Bohong Saat Puasa, Apakah Membatalkan Puasa?

Apakah bohong saat puasa bisa membatalkan puasa? Berbohong Saat Puasa Larangan berbohong saat berpuasa telah disebutkan dalam hadits berikut ini, مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903) Zuur yang dimaksud dalam hadits di atas adalah dusta. Berdusta dianggap jelek setiap waktu. Namun semakin teranggap jelek jika dilakukan di bulan Ramadhan. Hadits di atas menunjukkan tercelanya dusta. Seorang muslim tentu saja harus menjauhi hal itu. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa larangan yang dimaksud dalam hadits di atas adalah larangan haram, namun bukan termasuk pembatal puasa. Pembatal puasa hanyalah makan, minum dan jima’ (hubungan intim). Lihat Fath Al-Bari, 4: 117. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnul ‘Arabi, مُقْتَضَى هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ مَنْ فَعَلَ مَا ذُكِرَ لَا يُثَابُ عَلَى صِيَامِهِ ، وَمَعْنَاهُ أَنَّ ثَوَاب الصِّيَام لَا يَقُومُ فِي الْمُوَازَنَةِ بِإِثْم الزُّور وَمَا ذُكِرَ مَعَهُ “Konsekuensi dari hadits tersebut, siapa saja yang melakukan dusta yang telah disebutkan, balasan puasanya tidak diberikan. Pahala puasa tidak ditimbang dalam timbangan karena telah bercampur dengan dusta dan yang disebutkan bersamanya.” (Fath Al-Bari, 4: 117) Al-Baidhawi menyatakan, لَيْسَ الْمَقْصُود مِنْ شَرْعِيَّةِ الصَّوْمِ نَفْس الْجُوعِ وَالْعَطَشِ ، بَلْ مَا يَتْبَعُهُ مِنْ كَسْرِ الشَّهَوَات وَتَطْوِيعِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ لِلنَّفْسِ الْمُطْمَئِنَّةِ ، فَإِذَا لَمْ يَحْصُلْ ذَلِكَ لَا يَنْظُرُ اللَّه إِلَيْهِ نَظَر الْقَبُولِ “Bukanlah maksud syari’at puasa adalah menahan lapar dan dahaga saja. Dalam puasa haruslah bisa mengendalikan syahwat dan memenej jiwa agar memiliki hati yang tenang. Jika tidak bisa melakukan seperti itu, maka Allah tidaklah menerima puasa tersebut.” (Fath Al-Bari, 4: 117) Dampak Jelek Berbohong 1- Berbohong memang teramat bahaya yang dapat mengantarkan pada sifat-sifat jelek lainnya. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607) 2- Berbohong selalu menggelisahkan jiwa, berbedakan dengan sifat jujur yang selalu menenangkan. Dari Al-Hasan bin ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ “Tinggalkanlah yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta akan menggelisahkan jiwa.” (HR. Tirmidzi no. 2518 dan Ahmad 1: 200. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). 3- Berbohong merupakan tanda kemunafikan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ “Ada tiga tanda munafik: jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan jika diberi amanat, ia khianat.” (HR. Bukhari no. 33) Asy-Sya’bi berkata, مَنْ كَذَبَ ، فَهُوَ مُنَافِقٌ “Siapa yang berdusta, maka ia adalah munafik.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 493) Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, الكَذِبُ جِمَاعُ النِّفَاقُ “Dusta dapat mengumpulkan sifat kemunafikan.” (Ramadhan Durusun wa ‘Ibarun, hal. 39). Mengajarkan Anak untuk Berbohong Ada perkataan dari Az-Zuhri, dari Abu Hurairah –walau sanad riwayat ini munqathi’ (terputus)-, ia berkata, “Siapa yang mengatakan pada seorang bocah, ‘Mari sini, ada kurma untukmu.’ Kemudian ia tidak memberinya sedikit kurma pun, maka ia telah berdusta.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2; 485). Tidak sedikit dari orang tua yang membohongi anaknya seperti yang dinyatakan dari Abu Hurairah di sini. Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhahullah berkata, “Jika orang tua sudah mengingkari janji yang ia katakan pada anaknya, maka hilanglah kepercayaan dari anak pada orang tua. Bagaimana lagi jika orang tua sampai mengajarkan secara langsung untuk mengingkari janji? Tentu nantinya anak tidak lagi percaya pada orang tuanya sendiri. Begitu pula didikan yang keliru adalah jika ada seseorang yang datang mencari orang tua, lalu ia katakan pada anaknya, ‘Beritahu saja, bapak tidak ada di rumah.’ Ini termasuk dosa dan telah mendidik anak untuk berbohong tanpa orang tua sadari.” (Fiqh Tarbiyah Al-Abna’, hal. 243). Berbohong Saat Bercanda Tidak boleh berbohong pula dalam bercanda, bersandiwara atau hanya ingin membuat orang lain tertawa. Dari Bahz bin Hakim, ia berkata bahwa ayahnya, Hakim telah menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ “Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315. Al-Hafizh Abu Thaohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Di antara faktor yang mendorong seseorang biasa berbohong: jauh dari agama, tidak takut akan siksa atau hukuman dari Allah di akhirat, ingin mendapatkan kebaikan yang cepat diperoleh di dunia, sudah jadi kebiasaan, hasil didikan yang jelek. Marilah jadikan bulan Ramadhan sebagai ajang untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. — Sore hari @ Pesantren Darush Sholihin GK, 27 Sya’ban 1435 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbohong pembatal puasa

Bohong Saat Puasa, Apakah Membatalkan Puasa?

Apakah bohong saat puasa bisa membatalkan puasa? Berbohong Saat Puasa Larangan berbohong saat berpuasa telah disebutkan dalam hadits berikut ini, مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903) Zuur yang dimaksud dalam hadits di atas adalah dusta. Berdusta dianggap jelek setiap waktu. Namun semakin teranggap jelek jika dilakukan di bulan Ramadhan. Hadits di atas menunjukkan tercelanya dusta. Seorang muslim tentu saja harus menjauhi hal itu. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa larangan yang dimaksud dalam hadits di atas adalah larangan haram, namun bukan termasuk pembatal puasa. Pembatal puasa hanyalah makan, minum dan jima’ (hubungan intim). Lihat Fath Al-Bari, 4: 117. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnul ‘Arabi, مُقْتَضَى هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ مَنْ فَعَلَ مَا ذُكِرَ لَا يُثَابُ عَلَى صِيَامِهِ ، وَمَعْنَاهُ أَنَّ ثَوَاب الصِّيَام لَا يَقُومُ فِي الْمُوَازَنَةِ بِإِثْم الزُّور وَمَا ذُكِرَ مَعَهُ “Konsekuensi dari hadits tersebut, siapa saja yang melakukan dusta yang telah disebutkan, balasan puasanya tidak diberikan. Pahala puasa tidak ditimbang dalam timbangan karena telah bercampur dengan dusta dan yang disebutkan bersamanya.” (Fath Al-Bari, 4: 117) Al-Baidhawi menyatakan, لَيْسَ الْمَقْصُود مِنْ شَرْعِيَّةِ الصَّوْمِ نَفْس الْجُوعِ وَالْعَطَشِ ، بَلْ مَا يَتْبَعُهُ مِنْ كَسْرِ الشَّهَوَات وَتَطْوِيعِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ لِلنَّفْسِ الْمُطْمَئِنَّةِ ، فَإِذَا لَمْ يَحْصُلْ ذَلِكَ لَا يَنْظُرُ اللَّه إِلَيْهِ نَظَر الْقَبُولِ “Bukanlah maksud syari’at puasa adalah menahan lapar dan dahaga saja. Dalam puasa haruslah bisa mengendalikan syahwat dan memenej jiwa agar memiliki hati yang tenang. Jika tidak bisa melakukan seperti itu, maka Allah tidaklah menerima puasa tersebut.” (Fath Al-Bari, 4: 117) Dampak Jelek Berbohong 1- Berbohong memang teramat bahaya yang dapat mengantarkan pada sifat-sifat jelek lainnya. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607) 2- Berbohong selalu menggelisahkan jiwa, berbedakan dengan sifat jujur yang selalu menenangkan. Dari Al-Hasan bin ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ “Tinggalkanlah yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta akan menggelisahkan jiwa.” (HR. Tirmidzi no. 2518 dan Ahmad 1: 200. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). 3- Berbohong merupakan tanda kemunafikan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ “Ada tiga tanda munafik: jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan jika diberi amanat, ia khianat.” (HR. Bukhari no. 33) Asy-Sya’bi berkata, مَنْ كَذَبَ ، فَهُوَ مُنَافِقٌ “Siapa yang berdusta, maka ia adalah munafik.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 493) Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, الكَذِبُ جِمَاعُ النِّفَاقُ “Dusta dapat mengumpulkan sifat kemunafikan.” (Ramadhan Durusun wa ‘Ibarun, hal. 39). Mengajarkan Anak untuk Berbohong Ada perkataan dari Az-Zuhri, dari Abu Hurairah –walau sanad riwayat ini munqathi’ (terputus)-, ia berkata, “Siapa yang mengatakan pada seorang bocah, ‘Mari sini, ada kurma untukmu.’ Kemudian ia tidak memberinya sedikit kurma pun, maka ia telah berdusta.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2; 485). Tidak sedikit dari orang tua yang membohongi anaknya seperti yang dinyatakan dari Abu Hurairah di sini. Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhahullah berkata, “Jika orang tua sudah mengingkari janji yang ia katakan pada anaknya, maka hilanglah kepercayaan dari anak pada orang tua. Bagaimana lagi jika orang tua sampai mengajarkan secara langsung untuk mengingkari janji? Tentu nantinya anak tidak lagi percaya pada orang tuanya sendiri. Begitu pula didikan yang keliru adalah jika ada seseorang yang datang mencari orang tua, lalu ia katakan pada anaknya, ‘Beritahu saja, bapak tidak ada di rumah.’ Ini termasuk dosa dan telah mendidik anak untuk berbohong tanpa orang tua sadari.” (Fiqh Tarbiyah Al-Abna’, hal. 243). Berbohong Saat Bercanda Tidak boleh berbohong pula dalam bercanda, bersandiwara atau hanya ingin membuat orang lain tertawa. Dari Bahz bin Hakim, ia berkata bahwa ayahnya, Hakim telah menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ “Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315. Al-Hafizh Abu Thaohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Di antara faktor yang mendorong seseorang biasa berbohong: jauh dari agama, tidak takut akan siksa atau hukuman dari Allah di akhirat, ingin mendapatkan kebaikan yang cepat diperoleh di dunia, sudah jadi kebiasaan, hasil didikan yang jelek. Marilah jadikan bulan Ramadhan sebagai ajang untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. — Sore hari @ Pesantren Darush Sholihin GK, 27 Sya’ban 1435 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbohong pembatal puasa
Apakah bohong saat puasa bisa membatalkan puasa? Berbohong Saat Puasa Larangan berbohong saat berpuasa telah disebutkan dalam hadits berikut ini, مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903) Zuur yang dimaksud dalam hadits di atas adalah dusta. Berdusta dianggap jelek setiap waktu. Namun semakin teranggap jelek jika dilakukan di bulan Ramadhan. Hadits di atas menunjukkan tercelanya dusta. Seorang muslim tentu saja harus menjauhi hal itu. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa larangan yang dimaksud dalam hadits di atas adalah larangan haram, namun bukan termasuk pembatal puasa. Pembatal puasa hanyalah makan, minum dan jima’ (hubungan intim). Lihat Fath Al-Bari, 4: 117. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnul ‘Arabi, مُقْتَضَى هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ مَنْ فَعَلَ مَا ذُكِرَ لَا يُثَابُ عَلَى صِيَامِهِ ، وَمَعْنَاهُ أَنَّ ثَوَاب الصِّيَام لَا يَقُومُ فِي الْمُوَازَنَةِ بِإِثْم الزُّور وَمَا ذُكِرَ مَعَهُ “Konsekuensi dari hadits tersebut, siapa saja yang melakukan dusta yang telah disebutkan, balasan puasanya tidak diberikan. Pahala puasa tidak ditimbang dalam timbangan karena telah bercampur dengan dusta dan yang disebutkan bersamanya.” (Fath Al-Bari, 4: 117) Al-Baidhawi menyatakan, لَيْسَ الْمَقْصُود مِنْ شَرْعِيَّةِ الصَّوْمِ نَفْس الْجُوعِ وَالْعَطَشِ ، بَلْ مَا يَتْبَعُهُ مِنْ كَسْرِ الشَّهَوَات وَتَطْوِيعِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ لِلنَّفْسِ الْمُطْمَئِنَّةِ ، فَإِذَا لَمْ يَحْصُلْ ذَلِكَ لَا يَنْظُرُ اللَّه إِلَيْهِ نَظَر الْقَبُولِ “Bukanlah maksud syari’at puasa adalah menahan lapar dan dahaga saja. Dalam puasa haruslah bisa mengendalikan syahwat dan memenej jiwa agar memiliki hati yang tenang. Jika tidak bisa melakukan seperti itu, maka Allah tidaklah menerima puasa tersebut.” (Fath Al-Bari, 4: 117) Dampak Jelek Berbohong 1- Berbohong memang teramat bahaya yang dapat mengantarkan pada sifat-sifat jelek lainnya. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607) 2- Berbohong selalu menggelisahkan jiwa, berbedakan dengan sifat jujur yang selalu menenangkan. Dari Al-Hasan bin ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ “Tinggalkanlah yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta akan menggelisahkan jiwa.” (HR. Tirmidzi no. 2518 dan Ahmad 1: 200. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). 3- Berbohong merupakan tanda kemunafikan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ “Ada tiga tanda munafik: jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan jika diberi amanat, ia khianat.” (HR. Bukhari no. 33) Asy-Sya’bi berkata, مَنْ كَذَبَ ، فَهُوَ مُنَافِقٌ “Siapa yang berdusta, maka ia adalah munafik.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 493) Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, الكَذِبُ جِمَاعُ النِّفَاقُ “Dusta dapat mengumpulkan sifat kemunafikan.” (Ramadhan Durusun wa ‘Ibarun, hal. 39). Mengajarkan Anak untuk Berbohong Ada perkataan dari Az-Zuhri, dari Abu Hurairah –walau sanad riwayat ini munqathi’ (terputus)-, ia berkata, “Siapa yang mengatakan pada seorang bocah, ‘Mari sini, ada kurma untukmu.’ Kemudian ia tidak memberinya sedikit kurma pun, maka ia telah berdusta.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2; 485). Tidak sedikit dari orang tua yang membohongi anaknya seperti yang dinyatakan dari Abu Hurairah di sini. Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhahullah berkata, “Jika orang tua sudah mengingkari janji yang ia katakan pada anaknya, maka hilanglah kepercayaan dari anak pada orang tua. Bagaimana lagi jika orang tua sampai mengajarkan secara langsung untuk mengingkari janji? Tentu nantinya anak tidak lagi percaya pada orang tuanya sendiri. Begitu pula didikan yang keliru adalah jika ada seseorang yang datang mencari orang tua, lalu ia katakan pada anaknya, ‘Beritahu saja, bapak tidak ada di rumah.’ Ini termasuk dosa dan telah mendidik anak untuk berbohong tanpa orang tua sadari.” (Fiqh Tarbiyah Al-Abna’, hal. 243). Berbohong Saat Bercanda Tidak boleh berbohong pula dalam bercanda, bersandiwara atau hanya ingin membuat orang lain tertawa. Dari Bahz bin Hakim, ia berkata bahwa ayahnya, Hakim telah menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ “Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315. Al-Hafizh Abu Thaohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Di antara faktor yang mendorong seseorang biasa berbohong: jauh dari agama, tidak takut akan siksa atau hukuman dari Allah di akhirat, ingin mendapatkan kebaikan yang cepat diperoleh di dunia, sudah jadi kebiasaan, hasil didikan yang jelek. Marilah jadikan bulan Ramadhan sebagai ajang untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. — Sore hari @ Pesantren Darush Sholihin GK, 27 Sya’ban 1435 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbohong pembatal puasa


Apakah bohong saat puasa bisa membatalkan puasa? Berbohong Saat Puasa Larangan berbohong saat berpuasa telah disebutkan dalam hadits berikut ini, مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903) Zuur yang dimaksud dalam hadits di atas adalah dusta. Berdusta dianggap jelek setiap waktu. Namun semakin teranggap jelek jika dilakukan di bulan Ramadhan. Hadits di atas menunjukkan tercelanya dusta. Seorang muslim tentu saja harus menjauhi hal itu. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa larangan yang dimaksud dalam hadits di atas adalah larangan haram, namun bukan termasuk pembatal puasa. Pembatal puasa hanyalah makan, minum dan jima’ (hubungan intim). Lihat Fath Al-Bari, 4: 117. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnul ‘Arabi, مُقْتَضَى هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ مَنْ فَعَلَ مَا ذُكِرَ لَا يُثَابُ عَلَى صِيَامِهِ ، وَمَعْنَاهُ أَنَّ ثَوَاب الصِّيَام لَا يَقُومُ فِي الْمُوَازَنَةِ بِإِثْم الزُّور وَمَا ذُكِرَ مَعَهُ “Konsekuensi dari hadits tersebut, siapa saja yang melakukan dusta yang telah disebutkan, balasan puasanya tidak diberikan. Pahala puasa tidak ditimbang dalam timbangan karena telah bercampur dengan dusta dan yang disebutkan bersamanya.” (Fath Al-Bari, 4: 117) Al-Baidhawi menyatakan, لَيْسَ الْمَقْصُود مِنْ شَرْعِيَّةِ الصَّوْمِ نَفْس الْجُوعِ وَالْعَطَشِ ، بَلْ مَا يَتْبَعُهُ مِنْ كَسْرِ الشَّهَوَات وَتَطْوِيعِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ لِلنَّفْسِ الْمُطْمَئِنَّةِ ، فَإِذَا لَمْ يَحْصُلْ ذَلِكَ لَا يَنْظُرُ اللَّه إِلَيْهِ نَظَر الْقَبُولِ “Bukanlah maksud syari’at puasa adalah menahan lapar dan dahaga saja. Dalam puasa haruslah bisa mengendalikan syahwat dan memenej jiwa agar memiliki hati yang tenang. Jika tidak bisa melakukan seperti itu, maka Allah tidaklah menerima puasa tersebut.” (Fath Al-Bari, 4: 117) Dampak Jelek Berbohong 1- Berbohong memang teramat bahaya yang dapat mengantarkan pada sifat-sifat jelek lainnya. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607) 2- Berbohong selalu menggelisahkan jiwa, berbedakan dengan sifat jujur yang selalu menenangkan. Dari Al-Hasan bin ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ “Tinggalkanlah yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta akan menggelisahkan jiwa.” (HR. Tirmidzi no. 2518 dan Ahmad 1: 200. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). 3- Berbohong merupakan tanda kemunafikan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ “Ada tiga tanda munafik: jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan jika diberi amanat, ia khianat.” (HR. Bukhari no. 33) Asy-Sya’bi berkata, مَنْ كَذَبَ ، فَهُوَ مُنَافِقٌ “Siapa yang berdusta, maka ia adalah munafik.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 493) Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, الكَذِبُ جِمَاعُ النِّفَاقُ “Dusta dapat mengumpulkan sifat kemunafikan.” (Ramadhan Durusun wa ‘Ibarun, hal. 39). Mengajarkan Anak untuk Berbohong Ada perkataan dari Az-Zuhri, dari Abu Hurairah –walau sanad riwayat ini munqathi’ (terputus)-, ia berkata, “Siapa yang mengatakan pada seorang bocah, ‘Mari sini, ada kurma untukmu.’ Kemudian ia tidak memberinya sedikit kurma pun, maka ia telah berdusta.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2; 485). Tidak sedikit dari orang tua yang membohongi anaknya seperti yang dinyatakan dari Abu Hurairah di sini. Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhahullah berkata, “Jika orang tua sudah mengingkari janji yang ia katakan pada anaknya, maka hilanglah kepercayaan dari anak pada orang tua. Bagaimana lagi jika orang tua sampai mengajarkan secara langsung untuk mengingkari janji? Tentu nantinya anak tidak lagi percaya pada orang tuanya sendiri. Begitu pula didikan yang keliru adalah jika ada seseorang yang datang mencari orang tua, lalu ia katakan pada anaknya, ‘Beritahu saja, bapak tidak ada di rumah.’ Ini termasuk dosa dan telah mendidik anak untuk berbohong tanpa orang tua sadari.” (Fiqh Tarbiyah Al-Abna’, hal. 243). Berbohong Saat Bercanda Tidak boleh berbohong pula dalam bercanda, bersandiwara atau hanya ingin membuat orang lain tertawa. Dari Bahz bin Hakim, ia berkata bahwa ayahnya, Hakim telah menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ “Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315. Al-Hafizh Abu Thaohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Di antara faktor yang mendorong seseorang biasa berbohong: jauh dari agama, tidak takut akan siksa atau hukuman dari Allah di akhirat, ingin mendapatkan kebaikan yang cepat diperoleh di dunia, sudah jadi kebiasaan, hasil didikan yang jelek. Marilah jadikan bulan Ramadhan sebagai ajang untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. — Sore hari @ Pesantren Darush Sholihin GK, 27 Sya’ban 1435 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbohong pembatal puasa

Hukum Tidur Telanjang Tanpa Busana

Bolehkah tidur dalam keadaan telanjang tanpa busana? Coba renungkan ayat berikut, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)-mu di tengah hari dan sesudah shalat Isya’. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nur: 58) Tiga keadaan yang disebutkan dalam ayat di atas adalah waktu untuk meminta izin bagi keluarga dekat ketika masuk ke dalam kamar kerabat lainnya. Kalau yang disebutkan dalam awal surat adalah permintaan izin bagi yang bukan mahram satu dan lainnya. Sedangkan ayat ini, Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman supaya budak mereka dan anak-anak mereka yang belum baligh (dewasa) meminta izin dalam tiga keadaan: Sebelum shalat Shubuh karena ketika itu masih berada di ranjang. Di waktu qoilulah saat pakaian ditanggalkan karena sedang berduaan dengan pasangannya. Setelah shalat Isya yang merupakan waktu untuk tidur. Ayat tersebut menunjukkan bahwa hendaknya dalam tiga waktu tersebut seorang hamba sahaya atau pun anak kecil tidaklah masuk ke kamar tanpa izin. Demikian keterangan dari Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 565. Lihat pada keterangan Ibnu Katsir di atas, beliau berkata, فِي وَقْتِ اْلقَيْلُوْلَةِ؛ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ قَدْ يَضَعُ ثِيَابَهُ فِي تِلْكَ الحَالِ مَعَ أَهْلِهِ “Di waktu qoilulah (tidur di siang hari) biasa pakaian itu dilepas karena tidur dengan istrinya.” Dari sini, bisa disimpulkan bahwa seorang muslim boleh melepas pakaiannya dan tidur dalam keadaan telanjang jika ia berada dalam kamar tidurnya secara khusus. Selama tidak khawatir kalau auratnya terlihat oleh orang lain yang tidak dihalalkan melihat auratnya, maka dibolehkan dalam keadaan seperti itu. Yang jelas, tidak boleh melihat aurat kecuali pasangan suami istri. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Bahz bin Hakim, dari bapaknya, dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ “Jagalah auratmu kecuali pada istri atau pada hamba sahaya wanitamu.” (HR. Abu Daud no. 4017 dan Tirmidzi no. 2794. Al-Hafiz Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Bahkan dalam dalil lain disebutkan bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha melepas bajunya ketika tidur saat tidur di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam Shahih Muslim, ‘Aisyah berkata, لَمَّا كَانَتْ لَيْلَتِىَ الَّتِى كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فِيهَا عِنْدِى انْقَلَبَ فَوَضَعَ رِدَاءَهُ وَخَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عِنْدَ رِجْلَيْهِ وَبَسَطَ طَرَفَ إِزَارِهِ عَلَى فِرَاشِهِ فَاضْطَجَعَ فَلَمْ يَلْبَثْ إِلاَّ رَيْثَمَا ظَنَّ أَنْ قَدْ رَقَدْتُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ رُوَيْدًا وَانْتَعَلَ رُوَيْدًا وَفَتَحَ الْبَابَ فَخَرَجَ ثُمَّ أَجَافَهُ رُوَيْدًا فَجَعَلْتُ دِرْعِى فِى رَأْسِى وَاخْتَمَرْتُ وَتَقَنَّعْتُ إِزَارِى ثُمَّ انْطَلَقْتُ عَلَى إِثْرِهِ حَتَّى جَاءَ الْبَقِيعَ “Suatu malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam itu di rumahku, beliau berbalik lalu beliau meletakkan rida’nya (pakaian bagian atasnya). Beliau juga melepaskan dua sandalnya lalu meletakkan keduanya di samping kedua kakinya. Kemudian beliau menggelar ujung sarungnya di atas kasurnya, lalu beliau berbaring. Beliau seperti itu karena mengira aku telah tertidur. Lalu beliau mengambil rida’nya (pakaian bagian atasnya) dengan pelan-pelan. Beliau juga memakai sandalnya dengan pelan-pelan, lalu membuka pintu dan keluar, lalu menutupnya juga dengan pelan-pelan. Maka aku pun meletakkan pakaianku di atas kepalaku dan aku berkerudung. Lalu aku memakai pakaianku kemudian aku membuntuti di belakang beliau, sehingga beliau sampai di pekuburan Baqi’.” (HR. Muslim no. 974) Yang dimaksud dengan, وَتَقَنَّعْتُ إِزَارِى adalah: “aku memakai pakaianku.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 41). Kata para ulama, ini berarti ‘Aisyah ketika itu tidur dalam keadaan tidak berbusana atau berpakaian. Yang lebih baik ketika tidur adalah tidak sampai telanjang bulat. Apalagi jika ada anak kecil yang belum baligh yang tidur bersama orang tuanya, tentu hal tersebut patut dipertimbangkan. Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 15 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab tidur telanjang

Hukum Tidur Telanjang Tanpa Busana

Bolehkah tidur dalam keadaan telanjang tanpa busana? Coba renungkan ayat berikut, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)-mu di tengah hari dan sesudah shalat Isya’. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nur: 58) Tiga keadaan yang disebutkan dalam ayat di atas adalah waktu untuk meminta izin bagi keluarga dekat ketika masuk ke dalam kamar kerabat lainnya. Kalau yang disebutkan dalam awal surat adalah permintaan izin bagi yang bukan mahram satu dan lainnya. Sedangkan ayat ini, Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman supaya budak mereka dan anak-anak mereka yang belum baligh (dewasa) meminta izin dalam tiga keadaan: Sebelum shalat Shubuh karena ketika itu masih berada di ranjang. Di waktu qoilulah saat pakaian ditanggalkan karena sedang berduaan dengan pasangannya. Setelah shalat Isya yang merupakan waktu untuk tidur. Ayat tersebut menunjukkan bahwa hendaknya dalam tiga waktu tersebut seorang hamba sahaya atau pun anak kecil tidaklah masuk ke kamar tanpa izin. Demikian keterangan dari Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 565. Lihat pada keterangan Ibnu Katsir di atas, beliau berkata, فِي وَقْتِ اْلقَيْلُوْلَةِ؛ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ قَدْ يَضَعُ ثِيَابَهُ فِي تِلْكَ الحَالِ مَعَ أَهْلِهِ “Di waktu qoilulah (tidur di siang hari) biasa pakaian itu dilepas karena tidur dengan istrinya.” Dari sini, bisa disimpulkan bahwa seorang muslim boleh melepas pakaiannya dan tidur dalam keadaan telanjang jika ia berada dalam kamar tidurnya secara khusus. Selama tidak khawatir kalau auratnya terlihat oleh orang lain yang tidak dihalalkan melihat auratnya, maka dibolehkan dalam keadaan seperti itu. Yang jelas, tidak boleh melihat aurat kecuali pasangan suami istri. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Bahz bin Hakim, dari bapaknya, dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ “Jagalah auratmu kecuali pada istri atau pada hamba sahaya wanitamu.” (HR. Abu Daud no. 4017 dan Tirmidzi no. 2794. Al-Hafiz Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Bahkan dalam dalil lain disebutkan bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha melepas bajunya ketika tidur saat tidur di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam Shahih Muslim, ‘Aisyah berkata, لَمَّا كَانَتْ لَيْلَتِىَ الَّتِى كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فِيهَا عِنْدِى انْقَلَبَ فَوَضَعَ رِدَاءَهُ وَخَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عِنْدَ رِجْلَيْهِ وَبَسَطَ طَرَفَ إِزَارِهِ عَلَى فِرَاشِهِ فَاضْطَجَعَ فَلَمْ يَلْبَثْ إِلاَّ رَيْثَمَا ظَنَّ أَنْ قَدْ رَقَدْتُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ رُوَيْدًا وَانْتَعَلَ رُوَيْدًا وَفَتَحَ الْبَابَ فَخَرَجَ ثُمَّ أَجَافَهُ رُوَيْدًا فَجَعَلْتُ دِرْعِى فِى رَأْسِى وَاخْتَمَرْتُ وَتَقَنَّعْتُ إِزَارِى ثُمَّ انْطَلَقْتُ عَلَى إِثْرِهِ حَتَّى جَاءَ الْبَقِيعَ “Suatu malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam itu di rumahku, beliau berbalik lalu beliau meletakkan rida’nya (pakaian bagian atasnya). Beliau juga melepaskan dua sandalnya lalu meletakkan keduanya di samping kedua kakinya. Kemudian beliau menggelar ujung sarungnya di atas kasurnya, lalu beliau berbaring. Beliau seperti itu karena mengira aku telah tertidur. Lalu beliau mengambil rida’nya (pakaian bagian atasnya) dengan pelan-pelan. Beliau juga memakai sandalnya dengan pelan-pelan, lalu membuka pintu dan keluar, lalu menutupnya juga dengan pelan-pelan. Maka aku pun meletakkan pakaianku di atas kepalaku dan aku berkerudung. Lalu aku memakai pakaianku kemudian aku membuntuti di belakang beliau, sehingga beliau sampai di pekuburan Baqi’.” (HR. Muslim no. 974) Yang dimaksud dengan, وَتَقَنَّعْتُ إِزَارِى adalah: “aku memakai pakaianku.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 41). Kata para ulama, ini berarti ‘Aisyah ketika itu tidur dalam keadaan tidak berbusana atau berpakaian. Yang lebih baik ketika tidur adalah tidak sampai telanjang bulat. Apalagi jika ada anak kecil yang belum baligh yang tidur bersama orang tuanya, tentu hal tersebut patut dipertimbangkan. Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 15 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab tidur telanjang
Bolehkah tidur dalam keadaan telanjang tanpa busana? Coba renungkan ayat berikut, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)-mu di tengah hari dan sesudah shalat Isya’. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nur: 58) Tiga keadaan yang disebutkan dalam ayat di atas adalah waktu untuk meminta izin bagi keluarga dekat ketika masuk ke dalam kamar kerabat lainnya. Kalau yang disebutkan dalam awal surat adalah permintaan izin bagi yang bukan mahram satu dan lainnya. Sedangkan ayat ini, Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman supaya budak mereka dan anak-anak mereka yang belum baligh (dewasa) meminta izin dalam tiga keadaan: Sebelum shalat Shubuh karena ketika itu masih berada di ranjang. Di waktu qoilulah saat pakaian ditanggalkan karena sedang berduaan dengan pasangannya. Setelah shalat Isya yang merupakan waktu untuk tidur. Ayat tersebut menunjukkan bahwa hendaknya dalam tiga waktu tersebut seorang hamba sahaya atau pun anak kecil tidaklah masuk ke kamar tanpa izin. Demikian keterangan dari Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 565. Lihat pada keterangan Ibnu Katsir di atas, beliau berkata, فِي وَقْتِ اْلقَيْلُوْلَةِ؛ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ قَدْ يَضَعُ ثِيَابَهُ فِي تِلْكَ الحَالِ مَعَ أَهْلِهِ “Di waktu qoilulah (tidur di siang hari) biasa pakaian itu dilepas karena tidur dengan istrinya.” Dari sini, bisa disimpulkan bahwa seorang muslim boleh melepas pakaiannya dan tidur dalam keadaan telanjang jika ia berada dalam kamar tidurnya secara khusus. Selama tidak khawatir kalau auratnya terlihat oleh orang lain yang tidak dihalalkan melihat auratnya, maka dibolehkan dalam keadaan seperti itu. Yang jelas, tidak boleh melihat aurat kecuali pasangan suami istri. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Bahz bin Hakim, dari bapaknya, dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ “Jagalah auratmu kecuali pada istri atau pada hamba sahaya wanitamu.” (HR. Abu Daud no. 4017 dan Tirmidzi no. 2794. Al-Hafiz Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Bahkan dalam dalil lain disebutkan bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha melepas bajunya ketika tidur saat tidur di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam Shahih Muslim, ‘Aisyah berkata, لَمَّا كَانَتْ لَيْلَتِىَ الَّتِى كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فِيهَا عِنْدِى انْقَلَبَ فَوَضَعَ رِدَاءَهُ وَخَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عِنْدَ رِجْلَيْهِ وَبَسَطَ طَرَفَ إِزَارِهِ عَلَى فِرَاشِهِ فَاضْطَجَعَ فَلَمْ يَلْبَثْ إِلاَّ رَيْثَمَا ظَنَّ أَنْ قَدْ رَقَدْتُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ رُوَيْدًا وَانْتَعَلَ رُوَيْدًا وَفَتَحَ الْبَابَ فَخَرَجَ ثُمَّ أَجَافَهُ رُوَيْدًا فَجَعَلْتُ دِرْعِى فِى رَأْسِى وَاخْتَمَرْتُ وَتَقَنَّعْتُ إِزَارِى ثُمَّ انْطَلَقْتُ عَلَى إِثْرِهِ حَتَّى جَاءَ الْبَقِيعَ “Suatu malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam itu di rumahku, beliau berbalik lalu beliau meletakkan rida’nya (pakaian bagian atasnya). Beliau juga melepaskan dua sandalnya lalu meletakkan keduanya di samping kedua kakinya. Kemudian beliau menggelar ujung sarungnya di atas kasurnya, lalu beliau berbaring. Beliau seperti itu karena mengira aku telah tertidur. Lalu beliau mengambil rida’nya (pakaian bagian atasnya) dengan pelan-pelan. Beliau juga memakai sandalnya dengan pelan-pelan, lalu membuka pintu dan keluar, lalu menutupnya juga dengan pelan-pelan. Maka aku pun meletakkan pakaianku di atas kepalaku dan aku berkerudung. Lalu aku memakai pakaianku kemudian aku membuntuti di belakang beliau, sehingga beliau sampai di pekuburan Baqi’.” (HR. Muslim no. 974) Yang dimaksud dengan, وَتَقَنَّعْتُ إِزَارِى adalah: “aku memakai pakaianku.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 41). Kata para ulama, ini berarti ‘Aisyah ketika itu tidur dalam keadaan tidak berbusana atau berpakaian. Yang lebih baik ketika tidur adalah tidak sampai telanjang bulat. Apalagi jika ada anak kecil yang belum baligh yang tidur bersama orang tuanya, tentu hal tersebut patut dipertimbangkan. Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 15 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab tidur telanjang


Bolehkah tidur dalam keadaan telanjang tanpa busana? Coba renungkan ayat berikut, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)-mu di tengah hari dan sesudah shalat Isya’. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nur: 58) Tiga keadaan yang disebutkan dalam ayat di atas adalah waktu untuk meminta izin bagi keluarga dekat ketika masuk ke dalam kamar kerabat lainnya. Kalau yang disebutkan dalam awal surat adalah permintaan izin bagi yang bukan mahram satu dan lainnya. Sedangkan ayat ini, Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman supaya budak mereka dan anak-anak mereka yang belum baligh (dewasa) meminta izin dalam tiga keadaan: Sebelum shalat Shubuh karena ketika itu masih berada di ranjang. Di waktu qoilulah saat pakaian ditanggalkan karena sedang berduaan dengan pasangannya. Setelah shalat Isya yang merupakan waktu untuk tidur. Ayat tersebut menunjukkan bahwa hendaknya dalam tiga waktu tersebut seorang hamba sahaya atau pun anak kecil tidaklah masuk ke kamar tanpa izin. Demikian keterangan dari Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 565. Lihat pada keterangan Ibnu Katsir di atas, beliau berkata, فِي وَقْتِ اْلقَيْلُوْلَةِ؛ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ قَدْ يَضَعُ ثِيَابَهُ فِي تِلْكَ الحَالِ مَعَ أَهْلِهِ “Di waktu qoilulah (tidur di siang hari) biasa pakaian itu dilepas karena tidur dengan istrinya.” Dari sini, bisa disimpulkan bahwa seorang muslim boleh melepas pakaiannya dan tidur dalam keadaan telanjang jika ia berada dalam kamar tidurnya secara khusus. Selama tidak khawatir kalau auratnya terlihat oleh orang lain yang tidak dihalalkan melihat auratnya, maka dibolehkan dalam keadaan seperti itu. Yang jelas, tidak boleh melihat aurat kecuali pasangan suami istri. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Bahz bin Hakim, dari bapaknya, dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ “Jagalah auratmu kecuali pada istri atau pada hamba sahaya wanitamu.” (HR. Abu Daud no. 4017 dan Tirmidzi no. 2794. Al-Hafiz Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Bahkan dalam dalil lain disebutkan bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha melepas bajunya ketika tidur saat tidur di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam Shahih Muslim, ‘Aisyah berkata, لَمَّا كَانَتْ لَيْلَتِىَ الَّتِى كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فِيهَا عِنْدِى انْقَلَبَ فَوَضَعَ رِدَاءَهُ وَخَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عِنْدَ رِجْلَيْهِ وَبَسَطَ طَرَفَ إِزَارِهِ عَلَى فِرَاشِهِ فَاضْطَجَعَ فَلَمْ يَلْبَثْ إِلاَّ رَيْثَمَا ظَنَّ أَنْ قَدْ رَقَدْتُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ رُوَيْدًا وَانْتَعَلَ رُوَيْدًا وَفَتَحَ الْبَابَ فَخَرَجَ ثُمَّ أَجَافَهُ رُوَيْدًا فَجَعَلْتُ دِرْعِى فِى رَأْسِى وَاخْتَمَرْتُ وَتَقَنَّعْتُ إِزَارِى ثُمَّ انْطَلَقْتُ عَلَى إِثْرِهِ حَتَّى جَاءَ الْبَقِيعَ “Suatu malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam itu di rumahku, beliau berbalik lalu beliau meletakkan rida’nya (pakaian bagian atasnya). Beliau juga melepaskan dua sandalnya lalu meletakkan keduanya di samping kedua kakinya. Kemudian beliau menggelar ujung sarungnya di atas kasurnya, lalu beliau berbaring. Beliau seperti itu karena mengira aku telah tertidur. Lalu beliau mengambil rida’nya (pakaian bagian atasnya) dengan pelan-pelan. Beliau juga memakai sandalnya dengan pelan-pelan, lalu membuka pintu dan keluar, lalu menutupnya juga dengan pelan-pelan. Maka aku pun meletakkan pakaianku di atas kepalaku dan aku berkerudung. Lalu aku memakai pakaianku kemudian aku membuntuti di belakang beliau, sehingga beliau sampai di pekuburan Baqi’.” (HR. Muslim no. 974) Yang dimaksud dengan, وَتَقَنَّعْتُ إِزَارِى adalah: “aku memakai pakaianku.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 41). Kata para ulama, ini berarti ‘Aisyah ketika itu tidur dalam keadaan tidak berbusana atau berpakaian. Yang lebih baik ketika tidur adalah tidak sampai telanjang bulat. Apalagi jika ada anak kecil yang belum baligh yang tidur bersama orang tuanya, tentu hal tersebut patut dipertimbangkan. Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, 15 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsadab tidur telanjang

Kenapa Maksiat Masih Terjadi, Padahal Setan Diikat di Bulan Ramadhan?

Ketika puasa itu tiba, maka kebaikan akan mudah dilakukan. Kejahatan dan maksiat akan semakin berkurang karena saat itu pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup, setan pun terbelenggu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079). Dalam lafazh lain disebutkan, إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ “Jika masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu rahmat dibukan, pintu-pintu Jahannam ditutup dan setan-setan pun diikat dengan rantai.” (HR. Bukhari no. 3277 dan Muslim no. 1079). Al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan bahwa yang dimaksud adalah makna secara tekstual dan hakiki. Terbukanya pintu surga, tertutupnya pintu neraka dan terikatnya setan adalah tanda masuknya bulan Ramadhan, mulianya bulan tersebut dan setan pun terhalang mengganggu orang beriman. Ini isyarat pula bahwa pahala dan pemaafan dari Allah begitu banyak pada bulan Ramadhan. Tingkah setan dalam menggoda manusia pun berkurang karena mereka bagaikan para tahanan ketika itu. (Fath Al-Bari, 4: 114 dan Syarh Shahih Muslim, 7: 167) Al Qodhi juga berkata, “Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti puasa dan shalat malam. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan, orang akan lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan maksiat. Inilah sebab mereka dapat memasuki surga dan pintunya. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu.” (Lihat Syarh Shahih Muslim, 7: 167) Namun kenapa maksiat masih banyak terjadi di bulan Ramadhan walau setan itu diikat? Disebutkan oleh Abul ‘Abbas Al-Qurthubi: Setan diikat dari orang yang menjalankan puasa yang memperhatikan syarat dan adab saat berpuasa. Adapun yang tidak menjalankan puasa dengan benar, maka setan tidaklah terbelenggu darinya. Seandainya pun kita katakan bahwa setan tidak mengganggu orang yang berpuasa, tetap saja maksiat bisa terjadi dengan sebab lain yaitu dorongan hawa nafsu yang selalu mengajak pada kejelekan, adat kebiasaan dan gangguan dari setan manusia. Bisa juga maksudnya bahwa setan yang diikat adalah umumnya setan dan yang memiliki pasukan sedangkan yang tidak memiliki pasukan tidaklah dibelenggu. Intinya maksudnya adalah kejelekan itu berkurang di bulan Ramadhan. Ini nyata terjadi dibandingkan dengan bulan lainnya. (Al-Mufhim lima Asykala min Takhlis Kitab Muslim, 3: 136. Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 221162) Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa pada bulan Ramadhan, jiwa lebih condong pada kebaikan dan amalan shalih, yang dengan kebaikan ini sebagai jalan terbukanya pintu surga. Begitu pula kejelekan pun berkurang ketika itu yang akibatnya pintu neraka itu tertutup. Sedangkan setan itu diikat berarti mereka tidaklah mampu melakukan maksiat sebagaimana ketika tidak berpuasa. Namun maksiat masih bisa terjadi karena syahwat. Ketika syahwat itu ditahan, maka setan-setan pun terbelenggu. (Majmu’ah Al-Fatawa, 14: 167). Karena terbuka lebarnya pintu kebaikan ini, pahala kebaikan akan dilipat gandakan. Guru-guru dari Abu Bakr bin Maryam rahimahumullah pernah mengatakan, “Jika tiba bulan Ramadhan, bersemangatlah untuk bersedekah. Karena bersedekah di bulan tersebut lebih berlipat pahalanya seperti seseorang sedekah di jalan Allah (fii sabilillah). Pahala bacaaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) lebih afdhol dari seribu bacaan tasbih di bulan lainnya.” (Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hal. 270) Ibrahim An-Nakho’i rahimahullah mengatakan, “Puasa sehari di bulan Ramadhan lebih afdhol dari puasa di seribu hari lainnya. Begitu pula satu bacaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) di bulan Ramadhan lebih afdhol dari seribu bacaan tasbih di hari lainnya. Begitu juga pahala satu raka’at shalat di bulan Ramadhan lebih baik dari seribu raka’at di bulan lainnya.” (Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hal. 270) Begitulah kemuliaan bulan Ramadhan. Orang yang sebelumnya malas ibadah, akan kembali sadar. Yang sudah semangat ibadah akan terus bertambah semangat. Yang lalai akan yang wajib, akan sadar di bulan Ramadhan. Yang lalai akan dzikir pun semangat untuk berdzikir. Begitu pula yang malas ke masjid akan rajin ke masjid. Namun tentu saja ibadah terbaik adalah ibadah yang kontinu, bukan hanya musiman, وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ “(Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.” (HR. Muslim no. 782) Semoga bermanfaat. — Direvisi 14 Sya’ban 1436 H (01 Juni 2015) di Pesantren DS Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan ramadhan keutamaan puasa setan

Kenapa Maksiat Masih Terjadi, Padahal Setan Diikat di Bulan Ramadhan?

Ketika puasa itu tiba, maka kebaikan akan mudah dilakukan. Kejahatan dan maksiat akan semakin berkurang karena saat itu pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup, setan pun terbelenggu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079). Dalam lafazh lain disebutkan, إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ “Jika masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu rahmat dibukan, pintu-pintu Jahannam ditutup dan setan-setan pun diikat dengan rantai.” (HR. Bukhari no. 3277 dan Muslim no. 1079). Al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan bahwa yang dimaksud adalah makna secara tekstual dan hakiki. Terbukanya pintu surga, tertutupnya pintu neraka dan terikatnya setan adalah tanda masuknya bulan Ramadhan, mulianya bulan tersebut dan setan pun terhalang mengganggu orang beriman. Ini isyarat pula bahwa pahala dan pemaafan dari Allah begitu banyak pada bulan Ramadhan. Tingkah setan dalam menggoda manusia pun berkurang karena mereka bagaikan para tahanan ketika itu. (Fath Al-Bari, 4: 114 dan Syarh Shahih Muslim, 7: 167) Al Qodhi juga berkata, “Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti puasa dan shalat malam. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan, orang akan lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan maksiat. Inilah sebab mereka dapat memasuki surga dan pintunya. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu.” (Lihat Syarh Shahih Muslim, 7: 167) Namun kenapa maksiat masih banyak terjadi di bulan Ramadhan walau setan itu diikat? Disebutkan oleh Abul ‘Abbas Al-Qurthubi: Setan diikat dari orang yang menjalankan puasa yang memperhatikan syarat dan adab saat berpuasa. Adapun yang tidak menjalankan puasa dengan benar, maka setan tidaklah terbelenggu darinya. Seandainya pun kita katakan bahwa setan tidak mengganggu orang yang berpuasa, tetap saja maksiat bisa terjadi dengan sebab lain yaitu dorongan hawa nafsu yang selalu mengajak pada kejelekan, adat kebiasaan dan gangguan dari setan manusia. Bisa juga maksudnya bahwa setan yang diikat adalah umumnya setan dan yang memiliki pasukan sedangkan yang tidak memiliki pasukan tidaklah dibelenggu. Intinya maksudnya adalah kejelekan itu berkurang di bulan Ramadhan. Ini nyata terjadi dibandingkan dengan bulan lainnya. (Al-Mufhim lima Asykala min Takhlis Kitab Muslim, 3: 136. Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 221162) Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa pada bulan Ramadhan, jiwa lebih condong pada kebaikan dan amalan shalih, yang dengan kebaikan ini sebagai jalan terbukanya pintu surga. Begitu pula kejelekan pun berkurang ketika itu yang akibatnya pintu neraka itu tertutup. Sedangkan setan itu diikat berarti mereka tidaklah mampu melakukan maksiat sebagaimana ketika tidak berpuasa. Namun maksiat masih bisa terjadi karena syahwat. Ketika syahwat itu ditahan, maka setan-setan pun terbelenggu. (Majmu’ah Al-Fatawa, 14: 167). Karena terbuka lebarnya pintu kebaikan ini, pahala kebaikan akan dilipat gandakan. Guru-guru dari Abu Bakr bin Maryam rahimahumullah pernah mengatakan, “Jika tiba bulan Ramadhan, bersemangatlah untuk bersedekah. Karena bersedekah di bulan tersebut lebih berlipat pahalanya seperti seseorang sedekah di jalan Allah (fii sabilillah). Pahala bacaaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) lebih afdhol dari seribu bacaan tasbih di bulan lainnya.” (Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hal. 270) Ibrahim An-Nakho’i rahimahullah mengatakan, “Puasa sehari di bulan Ramadhan lebih afdhol dari puasa di seribu hari lainnya. Begitu pula satu bacaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) di bulan Ramadhan lebih afdhol dari seribu bacaan tasbih di hari lainnya. Begitu juga pahala satu raka’at shalat di bulan Ramadhan lebih baik dari seribu raka’at di bulan lainnya.” (Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hal. 270) Begitulah kemuliaan bulan Ramadhan. Orang yang sebelumnya malas ibadah, akan kembali sadar. Yang sudah semangat ibadah akan terus bertambah semangat. Yang lalai akan yang wajib, akan sadar di bulan Ramadhan. Yang lalai akan dzikir pun semangat untuk berdzikir. Begitu pula yang malas ke masjid akan rajin ke masjid. Namun tentu saja ibadah terbaik adalah ibadah yang kontinu, bukan hanya musiman, وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ “(Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.” (HR. Muslim no. 782) Semoga bermanfaat. — Direvisi 14 Sya’ban 1436 H (01 Juni 2015) di Pesantren DS Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan ramadhan keutamaan puasa setan
Ketika puasa itu tiba, maka kebaikan akan mudah dilakukan. Kejahatan dan maksiat akan semakin berkurang karena saat itu pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup, setan pun terbelenggu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079). Dalam lafazh lain disebutkan, إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ “Jika masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu rahmat dibukan, pintu-pintu Jahannam ditutup dan setan-setan pun diikat dengan rantai.” (HR. Bukhari no. 3277 dan Muslim no. 1079). Al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan bahwa yang dimaksud adalah makna secara tekstual dan hakiki. Terbukanya pintu surga, tertutupnya pintu neraka dan terikatnya setan adalah tanda masuknya bulan Ramadhan, mulianya bulan tersebut dan setan pun terhalang mengganggu orang beriman. Ini isyarat pula bahwa pahala dan pemaafan dari Allah begitu banyak pada bulan Ramadhan. Tingkah setan dalam menggoda manusia pun berkurang karena mereka bagaikan para tahanan ketika itu. (Fath Al-Bari, 4: 114 dan Syarh Shahih Muslim, 7: 167) Al Qodhi juga berkata, “Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti puasa dan shalat malam. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan, orang akan lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan maksiat. Inilah sebab mereka dapat memasuki surga dan pintunya. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu.” (Lihat Syarh Shahih Muslim, 7: 167) Namun kenapa maksiat masih banyak terjadi di bulan Ramadhan walau setan itu diikat? Disebutkan oleh Abul ‘Abbas Al-Qurthubi: Setan diikat dari orang yang menjalankan puasa yang memperhatikan syarat dan adab saat berpuasa. Adapun yang tidak menjalankan puasa dengan benar, maka setan tidaklah terbelenggu darinya. Seandainya pun kita katakan bahwa setan tidak mengganggu orang yang berpuasa, tetap saja maksiat bisa terjadi dengan sebab lain yaitu dorongan hawa nafsu yang selalu mengajak pada kejelekan, adat kebiasaan dan gangguan dari setan manusia. Bisa juga maksudnya bahwa setan yang diikat adalah umumnya setan dan yang memiliki pasukan sedangkan yang tidak memiliki pasukan tidaklah dibelenggu. Intinya maksudnya adalah kejelekan itu berkurang di bulan Ramadhan. Ini nyata terjadi dibandingkan dengan bulan lainnya. (Al-Mufhim lima Asykala min Takhlis Kitab Muslim, 3: 136. Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 221162) Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa pada bulan Ramadhan, jiwa lebih condong pada kebaikan dan amalan shalih, yang dengan kebaikan ini sebagai jalan terbukanya pintu surga. Begitu pula kejelekan pun berkurang ketika itu yang akibatnya pintu neraka itu tertutup. Sedangkan setan itu diikat berarti mereka tidaklah mampu melakukan maksiat sebagaimana ketika tidak berpuasa. Namun maksiat masih bisa terjadi karena syahwat. Ketika syahwat itu ditahan, maka setan-setan pun terbelenggu. (Majmu’ah Al-Fatawa, 14: 167). Karena terbuka lebarnya pintu kebaikan ini, pahala kebaikan akan dilipat gandakan. Guru-guru dari Abu Bakr bin Maryam rahimahumullah pernah mengatakan, “Jika tiba bulan Ramadhan, bersemangatlah untuk bersedekah. Karena bersedekah di bulan tersebut lebih berlipat pahalanya seperti seseorang sedekah di jalan Allah (fii sabilillah). Pahala bacaaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) lebih afdhol dari seribu bacaan tasbih di bulan lainnya.” (Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hal. 270) Ibrahim An-Nakho’i rahimahullah mengatakan, “Puasa sehari di bulan Ramadhan lebih afdhol dari puasa di seribu hari lainnya. Begitu pula satu bacaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) di bulan Ramadhan lebih afdhol dari seribu bacaan tasbih di hari lainnya. Begitu juga pahala satu raka’at shalat di bulan Ramadhan lebih baik dari seribu raka’at di bulan lainnya.” (Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hal. 270) Begitulah kemuliaan bulan Ramadhan. Orang yang sebelumnya malas ibadah, akan kembali sadar. Yang sudah semangat ibadah akan terus bertambah semangat. Yang lalai akan yang wajib, akan sadar di bulan Ramadhan. Yang lalai akan dzikir pun semangat untuk berdzikir. Begitu pula yang malas ke masjid akan rajin ke masjid. Namun tentu saja ibadah terbaik adalah ibadah yang kontinu, bukan hanya musiman, وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ “(Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.” (HR. Muslim no. 782) Semoga bermanfaat. — Direvisi 14 Sya’ban 1436 H (01 Juni 2015) di Pesantren DS Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan ramadhan keutamaan puasa setan


Ketika puasa itu tiba, maka kebaikan akan mudah dilakukan. Kejahatan dan maksiat akan semakin berkurang karena saat itu pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup, setan pun terbelenggu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079). Dalam lafazh lain disebutkan, إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ “Jika masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu rahmat dibukan, pintu-pintu Jahannam ditutup dan setan-setan pun diikat dengan rantai.” (HR. Bukhari no. 3277 dan Muslim no. 1079). Al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan bahwa yang dimaksud adalah makna secara tekstual dan hakiki. Terbukanya pintu surga, tertutupnya pintu neraka dan terikatnya setan adalah tanda masuknya bulan Ramadhan, mulianya bulan tersebut dan setan pun terhalang mengganggu orang beriman. Ini isyarat pula bahwa pahala dan pemaafan dari Allah begitu banyak pada bulan Ramadhan. Tingkah setan dalam menggoda manusia pun berkurang karena mereka bagaikan para tahanan ketika itu. (Fath Al-Bari, 4: 114 dan Syarh Shahih Muslim, 7: 167) Al Qodhi juga berkata, “Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti puasa dan shalat malam. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan, orang akan lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan maksiat. Inilah sebab mereka dapat memasuki surga dan pintunya. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu.” (Lihat Syarh Shahih Muslim, 7: 167) Namun kenapa maksiat masih banyak terjadi di bulan Ramadhan walau setan itu diikat? Disebutkan oleh Abul ‘Abbas Al-Qurthubi: Setan diikat dari orang yang menjalankan puasa yang memperhatikan syarat dan adab saat berpuasa. Adapun yang tidak menjalankan puasa dengan benar, maka setan tidaklah terbelenggu darinya. Seandainya pun kita katakan bahwa setan tidak mengganggu orang yang berpuasa, tetap saja maksiat bisa terjadi dengan sebab lain yaitu dorongan hawa nafsu yang selalu mengajak pada kejelekan, adat kebiasaan dan gangguan dari setan manusia. Bisa juga maksudnya bahwa setan yang diikat adalah umumnya setan dan yang memiliki pasukan sedangkan yang tidak memiliki pasukan tidaklah dibelenggu. Intinya maksudnya adalah kejelekan itu berkurang di bulan Ramadhan. Ini nyata terjadi dibandingkan dengan bulan lainnya. (Al-Mufhim lima Asykala min Takhlis Kitab Muslim, 3: 136. Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 221162) Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa pada bulan Ramadhan, jiwa lebih condong pada kebaikan dan amalan shalih, yang dengan kebaikan ini sebagai jalan terbukanya pintu surga. Begitu pula kejelekan pun berkurang ketika itu yang akibatnya pintu neraka itu tertutup. Sedangkan setan itu diikat berarti mereka tidaklah mampu melakukan maksiat sebagaimana ketika tidak berpuasa. Namun maksiat masih bisa terjadi karena syahwat. Ketika syahwat itu ditahan, maka setan-setan pun terbelenggu. (Majmu’ah Al-Fatawa, 14: 167). Karena terbuka lebarnya pintu kebaikan ini, pahala kebaikan akan dilipat gandakan. Guru-guru dari Abu Bakr bin Maryam rahimahumullah pernah mengatakan, “Jika tiba bulan Ramadhan, bersemangatlah untuk bersedekah. Karena bersedekah di bulan tersebut lebih berlipat pahalanya seperti seseorang sedekah di jalan Allah (fii sabilillah). Pahala bacaaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) lebih afdhol dari seribu bacaan tasbih di bulan lainnya.” (Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hal. 270) Ibrahim An-Nakho’i rahimahullah mengatakan, “Puasa sehari di bulan Ramadhan lebih afdhol dari puasa di seribu hari lainnya. Begitu pula satu bacaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) di bulan Ramadhan lebih afdhol dari seribu bacaan tasbih di hari lainnya. Begitu juga pahala satu raka’at shalat di bulan Ramadhan lebih baik dari seribu raka’at di bulan lainnya.” (Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hal. 270) Begitulah kemuliaan bulan Ramadhan. Orang yang sebelumnya malas ibadah, akan kembali sadar. Yang sudah semangat ibadah akan terus bertambah semangat. Yang lalai akan yang wajib, akan sadar di bulan Ramadhan. Yang lalai akan dzikir pun semangat untuk berdzikir. Begitu pula yang malas ke masjid akan rajin ke masjid. Namun tentu saja ibadah terbaik adalah ibadah yang kontinu, bukan hanya musiman, وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ “(Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.” (HR. Muslim no. 782) Semoga bermanfaat. — Direvisi 14 Sya’ban 1436 H (01 Juni 2015) di Pesantren DS Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan ramadhan keutamaan puasa setan

Kisah Menakjubkan: Para Ulama Mengkhatamkan Al Quran dalam Sehari

Disunnahkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan dan semangat untuk mengkhatamkannya. Walaupun hal ini tidaklah wajib. Artinya, jika tidak mengkhatamkan Al-Qur’an, maka tidak berdosa. Namun sayang, saat itu ia akan luput dari pahala yang besar. Apa dalil di bulan Ramadhan kita mesti perhatian pada Al-Qur’an. Lihatlah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam berusaha untuk mengkhatamkan Al-Qur’an di hadapan Jibril ‘alaihis salam sebanyak sekali setiap tahunnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, كَانَ يَعْرِضُ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً ، فَعَرَضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ ، وَكَانَ يَعْتَكِفُ كُلَّ عَامٍ عَشْرًا فَاعْتَكَفَ عِشْرِينَ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ { فِيهِ } “Jibril itu (saling) belajar Al-Qur’an dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap tahun sekali (khatam). Ketika di tahun beliau akan meninggal dunia dua kali khatam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa pula beri’tikaf setiap tahunnya selama sepuluh hari. Namun di tahun saat beliau akan meninggal dunia, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Bukhari no. 4998). Ibnul Atsir menyatakan dalam Al-Jami’ fii Gharibil Hadits (4: 64) bahwa Jibril saling mengajarkan pada Nabi seluruh Al-Qur’an yang telah diturunkan. Dari situ, para ulama –semoga Allah meridhai mereka- begitu semangat mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan karena mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Beberapa contoh kami sebutkan di bawah ini. Contoh pertama dari seorang ulama yang bernama Al-Aswad bin Yazid –seorang ulama besar tabi’in yang meninggal dunia 74 atau 75 Hijriyah di Kufah- bisa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam. Dari Ibrahim An-Nakha’i, ia berkata, كَانَ الأَسْوَدُ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي رَمَضَانَ فِي كُلِّ لَيْلَتَيْنِ “Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam.” (Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51). Subhanallah … Yang ada, kita hanya jadi orang yang lalai dari Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Disebutkan dalam kitab yang sama di luar bulan Ramadhan, Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam enam malam. Waktu istirahat beliau untuk tidur hanya antara Maghrib dan Isya. (Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51) Ada seorang ulama di kalangan tabi’in yang bernama Qatadah bin Da’amah yang meninggal tahun 60 atau 61 Hijriyah dan salah seorang murid dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Beliau ini sampai dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hambal sebagai ulama pakar tafsir dan paham akan perselisihan ulama dalam masalah tafsir. Sampai-sampai Sufyan Ats-Tsaury mengatakan bahwa tidak ada di muka bumi ini yang semisal Qatadah. Salam bin Abu Muthi’ pernah mengatakan tentang semangat Qatadah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, كَانَ قَتَادَة يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي سَبْعٍ، وَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ خَتَمَ فِي كُلِّ ثَلاَثٍ، فَإِذَا جَاءَ العَشْرُ خَتَمَ كُلَّ لَيْلَةٍ “Qatadah biasanya mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari. Namun jika datang bulan Ramadhan ia mengkhatamkannya setiap tiga hari. Ketika datang sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, ia mengkhatamkan setiap malamnya.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 5: 276) Muhammad bin Idri Asy-Syafi’i yang kita kenal dengan Imam Syafi’i yang terkenal sebagai salah satu ulama madzhab sebagaimana disebutkan oleh muridnya Ar-Rabi’ bin Sulaiman, كَانَ الشَّافِعِيُّ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ سِتِّيْنَ خَتْمَةً “Imam Syafi’i biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali.” Ditambahkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa khataman tersebut dilakukan dalam shalat. (Siyar A’lam An-Nubala’, 10: 36). Bayangkan, Imam Syafi’i berarti mengkhatamkan Al-Qur’an sehari dua kali. Subhanallah … Ibnu ‘Asakir adalah seorang ulama hadits dari negeri Syam, dengan nama kunyah Abul Qasim, beliau penulis kitab yang terkenal yaitu Tarikh Dimasyq. Anaknya yang bernama Al-Qasim mengatakan mengenai bapaknya, وكان مواظبا على صلاة الجماعة وتلاوة القرآن، يختم كل جمعة، ويختم في رمضان كل يوم، ويعتكف في المنارة الشرقية، وكان كثير النوافل والاذكار “Ibnu ‘Asakir adalah orang yang biasa merutinkan shalat jama’ah dan tilawah Al-Qur’an. Beliau biasa mengkhatamkan Al-Qur’an setiap pekannya. Lebih luar biasanya di bulan Ramadhan, beliau khatamkan Al-Qur’an setiap hari. Beliau biasa beri’tikaf di Al-Manarah Asy-Syaqiyyah. Beliau adalah orang yang sangat gemar melakukan amalan sunnah dan rajin berdzikir.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 20: 562) Apakah Mengkhatamkan Al-Qur’an itu Wajib? Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan bahwa seperti itu berbeda tergantung pada orang masing-masing. Orang yang sibuk pikirannya, maka berusaha sebisa mungkin sesuai kemampuan pemahamannya. Begitu pula orang yang sibuk dalam menyebarkan ilmu atau sibuk mengurus urusan agama lainnya atau urusan orang banyak, berusahalah pula untuk mengkhatamkannya sesuai kemampuan. Sedangkan selain mereka yang disebut tadi, hendaknya bisa memperbanyak membaca, jangan sampai jadi lalai. Lihat At-Tibyan, hal. 72. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apakah orang yang berpuasa wajib mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan?” Jawab beliau rahimahullah bahwa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan bagi orang yang berpuasa tidaklah wajib. Akan tetapi sudah sepatutnya setiap muslim di bulan Ramadhan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an. Hal ini merupakan sunnah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap bulan Ramadhan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa saling mengkaji Al-Qur’an bersama Jibril. (Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin 20: 516, Dinukil dari Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 65754) Padahal Ada Hadits yang Melarang Khatam Al-Qur’an Kurang dari Tiga Hari Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ فِى كَمْ أَقْرَأُ الْقُرْآنَ قَالَ « فِى شَهْرٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ وَتَنَاقَصَهُ حَتَّى قَالَ « اقْرَأْهُ فِى سَبْعٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ. قَالَ « لاَ يَفْقَهُ مَنْ قَرَأَهُ فِى أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثٍ » “Wahai Rasulullah dalam berapa hari aku boleh mengkhatamkan Al-Qur’an. Beliau menjawab, “Dalam satu bulan.” ‘Abdullah menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Lantas hal itu dikurangi hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Khatamkanlah dalam waktu seminggu.” ‘Abdullah masih menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Tidaklah bisa memahami jika ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari.” (HR. Abu Daud no. 1390 dan Ahmad 2: 195. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Al ‘Azhim Abadi menyatakan bahwa hadits di atas adalah dalil tegas yang menyatakan bahwa tidak boleh mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari. (‘Aun Al-Ma’bud, 4: 212) Para ulama menjelaskan bahwa yang ternafikan dalam hadits adalah ketidakpahaman, bukan pahalanya. Artinya, hadits tersebut tidaklah menunjukkan tidak boleh mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari. Yang dimaksudkan dalam hadits adalah jika mengkhatamkan kurang dari tiga hari sulit untuk memahami. Berarti kalau dilakukan oleh orang yang memahami Al-Qur’an seperti contoh para ulama yang penulis sebutkan di atas, maka tidaklah masalah. Dalam Lathaif Al-Ma’arif (hal. 306) disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali, “Larangan mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari itu ada jika dilakukan terus menerus. Sedangkan jika sesekali dilakukan apalagi di waktu utama seperti bulan Ramadhan lebih-lebih lagi pada malam yang dinanti yaitu Lailatul Qadar atau di tempat yang mulia seperti di Makkah bagi yang mendatanginya dan ia bukan penduduk Makkah, maka disunnahkan untuk memperbanyak tilawah untuk memanfaatkan pahala melimpah pada waktu dan zaman. Inilah pendapat dari Imam Ahmad dan Ishaq serta ulama besar lainnya. Inilah yang diamalkan oleh para ulama sebagaimana telah disebutkan.” Walhamdulillah. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: At-Tibyan fi Adab Hamalah Al-Qur’an. Cetakan pertama tahun 1426 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Maktabah Ibnu ‘Abbas. ‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud. Cetakan pertama tahun 1430 H. Muhammad Asyraf Ash-Shidiqiy Al-‘Azhim Abadi. Penerbit Darul Fayha’. Lathaif Al-Ma’arif. Cetakan pertama tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. Siyar A’lam An-Nubala’. Cetakan kedua tahun 1435 H. Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz-Dzahabiy. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 65754. — Diselesaikan di pagi hari 12 Sya’ban 1436 H di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskhatam al quran

