Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada (Bag. 15): Syarat-Syarat Al-Asma’ As-Sittah

Syarat-syarat i’rab (perubahan) al-asma’ as-sittah dilakukan dengan huruf, kecuali jika memenuhi empat syarat berikut: Pertama, al-asma’ as-sittah harus dalam bentuk tunggal. Sebagaimana contoh yang telah disebutkan, jika berbentuk mutsanna (kata ganda), maka i’rab-nya mengikuti i’rab isim mutsanna, yaitu rafa’ dengan tanda alif, nashab, dan jer dengan tanda ya. Contohnya terdapat dalam firman Allah, وَرَفَعَ اَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ “Dia (Yusuf)  mengangkat kedua orang tuanya ke atas singgasana.” (QS. Yusuf: 100) Dalam contoh ini, kata أَبَوَيْهِ berkedudukan sebagai maf’ul bih mansub dan tanda nashab berupa tanda ya karena kata tersebut merupakan isim mutsanna. Kata tersebut juga berkedudukan sebagai mudhaf. Sementara dhamir الهَاءُ tersebut berkedudukan sebagai mudhaf ilaih. Apabila al-asma’ as-sittah berbentuk jamak taksir, maka i’rab-nya dilakukan dengan harakat, yaitu rafa’ dengan damah, nashab dengan fathah, dan jer dengan kasrah. Contohnya terdapat dalam firman Allah, اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْۚ لَا تَدْرُوْنَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًاۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِۗ َ “Bapak-bapak kalian dan anak-anak kalian tidak mengetahui siapa di antara mereka yang paling memberikan manfaat bagi kalian. Ini merupakan kewajiban dari Allah untuk kalian tunaikan” (QS. An-Nisa’: 55) Maka, kata اٰبَاء berkedudukan sebagai mubtada marfu’ karena ibtida’. Tanda marfu’-nya ditandai tanda damah zhahirah, dan kata tersebut juga berkedudukan sebagai mudhaf. Adapun huruf الكاف yang terletak setelah kata اٰبَاء tersebut berkedudukan sebagai mudhaf ilaih. Huruf الميم yang terletak setelah huruf الكاف  tersebut sebagai tanda jama’. Sementara itu, kata لَا تَدْرُوْنَ  jumlah fi’liyah yang terdiri dari fi’il dan fa’il berkedudukan sebagai khabar. Kedua, al-asma’ as-sittah harus dalam bentuk mukabbarah atau tidak dalam bentuk tashghir. Sebagaimana disebutkan dalam contoh sebelumnya, jika dalam bentuk tashghir, maka i’rab-nya menggunakan harakat. Contohnya dalam kalimat adalah, جَاءَ أُخَيُّ زَيْدٍ  “Adik laki-laki Zaid telah datang.” Dalam kata tersebut, kata أُخَيُّ adalah fa’il marfu’ dengan tanda damah zhahirah, dan juga berkedudukan sebagai mudhaf. Adapun kata زَيْد berkedudukan sebagai mudhaf ilaih. Ketiga, al-asma’ as-sittah harus sebagai mudhaf. Sebagaimana contoh yang telah disebutkan, apabila tidak berkedudukan sebagai mudhaf, maka di-i’rab dengan menggunakan harakat. Contohnya dalam Al-Qur’an yang menceritakan kisah saudara-saudara Nabi Yusuf, yaitu: اِنَّ لَهٗٓ اَبًا شَيْخًا كَبِيْرًا “Sesungguhnya dia mempunyai seorang bapak yang sangat tua.” (QS. Yusuf: 78) Kata اَبًا  berkedudukan sebagai isim inna muakkhar (yang dibelakangkan) manshub dengan tanda fathah zhahirah. Adapun kata لَهٗٓ berkedudukan sebagai khabar inna muqaddam (yang didahulukan). Contoh lainya adalah: هَذَا أَبٌ عَطُوْفٌ “Ini adalah seorang bapak yang penyayang.” وَسَلَمْتُ عَلَى أَبٍ عَطُوْفٍ “Saya memberikan salam ke seorang bapak yang penyayang.” Keempat, al-asma’ as-sittah haruslah berupa susunan idhafah, kecuali jika di-idhafah-kan ke ya mutakallim. Sebagaimana contoh yang telah disebutkan sebelumnya, apabila di-idhafah-kan kepada ya mutakallim, maka i’rab-nya dengan harakat muqaddarah (abstrak). Contohnya dalam firman Allah dalam menceritakan kisah Nabi Musa ‘alahis salam: وَاَخِيْ هٰرُوْنُ هُوَ اَفْصَحُ مِنِّيْ لِسَانًا “Saudara laki-lakiku, Harun, dia lebih fasih lisannya dari padaku.” (QS. Al-Qashas: 34) Kata اَخِيْ  berkedudukan sebagai mubtada marfu’ dengan tanda damah muqaddarah (abstrak) sebelum huruf ya mutakallim, yaitu huruf kha. Tanda  damah yang seharusnya muncul pada huruf sebelum ya mutakallim karena tempat tersebut “sibuk” dengan harakat kasrah yang lebih sesuai. Oleh karena itu, harakat damah yang seharusnya ada, dihilangkan (abstrak) dan diganti dengan harakat kasrah. Kata اَخِيْ berkedudukan sebagai mudhaf sedangkan ya mutakallim berkedudukan sebagai mudhaf ilaih. Khabar dari potongan ayat tersebut adalah هُوَ اَفْصَحُ مِنِّي. Adapun kata هٰرُوْنُ berkedudukan sebagai athaf bayan marfu’ dengan tanda damah. Dari penjelasan ini, dapat dipahami empat syarat yang disimpulkan secara implisit dari perkataan Ibnu Hisyam, yaitu tidak dinyatakan secara langsung, tetapi bisa dipahami dari konteks. Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa al-asma’ as-sittah harus memenuhi syarat-syarat berikut: Pertama, mufrad, yaitu tunggal. Kedua, mukabbarah, yaitu dalam bentuk besar. Ketiga, berkedudukan sebagai mudhaf. Keempat, di-idhafah-kan kepada selain ya mutakallim. [Bersambung] Kembali ke bagian 14 *** Penulis: Rafi Nugraha Artikel: Muslim.or.id

Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada (Bag. 15): Syarat-Syarat Al-Asma’ As-Sittah

Syarat-syarat i’rab (perubahan) al-asma’ as-sittah dilakukan dengan huruf, kecuali jika memenuhi empat syarat berikut: Pertama, al-asma’ as-sittah harus dalam bentuk tunggal. Sebagaimana contoh yang telah disebutkan, jika berbentuk mutsanna (kata ganda), maka i’rab-nya mengikuti i’rab isim mutsanna, yaitu rafa’ dengan tanda alif, nashab, dan jer dengan tanda ya. Contohnya terdapat dalam firman Allah, وَرَفَعَ اَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ “Dia (Yusuf)  mengangkat kedua orang tuanya ke atas singgasana.” (QS. Yusuf: 100) Dalam contoh ini, kata أَبَوَيْهِ berkedudukan sebagai maf’ul bih mansub dan tanda nashab berupa tanda ya karena kata tersebut merupakan isim mutsanna. Kata tersebut juga berkedudukan sebagai mudhaf. Sementara dhamir الهَاءُ tersebut berkedudukan sebagai mudhaf ilaih. Apabila al-asma’ as-sittah berbentuk jamak taksir, maka i’rab-nya dilakukan dengan harakat, yaitu rafa’ dengan damah, nashab dengan fathah, dan jer dengan kasrah. Contohnya terdapat dalam firman Allah, اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْۚ لَا تَدْرُوْنَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًاۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِۗ َ “Bapak-bapak kalian dan anak-anak kalian tidak mengetahui siapa di antara mereka yang paling memberikan manfaat bagi kalian. Ini merupakan kewajiban dari Allah untuk kalian tunaikan” (QS. An-Nisa’: 55) Maka, kata اٰبَاء berkedudukan sebagai mubtada marfu’ karena ibtida’. Tanda marfu’-nya ditandai tanda damah zhahirah, dan kata tersebut juga berkedudukan sebagai mudhaf. Adapun huruf الكاف yang terletak setelah kata اٰبَاء tersebut berkedudukan sebagai mudhaf ilaih. Huruf الميم yang terletak setelah huruf الكاف  tersebut sebagai tanda jama’. Sementara itu, kata لَا تَدْرُوْنَ  jumlah fi’liyah yang terdiri dari fi’il dan fa’il berkedudukan sebagai khabar. Kedua, al-asma’ as-sittah harus dalam bentuk mukabbarah atau tidak dalam bentuk tashghir. Sebagaimana disebutkan dalam contoh sebelumnya, jika dalam bentuk tashghir, maka i’rab-nya menggunakan harakat. Contohnya dalam kalimat adalah, جَاءَ أُخَيُّ زَيْدٍ  “Adik laki-laki Zaid telah datang.” Dalam kata tersebut, kata أُخَيُّ adalah fa’il marfu’ dengan tanda damah zhahirah, dan juga berkedudukan sebagai mudhaf. Adapun kata زَيْد berkedudukan sebagai mudhaf ilaih. Ketiga, al-asma’ as-sittah harus sebagai mudhaf. Sebagaimana contoh yang telah disebutkan, apabila tidak berkedudukan sebagai mudhaf, maka di-i’rab dengan menggunakan harakat. Contohnya dalam Al-Qur’an yang menceritakan kisah saudara-saudara Nabi Yusuf, yaitu: اِنَّ لَهٗٓ اَبًا شَيْخًا كَبِيْرًا “Sesungguhnya dia mempunyai seorang bapak yang sangat tua.” (QS. Yusuf: 78) Kata اَبًا  berkedudukan sebagai isim inna muakkhar (yang dibelakangkan) manshub dengan tanda fathah zhahirah. Adapun kata لَهٗٓ berkedudukan sebagai khabar inna muqaddam (yang didahulukan). Contoh lainya adalah: هَذَا أَبٌ عَطُوْفٌ “Ini adalah seorang bapak yang penyayang.” وَسَلَمْتُ عَلَى أَبٍ عَطُوْفٍ “Saya memberikan salam ke seorang bapak yang penyayang.” Keempat, al-asma’ as-sittah haruslah berupa susunan idhafah, kecuali jika di-idhafah-kan ke ya mutakallim. Sebagaimana contoh yang telah disebutkan sebelumnya, apabila di-idhafah-kan kepada ya mutakallim, maka i’rab-nya dengan harakat muqaddarah (abstrak). Contohnya dalam firman Allah dalam menceritakan kisah Nabi Musa ‘alahis salam: وَاَخِيْ هٰرُوْنُ هُوَ اَفْصَحُ مِنِّيْ لِسَانًا “Saudara laki-lakiku, Harun, dia lebih fasih lisannya dari padaku.” (QS. Al-Qashas: 34) Kata اَخِيْ  berkedudukan sebagai mubtada marfu’ dengan tanda damah muqaddarah (abstrak) sebelum huruf ya mutakallim, yaitu huruf kha. Tanda  damah yang seharusnya muncul pada huruf sebelum ya mutakallim karena tempat tersebut “sibuk” dengan harakat kasrah yang lebih sesuai. Oleh karena itu, harakat damah yang seharusnya ada, dihilangkan (abstrak) dan diganti dengan harakat kasrah. Kata اَخِيْ berkedudukan sebagai mudhaf sedangkan ya mutakallim berkedudukan sebagai mudhaf ilaih. Khabar dari potongan ayat tersebut adalah هُوَ اَفْصَحُ مِنِّي. Adapun kata هٰرُوْنُ berkedudukan sebagai athaf bayan marfu’ dengan tanda damah. Dari penjelasan ini, dapat dipahami empat syarat yang disimpulkan secara implisit dari perkataan Ibnu Hisyam, yaitu tidak dinyatakan secara langsung, tetapi bisa dipahami dari konteks. Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa al-asma’ as-sittah harus memenuhi syarat-syarat berikut: Pertama, mufrad, yaitu tunggal. Kedua, mukabbarah, yaitu dalam bentuk besar. Ketiga, berkedudukan sebagai mudhaf. Keempat, di-idhafah-kan kepada selain ya mutakallim. [Bersambung] Kembali ke bagian 14 *** Penulis: Rafi Nugraha Artikel: Muslim.or.id
Syarat-syarat i’rab (perubahan) al-asma’ as-sittah dilakukan dengan huruf, kecuali jika memenuhi empat syarat berikut: Pertama, al-asma’ as-sittah harus dalam bentuk tunggal. Sebagaimana contoh yang telah disebutkan, jika berbentuk mutsanna (kata ganda), maka i’rab-nya mengikuti i’rab isim mutsanna, yaitu rafa’ dengan tanda alif, nashab, dan jer dengan tanda ya. Contohnya terdapat dalam firman Allah, وَرَفَعَ اَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ “Dia (Yusuf)  mengangkat kedua orang tuanya ke atas singgasana.” (QS. Yusuf: 100) Dalam contoh ini, kata أَبَوَيْهِ berkedudukan sebagai maf’ul bih mansub dan tanda nashab berupa tanda ya karena kata tersebut merupakan isim mutsanna. Kata tersebut juga berkedudukan sebagai mudhaf. Sementara dhamir الهَاءُ tersebut berkedudukan sebagai mudhaf ilaih. Apabila al-asma’ as-sittah berbentuk jamak taksir, maka i’rab-nya dilakukan dengan harakat, yaitu rafa’ dengan damah, nashab dengan fathah, dan jer dengan kasrah. Contohnya terdapat dalam firman Allah, اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْۚ لَا تَدْرُوْنَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًاۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِۗ َ “Bapak-bapak kalian dan anak-anak kalian tidak mengetahui siapa di antara mereka yang paling memberikan manfaat bagi kalian. Ini merupakan kewajiban dari Allah untuk kalian tunaikan” (QS. An-Nisa’: 55) Maka, kata اٰبَاء berkedudukan sebagai mubtada marfu’ karena ibtida’. Tanda marfu’-nya ditandai tanda damah zhahirah, dan kata tersebut juga berkedudukan sebagai mudhaf. Adapun huruf الكاف yang terletak setelah kata اٰبَاء tersebut berkedudukan sebagai mudhaf ilaih. Huruf الميم yang terletak setelah huruf الكاف  tersebut sebagai tanda jama’. Sementara itu, kata لَا تَدْرُوْنَ  jumlah fi’liyah yang terdiri dari fi’il dan fa’il berkedudukan sebagai khabar. Kedua, al-asma’ as-sittah harus dalam bentuk mukabbarah atau tidak dalam bentuk tashghir. Sebagaimana disebutkan dalam contoh sebelumnya, jika dalam bentuk tashghir, maka i’rab-nya menggunakan harakat. Contohnya dalam kalimat adalah, جَاءَ أُخَيُّ زَيْدٍ  “Adik laki-laki Zaid telah datang.” Dalam kata tersebut, kata أُخَيُّ adalah fa’il marfu’ dengan tanda damah zhahirah, dan juga berkedudukan sebagai mudhaf. Adapun kata زَيْد berkedudukan sebagai mudhaf ilaih. Ketiga, al-asma’ as-sittah harus sebagai mudhaf. Sebagaimana contoh yang telah disebutkan, apabila tidak berkedudukan sebagai mudhaf, maka di-i’rab dengan menggunakan harakat. Contohnya dalam Al-Qur’an yang menceritakan kisah saudara-saudara Nabi Yusuf, yaitu: اِنَّ لَهٗٓ اَبًا شَيْخًا كَبِيْرًا “Sesungguhnya dia mempunyai seorang bapak yang sangat tua.” (QS. Yusuf: 78) Kata اَبًا  berkedudukan sebagai isim inna muakkhar (yang dibelakangkan) manshub dengan tanda fathah zhahirah. Adapun kata لَهٗٓ berkedudukan sebagai khabar inna muqaddam (yang didahulukan). Contoh lainya adalah: هَذَا أَبٌ عَطُوْفٌ “Ini adalah seorang bapak yang penyayang.” وَسَلَمْتُ عَلَى أَبٍ عَطُوْفٍ “Saya memberikan salam ke seorang bapak yang penyayang.” Keempat, al-asma’ as-sittah haruslah berupa susunan idhafah, kecuali jika di-idhafah-kan ke ya mutakallim. Sebagaimana contoh yang telah disebutkan sebelumnya, apabila di-idhafah-kan kepada ya mutakallim, maka i’rab-nya dengan harakat muqaddarah (abstrak). Contohnya dalam firman Allah dalam menceritakan kisah Nabi Musa ‘alahis salam: وَاَخِيْ هٰرُوْنُ هُوَ اَفْصَحُ مِنِّيْ لِسَانًا “Saudara laki-lakiku, Harun, dia lebih fasih lisannya dari padaku.” (QS. Al-Qashas: 34) Kata اَخِيْ  berkedudukan sebagai mubtada marfu’ dengan tanda damah muqaddarah (abstrak) sebelum huruf ya mutakallim, yaitu huruf kha. Tanda  damah yang seharusnya muncul pada huruf sebelum ya mutakallim karena tempat tersebut “sibuk” dengan harakat kasrah yang lebih sesuai. Oleh karena itu, harakat damah yang seharusnya ada, dihilangkan (abstrak) dan diganti dengan harakat kasrah. Kata اَخِيْ berkedudukan sebagai mudhaf sedangkan ya mutakallim berkedudukan sebagai mudhaf ilaih. Khabar dari potongan ayat tersebut adalah هُوَ اَفْصَحُ مِنِّي. Adapun kata هٰرُوْنُ berkedudukan sebagai athaf bayan marfu’ dengan tanda damah. Dari penjelasan ini, dapat dipahami empat syarat yang disimpulkan secara implisit dari perkataan Ibnu Hisyam, yaitu tidak dinyatakan secara langsung, tetapi bisa dipahami dari konteks. Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa al-asma’ as-sittah harus memenuhi syarat-syarat berikut: Pertama, mufrad, yaitu tunggal. Kedua, mukabbarah, yaitu dalam bentuk besar. Ketiga, berkedudukan sebagai mudhaf. Keempat, di-idhafah-kan kepada selain ya mutakallim. [Bersambung] Kembali ke bagian 14 *** Penulis: Rafi Nugraha Artikel: Muslim.or.id


Syarat-syarat i’rab (perubahan) al-asma’ as-sittah dilakukan dengan huruf, kecuali jika memenuhi empat syarat berikut: Pertama, al-asma’ as-sittah harus dalam bentuk tunggal. Sebagaimana contoh yang telah disebutkan, jika berbentuk mutsanna (kata ganda), maka i’rab-nya mengikuti i’rab isim mutsanna, yaitu rafa’ dengan tanda alif, nashab, dan jer dengan tanda ya. Contohnya terdapat dalam firman Allah, وَرَفَعَ اَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ “Dia (Yusuf)  mengangkat kedua orang tuanya ke atas singgasana.” (QS. Yusuf: 100) Dalam contoh ini, kata أَبَوَيْهِ berkedudukan sebagai maf’ul bih mansub dan tanda nashab berupa tanda ya karena kata tersebut merupakan isim mutsanna. Kata tersebut juga berkedudukan sebagai mudhaf. Sementara dhamir الهَاءُ tersebut berkedudukan sebagai mudhaf ilaih. Apabila al-asma’ as-sittah berbentuk jamak taksir, maka i’rab-nya dilakukan dengan harakat, yaitu rafa’ dengan damah, nashab dengan fathah, dan jer dengan kasrah. Contohnya terdapat dalam firman Allah, اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْۚ لَا تَدْرُوْنَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًاۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِۗ َ “Bapak-bapak kalian dan anak-anak kalian tidak mengetahui siapa di antara mereka yang paling memberikan manfaat bagi kalian. Ini merupakan kewajiban dari Allah untuk kalian tunaikan” (QS. An-Nisa’: 55) Maka, kata اٰبَاء berkedudukan sebagai mubtada marfu’ karena ibtida’. Tanda marfu’-nya ditandai tanda damah zhahirah, dan kata tersebut juga berkedudukan sebagai mudhaf. Adapun huruf الكاف yang terletak setelah kata اٰبَاء tersebut berkedudukan sebagai mudhaf ilaih. Huruf الميم yang terletak setelah huruf الكاف  tersebut sebagai tanda jama’. Sementara itu, kata لَا تَدْرُوْنَ  jumlah fi’liyah yang terdiri dari fi’il dan fa’il berkedudukan sebagai khabar. Kedua, al-asma’ as-sittah harus dalam bentuk mukabbarah atau tidak dalam bentuk tashghir. Sebagaimana disebutkan dalam contoh sebelumnya, jika dalam bentuk tashghir, maka i’rab-nya menggunakan harakat. Contohnya dalam kalimat adalah, جَاءَ أُخَيُّ زَيْدٍ  “Adik laki-laki Zaid telah datang.” Dalam kata tersebut, kata أُخَيُّ adalah fa’il marfu’ dengan tanda damah zhahirah, dan juga berkedudukan sebagai mudhaf. Adapun kata زَيْد berkedudukan sebagai mudhaf ilaih. Ketiga, al-asma’ as-sittah harus sebagai mudhaf. Sebagaimana contoh yang telah disebutkan, apabila tidak berkedudukan sebagai mudhaf, maka di-i’rab dengan menggunakan harakat. Contohnya dalam Al-Qur’an yang menceritakan kisah saudara-saudara Nabi Yusuf, yaitu: اِنَّ لَهٗٓ اَبًا شَيْخًا كَبِيْرًا “Sesungguhnya dia mempunyai seorang bapak yang sangat tua.” (QS. Yusuf: 78) Kata اَبًا  berkedudukan sebagai isim inna muakkhar (yang dibelakangkan) manshub dengan tanda fathah zhahirah. Adapun kata لَهٗٓ berkedudukan sebagai khabar inna muqaddam (yang didahulukan). Contoh lainya adalah: هَذَا أَبٌ عَطُوْفٌ “Ini adalah seorang bapak yang penyayang.” وَسَلَمْتُ عَلَى أَبٍ عَطُوْفٍ “Saya memberikan salam ke seorang bapak yang penyayang.” Keempat, al-asma’ as-sittah haruslah berupa susunan idhafah, kecuali jika di-idhafah-kan ke ya mutakallim. Sebagaimana contoh yang telah disebutkan sebelumnya, apabila di-idhafah-kan kepada ya mutakallim, maka i’rab-nya dengan harakat muqaddarah (abstrak). Contohnya dalam firman Allah dalam menceritakan kisah Nabi Musa ‘alahis salam: وَاَخِيْ هٰرُوْنُ هُوَ اَفْصَحُ مِنِّيْ لِسَانًا “Saudara laki-lakiku, Harun, dia lebih fasih lisannya dari padaku.” (QS. Al-Qashas: 34) Kata اَخِيْ  berkedudukan sebagai mubtada marfu’ dengan tanda damah muqaddarah (abstrak) sebelum huruf ya mutakallim, yaitu huruf kha. Tanda  damah yang seharusnya muncul pada huruf sebelum ya mutakallim karena tempat tersebut “sibuk” dengan harakat kasrah yang lebih sesuai. Oleh karena itu, harakat damah yang seharusnya ada, dihilangkan (abstrak) dan diganti dengan harakat kasrah. Kata اَخِيْ berkedudukan sebagai mudhaf sedangkan ya mutakallim berkedudukan sebagai mudhaf ilaih. Khabar dari potongan ayat tersebut adalah هُوَ اَفْصَحُ مِنِّي. Adapun kata هٰرُوْنُ berkedudukan sebagai athaf bayan marfu’ dengan tanda damah. Dari penjelasan ini, dapat dipahami empat syarat yang disimpulkan secara implisit dari perkataan Ibnu Hisyam, yaitu tidak dinyatakan secara langsung, tetapi bisa dipahami dari konteks. Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa al-asma’ as-sittah harus memenuhi syarat-syarat berikut: Pertama, mufrad, yaitu tunggal. Kedua, mukabbarah, yaitu dalam bentuk besar. Ketiga, berkedudukan sebagai mudhaf. Keempat, di-idhafah-kan kepada selain ya mutakallim. [Bersambung] Kembali ke bagian 14 *** Penulis: Rafi Nugraha Artikel: Muslim.or.id

Aku Sengsara apakah Bisa Bahagia dengan Berdoa & Beramal Saleh? – Syaikh Shalih al-Ushaimi

Penanya ini berkata, “Apabila seseorang ditetapkan menjadi sengsara, apakah masih mungkin untuk berubah menjadi bahagia, berkat amalannya atau doa yang dia panjatkan, karena Ibnu Umar pernah berkata, “Ya Allah! Andai Engkau menetapkanku menjadi sengsara, dan seterusnya…”? Kami katakan bahwa penulisan takdir menjadi sengsara atau bahagia terbagi menjadi dua: Pertama, penulisan takdir secara mutlak. Takdir ini terdapat dalam Lauhul Mahfuzh. Takdir yang ini tidak akan berubah sedikit pun. Kedua, penulisan takdir bersyarat. Yakni berdasarkan apa yang tertulis dalam catatan takdir yang dibawa para malaikat mengenai takdir tahunan. Takdir inilah yang masih dapat berubah. Bisa jadi dalam catatan takdir mereka tertulis sebagai orang sengsara. Lalu dia berdoa atau beramal saleh, sehingga ditetapkan sebagai orang bahagia.Takdir jenis inilah yang dimaksud dalam ucapan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan, dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS. ar-Ra’d: 39). Penghapusan dan penetapan takdir terjadi pada catatan para malaikat tentang takdir. Adapun yang ada dalam Ummul Kitab, yakni Lauhul Mahfuzh, maka itu tidak dapat berubah. ==== يَقُولُ هَذَا السَّائِلُ إِذَا كُتِبَ الْإِنْسَانُ شَقِيًّا هَلْ مِنَ الْمُمْكِنِ أَنْ يَتَغَيَّرَ إلَى سَعِيدٍ نِسْبَةً إلَى عَمَلِهِ أَوْ دُعَاءٍ دَعَاهُ لِأَنَّ ابْنَ عُمَرَ قَالَ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي شَقِيًّا… إِلَى آخِرِهِ نَقُولُ إِنَّ كِتَابَةَ الشَّقَاءِ وَالسَّعَادَةِ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا كِتَابَةٌ مُطْلَقَةٌ وَهِيَ الْوَاقِعَةُ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ فَهَذِهِ لَا تَتَغَيَّرُ أَبَدًا وَالْآخَرُ كِتَابَةٌ مُقَيَّدَةٌ أَيْ بِاعْتِبَارِ مَا يُكْتَبُ فِي صُحُفِ الْمَلَائِكَةِ فِي التَّقْدِيرِ السَّنَوِيِّ فَإِنَّ هَذَا هُوَ الَّذِي يَقَعُ فِيهِ التَّغْيِيرُ فَرُبَّمَا كُتِبَ فِي صُحُفِهِمْ شَقِيًّا ثَمَّ جَرَى لَهُ دُعَاءٌ أَوْ عَمَلٌ صَالِحٌ فَكُتِبَ سَعِيدًا فَهَذَا هُوَ الَّذِي يُحْمَلُ عَلَيْهِ كَلَامُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِندَهُ أُمُّ الْكِتَابِ فَيَقَعُ الْمَحْوُ وَالْإِثْبَاتُ فِي صُحُفِ الْمَلَائِكَةِ فِي الْمَقَادِيرِ وَأَمَّا فِي أُمِّ الْكِتَابِ وَهُوَ اللَّوْحُ الْمَحْفُوظُ فَإِنَّهُ لَا يَقَعُ تَغْيِيْرٌ

Aku Sengsara apakah Bisa Bahagia dengan Berdoa & Beramal Saleh? – Syaikh Shalih al-Ushaimi

Penanya ini berkata, “Apabila seseorang ditetapkan menjadi sengsara, apakah masih mungkin untuk berubah menjadi bahagia, berkat amalannya atau doa yang dia panjatkan, karena Ibnu Umar pernah berkata, “Ya Allah! Andai Engkau menetapkanku menjadi sengsara, dan seterusnya…”? Kami katakan bahwa penulisan takdir menjadi sengsara atau bahagia terbagi menjadi dua: Pertama, penulisan takdir secara mutlak. Takdir ini terdapat dalam Lauhul Mahfuzh. Takdir yang ini tidak akan berubah sedikit pun. Kedua, penulisan takdir bersyarat. Yakni berdasarkan apa yang tertulis dalam catatan takdir yang dibawa para malaikat mengenai takdir tahunan. Takdir inilah yang masih dapat berubah. Bisa jadi dalam catatan takdir mereka tertulis sebagai orang sengsara. Lalu dia berdoa atau beramal saleh, sehingga ditetapkan sebagai orang bahagia.Takdir jenis inilah yang dimaksud dalam ucapan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan, dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS. ar-Ra’d: 39). Penghapusan dan penetapan takdir terjadi pada catatan para malaikat tentang takdir. Adapun yang ada dalam Ummul Kitab, yakni Lauhul Mahfuzh, maka itu tidak dapat berubah. ==== يَقُولُ هَذَا السَّائِلُ إِذَا كُتِبَ الْإِنْسَانُ شَقِيًّا هَلْ مِنَ الْمُمْكِنِ أَنْ يَتَغَيَّرَ إلَى سَعِيدٍ نِسْبَةً إلَى عَمَلِهِ أَوْ دُعَاءٍ دَعَاهُ لِأَنَّ ابْنَ عُمَرَ قَالَ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي شَقِيًّا… إِلَى آخِرِهِ نَقُولُ إِنَّ كِتَابَةَ الشَّقَاءِ وَالسَّعَادَةِ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا كِتَابَةٌ مُطْلَقَةٌ وَهِيَ الْوَاقِعَةُ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ فَهَذِهِ لَا تَتَغَيَّرُ أَبَدًا وَالْآخَرُ كِتَابَةٌ مُقَيَّدَةٌ أَيْ بِاعْتِبَارِ مَا يُكْتَبُ فِي صُحُفِ الْمَلَائِكَةِ فِي التَّقْدِيرِ السَّنَوِيِّ فَإِنَّ هَذَا هُوَ الَّذِي يَقَعُ فِيهِ التَّغْيِيرُ فَرُبَّمَا كُتِبَ فِي صُحُفِهِمْ شَقِيًّا ثَمَّ جَرَى لَهُ دُعَاءٌ أَوْ عَمَلٌ صَالِحٌ فَكُتِبَ سَعِيدًا فَهَذَا هُوَ الَّذِي يُحْمَلُ عَلَيْهِ كَلَامُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِندَهُ أُمُّ الْكِتَابِ فَيَقَعُ الْمَحْوُ وَالْإِثْبَاتُ فِي صُحُفِ الْمَلَائِكَةِ فِي الْمَقَادِيرِ وَأَمَّا فِي أُمِّ الْكِتَابِ وَهُوَ اللَّوْحُ الْمَحْفُوظُ فَإِنَّهُ لَا يَقَعُ تَغْيِيْرٌ
Penanya ini berkata, “Apabila seseorang ditetapkan menjadi sengsara, apakah masih mungkin untuk berubah menjadi bahagia, berkat amalannya atau doa yang dia panjatkan, karena Ibnu Umar pernah berkata, “Ya Allah! Andai Engkau menetapkanku menjadi sengsara, dan seterusnya…”? Kami katakan bahwa penulisan takdir menjadi sengsara atau bahagia terbagi menjadi dua: Pertama, penulisan takdir secara mutlak. Takdir ini terdapat dalam Lauhul Mahfuzh. Takdir yang ini tidak akan berubah sedikit pun. Kedua, penulisan takdir bersyarat. Yakni berdasarkan apa yang tertulis dalam catatan takdir yang dibawa para malaikat mengenai takdir tahunan. Takdir inilah yang masih dapat berubah. Bisa jadi dalam catatan takdir mereka tertulis sebagai orang sengsara. Lalu dia berdoa atau beramal saleh, sehingga ditetapkan sebagai orang bahagia.Takdir jenis inilah yang dimaksud dalam ucapan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan, dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS. ar-Ra’d: 39). Penghapusan dan penetapan takdir terjadi pada catatan para malaikat tentang takdir. Adapun yang ada dalam Ummul Kitab, yakni Lauhul Mahfuzh, maka itu tidak dapat berubah. ==== يَقُولُ هَذَا السَّائِلُ إِذَا كُتِبَ الْإِنْسَانُ شَقِيًّا هَلْ مِنَ الْمُمْكِنِ أَنْ يَتَغَيَّرَ إلَى سَعِيدٍ نِسْبَةً إلَى عَمَلِهِ أَوْ دُعَاءٍ دَعَاهُ لِأَنَّ ابْنَ عُمَرَ قَالَ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي شَقِيًّا… إِلَى آخِرِهِ نَقُولُ إِنَّ كِتَابَةَ الشَّقَاءِ وَالسَّعَادَةِ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا كِتَابَةٌ مُطْلَقَةٌ وَهِيَ الْوَاقِعَةُ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ فَهَذِهِ لَا تَتَغَيَّرُ أَبَدًا وَالْآخَرُ كِتَابَةٌ مُقَيَّدَةٌ أَيْ بِاعْتِبَارِ مَا يُكْتَبُ فِي صُحُفِ الْمَلَائِكَةِ فِي التَّقْدِيرِ السَّنَوِيِّ فَإِنَّ هَذَا هُوَ الَّذِي يَقَعُ فِيهِ التَّغْيِيرُ فَرُبَّمَا كُتِبَ فِي صُحُفِهِمْ شَقِيًّا ثَمَّ جَرَى لَهُ دُعَاءٌ أَوْ عَمَلٌ صَالِحٌ فَكُتِبَ سَعِيدًا فَهَذَا هُوَ الَّذِي يُحْمَلُ عَلَيْهِ كَلَامُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِندَهُ أُمُّ الْكِتَابِ فَيَقَعُ الْمَحْوُ وَالْإِثْبَاتُ فِي صُحُفِ الْمَلَائِكَةِ فِي الْمَقَادِيرِ وَأَمَّا فِي أُمِّ الْكِتَابِ وَهُوَ اللَّوْحُ الْمَحْفُوظُ فَإِنَّهُ لَا يَقَعُ تَغْيِيْرٌ


Penanya ini berkata, “Apabila seseorang ditetapkan menjadi sengsara, apakah masih mungkin untuk berubah menjadi bahagia, berkat amalannya atau doa yang dia panjatkan, karena Ibnu Umar pernah berkata, “Ya Allah! Andai Engkau menetapkanku menjadi sengsara, dan seterusnya…”? Kami katakan bahwa penulisan takdir menjadi sengsara atau bahagia terbagi menjadi dua: Pertama, penulisan takdir secara mutlak. Takdir ini terdapat dalam Lauhul Mahfuzh. Takdir yang ini tidak akan berubah sedikit pun. Kedua, penulisan takdir bersyarat. Yakni berdasarkan apa yang tertulis dalam catatan takdir yang dibawa para malaikat mengenai takdir tahunan. Takdir inilah yang masih dapat berubah. Bisa jadi dalam catatan takdir mereka tertulis sebagai orang sengsara. Lalu dia berdoa atau beramal saleh, sehingga ditetapkan sebagai orang bahagia.Takdir jenis inilah yang dimaksud dalam ucapan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan, dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS. ar-Ra’d: 39). Penghapusan dan penetapan takdir terjadi pada catatan para malaikat tentang takdir. Adapun yang ada dalam Ummul Kitab, yakni Lauhul Mahfuzh, maka itu tidak dapat berubah. ==== يَقُولُ هَذَا السَّائِلُ إِذَا كُتِبَ الْإِنْسَانُ شَقِيًّا هَلْ مِنَ الْمُمْكِنِ أَنْ يَتَغَيَّرَ إلَى سَعِيدٍ نِسْبَةً إلَى عَمَلِهِ أَوْ دُعَاءٍ دَعَاهُ لِأَنَّ ابْنَ عُمَرَ قَالَ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي شَقِيًّا… إِلَى آخِرِهِ نَقُولُ إِنَّ كِتَابَةَ الشَّقَاءِ وَالسَّعَادَةِ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا كِتَابَةٌ مُطْلَقَةٌ وَهِيَ الْوَاقِعَةُ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ فَهَذِهِ لَا تَتَغَيَّرُ أَبَدًا وَالْآخَرُ كِتَابَةٌ مُقَيَّدَةٌ أَيْ بِاعْتِبَارِ مَا يُكْتَبُ فِي صُحُفِ الْمَلَائِكَةِ فِي التَّقْدِيرِ السَّنَوِيِّ فَإِنَّ هَذَا هُوَ الَّذِي يَقَعُ فِيهِ التَّغْيِيرُ فَرُبَّمَا كُتِبَ فِي صُحُفِهِمْ شَقِيًّا ثَمَّ جَرَى لَهُ دُعَاءٌ أَوْ عَمَلٌ صَالِحٌ فَكُتِبَ سَعِيدًا فَهَذَا هُوَ الَّذِي يُحْمَلُ عَلَيْهِ كَلَامُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِندَهُ أُمُّ الْكِتَابِ فَيَقَعُ الْمَحْوُ وَالْإِثْبَاتُ فِي صُحُفِ الْمَلَائِكَةِ فِي الْمَقَادِيرِ وَأَمَّا فِي أُمِّ الْكِتَابِ وَهُوَ اللَّوْحُ الْمَحْفُوظُ فَإِنَّهُ لَا يَقَعُ تَغْيِيْرٌ

Doa dan Keteguhan Pemuda Ashabulkahfi

Daftar Isi Toggle Kandungan doa yang diucapkan oleh AshabulkahfiPertama: Memohon rahmat AllahKedua: Memohon petunjuk yang lurusKeberanian AshabulkahfiPerlindungan dan petunjuk dari Allah Keteguhan iman dan kepercayaan kepada Allah sering kali diuji dengan berbagai ujian dan cobaan. Salah satu kisah penuh hikmah yang memberikan teladan bagi kita tentang keberanian, keteguhan hati, dan pengharapan kepada rahmat Allah adalah kisah para pemuda Ashabulkahfi yang tertera dalam surah Al-Kahfi. Allah Ta’ala berfirman, اِذْ اَوَى الْفِتْيَةُ اِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوْا رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا “Ingatlah ketika para pemuda itu berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa, ‘Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami ini.‘” (QS. Al-Kahfi: 10) Perhatikanlah bagaimana sekelompok pemuda beriman yang menghadapi ancaman besar atas keimanan mereka. Mereka memilih untuk meninggalkan dunia yang penuh dengan kebatilan dan penganiayaan terhadap agama Allah, kemudian berlindung di dalam sebuah gua. Di dalam kesunyian gua tersebut, mereka tidak hanya berdiam diri, tetapi mereka berserah diri sepenuhnya kepada Allah melalui doa. Mereka memohon rahmat dan petunjuk dari-Nya, sebagai bentuk keteguhan iman dalam menghadapi ketidakpastian. Kandungan doa yang diucapkan oleh Ashabulkahfi Doa yang diucapkan oleh para pemuda Ashabulkahfi dalam kalimat, رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا menunjukkan dua hal penting yang bisa kita jadikan pedoman dalam menghadapi ujian hidup, yaitu: 1) permohonan terhadap rahmat Allah; dan 2) petunjuk yang lurus. Pertama: Memohon rahmat Allah Para pemuda Ashabulkahfi mengawali doa mereka dengan permohonan rahmat [رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ] dengan makna “Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu.” Lihatlah bahwa rahmat Allah Ta’ala adalah hal paling utama yang mereka harapkan dalam situasi genting tersebut. Mereka sadar bahwa hanya dengan rahmat-Nya, mereka bisa mendapatkan perlindungan dan pertolongan dari ancaman yang mereka hadapi. Rahmat Allah tidak hanya berbentuk perlindungan fisik, tetapi juga ketenangan hati, keberanian, dan kekuatan iman untuk terus berpegang teguh pada kebenaran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ “Doa adalah inti ibadah.” (HR. Tirmidzi no. 3371 dari Nu’man bin Basyiir radhiyallahu ‘anhu) Oleh karenanya, hendaklah dalam setiap langkah dan usaha, doa harus selalu menjadi prioritas utama yang kita dahulukan, sebagaimana yang dilakukan oleh para pemuda Ashabulkahfi. Selain ikhtiar mereka melarikan diri dari bahaya, mereka juga mengokohkan diri dengan memohon pertolongan kepada Allah melalui doa yang tulus. Kedua: Memohon petunjuk yang lurus Setelah memohon rahmat, mereka melanjutkan dengan permohonan, “وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا” yang berarti “dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami ini.” Para Ashabulkahfi, dalam doa mereka, menginginkan keselamatan dari ancaman fisik dari seorang Raja yang zalim. Mereka juga memohon agar Allah memberikan jalan yang benar dalam menghadapi persoalan mereka. Maka dari itu, pelajaran berharga dari hal ini adalah agar dalam setiap situasi, tidak cukup hanya memohon keselamatan atau kelapangan dari kesulitan, tetapi juga penting untuk berdoa meminta petunjuk agar kita senantiasa berada di jalan yang diridai Allah Ta’ala. Baca juga: Nasihat untuk Pemuda Muslim dari Ulama Zaman Ini Keberanian Ashabulkahfi Kisah Ashabulkahfi menggambarkan bahwa meskipun mereka masih muda, para pemuda ini memiliki keteguhan iman yang luar biasa. Ketika kebanyakan orang mungkin akan memilih untuk mengikuti arus mayoritas demi keselamatan dan kenyamanan hidup, mereka justru memilih untuk meninggalkan kemewahan duniawi dan berlindung di dalam sebuah gua demi menjaga keimanan mereka. Sikap ini menunjukkan bahwa mereka lebih mengutamakan rida Allah daripada kenikmatan dunia yang bersifat sementara. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. (Salah satunya adalah) pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah.” (HR. Bukhari no. 660; Muslim no. 1031) Pemuda Ashabulkahfi adalah teladan dari golongan pemuda yang dimuliakan ini. Mereka memilih jalan yang benar, meskipun menghadapi ancaman yang besar. Maka, patutlah kisah mereka menjadi inspirasi bagi setiap kita, terutama pemuda, untuk selalu berpegang teguh pada keimanan, meskipun dunia di sekeliling mereka penuh dengan kebatilan. Perlindungan dan petunjuk dari Allah Sebagaimana Allah menyelamatkan para pemuda Ashabulkahfi, Allah Ta’ala  juga akan memberikan pertolongan kepada hamba-Nya yang berserah diri dan memohon dengan tulus. Setelah mereka berdoa dan berlindung di dalam gua, Allah memberikan keajaiban dengan menidurkan mereka selama ratusan tahun, sehingga mereka terhindar dari ancaman musuh-musuh mereka. Allah Ta’ala berfirman, فَضَرَبۡنَا عَلٰٓى اٰذَانِهِمۡ فِى الۡـكَهۡفِ سِنِيۡنَ عَدَدًا ۙ‏ “Maka, Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu[1], selama beberapa tahun.” (QS. Al-Kahfi: 11) Kisah ini menunjukkan bahwa ketika kita menyerahkan diri kepada Allah dan berdoa dengan penuh keyakinan, Allah akan memberikan perlindungan dan petunjuk yang mungkin tidak pernah kita duga. Hal ini juga menekankan bahwa perlindungan dari Allah tidak selalu berupa solusi yang langsung terlihat oleh mata kita. Terkadang, pertolongan-Nya datang dalam bentuk yang tidak terduga, seperti dalam kasus Ashabulkahfi yang dilindungi melalui tidur panjang di dalam gua. Ini mengajarkan kepada kita bahwa apa pun bentuk pertolongan dari Allah, itu adalah yang terbaik bagi kita, meskipun mungkin kita belum bisa memahaminya saat itu. Allah Ta’ala berfirman, فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5) Ayat ini kemudian diulang setelah itu, إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6) Ketahuilah bahwa pada setiap ujian, akan ada pertolongan dari Allah. Seperti halnya pemuda Ashabulkahfi yang mendapatkan perlindungan dan kemudahan setelah melewati kesulitan. Karenanya, jika kita bersabar dan bertawakal kepada Allah, kita juga akan merasakan kelapangan setelah kesulitan yang dihadapi. Saudaraku, kisah Ashabulkahfi merupakan salah satu dari banyak kisah dalam Al-Qur’an yang penuh dengan pelajaran. Kisah ini mengajarkan kita tentang pentingnya doa, keteguhan iman, dan keberanian dalam mempertahankan keyakinan terhadap Allah. Dalam setiap kesulitan, jika kita berserah diri kepada Allah dan memohon rahmat serta petunjuk-Nya, maka insya Allah akan selalu ada jalan keluar yang terbaik bagi kita, sebagaimana yang terjadi pada para pemuda Ashabulkahfi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ “Kenalilah Allah di saat senang, niscaya Allah mengenalmu di saat susah.” (HR. Tirmidzi no. 2516) Semoga kita dimudahkan oleh Allah menjadi hamba-hamba-Nya yang dapat mengambil hikmah dari kisah ini dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari secara istikamah hingga akhir hayat kita. Wallahu a’lam. Baca juga: Ke mana Arahmu, Wahai Pemuda? *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki; [1] Allah menidurkan mereka selama 309 tahun kamariah dalam gua itu (lihat ayat 25 surah Al-Kahfi) sehingga mereka tidak dapat dibangunkan oleh suara apa pun.

Doa dan Keteguhan Pemuda Ashabulkahfi

Daftar Isi Toggle Kandungan doa yang diucapkan oleh AshabulkahfiPertama: Memohon rahmat AllahKedua: Memohon petunjuk yang lurusKeberanian AshabulkahfiPerlindungan dan petunjuk dari Allah Keteguhan iman dan kepercayaan kepada Allah sering kali diuji dengan berbagai ujian dan cobaan. Salah satu kisah penuh hikmah yang memberikan teladan bagi kita tentang keberanian, keteguhan hati, dan pengharapan kepada rahmat Allah adalah kisah para pemuda Ashabulkahfi yang tertera dalam surah Al-Kahfi. Allah Ta’ala berfirman, اِذْ اَوَى الْفِتْيَةُ اِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوْا رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا “Ingatlah ketika para pemuda itu berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa, ‘Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami ini.‘” (QS. Al-Kahfi: 10) Perhatikanlah bagaimana sekelompok pemuda beriman yang menghadapi ancaman besar atas keimanan mereka. Mereka memilih untuk meninggalkan dunia yang penuh dengan kebatilan dan penganiayaan terhadap agama Allah, kemudian berlindung di dalam sebuah gua. Di dalam kesunyian gua tersebut, mereka tidak hanya berdiam diri, tetapi mereka berserah diri sepenuhnya kepada Allah melalui doa. Mereka memohon rahmat dan petunjuk dari-Nya, sebagai bentuk keteguhan iman dalam menghadapi ketidakpastian. Kandungan doa yang diucapkan oleh Ashabulkahfi Doa yang diucapkan oleh para pemuda Ashabulkahfi dalam kalimat, رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا menunjukkan dua hal penting yang bisa kita jadikan pedoman dalam menghadapi ujian hidup, yaitu: 1) permohonan terhadap rahmat Allah; dan 2) petunjuk yang lurus. Pertama: Memohon rahmat Allah Para pemuda Ashabulkahfi mengawali doa mereka dengan permohonan rahmat [رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ] dengan makna “Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu.” Lihatlah bahwa rahmat Allah Ta’ala adalah hal paling utama yang mereka harapkan dalam situasi genting tersebut. Mereka sadar bahwa hanya dengan rahmat-Nya, mereka bisa mendapatkan perlindungan dan pertolongan dari ancaman yang mereka hadapi. Rahmat Allah tidak hanya berbentuk perlindungan fisik, tetapi juga ketenangan hati, keberanian, dan kekuatan iman untuk terus berpegang teguh pada kebenaran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ “Doa adalah inti ibadah.” (HR. Tirmidzi no. 3371 dari Nu’man bin Basyiir radhiyallahu ‘anhu) Oleh karenanya, hendaklah dalam setiap langkah dan usaha, doa harus selalu menjadi prioritas utama yang kita dahulukan, sebagaimana yang dilakukan oleh para pemuda Ashabulkahfi. Selain ikhtiar mereka melarikan diri dari bahaya, mereka juga mengokohkan diri dengan memohon pertolongan kepada Allah melalui doa yang tulus. Kedua: Memohon petunjuk yang lurus Setelah memohon rahmat, mereka melanjutkan dengan permohonan, “وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا” yang berarti “dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami ini.” Para Ashabulkahfi, dalam doa mereka, menginginkan keselamatan dari ancaman fisik dari seorang Raja yang zalim. Mereka juga memohon agar Allah memberikan jalan yang benar dalam menghadapi persoalan mereka. Maka dari itu, pelajaran berharga dari hal ini adalah agar dalam setiap situasi, tidak cukup hanya memohon keselamatan atau kelapangan dari kesulitan, tetapi juga penting untuk berdoa meminta petunjuk agar kita senantiasa berada di jalan yang diridai Allah Ta’ala. Baca juga: Nasihat untuk Pemuda Muslim dari Ulama Zaman Ini Keberanian Ashabulkahfi Kisah Ashabulkahfi menggambarkan bahwa meskipun mereka masih muda, para pemuda ini memiliki keteguhan iman yang luar biasa. Ketika kebanyakan orang mungkin akan memilih untuk mengikuti arus mayoritas demi keselamatan dan kenyamanan hidup, mereka justru memilih untuk meninggalkan kemewahan duniawi dan berlindung di dalam sebuah gua demi menjaga keimanan mereka. Sikap ini menunjukkan bahwa mereka lebih mengutamakan rida Allah daripada kenikmatan dunia yang bersifat sementara. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. (Salah satunya adalah) pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah.” (HR. Bukhari no. 660; Muslim no. 1031) Pemuda Ashabulkahfi adalah teladan dari golongan pemuda yang dimuliakan ini. Mereka memilih jalan yang benar, meskipun menghadapi ancaman yang besar. Maka, patutlah kisah mereka menjadi inspirasi bagi setiap kita, terutama pemuda, untuk selalu berpegang teguh pada keimanan, meskipun dunia di sekeliling mereka penuh dengan kebatilan. Perlindungan dan petunjuk dari Allah Sebagaimana Allah menyelamatkan para pemuda Ashabulkahfi, Allah Ta’ala  juga akan memberikan pertolongan kepada hamba-Nya yang berserah diri dan memohon dengan tulus. Setelah mereka berdoa dan berlindung di dalam gua, Allah memberikan keajaiban dengan menidurkan mereka selama ratusan tahun, sehingga mereka terhindar dari ancaman musuh-musuh mereka. Allah Ta’ala berfirman, فَضَرَبۡنَا عَلٰٓى اٰذَانِهِمۡ فِى الۡـكَهۡفِ سِنِيۡنَ عَدَدًا ۙ‏ “Maka, Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu[1], selama beberapa tahun.” (QS. Al-Kahfi: 11) Kisah ini menunjukkan bahwa ketika kita menyerahkan diri kepada Allah dan berdoa dengan penuh keyakinan, Allah akan memberikan perlindungan dan petunjuk yang mungkin tidak pernah kita duga. Hal ini juga menekankan bahwa perlindungan dari Allah tidak selalu berupa solusi yang langsung terlihat oleh mata kita. Terkadang, pertolongan-Nya datang dalam bentuk yang tidak terduga, seperti dalam kasus Ashabulkahfi yang dilindungi melalui tidur panjang di dalam gua. Ini mengajarkan kepada kita bahwa apa pun bentuk pertolongan dari Allah, itu adalah yang terbaik bagi kita, meskipun mungkin kita belum bisa memahaminya saat itu. Allah Ta’ala berfirman, فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5) Ayat ini kemudian diulang setelah itu, إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6) Ketahuilah bahwa pada setiap ujian, akan ada pertolongan dari Allah. Seperti halnya pemuda Ashabulkahfi yang mendapatkan perlindungan dan kemudahan setelah melewati kesulitan. Karenanya, jika kita bersabar dan bertawakal kepada Allah, kita juga akan merasakan kelapangan setelah kesulitan yang dihadapi. Saudaraku, kisah Ashabulkahfi merupakan salah satu dari banyak kisah dalam Al-Qur’an yang penuh dengan pelajaran. Kisah ini mengajarkan kita tentang pentingnya doa, keteguhan iman, dan keberanian dalam mempertahankan keyakinan terhadap Allah. Dalam setiap kesulitan, jika kita berserah diri kepada Allah dan memohon rahmat serta petunjuk-Nya, maka insya Allah akan selalu ada jalan keluar yang terbaik bagi kita, sebagaimana yang terjadi pada para pemuda Ashabulkahfi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ “Kenalilah Allah di saat senang, niscaya Allah mengenalmu di saat susah.” (HR. Tirmidzi no. 2516) Semoga kita dimudahkan oleh Allah menjadi hamba-hamba-Nya yang dapat mengambil hikmah dari kisah ini dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari secara istikamah hingga akhir hayat kita. Wallahu a’lam. Baca juga: Ke mana Arahmu, Wahai Pemuda? *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki; [1] Allah menidurkan mereka selama 309 tahun kamariah dalam gua itu (lihat ayat 25 surah Al-Kahfi) sehingga mereka tidak dapat dibangunkan oleh suara apa pun.
Daftar Isi Toggle Kandungan doa yang diucapkan oleh AshabulkahfiPertama: Memohon rahmat AllahKedua: Memohon petunjuk yang lurusKeberanian AshabulkahfiPerlindungan dan petunjuk dari Allah Keteguhan iman dan kepercayaan kepada Allah sering kali diuji dengan berbagai ujian dan cobaan. Salah satu kisah penuh hikmah yang memberikan teladan bagi kita tentang keberanian, keteguhan hati, dan pengharapan kepada rahmat Allah adalah kisah para pemuda Ashabulkahfi yang tertera dalam surah Al-Kahfi. Allah Ta’ala berfirman, اِذْ اَوَى الْفِتْيَةُ اِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوْا رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا “Ingatlah ketika para pemuda itu berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa, ‘Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami ini.‘” (QS. Al-Kahfi: 10) Perhatikanlah bagaimana sekelompok pemuda beriman yang menghadapi ancaman besar atas keimanan mereka. Mereka memilih untuk meninggalkan dunia yang penuh dengan kebatilan dan penganiayaan terhadap agama Allah, kemudian berlindung di dalam sebuah gua. Di dalam kesunyian gua tersebut, mereka tidak hanya berdiam diri, tetapi mereka berserah diri sepenuhnya kepada Allah melalui doa. Mereka memohon rahmat dan petunjuk dari-Nya, sebagai bentuk keteguhan iman dalam menghadapi ketidakpastian. Kandungan doa yang diucapkan oleh Ashabulkahfi Doa yang diucapkan oleh para pemuda Ashabulkahfi dalam kalimat, رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا menunjukkan dua hal penting yang bisa kita jadikan pedoman dalam menghadapi ujian hidup, yaitu: 1) permohonan terhadap rahmat Allah; dan 2) petunjuk yang lurus. Pertama: Memohon rahmat Allah Para pemuda Ashabulkahfi mengawali doa mereka dengan permohonan rahmat [رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ] dengan makna “Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu.” Lihatlah bahwa rahmat Allah Ta’ala adalah hal paling utama yang mereka harapkan dalam situasi genting tersebut. Mereka sadar bahwa hanya dengan rahmat-Nya, mereka bisa mendapatkan perlindungan dan pertolongan dari ancaman yang mereka hadapi. Rahmat Allah tidak hanya berbentuk perlindungan fisik, tetapi juga ketenangan hati, keberanian, dan kekuatan iman untuk terus berpegang teguh pada kebenaran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ “Doa adalah inti ibadah.” (HR. Tirmidzi no. 3371 dari Nu’man bin Basyiir radhiyallahu ‘anhu) Oleh karenanya, hendaklah dalam setiap langkah dan usaha, doa harus selalu menjadi prioritas utama yang kita dahulukan, sebagaimana yang dilakukan oleh para pemuda Ashabulkahfi. Selain ikhtiar mereka melarikan diri dari bahaya, mereka juga mengokohkan diri dengan memohon pertolongan kepada Allah melalui doa yang tulus. Kedua: Memohon petunjuk yang lurus Setelah memohon rahmat, mereka melanjutkan dengan permohonan, “وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا” yang berarti “dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami ini.” Para Ashabulkahfi, dalam doa mereka, menginginkan keselamatan dari ancaman fisik dari seorang Raja yang zalim. Mereka juga memohon agar Allah memberikan jalan yang benar dalam menghadapi persoalan mereka. Maka dari itu, pelajaran berharga dari hal ini adalah agar dalam setiap situasi, tidak cukup hanya memohon keselamatan atau kelapangan dari kesulitan, tetapi juga penting untuk berdoa meminta petunjuk agar kita senantiasa berada di jalan yang diridai Allah Ta’ala. Baca juga: Nasihat untuk Pemuda Muslim dari Ulama Zaman Ini Keberanian Ashabulkahfi Kisah Ashabulkahfi menggambarkan bahwa meskipun mereka masih muda, para pemuda ini memiliki keteguhan iman yang luar biasa. Ketika kebanyakan orang mungkin akan memilih untuk mengikuti arus mayoritas demi keselamatan dan kenyamanan hidup, mereka justru memilih untuk meninggalkan kemewahan duniawi dan berlindung di dalam sebuah gua demi menjaga keimanan mereka. Sikap ini menunjukkan bahwa mereka lebih mengutamakan rida Allah daripada kenikmatan dunia yang bersifat sementara. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. (Salah satunya adalah) pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah.” (HR. Bukhari no. 660; Muslim no. 1031) Pemuda Ashabulkahfi adalah teladan dari golongan pemuda yang dimuliakan ini. Mereka memilih jalan yang benar, meskipun menghadapi ancaman yang besar. Maka, patutlah kisah mereka menjadi inspirasi bagi setiap kita, terutama pemuda, untuk selalu berpegang teguh pada keimanan, meskipun dunia di sekeliling mereka penuh dengan kebatilan. Perlindungan dan petunjuk dari Allah Sebagaimana Allah menyelamatkan para pemuda Ashabulkahfi, Allah Ta’ala  juga akan memberikan pertolongan kepada hamba-Nya yang berserah diri dan memohon dengan tulus. Setelah mereka berdoa dan berlindung di dalam gua, Allah memberikan keajaiban dengan menidurkan mereka selama ratusan tahun, sehingga mereka terhindar dari ancaman musuh-musuh mereka. Allah Ta’ala berfirman, فَضَرَبۡنَا عَلٰٓى اٰذَانِهِمۡ فِى الۡـكَهۡفِ سِنِيۡنَ عَدَدًا ۙ‏ “Maka, Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu[1], selama beberapa tahun.” (QS. Al-Kahfi: 11) Kisah ini menunjukkan bahwa ketika kita menyerahkan diri kepada Allah dan berdoa dengan penuh keyakinan, Allah akan memberikan perlindungan dan petunjuk yang mungkin tidak pernah kita duga. Hal ini juga menekankan bahwa perlindungan dari Allah tidak selalu berupa solusi yang langsung terlihat oleh mata kita. Terkadang, pertolongan-Nya datang dalam bentuk yang tidak terduga, seperti dalam kasus Ashabulkahfi yang dilindungi melalui tidur panjang di dalam gua. Ini mengajarkan kepada kita bahwa apa pun bentuk pertolongan dari Allah, itu adalah yang terbaik bagi kita, meskipun mungkin kita belum bisa memahaminya saat itu. Allah Ta’ala berfirman, فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5) Ayat ini kemudian diulang setelah itu, إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6) Ketahuilah bahwa pada setiap ujian, akan ada pertolongan dari Allah. Seperti halnya pemuda Ashabulkahfi yang mendapatkan perlindungan dan kemudahan setelah melewati kesulitan. Karenanya, jika kita bersabar dan bertawakal kepada Allah, kita juga akan merasakan kelapangan setelah kesulitan yang dihadapi. Saudaraku, kisah Ashabulkahfi merupakan salah satu dari banyak kisah dalam Al-Qur’an yang penuh dengan pelajaran. Kisah ini mengajarkan kita tentang pentingnya doa, keteguhan iman, dan keberanian dalam mempertahankan keyakinan terhadap Allah. Dalam setiap kesulitan, jika kita berserah diri kepada Allah dan memohon rahmat serta petunjuk-Nya, maka insya Allah akan selalu ada jalan keluar yang terbaik bagi kita, sebagaimana yang terjadi pada para pemuda Ashabulkahfi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ “Kenalilah Allah di saat senang, niscaya Allah mengenalmu di saat susah.” (HR. Tirmidzi no. 2516) Semoga kita dimudahkan oleh Allah menjadi hamba-hamba-Nya yang dapat mengambil hikmah dari kisah ini dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari secara istikamah hingga akhir hayat kita. Wallahu a’lam. Baca juga: Ke mana Arahmu, Wahai Pemuda? *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki; [1] Allah menidurkan mereka selama 309 tahun kamariah dalam gua itu (lihat ayat 25 surah Al-Kahfi) sehingga mereka tidak dapat dibangunkan oleh suara apa pun.


