Ujian Dunia Vs Ujian Agama

Ujian Dunia Vs Ujian Agama Nabi Yusuf ‘alaihis shalatu salam diberi tawaran untuk memilih antara ujian agama (bersama para wanita mesir) dan ujian dunia (penjara). Dan beliau memilih ujian dunia. قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. (QS. Yusuf: 33) Jaga agamamu, meski harus mengorbankan duniamu

Ujian Dunia Vs Ujian Agama

Ujian Dunia Vs Ujian Agama Nabi Yusuf ‘alaihis shalatu salam diberi tawaran untuk memilih antara ujian agama (bersama para wanita mesir) dan ujian dunia (penjara). Dan beliau memilih ujian dunia. قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. (QS. Yusuf: 33) Jaga agamamu, meski harus mengorbankan duniamu
Ujian Dunia Vs Ujian Agama Nabi Yusuf ‘alaihis shalatu salam diberi tawaran untuk memilih antara ujian agama (bersama para wanita mesir) dan ujian dunia (penjara). Dan beliau memilih ujian dunia. قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. (QS. Yusuf: 33) Jaga agamamu, meski harus mengorbankan duniamu


Ujian Dunia Vs Ujian Agama Nabi Yusuf ‘alaihis shalatu salam diberi tawaran untuk memilih antara ujian agama (bersama para wanita mesir) dan ujian dunia (penjara). Dan beliau memilih ujian dunia. قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. (QS. Yusuf: 33) Jaga agamamu, meski harus mengorbankan duniamu

Doa Malaikat Pemikul Arsy

Doa Malaikat Pemikul Arsy Mereka malaikat yang sangat dekat dengan Allah. Malaikat yang selalu memuji Allah. Kita bisa bayangkan, tentu doa dan permohonannya sangat berpeluang dikabulkan Allah. Sebagai orang yang beriman, tentu kita sangat berharap mendapatkan kebaikan dari doa malaikat ini. Di surat Ghafir, Allah menceritakan bahwa malaikat ini mendoakan beberapa hamba Allah, الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ. رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ . وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan Malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan Kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala,  Ya Tuhan Kami, dan masukkanlah mereka ke dalam syurga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,  dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu Maka Sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan Itulah kemenangan yang besar”. (QS. Ghafir: 7 – 9) Kita bisa perhatikan, ada beberapa doa yang dipanjatkan para malaikat itu, Memintakan ampunan bagi orang yang beriman, rajin bertaubat, dan mengikuti jalan Allah. Mereka berdoa, ”Tuhan Kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau..” Memohon penjagaan agar manusia dengan kriteria di atas, tidak mendapat siksa neraka. Mereka berdoa, ”peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala.” Memohon agar manusia dengan kriteria di atas, dimasukkan ke dalam surga yang kekal. Memohon agar manusia dengan kriteria di atas, dikumpulkan bersama orang tuanya, istrinya, dan keturunannya di dalam surga. Memohon agar manusia dengan kriteria di atas dilindungi dari balasan atas keburukan yang pernah dilakukan.. MasyaaAllah, doa yang luar biasa. Kita bisa bayangkan, orang yang mendapat doa ini tentu sangat bahagia. Tapi tunggu dulu.., doa ini bersyarat: Hanya untuk orang yang beriman (mukmin) Hanya mukmin yang bertaubat Mukmin yang selalu kembali ke jalan kebenaran, bukan pencari pembenaran untuk kesesatannya. Semoga kita termasuk salah satunya..

Doa Malaikat Pemikul Arsy

Doa Malaikat Pemikul Arsy Mereka malaikat yang sangat dekat dengan Allah. Malaikat yang selalu memuji Allah. Kita bisa bayangkan, tentu doa dan permohonannya sangat berpeluang dikabulkan Allah. Sebagai orang yang beriman, tentu kita sangat berharap mendapatkan kebaikan dari doa malaikat ini. Di surat Ghafir, Allah menceritakan bahwa malaikat ini mendoakan beberapa hamba Allah, الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ. رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ . وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan Malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan Kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala,  Ya Tuhan Kami, dan masukkanlah mereka ke dalam syurga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,  dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu Maka Sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan Itulah kemenangan yang besar”. (QS. Ghafir: 7 – 9) Kita bisa perhatikan, ada beberapa doa yang dipanjatkan para malaikat itu, Memintakan ampunan bagi orang yang beriman, rajin bertaubat, dan mengikuti jalan Allah. Mereka berdoa, ”Tuhan Kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau..” Memohon penjagaan agar manusia dengan kriteria di atas, tidak mendapat siksa neraka. Mereka berdoa, ”peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala.” Memohon agar manusia dengan kriteria di atas, dimasukkan ke dalam surga yang kekal. Memohon agar manusia dengan kriteria di atas, dikumpulkan bersama orang tuanya, istrinya, dan keturunannya di dalam surga. Memohon agar manusia dengan kriteria di atas dilindungi dari balasan atas keburukan yang pernah dilakukan.. MasyaaAllah, doa yang luar biasa. Kita bisa bayangkan, orang yang mendapat doa ini tentu sangat bahagia. Tapi tunggu dulu.., doa ini bersyarat: Hanya untuk orang yang beriman (mukmin) Hanya mukmin yang bertaubat Mukmin yang selalu kembali ke jalan kebenaran, bukan pencari pembenaran untuk kesesatannya. Semoga kita termasuk salah satunya..
Doa Malaikat Pemikul Arsy Mereka malaikat yang sangat dekat dengan Allah. Malaikat yang selalu memuji Allah. Kita bisa bayangkan, tentu doa dan permohonannya sangat berpeluang dikabulkan Allah. Sebagai orang yang beriman, tentu kita sangat berharap mendapatkan kebaikan dari doa malaikat ini. Di surat Ghafir, Allah menceritakan bahwa malaikat ini mendoakan beberapa hamba Allah, الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ. رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ . وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan Malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan Kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala,  Ya Tuhan Kami, dan masukkanlah mereka ke dalam syurga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,  dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu Maka Sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan Itulah kemenangan yang besar”. (QS. Ghafir: 7 – 9) Kita bisa perhatikan, ada beberapa doa yang dipanjatkan para malaikat itu, Memintakan ampunan bagi orang yang beriman, rajin bertaubat, dan mengikuti jalan Allah. Mereka berdoa, ”Tuhan Kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau..” Memohon penjagaan agar manusia dengan kriteria di atas, tidak mendapat siksa neraka. Mereka berdoa, ”peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala.” Memohon agar manusia dengan kriteria di atas, dimasukkan ke dalam surga yang kekal. Memohon agar manusia dengan kriteria di atas, dikumpulkan bersama orang tuanya, istrinya, dan keturunannya di dalam surga. Memohon agar manusia dengan kriteria di atas dilindungi dari balasan atas keburukan yang pernah dilakukan.. MasyaaAllah, doa yang luar biasa. Kita bisa bayangkan, orang yang mendapat doa ini tentu sangat bahagia. Tapi tunggu dulu.., doa ini bersyarat: Hanya untuk orang yang beriman (mukmin) Hanya mukmin yang bertaubat Mukmin yang selalu kembali ke jalan kebenaran, bukan pencari pembenaran untuk kesesatannya. Semoga kita termasuk salah satunya..


Doa Malaikat Pemikul Arsy Mereka malaikat yang sangat dekat dengan Allah. Malaikat yang selalu memuji Allah. Kita bisa bayangkan, tentu doa dan permohonannya sangat berpeluang dikabulkan Allah. Sebagai orang yang beriman, tentu kita sangat berharap mendapatkan kebaikan dari doa malaikat ini. Di surat Ghafir, Allah menceritakan bahwa malaikat ini mendoakan beberapa hamba Allah, الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ. رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ . وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan Malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan Kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala,  Ya Tuhan Kami, dan masukkanlah mereka ke dalam syurga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,  dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu Maka Sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan Itulah kemenangan yang besar”. (QS. Ghafir: 7 – 9) Kita bisa perhatikan, ada beberapa doa yang dipanjatkan para malaikat itu, Memintakan ampunan bagi orang yang beriman, rajin bertaubat, dan mengikuti jalan Allah. Mereka berdoa, ”Tuhan Kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau..” Memohon penjagaan agar manusia dengan kriteria di atas, tidak mendapat siksa neraka. Mereka berdoa, ”peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala.” Memohon agar manusia dengan kriteria di atas, dimasukkan ke dalam surga yang kekal. Memohon agar manusia dengan kriteria di atas, dikumpulkan bersama orang tuanya, istrinya, dan keturunannya di dalam surga. Memohon agar manusia dengan kriteria di atas dilindungi dari balasan atas keburukan yang pernah dilakukan.. MasyaaAllah, doa yang luar biasa. Kita bisa bayangkan, orang yang mendapat doa ini tentu sangat bahagia. Tapi tunggu dulu.., doa ini bersyarat: Hanya untuk orang yang beriman (mukmin) Hanya mukmin yang bertaubat Mukmin yang selalu kembali ke jalan kebenaran, bukan pencari pembenaran untuk kesesatannya. Semoga kita termasuk salah satunya..

Tafsir Ayat Puasa (7): Takbir di Hari Raya

Di akhir Ramadhan, setelah kita menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, kita diperintahkan menutupkan dengan banyak takbir di hari raya. Allah Ta’ala berfirman, وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185). Menyempurnakan Bulan Ramadhan Maksud ayat di atas kata Syaikh As Sa’di, barangkali ada yang punya anggapan bahwa puasa di bulan Ramadhan cukup hanya di sebagian bulan saja. Namun dalam ayat di atas diperintahkan untuk menyempurnakan hitungan bulan Ramadhan. Artinya hendaknya bulan Ramadhan dilakukan sebulan penuh. Lihat Taisir Al Karimir Rahman, hal. 87. Perintah untuk Bersyukur Hendaklah bersyukur pada Allah ketika telah sempurna menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Itu semua adalah taufik dan kemudahan dari Allah pada hamba-Nya. (Lihat idem) Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Jika engkau telah menjalankan perintah dengan melakukan ketaatan, menunaikan yang wajib, meninggalkan yang haram, menjaga batasan Allah, moga dengan menjalankan seperti itu dapat termasuk orang yang bersyukur.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 62). Takbir di Hari Raya Ayat di atas memerintahkan untuk banyak bertakbir pada hari ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha), di dalamnya perintah untuk menjalankan shalat. Di dalam shalat ‘ied terdapat takbir yang rutin dilakukan, juga ada takbir tambahan.  (Majmu’atul Fatawa, 24: 183). Zaid bin Aslam berpendapat bahwa takbir yang dimaksud adalah takbir shalat ‘ied. Para ulama pun sepakat bahwa shalat ‘ied memiliki takbir tambahan. Perintah bertakbir tersebut berarti telah masuk dalam shalat ‘ied. Lihat Majmu’atul Fatawa, 24: 223-225. Waktu Takbir Idul Fithri Yang dimaksud dengan takbir di sini adalah bacaan “Allahu Akbar”. Mayoritas ulama mengatakan bahwa ayat ini adalah dorongan untuk bertakbir di akhir Ramadhan. Sedangkan kapan waktu takbir tersebut,  para ulama berbeda pendapat. Pendapat pertama, takbir tersebut adalah ketika malam idul fithri. Pendapat kedua, takbir tersebut adalah ketika melihat hilal Syawal hingga berakhirnya khutbah Idul Fithri. Pendapat ketiga, takbir tersebut dimulai ketika imam keluar untuk melaksanakan shalat ied. Pendapat keempat, takbir pada hari Idul Fithri. Pendapat kelima yang merupakan pendapat Imam Malik dan Imam Asy Syafi’i, takbir ketika keluar dari rumah menuju tanah lapang hingga imam keluar untuk shalat ‘ied. Pendapat keenam yang merupakan pendapat Imam Abu Hanifah, takbir tersebut adalah ketika Idul Adha dan ketika Idul Fithri tidak perlu bertakbir. (Lihat Fathul Qodir karya Asy Syaukani, 1: 334-335) Takbir yang diucapkan sebagaimana dikeluarkan oleh Sa’id bin Manshur dan Ibnu Abi Syaibah, bahwasanya Ibnu Mas’ud bertakbir, اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd. (artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, segala puji bagi-Nya). Dikeluarkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah dan Al Baihaqi dalam kitab sunannya, dari Ibnu ‘Abbas, ia bertakbir, اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ وَأَجَلُّ اللهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا Allahu akbar kabiiro, Allahu akbar kabiiro, Allahu akbar walillahil hamd wa ajall, Allahu akbar ‘ala maa hadaanaa. (artinya: Allah sungguh Maha besar, Allah sungguh Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji dan kemuliaan bagi Allah. Allahu Maha Besar atas segala petunjuk yang diberikan kepada kami). (Lihat Fathul Qodir, 1: 336). Kata Ibnu Taimiyah bahwa lafazh takbir seperti yang dicontohkan oleh Ibnu Mas’ud itulah yang dipraktekkan oleh banyak sahabat. Kalau seseorang bertakbir “Allahu Akbar” sebanyak tiga kali, itu pun dibolehkan. Lihat Majmu’atul Fatawa, 24: 220. Semoga manfaat.   Referensi: Fathul Qodir, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, terbitan Darul Wafa’ dan Dar Ibnu Hazm, cetakan ketiga, tahun 1426 H. Majmu’atul Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, terbitan Darul Wafa’ dan Dar Ibnu Hazm, cetakan keempat, tahun 1432 H Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, tahqiq: Abu Ishaq Al Huwainiy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H. — Disusun menjelang ‘Ashar, 22 Ramadhan 1435 H di Pesantren DS Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsidul adha idul fithri tafsir ayat puasa takbiran

Tafsir Ayat Puasa (7): Takbir di Hari Raya

Di akhir Ramadhan, setelah kita menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, kita diperintahkan menutupkan dengan banyak takbir di hari raya. Allah Ta’ala berfirman, وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185). Menyempurnakan Bulan Ramadhan Maksud ayat di atas kata Syaikh As Sa’di, barangkali ada yang punya anggapan bahwa puasa di bulan Ramadhan cukup hanya di sebagian bulan saja. Namun dalam ayat di atas diperintahkan untuk menyempurnakan hitungan bulan Ramadhan. Artinya hendaknya bulan Ramadhan dilakukan sebulan penuh. Lihat Taisir Al Karimir Rahman, hal. 87. Perintah untuk Bersyukur Hendaklah bersyukur pada Allah ketika telah sempurna menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Itu semua adalah taufik dan kemudahan dari Allah pada hamba-Nya. (Lihat idem) Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Jika engkau telah menjalankan perintah dengan melakukan ketaatan, menunaikan yang wajib, meninggalkan yang haram, menjaga batasan Allah, moga dengan menjalankan seperti itu dapat termasuk orang yang bersyukur.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 62). Takbir di Hari Raya Ayat di atas memerintahkan untuk banyak bertakbir pada hari ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha), di dalamnya perintah untuk menjalankan shalat. Di dalam shalat ‘ied terdapat takbir yang rutin dilakukan, juga ada takbir tambahan.  (Majmu’atul Fatawa, 24: 183). Zaid bin Aslam berpendapat bahwa takbir yang dimaksud adalah takbir shalat ‘ied. Para ulama pun sepakat bahwa shalat ‘ied memiliki takbir tambahan. Perintah bertakbir tersebut berarti telah masuk dalam shalat ‘ied. Lihat Majmu’atul Fatawa, 24: 223-225. Waktu Takbir Idul Fithri Yang dimaksud dengan takbir di sini adalah bacaan “Allahu Akbar”. Mayoritas ulama mengatakan bahwa ayat ini adalah dorongan untuk bertakbir di akhir Ramadhan. Sedangkan kapan waktu takbir tersebut,  para ulama berbeda pendapat. Pendapat pertama, takbir tersebut adalah ketika malam idul fithri. Pendapat kedua, takbir tersebut adalah ketika melihat hilal Syawal hingga berakhirnya khutbah Idul Fithri. Pendapat ketiga, takbir tersebut dimulai ketika imam keluar untuk melaksanakan shalat ied. Pendapat keempat, takbir pada hari Idul Fithri. Pendapat kelima yang merupakan pendapat Imam Malik dan Imam Asy Syafi’i, takbir ketika keluar dari rumah menuju tanah lapang hingga imam keluar untuk shalat ‘ied. Pendapat keenam yang merupakan pendapat Imam Abu Hanifah, takbir tersebut adalah ketika Idul Adha dan ketika Idul Fithri tidak perlu bertakbir. (Lihat Fathul Qodir karya Asy Syaukani, 1: 334-335) Takbir yang diucapkan sebagaimana dikeluarkan oleh Sa’id bin Manshur dan Ibnu Abi Syaibah, bahwasanya Ibnu Mas’ud bertakbir, اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd. (artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, segala puji bagi-Nya). Dikeluarkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah dan Al Baihaqi dalam kitab sunannya, dari Ibnu ‘Abbas, ia bertakbir, اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ وَأَجَلُّ اللهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا Allahu akbar kabiiro, Allahu akbar kabiiro, Allahu akbar walillahil hamd wa ajall, Allahu akbar ‘ala maa hadaanaa. (artinya: Allah sungguh Maha besar, Allah sungguh Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji dan kemuliaan bagi Allah. Allahu Maha Besar atas segala petunjuk yang diberikan kepada kami). (Lihat Fathul Qodir, 1: 336). Kata Ibnu Taimiyah bahwa lafazh takbir seperti yang dicontohkan oleh Ibnu Mas’ud itulah yang dipraktekkan oleh banyak sahabat. Kalau seseorang bertakbir “Allahu Akbar” sebanyak tiga kali, itu pun dibolehkan. Lihat Majmu’atul Fatawa, 24: 220. Semoga manfaat.   Referensi: Fathul Qodir, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, terbitan Darul Wafa’ dan Dar Ibnu Hazm, cetakan ketiga, tahun 1426 H. Majmu’atul Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, terbitan Darul Wafa’ dan Dar Ibnu Hazm, cetakan keempat, tahun 1432 H Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, tahqiq: Abu Ishaq Al Huwainiy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H. — Disusun menjelang ‘Ashar, 22 Ramadhan 1435 H di Pesantren DS Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsidul adha idul fithri tafsir ayat puasa takbiran
Di akhir Ramadhan, setelah kita menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, kita diperintahkan menutupkan dengan banyak takbir di hari raya. Allah Ta’ala berfirman, وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185). Menyempurnakan Bulan Ramadhan Maksud ayat di atas kata Syaikh As Sa’di, barangkali ada yang punya anggapan bahwa puasa di bulan Ramadhan cukup hanya di sebagian bulan saja. Namun dalam ayat di atas diperintahkan untuk menyempurnakan hitungan bulan Ramadhan. Artinya hendaknya bulan Ramadhan dilakukan sebulan penuh. Lihat Taisir Al Karimir Rahman, hal. 87. Perintah untuk Bersyukur Hendaklah bersyukur pada Allah ketika telah sempurna menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Itu semua adalah taufik dan kemudahan dari Allah pada hamba-Nya. (Lihat idem) Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Jika engkau telah menjalankan perintah dengan melakukan ketaatan, menunaikan yang wajib, meninggalkan yang haram, menjaga batasan Allah, moga dengan menjalankan seperti itu dapat termasuk orang yang bersyukur.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 62). Takbir di Hari Raya Ayat di atas memerintahkan untuk banyak bertakbir pada hari ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha), di dalamnya perintah untuk menjalankan shalat. Di dalam shalat ‘ied terdapat takbir yang rutin dilakukan, juga ada takbir tambahan.  (Majmu’atul Fatawa, 24: 183). Zaid bin Aslam berpendapat bahwa takbir yang dimaksud adalah takbir shalat ‘ied. Para ulama pun sepakat bahwa shalat ‘ied memiliki takbir tambahan. Perintah bertakbir tersebut berarti telah masuk dalam shalat ‘ied. Lihat Majmu’atul Fatawa, 24: 223-225. Waktu Takbir Idul Fithri Yang dimaksud dengan takbir di sini adalah bacaan “Allahu Akbar”. Mayoritas ulama mengatakan bahwa ayat ini adalah dorongan untuk bertakbir di akhir Ramadhan. Sedangkan kapan waktu takbir tersebut,  para ulama berbeda pendapat. Pendapat pertama, takbir tersebut adalah ketika malam idul fithri. Pendapat kedua, takbir tersebut adalah ketika melihat hilal Syawal hingga berakhirnya khutbah Idul Fithri. Pendapat ketiga, takbir tersebut dimulai ketika imam keluar untuk melaksanakan shalat ied. Pendapat keempat, takbir pada hari Idul Fithri. Pendapat kelima yang merupakan pendapat Imam Malik dan Imam Asy Syafi’i, takbir ketika keluar dari rumah menuju tanah lapang hingga imam keluar untuk shalat ‘ied. Pendapat keenam yang merupakan pendapat Imam Abu Hanifah, takbir tersebut adalah ketika Idul Adha dan ketika Idul Fithri tidak perlu bertakbir. (Lihat Fathul Qodir karya Asy Syaukani, 1: 334-335) Takbir yang diucapkan sebagaimana dikeluarkan oleh Sa’id bin Manshur dan Ibnu Abi Syaibah, bahwasanya Ibnu Mas’ud bertakbir, اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd. (artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, segala puji bagi-Nya). Dikeluarkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah dan Al Baihaqi dalam kitab sunannya, dari Ibnu ‘Abbas, ia bertakbir, اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ وَأَجَلُّ اللهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا Allahu akbar kabiiro, Allahu akbar kabiiro, Allahu akbar walillahil hamd wa ajall, Allahu akbar ‘ala maa hadaanaa. (artinya: Allah sungguh Maha besar, Allah sungguh Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji dan kemuliaan bagi Allah. Allahu Maha Besar atas segala petunjuk yang diberikan kepada kami). (Lihat Fathul Qodir, 1: 336). Kata Ibnu Taimiyah bahwa lafazh takbir seperti yang dicontohkan oleh Ibnu Mas’ud itulah yang dipraktekkan oleh banyak sahabat. Kalau seseorang bertakbir “Allahu Akbar” sebanyak tiga kali, itu pun dibolehkan. Lihat Majmu’atul Fatawa, 24: 220. Semoga manfaat.   Referensi: Fathul Qodir, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, terbitan Darul Wafa’ dan Dar Ibnu Hazm, cetakan ketiga, tahun 1426 H. Majmu’atul Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, terbitan Darul Wafa’ dan Dar Ibnu Hazm, cetakan keempat, tahun 1432 H Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, tahqiq: Abu Ishaq Al Huwainiy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H. — Disusun menjelang ‘Ashar, 22 Ramadhan 1435 H di Pesantren DS Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsidul adha idul fithri tafsir ayat puasa takbiran


Di akhir Ramadhan, setelah kita menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, kita diperintahkan menutupkan dengan banyak takbir di hari raya. Allah Ta’ala berfirman, وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185). Menyempurnakan Bulan Ramadhan Maksud ayat di atas kata Syaikh As Sa’di, barangkali ada yang punya anggapan bahwa puasa di bulan Ramadhan cukup hanya di sebagian bulan saja. Namun dalam ayat di atas diperintahkan untuk menyempurnakan hitungan bulan Ramadhan. Artinya hendaknya bulan Ramadhan dilakukan sebulan penuh. Lihat Taisir Al Karimir Rahman, hal. 87. Perintah untuk Bersyukur Hendaklah bersyukur pada Allah ketika telah sempurna menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Itu semua adalah taufik dan kemudahan dari Allah pada hamba-Nya. (Lihat idem) Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Jika engkau telah menjalankan perintah dengan melakukan ketaatan, menunaikan yang wajib, meninggalkan yang haram, menjaga batasan Allah, moga dengan menjalankan seperti itu dapat termasuk orang yang bersyukur.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 62). Takbir di Hari Raya Ayat di atas memerintahkan untuk banyak bertakbir pada hari ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha), di dalamnya perintah untuk menjalankan shalat. Di dalam shalat ‘ied terdapat takbir yang rutin dilakukan, juga ada takbir tambahan.  (Majmu’atul Fatawa, 24: 183). Zaid bin Aslam berpendapat bahwa takbir yang dimaksud adalah takbir shalat ‘ied. Para ulama pun sepakat bahwa shalat ‘ied memiliki takbir tambahan. Perintah bertakbir tersebut berarti telah masuk dalam shalat ‘ied. Lihat Majmu’atul Fatawa, 24: 223-225. Waktu Takbir Idul Fithri Yang dimaksud dengan takbir di sini adalah bacaan “Allahu Akbar”. Mayoritas ulama mengatakan bahwa ayat ini adalah dorongan untuk bertakbir di akhir Ramadhan. Sedangkan kapan waktu takbir tersebut,  para ulama berbeda pendapat. Pendapat pertama, takbir tersebut adalah ketika malam idul fithri. Pendapat kedua, takbir tersebut adalah ketika melihat hilal Syawal hingga berakhirnya khutbah Idul Fithri. Pendapat ketiga, takbir tersebut dimulai ketika imam keluar untuk melaksanakan shalat ied. Pendapat keempat, takbir pada hari Idul Fithri. Pendapat kelima yang merupakan pendapat Imam Malik dan Imam Asy Syafi’i, takbir ketika keluar dari rumah menuju tanah lapang hingga imam keluar untuk shalat ‘ied. Pendapat keenam yang merupakan pendapat Imam Abu Hanifah, takbir tersebut adalah ketika Idul Adha dan ketika Idul Fithri tidak perlu bertakbir. (Lihat Fathul Qodir karya Asy Syaukani, 1: 334-335) Takbir yang diucapkan sebagaimana dikeluarkan oleh Sa’id bin Manshur dan Ibnu Abi Syaibah, bahwasanya Ibnu Mas’ud bertakbir, اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd. (artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, segala puji bagi-Nya). Dikeluarkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah dan Al Baihaqi dalam kitab sunannya, dari Ibnu ‘Abbas, ia bertakbir, اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ وَأَجَلُّ اللهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا Allahu akbar kabiiro, Allahu akbar kabiiro, Allahu akbar walillahil hamd wa ajall, Allahu akbar ‘ala maa hadaanaa. (artinya: Allah sungguh Maha besar, Allah sungguh Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji dan kemuliaan bagi Allah. Allahu Maha Besar atas segala petunjuk yang diberikan kepada kami). (Lihat Fathul Qodir, 1: 336). Kata Ibnu Taimiyah bahwa lafazh takbir seperti yang dicontohkan oleh Ibnu Mas’ud itulah yang dipraktekkan oleh banyak sahabat. Kalau seseorang bertakbir “Allahu Akbar” sebanyak tiga kali, itu pun dibolehkan. Lihat Majmu’atul Fatawa, 24: 220. Semoga manfaat.   Referensi: Fathul Qodir, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, terbitan Darul Wafa’ dan Dar Ibnu Hazm, cetakan ketiga, tahun 1426 H. Majmu’atul Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, terbitan Darul Wafa’ dan Dar Ibnu Hazm, cetakan keempat, tahun 1432 H Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, tahqiq: Abu Ishaq Al Huwainiy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H. — Disusun menjelang ‘Ashar, 22 Ramadhan 1435 H di Pesantren DS Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagsidul adha idul fithri tafsir ayat puasa takbiran

Tanpa Melakukan Itikaf, Apa Bisa Mendapatkan Malam Lailatul Qadar?

