Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 46 – Keistimewaan Kalimat Tahmid Bagian 1

13JanSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 46 – Keistimewaan Kalimat Tahmid Bagian 1January 13, 2014Aqidah Telah berlalu pembahasan tentang keistimewaan kalimat tahlil dan tasbih, beserta penjelasan tentang maknanya. Pada kesempatan kali ini kita akan berpindah menuju salah satu dari empat kalimat istimewa lainnya, yakni kalimat tahmid. Kalimat yang berisikan pujian kepada Allah ta’ala. Seperti biasanya, pembahasan tentang suatu kalimat mulia akan diawali dengan pemaparan berbagai keistimewaan yang dimiliki kalimat tersebut. Di dalam al-Qur’an al-Karim, banyak kita dapatkan isyarat yang menunjukkan keistimewaan kalimat tahmid. Antara lain: dimulainya al-Qur’an dengan tahmid. Sebagaimana di awal surat al-Fatihah. Selain itu juga banyak surat di al-Qur’an yang diawali dengan tahmid. Seperti dalam surat al-An’âm, al-Kahfi, Saba’ dan Fâthir. Ditambah lagi dalam al-Qur’an, Allah ta’ala mengawali penciptaan makhluk-Nya dengan tahmid, sebagaimana dalam firman-Nya, “الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ”. Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, serta menjadikan gelap dan terang”. QS. Al-An’âm (6): 1. Juga mengakhiri penciptaan makhluk dengan tahmid (QS. Az-Zumar: 75). Di dalam al-Qur’an, kalimat tahmid disebutkan lebih dari empat puluh kali. Di antara ayat-ayat tersebut ada yang berisikan berbagai motivasi pendorong kita untuk bertahmid. Misalnya di surat al-A’râf. Di situ Allah menjelaskan bahwa di antara motivasi pendorong kita untuk bertahmid memuji-Nya adalah karena Dialah yang telah memberikan hidayah kepada tauhid. “هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”. Artinya: “Dialah yang Maha hidup, tidak ada yang berhak disembah selain Dia. Maka sembahlah Dia dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam”. QS. Al-Mu’min / Ghafir (40): 65. Kita memuji Allah, juga karena Dialah yang mengaruniakan keturunan. “الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ”. Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sungguh, Rabbku benar-benar Maha Mendengar (mengabulkan) doa”. QS. Ibrahim (14): 39. Selain itu, kita memuji Allah karena nikmat terbesar, yakni perkenan-Nya memasukkan kita ke surga. “وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ . وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ”. Artinya: “Orang-orang yang beriman serta beramal salih, Kami tidak akan membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Mereka itulah penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. Dan Kami mencabut rasa dendam dari dalam dada mereka. Di bawah mereka mengalir sungai-sungai. Mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke (surga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan pada kami”. QS. Al-A’râf (7): 43. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rabi’ul Awwal 1435 / 13 Januari 2014 * Diringkas dan diterjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/225-230). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 46 – Keistimewaan Kalimat Tahmid Bagian 1

13JanSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 46 – Keistimewaan Kalimat Tahmid Bagian 1January 13, 2014Aqidah Telah berlalu pembahasan tentang keistimewaan kalimat tahlil dan tasbih, beserta penjelasan tentang maknanya. Pada kesempatan kali ini kita akan berpindah menuju salah satu dari empat kalimat istimewa lainnya, yakni kalimat tahmid. Kalimat yang berisikan pujian kepada Allah ta’ala. Seperti biasanya, pembahasan tentang suatu kalimat mulia akan diawali dengan pemaparan berbagai keistimewaan yang dimiliki kalimat tersebut. Di dalam al-Qur’an al-Karim, banyak kita dapatkan isyarat yang menunjukkan keistimewaan kalimat tahmid. Antara lain: dimulainya al-Qur’an dengan tahmid. Sebagaimana di awal surat al-Fatihah. Selain itu juga banyak surat di al-Qur’an yang diawali dengan tahmid. Seperti dalam surat al-An’âm, al-Kahfi, Saba’ dan Fâthir. Ditambah lagi dalam al-Qur’an, Allah ta’ala mengawali penciptaan makhluk-Nya dengan tahmid, sebagaimana dalam firman-Nya, “الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ”. Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, serta menjadikan gelap dan terang”. QS. Al-An’âm (6): 1. Juga mengakhiri penciptaan makhluk dengan tahmid (QS. Az-Zumar: 75). Di dalam al-Qur’an, kalimat tahmid disebutkan lebih dari empat puluh kali. Di antara ayat-ayat tersebut ada yang berisikan berbagai motivasi pendorong kita untuk bertahmid. Misalnya di surat al-A’râf. Di situ Allah menjelaskan bahwa di antara motivasi pendorong kita untuk bertahmid memuji-Nya adalah karena Dialah yang telah memberikan hidayah kepada tauhid. “هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”. Artinya: “Dialah yang Maha hidup, tidak ada yang berhak disembah selain Dia. Maka sembahlah Dia dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam”. QS. Al-Mu’min / Ghafir (40): 65. Kita memuji Allah, juga karena Dialah yang mengaruniakan keturunan. “الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ”. Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sungguh, Rabbku benar-benar Maha Mendengar (mengabulkan) doa”. QS. Ibrahim (14): 39. Selain itu, kita memuji Allah karena nikmat terbesar, yakni perkenan-Nya memasukkan kita ke surga. “وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ . وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ”. Artinya: “Orang-orang yang beriman serta beramal salih, Kami tidak akan membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Mereka itulah penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. Dan Kami mencabut rasa dendam dari dalam dada mereka. Di bawah mereka mengalir sungai-sungai. Mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke (surga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan pada kami”. QS. Al-A’râf (7): 43. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rabi’ul Awwal 1435 / 13 Januari 2014 * Diringkas dan diterjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/225-230). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
13JanSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 46 – Keistimewaan Kalimat Tahmid Bagian 1January 13, 2014Aqidah Telah berlalu pembahasan tentang keistimewaan kalimat tahlil dan tasbih, beserta penjelasan tentang maknanya. Pada kesempatan kali ini kita akan berpindah menuju salah satu dari empat kalimat istimewa lainnya, yakni kalimat tahmid. Kalimat yang berisikan pujian kepada Allah ta’ala. Seperti biasanya, pembahasan tentang suatu kalimat mulia akan diawali dengan pemaparan berbagai keistimewaan yang dimiliki kalimat tersebut. Di dalam al-Qur’an al-Karim, banyak kita dapatkan isyarat yang menunjukkan keistimewaan kalimat tahmid. Antara lain: dimulainya al-Qur’an dengan tahmid. Sebagaimana di awal surat al-Fatihah. Selain itu juga banyak surat di al-Qur’an yang diawali dengan tahmid. Seperti dalam surat al-An’âm, al-Kahfi, Saba’ dan Fâthir. Ditambah lagi dalam al-Qur’an, Allah ta’ala mengawali penciptaan makhluk-Nya dengan tahmid, sebagaimana dalam firman-Nya, “الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ”. Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, serta menjadikan gelap dan terang”. QS. Al-An’âm (6): 1. Juga mengakhiri penciptaan makhluk dengan tahmid (QS. Az-Zumar: 75). Di dalam al-Qur’an, kalimat tahmid disebutkan lebih dari empat puluh kali. Di antara ayat-ayat tersebut ada yang berisikan berbagai motivasi pendorong kita untuk bertahmid. Misalnya di surat al-A’râf. Di situ Allah menjelaskan bahwa di antara motivasi pendorong kita untuk bertahmid memuji-Nya adalah karena Dialah yang telah memberikan hidayah kepada tauhid. “هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”. Artinya: “Dialah yang Maha hidup, tidak ada yang berhak disembah selain Dia. Maka sembahlah Dia dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam”. QS. Al-Mu’min / Ghafir (40): 65. Kita memuji Allah, juga karena Dialah yang mengaruniakan keturunan. “الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ”. Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sungguh, Rabbku benar-benar Maha Mendengar (mengabulkan) doa”. QS. Ibrahim (14): 39. Selain itu, kita memuji Allah karena nikmat terbesar, yakni perkenan-Nya memasukkan kita ke surga. “وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ . وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ”. Artinya: “Orang-orang yang beriman serta beramal salih, Kami tidak akan membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Mereka itulah penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. Dan Kami mencabut rasa dendam dari dalam dada mereka. Di bawah mereka mengalir sungai-sungai. Mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke (surga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan pada kami”. QS. Al-A’râf (7): 43. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rabi’ul Awwal 1435 / 13 Januari 2014 * Diringkas dan diterjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/225-230). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


13JanSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 46 – Keistimewaan Kalimat Tahmid Bagian 1January 13, 2014Aqidah Telah berlalu pembahasan tentang keistimewaan kalimat tahlil dan tasbih, beserta penjelasan tentang maknanya. Pada kesempatan kali ini kita akan berpindah menuju salah satu dari empat kalimat istimewa lainnya, yakni kalimat tahmid. Kalimat yang berisikan pujian kepada Allah ta’ala. Seperti biasanya, pembahasan tentang suatu kalimat mulia akan diawali dengan pemaparan berbagai keistimewaan yang dimiliki kalimat tersebut. Di dalam al-Qur’an al-Karim, banyak kita dapatkan isyarat yang menunjukkan keistimewaan kalimat tahmid. Antara lain: dimulainya al-Qur’an dengan tahmid. Sebagaimana di awal surat al-Fatihah. Selain itu juga banyak surat di al-Qur’an yang diawali dengan tahmid. Seperti dalam surat al-An’âm, al-Kahfi, Saba’ dan Fâthir. Ditambah lagi dalam al-Qur’an, Allah ta’ala mengawali penciptaan makhluk-Nya dengan tahmid, sebagaimana dalam firman-Nya, “الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ”. Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, serta menjadikan gelap dan terang”. QS. Al-An’âm (6): 1. Juga mengakhiri penciptaan makhluk dengan tahmid (QS. Az-Zumar: 75). Di dalam al-Qur’an, kalimat tahmid disebutkan lebih dari empat puluh kali. Di antara ayat-ayat tersebut ada yang berisikan berbagai motivasi pendorong kita untuk bertahmid. Misalnya di surat al-A’râf. Di situ Allah menjelaskan bahwa di antara motivasi pendorong kita untuk bertahmid memuji-Nya adalah karena Dialah yang telah memberikan hidayah kepada tauhid. “هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”. Artinya: “Dialah yang Maha hidup, tidak ada yang berhak disembah selain Dia. Maka sembahlah Dia dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam”. QS. Al-Mu’min / Ghafir (40): 65. Kita memuji Allah, juga karena Dialah yang mengaruniakan keturunan. “الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ”. Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sungguh, Rabbku benar-benar Maha Mendengar (mengabulkan) doa”. QS. Ibrahim (14): 39. Selain itu, kita memuji Allah karena nikmat terbesar, yakni perkenan-Nya memasukkan kita ke surga. “وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ . وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ”. Artinya: “Orang-orang yang beriman serta beramal salih, Kami tidak akan membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Mereka itulah penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. Dan Kami mencabut rasa dendam dari dalam dada mereka. Di bawah mereka mengalir sungai-sungai. Mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke (surga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan pada kami”. QS. Al-A’râf (7): 43. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rabi’ul Awwal 1435 / 13 Januari 2014 * Diringkas dan diterjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/225-230). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Beliau Menangis Karena Memikirkan Kita

Beliau Menangis Karena Memikirkan Kita Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah di surat Ibrahim, رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ Ya Tuhanku, Sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, Maka Barangsiapa yang mengikutiku, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golonganku, dan Barangsiapa yang mendurhakai Aku, Maka Sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ibrahim: 36) Dan beliau membaca firman Allah tentang perkataan Nabi Isa, إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ Jika Engkau menyiksa mereka, Maka Sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, Maka Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Maidah: 118). Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan beliau dan berdoa, اللهُمَّ أُمَّتِي أُمَّتِي “Ya Allah, umatku-umatku…” Beliaupun menangis. Lalu Allah perintahkan Jibril, يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ، وَرَبُّكَ أَعْلَمُ، فَسَلْهُ مَا يُبْكِيكَ؟ ”Wahai Jibril, datangi Muhammad – Tuhanmu paling tahu – tanyakan kepadanya, apa yang menyebabkan kamu menangis.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan firman Allah yang beliau baca – dan Allah Maha Tahu –. Kemudian Allah berfirman, يَا جِبْرِيلُ، اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ، فَقُلْ: إِنَّا سَنُرْضِيكَ فِي أُمَّتِكَ، وَلَا نَسُوءُكَ ”Wahai Jibril, datangi Muhammad, sampaikan: Kami akan membuatmu ridha dengan umatmu, dan Kami tidak akan membuatmu sedih.” (HR. Muslim 202) An-Nawawi menyebutkan beberapa pelajaran dari hadis, Penjelasan tentang kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya, dan perhatian beliau terhadap kemaslahatan mereka Anjuran mengangkat tangan dalam berdoa Kabar gembira untuk umat ini, Allah akan menambahkan kemuliaan sesuai yang Allah janjikan. Ini merupakan hadis yang memberikan harapan sangat besar bagi umat islam Penjelasan tentang kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi Allah dan kasih sayang Allah kepada beliau. (Syarh Shahih Muslim, 3/78 – 79)

Beliau Menangis Karena Memikirkan Kita

Beliau Menangis Karena Memikirkan Kita Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah di surat Ibrahim, رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ Ya Tuhanku, Sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, Maka Barangsiapa yang mengikutiku, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golonganku, dan Barangsiapa yang mendurhakai Aku, Maka Sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ibrahim: 36) Dan beliau membaca firman Allah tentang perkataan Nabi Isa, إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ Jika Engkau menyiksa mereka, Maka Sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, Maka Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Maidah: 118). Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan beliau dan berdoa, اللهُمَّ أُمَّتِي أُمَّتِي “Ya Allah, umatku-umatku…” Beliaupun menangis. Lalu Allah perintahkan Jibril, يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ، وَرَبُّكَ أَعْلَمُ، فَسَلْهُ مَا يُبْكِيكَ؟ ”Wahai Jibril, datangi Muhammad – Tuhanmu paling tahu – tanyakan kepadanya, apa yang menyebabkan kamu menangis.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan firman Allah yang beliau baca – dan Allah Maha Tahu –. Kemudian Allah berfirman, يَا جِبْرِيلُ، اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ، فَقُلْ: إِنَّا سَنُرْضِيكَ فِي أُمَّتِكَ، وَلَا نَسُوءُكَ ”Wahai Jibril, datangi Muhammad, sampaikan: Kami akan membuatmu ridha dengan umatmu, dan Kami tidak akan membuatmu sedih.” (HR. Muslim 202) An-Nawawi menyebutkan beberapa pelajaran dari hadis, Penjelasan tentang kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya, dan perhatian beliau terhadap kemaslahatan mereka Anjuran mengangkat tangan dalam berdoa Kabar gembira untuk umat ini, Allah akan menambahkan kemuliaan sesuai yang Allah janjikan. Ini merupakan hadis yang memberikan harapan sangat besar bagi umat islam Penjelasan tentang kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi Allah dan kasih sayang Allah kepada beliau. (Syarh Shahih Muslim, 3/78 – 79)
Beliau Menangis Karena Memikirkan Kita Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah di surat Ibrahim, رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ Ya Tuhanku, Sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, Maka Barangsiapa yang mengikutiku, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golonganku, dan Barangsiapa yang mendurhakai Aku, Maka Sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ibrahim: 36) Dan beliau membaca firman Allah tentang perkataan Nabi Isa, إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ Jika Engkau menyiksa mereka, Maka Sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, Maka Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Maidah: 118). Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan beliau dan berdoa, اللهُمَّ أُمَّتِي أُمَّتِي “Ya Allah, umatku-umatku…” Beliaupun menangis. Lalu Allah perintahkan Jibril, يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ، وَرَبُّكَ أَعْلَمُ، فَسَلْهُ مَا يُبْكِيكَ؟ ”Wahai Jibril, datangi Muhammad – Tuhanmu paling tahu – tanyakan kepadanya, apa yang menyebabkan kamu menangis.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan firman Allah yang beliau baca – dan Allah Maha Tahu –. Kemudian Allah berfirman, يَا جِبْرِيلُ، اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ، فَقُلْ: إِنَّا سَنُرْضِيكَ فِي أُمَّتِكَ، وَلَا نَسُوءُكَ ”Wahai Jibril, datangi Muhammad, sampaikan: Kami akan membuatmu ridha dengan umatmu, dan Kami tidak akan membuatmu sedih.” (HR. Muslim 202) An-Nawawi menyebutkan beberapa pelajaran dari hadis, Penjelasan tentang kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya, dan perhatian beliau terhadap kemaslahatan mereka Anjuran mengangkat tangan dalam berdoa Kabar gembira untuk umat ini, Allah akan menambahkan kemuliaan sesuai yang Allah janjikan. Ini merupakan hadis yang memberikan harapan sangat besar bagi umat islam Penjelasan tentang kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi Allah dan kasih sayang Allah kepada beliau. (Syarh Shahih Muslim, 3/78 – 79)


Beliau Menangis Karena Memikirkan Kita Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah di surat Ibrahim, رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ Ya Tuhanku, Sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, Maka Barangsiapa yang mengikutiku, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golonganku, dan Barangsiapa yang mendurhakai Aku, Maka Sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ibrahim: 36) Dan beliau membaca firman Allah tentang perkataan Nabi Isa, إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ Jika Engkau menyiksa mereka, Maka Sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, Maka Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Maidah: 118). Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan beliau dan berdoa, اللهُمَّ أُمَّتِي أُمَّتِي “Ya Allah, umatku-umatku…” Beliaupun menangis. Lalu Allah perintahkan Jibril, يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ، وَرَبُّكَ أَعْلَمُ، فَسَلْهُ مَا يُبْكِيكَ؟ ”Wahai Jibril, datangi Muhammad – Tuhanmu paling tahu – tanyakan kepadanya, apa yang menyebabkan kamu menangis.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan firman Allah yang beliau baca – dan Allah Maha Tahu –. Kemudian Allah berfirman, يَا جِبْرِيلُ، اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ، فَقُلْ: إِنَّا سَنُرْضِيكَ فِي أُمَّتِكَ، وَلَا نَسُوءُكَ ”Wahai Jibril, datangi Muhammad, sampaikan: Kami akan membuatmu ridha dengan umatmu, dan Kami tidak akan membuatmu sedih.” (HR. Muslim 202) An-Nawawi menyebutkan beberapa pelajaran dari hadis, Penjelasan tentang kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya, dan perhatian beliau terhadap kemaslahatan mereka Anjuran mengangkat tangan dalam berdoa Kabar gembira untuk umat ini, Allah akan menambahkan kemuliaan sesuai yang Allah janjikan. Ini merupakan hadis yang memberikan harapan sangat besar bagi umat islam Penjelasan tentang kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi Allah dan kasih sayang Allah kepada beliau. (Syarh Shahih Muslim, 3/78 – 79)

Seandainya Amalan itu Baik …

Ada suatu kaedah yang bisa menjadi patokan apakah suatu amalan baik atau tidak. Yang di mana kaedah ini merupakan prinsip ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Law kaana khoiron lasabaqunaa ilaih … Para ulama berkata, لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ “Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.” Ibnu Katsir berkata ketika memafsirkan firman Allah, surat Al Ahqaf ayat 11, وأما أهل السُّنّة والجماعة فيقولون في كلِّ فِعلٍ وقولٍ لم يَثبت عن الصحابة: هو بدعة؛ لأنه لو كان خيرًا؛ لَسَبقونا إليه؛ لأنهم لم يتركوا خصلة مِن خصال الخير إلا وقد بادروا إليها”. “Adapun para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka berkata pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, mereka menggolongkannya sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir) Perkataan Ahlus Sunnah tersebut dikatakan oleh Ibnu Katsir di tempat yang lain dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim ketika membawakan ayat, وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”, beliau berkata, ومن هذه الآية استنبط الشافعي ومن تبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى ؛ لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم ، ولهذا لم يندب إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم أمته ولا حثهم عليه، ولا أرشدهم إليه بنص ولا إيماء ، ولم ينقل عن أحد من الصحابة رضي الله عنهم ، ولو كان خيراً لسبقونا إليه وباب القربات يقتصر فيه على النصوص ، ولا يتصرف فيه بأنواع الأقيسة والآراء ، فأما الدعاء والصدقة ، فذاك مجمع على وصولها ومنصوصٌ من الشارع عليها Dari ayat ini Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa bacaan Qur’an tidak sampai pahalanya pada mayit karena bacaan tersebut bukan amalan si mayit dan bukan usahanya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menganjurkan umatnya dan tidak memotivasi mereka untuk melakukan hal tersebut. Tidak ada nash (dalil) dan tidak ada bukti otentik yang memuat anjuran tersebut. Begitu pula tidak ada seorang sahabat Nabi -radhiyallahu ‘anhum- pun yang menukilkan ajaran tersebut pada kita. Law kaana khoiron la-sabaquna ilaih (Jika amalan tersebut baik, tentu para sahabat lebih dahulu melakukannya). Dalam masalah ibadah (qurobat) hanya terbatas pada dalil, tidak bisa dipakai analogi dan qiyas. Adapun amalan do’a dan sedekah, maka para ulama sepakat akan sampainya (bermanfaatnya) amalan tersebut dan didukung pula dengan dalil (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, 13: 279). Silakan terapkan prinsip ulama Ahlus Sunnah di aats untuk menilai suatu perkara ibadah -bukan perkara dunia- apakah perkara tersebut baik ataukah tidak. Seandainya orang saat ini melakukan suatu amalan ibadah atau suatu perayaan namun para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan dan mencontohkannya, maka sudah pasti amalan tersebut bermasalah. Karena para sahabat Rasul tentu lebih semangat dalam kebaikan daripada kita. Atau mungkin kita sudah merasa lebih baik dari mereka? Catatan: Yang kami bicarakan di atas adalah perihal agama, bukan perkara dunia. Pembaharuan teknologi saat ini tidak termasuk dalam bahasan di atas. Semoga Allah memberi petunjuk dan hidayah. — Disusun di Pesawat Etihad perjalanan Jeddah – Abu Dhabi, 9 Rabi’ul Awwal 1435 H. Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.rumaysho.com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang ingin pesan satu paket berisi lima buku karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dijual dengan harga Rp.65.000,- untuk pulau Jawa (sudah termasuk ongkos kirim). Di dalam paket tersebut terdapat buku terbaru beliau “Mengenal Bid’ah Lebih Dekat”, juga empat karya lain: Buku Dzikir Pagi Petang Disertai Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur (tersedia ukuran besar dan kecil), Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Satu paket buku#Nama pemesan#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer. Tagsbid'ah hasanah

Seandainya Amalan itu Baik …

Ada suatu kaedah yang bisa menjadi patokan apakah suatu amalan baik atau tidak. Yang di mana kaedah ini merupakan prinsip ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Law kaana khoiron lasabaqunaa ilaih … Para ulama berkata, لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ “Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.” Ibnu Katsir berkata ketika memafsirkan firman Allah, surat Al Ahqaf ayat 11, وأما أهل السُّنّة والجماعة فيقولون في كلِّ فِعلٍ وقولٍ لم يَثبت عن الصحابة: هو بدعة؛ لأنه لو كان خيرًا؛ لَسَبقونا إليه؛ لأنهم لم يتركوا خصلة مِن خصال الخير إلا وقد بادروا إليها”. “Adapun para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka berkata pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, mereka menggolongkannya sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir) Perkataan Ahlus Sunnah tersebut dikatakan oleh Ibnu Katsir di tempat yang lain dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim ketika membawakan ayat, وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”, beliau berkata, ومن هذه الآية استنبط الشافعي ومن تبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى ؛ لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم ، ولهذا لم يندب إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم أمته ولا حثهم عليه، ولا أرشدهم إليه بنص ولا إيماء ، ولم ينقل عن أحد من الصحابة رضي الله عنهم ، ولو كان خيراً لسبقونا إليه وباب القربات يقتصر فيه على النصوص ، ولا يتصرف فيه بأنواع الأقيسة والآراء ، فأما الدعاء والصدقة ، فذاك مجمع على وصولها ومنصوصٌ من الشارع عليها Dari ayat ini Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa bacaan Qur’an tidak sampai pahalanya pada mayit karena bacaan tersebut bukan amalan si mayit dan bukan usahanya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menganjurkan umatnya dan tidak memotivasi mereka untuk melakukan hal tersebut. Tidak ada nash (dalil) dan tidak ada bukti otentik yang memuat anjuran tersebut. Begitu pula tidak ada seorang sahabat Nabi -radhiyallahu ‘anhum- pun yang menukilkan ajaran tersebut pada kita. Law kaana khoiron la-sabaquna ilaih (Jika amalan tersebut baik, tentu para sahabat lebih dahulu melakukannya). Dalam masalah ibadah (qurobat) hanya terbatas pada dalil, tidak bisa dipakai analogi dan qiyas. Adapun amalan do’a dan sedekah, maka para ulama sepakat akan sampainya (bermanfaatnya) amalan tersebut dan didukung pula dengan dalil (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, 13: 279). Silakan terapkan prinsip ulama Ahlus Sunnah di aats untuk menilai suatu perkara ibadah -bukan perkara dunia- apakah perkara tersebut baik ataukah tidak. Seandainya orang saat ini melakukan suatu amalan ibadah atau suatu perayaan namun para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan dan mencontohkannya, maka sudah pasti amalan tersebut bermasalah. Karena para sahabat Rasul tentu lebih semangat dalam kebaikan daripada kita. Atau mungkin kita sudah merasa lebih baik dari mereka? Catatan: Yang kami bicarakan di atas adalah perihal agama, bukan perkara dunia. Pembaharuan teknologi saat ini tidak termasuk dalam bahasan di atas. Semoga Allah memberi petunjuk dan hidayah. — Disusun di Pesawat Etihad perjalanan Jeddah – Abu Dhabi, 9 Rabi’ul Awwal 1435 H. Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.rumaysho.com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang ingin pesan satu paket berisi lima buku karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dijual dengan harga Rp.65.000,- untuk pulau Jawa (sudah termasuk ongkos kirim). Di dalam paket tersebut terdapat buku terbaru beliau “Mengenal Bid’ah Lebih Dekat”, juga empat karya lain: Buku Dzikir Pagi Petang Disertai Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur (tersedia ukuran besar dan kecil), Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Satu paket buku#Nama pemesan#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer. Tagsbid'ah hasanah
Ada suatu kaedah yang bisa menjadi patokan apakah suatu amalan baik atau tidak. Yang di mana kaedah ini merupakan prinsip ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Law kaana khoiron lasabaqunaa ilaih … Para ulama berkata, لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ “Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.” Ibnu Katsir berkata ketika memafsirkan firman Allah, surat Al Ahqaf ayat 11, وأما أهل السُّنّة والجماعة فيقولون في كلِّ فِعلٍ وقولٍ لم يَثبت عن الصحابة: هو بدعة؛ لأنه لو كان خيرًا؛ لَسَبقونا إليه؛ لأنهم لم يتركوا خصلة مِن خصال الخير إلا وقد بادروا إليها”. “Adapun para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka berkata pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, mereka menggolongkannya sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir) Perkataan Ahlus Sunnah tersebut dikatakan oleh Ibnu Katsir di tempat yang lain dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim ketika membawakan ayat, وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”, beliau berkata, ومن هذه الآية استنبط الشافعي ومن تبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى ؛ لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم ، ولهذا لم يندب إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم أمته ولا حثهم عليه، ولا أرشدهم إليه بنص ولا إيماء ، ولم ينقل عن أحد من الصحابة رضي الله عنهم ، ولو كان خيراً لسبقونا إليه وباب القربات يقتصر فيه على النصوص ، ولا يتصرف فيه بأنواع الأقيسة والآراء ، فأما الدعاء والصدقة ، فذاك مجمع على وصولها ومنصوصٌ من الشارع عليها Dari ayat ini Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa bacaan Qur’an tidak sampai pahalanya pada mayit karena bacaan tersebut bukan amalan si mayit dan bukan usahanya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menganjurkan umatnya dan tidak memotivasi mereka untuk melakukan hal tersebut. Tidak ada nash (dalil) dan tidak ada bukti otentik yang memuat anjuran tersebut. Begitu pula tidak ada seorang sahabat Nabi -radhiyallahu ‘anhum- pun yang menukilkan ajaran tersebut pada kita. Law kaana khoiron la-sabaquna ilaih (Jika amalan tersebut baik, tentu para sahabat lebih dahulu melakukannya). Dalam masalah ibadah (qurobat) hanya terbatas pada dalil, tidak bisa dipakai analogi dan qiyas. Adapun amalan do’a dan sedekah, maka para ulama sepakat akan sampainya (bermanfaatnya) amalan tersebut dan didukung pula dengan dalil (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, 13: 279). Silakan terapkan prinsip ulama Ahlus Sunnah di aats untuk menilai suatu perkara ibadah -bukan perkara dunia- apakah perkara tersebut baik ataukah tidak. Seandainya orang saat ini melakukan suatu amalan ibadah atau suatu perayaan namun para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan dan mencontohkannya, maka sudah pasti amalan tersebut bermasalah. Karena para sahabat Rasul tentu lebih semangat dalam kebaikan daripada kita. Atau mungkin kita sudah merasa lebih baik dari mereka? Catatan: Yang kami bicarakan di atas adalah perihal agama, bukan perkara dunia. Pembaharuan teknologi saat ini tidak termasuk dalam bahasan di atas. Semoga Allah memberi petunjuk dan hidayah. — Disusun di Pesawat Etihad perjalanan Jeddah – Abu Dhabi, 9 Rabi’ul Awwal 1435 H. Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.rumaysho.com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang ingin pesan satu paket berisi lima buku karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dijual dengan harga Rp.65.000,- untuk pulau Jawa (sudah termasuk ongkos kirim). Di dalam paket tersebut terdapat buku terbaru beliau “Mengenal Bid’ah Lebih Dekat”, juga empat karya lain: Buku Dzikir Pagi Petang Disertai Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur (tersedia ukuran besar dan kecil), Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Satu paket buku#Nama pemesan#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer. Tagsbid'ah hasanah


Ada suatu kaedah yang bisa menjadi patokan apakah suatu amalan baik atau tidak. Yang di mana kaedah ini merupakan prinsip ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Law kaana khoiron lasabaqunaa ilaih … Para ulama berkata, لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ “Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.” Ibnu Katsir berkata ketika memafsirkan firman Allah, surat Al Ahqaf ayat 11, وأما أهل السُّنّة والجماعة فيقولون في كلِّ فِعلٍ وقولٍ لم يَثبت عن الصحابة: هو بدعة؛ لأنه لو كان خيرًا؛ لَسَبقونا إليه؛ لأنهم لم يتركوا خصلة مِن خصال الخير إلا وقد بادروا إليها”. “Adapun para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka berkata pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, mereka menggolongkannya sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir) Perkataan Ahlus Sunnah tersebut dikatakan oleh Ibnu Katsir di tempat yang lain dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim ketika membawakan ayat, وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”, beliau berkata, ومن هذه الآية استنبط الشافعي ومن تبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى ؛ لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم ، ولهذا لم يندب إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم أمته ولا حثهم عليه، ولا أرشدهم إليه بنص ولا إيماء ، ولم ينقل عن أحد من الصحابة رضي الله عنهم ، ولو كان خيراً لسبقونا إليه وباب القربات يقتصر فيه على النصوص ، ولا يتصرف فيه بأنواع الأقيسة والآراء ، فأما الدعاء والصدقة ، فذاك مجمع على وصولها ومنصوصٌ من الشارع عليها Dari ayat ini Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa bacaan Qur’an tidak sampai pahalanya pada mayit karena bacaan tersebut bukan amalan si mayit dan bukan usahanya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menganjurkan umatnya dan tidak memotivasi mereka untuk melakukan hal tersebut. Tidak ada nash (dalil) dan tidak ada bukti otentik yang memuat anjuran tersebut. Begitu pula tidak ada seorang sahabat Nabi -radhiyallahu ‘anhum- pun yang menukilkan ajaran tersebut pada kita. Law kaana khoiron la-sabaquna ilaih (Jika amalan tersebut baik, tentu para sahabat lebih dahulu melakukannya). Dalam masalah ibadah (qurobat) hanya terbatas pada dalil, tidak bisa dipakai analogi dan qiyas. Adapun amalan do’a dan sedekah, maka para ulama sepakat akan sampainya (bermanfaatnya) amalan tersebut dan didukung pula dengan dalil (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, 13: 279). Silakan terapkan prinsip ulama Ahlus Sunnah di aats untuk menilai suatu perkara ibadah -bukan perkara dunia- apakah perkara tersebut baik ataukah tidak. Seandainya orang saat ini melakukan suatu amalan ibadah atau suatu perayaan namun para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan dan mencontohkannya, maka sudah pasti amalan tersebut bermasalah. Karena para sahabat Rasul tentu lebih semangat dalam kebaikan daripada kita. Atau mungkin kita sudah merasa lebih baik dari mereka? Catatan: Yang kami bicarakan di atas adalah perihal agama, bukan perkara dunia. Pembaharuan teknologi saat ini tidak termasuk dalam bahasan di atas. Semoga Allah memberi petunjuk dan hidayah. — Disusun di Pesawat Etihad perjalanan Jeddah – Abu Dhabi, 9 Rabi’ul Awwal 1435 H. Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.rumaysho.com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang ingin pesan satu paket berisi lima buku karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dijual dengan harga Rp.65.000,- untuk pulau Jawa (sudah termasuk ongkos kirim). Di dalam paket tersebut terdapat buku terbaru beliau “Mengenal Bid’ah Lebih Dekat”, juga empat karya lain: Buku Dzikir Pagi Petang Disertai Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur (tersedia ukuran besar dan kecil), Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Satu paket buku#Nama pemesan#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer. Tagsbid'ah hasanah

Sampai Kapan Enggan Berjilbab?

Wanita berjilbab sungguh mulia di mata Islam. Dan berjilbab adalah perintah yang wajib bagi setiap wanita muslimah karena itu akan lebih memuliakan dan menjaga diri wanita. Ada seorang imam masjid di Perancis ditanya, “Kenapa Allah memerintahkan wanita untuk mengenakan jilbab?” Imam tersebut ketika itu mengambil dua permen yang dibungkus. Lalu salah satunya dibuka plastik atau pembungkusnya. Imam tersebut bertanya pada orang Perancis tadi, “Permen mana yang engkau pilih?” Orang Perancis tersebut menjawab, “Tentu aku akan memilih yang masih tertutup.” Imam tersebut lantas tersenyum, lalu berkata, “Itulah keadaan wanita muslimah pada umat Islam. Wanita muslimah yang berjilbab lebih berharga jutaan kali dari permen yang masih terbungkus, bahkan lebih berharga dari emas dan permata.” Perintah jilbab telah disebutkan dalam ayat berikut, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59) Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, “Ayat di atas menunjukkan, orang yang tidak mengenakan jilbab akan lebih mudah digoda. Karena jika seorang wanita tidak berjilbab, maka orang-orang akan mengira bahwa ia bukanlah wanita ‘afifaat (wanita yang benar-benar menjaga diri atau kehormatannya). Akhirnya orang yang punya penyakit dalam hatinya muncul hal yang bukan-bukan, lantas mereka pun menyakitinya dan menganggapnya rendah seperti anggapan mereka itu budak. Akhirnya orang-orang yang ingin berlaku jelek merendahkannya.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 671) Wahai ukhti muslimah, sampai kapan engkau enggan berjilbab? Tanyakanlah pada dirimu, apakah engkau akan menunda sampai maut menjemputmu? Hanya Allah yang memberi taufik. — Referensi: http://ejabat.google.com/ejabat/b-thread?tid=5fdd9b7f5573558c   Catatan singkat @ Masjidil Haram, 8 Rabi’ul Awwal 1435 H saat menunggu shalat Isya. Oleh: Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.rumaysho.com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang ingin pesan satu paket berisi lima buku karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dijual dengan harga Rp.65.000,- untuk pulau Jawa (sudah termasuk ongkos kirim). Di dalam paket tersebut terdapat buku terbaru beliau “Mengenal Bid’ah Lebih Dekat”, juga empat karya lain: Buku Dzikir Pagi Petang Disertai Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur (tersedia ukuran besar dan kecil), Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Satu paket buku#Nama pemesan#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer. Tagsjilbab

Sampai Kapan Enggan Berjilbab?