Daftar Isi Toggle Kandungan doa yang diucapkan oleh AshabulkahfiPertama: Memohon rahmat AllahKedua: Memohon petunjuk yang lurusKeberanian AshabulkahfiPerlindungan dan petunjuk dari Allah Keteguhan iman dan kepercayaan kepada Allah sering kali diuji dengan berbagai ujian dan cobaan. Salah satu kisah penuh hikmah yang memberikan teladan bagi kita tentang keberanian, keteguhan hati, dan pengharapan kepada rahmat Allah adalah kisah para pemuda Ashabulkahfi yang tertera dalam surah Al-Kahfi. Allah Ta’ala berfirman, اِذْ اَوَى الْفِتْيَةُ اِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوْا رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا “Ingatlah ketika para pemuda itu berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa, ‘Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami ini.‘” (QS. Al-Kahfi: 10) Perhatikanlah bagaimana sekelompok pemuda beriman yang menghadapi ancaman besar atas keimanan mereka. Mereka memilih untuk meninggalkan dunia yang penuh dengan kebatilan dan penganiayaan terhadap agama Allah, kemudian berlindung di dalam sebuah gua. Di dalam kesunyian gua tersebut, mereka tidak hanya berdiam diri, tetapi mereka berserah diri sepenuhnya kepada Allah melalui doa. Mereka memohon rahmat dan petunjuk dari-Nya, sebagai bentuk keteguhan iman dalam menghadapi ketidakpastian. Kandungan doa yang diucapkan oleh Ashabulkahfi Doa yang diucapkan oleh para pemuda Ashabulkahfi dalam kalimat, رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا menunjukkan dua hal penting yang bisa kita jadikan pedoman dalam menghadapi ujian hidup, yaitu: 1) permohonan terhadap rahmat Allah; dan 2) petunjuk yang lurus. Pertama: Memohon rahmat Allah Para pemuda Ashabulkahfi mengawali doa mereka dengan permohonan rahmat [رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ] dengan makna “Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu.” Lihatlah bahwa rahmat Allah Ta’ala adalah hal paling utama yang mereka harapkan dalam situasi genting tersebut. Mereka sadar bahwa hanya dengan rahmat-Nya, mereka bisa mendapatkan perlindungan dan pertolongan dari ancaman yang mereka hadapi. Rahmat Allah tidak hanya berbentuk perlindungan fisik, tetapi juga ketenangan hati, keberanian, dan kekuatan iman untuk terus berpegang teguh pada kebenaran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ “Doa adalah inti ibadah.” (HR. Tirmidzi no. 3371 dari Nu’man bin Basyiir radhiyallahu ‘anhu) Oleh karenanya, hendaklah dalam setiap langkah dan usaha, doa harus selalu menjadi prioritas utama yang kita dahulukan, sebagaimana yang dilakukan oleh para pemuda Ashabulkahfi. Selain ikhtiar mereka melarikan diri dari bahaya, mereka juga mengokohkan diri dengan memohon pertolongan kepada Allah melalui doa yang tulus. Kedua: Memohon petunjuk yang lurus Setelah memohon rahmat, mereka melanjutkan dengan permohonan, “وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا” yang berarti “dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami ini.” Para Ashabulkahfi, dalam doa mereka, menginginkan keselamatan dari ancaman fisik dari seorang Raja yang zalim. Mereka juga memohon agar Allah memberikan jalan yang benar dalam menghadapi persoalan mereka. Maka dari itu, pelajaran berharga dari hal ini adalah agar dalam setiap situasi, tidak cukup hanya memohon keselamatan atau kelapangan dari kesulitan, tetapi juga penting untuk berdoa meminta petunjuk agar kita senantiasa berada di jalan yang diridai Allah Ta’ala. Baca juga: Nasihat untuk Pemuda Muslim dari Ulama Zaman Ini Keberanian Ashabulkahfi Kisah Ashabulkahfi menggambarkan bahwa meskipun mereka masih muda, para pemuda ini memiliki keteguhan iman yang luar biasa. Ketika kebanyakan orang mungkin akan memilih untuk mengikuti arus mayoritas demi keselamatan dan kenyamanan hidup, mereka justru memilih untuk meninggalkan kemewahan duniawi dan berlindung di dalam sebuah gua demi menjaga keimanan mereka. Sikap ini menunjukkan bahwa mereka lebih mengutamakan rida Allah daripada kenikmatan dunia yang bersifat sementara. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. (Salah satunya adalah) pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah.” (HR. Bukhari no. 660; Muslim no. 1031) Pemuda Ashabulkahfi adalah teladan dari golongan pemuda yang dimuliakan ini. Mereka memilih jalan yang benar, meskipun menghadapi ancaman yang besar. Maka, patutlah kisah mereka menjadi inspirasi bagi setiap kita, terutama pemuda, untuk selalu berpegang teguh pada keimanan, meskipun dunia di sekeliling mereka penuh dengan kebatilan. Perlindungan dan petunjuk dari Allah Sebagaimana Allah menyelamatkan para pemuda Ashabulkahfi, Allah Ta’ala  juga akan memberikan pertolongan kepada hamba-Nya yang berserah diri dan memohon dengan tulus. Setelah mereka berdoa dan berlindung di dalam gua, Allah memberikan keajaiban dengan menidurkan mereka selama ratusan tahun, sehingga mereka terhindar dari ancaman musuh-musuh mereka. Allah Ta’ala berfirman, فَضَرَبۡنَا عَلٰٓى اٰذَانِهِمۡ فِى الۡـكَهۡفِ سِنِيۡنَ عَدَدًا ۙ‏ “Maka, Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu[1], selama beberapa tahun.” (QS. Al-Kahfi: 11) Kisah ini menunjukkan bahwa ketika kita menyerahkan diri kepada Allah dan berdoa dengan penuh keyakinan, Allah akan memberikan perlindungan dan petunjuk yang mungkin tidak pernah kita duga. Hal ini juga menekankan bahwa perlindungan dari Allah tidak selalu berupa solusi yang langsung terlihat oleh mata kita. Terkadang, pertolongan-Nya datang dalam bentuk yang tidak terduga, seperti dalam kasus Ashabulkahfi yang dilindungi melalui tidur panjang di dalam gua. Ini mengajarkan kepada kita bahwa apa pun bentuk pertolongan dari Allah, itu adalah yang terbaik bagi kita, meskipun mungkin kita belum bisa memahaminya saat itu. Allah Ta’ala berfirman, فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5) Ayat ini kemudian diulang setelah itu, إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6) Ketahuilah bahwa pada setiap ujian, akan ada pertolongan dari Allah. Seperti halnya pemuda Ashabulkahfi yang mendapatkan perlindungan dan kemudahan setelah melewati kesulitan. Karenanya, jika kita bersabar dan bertawakal kepada Allah, kita juga akan merasakan kelapangan setelah kesulitan yang dihadapi. Saudaraku, kisah Ashabulkahfi merupakan salah satu dari banyak kisah dalam Al-Qur’an yang penuh dengan pelajaran. Kisah ini mengajarkan kita tentang pentingnya doa, keteguhan iman, dan keberanian dalam mempertahankan keyakinan terhadap Allah. Dalam setiap kesulitan, jika kita berserah diri kepada Allah dan memohon rahmat serta petunjuk-Nya, maka insya Allah akan selalu ada jalan keluar yang terbaik bagi kita, sebagaimana yang terjadi pada para pemuda Ashabulkahfi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ “Kenalilah Allah di saat senang, niscaya Allah mengenalmu di saat susah.” (HR. Tirmidzi no. 2516) Semoga kita dimudahkan oleh Allah menjadi hamba-hamba-Nya yang dapat mengambil hikmah dari kisah ini dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari secara istikamah hingga akhir hayat kita. Wallahu a’lam. Baca juga: Ke mana Arahmu, Wahai Pemuda? *** Penulis: Fauzan Hidayat Artikel: Muslim.or.id   Catatan kaki; [1] Allah menidurkan mereka selama 309 tahun kamariah dalam gua itu (lihat ayat 25 surah Al-Kahfi) sehingga mereka tidak dapat dibangunkan oleh suara apa pun.

Renungan Ayat #33: Cara Menghadapi Ujian Hidup dengan Sabar dan Shalat

Menghadapi ujian hidup dengan penuh kesabaran dan mendekatkan diri kepada Allah adalah tuntunan penting dalam Islam. Shalat dan sabar menjadi dua penolong utama bagi setiap muslim dalam menjalani setiap tantangan hidup, sebagaimana diperintahkan Allah dalam QS. Al-Baqarah: 45. Allah Ta’ala berfirman, وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ Arab-Latin: Wasta’īnụ biṣ-ṣabri waṣ-ṣalāh, wa innahā lakabīratun illā ‘alal-khāsyi’īn Artinya: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)   Pelajari dari video berikut ini mengenai “MINTA TOLONG KEPADA ALLAH DENGAN SABAR DAN SHALAT”    Dalam Tafsir Al-Qurthubi disebutkan penjelasan ayat ini dalam delapan pelajaran: Pelajaran pertama: Firman Allah: “Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” Kata “sabar” dalam bahasa memiliki makna menahan diri. Saya menahan diri terhadap sesuatu berarti saya mengekang diri. Istilah “mashbūrah” yang dilarang dalam hadits merujuk pada hewan yang ditahan untuk dibunuh. Pelajaran kedua: Allah memerintahkan untuk bersabar dalam ketaatan dan menjauhkan diri dari pelanggaran, sebagaimana firman-Nya, “Bersabarlah.” Dikatakan bahwa seseorang sabar terhadap maksiat, maka dia akan sabar dalam ketaatan. Pelajaran ketiga: Firman Allah: “Dan shalat.” Allah menyebutkan shalat secara khusus di antara berbagai ibadah untuk mengutamakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa segera mengerjakan shalat saat menghadapi kesulitan. Diriwayatkan bahwa ketika Abdullah bin Abbas mendengar berita tentang kematian saudaranya, ia segera mengucapkan istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) dan shalat. Dengan demikian, shalat dimaknai sebagai doa dan ketenangan jiwa, sebagaimana Allah menyuruh keteguhan hati dan doa. Pelajaran keempat: Bersabar atas gangguan dan dalam melaksanakan ketaatan merupakan bagian dari jihad an-nafs (berjuang melawan hawa nafsu), yaitu mengendalikan diri dari keinginan-keinginan duniawi serta menahan diri dari perbuatan yang melampaui batas. Kesabaran ini adalah akhlak para nabi dan orang-orang saleh. Yahya bin al-Yaman berkata bahwa kesabaran berarti tidak menginginkan kondisi apa pun selain apa yang telah Allah karuniakan, serta menerima dengan rida atas segala ketetapan-Nya, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Asy-Sya’bi menukil perkataan Ali radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa kesabaran dalam iman ibarat kepala dalam tubuh. At-Thabari berkomentar, “Ali radhiyallahu ‘anhu benar dalam ucapannya itu.” Ini karena iman mencakup keyakinan dalam hati, pengakuan dengan lisan, dan pengamalan melalui anggota badan. Maka, barang siapa tidak mampu bersabar dalam melaksanakan perbuatan dengan anggota badannya, ia tidak akan layak disebut sebagai orang yang beriman secara sempurna. Kesabaran dalam menjalankan perintah syariat sama seperti kepala bagi tubuh manusia yang tidak akan sempurna tanpanya. Pelajaran kelima: Allah Ta’ala telah menetapkan ganjaran bagi setiap amal perbuatan dan menetapkan batasannya. Dia berfirman: مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا “Barang siapa yang membawa satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipatnya.” (QS. Al-An’am: 160). Allah juga menetapkan ganjaran sedekah di jalan-Nya lebih tinggi dari itu, sebagaimana firman-Nya: مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261). Namun, untuk orang-orang yang bersabar, Allah menetapkan ganjaran yang tidak terbatas, serta memuji mereka dengan firman-Nya: إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10) Allah juga berfirman, وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy-Syura: 43). Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “orang-orang yang bersabar” dalam firman-Nya “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar yang akan disempurnakan pahalanya tanpa batas” adalah orang-orang yang berpuasa. Ini didasarkan pada hadits sahih dari Nabi ﷺ yang mengatakan: وأنا أجزي به “Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan memberikan ganjarannya.” Dalam hadits ini, pahala puasa tidak disebutkan secara spesifik, sebagaimana pahala untuk kesabaran juga tidak disebutkan secara khusus. Hanya Allah yang lebih mengetahui. Pelajaran keenam: Di antara keutamaan kesabaran, Allah Ta’ala telah menyifatkan diri-Nya dengan kesabaran, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Musa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda: لا أحَدَ أصْبَرُ علَى أذًى يَسْمَعُهُ مِنَ اللهِ عزَّ وجلَّ، إنَّه يُشْرَكُ به، ويُجْعَلُ له الوَلَدُ، ثُمَّ هو يُعافيهم ويَرْزُقُهُمْ. “Tidak ada satu pun yang lebih sabar dalam menghadapi gangguan yang didengar-Nya daripada Allah Ta’ala. Mereka menuduh-Nya memiliki anak, namun Dia tetap memberi mereka kesehatan dan rezeki.” (HR. Bukhari, no. 6099 dan Muslim, no. 2804) Para ulama kami mengatakan bahwa penyifatan Allah dengan kesabaran bermakna “hilm” (kesantunan yang tinggi). Makna “hilm” ini adalah menunda hukuman bagi mereka yang pantas mendapatkannya. Penyifatan Allah dengan kesabaran tidak disebutkan dalam Al-Qur’an, melainkan dalam hadits Abu Musa. Para ulama Ahlus Sunnah menafsirkannya sebagai bentuk “hilm,” sebagaimana disampaikan oleh Ibn Fawrak dan yang lainnya. Salah satu nama Allah adalah “Ash-Shabur” (Maha Penyabar), yang menunjukkan keutamaan dalam kesantunan terhadap mereka yang berbuat maksiat kepada-Nya. Pelajaran ketujuh: Firman Allah Ta’ala: “Dan sesungguhnya hal itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai kembalinya kata ganti “hal itu” dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa kata ganti tersebut kembali pada shalat secara khusus, karena shalat lebih berat bagi jiwa daripada puasa. Kesabaran di sini diartikan sebagai puasa, sebab shalat menahan seluruh diri manusia, sedangkan puasa hanya menahan sebagian hasrat. Berbeda dengan orang yang berpuasa, ia hanya menahan keinginan terhadap makanan, minuman, dan hubungan dengan wanita, sementara dalam hal lain seperti berbicara, berjalan, dan berinteraksi dengan orang lain ia bebas, yang dapat mengalihkan perhatiannya dari hal-hal yang ditahan. Namun, orang yang shalat menahan semua itu, sebab seluruh anggota tubuhnya terikat dalam shalat, dan ini lebih sulit bagi jiwa. Karena itulah Allah berfirman: “Dan sesungguhnya hal itu benar-benar berat.” Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kata ganti tersebut mencakup keduanya (shalat dan kesabaran), tetapi yang dimaksud lebih banyak adalah shalat, seperti dalam firman Allah: “Orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah.” (QS. At-Taubah: 34) yang menunjukkan bahwa menimbun emas adalah kebiasaan umum meski juga mencakup perak. Dalam kasus ini, kata ganti kembali pada unsur dominan. Pendapat lain menyebutkan bahwa kesabaran (sabar) mencakup shalat, sebagaimana firman Allah: “Allah dan Rasul-Nya lebih berhak untuk mereka ridhai.” (QS. At-Taubah: 62). Di sini, kata ganti hanya digunakan untuk satu pihak, sebab rida terhadap Rasul masuk dalam rida terhadap Allah. Menurut pendapat lainnya, kata ganti dalam ayat tersebut kembali pada keduanya dengan maksud ringkas. Firman Allah Ta’ala: “Kami jadikan anak Maryam dan ibunya sebagai tanda (yang besar).” (QS. Al-Mu’minun: 50) menunjukkan hal serupa. Ada juga yang mengatakan bahwa kata ganti tersebut kembali pada makna umum dari ibadah, yakni kesabaran dan shalat. Sebagian lain berpendapat bahwa kata ganti tersebut merujuk pada istilah yang ditunjukkan oleh kata “mintalah pertolongan”, sehingga ini mengacu pada bentuk pertolongan secara keseluruhan. Pendapat lain menyebutkan bahwa kata ganti itu merujuk pada ajakan untuk mengikuti Nabi Muhammad ﷺ, karena kesabaran dan shalat adalah sesuatu yang beliau dakwahkan. Ada pula yang menyatakan bahwa kata ganti tersebut merujuk pada Ka’bah karena perintah shalat mengarah ke sana, dan “berat” berarti sukar dan menyulitkan, seperti yang disebutkan dalam ayat: “Sesungguhnya hal itu berat.” Dalam bahasa Arab di luar Al-Qur’an, kata ganti bisa berbentuk “Dan sesungguhnya ia berat.” Kecuali bagi mereka yang khusyuk, maka perintah tersebut menjadi ringan bagi mereka. Menurut para ahli makna, ini berlaku bagi mereka yang telah dikaruniai sifat terpilih sejak azali dan diberi petunjuk khusus. Pelajaran kedelapan: Firman Allah Ta’ala: “Bagi orang-orang yang khusyuk.” Orang-orang yang khusyuk berarti seseorang yang rendah hati. Khusyuk adalah kondisi dalam jiwa yang muncul sebagai ketenangan dan kerendahan diri yang tampak pada anggota tubuh. Menurut Qatadah, khusyuk adalah rasa takut yang menetap dalam hati dan menahan pandangan saat shalat. Az-Zajjaj menjelaskan bahwa orang yang khusyuk menunjukkan tanda ketundukan dan kerendahan pada dirinya, seperti rumah yang hancur tanpa penghuni. Dalam Tafsir Syaikh As-Sa’di disebutkan: Allah memerintahkan kepada mereka untuk meminta pertolongan dalam (menyelesaikan) segala urusan mereka dengan kesabaran dalam segala bentuknya, yaitu sabar dalam ketaatan kepada Allah hingga dia mampu menunaikannya, sabar dari kemaksiatan hingga dia menghindarinya, dan sabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang menyakitkan agar dia tidak mengecamnya. Dengan kesabaran dan menahan diri terhadap segala yang diperintahkan oleh Allah untuk bersabar atasnya adalah sebuah pertolongan yang besar dalam setiap perkara dari perkara-perkara yang ada. Barang siapa yang bersabar, niscaya Allah akan membuatnya menjadi sabar. Demikian juga shalat yang merupakan timbangan dari keimanan dan dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, dapat dijadikan penolong dalam segala perkara kehidupan. “Dan sesungguhnya yang demikian itu,” yaitu shalat, ”sungguh berat, ” maksudnya sulit, “kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” Shalat itu adalah mudah bagi mereka dan sangat ringan, karena kekhusyukan, takut kepada Allah, dan mengharap apa yang ada di sisi-Nya mengharuskan adanya realisasi perbuatan itu dengan dada yang lapang demi mencari ganjaran dan takut dari hukuman. Berbeda dengan orang yang tidak demikian, karena tidak ada pendorong baginya yang mengajaknya kepada hal tersebut, dan bila pun dia melakukannya, maka hal itu menjadi suatu perkara yang paling berat yang dia rasakan. Khusyuk adalah ketundukan hati, ketenteraman dan ketenangannya karena Allah ta’ala serta kepasrahannya di hadapan Allah dengan segala bentuk menghinakan diri, rasa butuh, dan iman kepadaNya dan kepada pertemuan denganNya. Dalam Tafsir Al-Muyassar disebutkan: Dan mintalah pertolongan atas segala urusan kalian melalui kesabaran dengan seluruh jenisnya dan juga shalat, sesungguhnya hal tersebut amat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu. Yaitu orang yang takut kepada Allah dan mengharapkan apa-apa yang ada di sisi-Nya, serta meyakini bahwa mereka benar-benar akan berjumpa dengan Tuhan mereka setelah kematian, dan bahwasanya mereka akan kembali kepadanya pada hari kiamat untuk menghadapi perhitungan dan pembalasan amal perbuatan mereka.   Kesimpulan Allah memerintahkan untuk bersabar dalam ketaatan, menjauh dari maksiat, dan menghadapi takdir dengan shalat sebagai penolong utama. Shalat bukan hanya ibadah, tetapi juga bentuk doa dan ketenangan hati yang dicontohkan Rasulullah ﷺ dalam menghadapi kesulitan. Ketika menghadapi masalah atau problem, segera laksanakan shalat sebagaimana dicontohkan Rasulullah dan para salaf. Bersabar dalam ketaatan dan menahan diri dari keinginan duniawi adalah bentuk jihad melawan hawa nafsu, sifat para nabi dan orang saleh. Allah memberikan ganjaran berlipat untuk amal kebaikan, sedekah, dan khususnya kesabaran, yang dijanjikan tanpa batas. Kesabaran Allah terhadap makhluk-Nya mencerminkan kesantunan-Nya, meskipun manusia sering berbuat maksiat, Allah tetap memberikan rezeki dan kesehatan. Shalat dan kesabaran adalah ibadah yang menuntut ketahanan jiwa, lebih berat daripada puasa, kecuali bagi orang yang khusyuk. Khusyuk adalah sikap rendah hati yang mencerminkan ketenangan jiwa, takut kepada Allah, dan kesadaran akan pertemuan dengan-Nya. Orang khusyuk merasa tenang, rendah hati, dan ikhlas, menjadikan shalat sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi berbagai ujian hidup. Referensi: Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir As-Sa’di, Tafsir Al-Muyassar Semoga bermanfaat. Semoga semakin semangat merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an. – Ditulis pada 28 Rabiuts Tsani 1446 H, 31 Oktober 2024 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Baca Juga: Ujian dan Musibah Tanda Allah Cinta Musibah antara Ujian ataukah Azab? Rezeki itu Ujian Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskeutamaan sabar musibah renungan ayat sabar shalat solusi musibah

Renungan Ayat #33: Cara Menghadapi Ujian Hidup dengan Sabar dan Shalat

Menghadapi ujian hidup dengan penuh kesabaran dan mendekatkan diri kepada Allah adalah tuntunan penting dalam Islam. Shalat dan sabar menjadi dua penolong utama bagi setiap muslim dalam menjalani setiap tantangan hidup, sebagaimana diperintahkan Allah dalam QS. Al-Baqarah: 45. Allah Ta’ala berfirman, وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ Arab-Latin: Wasta’īnụ biṣ-ṣabri waṣ-ṣalāh, wa innahā lakabīratun illā ‘alal-khāsyi’īn Artinya: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)   Pelajari dari video berikut ini mengenai “MINTA TOLONG KEPADA ALLAH DENGAN SABAR DAN SHALAT”    Dalam Tafsir Al-Qurthubi disebutkan penjelasan ayat ini dalam delapan pelajaran: Pelajaran pertama: Firman Allah: “Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” Kata “sabar” dalam bahasa memiliki makna menahan diri. Saya menahan diri terhadap sesuatu berarti saya mengekang diri. Istilah “mashbūrah” yang dilarang dalam hadits merujuk pada hewan yang ditahan untuk dibunuh. Pelajaran kedua: Allah memerintahkan untuk bersabar dalam ketaatan dan menjauhkan diri dari pelanggaran, sebagaimana firman-Nya, “Bersabarlah.” Dikatakan bahwa seseorang sabar terhadap maksiat, maka dia akan sabar dalam ketaatan. Pelajaran ketiga: Firman Allah: “Dan shalat.” Allah menyebutkan shalat secara khusus di antara berbagai ibadah untuk mengutamakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa segera mengerjakan shalat saat menghadapi kesulitan. Diriwayatkan bahwa ketika Abdullah bin Abbas mendengar berita tentang kematian saudaranya, ia segera mengucapkan istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) dan shalat. Dengan demikian, shalat dimaknai sebagai doa dan ketenangan jiwa, sebagaimana Allah menyuruh keteguhan hati dan doa. Pelajaran keempat: Bersabar atas gangguan dan dalam melaksanakan ketaatan merupakan bagian dari jihad an-nafs (berjuang melawan hawa nafsu), yaitu mengendalikan diri dari keinginan-keinginan duniawi serta menahan diri dari perbuatan yang melampaui batas. Kesabaran ini adalah akhlak para nabi dan orang-orang saleh. Yahya bin al-Yaman berkata bahwa kesabaran berarti tidak menginginkan kondisi apa pun selain apa yang telah Allah karuniakan, serta menerima dengan rida atas segala ketetapan-Nya, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Asy-Sya’bi menukil perkataan Ali radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa kesabaran dalam iman ibarat kepala dalam tubuh. At-Thabari berkomentar, “Ali radhiyallahu ‘anhu benar dalam ucapannya itu.” Ini karena iman mencakup keyakinan dalam hati, pengakuan dengan lisan, dan pengamalan melalui anggota badan. Maka, barang siapa tidak mampu bersabar dalam melaksanakan perbuatan dengan anggota badannya, ia tidak akan layak disebut sebagai orang yang beriman secara sempurna. Kesabaran dalam menjalankan perintah syariat sama seperti kepala bagi tubuh manusia yang tidak akan sempurna tanpanya. Pelajaran kelima: Allah Ta’ala telah menetapkan ganjaran bagi setiap amal perbuatan dan menetapkan batasannya. Dia berfirman: مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا “Barang siapa yang membawa satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipatnya.” (QS. Al-An’am: 160). Allah juga menetapkan ganjaran sedekah di jalan-Nya lebih tinggi dari itu, sebagaimana firman-Nya: مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261). Namun, untuk orang-orang yang bersabar, Allah menetapkan ganjaran yang tidak terbatas, serta memuji mereka dengan firman-Nya: إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10) Allah juga berfirman, وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy-Syura: 43). Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “orang-orang yang bersabar” dalam firman-Nya “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar yang akan disempurnakan pahalanya tanpa batas” adalah orang-orang yang berpuasa. Ini didasarkan pada hadits sahih dari Nabi ﷺ yang mengatakan: وأنا أجزي به “Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan memberikan ganjarannya.” Dalam hadits ini, pahala puasa tidak disebutkan secara spesifik, sebagaimana pahala untuk kesabaran juga tidak disebutkan secara khusus. Hanya Allah yang lebih mengetahui. Pelajaran keenam: Di antara keutamaan kesabaran, Allah Ta’ala telah menyifatkan diri-Nya dengan kesabaran, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Musa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda: لا أحَدَ أصْبَرُ علَى أذًى يَسْمَعُهُ مِنَ اللهِ عزَّ وجلَّ، إنَّه يُشْرَكُ به، ويُجْعَلُ له الوَلَدُ، ثُمَّ هو يُعافيهم ويَرْزُقُهُمْ. “Tidak ada satu pun yang lebih sabar dalam menghadapi gangguan yang didengar-Nya daripada Allah Ta’ala. Mereka menuduh-Nya memiliki anak, namun Dia tetap memberi mereka kesehatan dan rezeki.” (HR. Bukhari, no. 6099 dan Muslim, no. 2804) Para ulama kami mengatakan bahwa penyifatan Allah dengan kesabaran bermakna “hilm” (kesantunan yang tinggi). Makna “hilm” ini adalah menunda hukuman bagi mereka yang pantas mendapatkannya. Penyifatan Allah dengan kesabaran tidak disebutkan dalam Al-Qur’an, melainkan dalam hadits Abu Musa. Para ulama Ahlus Sunnah menafsirkannya sebagai bentuk “hilm,” sebagaimana disampaikan oleh Ibn Fawrak dan yang lainnya. Salah satu nama Allah adalah “Ash-Shabur” (Maha Penyabar), yang menunjukkan keutamaan dalam kesantunan terhadap mereka yang berbuat maksiat kepada-Nya. Pelajaran ketujuh: Firman Allah Ta’ala: “Dan sesungguhnya hal itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai kembalinya kata ganti “hal itu” dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa kata ganti tersebut kembali pada shalat secara khusus, karena shalat lebih berat bagi jiwa daripada puasa. Kesabaran di sini diartikan sebagai puasa, sebab shalat menahan seluruh diri manusia, sedangkan puasa hanya menahan sebagian hasrat. Berbeda dengan orang yang berpuasa, ia hanya menahan keinginan terhadap makanan, minuman, dan hubungan dengan wanita, sementara dalam hal lain seperti berbicara, berjalan, dan berinteraksi dengan orang lain ia bebas, yang dapat mengalihkan perhatiannya dari hal-hal yang ditahan. Namun, orang yang shalat menahan semua itu, sebab seluruh anggota tubuhnya terikat dalam shalat, dan ini lebih sulit bagi jiwa. Karena itulah Allah berfirman: “Dan sesungguhnya hal itu benar-benar berat.” Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kata ganti tersebut mencakup keduanya (shalat dan kesabaran), tetapi yang dimaksud lebih banyak adalah shalat, seperti dalam firman Allah: “Orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah.” (QS. At-Taubah: 34) yang menunjukkan bahwa menimbun emas adalah kebiasaan umum meski juga mencakup perak. Dalam kasus ini, kata ganti kembali pada unsur dominan. Pendapat lain menyebutkan bahwa kesabaran (sabar) mencakup shalat, sebagaimana firman Allah: “Allah dan Rasul-Nya lebih berhak untuk mereka ridhai.” (QS. At-Taubah: 62). Di sini, kata ganti hanya digunakan untuk satu pihak, sebab rida terhadap Rasul masuk dalam rida terhadap Allah. Menurut pendapat lainnya, kata ganti dalam ayat tersebut kembali pada keduanya dengan maksud ringkas. Firman Allah Ta’ala: “Kami jadikan anak Maryam dan ibunya sebagai tanda (yang besar).” (QS. Al-Mu’minun: 50) menunjukkan hal serupa. Ada juga yang mengatakan bahwa kata ganti tersebut kembali pada makna umum dari ibadah, yakni kesabaran dan shalat. Sebagian lain berpendapat bahwa kata ganti tersebut merujuk pada istilah yang ditunjukkan oleh kata “mintalah pertolongan”, sehingga ini mengacu pada bentuk pertolongan secara keseluruhan. Pendapat lain menyebutkan bahwa kata ganti itu merujuk pada ajakan untuk mengikuti Nabi Muhammad ﷺ, karena kesabaran dan shalat adalah sesuatu yang beliau dakwahkan. Ada pula yang menyatakan bahwa kata ganti tersebut merujuk pada Ka’bah karena perintah shalat mengarah ke sana, dan “berat” berarti sukar dan menyulitkan, seperti yang disebutkan dalam ayat: “Sesungguhnya hal itu berat.” Dalam bahasa Arab di luar Al-Qur’an, kata ganti bisa berbentuk “Dan sesungguhnya ia berat.” Kecuali bagi mereka yang khusyuk, maka perintah tersebut menjadi ringan bagi mereka. Menurut para ahli makna, ini berlaku bagi mereka yang telah dikaruniai sifat terpilih sejak azali dan diberi petunjuk khusus. Pelajaran kedelapan: Firman Allah Ta’ala: “Bagi orang-orang yang khusyuk.” Orang-orang yang khusyuk berarti seseorang yang rendah hati. Khusyuk adalah kondisi dalam jiwa yang muncul sebagai ketenangan dan kerendahan diri yang tampak pada anggota tubuh. Menurut Qatadah, khusyuk adalah rasa takut yang menetap dalam hati dan menahan pandangan saat shalat. Az-Zajjaj menjelaskan bahwa orang yang khusyuk menunjukkan tanda ketundukan dan kerendahan pada dirinya, seperti rumah yang hancur tanpa penghuni. Dalam Tafsir Syaikh As-Sa’di disebutkan: Allah memerintahkan kepada mereka untuk meminta pertolongan dalam (menyelesaikan) segala urusan mereka dengan kesabaran dalam segala bentuknya, yaitu sabar dalam ketaatan kepada Allah hingga dia mampu menunaikannya, sabar dari kemaksiatan hingga dia menghindarinya, dan sabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang menyakitkan agar dia tidak mengecamnya. Dengan kesabaran dan menahan diri terhadap segala yang diperintahkan oleh Allah untuk bersabar atasnya adalah sebuah pertolongan yang besar dalam setiap perkara dari perkara-perkara yang ada. Barang siapa yang bersabar, niscaya Allah akan membuatnya menjadi sabar. Demikian juga shalat yang merupakan timbangan dari keimanan dan dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, dapat dijadikan penolong dalam segala perkara kehidupan. “Dan sesungguhnya yang demikian itu,” yaitu shalat, ”sungguh berat, ” maksudnya sulit, “kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” Shalat itu adalah mudah bagi mereka dan sangat ringan, karena kekhusyukan, takut kepada Allah, dan mengharap apa yang ada di sisi-Nya mengharuskan adanya realisasi perbuatan itu dengan dada yang lapang demi mencari ganjaran dan takut dari hukuman. Berbeda dengan orang yang tidak demikian, karena tidak ada pendorong baginya yang mengajaknya kepada hal tersebut, dan bila pun dia melakukannya, maka hal itu menjadi suatu perkara yang paling berat yang dia rasakan. Khusyuk adalah ketundukan hati, ketenteraman dan ketenangannya karena Allah ta’ala serta kepasrahannya di hadapan Allah dengan segala bentuk menghinakan diri, rasa butuh, dan iman kepadaNya dan kepada pertemuan denganNya. Dalam Tafsir Al-Muyassar disebutkan: Dan mintalah pertolongan atas segala urusan kalian melalui kesabaran dengan seluruh jenisnya dan juga shalat, sesungguhnya hal tersebut amat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu. Yaitu orang yang takut kepada Allah dan mengharapkan apa-apa yang ada di sisi-Nya, serta meyakini bahwa mereka benar-benar akan berjumpa dengan Tuhan mereka setelah kematian, dan bahwasanya mereka akan kembali kepadanya pada hari kiamat untuk menghadapi perhitungan dan pembalasan amal perbuatan mereka.   Kesimpulan Allah memerintahkan untuk bersabar dalam ketaatan, menjauh dari maksiat, dan menghadapi takdir dengan shalat sebagai penolong utama. Shalat bukan hanya ibadah, tetapi juga bentuk doa dan ketenangan hati yang dicontohkan Rasulullah ﷺ dalam menghadapi kesulitan. Ketika menghadapi masalah atau problem, segera laksanakan shalat sebagaimana dicontohkan Rasulullah dan para salaf. Bersabar dalam ketaatan dan menahan diri dari keinginan duniawi adalah bentuk jihad melawan hawa nafsu, sifat para nabi dan orang saleh. Allah memberikan ganjaran berlipat untuk amal kebaikan, sedekah, dan khususnya kesabaran, yang dijanjikan tanpa batas. Kesabaran Allah terhadap makhluk-Nya mencerminkan kesantunan-Nya, meskipun manusia sering berbuat maksiat, Allah tetap memberikan rezeki dan kesehatan. Shalat dan kesabaran adalah ibadah yang menuntut ketahanan jiwa, lebih berat daripada puasa, kecuali bagi orang yang khusyuk. Khusyuk adalah sikap rendah hati yang mencerminkan ketenangan jiwa, takut kepada Allah, dan kesadaran akan pertemuan dengan-Nya. Orang khusyuk merasa tenang, rendah hati, dan ikhlas, menjadikan shalat sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi berbagai ujian hidup. Referensi: Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir As-Sa’di, Tafsir Al-Muyassar Semoga bermanfaat. Semoga semakin semangat merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an. – Ditulis pada 28 Rabiuts Tsani 1446 H, 31 Oktober 2024 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Baca Juga: Ujian dan Musibah Tanda Allah Cinta Musibah antara Ujian ataukah Azab? Rezeki itu Ujian Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskeutamaan sabar musibah renungan ayat sabar shalat solusi musibah
Menghadapi ujian hidup dengan penuh kesabaran dan mendekatkan diri kepada Allah adalah tuntunan penting dalam Islam. Shalat dan sabar menjadi dua penolong utama bagi setiap muslim dalam menjalani setiap tantangan hidup, sebagaimana diperintahkan Allah dalam QS. Al-Baqarah: 45. Allah Ta’ala berfirman, وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ Arab-Latin: Wasta’īnụ biṣ-ṣabri waṣ-ṣalāh, wa innahā lakabīratun illā ‘alal-khāsyi’īn Artinya: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)   Pelajari dari video berikut ini mengenai “MINTA TOLONG KEPADA ALLAH DENGAN SABAR DAN SHALAT”    Dalam Tafsir Al-Qurthubi disebutkan penjelasan ayat ini dalam delapan pelajaran: Pelajaran pertama: Firman Allah: “Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” Kata “sabar” dalam bahasa memiliki makna menahan diri. Saya menahan diri terhadap sesuatu berarti saya mengekang diri. Istilah “mashbūrah” yang dilarang dalam hadits merujuk pada hewan yang ditahan untuk dibunuh. Pelajaran kedua: Allah memerintahkan untuk bersabar dalam ketaatan dan menjauhkan diri dari pelanggaran, sebagaimana firman-Nya, “Bersabarlah.” Dikatakan bahwa seseorang sabar terhadap maksiat, maka dia akan sabar dalam ketaatan. Pelajaran ketiga: Firman Allah: “Dan shalat.” Allah menyebutkan shalat secara khusus di antara berbagai ibadah untuk mengutamakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa segera mengerjakan shalat saat menghadapi kesulitan. Diriwayatkan bahwa ketika Abdullah bin Abbas mendengar berita tentang kematian saudaranya, ia segera mengucapkan istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) dan shalat. Dengan demikian, shalat dimaknai sebagai doa dan ketenangan jiwa, sebagaimana Allah menyuruh keteguhan hati dan doa. Pelajaran keempat: Bersabar atas gangguan dan dalam melaksanakan ketaatan merupakan bagian dari jihad an-nafs (berjuang melawan hawa nafsu), yaitu mengendalikan diri dari keinginan-keinginan duniawi serta menahan diri dari perbuatan yang melampaui batas. Kesabaran ini adalah akhlak para nabi dan orang-orang saleh. Yahya bin al-Yaman berkata bahwa kesabaran berarti tidak menginginkan kondisi apa pun selain apa yang telah Allah karuniakan, serta menerima dengan rida atas segala ketetapan-Nya, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Asy-Sya’bi menukil perkataan Ali radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa kesabaran dalam iman ibarat kepala dalam tubuh. At-Thabari berkomentar, “Ali radhiyallahu ‘anhu benar dalam ucapannya itu.” Ini karena iman mencakup keyakinan dalam hati, pengakuan dengan lisan, dan pengamalan melalui anggota badan. Maka, barang siapa tidak mampu bersabar dalam melaksanakan perbuatan dengan anggota badannya, ia tidak akan layak disebut sebagai orang yang beriman secara sempurna. Kesabaran dalam menjalankan perintah syariat sama seperti kepala bagi tubuh manusia yang tidak akan sempurna tanpanya. Pelajaran kelima: Allah Ta’ala telah menetapkan ganjaran bagi setiap amal perbuatan dan menetapkan batasannya. Dia berfirman: مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا “Barang siapa yang membawa satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipatnya.” (QS. Al-An’am: 160). Allah juga menetapkan ganjaran sedekah di jalan-Nya lebih tinggi dari itu, sebagaimana firman-Nya: مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261). Namun, untuk orang-orang yang bersabar, Allah menetapkan ganjaran yang tidak terbatas, serta memuji mereka dengan firman-Nya: إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10) Allah juga berfirman, وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy-Syura: 43). Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “orang-orang yang bersabar” dalam firman-Nya “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar yang akan disempurnakan pahalanya tanpa batas” adalah orang-orang yang berpuasa. Ini didasarkan pada hadits sahih dari Nabi ﷺ yang mengatakan: وأنا أجزي به “Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan memberikan ganjarannya.” Dalam hadits ini, pahala puasa tidak disebutkan secara spesifik, sebagaimana pahala untuk kesabaran juga tidak disebutkan secara khusus. Hanya Allah yang lebih mengetahui. Pelajaran keenam: Di antara keutamaan kesabaran, Allah Ta’ala telah menyifatkan diri-Nya dengan kesabaran, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Musa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda: لا أحَدَ أصْبَرُ علَى أذًى يَسْمَعُهُ مِنَ اللهِ عزَّ وجلَّ، إنَّه يُشْرَكُ به، ويُجْعَلُ له الوَلَدُ، ثُمَّ هو يُعافيهم ويَرْزُقُهُمْ. “Tidak ada satu pun yang lebih sabar dalam menghadapi gangguan yang didengar-Nya daripada Allah Ta’ala. Mereka menuduh-Nya memiliki anak, namun Dia tetap memberi mereka kesehatan dan rezeki.” (HR. Bukhari, no. 6099 dan Muslim, no. 2804) Para ulama kami mengatakan bahwa penyifatan Allah dengan kesabaran bermakna “hilm” (kesantunan yang tinggi). Makna “hilm” ini adalah menunda hukuman bagi mereka yang pantas mendapatkannya. Penyifatan Allah dengan kesabaran tidak disebutkan dalam Al-Qur’an, melainkan dalam hadits Abu Musa. Para ulama Ahlus Sunnah menafsirkannya sebagai bentuk “hilm,” sebagaimana disampaikan oleh Ibn Fawrak dan yang lainnya. Salah satu nama Allah adalah “Ash-Shabur” (Maha Penyabar), yang menunjukkan keutamaan dalam kesantunan terhadap mereka yang berbuat maksiat kepada-Nya. Pelajaran ketujuh: Firman Allah Ta’ala: “Dan sesungguhnya hal itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai kembalinya kata ganti “hal itu” dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa kata ganti tersebut kembali pada shalat secara khusus, karena shalat lebih berat bagi jiwa daripada puasa. Kesabaran di sini diartikan sebagai puasa, sebab shalat menahan seluruh diri manusia, sedangkan puasa hanya menahan sebagian hasrat. Berbeda dengan orang yang berpuasa, ia hanya menahan keinginan terhadap makanan, minuman, dan hubungan dengan wanita, sementara dalam hal lain seperti berbicara, berjalan, dan berinteraksi dengan orang lain ia bebas, yang dapat mengalihkan perhatiannya dari hal-hal yang ditahan. Namun, orang yang shalat menahan semua itu, sebab seluruh anggota tubuhnya terikat dalam shalat, dan ini lebih sulit bagi jiwa. Karena itulah Allah berfirman: “Dan sesungguhnya hal itu benar-benar berat.” Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kata ganti tersebut mencakup keduanya (shalat dan kesabaran), tetapi yang dimaksud lebih banyak adalah shalat, seperti dalam firman Allah: “Orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah.” (QS. At-Taubah: 34) yang menunjukkan bahwa menimbun emas adalah kebiasaan umum meski juga mencakup perak. Dalam kasus ini, kata ganti kembali pada unsur dominan. Pendapat lain menyebutkan bahwa kesabaran (sabar) mencakup shalat, sebagaimana firman Allah: “Allah dan Rasul-Nya lebih berhak untuk mereka ridhai.” (QS. At-Taubah: 62). Di sini, kata ganti hanya digunakan untuk satu pihak, sebab rida terhadap Rasul masuk dalam rida terhadap Allah. Menurut pendapat lainnya, kata ganti dalam ayat tersebut kembali pada keduanya dengan maksud ringkas. Firman Allah Ta’ala: “Kami jadikan anak Maryam dan ibunya sebagai tanda (yang besar).” (QS. Al-Mu’minun: 50) menunjukkan hal serupa. Ada juga yang mengatakan bahwa kata ganti tersebut kembali pada makna umum dari ibadah, yakni kesabaran dan shalat. Sebagian lain berpendapat bahwa kata ganti tersebut merujuk pada istilah yang ditunjukkan oleh kata “mintalah pertolongan”, sehingga ini mengacu pada bentuk pertolongan secara keseluruhan. Pendapat lain menyebutkan bahwa kata ganti itu merujuk pada ajakan untuk mengikuti Nabi Muhammad ﷺ, karena kesabaran dan shalat adalah sesuatu yang beliau dakwahkan. Ada pula yang menyatakan bahwa kata ganti tersebut merujuk pada Ka’bah karena perintah shalat mengarah ke sana, dan “berat” berarti sukar dan menyulitkan, seperti yang disebutkan dalam ayat: “Sesungguhnya hal itu berat.” Dalam bahasa Arab di luar Al-Qur’an, kata ganti bisa berbentuk “Dan sesungguhnya ia berat.” Kecuali bagi mereka yang khusyuk, maka perintah tersebut menjadi ringan bagi mereka. Menurut para ahli makna, ini berlaku bagi mereka yang telah dikaruniai sifat terpilih sejak azali dan diberi petunjuk khusus. Pelajaran kedelapan: Firman Allah Ta’ala: “Bagi orang-orang yang khusyuk.” Orang-orang yang khusyuk berarti seseorang yang rendah hati. Khusyuk adalah kondisi dalam jiwa yang muncul sebagai ketenangan dan kerendahan diri yang tampak pada anggota tubuh. Menurut Qatadah, khusyuk adalah rasa takut yang menetap dalam hati dan menahan pandangan saat shalat. Az-Zajjaj menjelaskan bahwa orang yang khusyuk menunjukkan tanda ketundukan dan kerendahan pada dirinya, seperti rumah yang hancur tanpa penghuni. Dalam Tafsir Syaikh As-Sa’di disebutkan: Allah memerintahkan kepada mereka untuk meminta pertolongan dalam (menyelesaikan) segala urusan mereka dengan kesabaran dalam segala bentuknya, yaitu sabar dalam ketaatan kepada Allah hingga dia mampu menunaikannya, sabar dari kemaksiatan hingga dia menghindarinya, dan sabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang menyakitkan agar dia tidak mengecamnya. Dengan kesabaran dan menahan diri terhadap segala yang diperintahkan oleh Allah untuk bersabar atasnya adalah sebuah pertolongan yang besar dalam setiap perkara dari perkara-perkara yang ada. Barang siapa yang bersabar, niscaya Allah akan membuatnya menjadi sabar. Demikian juga shalat yang merupakan timbangan dari keimanan dan dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, dapat dijadikan penolong dalam segala perkara kehidupan. “Dan sesungguhnya yang demikian itu,” yaitu shalat, ”sungguh berat, ” maksudnya sulit, “kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” Shalat itu adalah mudah bagi mereka dan sangat ringan, karena kekhusyukan, takut kepada Allah, dan mengharap apa yang ada di sisi-Nya mengharuskan adanya realisasi perbuatan itu dengan dada yang lapang demi mencari ganjaran dan takut dari hukuman. Berbeda dengan orang yang tidak demikian, karena tidak ada pendorong baginya yang mengajaknya kepada hal tersebut, dan bila pun dia melakukannya, maka hal itu menjadi suatu perkara yang paling berat yang dia rasakan. Khusyuk adalah ketundukan hati, ketenteraman dan ketenangannya karena Allah ta’ala serta kepasrahannya di hadapan Allah dengan segala bentuk menghinakan diri, rasa butuh, dan iman kepadaNya dan kepada pertemuan denganNya. Dalam Tafsir Al-Muyassar disebutkan: Dan mintalah pertolongan atas segala urusan kalian melalui kesabaran dengan seluruh jenisnya dan juga shalat, sesungguhnya hal tersebut amat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu. Yaitu orang yang takut kepada Allah dan mengharapkan apa-apa yang ada di sisi-Nya, serta meyakini bahwa mereka benar-benar akan berjumpa dengan Tuhan mereka setelah kematian, dan bahwasanya mereka akan kembali kepadanya pada hari kiamat untuk menghadapi perhitungan dan pembalasan amal perbuatan mereka.   Kesimpulan Allah memerintahkan untuk bersabar dalam ketaatan, menjauh dari maksiat, dan menghadapi takdir dengan shalat sebagai penolong utama. Shalat bukan hanya ibadah, tetapi juga bentuk doa dan ketenangan hati yang dicontohkan Rasulullah ﷺ dalam menghadapi kesulitan. Ketika menghadapi masalah atau problem, segera laksanakan shalat sebagaimana dicontohkan Rasulullah dan para salaf. Bersabar dalam ketaatan dan menahan diri dari keinginan duniawi adalah bentuk jihad melawan hawa nafsu, sifat para nabi dan orang saleh. Allah memberikan ganjaran berlipat untuk amal kebaikan, sedekah, dan khususnya kesabaran, yang dijanjikan tanpa batas. Kesabaran Allah terhadap makhluk-Nya mencerminkan kesantunan-Nya, meskipun manusia sering berbuat maksiat, Allah tetap memberikan rezeki dan kesehatan. Shalat dan kesabaran adalah ibadah yang menuntut ketahanan jiwa, lebih berat daripada puasa, kecuali bagi orang yang khusyuk. Khusyuk adalah sikap rendah hati yang mencerminkan ketenangan jiwa, takut kepada Allah, dan kesadaran akan pertemuan dengan-Nya. Orang khusyuk merasa tenang, rendah hati, dan ikhlas, menjadikan shalat sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi berbagai ujian hidup. Referensi: Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir As-Sa’di, Tafsir Al-Muyassar Semoga bermanfaat. Semoga semakin semangat merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an. – Ditulis pada 28 Rabiuts Tsani 1446 H, 31 Oktober 2024 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Baca Juga: Ujian dan Musibah Tanda Allah Cinta Musibah antara Ujian ataukah Azab? Rezeki itu Ujian Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskeutamaan sabar musibah renungan ayat sabar shalat solusi musibah


Menghadapi ujian hidup dengan penuh kesabaran dan mendekatkan diri kepada Allah adalah tuntunan penting dalam Islam. Shalat dan sabar menjadi dua penolong utama bagi setiap muslim dalam menjalani setiap tantangan hidup, sebagaimana diperintahkan Allah dalam QS. Al-Baqarah: 45. Allah Ta’ala berfirman, وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ Arab-Latin: Wasta’īnụ biṣ-ṣabri waṣ-ṣalāh, wa innahā lakabīratun illā ‘alal-khāsyi’īn Artinya: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)   Pelajari dari video berikut ini mengenai “MINTA TOLONG KEPADA ALLAH DENGAN SABAR DAN SHALAT” <span style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height: 0;" data-mce-type="bookmark" class="mce_SELRES_start"></span>   Dalam Tafsir Al-Qurthubi disebutkan penjelasan ayat ini dalam delapan pelajaran: Pelajaran pertama: Firman Allah: “Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” Kata “sabar” dalam bahasa memiliki makna menahan diri. Saya menahan diri terhadap sesuatu berarti saya mengekang diri. Istilah “mashbūrah” yang dilarang dalam hadits merujuk pada hewan yang ditahan untuk dibunuh. Pelajaran kedua: Allah memerintahkan untuk bersabar dalam ketaatan dan menjauhkan diri dari pelanggaran, sebagaimana firman-Nya, “Bersabarlah.” Dikatakan bahwa seseorang sabar terhadap maksiat, maka dia akan sabar dalam ketaatan. Pelajaran ketiga: Firman Allah: “Dan shalat.” Allah menyebutkan shalat secara khusus di antara berbagai ibadah untuk mengutamakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa segera mengerjakan shalat saat menghadapi kesulitan. Diriwayatkan bahwa ketika Abdullah bin Abbas mendengar berita tentang kematian saudaranya, ia segera mengucapkan istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) dan shalat. Dengan demikian, shalat dimaknai sebagai doa dan ketenangan jiwa, sebagaimana Allah menyuruh keteguhan hati dan doa. Pelajaran keempat: Bersabar atas gangguan dan dalam melaksanakan ketaatan merupakan bagian dari jihad an-nafs (berjuang melawan hawa nafsu), yaitu mengendalikan diri dari keinginan-keinginan duniawi serta menahan diri dari perbuatan yang melampaui batas. Kesabaran ini adalah akhlak para nabi dan orang-orang saleh. Yahya bin al-Yaman berkata bahwa kesabaran berarti tidak menginginkan kondisi apa pun selain apa yang telah Allah karuniakan, serta menerima dengan rida atas segala ketetapan-Nya, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Asy-Sya’bi menukil perkataan Ali radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa kesabaran dalam iman ibarat kepala dalam tubuh. At-Thabari berkomentar, “Ali radhiyallahu ‘anhu benar dalam ucapannya itu.” Ini karena iman mencakup keyakinan dalam hati, pengakuan dengan lisan, dan pengamalan melalui anggota badan. Maka, barang siapa tidak mampu bersabar dalam melaksanakan perbuatan dengan anggota badannya, ia tidak akan layak disebut sebagai orang yang beriman secara sempurna. Kesabaran dalam menjalankan perintah syariat sama seperti kepala bagi tubuh manusia yang tidak akan sempurna tanpanya. Pelajaran kelima: Allah Ta’ala telah menetapkan ganjaran bagi setiap amal perbuatan dan menetapkan batasannya. Dia berfirman: مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا “Barang siapa yang membawa satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipatnya.” (QS. Al-An’am: 160). Allah juga menetapkan ganjaran sedekah di jalan-Nya lebih tinggi dari itu, sebagaimana firman-Nya: مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261). Namun, untuk orang-orang yang bersabar, Allah menetapkan ganjaran yang tidak terbatas, serta memuji mereka dengan firman-Nya: إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10) Allah juga berfirman, وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy-Syura: 43). Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “orang-orang yang bersabar” dalam firman-Nya “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar yang akan disempurnakan pahalanya tanpa batas” adalah orang-orang yang berpuasa. Ini didasarkan pada hadits sahih dari Nabi ﷺ yang mengatakan: وأنا أجزي به “Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan memberikan ganjarannya.” Dalam hadits ini, pahala puasa tidak disebutkan secara spesifik, sebagaimana pahala untuk kesabaran juga tidak disebutkan secara khusus. Hanya Allah yang lebih mengetahui. Pelajaran keenam: Di antara keutamaan kesabaran, Allah Ta’ala telah menyifatkan diri-Nya dengan kesabaran, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Musa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda: لا أحَدَ أصْبَرُ علَى أذًى يَسْمَعُهُ مِنَ اللهِ عزَّ وجلَّ، إنَّه يُشْرَكُ به، ويُجْعَلُ له الوَلَدُ، ثُمَّ هو يُعافيهم ويَرْزُقُهُمْ. “Tidak ada satu pun yang lebih sabar dalam menghadapi gangguan yang didengar-Nya daripada Allah Ta’ala. Mereka menuduh-Nya memiliki anak, namun Dia tetap memberi mereka kesehatan dan rezeki.” (HR. Bukhari, no. 6099 dan Muslim, no. 2804) Para ulama kami mengatakan bahwa penyifatan Allah dengan kesabaran bermakna “hilm” (kesantunan yang tinggi). Makna “hilm” ini adalah menunda hukuman bagi mereka yang pantas mendapatkannya. Penyifatan Allah dengan kesabaran tidak disebutkan dalam Al-Qur’an, melainkan dalam hadits Abu Musa. Para ulama Ahlus Sunnah menafsirkannya sebagai bentuk “hilm,” sebagaimana disampaikan oleh Ibn Fawrak dan yang lainnya. Salah satu nama Allah adalah “Ash-Shabur” (Maha Penyabar), yang menunjukkan keutamaan dalam kesantunan terhadap mereka yang berbuat maksiat kepada-Nya. Pelajaran ketujuh: Firman Allah Ta’ala: “Dan sesungguhnya hal itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai kembalinya kata ganti “hal itu” dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa kata ganti tersebut kembali pada shalat secara khusus, karena shalat lebih berat bagi jiwa daripada puasa. Kesabaran di sini diartikan sebagai puasa, sebab shalat menahan seluruh diri manusia, sedangkan puasa hanya menahan sebagian hasrat. Berbeda dengan orang yang berpuasa, ia hanya menahan keinginan terhadap makanan, minuman, dan hubungan dengan wanita, sementara dalam hal lain seperti berbicara, berjalan, dan berinteraksi dengan orang lain ia bebas, yang dapat mengalihkan perhatiannya dari hal-hal yang ditahan. Namun, orang yang shalat menahan semua itu, sebab seluruh anggota tubuhnya terikat dalam shalat, dan ini lebih sulit bagi jiwa. Karena itulah Allah berfirman: “Dan sesungguhnya hal itu benar-benar berat.” Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kata ganti tersebut mencakup keduanya (shalat dan kesabaran), tetapi yang dimaksud lebih banyak adalah shalat, seperti dalam firman Allah: “Orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah.” (QS. At-Taubah: 34) yang menunjukkan bahwa menimbun emas adalah kebiasaan umum meski juga mencakup perak. Dalam kasus ini, kata ganti kembali pada unsur dominan. Pendapat lain menyebutkan bahwa kesabaran (sabar) mencakup shalat, sebagaimana firman Allah: “Allah dan Rasul-Nya lebih berhak untuk mereka ridhai.” (QS. At-Taubah: 62). Di sini, kata ganti hanya digunakan untuk satu pihak, sebab rida terhadap Rasul masuk dalam rida terhadap Allah. Menurut pendapat lainnya, kata ganti dalam ayat tersebut kembali pada keduanya dengan maksud ringkas. Firman Allah Ta’ala: “Kami jadikan anak Maryam dan ibunya sebagai tanda (yang besar).” (QS. Al-Mu’minun: 50) menunjukkan hal serupa. Ada juga yang mengatakan bahwa kata ganti tersebut kembali pada makna umum dari ibadah, yakni kesabaran dan shalat. Sebagian lain berpendapat bahwa kata ganti tersebut merujuk pada istilah yang ditunjukkan oleh kata “mintalah pertolongan”, sehingga ini mengacu pada bentuk pertolongan secara keseluruhan. Pendapat lain menyebutkan bahwa kata ganti itu merujuk pada ajakan untuk mengikuti Nabi Muhammad ﷺ, karena kesabaran dan shalat adalah sesuatu yang beliau dakwahkan. Ada pula yang menyatakan bahwa kata ganti tersebut merujuk pada Ka’bah karena perintah shalat mengarah ke sana, dan “berat” berarti sukar dan menyulitkan, seperti yang disebutkan dalam ayat: “Sesungguhnya hal itu berat.” Dalam bahasa Arab di luar Al-Qur’an, kata ganti bisa berbentuk “Dan sesungguhnya ia berat.” Kecuali bagi mereka yang khusyuk, maka perintah tersebut menjadi ringan bagi mereka. Menurut para ahli makna, ini berlaku bagi mereka yang telah dikaruniai sifat terpilih sejak azali dan diberi petunjuk khusus. Pelajaran kedelapan: Firman Allah Ta’ala: “Bagi orang-orang yang khusyuk.” Orang-orang yang khusyuk berarti seseorang yang rendah hati. Khusyuk adalah kondisi dalam jiwa yang muncul sebagai ketenangan dan kerendahan diri yang tampak pada anggota tubuh. Menurut Qatadah, khusyuk adalah rasa takut yang menetap dalam hati dan menahan pandangan saat shalat. Az-Zajjaj menjelaskan bahwa orang yang khusyuk menunjukkan tanda ketundukan dan kerendahan pada dirinya, seperti rumah yang hancur tanpa penghuni. Dalam Tafsir Syaikh As-Sa’di disebutkan: Allah memerintahkan kepada mereka untuk meminta pertolongan dalam (menyelesaikan) segala urusan mereka dengan kesabaran dalam segala bentuknya, yaitu sabar dalam ketaatan kepada Allah hingga dia mampu menunaikannya, sabar dari kemaksiatan hingga dia menghindarinya, dan sabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang menyakitkan agar dia tidak mengecamnya. Dengan kesabaran dan menahan diri terhadap segala yang diperintahkan oleh Allah untuk bersabar atasnya adalah sebuah pertolongan yang besar dalam setiap perkara dari perkara-perkara yang ada. Barang siapa yang bersabar, niscaya Allah akan membuatnya menjadi sabar. Demikian juga shalat yang merupakan timbangan dari keimanan dan dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, dapat dijadikan penolong dalam segala perkara kehidupan. “Dan sesungguhnya yang demikian itu,” yaitu shalat, ”sungguh berat, ” maksudnya sulit, “kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” Shalat itu adalah mudah bagi mereka dan sangat ringan, karena kekhusyukan, takut kepada Allah, dan mengharap apa yang ada di sisi-Nya mengharuskan adanya realisasi perbuatan itu dengan dada yang lapang demi mencari ganjaran dan takut dari hukuman. Berbeda dengan orang yang tidak demikian, karena tidak ada pendorong baginya yang mengajaknya kepada hal tersebut, dan bila pun dia melakukannya, maka hal itu menjadi suatu perkara yang paling berat yang dia rasakan. Khusyuk adalah ketundukan hati, ketenteraman dan ketenangannya karena Allah ta’ala serta kepasrahannya di hadapan Allah dengan segala bentuk menghinakan diri, rasa butuh, dan iman kepadaNya dan kepada pertemuan denganNya. Dalam Tafsir Al-Muyassar disebutkan: Dan mintalah pertolongan atas segala urusan kalian melalui kesabaran dengan seluruh jenisnya dan juga shalat, sesungguhnya hal tersebut amat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu. Yaitu orang yang takut kepada Allah dan mengharapkan apa-apa yang ada di sisi-Nya, serta meyakini bahwa mereka benar-benar akan berjumpa dengan Tuhan mereka setelah kematian, dan bahwasanya mereka akan kembali kepadanya pada hari kiamat untuk menghadapi perhitungan dan pembalasan amal perbuatan mereka.   Kesimpulan Allah memerintahkan untuk bersabar dalam ketaatan, menjauh dari maksiat, dan menghadapi takdir dengan shalat sebagai penolong utama. Shalat bukan hanya ibadah, tetapi juga bentuk doa dan ketenangan hati yang dicontohkan Rasulullah ﷺ dalam menghadapi kesulitan. Ketika menghadapi masalah atau problem, segera laksanakan shalat sebagaimana dicontohkan Rasulullah dan para salaf. Bersabar dalam ketaatan dan menahan diri dari keinginan duniawi adalah bentuk jihad melawan hawa nafsu, sifat para nabi dan orang saleh. Allah memberikan ganjaran berlipat untuk amal kebaikan, sedekah, dan khususnya kesabaran, yang dijanjikan tanpa batas. Kesabaran Allah terhadap makhluk-Nya mencerminkan kesantunan-Nya, meskipun manusia sering berbuat maksiat, Allah tetap memberikan rezeki dan kesehatan. Shalat dan kesabaran adalah ibadah yang menuntut ketahanan jiwa, lebih berat daripada puasa, kecuali bagi orang yang khusyuk. Khusyuk adalah sikap rendah hati yang mencerminkan ketenangan jiwa, takut kepada Allah, dan kesadaran akan pertemuan dengan-Nya. Orang khusyuk merasa tenang, rendah hati, dan ikhlas, menjadikan shalat sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi berbagai ujian hidup. Referensi: Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir As-Sa’di, Tafsir Al-Muyassar Semoga bermanfaat. Semoga semakin semangat merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an. – Ditulis pada 28 Rabiuts Tsani 1446 H, 31 Oktober 2024 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Baca Juga: Ujian dan Musibah Tanda Allah Cinta Musibah antara Ujian ataukah Azab? Rezeki itu Ujian Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskeutamaan sabar musibah renungan ayat sabar shalat solusi musibah

