Banyak Pengikut, Apakah Berarti Benar?

Masyarakat jahiliyah masih memiliki prinsip bahwa yang jadi tradisi itulah yang benar. Sedangkan yang menyelisihi mainstream, yang menyelisihi kebanyakan orang itulah yang sesat. Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab berkata, “Di antara prinsip jahiliyyah, mereka percaya bahwa standar kebenaran adalah jika banyak yang menganutnya. Itulah yang jadi dalil pembenaran. Sedangkan kebatilan atau sesatnya sesuatu dilihat dari keterasingan dan pengikutnya yang sedikit. Ini lawan dari prinsip yang disebutkan di awal. Padahal prinsip semacam ini bertolak belakang dengan ajaran yang disebutkan dalam Al Quran.” (Syarh Masailil Jahiliyyah, hal. 38). Padahal Allah Ta’ala menegaskan bahwa yang sesat justru yang banyak. وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (QS. Al An’am: 116) Dalam ayat lainnya disebutkan bahwa yang tidak tahu malah kebanyakan orang. وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ “Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 187) Malah kebanyakan orang adalah fasik. وَمَا وَجَدْنَا لِأَكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ “Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.” (QS. Al A’raf: 102) Sejatinya yang berpegang teguh pada kebenaran hanyalah sedikit. وَمَا آَمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ “Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. ” (QS. Hud: 40). Sebagaimana pula disebutkan dalam hadits 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab bahwa pengikut para Nabi itu sedikit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ “Aku melihat seorang nabi yang hanya memiliki beberapa pengikut (3 sampai 9 orang). Ada juga nabi hanya memiliki satu atau dua orang pengikut saja. Bahkan ada nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali.” (HR. Bukhari no. 5752 dan Muslim no. 220). Ada Nabi yang pengikutnya banyak, ada nabi yang pengikutnya sedikit. Ini menunjukkan bahwa tidak selamanya jumlah pengikut yang banyak menunjukkan atas kebenaran. Yang jadi patokan kebenaran bukanlah jumlah, namun diilihat dari pedoman mengikuti Al Qur’an dan hadits, siapa pun dia dan di mana pun dia berada. Sebagaimana kata Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dalam Kitab Tauhid ketika menarik faedah dari hadits di atas, “Kita tidak boleh silau dengan jumlah yang banyak dan tidak boleh pesimis dengan jumlah yang sedikit.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa orang yang berpegang pada kebenaran itu terasing. بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ “Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145, dari Abu Hurairah). Guru kami, Syaikh Sholeh Al Fauzan berkata, “Keterasingan ini muncul ketika sudah ramainya kejelekan dan kesesatan. Akhirnya yang ada keterasingan pada kebenaran.” (Syarh Al Masail Al Jahiliyyah, hal. 41). Patokan kebenaran bukanlah dilihat dari banyaknya pengikut. Patokannya adalah tetap melihat apakah bersesuaian dengan kebenaran. Kalau memang standar banyak yang dijadi patokan kebenaran, itu baik. Namun mayoritas yang banyak itu merujuk pada kebatilan. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ “Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman – walaupun kamu sangat menginginkannya-.” (QS. Yusuf: 103). وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al An’am: 116) Jangan merasa bahwa yang banyak diikuti dan diamalkan berarti selalu benar. Kalau prinsip seorang muslim selalu memakai patokan yang banyak itulah yang benar berarti dalam dirinya masih menganut prinsip beragamanya orang Jahiliyyah. Padahal sifat jahiliyyah selalu menunjukkan kehinaan. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Syarh Masailil Jahiliyyah, Syaikh Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, terbitan Darul Bashiroh.   — Disusun 18 Sya’ban 1435 H di Pesantren DS Gunungkidul Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir 2 buku terbaru buah karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal “10 Pelebur Dosa” sebanyak 64 halaman (ukuran buku saku) dan buku “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang sebanyak 198 halaman (ukuran A5) terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta. Dapatkan segera dengan harga Rp.6.000,- untuk 10 pelebur dosa dan Rp.30.000,- untuk Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang (belum termasuk ongkir). Segera pesan via SMS +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: paket buku dagang dan pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Tagsbid'ah tradisi

Banyak Pengikut, Apakah Berarti Benar?

Masyarakat jahiliyah masih memiliki prinsip bahwa yang jadi tradisi itulah yang benar. Sedangkan yang menyelisihi mainstream, yang menyelisihi kebanyakan orang itulah yang sesat. Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab berkata, “Di antara prinsip jahiliyyah, mereka percaya bahwa standar kebenaran adalah jika banyak yang menganutnya. Itulah yang jadi dalil pembenaran. Sedangkan kebatilan atau sesatnya sesuatu dilihat dari keterasingan dan pengikutnya yang sedikit. Ini lawan dari prinsip yang disebutkan di awal. Padahal prinsip semacam ini bertolak belakang dengan ajaran yang disebutkan dalam Al Quran.” (Syarh Masailil Jahiliyyah, hal. 38). Padahal Allah Ta’ala menegaskan bahwa yang sesat justru yang banyak. وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (QS. Al An’am: 116) Dalam ayat lainnya disebutkan bahwa yang tidak tahu malah kebanyakan orang. وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ “Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 187) Malah kebanyakan orang adalah fasik. وَمَا وَجَدْنَا لِأَكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ “Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.” (QS. Al A’raf: 102) Sejatinya yang berpegang teguh pada kebenaran hanyalah sedikit. وَمَا آَمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ “Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. ” (QS. Hud: 40). Sebagaimana pula disebutkan dalam hadits 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab bahwa pengikut para Nabi itu sedikit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ “Aku melihat seorang nabi yang hanya memiliki beberapa pengikut (3 sampai 9 orang). Ada juga nabi hanya memiliki satu atau dua orang pengikut saja. Bahkan ada nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali.” (HR. Bukhari no. 5752 dan Muslim no. 220). Ada Nabi yang pengikutnya banyak, ada nabi yang pengikutnya sedikit. Ini menunjukkan bahwa tidak selamanya jumlah pengikut yang banyak menunjukkan atas kebenaran. Yang jadi patokan kebenaran bukanlah jumlah, namun diilihat dari pedoman mengikuti Al Qur’an dan hadits, siapa pun dia dan di mana pun dia berada. Sebagaimana kata Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dalam Kitab Tauhid ketika menarik faedah dari hadits di atas, “Kita tidak boleh silau dengan jumlah yang banyak dan tidak boleh pesimis dengan jumlah yang sedikit.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa orang yang berpegang pada kebenaran itu terasing. بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ “Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145, dari Abu Hurairah). Guru kami, Syaikh Sholeh Al Fauzan berkata, “Keterasingan ini muncul ketika sudah ramainya kejelekan dan kesesatan. Akhirnya yang ada keterasingan pada kebenaran.” (Syarh Al Masail Al Jahiliyyah, hal. 41). Patokan kebenaran bukanlah dilihat dari banyaknya pengikut. Patokannya adalah tetap melihat apakah bersesuaian dengan kebenaran. Kalau memang standar banyak yang dijadi patokan kebenaran, itu baik. Namun mayoritas yang banyak itu merujuk pada kebatilan. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ “Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman – walaupun kamu sangat menginginkannya-.” (QS. Yusuf: 103). وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al An’am: 116) Jangan merasa bahwa yang banyak diikuti dan diamalkan berarti selalu benar. Kalau prinsip seorang muslim selalu memakai patokan yang banyak itulah yang benar berarti dalam dirinya masih menganut prinsip beragamanya orang Jahiliyyah. Padahal sifat jahiliyyah selalu menunjukkan kehinaan. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Syarh Masailil Jahiliyyah, Syaikh Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, terbitan Darul Bashiroh.   — Disusun 18 Sya’ban 1435 H di Pesantren DS Gunungkidul Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir 2 buku terbaru buah karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal “10 Pelebur Dosa” sebanyak 64 halaman (ukuran buku saku) dan buku “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang sebanyak 198 halaman (ukuran A5) terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta. Dapatkan segera dengan harga Rp.6.000,- untuk 10 pelebur dosa dan Rp.30.000,- untuk Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang (belum termasuk ongkir). Segera pesan via SMS +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: paket buku dagang dan pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Tagsbid'ah tradisi
Masyarakat jahiliyah masih memiliki prinsip bahwa yang jadi tradisi itulah yang benar. Sedangkan yang menyelisihi mainstream, yang menyelisihi kebanyakan orang itulah yang sesat. Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab berkata, “Di antara prinsip jahiliyyah, mereka percaya bahwa standar kebenaran adalah jika banyak yang menganutnya. Itulah yang jadi dalil pembenaran. Sedangkan kebatilan atau sesatnya sesuatu dilihat dari keterasingan dan pengikutnya yang sedikit. Ini lawan dari prinsip yang disebutkan di awal. Padahal prinsip semacam ini bertolak belakang dengan ajaran yang disebutkan dalam Al Quran.” (Syarh Masailil Jahiliyyah, hal. 38). Padahal Allah Ta’ala menegaskan bahwa yang sesat justru yang banyak. وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (QS. Al An’am: 116) Dalam ayat lainnya disebutkan bahwa yang tidak tahu malah kebanyakan orang. وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ “Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 187) Malah kebanyakan orang adalah fasik. وَمَا وَجَدْنَا لِأَكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ “Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.” (QS. Al A’raf: 102) Sejatinya yang berpegang teguh pada kebenaran hanyalah sedikit. وَمَا آَمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ “Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. ” (QS. Hud: 40). Sebagaimana pula disebutkan dalam hadits 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab bahwa pengikut para Nabi itu sedikit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ “Aku melihat seorang nabi yang hanya memiliki beberapa pengikut (3 sampai 9 orang). Ada juga nabi hanya memiliki satu atau dua orang pengikut saja. Bahkan ada nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali.” (HR. Bukhari no. 5752 dan Muslim no. 220). Ada Nabi yang pengikutnya banyak, ada nabi yang pengikutnya sedikit. Ini menunjukkan bahwa tidak selamanya jumlah pengikut yang banyak menunjukkan atas kebenaran. Yang jadi patokan kebenaran bukanlah jumlah, namun diilihat dari pedoman mengikuti Al Qur’an dan hadits, siapa pun dia dan di mana pun dia berada. Sebagaimana kata Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dalam Kitab Tauhid ketika menarik faedah dari hadits di atas, “Kita tidak boleh silau dengan jumlah yang banyak dan tidak boleh pesimis dengan jumlah yang sedikit.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa orang yang berpegang pada kebenaran itu terasing. بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ “Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145, dari Abu Hurairah). Guru kami, Syaikh Sholeh Al Fauzan berkata, “Keterasingan ini muncul ketika sudah ramainya kejelekan dan kesesatan. Akhirnya yang ada keterasingan pada kebenaran.” (Syarh Al Masail Al Jahiliyyah, hal. 41). Patokan kebenaran bukanlah dilihat dari banyaknya pengikut. Patokannya adalah tetap melihat apakah bersesuaian dengan kebenaran. Kalau memang standar banyak yang dijadi patokan kebenaran, itu baik. Namun mayoritas yang banyak itu merujuk pada kebatilan. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ “Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman – walaupun kamu sangat menginginkannya-.” (QS. Yusuf: 103). وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al An’am: 116) Jangan merasa bahwa yang banyak diikuti dan diamalkan berarti selalu benar. Kalau prinsip seorang muslim selalu memakai patokan yang banyak itulah yang benar berarti dalam dirinya masih menganut prinsip beragamanya orang Jahiliyyah. Padahal sifat jahiliyyah selalu menunjukkan kehinaan. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Syarh Masailil Jahiliyyah, Syaikh Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, terbitan Darul Bashiroh.   — Disusun 18 Sya’ban 1435 H di Pesantren DS Gunungkidul Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir 2 buku terbaru buah karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal “10 Pelebur Dosa” sebanyak 64 halaman (ukuran buku saku) dan buku “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang sebanyak 198 halaman (ukuran A5) terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta. Dapatkan segera dengan harga Rp.6.000,- untuk 10 pelebur dosa dan Rp.30.000,- untuk Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang (belum termasuk ongkir). Segera pesan via SMS +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: paket buku dagang dan pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Tagsbid'ah tradisi


Masyarakat jahiliyah masih memiliki prinsip bahwa yang jadi tradisi itulah yang benar. Sedangkan yang menyelisihi mainstream, yang menyelisihi kebanyakan orang itulah yang sesat. Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab berkata, “Di antara prinsip jahiliyyah, mereka percaya bahwa standar kebenaran adalah jika banyak yang menganutnya. Itulah yang jadi dalil pembenaran. Sedangkan kebatilan atau sesatnya sesuatu dilihat dari keterasingan dan pengikutnya yang sedikit. Ini lawan dari prinsip yang disebutkan di awal. Padahal prinsip semacam ini bertolak belakang dengan ajaran yang disebutkan dalam Al Quran.” (Syarh Masailil Jahiliyyah, hal. 38). Padahal Allah Ta’ala menegaskan bahwa yang sesat justru yang banyak. وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (QS. Al An’am: 116) Dalam ayat lainnya disebutkan bahwa yang tidak tahu malah kebanyakan orang. وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ “Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 187) Malah kebanyakan orang adalah fasik. وَمَا وَجَدْنَا لِأَكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ “Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.” (QS. Al A’raf: 102) Sejatinya yang berpegang teguh pada kebenaran hanyalah sedikit. وَمَا آَمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ “Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. ” (QS. Hud: 40). Sebagaimana pula disebutkan dalam hadits 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab bahwa pengikut para Nabi itu sedikit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ “Aku melihat seorang nabi yang hanya memiliki beberapa pengikut (3 sampai 9 orang). Ada juga nabi hanya memiliki satu atau dua orang pengikut saja. Bahkan ada nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali.” (HR. Bukhari no. 5752 dan Muslim no. 220). Ada Nabi yang pengikutnya banyak, ada nabi yang pengikutnya sedikit. Ini menunjukkan bahwa tidak selamanya jumlah pengikut yang banyak menunjukkan atas kebenaran. Yang jadi patokan kebenaran bukanlah jumlah, namun diilihat dari pedoman mengikuti Al Qur’an dan hadits, siapa pun dia dan di mana pun dia berada. Sebagaimana kata Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dalam Kitab Tauhid ketika menarik faedah dari hadits di atas, “Kita tidak boleh silau dengan jumlah yang banyak dan tidak boleh pesimis dengan jumlah yang sedikit.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa orang yang berpegang pada kebenaran itu terasing. بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ “Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145, dari Abu Hurairah). Guru kami, Syaikh Sholeh Al Fauzan berkata, “Keterasingan ini muncul ketika sudah ramainya kejelekan dan kesesatan. Akhirnya yang ada keterasingan pada kebenaran.” (Syarh Al Masail Al Jahiliyyah, hal. 41). Patokan kebenaran bukanlah dilihat dari banyaknya pengikut. Patokannya adalah tetap melihat apakah bersesuaian dengan kebenaran. Kalau memang standar banyak yang dijadi patokan kebenaran, itu baik. Namun mayoritas yang banyak itu merujuk pada kebatilan. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ “Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman – walaupun kamu sangat menginginkannya-.” (QS. Yusuf: 103). وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al An’am: 116) Jangan merasa bahwa yang banyak diikuti dan diamalkan berarti selalu benar. Kalau prinsip seorang muslim selalu memakai patokan yang banyak itulah yang benar berarti dalam dirinya masih menganut prinsip beragamanya orang Jahiliyyah. Padahal sifat jahiliyyah selalu menunjukkan kehinaan. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Syarh Masailil Jahiliyyah, Syaikh Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, terbitan Darul Bashiroh.   — Disusun 18 Sya’ban 1435 H di Pesantren DS Gunungkidul Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir 2 buku terbaru buah karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal “10 Pelebur Dosa” sebanyak 64 halaman (ukuran buku saku) dan buku “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang sebanyak 198 halaman (ukuran A5) terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta. Dapatkan segera dengan harga Rp.6.000,- untuk 10 pelebur dosa dan Rp.30.000,- untuk Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang (belum termasuk ongkir). Segera pesan via SMS +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: paket buku dagang dan pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Tagsbid'ah tradisi

Mereka Menuduh Allah Lupa

Sesungguhnya syariat islam yang sempurnah telah mengajarkan kepada umat manusia ‎segala yang mereka butuhkan untuk mewujudkan peribadatan yang sempurna kepada ‎Allah. Baik amal zahir maupun batin, tak terkecuali tata cara puasa. ‎ Syariat ini Allah turunkan 14 abad yang lalu. Dan kita meyakini bahwa ketika Allah ‎menurunkan syariat ini, Allah ta’ala juga mengetahui bahwa di masa mendatang, akan ‎ada berbagai macam perkembangan teknologi yang demikian canggih. Kita juga yakin, ‎bahwa ketika Allah menurunkan syariatnya, Allah tidak lupa bahwa besok akan ada ‎komputer canggih, alat teropong canggih, berbagai macam teknologi canggih lainnya.‎   وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا ‎‎ ”Bahwa Tuhanmu tidak pernah lupa.” (QS. Maryam: 64). Ketika Allah menurunkan syariat mencuci sebanyak 7 kali, bekas najis air yang dijilat ‎anjing, salah satunya dengan tanah, Allah tahu bahwa besok akan ada sabun dan alat ‎pembersih lainnya. Dan Allah tidak lupa. ‎ Ketika Allah menurunkan syariat menetapkan masuknya ramadhan dengan rukyatul hilal, ‎Allah tahu besok akan ada komputer canggih yang mampu melakukan hisab dengan ‎akurat. Dan Allah tidak lupa. ‎ Ketika Allah menurunkan syariat qashar bagi musafir, Allah tahu besok akan ada ‎kendaraan serba mewah, ber-AC, lebih cepat dan lebih jauh jangkauannya. Dan Allah ‎tidak pernah lupa. ‎ Ketika Allah menurunkan syariat tentang tata cara menyembelih yang benar, Allah tahu, ‎besok akan akan ada mesin canggih yang bisa menyembelih puluhan hewan atau suntikan ‎bius yang bisa membuat pingsan hewan yang akan disembelih. Dan Allah tidak lupa. ‎ Ketika ada orang yang menganggap bahwa tata cara yang ada dalam syariat ini perlu ‎disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kecanggihan teknologi. Bukankah ini ‎termasuk menuduh bahwa Allah tidak tahu perkembangan zaman atau Allah lupa akan ‎ada semacam ini? ‎

Mereka Menuduh Allah Lupa

Sesungguhnya syariat islam yang sempurnah telah mengajarkan kepada umat manusia ‎segala yang mereka butuhkan untuk mewujudkan peribadatan yang sempurna kepada ‎Allah. Baik amal zahir maupun batin, tak terkecuali tata cara puasa. ‎ Syariat ini Allah turunkan 14 abad yang lalu. Dan kita meyakini bahwa ketika Allah ‎menurunkan syariat ini, Allah ta’ala juga mengetahui bahwa di masa mendatang, akan ‎ada berbagai macam perkembangan teknologi yang demikian canggih. Kita juga yakin, ‎bahwa ketika Allah menurunkan syariatnya, Allah tidak lupa bahwa besok akan ada ‎komputer canggih, alat teropong canggih, berbagai macam teknologi canggih lainnya.‎   وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا ‎‎ ”Bahwa Tuhanmu tidak pernah lupa.” (QS. Maryam: 64). Ketika Allah menurunkan syariat mencuci sebanyak 7 kali, bekas najis air yang dijilat ‎anjing, salah satunya dengan tanah, Allah tahu bahwa besok akan ada sabun dan alat ‎pembersih lainnya. Dan Allah tidak lupa. ‎ Ketika Allah menurunkan syariat menetapkan masuknya ramadhan dengan rukyatul hilal, ‎Allah tahu besok akan ada komputer canggih yang mampu melakukan hisab dengan ‎akurat. Dan Allah tidak lupa. ‎ Ketika Allah menurunkan syariat qashar bagi musafir, Allah tahu besok akan ada ‎kendaraan serba mewah, ber-AC, lebih cepat dan lebih jauh jangkauannya. Dan Allah ‎tidak pernah lupa. ‎ Ketika Allah menurunkan syariat tentang tata cara menyembelih yang benar, Allah tahu, ‎besok akan akan ada mesin canggih yang bisa menyembelih puluhan hewan atau suntikan ‎bius yang bisa membuat pingsan hewan yang akan disembelih. Dan Allah tidak lupa. ‎ Ketika ada orang yang menganggap bahwa tata cara yang ada dalam syariat ini perlu ‎disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kecanggihan teknologi. Bukankah ini ‎termasuk menuduh bahwa Allah tidak tahu perkembangan zaman atau Allah lupa akan ‎ada semacam ini? ‎
Sesungguhnya syariat islam yang sempurnah telah mengajarkan kepada umat manusia ‎segala yang mereka butuhkan untuk mewujudkan peribadatan yang sempurna kepada ‎Allah. Baik amal zahir maupun batin, tak terkecuali tata cara puasa. ‎ Syariat ini Allah turunkan 14 abad yang lalu. Dan kita meyakini bahwa ketika Allah ‎menurunkan syariat ini, Allah ta’ala juga mengetahui bahwa di masa mendatang, akan ‎ada berbagai macam perkembangan teknologi yang demikian canggih. Kita juga yakin, ‎bahwa ketika Allah menurunkan syariatnya, Allah tidak lupa bahwa besok akan ada ‎komputer canggih, alat teropong canggih, berbagai macam teknologi canggih lainnya.‎   وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا ‎‎ ”Bahwa Tuhanmu tidak pernah lupa.” (QS. Maryam: 64). Ketika Allah menurunkan syariat mencuci sebanyak 7 kali, bekas najis air yang dijilat ‎anjing, salah satunya dengan tanah, Allah tahu bahwa besok akan ada sabun dan alat ‎pembersih lainnya. Dan Allah tidak lupa. ‎ Ketika Allah menurunkan syariat menetapkan masuknya ramadhan dengan rukyatul hilal, ‎Allah tahu besok akan ada komputer canggih yang mampu melakukan hisab dengan ‎akurat. Dan Allah tidak lupa. ‎ Ketika Allah menurunkan syariat qashar bagi musafir, Allah tahu besok akan ada ‎kendaraan serba mewah, ber-AC, lebih cepat dan lebih jauh jangkauannya. Dan Allah ‎tidak pernah lupa. ‎ Ketika Allah menurunkan syariat tentang tata cara menyembelih yang benar, Allah tahu, ‎besok akan akan ada mesin canggih yang bisa menyembelih puluhan hewan atau suntikan ‎bius yang bisa membuat pingsan hewan yang akan disembelih. Dan Allah tidak lupa. ‎ Ketika ada orang yang menganggap bahwa tata cara yang ada dalam syariat ini perlu ‎disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kecanggihan teknologi. Bukankah ini ‎termasuk menuduh bahwa Allah tidak tahu perkembangan zaman atau Allah lupa akan ‎ada semacam ini? ‎