Wanita berjilbab sungguh mulia di mata Islam. Dan berjilbab adalah perintah yang wajib bagi setiap wanita muslimah karena itu akan lebih memuliakan dan menjaga diri wanita. Ada seorang imam masjid di Perancis ditanya, “Kenapa Allah memerintahkan wanita untuk mengenakan jilbab?” Imam tersebut ketika itu mengambil dua permen yang dibungkus. Lalu salah satunya dibuka plastik atau pembungkusnya. Imam tersebut bertanya pada orang Perancis tadi, “Permen mana yang engkau pilih?” Orang Perancis tersebut menjawab, “Tentu aku akan memilih yang masih tertutup.” Imam tersebut lantas tersenyum, lalu berkata, “Itulah keadaan wanita muslimah pada umat Islam. Wanita muslimah yang berjilbab lebih berharga jutaan kali dari permen yang masih terbungkus, bahkan lebih berharga dari emas dan permata.” Perintah jilbab telah disebutkan dalam ayat berikut, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59) Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, “Ayat di atas menunjukkan, orang yang tidak mengenakan jilbab akan lebih mudah digoda. Karena jika seorang wanita tidak berjilbab, maka orang-orang akan mengira bahwa ia bukanlah wanita ‘afifaat (wanita yang benar-benar menjaga diri atau kehormatannya). Akhirnya orang yang punya penyakit dalam hatinya muncul hal yang bukan-bukan, lantas mereka pun menyakitinya dan menganggapnya rendah seperti anggapan mereka itu budak. Akhirnya orang-orang yang ingin berlaku jelek merendahkannya.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 671) Wahai ukhti muslimah, sampai kapan engkau enggan berjilbab? Tanyakanlah pada dirimu, apakah engkau akan menunda sampai maut menjemputmu? Hanya Allah yang memberi taufik. — Referensi: http://ejabat.google.com/ejabat/b-thread?tid=5fdd9b7f5573558c   Catatan singkat @ Masjidil Haram, 8 Rabi’ul Awwal 1435 H saat menunggu shalat Isya. Oleh: Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.rumaysho.com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang ingin pesan satu paket berisi lima buku karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dijual dengan harga Rp.65.000,- untuk pulau Jawa (sudah termasuk ongkos kirim). Di dalam paket tersebut terdapat buku terbaru beliau “Mengenal Bid’ah Lebih Dekat”, juga empat karya lain: Buku Dzikir Pagi Petang Disertai Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur (tersedia ukuran besar dan kecil), Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Satu paket buku#Nama pemesan#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer. Tagsjilbab
Wanita berjilbab sungguh mulia di mata Islam. Dan berjilbab adalah perintah yang wajib bagi setiap wanita muslimah karena itu akan lebih memuliakan dan menjaga diri wanita. Ada seorang imam masjid di Perancis ditanya, “Kenapa Allah memerintahkan wanita untuk mengenakan jilbab?” Imam tersebut ketika itu mengambil dua permen yang dibungkus. Lalu salah satunya dibuka plastik atau pembungkusnya. Imam tersebut bertanya pada orang Perancis tadi, “Permen mana yang engkau pilih?” Orang Perancis tersebut menjawab, “Tentu aku akan memilih yang masih tertutup.” Imam tersebut lantas tersenyum, lalu berkata, “Itulah keadaan wanita muslimah pada umat Islam. Wanita muslimah yang berjilbab lebih berharga jutaan kali dari permen yang masih terbungkus, bahkan lebih berharga dari emas dan permata.” Perintah jilbab telah disebutkan dalam ayat berikut, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59) Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, “Ayat di atas menunjukkan, orang yang tidak mengenakan jilbab akan lebih mudah digoda. Karena jika seorang wanita tidak berjilbab, maka orang-orang akan mengira bahwa ia bukanlah wanita ‘afifaat (wanita yang benar-benar menjaga diri atau kehormatannya). Akhirnya orang yang punya penyakit dalam hatinya muncul hal yang bukan-bukan, lantas mereka pun menyakitinya dan menganggapnya rendah seperti anggapan mereka itu budak. Akhirnya orang-orang yang ingin berlaku jelek merendahkannya.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 671) Wahai ukhti muslimah, sampai kapan engkau enggan berjilbab? Tanyakanlah pada dirimu, apakah engkau akan menunda sampai maut menjemputmu? Hanya Allah yang memberi taufik. — Referensi: http://ejabat.google.com/ejabat/b-thread?tid=5fdd9b7f5573558c   Catatan singkat @ Masjidil Haram, 8 Rabi’ul Awwal 1435 H saat menunggu shalat Isya. Oleh: Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.rumaysho.com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang ingin pesan satu paket berisi lima buku karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dijual dengan harga Rp.65.000,- untuk pulau Jawa (sudah termasuk ongkos kirim). Di dalam paket tersebut terdapat buku terbaru beliau “Mengenal Bid’ah Lebih Dekat”, juga empat karya lain: Buku Dzikir Pagi Petang Disertai Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur (tersedia ukuran besar dan kecil), Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Satu paket buku#Nama pemesan#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer. Tagsjilbab


Wanita berjilbab sungguh mulia di mata Islam. Dan berjilbab adalah perintah yang wajib bagi setiap wanita muslimah karena itu akan lebih memuliakan dan menjaga diri wanita. Ada seorang imam masjid di Perancis ditanya, “Kenapa Allah memerintahkan wanita untuk mengenakan jilbab?” Imam tersebut ketika itu mengambil dua permen yang dibungkus. Lalu salah satunya dibuka plastik atau pembungkusnya. Imam tersebut bertanya pada orang Perancis tadi, “Permen mana yang engkau pilih?” Orang Perancis tersebut menjawab, “Tentu aku akan memilih yang masih tertutup.” Imam tersebut lantas tersenyum, lalu berkata, “Itulah keadaan wanita muslimah pada umat Islam. Wanita muslimah yang berjilbab lebih berharga jutaan kali dari permen yang masih terbungkus, bahkan lebih berharga dari emas dan permata.” Perintah jilbab telah disebutkan dalam ayat berikut, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59) Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, “Ayat di atas menunjukkan, orang yang tidak mengenakan jilbab akan lebih mudah digoda. Karena jika seorang wanita tidak berjilbab, maka orang-orang akan mengira bahwa ia bukanlah wanita ‘afifaat (wanita yang benar-benar menjaga diri atau kehormatannya). Akhirnya orang yang punya penyakit dalam hatinya muncul hal yang bukan-bukan, lantas mereka pun menyakitinya dan menganggapnya rendah seperti anggapan mereka itu budak. Akhirnya orang-orang yang ingin berlaku jelek merendahkannya.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 671) Wahai ukhti muslimah, sampai kapan engkau enggan berjilbab? Tanyakanlah pada dirimu, apakah engkau akan menunda sampai maut menjemputmu? Hanya Allah yang memberi taufik. — Referensi: http://ejabat.google.com/ejabat/b-thread?tid=5fdd9b7f5573558c   Catatan singkat @ Masjidil Haram, 8 Rabi’ul Awwal 1435 H saat menunggu shalat Isya. Oleh: Akhukum fillah, Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.rumaysho.com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang ingin pesan satu paket berisi lima buku karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dijual dengan harga Rp.65.000,- untuk pulau Jawa (sudah termasuk ongkos kirim). Di dalam paket tersebut terdapat buku terbaru beliau “Mengenal Bid’ah Lebih Dekat”, juga empat karya lain: Buku Dzikir Pagi Petang Disertai Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur (tersedia ukuran besar dan kecil), Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Satu paket buku#Nama pemesan#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer. Tagsjilbab

Kaedah Memahami Syirik (4): Syirik Saat Ini Sangat Parah

Syirik saat ini sangat parah. Kesyirikan di masa silam masih lebih mending daripada kesyirikan di masa kini. Hal inilah yang dibuktikan oleh Syaikh Muhammad At Tamimi dalam risalah beliau Al Qowa’idul Arba’ pada kaedah keempat (terakhir).    القَاعِدَةُ الرَّابِعَةُ: أَنَّ مُشْرِكِيْ زَمَانِنَا أًغْلَظُ شِرْكـًا مِنَ الأَوَّلِيْنَ، لأَنَّ الأَوَّلِيْنَ يُشْرِكُوْنَ في الرَّخَاءِ وَيُخْلِصُوْنَ في الشِّدَّةِ، وَمُشْرِكُوْا زَمَانِنَا شِرْكُهُمْ دَائِمٌُ؛ في الرَّخَاءِ وَالشِّدَّةِ. وَالدَّلِيْلُ قَوُلُهُ تَعَالَى: ﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ﴾[العنكبوت:65]. Kesyirikan di zaman kita betul-betul lebih parah daripada kesyirikan pada zaman dulu. Karena orang-orang musyrik dahulu berbuat syirik di saat lapang, sedangkan mereka mengikhlaskan ibadah kepada Allah ketika dalam kondisi sempit. Namun, orang-orang musyrik saat ini berbuat syirik di sepanjang waktu, baik ketika lapang maupun sempit. Dalil hal ini adalah firman Allah ta’ala  (yang artinya), “Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan-Nya.” (QS. Al ‘Ankabut [29] :65) [KAEDAH KEEMPAT – KAEDAH TERAKHIR] Sesungguhnya kesyirikan yang diperbuat oleh orang musyrik di zaman kita ini lebih parah dari kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu yang hidup tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus. Alasan dari perkataan penulis (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) mengenai hal ini sudah begitu jelas. Karena Allah telah mengabarkan kepada kita bahwa orang musyrik pada zaman dahulu, mereka mengikhlaskan ibadah kepada Allah ketika dalam keadaan sulit. Mereka tidaklah berdo’a kepada selain Allah (ketika keadaan sempit tersebut) karena mereka telah mengetahui bahwa tidak ada yang menghilangkan kesulitan kecuali Allah, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا “Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.” (QS. Al Isro’ [17] : 67). Allah Ta’ala juga berfirman dalam ayat lainnya, وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ “Dan apabila mereka diterpa ombak besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (yaitu mengikhlaskan do’a kepada Allah). Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus.” (QS. Luqman [31] : 32 ). Allah Ta’ala juga berfirman, فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ “Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)”. (QS. Al ‘Ankabut [29] : 65 ). Ini berarti orang-orang musyrik dahulu berbuat syirik ketika dalam keadaan lapang. Pada saat lapang seperti itu mereka berdo’a kepada berhala, bebatuan dan pepohonan. Adapun jika dalam keadaan sempit dan hendak binasa, mereka (orang-orang musyrik) tidaklah berdo’a kepada berhala, pohon, batu atau kepada satu makhluk pun. Pada saat itu mereka hanya berdo’a kepada Allah Ta’ala semata. Jika memang tidak ada yang menghilangkan kesempitan (kesulitan) kecuali Allah jalla wa ‘ala, bagaimana mungkin selain Allah diminta ketika dalam keadaan lapang. Adapun kaum musyrikin –yang mengaku umat Muhammad saat ini-, mereka terus menerus berbuat syirik baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Mereka tidaklah mau mengikhlaskan ibadah kepada Allah meskipun dalam keadaan sulit. Bahkan ketika dalam keadaan sulit sekali pun, mereka tetap melakukan kesyirikan bahkan semakin bertambah parah. Dalam keadaan sulit, mereka malah menyeru (meminta-minta) kepada Hasan dan Husain, kepada Syaikh Abdul Qodir, kepada Ar Rifa’i dan selainnya. Ini adalah sesuatu yang sudah diketahui dari mereka. Disebut pula dari mereka mengenai keajaiban di lautan. Jika mereka mengalami suatu perkara yang menyulitkan, mereka menyeru nama para wali dan orang-orang-orang sholih. Mereka beristighostah (meminta dihilangkan kesulitan yang telah menimpa, pen) kepada selain Allah Ta’ala. Mereka melakukan semacam ini karena para da’i kebatilan dan kesesatan berkata kepada mereka, “Kami akan menyelamatkan kalian ketika di lautan. Jika kalian tertimpa kesulitan, serulah nama kami, lalu kami akan menyelamatkan kalian.” Inilah yang terjadi sebagaimana yang diceritakan dari beberapa Syaikh Thoriqot Sufiyah. Jika engkau mau, silakan baca kitab mereka “Thobaqot Sya’roni“. Pada kitab tersebut engkau akan dapati beberapa hal yang membuat kulit merinding. Mereka menyebut berbagai kejadian aneh dan menganggap hal itu sebagai karomah para wali. Mereka anggap bahwa wali mereka tersebutlah yang telah menyelamatkan mereka dari berbagai kesulitan ketika berada di tengah laut. Wali tersebut akan membentangkan tangan mereka di lautan. Lalu dia membawa kapal mereka ke daratan sehingga mereka selamat. Masih banyak lagi kebohongan-kebohongan dan tahayul lainnya. Inilah kesyirikan yang terjadi. Ketika lapang atau pun sempit, mereka terus menerus berbuat syirik. Jelaslah bahwa kesyirikan di zaman kita ini lebih parah dari kesyirikan di zaman dahulu. Begitu pula sebagaimana yang disebutkan Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahab) dalam kitab beliau Kasyfu Syubhat[1], “Orang-orang dahulu, mereka beribadah kepada orang-orang sholih dari para malaikat, para Nabi dan para wali. Namun saat ini, orang-orang musyrik malah beribadah kepada orang-orang yang paling fajir (gemar bermaksiat) padahal mereka mengetahui hal itu. Orang-orang yang  mereka sebut sebagai pemimpin mereka (Al Aqthob) dan penolong mereka (Al Agwats), bukanlah orang yang mengerjakan shalat, puasa, atau menjauhkan diri dari zina, homoseksual, dan perbuatan keji. Karena mereka beranggapan bahwa orang-orang tersebut tidaklah terkena pembebanan syari’at. Mereka tidaklah terkena hukum halal dan haram karena pembebanan syari’at seperti ini hanyalah bagi orang awam saja. Mereka mengetahui pula bahwa orang yang mereka seru itu tidaklah shalat, puasa, dan tidak menjaga diri dari perbuatan keji. Namun anehnya, sebagian orang saat ini tetap beribadah kepada mereka, padahal mereka adalah orang-orang yang paling fajir (gemar berbuat maksiat) semacam Al Hallaj, Ibnu ‘Arobi, Ar Rifai, Al Badawi dan selainnya. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab telah menunjukkan dalil bahwa kesyirikan orang-orang musyrik saat ini lebih parah dari kesyirikan orang-orang musyrik di zaman dahulu. Karena orang musyrik zaman dahulu mengikhlaskan ibadah kepada Allah ketika mereka dalam keadaan sempit. Namun, orang musyrik saat ini berbuat syirik dalam keadaan lapang. Penulis berdalil dengan firman Allah Ta’ala, ﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوْا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ﴾. “Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al ‘Ankabut [29] : 65) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya. Selesai sudah pembahasan empat kaedah dalam memahami syirik, alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir buku terbaru: Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer.   [1] Lihat Kasyfu Syubhat (hal. 169-170 ) atau di dalam tulisan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam bidang aqidah. Tagskaedah syirik syirik

Kaedah Memahami Syirik (4): Syirik Saat Ini Sangat Parah

Syirik saat ini sangat parah. Kesyirikan di masa silam masih lebih mending daripada kesyirikan di masa kini. Hal inilah yang dibuktikan oleh Syaikh Muhammad At Tamimi dalam risalah beliau Al Qowa’idul Arba’ pada kaedah keempat (terakhir).    القَاعِدَةُ الرَّابِعَةُ: أَنَّ مُشْرِكِيْ زَمَانِنَا أًغْلَظُ شِرْكـًا مِنَ الأَوَّلِيْنَ، لأَنَّ الأَوَّلِيْنَ يُشْرِكُوْنَ في الرَّخَاءِ وَيُخْلِصُوْنَ في الشِّدَّةِ، وَمُشْرِكُوْا زَمَانِنَا شِرْكُهُمْ دَائِمٌُ؛ في الرَّخَاءِ وَالشِّدَّةِ. وَالدَّلِيْلُ قَوُلُهُ تَعَالَى: ﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ﴾[العنكبوت:65]. Kesyirikan di zaman kita betul-betul lebih parah daripada kesyirikan pada zaman dulu. Karena orang-orang musyrik dahulu berbuat syirik di saat lapang, sedangkan mereka mengikhlaskan ibadah kepada Allah ketika dalam kondisi sempit. Namun, orang-orang musyrik saat ini berbuat syirik di sepanjang waktu, baik ketika lapang maupun sempit. Dalil hal ini adalah firman Allah ta’ala  (yang artinya), “Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan-Nya.” (QS. Al ‘Ankabut [29] :65) [KAEDAH KEEMPAT – KAEDAH TERAKHIR] Sesungguhnya kesyirikan yang diperbuat oleh orang musyrik di zaman kita ini lebih parah dari kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu yang hidup tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus. Alasan dari perkataan penulis (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) mengenai hal ini sudah begitu jelas. Karena Allah telah mengabarkan kepada kita bahwa orang musyrik pada zaman dahulu, mereka mengikhlaskan ibadah kepada Allah ketika dalam keadaan sulit. Mereka tidaklah berdo’a kepada selain Allah (ketika keadaan sempit tersebut) karena mereka telah mengetahui bahwa tidak ada yang menghilangkan kesulitan kecuali Allah, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا “Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.” (QS. Al Isro’ [17] : 67). Allah Ta’ala juga berfirman dalam ayat lainnya, وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ “Dan apabila mereka diterpa ombak besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (yaitu mengikhlaskan do’a kepada Allah). Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus.” (QS. Luqman [31] : 32 ). Allah Ta’ala juga berfirman, فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ “Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)”. (QS. Al ‘Ankabut [29] : 65 ). Ini berarti orang-orang musyrik dahulu berbuat syirik ketika dalam keadaan lapang. Pada saat lapang seperti itu mereka berdo’a kepada berhala, bebatuan dan pepohonan. Adapun jika dalam keadaan sempit dan hendak binasa, mereka (orang-orang musyrik) tidaklah berdo’a kepada berhala, pohon, batu atau kepada satu makhluk pun. Pada saat itu mereka hanya berdo’a kepada Allah Ta’ala semata. Jika memang tidak ada yang menghilangkan kesempitan (kesulitan) kecuali Allah jalla wa ‘ala, bagaimana mungkin selain Allah diminta ketika dalam keadaan lapang. Adapun kaum musyrikin –yang mengaku umat Muhammad saat ini-, mereka terus menerus berbuat syirik baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Mereka tidaklah mau mengikhlaskan ibadah kepada Allah meskipun dalam keadaan sulit. Bahkan ketika dalam keadaan sulit sekali pun, mereka tetap melakukan kesyirikan bahkan semakin bertambah parah. Dalam keadaan sulit, mereka malah menyeru (meminta-minta) kepada Hasan dan Husain, kepada Syaikh Abdul Qodir, kepada Ar Rifa’i dan selainnya. Ini adalah sesuatu yang sudah diketahui dari mereka. Disebut pula dari mereka mengenai keajaiban di lautan. Jika mereka mengalami suatu perkara yang menyulitkan, mereka menyeru nama para wali dan orang-orang-orang sholih. Mereka beristighostah (meminta dihilangkan kesulitan yang telah menimpa, pen) kepada selain Allah Ta’ala. Mereka melakukan semacam ini karena para da’i kebatilan dan kesesatan berkata kepada mereka, “Kami akan menyelamatkan kalian ketika di lautan. Jika kalian tertimpa kesulitan, serulah nama kami, lalu kami akan menyelamatkan kalian.” Inilah yang terjadi sebagaimana yang diceritakan dari beberapa Syaikh Thoriqot Sufiyah. Jika engkau mau, silakan baca kitab mereka “Thobaqot Sya’roni“. Pada kitab tersebut engkau akan dapati beberapa hal yang membuat kulit merinding. Mereka menyebut berbagai kejadian aneh dan menganggap hal itu sebagai karomah para wali. Mereka anggap bahwa wali mereka tersebutlah yang telah menyelamatkan mereka dari berbagai kesulitan ketika berada di tengah laut. Wali tersebut akan membentangkan tangan mereka di lautan. Lalu dia membawa kapal mereka ke daratan sehingga mereka selamat. Masih banyak lagi kebohongan-kebohongan dan tahayul lainnya. Inilah kesyirikan yang terjadi. Ketika lapang atau pun sempit, mereka terus menerus berbuat syirik. Jelaslah bahwa kesyirikan di zaman kita ini lebih parah dari kesyirikan di zaman dahulu. Begitu pula sebagaimana yang disebutkan Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahab) dalam kitab beliau Kasyfu Syubhat[1], “Orang-orang dahulu, mereka beribadah kepada orang-orang sholih dari para malaikat, para Nabi dan para wali. Namun saat ini, orang-orang musyrik malah beribadah kepada orang-orang yang paling fajir (gemar bermaksiat) padahal mereka mengetahui hal itu. Orang-orang yang  mereka sebut sebagai pemimpin mereka (Al Aqthob) dan penolong mereka (Al Agwats), bukanlah orang yang mengerjakan shalat, puasa, atau menjauhkan diri dari zina, homoseksual, dan perbuatan keji. Karena mereka beranggapan bahwa orang-orang tersebut tidaklah terkena pembebanan syari’at. Mereka tidaklah terkena hukum halal dan haram karena pembebanan syari’at seperti ini hanyalah bagi orang awam saja. Mereka mengetahui pula bahwa orang yang mereka seru itu tidaklah shalat, puasa, dan tidak menjaga diri dari perbuatan keji. Namun anehnya, sebagian orang saat ini tetap beribadah kepada mereka, padahal mereka adalah orang-orang yang paling fajir (gemar berbuat maksiat) semacam Al Hallaj, Ibnu ‘Arobi, Ar Rifai, Al Badawi dan selainnya. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab telah menunjukkan dalil bahwa kesyirikan orang-orang musyrik saat ini lebih parah dari kesyirikan orang-orang musyrik di zaman dahulu. Karena orang musyrik zaman dahulu mengikhlaskan ibadah kepada Allah ketika mereka dalam keadaan sempit. Namun, orang musyrik saat ini berbuat syirik dalam keadaan lapang. Penulis berdalil dengan firman Allah Ta’ala, ﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوْا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ﴾. “Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al ‘Ankabut [29] : 65) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya. Selesai sudah pembahasan empat kaedah dalam memahami syirik, alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir buku terbaru: Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer.   [1] Lihat Kasyfu Syubhat (hal. 169-170 ) atau di dalam tulisan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam bidang aqidah. Tagskaedah syirik syirik
Syirik saat ini sangat parah. Kesyirikan di masa silam masih lebih mending daripada kesyirikan di masa kini. Hal inilah yang dibuktikan oleh Syaikh Muhammad At Tamimi dalam risalah beliau Al Qowa’idul Arba’ pada kaedah keempat (terakhir).    القَاعِدَةُ الرَّابِعَةُ: أَنَّ مُشْرِكِيْ زَمَانِنَا أًغْلَظُ شِرْكـًا مِنَ الأَوَّلِيْنَ، لأَنَّ الأَوَّلِيْنَ يُشْرِكُوْنَ في الرَّخَاءِ وَيُخْلِصُوْنَ في الشِّدَّةِ، وَمُشْرِكُوْا زَمَانِنَا شِرْكُهُمْ دَائِمٌُ؛ في الرَّخَاءِ وَالشِّدَّةِ. وَالدَّلِيْلُ قَوُلُهُ تَعَالَى: ﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ﴾[العنكبوت:65]. Kesyirikan di zaman kita betul-betul lebih parah daripada kesyirikan pada zaman dulu. Karena orang-orang musyrik dahulu berbuat syirik di saat lapang, sedangkan mereka mengikhlaskan ibadah kepada Allah ketika dalam kondisi sempit. Namun, orang-orang musyrik saat ini berbuat syirik di sepanjang waktu, baik ketika lapang maupun sempit. Dalil hal ini adalah firman Allah ta’ala  (yang artinya), “Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan-Nya.” (QS. Al ‘Ankabut [29] :65) [KAEDAH KEEMPAT – KAEDAH TERAKHIR] Sesungguhnya kesyirikan yang diperbuat oleh orang musyrik di zaman kita ini lebih parah dari kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu yang hidup tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus. Alasan dari perkataan penulis (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) mengenai hal ini sudah begitu jelas. Karena Allah telah mengabarkan kepada kita bahwa orang musyrik pada zaman dahulu, mereka mengikhlaskan ibadah kepada Allah ketika dalam keadaan sulit. Mereka tidaklah berdo’a kepada selain Allah (ketika keadaan sempit tersebut) karena mereka telah mengetahui bahwa tidak ada yang menghilangkan kesulitan kecuali Allah, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا “Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.” (QS. Al Isro’ [17] : 67). Allah Ta’ala juga berfirman dalam ayat lainnya, وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ “Dan apabila mereka diterpa ombak besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (yaitu mengikhlaskan do’a kepada Allah). Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus.” (QS. Luqman [31] : 32 ). Allah Ta’ala juga berfirman, فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ “Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)”. (QS. Al ‘Ankabut [29] : 65 ). Ini berarti orang-orang musyrik dahulu berbuat syirik ketika dalam keadaan lapang. Pada saat lapang seperti itu mereka berdo’a kepada berhala, bebatuan dan pepohonan. Adapun jika dalam keadaan sempit dan hendak binasa, mereka (orang-orang musyrik) tidaklah berdo’a kepada berhala, pohon, batu atau kepada satu makhluk pun. Pada saat itu mereka hanya berdo’a kepada Allah Ta’ala semata. Jika memang tidak ada yang menghilangkan kesempitan (kesulitan) kecuali Allah jalla wa ‘ala, bagaimana mungkin selain Allah diminta ketika dalam keadaan lapang. Adapun kaum musyrikin –yang mengaku umat Muhammad saat ini-, mereka terus menerus berbuat syirik baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Mereka tidaklah mau mengikhlaskan ibadah kepada Allah meskipun dalam keadaan sulit. Bahkan ketika dalam keadaan sulit sekali pun, mereka tetap melakukan kesyirikan bahkan semakin bertambah parah. Dalam keadaan sulit, mereka malah menyeru (meminta-minta) kepada Hasan dan Husain, kepada Syaikh Abdul Qodir, kepada Ar Rifa’i dan selainnya. Ini adalah sesuatu yang sudah diketahui dari mereka. Disebut pula dari mereka mengenai keajaiban di lautan. Jika mereka mengalami suatu perkara yang menyulitkan, mereka menyeru nama para wali dan orang-orang-orang sholih. Mereka beristighostah (meminta dihilangkan kesulitan yang telah menimpa, pen) kepada selain Allah Ta’ala. Mereka melakukan semacam ini karena para da’i kebatilan dan kesesatan berkata kepada mereka, “Kami akan menyelamatkan kalian ketika di lautan. Jika kalian tertimpa kesulitan, serulah nama kami, lalu kami akan menyelamatkan kalian.” Inilah yang terjadi sebagaimana yang diceritakan dari beberapa Syaikh Thoriqot Sufiyah. Jika engkau mau, silakan baca kitab mereka “Thobaqot Sya’roni“. Pada kitab tersebut engkau akan dapati beberapa hal yang membuat kulit merinding. Mereka menyebut berbagai kejadian aneh dan menganggap hal itu sebagai karomah para wali. Mereka anggap bahwa wali mereka tersebutlah yang telah menyelamatkan mereka dari berbagai kesulitan ketika berada di tengah laut. Wali tersebut akan membentangkan tangan mereka di lautan. Lalu dia membawa kapal mereka ke daratan sehingga mereka selamat. Masih banyak lagi kebohongan-kebohongan dan tahayul lainnya. Inilah kesyirikan yang terjadi. Ketika lapang atau pun sempit, mereka terus menerus berbuat syirik. Jelaslah bahwa kesyirikan di zaman kita ini lebih parah dari kesyirikan di zaman dahulu. Begitu pula sebagaimana yang disebutkan Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahab) dalam kitab beliau Kasyfu Syubhat[1], “Orang-orang dahulu, mereka beribadah kepada orang-orang sholih dari para malaikat, para Nabi dan para wali. Namun saat ini, orang-orang musyrik malah beribadah kepada orang-orang yang paling fajir (gemar bermaksiat) padahal mereka mengetahui hal itu. Orang-orang yang  mereka sebut sebagai pemimpin mereka (Al Aqthob) dan penolong mereka (Al Agwats), bukanlah orang yang mengerjakan shalat, puasa, atau menjauhkan diri dari zina, homoseksual, dan perbuatan keji. Karena mereka beranggapan bahwa orang-orang tersebut tidaklah terkena pembebanan syari’at. Mereka tidaklah terkena hukum halal dan haram karena pembebanan syari’at seperti ini hanyalah bagi orang awam saja. Mereka mengetahui pula bahwa orang yang mereka seru itu tidaklah shalat, puasa, dan tidak menjaga diri dari perbuatan keji. Namun anehnya, sebagian orang saat ini tetap beribadah kepada mereka, padahal mereka adalah orang-orang yang paling fajir (gemar berbuat maksiat) semacam Al Hallaj, Ibnu ‘Arobi, Ar Rifai, Al Badawi dan selainnya. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab telah menunjukkan dalil bahwa kesyirikan orang-orang musyrik saat ini lebih parah dari kesyirikan orang-orang musyrik di zaman dahulu. Karena orang musyrik zaman dahulu mengikhlaskan ibadah kepada Allah ketika mereka dalam keadaan sempit. Namun, orang musyrik saat ini berbuat syirik dalam keadaan lapang. Penulis berdalil dengan firman Allah Ta’ala, ﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوْا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ﴾. “Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al ‘Ankabut [29] : 65) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya. Selesai sudah pembahasan empat kaedah dalam memahami syirik, alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir buku terbaru: Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer.   [1] Lihat Kasyfu Syubhat (hal. 169-170 ) atau di dalam tulisan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam bidang aqidah. Tagskaedah syirik syirik


Syirik saat ini sangat parah. Kesyirikan di masa silam masih lebih mending daripada kesyirikan di masa kini. Hal inilah yang dibuktikan oleh Syaikh Muhammad At Tamimi dalam risalah beliau Al Qowa’idul Arba’ pada kaedah keempat (terakhir).    القَاعِدَةُ الرَّابِعَةُ: أَنَّ مُشْرِكِيْ زَمَانِنَا أًغْلَظُ شِرْكـًا مِنَ الأَوَّلِيْنَ، لأَنَّ الأَوَّلِيْنَ يُشْرِكُوْنَ في الرَّخَاءِ وَيُخْلِصُوْنَ في الشِّدَّةِ، وَمُشْرِكُوْا زَمَانِنَا شِرْكُهُمْ دَائِمٌُ؛ في الرَّخَاءِ وَالشِّدَّةِ. وَالدَّلِيْلُ قَوُلُهُ تَعَالَى: ﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ﴾[العنكبوت:65]. Kesyirikan di zaman kita betul-betul lebih parah daripada kesyirikan pada zaman dulu. Karena orang-orang musyrik dahulu berbuat syirik di saat lapang, sedangkan mereka mengikhlaskan ibadah kepada Allah ketika dalam kondisi sempit. Namun, orang-orang musyrik saat ini berbuat syirik di sepanjang waktu, baik ketika lapang maupun sempit. Dalil hal ini adalah firman Allah ta’ala  (yang artinya), “Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan-Nya.” (QS. Al ‘Ankabut [29] :65) [KAEDAH KEEMPAT – KAEDAH TERAKHIR] Sesungguhnya kesyirikan yang diperbuat oleh orang musyrik di zaman kita ini lebih parah dari kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu yang hidup tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus. Alasan dari perkataan penulis (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) mengenai hal ini sudah begitu jelas. Karena Allah telah mengabarkan kepada kita bahwa orang musyrik pada zaman dahulu, mereka mengikhlaskan ibadah kepada Allah ketika dalam keadaan sulit. Mereka tidaklah berdo’a kepada selain Allah (ketika keadaan sempit tersebut) karena mereka telah mengetahui bahwa tidak ada yang menghilangkan kesulitan kecuali Allah, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا “Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.” (QS. Al Isro’ [17] : 67). Allah Ta’ala juga berfirman dalam ayat lainnya, وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ “Dan apabila mereka diterpa ombak besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (yaitu mengikhlaskan do’a kepada Allah). Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus.” (QS. Luqman [31] : 32 ). Allah Ta’ala juga berfirman, فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ “Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)”. (QS. Al ‘Ankabut [29] : 65 ). Ini berarti orang-orang musyrik dahulu berbuat syirik ketika dalam keadaan lapang. Pada saat lapang seperti itu mereka berdo’a kepada berhala, bebatuan dan pepohonan. Adapun jika dalam keadaan sempit dan hendak binasa, mereka (orang-orang musyrik) tidaklah berdo’a kepada berhala, pohon, batu atau kepada satu makhluk pun. Pada saat itu mereka hanya berdo’a kepada Allah Ta’ala semata. Jika memang tidak ada yang menghilangkan kesempitan (kesulitan) kecuali Allah jalla wa ‘ala, bagaimana mungkin selain Allah diminta ketika dalam keadaan lapang. Adapun kaum musyrikin –yang mengaku umat Muhammad saat ini-, mereka terus menerus berbuat syirik baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Mereka tidaklah mau mengikhlaskan ibadah kepada Allah meskipun dalam keadaan sulit. Bahkan ketika dalam keadaan sulit sekali pun, mereka tetap melakukan kesyirikan bahkan semakin bertambah parah. Dalam keadaan sulit, mereka malah menyeru (meminta-minta) kepada Hasan dan Husain, kepada Syaikh Abdul Qodir, kepada Ar Rifa’i dan selainnya. Ini adalah sesuatu yang sudah diketahui dari mereka. Disebut pula dari mereka mengenai keajaiban di lautan. Jika mereka mengalami suatu perkara yang menyulitkan, mereka menyeru nama para wali dan orang-orang-orang sholih. Mereka beristighostah (meminta dihilangkan kesulitan yang telah menimpa, pen) kepada selain Allah Ta’ala. Mereka melakukan semacam ini karena para da’i kebatilan dan kesesatan berkata kepada mereka, “Kami akan menyelamatkan kalian ketika di lautan. Jika kalian tertimpa kesulitan, serulah nama kami, lalu kami akan menyelamatkan kalian.” Inilah yang terjadi sebagaimana yang diceritakan dari beberapa Syaikh Thoriqot Sufiyah. Jika engkau mau, silakan baca kitab mereka “Thobaqot Sya’roni“. Pada kitab tersebut engkau akan dapati beberapa hal yang membuat kulit merinding. Mereka menyebut berbagai kejadian aneh dan menganggap hal itu sebagai karomah para wali. Mereka anggap bahwa wali mereka tersebutlah yang telah menyelamatkan mereka dari berbagai kesulitan ketika berada di tengah laut. Wali tersebut akan membentangkan tangan mereka di lautan. Lalu dia membawa kapal mereka ke daratan sehingga mereka selamat. Masih banyak lagi kebohongan-kebohongan dan tahayul lainnya. Inilah kesyirikan yang terjadi. Ketika lapang atau pun sempit, mereka terus menerus berbuat syirik. Jelaslah bahwa kesyirikan di zaman kita ini lebih parah dari kesyirikan di zaman dahulu. Begitu pula sebagaimana yang disebutkan Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahab) dalam kitab beliau Kasyfu Syubhat[1], “Orang-orang dahulu, mereka beribadah kepada orang-orang sholih dari para malaikat, para Nabi dan para wali. Namun saat ini, orang-orang musyrik malah beribadah kepada orang-orang yang paling fajir (gemar bermaksiat) padahal mereka mengetahui hal itu. Orang-orang yang  mereka sebut sebagai pemimpin mereka (Al Aqthob) dan penolong mereka (Al Agwats), bukanlah orang yang mengerjakan shalat, puasa, atau menjauhkan diri dari zina, homoseksual, dan perbuatan keji. Karena mereka beranggapan bahwa orang-orang tersebut tidaklah terkena pembebanan syari’at. Mereka tidaklah terkena hukum halal dan haram karena pembebanan syari’at seperti ini hanyalah bagi orang awam saja. Mereka mengetahui pula bahwa orang yang mereka seru itu tidaklah shalat, puasa, dan tidak menjaga diri dari perbuatan keji. Namun anehnya, sebagian orang saat ini tetap beribadah kepada mereka, padahal mereka adalah orang-orang yang paling fajir (gemar berbuat maksiat) semacam Al Hallaj, Ibnu ‘Arobi, Ar Rifai, Al Badawi dan selainnya. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab telah menunjukkan dalil bahwa kesyirikan orang-orang musyrik saat ini lebih parah dari kesyirikan orang-orang musyrik di zaman dahulu. Karena orang musyrik zaman dahulu mengikhlaskan ibadah kepada Allah ketika mereka dalam keadaan sempit. Namun, orang musyrik saat ini berbuat syirik dalam keadaan lapang. Penulis berdalil dengan firman Allah Ta’ala, ﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوْا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ﴾. “Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al ‘Ankabut [29] : 65) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya. Selesai sudah pembahasan empat kaedah dalam memahami syirik, alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir buku terbaru: Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer.   [1] Lihat Kasyfu Syubhat (hal. 169-170 ) atau di dalam tulisan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam bidang aqidah. Tagskaedah syirik syirik

KARENA CINTA PADAMU…

Jika istrimu mengomel karena melihat no hp seorang wanita di hp-mu…maka ingatlah ia ngomel karena sangat cinta kepadamu…Jika istrimu membeli peralatan kecantikan yang mahal …. maka maafkanlah dia… karena ia melakukannya demi menyuguhkan servis yang memuaskan untukmu…Jik istrimu cemberut dan ngamuk tatkala mendengarmu berbicara dengan seorang wanita…sesungguhnya ia sangat takut kehilangan engkau…maka mengertilah sikapnya tersebut… Seringkali seorang istri bersikap dengan sikap-sikap aneh, konyol, dan kekanak-kanakan disebabkan kecintaan dan kecemburuannya…, maka seorang suami jangan sampai memarahi istrinya yang salah bersikap karena mencintainya…Akan tetapi nasehatilah ia dengan bahasa cinta… Karena kecintaannya padamu lah yang telah membutakannya sehingga terjatuh dan aneh dalam bersikap.

KARENA CINTA PADAMU…

Jika istrimu mengomel karena melihat no hp seorang wanita di hp-mu…maka ingatlah ia ngomel karena sangat cinta kepadamu…Jika istrimu membeli peralatan kecantikan yang mahal …. maka maafkanlah dia… karena ia melakukannya demi menyuguhkan servis yang memuaskan untukmu…Jik istrimu cemberut dan ngamuk tatkala mendengarmu berbicara dengan seorang wanita…sesungguhnya ia sangat takut kehilangan engkau…maka mengertilah sikapnya tersebut… Seringkali seorang istri bersikap dengan sikap-sikap aneh, konyol, dan kekanak-kanakan disebabkan kecintaan dan kecemburuannya…, maka seorang suami jangan sampai memarahi istrinya yang salah bersikap karena mencintainya…Akan tetapi nasehatilah ia dengan bahasa cinta… Karena kecintaannya padamu lah yang telah membutakannya sehingga terjatuh dan aneh dalam bersikap.
Jika istrimu mengomel karena melihat no hp seorang wanita di hp-mu…maka ingatlah ia ngomel karena sangat cinta kepadamu…Jika istrimu membeli peralatan kecantikan yang mahal …. maka maafkanlah dia… karena ia melakukannya demi menyuguhkan servis yang memuaskan untukmu…Jik istrimu cemberut dan ngamuk tatkala mendengarmu berbicara dengan seorang wanita…sesungguhnya ia sangat takut kehilangan engkau…maka mengertilah sikapnya tersebut… Seringkali seorang istri bersikap dengan sikap-sikap aneh, konyol, dan kekanak-kanakan disebabkan kecintaan dan kecemburuannya…, maka seorang suami jangan sampai memarahi istrinya yang salah bersikap karena mencintainya…Akan tetapi nasehatilah ia dengan bahasa cinta… Karena kecintaannya padamu lah yang telah membutakannya sehingga terjatuh dan aneh dalam bersikap.


Jika istrimu mengomel karena melihat no hp seorang wanita di hp-mu…maka ingatlah ia ngomel karena sangat cinta kepadamu…Jika istrimu membeli peralatan kecantikan yang mahal …. maka maafkanlah dia… karena ia melakukannya demi menyuguhkan servis yang memuaskan untukmu…Jik istrimu cemberut dan ngamuk tatkala mendengarmu berbicara dengan seorang wanita…sesungguhnya ia sangat takut kehilangan engkau…maka mengertilah sikapnya tersebut… Seringkali seorang istri bersikap dengan sikap-sikap aneh, konyol, dan kekanak-kanakan disebabkan kecintaan dan kecemburuannya…, maka seorang suami jangan sampai memarahi istrinya yang salah bersikap karena mencintainya…Akan tetapi nasehatilah ia dengan bahasa cinta… Karena kecintaannya padamu lah yang telah membutakannya sehingga terjatuh dan aneh dalam bersikap.