Hadis: Hukum Tato dan Menyambung Rambut

Daftar Isi Toggle Teks HadisPenjelasan Teks HadisKandungan HadisKandungan pertama: Hukum menyambung rambutKandungan kedua: Hukum tato Teks Hadis Dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ، وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan wanita yang meminta disambungkan rambutnya; wanita yang bertato dan yang meminta ditatokan.” (HR. Bukhari no. 5940 dan Muslim no. 2124) Penjelasan Teks Hadis Yang dimaksud dengan “laknat” adalah, الطرد والإبعاد عن رحمة الله تعالى “mengusir dan menjauhkan dari rahmat Allah Ta’ala.” Sedangkan laknat dari makhluk adalah berupa celaan dan doa (jelek). Hadis ini dari sisi lafal adalah kalimat berita, namun dari segi makna adalah kalimat perintah (yaitu, perintah untuk menjauhi perbuatan yang disebutkan). “Al-Wāṣhilah” (الواصلة) adalah wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut orang lain, baik dia melakukannya untuk dirinya sendiri ataupun untuk orang lain. Abu Dawud rahimahullah berkata, وتفسير الواصلة: التي تصل الشعر بشعر النساء “Maksud al-waṣhilah adalah wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut wanita lain.” [1] Al-Harawi rahimahullah berkata, وأما الواصلة والمستوصلة فإنه في الشَّعَر، وذلك بأن تصله بشعر آخر “Adapun al-waṣhilah dan al-mustawṣhilah, ini berkaitan dengan rambut, yaitu menyambung rambut dengan rambut lain.” Ibnu Manẓhur rahimahullah berkata, الواصلة من النساء التي تصل شعرها بشعر غيرها، والمستوصلة: الطالبة لذلك “Al-waṣhilah adalah wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut orang lain, sedangkan al-mustawshilah adalah wanita yang meminta untuk disambung rambutnya.” [2] “Al-wasyimah” (الواشمة) adalah wanita yang melakukan tato, yaitu menusukkan jarum atau yang sejenisnya pada tubuh orang yang ingin ditato sampai darah mengalir, kemudian mengisi bekas tusukan itu dengan celak, nila, kapur, atau bahan lainnya sehingga bagian tubuh yang ditato menjadi hijau atau kebiruan. Tato ini biasanya dilakukan pada wajah dan tangan. Orang yang ditato sering berkreasi dengan tato, ada yang menggambar bentuk hati di tangannya, menulis nama orang yang dicintainya, dan sejenisnya. “Al-mustawsyimah” (المستوشمة) adalah wanita yang meminta agar tato dibuat di tubuhnya. Kandungan Hadis Kandungan pertama: Hukum menyambung rambut Hadis ini merupakan dalil yang menunjukkan larangan menyambung rambut, tidak diperbolehkan bagi seorang wanita untuk menyambung rambutnya dengan rambut lain dengan tujuan berhias. Hal ini karena laknat terhadap orang yang menyambung rambut (الواصلة) dan yang meminta disambungkan rambutnya (المستوصلة) adalah bukti (dalil) atas haramnya tindakan tersebut, dan bahwa perbuatan itu termasuk dosa besar. Selain itu, perbuatan itu juga menyerupai orang Yahudi, serta mengandung unsur penipuan dan kecurangan. Hal ini karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutnya sebagai suatu kebohongan (الزور). Telah diriwayatkan dari Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah, قدم معاوية المدينة آخر قدمة قدمها، فأخرج كَبَّةً من شعر، قال: ما كنت أرى أحدًا يفعل هذا غير نساء اليهود، إن النبي – صلى الله عليه وسلم – سماه الزور، يعني: الواصلة بالشعر “Muawiyah datang ke Madinah pada kedatangan terakhirnya, lalu dia mengeluarkan seikat (seuntai) rambut dan berkata, “Aku tidak menyangka ada orang yang melakukan ini selain wanita-wanita Yahudi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutnya sebagai suatu kebohongan.” Yaitu, wanita yang menyambung rambut dengan rambut.” (HR. Bukhari no. 5938 dan Muslim no. 2127) Adapun terkait hukum menyambung rambut dengan sesuatu selain rambut, seperti sutra, wol, benang berwarna, dan sejenisnya yang tidak menyerupai rambut, maka terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Sebagian ulama melarangnya, dan pendapat ini dinisbatkan kepada mayoritas (jumhur) ulama. Pendapat ini juga merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad rahimahullah [3]. Mereka berdalil dengan hadis dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, زَجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَصِلَ الْمَرْأَةُ بِرَأْسِهَا شَيْئًا “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seorang wanita menyambung sesuatu di kepalanya.” (HR. Muslim no. 2126) Para ulama tersebut berkata bahwa hadis ini merupakan larangan umum tentang menyambung (rambut), yaitu menyambung rambut dengan bahan apapun itu hukumnya terlarang. Oleh karena itu, jika larangan ini dikhususkan hanya pada “menyambung rambut dengan rambut lain”, maka memerlukan dalil tersendiri. Sebagian ulama lain, seperti Al-Laits bin Sa’ad, sebagian ulama Hanafiyah, dan Ibnu Qudamah rahimahumullah, berpendapat bahwa diperbolehkan menyambung rambut dengan wol, kain, atau bahan lain yang tidak menyerupai rambut asli [4]. Hal ini karena jenis penyambungan tersebut tidak termasuk dalam istilah “al-washl” (الوصل) (menyambung rambut yang terlarang dalam hadis), tidak mengandung unsur penipuan, dan tidak mengubah ciptaan Allah Ta’ala. Sebaliknya, hal ini bertujuan untuk memperindah dan mempercantik. Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu berkata, لَا بَأْسَ بِالْقَرَامِلِ “Tidak ada masalah dengan “qaramil”.” [5] Setelah menyebutkan riwayat ini, Abu Dawud rahimahullah berkata, كَانَ أَحْمَدُ يَقُولُ: الْقَرَامِلُ لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ “Imam Ahmad rahimahullah berkata, ‘(Menyambung rambut dengan) qaramil itu tidak mengapa (diperbolehkan).’” Kata “qaramil” (قَرامل) adalah bentuk jamak dari “qarmal” (قَرمل). Qaramil merujuk pada sejenis tumbuhan yang memiliki cabang-cabang yang panjang dan lentur. Namun, dalam konteks ini, yang dimaksud adalah benang dari sutra atau wol yang diikat menjadi kepang-kepang yang digunakan oleh wanita untuk menyambung rambutnya. [6] Al-Khattabi rahimahullah berkata, رخص أهل العلم في القرامل؛ لأن الغرور لا يقع بها؛ لأن من نظر إليها لم يشك في أن ذلك مستعار “Ulama memberi keringanan dalam penggunaan ‘qaramil’ karena tidak mengandung unsur penipuan. Siapa pun yang melihatnya tidak akan ragu bahwa itu adalah rambut palsu.” [7] Pendapat kedua inilah lebih kuat, insya Allah. Larangan hanya berlaku pada menyambung rambut dengan rambut lain. Sedangkan menyambung rambut dengan benang berwarna atau bahan lain yang umum digunakan oleh wanita, terutama anak perempuan yang masih kecil, agar rambut tidak menyebar atau terurai, perbuatan itu tidak masalah. Hal ini karena tindakan tersebut tidak dianggap sebagai “al-washl” (الوصل) dan orang yang melihatnya pasti tahu bahwa itu bukan rambut asli. Adapun hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu dapat dipahami sebagai larangan menyambung rambut dengan rambut lain. Hal ini karena ketika istilah “al-washl” (الوصل) digunakan secara mutlak (tanpa ada keterangan tambahan), itu merujuk pada menyambung rambut dengan rambut, sebagaimana ditunjukkan oleh penggunaan istilah ini dalam bahasa dan syariat, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Kandungan kedua: Hukum tato Hadis ini juga merupakan dalil yang menunjukkan larangan melakukan tato (الوشم), karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang membuat tato (الواشمة) dan orang yang meminta untuk dibuatkan tato (المستوشمة). Laknat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menandakan bahwa hal tersebut termasuk perbuatan yang diharamkan, bahkan termasuk dosa besar (al-kabaa’ir). Dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَعَنَ اللهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ، وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ، وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ “Allah melaknat orang-orang yang membuat tato dan orang yang minta dibuatkan tato, orang-orang yang mencabut bulu mata, orang-orang yang minta dicabut bulu matanya, dan orang-orang yang merenggangkan gigi demi kecantikan yang mengubah ciptaan Allah.” (HR. Bukhari no. 4885 dan Muslim no. 2125) Dalil ini menunjukkan bahwa alasan utama di balik larangan tato adalah karena tindakan tersebut dinilai mengubah ciptaan Allah Ta’ala. Ini adalah sifat yang melekat pada siapa pun yang menato tubuhnya. Selain alasan itu, tato dibuat dengan menusukkan jarum ke kulit, yang menyebabkan rasa sakit dan juga menyiksa tubuh tanpa ada alasan yang mendesak atau kebutuhan yang dibenarkan. Tato yang diharamkan adalah yang dilakukan seseorang atas dasar pilihan atau keinginannya sendiri. Akan tetapi, jika tato tersebut timbul sebagai akibat dari pengobatan atau kecelakaan (seperti jika sesuatu menggores tubuh dan meninggalkan noda atau bercak hitam di kulit), maka hal ini tidak termasuk dalam larangan. Dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu disebutkan, الواشمة إلا من داء “Wanita yang membuat tato, kecuali karena penyakit.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 4170. Ibnu Hajar berkata, “Sanadnya hasan.” Lihat Fathul Baari, 10: 376) Dalam atsar dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma disebutkan, والمستوشمة من غير داء “Wanita yang meminta dibuatkan tato tanpa alasan medis.” (Fathul Baari, 10: 372; Syarh Shahih Muslim, 14: 353) Jika memungkinkan, tato harus dihilangkan melalui pengobatan. Namun, jika proses penghapusan tato tersebut berisiko menimbulkan kerusakan (kulit) yang lebih parah, hilangnya anggota tubuh, atau menyebabkan cedera (cacat) yang besar pada bagian tubuh yang terlihat, maka tidak wajib menghilangkannya. Tobat saja sudah cukup dalam kasus semacam ini tanpa menghilangkan tatonya. Namun, jika tidak ada risiko seperti itu, maka wajib untuk menghapus tato, dan seseorang berdosa jika menundanya. [8] Demikianlah pembahasan ini, semoga bermanfaat untuk diri penulis sendiri dan juga para pembaca sekalian. [9] Baca juga: Hukum-Hukum terkait Tato *** @Fall, 8 Rabiul akhir 1446/ 11 Oktober 2024 Yang senantiasa mengharap ampunan Rabb-nya, Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Al-Lisaan, 11: 227. [2] As-Sunan, 4: 78. [3] Al-Adaab Asy-Syar’iyyah, 3: 339. [4] Hasyiyah Ibnu ‘Abidin, 5: 339; Al-Mughni, 1: 94; Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 14: 651. [5] HR. Abu Dawud no. 4171. Riwayat ini dinilai sahih oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (10: 388), meskipun dalam sanadnya terdapat perawi bernama Syarik bin Abdullah Al-Qadhi. Namun, hal ini bisa jadi terkait dengan periwayatannya sebelum dia menjadi hakim (qadhi), atau karena ini merupakan atsar dari seorang tabi’in, maka ada kelonggaran dalam penilaian derajat kesahihannya. [6] ‘Aunul Ma’bud, 11: 228. [7] Ma’alim As-Sunan, 6: 89. [8] Fathul Baari, 10: 372; Syarh Shahih Muslim, 14: 353. [9] Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Buluughil Maraam (7: 354-357). Kutipan-kutipan dalam hadis di atas adalah melalui perantaraan kitab tersebut.

Hadis: Hukum Tato dan Menyambung Rambut

Daftar Isi Toggle Teks HadisPenjelasan Teks HadisKandungan HadisKandungan pertama: Hukum menyambung rambutKandungan kedua: Hukum tato Teks Hadis Dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ، وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan wanita yang meminta disambungkan rambutnya; wanita yang bertato dan yang meminta ditatokan.” (HR. Bukhari no. 5940 dan Muslim no. 2124) Penjelasan Teks Hadis Yang dimaksud dengan “laknat” adalah, الطرد والإبعاد عن رحمة الله تعالى “mengusir dan menjauhkan dari rahmat Allah Ta’ala.” Sedangkan laknat dari makhluk adalah berupa celaan dan doa (jelek). Hadis ini dari sisi lafal adalah kalimat berita, namun dari segi makna adalah kalimat perintah (yaitu, perintah untuk menjauhi perbuatan yang disebutkan). “Al-Wāṣhilah” (الواصلة) adalah wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut orang lain, baik dia melakukannya untuk dirinya sendiri ataupun untuk orang lain. Abu Dawud rahimahullah berkata, وتفسير الواصلة: التي تصل الشعر بشعر النساء “Maksud al-waṣhilah adalah wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut wanita lain.” [1] Al-Harawi rahimahullah berkata, وأما الواصلة والمستوصلة فإنه في الشَّعَر، وذلك بأن تصله بشعر آخر “Adapun al-waṣhilah dan al-mustawṣhilah, ini berkaitan dengan rambut, yaitu menyambung rambut dengan rambut lain.” Ibnu Manẓhur rahimahullah berkata, الواصلة من النساء التي تصل شعرها بشعر غيرها، والمستوصلة: الطالبة لذلك “Al-waṣhilah adalah wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut orang lain, sedangkan al-mustawshilah adalah wanita yang meminta untuk disambung rambutnya.” [2] “Al-wasyimah” (الواشمة) adalah wanita yang melakukan tato, yaitu menusukkan jarum atau yang sejenisnya pada tubuh orang yang ingin ditato sampai darah mengalir, kemudian mengisi bekas tusukan itu dengan celak, nila, kapur, atau bahan lainnya sehingga bagian tubuh yang ditato menjadi hijau atau kebiruan. Tato ini biasanya dilakukan pada wajah dan tangan. Orang yang ditato sering berkreasi dengan tato, ada yang menggambar bentuk hati di tangannya, menulis nama orang yang dicintainya, dan sejenisnya. “Al-mustawsyimah” (المستوشمة) adalah wanita yang meminta agar tato dibuat di tubuhnya. Kandungan Hadis Kandungan pertama: Hukum menyambung rambut Hadis ini merupakan dalil yang menunjukkan larangan menyambung rambut, tidak diperbolehkan bagi seorang wanita untuk menyambung rambutnya dengan rambut lain dengan tujuan berhias. Hal ini karena laknat terhadap orang yang menyambung rambut (الواصلة) dan yang meminta disambungkan rambutnya (المستوصلة) adalah bukti (dalil) atas haramnya tindakan tersebut, dan bahwa perbuatan itu termasuk dosa besar. Selain itu, perbuatan itu juga menyerupai orang Yahudi, serta mengandung unsur penipuan dan kecurangan. Hal ini karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutnya sebagai suatu kebohongan (الزور). Telah diriwayatkan dari Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah, قدم معاوية المدينة آخر قدمة قدمها، فأخرج كَبَّةً من شعر، قال: ما كنت أرى أحدًا يفعل هذا غير نساء اليهود، إن النبي – صلى الله عليه وسلم – سماه الزور، يعني: الواصلة بالشعر “Muawiyah datang ke Madinah pada kedatangan terakhirnya, lalu dia mengeluarkan seikat (seuntai) rambut dan berkata, “Aku tidak menyangka ada orang yang melakukan ini selain wanita-wanita Yahudi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutnya sebagai suatu kebohongan.” Yaitu, wanita yang menyambung rambut dengan rambut.” (HR. Bukhari no. 5938 dan Muslim no. 2127) Adapun terkait hukum menyambung rambut dengan sesuatu selain rambut, seperti sutra, wol, benang berwarna, dan sejenisnya yang tidak menyerupai rambut, maka terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Sebagian ulama melarangnya, dan pendapat ini dinisbatkan kepada mayoritas (jumhur) ulama. Pendapat ini juga merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad rahimahullah [3]. Mereka berdalil dengan hadis dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, زَجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَصِلَ الْمَرْأَةُ بِرَأْسِهَا شَيْئًا “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seorang wanita menyambung sesuatu di kepalanya.” (HR. Muslim no. 2126) Para ulama tersebut berkata bahwa hadis ini merupakan larangan umum tentang menyambung (rambut), yaitu menyambung rambut dengan bahan apapun itu hukumnya terlarang. Oleh karena itu, jika larangan ini dikhususkan hanya pada “menyambung rambut dengan rambut lain”, maka memerlukan dalil tersendiri. Sebagian ulama lain, seperti Al-Laits bin Sa’ad, sebagian ulama Hanafiyah, dan Ibnu Qudamah rahimahumullah, berpendapat bahwa diperbolehkan menyambung rambut dengan wol, kain, atau bahan lain yang tidak menyerupai rambut asli [4]. Hal ini karena jenis penyambungan tersebut tidak termasuk dalam istilah “al-washl” (الوصل) (menyambung rambut yang terlarang dalam hadis), tidak mengandung unsur penipuan, dan tidak mengubah ciptaan Allah Ta’ala. Sebaliknya, hal ini bertujuan untuk memperindah dan mempercantik. Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu berkata, لَا بَأْسَ بِالْقَرَامِلِ “Tidak ada masalah dengan “qaramil”.” [5] Setelah menyebutkan riwayat ini, Abu Dawud rahimahullah berkata, كَانَ أَحْمَدُ يَقُولُ: الْقَرَامِلُ لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ “Imam Ahmad rahimahullah berkata, ‘(Menyambung rambut dengan) qaramil itu tidak mengapa (diperbolehkan).’” Kata “qaramil” (قَرامل) adalah bentuk jamak dari “qarmal” (قَرمل). Qaramil merujuk pada sejenis tumbuhan yang memiliki cabang-cabang yang panjang dan lentur. Namun, dalam konteks ini, yang dimaksud adalah benang dari sutra atau wol yang diikat menjadi kepang-kepang yang digunakan oleh wanita untuk menyambung rambutnya. [6] Al-Khattabi rahimahullah berkata, رخص أهل العلم في القرامل؛ لأن الغرور لا يقع بها؛ لأن من نظر إليها لم يشك في أن ذلك مستعار “Ulama memberi keringanan dalam penggunaan ‘qaramil’ karena tidak mengandung unsur penipuan. Siapa pun yang melihatnya tidak akan ragu bahwa itu adalah rambut palsu.” [7] Pendapat kedua inilah lebih kuat, insya Allah. Larangan hanya berlaku pada menyambung rambut dengan rambut lain. Sedangkan menyambung rambut dengan benang berwarna atau bahan lain yang umum digunakan oleh wanita, terutama anak perempuan yang masih kecil, agar rambut tidak menyebar atau terurai, perbuatan itu tidak masalah. Hal ini karena tindakan tersebut tidak dianggap sebagai “al-washl” (الوصل) dan orang yang melihatnya pasti tahu bahwa itu bukan rambut asli. Adapun hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu dapat dipahami sebagai larangan menyambung rambut dengan rambut lain. Hal ini karena ketika istilah “al-washl” (الوصل) digunakan secara mutlak (tanpa ada keterangan tambahan), itu merujuk pada menyambung rambut dengan rambut, sebagaimana ditunjukkan oleh penggunaan istilah ini dalam bahasa dan syariat, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Kandungan kedua: Hukum tato Hadis ini juga merupakan dalil yang menunjukkan larangan melakukan tato (الوشم), karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang membuat tato (الواشمة) dan orang yang meminta untuk dibuatkan tato (المستوشمة). Laknat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menandakan bahwa hal tersebut termasuk perbuatan yang diharamkan, bahkan termasuk dosa besar (al-kabaa’ir). Dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَعَنَ اللهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ، وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ، وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ “Allah melaknat orang-orang yang membuat tato dan orang yang minta dibuatkan tato, orang-orang yang mencabut bulu mata, orang-orang yang minta dicabut bulu matanya, dan orang-orang yang merenggangkan gigi demi kecantikan yang mengubah ciptaan Allah.” (HR. Bukhari no. 4885 dan Muslim no. 2125) Dalil ini menunjukkan bahwa alasan utama di balik larangan tato adalah karena tindakan tersebut dinilai mengubah ciptaan Allah Ta’ala. Ini adalah sifat yang melekat pada siapa pun yang menato tubuhnya. Selain alasan itu, tato dibuat dengan menusukkan jarum ke kulit, yang menyebabkan rasa sakit dan juga menyiksa tubuh tanpa ada alasan yang mendesak atau kebutuhan yang dibenarkan. Tato yang diharamkan adalah yang dilakukan seseorang atas dasar pilihan atau keinginannya sendiri. Akan tetapi, jika tato tersebut timbul sebagai akibat dari pengobatan atau kecelakaan (seperti jika sesuatu menggores tubuh dan meninggalkan noda atau bercak hitam di kulit), maka hal ini tidak termasuk dalam larangan. Dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu disebutkan, الواشمة إلا من داء “Wanita yang membuat tato, kecuali karena penyakit.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 4170. Ibnu Hajar berkata, “Sanadnya hasan.” Lihat Fathul Baari, 10: 376) Dalam atsar dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma disebutkan, والمستوشمة من غير داء “Wanita yang meminta dibuatkan tato tanpa alasan medis.” (Fathul Baari, 10: 372; Syarh Shahih Muslim, 14: 353) Jika memungkinkan, tato harus dihilangkan melalui pengobatan. Namun, jika proses penghapusan tato tersebut berisiko menimbulkan kerusakan (kulit) yang lebih parah, hilangnya anggota tubuh, atau menyebabkan cedera (cacat) yang besar pada bagian tubuh yang terlihat, maka tidak wajib menghilangkannya. Tobat saja sudah cukup dalam kasus semacam ini tanpa menghilangkan tatonya. Namun, jika tidak ada risiko seperti itu, maka wajib untuk menghapus tato, dan seseorang berdosa jika menundanya. [8] Demikianlah pembahasan ini, semoga bermanfaat untuk diri penulis sendiri dan juga para pembaca sekalian. [9] Baca juga: Hukum-Hukum terkait Tato *** @Fall, 8 Rabiul akhir 1446/ 11 Oktober 2024 Yang senantiasa mengharap ampunan Rabb-nya, Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Al-Lisaan, 11: 227. [2] As-Sunan, 4: 78. [3] Al-Adaab Asy-Syar’iyyah, 3: 339. [4] Hasyiyah Ibnu ‘Abidin, 5: 339; Al-Mughni, 1: 94; Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 14: 651. [5] HR. Abu Dawud no. 4171. Riwayat ini dinilai sahih oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (10: 388), meskipun dalam sanadnya terdapat perawi bernama Syarik bin Abdullah Al-Qadhi. Namun, hal ini bisa jadi terkait dengan periwayatannya sebelum dia menjadi hakim (qadhi), atau karena ini merupakan atsar dari seorang tabi’in, maka ada kelonggaran dalam penilaian derajat kesahihannya. [6] ‘Aunul Ma’bud, 11: 228. [7] Ma’alim As-Sunan, 6: 89. [8] Fathul Baari, 10: 372; Syarh Shahih Muslim, 14: 353. [9] Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Buluughil Maraam (7: 354-357). Kutipan-kutipan dalam hadis di atas adalah melalui perantaraan kitab tersebut.
Daftar Isi Toggle Teks HadisPenjelasan Teks HadisKandungan HadisKandungan pertama: Hukum menyambung rambutKandungan kedua: Hukum tato Teks Hadis Dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ، وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan wanita yang meminta disambungkan rambutnya; wanita yang bertato dan yang meminta ditatokan.” (HR. Bukhari no. 5940 dan Muslim no. 2124) Penjelasan Teks Hadis Yang dimaksud dengan “laknat” adalah, الطرد والإبعاد عن رحمة الله تعالى “mengusir dan menjauhkan dari rahmat Allah Ta’ala.” Sedangkan laknat dari makhluk adalah berupa celaan dan doa (jelek). Hadis ini dari sisi lafal adalah kalimat berita, namun dari segi makna adalah kalimat perintah (yaitu, perintah untuk menjauhi perbuatan yang disebutkan). “Al-Wāṣhilah” (الواصلة) adalah wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut orang lain, baik dia melakukannya untuk dirinya sendiri ataupun untuk orang lain. Abu Dawud rahimahullah berkata, وتفسير الواصلة: التي تصل الشعر بشعر النساء “Maksud al-waṣhilah adalah wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut wanita lain.” [1] Al-Harawi rahimahullah berkata, وأما الواصلة والمستوصلة فإنه في الشَّعَر، وذلك بأن تصله بشعر آخر “Adapun al-waṣhilah dan al-mustawṣhilah, ini berkaitan dengan rambut, yaitu menyambung rambut dengan rambut lain.” Ibnu Manẓhur rahimahullah berkata, الواصلة من النساء التي تصل شعرها بشعر غيرها، والمستوصلة: الطالبة لذلك “Al-waṣhilah adalah wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut orang lain, sedangkan al-mustawshilah adalah wanita yang meminta untuk disambung rambutnya.” [2] “Al-wasyimah” (الواشمة) adalah wanita yang melakukan tato, yaitu menusukkan jarum atau yang sejenisnya pada tubuh orang yang ingin ditato sampai darah mengalir, kemudian mengisi bekas tusukan itu dengan celak, nila, kapur, atau bahan lainnya sehingga bagian tubuh yang ditato menjadi hijau atau kebiruan. Tato ini biasanya dilakukan pada wajah dan tangan. Orang yang ditato sering berkreasi dengan tato, ada yang menggambar bentuk hati di tangannya, menulis nama orang yang dicintainya, dan sejenisnya. “Al-mustawsyimah” (المستوشمة) adalah wanita yang meminta agar tato dibuat di tubuhnya. Kandungan Hadis Kandungan pertama: Hukum menyambung rambut Hadis ini merupakan dalil yang menunjukkan larangan menyambung rambut, tidak diperbolehkan bagi seorang wanita untuk menyambung rambutnya dengan rambut lain dengan tujuan berhias. Hal ini karena laknat terhadap orang yang menyambung rambut (الواصلة) dan yang meminta disambungkan rambutnya (المستوصلة) adalah bukti (dalil) atas haramnya tindakan tersebut, dan bahwa perbuatan itu termasuk dosa besar. Selain itu, perbuatan itu juga menyerupai orang Yahudi, serta mengandung unsur penipuan dan kecurangan. Hal ini karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutnya sebagai suatu kebohongan (الزور). Telah diriwayatkan dari Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah, قدم معاوية المدينة آخر قدمة قدمها، فأخرج كَبَّةً من شعر، قال: ما كنت أرى أحدًا يفعل هذا غير نساء اليهود، إن النبي – صلى الله عليه وسلم – سماه الزور، يعني: الواصلة بالشعر “Muawiyah datang ke Madinah pada kedatangan terakhirnya, lalu dia mengeluarkan seikat (seuntai) rambut dan berkata, “Aku tidak menyangka ada orang yang melakukan ini selain wanita-wanita Yahudi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutnya sebagai suatu kebohongan.” Yaitu, wanita yang menyambung rambut dengan rambut.” (HR. Bukhari no. 5938 dan Muslim no. 2127) Adapun terkait hukum menyambung rambut dengan sesuatu selain rambut, seperti sutra, wol, benang berwarna, dan sejenisnya yang tidak menyerupai rambut, maka terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Sebagian ulama melarangnya, dan pendapat ini dinisbatkan kepada mayoritas (jumhur) ulama. Pendapat ini juga merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad rahimahullah [3]. Mereka berdalil dengan hadis dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, زَجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَصِلَ الْمَرْأَةُ بِرَأْسِهَا شَيْئًا “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seorang wanita menyambung sesuatu di kepalanya.” (HR. Muslim no. 2126) Para ulama tersebut berkata bahwa hadis ini merupakan larangan umum tentang menyambung (rambut), yaitu menyambung rambut dengan bahan apapun itu hukumnya terlarang. Oleh karena itu, jika larangan ini dikhususkan hanya pada “menyambung rambut dengan rambut lain”, maka memerlukan dalil tersendiri. Sebagian ulama lain, seperti Al-Laits bin Sa’ad, sebagian ulama Hanafiyah, dan Ibnu Qudamah rahimahumullah, berpendapat bahwa diperbolehkan menyambung rambut dengan wol, kain, atau bahan lain yang tidak menyerupai rambut asli [4]. Hal ini karena jenis penyambungan tersebut tidak termasuk dalam istilah “al-washl” (الوصل) (menyambung rambut yang terlarang dalam hadis), tidak mengandung unsur penipuan, dan tidak mengubah ciptaan Allah Ta’ala. Sebaliknya, hal ini bertujuan untuk memperindah dan mempercantik. Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu berkata, لَا بَأْسَ بِالْقَرَامِلِ “Tidak ada masalah dengan “qaramil”.” [5] Setelah menyebutkan riwayat ini, Abu Dawud rahimahullah berkata, كَانَ أَحْمَدُ يَقُولُ: الْقَرَامِلُ لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ “Imam Ahmad rahimahullah berkata, ‘(Menyambung rambut dengan) qaramil itu tidak mengapa (diperbolehkan).’” Kata “qaramil” (قَرامل) adalah bentuk jamak dari “qarmal” (قَرمل). Qaramil merujuk pada sejenis tumbuhan yang memiliki cabang-cabang yang panjang dan lentur. Namun, dalam konteks ini, yang dimaksud adalah benang dari sutra atau wol yang diikat menjadi kepang-kepang yang digunakan oleh wanita untuk menyambung rambutnya. [6] Al-Khattabi rahimahullah berkata, رخص أهل العلم في القرامل؛ لأن الغرور لا يقع بها؛ لأن من نظر إليها لم يشك في أن ذلك مستعار “Ulama memberi keringanan dalam penggunaan ‘qaramil’ karena tidak mengandung unsur penipuan. Siapa pun yang melihatnya tidak akan ragu bahwa itu adalah rambut palsu.” [7] Pendapat kedua inilah lebih kuat, insya Allah. Larangan hanya berlaku pada menyambung rambut dengan rambut lain. Sedangkan menyambung rambut dengan benang berwarna atau bahan lain yang umum digunakan oleh wanita, terutama anak perempuan yang masih kecil, agar rambut tidak menyebar atau terurai, perbuatan itu tidak masalah. Hal ini karena tindakan tersebut tidak dianggap sebagai “al-washl” (الوصل) dan orang yang melihatnya pasti tahu bahwa itu bukan rambut asli. Adapun hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu dapat dipahami sebagai larangan menyambung rambut dengan rambut lain. Hal ini karena ketika istilah “al-washl” (الوصل) digunakan secara mutlak (tanpa ada keterangan tambahan), itu merujuk pada menyambung rambut dengan rambut, sebagaimana ditunjukkan oleh penggunaan istilah ini dalam bahasa dan syariat, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Kandungan kedua: Hukum tato Hadis ini juga merupakan dalil yang menunjukkan larangan melakukan tato (الوشم), karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang membuat tato (الواشمة) dan orang yang meminta untuk dibuatkan tato (المستوشمة). Laknat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menandakan bahwa hal tersebut termasuk perbuatan yang diharamkan, bahkan termasuk dosa besar (al-kabaa’ir). Dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَعَنَ اللهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ، وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ، وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ “Allah melaknat orang-orang yang membuat tato dan orang yang minta dibuatkan tato, orang-orang yang mencabut bulu mata, orang-orang yang minta dicabut bulu matanya, dan orang-orang yang merenggangkan gigi demi kecantikan yang mengubah ciptaan Allah.” (HR. Bukhari no. 4885 dan Muslim no. 2125) Dalil ini menunjukkan bahwa alasan utama di balik larangan tato adalah karena tindakan tersebut dinilai mengubah ciptaan Allah Ta’ala. Ini adalah sifat yang melekat pada siapa pun yang menato tubuhnya. Selain alasan itu, tato dibuat dengan menusukkan jarum ke kulit, yang menyebabkan rasa sakit dan juga menyiksa tubuh tanpa ada alasan yang mendesak atau kebutuhan yang dibenarkan. Tato yang diharamkan adalah yang dilakukan seseorang atas dasar pilihan atau keinginannya sendiri. Akan tetapi, jika tato tersebut timbul sebagai akibat dari pengobatan atau kecelakaan (seperti jika sesuatu menggores tubuh dan meninggalkan noda atau bercak hitam di kulit), maka hal ini tidak termasuk dalam larangan. Dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu disebutkan, الواشمة إلا من داء “Wanita yang membuat tato, kecuali karena penyakit.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 4170. Ibnu Hajar berkata, “Sanadnya hasan.” Lihat Fathul Baari, 10: 376) Dalam atsar dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma disebutkan, والمستوشمة من غير داء “Wanita yang meminta dibuatkan tato tanpa alasan medis.” (Fathul Baari, 10: 372; Syarh Shahih Muslim, 14: 353) Jika memungkinkan, tato harus dihilangkan melalui pengobatan. Namun, jika proses penghapusan tato tersebut berisiko menimbulkan kerusakan (kulit) yang lebih parah, hilangnya anggota tubuh, atau menyebabkan cedera (cacat) yang besar pada bagian tubuh yang terlihat, maka tidak wajib menghilangkannya. Tobat saja sudah cukup dalam kasus semacam ini tanpa menghilangkan tatonya. Namun, jika tidak ada risiko seperti itu, maka wajib untuk menghapus tato, dan seseorang berdosa jika menundanya. [8] Demikianlah pembahasan ini, semoga bermanfaat untuk diri penulis sendiri dan juga para pembaca sekalian. [9] Baca juga: Hukum-Hukum terkait Tato *** @Fall, 8 Rabiul akhir 1446/ 11 Oktober 2024 Yang senantiasa mengharap ampunan Rabb-nya, Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Al-Lisaan, 11: 227. [2] As-Sunan, 4: 78. [3] Al-Adaab Asy-Syar’iyyah, 3: 339. [4] Hasyiyah Ibnu ‘Abidin, 5: 339; Al-Mughni, 1: 94; Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 14: 651. [5] HR. Abu Dawud no. 4171. Riwayat ini dinilai sahih oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (10: 388), meskipun dalam sanadnya terdapat perawi bernama Syarik bin Abdullah Al-Qadhi. Namun, hal ini bisa jadi terkait dengan periwayatannya sebelum dia menjadi hakim (qadhi), atau karena ini merupakan atsar dari seorang tabi’in, maka ada kelonggaran dalam penilaian derajat kesahihannya. [6] ‘Aunul Ma’bud, 11: 228. [7] Ma’alim As-Sunan, 6: 89. [8] Fathul Baari, 10: 372; Syarh Shahih Muslim, 14: 353. [9] Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Buluughil Maraam (7: 354-357). Kutipan-kutipan dalam hadis di atas adalah melalui perantaraan kitab tersebut.


Daftar Isi Toggle Teks HadisPenjelasan Teks HadisKandungan HadisKandungan pertama: Hukum menyambung rambutKandungan kedua: Hukum tato Teks Hadis Dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ، وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan wanita yang meminta disambungkan rambutnya; wanita yang bertato dan yang meminta ditatokan.” (HR. Bukhari no. 5940 dan Muslim no. 2124) Penjelasan Teks Hadis Yang dimaksud dengan “laknat” adalah, الطرد والإبعاد عن رحمة الله تعالى “mengusir dan menjauhkan dari rahmat Allah Ta’ala.” Sedangkan laknat dari makhluk adalah berupa celaan dan doa (jelek). Hadis ini dari sisi lafal adalah kalimat berita, namun dari segi makna adalah kalimat perintah (yaitu, perintah untuk menjauhi perbuatan yang disebutkan). “Al-Wāṣhilah” (الواصلة) adalah wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut orang lain, baik dia melakukannya untuk dirinya sendiri ataupun untuk orang lain. Abu Dawud rahimahullah berkata, وتفسير الواصلة: التي تصل الشعر بشعر النساء “Maksud al-waṣhilah adalah wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut wanita lain.” [1] Al-Harawi rahimahullah berkata, وأما الواصلة والمستوصلة فإنه في الشَّعَر، وذلك بأن تصله بشعر آخر “Adapun al-waṣhilah dan al-mustawṣhilah, ini berkaitan dengan rambut, yaitu menyambung rambut dengan rambut lain.” Ibnu Manẓhur rahimahullah berkata, الواصلة من النساء التي تصل شعرها بشعر غيرها، والمستوصلة: الطالبة لذلك “Al-waṣhilah adalah wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut orang lain, sedangkan al-mustawshilah adalah wanita yang meminta untuk disambung rambutnya.” [2] “Al-wasyimah” (الواشمة) adalah wanita yang melakukan tato, yaitu menusukkan jarum atau yang sejenisnya pada tubuh orang yang ingin ditato sampai darah mengalir, kemudian mengisi bekas tusukan itu dengan celak, nila, kapur, atau bahan lainnya sehingga bagian tubuh yang ditato menjadi hijau atau kebiruan. Tato ini biasanya dilakukan pada wajah dan tangan. Orang yang ditato sering berkreasi dengan tato, ada yang menggambar bentuk hati di tangannya, menulis nama orang yang dicintainya, dan sejenisnya. “Al-mustawsyimah” (المستوشمة) adalah wanita yang meminta agar tato dibuat di tubuhnya. Kandungan Hadis Kandungan pertama: Hukum menyambung rambut Hadis ini merupakan dalil yang menunjukkan larangan menyambung rambut, tidak diperbolehkan bagi seorang wanita untuk menyambung rambutnya dengan rambut lain dengan tujuan berhias. Hal ini karena laknat terhadap orang yang menyambung rambut (الواصلة) dan yang meminta disambungkan rambutnya (المستوصلة) adalah bukti (dalil) atas haramnya tindakan tersebut, dan bahwa perbuatan itu termasuk dosa besar. Selain itu, perbuatan itu juga menyerupai orang Yahudi, serta mengandung unsur penipuan dan kecurangan. Hal ini karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutnya sebagai suatu kebohongan (الزور). Telah diriwayatkan dari Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah, قدم معاوية المدينة آخر قدمة قدمها، فأخرج كَبَّةً من شعر، قال: ما كنت أرى أحدًا يفعل هذا غير نساء اليهود، إن النبي – صلى الله عليه وسلم – سماه الزور، يعني: الواصلة بالشعر “Muawiyah datang ke Madinah pada kedatangan terakhirnya, lalu dia mengeluarkan seikat (seuntai) rambut dan berkata, “Aku tidak menyangka ada orang yang melakukan ini selain wanita-wanita Yahudi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutnya sebagai suatu kebohongan.” Yaitu, wanita yang menyambung rambut dengan rambut.” (HR. Bukhari no. 5938 dan Muslim no. 2127) Adapun terkait hukum menyambung rambut dengan sesuatu selain rambut, seperti sutra, wol, benang berwarna, dan sejenisnya yang tidak menyerupai rambut, maka terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Sebagian ulama melarangnya, dan pendapat ini dinisbatkan kepada mayoritas (jumhur) ulama. Pendapat ini juga merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad rahimahullah [3]. Mereka berdalil dengan hadis dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, زَجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَصِلَ الْمَرْأَةُ بِرَأْسِهَا شَيْئًا “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seorang wanita menyambung sesuatu di kepalanya.” (HR. Muslim no. 2126) Para ulama tersebut berkata bahwa hadis ini merupakan larangan umum tentang menyambung (rambut), yaitu menyambung rambut dengan bahan apapun itu hukumnya terlarang. Oleh karena itu, jika larangan ini dikhususkan hanya pada “menyambung rambut dengan rambut lain”, maka memerlukan dalil tersendiri. Sebagian ulama lain, seperti Al-Laits bin Sa’ad, sebagian ulama Hanafiyah, dan Ibnu Qudamah rahimahumullah, berpendapat bahwa diperbolehkan menyambung rambut dengan wol, kain, atau bahan lain yang tidak menyerupai rambut asli [4]. Hal ini karena jenis penyambungan tersebut tidak termasuk dalam istilah “al-washl” (الوصل) (menyambung rambut yang terlarang dalam hadis), tidak mengandung unsur penipuan, dan tidak mengubah ciptaan Allah Ta’ala. Sebaliknya, hal ini bertujuan untuk memperindah dan mempercantik. Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu berkata, لَا بَأْسَ بِالْقَرَامِلِ “Tidak ada masalah dengan “qaramil”.” [5] Setelah menyebutkan riwayat ini, Abu Dawud rahimahullah berkata, كَانَ أَحْمَدُ يَقُولُ: الْقَرَامِلُ لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ “Imam Ahmad rahimahullah berkata, ‘(Menyambung rambut dengan) qaramil itu tidak mengapa (diperbolehkan).’” Kata “qaramil” (قَرامل) adalah bentuk jamak dari “qarmal” (قَرمل). Qaramil merujuk pada sejenis tumbuhan yang memiliki cabang-cabang yang panjang dan lentur. Namun, dalam konteks ini, yang dimaksud adalah benang dari sutra atau wol yang diikat menjadi kepang-kepang yang digunakan oleh wanita untuk menyambung rambutnya. [6] Al-Khattabi rahimahullah berkata, رخص أهل العلم في القرامل؛ لأن الغرور لا يقع بها؛ لأن من نظر إليها لم يشك في أن ذلك مستعار “Ulama memberi keringanan dalam penggunaan ‘qaramil’ karena tidak mengandung unsur penipuan. Siapa pun yang melihatnya tidak akan ragu bahwa itu adalah rambut palsu.” [7] Pendapat kedua inilah lebih kuat, insya Allah. Larangan hanya berlaku pada menyambung rambut dengan rambut lain. Sedangkan menyambung rambut dengan benang berwarna atau bahan lain yang umum digunakan oleh wanita, terutama anak perempuan yang masih kecil, agar rambut tidak menyebar atau terurai, perbuatan itu tidak masalah. Hal ini karena tindakan tersebut tidak dianggap sebagai “al-washl” (الوصل) dan orang yang melihatnya pasti tahu bahwa itu bukan rambut asli. Adapun hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu dapat dipahami sebagai larangan menyambung rambut dengan rambut lain. Hal ini karena ketika istilah “al-washl” (الوصل) digunakan secara mutlak (tanpa ada keterangan tambahan), itu merujuk pada menyambung rambut dengan rambut, sebagaimana ditunjukkan oleh penggunaan istilah ini dalam bahasa dan syariat, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Kandungan kedua: Hukum tato Hadis ini juga merupakan dalil yang menunjukkan larangan melakukan tato (الوشم), karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang membuat tato (الواشمة) dan orang yang meminta untuk dibuatkan tato (المستوشمة). Laknat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menandakan bahwa hal tersebut termasuk perbuatan yang diharamkan, bahkan termasuk dosa besar (al-kabaa’ir). Dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَعَنَ اللهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ، وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ، وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ “Allah melaknat orang-orang yang membuat tato dan orang yang minta dibuatkan tato, orang-orang yang mencabut bulu mata, orang-orang yang minta dicabut bulu matanya, dan orang-orang yang merenggangkan gigi demi kecantikan yang mengubah ciptaan Allah.” (HR. Bukhari no. 4885 dan Muslim no. 2125) Dalil ini menunjukkan bahwa alasan utama di balik larangan tato adalah karena tindakan tersebut dinilai mengubah ciptaan Allah Ta’ala. Ini adalah sifat yang melekat pada siapa pun yang menato tubuhnya. Selain alasan itu, tato dibuat dengan menusukkan jarum ke kulit, yang menyebabkan rasa sakit dan juga menyiksa tubuh tanpa ada alasan yang mendesak atau kebutuhan yang dibenarkan. Tato yang diharamkan adalah yang dilakukan seseorang atas dasar pilihan atau keinginannya sendiri. Akan tetapi, jika tato tersebut timbul sebagai akibat dari pengobatan atau kecelakaan (seperti jika sesuatu menggores tubuh dan meninggalkan noda atau bercak hitam di kulit), maka hal ini tidak termasuk dalam larangan. Dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu disebutkan, الواشمة إلا من داء “Wanita yang membuat tato, kecuali karena penyakit.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 4170. Ibnu Hajar berkata, “Sanadnya hasan.” Lihat Fathul Baari, 10: 376) Dalam atsar dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma disebutkan, والمستوشمة من غير داء “Wanita yang meminta dibuatkan tato tanpa alasan medis.” (Fathul Baari, 10: 372; Syarh Shahih Muslim, 14: 353) Jika memungkinkan, tato harus dihilangkan melalui pengobatan. Namun, jika proses penghapusan tato tersebut berisiko menimbulkan kerusakan (kulit) yang lebih parah, hilangnya anggota tubuh, atau menyebabkan cedera (cacat) yang besar pada bagian tubuh yang terlihat, maka tidak wajib menghilangkannya. Tobat saja sudah cukup dalam kasus semacam ini tanpa menghilangkan tatonya. Namun, jika tidak ada risiko seperti itu, maka wajib untuk menghapus tato, dan seseorang berdosa jika menundanya. [8] Demikianlah pembahasan ini, semoga bermanfaat untuk diri penulis sendiri dan juga para pembaca sekalian. [9] Baca juga: Hukum-Hukum terkait Tato *** @Fall, 8 Rabiul akhir 1446/ 11 Oktober 2024 Yang senantiasa mengharap ampunan Rabb-nya, Penulis: M. Saifudin Hakim Artikel Muslim.or.id   Catatan kaki: [1] Al-Lisaan, 11: 227. [2] As-Sunan, 4: 78. [3] Al-Adaab Asy-Syar’iyyah, 3: 339. [4] Hasyiyah Ibnu ‘Abidin, 5: 339; Al-Mughni, 1: 94; Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 14: 651. [5] HR. Abu Dawud no. 4171. Riwayat ini dinilai sahih oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (10: 388), meskipun dalam sanadnya terdapat perawi bernama Syarik bin Abdullah Al-Qadhi. Namun, hal ini bisa jadi terkait dengan periwayatannya sebelum dia menjadi hakim (qadhi), atau karena ini merupakan atsar dari seorang tabi’in, maka ada kelonggaran dalam penilaian derajat kesahihannya. [6] ‘Aunul Ma’bud, 11: 228. [7] Ma’alim As-Sunan, 6: 89. [8] Fathul Baari, 10: 372; Syarh Shahih Muslim, 14: 353. [9] Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Buluughil Maraam (7: 354-357). Kutipan-kutipan dalam hadis di atas adalah melalui perantaraan kitab tersebut.

Dampak Mengutamakan Dunia: Kehidupan Fana vs Keabadian Akhirat

Kehidupan dunia sering kali memikat dengan segala keindahan dan kemewahannya, membuat banyak orang lupa akan akhirat yang abadi. Mengutamakan dunia menjadi pilihan bagi sebagian orang, yang memilih yang fana daripada yang kekal, mengutamakan kesenangan sesaat di atas kenikmatan yang tak terbatas. Tulisan ini akan mengupas tentang tipuan dunia yang menggerogoti manusia, serta pentingnya menyadari hakikat kehidupan sejati di akhirat.   Daftar Isi tutup 1. Kebodohan Terbesar: Mengutamakan Dunia atas Akhirat 2. Kontan Dunia atau Akhirat yang Tertunda? 3. Kepastian Dunia dan Keraguan Akhirat? 4. Perbandingan Dunia dan Akhirat dalam Hadits 5. Akhirat itu Suatu yang Meragukan, Dunia itu Suatu yang Pasti? 6. Kerugian Mengutamakan Dunia: Perbandingan Waktu Dunia dan Akhirat 7. Keagungan Penciptaan Manusia sebagai Bukti Keesaan Allah 8. Dalil Keberadaan Allah dalam Diri Manusia 9. Dalil Keberadaan Allah dalam Diri Manusia 10. Yakin atau Ragu akan Akhirat? 11. Catatan Penting tentang Cinta Dunia 11.1. Pertama: Delapan Hal yang Dicintai Manusia 11.2. Kedua: Tanda Cinta Dunia 11.2.1. 1. Mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran 11.2.2. 2. Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal saleh 11.2.3. 3. Kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir 11.2.4. 4. Tanda cinta dunia lainnya adalah: 11.3. Ketiga: Tanda Gila Harta 11.4. Keempat: Perlukah Seimbang Antara Dunia dan Akhirat? 11.5. Kelima: Agar Tidak Cinta Dunia 12. Kesimpulan   Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 55-59, di antara poin-poin pentingnya adalah sebagai berikut. Kebodohan Terbesar: Mengutamakan Dunia atas Akhirat وَأَعْظَمُ الْخَلْقِ غُرُورًا مَنِ اغْتَرَّ بِالدُّنْيَا وَعَاجَلَهَا، فَآثَرَهَا عَلَى الْآخِرَةِ، وَرَضِيَ بِهَا مِنَ الْآخِرَةِ، حَتَّى يَقُولَ بَعْضُ هَؤُلَاءِ: الدُّنْيَا نَقْدٌ، وَالْآخِرَةُ نَسِيئَةٌ، وَالنَّقْدُ أَحْسَنُ مِنَ النَّسِيئَةِ. “Manusia yang paling tertipu adalah yang teperdaya oleh kehidupan dunia yang tampak di hadapan mereka. Bahkan, mereka lebih meridhai dan mengutamakan dunia daripada akhirat. Sampai-sampai, sebagian mereka menyatakan: ‘Dunia adalah sesuatu yang kontan, sedangkan akhirat adalah tertunda. Kontan lebih bermanfaat dibandingkan yang tertunda.’   Kontan Dunia atau Akhirat yang Tertunda? وَيَقُولُ بَعْضُهُمْ: ذَرَّةٌ مَنْقُودَةٌ، وَلَا دُرَّةٌ مَوْعُودَةٌ. Sebagian menegaskan: “Seukuran kecil yang diberikan secara kontan masih lebih baik daripada mutiara yang dijanjikan.”   Kepastian Dunia dan Keraguan Akhirat? وَيَقُولُ آخَرُ مِنْهُمْ: لَذَّاتُ الدُّنْيَا مُتَيَقَّنَةٌ، وَلَذَّاتُ الْآخِرَةِ مَشْكُوكٌ فِيهَا، وَلَا أَدَعُ الْيَقِينَ بِالشَّكِّ. Ada juga yang mengungkapkan: “Kelezatan dunia merupakan perkara yang pasti. Sebaliknya, kelezatan akhirat merupakan perkara yang masih diragukan. Saya tidak akan mengganti perkara yang pasti dengan perkara yang meragukan.” Adapun pernyataan bahwa: “Kontan lebih baik daripada yang tertunda,” maka jawabannya: Jika sesuatu yang kontan dan yang tertunda itu sama nilainya, maka kontan lebih baik dibandingkan yang tertunda. Namun, apabila berbeda, yaitu ketika perkara yang tertunda jauh lebih banyak dan lebih baik, maka tentulah ia yang lebih baik. Lantas, bagaimana seandainya dunia seluruhnya, dari awal hingga akhirnya, hanyalah merupakan satu napas dari sekian banyak napas di akhirat?!   Perbandingan Dunia dan Akhirat dalam Hadits Di dalam al-Musnad karya Imam Ahmad dan at-Tirmidzi, dari al-Mustaurid bin Syaddad, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا كَمَا يُدْخِلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟ “Tiadalah dunia dibandingkan akhirat, melainkan seperti salah satu dari kalian mencelupkan jarinya ke dalam laut. Hendaklah ia perhatikan apa yang dia dapatkan (dari air yang masih menempel di jarinya).” Catatan: Allah Ta’ala berfirman, مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An Nahl: 96) بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (17) “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’laa: 16-17) Malik bin Dinar berkata: لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا مِنْ ذَهَبٍ يَفْنَى ، وَالآخِرَةُ مِنْ خَزَفٍ يَبْقَى لَكَانَ الوَاجِبُ أَنْ يُؤْثِرَ خَزَفٍ يَبْقَى عَلَى ذَهَبٍ يَفْنَى ، فَكَيْفَ وَالآخِرَةُ مِنْ ذَهَبٍٍِ يَبْقَى ، وَالدُّنْيَا مِنْ خَزَفٍ يَفْنَى؟ “Seandainya dunia adalah emas yang akan fana, dan akhirat adalah tembikar yang kekal abadi, maka tentu saja seseorang wajib memilih sesuatu yang kekal abadi (yaitu tembikar) daripada emas yang nanti akan fana. Padahal sejatinya akhirat adalah emas yang kekal abadi dan dunia adalah tembikar yang nantinya fana.” (Lihat Fathul Qodir, Imam Asy-Syaukani, 5:567-568) Baca juga: Jangan-Jangan KIta Terjangkiti Penyakit Cinta Dunia Nikmat Dunia Pasti Akan Sirna   Akhirat itu Suatu yang Meragukan, Dunia itu Suatu yang Pasti? Adapun perkataan orang yang lain: ‘Aku tidak akan meninggalkan sesuatu yang sudah pasti demi sesuatu yang diragukan,’ maka dikatakan kepadanya: ‘Engkau mungkin berada dalam keraguan terhadap janji dan ancaman Allah serta kebenaran rasul-rasul-Nya, atau engkau berada dalam keyakinan akan hal tersebut. Jika engkau memiliki keyakinan, maka yang engkau tinggalkan hanyalah sesuatu yang fana, sementara, dan akan segera hilang, karena itu adalah sesuatu yang pasti, tidak ada keraguan maupun keterputusan padanya.” Jika engkau berada dalam keraguan, maka renungkanlah ayat-ayat Rabb Yang Maha Tinggi yang menunjukkan adanya keberadaan-Nya, kekuasaan-Nya, kehendak-Nya, keesaan-Nya, serta kebenaran rasul-rasul-Nya dalam apa yang mereka sampaikan dari Allah. Bersihkanlah niatmu dan berdirilah untuk Allah, baik sebagai seorang pencari kebenaran atau sebagai penelaah, hingga jelas bagimu bahwa apa yang dibawa oleh para rasul dari Allah adalah kebenaran yang tidak ada keraguan padanya. Sesungguhnya Pencipta alam semesta ini, Rabb langit dan bumi, Maha Tinggi, Maha Suci, dan terbebas dari segala hal yang bertentangan dengan apa yang diberitakan oleh para rasul-Nya tentang-Nya. Barang siapa yang menyandarkan kepada-Nya selain hal tersebut, maka dia telah mencela dan mendustakan-Nya, serta menolak ketuhanan dan kekuasaan-Nya. Sebab mustahil bagi siapa pun yang memiliki fitrah yang sehat, bahwa Raja Yang Maha Benar itu tidak memiliki kekuasaan atau tidak memiliki ilmu, tidak mengetahui apa pun, tidak mendengar, tidak melihat, tidak berbicara, tidak memerintah, tidak melarang, tidak memberi pahala, tidak menghukum, tidak memuliakan siapa yang Dia kehendaki, dan tidak menghinakan siapa yang Dia kehendaki, serta tidak mengutus rasul-rasul-Nya ke seluruh penjuru kerajaan-Nya, dan tidak peduli dengan keadaan rakyat-Nya, melainkan membiarkan mereka tanpa aturan dan meninggalkan mereka begitu saja. Hal ini bahkan merusak kepemilikan para raja dari kalangan manusia, dan tidak layak bagi mereka. Maka bagaimana mungkin hal tersebut layak disandarkan kepada Raja Yang Maha Benar lagi Maha Nyata?   Kerugian Mengutamakan Dunia: Perbandingan Waktu Dunia dan Akhirat فَإِيثَارُ هَذَا النَّقْدِ عَلَى هَذِهِ النَّسِيئَةِ، مِنْ أَعْظَمِ الْغَبْنِ وَأَقْبَحِ الْجَهْلِ، وَإِذَا كَانَ هَذَا نِسْبَةَ الدُّنْيَا بِمَجْمُوعِهَا إِلَى الْآخِرَةِ، فَمَا مِقْدَارُ عُمُرِ الْإِنْسَانِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْآخِرَةِ، فَأَيُّمَا أَوْلَى بِالْعَاقِلِ؟ إِيثَارُ الْعَاجِلِ فِي هَذِهِ الْمُدَّةِ الْيَسِيرَةِ، وَحِرْمَانُ الْخَيْرِ الدَّائِمِ فِي الْآخِرَةِ، أَمْ تَرْكُ شَيْءٍ حَقِيرٍ صَغِيرٍ مُنْقَطِعٍ عَنْ قُرْبٍ، لِيَأْخُذَ مَا لَا قِيمَةَ لَهُ وَلَا خَطَرَ لَهُ، وَلَا نِهَايَةَ لِعَدَدِهِ، وَلَا غَايَةَ لِأَمَدِهِ؟ Mendahulukan dunia yang kontan atas akhirat yang tertunda, merupakan tipuan terbesar dan kebodohan terburuk. Jika hadits tadi menjelaskan perbandingan antara dunia secara keseluruhan dan akhirat, maka bagaimana pula dengan perbandingan antara usia manusia dan akhirat? Manakah yang lebih utama bagi orang yang berakal, apakah mengedepankan yang segera untuk jangka waktu yang singkat dan terhalang dari kebaikan abadi di akhirat; ataukah meninggalkan sesuatu yang kecil, hina, dan akan sirna dalam waktu dekat untuk mengambil sesuatu yang tidak terkira nilainya, tidak ada bahayanya, tidak terbatas bilangannya, dan tidak ada limit waktunya?   Keagungan Penciptaan Manusia sebagai Bukti Keesaan Allah وَإِذَا تَأَمَّلَ الْإِنْسَانُ حَالَهُ مِنْ مَبْدَأِ كَوْنِهِ نُطْفَةً إِلَى حِينِ كَمَالِهِ وَاسْتِوَائِهِ تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّ مَنْ عُنِيَ بِهِ هَذِهِ الْعِنَايَةَ، وَنَقَلَهُ إِلَى هَذِهِ الْأَحْوَالِ، وَصَرَّفَهُ فِي هَذِهِ الْأَطْوَارِ، لَا يَلِيقُ بِهِ أَنْ يُهْمِلَهُ وَيَتْرُكَهُ سُدًى، لَا يَأْمُرُهُ وَلَا يَنْهَاهُ وَلَا يُعَرِّفُهُ بِحُقُوقِهِ عَلَيْهِ، وَلَا يُثِيبُهُ وَلَا يُعَاقِبُهُ، وَلَوْ تَأَمَّلَ الْعَبْدُ حَقَّ التَّأَمُّلِ لَكَانَ كُلُّ مَا يُبْصِرُهُ وَمَا لَا يُبْصِرُهُ دَلِيلًا لَهُ عَلَى التَّوْحِيدِ وَالنُّبُوَّةِ وَالْمَعَادِ، وَأَنَّ الْقُرْآنَ كَلَامُهُ، وَقَدْ ذَكَرْنَا وَجْهَ الِاسْتِدْلَالِ بِذَلِكَ فِي كِتَابِ إِيمَانِ الْقُرْآنِ عِنْدَ قَوْلِهِ: {فَلَا أُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُونَ – وَمَا لَا تُبْصِرُونَ – إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ} [سُورَةُ الْحَاقَّةِ: ٣٨ – ٤٠] . Seandainya manusia memperhatikan proses kejadiannya dari awal, mulai dari setetes air mani hingga menjadi manusia sempurna, maka jelaslah bahwa Dzat yang mengawasinya, mengubahnya dalam berbagai tahap kejadian, serta membentuknya dalam berbagai wujud tidaklah layak bagi-Nya untuk mengabaikan dan membiarkan manusia begitu saja, tanpa memberi perintah, melarang, mengenalkan hak-hak-Nya, memberi ganjaran, dan tidak menghukumnya. Sekiranya seorang hamba benar-benar memperhatikan secara saksama, tentu segala sesuatu yang dilihat maupun yang tidak dilihatnya akan menjadi dalil baginya tentang tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan, serta bahwasanya Al-Qur’an merupakan firman-Nya.   Dalil Keberadaan Allah dalam Diri Manusia Kami menyebutkan dalilnya dalam kitab al-Qur’an, ketika menyebutkan firman Allah, فَلَا أُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُونَ – وَمَا لَا تُبْصِرُونَ – إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ “Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa. Maka Aku bersumpah demi apa yang kamu lihat, dan demi apa yang tidak kamu lihat. Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) itu benar-benar wahyu (yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia.” (QS. Al-Haqqah: 38-40) Kami juga menyebutkan penggalan masalah ini ketika membawakan firman Allah. وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzāriyāt: 21)   Dalil Keberadaan Allah dalam Diri Manusia وَأَنَّ الْإِنْسَانَ دَلِيلُ نَفْسِهِ عَلَى وُجُودِ خَالِقِهِ وَتَوْحِيدِهِ، وَصِدْقِ رُسُلِهِ، وَإِثْبَاتِ صِفَاتِ كَمَالِهِ. Ayat ini menunjukkan bahwa adanya manusia merupakan dalil (bukti) bagi diri sendiri akan keberadaan Penciptanya, keesaan-Nya, kebenaran para Rasul-Nya, serta penetapan sifat-sifat kesempurnaan-Nya.   Yakin atau Ragu akan Akhirat? فَقَدْ بَانَ أَنَّ الْمُضَيِّعَ مَغْرُورٌ عَلَى التَّقْدِيرَيْنِ: تَقْدِيرِ تَصْدِيقِهِ وَيَقِينِهِ، وَتَقْدِيرِ تَكْذِيبِهِ وَشَكِّهِ. Dengan demikian, jelaslah bahwa orang yang mengabaikan masalah ini telah tertipu dalam dua kemungkinan yang berbeda; bisa jadi dia membenarkan dan meyakininya atau dia mendustakan dan meragukannya.   Catatan Penting tentang Cinta Dunia Pertama: Delapan Hal yang Dicintai Manusia Ada delapan hal yang dicintai manusia, Allah rinci dalam ayat berikut ini. قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Ayat di atas menerangkan tentang orang yang mencintai dunia, yaitu keluarga, harta, bisnis hingga rumah tempat tinggalnya. Ayat di atas kata Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab Tauhid menunjukkan ancaman bagi orang yang menjadikan delapan perkara duniawi tersebut lebih daripada agamanya. Baca juga: Delapan Hal yang Dicintai Manusia dan Cara Mengatasinya Kedua: Tanda Cinta Dunia 1. Mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118) 2. Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal saleh Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى “Siapa yang begitu gila dengan dunianya, maka itu akan memudaratkan akhiratnya. Siapa yang begitu cinta akhiratnya, maka itu akan mengurangi kecintaannya pada dunia. Dahulukanlah negeri yang akan kekal abadi (akhirat) dari negeri yang akan fana (dunia).” (HR. Ahmad, 4:412. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi.) Dalam surah Adz-Dzariyat juga disebutkan, قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ (10) الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ (11) “Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai.” (QS. Adz-Dzariyat: 10-11) Yang dimaksud “alladzina hum fii ghomroh” adalah mereka buta dan jahil akan perkara akhirat. “Saahun” berarti lalai. As-sahwu itu berarti lalai dari sesuatu dan hati tidak memperhatikannya. Sebagaimana hal ini ditafsirkan dalam Zaad Al-Masir karya Ibnul Jauzi. Baca juga: Meninggalkan Kesibukan Dunia itu Berat 3. Kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir Di dalam Majmu’ah Al-Fatawa (9:312), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan perkataaan ulama Syam yaitu Sulaiman Al-Khawwash, “Dzikir bagi hati kedudukannya seperti makanan untuk badan. Ketika badan sakit, tentu seseorang sulit merasakan lezatnya makanan. Demikian pula untuk hati tidak bisa merasakan nikmatnya dzikir ketika seseorang terlalu cinta dunia.” Baca juga: Khutbah Jumat, Tanda Cinta Dunia 4. Tanda cinta dunia lainnya adalah: gila harta, gila jabatan, gila kehormatan, gila ketenaran; hidup mewah dengan pakaian, makanan dan minuman; waktunya sibuk mengejar dunia; ia mengejar dunia lewat amalan akhirat. Yang dimaksud mengejar dunia lewat amalan akhirat, contohnya amalan “shalawatin saja” untuk dapat iphone hingga dapat mobil mahal. Baca juga: Dunia Memang Menggiurkan    Ketiga: Tanda Gila Harta وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ( قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ ( { تَعِسَ عَبْدُ اَلدِّينَارِ, وَالدِّرْهَمِ, وَالْقَطِيفَةِ, إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ, وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ } أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah budak dinar, dirham, dan qathifah (jenis pakaian berbeludru atau kain tenunan berbulu). Jika diberi, ia rida dan jika tidak diberi, ia tidak rida.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6435] Pelajarannya: Yang dimaksud dengan budak dinar dan dirham adalah semangat dalam mencari dunia dan merendahkan diri sehingga yang menjadi budak semangat dalam mengumpulkan harta, hanya sibuk menjaganya. Orang seperti inilah yang dianggap sebagai pelayan dan budak harta. Ia tenggelam dalam syahwat dunia dan mencarinya. Penyebutan dinar, dirham, dan qathifah (pakaian) hanyalah sekadar contoh. Ada juga yang gila kekuasaan, gila foto, cinta pada rumah, dan hal dunia lainnya.  Intinya, segala hal dunia yang menjauhkan dari perintah Allah, maka dianggap sebagai budak dari dunia tersebut. Tandanya adalah kalau dunia didapat, ia rida. Sedangkan, kalau dunia tidak didapat, ia murka. Ia tidak rida pada takdir Allah. Sekadar memiliki dan mengumpulkan dunia tidaklah tercela. Yang tercela adalah memiliki dan mengumpulkan lebih dari kadar hajat lalu menjauhkan seseorang dari Allah, menjauhkan dari beramal saleh. Kalau harta tetap mengantarkan kepada amal saleh, tentu hal itu tidak tercela. Makna “Jika diberi, ia rida dan jika tidak diberi, ia tidak rida” ada dua makna. Makna pertama, berkaitan dengan takdir yang Allah tetapkan. Jika ia ditakdirkan rezeki, ia rida. Jika tidak ditakdirkan, ia murka. Makna kedua, ia rida jika diberi harta syari yang berhak ia peroleh. Jika tidak diberi harta syari yang berhak ia  dapat, ia murka. Kedua makna ini sama-sama menunjukkan bahwa ia rida dan murka tergantung pada harta. Baca juga: Tanda Kita Telah Menjadi Budak Harta Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa seorang ‘Abdullah (hamba Allah) adalah ia yang rida terhadap apa yang diridai oleh Allah, marah terhadap apa yang dimurkai-Nya, mencintai apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, serta membenci apa yang dibenci oleh keduanya. Hamba Allah sejati adalah sosok yang senantiasa menolong wali-wali Allah, yakni orang-orang beriman, dan membenci musuh-musuh Allah Ta’ala dari kalangan orang kafir. Inilah tanda kesempurnaan iman. Namun, jika Allah tidak memberikan sesuatu kepada hamba-Nya, hal itu tidak berarti bahwa Allah bersifat pelit. Kadang, kelapangan atau kesempitan rezeki adalah ujian bagi seorang hamba, untuk menguji apakah ia termasuk dalam golongan yang bersyukur atau tidak, serta apakah ia mampu bersabar atau tidak. Berbeda dengan hamba dunia (‘abdu dunya) yang semata-mata terikat pada kehidupan dunia, seorang hamba Allah sejati (‘Abdullah) memiliki sifat-sifat luhur yang telah disebutkan tadi. (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:190) Baca juga: Hamba Allah dan Budak Dunia Menurut Ibnu Taimiyah   Keempat: Perlukah Seimbang Antara Dunia dan Akhirat? Dalam ayat disebutkan, وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. Al Qashshash: 77). Imam Ibnu Katsir -semoga Allah merahmati beliau- menyebutkan dalam kitab tafsirnya, { وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا } أي: مما أباح الله فيها من المآكل والمشارب والملابس والمساكن والمناكح، فإن لربك عليك حقًّا، ولنفسك عليك حقًّا، ولأهلك عليك حقًّا، ولزورك عليك حقا، فآت كل ذي حق حقه. “Janganlah engkau melupakan nasibmu dari kehidupan dunia yaitu dari yang Allah bolehkan berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan menikah. Rabbmu masih memiliki hak darimu. Dirimu juga memiliki hak. Keluargamu juga memiliki hak. Istrimu pun memiliki hak. Maka tunaikanlah hak-hak setiap yang memiliki hak.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 37). Dalam Tafsir Al Jalalain (hal. 405) disebutkan maksud dari ayat tersebut, “Janganlah engkau tinggalkan nasibmu di dunia yaitu hendaklah di dunia ini engkau beramal untuk akhiratmu.” Syaikh ‘Abdurrahman  bin Nashir As Sa’di dalam Taisir Karimir Rahman (hlm. 623), “Engkau telah menggenggam berbagai cara untuk menggapai kebahagiaan akhirat dengan harta, yang harta tersebut tidaklah dimiliki selainmu. Haraplah dengan harta tersebut untuk menggapai ridho Allah. Janganlah nikmat dunia digunakan untuk memenuhi syahwat dan kelezatan semata. Jangan pula sampai lupa nasibmu di dunia, yaitu Allah tidak memerintahkan supaya manusia menginfakkan seluruh hartanya, sehingga lalai dari menafkahi yang wajib. Namun infaklah dengan niatan untuk akhiratmu. Bersenang-senanglah pula dengan duniamu namun jangan sampai melalaikan agama dan membahayakan kehidupan akhiratmu kelak.” Baca juga: Jangan Lupakan Nasib Kalian di Dunia?   Kelima: Agar Tidak Cinta Dunia Marilah belajar agama, luangkanlah waktu walau sesibuk apa pun untuk mendalami ilmu Islam. Harus yakin dunia itu hina dan yakin dunia itu akan fana dibanding akhirat yang kekal abadi. Qana’ah (nerimo) dengan yang sedikit, apa saja yang Allah beri. Mendahulukan rida Allah daripada hawa nafsu, keluarga, dan kepentingan dunia. Sabar dan haraplah kenikmatan yang begitu banyak di surga. Sikap yang seharusnya terhadap dunia sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim, no. 2392) Al-Munawi rahimahullah dalam Mirqah Al-Mafatih menjelaskan, “Dikatakan dalam penjara karena orang mukmin terhalang untuk melakukan syahwat yang diharamkan. Sedangkan keadaan orang kafir adalah sebaliknya sehingga seakan-akan ia berada di surga.” Baca juga: Tanda Cinta Dunia dan Cara Menghindarinya (Khutbah Jumat)   Kesimpulan Mencintai dunia yang fana dan mengabaikan akhirat adalah kebodohan besar, sebab dunia hanya sementara, sedangkan akhirat kekal abadi. Ibnul Qayyim rahimahullah mengingatkan bahwa meskipun dunia adalah sesuatu yang “kontan,” kita tidak boleh lupa bahwa akhirat adalah yang hakiki dan akan kita temui. Sebagai seorang mukmin, dunia hanya alat untuk meraih akhirat, bukan tujuan utama yang melalaikan kita dari kehidupan yang lebih tinggi. Baca juga: Apakah Benar Ungkapan: Bekerjalah untuk Duniamu Seakan-Akan Engkau Hidup Selamanya? Cinta Dunia dan Takut Mati – Ditulis pada 27 Rabiuts Tsani 1446 H, 30 Oktober 2024 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsal jawabul kaafi budak dunia cinta dunia faedah dari Ibnul Qayyim nasihat ibnul qayyim