Sesungguhnya syariat islam yang sempurnah telah mengajarkan kepada umat manusia ‎segala yang mereka butuhkan untuk mewujudkan peribadatan yang sempurna kepada ‎Allah. Baik amal zahir maupun batin, tak terkecuali tata cara puasa. ‎ Syariat ini Allah turunkan 14 abad yang lalu. Dan kita meyakini bahwa ketika Allah ‎menurunkan syariat ini, Allah ta’ala juga mengetahui bahwa di masa mendatang, akan ‎ada berbagai macam perkembangan teknologi yang demikian canggih. Kita juga yakin, ‎bahwa ketika Allah menurunkan syariatnya, Allah tidak lupa bahwa besok akan ada ‎komputer canggih, alat teropong canggih, berbagai macam teknologi canggih lainnya.‎   وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا ‎‎ ”Bahwa Tuhanmu tidak pernah lupa.” (QS. Maryam: 64). Ketika Allah menurunkan syariat mencuci sebanyak 7 kali, bekas najis air yang dijilat ‎anjing, salah satunya dengan tanah, Allah tahu bahwa besok akan ada sabun dan alat ‎pembersih lainnya. Dan Allah tidak lupa. ‎ Ketika Allah menurunkan syariat menetapkan masuknya ramadhan dengan rukyatul hilal, ‎Allah tahu besok akan ada komputer canggih yang mampu melakukan hisab dengan ‎akurat. Dan Allah tidak lupa. ‎ Ketika Allah menurunkan syariat qashar bagi musafir, Allah tahu besok akan ada ‎kendaraan serba mewah, ber-AC, lebih cepat dan lebih jauh jangkauannya. Dan Allah ‎tidak pernah lupa. ‎ Ketika Allah menurunkan syariat tentang tata cara menyembelih yang benar, Allah tahu, ‎besok akan akan ada mesin canggih yang bisa menyembelih puluhan hewan atau suntikan ‎bius yang bisa membuat pingsan hewan yang akan disembelih. Dan Allah tidak lupa. ‎ Ketika ada orang yang menganggap bahwa tata cara yang ada dalam syariat ini perlu ‎disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kecanggihan teknologi. Bukankah ini ‎termasuk menuduh bahwa Allah tidak tahu perkembangan zaman atau Allah lupa akan ‎ada semacam ini? ‎

Pemimpin yang Tegas

Manakah yang pantas untuk dipilih, pemimpin yang tegas akan tetapi fasik (tidak shalih) ataukah pemimpin yang shalih namun tidak tegas (banyak toleransi)? Syaikh Sholeh Al Fauzan menjelaskan bahwa pemimpin yang tegas itu lebih baik. Meski ia adalah orang yang gemar maksiat. Maksiatnya adalah tanggung jawabnya di sisi Allah. Sedangkan ketegasannya amat bermanfaat bagi kaum muslimin. Sedangkan orang yang shalih namun tidak amanah kurang pantas jadi pemimpin. Karena keshalihan adalah kemanfaatan untuk diri sendiri. Sedangkan tidak amanah berakibat buruk bagi orang banyak. (Syarh Masailil Jahiliyyah, hal. 33). Dalam ajaran Islam, pemimpin yang fasik akan tetap ditaati. Karena kefasikan atau maksiat yang ia perbuat akan jadi tanggungan ia sendiri. Ia pun tetap ditaati ketika berbuat zalim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ “Dengarkan dan patuhilah penguasa, meski penguasa tersebut memukuli punggungmu dan merampas hartamu. Tetap dengarlah dan taat.” (HR. Muslim no. 1848). Guru kami, Syaikh Sholeh Al Fauzan berkata, “Ketika penguasa tersebut berbuat zalim tetap wajib ditaati. Kerusakan saat taat pada penguasa saat ia bermaksiat lebih ringan daripada harus memberontak. Rasa aman tetap ada dan akan hilang perpecahan di tengah-tengah umat.” (Idem) Jadi pemimpin yang tegas tentu saja lebih baik daripada yang terlalu toleran (tidak tegas). Semoga jadi bahan renungan. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Syarh Masailil Jahiliyyah, Syaikh Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, terbitan Darul Bashiroh. — Disusun di malam hari, di Pesantren DS, 18 Sya’ban 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir 2 buku terbaru buah karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal “10 Pelebur Dosa” sebanyak 64 halaman (ukuran buku saku) dan buku “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang sebanyak 198 halaman (ukuran A5) terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta. Dapatkan segera dengan harga Rp.6.000,- untuk 10 pelebur dosa dan Rp.30.000,- untuk Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang (belum termasuk ongkir). Segera pesan via SMS +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: paket buku dagang dan pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Tagspemimpin

Pemimpin yang Tegas

Manakah yang pantas untuk dipilih, pemimpin yang tegas akan tetapi fasik (tidak shalih) ataukah pemimpin yang shalih namun tidak tegas (banyak toleransi)? Syaikh Sholeh Al Fauzan menjelaskan bahwa pemimpin yang tegas itu lebih baik. Meski ia adalah orang yang gemar maksiat. Maksiatnya adalah tanggung jawabnya di sisi Allah. Sedangkan ketegasannya amat bermanfaat bagi kaum muslimin. Sedangkan orang yang shalih namun tidak amanah kurang pantas jadi pemimpin. Karena keshalihan adalah kemanfaatan untuk diri sendiri. Sedangkan tidak amanah berakibat buruk bagi orang banyak. (Syarh Masailil Jahiliyyah, hal. 33). Dalam ajaran Islam, pemimpin yang fasik akan tetap ditaati. Karena kefasikan atau maksiat yang ia perbuat akan jadi tanggungan ia sendiri. Ia pun tetap ditaati ketika berbuat zalim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ “Dengarkan dan patuhilah penguasa, meski penguasa tersebut memukuli punggungmu dan merampas hartamu. Tetap dengarlah dan taat.” (HR. Muslim no. 1848). Guru kami, Syaikh Sholeh Al Fauzan berkata, “Ketika penguasa tersebut berbuat zalim tetap wajib ditaati. Kerusakan saat taat pada penguasa saat ia bermaksiat lebih ringan daripada harus memberontak. Rasa aman tetap ada dan akan hilang perpecahan di tengah-tengah umat.” (Idem) Jadi pemimpin yang tegas tentu saja lebih baik daripada yang terlalu toleran (tidak tegas). Semoga jadi bahan renungan. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Syarh Masailil Jahiliyyah, Syaikh Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, terbitan Darul Bashiroh. — Disusun di malam hari, di Pesantren DS, 18 Sya’ban 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir 2 buku terbaru buah karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal “10 Pelebur Dosa” sebanyak 64 halaman (ukuran buku saku) dan buku “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang sebanyak 198 halaman (ukuran A5) terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta. Dapatkan segera dengan harga Rp.6.000,- untuk 10 pelebur dosa dan Rp.30.000,- untuk Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang (belum termasuk ongkir). Segera pesan via SMS +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: paket buku dagang dan pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Tagspemimpin
Manakah yang pantas untuk dipilih, pemimpin yang tegas akan tetapi fasik (tidak shalih) ataukah pemimpin yang shalih namun tidak tegas (banyak toleransi)? Syaikh Sholeh Al Fauzan menjelaskan bahwa pemimpin yang tegas itu lebih baik. Meski ia adalah orang yang gemar maksiat. Maksiatnya adalah tanggung jawabnya di sisi Allah. Sedangkan ketegasannya amat bermanfaat bagi kaum muslimin. Sedangkan orang yang shalih namun tidak amanah kurang pantas jadi pemimpin. Karena keshalihan adalah kemanfaatan untuk diri sendiri. Sedangkan tidak amanah berakibat buruk bagi orang banyak. (Syarh Masailil Jahiliyyah, hal. 33). Dalam ajaran Islam, pemimpin yang fasik akan tetap ditaati. Karena kefasikan atau maksiat yang ia perbuat akan jadi tanggungan ia sendiri. Ia pun tetap ditaati ketika berbuat zalim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ “Dengarkan dan patuhilah penguasa, meski penguasa tersebut memukuli punggungmu dan merampas hartamu. Tetap dengarlah dan taat.” (HR. Muslim no. 1848). Guru kami, Syaikh Sholeh Al Fauzan berkata, “Ketika penguasa tersebut berbuat zalim tetap wajib ditaati. Kerusakan saat taat pada penguasa saat ia bermaksiat lebih ringan daripada harus memberontak. Rasa aman tetap ada dan akan hilang perpecahan di tengah-tengah umat.” (Idem) Jadi pemimpin yang tegas tentu saja lebih baik daripada yang terlalu toleran (tidak tegas). Semoga jadi bahan renungan. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Syarh Masailil Jahiliyyah, Syaikh Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, terbitan Darul Bashiroh. — Disusun di malam hari, di Pesantren DS, 18 Sya’ban 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir 2 buku terbaru buah karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal “10 Pelebur Dosa” sebanyak 64 halaman (ukuran buku saku) dan buku “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang sebanyak 198 halaman (ukuran A5) terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta. Dapatkan segera dengan harga Rp.6.000,- untuk 10 pelebur dosa dan Rp.30.000,- untuk Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang (belum termasuk ongkir). Segera pesan via SMS +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: paket buku dagang dan pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Tagspemimpin


Manakah yang pantas untuk dipilih, pemimpin yang tegas akan tetapi fasik (tidak shalih) ataukah pemimpin yang shalih namun tidak tegas (banyak toleransi)? Syaikh Sholeh Al Fauzan menjelaskan bahwa pemimpin yang tegas itu lebih baik. Meski ia adalah orang yang gemar maksiat. Maksiatnya adalah tanggung jawabnya di sisi Allah. Sedangkan ketegasannya amat bermanfaat bagi kaum muslimin. Sedangkan orang yang shalih namun tidak amanah kurang pantas jadi pemimpin. Karena keshalihan adalah kemanfaatan untuk diri sendiri. Sedangkan tidak amanah berakibat buruk bagi orang banyak. (Syarh Masailil Jahiliyyah, hal. 33). Dalam ajaran Islam, pemimpin yang fasik akan tetap ditaati. Karena kefasikan atau maksiat yang ia perbuat akan jadi tanggungan ia sendiri. Ia pun tetap ditaati ketika berbuat zalim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ “Dengarkan dan patuhilah penguasa, meski penguasa tersebut memukuli punggungmu dan merampas hartamu. Tetap dengarlah dan taat.” (HR. Muslim no. 1848). Guru kami, Syaikh Sholeh Al Fauzan berkata, “Ketika penguasa tersebut berbuat zalim tetap wajib ditaati. Kerusakan saat taat pada penguasa saat ia bermaksiat lebih ringan daripada harus memberontak. Rasa aman tetap ada dan akan hilang perpecahan di tengah-tengah umat.” (Idem) Jadi pemimpin yang tegas tentu saja lebih baik daripada yang terlalu toleran (tidak tegas). Semoga jadi bahan renungan. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Syarh Masailil Jahiliyyah, Syaikh Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, terbitan Darul Bashiroh. — Disusun di malam hari, di Pesantren DS, 18 Sya’ban 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir 2 buku terbaru buah karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal “10 Pelebur Dosa” sebanyak 64 halaman (ukuran buku saku) dan buku “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang sebanyak 198 halaman (ukuran A5) terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta. Dapatkan segera dengan harga Rp.6.000,- untuk 10 pelebur dosa dan Rp.30.000,- untuk Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang (belum termasuk ongkir). Segera pesan via SMS +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: paket buku dagang dan pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Tagspemimpin

Jangan Mengkhianati Amanat

Kalau memang seseorang dibebankan suatu amanat, janganlah dikhianati. Tunaikanlah amanat tersebut dengan baik. Jika masa tugas belum selesai padahal sudah berjanji dengan bersumpah akan merampungkannya, maka sudah barang tentu janji tersebut kudu dipenuhi. Lihatlah perintah Allah Ta’ala dalam menunaikan amanat, إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” (QS. An Nisa’: 58) Kalau sudah pernah berjanji pada rakyat untuk menunaikan amanat, maka tunaikanlah, أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ “Tunaikanlah amanat kepada orang yang menitipkan amanat padamu.” (HR. Abu Daud no. 3535 dan At Tirmidzi no. 1624, hasan shahih) Ketahuilah bahwa orang yang berkhianat terhadap amanat pun menyandang salah satu sifat munafik. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ “Tiga tanda munafik adalah jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan ketika diberi amanat, maka ia ingkar” (HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini menerangkan tanda munafik, yang memiliki sifat tersebut berarti serupa dengan munafik atau berperangai seperti kelakuan munafik. Karena yang dimaksud munafik adalah yang ia tampakkan berbeda dengan yang disembunyikan. Pengertian munafik ini terdapat pada orang yang memiliki tanda-tanda tersebut” (Syarh Muslim, 2: 47). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Menunaikan amanat yang dimaksudkan adalah umum mencakup segala yang diwajibkan pada seorang hamba, baik hak Allah atau hak sesama manusia” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 4: 124). Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, “Amanat adalah segala sesuatu yang diemban oleh seseorang yang diperintahkan untuk ditunaikan. …. Para fuqoha menyebutkan bahwa orang yang dibebankan amanat, hendaklah ia benar-benar menjaganya. Mereka berkata bahwa seseorang tidak disebut menunaikan amanat melainkan dengan menjaganya, dan hukumnya adalah wajib.” (Taisir Al Karimir Rahman, 183). Bahkan jika kita menjadi seorang pemimpin, benar-benar kita harus memegang amanat karena banyak pemimpin yang hanya mengingkari janji-janjinya. Dari Abu Dzarr pula, ia berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak memberiku kekuasaan?” Lalu beliau memegang pundakku dengan tangannya, kemudian bersabda, يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْىٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ فِيهَا “Wahai Abu Dzarr, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah. Kekuasaan itu adalah amanah, dan kekuasaan tersebut pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkan kekuasaan tersebut dengan haknya dan melaksanakan kewajibannya pada kekuasaannya itu.” (HR. Muslim no. 1825). Semoga jadi nasehat bersama. Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, 16 Sya’ban 1435 H di malam hari Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamanat

Jangan Mengkhianati Amanat

Kalau memang seseorang dibebankan suatu amanat, janganlah dikhianati. Tunaikanlah amanat tersebut dengan baik. Jika masa tugas belum selesai padahal sudah berjanji dengan bersumpah akan merampungkannya, maka sudah barang tentu janji tersebut kudu dipenuhi. Lihatlah perintah Allah Ta’ala dalam menunaikan amanat, إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” (QS. An Nisa’: 58) Kalau sudah pernah berjanji pada rakyat untuk menunaikan amanat, maka tunaikanlah, أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ “Tunaikanlah amanat kepada orang yang menitipkan amanat padamu.” (HR. Abu Daud no. 3535 dan At Tirmidzi no. 1624, hasan shahih) Ketahuilah bahwa orang yang berkhianat terhadap amanat pun menyandang salah satu sifat munafik. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ “Tiga tanda munafik adalah jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan ketika diberi amanat, maka ia ingkar” (HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini menerangkan tanda munafik, yang memiliki sifat tersebut berarti serupa dengan munafik atau berperangai seperti kelakuan munafik. Karena yang dimaksud munafik adalah yang ia tampakkan berbeda dengan yang disembunyikan. Pengertian munafik ini terdapat pada orang yang memiliki tanda-tanda tersebut” (Syarh Muslim, 2: 47). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Menunaikan amanat yang dimaksudkan adalah umum mencakup segala yang diwajibkan pada seorang hamba, baik hak Allah atau hak sesama manusia” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 4: 124). Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, “Amanat adalah segala sesuatu yang diemban oleh seseorang yang diperintahkan untuk ditunaikan. …. Para fuqoha menyebutkan bahwa orang yang dibebankan amanat, hendaklah ia benar-benar menjaganya. Mereka berkata bahwa seseorang tidak disebut menunaikan amanat melainkan dengan menjaganya, dan hukumnya adalah wajib.” (Taisir Al Karimir Rahman, 183). Bahkan jika kita menjadi seorang pemimpin, benar-benar kita harus memegang amanat karena banyak pemimpin yang hanya mengingkari janji-janjinya. Dari Abu Dzarr pula, ia berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak memberiku kekuasaan?” Lalu beliau memegang pundakku dengan tangannya, kemudian bersabda, يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْىٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ فِيهَا “Wahai Abu Dzarr, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah. Kekuasaan itu adalah amanah, dan kekuasaan tersebut pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkan kekuasaan tersebut dengan haknya dan melaksanakan kewajibannya pada kekuasaannya itu.” (HR. Muslim no. 1825). Semoga jadi nasehat bersama. Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, 16 Sya’ban 1435 H di malam hari Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamanat
Kalau memang seseorang dibebankan suatu amanat, janganlah dikhianati. Tunaikanlah amanat tersebut dengan baik. Jika masa tugas belum selesai padahal sudah berjanji dengan bersumpah akan merampungkannya, maka sudah barang tentu janji tersebut kudu dipenuhi. Lihatlah perintah Allah Ta’ala dalam menunaikan amanat, إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” (QS. An Nisa’: 58) Kalau sudah pernah berjanji pada rakyat untuk menunaikan amanat, maka tunaikanlah, أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ “Tunaikanlah amanat kepada orang yang menitipkan amanat padamu.” (HR. Abu Daud no. 3535 dan At Tirmidzi no. 1624, hasan shahih) Ketahuilah bahwa orang yang berkhianat terhadap amanat pun menyandang salah satu sifat munafik. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ “Tiga tanda munafik adalah jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan ketika diberi amanat, maka ia ingkar” (HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini menerangkan tanda munafik, yang memiliki sifat tersebut berarti serupa dengan munafik atau berperangai seperti kelakuan munafik. Karena yang dimaksud munafik adalah yang ia tampakkan berbeda dengan yang disembunyikan. Pengertian munafik ini terdapat pada orang yang memiliki tanda-tanda tersebut” (Syarh Muslim, 2: 47). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Menunaikan amanat yang dimaksudkan adalah umum mencakup segala yang diwajibkan pada seorang hamba, baik hak Allah atau hak sesama manusia” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 4: 124). Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, “Amanat adalah segala sesuatu yang diemban oleh seseorang yang diperintahkan untuk ditunaikan. …. Para fuqoha menyebutkan bahwa orang yang dibebankan amanat, hendaklah ia benar-benar menjaganya. Mereka berkata bahwa seseorang tidak disebut menunaikan amanat melainkan dengan menjaganya, dan hukumnya adalah wajib.” (Taisir Al Karimir Rahman, 183). Bahkan jika kita menjadi seorang pemimpin, benar-benar kita harus memegang amanat karena banyak pemimpin yang hanya mengingkari janji-janjinya. Dari Abu Dzarr pula, ia berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak memberiku kekuasaan?” Lalu beliau memegang pundakku dengan tangannya, kemudian bersabda, يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْىٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ فِيهَا “Wahai Abu Dzarr, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah. Kekuasaan itu adalah amanah, dan kekuasaan tersebut pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkan kekuasaan tersebut dengan haknya dan melaksanakan kewajibannya pada kekuasaannya itu.” (HR. Muslim no. 1825). Semoga jadi nasehat bersama. Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, 16 Sya’ban 1435 H di malam hari Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamanat


Kalau memang seseorang dibebankan suatu amanat, janganlah dikhianati. Tunaikanlah amanat tersebut dengan baik. Jika masa tugas belum selesai padahal sudah berjanji dengan bersumpah akan merampungkannya, maka sudah barang tentu janji tersebut kudu dipenuhi. Lihatlah perintah Allah Ta’ala dalam menunaikan amanat, إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” (QS. An Nisa’: 58) Kalau sudah pernah berjanji pada rakyat untuk menunaikan amanat, maka tunaikanlah, أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ “Tunaikanlah amanat kepada orang yang menitipkan amanat padamu.” (HR. Abu Daud no. 3535 dan At Tirmidzi no. 1624, hasan shahih) Ketahuilah bahwa orang yang berkhianat terhadap amanat pun menyandang salah satu sifat munafik. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ “Tiga tanda munafik adalah jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan ketika diberi amanat, maka ia ingkar” (HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini menerangkan tanda munafik, yang memiliki sifat tersebut berarti serupa dengan munafik atau berperangai seperti kelakuan munafik. Karena yang dimaksud munafik adalah yang ia tampakkan berbeda dengan yang disembunyikan. Pengertian munafik ini terdapat pada orang yang memiliki tanda-tanda tersebut” (Syarh Muslim, 2: 47). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Menunaikan amanat yang dimaksudkan adalah umum mencakup segala yang diwajibkan pada seorang hamba, baik hak Allah atau hak sesama manusia” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 4: 124). Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, “Amanat adalah segala sesuatu yang diemban oleh seseorang yang diperintahkan untuk ditunaikan. …. Para fuqoha menyebutkan bahwa orang yang dibebankan amanat, hendaklah ia benar-benar menjaganya. Mereka berkata bahwa seseorang tidak disebut menunaikan amanat melainkan dengan menjaganya, dan hukumnya adalah wajib.” (Taisir Al Karimir Rahman, 183). Bahkan jika kita menjadi seorang pemimpin, benar-benar kita harus memegang amanat karena banyak pemimpin yang hanya mengingkari janji-janjinya. Dari Abu Dzarr pula, ia berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak memberiku kekuasaan?” Lalu beliau memegang pundakku dengan tangannya, kemudian bersabda, يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْىٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ فِيهَا “Wahai Abu Dzarr, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah. Kekuasaan itu adalah amanah, dan kekuasaan tersebut pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkan kekuasaan tersebut dengan haknya dan melaksanakan kewajibannya pada kekuasaannya itu.” (HR. Muslim no. 1825). Semoga jadi nasehat bersama. Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, 16 Sya’ban 1435 H di malam hari Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamanat

Akibat Beramal Tanpa Tuntunan

Akibat dari amalan yang tanpa tuntunan, amalan yang tidak ada dalilnya, hanya membuat amalan tersebut tertolak dan sia-sia. Al Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan khutbah kepada para sahabat pada hari Idul Adha setelah mengerjakan shalat Idul Adha. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا وَنَسَكَ نُسُكَنَا فَقَدْ أَصَابَ النُّسُكَ ، وَمَنْ نَسَكَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّهُ قَبْلَ الصَّلاَةِ ، وَلاَ نُسُكَ لَهُ “Siapa yang shalat seperti shalat kami dan menyembelih kurban seperti kurban kami, maka ia telah mendapatkan pahala kurban. Barangsiapa yang berkurban sebelum shalat Idul Adha, maka itu hanyalah sembelihan yang ada sebelum shalat dan tidak teranggap sebagai kurban.” Abu Burdah yang merupakan paman dari Al Bara’ bin ‘Azib dari jalur ibunya berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ ، فَإِنِّى نَسَكْتُ شَاتِى قَبْلَ الصَّلاَةِ ، وَعَرَفْتُ أَنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ ، وَأَحْبَبْتُ أَنْ تَكُونَ شَاتِى أَوَّلَ مَا يُذْبَحُ فِى بَيْتِى ، فَذَبَحْتُ شَاتِى وَتَغَدَّيْتُ قَبْلَ أَنْ آتِىَ الصَّلاَةَ “Wahai Rasulullah, aku telah menyembelih kambingku sebelum shalat Idul Adha. Aku tahu bahwa hari itu adalah hari untuk makan dan minum. Aku senang jika kambingku adalah binatang yang pertama kali disembelih di rumahku. Oleh karena itu, aku menyembelihnya dan aku sarapan dengannya sebelum aku shalat Idul Adha.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ “Kambingmu hanyalah kambing biasa (yang dimakan dagingnya, bukan kambing kurban).” (HR. Bukhari no. 955) Coba perhatikan. Lihatlah bagaimanakah akibat dari beramal tanpa tuntunan. Jika ibadahnya asal-asalan, tanpa dasar ilmu dan tanpa dalil, beramal hanya atas dasar amalan itu baik, maka tidak akan diterima amalan tersebut. Perhatikanlah baik-baik apa yang terjadi pada sahabat di atas. Niatannya baik agar biasa sarapan dengan hasil kurbannya. Sayangnya, ia menyembelih sebelum waktunya. Akibatnya, kurbannya hanyalah dinilai daging biasa. Maka ibadah lainnya berlaku seperti itu. Jika suatu amalan tidak didasari dengan dalil yang shahih dari Al Qur’an dan hadits, maka amalan tersebut jadi sia-sia. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718) Orang yang melakukan amalan tanpa tuntunan benar-benar merugi, amalannya sia-sia belaka dan tidak diterima. Dalam ayat Al Qur’an disebutkan, قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا “Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi: 103-104) Ibnu Mas’ud pernah berkata pada orang yang amalannya mengada-ada, tanpa pakai tuntunan padahal niatan orang tersebut benar-benar baik, وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi 1: 79. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayyid) Baca artikel lainnya: Dampak Buruk Amalan Tanpa Tuntunan. Semoga jadi bahan renungan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Diselesaikan di malam hari menjelang Isya, 17 Sya’ban 1435 H di Pesantren DS Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Silakan dapatkan buku “Mengenal Bid’ah Lebih Dekat” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal seharga Rp.13.000,- belum termasuk ongkir. Segera pesan via SMS +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku bid’ah#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsbid'ah

