضطجَعَ مُضْطَجَعًا لا يَذْكرُ الله تَعَالَى فِيهِ كَاَنتْ عَليْه مِنَ اللهِ تِرَةٌ “Barang siapa yang duduk di suatu tempat, lalu tidak menyebut nama Allah (berzikir) di sana, maka itu di sisi Allah akan menjadi kerugian baginya. Dan barang siapa berbaring lalu tidak menyebut nama Allah (berzikir) di sana, maka itu akan menjadi kerugian baginya di sisi Allah.” (Hadis ini derajatnya hasan, diriwayatkan oleh Abu Daud).  Yakni menjadi penuntut, kekurangan, dan kerugian. Setiap orang yang menjadi penuntut bagi dirinya sendiri. Oleh sebab itu, cukuplah kita dari kelalaian, dan mari kita segera sadar; karena bisa jadi matahari yang terbit ini tidak lagi tenggelam, dan malam tidak lagi disongsong siang. Betapa banyak orang yang pada pagi hari masih menjadi penghuni dunia, lalu pada sore harinya dia telah menjadi penghuni akhirat! *) Artikel ini diterjemahkan oleh tim Yufid Network. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/30941/كيف-حال-قلبك-مع-الله؟/#_ftnref1 PDF Sumber Artikel. 🔍 Pohon Zakum, Cara Membuat Orang Kesurupan Dengan Cepat, Doa Rukiyah, Bacaan Ijab Kabul, Niat Puasa Pengganti Bulan Ramadhan Visited 722 times, 1 visit(s) today Post Views: 828 QRIS donasi Yufid


كيف حال قلبك مع الله؟ Oleh: Musthofa Ibrahim Ruslan مصطفى إبراهيم رسلان كيف حالك مع التوبة والاستغفار؟ قال سبحانه: ﴿ فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ﴾ [نوح: 10 – 12]، وقال – صلى الله عليه وسلم -: ((من قال: أستغفر اللهَ الذي لا إله إلا هو الحيُّ القيومُ وأتوب إليه، غُفِرَ له وإن كان قد فر من الزحف))؛ صحيح: أبو داود. Bagaimana Keadaanmu dengan Tobat dan Istighfar Allah Ta’ala berfirman: فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu – sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun – niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنْ الزَّحْفِ “Barang siapa yang membaca: ASTAGHFIRULLAAH ALLADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QOYYUUMU WA ATUUBU ILAHI (Saya memohon ampun kepada Allah Yang Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri; dan aku bertobat kepada-Nya); maka akan diampuni dosa-dosanya walaupun ia pernah lari dari medan perang.” (Hadis ini sahih; diriwayatkan oleh Abu Daud). وكلُّ ابنِ آدم خطَّاء، وخيرُ الخطَّائين التوابون، فهل تُبْنَا إلى الله – سبحانه – من الكذب والغيبة والنميمة، والعجب والكبر، والنظر المحرم والبهتان، والعدوان والأذى والإساءة، وأكل الحرام والبذاءة والإهمال، والتفرق والتكلف والجبن، والجفاء والجهل، والحسد والحقد، والخبث والخداع والخيانة، والدياثة والربا والرشوة، والسفاهة وسوء الخُلق وسوء الظن، وسوء المعاملة والضَّلال والطمع، والطيش والظلم والعتو، والعقوق والغدر والغفلة، والفحش والفساد والقذف، والقسوة واللَّغو، واللؤم والمكْر، والمَنِّ والنفاق ونقض العهد؟ نحتاج إلى محاسبة فورية للنفس قبلَ أنْ نُطالِب بمحاسبة الغير! قال ابن عباس – رضي الله عنهما -: “إنَّ للحسنة لنورًا في القلب، وضياءً في الوجه، وقوةً في البدن، وسعةً في الرزق، ومحبةً في قلوب الخلق، وإنَّ للسيئة لظلمةً في القلب، وسوادًا في الوجه، ووهنًا في البدن، وضيقًا في الرِّزق، وبغضةً في قلوب الخلق”؛ “الزهد والورع والعبادة”؛ لابن القيم. Seluruh manusia pasti pernah bersalah, tapi sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang senantiasa bertobat. Lalu apakah kita sudah bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari dosa dusta, gibah, namimah, ujub, sombong, melihat hal yang haram, tuduhan, kezaliman, mengganggu orang lain, berlaku buruk terhadap orang lain, memakan harta haram, ucapan kotor, lalai, berpecah belah, sikap berlebih lebihan, kepengecutan, ketidakpedulian, kejahilan, iri, dengki, kebencian, penipuan, pengkhianatan, pelacuran, riba, suap, tindakan bodoh, akhlak tercela, prasangka buruk, perilaku yang buruk, kesesatan, ketamakan, menuduh orang lain berbuat keji, sikap kasar, omong kosong, pelit, tipu daya, mengungkit pemberian, kemunafikan, dan menyelisihi perjanjian? Kita harus segera mengintrospeksi diri sebelum kita mencari-cari kesalahan orang lain! Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Sesungguhnya amal kebaikan dapat mendatangkan cahaya dalam hati, kecerahan di wajah, kekuatan di badan, kelapangan dalam rezeki, dan kecintaan dalam hati para makhluk. Sedangkan amal keburukan dapat mendatangkan kegelapan dalam hati, kesuraman di wajah, kelemahan di badan, kesempitan dalam rezeki, dan kebencian dalam hati para makhluk.” (Kitab: “az-Zuhd wa al-Wara’ wa al-Ibadah” karya Ibnu al-Qayyim). هل تُبنا من استعظامِ النِّعمة والرُّكونِ إليها مع نسيان إضافتها إلى المنعم؟ الأمر جدٌّ ليس بالهين، قال – سبحانه -: ﴿ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ ﴾ [التكاثر : 8]، قال زيد بن أسلم – رضي الله عنه -: عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – في هذه الآية: ((يعني: شِبَعَ البطون، وباردَ الشَّراب، وظلالَ المساكن، واعتدالَ الخلق، ولذةَ النوم))؛ رواه ابن أبي حاتم (“تفسير ابن كثير”). Apakah Kita Sudah Bertobat dari Mengingkari Kenikmatan, dan Terbuai dalam Kenikmatan Disertai Kelalaian dalam Mensyukuri Sang Pemberi Nikmat? Ini merupakan perkara serius, bukan perkara remeh. Allah Ta’ala berfirman: ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ “Kemudian kalian pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kalian nikmati di dunia).” (QS. At-Takatsur: 8). Zaid bin Aslam radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang maksud ayat ini, “Yaitu kenikmatan pada kenyangnya perut, minuman yang segar, naungan tempat tinggal, badan yang sempurna (tanpa cacat), dan nyenyaknya tidur.” (HR. Ibnu Abi Hatim). (Disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir). الواحد منَّا إذا قام بركعتين، أو صام يومًا، أو تصدق بصدقةٍ، أو عمل عملاً صالحًا، أو دعا النَّاس إلى خير – ركن إلى عمله وإلى نفسِه، ونسي منَّةَ الله عليه؛ أنه – سبحانه – هو الذي أعانه ووفَّقه لهذا العمل؛ عن سلمةَ بنِ الأكوع – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: ((لا يزال الرَّجلُ يذهب بنفسِه حتَّى يكتب في الجبَّارين، فيصيبه ما أصابهم))؛ حسن: الترمذي Salah seorang dari kita apabila selesai melaksanakan shalat dua rakaat, puasa satu hari, bersedekah, melakukan suatu amal saleh, atau mengajak orang lain menuju kebaikan; dia condong kepada amalan dan dirinya, lalu melupakan kenikmatan dari Allah; padahal Dialah yang menolong dan memberinya kemudahan untuk menjalankan amalan tersebut.  Diriwayatkan dari Salamah bin al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَذْهَبُ بِنَفْسِهِ حَتَّى يُكْتَبَ فِي الْجَبَّارِينَ فَيُصِيبُهُ مَا أَصَابَهُمْ “Tidaklah seseorang senantiasa menyombongkan dirinya hingga dia dituliskan termasuk dalam golongan orang-orang yang berlaku semena-mena, sehingga dia akan tertimpa apa yang telah menimpa mereka.” (Hadis dengan derajat hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi). فالمسألة ليست مسألة كفٍّ عن الذنب والمعصية فحسْب، لا؛ بل ربما يكفُّ المرء عن المعصية الظاهرة فتعجبه نفسه، فيقع فيما هو أشد من الذَّنب؛ عن أنس – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: ((لو لم تذنبوا، لخشيتُ عليكم ما هو أكبر منه؛ العجب))؛ قال المنذري في الترغيب والترهيب: رواه البزار بإسناد جي Perkara ini bukan hanya perkara menahan diri dari dosa dan kemaksiatan semata; tidak! Karena bisa jadi seseorang menahan diri dari kemaksiatan yang terang-terangan, sehingga dirinya merasa ujub (membangga-banggakan diri sendiri), sehingga dia terjerumus ke dalam hal yang lebih besar dari dosa itu sendiri.  Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَخَشِيتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْهُ العُجْبُ “Seandainya kalian tidak berbuat dosa, aku pasti khawatir kalian akan melakukan dosa yang lebih besar daripada itu, yaitu ujub.” (al-Mundziri mengatakan dalam kitab “at-Targhib wa at-Tarhib”, “Diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan sanad yang baik). وقال مالك بن دينار – رحمه الله -: “رحم اللهُ عبدًا قال لنفسِه: ألستِ صاحبة كذا؟ ألست صاحبة كذا؟ ثمَّ ذمَّها، ثمَّ خطمها، ثمَّ ألزمها كتابَ الله – عزَّ وجلَّ – فكان لها قائدًا”؛ (“محاسبة النفس”؛ لابن أبي الدنيا)، فكفى بالمرء علمًا أنْ يخشى اللَّهَ، وكفى بالمرء جهلاً أن يُعجَب بعلمِه؛ عن مسروق: “الإحياء”. Malik bin Dinar rahimahullah pernah berkata, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berkata kepada dirinya sendiri, ‘Bukankah kamu pelaku dosa ini?! Bukankah kamu pelaku dosa itu?!’ Dia mencela dirinya, membungkamnya, dan menjadikannya berpegang pada Kitab Allah ‘Azza wa Jalla; sehingga dia telah menjadi pengarah bagi dirinya sendiri.” (Kitab “Muhasabah an-Nafs” karya Ibnu Abi ad-Dunya). Cukuplah seseorang dianggap berilmu jika dia takut kepada Allah; dan cukuplah seseorang dianggap bodoh jika dia bangga dengan amalannya. (Diriwayatkan dari Masruq dalam kitab “al-Ihya’”). كيف حالك مع القرآن والذكر؟ قال عثمان – رضي الله عنه -: “لو طَهُرَتْ قلوبُكم، ما شبعتم من كلامِ ربكم”، وقال ابن مسعود – رضي الله عنه -: “من أحبَّ القرآنَ أحب اللهَ ورسولَه”؛ “جامع العلوم والحكم”، وقال الحسن: “رحم اللهُ عبدًا عرض نفسَه وعمله على كتاب الله، فإن وافق كتابَ الله، حمد الله وسأله الزيادة، وإن خالف كتاب الله، أعتب نفسَه ورجع من قريب”؛ “أخلاق أهل القرآن”؛ للآجري. Bagaimana Keadaanmu dengan Al-Quran dan Zikir? Utsman radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seandainya hati kalian bersih, niscaya kalian tidak akan kenyang dengan firman Tuhan kalian!” Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barang siapa yang mencintai al-Quran, maka dia telah mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (Kitab: “Jami al-Ulum wa al-Hikmah”). Al-Hasan berkata, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang menimbang dirinya dan amalannya dengan Kitab Allah; apabila sesuai dengan Kitab Allah, maka dia bertahmid memuji Allah dan memohon peningkatan kepada-Nya; tapi jika menyelisihi Kitab Allah, maka dia menasihati dirinya dan segera bertobat.” (Kitab: “Akhlaq Ahl al-Quran” karya al-Ajurri). والذِّكر مبذولٌ لكل الناس، لا يحتاج إلى كثير كُلفة، ومع ذلك فأمةٌ منا لا يُستهان بها تفشل حتى في هذا المشعر السهل الهيِّن، قال – صلى الله عليه وسلم -: ((ما تستقل الشمس فيبقى شيءٌ من خلقِ الله إلا سبَّح الله بحمده، إلا ما كان من الشياطين، وأغبياء بني آدم))؛ أخرجه أبو نعيم في الحلية. وعن أبي هريرة – رضي الله عنه -: عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: أنَّه قال: ((من قعد مقعدًا لم يذكرِ اللَّهَ فيه، كانت عليه من اللَّه تِرَةٌ، ومن اضطجع مضجعًا لا يذكر اللَّهَ فيه، كانت عليه من اللَّه تِرَةٌ))، أي: تبعة ونقص وحسرة؛ حسن: أبو داود. وكلُّ امريءٍ حجيجُ نفسِه، فكفانا غفلة، وهلمَّ إلى يقظة عاجلة، فربَّ شروقٍ لا غروبَ له، وربَّ ليل لا نهار له، وكم من رجلٍ أصبح من أهل الدنيا وأمسى من أهل الآخرة! Zikir dapat dilakukan oleh setiap orang, tidak memerlukan usaha besar. Kendati demikian, banyak sekali dari kita yang gagal bahkan dalam ibadah yang sangat mudah ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَا تَسْتَقِلُّ الشَّمْسُ فَيَبْقَى شَيْءٌ مِنْ خَلْقِ اللهِ إِلَّا سَبَّحَ اللهَ بِحَمْدِهِ، إِلَّا مَا كَانَ مِنَ الشَّيَاطِيْنِ، وَأَغْبِيَاءِ بَنِي آدَمَ “Tidaklah matahari itu terbit lalu ada satu makhluk Allah kecuali dia bertasbih memuji kepada Allah, kecuali makhluk dari golongan setan dan orang-orang bodoh dari Bani Adam.” (Diriwayatkan oleh Abu Na’im dalam kitab “al-Hilyah”). Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: مَنْ قعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرِ الله تَعَالَى فِيهِ كَانَت عَلَيْهِ مِنَ اللهِ ترَة، وَمَن اضطجَعَ مُضْطَجَعًا لا يَذْكرُ الله تَعَالَى فِيهِ كَاَنتْ عَليْه مِنَ اللهِ تِرَةٌ “Barang siapa yang duduk di suatu tempat, lalu tidak menyebut nama Allah (berzikir) di sana, maka itu di sisi Allah akan menjadi kerugian baginya. Dan barang siapa berbaring lalu tidak menyebut nama Allah (berzikir) di sana, maka itu akan menjadi kerugian baginya di sisi Allah.” (Hadis ini derajatnya hasan, diriwayatkan oleh Abu Daud).  Yakni menjadi penuntut, kekurangan, dan kerugian. Setiap orang yang menjadi penuntut bagi dirinya sendiri. Oleh sebab itu, cukuplah kita dari kelalaian, dan mari kita segera sadar; karena bisa jadi matahari yang terbit ini tidak lagi tenggelam, dan malam tidak lagi disongsong siang. Betapa banyak orang yang pada pagi hari masih menjadi penghuni dunia, lalu pada sore harinya dia telah menjadi penghuni akhirat! *) Artikel ini diterjemahkan oleh tim Yufid Network. Sumber: https://www.alukah.net/sharia/11875/30941/كيف-حال-قلبك-مع-الله؟/#_ftnref1 PDF Sumber Artikel. 🔍 Pohon Zakum, Cara Membuat Orang Kesurupan Dengan Cepat, Doa Rukiyah, Bacaan Ijab Kabul, Niat Puasa Pengganti Bulan Ramadhan Visited 722 times, 1 visit(s) today Post Views: 828 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Bagaimana Cara Menasihati Orang Tua yang Melanggar Syariat? Syaikh Sa’ad asy-Syatstri #NasehatUlama

Syaikh kami, mohon arahan cara berinteraksi dengan kedua orang tua dalam menasihati mereka, jika sang anak melihat beberapa hal yang menyelisihi syariat dari kedua orang tuanya? Kedua orang tua memiliki hak yang besar atas anak mereka. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Allah telah menetapkan bahwa janganlah kalian beribadah kecuali kepada-Nya, dan berlaku baiklah kepada kedua orang tua…” (QS. al-Isra: 23). Dengan demikian, seseorang sebaiknya memilih metode dalam menasihati orang tua yang tidak mempengaruhi psikologis mereka, dan tidak membuat mereka justru berpaling dari kebenaran dan para pengusung kebenaran. Baik itu dengan mengerjakan hal yang disunahkan di depan mereka, agar mereka melihatnya, sehingga mereka dapat mencontohnya. Atau dengan memperdengarkan nasihat-nasihat yang disampaikan oleh para ulama tentang berbagai perkara yang menyangkut banyak orang. Terlebih lagi, yang berkaitan dengan adat kebiasaan orang-orang yang biasa mereka lakukan, yang mereka pandang sebagai sunah, dan mereka kira sebagai hal yang disyariatkan; sedangkan yang bertentangan dengan itu tidak mungkin mereka terima. Dengan demikian, alangkah baiknya melarang mereka secara bertahap, sedikit demi sedikit, sebelum melarang mereka sepenuhnya. Agar hal ini lebih mudah untuk diterima oleh kedua orang tua. ==== شَيْخَنَا هَلْ مِنْ تَوْجِيهٍ شَيْخَنَا فِي التَّعَامُلِ مَعَ الْوَالِدَيْنِ مِنْ جِهَةِ النُّصْحِ إِذَا رَأَى عَلَيْهِمْ بَعْضَ الْمُخَالَفَاتِ؟ لِلْوَالِدَيْنِ حَقٌّ كَبِيرٌ عَلَى وَلَدِهِمَا فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلِذَلِكَ يَحْسُنُ بِالْإِنْسَانِ أَنْ يَخْتَارَ طَرِيقَةَ وَعْظِهِمَا بِمَا لَا يُؤَثِّرُ عَلَى نَفْسِيَّتِهِمَا وَيَجْعَلُهُمَا يَنْفِرَانِ مِنَ الْحَقِّ وَأَهْلِ الْحَقِّ إِمَّا بِأَنْ يَفْعَلَ السُّنَّةَ أَمَامَهُمَا لِيَرَيَانِهِ فَبِالتَّالِي يَقْتَدِيَانِ بِهِ وَإِمَّا أَنْ يُسْمِعَهُمَا مِنَ الْمَوَاعِظِ الَّتِي يَذْكُرُهَا عُلَمَاءُ الشَّرِيعَةِ حَوْلَ مَسَائِلِ النَّاسِ خُصُوصًا فِيمَا يَتَعَلَّقُ عَادَةُ الْآخَرِينَ بِهِ بِحَيْثُ يَأْلَفُونَ ذَلِكَ الْعَمَلَ وَيَرَوْنَ أَنَّهُ السُّنَّةُ وَيَرَوْنَ أَنَّهُ هُوَ الْمَشْرُوعُ وَأَنَّ مُقَابِلَهُ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَقْبَلُوهُ وَبِالتَّالِي يَحْسُنُ التَّدَرُّجُ بِنَهْيِهِمْ عَنْ أَجْزَاءٍ مِنْهُ قَبْلَ أَنْ يُنْهَوْا عَنْهُ بِالْكُلِّيَّةِ مِنْ أَجْلِ أَنْ يَكُونَ هَذَا أَدْعَى لِقَبُولِ الْوَالِدَيْنِ لَهُ