Ada yang berkecil hati karena tidak bisa melakukan i’tikaf di masjid, lantas ia menilai bahwa ia tidak bisa mendapatkan keutamaan lailatul qadar. Apakah benar sangsi demikian? Perlu dipahami, para ulama salaf berpendapat bahwa keutamaan lailatul qadar itu akan diperoleh oleh setiap muslim yang diterimanya amalnya di malam tersebut. Ibnu Rajab dalam kitabnya Lathoif Al Ma’arif (hal. 341) membawakan hadits dalam musnad Imam Ahma, sunan An Nasai, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ “Di dalam bulan Ramadhan itu terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tidak mendapati malam tersebut, maka ia akan diharamkan mendapatkan kebaikan.” (HR. An Nasai no. 2106, shahih) Bahkan sampai musafir dan wanita haidh pun bisa mendapatkan malam lailatul qadar. Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya tidak lalai dalam dzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari lailatul qadar?” Adh Dhohak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.” (Lathoif Al Ma’arif, hal. 341) Ibnu Rajab menasehatkan, “Wahai saudaraku … Yang terpenting bagaimana membuat amalan itu diterima, bukan kita bergantung pada kerja keras kita. Yang jadi patokan adalah pada baiknya hati, bukan usaha keras badan. Betapa banyak orang yang begadang untuk shalat malam, namun tak mendapatkan rahmat. Bahkan mungkin orang yang tidur yang mendapatkan rahmat tersebut. Orang yang tertidur hatinya dalam keadaan hidup karena berdzikir pada Allah. Sedangkan orang yang begadang shalat malam, hatinya yang malah dalam keadaan fajir (berbuat maksiat pada Allah).” (Idem) Anugerah Allah itu begitu besar. Karunia tersebut tidak terbatas pada segelintir orang. Perbanyaklah terus ibadah di akhir-akhir Ramadhan, moga kita mendapatkan anugerah malam Qadar. Moga kita semua mendapatkan kemuliaan di malam lailatul qadar tersebut.   Referensi: Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islamiy, cetakan pertama, tahun 1428 H. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, 21 Ramadhan 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Tagscara i'tikaf itikaf lailatul qadar

Tanpa Melakukan Itikaf, Apa Bisa Mendapatkan Malam Lailatul Qadar?

Ada yang berkecil hati karena tidak bisa melakukan i’tikaf di masjid, lantas ia menilai bahwa ia tidak bisa mendapatkan keutamaan lailatul qadar. Apakah benar sangsi demikian? Perlu dipahami, para ulama salaf berpendapat bahwa keutamaan lailatul qadar itu akan diperoleh oleh setiap muslim yang diterimanya amalnya di malam tersebut. Ibnu Rajab dalam kitabnya Lathoif Al Ma’arif (hal. 341) membawakan hadits dalam musnad Imam Ahma, sunan An Nasai, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ “Di dalam bulan Ramadhan itu terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tidak mendapati malam tersebut, maka ia akan diharamkan mendapatkan kebaikan.” (HR. An Nasai no. 2106, shahih) Bahkan sampai musafir dan wanita haidh pun bisa mendapatkan malam lailatul qadar. Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya tidak lalai dalam dzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari lailatul qadar?” Adh Dhohak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.” (Lathoif Al Ma’arif, hal. 341) Ibnu Rajab menasehatkan, “Wahai saudaraku … Yang terpenting bagaimana membuat amalan itu diterima, bukan kita bergantung pada kerja keras kita. Yang jadi patokan adalah pada baiknya hati, bukan usaha keras badan. Betapa banyak orang yang begadang untuk shalat malam, namun tak mendapatkan rahmat. Bahkan mungkin orang yang tidur yang mendapatkan rahmat tersebut. Orang yang tertidur hatinya dalam keadaan hidup karena berdzikir pada Allah. Sedangkan orang yang begadang shalat malam, hatinya yang malah dalam keadaan fajir (berbuat maksiat pada Allah).” (Idem) Anugerah Allah itu begitu besar. Karunia tersebut tidak terbatas pada segelintir orang. Perbanyaklah terus ibadah di akhir-akhir Ramadhan, moga kita mendapatkan anugerah malam Qadar. Moga kita semua mendapatkan kemuliaan di malam lailatul qadar tersebut.   Referensi: Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islamiy, cetakan pertama, tahun 1428 H. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, 21 Ramadhan 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Tagscara i'tikaf itikaf lailatul qadar
Ada yang berkecil hati karena tidak bisa melakukan i’tikaf di masjid, lantas ia menilai bahwa ia tidak bisa mendapatkan keutamaan lailatul qadar. Apakah benar sangsi demikian? Perlu dipahami, para ulama salaf berpendapat bahwa keutamaan lailatul qadar itu akan diperoleh oleh setiap muslim yang diterimanya amalnya di malam tersebut. Ibnu Rajab dalam kitabnya Lathoif Al Ma’arif (hal. 341) membawakan hadits dalam musnad Imam Ahma, sunan An Nasai, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ “Di dalam bulan Ramadhan itu terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tidak mendapati malam tersebut, maka ia akan diharamkan mendapatkan kebaikan.” (HR. An Nasai no. 2106, shahih) Bahkan sampai musafir dan wanita haidh pun bisa mendapatkan malam lailatul qadar. Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya tidak lalai dalam dzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari lailatul qadar?” Adh Dhohak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.” (Lathoif Al Ma’arif, hal. 341) Ibnu Rajab menasehatkan, “Wahai saudaraku … Yang terpenting bagaimana membuat amalan itu diterima, bukan kita bergantung pada kerja keras kita. Yang jadi patokan adalah pada baiknya hati, bukan usaha keras badan. Betapa banyak orang yang begadang untuk shalat malam, namun tak mendapatkan rahmat. Bahkan mungkin orang yang tidur yang mendapatkan rahmat tersebut. Orang yang tertidur hatinya dalam keadaan hidup karena berdzikir pada Allah. Sedangkan orang yang begadang shalat malam, hatinya yang malah dalam keadaan fajir (berbuat maksiat pada Allah).” (Idem) Anugerah Allah itu begitu besar. Karunia tersebut tidak terbatas pada segelintir orang. Perbanyaklah terus ibadah di akhir-akhir Ramadhan, moga kita mendapatkan anugerah malam Qadar. Moga kita semua mendapatkan kemuliaan di malam lailatul qadar tersebut.   Referensi: Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islamiy, cetakan pertama, tahun 1428 H. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, 21 Ramadhan 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Tagscara i'tikaf itikaf lailatul qadar


Ada yang berkecil hati karena tidak bisa melakukan i’tikaf di masjid, lantas ia menilai bahwa ia tidak bisa mendapatkan keutamaan lailatul qadar. Apakah benar sangsi demikian? Perlu dipahami, para ulama salaf berpendapat bahwa keutamaan lailatul qadar itu akan diperoleh oleh setiap muslim yang diterimanya amalnya di malam tersebut. Ibnu Rajab dalam kitabnya Lathoif Al Ma’arif (hal. 341) membawakan hadits dalam musnad Imam Ahma, sunan An Nasai, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ “Di dalam bulan Ramadhan itu terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tidak mendapati malam tersebut, maka ia akan diharamkan mendapatkan kebaikan.” (HR. An Nasai no. 2106, shahih) Bahkan sampai musafir dan wanita haidh pun bisa mendapatkan malam lailatul qadar. Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya tidak lalai dalam dzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari lailatul qadar?” Adh Dhohak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.” (Lathoif Al Ma’arif, hal. 341) Ibnu Rajab menasehatkan, “Wahai saudaraku … Yang terpenting bagaimana membuat amalan itu diterima, bukan kita bergantung pada kerja keras kita. Yang jadi patokan adalah pada baiknya hati, bukan usaha keras badan. Betapa banyak orang yang begadang untuk shalat malam, namun tak mendapatkan rahmat. Bahkan mungkin orang yang tidur yang mendapatkan rahmat tersebut. Orang yang tertidur hatinya dalam keadaan hidup karena berdzikir pada Allah. Sedangkan orang yang begadang shalat malam, hatinya yang malah dalam keadaan fajir (berbuat maksiat pada Allah).” (Idem) Anugerah Allah itu begitu besar. Karunia tersebut tidak terbatas pada segelintir orang. Perbanyaklah terus ibadah di akhir-akhir Ramadhan, moga kita mendapatkan anugerah malam Qadar. Moga kita semua mendapatkan kemuliaan di malam lailatul qadar tersebut.   Referensi: Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islamiy, cetakan pertama, tahun 1428 H. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, 21 Ramadhan 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Tagscara i'tikaf itikaf lailatul qadar

Tafsir Ayat Puasa (6): Kemudahan dalam Puasa

Dalam syariat Islam terdapat kemudahan termasuk dalam menjalankan ibadah puasa. Bagaimana kemudahan tersebut? Allah Menginginkan Kemudahan Allah Ta’ala berfirman, يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqarah: 185). Sebelumnya Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya diberikan keringanan bagi kalian untuk tidak berpuasa ketika sakit dan saat bersafar. Namun puasa ini wajib bagi yang mukim dan sehat. Itu semua adalah kemudahan dan rahmat Allah bagi kalian.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 59). Beliau rahimahullah juga berkata di kitab yang sama, “Sesungguhnya diberikan keringanan bagi kalian untuk tidak berpuasa saat sakit dan safar, juga ketika mendapati udzur semisal itu. Karena Allah menginginkan bagi kalian kemudahan. Namun puasa tersebut tetap diperintahkan diqadha’ (diganti) di hari lainnya untuk menyempurnakan puasa Ramadhan kalian.” (Idem, 2: 62). Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata, “Allah memberikan kemudahan supaya kalian dapat mudah menggapai ridha Allah. Kemudahan yang diberikan begitu besar. Itulah ajaran yang ada dalam syariat Islam.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 86-87). Pilihan Puasa Ketika Safar Adapun puasa ketika safar adalah pilihan, bukan suatu keharusan. Karena para sahabat radhiyallahu ‘anhum pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan. Di antara mereka ada yang berpuasa dan yang lainnya tidak berpuasa. Namun dua pihak yang berbeda tidak saling mencela satu dan lainnya. Seandainya berpuasa tidak dibolehkan saat puasa, tentu akan diingkari. Bahkan keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah berpuasa. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 60). Manakah yang Paling Afdhol Berpuasa ataukah Tidak Saat Safar? Rincian paling baik adalah berikut ini. Kondisi pertama adalah jika berat untuk berpuasa atau sulit melakukan hal-hal yang baik ketika itu, maka lebih utama untuk tidak berpuasa. Dalil dari hal ini dapat kita lihat dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah. Jabir mengatakan, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى سَفَرٍ ، فَرَأَى زِحَامًا ، وَرَجُلاً قَدْ ظُلِّلَ عَلَيْهِ ، فَقَالَ « مَا هَذَا » . فَقَالُوا صَائِمٌ . فَقَالَ « لَيْسَ مِنَ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِى السَّفَرِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar melihat orang yang berdesak-desakan. Lalu ada seseorang yang diberi naungan. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Siapa ini?” Orang-orang pun mengatakan, “Ini adalah orang yang sedang berpuasa.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah suatu yang baik jika seseorang berpuasa ketika dia bersafar” (HR. Bukhari no. 1946 dan Muslim no. 1115). Di sini dikatakan tidak baik berpuasa ketika safar karena ketika itu adalah kondisi yang menyulitkan. Kondisi kedua adalah jika tidak memberatkan untuk berpuasa dan tidak menyulitkan untuk melakukan berbagai hal kebaikan, maka pada saat ini lebih utama untuk berpuasa. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana beliau masih tetap berpuasa ketika safar. Dari Abu Darda’, beliau berkata, خَرَجْنَا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فِى بَعْضِ أَسْفَارِهِ فِى يَوْمٍ حَارٍّ حَتَّى يَضَعَ الرَّجُلُ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ ، وَمَا فِينَا صَائِمٌ إِلاَّ مَا كَانَ مِنَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَابْنِ رَوَاحَةَ “Kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di beberapa safarnya pada hari yang cukup terik. Sehingga ketika itu orang-orang meletakkan tangannya di kepalanya karena cuaca yang begitu panas. Di antara kami tidak ada yang berpuasa. Hanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja dan Ibnu Rowahah yang berpuasa ketika itu.” (HR. Bukhari no. 1945 dan Muslim no. 1122). Apabila tidak terlalu menyulitkan ketika safar, maka puasa itu lebih baik karena lebih cepat terlepasnya kewajiban. Begitu pula hal ini lebih mudah dilakukan karena berpuasa dengan orang banyak itu lebih menyenangkan daripada mengqodho’ puasa sendiri sedangkan orang-orang tidak berpuasa. Kondisi ketiga adalah jika berpuasa akan mendapati kesulitan yang berat bahkan dapat mengantarkan pada kematian, maka pada saat ini wajib tidak berpuasa dan diharamkan untuk berpuasa. Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ عَامَ الْفَتْحِ إِلَى مَكَّةَ فِى رَمَضَانَ فَصَامَ حَتَّى بَلَغَ كُرَاعَ الْغَمِيمِ فَصَامَ النَّاسُ ثُمَّ دَعَا بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ فَرَفَعَهُ حَتَّى نَظَرَ النَّاسُ إِلَيْهِ ثُمَّ شَرِبَ فَقِيلَ لَهُ بَعْدَ ذَلِكَ إِنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ صَامَ فَقَالَ « أُولَئِكَ الْعُصَاةُ أُولَئِكَ الْعُصَاةُ “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada tahun Fathul Makkah (8 H) menuju Makkah di bulan Ramadhan. Beliau ketika itu berpuasa. Kemudian ketika sampai di Kuroo’ Al Ghomim (suatu lembah antara Mekkah dan Madinah), orang-0rang ketika itu masih berpuasa. Kemudian beliau meminta diambilkan segelas air. Lalu beliau mengangkatnya dan orang-orang pun memperhatikan beliau. Lantas beliau pun meminum air tersebut. Setelah beliau melakukan hal tadi, ada yang mengatakan, “Sesungguhnya sebagian orang ada yang tetap berpuasa.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Mereka itu adalah orang yang durhaka. Mereka itu adalah orang yang durhaka”.” (HR. Muslim no. 1114). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela keras karena berpuasa dalam kondisi sangat-sangat sulit seperti ini adalah sesuatu yang tercela.[1] Qadha’ Puasa Tidaklah Mesti Berturut-Turut Berdasarkan ayat yang kita kaji ini, menurut jumhur (baca: mayoritas) ulama, qadha’ puasa tidaklah mesti berturut-turut. Karena dalam ayat hanya disebutkan, pokoknya diganti di hari yang lain, tanpa mesti berturut-turut. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 61). Semoga bermanfaat.   Referensi: Shahih Fiqhis Sunnah, Abu Malik Kamal bin As Sayid Salim, Al Maktabah At Taufiqiyah. Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, tahqiq: Abu Ishaq Al Huwainiy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H. — Disusun menjelang ‘Ashar, 21 Ramadhan 1435 H di Pesantren DS   [1] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2: 120-125. — Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagskeringanan puasa tafsir ayat puasa