Keutamaan Shalat di Masjid Nabawi

Kita tahu bahwa Masjis Nabawi adalah masjid yang mulia. Lantas apa keutamaan shalat di Masjid Nabawi dibanding masjid lainnya? Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ – صلى الله عليه وسلم – وَمَسْجِدِ الأَقْصَى “Tidaklah pelana itu diikat –yaitu tidak boleh bersengaja melakukan perjalanan (dalam rangka ibadah ke suatu tempat)- kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjid Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan masjidil Aqsho” (HR. Bukhari 1189 dan Muslim no. 1397). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudriy. Hadits ini secara tegas menunjukkan keutamaan sengaja bersafar ke ketiga masjid di atas. Dan ini berarti selain tiga masjid itu tidak dibolehkan jika sengaja bersafar ke sana dalam rangka ibadah, baik itu ke kuburan wali maupun orang sholih . Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom.” (HR. Bukhari no. 1190 dan Muslim no. 1394, dari Abu Hurairah) Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173) Para ulama berselisih pendapat, apakah yang dimaksud dengan pengecualian dalam hadits di atas. Perbedaan pendapat ini berasal dari perselisihan mereka, manakah tempat yang lebih utama: Madinah ataukah Makkah? Ulama Syafi’iyah dan mayoritas ulama mengatakan bahwa Makkah lebih utama dari Madinah. Sehingga Masjidil Haram lebih utama dari Masjid Madinah. Dan ini berkebalikan dengan pendapat Imam Malik dan pengikutnya. Sehingga menurut ulama Syafi’iyah dan mayoritas ulama, makna hadits di atas adalah: shalat di masjid Nabawi lebih utama dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom karena shalat di Masjidil Harom lebih utama dari shalat di masjid Nabawi. (Lihat Syarh Muslim karya Imam An Nawawi) Semoga terus semangat dalam beramal sholih. — Di kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 3 Rabi’ul Awwal 1435 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang ingin pesan satu paket berisi lima buku karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dijual dengan harga Rp.65.000,- untuk pulau Jawa (sudah termasuk ongkos kirim). Di dalam paket tersebut terdapat buku terbaru beliau “Mengenal Bid’ah Lebih Dekat”, juga empat karya lain: Buku Dzikir Pagi Petang Disertai Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur (tersedia ukuran besar dan kecil), Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Satu paket buku#Nama pemesan#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer. Tagsmasjid nabawi

Keutamaan Shalat di Masjid Nabawi

Kita tahu bahwa Masjis Nabawi adalah masjid yang mulia. Lantas apa keutamaan shalat di Masjid Nabawi dibanding masjid lainnya? Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ – صلى الله عليه وسلم – وَمَسْجِدِ الأَقْصَى “Tidaklah pelana itu diikat –yaitu tidak boleh bersengaja melakukan perjalanan (dalam rangka ibadah ke suatu tempat)- kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjid Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan masjidil Aqsho” (HR. Bukhari 1189 dan Muslim no. 1397). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudriy. Hadits ini secara tegas menunjukkan keutamaan sengaja bersafar ke ketiga masjid di atas. Dan ini berarti selain tiga masjid itu tidak dibolehkan jika sengaja bersafar ke sana dalam rangka ibadah, baik itu ke kuburan wali maupun orang sholih . Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom.” (HR. Bukhari no. 1190 dan Muslim no. 1394, dari Abu Hurairah) Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173) Para ulama berselisih pendapat, apakah yang dimaksud dengan pengecualian dalam hadits di atas. Perbedaan pendapat ini berasal dari perselisihan mereka, manakah tempat yang lebih utama: Madinah ataukah Makkah? Ulama Syafi’iyah dan mayoritas ulama mengatakan bahwa Makkah lebih utama dari Madinah. Sehingga Masjidil Haram lebih utama dari Masjid Madinah. Dan ini berkebalikan dengan pendapat Imam Malik dan pengikutnya. Sehingga menurut ulama Syafi’iyah dan mayoritas ulama, makna hadits di atas adalah: shalat di masjid Nabawi lebih utama dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom karena shalat di Masjidil Harom lebih utama dari shalat di masjid Nabawi. (Lihat Syarh Muslim karya Imam An Nawawi) Semoga terus semangat dalam beramal sholih. — Di kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 3 Rabi’ul Awwal 1435 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang ingin pesan satu paket berisi lima buku karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dijual dengan harga Rp.65.000,- untuk pulau Jawa (sudah termasuk ongkos kirim). Di dalam paket tersebut terdapat buku terbaru beliau “Mengenal Bid’ah Lebih Dekat”, juga empat karya lain: Buku Dzikir Pagi Petang Disertai Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur (tersedia ukuran besar dan kecil), Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Satu paket buku#Nama pemesan#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer. Tagsmasjid nabawi
Kita tahu bahwa Masjis Nabawi adalah masjid yang mulia. Lantas apa keutamaan shalat di Masjid Nabawi dibanding masjid lainnya? Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ – صلى الله عليه وسلم – وَمَسْجِدِ الأَقْصَى “Tidaklah pelana itu diikat –yaitu tidak boleh bersengaja melakukan perjalanan (dalam rangka ibadah ke suatu tempat)- kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjid Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan masjidil Aqsho” (HR. Bukhari 1189 dan Muslim no. 1397). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudriy. Hadits ini secara tegas menunjukkan keutamaan sengaja bersafar ke ketiga masjid di atas. Dan ini berarti selain tiga masjid itu tidak dibolehkan jika sengaja bersafar ke sana dalam rangka ibadah, baik itu ke kuburan wali maupun orang sholih . Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom.” (HR. Bukhari no. 1190 dan Muslim no. 1394, dari Abu Hurairah) Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173) Para ulama berselisih pendapat, apakah yang dimaksud dengan pengecualian dalam hadits di atas. Perbedaan pendapat ini berasal dari perselisihan mereka, manakah tempat yang lebih utama: Madinah ataukah Makkah? Ulama Syafi’iyah dan mayoritas ulama mengatakan bahwa Makkah lebih utama dari Madinah. Sehingga Masjidil Haram lebih utama dari Masjid Madinah. Dan ini berkebalikan dengan pendapat Imam Malik dan pengikutnya. Sehingga menurut ulama Syafi’iyah dan mayoritas ulama, makna hadits di atas adalah: shalat di masjid Nabawi lebih utama dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom karena shalat di Masjidil Harom lebih utama dari shalat di masjid Nabawi. (Lihat Syarh Muslim karya Imam An Nawawi) Semoga terus semangat dalam beramal sholih. — Di kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 3 Rabi’ul Awwal 1435 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang ingin pesan satu paket berisi lima buku karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dijual dengan harga Rp.65.000,- untuk pulau Jawa (sudah termasuk ongkos kirim). Di dalam paket tersebut terdapat buku terbaru beliau “Mengenal Bid’ah Lebih Dekat”, juga empat karya lain: Buku Dzikir Pagi Petang Disertai Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur (tersedia ukuran besar dan kecil), Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Satu paket buku#Nama pemesan#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer. Tagsmasjid nabawi


Kita tahu bahwa Masjis Nabawi adalah masjid yang mulia. Lantas apa keutamaan shalat di Masjid Nabawi dibanding masjid lainnya? Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ – صلى الله عليه وسلم – وَمَسْجِدِ الأَقْصَى “Tidaklah pelana itu diikat –yaitu tidak boleh bersengaja melakukan perjalanan (dalam rangka ibadah ke suatu tempat)- kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjid Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan masjidil Aqsho” (HR. Bukhari 1189 dan Muslim no. 1397). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudriy. Hadits ini secara tegas menunjukkan keutamaan sengaja bersafar ke ketiga masjid di atas. Dan ini berarti selain tiga masjid itu tidak dibolehkan jika sengaja bersafar ke sana dalam rangka ibadah, baik itu ke kuburan wali maupun orang sholih . Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom.” (HR. Bukhari no. 1190 dan Muslim no. 1394, dari Abu Hurairah) Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173) Para ulama berselisih pendapat, apakah yang dimaksud dengan pengecualian dalam hadits di atas. Perbedaan pendapat ini berasal dari perselisihan mereka, manakah tempat yang lebih utama: Madinah ataukah Makkah? Ulama Syafi’iyah dan mayoritas ulama mengatakan bahwa Makkah lebih utama dari Madinah. Sehingga Masjidil Haram lebih utama dari Masjid Madinah. Dan ini berkebalikan dengan pendapat Imam Malik dan pengikutnya. Sehingga menurut ulama Syafi’iyah dan mayoritas ulama, makna hadits di atas adalah: shalat di masjid Nabawi lebih utama dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom karena shalat di Masjidil Harom lebih utama dari shalat di masjid Nabawi. (Lihat Syarh Muslim karya Imam An Nawawi) Semoga terus semangat dalam beramal sholih. — Di kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 3 Rabi’ul Awwal 1435 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Bagi yang ingin pesan satu paket berisi lima buku karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dijual dengan harga Rp.65.000,- untuk pulau Jawa (sudah termasuk ongkos kirim). Di dalam paket tersebut terdapat buku terbaru beliau “Mengenal Bid’ah Lebih Dekat”, juga empat karya lain: Buku Dzikir Pagi Petang Disertai Dzikir Sesudah Shalat dan Sebelum Tidur (tersedia ukuran besar dan kecil), Panduan Amal Shalih di Musim Hujan, dan Mengikuti Ajaran Nabi Bukanlah Teroris. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Satu paket buku#Nama pemesan#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer. Tagsmasjid nabawi

Kaedah Memahami Syirik (3): Sesembahan Orang Musyrik Bermacam-Macam

Beraneka ragamnya sesembahan orang musyrik, itu realitanya. Ini dibuktikan dalam perkataan Syaikh Muhammad At Tamimi berikutnya dalam risalah beliau Al Qowa’idul Arba’. Jadi jangan kira bahwa sesembahan orang musyrik hanyalah patung berhala saja. Orang-orang sholeh pun jadi sesembahan mereka, mereka pun disebut musyrik. القَاعِدَةُ الثَّالِثَةُ: أَنَّ النَّبِيَّ   ظَهَرَ عَلَى أُنَاسٍ مُتَفَرِّقِيْنَ في عِبَادَاتِهِمْ مِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الْمَلائِكَةَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الأَنْبِيَاءَ وَالصَّالِحِيْنَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الأَحْجَارَ وَالأَشْجَارَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ، وَقَاتَلَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ  وَلَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَهُمْ، [KAEDAH KETIGA] Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa manusia berbeda-beda di dalam ibadah mereka. Sebagian mereka beribadah kepada para nabi dan orang sholih. Sebagian lagi beribadah kepada pohon dan batu. Sebagian lainnya beribadah kepada matahari dan bulan. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka semuanya dan tidak membeda-bedakan satu dan lainnya.   [KAEDAH KETIGA] Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada orang-orang musyrik, di antara mereka ada yang menyembah malaikat. Yang lainnya lagi menyembah matahari dan bulan. Di antara mereka lagi ada yang menyembah patung, batu, dan pohon. Dan ada pula yang menyembah para wali dan orang-orang sholih. Inilah di antara keburukan syirik. Pelaku kesyirikan tidaklah bersatu dalam hal sesembahan. Berbeda dengan orang yang betul-betul mengesakan Allah (baca : ahlu tauhid). Sesembahan ahlu tauhid hanyalah satu yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (39) مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا “Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu membuat-buatnya”. (QS. Yusuf [12] : 39-40). Di antara kejelekan dan kebatilan syirik adalah : pelaku syirik berbeda-beda dalam perihal ibadah. Mereka tidak bersatu dalam kaedah ibadah yang sama karena mereka tidak berjalan dalam landasan ibadah yang satu (yaitu tauhid). Sebenarnya mereka berjalan  mengikuti hawa nafsu mereka dan asal mengikuti seruan yang menyesatkan. Mereka ini akan semakin terpecah sebagaimana firman Allah Ta’ala, ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ “Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS. Az Zumar [39] : 29 ). Orang yang hanya menyembah Allah semata diumpamakan dengan seorang budak yang diperbudak oleh satu tuan. Tuannya ini selalu merasa puas dengannya. Tuannya ini memiliki tuntutan tersendiri dari budak tersebut sehingga selalu merasa puas dengannya. Sedangkan orang musyrik diumpamakan dengan budak yang memiliki beberapa tuan. Budak ini tidak mengetahui siapa yang ridho terhadap dirinya dari tuan-tuannya itu. Masing-masing dari tuannya memiliki keinginan tersendiri. Setiap mereka memiliki tuntutan dan keinginan masing-masing. Setiap dari tuan tadi menghendaki sesuatu sesuai keinginannya. Oleh karena itu,  Allah Ta’ala berfirman, ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ “Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan.” (QS. Az Zumar [39] : 29 ). Budak ini dimiliki oleh beberapa tuan. Tidak diketahui siapa di antara mereka yang ridho pada budak ini. (Berbeda halnya dengan budak yang satu ini), وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ “Dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja)”. (QS. Az Zumar [39] : 29 ). Budak ini dimiliki oleh satu tuan saja sehingga tuannya ini meresa puas dengannya. Inilah permisalan yang Allah buat antara orang musyrik dan orang yang bertauhid. (Lihatlah) orang-orang musyrik pasti bepecah belah dalam peribadatan mereka. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka dan tidak membeda-bedakan satu dan lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi para penyembah patung. Begitu pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi orang Yahudi, Nashrani dan Majusi. Beliau shallallahu  juga memerangi seluruh kaum musyrikin. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi pula para penyembah malaikat, wali dan orang sholih. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan-bedakan di antara mereka. Perkataan penulis di sini adalah bantahan kepada orang-orang yang mengatakan bahwa orang yang menyembah patung tidaklah sama dengan orang yang menyembah orang sholih atau salah satu malaikat. Kelompok pertama ini menyembah bebatuan dan pepohonan. Yang mereka sembah adalah benda mati. Sedangkan kelompok kedua adalah yang menyembah orang sholih dan salah satu wali Allah. Kelompok kedua ini berbeda dengan orang-orang yang menyembah patung. Sebenarnya maksud orang-orang yang mengutarakan ucapan ini adalah : hukum orang yang menyembah kubur saat ini tidaklah sama dengan dengan para penyembah patung. Maka orang yang menyembah kubur belum tentu kafir. Amalan para penyembah kubur ini belum tentu syirik. Sehingga mereka tidaklah pantas untuk diperangi. Sebagai sanggahan kepada ucapan semacam ini, kami katakan : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan di antara mereka. Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap bahwa mereka semua adalah orang musyrik sehingga halallah darah dan harta mereka. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan satu dan lainnya. Kaum Nashrani yang menyembah Al Masih (Isa bin Maryam) –padahal Isa hanyalah utusan Allah- tetap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam perangi. Begitu pula kaum Yahudi yang menyembah ‘Uzair –padahal ‘Uzair adalah Nabi atau orang sholih di antara mereka- tetap pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam perangi. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan orang-orang ini (walaupun sesembahan mereka berbeda-beda). Namanya syirik tidaklah dibedakan antara yang menyembah orang sholih, yang menyembah patung, batu dan pohon. Karena yang namanya syirik adalah peribadahan kepada selain Allah apapun yang disembah. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman, وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (QS. An Nisa’ [4] : 36 ). Kata (شَيْئًا artinya sesuatu) adalah kata nakiroh yang berada dalam konteks larangan sehingga mengandung makna umum[1]. Sehingga yang dimaksud ‘sesuatu’ di sini mencakup seluruh jenis sesembahan yang diserikatkan dengan Allah baik itu malaikat, rasul, orang- orang sholih, para wali, bebatuan dan pepohonan. **** وَالدَّلِيْلُ قَوُلُهُ تَعَالَى: ﴿وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ﴾[البقرة:193] Dalil hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (QS. Al Anfal [8] : 39) ?   Syaikh rahimahullah berkata, “Dalil hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (QS. Al Anfal [8] : 39) Maksudnya, ini adalah dalil dari perkataan Syaikh rahimahullah sebelumnya mengenai diperanginya orang-orang musyrik tanpa membeda-bedakan sesembahan mereka. Firman Allah Ta’ala,  ﴿وَقَاتِلُوهُمْ ﴾ “Dan perangilah mereka.” Ayat ini bersifat umum, mencakup seluruh orang musyrik tanpa ada pengecualian. Lalu firman Allah selanjutnya,  ﴿وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ ﴾ “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah.” Fitnah yang dimaksud di sini adalah kesyirikan. Sehingga maksud ayat ini adalah ‘sampai tidak ada lagi kesyirikan’. Ini juga bersifat umum baik syirik dalam peribadahan kepada para wali, orang sholih, bebatuan, pepohonan, matahari atau bulan. Lalu firman Allah selanjutnya, ﴿ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ﴾ “dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” Maksudnya adalah bahwa setiap ibadah hanya berhak ditujukan kepada Allah, tidak boleh Allah disekutukan dengan sesembahan apapun. Maka tidak ada bedanya syirik dalam penyembahan terhadap para wali, orang sholih, bebatuan, pepohonan, para setan dan selainnya.   ]. وَدَلِيْلُ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ﴾[فصلت:37] Dalil bahwa yang menjadi sesembahan orang musyrik adalah matahari dan bulan yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah menyembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika ialah yang kamu hendak sembah.” (QS. Fushilat [41] : 37) Ayat di atas menunjukkan bahwa ada yang menyembah (bersujud) pada matahari dan bulan. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat pada waktu matahari terbit dan ketika matahari tenggelam.[2] Hal ini sebagai sadaan lidz-dzari’ah (untuk menutup jalan ke arah sana yaitu menyembah matahari). Karena memang ada orang yang menyembah matahari ketika terbit dan tenggelam. Oleh karena itu, kita dilarang mengerjakan shalat pada dua waktu terlarang ini, walaupun shalat tersebut dikerjakan ikhlas karena Allah. Shalat di kedua waktu ini termasuk tasyabuh (menyerupai) orang musyrik. Oleh karena itu, kita dilarang melakukan hal ini untuk menutup jalan (wasilah) menuju kesyirikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang untuk melarang kesyirikan dan menutup berbagai wasilah menuju kesyirikan tersebut. وَدَلِيْلُ الْمَلائِكَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا﴾ [آل عمران:80]. Dalil bahwa yang disembah adalah malaikat yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan Malaikat dan Para Nabi sebagai Tuhan.” (QS. Ali Imran [3] : 80) ?   Syaikh rahimahullah mengatakan, ‘Dalil bahwa yang disembah adalah malaikat’. Ini menunjukkan bahwa ada yang menyembah malaikat dan para Nabi. Ini juga termasuk kesyirikan. Akan tetapi para penyembah kubur pada saat ini mengatakan bahwa orang yang menyembah malaikat, para nabi dan orang sholih tidaklah kafir. **** وَدَلِيْلُ الأَنْبِيَاءِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ﴾[المائدة:116]. Dalil bahwa yang disembah adalah para nabi yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam. Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua ilah (sesembahan) selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan, maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. (QS. Al Maidah [5] : 116) Syaikh rahimahullah mengatakan ‘Dalil bahwa yang disembah adalah para nabi’. Ini adalah dalil bahwa ibadah kepada para Nabi termasuk kesyirikan sebagaimana ibadah kepada patung. Perkataan penulis ini merupakan sanggahan kepada para penyembah kubur yang membeda-bedakan dalam hal ini. Perkataan beliau rahimahullah juga adalah bantahan kepada orang mengatakan bahwa syirik itu hanya dalam peribadahan kepada berhala. Menurut mereka tidaklah sama antara orang yang menyembah patung, para wali atau orang sholih. Mereka mengingkari penyamaan dalam kedua hal ini dan beranggapan bahwa syirik hanya terbatas pada penyembahan kepada patung-patung saja. Ini adalah kekeliruan yang sangat jelas ditinjau dari dua sisi : [Sisi Pertama] Allah jalla wa ‘ala di dalam Al Qur’an mengingkari semua peribadahan (kepada selain Allah) dan memerintahkan untuk memerangi semua yang melakukan peribadah semacam itu. [Sisi Kedua] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membedakan antara penyembah berhala, malaikat atau pun orang sholih.   وَدَلِيْلُ الصَّالِحِيْنَ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ… ﴾الآية[الإسراء:57]. Dalil bahwa yang disembah adalah orang-orang sholih yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al Isra’ [17] :57) Syaikh rahimahullah mengatakan ‘Dalil bahwa yang disembah adalah orang-orang sholih’ Perkataan beliau ini menunjukkan bahwa ada manusia yang menyembah orang-orang sholih. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ﴾ “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah)”. (QS. Al Isro’ [17] : 57). Ada dua pendapat mengenai tafsiran ayat ini. [Pendapat pertama] Ada yang berpendapat bahwa ayat ini turun kepada orang-orang yang menyembah Al Masih (Isa bin Maryam), ibunya (Maryam) dan ‘Uzair. Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa sesungguhnya Al Masih (Isa bin Maryam), Maryam dan Uzair hanyalah hamba yang menghambakan diri pada Allah, mendekatkan diri pada-Nya, selalu mengharap rahmat dan takut pada adzab-Nya. Mereka semua hanya hamba Allah yang sangat butuh dan bergantung kepada-Nya. Mereka juga berdo’a kepada Allah dan mencari wasilah kepada-Nya dengan melakukan ketaatan. Allah Ta’ala berfirman, ﴿يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ ﴾ “Mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka.” (QS. Al Isro’ [17] : 57). Maksudnya untuk mencari kedekatan kepada Allah Ta’ala dengan melakukan ketaatan dan ibadah. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah tidaklah layak ditujukan kepada mereka. Alasannya karena mereka juga manusia yang sangat butuh (bergantung) pada Allah, mereka berdo’a (memohon) kepada Allah, mengharapkan rahmat-Nya dan takut pada adzab-Nya. Kalau memang keadaan mereka seperti ini, maka tidaklah pantas mereka disembah bersama Allah ‘azza wa jalla. [Pendapat kedua] Sesungguhnya ayat ini turun kepada kaum musyrikin yang beribadah kepada sekelompok jin. Kemudian sekelompok jin tersebut masuk islam, namun orang-orang musyrik tidak mengetahui keislaman para jin ini[3]. (Ketika masuk Islam) jadilah para jin ini mendekatkan diri kepada Allah dengan dengan melakukan keta’atan dan ketundukan kepada-Nya. Mereka juga senantiasa mengharap rahmat-Nya dan takut pada adzab-Nya. Jadi, para jin adalah hamba yang sangat butuh pada Allah. Kalau demikian, tidaklah pantas menujukan ibadah kepada mereka. Apapun maksud (tafsiran) ayat yang mulia ini, intinya ingin menunjukkan bahwa kita tidaklah boleh beribadah kepada orang-orang sholih baik mereka adalah para Nabi, para shidiqin atau para wali Allah dan orang sholih. Tidak boleh satu ibadah pun ditujukan pada mereka. Karena namanya hamba Allah pasti sangat butuh (bergantung) kepada-Nya. Bagaimana mungkin mereka bisa dijadikan sesembahan bersama Allah jalla wa ‘ala? Maksud dari wasilah dalam ayat di atas adalah keta’atan dan segala bentuk pendekatan diri kepada Allah. Adapun secara bahasa, wasilah adalah sesuatu yang bisa mengantarkan pada tujuan. Segala sesuatu yang mengantarkan pada ridho dan surga Allah, maka itulah wasilah kepada Allah. Inilah wasilah yang disyari’atkan sebagaimana terdapat dalam firman Allah Ta’ala, وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ “Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (QS. Al Maidah [5] : 35). Adapun orang-orang yang menyimpang dan ahlu khurofat, mereka mengatakan bahwa wasilah adalah menjadikan para wali, orang sholih, dan orang yang sudah mati sebagai perantara antara engkau dan Allah untuk mendekatkan dirimu pada-Nya. Mereka mengatakan, مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (QS. Az Zumar [39] : 3). Jadi, makna wasilah menurut ahli khurofat adalah engkau menjadikan perantara antara dirimu dan Allah. Perantara ini akan menyampaikan hajatmu pada Allah dan memberitahukan pada Allah bahwa ini adalah hajatmu. Hal ini menunjukkan bahwa seakan-akan Allah jalla wa ‘ala itu tidak mengetahui (urusan hamba-Nya). Atau seakan-akan Allah itu bakhil (pelit), tidak mau memberi kecuali setelah didesak melalui perantara. Maha Suci Allah dari perkataan mereka ini. Dari kerancuan inilah, mereka menebar keraguan di tengah-tengah manusia sambil memplintir firman Allah,  ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ﴾. “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka”. (QS. Al Isro’ [17] : 57 ). Dari ayat ini, mereka memplintir bahwa sesungguhnya mengambil wasilah (perantara) dari mahluk adalah suatu perkara yang disyariatkan. Allah juga telah memuji orang seperti ini sebagaimana dalam firman Allah, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”. (QS. Al Maidah [5] : 35). (Berdasarkan ayat di atas), mereka mengatakan bahwa sesungguhnya Allah memerintahkan kita agar menjadikan wasilah kepada-Nya dan makna wasilah adalah perantara. Inilah tingkah laku mereka, telah menyelewengkan maksud firman Allah dari maksud yang semestinya. (Yang lebih tepat) wasilah yang disyari’atkan yang terdapat dalam Al Qur’an dan As Sunnah adalah dengan melakukan keta’atan yang mendekatkan kita kepada Allah, bertawassul (mengambil wasilah) kepada-Nya dengan nama dan sifat-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Inilah wasilah yang disyari’atkan. Adapun bertawassul kepada Allah melalui makhluk-makhluk-Nya, ini adalah wasilah yang terlarang dan termasuk wasilah yang mengandung kesyirikan. Seperti inilah yang dilakukan oleh orang musyrik yang terdahulu sebagaimana terdapat pada firman Allah ‘azza wa jalla, وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. (QS. Yunus [10] : 18 ). Juga terdapat pada firman Allah, وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya“. (QS. Az Zumar [39] : 3 ). Inilah kesamaan kesyirikan zaman dahulu dan sekarang ini. Walaupun mereka menyebut perbuatan semacam ini[4] sebagai wasilah, akan tetapi kenyataan ini adalah kesyirikan dan bukanlah wasilah yang Allah syari’atkan. Allah tidaklah mungkin menjadikan kesyrikan sebagai perantara kepada-Nya selama-lamanya. Bahkan melalui wasilah yang syirik ini akan semakin membuat seseorang menjauh dari Allah. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala, إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ  “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”.(QS. Al Maidah [5] : 72 ). Bagaimana mungkin kesyirikan dapat dijadikan sebagai wasilah untuk mendekatkan diri pada Allah? Maha Suci Allah dari perkataan mereka ini. Adapun yang menjadi sisi pendalilan dari ayat ini (surat Al Isro’ ayat 57) adalah bahwa orang-orang yang beribadah kepada orang sholih juga termasuk orang yang berbuat syirik. Karena Allah telah menjelaskan hal ini dan menjelaskan bahwa orang-orang sholih yang mereka sembah itu sangat butuh kepada Allah sebagaimana pada firman Allah, ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ﴾. “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka”. (QS. Al Isro’ [17] : 57). Yakni orang-orang sholih tersebut juga mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan ketaatan, manakah di antara mereka yang lebih dekat (kepada-Nya). Mereka (orang-orang sholih) berlomba-lomba dalam mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah karena mereka sangat butuh kepada-Nya sebagaimana terdapat dalam firman-Nya, ﴿ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ﴾. “Dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya.” (QS. Al Isro’ [17] : 57 ). Dan siapa saja yang keadaannya seperti ini tidaklah layak dijadikan sebagai sesembahan yang ditujukan do’a dan disembah bersama Allah Ta’ala. **** ودليل الأحجار والأشجار قوله تعالى: ﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى.وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى﴾[النجم:19-20]. Dalil bahwa yang disembah adalah pohon dan batu yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Maka Apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza, Dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?”[5] (QS. An Najm [53] :19-20) Syaikh rahimahullah berkata, “Dalil bahwa yang disembah adalah pohon dan batu … ”. Pada ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa ada orang musyrik yang menyembah pepohonan dan bebatuan. Firman Allah ( أَفَرَأَيْتُمْ ) : “Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik)”, ini adalah istifham inkari. Maksudnya adalah ‘beritahukan padaku’ menunjukkan kalimat tanya untuk mengingkari dan sebagai celaan. Yang dimaksud dengan Laata (اللَّتَ) -dengan huruf ta’ tanpa ditasydid- merupakan salah satu nama berhala di Tho’if. Bentuk berhala ini berupa batu besar yang diukir. Di atas batu ini terdapat bangunan yang ditutupi tirai seperti ka’bah. Di sekeliling batu ini adalah tanah lapang. Batu ini memiliki juru kunci. Orang-orang musyrik dahulu menyembah Laata ini dan menjadikannya sebagai sesembahan selain Allah. Beberapa qobilah sangat bangga sekali dengan berhala ini. Laata juga bisa dibaca dengan (أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَّ) -dengan ta’ yang ditasydid/ Kalau laatta adalah isim fail (kata yang menunjukkan pelaku) yang berasal dari kata latta – yaluttu (yang artinya ‘mencampur dengan samin’). Laatta adalah seorang laki-laki sholih yang mencampurkan samin dan memberikannya kepada para jama’ah haji. Lalu pria ini meninggal dan orang-orang membangun bangunan pada kuburnya dan dipasangkan tirai. Kemudian mereka menjadikan kuburan ini sebagai sesembahan selain Allah. Inilah yang disebut Laatta. Yang dimaksud dengan ‘uzza ﴿ وَالْعُزَّى ﴾ adalah pepohonan salam (jenis pohon yang bisa dipakai menyamak, pen) yang berada di lembah kurma yang berada di antara Mekkah dan Tho’if. Sekeliling pohon terdapat bangunan dan diberi tirai. ‘Uzza ini juga memiliki juru kunci. Di sana terdapat setan yang dapat berdialog dengan manusia. Namun sayangnya orang-orang bodoh menyangka bahwa yang berbicara adalah pepohonan itu sendiri atau bangunan yang ada di sekitarnya tadi. Padahal yang berbicara dengan mereka sebenarnya adalah setan yang ingin menyesatkan mereka dari jalan Allah. Inilah berhala orang Quraisy dan penduduk Mekkah serta orang-orang di sekitarnya. Yang dimaksud Manaah ﴿وَمَنَاةَ ﴾ adalah batu besar yang diukir, berada di Pegunungan Qudaid yang berada di antara Mekkah dan Madinah. Berhala inilah yang dimiliki oleh penduduk Khuza’ah, Aus dan Khozroj. Mereka dahulu sering mendatanginya untuk berhaji. Mereka menjadikan Manaah ini sebagai sesembahan-sesembahan selain Allah. Inilah tiga berhala terbesar yang dimiliki orang Arab dahulu. Allah Ta’ala berfirman mengenai tiga berhala ini, ﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى.وَمَنَاةَ ﴾ ” Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap Al Lata dan Al Uzza. Dan Manah”. (QS. An Najm [53] : 19-20 ). Maksudnya adalah apakah mereka dapat mencukupkan (kebutuhan) kalian? Apakah mereka dapat mendatangkan manfaat pada kalian? Apakah mereka dapat menolong kalian? Apakah mereka yang dapat mencipta, memberi rezki, menghidupkan, dan mematikan? Apa manfaat yang ada pada mereka? Penjelasan inilah yang bertujuan untuk mengingkari dan memperingatkan akal untuk kembali petunjuk yang benar. Sesungguhnya tiga berhala ini hanyalah bebatuan, pepohonan yang tidak dapat mendatangkan manfaat atau menolak bahaya, mereka hanyalah makhluk biasa. Tatkala Islam datang dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menaklukkan Mekkah –sebagai tempat yang mulia-, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya mengutus Al Mughiroh bin Syu’bah dan Abu Sufyan bin Harb untuk pergi ke Laata (yang sebenarnya hanya batu atau kuburan, pen) yang berada di Tho’if. Kedua orang ini –akhirnya- menghancurkan berhala tersebut atas perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus pula Kholid bin Walid untuk pergi ke ‘Uzza. Lalu dia menghancurkannya, memotong pepohonan yang ada dan membunuh jin yang dapat berdialog dengan manusia. Jin yang hanya ingin menyesatkan manusia ini, akhirnya hilang tanpa bekas –alhamdulillah (segala pujian hanyalah milik Allah)-. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengutus ‘Ali bin Abi Tholib untuk pergi ke Manaah. Lalu ‘Ali menghancurkan berhala ini tanpa ada bekas.[6] Lihatlah berhala ini tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. ﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى.وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى﴾ ” Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap Al Lata dan Al Uzza. Dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)”. (QS. An Najm [53] : 19-20 ). Adakah mereka bisa menghindarkan diri (ketika ingin dihancurkan)? Apakah mereka dapat mendatangkan manfaat? Apakah mereka dapat mencegah dirinya sendiri dari para tentara Allah dan ahlu tauhid (yang ingin menghancurkan mereka)? Inilah dalil yang menunjukkan bahwa di sana ada orang-orang menyembah pepohonan dan bebatuan. Bahkan ketiga berhala tadi adalah berhala terbesar yang mereka miliki. Namun, Allah telah melenyapkan berhala-berhala ini tanpa bekas. Berhala-berhala ini tidak dapat mencegah kehancuran mereka. Mereka juga tidak dapat mendatangkan pada orang yang menyembahnya. Lihatlah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memerangi orang yang menyembah berhala-berhala ini. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membunuh mereka, namun –lihatlah- berhala-berhala tadi tidak dapat berbuat apa-apa. Inilah yang dalil oleh penulis (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) bahwa ada orang yang menyembah bebatuan dan pepohonan. Ya Allah Dzat Yang Maha Suci, manusia yang berakal mengapa bisa-bisanya menyembah pohon-pohon dan batu-batu yang hanyalah benda mati, yang  tidak memiliki akal, yang tidak dapat bergerak dan tidak hidup. Di manakah akal manusia? Maha Suci Allah atas apa yang mereka katakan. **** وَحَدِيْثُ أَبِيْ وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ t قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ r إِلَى حُنَيْنٍِ وَنَحْنُ حُدَثَاءُ عَهْدٍ بِكُفْرٍِ، وَلِلْمُشْرِكِيْنَ سِدْرَةٌُ يَعْكُفُوْنَ عِنْدَهَا وَيَنُوْطُوْنَ بِهَا أَسْلِحَتَهُمْ يُقَالُ لهَاَ: ذَاتُ أَنْوَاطٍِ، فَمَرَرْنَا بِسِدْرَةٍِ فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍِ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍِ… الْحَدِيْثُ. Juga hal ini terdapat pada hadist Abu Waqid Al Laitsi , beliau berkata, “Kami keluar bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain dan kami baru saja kembali dari masa-masa kekufuran. Orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon yang digunakan untuk beri’tikaf di sekelilingnya dan menggantungkan senjata-senjata mereka, pohon tersebut dinamakan Dzatu Anwath. Kemudian kami melewati sebuah pohon kemudian kami berkata, “Wahai Rosulullah, buatkan untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka (orang-orang musyrik) memiliki Dzatu anwath.” (Al Hadits)[7] Abu Waqid Al Laitsi radhiyallahu ‘anhu termasuk sahabat yang masuk Islam pada tahun Fathul Makkah –menurut pendapat yang terkenal- yaitu sekitar tahun 8 Hijriyah. Apa yang dimaksud Dzatu Anwath? Anwath adalah bentuk jama’ dari nauth. Kata kerjanya bermakna menggantung, sehinga nauth adalah sesuatu yang digantung. Orang-orang musyrik biasa menggantungkan senjata pada pohon tersebut agar memperoleh berkah. Sebagian sahabat yang baru saja masuk islam dan belum mengenal tauhid secara sempurna, mereka mengatakan, “Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka (orang-orang musyrik) memiliki Dzatu anwath.”. Inilah bencana taqlid (mengekor tanpa tahu dalil) dan bahaya tasyabbuh (menyerupai orang kafir). Kedua hal ini adalah bencana terbesar. Inilah hal yang membuat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi takjub (heran). Sehinga keluarkanlah perkataan dari lisan beliau, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar”. Itulah yang biasa dilakukan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika merasa keheranan atau ingin mengingkari sesuatu, keluarlah ucapan takbir (Allahu Akbar) dari lisan beliau. Atau biasa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan (dalam kondisi demikian) ucapan ‘Subhanallah’ sambil beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi bacaan dzikir ini. (Dalam lanjutan hadits Abu Waqid ini) : إِنَّهَا لَسُنَنٌ . Yang dimaksud dengan kalimat ini yaitu ini adalah cara yang dijalani manusia dan sebagian mereka mengikuti yang lainnya (ringkasnya ini adalah tradisi, pen). Sebab yang bisa mengantarkan mereka melakukan seperti ini (yaitu mengambil berkah dari pohon) adalah karena mengikuti jejak orang-orang terdahulu dan tasyabbuh (menyerupai) orang-orang musyrik. (Dalam lanjutan hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda), “Demi yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, Perkataan kalian ini seperti halnya perkataan Bani Israel kepada Musa, ( اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةً قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ ) “Jadikanlah untuk kami sesembahan seperti sesembahan mereka. Kemudian Musa berkata sesungguhnya kalian adalah kaum yang jahil (bodoh)”.(QS. Al A’rof [7] : 138). (Kisah mengenai ayat ini) : Dulu tatkala Nabi Musa ‘alaihis salam bersama dengan Bani Israel telah mencapai lautan dan Allah menenggelamkan musuh-Nya di laut tersebut sedangkan mereka memperhatikan hal ini, lalu Musa dan kaumnya melewati kaum musyrikin yang beri’tikaf pada berhala-berhala yang mereka miliki. Lalu kaumnya tersebut berkata kepada beliau ‘alaihis salam (yang artinya), “Jadikanlah untuk kami sesembahan seperti sesembahan mereka. Kemudian Musa berkata sesungguhnya kalian adalah kaum yang jahil (bodoh)”.(QS. Al A’rof [7] : 138). Namun, Nabi Musa ‘alaihis salam menolak permintaan ini dan berkata : ( إِنَّ هَؤُلَاءِ مُتَبَّرٌ مَا هُمْ فِيهِ ) “Sesungguhnya kepercayaan yang dianut mereka (yang penuh dengan kebatilan) itu akan dihancurkan dan akan batal apa yang seIalu mereka kerjakan.” (QS. Al A’rof [7] : 139  ). Mengapa menjadi batal apa yang selalu mereka kerjakan? Karena yang mereka lakukan adalah kesyirikan. Dalam ayat selajutnya, Allah Ta’ala berfirman, قَالَ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَهًا وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ “Musa menjawab: “Patutkah Aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada Allah? Padahal Dialah yang telah melebihkan kalian atas segala umat”. (QS. Al A’rof [7] : 140 ). Lihatlah sikap Nabi Musa ‘alaihis salam. Beliau ‘alaihis salam mengingkari kaumnya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengingkari para sahabat. Akan tetapi, kaumnya Musa dan sahabat Nabi tidaklah berbuat syirik. Bani Israel tatkala mengatakan perkataan semacam ini, mereka tidak berbuat syirik karena belum melakukkannya, begitu pula dengan para sahabat Nabi. Seandainya para sahabat mengambil berkah dari Dzatu Anwath pasti mereka sudah dinyatakan berbuat syirik. Akan tetapi, Allah Ta’ala telah melindungi mereka. Tatkala Nabi mereka melarang untuk berbuat demikian, mereka pun enggan melakukannya. Mereka bisa mengatakan seperti ini juga karena kebodohan. Mereka tidaklah mengucapkan seperti ini dengan sengaja. Setelah mereka mengetahui bahwa mengambil berkah dari Dzatu Anwath adalah kesyirikan, mereka pun enggan melakukan hal itu. Seandainya mereka melakukan hal ini, tentu mereka telah berbuat syirik kepada Allah. Inti penjelasan dari ayat tadi (Al A’rof : 138-140) adalah bahwasanya orang-orang musyrik juga ada yang menyembah pepohonan. Orang-orang musyrik ini menjadikan Dzatu Anwath (untuk diambil berkahnya). Para sahabat -yang belum kokoh ilmu dalam hatinya itu- berusaha untuk menyerupai orang-orang musyrik tersebut. Kalau bukan karena perlindungan Allah dan Rasul-Nya, tentu mereka (para sahabat) akan terperosok dalam jurang kebinasaan (yaitu kesyirikan). Inti penjelasan dari hadits Abu Waqid Al Laitsi ini adalah ingin menjelaskan bahwa ada orang-orang yang mencari berkah dari pohon dan ber’itikaf di sekelilingnya. Makna beri’tikaf adalah berdiam diri di suatu tempat pada waktu tertentu dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Atau ringkasnya, i’tikaf adalah berdiam diri di suatu tempat. Dalam hadits Abu Waqid ini terdapat berbagai faedah penting, di antaranya: [Pertama] Hadits ini menerangkan mengenai bahaya bodoh terhadap tauhid.  Barangsiapa yang bodoh dalam masalah tauhid sangat mungkin dia terjatuh dalam kesyirikan sedangkan ia tidak mengetahuinya. Oleh karena itu, wajib bagi kita mempelajari tauhid dan juga kebalikannya yaitu syirik. Hendaklah kita mempelajari hal ini sampai kita berada di atas bashiroh (ilmu) bukan berada dalam kebodohan. Lebih-lebih berbahaya lagi jika seseorang tidak mengetahui tauhid dan syirik dengan benar. Boleh jadi dia melakukan suatu perbuatan (padahal itu syirik) namun dia menyangka itu benar karena sebab kebodohannya. Inilah yang menunjukkan bahaya kebodohan, lebih-lebih lagi jika bodoh dalam masalah aqidah. [Kedua] Dalam hadits ini juga menunjukkan bahaya tasyabbuh (menyerupai) orang-orang musyrik. Sesungguhnya menyerupai mereka (dalam perkataan atau perbuatan) dalam mengantarkan seseorang dalam kesyirikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka.”[8] Hendaklah kita tidak menyerupai orang musyrik (baik dalam perkataan maupun perbuatan) [Ketiga] Sesungguhnya mengambil berkah dari bebatuan, pepohonan, atau dari bangunan adalah suatu kesyirikan walaupun dinamai dengan nama selain syirik. Karena (ingatlah bahwa) mencari berkah dari selain Allah dari bebatuan, pepohonan ataupun kuburan, ini semua adalah kesyirikan walaupun dinamai dengan nama selain syirik. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir buku terbaru: Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer. [1] Nakiroh adalah istilah dalam ilmu nahwu yaitu kata yang belum jelas penunjukkannya. Dan menurut kaedah ushul fiqih bahwa nakiroh yang berada dalam konteks larangan atau peniadaan menunjukkan keumuman. [pen] [2] Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَتَحَرَّى أَحَدُكُمْ فَيُصَلِّى عِنْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَلاَ عِنْدَ غُرُوبِهَا “Janganlah seseorang di antara kalian bersengaja shalat pada saat matahari terbit dan tenggelam.” (HR. Bukhari no. 585 dalam Al Mawaqit Bab Janganlah bersengaja shalat pada saat tenggelamnya matahari. Juga diriwayatkan oleh Muslim no. 828 dalam Al Masajid Bab waktu-waktu terlarang shalat) [3] HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Jarir dan Al Hakim. Al Hakim berkata, “Hadits ini shohih sesuai syarat  Muslim” dan perkataan beliau ini  disetujui oleh Adz Dzahabi. Lihat Shohihul Musnad min Asbabin Nuzul karya Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullah, hal. 178, Darul Haromain-Kairo. [pen] [4] Mengambil wasilah melalui para wali yang telah mati. [pen] [5] Hakekat lata adalah kuburan, ‘uzza adalah pohon sedangkan manat adalah batu. Lihat Iqtidho’ Shirothil Mustaqim 2/156-157, ta’liq Dr. Nashr bin ‘Abdil Karim Al ‘Aql. Dan perhatikanlah penjelasan Syaikh Fauzan hafizhohullah selanjutnya. [pen] [6] Lihat Zaadul Ma’ad, 4/ 413-415 [7] HR. Tirmidzi no. 2180 dalam ‘Al Fitan’, Bab ‘Sungguh kalian akan mengikuti jejak (kebiasaan) umat-umat sebelum kalian’. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih. Juga diriwayatkan dari Ahmad (5/218), Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah no. 76, Ibnu Hibban dalam kitab shohihnya (no. 6702 – Al Ihsan). Ibnu Hajar menshohihkan hadits ini sebagaimana dalam Al Ishobah, 4/216. [Tambahan pen] : Untuk membantu penjelasan Syaikh Fauzan selanjutnya, kami bawakan hadits ini secara lengkap, عَنْ أَبِى وَاقِدٍ اللَّيْثِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا خَرَجَ إِلَى خَيْبَرَ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى (اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ) وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ » Dari Abu Waqid Al Laitsi mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala pergi ke Khoibar, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sebuah pohon milik kaum musyrikin yang dinamakan Dzatu Anwath. Orang-orang musyrik biasa menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Lalu (di antara sahabat yang baru masuk Islam) mengatakan (kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana milik orang-orang musyrik.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Subhanallah (Maha Suci Allah dari tingkah kalian yang semacam ini). Ini sama halnya dengan perkataan kaum Musa kepada beliau, ‘Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana yang ada pada mereka’. Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, sungguh kalian akan mengikuti jejak (kebiasaan) umat-umat sebelum kalian.” (HR. Tirmidzi no. 2180. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shohih) Sedangkan dalam riwayat Ahmad disebutkan, إِنَّهَا لَسُنَنٌ لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ سُنَّةً سُنَّةً “Sungguh ini adalah tradisi (kebiasaan umat terdahulu). Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat sebelum kalian perhalan demi perhalan.” (HR. Ahmad. Syaikh Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shohih sesuai syarat Bukhari-Muslim) [8] HR. Abu Dawud no. 4031 dalam Al Libas (pakaian), Bab ‘Pakaian syuhroh (ketenaran). Juga diriwayatkan oleh Ahmad (2/50) dari hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkatab bahwa hadits ini sanadnya jayyid/bagus. (Iqtidho’ Ash Shirothol Mustaqim, hal. 236-239 ). Al Hafidz Al ‘Iroqi berkata dalam Takhrij Al Ihya’ (2/65) bahwa sanad hadit ini shohih. Al Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (6/98) bahwa sanad hadits ini hasan. Tagskaedah syirik tradisi