Bagaimana Cara Menasihati Orang Tua yang Melanggar Syariat? Syaikh Sa’ad asy-Syatstri #NasehatUlama

Syaikh kami, mohon arahan cara berinteraksi dengan kedua orang tua dalam menasihati mereka, jika sang anak melihat beberapa hal yang menyelisihi syariat dari kedua orang tuanya? Kedua orang tua memiliki hak yang besar atas anak mereka. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Allah telah menetapkan bahwa janganlah kalian beribadah kecuali kepada-Nya, dan berlaku baiklah kepada kedua orang tua…” (QS. al-Isra: 23). Dengan demikian, seseorang sebaiknya memilih metode dalam menasihati orang tua yang tidak mempengaruhi psikologis mereka, dan tidak membuat mereka justru berpaling dari kebenaran dan para pengusung kebenaran. Baik itu dengan mengerjakan hal yang disunahkan di depan mereka, agar mereka melihatnya, sehingga mereka dapat mencontohnya. Atau dengan memperdengarkan nasihat-nasihat yang disampaikan oleh para ulama tentang berbagai perkara yang menyangkut banyak orang. Terlebih lagi, yang berkaitan dengan adat kebiasaan orang-orang yang biasa mereka lakukan, yang mereka pandang sebagai sunah, dan mereka kira sebagai hal yang disyariatkan; sedangkan yang bertentangan dengan itu tidak mungkin mereka terima. Dengan demikian, alangkah baiknya melarang mereka secara bertahap, sedikit demi sedikit, sebelum melarang mereka sepenuhnya. Agar hal ini lebih mudah untuk diterima oleh kedua orang tua. ==== شَيْخَنَا هَلْ مِنْ تَوْجِيهٍ شَيْخَنَا فِي التَّعَامُلِ مَعَ الْوَالِدَيْنِ مِنْ جِهَةِ النُّصْحِ إِذَا رَأَى عَلَيْهِمْ بَعْضَ الْمُخَالَفَاتِ؟ لِلْوَالِدَيْنِ حَقٌّ كَبِيرٌ عَلَى وَلَدِهِمَا فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلِذَلِكَ يَحْسُنُ بِالْإِنْسَانِ أَنْ يَخْتَارَ طَرِيقَةَ وَعْظِهِمَا بِمَا لَا يُؤَثِّرُ عَلَى نَفْسِيَّتِهِمَا وَيَجْعَلُهُمَا يَنْفِرَانِ مِنَ الْحَقِّ وَأَهْلِ الْحَقِّ إِمَّا بِأَنْ يَفْعَلَ السُّنَّةَ أَمَامَهُمَا لِيَرَيَانِهِ فَبِالتَّالِي يَقْتَدِيَانِ بِهِ وَإِمَّا أَنْ يُسْمِعَهُمَا مِنَ الْمَوَاعِظِ الَّتِي يَذْكُرُهَا عُلَمَاءُ الشَّرِيعَةِ حَوْلَ مَسَائِلِ النَّاسِ خُصُوصًا فِيمَا يَتَعَلَّقُ عَادَةُ الْآخَرِينَ بِهِ بِحَيْثُ يَأْلَفُونَ ذَلِكَ الْعَمَلَ وَيَرَوْنَ أَنَّهُ السُّنَّةُ وَيَرَوْنَ أَنَّهُ هُوَ الْمَشْرُوعُ وَأَنَّ مُقَابِلَهُ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَقْبَلُوهُ وَبِالتَّالِي يَحْسُنُ التَّدَرُّجُ بِنَهْيِهِمْ عَنْ أَجْزَاءٍ مِنْهُ قَبْلَ أَنْ يُنْهَوْا عَنْهُ بِالْكُلِّيَّةِ مِنْ أَجْلِ أَنْ يَكُونَ هَذَا أَدْعَى لِقَبُولِ الْوَالِدَيْنِ لَهُ
Syaikh kami, mohon arahan cara berinteraksi dengan kedua orang tua dalam menasihati mereka, jika sang anak melihat beberapa hal yang menyelisihi syariat dari kedua orang tuanya? Kedua orang tua memiliki hak yang besar atas anak mereka. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Allah telah menetapkan bahwa janganlah kalian beribadah kecuali kepada-Nya, dan berlaku baiklah kepada kedua orang tua…” (QS. al-Isra: 23). Dengan demikian, seseorang sebaiknya memilih metode dalam menasihati orang tua yang tidak mempengaruhi psikologis mereka, dan tidak membuat mereka justru berpaling dari kebenaran dan para pengusung kebenaran. Baik itu dengan mengerjakan hal yang disunahkan di depan mereka, agar mereka melihatnya, sehingga mereka dapat mencontohnya. Atau dengan memperdengarkan nasihat-nasihat yang disampaikan oleh para ulama tentang berbagai perkara yang menyangkut banyak orang. Terlebih lagi, yang berkaitan dengan adat kebiasaan orang-orang yang biasa mereka lakukan, yang mereka pandang sebagai sunah, dan mereka kira sebagai hal yang disyariatkan; sedangkan yang bertentangan dengan itu tidak mungkin mereka terima. Dengan demikian, alangkah baiknya melarang mereka secara bertahap, sedikit demi sedikit, sebelum melarang mereka sepenuhnya. Agar hal ini lebih mudah untuk diterima oleh kedua orang tua. ==== شَيْخَنَا هَلْ مِنْ تَوْجِيهٍ شَيْخَنَا فِي التَّعَامُلِ مَعَ الْوَالِدَيْنِ مِنْ جِهَةِ النُّصْحِ إِذَا رَأَى عَلَيْهِمْ بَعْضَ الْمُخَالَفَاتِ؟ لِلْوَالِدَيْنِ حَقٌّ كَبِيرٌ عَلَى وَلَدِهِمَا فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلِذَلِكَ يَحْسُنُ بِالْإِنْسَانِ أَنْ يَخْتَارَ طَرِيقَةَ وَعْظِهِمَا بِمَا لَا يُؤَثِّرُ عَلَى نَفْسِيَّتِهِمَا وَيَجْعَلُهُمَا يَنْفِرَانِ مِنَ الْحَقِّ وَأَهْلِ الْحَقِّ إِمَّا بِأَنْ يَفْعَلَ السُّنَّةَ أَمَامَهُمَا لِيَرَيَانِهِ فَبِالتَّالِي يَقْتَدِيَانِ بِهِ وَإِمَّا أَنْ يُسْمِعَهُمَا مِنَ الْمَوَاعِظِ الَّتِي يَذْكُرُهَا عُلَمَاءُ الشَّرِيعَةِ حَوْلَ مَسَائِلِ النَّاسِ خُصُوصًا فِيمَا يَتَعَلَّقُ عَادَةُ الْآخَرِينَ بِهِ بِحَيْثُ يَأْلَفُونَ ذَلِكَ الْعَمَلَ وَيَرَوْنَ أَنَّهُ السُّنَّةُ وَيَرَوْنَ أَنَّهُ هُوَ الْمَشْرُوعُ وَأَنَّ مُقَابِلَهُ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَقْبَلُوهُ وَبِالتَّالِي يَحْسُنُ التَّدَرُّجُ بِنَهْيِهِمْ عَنْ أَجْزَاءٍ مِنْهُ قَبْلَ أَنْ يُنْهَوْا عَنْهُ بِالْكُلِّيَّةِ مِنْ أَجْلِ أَنْ يَكُونَ هَذَا أَدْعَى لِقَبُولِ الْوَالِدَيْنِ لَهُ