Tafsir Ayat Puasa (6): Kemudahan dalam Puasa

Dalam syariat Islam terdapat kemudahan termasuk dalam menjalankan ibadah puasa. Bagaimana kemudahan tersebut? Allah Menginginkan Kemudahan Allah Ta’ala berfirman, يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqarah: 185). Sebelumnya Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya diberikan keringanan bagi kalian untuk tidak berpuasa ketika sakit dan saat bersafar. Namun puasa ini wajib bagi yang mukim dan sehat. Itu semua adalah kemudahan dan rahmat Allah bagi kalian.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 59). Beliau rahimahullah juga berkata di kitab yang sama, “Sesungguhnya diberikan keringanan bagi kalian untuk tidak berpuasa saat sakit dan safar, juga ketika mendapati udzur semisal itu. Karena Allah menginginkan bagi kalian kemudahan. Namun puasa tersebut tetap diperintahkan diqadha’ (diganti) di hari lainnya untuk menyempurnakan puasa Ramadhan kalian.” (Idem, 2: 62). Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata, “Allah memberikan kemudahan supaya kalian dapat mudah menggapai ridha Allah. Kemudahan yang diberikan begitu besar. Itulah ajaran yang ada dalam syariat Islam.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 86-87). Pilihan Puasa Ketika Safar Adapun puasa ketika safar adalah pilihan, bukan suatu keharusan. Karena para sahabat radhiyallahu ‘anhum pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan. Di antara mereka ada yang berpuasa dan yang lainnya tidak berpuasa. Namun dua pihak yang berbeda tidak saling mencela satu dan lainnya. Seandainya berpuasa tidak dibolehkan saat puasa, tentu akan diingkari. Bahkan keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah berpuasa. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 60). Manakah yang Paling Afdhol Berpuasa ataukah Tidak Saat Safar? Rincian paling baik adalah berikut ini. Kondisi pertama adalah jika berat untuk berpuasa atau sulit melakukan hal-hal yang baik ketika itu, maka lebih utama untuk tidak berpuasa. Dalil dari hal ini dapat kita lihat dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah. Jabir mengatakan, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى سَفَرٍ ، فَرَأَى زِحَامًا ، وَرَجُلاً قَدْ ظُلِّلَ عَلَيْهِ ، فَقَالَ « مَا هَذَا » . فَقَالُوا صَائِمٌ . فَقَالَ « لَيْسَ مِنَ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِى السَّفَرِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar melihat orang yang berdesak-desakan. Lalu ada seseorang yang diberi naungan. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Siapa ini?” Orang-orang pun mengatakan, “Ini adalah orang yang sedang berpuasa.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah suatu yang baik jika seseorang berpuasa ketika dia bersafar” (HR. Bukhari no. 1946 dan Muslim no. 1115). Di sini dikatakan tidak baik berpuasa ketika safar karena ketika itu adalah kondisi yang menyulitkan. Kondisi kedua adalah jika tidak memberatkan untuk berpuasa dan tidak menyulitkan untuk melakukan berbagai hal kebaikan, maka pada saat ini lebih utama untuk berpuasa. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana beliau masih tetap berpuasa ketika safar. Dari Abu Darda’, beliau berkata, خَرَجْنَا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فِى بَعْضِ أَسْفَارِهِ فِى يَوْمٍ حَارٍّ حَتَّى يَضَعَ الرَّجُلُ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ ، وَمَا فِينَا صَائِمٌ إِلاَّ مَا كَانَ مِنَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَابْنِ رَوَاحَةَ “Kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di beberapa safarnya pada hari yang cukup terik. Sehingga ketika itu orang-orang meletakkan tangannya di kepalanya karena cuaca yang begitu panas. Di antara kami tidak ada yang berpuasa. Hanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja dan Ibnu Rowahah yang berpuasa ketika itu.” (HR. Bukhari no. 1945 dan Muslim no. 1122). Apabila tidak terlalu menyulitkan ketika safar, maka puasa itu lebih baik karena lebih cepat terlepasnya kewajiban. Begitu pula hal ini lebih mudah dilakukan karena berpuasa dengan orang banyak itu lebih menyenangkan daripada mengqodho’ puasa sendiri sedangkan orang-orang tidak berpuasa. Kondisi ketiga adalah jika berpuasa akan mendapati kesulitan yang berat bahkan dapat mengantarkan pada kematian, maka pada saat ini wajib tidak berpuasa dan diharamkan untuk berpuasa. Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ عَامَ الْفَتْحِ إِلَى مَكَّةَ فِى رَمَضَانَ فَصَامَ حَتَّى بَلَغَ كُرَاعَ الْغَمِيمِ فَصَامَ النَّاسُ ثُمَّ دَعَا بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ فَرَفَعَهُ حَتَّى نَظَرَ النَّاسُ إِلَيْهِ ثُمَّ شَرِبَ فَقِيلَ لَهُ بَعْدَ ذَلِكَ إِنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ صَامَ فَقَالَ « أُولَئِكَ الْعُصَاةُ أُولَئِكَ الْعُصَاةُ “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada tahun Fathul Makkah (8 H) menuju Makkah di bulan Ramadhan. Beliau ketika itu berpuasa. Kemudian ketika sampai di Kuroo’ Al Ghomim (suatu lembah antara Mekkah dan Madinah), orang-0rang ketika itu masih berpuasa. Kemudian beliau meminta diambilkan segelas air. Lalu beliau mengangkatnya dan orang-orang pun memperhatikan beliau. Lantas beliau pun meminum air tersebut. Setelah beliau melakukan hal tadi, ada yang mengatakan, “Sesungguhnya sebagian orang ada yang tetap berpuasa.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Mereka itu adalah orang yang durhaka. Mereka itu adalah orang yang durhaka”.” (HR. Muslim no. 1114). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela keras karena berpuasa dalam kondisi sangat-sangat sulit seperti ini adalah sesuatu yang tercela.[1] Qadha’ Puasa Tidaklah Mesti Berturut-Turut Berdasarkan ayat yang kita kaji ini, menurut jumhur (baca: mayoritas) ulama, qadha’ puasa tidaklah mesti berturut-turut. Karena dalam ayat hanya disebutkan, pokoknya diganti di hari yang lain, tanpa mesti berturut-turut. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 61). Semoga bermanfaat.   Referensi: Shahih Fiqhis Sunnah, Abu Malik Kamal bin As Sayid Salim, Al Maktabah At Taufiqiyah. Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, tahqiq: Abu Ishaq Al Huwainiy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H. — Disusun menjelang ‘Ashar, 21 Ramadhan 1435 H di Pesantren DS   [1] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2: 120-125. — Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagskeringanan puasa tafsir ayat puasa
Dalam syariat Islam terdapat kemudahan termasuk dalam menjalankan ibadah puasa. Bagaimana kemudahan tersebut? Allah Menginginkan Kemudahan Allah Ta’ala berfirman, يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqarah: 185). Sebelumnya Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya diberikan keringanan bagi kalian untuk tidak berpuasa ketika sakit dan saat bersafar. Namun puasa ini wajib bagi yang mukim dan sehat. Itu semua adalah kemudahan dan rahmat Allah bagi kalian.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 59). Beliau rahimahullah juga berkata di kitab yang sama, “Sesungguhnya diberikan keringanan bagi kalian untuk tidak berpuasa saat sakit dan safar, juga ketika mendapati udzur semisal itu. Karena Allah menginginkan bagi kalian kemudahan. Namun puasa tersebut tetap diperintahkan diqadha’ (diganti) di hari lainnya untuk menyempurnakan puasa Ramadhan kalian.” (Idem, 2: 62). Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata, “Allah memberikan kemudahan supaya kalian dapat mudah menggapai ridha Allah. Kemudahan yang diberikan begitu besar. Itulah ajaran yang ada dalam syariat Islam.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 86-87). Pilihan Puasa Ketika Safar Adapun puasa ketika safar adalah pilihan, bukan suatu keharusan. Karena para sahabat radhiyallahu ‘anhum pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan. Di antara mereka ada yang berpuasa dan yang lainnya tidak berpuasa. Namun dua pihak yang berbeda tidak saling mencela satu dan lainnya. Seandainya berpuasa tidak dibolehkan saat puasa, tentu akan diingkari. Bahkan keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah berpuasa. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 60). Manakah yang Paling Afdhol Berpuasa ataukah Tidak Saat Safar? Rincian paling baik adalah berikut ini. Kondisi pertama adalah jika berat untuk berpuasa atau sulit melakukan hal-hal yang baik ketika itu, maka lebih utama untuk tidak berpuasa. Dalil dari hal ini dapat kita lihat dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah. Jabir mengatakan, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى سَفَرٍ ، فَرَأَى زِحَامًا ، وَرَجُلاً قَدْ ظُلِّلَ عَلَيْهِ ، فَقَالَ « مَا هَذَا » . فَقَالُوا صَائِمٌ . فَقَالَ « لَيْسَ مِنَ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِى السَّفَرِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar melihat orang yang berdesak-desakan. Lalu ada seseorang yang diberi naungan. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Siapa ini?” Orang-orang pun mengatakan, “Ini adalah orang yang sedang berpuasa.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah suatu yang baik jika seseorang berpuasa ketika dia bersafar” (HR. Bukhari no. 1946 dan Muslim no. 1115). Di sini dikatakan tidak baik berpuasa ketika safar karena ketika itu adalah kondisi yang menyulitkan. Kondisi kedua adalah jika tidak memberatkan untuk berpuasa dan tidak menyulitkan untuk melakukan berbagai hal kebaikan, maka pada saat ini lebih utama untuk berpuasa. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana beliau masih tetap berpuasa ketika safar. Dari Abu Darda’, beliau berkata, خَرَجْنَا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فِى بَعْضِ أَسْفَارِهِ فِى يَوْمٍ حَارٍّ حَتَّى يَضَعَ الرَّجُلُ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ ، وَمَا فِينَا صَائِمٌ إِلاَّ مَا كَانَ مِنَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَابْنِ رَوَاحَةَ “Kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di beberapa safarnya pada hari yang cukup terik. Sehingga ketika itu orang-orang meletakkan tangannya di kepalanya karena cuaca yang begitu panas. Di antara kami tidak ada yang berpuasa. Hanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja dan Ibnu Rowahah yang berpuasa ketika itu.” (HR. Bukhari no. 1945 dan Muslim no. 1122). Apabila tidak terlalu menyulitkan ketika safar, maka puasa itu lebih baik karena lebih cepat terlepasnya kewajiban. Begitu pula hal ini lebih mudah dilakukan karena berpuasa dengan orang banyak itu lebih menyenangkan daripada mengqodho’ puasa sendiri sedangkan orang-orang tidak berpuasa. Kondisi ketiga adalah jika berpuasa akan mendapati kesulitan yang berat bahkan dapat mengantarkan pada kematian, maka pada saat ini wajib tidak berpuasa dan diharamkan untuk berpuasa. Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ عَامَ الْفَتْحِ إِلَى مَكَّةَ فِى رَمَضَانَ فَصَامَ حَتَّى بَلَغَ كُرَاعَ الْغَمِيمِ فَصَامَ النَّاسُ ثُمَّ دَعَا بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ فَرَفَعَهُ حَتَّى نَظَرَ النَّاسُ إِلَيْهِ ثُمَّ شَرِبَ فَقِيلَ لَهُ بَعْدَ ذَلِكَ إِنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ صَامَ فَقَالَ « أُولَئِكَ الْعُصَاةُ أُولَئِكَ الْعُصَاةُ “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada tahun Fathul Makkah (8 H) menuju Makkah di bulan Ramadhan. Beliau ketika itu berpuasa. Kemudian ketika sampai di Kuroo’ Al Ghomim (suatu lembah antara Mekkah dan Madinah), orang-0rang ketika itu masih berpuasa. Kemudian beliau meminta diambilkan segelas air. Lalu beliau mengangkatnya dan orang-orang pun memperhatikan beliau. Lantas beliau pun meminum air tersebut. Setelah beliau melakukan hal tadi, ada yang mengatakan, “Sesungguhnya sebagian orang ada yang tetap berpuasa.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Mereka itu adalah orang yang durhaka. Mereka itu adalah orang yang durhaka”.” (HR. Muslim no. 1114). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela keras karena berpuasa dalam kondisi sangat-sangat sulit seperti ini adalah sesuatu yang tercela.[1] Qadha’ Puasa Tidaklah Mesti Berturut-Turut Berdasarkan ayat yang kita kaji ini, menurut jumhur (baca: mayoritas) ulama, qadha’ puasa tidaklah mesti berturut-turut. Karena dalam ayat hanya disebutkan, pokoknya diganti di hari yang lain, tanpa mesti berturut-turut. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 61). Semoga bermanfaat.   Referensi: Shahih Fiqhis Sunnah, Abu Malik Kamal bin As Sayid Salim, Al Maktabah At Taufiqiyah. Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, tahqiq: Abu Ishaq Al Huwainiy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H. — Disusun menjelang ‘Ashar, 21 Ramadhan 1435 H di Pesantren DS   [1] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2: 120-125. — Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagskeringanan puasa tafsir ayat puasa


Dalam syariat Islam terdapat kemudahan termasuk dalam menjalankan ibadah puasa. Bagaimana kemudahan tersebut? Allah Menginginkan Kemudahan Allah Ta’ala berfirman, يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqarah: 185). Sebelumnya Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya diberikan keringanan bagi kalian untuk tidak berpuasa ketika sakit dan saat bersafar. Namun puasa ini wajib bagi yang mukim dan sehat. Itu semua adalah kemudahan dan rahmat Allah bagi kalian.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 59). Beliau rahimahullah juga berkata di kitab yang sama, “Sesungguhnya diberikan keringanan bagi kalian untuk tidak berpuasa saat sakit dan safar, juga ketika mendapati udzur semisal itu. Karena Allah menginginkan bagi kalian kemudahan. Namun puasa tersebut tetap diperintahkan diqadha’ (diganti) di hari lainnya untuk menyempurnakan puasa Ramadhan kalian.” (Idem, 2: 62). Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata, “Allah memberikan kemudahan supaya kalian dapat mudah menggapai ridha Allah. Kemudahan yang diberikan begitu besar. Itulah ajaran yang ada dalam syariat Islam.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 86-87). Pilihan Puasa Ketika Safar Adapun puasa ketika safar adalah pilihan, bukan suatu keharusan. Karena para sahabat radhiyallahu ‘anhum pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan. Di antara mereka ada yang berpuasa dan yang lainnya tidak berpuasa. Namun dua pihak yang berbeda tidak saling mencela satu dan lainnya. Seandainya berpuasa tidak dibolehkan saat puasa, tentu akan diingkari. Bahkan keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah berpuasa. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 60). Manakah yang Paling Afdhol Berpuasa ataukah Tidak Saat Safar? Rincian paling baik adalah berikut ini. Kondisi pertama adalah jika berat untuk berpuasa atau sulit melakukan hal-hal yang baik ketika itu, maka lebih utama untuk tidak berpuasa. Dalil dari hal ini dapat kita lihat dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah. Jabir mengatakan, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى سَفَرٍ ، فَرَأَى زِحَامًا ، وَرَجُلاً قَدْ ظُلِّلَ عَلَيْهِ ، فَقَالَ « مَا هَذَا » . فَقَالُوا صَائِمٌ . فَقَالَ « لَيْسَ مِنَ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِى السَّفَرِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar melihat orang yang berdesak-desakan. Lalu ada seseorang yang diberi naungan. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Siapa ini?” Orang-orang pun mengatakan, “Ini adalah orang yang sedang berpuasa.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah suatu yang baik jika seseorang berpuasa ketika dia bersafar” (HR. Bukhari no. 1946 dan Muslim no. 1115). Di sini dikatakan tidak baik berpuasa ketika safar karena ketika itu adalah kondisi yang menyulitkan. Kondisi kedua adalah jika tidak memberatkan untuk berpuasa dan tidak menyulitkan untuk melakukan berbagai hal kebaikan, maka pada saat ini lebih utama untuk berpuasa. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana beliau masih tetap berpuasa ketika safar. Dari Abu Darda’, beliau berkata, خَرَجْنَا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فِى بَعْضِ أَسْفَارِهِ فِى يَوْمٍ حَارٍّ حَتَّى يَضَعَ الرَّجُلُ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ ، وَمَا فِينَا صَائِمٌ إِلاَّ مَا كَانَ مِنَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَابْنِ رَوَاحَةَ “Kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di beberapa safarnya pada hari yang cukup terik. Sehingga ketika itu orang-orang meletakkan tangannya di kepalanya karena cuaca yang begitu panas. Di antara kami tidak ada yang berpuasa. Hanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja dan Ibnu Rowahah yang berpuasa ketika itu.” (HR. Bukhari no. 1945 dan Muslim no. 1122). Apabila tidak terlalu menyulitkan ketika safar, maka puasa itu lebih baik karena lebih cepat terlepasnya kewajiban. Begitu pula hal ini lebih mudah dilakukan karena berpuasa dengan orang banyak itu lebih menyenangkan daripada mengqodho’ puasa sendiri sedangkan orang-orang tidak berpuasa. Kondisi ketiga adalah jika berpuasa akan mendapati kesulitan yang berat bahkan dapat mengantarkan pada kematian, maka pada saat ini wajib tidak berpuasa dan diharamkan untuk berpuasa. Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ عَامَ الْفَتْحِ إِلَى مَكَّةَ فِى رَمَضَانَ فَصَامَ حَتَّى بَلَغَ كُرَاعَ الْغَمِيمِ فَصَامَ النَّاسُ ثُمَّ دَعَا بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ فَرَفَعَهُ حَتَّى نَظَرَ النَّاسُ إِلَيْهِ ثُمَّ شَرِبَ فَقِيلَ لَهُ بَعْدَ ذَلِكَ إِنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ صَامَ فَقَالَ « أُولَئِكَ الْعُصَاةُ أُولَئِكَ الْعُصَاةُ “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada tahun Fathul Makkah (8 H) menuju Makkah di bulan Ramadhan. Beliau ketika itu berpuasa. Kemudian ketika sampai di Kuroo’ Al Ghomim (suatu lembah antara Mekkah dan Madinah), orang-0rang ketika itu masih berpuasa. Kemudian beliau meminta diambilkan segelas air. Lalu beliau mengangkatnya dan orang-orang pun memperhatikan beliau. Lantas beliau pun meminum air tersebut. Setelah beliau melakukan hal tadi, ada yang mengatakan, “Sesungguhnya sebagian orang ada yang tetap berpuasa.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Mereka itu adalah orang yang durhaka. Mereka itu adalah orang yang durhaka”.” (HR. Muslim no. 1114). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela keras karena berpuasa dalam kondisi sangat-sangat sulit seperti ini adalah sesuatu yang tercela.[1] Qadha’ Puasa Tidaklah Mesti Berturut-Turut Berdasarkan ayat yang kita kaji ini, menurut jumhur (baca: mayoritas) ulama, qadha’ puasa tidaklah mesti berturut-turut. Karena dalam ayat hanya disebutkan, pokoknya diganti di hari yang lain, tanpa mesti berturut-turut. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 61). Semoga bermanfaat.   Referensi: Shahih Fiqhis Sunnah, Abu Malik Kamal bin As Sayid Salim, Al Maktabah At Taufiqiyah. Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, tahqiq: Abu Ishaq Al Huwainiy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H. — Disusun menjelang ‘Ashar, 21 Ramadhan 1435 H di Pesantren DS   [1] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2: 120-125. — Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagskeringanan puasa tafsir ayat puasa

Tidak Perlu Mencari Tanda Malam Lailatul Qadar

Sebenarnya kita tidak perlu mencari tanda malam lailatul qadar. Kita cukup banyak ibadah saja di sepuluh malam hari terakhir bulan Ramadhan, maka kita akan mendapatkan keutamaan malam yang ada. Tanda malam lailatul qadar nampak pun setelah malam tersebut berlalu. Ibnu Hajar Al Asqolani berkata, وَقَدْ وَرَدَ لِلَيْلَةِ الْقَدْرِ عَلَامَاتٌ أَكْثَرُهَا لَا تَظْهَرُ إِلَّا بَعْدَ أَنْ تَمْضِي “Ada beberapa dalil yang membicarakan tanda-tanda lailatul qadar, namun itu semua tidaklah nampak kecuali setelah malam tersebut berlalu.” (Fathul Bari, 4: 260) Di antara yang menjadi dalil perkataan beliau di atas adalah hadits dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا. “Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadlan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru.” (HR. Muslim no. 762). Lihatlah, tanda ini baru muncul di pagi hari, setelah lewat malam. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Jaami’ul Ahadits 18: 361. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahihul Jaami’ no. 5475). Tanda ini pun sama dengan sebelumnya barulah muncul setelah lailatul qadar berlalu. Jika demikian, maka tidak perlu mencari-cari tanda lailatul qadar karena kebanyakan tanda yang ada muncul setelah malam itu terjadi. Yang mesti dilakukan adalah memperbanyak ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan, niscaya akan mendapati malam penuh kemuliaan tersebut. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2: 149-150) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak mencari-cari tanda, namun beliau memperbanyak ibadah saja di akhir-akhir Ramadhan. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat lebih rajin di akhir Ramadhan lebih dari hari-hari lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175) Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksanakan shalat jika mereka mampu. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331) Lalu jangan lupa perbanyak doa ampunan pada Allah di akhir-akhir Ramadhan. Dari Aisyah, beliau radhiyallahu ‘anha berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang mesti aku ucapkan saat itu?” Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf—menghapus kesalahan–, karenanya maafkanlah aku—hapuslah dosa-dosaku–).” (HR. Tirmidzi no. 3513, Ibnu Majah no. 3850, dan Ahmad 6: 171, shahih) Semoga bermanfaat. Semoga kita semakin semangat di akhir-akhir Ramadhan. — Disusun di Panggang, Gunungkidul, 20 Ramadhan 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagslailatul qadar

Tidak Perlu Mencari Tanda Malam Lailatul Qadar

Sebenarnya kita tidak perlu mencari tanda malam lailatul qadar. Kita cukup banyak ibadah saja di sepuluh malam hari terakhir bulan Ramadhan, maka kita akan mendapatkan keutamaan malam yang ada. Tanda malam lailatul qadar nampak pun setelah malam tersebut berlalu. Ibnu Hajar Al Asqolani berkata, وَقَدْ وَرَدَ لِلَيْلَةِ الْقَدْرِ عَلَامَاتٌ أَكْثَرُهَا لَا تَظْهَرُ إِلَّا بَعْدَ أَنْ تَمْضِي “Ada beberapa dalil yang membicarakan tanda-tanda lailatul qadar, namun itu semua tidaklah nampak kecuali setelah malam tersebut berlalu.” (Fathul Bari, 4: 260) Di antara yang menjadi dalil perkataan beliau di atas adalah hadits dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا. “Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadlan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru.” (HR. Muslim no. 762). Lihatlah, tanda ini baru muncul di pagi hari, setelah lewat malam. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Jaami’ul Ahadits 18: 361. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahihul Jaami’ no. 5475). Tanda ini pun sama dengan sebelumnya barulah muncul setelah lailatul qadar berlalu. Jika demikian, maka tidak perlu mencari-cari tanda lailatul qadar karena kebanyakan tanda yang ada muncul setelah malam itu terjadi. Yang mesti dilakukan adalah memperbanyak ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan, niscaya akan mendapati malam penuh kemuliaan tersebut. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2: 149-150) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak mencari-cari tanda, namun beliau memperbanyak ibadah saja di akhir-akhir Ramadhan. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat lebih rajin di akhir Ramadhan lebih dari hari-hari lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175) Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksanakan shalat jika mereka mampu. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331) Lalu jangan lupa perbanyak doa ampunan pada Allah di akhir-akhir Ramadhan. Dari Aisyah, beliau radhiyallahu ‘anha berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang mesti aku ucapkan saat itu?” Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf—menghapus kesalahan–, karenanya maafkanlah aku—hapuslah dosa-dosaku–).” (HR. Tirmidzi no. 3513, Ibnu Majah no. 3850, dan Ahmad 6: 171, shahih) Semoga bermanfaat. Semoga kita semakin semangat di akhir-akhir Ramadhan. — Disusun di Panggang, Gunungkidul, 20 Ramadhan 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagslailatul qadar
Sebenarnya kita tidak perlu mencari tanda malam lailatul qadar. Kita cukup banyak ibadah saja di sepuluh malam hari terakhir bulan Ramadhan, maka kita akan mendapatkan keutamaan malam yang ada. Tanda malam lailatul qadar nampak pun setelah malam tersebut berlalu. Ibnu Hajar Al Asqolani berkata, وَقَدْ وَرَدَ لِلَيْلَةِ الْقَدْرِ عَلَامَاتٌ أَكْثَرُهَا لَا تَظْهَرُ إِلَّا بَعْدَ أَنْ تَمْضِي “Ada beberapa dalil yang membicarakan tanda-tanda lailatul qadar, namun itu semua tidaklah nampak kecuali setelah malam tersebut berlalu.” (Fathul Bari, 4: 260) Di antara yang menjadi dalil perkataan beliau di atas adalah hadits dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا. “Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadlan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru.” (HR. Muslim no. 762). Lihatlah, tanda ini baru muncul di pagi hari, setelah lewat malam. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Jaami’ul Ahadits 18: 361. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahihul Jaami’ no. 5475). Tanda ini pun sama dengan sebelumnya barulah muncul setelah lailatul qadar berlalu. Jika demikian, maka tidak perlu mencari-cari tanda lailatul qadar karena kebanyakan tanda yang ada muncul setelah malam itu terjadi. Yang mesti dilakukan adalah memperbanyak ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan, niscaya akan mendapati malam penuh kemuliaan tersebut. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2: 149-150) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak mencari-cari tanda, namun beliau memperbanyak ibadah saja di akhir-akhir Ramadhan. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat lebih rajin di akhir Ramadhan lebih dari hari-hari lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175) Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksanakan shalat jika mereka mampu. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331) Lalu jangan lupa perbanyak doa ampunan pada Allah di akhir-akhir Ramadhan. Dari Aisyah, beliau radhiyallahu ‘anha berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang mesti aku ucapkan saat itu?” Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf—menghapus kesalahan–, karenanya maafkanlah aku—hapuslah dosa-dosaku–).” (HR. Tirmidzi no. 3513, Ibnu Majah no. 3850, dan Ahmad 6: 171, shahih) Semoga bermanfaat. Semoga kita semakin semangat di akhir-akhir Ramadhan. — Disusun di Panggang, Gunungkidul, 20 Ramadhan 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagslailatul qadar


Sebenarnya kita tidak perlu mencari tanda malam lailatul qadar. Kita cukup banyak ibadah saja di sepuluh malam hari terakhir bulan Ramadhan, maka kita akan mendapatkan keutamaan malam yang ada. Tanda malam lailatul qadar nampak pun setelah malam tersebut berlalu. Ibnu Hajar Al Asqolani berkata, وَقَدْ وَرَدَ لِلَيْلَةِ الْقَدْرِ عَلَامَاتٌ أَكْثَرُهَا لَا تَظْهَرُ إِلَّا بَعْدَ أَنْ تَمْضِي “Ada beberapa dalil yang membicarakan tanda-tanda lailatul qadar, namun itu semua tidaklah nampak kecuali setelah malam tersebut berlalu.” (Fathul Bari, 4: 260) Di antara yang menjadi dalil perkataan beliau di atas adalah hadits dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا. “Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadlan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru.” (HR. Muslim no. 762). Lihatlah, tanda ini baru muncul di pagi hari, setelah lewat malam. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Jaami’ul Ahadits 18: 361. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahihul Jaami’ no. 5475). Tanda ini pun sama dengan sebelumnya barulah muncul setelah lailatul qadar berlalu. Jika demikian, maka tidak perlu mencari-cari tanda lailatul qadar karena kebanyakan tanda yang ada muncul setelah malam itu terjadi. Yang mesti dilakukan adalah memperbanyak ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan, niscaya akan mendapati malam penuh kemuliaan tersebut. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2: 149-150) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak mencari-cari tanda, namun beliau memperbanyak ibadah saja di akhir-akhir Ramadhan. عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat lebih rajin di akhir Ramadhan lebih dari hari-hari lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175) Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksanakan shalat jika mereka mampu. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331) Lalu jangan lupa perbanyak doa ampunan pada Allah di akhir-akhir Ramadhan. Dari Aisyah, beliau radhiyallahu ‘anha berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang mesti aku ucapkan saat itu?” Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf—menghapus kesalahan–, karenanya maafkanlah aku—hapuslah dosa-dosaku–).” (HR. Tirmidzi no. 3513, Ibnu Majah no. 3850, dan Ahmad 6: 171, shahih) Semoga bermanfaat. Semoga kita semakin semangat di akhir-akhir Ramadhan. — Disusun di Panggang, Gunungkidul, 20 Ramadhan 1435 H Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagslailatul qadar