Kisah Menakjubkan: Para Ulama Mengkhatamkan Al Quran dalam Sehari

Disunnahkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan dan semangat untuk mengkhatamkannya. Walaupun hal ini tidaklah wajib. Artinya, jika tidak mengkhatamkan Al-Qur’an, maka tidak berdosa. Namun sayang, saat itu ia akan luput dari pahala yang besar. Apa dalil di bulan Ramadhan kita mesti perhatian pada Al-Qur’an. Lihatlah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam berusaha untuk mengkhatamkan Al-Qur’an di hadapan Jibril ‘alaihis salam sebanyak sekali setiap tahunnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, كَانَ يَعْرِضُ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً ، فَعَرَضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ ، وَكَانَ يَعْتَكِفُ كُلَّ عَامٍ عَشْرًا فَاعْتَكَفَ عِشْرِينَ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ { فِيهِ } “Jibril itu (saling) belajar Al-Qur’an dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap tahun sekali (khatam). Ketika di tahun beliau akan meninggal dunia dua kali khatam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa pula beri’tikaf setiap tahunnya selama sepuluh hari. Namun di tahun saat beliau akan meninggal dunia, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Bukhari no. 4998). Ibnul Atsir menyatakan dalam Al-Jami’ fii Gharibil Hadits (4: 64) bahwa Jibril saling mengajarkan pada Nabi seluruh Al-Qur’an yang telah diturunkan. Dari situ, para ulama –semoga Allah meridhai mereka- begitu semangat mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan karena mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Beberapa contoh kami sebutkan di bawah ini. Contoh pertama dari seorang ulama yang bernama Al-Aswad bin Yazid –seorang ulama besar tabi’in yang meninggal dunia 74 atau 75 Hijriyah di Kufah- bisa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam. Dari Ibrahim An-Nakha’i, ia berkata, كَانَ الأَسْوَدُ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي رَمَضَانَ فِي كُلِّ لَيْلَتَيْنِ “Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam.” (Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51). Subhanallah … Yang ada, kita hanya jadi orang yang lalai dari Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Disebutkan dalam kitab yang sama di luar bulan Ramadhan, Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam enam malam. Waktu istirahat beliau untuk tidur hanya antara Maghrib dan Isya. (Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51) Ada seorang ulama di kalangan tabi’in yang bernama Qatadah bin Da’amah yang meninggal tahun 60 atau 61 Hijriyah dan salah seorang murid dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Beliau ini sampai dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hambal sebagai ulama pakar tafsir dan paham akan perselisihan ulama dalam masalah tafsir. Sampai-sampai Sufyan Ats-Tsaury mengatakan bahwa tidak ada di muka bumi ini yang semisal Qatadah. Salam bin Abu Muthi’ pernah mengatakan tentang semangat Qatadah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, كَانَ قَتَادَة يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي سَبْعٍ، وَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ خَتَمَ فِي كُلِّ ثَلاَثٍ، فَإِذَا جَاءَ العَشْرُ خَتَمَ كُلَّ لَيْلَةٍ “Qatadah biasanya mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari. Namun jika datang bulan Ramadhan ia mengkhatamkannya setiap tiga hari. Ketika datang sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, ia mengkhatamkan setiap malamnya.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 5: 276) Muhammad bin Idri Asy-Syafi’i yang kita kenal dengan Imam Syafi’i yang terkenal sebagai salah satu ulama madzhab sebagaimana disebutkan oleh muridnya Ar-Rabi’ bin Sulaiman, كَانَ الشَّافِعِيُّ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ سِتِّيْنَ خَتْمَةً “Imam Syafi’i biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali.” Ditambahkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa khataman tersebut dilakukan dalam shalat. (Siyar A’lam An-Nubala’, 10: 36). Bayangkan, Imam Syafi’i berarti mengkhatamkan Al-Qur’an sehari dua kali. Subhanallah … Ibnu ‘Asakir adalah seorang ulama hadits dari negeri Syam, dengan nama kunyah Abul Qasim, beliau penulis kitab yang terkenal yaitu Tarikh Dimasyq. Anaknya yang bernama Al-Qasim mengatakan mengenai bapaknya, وكان مواظبا على صلاة الجماعة وتلاوة القرآن، يختم كل جمعة، ويختم في رمضان كل يوم، ويعتكف في المنارة الشرقية، وكان كثير النوافل والاذكار “Ibnu ‘Asakir adalah orang yang biasa merutinkan shalat jama’ah dan tilawah Al-Qur’an. Beliau biasa mengkhatamkan Al-Qur’an setiap pekannya. Lebih luar biasanya di bulan Ramadhan, beliau khatamkan Al-Qur’an setiap hari. Beliau biasa beri’tikaf di Al-Manarah Asy-Syaqiyyah. Beliau adalah orang yang sangat gemar melakukan amalan sunnah dan rajin berdzikir.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 20: 562) Apakah Mengkhatamkan Al-Qur’an itu Wajib? Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan bahwa seperti itu berbeda tergantung pada orang masing-masing. Orang yang sibuk pikirannya, maka berusaha sebisa mungkin sesuai kemampuan pemahamannya. Begitu pula orang yang sibuk dalam menyebarkan ilmu atau sibuk mengurus urusan agama lainnya atau urusan orang banyak, berusahalah pula untuk mengkhatamkannya sesuai kemampuan. Sedangkan selain mereka yang disebut tadi, hendaknya bisa memperbanyak membaca, jangan sampai jadi lalai. Lihat At-Tibyan, hal. 72. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apakah orang yang berpuasa wajib mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan?” Jawab beliau rahimahullah bahwa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan bagi orang yang berpuasa tidaklah wajib. Akan tetapi sudah sepatutnya setiap muslim di bulan Ramadhan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an. Hal ini merupakan sunnah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap bulan Ramadhan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa saling mengkaji Al-Qur’an bersama Jibril. (Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin 20: 516, Dinukil dari Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 65754) Padahal Ada Hadits yang Melarang Khatam Al-Qur’an Kurang dari Tiga Hari Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ فِى كَمْ أَقْرَأُ الْقُرْآنَ قَالَ « فِى شَهْرٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ وَتَنَاقَصَهُ حَتَّى قَالَ « اقْرَأْهُ فِى سَبْعٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ. قَالَ « لاَ يَفْقَهُ مَنْ قَرَأَهُ فِى أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثٍ » “Wahai Rasulullah dalam berapa hari aku boleh mengkhatamkan Al-Qur’an. Beliau menjawab, “Dalam satu bulan.” ‘Abdullah menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Lantas hal itu dikurangi hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Khatamkanlah dalam waktu seminggu.” ‘Abdullah masih menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Tidaklah bisa memahami jika ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari.” (HR. Abu Daud no. 1390 dan Ahmad 2: 195. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Al ‘Azhim Abadi menyatakan bahwa hadits di atas adalah dalil tegas yang menyatakan bahwa tidak boleh mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari. (‘Aun Al-Ma’bud, 4: 212) Para ulama menjelaskan bahwa yang ternafikan dalam hadits adalah ketidakpahaman, bukan pahalanya. Artinya, hadits tersebut tidaklah menunjukkan tidak boleh mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari. Yang dimaksudkan dalam hadits adalah jika mengkhatamkan kurang dari tiga hari sulit untuk memahami. Berarti kalau dilakukan oleh orang yang memahami Al-Qur’an seperti contoh para ulama yang penulis sebutkan di atas, maka tidaklah masalah. Dalam Lathaif Al-Ma’arif (hal. 306) disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali, “Larangan mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari itu ada jika dilakukan terus menerus. Sedangkan jika sesekali dilakukan apalagi di waktu utama seperti bulan Ramadhan lebih-lebih lagi pada malam yang dinanti yaitu Lailatul Qadar atau di tempat yang mulia seperti di Makkah bagi yang mendatanginya dan ia bukan penduduk Makkah, maka disunnahkan untuk memperbanyak tilawah untuk memanfaatkan pahala melimpah pada waktu dan zaman. Inilah pendapat dari Imam Ahmad dan Ishaq serta ulama besar lainnya. Inilah yang diamalkan oleh para ulama sebagaimana telah disebutkan.” Walhamdulillah. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: At-Tibyan fi Adab Hamalah Al-Qur’an. Cetakan pertama tahun 1426 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Maktabah Ibnu ‘Abbas. ‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud. Cetakan pertama tahun 1430 H. Muhammad Asyraf Ash-Shidiqiy Al-‘Azhim Abadi. Penerbit Darul Fayha’. Lathaif Al-Ma’arif. Cetakan pertama tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. Siyar A’lam An-Nubala’. Cetakan kedua tahun 1435 H. Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz-Dzahabiy. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 65754. — Diselesaikan di pagi hari 12 Sya’ban 1436 H di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskhatam al quran
Disunnahkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan dan semangat untuk mengkhatamkannya. Walaupun hal ini tidaklah wajib. Artinya, jika tidak mengkhatamkan Al-Qur’an, maka tidak berdosa. Namun sayang, saat itu ia akan luput dari pahala yang besar. Apa dalil di bulan Ramadhan kita mesti perhatian pada Al-Qur’an. Lihatlah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam berusaha untuk mengkhatamkan Al-Qur’an di hadapan Jibril ‘alaihis salam sebanyak sekali setiap tahunnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, كَانَ يَعْرِضُ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً ، فَعَرَضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ ، وَكَانَ يَعْتَكِفُ كُلَّ عَامٍ عَشْرًا فَاعْتَكَفَ عِشْرِينَ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ { فِيهِ } “Jibril itu (saling) belajar Al-Qur’an dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap tahun sekali (khatam). Ketika di tahun beliau akan meninggal dunia dua kali khatam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa pula beri’tikaf setiap tahunnya selama sepuluh hari. Namun di tahun saat beliau akan meninggal dunia, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Bukhari no. 4998). Ibnul Atsir menyatakan dalam Al-Jami’ fii Gharibil Hadits (4: 64) bahwa Jibril saling mengajarkan pada Nabi seluruh Al-Qur’an yang telah diturunkan. Dari situ, para ulama –semoga Allah meridhai mereka- begitu semangat mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan karena mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Beberapa contoh kami sebutkan di bawah ini. Contoh pertama dari seorang ulama yang bernama Al-Aswad bin Yazid –seorang ulama besar tabi’in yang meninggal dunia 74 atau 75 Hijriyah di Kufah- bisa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam. Dari Ibrahim An-Nakha’i, ia berkata, كَانَ الأَسْوَدُ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي رَمَضَانَ فِي كُلِّ لَيْلَتَيْنِ “Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam.” (Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51). Subhanallah … Yang ada, kita hanya jadi orang yang lalai dari Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Disebutkan dalam kitab yang sama di luar bulan Ramadhan, Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam enam malam. Waktu istirahat beliau untuk tidur hanya antara Maghrib dan Isya. (Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51) Ada seorang ulama di kalangan tabi’in yang bernama Qatadah bin Da’amah yang meninggal tahun 60 atau 61 Hijriyah dan salah seorang murid dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Beliau ini sampai dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hambal sebagai ulama pakar tafsir dan paham akan perselisihan ulama dalam masalah tafsir. Sampai-sampai Sufyan Ats-Tsaury mengatakan bahwa tidak ada di muka bumi ini yang semisal Qatadah. Salam bin Abu Muthi’ pernah mengatakan tentang semangat Qatadah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, كَانَ قَتَادَة يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي سَبْعٍ، وَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ خَتَمَ فِي كُلِّ ثَلاَثٍ، فَإِذَا جَاءَ العَشْرُ خَتَمَ كُلَّ لَيْلَةٍ “Qatadah biasanya mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari. Namun jika datang bulan Ramadhan ia mengkhatamkannya setiap tiga hari. Ketika datang sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, ia mengkhatamkan setiap malamnya.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 5: 276) Muhammad bin Idri Asy-Syafi’i yang kita kenal dengan Imam Syafi’i yang terkenal sebagai salah satu ulama madzhab sebagaimana disebutkan oleh muridnya Ar-Rabi’ bin Sulaiman, كَانَ الشَّافِعِيُّ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ سِتِّيْنَ خَتْمَةً “Imam Syafi’i biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali.” Ditambahkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa khataman tersebut dilakukan dalam shalat. (Siyar A’lam An-Nubala’, 10: 36). Bayangkan, Imam Syafi’i berarti mengkhatamkan Al-Qur’an sehari dua kali. Subhanallah … Ibnu ‘Asakir adalah seorang ulama hadits dari negeri Syam, dengan nama kunyah Abul Qasim, beliau penulis kitab yang terkenal yaitu Tarikh Dimasyq. Anaknya yang bernama Al-Qasim mengatakan mengenai bapaknya, وكان مواظبا على صلاة الجماعة وتلاوة القرآن، يختم كل جمعة، ويختم في رمضان كل يوم، ويعتكف في المنارة الشرقية، وكان كثير النوافل والاذكار “Ibnu ‘Asakir adalah orang yang biasa merutinkan shalat jama’ah dan tilawah Al-Qur’an. Beliau biasa mengkhatamkan Al-Qur’an setiap pekannya. Lebih luar biasanya di bulan Ramadhan, beliau khatamkan Al-Qur’an setiap hari. Beliau biasa beri’tikaf di Al-Manarah Asy-Syaqiyyah. Beliau adalah orang yang sangat gemar melakukan amalan sunnah dan rajin berdzikir.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 20: 562) Apakah Mengkhatamkan Al-Qur’an itu Wajib? Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan bahwa seperti itu berbeda tergantung pada orang masing-masing. Orang yang sibuk pikirannya, maka berusaha sebisa mungkin sesuai kemampuan pemahamannya. Begitu pula orang yang sibuk dalam menyebarkan ilmu atau sibuk mengurus urusan agama lainnya atau urusan orang banyak, berusahalah pula untuk mengkhatamkannya sesuai kemampuan. Sedangkan selain mereka yang disebut tadi, hendaknya bisa memperbanyak membaca, jangan sampai jadi lalai. Lihat At-Tibyan, hal. 72. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apakah orang yang berpuasa wajib mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan?” Jawab beliau rahimahullah bahwa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan bagi orang yang berpuasa tidaklah wajib. Akan tetapi sudah sepatutnya setiap muslim di bulan Ramadhan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an. Hal ini merupakan sunnah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap bulan Ramadhan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa saling mengkaji Al-Qur’an bersama Jibril. (Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin 20: 516, Dinukil dari Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 65754) Padahal Ada Hadits yang Melarang Khatam Al-Qur’an Kurang dari Tiga Hari Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ فِى كَمْ أَقْرَأُ الْقُرْآنَ قَالَ « فِى شَهْرٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ وَتَنَاقَصَهُ حَتَّى قَالَ « اقْرَأْهُ فِى سَبْعٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ. قَالَ « لاَ يَفْقَهُ مَنْ قَرَأَهُ فِى أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثٍ » “Wahai Rasulullah dalam berapa hari aku boleh mengkhatamkan Al-Qur’an. Beliau menjawab, “Dalam satu bulan.” ‘Abdullah menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Lantas hal itu dikurangi hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Khatamkanlah dalam waktu seminggu.” ‘Abdullah masih menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Tidaklah bisa memahami jika ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari.” (HR. Abu Daud no. 1390 dan Ahmad 2: 195. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Al ‘Azhim Abadi menyatakan bahwa hadits di atas adalah dalil tegas yang menyatakan bahwa tidak boleh mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari. (‘Aun Al-Ma’bud, 4: 212) Para ulama menjelaskan bahwa yang ternafikan dalam hadits adalah ketidakpahaman, bukan pahalanya. Artinya, hadits tersebut tidaklah menunjukkan tidak boleh mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari. Yang dimaksudkan dalam hadits adalah jika mengkhatamkan kurang dari tiga hari sulit untuk memahami. Berarti kalau dilakukan oleh orang yang memahami Al-Qur’an seperti contoh para ulama yang penulis sebutkan di atas, maka tidaklah masalah. Dalam Lathaif Al-Ma’arif (hal. 306) disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali, “Larangan mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari itu ada jika dilakukan terus menerus. Sedangkan jika sesekali dilakukan apalagi di waktu utama seperti bulan Ramadhan lebih-lebih lagi pada malam yang dinanti yaitu Lailatul Qadar atau di tempat yang mulia seperti di Makkah bagi yang mendatanginya dan ia bukan penduduk Makkah, maka disunnahkan untuk memperbanyak tilawah untuk memanfaatkan pahala melimpah pada waktu dan zaman. Inilah pendapat dari Imam Ahmad dan Ishaq serta ulama besar lainnya. Inilah yang diamalkan oleh para ulama sebagaimana telah disebutkan.” Walhamdulillah. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: At-Tibyan fi Adab Hamalah Al-Qur’an. Cetakan pertama tahun 1426 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Maktabah Ibnu ‘Abbas. ‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud. Cetakan pertama tahun 1430 H. Muhammad Asyraf Ash-Shidiqiy Al-‘Azhim Abadi. Penerbit Darul Fayha’. Lathaif Al-Ma’arif. Cetakan pertama tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. Siyar A’lam An-Nubala’. Cetakan kedua tahun 1435 H. Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz-Dzahabiy. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 65754. — Diselesaikan di pagi hari 12 Sya’ban 1436 H di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskhatam al quran


Disunnahkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan dan semangat untuk mengkhatamkannya. Walaupun hal ini tidaklah wajib. Artinya, jika tidak mengkhatamkan Al-Qur’an, maka tidak berdosa. Namun sayang, saat itu ia akan luput dari pahala yang besar. Apa dalil di bulan Ramadhan kita mesti perhatian pada Al-Qur’an. Lihatlah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam berusaha untuk mengkhatamkan Al-Qur’an di hadapan Jibril ‘alaihis salam sebanyak sekali setiap tahunnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, كَانَ يَعْرِضُ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً ، فَعَرَضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ ، وَكَانَ يَعْتَكِفُ كُلَّ عَامٍ عَشْرًا فَاعْتَكَفَ عِشْرِينَ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ { فِيهِ } “Jibril itu (saling) belajar Al-Qur’an dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap tahun sekali (khatam). Ketika di tahun beliau akan meninggal dunia dua kali khatam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa pula beri’tikaf setiap tahunnya selama sepuluh hari. Namun di tahun saat beliau akan meninggal dunia, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Bukhari no. 4998). Ibnul Atsir menyatakan dalam Al-Jami’ fii Gharibil Hadits (4: 64) bahwa Jibril saling mengajarkan pada Nabi seluruh Al-Qur’an yang telah diturunkan. Dari situ, para ulama –semoga Allah meridhai mereka- begitu semangat mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan karena mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Beberapa contoh kami sebutkan di bawah ini. Contoh pertama dari seorang ulama yang bernama Al-Aswad bin Yazid –seorang ulama besar tabi’in yang meninggal dunia 74 atau 75 Hijriyah di Kufah- bisa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam. Dari Ibrahim An-Nakha’i, ia berkata, كَانَ الأَسْوَدُ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي رَمَضَانَ فِي كُلِّ لَيْلَتَيْنِ “Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam.” (Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51). Subhanallah … Yang ada, kita hanya jadi orang yang lalai dari Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Disebutkan dalam kitab yang sama di luar bulan Ramadhan, Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam enam malam. Waktu istirahat beliau untuk tidur hanya antara Maghrib dan Isya. (Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51) Ada seorang ulama di kalangan tabi’in yang bernama Qatadah bin Da’amah yang meninggal tahun 60 atau 61 Hijriyah dan salah seorang murid dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Beliau ini sampai dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hambal sebagai ulama pakar tafsir dan paham akan perselisihan ulama dalam masalah tafsir. Sampai-sampai Sufyan Ats-Tsaury mengatakan bahwa tidak ada di muka bumi ini yang semisal Qatadah. Salam bin Abu Muthi’ pernah mengatakan tentang semangat Qatadah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, كَانَ قَتَادَة يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي سَبْعٍ، وَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ خَتَمَ فِي كُلِّ ثَلاَثٍ، فَإِذَا جَاءَ العَشْرُ خَتَمَ كُلَّ لَيْلَةٍ “Qatadah biasanya mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari. Namun jika datang bulan Ramadhan ia mengkhatamkannya setiap tiga hari. Ketika datang sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, ia mengkhatamkan setiap malamnya.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 5: 276) Muhammad bin Idri Asy-Syafi’i yang kita kenal dengan Imam Syafi’i yang terkenal sebagai salah satu ulama madzhab sebagaimana disebutkan oleh muridnya Ar-Rabi’ bin Sulaiman, كَانَ الشَّافِعِيُّ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ سِتِّيْنَ خَتْمَةً “Imam Syafi’i biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali.” Ditambahkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa khataman tersebut dilakukan dalam shalat. (Siyar A’lam An-Nubala’, 10: 36). Bayangkan, Imam Syafi’i berarti mengkhatamkan Al-Qur’an sehari dua kali. Subhanallah … Ibnu ‘Asakir adalah seorang ulama hadits dari negeri Syam, dengan nama kunyah Abul Qasim, beliau penulis kitab yang terkenal yaitu Tarikh Dimasyq. Anaknya yang bernama Al-Qasim mengatakan mengenai bapaknya, وكان مواظبا على صلاة الجماعة وتلاوة القرآن، يختم كل جمعة، ويختم في رمضان كل يوم، ويعتكف في المنارة الشرقية، وكان كثير النوافل والاذكار “Ibnu ‘Asakir adalah orang yang biasa merutinkan shalat jama’ah dan tilawah Al-Qur’an. Beliau biasa mengkhatamkan Al-Qur’an setiap pekannya. Lebih luar biasanya di bulan Ramadhan, beliau khatamkan Al-Qur’an setiap hari. Beliau biasa beri’tikaf di Al-Manarah Asy-Syaqiyyah. Beliau adalah orang yang sangat gemar melakukan amalan sunnah dan rajin berdzikir.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 20: 562) Apakah Mengkhatamkan Al-Qur’an itu Wajib? Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan bahwa seperti itu berbeda tergantung pada orang masing-masing. Orang yang sibuk pikirannya, maka berusaha sebisa mungkin sesuai kemampuan pemahamannya. Begitu pula orang yang sibuk dalam menyebarkan ilmu atau sibuk mengurus urusan agama lainnya atau urusan orang banyak, berusahalah pula untuk mengkhatamkannya sesuai kemampuan. Sedangkan selain mereka yang disebut tadi, hendaknya bisa memperbanyak membaca, jangan sampai jadi lalai. Lihat At-Tibyan, hal. 72. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apakah orang yang berpuasa wajib mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan?” Jawab beliau rahimahullah bahwa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan bagi orang yang berpuasa tidaklah wajib. Akan tetapi sudah sepatutnya setiap muslim di bulan Ramadhan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an. Hal ini merupakan sunnah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap bulan Ramadhan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa saling mengkaji Al-Qur’an bersama Jibril. (Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin 20: 516, Dinukil dari Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 65754) Padahal Ada Hadits yang Melarang Khatam Al-Qur’an Kurang dari Tiga Hari Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ فِى كَمْ أَقْرَأُ الْقُرْآنَ قَالَ « فِى شَهْرٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ وَتَنَاقَصَهُ حَتَّى قَالَ « اقْرَأْهُ فِى سَبْعٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ. قَالَ « لاَ يَفْقَهُ مَنْ قَرَأَهُ فِى أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثٍ » “Wahai Rasulullah dalam berapa hari aku boleh mengkhatamkan Al-Qur’an. Beliau menjawab, “Dalam satu bulan.” ‘Abdullah menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Lantas hal itu dikurangi hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Khatamkanlah dalam waktu seminggu.” ‘Abdullah masih menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Tidaklah bisa memahami jika ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari.” (HR. Abu Daud no. 1390 dan Ahmad 2: 195. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Al ‘Azhim Abadi menyatakan bahwa hadits di atas adalah dalil tegas yang menyatakan bahwa tidak boleh mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari. (‘Aun Al-Ma’bud, 4: 212) Para ulama menjelaskan bahwa yang ternafikan dalam hadits adalah ketidakpahaman, bukan pahalanya. Artinya, hadits tersebut tidaklah menunjukkan tidak boleh mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari. Yang dimaksudkan dalam hadits adalah jika mengkhatamkan kurang dari tiga hari sulit untuk memahami. Berarti kalau dilakukan oleh orang yang memahami Al-Qur’an seperti contoh para ulama yang penulis sebutkan di atas, maka tidaklah masalah. Dalam Lathaif Al-Ma’arif (hal. 306) disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali, “Larangan mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari itu ada jika dilakukan terus menerus. Sedangkan jika sesekali dilakukan apalagi di waktu utama seperti bulan Ramadhan lebih-lebih lagi pada malam yang dinanti yaitu Lailatul Qadar atau di tempat yang mulia seperti di Makkah bagi yang mendatanginya dan ia bukan penduduk Makkah, maka disunnahkan untuk memperbanyak tilawah untuk memanfaatkan pahala melimpah pada waktu dan zaman. Inilah pendapat dari Imam Ahmad dan Ishaq serta ulama besar lainnya. Inilah yang diamalkan oleh para ulama sebagaimana telah disebutkan.” Walhamdulillah. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: At-Tibyan fi Adab Hamalah Al-Qur’an. Cetakan pertama tahun 1426 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Maktabah Ibnu ‘Abbas. ‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud. Cetakan pertama tahun 1430 H. Muhammad Asyraf Ash-Shidiqiy Al-‘Azhim Abadi. Penerbit Darul Fayha’. Lathaif Al-Ma’arif. Cetakan pertama tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami. Siyar A’lam An-Nubala’. Cetakan kedua tahun 1435 H. Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz-Dzahabiy. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 65754. — Diselesaikan di pagi hari 12 Sya’ban 1436 H di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskhatam al quran

Tolonglah Saudaramu, Jangan biarkan Ia Terzolimi !

Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 26/7/1436 HOleh : Asy-Syaikh Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohulloh Khutbah Pertama : Segala puji bagi Allah, segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kita berbagai kebaikan, yang menyeru kepada saling tolong menolong. Aku memujiNya subhaanahu dan aku bersyukur kepadanya di pagi dan petang. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah tiada sekutu bagiNya, Ia telah menciptakan kita, memberi rizki kepada kita dan menjadikan kita umat yang terbaik. Dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin kita dan nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, nabi yang termulia dan teladan yang terbaik. Semoga shalawat tercurahkan kepadanya dan kepada keluarganya serta seluruh sahabatnya yang merupakan teladan yang terbaik.  Amma ba’du, aku wasiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah. Allah berfirman : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١٨)Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Hasyr : 18) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Tolonglah saudaramu tatkala ia berbuat zolim atau tatkala dizolimi”. Maka ada seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, aku menolongnya jika ia dizolimi, bagaimana menurutmu jika ia yang berbuat zolim, bagaimana cara menolongnya?”. Nabi berkata, “Engkau mencegahnya atau menahannya dari kezoliman, maka itu adalah bentuk menolongnya” (HR Al-Bukhari) Menolong saudara adalah tanda keimanan, alamat akan benarnya Islam seseorang. Dari Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai diantara mereka, saling menyayangi, saling mengasihi, seperti satu jasad, jika ada satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh jasad yang lain akan menyeru ikut kesakitan dan tidak bisa tidur” (HR Muslim), dan Nabi juga bersabda “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan”, lalu Nabi menyela jari-jari tangan yang satu ke jari-jari tangan yang lain (HR Al-Bukhari dan Muslim) Dan jika sebuah umat menolong yang terzolimi, mengambil tangan pelaku kezoliman lalu mencegahnya dari kezoliman maka umat tersebut selamat dari hukuman Allah. Allah berfirman :وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٢٥)Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya. (QS Al-Anfaal : 25)Barangsiapa yang menolong yang terzolimi maka Allah akan menolongnya, dan Allah akan meyiapkan baginya orang yang akan menolongnya di dunia dan akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ نَصَرَ أَخَاهُ بِظَهْرِ الْغَيْبِ نَصَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ“Barangsiapa yang menolong saudaranya –tanpa kehadiran saudaranya tersebut- maka Allah akan menolongnya di dunia dan akhirat’ (HR Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih) Menolong adalah bentuk persekutuan Islami dan saling bahu-membahu yang imani, dan ia merupakan kekuatan bagi kaum muslimin serta kemuliaan bagi kaum mukminin. Membangungkan semangat dari tidurnya dan menyatukan kaum muslimin dalam satu saf dalam satu urusan dan satu tujuan disertai kemuliaan dan pengorbanan sehinggaتُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ“Dengannya kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian” (Qs Al-Anfaal : 60) Menolong adalah kewajiban agama, serta kebutuhan urgen duniawi, sungguh kezoliman telah tertujukan kepada Islam, makar rencana jahat diarahkan kepada Islam, dan ini merupakan fenomena zaman ini dengan bentuknya yang banyak dan beragam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :« يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” Jika sikap menolong melemah diantara kaum muslimin maka musuh akan menguasai, dan akan semakin keras hantaman musuh dan semakin belanjut kezoliman mereka serta menyiksa kaum muslimin, membinasakan orang-orang yang tenteram, menghinakan para ahli tauhid, merampas negeri, dan menjatuhkan harga diri.Sesungguhnya kerusakan yang besar dan fitnah yang menyala-nyala di negeri-negeri kaum musliimin asalnya adalah karena kurang dalam menerapkan sikap menolong. Allah berfirman : وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ (٧٣)Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS Al-Anfaal : 73)           Telah datang larangan dari sikap meninggalkan seorang muslim yang membutuhkan bantuan dan sikap berlepas diri dari menolongnya dan mendukungnya. Rasul kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, ia tidak menzoliminya dan tidak meninggalkannya (tatkala butuh bantuannya)”Nabi juga berkata :لَقَدْ شَهِدْتُ مع عمومتي حلف المطيبين فما أُحِبُّ أَنَّ لِي حُمْرَ النَّعَمِ وإني أنكثه“Sungguh aku bersama paman-pamanku telah menghadiri perjanjian muthoyyabin, dan aku tidak suka jika aku diberi onta merah sementara aku melanggarnya”Dalam hadits ini ada isyarat tentang persekutuan al-fudul dalam rangka menolong orang yang dizolimi.Barangsiapa yang malas dalam menjulurkan tangannya untuk segera menolong orang yang dizolimi maka ia akan terhinakan di dunia serta akan merugi di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَا مِنْ امْرِئٍ يَخْذُلُ امْرَأً مُسْلِمًا عِنْدَ مَوْطِنٍ تُنْتَهَكُ فِيهِ حُرْمَتُهُ وَيُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ إِلَّا خَذَلَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ. وَمَا مِنْ امْرِئٍ يَنْصُرُ مُسْلِمًا فِي مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ وَيُنْتَهَكُ فِيهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلَّا نَصَرَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ“Dan tidaklah seseorang meninggalkan saudaranya sesama muslim pada kondisi kehormatannya sedang dilanggar dan direndahkan harga dirinya kecuali Allah akan meninggalkannya pada kondisi dimana ia ingin ditolong. Dan tidaklah seseorang menolong seorang muslim pada saat harga dirinya direndahkan dan kehormatannya dilanggar kecuali Allah akan menolongnya pada kondisi dimana ia ingin ditolong”Dan jika umat diuji dengan para lelaki yang tidak jelas yang bersekutu dengan musuh umatnya, dan menghunuskan pedang pengkhianatan terhadap saudara setanah airnya, menanam bibit fitnah, memudahkan terjadinya kudeta serta kekacauan karena rakus terhadap kekuasaan, untuk meraih medali kehinaan dan kerendahan, meskipun dengan mengorbankan tengkorak-tengkorak rakyat yang tidak berdosa, dan mayat-mayat anak-anak. Maka bagaimana masyarakat merasa aman dari tipu daya berasal dari suku mereka sendiri, yang telah telah berkhianat terhadap negerinya, dan meminta pertolongan dari para pembela kebatilan untuk menyerang kaumnya sendiri dan negeri tetangganya ?Dan pihak yang lain berusaha menggiris rakyatnya, membunuh dan menghancurkan penduduk negerinya dengan bom-bom yang membakar, dan bahan-bahan peledak, gas-gas beracun di pagar manusia yang sabar dan enggan.Dan sepotong tanah Ghaza yang menderita akibat pengepungan yang zolim dan makar yang kejam, dimana kezoliman telah mencapai puncaknya, dengan menghalangi seluruh sarana dan prasarana kehidupan baik makanan dan minuman serta obat-obatan.Peristiwa-peristiwa terjadi sebagai ujian bagi jiwa-jiwa, untuk memurnikan saf-saf, agar Allah mengetahui siapakah yang menolong yang dizolimi dan menolak pelaku kezoliman serta siapakah yang berpegang teguh dengan kebenaran dalam menghadapi kebatilan. Allah berfirman :وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌDan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa. (QS Al-Hadid : 25)Membela orang-orang yang lemah harus ditegakan, menolong mereka adalah suatu kewajiban. Dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia mereka adalah bagian dari tubuh umat yang besar, dan dengan hukum persaudaraan sesama Islam maka mereka memiliki hak untuk ditolong dan dibantu.           Diantara bentuk pertolongan adalah perhatian terhadap kondisi mereka serta membantu mereka dengan segala bentuk unsur kekuatan dan sarana pertahanan, untuk memperkuat yang lemah dan menjaga agama, kehormatan, jiwa, dan negeri, serta menghibur mereka dengan bantuan harta dan materi, menolong jiwa yang teraniaya, dan mengembalikan harapan.Sang sahabat yang mulia Utsman bin Affaan radhiallahu ‘anhu merupakan contoh yang patut ditiru, teladan dalam menolong kaum muslimin dengan harta. Ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa 1000 dinar lalu ia letakan di pangkuan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia menggali sumur Ruumah untuk kaum mukminin tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ حَفَرَ بِئْرَ رُوْمَةَ فَلَهُ الْجَنَّةُ“Barangsiapa yang menggali sumur Ruumah maka baginya surga”Dan Utsman juga telah berinfak untuk mempersiapkan pasukan perang Tabuk.Dan istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Khodijah radhiallahu ‘anha sungguh telah menghibur dan menolong Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan seluruh hartanya.Dan diantara bentuk menolong adalah jangan sampai seorang muslim menjadi penolong bagi pelaku kezoliman yang menzolimi saudaranya sesama muslim. Allah berfirman :وَلا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُDan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka (QS Huud : 113)Diantara bentuk pertolongan adalah memboikot barang-barang dagangan musuh dan orang yang membantu musuh dan membiayai mereka baik bantuan spiritual maupun pemikiran, serta bekerjasama dengan musuh. Pemboikotan merupakan senjata yang manjur dan berpengaruh, tentunya dijalankan dengan kaidah-kaidah pemboikotan yang syar’i, sehingga memberikan pelajaran bagi musuh, dan dengan hal ini umat akan tetap kokoh dihadapan orang yang menghendaki keburukan bagi mereka.           Adapun pertolongan terhadap akidah adalah dengan menjelaskan pokok-pokok akidah dan pemahamannya, serta membantah syubhat-syubhat, menjelaskan bahaya bid’ah dan manhajnya sekte-sekte yang menyimpang, yang dimana musuh menemukan pada firqoh-firqoh tersebut apa yang mereka cari. Maka musuhpun bersekutu dengan mereka, dan firqoh-firqoh tersebut dikembangkan oleh musuh di tengah-tengah umat Islam, musuh menyetirnya sesuka hati untuk menggoncang stabilitas keamanan dan mengobarkan kekacauan, merampas umat ini, merampas kepemilikan umat, dan mematikan kekuatannya, dan agar umat terpuruk di bagian belakang, disetir dan tidak menyetir, mengikuti dan bukan menjadi yang diikuti.           Hendaknya menolong juga melalui media, semua orang melihat dan mendengar bagaimana peran media yang dengki dalam menghapus fakta kebenaran dan mencemarkan agama serta mengingkari hak-hak kaum muslimin, sampai-sampai menuduh seluruh perilaku yang buruk kepada kaum muslimin. Media menggambarkan bahwa kaum muslimin adalah para pembunuh dan para penghisap darah, dan seorang yang membela negerinya dan kehormatannya dituduh sebagai teroris, media menjadikan para pembunuh dan para penjahat sebagai teman pembawa keselamatan, menjadikan penyerang dan penjajah sebagai kelompok yang membela dan mencegah.Pertolongan melalui media adalah dengan menjelaskan kezoliman pelaku kezoliman, mengumbar perbuatan-perbuatannya, dan menjelaskan hakekatnya, dan hiasan kebatilannya. Dengan mewujudkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan. Dan dampak dari penjelasan dalam beberapa kondisi lebih kuat dan lebih menggigit dari pada sayatan pedang. Ceramah itu memiliki kekuatan tersendiri, dan gambar/clip memiliki dampak tersendiri, tulisan juga memilik panah yang kuat, dan sya’ir memiliki kekuatan tersendiri. Aisyah radhiallahu ‘anhaa berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Hassaan –bin Tsabit- radhiallahu ‘anhu :إِنَّ رُوْحَ الْقُدُسِ لاَ يَزَالُ يُؤَيِّدُكَ مَا نَافَحْتَ عَنِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ“Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril) terus menguatkanmu selama engkau membela Allah dan RasulNya”Dan pertolongan juga hendaknya pada permasalahan-permasalahan umat dengan memberi pengarahan kepada mereka dan membela umat, serta membongkar racun yang dihembuskan oleh para gembong kejahatan, mengungkap rencana-rencana jahat mereka dan menjelaskan tentang manhaj mereka melalui seluruh sarana, setiap pertemuan dan kesempatan-kesempatan. Allah berfirman :وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ (٥٥)Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (QS Al-An’aam : 55)Dan menolong juga melalui doa, ia adalah senjata segala urusan dan obat dari kesulitan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menolong orang-orang yang terzolimi dengan doa dalam qunut beliau.Bersandar kepada Allah di tengah cobaan, menguatkan hubungan kepada Allah tatkala genting merupakan ciri seorang mukmin. Allah berfirman :كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ (٩)فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ (١٠)فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ (١١)وَفَجَّرْنَا الأرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ (١٢)Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, Maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan Dia sudah pernah diberi ancaman). Maka Dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).” Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, Maka bertemu- lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. (QS Al-Qomar : 9-12) Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam al-Qur’an al-Azhim, dan semoga Allah menjadikan aku dan kalian bisa mengambil manfaat dari ayat-ayatnya dan adz-dzikr al-hakim. Aku menyampaikan perkataanku ini, dan aku memohon ampunan kepada Allah yang maha agung bagiku dan bagi kalian serta seluruh kaum muslimin dari segala dosa, maka mohonlah ampunan kepadaNya, sesungguhnya ia maha pengampun lagi maha penyayang. Khutbah Kedua :           Segala puji bagi Allah penguasa alam semesta, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, Tuhannya orang-orang terdahulu dan yang terakhir. Dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin kita, nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, pemimpin orang-orang yang bertakwa, semoga Allah mencurahkan shalawat kepada beliau, keluarga beliau dan seluruh sahabat beliau.Amma ba’du, aku washiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah, Allah berfirmanيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (١١٩)Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At-Taubah : 119)          Pertolongan yang bermanfaat yang dengannya terwujudkan dampak positifnya dan terhilangkan kesulitan, adalah pertolongan yang terus menerus dan berkesinambungan yang tidak terputus talinya dan tidak terhenti bantuannya, sehingga kita tidak terkena kekalahan karena semangat yang sementara dan kelemahan yang menghalangi tercapainya target. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّتْ“Amalan yang paing dicintai oleh Allah adalah yang paling berkesinambungan meskipun sedikit”Bisa jadi pelaku kebatilan berhasil untuk bersatu dalam satu kompi, akan tetapi ini hanyalah lahiriahnya saja, adapun hakikatnya maka ini adalah persatuan yang dibangun di atas kepentingan yang berbeda-beda, hati dan nafsu mereka tercerai berai, dan akan terungkap perseteruan dan perpecahan diantara mereka, tirai tipuan akan tersingkap, lalu leburlah kebatilan mereka dan terpecahkan perkumpulan mereka.بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىPermusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. (QS Al-Hasyr : 14)Di akhir zaman kaum muslimin akan ditolong oleh batu dan pohon, ia berkata ; “Wahai Muslim, wahai Abdullah, ini ada seorang yahudi di belakangku, kemarilah bunuhlah ia”. Dan perkataan batu dan pohon termasuk tanda-tanda hari kiamat.Allah berfirman :وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌSesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa (QS Al-Hajj : 40) Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Tolonglah Saudaramu, Jangan biarkan Ia Terzolimi !

Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 26/7/1436 HOleh : Asy-Syaikh Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohulloh Khutbah Pertama : Segala puji bagi Allah, segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kita berbagai kebaikan, yang menyeru kepada saling tolong menolong. Aku memujiNya subhaanahu dan aku bersyukur kepadanya di pagi dan petang. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah tiada sekutu bagiNya, Ia telah menciptakan kita, memberi rizki kepada kita dan menjadikan kita umat yang terbaik. Dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin kita dan nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, nabi yang termulia dan teladan yang terbaik. Semoga shalawat tercurahkan kepadanya dan kepada keluarganya serta seluruh sahabatnya yang merupakan teladan yang terbaik.  Amma ba’du, aku wasiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah. Allah berfirman : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١٨)Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Hasyr : 18) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Tolonglah saudaramu tatkala ia berbuat zolim atau tatkala dizolimi”. Maka ada seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, aku menolongnya jika ia dizolimi, bagaimana menurutmu jika ia yang berbuat zolim, bagaimana cara menolongnya?”. Nabi berkata, “Engkau mencegahnya atau menahannya dari kezoliman, maka itu adalah bentuk menolongnya” (HR Al-Bukhari) Menolong saudara adalah tanda keimanan, alamat akan benarnya Islam seseorang. Dari Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai diantara mereka, saling menyayangi, saling mengasihi, seperti satu jasad, jika ada satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh jasad yang lain akan menyeru ikut kesakitan dan tidak bisa tidur” (HR Muslim), dan Nabi juga bersabda “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan”, lalu Nabi menyela jari-jari tangan yang satu ke jari-jari tangan yang lain (HR Al-Bukhari dan Muslim) Dan jika sebuah umat menolong yang terzolimi, mengambil tangan pelaku kezoliman lalu mencegahnya dari kezoliman maka umat tersebut selamat dari hukuman Allah. Allah berfirman :وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٢٥)Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya. (QS Al-Anfaal : 25)Barangsiapa yang menolong yang terzolimi maka Allah akan menolongnya, dan Allah akan meyiapkan baginya orang yang akan menolongnya di dunia dan akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ نَصَرَ أَخَاهُ بِظَهْرِ الْغَيْبِ نَصَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ“Barangsiapa yang menolong saudaranya –tanpa kehadiran saudaranya tersebut- maka Allah akan menolongnya di dunia dan akhirat’ (HR Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih) Menolong adalah bentuk persekutuan Islami dan saling bahu-membahu yang imani, dan ia merupakan kekuatan bagi kaum muslimin serta kemuliaan bagi kaum mukminin. Membangungkan semangat dari tidurnya dan menyatukan kaum muslimin dalam satu saf dalam satu urusan dan satu tujuan disertai kemuliaan dan pengorbanan sehinggaتُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ“Dengannya kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian” (Qs Al-Anfaal : 60) Menolong adalah kewajiban agama, serta kebutuhan urgen duniawi, sungguh kezoliman telah tertujukan kepada Islam, makar rencana jahat diarahkan kepada Islam, dan ini merupakan fenomena zaman ini dengan bentuknya yang banyak dan beragam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :« يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” Jika sikap menolong melemah diantara kaum muslimin maka musuh akan menguasai, dan akan semakin keras hantaman musuh dan semakin belanjut kezoliman mereka serta menyiksa kaum muslimin, membinasakan orang-orang yang tenteram, menghinakan para ahli tauhid, merampas negeri, dan menjatuhkan harga diri.Sesungguhnya kerusakan yang besar dan fitnah yang menyala-nyala di negeri-negeri kaum musliimin asalnya adalah karena kurang dalam menerapkan sikap menolong. Allah berfirman : وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ (٧٣)Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS Al-Anfaal : 73)           Telah datang larangan dari sikap meninggalkan seorang muslim yang membutuhkan bantuan dan sikap berlepas diri dari menolongnya dan mendukungnya. Rasul kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, ia tidak menzoliminya dan tidak meninggalkannya (tatkala butuh bantuannya)”Nabi juga berkata :لَقَدْ شَهِدْتُ مع عمومتي حلف المطيبين فما أُحِبُّ أَنَّ لِي حُمْرَ النَّعَمِ وإني أنكثه“Sungguh aku bersama paman-pamanku telah menghadiri perjanjian muthoyyabin, dan aku tidak suka jika aku diberi onta merah sementara aku melanggarnya”Dalam hadits ini ada isyarat tentang persekutuan al-fudul dalam rangka menolong orang yang dizolimi.Barangsiapa yang malas dalam menjulurkan tangannya untuk segera menolong orang yang dizolimi maka ia akan terhinakan di dunia serta akan merugi di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَا مِنْ امْرِئٍ يَخْذُلُ امْرَأً مُسْلِمًا عِنْدَ مَوْطِنٍ تُنْتَهَكُ فِيهِ حُرْمَتُهُ وَيُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ إِلَّا خَذَلَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ. وَمَا مِنْ امْرِئٍ يَنْصُرُ مُسْلِمًا فِي مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ وَيُنْتَهَكُ فِيهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلَّا نَصَرَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ“Dan tidaklah seseorang meninggalkan saudaranya sesama muslim pada kondisi kehormatannya sedang dilanggar dan direndahkan harga dirinya kecuali Allah akan meninggalkannya pada kondisi dimana ia ingin ditolong. Dan tidaklah seseorang menolong seorang muslim pada saat harga dirinya direndahkan dan kehormatannya dilanggar kecuali Allah akan menolongnya pada kondisi dimana ia ingin ditolong”Dan jika umat diuji dengan para lelaki yang tidak jelas yang bersekutu dengan musuh umatnya, dan menghunuskan pedang pengkhianatan terhadap saudara setanah airnya, menanam bibit fitnah, memudahkan terjadinya kudeta serta kekacauan karena rakus terhadap kekuasaan, untuk meraih medali kehinaan dan kerendahan, meskipun dengan mengorbankan tengkorak-tengkorak rakyat yang tidak berdosa, dan mayat-mayat anak-anak. Maka bagaimana masyarakat merasa aman dari tipu daya berasal dari suku mereka sendiri, yang telah telah berkhianat terhadap negerinya, dan meminta pertolongan dari para pembela kebatilan untuk menyerang kaumnya sendiri dan negeri tetangganya ?Dan pihak yang lain berusaha menggiris rakyatnya, membunuh dan menghancurkan penduduk negerinya dengan bom-bom yang membakar, dan bahan-bahan peledak, gas-gas beracun di pagar manusia yang sabar dan enggan.Dan sepotong tanah Ghaza yang menderita akibat pengepungan yang zolim dan makar yang kejam, dimana kezoliman telah mencapai puncaknya, dengan menghalangi seluruh sarana dan prasarana kehidupan baik makanan dan minuman serta obat-obatan.Peristiwa-peristiwa terjadi sebagai ujian bagi jiwa-jiwa, untuk memurnikan saf-saf, agar Allah mengetahui siapakah yang menolong yang dizolimi dan menolak pelaku kezoliman serta siapakah yang berpegang teguh dengan kebenaran dalam menghadapi kebatilan. Allah berfirman :وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌDan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa. (QS Al-Hadid : 25)Membela orang-orang yang lemah harus ditegakan, menolong mereka adalah suatu kewajiban. Dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia mereka adalah bagian dari tubuh umat yang besar, dan dengan hukum persaudaraan sesama Islam maka mereka memiliki hak untuk ditolong dan dibantu.           Diantara bentuk pertolongan adalah perhatian terhadap kondisi mereka serta membantu mereka dengan segala bentuk unsur kekuatan dan sarana pertahanan, untuk memperkuat yang lemah dan menjaga agama, kehormatan, jiwa, dan negeri, serta menghibur mereka dengan bantuan harta dan materi, menolong jiwa yang teraniaya, dan mengembalikan harapan.Sang sahabat yang mulia Utsman bin Affaan radhiallahu ‘anhu merupakan contoh yang patut ditiru, teladan dalam menolong kaum muslimin dengan harta. Ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa 1000 dinar lalu ia letakan di pangkuan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia menggali sumur Ruumah untuk kaum mukminin tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ حَفَرَ بِئْرَ رُوْمَةَ فَلَهُ الْجَنَّةُ“Barangsiapa yang menggali sumur Ruumah maka baginya surga”Dan Utsman juga telah berinfak untuk mempersiapkan pasukan perang Tabuk.Dan istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Khodijah radhiallahu ‘anha sungguh telah menghibur dan menolong Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan seluruh hartanya.Dan diantara bentuk menolong adalah jangan sampai seorang muslim menjadi penolong bagi pelaku kezoliman yang menzolimi saudaranya sesama muslim. Allah berfirman :وَلا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُDan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka (QS Huud : 113)Diantara bentuk pertolongan adalah memboikot barang-barang dagangan musuh dan orang yang membantu musuh dan membiayai mereka baik bantuan spiritual maupun pemikiran, serta bekerjasama dengan musuh. Pemboikotan merupakan senjata yang manjur dan berpengaruh, tentunya dijalankan dengan kaidah-kaidah pemboikotan yang syar’i, sehingga memberikan pelajaran bagi musuh, dan dengan hal ini umat akan tetap kokoh dihadapan orang yang menghendaki keburukan bagi mereka.           Adapun pertolongan terhadap akidah adalah dengan menjelaskan pokok-pokok akidah dan pemahamannya, serta membantah syubhat-syubhat, menjelaskan bahaya bid’ah dan manhajnya sekte-sekte yang menyimpang, yang dimana musuh menemukan pada firqoh-firqoh tersebut apa yang mereka cari. Maka musuhpun bersekutu dengan mereka, dan firqoh-firqoh tersebut dikembangkan oleh musuh di tengah-tengah umat Islam, musuh menyetirnya sesuka hati untuk menggoncang stabilitas keamanan dan mengobarkan kekacauan, merampas umat ini, merampas kepemilikan umat, dan mematikan kekuatannya, dan agar umat terpuruk di bagian belakang, disetir dan tidak menyetir, mengikuti dan bukan menjadi yang diikuti.           Hendaknya menolong juga melalui media, semua orang melihat dan mendengar bagaimana peran media yang dengki dalam menghapus fakta kebenaran dan mencemarkan agama serta mengingkari hak-hak kaum muslimin, sampai-sampai menuduh seluruh perilaku yang buruk kepada kaum muslimin. Media menggambarkan bahwa kaum muslimin adalah para pembunuh dan para penghisap darah, dan seorang yang membela negerinya dan kehormatannya dituduh sebagai teroris, media menjadikan para pembunuh dan para penjahat sebagai teman pembawa keselamatan, menjadikan penyerang dan penjajah sebagai kelompok yang membela dan mencegah.Pertolongan melalui media adalah dengan menjelaskan kezoliman pelaku kezoliman, mengumbar perbuatan-perbuatannya, dan menjelaskan hakekatnya, dan hiasan kebatilannya. Dengan mewujudkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan. Dan dampak dari penjelasan dalam beberapa kondisi lebih kuat dan lebih menggigit dari pada sayatan pedang. Ceramah itu memiliki kekuatan tersendiri, dan gambar/clip memiliki dampak tersendiri, tulisan juga memilik panah yang kuat, dan sya’ir memiliki kekuatan tersendiri. Aisyah radhiallahu ‘anhaa berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Hassaan –bin Tsabit- radhiallahu ‘anhu :إِنَّ رُوْحَ الْقُدُسِ لاَ يَزَالُ يُؤَيِّدُكَ مَا نَافَحْتَ عَنِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ“Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril) terus menguatkanmu selama engkau membela Allah dan RasulNya”Dan pertolongan juga hendaknya pada permasalahan-permasalahan umat dengan memberi pengarahan kepada mereka dan membela umat, serta membongkar racun yang dihembuskan oleh para gembong kejahatan, mengungkap rencana-rencana jahat mereka dan menjelaskan tentang manhaj mereka melalui seluruh sarana, setiap pertemuan dan kesempatan-kesempatan. Allah berfirman :وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ (٥٥)Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (QS Al-An’aam : 55)Dan menolong juga melalui doa, ia adalah senjata segala urusan dan obat dari kesulitan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menolong orang-orang yang terzolimi dengan doa dalam qunut beliau.Bersandar kepada Allah di tengah cobaan, menguatkan hubungan kepada Allah tatkala genting merupakan ciri seorang mukmin. Allah berfirman :كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ (٩)فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ (١٠)فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ (١١)وَفَجَّرْنَا الأرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ (١٢)Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, Maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan Dia sudah pernah diberi ancaman). Maka Dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).” Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, Maka bertemu- lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. (QS Al-Qomar : 9-12) Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam al-Qur’an al-Azhim, dan semoga Allah menjadikan aku dan kalian bisa mengambil manfaat dari ayat-ayatnya dan adz-dzikr al-hakim. Aku menyampaikan perkataanku ini, dan aku memohon ampunan kepada Allah yang maha agung bagiku dan bagi kalian serta seluruh kaum muslimin dari segala dosa, maka mohonlah ampunan kepadaNya, sesungguhnya ia maha pengampun lagi maha penyayang. Khutbah Kedua :           Segala puji bagi Allah penguasa alam semesta, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, Tuhannya orang-orang terdahulu dan yang terakhir. Dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin kita, nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, pemimpin orang-orang yang bertakwa, semoga Allah mencurahkan shalawat kepada beliau, keluarga beliau dan seluruh sahabat beliau.Amma ba’du, aku washiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah, Allah berfirmanيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (١١٩)Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At-Taubah : 119)          Pertolongan yang bermanfaat yang dengannya terwujudkan dampak positifnya dan terhilangkan kesulitan, adalah pertolongan yang terus menerus dan berkesinambungan yang tidak terputus talinya dan tidak terhenti bantuannya, sehingga kita tidak terkena kekalahan karena semangat yang sementara dan kelemahan yang menghalangi tercapainya target. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّتْ“Amalan yang paing dicintai oleh Allah adalah yang paling berkesinambungan meskipun sedikit”Bisa jadi pelaku kebatilan berhasil untuk bersatu dalam satu kompi, akan tetapi ini hanyalah lahiriahnya saja, adapun hakikatnya maka ini adalah persatuan yang dibangun di atas kepentingan yang berbeda-beda, hati dan nafsu mereka tercerai berai, dan akan terungkap perseteruan dan perpecahan diantara mereka, tirai tipuan akan tersingkap, lalu leburlah kebatilan mereka dan terpecahkan perkumpulan mereka.بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىPermusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. (QS Al-Hasyr : 14)Di akhir zaman kaum muslimin akan ditolong oleh batu dan pohon, ia berkata ; “Wahai Muslim, wahai Abdullah, ini ada seorang yahudi di belakangku, kemarilah bunuhlah ia”. Dan perkataan batu dan pohon termasuk tanda-tanda hari kiamat.Allah berfirman :وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌSesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa (QS Al-Hajj : 40) Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 26/7/1436 HOleh : Asy-Syaikh Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohulloh Khutbah Pertama : Segala puji bagi Allah, segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kita berbagai kebaikan, yang menyeru kepada saling tolong menolong. Aku memujiNya subhaanahu dan aku bersyukur kepadanya di pagi dan petang. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah tiada sekutu bagiNya, Ia telah menciptakan kita, memberi rizki kepada kita dan menjadikan kita umat yang terbaik. Dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin kita dan nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, nabi yang termulia dan teladan yang terbaik. Semoga shalawat tercurahkan kepadanya dan kepada keluarganya serta seluruh sahabatnya yang merupakan teladan yang terbaik.  Amma ba’du, aku wasiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah. Allah berfirman : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١٨)Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Hasyr : 18) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Tolonglah saudaramu tatkala ia berbuat zolim atau tatkala dizolimi”. Maka ada seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, aku menolongnya jika ia dizolimi, bagaimana menurutmu jika ia yang berbuat zolim, bagaimana cara menolongnya?”. Nabi berkata, “Engkau mencegahnya atau menahannya dari kezoliman, maka itu adalah bentuk menolongnya” (HR Al-Bukhari) Menolong saudara adalah tanda keimanan, alamat akan benarnya Islam seseorang. Dari Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai diantara mereka, saling menyayangi, saling mengasihi, seperti satu jasad, jika ada satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh jasad yang lain akan menyeru ikut kesakitan dan tidak bisa tidur” (HR Muslim), dan Nabi juga bersabda “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan”, lalu Nabi menyela jari-jari tangan yang satu ke jari-jari tangan yang lain (HR Al-Bukhari dan Muslim) Dan jika sebuah umat menolong yang terzolimi, mengambil tangan pelaku kezoliman lalu mencegahnya dari kezoliman maka umat tersebut selamat dari hukuman Allah. Allah berfirman :وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٢٥)Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya. (QS Al-Anfaal : 25)Barangsiapa yang menolong yang terzolimi maka Allah akan menolongnya, dan Allah akan meyiapkan baginya orang yang akan menolongnya di dunia dan akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ نَصَرَ أَخَاهُ بِظَهْرِ الْغَيْبِ نَصَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ“Barangsiapa yang menolong saudaranya –tanpa kehadiran saudaranya tersebut- maka Allah akan menolongnya di dunia dan akhirat’ (HR Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih) Menolong adalah bentuk persekutuan Islami dan saling bahu-membahu yang imani, dan ia merupakan kekuatan bagi kaum muslimin serta kemuliaan bagi kaum mukminin. Membangungkan semangat dari tidurnya dan menyatukan kaum muslimin dalam satu saf dalam satu urusan dan satu tujuan disertai kemuliaan dan pengorbanan sehinggaتُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ“Dengannya kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian” (Qs Al-Anfaal : 60) Menolong adalah kewajiban agama, serta kebutuhan urgen duniawi, sungguh kezoliman telah tertujukan kepada Islam, makar rencana jahat diarahkan kepada Islam, dan ini merupakan fenomena zaman ini dengan bentuknya yang banyak dan beragam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :« يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” Jika sikap menolong melemah diantara kaum muslimin maka musuh akan menguasai, dan akan semakin keras hantaman musuh dan semakin belanjut kezoliman mereka serta menyiksa kaum muslimin, membinasakan orang-orang yang tenteram, menghinakan para ahli tauhid, merampas negeri, dan menjatuhkan harga diri.Sesungguhnya kerusakan yang besar dan fitnah yang menyala-nyala di negeri-negeri kaum musliimin asalnya adalah karena kurang dalam menerapkan sikap menolong. Allah berfirman : وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ (٧٣)Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS Al-Anfaal : 73)           Telah datang larangan dari sikap meninggalkan seorang muslim yang membutuhkan bantuan dan sikap berlepas diri dari menolongnya dan mendukungnya. Rasul kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, ia tidak menzoliminya dan tidak meninggalkannya (tatkala butuh bantuannya)”Nabi juga berkata :لَقَدْ شَهِدْتُ مع عمومتي حلف المطيبين فما أُحِبُّ أَنَّ لِي حُمْرَ النَّعَمِ وإني أنكثه“Sungguh aku bersama paman-pamanku telah menghadiri perjanjian muthoyyabin, dan aku tidak suka jika aku diberi onta merah sementara aku melanggarnya”Dalam hadits ini ada isyarat tentang persekutuan al-fudul dalam rangka menolong orang yang dizolimi.Barangsiapa yang malas dalam menjulurkan tangannya untuk segera menolong orang yang dizolimi maka ia akan terhinakan di dunia serta akan merugi di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَا مِنْ امْرِئٍ يَخْذُلُ امْرَأً مُسْلِمًا عِنْدَ مَوْطِنٍ تُنْتَهَكُ فِيهِ حُرْمَتُهُ وَيُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ إِلَّا خَذَلَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ. وَمَا مِنْ امْرِئٍ يَنْصُرُ مُسْلِمًا فِي مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ وَيُنْتَهَكُ فِيهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلَّا نَصَرَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ“Dan tidaklah seseorang meninggalkan saudaranya sesama muslim pada kondisi kehormatannya sedang dilanggar dan direndahkan harga dirinya kecuali Allah akan meninggalkannya pada kondisi dimana ia ingin ditolong. Dan tidaklah seseorang menolong seorang muslim pada saat harga dirinya direndahkan dan kehormatannya dilanggar kecuali Allah akan menolongnya pada kondisi dimana ia ingin ditolong”Dan jika umat diuji dengan para lelaki yang tidak jelas yang bersekutu dengan musuh umatnya, dan menghunuskan pedang pengkhianatan terhadap saudara setanah airnya, menanam bibit fitnah, memudahkan terjadinya kudeta serta kekacauan karena rakus terhadap kekuasaan, untuk meraih medali kehinaan dan kerendahan, meskipun dengan mengorbankan tengkorak-tengkorak rakyat yang tidak berdosa, dan mayat-mayat anak-anak. Maka bagaimana masyarakat merasa aman dari tipu daya berasal dari suku mereka sendiri, yang telah telah berkhianat terhadap negerinya, dan meminta pertolongan dari para pembela kebatilan untuk menyerang kaumnya sendiri dan negeri tetangganya ?Dan pihak yang lain berusaha menggiris rakyatnya, membunuh dan menghancurkan penduduk negerinya dengan bom-bom yang membakar, dan bahan-bahan peledak, gas-gas beracun di pagar manusia yang sabar dan enggan.Dan sepotong tanah Ghaza yang menderita akibat pengepungan yang zolim dan makar yang kejam, dimana kezoliman telah mencapai puncaknya, dengan menghalangi seluruh sarana dan prasarana kehidupan baik makanan dan minuman serta obat-obatan.Peristiwa-peristiwa terjadi sebagai ujian bagi jiwa-jiwa, untuk memurnikan saf-saf, agar Allah mengetahui siapakah yang menolong yang dizolimi dan menolak pelaku kezoliman serta siapakah yang berpegang teguh dengan kebenaran dalam menghadapi kebatilan. Allah berfirman :وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌDan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa. (QS Al-Hadid : 25)Membela orang-orang yang lemah harus ditegakan, menolong mereka adalah suatu kewajiban. Dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia mereka adalah bagian dari tubuh umat yang besar, dan dengan hukum persaudaraan sesama Islam maka mereka memiliki hak untuk ditolong dan dibantu.           Diantara bentuk pertolongan adalah perhatian terhadap kondisi mereka serta membantu mereka dengan segala bentuk unsur kekuatan dan sarana pertahanan, untuk memperkuat yang lemah dan menjaga agama, kehormatan, jiwa, dan negeri, serta menghibur mereka dengan bantuan harta dan materi, menolong jiwa yang teraniaya, dan mengembalikan harapan.Sang sahabat yang mulia Utsman bin Affaan radhiallahu ‘anhu merupakan contoh yang patut ditiru, teladan dalam menolong kaum muslimin dengan harta. Ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa 1000 dinar lalu ia letakan di pangkuan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia menggali sumur Ruumah untuk kaum mukminin tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ حَفَرَ بِئْرَ رُوْمَةَ فَلَهُ الْجَنَّةُ“Barangsiapa yang menggali sumur Ruumah maka baginya surga”Dan Utsman juga telah berinfak untuk mempersiapkan pasukan perang Tabuk.Dan istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Khodijah radhiallahu ‘anha sungguh telah menghibur dan menolong Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan seluruh hartanya.Dan diantara bentuk menolong adalah jangan sampai seorang muslim menjadi penolong bagi pelaku kezoliman yang menzolimi saudaranya sesama muslim. Allah berfirman :وَلا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُDan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka (QS Huud : 113)Diantara bentuk pertolongan adalah memboikot barang-barang dagangan musuh dan orang yang membantu musuh dan membiayai mereka baik bantuan spiritual maupun pemikiran, serta bekerjasama dengan musuh. Pemboikotan merupakan senjata yang manjur dan berpengaruh, tentunya dijalankan dengan kaidah-kaidah pemboikotan yang syar’i, sehingga memberikan pelajaran bagi musuh, dan dengan hal ini umat akan tetap kokoh dihadapan orang yang menghendaki keburukan bagi mereka.           Adapun pertolongan terhadap akidah adalah dengan menjelaskan pokok-pokok akidah dan pemahamannya, serta membantah syubhat-syubhat, menjelaskan bahaya bid’ah dan manhajnya sekte-sekte yang menyimpang, yang dimana musuh menemukan pada firqoh-firqoh tersebut apa yang mereka cari. Maka musuhpun bersekutu dengan mereka, dan firqoh-firqoh tersebut dikembangkan oleh musuh di tengah-tengah umat Islam, musuh menyetirnya sesuka hati untuk menggoncang stabilitas keamanan dan mengobarkan kekacauan, merampas umat ini, merampas kepemilikan umat, dan mematikan kekuatannya, dan agar umat terpuruk di bagian belakang, disetir dan tidak menyetir, mengikuti dan bukan menjadi yang diikuti.           Hendaknya menolong juga melalui media, semua orang melihat dan mendengar bagaimana peran media yang dengki dalam menghapus fakta kebenaran dan mencemarkan agama serta mengingkari hak-hak kaum muslimin, sampai-sampai menuduh seluruh perilaku yang buruk kepada kaum muslimin. Media menggambarkan bahwa kaum muslimin adalah para pembunuh dan para penghisap darah, dan seorang yang membela negerinya dan kehormatannya dituduh sebagai teroris, media menjadikan para pembunuh dan para penjahat sebagai teman pembawa keselamatan, menjadikan penyerang dan penjajah sebagai kelompok yang membela dan mencegah.Pertolongan melalui media adalah dengan menjelaskan kezoliman pelaku kezoliman, mengumbar perbuatan-perbuatannya, dan menjelaskan hakekatnya, dan hiasan kebatilannya. Dengan mewujudkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan. Dan dampak dari penjelasan dalam beberapa kondisi lebih kuat dan lebih menggigit dari pada sayatan pedang. Ceramah itu memiliki kekuatan tersendiri, dan gambar/clip memiliki dampak tersendiri, tulisan juga memilik panah yang kuat, dan sya’ir memiliki kekuatan tersendiri. Aisyah radhiallahu ‘anhaa berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Hassaan –bin Tsabit- radhiallahu ‘anhu :إِنَّ رُوْحَ الْقُدُسِ لاَ يَزَالُ يُؤَيِّدُكَ مَا نَافَحْتَ عَنِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ“Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril) terus menguatkanmu selama engkau membela Allah dan RasulNya”Dan pertolongan juga hendaknya pada permasalahan-permasalahan umat dengan memberi pengarahan kepada mereka dan membela umat, serta membongkar racun yang dihembuskan oleh para gembong kejahatan, mengungkap rencana-rencana jahat mereka dan menjelaskan tentang manhaj mereka melalui seluruh sarana, setiap pertemuan dan kesempatan-kesempatan. Allah berfirman :وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ (٥٥)Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (QS Al-An’aam : 55)Dan menolong juga melalui doa, ia adalah senjata segala urusan dan obat dari kesulitan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menolong orang-orang yang terzolimi dengan doa dalam qunut beliau.Bersandar kepada Allah di tengah cobaan, menguatkan hubungan kepada Allah tatkala genting merupakan ciri seorang mukmin. Allah berfirman :كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ (٩)فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ (١٠)فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ (١١)وَفَجَّرْنَا الأرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ (١٢)Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, Maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan Dia sudah pernah diberi ancaman). Maka Dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).” Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, Maka bertemu- lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. (QS Al-Qomar : 9-12) Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam al-Qur’an al-Azhim, dan semoga Allah menjadikan aku dan kalian bisa mengambil manfaat dari ayat-ayatnya dan adz-dzikr al-hakim. Aku menyampaikan perkataanku ini, dan aku memohon ampunan kepada Allah yang maha agung bagiku dan bagi kalian serta seluruh kaum muslimin dari segala dosa, maka mohonlah ampunan kepadaNya, sesungguhnya ia maha pengampun lagi maha penyayang. Khutbah Kedua :           Segala puji bagi Allah penguasa alam semesta, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, Tuhannya orang-orang terdahulu dan yang terakhir. Dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin kita, nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, pemimpin orang-orang yang bertakwa, semoga Allah mencurahkan shalawat kepada beliau, keluarga beliau dan seluruh sahabat beliau.Amma ba’du, aku washiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah, Allah berfirmanيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (١١٩)Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At-Taubah : 119)          Pertolongan yang bermanfaat yang dengannya terwujudkan dampak positifnya dan terhilangkan kesulitan, adalah pertolongan yang terus menerus dan berkesinambungan yang tidak terputus talinya dan tidak terhenti bantuannya, sehingga kita tidak terkena kekalahan karena semangat yang sementara dan kelemahan yang menghalangi tercapainya target. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّتْ“Amalan yang paing dicintai oleh Allah adalah yang paling berkesinambungan meskipun sedikit”Bisa jadi pelaku kebatilan berhasil untuk bersatu dalam satu kompi, akan tetapi ini hanyalah lahiriahnya saja, adapun hakikatnya maka ini adalah persatuan yang dibangun di atas kepentingan yang berbeda-beda, hati dan nafsu mereka tercerai berai, dan akan terungkap perseteruan dan perpecahan diantara mereka, tirai tipuan akan tersingkap, lalu leburlah kebatilan mereka dan terpecahkan perkumpulan mereka.بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىPermusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. (QS Al-Hasyr : 14)Di akhir zaman kaum muslimin akan ditolong oleh batu dan pohon, ia berkata ; “Wahai Muslim, wahai Abdullah, ini ada seorang yahudi di belakangku, kemarilah bunuhlah ia”. Dan perkataan batu dan pohon termasuk tanda-tanda hari kiamat.Allah berfirman :وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌSesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa (QS Al-Hajj : 40) Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 26/7/1436 HOleh : Asy-Syaikh Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohulloh Khutbah Pertama : Segala puji bagi Allah, segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kita berbagai kebaikan, yang menyeru kepada saling tolong menolong. Aku memujiNya subhaanahu dan aku bersyukur kepadanya di pagi dan petang. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah tiada sekutu bagiNya, Ia telah menciptakan kita, memberi rizki kepada kita dan menjadikan kita umat yang terbaik. Dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin kita dan nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, nabi yang termulia dan teladan yang terbaik. Semoga shalawat tercurahkan kepadanya dan kepada keluarganya serta seluruh sahabatnya yang merupakan teladan yang terbaik.  Amma ba’du, aku wasiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah. Allah berfirman : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١٨)Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Hasyr : 18) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Tolonglah saudaramu tatkala ia berbuat zolim atau tatkala dizolimi”. Maka ada seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, aku menolongnya jika ia dizolimi, bagaimana menurutmu jika ia yang berbuat zolim, bagaimana cara menolongnya?”. Nabi berkata, “Engkau mencegahnya atau menahannya dari kezoliman, maka itu adalah bentuk menolongnya” (HR Al-Bukhari) Menolong saudara adalah tanda keimanan, alamat akan benarnya Islam seseorang. Dari Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai diantara mereka, saling menyayangi, saling mengasihi, seperti satu jasad, jika ada satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh jasad yang lain akan menyeru ikut kesakitan dan tidak bisa tidur” (HR Muslim), dan Nabi juga bersabda “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan”, lalu Nabi menyela jari-jari tangan yang satu ke jari-jari tangan yang lain (HR Al-Bukhari dan Muslim) Dan jika sebuah umat menolong yang terzolimi, mengambil tangan pelaku kezoliman lalu mencegahnya dari kezoliman maka umat tersebut selamat dari hukuman Allah. Allah berfirman :وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٢٥)Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya. (QS Al-Anfaal : 25)Barangsiapa yang menolong yang terzolimi maka Allah akan menolongnya, dan Allah akan meyiapkan baginya orang yang akan menolongnya di dunia dan akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ نَصَرَ أَخَاهُ بِظَهْرِ الْغَيْبِ نَصَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ“Barangsiapa yang menolong saudaranya –tanpa kehadiran saudaranya tersebut- maka Allah akan menolongnya di dunia dan akhirat’ (HR Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih) Menolong adalah bentuk persekutuan Islami dan saling bahu-membahu yang imani, dan ia merupakan kekuatan bagi kaum muslimin serta kemuliaan bagi kaum mukminin. Membangungkan semangat dari tidurnya dan menyatukan kaum muslimin dalam satu saf dalam satu urusan dan satu tujuan disertai kemuliaan dan pengorbanan sehinggaتُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ“Dengannya kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian” (Qs Al-Anfaal : 60) Menolong adalah kewajiban agama, serta kebutuhan urgen duniawi, sungguh kezoliman telah tertujukan kepada Islam, makar rencana jahat diarahkan kepada Islam, dan ini merupakan fenomena zaman ini dengan bentuknya yang banyak dan beragam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :« يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” Jika sikap menolong melemah diantara kaum muslimin maka musuh akan menguasai, dan akan semakin keras hantaman musuh dan semakin belanjut kezoliman mereka serta menyiksa kaum muslimin, membinasakan orang-orang yang tenteram, menghinakan para ahli tauhid, merampas negeri, dan menjatuhkan harga diri.Sesungguhnya kerusakan yang besar dan fitnah yang menyala-nyala di negeri-negeri kaum musliimin asalnya adalah karena kurang dalam menerapkan sikap menolong. Allah berfirman : وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ (٧٣)Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS Al-Anfaal : 73)           Telah datang larangan dari sikap meninggalkan seorang muslim yang membutuhkan bantuan dan sikap berlepas diri dari menolongnya dan mendukungnya. Rasul kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, ia tidak menzoliminya dan tidak meninggalkannya (tatkala butuh bantuannya)”Nabi juga berkata :لَقَدْ شَهِدْتُ مع عمومتي حلف المطيبين فما أُحِبُّ أَنَّ لِي حُمْرَ النَّعَمِ وإني أنكثه“Sungguh aku bersama paman-pamanku telah menghadiri perjanjian muthoyyabin, dan aku tidak suka jika aku diberi onta merah sementara aku melanggarnya”Dalam hadits ini ada isyarat tentang persekutuan al-fudul dalam rangka menolong orang yang dizolimi.Barangsiapa yang malas dalam menjulurkan tangannya untuk segera menolong orang yang dizolimi maka ia akan terhinakan di dunia serta akan merugi di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَا مِنْ امْرِئٍ يَخْذُلُ امْرَأً مُسْلِمًا عِنْدَ مَوْطِنٍ تُنْتَهَكُ فِيهِ حُرْمَتُهُ وَيُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ إِلَّا خَذَلَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ. وَمَا مِنْ امْرِئٍ يَنْصُرُ مُسْلِمًا فِي مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ وَيُنْتَهَكُ فِيهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلَّا نَصَرَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ“Dan tidaklah seseorang meninggalkan saudaranya sesama muslim pada kondisi kehormatannya sedang dilanggar dan direndahkan harga dirinya kecuali Allah akan meninggalkannya pada kondisi dimana ia ingin ditolong. Dan tidaklah seseorang menolong seorang muslim pada saat harga dirinya direndahkan dan kehormatannya dilanggar kecuali Allah akan menolongnya pada kondisi dimana ia ingin ditolong”Dan jika umat diuji dengan para lelaki yang tidak jelas yang bersekutu dengan musuh umatnya, dan menghunuskan pedang pengkhianatan terhadap saudara setanah airnya, menanam bibit fitnah, memudahkan terjadinya kudeta serta kekacauan karena rakus terhadap kekuasaan, untuk meraih medali kehinaan dan kerendahan, meskipun dengan mengorbankan tengkorak-tengkorak rakyat yang tidak berdosa, dan mayat-mayat anak-anak. Maka bagaimana masyarakat merasa aman dari tipu daya berasal dari suku mereka sendiri, yang telah telah berkhianat terhadap negerinya, dan meminta pertolongan dari para pembela kebatilan untuk menyerang kaumnya sendiri dan negeri tetangganya ?Dan pihak yang lain berusaha menggiris rakyatnya, membunuh dan menghancurkan penduduk negerinya dengan bom-bom yang membakar, dan bahan-bahan peledak, gas-gas beracun di pagar manusia yang sabar dan enggan.Dan sepotong tanah Ghaza yang menderita akibat pengepungan yang zolim dan makar yang kejam, dimana kezoliman telah mencapai puncaknya, dengan menghalangi seluruh sarana dan prasarana kehidupan baik makanan dan minuman serta obat-obatan.Peristiwa-peristiwa terjadi sebagai ujian bagi jiwa-jiwa, untuk memurnikan saf-saf, agar Allah mengetahui siapakah yang menolong yang dizolimi dan menolak pelaku kezoliman serta siapakah yang berpegang teguh dengan kebenaran dalam menghadapi kebatilan. Allah berfirman :وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌDan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa. (QS Al-Hadid : 25)Membela orang-orang yang lemah harus ditegakan, menolong mereka adalah suatu kewajiban. Dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia mereka adalah bagian dari tubuh umat yang besar, dan dengan hukum persaudaraan sesama Islam maka mereka memiliki hak untuk ditolong dan dibantu.           Diantara bentuk pertolongan adalah perhatian terhadap kondisi mereka serta membantu mereka dengan segala bentuk unsur kekuatan dan sarana pertahanan, untuk memperkuat yang lemah dan menjaga agama, kehormatan, jiwa, dan negeri, serta menghibur mereka dengan bantuan harta dan materi, menolong jiwa yang teraniaya, dan mengembalikan harapan.Sang sahabat yang mulia Utsman bin Affaan radhiallahu ‘anhu merupakan contoh yang patut ditiru, teladan dalam menolong kaum muslimin dengan harta. Ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa 1000 dinar lalu ia letakan di pangkuan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia menggali sumur Ruumah untuk kaum mukminin tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ حَفَرَ بِئْرَ رُوْمَةَ فَلَهُ الْجَنَّةُ“Barangsiapa yang menggali sumur Ruumah maka baginya surga”Dan Utsman juga telah berinfak untuk mempersiapkan pasukan perang Tabuk.Dan istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Khodijah radhiallahu ‘anha sungguh telah menghibur dan menolong Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan seluruh hartanya.Dan diantara bentuk menolong adalah jangan sampai seorang muslim menjadi penolong bagi pelaku kezoliman yang menzolimi saudaranya sesama muslim. Allah berfirman :وَلا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُDan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka (QS Huud : 113)Diantara bentuk pertolongan adalah memboikot barang-barang dagangan musuh dan orang yang membantu musuh dan membiayai mereka baik bantuan spiritual maupun pemikiran, serta bekerjasama dengan musuh. Pemboikotan merupakan senjata yang manjur dan berpengaruh, tentunya dijalankan dengan kaidah-kaidah pemboikotan yang syar’i, sehingga memberikan pelajaran bagi musuh, dan dengan hal ini umat akan tetap kokoh dihadapan orang yang menghendaki keburukan bagi mereka.           Adapun pertolongan terhadap akidah adalah dengan menjelaskan pokok-pokok akidah dan pemahamannya, serta membantah syubhat-syubhat, menjelaskan bahaya bid’ah dan manhajnya sekte-sekte yang menyimpang, yang dimana musuh menemukan pada firqoh-firqoh tersebut apa yang mereka cari. Maka musuhpun bersekutu dengan mereka, dan firqoh-firqoh tersebut dikembangkan oleh musuh di tengah-tengah umat Islam, musuh menyetirnya sesuka hati untuk menggoncang stabilitas keamanan dan mengobarkan kekacauan, merampas umat ini, merampas kepemilikan umat, dan mematikan kekuatannya, dan agar umat terpuruk di bagian belakang, disetir dan tidak menyetir, mengikuti dan bukan menjadi yang diikuti.           Hendaknya menolong juga melalui media, semua orang melihat dan mendengar bagaimana peran media yang dengki dalam menghapus fakta kebenaran dan mencemarkan agama serta mengingkari hak-hak kaum muslimin, sampai-sampai menuduh seluruh perilaku yang buruk kepada kaum muslimin. Media menggambarkan bahwa kaum muslimin adalah para pembunuh dan para penghisap darah, dan seorang yang membela negerinya dan kehormatannya dituduh sebagai teroris, media menjadikan para pembunuh dan para penjahat sebagai teman pembawa keselamatan, menjadikan penyerang dan penjajah sebagai kelompok yang membela dan mencegah.Pertolongan melalui media adalah dengan menjelaskan kezoliman pelaku kezoliman, mengumbar perbuatan-perbuatannya, dan menjelaskan hakekatnya, dan hiasan kebatilannya. Dengan mewujudkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan. Dan dampak dari penjelasan dalam beberapa kondisi lebih kuat dan lebih menggigit dari pada sayatan pedang. Ceramah itu memiliki kekuatan tersendiri, dan gambar/clip memiliki dampak tersendiri, tulisan juga memilik panah yang kuat, dan sya’ir memiliki kekuatan tersendiri. Aisyah radhiallahu ‘anhaa berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Hassaan –bin Tsabit- radhiallahu ‘anhu :إِنَّ رُوْحَ الْقُدُسِ لاَ يَزَالُ يُؤَيِّدُكَ مَا نَافَحْتَ عَنِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ“Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril) terus menguatkanmu selama engkau membela Allah dan RasulNya”Dan pertolongan juga hendaknya pada permasalahan-permasalahan umat dengan memberi pengarahan kepada mereka dan membela umat, serta membongkar racun yang dihembuskan oleh para gembong kejahatan, mengungkap rencana-rencana jahat mereka dan menjelaskan tentang manhaj mereka melalui seluruh sarana, setiap pertemuan dan kesempatan-kesempatan. Allah berfirman :وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ (٥٥)Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (QS Al-An’aam : 55)Dan menolong juga melalui doa, ia adalah senjata segala urusan dan obat dari kesulitan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menolong orang-orang yang terzolimi dengan doa dalam qunut beliau.Bersandar kepada Allah di tengah cobaan, menguatkan hubungan kepada Allah tatkala genting merupakan ciri seorang mukmin. Allah berfirman :كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ (٩)فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ (١٠)فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ (١١)وَفَجَّرْنَا الأرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ (١٢)Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, Maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan Dia sudah pernah diberi ancaman). Maka Dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).” Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, Maka bertemu- lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. (QS Al-Qomar : 9-12) Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam al-Qur’an al-Azhim, dan semoga Allah menjadikan aku dan kalian bisa mengambil manfaat dari ayat-ayatnya dan adz-dzikr al-hakim. Aku menyampaikan perkataanku ini, dan aku memohon ampunan kepada Allah yang maha agung bagiku dan bagi kalian serta seluruh kaum muslimin dari segala dosa, maka mohonlah ampunan kepadaNya, sesungguhnya ia maha pengampun lagi maha penyayang. Khutbah Kedua :           Segala puji bagi Allah penguasa alam semesta, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, Tuhannya orang-orang terdahulu dan yang terakhir. Dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin kita, nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, pemimpin orang-orang yang bertakwa, semoga Allah mencurahkan shalawat kepada beliau, keluarga beliau dan seluruh sahabat beliau.Amma ba’du, aku washiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah, Allah berfirmanيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (١١٩)Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At-Taubah : 119)          Pertolongan yang bermanfaat yang dengannya terwujudkan dampak positifnya dan terhilangkan kesulitan, adalah pertolongan yang terus menerus dan berkesinambungan yang tidak terputus talinya dan tidak terhenti bantuannya, sehingga kita tidak terkena kekalahan karena semangat yang sementara dan kelemahan yang menghalangi tercapainya target. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّتْ“Amalan yang paing dicintai oleh Allah adalah yang paling berkesinambungan meskipun sedikit”Bisa jadi pelaku kebatilan berhasil untuk bersatu dalam satu kompi, akan tetapi ini hanyalah lahiriahnya saja, adapun hakikatnya maka ini adalah persatuan yang dibangun di atas kepentingan yang berbeda-beda, hati dan nafsu mereka tercerai berai, dan akan terungkap perseteruan dan perpecahan diantara mereka, tirai tipuan akan tersingkap, lalu leburlah kebatilan mereka dan terpecahkan perkumpulan mereka.بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىPermusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. (QS Al-Hasyr : 14)Di akhir zaman kaum muslimin akan ditolong oleh batu dan pohon, ia berkata ; “Wahai Muslim, wahai Abdullah, ini ada seorang yahudi di belakangku, kemarilah bunuhlah ia”. Dan perkataan batu dan pohon termasuk tanda-tanda hari kiamat.Allah berfirman :وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌSesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa (QS Al-Hajj : 40) Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Seandainya Masa Mudaku Kembali….!! (Sya’ir lantunan Abul ‘Ataahiyah)

بَكَيْتُ عَلَى الشَّبَابِ بِدَمْعِ عَيْنِي… فَلَمْ يُغْنِ البُكَاءُ وَلاَ النَّحِيْبُKutangisi masa mudaku dengan aliran air mataku….Akan tetapi tangisan dan ratapanku tiada guna… فَيا أسَفاً أسِفْتُ عَلىَ شَبَابٍ… نَعَاهُ الشَّيْبُ والرّأسُ الخَضِيْبُSungguh aku bersedih dan menyesal atas masa mudaku….Masa tua dan rambutku yang disemir (karena ubanan) telah berduka cita atas  masa mudaku…. عَرَيْتُ منَ الشّبابِ وَكُنْتُ غَضًّا…. كمَا يَعْرَى مِنَ الوَرَقِ القَضِيْبُMasa mudaku telah hilang…, padahal dahulu aku segar bugar…Sebagaimana batang pohon yang kering dengan gugurnya dedaunan…. فيَا لَيتَ الشّبابَ يَعُودُ يَوْماً…. فأُخبرَهُ بمَا فَعَلَ المَشيبُAduhai seandainya suatu hari masa mudaku bisa kembali…. Akan kukabarkan kepadanya tentang apa yang menimpa masa tuanya… Masa muda adalah masa keemasan, maka aktivitas dan produktivitas…Jika seseorang mengisinya dengan kebaikan maka masa tuanya akan penuh dengan kebahagiaan dan kebanggaan…Akan tetapi jika masa mudanya dihamburkan dalam kemaksiatan dan sia-sia, maka yang ada hanyalah penyesalan di masa tua tiada guna.Ya Allah jadikanlah hamba-hambamuMu ini menjadi hamba yang dipuji oleh NabiMu shallallahu ‘alaihi wasallam (Pada hari kiamat tatkala mata hari didekatkan oleh Allah sehingga berjarak satu mil, sehingga manusia bercucuran keringat mereka. Pada hari tersebut tiada naungan kecuali naungan Allah, dan ada 7 golongan yang akan dinaungi oleh naungan Allah, diantaranya 🙂وشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ“Pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah” (HR Muslim)Pemuda yang menyibukkan diri dalam ibadah merupakan pemuda yang hebat, karena masa muda adalah masa-masa bersenang-senang dan dipuncak-puncaknya ingin kebebasan dan menuruti hawa nafsu.Al-Munawi rahimahullah berkata :خَصَّهُ لِكَوْنِهِ مَظِنَّةُ غَلَبَةِ الشَّهْوَةِ وَقُوَّةِ البَّاعِثِ عَلَى مُتَابَعَةِ الْهَوَى وَمُلاَزَمَةُ الْعِبَادَةِ مَعَ ذَلِكَ أَشَقُّ وَأَدَلُّ عَلَى غَلَبَةِ التَّقْوَى“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhususkan penyebutan “masa muda” karena masa muda adalah masa biasanya terkuasai oleh syahwat dan kuatnya dorongan untuk mengikuti hawa nafsu. Dan melazimi dibadah dalam kondisi demikian lebih berat dan lebih menunjukkan atas dominasi ketakwaan” (Faidul Qodiir 4/88)Bahkan Ibnu Rojab rahimahullah mengibaratkan masa muda seperti masa kegilaan, karena begitu beratnya ujian di masa tersebut. Beliau berkata :فَإِنَّ الشَّبَابَ شُعْبَةٌ مِنَ الْجُنُوْنِ، وَهُوَ دَاعٍ لِلنَّفْسِ إِلَى اسْتِيْفَاءِ الْغَرضِ مِنْ شَهوَاتِ الدُّنْيَا وَلَذَّاتِهَا الْمَحْظُوْرَةِ، فَمَنْ سَلِمَ مِنْهُ فَقَدْ سَلِمَ“Sesungguhnya masa muda adalah cabang dari kegilaan, karena masa muda menyeru jiwa untuk memuaskan kehendaknya berupa syahwat dunia keledzatannya yang terlarang. Maka barangsiapa yang selamat dari masa mudanya maka sungguh ia telah selamat” (Fathul Baari 6/46-47)Pemuda yang menyibukkan diri dengan ibadah ditengah luasnya lautan syahwat dan gemerlapnya dunia, ia adalah pemuda yang yakin bahwa Allah akan meminta pertanggung jawabannya tentang masa mudanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :لاَ تَزُوْلُ قَدَما ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَن أربع“Tidak akan bergerser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang 4 perkara…”Diantaranya kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamوَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ“Tentang masa mudanya, kemanakah ia habiskan?”Wahai para pemuda, kita semua akan diberhentikan oleh Allah untuk disidang, dan kedua kaki kita tidak akan bergeser kecuali setelah kita menjawab pertanyaan “Kemana kau habiskan masa mudamu”.Maka silahkanlah anda berbuat semaunya…silahkanlah anda memuaskan syahwat anda…silahkanlah anda berhubungan dengan wanita dan gadis yang tidak halal bagi anda sesukanya…silahkan anda membiarkan mata anda melihat hal-hal yang haram….silahkanlah jari-jari anda merangkai kata-kata manis untuk dipersembahkan kepada kekasih yang haram….Jika anda mampu menjawab pertanyaan di atas, maka silahkanlah berbuat sesuka hati….Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 13-07-1436 H / 02-05-2015 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Seandainya Masa Mudaku Kembali….!! (Sya’ir lantunan Abul ‘Ataahiyah)

بَكَيْتُ عَلَى الشَّبَابِ بِدَمْعِ عَيْنِي… فَلَمْ يُغْنِ البُكَاءُ وَلاَ النَّحِيْبُKutangisi masa mudaku dengan aliran air mataku….Akan tetapi tangisan dan ratapanku tiada guna… فَيا أسَفاً أسِفْتُ عَلىَ شَبَابٍ… نَعَاهُ الشَّيْبُ والرّأسُ الخَضِيْبُSungguh aku bersedih dan menyesal atas masa mudaku….Masa tua dan rambutku yang disemir (karena ubanan) telah berduka cita atas  masa mudaku…. عَرَيْتُ منَ الشّبابِ وَكُنْتُ غَضًّا…. كمَا يَعْرَى مِنَ الوَرَقِ القَضِيْبُMasa mudaku telah hilang…, padahal dahulu aku segar bugar…Sebagaimana batang pohon yang kering dengan gugurnya dedaunan…. فيَا لَيتَ الشّبابَ يَعُودُ يَوْماً…. فأُخبرَهُ بمَا فَعَلَ المَشيبُAduhai seandainya suatu hari masa mudaku bisa kembali…. Akan kukabarkan kepadanya tentang apa yang menimpa masa tuanya… Masa muda adalah masa keemasan, maka aktivitas dan produktivitas…Jika seseorang mengisinya dengan kebaikan maka masa tuanya akan penuh dengan kebahagiaan dan kebanggaan…Akan tetapi jika masa mudanya dihamburkan dalam kemaksiatan dan sia-sia, maka yang ada hanyalah penyesalan di masa tua tiada guna.Ya Allah jadikanlah hamba-hambamuMu ini menjadi hamba yang dipuji oleh NabiMu shallallahu ‘alaihi wasallam (Pada hari kiamat tatkala mata hari didekatkan oleh Allah sehingga berjarak satu mil, sehingga manusia bercucuran keringat mereka. Pada hari tersebut tiada naungan kecuali naungan Allah, dan ada 7 golongan yang akan dinaungi oleh naungan Allah, diantaranya 🙂وشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ“Pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah” (HR Muslim)Pemuda yang menyibukkan diri dalam ibadah merupakan pemuda yang hebat, karena masa muda adalah masa-masa bersenang-senang dan dipuncak-puncaknya ingin kebebasan dan menuruti hawa nafsu.Al-Munawi rahimahullah berkata :خَصَّهُ لِكَوْنِهِ مَظِنَّةُ غَلَبَةِ الشَّهْوَةِ وَقُوَّةِ البَّاعِثِ عَلَى مُتَابَعَةِ الْهَوَى وَمُلاَزَمَةُ الْعِبَادَةِ مَعَ ذَلِكَ أَشَقُّ وَأَدَلُّ عَلَى غَلَبَةِ التَّقْوَى“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhususkan penyebutan “masa muda” karena masa muda adalah masa biasanya terkuasai oleh syahwat dan kuatnya dorongan untuk mengikuti hawa nafsu. Dan melazimi dibadah dalam kondisi demikian lebih berat dan lebih menunjukkan atas dominasi ketakwaan” (Faidul Qodiir 4/88)Bahkan Ibnu Rojab rahimahullah mengibaratkan masa muda seperti masa kegilaan, karena begitu beratnya ujian di masa tersebut. Beliau berkata :فَإِنَّ الشَّبَابَ شُعْبَةٌ مِنَ الْجُنُوْنِ، وَهُوَ دَاعٍ لِلنَّفْسِ إِلَى اسْتِيْفَاءِ الْغَرضِ مِنْ شَهوَاتِ الدُّنْيَا وَلَذَّاتِهَا الْمَحْظُوْرَةِ، فَمَنْ سَلِمَ مِنْهُ فَقَدْ سَلِمَ“Sesungguhnya masa muda adalah cabang dari kegilaan, karena masa muda menyeru jiwa untuk memuaskan kehendaknya berupa syahwat dunia keledzatannya yang terlarang. Maka barangsiapa yang selamat dari masa mudanya maka sungguh ia telah selamat” (Fathul Baari 6/46-47)Pemuda yang menyibukkan diri dengan ibadah ditengah luasnya lautan syahwat dan gemerlapnya dunia, ia adalah pemuda yang yakin bahwa Allah akan meminta pertanggung jawabannya tentang masa mudanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :لاَ تَزُوْلُ قَدَما ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَن أربع“Tidak akan bergerser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang 4 perkara…”Diantaranya kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamوَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ“Tentang masa mudanya, kemanakah ia habiskan?”Wahai para pemuda, kita semua akan diberhentikan oleh Allah untuk disidang, dan kedua kaki kita tidak akan bergeser kecuali setelah kita menjawab pertanyaan “Kemana kau habiskan masa mudamu”.Maka silahkanlah anda berbuat semaunya…silahkanlah anda memuaskan syahwat anda…silahkanlah anda berhubungan dengan wanita dan gadis yang tidak halal bagi anda sesukanya…silahkan anda membiarkan mata anda melihat hal-hal yang haram….silahkanlah jari-jari anda merangkai kata-kata manis untuk dipersembahkan kepada kekasih yang haram….Jika anda mampu menjawab pertanyaan di atas, maka silahkanlah berbuat sesuka hati….Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 13-07-1436 H / 02-05-2015 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
بَكَيْتُ عَلَى الشَّبَابِ بِدَمْعِ عَيْنِي… فَلَمْ يُغْنِ البُكَاءُ وَلاَ النَّحِيْبُKutangisi masa mudaku dengan aliran air mataku….Akan tetapi tangisan dan ratapanku tiada guna… فَيا أسَفاً أسِفْتُ عَلىَ شَبَابٍ… نَعَاهُ الشَّيْبُ والرّأسُ الخَضِيْبُSungguh aku bersedih dan menyesal atas masa mudaku….Masa tua dan rambutku yang disemir (karena ubanan) telah berduka cita atas  masa mudaku…. عَرَيْتُ منَ الشّبابِ وَكُنْتُ غَضًّا…. كمَا يَعْرَى مِنَ الوَرَقِ القَضِيْبُMasa mudaku telah hilang…, padahal dahulu aku segar bugar…Sebagaimana batang pohon yang kering dengan gugurnya dedaunan…. فيَا لَيتَ الشّبابَ يَعُودُ يَوْماً…. فأُخبرَهُ بمَا فَعَلَ المَشيبُAduhai seandainya suatu hari masa mudaku bisa kembali…. Akan kukabarkan kepadanya tentang apa yang menimpa masa tuanya… Masa muda adalah masa keemasan, maka aktivitas dan produktivitas…Jika seseorang mengisinya dengan kebaikan maka masa tuanya akan penuh dengan kebahagiaan dan kebanggaan…Akan tetapi jika masa mudanya dihamburkan dalam kemaksiatan dan sia-sia, maka yang ada hanyalah penyesalan di masa tua tiada guna.Ya Allah jadikanlah hamba-hambamuMu ini menjadi hamba yang dipuji oleh NabiMu shallallahu ‘alaihi wasallam (Pada hari kiamat tatkala mata hari didekatkan oleh Allah sehingga berjarak satu mil, sehingga manusia bercucuran keringat mereka. Pada hari tersebut tiada naungan kecuali naungan Allah, dan ada 7 golongan yang akan dinaungi oleh naungan Allah, diantaranya 🙂وشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ“Pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah” (HR Muslim)Pemuda yang menyibukkan diri dalam ibadah merupakan pemuda yang hebat, karena masa muda adalah masa-masa bersenang-senang dan dipuncak-puncaknya ingin kebebasan dan menuruti hawa nafsu.Al-Munawi rahimahullah berkata :خَصَّهُ لِكَوْنِهِ مَظِنَّةُ غَلَبَةِ الشَّهْوَةِ وَقُوَّةِ البَّاعِثِ عَلَى مُتَابَعَةِ الْهَوَى وَمُلاَزَمَةُ الْعِبَادَةِ مَعَ ذَلِكَ أَشَقُّ وَأَدَلُّ عَلَى غَلَبَةِ التَّقْوَى“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhususkan penyebutan “masa muda” karena masa muda adalah masa biasanya terkuasai oleh syahwat dan kuatnya dorongan untuk mengikuti hawa nafsu. Dan melazimi dibadah dalam kondisi demikian lebih berat dan lebih menunjukkan atas dominasi ketakwaan” (Faidul Qodiir 4/88)Bahkan Ibnu Rojab rahimahullah mengibaratkan masa muda seperti masa kegilaan, karena begitu beratnya ujian di masa tersebut. Beliau berkata :فَإِنَّ الشَّبَابَ شُعْبَةٌ مِنَ الْجُنُوْنِ، وَهُوَ دَاعٍ لِلنَّفْسِ إِلَى اسْتِيْفَاءِ الْغَرضِ مِنْ شَهوَاتِ الدُّنْيَا وَلَذَّاتِهَا الْمَحْظُوْرَةِ، فَمَنْ سَلِمَ مِنْهُ فَقَدْ سَلِمَ“Sesungguhnya masa muda adalah cabang dari kegilaan, karena masa muda menyeru jiwa untuk memuaskan kehendaknya berupa syahwat dunia keledzatannya yang terlarang. Maka barangsiapa yang selamat dari masa mudanya maka sungguh ia telah selamat” (Fathul Baari 6/46-47)Pemuda yang menyibukkan diri dengan ibadah ditengah luasnya lautan syahwat dan gemerlapnya dunia, ia adalah pemuda yang yakin bahwa Allah akan meminta pertanggung jawabannya tentang masa mudanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :لاَ تَزُوْلُ قَدَما ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَن أربع“Tidak akan bergerser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang 4 perkara…”Diantaranya kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamوَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ“Tentang masa mudanya, kemanakah ia habiskan?”Wahai para pemuda, kita semua akan diberhentikan oleh Allah untuk disidang, dan kedua kaki kita tidak akan bergeser kecuali setelah kita menjawab pertanyaan “Kemana kau habiskan masa mudamu”.Maka silahkanlah anda berbuat semaunya…silahkanlah anda memuaskan syahwat anda…silahkanlah anda berhubungan dengan wanita dan gadis yang tidak halal bagi anda sesukanya…silahkan anda membiarkan mata anda melihat hal-hal yang haram….silahkanlah jari-jari anda merangkai kata-kata manis untuk dipersembahkan kepada kekasih yang haram….Jika anda mampu menjawab pertanyaan di atas, maka silahkanlah berbuat sesuka hati….Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 13-07-1436 H / 02-05-2015 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


بَكَيْتُ عَلَى الشَّبَابِ بِدَمْعِ عَيْنِي… فَلَمْ يُغْنِ البُكَاءُ وَلاَ النَّحِيْبُKutangisi masa mudaku dengan aliran air mataku….Akan tetapi tangisan dan ratapanku tiada guna… فَيا أسَفاً أسِفْتُ عَلىَ شَبَابٍ… نَعَاهُ الشَّيْبُ والرّأسُ الخَضِيْبُSungguh aku bersedih dan menyesal atas masa mudaku….Masa tua dan rambutku yang disemir (karena ubanan) telah berduka cita atas  masa mudaku…. عَرَيْتُ منَ الشّبابِ وَكُنْتُ غَضًّا…. كمَا يَعْرَى مِنَ الوَرَقِ القَضِيْبُMasa mudaku telah hilang…, padahal dahulu aku segar bugar…Sebagaimana batang pohon yang kering dengan gugurnya dedaunan…. فيَا لَيتَ الشّبابَ يَعُودُ يَوْماً…. فأُخبرَهُ بمَا فَعَلَ المَشيبُAduhai seandainya suatu hari masa mudaku bisa kembali…. Akan kukabarkan kepadanya tentang apa yang menimpa masa tuanya… Masa muda adalah masa keemasan, maka aktivitas dan produktivitas…Jika seseorang mengisinya dengan kebaikan maka masa tuanya akan penuh dengan kebahagiaan dan kebanggaan…Akan tetapi jika masa mudanya dihamburkan dalam kemaksiatan dan sia-sia, maka yang ada hanyalah penyesalan di masa tua tiada guna.Ya Allah jadikanlah hamba-hambamuMu ini menjadi hamba yang dipuji oleh NabiMu shallallahu ‘alaihi wasallam (Pada hari kiamat tatkala mata hari didekatkan oleh Allah sehingga berjarak satu mil, sehingga manusia bercucuran keringat mereka. Pada hari tersebut tiada naungan kecuali naungan Allah, dan ada 7 golongan yang akan dinaungi oleh naungan Allah, diantaranya 🙂وشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ“Pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah” (HR Muslim)Pemuda yang menyibukkan diri dalam ibadah merupakan pemuda yang hebat, karena masa muda adalah masa-masa bersenang-senang dan dipuncak-puncaknya ingin kebebasan dan menuruti hawa nafsu.Al-Munawi rahimahullah berkata :خَصَّهُ لِكَوْنِهِ مَظِنَّةُ غَلَبَةِ الشَّهْوَةِ وَقُوَّةِ البَّاعِثِ عَلَى مُتَابَعَةِ الْهَوَى وَمُلاَزَمَةُ الْعِبَادَةِ مَعَ ذَلِكَ أَشَقُّ وَأَدَلُّ عَلَى غَلَبَةِ التَّقْوَى“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhususkan penyebutan “masa muda” karena masa muda adalah masa biasanya terkuasai oleh syahwat dan kuatnya dorongan untuk mengikuti hawa nafsu. Dan melazimi dibadah dalam kondisi demikian lebih berat dan lebih menunjukkan atas dominasi ketakwaan” (Faidul Qodiir 4/88)Bahkan Ibnu Rojab rahimahullah mengibaratkan masa muda seperti masa kegilaan, karena begitu beratnya ujian di masa tersebut. Beliau berkata :فَإِنَّ الشَّبَابَ شُعْبَةٌ مِنَ الْجُنُوْنِ، وَهُوَ دَاعٍ لِلنَّفْسِ إِلَى اسْتِيْفَاءِ الْغَرضِ مِنْ شَهوَاتِ الدُّنْيَا وَلَذَّاتِهَا الْمَحْظُوْرَةِ، فَمَنْ سَلِمَ مِنْهُ فَقَدْ سَلِمَ“Sesungguhnya masa muda adalah cabang dari kegilaan, karena masa muda menyeru jiwa untuk memuaskan kehendaknya berupa syahwat dunia keledzatannya yang terlarang. Maka barangsiapa yang selamat dari masa mudanya maka sungguh ia telah selamat” (Fathul Baari 6/46-47)Pemuda yang menyibukkan diri dengan ibadah ditengah luasnya lautan syahwat dan gemerlapnya dunia, ia adalah pemuda yang yakin bahwa Allah akan meminta pertanggung jawabannya tentang masa mudanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :لاَ تَزُوْلُ قَدَما ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَن أربع“Tidak akan bergerser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang 4 perkara…”Diantaranya kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamوَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ“Tentang masa mudanya, kemanakah ia habiskan?”Wahai para pemuda, kita semua akan diberhentikan oleh Allah untuk disidang, dan kedua kaki kita tidak akan bergeser kecuali setelah kita menjawab pertanyaan “Kemana kau habiskan masa mudamu”.Maka silahkanlah anda berbuat semaunya…silahkanlah anda memuaskan syahwat anda…silahkanlah anda berhubungan dengan wanita dan gadis yang tidak halal bagi anda sesukanya…silahkan anda membiarkan mata anda melihat hal-hal yang haram….silahkanlah jari-jari anda merangkai kata-kata manis untuk dipersembahkan kepada kekasih yang haram….Jika anda mampu menjawab pertanyaan di atas, maka silahkanlah berbuat sesuka hati….Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 13-07-1436 H / 02-05-2015 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Habib Husain Al-Atas (Pengasuh Radio RASIL), antara Syi’ah, Sunnah, atau Liberal ?!