Dampak Mengutamakan Dunia: Kehidupan Fana vs Keabadian Akhirat

Kehidupan dunia sering kali memikat dengan segala keindahan dan kemewahannya, membuat banyak orang lupa akan akhirat yang abadi. Mengutamakan dunia menjadi pilihan bagi sebagian orang, yang memilih yang fana daripada yang kekal, mengutamakan kesenangan sesaat di atas kenikmatan yang tak terbatas. Tulisan ini akan mengupas tentang tipuan dunia yang menggerogoti manusia, serta pentingnya menyadari hakikat kehidupan sejati di akhirat.   Daftar Isi tutup 1. Kebodohan Terbesar: Mengutamakan Dunia atas Akhirat 2. Kontan Dunia atau Akhirat yang Tertunda? 3. Kepastian Dunia dan Keraguan Akhirat? 4. Perbandingan Dunia dan Akhirat dalam Hadits 5. Akhirat itu Suatu yang Meragukan, Dunia itu Suatu yang Pasti? 6. Kerugian Mengutamakan Dunia: Perbandingan Waktu Dunia dan Akhirat 7. Keagungan Penciptaan Manusia sebagai Bukti Keesaan Allah 8. Dalil Keberadaan Allah dalam Diri Manusia 9. Dalil Keberadaan Allah dalam Diri Manusia 10. Yakin atau Ragu akan Akhirat? 11. Catatan Penting tentang Cinta Dunia 11.1. Pertama: Delapan Hal yang Dicintai Manusia 11.2. Kedua: Tanda Cinta Dunia 11.2.1. 1. Mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran 11.2.2. 2. Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal saleh 11.2.3. 3. Kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir 11.2.4. 4. Tanda cinta dunia lainnya adalah: 11.3. Ketiga: Tanda Gila Harta 11.4. Keempat: Perlukah Seimbang Antara Dunia dan Akhirat? 11.5. Kelima: Agar Tidak Cinta Dunia 12. Kesimpulan   Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 55-59, di antara poin-poin pentingnya adalah sebagai berikut. Kebodohan Terbesar: Mengutamakan Dunia atas Akhirat وَأَعْظَمُ الْخَلْقِ غُرُورًا مَنِ اغْتَرَّ بِالدُّنْيَا وَعَاجَلَهَا، فَآثَرَهَا عَلَى الْآخِرَةِ، وَرَضِيَ بِهَا مِنَ الْآخِرَةِ، حَتَّى يَقُولَ بَعْضُ هَؤُلَاءِ: الدُّنْيَا نَقْدٌ، وَالْآخِرَةُ نَسِيئَةٌ، وَالنَّقْدُ أَحْسَنُ مِنَ النَّسِيئَةِ. “Manusia yang paling tertipu adalah yang teperdaya oleh kehidupan dunia yang tampak di hadapan mereka. Bahkan, mereka lebih meridhai dan mengutamakan dunia daripada akhirat. Sampai-sampai, sebagian mereka menyatakan: ‘Dunia adalah sesuatu yang kontan, sedangkan akhirat adalah tertunda. Kontan lebih bermanfaat dibandingkan yang tertunda.’   Kontan Dunia atau Akhirat yang Tertunda? وَيَقُولُ بَعْضُهُمْ: ذَرَّةٌ مَنْقُودَةٌ، وَلَا دُرَّةٌ مَوْعُودَةٌ. Sebagian menegaskan: “Seukuran kecil yang diberikan secara kontan masih lebih baik daripada mutiara yang dijanjikan.”   Kepastian Dunia dan Keraguan Akhirat? وَيَقُولُ آخَرُ مِنْهُمْ: لَذَّاتُ الدُّنْيَا مُتَيَقَّنَةٌ، وَلَذَّاتُ الْآخِرَةِ مَشْكُوكٌ فِيهَا، وَلَا أَدَعُ الْيَقِينَ بِالشَّكِّ. Ada juga yang mengungkapkan: “Kelezatan dunia merupakan perkara yang pasti. Sebaliknya, kelezatan akhirat merupakan perkara yang masih diragukan. Saya tidak akan mengganti perkara yang pasti dengan perkara yang meragukan.” Adapun pernyataan bahwa: “Kontan lebih baik daripada yang tertunda,” maka jawabannya: Jika sesuatu yang kontan dan yang tertunda itu sama nilainya, maka kontan lebih baik dibandingkan yang tertunda. Namun, apabila berbeda, yaitu ketika perkara yang tertunda jauh lebih banyak dan lebih baik, maka tentulah ia yang lebih baik. Lantas, bagaimana seandainya dunia seluruhnya, dari awal hingga akhirnya, hanyalah merupakan satu napas dari sekian banyak napas di akhirat?!   Perbandingan Dunia dan Akhirat dalam Hadits Di dalam al-Musnad karya Imam Ahmad dan at-Tirmidzi, dari al-Mustaurid bin Syaddad, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا كَمَا يُدْخِلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟ “Tiadalah dunia dibandingkan akhirat, melainkan seperti salah satu dari kalian mencelupkan jarinya ke dalam laut. Hendaklah ia perhatikan apa yang dia dapatkan (dari air yang masih menempel di jarinya).” Catatan: Allah Ta’ala berfirman, مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An Nahl: 96) بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (17) “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’laa: 16-17) Malik bin Dinar berkata: لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا مِنْ ذَهَبٍ يَفْنَى ، وَالآخِرَةُ مِنْ خَزَفٍ يَبْقَى لَكَانَ الوَاجِبُ أَنْ يُؤْثِرَ خَزَفٍ يَبْقَى عَلَى ذَهَبٍ يَفْنَى ، فَكَيْفَ وَالآخِرَةُ مِنْ ذَهَبٍٍِ يَبْقَى ، وَالدُّنْيَا مِنْ خَزَفٍ يَفْنَى؟ “Seandainya dunia adalah emas yang akan fana, dan akhirat adalah tembikar yang kekal abadi, maka tentu saja seseorang wajib memilih sesuatu yang kekal abadi (yaitu tembikar) daripada emas yang nanti akan fana. Padahal sejatinya akhirat adalah emas yang kekal abadi dan dunia adalah tembikar yang nantinya fana.” (Lihat Fathul Qodir, Imam Asy-Syaukani, 5:567-568) Baca juga: Jangan-Jangan KIta Terjangkiti Penyakit Cinta Dunia Nikmat Dunia Pasti Akan Sirna   Akhirat itu Suatu yang Meragukan, Dunia itu Suatu yang Pasti? Adapun perkataan orang yang lain: ‘Aku tidak akan meninggalkan sesuatu yang sudah pasti demi sesuatu yang diragukan,’ maka dikatakan kepadanya: ‘Engkau mungkin berada dalam keraguan terhadap janji dan ancaman Allah serta kebenaran rasul-rasul-Nya, atau engkau berada dalam keyakinan akan hal tersebut. Jika engkau memiliki keyakinan, maka yang engkau tinggalkan hanyalah sesuatu yang fana, sementara, dan akan segera hilang, karena itu adalah sesuatu yang pasti, tidak ada keraguan maupun keterputusan padanya.” Jika engkau berada dalam keraguan, maka renungkanlah ayat-ayat Rabb Yang Maha Tinggi yang menunjukkan adanya keberadaan-Nya, kekuasaan-Nya, kehendak-Nya, keesaan-Nya, serta kebenaran rasul-rasul-Nya dalam apa yang mereka sampaikan dari Allah. Bersihkanlah niatmu dan berdirilah untuk Allah, baik sebagai seorang pencari kebenaran atau sebagai penelaah, hingga jelas bagimu bahwa apa yang dibawa oleh para rasul dari Allah adalah kebenaran yang tidak ada keraguan padanya. Sesungguhnya Pencipta alam semesta ini, Rabb langit dan bumi, Maha Tinggi, Maha Suci, dan terbebas dari segala hal yang bertentangan dengan apa yang diberitakan oleh para rasul-Nya tentang-Nya. Barang siapa yang menyandarkan kepada-Nya selain hal tersebut, maka dia telah mencela dan mendustakan-Nya, serta menolak ketuhanan dan kekuasaan-Nya. Sebab mustahil bagi siapa pun yang memiliki fitrah yang sehat, bahwa Raja Yang Maha Benar itu tidak memiliki kekuasaan atau tidak memiliki ilmu, tidak mengetahui apa pun, tidak mendengar, tidak melihat, tidak berbicara, tidak memerintah, tidak melarang, tidak memberi pahala, tidak menghukum, tidak memuliakan siapa yang Dia kehendaki, dan tidak menghinakan siapa yang Dia kehendaki, serta tidak mengutus rasul-rasul-Nya ke seluruh penjuru kerajaan-Nya, dan tidak peduli dengan keadaan rakyat-Nya, melainkan membiarkan mereka tanpa aturan dan meninggalkan mereka begitu saja. Hal ini bahkan merusak kepemilikan para raja dari kalangan manusia, dan tidak layak bagi mereka. Maka bagaimana mungkin hal tersebut layak disandarkan kepada Raja Yang Maha Benar lagi Maha Nyata?   Kerugian Mengutamakan Dunia: Perbandingan Waktu Dunia dan Akhirat فَإِيثَارُ هَذَا النَّقْدِ عَلَى هَذِهِ النَّسِيئَةِ، مِنْ أَعْظَمِ الْغَبْنِ وَأَقْبَحِ الْجَهْلِ، وَإِذَا كَانَ هَذَا نِسْبَةَ الدُّنْيَا بِمَجْمُوعِهَا إِلَى الْآخِرَةِ، فَمَا مِقْدَارُ عُمُرِ الْإِنْسَانِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْآخِرَةِ، فَأَيُّمَا أَوْلَى بِالْعَاقِلِ؟ إِيثَارُ الْعَاجِلِ فِي هَذِهِ الْمُدَّةِ الْيَسِيرَةِ، وَحِرْمَانُ الْخَيْرِ الدَّائِمِ فِي الْآخِرَةِ، أَمْ تَرْكُ شَيْءٍ حَقِيرٍ صَغِيرٍ مُنْقَطِعٍ عَنْ قُرْبٍ، لِيَأْخُذَ مَا لَا قِيمَةَ لَهُ وَلَا خَطَرَ لَهُ، وَلَا نِهَايَةَ لِعَدَدِهِ، وَلَا غَايَةَ لِأَمَدِهِ؟ Mendahulukan dunia yang kontan atas akhirat yang tertunda, merupakan tipuan terbesar dan kebodohan terburuk. Jika hadits tadi menjelaskan perbandingan antara dunia secara keseluruhan dan akhirat, maka bagaimana pula dengan perbandingan antara usia manusia dan akhirat? Manakah yang lebih utama bagi orang yang berakal, apakah mengedepankan yang segera untuk jangka waktu yang singkat dan terhalang dari kebaikan abadi di akhirat; ataukah meninggalkan sesuatu yang kecil, hina, dan akan sirna dalam waktu dekat untuk mengambil sesuatu yang tidak terkira nilainya, tidak ada bahayanya, tidak terbatas bilangannya, dan tidak ada limit waktunya?   Keagungan Penciptaan Manusia sebagai Bukti Keesaan Allah وَإِذَا تَأَمَّلَ الْإِنْسَانُ حَالَهُ مِنْ مَبْدَأِ كَوْنِهِ نُطْفَةً إِلَى حِينِ كَمَالِهِ وَاسْتِوَائِهِ تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّ مَنْ عُنِيَ بِهِ هَذِهِ الْعِنَايَةَ، وَنَقَلَهُ إِلَى هَذِهِ الْأَحْوَالِ، وَصَرَّفَهُ فِي هَذِهِ الْأَطْوَارِ، لَا يَلِيقُ بِهِ أَنْ يُهْمِلَهُ وَيَتْرُكَهُ سُدًى، لَا يَأْمُرُهُ وَلَا يَنْهَاهُ وَلَا يُعَرِّفُهُ بِحُقُوقِهِ عَلَيْهِ، وَلَا يُثِيبُهُ وَلَا يُعَاقِبُهُ، وَلَوْ تَأَمَّلَ الْعَبْدُ حَقَّ التَّأَمُّلِ لَكَانَ كُلُّ مَا يُبْصِرُهُ وَمَا لَا يُبْصِرُهُ دَلِيلًا لَهُ عَلَى التَّوْحِيدِ وَالنُّبُوَّةِ وَالْمَعَادِ، وَأَنَّ الْقُرْآنَ كَلَامُهُ، وَقَدْ ذَكَرْنَا وَجْهَ الِاسْتِدْلَالِ بِذَلِكَ فِي كِتَابِ إِيمَانِ الْقُرْآنِ عِنْدَ قَوْلِهِ: {فَلَا أُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُونَ – وَمَا لَا تُبْصِرُونَ – إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ} [سُورَةُ الْحَاقَّةِ: ٣٨ – ٤٠] . Seandainya manusia memperhatikan proses kejadiannya dari awal, mulai dari setetes air mani hingga menjadi manusia sempurna, maka jelaslah bahwa Dzat yang mengawasinya, mengubahnya dalam berbagai tahap kejadian, serta membentuknya dalam berbagai wujud tidaklah layak bagi-Nya untuk mengabaikan dan membiarkan manusia begitu saja, tanpa memberi perintah, melarang, mengenalkan hak-hak-Nya, memberi ganjaran, dan tidak menghukumnya. Sekiranya seorang hamba benar-benar memperhatikan secara saksama, tentu segala sesuatu yang dilihat maupun yang tidak dilihatnya akan menjadi dalil baginya tentang tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan, serta bahwasanya Al-Qur’an merupakan firman-Nya.   Dalil Keberadaan Allah dalam Diri Manusia Kami menyebutkan dalilnya dalam kitab al-Qur’an, ketika menyebutkan firman Allah, فَلَا أُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُونَ – وَمَا لَا تُبْصِرُونَ – إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ “Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa. Maka Aku bersumpah demi apa yang kamu lihat, dan demi apa yang tidak kamu lihat. Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) itu benar-benar wahyu (yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia.” (QS. Al-Haqqah: 38-40) Kami juga menyebutkan penggalan masalah ini ketika membawakan firman Allah. وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzāriyāt: 21)   Dalil Keberadaan Allah dalam Diri Manusia وَأَنَّ الْإِنْسَانَ دَلِيلُ نَفْسِهِ عَلَى وُجُودِ خَالِقِهِ وَتَوْحِيدِهِ، وَصِدْقِ رُسُلِهِ، وَإِثْبَاتِ صِفَاتِ كَمَالِهِ. Ayat ini menunjukkan bahwa adanya manusia merupakan dalil (bukti) bagi diri sendiri akan keberadaan Penciptanya, keesaan-Nya, kebenaran para Rasul-Nya, serta penetapan sifat-sifat kesempurnaan-Nya.   Yakin atau Ragu akan Akhirat? فَقَدْ بَانَ أَنَّ الْمُضَيِّعَ مَغْرُورٌ عَلَى التَّقْدِيرَيْنِ: تَقْدِيرِ تَصْدِيقِهِ وَيَقِينِهِ، وَتَقْدِيرِ تَكْذِيبِهِ وَشَكِّهِ. Dengan demikian, jelaslah bahwa orang yang mengabaikan masalah ini telah tertipu dalam dua kemungkinan yang berbeda; bisa jadi dia membenarkan dan meyakininya atau dia mendustakan dan meragukannya.   Catatan Penting tentang Cinta Dunia Pertama: Delapan Hal yang Dicintai Manusia Ada delapan hal yang dicintai manusia, Allah rinci dalam ayat berikut ini. قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Ayat di atas menerangkan tentang orang yang mencintai dunia, yaitu keluarga, harta, bisnis hingga rumah tempat tinggalnya. Ayat di atas kata Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab Tauhid menunjukkan ancaman bagi orang yang menjadikan delapan perkara duniawi tersebut lebih daripada agamanya. Baca juga: Delapan Hal yang Dicintai Manusia dan Cara Mengatasinya Kedua: Tanda Cinta Dunia 1. Mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118) 2. Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal saleh Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى “Siapa yang begitu gila dengan dunianya, maka itu akan memudaratkan akhiratnya. Siapa yang begitu cinta akhiratnya, maka itu akan mengurangi kecintaannya pada dunia. Dahulukanlah negeri yang akan kekal abadi (akhirat) dari negeri yang akan fana (dunia).” (HR. Ahmad, 4:412. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi.) Dalam surah Adz-Dzariyat juga disebutkan, قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ (10) الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ (11) “Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai.” (QS. Adz-Dzariyat: 10-11) Yang dimaksud “alladzina hum fii ghomroh” adalah mereka buta dan jahil akan perkara akhirat. “Saahun” berarti lalai. As-sahwu itu berarti lalai dari sesuatu dan hati tidak memperhatikannya. Sebagaimana hal ini ditafsirkan dalam Zaad Al-Masir karya Ibnul Jauzi. Baca juga: Meninggalkan Kesibukan Dunia itu Berat 3. Kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir Di dalam Majmu’ah Al-Fatawa (9:312), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan perkataaan ulama Syam yaitu Sulaiman Al-Khawwash, “Dzikir bagi hati kedudukannya seperti makanan untuk badan. Ketika badan sakit, tentu seseorang sulit merasakan lezatnya makanan. Demikian pula untuk hati tidak bisa merasakan nikmatnya dzikir ketika seseorang terlalu cinta dunia.” Baca juga: Khutbah Jumat, Tanda Cinta Dunia 4. Tanda cinta dunia lainnya adalah: gila harta, gila jabatan, gila kehormatan, gila ketenaran; hidup mewah dengan pakaian, makanan dan minuman; waktunya sibuk mengejar dunia; ia mengejar dunia lewat amalan akhirat. Yang dimaksud mengejar dunia lewat amalan akhirat, contohnya amalan “shalawatin saja” untuk dapat iphone hingga dapat mobil mahal. Baca juga: Dunia Memang Menggiurkan    Ketiga: Tanda Gila Harta وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ( قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ ( { تَعِسَ عَبْدُ اَلدِّينَارِ, وَالدِّرْهَمِ, وَالْقَطِيفَةِ, إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ, وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ } أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah budak dinar, dirham, dan qathifah (jenis pakaian berbeludru atau kain tenunan berbulu). Jika diberi, ia rida dan jika tidak diberi, ia tidak rida.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6435] Pelajarannya: Yang dimaksud dengan budak dinar dan dirham adalah semangat dalam mencari dunia dan merendahkan diri sehingga yang menjadi budak semangat dalam mengumpulkan harta, hanya sibuk menjaganya. Orang seperti inilah yang dianggap sebagai pelayan dan budak harta. Ia tenggelam dalam syahwat dunia dan mencarinya. Penyebutan dinar, dirham, dan qathifah (pakaian) hanyalah sekadar contoh. Ada juga yang gila kekuasaan, gila foto, cinta pada rumah, dan hal dunia lainnya.  Intinya, segala hal dunia yang menjauhkan dari perintah Allah, maka dianggap sebagai budak dari dunia tersebut. Tandanya adalah kalau dunia didapat, ia rida. Sedangkan, kalau dunia tidak didapat, ia murka. Ia tidak rida pada takdir Allah. Sekadar memiliki dan mengumpulkan dunia tidaklah tercela. Yang tercela adalah memiliki dan mengumpulkan lebih dari kadar hajat lalu menjauhkan seseorang dari Allah, menjauhkan dari beramal saleh. Kalau harta tetap mengantarkan kepada amal saleh, tentu hal itu tidak tercela. Makna “Jika diberi, ia rida dan jika tidak diberi, ia tidak rida” ada dua makna. Makna pertama, berkaitan dengan takdir yang Allah tetapkan. Jika ia ditakdirkan rezeki, ia rida. Jika tidak ditakdirkan, ia murka. Makna kedua, ia rida jika diberi harta syari yang berhak ia peroleh. Jika tidak diberi harta syari yang berhak ia  dapat, ia murka. Kedua makna ini sama-sama menunjukkan bahwa ia rida dan murka tergantung pada harta. Baca juga: Tanda Kita Telah Menjadi Budak Harta Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa seorang ‘Abdullah (hamba Allah) adalah ia yang rida terhadap apa yang diridai oleh Allah, marah terhadap apa yang dimurkai-Nya, mencintai apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, serta membenci apa yang dibenci oleh keduanya. Hamba Allah sejati adalah sosok yang senantiasa menolong wali-wali Allah, yakni orang-orang beriman, dan membenci musuh-musuh Allah Ta’ala dari kalangan orang kafir. Inilah tanda kesempurnaan iman. Namun, jika Allah tidak memberikan sesuatu kepada hamba-Nya, hal itu tidak berarti bahwa Allah bersifat pelit. Kadang, kelapangan atau kesempitan rezeki adalah ujian bagi seorang hamba, untuk menguji apakah ia termasuk dalam golongan yang bersyukur atau tidak, serta apakah ia mampu bersabar atau tidak. Berbeda dengan hamba dunia (‘abdu dunya) yang semata-mata terikat pada kehidupan dunia, seorang hamba Allah sejati (‘Abdullah) memiliki sifat-sifat luhur yang telah disebutkan tadi. (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:190) Baca juga: Hamba Allah dan Budak Dunia Menurut Ibnu Taimiyah   Keempat: Perlukah Seimbang Antara Dunia dan Akhirat? Dalam ayat disebutkan, وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. Al Qashshash: 77). Imam Ibnu Katsir -semoga Allah merahmati beliau- menyebutkan dalam kitab tafsirnya, { وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا } أي: مما أباح الله فيها من المآكل والمشارب والملابس والمساكن والمناكح، فإن لربك عليك حقًّا، ولنفسك عليك حقًّا، ولأهلك عليك حقًّا، ولزورك عليك حقا، فآت كل ذي حق حقه. “Janganlah engkau melupakan nasibmu dari kehidupan dunia yaitu dari yang Allah bolehkan berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan menikah. Rabbmu masih memiliki hak darimu. Dirimu juga memiliki hak. Keluargamu juga memiliki hak. Istrimu pun memiliki hak. Maka tunaikanlah hak-hak setiap yang memiliki hak.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 37). Dalam Tafsir Al Jalalain (hal. 405) disebutkan maksud dari ayat tersebut, “Janganlah engkau tinggalkan nasibmu di dunia yaitu hendaklah di dunia ini engkau beramal untuk akhiratmu.” Syaikh ‘Abdurrahman  bin Nashir As Sa’di dalam Taisir Karimir Rahman (hlm. 623), “Engkau telah menggenggam berbagai cara untuk menggapai kebahagiaan akhirat dengan harta, yang harta tersebut tidaklah dimiliki selainmu. Haraplah dengan harta tersebut untuk menggapai ridho Allah. Janganlah nikmat dunia digunakan untuk memenuhi syahwat dan kelezatan semata. Jangan pula sampai lupa nasibmu di dunia, yaitu Allah tidak memerintahkan supaya manusia menginfakkan seluruh hartanya, sehingga lalai dari menafkahi yang wajib. Namun infaklah dengan niatan untuk akhiratmu. Bersenang-senanglah pula dengan duniamu namun jangan sampai melalaikan agama dan membahayakan kehidupan akhiratmu kelak.” Baca juga: Jangan Lupakan Nasib Kalian di Dunia?   Kelima: Agar Tidak Cinta Dunia Marilah belajar agama, luangkanlah waktu walau sesibuk apa pun untuk mendalami ilmu Islam. Harus yakin dunia itu hina dan yakin dunia itu akan fana dibanding akhirat yang kekal abadi. Qana’ah (nerimo) dengan yang sedikit, apa saja yang Allah beri. Mendahulukan rida Allah daripada hawa nafsu, keluarga, dan kepentingan dunia. Sabar dan haraplah kenikmatan yang begitu banyak di surga. Sikap yang seharusnya terhadap dunia sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim, no. 2392) Al-Munawi rahimahullah dalam Mirqah Al-Mafatih menjelaskan, “Dikatakan dalam penjara karena orang mukmin terhalang untuk melakukan syahwat yang diharamkan. Sedangkan keadaan orang kafir adalah sebaliknya sehingga seakan-akan ia berada di surga.” Baca juga: Tanda Cinta Dunia dan Cara Menghindarinya (Khutbah Jumat)   Kesimpulan Mencintai dunia yang fana dan mengabaikan akhirat adalah kebodohan besar, sebab dunia hanya sementara, sedangkan akhirat kekal abadi. Ibnul Qayyim rahimahullah mengingatkan bahwa meskipun dunia adalah sesuatu yang “kontan,” kita tidak boleh lupa bahwa akhirat adalah yang hakiki dan akan kita temui. Sebagai seorang mukmin, dunia hanya alat untuk meraih akhirat, bukan tujuan utama yang melalaikan kita dari kehidupan yang lebih tinggi. Baca juga: Apakah Benar Ungkapan: Bekerjalah untuk Duniamu Seakan-Akan Engkau Hidup Selamanya? Cinta Dunia dan Takut Mati – Ditulis pada 27 Rabiuts Tsani 1446 H, 30 Oktober 2024 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsal jawabul kaafi budak dunia cinta dunia faedah dari Ibnul Qayyim nasihat ibnul qayyim
Kehidupan dunia sering kali memikat dengan segala keindahan dan kemewahannya, membuat banyak orang lupa akan akhirat yang abadi. Mengutamakan dunia menjadi pilihan bagi sebagian orang, yang memilih yang fana daripada yang kekal, mengutamakan kesenangan sesaat di atas kenikmatan yang tak terbatas. Tulisan ini akan mengupas tentang tipuan dunia yang menggerogoti manusia, serta pentingnya menyadari hakikat kehidupan sejati di akhirat.   Daftar Isi tutup 1. Kebodohan Terbesar: Mengutamakan Dunia atas Akhirat 2. Kontan Dunia atau Akhirat yang Tertunda? 3. Kepastian Dunia dan Keraguan Akhirat? 4. Perbandingan Dunia dan Akhirat dalam Hadits 5. Akhirat itu Suatu yang Meragukan, Dunia itu Suatu yang Pasti? 6. Kerugian Mengutamakan Dunia: Perbandingan Waktu Dunia dan Akhirat 7. Keagungan Penciptaan Manusia sebagai Bukti Keesaan Allah 8. Dalil Keberadaan Allah dalam Diri Manusia 9. Dalil Keberadaan Allah dalam Diri Manusia 10. Yakin atau Ragu akan Akhirat? 11. Catatan Penting tentang Cinta Dunia 11.1. Pertama: Delapan Hal yang Dicintai Manusia 11.2. Kedua: Tanda Cinta Dunia 11.2.1. 1. Mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran 11.2.2. 2. Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal saleh 11.2.3. 3. Kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir 11.2.4. 4. Tanda cinta dunia lainnya adalah: 11.3. Ketiga: Tanda Gila Harta 11.4. Keempat: Perlukah Seimbang Antara Dunia dan Akhirat? 11.5. Kelima: Agar Tidak Cinta Dunia 12. Kesimpulan   Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 55-59, di antara poin-poin pentingnya adalah sebagai berikut. Kebodohan Terbesar: Mengutamakan Dunia atas Akhirat وَأَعْظَمُ الْخَلْقِ غُرُورًا مَنِ اغْتَرَّ بِالدُّنْيَا وَعَاجَلَهَا، فَآثَرَهَا عَلَى الْآخِرَةِ، وَرَضِيَ بِهَا مِنَ الْآخِرَةِ، حَتَّى يَقُولَ بَعْضُ هَؤُلَاءِ: الدُّنْيَا نَقْدٌ، وَالْآخِرَةُ نَسِيئَةٌ، وَالنَّقْدُ أَحْسَنُ مِنَ النَّسِيئَةِ. “Manusia yang paling tertipu adalah yang teperdaya oleh kehidupan dunia yang tampak di hadapan mereka. Bahkan, mereka lebih meridhai dan mengutamakan dunia daripada akhirat. Sampai-sampai, sebagian mereka menyatakan: ‘Dunia adalah sesuatu yang kontan, sedangkan akhirat adalah tertunda. Kontan lebih bermanfaat dibandingkan yang tertunda.’   Kontan Dunia atau Akhirat yang Tertunda? وَيَقُولُ بَعْضُهُمْ: ذَرَّةٌ مَنْقُودَةٌ، وَلَا دُرَّةٌ مَوْعُودَةٌ. Sebagian menegaskan: “Seukuran kecil yang diberikan secara kontan masih lebih baik daripada mutiara yang dijanjikan.”   Kepastian Dunia dan Keraguan Akhirat? وَيَقُولُ آخَرُ مِنْهُمْ: لَذَّاتُ الدُّنْيَا مُتَيَقَّنَةٌ، وَلَذَّاتُ الْآخِرَةِ مَشْكُوكٌ فِيهَا، وَلَا أَدَعُ الْيَقِينَ بِالشَّكِّ. Ada juga yang mengungkapkan: “Kelezatan dunia merupakan perkara yang pasti. Sebaliknya, kelezatan akhirat merupakan perkara yang masih diragukan. Saya tidak akan mengganti perkara yang pasti dengan perkara yang meragukan.” Adapun pernyataan bahwa: “Kontan lebih baik daripada yang tertunda,” maka jawabannya: Jika sesuatu yang kontan dan yang tertunda itu sama nilainya, maka kontan lebih baik dibandingkan yang tertunda. Namun, apabila berbeda, yaitu ketika perkara yang tertunda jauh lebih banyak dan lebih baik, maka tentulah ia yang lebih baik. Lantas, bagaimana seandainya dunia seluruhnya, dari awal hingga akhirnya, hanyalah merupakan satu napas dari sekian banyak napas di akhirat?!   Perbandingan Dunia dan Akhirat dalam Hadits Di dalam al-Musnad karya Imam Ahmad dan at-Tirmidzi, dari al-Mustaurid bin Syaddad, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا كَمَا يُدْخِلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟ “Tiadalah dunia dibandingkan akhirat, melainkan seperti salah satu dari kalian mencelupkan jarinya ke dalam laut. Hendaklah ia perhatikan apa yang dia dapatkan (dari air yang masih menempel di jarinya).” Catatan: Allah Ta’ala berfirman, مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An Nahl: 96) بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (17) “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’laa: 16-17) Malik bin Dinar berkata: لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا مِنْ ذَهَبٍ يَفْنَى ، وَالآخِرَةُ مِنْ خَزَفٍ يَبْقَى لَكَانَ الوَاجِبُ أَنْ يُؤْثِرَ خَزَفٍ يَبْقَى عَلَى ذَهَبٍ يَفْنَى ، فَكَيْفَ وَالآخِرَةُ مِنْ ذَهَبٍٍِ يَبْقَى ، وَالدُّنْيَا مِنْ خَزَفٍ يَفْنَى؟ “Seandainya dunia adalah emas yang akan fana, dan akhirat adalah tembikar yang kekal abadi, maka tentu saja seseorang wajib memilih sesuatu yang kekal abadi (yaitu tembikar) daripada emas yang nanti akan fana. Padahal sejatinya akhirat adalah emas yang kekal abadi dan dunia adalah tembikar yang nantinya fana.” (Lihat Fathul Qodir, Imam Asy-Syaukani, 5:567-568) Baca juga: Jangan-Jangan KIta Terjangkiti Penyakit Cinta Dunia Nikmat Dunia Pasti Akan Sirna   Akhirat itu Suatu yang Meragukan, Dunia itu Suatu yang Pasti? Adapun perkataan orang yang lain: ‘Aku tidak akan meninggalkan sesuatu yang sudah pasti demi sesuatu yang diragukan,’ maka dikatakan kepadanya: ‘Engkau mungkin berada dalam keraguan terhadap janji dan ancaman Allah serta kebenaran rasul-rasul-Nya, atau engkau berada dalam keyakinan akan hal tersebut. Jika engkau memiliki keyakinan, maka yang engkau tinggalkan hanyalah sesuatu yang fana, sementara, dan akan segera hilang, karena itu adalah sesuatu yang pasti, tidak ada keraguan maupun keterputusan padanya.” Jika engkau berada dalam keraguan, maka renungkanlah ayat-ayat Rabb Yang Maha Tinggi yang menunjukkan adanya keberadaan-Nya, kekuasaan-Nya, kehendak-Nya, keesaan-Nya, serta kebenaran rasul-rasul-Nya dalam apa yang mereka sampaikan dari Allah. Bersihkanlah niatmu dan berdirilah untuk Allah, baik sebagai seorang pencari kebenaran atau sebagai penelaah, hingga jelas bagimu bahwa apa yang dibawa oleh para rasul dari Allah adalah kebenaran yang tidak ada keraguan padanya. Sesungguhnya Pencipta alam semesta ini, Rabb langit dan bumi, Maha Tinggi, Maha Suci, dan terbebas dari segala hal yang bertentangan dengan apa yang diberitakan oleh para rasul-Nya tentang-Nya. Barang siapa yang menyandarkan kepada-Nya selain hal tersebut, maka dia telah mencela dan mendustakan-Nya, serta menolak ketuhanan dan kekuasaan-Nya. Sebab mustahil bagi siapa pun yang memiliki fitrah yang sehat, bahwa Raja Yang Maha Benar itu tidak memiliki kekuasaan atau tidak memiliki ilmu, tidak mengetahui apa pun, tidak mendengar, tidak melihat, tidak berbicara, tidak memerintah, tidak melarang, tidak memberi pahala, tidak menghukum, tidak memuliakan siapa yang Dia kehendaki, dan tidak menghinakan siapa yang Dia kehendaki, serta tidak mengutus rasul-rasul-Nya ke seluruh penjuru kerajaan-Nya, dan tidak peduli dengan keadaan rakyat-Nya, melainkan membiarkan mereka tanpa aturan dan meninggalkan mereka begitu saja. Hal ini bahkan merusak kepemilikan para raja dari kalangan manusia, dan tidak layak bagi mereka. Maka bagaimana mungkin hal tersebut layak disandarkan kepada Raja Yang Maha Benar lagi Maha Nyata?   Kerugian Mengutamakan Dunia: Perbandingan Waktu Dunia dan Akhirat فَإِيثَارُ هَذَا النَّقْدِ عَلَى هَذِهِ النَّسِيئَةِ، مِنْ أَعْظَمِ الْغَبْنِ وَأَقْبَحِ الْجَهْلِ، وَإِذَا كَانَ هَذَا نِسْبَةَ الدُّنْيَا بِمَجْمُوعِهَا إِلَى الْآخِرَةِ، فَمَا مِقْدَارُ عُمُرِ الْإِنْسَانِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْآخِرَةِ، فَأَيُّمَا أَوْلَى بِالْعَاقِلِ؟ إِيثَارُ الْعَاجِلِ فِي هَذِهِ الْمُدَّةِ الْيَسِيرَةِ، وَحِرْمَانُ الْخَيْرِ الدَّائِمِ فِي الْآخِرَةِ، أَمْ تَرْكُ شَيْءٍ حَقِيرٍ صَغِيرٍ مُنْقَطِعٍ عَنْ قُرْبٍ، لِيَأْخُذَ مَا لَا قِيمَةَ لَهُ وَلَا خَطَرَ لَهُ، وَلَا نِهَايَةَ لِعَدَدِهِ، وَلَا غَايَةَ لِأَمَدِهِ؟ Mendahulukan dunia yang kontan atas akhirat yang tertunda, merupakan tipuan terbesar dan kebodohan terburuk. Jika hadits tadi menjelaskan perbandingan antara dunia secara keseluruhan dan akhirat, maka bagaimana pula dengan perbandingan antara usia manusia dan akhirat? Manakah yang lebih utama bagi orang yang berakal, apakah mengedepankan yang segera untuk jangka waktu yang singkat dan terhalang dari kebaikan abadi di akhirat; ataukah meninggalkan sesuatu yang kecil, hina, dan akan sirna dalam waktu dekat untuk mengambil sesuatu yang tidak terkira nilainya, tidak ada bahayanya, tidak terbatas bilangannya, dan tidak ada limit waktunya?   Keagungan Penciptaan Manusia sebagai Bukti Keesaan Allah وَإِذَا تَأَمَّلَ الْإِنْسَانُ حَالَهُ مِنْ مَبْدَأِ كَوْنِهِ نُطْفَةً إِلَى حِينِ كَمَالِهِ وَاسْتِوَائِهِ تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّ مَنْ عُنِيَ بِهِ هَذِهِ الْعِنَايَةَ، وَنَقَلَهُ إِلَى هَذِهِ الْأَحْوَالِ، وَصَرَّفَهُ فِي هَذِهِ الْأَطْوَارِ، لَا يَلِيقُ بِهِ أَنْ يُهْمِلَهُ وَيَتْرُكَهُ سُدًى، لَا يَأْمُرُهُ وَلَا يَنْهَاهُ وَلَا يُعَرِّفُهُ بِحُقُوقِهِ عَلَيْهِ، وَلَا يُثِيبُهُ وَلَا يُعَاقِبُهُ، وَلَوْ تَأَمَّلَ الْعَبْدُ حَقَّ التَّأَمُّلِ لَكَانَ كُلُّ مَا يُبْصِرُهُ وَمَا لَا يُبْصِرُهُ دَلِيلًا لَهُ عَلَى التَّوْحِيدِ وَالنُّبُوَّةِ وَالْمَعَادِ، وَأَنَّ الْقُرْآنَ كَلَامُهُ، وَقَدْ ذَكَرْنَا وَجْهَ الِاسْتِدْلَالِ بِذَلِكَ فِي كِتَابِ إِيمَانِ الْقُرْآنِ عِنْدَ قَوْلِهِ: {فَلَا أُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُونَ – وَمَا لَا تُبْصِرُونَ – إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ} [سُورَةُ الْحَاقَّةِ: ٣٨ – ٤٠] . Seandainya manusia memperhatikan proses kejadiannya dari awal, mulai dari setetes air mani hingga menjadi manusia sempurna, maka jelaslah bahwa Dzat yang mengawasinya, mengubahnya dalam berbagai tahap kejadian, serta membentuknya dalam berbagai wujud tidaklah layak bagi-Nya untuk mengabaikan dan membiarkan manusia begitu saja, tanpa memberi perintah, melarang, mengenalkan hak-hak-Nya, memberi ganjaran, dan tidak menghukumnya. Sekiranya seorang hamba benar-benar memperhatikan secara saksama, tentu segala sesuatu yang dilihat maupun yang tidak dilihatnya akan menjadi dalil baginya tentang tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan, serta bahwasanya Al-Qur’an merupakan firman-Nya.   Dalil Keberadaan Allah dalam Diri Manusia Kami menyebutkan dalilnya dalam kitab al-Qur’an, ketika menyebutkan firman Allah, فَلَا أُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُونَ – وَمَا لَا تُبْصِرُونَ – إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ “Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa. Maka Aku bersumpah demi apa yang kamu lihat, dan demi apa yang tidak kamu lihat. Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) itu benar-benar wahyu (yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia.” (QS. Al-Haqqah: 38-40) Kami juga menyebutkan penggalan masalah ini ketika membawakan firman Allah. وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzāriyāt: 21)   Dalil Keberadaan Allah dalam Diri Manusia وَأَنَّ الْإِنْسَانَ دَلِيلُ نَفْسِهِ عَلَى وُجُودِ خَالِقِهِ وَتَوْحِيدِهِ، وَصِدْقِ رُسُلِهِ، وَإِثْبَاتِ صِفَاتِ كَمَالِهِ. Ayat ini menunjukkan bahwa adanya manusia merupakan dalil (bukti) bagi diri sendiri akan keberadaan Penciptanya, keesaan-Nya, kebenaran para Rasul-Nya, serta penetapan sifat-sifat kesempurnaan-Nya.   Yakin atau Ragu akan Akhirat? فَقَدْ بَانَ أَنَّ الْمُضَيِّعَ مَغْرُورٌ عَلَى التَّقْدِيرَيْنِ: تَقْدِيرِ تَصْدِيقِهِ وَيَقِينِهِ، وَتَقْدِيرِ تَكْذِيبِهِ وَشَكِّهِ. Dengan demikian, jelaslah bahwa orang yang mengabaikan masalah ini telah tertipu dalam dua kemungkinan yang berbeda; bisa jadi dia membenarkan dan meyakininya atau dia mendustakan dan meragukannya.   Catatan Penting tentang Cinta Dunia Pertama: Delapan Hal yang Dicintai Manusia Ada delapan hal yang dicintai manusia, Allah rinci dalam ayat berikut ini. قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Ayat di atas menerangkan tentang orang yang mencintai dunia, yaitu keluarga, harta, bisnis hingga rumah tempat tinggalnya. Ayat di atas kata Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab Tauhid menunjukkan ancaman bagi orang yang menjadikan delapan perkara duniawi tersebut lebih daripada agamanya. Baca juga: Delapan Hal yang Dicintai Manusia dan Cara Mengatasinya Kedua: Tanda Cinta Dunia 1. Mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118) 2. Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal saleh Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى “Siapa yang begitu gila dengan dunianya, maka itu akan memudaratkan akhiratnya. Siapa yang begitu cinta akhiratnya, maka itu akan mengurangi kecintaannya pada dunia. Dahulukanlah negeri yang akan kekal abadi (akhirat) dari negeri yang akan fana (dunia).” (HR. Ahmad, 4:412. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi.) Dalam surah Adz-Dzariyat juga disebutkan, قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ (10) الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ (11) “Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai.” (QS. Adz-Dzariyat: 10-11) Yang dimaksud “alladzina hum fii ghomroh” adalah mereka buta dan jahil akan perkara akhirat. “Saahun” berarti lalai. As-sahwu itu berarti lalai dari sesuatu dan hati tidak memperhatikannya. Sebagaimana hal ini ditafsirkan dalam Zaad Al-Masir karya Ibnul Jauzi. Baca juga: Meninggalkan Kesibukan Dunia itu Berat 3. Kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir Di dalam Majmu’ah Al-Fatawa (9:312), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan perkataaan ulama Syam yaitu Sulaiman Al-Khawwash, “Dzikir bagi hati kedudukannya seperti makanan untuk badan. Ketika badan sakit, tentu seseorang sulit merasakan lezatnya makanan. Demikian pula untuk hati tidak bisa merasakan nikmatnya dzikir ketika seseorang terlalu cinta dunia.” Baca juga: Khutbah Jumat, Tanda Cinta Dunia 4. Tanda cinta dunia lainnya adalah: gila harta, gila jabatan, gila kehormatan, gila ketenaran; hidup mewah dengan pakaian, makanan dan minuman; waktunya sibuk mengejar dunia; ia mengejar dunia lewat amalan akhirat. Yang dimaksud mengejar dunia lewat amalan akhirat, contohnya amalan “shalawatin saja” untuk dapat iphone hingga dapat mobil mahal. Baca juga: Dunia Memang Menggiurkan    Ketiga: Tanda Gila Harta وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ( قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ ( { تَعِسَ عَبْدُ اَلدِّينَارِ, وَالدِّرْهَمِ, وَالْقَطِيفَةِ, إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ, وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ } أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah budak dinar, dirham, dan qathifah (jenis pakaian berbeludru atau kain tenunan berbulu). Jika diberi, ia rida dan jika tidak diberi, ia tidak rida.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6435] Pelajarannya: Yang dimaksud dengan budak dinar dan dirham adalah semangat dalam mencari dunia dan merendahkan diri sehingga yang menjadi budak semangat dalam mengumpulkan harta, hanya sibuk menjaganya. Orang seperti inilah yang dianggap sebagai pelayan dan budak harta. Ia tenggelam dalam syahwat dunia dan mencarinya. Penyebutan dinar, dirham, dan qathifah (pakaian) hanyalah sekadar contoh. Ada juga yang gila kekuasaan, gila foto, cinta pada rumah, dan hal dunia lainnya.  Intinya, segala hal dunia yang menjauhkan dari perintah Allah, maka dianggap sebagai budak dari dunia tersebut. Tandanya adalah kalau dunia didapat, ia rida. Sedangkan, kalau dunia tidak didapat, ia murka. Ia tidak rida pada takdir Allah. Sekadar memiliki dan mengumpulkan dunia tidaklah tercela. Yang tercela adalah memiliki dan mengumpulkan lebih dari kadar hajat lalu menjauhkan seseorang dari Allah, menjauhkan dari beramal saleh. Kalau harta tetap mengantarkan kepada amal saleh, tentu hal itu tidak tercela. Makna “Jika diberi, ia rida dan jika tidak diberi, ia tidak rida” ada dua makna. Makna pertama, berkaitan dengan takdir yang Allah tetapkan. Jika ia ditakdirkan rezeki, ia rida. Jika tidak ditakdirkan, ia murka. Makna kedua, ia rida jika diberi harta syari yang berhak ia peroleh. Jika tidak diberi harta syari yang berhak ia  dapat, ia murka. Kedua makna ini sama-sama menunjukkan bahwa ia rida dan murka tergantung pada harta. Baca juga: Tanda Kita Telah Menjadi Budak Harta Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa seorang ‘Abdullah (hamba Allah) adalah ia yang rida terhadap apa yang diridai oleh Allah, marah terhadap apa yang dimurkai-Nya, mencintai apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, serta membenci apa yang dibenci oleh keduanya. Hamba Allah sejati adalah sosok yang senantiasa menolong wali-wali Allah, yakni orang-orang beriman, dan membenci musuh-musuh Allah Ta’ala dari kalangan orang kafir. Inilah tanda kesempurnaan iman. Namun, jika Allah tidak memberikan sesuatu kepada hamba-Nya, hal itu tidak berarti bahwa Allah bersifat pelit. Kadang, kelapangan atau kesempitan rezeki adalah ujian bagi seorang hamba, untuk menguji apakah ia termasuk dalam golongan yang bersyukur atau tidak, serta apakah ia mampu bersabar atau tidak. Berbeda dengan hamba dunia (‘abdu dunya) yang semata-mata terikat pada kehidupan dunia, seorang hamba Allah sejati (‘Abdullah) memiliki sifat-sifat luhur yang telah disebutkan tadi. (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:190) Baca juga: Hamba Allah dan Budak Dunia Menurut Ibnu Taimiyah   Keempat: Perlukah Seimbang Antara Dunia dan Akhirat? Dalam ayat disebutkan, وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. Al Qashshash: 77). Imam Ibnu Katsir -semoga Allah merahmati beliau- menyebutkan dalam kitab tafsirnya, { وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا } أي: مما أباح الله فيها من المآكل والمشارب والملابس والمساكن والمناكح، فإن لربك عليك حقًّا، ولنفسك عليك حقًّا، ولأهلك عليك حقًّا، ولزورك عليك حقا، فآت كل ذي حق حقه. “Janganlah engkau melupakan nasibmu dari kehidupan dunia yaitu dari yang Allah bolehkan berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan menikah. Rabbmu masih memiliki hak darimu. Dirimu juga memiliki hak. Keluargamu juga memiliki hak. Istrimu pun memiliki hak. Maka tunaikanlah hak-hak setiap yang memiliki hak.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 37). Dalam Tafsir Al Jalalain (hal. 405) disebutkan maksud dari ayat tersebut, “Janganlah engkau tinggalkan nasibmu di dunia yaitu hendaklah di dunia ini engkau beramal untuk akhiratmu.” Syaikh ‘Abdurrahman  bin Nashir As Sa’di dalam Taisir Karimir Rahman (hlm. 623), “Engkau telah menggenggam berbagai cara untuk menggapai kebahagiaan akhirat dengan harta, yang harta tersebut tidaklah dimiliki selainmu. Haraplah dengan harta tersebut untuk menggapai ridho Allah. Janganlah nikmat dunia digunakan untuk memenuhi syahwat dan kelezatan semata. Jangan pula sampai lupa nasibmu di dunia, yaitu Allah tidak memerintahkan supaya manusia menginfakkan seluruh hartanya, sehingga lalai dari menafkahi yang wajib. Namun infaklah dengan niatan untuk akhiratmu. Bersenang-senanglah pula dengan duniamu namun jangan sampai melalaikan agama dan membahayakan kehidupan akhiratmu kelak.” Baca juga: Jangan Lupakan Nasib Kalian di Dunia?   Kelima: Agar Tidak Cinta Dunia Marilah belajar agama, luangkanlah waktu walau sesibuk apa pun untuk mendalami ilmu Islam. Harus yakin dunia itu hina dan yakin dunia itu akan fana dibanding akhirat yang kekal abadi. Qana’ah (nerimo) dengan yang sedikit, apa saja yang Allah beri. Mendahulukan rida Allah daripada hawa nafsu, keluarga, dan kepentingan dunia. Sabar dan haraplah kenikmatan yang begitu banyak di surga. Sikap yang seharusnya terhadap dunia sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim, no. 2392) Al-Munawi rahimahullah dalam Mirqah Al-Mafatih menjelaskan, “Dikatakan dalam penjara karena orang mukmin terhalang untuk melakukan syahwat yang diharamkan. Sedangkan keadaan orang kafir adalah sebaliknya sehingga seakan-akan ia berada di surga.” Baca juga: Tanda Cinta Dunia dan Cara Menghindarinya (Khutbah Jumat)   Kesimpulan Mencintai dunia yang fana dan mengabaikan akhirat adalah kebodohan besar, sebab dunia hanya sementara, sedangkan akhirat kekal abadi. Ibnul Qayyim rahimahullah mengingatkan bahwa meskipun dunia adalah sesuatu yang “kontan,” kita tidak boleh lupa bahwa akhirat adalah yang hakiki dan akan kita temui. Sebagai seorang mukmin, dunia hanya alat untuk meraih akhirat, bukan tujuan utama yang melalaikan kita dari kehidupan yang lebih tinggi. Baca juga: Apakah Benar Ungkapan: Bekerjalah untuk Duniamu Seakan-Akan Engkau Hidup Selamanya? Cinta Dunia dan Takut Mati – Ditulis pada 27 Rabiuts Tsani 1446 H, 30 Oktober 2024 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsal jawabul kaafi budak dunia cinta dunia faedah dari Ibnul Qayyim nasihat ibnul qayyim