Hanya ada Baju Yusuf dalam al-Quran

Hanya ada Baju Yusuf dalam al-Quran Baju bukan sembarang baju. Baju ini istimewa. Hanya baju orang ini yang disebutkan dalam al-Quran, dan itu disebutkan berkali-kali. Baju pertama, baju pertanda Yusuf masih ada dan saudaranya Yusuf dusta. وَجَاءُوا عَلَى قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. (QS. Yusuf: 18) Baju kedua, baju yang memutihkan nama baik Yusuf dan bukti kedustaan wanita istri penguasa Mesir. وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ Keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak… (QS. Yusuf: 25) وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ أَهْلِهَا إِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ (26) وَإِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِينَ (27) فَلَمَّا رَأَى قَمِيصَهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ قَالَ إِنَّهُ مِنْ كَيْدِكُنَّ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ Seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: “Jika baju gamisnya koyak di muka, Maka wanita itu benar dan Yusuf Termasuk orang-orang yang dusta. ( ) dan jika baju gamisnya koyak di belakang, Maka wanita Itulah yang dusta, dan Yusuf Termasuk orang-orang yang benar.” ( ) Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah diantara tipu daya kamu, Sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.” (QS. Yusuf: 26 – 28) Baju ketiga, baju yang mengandung bau tubuh Yusuf dan awal kebahagiaan bagi ayah Yusuf ‘alaihimas salam.. اذْهَبُوا بِقَمِيصِي هَذَا فَأَلْقُوهُ عَلَى وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا وَأْتُونِي بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِينَ Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah Dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku”. (QS. Yusuf: 93) Karena itu, as-Sya’bi mengatakan, الشعبي: قصة يوسف في قميصه “Kisah Yusuf, seputar baju gamis beliau.” (Fa bi Hudahum, hlm. 200) Al-Mawardi mengatakan, أَنَّ فِي الْقَمِيصِ ثَلَاثَ آيَاتٍ: حِينَ جَاءُوا عَلَيْهِ بِدَمٍ كَذِبٍ، وَحِينَ قُدَّ قَمِيصُهُ مِنْ دُبُرٍ، وَحِينَ أُلْقِيَ عَلَى وَجْهِ أَبِيهِ فارتد بصيرا Tentang baju gamis, ada 3 ayat, [1] ayat tentang kedatangan saudara Yusuf menghadap Ya’qub dengan darah dusta. [2] ayat tentang baju gamis Yusuf yang koyak di belakang. [3] ayat yang menceritakan baju Yusuf ketika dilemparkan ke ayahnya, kemudian penglihatannya kembali normal. (Tafsir al-Qurthubi, 9/149) #penting_tanda_di_baju

Hanya ada Baju Yusuf dalam al-Quran

Hanya ada Baju Yusuf dalam al-Quran Baju bukan sembarang baju. Baju ini istimewa. Hanya baju orang ini yang disebutkan dalam al-Quran, dan itu disebutkan berkali-kali. Baju pertama, baju pertanda Yusuf masih ada dan saudaranya Yusuf dusta. وَجَاءُوا عَلَى قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. (QS. Yusuf: 18) Baju kedua, baju yang memutihkan nama baik Yusuf dan bukti kedustaan wanita istri penguasa Mesir. وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ Keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak… (QS. Yusuf: 25) وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ أَهْلِهَا إِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ (26) وَإِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِينَ (27) فَلَمَّا رَأَى قَمِيصَهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ قَالَ إِنَّهُ مِنْ كَيْدِكُنَّ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ Seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: “Jika baju gamisnya koyak di muka, Maka wanita itu benar dan Yusuf Termasuk orang-orang yang dusta. ( ) dan jika baju gamisnya koyak di belakang, Maka wanita Itulah yang dusta, dan Yusuf Termasuk orang-orang yang benar.” ( ) Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah diantara tipu daya kamu, Sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.” (QS. Yusuf: 26 – 28) Baju ketiga, baju yang mengandung bau tubuh Yusuf dan awal kebahagiaan bagi ayah Yusuf ‘alaihimas salam.. اذْهَبُوا بِقَمِيصِي هَذَا فَأَلْقُوهُ عَلَى وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا وَأْتُونِي بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِينَ Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah Dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku”. (QS. Yusuf: 93) Karena itu, as-Sya’bi mengatakan, الشعبي: قصة يوسف في قميصه “Kisah Yusuf, seputar baju gamis beliau.” (Fa bi Hudahum, hlm. 200) Al-Mawardi mengatakan, أَنَّ فِي الْقَمِيصِ ثَلَاثَ آيَاتٍ: حِينَ جَاءُوا عَلَيْهِ بِدَمٍ كَذِبٍ، وَحِينَ قُدَّ قَمِيصُهُ مِنْ دُبُرٍ، وَحِينَ أُلْقِيَ عَلَى وَجْهِ أَبِيهِ فارتد بصيرا Tentang baju gamis, ada 3 ayat, [1] ayat tentang kedatangan saudara Yusuf menghadap Ya’qub dengan darah dusta. [2] ayat tentang baju gamis Yusuf yang koyak di belakang. [3] ayat yang menceritakan baju Yusuf ketika dilemparkan ke ayahnya, kemudian penglihatannya kembali normal. (Tafsir al-Qurthubi, 9/149) #penting_tanda_di_baju
Hanya ada Baju Yusuf dalam al-Quran Baju bukan sembarang baju. Baju ini istimewa. Hanya baju orang ini yang disebutkan dalam al-Quran, dan itu disebutkan berkali-kali. Baju pertama, baju pertanda Yusuf masih ada dan saudaranya Yusuf dusta. وَجَاءُوا عَلَى قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. (QS. Yusuf: 18) Baju kedua, baju yang memutihkan nama baik Yusuf dan bukti kedustaan wanita istri penguasa Mesir. وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ Keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak… (QS. Yusuf: 25) وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ أَهْلِهَا إِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ (26) وَإِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِينَ (27) فَلَمَّا رَأَى قَمِيصَهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ قَالَ إِنَّهُ مِنْ كَيْدِكُنَّ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ Seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: “Jika baju gamisnya koyak di muka, Maka wanita itu benar dan Yusuf Termasuk orang-orang yang dusta. ( ) dan jika baju gamisnya koyak di belakang, Maka wanita Itulah yang dusta, dan Yusuf Termasuk orang-orang yang benar.” ( ) Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah diantara tipu daya kamu, Sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.” (QS. Yusuf: 26 – 28) Baju ketiga, baju yang mengandung bau tubuh Yusuf dan awal kebahagiaan bagi ayah Yusuf ‘alaihimas salam.. اذْهَبُوا بِقَمِيصِي هَذَا فَأَلْقُوهُ عَلَى وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا وَأْتُونِي بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِينَ Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah Dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku”. (QS. Yusuf: 93) Karena itu, as-Sya’bi mengatakan, الشعبي: قصة يوسف في قميصه “Kisah Yusuf, seputar baju gamis beliau.” (Fa bi Hudahum, hlm. 200) Al-Mawardi mengatakan, أَنَّ فِي الْقَمِيصِ ثَلَاثَ آيَاتٍ: حِينَ جَاءُوا عَلَيْهِ بِدَمٍ كَذِبٍ، وَحِينَ قُدَّ قَمِيصُهُ مِنْ دُبُرٍ، وَحِينَ أُلْقِيَ عَلَى وَجْهِ أَبِيهِ فارتد بصيرا Tentang baju gamis, ada 3 ayat, [1] ayat tentang kedatangan saudara Yusuf menghadap Ya’qub dengan darah dusta. [2] ayat tentang baju gamis Yusuf yang koyak di belakang. [3] ayat yang menceritakan baju Yusuf ketika dilemparkan ke ayahnya, kemudian penglihatannya kembali normal. (Tafsir al-Qurthubi, 9/149) #penting_tanda_di_baju


Hanya ada Baju Yusuf dalam al-Quran Baju bukan sembarang baju. Baju ini istimewa. Hanya baju orang ini yang disebutkan dalam al-Quran, dan itu disebutkan berkali-kali. Baju pertama, baju pertanda Yusuf masih ada dan saudaranya Yusuf dusta. وَجَاءُوا عَلَى قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. (QS. Yusuf: 18) Baju kedua, baju yang memutihkan nama baik Yusuf dan bukti kedustaan wanita istri penguasa Mesir. وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ Keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak… (QS. Yusuf: 25) وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ أَهْلِهَا إِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ (26) وَإِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِينَ (27) فَلَمَّا رَأَى قَمِيصَهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ قَالَ إِنَّهُ مِنْ كَيْدِكُنَّ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ Seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: “Jika baju gamisnya koyak di muka, Maka wanita itu benar dan Yusuf Termasuk orang-orang yang dusta. ( ) dan jika baju gamisnya koyak di belakang, Maka wanita Itulah yang dusta, dan Yusuf Termasuk orang-orang yang benar.” ( ) Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah diantara tipu daya kamu, Sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.” (QS. Yusuf: 26 – 28) Baju ketiga, baju yang mengandung bau tubuh Yusuf dan awal kebahagiaan bagi ayah Yusuf ‘alaihimas salam.. اذْهَبُوا بِقَمِيصِي هَذَا فَأَلْقُوهُ عَلَى وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا وَأْتُونِي بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِينَ Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah Dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku”. (QS. Yusuf: 93) Karena itu, as-Sya’bi mengatakan, الشعبي: قصة يوسف في قميصه “Kisah Yusuf, seputar baju gamis beliau.” (Fa bi Hudahum, hlm. 200) Al-Mawardi mengatakan, أَنَّ فِي الْقَمِيصِ ثَلَاثَ آيَاتٍ: حِينَ جَاءُوا عَلَيْهِ بِدَمٍ كَذِبٍ، وَحِينَ قُدَّ قَمِيصُهُ مِنْ دُبُرٍ، وَحِينَ أُلْقِيَ عَلَى وَجْهِ أَبِيهِ فارتد بصيرا Tentang baju gamis, ada 3 ayat, [1] ayat tentang kedatangan saudara Yusuf menghadap Ya’qub dengan darah dusta. [2] ayat tentang baju gamis Yusuf yang koyak di belakang. [3] ayat yang menceritakan baju Yusuf ketika dilemparkan ke ayahnya, kemudian penglihatannya kembali normal. (Tafsir al-Qurthubi, 9/149) #penting_tanda_di_baju

Tangisan Dusta

Tangisan Dusta  Tidak semua orang yang menangis ketika mengadu, dia jujur. Karena saudara Yusuf menangis mendatangi ayahnya, sementara mereka berdusta. وَجَاءُوا أَبَاهُمْ عِشَاءً يَبْكُونَ Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis. (QS. Yusuf: 16) جاء رجل إلى القاضي يشكو ويبكي، فقال قائل: والله إني آراه صادقا. قال القاضي: لما؟ قال: يبكي، فقال القاضي: إخوة يوسف ذهبوا يبكون وهم كاذبون Suatu ketika datang lelaki menghadap seorang hakim. Dia datang sambil menangis mengadukan masalahnya. “Demi Allah, menurutku dia jujur.” kata orang di samping hakim. ”Dari mana kamu tahu?” tanya Hakim ”Dia menangis.” Jawabnya. “Saudara-saudara Yusuf pergi mendatangi ayahnya sambil menangis, sementara mereka berdusta.” (Fabihuda hum iqtadih, 190)

Tangisan Dusta

Tangisan Dusta  Tidak semua orang yang menangis ketika mengadu, dia jujur. Karena saudara Yusuf menangis mendatangi ayahnya, sementara mereka berdusta. وَجَاءُوا أَبَاهُمْ عِشَاءً يَبْكُونَ Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis. (QS. Yusuf: 16) جاء رجل إلى القاضي يشكو ويبكي، فقال قائل: والله إني آراه صادقا. قال القاضي: لما؟ قال: يبكي، فقال القاضي: إخوة يوسف ذهبوا يبكون وهم كاذبون Suatu ketika datang lelaki menghadap seorang hakim. Dia datang sambil menangis mengadukan masalahnya. “Demi Allah, menurutku dia jujur.” kata orang di samping hakim. ”Dari mana kamu tahu?” tanya Hakim ”Dia menangis.” Jawabnya. “Saudara-saudara Yusuf pergi mendatangi ayahnya sambil menangis, sementara mereka berdusta.” (Fabihuda hum iqtadih, 190)
Tangisan Dusta  Tidak semua orang yang menangis ketika mengadu, dia jujur. Karena saudara Yusuf menangis mendatangi ayahnya, sementara mereka berdusta. وَجَاءُوا أَبَاهُمْ عِشَاءً يَبْكُونَ Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis. (QS. Yusuf: 16) جاء رجل إلى القاضي يشكو ويبكي، فقال قائل: والله إني آراه صادقا. قال القاضي: لما؟ قال: يبكي، فقال القاضي: إخوة يوسف ذهبوا يبكون وهم كاذبون Suatu ketika datang lelaki menghadap seorang hakim. Dia datang sambil menangis mengadukan masalahnya. “Demi Allah, menurutku dia jujur.” kata orang di samping hakim. ”Dari mana kamu tahu?” tanya Hakim ”Dia menangis.” Jawabnya. “Saudara-saudara Yusuf pergi mendatangi ayahnya sambil menangis, sementara mereka berdusta.” (Fabihuda hum iqtadih, 190)


Tangisan Dusta  Tidak semua orang yang menangis ketika mengadu, dia jujur. Karena saudara Yusuf menangis mendatangi ayahnya, sementara mereka berdusta. وَجَاءُوا أَبَاهُمْ عِشَاءً يَبْكُونَ Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis. (QS. Yusuf: 16) جاء رجل إلى القاضي يشكو ويبكي، فقال قائل: والله إني آراه صادقا. قال القاضي: لما؟ قال: يبكي، فقال القاضي: إخوة يوسف ذهبوا يبكون وهم كاذبون Suatu ketika datang lelaki menghadap seorang hakim. Dia datang sambil menangis mengadukan masalahnya. “Demi Allah, menurutku dia jujur.” kata orang di samping hakim. ”Dari mana kamu tahu?” tanya Hakim ”Dia menangis.” Jawabnya. “Saudara-saudara Yusuf pergi mendatangi ayahnya sambil menangis, sementara mereka berdusta.” (Fabihuda hum iqtadih, 190)

Mengapa Hanya Maryam di al-Quran?

Mengapa Hanya Maryam di al-Quran? Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Satu-satunya wanita yang namanya disebutkan dalam al-Quran adalah Maryam bintu Imran radhiyallahu ‘anha. Bahkan namanya menjadi nama salah satu surat dalam al-Quran. Beliau juga menjadi wanita yang Allah putihkan kehormatannya dalam al-Quran, وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan Dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan Dia adalah Termasuk orang-orang yang taat. (QS. At-Tahrim: 12) Rahasia di Balik Penyebutan Nama Maryam Mari kita simak keterangan Al-Qurthubi, لم يذكر الله عز وجل امرأة وسماها باسمها في كتابه إلا مريم ابنة عمران، فإنه ذكر اسمها في نحو من ثلاثين موضعاً، لحكمة ذكرها بعض الأشياخ، فإن الملوك والأشراف لا يذكرون حرائرهم في الملأ، ولا يبتذلون أسماءهن، بل يكنون عن الزوجة بالعرس والأهل والعيال ونحو ذلك، فإن ذكروا الإماء لم يكنوا عنهن ولم يصونوا أسماءهن عن الذكر والتصريح بها، فلما قالت النصارى في مريم ما قالت وفي ابنها، صرح الله باسمها، ولم يُكنِّ عنها بالأموَّة والعبودية التي هي صفة لها، وأجرى الكلام على عادة العرب في ذكر إمائها Allah tidak menyebutkan nama seorangpun wanita dalam kitab-Nya selain Maryam bintu Imran. Allah menyebutkan namanya sekitar 30 kali kesempatan. Karena mengandung hikmah sebagaimana yang disebutkan para ulama, Bahwa para raja dan orang-orang terpandang, mereka tidak pernah menyebutkan nama istrinya di depan rakyat, tidak pula mempopulerkan nama mereka. Akan tetapi, mereka menyebut istrinya dengan ungkapan pasangan, ibu, keluarga raja, dst. Namun ketika mereka bersikap terhadap budak, mereka tidak merahasiakannya dan tidak menyembunyikan namanya. Ketika orang nasrani mengatakan bahwa Maryam istri tuhan dan Isa anak tuhan, maka Allah terang-terangan menyebut nama Maryam. Dan tidak Allah sembunyikan dengan budak Allah atau hamba Allah, yang merupakan sifat asli Maryam. Dan Allah jadikan hal ini sebagai kebiasaan masyarakat arab dalam menyebutkan budaknya. (Tafsir al-Qurthubi, 6/21). Az-Zarkasyi menambahkan, ومع هذا فإن عيسى لا أب له، واعتقاد هذا واجب، فإذا تكرر ذكره منسوباً إلى الأم استشعرت القلوب ما يجب عليها اعتقاده من نفي الأب عنه، وتنزيه الأم الطاهرة عن مقالة اليهود لعنهم الله Sesungguhnya Isa terlahir tanpa bapak. Ini keyakinan yang wajib kita miliki. Ketika keterangan nasabnya ke ibunya disebutkan berulang-ulang, maka akan muncul perasaan dalam hati, berupa keyakinan bahwa beliau tidak memiliki bapak. Dan memutihkan nama baik ibunya sang wanita suci, dari perkataan kotor orang yahudi – semoga Allah melaknat mereka –. (al-Burhan fi Ulum al-Quran, 1/163). Kehormatan Wanita, ketika Dia Tersimpan Mulai mengubah paradigma… wanita semakin disimpan, semakin terhormat. Yang berarti kehormatan pula bagi suaminya. Kita bisa membaca ratusan biografi ulama. Sangat jarang sekali disebutkan siapa nama istrinya, siapa nama putri-putrinya. #stop pamer istri

Mengapa Hanya Maryam di al-Quran?

Mengapa Hanya Maryam di al-Quran? Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Satu-satunya wanita yang namanya disebutkan dalam al-Quran adalah Maryam bintu Imran radhiyallahu ‘anha. Bahkan namanya menjadi nama salah satu surat dalam al-Quran. Beliau juga menjadi wanita yang Allah putihkan kehormatannya dalam al-Quran, وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan Dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan Dia adalah Termasuk orang-orang yang taat. (QS. At-Tahrim: 12) Rahasia di Balik Penyebutan Nama Maryam Mari kita simak keterangan Al-Qurthubi, لم يذكر الله عز وجل امرأة وسماها باسمها في كتابه إلا مريم ابنة عمران، فإنه ذكر اسمها في نحو من ثلاثين موضعاً، لحكمة ذكرها بعض الأشياخ، فإن الملوك والأشراف لا يذكرون حرائرهم في الملأ، ولا يبتذلون أسماءهن، بل يكنون عن الزوجة بالعرس والأهل والعيال ونحو ذلك، فإن ذكروا الإماء لم يكنوا عنهن ولم يصونوا أسماءهن عن الذكر والتصريح بها، فلما قالت النصارى في مريم ما قالت وفي ابنها، صرح الله باسمها، ولم يُكنِّ عنها بالأموَّة والعبودية التي هي صفة لها، وأجرى الكلام على عادة العرب في ذكر إمائها Allah tidak menyebutkan nama seorangpun wanita dalam kitab-Nya selain Maryam bintu Imran. Allah menyebutkan namanya sekitar 30 kali kesempatan. Karena mengandung hikmah sebagaimana yang disebutkan para ulama, Bahwa para raja dan orang-orang terpandang, mereka tidak pernah menyebutkan nama istrinya di depan rakyat, tidak pula mempopulerkan nama mereka. Akan tetapi, mereka menyebut istrinya dengan ungkapan pasangan, ibu, keluarga raja, dst. Namun ketika mereka bersikap terhadap budak, mereka tidak merahasiakannya dan tidak menyembunyikan namanya. Ketika orang nasrani mengatakan bahwa Maryam istri tuhan dan Isa anak tuhan, maka Allah terang-terangan menyebut nama Maryam. Dan tidak Allah sembunyikan dengan budak Allah atau hamba Allah, yang merupakan sifat asli Maryam. Dan Allah jadikan hal ini sebagai kebiasaan masyarakat arab dalam menyebutkan budaknya. (Tafsir al-Qurthubi, 6/21). Az-Zarkasyi menambahkan, ومع هذا فإن عيسى لا أب له، واعتقاد هذا واجب، فإذا تكرر ذكره منسوباً إلى الأم استشعرت القلوب ما يجب عليها اعتقاده من نفي الأب عنه، وتنزيه الأم الطاهرة عن مقالة اليهود لعنهم الله Sesungguhnya Isa terlahir tanpa bapak. Ini keyakinan yang wajib kita miliki. Ketika keterangan nasabnya ke ibunya disebutkan berulang-ulang, maka akan muncul perasaan dalam hati, berupa keyakinan bahwa beliau tidak memiliki bapak. Dan memutihkan nama baik ibunya sang wanita suci, dari perkataan kotor orang yahudi – semoga Allah melaknat mereka –. (al-Burhan fi Ulum al-Quran, 1/163). Kehormatan Wanita, ketika Dia Tersimpan Mulai mengubah paradigma… wanita semakin disimpan, semakin terhormat. Yang berarti kehormatan pula bagi suaminya. Kita bisa membaca ratusan biografi ulama. Sangat jarang sekali disebutkan siapa nama istrinya, siapa nama putri-putrinya. #stop pamer istri
Mengapa Hanya Maryam di al-Quran? Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Satu-satunya wanita yang namanya disebutkan dalam al-Quran adalah Maryam bintu Imran radhiyallahu ‘anha. Bahkan namanya menjadi nama salah satu surat dalam al-Quran. Beliau juga menjadi wanita yang Allah putihkan kehormatannya dalam al-Quran, وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan Dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan Dia adalah Termasuk orang-orang yang taat. (QS. At-Tahrim: 12) Rahasia di Balik Penyebutan Nama Maryam Mari kita simak keterangan Al-Qurthubi, لم يذكر الله عز وجل امرأة وسماها باسمها في كتابه إلا مريم ابنة عمران، فإنه ذكر اسمها في نحو من ثلاثين موضعاً، لحكمة ذكرها بعض الأشياخ، فإن الملوك والأشراف لا يذكرون حرائرهم في الملأ، ولا يبتذلون أسماءهن، بل يكنون عن الزوجة بالعرس والأهل والعيال ونحو ذلك، فإن ذكروا الإماء لم يكنوا عنهن ولم يصونوا أسماءهن عن الذكر والتصريح بها، فلما قالت النصارى في مريم ما قالت وفي ابنها، صرح الله باسمها، ولم يُكنِّ عنها بالأموَّة والعبودية التي هي صفة لها، وأجرى الكلام على عادة العرب في ذكر إمائها Allah tidak menyebutkan nama seorangpun wanita dalam kitab-Nya selain Maryam bintu Imran. Allah menyebutkan namanya sekitar 30 kali kesempatan. Karena mengandung hikmah sebagaimana yang disebutkan para ulama, Bahwa para raja dan orang-orang terpandang, mereka tidak pernah menyebutkan nama istrinya di depan rakyat, tidak pula mempopulerkan nama mereka. Akan tetapi, mereka menyebut istrinya dengan ungkapan pasangan, ibu, keluarga raja, dst. Namun ketika mereka bersikap terhadap budak, mereka tidak merahasiakannya dan tidak menyembunyikan namanya. Ketika orang nasrani mengatakan bahwa Maryam istri tuhan dan Isa anak tuhan, maka Allah terang-terangan menyebut nama Maryam. Dan tidak Allah sembunyikan dengan budak Allah atau hamba Allah, yang merupakan sifat asli Maryam. Dan Allah jadikan hal ini sebagai kebiasaan masyarakat arab dalam menyebutkan budaknya. (Tafsir al-Qurthubi, 6/21). Az-Zarkasyi menambahkan, ومع هذا فإن عيسى لا أب له، واعتقاد هذا واجب، فإذا تكرر ذكره منسوباً إلى الأم استشعرت القلوب ما يجب عليها اعتقاده من نفي الأب عنه، وتنزيه الأم الطاهرة عن مقالة اليهود لعنهم الله Sesungguhnya Isa terlahir tanpa bapak. Ini keyakinan yang wajib kita miliki. Ketika keterangan nasabnya ke ibunya disebutkan berulang-ulang, maka akan muncul perasaan dalam hati, berupa keyakinan bahwa beliau tidak memiliki bapak. Dan memutihkan nama baik ibunya sang wanita suci, dari perkataan kotor orang yahudi – semoga Allah melaknat mereka –. (al-Burhan fi Ulum al-Quran, 1/163). Kehormatan Wanita, ketika Dia Tersimpan Mulai mengubah paradigma… wanita semakin disimpan, semakin terhormat. Yang berarti kehormatan pula bagi suaminya. Kita bisa membaca ratusan biografi ulama. Sangat jarang sekali disebutkan siapa nama istrinya, siapa nama putri-putrinya. #stop pamer istri