Akibat Beramal Tanpa Tuntunan

Akibat dari amalan yang tanpa tuntunan, amalan yang tidak ada dalilnya, hanya membuat amalan tersebut tertolak dan sia-sia. Al Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan khutbah kepada para sahabat pada hari Idul Adha setelah mengerjakan shalat Idul Adha. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا وَنَسَكَ نُسُكَنَا فَقَدْ أَصَابَ النُّسُكَ ، وَمَنْ نَسَكَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّهُ قَبْلَ الصَّلاَةِ ، وَلاَ نُسُكَ لَهُ “Siapa yang shalat seperti shalat kami dan menyembelih kurban seperti kurban kami, maka ia telah mendapatkan pahala kurban. Barangsiapa yang berkurban sebelum shalat Idul Adha, maka itu hanyalah sembelihan yang ada sebelum shalat dan tidak teranggap sebagai kurban.” Abu Burdah yang merupakan paman dari Al Bara’ bin ‘Azib dari jalur ibunya berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ ، فَإِنِّى نَسَكْتُ شَاتِى قَبْلَ الصَّلاَةِ ، وَعَرَفْتُ أَنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ ، وَأَحْبَبْتُ أَنْ تَكُونَ شَاتِى أَوَّلَ مَا يُذْبَحُ فِى بَيْتِى ، فَذَبَحْتُ شَاتِى وَتَغَدَّيْتُ قَبْلَ أَنْ آتِىَ الصَّلاَةَ “Wahai Rasulullah, aku telah menyembelih kambingku sebelum shalat Idul Adha. Aku tahu bahwa hari itu adalah hari untuk makan dan minum. Aku senang jika kambingku adalah binatang yang pertama kali disembelih di rumahku. Oleh karena itu, aku menyembelihnya dan aku sarapan dengannya sebelum aku shalat Idul Adha.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ “Kambingmu hanyalah kambing biasa (yang dimakan dagingnya, bukan kambing kurban).” (HR. Bukhari no. 955) Coba perhatikan. Lihatlah bagaimanakah akibat dari beramal tanpa tuntunan. Jika ibadahnya asal-asalan, tanpa dasar ilmu dan tanpa dalil, beramal hanya atas dasar amalan itu baik, maka tidak akan diterima amalan tersebut. Perhatikanlah baik-baik apa yang terjadi pada sahabat di atas. Niatannya baik agar biasa sarapan dengan hasil kurbannya. Sayangnya, ia menyembelih sebelum waktunya. Akibatnya, kurbannya hanyalah dinilai daging biasa. Maka ibadah lainnya berlaku seperti itu. Jika suatu amalan tidak didasari dengan dalil yang shahih dari Al Qur’an dan hadits, maka amalan tersebut jadi sia-sia. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718) Orang yang melakukan amalan tanpa tuntunan benar-benar merugi, amalannya sia-sia belaka dan tidak diterima. Dalam ayat Al Qur’an disebutkan, قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا “Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi: 103-104) Ibnu Mas’ud pernah berkata pada orang yang amalannya mengada-ada, tanpa pakai tuntunan padahal niatan orang tersebut benar-benar baik, وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi 1: 79. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayyid) Baca artikel lainnya: Dampak Buruk Amalan Tanpa Tuntunan. Semoga jadi bahan renungan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Diselesaikan di malam hari menjelang Isya, 17 Sya’ban 1435 H di Pesantren DS Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Silakan dapatkan buku “Mengenal Bid’ah Lebih Dekat” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal seharga Rp.13.000,- belum termasuk ongkir. Segera pesan via SMS +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku bid’ah#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsbid'ah
Akibat dari amalan yang tanpa tuntunan, amalan yang tidak ada dalilnya, hanya membuat amalan tersebut tertolak dan sia-sia. Al Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan khutbah kepada para sahabat pada hari Idul Adha setelah mengerjakan shalat Idul Adha. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا وَنَسَكَ نُسُكَنَا فَقَدْ أَصَابَ النُّسُكَ ، وَمَنْ نَسَكَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّهُ قَبْلَ الصَّلاَةِ ، وَلاَ نُسُكَ لَهُ “Siapa yang shalat seperti shalat kami dan menyembelih kurban seperti kurban kami, maka ia telah mendapatkan pahala kurban. Barangsiapa yang berkurban sebelum shalat Idul Adha, maka itu hanyalah sembelihan yang ada sebelum shalat dan tidak teranggap sebagai kurban.” Abu Burdah yang merupakan paman dari Al Bara’ bin ‘Azib dari jalur ibunya berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ ، فَإِنِّى نَسَكْتُ شَاتِى قَبْلَ الصَّلاَةِ ، وَعَرَفْتُ أَنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ ، وَأَحْبَبْتُ أَنْ تَكُونَ شَاتِى أَوَّلَ مَا يُذْبَحُ فِى بَيْتِى ، فَذَبَحْتُ شَاتِى وَتَغَدَّيْتُ قَبْلَ أَنْ آتِىَ الصَّلاَةَ “Wahai Rasulullah, aku telah menyembelih kambingku sebelum shalat Idul Adha. Aku tahu bahwa hari itu adalah hari untuk makan dan minum. Aku senang jika kambingku adalah binatang yang pertama kali disembelih di rumahku. Oleh karena itu, aku menyembelihnya dan aku sarapan dengannya sebelum aku shalat Idul Adha.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ “Kambingmu hanyalah kambing biasa (yang dimakan dagingnya, bukan kambing kurban).” (HR. Bukhari no. 955) Coba perhatikan. Lihatlah bagaimanakah akibat dari beramal tanpa tuntunan. Jika ibadahnya asal-asalan, tanpa dasar ilmu dan tanpa dalil, beramal hanya atas dasar amalan itu baik, maka tidak akan diterima amalan tersebut. Perhatikanlah baik-baik apa yang terjadi pada sahabat di atas. Niatannya baik agar biasa sarapan dengan hasil kurbannya. Sayangnya, ia menyembelih sebelum waktunya. Akibatnya, kurbannya hanyalah dinilai daging biasa. Maka ibadah lainnya berlaku seperti itu. Jika suatu amalan tidak didasari dengan dalil yang shahih dari Al Qur’an dan hadits, maka amalan tersebut jadi sia-sia. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718) Orang yang melakukan amalan tanpa tuntunan benar-benar merugi, amalannya sia-sia belaka dan tidak diterima. Dalam ayat Al Qur’an disebutkan, قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا “Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi: 103-104) Ibnu Mas’ud pernah berkata pada orang yang amalannya mengada-ada, tanpa pakai tuntunan padahal niatan orang tersebut benar-benar baik, وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi 1: 79. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayyid) Baca artikel lainnya: Dampak Buruk Amalan Tanpa Tuntunan. Semoga jadi bahan renungan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Diselesaikan di malam hari menjelang Isya, 17 Sya’ban 1435 H di Pesantren DS Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Silakan dapatkan buku “Mengenal Bid’ah Lebih Dekat” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal seharga Rp.13.000,- belum termasuk ongkir. Segera pesan via SMS +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku bid’ah#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsbid'ah


Akibat dari amalan yang tanpa tuntunan, amalan yang tidak ada dalilnya, hanya membuat amalan tersebut tertolak dan sia-sia. Al Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan khutbah kepada para sahabat pada hari Idul Adha setelah mengerjakan shalat Idul Adha. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا وَنَسَكَ نُسُكَنَا فَقَدْ أَصَابَ النُّسُكَ ، وَمَنْ نَسَكَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّهُ قَبْلَ الصَّلاَةِ ، وَلاَ نُسُكَ لَهُ “Siapa yang shalat seperti shalat kami dan menyembelih kurban seperti kurban kami, maka ia telah mendapatkan pahala kurban. Barangsiapa yang berkurban sebelum shalat Idul Adha, maka itu hanyalah sembelihan yang ada sebelum shalat dan tidak teranggap sebagai kurban.” Abu Burdah yang merupakan paman dari Al Bara’ bin ‘Azib dari jalur ibunya berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ ، فَإِنِّى نَسَكْتُ شَاتِى قَبْلَ الصَّلاَةِ ، وَعَرَفْتُ أَنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ ، وَأَحْبَبْتُ أَنْ تَكُونَ شَاتِى أَوَّلَ مَا يُذْبَحُ فِى بَيْتِى ، فَذَبَحْتُ شَاتِى وَتَغَدَّيْتُ قَبْلَ أَنْ آتِىَ الصَّلاَةَ “Wahai Rasulullah, aku telah menyembelih kambingku sebelum shalat Idul Adha. Aku tahu bahwa hari itu adalah hari untuk makan dan minum. Aku senang jika kambingku adalah binatang yang pertama kali disembelih di rumahku. Oleh karena itu, aku menyembelihnya dan aku sarapan dengannya sebelum aku shalat Idul Adha.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ “Kambingmu hanyalah kambing biasa (yang dimakan dagingnya, bukan kambing kurban).” (HR. Bukhari no. 955) Coba perhatikan. Lihatlah bagaimanakah akibat dari beramal tanpa tuntunan. Jika ibadahnya asal-asalan, tanpa dasar ilmu dan tanpa dalil, beramal hanya atas dasar amalan itu baik, maka tidak akan diterima amalan tersebut. Perhatikanlah baik-baik apa yang terjadi pada sahabat di atas. Niatannya baik agar biasa sarapan dengan hasil kurbannya. Sayangnya, ia menyembelih sebelum waktunya. Akibatnya, kurbannya hanyalah dinilai daging biasa. Maka ibadah lainnya berlaku seperti itu. Jika suatu amalan tidak didasari dengan dalil yang shahih dari Al Qur’an dan hadits, maka amalan tersebut jadi sia-sia. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718) Orang yang melakukan amalan tanpa tuntunan benar-benar merugi, amalannya sia-sia belaka dan tidak diterima. Dalam ayat Al Qur’an disebutkan, قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا “Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi: 103-104) Ibnu Mas’ud pernah berkata pada orang yang amalannya mengada-ada, tanpa pakai tuntunan padahal niatan orang tersebut benar-benar baik, وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi 1: 79. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayyid) Baca artikel lainnya: Dampak Buruk Amalan Tanpa Tuntunan. Semoga jadi bahan renungan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Diselesaikan di malam hari menjelang Isya, 17 Sya’ban 1435 H di Pesantren DS Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Silakan dapatkan buku “Mengenal Bid’ah Lebih Dekat” karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal seharga Rp.13.000,- belum termasuk ongkir. Segera pesan via SMS +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku bid’ah#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsbid'ah

Khotbah Jumat: Cerdas Menyikapi Media Masa

15JunKhotbah Jumat: Cerdas Menyikapi Media MasaJune 15, 2014Akhlak, Aqidah, Belajar Islam, Fikih, Khutbah Jumat KHUTBAH PERTAMA: إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Tiada kata yang paling pantas kita senandungkan pada hari yang berbahagia ini melainkan kata-kata syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mencurahkan kenikmatan- kepada kita sehingga kita berkumpul dalam majelis ini. Kita realisasikan rasa syukur kita dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Kemudian tidak lupa kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada jamaah semuanya, marilah kita tingkatkan kualitas iman dan taqwa kita, karena keimanan dan ketaqwaan merupakan sebaik-baik bekal menuju akhirat kelak. Jama’ah Jum’at ‘azzakumullah… “Pisau bermata dua” begitulah kira-kira ungkapan yang biasa dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan maupun keburukan dalam satu waktu sekaligus. Nampaknya ungkapan tersebut, amat cocok untuk menggambarkan efek media massa, cetak maupun elektronik. Sebab bisa mendatangkan kebaikan sekaligus bisa pula menebarkan keburukan. Mari kita putar ingatan kita ke belakang. Beberapa puluh tahun lalu, sebelum gebyar media -terutama media elektronik- menggelegar. Bagaimana perilaku masyarakat saat itu? Terutama mengenai pakaian yang dikenakan kaum hawa. Masih terekam jelas di dalam ingatan kita, bahwa saat itu para wanita lumayan menjaga aurat mereka. Sehingga manakala mereka keluar rumah, mayoritas menggunakan pakaian panjang. Hanya segelintir wanita yang berani mengenakan pakaian seronok. Sebab busana model tersebut telah identik dengan busana perempuan ‘nakal’. Namun lihatlah di zaman ini. Pemandangan wanita dewasa keluar rumah hanya dengan menggunakan celana pendek sudah amat biasa, bahkan hingga di pelosok-pelosok desa. Apa gerangan yang menyebabkan pergeseran perilaku tersebut? Salah satu penyebab terbesarnya adalah gempuran dahsyat media, terutama televisi yang tidak henti-hentinya menyajikan tayangan-tayangan yang menampilkan perilaku tidak terpuji tersebut. Sehingga sesuatu yang dahulunya dianggap aib berubah menjadi sesuatu yang amat biasa. Namun sebaliknya, peran media dalam menebarkan kebaikan juga tidak bisa dipungkiri. Di mana pada zaman ini, kemudahan untuk menuntut ilmu agama baik melalui media cetak maupun elektronik amat terasa. Kajian-kajian Islam bisa merambah seantero penjuru dunia dan bisa dinikmati oleh siapa saja, tanpa mampu dibatasi jarak maupun waktu. Sidang Jum’at yang berbahagia… Begitulah sedikit gambaran tentang dampak positif maupun negatif media massa. Jika demikian realitanya, bagaimanakah seharusnya muslim bersikap? Apakah wajib mengucilkan diri dan menutup mata rapat-rapat dari berbagai media tadi? Ataukah sebaliknya menelan mentah-mentah segala apa yang disajikan tanpa memfilternya? Tentu saja, seorang muslim harus bersikap cerdas dan bijak dalam menghadapi segala sesuatu, termasuk fenomena gempuran dahsyat media massa. Cerdas dalam arti melandaskan sikapnya di atas pedoman agama yakni kitab dan sunnah, juga senantiasa mengambil arahan dan petunjuk dari para ulama. Adapun sikap bijak berarti berusaha memilah dan memilih mana yang bermanfaat dan mana yang sebaliknya, yakni yang berbahaya. Lalu mengambil yang bermanfaat serta meninggalkan yang berbahaya. Para hadirin dan hadirat rahimakumullah.. Berikut kami bawakan beberapa rambu-rambu dalam menyikapi media, dengan harapan semoga kita bisa maksimal dalam memetik nilai-nilai positif yang dikandungnya, sekaligus meminimalisir dampak buruk yang ada di dalamnya. Rambu Pertama: Media membawa misi pemiliknya Media cetak maupun elektronik tentu bukanlah barang yang tak bertuan. Dia dimiliki oleh orang-orang yang memiliki ideologi dan keyakinan. Satu hal yang teramat disayangkan sering diabaikan oleh para penikmat media, adalah pemahaman bahwa media pasti membawa misi. Dan misi tersebut tergantung ideologi yang dianut pemilik media tersebut. Andaikan ideologi yang diusung baik maka akan berdampak positif bagi misi media yang dimilikinya. Sebaliknya bila ideologinya buruk maka tentu akan berdampak negatif bagi misi medianya. Sehingga amat keliru, apabila seorang muslim menelan mentah-mentah setiap berita atau tayangan yang disajikan media. Tanpa berusaha mencerna, misi apakah yang dibawa oleh tayangan dan berita tersebut. Kekeliruan inilah yang kemudian secara pelan-pelan merubah pola pikir seseorang seringkali tanpa ia rasa. Bahkan bisa jadi sampai taraf merubah keyakinan agamanya atau minimal ia mulai ragu terhadap keyakinannya. Ini semua bisa jadi merupakan salah satu dampak buruk media. Allah ta’ala mengingatkan, “الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُواْ اللّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ”. Artinya: “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma´ruf dan mereka berlaku kikir. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasiq.” QS. At-Taubah (9): 67. Dalam ayat di atas, Allah menjelaskan salah satu misi kaum munafikin. Yakni menyuruh yang mungkar (yang buruk) dan melarang yang ma’ruf (yang baik) melalui media apapun yang mungkin mereka gunakan. Itulah salah satu makar mereka dalam menghancurkan kaum muslimin. Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati… Rambu Kedua: Tidak menelan mentah-mentah setiap berita Satu hal yang harus selalu kita ingat, bahwa media tidak lepas dari kepentingan. Entah itu kepentingan bisnis maupun kepentingan politik. Sehingga berita yang disajikan pun seringkali merupakan representasi atau perwakilan dari kepentingan tersebut. Menyoal kepentingan bisnis, tentu pemilik dan para awak media akan berusaha mencari berita-berita atau konten-konten yang bisa mendongkrak oplah medianya atau meningkatkan rating acaranya. Terlepas apakah berita tersebut mendidik atau tidak. Adapun kepentingan politik, maka ini sejatinya juga memiliki kaitan erat dengan bisnis. Mana yang bisa menghasilkan keuntungan dan bayaran yang besar, maka itulah yang dikedepankan. Terlepas dari barometer pertimbangan benar atau tidak dan haq atau batil. Sehingga dengan sokongan dana yang besar juga permainan media, bisa jadi tokoh yang sebenarnya buruk dan tidak terkenal bisa mendadak disulap menjadi tokoh ‘superhero’ atau satrio piningit tanpa cacat atau apapun istilahnya. Sebaliknya tokoh yang baik bisa dibuat buruk muka dengan pemberitaan-pemberitaan negatif secara intensif. Maka, tidak selayaknya seorang muslim menjadi bulan-bulanan korban media. Sebab sejatinya mereka telah memiliki panduan yang jelas dalam menyikapi berita. Sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam firman-Nya, “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ”. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” QS. Al Hujurat (49): 6. Ayat ini menjadi dasar bagi setiap muslim dalam menyikapi berita yang datang dari manusia. Jika ada orang fasiq membawa berita, maka sikap orang beriman adalah: Mencari penjelasan (klarifikasi) terlebih dahulu, sampai ditemuinya kebenaran berita itu, barulah ia mempercayainya. Kalau berita itu tidak valid / tidak benar, maka jangan dipercaya. Jadi hendaklah ber-tabayyun terlebih dahulu, baru suatu berita itu disikapi. Jangan sampai beritanya belum jelas kebenarannya tapi sudah disikapi, sebab yang demikian ini adalah tidak sesuai dengan apa yang dituntunkan oleh Allah ta’ala. Dalam ayat di atas, terhadap orang fasiq yang masih muslim saja kita harus menyikapi suatu berita itu dengan dua sikap; bisa jadi berita itu benar, dan bisa jadi pula berita itu dusta / salah. Itu terhadap orang fasiq. Nah, bagaimana halnya apabila berita itu datang dari orang-orang kafir? Tentunya mesti lebih selektif lagi. Tidak langsung dengan mudahnya percaya seratus persen pada berita yang datang dari orang kafir. Yang mengherankan, akibat karena kejahilannya, sebagian kaum Muslimin saat menerima berita dari media massa (baik televisi / koran / majalah / buletin / radio / internet, dll) yang mayoritas dimiliki oleh orang-orang Yahudi, ia langsung dengan mudahnya percaya begitu saja. Ia tidak sadar bahwa di balik pemberitaan media massa Yahudi itu, terdapat begitu banyak propaganda (sebagaimana telah dijelaskan dalam Protokolat Zionisme dan Program-program Internasional Freemasonry) untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslimin. Anehnya, di sisi lain, apabila ia membaca berita dari Al Qur’an dan dari Hadits yang sahih, ia masih punya banyak pertimbangan ini dan itu. Ia berdalih dengan berbagai macam dalih: “Ah, ini kan sudah tidak sesuai dengan kondisi zaman sekarang…” / “Hadits ini memang benar, tapi kalau diamalkan… wah nanti kita bertentangan dengan kebiasaan orang kebanyakan…” / “Aduh, nanti kita dicap aliran fundamentalis”, dan berbagai jenis dalih dan alasan, yang sebenarnya berpangkal dari kurangnya iman dalam dirinya sendiri. Padahal apabila ia benar seorang muslim, semestinya sikapnya hanyalah satu yakni: “Sami’na wa atho’na” (aku dengar dan aku taat) pada apa-apa yang datang dari Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jadi sebenarnya sedemikian mudah, gamblang dan praktis bagi seorang muslim untuk menyikapi suatu berita. Karena kaidah dasarnya adalah: Ia semestinya langsung membenarkan berita yang datang dari Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Di sisi lain ia menyikapi berita dari media massa manusia itu dengan dua sikap. Bisa jadi berita itu benar dan bisa jadi berita itu salah. Berita itu tergolong benar apabila sesuai dengan apa yang datang dari Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Dan berita itu tergolong dusta / salah apabila tidak sesuai dengan apa yang datang dari Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Rambu Ketiga: Urgensi ‘Imunisasi’ akidah Menghadapi dahsyatnya gempuran media, supaya seorang muslim tidak mudah terombang-ambing, maka ia perlu memperkokoh akidah dan keyakinannya. Dengan cara terus-menerus secara rutin, di bawah bimbingan para ulama, mempelajari prinsip-prinsip dasar Islam. Lalu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga ia akan menjadi sosok yang tegar sekokoh karang di lautan, sekalipun digempur berbagai badai gelombang dahsyat. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ” “Barang siapa yang Allah inginkan kebaikan baginya, maka Allah akan jadikan ia paham terhadap agamanya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu’anhu. Selain rajin menghadiri majlis taklim, agar selamat, seorang muslim juga tertuntut untuk senantiasa memohon kepada Allah hidayah dan taufik menuju jalan yang diridhai-Nya. بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم ولكافة المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم. KHUTBAH KEDUA: الْحَمْدُ للهِ “غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ”، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ لاَ نِدَّ لَهُ سُبْحَانَهُ وَلاَ شَبِيْهَ وَلاَ مَثِيْلَ وَلاَ نَظِيْرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَكُلِّ تَابِعٍ مُسْتَنِيْرٍ. Sidang Jum’at yang kami hormati… Apa yang kami sampaikan di khutbah pertama tadi bukanlah dalam rangka men-generalisir seluruh media massa. Namun sekedar memotivasi kaum muslimin agar bersikap bijak dan cerdas dalam menghadapi tayangan serta berita yang mereka konsumsi. Sebab alhamdulillah masih ada media yang relatif menjunjung tinggi objektifitas dan independensi, sekalipun harus beresiko ‘kurang lakunya’ media mereka. Sebab berani melawan arus isu mainstream yang menggurita. Melalui mimbar ini, kami juga ingin memotivasi pihak-pihak yang berkompeten, untuk menjadi pemain bukan sekedar penonton, menjadi subjek bukan sekedar objek dalam dunia media massa. Itu semua dalam rangka niat suci membela agama Allah. Sekaligus kami juga mengingatkan kepada para pegiat media agar memikirkan masak-masak manakala akan memuat apapun di medianya. Janganlah pertimbangan utamanya sekedar mencari keuntungan duniawi belaka. Namun ingatlah bahwa setiap huruf yang kita ucapkan dan tulis ada resikonya kelak di akhirat. Rasul yang mulia shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan, “إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ”. “Terkadang seorang hamba mengucapkan kalimat yang tidak ia sadari (dampaknya). Ternyata mengakibatkan ia terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya sejauh jarak antara timur dan barat”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. هذا؛ وصلوا وسلموا –رحمكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Khotbah Jumat: Cerdas Menyikapi Media Masa