Kaedah Memahami Syirik (3): Sesembahan Orang Musyrik Bermacam-Macam

Beraneka ragamnya sesembahan orang musyrik, itu realitanya. Ini dibuktikan dalam perkataan Syaikh Muhammad At Tamimi berikutnya dalam risalah beliau Al Qowa’idul Arba’. Jadi jangan kira bahwa sesembahan orang musyrik hanyalah patung berhala saja. Orang-orang sholeh pun jadi sesembahan mereka, mereka pun disebut musyrik. القَاعِدَةُ الثَّالِثَةُ: أَنَّ النَّبِيَّ   ظَهَرَ عَلَى أُنَاسٍ مُتَفَرِّقِيْنَ في عِبَادَاتِهِمْ مِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الْمَلائِكَةَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الأَنْبِيَاءَ وَالصَّالِحِيْنَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الأَحْجَارَ وَالأَشْجَارَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ، وَقَاتَلَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ  وَلَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَهُمْ، [KAEDAH KETIGA] Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa manusia berbeda-beda di dalam ibadah mereka. Sebagian mereka beribadah kepada para nabi dan orang sholih. Sebagian lagi beribadah kepada pohon dan batu. Sebagian lainnya beribadah kepada matahari dan bulan. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka semuanya dan tidak membeda-bedakan satu dan lainnya.   [KAEDAH KETIGA] Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada orang-orang musyrik, di antara mereka ada yang menyembah malaikat. Yang lainnya lagi menyembah matahari dan bulan. Di antara mereka lagi ada yang menyembah patung, batu, dan pohon. Dan ada pula yang menyembah para wali dan orang-orang sholih. Inilah di antara keburukan syirik. Pelaku kesyirikan tidaklah bersatu dalam hal sesembahan. Berbeda dengan orang yang betul-betul mengesakan Allah (baca : ahlu tauhid). Sesembahan ahlu tauhid hanyalah satu yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (39) مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا “Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu membuat-buatnya”. (QS. Yusuf [12] : 39-40). Di antara kejelekan dan kebatilan syirik adalah : pelaku syirik berbeda-beda dalam perihal ibadah. Mereka tidak bersatu dalam kaedah ibadah yang sama karena mereka tidak berjalan dalam landasan ibadah yang satu (yaitu tauhid). Sebenarnya mereka berjalan  mengikuti hawa nafsu mereka dan asal mengikuti seruan yang menyesatkan. Mereka ini akan semakin terpecah sebagaimana firman Allah Ta’ala, ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ “Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS. Az Zumar [39] : 29 ). Orang yang hanya menyembah Allah semata diumpamakan dengan seorang budak yang diperbudak oleh satu tuan. Tuannya ini selalu merasa puas dengannya. Tuannya ini memiliki tuntutan tersendiri dari budak tersebut sehingga selalu merasa puas dengannya. Sedangkan orang musyrik diumpamakan dengan budak yang memiliki beberapa tuan. Budak ini tidak mengetahui siapa yang ridho terhadap dirinya dari tuan-tuannya itu. Masing-masing dari tuannya memiliki keinginan tersendiri. Setiap mereka memiliki tuntutan dan keinginan masing-masing. Setiap dari tuan tadi menghendaki sesuatu sesuai keinginannya. Oleh karena itu,  Allah Ta’ala berfirman, ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ “Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan.” (QS. Az Zumar [39] : 29 ). Budak ini dimiliki oleh beberapa tuan. Tidak diketahui siapa di antara mereka yang ridho pada budak ini. (Berbeda halnya dengan budak yang satu ini), وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ “Dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja)”. (QS. Az Zumar [39] : 29 ). Budak ini dimiliki oleh satu tuan saja sehingga tuannya ini meresa puas dengannya. Inilah permisalan yang Allah buat antara orang musyrik dan orang yang bertauhid. (Lihatlah) orang-orang musyrik pasti bepecah belah dalam peribadatan mereka. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka dan tidak membeda-bedakan satu dan lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi para penyembah patung. Begitu pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi orang Yahudi, Nashrani dan Majusi. Beliau shallallahu  juga memerangi seluruh kaum musyrikin. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi pula para penyembah malaikat, wali dan orang sholih. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan-bedakan di antara mereka. Perkataan penulis di sini adalah bantahan kepada orang-orang yang mengatakan bahwa orang yang menyembah patung tidaklah sama dengan orang yang menyembah orang sholih atau salah satu malaikat. Kelompok pertama ini menyembah bebatuan dan pepohonan. Yang mereka sembah adalah benda mati. Sedangkan kelompok kedua adalah yang menyembah orang sholih dan salah satu wali Allah. Kelompok kedua ini berbeda dengan orang-orang yang menyembah patung. Sebenarnya maksud orang-orang yang mengutarakan ucapan ini adalah : hukum orang yang menyembah kubur saat ini tidaklah sama dengan dengan para penyembah patung. Maka orang yang menyembah kubur belum tentu kafir. Amalan para penyembah kubur ini belum tentu syirik. Sehingga mereka tidaklah pantas untuk diperangi. Sebagai sanggahan kepada ucapan semacam ini, kami katakan : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan di antara mereka. Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap bahwa mereka semua adalah orang musyrik sehingga halallah darah dan harta mereka. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan satu dan lainnya. Kaum Nashrani yang menyembah Al Masih (Isa bin Maryam) –padahal Isa hanyalah utusan Allah- tetap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam perangi. Begitu pula kaum Yahudi yang menyembah ‘Uzair –padahal ‘Uzair adalah Nabi atau orang sholih di antara mereka- tetap pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam perangi. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan orang-orang ini (walaupun sesembahan mereka berbeda-beda). Namanya syirik tidaklah dibedakan antara yang menyembah orang sholih, yang menyembah patung, batu dan pohon. Karena yang namanya syirik adalah peribadahan kepada selain Allah apapun yang disembah. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman, وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (QS. An Nisa’ [4] : 36 ). Kata (شَيْئًا artinya sesuatu) adalah kata nakiroh yang berada dalam konteks larangan sehingga mengandung makna umum[1]. Sehingga yang dimaksud ‘sesuatu’ di sini mencakup seluruh jenis sesembahan yang diserikatkan dengan Allah baik itu malaikat, rasul, orang- orang sholih, para wali, bebatuan dan pepohonan. **** وَالدَّلِيْلُ قَوُلُهُ تَعَالَى: ﴿وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ﴾[البقرة:193] Dalil hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (QS. Al Anfal [8] : 39) ?   Syaikh rahimahullah berkata, “Dalil hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (QS. Al Anfal [8] : 39) Maksudnya, ini adalah dalil dari perkataan Syaikh rahimahullah sebelumnya mengenai diperanginya orang-orang musyrik tanpa membeda-bedakan sesembahan mereka. Firman Allah Ta’ala,  ﴿وَقَاتِلُوهُمْ ﴾ “Dan perangilah mereka.” Ayat ini bersifat umum, mencakup seluruh orang musyrik tanpa ada pengecualian. Lalu firman Allah selanjutnya,  ﴿وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ ﴾ “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah.” Fitnah yang dimaksud di sini adalah kesyirikan. Sehingga maksud ayat ini adalah ‘sampai tidak ada lagi kesyirikan’. Ini juga bersifat umum baik syirik dalam peribadahan kepada para wali, orang sholih, bebatuan, pepohonan, matahari atau bulan. Lalu firman Allah selanjutnya, ﴿ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ﴾ “dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” Maksudnya adalah bahwa setiap ibadah hanya berhak ditujukan kepada Allah, tidak boleh Allah disekutukan dengan sesembahan apapun. Maka tidak ada bedanya syirik dalam penyembahan terhadap para wali, orang sholih, bebatuan, pepohonan, para setan dan selainnya.   ]. وَدَلِيْلُ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ﴾[فصلت:37] Dalil bahwa yang menjadi sesembahan orang musyrik adalah matahari dan bulan yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah menyembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika ialah yang kamu hendak sembah.” (QS. Fushilat [41] : 37) Ayat di atas menunjukkan bahwa ada yang menyembah (bersujud) pada matahari dan bulan. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat pada waktu matahari terbit dan ketika matahari tenggelam.[2] Hal ini sebagai sadaan lidz-dzari’ah (untuk menutup jalan ke arah sana yaitu menyembah matahari). Karena memang ada orang yang menyembah matahari ketika terbit dan tenggelam. Oleh karena itu, kita dilarang mengerjakan shalat pada dua waktu terlarang ini, walaupun shalat tersebut dikerjakan ikhlas karena Allah. Shalat di kedua waktu ini termasuk tasyabuh (menyerupai) orang musyrik. Oleh karena itu, kita dilarang melakukan hal ini untuk menutup jalan (wasilah) menuju kesyirikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang untuk melarang kesyirikan dan menutup berbagai wasilah menuju kesyirikan tersebut. وَدَلِيْلُ الْمَلائِكَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا﴾ [آل عمران:80]. Dalil bahwa yang disembah adalah malaikat yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan Malaikat dan Para Nabi sebagai Tuhan.” (QS. Ali Imran [3] : 80) ?   Syaikh rahimahullah mengatakan, ‘Dalil bahwa yang disembah adalah malaikat’. Ini menunjukkan bahwa ada yang menyembah malaikat dan para Nabi. Ini juga termasuk kesyirikan. Akan tetapi para penyembah kubur pada saat ini mengatakan bahwa orang yang menyembah malaikat, para nabi dan orang sholih tidaklah kafir. **** وَدَلِيْلُ الأَنْبِيَاءِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ﴾[المائدة:116]. Dalil bahwa yang disembah adalah para nabi yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam. Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua ilah (sesembahan) selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan, maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. (QS. Al Maidah [5] : 116) Syaikh rahimahullah mengatakan ‘Dalil bahwa yang disembah adalah para nabi’. Ini adalah dalil bahwa ibadah kepada para Nabi termasuk kesyirikan sebagaimana ibadah kepada patung. Perkataan penulis ini merupakan sanggahan kepada para penyembah kubur yang membeda-bedakan dalam hal ini. Perkataan beliau rahimahullah juga adalah bantahan kepada orang mengatakan bahwa syirik itu hanya dalam peribadahan kepada berhala. Menurut mereka tidaklah sama antara orang yang menyembah patung, para wali atau orang sholih. Mereka mengingkari penyamaan dalam kedua hal ini dan beranggapan bahwa syirik hanya terbatas pada penyembahan kepada patung-patung saja. Ini adalah kekeliruan yang sangat jelas ditinjau dari dua sisi : [Sisi Pertama] Allah jalla wa ‘ala di dalam Al Qur’an mengingkari semua peribadahan (kepada selain Allah) dan memerintahkan untuk memerangi semua yang melakukan peribadah semacam itu. [Sisi Kedua] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membedakan antara penyembah berhala, malaikat atau pun orang sholih.   وَدَلِيْلُ الصَّالِحِيْنَ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ… ﴾الآية[الإسراء:57]. Dalil bahwa yang disembah adalah orang-orang sholih yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al Isra’ [17] :57) Syaikh rahimahullah mengatakan ‘Dalil bahwa yang disembah adalah orang-orang sholih’ Perkataan beliau ini menunjukkan bahwa ada manusia yang menyembah orang-orang sholih. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ﴾ “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah)”. (QS. Al Isro’ [17] : 57). Ada dua pendapat mengenai tafsiran ayat ini. [Pendapat pertama] Ada yang berpendapat bahwa ayat ini turun kepada orang-orang yang menyembah Al Masih (Isa bin Maryam), ibunya (Maryam) dan ‘Uzair. Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa sesungguhnya Al Masih (Isa bin Maryam), Maryam dan Uzair hanyalah hamba yang menghambakan diri pada Allah, mendekatkan diri pada-Nya, selalu mengharap rahmat dan takut pada adzab-Nya. Mereka semua hanya hamba Allah yang sangat butuh dan bergantung kepada-Nya. Mereka juga berdo’a kepada Allah dan mencari wasilah kepada-Nya dengan melakukan ketaatan. Allah Ta’ala berfirman, ﴿يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ ﴾ “Mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka.” (QS. Al Isro’ [17] : 57). Maksudnya untuk mencari kedekatan kepada Allah Ta’ala dengan melakukan ketaatan dan ibadah. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah tidaklah layak ditujukan kepada mereka. Alasannya karena mereka juga manusia yang sangat butuh (bergantung) pada Allah, mereka berdo’a (memohon) kepada Allah, mengharapkan rahmat-Nya dan takut pada adzab-Nya. Kalau memang keadaan mereka seperti ini, maka tidaklah pantas mereka disembah bersama Allah ‘azza wa jalla. [Pendapat kedua] Sesungguhnya ayat ini turun kepada kaum musyrikin yang beribadah kepada sekelompok jin. Kemudian sekelompok jin tersebut masuk islam, namun orang-orang musyrik tidak mengetahui keislaman para jin ini[3]. (Ketika masuk Islam) jadilah para jin ini mendekatkan diri kepada Allah dengan dengan melakukan keta’atan dan ketundukan kepada-Nya. Mereka juga senantiasa mengharap rahmat-Nya dan takut pada adzab-Nya. Jadi, para jin adalah hamba yang sangat butuh pada Allah. Kalau demikian, tidaklah pantas menujukan ibadah kepada mereka. Apapun maksud (tafsiran) ayat yang mulia ini, intinya ingin menunjukkan bahwa kita tidaklah boleh beribadah kepada orang-orang sholih baik mereka adalah para Nabi, para shidiqin atau para wali Allah dan orang sholih. Tidak boleh satu ibadah pun ditujukan pada mereka. Karena namanya hamba Allah pasti sangat butuh (bergantung) kepada-Nya. Bagaimana mungkin mereka bisa dijadikan sesembahan bersama Allah jalla wa ‘ala? Maksud dari wasilah dalam ayat di atas adalah keta’atan dan segala bentuk pendekatan diri kepada Allah. Adapun secara bahasa, wasilah adalah sesuatu yang bisa mengantarkan pada tujuan. Segala sesuatu yang mengantarkan pada ridho dan surga Allah, maka itulah wasilah kepada Allah. Inilah wasilah yang disyari’atkan sebagaimana terdapat dalam firman Allah Ta’ala, وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ “Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (QS. Al Maidah [5] : 35). Adapun orang-orang yang menyimpang dan ahlu khurofat, mereka mengatakan bahwa wasilah adalah menjadikan para wali, orang sholih, dan orang yang sudah mati sebagai perantara antara engkau dan Allah untuk mendekatkan dirimu pada-Nya. Mereka mengatakan, مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (QS. Az Zumar [39] : 3). Jadi, makna wasilah menurut ahli khurofat adalah engkau menjadikan perantara antara dirimu dan Allah. Perantara ini akan menyampaikan hajatmu pada Allah dan memberitahukan pada Allah bahwa ini adalah hajatmu. Hal ini menunjukkan bahwa seakan-akan Allah jalla wa ‘ala itu tidak mengetahui (urusan hamba-Nya). Atau seakan-akan Allah itu bakhil (pelit), tidak mau memberi kecuali setelah didesak melalui perantara. Maha Suci Allah dari perkataan mereka ini. Dari kerancuan inilah, mereka menebar keraguan di tengah-tengah manusia sambil memplintir firman Allah,  ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ﴾. “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka”. (QS. Al Isro’ [17] : 57 ). Dari ayat ini, mereka memplintir bahwa sesungguhnya mengambil wasilah (perantara) dari mahluk adalah suatu perkara yang disyariatkan. Allah juga telah memuji orang seperti ini sebagaimana dalam firman Allah, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”. (QS. Al Maidah [5] : 35). (Berdasarkan ayat di atas), mereka mengatakan bahwa sesungguhnya Allah memerintahkan kita agar menjadikan wasilah kepada-Nya dan makna wasilah adalah perantara. Inilah tingkah laku mereka, telah menyelewengkan maksud firman Allah dari maksud yang semestinya. (Yang lebih tepat) wasilah yang disyari’atkan yang terdapat dalam Al Qur’an dan As Sunnah adalah dengan melakukan keta’atan yang mendekatkan kita kepada Allah, bertawassul (mengambil wasilah) kepada-Nya dengan nama dan sifat-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Inilah wasilah yang disyari’atkan. Adapun bertawassul kepada Allah melalui makhluk-makhluk-Nya, ini adalah wasilah yang terlarang dan termasuk wasilah yang mengandung kesyirikan. Seperti inilah yang dilakukan oleh orang musyrik yang terdahulu sebagaimana terdapat pada firman Allah ‘azza wa jalla, وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. (QS. Yunus [10] : 18 ). Juga terdapat pada firman Allah, وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya“. (QS. Az Zumar [39] : 3 ). Inilah kesamaan kesyirikan zaman dahulu dan sekarang ini. Walaupun mereka menyebut perbuatan semacam ini[4] sebagai wasilah, akan tetapi kenyataan ini adalah kesyirikan dan bukanlah wasilah yang Allah syari’atkan. Allah tidaklah mungkin menjadikan kesyrikan sebagai perantara kepada-Nya selama-lamanya. Bahkan melalui wasilah yang syirik ini akan semakin membuat seseorang menjauh dari Allah. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala, إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ  “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”.(QS. Al Maidah [5] : 72 ). Bagaimana mungkin kesyirikan dapat dijadikan sebagai wasilah untuk mendekatkan diri pada Allah? Maha Suci Allah dari perkataan mereka ini. Adapun yang menjadi sisi pendalilan dari ayat ini (surat Al Isro’ ayat 57) adalah bahwa orang-orang yang beribadah kepada orang sholih juga termasuk orang yang berbuat syirik. Karena Allah telah menjelaskan hal ini dan menjelaskan bahwa orang-orang sholih yang mereka sembah itu sangat butuh kepada Allah sebagaimana pada firman Allah, ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ﴾. “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka”. (QS. Al Isro’ [17] : 57). Yakni orang-orang sholih tersebut juga mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan ketaatan, manakah di antara mereka yang lebih dekat (kepada-Nya). Mereka (orang-orang sholih) berlomba-lomba dalam mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah karena mereka sangat butuh kepada-Nya sebagaimana terdapat dalam firman-Nya, ﴿ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ﴾. “Dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya.” (QS. Al Isro’ [17] : 57 ). Dan siapa saja yang keadaannya seperti ini tidaklah layak dijadikan sebagai sesembahan yang ditujukan do’a dan disembah bersama Allah Ta’ala. **** ودليل الأحجار والأشجار قوله تعالى: ﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى.وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى﴾[النجم:19-20]. Dalil bahwa yang disembah adalah pohon dan batu yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Maka Apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza, Dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?”[5] (QS. An Najm [53] :19-20) Syaikh rahimahullah berkata, “Dalil bahwa yang disembah adalah pohon dan batu … ”. Pada ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa ada orang musyrik yang menyembah pepohonan dan bebatuan. Firman Allah ( أَفَرَأَيْتُمْ ) : “Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik)”, ini adalah istifham inkari. Maksudnya adalah ‘beritahukan padaku’ menunjukkan kalimat tanya untuk mengingkari dan sebagai celaan. Yang dimaksud dengan Laata (اللَّتَ) -dengan huruf ta’ tanpa ditasydid- merupakan salah satu nama berhala di Tho’if. Bentuk berhala ini berupa batu besar yang diukir. Di atas batu ini terdapat bangunan yang ditutupi tirai seperti ka’bah. Di sekeliling batu ini adalah tanah lapang. Batu ini memiliki juru kunci. Orang-orang musyrik dahulu menyembah Laata ini dan menjadikannya sebagai sesembahan selain Allah. Beberapa qobilah sangat bangga sekali dengan berhala ini. Laata juga bisa dibaca dengan (أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَّ) -dengan ta’ yang ditasydid/ Kalau laatta adalah isim fail (kata yang menunjukkan pelaku) yang berasal dari kata latta – yaluttu (yang artinya ‘mencampur dengan samin’). Laatta adalah seorang laki-laki sholih yang mencampurkan samin dan memberikannya kepada para jama’ah haji. Lalu pria ini meninggal dan orang-orang membangun bangunan pada kuburnya dan dipasangkan tirai. Kemudian mereka menjadikan kuburan ini sebagai sesembahan selain Allah. Inilah yang disebut Laatta. Yang dimaksud dengan ‘uzza ﴿ وَالْعُزَّى ﴾ adalah pepohonan salam (jenis pohon yang bisa dipakai menyamak, pen) yang berada di lembah kurma yang berada di antara Mekkah dan Tho’if. Sekeliling pohon terdapat bangunan dan diberi tirai. ‘Uzza ini juga memiliki juru kunci. Di sana terdapat setan yang dapat berdialog dengan manusia. Namun sayangnya orang-orang bodoh menyangka bahwa yang berbicara adalah pepohonan itu sendiri atau bangunan yang ada di sekitarnya tadi. Padahal yang berbicara dengan mereka sebenarnya adalah setan yang ingin menyesatkan mereka dari jalan Allah. Inilah berhala orang Quraisy dan penduduk Mekkah serta orang-orang di sekitarnya. Yang dimaksud Manaah ﴿وَمَنَاةَ ﴾ adalah batu besar yang diukir, berada di Pegunungan Qudaid yang berada di antara Mekkah dan Madinah. Berhala inilah yang dimiliki oleh penduduk Khuza’ah, Aus dan Khozroj. Mereka dahulu sering mendatanginya untuk berhaji. Mereka menjadikan Manaah ini sebagai sesembahan-sesembahan selain Allah. Inilah tiga berhala terbesar yang dimiliki orang Arab dahulu. Allah Ta’ala berfirman mengenai tiga berhala ini, ﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى.وَمَنَاةَ ﴾ ” Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap Al Lata dan Al Uzza. Dan Manah”. (QS. An Najm [53] : 19-20 ). Maksudnya adalah apakah mereka dapat mencukupkan (kebutuhan) kalian? Apakah mereka dapat mendatangkan manfaat pada kalian? Apakah mereka dapat menolong kalian? Apakah mereka yang dapat mencipta, memberi rezki, menghidupkan, dan mematikan? Apa manfaat yang ada pada mereka? Penjelasan inilah yang bertujuan untuk mengingkari dan memperingatkan akal untuk kembali petunjuk yang benar. Sesungguhnya tiga berhala ini hanyalah bebatuan, pepohonan yang tidak dapat mendatangkan manfaat atau menolak bahaya, mereka hanyalah makhluk biasa. Tatkala Islam datang dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menaklukkan Mekkah –sebagai tempat yang mulia-, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya mengutus Al Mughiroh bin Syu’bah dan Abu Sufyan bin Harb untuk pergi ke Laata (yang sebenarnya hanya batu atau kuburan, pen) yang berada di Tho’if. Kedua orang ini –akhirnya- menghancurkan berhala tersebut atas perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus pula Kholid bin Walid untuk pergi ke ‘Uzza. Lalu dia menghancurkannya, memotong pepohonan yang ada dan membunuh jin yang dapat berdialog dengan manusia. Jin yang hanya ingin menyesatkan manusia ini, akhirnya hilang tanpa bekas –alhamdulillah (segala pujian hanyalah milik Allah)-. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengutus ‘Ali bin Abi Tholib untuk pergi ke Manaah. Lalu ‘Ali menghancurkan berhala ini tanpa ada bekas.[6] Lihatlah berhala ini tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. ﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى.وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى﴾ ” Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap Al Lata dan Al Uzza. Dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)”. (QS. An Najm [53] : 19-20 ). Adakah mereka bisa menghindarkan diri (ketika ingin dihancurkan)? Apakah mereka dapat mendatangkan manfaat? Apakah mereka dapat mencegah dirinya sendiri dari para tentara Allah dan ahlu tauhid (yang ingin menghancurkan mereka)? Inilah dalil yang menunjukkan bahwa di sana ada orang-orang menyembah pepohonan dan bebatuan. Bahkan ketiga berhala tadi adalah berhala terbesar yang mereka miliki. Namun, Allah telah melenyapkan berhala-berhala ini tanpa bekas. Berhala-berhala ini tidak dapat mencegah kehancuran mereka. Mereka juga tidak dapat mendatangkan pada orang yang menyembahnya. Lihatlah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memerangi orang yang menyembah berhala-berhala ini. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membunuh mereka, namun –lihatlah- berhala-berhala tadi tidak dapat berbuat apa-apa. Inilah yang dalil oleh penulis (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) bahwa ada orang yang menyembah bebatuan dan pepohonan. Ya Allah Dzat Yang Maha Suci, manusia yang berakal mengapa bisa-bisanya menyembah pohon-pohon dan batu-batu yang hanyalah benda mati, yang  tidak memiliki akal, yang tidak dapat bergerak dan tidak hidup. Di manakah akal manusia? Maha Suci Allah atas apa yang mereka katakan. **** وَحَدِيْثُ أَبِيْ وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ t قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ r إِلَى حُنَيْنٍِ وَنَحْنُ حُدَثَاءُ عَهْدٍ بِكُفْرٍِ، وَلِلْمُشْرِكِيْنَ سِدْرَةٌُ يَعْكُفُوْنَ عِنْدَهَا وَيَنُوْطُوْنَ بِهَا أَسْلِحَتَهُمْ يُقَالُ لهَاَ: ذَاتُ أَنْوَاطٍِ، فَمَرَرْنَا بِسِدْرَةٍِ فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍِ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍِ… الْحَدِيْثُ. Juga hal ini terdapat pada hadist Abu Waqid Al Laitsi , beliau berkata, “Kami keluar bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain dan kami baru saja kembali dari masa-masa kekufuran. Orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon yang digunakan untuk beri’tikaf di sekelilingnya dan menggantungkan senjata-senjata mereka, pohon tersebut dinamakan Dzatu Anwath. Kemudian kami melewati sebuah pohon kemudian kami berkata, “Wahai Rosulullah, buatkan untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka (orang-orang musyrik) memiliki Dzatu anwath.” (Al Hadits)[7] Abu Waqid Al Laitsi radhiyallahu ‘anhu termasuk sahabat yang masuk Islam pada tahun Fathul Makkah –menurut pendapat yang terkenal- yaitu sekitar tahun 8 Hijriyah. Apa yang dimaksud Dzatu Anwath? Anwath adalah bentuk jama’ dari nauth. Kata kerjanya bermakna menggantung, sehinga nauth adalah sesuatu yang digantung. Orang-orang musyrik biasa menggantungkan senjata pada pohon tersebut agar memperoleh berkah. Sebagian sahabat yang baru saja masuk islam dan belum mengenal tauhid secara sempurna, mereka mengatakan, “Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka (orang-orang musyrik) memiliki Dzatu anwath.”. Inilah bencana taqlid (mengekor tanpa tahu dalil) dan bahaya tasyabbuh (menyerupai orang kafir). Kedua hal ini adalah bencana terbesar. Inilah hal yang membuat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi takjub (heran). Sehinga keluarkanlah perkataan dari lisan beliau, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar”. Itulah yang biasa dilakukan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika merasa keheranan atau ingin mengingkari sesuatu, keluarlah ucapan takbir (Allahu Akbar) dari lisan beliau. Atau biasa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan (dalam kondisi demikian) ucapan ‘Subhanallah’ sambil beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi bacaan dzikir ini. (Dalam lanjutan hadits Abu Waqid ini) : إِنَّهَا لَسُنَنٌ . Yang dimaksud dengan kalimat ini yaitu ini adalah cara yang dijalani manusia dan sebagian mereka mengikuti yang lainnya (ringkasnya ini adalah tradisi, pen). Sebab yang bisa mengantarkan mereka melakukan seperti ini (yaitu mengambil berkah dari pohon) adalah karena mengikuti jejak orang-orang terdahulu dan tasyabbuh (menyerupai) orang-orang musyrik. (Dalam lanjutan hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda), “Demi yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, Perkataan kalian ini seperti halnya perkataan Bani Israel kepada Musa, ( اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةً قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ ) “Jadikanlah untuk kami sesembahan seperti sesembahan mereka. Kemudian Musa berkata sesungguhnya kalian adalah kaum yang jahil (bodoh)”.(QS. Al A’rof [7] : 138). (Kisah mengenai ayat ini) : Dulu tatkala Nabi Musa ‘alaihis salam bersama dengan Bani Israel telah mencapai lautan dan Allah menenggelamkan musuh-Nya di laut tersebut sedangkan mereka memperhatikan hal ini, lalu Musa dan kaumnya melewati kaum musyrikin yang beri’tikaf pada berhala-berhala yang mereka miliki. Lalu kaumnya tersebut berkata kepada beliau ‘alaihis salam (yang artinya), “Jadikanlah untuk kami sesembahan seperti sesembahan mereka. Kemudian Musa berkata sesungguhnya kalian adalah kaum yang jahil (bodoh)”.(QS. Al A’rof [7] : 138). Namun, Nabi Musa ‘alaihis salam menolak permintaan ini dan berkata : ( إِنَّ هَؤُلَاءِ مُتَبَّرٌ مَا هُمْ فِيهِ ) “Sesungguhnya kepercayaan yang dianut mereka (yang penuh dengan kebatilan) itu akan dihancurkan dan akan batal apa yang seIalu mereka kerjakan.” (QS. Al A’rof [7] : 139  ). Mengapa menjadi batal apa yang selalu mereka kerjakan? Karena yang mereka lakukan adalah kesyirikan. Dalam ayat selajutnya, Allah Ta’ala berfirman, قَالَ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَهًا وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ “Musa menjawab: “Patutkah Aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada Allah? Padahal Dialah yang telah melebihkan kalian atas segala umat”. (QS. Al A’rof [7] : 140 ). Lihatlah sikap Nabi Musa ‘alaihis salam. Beliau ‘alaihis salam mengingkari kaumnya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengingkari para sahabat. Akan tetapi, kaumnya Musa dan sahabat Nabi tidaklah berbuat syirik. Bani Israel tatkala mengatakan perkataan semacam ini, mereka tidak berbuat syirik karena belum melakukkannya, begitu pula dengan para sahabat Nabi. Seandainya para sahabat mengambil berkah dari Dzatu Anwath pasti mereka sudah dinyatakan berbuat syirik. Akan tetapi, Allah Ta’ala telah melindungi mereka. Tatkala Nabi mereka melarang untuk berbuat demikian, mereka pun enggan melakukannya. Mereka bisa mengatakan seperti ini juga karena kebodohan. Mereka tidaklah mengucapkan seperti ini dengan sengaja. Setelah mereka mengetahui bahwa mengambil berkah dari Dzatu Anwath adalah kesyirikan, mereka pun enggan melakukan hal itu. Seandainya mereka melakukan hal ini, tentu mereka telah berbuat syirik kepada Allah. Inti penjelasan dari ayat tadi (Al A’rof : 138-140) adalah bahwasanya orang-orang musyrik juga ada yang menyembah pepohonan. Orang-orang musyrik ini menjadikan Dzatu Anwath (untuk diambil berkahnya). Para sahabat -yang belum kokoh ilmu dalam hatinya itu- berusaha untuk menyerupai orang-orang musyrik tersebut. Kalau bukan karena perlindungan Allah dan Rasul-Nya, tentu mereka (para sahabat) akan terperosok dalam jurang kebinasaan (yaitu kesyirikan). Inti penjelasan dari hadits Abu Waqid Al Laitsi ini adalah ingin menjelaskan bahwa ada orang-orang yang mencari berkah dari pohon dan ber’itikaf di sekelilingnya. Makna beri’tikaf adalah berdiam diri di suatu tempat pada waktu tertentu dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Atau ringkasnya, i’tikaf adalah berdiam diri di suatu tempat. Dalam hadits Abu Waqid ini terdapat berbagai faedah penting, di antaranya: [Pertama] Hadits ini menerangkan mengenai bahaya bodoh terhadap tauhid.  Barangsiapa yang bodoh dalam masalah tauhid sangat mungkin dia terjatuh dalam kesyirikan sedangkan ia tidak mengetahuinya. Oleh karena itu, wajib bagi kita mempelajari tauhid dan juga kebalikannya yaitu syirik. Hendaklah kita mempelajari hal ini sampai kita berada di atas bashiroh (ilmu) bukan berada dalam kebodohan. Lebih-lebih berbahaya lagi jika seseorang tidak mengetahui tauhid dan syirik dengan benar. Boleh jadi dia melakukan suatu perbuatan (padahal itu syirik) namun dia menyangka itu benar karena sebab kebodohannya. Inilah yang menunjukkan bahaya kebodohan, lebih-lebih lagi jika bodoh dalam masalah aqidah. [Kedua] Dalam hadits ini juga menunjukkan bahaya tasyabbuh (menyerupai) orang-orang musyrik. Sesungguhnya menyerupai mereka (dalam perkataan atau perbuatan) dalam mengantarkan seseorang dalam kesyirikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka.”[8] Hendaklah kita tidak menyerupai orang musyrik (baik dalam perkataan maupun perbuatan) [Ketiga] Sesungguhnya mengambil berkah dari bebatuan, pepohonan, atau dari bangunan adalah suatu kesyirikan walaupun dinamai dengan nama selain syirik. Karena (ingatlah bahwa) mencari berkah dari selain Allah dari bebatuan, pepohonan ataupun kuburan, ini semua adalah kesyirikan walaupun dinamai dengan nama selain syirik. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir buku terbaru: Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer. [1] Nakiroh adalah istilah dalam ilmu nahwu yaitu kata yang belum jelas penunjukkannya. Dan menurut kaedah ushul fiqih bahwa nakiroh yang berada dalam konteks larangan atau peniadaan menunjukkan keumuman. [pen] [2] Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَتَحَرَّى أَحَدُكُمْ فَيُصَلِّى عِنْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَلاَ عِنْدَ غُرُوبِهَا “Janganlah seseorang di antara kalian bersengaja shalat pada saat matahari terbit dan tenggelam.” (HR. Bukhari no. 585 dalam Al Mawaqit Bab Janganlah bersengaja shalat pada saat tenggelamnya matahari. Juga diriwayatkan oleh Muslim no. 828 dalam Al Masajid Bab waktu-waktu terlarang shalat) [3] HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Jarir dan Al Hakim. Al Hakim berkata, “Hadits ini shohih sesuai syarat  Muslim” dan perkataan beliau ini  disetujui oleh Adz Dzahabi. Lihat Shohihul Musnad min Asbabin Nuzul karya Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullah, hal. 178, Darul Haromain-Kairo. [pen] [4] Mengambil wasilah melalui para wali yang telah mati. [pen] [5] Hakekat lata adalah kuburan, ‘uzza adalah pohon sedangkan manat adalah batu. Lihat Iqtidho’ Shirothil Mustaqim 2/156-157, ta’liq Dr. Nashr bin ‘Abdil Karim Al ‘Aql. Dan perhatikanlah penjelasan Syaikh Fauzan hafizhohullah selanjutnya. [pen] [6] Lihat Zaadul Ma’ad, 4/ 413-415 [7] HR. Tirmidzi no. 2180 dalam ‘Al Fitan’, Bab ‘Sungguh kalian akan mengikuti jejak (kebiasaan) umat-umat sebelum kalian’. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih. Juga diriwayatkan dari Ahmad (5/218), Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah no. 76, Ibnu Hibban dalam kitab shohihnya (no. 6702 – Al Ihsan). Ibnu Hajar menshohihkan hadits ini sebagaimana dalam Al Ishobah, 4/216. [Tambahan pen] : Untuk membantu penjelasan Syaikh Fauzan selanjutnya, kami bawakan hadits ini secara lengkap, عَنْ أَبِى وَاقِدٍ اللَّيْثِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا خَرَجَ إِلَى خَيْبَرَ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى (اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ) وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ » Dari Abu Waqid Al Laitsi mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala pergi ke Khoibar, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sebuah pohon milik kaum musyrikin yang dinamakan Dzatu Anwath. Orang-orang musyrik biasa menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Lalu (di antara sahabat yang baru masuk Islam) mengatakan (kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana milik orang-orang musyrik.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Subhanallah (Maha Suci Allah dari tingkah kalian yang semacam ini). Ini sama halnya dengan perkataan kaum Musa kepada beliau, ‘Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana yang ada pada mereka’. Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, sungguh kalian akan mengikuti jejak (kebiasaan) umat-umat sebelum kalian.” (HR. Tirmidzi no. 2180. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shohih) Sedangkan dalam riwayat Ahmad disebutkan, إِنَّهَا لَسُنَنٌ لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ سُنَّةً سُنَّةً “Sungguh ini adalah tradisi (kebiasaan umat terdahulu). Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat sebelum kalian perhalan demi perhalan.” (HR. Ahmad. Syaikh Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shohih sesuai syarat Bukhari-Muslim) [8] HR. Abu Dawud no. 4031 dalam Al Libas (pakaian), Bab ‘Pakaian syuhroh (ketenaran). Juga diriwayatkan oleh Ahmad (2/50) dari hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkatab bahwa hadits ini sanadnya jayyid/bagus. (Iqtidho’ Ash Shirothol Mustaqim, hal. 236-239 ). Al Hafidz Al ‘Iroqi berkata dalam Takhrij Al Ihya’ (2/65) bahwa sanad hadit ini shohih. Al Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (6/98) bahwa sanad hadits ini hasan. Tagskaedah syirik tradisi
Beraneka ragamnya sesembahan orang musyrik, itu realitanya. Ini dibuktikan dalam perkataan Syaikh Muhammad At Tamimi berikutnya dalam risalah beliau Al Qowa’idul Arba’. Jadi jangan kira bahwa sesembahan orang musyrik hanyalah patung berhala saja. Orang-orang sholeh pun jadi sesembahan mereka, mereka pun disebut musyrik. القَاعِدَةُ الثَّالِثَةُ: أَنَّ النَّبِيَّ   ظَهَرَ عَلَى أُنَاسٍ مُتَفَرِّقِيْنَ في عِبَادَاتِهِمْ مِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الْمَلائِكَةَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الأَنْبِيَاءَ وَالصَّالِحِيْنَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الأَحْجَارَ وَالأَشْجَارَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ، وَقَاتَلَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ  وَلَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَهُمْ، [KAEDAH KETIGA] Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa manusia berbeda-beda di dalam ibadah mereka. Sebagian mereka beribadah kepada para nabi dan orang sholih. Sebagian lagi beribadah kepada pohon dan batu. Sebagian lainnya beribadah kepada matahari dan bulan. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka semuanya dan tidak membeda-bedakan satu dan lainnya.   [KAEDAH KETIGA] Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada orang-orang musyrik, di antara mereka ada yang menyembah malaikat. Yang lainnya lagi menyembah matahari dan bulan. Di antara mereka lagi ada yang menyembah patung, batu, dan pohon. Dan ada pula yang menyembah para wali dan orang-orang sholih. Inilah di antara keburukan syirik. Pelaku kesyirikan tidaklah bersatu dalam hal sesembahan. Berbeda dengan orang yang betul-betul mengesakan Allah (baca : ahlu tauhid). Sesembahan ahlu tauhid hanyalah satu yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (39) مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا “Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu membuat-buatnya”. (QS. Yusuf [12] : 39-40). Di antara kejelekan dan kebatilan syirik adalah : pelaku syirik berbeda-beda dalam perihal ibadah. Mereka tidak bersatu dalam kaedah ibadah yang sama karena mereka tidak berjalan dalam landasan ibadah yang satu (yaitu tauhid). Sebenarnya mereka berjalan  mengikuti hawa nafsu mereka dan asal mengikuti seruan yang menyesatkan. Mereka ini akan semakin terpecah sebagaimana firman Allah Ta’ala, ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ “Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS. Az Zumar [39] : 29 ). Orang yang hanya menyembah Allah semata diumpamakan dengan seorang budak yang diperbudak oleh satu tuan. Tuannya ini selalu merasa puas dengannya. Tuannya ini memiliki tuntutan tersendiri dari budak tersebut sehingga selalu merasa puas dengannya. Sedangkan orang musyrik diumpamakan dengan budak yang memiliki beberapa tuan. Budak ini tidak mengetahui siapa yang ridho terhadap dirinya dari tuan-tuannya itu. Masing-masing dari tuannya memiliki keinginan tersendiri. Setiap mereka memiliki tuntutan dan keinginan masing-masing. Setiap dari tuan tadi menghendaki sesuatu sesuai keinginannya. Oleh karena itu,  Allah Ta’ala berfirman, ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ “Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan.” (QS. Az Zumar [39] : 29 ). Budak ini dimiliki oleh beberapa tuan. Tidak diketahui siapa di antara mereka yang ridho pada budak ini. (Berbeda halnya dengan budak yang satu ini), وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ “Dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja)”. (QS. Az Zumar [39] : 29 ). Budak ini dimiliki oleh satu tuan saja sehingga tuannya ini meresa puas dengannya. Inilah permisalan yang Allah buat antara orang musyrik dan orang yang bertauhid. (Lihatlah) orang-orang musyrik pasti bepecah belah dalam peribadatan mereka. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka dan tidak membeda-bedakan satu dan lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi para penyembah patung. Begitu pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi orang Yahudi, Nashrani dan Majusi. Beliau shallallahu  juga memerangi seluruh kaum musyrikin. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi pula para penyembah malaikat, wali dan orang sholih. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan-bedakan di antara mereka. Perkataan penulis di sini adalah bantahan kepada orang-orang yang mengatakan bahwa orang yang menyembah patung tidaklah sama dengan orang yang menyembah orang sholih atau salah satu malaikat. Kelompok pertama ini menyembah bebatuan dan pepohonan. Yang mereka sembah adalah benda mati. Sedangkan kelompok kedua adalah yang menyembah orang sholih dan salah satu wali Allah. Kelompok kedua ini berbeda dengan orang-orang yang menyembah patung. Sebenarnya maksud orang-orang yang mengutarakan ucapan ini adalah : hukum orang yang menyembah kubur saat ini tidaklah sama dengan dengan para penyembah patung. Maka orang yang menyembah kubur belum tentu kafir. Amalan para penyembah kubur ini belum tentu syirik. Sehingga mereka tidaklah pantas untuk diperangi. Sebagai sanggahan kepada ucapan semacam ini, kami katakan : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan di antara mereka. Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap bahwa mereka semua adalah orang musyrik sehingga halallah darah dan harta mereka. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan satu dan lainnya. Kaum Nashrani yang menyembah Al Masih (Isa bin Maryam) –padahal Isa hanyalah utusan Allah- tetap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam perangi. Begitu pula kaum Yahudi yang menyembah ‘Uzair –padahal ‘Uzair adalah Nabi atau orang sholih di antara mereka- tetap pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam perangi. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan orang-orang ini (walaupun sesembahan mereka berbeda-beda). Namanya syirik tidaklah dibedakan antara yang menyembah orang sholih, yang menyembah patung, batu dan pohon. Karena yang namanya syirik adalah peribadahan kepada selain Allah apapun yang disembah. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman, وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (QS. An Nisa’ [4] : 36 ). Kata (شَيْئًا artinya sesuatu) adalah kata nakiroh yang berada dalam konteks larangan sehingga mengandung makna umum[1]. Sehingga yang dimaksud ‘sesuatu’ di sini mencakup seluruh jenis sesembahan yang diserikatkan dengan Allah baik itu malaikat, rasul, orang- orang sholih, para wali, bebatuan dan pepohonan. **** وَالدَّلِيْلُ قَوُلُهُ تَعَالَى: ﴿وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ﴾[البقرة:193] Dalil hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (QS. Al Anfal [8] : 39) ?   Syaikh rahimahullah berkata, “Dalil hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (QS. Al Anfal [8] : 39) Maksudnya, ini adalah dalil dari perkataan Syaikh rahimahullah sebelumnya mengenai diperanginya orang-orang musyrik tanpa membeda-bedakan sesembahan mereka. Firman Allah Ta’ala,  ﴿وَقَاتِلُوهُمْ ﴾ “Dan perangilah mereka.” Ayat ini bersifat umum, mencakup seluruh orang musyrik tanpa ada pengecualian. Lalu firman Allah selanjutnya,  ﴿وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ ﴾ “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah.” Fitnah yang dimaksud di sini adalah kesyirikan. Sehingga maksud ayat ini adalah ‘sampai tidak ada lagi kesyirikan’. Ini juga bersifat umum baik syirik dalam peribadahan kepada para wali, orang sholih, bebatuan, pepohonan, matahari atau bulan. Lalu firman Allah selanjutnya, ﴿ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ﴾ “dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” Maksudnya adalah bahwa setiap ibadah hanya berhak ditujukan kepada Allah, tidak boleh Allah disekutukan dengan sesembahan apapun. Maka tidak ada bedanya syirik dalam penyembahan terhadap para wali, orang sholih, bebatuan, pepohonan, para setan dan selainnya.   ]. وَدَلِيْلُ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ﴾[فصلت:37] Dalil bahwa yang menjadi sesembahan orang musyrik adalah matahari dan bulan yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah menyembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika ialah yang kamu hendak sembah.” (QS. Fushilat [41] : 37) Ayat di atas menunjukkan bahwa ada yang menyembah (bersujud) pada matahari dan bulan. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat pada waktu matahari terbit dan ketika matahari tenggelam.[2] Hal ini sebagai sadaan lidz-dzari’ah (untuk menutup jalan ke arah sana yaitu menyembah matahari). Karena memang ada orang yang menyembah matahari ketika terbit dan tenggelam. Oleh karena itu, kita dilarang mengerjakan shalat pada dua waktu terlarang ini, walaupun shalat tersebut dikerjakan ikhlas karena Allah. Shalat di kedua waktu ini termasuk tasyabuh (menyerupai) orang musyrik. Oleh karena itu, kita dilarang melakukan hal ini untuk menutup jalan (wasilah) menuju kesyirikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang untuk melarang kesyirikan dan menutup berbagai wasilah menuju kesyirikan tersebut. وَدَلِيْلُ الْمَلائِكَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا﴾ [آل عمران:80]. Dalil bahwa yang disembah adalah malaikat yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan Malaikat dan Para Nabi sebagai Tuhan.” (QS. Ali Imran [3] : 80) ?   Syaikh rahimahullah mengatakan, ‘Dalil bahwa yang disembah adalah malaikat’. Ini menunjukkan bahwa ada yang menyembah malaikat dan para Nabi. Ini juga termasuk kesyirikan. Akan tetapi para penyembah kubur pada saat ini mengatakan bahwa orang yang menyembah malaikat, para nabi dan orang sholih tidaklah kafir. **** وَدَلِيْلُ الأَنْبِيَاءِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ﴾[المائدة:116]. Dalil bahwa yang disembah adalah para nabi yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam. Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua ilah (sesembahan) selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan, maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. (QS. Al Maidah [5] : 116) Syaikh rahimahullah mengatakan ‘Dalil bahwa yang disembah adalah para nabi’. Ini adalah dalil bahwa ibadah kepada para Nabi termasuk kesyirikan sebagaimana ibadah kepada patung. Perkataan penulis ini merupakan sanggahan kepada para penyembah kubur yang membeda-bedakan dalam hal ini. Perkataan beliau rahimahullah juga adalah bantahan kepada orang mengatakan bahwa syirik itu hanya dalam peribadahan kepada berhala. Menurut mereka tidaklah sama antara orang yang menyembah patung, para wali atau orang sholih. Mereka mengingkari penyamaan dalam kedua hal ini dan beranggapan bahwa syirik hanya terbatas pada penyembahan kepada patung-patung saja. Ini adalah kekeliruan yang sangat jelas ditinjau dari dua sisi : [Sisi Pertama] Allah jalla wa ‘ala di dalam Al Qur’an mengingkari semua peribadahan (kepada selain Allah) dan memerintahkan untuk memerangi semua yang melakukan peribadah semacam itu. [Sisi Kedua] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membedakan antara penyembah berhala, malaikat atau pun orang sholih.   وَدَلِيْلُ الصَّالِحِيْنَ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ… ﴾الآية[الإسراء:57]. Dalil bahwa yang disembah adalah orang-orang sholih yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al Isra’ [17] :57) Syaikh rahimahullah mengatakan ‘Dalil bahwa yang disembah adalah orang-orang sholih’ Perkataan beliau ini menunjukkan bahwa ada manusia yang menyembah orang-orang sholih. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ﴾ “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah)”. (QS. Al Isro’ [17] : 57). Ada dua pendapat mengenai tafsiran ayat ini. [Pendapat pertama] Ada yang berpendapat bahwa ayat ini turun kepada orang-orang yang menyembah Al Masih (Isa bin Maryam), ibunya (Maryam) dan ‘Uzair. Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa sesungguhnya Al Masih (Isa bin Maryam), Maryam dan Uzair hanyalah hamba yang menghambakan diri pada Allah, mendekatkan diri pada-Nya, selalu mengharap rahmat dan takut pada adzab-Nya. Mereka semua hanya hamba Allah yang sangat butuh dan bergantung kepada-Nya. Mereka juga berdo’a kepada Allah dan mencari wasilah kepada-Nya dengan melakukan ketaatan. Allah Ta’ala berfirman, ﴿يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ ﴾ “Mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka.” (QS. Al Isro’ [17] : 57). Maksudnya untuk mencari kedekatan kepada Allah Ta’ala dengan melakukan ketaatan dan ibadah. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah tidaklah layak ditujukan kepada mereka. Alasannya karena mereka juga manusia yang sangat butuh (bergantung) pada Allah, mereka berdo’a (memohon) kepada Allah, mengharapkan rahmat-Nya dan takut pada adzab-Nya. Kalau memang keadaan mereka seperti ini, maka tidaklah pantas mereka disembah bersama Allah ‘azza wa jalla. [Pendapat kedua] Sesungguhnya ayat ini turun kepada kaum musyrikin yang beribadah kepada sekelompok jin. Kemudian sekelompok jin tersebut masuk islam, namun orang-orang musyrik tidak mengetahui keislaman para jin ini[3]. (Ketika masuk Islam) jadilah para jin ini mendekatkan diri kepada Allah dengan dengan melakukan keta’atan dan ketundukan kepada-Nya. Mereka juga senantiasa mengharap rahmat-Nya dan takut pada adzab-Nya. Jadi, para jin adalah hamba yang sangat butuh pada Allah. Kalau demikian, tidaklah pantas menujukan ibadah kepada mereka. Apapun maksud (tafsiran) ayat yang mulia ini, intinya ingin menunjukkan bahwa kita tidaklah boleh beribadah kepada orang-orang sholih baik mereka adalah para Nabi, para shidiqin atau para wali Allah dan orang sholih. Tidak boleh satu ibadah pun ditujukan pada mereka. Karena namanya hamba Allah pasti sangat butuh (bergantung) kepada-Nya. Bagaimana mungkin mereka bisa dijadikan sesembahan bersama Allah jalla wa ‘ala? Maksud dari wasilah dalam ayat di atas adalah keta’atan dan segala bentuk pendekatan diri kepada Allah. Adapun secara bahasa, wasilah adalah sesuatu yang bisa mengantarkan pada tujuan. Segala sesuatu yang mengantarkan pada ridho dan surga Allah, maka itulah wasilah kepada Allah. Inilah wasilah yang disyari’atkan sebagaimana terdapat dalam firman Allah Ta’ala, وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ “Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (QS. Al Maidah [5] : 35). Adapun orang-orang yang menyimpang dan ahlu khurofat, mereka mengatakan bahwa wasilah adalah menjadikan para wali, orang sholih, dan orang yang sudah mati sebagai perantara antara engkau dan Allah untuk mendekatkan dirimu pada-Nya. Mereka mengatakan, مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (QS. Az Zumar [39] : 3). Jadi, makna wasilah menurut ahli khurofat adalah engkau menjadikan perantara antara dirimu dan Allah. Perantara ini akan menyampaikan hajatmu pada Allah dan memberitahukan pada Allah bahwa ini adalah hajatmu. Hal ini menunjukkan bahwa seakan-akan Allah jalla wa ‘ala itu tidak mengetahui (urusan hamba-Nya). Atau seakan-akan Allah itu bakhil (pelit), tidak mau memberi kecuali setelah didesak melalui perantara. Maha Suci Allah dari perkataan mereka ini. Dari kerancuan inilah, mereka menebar keraguan di tengah-tengah manusia sambil memplintir firman Allah,  ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ﴾. “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka”. (QS. Al Isro’ [17] : 57 ). Dari ayat ini, mereka memplintir bahwa sesungguhnya mengambil wasilah (perantara) dari mahluk adalah suatu perkara yang disyariatkan. Allah juga telah memuji orang seperti ini sebagaimana dalam firman Allah, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”. (QS. Al Maidah [5] : 35). (Berdasarkan ayat di atas), mereka mengatakan bahwa sesungguhnya Allah memerintahkan kita agar menjadikan wasilah kepada-Nya dan makna wasilah adalah perantara. Inilah tingkah laku mereka, telah menyelewengkan maksud firman Allah dari maksud yang semestinya. (Yang lebih tepat) wasilah yang disyari’atkan yang terdapat dalam Al Qur’an dan As Sunnah adalah dengan melakukan keta’atan yang mendekatkan kita kepada Allah, bertawassul (mengambil wasilah) kepada-Nya dengan nama dan sifat-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Inilah wasilah yang disyari’atkan. Adapun bertawassul kepada Allah melalui makhluk-makhluk-Nya, ini adalah wasilah yang terlarang dan termasuk wasilah yang mengandung kesyirikan. Seperti inilah yang dilakukan oleh orang musyrik yang terdahulu sebagaimana terdapat pada firman Allah ‘azza wa jalla, وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. (QS. Yunus [10] : 18 ). Juga terdapat pada firman Allah, وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya“. (QS. Az Zumar [39] : 3 ). Inilah kesamaan kesyirikan zaman dahulu dan sekarang ini. Walaupun mereka menyebut perbuatan semacam ini[4] sebagai wasilah, akan tetapi kenyataan ini adalah kesyirikan dan bukanlah wasilah yang Allah syari’atkan. Allah tidaklah mungkin menjadikan kesyrikan sebagai perantara kepada-Nya selama-lamanya. Bahkan melalui wasilah yang syirik ini akan semakin membuat seseorang menjauh dari Allah. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala, إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ  “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”.(QS. Al Maidah [5] : 72 ). Bagaimana mungkin kesyirikan dapat dijadikan sebagai wasilah untuk mendekatkan diri pada Allah? Maha Suci Allah dari perkataan mereka ini. Adapun yang menjadi sisi pendalilan dari ayat ini (surat Al Isro’ ayat 57) adalah bahwa orang-orang yang beribadah kepada orang sholih juga termasuk orang yang berbuat syirik. Karena Allah telah menjelaskan hal ini dan menjelaskan bahwa orang-orang sholih yang mereka sembah itu sangat butuh kepada Allah sebagaimana pada firman Allah, ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ﴾. “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka”. (QS. Al Isro’ [17] : 57). Yakni orang-orang sholih tersebut juga mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan ketaatan, manakah di antara mereka yang lebih dekat (kepada-Nya). Mereka (orang-orang sholih) berlomba-lomba dalam mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah karena mereka sangat butuh kepada-Nya sebagaimana terdapat dalam firman-Nya, ﴿ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ﴾. “Dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya.” (QS. Al Isro’ [17] : 57 ). Dan siapa saja yang keadaannya seperti ini tidaklah layak dijadikan sebagai sesembahan yang ditujukan do’a dan disembah bersama Allah Ta’ala. **** ودليل الأحجار والأشجار قوله تعالى: ﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى.وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى﴾[النجم:19-20]. Dalil bahwa yang disembah adalah pohon dan batu yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Maka Apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza, Dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?”[5] (QS. An Najm [53] :19-20) Syaikh rahimahullah berkata, “Dalil bahwa yang disembah adalah pohon dan batu … ”. Pada ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa ada orang musyrik yang menyembah pepohonan dan bebatuan. Firman Allah ( أَفَرَأَيْتُمْ ) : “Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik)”, ini adalah istifham inkari. Maksudnya adalah ‘beritahukan padaku’ menunjukkan kalimat tanya untuk mengingkari dan sebagai celaan. Yang dimaksud dengan Laata (اللَّتَ) -dengan huruf ta’ tanpa ditasydid- merupakan salah satu nama berhala di Tho’if. Bentuk berhala ini berupa batu besar yang diukir. Di atas batu ini terdapat bangunan yang ditutupi tirai seperti ka’bah. Di sekeliling batu ini adalah tanah lapang. Batu ini memiliki juru kunci. Orang-orang musyrik dahulu menyembah Laata ini dan menjadikannya sebagai sesembahan selain Allah. Beberapa qobilah sangat bangga sekali dengan berhala ini. Laata juga bisa dibaca dengan (أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَّ) -dengan ta’ yang ditasydid/ Kalau laatta adalah isim fail (kata yang menunjukkan pelaku) yang berasal dari kata latta – yaluttu (yang artinya ‘mencampur dengan samin’). Laatta adalah seorang laki-laki sholih yang mencampurkan samin dan memberikannya kepada para jama’ah haji. Lalu pria ini meninggal dan orang-orang membangun bangunan pada kuburnya dan dipasangkan tirai. Kemudian mereka menjadikan kuburan ini sebagai sesembahan selain Allah. Inilah yang disebut Laatta. Yang dimaksud dengan ‘uzza ﴿ وَالْعُزَّى ﴾ adalah pepohonan salam (jenis pohon yang bisa dipakai menyamak, pen) yang berada di lembah kurma yang berada di antara Mekkah dan Tho’if. Sekeliling pohon terdapat bangunan dan diberi tirai. ‘Uzza ini juga memiliki juru kunci. Di sana terdapat setan yang dapat berdialog dengan manusia. Namun sayangnya orang-orang bodoh menyangka bahwa yang berbicara adalah pepohonan itu sendiri atau bangunan yang ada di sekitarnya tadi. Padahal yang berbicara dengan mereka sebenarnya adalah setan yang ingin menyesatkan mereka dari jalan Allah. Inilah berhala orang Quraisy dan penduduk Mekkah serta orang-orang di sekitarnya. Yang dimaksud Manaah ﴿وَمَنَاةَ ﴾ adalah batu besar yang diukir, berada di Pegunungan Qudaid yang berada di antara Mekkah dan Madinah. Berhala inilah yang dimiliki oleh penduduk Khuza’ah, Aus dan Khozroj. Mereka dahulu sering mendatanginya untuk berhaji. Mereka menjadikan Manaah ini sebagai sesembahan-sesembahan selain Allah. Inilah tiga berhala terbesar yang dimiliki orang Arab dahulu. Allah Ta’ala berfirman mengenai tiga berhala ini, ﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى.وَمَنَاةَ ﴾ ” Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap Al Lata dan Al Uzza. Dan Manah”. (QS. An Najm [53] : 19-20 ). Maksudnya adalah apakah mereka dapat mencukupkan (kebutuhan) kalian? Apakah mereka dapat mendatangkan manfaat pada kalian? Apakah mereka dapat menolong kalian? Apakah mereka yang dapat mencipta, memberi rezki, menghidupkan, dan mematikan? Apa manfaat yang ada pada mereka? Penjelasan inilah yang bertujuan untuk mengingkari dan memperingatkan akal untuk kembali petunjuk yang benar. Sesungguhnya tiga berhala ini hanyalah bebatuan, pepohonan yang tidak dapat mendatangkan manfaat atau menolak bahaya, mereka hanyalah makhluk biasa. Tatkala Islam datang dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menaklukkan Mekkah –sebagai tempat yang mulia-, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya mengutus Al Mughiroh bin Syu’bah dan Abu Sufyan bin Harb untuk pergi ke Laata (yang sebenarnya hanya batu atau kuburan, pen) yang berada di Tho’if. Kedua orang ini –akhirnya- menghancurkan berhala tersebut atas perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus pula Kholid bin Walid untuk pergi ke ‘Uzza. Lalu dia menghancurkannya, memotong pepohonan yang ada dan membunuh jin yang dapat berdialog dengan manusia. Jin yang hanya ingin menyesatkan manusia ini, akhirnya hilang tanpa bekas –alhamdulillah (segala pujian hanyalah milik Allah)-. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengutus ‘Ali bin Abi Tholib untuk pergi ke Manaah. Lalu ‘Ali menghancurkan berhala ini tanpa ada bekas.[6] Lihatlah berhala ini tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. ﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى.وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى﴾ ” Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap Al Lata dan Al Uzza. Dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)”. (QS. An Najm [53] : 19-20 ). Adakah mereka bisa menghindarkan diri (ketika ingin dihancurkan)? Apakah mereka dapat mendatangkan manfaat? Apakah mereka dapat mencegah dirinya sendiri dari para tentara Allah dan ahlu tauhid (yang ingin menghancurkan mereka)? Inilah dalil yang menunjukkan bahwa di sana ada orang-orang menyembah pepohonan dan bebatuan. Bahkan ketiga berhala tadi adalah berhala terbesar yang mereka miliki. Namun, Allah telah melenyapkan berhala-berhala ini tanpa bekas. Berhala-berhala ini tidak dapat mencegah kehancuran mereka. Mereka juga tidak dapat mendatangkan pada orang yang menyembahnya. Lihatlah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memerangi orang yang menyembah berhala-berhala ini. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membunuh mereka, namun –lihatlah- berhala-berhala tadi tidak dapat berbuat apa-apa. Inilah yang dalil oleh penulis (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) bahwa ada orang yang menyembah bebatuan dan pepohonan. Ya Allah Dzat Yang Maha Suci, manusia yang berakal mengapa bisa-bisanya menyembah pohon-pohon dan batu-batu yang hanyalah benda mati, yang  tidak memiliki akal, yang tidak dapat bergerak dan tidak hidup. Di manakah akal manusia? Maha Suci Allah atas apa yang mereka katakan. **** وَحَدِيْثُ أَبِيْ وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ t قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ r إِلَى حُنَيْنٍِ وَنَحْنُ حُدَثَاءُ عَهْدٍ بِكُفْرٍِ، وَلِلْمُشْرِكِيْنَ سِدْرَةٌُ يَعْكُفُوْنَ عِنْدَهَا وَيَنُوْطُوْنَ بِهَا أَسْلِحَتَهُمْ يُقَالُ لهَاَ: ذَاتُ أَنْوَاطٍِ، فَمَرَرْنَا بِسِدْرَةٍِ فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍِ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍِ… الْحَدِيْثُ. Juga hal ini terdapat pada hadist Abu Waqid Al Laitsi , beliau berkata, “Kami keluar bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain dan kami baru saja kembali dari masa-masa kekufuran. Orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon yang digunakan untuk beri’tikaf di sekelilingnya dan menggantungkan senjata-senjata mereka, pohon tersebut dinamakan Dzatu Anwath. Kemudian kami melewati sebuah pohon kemudian kami berkata, “Wahai Rosulullah, buatkan untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka (orang-orang musyrik) memiliki Dzatu anwath.” (Al Hadits)[7] Abu Waqid Al Laitsi radhiyallahu ‘anhu termasuk sahabat yang masuk Islam pada tahun Fathul Makkah –menurut pendapat yang terkenal- yaitu sekitar tahun 8 Hijriyah. Apa yang dimaksud Dzatu Anwath? Anwath adalah bentuk jama’ dari nauth. Kata kerjanya bermakna menggantung, sehinga nauth adalah sesuatu yang digantung. Orang-orang musyrik biasa menggantungkan senjata pada pohon tersebut agar memperoleh berkah. Sebagian sahabat yang baru saja masuk islam dan belum mengenal tauhid secara sempurna, mereka mengatakan, “Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka (orang-orang musyrik) memiliki Dzatu anwath.”. Inilah bencana taqlid (mengekor tanpa tahu dalil) dan bahaya tasyabbuh (menyerupai orang kafir). Kedua hal ini adalah bencana terbesar. Inilah hal yang membuat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi takjub (heran). Sehinga keluarkanlah perkataan dari lisan beliau, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar”. Itulah yang biasa dilakukan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika merasa keheranan atau ingin mengingkari sesuatu, keluarlah ucapan takbir (Allahu Akbar) dari lisan beliau. Atau biasa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan (dalam kondisi demikian) ucapan ‘Subhanallah’ sambil beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi bacaan dzikir ini. (Dalam lanjutan hadits Abu Waqid ini) : إِنَّهَا لَسُنَنٌ . Yang dimaksud dengan kalimat ini yaitu ini adalah cara yang dijalani manusia dan sebagian mereka mengikuti yang lainnya (ringkasnya ini adalah tradisi, pen). Sebab yang bisa mengantarkan mereka melakukan seperti ini (yaitu mengambil berkah dari pohon) adalah karena mengikuti jejak orang-orang terdahulu dan tasyabbuh (menyerupai) orang-orang musyrik. (Dalam lanjutan hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda), “Demi yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, Perkataan kalian ini seperti halnya perkataan Bani Israel kepada Musa, ( اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةً قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ ) “Jadikanlah untuk kami sesembahan seperti sesembahan mereka. Kemudian Musa berkata sesungguhnya kalian adalah kaum yang jahil (bodoh)”.(QS. Al A’rof [7] : 138). (Kisah mengenai ayat ini) : Dulu tatkala Nabi Musa ‘alaihis salam bersama dengan Bani Israel telah mencapai lautan dan Allah menenggelamkan musuh-Nya di laut tersebut sedangkan mereka memperhatikan hal ini, lalu Musa dan kaumnya melewati kaum musyrikin yang beri’tikaf pada berhala-berhala yang mereka miliki. Lalu kaumnya tersebut berkata kepada beliau ‘alaihis salam (yang artinya), “Jadikanlah untuk kami sesembahan seperti sesembahan mereka. Kemudian Musa berkata sesungguhnya kalian adalah kaum yang jahil (bodoh)”.(QS. Al A’rof [7] : 138). Namun, Nabi Musa ‘alaihis salam menolak permintaan ini dan berkata : ( إِنَّ هَؤُلَاءِ مُتَبَّرٌ مَا هُمْ فِيهِ ) “Sesungguhnya kepercayaan yang dianut mereka (yang penuh dengan kebatilan) itu akan dihancurkan dan akan batal apa yang seIalu mereka kerjakan.” (QS. Al A’rof [7] : 139  ). Mengapa menjadi batal apa yang selalu mereka kerjakan? Karena yang mereka lakukan adalah kesyirikan. Dalam ayat selajutnya, Allah Ta’ala berfirman, قَالَ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَهًا وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ “Musa menjawab: “Patutkah Aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada Allah? Padahal Dialah yang telah melebihkan kalian atas segala umat”. (QS. Al A’rof [7] : 140 ). Lihatlah sikap Nabi Musa ‘alaihis salam. Beliau ‘alaihis salam mengingkari kaumnya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengingkari para sahabat. Akan tetapi, kaumnya Musa dan sahabat Nabi tidaklah berbuat syirik. Bani Israel tatkala mengatakan perkataan semacam ini, mereka tidak berbuat syirik karena belum melakukkannya, begitu pula dengan para sahabat Nabi. Seandainya para sahabat mengambil berkah dari Dzatu Anwath pasti mereka sudah dinyatakan berbuat syirik. Akan tetapi, Allah Ta’ala telah melindungi mereka. Tatkala Nabi mereka melarang untuk berbuat demikian, mereka pun enggan melakukannya. Mereka bisa mengatakan seperti ini juga karena kebodohan. Mereka tidaklah mengucapkan seperti ini dengan sengaja. Setelah mereka mengetahui bahwa mengambil berkah dari Dzatu Anwath adalah kesyirikan, mereka pun enggan melakukan hal itu. Seandainya mereka melakukan hal ini, tentu mereka telah berbuat syirik kepada Allah. Inti penjelasan dari ayat tadi (Al A’rof : 138-140) adalah bahwasanya orang-orang musyrik juga ada yang menyembah pepohonan. Orang-orang musyrik ini menjadikan Dzatu Anwath (untuk diambil berkahnya). Para sahabat -yang belum kokoh ilmu dalam hatinya itu- berusaha untuk menyerupai orang-orang musyrik tersebut. Kalau bukan karena perlindungan Allah dan Rasul-Nya, tentu mereka (para sahabat) akan terperosok dalam jurang kebinasaan (yaitu kesyirikan). Inti penjelasan dari hadits Abu Waqid Al Laitsi ini adalah ingin menjelaskan bahwa ada orang-orang yang mencari berkah dari pohon dan ber’itikaf di sekelilingnya. Makna beri’tikaf adalah berdiam diri di suatu tempat pada waktu tertentu dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Atau ringkasnya, i’tikaf adalah berdiam diri di suatu tempat. Dalam hadits Abu Waqid ini terdapat berbagai faedah penting, di antaranya: [Pertama] Hadits ini menerangkan mengenai bahaya bodoh terhadap tauhid.  Barangsiapa yang bodoh dalam masalah tauhid sangat mungkin dia terjatuh dalam kesyirikan sedangkan ia tidak mengetahuinya. Oleh karena itu, wajib bagi kita mempelajari tauhid dan juga kebalikannya yaitu syirik. Hendaklah kita mempelajari hal ini sampai kita berada di atas bashiroh (ilmu) bukan berada dalam kebodohan. Lebih-lebih berbahaya lagi jika seseorang tidak mengetahui tauhid dan syirik dengan benar. Boleh jadi dia melakukan suatu perbuatan (padahal itu syirik) namun dia menyangka itu benar karena sebab kebodohannya. Inilah yang menunjukkan bahaya kebodohan, lebih-lebih lagi jika bodoh dalam masalah aqidah. [Kedua] Dalam hadits ini juga menunjukkan bahaya tasyabbuh (menyerupai) orang-orang musyrik. Sesungguhnya menyerupai mereka (dalam perkataan atau perbuatan) dalam mengantarkan seseorang dalam kesyirikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka.”[8] Hendaklah kita tidak menyerupai orang musyrik (baik dalam perkataan maupun perbuatan) [Ketiga] Sesungguhnya mengambil berkah dari bebatuan, pepohonan, atau dari bangunan adalah suatu kesyirikan walaupun dinamai dengan nama selain syirik. Karena (ingatlah bahwa) mencari berkah dari selain Allah dari bebatuan, pepohonan ataupun kuburan, ini semua adalah kesyirikan walaupun dinamai dengan nama selain syirik. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir buku terbaru: Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer. [1] Nakiroh adalah istilah dalam ilmu nahwu yaitu kata yang belum jelas penunjukkannya. Dan menurut kaedah ushul fiqih bahwa nakiroh yang berada dalam konteks larangan atau peniadaan menunjukkan keumuman. [pen] [2] Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَتَحَرَّى أَحَدُكُمْ فَيُصَلِّى عِنْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَلاَ عِنْدَ غُرُوبِهَا “Janganlah seseorang di antara kalian bersengaja shalat pada saat matahari terbit dan tenggelam.” (HR. Bukhari no. 585 dalam Al Mawaqit Bab Janganlah bersengaja shalat pada saat tenggelamnya matahari. Juga diriwayatkan oleh Muslim no. 828 dalam Al Masajid Bab waktu-waktu terlarang shalat) [3] HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Jarir dan Al Hakim. Al Hakim berkata, “Hadits ini shohih sesuai syarat  Muslim” dan perkataan beliau ini  disetujui oleh Adz Dzahabi. Lihat Shohihul Musnad min Asbabin Nuzul karya Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullah, hal. 178, Darul Haromain-Kairo. [pen] [4] Mengambil wasilah melalui para wali yang telah mati. [pen] [5] Hakekat lata adalah kuburan, ‘uzza adalah pohon sedangkan manat adalah batu. Lihat Iqtidho’ Shirothil Mustaqim 2/156-157, ta’liq Dr. Nashr bin ‘Abdil Karim Al ‘Aql. Dan perhatikanlah penjelasan Syaikh Fauzan hafizhohullah selanjutnya. [pen] [6] Lihat Zaadul Ma’ad, 4/ 413-415 [7] HR. Tirmidzi no. 2180 dalam ‘Al Fitan’, Bab ‘Sungguh kalian akan mengikuti jejak (kebiasaan) umat-umat sebelum kalian’. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih. Juga diriwayatkan dari Ahmad (5/218), Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah no. 76, Ibnu Hibban dalam kitab shohihnya (no. 6702 – Al Ihsan). Ibnu Hajar menshohihkan hadits ini sebagaimana dalam Al Ishobah, 4/216. [Tambahan pen] : Untuk membantu penjelasan Syaikh Fauzan selanjutnya, kami bawakan hadits ini secara lengkap, عَنْ أَبِى وَاقِدٍ اللَّيْثِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا خَرَجَ إِلَى خَيْبَرَ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى (اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ) وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ » Dari Abu Waqid Al Laitsi mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala pergi ke Khoibar, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sebuah pohon milik kaum musyrikin yang dinamakan Dzatu Anwath. Orang-orang musyrik biasa menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Lalu (di antara sahabat yang baru masuk Islam) mengatakan (kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana milik orang-orang musyrik.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Subhanallah (Maha Suci Allah dari tingkah kalian yang semacam ini). Ini sama halnya dengan perkataan kaum Musa kepada beliau, ‘Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana yang ada pada mereka’. Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, sungguh kalian akan mengikuti jejak (kebiasaan) umat-umat sebelum kalian.” (HR. Tirmidzi no. 2180. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shohih) Sedangkan dalam riwayat Ahmad disebutkan, إِنَّهَا لَسُنَنٌ لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ سُنَّةً سُنَّةً “Sungguh ini adalah tradisi (kebiasaan umat terdahulu). Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat sebelum kalian perhalan demi perhalan.” (HR. Ahmad. Syaikh Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shohih sesuai syarat Bukhari-Muslim) [8] HR. Abu Dawud no. 4031 dalam Al Libas (pakaian), Bab ‘Pakaian syuhroh (ketenaran). Juga diriwayatkan oleh Ahmad (2/50) dari hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkatab bahwa hadits ini sanadnya jayyid/bagus. (Iqtidho’ Ash Shirothol Mustaqim, hal. 236-239 ). Al Hafidz Al ‘Iroqi berkata dalam Takhrij Al Ihya’ (2/65) bahwa sanad hadit ini shohih. Al Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (6/98) bahwa sanad hadits ini hasan. Tagskaedah syirik tradisi