Berikut ini beberapa kritikan terhadap ceramah Habib Husain Al-Atas –semoga Allah memberi petunjuk kepadanya-, yang disampaikan oleh beliau dalam kajian acara renungan dibawah naungan al quran dari surat Al Arof ayat 181-188 bersama ust Husin Alatas pada hari selasa tanggl 12 mei 2015 jam 08.00  dan disiarkan ulang jam 22.00 (silahkan download di https://goo.gl/k71wCL)Penulis merasa penting untuk menyampaikan kritikan ini mengingat isi ceramah beliau bertentangan dengan pokok akidah umat Islam.PERTAMA :Habib Husain meragukan keotentikan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari kitab-kitab hadits yang mashyur. Habib Husain berkata :((Kebenaran yang pasti, yang mutlak yang datang dari sisi Allah. Oleh karena itu tidak ada satu pun jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi buku-buku yang lain, bahwa buku-buku tersebut terjamin kebenarannya. Maka Allah berfirman:وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً“Kalau Al-Qur’an bukan dari Allah, niscaya mereka akan jumpai pertentangan yang amat banyak”Tidak ada nash Al-Quran maupun ucapan Nabi yang menjamin bahwa Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasai, Ad-Darimi, begitu pula Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Ibnu Abi Syaibah, musnad eee…al mush…al mush….al…mushannaf….mushannaf Ibn Abi Syaibah, Mushannaf Abdurrazaq, bahwa semua buku-buku ini terjamin kebenarannya??, sama sekali tidak ada!!. Ini dari versi ahlussnnahDari versi syiah, empat buku yang  menjadi rujukan mereka: al-kulaini al-kaafi, man laa yahduruhul faqih li As-Shaduq, kemudian at-tahdzib, yang keempat al-Istibshar yang ditulis oleh Ath-Thuusi, begitu pula buku-buku yang lain, tidak ada jaminan dari Allah maupun RasulNya bahwa buku-buku ini merupakan buku yang berisi kebenaran yang terjamin. Itu hanya klaim-klaim yang datang dari mereka-mereka yang fanatik kepada buku tersebut.Yang fanatik kepada Bukhari-nya, Muslimnya, At-Tirmidzi-nya, Abu Dawud-nya, Ibnu majahnya, begitu pula kepada Ath-thabraninya baik fis shaghir al-awsath maupun al-kabir.Begitu pula di kalangan syiah juga yang berfanatik kepada Al-Kaafi-nya, kepada ath-thuusinya, kepada ash-shaduuqnya, atau kepada al-majlisi, semua ini hadirin sekalian ucapan tanpa dasar kebenaran, tanpa dalil. Oleh karena itu jangan kita membesar-besarkan yang lain di hadapan kitab Allah.Karena buku-buku ini setelah 200 tahun baru dikenal, setelah wafatnya Nabi kita Muhammad shallallau ‘alaihi wa sallam tangan-tangan kotor, hati-hati yang munafik, yang berencana busuk terhadap Islam tidak mungkin dapat kita hindari.Kalau seandainya sebagian ulama mengatakan fulan tsiqah seorang yang jujur, fulan merupakan seorang yang cermat dan telilti, fulan merupakan seorang yang betul-betul menjaga kebersihan hidup ini, itu kan menurut penilaian manusia, bisa benar bisa salah, dan biasanya:وعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٍ، وَلَكِنَّ عَينَ السُّخْطِ تُبْدي الْمَسَاوِيَا“Pandangan mata kecintaan membuat yang buruk menjadi indah, sebaliknya pandangan kebencian akan membuat apa? Akan membuat yang indah menjadi buruk”)) Kritikan :Sangat jelas bahwa Habib Husain meragukan keotentikan hadits-hadits Nabi yang termaktub dalam kitab-kitab hadits baik dari kalangan ahlus sunnah maupun dari kalangan syi’ah. Adapun alasan yang disampaikan oleh beliau adalah :–         Karena hadits-hadits tersebut dikodifikasikan setelah 200 tahun wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam–         Kitab-kitab hadits tersebut tidak luput dari ((tangan-tangan kotor, hati-hati yang munafik, yang berencana busuk terhadap Islam tidak mungkin dapat kita hindari))–         Karena keshahihan/keotentikan hadits dibangun diatas penilaian manusia yang menyatakan “si fulan tsiqoh/cermat dan terpercaya”, dan penilaian manusia bisa saja salah, sebagaiamana perkataan Habib : ((Kalau seandainya sebagian ulama mengatakan fulan tsiqah seorang yang jujur, fulan merupakan seorang yang cermat dan telilti, fulan merupakan seorang yang betul-betul menjaga kebersihan hidup ini, itu kan menurut penilaian manusia, bisa benar bisa salah)) Pernyataan Habib ini sangatlah berbahaya karena melazimkan perkara-perkara yang batil, diantaranya : Pertama : Hadits-hadits yang ada sekarang yang termaktub dalam kitab-kitab hadits –baik versi ahlus sunnah maupun versi syi’ah- tidak bisa dijadikan pedoman ataupun rujukan, karena tidak ada jaminan kebenarannya. Konsekwensi perkataannya bahwa dalil yang diterima terbatas hanya al-Qur’an.Dan inilah pemahaman sekte sesat yang dikenal oleh para ulama dengan Al-Qur’aniyun, yaitu mereka-mereka yang menolak Hadits nabi dan hanya mau berdalil dengan al-Qur’an, dikarenakan hadits-hadits yang dikodifikasikan sekarang diragukan keotentikannya dan diragukan kebenarannya.Dan munculnya sekte sesat ini telah disinyalir oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau :أَلاَ إِنِّي أُوْتِيْتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ أَلاَ يُوْشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيْكَتِهِ يَقُوْلُ : عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَلاَلٍ فَأَحِلُّوْهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوْهُKetahuilah sesungguhnya diturunkan kepadaku Al-Quran dan yang semisalnya bersamanya (yaitu hadits)”, ketahuilah akan datang seseorang yang kenyang duduk diatas pembaringannya berkata: “Berpegang teguhlah kepada Al- Quran ini saja, semua yang kalian dapati padanya kehalalan maka halalkan dan yang kalian dapati padanya satu keharoman maka haramkanlah. [HR Ahmad 4/131 dan Abu Daud 5/11] Kedua : Usaha para ulama dalam menilai kredibilitas para perawi hadits tidak ada nilainya. Pernyataan para ulama al-Jarw wa at-Ta’dil : “Si fulan tsiqoh (terpercaya dan cermat)” sehingga diambil periwayatan haditsnya atau “Si fulan Kadzdzab (pendusta)” sehingga ditolak periwayatan haditsnya, semuanya tidak bernilai di sisi Habib Husain, dengan dalih bahwasanya ini semua hanyalah penilaian manusia.Padahal tidak ada jalan lain di kalangan para ulama ahlus sunnah (baik Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i maupun Imam Ahmad) untuk mengetahui suatu hadits bisa diterima atau ditolak kecuali dengan penilaian terhadap para perawinya. Nah kalau penilaian para ulama terhadap para perawi tidak dianggap oleh Habib Husain maka dengan cara apakah kita bisa mengetahui suatu hadits shahih atau lemah??Ataukah Habib Husain memiliki metode tersendiri dalam menilai keshahihan suatu hadits tanpat ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil (penilaian para ulama terhadap kredibilitas para perawi)?Kesimpulan yang diambil Habib Husain bahwa hadits-hadits yang ada sekarang sudah tidak bisa terjamin kebenarannya, apalagi beliau menegaskan dengan pernyataan beliau kitab-kitab hadits yang ada tidak luput dari ((tangan-tangan kotor, hati-hati yang munafik, yang berencana busuk terhadap Islam tidak mungkin dapat kita hindari)) Ketiga : Beliau mencela kefanatikan Ahlus Sunnah terhadap kitab-kitab hadits yang ada Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, dll. Ahlussunnah memang harus fanatik kepada kitab-kitab tersebut, karena pada kitab-kitab tersebutlah terdapat sabda-sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Allah berfirman :وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُواApa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. [Al-Hasyr/59:7)Lantas jika semua kitab hadits tidak terpercaya maka bagaimana kita melaksanakan perintah Allah ini. Bagaimana kita bisa mengenal dan mengetahui apa yang telah dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Demikian juga bagaimana kita bisa mengamalkan perintah Allah :لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًاSesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (          QS Al-Ahzaab : 21)Adapun jika maksud Habib bahwasanya Ahlus Sunnah fanatik kepada kitab-kitab tersebut melazimkan bahwa semua isi kitab tersebut benar, maka ini adalah tuduhan yang dusta dan diada-adakan. Tidak ada seorangpun ahlus sunnah yang berakal sehat yang menyatakan bahwa semua isi buku tersebut adalah hadits yang shahih !!!. Karena para penulis kitab-kitab hadits yang disebutkan oleh Habib Husainpun tidak pernah menyatakan bahwa semua hadits yang mereka tulis dalam kitabnya adalah shahih, kecuali Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim yang mempersyaratkan hanya menulis hadits-hadits yang shahih. Itupun ada sebagian ulama yang mengkritik segelintir kecil dari hadits-hadits mereka. Keempat : Hadits-hadits Nabi bukanlah wahyu dari Allah. Perkataan Habib ((Kebenaran yang pasti, yang mutlak yang datang dari sisi Allah. Oleh karena itu tidak ada satu pun jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi buku-buku yang lain, bahwa buku-buku tersebut terjamin kebenarannya. Maka Allah berfirman:وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً“Kalau Al-Qur’an bukan dari Allah, niscaya mereka akan jumpai pertentangan yang amat banyak”Tidak ada nash Al-Quran maupun ucapan Nabi yang menjamin bahwa Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasai, Ad-Darimi, begitu pula Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Ibnu Abi Syaibah, musnad eee…al mush…al mush….al…mushannaf….mushannaf Ibn Abi Syaibah, Mushannaf Abdurrazaq, bahwa semua buku-buku ini terjamin kebenarannya, sama sekali tidak ada)) Bantahan:Ini adalah kedustaan, bukankah Allah telah berfirman :وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣)إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (٤)Dan Tiadalah yang diucapkan oleh Muhammad itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS An-Najm : 3-4)Dari Abdullah bin ‘Amr beliau berkata :كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيدُ حِفْظَهُ، فَنَهَتْنِي قُرَيْشٌ، فَقَالُوا: إِنَّكَ تَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ تَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَشَرٌ يَتَكَلَّمُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا، فَأَمْسَكْتُ عَنِ الْكِتَابِ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالَ: «اكْتُبْ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا خَرَجَ مِنِّي إِلَّا حَقٌّ»“Aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, aku ingin menghafalkannya. Maka kaum Quraisy melarangku, mereka berkata : “Sesungguhnya engkau menulis segala sesuatu yang kau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia, ia berkata dalam kondisi marah dan dalam kondisi senang”. Maka akupun berhenti menulis, lalu aku menceritakan hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau berkata : “Tulislah, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidak ada yang keluar dariku kecuali kebenaran“ (HR Ahmad no 6510)Dan telah lalu sabda Nabiأَلاَ إِنِّي أُوْتِيْتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ“Ketahuilah sesungguhnya diturunkan kepadaku Al-Quran dan yang semisalnya bersamanya (yaitu hadits)”Lantas apa fungsinya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dikatakan sebagai ma’shuum?, beliau tidak lain disifati demikian karena hadits-hadits beliau adalah kebenaran, wahyu dari Allah.Tentu jelas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyatakan bahwa Shahih Al-Bukhari itu terjamin kebenarannya, akan tetapi Nabi telah menyatakan bahwa apa yang diucapkannya pasti benar. Nah apa yang telah diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah termaktub dalam kitab-kitab hadits.Ini semua menunjukkan bahwa pendalilan Habib dengan ayat di atas untuk menolak kitab-kitab hadits adalah pendalilan yang tidak tepat, karena hadits-hadits juga berasal dari Allah. KEDUA :Pernyataan Habib Husain:((Maka dari sini para ikhwan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. kitab yang pasti kebenarannya hanya kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan saya bersumpah atas nama Allah, inni usyhidullah wa usyhidukum jami’an anna hadza huwa al-kitab al-wahid aladzi yahtawi ‘alal haq. Saya persaksikan Allah, persaksikan kalian semua bahwa hanya ini kitab satu-satunya yang mencakup kebenaran yang tidak meragukan.ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًىYang terang benderang, tidak terdapat kegelapan di dalamnya sedikit pun dan ia lah asy-syifa’u war rahmah, dialah al-huda maka selain dari kitab suci al-quran, yang mengaku sebagai ahlussunah yang mengaku syiah dari keluarga rasul, lastum ‘alasy syai, kalian tidak berarti apa-apa hingga kalian kembali kepada kitab Allah. Khurafat-khurafat, kebohongan-kebohongan, kepalsuan yang menyebar dalam buku-buku kalian bersih.)) Bantahan :          Pernyataan Habib Husain ini hanyalah untuk menekankan akan aqidah beliau bahwasanya kitab-kitab hadits yang ada tidak bisa dipercaya karena berisi khurofat dan kebohongan serta kepalsuan.Nah yang ingin kita tanyakan kepada Habib Husain, kalau beliau hendak sholat, hendak haji, hendak membayar zakat, maka bagaimanakah caranya jika hanya bersandar kepada Al-Qur’an?Karena tata cara sholat, kapan waktu-waktunya, berapa raka’atnya, tidak dijelaskan secara rinci dalam Al-Qur’an, dan hanya dijelaskan dalam hadits-hadits Nabi.Nah bagaimana cara Habib Husain sholat kalau tidak berpedoman kepada hadits-hadits Nabi?, karena seluruh kitab hadits yang ada tidak terjamin kebenarannya. Lantas apakah Habib Husain punya kitab hadits sendiri? Sanadnya shahih tanpa ada keraguan bersambung hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?Demikian juga permasalahannya yang berkaitan dengan haji dan zakat, tidak ada perinciannya di Al-Qur’an, perinciannya terdapat dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. KETIGA :Apa Kriteria Hadits Shahih menurut Habib?Kenyataannya Habib Husain juga sering berdalil dengan hadits –meskipun ia meyakini bahwa semua kitab hadits yang ada tidak terjamin kebenarannya-. Bahkan dalam ceramah beliau ini, ternyata beliau juga menyebutkan sebuah hadits, Habib Husain berkata:((Oleh karena itu Nabi yg dikenal sebagai seorang yg berjiwa penuh dgn  rahmat, airmata berlinang linang ketika menyaksikan seorang yahudi yang mati yang digiring jenazahnya menuju pekuburannya, Nabi bercucuran aitmata mengatakan : “Satu orang lagi telah lolos masuk kedalam api neraka dan saya tdk berdaya untuk menyelamatkan dirinya”))Hadits yang disebutkan oleh Habib ini ngomong-ngomong dari kitab hadits yang mana? Apakah dari kitab-kitab hadits versi Ahlus Sunnah yang dinilai cacat oleh Habib, ataukah dari kitab-kitab hadits versi Syi’ah?. Lantas bagaimana kedudukan para perawi hadits ini?, bagaimana penilaian para ulama tentang para perawi tersebut.Ataukah sangat jelas bahwa ini adalah hadits palsu?, jika hadits ini hadits palsu kok bisa diniali shahih menurut Habib Husain sehingga dijadikan dalil?. Apa sih ilmu Habib Husain untuk mengetahui keshahihan suatu hadits?Maka sungguh aneh jika Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim ditolak oleh Habib, akan tetapi hadits palsu dijadikan dalil ??? KEEMPAT :Tafsir Al-Qur’an versi Habib HusainHabib Husain sepertinya berniat baik, ingin agar pertikaian diantara ahlus sunnah dan syi’ah selesai. Meskipun solusi yang beliau tawarkan adalah solusi aneh dan mustahil. Yaitu meninggalkan kitab-kitab hadits versi ahlus sunnah dan versi syi’ah, lalu kembali kepada Al-Qur’an saja yang jelas kebenarannya.Maka taruhlah kita setuju dengan solusi yang ditawarkan oleh Habib Husain, maka yang jadi pertanyaan : Jika kita kembali kepada Al-Qur’an lantas versi pemahaman dan tafsir al-Qur’an tersebut ikut versi yang mana?, apakah ikut versi ahlus sunnah?, ataukah versi Syi’ah?, ataukah Habib Husain akan membuat versi tafsir sendiri.Berikut ini contoh tafsir Habib Husain terhadap sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang beliau sampaikan dalam ceramah di atas.((inilah nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dia tidak mengatakan kamu celaka, neraka, sesat, kafir…tapi datang kepada mereka, mengajak kembali kepada Allah, membacakan ayat ayat Allah ta’ala, bila ditolak dicaci dimaki dia bersabar dan besok akan mendatanginya lagi untuk kembali kpd Allah,.bukan tugas nabi untuk menghakimi mereka,..bukan tugas mereka pula untuk menghakimi nabi,مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍbukan tugas kamu untuk apa? Untuk menghisab mereka…وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍbegitu pula bukan tugas mereka untuk menghisab kamu… (QS Al-An’aam : 52)saya seorang yang tidak lepas dari kesalahan,ketergelinciran,..yang tidak luput dari dosa,.dari hal hal yg busuk yang Allah tutupi,..tugas saya bukan mengadili manusia,..tugas saya hanya seorang  menyampaikan pesan pesan yang datang dr Allah,..dgn menyampaikan pesan ini))Lihatlah dalam pernyataan di atas, Habib Husain menafsirkan ayat diatas (QS Al-An’aam : 52) dengan larangan untuk menghukum orang lain. Sehingga beliau menyatakan bahwa Nabi tidak pernah memvonis celaka, neraka, sesat, dan kafir. Bukan tugas Nabi untuk menghukum dan memvonis mereka.)) Komentar:Ini sebenarnya tafsiran yang sangat aneh dan bertentangan dengan ayat-ayat yang lain dan juga hadits hadits yang shahih. Untuk lebih jelasnya berikut saya sampaikan terjemah ayat tersebut selengkapnya versi Depag :وَلا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ (٥٢)Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu Termasuk orang-orang yang zalim) (QS Al-An’aam : 52)“Ketika Rasulullah s.a.w. sedang duduk-duduk bersama orang mukmin yang dianggap rendah dan miskin oleh kaum Quraisy, datanglah beberapa pemuka Quraisy hendak bicara dengan Rasulullah, tetapi mereka enggan duduk bersama mukmin itu, dan mereka mengusulkan supaya orang-orang mukmin itu diusir saja, lalu turunlah ayat ini” (Lihat catatan kaki ayat ini pada terjemahan versi Depag)Karenanya sangat jelas bahwa yang dinafikan oleh Allah bukanlah menghukum atau memvonis akan tetapi yang dinafikan oleh Allah adalah hisab, yaitu penilaian mereka di akhirat, yaitu bahwasanya pertanggungjawaban hisab mereka adalah di tangan Allah.Ayat ini sama seperti firman Allah :قَالُوا أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الأرْذَلُونَ (١١١)قَالَ وَمَا عِلْمِي بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١١٢)إِنْ حِسَابُهُمْ إِلا عَلَى رَبِّي لَوْ تَشْعُرُونَ (١١٣)وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الْمُؤْمِنِينَ (١١٤)Mereka berkata: “Apakah Kami akan beriman kepadamu, Padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?”. Nuh menjawab: “Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. (QS Asy-Syu’aroo’ : 111-114)Adapun menafsirkan lafal “hisab” dengan “larangan memvonis/menghukum” maka jelas ini adalah penafsiran batil yang disebutkan oleh orang-orang yang berpemikiran Liberal, yang menyatakan bahwa semua agama adalah sama, tidak boleh umat Islam memvonis umat yang lain dengan kufur atau neraka.Padahal dalam al-Qur’an banyak sekali ayat yang memvonis kaum Nasrani dan Yahudi sebagai kuffaar dan di neraka jahannam.Seperti firman Allah :لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (٧٢)Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam”, Padahal Al masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maidah : 72)لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٧٣)Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (QS AL-Maidah : 74)إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ (٦)Sesungguhnya orang-orang yang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS Al-Bayyinah : 6)Lihatlah dalam ayat-ayat di atas Allah memvonis kaum musyrikin dan kaum ahlul kitab (Yahudi dan Nashoro) sebagai kaum kuffar dan tempat mereka di neraka jahannam.Dan bukankah setiap kali Habib Husain sholat selalu membaca firman Allahصِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧)(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS Al-Fatihah : 7)Para mufassirin telah sepakat bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang dimurkai oleh Allah adalah kaum Yahudi, dan orang-orang yang sesat adalah kaum Nashoro. Perhatikanlah pada ayat ini Allah memvonis sesat dan dimurkai Allah.Apalagi kalau meilhat hadits-hadits Nabi tentang hal memvonis maka sungguh sangat banyak sekali. Baik pada hadits-hadits yang shahih maupun hadits-hadits yang palsu. Yang menakjubkan adalah Habib Husain melarang memvonis akan tetapi justru beliau menyebut hadits palsu tentang Nabi memvonis seorang Yahudi yang meninggal masuk neraka. Sebagaimana perkataan Habib :((Oleh karena itu nabi yg dikenal sebagai seorang yang berjiwa penuh dengan  rahmat, airmata berlinang linang ketika menyaksikan seorang yahudi yang mati yang digiring jenazahnya menuju pekuburannya, Nabi bercucuran aitmata mengatakan : “Satu orang lagi telah lolos masuk kedalam api neraka dan saya tdk berdaya untuk menyelamatkan dirinya“)) Komentar:Saya kawatir Habib Husain telah terkontaminasi dengan pemikiran-pemikiran Kaum JIL.          Nah jika Habib Husain dalam menerjemahkan dan menafsirkan ayat di atas telah keliru, terus bagaimana beliau mau mengajak umat ini untuk meninggalkan kitab-kitab hadits dan hanya bersandar kepada Al-Qur’an?. Maka pertanyaan yang sangat mendasar adalah Al-Qur’an terjemahan dan tafsir versi siapakah yang anda pilih wahai Habib Husain? Apakah versi anda yang keliru begini? Atau versi pafa mufassir ahlus sunnah ataukah versi para mufassir syi’ah, ataukah versi para mufassir JIL?? KELIMA :Habib Husain justru memvonis bahkan menuduh !! Habib Husain menyampaikan kata-kata indah bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam anti memvonis orang lain, baik vonis neraka, atau celaka, atau sesat, atau kafir. Dan Habib Husain mengaku mengikuti metode Nabi, dimana beliau anti memvonis. Habib Husain berkata:((saya seorang yang tidak lepas dari kesalahan, ketergelinciran,..yang tidak luput dari dosa,. dari hal hal yg busuk yang Allah tutupi,..tugas saya bukan mengadili manusia,..tugas saya hanya seorang  menyampaikan pesan pesan yang datang dr Allah,..dgn menyampaikan pesan ini)) Komentar.Ini pernyataan Habib Husain, akan tetapi kenyataannya beliau memvonis Salafy dengan vonis-vonis dan tuduhan yang sangat mengerikan. Berikut diantara vonis-vonis dan tuduhan beliau dalam ceramah diatas: Pertama : Salafy Wahabi lebih mengagungkan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Habib Husain berkata:((Oleh karena itu yang lucu hadirin sekalian dari sebagian ulama-ulama salafi wahabi ini, kita jumpai bagaimana semua peninggalan rasul, peninggalan para sahabat dan keluarga rasulnya, di mekah di madinah dibersihkan disingkirkan dengan alasan dikhawatirkan akan menjerumuskan orang ke dalam syirik. Tapi yang mengherankan, mereka mendirikan museum bagi tokoh mereka yaitu Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin di Riyadh. Mendirikan museum yang besar, dalam museum tersebut disebutkan ini merupakan kacamata yang dipergunakan oleh Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, ini merupakan pena terakhir yang digunakan oleh beliau, ini merupakan peninggalannya, ini merupakan peninggalannya dibuat museum diletakan di tempat yang betul-betul indah. Kita gak menentang hal ini, gak mengatakan bahwa hal ini merupakan perbuatan bidah. Yang mengherankan, kenapa terhadap rasul, terhadap keluarga para sahabatnya, mereka habisi semua situs sejarah dan peninggalan mereka. Siapa yang ingin lebih jelas lagi coba buka museum muhammad shalih al-utsaimin atau muthaf Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.Bentuk yang indah yang menampung sekian banyak peninggalan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin yang meninggal belum lama ini, beliau merupakan rekan dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Para pengikutnya menjunjungnya mengangungkannya bahkan lebih daripada rasul. Kalau rasul, mereka sebutkan sekian banyak kekurangannya, cacatnya, bahkan mereka menisbatkan hal yang tidak pantas kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)) Kritikan :          Pernyataan terakhir Habib Husain yang saya garis bawahi melazimkan para salafy wahabi adalah orang-orang kafir dan munafik. Bagaimana tidak kafir, ternyata mereka lebih mengagungkan Syaikh Al-‘Utsaimin daripada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan sungguh ini adalah adalah tuduhan keji dan dusta. Apalagi menuduh salafy wahabi suka menyebutkan banyak kekurangan nabi, menyebutkan cacat nabi, dan menisbahkan yang tidak pantas kepada Nabi. Sungguh ini merupakan kekafiran yang nyata. Penyataan dan tuduhan Habib Husain ini melazimkan kekafiran salafy wahabi. Akan tetapi tuduhan ini harus ada buktinya !!! Saya mohon Habib Husain mau mendatangkan buktinya bukan hanya menyampaikan kedustaan !!.Diantara kedustaan Habib Husain, bahwasanya beliau menyatakan bahwa di kota Riyadh Ibu kota Arab Saudi dibangun Muthaf (Museum) Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah. Ini jelas kedustaan. Karena tidak ada museum Syaikh Al-Utsaimin, apalagi dibangun di kota Riyadh ibu kota Arab Saudi. Yang benar adalah telah dibangun Yayasan Sosial Syaikh Al-Utsaimin, dan dibangun di kota kediaman beliau yaitu di Unaizah. Dan Yayasan sosial ini bukanlah museum sebagaimana tuduhan Habib, karenanya Yayasan ini bergerak dalam bidang-bidang kebaikan seperti–         Membangun mesjid–         Membantu faqir miskin, anak yatim, dan para janda–         Membantu yayasan-yayasan tahfidz al-Qur’an–         Memperhatikan para penuntut ilmu–         dll (silahkan lihat di http://www.ibnothaimeen.com/all/Charity.shtml)Dinamakan yayasan tersebut dengan nama Syaikh al-Utsaimin karena tujuan utama pembangunan yayasan ini adalah untuk menyebarkan karya-karya ilmiyah dari kitab-kitab syaikh al-Utsaimin, ceramah-ceramah beliau, dan fatwa-fatwa beliau.Adapun di dalam yayasan tersebut mungkin pena ada syaikh dan yang semisalnya maka jika itu benar maka itu merupakan kenang-kenangan yang mungkin disimpan oleh para ahli waris beliau, dan belum tentu diridoi oleh beliau. Dan barang kenangan tersebut bukan untuk dicari keberkahannya sama sekali, tetapi hanya dipajang untuk kenangan. Kalaupun ini merupakan kesalahan maka toh sudah ada yang mengingkari, dan bukanlah perkara yang dibesar-besarkan dan disebarkan agar orang-orang mengunjungi yayasan ini dalam rangka mencari berkah dari benda-benda tersebut.Jadi Habib Husain telah mengesankan bahwa kerajaan Arab Saudi yang membangun museum, padahal yang dibangun adalah yayasan sosial dan yang membangunnya adalah pihak swasta. Kedua : Habib Husain menuduh bahwa Salafy Wahabi dan Habib Tasawwuf membantah syi’ah karena uang bukan karena kebenaran. Habib Husain berkata:((Saya jumpai hadirin sekalian hal yang amat lucu,kalangan habaib dan kyai kyai yang condong kearah tasawuf yang antipati terhadap kelompok salafy wahabi,… bahkan dimata mereka salafy wahabi sesat, kemudian kelompok salafy wahabi juga menganggap habaib dan kyai kyai ini merupakan ahli bid’ah, sesat, musyrik, ini menurut mereka, buku buku mereka menjadi saksi, tapi yang heran mereka bisa bersatu bersama sama, bisa bersatu dalam satu wadah, bersama sama untuk berperang memusuhi syi’ah , ini mengherankan, apa? Uang yang menyatukan mereka, kepentingan yang menyatukan mereka,bukan kebenaran)) Kritikan;          Ini juga merupakan tuduhan yang keji, memvonis bahwasanya para habib dan juga salafy wahabi hanya mencari duit dalam membantah syi’ah. Tolong tunjukan bukti wahai Habib, bukan hanya sekedar menuduh !!. Kedudukan anda sebagai Habib jauh lebih tinggi dari perbuatan menuduh tanpa bukti !!Yang menjadi pertanyaan : Kenapa Habib Husain sewot dan risih jika salafy dan para habib bersatu membantah syi’ah?Apakah Habib Husain tidak suka Syi’ah dibantah dan diungkap kesesatannya? Ada apa gerangan wahai Habib Husain? Ketiga : Habib Husain memvonis Kerajaan Arab Saudi yang mengurus dua kota suci Mekah dan Madinah sebagai orang-orang yang telah menodai kehormatan Mekah, dan melakukan kerusakan di atas muka bumi. Habib Husain berkata:((oleh karena itu kita berharap, mudah mudahan kota suci Mekah dibersihkan disucikan dari orang orang yang menodai kehormatannya,orang orang yang melakukan kerusakan diatas muka bumi ini, kembali ketangan orang orang yang beriman yang bertaqwa)) Kritikan :          Ini adalah tuduhan yang sangat keji terhadap pemerintah Arab Saudi. Dan kita katakan kepada Habib sebuah syair yang disebutkan oleh Habib dalam ceramahnya, Habib Husain berkata  :وعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٌ، وَلَكِنَّ عَينَ السُّخْطِ تُبْدي الْمَسَاوِيَا“Pandangan mata kecintaan membuat yang buruk menjadi indah, sebaliknya pandangan kebencian akan membuat apa? Akan membuat yang indah menjadi buruk”Habib Husain hanya melihat dengan pandangan buruk sehingga semua kebaikan Arab Saudi terlupakan. Bahkan dengan berani memvonis Arab Saudi sebagai orang-orang yang telah menodai kehormatan Mekah dan telah melakukan kerusakan di atas muka bumi.Tidak seorang salafy pun bahkan tidak seorang yang berakalpun yang menyatakan bahwa Arab Saudi bebas dari kesalahan. Arab Saudi tentu memiliki kesalahan-kesalahan, akan tetapi kebaikan mereka terlalu jauh lebih banyak dari pada kesalahan yang ada. Minimal kebaikan mereka adalah Menjaga kesucian dua kota suci (bukan menodainya sebagaimana tuduhan Habib).Dan sungguh luar biasa harta yang telah dikeluarkan oleh Arab Saudi untuk mengadakan perluasan dua mesjid, yang semua itu adalah untuk kepentingan kaum muslimin di seluruh muka bumi agar lebih nyaman beribadah di Mekah dan Madinah.Adapun tuduhan Habib Husain:((Oleh karena itu yang lucu hadirin sekalian dari sebagian ulama-ulama salafi wahabi ini, kita jumpai bagaimana semua peninggalan rasul, peninggalan para sahabat dan keluarga rasulnya, di mekah di madinah dibersihkan disingkirkan))Saya harap Habib Husain kembali meninjau kembali tuduhan ini. Tentunya pemerintah Arab Saudi tatkala memperluas mesjid maka pasti ada areal rumah para sahabat, areal rumah istri-istri Nabi yang dihancurkan. Kalau seandainya rumah para sahabat dan keluarga Rasulullah di Madinah harus dibiarkan maka bagaimana cara perluasan mesjid Nabawi???Dan situs-situs sejarah masih banyak yang dijaga oleh Arab Saudi, seperti mesjid Quba’, mesjid Qiblatain, Mesjid Jum’at, Mesjid Ijabah, bahkan baru saja dibangun Mesjid Khondak, demikian juga sekarang sedang dibangun mesjid besar di uhud dekat Syuhada’ uhud.Demikian juga di Mekah, tempat kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih dibangun perpustakaan.Lagi pula Nabi sendiri tatkala ke Mekah beliau tidak ingin singgah ke rumahnya yang dulu apalagi merebut kembali.عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدِ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنْزِلُ فِى دَارِكَ بِمَكَّةَ فَقَالَ « وَهَلْ تَرَكَ لَنَا عَقِيلٌ مِنْ رِبَاعٍ أَوْ دُورٍ ». وَكَانَ عَقِيلٌ وَرِثَ أَبَا طَالِبٍ هُوَ وَطَالِبٌ وَلَمْ يَرِثْهُ جَعْفَرٌ وَلاَ عَلِىٌّ شَيْئًا لأَنَّهُمَا كَانَا مُسْلِمَيْنِ وَكَانَ عَقِيلٌ وَطَالِبٌ كَافِرَيْنِDari Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhuma, beliau bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah anda akan singgah di rumahmu di Mekah?’ Beliau bersabda, “Apakah Aqil masih meninggalkan rumah untuk kami.”Aqil yang menjadi ahli waris Abu Thalib bersama si Thalib. Sementara Ja’far dan Ali tidak mendapatkan warisan apapun, karena keduannya muslim. Aqil dan Thalib orang kafir. (HR. Bukhari 1588, Muslim 3360, dan Ibn Majah 2834).Ketika fathu Mekah, tanah negeri itu menjadi kekuasaan kaum muslimin. Kendati demikian, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak mempedulikan rumah kelahiran atau tanah beliau. Beliau juga tidak mengupayakan pelestarian tempat-tempat bersejarah itu. Beliau tidak merawat rumah kelahiran beliau, atau merawat gua hira, atau gua tsur, sama sekali tidak.Ini menunjukkan bahwa dakwah beliau dan para sahabat, tidak memiliki kepentingan dengan tempat-tempat semacam ini.Karena itu, jika ada yang beranggapan, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat menyerang kota Mekah untuk merebut kembali tanah kelahiran mereka, ini berarti suudzan kepada beliau dan sahabat.(silahkan baca  http://www.konsultasisyariah.com/rumah-nabi-jadi-wc-umum/)Adapun kebaikan-kebaikan Arab Saudi bagi dunia Islam maka sungguh sangat banyak sekali, namun memang jarang terpublikasi. Diantaranya silahkan baca http://www.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/15/03/28/nlwxib-wajah-humanis-saudi          Jika mata Habib Husain tidak bisa melihat kebaikan-kebaikan Arab Saudi negeri Salafy, maka tidak ada salahnya jika mata Habib Husain terbuka untuk mampu melihat jasa-jasa Negara Iran negerinya kaum Syi’ah. Diantara jasa-jasa Iran adalah :–         Menyebarkan narkoba di penjuru dunia diantaranya di tanah air Indonesia (silahkan lihat http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/06/27/58074/Iran-Pemasok-Narkotika-Terbesar-ke-Indonesia, lihat juga http://www.konsultasisyariah.com/narkoba-iran/)–         Menyebarkan kedustaan tentang Arab Saudi di tanah air agar menanamkan kebencian terhadap umat Islam di Arab Saudi (silahkan lihat https://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/340-koleksi-dusta-pemerintah-iran)–         Tersebarnya aids karena terlalu sering mut’ah/nikah kontrak gonta ganti pasangan. (Silahkan lihat http://www.merdeka.com/dunia/penderita-aids-di-iran-melonjak-tajam.html) Bersambung… insya Allah…Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 27-07-1436 H / 16-05-2015 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com

Habib Husain Al-Atas (Pengasuh Radio RASIL), antara Syi’ah, Sunnah, atau Liberal ?!

Berikut ini beberapa kritikan terhadap ceramah Habib Husain Al-Atas –semoga Allah memberi petunjuk kepadanya-, yang disampaikan oleh beliau dalam kajian acara renungan dibawah naungan al quran dari surat Al Arof ayat 181-188 bersama ust Husin Alatas pada hari selasa tanggl 12 mei 2015 jam 08.00  dan disiarkan ulang jam 22.00 (silahkan download di https://goo.gl/k71wCL)Penulis merasa penting untuk menyampaikan kritikan ini mengingat isi ceramah beliau bertentangan dengan pokok akidah umat Islam.PERTAMA :Habib Husain meragukan keotentikan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari kitab-kitab hadits yang mashyur. Habib Husain berkata :((Kebenaran yang pasti, yang mutlak yang datang dari sisi Allah. Oleh karena itu tidak ada satu pun jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi buku-buku yang lain, bahwa buku-buku tersebut terjamin kebenarannya. Maka Allah berfirman:وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً“Kalau Al-Qur’an bukan dari Allah, niscaya mereka akan jumpai pertentangan yang amat banyak”Tidak ada nash Al-Quran maupun ucapan Nabi yang menjamin bahwa Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasai, Ad-Darimi, begitu pula Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Ibnu Abi Syaibah, musnad eee…al mush…al mush….al…mushannaf….mushannaf Ibn Abi Syaibah, Mushannaf Abdurrazaq, bahwa semua buku-buku ini terjamin kebenarannya??, sama sekali tidak ada!!. Ini dari versi ahlussnnahDari versi syiah, empat buku yang  menjadi rujukan mereka: al-kulaini al-kaafi, man laa yahduruhul faqih li As-Shaduq, kemudian at-tahdzib, yang keempat al-Istibshar yang ditulis oleh Ath-Thuusi, begitu pula buku-buku yang lain, tidak ada jaminan dari Allah maupun RasulNya bahwa buku-buku ini merupakan buku yang berisi kebenaran yang terjamin. Itu hanya klaim-klaim yang datang dari mereka-mereka yang fanatik kepada buku tersebut.Yang fanatik kepada Bukhari-nya, Muslimnya, At-Tirmidzi-nya, Abu Dawud-nya, Ibnu majahnya, begitu pula kepada Ath-thabraninya baik fis shaghir al-awsath maupun al-kabir.Begitu pula di kalangan syiah juga yang berfanatik kepada Al-Kaafi-nya, kepada ath-thuusinya, kepada ash-shaduuqnya, atau kepada al-majlisi, semua ini hadirin sekalian ucapan tanpa dasar kebenaran, tanpa dalil. Oleh karena itu jangan kita membesar-besarkan yang lain di hadapan kitab Allah.Karena buku-buku ini setelah 200 tahun baru dikenal, setelah wafatnya Nabi kita Muhammad shallallau ‘alaihi wa sallam tangan-tangan kotor, hati-hati yang munafik, yang berencana busuk terhadap Islam tidak mungkin dapat kita hindari.Kalau seandainya sebagian ulama mengatakan fulan tsiqah seorang yang jujur, fulan merupakan seorang yang cermat dan telilti, fulan merupakan seorang yang betul-betul menjaga kebersihan hidup ini, itu kan menurut penilaian manusia, bisa benar bisa salah, dan biasanya:وعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٍ، وَلَكِنَّ عَينَ السُّخْطِ تُبْدي الْمَسَاوِيَا“Pandangan mata kecintaan membuat yang buruk menjadi indah, sebaliknya pandangan kebencian akan membuat apa? Akan membuat yang indah menjadi buruk”)) Kritikan :Sangat jelas bahwa Habib Husain meragukan keotentikan hadits-hadits Nabi yang termaktub dalam kitab-kitab hadits baik dari kalangan ahlus sunnah maupun dari kalangan syi’ah. Adapun alasan yang disampaikan oleh beliau adalah :–         Karena hadits-hadits tersebut dikodifikasikan setelah 200 tahun wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam–         Kitab-kitab hadits tersebut tidak luput dari ((tangan-tangan kotor, hati-hati yang munafik, yang berencana busuk terhadap Islam tidak mungkin dapat kita hindari))–         Karena keshahihan/keotentikan hadits dibangun diatas penilaian manusia yang menyatakan “si fulan tsiqoh/cermat dan terpercaya”, dan penilaian manusia bisa saja salah, sebagaiamana perkataan Habib : ((Kalau seandainya sebagian ulama mengatakan fulan tsiqah seorang yang jujur, fulan merupakan seorang yang cermat dan telilti, fulan merupakan seorang yang betul-betul menjaga kebersihan hidup ini, itu kan menurut penilaian manusia, bisa benar bisa salah)) Pernyataan Habib ini sangatlah berbahaya karena melazimkan perkara-perkara yang batil, diantaranya : Pertama : Hadits-hadits yang ada sekarang yang termaktub dalam kitab-kitab hadits –baik versi ahlus sunnah maupun versi syi’ah- tidak bisa dijadikan pedoman ataupun rujukan, karena tidak ada jaminan kebenarannya. Konsekwensi perkataannya bahwa dalil yang diterima terbatas hanya al-Qur’an.Dan inilah pemahaman sekte sesat yang dikenal oleh para ulama dengan Al-Qur’aniyun, yaitu mereka-mereka yang menolak Hadits nabi dan hanya mau berdalil dengan al-Qur’an, dikarenakan hadits-hadits yang dikodifikasikan sekarang diragukan keotentikannya dan diragukan kebenarannya.Dan munculnya sekte sesat ini telah disinyalir oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau :أَلاَ إِنِّي أُوْتِيْتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ أَلاَ يُوْشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيْكَتِهِ يَقُوْلُ : عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَلاَلٍ فَأَحِلُّوْهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوْهُKetahuilah sesungguhnya diturunkan kepadaku Al-Quran dan yang semisalnya bersamanya (yaitu hadits)”, ketahuilah akan datang seseorang yang kenyang duduk diatas pembaringannya berkata: “Berpegang teguhlah kepada Al- Quran ini saja, semua yang kalian dapati padanya kehalalan maka halalkan dan yang kalian dapati padanya satu keharoman maka haramkanlah. [HR Ahmad 4/131 dan Abu Daud 5/11] Kedua : Usaha para ulama dalam menilai kredibilitas para perawi hadits tidak ada nilainya. Pernyataan para ulama al-Jarw wa at-Ta’dil : “Si fulan tsiqoh (terpercaya dan cermat)” sehingga diambil periwayatan haditsnya atau “Si fulan Kadzdzab (pendusta)” sehingga ditolak periwayatan haditsnya, semuanya tidak bernilai di sisi Habib Husain, dengan dalih bahwasanya ini semua hanyalah penilaian manusia.Padahal tidak ada jalan lain di kalangan para ulama ahlus sunnah (baik Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i maupun Imam Ahmad) untuk mengetahui suatu hadits bisa diterima atau ditolak kecuali dengan penilaian terhadap para perawinya. Nah kalau penilaian para ulama terhadap para perawi tidak dianggap oleh Habib Husain maka dengan cara apakah kita bisa mengetahui suatu hadits shahih atau lemah??Ataukah Habib Husain memiliki metode tersendiri dalam menilai keshahihan suatu hadits tanpat ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil (penilaian para ulama terhadap kredibilitas para perawi)?Kesimpulan yang diambil Habib Husain bahwa hadits-hadits yang ada sekarang sudah tidak bisa terjamin kebenarannya, apalagi beliau menegaskan dengan pernyataan beliau kitab-kitab hadits yang ada tidak luput dari ((tangan-tangan kotor, hati-hati yang munafik, yang berencana busuk terhadap Islam tidak mungkin dapat kita hindari)) Ketiga : Beliau mencela kefanatikan Ahlus Sunnah terhadap kitab-kitab hadits yang ada Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, dll. Ahlussunnah memang harus fanatik kepada kitab-kitab tersebut, karena pada kitab-kitab tersebutlah terdapat sabda-sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Allah berfirman :وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُواApa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. [Al-Hasyr/59:7)Lantas jika semua kitab hadits tidak terpercaya maka bagaimana kita melaksanakan perintah Allah ini. Bagaimana kita bisa mengenal dan mengetahui apa yang telah dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Demikian juga bagaimana kita bisa mengamalkan perintah Allah :لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًاSesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (          QS Al-Ahzaab : 21)Adapun jika maksud Habib bahwasanya Ahlus Sunnah fanatik kepada kitab-kitab tersebut melazimkan bahwa semua isi kitab tersebut benar, maka ini adalah tuduhan yang dusta dan diada-adakan. Tidak ada seorangpun ahlus sunnah yang berakal sehat yang menyatakan bahwa semua isi buku tersebut adalah hadits yang shahih !!!. Karena para penulis kitab-kitab hadits yang disebutkan oleh Habib Husainpun tidak pernah menyatakan bahwa semua hadits yang mereka tulis dalam kitabnya adalah shahih, kecuali Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim yang mempersyaratkan hanya menulis hadits-hadits yang shahih. Itupun ada sebagian ulama yang mengkritik segelintir kecil dari hadits-hadits mereka. Keempat : Hadits-hadits Nabi bukanlah wahyu dari Allah. Perkataan Habib ((Kebenaran yang pasti, yang mutlak yang datang dari sisi Allah. Oleh karena itu tidak ada satu pun jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi buku-buku yang lain, bahwa buku-buku tersebut terjamin kebenarannya. Maka Allah berfirman:وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً“Kalau Al-Qur’an bukan dari Allah, niscaya mereka akan jumpai pertentangan yang amat banyak”Tidak ada nash Al-Quran maupun ucapan Nabi yang menjamin bahwa Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasai, Ad-Darimi, begitu pula Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Ibnu Abi Syaibah, musnad eee…al mush…al mush….al…mushannaf….mushannaf Ibn Abi Syaibah, Mushannaf Abdurrazaq, bahwa semua buku-buku ini terjamin kebenarannya, sama sekali tidak ada)) Bantahan:Ini adalah kedustaan, bukankah Allah telah berfirman :وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣)إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (٤)Dan Tiadalah yang diucapkan oleh Muhammad itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS An-Najm : 3-4)Dari Abdullah bin ‘Amr beliau berkata :كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيدُ حِفْظَهُ، فَنَهَتْنِي قُرَيْشٌ، فَقَالُوا: إِنَّكَ تَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ تَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَشَرٌ يَتَكَلَّمُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا، فَأَمْسَكْتُ عَنِ الْكِتَابِ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالَ: «اكْتُبْ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا خَرَجَ مِنِّي إِلَّا حَقٌّ»“Aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, aku ingin menghafalkannya. Maka kaum Quraisy melarangku, mereka berkata : “Sesungguhnya engkau menulis segala sesuatu yang kau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia, ia berkata dalam kondisi marah dan dalam kondisi senang”. Maka akupun berhenti menulis, lalu aku menceritakan hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau berkata : “Tulislah, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidak ada yang keluar dariku kecuali kebenaran“ (HR Ahmad no 6510)Dan telah lalu sabda Nabiأَلاَ إِنِّي أُوْتِيْتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ“Ketahuilah sesungguhnya diturunkan kepadaku Al-Quran dan yang semisalnya bersamanya (yaitu hadits)”Lantas apa fungsinya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dikatakan sebagai ma’shuum?, beliau tidak lain disifati demikian karena hadits-hadits beliau adalah kebenaran, wahyu dari Allah.Tentu jelas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyatakan bahwa Shahih Al-Bukhari itu terjamin kebenarannya, akan tetapi Nabi telah menyatakan bahwa apa yang diucapkannya pasti benar. Nah apa yang telah diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah termaktub dalam kitab-kitab hadits.Ini semua menunjukkan bahwa pendalilan Habib dengan ayat di atas untuk menolak kitab-kitab hadits adalah pendalilan yang tidak tepat, karena hadits-hadits juga berasal dari Allah. KEDUA :Pernyataan Habib Husain:((Maka dari sini para ikhwan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. kitab yang pasti kebenarannya hanya kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan saya bersumpah atas nama Allah, inni usyhidullah wa usyhidukum jami’an anna hadza huwa al-kitab al-wahid aladzi yahtawi ‘alal haq. Saya persaksikan Allah, persaksikan kalian semua bahwa hanya ini kitab satu-satunya yang mencakup kebenaran yang tidak meragukan.ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًىYang terang benderang, tidak terdapat kegelapan di dalamnya sedikit pun dan ia lah asy-syifa’u war rahmah, dialah al-huda maka selain dari kitab suci al-quran, yang mengaku sebagai ahlussunah yang mengaku syiah dari keluarga rasul, lastum ‘alasy syai, kalian tidak berarti apa-apa hingga kalian kembali kepada kitab Allah. Khurafat-khurafat, kebohongan-kebohongan, kepalsuan yang menyebar dalam buku-buku kalian bersih.)) Bantahan :          Pernyataan Habib Husain ini hanyalah untuk menekankan akan aqidah beliau bahwasanya kitab-kitab hadits yang ada tidak bisa dipercaya karena berisi khurofat dan kebohongan serta kepalsuan.Nah yang ingin kita tanyakan kepada Habib Husain, kalau beliau hendak sholat, hendak haji, hendak membayar zakat, maka bagaimanakah caranya jika hanya bersandar kepada Al-Qur’an?Karena tata cara sholat, kapan waktu-waktunya, berapa raka’atnya, tidak dijelaskan secara rinci dalam Al-Qur’an, dan hanya dijelaskan dalam hadits-hadits Nabi.Nah bagaimana cara Habib Husain sholat kalau tidak berpedoman kepada hadits-hadits Nabi?, karena seluruh kitab hadits yang ada tidak terjamin kebenarannya. Lantas apakah Habib Husain punya kitab hadits sendiri? Sanadnya shahih tanpa ada keraguan bersambung hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?Demikian juga permasalahannya yang berkaitan dengan haji dan zakat, tidak ada perinciannya di Al-Qur’an, perinciannya terdapat dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. KETIGA :Apa Kriteria Hadits Shahih menurut Habib?Kenyataannya Habib Husain juga sering berdalil dengan hadits –meskipun ia meyakini bahwa semua kitab hadits yang ada tidak terjamin kebenarannya-. Bahkan dalam ceramah beliau ini, ternyata beliau juga menyebutkan sebuah hadits, Habib Husain berkata:((Oleh karena itu Nabi yg dikenal sebagai seorang yg berjiwa penuh dgn  rahmat, airmata berlinang linang ketika menyaksikan seorang yahudi yang mati yang digiring jenazahnya menuju pekuburannya, Nabi bercucuran aitmata mengatakan : “Satu orang lagi telah lolos masuk kedalam api neraka dan saya tdk berdaya untuk menyelamatkan dirinya”))Hadits yang disebutkan oleh Habib ini ngomong-ngomong dari kitab hadits yang mana? Apakah dari kitab-kitab hadits versi Ahlus Sunnah yang dinilai cacat oleh Habib, ataukah dari kitab-kitab hadits versi Syi’ah?. Lantas bagaimana kedudukan para perawi hadits ini?, bagaimana penilaian para ulama tentang para perawi tersebut.Ataukah sangat jelas bahwa ini adalah hadits palsu?, jika hadits ini hadits palsu kok bisa diniali shahih menurut Habib Husain sehingga dijadikan dalil?. Apa sih ilmu Habib Husain untuk mengetahui keshahihan suatu hadits?Maka sungguh aneh jika Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim ditolak oleh Habib, akan tetapi hadits palsu dijadikan dalil ??? KEEMPAT :Tafsir Al-Qur’an versi Habib HusainHabib Husain sepertinya berniat baik, ingin agar pertikaian diantara ahlus sunnah dan syi’ah selesai. Meskipun solusi yang beliau tawarkan adalah solusi aneh dan mustahil. Yaitu meninggalkan kitab-kitab hadits versi ahlus sunnah dan versi syi’ah, lalu kembali kepada Al-Qur’an saja yang jelas kebenarannya.Maka taruhlah kita setuju dengan solusi yang ditawarkan oleh Habib Husain, maka yang jadi pertanyaan : Jika kita kembali kepada Al-Qur’an lantas versi pemahaman dan tafsir al-Qur’an tersebut ikut versi yang mana?, apakah ikut versi ahlus sunnah?, ataukah versi Syi’ah?, ataukah Habib Husain akan membuat versi tafsir sendiri.Berikut ini contoh tafsir Habib Husain terhadap sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang beliau sampaikan dalam ceramah di atas.((inilah nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dia tidak mengatakan kamu celaka, neraka, sesat, kafir…tapi datang kepada mereka, mengajak kembali kepada Allah, membacakan ayat ayat Allah ta’ala, bila ditolak dicaci dimaki dia bersabar dan besok akan mendatanginya lagi untuk kembali kpd Allah,.bukan tugas nabi untuk menghakimi mereka,..bukan tugas mereka pula untuk menghakimi nabi,مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍbukan tugas kamu untuk apa? Untuk menghisab mereka…وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍbegitu pula bukan tugas mereka untuk menghisab kamu… (QS Al-An’aam : 52)saya seorang yang tidak lepas dari kesalahan,ketergelinciran,..yang tidak luput dari dosa,.dari hal hal yg busuk yang Allah tutupi,..tugas saya bukan mengadili manusia,..tugas saya hanya seorang  menyampaikan pesan pesan yang datang dr Allah,..dgn menyampaikan pesan ini))Lihatlah dalam pernyataan di atas, Habib Husain menafsirkan ayat diatas (QS Al-An’aam : 52) dengan larangan untuk menghukum orang lain. Sehingga beliau menyatakan bahwa Nabi tidak pernah memvonis celaka, neraka, sesat, dan kafir. Bukan tugas Nabi untuk menghukum dan memvonis mereka.)) Komentar:Ini sebenarnya tafsiran yang sangat aneh dan bertentangan dengan ayat-ayat yang lain dan juga hadits hadits yang shahih. Untuk lebih jelasnya berikut saya sampaikan terjemah ayat tersebut selengkapnya versi Depag :وَلا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ (٥٢)Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu Termasuk orang-orang yang zalim) (QS Al-An’aam : 52)“Ketika Rasulullah s.a.w. sedang duduk-duduk bersama orang mukmin yang dianggap rendah dan miskin oleh kaum Quraisy, datanglah beberapa pemuka Quraisy hendak bicara dengan Rasulullah, tetapi mereka enggan duduk bersama mukmin itu, dan mereka mengusulkan supaya orang-orang mukmin itu diusir saja, lalu turunlah ayat ini” (Lihat catatan kaki ayat ini pada terjemahan versi Depag)Karenanya sangat jelas bahwa yang dinafikan oleh Allah bukanlah menghukum atau memvonis akan tetapi yang dinafikan oleh Allah adalah hisab, yaitu penilaian mereka di akhirat, yaitu bahwasanya pertanggungjawaban hisab mereka adalah di tangan Allah.Ayat ini sama seperti firman Allah :قَالُوا أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الأرْذَلُونَ (١١١)قَالَ وَمَا عِلْمِي بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١١٢)إِنْ حِسَابُهُمْ إِلا عَلَى رَبِّي لَوْ تَشْعُرُونَ (١١٣)وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الْمُؤْمِنِينَ (١١٤)Mereka berkata: “Apakah Kami akan beriman kepadamu, Padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?”. Nuh menjawab: “Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. (QS Asy-Syu’aroo’ : 111-114)Adapun menafsirkan lafal “hisab” dengan “larangan memvonis/menghukum” maka jelas ini adalah penafsiran batil yang disebutkan oleh orang-orang yang berpemikiran Liberal, yang menyatakan bahwa semua agama adalah sama, tidak boleh umat Islam memvonis umat yang lain dengan kufur atau neraka.Padahal dalam al-Qur’an banyak sekali ayat yang memvonis kaum Nasrani dan Yahudi sebagai kuffaar dan di neraka jahannam.Seperti firman Allah :لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (٧٢)Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam”, Padahal Al masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maidah : 72)لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٧٣)Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (QS AL-Maidah : 74)إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ (٦)Sesungguhnya orang-orang yang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS Al-Bayyinah : 6)Lihatlah dalam ayat-ayat di atas Allah memvonis kaum musyrikin dan kaum ahlul kitab (Yahudi dan Nashoro) sebagai kaum kuffar dan tempat mereka di neraka jahannam.Dan bukankah setiap kali Habib Husain sholat selalu membaca firman Allahصِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧)(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS Al-Fatihah : 7)Para mufassirin telah sepakat bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang dimurkai oleh Allah adalah kaum Yahudi, dan orang-orang yang sesat adalah kaum Nashoro. Perhatikanlah pada ayat ini Allah memvonis sesat dan dimurkai Allah.Apalagi kalau meilhat hadits-hadits Nabi tentang hal memvonis maka sungguh sangat banyak sekali. Baik pada hadits-hadits yang shahih maupun hadits-hadits yang palsu. Yang menakjubkan adalah Habib Husain melarang memvonis akan tetapi justru beliau menyebut hadits palsu tentang Nabi memvonis seorang Yahudi yang meninggal masuk neraka. Sebagaimana perkataan Habib :((Oleh karena itu nabi yg dikenal sebagai seorang yang berjiwa penuh dengan  rahmat, airmata berlinang linang ketika menyaksikan seorang yahudi yang mati yang digiring jenazahnya menuju pekuburannya, Nabi bercucuran aitmata mengatakan : “Satu orang lagi telah lolos masuk kedalam api neraka dan saya tdk berdaya untuk menyelamatkan dirinya“)) Komentar:Saya kawatir Habib Husain telah terkontaminasi dengan pemikiran-pemikiran Kaum JIL.          Nah jika Habib Husain dalam menerjemahkan dan menafsirkan ayat di atas telah keliru, terus bagaimana beliau mau mengajak umat ini untuk meninggalkan kitab-kitab hadits dan hanya bersandar kepada Al-Qur’an?. Maka pertanyaan yang sangat mendasar adalah Al-Qur’an terjemahan dan tafsir versi siapakah yang anda pilih wahai Habib Husain? Apakah versi anda yang keliru begini? Atau versi pafa mufassir ahlus sunnah ataukah versi para mufassir syi’ah, ataukah versi para mufassir JIL?? KELIMA :Habib Husain justru memvonis bahkan menuduh !! Habib Husain menyampaikan kata-kata indah bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam anti memvonis orang lain, baik vonis neraka, atau celaka, atau sesat, atau kafir. Dan Habib Husain mengaku mengikuti metode Nabi, dimana beliau anti memvonis. Habib Husain berkata:((saya seorang yang tidak lepas dari kesalahan, ketergelinciran,..yang tidak luput dari dosa,. dari hal hal yg busuk yang Allah tutupi,..tugas saya bukan mengadili manusia,..tugas saya hanya seorang  menyampaikan pesan pesan yang datang dr Allah,..dgn menyampaikan pesan ini)) Komentar.Ini pernyataan Habib Husain, akan tetapi kenyataannya beliau memvonis Salafy dengan vonis-vonis dan tuduhan yang sangat mengerikan. Berikut diantara vonis-vonis dan tuduhan beliau dalam ceramah diatas: Pertama : Salafy Wahabi lebih mengagungkan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Habib Husain berkata:((Oleh karena itu yang lucu hadirin sekalian dari sebagian ulama-ulama salafi wahabi ini, kita jumpai bagaimana semua peninggalan rasul, peninggalan para sahabat dan keluarga rasulnya, di mekah di madinah dibersihkan disingkirkan dengan alasan dikhawatirkan akan menjerumuskan orang ke dalam syirik. Tapi yang mengherankan, mereka mendirikan museum bagi tokoh mereka yaitu Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin di Riyadh. Mendirikan museum yang besar, dalam museum tersebut disebutkan ini merupakan kacamata yang dipergunakan oleh Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, ini merupakan pena terakhir yang digunakan oleh beliau, ini merupakan peninggalannya, ini merupakan peninggalannya dibuat museum diletakan di tempat yang betul-betul indah. Kita gak menentang hal ini, gak mengatakan bahwa hal ini merupakan perbuatan bidah. Yang mengherankan, kenapa terhadap rasul, terhadap keluarga para sahabatnya, mereka habisi semua situs sejarah dan peninggalan mereka. Siapa yang ingin lebih jelas lagi coba buka museum muhammad shalih al-utsaimin atau muthaf Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.Bentuk yang indah yang menampung sekian banyak peninggalan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin yang meninggal belum lama ini, beliau merupakan rekan dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Para pengikutnya menjunjungnya mengangungkannya bahkan lebih daripada rasul. Kalau rasul, mereka sebutkan sekian banyak kekurangannya, cacatnya, bahkan mereka menisbatkan hal yang tidak pantas kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)) Kritikan :          Pernyataan terakhir Habib Husain yang saya garis bawahi melazimkan para salafy wahabi adalah orang-orang kafir dan munafik. Bagaimana tidak kafir, ternyata mereka lebih mengagungkan Syaikh Al-‘Utsaimin daripada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan sungguh ini adalah adalah tuduhan keji dan dusta. Apalagi menuduh salafy wahabi suka menyebutkan banyak kekurangan nabi, menyebutkan cacat nabi, dan menisbahkan yang tidak pantas kepada Nabi. Sungguh ini merupakan kekafiran yang nyata. Penyataan dan tuduhan Habib Husain ini melazimkan kekafiran salafy wahabi. Akan tetapi tuduhan ini harus ada buktinya !!! Saya mohon Habib Husain mau mendatangkan buktinya bukan hanya menyampaikan kedustaan !!.Diantara kedustaan Habib Husain, bahwasanya beliau menyatakan bahwa di kota Riyadh Ibu kota Arab Saudi dibangun Muthaf (Museum) Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah. Ini jelas kedustaan. Karena tidak ada museum Syaikh Al-Utsaimin, apalagi dibangun di kota Riyadh ibu kota Arab Saudi. Yang benar adalah telah dibangun Yayasan Sosial Syaikh Al-Utsaimin, dan dibangun di kota kediaman beliau yaitu di Unaizah. Dan Yayasan sosial ini bukanlah museum sebagaimana tuduhan Habib, karenanya Yayasan ini bergerak dalam bidang-bidang kebaikan seperti–         Membangun mesjid–         Membantu faqir miskin, anak yatim, dan para janda–         Membantu yayasan-yayasan tahfidz al-Qur’an–         Memperhatikan para penuntut ilmu–         dll (silahkan lihat di http://www.ibnothaimeen.com/all/Charity.shtml)Dinamakan yayasan tersebut dengan nama Syaikh al-Utsaimin karena tujuan utama pembangunan yayasan ini adalah untuk menyebarkan karya-karya ilmiyah dari kitab-kitab syaikh al-Utsaimin, ceramah-ceramah beliau, dan fatwa-fatwa beliau.Adapun di dalam yayasan tersebut mungkin pena ada syaikh dan yang semisalnya maka jika itu benar maka itu merupakan kenang-kenangan yang mungkin disimpan oleh para ahli waris beliau, dan belum tentu diridoi oleh beliau. Dan barang kenangan tersebut bukan untuk dicari keberkahannya sama sekali, tetapi hanya dipajang untuk kenangan. Kalaupun ini merupakan kesalahan maka toh sudah ada yang mengingkari, dan bukanlah perkara yang dibesar-besarkan dan disebarkan agar orang-orang mengunjungi yayasan ini dalam rangka mencari berkah dari benda-benda tersebut.Jadi Habib Husain telah mengesankan bahwa kerajaan Arab Saudi yang membangun museum, padahal yang dibangun adalah yayasan sosial dan yang membangunnya adalah pihak swasta. Kedua : Habib Husain menuduh bahwa Salafy Wahabi dan Habib Tasawwuf membantah syi’ah karena uang bukan karena kebenaran. Habib Husain berkata:((Saya jumpai hadirin sekalian hal yang amat lucu,kalangan habaib dan kyai kyai yang condong kearah tasawuf yang antipati terhadap kelompok salafy wahabi,… bahkan dimata mereka salafy wahabi sesat, kemudian kelompok salafy wahabi juga menganggap habaib dan kyai kyai ini merupakan ahli bid’ah, sesat, musyrik, ini menurut mereka, buku buku mereka menjadi saksi, tapi yang heran mereka bisa bersatu bersama sama, bisa bersatu dalam satu wadah, bersama sama untuk berperang memusuhi syi’ah , ini mengherankan, apa? Uang yang menyatukan mereka, kepentingan yang menyatukan mereka,bukan kebenaran)) Kritikan;          Ini juga merupakan tuduhan yang keji, memvonis bahwasanya para habib dan juga salafy wahabi hanya mencari duit dalam membantah syi’ah. Tolong tunjukan bukti wahai Habib, bukan hanya sekedar menuduh !!. Kedudukan anda sebagai Habib jauh lebih tinggi dari perbuatan menuduh tanpa bukti !!Yang menjadi pertanyaan : Kenapa Habib Husain sewot dan risih jika salafy dan para habib bersatu membantah syi’ah?Apakah Habib Husain tidak suka Syi’ah dibantah dan diungkap kesesatannya? Ada apa gerangan wahai Habib Husain? Ketiga : Habib Husain memvonis Kerajaan Arab Saudi yang mengurus dua kota suci Mekah dan Madinah sebagai orang-orang yang telah menodai kehormatan Mekah, dan melakukan kerusakan di atas muka bumi. Habib Husain berkata:((oleh karena itu kita berharap, mudah mudahan kota suci Mekah dibersihkan disucikan dari orang orang yang menodai kehormatannya,orang orang yang melakukan kerusakan diatas muka bumi ini, kembali ketangan orang orang yang beriman yang bertaqwa)) Kritikan :          Ini adalah tuduhan yang sangat keji terhadap pemerintah Arab Saudi. Dan kita katakan kepada Habib sebuah syair yang disebutkan oleh Habib dalam ceramahnya, Habib Husain berkata  :وعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٌ، وَلَكِنَّ عَينَ السُّخْطِ تُبْدي الْمَسَاوِيَا“Pandangan mata kecintaan membuat yang buruk menjadi indah, sebaliknya pandangan kebencian akan membuat apa? Akan membuat yang indah menjadi buruk”Habib Husain hanya melihat dengan pandangan buruk sehingga semua kebaikan Arab Saudi terlupakan. Bahkan dengan berani memvonis Arab Saudi sebagai orang-orang yang telah menodai kehormatan Mekah dan telah melakukan kerusakan di atas muka bumi.Tidak seorang salafy pun bahkan tidak seorang yang berakalpun yang menyatakan bahwa Arab Saudi bebas dari kesalahan. Arab Saudi tentu memiliki kesalahan-kesalahan, akan tetapi kebaikan mereka terlalu jauh lebih banyak dari pada kesalahan yang ada. Minimal kebaikan mereka adalah Menjaga kesucian dua kota suci (bukan menodainya sebagaimana tuduhan Habib).Dan sungguh luar biasa harta yang telah dikeluarkan oleh Arab Saudi untuk mengadakan perluasan dua mesjid, yang semua itu adalah untuk kepentingan kaum muslimin di seluruh muka bumi agar lebih nyaman beribadah di Mekah dan Madinah.Adapun tuduhan Habib Husain:((Oleh karena itu yang lucu hadirin sekalian dari sebagian ulama-ulama salafi wahabi ini, kita jumpai bagaimana semua peninggalan rasul, peninggalan para sahabat dan keluarga rasulnya, di mekah di madinah dibersihkan disingkirkan))Saya harap Habib Husain kembali meninjau kembali tuduhan ini. Tentunya pemerintah Arab Saudi tatkala memperluas mesjid maka pasti ada areal rumah para sahabat, areal rumah istri-istri Nabi yang dihancurkan. Kalau seandainya rumah para sahabat dan keluarga Rasulullah di Madinah harus dibiarkan maka bagaimana cara perluasan mesjid Nabawi???Dan situs-situs sejarah masih banyak yang dijaga oleh Arab Saudi, seperti mesjid Quba’, mesjid Qiblatain, Mesjid Jum’at, Mesjid Ijabah, bahkan baru saja dibangun Mesjid Khondak, demikian juga sekarang sedang dibangun mesjid besar di uhud dekat Syuhada’ uhud.Demikian juga di Mekah, tempat kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih dibangun perpustakaan.Lagi pula Nabi sendiri tatkala ke Mekah beliau tidak ingin singgah ke rumahnya yang dulu apalagi merebut kembali.عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدِ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنْزِلُ فِى دَارِكَ بِمَكَّةَ فَقَالَ « وَهَلْ تَرَكَ لَنَا عَقِيلٌ مِنْ رِبَاعٍ أَوْ دُورٍ ». وَكَانَ عَقِيلٌ وَرِثَ أَبَا طَالِبٍ هُوَ وَطَالِبٌ وَلَمْ يَرِثْهُ جَعْفَرٌ وَلاَ عَلِىٌّ شَيْئًا لأَنَّهُمَا كَانَا مُسْلِمَيْنِ وَكَانَ عَقِيلٌ وَطَالِبٌ كَافِرَيْنِDari Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhuma, beliau bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah anda akan singgah di rumahmu di Mekah?’ Beliau bersabda, “Apakah Aqil masih meninggalkan rumah untuk kami.”Aqil yang menjadi ahli waris Abu Thalib bersama si Thalib. Sementara Ja’far dan Ali tidak mendapatkan warisan apapun, karena keduannya muslim. Aqil dan Thalib orang kafir. (HR. Bukhari 1588, Muslim 3360, dan Ibn Majah 2834).Ketika fathu Mekah, tanah negeri itu menjadi kekuasaan kaum muslimin. Kendati demikian, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak mempedulikan rumah kelahiran atau tanah beliau. Beliau juga tidak mengupayakan pelestarian tempat-tempat bersejarah itu. Beliau tidak merawat rumah kelahiran beliau, atau merawat gua hira, atau gua tsur, sama sekali tidak.Ini menunjukkan bahwa dakwah beliau dan para sahabat, tidak memiliki kepentingan dengan tempat-tempat semacam ini.Karena itu, jika ada yang beranggapan, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat menyerang kota Mekah untuk merebut kembali tanah kelahiran mereka, ini berarti suudzan kepada beliau dan sahabat.(silahkan baca  http://www.konsultasisyariah.com/rumah-nabi-jadi-wc-umum/)Adapun kebaikan-kebaikan Arab Saudi bagi dunia Islam maka sungguh sangat banyak sekali, namun memang jarang terpublikasi. Diantaranya silahkan baca http://www.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/15/03/28/nlwxib-wajah-humanis-saudi          Jika mata Habib Husain tidak bisa melihat kebaikan-kebaikan Arab Saudi negeri Salafy, maka tidak ada salahnya jika mata Habib Husain terbuka untuk mampu melihat jasa-jasa Negara Iran negerinya kaum Syi’ah. Diantara jasa-jasa Iran adalah :–         Menyebarkan narkoba di penjuru dunia diantaranya di tanah air Indonesia (silahkan lihat http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/06/27/58074/Iran-Pemasok-Narkotika-Terbesar-ke-Indonesia, lihat juga http://www.konsultasisyariah.com/narkoba-iran/)–         Menyebarkan kedustaan tentang Arab Saudi di tanah air agar menanamkan kebencian terhadap umat Islam di Arab Saudi (silahkan lihat https://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/340-koleksi-dusta-pemerintah-iran)–         Tersebarnya aids karena terlalu sering mut’ah/nikah kontrak gonta ganti pasangan. (Silahkan lihat http://www.merdeka.com/dunia/penderita-aids-di-iran-melonjak-tajam.html) Bersambung… insya Allah…Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 27-07-1436 H / 16-05-2015 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com
Berikut ini beberapa kritikan terhadap ceramah Habib Husain Al-Atas –semoga Allah memberi petunjuk kepadanya-, yang disampaikan oleh beliau dalam kajian acara renungan dibawah naungan al quran dari surat Al Arof ayat 181-188 bersama ust Husin Alatas pada hari selasa tanggl 12 mei 2015 jam 08.00  dan disiarkan ulang jam 22.00 (silahkan download di https://goo.gl/k71wCL)Penulis merasa penting untuk menyampaikan kritikan ini mengingat isi ceramah beliau bertentangan dengan pokok akidah umat Islam.PERTAMA :Habib Husain meragukan keotentikan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari kitab-kitab hadits yang mashyur. Habib Husain berkata :((Kebenaran yang pasti, yang mutlak yang datang dari sisi Allah. Oleh karena itu tidak ada satu pun jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi buku-buku yang lain, bahwa buku-buku tersebut terjamin kebenarannya. Maka Allah berfirman:وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً“Kalau Al-Qur’an bukan dari Allah, niscaya mereka akan jumpai pertentangan yang amat banyak”Tidak ada nash Al-Quran maupun ucapan Nabi yang menjamin bahwa Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasai, Ad-Darimi, begitu pula Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Ibnu Abi Syaibah, musnad eee…al mush…al mush….al…mushannaf….mushannaf Ibn Abi Syaibah, Mushannaf Abdurrazaq, bahwa semua buku-buku ini terjamin kebenarannya??, sama sekali tidak ada!!. Ini dari versi ahlussnnahDari versi syiah, empat buku yang  menjadi rujukan mereka: al-kulaini al-kaafi, man laa yahduruhul faqih li As-Shaduq, kemudian at-tahdzib, yang keempat al-Istibshar yang ditulis oleh Ath-Thuusi, begitu pula buku-buku yang lain, tidak ada jaminan dari Allah maupun RasulNya bahwa buku-buku ini merupakan buku yang berisi kebenaran yang terjamin. Itu hanya klaim-klaim yang datang dari mereka-mereka yang fanatik kepada buku tersebut.Yang fanatik kepada Bukhari-nya, Muslimnya, At-Tirmidzi-nya, Abu Dawud-nya, Ibnu majahnya, begitu pula kepada Ath-thabraninya baik fis shaghir al-awsath maupun al-kabir.Begitu pula di kalangan syiah juga yang berfanatik kepada Al-Kaafi-nya, kepada ath-thuusinya, kepada ash-shaduuqnya, atau kepada al-majlisi, semua ini hadirin sekalian ucapan tanpa dasar kebenaran, tanpa dalil. Oleh karena itu jangan kita membesar-besarkan yang lain di hadapan kitab Allah.Karena buku-buku ini setelah 200 tahun baru dikenal, setelah wafatnya Nabi kita Muhammad shallallau ‘alaihi wa sallam tangan-tangan kotor, hati-hati yang munafik, yang berencana busuk terhadap Islam tidak mungkin dapat kita hindari.Kalau seandainya sebagian ulama mengatakan fulan tsiqah seorang yang jujur, fulan merupakan seorang yang cermat dan telilti, fulan merupakan seorang yang betul-betul menjaga kebersihan hidup ini, itu kan menurut penilaian manusia, bisa benar bisa salah, dan biasanya:وعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٍ، وَلَكِنَّ عَينَ السُّخْطِ تُبْدي الْمَسَاوِيَا“Pandangan mata kecintaan membuat yang buruk menjadi indah, sebaliknya pandangan kebencian akan membuat apa? Akan membuat yang indah menjadi buruk”)) Kritikan :Sangat jelas bahwa Habib Husain meragukan keotentikan hadits-hadits Nabi yang termaktub dalam kitab-kitab hadits baik dari kalangan ahlus sunnah maupun dari kalangan syi’ah. Adapun alasan yang disampaikan oleh beliau adalah :–         Karena hadits-hadits tersebut dikodifikasikan setelah 200 tahun wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam–         Kitab-kitab hadits tersebut tidak luput dari ((tangan-tangan kotor, hati-hati yang munafik, yang berencana busuk terhadap Islam tidak mungkin dapat kita hindari))–         Karena keshahihan/keotentikan hadits dibangun diatas penilaian manusia yang menyatakan “si fulan tsiqoh/cermat dan terpercaya”, dan penilaian manusia bisa saja salah, sebagaiamana perkataan Habib : ((Kalau seandainya sebagian ulama mengatakan fulan tsiqah seorang yang jujur, fulan merupakan seorang yang cermat dan telilti, fulan merupakan seorang yang betul-betul menjaga kebersihan hidup ini, itu kan menurut penilaian manusia, bisa benar bisa salah)) Pernyataan Habib ini sangatlah berbahaya karena melazimkan perkara-perkara yang batil, diantaranya : Pertama : Hadits-hadits yang ada sekarang yang termaktub dalam kitab-kitab hadits –baik versi ahlus sunnah maupun versi syi’ah- tidak bisa dijadikan pedoman ataupun rujukan, karena tidak ada jaminan kebenarannya. Konsekwensi perkataannya bahwa dalil yang diterima terbatas hanya al-Qur’an.Dan inilah pemahaman sekte sesat yang dikenal oleh para ulama dengan Al-Qur’aniyun, yaitu mereka-mereka yang menolak Hadits nabi dan hanya mau berdalil dengan al-Qur’an, dikarenakan hadits-hadits yang dikodifikasikan sekarang diragukan keotentikannya dan diragukan kebenarannya.Dan munculnya sekte sesat ini telah disinyalir oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau :أَلاَ إِنِّي أُوْتِيْتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ أَلاَ يُوْشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيْكَتِهِ يَقُوْلُ : عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَلاَلٍ فَأَحِلُّوْهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوْهُKetahuilah sesungguhnya diturunkan kepadaku Al-Quran dan yang semisalnya bersamanya (yaitu hadits)”, ketahuilah akan datang seseorang yang kenyang duduk diatas pembaringannya berkata: “Berpegang teguhlah kepada Al- Quran ini saja, semua yang kalian dapati padanya kehalalan maka halalkan dan yang kalian dapati padanya satu keharoman maka haramkanlah. [HR Ahmad 4/131 dan Abu Daud 5/11] Kedua : Usaha para ulama dalam menilai kredibilitas para perawi hadits tidak ada nilainya. Pernyataan para ulama al-Jarw wa at-Ta’dil : “Si fulan tsiqoh (terpercaya dan cermat)” sehingga diambil periwayatan haditsnya atau “Si fulan Kadzdzab (pendusta)” sehingga ditolak periwayatan haditsnya, semuanya tidak bernilai di sisi Habib Husain, dengan dalih bahwasanya ini semua hanyalah penilaian manusia.Padahal tidak ada jalan lain di kalangan para ulama ahlus sunnah (baik Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i maupun Imam Ahmad) untuk mengetahui suatu hadits bisa diterima atau ditolak kecuali dengan penilaian terhadap para perawinya. Nah kalau penilaian para ulama terhadap para perawi tidak dianggap oleh Habib Husain maka dengan cara apakah kita bisa mengetahui suatu hadits shahih atau lemah??Ataukah Habib Husain memiliki metode tersendiri dalam menilai keshahihan suatu hadits tanpat ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil (penilaian para ulama terhadap kredibilitas para perawi)?Kesimpulan yang diambil Habib Husain bahwa hadits-hadits yang ada sekarang sudah tidak bisa terjamin kebenarannya, apalagi beliau menegaskan dengan pernyataan beliau kitab-kitab hadits yang ada tidak luput dari ((tangan-tangan kotor, hati-hati yang munafik, yang berencana busuk terhadap Islam tidak mungkin dapat kita hindari)) Ketiga : Beliau mencela kefanatikan Ahlus Sunnah terhadap kitab-kitab hadits yang ada Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, dll. Ahlussunnah memang harus fanatik kepada kitab-kitab tersebut, karena pada kitab-kitab tersebutlah terdapat sabda-sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Allah berfirman :وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُواApa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. [Al-Hasyr/59:7)Lantas jika semua kitab hadits tidak terpercaya maka bagaimana kita melaksanakan perintah Allah ini. Bagaimana kita bisa mengenal dan mengetahui apa yang telah dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Demikian juga bagaimana kita bisa mengamalkan perintah Allah :لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًاSesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (          QS Al-Ahzaab : 21)Adapun jika maksud Habib bahwasanya Ahlus Sunnah fanatik kepada kitab-kitab tersebut melazimkan bahwa semua isi kitab tersebut benar, maka ini adalah tuduhan yang dusta dan diada-adakan. Tidak ada seorangpun ahlus sunnah yang berakal sehat yang menyatakan bahwa semua isi buku tersebut adalah hadits yang shahih !!!. Karena para penulis kitab-kitab hadits yang disebutkan oleh Habib Husainpun tidak pernah menyatakan bahwa semua hadits yang mereka tulis dalam kitabnya adalah shahih, kecuali Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim yang mempersyaratkan hanya menulis hadits-hadits yang shahih. Itupun ada sebagian ulama yang mengkritik segelintir kecil dari hadits-hadits mereka. Keempat : Hadits-hadits Nabi bukanlah wahyu dari Allah. Perkataan Habib ((Kebenaran yang pasti, yang mutlak yang datang dari sisi Allah. Oleh karena itu tidak ada satu pun jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi buku-buku yang lain, bahwa buku-buku tersebut terjamin kebenarannya. Maka Allah berfirman:وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً“Kalau Al-Qur’an bukan dari Allah, niscaya mereka akan jumpai pertentangan yang amat banyak”Tidak ada nash Al-Quran maupun ucapan Nabi yang menjamin bahwa Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasai, Ad-Darimi, begitu pula Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Ibnu Abi Syaibah, musnad eee…al mush…al mush….al…mushannaf….mushannaf Ibn Abi Syaibah, Mushannaf Abdurrazaq, bahwa semua buku-buku ini terjamin kebenarannya, sama sekali tidak ada)) Bantahan:Ini adalah kedustaan, bukankah Allah telah berfirman :وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣)إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (٤)Dan Tiadalah yang diucapkan oleh Muhammad itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS An-Najm : 3-4)Dari Abdullah bin ‘Amr beliau berkata :كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيدُ حِفْظَهُ، فَنَهَتْنِي قُرَيْشٌ، فَقَالُوا: إِنَّكَ تَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ تَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَشَرٌ يَتَكَلَّمُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا، فَأَمْسَكْتُ عَنِ الْكِتَابِ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالَ: «اكْتُبْ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا خَرَجَ مِنِّي إِلَّا حَقٌّ»“Aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, aku ingin menghafalkannya. Maka kaum Quraisy melarangku, mereka berkata : “Sesungguhnya engkau menulis segala sesuatu yang kau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia, ia berkata dalam kondisi marah dan dalam kondisi senang”. Maka akupun berhenti menulis, lalu aku menceritakan hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau berkata : “Tulislah, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidak ada yang keluar dariku kecuali kebenaran“ (HR Ahmad no 6510)Dan telah lalu sabda Nabiأَلاَ إِنِّي أُوْتِيْتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ“Ketahuilah sesungguhnya diturunkan kepadaku Al-Quran dan yang semisalnya bersamanya (yaitu hadits)”Lantas apa fungsinya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dikatakan sebagai ma’shuum?, beliau tidak lain disifati demikian karena hadits-hadits beliau adalah kebenaran, wahyu dari Allah.Tentu jelas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyatakan bahwa Shahih Al-Bukhari itu terjamin kebenarannya, akan tetapi Nabi telah menyatakan bahwa apa yang diucapkannya pasti benar. Nah apa yang telah diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah termaktub dalam kitab-kitab hadits.Ini semua menunjukkan bahwa pendalilan Habib dengan ayat di atas untuk menolak kitab-kitab hadits adalah pendalilan yang tidak tepat, karena hadits-hadits juga berasal dari Allah. KEDUA :Pernyataan Habib Husain:((Maka dari sini para ikhwan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. kitab yang pasti kebenarannya hanya kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan saya bersumpah atas nama Allah, inni usyhidullah wa usyhidukum jami’an anna hadza huwa al-kitab al-wahid aladzi yahtawi ‘alal haq. Saya persaksikan Allah, persaksikan kalian semua bahwa hanya ini kitab satu-satunya yang mencakup kebenaran yang tidak meragukan.ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًىYang terang benderang, tidak terdapat kegelapan di dalamnya sedikit pun dan ia lah asy-syifa’u war rahmah, dialah al-huda maka selain dari kitab suci al-quran, yang mengaku sebagai ahlussunah yang mengaku syiah dari keluarga rasul, lastum ‘alasy syai, kalian tidak berarti apa-apa hingga kalian kembali kepada kitab Allah. Khurafat-khurafat, kebohongan-kebohongan, kepalsuan yang menyebar dalam buku-buku kalian bersih.)) Bantahan :          Pernyataan Habib Husain ini hanyalah untuk menekankan akan aqidah beliau bahwasanya kitab-kitab hadits yang ada tidak bisa dipercaya karena berisi khurofat dan kebohongan serta kepalsuan.Nah yang ingin kita tanyakan kepada Habib Husain, kalau beliau hendak sholat, hendak haji, hendak membayar zakat, maka bagaimanakah caranya jika hanya bersandar kepada Al-Qur’an?Karena tata cara sholat, kapan waktu-waktunya, berapa raka’atnya, tidak dijelaskan secara rinci dalam Al-Qur’an, dan hanya dijelaskan dalam hadits-hadits Nabi.Nah bagaimana cara Habib Husain sholat kalau tidak berpedoman kepada hadits-hadits Nabi?, karena seluruh kitab hadits yang ada tidak terjamin kebenarannya. Lantas apakah Habib Husain punya kitab hadits sendiri? Sanadnya shahih tanpa ada keraguan bersambung hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?Demikian juga permasalahannya yang berkaitan dengan haji dan zakat, tidak ada perinciannya di Al-Qur’an, perinciannya terdapat dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. KETIGA :Apa Kriteria Hadits Shahih menurut Habib?Kenyataannya Habib Husain juga sering berdalil dengan hadits –meskipun ia meyakini bahwa semua kitab hadits yang ada tidak terjamin kebenarannya-. Bahkan dalam ceramah beliau ini, ternyata beliau juga menyebutkan sebuah hadits, Habib Husain berkata:((Oleh karena itu Nabi yg dikenal sebagai seorang yg berjiwa penuh dgn  rahmat, airmata berlinang linang ketika menyaksikan seorang yahudi yang mati yang digiring jenazahnya menuju pekuburannya, Nabi bercucuran aitmata mengatakan : “Satu orang lagi telah lolos masuk kedalam api neraka dan saya tdk berdaya untuk menyelamatkan dirinya”))Hadits yang disebutkan oleh Habib ini ngomong-ngomong dari kitab hadits yang mana? Apakah dari kitab-kitab hadits versi Ahlus Sunnah yang dinilai cacat oleh Habib, ataukah dari kitab-kitab hadits versi Syi’ah?. Lantas bagaimana kedudukan para perawi hadits ini?, bagaimana penilaian para ulama tentang para perawi tersebut.Ataukah sangat jelas bahwa ini adalah hadits palsu?, jika hadits ini hadits palsu kok bisa diniali shahih menurut Habib Husain sehingga dijadikan dalil?. Apa sih ilmu Habib Husain untuk mengetahui keshahihan suatu hadits?Maka sungguh aneh jika Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim ditolak oleh Habib, akan tetapi hadits palsu dijadikan dalil ??? KEEMPAT :Tafsir Al-Qur’an versi Habib HusainHabib Husain sepertinya berniat baik, ingin agar pertikaian diantara ahlus sunnah dan syi’ah selesai. Meskipun solusi yang beliau tawarkan adalah solusi aneh dan mustahil. Yaitu meninggalkan kitab-kitab hadits versi ahlus sunnah dan versi syi’ah, lalu kembali kepada Al-Qur’an saja yang jelas kebenarannya.Maka taruhlah kita setuju dengan solusi yang ditawarkan oleh Habib Husain, maka yang jadi pertanyaan : Jika kita kembali kepada Al-Qur’an lantas versi pemahaman dan tafsir al-Qur’an tersebut ikut versi yang mana?, apakah ikut versi ahlus sunnah?, ataukah versi Syi’ah?, ataukah Habib Husain akan membuat versi tafsir sendiri.Berikut ini contoh tafsir Habib Husain terhadap sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang beliau sampaikan dalam ceramah di atas.((inilah nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dia tidak mengatakan kamu celaka, neraka, sesat, kafir…tapi datang kepada mereka, mengajak kembali kepada Allah, membacakan ayat ayat Allah ta’ala, bila ditolak dicaci dimaki dia bersabar dan besok akan mendatanginya lagi untuk kembali kpd Allah,.bukan tugas nabi untuk menghakimi mereka,..bukan tugas mereka pula untuk menghakimi nabi,مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍbukan tugas kamu untuk apa? Untuk menghisab mereka…وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍbegitu pula bukan tugas mereka untuk menghisab kamu… (QS Al-An’aam : 52)saya seorang yang tidak lepas dari kesalahan,ketergelinciran,..yang tidak luput dari dosa,.dari hal hal yg busuk yang Allah tutupi,..tugas saya bukan mengadili manusia,..tugas saya hanya seorang  menyampaikan pesan pesan yang datang dr Allah,..dgn menyampaikan pesan ini))Lihatlah dalam pernyataan di atas, Habib Husain menafsirkan ayat diatas (QS Al-An’aam : 52) dengan larangan untuk menghukum orang lain. Sehingga beliau menyatakan bahwa Nabi tidak pernah memvonis celaka, neraka, sesat, dan kafir. Bukan tugas Nabi untuk menghukum dan memvonis mereka.)) Komentar:Ini sebenarnya tafsiran yang sangat aneh dan bertentangan dengan ayat-ayat yang lain dan juga hadits hadits yang shahih. Untuk lebih jelasnya berikut saya sampaikan terjemah ayat tersebut selengkapnya versi Depag :وَلا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ (٥٢)Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu Termasuk orang-orang yang zalim) (QS Al-An’aam : 52)“Ketika Rasulullah s.a.w. sedang duduk-duduk bersama orang mukmin yang dianggap rendah dan miskin oleh kaum Quraisy, datanglah beberapa pemuka Quraisy hendak bicara dengan Rasulullah, tetapi mereka enggan duduk bersama mukmin itu, dan mereka mengusulkan supaya orang-orang mukmin itu diusir saja, lalu turunlah ayat ini” (Lihat catatan kaki ayat ini pada terjemahan versi Depag)Karenanya sangat jelas bahwa yang dinafikan oleh Allah bukanlah menghukum atau memvonis akan tetapi yang dinafikan oleh Allah adalah hisab, yaitu penilaian mereka di akhirat, yaitu bahwasanya pertanggungjawaban hisab mereka adalah di tangan Allah.Ayat ini sama seperti firman Allah :قَالُوا أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الأرْذَلُونَ (١١١)قَالَ وَمَا عِلْمِي بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١١٢)إِنْ حِسَابُهُمْ إِلا عَلَى رَبِّي لَوْ تَشْعُرُونَ (١١٣)وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الْمُؤْمِنِينَ (١١٤)Mereka berkata: “Apakah Kami akan beriman kepadamu, Padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?”. Nuh menjawab: “Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. (QS Asy-Syu’aroo’ : 111-114)Adapun menafsirkan lafal “hisab” dengan “larangan memvonis/menghukum” maka jelas ini adalah penafsiran batil yang disebutkan oleh orang-orang yang berpemikiran Liberal, yang menyatakan bahwa semua agama adalah sama, tidak boleh umat Islam memvonis umat yang lain dengan kufur atau neraka.Padahal dalam al-Qur’an banyak sekali ayat yang memvonis kaum Nasrani dan Yahudi sebagai kuffaar dan di neraka jahannam.Seperti firman Allah :لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (٧٢)Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam”, Padahal Al masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maidah : 72)لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٧٣)Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (QS AL-Maidah : 74)إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ (٦)Sesungguhnya orang-orang yang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS Al-Bayyinah : 6)Lihatlah dalam ayat-ayat di atas Allah memvonis kaum musyrikin dan kaum ahlul kitab (Yahudi dan Nashoro) sebagai kaum kuffar dan tempat mereka di neraka jahannam.Dan bukankah setiap kali Habib Husain sholat selalu membaca firman Allahصِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧)(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS Al-Fatihah : 7)Para mufassirin telah sepakat bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang dimurkai oleh Allah adalah kaum Yahudi, dan orang-orang yang sesat adalah kaum Nashoro. Perhatikanlah pada ayat ini Allah memvonis sesat dan dimurkai Allah.Apalagi kalau meilhat hadits-hadits Nabi tentang hal memvonis maka sungguh sangat banyak sekali. Baik pada hadits-hadits yang shahih maupun hadits-hadits yang palsu. Yang menakjubkan adalah Habib Husain melarang memvonis akan tetapi justru beliau menyebut hadits palsu tentang Nabi memvonis seorang Yahudi yang meninggal masuk neraka. Sebagaimana perkataan Habib :((Oleh karena itu nabi yg dikenal sebagai seorang yang berjiwa penuh dengan  rahmat, airmata berlinang linang ketika menyaksikan seorang yahudi yang mati yang digiring jenazahnya menuju pekuburannya, Nabi bercucuran aitmata mengatakan : “Satu orang lagi telah lolos masuk kedalam api neraka dan saya tdk berdaya untuk menyelamatkan dirinya“)) Komentar:Saya kawatir Habib Husain telah terkontaminasi dengan pemikiran-pemikiran Kaum JIL.          Nah jika Habib Husain dalam menerjemahkan dan menafsirkan ayat di atas telah keliru, terus bagaimana beliau mau mengajak umat ini untuk meninggalkan kitab-kitab hadits dan hanya bersandar kepada Al-Qur’an?. Maka pertanyaan yang sangat mendasar adalah Al-Qur’an terjemahan dan tafsir versi siapakah yang anda pilih wahai Habib Husain? Apakah versi anda yang keliru begini? Atau versi pafa mufassir ahlus sunnah ataukah versi para mufassir syi’ah, ataukah versi para mufassir JIL?? KELIMA :Habib Husain justru memvonis bahkan menuduh !! Habib Husain menyampaikan kata-kata indah bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam anti memvonis orang lain, baik vonis neraka, atau celaka, atau sesat, atau kafir. Dan Habib Husain mengaku mengikuti metode Nabi, dimana beliau anti memvonis. Habib Husain berkata:((saya seorang yang tidak lepas dari kesalahan, ketergelinciran,..yang tidak luput dari dosa,. dari hal hal yg busuk yang Allah tutupi,..tugas saya bukan mengadili manusia,..tugas saya hanya seorang  menyampaikan pesan pesan yang datang dr Allah,..dgn menyampaikan pesan ini)) Komentar.Ini pernyataan Habib Husain, akan tetapi kenyataannya beliau memvonis Salafy dengan vonis-vonis dan tuduhan yang sangat mengerikan. Berikut diantara vonis-vonis dan tuduhan beliau dalam ceramah diatas: Pertama : Salafy Wahabi lebih mengagungkan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Habib Husain berkata:((Oleh karena itu yang lucu hadirin sekalian dari sebagian ulama-ulama salafi wahabi ini, kita jumpai bagaimana semua peninggalan rasul, peninggalan para sahabat dan keluarga rasulnya, di mekah di madinah dibersihkan disingkirkan dengan alasan dikhawatirkan akan menjerumuskan orang ke dalam syirik. Tapi yang mengherankan, mereka mendirikan museum bagi tokoh mereka yaitu Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin di Riyadh. Mendirikan museum yang besar, dalam museum tersebut disebutkan ini merupakan kacamata yang dipergunakan oleh Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, ini merupakan pena terakhir yang digunakan oleh beliau, ini merupakan peninggalannya, ini merupakan peninggalannya dibuat museum diletakan di tempat yang betul-betul indah. Kita gak menentang hal ini, gak mengatakan bahwa hal ini merupakan perbuatan bidah. Yang mengherankan, kenapa terhadap rasul, terhadap keluarga para sahabatnya, mereka habisi semua situs sejarah dan peninggalan mereka. Siapa yang ingin lebih jelas lagi coba buka museum muhammad shalih al-utsaimin atau muthaf Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.Bentuk yang indah yang menampung sekian banyak peninggalan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin yang meninggal belum lama ini, beliau merupakan rekan dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Para pengikutnya menjunjungnya mengangungkannya bahkan lebih daripada rasul. Kalau rasul, mereka sebutkan sekian banyak kekurangannya, cacatnya, bahkan mereka menisbatkan hal yang tidak pantas kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)) Kritikan :          Pernyataan terakhir Habib Husain yang saya garis bawahi melazimkan para salafy wahabi adalah orang-orang kafir dan munafik. Bagaimana tidak kafir, ternyata mereka lebih mengagungkan Syaikh Al-‘Utsaimin daripada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan sungguh ini adalah adalah tuduhan keji dan dusta. Apalagi menuduh salafy wahabi suka menyebutkan banyak kekurangan nabi, menyebutkan cacat nabi, dan menisbahkan yang tidak pantas kepada Nabi. Sungguh ini merupakan kekafiran yang nyata. Penyataan dan tuduhan Habib Husain ini melazimkan kekafiran salafy wahabi. Akan tetapi tuduhan ini harus ada buktinya !!! Saya mohon Habib Husain mau mendatangkan buktinya bukan hanya menyampaikan kedustaan !!.Diantara kedustaan Habib Husain, bahwasanya beliau menyatakan bahwa di kota Riyadh Ibu kota Arab Saudi dibangun Muthaf (Museum) Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah. Ini jelas kedustaan. Karena tidak ada museum Syaikh Al-Utsaimin, apalagi dibangun di kota Riyadh ibu kota Arab Saudi. Yang benar adalah telah dibangun Yayasan Sosial Syaikh Al-Utsaimin, dan dibangun di kota kediaman beliau yaitu di Unaizah. Dan Yayasan sosial ini bukanlah museum sebagaimana tuduhan Habib, karenanya Yayasan ini bergerak dalam bidang-bidang kebaikan seperti–         Membangun mesjid–         Membantu faqir miskin, anak yatim, dan para janda–         Membantu yayasan-yayasan tahfidz al-Qur’an–         Memperhatikan para penuntut ilmu–         dll (silahkan lihat di http://www.ibnothaimeen.com/all/Charity.shtml)Dinamakan yayasan tersebut dengan nama Syaikh al-Utsaimin karena tujuan utama pembangunan yayasan ini adalah untuk menyebarkan karya-karya ilmiyah dari kitab-kitab syaikh al-Utsaimin, ceramah-ceramah beliau, dan fatwa-fatwa beliau.Adapun di dalam yayasan tersebut mungkin pena ada syaikh dan yang semisalnya maka jika itu benar maka itu merupakan kenang-kenangan yang mungkin disimpan oleh para ahli waris beliau, dan belum tentu diridoi oleh beliau. Dan barang kenangan tersebut bukan untuk dicari keberkahannya sama sekali, tetapi hanya dipajang untuk kenangan. Kalaupun ini merupakan kesalahan maka toh sudah ada yang mengingkari, dan bukanlah perkara yang dibesar-besarkan dan disebarkan agar orang-orang mengunjungi yayasan ini dalam rangka mencari berkah dari benda-benda tersebut.Jadi Habib Husain telah mengesankan bahwa kerajaan Arab Saudi yang membangun museum, padahal yang dibangun adalah yayasan sosial dan yang membangunnya adalah pihak swasta. Kedua : Habib Husain menuduh bahwa Salafy Wahabi dan Habib Tasawwuf membantah syi’ah karena uang bukan karena kebenaran. Habib Husain berkata:((Saya jumpai hadirin sekalian hal yang amat lucu,kalangan habaib dan kyai kyai yang condong kearah tasawuf yang antipati terhadap kelompok salafy wahabi,… bahkan dimata mereka salafy wahabi sesat, kemudian kelompok salafy wahabi juga menganggap habaib dan kyai kyai ini merupakan ahli bid’ah, sesat, musyrik, ini menurut mereka, buku buku mereka menjadi saksi, tapi yang heran mereka bisa bersatu bersama sama, bisa bersatu dalam satu wadah, bersama sama untuk berperang memusuhi syi’ah , ini mengherankan, apa? Uang yang menyatukan mereka, kepentingan yang menyatukan mereka,bukan kebenaran)) Kritikan;          Ini juga merupakan tuduhan yang keji, memvonis bahwasanya para habib dan juga salafy wahabi hanya mencari duit dalam membantah syi’ah. Tolong tunjukan bukti wahai Habib, bukan hanya sekedar menuduh !!. Kedudukan anda sebagai Habib jauh lebih tinggi dari perbuatan menuduh tanpa bukti !!Yang menjadi pertanyaan : Kenapa Habib Husain sewot dan risih jika salafy dan para habib bersatu membantah syi’ah?Apakah Habib Husain tidak suka Syi’ah dibantah dan diungkap kesesatannya? Ada apa gerangan wahai Habib Husain? Ketiga : Habib Husain memvonis Kerajaan Arab Saudi yang mengurus dua kota suci Mekah dan Madinah sebagai orang-orang yang telah menodai kehormatan Mekah, dan melakukan kerusakan di atas muka bumi. Habib Husain berkata:((oleh karena itu kita berharap, mudah mudahan kota suci Mekah dibersihkan disucikan dari orang orang yang menodai kehormatannya,orang orang yang melakukan kerusakan diatas muka bumi ini, kembali ketangan orang orang yang beriman yang bertaqwa)) Kritikan :          Ini adalah tuduhan yang sangat keji terhadap pemerintah Arab Saudi. Dan kita katakan kepada Habib sebuah syair yang disebutkan oleh Habib dalam ceramahnya, Habib Husain berkata  :وعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٌ، وَلَكِنَّ عَينَ السُّخْطِ تُبْدي الْمَسَاوِيَا“Pandangan mata kecintaan membuat yang buruk menjadi indah, sebaliknya pandangan kebencian akan membuat apa? Akan membuat yang indah menjadi buruk”Habib Husain hanya melihat dengan pandangan buruk sehingga semua kebaikan Arab Saudi terlupakan. Bahkan dengan berani memvonis Arab Saudi sebagai orang-orang yang telah menodai kehormatan Mekah dan telah melakukan kerusakan di atas muka bumi.Tidak seorang salafy pun bahkan tidak seorang yang berakalpun yang menyatakan bahwa Arab Saudi bebas dari kesalahan. Arab Saudi tentu memiliki kesalahan-kesalahan, akan tetapi kebaikan mereka terlalu jauh lebih banyak dari pada kesalahan yang ada. Minimal kebaikan mereka adalah Menjaga kesucian dua kota suci (bukan menodainya sebagaimana tuduhan Habib).Dan sungguh luar biasa harta yang telah dikeluarkan oleh Arab Saudi untuk mengadakan perluasan dua mesjid, yang semua itu adalah untuk kepentingan kaum muslimin di seluruh muka bumi agar lebih nyaman beribadah di Mekah dan Madinah.Adapun tuduhan Habib Husain:((Oleh karena itu yang lucu hadirin sekalian dari sebagian ulama-ulama salafi wahabi ini, kita jumpai bagaimana semua peninggalan rasul, peninggalan para sahabat dan keluarga rasulnya, di mekah di madinah dibersihkan disingkirkan))Saya harap Habib Husain kembali meninjau kembali tuduhan ini. Tentunya pemerintah Arab Saudi tatkala memperluas mesjid maka pasti ada areal rumah para sahabat, areal rumah istri-istri Nabi yang dihancurkan. Kalau seandainya rumah para sahabat dan keluarga Rasulullah di Madinah harus dibiarkan maka bagaimana cara perluasan mesjid Nabawi???Dan situs-situs sejarah masih banyak yang dijaga oleh Arab Saudi, seperti mesjid Quba’, mesjid Qiblatain, Mesjid Jum’at, Mesjid Ijabah, bahkan baru saja dibangun Mesjid Khondak, demikian juga sekarang sedang dibangun mesjid besar di uhud dekat Syuhada’ uhud.Demikian juga di Mekah, tempat kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih dibangun perpustakaan.Lagi pula Nabi sendiri tatkala ke Mekah beliau tidak ingin singgah ke rumahnya yang dulu apalagi merebut kembali.عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدِ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنْزِلُ فِى دَارِكَ بِمَكَّةَ فَقَالَ « وَهَلْ تَرَكَ لَنَا عَقِيلٌ مِنْ رِبَاعٍ أَوْ دُورٍ ». وَكَانَ عَقِيلٌ وَرِثَ أَبَا طَالِبٍ هُوَ وَطَالِبٌ وَلَمْ يَرِثْهُ جَعْفَرٌ وَلاَ عَلِىٌّ شَيْئًا لأَنَّهُمَا كَانَا مُسْلِمَيْنِ وَكَانَ عَقِيلٌ وَطَالِبٌ كَافِرَيْنِDari Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhuma, beliau bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah anda akan singgah di rumahmu di Mekah?’ Beliau bersabda, “Apakah Aqil masih meninggalkan rumah untuk kami.”Aqil yang menjadi ahli waris Abu Thalib bersama si Thalib. Sementara Ja’far dan Ali tidak mendapatkan warisan apapun, karena keduannya muslim. Aqil dan Thalib orang kafir. (HR. Bukhari 1588, Muslim 3360, dan Ibn Majah 2834).Ketika fathu Mekah, tanah negeri itu menjadi kekuasaan kaum muslimin. Kendati demikian, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak mempedulikan rumah kelahiran atau tanah beliau. Beliau juga tidak mengupayakan pelestarian tempat-tempat bersejarah itu. Beliau tidak merawat rumah kelahiran beliau, atau merawat gua hira, atau gua tsur, sama sekali tidak.Ini menunjukkan bahwa dakwah beliau dan para sahabat, tidak memiliki kepentingan dengan tempat-tempat semacam ini.Karena itu, jika ada yang beranggapan, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat menyerang kota Mekah untuk merebut kembali tanah kelahiran mereka, ini berarti suudzan kepada beliau dan sahabat.(silahkan baca  http://www.konsultasisyariah.com/rumah-nabi-jadi-wc-umum/)Adapun kebaikan-kebaikan Arab Saudi bagi dunia Islam maka sungguh sangat banyak sekali, namun memang jarang terpublikasi. Diantaranya silahkan baca http://www.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/15/03/28/nlwxib-wajah-humanis-saudi          Jika mata Habib Husain tidak bisa melihat kebaikan-kebaikan Arab Saudi negeri Salafy, maka tidak ada salahnya jika mata Habib Husain terbuka untuk mampu melihat jasa-jasa Negara Iran negerinya kaum Syi’ah. Diantara jasa-jasa Iran adalah :–         Menyebarkan narkoba di penjuru dunia diantaranya di tanah air Indonesia (silahkan lihat http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/06/27/58074/Iran-Pemasok-Narkotika-Terbesar-ke-Indonesia, lihat juga http://www.konsultasisyariah.com/narkoba-iran/)–         Menyebarkan kedustaan tentang Arab Saudi di tanah air agar menanamkan kebencian terhadap umat Islam di Arab Saudi (silahkan lihat https://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/340-koleksi-dusta-pemerintah-iran)–         Tersebarnya aids karena terlalu sering mut’ah/nikah kontrak gonta ganti pasangan. (Silahkan lihat http://www.merdeka.com/dunia/penderita-aids-di-iran-melonjak-tajam.html) Bersambung… insya Allah…Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 27-07-1436 H / 16-05-2015 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com