Mengapa Hanya Maryam di al-Quran? Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Satu-satunya wanita yang namanya disebutkan dalam al-Quran adalah Maryam bintu Imran radhiyallahu ‘anha. Bahkan namanya menjadi nama salah satu surat dalam al-Quran. Beliau juga menjadi wanita yang Allah putihkan kehormatannya dalam al-Quran, وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan Dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan Dia adalah Termasuk orang-orang yang taat. (QS. At-Tahrim: 12) Rahasia di Balik Penyebutan Nama Maryam Mari kita simak keterangan Al-Qurthubi, لم يذكر الله عز وجل امرأة وسماها باسمها في كتابه إلا مريم ابنة عمران، فإنه ذكر اسمها في نحو من ثلاثين موضعاً، لحكمة ذكرها بعض الأشياخ، فإن الملوك والأشراف لا يذكرون حرائرهم في الملأ، ولا يبتذلون أسماءهن، بل يكنون عن الزوجة بالعرس والأهل والعيال ونحو ذلك، فإن ذكروا الإماء لم يكنوا عنهن ولم يصونوا أسماءهن عن الذكر والتصريح بها، فلما قالت النصارى في مريم ما قالت وفي ابنها، صرح الله باسمها، ولم يُكنِّ عنها بالأموَّة والعبودية التي هي صفة لها، وأجرى الكلام على عادة العرب في ذكر إمائها Allah tidak menyebutkan nama seorangpun wanita dalam kitab-Nya selain Maryam bintu Imran. Allah menyebutkan namanya sekitar 30 kali kesempatan. Karena mengandung hikmah sebagaimana yang disebutkan para ulama, Bahwa para raja dan orang-orang terpandang, mereka tidak pernah menyebutkan nama istrinya di depan rakyat, tidak pula mempopulerkan nama mereka. Akan tetapi, mereka menyebut istrinya dengan ungkapan pasangan, ibu, keluarga raja, dst. Namun ketika mereka bersikap terhadap budak, mereka tidak merahasiakannya dan tidak menyembunyikan namanya. Ketika orang nasrani mengatakan bahwa Maryam istri tuhan dan Isa anak tuhan, maka Allah terang-terangan menyebut nama Maryam. Dan tidak Allah sembunyikan dengan budak Allah atau hamba Allah, yang merupakan sifat asli Maryam. Dan Allah jadikan hal ini sebagai kebiasaan masyarakat arab dalam menyebutkan budaknya. (Tafsir al-Qurthubi, 6/21). Az-Zarkasyi menambahkan, ومع هذا فإن عيسى لا أب له، واعتقاد هذا واجب، فإذا تكرر ذكره منسوباً إلى الأم استشعرت القلوب ما يجب عليها اعتقاده من نفي الأب عنه، وتنزيه الأم الطاهرة عن مقالة اليهود لعنهم الله Sesungguhnya Isa terlahir tanpa bapak. Ini keyakinan yang wajib kita miliki. Ketika keterangan nasabnya ke ibunya disebutkan berulang-ulang, maka akan muncul perasaan dalam hati, berupa keyakinan bahwa beliau tidak memiliki bapak. Dan memutihkan nama baik ibunya sang wanita suci, dari perkataan kotor orang yahudi – semoga Allah melaknat mereka –. (al-Burhan fi Ulum al-Quran, 1/163). Kehormatan Wanita, ketika Dia Tersimpan Mulai mengubah paradigma… wanita semakin disimpan, semakin terhormat. Yang berarti kehormatan pula bagi suaminya. Kita bisa membaca ratusan biografi ulama. Sangat jarang sekali disebutkan siapa nama istrinya, siapa nama putri-putrinya. #stop pamer istri

Tunaikanlah Zakat Harta Kalian

Khutbah jum’at Masjid Nabawi tanggal 29-08-1435 H / 27-06-2014 MOleh : Syekh Ali bin Abdurrahman Al-Hudzaifi -hafidzahullah- Khutbah Pertama :          Segala puji bagi Allah Yang maha kaya lagi maha terpuji, pemilik arsy yang agung, aku memuji Rabbku dan bersyukur kepadaNya, aku bertaubat dan meminta ampun kepadaNya dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah yang esa, tidak ada sekutu bagiNya, Maha pelaksana apa yang Dia kehendaki, dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin dan Nabi kita Muhammad adalah hamba dan Rasulnya, yang ditolong dengan sekuat-kuat pertolongan. Ya Allah curahkan shalawat dan salam  dan berkahilah hambaMu dan RasulMu Muhammad juga kepada keluarganya dan sahabat-sahabatnya yang mengikuti petunjuk yang lurus.Amma ba’du :          Bertakwalah kepada Allah dengan mengerjakan kebaikan-kebaikan, dan meninggalkan dosa-dosa…Kaum muslimin sekalian…           Ketahuilah bahwa ajaran-ajaran agama islam yang hanif ini semuanya kembali kepada tiga perkara, yaitu : berbuat baik kepada diri sendiri, berbuat baik kepada orang lain serta menahan gangguan dan kejelekan kepada orang lain, Allah ta’ala berfirman :وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَArtinya : dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik (QS.Al-Baqarah : 195). Allah juga berfirman :وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَArtinya : dan janganlah kalian melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.(QS.Al-Baqarah : 190).Allah Aza wa jalla juga berfirman:إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَArtinya : Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran.(QS.An-Nahl : 90).Dan Allah mensifati orang-orang beriman bahwasanya mereka selalu berbuat kebaikan kepada diri mereka sendiri dan kepada orang lain, juga mereka selalu menahan dari gangguan dan dari berbuat jahat kepada orang lain, Allah ta’ala berfirman :وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌArtinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS.At-Taubat : 71).Allah ta’ala juga berfirman :وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًاArtinya : dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.(QS.Al-Furqan : 63).Hamba Allah sekalian…Sesungguhnya zakat adalah ibadah kepada Allah, yang Allah tetapkan pada harta sebagai hak yang wajib ditunaikan oleh seorang muslim  untuk delapan kelompok yang berhak menerima zakat yang tidak ada pada zakat tersebut rasa minnah pada orang kaya terhadap orang miskin, yang Allah wajibkan untuk saling membantu antara kaum muslimin, dan juga Allah wajibkan  untuk menutup kebutuhan orang fakir dan miskin, padanya terdapat manfaat yang banyak,  dan tujuan-tujuan yang agung, diantaranya : membersihkan hati dari sifat kikir, bakhil, dan sifat2 jelek yang lain, Allah ta’ala berfirman :خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ Artinya : Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka.(QS.At-Taubah : 103).Menunaikan zakat dapat membersihkan dari penyakit hasad di hati yang disebabkan oleh berlebih-lebihan dalam hal dunia, dan hasad adalah penyakit yang buruk, yang membawa seseorang kepada perbuatan melampaui batas, permusuhan, perbuatan dzalim, dan saling membenci antara anggota masyarakat, dalam hadits disebutkan : “telah menjangkiti kalian penyakit ummat-ummat sebelum kalian, hasad dan saling membenci, maka jauhilah hasad karena sesungguhnya ia memakan kebaikan seperti api yang memakan kayu bakar”.(HR.Abu Dawud).Juga menunaikan zakat akan mewariskan sifat saling mengasihi dan menyayangi antara kaum muslimin dan akan menjamin takaful sosial dan rasa cinta antara si kaya dan si miskin, dan zakat merupakan rukun dari rukun-rukun islam yang selalu berbarengan dengan perintah shalat  di dalam Al-qur’an dan hadits-hadits Rasulullah yang tidak diterima ibadah zakat kecuali dengan mengerjakan ibadah shalat, dan Allah telah memberikan harta yang banyak dan mewajibkan zakat pada harta yang sedikit, Allah ta’ala berfirman :وَأَنَّهُ هُوَ أَغْنَى وَأَقْنَى Artinya : dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan.(QS.An-Najm : 48).Allah ta’ala juga berfirman :وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِArtinya : Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allah-lah (datangnya).(QS.An-Nahl : 53).Allah azza wa jalla juga berfirman :وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُونَ (132) أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ (133) وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍArtinya : Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepada kalian apa yang kalian ketahui. Dia telah menganugerahkan kepada kalian binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air.(QS.As-Syu’ara : 132-134).Allah ta’ala juga berfirman :وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْArtinya : dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepada kalian.(QS.An-nur : 33).Dan diantara bentuk kesyukuran kepada Allah atas nikmat harta adalah dengan mengeluarkan zakatnya, dan zakat akan menambah harta dan tidak menguranginya dan juga akan menjaganya dari kehancuran, Allah ta’ala berfirman :وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَArtinya : Dan barang apa saja yang kalian nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.(QS.Saba’ : 39).Dalam hadits juga disebutkan : tidak binasa harta di darat dan di laut kecuali disebabkan karena tidak dikeluarkan zakatnya.Dari sahabat Ibnu Umar radiyallahu ‘anhuma berkata : bersabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam : dan tidaklah suatu kaum enggan menunaikan zakat harta mereka kecuali akan dihalangi dari mereka hujan dari langit, kalau seandainya bukan karena binatang ternak tentulah tidak akan turun hujan untuk mereka.(HR.Ibnu Majah).Dan orang-orang miskin akan mendebat orang-orang kaya pada hari kiamat jika mereka tidak membayarkan zakat kepada mereka, mereka akan berkata : wahai Tuhan kami…engkau telah memberikan mereka harta, akan tetapi mereka tidak memberikan hak kami, maka  Allah memutuskan diantara mereka dengan keputusannya, dan Allah telah menjanjikan bagi orang yang mengeluarkan zakat pahala yang besar, ِAllah ta’ala berfirman :وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَArtinya : dan orang-orang yang menunaikan zakat.(QS.Al-Mu’minun : 4).Kemudian Allah menyebutkan bersama zakat amalan-amalan lain dan menjelaskan ganjarannya dengan firmanNya :أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11)Artinya : Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya(QS.Al-Mu’minun : 10-11).Allah ta’ala juga berfirman :إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15) آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16) كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18) وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (19)Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik, Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian.(QS.Adz-Dzariyat 15-19).juga Allah mengancam orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat dari harta mereka dengan adzab yang pedih, Allah ta’ala berfirman :وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ (6) الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ (7)Artinya : Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya), (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.(QS.Fusshilat :6-7).Allah ta’ala juga berfirman ;وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (34) يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ (35)Artinya : Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta benda kalian yang kalian simpan untuk diri kalian sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kalian simpan itu”.(QS.At-Taubah 34-35).Dan dari sahabat Abu Hurairah radiyallah ‘anhu berkata : bersabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam : tidak ada pemilik harta simpanan yang tidak ditunaikan zakatnya kecuali akan diwujudkan untuknya pada hari kiamat nanti dalam bentuk  ular jantan yang menggigitnya dengan dua taringnya sembari mengatakan aku adalah harta simpananmu, aku adalah hartamu.(HR.Bukhari dan Muslim).Dan pemilik onta, sapi, dan kambing yang pemiliknya tidak menunaikan zakatnya, maka akan dilemparkan ke mukanya dan hewan tersebut akan menginjaknya sebagaimana yang tertera dalam hadits di sahih muslim, dan juga wajib dikeluarkan zakat dari emas dan perak dan yang menggantikan kegunaannya dari uang kertas jika keduanya telah sampai batas nishab atau sampai nishab jika keduanya digabung, zakat juga wajib pada onta, sapi dan kambing jika mencapai nishab, zakat juga wajib pada barang tambang dan barang dagangan dengan cara dinilai dan dikeluarkan darinya seperdua puluh atau 2,5 %, dan barang siapa yang mempunyai utang hendaklah ia melunasi utangnya dan sisa dari hartanya ia keluarkan zakatnya, dan jika ia tidak membayar utangnya maka ia mengeluarkan zakat dari apa yang ada di tangannya, dan nishab emas adalah dua puluh dinar, dan nishab perak dua ratus dirham atau yang senilai dengan keduanya dari uang kertas pada waktu itu, dan yang menjadi patokan adalah ia mengeluarkan 2,5 %, maka barang siapa yang mengeluarkan dari seratus dua setengah, dan dari seribu dua puluh lima, dan dari sejuta dua puluh lima ribu berarti ia telah lepas tanggungannya, dan wajib bagi seorang muslim untuk mengerti fiqih zakat dan bertanya kepada ulama tentang perinciannya, agar ia menunaikan hak Allah pada hartanya, dan barang siapa yang menunaikan zakat hartanya yang lalu dan yang akan datang setiap tahun pada bulan ramadhan misalnya maka hal itu cukup baginya.Wahai anak adam hartamu adalah yang engkau infakkan dan harta orang lain adalah yang engkau simpan, seandainya semua orang-orang kaya mengeluarkan zakat harta mereka  maka tidak akan tersisa orang miskin dan peminta-minta, maka ambillah pelajaran dari yang telah mendahului kalian dari generasi-generasi yang binasa yang diazab oleh Allah dengan harta mereka, dan ambillah pelajaran dari yang telah sampai kepada kalian kabar mereka, yang mana harta mereka tidak bermanfaat untuk mereka, dan harta akan engkau tinggalkan atau ia yang akan meninggalkanmu, dan Allah telah mensyariatkan selain zakat nafkah-nafkah yang wajib dan dianjurkan, dan Allah juga menganjurkan kita untuk berinfak pada jalan kebaikan, Allah ta’ala berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌArtinya : Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada kalian  sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa`at.Dan harta yang diinfakkan akan dilipat gandakan pahalanya, terutama pada bulan ramadhan, dan sedekah yang disembunyikan mempunyai keutamaan, dari sahabat Abu said al-khudri  radiyallahu ‘anhu, dari Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam ia bersabda : “sedekah yang disembunyikan akan memadamkan kemarahan rabb dan silaturrahmi akan menambah umur dan amal kebaikan akan melindungi dari tempat kematian yang jelek”. (hadits ini sahih diriwayatkan oleh Al-baihaqi di dalam kitab syu’abul iman), dan hendaklah seseorang berjihad melawan syaithan dalam bersedekah, dari sahabat buraidah radiyallahu ‘anhu berkata : bersabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam : tidaklah seseorang mengeluarkan sesuatu dari sedekah sampai ia melepaskan darinya dagu tujuh puluh syaitan.( hadits ini sahih  diriwayatkan oleh Al-hakim dalam kitab Al-mustadrak), dan bulan ramadhan adalah bulan bersedekah dan berbuat kebaikan, maka beruntunglah orang yang berlomba kepada kebaikan-kebaikan, dan menjaga dirinya dari kebinasaan, Allah ta’ala berfirman :وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)Artinya : Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.Semoga Allah memberkahi untukku dan kalian pada Al-qur’anul Adzim… Khutbah kedua :Segala puji bagi Allah, rabb semesta alam, yang maha pengasih lagi maha penyayang, yang menguasai hari pembalasan, aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah yang esa, tidak ada sekutu bagiNya, maha pemberi rezki, Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin dan Nabi kita Muhammad adalah hamba dan Rasulnya yang terpercaya, Ya Allah curahkan shalawat dan salam  dan berkahilah hambaMu dan RasulMu Muhammad juga kepada keluarganya dan semua sahabatnya.Amma ba’du…          Bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan berpegang teguhlah pada agama islam dengan buhul tali yang kuat.          Wahai hamba Allah sekalian…telah datang kepada kalian bulan yang mulia, dan Allah telah mengaruniakan kepada kalian di dalamnya musim yang agung, agar kalian melakukan amal saleh dan bertaubat dari dosa-dosa, dan dahulu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam memberi kabar gembira dengannya kepada para sahabatnya pada akhir sya’ban, maka mereka semua menyambutnya dengan kebahagiaan dan pengagungan, dan Allah telah menjadikan puasa padanya sebagai penghapus dosa-dosa, dalam hadits disebutkan : “barang siapa yang puasa ramadhan dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan dihapuskan dosa-dosanya yang telah lalu.(HR.Bukhari), Allah juga jadikan qiyam ramadhan sebagai penghapus dosa-dosa, ia adalah bulan yang diikat syaitan di dalamnya, dan dibuka pintu-pintu syurga serta ditutup pintu-pintu neraka, maka agungkanlah bulan ini, dan dahuluilah sebelumnya dengan bertaubat yang benar, dan jagalah puasa kalian dari hal-hal yang membatalkannya dan ghibah serta maksiat-maksiat yang lain, dan sucikanlah ia dengan dzikir, membaca Al-Qur’an dan amal-amal saleh yang lain agar kalian beruntung bersama orang-orang yang beruntung, dan agar kalian bersama dengan orang-orang yang paling dahulu masuk surga.Hamba Allah sekalian… Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya…Penerjemah: Ust. Iqbal Gunawan, Lc 