Beraneka ragamnya sesembahan orang musyrik, itu realitanya. Ini dibuktikan dalam perkataan Syaikh Muhammad At Tamimi berikutnya dalam risalah beliau Al Qowa’idul Arba’. Jadi jangan kira bahwa sesembahan orang musyrik hanyalah patung berhala saja. Orang-orang sholeh pun jadi sesembahan mereka, mereka pun disebut musyrik. القَاعِدَةُ الثَّالِثَةُ: أَنَّ النَّبِيَّ   ظَهَرَ عَلَى أُنَاسٍ مُتَفَرِّقِيْنَ في عِبَادَاتِهِمْ مِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الْمَلائِكَةَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الأَنْبِيَاءَ وَالصَّالِحِيْنَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الأَحْجَارَ وَالأَشْجَارَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ، وَقَاتَلَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ  وَلَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَهُمْ، [KAEDAH KETIGA] Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa manusia berbeda-beda di dalam ibadah mereka. Sebagian mereka beribadah kepada para nabi dan orang sholih. Sebagian lagi beribadah kepada pohon dan batu. Sebagian lainnya beribadah kepada matahari dan bulan. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka semuanya dan tidak membeda-bedakan satu dan lainnya.   [KAEDAH KETIGA] Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada orang-orang musyrik, di antara mereka ada yang menyembah malaikat. Yang lainnya lagi menyembah matahari dan bulan. Di antara mereka lagi ada yang menyembah patung, batu, dan pohon. Dan ada pula yang menyembah para wali dan orang-orang sholih. Inilah di antara keburukan syirik. Pelaku kesyirikan tidaklah bersatu dalam hal sesembahan. Berbeda dengan orang yang betul-betul mengesakan Allah (baca : ahlu tauhid). Sesembahan ahlu tauhid hanyalah satu yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (39) مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا “Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu membuat-buatnya”. (QS. Yusuf [12] : 39-40). Di antara kejelekan dan kebatilan syirik adalah : pelaku syirik berbeda-beda dalam perihal ibadah. Mereka tidak bersatu dalam kaedah ibadah yang sama karena mereka tidak berjalan dalam landasan ibadah yang satu (yaitu tauhid). Sebenarnya mereka berjalan  mengikuti hawa nafsu mereka dan asal mengikuti seruan yang menyesatkan. Mereka ini akan semakin terpecah sebagaimana firman Allah Ta’ala, ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ “Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS. Az Zumar [39] : 29 ). Orang yang hanya menyembah Allah semata diumpamakan dengan seorang budak yang diperbudak oleh satu tuan. Tuannya ini selalu merasa puas dengannya. Tuannya ini memiliki tuntutan tersendiri dari budak tersebut sehingga selalu merasa puas dengannya. Sedangkan orang musyrik diumpamakan dengan budak yang memiliki beberapa tuan. Budak ini tidak mengetahui siapa yang ridho terhadap dirinya dari tuan-tuannya itu. Masing-masing dari tuannya memiliki keinginan tersendiri. Setiap mereka memiliki tuntutan dan keinginan masing-masing. Setiap dari tuan tadi menghendaki sesuatu sesuai keinginannya. Oleh karena itu,  Allah Ta’ala berfirman, ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ “Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan.” (QS. Az Zumar [39] : 29 ). Budak ini dimiliki oleh beberapa tuan. Tidak diketahui siapa di antara mereka yang ridho pada budak ini. (Berbeda halnya dengan budak yang satu ini), وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ “Dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja)”. (QS. Az Zumar [39] : 29 ). Budak ini dimiliki oleh satu tuan saja sehingga tuannya ini meresa puas dengannya. Inilah permisalan yang Allah buat antara orang musyrik dan orang yang bertauhid. (Lihatlah) orang-orang musyrik pasti bepecah belah dalam peribadatan mereka. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka dan tidak membeda-bedakan satu dan lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi para penyembah patung. Begitu pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi orang Yahudi, Nashrani dan Majusi. Beliau shallallahu  juga memerangi seluruh kaum musyrikin. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi pula para penyembah malaikat, wali dan orang sholih. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan-bedakan di antara mereka. Perkataan penulis di sini adalah bantahan kepada orang-orang yang mengatakan bahwa orang yang menyembah patung tidaklah sama dengan orang yang menyembah orang sholih atau salah satu malaikat. Kelompok pertama ini menyembah bebatuan dan pepohonan. Yang mereka sembah adalah benda mati. Sedangkan kelompok kedua adalah yang menyembah orang sholih dan salah satu wali Allah. Kelompok kedua ini berbeda dengan orang-orang yang menyembah patung. Sebenarnya maksud orang-orang yang mengutarakan ucapan ini adalah : hukum orang yang menyembah kubur saat ini tidaklah sama dengan dengan para penyembah patung. Maka orang yang menyembah kubur belum tentu kafir. Amalan para penyembah kubur ini belum tentu syirik. Sehingga mereka tidaklah pantas untuk diperangi. Sebagai sanggahan kepada ucapan semacam ini, kami katakan : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan di antara mereka. Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap bahwa mereka semua adalah orang musyrik sehingga halallah darah dan harta mereka. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan satu dan lainnya. Kaum Nashrani yang menyembah Al Masih (Isa bin Maryam) –padahal Isa hanyalah utusan Allah- tetap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam perangi. Begitu pula kaum Yahudi yang menyembah ‘Uzair –padahal ‘Uzair adalah Nabi atau orang sholih di antara mereka- tetap pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam perangi. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan orang-orang ini (walaupun sesembahan mereka berbeda-beda). Namanya syirik tidaklah dibedakan antara yang menyembah orang sholih, yang menyembah patung, batu dan pohon. Karena yang namanya syirik adalah peribadahan kepada selain Allah apapun yang disembah. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman, وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (QS. An Nisa’ [4] : 36 ). Kata (شَيْئًا artinya sesuatu) adalah kata nakiroh yang berada dalam konteks larangan sehingga mengandung makna umum[1]. Sehingga yang dimaksud ‘sesuatu’ di sini mencakup seluruh jenis sesembahan yang diserikatkan dengan Allah baik itu malaikat, rasul, orang- orang sholih, para wali, bebatuan dan pepohonan. **** وَالدَّلِيْلُ قَوُلُهُ تَعَالَى: ﴿وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ﴾[البقرة:193] Dalil hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (QS. Al Anfal [8] : 39) ?   Syaikh rahimahullah berkata, “Dalil hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (QS. Al Anfal [8] : 39) Maksudnya, ini adalah dalil dari perkataan Syaikh rahimahullah sebelumnya mengenai diperanginya orang-orang musyrik tanpa membeda-bedakan sesembahan mereka. Firman Allah Ta’ala,  ﴿وَقَاتِلُوهُمْ ﴾ “Dan perangilah mereka.” Ayat ini bersifat umum, mencakup seluruh orang musyrik tanpa ada pengecualian. Lalu firman Allah selanjutnya,  ﴿وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ ﴾ “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah.” Fitnah yang dimaksud di sini adalah kesyirikan. Sehingga maksud ayat ini adalah ‘sampai tidak ada lagi kesyirikan’. Ini juga bersifat umum baik syirik dalam peribadahan kepada para wali, orang sholih, bebatuan, pepohonan, matahari atau bulan. Lalu firman Allah selanjutnya, ﴿ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ﴾ “dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” Maksudnya adalah bahwa setiap ibadah hanya berhak ditujukan kepada Allah, tidak boleh Allah disekutukan dengan sesembahan apapun. Maka tidak ada bedanya syirik dalam penyembahan terhadap para wali, orang sholih, bebatuan, pepohonan, para setan dan selainnya.   ]. وَدَلِيْلُ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ﴾[فصلت:37] Dalil bahwa yang menjadi sesembahan orang musyrik adalah matahari dan bulan yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah menyembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika ialah yang kamu hendak sembah.” (QS. Fushilat [41] : 37) Ayat di atas menunjukkan bahwa ada yang menyembah (bersujud) pada matahari dan bulan. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat pada waktu matahari terbit dan ketika matahari tenggelam.[2] Hal ini sebagai sadaan lidz-dzari’ah (untuk menutup jalan ke arah sana yaitu menyembah matahari). Karena memang ada orang yang menyembah matahari ketika terbit dan tenggelam. Oleh karena itu, kita dilarang mengerjakan shalat pada dua waktu terlarang ini, walaupun shalat tersebut dikerjakan ikhlas karena Allah. Shalat di kedua waktu ini termasuk tasyabuh (menyerupai) orang musyrik. Oleh karena itu, kita dilarang melakukan hal ini untuk menutup jalan (wasilah) menuju kesyirikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang untuk melarang kesyirikan dan menutup berbagai wasilah menuju kesyirikan tersebut. وَدَلِيْلُ الْمَلائِكَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا﴾ [آل عمران:80]. Dalil bahwa yang disembah adalah malaikat yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan Malaikat dan Para Nabi sebagai Tuhan.” (QS. Ali Imran [3] : 80) ?   Syaikh rahimahullah mengatakan, ‘Dalil bahwa yang disembah adalah malaikat’. Ini menunjukkan bahwa ada yang menyembah malaikat dan para Nabi. Ini juga termasuk kesyirikan. Akan tetapi para penyembah kubur pada saat ini mengatakan bahwa orang yang menyembah malaikat, para nabi dan orang sholih tidaklah kafir. **** وَدَلِيْلُ الأَنْبِيَاءِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ﴾[المائدة:116]. Dalil bahwa yang disembah adalah para nabi yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam. Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua ilah (sesembahan) selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan, maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. (QS. Al Maidah [5] : 116) Syaikh rahimahullah mengatakan ‘Dalil bahwa yang disembah adalah para nabi’. Ini adalah dalil bahwa ibadah kepada para Nabi termasuk kesyirikan sebagaimana ibadah kepada patung. Perkataan penulis ini merupakan sanggahan kepada para penyembah kubur yang membeda-bedakan dalam hal ini. Perkataan beliau rahimahullah juga adalah bantahan kepada orang mengatakan bahwa syirik itu hanya dalam peribadahan kepada berhala. Menurut mereka tidaklah sama antara orang yang menyembah patung, para wali atau orang sholih. Mereka mengingkari penyamaan dalam kedua hal ini dan beranggapan bahwa syirik hanya terbatas pada penyembahan kepada patung-patung saja. Ini adalah kekeliruan yang sangat jelas ditinjau dari dua sisi : [Sisi Pertama] Allah jalla wa ‘ala di dalam Al Qur’an mengingkari semua peribadahan (kepada selain Allah) dan memerintahkan untuk memerangi semua yang melakukan peribadah semacam itu. [Sisi Kedua] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membedakan antara penyembah berhala, malaikat atau pun orang sholih.   وَدَلِيْلُ الصَّالِحِيْنَ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ… ﴾الآية[الإسراء:57]. Dalil bahwa yang disembah adalah orang-orang sholih yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al Isra’ [17] :57) Syaikh rahimahullah mengatakan ‘Dalil bahwa yang disembah adalah orang-orang sholih’ Perkataan beliau ini menunjukkan bahwa ada manusia yang menyembah orang-orang sholih. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ﴾ “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah)”. (QS. Al Isro’ [17] : 57). Ada dua pendapat mengenai tafsiran ayat ini. [Pendapat pertama] Ada yang berpendapat bahwa ayat ini turun kepada orang-orang yang menyembah Al Masih (Isa bin Maryam), ibunya (Maryam) dan ‘Uzair. Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa sesungguhnya Al Masih (Isa bin Maryam), Maryam dan Uzair hanyalah hamba yang menghambakan diri pada Allah, mendekatkan diri pada-Nya, selalu mengharap rahmat dan takut pada adzab-Nya. Mereka semua hanya hamba Allah yang sangat butuh dan bergantung kepada-Nya. Mereka juga berdo’a kepada Allah dan mencari wasilah kepada-Nya dengan melakukan ketaatan. Allah Ta’ala berfirman, ﴿يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ ﴾ “Mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka.” (QS. Al Isro’ [17] : 57). Maksudnya untuk mencari kedekatan kepada Allah Ta’ala dengan melakukan ketaatan dan ibadah. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah tidaklah layak ditujukan kepada mereka. Alasannya karena mereka juga manusia yang sangat butuh (bergantung) pada Allah, mereka berdo’a (memohon) kepada Allah, mengharapkan rahmat-Nya dan takut pada adzab-Nya. Kalau memang keadaan mereka seperti ini, maka tidaklah pantas mereka disembah bersama Allah ‘azza wa jalla. [Pendapat kedua] Sesungguhnya ayat ini turun kepada kaum musyrikin yang beribadah kepada sekelompok jin. Kemudian sekelompok jin tersebut masuk islam, namun orang-orang musyrik tidak mengetahui keislaman para jin ini[3]. (Ketika masuk Islam) jadilah para jin ini mendekatkan diri kepada Allah dengan dengan melakukan keta’atan dan ketundukan kepada-Nya. Mereka juga senantiasa mengharap rahmat-Nya dan takut pada adzab-Nya. Jadi, para jin adalah hamba yang sangat butuh pada Allah. Kalau demikian, tidaklah pantas menujukan ibadah kepada mereka. Apapun maksud (tafsiran) ayat yang mulia ini, intinya ingin menunjukkan bahwa kita tidaklah boleh beribadah kepada orang-orang sholih baik mereka adalah para Nabi, para shidiqin atau para wali Allah dan orang sholih. Tidak boleh satu ibadah pun ditujukan pada mereka. Karena namanya hamba Allah pasti sangat butuh (bergantung) kepada-Nya. Bagaimana mungkin mereka bisa dijadikan sesembahan bersama Allah jalla wa ‘ala? Maksud dari wasilah dalam ayat di atas adalah keta’atan dan segala bentuk pendekatan diri kepada Allah. Adapun secara bahasa, wasilah adalah sesuatu yang bisa mengantarkan pada tujuan. Segala sesuatu yang mengantarkan pada ridho dan surga Allah, maka itulah wasilah kepada Allah. Inilah wasilah yang disyari’atkan sebagaimana terdapat dalam firman Allah Ta’ala, وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ “Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (QS. Al Maidah [5] : 35). Adapun orang-orang yang menyimpang dan ahlu khurofat, mereka mengatakan bahwa wasilah adalah menjadikan para wali, orang sholih, dan orang yang sudah mati sebagai perantara antara engkau dan Allah untuk mendekatkan dirimu pada-Nya. Mereka mengatakan, مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (QS. Az Zumar [39] : 3). Jadi, makna wasilah menurut ahli khurofat adalah engkau menjadikan perantara antara dirimu dan Allah. Perantara ini akan menyampaikan hajatmu pada Allah dan memberitahukan pada Allah bahwa ini adalah hajatmu. Hal ini menunjukkan bahwa seakan-akan Allah jalla wa ‘ala itu tidak mengetahui (urusan hamba-Nya). Atau seakan-akan Allah itu bakhil (pelit), tidak mau memberi kecuali setelah didesak melalui perantara. Maha Suci Allah dari perkataan mereka ini. Dari kerancuan inilah, mereka menebar keraguan di tengah-tengah manusia sambil memplintir firman Allah,  ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ﴾. “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka”. (QS. Al Isro’ [17] : 57 ). Dari ayat ini, mereka memplintir bahwa sesungguhnya mengambil wasilah (perantara) dari mahluk adalah suatu perkara yang disyariatkan. Allah juga telah memuji orang seperti ini sebagaimana dalam firman Allah, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”. (QS. Al Maidah [5] : 35). (Berdasarkan ayat di atas), mereka mengatakan bahwa sesungguhnya Allah memerintahkan kita agar menjadikan wasilah kepada-Nya dan makna wasilah adalah perantara. Inilah tingkah laku mereka, telah menyelewengkan maksud firman Allah dari maksud yang semestinya. (Yang lebih tepat) wasilah yang disyari’atkan yang terdapat dalam Al Qur’an dan As Sunnah adalah dengan melakukan keta’atan yang mendekatkan kita kepada Allah, bertawassul (mengambil wasilah) kepada-Nya dengan nama dan sifat-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Inilah wasilah yang disyari’atkan. Adapun bertawassul kepada Allah melalui makhluk-makhluk-Nya, ini adalah wasilah yang terlarang dan termasuk wasilah yang mengandung kesyirikan. Seperti inilah yang dilakukan oleh orang musyrik yang terdahulu sebagaimana terdapat pada firman Allah ‘azza wa jalla, وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. (QS. Yunus [10] : 18 ). Juga terdapat pada firman Allah, وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya“. (QS. Az Zumar [39] : 3 ). Inilah kesamaan kesyirikan zaman dahulu dan sekarang ini. Walaupun mereka menyebut perbuatan semacam ini[4] sebagai wasilah, akan tetapi kenyataan ini adalah kesyirikan dan bukanlah wasilah yang Allah syari’atkan. Allah tidaklah mungkin menjadikan kesyrikan sebagai perantara kepada-Nya selama-lamanya. Bahkan melalui wasilah yang syirik ini akan semakin membuat seseorang menjauh dari Allah. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala, إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ  “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”.(QS. Al Maidah [5] : 72 ). Bagaimana mungkin kesyirikan dapat dijadikan sebagai wasilah untuk mendekatkan diri pada Allah? Maha Suci Allah dari perkataan mereka ini. Adapun yang menjadi sisi pendalilan dari ayat ini (surat Al Isro’ ayat 57) adalah bahwa orang-orang yang beribadah kepada orang sholih juga termasuk orang yang berbuat syirik. Karena Allah telah menjelaskan hal ini dan menjelaskan bahwa orang-orang sholih yang mereka sembah itu sangat butuh kepada Allah sebagaimana pada firman Allah, ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ﴾. “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka”. (QS. Al Isro’ [17] : 57). Yakni orang-orang sholih tersebut juga mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan ketaatan, manakah di antara mereka yang lebih dekat (kepada-Nya). Mereka (orang-orang sholih) berlomba-lomba dalam mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah karena mereka sangat butuh kepada-Nya sebagaimana terdapat dalam firman-Nya, ﴿ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ﴾. “Dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya.” (QS. Al Isro’ [17] : 57 ). Dan siapa saja yang keadaannya seperti ini tidaklah layak dijadikan sebagai sesembahan yang ditujukan do’a dan disembah bersama Allah Ta’ala. **** ودليل الأحجار والأشجار قوله تعالى: ﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى.وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى﴾[النجم:19-20]. Dalil bahwa yang disembah adalah pohon dan batu yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Maka Apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza, Dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?”[5] (QS. An Najm [53] :19-20) Syaikh rahimahullah berkata, “Dalil bahwa yang disembah adalah pohon dan batu … ”. Pada ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa ada orang musyrik yang menyembah pepohonan dan bebatuan. Firman Allah ( أَفَرَأَيْتُمْ ) : “Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik)”, ini adalah istifham inkari. Maksudnya adalah ‘beritahukan padaku’ menunjukkan kalimat tanya untuk mengingkari dan sebagai celaan. Yang dimaksud dengan Laata (اللَّتَ) -dengan huruf ta’ tanpa ditasydid- merupakan salah satu nama berhala di Tho’if. Bentuk berhala ini berupa batu besar yang diukir. Di atas batu ini terdapat bangunan yang ditutupi tirai seperti ka’bah. Di sekeliling batu ini adalah tanah lapang. Batu ini memiliki juru kunci. Orang-orang musyrik dahulu menyembah Laata ini dan menjadikannya sebagai sesembahan selain Allah. Beberapa qobilah sangat bangga sekali dengan berhala ini. Laata juga bisa dibaca dengan (أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَّ) -dengan ta’ yang ditasydid/ Kalau laatta adalah isim fail (kata yang menunjukkan pelaku) yang berasal dari kata latta – yaluttu (yang artinya ‘mencampur dengan samin’). Laatta adalah seorang laki-laki sholih yang mencampurkan samin dan memberikannya kepada para jama’ah haji. Lalu pria ini meninggal dan orang-orang membangun bangunan pada kuburnya dan dipasangkan tirai. Kemudian mereka menjadikan kuburan ini sebagai sesembahan selain Allah. Inilah yang disebut Laatta. Yang dimaksud dengan ‘uzza ﴿ وَالْعُزَّى ﴾ adalah pepohonan salam (jenis pohon yang bisa dipakai menyamak, pen) yang berada di lembah kurma yang berada di antara Mekkah dan Tho’if. Sekeliling pohon terdapat bangunan dan diberi tirai. ‘Uzza ini juga memiliki juru kunci. Di sana terdapat setan yang dapat berdialog dengan manusia. Namun sayangnya orang-orang bodoh menyangka bahwa yang berbicara adalah pepohonan itu sendiri atau bangunan yang ada di sekitarnya tadi. Padahal yang berbicara dengan mereka sebenarnya adalah setan yang ingin menyesatkan mereka dari jalan Allah. Inilah berhala orang Quraisy dan penduduk Mekkah serta orang-orang di sekitarnya. Yang dimaksud Manaah ﴿وَمَنَاةَ ﴾ adalah batu besar yang diukir, berada di Pegunungan Qudaid yang berada di antara Mekkah dan Madinah. Berhala inilah yang dimiliki oleh penduduk Khuza’ah, Aus dan Khozroj. Mereka dahulu sering mendatanginya untuk berhaji. Mereka menjadikan Manaah ini sebagai sesembahan-sesembahan selain Allah. Inilah tiga berhala terbesar yang dimiliki orang Arab dahulu. Allah Ta’ala berfirman mengenai tiga berhala ini, ﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى.وَمَنَاةَ ﴾ ” Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap Al Lata dan Al Uzza. Dan Manah”. (QS. An Najm [53] : 19-20 ). Maksudnya adalah apakah mereka dapat mencukupkan (kebutuhan) kalian? Apakah mereka dapat mendatangkan manfaat pada kalian? Apakah mereka dapat menolong kalian? Apakah mereka yang dapat mencipta, memberi rezki, menghidupkan, dan mematikan? Apa manfaat yang ada pada mereka? Penjelasan inilah yang bertujuan untuk mengingkari dan memperingatkan akal untuk kembali petunjuk yang benar. Sesungguhnya tiga berhala ini hanyalah bebatuan, pepohonan yang tidak dapat mendatangkan manfaat atau menolak bahaya, mereka hanyalah makhluk biasa. Tatkala Islam datang dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menaklukkan Mekkah –sebagai tempat yang mulia-, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya mengutus Al Mughiroh bin Syu’bah dan Abu Sufyan bin Harb untuk pergi ke Laata (yang sebenarnya hanya batu atau kuburan, pen) yang berada di Tho’if. Kedua orang ini –akhirnya- menghancurkan berhala tersebut atas perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus pula Kholid bin Walid untuk pergi ke ‘Uzza. Lalu dia menghancurkannya, memotong pepohonan yang ada dan membunuh jin yang dapat berdialog dengan manusia. Jin yang hanya ingin menyesatkan manusia ini, akhirnya hilang tanpa bekas –alhamdulillah (segala pujian hanyalah milik Allah)-. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengutus ‘Ali bin Abi Tholib untuk pergi ke Manaah. Lalu ‘Ali menghancurkan berhala ini tanpa ada bekas.[6] Lihatlah berhala ini tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. ﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى.وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى﴾ ” Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap Al Lata dan Al Uzza. Dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)”. (QS. An Najm [53] : 19-20 ). Adakah mereka bisa menghindarkan diri (ketika ingin dihancurkan)? Apakah mereka dapat mendatangkan manfaat? Apakah mereka dapat mencegah dirinya sendiri dari para tentara Allah dan ahlu tauhid (yang ingin menghancurkan mereka)? Inilah dalil yang menunjukkan bahwa di sana ada orang-orang menyembah pepohonan dan bebatuan. Bahkan ketiga berhala tadi adalah berhala terbesar yang mereka miliki. Namun, Allah telah melenyapkan berhala-berhala ini tanpa bekas. Berhala-berhala ini tidak dapat mencegah kehancuran mereka. Mereka juga tidak dapat mendatangkan pada orang yang menyembahnya. Lihatlah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memerangi orang yang menyembah berhala-berhala ini. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membunuh mereka, namun –lihatlah- berhala-berhala tadi tidak dapat berbuat apa-apa. Inilah yang dalil oleh penulis (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) bahwa ada orang yang menyembah bebatuan dan pepohonan. Ya Allah Dzat Yang Maha Suci, manusia yang berakal mengapa bisa-bisanya menyembah pohon-pohon dan batu-batu yang hanyalah benda mati, yang  tidak memiliki akal, yang tidak dapat bergerak dan tidak hidup. Di manakah akal manusia? Maha Suci Allah atas apa yang mereka katakan. **** وَحَدِيْثُ أَبِيْ وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ t قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ r إِلَى حُنَيْنٍِ وَنَحْنُ حُدَثَاءُ عَهْدٍ بِكُفْرٍِ، وَلِلْمُشْرِكِيْنَ سِدْرَةٌُ يَعْكُفُوْنَ عِنْدَهَا وَيَنُوْطُوْنَ بِهَا أَسْلِحَتَهُمْ يُقَالُ لهَاَ: ذَاتُ أَنْوَاطٍِ، فَمَرَرْنَا بِسِدْرَةٍِ فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍِ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍِ… الْحَدِيْثُ. Juga hal ini terdapat pada hadist Abu Waqid Al Laitsi , beliau berkata, “Kami keluar bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain dan kami baru saja kembali dari masa-masa kekufuran. Orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon yang digunakan untuk beri’tikaf di sekelilingnya dan menggantungkan senjata-senjata mereka, pohon tersebut dinamakan Dzatu Anwath. Kemudian kami melewati sebuah pohon kemudian kami berkata, “Wahai Rosulullah, buatkan untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka (orang-orang musyrik) memiliki Dzatu anwath.” (Al Hadits)[7] Abu Waqid Al Laitsi radhiyallahu ‘anhu termasuk sahabat yang masuk Islam pada tahun Fathul Makkah –menurut pendapat yang terkenal- yaitu sekitar tahun 8 Hijriyah. Apa yang dimaksud Dzatu Anwath? Anwath adalah bentuk jama’ dari nauth. Kata kerjanya bermakna menggantung, sehinga nauth adalah sesuatu yang digantung. Orang-orang musyrik biasa menggantungkan senjata pada pohon tersebut agar memperoleh berkah. Sebagian sahabat yang baru saja masuk islam dan belum mengenal tauhid secara sempurna, mereka mengatakan, “Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka (orang-orang musyrik) memiliki Dzatu anwath.”. Inilah bencana taqlid (mengekor tanpa tahu dalil) dan bahaya tasyabbuh (menyerupai orang kafir). Kedua hal ini adalah bencana terbesar. Inilah hal yang membuat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi takjub (heran). Sehinga keluarkanlah perkataan dari lisan beliau, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar”. Itulah yang biasa dilakukan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika merasa keheranan atau ingin mengingkari sesuatu, keluarlah ucapan takbir (Allahu Akbar) dari lisan beliau. Atau biasa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan (dalam kondisi demikian) ucapan ‘Subhanallah’ sambil beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi bacaan dzikir ini. (Dalam lanjutan hadits Abu Waqid ini) : إِنَّهَا لَسُنَنٌ . Yang dimaksud dengan kalimat ini yaitu ini adalah cara yang dijalani manusia dan sebagian mereka mengikuti yang lainnya (ringkasnya ini adalah tradisi, pen). Sebab yang bisa mengantarkan mereka melakukan seperti ini (yaitu mengambil berkah dari pohon) adalah karena mengikuti jejak orang-orang terdahulu dan tasyabbuh (menyerupai) orang-orang musyrik. (Dalam lanjutan hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda), “Demi yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, Perkataan kalian ini seperti halnya perkataan Bani Israel kepada Musa, ( اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةً قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ ) “Jadikanlah untuk kami sesembahan seperti sesembahan mereka. Kemudian Musa berkata sesungguhnya kalian adalah kaum yang jahil (bodoh)”.(QS. Al A’rof [7] : 138). (Kisah mengenai ayat ini) : Dulu tatkala Nabi Musa ‘alaihis salam bersama dengan Bani Israel telah mencapai lautan dan Allah menenggelamkan musuh-Nya di laut tersebut sedangkan mereka memperhatikan hal ini, lalu Musa dan kaumnya melewati kaum musyrikin yang beri’tikaf pada berhala-berhala yang mereka miliki. Lalu kaumnya tersebut berkata kepada beliau ‘alaihis salam (yang artinya), “Jadikanlah untuk kami sesembahan seperti sesembahan mereka. Kemudian Musa berkata sesungguhnya kalian adalah kaum yang jahil (bodoh)”.(QS. Al A’rof [7] : 138). Namun, Nabi Musa ‘alaihis salam menolak permintaan ini dan berkata : ( إِنَّ هَؤُلَاءِ مُتَبَّرٌ مَا هُمْ فِيهِ ) “Sesungguhnya kepercayaan yang dianut mereka (yang penuh dengan kebatilan) itu akan dihancurkan dan akan batal apa yang seIalu mereka kerjakan.” (QS. Al A’rof [7] : 139  ). Mengapa menjadi batal apa yang selalu mereka kerjakan? Karena yang mereka lakukan adalah kesyirikan. Dalam ayat selajutnya, Allah Ta’ala berfirman, قَالَ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَهًا وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ “Musa menjawab: “Patutkah Aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada Allah? Padahal Dialah yang telah melebihkan kalian atas segala umat”. (QS. Al A’rof [7] : 140 ). Lihatlah sikap Nabi Musa ‘alaihis salam. Beliau ‘alaihis salam mengingkari kaumnya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengingkari para sahabat. Akan tetapi, kaumnya Musa dan sahabat Nabi tidaklah berbuat syirik. Bani Israel tatkala mengatakan perkataan semacam ini, mereka tidak berbuat syirik karena belum melakukkannya, begitu pula dengan para sahabat Nabi. Seandainya para sahabat mengambil berkah dari Dzatu Anwath pasti mereka sudah dinyatakan berbuat syirik. Akan tetapi, Allah Ta’ala telah melindungi mereka. Tatkala Nabi mereka melarang untuk berbuat demikian, mereka pun enggan melakukannya. Mereka bisa mengatakan seperti ini juga karena kebodohan. Mereka tidaklah mengucapkan seperti ini dengan sengaja. Setelah mereka mengetahui bahwa mengambil berkah dari Dzatu Anwath adalah kesyirikan, mereka pun enggan melakukan hal itu. Seandainya mereka melakukan hal ini, tentu mereka telah berbuat syirik kepada Allah. Inti penjelasan dari ayat tadi (Al A’rof : 138-140) adalah bahwasanya orang-orang musyrik juga ada yang menyembah pepohonan. Orang-orang musyrik ini menjadikan Dzatu Anwath (untuk diambil berkahnya). Para sahabat -yang belum kokoh ilmu dalam hatinya itu- berusaha untuk menyerupai orang-orang musyrik tersebut. Kalau bukan karena perlindungan Allah dan Rasul-Nya, tentu mereka (para sahabat) akan terperosok dalam jurang kebinasaan (yaitu kesyirikan). Inti penjelasan dari hadits Abu Waqid Al Laitsi ini adalah ingin menjelaskan bahwa ada orang-orang yang mencari berkah dari pohon dan ber’itikaf di sekelilingnya. Makna beri’tikaf adalah berdiam diri di suatu tempat pada waktu tertentu dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Atau ringkasnya, i’tikaf adalah berdiam diri di suatu tempat. Dalam hadits Abu Waqid ini terdapat berbagai faedah penting, di antaranya: [Pertama] Hadits ini menerangkan mengenai bahaya bodoh terhadap tauhid.  Barangsiapa yang bodoh dalam masalah tauhid sangat mungkin dia terjatuh dalam kesyirikan sedangkan ia tidak mengetahuinya. Oleh karena itu, wajib bagi kita mempelajari tauhid dan juga kebalikannya yaitu syirik. Hendaklah kita mempelajari hal ini sampai kita berada di atas bashiroh (ilmu) bukan berada dalam kebodohan. Lebih-lebih berbahaya lagi jika seseorang tidak mengetahui tauhid dan syirik dengan benar. Boleh jadi dia melakukan suatu perbuatan (padahal itu syirik) namun dia menyangka itu benar karena sebab kebodohannya. Inilah yang menunjukkan bahaya kebodohan, lebih-lebih lagi jika bodoh dalam masalah aqidah. [Kedua] Dalam hadits ini juga menunjukkan bahaya tasyabbuh (menyerupai) orang-orang musyrik. Sesungguhnya menyerupai mereka (dalam perkataan atau perbuatan) dalam mengantarkan seseorang dalam kesyirikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka.”[8] Hendaklah kita tidak menyerupai orang musyrik (baik dalam perkataan maupun perbuatan) [Ketiga] Sesungguhnya mengambil berkah dari bebatuan, pepohonan, atau dari bangunan adalah suatu kesyirikan walaupun dinamai dengan nama selain syirik. Karena (ingatlah bahwa) mencari berkah dari selain Allah dari bebatuan, pepohonan ataupun kuburan, ini semua adalah kesyirikan walaupun dinamai dengan nama selain syirik. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir buku terbaru: Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer. [1] Nakiroh adalah istilah dalam ilmu nahwu yaitu kata yang belum jelas penunjukkannya. Dan menurut kaedah ushul fiqih bahwa nakiroh yang berada dalam konteks larangan atau peniadaan menunjukkan keumuman. [pen] [2] Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَتَحَرَّى أَحَدُكُمْ فَيُصَلِّى عِنْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَلاَ عِنْدَ غُرُوبِهَا “Janganlah seseorang di antara kalian bersengaja shalat pada saat matahari terbit dan tenggelam.” (HR. Bukhari no. 585 dalam Al Mawaqit Bab Janganlah bersengaja shalat pada saat tenggelamnya matahari. Juga diriwayatkan oleh Muslim no. 828 dalam Al Masajid Bab waktu-waktu terlarang shalat) [3] HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Jarir dan Al Hakim. Al Hakim berkata, “Hadits ini shohih sesuai syarat  Muslim” dan perkataan beliau ini  disetujui oleh Adz Dzahabi. Lihat Shohihul Musnad min Asbabin Nuzul karya Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullah, hal. 178, Darul Haromain-Kairo. [pen] [4] Mengambil wasilah melalui para wali yang telah mati. [pen] [5] Hakekat lata adalah kuburan, ‘uzza adalah pohon sedangkan manat adalah batu. Lihat Iqtidho’ Shirothil Mustaqim 2/156-157, ta’liq Dr. Nashr bin ‘Abdil Karim Al ‘Aql. Dan perhatikanlah penjelasan Syaikh Fauzan hafizhohullah selanjutnya. [pen] [6] Lihat Zaadul Ma’ad, 4/ 413-415 [7] HR. Tirmidzi no. 2180 dalam ‘Al Fitan’, Bab ‘Sungguh kalian akan mengikuti jejak (kebiasaan) umat-umat sebelum kalian’. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih. Juga diriwayatkan dari Ahmad (5/218), Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah no. 76, Ibnu Hibban dalam kitab shohihnya (no. 6702 – Al Ihsan). Ibnu Hajar menshohihkan hadits ini sebagaimana dalam Al Ishobah, 4/216. [Tambahan pen] : Untuk membantu penjelasan Syaikh Fauzan selanjutnya, kami bawakan hadits ini secara lengkap, عَنْ أَبِى وَاقِدٍ اللَّيْثِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا خَرَجَ إِلَى خَيْبَرَ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى (اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ) وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ » Dari Abu Waqid Al Laitsi mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala pergi ke Khoibar, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sebuah pohon milik kaum musyrikin yang dinamakan Dzatu Anwath. Orang-orang musyrik biasa menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Lalu (di antara sahabat yang baru masuk Islam) mengatakan (kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana milik orang-orang musyrik.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Subhanallah (Maha Suci Allah dari tingkah kalian yang semacam ini). Ini sama halnya dengan perkataan kaum Musa kepada beliau, ‘Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana yang ada pada mereka’. Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, sungguh kalian akan mengikuti jejak (kebiasaan) umat-umat sebelum kalian.” (HR. Tirmidzi no. 2180. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shohih) Sedangkan dalam riwayat Ahmad disebutkan, إِنَّهَا لَسُنَنٌ لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ سُنَّةً سُنَّةً “Sungguh ini adalah tradisi (kebiasaan umat terdahulu). Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat sebelum kalian perhalan demi perhalan.” (HR. Ahmad. Syaikh Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shohih sesuai syarat Bukhari-Muslim) [8] HR. Abu Dawud no. 4031 dalam Al Libas (pakaian), Bab ‘Pakaian syuhroh (ketenaran). Juga diriwayatkan oleh Ahmad (2/50) dari hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkatab bahwa hadits ini sanadnya jayyid/bagus. (Iqtidho’ Ash Shirothol Mustaqim, hal. 236-239 ). Al Hafidz Al ‘Iroqi berkata dalam Takhrij Al Ihya’ (2/65) bahwa sanad hadit ini shohih. Al Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (6/98) bahwa sanad hadits ini hasan. Tagskaedah syirik tradisi