Kehidupan dunia sering kali memikat dengan segala keindahan dan kemewahannya, membuat banyak orang lupa akan akhirat yang abadi. Mengutamakan dunia menjadi pilihan bagi sebagian orang, yang memilih yang fana daripada yang kekal, mengutamakan kesenangan sesaat di atas kenikmatan yang tak terbatas. Tulisan ini akan mengupas tentang tipuan dunia yang menggerogoti manusia, serta pentingnya menyadari hakikat kehidupan sejati di akhirat.   Daftar Isi tutup 1. Kebodohan Terbesar: Mengutamakan Dunia atas Akhirat 2. Kontan Dunia atau Akhirat yang Tertunda? 3. Kepastian Dunia dan Keraguan Akhirat? 4. Perbandingan Dunia dan Akhirat dalam Hadits 5. Akhirat itu Suatu yang Meragukan, Dunia itu Suatu yang Pasti? 6. Kerugian Mengutamakan Dunia: Perbandingan Waktu Dunia dan Akhirat 7. Keagungan Penciptaan Manusia sebagai Bukti Keesaan Allah 8. Dalil Keberadaan Allah dalam Diri Manusia 9. Dalil Keberadaan Allah dalam Diri Manusia 10. Yakin atau Ragu akan Akhirat? 11. Catatan Penting tentang Cinta Dunia 11.1. Pertama: Delapan Hal yang Dicintai Manusia 11.2. Kedua: Tanda Cinta Dunia 11.2.1. 1. Mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran 11.2.2. 2. Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal saleh 11.2.3. 3. Kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir 11.2.4. 4. Tanda cinta dunia lainnya adalah: 11.3. Ketiga: Tanda Gila Harta 11.4. Keempat: Perlukah Seimbang Antara Dunia dan Akhirat? 11.5. Kelima: Agar Tidak Cinta Dunia 12. Kesimpulan   Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 55-59, di antara poin-poin pentingnya adalah sebagai berikut. Kebodohan Terbesar: Mengutamakan Dunia atas Akhirat وَأَعْظَمُ الْخَلْقِ غُرُورًا مَنِ اغْتَرَّ بِالدُّنْيَا وَعَاجَلَهَا، فَآثَرَهَا عَلَى الْآخِرَةِ، وَرَضِيَ بِهَا مِنَ الْآخِرَةِ، حَتَّى يَقُولَ بَعْضُ هَؤُلَاءِ: الدُّنْيَا نَقْدٌ، وَالْآخِرَةُ نَسِيئَةٌ، وَالنَّقْدُ أَحْسَنُ مِنَ النَّسِيئَةِ. “Manusia yang paling tertipu adalah yang teperdaya oleh kehidupan dunia yang tampak di hadapan mereka. Bahkan, mereka lebih meridhai dan mengutamakan dunia daripada akhirat. Sampai-sampai, sebagian mereka menyatakan: ‘Dunia adalah sesuatu yang kontan, sedangkan akhirat adalah tertunda. Kontan lebih bermanfaat dibandingkan yang tertunda.’   Kontan Dunia atau Akhirat yang Tertunda? وَيَقُولُ بَعْضُهُمْ: ذَرَّةٌ مَنْقُودَةٌ، وَلَا دُرَّةٌ مَوْعُودَةٌ. Sebagian menegaskan: “Seukuran kecil yang diberikan secara kontan masih lebih baik daripada mutiara yang dijanjikan.”   Kepastian Dunia dan Keraguan Akhirat? وَيَقُولُ آخَرُ مِنْهُمْ: لَذَّاتُ الدُّنْيَا مُتَيَقَّنَةٌ، وَلَذَّاتُ الْآخِرَةِ مَشْكُوكٌ فِيهَا، وَلَا أَدَعُ الْيَقِينَ بِالشَّكِّ. Ada juga yang mengungkapkan: “Kelezatan dunia merupakan perkara yang pasti. Sebaliknya, kelezatan akhirat merupakan perkara yang masih diragukan. Saya tidak akan mengganti perkara yang pasti dengan perkara yang meragukan.” Adapun pernyataan bahwa: “Kontan lebih baik daripada yang tertunda,” maka jawabannya: Jika sesuatu yang kontan dan yang tertunda itu sama nilainya, maka kontan lebih baik dibandingkan yang tertunda. Namun, apabila berbeda, yaitu ketika perkara yang tertunda jauh lebih banyak dan lebih baik, maka tentulah ia yang lebih baik. Lantas, bagaimana seandainya dunia seluruhnya, dari awal hingga akhirnya, hanyalah merupakan satu napas dari sekian banyak napas di akhirat?!   Perbandingan Dunia dan Akhirat dalam Hadits Di dalam al-Musnad karya Imam Ahmad dan at-Tirmidzi, dari al-Mustaurid bin Syaddad, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا كَمَا يُدْخِلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟ “Tiadalah dunia dibandingkan akhirat, melainkan seperti salah satu dari kalian mencelupkan jarinya ke dalam laut. Hendaklah ia perhatikan apa yang dia dapatkan (dari air yang masih menempel di jarinya).” Catatan: Allah Ta’ala berfirman, مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An Nahl: 96) بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (17) “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’laa: 16-17) Malik bin Dinar berkata: لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا مِنْ ذَهَبٍ يَفْنَى ، وَالآخِرَةُ مِنْ خَزَفٍ يَبْقَى لَكَانَ الوَاجِبُ أَنْ يُؤْثِرَ خَزَفٍ يَبْقَى عَلَى ذَهَبٍ يَفْنَى ، فَكَيْفَ وَالآخِرَةُ مِنْ ذَهَبٍٍِ يَبْقَى ، وَالدُّنْيَا مِنْ خَزَفٍ يَفْنَى؟ “Seandainya dunia adalah emas yang akan fana, dan akhirat adalah tembikar yang kekal abadi, maka tentu saja seseorang wajib memilih sesuatu yang kekal abadi (yaitu tembikar) daripada emas yang nanti akan fana. Padahal sejatinya akhirat adalah emas yang kekal abadi dan dunia adalah tembikar yang nantinya fana.” (Lihat Fathul Qodir, Imam Asy-Syaukani, 5:567-568) Baca juga: Jangan-Jangan KIta Terjangkiti Penyakit Cinta Dunia Nikmat Dunia Pasti Akan Sirna   Akhirat itu Suatu yang Meragukan, Dunia itu Suatu yang Pasti? Adapun perkataan orang yang lain: ‘Aku tidak akan meninggalkan sesuatu yang sudah pasti demi sesuatu yang diragukan,’ maka dikatakan kepadanya: ‘Engkau mungkin berada dalam keraguan terhadap janji dan ancaman Allah serta kebenaran rasul-rasul-Nya, atau engkau berada dalam keyakinan akan hal tersebut. Jika engkau memiliki keyakinan, maka yang engkau tinggalkan hanyalah sesuatu yang fana, sementara, dan akan segera hilang, karena itu adalah sesuatu yang pasti, tidak ada keraguan maupun keterputusan padanya.” Jika engkau berada dalam keraguan, maka renungkanlah ayat-ayat Rabb Yang Maha Tinggi yang menunjukkan adanya keberadaan-Nya, kekuasaan-Nya, kehendak-Nya, keesaan-Nya, serta kebenaran rasul-rasul-Nya dalam apa yang mereka sampaikan dari Allah. Bersihkanlah niatmu dan berdirilah untuk Allah, baik sebagai seorang pencari kebenaran atau sebagai penelaah, hingga jelas bagimu bahwa apa yang dibawa oleh para rasul dari Allah adalah kebenaran yang tidak ada keraguan padanya. Sesungguhnya Pencipta alam semesta ini, Rabb langit dan bumi, Maha Tinggi, Maha Suci, dan terbebas dari segala hal yang bertentangan dengan apa yang diberitakan oleh para rasul-Nya tentang-Nya. Barang siapa yang menyandarkan kepada-Nya selain hal tersebut, maka dia telah mencela dan mendustakan-Nya, serta menolak ketuhanan dan kekuasaan-Nya. Sebab mustahil bagi siapa pun yang memiliki fitrah yang sehat, bahwa Raja Yang Maha Benar itu tidak memiliki kekuasaan atau tidak memiliki ilmu, tidak mengetahui apa pun, tidak mendengar, tidak melihat, tidak berbicara, tidak memerintah, tidak melarang, tidak memberi pahala, tidak menghukum, tidak memuliakan siapa yang Dia kehendaki, dan tidak menghinakan siapa yang Dia kehendaki, serta tidak mengutus rasul-rasul-Nya ke seluruh penjuru kerajaan-Nya, dan tidak peduli dengan keadaan rakyat-Nya, melainkan membiarkan mereka tanpa aturan dan meninggalkan mereka begitu saja. Hal ini bahkan merusak kepemilikan para raja dari kalangan manusia, dan tidak layak bagi mereka. Maka bagaimana mungkin hal tersebut layak disandarkan kepada Raja Yang Maha Benar lagi Maha Nyata?   Kerugian Mengutamakan Dunia: Perbandingan Waktu Dunia dan Akhirat فَإِيثَارُ هَذَا النَّقْدِ عَلَى هَذِهِ النَّسِيئَةِ، مِنْ أَعْظَمِ الْغَبْنِ وَأَقْبَحِ الْجَهْلِ، وَإِذَا كَانَ هَذَا نِسْبَةَ الدُّنْيَا بِمَجْمُوعِهَا إِلَى الْآخِرَةِ، فَمَا مِقْدَارُ عُمُرِ الْإِنْسَانِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْآخِرَةِ، فَأَيُّمَا أَوْلَى بِالْعَاقِلِ؟ إِيثَارُ الْعَاجِلِ فِي هَذِهِ الْمُدَّةِ الْيَسِيرَةِ، وَحِرْمَانُ الْخَيْرِ الدَّائِمِ فِي الْآخِرَةِ، أَمْ تَرْكُ شَيْءٍ حَقِيرٍ صَغِيرٍ مُنْقَطِعٍ عَنْ قُرْبٍ، لِيَأْخُذَ مَا لَا قِيمَةَ لَهُ وَلَا خَطَرَ لَهُ، وَلَا نِهَايَةَ لِعَدَدِهِ، وَلَا غَايَةَ لِأَمَدِهِ؟ Mendahulukan dunia yang kontan atas akhirat yang tertunda, merupakan tipuan terbesar dan kebodohan terburuk. Jika hadits tadi menjelaskan perbandingan antara dunia secara keseluruhan dan akhirat, maka bagaimana pula dengan perbandingan antara usia manusia dan akhirat? Manakah yang lebih utama bagi orang yang berakal, apakah mengedepankan yang segera untuk jangka waktu yang singkat dan terhalang dari kebaikan abadi di akhirat; ataukah meninggalkan sesuatu yang kecil, hina, dan akan sirna dalam waktu dekat untuk mengambil sesuatu yang tidak terkira nilainya, tidak ada bahayanya, tidak terbatas bilangannya, dan tidak ada limit waktunya?   Keagungan Penciptaan Manusia sebagai Bukti Keesaan Allah وَإِذَا تَأَمَّلَ الْإِنْسَانُ حَالَهُ مِنْ مَبْدَأِ كَوْنِهِ نُطْفَةً إِلَى حِينِ كَمَالِهِ وَاسْتِوَائِهِ تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّ مَنْ عُنِيَ بِهِ هَذِهِ الْعِنَايَةَ، وَنَقَلَهُ إِلَى هَذِهِ الْأَحْوَالِ، وَصَرَّفَهُ فِي هَذِهِ الْأَطْوَارِ، لَا يَلِيقُ بِهِ أَنْ يُهْمِلَهُ وَيَتْرُكَهُ سُدًى، لَا يَأْمُرُهُ وَلَا يَنْهَاهُ وَلَا يُعَرِّفُهُ بِحُقُوقِهِ عَلَيْهِ، وَلَا يُثِيبُهُ وَلَا يُعَاقِبُهُ، وَلَوْ تَأَمَّلَ الْعَبْدُ حَقَّ التَّأَمُّلِ لَكَانَ كُلُّ مَا يُبْصِرُهُ وَمَا لَا يُبْصِرُهُ دَلِيلًا لَهُ عَلَى التَّوْحِيدِ وَالنُّبُوَّةِ وَالْمَعَادِ، وَأَنَّ الْقُرْآنَ كَلَامُهُ، وَقَدْ ذَكَرْنَا وَجْهَ الِاسْتِدْلَالِ بِذَلِكَ فِي كِتَابِ إِيمَانِ الْقُرْآنِ عِنْدَ قَوْلِهِ: {فَلَا أُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُونَ – وَمَا لَا تُبْصِرُونَ – إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ} [سُورَةُ الْحَاقَّةِ: ٣٨ – ٤٠] . Seandainya manusia memperhatikan proses kejadiannya dari awal, mulai dari setetes air mani hingga menjadi manusia sempurna, maka jelaslah bahwa Dzat yang mengawasinya, mengubahnya dalam berbagai tahap kejadian, serta membentuknya dalam berbagai wujud tidaklah layak bagi-Nya untuk mengabaikan dan membiarkan manusia begitu saja, tanpa memberi perintah, melarang, mengenalkan hak-hak-Nya, memberi ganjaran, dan tidak menghukumnya. Sekiranya seorang hamba benar-benar memperhatikan secara saksama, tentu segala sesuatu yang dilihat maupun yang tidak dilihatnya akan menjadi dalil baginya tentang tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan, serta bahwasanya Al-Qur’an merupakan firman-Nya.   Dalil Keberadaan Allah dalam Diri Manusia Kami menyebutkan dalilnya dalam kitab al-Qur’an, ketika menyebutkan firman Allah, فَلَا أُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُونَ – وَمَا لَا تُبْصِرُونَ – إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ “Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa. Maka Aku bersumpah demi apa yang kamu lihat, dan demi apa yang tidak kamu lihat. Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) itu benar-benar wahyu (yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia.” (QS. Al-Haqqah: 38-40) Kami juga menyebutkan penggalan masalah ini ketika membawakan firman Allah. وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzāriyāt: 21)   Dalil Keberadaan Allah dalam Diri Manusia وَأَنَّ الْإِنْسَانَ دَلِيلُ نَفْسِهِ عَلَى وُجُودِ خَالِقِهِ وَتَوْحِيدِهِ، وَصِدْقِ رُسُلِهِ، وَإِثْبَاتِ صِفَاتِ كَمَالِهِ. Ayat ini menunjukkan bahwa adanya manusia merupakan dalil (bukti) bagi diri sendiri akan keberadaan Penciptanya, keesaan-Nya, kebenaran para Rasul-Nya, serta penetapan sifat-sifat kesempurnaan-Nya.   Yakin atau Ragu akan Akhirat? فَقَدْ بَانَ أَنَّ الْمُضَيِّعَ مَغْرُورٌ عَلَى التَّقْدِيرَيْنِ: تَقْدِيرِ تَصْدِيقِهِ وَيَقِينِهِ، وَتَقْدِيرِ تَكْذِيبِهِ وَشَكِّهِ. Dengan demikian, jelaslah bahwa orang yang mengabaikan masalah ini telah tertipu dalam dua kemungkinan yang berbeda; bisa jadi dia membenarkan dan meyakininya atau dia mendustakan dan meragukannya.   Catatan Penting tentang Cinta Dunia Pertama: Delapan Hal yang Dicintai Manusia Ada delapan hal yang dicintai manusia, Allah rinci dalam ayat berikut ini. قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Ayat di atas menerangkan tentang orang yang mencintai dunia, yaitu keluarga, harta, bisnis hingga rumah tempat tinggalnya. Ayat di atas kata Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab Tauhid menunjukkan ancaman bagi orang yang menjadikan delapan perkara duniawi tersebut lebih daripada agamanya. Baca juga: Delapan Hal yang Dicintai Manusia dan Cara Mengatasinya Kedua: Tanda Cinta Dunia 1. Mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118) 2. Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal saleh Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى “Siapa yang begitu gila dengan dunianya, maka itu akan memudaratkan akhiratnya. Siapa yang begitu cinta akhiratnya, maka itu akan mengurangi kecintaannya pada dunia. Dahulukanlah negeri yang akan kekal abadi (akhirat) dari negeri yang akan fana (dunia).” (HR. Ahmad, 4:412. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi.) Dalam surah Adz-Dzariyat juga disebutkan, قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ (10) الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ (11) “Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai.” (QS. Adz-Dzariyat: 10-11) Yang dimaksud “alladzina hum fii ghomroh” adalah mereka buta dan jahil akan perkara akhirat. “Saahun” berarti lalai. As-sahwu itu berarti lalai dari sesuatu dan hati tidak memperhatikannya. Sebagaimana hal ini ditafsirkan dalam Zaad Al-Masir karya Ibnul Jauzi. Baca juga: Meninggalkan Kesibukan Dunia itu Berat 3. Kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir Di dalam Majmu’ah Al-Fatawa (9:312), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan perkataaan ulama Syam yaitu Sulaiman Al-Khawwash, “Dzikir bagi hati kedudukannya seperti makanan untuk badan. Ketika badan sakit, tentu seseorang sulit merasakan lezatnya makanan. Demikian pula untuk hati tidak bisa merasakan nikmatnya dzikir ketika seseorang terlalu cinta dunia.” Baca juga: Khutbah Jumat, Tanda Cinta Dunia 4. Tanda cinta dunia lainnya adalah: gila harta, gila jabatan, gila kehormatan, gila ketenaran; hidup mewah dengan pakaian, makanan dan minuman; waktunya sibuk mengejar dunia; ia mengejar dunia lewat amalan akhirat. Yang dimaksud mengejar dunia lewat amalan akhirat, contohnya amalan “shalawatin saja” untuk dapat iphone hingga dapat mobil mahal. Baca juga: Dunia Memang Menggiurkan    Ketiga: Tanda Gila Harta وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ( قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ ( { تَعِسَ عَبْدُ اَلدِّينَارِ, وَالدِّرْهَمِ, وَالْقَطِيفَةِ, إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ, وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ } أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah budak dinar, dirham, dan qathifah (jenis pakaian berbeludru atau kain tenunan berbulu). Jika diberi, ia rida dan jika tidak diberi, ia tidak rida.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6435] Pelajarannya: Yang dimaksud dengan budak dinar dan dirham adalah semangat dalam mencari dunia dan merendahkan diri sehingga yang menjadi budak semangat dalam mengumpulkan harta, hanya sibuk menjaganya. Orang seperti inilah yang dianggap sebagai pelayan dan budak harta. Ia tenggelam dalam syahwat dunia dan mencarinya. Penyebutan dinar, dirham, dan qathifah (pakaian) hanyalah sekadar contoh. Ada juga yang gila kekuasaan, gila foto, cinta pada rumah, dan hal dunia lainnya.  Intinya, segala hal dunia yang menjauhkan dari perintah Allah, maka dianggap sebagai budak dari dunia tersebut. Tandanya adalah kalau dunia didapat, ia rida. Sedangkan, kalau dunia tidak didapat, ia murka. Ia tidak rida pada takdir Allah. Sekadar memiliki dan mengumpulkan dunia tidaklah tercela. Yang tercela adalah memiliki dan mengumpulkan lebih dari kadar hajat lalu menjauhkan seseorang dari Allah, menjauhkan dari beramal saleh. Kalau harta tetap mengantarkan kepada amal saleh, tentu hal itu tidak tercela. Makna “Jika diberi, ia rida dan jika tidak diberi, ia tidak rida” ada dua makna. Makna pertama, berkaitan dengan takdir yang Allah tetapkan. Jika ia ditakdirkan rezeki, ia rida. Jika tidak ditakdirkan, ia murka. Makna kedua, ia rida jika diberi harta syari yang berhak ia peroleh. Jika tidak diberi harta syari yang berhak ia  dapat, ia murka. Kedua makna ini sama-sama menunjukkan bahwa ia rida dan murka tergantung pada harta. Baca juga: Tanda Kita Telah Menjadi Budak Harta Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa seorang ‘Abdullah (hamba Allah) adalah ia yang rida terhadap apa yang diridai oleh Allah, marah terhadap apa yang dimurkai-Nya, mencintai apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, serta membenci apa yang dibenci oleh keduanya. Hamba Allah sejati adalah sosok yang senantiasa menolong wali-wali Allah, yakni orang-orang beriman, dan membenci musuh-musuh Allah Ta’ala dari kalangan orang kafir. Inilah tanda kesempurnaan iman. Namun, jika Allah tidak memberikan sesuatu kepada hamba-Nya, hal itu tidak berarti bahwa Allah bersifat pelit. Kadang, kelapangan atau kesempitan rezeki adalah ujian bagi seorang hamba, untuk menguji apakah ia termasuk dalam golongan yang bersyukur atau tidak, serta apakah ia mampu bersabar atau tidak. Berbeda dengan hamba dunia (‘abdu dunya) yang semata-mata terikat pada kehidupan dunia, seorang hamba Allah sejati (‘Abdullah) memiliki sifat-sifat luhur yang telah disebutkan tadi. (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:190) Baca juga: Hamba Allah dan Budak Dunia Menurut Ibnu Taimiyah   Keempat: Perlukah Seimbang Antara Dunia dan Akhirat? Dalam ayat disebutkan, وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. Al Qashshash: 77). Imam Ibnu Katsir -semoga Allah merahmati beliau- menyebutkan dalam kitab tafsirnya, { وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا } أي: مما أباح الله فيها من المآكل والمشارب والملابس والمساكن والمناكح، فإن لربك عليك حقًّا، ولنفسك عليك حقًّا، ولأهلك عليك حقًّا، ولزورك عليك حقا، فآت كل ذي حق حقه. “Janganlah engkau melupakan nasibmu dari kehidupan dunia yaitu dari yang Allah bolehkan berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan menikah. Rabbmu masih memiliki hak darimu. Dirimu juga memiliki hak. Keluargamu juga memiliki hak. Istrimu pun memiliki hak. Maka tunaikanlah hak-hak setiap yang memiliki hak.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 37). Dalam Tafsir Al Jalalain (hal. 405) disebutkan maksud dari ayat tersebut, “Janganlah engkau tinggalkan nasibmu di dunia yaitu hendaklah di dunia ini engkau beramal untuk akhiratmu.” Syaikh ‘Abdurrahman  bin Nashir As Sa’di dalam Taisir Karimir Rahman (hlm. 623), “Engkau telah menggenggam berbagai cara untuk menggapai kebahagiaan akhirat dengan harta, yang harta tersebut tidaklah dimiliki selainmu. Haraplah dengan harta tersebut untuk menggapai ridho Allah. Janganlah nikmat dunia digunakan untuk memenuhi syahwat dan kelezatan semata. Jangan pula sampai lupa nasibmu di dunia, yaitu Allah tidak memerintahkan supaya manusia menginfakkan seluruh hartanya, sehingga lalai dari menafkahi yang wajib. Namun infaklah dengan niatan untuk akhiratmu. Bersenang-senanglah pula dengan duniamu namun jangan sampai melalaikan agama dan membahayakan kehidupan akhiratmu kelak.” Baca juga: Jangan Lupakan Nasib Kalian di Dunia?   Kelima: Agar Tidak Cinta Dunia Marilah belajar agama, luangkanlah waktu walau sesibuk apa pun untuk mendalami ilmu Islam. Harus yakin dunia itu hina dan yakin dunia itu akan fana dibanding akhirat yang kekal abadi. Qana’ah (nerimo) dengan yang sedikit, apa saja yang Allah beri. Mendahulukan rida Allah daripada hawa nafsu, keluarga, dan kepentingan dunia. Sabar dan haraplah kenikmatan yang begitu banyak di surga. Sikap yang seharusnya terhadap dunia sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim, no. 2392) Al-Munawi rahimahullah dalam Mirqah Al-Mafatih menjelaskan, “Dikatakan dalam penjara karena orang mukmin terhalang untuk melakukan syahwat yang diharamkan. Sedangkan keadaan orang kafir adalah sebaliknya sehingga seakan-akan ia berada di surga.” Baca juga: Tanda Cinta Dunia dan Cara Menghindarinya (Khutbah Jumat)   Kesimpulan Mencintai dunia yang fana dan mengabaikan akhirat adalah kebodohan besar, sebab dunia hanya sementara, sedangkan akhirat kekal abadi. Ibnul Qayyim rahimahullah mengingatkan bahwa meskipun dunia adalah sesuatu yang “kontan,” kita tidak boleh lupa bahwa akhirat adalah yang hakiki dan akan kita temui. Sebagai seorang mukmin, dunia hanya alat untuk meraih akhirat, bukan tujuan utama yang melalaikan kita dari kehidupan yang lebih tinggi. Baca juga: Apakah Benar Ungkapan: Bekerjalah untuk Duniamu Seakan-Akan Engkau Hidup Selamanya? Cinta Dunia dan Takut Mati – Ditulis pada 27 Rabiuts Tsani 1446 H, 30 Oktober 2024 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsal jawabul kaafi budak dunia cinta dunia faedah dari Ibnul Qayyim nasihat ibnul qayyim

Cukup Bagiku Satu Ayat Ini – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebaikannya dihadapkan kepadanya…” Maksud “kebaikan” adalah segala amalan yang dapat mendekatkan pelakunya kepada Allah ‘Azza wa Jalla “…begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya.” (QS. Ali Imran: 30). “Kejahatan” yakni segala hal yang dapat menjauhkan pelakunya dari Allah ‘Azza wa Jalla, seperti dosa-dosa dan kemaksiatan. Semua itu akan ditemui oleh pelakunya pada Hari Kiamat. “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, pasti kelak akan melihat (balasannya).” (QS. az-Zalzalah: 7). “Dan barang siapa yang mengerjakan kejelekan seberat zarrah pun, pasti kelak akan melihat (balasannya).” (QS. az-Zalzalah: 8). Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat ini kepada paman al-Farazdaq. Yakni al-Farazdaq sang penyair terkenal. Saya lupa namanya sekarang, wahai saudara-saudara. Kalau tidak salah, disebutkan oleh Ibnu Katsir. Paman al-Farazdaq itu lalu berkata kira-kira maknanya seperti ini, “Cukup bagiku ayat ini!” Dia berkata, “Ayat ini cukup bagiku!” Cukup dalam hal apa, wahai Abu Abdillah? Dalam mengerjakan kebaikan dan berhati-hati dari keburukan. Jika keburukan sebiji sawi akan kamu lihat dan kamu terima balasannya dan kebaikan sebiji sawi akan kamu lihat dan kamu terima balasannya juga maka tidak diragukan lagi – wahai saudara-saudara – bahwa ini akan menjadi penyemangat untuk berbuat dan memperbanyak kebaikan dan menjauhkan manusia dari keburukan, meskipun itu sekecil apa pun. ==== يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا الْخَيْرُ كُلُّ مَا يُتَقَرَّبُ بِهِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ كُلُّ مَا يُبْعِدُ عَنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ آثَامٌ وَمَعَاصٍ سَتَجِدُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَمَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ لَمَّا قَرَأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْآيَةَ عَلَى عَمِّ الْفَرَزْدَقِ الْفَرَزْدَقُ الشَّاعِرُ الْمَشْهُورُ غَابَ عَنِّى اسْمُهُ يَا إِخْوَانُ يُمْكِنُ ذَكَرَهُ ابْنُ كَثِيرٍ قَالَ يَعْنِي مَعْنَى كَلَامِهِ حَسْبِي هَذِهِ الْآيَةُ قَالَ تَكْفِينِي هَذِهِ الْآيَةُ تَكْفِيهِ فِي مَاذَا يَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ؟ فِي عَمَلِ الْخَيْرِ وَالْحَذَرِ مِنَ الشَّرِّ إِذَا ذَرَّةٌ مِنَ الشَّرِّ سَتَرَاهَا وَتَلْقَى جَزَاءَهَا وَذَرَّةٌ مِنَ الْخَيْرِ سَوْفَ تَرَاهَا وَتَلْقَى جَزَاءَهَا لَا شَكَّ هَذَا يَا إِخْوَانِي يُنَشِّطُ عَلَى عَمَلِ الْخَيْرِ وَالْإِكْثَارِ مِنْهُ وَيُبْعِدُ الْإِنْسَانَ عَنِ الشَّرِّ وَلَوْ كَانَ أَقَلَّ قَلِيلٍ

Cukup Bagiku Satu Ayat Ini – Syaikh Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebaikannya dihadapkan kepadanya…” Maksud “kebaikan” adalah segala amalan yang dapat mendekatkan pelakunya kepada Allah ‘Azza wa Jalla “…begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya.” (QS. Ali Imran: 30). “Kejahatan” yakni segala hal yang dapat menjauhkan pelakunya dari Allah ‘Azza wa Jalla, seperti dosa-dosa dan kemaksiatan. Semua itu akan ditemui oleh pelakunya pada Hari Kiamat. “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, pasti kelak akan melihat (balasannya).” (QS. az-Zalzalah: 7). “Dan barang siapa yang mengerjakan kejelekan seberat zarrah pun, pasti kelak akan melihat (balasannya).” (QS. az-Zalzalah: 8). Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat ini kepada paman al-Farazdaq. Yakni al-Farazdaq sang penyair terkenal. Saya lupa namanya sekarang, wahai saudara-saudara. Kalau tidak salah, disebutkan oleh Ibnu Katsir. Paman al-Farazdaq itu lalu berkata kira-kira maknanya seperti ini, “Cukup bagiku ayat ini!” Dia berkata, “Ayat ini cukup bagiku!” Cukup dalam hal apa, wahai Abu Abdillah? Dalam mengerjakan kebaikan dan berhati-hati dari keburukan. Jika keburukan sebiji sawi akan kamu lihat dan kamu terima balasannya dan kebaikan sebiji sawi akan kamu lihat dan kamu terima balasannya juga maka tidak diragukan lagi – wahai saudara-saudara – bahwa ini akan menjadi penyemangat untuk berbuat dan memperbanyak kebaikan dan menjauhkan manusia dari keburukan, meskipun itu sekecil apa pun. ==== يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا الْخَيْرُ كُلُّ مَا يُتَقَرَّبُ بِهِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ كُلُّ مَا يُبْعِدُ عَنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ آثَامٌ وَمَعَاصٍ سَتَجِدُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَمَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ لَمَّا قَرَأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْآيَةَ عَلَى عَمِّ الْفَرَزْدَقِ الْفَرَزْدَقُ الشَّاعِرُ الْمَشْهُورُ غَابَ عَنِّى اسْمُهُ يَا إِخْوَانُ يُمْكِنُ ذَكَرَهُ ابْنُ كَثِيرٍ قَالَ يَعْنِي مَعْنَى كَلَامِهِ حَسْبِي هَذِهِ الْآيَةُ قَالَ تَكْفِينِي هَذِهِ الْآيَةُ تَكْفِيهِ فِي مَاذَا يَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ؟ فِي عَمَلِ الْخَيْرِ وَالْحَذَرِ مِنَ الشَّرِّ إِذَا ذَرَّةٌ مِنَ الشَّرِّ سَتَرَاهَا وَتَلْقَى جَزَاءَهَا وَذَرَّةٌ مِنَ الْخَيْرِ سَوْفَ تَرَاهَا وَتَلْقَى جَزَاءَهَا لَا شَكَّ هَذَا يَا إِخْوَانِي يُنَشِّطُ عَلَى عَمَلِ الْخَيْرِ وَالْإِكْثَارِ مِنْهُ وَيُبْعِدُ الْإِنْسَانَ عَنِ الشَّرِّ وَلَوْ كَانَ أَقَلَّ قَلِيلٍ
“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebaikannya dihadapkan kepadanya…” Maksud “kebaikan” adalah segala amalan yang dapat mendekatkan pelakunya kepada Allah ‘Azza wa Jalla “…begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya.” (QS. Ali Imran: 30). “Kejahatan” yakni segala hal yang dapat menjauhkan pelakunya dari Allah ‘Azza wa Jalla, seperti dosa-dosa dan kemaksiatan. Semua itu akan ditemui oleh pelakunya pada Hari Kiamat. “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, pasti kelak akan melihat (balasannya).” (QS. az-Zalzalah: 7). “Dan barang siapa yang mengerjakan kejelekan seberat zarrah pun, pasti kelak akan melihat (balasannya).” (QS. az-Zalzalah: 8). Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat ini kepada paman al-Farazdaq. Yakni al-Farazdaq sang penyair terkenal. Saya lupa namanya sekarang, wahai saudara-saudara. Kalau tidak salah, disebutkan oleh Ibnu Katsir. Paman al-Farazdaq itu lalu berkata kira-kira maknanya seperti ini, “Cukup bagiku ayat ini!” Dia berkata, “Ayat ini cukup bagiku!” Cukup dalam hal apa, wahai Abu Abdillah? Dalam mengerjakan kebaikan dan berhati-hati dari keburukan. Jika keburukan sebiji sawi akan kamu lihat dan kamu terima balasannya dan kebaikan sebiji sawi akan kamu lihat dan kamu terima balasannya juga maka tidak diragukan lagi – wahai saudara-saudara – bahwa ini akan menjadi penyemangat untuk berbuat dan memperbanyak kebaikan dan menjauhkan manusia dari keburukan, meskipun itu sekecil apa pun. ==== يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا الْخَيْرُ كُلُّ مَا يُتَقَرَّبُ بِهِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ كُلُّ مَا يُبْعِدُ عَنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ آثَامٌ وَمَعَاصٍ سَتَجِدُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَمَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ لَمَّا قَرَأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْآيَةَ عَلَى عَمِّ الْفَرَزْدَقِ الْفَرَزْدَقُ الشَّاعِرُ الْمَشْهُورُ غَابَ عَنِّى اسْمُهُ يَا إِخْوَانُ يُمْكِنُ ذَكَرَهُ ابْنُ كَثِيرٍ قَالَ يَعْنِي مَعْنَى كَلَامِهِ حَسْبِي هَذِهِ الْآيَةُ قَالَ تَكْفِينِي هَذِهِ الْآيَةُ تَكْفِيهِ فِي مَاذَا يَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ؟ فِي عَمَلِ الْخَيْرِ وَالْحَذَرِ مِنَ الشَّرِّ إِذَا ذَرَّةٌ مِنَ الشَّرِّ سَتَرَاهَا وَتَلْقَى جَزَاءَهَا وَذَرَّةٌ مِنَ الْخَيْرِ سَوْفَ تَرَاهَا وَتَلْقَى جَزَاءَهَا لَا شَكَّ هَذَا يَا إِخْوَانِي يُنَشِّطُ عَلَى عَمَلِ الْخَيْرِ وَالْإِكْثَارِ مِنْهُ وَيُبْعِدُ الْإِنْسَانَ عَنِ الشَّرِّ وَلَوْ كَانَ أَقَلَّ قَلِيلٍ


“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebaikannya dihadapkan kepadanya…” Maksud “kebaikan” adalah segala amalan yang dapat mendekatkan pelakunya kepada Allah ‘Azza wa Jalla “…begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya.” (QS. Ali Imran: 30). “Kejahatan” yakni segala hal yang dapat menjauhkan pelakunya dari Allah ‘Azza wa Jalla, seperti dosa-dosa dan kemaksiatan. Semua itu akan ditemui oleh pelakunya pada Hari Kiamat. “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, pasti kelak akan melihat (balasannya).” (QS. az-Zalzalah: 7). “Dan barang siapa yang mengerjakan kejelekan seberat zarrah pun, pasti kelak akan melihat (balasannya).” (QS. az-Zalzalah: 8). Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat ini kepada paman al-Farazdaq. Yakni al-Farazdaq sang penyair terkenal. Saya lupa namanya sekarang, wahai saudara-saudara. Kalau tidak salah, disebutkan oleh Ibnu Katsir. Paman al-Farazdaq itu lalu berkata kira-kira maknanya seperti ini, “Cukup bagiku ayat ini!” Dia berkata, “Ayat ini cukup bagiku!” Cukup dalam hal apa, wahai Abu Abdillah? Dalam mengerjakan kebaikan dan berhati-hati dari keburukan. Jika keburukan sebiji sawi akan kamu lihat dan kamu terima balasannya dan kebaikan sebiji sawi akan kamu lihat dan kamu terima balasannya juga maka tidak diragukan lagi – wahai saudara-saudara – bahwa ini akan menjadi penyemangat untuk berbuat dan memperbanyak kebaikan dan menjauhkan manusia dari keburukan, meskipun itu sekecil apa pun. ==== يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا الْخَيْرُ كُلُّ مَا يُتَقَرَّبُ بِهِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ كُلُّ مَا يُبْعِدُ عَنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ آثَامٌ وَمَعَاصٍ سَتَجِدُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَمَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ لَمَّا قَرَأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ الْآيَةَ عَلَى عَمِّ الْفَرَزْدَقِ الْفَرَزْدَقُ الشَّاعِرُ الْمَشْهُورُ غَابَ عَنِّى اسْمُهُ يَا إِخْوَانُ يُمْكِنُ ذَكَرَهُ ابْنُ كَثِيرٍ قَالَ يَعْنِي مَعْنَى كَلَامِهِ حَسْبِي هَذِهِ الْآيَةُ قَالَ تَكْفِينِي هَذِهِ الْآيَةُ تَكْفِيهِ فِي مَاذَا يَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ؟ فِي عَمَلِ الْخَيْرِ وَالْحَذَرِ مِنَ الشَّرِّ إِذَا ذَرَّةٌ مِنَ الشَّرِّ سَتَرَاهَا وَتَلْقَى جَزَاءَهَا وَذَرَّةٌ مِنَ الْخَيْرِ سَوْفَ تَرَاهَا وَتَلْقَى جَزَاءَهَا لَا شَكَّ هَذَا يَا إِخْوَانِي يُنَشِّطُ عَلَى عَمَلِ الْخَيْرِ وَالْإِكْثَارِ مِنْهُ وَيُبْعِدُ الْإِنْسَانَ عَنِ الشَّرِّ وَلَوْ كَانَ أَقَلَّ قَلِيلٍ

Biografi Syekh Abdurrahman bin Nasir As-Sa’di

Daftar Isi Toggle Kehidupan beliauBeberapa guru beliauPerangai beliauKeilmuan beliauKarya-karya beliauWafatnya Seorang penuntut ilmu yang memiliki perhatian besar kepada ilmu tafsir pastilah tidak asing apabila disebutkan nama Syekh Abdurrahman bin Nasir As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala, seorang pakar ilmu dalam berbagai bidang keilmuan yang juga menulis karya fenomenal dalam tafsir, yaitu Tafsir As-Sa’di. Kitab tersebut sering juga disebut dan dinamakan Taisir Karim Ar-Rahman, sebuah kitab tafsir yang cukup ringkas, ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami, penuh dengan pelajaran dan kandungan ayat serta terfokus pada penjelasan makna sebuah ayat. Pada paragraf-paragraf berikutnya, akan kita paparkan dan kita pelajari bersama biografi singkat Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah, sehingga kita semakin cinta kepada beliau dan dapat menjadikan beliau sebagai teladan dalam belajar dan berdakwah kepada Allah ‘Azza Wajalla. Kehidupan beliau Beliau adalah Syekh Abu Abdillah Abdurrahman bin Nasir bin Abdullah bin Nasir As-Sa’di. Beliau berasal dari suku Tamim dan dilahirkan di kota Unaizah di Qassim pada tanggal 12 Muharram tahun 1307 H. Beliau tumbuh besar sebagai seorang yatim piatu. Ibunya meninggal ketika beliau berusia 4 tahun, dan ayahnya meninggal ketika beliau berusia 7 tahun. Meski begitu, beliau meraih pendidikan yang baik berkat takdir Allah, begitu pula berkat kecerdasan beliau dan keinginan kuat serta ketertarikan beliau kepada ilmu dan pengetahuan. Beliau mulai mempelajari Al-Qur’an sepeninggal ayahnya, kemudian menyelesaikan hafalannya di umur 11 tahun. Beliau juga belajar dari para ulama besar di negaranya dengan sangat bersungguh-sungguh. Beliau terbilang hampir menguasai setiap bidang ilmu, kemudian beliau mulai mengajar di usia 23 tahun, dan menghabiskan hampir seluruh waktunya dengan belajar dan mengajar. Pada tahun 1350 H, beliau telah menjadi rujukan dalam keilmuan di negaranya, Saudi Arabia. Beberapa guru beliau Syekh Ibrahim bin Hamad bin Jasir Merupakan guru pertama Syekh As-Sa’di, seorang penghafal hadis, sangat penyayang terhadap fakir miskin, serta memiliki simpati yang besar terhadap mereka. Dikisahkan oleh Syekh As-Sa’di bahwa pernah suatu ketika datang seorang miskin kepada Syekh Ibrahim di musim dingin, kemudian beliau rahimahullah melepaskan salah satu pakaiannya dan memberikannya kepada orang tersebut, meskipun tentu beliau juga membutuhkannya. Syekh Muhammad bin Abdul Karim As-Shibl Merupakan guru Syekh di bidang ilmu fikih dan ilmu-ilmu bahasa Arab dan ilmu-ilmu lainnya. Beliau dikenal sebagai seorang pengembara dalam menuntut ilmu. Berbagai negara telah beliau jelajahi, termasuk di antaranya adalah kota Makkah, negeri Syam, Irak, dan bahkan hingga Lahore, India. Syekh Saleh bin Utsman Al-Qad Merupakan guru Syekh As-Sa’di di bidang ilmu tauhid, tafsir, fikih, dan usul fikih, serta ilmu-ilmu Arab, dan beliaulah guru yang paling banyak diambil ilmunya oleh Syekh As-Sa’di sampai beliau meninggal dunia. Syekh Ali An-Nasir Abu Wadi Merupakan guru Syekh As-Sa’di dalam ilmu hadis. Syekh Muhammad bin Syekh Abdul Aziz Al-Muhammad Direktur Ilmu Pengetahuan di Arab Saudi kala itu, merupakan guru Syekh As-Sa’di ketika beliau di Unaizah. Syekh Muhammad As-Shinqiti Merupakan guru Syekh As-Sa’di di bidang ilmu tafsir, hadis, dan ilmu-ilmu Arab, seperti ilmu nahwu, sharaf, dan lain-lainnya. Di antara guru beliau yang lainnya adalah Syekh Abdullah bin Ayed, Syekh Saab Al-Quwaijri, Syekh Ali Al-Sanani, dan lain-lainnya. Perangai beliau Beliau merupakan pribadi yang berakhlak mulia, sopan, jujur, tegas, namun juga tetap selalu rendah hati terhadap yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, adil terhadap yang kaya dan miskin. Beliau juga merupakan orang yang sangat disiplin terhadap waktu, sebagian besar waktu beliau digunakan untuk ilmu dan penelitian yang bermanfaat serta bernilai ibadah. Beliau juga merupakan sosok yang sangat bijaksana, selalu menyesuaikan diri dengan lawan bicaranya, berdiskusi dengan lawan bicaranya dengan topik-topik yang bermanfaat baginya di dunia maupun akhirat. Beliau sering menyelesaikan sebuah permasalahan dan problematika dengan akhir yang penuh kedamaian dan keadilan. Tidak lupa, beliau merupakan sosok yang sangat dermawan serta memiliki empati yang besar terhadap fakir miskin, rahimahullah. Baca juga: Biografi Az-Zubair bin Al-‘Awwam Keilmuan beliau Beliau sangat menguasai bidang fikih, usul fikih, dan cabang-cabang keilmuan fikih lainnya. Pada awalnya, beliau bermazhab Hanbali mengikuti para guru/syekhnya. Beliau menghafal beberapa matan yang berkaitan dengan fikih mazhab Hanbali, dan karya tulis pertama beliau di bidang fikih adalah 400 bait beserta penjelasannya secara singkat, namun beliau enggan untuk mempublikasikannya karena adanya suatu sebab. Kesibukan beliau yang paling menyita waktu adalah belajar, membaca, dan mengambil banyak ilmu dari kitab-kitab Syekhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Al-Qayyim rahimahumallahu Ta’ala, seperti ilmu fikih, usulnya, tauhid, tafsir, dan ilmu-ilmu bermanfaat lainnya. Dengan membaca karangan-karangan kedua masyayikh tersebut, beliau mulai tidak terikat dan mengambil dari mazhab Hanbali saja. Beliau lebih memilih pendapat yang lebih dikuatkan dengan dalil dari syariat. Beliau juga tidak mencela para ulama mazhab sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang fanatik dalam bermazhab. Beliau juga sangat unggul di bidang ilmu tafsir. Beliau menulis sebuah karya berjilid-jilid yang hebat di bidang tafsir yang memiliki karakter tersendiri dalam menafsirkannya. Beliau menjelaskan makna-makna Al-Qur’an dengan sangat jelas, menjelaskan kandungan-kandungan dan pelajaran-pelajaran dari ayat-ayat yang beliau tafsirkan. Beliau juga memiliki keahlian dalam berbicara ataupun berpidato. Siapa pun yang bertemu dengannya untuk belajar, bertanya maupun berdiskusi dengannya akan langsung merasakan kehebatannya dan puas dengan jawaban beliau, begitu pula, siapa pun yang membaca karya-karyanya dan fatwa-fatwa beliau. Karya-karya beliau Pertama: “Taisir Karim Ar-Rahman”, kitab tafsir berjumlah 8 jilid yang diselesaikannya pada tahun 1344 H, sedangkan beliau berumur 37 tahun. Suatu ketika, murid beliau rahimahullah, Syekh Al-Utsaimin pernah ditanya tentang kitab tafsir apa yang paling baik untuk dibaca pertama kali oleh seseorang yang baru saja belajar. Maka, beliau menjawab, أحسن شيء إما تفسير الشيخ عبدالرحمن السعدي لأنه واضح وليس فيه تكلف ولا شيء، أو تفسير ابن كثير، والباقي من التفاسير كلها طيبة إن شاء الله، لكن بعضهم غلب عليه مذهب الأشاعرة “Yang terbaik adalah memulai dengan tafsir Syekh Abdurrahman As-Sa’di, karena isinya sangatlah jelas, tidak ada yang memberatkan atau hal-hal yang menyulitkan di dalamnya, atau memulai dengan tafsir Ibnu Katsir, dan kitab tafsir selebihnya bagus semua InsyaAllah, namun (yang harus hati-hati) ada pula yang didominasi oleh doktrin Asy’ari.” (Liqa’ Bab Al-Maftuh, kaset 220 sisi A) Kedua: “Irsyad Ulil Basha’ir Wa Al-Albab Lima’rifati Al-Fiqh Bi Aqrobi At-Turuq Wa Aisari Al-Asbab”, tentang fikih dan disusun berdasarkan tanya jawab, dicetak oleh percetakan Al-Tarqi di Damaskus pada tahun 1365 H dan didistribusikan secara gratis. Ketiga: “Ad-Durratu Al-Mukhtasarah fi Al-Mahasin Ad-Din Al-Islami”, dicetak oleh percetakan “Ansar As-Sunnah” dengan biaya beliau sendiri pada tahun 1366 H. Keempat: “Khithabil Asriyyah Al-Qayyimah“. Ketika tanggung jawab khotbah disodorkan kepadanya, ia bekerja keras untuk menyampaikan khotbah setiap Idulfitri dan Jumat dengan tema yang sesuai dengan topik-topik penting yang dibutuhkan masyarakat di waktu tersebut. Dicetak bersamaan dengan Ad-Durratu Al-Mukhtasarah di percetakan “Ansar As-Sunnah” dengan biaya beliau sendiri dan didistribusikan secara gratis. Kelima: “Al-Qawa’id Al-Hasan Litafsiri Al-Qur’an”, dicetak oleh percetakan “Ansar As-Sunnah” dengan biaya beliau sendiri juga pada tahun 1366 H, dan didistribusikan secara gratis. Keenam: “Al-Haqqu Al-Wadih Al-Mubin”, menjelaskan ketauhidan para nabi dan rasul. Ketujuh: “Wujub At-Ta’awun Baina Al-Muslimin Wa Maudhu Al-Jihad Ad-Diiny”, dicetak di Kairo dengan biaya beliau sendiri dan didistribusikan secara gratis. Dan kitab-kitab lainnya yang banyak jumlahnya. Beliau juga mengeluarkan banyak fawa’id dan fatwa dari berbagai pertanyaan yang ditanyakan kepada beliau dari berbagai negara. Beliau juga mengeluarkan beragam “Ta’liqat” (komentar/kritik) pada banyak buku yang beliau baca dan temui. Tentu saja, niat dan tujuan beliau menyusun kitab-kitabnya adalah untuk menyebarluaskan ilmu dan menyerukan kebenaran. Oleh karena itu, beliau menulis, bahkan mencetak kebanyakan buku-buku beliau dengan biayanya sendiri sesuai kemampuan beliau dan bukan untuk mendapatkan keuntungan, ketenaran, maupun kesenangan dunia. Beliau membagikannya secara gratis agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat luas, rahimahullah. Wafatnya Setelah menjalani kehidupannya yang diberkahi selama hampir 69 tahun untuk mengabdi pada ilmu, beliau berpulang ke sisi Allah ‘Azza Wajalla pada tahun 1376 H di kota Unaizah di Qassim, rahimahullah rahmatan wasi’ah. Baca juga: Biografi Singkat Sa’id bin Zaid *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id   Sumber: http://saaid.org/Warathah/1/sadi.htm https://www.alukah.net/culture/0/70188/ترجمة-الشيخ-عبدالرحمن-بن-ناصر-بن-سعدي/#_ftn8 https://tarajm.com/people/93804

Biografi Syekh Abdurrahman bin Nasir As-Sa’di

Daftar Isi Toggle Kehidupan beliauBeberapa guru beliauPerangai beliauKeilmuan beliauKarya-karya beliauWafatnya Seorang penuntut ilmu yang memiliki perhatian besar kepada ilmu tafsir pastilah tidak asing apabila disebutkan nama Syekh Abdurrahman bin Nasir As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala, seorang pakar ilmu dalam berbagai bidang keilmuan yang juga menulis karya fenomenal dalam tafsir, yaitu Tafsir As-Sa’di. Kitab tersebut sering juga disebut dan dinamakan Taisir Karim Ar-Rahman, sebuah kitab tafsir yang cukup ringkas, ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami, penuh dengan pelajaran dan kandungan ayat serta terfokus pada penjelasan makna sebuah ayat. Pada paragraf-paragraf berikutnya, akan kita paparkan dan kita pelajari bersama biografi singkat Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah, sehingga kita semakin cinta kepada beliau dan dapat menjadikan beliau sebagai teladan dalam belajar dan berdakwah kepada Allah ‘Azza Wajalla. Kehidupan beliau Beliau adalah Syekh Abu Abdillah Abdurrahman bin Nasir bin Abdullah bin Nasir As-Sa’di. Beliau berasal dari suku Tamim dan dilahirkan di kota Unaizah di Qassim pada tanggal 12 Muharram tahun 1307 H. Beliau tumbuh besar sebagai seorang yatim piatu. Ibunya meninggal ketika beliau berusia 4 tahun, dan ayahnya meninggal ketika beliau berusia 7 tahun. Meski begitu, beliau meraih pendidikan yang baik berkat takdir Allah, begitu pula berkat kecerdasan beliau dan keinginan kuat serta ketertarikan beliau kepada ilmu dan pengetahuan. Beliau mulai mempelajari Al-Qur’an sepeninggal ayahnya, kemudian menyelesaikan hafalannya di umur 11 tahun. Beliau juga belajar dari para ulama besar di negaranya dengan sangat bersungguh-sungguh. Beliau terbilang hampir menguasai setiap bidang ilmu, kemudian beliau mulai mengajar di usia 23 tahun, dan menghabiskan hampir seluruh waktunya dengan belajar dan mengajar. Pada tahun 1350 H, beliau telah menjadi rujukan dalam keilmuan di negaranya, Saudi Arabia. Beberapa guru beliau Syekh Ibrahim bin Hamad bin Jasir Merupakan guru pertama Syekh As-Sa’di, seorang penghafal hadis, sangat penyayang terhadap fakir miskin, serta memiliki simpati yang besar terhadap mereka. Dikisahkan oleh Syekh As-Sa’di bahwa pernah suatu ketika datang seorang miskin kepada Syekh Ibrahim di musim dingin, kemudian beliau rahimahullah melepaskan salah satu pakaiannya dan memberikannya kepada orang tersebut, meskipun tentu beliau juga membutuhkannya. Syekh Muhammad bin Abdul Karim As-Shibl Merupakan guru Syekh di bidang ilmu fikih dan ilmu-ilmu bahasa Arab dan ilmu-ilmu lainnya. Beliau dikenal sebagai seorang pengembara dalam menuntut ilmu. Berbagai negara telah beliau jelajahi, termasuk di antaranya adalah kota Makkah, negeri Syam, Irak, dan bahkan hingga Lahore, India. Syekh Saleh bin Utsman Al-Qad Merupakan guru Syekh As-Sa’di di bidang ilmu tauhid, tafsir, fikih, dan usul fikih, serta ilmu-ilmu Arab, dan beliaulah guru yang paling banyak diambil ilmunya oleh Syekh As-Sa’di sampai beliau meninggal dunia. Syekh Ali An-Nasir Abu Wadi Merupakan guru Syekh As-Sa’di dalam ilmu hadis. Syekh Muhammad bin Syekh Abdul Aziz Al-Muhammad Direktur Ilmu Pengetahuan di Arab Saudi kala itu, merupakan guru Syekh As-Sa’di ketika beliau di Unaizah. Syekh Muhammad As-Shinqiti Merupakan guru Syekh As-Sa’di di bidang ilmu tafsir, hadis, dan ilmu-ilmu Arab, seperti ilmu nahwu, sharaf, dan lain-lainnya. Di antara guru beliau yang lainnya adalah Syekh Abdullah bin Ayed, Syekh Saab Al-Quwaijri, Syekh Ali Al-Sanani, dan lain-lainnya. Perangai beliau Beliau merupakan pribadi yang berakhlak mulia, sopan, jujur, tegas, namun juga tetap selalu rendah hati terhadap yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, adil terhadap yang kaya dan miskin. Beliau juga merupakan orang yang sangat disiplin terhadap waktu, sebagian besar waktu beliau digunakan untuk ilmu dan penelitian yang bermanfaat serta bernilai ibadah. Beliau juga merupakan sosok yang sangat bijaksana, selalu menyesuaikan diri dengan lawan bicaranya, berdiskusi dengan lawan bicaranya dengan topik-topik yang bermanfaat baginya di dunia maupun akhirat. Beliau sering menyelesaikan sebuah permasalahan dan problematika dengan akhir yang penuh kedamaian dan keadilan. Tidak lupa, beliau merupakan sosok yang sangat dermawan serta memiliki empati yang besar terhadap fakir miskin, rahimahullah. Baca juga: Biografi Az-Zubair bin Al-‘Awwam Keilmuan beliau Beliau sangat menguasai bidang fikih, usul fikih, dan cabang-cabang keilmuan fikih lainnya. Pada awalnya, beliau bermazhab Hanbali mengikuti para guru/syekhnya. Beliau menghafal beberapa matan yang berkaitan dengan fikih mazhab Hanbali, dan karya tulis pertama beliau di bidang fikih adalah 400 bait beserta penjelasannya secara singkat, namun beliau enggan untuk mempublikasikannya karena adanya suatu sebab. Kesibukan beliau yang paling menyita waktu adalah belajar, membaca, dan mengambil banyak ilmu dari kitab-kitab Syekhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Al-Qayyim rahimahumallahu Ta’ala, seperti ilmu fikih, usulnya, tauhid, tafsir, dan ilmu-ilmu bermanfaat lainnya. Dengan membaca karangan-karangan kedua masyayikh tersebut, beliau mulai tidak terikat dan mengambil dari mazhab Hanbali saja. Beliau lebih memilih pendapat yang lebih dikuatkan dengan dalil dari syariat. Beliau juga tidak mencela para ulama mazhab sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang fanatik dalam bermazhab. Beliau juga sangat unggul di bidang ilmu tafsir. Beliau menulis sebuah karya berjilid-jilid yang hebat di bidang tafsir yang memiliki karakter tersendiri dalam menafsirkannya. Beliau menjelaskan makna-makna Al-Qur’an dengan sangat jelas, menjelaskan kandungan-kandungan dan pelajaran-pelajaran dari ayat-ayat yang beliau tafsirkan. Beliau juga memiliki keahlian dalam berbicara ataupun berpidato. Siapa pun yang bertemu dengannya untuk belajar, bertanya maupun berdiskusi dengannya akan langsung merasakan kehebatannya dan puas dengan jawaban beliau, begitu pula, siapa pun yang membaca karya-karyanya dan fatwa-fatwa beliau. Karya-karya beliau Pertama: “Taisir Karim Ar-Rahman”, kitab tafsir berjumlah 8 jilid yang diselesaikannya pada tahun 1344 H, sedangkan beliau berumur 37 tahun. Suatu ketika, murid beliau rahimahullah, Syekh Al-Utsaimin pernah ditanya tentang kitab tafsir apa yang paling baik untuk dibaca pertama kali oleh seseorang yang baru saja belajar. Maka, beliau menjawab, أحسن شيء إما تفسير الشيخ عبدالرحمن السعدي لأنه واضح وليس فيه تكلف ولا شيء، أو تفسير ابن كثير، والباقي من التفاسير كلها طيبة إن شاء الله، لكن بعضهم غلب عليه مذهب الأشاعرة “Yang terbaik adalah memulai dengan tafsir Syekh Abdurrahman As-Sa’di, karena isinya sangatlah jelas, tidak ada yang memberatkan atau hal-hal yang menyulitkan di dalamnya, atau memulai dengan tafsir Ibnu Katsir, dan kitab tafsir selebihnya bagus semua InsyaAllah, namun (yang harus hati-hati) ada pula yang didominasi oleh doktrin Asy’ari.” (Liqa’ Bab Al-Maftuh, kaset 220 sisi A) Kedua: “Irsyad Ulil Basha’ir Wa Al-Albab Lima’rifati Al-Fiqh Bi Aqrobi At-Turuq Wa Aisari Al-Asbab”, tentang fikih dan disusun berdasarkan tanya jawab, dicetak oleh percetakan Al-Tarqi di Damaskus pada tahun 1365 H dan didistribusikan secara gratis. Ketiga: “Ad-Durratu Al-Mukhtasarah fi Al-Mahasin Ad-Din Al-Islami”, dicetak oleh percetakan “Ansar As-Sunnah” dengan biaya beliau sendiri pada tahun 1366 H. Keempat: “Khithabil Asriyyah Al-Qayyimah“. Ketika tanggung jawab khotbah disodorkan kepadanya, ia bekerja keras untuk menyampaikan khotbah setiap Idulfitri dan Jumat dengan tema yang sesuai dengan topik-topik penting yang dibutuhkan masyarakat di waktu tersebut. Dicetak bersamaan dengan Ad-Durratu Al-Mukhtasarah di percetakan “Ansar As-Sunnah” dengan biaya beliau sendiri dan didistribusikan secara gratis. Kelima: “Al-Qawa’id Al-Hasan Litafsiri Al-Qur’an”, dicetak oleh percetakan “Ansar As-Sunnah” dengan biaya beliau sendiri juga pada tahun 1366 H, dan didistribusikan secara gratis. Keenam: “Al-Haqqu Al-Wadih Al-Mubin”, menjelaskan ketauhidan para nabi dan rasul. Ketujuh: “Wujub At-Ta’awun Baina Al-Muslimin Wa Maudhu Al-Jihad Ad-Diiny”, dicetak di Kairo dengan biaya beliau sendiri dan didistribusikan secara gratis. Dan kitab-kitab lainnya yang banyak jumlahnya. Beliau juga mengeluarkan banyak fawa’id dan fatwa dari berbagai pertanyaan yang ditanyakan kepada beliau dari berbagai negara. Beliau juga mengeluarkan beragam “Ta’liqat” (komentar/kritik) pada banyak buku yang beliau baca dan temui. Tentu saja, niat dan tujuan beliau menyusun kitab-kitabnya adalah untuk menyebarluaskan ilmu dan menyerukan kebenaran. Oleh karena itu, beliau menulis, bahkan mencetak kebanyakan buku-buku beliau dengan biayanya sendiri sesuai kemampuan beliau dan bukan untuk mendapatkan keuntungan, ketenaran, maupun kesenangan dunia. Beliau membagikannya secara gratis agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat luas, rahimahullah. Wafatnya Setelah menjalani kehidupannya yang diberkahi selama hampir 69 tahun untuk mengabdi pada ilmu, beliau berpulang ke sisi Allah ‘Azza Wajalla pada tahun 1376 H di kota Unaizah di Qassim, rahimahullah rahmatan wasi’ah. Baca juga: Biografi Singkat Sa’id bin Zaid *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id   Sumber: http://saaid.org/Warathah/1/sadi.htm https://www.alukah.net/culture/0/70188/ترجمة-الشيخ-عبدالرحمن-بن-ناصر-بن-سعدي/#_ftn8 https://tarajm.com/people/93804
Daftar Isi Toggle Kehidupan beliauBeberapa guru beliauPerangai beliauKeilmuan beliauKarya-karya beliauWafatnya Seorang penuntut ilmu yang memiliki perhatian besar kepada ilmu tafsir pastilah tidak asing apabila disebutkan nama Syekh Abdurrahman bin Nasir As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala, seorang pakar ilmu dalam berbagai bidang keilmuan yang juga menulis karya fenomenal dalam tafsir, yaitu Tafsir As-Sa’di. Kitab tersebut sering juga disebut dan dinamakan Taisir Karim Ar-Rahman, sebuah kitab tafsir yang cukup ringkas, ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami, penuh dengan pelajaran dan kandungan ayat serta terfokus pada penjelasan makna sebuah ayat. Pada paragraf-paragraf berikutnya, akan kita paparkan dan kita pelajari bersama biografi singkat Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah, sehingga kita semakin cinta kepada beliau dan dapat menjadikan beliau sebagai teladan dalam belajar dan berdakwah kepada Allah ‘Azza Wajalla. Kehidupan beliau Beliau adalah Syekh Abu Abdillah Abdurrahman bin Nasir bin Abdullah bin Nasir As-Sa’di. Beliau berasal dari suku Tamim dan dilahirkan di kota Unaizah di Qassim pada tanggal 12 Muharram tahun 1307 H. Beliau tumbuh besar sebagai seorang yatim piatu. Ibunya meninggal ketika beliau berusia 4 tahun, dan ayahnya meninggal ketika beliau berusia 7 tahun. Meski begitu, beliau meraih pendidikan yang baik berkat takdir Allah, begitu pula berkat kecerdasan beliau dan keinginan kuat serta ketertarikan beliau kepada ilmu dan pengetahuan. Beliau mulai mempelajari Al-Qur’an sepeninggal ayahnya, kemudian menyelesaikan hafalannya di umur 11 tahun. Beliau juga belajar dari para ulama besar di negaranya dengan sangat bersungguh-sungguh. Beliau terbilang hampir menguasai setiap bidang ilmu, kemudian beliau mulai mengajar di usia 23 tahun, dan menghabiskan hampir seluruh waktunya dengan belajar dan mengajar. Pada tahun 1350 H, beliau telah menjadi rujukan dalam keilmuan di negaranya, Saudi Arabia. Beberapa guru beliau Syekh Ibrahim bin Hamad bin Jasir Merupakan guru pertama Syekh As-Sa’di, seorang penghafal hadis, sangat penyayang terhadap fakir miskin, serta memiliki simpati yang besar terhadap mereka. Dikisahkan oleh Syekh As-Sa’di bahwa pernah suatu ketika datang seorang miskin kepada Syekh Ibrahim di musim dingin, kemudian beliau rahimahullah melepaskan salah satu pakaiannya dan memberikannya kepada orang tersebut, meskipun tentu beliau juga membutuhkannya. Syekh Muhammad bin Abdul Karim As-Shibl Merupakan guru Syekh di bidang ilmu fikih dan ilmu-ilmu bahasa Arab dan ilmu-ilmu lainnya. Beliau dikenal sebagai seorang pengembara dalam menuntut ilmu. Berbagai negara telah beliau jelajahi, termasuk di antaranya adalah kota Makkah, negeri Syam, Irak, dan bahkan hingga Lahore, India. Syekh Saleh bin Utsman Al-Qad Merupakan guru Syekh As-Sa’di di bidang ilmu tauhid, tafsir, fikih, dan usul fikih, serta ilmu-ilmu Arab, dan beliaulah guru yang paling banyak diambil ilmunya oleh Syekh As-Sa’di sampai beliau meninggal dunia. Syekh Ali An-Nasir Abu Wadi Merupakan guru Syekh As-Sa’di dalam ilmu hadis. Syekh Muhammad bin Syekh Abdul Aziz Al-Muhammad Direktur Ilmu Pengetahuan di Arab Saudi kala itu, merupakan guru Syekh As-Sa’di ketika beliau di Unaizah. Syekh Muhammad As-Shinqiti Merupakan guru Syekh As-Sa’di di bidang ilmu tafsir, hadis, dan ilmu-ilmu Arab, seperti ilmu nahwu, sharaf, dan lain-lainnya. Di antara guru beliau yang lainnya adalah Syekh Abdullah bin Ayed, Syekh Saab Al-Quwaijri, Syekh Ali Al-Sanani, dan lain-lainnya. Perangai beliau Beliau merupakan pribadi yang berakhlak mulia, sopan, jujur, tegas, namun juga tetap selalu rendah hati terhadap yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, adil terhadap yang kaya dan miskin. Beliau juga merupakan orang yang sangat disiplin terhadap waktu, sebagian besar waktu beliau digunakan untuk ilmu dan penelitian yang bermanfaat serta bernilai ibadah. Beliau juga merupakan sosok yang sangat bijaksana, selalu menyesuaikan diri dengan lawan bicaranya, berdiskusi dengan lawan bicaranya dengan topik-topik yang bermanfaat baginya di dunia maupun akhirat. Beliau sering menyelesaikan sebuah permasalahan dan problematika dengan akhir yang penuh kedamaian dan keadilan. Tidak lupa, beliau merupakan sosok yang sangat dermawan serta memiliki empati yang besar terhadap fakir miskin, rahimahullah. Baca juga: Biografi Az-Zubair bin Al-‘Awwam Keilmuan beliau Beliau sangat menguasai bidang fikih, usul fikih, dan cabang-cabang keilmuan fikih lainnya. Pada awalnya, beliau bermazhab Hanbali mengikuti para guru/syekhnya. Beliau menghafal beberapa matan yang berkaitan dengan fikih mazhab Hanbali, dan karya tulis pertama beliau di bidang fikih adalah 400 bait beserta penjelasannya secara singkat, namun beliau enggan untuk mempublikasikannya karena adanya suatu sebab. Kesibukan beliau yang paling menyita waktu adalah belajar, membaca, dan mengambil banyak ilmu dari kitab-kitab Syekhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Al-Qayyim rahimahumallahu Ta’ala, seperti ilmu fikih, usulnya, tauhid, tafsir, dan ilmu-ilmu bermanfaat lainnya. Dengan membaca karangan-karangan kedua masyayikh tersebut, beliau mulai tidak terikat dan mengambil dari mazhab Hanbali saja. Beliau lebih memilih pendapat yang lebih dikuatkan dengan dalil dari syariat. Beliau juga tidak mencela para ulama mazhab sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang fanatik dalam bermazhab. Beliau juga sangat unggul di bidang ilmu tafsir. Beliau menulis sebuah karya berjilid-jilid yang hebat di bidang tafsir yang memiliki karakter tersendiri dalam menafsirkannya. Beliau menjelaskan makna-makna Al-Qur’an dengan sangat jelas, menjelaskan kandungan-kandungan dan pelajaran-pelajaran dari ayat-ayat yang beliau tafsirkan. Beliau juga memiliki keahlian dalam berbicara ataupun berpidato. Siapa pun yang bertemu dengannya untuk belajar, bertanya maupun berdiskusi dengannya akan langsung merasakan kehebatannya dan puas dengan jawaban beliau, begitu pula, siapa pun yang membaca karya-karyanya dan fatwa-fatwa beliau. Karya-karya beliau Pertama: “Taisir Karim Ar-Rahman”, kitab tafsir berjumlah 8 jilid yang diselesaikannya pada tahun 1344 H, sedangkan beliau berumur 37 tahun. Suatu ketika, murid beliau rahimahullah, Syekh Al-Utsaimin pernah ditanya tentang kitab tafsir apa yang paling baik untuk dibaca pertama kali oleh seseorang yang baru saja belajar. Maka, beliau menjawab, أحسن شيء إما تفسير الشيخ عبدالرحمن السعدي لأنه واضح وليس فيه تكلف ولا شيء، أو تفسير ابن كثير، والباقي من التفاسير كلها طيبة إن شاء الله، لكن بعضهم غلب عليه مذهب الأشاعرة “Yang terbaik adalah memulai dengan tafsir Syekh Abdurrahman As-Sa’di, karena isinya sangatlah jelas, tidak ada yang memberatkan atau hal-hal yang menyulitkan di dalamnya, atau memulai dengan tafsir Ibnu Katsir, dan kitab tafsir selebihnya bagus semua InsyaAllah, namun (yang harus hati-hati) ada pula yang didominasi oleh doktrin Asy’ari.” (Liqa’ Bab Al-Maftuh, kaset 220 sisi A) Kedua: “Irsyad Ulil Basha’ir Wa Al-Albab Lima’rifati Al-Fiqh Bi Aqrobi At-Turuq Wa Aisari Al-Asbab”, tentang fikih dan disusun berdasarkan tanya jawab, dicetak oleh percetakan Al-Tarqi di Damaskus pada tahun 1365 H dan didistribusikan secara gratis. Ketiga: “Ad-Durratu Al-Mukhtasarah fi Al-Mahasin Ad-Din Al-Islami”, dicetak oleh percetakan “Ansar As-Sunnah” dengan biaya beliau sendiri pada tahun 1366 H. Keempat: “Khithabil Asriyyah Al-Qayyimah“. Ketika tanggung jawab khotbah disodorkan kepadanya, ia bekerja keras untuk menyampaikan khotbah setiap Idulfitri dan Jumat dengan tema yang sesuai dengan topik-topik penting yang dibutuhkan masyarakat di waktu tersebut. Dicetak bersamaan dengan Ad-Durratu Al-Mukhtasarah di percetakan “Ansar As-Sunnah” dengan biaya beliau sendiri dan didistribusikan secara gratis. Kelima: “Al-Qawa’id Al-Hasan Litafsiri Al-Qur’an”, dicetak oleh percetakan “Ansar As-Sunnah” dengan biaya beliau sendiri juga pada tahun 1366 H, dan didistribusikan secara gratis. Keenam: “Al-Haqqu Al-Wadih Al-Mubin”, menjelaskan ketauhidan para nabi dan rasul. Ketujuh: “Wujub At-Ta’awun Baina Al-Muslimin Wa Maudhu Al-Jihad Ad-Diiny”, dicetak di Kairo dengan biaya beliau sendiri dan didistribusikan secara gratis. Dan kitab-kitab lainnya yang banyak jumlahnya. Beliau juga mengeluarkan banyak fawa’id dan fatwa dari berbagai pertanyaan yang ditanyakan kepada beliau dari berbagai negara. Beliau juga mengeluarkan beragam “Ta’liqat” (komentar/kritik) pada banyak buku yang beliau baca dan temui. Tentu saja, niat dan tujuan beliau menyusun kitab-kitabnya adalah untuk menyebarluaskan ilmu dan menyerukan kebenaran. Oleh karena itu, beliau menulis, bahkan mencetak kebanyakan buku-buku beliau dengan biayanya sendiri sesuai kemampuan beliau dan bukan untuk mendapatkan keuntungan, ketenaran, maupun kesenangan dunia. Beliau membagikannya secara gratis agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat luas, rahimahullah. Wafatnya Setelah menjalani kehidupannya yang diberkahi selama hampir 69 tahun untuk mengabdi pada ilmu, beliau berpulang ke sisi Allah ‘Azza Wajalla pada tahun 1376 H di kota Unaizah di Qassim, rahimahullah rahmatan wasi’ah. Baca juga: Biografi Singkat Sa’id bin Zaid *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id   Sumber: http://saaid.org/Warathah/1/sadi.htm https://www.alukah.net/culture/0/70188/ترجمة-الشيخ-عبدالرحمن-بن-ناصر-بن-سعدي/#_ftn8 https://tarajm.com/people/93804