Tunaikanlah Zakat Harta Kalian

Khutbah jum’at Masjid Nabawi tanggal 29-08-1435 H / 27-06-2014 MOleh : Syekh Ali bin Abdurrahman Al-Hudzaifi -hafidzahullah- Khutbah Pertama :          Segala puji bagi Allah Yang maha kaya lagi maha terpuji, pemilik arsy yang agung, aku memuji Rabbku dan bersyukur kepadaNya, aku bertaubat dan meminta ampun kepadaNya dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah yang esa, tidak ada sekutu bagiNya, Maha pelaksana apa yang Dia kehendaki, dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin dan Nabi kita Muhammad adalah hamba dan Rasulnya, yang ditolong dengan sekuat-kuat pertolongan. Ya Allah curahkan shalawat dan salam  dan berkahilah hambaMu dan RasulMu Muhammad juga kepada keluarganya dan sahabat-sahabatnya yang mengikuti petunjuk yang lurus.Amma ba’du :          Bertakwalah kepada Allah dengan mengerjakan kebaikan-kebaikan, dan meninggalkan dosa-dosa…Kaum muslimin sekalian…           Ketahuilah bahwa ajaran-ajaran agama islam yang hanif ini semuanya kembali kepada tiga perkara, yaitu : berbuat baik kepada diri sendiri, berbuat baik kepada orang lain serta menahan gangguan dan kejelekan kepada orang lain, Allah ta’ala berfirman :وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَArtinya : dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik (QS.Al-Baqarah : 195). Allah juga berfirman :وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَArtinya : dan janganlah kalian melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.(QS.Al-Baqarah : 190).Allah Aza wa jalla juga berfirman:إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَArtinya : Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran.(QS.An-Nahl : 90).Dan Allah mensifati orang-orang beriman bahwasanya mereka selalu berbuat kebaikan kepada diri mereka sendiri dan kepada orang lain, juga mereka selalu menahan dari gangguan dan dari berbuat jahat kepada orang lain, Allah ta’ala berfirman :وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌArtinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS.At-Taubat : 71).Allah ta’ala juga berfirman :وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًاArtinya : dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.(QS.Al-Furqan : 63).Hamba Allah sekalian…Sesungguhnya zakat adalah ibadah kepada Allah, yang Allah tetapkan pada harta sebagai hak yang wajib ditunaikan oleh seorang muslim  untuk delapan kelompok yang berhak menerima zakat yang tidak ada pada zakat tersebut rasa minnah pada orang kaya terhadap orang miskin, yang Allah wajibkan untuk saling membantu antara kaum muslimin, dan juga Allah wajibkan  untuk menutup kebutuhan orang fakir dan miskin, padanya terdapat manfaat yang banyak,  dan tujuan-tujuan yang agung, diantaranya : membersihkan hati dari sifat kikir, bakhil, dan sifat2 jelek yang lain, Allah ta’ala berfirman :خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ Artinya : Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka.(QS.At-Taubah : 103).Menunaikan zakat dapat membersihkan dari penyakit hasad di hati yang disebabkan oleh berlebih-lebihan dalam hal dunia, dan hasad adalah penyakit yang buruk, yang membawa seseorang kepada perbuatan melampaui batas, permusuhan, perbuatan dzalim, dan saling membenci antara anggota masyarakat, dalam hadits disebutkan : “telah menjangkiti kalian penyakit ummat-ummat sebelum kalian, hasad dan saling membenci, maka jauhilah hasad karena sesungguhnya ia memakan kebaikan seperti api yang memakan kayu bakar”.(HR.Abu Dawud).Juga menunaikan zakat akan mewariskan sifat saling mengasihi dan menyayangi antara kaum muslimin dan akan menjamin takaful sosial dan rasa cinta antara si kaya dan si miskin, dan zakat merupakan rukun dari rukun-rukun islam yang selalu berbarengan dengan perintah shalat  di dalam Al-qur’an dan hadits-hadits Rasulullah yang tidak diterima ibadah zakat kecuali dengan mengerjakan ibadah shalat, dan Allah telah memberikan harta yang banyak dan mewajibkan zakat pada harta yang sedikit, Allah ta’ala berfirman :وَأَنَّهُ هُوَ أَغْنَى وَأَقْنَى Artinya : dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan.(QS.An-Najm : 48).Allah ta’ala juga berfirman :وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِArtinya : Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allah-lah (datangnya).(QS.An-Nahl : 53).Allah azza wa jalla juga berfirman :وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُونَ (132) أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ (133) وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍArtinya : Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepada kalian apa yang kalian ketahui. Dia telah menganugerahkan kepada kalian binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air.(QS.As-Syu’ara : 132-134).Allah ta’ala juga berfirman :وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْArtinya : dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepada kalian.(QS.An-nur : 33).Dan diantara bentuk kesyukuran kepada Allah atas nikmat harta adalah dengan mengeluarkan zakatnya, dan zakat akan menambah harta dan tidak menguranginya dan juga akan menjaganya dari kehancuran, Allah ta’ala berfirman :وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَArtinya : Dan barang apa saja yang kalian nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.(QS.Saba’ : 39).Dalam hadits juga disebutkan : tidak binasa harta di darat dan di laut kecuali disebabkan karena tidak dikeluarkan zakatnya.Dari sahabat Ibnu Umar radiyallahu ‘anhuma berkata : bersabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam : dan tidaklah suatu kaum enggan menunaikan zakat harta mereka kecuali akan dihalangi dari mereka hujan dari langit, kalau seandainya bukan karena binatang ternak tentulah tidak akan turun hujan untuk mereka.(HR.Ibnu Majah).Dan orang-orang miskin akan mendebat orang-orang kaya pada hari kiamat jika mereka tidak membayarkan zakat kepada mereka, mereka akan berkata : wahai Tuhan kami…engkau telah memberikan mereka harta, akan tetapi mereka tidak memberikan hak kami, maka  Allah memutuskan diantara mereka dengan keputusannya, dan Allah telah menjanjikan bagi orang yang mengeluarkan zakat pahala yang besar, ِAllah ta’ala berfirman :وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَArtinya : dan orang-orang yang menunaikan zakat.(QS.Al-Mu’minun : 4).Kemudian Allah menyebutkan bersama zakat amalan-amalan lain dan menjelaskan ganjarannya dengan firmanNya :أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11)Artinya : Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya(QS.Al-Mu’minun : 10-11).Allah ta’ala juga berfirman :إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15) آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16) كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18) وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (19)Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik, Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian.(QS.Adz-Dzariyat 15-19).juga Allah mengancam orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat dari harta mereka dengan adzab yang pedih, Allah ta’ala berfirman :وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ (6) الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ (7)Artinya : Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya), (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.(QS.Fusshilat :6-7).Allah ta’ala juga berfirman ;وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (34) يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ (35)Artinya : Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta benda kalian yang kalian simpan untuk diri kalian sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kalian simpan itu”.(QS.At-Taubah 34-35).Dan dari sahabat Abu Hurairah radiyallah ‘anhu berkata : bersabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam : tidak ada pemilik harta simpanan yang tidak ditunaikan zakatnya kecuali akan diwujudkan untuknya pada hari kiamat nanti dalam bentuk  ular jantan yang menggigitnya dengan dua taringnya sembari mengatakan aku adalah harta simpananmu, aku adalah hartamu.(HR.Bukhari dan Muslim).Dan pemilik onta, sapi, dan kambing yang pemiliknya tidak menunaikan zakatnya, maka akan dilemparkan ke mukanya dan hewan tersebut akan menginjaknya sebagaimana yang tertera dalam hadits di sahih muslim, dan juga wajib dikeluarkan zakat dari emas dan perak dan yang menggantikan kegunaannya dari uang kertas jika keduanya telah sampai batas nishab atau sampai nishab jika keduanya digabung, zakat juga wajib pada onta, sapi dan kambing jika mencapai nishab, zakat juga wajib pada barang tambang dan barang dagangan dengan cara dinilai dan dikeluarkan darinya seperdua puluh atau 2,5 %, dan barang siapa yang mempunyai utang hendaklah ia melunasi utangnya dan sisa dari hartanya ia keluarkan zakatnya, dan jika ia tidak membayar utangnya maka ia mengeluarkan zakat dari apa yang ada di tangannya, dan nishab emas adalah dua puluh dinar, dan nishab perak dua ratus dirham atau yang senilai dengan keduanya dari uang kertas pada waktu itu, dan yang menjadi patokan adalah ia mengeluarkan 2,5 %, maka barang siapa yang mengeluarkan dari seratus dua setengah, dan dari seribu dua puluh lima, dan dari sejuta dua puluh lima ribu berarti ia telah lepas tanggungannya, dan wajib bagi seorang muslim untuk mengerti fiqih zakat dan bertanya kepada ulama tentang perinciannya, agar ia menunaikan hak Allah pada hartanya, dan barang siapa yang menunaikan zakat hartanya yang lalu dan yang akan datang setiap tahun pada bulan ramadhan misalnya maka hal itu cukup baginya.Wahai anak adam hartamu adalah yang engkau infakkan dan harta orang lain adalah yang engkau simpan, seandainya semua orang-orang kaya mengeluarkan zakat harta mereka  maka tidak akan tersisa orang miskin dan peminta-minta, maka ambillah pelajaran dari yang telah mendahului kalian dari generasi-generasi yang binasa yang diazab oleh Allah dengan harta mereka, dan ambillah pelajaran dari yang telah sampai kepada kalian kabar mereka, yang mana harta mereka tidak bermanfaat untuk mereka, dan harta akan engkau tinggalkan atau ia yang akan meninggalkanmu, dan Allah telah mensyariatkan selain zakat nafkah-nafkah yang wajib dan dianjurkan, dan Allah juga menganjurkan kita untuk berinfak pada jalan kebaikan, Allah ta’ala berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌArtinya : Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada kalian  sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa`at.Dan harta yang diinfakkan akan dilipat gandakan pahalanya, terutama pada bulan ramadhan, dan sedekah yang disembunyikan mempunyai keutamaan, dari sahabat Abu said al-khudri  radiyallahu ‘anhu, dari Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam ia bersabda : “sedekah yang disembunyikan akan memadamkan kemarahan rabb dan silaturrahmi akan menambah umur dan amal kebaikan akan melindungi dari tempat kematian yang jelek”. (hadits ini sahih diriwayatkan oleh Al-baihaqi di dalam kitab syu’abul iman), dan hendaklah seseorang berjihad melawan syaithan dalam bersedekah, dari sahabat buraidah radiyallahu ‘anhu berkata : bersabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam : tidaklah seseorang mengeluarkan sesuatu dari sedekah sampai ia melepaskan darinya dagu tujuh puluh syaitan.( hadits ini sahih  diriwayatkan oleh Al-hakim dalam kitab Al-mustadrak), dan bulan ramadhan adalah bulan bersedekah dan berbuat kebaikan, maka beruntunglah orang yang berlomba kepada kebaikan-kebaikan, dan menjaga dirinya dari kebinasaan, Allah ta’ala berfirman :وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)Artinya : Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.Semoga Allah memberkahi untukku dan kalian pada Al-qur’anul Adzim… Khutbah kedua :Segala puji bagi Allah, rabb semesta alam, yang maha pengasih lagi maha penyayang, yang menguasai hari pembalasan, aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah yang esa, tidak ada sekutu bagiNya, maha pemberi rezki, Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin dan Nabi kita Muhammad adalah hamba dan Rasulnya yang terpercaya, Ya Allah curahkan shalawat dan salam  dan berkahilah hambaMu dan RasulMu Muhammad juga kepada keluarganya dan semua sahabatnya.Amma ba’du…          Bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan berpegang teguhlah pada agama islam dengan buhul tali yang kuat.          Wahai hamba Allah sekalian…telah datang kepada kalian bulan yang mulia, dan Allah telah mengaruniakan kepada kalian di dalamnya musim yang agung, agar kalian melakukan amal saleh dan bertaubat dari dosa-dosa, dan dahulu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam memberi kabar gembira dengannya kepada para sahabatnya pada akhir sya’ban, maka mereka semua menyambutnya dengan kebahagiaan dan pengagungan, dan Allah telah menjadikan puasa padanya sebagai penghapus dosa-dosa, dalam hadits disebutkan : “barang siapa yang puasa ramadhan dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan dihapuskan dosa-dosanya yang telah lalu.(HR.Bukhari), Allah juga jadikan qiyam ramadhan sebagai penghapus dosa-dosa, ia adalah bulan yang diikat syaitan di dalamnya, dan dibuka pintu-pintu syurga serta ditutup pintu-pintu neraka, maka agungkanlah bulan ini, dan dahuluilah sebelumnya dengan bertaubat yang benar, dan jagalah puasa kalian dari hal-hal yang membatalkannya dan ghibah serta maksiat-maksiat yang lain, dan sucikanlah ia dengan dzikir, membaca Al-Qur’an dan amal-amal saleh yang lain agar kalian beruntung bersama orang-orang yang beruntung, dan agar kalian bersama dengan orang-orang yang paling dahulu masuk surga.Hamba Allah sekalian… Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya…Penerjemah: Ust. Iqbal Gunawan, Lc 
Khutbah jum’at Masjid Nabawi tanggal 29-08-1435 H / 27-06-2014 MOleh : Syekh Ali bin Abdurrahman Al-Hudzaifi -hafidzahullah- Khutbah Pertama :          Segala puji bagi Allah Yang maha kaya lagi maha terpuji, pemilik arsy yang agung, aku memuji Rabbku dan bersyukur kepadaNya, aku bertaubat dan meminta ampun kepadaNya dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah yang esa, tidak ada sekutu bagiNya, Maha pelaksana apa yang Dia kehendaki, dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin dan Nabi kita Muhammad adalah hamba dan Rasulnya, yang ditolong dengan sekuat-kuat pertolongan. Ya Allah curahkan shalawat dan salam  dan berkahilah hambaMu dan RasulMu Muhammad juga kepada keluarganya dan sahabat-sahabatnya yang mengikuti petunjuk yang lurus.Amma ba’du :          Bertakwalah kepada Allah dengan mengerjakan kebaikan-kebaikan, dan meninggalkan dosa-dosa…Kaum muslimin sekalian…           Ketahuilah bahwa ajaran-ajaran agama islam yang hanif ini semuanya kembali kepada tiga perkara, yaitu : berbuat baik kepada diri sendiri, berbuat baik kepada orang lain serta menahan gangguan dan kejelekan kepada orang lain, Allah ta’ala berfirman :وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَArtinya : dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik (QS.Al-Baqarah : 195). Allah juga berfirman :وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَArtinya : dan janganlah kalian melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.(QS.Al-Baqarah : 190).Allah Aza wa jalla juga berfirman:إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَArtinya : Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran.(QS.An-Nahl : 90).Dan Allah mensifati orang-orang beriman bahwasanya mereka selalu berbuat kebaikan kepada diri mereka sendiri dan kepada orang lain, juga mereka selalu menahan dari gangguan dan dari berbuat jahat kepada orang lain, Allah ta’ala berfirman :وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌArtinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS.At-Taubat : 71).Allah ta’ala juga berfirman :وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًاArtinya : dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.(QS.Al-Furqan : 63).Hamba Allah sekalian…Sesungguhnya zakat adalah ibadah kepada Allah, yang Allah tetapkan pada harta sebagai hak yang wajib ditunaikan oleh seorang muslim  untuk delapan kelompok yang berhak menerima zakat yang tidak ada pada zakat tersebut rasa minnah pada orang kaya terhadap orang miskin, yang Allah wajibkan untuk saling membantu antara kaum muslimin, dan juga Allah wajibkan  untuk menutup kebutuhan orang fakir dan miskin, padanya terdapat manfaat yang banyak,  dan tujuan-tujuan yang agung, diantaranya : membersihkan hati dari sifat kikir, bakhil, dan sifat2 jelek yang lain, Allah ta’ala berfirman :خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ Artinya : Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka.(QS.At-Taubah : 103).Menunaikan zakat dapat membersihkan dari penyakit hasad di hati yang disebabkan oleh berlebih-lebihan dalam hal dunia, dan hasad adalah penyakit yang buruk, yang membawa seseorang kepada perbuatan melampaui batas, permusuhan, perbuatan dzalim, dan saling membenci antara anggota masyarakat, dalam hadits disebutkan : “telah menjangkiti kalian penyakit ummat-ummat sebelum kalian, hasad dan saling membenci, maka jauhilah hasad karena sesungguhnya ia memakan kebaikan seperti api yang memakan kayu bakar”.(HR.Abu Dawud).Juga menunaikan zakat akan mewariskan sifat saling mengasihi dan menyayangi antara kaum muslimin dan akan menjamin takaful sosial dan rasa cinta antara si kaya dan si miskin, dan zakat merupakan rukun dari rukun-rukun islam yang selalu berbarengan dengan perintah shalat  di dalam Al-qur’an dan hadits-hadits Rasulullah yang tidak diterima ibadah zakat kecuali dengan mengerjakan ibadah shalat, dan Allah telah memberikan harta yang banyak dan mewajibkan zakat pada harta yang sedikit, Allah ta’ala berfirman :وَأَنَّهُ هُوَ أَغْنَى وَأَقْنَى Artinya : dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan.(QS.An-Najm : 48).Allah ta’ala juga berfirman :وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِArtinya : Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allah-lah (datangnya).(QS.An-Nahl : 53).Allah azza wa jalla juga berfirman :وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُونَ (132) أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ (133) وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍArtinya : Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepada kalian apa yang kalian ketahui. Dia telah menganugerahkan kepada kalian binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air.(QS.As-Syu’ara : 132-134).Allah ta’ala juga berfirman :وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْArtinya : dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepada kalian.(QS.An-nur : 33).Dan diantara bentuk kesyukuran kepada Allah atas nikmat harta adalah dengan mengeluarkan zakatnya, dan zakat akan menambah harta dan tidak menguranginya dan juga akan menjaganya dari kehancuran, Allah ta’ala berfirman :وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَArtinya : Dan barang apa saja yang kalian nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.(QS.Saba’ : 39).Dalam hadits juga disebutkan : tidak binasa harta di darat dan di laut kecuali disebabkan karena tidak dikeluarkan zakatnya.Dari sahabat Ibnu Umar radiyallahu ‘anhuma berkata : bersabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam : dan tidaklah suatu kaum enggan menunaikan zakat harta mereka kecuali akan dihalangi dari mereka hujan dari langit, kalau seandainya bukan karena binatang ternak tentulah tidak akan turun hujan untuk mereka.(HR.Ibnu Majah).Dan orang-orang miskin akan mendebat orang-orang kaya pada hari kiamat jika mereka tidak membayarkan zakat kepada mereka, mereka akan berkata : wahai Tuhan kami…engkau telah memberikan mereka harta, akan tetapi mereka tidak memberikan hak kami, maka  Allah memutuskan diantara mereka dengan keputusannya, dan Allah telah menjanjikan bagi orang yang mengeluarkan zakat pahala yang besar, ِAllah ta’ala berfirman :وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَArtinya : dan orang-orang yang menunaikan zakat.(QS.Al-Mu’minun : 4).Kemudian Allah menyebutkan bersama zakat amalan-amalan lain dan menjelaskan ganjarannya dengan firmanNya :أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11)Artinya : Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya(QS.Al-Mu’minun : 10-11).Allah ta’ala juga berfirman :إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15) آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16) كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18) وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (19)Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik, Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian.(QS.Adz-Dzariyat 15-19).juga Allah mengancam orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat dari harta mereka dengan adzab yang pedih, Allah ta’ala berfirman :وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ (6) الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ (7)Artinya : Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya), (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.(QS.Fusshilat :6-7).Allah ta’ala juga berfirman ;وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (34) يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ (35)Artinya : Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta benda kalian yang kalian simpan untuk diri kalian sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kalian simpan itu”.(QS.At-Taubah 34-35).Dan dari sahabat Abu Hurairah radiyallah ‘anhu berkata : bersabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam : tidak ada pemilik harta simpanan yang tidak ditunaikan zakatnya kecuali akan diwujudkan untuknya pada hari kiamat nanti dalam bentuk  ular jantan yang menggigitnya dengan dua taringnya sembari mengatakan aku adalah harta simpananmu, aku adalah hartamu.(HR.Bukhari dan Muslim).Dan pemilik onta, sapi, dan kambing yang pemiliknya tidak menunaikan zakatnya, maka akan dilemparkan ke mukanya dan hewan tersebut akan menginjaknya sebagaimana yang tertera dalam hadits di sahih muslim, dan juga wajib dikeluarkan zakat dari emas dan perak dan yang menggantikan kegunaannya dari uang kertas jika keduanya telah sampai batas nishab atau sampai nishab jika keduanya digabung, zakat juga wajib pada onta, sapi dan kambing jika mencapai nishab, zakat juga wajib pada barang tambang dan barang dagangan dengan cara dinilai dan dikeluarkan darinya seperdua puluh atau 2,5 %, dan barang siapa yang mempunyai utang hendaklah ia melunasi utangnya dan sisa dari hartanya ia keluarkan zakatnya, dan jika ia tidak membayar utangnya maka ia mengeluarkan zakat dari apa yang ada di tangannya, dan nishab emas adalah dua puluh dinar, dan nishab perak dua ratus dirham atau yang senilai dengan keduanya dari uang kertas pada waktu itu, dan yang menjadi patokan adalah ia mengeluarkan 2,5 %, maka barang siapa yang mengeluarkan dari seratus dua setengah, dan dari seribu dua puluh lima, dan dari sejuta dua puluh lima ribu berarti ia telah lepas tanggungannya, dan wajib bagi seorang muslim untuk mengerti fiqih zakat dan bertanya kepada ulama tentang perinciannya, agar ia menunaikan hak Allah pada hartanya, dan barang siapa yang menunaikan zakat hartanya yang lalu dan yang akan datang setiap tahun pada bulan ramadhan misalnya maka hal itu cukup baginya.Wahai anak adam hartamu adalah yang engkau infakkan dan harta orang lain adalah yang engkau simpan, seandainya semua orang-orang kaya mengeluarkan zakat harta mereka  maka tidak akan tersisa orang miskin dan peminta-minta, maka ambillah pelajaran dari yang telah mendahului kalian dari generasi-generasi yang binasa yang diazab oleh Allah dengan harta mereka, dan ambillah pelajaran dari yang telah sampai kepada kalian kabar mereka, yang mana harta mereka tidak bermanfaat untuk mereka, dan harta akan engkau tinggalkan atau ia yang akan meninggalkanmu, dan Allah telah mensyariatkan selain zakat nafkah-nafkah yang wajib dan dianjurkan, dan Allah juga menganjurkan kita untuk berinfak pada jalan kebaikan, Allah ta’ala berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌArtinya : Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada kalian  sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa`at.Dan harta yang diinfakkan akan dilipat gandakan pahalanya, terutama pada bulan ramadhan, dan sedekah yang disembunyikan mempunyai keutamaan, dari sahabat Abu said al-khudri  radiyallahu ‘anhu, dari Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam ia bersabda : “sedekah yang disembunyikan akan memadamkan kemarahan rabb dan silaturrahmi akan menambah umur dan amal kebaikan akan melindungi dari tempat kematian yang jelek”. (hadits ini sahih diriwayatkan oleh Al-baihaqi di dalam kitab syu’abul iman), dan hendaklah seseorang berjihad melawan syaithan dalam bersedekah, dari sahabat buraidah radiyallahu ‘anhu berkata : bersabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam : tidaklah seseorang mengeluarkan sesuatu dari sedekah sampai ia melepaskan darinya dagu tujuh puluh syaitan.( hadits ini sahih  diriwayatkan oleh Al-hakim dalam kitab Al-mustadrak), dan bulan ramadhan adalah bulan bersedekah dan berbuat kebaikan, maka beruntunglah orang yang berlomba kepada kebaikan-kebaikan, dan menjaga dirinya dari kebinasaan, Allah ta’ala berfirman :وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)Artinya : Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.Semoga Allah memberkahi untukku dan kalian pada Al-qur’anul Adzim… Khutbah kedua :Segala puji bagi Allah, rabb semesta alam, yang maha pengasih lagi maha penyayang, yang menguasai hari pembalasan, aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah yang esa, tidak ada sekutu bagiNya, maha pemberi rezki, Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin dan Nabi kita Muhammad adalah hamba dan Rasulnya yang terpercaya, Ya Allah curahkan shalawat dan salam  dan berkahilah hambaMu dan RasulMu Muhammad juga kepada keluarganya dan semua sahabatnya.Amma ba’du…          Bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan berpegang teguhlah pada agama islam dengan buhul tali yang kuat.          Wahai hamba Allah sekalian…telah datang kepada kalian bulan yang mulia, dan Allah telah mengaruniakan kepada kalian di dalamnya musim yang agung, agar kalian melakukan amal saleh dan bertaubat dari dosa-dosa, dan dahulu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam memberi kabar gembira dengannya kepada para sahabatnya pada akhir sya’ban, maka mereka semua menyambutnya dengan kebahagiaan dan pengagungan, dan Allah telah menjadikan puasa padanya sebagai penghapus dosa-dosa, dalam hadits disebutkan : “barang siapa yang puasa ramadhan dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan dihapuskan dosa-dosanya yang telah lalu.(HR.Bukhari), Allah juga jadikan qiyam ramadhan sebagai penghapus dosa-dosa, ia adalah bulan yang diikat syaitan di dalamnya, dan dibuka pintu-pintu syurga serta ditutup pintu-pintu neraka, maka agungkanlah bulan ini, dan dahuluilah sebelumnya dengan bertaubat yang benar, dan jagalah puasa kalian dari hal-hal yang membatalkannya dan ghibah serta maksiat-maksiat yang lain, dan sucikanlah ia dengan dzikir, membaca Al-Qur’an dan amal-amal saleh yang lain agar kalian beruntung bersama orang-orang yang beruntung, dan agar kalian bersama dengan orang-orang yang paling dahulu masuk surga.Hamba Allah sekalian… Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya…Penerjemah: Ust. Iqbal Gunawan, Lc 