Panduan Umrah Ringkas (2)

Sebelumnya Rumaysho.Com telah menyajikan panduan umrah mulai dari berihram, penjelasan larangan ketika ihram, dan pelaksanaan thawaf umrah. Tinggal tersisa pembahasan sa’i dan mencukur rambut.   Sa’i Umrah Setelah melakukan thawaf umrah, maka orang yang berumrah segera menuju bukit Shafa untuk melaksanakan sa’i sebanyak 7 kali putaran. Jika telah mendekati shafa, maka hendaklah mengucapkan “innash shafaa wal marwata min sya’airillah” Kemudian menaiki Shafa lalu berdiam dan menghadap Ka’bah lantas memuji Allah dan bertakbir sebanyak tiga kali, kemudian membaca do’a: “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodir, laa ilaha illallahu wahdah anjaza wa’dah wa nashoro ‘abdah wa hazamal ahzaba wahdah.” Dzikir di atas diulang tiga kali dan dianjurkan berdo’a di antara sela-sela dzikir tersebut dengan do’a sekehendak kita. Jika membaca kurang dari tiga kali, juga dibolehkan. Ketika berdo’a disunnahkan mengangkat tangan tanpa perlu berisyarat ketika takbir menghadap Ka’bah. Kemudian turun dari Bukit Shafa menuju Marwah sambil berjalan. Saat berjalan menuju Marwah, berdo’alah dengan do’a yang mudah yang ditujukan untuk diri dan kaum muslimin. Jika telah sampai lampu atau garis hijau, bagi pria diperintahkan berlari dengan kencang. Sedangkan wanita tidak berlaku demikian. Berlari tadi hingga sampai pada garis atau lampu hijau berikutnya (kedua). Kemudian setelah itu berjalan seperti biasa hingga Marwah. Ketika sampai ke bukit Marwah, dilakukan hal yang sama seperti di bukit Shafa. Hal ini terus berulang hingga tujuh kali. Hitungan sekali adalah dari Shafa ke Marwah, lalu kedua adalah dari Marwah ke Shafa, seperti itu hingga tujuh kali. Dan putaran ketujuh berakhir di bukit Marwah. Yang perlu diperhatikan saat pelaksanaa sa’i: 1- Wanita haidh dan nifas boleh melakukan sa’i. Sedangkan thawaf tidak dibolehkan untuk wanita haidh. Karena tempat sa’i bukanlah bagian dari Masjidil Haram. 2- Termasuk kesalahan saat sa’i adalah wanita ikut berlari saat melewati lampu hijau.   Mencukur dan Memendekkan Rambut Setelah umrah selesai dilaksanakan, amalan terakhir yang dilakukan adalah mencukur habis rambut kepala atau memendekkannya. Dan mencukur itu lebih baik daripada memendekkan. Sedangkan bagi wanita diperintahkan untuk memendekkan rambut kepala dengan mengambil rambut sepanjang satu ruas jari. Bagi wanita, pemotongan rambut tersebut dilakukan di tempat tertutup bukan di hadapan banyak laki-laki seperti yang dilakukan wanita berumrah di tempat sa’i. Jika amalan terakhir sudah dilakukan, maka selesailah amalan umrah. Setelah itu berbagai hal yang diharamkan saat ihram menjadi halal. Sempurnalah tahallul. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. Moga pembahasan di atas bermanfaat bagi yang sedang berumrah.   Referensi: Al Aqil, Tholal bin Ahmad, “Dalilul Mu’tamir”, terbitan Lajnah Tawzi’ Al Mathbu’aat Ad Diniyyah ‘alal Hujjaaj wal Mu’tamiriin.   Diselesaikan di Bandara Abu Dhabi, 2 Rabi’ul Awwal 1435 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Via Ipad Air Artikel www.Rumaysho.Com Tagstata cara umrah umrah

Panduan Umrah Ringkas (2)

Sebelumnya Rumaysho.Com telah menyajikan panduan umrah mulai dari berihram, penjelasan larangan ketika ihram, dan pelaksanaan thawaf umrah. Tinggal tersisa pembahasan sa’i dan mencukur rambut.   Sa’i Umrah Setelah melakukan thawaf umrah, maka orang yang berumrah segera menuju bukit Shafa untuk melaksanakan sa’i sebanyak 7 kali putaran. Jika telah mendekati shafa, maka hendaklah mengucapkan “innash shafaa wal marwata min sya’airillah” Kemudian menaiki Shafa lalu berdiam dan menghadap Ka’bah lantas memuji Allah dan bertakbir sebanyak tiga kali, kemudian membaca do’a: “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodir, laa ilaha illallahu wahdah anjaza wa’dah wa nashoro ‘abdah wa hazamal ahzaba wahdah.” Dzikir di atas diulang tiga kali dan dianjurkan berdo’a di antara sela-sela dzikir tersebut dengan do’a sekehendak kita. Jika membaca kurang dari tiga kali, juga dibolehkan. Ketika berdo’a disunnahkan mengangkat tangan tanpa perlu berisyarat ketika takbir menghadap Ka’bah. Kemudian turun dari Bukit Shafa menuju Marwah sambil berjalan. Saat berjalan menuju Marwah, berdo’alah dengan do’a yang mudah yang ditujukan untuk diri dan kaum muslimin. Jika telah sampai lampu atau garis hijau, bagi pria diperintahkan berlari dengan kencang. Sedangkan wanita tidak berlaku demikian. Berlari tadi hingga sampai pada garis atau lampu hijau berikutnya (kedua). Kemudian setelah itu berjalan seperti biasa hingga Marwah. Ketika sampai ke bukit Marwah, dilakukan hal yang sama seperti di bukit Shafa. Hal ini terus berulang hingga tujuh kali. Hitungan sekali adalah dari Shafa ke Marwah, lalu kedua adalah dari Marwah ke Shafa, seperti itu hingga tujuh kali. Dan putaran ketujuh berakhir di bukit Marwah. Yang perlu diperhatikan saat pelaksanaa sa’i: 1- Wanita haidh dan nifas boleh melakukan sa’i. Sedangkan thawaf tidak dibolehkan untuk wanita haidh. Karena tempat sa’i bukanlah bagian dari Masjidil Haram. 2- Termasuk kesalahan saat sa’i adalah wanita ikut berlari saat melewati lampu hijau.   Mencukur dan Memendekkan Rambut Setelah umrah selesai dilaksanakan, amalan terakhir yang dilakukan adalah mencukur habis rambut kepala atau memendekkannya. Dan mencukur itu lebih baik daripada memendekkan. Sedangkan bagi wanita diperintahkan untuk memendekkan rambut kepala dengan mengambil rambut sepanjang satu ruas jari. Bagi wanita, pemotongan rambut tersebut dilakukan di tempat tertutup bukan di hadapan banyak laki-laki seperti yang dilakukan wanita berumrah di tempat sa’i. Jika amalan terakhir sudah dilakukan, maka selesailah amalan umrah. Setelah itu berbagai hal yang diharamkan saat ihram menjadi halal. Sempurnalah tahallul. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. Moga pembahasan di atas bermanfaat bagi yang sedang berumrah.   Referensi: Al Aqil, Tholal bin Ahmad, “Dalilul Mu’tamir”, terbitan Lajnah Tawzi’ Al Mathbu’aat Ad Diniyyah ‘alal Hujjaaj wal Mu’tamiriin.   Diselesaikan di Bandara Abu Dhabi, 2 Rabi’ul Awwal 1435 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Via Ipad Air Artikel www.Rumaysho.Com Tagstata cara umrah umrah
Sebelumnya Rumaysho.Com telah menyajikan panduan umrah mulai dari berihram, penjelasan larangan ketika ihram, dan pelaksanaan thawaf umrah. Tinggal tersisa pembahasan sa’i dan mencukur rambut.   Sa’i Umrah Setelah melakukan thawaf umrah, maka orang yang berumrah segera menuju bukit Shafa untuk melaksanakan sa’i sebanyak 7 kali putaran. Jika telah mendekati shafa, maka hendaklah mengucapkan “innash shafaa wal marwata min sya’airillah” Kemudian menaiki Shafa lalu berdiam dan menghadap Ka’bah lantas memuji Allah dan bertakbir sebanyak tiga kali, kemudian membaca do’a: “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodir, laa ilaha illallahu wahdah anjaza wa’dah wa nashoro ‘abdah wa hazamal ahzaba wahdah.” Dzikir di atas diulang tiga kali dan dianjurkan berdo’a di antara sela-sela dzikir tersebut dengan do’a sekehendak kita. Jika membaca kurang dari tiga kali, juga dibolehkan. Ketika berdo’a disunnahkan mengangkat tangan tanpa perlu berisyarat ketika takbir menghadap Ka’bah. Kemudian turun dari Bukit Shafa menuju Marwah sambil berjalan. Saat berjalan menuju Marwah, berdo’alah dengan do’a yang mudah yang ditujukan untuk diri dan kaum muslimin. Jika telah sampai lampu atau garis hijau, bagi pria diperintahkan berlari dengan kencang. Sedangkan wanita tidak berlaku demikian. Berlari tadi hingga sampai pada garis atau lampu hijau berikutnya (kedua). Kemudian setelah itu berjalan seperti biasa hingga Marwah. Ketika sampai ke bukit Marwah, dilakukan hal yang sama seperti di bukit Shafa. Hal ini terus berulang hingga tujuh kali. Hitungan sekali adalah dari Shafa ke Marwah, lalu kedua adalah dari Marwah ke Shafa, seperti itu hingga tujuh kali. Dan putaran ketujuh berakhir di bukit Marwah. Yang perlu diperhatikan saat pelaksanaa sa’i: 1- Wanita haidh dan nifas boleh melakukan sa’i. Sedangkan thawaf tidak dibolehkan untuk wanita haidh. Karena tempat sa’i bukanlah bagian dari Masjidil Haram. 2- Termasuk kesalahan saat sa’i adalah wanita ikut berlari saat melewati lampu hijau.   Mencukur dan Memendekkan Rambut Setelah umrah selesai dilaksanakan, amalan terakhir yang dilakukan adalah mencukur habis rambut kepala atau memendekkannya. Dan mencukur itu lebih baik daripada memendekkan. Sedangkan bagi wanita diperintahkan untuk memendekkan rambut kepala dengan mengambil rambut sepanjang satu ruas jari. Bagi wanita, pemotongan rambut tersebut dilakukan di tempat tertutup bukan di hadapan banyak laki-laki seperti yang dilakukan wanita berumrah di tempat sa’i. Jika amalan terakhir sudah dilakukan, maka selesailah amalan umrah. Setelah itu berbagai hal yang diharamkan saat ihram menjadi halal. Sempurnalah tahallul. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. Moga pembahasan di atas bermanfaat bagi yang sedang berumrah.   Referensi: Al Aqil, Tholal bin Ahmad, “Dalilul Mu’tamir”, terbitan Lajnah Tawzi’ Al Mathbu’aat Ad Diniyyah ‘alal Hujjaaj wal Mu’tamiriin.   Diselesaikan di Bandara Abu Dhabi, 2 Rabi’ul Awwal 1435 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Via Ipad Air Artikel www.Rumaysho.Com Tagstata cara umrah umrah