Daftar Isi Toggle Kehidupan beliauBeberapa guru beliauPerangai beliauKeilmuan beliauKarya-karya beliauWafatnya Seorang penuntut ilmu yang memiliki perhatian besar kepada ilmu tafsir pastilah tidak asing apabila disebutkan nama Syekh Abdurrahman bin Nasir As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala, seorang pakar ilmu dalam berbagai bidang keilmuan yang juga menulis karya fenomenal dalam tafsir, yaitu Tafsir As-Sa’di. Kitab tersebut sering juga disebut dan dinamakan Taisir Karim Ar-Rahman, sebuah kitab tafsir yang cukup ringkas, ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami, penuh dengan pelajaran dan kandungan ayat serta terfokus pada penjelasan makna sebuah ayat. Pada paragraf-paragraf berikutnya, akan kita paparkan dan kita pelajari bersama biografi singkat Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah, sehingga kita semakin cinta kepada beliau dan dapat menjadikan beliau sebagai teladan dalam belajar dan berdakwah kepada Allah ‘Azza Wajalla. Kehidupan beliau Beliau adalah Syekh Abu Abdillah Abdurrahman bin Nasir bin Abdullah bin Nasir As-Sa’di. Beliau berasal dari suku Tamim dan dilahirkan di kota Unaizah di Qassim pada tanggal 12 Muharram tahun 1307 H. Beliau tumbuh besar sebagai seorang yatim piatu. Ibunya meninggal ketika beliau berusia 4 tahun, dan ayahnya meninggal ketika beliau berusia 7 tahun. Meski begitu, beliau meraih pendidikan yang baik berkat takdir Allah, begitu pula berkat kecerdasan beliau dan keinginan kuat serta ketertarikan beliau kepada ilmu dan pengetahuan. Beliau mulai mempelajari Al-Qur’an sepeninggal ayahnya, kemudian menyelesaikan hafalannya di umur 11 tahun. Beliau juga belajar dari para ulama besar di negaranya dengan sangat bersungguh-sungguh. Beliau terbilang hampir menguasai setiap bidang ilmu, kemudian beliau mulai mengajar di usia 23 tahun, dan menghabiskan hampir seluruh waktunya dengan belajar dan mengajar. Pada tahun 1350 H, beliau telah menjadi rujukan dalam keilmuan di negaranya, Saudi Arabia. Beberapa guru beliau Syekh Ibrahim bin Hamad bin Jasir Merupakan guru pertama Syekh As-Sa’di, seorang penghafal hadis, sangat penyayang terhadap fakir miskin, serta memiliki simpati yang besar terhadap mereka. Dikisahkan oleh Syekh As-Sa’di bahwa pernah suatu ketika datang seorang miskin kepada Syekh Ibrahim di musim dingin, kemudian beliau rahimahullah melepaskan salah satu pakaiannya dan memberikannya kepada orang tersebut, meskipun tentu beliau juga membutuhkannya. Syekh Muhammad bin Abdul Karim As-Shibl Merupakan guru Syekh di bidang ilmu fikih dan ilmu-ilmu bahasa Arab dan ilmu-ilmu lainnya. Beliau dikenal sebagai seorang pengembara dalam menuntut ilmu. Berbagai negara telah beliau jelajahi, termasuk di antaranya adalah kota Makkah, negeri Syam, Irak, dan bahkan hingga Lahore, India. Syekh Saleh bin Utsman Al-Qad Merupakan guru Syekh As-Sa’di di bidang ilmu tauhid, tafsir, fikih, dan usul fikih, serta ilmu-ilmu Arab, dan beliaulah guru yang paling banyak diambil ilmunya oleh Syekh As-Sa’di sampai beliau meninggal dunia. Syekh Ali An-Nasir Abu Wadi Merupakan guru Syekh As-Sa’di dalam ilmu hadis. Syekh Muhammad bin Syekh Abdul Aziz Al-Muhammad Direktur Ilmu Pengetahuan di Arab Saudi kala itu, merupakan guru Syekh As-Sa’di ketika beliau di Unaizah. Syekh Muhammad As-Shinqiti Merupakan guru Syekh As-Sa’di di bidang ilmu tafsir, hadis, dan ilmu-ilmu Arab, seperti ilmu nahwu, sharaf, dan lain-lainnya. Di antara guru beliau yang lainnya adalah Syekh Abdullah bin Ayed, Syekh Saab Al-Quwaijri, Syekh Ali Al-Sanani, dan lain-lainnya. Perangai beliau Beliau merupakan pribadi yang berakhlak mulia, sopan, jujur, tegas, namun juga tetap selalu rendah hati terhadap yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, adil terhadap yang kaya dan miskin. Beliau juga merupakan orang yang sangat disiplin terhadap waktu, sebagian besar waktu beliau digunakan untuk ilmu dan penelitian yang bermanfaat serta bernilai ibadah. Beliau juga merupakan sosok yang sangat bijaksana, selalu menyesuaikan diri dengan lawan bicaranya, berdiskusi dengan lawan bicaranya dengan topik-topik yang bermanfaat baginya di dunia maupun akhirat. Beliau sering menyelesaikan sebuah permasalahan dan problematika dengan akhir yang penuh kedamaian dan keadilan. Tidak lupa, beliau merupakan sosok yang sangat dermawan serta memiliki empati yang besar terhadap fakir miskin, rahimahullah. Baca juga: Biografi Az-Zubair bin Al-‘Awwam Keilmuan beliau Beliau sangat menguasai bidang fikih, usul fikih, dan cabang-cabang keilmuan fikih lainnya. Pada awalnya, beliau bermazhab Hanbali mengikuti para guru/syekhnya. Beliau menghafal beberapa matan yang berkaitan dengan fikih mazhab Hanbali, dan karya tulis pertama beliau di bidang fikih adalah 400 bait beserta penjelasannya secara singkat, namun beliau enggan untuk mempublikasikannya karena adanya suatu sebab. Kesibukan beliau yang paling menyita waktu adalah belajar, membaca, dan mengambil banyak ilmu dari kitab-kitab Syekhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Al-Qayyim rahimahumallahu Ta’ala, seperti ilmu fikih, usulnya, tauhid, tafsir, dan ilmu-ilmu bermanfaat lainnya. Dengan membaca karangan-karangan kedua masyayikh tersebut, beliau mulai tidak terikat dan mengambil dari mazhab Hanbali saja. Beliau lebih memilih pendapat yang lebih dikuatkan dengan dalil dari syariat. Beliau juga tidak mencela para ulama mazhab sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang fanatik dalam bermazhab. Beliau juga sangat unggul di bidang ilmu tafsir. Beliau menulis sebuah karya berjilid-jilid yang hebat di bidang tafsir yang memiliki karakter tersendiri dalam menafsirkannya. Beliau menjelaskan makna-makna Al-Qur’an dengan sangat jelas, menjelaskan kandungan-kandungan dan pelajaran-pelajaran dari ayat-ayat yang beliau tafsirkan. Beliau juga memiliki keahlian dalam berbicara ataupun berpidato. Siapa pun yang bertemu dengannya untuk belajar, bertanya maupun berdiskusi dengannya akan langsung merasakan kehebatannya dan puas dengan jawaban beliau, begitu pula, siapa pun yang membaca karya-karyanya dan fatwa-fatwa beliau. Karya-karya beliau Pertama: “Taisir Karim Ar-Rahman”, kitab tafsir berjumlah 8 jilid yang diselesaikannya pada tahun 1344 H, sedangkan beliau berumur 37 tahun. Suatu ketika, murid beliau rahimahullah, Syekh Al-Utsaimin pernah ditanya tentang kitab tafsir apa yang paling baik untuk dibaca pertama kali oleh seseorang yang baru saja belajar. Maka, beliau menjawab, أحسن شيء إما تفسير الشيخ عبدالرحمن السعدي لأنه واضح وليس فيه تكلف ولا شيء، أو تفسير ابن كثير، والباقي من التفاسير كلها طيبة إن شاء الله، لكن بعضهم غلب عليه مذهب الأشاعرة “Yang terbaik adalah memulai dengan tafsir Syekh Abdurrahman As-Sa’di, karena isinya sangatlah jelas, tidak ada yang memberatkan atau hal-hal yang menyulitkan di dalamnya, atau memulai dengan tafsir Ibnu Katsir, dan kitab tafsir selebihnya bagus semua InsyaAllah, namun (yang harus hati-hati) ada pula yang didominasi oleh doktrin Asy’ari.” (Liqa’ Bab Al-Maftuh, kaset 220 sisi A) Kedua: “Irsyad Ulil Basha’ir Wa Al-Albab Lima’rifati Al-Fiqh Bi Aqrobi At-Turuq Wa Aisari Al-Asbab”, tentang fikih dan disusun berdasarkan tanya jawab, dicetak oleh percetakan Al-Tarqi di Damaskus pada tahun 1365 H dan didistribusikan secara gratis. Ketiga: “Ad-Durratu Al-Mukhtasarah fi Al-Mahasin Ad-Din Al-Islami”, dicetak oleh percetakan “Ansar As-Sunnah” dengan biaya beliau sendiri pada tahun 1366 H. Keempat: “Khithabil Asriyyah Al-Qayyimah“. Ketika tanggung jawab khotbah disodorkan kepadanya, ia bekerja keras untuk menyampaikan khotbah setiap Idulfitri dan Jumat dengan tema yang sesuai dengan topik-topik penting yang dibutuhkan masyarakat di waktu tersebut. Dicetak bersamaan dengan Ad-Durratu Al-Mukhtasarah di percetakan “Ansar As-Sunnah” dengan biaya beliau sendiri dan didistribusikan secara gratis. Kelima: “Al-Qawa’id Al-Hasan Litafsiri Al-Qur’an”, dicetak oleh percetakan “Ansar As-Sunnah” dengan biaya beliau sendiri juga pada tahun 1366 H, dan didistribusikan secara gratis. Keenam: “Al-Haqqu Al-Wadih Al-Mubin”, menjelaskan ketauhidan para nabi dan rasul. Ketujuh: “Wujub At-Ta’awun Baina Al-Muslimin Wa Maudhu Al-Jihad Ad-Diiny”, dicetak di Kairo dengan biaya beliau sendiri dan didistribusikan secara gratis. Dan kitab-kitab lainnya yang banyak jumlahnya. Beliau juga mengeluarkan banyak fawa’id dan fatwa dari berbagai pertanyaan yang ditanyakan kepada beliau dari berbagai negara. Beliau juga mengeluarkan beragam “Ta’liqat” (komentar/kritik) pada banyak buku yang beliau baca dan temui. Tentu saja, niat dan tujuan beliau menyusun kitab-kitabnya adalah untuk menyebarluaskan ilmu dan menyerukan kebenaran. Oleh karena itu, beliau menulis, bahkan mencetak kebanyakan buku-buku beliau dengan biayanya sendiri sesuai kemampuan beliau dan bukan untuk mendapatkan keuntungan, ketenaran, maupun kesenangan dunia. Beliau membagikannya secara gratis agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat luas, rahimahullah. Wafatnya Setelah menjalani kehidupannya yang diberkahi selama hampir 69 tahun untuk mengabdi pada ilmu, beliau berpulang ke sisi Allah ‘Azza Wajalla pada tahun 1376 H di kota Unaizah di Qassim, rahimahullah rahmatan wasi’ah. Baca juga: Biografi Singkat Sa’id bin Zaid *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id   Sumber: http://saaid.org/Warathah/1/sadi.htm https://www.alukah.net/culture/0/70188/ترجمة-الشيخ-عبدالرحمن-بن-ناصر-بن-سعدي/#_ftn8 https://tarajm.com/people/93804

Agar Olahraga Bernilai Ibadah

Daftar Isi Toggle Motivasi syariat untuk memiliki tubuh yang sehat dan kuatSemangat Nabi perihal olahragaMeniatkan olahraga sebagai ibadahAdab-adab dalam berolahragaPertama: Berpakaian sopan ketika berolahragaKedua: Hendaknya olahraga tersebut tidak mengganggu pelaksanaan ibadah pada waktunyaKetiga: Tidak ikhtilat atau bercampur baur dengan lawan jenis saat berolahragaKeempat: Tidak mengganggu ataupun menyakiti makhluk Allah dalam kegiatan olahraganya Islam adalah agama yang sempurna. Tidaklah ada sebuah kebaikan, kecuali pasti akan diajarkan dan dianjurkan. Allah Ta’ala berfirman mengenai kesempurnaan Islam, الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam menjadi agama bagimu.” (QS. Al-Ma’idah: 3) Allah Ta’ala juga menyampaikan bahwa tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus, kecuali untuk menyampaikan hal-hal baik kepada kita dan melarang perbuatan-perbuatan buruk untuk dilakukan. Allah Ta’ala berfirman, لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ “Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali ‘Imran: 164) Di antara perkara kebaikan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bersyukur atas setiap nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepada kita, tidak terkecuali adalah nikmat tubuh dan anggota badan yang Allah berikan kepada kita semenjak kita dilahirkan. Nabi menganjurkan para sahabatnya untuk berolahraga dan menjaga tubuh mereka. Di banyak hadis juga disebutkan bagaimana semangat beliau di dalam menjaga tubuhnya. Motivasi syariat untuk memiliki tubuh yang sehat dan kuat Di dalam hadis yang sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ “Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah, namun pada masing-masing (dari keduanya) ada kebaikan. Bersemangatlah terhadap hal-hal yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan menjadi lemah.” (HR. Muslim no. 2664) Kekuatan seorang mukmin diperlukan dalam segala bidang kehidupannya, terutama dalam keyakinan dan keimanannya. Kekuatan, kesehatan, dan keselamatan tubuh juga diperlukan untuk menolong dan membantu seorang hamba dalam menjalankan perintah Allah Ta’ala, baik itu dalam melaksanakan salat, puasa, haji, berjihad, ataupun ibadah-ibadah lainnya. Sementara itu, lemahnya badan dan sakitnya, maka dapat menghalangi dan menghambat kelancaran seorang hamba dalam beribadah. Oleh karena itu, di antara doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk dibaca tatkala sedang menjenguk orang sakit adalah doa meminta kesembuhan dan kesehatan yang akan membantu kita di dalam berjalan menuju salat. Beliau bersabda, إِذَا جَاءَ الرَّجُلُ يَعُودُ مَرِيضًا، فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ اشْفِ عَبْدَكَ يَنْكَأُ لَكَ عَدُوًّا، أَوْ يَمْشِي لَكَ إِلَى صَلَاةٍ ، وفي روايةٍ : إلى جنازةٍ “Apabila ada seseorang datang menjenguk orang yang sakit, hendaknya ia mengucapkan (doa), ‘ALLAHUMMASYFI ,’ABDAKA YANKA’U LAKA ‘ADUWWAN AU YAMSYI LAKA ILA SHALATIN.’ (Ya Allah, sembuhkanlah hamba-Mu yang akan mengalahkan musuh-Mu, atau berjalan karena-Mu untuk salat). Di dalam riwayat lain disebutkan, ‘mengantarkan jenazah.’ ” (HR. Abu Dawud no. 3107 dan Ahmad no. 6600) Allah Ta’ala juga mengisyaratkan pentingnya tubuh yang kuat di dalam hal kepemimpinan dan keunggulan seorang manusia. Allah Ta’ala mengisahkan perihal kisah Nabi Shamuel dengan kaumnya, وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا قَالُوا أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ “Nabi mereka mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab, “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata, “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Mahaluas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 247) Di dalam Tafsir As-Sa’di disebutkan, “Mereka mempermasalahkan ketetapan nabi mereka untuk memilih Thalut sebagai raja mereka, padahal (menurut mereka) ada orang yang lebih baik rumahnya dan lebih banyak harta darinya. Nabi mereka menjawab bahwa sesungguhnya Allah telah memilihnya untuk kalian, karena Dia telah mengaruniakan kepadanya kekuatan ilmu tentang siasat (perang) dan kekuatan tubuh, yang mana kedua hal itu merupakan sarana keberanian, kemenangan, dan keahlian dalam mengatur peperangan, dan bahwasanya raja itu tidaklah dengan banyaknya harta, dan tidak juga orang yang menjadi raja itu harus merupakan raja dan pemimpin pula dalam daerah-daerah mereka, karena Allah memberi kerajaan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” Islam menjadikan kesehatan dan kekuatan tubuh sebagai salah satu faktor kemenangan, rasa semangat dalam beribadah, dan keunggulan seorang manusia. Sudah sepantasnya seorang muslim menjaga tubuhnya dengan berolahraga, sehingga dirinya kuat di dalam menajalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Semangat Nabi perihal olahraga Dalam riwayat Bukhari, Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu salah seorang pendekar dan pejuang dari kalangan sahabat Nabi berkata, مَرَّ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ علَى نَفَرٍ مِن أَسْلَمَ يَنْتَضِلُونَ، فَقالَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: ارْمُوا بَنِي إسْمَاعِيلَ، فإنَّ أَبَاكُمْ كانَ رَامِيًا ارْمُوا، وأَنَا مع بَنِي فُلَانٍ قالَ: فأمْسَكَ أَحَدُ الفَرِيقَيْنِ بأَيْدِيهِمْ، فَقالَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: ما لَكُمْ لا تَرْمُونَ؟، قالوا: كيفَ نَرْمِي وأَنْتَ معهُمْ؟ قالَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: ارْمُوا فأنَا معكُمْ كُلِّكُمْ. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah lewat di hadapan beberapa orang dari suku Aslam yang sedang berlomba dalam menunjukkan kemahiran memanah, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Memanahlah kaliah wahai Bani Isma’il (keturunan Nabi Ismail), karena sesungguhnya nenek moyang kalian adalah ahli memanah. Memanahlah dan aku ada bersama Bani Fulan.” Salamah berkata, “Lalu, salah satu dari dua kelompok ada yang menahan tangan-tangan mereka (berhenti sejenak berlatih memanah), maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Mengapa kalian tidak terus berlatih memanah?” Mereka menjawab, “Bagaimana kami harus berlatih, sedangkan tuan berpihak kepada mereka?” Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berlatihlah, karena aku bersama kalian semuanya.” (HR. Bukhari no. 2899) Di dalam hadis yang lainnya, juga disebutkan bagaimana beliau memotivasi sahabatnya untuk berlomba-lomba dalam berkuda dan memanah. Beliau bersabda, لاَ سبقَ إلاَّ في خفٍّ أو في حافرٍ أو نصلٍ “Tidak boleh ada perlombaan berhadiah, kecuali dalam lomba balap unta, berkuda, dan memanah.” (HR. Tirmidzi no. 1700 dan Abu Daud no. 2574) Beliau juga pernah berlomba lari atau berjalan cepat dengan istrinya Aisyah radhiyallahu anha, عن عائشةَ، رضيَ اللَّهُ عنها، أنَّها كانَت معَ النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ في سفَرٍ قالت: فسابقتُهُ فسبقتُهُ على رجليَّ، فلمَّا حَملتُ اللَّحمَ سابقتُهُ فسبقَني فقالَ: هذِهِ بتلكَ السَّبقةِ Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita bahwasanya ia pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu perjalanan. Ia berkata, “Kemudian aku berlomba dengan beliau, lalu aku mendahului beliau dengan berjalan kaki. Kemudian setelah gemuk, aku berlomba lagi dengan beliau kemudian beliau mendahuluiku.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ini menggantikan kekalahanku pada perlombaan terdahulu.” (HR. Abu Dawud no. 2578 dan Ibnu Majah no. 1979) Olahraga merupakan salah satu sarana untuk mewujudkan rasa syukur kita kepada Allah Ta’ala atas limpahan nikmat kesehatan yang telah Allah berikan, sehingga tubuh kita tetap kuat dan sehat. Setiap anggota tubuh dapat menjalankan fungsinya secara alami, jantung yang bekerja dengan baik, otot yang kuat, tubuh yang lentur, dan sendi-sendi yang kuat untuk menopang setiap aktivitas kita, terutama yang bernilai ketaatan kepada Allah Ta’ala. Baca juga: Hukum Olahraga Memanah dan Berkuda bagi Wanita Meniatkan olahraga sebagai ibadah Niat memiliki dampak dan pengaruh yang sangat besar dalam sebuah amalan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى “Amalan-amalan itu tergantung pada niatnya. Dan setiap orang itu hanyalah akan dibalas berdasarkan apa yang ia niatkan.”  (HR. Bukhari no. 1) Niat yang benar dan tepat akan menjadikan hal-hal yang bernilai mubah menjadi ibadah. Begitu pula dalam berolahraga, saat seorang hamba meniatkannya sebagai sarana untuk menguatkan tubuh dalam beribadah sehingga lebih kuat dalam menjalankan salat malam, lebih kuat saat berhaji, lebih matang dan siap apabila diperlukan untuk berperang, maka sejatinya semua itu bernilai ibadah dan mendapatkan ganjaran dari Allah Ta’ala. Hal ini sejalan dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala ada sekelompok sahabat berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ”Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah pergi membawa pahala-pahala mereka. Mereka salat sebagaimana kami salat, mereka berpuasa sebagaimana kami juga berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka (sedangkan kami tidak bisa bersedekah).” Mendengar hal tersebut Rasulullah bersabda, أَوَلَيْسَ قَدْجَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَاتَصَدَّقُوْنَ, إِنّ َبِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً, وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً, وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً, وَكُلَّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً, وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةً, وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةً, وَفِيْ بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً), قَالُوا:يَارَسُوْلَ اللَّهِ أَيَأْتِيْ أَحَدُنَاشَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ؟, قَالَ:(أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِيْ حَرَامٍ, أَكَانَ عَلَيْهِ فِيْهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَالِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِيْ الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ “Bukankah Allah telah menjadikan buat kalian sesuatu untuk kalian bisa bersedekah dengannya? Sesungguhnya setiap tasbih itu adalah sedekah, dan setiap takbir itu adalah sedekah, dan setiap tahmid itu adalah sedekah, dan setiap tahlil itu adalah sedekah, memerintahkan kepada hal yang makruf itu adalah sedekah, mencegah dari hal yang mungkar itu adalah sedekah, bahkan dalam kemaluan kalian itu juga terdapat sedekah.” Mereka berkata, ”Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah salah seorang dari kami jika menyalurkan syahwatnya (dengan benar) dia akan mendapatkan pahala?” Beliau bersabda, ”Bagaimana pendapat kalian jika disalurkan pada yang haram, bukankah dia berdosa? Maka, demikian pula, kalau disalurkan pada yang halal tentu dia memperoleh pahala.” (HR. Muslim no. 1006) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa setiap sesuatu yang dilakukan untuk tujuan kebaikan, maka akan mendapatkan ganjaran pahala dari Allah Ta’ala. Begitu pula halnya dalam berolahraga, jika kita niatkan untuk menguatkan tubuh kita sehingga semakin semangat dalam beribadah, semakin kuat di dalam melakukan kebaikan, dan membuat kita semakin panjang di dalam melaksanakan salat malam, maka semuanya akan diberi ganjaran oleh Allah Ta’ala. Perlu kiranya untuk kita ketahui bersama bahwa di dalam berolahraga, agar bernilai pahala di sisi Allah Ta’ala, maka harus mengikuti rambu-rambu syariat yang ada, memperhatikan adab-adab umum yang berlaku di dalam syariat ini. Berikut ini adalah beberapa adab yang perlu untuk kita ketahui dalam berolahraga. Adab-adab dalam berolahraga Pertama: Berpakaian sopan ketika berolahraga Tidak menggunakan pakaian yang ketat, tembus pandang, dan membuka aurat dalam berolahraga, terutama bagi seorang wanita. Kedua: Hendaknya olahraga tersebut tidak mengganggu pelaksanaan ibadah pada waktunya Olahraga yang kita lakukan hendaknya tidak melalaikan kita dari perkara-perkara wajib, terutama melaksanakan salat lima waktu pada waktunya. Karena hukum asal ibadah adalah mubah, sedangkan hukum salat pada waktunya adalah wajib. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا “Sesungguhnya salat itu adalah fardu (kewajiban) yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103) Ketiga: Tidak ikhtilat atau bercampur baur dengan lawan jenis saat berolahraga Larangan ikhtilat berlaku di semua tempat, termasuk juga di tempat olahraga. Lihatlah bagaimana usaha Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencegah terjadinya ikhtilat “campur baur” di antara para sahabatnya. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengisahkan, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ قَامَ النِّسَاءُ حِينَ يَقْضِي تَسْلِيمَهُ وَمَكَثَ يَسِيرًا قَبْلَ أَنْ يَقُومَ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, jika beliau salam (selesai salat), maka kaum wanita segera bangkit saat beliau selesai salam, lalu beliau diam sebentar sebelum bangun.” (HR. Bukhari no. 837) Ibnu Syihab Az-Zuhri salah satu perawi hadis ini berkata, فَأُرَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَنَّ مُكْثَهُ لِكَيْ يَنْفُذَ النِّسَاءُ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُنَّ مَنْ انْصَرَفَ مِنْ الْقَوْم “Saya berpendapat bahwa diamnya beliau adalah agar kaum wanita sudah habis, sebelum disusul oleh jemaah laki-laki yang hendak keluar masjid.” Keempat: Tidak mengganggu ataupun menyakiti makhluk Allah dalam kegiatan olahraganya Baik itu menyakiti manusia lainnya ataupun hewan, seperti menjadikan burung sebagai sasaran latihan memanah, atau menyiksa hewan tunggangan, atau menghinakan burung dan hewan lainnya untuk tujuan hiburan seperti adu banteng, misalnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ “Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah no. 1909) Semoga Allah senantiasa menjaga kesehatan tubuh kita dan memberikan rasa semangat untuk berolahraga kepada kita semua. Baca juga: Hukum Olahraga Tinju *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id

Agar Olahraga Bernilai Ibadah

Daftar Isi Toggle Motivasi syariat untuk memiliki tubuh yang sehat dan kuatSemangat Nabi perihal olahragaMeniatkan olahraga sebagai ibadahAdab-adab dalam berolahragaPertama: Berpakaian sopan ketika berolahragaKedua: Hendaknya olahraga tersebut tidak mengganggu pelaksanaan ibadah pada waktunyaKetiga: Tidak ikhtilat atau bercampur baur dengan lawan jenis saat berolahragaKeempat: Tidak mengganggu ataupun menyakiti makhluk Allah dalam kegiatan olahraganya Islam adalah agama yang sempurna. Tidaklah ada sebuah kebaikan, kecuali pasti akan diajarkan dan dianjurkan. Allah Ta’ala berfirman mengenai kesempurnaan Islam, الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam menjadi agama bagimu.” (QS. Al-Ma’idah: 3) Allah Ta’ala juga menyampaikan bahwa tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus, kecuali untuk menyampaikan hal-hal baik kepada kita dan melarang perbuatan-perbuatan buruk untuk dilakukan. Allah Ta’ala berfirman, لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ “Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali ‘Imran: 164) Di antara perkara kebaikan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bersyukur atas setiap nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepada kita, tidak terkecuali adalah nikmat tubuh dan anggota badan yang Allah berikan kepada kita semenjak kita dilahirkan. Nabi menganjurkan para sahabatnya untuk berolahraga dan menjaga tubuh mereka. Di banyak hadis juga disebutkan bagaimana semangat beliau di dalam menjaga tubuhnya. Motivasi syariat untuk memiliki tubuh yang sehat dan kuat Di dalam hadis yang sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ “Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah, namun pada masing-masing (dari keduanya) ada kebaikan. Bersemangatlah terhadap hal-hal yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan menjadi lemah.” (HR. Muslim no. 2664) Kekuatan seorang mukmin diperlukan dalam segala bidang kehidupannya, terutama dalam keyakinan dan keimanannya. Kekuatan, kesehatan, dan keselamatan tubuh juga diperlukan untuk menolong dan membantu seorang hamba dalam menjalankan perintah Allah Ta’ala, baik itu dalam melaksanakan salat, puasa, haji, berjihad, ataupun ibadah-ibadah lainnya. Sementara itu, lemahnya badan dan sakitnya, maka dapat menghalangi dan menghambat kelancaran seorang hamba dalam beribadah. Oleh karena itu, di antara doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk dibaca tatkala sedang menjenguk orang sakit adalah doa meminta kesembuhan dan kesehatan yang akan membantu kita di dalam berjalan menuju salat. Beliau bersabda, إِذَا جَاءَ الرَّجُلُ يَعُودُ مَرِيضًا، فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ اشْفِ عَبْدَكَ يَنْكَأُ لَكَ عَدُوًّا، أَوْ يَمْشِي لَكَ إِلَى صَلَاةٍ ، وفي روايةٍ : إلى جنازةٍ “Apabila ada seseorang datang menjenguk orang yang sakit, hendaknya ia mengucapkan (doa), ‘ALLAHUMMASYFI ,’ABDAKA YANKA’U LAKA ‘ADUWWAN AU YAMSYI LAKA ILA SHALATIN.’ (Ya Allah, sembuhkanlah hamba-Mu yang akan mengalahkan musuh-Mu, atau berjalan karena-Mu untuk salat). Di dalam riwayat lain disebutkan, ‘mengantarkan jenazah.’ ” (HR. Abu Dawud no. 3107 dan Ahmad no. 6600) Allah Ta’ala juga mengisyaratkan pentingnya tubuh yang kuat di dalam hal kepemimpinan dan keunggulan seorang manusia. Allah Ta’ala mengisahkan perihal kisah Nabi Shamuel dengan kaumnya, وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا قَالُوا أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ “Nabi mereka mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab, “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata, “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Mahaluas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 247) Di dalam Tafsir As-Sa’di disebutkan, “Mereka mempermasalahkan ketetapan nabi mereka untuk memilih Thalut sebagai raja mereka, padahal (menurut mereka) ada orang yang lebih baik rumahnya dan lebih banyak harta darinya. Nabi mereka menjawab bahwa sesungguhnya Allah telah memilihnya untuk kalian, karena Dia telah mengaruniakan kepadanya kekuatan ilmu tentang siasat (perang) dan kekuatan tubuh, yang mana kedua hal itu merupakan sarana keberanian, kemenangan, dan keahlian dalam mengatur peperangan, dan bahwasanya raja itu tidaklah dengan banyaknya harta, dan tidak juga orang yang menjadi raja itu harus merupakan raja dan pemimpin pula dalam daerah-daerah mereka, karena Allah memberi kerajaan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” Islam menjadikan kesehatan dan kekuatan tubuh sebagai salah satu faktor kemenangan, rasa semangat dalam beribadah, dan keunggulan seorang manusia. Sudah sepantasnya seorang muslim menjaga tubuhnya dengan berolahraga, sehingga dirinya kuat di dalam menajalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Semangat Nabi perihal olahraga Dalam riwayat Bukhari, Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu salah seorang pendekar dan pejuang dari kalangan sahabat Nabi berkata, مَرَّ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ علَى نَفَرٍ مِن أَسْلَمَ يَنْتَضِلُونَ، فَقالَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: ارْمُوا بَنِي إسْمَاعِيلَ، فإنَّ أَبَاكُمْ كانَ رَامِيًا ارْمُوا، وأَنَا مع بَنِي فُلَانٍ قالَ: فأمْسَكَ أَحَدُ الفَرِيقَيْنِ بأَيْدِيهِمْ، فَقالَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: ما لَكُمْ لا تَرْمُونَ؟، قالوا: كيفَ نَرْمِي وأَنْتَ معهُمْ؟ قالَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: ارْمُوا فأنَا معكُمْ كُلِّكُمْ. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah lewat di hadapan beberapa orang dari suku Aslam yang sedang berlomba dalam menunjukkan kemahiran memanah, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Memanahlah kaliah wahai Bani Isma’il (keturunan Nabi Ismail), karena sesungguhnya nenek moyang kalian adalah ahli memanah. Memanahlah dan aku ada bersama Bani Fulan.” Salamah berkata, “Lalu, salah satu dari dua kelompok ada yang menahan tangan-tangan mereka (berhenti sejenak berlatih memanah), maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Mengapa kalian tidak terus berlatih memanah?” Mereka menjawab, “Bagaimana kami harus berlatih, sedangkan tuan berpihak kepada mereka?” Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berlatihlah, karena aku bersama kalian semuanya.” (HR. Bukhari no. 2899) Di dalam hadis yang lainnya, juga disebutkan bagaimana beliau memotivasi sahabatnya untuk berlomba-lomba dalam berkuda dan memanah. Beliau bersabda, لاَ سبقَ إلاَّ في خفٍّ أو في حافرٍ أو نصلٍ “Tidak boleh ada perlombaan berhadiah, kecuali dalam lomba balap unta, berkuda, dan memanah.” (HR. Tirmidzi no. 1700 dan Abu Daud no. 2574) Beliau juga pernah berlomba lari atau berjalan cepat dengan istrinya Aisyah radhiyallahu anha, عن عائشةَ، رضيَ اللَّهُ عنها، أنَّها كانَت معَ النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ في سفَرٍ قالت: فسابقتُهُ فسبقتُهُ على رجليَّ، فلمَّا حَملتُ اللَّحمَ سابقتُهُ فسبقَني فقالَ: هذِهِ بتلكَ السَّبقةِ Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita bahwasanya ia pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu perjalanan. Ia berkata, “Kemudian aku berlomba dengan beliau, lalu aku mendahului beliau dengan berjalan kaki. Kemudian setelah gemuk, aku berlomba lagi dengan beliau kemudian beliau mendahuluiku.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ini menggantikan kekalahanku pada perlombaan terdahulu.” (HR. Abu Dawud no. 2578 dan Ibnu Majah no. 1979) Olahraga merupakan salah satu sarana untuk mewujudkan rasa syukur kita kepada Allah Ta’ala atas limpahan nikmat kesehatan yang telah Allah berikan, sehingga tubuh kita tetap kuat dan sehat. Setiap anggota tubuh dapat menjalankan fungsinya secara alami, jantung yang bekerja dengan baik, otot yang kuat, tubuh yang lentur, dan sendi-sendi yang kuat untuk menopang setiap aktivitas kita, terutama yang bernilai ketaatan kepada Allah Ta’ala. Baca juga: Hukum Olahraga Memanah dan Berkuda bagi Wanita Meniatkan olahraga sebagai ibadah Niat memiliki dampak dan pengaruh yang sangat besar dalam sebuah amalan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى “Amalan-amalan itu tergantung pada niatnya. Dan setiap orang itu hanyalah akan dibalas berdasarkan apa yang ia niatkan.”  (HR. Bukhari no. 1) Niat yang benar dan tepat akan menjadikan hal-hal yang bernilai mubah menjadi ibadah. Begitu pula dalam berolahraga, saat seorang hamba meniatkannya sebagai sarana untuk menguatkan tubuh dalam beribadah sehingga lebih kuat dalam menjalankan salat malam, lebih kuat saat berhaji, lebih matang dan siap apabila diperlukan untuk berperang, maka sejatinya semua itu bernilai ibadah dan mendapatkan ganjaran dari Allah Ta’ala. Hal ini sejalan dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala ada sekelompok sahabat berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ”Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah pergi membawa pahala-pahala mereka. Mereka salat sebagaimana kami salat, mereka berpuasa sebagaimana kami juga berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka (sedangkan kami tidak bisa bersedekah).” Mendengar hal tersebut Rasulullah bersabda, أَوَلَيْسَ قَدْجَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَاتَصَدَّقُوْنَ, إِنّ َبِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً, وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً, وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً, وَكُلَّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً, وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةً, وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةً, وَفِيْ بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً), قَالُوا:يَارَسُوْلَ اللَّهِ أَيَأْتِيْ أَحَدُنَاشَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ؟, قَالَ:(أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِيْ حَرَامٍ, أَكَانَ عَلَيْهِ فِيْهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَالِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِيْ الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ “Bukankah Allah telah menjadikan buat kalian sesuatu untuk kalian bisa bersedekah dengannya? Sesungguhnya setiap tasbih itu adalah sedekah, dan setiap takbir itu adalah sedekah, dan setiap tahmid itu adalah sedekah, dan setiap tahlil itu adalah sedekah, memerintahkan kepada hal yang makruf itu adalah sedekah, mencegah dari hal yang mungkar itu adalah sedekah, bahkan dalam kemaluan kalian itu juga terdapat sedekah.” Mereka berkata, ”Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah salah seorang dari kami jika menyalurkan syahwatnya (dengan benar) dia akan mendapatkan pahala?” Beliau bersabda, ”Bagaimana pendapat kalian jika disalurkan pada yang haram, bukankah dia berdosa? Maka, demikian pula, kalau disalurkan pada yang halal tentu dia memperoleh pahala.” (HR. Muslim no. 1006) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa setiap sesuatu yang dilakukan untuk tujuan kebaikan, maka akan mendapatkan ganjaran pahala dari Allah Ta’ala. Begitu pula halnya dalam berolahraga, jika kita niatkan untuk menguatkan tubuh kita sehingga semakin semangat dalam beribadah, semakin kuat di dalam melakukan kebaikan, dan membuat kita semakin panjang di dalam melaksanakan salat malam, maka semuanya akan diberi ganjaran oleh Allah Ta’ala. Perlu kiranya untuk kita ketahui bersama bahwa di dalam berolahraga, agar bernilai pahala di sisi Allah Ta’ala, maka harus mengikuti rambu-rambu syariat yang ada, memperhatikan adab-adab umum yang berlaku di dalam syariat ini. Berikut ini adalah beberapa adab yang perlu untuk kita ketahui dalam berolahraga. Adab-adab dalam berolahraga Pertama: Berpakaian sopan ketika berolahraga Tidak menggunakan pakaian yang ketat, tembus pandang, dan membuka aurat dalam berolahraga, terutama bagi seorang wanita. Kedua: Hendaknya olahraga tersebut tidak mengganggu pelaksanaan ibadah pada waktunya Olahraga yang kita lakukan hendaknya tidak melalaikan kita dari perkara-perkara wajib, terutama melaksanakan salat lima waktu pada waktunya. Karena hukum asal ibadah adalah mubah, sedangkan hukum salat pada waktunya adalah wajib. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا “Sesungguhnya salat itu adalah fardu (kewajiban) yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103) Ketiga: Tidak ikhtilat atau bercampur baur dengan lawan jenis saat berolahraga Larangan ikhtilat berlaku di semua tempat, termasuk juga di tempat olahraga. Lihatlah bagaimana usaha Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencegah terjadinya ikhtilat “campur baur” di antara para sahabatnya. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengisahkan, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ قَامَ النِّسَاءُ حِينَ يَقْضِي تَسْلِيمَهُ وَمَكَثَ يَسِيرًا قَبْلَ أَنْ يَقُومَ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, jika beliau salam (selesai salat), maka kaum wanita segera bangkit saat beliau selesai salam, lalu beliau diam sebentar sebelum bangun.” (HR. Bukhari no. 837) Ibnu Syihab Az-Zuhri salah satu perawi hadis ini berkata, فَأُرَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَنَّ مُكْثَهُ لِكَيْ يَنْفُذَ النِّسَاءُ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُنَّ مَنْ انْصَرَفَ مِنْ الْقَوْم “Saya berpendapat bahwa diamnya beliau adalah agar kaum wanita sudah habis, sebelum disusul oleh jemaah laki-laki yang hendak keluar masjid.” Keempat: Tidak mengganggu ataupun menyakiti makhluk Allah dalam kegiatan olahraganya Baik itu menyakiti manusia lainnya ataupun hewan, seperti menjadikan burung sebagai sasaran latihan memanah, atau menyiksa hewan tunggangan, atau menghinakan burung dan hewan lainnya untuk tujuan hiburan seperti adu banteng, misalnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ “Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah no. 1909) Semoga Allah senantiasa menjaga kesehatan tubuh kita dan memberikan rasa semangat untuk berolahraga kepada kita semua. Baca juga: Hukum Olahraga Tinju *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id
Daftar Isi Toggle Motivasi syariat untuk memiliki tubuh yang sehat dan kuatSemangat Nabi perihal olahragaMeniatkan olahraga sebagai ibadahAdab-adab dalam berolahragaPertama: Berpakaian sopan ketika berolahragaKedua: Hendaknya olahraga tersebut tidak mengganggu pelaksanaan ibadah pada waktunyaKetiga: Tidak ikhtilat atau bercampur baur dengan lawan jenis saat berolahragaKeempat: Tidak mengganggu ataupun menyakiti makhluk Allah dalam kegiatan olahraganya Islam adalah agama yang sempurna. Tidaklah ada sebuah kebaikan, kecuali pasti akan diajarkan dan dianjurkan. Allah Ta’ala berfirman mengenai kesempurnaan Islam, الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam menjadi agama bagimu.” (QS. Al-Ma’idah: 3) Allah Ta’ala juga menyampaikan bahwa tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus, kecuali untuk menyampaikan hal-hal baik kepada kita dan melarang perbuatan-perbuatan buruk untuk dilakukan. Allah Ta’ala berfirman, لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ “Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali ‘Imran: 164) Di antara perkara kebaikan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bersyukur atas setiap nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepada kita, tidak terkecuali adalah nikmat tubuh dan anggota badan yang Allah berikan kepada kita semenjak kita dilahirkan. Nabi menganjurkan para sahabatnya untuk berolahraga dan menjaga tubuh mereka. Di banyak hadis juga disebutkan bagaimana semangat beliau di dalam menjaga tubuhnya. Motivasi syariat untuk memiliki tubuh yang sehat dan kuat Di dalam hadis yang sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ “Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah, namun pada masing-masing (dari keduanya) ada kebaikan. Bersemangatlah terhadap hal-hal yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan menjadi lemah.” (HR. Muslim no. 2664) Kekuatan seorang mukmin diperlukan dalam segala bidang kehidupannya, terutama dalam keyakinan dan keimanannya. Kekuatan, kesehatan, dan keselamatan tubuh juga diperlukan untuk menolong dan membantu seorang hamba dalam menjalankan perintah Allah Ta’ala, baik itu dalam melaksanakan salat, puasa, haji, berjihad, ataupun ibadah-ibadah lainnya. Sementara itu, lemahnya badan dan sakitnya, maka dapat menghalangi dan menghambat kelancaran seorang hamba dalam beribadah. Oleh karena itu, di antara doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk dibaca tatkala sedang menjenguk orang sakit adalah doa meminta kesembuhan dan kesehatan yang akan membantu kita di dalam berjalan menuju salat. Beliau bersabda, إِذَا جَاءَ الرَّجُلُ يَعُودُ مَرِيضًا، فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ اشْفِ عَبْدَكَ يَنْكَأُ لَكَ عَدُوًّا، أَوْ يَمْشِي لَكَ إِلَى صَلَاةٍ ، وفي روايةٍ : إلى جنازةٍ “Apabila ada seseorang datang menjenguk orang yang sakit, hendaknya ia mengucapkan (doa), ‘ALLAHUMMASYFI ,’ABDAKA YANKA’U LAKA ‘ADUWWAN AU YAMSYI LAKA ILA SHALATIN.’ (Ya Allah, sembuhkanlah hamba-Mu yang akan mengalahkan musuh-Mu, atau berjalan karena-Mu untuk salat). Di dalam riwayat lain disebutkan, ‘mengantarkan jenazah.’ ” (HR. Abu Dawud no. 3107 dan Ahmad no. 6600) Allah Ta’ala juga mengisyaratkan pentingnya tubuh yang kuat di dalam hal kepemimpinan dan keunggulan seorang manusia. Allah Ta’ala mengisahkan perihal kisah Nabi Shamuel dengan kaumnya, وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا قَالُوا أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ “Nabi mereka mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab, “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata, “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Mahaluas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 247) Di dalam Tafsir As-Sa’di disebutkan, “Mereka mempermasalahkan ketetapan nabi mereka untuk memilih Thalut sebagai raja mereka, padahal (menurut mereka) ada orang yang lebih baik rumahnya dan lebih banyak harta darinya. Nabi mereka menjawab bahwa sesungguhnya Allah telah memilihnya untuk kalian, karena Dia telah mengaruniakan kepadanya kekuatan ilmu tentang siasat (perang) dan kekuatan tubuh, yang mana kedua hal itu merupakan sarana keberanian, kemenangan, dan keahlian dalam mengatur peperangan, dan bahwasanya raja itu tidaklah dengan banyaknya harta, dan tidak juga orang yang menjadi raja itu harus merupakan raja dan pemimpin pula dalam daerah-daerah mereka, karena Allah memberi kerajaan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” Islam menjadikan kesehatan dan kekuatan tubuh sebagai salah satu faktor kemenangan, rasa semangat dalam beribadah, dan keunggulan seorang manusia. Sudah sepantasnya seorang muslim menjaga tubuhnya dengan berolahraga, sehingga dirinya kuat di dalam menajalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Semangat Nabi perihal olahraga Dalam riwayat Bukhari, Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu salah seorang pendekar dan pejuang dari kalangan sahabat Nabi berkata, مَرَّ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ علَى نَفَرٍ مِن أَسْلَمَ يَنْتَضِلُونَ، فَقالَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: ارْمُوا بَنِي إسْمَاعِيلَ، فإنَّ أَبَاكُمْ كانَ رَامِيًا ارْمُوا، وأَنَا مع بَنِي فُلَانٍ قالَ: فأمْسَكَ أَحَدُ الفَرِيقَيْنِ بأَيْدِيهِمْ، فَقالَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: ما لَكُمْ لا تَرْمُونَ؟، قالوا: كيفَ نَرْمِي وأَنْتَ معهُمْ؟ قالَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: ارْمُوا فأنَا معكُمْ كُلِّكُمْ. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah lewat di hadapan beberapa orang dari suku Aslam yang sedang berlomba dalam menunjukkan kemahiran memanah, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Memanahlah kaliah wahai Bani Isma’il (keturunan Nabi Ismail), karena sesungguhnya nenek moyang kalian adalah ahli memanah. Memanahlah dan aku ada bersama Bani Fulan.” Salamah berkata, “Lalu, salah satu dari dua kelompok ada yang menahan tangan-tangan mereka (berhenti sejenak berlatih memanah), maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Mengapa kalian tidak terus berlatih memanah?” Mereka menjawab, “Bagaimana kami harus berlatih, sedangkan tuan berpihak kepada mereka?” Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berlatihlah, karena aku bersama kalian semuanya.” (HR. Bukhari no. 2899) Di dalam hadis yang lainnya, juga disebutkan bagaimana beliau memotivasi sahabatnya untuk berlomba-lomba dalam berkuda dan memanah. Beliau bersabda, لاَ سبقَ إلاَّ في خفٍّ أو في حافرٍ أو نصلٍ “Tidak boleh ada perlombaan berhadiah, kecuali dalam lomba balap unta, berkuda, dan memanah.” (HR. Tirmidzi no. 1700 dan Abu Daud no. 2574) Beliau juga pernah berlomba lari atau berjalan cepat dengan istrinya Aisyah radhiyallahu anha, عن عائشةَ، رضيَ اللَّهُ عنها، أنَّها كانَت معَ النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ في سفَرٍ قالت: فسابقتُهُ فسبقتُهُ على رجليَّ، فلمَّا حَملتُ اللَّحمَ سابقتُهُ فسبقَني فقالَ: هذِهِ بتلكَ السَّبقةِ Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita bahwasanya ia pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu perjalanan. Ia berkata, “Kemudian aku berlomba dengan beliau, lalu aku mendahului beliau dengan berjalan kaki. Kemudian setelah gemuk, aku berlomba lagi dengan beliau kemudian beliau mendahuluiku.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ini menggantikan kekalahanku pada perlombaan terdahulu.” (HR. Abu Dawud no. 2578 dan Ibnu Majah no. 1979) Olahraga merupakan salah satu sarana untuk mewujudkan rasa syukur kita kepada Allah Ta’ala atas limpahan nikmat kesehatan yang telah Allah berikan, sehingga tubuh kita tetap kuat dan sehat. Setiap anggota tubuh dapat menjalankan fungsinya secara alami, jantung yang bekerja dengan baik, otot yang kuat, tubuh yang lentur, dan sendi-sendi yang kuat untuk menopang setiap aktivitas kita, terutama yang bernilai ketaatan kepada Allah Ta’ala. Baca juga: Hukum Olahraga Memanah dan Berkuda bagi Wanita Meniatkan olahraga sebagai ibadah Niat memiliki dampak dan pengaruh yang sangat besar dalam sebuah amalan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى “Amalan-amalan itu tergantung pada niatnya. Dan setiap orang itu hanyalah akan dibalas berdasarkan apa yang ia niatkan.”  (HR. Bukhari no. 1) Niat yang benar dan tepat akan menjadikan hal-hal yang bernilai mubah menjadi ibadah. Begitu pula dalam berolahraga, saat seorang hamba meniatkannya sebagai sarana untuk menguatkan tubuh dalam beribadah sehingga lebih kuat dalam menjalankan salat malam, lebih kuat saat berhaji, lebih matang dan siap apabila diperlukan untuk berperang, maka sejatinya semua itu bernilai ibadah dan mendapatkan ganjaran dari Allah Ta’ala. Hal ini sejalan dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala ada sekelompok sahabat berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ”Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah pergi membawa pahala-pahala mereka. Mereka salat sebagaimana kami salat, mereka berpuasa sebagaimana kami juga berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka (sedangkan kami tidak bisa bersedekah).” Mendengar hal tersebut Rasulullah bersabda, أَوَلَيْسَ قَدْجَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَاتَصَدَّقُوْنَ, إِنّ َبِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً, وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً, وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً, وَكُلَّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً, وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةً, وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةً, وَفِيْ بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً), قَالُوا:يَارَسُوْلَ اللَّهِ أَيَأْتِيْ أَحَدُنَاشَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ؟, قَالَ:(أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِيْ حَرَامٍ, أَكَانَ عَلَيْهِ فِيْهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَالِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِيْ الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ “Bukankah Allah telah menjadikan buat kalian sesuatu untuk kalian bisa bersedekah dengannya? Sesungguhnya setiap tasbih itu adalah sedekah, dan setiap takbir itu adalah sedekah, dan setiap tahmid itu adalah sedekah, dan setiap tahlil itu adalah sedekah, memerintahkan kepada hal yang makruf itu adalah sedekah, mencegah dari hal yang mungkar itu adalah sedekah, bahkan dalam kemaluan kalian itu juga terdapat sedekah.” Mereka berkata, ”Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah salah seorang dari kami jika menyalurkan syahwatnya (dengan benar) dia akan mendapatkan pahala?” Beliau bersabda, ”Bagaimana pendapat kalian jika disalurkan pada yang haram, bukankah dia berdosa? Maka, demikian pula, kalau disalurkan pada yang halal tentu dia memperoleh pahala.” (HR. Muslim no. 1006) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa setiap sesuatu yang dilakukan untuk tujuan kebaikan, maka akan mendapatkan ganjaran pahala dari Allah Ta’ala. Begitu pula halnya dalam berolahraga, jika kita niatkan untuk menguatkan tubuh kita sehingga semakin semangat dalam beribadah, semakin kuat di dalam melakukan kebaikan, dan membuat kita semakin panjang di dalam melaksanakan salat malam, maka semuanya akan diberi ganjaran oleh Allah Ta’ala. Perlu kiranya untuk kita ketahui bersama bahwa di dalam berolahraga, agar bernilai pahala di sisi Allah Ta’ala, maka harus mengikuti rambu-rambu syariat yang ada, memperhatikan adab-adab umum yang berlaku di dalam syariat ini. Berikut ini adalah beberapa adab yang perlu untuk kita ketahui dalam berolahraga. Adab-adab dalam berolahraga Pertama: Berpakaian sopan ketika berolahraga Tidak menggunakan pakaian yang ketat, tembus pandang, dan membuka aurat dalam berolahraga, terutama bagi seorang wanita. Kedua: Hendaknya olahraga tersebut tidak mengganggu pelaksanaan ibadah pada waktunya Olahraga yang kita lakukan hendaknya tidak melalaikan kita dari perkara-perkara wajib, terutama melaksanakan salat lima waktu pada waktunya. Karena hukum asal ibadah adalah mubah, sedangkan hukum salat pada waktunya adalah wajib. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا “Sesungguhnya salat itu adalah fardu (kewajiban) yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103) Ketiga: Tidak ikhtilat atau bercampur baur dengan lawan jenis saat berolahraga Larangan ikhtilat berlaku di semua tempat, termasuk juga di tempat olahraga. Lihatlah bagaimana usaha Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencegah terjadinya ikhtilat “campur baur” di antara para sahabatnya. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengisahkan, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ قَامَ النِّسَاءُ حِينَ يَقْضِي تَسْلِيمَهُ وَمَكَثَ يَسِيرًا قَبْلَ أَنْ يَقُومَ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, jika beliau salam (selesai salat), maka kaum wanita segera bangkit saat beliau selesai salam, lalu beliau diam sebentar sebelum bangun.” (HR. Bukhari no. 837) Ibnu Syihab Az-Zuhri salah satu perawi hadis ini berkata, فَأُرَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَنَّ مُكْثَهُ لِكَيْ يَنْفُذَ النِّسَاءُ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُنَّ مَنْ انْصَرَفَ مِنْ الْقَوْم “Saya berpendapat bahwa diamnya beliau adalah agar kaum wanita sudah habis, sebelum disusul oleh jemaah laki-laki yang hendak keluar masjid.” Keempat: Tidak mengganggu ataupun menyakiti makhluk Allah dalam kegiatan olahraganya Baik itu menyakiti manusia lainnya ataupun hewan, seperti menjadikan burung sebagai sasaran latihan memanah, atau menyiksa hewan tunggangan, atau menghinakan burung dan hewan lainnya untuk tujuan hiburan seperti adu banteng, misalnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ “Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah no. 1909) Semoga Allah senantiasa menjaga kesehatan tubuh kita dan memberikan rasa semangat untuk berolahraga kepada kita semua. Baca juga: Hukum Olahraga Tinju *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id