15JunKhotbah Jumat: Cerdas Menyikapi Media MasaJune 15, 2014Akhlak, Aqidah, Belajar Islam, Fikih, Khutbah Jumat KHUTBAH PERTAMA: إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Tiada kata yang paling pantas kita senandungkan pada hari yang berbahagia ini melainkan kata-kata syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mencurahkan kenikmatan- kepada kita sehingga kita berkumpul dalam majelis ini. Kita realisasikan rasa syukur kita dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Kemudian tidak lupa kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada jamaah semuanya, marilah kita tingkatkan kualitas iman dan taqwa kita, karena keimanan dan ketaqwaan merupakan sebaik-baik bekal menuju akhirat kelak. Jama’ah Jum’at ‘azzakumullah… “Pisau bermata dua” begitulah kira-kira ungkapan yang biasa dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan maupun keburukan dalam satu waktu sekaligus. Nampaknya ungkapan tersebut, amat cocok untuk menggambarkan efek media massa, cetak maupun elektronik. Sebab bisa mendatangkan kebaikan sekaligus bisa pula menebarkan keburukan. Mari kita putar ingatan kita ke belakang. Beberapa puluh tahun lalu, sebelum gebyar media -terutama media elektronik- menggelegar. Bagaimana perilaku masyarakat saat itu? Terutama mengenai pakaian yang dikenakan kaum hawa. Masih terekam jelas di dalam ingatan kita, bahwa saat itu para wanita lumayan menjaga aurat mereka. Sehingga manakala mereka keluar rumah, mayoritas menggunakan pakaian panjang. Hanya segelintir wanita yang berani mengenakan pakaian seronok. Sebab busana model tersebut telah identik dengan busana perempuan ‘nakal’. Namun lihatlah di zaman ini. Pemandangan wanita dewasa keluar rumah hanya dengan menggunakan celana pendek sudah amat biasa, bahkan hingga di pelosok-pelosok desa. Apa gerangan yang menyebabkan pergeseran perilaku tersebut? Salah satu penyebab terbesarnya adalah gempuran dahsyat media, terutama televisi yang tidak henti-hentinya menyajikan tayangan-tayangan yang menampilkan perilaku tidak terpuji tersebut. Sehingga sesuatu yang dahulunya dianggap aib berubah menjadi sesuatu yang amat biasa. Namun sebaliknya, peran media dalam menebarkan kebaikan juga tidak bisa dipungkiri. Di mana pada zaman ini, kemudahan untuk menuntut ilmu agama baik melalui media cetak maupun elektronik amat terasa. Kajian-kajian Islam bisa merambah seantero penjuru dunia dan bisa dinikmati oleh siapa saja, tanpa mampu dibatasi jarak maupun waktu. Sidang Jum’at yang berbahagia… Begitulah sedikit gambaran tentang dampak positif maupun negatif media massa. Jika demikian realitanya, bagaimanakah seharusnya muslim bersikap? Apakah wajib mengucilkan diri dan menutup mata rapat-rapat dari berbagai media tadi? Ataukah sebaliknya menelan mentah-mentah segala apa yang disajikan tanpa memfilternya? Tentu saja, seorang muslim harus bersikap cerdas dan bijak dalam menghadapi segala sesuatu, termasuk fenomena gempuran dahsyat media massa. Cerdas dalam arti melandaskan sikapnya di atas pedoman agama yakni kitab dan sunnah, juga senantiasa mengambil arahan dan petunjuk dari para ulama. Adapun sikap bijak berarti berusaha memilah dan memilih mana yang bermanfaat dan mana yang sebaliknya, yakni yang berbahaya. Lalu mengambil yang bermanfaat serta meninggalkan yang berbahaya. Para hadirin dan hadirat rahimakumullah.. Berikut kami bawakan beberapa rambu-rambu dalam menyikapi media, dengan harapan semoga kita bisa maksimal dalam memetik nilai-nilai positif yang dikandungnya, sekaligus meminimalisir dampak buruk yang ada di dalamnya. Rambu Pertama: Media membawa misi pemiliknya Media cetak maupun elektronik tentu bukanlah barang yang tak bertuan. Dia dimiliki oleh orang-orang yang memiliki ideologi dan keyakinan. Satu hal yang teramat disayangkan sering diabaikan oleh para penikmat media, adalah pemahaman bahwa media pasti membawa misi. Dan misi tersebut tergantung ideologi yang dianut pemilik media tersebut. Andaikan ideologi yang diusung baik maka akan berdampak positif bagi misi media yang dimilikinya. Sebaliknya bila ideologinya buruk maka tentu akan berdampak negatif bagi misi medianya. Sehingga amat keliru, apabila seorang muslim menelan mentah-mentah setiap berita atau tayangan yang disajikan media. Tanpa berusaha mencerna, misi apakah yang dibawa oleh tayangan dan berita tersebut. Kekeliruan inilah yang kemudian secara pelan-pelan merubah pola pikir seseorang seringkali tanpa ia rasa. Bahkan bisa jadi sampai taraf merubah keyakinan agamanya atau minimal ia mulai ragu terhadap keyakinannya. Ini semua bisa jadi merupakan salah satu dampak buruk media. Allah ta’ala mengingatkan, “الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُواْ اللّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ”. Artinya: “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma´ruf dan mereka berlaku kikir. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasiq.” QS. At-Taubah (9): 67. Dalam ayat di atas, Allah menjelaskan salah satu misi kaum munafikin. Yakni menyuruh yang mungkar (yang buruk) dan melarang yang ma’ruf (yang baik) melalui media apapun yang mungkin mereka gunakan. Itulah salah satu makar mereka dalam menghancurkan kaum muslimin. Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati… Rambu Kedua: Tidak menelan mentah-mentah setiap berita Satu hal yang harus selalu kita ingat, bahwa media tidak lepas dari kepentingan. Entah itu kepentingan bisnis maupun kepentingan politik. Sehingga berita yang disajikan pun seringkali merupakan representasi atau perwakilan dari kepentingan tersebut. Menyoal kepentingan bisnis, tentu pemilik dan para awak media akan berusaha mencari berita-berita atau konten-konten yang bisa mendongkrak oplah medianya atau meningkatkan rating acaranya. Terlepas apakah berita tersebut mendidik atau tidak. Adapun kepentingan politik, maka ini sejatinya juga memiliki kaitan erat dengan bisnis. Mana yang bisa menghasilkan keuntungan dan bayaran yang besar, maka itulah yang dikedepankan. Terlepas dari barometer pertimbangan benar atau tidak dan haq atau batil. Sehingga dengan sokongan dana yang besar juga permainan media, bisa jadi tokoh yang sebenarnya buruk dan tidak terkenal bisa mendadak disulap menjadi tokoh ‘superhero’ atau satrio piningit tanpa cacat atau apapun istilahnya. Sebaliknya tokoh yang baik bisa dibuat buruk muka dengan pemberitaan-pemberitaan negatif secara intensif. Maka, tidak selayaknya seorang muslim menjadi bulan-bulanan korban media. Sebab sejatinya mereka telah memiliki panduan yang jelas dalam menyikapi berita. Sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam firman-Nya, “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ”. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” QS. Al Hujurat (49): 6. Ayat ini menjadi dasar bagi setiap muslim dalam menyikapi berita yang datang dari manusia. Jika ada orang fasiq membawa berita, maka sikap orang beriman adalah: Mencari penjelasan (klarifikasi) terlebih dahulu, sampai ditemuinya kebenaran berita itu, barulah ia mempercayainya. Kalau berita itu tidak valid / tidak benar, maka jangan dipercaya. Jadi hendaklah ber-tabayyun terlebih dahulu, baru suatu berita itu disikapi. Jangan sampai beritanya belum jelas kebenarannya tapi sudah disikapi, sebab yang demikian ini adalah tidak sesuai dengan apa yang dituntunkan oleh Allah ta’ala. Dalam ayat di atas, terhadap orang fasiq yang masih muslim saja kita harus menyikapi suatu berita itu dengan dua sikap; bisa jadi berita itu benar, dan bisa jadi pula berita itu dusta / salah. Itu terhadap orang fasiq. Nah, bagaimana halnya apabila berita itu datang dari orang-orang kafir? Tentunya mesti lebih selektif lagi. Tidak langsung dengan mudahnya percaya seratus persen pada berita yang datang dari orang kafir. Yang mengherankan, akibat karena kejahilannya, sebagian kaum Muslimin saat menerima berita dari media massa (baik televisi / koran / majalah / buletin / radio / internet, dll) yang mayoritas dimiliki oleh orang-orang Yahudi, ia langsung dengan mudahnya percaya begitu saja. Ia tidak sadar bahwa di balik pemberitaan media massa Yahudi itu, terdapat begitu banyak propaganda (sebagaimana telah dijelaskan dalam Protokolat Zionisme dan Program-program Internasional Freemasonry) untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslimin. Anehnya, di sisi lain, apabila ia membaca berita dari Al Qur’an dan dari Hadits yang sahih, ia masih punya banyak pertimbangan ini dan itu. Ia berdalih dengan berbagai macam dalih: “Ah, ini kan sudah tidak sesuai dengan kondisi zaman sekarang…” / “Hadits ini memang benar, tapi kalau diamalkan… wah nanti kita bertentangan dengan kebiasaan orang kebanyakan…” / “Aduh, nanti kita dicap aliran fundamentalis”, dan berbagai jenis dalih dan alasan, yang sebenarnya berpangkal dari kurangnya iman dalam dirinya sendiri. Padahal apabila ia benar seorang muslim, semestinya sikapnya hanyalah satu yakni: “Sami’na wa atho’na” (aku dengar dan aku taat) pada apa-apa yang datang dari Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jadi sebenarnya sedemikian mudah, gamblang dan praktis bagi seorang muslim untuk menyikapi suatu berita. Karena kaidah dasarnya adalah: Ia semestinya langsung membenarkan berita yang datang dari Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Di sisi lain ia menyikapi berita dari media massa manusia itu dengan dua sikap. Bisa jadi berita itu benar dan bisa jadi berita itu salah. Berita itu tergolong benar apabila sesuai dengan apa yang datang dari Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Dan berita itu tergolong dusta / salah apabila tidak sesuai dengan apa yang datang dari Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Rambu Ketiga: Urgensi ‘Imunisasi’ akidah Menghadapi dahsyatnya gempuran media, supaya seorang muslim tidak mudah terombang-ambing, maka ia perlu memperkokoh akidah dan keyakinannya. Dengan cara terus-menerus secara rutin, di bawah bimbingan para ulama, mempelajari prinsip-prinsip dasar Islam. Lalu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga ia akan menjadi sosok yang tegar sekokoh karang di lautan, sekalipun digempur berbagai badai gelombang dahsyat. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ” “Barang siapa yang Allah inginkan kebaikan baginya, maka Allah akan jadikan ia paham terhadap agamanya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu’anhu. Selain rajin menghadiri majlis taklim, agar selamat, seorang muslim juga tertuntut untuk senantiasa memohon kepada Allah hidayah dan taufik menuju jalan yang diridhai-Nya. بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم ولكافة المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم. KHUTBAH KEDUA: الْحَمْدُ للهِ “غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ”، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ لاَ نِدَّ لَهُ سُبْحَانَهُ وَلاَ شَبِيْهَ وَلاَ مَثِيْلَ وَلاَ نَظِيْرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَكُلِّ تَابِعٍ مُسْتَنِيْرٍ. Sidang Jum’at yang kami hormati… Apa yang kami sampaikan di khutbah pertama tadi bukanlah dalam rangka men-generalisir seluruh media massa. Namun sekedar memotivasi kaum muslimin agar bersikap bijak dan cerdas dalam menghadapi tayangan serta berita yang mereka konsumsi. Sebab alhamdulillah masih ada media yang relatif menjunjung tinggi objektifitas dan independensi, sekalipun harus beresiko ‘kurang lakunya’ media mereka. Sebab berani melawan arus isu mainstream yang menggurita. Melalui mimbar ini, kami juga ingin memotivasi pihak-pihak yang berkompeten, untuk menjadi pemain bukan sekedar penonton, menjadi subjek bukan sekedar objek dalam dunia media massa. Itu semua dalam rangka niat suci membela agama Allah. Sekaligus kami juga mengingatkan kepada para pegiat media agar memikirkan masak-masak manakala akan memuat apapun di medianya. Janganlah pertimbangan utamanya sekedar mencari keuntungan duniawi belaka. Namun ingatlah bahwa setiap huruf yang kita ucapkan dan tulis ada resikonya kelak di akhirat. Rasul yang mulia shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan, “إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ”. “Terkadang seorang hamba mengucapkan kalimat yang tidak ia sadari (dampaknya). Ternyata mengakibatkan ia terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya sejauh jarak antara timur dan barat”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. هذا؛ وصلوا وسلموا –رحمكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
15JunKhotbah Jumat: Cerdas Menyikapi Media MasaJune 15, 2014Akhlak, Aqidah, Belajar Islam, Fikih, Khutbah Jumat KHUTBAH PERTAMA: إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Tiada kata yang paling pantas kita senandungkan pada hari yang berbahagia ini melainkan kata-kata syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mencurahkan kenikmatan- kepada kita sehingga kita berkumpul dalam majelis ini. Kita realisasikan rasa syukur kita dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Kemudian tidak lupa kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada jamaah semuanya, marilah kita tingkatkan kualitas iman dan taqwa kita, karena keimanan dan ketaqwaan merupakan sebaik-baik bekal menuju akhirat kelak. Jama’ah Jum’at ‘azzakumullah… “Pisau bermata dua” begitulah kira-kira ungkapan yang biasa dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan maupun keburukan dalam satu waktu sekaligus. Nampaknya ungkapan tersebut, amat cocok untuk menggambarkan efek media massa, cetak maupun elektronik. Sebab bisa mendatangkan kebaikan sekaligus bisa pula menebarkan keburukan. Mari kita putar ingatan kita ke belakang. Beberapa puluh tahun lalu, sebelum gebyar media -terutama media elektronik- menggelegar. Bagaimana perilaku masyarakat saat itu? Terutama mengenai pakaian yang dikenakan kaum hawa. Masih terekam jelas di dalam ingatan kita, bahwa saat itu para wanita lumayan menjaga aurat mereka. Sehingga manakala mereka keluar rumah, mayoritas menggunakan pakaian panjang. Hanya segelintir wanita yang berani mengenakan pakaian seronok. Sebab busana model tersebut telah identik dengan busana perempuan ‘nakal’. Namun lihatlah di zaman ini. Pemandangan wanita dewasa keluar rumah hanya dengan menggunakan celana pendek sudah amat biasa, bahkan hingga di pelosok-pelosok desa. Apa gerangan yang menyebabkan pergeseran perilaku tersebut? Salah satu penyebab terbesarnya adalah gempuran dahsyat media, terutama televisi yang tidak henti-hentinya menyajikan tayangan-tayangan yang menampilkan perilaku tidak terpuji tersebut. Sehingga sesuatu yang dahulunya dianggap aib berubah menjadi sesuatu yang amat biasa. Namun sebaliknya, peran media dalam menebarkan kebaikan juga tidak bisa dipungkiri. Di mana pada zaman ini, kemudahan untuk menuntut ilmu agama baik melalui media cetak maupun elektronik amat terasa. Kajian-kajian Islam bisa merambah seantero penjuru dunia dan bisa dinikmati oleh siapa saja, tanpa mampu dibatasi jarak maupun waktu. Sidang Jum’at yang berbahagia… Begitulah sedikit gambaran tentang dampak positif maupun negatif media massa. Jika demikian realitanya, bagaimanakah seharusnya muslim bersikap? Apakah wajib mengucilkan diri dan menutup mata rapat-rapat dari berbagai media tadi? Ataukah sebaliknya menelan mentah-mentah segala apa yang disajikan tanpa memfilternya? Tentu saja, seorang muslim harus bersikap cerdas dan bijak dalam menghadapi segala sesuatu, termasuk fenomena gempuran dahsyat media massa. Cerdas dalam arti melandaskan sikapnya di atas pedoman agama yakni kitab dan sunnah, juga senantiasa mengambil arahan dan petunjuk dari para ulama. Adapun sikap bijak berarti berusaha memilah dan memilih mana yang bermanfaat dan mana yang sebaliknya, yakni yang berbahaya. Lalu mengambil yang bermanfaat serta meninggalkan yang berbahaya. Para hadirin dan hadirat rahimakumullah.. Berikut kami bawakan beberapa rambu-rambu dalam menyikapi media, dengan harapan semoga kita bisa maksimal dalam memetik nilai-nilai positif yang dikandungnya, sekaligus meminimalisir dampak buruk yang ada di dalamnya. Rambu Pertama: Media membawa misi pemiliknya Media cetak maupun elektronik tentu bukanlah barang yang tak bertuan. Dia dimiliki oleh orang-orang yang memiliki ideologi dan keyakinan. Satu hal yang teramat disayangkan sering diabaikan oleh para penikmat media, adalah pemahaman bahwa media pasti membawa misi. Dan misi tersebut tergantung ideologi yang dianut pemilik media tersebut. Andaikan ideologi yang diusung baik maka akan berdampak positif bagi misi media yang dimilikinya. Sebaliknya bila ideologinya buruk maka tentu akan berdampak negatif bagi misi medianya. Sehingga amat keliru, apabila seorang muslim menelan mentah-mentah setiap berita atau tayangan yang disajikan media. Tanpa berusaha mencerna, misi apakah yang dibawa oleh tayangan dan berita tersebut. Kekeliruan inilah yang kemudian secara pelan-pelan merubah pola pikir seseorang seringkali tanpa ia rasa. Bahkan bisa jadi sampai taraf merubah keyakinan agamanya atau minimal ia mulai ragu terhadap keyakinannya. Ini semua bisa jadi merupakan salah satu dampak buruk media. Allah ta’ala mengingatkan, “الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُواْ اللّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ”. Artinya: “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma´ruf dan mereka berlaku kikir. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasiq.” QS. At-Taubah (9): 67. Dalam ayat di atas, Allah menjelaskan salah satu misi kaum munafikin. Yakni menyuruh yang mungkar (yang buruk) dan melarang yang ma’ruf (yang baik) melalui media apapun yang mungkin mereka gunakan. Itulah salah satu makar mereka dalam menghancurkan kaum muslimin. Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati… Rambu Kedua: Tidak menelan mentah-mentah setiap berita Satu hal yang harus selalu kita ingat, bahwa media tidak lepas dari kepentingan. Entah itu kepentingan bisnis maupun kepentingan politik. Sehingga berita yang disajikan pun seringkali merupakan representasi atau perwakilan dari kepentingan tersebut. Menyoal kepentingan bisnis, tentu pemilik dan para awak media akan berusaha mencari berita-berita atau konten-konten yang bisa mendongkrak oplah medianya atau meningkatkan rating acaranya. Terlepas apakah berita tersebut mendidik atau tidak. Adapun kepentingan politik, maka ini sejatinya juga memiliki kaitan erat dengan bisnis. Mana yang bisa menghasilkan keuntungan dan bayaran yang besar, maka itulah yang dikedepankan. Terlepas dari barometer pertimbangan benar atau tidak dan haq atau batil. Sehingga dengan sokongan dana yang besar juga permainan media, bisa jadi tokoh yang sebenarnya buruk dan tidak terkenal bisa mendadak disulap menjadi tokoh ‘superhero’ atau satrio piningit tanpa cacat atau apapun istilahnya. Sebaliknya tokoh yang baik bisa dibuat buruk muka dengan pemberitaan-pemberitaan negatif secara intensif. Maka, tidak selayaknya seorang muslim menjadi bulan-bulanan korban media. Sebab sejatinya mereka telah memiliki panduan yang jelas dalam menyikapi berita. Sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam firman-Nya, “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ”. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” QS. Al Hujurat (49): 6. Ayat ini menjadi dasar bagi setiap muslim dalam menyikapi berita yang datang dari manusia. Jika ada orang fasiq membawa berita, maka sikap orang beriman adalah: Mencari penjelasan (klarifikasi) terlebih dahulu, sampai ditemuinya kebenaran berita itu, barulah ia mempercayainya. Kalau berita itu tidak valid / tidak benar, maka jangan dipercaya. Jadi hendaklah ber-tabayyun terlebih dahulu, baru suatu berita itu disikapi. Jangan sampai beritanya belum jelas kebenarannya tapi sudah disikapi, sebab yang demikian ini adalah tidak sesuai dengan apa yang dituntunkan oleh Allah ta’ala. Dalam ayat di atas, terhadap orang fasiq yang masih muslim saja kita harus menyikapi suatu berita itu dengan dua sikap; bisa jadi berita itu benar, dan bisa jadi pula berita itu dusta / salah. Itu terhadap orang fasiq. Nah, bagaimana halnya apabila berita itu datang dari orang-orang kafir? Tentunya mesti lebih selektif lagi. Tidak langsung dengan mudahnya percaya seratus persen pada berita yang datang dari orang kafir. Yang mengherankan, akibat karena kejahilannya, sebagian kaum Muslimin saat menerima berita dari media massa (baik televisi / koran / majalah / buletin / radio / internet, dll) yang mayoritas dimiliki oleh orang-orang Yahudi, ia langsung dengan mudahnya percaya begitu saja. Ia tidak sadar bahwa di balik pemberitaan media massa Yahudi itu, terdapat begitu banyak propaganda (sebagaimana telah dijelaskan dalam Protokolat Zionisme dan Program-program Internasional Freemasonry) untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslimin. Anehnya, di sisi lain, apabila ia membaca berita dari Al Qur’an dan dari Hadits yang sahih, ia masih punya banyak pertimbangan ini dan itu. Ia berdalih dengan berbagai macam dalih: “Ah, ini kan sudah tidak sesuai dengan kondisi zaman sekarang…” / “Hadits ini memang benar, tapi kalau diamalkan… wah nanti kita bertentangan dengan kebiasaan orang kebanyakan…” / “Aduh, nanti kita dicap aliran fundamentalis”, dan berbagai jenis dalih dan alasan, yang sebenarnya berpangkal dari kurangnya iman dalam dirinya sendiri. Padahal apabila ia benar seorang muslim, semestinya sikapnya hanyalah satu yakni: “Sami’na wa atho’na” (aku dengar dan aku taat) pada apa-apa yang datang dari Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jadi sebenarnya sedemikian mudah, gamblang dan praktis bagi seorang muslim untuk menyikapi suatu berita. Karena kaidah dasarnya adalah: Ia semestinya langsung membenarkan berita yang datang dari Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Di sisi lain ia menyikapi berita dari media massa manusia itu dengan dua sikap. Bisa jadi berita itu benar dan bisa jadi berita itu salah. Berita itu tergolong benar apabila sesuai dengan apa yang datang dari Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Dan berita itu tergolong dusta / salah apabila tidak sesuai dengan apa yang datang dari Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Rambu Ketiga: Urgensi ‘Imunisasi’ akidah Menghadapi dahsyatnya gempuran media, supaya seorang muslim tidak mudah terombang-ambing, maka ia perlu memperkokoh akidah dan keyakinannya. Dengan cara terus-menerus secara rutin, di bawah bimbingan para ulama, mempelajari prinsip-prinsip dasar Islam. Lalu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga ia akan menjadi sosok yang tegar sekokoh karang di lautan, sekalipun digempur berbagai badai gelombang dahsyat. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ” “Barang siapa yang Allah inginkan kebaikan baginya, maka Allah akan jadikan ia paham terhadap agamanya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu’anhu. Selain rajin menghadiri majlis taklim, agar selamat, seorang muslim juga tertuntut untuk senantiasa memohon kepada Allah hidayah dan taufik menuju jalan yang diridhai-Nya. بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم ولكافة المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم. KHUTBAH KEDUA: الْحَمْدُ للهِ “غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ”، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ لاَ نِدَّ لَهُ سُبْحَانَهُ وَلاَ شَبِيْهَ وَلاَ مَثِيْلَ وَلاَ نَظِيْرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَكُلِّ تَابِعٍ مُسْتَنِيْرٍ. Sidang Jum’at yang kami hormati… Apa yang kami sampaikan di khutbah pertama tadi bukanlah dalam rangka men-generalisir seluruh media massa. Namun sekedar memotivasi kaum muslimin agar bersikap bijak dan cerdas dalam menghadapi tayangan serta berita yang mereka konsumsi. Sebab alhamdulillah masih ada media yang relatif menjunjung tinggi objektifitas dan independensi, sekalipun harus beresiko ‘kurang lakunya’ media mereka. Sebab berani melawan arus isu mainstream yang menggurita. Melalui mimbar ini, kami juga ingin memotivasi pihak-pihak yang berkompeten, untuk menjadi pemain bukan sekedar penonton, menjadi subjek bukan sekedar objek dalam dunia media massa. Itu semua dalam rangka niat suci membela agama Allah. Sekaligus kami juga mengingatkan kepada para pegiat media agar memikirkan masak-masak manakala akan memuat apapun di medianya. Janganlah pertimbangan utamanya sekedar mencari keuntungan duniawi belaka. Namun ingatlah bahwa setiap huruf yang kita ucapkan dan tulis ada resikonya kelak di akhirat. Rasul yang mulia shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan, “إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ”. “Terkadang seorang hamba mengucapkan kalimat yang tidak ia sadari (dampaknya). Ternyata mengakibatkan ia terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya sejauh jarak antara timur dan barat”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. هذا؛ وصلوا وسلموا –رحمكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