Berikut ini beberapa kritikan terhadap ceramah Habib Husain Al-Atas –semoga Allah memberi petunjuk kepadanya-, yang disampaikan oleh beliau dalam kajian acara renungan dibawah naungan al quran dari surat Al Arof ayat 181-188 bersama ust Husin Alatas pada hari selasa tanggl 12 mei 2015 jam 08.00  dan disiarkan ulang jam 22.00 (silahkan download di https://goo.gl/k71wCL)Penulis merasa penting untuk menyampaikan kritikan ini mengingat isi ceramah beliau bertentangan dengan pokok akidah umat Islam.PERTAMA :Habib Husain meragukan keotentikan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari kitab-kitab hadits yang mashyur. Habib Husain berkata :((Kebenaran yang pasti, yang mutlak yang datang dari sisi Allah. Oleh karena itu tidak ada satu pun jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi buku-buku yang lain, bahwa buku-buku tersebut terjamin kebenarannya. Maka Allah berfirman:وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً“Kalau Al-Qur’an bukan dari Allah, niscaya mereka akan jumpai pertentangan yang amat banyak”Tidak ada nash Al-Quran maupun ucapan Nabi yang menjamin bahwa Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasai, Ad-Darimi, begitu pula Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Ibnu Abi Syaibah, musnad eee…al mush…al mush….al…mushannaf….mushannaf Ibn Abi Syaibah, Mushannaf Abdurrazaq, bahwa semua buku-buku ini terjamin kebenarannya??, sama sekali tidak ada!!. Ini dari versi ahlussnnahDari versi syiah, empat buku yang  menjadi rujukan mereka: al-kulaini al-kaafi, man laa yahduruhul faqih li As-Shaduq, kemudian at-tahdzib, yang keempat al-Istibshar yang ditulis oleh Ath-Thuusi, begitu pula buku-buku yang lain, tidak ada jaminan dari Allah maupun RasulNya bahwa buku-buku ini merupakan buku yang berisi kebenaran yang terjamin. Itu hanya klaim-klaim yang datang dari mereka-mereka yang fanatik kepada buku tersebut.Yang fanatik kepada Bukhari-nya, Muslimnya, At-Tirmidzi-nya, Abu Dawud-nya, Ibnu majahnya, begitu pula kepada Ath-thabraninya baik fis shaghir al-awsath maupun al-kabir.Begitu pula di kalangan syiah juga yang berfanatik kepada Al-Kaafi-nya, kepada ath-thuusinya, kepada ash-shaduuqnya, atau kepada al-majlisi, semua ini hadirin sekalian ucapan tanpa dasar kebenaran, tanpa dalil. Oleh karena itu jangan kita membesar-besarkan yang lain di hadapan kitab Allah.Karena buku-buku ini setelah 200 tahun baru dikenal, setelah wafatnya Nabi kita Muhammad shallallau ‘alaihi wa sallam tangan-tangan kotor, hati-hati yang munafik, yang berencana busuk terhadap Islam tidak mungkin dapat kita hindari.Kalau seandainya sebagian ulama mengatakan fulan tsiqah seorang yang jujur, fulan merupakan seorang yang cermat dan telilti, fulan merupakan seorang yang betul-betul menjaga kebersihan hidup ini, itu kan menurut penilaian manusia, bisa benar bisa salah, dan biasanya:وعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٍ، وَلَكِنَّ عَينَ السُّخْطِ تُبْدي الْمَسَاوِيَا“Pandangan mata kecintaan membuat yang buruk menjadi indah, sebaliknya pandangan kebencian akan membuat apa? Akan membuat yang indah menjadi buruk”)) Kritikan :Sangat jelas bahwa Habib Husain meragukan keotentikan hadits-hadits Nabi yang termaktub dalam kitab-kitab hadits baik dari kalangan ahlus sunnah maupun dari kalangan syi’ah. Adapun alasan yang disampaikan oleh beliau adalah :–         Karena hadits-hadits tersebut dikodifikasikan setelah 200 tahun wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam–         Kitab-kitab hadits tersebut tidak luput dari ((tangan-tangan kotor, hati-hati yang munafik, yang berencana busuk terhadap Islam tidak mungkin dapat kita hindari))–         Karena keshahihan/keotentikan hadits dibangun diatas penilaian manusia yang menyatakan “si fulan tsiqoh/cermat dan terpercaya”, dan penilaian manusia bisa saja salah, sebagaiamana perkataan Habib : ((Kalau seandainya sebagian ulama mengatakan fulan tsiqah seorang yang jujur, fulan merupakan seorang yang cermat dan telilti, fulan merupakan seorang yang betul-betul menjaga kebersihan hidup ini, itu kan menurut penilaian manusia, bisa benar bisa salah)) Pernyataan Habib ini sangatlah berbahaya karena melazimkan perkara-perkara yang batil, diantaranya : Pertama : Hadits-hadits yang ada sekarang yang termaktub dalam kitab-kitab hadits –baik versi ahlus sunnah maupun versi syi’ah- tidak bisa dijadikan pedoman ataupun rujukan, karena tidak ada jaminan kebenarannya. Konsekwensi perkataannya bahwa dalil yang diterima terbatas hanya al-Qur’an.Dan inilah pemahaman sekte sesat yang dikenal oleh para ulama dengan Al-Qur’aniyun, yaitu mereka-mereka yang menolak Hadits nabi dan hanya mau berdalil dengan al-Qur’an, dikarenakan hadits-hadits yang dikodifikasikan sekarang diragukan keotentikannya dan diragukan kebenarannya.Dan munculnya sekte sesat ini telah disinyalir oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau :أَلاَ إِنِّي أُوْتِيْتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ أَلاَ يُوْشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيْكَتِهِ يَقُوْلُ : عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَلاَلٍ فَأَحِلُّوْهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوْهُKetahuilah sesungguhnya diturunkan kepadaku Al-Quran dan yang semisalnya bersamanya (yaitu hadits)”, ketahuilah akan datang seseorang yang kenyang duduk diatas pembaringannya berkata: “Berpegang teguhlah kepada Al- Quran ini saja, semua yang kalian dapati padanya kehalalan maka halalkan dan yang kalian dapati padanya satu keharoman maka haramkanlah. [HR Ahmad 4/131 dan Abu Daud 5/11] Kedua : Usaha para ulama dalam menilai kredibilitas para perawi hadits tidak ada nilainya. Pernyataan para ulama al-Jarw wa at-Ta’dil : “Si fulan tsiqoh (terpercaya dan cermat)” sehingga diambil periwayatan haditsnya atau “Si fulan Kadzdzab (pendusta)” sehingga ditolak periwayatan haditsnya, semuanya tidak bernilai di sisi Habib Husain, dengan dalih bahwasanya ini semua hanyalah penilaian manusia.Padahal tidak ada jalan lain di kalangan para ulama ahlus sunnah (baik Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i maupun Imam Ahmad) untuk mengetahui suatu hadits bisa diterima atau ditolak kecuali dengan penilaian terhadap para perawinya. Nah kalau penilaian para ulama terhadap para perawi tidak dianggap oleh Habib Husain maka dengan cara apakah kita bisa mengetahui suatu hadits shahih atau lemah??Ataukah Habib Husain memiliki metode tersendiri dalam menilai keshahihan suatu hadits tanpat ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil (penilaian para ulama terhadap kredibilitas para perawi)?Kesimpulan yang diambil Habib Husain bahwa hadits-hadits yang ada sekarang sudah tidak bisa terjamin kebenarannya, apalagi beliau menegaskan dengan pernyataan beliau kitab-kitab hadits yang ada tidak luput dari ((tangan-tangan kotor, hati-hati yang munafik, yang berencana busuk terhadap Islam tidak mungkin dapat kita hindari)) Ketiga : Beliau mencela kefanatikan Ahlus Sunnah terhadap kitab-kitab hadits yang ada Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, dll. Ahlussunnah memang harus fanatik kepada kitab-kitab tersebut, karena pada kitab-kitab tersebutlah terdapat sabda-sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Allah berfirman :وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُواApa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. [Al-Hasyr/59:7)Lantas jika semua kitab hadits tidak terpercaya maka bagaimana kita melaksanakan perintah Allah ini. Bagaimana kita bisa mengenal dan mengetahui apa yang telah dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Demikian juga bagaimana kita bisa mengamalkan perintah Allah :لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًاSesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (          QS Al-Ahzaab : 21)Adapun jika maksud Habib bahwasanya Ahlus Sunnah fanatik kepada kitab-kitab tersebut melazimkan bahwa semua isi kitab tersebut benar, maka ini adalah tuduhan yang dusta dan diada-adakan. Tidak ada seorangpun ahlus sunnah yang berakal sehat yang menyatakan bahwa semua isi buku tersebut adalah hadits yang shahih !!!. Karena para penulis kitab-kitab hadits yang disebutkan oleh Habib Husainpun tidak pernah menyatakan bahwa semua hadits yang mereka tulis dalam kitabnya adalah shahih, kecuali Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim yang mempersyaratkan hanya menulis hadits-hadits yang shahih. Itupun ada sebagian ulama yang mengkritik segelintir kecil dari hadits-hadits mereka. Keempat : Hadits-hadits Nabi bukanlah wahyu dari Allah. Perkataan Habib ((Kebenaran yang pasti, yang mutlak yang datang dari sisi Allah. Oleh karena itu tidak ada satu pun jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi buku-buku yang lain, bahwa buku-buku tersebut terjamin kebenarannya. Maka Allah berfirman:وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً“Kalau Al-Qur’an bukan dari Allah, niscaya mereka akan jumpai pertentangan yang amat banyak”Tidak ada nash Al-Quran maupun ucapan Nabi yang menjamin bahwa Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasai, Ad-Darimi, begitu pula Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Ibnu Abi Syaibah, musnad eee…al mush…al mush….al…mushannaf….mushannaf Ibn Abi Syaibah, Mushannaf Abdurrazaq, bahwa semua buku-buku ini terjamin kebenarannya, sama sekali tidak ada)) Bantahan:Ini adalah kedustaan, bukankah Allah telah berfirman :وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣)إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (٤)Dan Tiadalah yang diucapkan oleh Muhammad itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS An-Najm : 3-4)Dari Abdullah bin ‘Amr beliau berkata :كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيدُ حِفْظَهُ، فَنَهَتْنِي قُرَيْشٌ، فَقَالُوا: إِنَّكَ تَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ تَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَشَرٌ يَتَكَلَّمُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا، فَأَمْسَكْتُ عَنِ الْكِتَابِ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالَ: «اكْتُبْ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا خَرَجَ مِنِّي إِلَّا حَقٌّ»“Aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, aku ingin menghafalkannya. Maka kaum Quraisy melarangku, mereka berkata : “Sesungguhnya engkau menulis segala sesuatu yang kau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia, ia berkata dalam kondisi marah dan dalam kondisi senang”. Maka akupun berhenti menulis, lalu aku menceritakan hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau berkata : “Tulislah, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidak ada yang keluar dariku kecuali kebenaran“ (HR Ahmad no 6510)Dan telah lalu sabda Nabiأَلاَ إِنِّي أُوْتِيْتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ“Ketahuilah sesungguhnya diturunkan kepadaku Al-Quran dan yang semisalnya bersamanya (yaitu hadits)”Lantas apa fungsinya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dikatakan sebagai ma’shuum?, beliau tidak lain disifati demikian karena hadits-hadits beliau adalah kebenaran, wahyu dari Allah.Tentu jelas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyatakan bahwa Shahih Al-Bukhari itu terjamin kebenarannya, akan tetapi Nabi telah menyatakan bahwa apa yang diucapkannya pasti benar. Nah apa yang telah diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah termaktub dalam kitab-kitab hadits.Ini semua menunjukkan bahwa pendalilan Habib dengan ayat di atas untuk menolak kitab-kitab hadits adalah pendalilan yang tidak tepat, karena hadits-hadits juga berasal dari Allah. KEDUA :Pernyataan Habib Husain:((Maka dari sini para ikhwan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. kitab yang pasti kebenarannya hanya kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan saya bersumpah atas nama Allah, inni usyhidullah wa usyhidukum jami’an anna hadza huwa al-kitab al-wahid aladzi yahtawi ‘alal haq. Saya persaksikan Allah, persaksikan kalian semua bahwa hanya ini kitab satu-satunya yang mencakup kebenaran yang tidak meragukan.ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًىYang terang benderang, tidak terdapat kegelapan di dalamnya sedikit pun dan ia lah asy-syifa’u war rahmah, dialah al-huda maka selain dari kitab suci al-quran, yang mengaku sebagai ahlussunah yang mengaku syiah dari keluarga rasul, lastum ‘alasy syai, kalian tidak berarti apa-apa hingga kalian kembali kepada kitab Allah. Khurafat-khurafat, kebohongan-kebohongan, kepalsuan yang menyebar dalam buku-buku kalian bersih.)) Bantahan :          Pernyataan Habib Husain ini hanyalah untuk menekankan akan aqidah beliau bahwasanya kitab-kitab hadits yang ada tidak bisa dipercaya karena berisi khurofat dan kebohongan serta kepalsuan.Nah yang ingin kita tanyakan kepada Habib Husain, kalau beliau hendak sholat, hendak haji, hendak membayar zakat, maka bagaimanakah caranya jika hanya bersandar kepada Al-Qur’an?Karena tata cara sholat, kapan waktu-waktunya, berapa raka’atnya, tidak dijelaskan secara rinci dalam Al-Qur’an, dan hanya dijelaskan dalam hadits-hadits Nabi.Nah bagaimana cara Habib Husain sholat kalau tidak berpedoman kepada hadits-hadits Nabi?, karena seluruh kitab hadits yang ada tidak terjamin kebenarannya. Lantas apakah Habib Husain punya kitab hadits sendiri? Sanadnya shahih tanpa ada keraguan bersambung hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?Demikian juga permasalahannya yang berkaitan dengan haji dan zakat, tidak ada perinciannya di Al-Qur’an, perinciannya terdapat dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. KETIGA :Apa Kriteria Hadits Shahih menurut Habib?Kenyataannya Habib Husain juga sering berdalil dengan hadits –meskipun ia meyakini bahwa semua kitab hadits yang ada tidak terjamin kebenarannya-. Bahkan dalam ceramah beliau ini, ternyata beliau juga menyebutkan sebuah hadits, Habib Husain berkata:((Oleh karena itu Nabi yg dikenal sebagai seorang yg berjiwa penuh dgn  rahmat, airmata berlinang linang ketika menyaksikan seorang yahudi yang mati yang digiring jenazahnya menuju pekuburannya, Nabi bercucuran aitmata mengatakan : “Satu orang lagi telah lolos masuk kedalam api neraka dan saya tdk berdaya untuk menyelamatkan dirinya”))Hadits yang disebutkan oleh Habib ini ngomong-ngomong dari kitab hadits yang mana? Apakah dari kitab-kitab hadits versi Ahlus Sunnah yang dinilai cacat oleh Habib, ataukah dari kitab-kitab hadits versi Syi’ah?. Lantas bagaimana kedudukan para perawi hadits ini?, bagaimana penilaian para ulama tentang para perawi tersebut.Ataukah sangat jelas bahwa ini adalah hadits palsu?, jika hadits ini hadits palsu kok bisa diniali shahih menurut Habib Husain sehingga dijadikan dalil?. Apa sih ilmu Habib Husain untuk mengetahui keshahihan suatu hadits?Maka sungguh aneh jika Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim ditolak oleh Habib, akan tetapi hadits palsu dijadikan dalil ??? KEEMPAT :Tafsir Al-Qur’an versi Habib HusainHabib Husain sepertinya berniat baik, ingin agar pertikaian diantara ahlus sunnah dan syi’ah selesai. Meskipun solusi yang beliau tawarkan adalah solusi aneh dan mustahil. Yaitu meninggalkan kitab-kitab hadits versi ahlus sunnah dan versi syi’ah, lalu kembali kepada Al-Qur’an saja yang jelas kebenarannya.Maka taruhlah kita setuju dengan solusi yang ditawarkan oleh Habib Husain, maka yang jadi pertanyaan : Jika kita kembali kepada Al-Qur’an lantas versi pemahaman dan tafsir al-Qur’an tersebut ikut versi yang mana?, apakah ikut versi ahlus sunnah?, ataukah versi Syi’ah?, ataukah Habib Husain akan membuat versi tafsir sendiri.Berikut ini contoh tafsir Habib Husain terhadap sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang beliau sampaikan dalam ceramah di atas.((inilah nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dia tidak mengatakan kamu celaka, neraka, sesat, kafir…tapi datang kepada mereka, mengajak kembali kepada Allah, membacakan ayat ayat Allah ta’ala, bila ditolak dicaci dimaki dia bersabar dan besok akan mendatanginya lagi untuk kembali kpd Allah,.bukan tugas nabi untuk menghakimi mereka,..bukan tugas mereka pula untuk menghakimi nabi,مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍbukan tugas kamu untuk apa? Untuk menghisab mereka…وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍbegitu pula bukan tugas mereka untuk menghisab kamu… (QS Al-An’aam : 52)saya seorang yang tidak lepas dari kesalahan,ketergelinciran,..yang tidak luput dari dosa,.dari hal hal yg busuk yang Allah tutupi,..tugas saya bukan mengadili manusia,..tugas saya hanya seorang  menyampaikan pesan pesan yang datang dr Allah,..dgn menyampaikan pesan ini))Lihatlah dalam pernyataan di atas, Habib Husain menafsirkan ayat diatas (QS Al-An’aam : 52) dengan larangan untuk menghukum orang lain. Sehingga beliau menyatakan bahwa Nabi tidak pernah memvonis celaka, neraka, sesat, dan kafir. Bukan tugas Nabi untuk menghukum dan memvonis mereka.)) Komentar:Ini sebenarnya tafsiran yang sangat aneh dan bertentangan dengan ayat-ayat yang lain dan juga hadits hadits yang shahih. Untuk lebih jelasnya berikut saya sampaikan terjemah ayat tersebut selengkapnya versi Depag :وَلا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ (٥٢)Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu Termasuk orang-orang yang zalim) (QS Al-An’aam : 52)“Ketika Rasulullah s.a.w. sedang duduk-duduk bersama orang mukmin yang dianggap rendah dan miskin oleh kaum Quraisy, datanglah beberapa pemuka Quraisy hendak bicara dengan Rasulullah, tetapi mereka enggan duduk bersama mukmin itu, dan mereka mengusulkan supaya orang-orang mukmin itu diusir saja, lalu turunlah ayat ini” (Lihat catatan kaki ayat ini pada terjemahan versi Depag)Karenanya sangat jelas bahwa yang dinafikan oleh Allah bukanlah menghukum atau memvonis akan tetapi yang dinafikan oleh Allah adalah hisab, yaitu penilaian mereka di akhirat, yaitu bahwasanya pertanggungjawaban hisab mereka adalah di tangan Allah.Ayat ini sama seperti firman Allah :قَالُوا أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الأرْذَلُونَ (١١١)قَالَ وَمَا عِلْمِي بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١١٢)إِنْ حِسَابُهُمْ إِلا عَلَى رَبِّي لَوْ تَشْعُرُونَ (١١٣)وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الْمُؤْمِنِينَ (١١٤)Mereka berkata: “Apakah Kami akan beriman kepadamu, Padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?”. Nuh menjawab: “Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. (QS Asy-Syu’aroo’ : 111-114)Adapun menafsirkan lafal “hisab” dengan “larangan memvonis/menghukum” maka jelas ini adalah penafsiran batil yang disebutkan oleh orang-orang yang berpemikiran Liberal, yang menyatakan bahwa semua agama adalah sama, tidak boleh umat Islam memvonis umat yang lain dengan kufur atau neraka.Padahal dalam al-Qur’an banyak sekali ayat yang memvonis kaum Nasrani dan Yahudi sebagai kuffaar dan di neraka jahannam.Seperti firman Allah :لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (٧٢)Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam”, Padahal Al masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maidah : 72)لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٧٣)Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (QS AL-Maidah : 74)إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ (٦)Sesungguhnya orang-orang yang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS Al-Bayyinah : 6)Lihatlah dalam ayat-ayat di atas Allah memvonis kaum musyrikin dan kaum ahlul kitab (Yahudi dan Nashoro) sebagai kaum kuffar dan tempat mereka di neraka jahannam.Dan bukankah setiap kali Habib Husain sholat selalu membaca firman Allahصِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧)(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS Al-Fatihah : 7)Para mufassirin telah sepakat bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang dimurkai oleh Allah adalah kaum Yahudi, dan orang-orang yang sesat adalah kaum Nashoro. Perhatikanlah pada ayat ini Allah memvonis sesat dan dimurkai Allah.Apalagi kalau meilhat hadits-hadits Nabi tentang hal memvonis maka sungguh sangat banyak sekali. Baik pada hadits-hadits yang shahih maupun hadits-hadits yang palsu. Yang menakjubkan adalah Habib Husain melarang memvonis akan tetapi justru beliau menyebut hadits palsu tentang Nabi memvonis seorang Yahudi yang meninggal masuk neraka. Sebagaimana perkataan Habib :((Oleh karena itu nabi yg dikenal sebagai seorang yang berjiwa penuh dengan  rahmat, airmata berlinang linang ketika menyaksikan seorang yahudi yang mati yang digiring jenazahnya menuju pekuburannya, Nabi bercucuran aitmata mengatakan : “Satu orang lagi telah lolos masuk kedalam api neraka dan saya tdk berdaya untuk menyelamatkan dirinya“)) Komentar:Saya kawatir Habib Husain telah terkontaminasi dengan pemikiran-pemikiran Kaum JIL.          Nah jika Habib Husain dalam menerjemahkan dan menafsirkan ayat di atas telah keliru, terus bagaimana beliau mau mengajak umat ini untuk meninggalkan kitab-kitab hadits dan hanya bersandar kepada Al-Qur’an?. Maka pertanyaan yang sangat mendasar adalah Al-Qur’an terjemahan dan tafsir versi siapakah yang anda pilih wahai Habib Husain? Apakah versi anda yang keliru begini? Atau versi pafa mufassir ahlus sunnah ataukah versi para mufassir syi’ah, ataukah versi para mufassir JIL?? KELIMA :Habib Husain justru memvonis bahkan menuduh !! Habib Husain menyampaikan kata-kata indah bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam anti memvonis orang lain, baik vonis neraka, atau celaka, atau sesat, atau kafir. Dan Habib Husain mengaku mengikuti metode Nabi, dimana beliau anti memvonis. Habib Husain berkata:((saya seorang yang tidak lepas dari kesalahan, ketergelinciran,..yang tidak luput dari dosa,. dari hal hal yg busuk yang Allah tutupi,..tugas saya bukan mengadili manusia,..tugas saya hanya seorang  menyampaikan pesan pesan yang datang dr Allah,..dgn menyampaikan pesan ini)) Komentar.Ini pernyataan Habib Husain, akan tetapi kenyataannya beliau memvonis Salafy dengan vonis-vonis dan tuduhan yang sangat mengerikan. Berikut diantara vonis-vonis dan tuduhan beliau dalam ceramah diatas: Pertama : Salafy Wahabi lebih mengagungkan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Habib Husain berkata:((Oleh karena itu yang lucu hadirin sekalian dari sebagian ulama-ulama salafi wahabi ini, kita jumpai bagaimana semua peninggalan rasul, peninggalan para sahabat dan keluarga rasulnya, di mekah di madinah dibersihkan disingkirkan dengan alasan dikhawatirkan akan menjerumuskan orang ke dalam syirik. Tapi yang mengherankan, mereka mendirikan museum bagi tokoh mereka yaitu Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin di Riyadh. Mendirikan museum yang besar, dalam museum tersebut disebutkan ini merupakan kacamata yang dipergunakan oleh Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, ini merupakan pena terakhir yang digunakan oleh beliau, ini merupakan peninggalannya, ini merupakan peninggalannya dibuat museum diletakan di tempat yang betul-betul indah. Kita gak menentang hal ini, gak mengatakan bahwa hal ini merupakan perbuatan bidah. Yang mengherankan, kenapa terhadap rasul, terhadap keluarga para sahabatnya, mereka habisi semua situs sejarah dan peninggalan mereka. Siapa yang ingin lebih jelas lagi coba buka museum muhammad shalih al-utsaimin atau muthaf Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.Bentuk yang indah yang menampung sekian banyak peninggalan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin yang meninggal belum lama ini, beliau merupakan rekan dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Para pengikutnya menjunjungnya mengangungkannya bahkan lebih daripada rasul. Kalau rasul, mereka sebutkan sekian banyak kekurangannya, cacatnya, bahkan mereka menisbatkan hal yang tidak pantas kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)) Kritikan :          Pernyataan terakhir Habib Husain yang saya garis bawahi melazimkan para salafy wahabi adalah orang-orang kafir dan munafik. Bagaimana tidak kafir, ternyata mereka lebih mengagungkan Syaikh Al-‘Utsaimin daripada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan sungguh ini adalah adalah tuduhan keji dan dusta. Apalagi menuduh salafy wahabi suka menyebutkan banyak kekurangan nabi, menyebutkan cacat nabi, dan menisbahkan yang tidak pantas kepada Nabi. Sungguh ini merupakan kekafiran yang nyata. Penyataan dan tuduhan Habib Husain ini melazimkan kekafiran salafy wahabi. Akan tetapi tuduhan ini harus ada buktinya !!! Saya mohon Habib Husain mau mendatangkan buktinya bukan hanya menyampaikan kedustaan !!.Diantara kedustaan Habib Husain, bahwasanya beliau menyatakan bahwa di kota Riyadh Ibu kota Arab Saudi dibangun Muthaf (Museum) Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah. Ini jelas kedustaan. Karena tidak ada museum Syaikh Al-Utsaimin, apalagi dibangun di kota Riyadh ibu kota Arab Saudi. Yang benar adalah telah dibangun Yayasan Sosial Syaikh Al-Utsaimin, dan dibangun di kota kediaman beliau yaitu di Unaizah. Dan Yayasan sosial ini bukanlah museum sebagaimana tuduhan Habib, karenanya Yayasan ini bergerak dalam bidang-bidang kebaikan seperti–         Membangun mesjid–         Membantu faqir miskin, anak yatim, dan para janda–         Membantu yayasan-yayasan tahfidz al-Qur’an–         Memperhatikan para penuntut ilmu–         dll (silahkan lihat di http://www.ibnothaimeen.com/all/Charity.shtml)Dinamakan yayasan tersebut dengan nama Syaikh al-Utsaimin karena tujuan utama pembangunan yayasan ini adalah untuk menyebarkan karya-karya ilmiyah dari kitab-kitab syaikh al-Utsaimin, ceramah-ceramah beliau, dan fatwa-fatwa beliau.Adapun di dalam yayasan tersebut mungkin pena ada syaikh dan yang semisalnya maka jika itu benar maka itu merupakan kenang-kenangan yang mungkin disimpan oleh para ahli waris beliau, dan belum tentu diridoi oleh beliau. Dan barang kenangan tersebut bukan untuk dicari keberkahannya sama sekali, tetapi hanya dipajang untuk kenangan. Kalaupun ini merupakan kesalahan maka toh sudah ada yang mengingkari, dan bukanlah perkara yang dibesar-besarkan dan disebarkan agar orang-orang mengunjungi yayasan ini dalam rangka mencari berkah dari benda-benda tersebut.Jadi Habib Husain telah mengesankan bahwa kerajaan Arab Saudi yang membangun museum, padahal yang dibangun adalah yayasan sosial dan yang membangunnya adalah pihak swasta. Kedua : Habib Husain menuduh bahwa Salafy Wahabi dan Habib Tasawwuf membantah syi’ah karena uang bukan karena kebenaran. Habib Husain berkata:((Saya jumpai hadirin sekalian hal yang amat lucu,kalangan habaib dan kyai kyai yang condong kearah tasawuf yang antipati terhadap kelompok salafy wahabi,… bahkan dimata mereka salafy wahabi sesat, kemudian kelompok salafy wahabi juga menganggap habaib dan kyai kyai ini merupakan ahli bid’ah, sesat, musyrik, ini menurut mereka, buku buku mereka menjadi saksi, tapi yang heran mereka bisa bersatu bersama sama, bisa bersatu dalam satu wadah, bersama sama untuk berperang memusuhi syi’ah , ini mengherankan, apa? Uang yang menyatukan mereka, kepentingan yang menyatukan mereka,bukan kebenaran)) Kritikan;          Ini juga merupakan tuduhan yang keji, memvonis bahwasanya para habib dan juga salafy wahabi hanya mencari duit dalam membantah syi’ah. Tolong tunjukan bukti wahai Habib, bukan hanya sekedar menuduh !!. Kedudukan anda sebagai Habib jauh lebih tinggi dari perbuatan menuduh tanpa bukti !!Yang menjadi pertanyaan : Kenapa Habib Husain sewot dan risih jika salafy dan para habib bersatu membantah syi’ah?Apakah Habib Husain tidak suka Syi’ah dibantah dan diungkap kesesatannya? Ada apa gerangan wahai Habib Husain? Ketiga : Habib Husain memvonis Kerajaan Arab Saudi yang mengurus dua kota suci Mekah dan Madinah sebagai orang-orang yang telah menodai kehormatan Mekah, dan melakukan kerusakan di atas muka bumi. Habib Husain berkata:((oleh karena itu kita berharap, mudah mudahan kota suci Mekah dibersihkan disucikan dari orang orang yang menodai kehormatannya,orang orang yang melakukan kerusakan diatas muka bumi ini, kembali ketangan orang orang yang beriman yang bertaqwa)) Kritikan :          Ini adalah tuduhan yang sangat keji terhadap pemerintah Arab Saudi. Dan kita katakan kepada Habib sebuah syair yang disebutkan oleh Habib dalam ceramahnya, Habib Husain berkata  :وعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٌ، وَلَكِنَّ عَينَ السُّخْطِ تُبْدي الْمَسَاوِيَا“Pandangan mata kecintaan membuat yang buruk menjadi indah, sebaliknya pandangan kebencian akan membuat apa? Akan membuat yang indah menjadi buruk”Habib Husain hanya melihat dengan pandangan buruk sehingga semua kebaikan Arab Saudi terlupakan. Bahkan dengan berani memvonis Arab Saudi sebagai orang-orang yang telah menodai kehormatan Mekah dan telah melakukan kerusakan di atas muka bumi.Tidak seorang salafy pun bahkan tidak seorang yang berakalpun yang menyatakan bahwa Arab Saudi bebas dari kesalahan. Arab Saudi tentu memiliki kesalahan-kesalahan, akan tetapi kebaikan mereka terlalu jauh lebih banyak dari pada kesalahan yang ada. Minimal kebaikan mereka adalah Menjaga kesucian dua kota suci (bukan menodainya sebagaimana tuduhan Habib).Dan sungguh luar biasa harta yang telah dikeluarkan oleh Arab Saudi untuk mengadakan perluasan dua mesjid, yang semua itu adalah untuk kepentingan kaum muslimin di seluruh muka bumi agar lebih nyaman beribadah di Mekah dan Madinah.Adapun tuduhan Habib Husain:((Oleh karena itu yang lucu hadirin sekalian dari sebagian ulama-ulama salafi wahabi ini, kita jumpai bagaimana semua peninggalan rasul, peninggalan para sahabat dan keluarga rasulnya, di mekah di madinah dibersihkan disingkirkan))Saya harap Habib Husain kembali meninjau kembali tuduhan ini. Tentunya pemerintah Arab Saudi tatkala memperluas mesjid maka pasti ada areal rumah para sahabat, areal rumah istri-istri Nabi yang dihancurkan. Kalau seandainya rumah para sahabat dan keluarga Rasulullah di Madinah harus dibiarkan maka bagaimana cara perluasan mesjid Nabawi???Dan situs-situs sejarah masih banyak yang dijaga oleh Arab Saudi, seperti mesjid Quba’, mesjid Qiblatain, Mesjid Jum’at, Mesjid Ijabah, bahkan baru saja dibangun Mesjid Khondak, demikian juga sekarang sedang dibangun mesjid besar di uhud dekat Syuhada’ uhud.Demikian juga di Mekah, tempat kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih dibangun perpustakaan.Lagi pula Nabi sendiri tatkala ke Mekah beliau tidak ingin singgah ke rumahnya yang dulu apalagi merebut kembali.عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدِ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنْزِلُ فِى دَارِكَ بِمَكَّةَ فَقَالَ « وَهَلْ تَرَكَ لَنَا عَقِيلٌ مِنْ رِبَاعٍ أَوْ دُورٍ ». وَكَانَ عَقِيلٌ وَرِثَ أَبَا طَالِبٍ هُوَ وَطَالِبٌ وَلَمْ يَرِثْهُ جَعْفَرٌ وَلاَ عَلِىٌّ شَيْئًا لأَنَّهُمَا كَانَا مُسْلِمَيْنِ وَكَانَ عَقِيلٌ وَطَالِبٌ كَافِرَيْنِDari Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhuma, beliau bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah anda akan singgah di rumahmu di Mekah?’ Beliau bersabda, “Apakah Aqil masih meninggalkan rumah untuk kami.”Aqil yang menjadi ahli waris Abu Thalib bersama si Thalib. Sementara Ja’far dan Ali tidak mendapatkan warisan apapun, karena keduannya muslim. Aqil dan Thalib orang kafir. (HR. Bukhari 1588, Muslim 3360, dan Ibn Majah 2834).Ketika fathu Mekah, tanah negeri itu menjadi kekuasaan kaum muslimin. Kendati demikian, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak mempedulikan rumah kelahiran atau tanah beliau. Beliau juga tidak mengupayakan pelestarian tempat-tempat bersejarah itu. Beliau tidak merawat rumah kelahiran beliau, atau merawat gua hira, atau gua tsur, sama sekali tidak.Ini menunjukkan bahwa dakwah beliau dan para sahabat, tidak memiliki kepentingan dengan tempat-tempat semacam ini.Karena itu, jika ada yang beranggapan, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat menyerang kota Mekah untuk merebut kembali tanah kelahiran mereka, ini berarti suudzan kepada beliau dan sahabat.(silahkan baca  http://www.konsultasisyariah.com/rumah-nabi-jadi-wc-umum/)Adapun kebaikan-kebaikan Arab Saudi bagi dunia Islam maka sungguh sangat banyak sekali, namun memang jarang terpublikasi. Diantaranya silahkan baca http://www.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/15/03/28/nlwxib-wajah-humanis-saudi          Jika mata Habib Husain tidak bisa melihat kebaikan-kebaikan Arab Saudi negeri Salafy, maka tidak ada salahnya jika mata Habib Husain terbuka untuk mampu melihat jasa-jasa Negara Iran negerinya kaum Syi’ah. Diantara jasa-jasa Iran adalah :–         Menyebarkan narkoba di penjuru dunia diantaranya di tanah air Indonesia (silahkan lihat http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/06/27/58074/Iran-Pemasok-Narkotika-Terbesar-ke-Indonesia, lihat juga http://www.konsultasisyariah.com/narkoba-iran/)–         Menyebarkan kedustaan tentang Arab Saudi di tanah air agar menanamkan kebencian terhadap umat Islam di Arab Saudi (silahkan lihat https://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/340-koleksi-dusta-pemerintah-iran)–         Tersebarnya aids karena terlalu sering mut’ah/nikah kontrak gonta ganti pasangan. (Silahkan lihat http://www.merdeka.com/dunia/penderita-aids-di-iran-melonjak-tajam.html) Bersambung… insya Allah…Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 27-07-1436 H / 16-05-2015 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com

Jangan Tunda Taubatmu !