Daftar Isi Toggle Motivasi syariat untuk memiliki tubuh yang sehat dan kuatSemangat Nabi perihal olahragaMeniatkan olahraga sebagai ibadahAdab-adab dalam berolahragaPertama: Berpakaian sopan ketika berolahragaKedua: Hendaknya olahraga tersebut tidak mengganggu pelaksanaan ibadah pada waktunyaKetiga: Tidak ikhtilat atau bercampur baur dengan lawan jenis saat berolahragaKeempat: Tidak mengganggu ataupun menyakiti makhluk Allah dalam kegiatan olahraganya Islam adalah agama yang sempurna. Tidaklah ada sebuah kebaikan, kecuali pasti akan diajarkan dan dianjurkan. Allah Ta’ala berfirman mengenai kesempurnaan Islam, الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam menjadi agama bagimu.” (QS. Al-Ma’idah: 3) Allah Ta’ala juga menyampaikan bahwa tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus, kecuali untuk menyampaikan hal-hal baik kepada kita dan melarang perbuatan-perbuatan buruk untuk dilakukan. Allah Ta’ala berfirman, لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ “Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali ‘Imran: 164) Di antara perkara kebaikan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bersyukur atas setiap nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepada kita, tidak terkecuali adalah nikmat tubuh dan anggota badan yang Allah berikan kepada kita semenjak kita dilahirkan. Nabi menganjurkan para sahabatnya untuk berolahraga dan menjaga tubuh mereka. Di banyak hadis juga disebutkan bagaimana semangat beliau di dalam menjaga tubuhnya. Motivasi syariat untuk memiliki tubuh yang sehat dan kuat Di dalam hadis yang sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ “Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah, namun pada masing-masing (dari keduanya) ada kebaikan. Bersemangatlah terhadap hal-hal yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan menjadi lemah.” (HR. Muslim no. 2664) Kekuatan seorang mukmin diperlukan dalam segala bidang kehidupannya, terutama dalam keyakinan dan keimanannya. Kekuatan, kesehatan, dan keselamatan tubuh juga diperlukan untuk menolong dan membantu seorang hamba dalam menjalankan perintah Allah Ta’ala, baik itu dalam melaksanakan salat, puasa, haji, berjihad, ataupun ibadah-ibadah lainnya. Sementara itu, lemahnya badan dan sakitnya, maka dapat menghalangi dan menghambat kelancaran seorang hamba dalam beribadah. Oleh karena itu, di antara doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk dibaca tatkala sedang menjenguk orang sakit adalah doa meminta kesembuhan dan kesehatan yang akan membantu kita di dalam berjalan menuju salat. Beliau bersabda, إِذَا جَاءَ الرَّجُلُ يَعُودُ مَرِيضًا، فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ اشْفِ عَبْدَكَ يَنْكَأُ لَكَ عَدُوًّا، أَوْ يَمْشِي لَكَ إِلَى صَلَاةٍ ، وفي روايةٍ : إلى جنازةٍ “Apabila ada seseorang datang menjenguk orang yang sakit, hendaknya ia mengucapkan (doa), ‘ALLAHUMMASYFI ,’ABDAKA YANKA’U LAKA ‘ADUWWAN AU YAMSYI LAKA ILA SHALATIN.’ (Ya Allah, sembuhkanlah hamba-Mu yang akan mengalahkan musuh-Mu, atau berjalan karena-Mu untuk salat). Di dalam riwayat lain disebutkan, ‘mengantarkan jenazah.’ ” (HR. Abu Dawud no. 3107 dan Ahmad no. 6600) Allah Ta’ala juga mengisyaratkan pentingnya tubuh yang kuat di dalam hal kepemimpinan dan keunggulan seorang manusia. Allah Ta’ala mengisahkan perihal kisah Nabi Shamuel dengan kaumnya, وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا قَالُوا أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ “Nabi mereka mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab, “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata, “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Mahaluas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 247) Di dalam Tafsir As-Sa’di disebutkan, “Mereka mempermasalahkan ketetapan nabi mereka untuk memilih Thalut sebagai raja mereka, padahal (menurut mereka) ada orang yang lebih baik rumahnya dan lebih banyak harta darinya. Nabi mereka menjawab bahwa sesungguhnya Allah telah memilihnya untuk kalian, karena Dia telah mengaruniakan kepadanya kekuatan ilmu tentang siasat (perang) dan kekuatan tubuh, yang mana kedua hal itu merupakan sarana keberanian, kemenangan, dan keahlian dalam mengatur peperangan, dan bahwasanya raja itu tidaklah dengan banyaknya harta, dan tidak juga orang yang menjadi raja itu harus merupakan raja dan pemimpin pula dalam daerah-daerah mereka, karena Allah memberi kerajaan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” Islam menjadikan kesehatan dan kekuatan tubuh sebagai salah satu faktor kemenangan, rasa semangat dalam beribadah, dan keunggulan seorang manusia. Sudah sepantasnya seorang muslim menjaga tubuhnya dengan berolahraga, sehingga dirinya kuat di dalam menajalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Semangat Nabi perihal olahraga Dalam riwayat Bukhari, Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu salah seorang pendekar dan pejuang dari kalangan sahabat Nabi berkata, مَرَّ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ علَى نَفَرٍ مِن أَسْلَمَ يَنْتَضِلُونَ، فَقالَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: ارْمُوا بَنِي إسْمَاعِيلَ، فإنَّ أَبَاكُمْ كانَ رَامِيًا ارْمُوا، وأَنَا مع بَنِي فُلَانٍ قالَ: فأمْسَكَ أَحَدُ الفَرِيقَيْنِ بأَيْدِيهِمْ، فَقالَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: ما لَكُمْ لا تَرْمُونَ؟، قالوا: كيفَ نَرْمِي وأَنْتَ معهُمْ؟ قالَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: ارْمُوا فأنَا معكُمْ كُلِّكُمْ. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah lewat di hadapan beberapa orang dari suku Aslam yang sedang berlomba dalam menunjukkan kemahiran memanah, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Memanahlah kaliah wahai Bani Isma’il (keturunan Nabi Ismail), karena sesungguhnya nenek moyang kalian adalah ahli memanah. Memanahlah dan aku ada bersama Bani Fulan.” Salamah berkata, “Lalu, salah satu dari dua kelompok ada yang menahan tangan-tangan mereka (berhenti sejenak berlatih memanah), maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Mengapa kalian tidak terus berlatih memanah?” Mereka menjawab, “Bagaimana kami harus berlatih, sedangkan tuan berpihak kepada mereka?” Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berlatihlah, karena aku bersama kalian semuanya.” (HR. Bukhari no. 2899) Di dalam hadis yang lainnya, juga disebutkan bagaimana beliau memotivasi sahabatnya untuk berlomba-lomba dalam berkuda dan memanah. Beliau bersabda, لاَ سبقَ إلاَّ في خفٍّ أو في حافرٍ أو نصلٍ “Tidak boleh ada perlombaan berhadiah, kecuali dalam lomba balap unta, berkuda, dan memanah.” (HR. Tirmidzi no. 1700 dan Abu Daud no. 2574) Beliau juga pernah berlomba lari atau berjalan cepat dengan istrinya Aisyah radhiyallahu anha, عن عائشةَ، رضيَ اللَّهُ عنها، أنَّها كانَت معَ النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ في سفَرٍ قالت: فسابقتُهُ فسبقتُهُ على رجليَّ، فلمَّا حَملتُ اللَّحمَ سابقتُهُ فسبقَني فقالَ: هذِهِ بتلكَ السَّبقةِ Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita bahwasanya ia pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu perjalanan. Ia berkata, “Kemudian aku berlomba dengan beliau, lalu aku mendahului beliau dengan berjalan kaki. Kemudian setelah gemuk, aku berlomba lagi dengan beliau kemudian beliau mendahuluiku.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ini menggantikan kekalahanku pada perlombaan terdahulu.” (HR. Abu Dawud no. 2578 dan Ibnu Majah no. 1979) Olahraga merupakan salah satu sarana untuk mewujudkan rasa syukur kita kepada Allah Ta’ala atas limpahan nikmat kesehatan yang telah Allah berikan, sehingga tubuh kita tetap kuat dan sehat. Setiap anggota tubuh dapat menjalankan fungsinya secara alami, jantung yang bekerja dengan baik, otot yang kuat, tubuh yang lentur, dan sendi-sendi yang kuat untuk menopang setiap aktivitas kita, terutama yang bernilai ketaatan kepada Allah Ta’ala. Baca juga: Hukum Olahraga Memanah dan Berkuda bagi Wanita Meniatkan olahraga sebagai ibadah Niat memiliki dampak dan pengaruh yang sangat besar dalam sebuah amalan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى “Amalan-amalan itu tergantung pada niatnya. Dan setiap orang itu hanyalah akan dibalas berdasarkan apa yang ia niatkan.”  (HR. Bukhari no. 1) Niat yang benar dan tepat akan menjadikan hal-hal yang bernilai mubah menjadi ibadah. Begitu pula dalam berolahraga, saat seorang hamba meniatkannya sebagai sarana untuk menguatkan tubuh dalam beribadah sehingga lebih kuat dalam menjalankan salat malam, lebih kuat saat berhaji, lebih matang dan siap apabila diperlukan untuk berperang, maka sejatinya semua itu bernilai ibadah dan mendapatkan ganjaran dari Allah Ta’ala. Hal ini sejalan dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala ada sekelompok sahabat berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ”Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah pergi membawa pahala-pahala mereka. Mereka salat sebagaimana kami salat, mereka berpuasa sebagaimana kami juga berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka (sedangkan kami tidak bisa bersedekah).” Mendengar hal tersebut Rasulullah bersabda, أَوَلَيْسَ قَدْجَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَاتَصَدَّقُوْنَ, إِنّ َبِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً, وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً, وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً, وَكُلَّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً, وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةً, وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةً, وَفِيْ بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً), قَالُوا:يَارَسُوْلَ اللَّهِ أَيَأْتِيْ أَحَدُنَاشَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ؟, قَالَ:(أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِيْ حَرَامٍ, أَكَانَ عَلَيْهِ فِيْهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَالِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِيْ الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ “Bukankah Allah telah menjadikan buat kalian sesuatu untuk kalian bisa bersedekah dengannya? Sesungguhnya setiap tasbih itu adalah sedekah, dan setiap takbir itu adalah sedekah, dan setiap tahmid itu adalah sedekah, dan setiap tahlil itu adalah sedekah, memerintahkan kepada hal yang makruf itu adalah sedekah, mencegah dari hal yang mungkar itu adalah sedekah, bahkan dalam kemaluan kalian itu juga terdapat sedekah.” Mereka berkata, ”Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah salah seorang dari kami jika menyalurkan syahwatnya (dengan benar) dia akan mendapatkan pahala?” Beliau bersabda, ”Bagaimana pendapat kalian jika disalurkan pada yang haram, bukankah dia berdosa? Maka, demikian pula, kalau disalurkan pada yang halal tentu dia memperoleh pahala.” (HR. Muslim no. 1006) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa setiap sesuatu yang dilakukan untuk tujuan kebaikan, maka akan mendapatkan ganjaran pahala dari Allah Ta’ala. Begitu pula halnya dalam berolahraga, jika kita niatkan untuk menguatkan tubuh kita sehingga semakin semangat dalam beribadah, semakin kuat di dalam melakukan kebaikan, dan membuat kita semakin panjang di dalam melaksanakan salat malam, maka semuanya akan diberi ganjaran oleh Allah Ta’ala. Perlu kiranya untuk kita ketahui bersama bahwa di dalam berolahraga, agar bernilai pahala di sisi Allah Ta’ala, maka harus mengikuti rambu-rambu syariat yang ada, memperhatikan adab-adab umum yang berlaku di dalam syariat ini. Berikut ini adalah beberapa adab yang perlu untuk kita ketahui dalam berolahraga. Adab-adab dalam berolahraga Pertama: Berpakaian sopan ketika berolahraga Tidak menggunakan pakaian yang ketat, tembus pandang, dan membuka aurat dalam berolahraga, terutama bagi seorang wanita. Kedua: Hendaknya olahraga tersebut tidak mengganggu pelaksanaan ibadah pada waktunya Olahraga yang kita lakukan hendaknya tidak melalaikan kita dari perkara-perkara wajib, terutama melaksanakan salat lima waktu pada waktunya. Karena hukum asal ibadah adalah mubah, sedangkan hukum salat pada waktunya adalah wajib. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا “Sesungguhnya salat itu adalah fardu (kewajiban) yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103) Ketiga: Tidak ikhtilat atau bercampur baur dengan lawan jenis saat berolahraga Larangan ikhtilat berlaku di semua tempat, termasuk juga di tempat olahraga. Lihatlah bagaimana usaha Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencegah terjadinya ikhtilat “campur baur” di antara para sahabatnya. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengisahkan, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ قَامَ النِّسَاءُ حِينَ يَقْضِي تَسْلِيمَهُ وَمَكَثَ يَسِيرًا قَبْلَ أَنْ يَقُومَ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, jika beliau salam (selesai salat), maka kaum wanita segera bangkit saat beliau selesai salam, lalu beliau diam sebentar sebelum bangun.” (HR. Bukhari no. 837) Ibnu Syihab Az-Zuhri salah satu perawi hadis ini berkata, فَأُرَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَنَّ مُكْثَهُ لِكَيْ يَنْفُذَ النِّسَاءُ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُنَّ مَنْ انْصَرَفَ مِنْ الْقَوْم “Saya berpendapat bahwa diamnya beliau adalah agar kaum wanita sudah habis, sebelum disusul oleh jemaah laki-laki yang hendak keluar masjid.” Keempat: Tidak mengganggu ataupun menyakiti makhluk Allah dalam kegiatan olahraganya Baik itu menyakiti manusia lainnya ataupun hewan, seperti menjadikan burung sebagai sasaran latihan memanah, atau menyiksa hewan tunggangan, atau menghinakan burung dan hewan lainnya untuk tujuan hiburan seperti adu banteng, misalnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ “Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah no. 1909) Semoga Allah senantiasa menjaga kesehatan tubuh kita dan memberikan rasa semangat untuk berolahraga kepada kita semua. Baca juga: Hukum Olahraga Tinju *** Penulis: Muhammad Idris, Lc. Artikel: Muslim.or.id

Apakah Lebih Afdal Qashar Shalat dan Tidak Berpuasa Saat Safar, Keutamaan Istighfar dan Taubat

Dalam hadits ini diperintahkan tiga hal: beristighfar saat berbuat dosa, lebih utama qashar shalat saat safar daripada shalat sempurna, lebih utama tidak berpuasa saat safar. Dua hal terakhir ada perinciannya dalam tulisan ini mengenai penjelasan hadits dari Bulughul Maram.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةِ المسَافِرِ وَالمريضِ Bab: Shalat Musafir dan Orang yang Sakit   Daftar Isi tutup 1. Hadits #441 1.1. Faedah hadits 1.2. Catatan tentang taubat dan istighfar 1.3. Referensi:   Hadits #441  عَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلّى الله عليه وسلّم: «خَيْرُ أُمَّتي الَّذِينَ إِذَا أَسَاءوا اسْتَغْفَرُوا، وَإِذَا سَافَرُوا قَصَرُوا وَأَفْطَرُوا». أَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي «الأوْسَطِ» بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ.  وَهُوَ في مُرْسَلِ سَعِيدِ بْنِ المُسَيَّبِ عِنْدَ الْبَيْهَقِيِّ مُخْتَصَر. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik umatku adalah mereka yang ketika berbuat kesalahan, mereka memohon ampun (istighfar), dan ketika mereka bepergian, mereka meringkas shalat serta berbuka (tidak berpuasa).” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Awsath dengan sanad yang dhaif). [HR. Ath-Thabrani dalam Al-Awsath, 7:286 dan Ad-Du’aa’, 3:1605. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menyatakan bahwa sanad hadits ini dhaif]. Dan hadis ini terdapat dalam Mursal Sa’id bin Al-Musayyib menurut Al-Baihaqi dalam bentuk ringkas.   Faedah hadits 1. Hadits ini menunjukkan keutamaan istighfar setelah berbuat dosa. Dalil sahih yang mendukung hal ini adalah firman Allah, وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135) Dalil lainnya memuji orang yang beristighfar dan menganjurkan untuk bertaubat dan beristighfar, ثُمَّ أَفِيضُوا۟ مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ ٱلنَّاسُ وَٱسْتَغْفِرُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ “Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 199) ٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلْقَٰنِتِينَ وَٱلْمُنفِقِينَ وَٱلْمُسْتَغْفِرِينَ بِٱلْأَسْحَارِ “(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Ali Imran: 17) Allah juga menjanjikan ampunan bagi yang beristighfar, وَمَن يَعْمَلْ سُوٓءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُۥ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ ٱللَّهَ يَجِدِ ٱللَّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisaa’: 110) Dalam hadits qudsi dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa pada waktu malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.” (HR. Muslim, no. 6737) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, واللَّهِ إنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وأَتُوبُ إلَيْهِ في اليَومِ أكْثَرَ مِن سَبْعِينَ مَرَّةً. “Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Bukhari, no. 6737). Dalam riwayat lain disebutkan, “Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.” Catatan tentang taubat dan istighfar Istighfar merupakan permohonan ampun kepada Allah yang diucapkan dengan lisan, sedangkan taubat adalah permohonan ampun yang disertai dengan tekad berhenti dari dosa (al-iqla’) baik dengan hati maupun perbuatan. Istighfar yang diucapkan secara lisan namun seseorang masih terus terjebak dalam dosa hanya sekadar menjadi sebuah doa. Jika Allah berkehendak, doa itu bisa dikabulkan, namun jika tidak, ia bisa tertolak. Bahkan, dosa yang terus dilakukan meskipun ada istighfar dengan lisan, bisa menjadi penghalang terkabulnya permohonan ampun tersebut. Istighfar berarti meminta ampun, sedangkan maghfirah mengandung makna menutupi dan memaafkan dosa. 2. Dalam hal shalat qashar saat safar, pendapat ulama Syafiiyah menyatakan bahwa melaksanakan qashar lebih utama dibandingkan menyempurnakan (itmam) shalat. Sedangkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa qashar itu wajib ketika safar. Menurut ulama Syafiiyah, meninggalkan jamak saat safar lebih utama, kecuali di Arafah dan Muzdalifah.  3. Tidak berpuasa saat safar lebih afdhal daripada berpuasa. Namun, berdasarkan ayat, وَأَن تَصُومُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ “Dan berpuasa lebih baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 184), berpuasa itu lebih afdal daripada ifthar (tidak berpuasa).   Baca juga: Aturan Qashar Shalat dari Kitab Safinatun Naja Pengertian Safar, Jarak Safar, Lama Safar, dan Syarat Safar   Referensi: Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. Jilid kedua. 2:81-82. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:488-490.   –   Diselesaikan pada Senin sebelum Shubuh @ Makkah Al-Mukarramah, 26 Rabiuts Tsani 1446 H, 29 Oktober 2024 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat musafir cara istighfar cara jamak shalat fikih safar istighfar jamak shalat jamak takdim jamak takhir keringanan saat safar panduan safar qashar shalat Safar shalat saat safar

Apakah Lebih Afdal Qashar Shalat dan Tidak Berpuasa Saat Safar, Keutamaan Istighfar dan Taubat

Dalam hadits ini diperintahkan tiga hal: beristighfar saat berbuat dosa, lebih utama qashar shalat saat safar daripada shalat sempurna, lebih utama tidak berpuasa saat safar. Dua hal terakhir ada perinciannya dalam tulisan ini mengenai penjelasan hadits dari Bulughul Maram.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةِ المسَافِرِ وَالمريضِ Bab: Shalat Musafir dan Orang yang Sakit   Daftar Isi tutup 1. Hadits #441 1.1. Faedah hadits 1.2. Catatan tentang taubat dan istighfar 1.3. Referensi:   Hadits #441  عَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلّى الله عليه وسلّم: «خَيْرُ أُمَّتي الَّذِينَ إِذَا أَسَاءوا اسْتَغْفَرُوا، وَإِذَا سَافَرُوا قَصَرُوا وَأَفْطَرُوا». أَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي «الأوْسَطِ» بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ.  وَهُوَ في مُرْسَلِ سَعِيدِ بْنِ المُسَيَّبِ عِنْدَ الْبَيْهَقِيِّ مُخْتَصَر. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik umatku adalah mereka yang ketika berbuat kesalahan, mereka memohon ampun (istighfar), dan ketika mereka bepergian, mereka meringkas shalat serta berbuka (tidak berpuasa).” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Awsath dengan sanad yang dhaif). [HR. Ath-Thabrani dalam Al-Awsath, 7:286 dan Ad-Du’aa’, 3:1605. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menyatakan bahwa sanad hadits ini dhaif]. Dan hadis ini terdapat dalam Mursal Sa’id bin Al-Musayyib menurut Al-Baihaqi dalam bentuk ringkas.   Faedah hadits 1. Hadits ini menunjukkan keutamaan istighfar setelah berbuat dosa. Dalil sahih yang mendukung hal ini adalah firman Allah, وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135) Dalil lainnya memuji orang yang beristighfar dan menganjurkan untuk bertaubat dan beristighfar, ثُمَّ أَفِيضُوا۟ مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ ٱلنَّاسُ وَٱسْتَغْفِرُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ “Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 199) ٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلْقَٰنِتِينَ وَٱلْمُنفِقِينَ وَٱلْمُسْتَغْفِرِينَ بِٱلْأَسْحَارِ “(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Ali Imran: 17) Allah juga menjanjikan ampunan bagi yang beristighfar, وَمَن يَعْمَلْ سُوٓءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُۥ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ ٱللَّهَ يَجِدِ ٱللَّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisaa’: 110) Dalam hadits qudsi dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa pada waktu malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.” (HR. Muslim, no. 6737) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, واللَّهِ إنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وأَتُوبُ إلَيْهِ في اليَومِ أكْثَرَ مِن سَبْعِينَ مَرَّةً. “Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Bukhari, no. 6737). Dalam riwayat lain disebutkan, “Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.” Catatan tentang taubat dan istighfar Istighfar merupakan permohonan ampun kepada Allah yang diucapkan dengan lisan, sedangkan taubat adalah permohonan ampun yang disertai dengan tekad berhenti dari dosa (al-iqla’) baik dengan hati maupun perbuatan. Istighfar yang diucapkan secara lisan namun seseorang masih terus terjebak dalam dosa hanya sekadar menjadi sebuah doa. Jika Allah berkehendak, doa itu bisa dikabulkan, namun jika tidak, ia bisa tertolak. Bahkan, dosa yang terus dilakukan meskipun ada istighfar dengan lisan, bisa menjadi penghalang terkabulnya permohonan ampun tersebut. Istighfar berarti meminta ampun, sedangkan maghfirah mengandung makna menutupi dan memaafkan dosa. 2. Dalam hal shalat qashar saat safar, pendapat ulama Syafiiyah menyatakan bahwa melaksanakan qashar lebih utama dibandingkan menyempurnakan (itmam) shalat. Sedangkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa qashar itu wajib ketika safar. Menurut ulama Syafiiyah, meninggalkan jamak saat safar lebih utama, kecuali di Arafah dan Muzdalifah.  3. Tidak berpuasa saat safar lebih afdhal daripada berpuasa. Namun, berdasarkan ayat, وَأَن تَصُومُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ “Dan berpuasa lebih baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 184), berpuasa itu lebih afdal daripada ifthar (tidak berpuasa).   Baca juga: Aturan Qashar Shalat dari Kitab Safinatun Naja Pengertian Safar, Jarak Safar, Lama Safar, dan Syarat Safar   Referensi: Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. Jilid kedua. 2:81-82. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:488-490.   –   Diselesaikan pada Senin sebelum Shubuh @ Makkah Al-Mukarramah, 26 Rabiuts Tsani 1446 H, 29 Oktober 2024 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat musafir cara istighfar cara jamak shalat fikih safar istighfar jamak shalat jamak takdim jamak takhir keringanan saat safar panduan safar qashar shalat Safar shalat saat safar
Dalam hadits ini diperintahkan tiga hal: beristighfar saat berbuat dosa, lebih utama qashar shalat saat safar daripada shalat sempurna, lebih utama tidak berpuasa saat safar. Dua hal terakhir ada perinciannya dalam tulisan ini mengenai penjelasan hadits dari Bulughul Maram.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةِ المسَافِرِ وَالمريضِ Bab: Shalat Musafir dan Orang yang Sakit   Daftar Isi tutup 1. Hadits #441 1.1. Faedah hadits 1.2. Catatan tentang taubat dan istighfar 1.3. Referensi:   Hadits #441  عَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلّى الله عليه وسلّم: «خَيْرُ أُمَّتي الَّذِينَ إِذَا أَسَاءوا اسْتَغْفَرُوا، وَإِذَا سَافَرُوا قَصَرُوا وَأَفْطَرُوا». أَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي «الأوْسَطِ» بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ.  وَهُوَ في مُرْسَلِ سَعِيدِ بْنِ المُسَيَّبِ عِنْدَ الْبَيْهَقِيِّ مُخْتَصَر. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik umatku adalah mereka yang ketika berbuat kesalahan, mereka memohon ampun (istighfar), dan ketika mereka bepergian, mereka meringkas shalat serta berbuka (tidak berpuasa).” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Awsath dengan sanad yang dhaif). [HR. Ath-Thabrani dalam Al-Awsath, 7:286 dan Ad-Du’aa’, 3:1605. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menyatakan bahwa sanad hadits ini dhaif]. Dan hadis ini terdapat dalam Mursal Sa’id bin Al-Musayyib menurut Al-Baihaqi dalam bentuk ringkas.   Faedah hadits 1. Hadits ini menunjukkan keutamaan istighfar setelah berbuat dosa. Dalil sahih yang mendukung hal ini adalah firman Allah, وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135) Dalil lainnya memuji orang yang beristighfar dan menganjurkan untuk bertaubat dan beristighfar, ثُمَّ أَفِيضُوا۟ مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ ٱلنَّاسُ وَٱسْتَغْفِرُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ “Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 199) ٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلْقَٰنِتِينَ وَٱلْمُنفِقِينَ وَٱلْمُسْتَغْفِرِينَ بِٱلْأَسْحَارِ “(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Ali Imran: 17) Allah juga menjanjikan ampunan bagi yang beristighfar, وَمَن يَعْمَلْ سُوٓءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُۥ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ ٱللَّهَ يَجِدِ ٱللَّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisaa’: 110) Dalam hadits qudsi dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa pada waktu malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.” (HR. Muslim, no. 6737) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, واللَّهِ إنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وأَتُوبُ إلَيْهِ في اليَومِ أكْثَرَ مِن سَبْعِينَ مَرَّةً. “Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Bukhari, no. 6737). Dalam riwayat lain disebutkan, “Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.” Catatan tentang taubat dan istighfar Istighfar merupakan permohonan ampun kepada Allah yang diucapkan dengan lisan, sedangkan taubat adalah permohonan ampun yang disertai dengan tekad berhenti dari dosa (al-iqla’) baik dengan hati maupun perbuatan. Istighfar yang diucapkan secara lisan namun seseorang masih terus terjebak dalam dosa hanya sekadar menjadi sebuah doa. Jika Allah berkehendak, doa itu bisa dikabulkan, namun jika tidak, ia bisa tertolak. Bahkan, dosa yang terus dilakukan meskipun ada istighfar dengan lisan, bisa menjadi penghalang terkabulnya permohonan ampun tersebut. Istighfar berarti meminta ampun, sedangkan maghfirah mengandung makna menutupi dan memaafkan dosa. 2. Dalam hal shalat qashar saat safar, pendapat ulama Syafiiyah menyatakan bahwa melaksanakan qashar lebih utama dibandingkan menyempurnakan (itmam) shalat. Sedangkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa qashar itu wajib ketika safar. Menurut ulama Syafiiyah, meninggalkan jamak saat safar lebih utama, kecuali di Arafah dan Muzdalifah.  3. Tidak berpuasa saat safar lebih afdhal daripada berpuasa. Namun, berdasarkan ayat, وَأَن تَصُومُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ “Dan berpuasa lebih baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 184), berpuasa itu lebih afdal daripada ifthar (tidak berpuasa).   Baca juga: Aturan Qashar Shalat dari Kitab Safinatun Naja Pengertian Safar, Jarak Safar, Lama Safar, dan Syarat Safar   Referensi: Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. Jilid kedua. 2:81-82. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:488-490.   –   Diselesaikan pada Senin sebelum Shubuh @ Makkah Al-Mukarramah, 26 Rabiuts Tsani 1446 H, 29 Oktober 2024 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat musafir cara istighfar cara jamak shalat fikih safar istighfar jamak shalat jamak takdim jamak takhir keringanan saat safar panduan safar qashar shalat Safar shalat saat safar


Dalam hadits ini diperintahkan tiga hal: beristighfar saat berbuat dosa, lebih utama qashar shalat saat safar daripada shalat sempurna, lebih utama tidak berpuasa saat safar. Dua hal terakhir ada perinciannya dalam tulisan ini mengenai penjelasan hadits dari Bulughul Maram.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةِ المسَافِرِ وَالمريضِ Bab: Shalat Musafir dan Orang yang Sakit   Daftar Isi tutup 1. Hadits #441 1.1. Faedah hadits 1.2. Catatan tentang taubat dan istighfar 1.3. Referensi:   Hadits #441  عَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلّى الله عليه وسلّم: «خَيْرُ أُمَّتي الَّذِينَ إِذَا أَسَاءوا اسْتَغْفَرُوا، وَإِذَا سَافَرُوا قَصَرُوا وَأَفْطَرُوا». أَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي «الأوْسَطِ» بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ.  وَهُوَ في مُرْسَلِ سَعِيدِ بْنِ المُسَيَّبِ عِنْدَ الْبَيْهَقِيِّ مُخْتَصَر. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik umatku adalah mereka yang ketika berbuat kesalahan, mereka memohon ampun (istighfar), dan ketika mereka bepergian, mereka meringkas shalat serta berbuka (tidak berpuasa).” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Awsath dengan sanad yang dhaif). [HR. Ath-Thabrani dalam Al-Awsath, 7:286 dan Ad-Du’aa’, 3:1605. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menyatakan bahwa sanad hadits ini dhaif]. Dan hadis ini terdapat dalam Mursal Sa’id bin Al-Musayyib menurut Al-Baihaqi dalam bentuk ringkas.   Faedah hadits 1. Hadits ini menunjukkan keutamaan istighfar setelah berbuat dosa. Dalil sahih yang mendukung hal ini adalah firman Allah, وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمْ يَعْلَمُونَ “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135) Dalil lainnya memuji orang yang beristighfar dan menganjurkan untuk bertaubat dan beristighfar, ثُمَّ أَفِيضُوا۟ مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ ٱلنَّاسُ وَٱسْتَغْفِرُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ “Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 199) ٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلْقَٰنِتِينَ وَٱلْمُنفِقِينَ وَٱلْمُسْتَغْفِرِينَ بِٱلْأَسْحَارِ “(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Ali Imran: 17) Allah juga menjanjikan ampunan bagi yang beristighfar, وَمَن يَعْمَلْ سُوٓءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُۥ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ ٱللَّهَ يَجِدِ ٱللَّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisaa’: 110) Dalam hadits qudsi dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa pada waktu malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.” (HR. Muslim, no. 6737) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, واللَّهِ إنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وأَتُوبُ إلَيْهِ في اليَومِ أكْثَرَ مِن سَبْعِينَ مَرَّةً. “Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Bukhari, no. 6737). Dalam riwayat lain disebutkan, “Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.” Catatan tentang taubat dan istighfar Istighfar merupakan permohonan ampun kepada Allah yang diucapkan dengan lisan, sedangkan taubat adalah permohonan ampun yang disertai dengan tekad berhenti dari dosa (al-iqla’) baik dengan hati maupun perbuatan. Istighfar yang diucapkan secara lisan namun seseorang masih terus terjebak dalam dosa hanya sekadar menjadi sebuah doa. Jika Allah berkehendak, doa itu bisa dikabulkan, namun jika tidak, ia bisa tertolak. Bahkan, dosa yang terus dilakukan meskipun ada istighfar dengan lisan, bisa menjadi penghalang terkabulnya permohonan ampun tersebut. Istighfar berarti meminta ampun, sedangkan maghfirah mengandung makna menutupi dan memaafkan dosa. 2. Dalam hal shalat qashar saat safar, pendapat ulama Syafiiyah menyatakan bahwa melaksanakan qashar lebih utama dibandingkan menyempurnakan (itmam) shalat. Sedangkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa qashar itu wajib ketika safar. Menurut ulama Syafiiyah, meninggalkan jamak saat safar lebih utama, kecuali di Arafah dan Muzdalifah.  3. Tidak berpuasa saat safar lebih afdhal daripada berpuasa. Namun, berdasarkan ayat, وَأَن تَصُومُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ “Dan berpuasa lebih baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 184), berpuasa itu lebih afdal daripada ifthar (tidak berpuasa).   Baca juga: Aturan Qashar Shalat dari Kitab Safinatun Naja Pengertian Safar, Jarak Safar, Lama Safar, dan Syarat Safar   Referensi: Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. Jilid kedua. 2:81-82. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:488-490.   –   Diselesaikan pada Senin sebelum Shubuh @ Makkah Al-Mukarramah, 26 Rabiuts Tsani 1446 H, 29 Oktober 2024 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat musafir cara istighfar cara jamak shalat fikih safar istighfar jamak shalat jamak takdim jamak takhir keringanan saat safar panduan safar qashar shalat Safar shalat saat safar

Adab Bergaul yang Membuatmu Dicintai – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Di antara adab berinteraksi adalah mendengarkan orang yang berbicara. Mdengarkan orang yang berbicara merupakan salah satu keahlian penting. Dan keahlian ini terkumpul pada pribadi orang-orang yang dicintai banyak orang. Ketika kamu memperhatikan sifat yang sama yang ada dalam diri orang-orang yang dicintai banyak orang, akan kamu temui bahwa di antara sifat itu adalah keahlian dalam mendengarkan orang yang berbicara. Dia mendengar dengan seksama lawan bicaranya tanpa memotong pembicaraannya. Ini adalah salah satu akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amr bin al-Ash menceritakan bahwa Amr pernah datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Nabi mendengarkan dan menghadapkan diri beliau sepenuhnya kepadanya. Ketika dia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarkan dan menghadapkan diri beliau sepenuhnya kepadanya, Amr berharap itu karena dia adalah orang yang paling beliau cintai. Amr menceritakan, “Aku pun bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Siapa orang yang paling engkau cintai?’ Beliau menjawab, ‘Aisyah.’ Aku bertanya lagi, ‘Kalau dari kaum laki-laki?’ Beliau menjawab, ‘Ayah Aisyah (Abu Bakar)’ Aku bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Beliau menjawab, ‘Umar’. Lalu beliau menyebutkan nama-nama lainnya.” Intinya, apa yang mendorong Amr untuk bertanya kepada Nabi ‘alaihis shalatu wassalam dengan pertanyaan ini? Karena dia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarkannya dengan baik saat berbicara, sehingga dia mengira sebagai orang yang paling beliau cintai. Maksud dari mendengar dengan baik yakni menyimak pembicara dan memperhatikannya sepenuh raga, tidak memotong ucapannya, fokus kepada pembicaraannya, mendengarkannya dengan seksama. Inilah salah satu adab dalam berinteraksi yang mana orang-orang bijak dan para ulama terus menasihatkannya. Oleh sebab itu, Atha’ bin Abi Rabah pernah berkata, “Sungguh jika ada orang yang mengajakku berbicara aku akan mendengarkannya baik-baik, seakan-akan aku belum pernah mendengar ucapan itu. Padahal, aku telah mendengarkan hal itu bahkan sebelum dia dilahirkan. Ini termasuk akhlak yang baik dan bentuk penghormatan. Bahkan ketika kamu sudah pernah mendengarkan pembicaraan itu, tetaplah dengarkan pembicara! Jangan memotongnya! Ini termasuk adab dan akhlak terpuji yang harus dijaga oleh setiap muslim, terlebih lagi penuntut ilmu harus berusaha menjaga adab dan akhlak ini. ==== مِن أَدَبِ الْمُجَالَسَةِ الْإِنْصَاتُ لِلْمُتَحَدِّثِ وَالْإِنْصَاتُ هَذِه مَهَارَةٌ مِنْ أَعْظَمِ الْمَهَارَاتِ وَتَجْتَمِعُ فِي الشَّخْصِيَّاتِ الْمَحْبُوبَة عِنْدَمَا تَرَى الْجَمْعَ الْمُشْتَرَكَ فِي الشَّخْصِيَّاتِ الْمَحْبُوبَة تَجِدُ أَنَّ مِنْهَا مَهَارَةَ الْإِنْصَاتِ وَحُسْنَ الِاسْتِمَاعِ فَيَسْتَمِعُ لِلْمُتَحَدِّثِ لَا يُقَاطِعُهُ قَدْ كَانَ هَذَا مِنْ خُلُقِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ وَقَدْ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْصَتَ لَهُ بِجَمِيعِ جَوَارِحِهِ فَلَمَّا رَأَى النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنْصَتَ لَهُ بِجَمِيعِ جَوَارِحِهِ طَمِعَ أَنْ يَكُونَ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْهِ قَالَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيْكَ؟ قَالَ عَائِشَةُ قُلْتُ مِنَ الرِّجَالِ؟ قَالَ أَبُوهَا قُلْتُ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ عُمَرُ فَعَدَّ رِجَالًا لَكِنْ مَا الْبَاعِثُ لِعَمْرٍو أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ هَذَا السُّؤَالَ؟ رَأَى حُسْنَ إِنْصَاتِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِلَيْهِ فَظَنَّ أَنَّهُ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيْهِ فَمَعْنَى الْإِنْصَاتِ أَنَّ الْإِنْسَانَ يَسْتَمِعُ لِلْمُتَحَدِّثِ بِجَمِيعِ جَوَارِحِهِ لَا يُقَاطِعُهُ يُرَكِّزُ فِي كَلَامِهِ يُتَابِعُهُ فَهَذِهِ مِنْ آدَابِ الْمُجَالَسَةِ الَّتِي لَا زَالَ الْحُكَمَاءُ وَالْأُدَبَاءُ يُوصُونَ بِهَا وَلِهَذَا قَالَ عَطَاءٌ بْنُ أَبِي رَبَاحٍ إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحَدِّثُنِي بِالْحَدِيثِ أُنْصِتُ لَهُ كَأَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ وَقَدْ سَمِعْتُهُ قَبْلَ أَنْ يُولَدَ فَهَذِهِ مِنَ الْمُجَامَلَةِ وَمِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَالْمُجَالَسَةِ حَتَّى لَوْ كُنْتَ سَمِعْتَ الْحَدِيثَ أَنْصِتْ لِلْمُتَحَدِّثِ لَا تُقَاطِعْهُ فَهَذِهِ مِنَ الْآدَابِ وَمِنْ الْأَخْلَاقِ الْكَرِيمَةِ الَّتِي يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ عَلَيْهَا الْمُسْلِمُ خَاصَّةً طَالِبُ الْعِلْمِ يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ عَلَى هَذِهِ الْآدَابِ وَهَذِهِ الْأَخْلَاقِ

Adab Bergaul yang Membuatmu Dicintai – Syaikh Sa’ad al-Khatslan #NasehatUlama

Di antara adab berinteraksi adalah mendengarkan orang yang berbicara. Mdengarkan orang yang berbicara merupakan salah satu keahlian penting. Dan keahlian ini terkumpul pada pribadi orang-orang yang dicintai banyak orang. Ketika kamu memperhatikan sifat yang sama yang ada dalam diri orang-orang yang dicintai banyak orang, akan kamu temui bahwa di antara sifat itu adalah keahlian dalam mendengarkan orang yang berbicara. Dia mendengar dengan seksama lawan bicaranya tanpa memotong pembicaraannya. Ini adalah salah satu akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amr bin al-Ash menceritakan bahwa Amr pernah datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Nabi mendengarkan dan menghadapkan diri beliau sepenuhnya kepadanya. Ketika dia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarkan dan menghadapkan diri beliau sepenuhnya kepadanya, Amr berharap itu karena dia adalah orang yang paling beliau cintai. Amr menceritakan, “Aku pun bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Siapa orang yang paling engkau cintai?’ Beliau menjawab, ‘Aisyah.’ Aku bertanya lagi, ‘Kalau dari kaum laki-laki?’ Beliau menjawab, ‘Ayah Aisyah (Abu Bakar)’ Aku bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Beliau menjawab, ‘Umar’. Lalu beliau menyebutkan nama-nama lainnya.” Intinya, apa yang mendorong Amr untuk bertanya kepada Nabi ‘alaihis shalatu wassalam dengan pertanyaan ini? Karena dia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarkannya dengan baik saat berbicara, sehingga dia mengira sebagai orang yang paling beliau cintai. Maksud dari mendengar dengan baik yakni menyimak pembicara dan memperhatikannya sepenuh raga, tidak memotong ucapannya, fokus kepada pembicaraannya, mendengarkannya dengan seksama. Inilah salah satu adab dalam berinteraksi yang mana orang-orang bijak dan para ulama terus menasihatkannya. Oleh sebab itu, Atha’ bin Abi Rabah pernah berkata, “Sungguh jika ada orang yang mengajakku berbicara aku akan mendengarkannya baik-baik, seakan-akan aku belum pernah mendengar ucapan itu. Padahal, aku telah mendengarkan hal itu bahkan sebelum dia dilahirkan. Ini termasuk akhlak yang baik dan bentuk penghormatan. Bahkan ketika kamu sudah pernah mendengarkan pembicaraan itu, tetaplah dengarkan pembicara! Jangan memotongnya! Ini termasuk adab dan akhlak terpuji yang harus dijaga oleh setiap muslim, terlebih lagi penuntut ilmu harus berusaha menjaga adab dan akhlak ini. ==== مِن أَدَبِ الْمُجَالَسَةِ الْإِنْصَاتُ لِلْمُتَحَدِّثِ وَالْإِنْصَاتُ هَذِه مَهَارَةٌ مِنْ أَعْظَمِ الْمَهَارَاتِ وَتَجْتَمِعُ فِي الشَّخْصِيَّاتِ الْمَحْبُوبَة عِنْدَمَا تَرَى الْجَمْعَ الْمُشْتَرَكَ فِي الشَّخْصِيَّاتِ الْمَحْبُوبَة تَجِدُ أَنَّ مِنْهَا مَهَارَةَ الْإِنْصَاتِ وَحُسْنَ الِاسْتِمَاعِ فَيَسْتَمِعُ لِلْمُتَحَدِّثِ لَا يُقَاطِعُهُ قَدْ كَانَ هَذَا مِنْ خُلُقِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ وَقَدْ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْصَتَ لَهُ بِجَمِيعِ جَوَارِحِهِ فَلَمَّا رَأَى النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنْصَتَ لَهُ بِجَمِيعِ جَوَارِحِهِ طَمِعَ أَنْ يَكُونَ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْهِ قَالَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيْكَ؟ قَالَ عَائِشَةُ قُلْتُ مِنَ الرِّجَالِ؟ قَالَ أَبُوهَا قُلْتُ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ عُمَرُ فَعَدَّ رِجَالًا لَكِنْ مَا الْبَاعِثُ لِعَمْرٍو أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ هَذَا السُّؤَالَ؟ رَأَى حُسْنَ إِنْصَاتِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِلَيْهِ فَظَنَّ أَنَّهُ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيْهِ فَمَعْنَى الْإِنْصَاتِ أَنَّ الْإِنْسَانَ يَسْتَمِعُ لِلْمُتَحَدِّثِ بِجَمِيعِ جَوَارِحِهِ لَا يُقَاطِعُهُ يُرَكِّزُ فِي كَلَامِهِ يُتَابِعُهُ فَهَذِهِ مِنْ آدَابِ الْمُجَالَسَةِ الَّتِي لَا زَالَ الْحُكَمَاءُ وَالْأُدَبَاءُ يُوصُونَ بِهَا وَلِهَذَا قَالَ عَطَاءٌ بْنُ أَبِي رَبَاحٍ إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحَدِّثُنِي بِالْحَدِيثِ أُنْصِتُ لَهُ كَأَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ وَقَدْ سَمِعْتُهُ قَبْلَ أَنْ يُولَدَ فَهَذِهِ مِنَ الْمُجَامَلَةِ وَمِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَالْمُجَالَسَةِ حَتَّى لَوْ كُنْتَ سَمِعْتَ الْحَدِيثَ أَنْصِتْ لِلْمُتَحَدِّثِ لَا تُقَاطِعْهُ فَهَذِهِ مِنَ الْآدَابِ وَمِنْ الْأَخْلَاقِ الْكَرِيمَةِ الَّتِي يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ عَلَيْهَا الْمُسْلِمُ خَاصَّةً طَالِبُ الْعِلْمِ يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ عَلَى هَذِهِ الْآدَابِ وَهَذِهِ الْأَخْلَاقِ
Di antara adab berinteraksi adalah mendengarkan orang yang berbicara. Mdengarkan orang yang berbicara merupakan salah satu keahlian penting. Dan keahlian ini terkumpul pada pribadi orang-orang yang dicintai banyak orang. Ketika kamu memperhatikan sifat yang sama yang ada dalam diri orang-orang yang dicintai banyak orang, akan kamu temui bahwa di antara sifat itu adalah keahlian dalam mendengarkan orang yang berbicara. Dia mendengar dengan seksama lawan bicaranya tanpa memotong pembicaraannya. Ini adalah salah satu akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amr bin al-Ash menceritakan bahwa Amr pernah datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Nabi mendengarkan dan menghadapkan diri beliau sepenuhnya kepadanya. Ketika dia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarkan dan menghadapkan diri beliau sepenuhnya kepadanya, Amr berharap itu karena dia adalah orang yang paling beliau cintai. Amr menceritakan, “Aku pun bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Siapa orang yang paling engkau cintai?’ Beliau menjawab, ‘Aisyah.’ Aku bertanya lagi, ‘Kalau dari kaum laki-laki?’ Beliau menjawab, ‘Ayah Aisyah (Abu Bakar)’ Aku bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Beliau menjawab, ‘Umar’. Lalu beliau menyebutkan nama-nama lainnya.” Intinya, apa yang mendorong Amr untuk bertanya kepada Nabi ‘alaihis shalatu wassalam dengan pertanyaan ini? Karena dia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarkannya dengan baik saat berbicara, sehingga dia mengira sebagai orang yang paling beliau cintai. Maksud dari mendengar dengan baik yakni menyimak pembicara dan memperhatikannya sepenuh raga, tidak memotong ucapannya, fokus kepada pembicaraannya, mendengarkannya dengan seksama. Inilah salah satu adab dalam berinteraksi yang mana orang-orang bijak dan para ulama terus menasihatkannya. Oleh sebab itu, Atha’ bin Abi Rabah pernah berkata, “Sungguh jika ada orang yang mengajakku berbicara aku akan mendengarkannya baik-baik, seakan-akan aku belum pernah mendengar ucapan itu. Padahal, aku telah mendengarkan hal itu bahkan sebelum dia dilahirkan. Ini termasuk akhlak yang baik dan bentuk penghormatan. Bahkan ketika kamu sudah pernah mendengarkan pembicaraan itu, tetaplah dengarkan pembicara! Jangan memotongnya! Ini termasuk adab dan akhlak terpuji yang harus dijaga oleh setiap muslim, terlebih lagi penuntut ilmu harus berusaha menjaga adab dan akhlak ini. ==== مِن أَدَبِ الْمُجَالَسَةِ الْإِنْصَاتُ لِلْمُتَحَدِّثِ وَالْإِنْصَاتُ هَذِه مَهَارَةٌ مِنْ أَعْظَمِ الْمَهَارَاتِ وَتَجْتَمِعُ فِي الشَّخْصِيَّاتِ الْمَحْبُوبَة عِنْدَمَا تَرَى الْجَمْعَ الْمُشْتَرَكَ فِي الشَّخْصِيَّاتِ الْمَحْبُوبَة تَجِدُ أَنَّ مِنْهَا مَهَارَةَ الْإِنْصَاتِ وَحُسْنَ الِاسْتِمَاعِ فَيَسْتَمِعُ لِلْمُتَحَدِّثِ لَا يُقَاطِعُهُ قَدْ كَانَ هَذَا مِنْ خُلُقِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ وَقَدْ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْصَتَ لَهُ بِجَمِيعِ جَوَارِحِهِ فَلَمَّا رَأَى النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنْصَتَ لَهُ بِجَمِيعِ جَوَارِحِهِ طَمِعَ أَنْ يَكُونَ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْهِ قَالَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيْكَ؟ قَالَ عَائِشَةُ قُلْتُ مِنَ الرِّجَالِ؟ قَالَ أَبُوهَا قُلْتُ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ عُمَرُ فَعَدَّ رِجَالًا لَكِنْ مَا الْبَاعِثُ لِعَمْرٍو أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ هَذَا السُّؤَالَ؟ رَأَى حُسْنَ إِنْصَاتِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِلَيْهِ فَظَنَّ أَنَّهُ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيْهِ فَمَعْنَى الْإِنْصَاتِ أَنَّ الْإِنْسَانَ يَسْتَمِعُ لِلْمُتَحَدِّثِ بِجَمِيعِ جَوَارِحِهِ لَا يُقَاطِعُهُ يُرَكِّزُ فِي كَلَامِهِ يُتَابِعُهُ فَهَذِهِ مِنْ آدَابِ الْمُجَالَسَةِ الَّتِي لَا زَالَ الْحُكَمَاءُ وَالْأُدَبَاءُ يُوصُونَ بِهَا وَلِهَذَا قَالَ عَطَاءٌ بْنُ أَبِي رَبَاحٍ إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحَدِّثُنِي بِالْحَدِيثِ أُنْصِتُ لَهُ كَأَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ وَقَدْ سَمِعْتُهُ قَبْلَ أَنْ يُولَدَ فَهَذِهِ مِنَ الْمُجَامَلَةِ وَمِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَالْمُجَالَسَةِ حَتَّى لَوْ كُنْتَ سَمِعْتَ الْحَدِيثَ أَنْصِتْ لِلْمُتَحَدِّثِ لَا تُقَاطِعْهُ فَهَذِهِ مِنَ الْآدَابِ وَمِنْ الْأَخْلَاقِ الْكَرِيمَةِ الَّتِي يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ عَلَيْهَا الْمُسْلِمُ خَاصَّةً طَالِبُ الْعِلْمِ يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ عَلَى هَذِهِ الْآدَابِ وَهَذِهِ الْأَخْلَاقِ


Di antara adab berinteraksi adalah mendengarkan orang yang berbicara. Mdengarkan orang yang berbicara merupakan salah satu keahlian penting. Dan keahlian ini terkumpul pada pribadi orang-orang yang dicintai banyak orang. Ketika kamu memperhatikan sifat yang sama yang ada dalam diri orang-orang yang dicintai banyak orang, akan kamu temui bahwa di antara sifat itu adalah keahlian dalam mendengarkan orang yang berbicara. Dia mendengar dengan seksama lawan bicaranya tanpa memotong pembicaraannya. Ini adalah salah satu akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amr bin al-Ash menceritakan bahwa Amr pernah datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Nabi mendengarkan dan menghadapkan diri beliau sepenuhnya kepadanya. Ketika dia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarkan dan menghadapkan diri beliau sepenuhnya kepadanya, Amr berharap itu karena dia adalah orang yang paling beliau cintai. Amr menceritakan, “Aku pun bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Siapa orang yang paling engkau cintai?’ Beliau menjawab, ‘Aisyah.’ Aku bertanya lagi, ‘Kalau dari kaum laki-laki?’ Beliau menjawab, ‘Ayah Aisyah (Abu Bakar)’ Aku bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Beliau menjawab, ‘Umar’. Lalu beliau menyebutkan nama-nama lainnya.” Intinya, apa yang mendorong Amr untuk bertanya kepada Nabi ‘alaihis shalatu wassalam dengan pertanyaan ini? Karena dia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarkannya dengan baik saat berbicara, sehingga dia mengira sebagai orang yang paling beliau cintai. Maksud dari mendengar dengan baik yakni menyimak pembicara dan memperhatikannya sepenuh raga, tidak memotong ucapannya, fokus kepada pembicaraannya, mendengarkannya dengan seksama. Inilah salah satu adab dalam berinteraksi yang mana orang-orang bijak dan para ulama terus menasihatkannya. Oleh sebab itu, Atha’ bin Abi Rabah pernah berkata, “Sungguh jika ada orang yang mengajakku berbicara aku akan mendengarkannya baik-baik, seakan-akan aku belum pernah mendengar ucapan itu. Padahal, aku telah mendengarkan hal itu bahkan sebelum dia dilahirkan. Ini termasuk akhlak yang baik dan bentuk penghormatan. Bahkan ketika kamu sudah pernah mendengarkan pembicaraan itu, tetaplah dengarkan pembicara! Jangan memotongnya! Ini termasuk adab dan akhlak terpuji yang harus dijaga oleh setiap muslim, terlebih lagi penuntut ilmu harus berusaha menjaga adab dan akhlak ini. ==== مِن أَدَبِ الْمُجَالَسَةِ الْإِنْصَاتُ لِلْمُتَحَدِّثِ وَالْإِنْصَاتُ هَذِه مَهَارَةٌ مِنْ أَعْظَمِ الْمَهَارَاتِ وَتَجْتَمِعُ فِي الشَّخْصِيَّاتِ الْمَحْبُوبَة عِنْدَمَا تَرَى الْجَمْعَ الْمُشْتَرَكَ فِي الشَّخْصِيَّاتِ الْمَحْبُوبَة تَجِدُ أَنَّ مِنْهَا مَهَارَةَ الْإِنْصَاتِ وَحُسْنَ الِاسْتِمَاعِ فَيَسْتَمِعُ لِلْمُتَحَدِّثِ لَا يُقَاطِعُهُ قَدْ كَانَ هَذَا مِنْ خُلُقِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ وَقَدْ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْصَتَ لَهُ بِجَمِيعِ جَوَارِحِهِ فَلَمَّا رَأَى النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنْصَتَ لَهُ بِجَمِيعِ جَوَارِحِهِ طَمِعَ أَنْ يَكُونَ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْهِ قَالَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيْكَ؟ قَالَ عَائِشَةُ قُلْتُ مِنَ الرِّجَالِ؟ قَالَ أَبُوهَا قُلْتُ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ عُمَرُ فَعَدَّ رِجَالًا لَكِنْ مَا الْبَاعِثُ لِعَمْرٍو أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ هَذَا السُّؤَالَ؟ رَأَى حُسْنَ إِنْصَاتِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِلَيْهِ فَظَنَّ أَنَّهُ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيْهِ فَمَعْنَى الْإِنْصَاتِ أَنَّ الْإِنْسَانَ يَسْتَمِعُ لِلْمُتَحَدِّثِ بِجَمِيعِ جَوَارِحِهِ لَا يُقَاطِعُهُ يُرَكِّزُ فِي كَلَامِهِ يُتَابِعُهُ فَهَذِهِ مِنْ آدَابِ الْمُجَالَسَةِ الَّتِي لَا زَالَ الْحُكَمَاءُ وَالْأُدَبَاءُ يُوصُونَ بِهَا وَلِهَذَا قَالَ عَطَاءٌ بْنُ أَبِي رَبَاحٍ إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحَدِّثُنِي بِالْحَدِيثِ أُنْصِتُ لَهُ كَأَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ وَقَدْ سَمِعْتُهُ قَبْلَ أَنْ يُولَدَ فَهَذِهِ مِنَ الْمُجَامَلَةِ وَمِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَالْمُجَالَسَةِ حَتَّى لَوْ كُنْتَ سَمِعْتَ الْحَدِيثَ أَنْصِتْ لِلْمُتَحَدِّثِ لَا تُقَاطِعْهُ فَهَذِهِ مِنَ الْآدَابِ وَمِنْ الْأَخْلَاقِ الْكَرِيمَةِ الَّتِي يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ عَلَيْهَا الْمُسْلِمُ خَاصَّةً طَالِبُ الْعِلْمِ يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ عَلَى هَذِهِ الْآدَابِ وَهَذِهِ الْأَخْلَاقِ

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 199 – SAAT ANAK SAKIT (bagian-2)

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 199 – SAAT ANAK SAKIT (bagian-2) Posted on October 28, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 199SAAT ANAK SAKIT (bagian-2) Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas beberapa hal yang perlu dilakukan saat anak sakit. Berikut kelanjutannya: Langkah Kedua: Anak Didoakan atau Diajari Berdoa Salah satu hal penting yang perlu dilakukan orang tua saat anaknya sakit adalah berdoa. Bila anak tersebut masih kecil dan belum bisa berdoa sendiri; maka anak tersebut didoakan oleh orang tuanya. Namun bila sudah bisa berbicara, maka alangkah baiknya bila anak diajari untuk berdoa sendiri. Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa mendoakan kedua cucu beliau; Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma; “أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ ‌عَيْنٍ ‌لامَّةٍ “ “Aku memohonkan perlindungan untuk kalian berdua menggunakan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari setiap setan dan binatang berbisa, serta pandangan mata yang jahat”. HR. Bukhari (no. 3371) dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sedangkan ini adalah redaksi Ahmad (no. 2112). Jika jumlah anak tiga orang atau lebih, maka dibaca “U’îdzukum…”. Bila satu anak laki-laki, dibaca: “U’îdzuka…”. Jika satu anak perempuan, dibaca: “U’îdzuki”. Langkah Ketiga: Anak Diobati Hal itu dalam rangka mengamalkan arahan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, “تَدَاوَوْا! فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً، غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ؛ الْهَرَمُ”. “Berobatlah! Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidaklah menurunkan penyakit melainkan menciptakan obatnya. Kecuali satu penyakit, yaitu penyakit tua”. HR. Abu Dawud (no. 3855) dari Usamah bin Syarik radhiyallahu ’anhu dan dinilai hasan sahih oleh at-Tirmidziy (no. 2039). Baik itu berobat menggunakan obat-obatan herbal, atau yang non herbal. Yang penting halal. Langkah Keempat: Anak Dinasehati Saat sakit, biasanya hati seseorang lebih lunak dan mudah untuk diberi masukan. Maka momen bagus itu seharusnya dimanfaatkan untuk memberi nasehat padanya. Misalnya dengan menyampaikan bahwa sakit adalah salah satu takdir Allah. Semua takdir Allah pasti ada hikmah kebaikannya. Contoh hikmah tersebut: untuk menambah pahala, atau menggugurkan dosa; maka bersabarlah. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bertutur, “كَانَ غُلَامٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَمَرِضَ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَقَالَ لَهُ: «أَسْلِمْ»، فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ: ‌أَطِعْ ‌أَبَا ‌القَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَسْلَمَ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ: «الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ»”. “Seorang anak Yahudi yang biasa melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sakit. Maka beliau pun datang membesuknya dan duduk di samping kepalanya. Beliau bersabda, “Masuk Islamlah..”. Anak tersebut menoleh kepada ayahnya yang saat itu ada di situ. Ayahnya berkata, “Patuhilah Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam!”. Akhirnya anak itu masuk Islam. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pulang, beliau bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka”. HR. Bukhari (no. 1356). Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rabi’uts Tsani 1446 / 14 Oktober 2024 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 191 – MENGAJARI ANAK SHALATSerial Fiqih Pendidikan Anak No: 200 – Bijak Meluruskan Kekeliruan Anak SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 199 – SAAT ANAK SAKIT (bagian-2)

Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 199 – SAAT ANAK SAKIT (bagian-2) Posted on October 28, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 199SAAT ANAK SAKIT (bagian-2) Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas beberapa hal yang perlu dilakukan saat anak sakit. Berikut kelanjutannya: Langkah Kedua: Anak Didoakan atau Diajari Berdoa Salah satu hal penting yang perlu dilakukan orang tua saat anaknya sakit adalah berdoa. Bila anak tersebut masih kecil dan belum bisa berdoa sendiri; maka anak tersebut didoakan oleh orang tuanya. Namun bila sudah bisa berbicara, maka alangkah baiknya bila anak diajari untuk berdoa sendiri. Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa mendoakan kedua cucu beliau; Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma; “أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ ‌عَيْنٍ ‌لامَّةٍ “ “Aku memohonkan perlindungan untuk kalian berdua menggunakan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari setiap setan dan binatang berbisa, serta pandangan mata yang jahat”. HR. Bukhari (no. 3371) dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sedangkan ini adalah redaksi Ahmad (no. 2112). Jika jumlah anak tiga orang atau lebih, maka dibaca “U’îdzukum…”. Bila satu anak laki-laki, dibaca: “U’îdzuka…”. Jika satu anak perempuan, dibaca: “U’îdzuki”. Langkah Ketiga: Anak Diobati Hal itu dalam rangka mengamalkan arahan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, “تَدَاوَوْا! فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً، غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ؛ الْهَرَمُ”. “Berobatlah! Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidaklah menurunkan penyakit melainkan menciptakan obatnya. Kecuali satu penyakit, yaitu penyakit tua”. HR. Abu Dawud (no. 3855) dari Usamah bin Syarik radhiyallahu ’anhu dan dinilai hasan sahih oleh at-Tirmidziy (no. 2039). Baik itu berobat menggunakan obat-obatan herbal, atau yang non herbal. Yang penting halal. Langkah Keempat: Anak Dinasehati Saat sakit, biasanya hati seseorang lebih lunak dan mudah untuk diberi masukan. Maka momen bagus itu seharusnya dimanfaatkan untuk memberi nasehat padanya. Misalnya dengan menyampaikan bahwa sakit adalah salah satu takdir Allah. Semua takdir Allah pasti ada hikmah kebaikannya. Contoh hikmah tersebut: untuk menambah pahala, atau menggugurkan dosa; maka bersabarlah. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bertutur, “كَانَ غُلَامٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَمَرِضَ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَقَالَ لَهُ: «أَسْلِمْ»، فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ: ‌أَطِعْ ‌أَبَا ‌القَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَسْلَمَ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ: «الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ»”. “Seorang anak Yahudi yang biasa melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sakit. Maka beliau pun datang membesuknya dan duduk di samping kepalanya. Beliau bersabda, “Masuk Islamlah..”. Anak tersebut menoleh kepada ayahnya yang saat itu ada di situ. Ayahnya berkata, “Patuhilah Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam!”. Akhirnya anak itu masuk Islam. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pulang, beliau bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka”. HR. Bukhari (no. 1356). Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rabi’uts Tsani 1446 / 14 Oktober 2024 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 191 – MENGAJARI ANAK SHALATSerial Fiqih Pendidikan Anak No: 200 – Bijak Meluruskan Kekeliruan Anak SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories
Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 199 – SAAT ANAK SAKIT (bagian-2) Posted on October 28, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 199SAAT ANAK SAKIT (bagian-2) Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas beberapa hal yang perlu dilakukan saat anak sakit. Berikut kelanjutannya: Langkah Kedua: Anak Didoakan atau Diajari Berdoa Salah satu hal penting yang perlu dilakukan orang tua saat anaknya sakit adalah berdoa. Bila anak tersebut masih kecil dan belum bisa berdoa sendiri; maka anak tersebut didoakan oleh orang tuanya. Namun bila sudah bisa berbicara, maka alangkah baiknya bila anak diajari untuk berdoa sendiri. Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa mendoakan kedua cucu beliau; Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma; “أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ ‌عَيْنٍ ‌لامَّةٍ “ “Aku memohonkan perlindungan untuk kalian berdua menggunakan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari setiap setan dan binatang berbisa, serta pandangan mata yang jahat”. HR. Bukhari (no. 3371) dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sedangkan ini adalah redaksi Ahmad (no. 2112). Jika jumlah anak tiga orang atau lebih, maka dibaca “U’îdzukum…”. Bila satu anak laki-laki, dibaca: “U’îdzuka…”. Jika satu anak perempuan, dibaca: “U’îdzuki”. Langkah Ketiga: Anak Diobati Hal itu dalam rangka mengamalkan arahan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, “تَدَاوَوْا! فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً، غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ؛ الْهَرَمُ”. “Berobatlah! Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidaklah menurunkan penyakit melainkan menciptakan obatnya. Kecuali satu penyakit, yaitu penyakit tua”. HR. Abu Dawud (no. 3855) dari Usamah bin Syarik radhiyallahu ’anhu dan dinilai hasan sahih oleh at-Tirmidziy (no. 2039). Baik itu berobat menggunakan obat-obatan herbal, atau yang non herbal. Yang penting halal. Langkah Keempat: Anak Dinasehati Saat sakit, biasanya hati seseorang lebih lunak dan mudah untuk diberi masukan. Maka momen bagus itu seharusnya dimanfaatkan untuk memberi nasehat padanya. Misalnya dengan menyampaikan bahwa sakit adalah salah satu takdir Allah. Semua takdir Allah pasti ada hikmah kebaikannya. Contoh hikmah tersebut: untuk menambah pahala, atau menggugurkan dosa; maka bersabarlah. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bertutur, “كَانَ غُلَامٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَمَرِضَ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَقَالَ لَهُ: «أَسْلِمْ»، فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ: ‌أَطِعْ ‌أَبَا ‌القَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَسْلَمَ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ: «الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ»”. “Seorang anak Yahudi yang biasa melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sakit. Maka beliau pun datang membesuknya dan duduk di samping kepalanya. Beliau bersabda, “Masuk Islamlah..”. Anak tersebut menoleh kepada ayahnya yang saat itu ada di situ. Ayahnya berkata, “Patuhilah Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam!”. Akhirnya anak itu masuk Islam. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pulang, beliau bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka”. HR. Bukhari (no. 1356). Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rabi’uts Tsani 1446 / 14 Oktober 2024 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 191 – MENGAJARI ANAK SHALATSerial Fiqih Pendidikan Anak No: 200 – Bijak Meluruskan Kekeliruan Anak SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories


Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 199 – SAAT ANAK SAKIT (bagian-2) Posted on October 28, 2024by Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 199SAAT ANAK SAKIT (bagian-2) Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas beberapa hal yang perlu dilakukan saat anak sakit. Berikut kelanjutannya: Langkah Kedua: Anak Didoakan atau Diajari Berdoa Salah satu hal penting yang perlu dilakukan orang tua saat anaknya sakit adalah berdoa. Bila anak tersebut masih kecil dan belum bisa berdoa sendiri; maka anak tersebut didoakan oleh orang tuanya. Namun bila sudah bisa berbicara, maka alangkah baiknya bila anak diajari untuk berdoa sendiri. Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa mendoakan kedua cucu beliau; Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma; “أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ ‌عَيْنٍ ‌لامَّةٍ “ “Aku memohonkan perlindungan untuk kalian berdua menggunakan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari setiap setan dan binatang berbisa, serta pandangan mata yang jahat”. HR. Bukhari (no. 3371) dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sedangkan ini adalah redaksi Ahmad (no. 2112). Jika jumlah anak tiga orang atau lebih, maka dibaca “U’îdzukum…”. Bila satu anak laki-laki, dibaca: “U’îdzuka…”. Jika satu anak perempuan, dibaca: “U’îdzuki”. Langkah Ketiga: Anak Diobati Hal itu dalam rangka mengamalkan arahan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, “تَدَاوَوْا! فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً، غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ؛ الْهَرَمُ”. “Berobatlah! Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidaklah menurunkan penyakit melainkan menciptakan obatnya. Kecuali satu penyakit, yaitu penyakit tua”. HR. Abu Dawud (no. 3855) dari Usamah bin Syarik radhiyallahu ’anhu dan dinilai hasan sahih oleh at-Tirmidziy (no. 2039). Baik itu berobat menggunakan obat-obatan herbal, atau yang non herbal. Yang penting halal. Langkah Keempat: Anak Dinasehati Saat sakit, biasanya hati seseorang lebih lunak dan mudah untuk diberi masukan. Maka momen bagus itu seharusnya dimanfaatkan untuk memberi nasehat padanya. Misalnya dengan menyampaikan bahwa sakit adalah salah satu takdir Allah. Semua takdir Allah pasti ada hikmah kebaikannya. Contoh hikmah tersebut: untuk menambah pahala, atau menggugurkan dosa; maka bersabarlah. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bertutur, “كَانَ غُلَامٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَمَرِضَ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَقَالَ لَهُ: «أَسْلِمْ»، فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ: ‌أَطِعْ ‌أَبَا ‌القَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَسْلَمَ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ: «الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ»”. “Seorang anak Yahudi yang biasa melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sakit. Maka beliau pun datang membesuknya dan duduk di samping kepalanya. Beliau bersabda, “Masuk Islamlah..”. Anak tersebut menoleh kepada ayahnya yang saat itu ada di situ. Ayahnya berkata, “Patuhilah Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam!”. Akhirnya anak itu masuk Islam. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pulang, beliau bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka”. HR. Bukhari (no. 1356). Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rabi’uts Tsani 1446 / 14 Oktober 2024 No comments yet Leave a Reply Cancel reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Post navigation Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 191 – MENGAJARI ANAK SHALATSerial Fiqih Pendidikan Anak No: 200 – Bijak Meluruskan Kekeliruan Anak SearchSearchRecent PostsKhutbah Jum’at: PUASA HP Penerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 M – Gelombang 2 Pengumuman Kelulusan Calon Santri Baru – Angkatan 15 Gel. 1 Buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1 Recent CommentsNo comments to show.Archives March 2025 January 2025 December 2024 November 2024 October 2024 September 2024 March 2024 January 2024 November 2022 October 2022 August 2022 July 2022 June 2022 May 2022 April 2022 March 2022 February 2022 January 2022 December 2021 July 2021 June 2021 April 2021 March 2021 December 2020 October 2020 August 2020 June 2020 May 2020 April 2020 March 2020 January 2020 December 2019 November 2019 October 2019 September 2019 August 2019 July 2019 June 2019 May 2019 April 2019 March 2019 February 2019 January 2019 December 2018 November 2018 October 2018 September 2018 August 2018 May 2018 April 2018 March 2018 February 2018 January 2018 December 2017 November 2017 October 2017 September 2017 August 2017 June 2017 November 2016 September 2016 July 2016 April 2016 January 2016 December 2015 October 2015 August 2015 July 2015 June 2015 May 2015 April 2015 March 2015 February 2015 January 2015 December 2014 November 2014 October 2014 December 2013 November 2013 September 2013 August 2013 July 2013 June 2013 May 2013 April 2013 March 2013 February 2013 January 2013 August 2012 July 2012 June 2011 CategoriesNo categories

Mengenal Anak-Anak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

Daftar Isi Toggle Pertama: Al-QasimKedua: ZainabKetiga: RuqayyahKeempat: Ummu KultsumKelima: FatimahKeenam: AbdullahKetujuh: Ibrahim Sebagai umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kita tentu wajib mencintai beliau dan juga keluarga beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita selawat dengan lafaz, الَلَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ أَزْوَاجِهِ وَ ذُرِّيَتِهِ “Ya Allah, berikanlah keselamatan atas Muhammad, istri-istrinya, dan anak keturunannya.” (HR. Bukhari) Keturunan Nabi juga merupakan salah satu peninggalan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam setelah beliau wafat. Dari Zaid bin Arqam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَلَا أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيبَ وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّه وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَرَغَّبَ فِيهِ ثُمَّ قَالَ : وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي “Wahai sekalian manusia, bukankah aku ini hanyalah seorang manusia yang didatangi utusan Rabb-ku, kemudian Aku menyambut seruannya. Sesungguhnya aku telah meninggalkan bagi kalian dua hal yang amat penting dan sangat berbobot. Yang pertama dari keduanya adalah Kitabullah yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka ambillah oleh kalian Kitab Allah Ta’ala dan berpegang teguhlah kalian dengannya.” Beliau pun lalu menganjurkan dan berwasiat tentang apa yang ada dalam Al-Qur’an dan memberikan motivasi dengan Al-Qur’an. Kemudian bersabda, “Dan keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah perihal keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah perihal keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah perihal keluargaku.” (HR. Muslim) Maka dari itu, penting bagi kita untuk mengenal dan mencintai keluarga Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam. Di antara keluarga Nabi yang sepatutnya kita kenali adalah anak-anak beliau. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki tujuh orang anak, tiga di antaranya adalah laki-laki dan empat perempuan. Berikut ini adalah anak-anak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, diurutkan berdasarkan kelahiran mereka: Pertama: Al-Qasim Al-Qasim merupakan anak pertama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersama Khadijah radhiyallahu ’anha. Al-Qasim juga merupakan nama yang digunakan oleh beliau shallallahu ’alaihi wasallam untuk ber-kunyah, Abul Qasim. Al-Qasim lahir sebelum Rasulullah menerima wahyu untuk menjadi rasul dan beliau wafat di usia yang masih belia di usia sekitar dua tahun. Kedua: Zainab Zainab merupakan anak kedua Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama Khadijah radhiyallahu ’anha. Beliau merupakan anak perempuan pertama yang lahir sebelum diutusnya Nabi menjadi rasul pada tahun 23 sebelum Hijrah. Zainab menikah dengan sepupunya, yaitu Abul ‘Ash bin Al-Rabi’. Zainab masuk Islam bersamaan dengan Ibunya Khadijah radhiyallahu ’anha memeluk agama Islam. Akan tetapi, suami Zainab tetap dalam kekafirannya. Zainab tidak ikut hijrah bersama Rasulullah ketika beliau shallallahu ’alaihi wasallam berhijrah. Akan tetapi, Zainab menyusul Rasulullah ke Madinah. Setelah suami Zainab masuk Islam, ia pun berhijrah dan kembali bersama Zainab. Zainab tidaklah hidup lama setelah Hijrah. Ia meninggal pada tahun 8 Hijriyah pada usia 30 tahun dan meninggalkan seorang anak yang masih kecil, yaitu Umamah. Ketiga: Ruqayyah Ruqayyah merupakan anak ketiga dari Nabi Muhammad bersama dengan Khadijah. Ruqayyah lahir pada tahun 20 sebelum Hijrah. Ruqayyah awalnya dinikahkan dengan Utbah bin Abu Lahab. Akan tetapi, setelah diutusnya Nabi menjadi rasul dan Abu Lahab mertua dari Ruqayyah menunjukkan permusuhan yang besar kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, Ruqayyah pun bercerai dengan Utbah. Ruqayyah setelah itu menikah dengan Utsman bin Affan. Keduanya merupakan di antara para sahabat yang pertama berhijrah ke Habasyah, setelah kaum muslimin menerima perlakuan buruk di Makkah. Ruqayyah melahirkan anaknya, Abdullah di Habasyah. Setelah hijrah ke Habasyah, mereka kembali ke Makkah dan dalam waktu yang tidak lama mereka pun hijrah menuju Madinah. Abdullah, anak dari Ruqayyah wafat tidak lama setelah hijrah menuju Madinah. Ia wafat pada usia enam tahun. Setelah anaknya wafat, Ruqayyah pun jatuh sakit hingga akhirnya wafat. Ruqayyah wafat ketika perang Badr akan berlangsung. Baca juga: Doa dan Ikhtiar Nabi Zakaria dalam Memperoleh Keturunan Keempat: Ummu Kultsum Ummu Kultsum merupakan anak keempat Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam bersama Khadijah. Ummu Kultsum lahir pada tahun 19 sebelum Hijrah. Seperti kakaknya, Ummu Kultsum awalnya dinikahkan dengan anak Abu Lahab, yaitu Utaibah bin Abu Lahab, adik dari Utbah bin Abu Lahab yang kemudian mereka bercerai. Ummu Kultsum dinikahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Utsman bin Affan radhiyallahu ’anhu setelah wafatnya Ruqayyah. Ummu Kultsum pun menjadi anak kedua Nabi yang dinikahkan dengan Utsman bin Affan sehingga beliau pun dijuluki dzunurain, orang yang menikahi dua anak Nabi, keutamaan yang tidak dimiliki oleh sahabat lainnya. Ummu Kultsum wafat pada bulan Sya’ban tahun ke-9 Hijriyah. Beliau wafat tanpa meninggalkan keturunan. Kelima: Fatimah Fatimah merupakan anak kelima Nabi Muhammad bersama dengan Khadijah dan merupakan anak perempuan terakhir dari Nabi. Fatimah lahir pada tahun 18 sebelum hijrah. Setelah hijrah ke Madinah pada tahun kedua Hijriah, Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Thalib. Fatimah dikaruniai Allah dengan empat orang anak, yaitu: Al-Hasan, Al-Husain, Zainab, dan Ummu Kultsum. Fatimah merupakan putri Nabi yang beliau shallallahu ’alaihi wasallam cintai dan juga merupakan salah satu di antara wanita terbaik. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, أفضل نساء أهل الجنة خديجة بنت خويلد، وفاطمة بنت محمد، ومريم بنت عمران، وآسية بنت مُزاحمٍ امرأة فرعون “Sebaik-baik wanita penghuni surga adalah Khadijah binti Khuawilid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Muzahim, istrinya Fir’aun.” (HR. Ahmad) Fatimah radhiyallahu ’anha hidup dan menyaksikan wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu, Fatimah pun wafat enam bulan setelah wafatnya Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wasalam. Fatimah wafat pada tahun 11 Hijriyah pada bulan Ramadan, beliau dikuburkan di Baqi’. Keenam: Abdullah Abdullah adalah anak terakhir dari Rasulullah dari pernikahan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Khadijah radhiyallahu ’anha. Abdullah lahir setelah Rasulullah diutus menjadi Rasul. Abdullah diberi julukan Thayib (baik) dan Thahir (murni) dikarenakan beliau lahir setelah nubuwah. Abdullah wafat ketika ia masih kecil. Ketujuh: Ibrahim Anak terakhir dari Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa salam adalah Ibrahim. Ibrahim merupakan satu-satunya keturunan dari Rasulullah yang bukan hasil dari pernikahan beliau dengan Khadijah radhiyallahu ’anha. Ia lahir dari rahim ibunya, Mariyah Al-Qibtiyah pada tahun 8 Hijriyah. Ibrahim tidak hidup lama, ia meninggal pada tahun 1 Hijriyah. Wafatnya Ibrahim membuat Rasulullah bersedih dan beliau bersabda pada hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, إن العين تدمع، والقلب يحزن، ولا نقول إلا ما يُرْضِى ربنا، وإنا بفراقك يا إبراهيم لمحزونون “Sesungguhnya mata ini meneteskan air mata, dan hati bersedih, namun kami tidak mengatakan, kecuali yang diridai oleh Rabb kami. Sesungguhnya kami dengan perpisahanmu sangatlah bersedih, wahai Ibrahim.” (HR. Bukhari) Itulah anak-anak Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Semua anak laki-laki beliau meninggal saat masih kecil dan hanya Fatimah yang hidup setelah wafatnya Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Baca juga: Mengenal Ciri-Ciri Fisik Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam *** Penulis: Firdian Ikhwansyah Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Disarikan dari penjelasan di islamweb.net dan islamqa.info.

Mengenal Anak-Anak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

Daftar Isi Toggle Pertama: Al-QasimKedua: ZainabKetiga: RuqayyahKeempat: Ummu KultsumKelima: FatimahKeenam: AbdullahKetujuh: Ibrahim Sebagai umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kita tentu wajib mencintai beliau dan juga keluarga beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita selawat dengan lafaz, الَلَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ أَزْوَاجِهِ وَ ذُرِّيَتِهِ “Ya Allah, berikanlah keselamatan atas Muhammad, istri-istrinya, dan anak keturunannya.” (HR. Bukhari) Keturunan Nabi juga merupakan salah satu peninggalan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam setelah beliau wafat. Dari Zaid bin Arqam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَلَا أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيبَ وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّه وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَرَغَّبَ فِيهِ ثُمَّ قَالَ : وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي “Wahai sekalian manusia, bukankah aku ini hanyalah seorang manusia yang didatangi utusan Rabb-ku, kemudian Aku menyambut seruannya. Sesungguhnya aku telah meninggalkan bagi kalian dua hal yang amat penting dan sangat berbobot. Yang pertama dari keduanya adalah Kitabullah yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka ambillah oleh kalian Kitab Allah Ta’ala dan berpegang teguhlah kalian dengannya.” Beliau pun lalu menganjurkan dan berwasiat tentang apa yang ada dalam Al-Qur’an dan memberikan motivasi dengan Al-Qur’an. Kemudian bersabda, “Dan keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah perihal keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah perihal keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah perihal keluargaku.” (HR. Muslim) Maka dari itu, penting bagi kita untuk mengenal dan mencintai keluarga Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam. Di antara keluarga Nabi yang sepatutnya kita kenali adalah anak-anak beliau. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki tujuh orang anak, tiga di antaranya adalah laki-laki dan empat perempuan. Berikut ini adalah anak-anak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, diurutkan berdasarkan kelahiran mereka: Pertama: Al-Qasim Al-Qasim merupakan anak pertama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersama Khadijah radhiyallahu ’anha. Al-Qasim juga merupakan nama yang digunakan oleh beliau shallallahu ’alaihi wasallam untuk ber-kunyah, Abul Qasim. Al-Qasim lahir sebelum Rasulullah menerima wahyu untuk menjadi rasul dan beliau wafat di usia yang masih belia di usia sekitar dua tahun. Kedua: Zainab Zainab merupakan anak kedua Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama Khadijah radhiyallahu ’anha. Beliau merupakan anak perempuan pertama yang lahir sebelum diutusnya Nabi menjadi rasul pada tahun 23 sebelum Hijrah. Zainab menikah dengan sepupunya, yaitu Abul ‘Ash bin Al-Rabi’. Zainab masuk Islam bersamaan dengan Ibunya Khadijah radhiyallahu ’anha memeluk agama Islam. Akan tetapi, suami Zainab tetap dalam kekafirannya. Zainab tidak ikut hijrah bersama Rasulullah ketika beliau shallallahu ’alaihi wasallam berhijrah. Akan tetapi, Zainab menyusul Rasulullah ke Madinah. Setelah suami Zainab masuk Islam, ia pun berhijrah dan kembali bersama Zainab. Zainab tidaklah hidup lama setelah Hijrah. Ia meninggal pada tahun 8 Hijriyah pada usia 30 tahun dan meninggalkan seorang anak yang masih kecil, yaitu Umamah. Ketiga: Ruqayyah Ruqayyah merupakan anak ketiga dari Nabi Muhammad bersama dengan Khadijah. Ruqayyah lahir pada tahun 20 sebelum Hijrah. Ruqayyah awalnya dinikahkan dengan Utbah bin Abu Lahab. Akan tetapi, setelah diutusnya Nabi menjadi rasul dan Abu Lahab mertua dari Ruqayyah menunjukkan permusuhan yang besar kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, Ruqayyah pun bercerai dengan Utbah. Ruqayyah setelah itu menikah dengan Utsman bin Affan. Keduanya merupakan di antara para sahabat yang pertama berhijrah ke Habasyah, setelah kaum muslimin menerima perlakuan buruk di Makkah. Ruqayyah melahirkan anaknya, Abdullah di Habasyah. Setelah hijrah ke Habasyah, mereka kembali ke Makkah dan dalam waktu yang tidak lama mereka pun hijrah menuju Madinah. Abdullah, anak dari Ruqayyah wafat tidak lama setelah hijrah menuju Madinah. Ia wafat pada usia enam tahun. Setelah anaknya wafat, Ruqayyah pun jatuh sakit hingga akhirnya wafat. Ruqayyah wafat ketika perang Badr akan berlangsung. Baca juga: Doa dan Ikhtiar Nabi Zakaria dalam Memperoleh Keturunan Keempat: Ummu Kultsum Ummu Kultsum merupakan anak keempat Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam bersama Khadijah. Ummu Kultsum lahir pada tahun 19 sebelum Hijrah. Seperti kakaknya, Ummu Kultsum awalnya dinikahkan dengan anak Abu Lahab, yaitu Utaibah bin Abu Lahab, adik dari Utbah bin Abu Lahab yang kemudian mereka bercerai. Ummu Kultsum dinikahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Utsman bin Affan radhiyallahu ’anhu setelah wafatnya Ruqayyah. Ummu Kultsum pun menjadi anak kedua Nabi yang dinikahkan dengan Utsman bin Affan sehingga beliau pun dijuluki dzunurain, orang yang menikahi dua anak Nabi, keutamaan yang tidak dimiliki oleh sahabat lainnya. Ummu Kultsum wafat pada bulan Sya’ban tahun ke-9 Hijriyah. Beliau wafat tanpa meninggalkan keturunan. Kelima: Fatimah Fatimah merupakan anak kelima Nabi Muhammad bersama dengan Khadijah dan merupakan anak perempuan terakhir dari Nabi. Fatimah lahir pada tahun 18 sebelum hijrah. Setelah hijrah ke Madinah pada tahun kedua Hijriah, Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Thalib. Fatimah dikaruniai Allah dengan empat orang anak, yaitu: Al-Hasan, Al-Husain, Zainab, dan Ummu Kultsum. Fatimah merupakan putri Nabi yang beliau shallallahu ’alaihi wasallam cintai dan juga merupakan salah satu di antara wanita terbaik. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, أفضل نساء أهل الجنة خديجة بنت خويلد، وفاطمة بنت محمد، ومريم بنت عمران، وآسية بنت مُزاحمٍ امرأة فرعون “Sebaik-baik wanita penghuni surga adalah Khadijah binti Khuawilid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Muzahim, istrinya Fir’aun.” (HR. Ahmad) Fatimah radhiyallahu ’anha hidup dan menyaksikan wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu, Fatimah pun wafat enam bulan setelah wafatnya Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wasalam. Fatimah wafat pada tahun 11 Hijriyah pada bulan Ramadan, beliau dikuburkan di Baqi’. Keenam: Abdullah Abdullah adalah anak terakhir dari Rasulullah dari pernikahan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Khadijah radhiyallahu ’anha. Abdullah lahir setelah Rasulullah diutus menjadi Rasul. Abdullah diberi julukan Thayib (baik) dan Thahir (murni) dikarenakan beliau lahir setelah nubuwah. Abdullah wafat ketika ia masih kecil. Ketujuh: Ibrahim Anak terakhir dari Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa salam adalah Ibrahim. Ibrahim merupakan satu-satunya keturunan dari Rasulullah yang bukan hasil dari pernikahan beliau dengan Khadijah radhiyallahu ’anha. Ia lahir dari rahim ibunya, Mariyah Al-Qibtiyah pada tahun 8 Hijriyah. Ibrahim tidak hidup lama, ia meninggal pada tahun 1 Hijriyah. Wafatnya Ibrahim membuat Rasulullah bersedih dan beliau bersabda pada hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, إن العين تدمع، والقلب يحزن، ولا نقول إلا ما يُرْضِى ربنا، وإنا بفراقك يا إبراهيم لمحزونون “Sesungguhnya mata ini meneteskan air mata, dan hati bersedih, namun kami tidak mengatakan, kecuali yang diridai oleh Rabb kami. Sesungguhnya kami dengan perpisahanmu sangatlah bersedih, wahai Ibrahim.” (HR. Bukhari) Itulah anak-anak Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Semua anak laki-laki beliau meninggal saat masih kecil dan hanya Fatimah yang hidup setelah wafatnya Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Baca juga: Mengenal Ciri-Ciri Fisik Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam *** Penulis: Firdian Ikhwansyah Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Disarikan dari penjelasan di islamweb.net dan islamqa.info.
Daftar Isi Toggle Pertama: Al-QasimKedua: ZainabKetiga: RuqayyahKeempat: Ummu KultsumKelima: FatimahKeenam: AbdullahKetujuh: Ibrahim Sebagai umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kita tentu wajib mencintai beliau dan juga keluarga beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita selawat dengan lafaz, الَلَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ أَزْوَاجِهِ وَ ذُرِّيَتِهِ “Ya Allah, berikanlah keselamatan atas Muhammad, istri-istrinya, dan anak keturunannya.” (HR. Bukhari) Keturunan Nabi juga merupakan salah satu peninggalan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam setelah beliau wafat. Dari Zaid bin Arqam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَلَا أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيبَ وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّه وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَرَغَّبَ فِيهِ ثُمَّ قَالَ : وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي “Wahai sekalian manusia, bukankah aku ini hanyalah seorang manusia yang didatangi utusan Rabb-ku, kemudian Aku menyambut seruannya. Sesungguhnya aku telah meninggalkan bagi kalian dua hal yang amat penting dan sangat berbobot. Yang pertama dari keduanya adalah Kitabullah yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka ambillah oleh kalian Kitab Allah Ta’ala dan berpegang teguhlah kalian dengannya.” Beliau pun lalu menganjurkan dan berwasiat tentang apa yang ada dalam Al-Qur’an dan memberikan motivasi dengan Al-Qur’an. Kemudian bersabda, “Dan keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah perihal keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah perihal keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah perihal keluargaku.” (HR. Muslim) Maka dari itu, penting bagi kita untuk mengenal dan mencintai keluarga Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam. Di antara keluarga Nabi yang sepatutnya kita kenali adalah anak-anak beliau. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki tujuh orang anak, tiga di antaranya adalah laki-laki dan empat perempuan. Berikut ini adalah anak-anak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, diurutkan berdasarkan kelahiran mereka: Pertama: Al-Qasim Al-Qasim merupakan anak pertama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersama Khadijah radhiyallahu ’anha. Al-Qasim juga merupakan nama yang digunakan oleh beliau shallallahu ’alaihi wasallam untuk ber-kunyah, Abul Qasim. Al-Qasim lahir sebelum Rasulullah menerima wahyu untuk menjadi rasul dan beliau wafat di usia yang masih belia di usia sekitar dua tahun. Kedua: Zainab Zainab merupakan anak kedua Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama Khadijah radhiyallahu ’anha. Beliau merupakan anak perempuan pertama yang lahir sebelum diutusnya Nabi menjadi rasul pada tahun 23 sebelum Hijrah. Zainab menikah dengan sepupunya, yaitu Abul ‘Ash bin Al-Rabi’. Zainab masuk Islam bersamaan dengan Ibunya Khadijah radhiyallahu ’anha memeluk agama Islam. Akan tetapi, suami Zainab tetap dalam kekafirannya. Zainab tidak ikut hijrah bersama Rasulullah ketika beliau shallallahu ’alaihi wasallam berhijrah. Akan tetapi, Zainab menyusul Rasulullah ke Madinah. Setelah suami Zainab masuk Islam, ia pun berhijrah dan kembali bersama Zainab. Zainab tidaklah hidup lama setelah Hijrah. Ia meninggal pada tahun 8 Hijriyah pada usia 30 tahun dan meninggalkan seorang anak yang masih kecil, yaitu Umamah. Ketiga: Ruqayyah Ruqayyah merupakan anak ketiga dari Nabi Muhammad bersama dengan Khadijah. Ruqayyah lahir pada tahun 20 sebelum Hijrah. Ruqayyah awalnya dinikahkan dengan Utbah bin Abu Lahab. Akan tetapi, setelah diutusnya Nabi menjadi rasul dan Abu Lahab mertua dari Ruqayyah menunjukkan permusuhan yang besar kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, Ruqayyah pun bercerai dengan Utbah. Ruqayyah setelah itu menikah dengan Utsman bin Affan. Keduanya merupakan di antara para sahabat yang pertama berhijrah ke Habasyah, setelah kaum muslimin menerima perlakuan buruk di Makkah. Ruqayyah melahirkan anaknya, Abdullah di Habasyah. Setelah hijrah ke Habasyah, mereka kembali ke Makkah dan dalam waktu yang tidak lama mereka pun hijrah menuju Madinah. Abdullah, anak dari Ruqayyah wafat tidak lama setelah hijrah menuju Madinah. Ia wafat pada usia enam tahun. Setelah anaknya wafat, Ruqayyah pun jatuh sakit hingga akhirnya wafat. Ruqayyah wafat ketika perang Badr akan berlangsung. Baca juga: Doa dan Ikhtiar Nabi Zakaria dalam Memperoleh Keturunan Keempat: Ummu Kultsum Ummu Kultsum merupakan anak keempat Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam bersama Khadijah. Ummu Kultsum lahir pada tahun 19 sebelum Hijrah. Seperti kakaknya, Ummu Kultsum awalnya dinikahkan dengan anak Abu Lahab, yaitu Utaibah bin Abu Lahab, adik dari Utbah bin Abu Lahab yang kemudian mereka bercerai. Ummu Kultsum dinikahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Utsman bin Affan radhiyallahu ’anhu setelah wafatnya Ruqayyah. Ummu Kultsum pun menjadi anak kedua Nabi yang dinikahkan dengan Utsman bin Affan sehingga beliau pun dijuluki dzunurain, orang yang menikahi dua anak Nabi, keutamaan yang tidak dimiliki oleh sahabat lainnya. Ummu Kultsum wafat pada bulan Sya’ban tahun ke-9 Hijriyah. Beliau wafat tanpa meninggalkan keturunan. Kelima: Fatimah Fatimah merupakan anak kelima Nabi Muhammad bersama dengan Khadijah dan merupakan anak perempuan terakhir dari Nabi. Fatimah lahir pada tahun 18 sebelum hijrah. Setelah hijrah ke Madinah pada tahun kedua Hijriah, Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Thalib. Fatimah dikaruniai Allah dengan empat orang anak, yaitu: Al-Hasan, Al-Husain, Zainab, dan Ummu Kultsum. Fatimah merupakan putri Nabi yang beliau shallallahu ’alaihi wasallam cintai dan juga merupakan salah satu di antara wanita terbaik. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, أفضل نساء أهل الجنة خديجة بنت خويلد، وفاطمة بنت محمد، ومريم بنت عمران، وآسية بنت مُزاحمٍ امرأة فرعون “Sebaik-baik wanita penghuni surga adalah Khadijah binti Khuawilid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Muzahim, istrinya Fir’aun.” (HR. Ahmad) Fatimah radhiyallahu ’anha hidup dan menyaksikan wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu, Fatimah pun wafat enam bulan setelah wafatnya Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wasalam. Fatimah wafat pada tahun 11 Hijriyah pada bulan Ramadan, beliau dikuburkan di Baqi’. Keenam: Abdullah Abdullah adalah anak terakhir dari Rasulullah dari pernikahan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Khadijah radhiyallahu ’anha. Abdullah lahir setelah Rasulullah diutus menjadi Rasul. Abdullah diberi julukan Thayib (baik) dan Thahir (murni) dikarenakan beliau lahir setelah nubuwah. Abdullah wafat ketika ia masih kecil. Ketujuh: Ibrahim Anak terakhir dari Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa salam adalah Ibrahim. Ibrahim merupakan satu-satunya keturunan dari Rasulullah yang bukan hasil dari pernikahan beliau dengan Khadijah radhiyallahu ’anha. Ia lahir dari rahim ibunya, Mariyah Al-Qibtiyah pada tahun 8 Hijriyah. Ibrahim tidak hidup lama, ia meninggal pada tahun 1 Hijriyah. Wafatnya Ibrahim membuat Rasulullah bersedih dan beliau bersabda pada hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, إن العين تدمع، والقلب يحزن، ولا نقول إلا ما يُرْضِى ربنا، وإنا بفراقك يا إبراهيم لمحزونون “Sesungguhnya mata ini meneteskan air mata, dan hati bersedih, namun kami tidak mengatakan, kecuali yang diridai oleh Rabb kami. Sesungguhnya kami dengan perpisahanmu sangatlah bersedih, wahai Ibrahim.” (HR. Bukhari) Itulah anak-anak Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Semua anak laki-laki beliau meninggal saat masih kecil dan hanya Fatimah yang hidup setelah wafatnya Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Baca juga: Mengenal Ciri-Ciri Fisik Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam *** Penulis: Firdian Ikhwansyah Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Disarikan dari penjelasan di islamweb.net dan islamqa.info.


Daftar Isi Toggle Pertama: Al-QasimKedua: ZainabKetiga: RuqayyahKeempat: Ummu KultsumKelima: FatimahKeenam: AbdullahKetujuh: Ibrahim Sebagai umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kita tentu wajib mencintai beliau dan juga keluarga beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita selawat dengan lafaz, الَلَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ أَزْوَاجِهِ وَ ذُرِّيَتِهِ “Ya Allah, berikanlah keselamatan atas Muhammad, istri-istrinya, dan anak keturunannya.” (HR. Bukhari) Keturunan Nabi juga merupakan salah satu peninggalan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam setelah beliau wafat. Dari Zaid bin Arqam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَلَا أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيبَ وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّه وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَرَغَّبَ فِيهِ ثُمَّ قَالَ : وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي “Wahai sekalian manusia, bukankah aku ini hanyalah seorang manusia yang didatangi utusan Rabb-ku, kemudian Aku menyambut seruannya. Sesungguhnya aku telah meninggalkan bagi kalian dua hal yang amat penting dan sangat berbobot. Yang pertama dari keduanya adalah Kitabullah yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka ambillah oleh kalian Kitab Allah Ta’ala dan berpegang teguhlah kalian dengannya.” Beliau pun lalu menganjurkan dan berwasiat tentang apa yang ada dalam Al-Qur’an dan memberikan motivasi dengan Al-Qur’an. Kemudian bersabda, “Dan keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah perihal keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah perihal keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah perihal keluargaku.” (HR. Muslim) Maka dari itu, penting bagi kita untuk mengenal dan mencintai keluarga Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam. Di antara keluarga Nabi yang sepatutnya kita kenali adalah anak-anak beliau. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki tujuh orang anak, tiga di antaranya adalah laki-laki dan empat perempuan. Berikut ini adalah anak-anak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, diurutkan berdasarkan kelahiran mereka: Pertama: Al-Qasim Al-Qasim merupakan anak pertama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersama Khadijah radhiyallahu ’anha. Al-Qasim juga merupakan nama yang digunakan oleh beliau shallallahu ’alaihi wasallam untuk ber-kunyah, Abul Qasim. Al-Qasim lahir sebelum Rasulullah menerima wahyu untuk menjadi rasul dan beliau wafat di usia yang masih belia di usia sekitar dua tahun. Kedua: Zainab Zainab merupakan anak kedua Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama Khadijah radhiyallahu ’anha. Beliau merupakan anak perempuan pertama yang lahir sebelum diutusnya Nabi menjadi rasul pada tahun 23 sebelum Hijrah. Zainab menikah dengan sepupunya, yaitu Abul ‘Ash bin Al-Rabi’. Zainab masuk Islam bersamaan dengan Ibunya Khadijah radhiyallahu ’anha memeluk agama Islam. Akan tetapi, suami Zainab tetap dalam kekafirannya. Zainab tidak ikut hijrah bersama Rasulullah ketika beliau shallallahu ’alaihi wasallam berhijrah. Akan tetapi, Zainab menyusul Rasulullah ke Madinah. Setelah suami Zainab masuk Islam, ia pun berhijrah dan kembali bersama Zainab. Zainab tidaklah hidup lama setelah Hijrah. Ia meninggal pada tahun 8 Hijriyah pada usia 30 tahun dan meninggalkan seorang anak yang masih kecil, yaitu Umamah. Ketiga: Ruqayyah Ruqayyah merupakan anak ketiga dari Nabi Muhammad bersama dengan Khadijah. Ruqayyah lahir pada tahun 20 sebelum Hijrah. Ruqayyah awalnya dinikahkan dengan Utbah bin Abu Lahab. Akan tetapi, setelah diutusnya Nabi menjadi rasul dan Abu Lahab mertua dari Ruqayyah menunjukkan permusuhan yang besar kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, Ruqayyah pun bercerai dengan Utbah. Ruqayyah setelah itu menikah dengan Utsman bin Affan. Keduanya merupakan di antara para sahabat yang pertama berhijrah ke Habasyah, setelah kaum muslimin menerima perlakuan buruk di Makkah. Ruqayyah melahirkan anaknya, Abdullah di Habasyah. Setelah hijrah ke Habasyah, mereka kembali ke Makkah dan dalam waktu yang tidak lama mereka pun hijrah menuju Madinah. Abdullah, anak dari Ruqayyah wafat tidak lama setelah hijrah menuju Madinah. Ia wafat pada usia enam tahun. Setelah anaknya wafat, Ruqayyah pun jatuh sakit hingga akhirnya wafat. Ruqayyah wafat ketika perang Badr akan berlangsung. Baca juga: Doa dan Ikhtiar Nabi Zakaria dalam Memperoleh Keturunan Keempat: Ummu Kultsum Ummu Kultsum merupakan anak keempat Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam bersama Khadijah. Ummu Kultsum lahir pada tahun 19 sebelum Hijrah. Seperti kakaknya, Ummu Kultsum awalnya dinikahkan dengan anak Abu Lahab, yaitu Utaibah bin Abu Lahab, adik dari Utbah bin Abu Lahab yang kemudian mereka bercerai. Ummu Kultsum dinikahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Utsman bin Affan radhiyallahu ’anhu setelah wafatnya Ruqayyah. Ummu Kultsum pun menjadi anak kedua Nabi yang dinikahkan dengan Utsman bin Affan sehingga beliau pun dijuluki dzunurain, orang yang menikahi dua anak Nabi, keutamaan yang tidak dimiliki oleh sahabat lainnya. Ummu Kultsum wafat pada bulan Sya’ban tahun ke-9 Hijriyah. Beliau wafat tanpa meninggalkan keturunan. Kelima: Fatimah Fatimah merupakan anak kelima Nabi Muhammad bersama dengan Khadijah dan merupakan anak perempuan terakhir dari Nabi. Fatimah lahir pada tahun 18 sebelum hijrah. Setelah hijrah ke Madinah pada tahun kedua Hijriah, Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Thalib. Fatimah dikaruniai Allah dengan empat orang anak, yaitu: Al-Hasan, Al-Husain, Zainab, dan Ummu Kultsum. Fatimah merupakan putri Nabi yang beliau shallallahu ’alaihi wasallam cintai dan juga merupakan salah satu di antara wanita terbaik. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, أفضل نساء أهل الجنة خديجة بنت خويلد، وفاطمة بنت محمد، ومريم بنت عمران، وآسية بنت مُزاحمٍ امرأة فرعون “Sebaik-baik wanita penghuni surga adalah Khadijah binti Khuawilid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Muzahim, istrinya Fir’aun.” (HR. Ahmad) Fatimah radhiyallahu ’anha hidup dan menyaksikan wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu, Fatimah pun wafat enam bulan setelah wafatnya Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wasalam. Fatimah wafat pada tahun 11 Hijriyah pada bulan Ramadan, beliau dikuburkan di Baqi’. Keenam: Abdullah Abdullah adalah anak terakhir dari Rasulullah dari pernikahan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Khadijah radhiyallahu ’anha. Abdullah lahir setelah Rasulullah diutus menjadi Rasul. Abdullah diberi julukan Thayib (baik) dan Thahir (murni) dikarenakan beliau lahir setelah nubuwah. Abdullah wafat ketika ia masih kecil. Ketujuh: Ibrahim Anak terakhir dari Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa salam adalah Ibrahim. Ibrahim merupakan satu-satunya keturunan dari Rasulullah yang bukan hasil dari pernikahan beliau dengan Khadijah radhiyallahu ’anha. Ia lahir dari rahim ibunya, Mariyah Al-Qibtiyah pada tahun 8 Hijriyah. Ibrahim tidak hidup lama, ia meninggal pada tahun 1 Hijriyah. Wafatnya Ibrahim membuat Rasulullah bersedih dan beliau bersabda pada hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, إن العين تدمع، والقلب يحزن، ولا نقول إلا ما يُرْضِى ربنا، وإنا بفراقك يا إبراهيم لمحزونون “Sesungguhnya mata ini meneteskan air mata, dan hati bersedih, namun kami tidak mengatakan, kecuali yang diridai oleh Rabb kami. Sesungguhnya kami dengan perpisahanmu sangatlah bersedih, wahai Ibrahim.” (HR. Bukhari) Itulah anak-anak Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Semua anak laki-laki beliau meninggal saat masih kecil dan hanya Fatimah yang hidup setelah wafatnya Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Baca juga: Mengenal Ciri-Ciri Fisik Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam *** Penulis: Firdian Ikhwansyah Artikel: Muslim.or.id   Sumber: Disarikan dari penjelasan di islamweb.net dan islamqa.info.

Panduan Shalat Jamak bagi Musafir: Syarat, Dalil, dan Faedahnya

Dalam Islam, keringanan dalam shalat diberikan kepada musafir dan orang yang sakit sebagai bentuk rahmat dari Allah. Salah satu keringanan tersebut adalah diperbolehkannya melakukan shalat jamak, yaitu menggabungkan dua shalat dalam satu waktu, baik secara takdim maupun takhir, sesuai dengan kondisi perjalanan.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةِ المسَافِرِ وَالمريضِ Bab: Shalat Musafir dan Orang yang Sakit   Daftar Isi tutup 1. Hadits #438 2. Hadits #439 2.1. Faedah hadits 2.2. Referensi:   Hadits #438    عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه كَانَ رَسُولُ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ، ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا، فَإِنْ زَاغَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ، ثُمَّ رَكِبَ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَة الْحَاكِمِ فِي «الأَرْبَعِينَ» بِإِسْنَاد الصَّحِيح: صلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ، ثُمَّ رَكِبَ. وَلأَبِي نُعَيْمٍ فِي «مُسْتَخْرَجِ مُسْلِمٍ»: كَانَ إِذَا كَانَ فِي سَفَرٍ، فَزَالَتِ الشَّمْسُ صَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعاً، ثُمَّ ارْتَحَلَ. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila dalam perjalanan sebelum tergelincirnya matahari (waktu Zhuhur belum masuk), maka beliau menunda shalat Zhuhur hingga waktu Ashar (jamak takhir), kemudian beliau turun dan menggabungkan keduanya (shalat Zhuhur dan Ashar). Namun, jika matahari sudah tergelincir sebelum beliau melakukan perjalanan, maka beliau mengerjakan shalat Zhuhur terlebih dahulu, kemudian melanjutkan perjalanan. (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1111, 1112 dan Muslim, no. 704] Dalam riwayat Al-Hakim di kitab “Al-Arba’in” dengan sanad yang sahih, “Beliau mengerjakan shalat Zhuhur dan Ashar, kemudian melanjutkan perjalanan.” Menurut Abu Nu’aim dalam kitab “Mustakhraj Muslim“, “Apabila beliau dalam perjalanan, lalu matahari tergelincir (waktu Zhuhur tiba), beliau mengerjakan shalat Zhuhur dan Ashar sekaligus, kemudian melanjutkan perjalanan.”   Hadits #439 عَنْ مُعَاذٍ رضي الله عنه قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ؛ فَكَانَ يُصَلِّي الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعاً، وَالمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعاً. رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Tabuk. Beliau biasa menggabungkan shalat Zhuhur dan Ashar, serta menggabungkan shalat Maghrib dan Isyak.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 706]   Faedah hadits Shalat jamak bagi musafir diperbolehkan, baik dengan jamak takdim maupun jamak takhir. Jamak takdim adalah menggabungkan shalat kedua pada waktu shalat pertama, sementara jamak takhir adalah menunda shalat pertama ke waktu shalat kedua. Menurut Imam Syafii rahimahullah dan mayoritas ulama, shalat Zhuhur dan Ashar boleh dijamak di waktu salah satunya, begitu juga shalat Maghrib dan Isyak. Jika musafir berhenti di waktu pertama, maka lebih utama melakukan jamak takdim. Namun, jika musafir berada dalam perjalanan di waktu pertama dan yakin bisa berhenti di waktu kedua tanpa melewati waktu tersebut, ia dapat melakukan jamak takhir. Meskipun ketentuan ini tidak terpenuhi, tetap diperbolehkan menjamak shalat, tetapi akan kehilangan keutamaan (afdhaliyah). Syarat jamak takdim adalah: (1) memulai dengan shalat pertama, (2) niat jamak pada shalat pertama sebelum selesai, (3) tidak ada jeda di antara kedua shalat, dan (4) masih ada alasan syari. Sedangkan syarat jamak takhir adalah: (1) niat jamak takhir di waktu shalat pertama yang cukup untuk melaksanakannya, dan (2) uzur berlangsung sampai shalat kedua selesai. Jika seseorang menunda shalat tanpa niat jamak takhir, dianggap melakukan dosa (bermaksiat) dan harus mengqadha shalatnya. Disunnahkan dalam jamak takhir untuk: (1) mengerjakan shalat pertama terlebih dahulu, (2) berniat jamak, dan (3) tidak ada jeda di antara kedua shalat. Baca juga: Memilih Jamak Takdim ataukah Jamak Takhir? Bagi yang Belum Paham Jamak dan Qashar Shalat   Referensi: Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. Jilid kedua. 2:75-78. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:478-485.   –   Diselesaikan pada Ahad Malam @ Makkah Al-Mukarramah, 26 Rabiuts Tsani 1446 H, 28 Oktober 2024 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat musafir cara jamak shalat fikih safar jamak shalat jamak takdim jamak takhir keringanan saat safar panduan safar qashar shalat Safar shalat saat safar

Panduan Shalat Jamak bagi Musafir: Syarat, Dalil, dan Faedahnya

Dalam Islam, keringanan dalam shalat diberikan kepada musafir dan orang yang sakit sebagai bentuk rahmat dari Allah. Salah satu keringanan tersebut adalah diperbolehkannya melakukan shalat jamak, yaitu menggabungkan dua shalat dalam satu waktu, baik secara takdim maupun takhir, sesuai dengan kondisi perjalanan.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةِ المسَافِرِ وَالمريضِ Bab: Shalat Musafir dan Orang yang Sakit   Daftar Isi tutup 1. Hadits #438 2. Hadits #439 2.1. Faedah hadits 2.2. Referensi:   Hadits #438    عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه كَانَ رَسُولُ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ، ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا، فَإِنْ زَاغَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ، ثُمَّ رَكِبَ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَة الْحَاكِمِ فِي «الأَرْبَعِينَ» بِإِسْنَاد الصَّحِيح: صلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ، ثُمَّ رَكِبَ. وَلأَبِي نُعَيْمٍ فِي «مُسْتَخْرَجِ مُسْلِمٍ»: كَانَ إِذَا كَانَ فِي سَفَرٍ، فَزَالَتِ الشَّمْسُ صَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعاً، ثُمَّ ارْتَحَلَ. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila dalam perjalanan sebelum tergelincirnya matahari (waktu Zhuhur belum masuk), maka beliau menunda shalat Zhuhur hingga waktu Ashar (jamak takhir), kemudian beliau turun dan menggabungkan keduanya (shalat Zhuhur dan Ashar). Namun, jika matahari sudah tergelincir sebelum beliau melakukan perjalanan, maka beliau mengerjakan shalat Zhuhur terlebih dahulu, kemudian melanjutkan perjalanan. (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1111, 1112 dan Muslim, no. 704] Dalam riwayat Al-Hakim di kitab “Al-Arba’in” dengan sanad yang sahih, “Beliau mengerjakan shalat Zhuhur dan Ashar, kemudian melanjutkan perjalanan.” Menurut Abu Nu’aim dalam kitab “Mustakhraj Muslim“, “Apabila beliau dalam perjalanan, lalu matahari tergelincir (waktu Zhuhur tiba), beliau mengerjakan shalat Zhuhur dan Ashar sekaligus, kemudian melanjutkan perjalanan.”   Hadits #439 عَنْ مُعَاذٍ رضي الله عنه قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ؛ فَكَانَ يُصَلِّي الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعاً، وَالمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعاً. رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Tabuk. Beliau biasa menggabungkan shalat Zhuhur dan Ashar, serta menggabungkan shalat Maghrib dan Isyak.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 706]   Faedah hadits Shalat jamak bagi musafir diperbolehkan, baik dengan jamak takdim maupun jamak takhir. Jamak takdim adalah menggabungkan shalat kedua pada waktu shalat pertama, sementara jamak takhir adalah menunda shalat pertama ke waktu shalat kedua. Menurut Imam Syafii rahimahullah dan mayoritas ulama, shalat Zhuhur dan Ashar boleh dijamak di waktu salah satunya, begitu juga shalat Maghrib dan Isyak. Jika musafir berhenti di waktu pertama, maka lebih utama melakukan jamak takdim. Namun, jika musafir berada dalam perjalanan di waktu pertama dan yakin bisa berhenti di waktu kedua tanpa melewati waktu tersebut, ia dapat melakukan jamak takhir. Meskipun ketentuan ini tidak terpenuhi, tetap diperbolehkan menjamak shalat, tetapi akan kehilangan keutamaan (afdhaliyah). Syarat jamak takdim adalah: (1) memulai dengan shalat pertama, (2) niat jamak pada shalat pertama sebelum selesai, (3) tidak ada jeda di antara kedua shalat, dan (4) masih ada alasan syari. Sedangkan syarat jamak takhir adalah: (1) niat jamak takhir di waktu shalat pertama yang cukup untuk melaksanakannya, dan (2) uzur berlangsung sampai shalat kedua selesai. Jika seseorang menunda shalat tanpa niat jamak takhir, dianggap melakukan dosa (bermaksiat) dan harus mengqadha shalatnya. Disunnahkan dalam jamak takhir untuk: (1) mengerjakan shalat pertama terlebih dahulu, (2) berniat jamak, dan (3) tidak ada jeda di antara kedua shalat. Baca juga: Memilih Jamak Takdim ataukah Jamak Takhir? Bagi yang Belum Paham Jamak dan Qashar Shalat   Referensi: Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. Jilid kedua. 2:75-78. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:478-485.   –   Diselesaikan pada Ahad Malam @ Makkah Al-Mukarramah, 26 Rabiuts Tsani 1446 H, 28 Oktober 2024 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat musafir cara jamak shalat fikih safar jamak shalat jamak takdim jamak takhir keringanan saat safar panduan safar qashar shalat Safar shalat saat safar
Dalam Islam, keringanan dalam shalat diberikan kepada musafir dan orang yang sakit sebagai bentuk rahmat dari Allah. Salah satu keringanan tersebut adalah diperbolehkannya melakukan shalat jamak, yaitu menggabungkan dua shalat dalam satu waktu, baik secara takdim maupun takhir, sesuai dengan kondisi perjalanan.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةِ المسَافِرِ وَالمريضِ Bab: Shalat Musafir dan Orang yang Sakit   Daftar Isi tutup 1. Hadits #438 2. Hadits #439 2.1. Faedah hadits 2.2. Referensi:   Hadits #438    عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه كَانَ رَسُولُ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ، ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا، فَإِنْ زَاغَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ، ثُمَّ رَكِبَ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَة الْحَاكِمِ فِي «الأَرْبَعِينَ» بِإِسْنَاد الصَّحِيح: صلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ، ثُمَّ رَكِبَ. وَلأَبِي نُعَيْمٍ فِي «مُسْتَخْرَجِ مُسْلِمٍ»: كَانَ إِذَا كَانَ فِي سَفَرٍ، فَزَالَتِ الشَّمْسُ صَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعاً، ثُمَّ ارْتَحَلَ. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila dalam perjalanan sebelum tergelincirnya matahari (waktu Zhuhur belum masuk), maka beliau menunda shalat Zhuhur hingga waktu Ashar (jamak takhir), kemudian beliau turun dan menggabungkan keduanya (shalat Zhuhur dan Ashar). Namun, jika matahari sudah tergelincir sebelum beliau melakukan perjalanan, maka beliau mengerjakan shalat Zhuhur terlebih dahulu, kemudian melanjutkan perjalanan. (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1111, 1112 dan Muslim, no. 704] Dalam riwayat Al-Hakim di kitab “Al-Arba’in” dengan sanad yang sahih, “Beliau mengerjakan shalat Zhuhur dan Ashar, kemudian melanjutkan perjalanan.” Menurut Abu Nu’aim dalam kitab “Mustakhraj Muslim“, “Apabila beliau dalam perjalanan, lalu matahari tergelincir (waktu Zhuhur tiba), beliau mengerjakan shalat Zhuhur dan Ashar sekaligus, kemudian melanjutkan perjalanan.”   Hadits #439 عَنْ مُعَاذٍ رضي الله عنه قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ؛ فَكَانَ يُصَلِّي الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعاً، وَالمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعاً. رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Tabuk. Beliau biasa menggabungkan shalat Zhuhur dan Ashar, serta menggabungkan shalat Maghrib dan Isyak.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 706]   Faedah hadits Shalat jamak bagi musafir diperbolehkan, baik dengan jamak takdim maupun jamak takhir. Jamak takdim adalah menggabungkan shalat kedua pada waktu shalat pertama, sementara jamak takhir adalah menunda shalat pertama ke waktu shalat kedua. Menurut Imam Syafii rahimahullah dan mayoritas ulama, shalat Zhuhur dan Ashar boleh dijamak di waktu salah satunya, begitu juga shalat Maghrib dan Isyak. Jika musafir berhenti di waktu pertama, maka lebih utama melakukan jamak takdim. Namun, jika musafir berada dalam perjalanan di waktu pertama dan yakin bisa berhenti di waktu kedua tanpa melewati waktu tersebut, ia dapat melakukan jamak takhir. Meskipun ketentuan ini tidak terpenuhi, tetap diperbolehkan menjamak shalat, tetapi akan kehilangan keutamaan (afdhaliyah). Syarat jamak takdim adalah: (1) memulai dengan shalat pertama, (2) niat jamak pada shalat pertama sebelum selesai, (3) tidak ada jeda di antara kedua shalat, dan (4) masih ada alasan syari. Sedangkan syarat jamak takhir adalah: (1) niat jamak takhir di waktu shalat pertama yang cukup untuk melaksanakannya, dan (2) uzur berlangsung sampai shalat kedua selesai. Jika seseorang menunda shalat tanpa niat jamak takhir, dianggap melakukan dosa (bermaksiat) dan harus mengqadha shalatnya. Disunnahkan dalam jamak takhir untuk: (1) mengerjakan shalat pertama terlebih dahulu, (2) berniat jamak, dan (3) tidak ada jeda di antara kedua shalat. Baca juga: Memilih Jamak Takdim ataukah Jamak Takhir? Bagi yang Belum Paham Jamak dan Qashar Shalat   Referensi: Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. Jilid kedua. 2:75-78. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:478-485.   –   Diselesaikan pada Ahad Malam @ Makkah Al-Mukarramah, 26 Rabiuts Tsani 1446 H, 28 Oktober 2024 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat musafir cara jamak shalat fikih safar jamak shalat jamak takdim jamak takhir keringanan saat safar panduan safar qashar shalat Safar shalat saat safar


Dalam Islam, keringanan dalam shalat diberikan kepada musafir dan orang yang sakit sebagai bentuk rahmat dari Allah. Salah satu keringanan tersebut adalah diperbolehkannya melakukan shalat jamak, yaitu menggabungkan dua shalat dalam satu waktu, baik secara takdim maupun takhir, sesuai dengan kondisi perjalanan.   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةِ المسَافِرِ وَالمريضِ Bab: Shalat Musafir dan Orang yang Sakit   Daftar Isi tutup 1. Hadits #438 2. Hadits #439 2.1. Faedah hadits 2.2. Referensi:   Hadits #438    عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه كَانَ رَسُولُ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ، ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا، فَإِنْ زَاغَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ، ثُمَّ رَكِبَ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَة الْحَاكِمِ فِي «الأَرْبَعِينَ» بِإِسْنَاد الصَّحِيح: صلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ، ثُمَّ رَكِبَ. وَلأَبِي نُعَيْمٍ فِي «مُسْتَخْرَجِ مُسْلِمٍ»: كَانَ إِذَا كَانَ فِي سَفَرٍ، فَزَالَتِ الشَّمْسُ صَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعاً، ثُمَّ ارْتَحَلَ. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila dalam perjalanan sebelum tergelincirnya matahari (waktu Zhuhur belum masuk), maka beliau menunda shalat Zhuhur hingga waktu Ashar (jamak takhir), kemudian beliau turun dan menggabungkan keduanya (shalat Zhuhur dan Ashar). Namun, jika matahari sudah tergelincir sebelum beliau melakukan perjalanan, maka beliau mengerjakan shalat Zhuhur terlebih dahulu, kemudian melanjutkan perjalanan. (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 1111, 1112 dan Muslim, no. 704] Dalam riwayat Al-Hakim di kitab “Al-Arba’in” dengan sanad yang sahih, “Beliau mengerjakan shalat Zhuhur dan Ashar, kemudian melanjutkan perjalanan.” Menurut Abu Nu’aim dalam kitab “Mustakhraj Muslim“, “Apabila beliau dalam perjalanan, lalu matahari tergelincir (waktu Zhuhur tiba), beliau mengerjakan shalat Zhuhur dan Ashar sekaligus, kemudian melanjutkan perjalanan.”   Hadits #439 عَنْ مُعَاذٍ رضي الله عنه قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ؛ فَكَانَ يُصَلِّي الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعاً، وَالمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعاً. رَوَاهُ مُسْلِمٌ. Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Tabuk. Beliau biasa menggabungkan shalat Zhuhur dan Ashar, serta menggabungkan shalat Maghrib dan Isyak.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 706]   Faedah hadits Shalat jamak bagi musafir diperbolehkan, baik dengan jamak takdim maupun jamak takhir. Jamak takdim adalah menggabungkan shalat kedua pada waktu shalat pertama, sementara jamak takhir adalah menunda shalat pertama ke waktu shalat kedua. Menurut Imam Syafii rahimahullah dan mayoritas ulama, shalat Zhuhur dan Ashar boleh dijamak di waktu salah satunya, begitu juga shalat Maghrib dan Isyak. Jika musafir berhenti di waktu pertama, maka lebih utama melakukan jamak takdim. Namun, jika musafir berada dalam perjalanan di waktu pertama dan yakin bisa berhenti di waktu kedua tanpa melewati waktu tersebut, ia dapat melakukan jamak takhir. Meskipun ketentuan ini tidak terpenuhi, tetap diperbolehkan menjamak shalat, tetapi akan kehilangan keutamaan (afdhaliyah). Syarat jamak takdim adalah: (1) memulai dengan shalat pertama, (2) niat jamak pada shalat pertama sebelum selesai, (3) tidak ada jeda di antara kedua shalat, dan (4) masih ada alasan syari. Sedangkan syarat jamak takhir adalah: (1) niat jamak takhir di waktu shalat pertama yang cukup untuk melaksanakannya, dan (2) uzur berlangsung sampai shalat kedua selesai. Jika seseorang menunda shalat tanpa niat jamak takhir, dianggap melakukan dosa (bermaksiat) dan harus mengqadha shalatnya. Disunnahkan dalam jamak takhir untuk: (1) mengerjakan shalat pertama terlebih dahulu, (2) berniat jamak, dan (3) tidak ada jeda di antara kedua shalat. Baca juga: Memilih Jamak Takdim ataukah Jamak Takhir? Bagi yang Belum Paham Jamak dan Qashar Shalat   Referensi: Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. Jilid kedua. 2:75-78. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:478-485.   –   Diselesaikan pada Ahad Malam @ Makkah Al-Mukarramah, 26 Rabiuts Tsani 1446 H, 28 Oktober 2024 @ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Dr. Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram shalat musafir cara jamak shalat fikih safar jamak shalat jamak takdim jamak takhir keringanan saat safar panduan safar qashar shalat Safar shalat saat safar
Prev     Next