Syaikh kami, mohon arahan cara berinteraksi dengan kedua orang tua dalam menasihati mereka, jika sang anak melihat beberapa hal yang menyelisihi syariat dari kedua orang tuanya? Kedua orang tua memiliki hak yang besar atas anak mereka. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Allah telah menetapkan bahwa janganlah kalian beribadah kecuali kepada-Nya, dan berlaku baiklah kepada kedua orang tua…” (QS. al-Isra: 23). Dengan demikian, seseorang sebaiknya memilih metode dalam menasihati orang tua yang tidak mempengaruhi psikologis mereka, dan tidak membuat mereka justru berpaling dari kebenaran dan para pengusung kebenaran. Baik itu dengan mengerjakan hal yang disunahkan di depan mereka, agar mereka melihatnya, sehingga mereka dapat mencontohnya. Atau dengan memperdengarkan nasihat-nasihat yang disampaikan oleh para ulama tentang berbagai perkara yang menyangkut banyak orang. Terlebih lagi, yang berkaitan dengan adat kebiasaan orang-orang yang biasa mereka lakukan, yang mereka pandang sebagai sunah, dan mereka kira sebagai hal yang disyariatkan; sedangkan yang bertentangan dengan itu tidak mungkin mereka terima. Dengan demikian, alangkah baiknya melarang mereka secara bertahap, sedikit demi sedikit, sebelum melarang mereka sepenuhnya. Agar hal ini lebih mudah untuk diterima oleh kedua orang tua. ==== شَيْخَنَا هَلْ مِنْ تَوْجِيهٍ شَيْخَنَا فِي التَّعَامُلِ مَعَ الْوَالِدَيْنِ مِنْ جِهَةِ النُّصْحِ إِذَا رَأَى عَلَيْهِمْ بَعْضَ الْمُخَالَفَاتِ؟ لِلْوَالِدَيْنِ حَقٌّ كَبِيرٌ عَلَى وَلَدِهِمَا فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلِذَلِكَ يَحْسُنُ بِالْإِنْسَانِ أَنْ يَخْتَارَ طَرِيقَةَ وَعْظِهِمَا بِمَا لَا يُؤَثِّرُ عَلَى نَفْسِيَّتِهِمَا وَيَجْعَلُهُمَا يَنْفِرَانِ مِنَ الْحَقِّ وَأَهْلِ الْحَقِّ إِمَّا بِأَنْ يَفْعَلَ السُّنَّةَ أَمَامَهُمَا لِيَرَيَانِهِ فَبِالتَّالِي يَقْتَدِيَانِ بِهِ وَإِمَّا أَنْ يُسْمِعَهُمَا مِنَ الْمَوَاعِظِ الَّتِي يَذْكُرُهَا عُلَمَاءُ الشَّرِيعَةِ حَوْلَ مَسَائِلِ النَّاسِ خُصُوصًا فِيمَا يَتَعَلَّقُ عَادَةُ الْآخَرِينَ بِهِ بِحَيْثُ يَأْلَفُونَ ذَلِكَ الْعَمَلَ وَيَرَوْنَ أَنَّهُ السُّنَّةُ وَيَرَوْنَ أَنَّهُ هُوَ الْمَشْرُوعُ وَأَنَّ مُقَابِلَهُ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَقْبَلُوهُ وَبِالتَّالِي يَحْسُنُ التَّدَرُّجُ بِنَهْيِهِمْ عَنْ أَجْزَاءٍ مِنْهُ قَبْلَ أَنْ يُنْهَوْا عَنْهُ بِالْكُلِّيَّةِ مِنْ أَجْلِ أَنْ يَكُونَ هَذَا أَدْعَى لِقَبُولِ الْوَالِدَيْنِ لَهُ

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 184 – MEMBERIKAN KEPERCAYAAN PADA ANAK

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 184 – MEMBERIKAN KEPERCAYAAN PADA ANAK Posted on October 16, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 184MEMBERIKAN KEPERCAYAAN PADA ANAK Menaruh kepercayaan pada anak maupun remaja masih sulit dilakukan sebagian orang dewasa. Padahal, hal yang dipandang kecil ini ternyata merupakan salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam membentuk kepribadian, kesehatan dan kesuksesan anak. Kepercayaan orangtua bukan hanya sekadar memberi izin atau tidak melarang anak melakukan sesuatu. Tetapi juga memberi dukungan, dorongan dan penghargaan atas hal positif yang dilakukan anak. Di antara praktek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam memberikan kepercayaan kepada anak adalah: mempercayainya untuk menyimpan rahasia. Abdullah bin Ja’far radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memboncengkanku di belakangnya. Lalu beliau membisikkan padaku suatu pembicaraan, dan aku tidak akan menceritakannya kepada orang lain”. HR. Muslim (no. 342). Tentunya dalam memberikan kepercayaan kepada anak ada tahapannya. Berdasarkan usia anak, juga level tugas yang dipercayakan kepadanya. Berikut beberapa alasan betapa pentingnya orang tua memberikan kepercayaan pada anak: Kepercayaan membuat anak lebih sehat secara mental Anak yang merasa dipercaya oleh orangtuanya akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi; karena mereka merasa dihargai dan diakui kemampuannya. Mereka juga akan lebih bahagia, optimis dan termotivasi; sebab mereka merasa didukung dan diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri. Selain itu, anak yang dipercaya akan lebih mampu mengatasi stres, kesulitan dan masalah; karena mereka memiliki keterampilan dan pengalaman yang dibutuhkan. Kepercayaan mengasah keterampilan sosial anak Anak yang dipercaya oleh orangtuanya akan belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain secara lebih baik, menghormati perbedaan dan bekerja sama. Mereka juga akan lebih mudah bersahabat, berbagi, dan menolong; karena mereka merasa nyaman dan percaya dengan orang lain. Kepercayaan mempererat hubungan orangtua dan anak Kepercayaan orangtua tidak hanya bermanfaat bagi anak, tetapi juga bagi orangtua itu sendiri. Kepercayaan orangtua dapat mempererat hubungannya dengan anak; karena membuat mereka lebih dekat, lebih terhubung, dan lebih saling mencintai. Anak yang dipercaya oleh orangtuanya akan lebih mudah berkomunikasi, bercerita dan meminta bantuan; sebab mereka merasa dimengerti dan dihormati. Mereka juga akan lebih menghargai, menghormati dan mendengarkan orangtuanya; karena mereka merasa diperlakukan sebagai mitra dan teman. Kepercayaan mendorong pertumbuhan dan pembelajaran anak Anak yang dipercaya oleh orangtuanya akan lebih berani mencoba hal-hal baru, mengambil risiko terukur dan belajar dari kesalahan. Mereka juga akan lebih kreatif, inovatif dan penasaran; karena mereka merasa diberi peluang dan didorong untuk mengeksplorasi hal-hal baru yang baik. Kepercayaan orangtua dapat meningkatkan potensi dan bakat anak, serta membuka peluang dan kesempatan bagi mereka. Kepercayaan membantu anak menjadi mandiri dan bertanggung jawab Anak yang dipercaya oleh orangtuanya akan lebih mampu mengurus diri sendiri, mengatur waktu, dan menyelesaikan tugas. Mereka juga akan lebih sadar akan konsekuensi, batasan dan aturan; karena mereka telah belajar dari pengalaman dan kesalahan. Mereka juga akan lebih bertanggung jawab atas pilihan dan tindakan mereka; sebab mereka merasa diandalkan dan diharapkan. Kepercayaan orangtua dapat mempersiapkan anak untuk menghadapi tantangan dan peluang di masa depan. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 29 R. Tsani 1445 / 13 Nopember 2023 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 183 – MENUNAIKAN HAK ANAKSerial Fiqih Pendidikan Anak No: 185 – MAKAN BERSAMA ANAK SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 184 – MEMBERIKAN KEPERCAYAAN PADA ANAK

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 184 – MEMBERIKAN KEPERCAYAAN PADA ANAK Posted on October 16, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 184MEMBERIKAN KEPERCAYAAN PADA ANAK Menaruh kepercayaan pada anak maupun remaja masih sulit dilakukan sebagian orang dewasa. Padahal, hal yang dipandang kecil ini ternyata merupakan salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam membentuk kepribadian, kesehatan dan kesuksesan anak. Kepercayaan orangtua bukan hanya sekadar memberi izin atau tidak melarang anak melakukan sesuatu. Tetapi juga memberi dukungan, dorongan dan penghargaan atas hal positif yang dilakukan anak. Di antara praktek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam memberikan kepercayaan kepada anak adalah: mempercayainya untuk menyimpan rahasia. Abdullah bin Ja’far radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memboncengkanku di belakangnya. Lalu beliau membisikkan padaku suatu pembicaraan, dan aku tidak akan menceritakannya kepada orang lain”. HR. Muslim (no. 342). Tentunya dalam memberikan kepercayaan kepada anak ada tahapannya. Berdasarkan usia anak, juga level tugas yang dipercayakan kepadanya. Berikut beberapa alasan betapa pentingnya orang tua memberikan kepercayaan pada anak: Kepercayaan membuat anak lebih sehat secara mental Anak yang merasa dipercaya oleh orangtuanya akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi; karena mereka merasa dihargai dan diakui kemampuannya. Mereka juga akan lebih bahagia, optimis dan termotivasi; sebab mereka merasa didukung dan diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri. Selain itu, anak yang dipercaya akan lebih mampu mengatasi stres, kesulitan dan masalah; karena mereka memiliki keterampilan dan pengalaman yang dibutuhkan. Kepercayaan mengasah keterampilan sosial anak Anak yang dipercaya oleh orangtuanya akan belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain secara lebih baik, menghormati perbedaan dan bekerja sama. Mereka juga akan lebih mudah bersahabat, berbagi, dan menolong; karena mereka merasa nyaman dan percaya dengan orang lain. Kepercayaan mempererat hubungan orangtua dan anak Kepercayaan orangtua tidak hanya bermanfaat bagi anak, tetapi juga bagi orangtua itu sendiri. Kepercayaan orangtua dapat mempererat hubungannya dengan anak; karena membuat mereka lebih