Khutbah Mesjid Nabawi 12-7-1436 H / 2-5-2015 MOleh : Asy-Syaikh Sholah Al-Budair hafizohullohKhutbah Pertamaاَلْحَمْدُ لِلّهِ لاَ أَبْغِي بِهِ بَدَلاَ ….حَمْدًا يُبَلِّغُ مِنْ رِضْوَانِهِ الأَمَلاَSegala puji bagi Allah, aku tidak mencari pengganti selainNya…Pujian yang menyampaikan harapan untuk meraih keridhoanNya..وَبَعْدُ : إِنِّي بِالْيَقِينِ أَشْهَدُ … شَهَادَةَ الْإِخْلَاصِ أَنْ لَا يُعْبَدُAmma ba’du, sesungguhnya aku bersaksi dengan yakin…Persaksian penuh keikhlasan bahwasanya tidak ada yang disembah…بِالْحَقِّ مَأْلُوهٌ سِوَى الرَّحْمَنِ … مَنْ جَلَّ عَنْ عَيْبٍ وَعَنْ نُقْصَانِdengan benar sesembahanpun kecuali Ar-Rahman….Yang suci dari celaan dan kekurangan… وَأَنَّ خَيْرَ خَلْقِهِ مُحَمَّدَا … مَنْ جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىDan bahwasanya manusia yang terbaik yaitu Muhammad adalah orang yang telah datang kepada kita dengan membawa hujjah dan petunjukصلَّى عَلَيْهِ رَبُّنَا وَمَجَّدَا….والآلِ والصَّحْبِ دَوَامًا سَرْمَدًاRob kita menjadikannya agung dan mencurahkan shalawat kepadanya….Kepada keluarga dan para sahabatnya selama-lamanya…يا رَبِّ فَاِجمَعنا مَعاً وَنَبِيَّنا ….في جَنَّةٍ تُثْنِي عُيونَ الحُسَّدِYa Robku, kumpulkanlah kami bersama dengan nabi kami…di surga sehingga menjauhkan mata-mata yang hasad…في جَنَّةِ الفِردَوسِ وَاكْتُبهَا لَنا …يا ذا الجَلالِ وَذا العُلا وَالسُؤدُدِDi surga Firdaus dan tetapkanlah bagi kami….wahai Dzat Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi serta Maha Kuasa… Wahai kaum muslimin sekalian, bertakwalah kepada Rob kalian, karena sungguh menang orang bertakwa, dan merugilah seorang yang berlebihan dalam dosa dan celaka.وعلى التَّقِيِّ إذا ترسَّخَ في التُّقى… تاجان تاج سكينة ٍ وجلالِDan kepada orang yang ketakwaannya telah kokoh, diberikan kepadanya…dua mahkota, mahkota ketenangan dan mahkota kemuliaan…وإذا تَنَاسَبَتِ الرّجالُ، فما أرَى … نَسَباً يكون كصالِحِ الأعْمالِDan jika para lelaki telah berbangga dengan nasab yang terbaik….maka aku tidak melihat adanya nasab yang terbaik seperti layaknya amal sholeh…يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَHai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At-Taubah : 119)Wahai hamba Allah…petiklah pelajaran dari orang-orang yang telah berlalu…, takutlah engkau kepada kematian yang datang tiba-tiba…, dan waspadalah dari api neraka yang menyala-nyala…وَابْكِ عَلَى ذَنْبٍ وَقَلْبٍ قَدْ قَسَا *** كَالصَّخْرِ مِنْ هَوَاهُ لَمْ يَسْتَفِقِTangisilah dosamu dan hatimu yang telah keras seperti batu…Tidak bisa sadar karena terkuasai hawa nafsu…وَكُنْ خَمِيْصَ الْبَطْنِ مِنْ زَادِ الرِّبَا … وَخَمْرَةَ التَّقْوَى اصطبح واغتبقِDan hendaknya perutmu kosong dari hasil riba….Akan tetapi dengan minuman ketakwaan hendaknya engkau teguk pagi dan sore…ولا تُنَقِّصْ أحَداً فَكُلُّنَا…. مِنْ رَجُلٍ وأصْلُنَا مِنْ عَلَقِJanganlah engkau merendahkan seorangpun….Karena kita seluruhnya berasal dari satu orang, dan asal kita adalah dari segumpal darah…والْخُلْدُ قَدْ مَزَّقَ أقوامَ سَبَا … وهَدَّ سَدّاً مُحْكَمَ التَّأَنُقِDan waktu yang lama berjalan telah menghancurkan kaum negeri Saba’…Merontohkan bendungan (mereka) yang kokoh dan kuat…يَا نفسُ تُوْبِي لَمْ تُخْلَقِي عَبَثَا… يَا نَفْسُ تُوْبِي قَبْلَ أنْWahai jiwa…bertaubatlah…, sesungghuhnya engkau tidaklah diciptakan begitu saja (tanpa hisab-pen)…Wahai jiwa…bertaubatlah sebelum engkau…تُطِيْلِي تَحْتَ الثَّرَى اللَّبَثَا…يَا نَفْسُ تُوْبِي قَبْلَ أَنْberdiam lama di bawah tanah….wahai jiwa bertaubatlah sebelum engkau…تَسْكُنِي رَاغِمَةً جَدَثَاtinggal di kuburan padahal engkau tidak menyukainya…أيا نفسُ بِالْمَأْثُوْرِ عَنْ خَيْرِ مُرْسَلٍ….وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ تَمَسَّكِيWahai jiwa, berpeganglah dengan hadits rasul yang termulia, serta atsar dari para sahabat dan tabi’in…وخافِي غداً يومَ الْحِسَابِ جَهَنَّمَا….إِذَا نَفَحَتْ نِيْرَانُهَا أَنْ تَمَسَّكِTakutlah engkau esok dengan neraka Jahannam pada hari pengadilan…Jika ia meniupkan apinya yang akan membakarmu… Wahai yang bermaksiat kepada Robnya….wahai yang hawa nafsunya telah membuatnya tuli dan membutakannya…, wahai yang telah mendahulukan dunianya daripada akhiratnya…, wahai yang telah bertumpuk dosa-dosanya…Wahai yang telah melalaikan sholat…wahai yang tidak menunaikan hak Allah dan tidak membayar zakat…Wahai orang yang mengumpulkan harta lalu menyimpannya dan menguncinya…Wahai yang hiburannya adalah berbuat kezoliman…, mengganggu dan menyakiti orang lain adalah tradisi dan sifatnya…Sampai kapan engkau tidak peduli tenggelam dalam kelalaianmu…Hingga kapan engkau tidak berhenti…sementara engkau akan pergi dari dunia ini dan meninggalkannya?Maka segeralah bertaubat, segeralah…!بَادِرْ عُمْراً دَارِسًا، وَمَوْتاً خَالِساً، وَمَرَضاً حَابِسًا، وَهَرَمًا لاَبِسًاBersegeralah (bertaubat) sebelum umurmu sirna…, sebelum maut menyambarmu…, sebelum sakit menghalangimu…, sebelum tua renta menempatimu…Wahai orang yang berkata, “Aku akan bertaubat besok…”, bagaimana engkau bertaubat esok hari, sementara esok hari bukanlah milikmu…?, bagaimana engkau baru bertaubat esok hari, sementara bisa jadi engkau tidak bertemu lagi dengan esok hari?قَدِّمْ لِنَفْسِكَ تَوْبَةً مَرْجُوَّةً *** قَبْلَ الْمَمَاتِ وَقَبْلَ حَبْسِ الأَلْسُنِPersembahkanlah untuk jiwamu taubat yang diharapkan…Sebelum kematian dan sebelum lisan terkekang.. بَادِرْ بِهَا غَلْقَ النُّفُوْسِ فَإِنَّهَا *** ذُخْرٌ وَغُنْمٌ لِلْمُنِيْبِ الْمُحْسِنِBersegeralah bertaubat sebelum jiwa tertutup, karena sesungguhnya taubat…Adalah simpanan dan keuntungan bagi orang yang kembali dan berbuat baik…يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًاHai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). (QS At-Tahriim : 8)Taubat yang menyelamatkan kalian dari kehinaan dan kerendahan, menghalangi kalian dari kesalahan dan dosa, taubat yang membawa kalian untuk melaksanakan fardu dan kewajiban, taubat yang mendorong kalian untuk memperbaiki dan mengganti kesalahan yang telah berlalu…Barangsiapa yang berbuat keburukan kepada seorang muslim atau menzoliminya atau menamparnya atau memakinya, atau memakan hartanya dan mengurangi haknya, atau mengikis haknya atau menahannya, maka hendaknya ia mendatanginya dan memohon maaf kepadanya, merendahkan dirinya dengan penuh penyesalan. Maka saudaranya itu akan memaafkannya atau ia meminta ganti rugi.Dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda :مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ اليَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ“Barangsiapa yang berbuat zolim kepada saudaranya baik berkaitan dengan harga dirinya atau sesuatu apapun maka hendaknya ia meminta untuk dihalalkan pada hari ini sebalum tiba hari dimana tidak ada lagi dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal sholeh maka akan diambil amal sholehnya sesuai kadar kezolimannya, dan jika ia tidak memiliki kebaikan maka diambillah keburukan saudaranya tersebut lalu dipikulkan kepadanya” (HR Al-Bukhari)Maka sungguh beruntung orang yang memperbaiki kesalahannya selagi masih memungkinkan untuk dilakukan, ia bersegera untuk bertaubat sebelum tiba ajalnya, dan beramal di dunia yang bermanfaat untuk akhiratnya.Dan iapun wafat di atas sembilan sifat yang indah dan perangai yang mulia yang disebutkan dalam sebuah ayat yang mulia dari surat At-Taubah yang agung.التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (١١٢)Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat Munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu. (QS At-Taubah : 112)Semoga Allah menjadikanku dan kalian menjadi orang yang bertaubat dan kembali kepadaNya, menang dengan memperoleh ganjaran yang baik, serta dimasukkan ke surga tanpa hisab dan adzab, serta meraih kemenangan dengan taubat yang baik.Aku sampaikan apa yang kalian dengar, dan aku memohon ampunan kepada Allah, maka mohonlah ampunan dariNya, sesungguhnya Allah maha pengampun bagi orang-orang yang bertaubat. Khutbah Kedua :          Segala puji bagi Allah yang telah menghantarkan kepada kita kebaikan-kebaikan dan rizki, dan tidak menjadikan kita bertawakal kepada selainNya. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah tidak ada sekutu bagiNya, yang telah menyiapkan surga bagi orang-orang yang bertakwa, dan menyiapkan neraka bagi orang-orang yang melampaui batas sebagai balasan yang setimpal. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi dan keluarganya serta para sahabatnya yang bersegera dalam kebaikan dan berlomb-lomba.Amma ba’du, kaum muslimin sekalian, bertakwalah karena sesungguhnya takwa kepada Allah merupakan hasil yang terbaik, dan ketaatan kepadanya merupakan nasab yang tertinggi.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (١٠٢)Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam. (QS Ali Imron : 102) Kaum Muslimin sekalian, sesungguhnya kalian hidup di negeri yang suci, dalam keamanan yang jelas, dengan rizki yang berlimpah, di bawah pemerintahan yang beriman, yang berhukum dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kalian berada dibawah Negara yang tegak diatas pondasi yang kuat berupa agama dan tauhid serta iman dan sunnah, demikian pula syari’at, persatuan, rahmat, hikmah, dan kekuatan.Maka pujilah Allah atas anugerah yang agung ini serta karunia yang dirasakan ini dengan melazimi ketaatan kepadaNya dan waspada dari bermaksiat kepadaNya.Jagalah negeri kalian, keamanan kalian, dan persatuan kalian dari orang-orang bodoh, para perusak dan khawarij yang keluar, serta gembong-gembong fitnah yang sesat yang selalu berusaha untuk menyebarkan kekacauan di negeri kalian, untuk menggoncang stabilitas keamanan dan ketentraman di negeri kalian.Dan kita menjulurkan tangan-tangan kita (untuk membai’at) kepada pemimpin kita dan imam kita serta waliyul amr kita yaitu Pelayan dua kota suci yang mulia Raja Salman bin Abdul Aziz, seorang lelaki yang tegas, kokoh, dan tegar. Dan kita berkata : bahwasanya kita di atas janji dan menunaikan janji serta loyalitas dan afiliasi, kita adalah kekuatan di waktu genting, kita siap berkorban demi keamanan negeri kita dan negara kita Kerajaan Arab Saudi, dan kami mengucapkan selamat berkah atas kesuksesan keamanan dalam mengejar kelompok pemberontak, dan kami mengucapkan selamat keberkahan atas keputusan-keputusan Raja yang bertujuan untuk memantapkan hukum dan pondasi-pondasinya serta mengokohkannya untuk menegakkan bangunannya. Dan kami membai’at kepada seri paduka pangeran Muhammad bin Nayif bin Abdil Aziz sebagai putra mahkota dan kami juga membai’at seri paduka pangeran Muhammad bin Salman bin Abdil Aziz sebagai wakil putra mahkota, hanya kepada Allah kami memohon untuk membantu mereka berdua dengan pertolonganNya dan taufiqNya.Wahai para pejuang yang hebat, tokoh tokoh pemberani, wahai para pasukan penjaga daerah perbatasan kerajaan Arab Saudi yang tercinta, kalian adalah kebanggaan kami, kemuliaan kami, serta benteng dan baju perang pelindung kami, sungguh selamat bagi kalian meraih kemuliaan dunia dan ganjaran akhirat.Dari Salman radhiallahu ‘anhu berliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ، وَأَمِنَ الْفَتَّانَ“Berjaga di daerah perbatasan sehari semalam lebih baik daripada puasa dan sholat malam sebulan. Jika ia meninggal maka akan berjalan amalan yang biasa ia lakukan, dan akan diberikan kepadanya rizkinya dan diamankan dari fitnah kuburan” (HR Muslim)Dan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhumaa ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ، عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَعَيْنٌ تَحْرُسُ فِي سَبِيْلِ اللهِ“Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka, mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang (tidak tidur) karena berjaga di jalan Allah” (HR At-Tirmidzi)Ya Allah jagalah keamanan bagi kami, persatuan kami, serta ketenteraman kami wahai Robbul ‘alamin. Ya Allah tentara kami yang berjaga di daerah perbatasan…, Ya Allah kuatkanlah semangat mereka, dan tepatkanlah tembakan mereka, dan hancurkanlah musuh-musuh mereka, tolonglah tentara kami mengalahkan kaum yang zolim. Ya Allah terimalah yang meninggal diantara mereka sebagai syuhadaa Uhud, sembuhkanlah orang-orang yang sakit diantara mereka, wahai Yang Maha mendengarkan doa.Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Jangan Tunda Taubatmu !

Khutbah Mesjid Nabawi 12-7-1436 H / 2-5-2015 MOleh : Asy-Syaikh Sholah Al-Budair hafizohullohKhutbah Pertamaاَلْحَمْدُ لِلّهِ لاَ أَبْغِي بِهِ بَدَلاَ ….حَمْدًا يُبَلِّغُ مِنْ رِضْوَانِهِ الأَمَلاَSegala puji bagi Allah, aku tidak mencari pengganti selainNya…Pujian yang menyampaikan harapan untuk meraih keridhoanNya..وَبَعْدُ : إِنِّي بِالْيَقِينِ أَشْهَدُ … شَهَادَةَ الْإِخْلَاصِ أَنْ لَا يُعْبَدُAmma ba’du, sesungguhnya aku bersaksi dengan yakin…Persaksian penuh keikhlasan bahwasanya tidak ada yang disembah…بِالْحَقِّ مَأْلُوهٌ سِوَى الرَّحْمَنِ … مَنْ جَلَّ عَنْ عَيْبٍ وَعَنْ نُقْصَانِdengan benar sesembahanpun kecuali Ar-Rahman….Yang suci dari celaan dan kekurangan… وَأَنَّ خَيْرَ خَلْقِهِ مُحَمَّدَا … مَنْ جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىDan bahwasanya manusia yang terbaik yaitu Muhammad adalah orang yang telah datang kepada kita dengan membawa hujjah dan petunjukصلَّى عَلَيْهِ رَبُّنَا وَمَجَّدَا….والآلِ والصَّحْبِ دَوَامًا سَرْمَدًاRob kita menjadikannya agung dan mencurahkan shalawat kepadanya….Kepada keluarga dan para sahabatnya selama-lamanya…يا رَبِّ فَاِجمَعنا مَعاً وَنَبِيَّنا ….في جَنَّةٍ تُثْنِي عُيونَ الحُسَّدِYa Robku, kumpulkanlah kami bersama dengan nabi kami…di surga sehingga menjauhkan mata-mata yang hasad…في جَنَّةِ الفِردَوسِ وَاكْتُبهَا لَنا …يا ذا الجَلالِ وَذا العُلا وَالسُؤدُدِDi surga Firdaus dan tetapkanlah bagi kami….wahai Dzat Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi serta Maha Kuasa… Wahai kaum muslimin sekalian, bertakwalah kepada Rob kalian, karena sungguh menang orang bertakwa, dan merugilah seorang yang berlebihan dalam dosa dan celaka.وعلى التَّقِيِّ إذا ترسَّخَ في التُّقى… تاجان تاج سكينة ٍ وجلالِDan kepada orang yang ketakwaannya telah kokoh, diberikan kepadanya…dua mahkota, mahkota ketenangan dan mahkota kemuliaan…وإذا تَنَاسَبَتِ الرّجالُ، فما أرَى … نَسَباً يكون كصالِحِ الأعْمالِDan jika para lelaki telah berbangga dengan nasab yang terbaik….maka aku tidak melihat adanya nasab yang terbaik seperti layaknya amal sholeh…يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَHai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At-Taubah : 119)Wahai hamba Allah…petiklah pelajaran dari orang-orang yang telah berlalu…, takutlah engkau kepada kematian yang datang tiba-tiba…, dan waspadalah dari api neraka yang menyala-nyala…وَابْكِ عَلَى ذَنْبٍ وَقَلْبٍ قَدْ قَسَا *** كَالصَّخْرِ مِنْ هَوَاهُ لَمْ يَسْتَفِقِTangisilah dosamu dan hatimu yang telah keras seperti batu…Tidak bisa sadar karena terkuasai hawa nafsu…وَكُنْ خَمِيْصَ الْبَطْنِ مِنْ زَادِ الرِّبَا … وَخَمْرَةَ التَّقْوَى اصطبح واغتبقِDan hendaknya perutmu kosong dari hasil riba….Akan tetapi dengan minuman ketakwaan hendaknya engkau teguk pagi dan sore…ولا تُنَقِّصْ أحَداً فَكُلُّنَا…. مِنْ رَجُلٍ وأصْلُنَا مِنْ عَلَقِJanganlah engkau merendahkan seorangpun….Karena kita seluruhnya berasal dari satu orang, dan asal kita adalah dari segumpal darah…والْخُلْدُ قَدْ مَزَّقَ أقوامَ سَبَا … وهَدَّ سَدّاً مُحْكَمَ التَّأَنُقِDan waktu yang lama berjalan telah menghancurkan kaum negeri Saba’…Merontohkan bendungan (mereka) yang kokoh dan kuat…يَا نفسُ تُوْبِي لَمْ تُخْلَقِي عَبَثَا… يَا نَفْسُ تُوْبِي قَبْلَ أنْWahai jiwa…bertaubatlah…, sesungghuhnya engkau tidaklah diciptakan begitu saja (tanpa hisab-pen)…Wahai jiwa…bertaubatlah sebelum engkau…تُطِيْلِي تَحْتَ الثَّرَى اللَّبَثَا…يَا نَفْسُ تُوْبِي قَبْلَ أَنْberdiam lama di bawah tanah….wahai jiwa bertaubatlah sebelum engkau…تَسْكُنِي رَاغِمَةً جَدَثَاtinggal di kuburan padahal engkau tidak menyukainya…أيا نفسُ بِالْمَأْثُوْرِ عَنْ خَيْرِ مُرْسَلٍ….وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ تَمَسَّكِيWahai jiwa, berpeganglah dengan hadits rasul yang termulia, serta atsar dari para sahabat dan tabi’in…وخافِي غداً يومَ الْحِسَابِ جَهَنَّمَا….إِذَا نَفَحَتْ نِيْرَانُهَا أَنْ تَمَسَّكِTakutlah engkau esok dengan neraka Jahannam pada hari pengadilan…Jika ia meniupkan apinya yang akan membakarmu… Wahai yang bermaksiat kepada Robnya….wahai yang hawa nafsunya telah membuatnya tuli dan membutakannya…, wahai yang telah mendahulukan dunianya daripada akhiratnya…, wahai yang telah bertumpuk dosa-dosanya…Wahai yang telah melalaikan sholat…wahai yang tidak menunaikan hak Allah dan tidak membayar zakat…Wahai orang yang mengumpulkan harta lalu menyimpannya dan menguncinya…Wahai yang hiburannya adalah berbuat kezoliman…, mengganggu dan menyakiti orang lain adalah tradisi dan sifatnya…Sampai kapan engkau tidak peduli tenggelam dalam kelalaianmu…Hingga kapan engkau tidak berhenti…sementara engkau akan pergi dari dunia ini dan meninggalkannya?Maka segeralah bertaubat, segeralah…!بَادِرْ عُمْراً دَارِسًا، وَمَوْتاً خَالِساً، وَمَرَضاً حَابِسًا، وَهَرَمًا لاَبِسًاBersegeralah (bertaubat) sebelum umurmu sirna…, sebelum maut menyambarmu…, sebelum sakit menghalangimu…, sebelum tua renta menempatimu…Wahai orang yang berkata, “Aku akan bertaubat besok…”, bagaimana engkau bertaubat esok hari, sementara esok hari bukanlah milikmu…?, bagaimana engkau baru bertaubat esok hari, sementara bisa jadi engkau tidak bertemu lagi dengan esok hari?قَدِّمْ لِنَفْسِكَ تَوْبَةً مَرْجُوَّةً *** قَبْلَ الْمَمَاتِ وَقَبْلَ حَبْسِ الأَلْسُنِPersembahkanlah untuk jiwamu taubat yang diharapkan…Sebelum kematian dan sebelum lisan terkekang.. بَادِرْ بِهَا غَلْقَ النُّفُوْسِ فَإِنَّهَا *** ذُخْرٌ وَغُنْمٌ لِلْمُنِيْبِ الْمُحْسِنِBersegeralah bertaubat sebelum jiwa tertutup, karena sesungguhnya taubat…Adalah simpanan dan keuntungan bagi orang yang kembali dan berbuat baik…يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًاHai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). (QS At-Tahriim : 8)Taubat yang menyelamatkan kalian dari kehinaan dan kerendahan, menghalangi kalian dari kesalahan dan dosa, taubat yang membawa kalian untuk melaksanakan fardu dan kewajiban, taubat yang mendorong kalian untuk memperbaiki dan mengganti kesalahan yang telah berlalu…Barangsiapa yang berbuat keburukan kepada seorang muslim atau menzoliminya atau menamparnya atau memakinya, atau memakan hartanya dan mengurangi haknya, atau mengikis haknya atau menahannya, maka hendaknya ia mendatanginya dan memohon maaf kepadanya, merendahkan dirinya dengan penuh penyesalan. Maka saudaranya itu akan memaafkannya atau ia meminta ganti rugi.Dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda :مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ اليَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ“Barangsiapa yang berbuat zolim kepada saudaranya baik berkaitan dengan harga dirinya atau sesuatu apapun maka hendaknya ia meminta untuk dihalalkan pada hari ini sebalum tiba hari dimana tidak ada lagi dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal sholeh maka akan diambil amal sholehnya sesuai kadar kezolimannya, dan jika ia tidak memiliki kebaikan maka diambillah keburukan saudaranya tersebut lalu dipikulkan kepadanya” (HR Al-Bukhari)Maka sungguh beruntung orang yang memperbaiki kesalahannya selagi masih memungkinkan untuk dilakukan, ia bersegera untuk bertaubat sebelum tiba ajalnya, dan beramal di dunia yang bermanfaat untuk akhiratnya.Dan iapun wafat di atas sembilan sifat yang indah dan perangai yang mulia yang disebutkan dalam sebuah ayat yang mulia dari surat At-Taubah yang agung.التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (١١٢)Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat Munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu. (QS At-Taubah : 112)Semoga Allah menjadikanku dan kalian menjadi orang yang bertaubat dan kembali kepadaNya, menang dengan memperoleh ganjaran yang baik, serta dimasukkan ke surga tanpa hisab dan adzab, serta meraih kemenangan dengan taubat yang baik.Aku sampaikan apa yang kalian dengar, dan aku memohon ampunan kepada Allah, maka mohonlah ampunan dariNya, sesungguhnya Allah maha pengampun bagi orang-orang yang bertaubat. Khutbah Kedua :          Segala puji bagi Allah yang telah menghantarkan kepada kita kebaikan-kebaikan dan rizki, dan tidak menjadikan kita bertawakal kepada selainNya. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah tidak ada sekutu bagiNya, yang telah menyiapkan surga bagi orang-orang yang bertakwa, dan menyiapkan neraka bagi orang-orang yang melampaui batas sebagai balasan yang setimpal. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi dan keluarganya serta para sahabatnya yang bersegera dalam kebaikan dan berlomb-lomba.Amma ba’du, kaum muslimin sekalian, bertakwalah karena sesungguhnya takwa kepada Allah merupakan hasil yang terbaik, dan ketaatan kepadanya merupakan nasab yang tertinggi.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (١٠٢)Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam. (QS Ali Imron : 102) Kaum Muslimin sekalian, sesungguhnya kalian hidup di negeri yang suci, dalam keamanan yang jelas, dengan rizki yang berlimpah, di bawah pemerintahan yang beriman, yang berhukum dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kalian berada dibawah Negara yang tegak diatas pondasi yang kuat berupa agama dan tauhid serta iman dan sunnah, demikian pula syari’at, persatuan, rahmat, hikmah, dan kekuatan.Maka pujilah Allah atas anugerah yang agung ini serta karunia yang dirasakan ini dengan melazimi ketaatan kepadaNya dan waspada dari bermaksiat kepadaNya.Jagalah negeri kalian, keamanan kalian, dan persatuan kalian dari orang-orang bodoh, para perusak dan khawarij yang keluar, serta gembong-gembong fitnah yang sesat yang selalu berusaha untuk menyebarkan kekacauan di negeri kalian, untuk menggoncang stabilitas keamanan dan ketentraman di negeri kalian.Dan kita menjulurkan tangan-tangan kita (untuk membai’at) kepada pemimpin kita dan imam kita serta waliyul amr kita yaitu Pelayan dua kota suci yang mulia Raja Salman bin Abdul Aziz, seorang lelaki yang tegas, kokoh, dan tegar. Dan kita berkata : bahwasanya kita di atas janji dan menunaikan janji serta loyalitas dan afiliasi, kita adalah kekuatan di waktu genting, kita siap berkorban demi keamanan negeri kita dan negara kita Kerajaan Arab Saudi, dan kami mengucapkan selamat berkah atas kesuksesan keamanan dalam mengejar kelompok pemberontak, dan kami mengucapkan selamat keberkahan atas keputusan-keputusan Raja yang bertujuan untuk memantapkan hukum dan pondasi-pondasinya serta mengokohkannya untuk menegakkan bangunannya. Dan kami membai’at kepada seri paduka pangeran Muhammad bin Nayif bin Abdil Aziz sebagai putra mahkota dan kami juga membai’at seri paduka pangeran Muhammad bin Salman bin Abdil Aziz sebagai wakil putra mahkota, hanya kepada Allah kami memohon untuk membantu mereka berdua dengan pertolonganNya dan taufiqNya.Wahai para pejuang yang hebat, tokoh tokoh pemberani, wahai para pasukan penjaga daerah perbatasan kerajaan Arab Saudi yang tercinta, kalian adalah kebanggaan kami, kemuliaan kami, serta benteng dan baju perang pelindung kami, sungguh selamat bagi kalian meraih kemuliaan dunia dan ganjaran akhirat.Dari Salman radhiallahu ‘anhu berliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ، وَأَمِنَ الْفَتَّانَ“Berjaga di daerah perbatasan sehari semalam lebih baik daripada puasa dan sholat malam sebulan. Jika ia meninggal maka akan berjalan amalan yang biasa ia lakukan, dan akan diberikan kepadanya rizkinya dan diamankan dari fitnah kuburan” (HR Muslim)Dan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhumaa ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ، عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَعَيْنٌ تَحْرُسُ فِي سَبِيْلِ اللهِ“Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka, mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang (tidak tidur) karena berjaga di jalan Allah” (HR At-Tirmidzi)Ya Allah jagalah keamanan bagi kami, persatuan kami, serta ketenteraman kami wahai Robbul ‘alamin. Ya Allah tentara kami yang berjaga di daerah perbatasan…, Ya Allah kuatkanlah semangat mereka, dan tepatkanlah tembakan mereka, dan hancurkanlah musuh-musuh mereka, tolonglah tentara kami mengalahkan kaum yang zolim. Ya Allah terimalah yang meninggal diantara mereka sebagai syuhadaa Uhud, sembuhkanlah orang-orang yang sakit diantara mereka, wahai Yang Maha mendengarkan doa.Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
Khutbah Mesjid Nabawi 12-7-1436 H / 2-5-2015 MOleh : Asy-Syaikh Sholah Al-Budair hafizohullohKhutbah Pertamaاَلْحَمْدُ لِلّهِ لاَ أَبْغِي بِهِ بَدَلاَ ….حَمْدًا يُبَلِّغُ مِنْ رِضْوَانِهِ الأَمَلاَSegala puji bagi Allah, aku tidak mencari pengganti selainNya…Pujian yang menyampaikan harapan untuk meraih keridhoanNya..وَبَعْدُ : إِنِّي بِالْيَقِينِ أَشْهَدُ … شَهَادَةَ الْإِخْلَاصِ أَنْ لَا يُعْبَدُAmma ba’du, sesungguhnya aku bersaksi dengan yakin…Persaksian penuh keikhlasan bahwasanya tidak ada yang disembah…بِالْحَقِّ مَأْلُوهٌ سِوَى الرَّحْمَنِ … مَنْ جَلَّ عَنْ عَيْبٍ وَعَنْ نُقْصَانِdengan benar sesembahanpun kecuali Ar-Rahman….Yang suci dari celaan dan kekurangan… وَأَنَّ خَيْرَ خَلْقِهِ مُحَمَّدَا … مَنْ جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىDan bahwasanya manusia yang terbaik yaitu Muhammad adalah orang yang telah datang kepada kita dengan membawa hujjah dan petunjukصلَّى عَلَيْهِ رَبُّنَا وَمَجَّدَا….والآلِ والصَّحْبِ دَوَامًا سَرْمَدًاRob kita menjadikannya agung dan mencurahkan shalawat kepadanya….Kepada keluarga dan para sahabatnya selama-lamanya…يا رَبِّ فَاِجمَعنا مَعاً وَنَبِيَّنا ….في جَنَّةٍ تُثْنِي عُيونَ الحُسَّدِYa Robku, kumpulkanlah kami bersama dengan nabi kami…di surga sehingga menjauhkan mata-mata yang hasad…في جَنَّةِ الفِردَوسِ وَاكْتُبهَا لَنا …يا ذا الجَلالِ وَذا العُلا وَالسُؤدُدِDi surga Firdaus dan tetapkanlah bagi kami….wahai Dzat Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi serta Maha Kuasa… Wahai kaum muslimin sekalian, bertakwalah kepada Rob kalian, karena sungguh menang orang bertakwa, dan merugilah seorang yang berlebihan dalam dosa dan celaka.وعلى التَّقِيِّ إذا ترسَّخَ في التُّقى… تاجان تاج سكينة ٍ وجلالِDan kepada orang yang ketakwaannya telah kokoh, diberikan kepadanya…dua mahkota, mahkota ketenangan dan mahkota kemuliaan…وإذا تَنَاسَبَتِ الرّجالُ، فما أرَى … نَسَباً يكون كصالِحِ الأعْمالِDan jika para lelaki telah berbangga dengan nasab yang terbaik….maka aku tidak melihat adanya nasab yang terbaik seperti layaknya amal sholeh…يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَHai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At-Taubah : 119)Wahai hamba Allah…petiklah pelajaran dari orang-orang yang telah berlalu…, takutlah engkau kepada kematian yang datang tiba-tiba…, dan waspadalah dari api neraka yang menyala-nyala…وَابْكِ عَلَى ذَنْبٍ وَقَلْبٍ قَدْ قَسَا *** كَالصَّخْرِ مِنْ هَوَاهُ لَمْ يَسْتَفِقِTangisilah dosamu dan hatimu yang telah keras seperti batu…Tidak bisa sadar karena terkuasai hawa nafsu…وَكُنْ خَمِيْصَ الْبَطْنِ مِنْ زَادِ الرِّبَا … وَخَمْرَةَ التَّقْوَى اصطبح واغتبقِDan hendaknya perutmu kosong dari hasil riba….Akan tetapi dengan minuman ketakwaan hendaknya engkau teguk pagi dan sore…ولا تُنَقِّصْ أحَداً فَكُلُّنَا…. مِنْ رَجُلٍ وأصْلُنَا مِنْ عَلَقِJanganlah engkau merendahkan seorangpun….Karena kita seluruhnya berasal dari satu orang, dan asal kita adalah dari segumpal darah…والْخُلْدُ قَدْ مَزَّقَ أقوامَ سَبَا … وهَدَّ سَدّاً مُحْكَمَ التَّأَنُقِDan waktu yang lama berjalan telah menghancurkan kaum negeri Saba’…Merontohkan bendungan (mereka) yang kokoh dan kuat…يَا نفسُ تُوْبِي لَمْ تُخْلَقِي عَبَثَا… يَا نَفْسُ تُوْبِي قَبْلَ أنْWahai jiwa…bertaubatlah…, sesungghuhnya engkau tidaklah diciptakan begitu saja (tanpa hisab-pen)…Wahai jiwa…bertaubatlah sebelum engkau…تُطِيْلِي تَحْتَ الثَّرَى اللَّبَثَا…يَا نَفْسُ تُوْبِي قَبْلَ أَنْberdiam lama di bawah tanah….wahai jiwa bertaubatlah sebelum engkau…تَسْكُنِي رَاغِمَةً جَدَثَاtinggal di kuburan padahal engkau tidak menyukainya…أيا نفسُ بِالْمَأْثُوْرِ عَنْ خَيْرِ مُرْسَلٍ….وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ تَمَسَّكِيWahai jiwa, berpeganglah dengan hadits rasul yang termulia, serta atsar dari para sahabat dan tabi’in…وخافِي غداً يومَ الْحِسَابِ جَهَنَّمَا….إِذَا نَفَحَتْ نِيْرَانُهَا أَنْ تَمَسَّكِTakutlah engkau esok dengan neraka Jahannam pada hari pengadilan…Jika ia meniupkan apinya yang akan membakarmu… Wahai yang bermaksiat kepada Robnya….wahai yang hawa nafsunya telah membuatnya tuli dan membutakannya…, wahai yang telah mendahulukan dunianya daripada akhiratnya…, wahai yang telah bertumpuk dosa-dosanya…Wahai yang telah melalaikan sholat…wahai yang tidak menunaikan hak Allah dan tidak membayar zakat…Wahai orang yang mengumpulkan harta lalu menyimpannya dan menguncinya…Wahai yang hiburannya adalah berbuat kezoliman…, mengganggu dan menyakiti orang lain adalah tradisi dan sifatnya…Sampai kapan engkau tidak peduli tenggelam dalam kelalaianmu…Hingga kapan engkau tidak berhenti…sementara engkau akan pergi dari dunia ini dan meninggalkannya?Maka segeralah bertaubat, segeralah…!بَادِرْ عُمْراً دَارِسًا، وَمَوْتاً خَالِساً، وَمَرَضاً حَابِسًا، وَهَرَمًا لاَبِسًاBersegeralah (bertaubat) sebelum umurmu sirna…, sebelum maut menyambarmu…, sebelum sakit menghalangimu…, sebelum tua renta menempatimu…Wahai orang yang berkata, “Aku akan bertaubat besok…”, bagaimana engkau bertaubat esok hari, sementara esok hari bukanlah milikmu…?, bagaimana engkau baru bertaubat esok hari, sementara bisa jadi engkau tidak bertemu lagi dengan esok hari?قَدِّمْ لِنَفْسِكَ تَوْبَةً مَرْجُوَّةً *** قَبْلَ الْمَمَاتِ وَقَبْلَ حَبْسِ الأَلْسُنِPersembahkanlah untuk jiwamu taubat yang diharapkan…Sebelum kematian dan sebelum lisan terkekang.. بَادِرْ بِهَا غَلْقَ النُّفُوْسِ فَإِنَّهَا *** ذُخْرٌ وَغُنْمٌ لِلْمُنِيْبِ الْمُحْسِنِBersegeralah bertaubat sebelum jiwa tertutup, karena sesungguhnya taubat…Adalah simpanan dan keuntungan bagi orang yang kembali dan berbuat baik…يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًاHai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). (QS At-Tahriim : 8)Taubat yang menyelamatkan kalian dari kehinaan dan kerendahan, menghalangi kalian dari kesalahan dan dosa, taubat yang membawa kalian untuk melaksanakan fardu dan kewajiban, taubat yang mendorong kalian untuk memperbaiki dan mengganti kesalahan yang telah berlalu…Barangsiapa yang berbuat keburukan kepada seorang muslim atau menzoliminya atau menamparnya atau memakinya, atau memakan hartanya dan mengurangi haknya, atau mengikis haknya atau menahannya, maka hendaknya ia mendatanginya dan memohon maaf kepadanya, merendahkan dirinya dengan penuh penyesalan. Maka saudaranya itu akan memaafkannya atau ia meminta ganti rugi.Dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda :مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ اليَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ“Barangsiapa yang berbuat zolim kepada saudaranya baik berkaitan dengan harga dirinya atau sesuatu apapun maka hendaknya ia meminta untuk dihalalkan pada hari ini sebalum tiba hari dimana tidak ada lagi dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal sholeh maka akan diambil amal sholehnya sesuai kadar kezolimannya, dan jika ia tidak memiliki kebaikan maka diambillah keburukan saudaranya tersebut lalu dipikulkan kepadanya” (HR Al-Bukhari)Maka sungguh beruntung orang yang memperbaiki kesalahannya selagi masih memungkinkan untuk dilakukan, ia bersegera untuk bertaubat sebelum tiba ajalnya, dan beramal di dunia yang bermanfaat untuk akhiratnya.Dan iapun wafat di atas sembilan sifat yang indah dan perangai yang mulia yang disebutkan dalam sebuah ayat yang mulia dari surat At-Taubah yang agung.التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (١١٢)Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat Munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu. (QS At-Taubah : 112)Semoga Allah menjadikanku dan kalian menjadi orang yang bertaubat dan kembali kepadaNya, menang dengan memperoleh ganjaran yang baik, serta dimasukkan ke surga tanpa hisab dan adzab, serta meraih kemenangan dengan taubat yang baik.Aku sampaikan apa yang kalian dengar, dan aku memohon ampunan kepada Allah, maka mohonlah ampunan dariNya, sesungguhnya Allah maha pengampun bagi orang-orang yang bertaubat. Khutbah Kedua :          Segala puji bagi Allah yang telah menghantarkan kepada kita kebaikan-kebaikan dan rizki, dan tidak menjadikan kita bertawakal kepada selainNya. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah tidak ada sekutu bagiNya, yang telah menyiapkan surga bagi orang-orang yang bertakwa, dan menyiapkan neraka bagi orang-orang yang melampaui batas sebagai balasan yang setimpal. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi dan keluarganya serta para sahabatnya yang bersegera dalam kebaikan dan berlomb-lomba.Amma ba’du, kaum muslimin sekalian, bertakwalah karena sesungguhnya takwa kepada Allah merupakan hasil yang terbaik, dan ketaatan kepadanya merupakan nasab yang tertinggi.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (١٠٢)Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam. (QS Ali Imron : 102) Kaum Muslimin sekalian, sesungguhnya kalian hidup di negeri yang suci, dalam keamanan yang jelas, dengan rizki yang berlimpah, di bawah pemerintahan yang beriman, yang berhukum dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kalian berada dibawah Negara yang tegak diatas pondasi yang kuat berupa agama dan tauhid serta iman dan sunnah, demikian pula syari’at, persatuan, rahmat, hikmah, dan kekuatan.Maka pujilah Allah atas anugerah yang agung ini serta karunia yang dirasakan ini dengan melazimi ketaatan kepadaNya dan waspada dari bermaksiat kepadaNya.Jagalah negeri kalian, keamanan kalian, dan persatuan kalian dari orang-orang bodoh, para perusak dan khawarij yang keluar, serta gembong-gembong fitnah yang sesat yang selalu berusaha untuk menyebarkan kekacauan di negeri kalian, untuk menggoncang stabilitas keamanan dan ketentraman di negeri kalian.Dan kita menjulurkan tangan-tangan kita (untuk membai’at) kepada pemimpin kita dan imam kita serta waliyul amr kita yaitu Pelayan dua kota suci yang mulia Raja Salman bin Abdul Aziz, seorang lelaki yang tegas, kokoh, dan tegar. Dan kita berkata : bahwasanya kita di atas janji dan menunaikan janji serta loyalitas dan afiliasi, kita adalah kekuatan di waktu genting, kita siap berkorban demi keamanan negeri kita dan negara kita Kerajaan Arab Saudi, dan kami mengucapkan selamat berkah atas kesuksesan keamanan dalam mengejar kelompok pemberontak, dan kami mengucapkan selamat keberkahan atas keputusan-keputusan Raja yang bertujuan untuk memantapkan hukum dan pondasi-pondasinya serta mengokohkannya untuk menegakkan bangunannya. Dan kami membai’at kepada seri paduka pangeran Muhammad bin Nayif bin Abdil Aziz sebagai putra mahkota dan kami juga membai’at seri paduka pangeran Muhammad bin Salman bin Abdil Aziz sebagai wakil putra mahkota, hanya kepada Allah kami memohon untuk membantu mereka berdua dengan pertolonganNya dan taufiqNya.Wahai para pejuang yang hebat, tokoh tokoh pemberani, wahai para pasukan penjaga daerah perbatasan kerajaan Arab Saudi yang tercinta, kalian adalah kebanggaan kami, kemuliaan kami, serta benteng dan baju perang pelindung kami, sungguh selamat bagi kalian meraih kemuliaan dunia dan ganjaran akhirat.Dari Salman radhiallahu ‘anhu berliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ، وَأَمِنَ الْفَتَّانَ“Berjaga di daerah perbatasan sehari semalam lebih baik daripada puasa dan sholat malam sebulan. Jika ia meninggal maka akan berjalan amalan yang biasa ia lakukan, dan akan diberikan kepadanya rizkinya dan diamankan dari fitnah kuburan” (HR Muslim)Dan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhumaa ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ، عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَعَيْنٌ تَحْرُسُ فِي سَبِيْلِ اللهِ“Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka, mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang (tidak tidur) karena berjaga di jalan Allah” (HR At-Tirmidzi)Ya Allah jagalah keamanan bagi kami, persatuan kami, serta ketenteraman kami wahai Robbul ‘alamin. Ya Allah tentara kami yang berjaga di daerah perbatasan…, Ya Allah kuatkanlah semangat mereka, dan tepatkanlah tembakan mereka, dan hancurkanlah musuh-musuh mereka, tolonglah tentara kami mengalahkan kaum yang zolim. Ya Allah terimalah yang meninggal diantara mereka sebagai syuhadaa Uhud, sembuhkanlah orang-orang yang sakit diantara mereka, wahai Yang Maha mendengarkan doa.Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


Khutbah Mesjid Nabawi 12-7-1436 H / 2-5-2015 MOleh : Asy-Syaikh Sholah Al-Budair hafizohullohKhutbah Pertamaاَلْحَمْدُ لِلّهِ لاَ أَبْغِي بِهِ بَدَلاَ ….حَمْدًا يُبَلِّغُ مِنْ رِضْوَانِهِ الأَمَلاَSegala puji bagi Allah, aku tidak mencari pengganti selainNya…Pujian yang menyampaikan harapan untuk meraih keridhoanNya..وَبَعْدُ : إِنِّي بِالْيَقِينِ أَشْهَدُ … شَهَادَةَ الْإِخْلَاصِ أَنْ لَا يُعْبَدُAmma ba’du, sesungguhnya aku bersaksi dengan yakin…Persaksian penuh keikhlasan bahwasanya tidak ada yang disembah…بِالْحَقِّ مَأْلُوهٌ سِوَى الرَّحْمَنِ … مَنْ جَلَّ عَنْ عَيْبٍ وَعَنْ نُقْصَانِdengan benar sesembahanpun kecuali Ar-Rahman….Yang suci dari celaan dan kekurangan… وَأَنَّ خَيْرَ خَلْقِهِ مُحَمَّدَا … مَنْ جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىDan bahwasanya manusia yang terbaik yaitu Muhammad adalah orang yang telah datang kepada kita dengan membawa hujjah dan petunjukصلَّى عَلَيْهِ رَبُّنَا وَمَجَّدَا….والآلِ والصَّحْبِ دَوَامًا سَرْمَدًاRob kita menjadikannya agung dan mencurahkan shalawat kepadanya….Kepada keluarga dan para sahabatnya selama-lamanya…يا رَبِّ فَاِجمَعنا مَعاً وَنَبِيَّنا ….في جَنَّةٍ تُثْنِي عُيونَ الحُسَّدِYa Robku, kumpulkanlah kami bersama dengan nabi kami…di surga sehingga menjauhkan mata-mata yang hasad…في جَنَّةِ الفِردَوسِ وَاكْتُبهَا لَنا …يا ذا الجَلالِ وَذا العُلا وَالسُؤدُدِDi surga Firdaus dan tetapkanlah bagi kami….wahai Dzat Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi serta Maha Kuasa… Wahai kaum muslimin sekalian, bertakwalah kepada Rob kalian, karena sungguh menang orang bertakwa, dan merugilah seorang yang berlebihan dalam dosa dan celaka.وعلى التَّقِيِّ إذا ترسَّخَ في التُّقى… تاجان تاج سكينة ٍ وجلالِDan kepada orang yang ketakwaannya telah kokoh, diberikan kepadanya…dua mahkota, mahkota ketenangan dan mahkota kemuliaan…وإذا تَنَاسَبَتِ الرّجالُ، فما أرَى … نَسَباً يكون كصالِحِ الأعْمالِDan jika para lelaki telah berbangga dengan nasab yang terbaik….maka aku tidak melihat adanya nasab yang terbaik seperti layaknya amal sholeh…يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَHai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At-Taubah : 119)Wahai hamba Allah…petiklah pelajaran dari orang-orang yang telah berlalu…, takutlah engkau kepada kematian yang datang tiba-tiba…, dan waspadalah dari api neraka yang menyala-nyala…وَابْكِ عَلَى ذَنْبٍ وَقَلْبٍ قَدْ قَسَا *** كَالصَّخْرِ مِنْ هَوَاهُ لَمْ يَسْتَفِقِTangisilah dosamu dan hatimu yang telah keras seperti batu…Tidak bisa sadar karena terkuasai hawa nafsu…وَكُنْ خَمِيْصَ الْبَطْنِ مِنْ زَادِ الرِّبَا … وَخَمْرَةَ التَّقْوَى اصطبح واغتبقِDan hendaknya perutmu kosong dari hasil riba….Akan tetapi dengan minuman ketakwaan hendaknya engkau teguk pagi dan sore…ولا تُنَقِّصْ أحَداً فَكُلُّنَا…. مِنْ رَجُلٍ وأصْلُنَا مِنْ عَلَقِJanganlah engkau merendahkan seorangpun….Karena kita seluruhnya berasal dari satu orang, dan asal kita adalah dari segumpal darah…والْخُلْدُ قَدْ مَزَّقَ أقوامَ سَبَا … وهَدَّ سَدّاً مُحْكَمَ التَّأَنُقِDan waktu yang lama berjalan telah menghancurkan kaum negeri Saba’…Merontohkan bendungan (mereka) yang kokoh dan kuat…يَا نفسُ تُوْبِي لَمْ تُخْلَقِي عَبَثَا… يَا نَفْسُ تُوْبِي قَبْلَ أنْWahai jiwa…bertaubatlah…, sesungghuhnya engkau tidaklah diciptakan begitu saja (tanpa hisab-pen)…Wahai jiwa…bertaubatlah sebelum engkau…تُطِيْلِي تَحْتَ الثَّرَى اللَّبَثَا…يَا نَفْسُ تُوْبِي قَبْلَ أَنْberdiam lama di bawah tanah….wahai jiwa bertaubatlah sebelum engkau…تَسْكُنِي رَاغِمَةً جَدَثَاtinggal di kuburan padahal engkau tidak menyukainya…أيا نفسُ بِالْمَأْثُوْرِ عَنْ خَيْرِ مُرْسَلٍ….وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ تَمَسَّكِيWahai jiwa, berpeganglah dengan hadits rasul yang termulia, serta atsar dari para sahabat dan tabi’in…وخافِي غداً يومَ الْحِسَابِ جَهَنَّمَا….إِذَا نَفَحَتْ نِيْرَانُهَا أَنْ تَمَسَّكِTakutlah engkau esok dengan neraka Jahannam pada hari pengadilan…Jika ia meniupkan apinya yang akan membakarmu… Wahai yang bermaksiat kepada Robnya….wahai yang hawa nafsunya telah membuatnya tuli dan membutakannya…, wahai yang telah mendahulukan dunianya daripada akhiratnya…, wahai yang telah bertumpuk dosa-dosanya…Wahai yang telah melalaikan sholat…wahai yang tidak menunaikan hak Allah dan tidak membayar zakat…Wahai orang yang mengumpulkan harta lalu menyimpannya dan menguncinya…Wahai yang hiburannya adalah berbuat kezoliman…, mengganggu dan menyakiti orang lain adalah tradisi dan sifatnya…Sampai kapan engkau tidak peduli tenggelam dalam kelalaianmu…Hingga kapan engkau tidak berhenti…sementara engkau akan pergi dari dunia ini dan meninggalkannya?Maka segeralah bertaubat, segeralah…!بَادِرْ عُمْراً دَارِسًا، وَمَوْتاً خَالِساً، وَمَرَضاً حَابِسًا، وَهَرَمًا لاَبِسًاBersegeralah (bertaubat) sebelum umurmu sirna…, sebelum maut menyambarmu…, sebelum sakit menghalangimu…, sebelum tua renta menempatimu…Wahai orang yang berkata, “Aku akan bertaubat besok…”, bagaimana engkau bertaubat esok hari, sementara esok hari bukanlah milikmu…?, bagaimana engkau baru bertaubat esok hari, sementara bisa jadi engkau tidak bertemu lagi dengan esok hari?قَدِّمْ لِنَفْسِكَ تَوْبَةً مَرْجُوَّةً *** قَبْلَ الْمَمَاتِ وَقَبْلَ حَبْسِ الأَلْسُنِPersembahkanlah untuk jiwamu taubat yang diharapkan…Sebelum kematian dan sebelum lisan terkekang.. بَادِرْ بِهَا غَلْقَ النُّفُوْسِ فَإِنَّهَا *** ذُخْرٌ وَغُنْمٌ لِلْمُنِيْبِ الْمُحْسِنِBersegeralah bertaubat sebelum jiwa tertutup, karena sesungguhnya taubat…Adalah simpanan dan keuntungan bagi orang yang kembali dan berbuat baik…يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًاHai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). (QS At-Tahriim : 8)Taubat yang menyelamatkan kalian dari kehinaan dan kerendahan, menghalangi kalian dari kesalahan dan dosa, taubat yang membawa kalian untuk melaksanakan fardu dan kewajiban, taubat yang mendorong kalian untuk memperbaiki dan mengganti kesalahan yang telah berlalu…Barangsiapa yang berbuat keburukan kepada seorang muslim atau menzoliminya atau menamparnya atau memakinya, atau memakan hartanya dan mengurangi haknya, atau mengikis haknya atau menahannya, maka hendaknya ia mendatanginya dan memohon maaf kepadanya, merendahkan dirinya dengan penuh penyesalan. Maka saudaranya itu akan memaafkannya atau ia meminta ganti rugi.Dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda :مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ اليَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ“Barangsiapa yang berbuat zolim kepada saudaranya baik berkaitan dengan harga dirinya atau sesuatu apapun maka hendaknya ia meminta untuk dihalalkan pada hari ini sebalum tiba hari dimana tidak ada lagi dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal sholeh maka akan diambil amal sholehnya sesuai kadar kezolimannya, dan jika ia tidak memiliki kebaikan maka diambillah keburukan saudaranya tersebut lalu dipikulkan kepadanya” (HR Al-Bukhari)Maka sungguh beruntung orang yang memperbaiki kesalahannya selagi masih memungkinkan untuk dilakukan, ia bersegera untuk bertaubat sebelum tiba ajalnya, dan beramal di dunia yang bermanfaat untuk akhiratnya.Dan iapun wafat di atas sembilan sifat yang indah dan perangai yang mulia yang disebutkan dalam sebuah ayat yang mulia dari surat At-Taubah yang agung.التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (١١٢)Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat Munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu. (QS At-Taubah : 112)Semoga Allah menjadikanku dan kalian menjadi orang yang bertaubat dan kembali kepadaNya, menang dengan memperoleh ganjaran yang baik, serta dimasukkan ke surga tanpa hisab dan adzab, serta meraih kemenangan dengan taubat yang baik.Aku sampaikan apa yang kalian dengar, dan aku memohon ampunan kepada Allah, maka mohonlah ampunan dariNya, sesungguhnya Allah maha pengampun bagi orang-orang yang bertaubat. Khutbah Kedua :          Segala puji bagi Allah yang telah menghantarkan kepada kita kebaikan-kebaikan dan rizki, dan tidak menjadikan kita bertawakal kepada selainNya. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah tidak ada sekutu bagiNya, yang telah menyiapkan surga bagi orang-orang yang bertakwa, dan menyiapkan neraka bagi orang-orang yang melampaui batas sebagai balasan yang setimpal. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi dan keluarganya serta para sahabatnya yang bersegera dalam kebaikan dan berlomb-lomba.Amma ba’du, kaum muslimin sekalian, bertakwalah karena sesungguhnya takwa kepada Allah merupakan hasil yang terbaik, dan ketaatan kepadanya merupakan nasab yang tertinggi.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (١٠٢)Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam. (QS Ali Imron : 102) Kaum Muslimin sekalian, sesungguhnya kalian hidup di negeri yang suci, dalam keamanan yang jelas, dengan rizki yang berlimpah, di bawah pemerintahan yang beriman, yang berhukum dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kalian berada dibawah Negara yang tegak diatas pondasi yang kuat berupa agama dan tauhid serta iman dan sunnah, demikian pula syari’at, persatuan, rahmat, hikmah, dan kekuatan.Maka pujilah Allah atas anugerah yang agung ini serta karunia yang dirasakan ini dengan melazimi ketaatan kepadaNya dan waspada dari bermaksiat kepadaNya.Jagalah negeri kalian, keamanan kalian, dan persatuan kalian dari orang-orang bodoh, para perusak dan khawarij yang keluar, serta gembong-gembong fitnah yang sesat yang selalu berusaha untuk menyebarkan kekacauan di negeri kalian, untuk menggoncang stabilitas keamanan dan ketentraman di negeri kalian.Dan kita menjulurkan tangan-tangan kita (untuk membai’at) kepada pemimpin kita dan imam kita serta waliyul amr kita yaitu Pelayan dua kota suci yang mulia Raja Salman bin Abdul Aziz, seorang lelaki yang tegas, kokoh, dan tegar. Dan kita berkata : bahwasanya kita di atas janji dan menunaikan janji serta loyalitas dan afiliasi, kita adalah kekuatan di waktu genting, kita siap berkorban demi keamanan negeri kita dan negara kita Kerajaan Arab Saudi, dan kami mengucapkan selamat berkah atas kesuksesan keamanan dalam mengejar kelompok pemberontak, dan kami mengucapkan selamat keberkahan atas keputusan-keputusan Raja yang bertujuan untuk memantapkan hukum dan pondasi-pondasinya serta mengokohkannya untuk menegakkan bangunannya. Dan kami membai’at kepada seri paduka pangeran Muhammad bin Nayif bin Abdil Aziz sebagai putra mahkota dan kami juga membai’at seri paduka pangeran Muhammad bin Salman bin Abdil Aziz sebagai wakil putra mahkota, hanya kepada Allah kami memohon untuk membantu mereka berdua dengan pertolonganNya dan taufiqNya.Wahai para pejuang yang hebat, tokoh tokoh pemberani, wahai para pasukan penjaga daerah perbatasan kerajaan Arab Saudi yang tercinta, kalian adalah kebanggaan kami, kemuliaan kami, serta benteng dan baju perang pelindung kami, sungguh selamat bagi kalian meraih kemuliaan dunia dan ganjaran akhirat.Dari Salman radhiallahu ‘anhu berliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ، وَأَمِنَ الْفَتَّانَ“Berjaga di daerah perbatasan sehari semalam lebih baik daripada puasa dan sholat malam sebulan. Jika ia meninggal maka akan berjalan amalan yang biasa ia lakukan, dan akan diberikan kepadanya rizkinya dan diamankan dari fitnah kuburan” (HR Muslim)Dan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhumaa ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ، عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَعَيْنٌ تَحْرُسُ فِي سَبِيْلِ اللهِ“Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka, mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang (tidak tidur) karena berjaga di jalan Allah” (HR At-Tirmidzi)Ya Allah jagalah keamanan bagi kami, persatuan kami, serta ketenteraman kami wahai Robbul ‘alamin. Ya Allah tentara kami yang berjaga di daerah perbatasan…, Ya Allah kuatkanlah semangat mereka, dan tepatkanlah tembakan mereka, dan hancurkanlah musuh-musuh mereka, tolonglah tentara kami mengalahkan kaum yang zolim. Ya Allah terimalah yang meninggal diantara mereka sebagai syuhadaa Uhud, sembuhkanlah orang-orang yang sakit diantara mereka, wahai Yang Maha mendengarkan doa.Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Pemberontak Hutsy di Yaman Hanyalah Kuda Tunggangan Iran!!