Sebelumnya Rumaysho.Com telah menyajikan panduan umrah mulai dari berihram, penjelasan larangan ketika ihram, dan pelaksanaan thawaf umrah. Tinggal tersisa pembahasan sa’i dan mencukur rambut.   Sa’i Umrah Setelah melakukan thawaf umrah, maka orang yang berumrah segera menuju bukit Shafa untuk melaksanakan sa’i sebanyak 7 kali putaran. Jika telah mendekati shafa, maka hendaklah mengucapkan “innash shafaa wal marwata min sya’airillah” Kemudian menaiki Shafa lalu berdiam dan menghadap Ka’bah lantas memuji Allah dan bertakbir sebanyak tiga kali, kemudian membaca do’a: “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodir, laa ilaha illallahu wahdah anjaza wa’dah wa nashoro ‘abdah wa hazamal ahzaba wahdah.” Dzikir di atas diulang tiga kali dan dianjurkan berdo’a di antara sela-sela dzikir tersebut dengan do’a sekehendak kita. Jika membaca kurang dari tiga kali, juga dibolehkan. Ketika berdo’a disunnahkan mengangkat tangan tanpa perlu berisyarat ketika takbir menghadap Ka’bah. Kemudian turun dari Bukit Shafa menuju Marwah sambil berjalan. Saat berjalan menuju Marwah, berdo’alah dengan do’a yang mudah yang ditujukan untuk diri dan kaum muslimin. Jika telah sampai lampu atau garis hijau, bagi pria diperintahkan berlari dengan kencang. Sedangkan wanita tidak berlaku demikian. Berlari tadi hingga sampai pada garis atau lampu hijau berikutnya (kedua). Kemudian setelah itu berjalan seperti biasa hingga Marwah. Ketika sampai ke bukit Marwah, dilakukan hal yang sama seperti di bukit Shafa. Hal ini terus berulang hingga tujuh kali. Hitungan sekali adalah dari Shafa ke Marwah, lalu kedua adalah dari Marwah ke Shafa, seperti itu hingga tujuh kali. Dan putaran ketujuh berakhir di bukit Marwah. Yang perlu diperhatikan saat pelaksanaa sa’i: 1- Wanita haidh dan nifas boleh melakukan sa’i. Sedangkan thawaf tidak dibolehkan untuk wanita haidh. Karena tempat sa’i bukanlah bagian dari Masjidil Haram. 2- Termasuk kesalahan saat sa’i adalah wanita ikut berlari saat melewati lampu hijau.   Mencukur dan Memendekkan Rambut Setelah umrah selesai dilaksanakan, amalan terakhir yang dilakukan adalah mencukur habis rambut kepala atau memendekkannya. Dan mencukur itu lebih baik daripada memendekkan. Sedangkan bagi wanita diperintahkan untuk memendekkan rambut kepala dengan mengambil rambut sepanjang satu ruas jari. Bagi wanita, pemotongan rambut tersebut dilakukan di tempat tertutup bukan di hadapan banyak laki-laki seperti yang dilakukan wanita berumrah di tempat sa’i. Jika amalan terakhir sudah dilakukan, maka selesailah amalan umrah. Setelah itu berbagai hal yang diharamkan saat ihram menjadi halal. Sempurnalah tahallul. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. Moga pembahasan di atas bermanfaat bagi yang sedang berumrah.   Referensi: Al Aqil, Tholal bin Ahmad, “Dalilul Mu’tamir”, terbitan Lajnah Tawzi’ Al Mathbu’aat Ad Diniyyah ‘alal Hujjaaj wal Mu’tamiriin.   Diselesaikan di Bandara Abu Dhabi, 2 Rabi’ul Awwal 1435 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Via Ipad Air Artikel www.Rumaysho.Com Tagstata cara umrah umrah

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 21: Anak dan Rukun Iman Bagian 3

07JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 21: Anak dan Rukun Iman Bagian 3January 7, 2014Akhlak, Aqidah, Belajar Islam, Keluarga Islami, Metode Beragama, Nasihat dan Faidah Setelah menjelaskan keimanan kepada Allah, maka berikutnya adalah rukun iman kedua yaitu: 2. Beriman kepada Para Malaikat Pertama kita perlu mengatakan kepada putra putri kita bahwa mempercayai keberadaan malaikat adalah wajib, walaupun fisik mereka tidak terlihat. Hal ini termasuk bentuk kepatuhan kepada Allah ta’ala. Lalu kita jelaskan beberapa ciri fisik malaikat. Di antaranya bahwa malaikat diciptakan dari cahaya. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya, “خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ”. “Malaikat diciptakan dari cahaya. Jin diciptakan dari hawa panas dan api. Sedangkan Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan pada kalian (yakni dari tanah)”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha. Mereka juga memiliki sayap dengan jumlah yang berbeda dari satu malaikat dengan malaikat lainnya. Sebagaimana dalam QS. Fathir (35): 1. Dan jumlah para malaikat tak terbatas. Sebagaimana dalam QS. Al-Muddatsir (74): 31. Itu sebagian dari ciri fisik mereka. Adapun sifat yang mereka miliki, antara lain: mereka selalu patuh kepada Allah dan tidak pernah berbuat maksiat. Mereka juga selalu bertasbih kepada Allah siang dan malam, tanpa kenal lelah sedikitpun. Para malaikat memiliki nama dan tugas. Ada yang kita ketahui dan ada pula yang tidak. Di antara yang kita ketahui adalah malaikat Jibril, yang ditugasi untuk menyampaikan wahyu kepada para rasul. Malaikat Mikail, ditugasi untuk menurunkan hujan dan membagikannya. Malakul maut bertugas untuk mencabut nyawa, ketika ajal seseorang tiba. Dan masih ada malaikat-malaikat lain yang memiliki tugas berbeda-beda. Seperti para malaikat yang ditugasi untuk mencatat perkataan dan perbuatan manusia, entah yang baik maupun yang buruk. Malaikat yang bertugas menghadiri majlis dzikir dan majlis taklim. Malaikat yang menanyai manusia di kuburan. Dan masih banyak jenis malaikat lainnya. Poin terakhir yang perlu dijelaskan kepada anak adalah: buah dari keimanan terhadap malaikat. Antara lain: Semakin menyadari keagungan, kekuatan dan kekuasaan Allah. Sebab kebesaran ciptaan menunjukkan kemahabesaran Penciptanya. Semakin berhati-hati dalam berucap dan berbuat; sebab menyadari adanya para malaikat yang senantiasa mencatat ucapan dan perbuatan kita. Merasa tenang saat menapaki jalan keimanan; karena yakin senantiasa ditemani ribuan malaikat yang juga menapaki jalan tersebut. Waspada menghadapi Malakul Maut yang senantiasa siap untuk mencabut nyawa, di mana dan kapanpun kita berada. Karena itu selalu berusaha taat kepada Allah ta’ala. Semoga bermanfaat… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Rabi’ul Awwal 1435 / 6 Januari 2014   * Diramu oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai referensi. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 21: Anak dan Rukun Iman Bagian 3

07JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 21: Anak dan Rukun Iman Bagian 3January 7, 2014Akhlak, Aqidah, Belajar Islam, Keluarga Islami, Metode Beragama, Nasihat dan Faidah Setelah menjelaskan keimanan kepada Allah, maka berikutnya adalah rukun iman kedua yaitu: 2. Beriman kepada Para Malaikat Pertama kita perlu mengatakan kepada putra putri kita bahwa mempercayai keberadaan malaikat adalah wajib, walaupun fisik mereka tidak terlihat. Hal ini termasuk bentuk kepatuhan kepada Allah ta’ala. Lalu kita jelaskan beberapa ciri fisik malaikat. Di antaranya bahwa malaikat diciptakan dari cahaya. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya, “خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ”. “Malaikat diciptakan dari cahaya. Jin diciptakan dari hawa panas dan api. Sedangkan Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan pada kalian (yakni dari tanah)”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha. Mereka juga memiliki sayap dengan jumlah yang berbeda dari satu malaikat dengan malaikat lainnya. Sebagaimana dalam QS. Fathir (35): 1. Dan jumlah para malaikat tak terbatas. Sebagaimana dalam QS. Al-Muddatsir (74): 31. Itu sebagian dari ciri fisik mereka. Adapun sifat yang mereka miliki, antara lain: mereka selalu patuh kepada Allah dan tidak pernah berbuat maksiat. Mereka juga selalu bertasbih kepada Allah siang dan malam, tanpa kenal lelah sedikitpun. Para malaikat memiliki nama dan tugas. Ada yang kita ketahui dan ada pula yang tidak. Di antara yang kita ketahui adalah malaikat Jibril, yang ditugasi untuk menyampaikan wahyu kepada para rasul. Malaikat Mikail, ditugasi untuk menurunkan hujan dan membagikannya. Malakul maut bertugas untuk mencabut nyawa, ketika ajal seseorang tiba. Dan masih ada malaikat-malaikat lain yang memiliki tugas berbeda-beda. Seperti para malaikat yang ditugasi untuk mencatat perkataan dan perbuatan manusia, entah yang baik maupun yang buruk. Malaikat yang bertugas menghadiri majlis dzikir dan majlis taklim. Malaikat yang menanyai manusia di kuburan. Dan masih banyak jenis malaikat lainnya. Poin terakhir yang perlu dijelaskan kepada anak adalah: buah dari keimanan terhadap malaikat. Antara lain: Semakin menyadari keagungan, kekuatan dan kekuasaan Allah. Sebab kebesaran ciptaan menunjukkan kemahabesaran Penciptanya. Semakin berhati-hati dalam berucap dan berbuat; sebab menyadari adanya para malaikat yang senantiasa mencatat ucapan dan perbuatan kita. Merasa tenang saat menapaki jalan keimanan; karena yakin senantiasa ditemani ribuan malaikat yang juga menapaki jalan tersebut. Waspada menghadapi Malakul Maut yang senantiasa siap untuk mencabut nyawa, di mana dan kapanpun kita berada. Karena itu selalu berusaha taat kepada Allah ta’ala. Semoga bermanfaat… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Rabi’ul Awwal 1435 / 6 Januari 2014   * Diramu oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai referensi. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
07JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 21: Anak dan Rukun Iman Bagian 3January 7, 2014Akhlak, Aqidah, Belajar Islam, Keluarga Islami, Metode Beragama, Nasihat dan Faidah Setelah menjelaskan keimanan kepada Allah, maka berikutnya adalah rukun iman kedua yaitu: 2. Beriman kepada Para Malaikat Pertama kita perlu mengatakan kepada putra putri kita bahwa mempercayai keberadaan malaikat adalah wajib, walaupun fisik mereka tidak terlihat. Hal ini termasuk bentuk kepatuhan kepada Allah ta’ala. Lalu kita jelaskan beberapa ciri fisik malaikat. Di antaranya bahwa malaikat diciptakan dari cahaya. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya, “خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ”. “Malaikat diciptakan dari cahaya. Jin diciptakan dari hawa panas dan api. Sedangkan Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan pada kalian (yakni dari tanah)”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha. Mereka juga memiliki sayap dengan jumlah yang berbeda dari satu malaikat dengan malaikat lainnya. Sebagaimana dalam QS. Fathir (35): 1. Dan jumlah para malaikat tak terbatas. Sebagaimana dalam QS. Al-Muddatsir (74): 31. Itu sebagian dari ciri fisik mereka. Adapun sifat yang mereka miliki, antara lain: mereka selalu patuh kepada Allah dan tidak pernah berbuat maksiat. Mereka juga selalu bertasbih kepada Allah siang dan malam, tanpa kenal lelah sedikitpun. Para malaikat memiliki nama dan tugas. Ada yang kita ketahui dan ada pula yang tidak. Di antara yang kita ketahui adalah malaikat Jibril, yang ditugasi untuk menyampaikan wahyu kepada para rasul. Malaikat Mikail, ditugasi untuk menurunkan hujan dan membagikannya. Malakul maut bertugas untuk mencabut nyawa, ketika ajal seseorang tiba. Dan masih ada malaikat-malaikat lain yang memiliki tugas berbeda-beda. Seperti para malaikat yang ditugasi untuk mencatat perkataan dan perbuatan manusia, entah yang baik maupun yang buruk. Malaikat yang bertugas menghadiri majlis dzikir dan majlis taklim. Malaikat yang menanyai manusia di kuburan. Dan masih banyak jenis malaikat lainnya. Poin terakhir yang perlu dijelaskan kepada anak adalah: buah dari keimanan terhadap malaikat. Antara lain: Semakin menyadari keagungan, kekuatan dan kekuasaan Allah. Sebab kebesaran ciptaan menunjukkan kemahabesaran Penciptanya. Semakin berhati-hati dalam berucap dan berbuat; sebab menyadari adanya para malaikat yang senantiasa mencatat ucapan dan perbuatan kita. Merasa tenang saat menapaki jalan keimanan; karena yakin senantiasa ditemani ribuan malaikat yang juga menapaki jalan tersebut. Waspada menghadapi Malakul Maut yang senantiasa siap untuk mencabut nyawa, di mana dan kapanpun kita berada. Karena itu selalu berusaha taat kepada Allah ta’ala. Semoga bermanfaat… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Rabi’ul Awwal 1435 / 6 Januari 2014   * Diramu oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai referensi. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


07JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 21: Anak dan Rukun Iman Bagian 3January 7, 2014Akhlak, Aqidah, Belajar Islam, Keluarga Islami, Metode Beragama, Nasihat dan Faidah Setelah menjelaskan keimanan kepada Allah, maka berikutnya adalah rukun iman kedua yaitu: 2. Beriman kepada Para Malaikat Pertama kita perlu mengatakan kepada putra putri kita bahwa mempercayai keberadaan malaikat adalah wajib, walaupun fisik mereka tidak terlihat. Hal ini termasuk bentuk kepatuhan kepada Allah ta’ala. Lalu kita jelaskan beberapa ciri fisik malaikat. Di antaranya bahwa malaikat diciptakan dari cahaya. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya, “خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ”. “Malaikat diciptakan dari cahaya. Jin diciptakan dari hawa panas dan api. Sedangkan Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan pada kalian (yakni dari tanah)”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha. Mereka juga memiliki sayap dengan jumlah yang berbeda dari satu malaikat dengan malaikat lainnya. Sebagaimana dalam QS. Fathir (35): 1. Dan jumlah para malaikat tak terbatas. Sebagaimana dalam QS. Al-Muddatsir (74): 31. Itu sebagian dari ciri fisik mereka. Adapun sifat yang mereka miliki, antara lain: mereka selalu patuh kepada Allah dan tidak pernah berbuat maksiat. Mereka juga selalu bertasbih kepada Allah siang dan malam, tanpa kenal lelah sedikitpun. Para malaikat memiliki nama dan tugas. Ada yang kita ketahui dan ada pula yang tidak. Di antara yang kita ketahui adalah malaikat Jibril, yang ditugasi untuk menyampaikan wahyu kepada para rasul. Malaikat Mikail, ditugasi untuk menurunkan hujan dan membagikannya. Malakul maut bertugas untuk mencabut nyawa, ketika ajal seseorang tiba. Dan masih ada malaikat-malaikat lain yang memiliki tugas berbeda-beda. Seperti para malaikat yang ditugasi untuk mencatat perkataan dan perbuatan manusia, entah yang baik maupun yang buruk. Malaikat yang bertugas menghadiri majlis dzikir dan majlis taklim. Malaikat yang menanyai manusia di kuburan. Dan masih banyak jenis malaikat lainnya. Poin terakhir yang perlu dijelaskan kepada anak adalah: buah dari keimanan terhadap malaikat. Antara lain: Semakin menyadari keagungan, kekuatan dan kekuasaan Allah. Sebab kebesaran ciptaan menunjukkan kemahabesaran Penciptanya. Semakin berhati-hati dalam berucap dan berbuat; sebab menyadari adanya para malaikat yang senantiasa mencatat ucapan dan perbuatan kita. Merasa tenang saat menapaki jalan keimanan; karena yakin senantiasa ditemani ribuan malaikat yang juga menapaki jalan tersebut. Waspada menghadapi Malakul Maut yang senantiasa siap untuk mencabut nyawa, di mana dan kapanpun kita berada. Karena itu selalu berusaha taat kepada Allah ta’ala. Semoga bermanfaat… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Rabi’ul Awwal 1435 / 6 Januari 2014   * Diramu oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai referensi. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Mengapa Adzab Orang kafir Kekal?

Mengapa Adzab Orang kafir Kekal? Bagian dari nama Maha Adil bagi Allah, Dia akan memberikan hukuman kepada hamba yang durhaka, sesuai tingkat maksiat yang dilakukan. Jika orang kafir bermaksiat kepada Allah sepanjang usianya, mengapa adzab yang diberikan kepadanya kekal abadi? Ada beberapa jawaban, Pertama, orang yang mati kafir memiliki tabiat menolak kebenaran sepanjang hayat. Sehingga sekalipun mereka diberi hidayah, mereka akan menolaknya, sehingga mereka terus-menerus jadi kafir. وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَأَسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ Kalau sekiranya Allah mengetahui ada kebaikan pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar (hidayah). dan kalaupun Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, dan mereka menolaknya. (QS. Al-Anfal: 23) Kedua, andaikan orang yang mati kafir itu dikembalikan lagi ke dunia, mereka akan tetap kembali kafir. Karena itu, sepanjang apapun usia yang Allah berikan kepadanya, dia akan terus kafir. Karena terus kafir, maka hukuman yang diberikan sifatnya kekal. وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ Jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka akan berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan kami tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta kami akan menjadi orang-orang yang beriman”. (QS. Al-An’am: 27). Harapan mereka ini Allah bantah di ayat lanjutannya, بَلْ بَدَا لَهُمْ مَا كَانُوا يُخْفُونَ مِنْ قَبْلُ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada perbuatan yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka. (QS. Al-An’am; 28).

Mengapa Adzab Orang kafir Kekal?

Mengapa Adzab Orang kafir Kekal? Bagian dari nama Maha Adil bagi Allah, Dia akan memberikan hukuman kepada hamba yang durhaka, sesuai tingkat maksiat yang dilakukan. Jika orang kafir bermaksiat kepada Allah sepanjang usianya, mengapa adzab yang diberikan kepadanya kekal abadi? Ada beberapa jawaban, Pertama, orang yang mati kafir memiliki tabiat menolak kebenaran sepanjang hayat. Sehingga sekalipun mereka diberi hidayah, mereka akan menolaknya, sehingga mereka terus-menerus jadi kafir. وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَأَسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ Kalau sekiranya Allah mengetahui ada kebaikan pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar (hidayah). dan kalaupun Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, dan mereka menolaknya. (QS. Al-Anfal: 23) Kedua, andaikan orang yang mati kafir itu dikembalikan lagi ke dunia, mereka akan tetap kembali kafir. Karena itu, sepanjang apapun usia yang Allah berikan kepadanya, dia akan terus kafir. Karena terus kafir, maka hukuman yang diberikan sifatnya kekal. وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ Jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka akan berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan kami tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta kami akan menjadi orang-orang yang beriman”. (QS. Al-An’am: 27). Harapan mereka ini Allah bantah di ayat lanjutannya, بَلْ بَدَا لَهُمْ مَا كَانُوا يُخْفُونَ مِنْ قَبْلُ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada perbuatan yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka. (QS. Al-An’am; 28).
Mengapa Adzab Orang kafir Kekal? Bagian dari nama Maha Adil bagi Allah, Dia akan memberikan hukuman kepada hamba yang durhaka, sesuai tingkat maksiat yang dilakukan. Jika orang kafir bermaksiat kepada Allah sepanjang usianya, mengapa adzab yang diberikan kepadanya kekal abadi? Ada beberapa jawaban, Pertama, orang yang mati kafir memiliki tabiat menolak kebenaran sepanjang hayat. Sehingga sekalipun mereka diberi hidayah, mereka akan menolaknya, sehingga mereka terus-menerus jadi kafir. وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَأَسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ Kalau sekiranya Allah mengetahui ada kebaikan pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar (hidayah). dan kalaupun Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, dan mereka menolaknya. (QS. Al-Anfal: 23) Kedua, andaikan orang yang mati kafir itu dikembalikan lagi ke dunia, mereka akan tetap kembali kafir. Karena itu, sepanjang apapun usia yang Allah berikan kepadanya, dia akan terus kafir. Karena terus kafir, maka hukuman yang diberikan sifatnya kekal. وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ Jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka akan berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan kami tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta kami akan menjadi orang-orang yang beriman”. (QS. Al-An’am: 27). Harapan mereka ini Allah bantah di ayat lanjutannya, بَلْ بَدَا لَهُمْ مَا كَانُوا يُخْفُونَ مِنْ قَبْلُ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada perbuatan yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka. (QS. Al-An’am; 28).


Mengapa Adzab Orang kafir Kekal? Bagian dari nama Maha Adil bagi Allah, Dia akan memberikan hukuman kepada hamba yang durhaka, sesuai tingkat maksiat yang dilakukan. Jika orang kafir bermaksiat kepada Allah sepanjang usianya, mengapa adzab yang diberikan kepadanya kekal abadi? Ada beberapa jawaban, Pertama, orang yang mati kafir memiliki tabiat menolak kebenaran sepanjang hayat. Sehingga sekalipun mereka diberi hidayah, mereka akan menolaknya, sehingga mereka terus-menerus jadi kafir. وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَأَسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ Kalau sekiranya Allah mengetahui ada kebaikan pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar (hidayah). dan kalaupun Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, dan mereka menolaknya. (QS. Al-Anfal: 23) Kedua, andaikan orang yang mati kafir itu dikembalikan lagi ke dunia, mereka akan tetap kembali kafir. Karena itu, sepanjang apapun usia yang Allah berikan kepadanya, dia akan terus kafir. Karena terus kafir, maka hukuman yang diberikan sifatnya kekal. وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ Jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka akan berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan kami tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta kami akan menjadi orang-orang yang beriman”. (QS. Al-An’am: 27). Harapan mereka ini Allah bantah di ayat lanjutannya, بَلْ بَدَا لَهُمْ مَا كَانُوا يُخْفُونَ مِنْ قَبْلُ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada perbuatan yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka. (QS. Al-An’am; 28).

Agar Musibah Terasa Ringan

Agar Musibah Terasa Ringan Ketika perang Uhud, banyak sahabat yang berguguran. Masyarakat menilai, kaum muslimin mengalami kekalahan. Keadaan ini membuat mereka bersedih. Diantara hiburan yang Allah berikan adalah ayat, إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا Jika kamu menderita kesakitan, Sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah sesuatu yang tidak mereka harapkan. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa: 104). Ada dua cara agar musibah yang kita alami terasa ringan, Pertama, musibah ini juga dirasakan orang lain, termasuk orang kafir. Artinya musibah itu tidak hanya menimpa kita. Kedua, kita memiliki harapan besar di sisi Allah, bahwa musibah ini akan mendatangkan pahala. Karena tidak ada yang sia-sia bagi seorang muslim. Sementara orang kafir tidak memiliki harapan seperti kita. ”kamu mengharap dari Allah sesuatu yang tidak mereka harapkan.”

Agar Musibah Terasa Ringan

Agar Musibah Terasa Ringan Ketika perang Uhud, banyak sahabat yang berguguran. Masyarakat menilai, kaum muslimin mengalami kekalahan. Keadaan ini membuat mereka bersedih. Diantara hiburan yang Allah berikan adalah ayat, إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا Jika kamu menderita kesakitan, Sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah sesuatu yang tidak mereka harapkan. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa: 104). Ada dua cara agar musibah yang kita alami terasa ringan, Pertama, musibah ini juga dirasakan orang lain, termasuk orang kafir. Artinya musibah itu tidak hanya menimpa kita. Kedua, kita memiliki harapan besar di sisi Allah, bahwa musibah ini akan mendatangkan pahala. Karena tidak ada yang sia-sia bagi seorang muslim. Sementara orang kafir tidak memiliki harapan seperti kita. ”kamu mengharap dari Allah sesuatu yang tidak mereka harapkan.”
Agar Musibah Terasa Ringan Ketika perang Uhud, banyak sahabat yang berguguran. Masyarakat menilai, kaum muslimin mengalami kekalahan. Keadaan ini membuat mereka bersedih. Diantara hiburan yang Allah berikan adalah ayat, إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا Jika kamu menderita kesakitan, Sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah sesuatu yang tidak mereka harapkan. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa: 104). Ada dua cara agar musibah yang kita alami terasa ringan, Pertama, musibah ini juga dirasakan orang lain, termasuk orang kafir. Artinya musibah itu tidak hanya menimpa kita. Kedua, kita memiliki harapan besar di sisi Allah, bahwa musibah ini akan mendatangkan pahala. Karena tidak ada yang sia-sia bagi seorang muslim. Sementara orang kafir tidak memiliki harapan seperti kita. ”kamu mengharap dari Allah sesuatu yang tidak mereka harapkan.”


Agar Musibah Terasa Ringan Ketika perang Uhud, banyak sahabat yang berguguran. Masyarakat menilai, kaum muslimin mengalami kekalahan. Keadaan ini membuat mereka bersedih. Diantara hiburan yang Allah berikan adalah ayat, إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا Jika kamu menderita kesakitan, Sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah sesuatu yang tidak mereka harapkan. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa: 104). Ada dua cara agar musibah yang kita alami terasa ringan, Pertama, musibah ini juga dirasakan orang lain, termasuk orang kafir. Artinya musibah itu tidak hanya menimpa kita. Kedua, kita memiliki harapan besar di sisi Allah, bahwa musibah ini akan mendatangkan pahala. Karena tidak ada yang sia-sia bagi seorang muslim. Sementara orang kafir tidak memiliki harapan seperti kita. ”kamu mengharap dari Allah sesuatu yang tidak mereka harapkan.”

Tawakkal Kepada Yang Maha Hidup

Tawakkal Kepada Yang Maha Hidup Allah Dzat Yang Maha Hidup (al-Hayyu). Hidup yang sempurna dan memberi kehidupan yang lain. Orang yang bertawakkal kepada Allah, seluruh perbuatan, ucapan dan semua keadaannya akan menjadi hidup. Karena itu, kita diperintahkan untuk bertawakkal kepada Dzat Yang Maha Hidup, وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ Bertawakkallah kepada Dzat Yang Maha Hidup, yang tidak mati. (QS. Al-Furqan: 58) Ketika seorang hamba bertawakal dengan benar kepada Dzat Yang Maha Hidup, Allah akan hidupkan seluruh urusannya, Allah jamin urusannya, dan Allah sempurnakan hasilnya. Inilah rahasia, mengapa Allah pilih nama ’al-Hayyu’ ketika Allah perintahkan kita untuk tawakkal. Agar selalu hadir dalam perasaan kita, bahwa tujuan tawakkal kita adalah Dzat Yang Maha Hidup, Sang Pemberi kehidupan.

Tawakkal Kepada Yang Maha Hidup

Tawakkal Kepada Yang Maha Hidup Allah Dzat Yang Maha Hidup (al-Hayyu). Hidup yang sempurna dan memberi kehidupan yang lain. Orang yang bertawakkal kepada Allah, seluruh perbuatan, ucapan dan semua keadaannya akan menjadi hidup. Karena itu, kita diperintahkan untuk bertawakkal kepada Dzat Yang Maha Hidup, وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ Bertawakkallah kepada Dzat Yang Maha Hidup, yang tidak mati. (QS. Al-Furqan: 58) Ketika seorang hamba bertawakal dengan benar kepada Dzat Yang Maha Hidup, Allah akan hidupkan seluruh urusannya, Allah jamin urusannya, dan Allah sempurnakan hasilnya. Inilah rahasia, mengapa Allah pilih nama ’al-Hayyu’ ketika Allah perintahkan kita untuk tawakkal. Agar selalu hadir dalam perasaan kita, bahwa tujuan tawakkal kita adalah Dzat Yang Maha Hidup, Sang Pemberi kehidupan.
Tawakkal Kepada Yang Maha Hidup Allah Dzat Yang Maha Hidup (al-Hayyu). Hidup yang sempurna dan memberi kehidupan yang lain. Orang yang bertawakkal kepada Allah, seluruh perbuatan, ucapan dan semua keadaannya akan menjadi hidup. Karena itu, kita diperintahkan untuk bertawakkal kepada Dzat Yang Maha Hidup, وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ Bertawakkallah kepada Dzat Yang Maha Hidup, yang tidak mati. (QS. Al-Furqan: 58) Ketika seorang hamba bertawakal dengan benar kepada Dzat Yang Maha Hidup, Allah akan hidupkan seluruh urusannya, Allah jamin urusannya, dan Allah sempurnakan hasilnya. Inilah rahasia, mengapa Allah pilih nama ’al-Hayyu’ ketika Allah perintahkan kita untuk tawakkal. Agar selalu hadir dalam perasaan kita, bahwa tujuan tawakkal kita adalah Dzat Yang Maha Hidup, Sang Pemberi kehidupan.


Tawakkal Kepada Yang Maha Hidup Allah Dzat Yang Maha Hidup (al-Hayyu). Hidup yang sempurna dan memberi kehidupan yang lain. Orang yang bertawakkal kepada Allah, seluruh perbuatan, ucapan dan semua keadaannya akan menjadi hidup. Karena itu, kita diperintahkan untuk bertawakkal kepada Dzat Yang Maha Hidup, وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ Bertawakkallah kepada Dzat Yang Maha Hidup, yang tidak mati. (QS. Al-Furqan: 58) Ketika seorang hamba bertawakal dengan benar kepada Dzat Yang Maha Hidup, Allah akan hidupkan seluruh urusannya, Allah jamin urusannya, dan Allah sempurnakan hasilnya. Inilah rahasia, mengapa Allah pilih nama ’al-Hayyu’ ketika Allah perintahkan kita untuk tawakkal. Agar selalu hadir dalam perasaan kita, bahwa tujuan tawakkal kita adalah Dzat Yang Maha Hidup, Sang Pemberi kehidupan.

Kaedah Memahami Syirik (2): Tawasul dan Meminta Syafa’at

Satu lagi kesyirikan yang dapat terjadi yaitu dalam masalah tawasul (mengambil perantara) dalam do’a kepada orang yang sudah mati dan meminta syafa’at pada selain Allah padahal sepenuhnya syafa’at diminta dari Allah. Syaikh Muhammad At Tamimi melanjutkan kaedah kedua dalam kitab beliau Al Qowa’idul Arba’. القَاعِدَةُ الثَّانِيَةُ: أَنَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ: مَا دَعَوْنَاهُمْ وَتَوَجَّهْنَا إِلَيْهِمْ إِلاَّ لِطَلَبِ الْقُرْبَةِ وَالشَّفَاعَةِ، فَدَلِيْلُ الْقُرْبَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ﴾[الزمر:3]. [KAEDAH KEDUA] Mereka (orang-orang musyrik) mengatakan, “Kami tidaklah berdoa kepada mereka dan menghadapkan wajah kami kepada mereka (selain Allah) kecuali untuk mendekatkan diri pada Allah dan untuk memperoleh syafa’at mereka.” Dalil yang menunjukkan bahwa argumen orang musyrik adalah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah (qurbah) yaitu firman Allah  Ta‘ala (yang artinya), “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya“. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az Zumar [39] : 3)   [KAEDAH KEDUA] Sesungguhnya orang-orang musyrik yang Allah menyeru mereka dengan sebutan musyrik dan menghukumi mereka dengan kekal dalam neraka, mereka tidaklah melakukan perbuatan syirik dalam hal rububiyah, akan tetapi yang mereka lakukan adalah berbuat syirik dalam perkara uluhiyah. Mereka tidaklah mengatakan bahwa sesembahan mereka itu dapat mencipta dan memberi rizki di samping Allah. Mereka juga tidak menganggap bahwa sesembahan-sesembahan mereka dapat memberikan manfaat, mendatangkan bahaya dan dapat mengatur alam semesta di samping Allah. Orang-orang musyrik menyembah sesembahan tersebut hanya karena mereka anggap bahwa sesembahan mereka tersebut dapat memberikan mereka syafa’at[1] kepada mereka. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ “Dan mereka menyembah selain Allah yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu hanyalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah“. (QS. Yunus [10] : 18 ). Dalam ayat ini, Allah Ta’ala berfirman, مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ “Tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan”. Mereka (orang-orang musyrik) mengetahui semua ini yaitu sesembahan selain Allah tidaklah dapat memberikan manfaat dan mendatangkan bahaya kepada mereka. Sebenarnya orang-orang musyrik hanya  menjadikan  sesembahan mereka tersebut sebagai pemberi syafa’at bagi mereka di sisi Allah, yaitu sebagai perantara antara mereka dengan Allah dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Mereka (orang-orang musyrik) menyerahkan hasil sembelihan kepada sesembahan mereka. Mereka juga melakukan nadzar yang ditujukan kepada sesembahan-sesembahan tersebut. Namun, mereka semua melakukan perbuatan seperti ini bukanlah karena mereka meyakini bahwa sesembahan mereka tersebut adalah pencipta, pemberi rizki, atau yang mendatangkan manfa’at atau menolak bahaya. Mereka melakukan hal ini hanya sebagai perantara antara mereka dengan Allah, yaitu sebagai pemberi syafa’at bagi mereka. Inilah aqidah orang-orang musyrik (yang sebenarnya). Sekiranya saat ini, engkau berbincang-bincang dengan para penyembah kubur, mereka tentu akan mengatakan perkataan yang serupa dengan orang-orang musyrik dahulu. Boleh jadi mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami mengetahui bahwa wali ini atau orang sholih ini tidak dapat menolak bahaya dan mendatangkan manfaat. Akan tetapi, dia adalah orang sholih dan kami hanya  menginginkan agar dia dapat memberikan syafa’at pada kami di sisi Allah.” Namun ketahuilah bahwa syafa’at itu ada yang benar dan ada yang bathil (salah). Syafa’at yang benar dan bisa diterima harus memiliki dua syarat berikut. [Syarat Pertama] Orang yang akan memberi syafa’at telah mendapat izin dari Allah. [Syarat Kedua] Orang yang diberi syafa’at adalah orang yang diridhoi, yaitu orang yang bertauhid yang mendapatkan kesulitan (ahli maksiat). Jika salah satu dari syarat di atas tidak ada, maka syafa’at tersebut termasuk syafa’at yang bathil (keliru). Allah  Ta’ala mengatakan mengenai syarat syafa’at di atas, مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ “Tidak ada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. Al Baqarah [2] : 255 ). وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى  “Dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah”. (QS. Al Anbiya’ [21] : 28 ). Orang-orang yang diberi syafa’at adalah dari ahli maksiat di kalangan orang yang bertauhid. Adapun orang kafir dan orang musyrik, tidak bermanfaat bagi mereka syafa’at dari orang yang hendak memberi syafa’at. Allah Ta’ala berfirman, مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ “Orang-orang yang zholim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya”. (QS. Al Mu’min [40] : 18 )[2]. Orang-orang yang mendengar kata syafa’at sebenarnya mereka tidak mengetahui makna syafa’at yang sebenarnya. Mereka malah pergi mencarinya kepada selain Allah tanpa izin dari-Nya. Bahkan orang-orang semacam ini meminta syafa’at kepada orang-orang yang berbuat syirik kepada Allah, padahal orang semacam ini tidaklah bermanfaat sama sekali syafa’at bagi orang yang berbuat syirik. Mereka inilah yang tidak mengetahui hakekat syafa’at yang sebenarnya padahal syafa’at ada yang diterima dan ada pula yang ditolak. **** وَدَلِيْلُ الشَّفَاعَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ﴾[يونس:18]، وَالشَّفَاعَةُ شَفَاعَتَانِ: شَفَاعَةٌُ مَنْفِيَّةٌُ وَشَفَاعَةٌُ مُثْبَتَةٌُ: فَالشَّفَاعَةُ الْمَنْفِيَّةُ مَا كَانَتْ تُطْلَبُ مِنْ غَيْرِ اللهِ فِيْمَا لا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلاَّ اللهُ، وَالدَّلِيْلُ: قَوْلُهُ تَعَالَى ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمْ الظَّالِمُونَ﴾[البقرة:254]. Dalil bahwa argumen mereka adalah untuk memperoleh syafa’at yaitu firman Allah  ta‘ala (yang artinya), “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada Kami di sisi Allah”.” (QS. Yunus [10] : 18) (Ketahuilah) bahwa syafa’at itu ada dua macam yaitu [1] syafa’at manfiyah (yang tertolak) dan [2] syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan). Syafa’at manfiyah (yang tertolak) adalah syafa’at yang diminta dari selain Allah, padahal tidak ada yang mampu memberikan syafa’at kecuali dengan izin-Nya. Dalilnya hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir Itulah orang-orang yang zalim.” (QS Al Baqarah [2] : 254)   Syafa’at itu memiliki syarat-syarat sehingga tidak berlaku secara mutlak[3]. Syafa’at itu ada dua macam. Pertama adalah syafa’at yang dinafikan (ditiadakan) oleh Allah jalla wa ‘ala yaitu syafa’at yang diminta tanpa izin Allah. Tidak ada seorang pun yang dapat memberi syafa’at kecuali dengan izin-Nya. Perhatikanlah makhluk yang paling utama dan penutup para Nabi -yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam-, jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memberi syafa’at kepada orang-orang yang mengalami kesulitan di padang mahsyar pada hari kiamat, beliau tersungkur dan bersujud di hadapan Allah, beliau memohon kepada-Nya dan menyanjung-Nya. Beliau tidaklah berhenti bersujud sampai dikatakan padanya, ارْفَعْ رَأْسَكَ قُلْ تُسْمَعْ اشْفَعْ تُشَفَّعْ  “Angkatlah kepalamu. Mintalah pasti engkau akan didengar. Berilah syafa’at pasti akan dikabulkan“.[4] Perhatikanlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri baru bisa memberi syafa’at setelah diizinkan oleh Allah. **** ]. وَالشَّفَاعَةُ الْمُثْبَتَةُ هِيَ: الَّتِي تُطْلَبُ مِنَ اللهِ، وَالشَّافِعُ مُكْرَمٌ بِالشَّفَاعَةِ، وَالْمَشْفُوْعُ لَهُ: مَنْ رَضِيَ اللهُ قَوْلَهُ وَعَمَلَهُ بَعْدَ الإذْنِ كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ﴾[البقرة:255]. Syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan) adalah syafa’at yang diminta dari Allah. Pemberi syafa’at adalah orang yang dimuliakan dengan syafa’atnya. Sedangkan orang yang disyafa’ati adalah orang yang Allah ridhoi perkataan dan amalannya, syafa’at tersebut diberikan setelah mendapatan izin dari Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS Al Baqarah [2] : 255) Syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan) adalah syafa’at yang diberikan kepada orang yang bertauhid. Syafa’at tidaklah bermanfaat bagi orang-orang musyrik dan orang-orang yang bertaqarub (mendekatkan diri) dan bernadzar kepada kubur. Perbuatan semacam ini adalah kesyirikan, syafa’atnya tidak bermanfaat sama sekali. KESIMPULAN : Sesungguhnya syafa’at manfiyah (yang ditolak) adalah syafa’at yang diminta tanpa izin Allah atau yang diminta oleh orang musyrik. Sedangkan syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan) adalah syafa’at yang diminta setelah izin Allah dan akan diberikan pada ahli tauhid. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir buku terbaru: Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer. [1] Syaikh Sholih Al Fauzan mengatakan, “Syafa’at secara bahasa diambil dari kata (الشَفْعُ) yang merupakan lawan kata dari (الوِتْرُ). Sedangkan (الوِتْرُ) adalah ganjil atau tunggal. Kata (الشَفْعُ) berarti lebih dari satu yaitu dua, empat, atau enam. Dan (الشَفْعُ) dikenal dengan istilah bilangan ‘genap’. Secara istilah, syafa’at adalah menjadi perantara (penghubung) dalam menyelesaikan hajat yaitu perantara antara orang yang memiliki hajat dan yang bisa menyelesaikan hajat.” (At Ta’liqot Al Mukhtashoroh ‘alal Aqidah Ath Thohawiyah, hal. 95, Darul ‘Ashomah) Agar lebih memahami syafa’at dapat kami contohkan sebagai berikut: Si A memiliki hajat untuk membangun rumah. Dia tidak memiliki dana yang cukup. Oleh karena itu, agar bisa mencukupi kebutuhannya dia ingin meminjam uang pada si B yang terkenal kaya di daerahnya. Namun, si A ini tidak begitu akrab dengan si B sehingga dia meminta si C untuk jadi perantara. Akhirnya, si C mengantarkan si A pada si B sehingga keperluan si A terpenuhi. Si C yang berlaku sebagai perantara di sini disebut dengan syafi’ yaitu pemberi syafa’at. [pent] [2] Yang dimaksud dengan orang zholim di sini adalah orang kafir berdasarkan hadits mutawatir mengenai adanya syafa’at bagi pelaku dosa besar. Al Hafizh Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab 1/205 mengatakan, “Orang zholim dalam ayat ini adalah orang-orang kafir. Yang menguatkan hal ini adalah konteks ayat sebelumnya yang membicarakan tentang orang kafir.” Al Hafizh Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini mengatakan, “Orang yang menzholimi dirinya dengan berbuat syirik kepada Allah tidak akan mendapatkan manfaat (pertolongan) dari kerabat dekatnya dan juga mendapatkan syafa’at dari syafi’ (orang yang memberi syafa’at).” [pent] [3] Maksudnya tidak semua syafa’at bisa diterima. [pent] [4] Hadits ini adalah potongan dari hadits yang cukup panjang yang diriwayatkan oleh Bukhari no. 7510 dalam At Tauhid, Bab ‘Perkataan Allah pada hari kiamat kepada para Nabi dan selainnya’. Juga diriwayatkan oleh Muslim no. 193 dalam Al Iman, Bab ‘Kedudukan penduduk surga yang paling rendah’ dari Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Tagskaedah syirik syafa'at tawasul