15JunKhotbah Jumat: Cerdas Menyikapi Media MasaJune 15, 2014Akhlak, Aqidah, Belajar Islam, Fikih, Khutbah Jumat KHUTBAH PERTAMA: إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. “يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”. “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ. Jama’ah Jum’at rahimakumullah… Tiada kata yang paling pantas kita senandungkan pada hari yang berbahagia ini melainkan kata-kata syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mencurahkan kenikmatan- kepada kita sehingga kita berkumpul dalam majelis ini. Kita realisasikan rasa syukur kita dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Kemudian tidak lupa kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada jamaah semuanya, marilah kita tingkatkan kualitas iman dan taqwa kita, karena keimanan dan ketaqwaan merupakan sebaik-baik bekal menuju akhirat kelak. Jama’ah Jum’at ‘azzakumullah… “Pisau bermata dua” begitulah kira-kira ungkapan yang biasa dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan maupun keburukan dalam satu waktu sekaligus. Nampaknya ungkapan tersebut, amat cocok untuk menggambarkan efek media massa, cetak maupun elektronik. Sebab bisa mendatangkan kebaikan sekaligus bisa pula menebarkan keburukan. Mari kita putar ingatan kita ke belakang. Beberapa puluh tahun lalu, sebelum gebyar media -terutama media elektronik- menggelegar. Bagaimana perilaku masyarakat saat itu? Terutama mengenai pakaian yang dikenakan kaum hawa. Masih terekam jelas di dalam ingatan kita, bahwa saat itu para wanita lumayan menjaga aurat mereka. Sehingga manakala mereka keluar rumah, mayoritas menggunakan pakaian panjang. Hanya segelintir wanita yang berani mengenakan pakaian seronok. Sebab busana model tersebut telah identik dengan busana perempuan ‘nakal’. Namun lihatlah di zaman ini. Pemandangan wanita dewasa keluar rumah hanya dengan menggunakan celana pendek sudah amat biasa, bahkan hingga di pelosok-pelosok desa. Apa gerangan yang menyebabkan pergeseran perilaku tersebut? Salah satu penyebab terbesarnya adalah gempuran dahsyat media, terutama televisi yang tidak henti-hentinya menyajikan tayangan-tayangan yang menampilkan perilaku tidak terpuji tersebut. Sehingga sesuatu yang dahulunya dianggap aib berubah menjadi sesuatu yang amat biasa. Namun sebaliknya, peran media dalam menebarkan kebaikan juga tidak bisa dipungkiri. Di mana pada zaman ini, kemudahan untuk menuntut ilmu agama baik melalui media cetak maupun elektronik amat terasa. Kajian-kajian Islam bisa merambah seantero penjuru dunia dan bisa dinikmati oleh siapa saja, tanpa mampu dibatasi jarak maupun waktu. Sidang Jum’at yang berbahagia… Begitulah sedikit gambaran tentang dampak positif maupun negatif media massa. Jika demikian realitanya, bagaimanakah seharusnya muslim bersikap? Apakah wajib mengucilkan diri dan menutup mata rapat-rapat dari berbagai media tadi? Ataukah sebaliknya menelan mentah-mentah segala apa yang disajikan tanpa memfilternya? Tentu saja, seorang muslim harus bersikap cerdas dan bijak dalam menghadapi segala sesuatu, termasuk fenomena gempuran dahsyat media massa. Cerdas dalam arti melandaskan sikapnya di atas pedoman agama yakni kitab dan sunnah, juga senantiasa mengambil arahan dan petunjuk dari para ulama. Adapun sikap bijak berarti berusaha memilah dan memilih mana yang bermanfaat dan mana yang sebaliknya, yakni yang berbahaya. Lalu mengambil yang bermanfaat serta meninggalkan yang berbahaya. Para hadirin dan hadirat rahimakumullah.. Berikut kami bawakan beberapa rambu-rambu dalam menyikapi media, dengan harapan semoga kita bisa maksimal dalam memetik nilai-nilai positif yang dikandungnya, sekaligus meminimalisir dampak buruk yang ada di dalamnya. Rambu Pertama: Media membawa misi pemiliknya Media cetak maupun elektronik tentu bukanlah barang yang tak bertuan. Dia dimiliki oleh orang-orang yang memiliki ideologi dan keyakinan. Satu hal yang teramat disayangkan sering diabaikan oleh para penikmat media, adalah pemahaman bahwa media pasti membawa misi. Dan misi tersebut tergantung ideologi yang dianut pemilik media tersebut. Andaikan ideologi yang diusung baik maka akan berdampak positif bagi misi media yang dimilikinya. Sebaliknya bila ideologinya buruk maka tentu akan berdampak negatif bagi misi medianya. Sehingga amat keliru, apabila seorang muslim menelan mentah-mentah setiap berita atau tayangan yang disajikan media. Tanpa berusaha mencerna, misi apakah yang dibawa oleh tayangan dan berita tersebut. Kekeliruan inilah yang kemudian secara pelan-pelan merubah pola pikir seseorang seringkali tanpa ia rasa. Bahkan bisa jadi sampai taraf merubah keyakinan agamanya atau minimal ia mulai ragu terhadap keyakinannya. Ini semua bisa jadi merupakan salah satu dampak buruk media. Allah ta’ala mengingatkan, “الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُواْ اللّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ”. Artinya: “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma´ruf dan mereka berlaku kikir. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasiq.” QS. At-Taubah (9): 67. Dalam ayat di atas, Allah menjelaskan salah satu misi kaum munafikin. Yakni menyuruh yang mungkar (yang buruk) dan melarang yang ma’ruf (yang baik) melalui media apapun yang mungkin mereka gunakan. Itulah salah satu makar mereka dalam menghancurkan kaum muslimin. Jama’ah shalat Jum’at yang kami hormati… Rambu Kedua: Tidak menelan mentah-mentah setiap berita Satu hal yang harus selalu kita ingat, bahwa media tidak lepas dari kepentingan. Entah itu kepentingan bisnis maupun kepentingan politik. Sehingga berita yang disajikan pun seringkali merupakan representasi atau perwakilan dari kepentingan tersebut. Menyoal kepentingan bisnis, tentu pemilik dan para awak media akan berusaha mencari berita-berita atau konten-konten yang bisa mendongkrak oplah medianya atau meningkatkan rating acaranya. Terlepas apakah berita tersebut mendidik atau tidak. Adapun kepentingan politik, maka ini sejatinya juga memiliki kaitan erat dengan bisnis. Mana yang bisa menghasilkan keuntungan dan bayaran yang besar, maka itulah yang dikedepankan. Terlepas dari barometer pertimbangan benar atau tidak dan haq atau batil. Sehingga dengan sokongan dana yang besar juga permainan media, bisa jadi tokoh yang sebenarnya buruk dan tidak terkenal bisa mendadak disulap menjadi tokoh ‘superhero’ atau satrio piningit tanpa cacat atau apapun istilahnya. Sebaliknya tokoh yang baik bisa dibuat buruk muka dengan pemberitaan-pemberitaan negatif secara intensif. Maka, tidak selayaknya seorang muslim menjadi bulan-bulanan korban media. Sebab sejatinya mereka telah memiliki panduan yang jelas dalam menyikapi berita. Sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam firman-Nya, “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ”. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” QS. Al Hujurat (49): 6. Ayat ini menjadi dasar bagi setiap muslim dalam menyikapi berita yang datang dari manusia. Jika ada orang fasiq membawa berita, maka sikap orang beriman adalah: Mencari penjelasan (klarifikasi) terlebih dahulu, sampai ditemuinya kebenaran berita itu, barulah ia mempercayainya. Kalau berita itu tidak valid / tidak benar, maka jangan dipercaya. Jadi hendaklah ber-tabayyun terlebih dahulu, baru suatu berita itu disikapi. Jangan sampai beritanya belum jelas kebenarannya tapi sudah disikapi, sebab yang demikian ini adalah tidak sesuai dengan apa yang dituntunkan oleh Allah ta’ala. Dalam ayat di atas, terhadap orang fasiq yang masih muslim saja kita harus menyikapi suatu berita itu dengan dua sikap; bisa jadi berita itu benar, dan bisa jadi pula berita itu dusta / salah. Itu terhadap orang fasiq. Nah, bagaimana halnya apabila berita itu datang dari orang-orang kafir? Tentunya mesti lebih selektif lagi. Tidak langsung dengan mudahnya percaya seratus persen pada berita yang datang dari orang kafir. Yang mengherankan, akibat karena kejahilannya, sebagian kaum Muslimin saat menerima berita dari media massa (baik televisi / koran / majalah / buletin / radio / internet, dll) yang mayoritas dimiliki oleh orang-orang Yahudi, ia langsung dengan mudahnya percaya begitu saja. Ia tidak sadar bahwa di balik pemberitaan media massa Yahudi itu, terdapat begitu banyak propaganda (sebagaimana telah dijelaskan dalam Protokolat Zionisme dan Program-program Internasional Freemasonry) untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslimin. Anehnya, di sisi lain, apabila ia membaca berita dari Al Qur’an dan dari Hadits yang sahih, ia masih punya banyak pertimbangan ini dan itu. Ia berdalih dengan berbagai macam dalih: “Ah, ini kan sudah tidak sesuai dengan kondisi zaman sekarang…” / “Hadits ini memang benar, tapi kalau diamalkan… wah nanti kita bertentangan dengan kebiasaan orang kebanyakan…” / “Aduh, nanti kita dicap aliran fundamentalis”, dan berbagai jenis dalih dan alasan, yang sebenarnya berpangkal dari kurangnya iman dalam dirinya sendiri. Padahal apabila ia benar seorang muslim, semestinya sikapnya hanyalah satu yakni: “Sami’na wa atho’na” (aku dengar dan aku taat) pada apa-apa yang datang dari Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Jadi sebenarnya sedemikian mudah, gamblang dan praktis bagi seorang muslim untuk menyikapi suatu berita. Karena kaidah dasarnya adalah: Ia semestinya langsung membenarkan berita yang datang dari Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Di sisi lain ia menyikapi berita dari media massa manusia itu dengan dua sikap. Bisa jadi berita itu benar dan bisa jadi berita itu salah. Berita itu tergolong benar apabila sesuai dengan apa yang datang dari Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Dan berita itu tergolong dusta / salah apabila tidak sesuai dengan apa yang datang dari Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… Rambu Ketiga: Urgensi ‘Imunisasi’ akidah Menghadapi dahsyatnya gempuran media, supaya seorang muslim tidak mudah terombang-ambing, maka ia perlu memperkokoh akidah dan keyakinannya. Dengan cara terus-menerus secara rutin, di bawah bimbingan para ulama, mempelajari prinsip-prinsip dasar Islam. Lalu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga ia akan menjadi sosok yang tegar sekokoh karang di lautan, sekalipun digempur berbagai badai gelombang dahsyat. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, “مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ” “Barang siapa yang Allah inginkan kebaikan baginya, maka Allah akan jadikan ia paham terhadap agamanya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu’anhu. Selain rajin menghadiri majlis taklim, agar selamat, seorang muslim juga tertuntut untuk senantiasa memohon kepada Allah hidayah dan taufik menuju jalan yang diridhai-Nya. بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم ولكافة المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم. KHUTBAH KEDUA: الْحَمْدُ للهِ “غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ”، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ لاَ نِدَّ لَهُ سُبْحَانَهُ وَلاَ شَبِيْهَ وَلاَ مَثِيْلَ وَلاَ نَظِيْرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَكُلِّ تَابِعٍ مُسْتَنِيْرٍ. Sidang Jum’at yang kami hormati… Apa yang kami sampaikan di khutbah pertama tadi bukanlah dalam rangka men-generalisir seluruh media massa. Namun sekedar memotivasi kaum muslimin agar bersikap bijak dan cerdas dalam menghadapi tayangan serta berita yang mereka konsumsi. Sebab alhamdulillah masih ada media yang relatif menjunjung tinggi objektifitas dan independensi, sekalipun harus beresiko ‘kurang lakunya’ media mereka. Sebab berani melawan arus isu mainstream yang menggurita. Melalui mimbar ini, kami juga ingin memotivasi pihak-pihak yang berkompeten, untuk menjadi pemain bukan sekedar penonton, menjadi subjek bukan sekedar objek dalam dunia media massa. Itu semua dalam rangka niat suci membela agama Allah. Sekaligus kami juga mengingatkan kepada para pegiat media agar memikirkan masak-masak manakala akan memuat apapun di medianya. Janganlah pertimbangan utamanya sekedar mencari keuntungan duniawi belaka. Namun ingatlah bahwa setiap huruf yang kita ucapkan dan tulis ada resikonya kelak di akhirat. Rasul yang mulia shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan, “إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ”. “Terkadang seorang hamba mengucapkan kalimat yang tidak ia sadari (dampaknya). Ternyata mengakibatkan ia terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya sejauh jarak antara timur dan barat”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. هذا؛ وصلوا وسلموا –رحمكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة… PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 32: Menanamkan Akhlak Mulia Pada Anak

15JunSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 32: Menanamkan Akhlak Mulia Pada AnakJune 15, 2014Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Apa yang ada dalam pikiran Anda? Ketika mendapati seorang anak yang lembut tutur katanya, sopan perilakunya, taat ibadahnya dan terdidik pemikirannya? Pasti Anda akan merasa senang untuk berjumpa dan melihatnya. Kita tentu bisa menerka bahwa anak tersebut terdidik dengan baik dan mendapat bimbingan akhlak yang memadai. Mengapa demikian? Sebab terbentuknya akhlak yang mulia pada diri seseorang sangat dipengaruhi tempaan pendidikan yang dilaluinya. Karenanya, sangat penting bagi kita untuk mengisi masa kanak-kanak mereka dengan menanamkan adab dan akhlak yang terpuji. Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah yang murni dan perangai yang lurus. Jiwa yang polos ini menerima bentuk perangai apapun yang dipahatkan pada dirinya. Selanjutnya pahatan itu akan meluas sedikit demi sedikit hingga akhirnya meliputi seluruh jiwa dan menjadi tabiat yang melekat padanya. Juga akan menentang segala yang berlawanan dengannya. Dalam kitab Tuhfah al-Maudûd, Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Yang sangat dibutuhkan anak adalah perhatian terhadap akhlaknya. Ia akan tumbuh sesuai dengan apa yang dibiasakan oleh pendidiknya saat kecil. Jika sejak kecil ia terbiasa marah, keras kepala, tergesa-gesa dan mudah mengikuti hawa nafsu, serampangan, tamak dan seterusnya, maka akan sulit baginya untuk memperbaiki dan menjauhi hal itu ketika dewasa. Perangai seperti ini akan menjadi sifat dan perilaku yang melekat pada dirinya. Jika ia tidak dibentengi betul dari hal itu, maka pada suatu ketika, semua perangai itu akan muncul. Karena itu, kita temukan manusia yang akhlaknya menyimpang, itu disebabkan oleh pendidikan yang dilaluinya”. Maka, langkah pertama yang harus ditempuh adalah pembinaan akhlak secara nyata melalui keteladanan yang baik dari orang tua. Hingga mereka tumbuh dengan perangai yang mulia dan tidak mengabaikan akhlak-akhlak Islam. Terlebih lagi di hadapan berbagai gelombang arus perilaku yang menyimpang. Contohlah akhlak Rasulullah shallallahualaihiwasallam! Beliau menyuruh dan melarang anak. Bercanda dengan mereka, mengajak mereka bermain, membonceng mereka dan murah senyum. Tidak marah-marah di hadapan mereka dan tidak mencela mereka. Inilah kunci agar anak merasa dekat dengan kita. Hingga terciptalah suasana yang hangat. Buahnya kita akan lebih leluasa dan mudah memberikan pengajaran serta pengarahan kepada mereka. Anas bin Malik radhiyallahu’anhu menuturkan, “Nabi shallallahu’alaihiwasallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Suatu hari beliau mengutusku untuk suatu keperluan. Lalu akupun menjawab, “Aku tidak mau pergi!”. Padahal sebenarnya di hatiku akan berangkat menuruti perintah Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam. Akupun keluar sampai akhirnya aku melewati anak-anak kecil yang sedang bermain di pasar. Ternyata Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengikuti pelan-pelan di belakang. Aku kemudian melihat beliau ketika sedang tertawa. Beliau berkata, “Ternyata engkau berangkat juga ke tempat yang kuperintahkan”. Aku menjawab, “Ya, aku berangkat wahai Rasulullah!”. Selanjutnya Anas berkata, “Demi Allah, aku menjadi pelayan Nabi selama sembilan tahun. Dan seingatku beliau tidak pernah mengomentari sesuatu yang kulakukan dengan mengatakan, “Kenapa kamu lakukan begitu?”. Atau mengomentari sesuatu yang kutinggalkan dengan mengatakan, “Kenapa tidak kamu lakukan ini?”. HR. Muslim. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Sya’ban 1435 / 9 Juni 2014   * Disadur oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan Choiriyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 93-95) dengan sedikit perubahan. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 32: Menanamkan Akhlak Mulia Pada Anak

15JunSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 32: Menanamkan Akhlak Mulia Pada AnakJune 15, 2014Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Apa yang ada dalam pikiran Anda? Ketika mendapati seorang anak yang lembut tutur katanya, sopan perilakunya, taat ibadahnya dan terdidik pemikirannya? Pasti Anda akan merasa senang untuk berjumpa dan melihatnya. Kita tentu bisa menerka bahwa anak tersebut terdidik dengan baik dan mendapat bimbingan akhlak yang memadai. Mengapa demikian? Sebab terbentuknya akhlak yang mulia pada diri seseorang sangat dipengaruhi tempaan pendidikan yang dilaluinya. Karenanya, sangat penting bagi kita untuk mengisi masa kanak-kanak mereka dengan menanamkan adab dan akhlak yang terpuji. Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah yang murni dan perangai yang lurus. Jiwa yang polos ini menerima bentuk perangai apapun yang dipahatkan pada dirinya. Selanjutnya pahatan itu akan meluas sedikit demi sedikit hingga akhirnya meliputi seluruh jiwa dan menjadi tabiat yang melekat padanya. Juga akan menentang segala yang berlawanan dengannya. Dalam kitab Tuhfah al-Maudûd, Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Yang sangat dibutuhkan anak adalah perhatian terhadap akhlaknya. Ia akan tumbuh sesuai dengan apa yang dibiasakan oleh pendidiknya saat kecil. Jika sejak kecil ia terbiasa marah, keras kepala, tergesa-gesa dan mudah mengikuti hawa nafsu, serampangan, tamak dan seterusnya, maka akan sulit baginya untuk memperbaiki dan menjauhi hal itu ketika dewasa. Perangai seperti ini akan menjadi sifat dan perilaku yang melekat pada dirinya. Jika ia tidak dibentengi betul dari hal itu, maka pada suatu ketika, semua perangai itu akan muncul. Karena itu, kita temukan manusia yang akhlaknya menyimpang, itu disebabkan oleh pendidikan yang dilaluinya”. Maka, langkah pertama yang harus ditempuh adalah pembinaan akhlak secara nyata melalui keteladanan yang baik dari orang tua. Hingga mereka tumbuh dengan perangai yang mulia dan tidak mengabaikan akhlak-akhlak Islam. Terlebih lagi di hadapan berbagai gelombang arus perilaku yang menyimpang. Contohlah akhlak Rasulullah shallallahualaihiwasallam! Beliau menyuruh dan melarang anak. Bercanda dengan mereka, mengajak mereka bermain, membonceng mereka dan murah senyum. Tidak marah-marah di hadapan mereka dan tidak mencela mereka. Inilah kunci agar anak merasa dekat dengan kita. Hingga terciptalah suasana yang hangat. Buahnya kita akan lebih leluasa dan mudah memberikan pengajaran serta pengarahan kepada mereka. Anas bin Malik radhiyallahu’anhu menuturkan, “Nabi shallallahu’alaihiwasallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Suatu hari beliau mengutusku untuk suatu keperluan. Lalu akupun menjawab, “Aku tidak mau pergi!”. Padahal sebenarnya di hatiku akan berangkat menuruti perintah Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam. Akupun keluar sampai akhirnya aku melewati anak-anak kecil yang sedang bermain di pasar. Ternyata Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengikuti pelan-pelan di belakang. Aku kemudian melihat beliau ketika sedang tertawa. Beliau berkata, “Ternyata engkau berangkat juga ke tempat yang kuperintahkan”. Aku menjawab, “Ya, aku berangkat wahai Rasulullah!”. Selanjutnya Anas berkata, “Demi Allah, aku menjadi pelayan Nabi selama sembilan tahun. Dan seingatku beliau tidak pernah mengomentari sesuatu yang kulakukan dengan mengatakan, “Kenapa kamu lakukan begitu?”. Atau mengomentari sesuatu yang kutinggalkan dengan mengatakan, “Kenapa tidak kamu lakukan ini?”. HR. Muslim. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Sya’ban 1435 / 9 Juni 2014   * Disadur oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan Choiriyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 93-95) dengan sedikit perubahan. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
15JunSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 32: Menanamkan Akhlak Mulia Pada AnakJune 15, 2014Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Apa yang ada dalam pikiran Anda? Ketika mendapati seorang anak yang lembut tutur katanya, sopan perilakunya, taat ibadahnya dan terdidik pemikirannya? Pasti Anda akan merasa senang untuk berjumpa dan melihatnya. Kita tentu bisa menerka bahwa anak tersebut terdidik dengan baik dan mendapat bimbingan akhlak yang memadai. Mengapa demikian? Sebab terbentuknya akhlak yang mulia pada diri seseorang sangat dipengaruhi tempaan pendidikan yang dilaluinya. Karenanya, sangat penting bagi kita untuk mengisi masa kanak-kanak mereka dengan menanamkan adab dan akhlak yang terpuji. Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah yang murni dan perangai yang lurus. Jiwa yang polos ini menerima bentuk perangai apapun yang dipahatkan pada dirinya. Selanjutnya pahatan itu akan meluas sedikit demi sedikit hingga akhirnya meliputi seluruh jiwa dan menjadi tabiat yang melekat padanya. Juga akan menentang segala yang berlawanan dengannya. Dalam kitab Tuhfah al-Maudûd, Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Yang sangat dibutuhkan anak adalah perhatian terhadap akhlaknya. Ia akan tumbuh sesuai dengan apa yang dibiasakan oleh pendidiknya saat kecil. Jika sejak kecil ia terbiasa marah, keras kepala, tergesa-gesa dan mudah mengikuti hawa nafsu, serampangan, tamak dan seterusnya, maka akan sulit baginya untuk memperbaiki dan menjauhi hal itu ketika dewasa. Perangai seperti ini akan menjadi sifat dan perilaku yang melekat pada dirinya. Jika ia tidak dibentengi betul dari hal itu, maka pada suatu ketika, semua perangai itu akan muncul. Karena itu, kita temukan manusia yang akhlaknya menyimpang, itu disebabkan oleh pendidikan yang dilaluinya”. Maka, langkah pertama yang harus ditempuh adalah pembinaan akhlak secara nyata melalui keteladanan yang baik dari orang tua. Hingga mereka tumbuh dengan perangai yang mulia dan tidak mengabaikan akhlak-akhlak Islam. Terlebih lagi di hadapan berbagai gelombang arus perilaku yang menyimpang. Contohlah akhlak Rasulullah shallallahualaihiwasallam! Beliau menyuruh dan melarang anak. Bercanda dengan mereka, mengajak mereka bermain, membonceng mereka dan murah senyum. Tidak marah-marah di hadapan mereka dan tidak mencela mereka. Inilah kunci agar anak merasa dekat dengan kita. Hingga terciptalah suasana yang hangat. Buahnya kita akan lebih leluasa dan mudah memberikan pengajaran serta pengarahan kepada mereka. Anas bin Malik radhiyallahu’anhu menuturkan, “Nabi shallallahu’alaihiwasallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Suatu hari beliau mengutusku untuk suatu keperluan. Lalu akupun menjawab, “Aku tidak mau pergi!”. Padahal sebenarnya di hatiku akan berangkat menuruti perintah Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam. Akupun keluar sampai akhirnya aku melewati anak-anak kecil yang sedang bermain di pasar. Ternyata Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengikuti pelan-pelan di belakang. Aku kemudian melihat beliau ketika sedang tertawa. Beliau berkata, “Ternyata engkau berangkat juga ke tempat yang kuperintahkan”. Aku menjawab, “Ya, aku berangkat wahai Rasulullah!”. Selanjutnya Anas berkata, “Demi Allah, aku menjadi pelayan Nabi selama sembilan tahun. Dan seingatku beliau tidak pernah mengomentari sesuatu yang kulakukan dengan mengatakan, “Kenapa kamu lakukan begitu?”. Atau mengomentari sesuatu yang kutinggalkan dengan mengatakan, “Kenapa tidak kamu lakukan ini?”. HR. Muslim. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Sya’ban 1435 / 9 Juni 2014   * Disadur oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan Choiriyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 93-95) dengan sedikit perubahan. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


15JunSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 32: Menanamkan Akhlak Mulia Pada AnakJune 15, 2014Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Apa yang ada dalam pikiran Anda? Ketika mendapati seorang anak yang lembut tutur katanya, sopan perilakunya, taat ibadahnya dan terdidik pemikirannya? Pasti Anda akan merasa senang untuk berjumpa dan melihatnya. Kita tentu bisa menerka bahwa anak tersebut terdidik dengan baik dan mendapat bimbingan akhlak yang memadai. Mengapa demikian? Sebab terbentuknya akhlak yang mulia pada diri seseorang sangat dipengaruhi tempaan pendidikan yang dilaluinya. Karenanya, sangat penting bagi kita untuk mengisi masa kanak-kanak mereka dengan menanamkan adab dan akhlak yang terpuji. Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah yang murni dan perangai yang lurus. Jiwa yang polos ini menerima bentuk perangai apapun yang dipahatkan pada dirinya. Selanjutnya pahatan itu akan meluas sedikit demi sedikit hingga akhirnya meliputi seluruh jiwa dan menjadi tabiat yang melekat padanya. Juga akan menentang segala yang berlawanan dengannya. Dalam kitab Tuhfah al-Maudûd, Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Yang sangat dibutuhkan anak adalah perhatian terhadap akhlaknya. Ia akan tumbuh sesuai dengan apa yang dibiasakan oleh pendidiknya saat kecil. Jika sejak kecil ia terbiasa marah, keras kepala, tergesa-gesa dan mudah mengikuti hawa nafsu, serampangan, tamak dan seterusnya, maka akan sulit baginya untuk memperbaiki dan menjauhi hal itu ketika dewasa. Perangai seperti ini akan menjadi sifat dan perilaku yang melekat pada dirinya. Jika ia tidak dibentengi betul dari hal itu, maka pada suatu ketika, semua perangai itu akan muncul. Karena itu, kita temukan manusia yang akhlaknya menyimpang, itu disebabkan oleh pendidikan yang dilaluinya”. Maka, langkah pertama yang harus ditempuh adalah pembinaan akhlak secara nyata melalui keteladanan yang baik dari orang tua. Hingga mereka tumbuh dengan perangai yang mulia dan tidak mengabaikan akhlak-akhlak Islam. Terlebih lagi di hadapan berbagai gelombang arus perilaku yang menyimpang. Contohlah akhlak Rasulullah shallallahualaihiwasallam! Beliau menyuruh dan melarang anak. Bercanda dengan mereka, mengajak mereka bermain, membonceng mereka dan murah senyum. Tidak marah-marah di hadapan mereka dan tidak mencela mereka. Inilah kunci agar anak merasa dekat dengan kita. Hingga terciptalah suasana yang hangat. Buahnya kita akan lebih leluasa dan mudah memberikan pengajaran serta pengarahan kepada mereka. Anas bin Malik radhiyallahu’anhu menuturkan, “Nabi shallallahu’alaihiwasallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Suatu hari beliau mengutusku untuk suatu keperluan. Lalu akupun menjawab, “Aku tidak mau pergi!”. Padahal sebenarnya di hatiku akan berangkat menuruti perintah Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam. Akupun keluar sampai akhirnya aku melewati anak-anak kecil yang sedang bermain di pasar. Ternyata Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengikuti pelan-pelan di belakang. Aku kemudian melihat beliau ketika sedang tertawa. Beliau berkata, “Ternyata engkau berangkat juga ke tempat yang kuperintahkan”. Aku menjawab, “Ya, aku berangkat wahai Rasulullah!”. Selanjutnya Anas berkata, “Demi Allah, aku menjadi pelayan Nabi selama sembilan tahun. Dan seingatku beliau tidak pernah mengomentari sesuatu yang kulakukan dengan mengatakan, “Kenapa kamu lakukan begitu?”. Atau mengomentari sesuatu yang kutinggalkan dengan mengatakan, “Kenapa tidak kamu lakukan ini?”. HR. Muslim. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 10 Sya’ban 1435 / 9 Juni 2014   * Disadur oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan Choiriyah dan Abu Ihsan al-Atsary (hal. 93-95) dengan sedikit perubahan. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Amalan Khusus pada Malam Nishfu Syaban

Adakah amalan khusus pada malam Nishfu Sya’ban? Sebagaimana kata guru kami, Syaikh Abdul Aziz Ath Thorifi. Hadits yang membicarakan tentang keutamaan malam nishfu syaban menuai kritikan dari para ulama. Ada ulama yang menghasankannya dan ada yang mendhoifkannya. Di antara yang beliau maksud adalah hadits Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِى لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ “Sesungguhnya Allah akan menampakkan (turun) di malam Nishfu Sya’ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan dengan saudaranya.” (HR. Ibnu Majah no. 1390). Hadits inilah yang masih dikritisi para ulama. Lalu adakah amalan-amalan khusus pada malam nishfu Sya’ban? Syaikh Abdul Aziz Ath Thorifi berkata, “Tidak ada hadits shahih dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan juga atsar dari para sahabat akan anjuran ibadah tertentu pada malam nishfu sya’ban. Malam nishfu Sya’ban sama halnya dengan malam-malam lainnya. Allah turun pada setiap sepertiga malam terakhir dan itu bukan hanya terjadi pada malam nishfu Sya’ban saja.” @abdulaziztarefe: لا يصح في استحباب عبادة معينة ليلة النصف من شعبان حديث نبوي ولا أثر عن صحابي، وهي كسائر الليالي ينزل الله في ثلثها الأخير لا تختص عنهن بشيء Penulis Tuhfatul Ahwadzi (Abul ‘Alaa Al Mubarokfuri) telah menyebutkan satu per satu hadits yang membicarakan keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Awalnya beliau berkata, “Ketahuilah bahwa telah terdapat beberapa hadits mengenai keutamaan malam Nishfu Sya’ban, keseluruhannya menunjukkan bahwa hadits tersebut tidak ada ashl-nya (landasannya).” Lalu beliau merinci satu per satu hadits yang dimaksud. Baca di sini: https://rumaysho.com/jalan-kebenaran/kritik-hadits-malam-nishfu-syaban-1847 Lihat video youtube Syaikh Abdul Aziz Ath Thorifi: http://youtu.be/RlX8mbSeS_s Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun @ Bintaro, 14 Sya’ban 1435 Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom   Tagsamalan syaban nisfu syaban syaban

Amalan Khusus pada Malam Nishfu Syaban

Adakah amalan khusus pada malam Nishfu Sya’ban? Sebagaimana kata guru kami, Syaikh Abdul Aziz Ath Thorifi. Hadits yang membicarakan tentang keutamaan malam nishfu syaban menuai kritikan dari para ulama. Ada ulama yang menghasankannya dan ada yang mendhoifkannya. Di antara yang beliau maksud adalah hadits Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِى لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ “Sesungguhnya Allah akan menampakkan (turun) di malam Nishfu Sya’ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan dengan saudaranya.” (HR. Ibnu Majah no. 1390). Hadits inilah yang masih dikritisi para ulama. Lalu adakah amalan-amalan khusus pada malam nishfu Sya’ban? Syaikh Abdul Aziz Ath Thorifi berkata, “Tidak ada hadits shahih dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan juga atsar dari para sahabat akan anjuran ibadah tertentu pada malam nishfu sya’ban. Malam nishfu Sya’ban sama halnya dengan malam-malam lainnya. Allah turun pada setiap sepertiga malam terakhir dan itu bukan hanya terjadi pada malam nishfu Sya’ban saja.” @abdulaziztarefe: لا يصح في استحباب عبادة معينة ليلة النصف من شعبان حديث نبوي ولا أثر عن صحابي، وهي كسائر الليالي ينزل الله في ثلثها الأخير لا تختص عنهن بشيء Penulis Tuhfatul Ahwadzi (Abul ‘Alaa Al Mubarokfuri) telah menyebutkan satu per satu hadits yang membicarakan keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Awalnya beliau berkata, “Ketahuilah bahwa telah terdapat beberapa hadits mengenai keutamaan malam Nishfu Sya’ban, keseluruhannya menunjukkan bahwa hadits tersebut tidak ada ashl-nya (landasannya).” Lalu beliau merinci satu per satu hadits yang dimaksud. Baca di sini: https://rumaysho.com/jalan-kebenaran/kritik-hadits-malam-nishfu-syaban-1847 Lihat video youtube Syaikh Abdul Aziz Ath Thorifi: http://youtu.be/RlX8mbSeS_s Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun @ Bintaro, 14 Sya’ban 1435 Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom   Tagsamalan syaban nisfu syaban syaban
Adakah amalan khusus pada malam Nishfu Sya’ban? Sebagaimana kata guru kami, Syaikh Abdul Aziz Ath Thorifi. Hadits yang membicarakan tentang keutamaan malam nishfu syaban menuai kritikan dari para ulama. Ada ulama yang menghasankannya dan ada yang mendhoifkannya. Di antara yang beliau maksud adalah hadits Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِى لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ “Sesungguhnya Allah akan menampakkan (turun) di malam Nishfu Sya’ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan dengan saudaranya.” (HR. Ibnu Majah no. 1390). Hadits inilah yang masih dikritisi para ulama. Lalu adakah amalan-amalan khusus pada malam nishfu Sya’ban? Syaikh Abdul Aziz Ath Thorifi berkata, “Tidak ada hadits shahih dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan juga atsar dari para sahabat akan anjuran ibadah tertentu pada malam nishfu sya’ban. Malam nishfu Sya’ban sama halnya dengan malam-malam lainnya. Allah turun pada setiap sepertiga malam terakhir dan itu bukan hanya terjadi pada malam nishfu Sya’ban saja.” @abdulaziztarefe: لا يصح في استحباب عبادة معينة ليلة النصف من شعبان حديث نبوي ولا أثر عن صحابي، وهي كسائر الليالي ينزل الله في ثلثها الأخير لا تختص عنهن بشيء Penulis Tuhfatul Ahwadzi (Abul ‘Alaa Al Mubarokfuri) telah menyebutkan satu per satu hadits yang membicarakan keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Awalnya beliau berkata, “Ketahuilah bahwa telah terdapat beberapa hadits mengenai keutamaan malam Nishfu Sya’ban, keseluruhannya menunjukkan bahwa hadits tersebut tidak ada ashl-nya (landasannya).” Lalu beliau merinci satu per satu hadits yang dimaksud. Baca di sini: https://rumaysho.com/jalan-kebenaran/kritik-hadits-malam-nishfu-syaban-1847 Lihat video youtube Syaikh Abdul Aziz Ath Thorifi: http://youtu.be/RlX8mbSeS_s Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun @ Bintaro, 14 Sya’ban 1435 Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom   Tagsamalan syaban nisfu syaban syaban


Adakah amalan khusus pada malam Nishfu Sya’ban? Sebagaimana kata guru kami, Syaikh Abdul Aziz Ath Thorifi. Hadits yang membicarakan tentang keutamaan malam nishfu syaban menuai kritikan dari para ulama. Ada ulama yang menghasankannya dan ada yang mendhoifkannya. Di antara yang beliau maksud adalah hadits Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِى لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ “Sesungguhnya Allah akan menampakkan (turun) di malam Nishfu Sya’ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan dengan saudaranya.” (HR. Ibnu Majah no. 1390). Hadits inilah yang masih dikritisi para ulama. Lalu adakah amalan-amalan khusus pada malam nishfu Sya’ban? Syaikh Abdul Aziz Ath Thorifi berkata, “Tidak ada hadits shahih dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan juga atsar dari para sahabat akan anjuran ibadah tertentu pada malam nishfu sya’ban. Malam nishfu Sya’ban sama halnya dengan malam-malam lainnya. Allah turun pada setiap sepertiga malam terakhir dan itu bukan hanya terjadi pada malam nishfu Sya’ban saja.” @abdulaziztarefe: لا يصح في استحباب عبادة معينة ليلة النصف من شعبان حديث نبوي ولا أثر عن صحابي، وهي كسائر الليالي ينزل الله في ثلثها الأخير لا تختص عنهن بشيء Penulis Tuhfatul Ahwadzi (Abul ‘Alaa Al Mubarokfuri) telah menyebutkan satu per satu hadits yang membicarakan keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Awalnya beliau berkata, “Ketahuilah bahwa telah terdapat beberapa hadits mengenai keutamaan malam Nishfu Sya’ban, keseluruhannya menunjukkan bahwa hadits tersebut tidak ada ashl-nya (landasannya).” Lalu beliau merinci satu per satu hadits yang dimaksud. Baca di sini: https://rumaysho.com/jalan-kebenaran/kritik-hadits-malam-nishfu-syaban-1847 Lihat video youtube Syaikh Abdul Aziz Ath Thorifi: http://youtu.be/RlX8mbSeS_s Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun @ Bintaro, 14 Sya’ban 1435 Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom   Tagsamalan syaban nisfu syaban syaban

Memilih Pemimpin Muslim ataukah Non Muslim yang Bersih dan Adil?

Manakah yang mesti dipilih jika ada dua pilihan. Ada calon pemimpin yang muslim namun suka bermaksiat, ataukah non muslim yang dikatakan bersih dan adil? Yang jelas, tidak pantas non muslim menguasai rakyat yang mayoritas muslim. Kenapa demikian? Karena memang Allah melarangnya. Islam itu tinggi, artinya di atas, bukan di bawah, bukan berada dalam kekuasaan non muslim. Sangat tidak pantas Islam yang mulia ini malah dikuasai oleh non muslim. Allah Ta’ala berfirman, وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا “Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa’: 141) Memang pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempekerjakan non muslim sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut, وَاسْتَأْجَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبُو بَكْرٍ رَجُلًا مِنْ بَنِي الدِّيلِ هَادِيًا خِرِّيتًا، وَهُوَ عَلَى دِينِ كُفَّارِ قُرَيْشٍ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar mengupah seorang laki-laki dari Bani Ad Diil sebagai petunjuk jalan, dan dia adalah seorang beragama kafir Quraisy.” (HR. Bukhari no. 2264). Namun ingat itu dipekerjakan, bukan berada di atas, bukan sebagai pemimpin. Lantas manakah yang mending memiliki pemimpin muslim namun kerap korupsi ataukah pemimpin non muslim yang jujur, adil dan anti korupsi? Kita dapat ambil pelajaran dari perkataan ‘Abdullah bin Mas’ud berikut ini. Ibnu Mas’ud berkata, لأَنْ أَحْلِفَ بِاللَّهِ كَاذِبًا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أنْ أَحْلِفَ بِغَيْرِهِ وَأنَا صَادِقٌ “Aku bersumpah dengan nama Allah dalam keadaan berdusta lebih aku sukai daripada aku jujur lalu bersumpah dengan nama selain Allah.” (HR. Ath Thobroni dalam Al Kabir. Guru kami, Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi berkata bahwa sanad hadits ini shahih). Kata Syaikh Sholeh Al Fauzan, di antara faedah dari hadits di atas adalah bolehnya mengambil mudarat yang lebih ringan ketika berhadapan dengan dua kemudaratan. (Al Mulakhos fii Syarh Kitabit Tauhid, hal. 328). Kaedah dari pernyataan di atas disebutkan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah, اِرْتِكَابُ أَخَفِّ المفْسَدَتَيْنِ بِتَرْكِ أَثْقَلِهِمَا “Mengambil mafsadat yang lebih ringan dari dua mafsadat yang ada dan meninggalkan yang lebih berat.” (Fathul Bari, 9: 462) Dalam kitab yang sama, Ibnu Hajar juga menyatakan kaedah, جَوَازُ اِرْتِكَابِ أَخَفِّ الضَّرَرَيْنِ “Bolehnya menerjang bahaya yang lebih ringan.” (Fathul Bari, 10: 431) Kalau kita bandingkan saat mesti memilih antara pemimpin muslim yang gemar maksiat dengan pemimpin non muslim yang jujur dan adil, maka tetap saja pemimpin muslim lebih utama untuk dijadikan pilihan. Mudaratnya tentu lebih ringan. Apa alasannya? Alasan pertama, kita tidak boleh mengambil pemimpin dari orang kafir. Alasan kedua, kita akan lebih mudah dalam menjalani agama karena pemimpin semacam itu lebih mengerti akan kebutuhan kaum muslimin. Alasan ketiga, non muslim tidak mudah menindas kaum muslimin atau menyebar ajaran mereka. Kezaliman yang dilakukan oleh pemimpin muslim misalnya dengan korupsi, itu adalah kesalahannya. Ia akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah atas tindak jeleknya. Namun agama kita pasti akan lebih selamat dan orang muslim pun akan peduli pada sesama saudaranya. Beda halnya dengan non muslim. Muslim yang bermaksiat masih lebih mending, berbeda dengan non muslim yang diancam akan kekal di neraka. Jadi bagi yang masih mengatakan pemimpin non muslim itu lebih baik, berpikirlah dengan nalar yang baik dan banyak mengkaji ayat-ayat Al Qur’an. Lihatlah bagaimana Allah menyebut non muslim  dalam ayat berikut ini, إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6). Ini firman Allah loh yang tidak mungkin keliru. Beda kalau tidak percaya akan wahyu. Loyalitas seorang muslim haruslah kepada sesama muslim bukan kepada yang berlawanan agama dengannya. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Maidah: 51) Dalam ayat lain disebutkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.” (QS. Al Mumtahanah: 1) Marilah kaum muslimin melihat realita yang terjadi. Cobalah renungkan sejenak, bagaimana nasibnya nanti jika akhirnya pemimpin non muslim yang akan maju sebagai pewaris kekuasaan. Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun di malam hari, 13 Sya’ban 1435 H di Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir 2 buku terbaru buah karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal “10 Pelebur Dosa” sebanyak 64 halaman (ukuran buku saku) dan buku “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang sebanyak 198 halaman (ukuran A5) terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta. Dapatkan segera dengan harga Rp.6.000,- untuk 10 pelebur dosa dan Rp.30.000,- untuk Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang (belum termasuk ongkir). Segera pesan via SMS +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: paket buku dagang dan pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Tagsloyal non muslim pemilu

Memilih Pemimpin Muslim ataukah Non Muslim yang Bersih dan Adil?