Prolog :Sesungguhnya para pemberontak Hutsy yang ada di Yaman –sebagaimana Hizbullah- sebenarnya hanyalah kuda tunggangan Negeri Syi’ah Iran, yang sebelumnya telah angkuh dengan kekuatannya. Negeri Persia yang selalu campur tangan dalam merusak stabilitas negeri-negeri Arab.Berikut beberapa kenyataan tentang Iran dan koloninya sebelum terjadi penyerangan Asifatul Hazm oleh Arab Saudi :1- Setelah tunggangan Iran yaitu Kelompok Hutsy menguasai kota Son’a maka Iran mengumumkan dengan sombongnya bahwa empat ibu kota Arab telah mereka kuasai (yaitu Bagdad, Damaskus, Libanon, dan Son’a) (silahkan lihat : https://www.youtube.com/watch?v=8YcBT-KImPw, dan http://orient-news.net/index.php?page=news_show&id=83496)2- Bahkan dengan sombongnya Hizbullah Iraq telah menyatakan akan menghancurkan Arab Saudi dan menguasai Mekah dan Madinah, karena Imam Mahdi mereka akan muncul dan memerangi Arab Saudi, (silahkan lihat https://www.youtube.com/watch?v=6EuFXuT0kPo). Demikian juga Jama’ah Houty juga telah mengancam akan menyerang Mekah (lihat https://www.youtube.com/watch?v=wGNZo2ROQgQ dan https://www.youtube.com/watch?v=xf8zZAp50EE) 3- Iran melalui Ali Syirozi telah menyatakan bahwa Iran secara langsung telah membantu Hizbullah di Libanon dan jama’ah Hutsy di Yaman (lihat http://islammemo.cc/akhbar/arab/2015/01/27/228496.html)4- Iran telah memberikan bantuan mesiu dan persenjataan yang banyak di Yaman bagi kaum Hutsy. Alhamdulillah banyak gudang senjata dan mesiu yang telah dibom dan dihancurkan oleh pesawat tempur Arab Saudi dalam serangan ‘Ashifatul Hazm5- Jama’ah Hutsy telah berulang kali menyerang daerah perbatasan Arab Saudi, dan membunuh para tentara penjaga daerah perbatasan.6- Jama’ah Hutsy telah banyak melakukan kerusakan di Yaman. Syaikh Ali Al-Hudzaifi hafizohullah dalam khutbah jum’atnya pekan lalu telah berkata : ((Bukankah mereka (kelompok ini) telah memerangi al-Qur’an al-karim?, mereka menghancurkan madrasah-madrasah al-Qur’an, mereka menutup masjid-masjid, mereka mengusir para pengajar al-Qur’an !. Bukankah mereka memerangi hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Mereka membunuh para pelajar hadits, mengisolir dan memboikot pelajar hadits dan pemboikotan yang parah serta mengusir mereka dari negeri mereka tanpa hak !Bukankah mereka memerangi ilmu dengan menghancurkan universitasnya?, mereka merampas isinya !, serta membakar yayasan-yayasannya?. Bukankah mereka merampok harta?, bukankah mereka menghancurkan?, bukankah mereka memasuki rumah-rumah yang tenang?, bukankah mereka telah melanggar harga diri?, bukankah mereka menumpahkan darah?, bukankah mereka menghina para ulama?, bukankah mereka mengejar para da’i untuk membunuh mereka? Bukankah mereka memutuskan jalan dan merusak tanaman dan hewan ternak?. Bukankah mereka menghentikan roda kehidupan?, bukankah mereka melanggar daerah perbatasan Arab Saudi dan membunuh para tentaranya?, Bukankah mereka mengancam untuk memerangi dua kota suci Mekah dan Madinah?, bukankah mereka melaknat para sahabat radhiallahu ‘anhum?, bukankah mereka melaknat istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?.)). Asy-Syaikh Ali Al-Hudzaifi juga telah mengingatkan bahwa yang membawa Islam dan menyebarkannya di negeri Yaman adalah para sahabat, diantaranya Abu Musa Al-Ays’ari, Muadz bin Jabal, dan Kholid bin al-Walid yang diutus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lantas jama’ah Hutsy ingin merubah akidah penduduk Yaman dengan mengkafirkan para sahabat tersebut !! Berikut ini khutbah jum’at yang disampaikan oleh Asy-Syaikh DR Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohulloh, di Mesjid Nabawi pada tanggal 21/6/1436 H – 10/5/2015 MKhutbah Pertama :Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada hamba-hambaNya syari’at yang bijak, yang berisi perintah dan larangan. Aku memujiNya subhanahu dan aku bersyukur kepadaNya atas seluruh nikmat dan karunia. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, Allah telah menundukkan matahari dan bulan dan mengalirkan air di laut dan sungai. Aku bersaksi bahwasanya pimpinan kita dan Nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya yang telah memimpin umat dengan keadilan, rahmat, dan ketegasan. Shalawat tercurahkan kepada beliau, kepada para sahabat beliau pemilik kemuliaan dan tekad yang kuat.Amma ba’du, maka aku mewasiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (١١٩)Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At-Taubah : 119)Amma Ba’du :Umat ini telah dilalui oleh fitnah-fitnah besar, kondisi-kondisi yang kritis, peristiwa-peristiwa yang menuntut untuk menolong kebenaran dan membantu yang terzolimi.Kekuatan dalam kacamata syari’at merupakan alat untuk membantu kebenaran, bukan tujuan yang dicari secara murni, akan tetapi jika kekuatan terpisahkan dari kebenaran maka jadilah ia menjadi sesuatu yang berbahaya dan menghancurkan.Allah berfirman :وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍDan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi (QS Al-Anfaal :60)Kekuatan mengokohkan penopang-penopang Islam, menjaga agama Islam, membentengi negeri-negeri kaum muslimin dari penjarahan tangan-tangan para perampok, para pelanggar, dan para pemberontak. Dunia internasional tidak menghormati kecuali para pemilik kekuatan.          Kekuatan yang sesungguhnya berasal dari Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghadapi musuh dengan meminta dari Allah tekad, kesungguhan, dan petunjuk. Beliau berkata :اللَّهُمَّ بِكَ أَصُولُ، وَبِكَ أَجُولُ، وَبِكَ أُقَاتِلُ“Ya Allah, denganMu aku menyerang, denganMu aku melawan, denganMu aku memerangi”.Beliau juga berkata,اللَّهُمَّ إنا نَجعلُكَ في نُحورِهم، ونعوذُ بِكَ مِنْ شُرورِهِمْ“Ya Allah kami menjadikanMu di hadapan mereka, dan kami berlindung kepadaMu dari keburukan mereka”Barangsiapa yang meminta kekuatan dari Allah, maka kelemahannya tidak ada artinya baginya, tidak ada baginya kata putus asa. Maka Allah-lah Sang Penolong, Yang menentukan tali kekang kehidupan, dan hanya kepadaNya-lah kembali segala perkara.          Seorang mukmin dalam kondisi genting semakin kuat hubungannya dengan Robnya, hatinya tergantung kepada Tuhannya, ia berlindung dengan penjagaanNyaوَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًاDan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong” (QS Al-Isroo’ : 80)          Islam adalah agama kemuliaan dan kekuatan, Allah berfirman :وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَJanganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS Ali-Imron : 139)Kalian yang tertinggi derajatnya dengan keimanan kalian meskipun sedikit harta kalian dan jumlah kalian. Umat ini kuat dengan sebab agamanya, akidahnya, dan para pejuangnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :المُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari pada mukmin yang lemah”Kekuatan menghancurkan dan membantah serta melenyapkan kebatilan. Kebatilan ini yang menjalar ke Jazirah Arab dan Yaman negeri hikmah dan iman, kebatilan yang dilakukan oleh sekelompok pemberontak yang tukang dusta, dan memperbodoh akal-akal (pengikut mereka), serta mengangkat syi’ar kematian demi kekufuran, kematian demi kebatilan. Kelompok ini merupakan salah satu pasukan dari kebatilan tersebut, berjalan di bawah tunggangannya, dan menjalankan rencana-rencananya.Tipu muslihat ini telah memperdaya rakyat dalam waktu yang lama, akan tetapi sekarang tipu muslihat tersebut tersingkap, terbongkar, dan tersebar. Umat ini telah mengetahui makar mereka, dan bahwasanya propaganda-propaganda tersebut hanyalah sekedar bingkai dan tipuan yang menggelitik perasaan kaum muslimin dan membius mereka, agar mudah untuk mendapatkan mangsa baik dengan pengusiran atau dengan pembunuhan atau dengan memaksakan kebatilan berjalan di atas muka bumi dengan kekuata besi dan api.          Topeng telah terbuka, tirai telah tersingkap, realita telah jelas, nampaklah kepalsuan kebatilan dari kelompok pemberontak tersebut yang akan segera memudar dan akan menjadi debu, pasukan naas mereka akan menjadi bumerang dan penyesalan bagi mereka.إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًاSesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS Al-Isroo’ : 81)          Kekuatan dalam Islam adalah untuk mengembalikan hak yang dirampas, untuk menanamkan keamanan dan perdamaian. Kelompok pemberontak telah merampas hak, telah merampas negeri, telah memaksa rakyat, telah mengancam untuk menyerang Arab Saudi secara keselurhan, dalam rangka mewujudkan cita-cita dan perencanaan yang disokong oleh kedengkian yang terpendam, serta didukung oleh negara pemilik aqidah kabatinan.          Metode kekuatan dimulai dengan pengajaran, lalu keadilan. Metode dialog yang diinginkan oleh para cendekiawan dan para pemilik niat yang baik demi untuk menjaga kepemilikan dan demi menjaga dari tertumpahnya darah serta menutup corong-corong fitnah. Orang-orang yang bijak di Yaman telah menempuh metode dialog bersama kelompok pemberontak, akan tetapi kelompok ini tuli telinga mereka untuk mendengar suara kebenaran dan suara cendekia, bahkan semakin tenggelam dalam penyimpangannya, menghunuskan senjata, menghantam masyarakat, berpegang kepada sekte dan ras mereka, dan menempuh jalan kejahatan, berharap untuk bisa memecah belah dan memporak-porandakan Yaman.          Kekuatan yang hazm (tegas) –dengan karunia Allah- mengembalikan perkara kepada tempatnya, menghadapi semua yang ingin mengobarkan fitnah dan menggoncangkan keamanan, membuat isu kekacauan dan perpecahan, maka terwujudkanlah stabilitas di Yaman, kebahagiaan dan ketenteraman bagi rakyat Yaman, menjaga aqidah mereka dan keimanan mereka, agar Yaman membangun kembali kemajuan peradabannya, dan masa depan putra-putra mereka. Dengan demikian Yaman tidak membenarkan siapapun juga yang hendak mencemarkan sejarah Islam di negeri Yaman, yang ingin menghilangkan kepribadian Arab dari Yaman, dan menghilangkan keaslian rakyat Yaman dan keutamaan mereka.          Diantara keutamaan penduduk Yaman adalah yang diriwayatkan oleh Jubair bin Muth’im dari ayahnya berkata :كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَسِيرٍ لَهُ فَقَالَ: «يَطْلَعُ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْيَمَنِ كَأَنَّهُمُ السَّحَابُ هُمْ خِيَارُ مَنْ فِي الأَرْضِ»“Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah perjalanan, lalu Nabi berkata, “Muncul penduduk Yaman dihadapan kalian, seakan-akan mereka adalah awan, mereka adalah orang-orang yang terbaik di atas bumi” (HR Ahmad)Diantara keutamaan mereka, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :أتاكُم أهْلُ اليَمَنِ، هُمْ أرَقُّ أفْئِدَةً، وأليَنُ قلوباً، الِإيمانُ يمانٍ، والحِكْمَةُ يَمانِيَةٌ“Datang kepada kalian penduduk Yaman, mereka adalah yang paling lembut hatinya, paling halus hatinya, keimanan di Yaman dan hikmah di Yaman” (HR al-Bukhari dan Muslim)Ini adalah pujian kepada penduduk Yaman karena cepatnya mereka menuju keimanan, dan baiknya penerimaan mereka terhadap keimanan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa untuk penduduk Yaman, beliau berkata :اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا“Ya Allah berkahilah bagi kami di negeri Syam kami, dan berkahilah bagi kami di negeri Yaman kami” (HR Al-Bukhari).Diantara keutamaan mereka adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam«إِنِّي لَبِعُقْرِ حَوْضِي أَذُودُ النَّاسَ لِأَهْلِ الْيَمَنِ أَضْرِبُ بِعَصَايَ حَتَّى يَرْفَضَّ عَلَيْهِمْ»“Sungguh aku berada di telagaku, aku mengusir orang-orang dengan memukulkan tongkatku selain penduduk Yaman, agar telagaku mengalirkan air bagi mereka” (HR Muslim)Ini merupakan karomah bagi penduduk Yaman, dimana mereka didahulukan untuk minum dari telaga Nabi, sebagai balasan bagi mereka karena sikap mereka yang baik dan terdahulunya mereka dalam Islam, dan kaum Anshor dari Yaman, maka selain Penduduk Yaman diusir agar penduduk Yaman yang lebih dahulu minum, sebagaimana mereka tatkala di dunia telah mengusir musuh-musuh Nabi dan hal-hal yang dibenci.          Sesungguhnya pergerakan “Ashifatul Hazm” (Badai penyerangan yang tegas) mengungkapkan cita-cita rakyat Yaman dan sebagai bentuk jawaban atas suara mereka yang meminta pertolongan, maka ia adalah badai yang kuat yang pada tugasnya, sangat dalam penunjukannya, sangat jelas tujuannya. Badai yang tegas dari kepemimpinan yang tegas, yang tidak menerima penundaan dalam bertindak. Musuh telah menampakkan gigi taringnya, telah jelas makarnya, dan menampakkan kerasukannya sampai-sampai ingin (menyerang dan menguasai) Mekah dan Madinah. Maka musuh ini telah menjual akalnya, fikirannya, dan negerinya kepada negeri non Arab.          Ketegasan merupakan sifat para pemimpin yang istimewa sepanjang sejarah, terutama tegas terhadap orang-orang yang sifatnya adalah dusta dan khianat. Dan teladan para pemimpin adalah Rasul kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam, yang tegas dalam perintahnya untuk menghancurkan mesjid diror yang merupakan sarang konspirasi (kejahatan) dan permusuhan terhadap Rasul kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam.Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma berkata :رَأَيْتُ الدُّخَانَ مِنْ مَسْجِدِ الضِّرَارِ حِيْنَ انْهَارَ“Aku melihat asap dari masjid Diror tatkala runtuh”Dan turunlah firman Allah :وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَDan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” dan Allah menjadi saksi bahwa Sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). (QS At-Taubah : 107)Abu Bakar As-Shiddiq radhiallahu ‘anhu telah tegas memerintahkan untuk memerangi orang-orang yang murtad, beliau berkata dengan penuh ketegasan :أَيُنْقَضُ الدِّيْنُ وَأَنَا حَيٌّ؟“Apakah agama dibatalkan (murtad) sementara saya masih hidup”Adapun Al-Faaruq Umar bin Al-Khotthob radhiallahu ‘anhu, maka beliau tegas sejak awal masuk Islam, bahkan Islamnya beliau merupakan sebuah pertolongan dari Allah untuk memuliakan Islam dan kaum muslimin. Ia adalah kepribadian yang istimewa, ia tidak mengenal kata ragu dan bimbang !Dan ketegasan dalam penyerangan “Ashifatul Hazm” dari pemimpin negeri ini dan pemimpin umat yaitu Salman bin Abdul Aziz, yang dengan sebabnya Allah menolong agama, mengangkat suara kaum muslimin, Allah memperkuatnya dengan kebenaran dan Allah memperkuat kebenaran dengan sebabnya.Kekuatan yang tegas dalam menghadapi orang-orang yang memerangi agama Allah dan melakukan kerusakan di atas muka bumi. Sungguh kelompok pemberontak tersebut telah memerangi Allah dengan menyebarkan bid’ah dan kesesatan, serta keraguan terhadap akidah umat ini. Mereka melakukan kerusakan dengan memberontak kepada pemimpin mereka, membunuh jiwa, menghilangkan nyawa, menghancurkan mesjid-mesjid dan rumah-rumah, disertai dengan tipuan yang tersembunyi di bawah propaganda kosong untuk menyebarkan racun mereka. Padahal mereka hanyalah kuda tunggangan bagi selain mereka. Bahaya mereka terhadap akidah sangatlah besar, bahaya mereka terhadap kacaunya keamanan sangat parah.وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (١١) أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَDan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”, mereka menjawab: “Sesungguhnya Kami orang-orang yang Mengadakan perbaikan.” Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS Al-Baqoroh : 11-12)          Dan kekuatan yang tegas dalam menghadapi musuh dari dalam –yaitu kaum munafikun-, karena mereka berbicara atas nama Islam, dan mereka bergerak dengan menyandang baju nasehat dan perbaikan. Mereka menghiasi perkataan mereka, padahal hakikatnya mereka adalah kapak penghancur. Lahiriah mereka seakan-akan mereka bersama Negara dan rakyat, akan tetapi batin mereka dan hati mereka bersama musuh-musuh agama. Mereka menampakkan keimanan –dengan taqiyyah- dan karena berharap bisa menguraikan ikatan tali agama dengan syubhat-syubhat mereka.هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (٤)Mereka Itulah musuh (yang sebenarnya) Maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? (QS Al-Munafiqun : 4)Semoga Allah memberkahiku dan kalian pada al-Qur’an al-Azim, memberi manfaat kepadaku dan kepada kalian dari ayat-ayat dan dzikrul hakim yang ada di al-Qur’an. Aku sampaikan perkataanku ini, dan aku memohon ampunan bagiku, dan bagi kalian, serta bagi seluruh kaum muslimin dari segala dosa, maka mohonlah ampunan kepadaNya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Khutbah Kedua :          Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan dan minum kepada kita, serta memberi naungan kepada kita. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tidak ada sekut bagiNya, Dialah Pencipta kita, Pemberi rizki kita, serta Penolong kita. Aku bersaksi bahwasanya pemimpin kita dan Nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, pemberi syafaat bagi kita, dan tauladan kita dalam kondisi kita tatkala tersembunyi maupun terang-terangan. Sholawat semoga tercurahkan kepada beliau, keluarganya, dan para sahabatnya, serta mereka yang menempuh jalannya di malam hari dan siang hari.Amma ba’du, maka aku wasiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah.Dengan kesadaran mereka, kecerdasan mereka, serta pandangan mereka, maka rakyat Yaman mengerti akan pentingnya pembangunan dalam negeri dan persatuan pasukan dalam negeri. Karena inilah benteng yang kokoh dan sumber ketegaran dalam menghadapi kondisi-kondisi kritis dan tipu muslihat. Penduduk negeri yang baik tidak akan menjual loyalitasnya terhadap kepemimpinan yang syar’i, tidak akan menjual agamanya dan negerinya.Diantara pembangunan dalam negeri adalah tidak mendengar seruan para pembuat onar yang ingin merusak persatuan dan mentelantarkan negeri. Daintara pembangunan dalam negeri adalah menutup seluruh pintu yang bisa disusupi oleh akidah dan pemikiran yang rusak kepada masyarakat.Yaman adalah amanah yang diembankan di leher para ulama dan para tokoh pemegang keputusan. Maka hal ini mengharuskan bangkitnya semangat para tokoh di Yaman dengan seluruh kelompoknya, baik para pemimpin kabilah, kekuatan Islam, kekuatan Negara, para wartawan, para akademis, para tentara, dan seluruh penduduk Yaman untuk menyatukan kata, dan merapatkan barisan, dan meninggalkan perselisihan-perselisihan yang tidak pokok, untuk mengalahkan kelompok pemberontak, agar Yaman tetap menjadi oase bagi keamanan dan ketenteraman, menjadi negeri Islam, negeri Arab, dan negeri yang stabil.          Meninggal di medan mulia dan karomah adalah kemenangan, kemuliaan, dan mati syahid. Sikap perlawanan yang berani dan kuat akan mendatangkan hasilnya dengan izin Allah, Allah berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْHai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad : 7)Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Pemberontak Hutsy di Yaman Hanyalah Kuda Tunggangan Iran!!

Prolog :Sesungguhnya para pemberontak Hutsy yang ada di Yaman –sebagaimana Hizbullah- sebenarnya hanyalah kuda tunggangan Negeri Syi’ah Iran, yang sebelumnya telah angkuh dengan kekuatannya. Negeri Persia yang selalu campur tangan dalam merusak stabilitas negeri-negeri Arab.Berikut beberapa kenyataan tentang Iran dan koloninya sebelum terjadi penyerangan Asifatul Hazm oleh Arab Saudi :1- Setelah tunggangan Iran yaitu Kelompok Hutsy menguasai kota Son’a maka Iran mengumumkan dengan sombongnya bahwa empat ibu kota Arab telah mereka kuasai (yaitu Bagdad, Damaskus, Libanon, dan Son’a) (silahkan lihat : https://www.youtube.com/watch?v=8YcBT-KImPw, dan http://orient-news.net/index.php?page=news_show&id=83496)2- Bahkan dengan sombongnya Hizbullah Iraq telah menyatakan akan menghancurkan Arab Saudi dan menguasai Mekah dan Madinah, karena Imam Mahdi mereka akan muncul dan memerangi Arab Saudi, (silahkan lihat https://www.youtube.com/watch?v=6EuFXuT0kPo). Demikian juga Jama’ah Houty juga telah mengancam akan menyerang Mekah (lihat https://www.youtube.com/watch?v=wGNZo2ROQgQ dan https://www.youtube.com/watch?v=xf8zZAp50EE) 3- Iran melalui Ali Syirozi telah menyatakan bahwa Iran secara langsung telah membantu Hizbullah di Libanon dan jama’ah Hutsy di Yaman (lihat http://islammemo.cc/akhbar/arab/2015/01/27/228496.html)4- Iran telah memberikan bantuan mesiu dan persenjataan yang banyak di Yaman bagi kaum Hutsy. Alhamdulillah banyak gudang senjata dan mesiu yang telah dibom dan dihancurkan oleh pesawat tempur Arab Saudi dalam serangan ‘Ashifatul Hazm5- Jama’ah Hutsy telah berulang kali menyerang daerah perbatasan Arab Saudi, dan membunuh para tentara penjaga daerah perbatasan.6- Jama’ah Hutsy telah banyak melakukan kerusakan di Yaman. Syaikh Ali Al-Hudzaifi hafizohullah dalam khutbah jum’atnya pekan lalu telah berkata : ((Bukankah mereka (kelompok ini) telah memerangi al-Qur’an al-karim?, mereka menghancurkan madrasah-madrasah al-Qur’an, mereka menutup masjid-masjid, mereka mengusir para pengajar al-Qur’an !. Bukankah mereka memerangi hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Mereka membunuh para pelajar hadits, mengisolir dan memboikot pelajar hadits dan pemboikotan yang parah serta mengusir mereka dari negeri mereka tanpa hak !Bukankah mereka memerangi ilmu dengan menghancurkan universitasnya?, mereka merampas isinya !, serta membakar yayasan-yayasannya?. Bukankah mereka merampok harta?, bukankah mereka menghancurkan?, bukankah mereka memasuki rumah-rumah yang tenang?, bukankah mereka telah melanggar harga diri?, bukankah mereka menumpahkan darah?, bukankah mereka menghina para ulama?, bukankah mereka mengejar para da’i untuk membunuh mereka? Bukankah mereka memutuskan jalan dan merusak tanaman dan hewan ternak?. Bukankah mereka menghentikan roda kehidupan?, bukankah mereka melanggar daerah perbatasan Arab Saudi dan membunuh para tentaranya?, Bukankah mereka mengancam untuk memerangi dua kota suci Mekah dan Madinah?, bukankah mereka melaknat para sahabat radhiallahu ‘anhum?, bukankah mereka melaknat istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?.)). Asy-Syaikh Ali Al-Hudzaifi juga telah mengingatkan bahwa yang membawa Islam dan menyebarkannya di negeri Yaman adalah para sahabat, diantaranya Abu Musa Al-Ays’ari, Muadz bin Jabal, dan Kholid bin al-Walid yang diutus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lantas jama’ah Hutsy ingin merubah akidah penduduk Yaman dengan mengkafirkan para sahabat tersebut !! Berikut ini khutbah jum’at yang disampaikan oleh Asy-Syaikh DR Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohulloh, di Mesjid Nabawi pada tanggal 21/6/1436 H – 10/5/2015 MKhutbah Pertama :Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada hamba-hambaNya syari’at yang bijak, yang berisi perintah dan larangan. Aku memujiNya subhanahu dan aku bersyukur kepadaNya atas seluruh nikmat dan karunia. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, Allah telah menundukkan matahari dan bulan dan mengalirkan air di laut dan sungai. Aku bersaksi bahwasanya pimpinan kita dan Nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya yang telah memimpin umat dengan keadilan, rahmat, dan ketegasan. Shalawat tercurahkan kepada beliau, kepada para sahabat beliau pemilik kemuliaan dan tekad yang kuat.Amma ba’du, maka aku mewasiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (١١٩)Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At-Taubah : 119)Amma Ba’du :Umat ini telah dilalui oleh fitnah-fitnah besar, kondisi-kondisi yang kritis, peristiwa-peristiwa yang menuntut untuk menolong kebenaran dan membantu yang terzolimi.Kekuatan dalam kacamata syari’at merupakan alat untuk membantu kebenaran, bukan tujuan yang dicari secara murni, akan tetapi jika kekuatan terpisahkan dari kebenaran maka jadilah ia menjadi sesuatu yang berbahaya dan menghancurkan.Allah berfirman :وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍDan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi (QS Al-Anfaal :60)Kekuatan mengokohkan penopang-penopang Islam, menjaga agama Islam, membentengi negeri-negeri kaum muslimin dari penjarahan tangan-tangan para perampok, para pelanggar, dan para pemberontak. Dunia internasional tidak menghormati kecuali para pemilik kekuatan.          Kekuatan yang sesungguhnya berasal dari Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghadapi musuh dengan meminta dari Allah tekad, kesungguhan, dan petunjuk. Beliau berkata :اللَّهُمَّ بِكَ أَصُولُ، وَبِكَ أَجُولُ، وَبِكَ أُقَاتِلُ“Ya Allah, denganMu aku menyerang, denganMu aku melawan, denganMu aku memerangi”.Beliau juga berkata,اللَّهُمَّ إنا نَجعلُكَ في نُحورِهم، ونعوذُ بِكَ مِنْ شُرورِهِمْ“Ya Allah kami menjadikanMu di hadapan mereka, dan kami berlindung kepadaMu dari keburukan mereka”Barangsiapa yang meminta kekuatan dari Allah, maka kelemahannya tidak ada artinya baginya, tidak ada baginya kata putus asa. Maka Allah-lah Sang Penolong, Yang menentukan tali kekang kehidupan, dan hanya kepadaNya-lah kembali segala perkara.          Seorang mukmin dalam kondisi genting semakin kuat hubungannya dengan Robnya, hatinya tergantung kepada Tuhannya, ia berlindung dengan penjagaanNyaوَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًاDan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong” (QS Al-Isroo’ : 80)          Islam adalah agama kemuliaan dan kekuatan, Allah berfirman :وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَJanganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS Ali-Imron : 139)Kalian yang tertinggi derajatnya dengan keimanan kalian meskipun sedikit harta kalian dan jumlah kalian. Umat ini kuat dengan sebab agamanya, akidahnya, dan para pejuangnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :المُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari pada mukmin yang lemah”Kekuatan menghancurkan dan membantah serta melenyapkan kebatilan. Kebatilan ini yang menjalar ke Jazirah Arab dan Yaman negeri hikmah dan iman, kebatilan yang dilakukan oleh sekelompok pemberontak yang tukang dusta, dan memperbodoh akal-akal (pengikut mereka), serta mengangkat syi’ar kematian demi kekufuran, kematian demi kebatilan. Kelompok ini merupakan salah satu pasukan dari kebatilan tersebut, berjalan di bawah tunggangannya, dan menjalankan rencana-rencananya.Tipu muslihat ini telah memperdaya rakyat dalam waktu yang lama, akan tetapi sekarang tipu muslihat tersebut tersingkap, terbongkar, dan tersebar. Umat ini telah mengetahui makar mereka, dan bahwasanya propaganda-propaganda tersebut hanyalah sekedar bingkai dan tipuan yang menggelitik perasaan kaum muslimin dan membius mereka, agar mudah untuk mendapatkan mangsa baik dengan pengusiran atau dengan pembunuhan atau dengan memaksakan kebatilan berjalan di atas muka bumi dengan kekuata besi dan api.          Topeng telah terbuka, tirai telah tersingkap, realita telah jelas, nampaklah kepalsuan kebatilan dari kelompok pemberontak tersebut yang akan segera memudar dan akan menjadi debu, pasukan naas mereka akan menjadi bumerang dan penyesalan bagi mereka.إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًاSesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS Al-Isroo’ : 81)          Kekuatan dalam Islam adalah untuk mengembalikan hak yang dirampas, untuk menanamkan keamanan dan perdamaian. Kelompok pemberontak telah merampas hak, telah merampas negeri, telah memaksa rakyat, telah mengancam untuk menyerang Arab Saudi secara keselurhan, dalam rangka mewujudkan cita-cita dan perencanaan yang disokong oleh kedengkian yang terpendam, serta didukung oleh negara pemilik aqidah kabatinan.          Metode kekuatan dimulai dengan pengajaran, lalu keadilan. Metode dialog yang diinginkan oleh para cendekiawan dan para pemilik niat yang baik demi untuk menjaga kepemilikan dan demi menjaga dari tertumpahnya darah serta menutup corong-corong fitnah. Orang-orang yang bijak di Yaman telah menempuh metode dialog bersama kelompok pemberontak, akan tetapi kelompok ini tuli telinga mereka untuk mendengar suara kebenaran dan suara cendekia, bahkan semakin tenggelam dalam penyimpangannya, menghunuskan senjata, menghantam masyarakat, berpegang kepada sekte dan ras mereka, dan menempuh jalan kejahatan, berharap untuk bisa memecah belah dan memporak-porandakan Yaman.          Kekuatan yang hazm (tegas) –dengan karunia Allah- mengembalikan perkara kepada tempatnya, menghadapi semua yang ingin mengobarkan fitnah dan menggoncangkan keamanan, membuat isu kekacauan dan perpecahan, maka terwujudkanlah stabilitas di Yaman, kebahagiaan dan ketenteraman bagi rakyat Yaman, menjaga aqidah mereka dan keimanan mereka, agar Yaman membangun kembali kemajuan peradabannya, dan masa depan putra-putra mereka. Dengan demikian Yaman tidak membenarkan siapapun juga yang hendak mencemarkan sejarah Islam di negeri Yaman, yang ingin menghilangkan kepribadian Arab dari Yaman, dan menghilangkan keaslian rakyat Yaman dan keutamaan mereka.          Diantara keutamaan penduduk Yaman adalah yang diriwayatkan oleh Jubair bin Muth’im dari ayahnya berkata :كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَسِيرٍ لَهُ فَقَالَ: «يَطْلَعُ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْيَمَنِ كَأَنَّهُمُ السَّحَابُ هُمْ خِيَارُ مَنْ فِي الأَرْضِ»“Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah perjalanan, lalu Nabi berkata, “Muncul penduduk Yaman dihadapan kalian, seakan-akan mereka adalah awan, mereka adalah orang-orang yang terbaik di atas bumi” (HR Ahmad)Diantara keutamaan mereka, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :أتاكُم أهْلُ اليَمَنِ، هُمْ أرَقُّ أفْئِدَةً، وأليَنُ قلوباً، الِإيمانُ يمانٍ، والحِكْمَةُ يَمانِيَةٌ“Datang kepada kalian penduduk Yaman, mereka adalah yang paling lembut hatinya, paling halus hatinya, keimanan di Yaman dan hikmah di Yaman” (HR al-Bukhari dan Muslim)Ini adalah pujian kepada penduduk Yaman karena cepatnya mereka menuju keimanan, dan baiknya penerimaan mereka terhadap keimanan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa untuk penduduk Yaman, beliau berkata :اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا“Ya Allah berkahilah bagi kami di negeri Syam kami, dan berkahilah bagi kami di negeri Yaman kami” (HR Al-Bukhari).Diantara keutamaan mereka adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam«إِنِّي لَبِعُقْرِ حَوْضِي أَذُودُ النَّاسَ لِأَهْلِ الْيَمَنِ أَضْرِبُ بِعَصَايَ حَتَّى يَرْفَضَّ عَلَيْهِمْ»“Sungguh aku berada di telagaku, aku mengusir orang-orang dengan memukulkan tongkatku selain penduduk Yaman, agar telagaku mengalirkan air bagi mereka” (HR Muslim)Ini merupakan karomah bagi penduduk Yaman, dimana mereka didahulukan untuk minum dari telaga Nabi, sebagai balasan bagi mereka karena sikap mereka yang baik dan terdahulunya mereka dalam Islam, dan kaum Anshor dari Yaman, maka selain Penduduk Yaman diusir agar penduduk Yaman yang lebih dahulu minum, sebagaimana mereka tatkala di dunia telah mengusir musuh-musuh Nabi dan hal-hal yang dibenci.          Sesungguhnya pergerakan “Ashifatul Hazm” (Badai penyerangan yang tegas) mengungkapkan cita-cita rakyat Yaman dan sebagai bentuk jawaban atas suara mereka yang meminta pertolongan, maka ia adalah badai yang kuat yang pada tugasnya, sangat dalam penunjukannya, sangat jelas tujuannya. Badai yang tegas dari kepemimpinan yang tegas, yang tidak menerima penundaan dalam bertindak. Musuh telah menampakkan gigi taringnya, telah jelas makarnya, dan menampakkan kerasukannya sampai-sampai ingin (menyerang dan menguasai) Mekah dan Madinah. Maka musuh ini telah menjual akalnya, fikirannya, dan negerinya kepada negeri non Arab.          Ketegasan merupakan sifat para pemimpin yang istimewa sepanjang sejarah, terutama tegas terhadap orang-orang yang sifatnya adalah dusta dan khianat. Dan teladan para pemimpin adalah Rasul kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam, yang tegas dalam perintahnya untuk menghancurkan mesjid diror yang merupakan sarang konspirasi (kejahatan) dan permusuhan terhadap Rasul kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam.Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma berkata :رَأَيْتُ الدُّخَانَ مِنْ مَسْجِدِ الضِّرَارِ حِيْنَ انْهَارَ“Aku melihat asap dari masjid Diror tatkala runtuh”Dan turunlah firman Allah :وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَDan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” dan Allah menjadi saksi bahwa Sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). (QS At-Taubah : 107)Abu Bakar As-Shiddiq radhiallahu ‘anhu telah tegas memerintahkan untuk memerangi orang-orang yang murtad, beliau berkata dengan penuh ketegasan :أَيُنْقَضُ الدِّيْنُ وَأَنَا حَيٌّ؟“Apakah agama dibatalkan (murtad) sementara saya masih hidup”Adapun Al-Faaruq Umar bin Al-Khotthob radhiallahu ‘anhu, maka beliau tegas sejak awal masuk Islam, bahkan Islamnya beliau merupakan sebuah pertolongan dari Allah untuk memuliakan Islam dan kaum muslimin. Ia adalah kepribadian yang istimewa, ia tidak mengenal kata ragu dan bimbang !Dan ketegasan dalam penyerangan “Ashifatul Hazm” dari pemimpin negeri ini dan pemimpin umat yaitu Salman bin Abdul Aziz, yang dengan sebabnya Allah menolong agama, mengangkat suara kaum muslimin, Allah memperkuatnya dengan kebenaran dan Allah memperkuat kebenaran dengan sebabnya.Kekuatan yang tegas dalam menghadapi orang-orang yang memerangi agama Allah dan melakukan kerusakan di atas muka bumi. Sungguh kelompok pemberontak tersebut telah memerangi Allah dengan menyebarkan bid’ah dan kesesatan, serta keraguan terhadap akidah umat ini. Mereka melakukan kerusakan dengan memberontak kepada pemimpin mereka, membunuh jiwa, menghilangkan nyawa, menghancurkan mesjid-mesjid dan rumah-rumah, disertai dengan tipuan yang tersembunyi di bawah propaganda kosong untuk menyebarkan racun mereka. Padahal mereka hanyalah kuda tunggangan bagi selain mereka. Bahaya mereka terhadap akidah sangatlah besar, bahaya mereka terhadap kacaunya keamanan sangat parah.وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (١١) أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَDan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”, mereka menjawab: “Sesungguhnya Kami orang-orang yang Mengadakan perbaikan.” Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS Al-Baqoroh : 11-12)          Dan kekuatan yang tegas dalam menghadapi musuh dari dalam –yaitu kaum munafikun-, karena mereka berbicara atas nama Islam, dan mereka bergerak dengan menyandang baju nasehat dan perbaikan. Mereka menghiasi perkataan mereka, padahal hakikatnya mereka adalah kapak penghancur. Lahiriah mereka seakan-akan mereka bersama Negara dan rakyat, akan tetapi batin mereka dan hati mereka bersama musuh-musuh agama. Mereka menampakkan keimanan –dengan taqiyyah- dan karena berharap bisa menguraikan ikatan tali agama dengan syubhat-syubhat mereka.هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (٤)Mereka Itulah musuh (yang sebenarnya) Maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? (QS Al-Munafiqun : 4)Semoga Allah memberkahiku dan kalian pada al-Qur’an al-Azim, memberi manfaat kepadaku dan kepada kalian dari ayat-ayat dan dzikrul hakim yang ada di al-Qur’an. Aku sampaikan perkataanku ini, dan aku memohon ampunan bagiku, dan bagi kalian, serta bagi seluruh kaum muslimin dari segala dosa, maka mohonlah ampunan kepadaNya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Khutbah Kedua :          Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan dan minum kepada kita, serta memberi naungan kepada kita. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tidak ada sekut bagiNya, Dialah Pencipta kita, Pemberi rizki kita, serta Penolong kita. Aku bersaksi bahwasanya pemimpin kita dan Nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, pemberi syafaat bagi kita, dan tauladan kita dalam kondisi kita tatkala tersembunyi maupun terang-terangan. Sholawat semoga tercurahkan kepada beliau, keluarganya, dan para sahabatnya, serta mereka yang menempuh jalannya di malam hari dan siang hari.Amma ba’du, maka aku wasiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah.Dengan kesadaran mereka, kecerdasan mereka, serta pandangan mereka, maka rakyat Yaman mengerti akan pentingnya pembangunan dalam negeri dan persatuan pasukan dalam negeri. Karena inilah benteng yang kokoh dan sumber ketegaran dalam menghadapi kondisi-kondisi kritis dan tipu muslihat. Penduduk negeri yang baik tidak akan menjual loyalitasnya terhadap kepemimpinan yang syar’i, tidak akan menjual agamanya dan negerinya.Diantara pembangunan dalam negeri adalah tidak mendengar seruan para pembuat onar yang ingin merusak persatuan dan mentelantarkan negeri. Daintara pembangunan dalam negeri adalah menutup seluruh pintu yang bisa disusupi oleh akidah dan pemikiran yang rusak kepada masyarakat.Yaman adalah amanah yang diembankan di leher para ulama dan para tokoh pemegang keputusan. Maka hal ini mengharuskan bangkitnya semangat para tokoh di Yaman dengan seluruh kelompoknya, baik para pemimpin kabilah, kekuatan Islam, kekuatan Negara, para wartawan, para akademis, para tentara, dan seluruh penduduk Yaman untuk menyatukan kata, dan merapatkan barisan, dan meninggalkan perselisihan-perselisihan yang tidak pokok, untuk mengalahkan kelompok pemberontak, agar Yaman tetap menjadi oase bagi keamanan dan ketenteraman, menjadi negeri Islam, negeri Arab, dan negeri yang stabil.          Meninggal di medan mulia dan karomah adalah kemenangan, kemuliaan, dan mati syahid. Sikap perlawanan yang berani dan kuat akan mendatangkan hasilnya dengan izin Allah, Allah berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْHai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad : 7)Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
Prolog :Sesungguhnya para pemberontak Hutsy yang ada di Yaman –sebagaimana Hizbullah- sebenarnya hanyalah kuda tunggangan Negeri Syi’ah Iran, yang sebelumnya telah angkuh dengan kekuatannya. Negeri Persia yang selalu campur tangan dalam merusak stabilitas negeri-negeri Arab.Berikut beberapa kenyataan tentang Iran dan koloninya sebelum terjadi penyerangan Asifatul Hazm oleh Arab Saudi :1- Setelah tunggangan Iran yaitu Kelompok Hutsy menguasai kota Son’a maka Iran mengumumkan dengan sombongnya bahwa empat ibu kota Arab telah mereka kuasai (yaitu Bagdad, Damaskus, Libanon, dan Son’a) (silahkan lihat : https://www.youtube.com/watch?v=8YcBT-KImPw, dan http://orient-news.net/index.php?page=news_show&id=83496)2- Bahkan dengan sombongnya Hizbullah Iraq telah menyatakan akan menghancurkan Arab Saudi dan menguasai Mekah dan Madinah, karena Imam Mahdi mereka akan muncul dan memerangi Arab Saudi, (silahkan lihat https://www.youtube.com/watch?v=6EuFXuT0kPo). Demikian juga Jama’ah Houty juga telah mengancam akan menyerang Mekah (lihat https://www.youtube.com/watch?v=wGNZo2ROQgQ dan https://www.youtube.com/watch?v=xf8zZAp50EE) 3- Iran melalui Ali Syirozi telah menyatakan bahwa Iran secara langsung telah membantu Hizbullah di Libanon dan jama’ah Hutsy di Yaman (lihat http://islammemo.cc/akhbar/arab/2015/01/27/228496.html)4- Iran telah memberikan bantuan mesiu dan persenjataan yang banyak di Yaman bagi kaum Hutsy. Alhamdulillah banyak gudang senjata dan mesiu yang telah dibom dan dihancurkan oleh pesawat tempur Arab Saudi dalam serangan ‘Ashifatul Hazm5- Jama’ah Hutsy telah berulang kali menyerang daerah perbatasan Arab Saudi, dan membunuh para tentara penjaga daerah perbatasan.6- Jama’ah Hutsy telah banyak melakukan kerusakan di Yaman. Syaikh Ali Al-Hudzaifi hafizohullah dalam khutbah jum’atnya pekan lalu telah berkata : ((Bukankah mereka (kelompok ini) telah memerangi al-Qur’an al-karim?, mereka menghancurkan madrasah-madrasah al-Qur’an, mereka menutup masjid-masjid, mereka mengusir para pengajar al-Qur’an !. Bukankah mereka memerangi hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Mereka membunuh para pelajar hadits, mengisolir dan memboikot pelajar hadits dan pemboikotan yang parah serta mengusir mereka dari negeri mereka tanpa hak !Bukankah mereka memerangi ilmu dengan menghancurkan universitasnya?, mereka merampas isinya !, serta membakar yayasan-yayasannya?. Bukankah mereka merampok harta?, bukankah mereka menghancurkan?, bukankah mereka memasuki rumah-rumah yang tenang?, bukankah mereka telah melanggar harga diri?, bukankah mereka menumpahkan darah?, bukankah mereka menghina para ulama?, bukankah mereka mengejar para da’i untuk membunuh mereka? Bukankah mereka memutuskan jalan dan merusak tanaman dan hewan ternak?. Bukankah mereka menghentikan roda kehidupan?, bukankah mereka melanggar daerah perbatasan Arab Saudi dan membunuh para tentaranya?, Bukankah mereka mengancam untuk memerangi dua kota suci Mekah dan Madinah?, bukankah mereka melaknat para sahabat radhiallahu ‘anhum?, bukankah mereka melaknat istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?.)). Asy-Syaikh Ali Al-Hudzaifi juga telah mengingatkan bahwa yang membawa Islam dan menyebarkannya di negeri Yaman adalah para sahabat, diantaranya Abu Musa Al-Ays’ari, Muadz bin Jabal, dan Kholid bin al-Walid yang diutus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lantas jama’ah Hutsy ingin merubah akidah penduduk Yaman dengan mengkafirkan para sahabat tersebut !! Berikut ini khutbah jum’at yang disampaikan oleh Asy-Syaikh DR Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohulloh, di Mesjid Nabawi pada tanggal 21/6/1436 H – 10/5/2015 MKhutbah Pertama :Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada hamba-hambaNya syari’at yang bijak, yang berisi perintah dan larangan. Aku memujiNya subhanahu dan aku bersyukur kepadaNya atas seluruh nikmat dan karunia. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, Allah telah menundukkan matahari dan bulan dan mengalirkan air di laut dan sungai. Aku bersaksi bahwasanya pimpinan kita dan Nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya yang telah memimpin umat dengan keadilan, rahmat, dan ketegasan. Shalawat tercurahkan kepada beliau, kepada para sahabat beliau pemilik kemuliaan dan tekad yang kuat.Amma ba’du, maka aku mewasiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (١١٩)Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At-Taubah : 119)Amma Ba’du :Umat ini telah dilalui oleh fitnah-fitnah besar, kondisi-kondisi yang kritis, peristiwa-peristiwa yang menuntut untuk menolong kebenaran dan membantu yang terzolimi.Kekuatan dalam kacamata syari’at merupakan alat untuk membantu kebenaran, bukan tujuan yang dicari secara murni, akan tetapi jika kekuatan terpisahkan dari kebenaran maka jadilah ia menjadi sesuatu yang berbahaya dan menghancurkan.Allah berfirman :وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍDan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi (QS Al-Anfaal :60)Kekuatan mengokohkan penopang-penopang Islam, menjaga agama Islam, membentengi negeri-negeri kaum muslimin dari penjarahan tangan-tangan para perampok, para pelanggar, dan para pemberontak. Dunia internasional tidak menghormati kecuali para pemilik kekuatan.          Kekuatan yang sesungguhnya berasal dari Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghadapi musuh dengan meminta dari Allah tekad, kesungguhan, dan petunjuk. Beliau berkata :اللَّهُمَّ بِكَ أَصُولُ، وَبِكَ أَجُولُ، وَبِكَ أُقَاتِلُ“Ya Allah, denganMu aku menyerang, denganMu aku melawan, denganMu aku memerangi”.Beliau juga berkata,اللَّهُمَّ إنا نَجعلُكَ في نُحورِهم، ونعوذُ بِكَ مِنْ شُرورِهِمْ“Ya Allah kami menjadikanMu di hadapan mereka, dan kami berlindung kepadaMu dari keburukan mereka”Barangsiapa yang meminta kekuatan dari Allah, maka kelemahannya tidak ada artinya baginya, tidak ada baginya kata putus asa. Maka Allah-lah Sang Penolong, Yang menentukan tali kekang kehidupan, dan hanya kepadaNya-lah kembali segala perkara.          Seorang mukmin dalam kondisi genting semakin kuat hubungannya dengan Robnya, hatinya tergantung kepada Tuhannya, ia berlindung dengan penjagaanNyaوَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًاDan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong” (QS Al-Isroo’ : 80)          Islam adalah agama kemuliaan dan kekuatan, Allah berfirman :وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَJanganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS Ali-Imron : 139)Kalian yang tertinggi derajatnya dengan keimanan kalian meskipun sedikit harta kalian dan jumlah kalian. Umat ini kuat dengan sebab agamanya, akidahnya, dan para pejuangnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :المُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari pada mukmin yang lemah”Kekuatan menghancurkan dan membantah serta melenyapkan kebatilan. Kebatilan ini yang menjalar ke Jazirah Arab dan Yaman negeri hikmah dan iman, kebatilan yang dilakukan oleh sekelompok pemberontak yang tukang dusta, dan memperbodoh akal-akal (pengikut mereka), serta mengangkat syi’ar kematian demi kekufuran, kematian demi kebatilan. Kelompok ini merupakan salah satu pasukan dari kebatilan tersebut, berjalan di bawah tunggangannya, dan menjalankan rencana-rencananya.Tipu muslihat ini telah memperdaya rakyat dalam waktu yang lama, akan tetapi sekarang tipu muslihat tersebut tersingkap, terbongkar, dan tersebar. Umat ini telah mengetahui makar mereka, dan bahwasanya propaganda-propaganda tersebut hanyalah sekedar bingkai dan tipuan yang menggelitik perasaan kaum muslimin dan membius mereka, agar mudah untuk mendapatkan mangsa baik dengan pengusiran atau dengan pembunuhan atau dengan memaksakan kebatilan berjalan di atas muka bumi dengan kekuata besi dan api.          Topeng telah terbuka, tirai telah tersingkap, realita telah jelas, nampaklah kepalsuan kebatilan dari kelompok pemberontak tersebut yang akan segera memudar dan akan menjadi debu, pasukan naas mereka akan menjadi bumerang dan penyesalan bagi mereka.إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًاSesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS Al-Isroo’ : 81)          Kekuatan dalam Islam adalah untuk mengembalikan hak yang dirampas, untuk menanamkan keamanan dan perdamaian. Kelompok pemberontak telah merampas hak, telah merampas negeri, telah memaksa rakyat, telah mengancam untuk menyerang Arab Saudi secara keselurhan, dalam rangka mewujudkan cita-cita dan perencanaan yang disokong oleh kedengkian yang terpendam, serta didukung oleh negara pemilik aqidah kabatinan.          Metode kekuatan dimulai dengan pengajaran, lalu keadilan. Metode dialog yang diinginkan oleh para cendekiawan dan para pemilik niat yang baik demi untuk menjaga kepemilikan dan demi menjaga dari tertumpahnya darah serta menutup corong-corong fitnah. Orang-orang yang bijak di Yaman telah menempuh metode dialog bersama kelompok pemberontak, akan tetapi kelompok ini tuli telinga mereka untuk mendengar suara kebenaran dan suara cendekia, bahkan semakin tenggelam dalam penyimpangannya, menghunuskan senjata, menghantam masyarakat, berpegang kepada sekte dan ras mereka, dan menempuh jalan kejahatan, berharap untuk bisa memecah belah dan memporak-porandakan Yaman.          Kekuatan yang hazm (tegas) –dengan karunia Allah- mengembalikan perkara kepada tempatnya, menghadapi semua yang ingin mengobarkan fitnah dan menggoncangkan keamanan, membuat isu kekacauan dan perpecahan, maka terwujudkanlah stabilitas di Yaman, kebahagiaan dan ketenteraman bagi rakyat Yaman, menjaga aqidah mereka dan keimanan mereka, agar Yaman membangun kembali kemajuan peradabannya, dan masa depan putra-putra mereka. Dengan demikian Yaman tidak membenarkan siapapun juga yang hendak mencemarkan sejarah Islam di negeri Yaman, yang ingin menghilangkan kepribadian Arab dari Yaman, dan menghilangkan keaslian rakyat Yaman dan keutamaan mereka.          Diantara keutamaan penduduk Yaman adalah yang diriwayatkan oleh Jubair bin Muth’im dari ayahnya berkata :كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَسِيرٍ لَهُ فَقَالَ: «يَطْلَعُ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْيَمَنِ كَأَنَّهُمُ السَّحَابُ هُمْ خِيَارُ مَنْ فِي الأَرْضِ»“Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah perjalanan, lalu Nabi berkata, “Muncul penduduk Yaman dihadapan kalian, seakan-akan mereka adalah awan, mereka adalah orang-orang yang terbaik di atas bumi” (HR Ahmad)Diantara keutamaan mereka, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :أتاكُم أهْلُ اليَمَنِ، هُمْ أرَقُّ أفْئِدَةً، وأليَنُ قلوباً، الِإيمانُ يمانٍ، والحِكْمَةُ يَمانِيَةٌ“Datang kepada kalian penduduk Yaman, mereka adalah yang paling lembut hatinya, paling halus hatinya, keimanan di Yaman dan hikmah di Yaman” (HR al-Bukhari dan Muslim)Ini adalah pujian kepada penduduk Yaman karena cepatnya mereka menuju keimanan, dan baiknya penerimaan mereka terhadap keimanan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa untuk penduduk Yaman, beliau berkata :اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا“Ya Allah berkahilah bagi kami di negeri Syam kami, dan berkahilah bagi kami di negeri Yaman kami” (HR Al-Bukhari).Diantara keutamaan mereka adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam«إِنِّي لَبِعُقْرِ حَوْضِي أَذُودُ النَّاسَ لِأَهْلِ الْيَمَنِ أَضْرِبُ بِعَصَايَ حَتَّى يَرْفَضَّ عَلَيْهِمْ»“Sungguh aku berada di telagaku, aku mengusir orang-orang dengan memukulkan tongkatku selain penduduk Yaman, agar telagaku mengalirkan air bagi mereka” (HR Muslim)Ini merupakan karomah bagi penduduk Yaman, dimana mereka didahulukan untuk minum dari telaga Nabi, sebagai balasan bagi mereka karena sikap mereka yang baik dan terdahulunya mereka dalam Islam, dan kaum Anshor dari Yaman, maka selain Penduduk Yaman diusir agar penduduk Yaman yang lebih dahulu minum, sebagaimana mereka tatkala di dunia telah mengusir musuh-musuh Nabi dan hal-hal yang dibenci.          Sesungguhnya pergerakan “Ashifatul Hazm” (Badai penyerangan yang tegas) mengungkapkan cita-cita rakyat Yaman dan sebagai bentuk jawaban atas suara mereka yang meminta pertolongan, maka ia adalah badai yang kuat yang pada tugasnya, sangat dalam penunjukannya, sangat jelas tujuannya. Badai yang tegas dari kepemimpinan yang tegas, yang tidak menerima penundaan dalam bertindak. Musuh telah menampakkan gigi taringnya, telah jelas makarnya, dan menampakkan kerasukannya sampai-sampai ingin (menyerang dan menguasai) Mekah dan Madinah. Maka musuh ini telah menjual akalnya, fikirannya, dan negerinya kepada negeri non Arab.          Ketegasan merupakan sifat para pemimpin yang istimewa sepanjang sejarah, terutama tegas terhadap orang-orang yang sifatnya adalah dusta dan khianat. Dan teladan para pemimpin adalah Rasul kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam, yang tegas dalam perintahnya untuk menghancurkan mesjid diror yang merupakan sarang konspirasi (kejahatan) dan permusuhan terhadap Rasul kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam.Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma berkata :رَأَيْتُ الدُّخَانَ مِنْ مَسْجِدِ الضِّرَارِ حِيْنَ انْهَارَ“Aku melihat asap dari masjid Diror tatkala runtuh”Dan turunlah firman Allah :وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَDan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” dan Allah menjadi saksi bahwa Sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). (QS At-Taubah : 107)Abu Bakar As-Shiddiq radhiallahu ‘anhu telah tegas memerintahkan untuk memerangi orang-orang yang murtad, beliau berkata dengan penuh ketegasan :أَيُنْقَضُ الدِّيْنُ وَأَنَا حَيٌّ؟“Apakah agama dibatalkan (murtad) sementara saya masih hidup”Adapun Al-Faaruq Umar bin Al-Khotthob radhiallahu ‘anhu, maka beliau tegas sejak awal masuk Islam, bahkan Islamnya beliau merupakan sebuah pertolongan dari Allah untuk memuliakan Islam dan kaum muslimin. Ia adalah kepribadian yang istimewa, ia tidak mengenal kata ragu dan bimbang !Dan ketegasan dalam penyerangan “Ashifatul Hazm” dari pemimpin negeri ini dan pemimpin umat yaitu Salman bin Abdul Aziz, yang dengan sebabnya Allah menolong agama, mengangkat suara kaum muslimin, Allah memperkuatnya dengan kebenaran dan Allah memperkuat kebenaran dengan sebabnya.Kekuatan yang tegas dalam menghadapi orang-orang yang memerangi agama Allah dan melakukan kerusakan di atas muka bumi. Sungguh kelompok pemberontak tersebut telah memerangi Allah dengan menyebarkan bid’ah dan kesesatan, serta keraguan terhadap akidah umat ini. Mereka melakukan kerusakan dengan memberontak kepada pemimpin mereka, membunuh jiwa, menghilangkan nyawa, menghancurkan mesjid-mesjid dan rumah-rumah, disertai dengan tipuan yang tersembunyi di bawah propaganda kosong untuk menyebarkan racun mereka. Padahal mereka hanyalah kuda tunggangan bagi selain mereka. Bahaya mereka terhadap akidah sangatlah besar, bahaya mereka terhadap kacaunya keamanan sangat parah.وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (١١) أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَDan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”, mereka menjawab: “Sesungguhnya Kami orang-orang yang Mengadakan perbaikan.” Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS Al-Baqoroh : 11-12)          Dan kekuatan yang tegas dalam menghadapi musuh dari dalam –yaitu kaum munafikun-, karena mereka berbicara atas nama Islam, dan mereka bergerak dengan menyandang baju nasehat dan perbaikan. Mereka menghiasi perkataan mereka, padahal hakikatnya mereka adalah kapak penghancur. Lahiriah mereka seakan-akan mereka bersama Negara dan rakyat, akan tetapi batin mereka dan hati mereka bersama musuh-musuh agama. Mereka menampakkan keimanan –dengan taqiyyah- dan karena berharap bisa menguraikan ikatan tali agama dengan syubhat-syubhat mereka.هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (٤)Mereka Itulah musuh (yang sebenarnya) Maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? (QS Al-Munafiqun : 4)Semoga Allah memberkahiku dan kalian pada al-Qur’an al-Azim, memberi manfaat kepadaku dan kepada kalian dari ayat-ayat dan dzikrul hakim yang ada di al-Qur’an. Aku sampaikan perkataanku ini, dan aku memohon ampunan bagiku, dan bagi kalian, serta bagi seluruh kaum muslimin dari segala dosa, maka mohonlah ampunan kepadaNya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Khutbah Kedua :          Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan dan minum kepada kita, serta memberi naungan kepada kita. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tidak ada sekut bagiNya, Dialah Pencipta kita, Pemberi rizki kita, serta Penolong kita. Aku bersaksi bahwasanya pemimpin kita dan Nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, pemberi syafaat bagi kita, dan tauladan kita dalam kondisi kita tatkala tersembunyi maupun terang-terangan. Sholawat semoga tercurahkan kepada beliau, keluarganya, dan para sahabatnya, serta mereka yang menempuh jalannya di malam hari dan siang hari.Amma ba’du, maka aku wasiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah.Dengan kesadaran mereka, kecerdasan mereka, serta pandangan mereka, maka rakyat Yaman mengerti akan pentingnya pembangunan dalam negeri dan persatuan pasukan dalam negeri. Karena inilah benteng yang kokoh dan sumber ketegaran dalam menghadapi kondisi-kondisi kritis dan tipu muslihat. Penduduk negeri yang baik tidak akan menjual loyalitasnya terhadap kepemimpinan yang syar’i, tidak akan menjual agamanya dan negerinya.Diantara pembangunan dalam negeri adalah tidak mendengar seruan para pembuat onar yang ingin merusak persatuan dan mentelantarkan negeri. Daintara pembangunan dalam negeri adalah menutup seluruh pintu yang bisa disusupi oleh akidah dan pemikiran yang rusak kepada masyarakat.Yaman adalah amanah yang diembankan di leher para ulama dan para tokoh pemegang keputusan. Maka hal ini mengharuskan bangkitnya semangat para tokoh di Yaman dengan seluruh kelompoknya, baik para pemimpin kabilah, kekuatan Islam, kekuatan Negara, para wartawan, para akademis, para tentara, dan seluruh penduduk Yaman untuk menyatukan kata, dan merapatkan barisan, dan meninggalkan perselisihan-perselisihan yang tidak pokok, untuk mengalahkan kelompok pemberontak, agar Yaman tetap menjadi oase bagi keamanan dan ketenteraman, menjadi negeri Islam, negeri Arab, dan negeri yang stabil.          Meninggal di medan mulia dan karomah adalah kemenangan, kemuliaan, dan mati syahid. Sikap perlawanan yang berani dan kuat akan mendatangkan hasilnya dengan izin Allah, Allah berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْHai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad : 7)Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