Khutbah jum’at Masjid Nabawi tanggal 29-08-1435 H / 27-06-2014 MOleh : Syekh Ali bin Abdurrahman Al-Hudzaifi -hafidzahullah- Khutbah Pertama :          Segala puji bagi Allah Yang maha kaya lagi maha terpuji, pemilik arsy yang agung, aku memuji Rabbku dan bersyukur kepadaNya, aku bertaubat dan meminta ampun kepadaNya dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah yang esa, tidak ada sekutu bagiNya, Maha pelaksana apa yang Dia kehendaki, dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin dan Nabi kita Muhammad adalah hamba dan Rasulnya, yang ditolong dengan sekuat-kuat pertolongan. Ya Allah curahkan shalawat dan salam  dan berkahilah hambaMu dan RasulMu Muhammad juga kepada keluarganya dan sahabat-sahabatnya yang mengikuti petunjuk yang lurus.Amma ba’du :          Bertakwalah kepada Allah dengan mengerjakan kebaikan-kebaikan, dan meninggalkan dosa-dosa…Kaum muslimin sekalian…           Ketahuilah bahwa ajaran-ajaran agama islam yang hanif ini semuanya kembali kepada tiga perkara, yaitu : berbuat baik kepada diri sendiri, berbuat baik kepada orang lain serta menahan gangguan dan kejelekan kepada orang lain, Allah ta’ala berfirman :وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَArtinya : dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik (QS.Al-Baqarah : 195). Allah juga berfirman :وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَArtinya : dan janganlah kalian melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.(QS.Al-Baqarah : 190).Allah Aza wa jalla juga berfirman:إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَArtinya : Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran.(QS.An-Nahl : 90).Dan Allah mensifati orang-orang beriman bahwasanya mereka selalu berbuat kebaikan kepada diri mereka sendiri dan kepada orang lain, juga mereka selalu menahan dari gangguan dan dari berbuat jahat kepada orang lain, Allah ta’ala berfirman :وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌArtinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS.At-Taubat : 71).Allah ta’ala juga berfirman :وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًاArtinya : dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.(QS.Al-Furqan : 63).Hamba Allah sekalian…Sesungguhnya zakat adalah ibadah kepada Allah, yang Allah tetapkan pada harta sebagai hak yang wajib ditunaikan oleh seorang muslim  untuk delapan kelompok yang berhak menerima zakat yang tidak ada pada zakat tersebut rasa minnah pada orang kaya terhadap orang miskin, yang Allah wajibkan untuk saling membantu antara kaum muslimin, dan juga Allah wajibkan  untuk menutup kebutuhan orang fakir dan miskin, padanya terdapat manfaat yang banyak,  dan tujuan-tujuan yang agung, diantaranya : membersihkan hati dari sifat kikir, bakhil, dan sifat2 jelek yang lain, Allah ta’ala berfirman :خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ Artinya : Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka.(QS.At-Taubah : 103).Menunaikan zakat dapat membersihkan dari penyakit hasad di hati yang disebabkan oleh berlebih-lebihan dalam hal dunia, dan hasad adalah penyakit yang buruk, yang membawa seseorang kepada perbuatan melampaui batas, permusuhan, perbuatan dzalim, dan saling membenci antara anggota masyarakat, dalam hadits disebutkan : “telah menjangkiti kalian penyakit ummat-ummat sebelum kalian, hasad dan saling membenci, maka jauhilah hasad karena sesungguhnya ia memakan kebaikan seperti api yang memakan kayu bakar”.(HR.Abu Dawud).Juga menunaikan zakat akan mewariskan sifat saling mengasihi dan menyayangi antara kaum muslimin dan akan menjamin takaful sosial dan rasa cinta antara si kaya dan si miskin, dan zakat merupakan rukun dari rukun-rukun islam yang selalu berbarengan dengan perintah shalat  di dalam Al-qur’an dan hadits-hadits Rasulullah yang tidak diterima ibadah zakat kecuali dengan mengerjakan ibadah shalat, dan Allah telah memberikan harta yang banyak dan mewajibkan zakat pada harta yang sedikit, Allah ta’ala berfirman :وَأَنَّهُ هُوَ أَغْنَى وَأَقْنَى Artinya : dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan.(QS.An-Najm : 48).Allah ta’ala juga berfirman :وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِArtinya : Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allah-lah (datangnya).(QS.An-Nahl : 53).Allah azza wa jalla juga berfirman :وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُونَ (132) أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ (133) وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍArtinya : Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepada kalian apa yang kalian ketahui. Dia telah menganugerahkan kepada kalian binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air.(QS.As-Syu’ara : 132-134).Allah ta’ala juga berfirman :وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْArtinya : dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepada kalian.(QS.An-nur : 33).Dan diantara bentuk kesyukuran kepada Allah atas nikmat harta adalah dengan mengeluarkan zakatnya, dan zakat akan menambah harta dan tidak menguranginya dan juga akan menjaganya dari kehancuran, Allah ta’ala berfirman :وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَArtinya : Dan barang apa saja yang kalian nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.(QS.Saba’ : 39).Dalam hadits juga disebutkan : tidak binasa harta di darat dan di laut kecuali disebabkan karena tidak dikeluarkan zakatnya.Dari sahabat Ibnu Umar radiyallahu ‘anhuma berkata : bersabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam : dan tidaklah suatu kaum enggan menunaikan zakat harta mereka kecuali akan dihalangi dari mereka hujan dari langit, kalau seandainya bukan karena binatang ternak tentulah tidak akan turun hujan untuk mereka.(HR.Ibnu Majah).Dan orang-orang miskin akan mendebat orang-orang kaya pada hari kiamat jika mereka tidak membayarkan zakat kepada mereka, mereka akan berkata : wahai Tuhan kami…engkau telah memberikan mereka harta, akan tetapi mereka tidak memberikan hak kami, maka  Allah memutuskan diantara mereka dengan keputusannya, dan Allah telah menjanjikan bagi orang yang mengeluarkan zakat pahala yang besar, ِAllah ta’ala berfirman :وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَArtinya : dan orang-orang yang menunaikan zakat.(QS.Al-Mu’minun : 4).Kemudian Allah menyebutkan bersama zakat amalan-amalan lain dan menjelaskan ganjarannya dengan firmanNya :أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11)Artinya : Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya(QS.Al-Mu’minun : 10-11).Allah ta’ala juga berfirman :إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15) آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16) كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18) وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (19)Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik, Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian.(QS.Adz-Dzariyat 15-19).juga Allah mengancam orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat dari harta mereka dengan adzab yang pedih, Allah ta’ala berfirman :وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ (6) الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ (7)Artinya : Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya), (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.(QS.Fusshilat :6-7).Allah ta’ala juga berfirman ;وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (34) يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ (35)Artinya : Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta benda kalian yang kalian simpan untuk diri kalian sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kalian simpan itu”.(QS.At-Taubah 34-35).Dan dari sahabat Abu Hurairah radiyallah ‘anhu berkata : bersabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam : tidak ada pemilik harta simpanan yang tidak ditunaikan zakatnya kecuali akan diwujudkan untuknya pada hari kiamat nanti dalam bentuk  ular jantan yang menggigitnya dengan dua taringnya sembari mengatakan aku adalah harta simpananmu, aku adalah hartamu.(HR.Bukhari dan Muslim).Dan pemilik onta, sapi, dan kambing yang pemiliknya tidak menunaikan zakatnya, maka akan dilemparkan ke mukanya dan hewan tersebut akan menginjaknya sebagaimana yang tertera dalam hadits di sahih muslim, dan juga wajib dikeluarkan zakat dari emas dan perak dan yang menggantikan kegunaannya dari uang kertas jika keduanya telah sampai batas nishab atau sampai nishab jika keduanya digabung, zakat juga wajib pada onta, sapi dan kambing jika mencapai nishab, zakat juga wajib pada barang tambang dan barang dagangan dengan cara dinilai dan dikeluarkan darinya seperdua puluh atau 2,5 %, dan barang siapa yang mempunyai utang hendaklah ia melunasi utangnya dan sisa dari hartanya ia keluarkan zakatnya, dan jika ia tidak membayar utangnya maka ia mengeluarkan zakat dari apa yang ada di tangannya, dan nishab emas adalah dua puluh dinar, dan nishab perak dua ratus dirham atau yang senilai dengan keduanya dari uang kertas pada waktu itu, dan yang menjadi patokan adalah ia mengeluarkan 2,5 %, maka barang siapa yang mengeluarkan dari seratus dua setengah, dan dari seribu dua puluh lima, dan dari sejuta dua puluh lima ribu berarti ia telah lepas tanggungannya, dan wajib bagi seorang muslim untuk mengerti fiqih zakat dan bertanya kepada ulama tentang perinciannya, agar ia menunaikan hak Allah pada hartanya, dan barang siapa yang menunaikan zakat hartanya yang lalu dan yang akan datang setiap tahun pada bulan ramadhan misalnya maka hal itu cukup baginya.Wahai anak adam hartamu adalah yang engkau infakkan dan harta orang lain adalah yang engkau simpan, seandainya semua orang-orang kaya mengeluarkan zakat harta mereka  maka tidak akan tersisa orang miskin dan peminta-minta, maka ambillah pelajaran dari yang telah mendahului kalian dari generasi-generasi yang binasa yang diazab oleh Allah dengan harta mereka, dan ambillah pelajaran dari yang telah sampai kepada kalian kabar mereka, yang mana harta mereka tidak bermanfaat untuk mereka, dan harta akan engkau tinggalkan atau ia yang akan meninggalkanmu, dan Allah telah mensyariatkan selain zakat nafkah-nafkah yang wajib dan dianjurkan, dan Allah juga menganjurkan kita untuk berinfak pada jalan kebaikan, Allah ta’ala berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌArtinya : Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada kalian  sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa`at.Dan harta yang diinfakkan akan dilipat gandakan pahalanya, terutama pada bulan ramadhan, dan sedekah yang disembunyikan mempunyai keutamaan, dari sahabat Abu said al-khudri  radiyallahu ‘anhu, dari Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam ia bersabda : “sedekah yang disembunyikan akan memadamkan kemarahan rabb dan silaturrahmi akan menambah umur dan amal kebaikan akan melindungi dari tempat kematian yang jelek”. (hadits ini sahih diriwayatkan oleh Al-baihaqi di dalam kitab syu’abul iman), dan hendaklah seseorang berjihad melawan syaithan dalam bersedekah, dari sahabat buraidah radiyallahu ‘anhu berkata : bersabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam : tidaklah seseorang mengeluarkan sesuatu dari sedekah sampai ia melepaskan darinya dagu tujuh puluh syaitan.( hadits ini sahih  diriwayatkan oleh Al-hakim dalam kitab Al-mustadrak), dan bulan ramadhan adalah bulan bersedekah dan berbuat kebaikan, maka beruntunglah orang yang berlomba kepada kebaikan-kebaikan, dan menjaga dirinya dari kebinasaan, Allah ta’ala berfirman :وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)Artinya : Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.Semoga Allah memberkahi untukku dan kalian pada Al-qur’anul Adzim… Khutbah kedua :Segala puji bagi Allah, rabb semesta alam, yang maha pengasih lagi maha penyayang, yang menguasai hari pembalasan, aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah yang esa, tidak ada sekutu bagiNya, maha pemberi rezki, Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin dan Nabi kita Muhammad adalah hamba dan Rasulnya yang terpercaya, Ya Allah curahkan shalawat dan salam  dan berkahilah hambaMu dan RasulMu Muhammad juga kepada keluarganya dan semua sahabatnya.Amma ba’du…          Bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan berpegang teguhlah pada agama islam dengan buhul tali yang kuat.          Wahai hamba Allah sekalian…telah datang kepada kalian bulan yang mulia, dan Allah telah mengaruniakan kepada kalian di dalamnya musim yang agung, agar kalian melakukan amal saleh dan bertaubat dari dosa-dosa, dan dahulu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam memberi kabar gembira dengannya kepada para sahabatnya pada akhir sya’ban, maka mereka semua menyambutnya dengan kebahagiaan dan pengagungan, dan Allah telah menjadikan puasa padanya sebagai penghapus dosa-dosa, dalam hadits disebutkan : “barang siapa yang puasa ramadhan dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan dihapuskan dosa-dosanya yang telah lalu.(HR.Bukhari), Allah juga jadikan qiyam ramadhan sebagai penghapus dosa-dosa, ia adalah bulan yang diikat syaitan di dalamnya, dan dibuka pintu-pintu syurga serta ditutup pintu-pintu neraka, maka agungkanlah bulan ini, dan dahuluilah sebelumnya dengan bertaubat yang benar, dan jagalah puasa kalian dari hal-hal yang membatalkannya dan ghibah serta maksiat-maksiat yang lain, dan sucikanlah ia dengan dzikir, membaca Al-Qur’an dan amal-amal saleh yang lain agar kalian beruntung bersama orang-orang yang beruntung, dan agar kalian bersama dengan orang-orang yang paling dahulu masuk surga.Hamba Allah sekalian… Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya…Penerjemah: Ust. Iqbal Gunawan, Lc 

Neraka Melihat Calon Penghuninya dari Jauh

Neraka Melihat Calon Penghuninya dari Jauh Sedari jauh, sebelum penghuninya masuk, neraka telah mengincar siapa saja yang menjadi calon-calon penghuninya. Allah berfirman, بَلْ كَذَّبُوا بِالسَّاعَةِ وَأَعْتَدْنَا لِمَنْ كَذَّبَ بِالسَّاعَةِ سَعِيرًا ( ) إِذَا رَأَتْهُمْ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا Namun mereka mendustakan hari kiamat. dan Kami menyediakan bagi siapa yang mendustakan hari kiamat, neraka yang menyala-nyala. ( ) apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. (QS. Al-Furqon: 11 – 12) Bayangkan ketika neraka melihat kita dari jauh, dia menjadikan kita incarannya. Dia menampakkan keganasannya, siap untuk melahap kita. Dia melihat kita untuk mencabik-cabik diri kita… Ya Rabb.., hanya kepada-Mu kami berlindung dari neraka.

Neraka Melihat Calon Penghuninya dari Jauh

Neraka Melihat Calon Penghuninya dari Jauh Sedari jauh, sebelum penghuninya masuk, neraka telah mengincar siapa saja yang menjadi calon-calon penghuninya. Allah berfirman, بَلْ كَذَّبُوا بِالسَّاعَةِ وَأَعْتَدْنَا لِمَنْ كَذَّبَ بِالسَّاعَةِ سَعِيرًا ( ) إِذَا رَأَتْهُمْ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا Namun mereka mendustakan hari kiamat. dan Kami menyediakan bagi siapa yang mendustakan hari kiamat, neraka yang menyala-nyala. ( ) apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. (QS. Al-Furqon: 11 – 12) Bayangkan ketika neraka melihat kita dari jauh, dia menjadikan kita incarannya. Dia menampakkan keganasannya, siap untuk melahap kita. Dia melihat kita untuk mencabik-cabik diri kita… Ya Rabb.., hanya kepada-Mu kami berlindung dari neraka.
Neraka Melihat Calon Penghuninya dari Jauh Sedari jauh, sebelum penghuninya masuk, neraka telah mengincar siapa saja yang menjadi calon-calon penghuninya. Allah berfirman, بَلْ كَذَّبُوا بِالسَّاعَةِ وَأَعْتَدْنَا لِمَنْ كَذَّبَ بِالسَّاعَةِ سَعِيرًا ( ) إِذَا رَأَتْهُمْ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا Namun mereka mendustakan hari kiamat. dan Kami menyediakan bagi siapa yang mendustakan hari kiamat, neraka yang menyala-nyala. ( ) apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. (QS. Al-Furqon: 11 – 12) Bayangkan ketika neraka melihat kita dari jauh, dia menjadikan kita incarannya. Dia menampakkan keganasannya, siap untuk melahap kita. Dia melihat kita untuk mencabik-cabik diri kita… Ya Rabb.., hanya kepada-Mu kami berlindung dari neraka.


Neraka Melihat Calon Penghuninya dari Jauh Sedari jauh, sebelum penghuninya masuk, neraka telah mengincar siapa saja yang menjadi calon-calon penghuninya. Allah berfirman, بَلْ كَذَّبُوا بِالسَّاعَةِ وَأَعْتَدْنَا لِمَنْ كَذَّبَ بِالسَّاعَةِ سَعِيرًا ( ) إِذَا رَأَتْهُمْ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا Namun mereka mendustakan hari kiamat. dan Kami menyediakan bagi siapa yang mendustakan hari kiamat, neraka yang menyala-nyala. ( ) apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. (QS. Al-Furqon: 11 – 12) Bayangkan ketika neraka melihat kita dari jauh, dia menjadikan kita incarannya. Dia menampakkan keganasannya, siap untuk melahap kita. Dia melihat kita untuk mencabik-cabik diri kita… Ya Rabb.., hanya kepada-Mu kami berlindung dari neraka.

Tafsir Ayat Puasa (5): Puasa Menjadi Wajib

Di saat awal diwajibkannya, masih dijadikan pilihan yaitu bisa puasa, bisa fidyah. Namun ayat 185 selanjutnya, menetapkan bahwa bagi yang mampu, sehat dan kuat, maka ia tetap puasa, tanpa ada pilihan fidyah. Allah Ta’ala berfirman, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185). Dalam ayat sebelumnya disebutkan bahwa puasa dijadikan pilihan yaitu boleh menunaikan fidyah, boleh memilih puasa, namun puasa itu lebih baik. Inilah inti yang diterangkan dalam ayat ini. Bulan Ramadhan, Bulan Al Qur’an Dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar memberi. Semangat beliau dalam memberi lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307). Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Hadits di atas menunjukkan bahwa dianjurkan bagi kaum muslimin untuk banyak mengkaji Al Qur’an pada bulan Ramadhan dan berkumpul untuk mempelajarinya. Hafalan Al Qur’an pun bisa disetorkan pada orang yang lebih hafal darinya. Dalil tersebut juga menunjukkan dianjurkan banyak melakukan tilawah Al Qur’an di bulan Ramadhan.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 302). Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Al Qur’an itu turun sekali sekaligus di Lauhul Mahfuzh di Baitul ‘Izzah pada malam Lailatul Qadar. Yang membenarkan perkataan Ibnu ‘Abbas dalah firman Allah Ta’ala di ayat lainnya, إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan” (QS. Al Qadar: 1). إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.” (QS. Ad Dukhon: 3). Di antara alasan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan Al Qur’an yaitu dibuktikan dengan bacaan ayat Al Qur’an yang begitu banyak dibaca di shalat malam bulan Ramadhan dibanding bulan lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama Hudzaifah di malam Ramadhan, lalu beliau membaca surat Al Baqarah, surat An Nisa’ dan surat Ali ‘Imron. Jika ada ayat yang berisi ancaman neraka, maka beliau berhenti dan meminta perlindungan pada Allah dari neraka. Begitu pula ‘Umar bin Khottob pernah memerintahkan kepada Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daari untuk mengimami shalat tarawih. Dahulu imam shalat tersebut membaca 200 ayat dalam satu raka’at. Sampai-sampai ada jama’ah yang berpegang pada tongkat karena saking lama berdirinya. Dan shalat pun selesai dikerjakan menjelang fajar. Di masa tabi’in yang terjadi, surat Al Baqarah dibaca tuntas dalam 8 raka’at. Jika dibaca dalam 12 raka’at, maka berarti shalatnya tersebut semakin diperingan. Lihat Lathoiful Ma’arif, hal. 303. Al Quran adalah Sebab Hidayah Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata, “Bulan Ramadhan terdapat karunia yang besar. Karunia tersebut adalah dengan diturunkannya karunia Al Qur’an yang mulia.  Di dalamnya terdapat hidayah untuk maslahat dunia dan akhirat. Al Quran juga menjelaskan kebenaran dengan penjelasan yang sejelas-jelasnya. Al Quran juga menerangkan manakah yang benar dan batil, manakah petunjuk dan manakah kesesatan, manakah orang yang akan bahagia dan akan sengsara.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 86). Puasa Menjadi Wajib Allah Ta’ala berfirman, فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ “Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185). Ayat di atas menerangkan bahwa puasa itu jadi wajib bagi yang mampu, sehat dan hadir (mukim). Ayat tersebut menghapus hukum sebelumnya di mana puasa dan fidyah adalah pilihan. Namun rukhsoh (keringanan) tetap masih ada dikenakan bagi orang sakit dan musafir di mana ketika mereka tidak mampu puasa, maka mereka hendaklah mengqodho di hari lainnya. Ibnu Katsir berkata, “Berdasarkan ayat 185 ini, puasa Ramadhan menjadi wajib bagi orang yang mukim di negerinya ketika masuk bulan Ramadhan, juga bagi orang yang badannya sehat. Ayat ini menghapus hukum dalam ayat sebelumnya (ayat 184) yang menyatakan bahwa orang yang sehat dan mukim, maka ia bisa memilih antara menunaikan fidyah berupa memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari tidak berpuasa.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 59). Semoga bermanfaat.   Referensi: Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, tahqiq: Abu Ishaq Al Huwainiy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H. — Disusun menjelang ‘Ashar, 18 Ramadhan 1435 H di Pesantren DS Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagscara bayar fidyah fidyah tafsir ayat puasa

Tafsir Ayat Puasa (5): Puasa Menjadi Wajib

Di saat awal diwajibkannya, masih dijadikan pilihan yaitu bisa puasa, bisa fidyah. Namun ayat 185 selanjutnya, menetapkan bahwa bagi yang mampu, sehat dan kuat, maka ia tetap puasa, tanpa ada pilihan fidyah. Allah Ta’ala berfirman, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185). Dalam ayat sebelumnya disebutkan bahwa puasa dijadikan pilihan yaitu boleh menunaikan fidyah, boleh memilih puasa, namun puasa itu lebih baik. Inilah inti yang diterangkan dalam ayat ini. Bulan Ramadhan, Bulan Al Qur’an Dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar memberi. Semangat beliau dalam memberi lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307). Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Hadits di atas menunjukkan bahwa dianjurkan bagi kaum muslimin untuk banyak mengkaji Al Qur’an pada bulan Ramadhan dan berkumpul untuk mempelajarinya. Hafalan Al Qur’an pun bisa disetorkan pada orang yang lebih hafal darinya. Dalil tersebut juga menunjukkan dianjurkan banyak melakukan tilawah Al Qur’an di bulan Ramadhan.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 302). Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Al Qur’an itu turun sekali sekaligus di Lauhul Mahfuzh di Baitul ‘Izzah pada malam Lailatul Qadar. Yang membenarkan perkataan Ibnu ‘Abbas dalah firman Allah Ta’ala di ayat lainnya, إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan” (QS. Al Qadar: 1). إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.” (QS. Ad Dukhon: 3). Di antara alasan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan Al Qur’an yaitu dibuktikan dengan bacaan ayat Al Qur’an yang begitu banyak dibaca di shalat malam bulan Ramadhan dibanding bulan lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama Hudzaifah di malam Ramadhan, lalu beliau membaca surat Al Baqarah, surat An Nisa’ dan surat Ali ‘Imron. Jika ada ayat yang berisi ancaman neraka, maka beliau berhenti dan meminta perlindungan pada Allah dari neraka. Begitu pula ‘Umar bin Khottob pernah memerintahkan kepada Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daari untuk mengimami shalat tarawih. Dahulu imam shalat tersebut membaca 200 ayat dalam satu raka’at. Sampai-sampai ada jama’ah yang berpegang pada tongkat karena saking lama berdirinya. Dan shalat pun selesai dikerjakan menjelang fajar. Di masa tabi’in yang terjadi, surat Al Baqarah dibaca tuntas dalam 8 raka’at. Jika dibaca dalam 12 raka’at, maka berarti shalatnya tersebut semakin diperingan. Lihat Lathoiful Ma’arif, hal. 303. Al Quran adalah Sebab Hidayah Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata, “Bulan Ramadhan terdapat karunia yang besar. Karunia tersebut adalah dengan diturunkannya karunia Al Qur’an yang mulia.  Di dalamnya terdapat hidayah untuk maslahat dunia dan akhirat. Al Quran juga menjelaskan kebenaran dengan penjelasan yang sejelas-jelasnya. Al Quran juga menerangkan manakah yang benar dan batil, manakah petunjuk dan manakah kesesatan, manakah orang yang akan bahagia dan akan sengsara.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 86). Puasa Menjadi Wajib Allah Ta’ala berfirman, فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ “Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185). Ayat di atas menerangkan bahwa puasa itu jadi wajib bagi yang mampu, sehat dan hadir (mukim). Ayat tersebut menghapus hukum sebelumnya di mana puasa dan fidyah adalah pilihan. Namun rukhsoh (keringanan) tetap masih ada dikenakan bagi orang sakit dan musafir di mana ketika mereka tidak mampu puasa, maka mereka hendaklah mengqodho di hari lainnya. Ibnu Katsir berkata, “Berdasarkan ayat 185 ini, puasa Ramadhan menjadi wajib bagi orang yang mukim di negerinya ketika masuk bulan Ramadhan, juga bagi orang yang badannya sehat. Ayat ini menghapus hukum dalam ayat sebelumnya (ayat 184) yang menyatakan bahwa orang yang sehat dan mukim, maka ia bisa memilih antara menunaikan fidyah berupa memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari tidak berpuasa.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 59). Semoga bermanfaat.   Referensi: Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, tahqiq: Abu Ishaq Al Huwainiy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H. — Disusun menjelang ‘Ashar, 18 Ramadhan 1435 H di Pesantren DS Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagscara bayar fidyah fidyah tafsir ayat puasa
Di saat awal diwajibkannya, masih dijadikan pilihan yaitu bisa puasa, bisa fidyah. Namun ayat 185 selanjutnya, menetapkan bahwa bagi yang mampu, sehat dan kuat, maka ia tetap puasa, tanpa ada pilihan fidyah. Allah Ta’ala berfirman, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185). Dalam ayat sebelumnya disebutkan bahwa puasa dijadikan pilihan yaitu boleh menunaikan fidyah, boleh memilih puasa, namun puasa itu lebih baik. Inilah inti yang diterangkan dalam ayat ini. Bulan Ramadhan, Bulan Al Qur’an Dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar memberi. Semangat beliau dalam memberi lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307). Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Hadits di atas menunjukkan bahwa dianjurkan bagi kaum muslimin untuk banyak mengkaji Al Qur’an pada bulan Ramadhan dan berkumpul untuk mempelajarinya. Hafalan Al Qur’an pun bisa disetorkan pada orang yang lebih hafal darinya. Dalil tersebut juga menunjukkan dianjurkan banyak melakukan tilawah Al Qur’an di bulan Ramadhan.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 302). Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Al Qur’an itu turun sekali sekaligus di Lauhul Mahfuzh di Baitul ‘Izzah pada malam Lailatul Qadar. Yang membenarkan perkataan Ibnu ‘Abbas dalah firman Allah Ta’ala di ayat lainnya, إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan” (QS. Al Qadar: 1). إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.” (QS. Ad Dukhon: 3). Di antara alasan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan Al Qur’an yaitu dibuktikan dengan bacaan ayat Al Qur’an yang begitu banyak dibaca di shalat malam bulan Ramadhan dibanding bulan lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama Hudzaifah di malam Ramadhan, lalu beliau membaca surat Al Baqarah, surat An Nisa’ dan surat Ali ‘Imron. Jika ada ayat yang berisi ancaman neraka, maka beliau berhenti dan meminta perlindungan pada Allah dari neraka. Begitu pula ‘Umar bin Khottob pernah memerintahkan kepada Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daari untuk mengimami shalat tarawih. Dahulu imam shalat tersebut membaca 200 ayat dalam satu raka’at. Sampai-sampai ada jama’ah yang berpegang pada tongkat karena saking lama berdirinya. Dan shalat pun selesai dikerjakan menjelang fajar. Di masa tabi’in yang terjadi, surat Al Baqarah dibaca tuntas dalam 8 raka’at. Jika dibaca dalam 12 raka’at, maka berarti shalatnya tersebut semakin diperingan. Lihat Lathoiful Ma’arif, hal. 303. Al Quran adalah Sebab Hidayah Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata, “Bulan Ramadhan terdapat karunia yang besar. Karunia tersebut adalah dengan diturunkannya karunia Al Qur’an yang mulia.  Di dalamnya terdapat hidayah untuk maslahat dunia dan akhirat. Al Quran juga menjelaskan kebenaran dengan penjelasan yang sejelas-jelasnya. Al Quran juga menerangkan manakah yang benar dan batil, manakah petunjuk dan manakah kesesatan, manakah orang yang akan bahagia dan akan sengsara.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 86). Puasa Menjadi Wajib Allah Ta’ala berfirman, فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ “Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185). Ayat di atas menerangkan bahwa puasa itu jadi wajib bagi yang mampu, sehat dan hadir (mukim). Ayat tersebut menghapus hukum sebelumnya di mana puasa dan fidyah adalah pilihan. Namun rukhsoh (keringanan) tetap masih ada dikenakan bagi orang sakit dan musafir di mana ketika mereka tidak mampu puasa, maka mereka hendaklah mengqodho di hari lainnya. Ibnu Katsir berkata, “Berdasarkan ayat 185 ini, puasa Ramadhan menjadi wajib bagi orang yang mukim di negerinya ketika masuk bulan Ramadhan, juga bagi orang yang badannya sehat. Ayat ini menghapus hukum dalam ayat sebelumnya (ayat 184) yang menyatakan bahwa orang yang sehat dan mukim, maka ia bisa memilih antara menunaikan fidyah berupa memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari tidak berpuasa.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 59). Semoga bermanfaat.   Referensi: Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, tahqiq: Abu Ishaq Al Huwainiy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H. — Disusun menjelang ‘Ashar, 18 Ramadhan 1435 H di Pesantren DS Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagscara bayar fidyah fidyah tafsir ayat puasa