dekat, lebih terhubung, dan lebih saling mencintai. Anak yang dipercaya oleh orangtuanya akan lebih mudah berkomunikasi, bercerita dan meminta bantuan; sebab mereka merasa dimengerti dan dihormati. Mereka juga akan lebih menghargai, menghormati dan mendengarkan orangtuanya; karena mereka merasa diperlakukan sebagai mitra dan teman. Kepercayaan mendorong pertumbuhan dan pembelajaran anak Anak yang dipercaya oleh orangtuanya akan lebih berani mencoba hal-hal baru, mengambil risiko terukur dan belajar dari kesalahan. Mereka juga akan lebih kreatif, inovatif dan penasaran; karena mereka merasa diberi peluang dan didorong untuk mengeksplorasi hal-hal baru yang baik. Kepercayaan orangtua dapat meningkatkan potensi dan bakat anak, serta membuka peluang dan kesempatan bagi mereka. Kepercayaan membantu anak menjadi mandiri dan bertanggung jawab Anak yang dipercaya oleh orangtuanya akan lebih mampu mengurus diri sendiri, mengatur waktu, dan menyelesaikan tugas. Mereka juga akan lebih sadar akan konsekuensi, batasan dan aturan; karena mereka telah belajar dari pengalaman dan kesalahan. Mereka juga akan lebih bertanggung jawab atas pilihan dan tindakan mereka; sebab mereka merasa diandalkan dan diharapkan. Kepercayaan orangtua dapat mempersiapkan anak untuk menghadapi tantangan dan peluang di masa depan. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 29 R. Tsani 1445 / 13 Nopember 2023 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 183 – MENUNAIKAN HAK ANAKSerial Fiqih Pendidikan Anak No: 185 – MAKAN BERSAMA ANAK SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories
Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 184 – MEMBERIKAN KEPERCAYAAN PADA ANAK Posted on October 16, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 184MEMBERIKAN KEPERCAYAAN PADA ANAK Menaruh kepercayaan pada anak maupun remaja masih sulit dilakukan sebagian orang dewasa. Padahal, hal yang dipandang kecil ini ternyata merupakan salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam membentuk kepribadian, kesehatan dan kesuksesan anak. Kepercayaan orangtua bukan hanya sekadar memberi izin atau tidak melarang anak melakukan sesuatu. Tetapi juga memberi dukungan, dorongan dan penghargaan atas hal positif yang dilakukan anak. Di antara praktek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam memberikan kepercayaan kepada anak adalah: mempercayainya untuk menyimpan rahasia. Abdullah bin Ja’far radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memboncengkanku di belakangnya. Lalu beliau membisikkan padaku suatu pembicaraan, dan aku tidak akan menceritakannya kepada orang lain”. HR. Muslim (no. 342). Tentunya dalam memberikan kepercayaan kepada anak ada tahapannya. Berdasarkan usia anak, juga level tugas yang dipercayakan kepadanya. Berikut beberapa alasan betapa pentingnya orang tua memberikan kepercayaan pada anak: Kepercayaan membuat anak lebih sehat secara mental Anak yang merasa dipercaya oleh orangtuanya akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi; karena mereka merasa dihargai dan diakui kemampuannya. Mereka juga akan lebih bahagia, optimis dan termotivasi; sebab mereka merasa didukung dan diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri. Selain itu, anak yang dipercaya akan lebih mampu mengatasi stres, kesulitan dan masalah; karena mereka memiliki keterampilan dan pengalaman yang dibutuhkan. Kepercayaan mengasah keterampilan sosial anak Anak yang dipercaya oleh orangtuanya akan belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain secara lebih baik, menghormati perbedaan dan bekerja sama. Mereka juga akan lebih mudah bersahabat, berbagi, dan menolong; karena mereka merasa nyaman dan percaya dengan orang lain. Kepercayaan mempererat hubungan orangtua dan anak Kepercayaan orangtua tidak hanya bermanfaat bagi anak, tetapi juga bagi orangtua itu sendiri. Kepercayaan orangtua dapat mempererat hubungannya dengan anak; karena membuat mereka lebih dekat, lebih terhubung, dan lebih saling mencintai. Anak yang dipercaya oleh orangtuanya akan lebih mudah berkomunikasi, bercerita dan meminta bantuan; sebab mereka merasa dimengerti dan dihormati. Mereka juga akan lebih menghargai, menghormati dan mendengarkan orangtuanya; karena mereka merasa diperlakukan sebagai mitra dan teman. Kepercayaan mendorong pertumbuhan dan pembelajaran anak Anak yang dipercaya oleh orangtuanya akan lebih berani mencoba hal-hal baru, mengambil risiko terukur dan belajar dari kesalahan. Mereka juga akan lebih kreatif, inovatif dan penasaran; karena mereka merasa diberi peluang dan didorong untuk mengeksplorasi hal-hal baru yang baik. Kepercayaan orangtua dapat meningkatkan potensi dan bakat anak, serta membuka peluang dan kesempatan bagi mereka. Kepercayaan membantu anak menjadi mandiri dan bertanggung jawab Anak yang dipercaya oleh orangtuanya akan lebih mampu mengurus diri sendiri, mengatur waktu, dan menyelesaikan tugas. Mereka juga akan lebih sadar akan konsekuensi, batasan dan aturan; karena mereka telah belajar dari pengalaman dan kesalahan. Mereka juga akan lebih bertanggung jawab atas pilihan dan tindakan mereka; sebab mereka merasa diandalkan dan diharapkan. Kepercayaan orangtua dapat mempersiapkan anak untuk menghadapi tantangan dan peluang di masa depan. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 29 R. Tsani 1445 / 13 Nopember 2023 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 183 – MENUNAIKAN HAK ANAKSerial Fiqih Pendidikan Anak No: 185 – MAKAN BERSAMA ANAK SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories


Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 184 – MEMBERIKAN KEPERCAYAAN PADA ANAK Posted on October 16, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 184MEMBERIKAN KEPERCAYAAN PADA ANAK Menaruh kepercayaan pada anak maupun remaja masih sulit dilakukan sebagian orang dewasa. Padahal, hal yang dipandang kecil ini ternyata merupakan salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam membentuk kepribadian, kesehatan dan kesuksesan anak. Kepercayaan orangtua bukan hanya sekadar memberi izin atau tidak melarang anak melakukan sesuatu. Tetapi juga memberi dukungan, dorongan dan penghargaan atas hal positif yang dilakukan anak. Di antara praktek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam memberikan kepercayaan kepada anak adalah: mempercayainya untuk menyimpan rahasia. Abdullah bin Ja’far radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memboncengkanku di belakangnya. Lalu beliau membisikkan padaku suatu pembicaraan, dan aku tidak akan menceritakannya kepada orang lain”. HR. Muslim (no. 342). Tentunya dalam memberikan kepercayaan kepada anak ada tahapannya. Berdasarkan usia anak, juga level tugas yang dipercayakan kepadanya. Berikut beberapa alasan betapa pentingnya orang tua memberikan kepercayaan pada anak: Kepercayaan membuat anak lebih sehat secara mental Anak yang merasa dipercaya oleh orangtuanya akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi; karena mereka merasa dihargai dan diakui kemampuannya. Mereka juga akan lebih bahagia, optimis dan termotivasi; sebab mereka merasa didukung dan diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri. Selain itu, anak yang dipercaya akan lebih mampu mengatasi stres, kesulitan dan masalah; karena mereka memiliki keterampilan dan pengalaman yang dibutuhkan. Kepercayaan mengasah keterampilan sosial anak Anak yang dipercaya oleh orangtuanya akan belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain secara lebih baik, menghormati perbedaan dan bekerja sama. Mereka juga akan lebih mudah bersahabat, berbagi, dan menolong; karena mereka merasa nyaman dan percaya dengan orang lain. Kepercayaan mempererat hubungan orangtua dan anak Kepercayaan orangtua tidak hanya bermanfaat bagi anak, tetapi juga bagi orangtua itu sendiri. Kepercayaan orangtua dapat mempererat hubungannya dengan anak; karena membuat mereka lebih dekat, lebih terhubung, dan lebih saling mencintai. Anak yang dipercaya oleh orangtuanya akan lebih mudah berkomunikasi, bercerita dan meminta bantuan; sebab mereka merasa dimengerti dan dihormati. Mereka juga akan lebih menghargai, menghormati dan mendengarkan orangtuanya; karena mereka merasa diperlakukan sebagai mitra dan teman. Kepercayaan mendorong pertumbuhan dan pembelajaran anak Anak yang dipercaya oleh orangtuanya akan lebih berani mencoba hal-hal baru, mengambil risiko terukur dan belajar dari kesalahan. Mereka juga akan lebih kreatif, inovatif dan penasaran; karena mereka merasa diberi peluang dan didorong untuk mengeksplorasi hal-hal baru yang baik. Kepercayaan orangtua dapat meningkatkan potensi dan bakat anak, serta membuka peluang dan kesempatan bagi mereka. Kepercayaan membantu anak menjadi mandiri dan bertanggung jawab Anak yang dipercaya oleh orangtuanya akan lebih mampu mengurus diri sendiri, mengatur waktu, dan menyelesaikan tugas. Mereka juga akan lebih sadar akan konsekuensi, batasan dan aturan; karena mereka telah belajar dari pengalaman dan kesalahan. Mereka juga akan lebih bertanggung jawab atas pilihan dan tindakan mereka; sebab mereka merasa diandalkan dan diharapkan. Kepercayaan orangtua dapat mempersiapkan anak untuk menghadapi tantangan dan peluang di masa depan. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 29 R. Tsani 1445 / 13 Nopember 2023 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 183 – MENUNAIKAN HAK ANAKSerial Fiqih Pendidikan Anak No: 185 – MAKAN BERSAMA ANAK SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories
Prev     Next