Manakah yang mesti dipilih jika ada dua pilihan. Ada calon pemimpin yang muslim namun suka bermaksiat, ataukah non muslim yang dikatakan bersih dan adil? Yang jelas, tidak pantas non muslim menguasai rakyat yang mayoritas muslim. Kenapa demikian? Karena memang Allah melarangnya. Islam itu tinggi, artinya di atas, bukan di bawah, bukan berada dalam kekuasaan non muslim. Sangat tidak pantas Islam yang mulia ini malah dikuasai oleh non muslim. Allah Ta’ala berfirman, وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا “Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa’: 141) Memang pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempekerjakan non muslim sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut, وَاسْتَأْجَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبُو بَكْرٍ رَجُلًا مِنْ بَنِي الدِّيلِ هَادِيًا خِرِّيتًا، وَهُوَ عَلَى دِينِ كُفَّارِ قُرَيْشٍ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar mengupah seorang laki-laki dari Bani Ad Diil sebagai petunjuk jalan, dan dia adalah seorang beragama kafir Quraisy.” (HR. Bukhari no. 2264). Namun ingat itu dipekerjakan, bukan berada di atas, bukan sebagai pemimpin. Lantas manakah yang mending memiliki pemimpin muslim namun kerap korupsi ataukah pemimpin non muslim yang jujur, adil dan anti korupsi? Kita dapat ambil pelajaran dari perkataan ‘Abdullah bin Mas’ud berikut ini. Ibnu Mas’ud berkata, لأَنْ أَحْلِفَ بِاللَّهِ كَاذِبًا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أنْ أَحْلِفَ بِغَيْرِهِ وَأنَا صَادِقٌ “Aku bersumpah dengan nama Allah dalam keadaan berdusta lebih aku sukai daripada aku jujur lalu bersumpah dengan nama selain Allah.” (HR. Ath Thobroni dalam Al Kabir. Guru kami, Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi berkata bahwa sanad hadits ini shahih). Kata Syaikh Sholeh Al Fauzan, di antara faedah dari hadits di atas adalah bolehnya mengambil mudarat yang lebih ringan ketika berhadapan dengan dua kemudaratan. (Al Mulakhos fii Syarh Kitabit Tauhid, hal. 328). Kaedah dari pernyataan di atas disebutkan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah, اِرْتِكَابُ أَخَفِّ المفْسَدَتَيْنِ بِتَرْكِ أَثْقَلِهِمَا “Mengambil mafsadat yang lebih ringan dari dua mafsadat yang ada dan meninggalkan yang lebih berat.” (Fathul Bari, 9: 462) Dalam kitab yang sama, Ibnu Hajar juga menyatakan kaedah, جَوَازُ اِرْتِكَابِ أَخَفِّ الضَّرَرَيْنِ “Bolehnya menerjang bahaya yang lebih ringan.” (Fathul Bari, 10: 431) Kalau kita bandingkan saat mesti memilih antara pemimpin muslim yang gemar maksiat dengan pemimpin non muslim yang jujur dan adil, maka tetap saja pemimpin muslim lebih utama untuk dijadikan pilihan. Mudaratnya tentu lebih ringan. Apa alasannya? Alasan pertama, kita tidak boleh mengambil pemimpin dari orang kafir. Alasan kedua, kita akan lebih mudah dalam menjalani agama karena pemimpin semacam itu lebih mengerti akan kebutuhan kaum muslimin. Alasan ketiga, non muslim tidak mudah menindas kaum muslimin atau menyebar ajaran mereka. Kezaliman yang dilakukan oleh pemimpin muslim misalnya dengan korupsi, itu adalah kesalahannya. Ia akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah atas tindak jeleknya. Namun agama kita pasti akan lebih selamat dan orang muslim pun akan peduli pada sesama saudaranya. Beda halnya dengan non muslim. Muslim yang bermaksiat masih lebih mending, berbeda dengan non muslim yang diancam akan kekal di neraka. Jadi bagi yang masih mengatakan pemimpin non muslim itu lebih baik, berpikirlah dengan nalar yang baik dan banyak mengkaji ayat-ayat Al Qur’an. Lihatlah bagaimana Allah menyebut non muslim  dalam ayat berikut ini, إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6). Ini firman Allah loh yang tidak mungkin keliru. Beda kalau tidak percaya akan wahyu. Loyalitas seorang muslim haruslah kepada sesama muslim bukan kepada yang berlawanan agama dengannya. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Maidah: 51) Dalam ayat lain disebutkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.” (QS. Al Mumtahanah: 1) Marilah kaum muslimin melihat realita yang terjadi. Cobalah renungkan sejenak, bagaimana nasibnya nanti jika akhirnya pemimpin non muslim yang akan maju sebagai pewaris kekuasaan. Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun di malam hari, 13 Sya’ban 1435 H di Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir 2 buku terbaru buah karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal “10 Pelebur Dosa” sebanyak 64 halaman (ukuran buku saku) dan buku “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang sebanyak 198 halaman (ukuran A5) terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta. Dapatkan segera dengan harga Rp.6.000,- untuk 10 pelebur dosa dan Rp.30.000,- untuk Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang (belum termasuk ongkir). Segera pesan via SMS +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: paket buku dagang dan pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Tagsloyal non muslim pemilu
Manakah yang mesti dipilih jika ada dua pilihan. Ada calon pemimpin yang muslim namun suka bermaksiat, ataukah non muslim yang dikatakan bersih dan adil? Yang jelas, tidak pantas non muslim menguasai rakyat yang mayoritas muslim. Kenapa demikian? Karena memang Allah melarangnya. Islam itu tinggi, artinya di atas, bukan di bawah, bukan berada dalam kekuasaan non muslim. Sangat tidak pantas Islam yang mulia ini malah dikuasai oleh non muslim. Allah Ta’ala berfirman, وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا “Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa’: 141) Memang pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempekerjakan non muslim sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut, وَاسْتَأْجَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبُو بَكْرٍ رَجُلًا مِنْ بَنِي الدِّيلِ هَادِيًا خِرِّيتًا، وَهُوَ عَلَى دِينِ كُفَّارِ قُرَيْشٍ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar mengupah seorang laki-laki dari Bani Ad Diil sebagai petunjuk jalan, dan dia adalah seorang beragama kafir Quraisy.” (HR. Bukhari no. 2264). Namun ingat itu dipekerjakan, bukan berada di atas, bukan sebagai pemimpin. Lantas manakah yang mending memiliki pemimpin muslim namun kerap korupsi ataukah pemimpin non muslim yang jujur, adil dan anti korupsi? Kita dapat ambil pelajaran dari perkataan ‘Abdullah bin Mas’ud berikut ini. Ibnu Mas’ud berkata, لأَنْ أَحْلِفَ بِاللَّهِ كَاذِبًا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أنْ أَحْلِفَ بِغَيْرِهِ وَأنَا صَادِقٌ “Aku bersumpah dengan nama Allah dalam keadaan berdusta lebih aku sukai daripada aku jujur lalu bersumpah dengan nama selain Allah.” (HR. Ath Thobroni dalam Al Kabir. Guru kami, Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi berkata bahwa sanad hadits ini shahih). Kata Syaikh Sholeh Al Fauzan, di antara faedah dari hadits di atas adalah bolehnya mengambil mudarat yang lebih ringan ketika berhadapan dengan dua kemudaratan. (Al Mulakhos fii Syarh Kitabit Tauhid, hal. 328). Kaedah dari pernyataan di atas disebutkan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah, اِرْتِكَابُ أَخَفِّ المفْسَدَتَيْنِ بِتَرْكِ أَثْقَلِهِمَا “Mengambil mafsadat yang lebih ringan dari dua mafsadat yang ada dan meninggalkan yang lebih berat.” (Fathul Bari, 9: 462) Dalam kitab yang sama, Ibnu Hajar juga menyatakan kaedah, جَوَازُ اِرْتِكَابِ أَخَفِّ الضَّرَرَيْنِ “Bolehnya menerjang bahaya yang lebih ringan.” (Fathul Bari, 10: 431) Kalau kita bandingkan saat mesti memilih antara pemimpin muslim yang gemar maksiat dengan pemimpin non muslim yang jujur dan adil, maka tetap saja pemimpin muslim lebih utama untuk dijadikan pilihan. Mudaratnya tentu lebih ringan. Apa alasannya? Alasan pertama, kita tidak boleh mengambil pemimpin dari orang kafir. Alasan kedua, kita akan lebih mudah dalam menjalani agama karena pemimpin semacam itu lebih mengerti akan kebutuhan kaum muslimin. Alasan ketiga, non muslim tidak mudah menindas kaum muslimin atau menyebar ajaran mereka. Kezaliman yang dilakukan oleh pemimpin muslim misalnya dengan korupsi, itu adalah kesalahannya. Ia akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah atas tindak jeleknya. Namun agama kita pasti akan lebih selamat dan orang muslim pun akan peduli pada sesama saudaranya. Beda halnya dengan non muslim. Muslim yang bermaksiat masih lebih mending, berbeda dengan non muslim yang diancam akan kekal di neraka. Jadi bagi yang masih mengatakan pemimpin non muslim itu lebih baik, berpikirlah dengan nalar yang baik dan banyak mengkaji ayat-ayat Al Qur’an. Lihatlah bagaimana Allah menyebut non muslim  dalam ayat berikut ini, إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6). Ini firman Allah loh yang tidak mungkin keliru. Beda kalau tidak percaya akan wahyu. Loyalitas seorang muslim haruslah kepada sesama muslim bukan kepada yang berlawanan agama dengannya. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Maidah: 51) Dalam ayat lain disebutkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.” (QS. Al Mumtahanah: 1) Marilah kaum muslimin melihat realita yang terjadi. Cobalah renungkan sejenak, bagaimana nasibnya nanti jika akhirnya pemimpin non muslim yang akan maju sebagai pewaris kekuasaan. Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun di malam hari, 13 Sya’ban 1435 H di Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir 2 buku terbaru buah karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal “10 Pelebur Dosa” sebanyak 64 halaman (ukuran buku saku) dan buku “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang sebanyak 198 halaman (ukuran A5) terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta. Dapatkan segera dengan harga Rp.6.000,- untuk 10 pelebur dosa dan Rp.30.000,- untuk Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang (belum termasuk ongkir). Segera pesan via SMS +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: paket buku dagang dan pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Tagsloyal non muslim pemilu


Manakah yang mesti dipilih jika ada dua pilihan. Ada calon pemimpin yang muslim namun suka bermaksiat, ataukah non muslim yang dikatakan bersih dan adil? Yang jelas, tidak pantas non muslim menguasai rakyat yang mayoritas muslim. Kenapa demikian? Karena memang Allah melarangnya. Islam itu tinggi, artinya di atas, bukan di bawah, bukan berada dalam kekuasaan non muslim. Sangat tidak pantas Islam yang mulia ini malah dikuasai oleh non muslim. Allah Ta’ala berfirman, وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا “Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa’: 141) Memang pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempekerjakan non muslim sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut, وَاسْتَأْجَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبُو بَكْرٍ رَجُلًا مِنْ بَنِي الدِّيلِ هَادِيًا خِرِّيتًا، وَهُوَ عَلَى دِينِ كُفَّارِ قُرَيْشٍ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar mengupah seorang laki-laki dari Bani Ad Diil sebagai petunjuk jalan, dan dia adalah seorang beragama kafir Quraisy.” (HR. Bukhari no. 2264). Namun ingat itu dipekerjakan, bukan berada di atas, bukan sebagai pemimpin. Lantas manakah yang mending memiliki pemimpin muslim namun kerap korupsi ataukah pemimpin non muslim yang jujur, adil dan anti korupsi? Kita dapat ambil pelajaran dari perkataan ‘Abdullah bin Mas’ud berikut ini. Ibnu Mas’ud berkata, لأَنْ أَحْلِفَ بِاللَّهِ كَاذِبًا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أنْ أَحْلِفَ بِغَيْرِهِ وَأنَا صَادِقٌ “Aku bersumpah dengan nama Allah dalam keadaan berdusta lebih aku sukai daripada aku jujur lalu bersumpah dengan nama selain Allah.” (HR. Ath Thobroni dalam Al Kabir. Guru kami, Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi berkata bahwa sanad hadits ini shahih). Kata Syaikh Sholeh Al Fauzan, di antara faedah dari hadits di atas adalah bolehnya mengambil mudarat yang lebih ringan ketika berhadapan dengan dua kemudaratan. (Al Mulakhos fii Syarh Kitabit Tauhid, hal. 328). Kaedah dari pernyataan di atas disebutkan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah, اِرْتِكَابُ أَخَفِّ المفْسَدَتَيْنِ بِتَرْكِ أَثْقَلِهِمَا “Mengambil mafsadat yang lebih ringan dari dua mafsadat yang ada dan meninggalkan yang lebih berat.” (Fathul Bari, 9: 462) Dalam kitab yang sama, Ibnu Hajar juga menyatakan kaedah, جَوَازُ اِرْتِكَابِ أَخَفِّ الضَّرَرَيْنِ “Bolehnya menerjang bahaya yang lebih ringan.” (Fathul Bari, 10: 431) Kalau kita bandingkan saat mesti memilih antara pemimpin muslim yang gemar maksiat dengan pemimpin non muslim yang jujur dan adil, maka tetap saja pemimpin muslim lebih utama untuk dijadikan pilihan. Mudaratnya tentu lebih ringan. Apa alasannya? Alasan pertama, kita tidak boleh mengambil pemimpin dari orang kafir. Alasan kedua, kita akan lebih mudah dalam menjalani agama karena pemimpin semacam itu lebih mengerti akan kebutuhan kaum muslimin. Alasan ketiga, non muslim tidak mudah menindas kaum muslimin atau menyebar ajaran mereka. Kezaliman yang dilakukan oleh pemimpin muslim misalnya dengan korupsi, itu adalah kesalahannya. Ia akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah atas tindak jeleknya. Namun agama kita pasti akan lebih selamat dan orang muslim pun akan peduli pada sesama saudaranya. Beda halnya dengan non muslim. Muslim yang bermaksiat masih lebih mending, berbeda dengan non muslim yang diancam akan kekal di neraka. Jadi bagi yang masih mengatakan pemimpin non muslim itu lebih baik, berpikirlah dengan nalar yang baik dan banyak mengkaji ayat-ayat Al Qur’an. Lihatlah bagaimana Allah menyebut non muslim  dalam ayat berikut ini, إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6). Ini firman Allah loh yang tidak mungkin keliru. Beda kalau tidak percaya akan wahyu. Loyalitas seorang muslim haruslah kepada sesama muslim bukan kepada yang berlawanan agama dengannya. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Maidah: 51) Dalam ayat lain disebutkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.” (QS. Al Mumtahanah: 1) Marilah kaum muslimin melihat realita yang terjadi. Cobalah renungkan sejenak, bagaimana nasibnya nanti jika akhirnya pemimpin non muslim yang akan maju sebagai pewaris kekuasaan. Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun di malam hari, 13 Sya’ban 1435 H di Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir 2 buku terbaru buah karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal “10 Pelebur Dosa” sebanyak 64 halaman (ukuran buku saku) dan buku “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang sebanyak 198 halaman (ukuran A5) terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta. Dapatkan segera dengan harga Rp.6.000,- untuk 10 pelebur dosa dan Rp.30.000,- untuk Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang (belum termasuk ongkir). Segera pesan via SMS +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: paket buku dagang dan pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Tagsloyal non muslim pemilu

Angkuh/Kasarnya Orang Berilmu & Tawadhu’/Lembutnya Orang Jahil/Sesat Merupakan Musibah

Angkuh/kasarnya orang berilmu & tawadhu’/lembutnya orang jahil/sesat merupakan musibah. Masyarakat akhirnya menjauhi orang berilmu tersebut dan malah simpati kpd orang yang jahil dan sesat.Ilmu seharusnya semakin menambah tawadhu’ dan ramahnya seseorang bukan semakin manjadikannya angkuh dan kasar.Sungguh sedih tatkala melihat seorang awam tertarik dengan dai syi’ah karena lembutnya dan trauma dengan dai ahlus sunnah karena kasarnya.

Angkuh/Kasarnya Orang Berilmu & Tawadhu’/Lembutnya Orang Jahil/Sesat Merupakan Musibah

Angkuh/kasarnya orang berilmu & tawadhu’/lembutnya orang jahil/sesat merupakan musibah. Masyarakat akhirnya menjauhi orang berilmu tersebut dan malah simpati kpd orang yang jahil dan sesat.Ilmu seharusnya semakin menambah tawadhu’ dan ramahnya seseorang bukan semakin manjadikannya angkuh dan kasar.Sungguh sedih tatkala melihat seorang awam tertarik dengan dai syi’ah karena lembutnya dan trauma dengan dai ahlus sunnah karena kasarnya.
Angkuh/kasarnya orang berilmu & tawadhu’/lembutnya orang jahil/sesat merupakan musibah. Masyarakat akhirnya menjauhi orang berilmu tersebut dan malah simpati kpd orang yang jahil dan sesat.Ilmu seharusnya semakin menambah tawadhu’ dan ramahnya seseorang bukan semakin manjadikannya angkuh dan kasar.Sungguh sedih tatkala melihat seorang awam tertarik dengan dai syi’ah karena lembutnya dan trauma dengan dai ahlus sunnah karena kasarnya.


Angkuh/kasarnya orang berilmu & tawadhu’/lembutnya orang jahil/sesat merupakan musibah. Masyarakat akhirnya menjauhi orang berilmu tersebut dan malah simpati kpd orang yang jahil dan sesat.Ilmu seharusnya semakin menambah tawadhu’ dan ramahnya seseorang bukan semakin manjadikannya angkuh dan kasar.Sungguh sedih tatkala melihat seorang awam tertarik dengan dai syi’ah karena lembutnya dan trauma dengan dai ahlus sunnah karena kasarnya.

Setan Bermalam di Rongga Hidung

Setan Bermalam di Rongga Hidung Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيَاشِيمِهِ Apabila kalian bangun tidur, hendaknya menghirup air ke dalam hidung lalu membuangnya sebanyak 3 kali. Karena setan bermalam di rongga hidungnya. (HR. Bukhari 162 dan Muslim 238) hadis ini mengingatkan kita untuk menghindari bahaya dan perbuatan setan. Dan kita tidak mungkin bisa menghindarinya kecuali dengan memahami keterangan syariat tentang apa saja yang diperbuat setan terhadap kaum muslimin.

Setan Bermalam di Rongga Hidung

Setan Bermalam di Rongga Hidung Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيَاشِيمِهِ Apabila kalian bangun tidur, hendaknya menghirup air ke dalam hidung lalu membuangnya sebanyak 3 kali. Karena setan bermalam di rongga hidungnya. (HR. Bukhari 162 dan Muslim 238) hadis ini mengingatkan kita untuk menghindari bahaya dan perbuatan setan. Dan kita tidak mungkin bisa menghindarinya kecuali dengan memahami keterangan syariat tentang apa saja yang diperbuat setan terhadap kaum muslimin.
Setan Bermalam di Rongga Hidung Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيَاشِيمِهِ Apabila kalian bangun tidur, hendaknya menghirup air ke dalam hidung lalu membuangnya sebanyak 3 kali. Karena setan bermalam di rongga hidungnya. (HR. Bukhari 162 dan Muslim 238) hadis ini mengingatkan kita untuk menghindari bahaya dan perbuatan setan. Dan kita tidak mungkin bisa menghindarinya kecuali dengan memahami keterangan syariat tentang apa saja yang diperbuat setan terhadap kaum muslimin.


Setan Bermalam di Rongga Hidung Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيَاشِيمِهِ Apabila kalian bangun tidur, hendaknya menghirup air ke dalam hidung lalu membuangnya sebanyak 3 kali. Karena setan bermalam di rongga hidungnya. (HR. Bukhari 162 dan Muslim 238) hadis ini mengingatkan kita untuk menghindari bahaya dan perbuatan setan. Dan kita tidak mungkin bisa menghindarinya kecuali dengan memahami keterangan syariat tentang apa saja yang diperbuat setan terhadap kaum muslimin.

Kelakuan Media yang Terus Mengorek Aib

Seseorang ada yang punya masa lalu yang suram. Kalau ia memang orang yang bertanggung jawab dan sudah menjalani hukuman, maka keburukan tersebut tak perlulah dikorek. Namun demikianlah masa lalu semacam ini terus dikorek lalu disebarkan. Aib terus dibongkar. Ada larangan melakukan tajassus, وَلَا تَجَسَّسُوا “Dan janganlah mencari-cari keburukan orang.” (QS. Al Hujurat: 12). Yang dimaksud dengan ayat di atas tentang tajassus adalah jangan mencari-cari keburukan kaum muslimin dan aib-aib mereka. Demikian disebutkan dalam Tafsir Al Jalalain. Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, tajassus -seperti kata Imam Al Auza’i- adalah mencari-cari sesuatu. Ada juga istilah tahassus yang maksudnya adalah menguping untuk mencari-cari kejelekan suatu kaum di mana mereka tidak suka untuk didengar, atau menguping di depan pintu-pintu mereka. Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. Pembuat berita media saat ini berusaha menguping berita padahal orang yang disebar beritanya tak suka itu diketahui khalayak ramai atau mungkin hal itu sudah ia sesali dan pertanggungjawaban. Namun demikianlah kekurang ajaran media, terus aib terus dibuka dan disebar. Padahal terdapat ancaman seperti disebutkan dalam hadits di bawah ini. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan selain mereka), maka pada telinganya akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 7042). Imam Adz Dzahabi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-aanuk adalah tembaga cair. Yang namanya tembaga cair tentu saja dalam keadaan yang begitu panas. Na’udzu billah. Ibnu Batthol mengatakan bahwa ada ulama yang berpendapat, hadits yang ada menunjukkan bahwa yang mendapatkan ancaman hanyalah untuk orang yang “nguping” dan yang membicarakan tersebut tidak suka yang lain mendengarnya. Namun yang tepat jika tidak diketahui mereka suka ataukah tidak, maka baiknya tidak menguping berita tersebut kecuali dengan izin mereka. Karena ada hadits di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa terlarang masuk mendengar orang yang sedang berbisik-bisik (berbicara empat mata). Seperti ini dilarang kecuali dengan izin yang berbicara. Demikian diterangkan oleh Ibnu Batthol dalam Syarh Shahih Al Bukhari. Moga jadi nasehat bagi para pembuat berita media agar perlu hati-hati dalam membuat berita. Ancaman yang ada begitu keras ketika cuma sekedar menguping info yang sebenarnya tidak disukai untuk disebar, walau itu benar. Lebih-lebih lagi jika yang disebar adalah berita dusta. Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun di kantor Pesantren Darush Sholihin, 12 Sya’ban 1435 H di pagi penuh berkah Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir 2 buku terbaru buah karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal “10 Pelebur Dosa” sebanyak 64 halaman (ukuran buku saku) dan buku “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang sebanyak 198 halaman (ukuran A5) terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta. Dapatkan segera dengan harga Rp.6.000,- untuk 10 pelebur dosa dan Rp.30.000,- untuk Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang (belum termasuk ongkir). Segera pesan via SMS +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: paket buku dagang dan pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Tagsbahaya lisan ghibah

Kelakuan Media yang Terus Mengorek Aib

Seseorang ada yang punya masa lalu yang suram. Kalau ia memang orang yang bertanggung jawab dan sudah menjalani hukuman, maka keburukan tersebut tak perlulah dikorek. Namun demikianlah masa lalu semacam ini terus dikorek lalu disebarkan. Aib terus dibongkar. Ada larangan melakukan tajassus, وَلَا تَجَسَّسُوا “Dan janganlah mencari-cari keburukan orang.” (QS. Al Hujurat: 12). Yang dimaksud dengan ayat di atas tentang tajassus adalah jangan mencari-cari keburukan kaum muslimin dan aib-aib mereka. Demikian disebutkan dalam Tafsir Al Jalalain. Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, tajassus -seperti kata Imam Al Auza’i- adalah mencari-cari sesuatu. Ada juga istilah tahassus yang maksudnya adalah menguping untuk mencari-cari kejelekan suatu kaum di mana mereka tidak suka untuk didengar, atau menguping di depan pintu-pintu mereka. Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. Pembuat berita media saat ini berusaha menguping berita padahal orang yang disebar beritanya tak suka itu diketahui khalayak ramai atau mungkin hal itu sudah ia sesali dan pertanggungjawaban. Namun demikianlah kekurang ajaran media, terus aib terus dibuka dan disebar. Padahal terdapat ancaman seperti disebutkan dalam hadits di bawah ini. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan selain mereka), maka pada telinganya akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 7042). Imam Adz Dzahabi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-aanuk adalah tembaga cair. Yang namanya tembaga cair tentu saja dalam keadaan yang begitu panas. Na’udzu billah. Ibnu Batthol mengatakan bahwa ada ulama yang berpendapat, hadits yang ada menunjukkan bahwa yang mendapatkan ancaman hanyalah untuk orang yang “nguping” dan yang membicarakan tersebut tidak suka yang lain mendengarnya. Namun yang tepat jika tidak diketahui mereka suka ataukah tidak, maka baiknya tidak menguping berita tersebut kecuali dengan izin mereka. Karena ada hadits di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa terlarang masuk mendengar orang yang sedang berbisik-bisik (berbicara empat mata). Seperti ini dilarang kecuali dengan izin yang berbicara. Demikian diterangkan oleh Ibnu Batthol dalam Syarh Shahih Al Bukhari. Moga jadi nasehat bagi para pembuat berita media agar perlu hati-hati dalam membuat berita. Ancaman yang ada begitu keras ketika cuma sekedar menguping info yang sebenarnya tidak disukai untuk disebar, walau itu benar. Lebih-lebih lagi jika yang disebar adalah berita dusta. Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun di kantor Pesantren Darush Sholihin, 12 Sya’ban 1435 H di pagi penuh berkah Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir 2 buku terbaru buah karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal “10 Pelebur Dosa” sebanyak 64 halaman (ukuran buku saku) dan buku “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang sebanyak 198 halaman (ukuran A5) terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta. Dapatkan segera dengan harga Rp.6.000,- untuk 10 pelebur dosa dan Rp.30.000,- untuk Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang (belum termasuk ongkir). Segera pesan via SMS +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: paket buku dagang dan pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Tagsbahaya lisan ghibah
Seseorang ada yang punya masa lalu yang suram. Kalau ia memang orang yang bertanggung jawab dan sudah menjalani hukuman, maka keburukan tersebut tak perlulah dikorek. Namun demikianlah masa lalu semacam ini terus dikorek lalu disebarkan. Aib terus dibongkar. Ada larangan melakukan tajassus, وَلَا تَجَسَّسُوا “Dan janganlah mencari-cari keburukan orang.” (QS. Al Hujurat: 12). Yang dimaksud dengan ayat di atas tentang tajassus adalah jangan mencari-cari keburukan kaum muslimin dan aib-aib mereka. Demikian disebutkan dalam Tafsir Al Jalalain. Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, tajassus -seperti kata Imam Al Auza’i- adalah mencari-cari sesuatu. Ada juga istilah tahassus yang maksudnya adalah menguping untuk mencari-cari kejelekan suatu kaum di mana mereka tidak suka untuk didengar, atau menguping di depan pintu-pintu mereka. Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. Pembuat berita media saat ini berusaha menguping berita padahal orang yang disebar beritanya tak suka itu diketahui khalayak ramai atau mungkin hal itu sudah ia sesali dan pertanggungjawaban. Namun demikianlah kekurang ajaran media, terus aib terus dibuka dan disebar. Padahal terdapat ancaman seperti disebutkan dalam hadits di bawah ini. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan selain mereka), maka pada telinganya akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 7042). Imam Adz Dzahabi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-aanuk adalah tembaga cair. Yang namanya tembaga cair tentu saja dalam keadaan yang begitu panas. Na’udzu billah. Ibnu Batthol mengatakan bahwa ada ulama yang berpendapat, hadits yang ada menunjukkan bahwa yang mendapatkan ancaman hanyalah untuk orang yang “nguping” dan yang membicarakan tersebut tidak suka yang lain mendengarnya. Namun yang tepat jika tidak diketahui mereka suka ataukah tidak, maka baiknya tidak menguping berita tersebut kecuali dengan izin mereka. Karena ada hadits di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa terlarang masuk mendengar orang yang sedang berbisik-bisik (berbicara empat mata). Seperti ini dilarang kecuali dengan izin yang berbicara. Demikian diterangkan oleh Ibnu Batthol dalam Syarh Shahih Al Bukhari. Moga jadi nasehat bagi para pembuat berita media agar perlu hati-hati dalam membuat berita. Ancaman yang ada begitu keras ketika cuma sekedar menguping info yang sebenarnya tidak disukai untuk disebar, walau itu benar. Lebih-lebih lagi jika yang disebar adalah berita dusta. Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun di kantor Pesantren Darush Sholihin, 12 Sya’ban 1435 H di pagi penuh berkah Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir 2 buku terbaru buah karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal “10 Pelebur Dosa” sebanyak 64 halaman (ukuran buku saku) dan buku “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang sebanyak 198 halaman (ukuran A5) terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta. Dapatkan segera dengan harga Rp.6.000,- untuk 10 pelebur dosa dan Rp.30.000,- untuk Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang (belum termasuk ongkir). Segera pesan via SMS +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: paket buku dagang dan pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Tagsbahaya lisan ghibah