Di saat awal diwajibkannya, masih dijadikan pilihan yaitu bisa puasa, bisa fidyah. Namun ayat 185 selanjutnya, menetapkan bahwa bagi yang mampu, sehat dan kuat, maka ia tetap puasa, tanpa ada pilihan fidyah. Allah Ta’ala berfirman, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185). Dalam ayat sebelumnya disebutkan bahwa puasa dijadikan pilihan yaitu boleh menunaikan fidyah, boleh memilih puasa, namun puasa itu lebih baik. Inilah inti yang diterangkan dalam ayat ini. Bulan Ramadhan, Bulan Al Qur’an Dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar memberi. Semangat beliau dalam memberi lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307). Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Hadits di atas menunjukkan bahwa dianjurkan bagi kaum muslimin untuk banyak mengkaji Al Qur’an pada bulan Ramadhan dan berkumpul untuk mempelajarinya. Hafalan Al Qur’an pun bisa disetorkan pada orang yang lebih hafal darinya. Dalil tersebut juga menunjukkan dianjurkan banyak melakukan tilawah Al Qur’an di bulan Ramadhan.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 302). Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Al Qur’an itu turun sekali sekaligus di Lauhul Mahfuzh di Baitul ‘Izzah pada malam Lailatul Qadar. Yang membenarkan perkataan Ibnu ‘Abbas dalah firman Allah Ta’ala di ayat lainnya, إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan” (QS. Al Qadar: 1). إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.” (QS. Ad Dukhon: 3). Di antara alasan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan Al Qur’an yaitu dibuktikan dengan bacaan ayat Al Qur’an yang begitu banyak dibaca di shalat malam bulan Ramadhan dibanding bulan lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama Hudzaifah di malam Ramadhan, lalu beliau membaca surat Al Baqarah, surat An Nisa’ dan surat Ali ‘Imron. Jika ada ayat yang berisi ancaman neraka, maka beliau berhenti dan meminta perlindungan pada Allah dari neraka. Begitu pula ‘Umar bin Khottob pernah memerintahkan kepada Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daari untuk mengimami shalat tarawih. Dahulu imam shalat tersebut membaca 200 ayat dalam satu raka’at. Sampai-sampai ada jama’ah yang berpegang pada tongkat karena saking lama berdirinya. Dan shalat pun selesai dikerjakan menjelang fajar. Di masa tabi’in yang terjadi, surat Al Baqarah dibaca tuntas dalam 8 raka’at. Jika dibaca dalam 12 raka’at, maka berarti shalatnya tersebut semakin diperingan. Lihat Lathoiful Ma’arif, hal. 303. Al Quran adalah Sebab Hidayah Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata, “Bulan Ramadhan terdapat karunia yang besar. Karunia tersebut adalah dengan diturunkannya karunia Al Qur’an yang mulia.  Di dalamnya terdapat hidayah untuk maslahat dunia dan akhirat. Al Quran juga menjelaskan kebenaran dengan penjelasan yang sejelas-jelasnya. Al Quran juga menerangkan manakah yang benar dan batil, manakah petunjuk dan manakah kesesatan, manakah orang yang akan bahagia dan akan sengsara.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 86). Puasa Menjadi Wajib Allah Ta’ala berfirman, فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ “Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185). Ayat di atas menerangkan bahwa puasa itu jadi wajib bagi yang mampu, sehat dan hadir (mukim). Ayat tersebut menghapus hukum sebelumnya di mana puasa dan fidyah adalah pilihan. Namun rukhsoh (keringanan) tetap masih ada dikenakan bagi orang sakit dan musafir di mana ketika mereka tidak mampu puasa, maka mereka hendaklah mengqodho di hari lainnya. Ibnu Katsir berkata, “Berdasarkan ayat 185 ini, puasa Ramadhan menjadi wajib bagi orang yang mukim di negerinya ketika masuk bulan Ramadhan, juga bagi orang yang badannya sehat. Ayat ini menghapus hukum dalam ayat sebelumnya (ayat 184) yang menyatakan bahwa orang yang sehat dan mukim, maka ia bisa memilih antara menunaikan fidyah berupa memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari tidak berpuasa.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 59). Semoga bermanfaat.   Referensi: Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, tahqiq: Abu Ishaq Al Huwainiy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H. — Disusun menjelang ‘Ashar, 18 Ramadhan 1435 H di Pesantren DS Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagscara bayar fidyah fidyah tafsir ayat puasa

Zakat Fitrah Ditransfer ke Tempat Lain

Bolehkah zakat fitrah ditransfer ke tempat lain? Asalnya, zakat fitrah disalurkan di negeri tempat seseorang mendapatkan kewajiban zakat fitrah yaitu di saat ia mendapati waktu fithri (tidak berpuasa lagi). Karena wajibnya zakat fithri ini berkaitan dengan sebab wajibnya yaitu bertemu dengan waktu fithri. Misalnya, seseorang yang kesehariannya biasa di Jakarta, sedangkan ketika malam Idul Fithri ia berada di Yogyakarta, maka zakat fithri tersebut ia keluarkan di Yogyakarta karena di situlah tempat ia mendapati Idul Fithri. Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 23: 345. Boleh disalurkan ke tempat lain dan itu masih dikatakan sah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Fatawa Al Kubro (5: 369) berkata, وتحديد المنع من نقل الزكاة بمسافة القصر ليس عليه دليل شرعي ويجوز نقل الزكاة وما في حكمها لمصحلة شرعية “Menyatakan tidak bolehnya menyalurkan zakat ke daerah lain yang sudah dibolehkan mengqashar shalat di sana tidaklah didukung oleh dalil syar’i. Tetap boleh saja menyalurkan zakat ke daerah lain, juga untuk hal semisal zakat jika ada alasan syar’i.” Patut diingat, zakat fitrah itu disalurkan dalam bentuk makanan atau misalnya disalurkan dengan uang tetapi tetap sampai ke tangan fakir miskin dalam bentuk makanan. Dalam hadits Ibnu ‘Abbas disebutkan, فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan orang miskin.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Disebutkan dalam hadits ini bahwa zakat fitrah adalah dengan makanan. Ada yang berkata pada Imam Ahmad, “Sejumlah orang mengatakan bahwa ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz membolehkan menunaikan zakat fitrah dengan uang seharga zakat.” Jawaban Imam Ahmad, “Mereka meninggalkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas mereka mengatakan bahwa si fulan telah mengatakan demikian?! Padahal Ibnu ‘Umar sendiri telah menyatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah (dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum …).[1]” Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya.”[2] Sungguh aneh, segolongan orang yang menolak ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam malah mengatakan, “Si fulan berkata demikian dan demikian”.”(Lihat Al Mughni, 4: 295) Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun di Panggang, Gunungkidul, 17 Ramadhan 1435 H   [1] HR. Bukhari no. 1503 dan Muslim no. 984. [2] QS. An Nisa’ ayat 59. — Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagszakat fitrah

Zakat Fitrah Ditransfer ke Tempat Lain

Bolehkah zakat fitrah ditransfer ke tempat lain? Asalnya, zakat fitrah disalurkan di negeri tempat seseorang mendapatkan kewajiban zakat fitrah yaitu di saat ia mendapati waktu fithri (tidak berpuasa lagi). Karena wajibnya zakat fithri ini berkaitan dengan sebab wajibnya yaitu bertemu dengan waktu fithri. Misalnya, seseorang yang kesehariannya biasa di Jakarta, sedangkan ketika malam Idul Fithri ia berada di Yogyakarta, maka zakat fithri tersebut ia keluarkan di Yogyakarta karena di situlah tempat ia mendapati Idul Fithri. Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 23: 345. Boleh disalurkan ke tempat lain dan itu masih dikatakan sah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Fatawa Al Kubro (5: 369) berkata, وتحديد المنع من نقل الزكاة بمسافة القصر ليس عليه دليل شرعي ويجوز نقل الزكاة وما في حكمها لمصحلة شرعية “Menyatakan tidak bolehnya menyalurkan zakat ke daerah lain yang sudah dibolehkan mengqashar shalat di sana tidaklah didukung oleh dalil syar’i. Tetap boleh saja menyalurkan zakat ke daerah lain, juga untuk hal semisal zakat jika ada alasan syar’i.” Patut diingat, zakat fitrah itu disalurkan dalam bentuk makanan atau misalnya disalurkan dengan uang tetapi tetap sampai ke tangan fakir miskin dalam bentuk makanan. Dalam hadits Ibnu ‘Abbas disebutkan, فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan orang miskin.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Disebutkan dalam hadits ini bahwa zakat fitrah adalah dengan makanan. Ada yang berkata pada Imam Ahmad, “Sejumlah orang mengatakan bahwa ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz membolehkan menunaikan zakat fitrah dengan uang seharga zakat.” Jawaban Imam Ahmad, “Mereka meninggalkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas mereka mengatakan bahwa si fulan telah mengatakan demikian?! Padahal Ibnu ‘Umar sendiri telah menyatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah (dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum …).[1]” Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya.”[2] Sungguh aneh, segolongan orang yang menolak ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam malah mengatakan, “Si fulan berkata demikian dan demikian”.”(Lihat Al Mughni, 4: 295) Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun di Panggang, Gunungkidul, 17 Ramadhan 1435 H   [1] HR. Bukhari no. 1503 dan Muslim no. 984. [2] QS. An Nisa’ ayat 59. — Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagszakat fitrah
Bolehkah zakat fitrah ditransfer ke tempat lain? Asalnya, zakat fitrah disalurkan di negeri tempat seseorang mendapatkan kewajiban zakat fitrah yaitu di saat ia mendapati waktu fithri (tidak berpuasa lagi). Karena wajibnya zakat fithri ini berkaitan dengan sebab wajibnya yaitu bertemu dengan waktu fithri. Misalnya, seseorang yang kesehariannya biasa di Jakarta, sedangkan ketika malam Idul Fithri ia berada di Yogyakarta, maka zakat fithri tersebut ia keluarkan di Yogyakarta karena di situlah tempat ia mendapati Idul Fithri. Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 23: 345. Boleh disalurkan ke tempat lain dan itu masih dikatakan sah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Fatawa Al Kubro (5: 369) berkata, وتحديد المنع من نقل الزكاة بمسافة القصر ليس عليه دليل شرعي ويجوز نقل الزكاة وما في حكمها لمصحلة شرعية “Menyatakan tidak bolehnya menyalurkan zakat ke daerah lain yang sudah dibolehkan mengqashar shalat di sana tidaklah didukung oleh dalil syar’i. Tetap boleh saja menyalurkan zakat ke daerah lain, juga untuk hal semisal zakat jika ada alasan syar’i.” Patut diingat, zakat fitrah itu disalurkan dalam bentuk makanan atau misalnya disalurkan dengan uang tetapi tetap sampai ke tangan fakir miskin dalam bentuk makanan. Dalam hadits Ibnu ‘Abbas disebutkan, فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan orang miskin.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Disebutkan dalam hadits ini bahwa zakat fitrah adalah dengan makanan. Ada yang berkata pada Imam Ahmad, “Sejumlah orang mengatakan bahwa ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz membolehkan menunaikan zakat fitrah dengan uang seharga zakat.” Jawaban Imam Ahmad, “Mereka meninggalkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas mereka mengatakan bahwa si fulan telah mengatakan demikian?! Padahal Ibnu ‘Umar sendiri telah menyatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah (dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum …).[1]” Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya.”[2] Sungguh aneh, segolongan orang yang menolak ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam malah mengatakan, “Si fulan berkata demikian dan demikian”.”(Lihat Al Mughni, 4: 295) Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun di Panggang, Gunungkidul, 17 Ramadhan 1435 H   [1] HR. Bukhari no. 1503 dan Muslim no. 984. [2] QS. An Nisa’ ayat 59. — Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagszakat fitrah


Bolehkah zakat fitrah ditransfer ke tempat lain? Asalnya, zakat fitrah disalurkan di negeri tempat seseorang mendapatkan kewajiban zakat fitrah yaitu di saat ia mendapati waktu fithri (tidak berpuasa lagi). Karena wajibnya zakat fithri ini berkaitan dengan sebab wajibnya yaitu bertemu dengan waktu fithri. Misalnya, seseorang yang kesehariannya biasa di Jakarta, sedangkan ketika malam Idul Fithri ia berada di Yogyakarta, maka zakat fithri tersebut ia keluarkan di Yogyakarta karena di situlah tempat ia mendapati Idul Fithri. Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 23: 345. Boleh disalurkan ke tempat lain dan itu masih dikatakan sah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Fatawa Al Kubro (5: 369) berkata, وتحديد المنع من نقل الزكاة بمسافة القصر ليس عليه دليل شرعي ويجوز نقل الزكاة وما في حكمها لمصحلة شرعية “Menyatakan tidak bolehnya menyalurkan zakat ke daerah lain yang sudah dibolehkan mengqashar shalat di sana tidaklah didukung oleh dalil syar’i. Tetap boleh saja menyalurkan zakat ke daerah lain, juga untuk hal semisal zakat jika ada alasan syar’i.” Patut diingat, zakat fitrah itu disalurkan dalam bentuk makanan atau misalnya disalurkan dengan uang tetapi tetap sampai ke tangan fakir miskin dalam bentuk makanan. Dalam hadits Ibnu ‘Abbas disebutkan, فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan orang miskin.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Disebutkan dalam hadits ini bahwa zakat fitrah adalah dengan makanan. Ada yang berkata pada Imam Ahmad, “Sejumlah orang mengatakan bahwa ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz membolehkan menunaikan zakat fitrah dengan uang seharga zakat.” Jawaban Imam Ahmad, “Mereka meninggalkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas mereka mengatakan bahwa si fulan telah mengatakan demikian?! Padahal Ibnu ‘Umar sendiri telah menyatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah (dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum …).[1]” Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya.”[2] Sungguh aneh, segolongan orang yang menolak ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam malah mengatakan, “Si fulan berkata demikian dan demikian”.”(Lihat Al Mughni, 4: 295) Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. — Disusun di Panggang, Gunungkidul, 17 Ramadhan 1435 H   [1] HR. Bukhari no. 1503 dan Muslim no. 984. [2] QS. An Nisa’ ayat 59. — Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom — Telah hadir tiga buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc: 1- “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”  (Rp.30.000), 2- “Panduan Mudah Tentang Zakat” (Rp.20.000,-), 3- Buku Saku “10 Pelebur Dosa” (Rp.6.000,-), semuanya terbitan Pustaka Muslim Yogyakarta (biaya belum termasuk ongkos kirim). Segera pesan via sms +62 852 00 171 222 atau BB 2A04EA0F atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: nama buku#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Tagszakat fitrah

Mengangkat Tangan Ketika Qunut Witir

Apakah mesti mengangkat tangan ketika membaca qunut? Disunnahkan mengangkat tangan pada qunut witir. Ada beberapa riwayat dari sahabat yang mendukung hal ini. Al Baihaqi rahimahullah menyebutkan, “Beberapa sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum mengangkat tangan mereka saat qunut.” Al Baihaqi rahimahullah mengeluarkan dalam Sunan Al Kubro dari Abu Rofi’ rahimahullah, ia berkata, “Aku pernah shalat di belakang Umar dan ia berqunut setelah ruku’. Ia mengangkat kedua tangannya dan menjaherkan (mengeraskan) doanya.” Al Baihaqi rahimahullah mengatakan bahwa hal itu shahih dari ‘Umar. Mengangkat tangan ketika qunut memiliki beberapa riwayat dari beberapa sahabat dan tabi’in. Imam Ahmad rahimahullah ditanya oleh anaknya mengenai mengangkat tangan ketika qunut. Imam Ahmad menjawab, “Seperti itu tidaklah masalah.” Diriwayatkan pula dari ‘Abdurrahman bin Al Aswad, dari ayahnya bahwa Ibnu Mas’ud biasa mengangkat tangan ketika qunut. An Nakho’i rahimahullah berkata, “Angkatlah kedua tanganmu saat qunut.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Kedua tangan tersebut di tangan hingga ke dada sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Jika seseorang berqunut, maka hendaklah ia mengangkat tangannya di depan dadanya.” (Masail ‘Abdullah 2: 297, no. 417). Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Masail Sholatil Lail, Dr. Muhammad bin Fahd bin ‘Abdul ‘Aziz Al Furaih, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 66-67. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, 18 Ramadhan 1435 H menjelang Isya. Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsqunut qunut witir

Mengangkat Tangan Ketika Qunut Witir

Apakah mesti mengangkat tangan ketika membaca qunut? Disunnahkan mengangkat tangan pada qunut witir. Ada beberapa riwayat dari sahabat yang mendukung hal ini. Al Baihaqi rahimahullah menyebutkan, “Beberapa sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum mengangkat tangan mereka saat qunut.” Al Baihaqi rahimahullah mengeluarkan dalam Sunan Al Kubro dari Abu Rofi’ rahimahullah, ia berkata, “Aku pernah shalat di belakang Umar dan ia berqunut setelah ruku’. Ia mengangkat kedua tangannya dan menjaherkan (mengeraskan) doanya.” Al Baihaqi rahimahullah mengatakan bahwa hal itu shahih dari ‘Umar. Mengangkat tangan ketika qunut memiliki beberapa riwayat dari beberapa sahabat dan tabi’in. Imam Ahmad rahimahullah ditanya oleh anaknya mengenai mengangkat tangan ketika qunut. Imam Ahmad menjawab, “Seperti itu tidaklah masalah.” Diriwayatkan pula dari ‘Abdurrahman bin Al Aswad, dari ayahnya bahwa Ibnu Mas’ud biasa mengangkat tangan ketika qunut. An Nakho’i rahimahullah berkata, “Angkatlah kedua tanganmu saat qunut.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Kedua tangan tersebut di tangan hingga ke dada sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Jika seseorang berqunut, maka hendaklah ia mengangkat tangannya di depan dadanya.” (Masail ‘Abdullah 2: 297, no. 417). Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Masail Sholatil Lail, Dr. Muhammad bin Fahd bin ‘Abdul ‘Aziz Al Furaih, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 66-67. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, 18 Ramadhan 1435 H menjelang Isya. Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsqunut qunut witir
Apakah mesti mengangkat tangan ketika membaca qunut? Disunnahkan mengangkat tangan pada qunut witir. Ada beberapa riwayat dari sahabat yang mendukung hal ini. Al Baihaqi rahimahullah menyebutkan, “Beberapa sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum mengangkat tangan mereka saat qunut.” Al Baihaqi rahimahullah mengeluarkan dalam Sunan Al Kubro dari Abu Rofi’ rahimahullah, ia berkata, “Aku pernah shalat di belakang Umar dan ia berqunut setelah ruku’. Ia mengangkat kedua tangannya dan menjaherkan (mengeraskan) doanya.” Al Baihaqi rahimahullah mengatakan bahwa hal itu shahih dari ‘Umar. Mengangkat tangan ketika qunut memiliki beberapa riwayat dari beberapa sahabat dan tabi’in. Imam Ahmad rahimahullah ditanya oleh anaknya mengenai mengangkat tangan ketika qunut. Imam Ahmad menjawab, “Seperti itu tidaklah masalah.” Diriwayatkan pula dari ‘Abdurrahman bin Al Aswad, dari ayahnya bahwa Ibnu Mas’ud biasa mengangkat tangan ketika qunut. An Nakho’i rahimahullah berkata, “Angkatlah kedua tanganmu saat qunut.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Kedua tangan tersebut di tangan hingga ke dada sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Jika seseorang berqunut, maka hendaklah ia mengangkat tangannya di depan dadanya.” (Masail ‘Abdullah 2: 297, no. 417). Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Masail Sholatil Lail, Dr. Muhammad bin Fahd bin ‘Abdul ‘Aziz Al Furaih, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 66-67. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, 18 Ramadhan 1435 H menjelang Isya. Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsqunut qunut witir


Apakah mesti mengangkat tangan ketika membaca qunut? Disunnahkan mengangkat tangan pada qunut witir. Ada beberapa riwayat dari sahabat yang mendukung hal ini. Al Baihaqi rahimahullah menyebutkan, “Beberapa sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum mengangkat tangan mereka saat qunut.” Al Baihaqi rahimahullah mengeluarkan dalam Sunan Al Kubro dari Abu Rofi’ rahimahullah, ia berkata, “Aku pernah shalat di belakang Umar dan ia berqunut setelah ruku’. Ia mengangkat kedua tangannya dan menjaherkan (mengeraskan) doanya.” Al Baihaqi rahimahullah mengatakan bahwa hal itu shahih dari ‘Umar. Mengangkat tangan ketika qunut memiliki beberapa riwayat dari beberapa sahabat dan tabi’in. Imam Ahmad rahimahullah ditanya oleh anaknya mengenai mengangkat tangan ketika qunut. Imam Ahmad menjawab, “Seperti itu tidaklah masalah.” Diriwayatkan pula dari ‘Abdurrahman bin Al Aswad, dari ayahnya bahwa Ibnu Mas’ud biasa mengangkat tangan ketika qunut. An Nakho’i rahimahullah berkata, “Angkatlah kedua tanganmu saat qunut.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Kedua tangan tersebut di tangan hingga ke dada sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Jika seseorang berqunut, maka hendaklah ia mengangkat tangannya di depan dadanya.” (Masail ‘Abdullah 2: 297, no. 417). Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Masail Sholatil Lail, Dr. Muhammad bin Fahd bin ‘Abdul ‘Aziz Al Furaih, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 66-67. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, 18 Ramadhan 1435 H menjelang Isya. Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsqunut qunut witir
Prev     Next