Kaedah Memahami Syirik (2): Tawasul dan Meminta Syafa’at

Satu lagi kesyirikan yang dapat terjadi yaitu dalam masalah tawasul (mengambil perantara) dalam do’a kepada orang yang sudah mati dan meminta syafa’at pada selain Allah padahal sepenuhnya syafa’at diminta dari Allah. Syaikh Muhammad At Tamimi melanjutkan kaedah kedua dalam kitab beliau Al Qowa’idul Arba’. القَاعِدَةُ الثَّانِيَةُ: أَنَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ: مَا دَعَوْنَاهُمْ وَتَوَجَّهْنَا إِلَيْهِمْ إِلاَّ لِطَلَبِ الْقُرْبَةِ وَالشَّفَاعَةِ، فَدَلِيْلُ الْقُرْبَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ﴾[الزمر:3]. [KAEDAH KEDUA] Mereka (orang-orang musyrik) mengatakan, “Kami tidaklah berdoa kepada mereka dan menghadapkan wajah kami kepada mereka (selain Allah) kecuali untuk mendekatkan diri pada Allah dan untuk memperoleh syafa’at mereka.” Dalil yang menunjukkan bahwa argumen orang musyrik adalah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah (qurbah) yaitu firman Allah  Ta‘ala (yang artinya), “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya“. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az Zumar [39] : 3)   [KAEDAH KEDUA] Sesungguhnya orang-orang musyrik yang Allah menyeru mereka dengan sebutan musyrik dan menghukumi mereka dengan kekal dalam neraka, mereka tidaklah melakukan perbuatan syirik dalam hal rububiyah, akan tetapi yang mereka lakukan adalah berbuat syirik dalam perkara uluhiyah. Mereka tidaklah mengatakan bahwa sesembahan mereka itu dapat mencipta dan memberi rizki di samping Allah. Mereka juga tidak menganggap bahwa sesembahan-sesembahan mereka dapat memberikan manfaat, mendatangkan bahaya dan dapat mengatur alam semesta di samping Allah. Orang-orang musyrik menyembah sesembahan tersebut hanya karena mereka anggap bahwa sesembahan mereka tersebut dapat memberikan mereka syafa’at[1] kepada mereka. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ “Dan mereka menyembah selain Allah yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu hanyalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah“. (QS. Yunus [10] : 18 ). Dalam ayat ini, Allah Ta’ala berfirman, مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ “Tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan”. Mereka (orang-orang musyrik) mengetahui semua ini yaitu sesembahan selain Allah tidaklah dapat memberikan manfaat dan mendatangkan bahaya kepada mereka. Sebenarnya orang-orang musyrik hanya  menjadikan  sesembahan mereka tersebut sebagai pemberi syafa’at bagi mereka di sisi Allah, yaitu sebagai perantara antara mereka dengan Allah dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Mereka (orang-orang musyrik) menyerahkan hasil sembelihan kepada sesembahan mereka. Mereka juga melakukan nadzar yang ditujukan kepada sesembahan-sesembahan tersebut. Namun, mereka semua melakukan perbuatan seperti ini bukanlah karena mereka meyakini bahwa sesembahan mereka tersebut adalah pencipta, pemberi rizki, atau yang mendatangkan manfa’at atau menolak bahaya. Mereka melakukan hal ini hanya sebagai perantara antara mereka dengan Allah, yaitu sebagai pemberi syafa’at bagi mereka. Inilah aqidah orang-orang musyrik (yang sebenarnya). Sekiranya saat ini, engkau berbincang-bincang dengan para penyembah kubur, mereka tentu akan mengatakan perkataan yang serupa dengan orang-orang musyrik dahulu. Boleh jadi mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami mengetahui bahwa wali ini atau orang sholih ini tidak dapat menolak bahaya dan mendatangkan manfaat. Akan tetapi, dia adalah orang sholih dan kami hanya  menginginkan agar dia dapat memberikan syafa’at pada kami di sisi Allah.” Namun ketahuilah bahwa syafa’at itu ada yang benar dan ada yang bathil (salah). Syafa’at yang benar dan bisa diterima harus memiliki dua syarat berikut. [Syarat Pertama] Orang yang akan memberi syafa’at telah mendapat izin dari Allah. [Syarat Kedua] Orang yang diberi syafa’at adalah orang yang diridhoi, yaitu orang yang bertauhid yang mendapatkan kesulitan (ahli maksiat). Jika salah satu dari syarat di atas tidak ada, maka syafa’at tersebut termasuk syafa’at yang bathil (keliru). Allah  Ta’ala mengatakan mengenai syarat syafa’at di atas, مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ “Tidak ada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. Al Baqarah [2] : 255 ). وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى  “Dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah”. (QS. Al Anbiya’ [21] : 28 ). Orang-orang yang diberi syafa’at adalah dari ahli maksiat di kalangan orang yang bertauhid. Adapun orang kafir dan orang musyrik, tidak bermanfaat bagi mereka syafa’at dari orang yang hendak memberi syafa’at. Allah Ta’ala berfirman, مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ “Orang-orang yang zholim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya”. (QS. Al Mu’min [40] : 18 )[2]. Orang-orang yang mendengar kata syafa’at sebenarnya mereka tidak mengetahui makna syafa’at yang sebenarnya. Mereka malah pergi mencarinya kepada selain Allah tanpa izin dari-Nya. Bahkan orang-orang semacam ini meminta syafa’at kepada orang-orang yang berbuat syirik kepada Allah, padahal orang semacam ini tidaklah bermanfaat sama sekali syafa’at bagi orang yang berbuat syirik. Mereka inilah yang tidak mengetahui hakekat syafa’at yang sebenarnya padahal syafa’at ada yang diterima dan ada pula yang ditolak. **** وَدَلِيْلُ الشَّفَاعَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ﴾[يونس:18]، وَالشَّفَاعَةُ شَفَاعَتَانِ: شَفَاعَةٌُ مَنْفِيَّةٌُ وَشَفَاعَةٌُ مُثْبَتَةٌُ: فَالشَّفَاعَةُ الْمَنْفِيَّةُ مَا كَانَتْ تُطْلَبُ مِنْ غَيْرِ اللهِ فِيْمَا لا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلاَّ اللهُ، وَالدَّلِيْلُ: قَوْلُهُ تَعَالَى ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمْ الظَّالِمُونَ﴾[البقرة:254]. Dalil bahwa argumen mereka adalah untuk memperoleh syafa’at yaitu firman Allah  ta‘ala (yang artinya), “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada Kami di sisi Allah”.” (QS. Yunus [10] : 18) (Ketahuilah) bahwa syafa’at itu ada dua macam yaitu [1] syafa’at manfiyah (yang tertolak) dan [2] syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan). Syafa’at manfiyah (yang tertolak) adalah syafa’at yang diminta dari selain Allah, padahal tidak ada yang mampu memberikan syafa’at kecuali dengan izin-Nya. Dalilnya hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir Itulah orang-orang yang zalim.” (QS Al Baqarah [2] : 254)   Syafa’at itu memiliki syarat-syarat sehingga tidak berlaku secara mutlak[3]. Syafa’at itu ada dua macam. Pertama adalah syafa’at yang dinafikan (ditiadakan) oleh Allah jalla wa ‘ala yaitu syafa’at yang diminta tanpa izin Allah. Tidak ada seorang pun yang dapat memberi syafa’at kecuali dengan izin-Nya. Perhatikanlah makhluk yang paling utama dan penutup para Nabi -yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam-, jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memberi syafa’at kepada orang-orang yang mengalami kesulitan di padang mahsyar pada hari kiamat, beliau tersungkur dan bersujud di hadapan Allah, beliau memohon kepada-Nya dan menyanjung-Nya. Beliau tidaklah berhenti bersujud sampai dikatakan padanya, ارْفَعْ رَأْسَكَ قُلْ تُسْمَعْ اشْفَعْ تُشَفَّعْ  “Angkatlah kepalamu. Mintalah pasti engkau akan didengar. Berilah syafa’at pasti akan dikabulkan“.[4] Perhatikanlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri baru bisa memberi syafa’at setelah diizinkan oleh Allah. **** ]. وَالشَّفَاعَةُ الْمُثْبَتَةُ هِيَ: الَّتِي تُطْلَبُ مِنَ اللهِ، وَالشَّافِعُ مُكْرَمٌ بِالشَّفَاعَةِ، وَالْمَشْفُوْعُ لَهُ: مَنْ رَضِيَ اللهُ قَوْلَهُ وَعَمَلَهُ بَعْدَ الإذْنِ كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ﴾[البقرة:255]. Syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan) adalah syafa’at yang diminta dari Allah. Pemberi syafa’at adalah orang yang dimuliakan dengan syafa’atnya. Sedangkan orang yang disyafa’ati adalah orang yang Allah ridhoi perkataan dan amalannya, syafa’at tersebut diberikan setelah mendapatan izin dari Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS Al Baqarah [2] : 255) Syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan) adalah syafa’at yang diberikan kepada orang yang bertauhid. Syafa’at tidaklah bermanfaat bagi orang-orang musyrik dan orang-orang yang bertaqarub (mendekatkan diri) dan bernadzar kepada kubur. Perbuatan semacam ini adalah kesyirikan, syafa’atnya tidak bermanfaat sama sekali. KESIMPULAN : Sesungguhnya syafa’at manfiyah (yang ditolak) adalah syafa’at yang diminta tanpa izin Allah atau yang diminta oleh orang musyrik. Sedangkan syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan) adalah syafa’at yang diminta setelah izin Allah dan akan diberikan pada ahli tauhid. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir buku terbaru: Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer. [1] Syaikh Sholih Al Fauzan mengatakan, “Syafa’at secara bahasa diambil dari kata (الشَفْعُ) yang merupakan lawan kata dari (الوِتْرُ). Sedangkan (الوِتْرُ) adalah ganjil atau tunggal. Kata (الشَفْعُ) berarti lebih dari satu yaitu dua, empat, atau enam. Dan (الشَفْعُ) dikenal dengan istilah bilangan ‘genap’. Secara istilah, syafa’at adalah menjadi perantara (penghubung) dalam menyelesaikan hajat yaitu perantara antara orang yang memiliki hajat dan yang bisa menyelesaikan hajat.” (At Ta’liqot Al Mukhtashoroh ‘alal Aqidah Ath Thohawiyah, hal. 95, Darul ‘Ashomah) Agar lebih memahami syafa’at dapat kami contohkan sebagai berikut: Si A memiliki hajat untuk membangun rumah. Dia tidak memiliki dana yang cukup. Oleh karena itu, agar bisa mencukupi kebutuhannya dia ingin meminjam uang pada si B yang terkenal kaya di daerahnya. Namun, si A ini tidak begitu akrab dengan si B sehingga dia meminta si C untuk jadi perantara. Akhirnya, si C mengantarkan si A pada si B sehingga keperluan si A terpenuhi. Si C yang berlaku sebagai perantara di sini disebut dengan syafi’ yaitu pemberi syafa’at. [pent] [2] Yang dimaksud dengan orang zholim di sini adalah orang kafir berdasarkan hadits mutawatir mengenai adanya syafa’at bagi pelaku dosa besar. Al Hafizh Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab 1/205 mengatakan, “Orang zholim dalam ayat ini adalah orang-orang kafir. Yang menguatkan hal ini adalah konteks ayat sebelumnya yang membicarakan tentang orang kafir.” Al Hafizh Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini mengatakan, “Orang yang menzholimi dirinya dengan berbuat syirik kepada Allah tidak akan mendapatkan manfaat (pertolongan) dari kerabat dekatnya dan juga mendapatkan syafa’at dari syafi’ (orang yang memberi syafa’at).” [pent] [3] Maksudnya tidak semua syafa’at bisa diterima. [pent] [4] Hadits ini adalah potongan dari hadits yang cukup panjang yang diriwayatkan oleh Bukhari no. 7510 dalam At Tauhid, Bab ‘Perkataan Allah pada hari kiamat kepada para Nabi dan selainnya’. Juga diriwayatkan oleh Muslim no. 193 dalam Al Iman, Bab ‘Kedudukan penduduk surga yang paling rendah’ dari Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Tagskaedah syirik syafa'at tawasul
Satu lagi kesyirikan yang dapat terjadi yaitu dalam masalah tawasul (mengambil perantara) dalam do’a kepada orang yang sudah mati dan meminta syafa’at pada selain Allah padahal sepenuhnya syafa’at diminta dari Allah. Syaikh Muhammad At Tamimi melanjutkan kaedah kedua dalam kitab beliau Al Qowa’idul Arba’. القَاعِدَةُ الثَّانِيَةُ: أَنَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ: مَا دَعَوْنَاهُمْ وَتَوَجَّهْنَا إِلَيْهِمْ إِلاَّ لِطَلَبِ الْقُرْبَةِ وَالشَّفَاعَةِ، فَدَلِيْلُ الْقُرْبَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ﴾[الزمر:3]. [KAEDAH KEDUA] Mereka (orang-orang musyrik) mengatakan, “Kami tidaklah berdoa kepada mereka dan menghadapkan wajah kami kepada mereka (selain Allah) kecuali untuk mendekatkan diri pada Allah dan untuk memperoleh syafa’at mereka.” Dalil yang menunjukkan bahwa argumen orang musyrik adalah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah (qurbah) yaitu firman Allah  Ta‘ala (yang artinya), “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya“. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az Zumar [39] : 3)   [KAEDAH KEDUA] Sesungguhnya orang-orang musyrik yang Allah menyeru mereka dengan sebutan musyrik dan menghukumi mereka dengan kekal dalam neraka, mereka tidaklah melakukan perbuatan syirik dalam hal rububiyah, akan tetapi yang mereka lakukan adalah berbuat syirik dalam perkara uluhiyah. Mereka tidaklah mengatakan bahwa sesembahan mereka itu dapat mencipta dan memberi rizki di samping Allah. Mereka juga tidak menganggap bahwa sesembahan-sesembahan mereka dapat memberikan manfaat, mendatangkan bahaya dan dapat mengatur alam semesta di samping Allah. Orang-orang musyrik menyembah sesembahan tersebut hanya karena mereka anggap bahwa sesembahan mereka tersebut dapat memberikan mereka syafa’at[1] kepada mereka. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ “Dan mereka menyembah selain Allah yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu hanyalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah“. (QS. Yunus [10] : 18 ). Dalam ayat ini, Allah Ta’ala berfirman, مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ “Tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan”. Mereka (orang-orang musyrik) mengetahui semua ini yaitu sesembahan selain Allah tidaklah dapat memberikan manfaat dan mendatangkan bahaya kepada mereka. Sebenarnya orang-orang musyrik hanya  menjadikan  sesembahan mereka tersebut sebagai pemberi syafa’at bagi mereka di sisi Allah, yaitu sebagai perantara antara mereka dengan Allah dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Mereka (orang-orang musyrik) menyerahkan hasil sembelihan kepada sesembahan mereka. Mereka juga melakukan nadzar yang ditujukan kepada sesembahan-sesembahan tersebut. Namun, mereka semua melakukan perbuatan seperti ini bukanlah karena mereka meyakini bahwa sesembahan mereka tersebut adalah pencipta, pemberi rizki, atau yang mendatangkan manfa’at atau menolak bahaya. Mereka melakukan hal ini hanya sebagai perantara antara mereka dengan Allah, yaitu sebagai pemberi syafa’at bagi mereka. Inilah aqidah orang-orang musyrik (yang sebenarnya). Sekiranya saat ini, engkau berbincang-bincang dengan para penyembah kubur, mereka tentu akan mengatakan perkataan yang serupa dengan orang-orang musyrik dahulu. Boleh jadi mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami mengetahui bahwa wali ini atau orang sholih ini tidak dapat menolak bahaya dan mendatangkan manfaat. Akan tetapi, dia adalah orang sholih dan kami hanya  menginginkan agar dia dapat memberikan syafa’at pada kami di sisi Allah.” Namun ketahuilah bahwa syafa’at itu ada yang benar dan ada yang bathil (salah). Syafa’at yang benar dan bisa diterima harus memiliki dua syarat berikut. [Syarat Pertama] Orang yang akan memberi syafa’at telah mendapat izin dari Allah. [Syarat Kedua] Orang yang diberi syafa’at adalah orang yang diridhoi, yaitu orang yang bertauhid yang mendapatkan kesulitan (ahli maksiat). Jika salah satu dari syarat di atas tidak ada, maka syafa’at tersebut termasuk syafa’at yang bathil (keliru). Allah  Ta’ala mengatakan mengenai syarat syafa’at di atas, مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ “Tidak ada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. Al Baqarah [2] : 255 ). وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى  “Dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah”. (QS. Al Anbiya’ [21] : 28 ). Orang-orang yang diberi syafa’at adalah dari ahli maksiat di kalangan orang yang bertauhid. Adapun orang kafir dan orang musyrik, tidak bermanfaat bagi mereka syafa’at dari orang yang hendak memberi syafa’at. Allah Ta’ala berfirman, مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ “Orang-orang yang zholim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya”. (QS. Al Mu’min [40] : 18 )[2]. Orang-orang yang mendengar kata syafa’at sebenarnya mereka tidak mengetahui makna syafa’at yang sebenarnya. Mereka malah pergi mencarinya kepada selain Allah tanpa izin dari-Nya. Bahkan orang-orang semacam ini meminta syafa’at kepada orang-orang yang berbuat syirik kepada Allah, padahal orang semacam ini tidaklah bermanfaat sama sekali syafa’at bagi orang yang berbuat syirik. Mereka inilah yang tidak mengetahui hakekat syafa’at yang sebenarnya padahal syafa’at ada yang diterima dan ada pula yang ditolak. **** وَدَلِيْلُ الشَّفَاعَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ﴾[يونس:18]، وَالشَّفَاعَةُ شَفَاعَتَانِ: شَفَاعَةٌُ مَنْفِيَّةٌُ وَشَفَاعَةٌُ مُثْبَتَةٌُ: فَالشَّفَاعَةُ الْمَنْفِيَّةُ مَا كَانَتْ تُطْلَبُ مِنْ غَيْرِ اللهِ فِيْمَا لا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلاَّ اللهُ، وَالدَّلِيْلُ: قَوْلُهُ تَعَالَى ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمْ الظَّالِمُونَ﴾[البقرة:254]. Dalil bahwa argumen mereka adalah untuk memperoleh syafa’at yaitu firman Allah  ta‘ala (yang artinya), “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada Kami di sisi Allah”.” (QS. Yunus [10] : 18) (Ketahuilah) bahwa syafa’at itu ada dua macam yaitu [1] syafa’at manfiyah (yang tertolak) dan [2] syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan). Syafa’at manfiyah (yang tertolak) adalah syafa’at yang diminta dari selain Allah, padahal tidak ada yang mampu memberikan syafa’at kecuali dengan izin-Nya. Dalilnya hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir Itulah orang-orang yang zalim.” (QS Al Baqarah [2] : 254)   Syafa’at itu memiliki syarat-syarat sehingga tidak berlaku secara mutlak[3]. Syafa’at itu ada dua macam. Pertama adalah syafa’at yang dinafikan (ditiadakan) oleh Allah jalla wa ‘ala yaitu syafa’at yang diminta tanpa izin Allah. Tidak ada seorang pun yang dapat memberi syafa’at kecuali dengan izin-Nya. Perhatikanlah makhluk yang paling utama dan penutup para Nabi -yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam-, jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memberi syafa’at kepada orang-orang yang mengalami kesulitan di padang mahsyar pada hari kiamat, beliau tersungkur dan bersujud di hadapan Allah, beliau memohon kepada-Nya dan menyanjung-Nya. Beliau tidaklah berhenti bersujud sampai dikatakan padanya, ارْفَعْ رَأْسَكَ قُلْ تُسْمَعْ اشْفَعْ تُشَفَّعْ  “Angkatlah kepalamu. Mintalah pasti engkau akan didengar. Berilah syafa’at pasti akan dikabulkan“.[4] Perhatikanlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri baru bisa memberi syafa’at setelah diizinkan oleh Allah. **** ]. وَالشَّفَاعَةُ الْمُثْبَتَةُ هِيَ: الَّتِي تُطْلَبُ مِنَ اللهِ، وَالشَّافِعُ مُكْرَمٌ بِالشَّفَاعَةِ، وَالْمَشْفُوْعُ لَهُ: مَنْ رَضِيَ اللهُ قَوْلَهُ وَعَمَلَهُ بَعْدَ الإذْنِ كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ﴾[البقرة:255]. Syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan) adalah syafa’at yang diminta dari Allah. Pemberi syafa’at adalah orang yang dimuliakan dengan syafa’atnya. Sedangkan orang yang disyafa’ati adalah orang yang Allah ridhoi perkataan dan amalannya, syafa’at tersebut diberikan setelah mendapatan izin dari Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS Al Baqarah [2] : 255) Syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan) adalah syafa’at yang diberikan kepada orang yang bertauhid. Syafa’at tidaklah bermanfaat bagi orang-orang musyrik dan orang-orang yang bertaqarub (mendekatkan diri) dan bernadzar kepada kubur. Perbuatan semacam ini adalah kesyirikan, syafa’atnya tidak bermanfaat sama sekali. KESIMPULAN : Sesungguhnya syafa’at manfiyah (yang ditolak) adalah syafa’at yang diminta tanpa izin Allah atau yang diminta oleh orang musyrik. Sedangkan syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan) adalah syafa’at yang diminta setelah izin Allah dan akan diberikan pada ahli tauhid. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir buku terbaru: Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer. [1] Syaikh Sholih Al Fauzan mengatakan, “Syafa’at secara bahasa diambil dari kata (الشَفْعُ) yang merupakan lawan kata dari (الوِتْرُ). Sedangkan (الوِتْرُ) adalah ganjil atau tunggal. Kata (الشَفْعُ) berarti lebih dari satu yaitu dua, empat, atau enam. Dan (الشَفْعُ) dikenal dengan istilah bilangan ‘genap’. Secara istilah, syafa’at adalah menjadi perantara (penghubung) dalam menyelesaikan hajat yaitu perantara antara orang yang memiliki hajat dan yang bisa menyelesaikan hajat.” (At Ta’liqot Al Mukhtashoroh ‘alal Aqidah Ath Thohawiyah, hal. 95, Darul ‘Ashomah) Agar lebih memahami syafa’at dapat kami contohkan sebagai berikut: Si A memiliki hajat untuk membangun rumah. Dia tidak memiliki dana yang cukup. Oleh karena itu, agar bisa mencukupi kebutuhannya dia ingin meminjam uang pada si B yang terkenal kaya di daerahnya. Namun, si A ini tidak begitu akrab dengan si B sehingga dia meminta si C untuk jadi perantara. Akhirnya, si C mengantarkan si A pada si B sehingga keperluan si A terpenuhi. Si C yang berlaku sebagai perantara di sini disebut dengan syafi’ yaitu pemberi syafa’at. [pent] [2] Yang dimaksud dengan orang zholim di sini adalah orang kafir berdasarkan hadits mutawatir mengenai adanya syafa’at bagi pelaku dosa besar. Al Hafizh Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab 1/205 mengatakan, “Orang zholim dalam ayat ini adalah orang-orang kafir. Yang menguatkan hal ini adalah konteks ayat sebelumnya yang membicarakan tentang orang kafir.” Al Hafizh Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini mengatakan, “Orang yang menzholimi dirinya dengan berbuat syirik kepada Allah tidak akan mendapatkan manfaat (pertolongan) dari kerabat dekatnya dan juga mendapatkan syafa’at dari syafi’ (orang yang memberi syafa’at).” [pent] [3] Maksudnya tidak semua syafa’at bisa diterima. [pent] [4] Hadits ini adalah potongan dari hadits yang cukup panjang yang diriwayatkan oleh Bukhari no. 7510 dalam At Tauhid, Bab ‘Perkataan Allah pada hari kiamat kepada para Nabi dan selainnya’. Juga diriwayatkan oleh Muslim no. 193 dalam Al Iman, Bab ‘Kedudukan penduduk surga yang paling rendah’ dari Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Tagskaedah syirik syafa'at tawasul


Satu lagi kesyirikan yang dapat terjadi yaitu dalam masalah tawasul (mengambil perantara) dalam do’a kepada orang yang sudah mati dan meminta syafa’at pada selain Allah padahal sepenuhnya syafa’at diminta dari Allah. Syaikh Muhammad At Tamimi melanjutkan kaedah kedua dalam kitab beliau Al Qowa’idul Arba’. القَاعِدَةُ الثَّانِيَةُ: أَنَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ: مَا دَعَوْنَاهُمْ وَتَوَجَّهْنَا إِلَيْهِمْ إِلاَّ لِطَلَبِ الْقُرْبَةِ وَالشَّفَاعَةِ، فَدَلِيْلُ الْقُرْبَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ﴾[الزمر:3]. [KAEDAH KEDUA] Mereka (orang-orang musyrik) mengatakan, “Kami tidaklah berdoa kepada mereka dan menghadapkan wajah kami kepada mereka (selain Allah) kecuali untuk mendekatkan diri pada Allah dan untuk memperoleh syafa’at mereka.” Dalil yang menunjukkan bahwa argumen orang musyrik adalah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah (qurbah) yaitu firman Allah  Ta‘ala (yang artinya), “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya“. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az Zumar [39] : 3)   [KAEDAH KEDUA] Sesungguhnya orang-orang musyrik yang Allah menyeru mereka dengan sebutan musyrik dan menghukumi mereka dengan kekal dalam neraka, mereka tidaklah melakukan perbuatan syirik dalam hal rububiyah, akan tetapi yang mereka lakukan adalah berbuat syirik dalam perkara uluhiyah. Mereka tidaklah mengatakan bahwa sesembahan mereka itu dapat mencipta dan memberi rizki di samping Allah. Mereka juga tidak menganggap bahwa sesembahan-sesembahan mereka dapat memberikan manfaat, mendatangkan bahaya dan dapat mengatur alam semesta di samping Allah. Orang-orang musyrik menyembah sesembahan tersebut hanya karena mereka anggap bahwa sesembahan mereka tersebut dapat memberikan mereka syafa’at[1] kepada mereka. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ “Dan mereka menyembah selain Allah yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu hanyalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah“. (QS. Yunus [10] : 18 ). Dalam ayat ini, Allah Ta’ala berfirman, مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ “Tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan”. Mereka (orang-orang musyrik) mengetahui semua ini yaitu sesembahan selain Allah tidaklah dapat memberikan manfaat dan mendatangkan bahaya kepada mereka. Sebenarnya orang-orang musyrik hanya  menjadikan  sesembahan mereka tersebut sebagai pemberi syafa’at bagi mereka di sisi Allah, yaitu sebagai perantara antara mereka dengan Allah dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Mereka (orang-orang musyrik) menyerahkan hasil sembelihan kepada sesembahan mereka. Mereka juga melakukan nadzar yang ditujukan kepada sesembahan-sesembahan tersebut. Namun, mereka semua melakukan perbuatan seperti ini bukanlah karena mereka meyakini bahwa sesembahan mereka tersebut adalah pencipta, pemberi rizki, atau yang mendatangkan manfa’at atau menolak bahaya. Mereka melakukan hal ini hanya sebagai perantara antara mereka dengan Allah, yaitu sebagai pemberi syafa’at bagi mereka. Inilah aqidah orang-orang musyrik (yang sebenarnya). Sekiranya saat ini, engkau berbincang-bincang dengan para penyembah kubur, mereka tentu akan mengatakan perkataan yang serupa dengan orang-orang musyrik dahulu. Boleh jadi mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami mengetahui bahwa wali ini atau orang sholih ini tidak dapat menolak bahaya dan mendatangkan manfaat. Akan tetapi, dia adalah orang sholih dan kami hanya  menginginkan agar dia dapat memberikan syafa’at pada kami di sisi Allah.” Namun ketahuilah bahwa syafa’at itu ada yang benar dan ada yang bathil (salah). Syafa’at yang benar dan bisa diterima harus memiliki dua syarat berikut. [Syarat Pertama] Orang yang akan memberi syafa’at telah mendapat izin dari Allah. [Syarat Kedua] Orang yang diberi syafa’at adalah orang yang diridhoi, yaitu orang yang bertauhid yang mendapatkan kesulitan (ahli maksiat). Jika salah satu dari syarat di atas tidak ada, maka syafa’at tersebut termasuk syafa’at yang bathil (keliru). Allah  Ta’ala mengatakan mengenai syarat syafa’at di atas, مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ “Tidak ada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. Al Baqarah [2] : 255 ). وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى  “Dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah”. (QS. Al Anbiya’ [21] : 28 ). Orang-orang yang diberi syafa’at adalah dari ahli maksiat di kalangan orang yang bertauhid. Adapun orang kafir dan orang musyrik, tidak bermanfaat bagi mereka syafa’at dari orang yang hendak memberi syafa’at. Allah Ta’ala berfirman, مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ “Orang-orang yang zholim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya”. (QS. Al Mu’min [40] : 18 )[2]. Orang-orang yang mendengar kata syafa’at sebenarnya mereka tidak mengetahui makna syafa’at yang sebenarnya. Mereka malah pergi mencarinya kepada selain Allah tanpa izin dari-Nya. Bahkan orang-orang semacam ini meminta syafa’at kepada orang-orang yang berbuat syirik kepada Allah, padahal orang semacam ini tidaklah bermanfaat sama sekali syafa’at bagi orang yang berbuat syirik. Mereka inilah yang tidak mengetahui hakekat syafa’at yang sebenarnya padahal syafa’at ada yang diterima dan ada pula yang ditolak. **** وَدَلِيْلُ الشَّفَاعَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ﴾[يونس:18]، وَالشَّفَاعَةُ شَفَاعَتَانِ: شَفَاعَةٌُ مَنْفِيَّةٌُ وَشَفَاعَةٌُ مُثْبَتَةٌُ: فَالشَّفَاعَةُ الْمَنْفِيَّةُ مَا كَانَتْ تُطْلَبُ مِنْ غَيْرِ اللهِ فِيْمَا لا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلاَّ اللهُ، وَالدَّلِيْلُ: قَوْلُهُ تَعَالَى ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمْ الظَّالِمُونَ﴾[البقرة:254]. Dalil bahwa argumen mereka adalah untuk memperoleh syafa’at yaitu firman Allah  ta‘ala (yang artinya), “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada Kami di sisi Allah”.” (QS. Yunus [10] : 18) (Ketahuilah) bahwa syafa’at itu ada dua macam yaitu [1] syafa’at manfiyah (yang tertolak) dan [2] syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan). Syafa’at manfiyah (yang tertolak) adalah syafa’at yang diminta dari selain Allah, padahal tidak ada yang mampu memberikan syafa’at kecuali dengan izin-Nya. Dalilnya hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir Itulah orang-orang yang zalim.” (QS Al Baqarah [2] : 254)   Syafa’at itu memiliki syarat-syarat sehingga tidak berlaku secara mutlak[3]. Syafa’at itu ada dua macam. Pertama adalah syafa’at yang dinafikan (ditiadakan) oleh Allah jalla wa ‘ala yaitu syafa’at yang diminta tanpa izin Allah. Tidak ada seorang pun yang dapat memberi syafa’at kecuali dengan izin-Nya. Perhatikanlah makhluk yang paling utama dan penutup para Nabi -yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam-, jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memberi syafa’at kepada orang-orang yang mengalami kesulitan di padang mahsyar pada hari kiamat, beliau tersungkur dan bersujud di hadapan Allah, beliau memohon kepada-Nya dan menyanjung-Nya. Beliau tidaklah berhenti bersujud sampai dikatakan padanya, ارْفَعْ رَأْسَكَ قُلْ تُسْمَعْ اشْفَعْ تُشَفَّعْ  “Angkatlah kepalamu. Mintalah pasti engkau akan didengar. Berilah syafa’at pasti akan dikabulkan“.[4] Perhatikanlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri baru bisa memberi syafa’at setelah diizinkan oleh Allah. **** ]. وَالشَّفَاعَةُ الْمُثْبَتَةُ هِيَ: الَّتِي تُطْلَبُ مِنَ اللهِ، وَالشَّافِعُ مُكْرَمٌ بِالشَّفَاعَةِ، وَالْمَشْفُوْعُ لَهُ: مَنْ رَضِيَ اللهُ قَوْلَهُ وَعَمَلَهُ بَعْدَ الإذْنِ كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ﴾[البقرة:255]. Syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan) adalah syafa’at yang diminta dari Allah. Pemberi syafa’at adalah orang yang dimuliakan dengan syafa’atnya. Sedangkan orang yang disyafa’ati adalah orang yang Allah ridhoi perkataan dan amalannya, syafa’at tersebut diberikan setelah mendapatan izin dari Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS Al Baqarah [2] : 255) Syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan) adalah syafa’at yang diberikan kepada orang yang bertauhid. Syafa’at tidaklah bermanfaat bagi orang-orang musyrik dan orang-orang yang bertaqarub (mendekatkan diri) dan bernadzar kepada kubur. Perbuatan semacam ini adalah kesyirikan, syafa’atnya tidak bermanfaat sama sekali. KESIMPULAN : Sesungguhnya syafa’at manfiyah (yang ditolak) adalah syafa’at yang diminta tanpa izin Allah atau yang diminta oleh orang musyrik. Sedangkan syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan) adalah syafa’at yang diminta setelah izin Allah dan akan diberikan pada ahli tauhid. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir buku terbaru: Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer. [1] Syaikh Sholih Al Fauzan mengatakan, “Syafa’at secara bahasa diambil dari kata (الشَفْعُ) yang merupakan lawan kata dari (الوِتْرُ). Sedangkan (الوِتْرُ) adalah ganjil atau tunggal. Kata (الشَفْعُ) berarti lebih dari satu yaitu dua, empat, atau enam. Dan (الشَفْعُ) dikenal dengan istilah bilangan ‘genap’. Secara istilah, syafa’at adalah menjadi perantara (penghubung) dalam menyelesaikan hajat yaitu perantara antara orang yang memiliki hajat dan yang bisa menyelesaikan hajat.” (At Ta’liqot Al Mukhtashoroh ‘alal Aqidah Ath Thohawiyah, hal. 95, Darul ‘Ashomah) Agar lebih memahami syafa’at dapat kami contohkan sebagai berikut: Si A memiliki hajat untuk membangun rumah. Dia tidak memiliki dana yang cukup. Oleh karena itu, agar bisa mencukupi kebutuhannya dia ingin meminjam uang pada si B yang terkenal kaya di daerahnya. Namun, si A ini tidak begitu akrab dengan si B sehingga dia meminta si C untuk jadi perantara. Akhirnya, si C mengantarkan si A pada si B sehingga keperluan si A terpenuhi. Si C yang berlaku sebagai perantara di sini disebut dengan syafi’ yaitu pemberi syafa’at. [pent] [2] Yang dimaksud dengan orang zholim di sini adalah orang kafir berdasarkan hadits mutawatir mengenai adanya syafa’at bagi pelaku dosa besar. Al Hafizh Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab 1/205 mengatakan, “Orang zholim dalam ayat ini adalah orang-orang kafir. Yang menguatkan hal ini adalah konteks ayat sebelumnya yang membicarakan tentang orang kafir.” Al Hafizh Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini mengatakan, “Orang yang menzholimi dirinya dengan berbuat syirik kepada Allah tidak akan mendapatkan manfaat (pertolongan) dari kerabat dekatnya dan juga mendapatkan syafa’at dari syafi’ (orang yang memberi syafa’at).” [pent] [3] Maksudnya tidak semua syafa’at bisa diterima. [pent] [4] Hadits ini adalah potongan dari hadits yang cukup panjang yang diriwayatkan oleh Bukhari no. 7510 dalam At Tauhid, Bab ‘Perkataan Allah pada hari kiamat kepada para Nabi dan selainnya’. Juga diriwayatkan oleh Muslim no. 193 dalam Al Iman, Bab ‘Kedudukan penduduk surga yang paling rendah’ dari Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Tagskaedah syirik syafa'at tawasul
Prev     Next