Seseorang ada yang punya masa lalu yang suram. Kalau ia memang orang yang bertanggung jawab dan sudah menjalani hukuman, maka keburukan tersebut tak perlulah dikorek. Namun demikianlah masa lalu semacam ini terus dikorek lalu disebarkan. Aib terus dibongkar. Ada larangan melakukan tajassus, وَلَا تَجَسَّسُوا “Dan janganlah mencari-cari keburukan orang.” (QS. Al Hujurat: 12). Yang dimaksud dengan ayat di atas tentang tajassus adalah jangan mencari-cari keburukan kaum muslimin dan aib-aib mereka. Demikian disebutkan dalam Tafsir Al Jalalain. Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, tajassus -seperti kata Imam Al Auza’i- adalah mencari-cari sesuatu. Ada juga istilah tahassus yang maksudnya adalah menguping untuk mencari-cari kejelekan suatu kaum di mana mereka tidak suka untuk didengar, atau menguping di depan pintu-pintu mereka. Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. Pembuat berita media saat ini berusaha menguping berita padahal orang yang disebar beritanya tak suka itu diketahui khalayak ramai atau mungkin hal itu sudah ia sesali dan pertanggungjawaban. Namun demikianlah kekurang ajaran media, terus aib terus dibuka dan disebar. Padahal terdapat ancaman seperti disebutkan dalam hadits di bawah ini. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan selain mereka), maka pada telinganya akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 7042). Imam Adz Dzahabi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-aanuk adalah tembaga cair. Yang namanya tembaga cair tentu saja dalam keadaan yang begitu panas. Na’udzu billah. Ibnu Batthol mengatakan bahwa ada ulama yang berpendapat, hadits yang ada menunjukkan bahwa yang mendapatkan ancaman hanyalah untuk orang yang “nguping” dan yang membicarakan tersebut tidak suka yang lain mendengarnya. Namun yang tepat jika tidak diketahui mereka suka ataukah tidak, maka baiknya tidak menguping berita tersebut kecuali dengan izin mereka. Karena ada hadits di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa terlarang masuk mendengar orang yang sedang berbisik-bisik (berbicara empat mata). Seperti ini dilarang kecuali dengan izin yang berbicara. Demikian diterangkan oleh Ibnu Batthol dalam Syarh Shahih Al Bukhari. Moga jadi nasehat bagi para pembuat berita media agar perlu hati-hati dalam membuat berita. Ancaman yang ada begitu keras ketika cuma sekedar menguping info yang sebenarnya tidak disukai untuk disebar, walau itu benar. Lebih-lebih lagi jika yang disebar adalah berita dusta. Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun di kantor Pesantren Darush Sholihin, 12 Sya’ban 1435 H di pagi penuh berkah Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir 2 buku terbaru buah karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal “10 Pelebur Dosa” sebanyak 64 halaman (ukuran buku saku) dan buku “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang sebanyak 198 halaman (ukuran A5) terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta. Dapatkan segera dengan harga Rp.6.000,- untuk 10 pelebur dosa dan Rp.30.000,- untuk Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang (belum termasuk ongkir). Segera pesan via SMS +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: paket buku dagang dan pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Tagsbahaya lisan ghibah

Shalat Witir, Penutup Shalat Tarawih

Shalat witir adalah penutup shalat malam dan juga menjadi penutup shalat tarawih di bulan Ramadhan. Itu sunnahnya. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا “Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari adalah shalat witir.“[1] Jumlah raka’at shalat witir minimalnya adalah 1 raka’at, maksimalnya adalah 11 raka’at. Jika berwitir dengan tiga raka’at, bisa dilakukan dengan dua raka’at salam, lalu ditambah 1 raka’at salam. Boleh pula shalat tersebut dilakukan dengan tiga raka’at langsung salam. Cara yang kedua dilakukan dengan sekali tasyahud dan bukan dua kali tasyahud. Karena jika dijadikan dua kali tasyahud, maka miriplah dengan shalat maghrib. Padahal shalat sunnah tidak boleh diserupakan dengan shalat wajib.[2] Qunut Witir Al Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarinya beberapa kalimat yang saya ucapkan dalam shalat witir, yaitu اللَّهُمَّ اهْدِنِى فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِى فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِى فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِى شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ Allahummahdinii fiiman hadait, wa’aafinii fiiman ‘afait, watawallanii fiiman tawallait, wabaarik lii fiima a’thoit, waqinii syarro maa qadhoit, fainnaka taqdhi walaa yuqdho ‘alaik, wainnahu laa yadzillu man waalait, tabaarokta robbanaa wata’aalait.[3] (Ya Allah, berilah aku petunjuk di antara orang-orang yang Engkau beri petunjuk, dan berilah aku keselamatan di antara orang-orang yang telah Engkau beri keselamatan, uruslah diriku di antara orang-orang yang telah Engkau urus, berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan kepadaku, lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan, sesungguhnya Engkau Yang memutuskan dan tidak diputuskan kepadaku, sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau jaga dan Engkau tolong. Engkau Maha Suci dan Maha Tinggi).”[4] Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajarkan do’a qunut pada cucunya Hasan, beliau tidak mengatakan padanya: “Bacalah do’a qunut tersebut pada sebagian waktu saja”. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa membaca qunut witir terus menerus adalah sesuatu yang dibolehkan.”[5]   [Tulisan di atas dicuplik dari Buku Panduan Ramadhan cetakan keenam tahun 2014 karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang dibagikan gratis kepada kaum muslimin, diterbitkan oleh Pustaka Muslim Yogyakarta. Bagi yang ingin mendownload buku tersebut silakan buka di sini]   [1] HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751. [2] Lihat Syarhul Mumthi’, 4: 16 dan Syarh ‘Umdatul Ahkam karya Syaikh As Sa’di, hal. 219. [3] Jika imam membaca doa qunut, yang dipakai adalah kata ganti plural, maka menjadi: Allahummahdinaa fiiman hadait, wa’aafinaa fiiman ‘afait, watawallanaa fiiman tawallait, wabaarik lanaa fiima a’thoit, waqinaa syarro maa qadhoit. Fainnaka taqdhi walaa yuqdho ‘alaik, wainnahu laa yadzillu man waalait, tabaarokta robbanaa wata’aalait. [4] HR. Abu Daud no. 1425, An Nasai no. 1745, At Tirmidzi no. 464. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. [5] Fatawa Nur ‘alad Darb, 2: 1062. Ibnu Taimiyah berkata setelah menyebutkan pendapat para ulama tentang qunut witir, “Hakekatnya, qunut witir adalah sejenis do’a yang dibolehkan dalam shalat. Siapa yang mau membacanya, silakan. Dan yang enggan pun dipersilakan. Sebagaimana dalam shalat witir, seseorang boleh memilih tiga, lima, atau tujuh raka’at semau dia. Begitu pula ketika ia melakukan witir tiga raka’at, maka ia boleh melaksanakan 2 raka’at salam lalu 1 raka’at salam, atau ia melakukan tiga raka’at sekaligus. Begitu pula dalam hal qunut witir, ia boleh melakukan atau meninggalkannya sesuka dia. Di bulan Ramadhan, jika ia membaca qunut witir pada keseluruhan bulan Ramadhan, maka itu baik. Jika ia berqunut di separuh akhir bulan Ramadhan, itu pun baik. Jika ia tidak berqunut, juga baik.” (Majmu’ Al Fatawa, 22: 271) — 11 Sya’ban 1435 H di Pesantren Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir 2 buku terbaru buah karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal “10 Pelebur Dosa” sebanyak 64 halaman (ukuran buku saku) dan buku “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang sebanyak 198 halaman (ukuran A5) terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta. Dapatkan segera dengan harga Rp.6.000,- untuk 10 pelebur dosa dan Rp.30.000,- untuk Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang (belum termasuk ongkir). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: paket buku dagang dan pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Tagsqunut witir shalat tarawih shalat witir

Shalat Witir, Penutup Shalat Tarawih

Shalat witir adalah penutup shalat malam dan juga menjadi penutup shalat tarawih di bulan Ramadhan. Itu sunnahnya. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا “Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari adalah shalat witir.“[1] Jumlah raka’at shalat witir minimalnya adalah 1 raka’at, maksimalnya adalah 11 raka’at. Jika berwitir dengan tiga raka’at, bisa dilakukan dengan dua raka’at salam, lalu ditambah 1 raka’at salam. Boleh pula shalat tersebut dilakukan dengan tiga raka’at langsung salam. Cara yang kedua dilakukan dengan sekali tasyahud dan bukan dua kali tasyahud. Karena jika dijadikan dua kali tasyahud, maka miriplah dengan shalat maghrib. Padahal shalat sunnah tidak boleh diserupakan dengan shalat wajib.[2] Qunut Witir Al Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarinya beberapa kalimat yang saya ucapkan dalam shalat witir, yaitu اللَّهُمَّ اهْدِنِى فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِى فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِى فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِى شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ Allahummahdinii fiiman hadait, wa’aafinii fiiman ‘afait, watawallanii fiiman tawallait, wabaarik lii fiima a’thoit, waqinii syarro maa qadhoit, fainnaka taqdhi walaa yuqdho ‘alaik, wainnahu laa yadzillu man waalait, tabaarokta robbanaa wata’aalait.[3] (Ya Allah, berilah aku petunjuk di antara orang-orang yang Engkau beri petunjuk, dan berilah aku keselamatan di antara orang-orang yang telah Engkau beri keselamatan, uruslah diriku di antara orang-orang yang telah Engkau urus, berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan kepadaku, lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan, sesungguhnya Engkau Yang memutuskan dan tidak diputuskan kepadaku, sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau jaga dan Engkau tolong. Engkau Maha Suci dan Maha Tinggi).”[4] Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajarkan do’a qunut pada cucunya Hasan, beliau tidak mengatakan padanya: “Bacalah do’a qunut tersebut pada sebagian waktu saja”. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa membaca qunut witir terus menerus adalah sesuatu yang dibolehkan.”[5]   [Tulisan di atas dicuplik dari Buku Panduan Ramadhan cetakan keenam tahun 2014 karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang dibagikan gratis kepada kaum muslimin, diterbitkan oleh Pustaka Muslim Yogyakarta. Bagi yang ingin mendownload buku tersebut silakan buka di sini]   [1] HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751. [2] Lihat Syarhul Mumthi’, 4: 16 dan Syarh ‘Umdatul Ahkam karya Syaikh As Sa’di, hal. 219. [3] Jika imam membaca doa qunut, yang dipakai adalah kata ganti plural, maka menjadi: Allahummahdinaa fiiman hadait, wa’aafinaa fiiman ‘afait, watawallanaa fiiman tawallait, wabaarik lanaa fiima a’thoit, waqinaa syarro maa qadhoit. Fainnaka taqdhi walaa yuqdho ‘alaik, wainnahu laa yadzillu man waalait, tabaarokta robbanaa wata’aalait. [4] HR. Abu Daud no. 1425, An Nasai no. 1745, At Tirmidzi no. 464. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. [5] Fatawa Nur ‘alad Darb, 2: 1062. Ibnu Taimiyah berkata setelah menyebutkan pendapat para ulama tentang qunut witir, “Hakekatnya, qunut witir adalah sejenis do’a yang dibolehkan dalam shalat. Siapa yang mau membacanya, silakan. Dan yang enggan pun dipersilakan. Sebagaimana dalam shalat witir, seseorang boleh memilih tiga, lima, atau tujuh raka’at semau dia. Begitu pula ketika ia melakukan witir tiga raka’at, maka ia boleh melaksanakan 2 raka’at salam lalu 1 raka’at salam, atau ia melakukan tiga raka’at sekaligus. Begitu pula dalam hal qunut witir, ia boleh melakukan atau meninggalkannya sesuka dia. Di bulan Ramadhan, jika ia membaca qunut witir pada keseluruhan bulan Ramadhan, maka itu baik. Jika ia berqunut di separuh akhir bulan Ramadhan, itu pun baik. Jika ia tidak berqunut, juga baik.” (Majmu’ Al Fatawa, 22: 271) — 11 Sya’ban 1435 H di Pesantren Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir 2 buku terbaru buah karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal “10 Pelebur Dosa” sebanyak 64 halaman (ukuran buku saku) dan buku “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang sebanyak 198 halaman (ukuran A5) terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta. Dapatkan segera dengan harga Rp.6.000,- untuk 10 pelebur dosa dan Rp.30.000,- untuk Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang (belum termasuk ongkir). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: paket buku dagang dan pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Tagsqunut witir shalat tarawih shalat witir
Shalat witir adalah penutup shalat malam dan juga menjadi penutup shalat tarawih di bulan Ramadhan. Itu sunnahnya. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا “Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari adalah shalat witir.“[1] Jumlah raka’at shalat witir minimalnya adalah 1 raka’at, maksimalnya adalah 11 raka’at. Jika berwitir dengan tiga raka’at, bisa dilakukan dengan dua raka’at salam, lalu ditambah 1 raka’at salam. Boleh pula shalat tersebut dilakukan dengan tiga raka’at langsung salam. Cara yang kedua dilakukan dengan sekali tasyahud dan bukan dua kali tasyahud. Karena jika dijadikan dua kali tasyahud, maka miriplah dengan shalat maghrib. Padahal shalat sunnah tidak boleh diserupakan dengan shalat wajib.[2] Qunut Witir Al Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarinya beberapa kalimat yang saya ucapkan dalam shalat witir, yaitu اللَّهُمَّ اهْدِنِى فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِى فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِى فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِى شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ Allahummahdinii fiiman hadait, wa’aafinii fiiman ‘afait, watawallanii fiiman tawallait, wabaarik lii fiima a’thoit, waqinii syarro maa qadhoit, fainnaka taqdhi walaa yuqdho ‘alaik, wainnahu laa yadzillu man waalait, tabaarokta robbanaa wata’aalait.[3] (Ya Allah, berilah aku petunjuk di antara orang-orang yang Engkau beri petunjuk, dan berilah aku keselamatan di antara orang-orang yang telah Engkau beri keselamatan, uruslah diriku di antara orang-orang yang telah Engkau urus, berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan kepadaku, lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan, sesungguhnya Engkau Yang memutuskan dan tidak diputuskan kepadaku, sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau jaga dan Engkau tolong. Engkau Maha Suci dan Maha Tinggi).”[4] Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajarkan do’a qunut pada cucunya Hasan, beliau tidak mengatakan padanya: “Bacalah do’a qunut tersebut pada sebagian waktu saja”. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa membaca qunut witir terus menerus adalah sesuatu yang dibolehkan.”[5]   [Tulisan di atas dicuplik dari Buku Panduan Ramadhan cetakan keenam tahun 2014 karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang dibagikan gratis kepada kaum muslimin, diterbitkan oleh Pustaka Muslim Yogyakarta. Bagi yang ingin mendownload buku tersebut silakan buka di sini]   [1] HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751. [2] Lihat Syarhul Mumthi’, 4: 16 dan Syarh ‘Umdatul Ahkam karya Syaikh As Sa’di, hal. 219. [3] Jika imam membaca doa qunut, yang dipakai adalah kata ganti plural, maka menjadi: Allahummahdinaa fiiman hadait, wa’aafinaa fiiman ‘afait, watawallanaa fiiman tawallait, wabaarik lanaa fiima a’thoit, waqinaa syarro maa qadhoit. Fainnaka taqdhi walaa yuqdho ‘alaik, wainnahu laa yadzillu man waalait, tabaarokta robbanaa wata’aalait. [4] HR. Abu Daud no. 1425, An Nasai no. 1745, At Tirmidzi no. 464. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. [5] Fatawa Nur ‘alad Darb, 2: 1062. Ibnu Taimiyah berkata setelah menyebutkan pendapat para ulama tentang qunut witir, “Hakekatnya, qunut witir adalah sejenis do’a yang dibolehkan dalam shalat. Siapa yang mau membacanya, silakan. Dan yang enggan pun dipersilakan. Sebagaimana dalam shalat witir, seseorang boleh memilih tiga, lima, atau tujuh raka’at semau dia. Begitu pula ketika ia melakukan witir tiga raka’at, maka ia boleh melaksanakan 2 raka’at salam lalu 1 raka’at salam, atau ia melakukan tiga raka’at sekaligus. Begitu pula dalam hal qunut witir, ia boleh melakukan atau meninggalkannya sesuka dia. Di bulan Ramadhan, jika ia membaca qunut witir pada keseluruhan bulan Ramadhan, maka itu baik. Jika ia berqunut di separuh akhir bulan Ramadhan, itu pun baik. Jika ia tidak berqunut, juga baik.” (Majmu’ Al Fatawa, 22: 271) — 11 Sya’ban 1435 H di Pesantren Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir 2 buku terbaru buah karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal “10 Pelebur Dosa” sebanyak 64 halaman (ukuran buku saku) dan buku “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang sebanyak 198 halaman (ukuran A5) terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta. Dapatkan segera dengan harga Rp.6.000,- untuk 10 pelebur dosa dan Rp.30.000,- untuk Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang (belum termasuk ongkir). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: paket buku dagang dan pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Tagsqunut witir shalat tarawih shalat witir


Shalat witir adalah penutup shalat malam dan juga menjadi penutup shalat tarawih di bulan Ramadhan. Itu sunnahnya. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا “Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari adalah shalat witir.“[1] Jumlah raka’at shalat witir minimalnya adalah 1 raka’at, maksimalnya adalah 11 raka’at. Jika berwitir dengan tiga raka’at, bisa dilakukan dengan dua raka’at salam, lalu ditambah 1 raka’at salam. Boleh pula shalat tersebut dilakukan dengan tiga raka’at langsung salam. Cara yang kedua dilakukan dengan sekali tasyahud dan bukan dua kali tasyahud. Karena jika dijadikan dua kali tasyahud, maka miriplah dengan shalat maghrib. Padahal shalat sunnah tidak boleh diserupakan dengan shalat wajib.[2] Qunut Witir Al Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarinya beberapa kalimat yang saya ucapkan dalam shalat witir, yaitu اللَّهُمَّ اهْدِنِى فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِى فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِى فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِى شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ Allahummahdinii fiiman hadait, wa’aafinii fiiman ‘afait, watawallanii fiiman tawallait, wabaarik lii fiima a’thoit, waqinii syarro maa qadhoit, fainnaka taqdhi walaa yuqdho ‘alaik, wainnahu laa yadzillu man waalait, tabaarokta robbanaa wata’aalait.[3] (Ya Allah, berilah aku petunjuk di antara orang-orang yang Engkau beri petunjuk, dan berilah aku keselamatan di antara orang-orang yang telah Engkau beri keselamatan, uruslah diriku di antara orang-orang yang telah Engkau urus, berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan kepadaku, lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan, sesungguhnya Engkau Yang memutuskan dan tidak diputuskan kepadaku, sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau jaga dan Engkau tolong. Engkau Maha Suci dan Maha Tinggi).”[4] Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajarkan do’a qunut pada cucunya Hasan, beliau tidak mengatakan padanya: “Bacalah do’a qunut tersebut pada sebagian waktu saja”. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa membaca qunut witir terus menerus adalah sesuatu yang dibolehkan.”[5]   [Tulisan di atas dicuplik dari Buku Panduan Ramadhan cetakan keenam tahun 2014 karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang dibagikan gratis kepada kaum muslimin, diterbitkan oleh Pustaka Muslim Yogyakarta. Bagi yang ingin mendownload buku tersebut silakan buka di sini]   [1] HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751. [2] Lihat Syarhul Mumthi’, 4: 16 dan Syarh ‘Umdatul Ahkam karya Syaikh As Sa’di, hal. 219. [3] Jika imam membaca doa qunut, yang dipakai adalah kata ganti plural, maka menjadi: Allahummahdinaa fiiman hadait, wa’aafinaa fiiman ‘afait, watawallanaa fiiman tawallait, wabaarik lanaa fiima a’thoit, waqinaa syarro maa qadhoit. Fainnaka taqdhi walaa yuqdho ‘alaik, wainnahu laa yadzillu man waalait, tabaarokta robbanaa wata’aalait. [4] HR. Abu Daud no. 1425, An Nasai no. 1745, At Tirmidzi no. 464. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. [5] Fatawa Nur ‘alad Darb, 2: 1062. Ibnu Taimiyah berkata setelah menyebutkan pendapat para ulama tentang qunut witir, “Hakekatnya, qunut witir adalah sejenis do’a yang dibolehkan dalam shalat. Siapa yang mau membacanya, silakan. Dan yang enggan pun dipersilakan. Sebagaimana dalam shalat witir, seseorang boleh memilih tiga, lima, atau tujuh raka’at semau dia. Begitu pula ketika ia melakukan witir tiga raka’at, maka ia boleh melaksanakan 2 raka’at salam lalu 1 raka’at salam, atau ia melakukan tiga raka’at sekaligus. Begitu pula dalam hal qunut witir, ia boleh melakukan atau meninggalkannya sesuka dia. Di bulan Ramadhan, jika ia membaca qunut witir pada keseluruhan bulan Ramadhan, maka itu baik. Jika ia berqunut di separuh akhir bulan Ramadhan, itu pun baik. Jika ia tidak berqunut, juga baik.” (Majmu’ Al Fatawa, 22: 271) — 11 Sya’ban 1435 H di Pesantren Darush Sholihin Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom — Telah hadir 2 buku terbaru buah karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal “10 Pelebur Dosa” sebanyak 64 halaman (ukuran buku saku) dan buku “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang sebanyak 198 halaman (ukuran A5) terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta. Dapatkan segera dengan harga Rp.6.000,- untuk 10 pelebur dosa dan Rp.30.000,- untuk Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang (belum termasuk ongkir). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: paket buku dagang dan pelebur dosa#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah paket. Tagsqunut witir shalat tarawih shalat witir
Prev     Next