Prolog :Sesungguhnya para pemberontak Hutsy yang ada di Yaman –sebagaimana Hizbullah- sebenarnya hanyalah kuda tunggangan Negeri Syi’ah Iran, yang sebelumnya telah angkuh dengan kekuatannya. Negeri Persia yang selalu campur tangan dalam merusak stabilitas negeri-negeri Arab.Berikut beberapa kenyataan tentang Iran dan koloninya sebelum terjadi penyerangan Asifatul Hazm oleh Arab Saudi :1- Setelah tunggangan Iran yaitu Kelompok Hutsy menguasai kota Son’a maka Iran mengumumkan dengan sombongnya bahwa empat ibu kota Arab telah mereka kuasai (yaitu Bagdad, Damaskus, Libanon, dan Son’a) (silahkan lihat : https://www.youtube.com/watch?v=8YcBT-KImPw, dan http://orient-news.net/index.php?page=news_show&id=83496)2- Bahkan dengan sombongnya Hizbullah Iraq telah menyatakan akan menghancurkan Arab Saudi dan menguasai Mekah dan Madinah, karena Imam Mahdi mereka akan muncul dan memerangi Arab Saudi, (silahkan lihat https://www.youtube.com/watch?v=6EuFXuT0kPo). Demikian juga Jama’ah Houty juga telah mengancam akan menyerang Mekah (lihat https://www.youtube.com/watch?v=wGNZo2ROQgQ dan https://www.youtube.com/watch?v=xf8zZAp50EE) 3- Iran melalui Ali Syirozi telah menyatakan bahwa Iran secara langsung telah membantu Hizbullah di Libanon dan jama’ah Hutsy di Yaman (lihat http://islammemo.cc/akhbar/arab/2015/01/27/228496.html)4- Iran telah memberikan bantuan mesiu dan persenjataan yang banyak di Yaman bagi kaum Hutsy. Alhamdulillah banyak gudang senjata dan mesiu yang telah dibom dan dihancurkan oleh pesawat tempur Arab Saudi dalam serangan ‘Ashifatul Hazm5- Jama’ah Hutsy telah berulang kali menyerang daerah perbatasan Arab Saudi, dan membunuh para tentara penjaga daerah perbatasan.6- Jama’ah Hutsy telah banyak melakukan kerusakan di Yaman. Syaikh Ali Al-Hudzaifi hafizohullah dalam khutbah jum’atnya pekan lalu telah berkata : ((Bukankah mereka (kelompok ini) telah memerangi al-Qur’an al-karim?, mereka menghancurkan madrasah-madrasah al-Qur’an, mereka menutup masjid-masjid, mereka mengusir para pengajar al-Qur’an !. Bukankah mereka memerangi hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Mereka membunuh para pelajar hadits, mengisolir dan memboikot pelajar hadits dan pemboikotan yang parah serta mengusir mereka dari negeri mereka tanpa hak !Bukankah mereka memerangi ilmu dengan menghancurkan universitasnya?, mereka merampas isinya !, serta membakar yayasan-yayasannya?. Bukankah mereka merampok harta?, bukankah mereka menghancurkan?, bukankah mereka memasuki rumah-rumah yang tenang?, bukankah mereka telah melanggar harga diri?, bukankah mereka menumpahkan darah?, bukankah mereka menghina para ulama?, bukankah mereka mengejar para da’i untuk membunuh mereka? Bukankah mereka memutuskan jalan dan merusak tanaman dan hewan ternak?. Bukankah mereka menghentikan roda kehidupan?, bukankah mereka melanggar daerah perbatasan Arab Saudi dan membunuh para tentaranya?, Bukankah mereka mengancam untuk memerangi dua kota suci Mekah dan Madinah?, bukankah mereka melaknat para sahabat radhiallahu ‘anhum?, bukankah mereka melaknat istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?.)). Asy-Syaikh Ali Al-Hudzaifi juga telah mengingatkan bahwa yang membawa Islam dan menyebarkannya di negeri Yaman adalah para sahabat, diantaranya Abu Musa Al-Ays’ari, Muadz bin Jabal, dan Kholid bin al-Walid yang diutus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lantas jama’ah Hutsy ingin merubah akidah penduduk Yaman dengan mengkafirkan para sahabat tersebut !! Berikut ini khutbah jum’at yang disampaikan oleh Asy-Syaikh DR Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohulloh, di Mesjid Nabawi pada tanggal 21/6/1436 H – 10/5/2015 MKhutbah Pertama :Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada hamba-hambaNya syari’at yang bijak, yang berisi perintah dan larangan. Aku memujiNya subhanahu dan aku bersyukur kepadaNya atas seluruh nikmat dan karunia. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, Allah telah menundukkan matahari dan bulan dan mengalirkan air di laut dan sungai. Aku bersaksi bahwasanya pimpinan kita dan Nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya yang telah memimpin umat dengan keadilan, rahmat, dan ketegasan. Shalawat tercurahkan kepada beliau, kepada para sahabat beliau pemilik kemuliaan dan tekad yang kuat.Amma ba’du, maka aku mewasiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (١١٩)Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At-Taubah : 119)Amma Ba’du :Umat ini telah dilalui oleh fitnah-fitnah besar, kondisi-kondisi yang kritis, peristiwa-peristiwa yang menuntut untuk menolong kebenaran dan membantu yang terzolimi.Kekuatan dalam kacamata syari’at merupakan alat untuk membantu kebenaran, bukan tujuan yang dicari secara murni, akan tetapi jika kekuatan terpisahkan dari kebenaran maka jadilah ia menjadi sesuatu yang berbahaya dan menghancurkan.Allah berfirman :وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍDan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi (QS Al-Anfaal :60)Kekuatan mengokohkan penopang-penopang Islam, menjaga agama Islam, membentengi negeri-negeri kaum muslimin dari penjarahan tangan-tangan para perampok, para pelanggar, dan para pemberontak. Dunia internasional tidak menghormati kecuali para pemilik kekuatan.          Kekuatan yang sesungguhnya berasal dari Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghadapi musuh dengan meminta dari Allah tekad, kesungguhan, dan petunjuk. Beliau berkata :اللَّهُمَّ بِكَ أَصُولُ، وَبِكَ أَجُولُ، وَبِكَ أُقَاتِلُ“Ya Allah, denganMu aku menyerang, denganMu aku melawan, denganMu aku memerangi”.Beliau juga berkata,اللَّهُمَّ إنا نَجعلُكَ في نُحورِهم، ونعوذُ بِكَ مِنْ شُرورِهِمْ“Ya Allah kami menjadikanMu di hadapan mereka, dan kami berlindung kepadaMu dari keburukan mereka”Barangsiapa yang meminta kekuatan dari Allah, maka kelemahannya tidak ada artinya baginya, tidak ada baginya kata putus asa. Maka Allah-lah Sang Penolong, Yang menentukan tali kekang kehidupan, dan hanya kepadaNya-lah kembali segala perkara.          Seorang mukmin dalam kondisi genting semakin kuat hubungannya dengan Robnya, hatinya tergantung kepada Tuhannya, ia berlindung dengan penjagaanNyaوَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًاDan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong” (QS Al-Isroo’ : 80)          Islam adalah agama kemuliaan dan kekuatan, Allah berfirman :وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَJanganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS Ali-Imron : 139)Kalian yang tertinggi derajatnya dengan keimanan kalian meskipun sedikit harta kalian dan jumlah kalian. Umat ini kuat dengan sebab agamanya, akidahnya, dan para pejuangnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :المُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari pada mukmin yang lemah”Kekuatan menghancurkan dan membantah serta melenyapkan kebatilan. Kebatilan ini yang menjalar ke Jazirah Arab dan Yaman negeri hikmah dan iman, kebatilan yang dilakukan oleh sekelompok pemberontak yang tukang dusta, dan memperbodoh akal-akal (pengikut mereka), serta mengangkat syi’ar kematian demi kekufuran, kematian demi kebatilan. Kelompok ini merupakan salah satu pasukan dari kebatilan tersebut, berjalan di bawah tunggangannya, dan menjalankan rencana-rencananya.Tipu muslihat ini telah memperdaya rakyat dalam waktu yang lama, akan tetapi sekarang tipu muslihat tersebut tersingkap, terbongkar, dan tersebar. Umat ini telah mengetahui makar mereka, dan bahwasanya propaganda-propaganda tersebut hanyalah sekedar bingkai dan tipuan yang menggelitik perasaan kaum muslimin dan membius mereka, agar mudah untuk mendapatkan mangsa baik dengan pengusiran atau dengan pembunuhan atau dengan memaksakan kebatilan berjalan di atas muka bumi dengan kekuata besi dan api.          Topeng telah terbuka, tirai telah tersingkap, realita telah jelas, nampaklah kepalsuan kebatilan dari kelompok pemberontak tersebut yang akan segera memudar dan akan menjadi debu, pasukan naas mereka akan menjadi bumerang dan penyesalan bagi mereka.إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًاSesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS Al-Isroo’ : 81)          Kekuatan dalam Islam adalah untuk mengembalikan hak yang dirampas, untuk menanamkan keamanan dan perdamaian. Kelompok pemberontak telah merampas hak, telah merampas negeri, telah memaksa rakyat, telah mengancam untuk menyerang Arab Saudi secara keselurhan, dalam rangka mewujudkan cita-cita dan perencanaan yang disokong oleh kedengkian yang terpendam, serta didukung oleh negara pemilik aqidah kabatinan.          Metode kekuatan dimulai dengan pengajaran, lalu keadilan. Metode dialog yang diinginkan oleh para cendekiawan dan para pemilik niat yang baik demi untuk menjaga kepemilikan dan demi menjaga dari tertumpahnya darah serta menutup corong-corong fitnah. Orang-orang yang bijak di Yaman telah menempuh metode dialog bersama kelompok pemberontak, akan tetapi kelompok ini tuli telinga mereka untuk mendengar suara kebenaran dan suara cendekia, bahkan semakin tenggelam dalam penyimpangannya, menghunuskan senjata, menghantam masyarakat, berpegang kepada sekte dan ras mereka, dan menempuh jalan kejahatan, berharap untuk bisa memecah belah dan memporak-porandakan Yaman.          Kekuatan yang hazm (tegas) –dengan karunia Allah- mengembalikan perkara kepada tempatnya, menghadapi semua yang ingin mengobarkan fitnah dan menggoncangkan keamanan, membuat isu kekacauan dan perpecahan, maka terwujudkanlah stabilitas di Yaman, kebahagiaan dan ketenteraman bagi rakyat Yaman, menjaga aqidah mereka dan keimanan mereka, agar Yaman membangun kembali kemajuan peradabannya, dan masa depan putra-putra mereka. Dengan demikian Yaman tidak membenarkan siapapun juga yang hendak mencemarkan sejarah Islam di negeri Yaman, yang ingin menghilangkan kepribadian Arab dari Yaman, dan menghilangkan keaslian rakyat Yaman dan keutamaan mereka.          Diantara keutamaan penduduk Yaman adalah yang diriwayatkan oleh Jubair bin Muth’im dari ayahnya berkata :كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَسِيرٍ لَهُ فَقَالَ: «يَطْلَعُ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْيَمَنِ كَأَنَّهُمُ السَّحَابُ هُمْ خِيَارُ مَنْ فِي الأَرْضِ»“Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah perjalanan, lalu Nabi berkata, “Muncul penduduk Yaman dihadapan kalian, seakan-akan mereka adalah awan, mereka adalah orang-orang yang terbaik di atas bumi” (HR Ahmad)Diantara keutamaan mereka, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :أتاكُم أهْلُ اليَمَنِ، هُمْ أرَقُّ أفْئِدَةً، وأليَنُ قلوباً، الِإيمانُ يمانٍ، والحِكْمَةُ يَمانِيَةٌ“Datang kepada kalian penduduk Yaman, mereka adalah yang paling lembut hatinya, paling halus hatinya, keimanan di Yaman dan hikmah di Yaman” (HR al-Bukhari dan Muslim)Ini adalah pujian kepada penduduk Yaman karena cepatnya mereka menuju keimanan, dan baiknya penerimaan mereka terhadap keimanan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa untuk penduduk Yaman, beliau berkata :اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا“Ya Allah berkahilah bagi kami di negeri Syam kami, dan berkahilah bagi kami di negeri Yaman kami” (HR Al-Bukhari).Diantara keutamaan mereka adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam«إِنِّي لَبِعُقْرِ حَوْضِي أَذُودُ النَّاسَ لِأَهْلِ الْيَمَنِ أَضْرِبُ بِعَصَايَ حَتَّى يَرْفَضَّ عَلَيْهِمْ»“Sungguh aku berada di telagaku, aku mengusir orang-orang dengan memukulkan tongkatku selain penduduk Yaman, agar telagaku mengalirkan air bagi mereka” (HR Muslim)Ini merupakan karomah bagi penduduk Yaman, dimana mereka didahulukan untuk minum dari telaga Nabi, sebagai balasan bagi mereka karena sikap mereka yang baik dan terdahulunya mereka dalam Islam, dan kaum Anshor dari Yaman, maka selain Penduduk Yaman diusir agar penduduk Yaman yang lebih dahulu minum, sebagaimana mereka tatkala di dunia telah mengusir musuh-musuh Nabi dan hal-hal yang dibenci.          Sesungguhnya pergerakan “Ashifatul Hazm” (Badai penyerangan yang tegas) mengungkapkan cita-cita rakyat Yaman dan sebagai bentuk jawaban atas suara mereka yang meminta pertolongan, maka ia adalah badai yang kuat yang pada tugasnya, sangat dalam penunjukannya, sangat jelas tujuannya. Badai yang tegas dari kepemimpinan yang tegas, yang tidak menerima penundaan dalam bertindak. Musuh telah menampakkan gigi taringnya, telah jelas makarnya, dan menampakkan kerasukannya sampai-sampai ingin (menyerang dan menguasai) Mekah dan Madinah. Maka musuh ini telah menjual akalnya, fikirannya, dan negerinya kepada negeri non Arab.          Ketegasan merupakan sifat para pemimpin yang istimewa sepanjang sejarah, terutama tegas terhadap orang-orang yang sifatnya adalah dusta dan khianat. Dan teladan para pemimpin adalah Rasul kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam, yang tegas dalam perintahnya untuk menghancurkan mesjid diror yang merupakan sarang konspirasi (kejahatan) dan permusuhan terhadap Rasul kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam.Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma berkata :رَأَيْتُ الدُّخَانَ مِنْ مَسْجِدِ الضِّرَارِ حِيْنَ انْهَارَ“Aku melihat asap dari masjid Diror tatkala runtuh”Dan turunlah firman Allah :وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَDan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” dan Allah menjadi saksi bahwa Sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). (QS At-Taubah : 107)Abu Bakar As-Shiddiq radhiallahu ‘anhu telah tegas memerintahkan untuk memerangi orang-orang yang murtad, beliau berkata dengan penuh ketegasan :أَيُنْقَضُ الدِّيْنُ وَأَنَا حَيٌّ؟“Apakah agama dibatalkan (murtad) sementara saya masih hidup”Adapun Al-Faaruq Umar bin Al-Khotthob radhiallahu ‘anhu, maka beliau tegas sejak awal masuk Islam, bahkan Islamnya beliau merupakan sebuah pertolongan dari Allah untuk memuliakan Islam dan kaum muslimin. Ia adalah kepribadian yang istimewa, ia tidak mengenal kata ragu dan bimbang !Dan ketegasan dalam penyerangan “Ashifatul Hazm” dari pemimpin negeri ini dan pemimpin umat yaitu Salman bin Abdul Aziz, yang dengan sebabnya Allah menolong agama, mengangkat suara kaum muslimin, Allah memperkuatnya dengan kebenaran dan Allah memperkuat kebenaran dengan sebabnya.Kekuatan yang tegas dalam menghadapi orang-orang yang memerangi agama Allah dan melakukan kerusakan di atas muka bumi. Sungguh kelompok pemberontak tersebut telah memerangi Allah dengan menyebarkan bid’ah dan kesesatan, serta keraguan terhadap akidah umat ini. Mereka melakukan kerusakan dengan memberontak kepada pemimpin mereka, membunuh jiwa, menghilangkan nyawa, menghancurkan mesjid-mesjid dan rumah-rumah, disertai dengan tipuan yang tersembunyi di bawah propaganda kosong untuk menyebarkan racun mereka. Padahal mereka hanyalah kuda tunggangan bagi selain mereka. Bahaya mereka terhadap akidah sangatlah besar, bahaya mereka terhadap kacaunya keamanan sangat parah.وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (١١) أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَDan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”, mereka menjawab: “Sesungguhnya Kami orang-orang yang Mengadakan perbaikan.” Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS Al-Baqoroh : 11-12)          Dan kekuatan yang tegas dalam menghadapi musuh dari dalam –yaitu kaum munafikun-, karena mereka berbicara atas nama Islam, dan mereka bergerak dengan menyandang baju nasehat dan perbaikan. Mereka menghiasi perkataan mereka, padahal hakikatnya mereka adalah kapak penghancur. Lahiriah mereka seakan-akan mereka bersama Negara dan rakyat, akan tetapi batin mereka dan hati mereka bersama musuh-musuh agama. Mereka menampakkan keimanan –dengan taqiyyah- dan karena berharap bisa menguraikan ikatan tali agama dengan syubhat-syubhat mereka.هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (٤)Mereka Itulah musuh (yang sebenarnya) Maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? (QS Al-Munafiqun : 4)Semoga Allah memberkahiku dan kalian pada al-Qur’an al-Azim, memberi manfaat kepadaku dan kepada kalian dari ayat-ayat dan dzikrul hakim yang ada di al-Qur’an. Aku sampaikan perkataanku ini, dan aku memohon ampunan bagiku, dan bagi kalian, serta bagi seluruh kaum muslimin dari segala dosa, maka mohonlah ampunan kepadaNya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Khutbah Kedua :          Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan dan minum kepada kita, serta memberi naungan kepada kita. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tidak ada sekut bagiNya, Dialah Pencipta kita, Pemberi rizki kita, serta Penolong kita. Aku bersaksi bahwasanya pemimpin kita dan Nabi kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, pemberi syafaat bagi kita, dan tauladan kita dalam kondisi kita tatkala tersembunyi maupun terang-terangan. Sholawat semoga tercurahkan kepada beliau, keluarganya, dan para sahabatnya, serta mereka yang menempuh jalannya di malam hari dan siang hari.Amma ba’du, maka aku wasiatkan kepada kalian dan kepada diriku untuk bertakwa kepada Allah.Dengan kesadaran mereka, kecerdasan mereka, serta pandangan mereka, maka rakyat Yaman mengerti akan pentingnya pembangunan dalam negeri dan persatuan pasukan dalam negeri. Karena inilah benteng yang kokoh dan sumber ketegaran dalam menghadapi kondisi-kondisi kritis dan tipu muslihat. Penduduk negeri yang baik tidak akan menjual loyalitasnya terhadap kepemimpinan yang syar’i, tidak akan menjual agamanya dan negerinya.Diantara pembangunan dalam negeri adalah tidak mendengar seruan para pembuat onar yang ingin merusak persatuan dan mentelantarkan negeri. Daintara pembangunan dalam negeri adalah menutup seluruh pintu yang bisa disusupi oleh akidah dan pemikiran yang rusak kepada masyarakat.Yaman adalah amanah yang diembankan di leher para ulama dan para tokoh pemegang keputusan. Maka hal ini mengharuskan bangkitnya semangat para tokoh di Yaman dengan seluruh kelompoknya, baik para pemimpin kabilah, kekuatan Islam, kekuatan Negara, para wartawan, para akademis, para tentara, dan seluruh penduduk Yaman untuk menyatukan kata, dan merapatkan barisan, dan meninggalkan perselisihan-perselisihan yang tidak pokok, untuk mengalahkan kelompok pemberontak, agar Yaman tetap menjadi oase bagi keamanan dan ketenteraman, menjadi negeri Islam, negeri Arab, dan negeri yang stabil.          Meninggal di medan mulia dan karomah adalah kemenangan, kemuliaan, dan mati syahid. Sikap perlawanan yang berani dan kuat akan mendatangkan hasilnya dengan izin Allah, Allah berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْHai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad : 7)Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Larangan Duduk Memeluk Lutut Saat Khutbah Jumat

Tidak sedikit jamaah shalat Jumat yang duduknya dalam keadaan memeluk lutut. Bahkan saking enaknya duduk seperti sampai tertidur. Padahal ada larangan dalam hadits mengenai duduk seperti itu dalam khutbah Jumat. Hadits yang dimaksud adalah dari Sahl bin Mu’adz dari bapaknya (Mu’adz bin Anas Al-Juhaniy), ia berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ الْحُبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari duduk dengan memeluk lutut pada saat imam sedang berkhutbah.” (HR. Tirmidzi no. 514 dan Abu Daud no. 1110. Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Imam Nawawi rahimahullah dalam Riyadhus Shalihin membawakan hadits di atas dengan menyatakan dalam judul bab, كَرَاهَةُ الاِحْتِبَاءِ يَوْمَ الجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ لِأَنَّهُ يَجْلِبُ النَّوْم فَيَفُوْت اِسْتِمَاع الخُطْبَة وَيَخَافُ اِنْتِقَاض الوُضُوْء “Dimakruhkan memeluk lutut pada hari Jumat saat khatib berkhutbah karena dapat menyebabkan tertidur sehingga terluput dari mendengarkan khutbah dan khawatir pula seperti itu dapat membatalkan wudhu.” Imam Nawawi membawakan perkataan Al Khattabi yang menyatakan sebab dilarang duduk ihtiba’, نُهِيَ عَنْهَا لِاَنَّهاَ تَجْلِبُ النَّوْم فَتَعْرِض طَهَارَتُه لِلنَّقْضِ وَيَمْنَعُ مِنَ اسْتِمَاعِ الخُطْبَةِ “Duduk dengan memeluk lutut itu dilarang (saat mendengar khutbah Jumat) karena dapat menyebabkan tidur saat khutbah yang dapat membatalkan wudhu, juga jadi tidak mendengarkan khutbah.” (Al Majmu’, 4: 592). Baca artikel: Hukum Tidur pada Khutbah Jumat Menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, duduk ihtiba’ adalah duduk dengan mendekatkan paha pada perut dan betis didekatkan pada paha tadi, lalu diikat dengan tali, imamah atau cara lainnya. Lihat Syarh Riyadhus Sholihin, 6: 449. Intinya, yang dilakukan adalah duduk yang sifatnya makruh atau terlarang. Kita biasa melihat pada sebagian jama’ah shalat Jumat seperti contoh duduk di bawah ini. Duduk ihtiba’ (memeluk lutut) yang terlarang dalam Khutbah Jumat Duduk yang dibolehkan saat mendengar Khutbah Jumat Hanya Allah yang memberi taufik. Silakan SHARE pada kaum muslimin yang lain yang belum memahami larangan ini. — Disusun di Jumat pagi, 11 Sya’ban 1436 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagscara duduk khutbah jumat shalat jumat

Larangan Duduk Memeluk Lutut Saat Khutbah Jumat

Tidak sedikit jamaah shalat Jumat yang duduknya dalam keadaan memeluk lutut. Bahkan saking enaknya duduk seperti sampai tertidur. Padahal ada larangan dalam hadits mengenai duduk seperti itu dalam khutbah Jumat. Hadits yang dimaksud adalah dari Sahl bin Mu’adz dari bapaknya (Mu’adz bin Anas Al-Juhaniy), ia berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ الْحُبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari duduk dengan memeluk lutut pada saat imam sedang berkhutbah.” (HR. Tirmidzi no. 514 dan Abu Daud no. 1110. Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Imam Nawawi rahimahullah dalam Riyadhus Shalihin membawakan hadits di atas dengan menyatakan dalam judul bab, كَرَاهَةُ الاِحْتِبَاءِ يَوْمَ الجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ لِأَنَّهُ يَجْلِبُ النَّوْم فَيَفُوْت اِسْتِمَاع الخُطْبَة وَيَخَافُ اِنْتِقَاض الوُضُوْء “Dimakruhkan memeluk lutut pada hari Jumat saat khatib berkhutbah karena dapat menyebabkan tertidur sehingga terluput dari mendengarkan khutbah dan khawatir pula seperti itu dapat membatalkan wudhu.” Imam Nawawi membawakan perkataan Al Khattabi yang menyatakan sebab dilarang duduk ihtiba’, نُهِيَ عَنْهَا لِاَنَّهاَ تَجْلِبُ النَّوْم فَتَعْرِض طَهَارَتُه لِلنَّقْضِ وَيَمْنَعُ مِنَ اسْتِمَاعِ الخُطْبَةِ “Duduk dengan memeluk lutut itu dilarang (saat mendengar khutbah Jumat) karena dapat menyebabkan tidur saat khutbah yang dapat membatalkan wudhu, juga jadi tidak mendengarkan khutbah.” (Al Majmu’, 4: 592). Baca artikel: Hukum Tidur pada Khutbah Jumat Menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, duduk ihtiba’ adalah duduk dengan mendekatkan paha pada perut dan betis didekatkan pada paha tadi, lalu diikat dengan tali, imamah atau cara lainnya. Lihat Syarh Riyadhus Sholihin, 6: 449. Intinya, yang dilakukan adalah duduk yang sifatnya makruh atau terlarang. Kita biasa melihat pada sebagian jama’ah shalat Jumat seperti contoh duduk di bawah ini. Duduk ihtiba’ (memeluk lutut) yang terlarang dalam Khutbah Jumat Duduk yang dibolehkan saat mendengar Khutbah Jumat Hanya Allah yang memberi taufik. Silakan SHARE pada kaum muslimin yang lain yang belum memahami larangan ini. — Disusun di Jumat pagi, 11 Sya’ban 1436 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagscara duduk khutbah jumat shalat jumat
Tidak sedikit jamaah shalat Jumat yang duduknya dalam keadaan memeluk lutut. Bahkan saking enaknya duduk seperti sampai tertidur. Padahal ada larangan dalam hadits mengenai duduk seperti itu dalam khutbah Jumat. Hadits yang dimaksud adalah dari Sahl bin Mu’adz dari bapaknya (Mu’adz bin Anas Al-Juhaniy), ia berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ الْحُبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari duduk dengan memeluk lutut pada saat imam sedang berkhutbah.” (HR. Tirmidzi no. 514 dan Abu Daud no. 1110. Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Imam Nawawi rahimahullah dalam Riyadhus Shalihin membawakan hadits di atas dengan menyatakan dalam judul bab, كَرَاهَةُ الاِحْتِبَاءِ يَوْمَ الجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ لِأَنَّهُ يَجْلِبُ النَّوْم فَيَفُوْت اِسْتِمَاع الخُطْبَة وَيَخَافُ اِنْتِقَاض الوُضُوْء “Dimakruhkan memeluk lutut pada hari Jumat saat khatib berkhutbah karena dapat menyebabkan tertidur sehingga terluput dari mendengarkan khutbah dan khawatir pula seperti itu dapat membatalkan wudhu.” Imam Nawawi membawakan perkataan Al Khattabi yang menyatakan sebab dilarang duduk ihtiba’, نُهِيَ عَنْهَا لِاَنَّهاَ تَجْلِبُ النَّوْم فَتَعْرِض طَهَارَتُه لِلنَّقْضِ وَيَمْنَعُ مِنَ اسْتِمَاعِ الخُطْبَةِ “Duduk dengan memeluk lutut itu dilarang (saat mendengar khutbah Jumat) karena dapat menyebabkan tidur saat khutbah yang dapat membatalkan wudhu, juga jadi tidak mendengarkan khutbah.” (Al Majmu’, 4: 592). Baca artikel: Hukum Tidur pada Khutbah Jumat Menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, duduk ihtiba’ adalah duduk dengan mendekatkan paha pada perut dan betis didekatkan pada paha tadi, lalu diikat dengan tali, imamah atau cara lainnya. Lihat Syarh Riyadhus Sholihin, 6: 449. Intinya, yang dilakukan adalah duduk yang sifatnya makruh atau terlarang. Kita biasa melihat pada sebagian jama’ah shalat Jumat seperti contoh duduk di bawah ini. Duduk ihtiba’ (memeluk lutut) yang terlarang dalam Khutbah Jumat Duduk yang dibolehkan saat mendengar Khutbah Jumat Hanya Allah yang memberi taufik. Silakan SHARE pada kaum muslimin yang lain yang belum memahami larangan ini. — Disusun di Jumat pagi, 11 Sya’ban 1436 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagscara duduk khutbah jumat shalat jumat


Tidak sedikit jamaah shalat Jumat yang duduknya dalam keadaan memeluk lutut. Bahkan saking enaknya duduk seperti sampai tertidur. Padahal ada larangan dalam hadits mengenai duduk seperti itu dalam khutbah Jumat. Hadits yang dimaksud adalah dari Sahl bin Mu’adz dari bapaknya (Mu’adz bin Anas Al-Juhaniy), ia berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ الْحُبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari duduk dengan memeluk lutut pada saat imam sedang berkhutbah.” (HR. Tirmidzi no. 514 dan Abu Daud no. 1110. Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Imam Nawawi rahimahullah dalam Riyadhus Shalihin membawakan hadits di atas dengan menyatakan dalam judul bab, كَرَاهَةُ الاِحْتِبَاءِ يَوْمَ الجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ لِأَنَّهُ يَجْلِبُ النَّوْم فَيَفُوْت اِسْتِمَاع الخُطْبَة وَيَخَافُ اِنْتِقَاض الوُضُوْء “Dimakruhkan memeluk lutut pada hari Jumat saat khatib berkhutbah karena dapat menyebabkan tertidur sehingga terluput dari mendengarkan khutbah dan khawatir pula seperti itu dapat membatalkan wudhu.” Imam Nawawi membawakan perkataan Al Khattabi yang menyatakan sebab dilarang duduk ihtiba’, نُهِيَ عَنْهَا لِاَنَّهاَ تَجْلِبُ النَّوْم فَتَعْرِض طَهَارَتُه لِلنَّقْضِ وَيَمْنَعُ مِنَ اسْتِمَاعِ الخُطْبَةِ “Duduk dengan memeluk lutut itu dilarang (saat mendengar khutbah Jumat) karena dapat menyebabkan tidur saat khutbah yang dapat membatalkan wudhu, juga jadi tidak mendengarkan khutbah.” (Al Majmu’, 4: 592). Baca artikel: Hukum Tidur pada Khutbah Jumat Menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, duduk ihtiba’ adalah duduk dengan mendekatkan paha pada perut dan betis didekatkan pada paha tadi, lalu diikat dengan tali, imamah atau cara lainnya. Lihat Syarh Riyadhus Sholihin, 6: 449. Intinya, yang dilakukan adalah duduk yang sifatnya makruh atau terlarang. Kita biasa melihat pada sebagian jama’ah shalat Jumat seperti contoh duduk di bawah ini. Duduk ihtiba’ (memeluk lutut) yang terlarang dalam Khutbah Jumat Duduk yang dibolehkan saat mendengar Khutbah Jumat Hanya Allah yang memberi taufik. Silakan SHARE pada kaum muslimin yang lain yang belum memahami larangan ini. — Disusun di Jumat pagi, 11 Sya’ban 1436 H di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagscara duduk khutbah jumat shalat jumat

Malam Nisfu Syaban dan Amalan Nisfu Syaban

Malam nisfu Sya’ban (malam 15 Sya’ban) adalah malam mulia menurut sebagian kalangan. Sehingga mereka pun mengkhususkan amalan-amalan tertentu pada bulan tersebut. Benarkah pada malam nisfu Sya’ban punya keistimewaan dari bulan lainnya? Bulan Sya’ban Secara Umum adalah Bulan Mulia Bulan Sya’ban adalah bulan mulia yang terletak sebelum bulan suci Ramadhan. Di antara keistimewaannya, bulan tersebut adalah waktu dinaikkan amalan. Mengenai bulan Sya’ban, ada hadits dari Usamah bin Zaid. Ia pernah menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia tidak pernah melihat beliau melakukan puasa yang lebih semangat daripada puasa Sya’ban. Kemudian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ “Bulan Sya’ban –bulan antara Rajab dan Ramadhan- adalah bulan di saat manusia lalai. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An-Nasa’i no. 2359. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Setiap pekannya, amalan seseorang juga diangkat yaitu pada hari Senin dan Kamis. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, تُعْرَضُ أَعْمَالُ النَّاسِ فِى كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّتَيْنِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ مُؤْمِنٍ إِلاَّ عَبْدًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ اتْرُكُوا – أَوِ ارْكُوا – هَذَيْنِ حَتَّى يَفِيئَا “Amalan manusia dihadapkan pada setiap pekannya dua kali yaitu pada hari Senin dan hari Kamis. Setiap hamba yang beriman akan diampuni kecuali hamba yang punya permusuhan dengan sesama. Lalu dikatakan, ‘Tinggalkan mereka sampai keduanya berdamai’.” (HR. Muslim no. 2565) Keistimewaan Malam Nisfu Sya’ban Ada hadits yang menyatakan keutamaan malam nisfu Sya’ban bahwa di malam tersebut akan ada banyak pengampunan terhadap dosa. Di antaranya hadits dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ “Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban. Dia pun mengampuni seluruh makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” Al-Mundziri dalam At-Targhib setelah menyebutkan hadits ini, beliau mengatakan, “Dikeluarkan oleh At-Thobroni dalam Al Awsath dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya dan juga oleh Al-Baihaqi. Ibnu Majah pun mengeluarkan hadits dengan lafazh yang sama dari hadits Abu Musa Al-Asy’ari. Al-Bazzar dan Al-Baihaqi mengeluarkan yang semisal dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang tidak mengapa.” Demikian perkataan Al Mundziri. Penulis Tuhfatul Ahwadzi lantas mengatakan, “Pada sanad hadits Abu Musa Al-Asy’ari yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah terdapat Lahi’ah dan ia adalah perawi yang dinilai dha’if.” Hadits lainnya lagi adalah hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَطَّلِعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِعِبَادِهِ إِلَّا اِثْنَيْنِ مُشَاحِنٍ وَقَاتِلِ نَفْسٍ “Allah ‘azza wa jalla mendatangi makhluk-Nya pada malam nisfu Sya’ban, Allah mengampuni hamba-hamba-Nya kecuali dua orang yaitu orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh jiwa.” Al Mundziri mengatakan, “Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang layyin (ada perowi yang diberi penilaian negatif atau di-jarh, namun haditsnya masih dicatat).” Berarti hadits ini bermasalah. Penulis Tuhfatul Ahwadzi setelah meninjau riwayat-riwayat di atas, beliau mengatakan, “Hadits-hadits tersebut dilihat dari banyak jalannya bisa sebagai hujjah bagi orang yang mengklaim bahwa tidak ada satu pun hadits shahih yang menerangkan keutamaan malam nisfu Sya’ban. Wallahu Ta’ala a’lam.” Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Hadits yang menjelaskan keutamaan malam nisfu Sya’ban ada beberapa. Para ulama berselisih pendapat mengenai statusnya. Kebanyakan ulama mendhaifkan hadits-hadits tersebut. Ibnu Hibban menshahihkan sebagian hadits tersebut dan beliau masukkan dalam kitab shahihnya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hal. 245). Intinya, penilaian kebanyakan ulama (baca: jumhur ulama), keutamaan malam nisfu Sya’ban dinilai dha’if. Namun sebagian ulama menshahihkannya. Amalan di Malam Nisfu Sya’ban Taruhlah hadits keutamaan malam nisfu Sya’ban itu shahih, bukan berarti dikhususkan amalan khusus pada malam tersebut seperti kumpul-kumpul di malam nisfu Sya’ban dengan shalat jama’ah atau membaca Yasin atau do’a bersama atau dengan amalan khusus lainnya. Karena mengkhususkan amalan seperti itu harus dengan dalil. Kalau tidak ada dalil, berarti amalan tersebut mengada-ada. Walau sebagian ulama ada yang menganjurkan shalat di malam nisfu Sya’ban. Namun shalat tersebut cukup dilakukan seorang diri. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Mengenai shalat malam di malam Nisfu Sya’ban, maka tidak ada satu pun dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya. Namun terdapat riwayat dari sekelompok tabi’in (para ulama negeri Syam) yang menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan shalat.” Ibnu Taimiyah ketika ditanya mengenai shalat Nisfu Sya’ban, beliau rahimahullah menjawab, “Jika seseorang shalat pada malam nisfu sya’ban sendiri atau di jama’ah yang khusus sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian salaf, maka itu suatu hal yang baik. Adapun jika dilakukan dengan kumpul-kumpul di masjid untuk melakukan shalat dengan bilangan tertentu, seperti berkumpul dengan mengerjakan shalat 1000 raka’at, dengan membaca surat Al Ikhlas terus menerus sebanyak 1000 kali, ini jelas suatu perkara bid’ah, yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama.” (Majmu’ Al-Fatawa, 23: 131) Ibnu Taimiyah juga mengatakan, “Adapun tentang keutamaan malam nisfu Sya’ban terdapat beberapa hadits dan atsar, juga ada nukilan dari beberapa ulama salaf bahwa mereka melaksanakan shalat pada malam tersebut. Jika seseorang melakukan shalat seorang diri ketika itu, maka ini telah ada contohnya di masa lalu dari beberapa ulama salaf. Inilah dijadikan sebagai pendukung sehingga tidak perlu diingkari.” (Majmu’ Al-Fatawa, 23: 132) Malam Nisfu Sya’ban sama dengan Malam Lainnya Kalau kita biasa shalat tahajud di luar nisfu Sya’ban, nilainya tetap sama dengan shalat tahajud di malam nisfu Sya’ban. ‘Abdullah bin Al Mubarak rahimahullah pernah ditanya mengenai turunnya Allah pada malam Nisfu Sya’ban, lantas beliau pun memberi jawaban pada si penanya, “Wahai orang yang lemah! Yang engkau maksudkan adalah malam nisfu Sya’ban?! Perlu engkau tahu bahwa Allah itu turun di setiap malam (bukan pada malam nisfu Sya’ban saja, -pen).” Dikeluarkan oleh Abu ‘Utsman Ash Shobuni dalam I’tiqod Ahlis Sunnah (92). Al ‘Aqili rahimahullah mengatakan, “Mengenai turunnya Allah pada malam nisfu Sya’ban, maka hadits-haditsnya itu layyin (menuai kritikan). Adapun riwayat yang menerangkan bahwa Allah akan turun setiap malam, itu terdapat dalam berbagai hadits yang shahih. Ketahuilah bahwa malam nisfu Sya’ban itu sudah termasuk pada keumuman hadits semacam itu, insya Allah.” Disebutkan dalam Adh Dhu’afa’ (3/29). (Lihat Fatwa Al Islam Sual wa Jawab, no. 49678) Cukup Perbanyak Amalan Puasa di Bulan Sya’ban Kalau mau meraih kebaikan, bisa diraih dengan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ “Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156) Yang Punya Utang Puasa Ramadhan Segera Lunasi Bagi yang punya utang puasa Ramadhan, segeralah dilunasi karena bulan Sya’ban adalah bulan terakhir sebelum memasuki bulan Ramadhan. Dari Abu Salamah, beliau mengatakan bahwa beliau mendengar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ “Aku masih memiliki utang puasa Ramadhan. Aku tidaklah mampu mengqodho’nya kecuali di bulan Sya’ban.” Yahya (salah satu perowi hadits) mengatakan bahwa hal ini dilakukan ‘Aisyah karena beliau sibuk mengurus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146) Perbanyak Pula Amalan Bacaan Al-Qur’an di Bulan Sya’ban Salamah bin Kahil berkata, كَانَ يُقَالُ شَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ القُرَّاء “Dahulu bulan Sya’ban disebut pula dengan bulan membaca Al Qur’an.” وَكَانَ عَمْرٌو بْنِ قَيْسٍ إِذَا دَخَلَ شَهْرُ شَعْبَانَ أَغْلَقَ حَانَوَتَهُ وَتَفْرُغُ لِقِرَاءَةِ القُرْآنِ ‘Amr bin Qois ketika memasuki bulan Sya’ban, beliau menutup tokonya dan lebih menyibukkan diri dengan Al Qur’an. Abu Bakr Al Balkhi berkata, شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرُ الزَّرْعِ ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سَقْيِ الزَّرْعِ ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حِصَادِ الزَّرْعِ “Bulan Rajab saatnya menanam. Bulan Sya’ban saatnya menyiram tanaman dan bulan Ramadhan saatnya menuai hasil.” (Lihat Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 92748) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Naskah Khutbah Jumat di Masjid Adz Dzikro Ngampel, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 11 Sya’ban 1436 H Selesai disusun Jumat pagi, 11 Sya’ban 1436 H di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan syaban nisfu syaban syaban

Malam Nisfu Syaban dan Amalan Nisfu Syaban

Malam nisfu Sya’ban (malam 15 Sya’ban) adalah malam mulia menurut sebagian kalangan. Sehingga mereka pun mengkhususkan amalan-amalan tertentu pada bulan tersebut. Benarkah pada malam nisfu Sya’ban punya keistimewaan dari bulan lainnya? Bulan Sya’ban Secara Umum adalah Bulan Mulia Bulan Sya’ban adalah bulan mulia yang terletak sebelum bulan suci Ramadhan. Di antara keistimewaannya, bulan tersebut adalah waktu dinaikkan amalan. Mengenai bulan Sya’ban, ada hadits dari Usamah bin Zaid. Ia pernah menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia tidak pernah melihat beliau melakukan puasa yang lebih semangat daripada puasa Sya’ban. Kemudian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ “Bulan Sya’ban –bulan antara Rajab dan Ramadhan- adalah bulan di saat manusia lalai. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An-Nasa’i no. 2359. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Setiap pekannya, amalan seseorang juga diangkat yaitu pada hari Senin dan Kamis. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, تُعْرَضُ أَعْمَالُ النَّاسِ فِى كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّتَيْنِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ مُؤْمِنٍ إِلاَّ عَبْدًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ اتْرُكُوا – أَوِ ارْكُوا – هَذَيْنِ حَتَّى يَفِيئَا “Amalan manusia dihadapkan pada setiap pekannya dua kali yaitu pada hari Senin dan hari Kamis. Setiap hamba yang beriman akan diampuni kecuali hamba yang punya permusuhan dengan sesama. Lalu dikatakan, ‘Tinggalkan mereka sampai keduanya berdamai’.” (HR. Muslim no. 2565) Keistimewaan Malam Nisfu Sya’ban Ada hadits yang menyatakan keutamaan malam nisfu Sya’ban bahwa di malam tersebut akan ada banyak pengampunan terhadap dosa. Di antaranya hadits dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ “Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban. Dia pun mengampuni seluruh makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” Al-Mundziri dalam At-Targhib setelah menyebutkan hadits ini, beliau mengatakan, “Dikeluarkan oleh At-Thobroni dalam Al Awsath dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya dan juga oleh Al-Baihaqi. Ibnu Majah pun mengeluarkan hadits dengan lafazh yang sama dari hadits Abu Musa Al-Asy’ari. Al-Bazzar dan Al-Baihaqi mengeluarkan yang semisal dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang tidak mengapa.” Demikian perkataan Al Mundziri. Penulis Tuhfatul Ahwadzi lantas mengatakan, “Pada sanad hadits Abu Musa Al-Asy’ari yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah terdapat Lahi’ah dan ia adalah perawi yang dinilai dha’if.” Hadits lainnya lagi adalah hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَطَّلِعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِعِبَادِهِ إِلَّا اِثْنَيْنِ مُشَاحِنٍ وَقَاتِلِ نَفْسٍ “Allah ‘azza wa jalla mendatangi makhluk-Nya pada malam nisfu Sya’ban, Allah mengampuni hamba-hamba-Nya kecuali dua orang yaitu orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh jiwa.” Al Mundziri mengatakan, “Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang layyin (ada perowi yang diberi penilaian negatif atau di-jarh, namun haditsnya masih dicatat).” Berarti hadits ini bermasalah. Penulis Tuhfatul Ahwadzi setelah meninjau riwayat-riwayat di atas, beliau mengatakan, “Hadits-hadits tersebut dilihat dari banyak jalannya bisa sebagai hujjah bagi orang yang mengklaim bahwa tidak ada satu pun hadits shahih yang menerangkan keutamaan malam nisfu Sya’ban. Wallahu Ta’ala a’lam.” Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Hadits yang menjelaskan keutamaan malam nisfu Sya’ban ada beberapa. Para ulama berselisih pendapat mengenai statusnya. Kebanyakan ulama mendhaifkan hadits-hadits tersebut. Ibnu Hibban menshahihkan sebagian hadits tersebut dan beliau masukkan dalam kitab shahihnya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hal. 245). Intinya, penilaian kebanyakan ulama (baca: jumhur ulama), keutamaan malam nisfu Sya’ban dinilai dha’if. Namun sebagian ulama menshahihkannya. Amalan di Malam Nisfu Sya’ban Taruhlah hadits keutamaan malam nisfu Sya’ban itu shahih, bukan berarti dikhususkan amalan khusus pada malam tersebut seperti kumpul-kumpul di malam nisfu Sya’ban dengan shalat jama’ah atau membaca Yasin atau do’a bersama atau dengan amalan khusus lainnya. Karena mengkhususkan amalan seperti itu harus dengan dalil. Kalau tidak ada dalil, berarti amalan tersebut mengada-ada. Walau sebagian ulama ada yang menganjurkan shalat di malam nisfu Sya’ban. Namun shalat tersebut cukup dilakukan seorang diri. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Mengenai shalat malam di malam Nisfu Sya’ban, maka tidak ada satu pun dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya. Namun terdapat riwayat dari sekelompok tabi’in (para ulama negeri Syam) yang menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan shalat.” Ibnu Taimiyah ketika ditanya mengenai shalat Nisfu Sya’ban, beliau rahimahullah menjawab, “Jika seseorang shalat pada malam nisfu sya’ban sendiri atau di jama’ah yang khusus sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian salaf, maka itu suatu hal yang baik. Adapun jika dilakukan dengan kumpul-kumpul di masjid untuk melakukan shalat dengan bilangan tertentu, seperti berkumpul dengan mengerjakan shalat 1000 raka’at, dengan membaca surat Al Ikhlas terus menerus sebanyak 1000 kali, ini jelas suatu perkara bid’ah, yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama.” (Majmu’ Al-Fatawa, 23: 131) Ibnu Taimiyah juga mengatakan, “Adapun tentang keutamaan malam nisfu Sya’ban terdapat beberapa hadits dan atsar, juga ada nukilan dari beberapa ulama salaf bahwa mereka melaksanakan shalat pada malam tersebut. Jika seseorang melakukan shalat seorang diri ketika itu, maka ini telah ada contohnya di masa lalu dari beberapa ulama salaf. Inilah dijadikan sebagai pendukung sehingga tidak perlu diingkari.” (Majmu’ Al-Fatawa, 23: 132) Malam Nisfu Sya’ban sama dengan Malam Lainnya Kalau kita biasa shalat tahajud di luar nisfu Sya’ban, nilainya tetap sama dengan shalat tahajud di malam nisfu Sya’ban. ‘Abdullah bin Al Mubarak rahimahullah pernah ditanya mengenai turunnya Allah pada malam Nisfu Sya’ban, lantas beliau pun memberi jawaban pada si penanya, “Wahai orang yang lemah! Yang engkau maksudkan adalah malam nisfu Sya’ban?! Perlu engkau tahu bahwa Allah itu turun di setiap malam (bukan pada malam nisfu Sya’ban saja, -pen).” Dikeluarkan oleh Abu ‘Utsman Ash Shobuni dalam I’tiqod Ahlis Sunnah (92). Al ‘Aqili rahimahullah mengatakan, “Mengenai turunnya Allah pada malam nisfu Sya’ban, maka hadits-haditsnya itu layyin (menuai kritikan). Adapun riwayat yang menerangkan bahwa Allah akan turun setiap malam, itu terdapat dalam berbagai hadits yang shahih. Ketahuilah bahwa malam nisfu Sya’ban itu sudah termasuk pada keumuman hadits semacam itu, insya Allah.” Disebutkan dalam Adh Dhu’afa’ (3/29). (Lihat Fatwa Al Islam Sual wa Jawab, no. 49678) Cukup Perbanyak Amalan Puasa di Bulan Sya’ban Kalau mau meraih kebaikan, bisa diraih dengan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ “Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156) Yang Punya Utang Puasa Ramadhan Segera Lunasi Bagi yang punya utang puasa Ramadhan, segeralah dilunasi karena bulan Sya’ban adalah bulan terakhir sebelum memasuki bulan Ramadhan. Dari Abu Salamah, beliau mengatakan bahwa beliau mendengar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ “Aku masih memiliki utang puasa Ramadhan. Aku tidaklah mampu mengqodho’nya kecuali di bulan Sya’ban.” Yahya (salah satu perowi hadits) mengatakan bahwa hal ini dilakukan ‘Aisyah karena beliau sibuk mengurus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146) Perbanyak Pula Amalan Bacaan Al-Qur’an di Bulan Sya’ban Salamah bin Kahil berkata, كَانَ يُقَالُ شَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ القُرَّاء “Dahulu bulan Sya’ban disebut pula dengan bulan membaca Al Qur’an.” وَكَانَ عَمْرٌو بْنِ قَيْسٍ إِذَا دَخَلَ شَهْرُ شَعْبَانَ أَغْلَقَ حَانَوَتَهُ وَتَفْرُغُ لِقِرَاءَةِ القُرْآنِ ‘Amr bin Qois ketika memasuki bulan Sya’ban, beliau menutup tokonya dan lebih menyibukkan diri dengan Al Qur’an. Abu Bakr Al Balkhi berkata, شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرُ الزَّرْعِ ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سَقْيِ الزَّرْعِ ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حِصَادِ الزَّرْعِ “Bulan Rajab saatnya menanam. Bulan Sya’ban saatnya menyiram tanaman dan bulan Ramadhan saatnya menuai hasil.” (Lihat Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 92748) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Naskah Khutbah Jumat di Masjid Adz Dzikro Ngampel, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 11 Sya’ban 1436 H Selesai disusun Jumat pagi, 11 Sya’ban 1436 H di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan syaban nisfu syaban syaban
Malam nisfu Sya’ban (malam 15 Sya’ban) adalah malam mulia menurut sebagian kalangan. Sehingga mereka pun mengkhususkan amalan-amalan tertentu pada bulan tersebut. Benarkah pada malam nisfu Sya’ban punya keistimewaan dari bulan lainnya? Bulan Sya’ban Secara Umum adalah Bulan Mulia Bulan Sya’ban adalah bulan mulia yang terletak sebelum bulan suci Ramadhan. Di antara keistimewaannya, bulan tersebut adalah waktu dinaikkan amalan. Mengenai bulan Sya’ban, ada hadits dari Usamah bin Zaid. Ia pernah menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia tidak pernah melihat beliau melakukan puasa yang lebih semangat daripada puasa Sya’ban. Kemudian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ “Bulan Sya’ban –bulan antara Rajab dan Ramadhan- adalah bulan di saat manusia lalai. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An-Nasa’i no. 2359. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Setiap pekannya, amalan seseorang juga diangkat yaitu pada hari Senin dan Kamis. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, تُعْرَضُ أَعْمَالُ النَّاسِ فِى كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّتَيْنِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ مُؤْمِنٍ إِلاَّ عَبْدًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ اتْرُكُوا – أَوِ ارْكُوا – هَذَيْنِ حَتَّى يَفِيئَا “Amalan manusia dihadapkan pada setiap pekannya dua kali yaitu pada hari Senin dan hari Kamis. Setiap hamba yang beriman akan diampuni kecuali hamba yang punya permusuhan dengan sesama. Lalu dikatakan, ‘Tinggalkan mereka sampai keduanya berdamai’.” (HR. Muslim no. 2565) Keistimewaan Malam Nisfu Sya’ban Ada hadits yang menyatakan keutamaan malam nisfu Sya’ban bahwa di malam tersebut akan ada banyak pengampunan terhadap dosa. Di antaranya hadits dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ “Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban. Dia pun mengampuni seluruh makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” Al-Mundziri dalam At-Targhib setelah menyebutkan hadits ini, beliau mengatakan, “Dikeluarkan oleh At-Thobroni dalam Al Awsath dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya dan juga oleh Al-Baihaqi. Ibnu Majah pun mengeluarkan hadits dengan lafazh yang sama dari hadits Abu Musa Al-Asy’ari. Al-Bazzar dan Al-Baihaqi mengeluarkan yang semisal dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang tidak mengapa.” Demikian perkataan Al Mundziri. Penulis Tuhfatul Ahwadzi lantas mengatakan, “Pada sanad hadits Abu Musa Al-Asy’ari yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah terdapat Lahi’ah dan ia adalah perawi yang dinilai dha’if.” Hadits lainnya lagi adalah hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَطَّلِعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِعِبَادِهِ إِلَّا اِثْنَيْنِ مُشَاحِنٍ وَقَاتِلِ نَفْسٍ “Allah ‘azza wa jalla mendatangi makhluk-Nya pada malam nisfu Sya’ban, Allah mengampuni hamba-hamba-Nya kecuali dua orang yaitu orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh jiwa.” Al Mundziri mengatakan, “Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang layyin (ada perowi yang diberi penilaian negatif atau di-jarh, namun haditsnya masih dicatat).” Berarti hadits ini bermasalah. Penulis Tuhfatul Ahwadzi setelah meninjau riwayat-riwayat di atas, beliau mengatakan, “Hadits-hadits tersebut dilihat dari banyak jalannya bisa sebagai hujjah bagi orang yang mengklaim bahwa tidak ada satu pun hadits shahih yang menerangkan keutamaan malam nisfu Sya’ban. Wallahu Ta’ala a’lam.” Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Hadits yang menjelaskan keutamaan malam nisfu Sya’ban ada beberapa. Para ulama berselisih pendapat mengenai statusnya. Kebanyakan ulama mendhaifkan hadits-hadits tersebut. Ibnu Hibban menshahihkan sebagian hadits tersebut dan beliau masukkan dalam kitab shahihnya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hal. 245). Intinya, penilaian kebanyakan ulama (baca: jumhur ulama), keutamaan malam nisfu Sya’ban dinilai dha’if. Namun sebagian ulama menshahihkannya. Amalan di Malam Nisfu Sya’ban Taruhlah hadits keutamaan malam nisfu Sya’ban itu shahih, bukan berarti dikhususkan amalan khusus pada malam tersebut seperti kumpul-kumpul di malam nisfu Sya’ban dengan shalat jama’ah atau membaca Yasin atau do’a bersama atau dengan amalan khusus lainnya. Karena mengkhususkan amalan seperti itu harus dengan dalil. Kalau tidak ada dalil, berarti amalan tersebut mengada-ada. Walau sebagian ulama ada yang menganjurkan shalat di malam nisfu Sya’ban. Namun shalat tersebut cukup dilakukan seorang diri. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Mengenai shalat malam di malam Nisfu Sya’ban, maka tidak ada satu pun dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya. Namun terdapat riwayat dari sekelompok tabi’in (para ulama negeri Syam) yang menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan shalat.” Ibnu Taimiyah ketika ditanya mengenai shalat Nisfu Sya’ban, beliau rahimahullah menjawab, “Jika seseorang shalat pada malam nisfu sya’ban sendiri atau di jama’ah yang khusus sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian salaf, maka itu suatu hal yang baik. Adapun jika dilakukan dengan kumpul-kumpul di masjid untuk melakukan shalat dengan bilangan tertentu, seperti berkumpul dengan mengerjakan shalat 1000 raka’at, dengan membaca surat Al Ikhlas terus menerus sebanyak 1000 kali, ini jelas suatu perkara bid’ah, yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama.” (Majmu’ Al-Fatawa, 23: 131) Ibnu Taimiyah juga mengatakan, “Adapun tentang keutamaan malam nisfu Sya’ban terdapat beberapa hadits dan atsar, juga ada nukilan dari beberapa ulama salaf bahwa mereka melaksanakan shalat pada malam tersebut. Jika seseorang melakukan shalat seorang diri ketika itu, maka ini telah ada contohnya di masa lalu dari beberapa ulama salaf. Inilah dijadikan sebagai pendukung sehingga tidak perlu diingkari.” (Majmu’ Al-Fatawa, 23: 132) Malam Nisfu Sya’ban sama dengan Malam Lainnya Kalau kita biasa shalat tahajud di luar nisfu Sya’ban, nilainya tetap sama dengan shalat tahajud di malam nisfu Sya’ban. ‘Abdullah bin Al Mubarak rahimahullah pernah ditanya mengenai turunnya Allah pada malam Nisfu Sya’ban, lantas beliau pun memberi jawaban pada si penanya, “Wahai orang yang lemah! Yang engkau maksudkan adalah malam nisfu Sya’ban?! Perlu engkau tahu bahwa Allah itu turun di setiap malam (bukan pada malam nisfu Sya’ban saja, -pen).” Dikeluarkan oleh Abu ‘Utsman Ash Shobuni dalam I’tiqod Ahlis Sunnah (92). Al ‘Aqili rahimahullah mengatakan, “Mengenai turunnya Allah pada malam nisfu Sya’ban, maka hadits-haditsnya itu layyin (menuai kritikan). Adapun riwayat yang menerangkan bahwa Allah akan turun setiap malam, itu terdapat dalam berbagai hadits yang shahih. Ketahuilah bahwa malam nisfu Sya’ban itu sudah termasuk pada keumuman hadits semacam itu, insya Allah.” Disebutkan dalam Adh Dhu’afa’ (3/29). (Lihat Fatwa Al Islam Sual wa Jawab, no. 49678) Cukup Perbanyak Amalan Puasa di Bulan Sya’ban Kalau mau meraih kebaikan, bisa diraih dengan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ “Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156) Yang Punya Utang Puasa Ramadhan Segera Lunasi Bagi yang punya utang puasa Ramadhan, segeralah dilunasi karena bulan Sya’ban adalah bulan terakhir sebelum memasuki bulan Ramadhan. Dari Abu Salamah, beliau mengatakan bahwa beliau mendengar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ “Aku masih memiliki utang puasa Ramadhan. Aku tidaklah mampu mengqodho’nya kecuali di bulan Sya’ban.” Yahya (salah satu perowi hadits) mengatakan bahwa hal ini dilakukan ‘Aisyah karena beliau sibuk mengurus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146) Perbanyak Pula Amalan Bacaan Al-Qur’an di Bulan Sya’ban Salamah bin Kahil berkata, كَانَ يُقَالُ شَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ القُرَّاء “Dahulu bulan Sya’ban disebut pula dengan bulan membaca Al Qur’an.” وَكَانَ عَمْرٌو بْنِ قَيْسٍ إِذَا دَخَلَ شَهْرُ شَعْبَانَ أَغْلَقَ حَانَوَتَهُ وَتَفْرُغُ لِقِرَاءَةِ القُرْآنِ ‘Amr bin Qois ketika memasuki bulan Sya’ban, beliau menutup tokonya dan lebih menyibukkan diri dengan Al Qur’an. Abu Bakr Al Balkhi berkata, شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرُ الزَّرْعِ ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سَقْيِ الزَّرْعِ ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حِصَادِ الزَّرْعِ “Bulan Rajab saatnya menanam. Bulan Sya’ban saatnya menyiram tanaman dan bulan Ramadhan saatnya menuai hasil.” (Lihat Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 92748) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Naskah Khutbah Jumat di Masjid Adz Dzikro Ngampel, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 11 Sya’ban 1436 H Selesai disusun Jumat pagi, 11 Sya’ban 1436 H di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan syaban nisfu syaban syaban


Malam nisfu Sya’ban (malam 15 Sya’ban) adalah malam mulia menurut sebagian kalangan. Sehingga mereka pun mengkhususkan amalan-amalan tertentu pada bulan tersebut. Benarkah pada malam nisfu Sya’ban punya keistimewaan dari bulan lainnya? Bulan Sya’ban Secara Umum adalah Bulan Mulia Bulan Sya’ban adalah bulan mulia yang terletak sebelum bulan suci Ramadhan. Di antara keistimewaannya, bulan tersebut adalah waktu dinaikkan amalan. Mengenai bulan Sya’ban, ada hadits dari Usamah bin Zaid. Ia pernah menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia tidak pernah melihat beliau melakukan puasa yang lebih semangat daripada puasa Sya’ban. Kemudian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ “Bulan Sya’ban –bulan antara Rajab dan Ramadhan- adalah bulan di saat manusia lalai. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An-Nasa’i no. 2359. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Setiap pekannya, amalan seseorang juga diangkat yaitu pada hari Senin dan Kamis. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, تُعْرَضُ أَعْمَالُ النَّاسِ فِى كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّتَيْنِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ مُؤْمِنٍ إِلاَّ عَبْدًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ اتْرُكُوا – أَوِ ارْكُوا – هَذَيْنِ حَتَّى يَفِيئَا “Amalan manusia dihadapkan pada setiap pekannya dua kali yaitu pada hari Senin dan hari Kamis. Setiap hamba yang beriman akan diampuni kecuali hamba yang punya permusuhan dengan sesama. Lalu dikatakan, ‘Tinggalkan mereka sampai keduanya berdamai’.” (HR. Muslim no. 2565) Keistimewaan Malam Nisfu Sya’ban Ada hadits yang menyatakan keutamaan malam nisfu Sya’ban bahwa di malam tersebut akan ada banyak pengampunan terhadap dosa. Di antaranya hadits dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ “Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban. Dia pun mengampuni seluruh makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” Al-Mundziri dalam At-Targhib setelah menyebutkan hadits ini, beliau mengatakan, “Dikeluarkan oleh At-Thobroni dalam Al Awsath dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya dan juga oleh Al-Baihaqi. Ibnu Majah pun mengeluarkan hadits dengan lafazh yang sama dari hadits Abu Musa Al-Asy’ari. Al-Bazzar dan Al-Baihaqi mengeluarkan yang semisal dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang tidak mengapa.” Demikian perkataan Al Mundziri. Penulis Tuhfatul Ahwadzi lantas mengatakan, “Pada sanad hadits Abu Musa Al-Asy’ari yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah terdapat Lahi’ah dan ia adalah perawi yang dinilai dha’if.” Hadits lainnya lagi adalah hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَطَّلِعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِعِبَادِهِ إِلَّا اِثْنَيْنِ مُشَاحِنٍ وَقَاتِلِ نَفْسٍ “Allah ‘azza wa jalla mendatangi makhluk-Nya pada malam nisfu Sya’ban, Allah mengampuni hamba-hamba-Nya kecuali dua orang yaitu orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh jiwa.” Al Mundziri mengatakan, “Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang layyin (ada perowi yang diberi penilaian negatif atau di-jarh, namun haditsnya masih dicatat).” Berarti hadits ini bermasalah. Penulis Tuhfatul Ahwadzi setelah meninjau riwayat-riwayat di atas, beliau mengatakan, “Hadits-hadits tersebut dilihat dari banyak jalannya bisa sebagai hujjah bagi orang yang mengklaim bahwa tidak ada satu pun hadits shahih yang menerangkan keutamaan malam nisfu Sya’ban. Wallahu Ta’ala a’lam.” Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Hadits yang menjelaskan keutamaan malam nisfu Sya’ban ada beberapa. Para ulama berselisih pendapat mengenai statusnya. Kebanyakan ulama mendhaifkan hadits-hadits tersebut. Ibnu Hibban menshahihkan sebagian hadits tersebut dan beliau masukkan dalam kitab shahihnya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hal. 245). Intinya, penilaian kebanyakan ulama (baca: jumhur ulama), keutamaan malam nisfu Sya’ban dinilai dha’if. Namun sebagian ulama menshahihkannya. Amalan di Malam Nisfu Sya’ban Taruhlah hadits keutamaan malam nisfu Sya’ban itu shahih, bukan berarti dikhususkan amalan khusus pada malam tersebut seperti kumpul-kumpul di malam nisfu Sya’ban dengan shalat jama’ah atau membaca Yasin atau do’a bersama atau dengan amalan khusus lainnya. Karena mengkhususkan amalan seperti itu harus dengan dalil. Kalau tidak ada dalil, berarti amalan tersebut mengada-ada. Walau sebagian ulama ada yang menganjurkan shalat di malam nisfu Sya’ban. Namun shalat tersebut cukup dilakukan seorang diri. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Mengenai shalat malam di malam Nisfu Sya’ban, maka tidak ada satu pun dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya. Namun terdapat riwayat dari sekelompok tabi’in (para ulama negeri Syam) yang menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan shalat.” Ibnu Taimiyah ketika ditanya mengenai shalat Nisfu Sya’ban, beliau rahimahullah menjawab, “Jika seseorang shalat pada malam nisfu sya’ban sendiri atau di jama’ah yang khusus sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian salaf, maka itu suatu hal yang baik. Adapun jika dilakukan dengan kumpul-kumpul di masjid untuk melakukan shalat dengan bilangan tertentu, seperti berkumpul dengan mengerjakan shalat 1000 raka’at, dengan membaca surat Al Ikhlas terus menerus sebanyak 1000 kali, ini jelas suatu perkara bid’ah, yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama.” (Majmu’ Al-Fatawa, 23: 131) Ibnu Taimiyah juga mengatakan, “Adapun tentang keutamaan malam nisfu Sya’ban terdapat beberapa hadits dan atsar, juga ada nukilan dari beberapa ulama salaf bahwa mereka melaksanakan shalat pada malam tersebut. Jika seseorang melakukan shalat seorang diri ketika itu, maka ini telah ada contohnya di masa lalu dari beberapa ulama salaf. Inilah dijadikan sebagai pendukung sehingga tidak perlu diingkari.” (Majmu’ Al-Fatawa, 23: 132) Malam Nisfu Sya’ban sama dengan Malam Lainnya Kalau kita biasa shalat tahajud di luar nisfu Sya’ban, nilainya tetap sama dengan shalat tahajud di malam nisfu Sya’ban. ‘Abdullah bin Al Mubarak rahimahullah pernah ditanya mengenai turunnya Allah pada malam Nisfu Sya’ban, lantas beliau pun memberi jawaban pada si penanya, “Wahai orang yang lemah! Yang engkau maksudkan adalah malam nisfu Sya’ban?! Perlu engkau tahu bahwa Allah itu turun di setiap malam (bukan pada malam nisfu Sya’ban saja, -pen).” Dikeluarkan oleh Abu ‘Utsman Ash Shobuni dalam I’tiqod Ahlis Sunnah (92). Al ‘Aqili rahimahullah mengatakan, “Mengenai turunnya Allah pada malam nisfu Sya’ban, maka hadits-haditsnya itu layyin (menuai kritikan). Adapun riwayat yang menerangkan bahwa Allah akan turun setiap malam, itu terdapat dalam berbagai hadits yang shahih. Ketahuilah bahwa malam nisfu Sya’ban itu sudah termasuk pada keumuman hadits semacam itu, insya Allah.” Disebutkan dalam Adh Dhu’afa’ (3/29). (Lihat Fatwa Al Islam Sual wa Jawab, no. 49678) Cukup Perbanyak Amalan Puasa di Bulan Sya’ban Kalau mau meraih kebaikan, bisa diraih dengan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ “Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156) Yang Punya Utang Puasa Ramadhan Segera Lunasi Bagi yang punya utang puasa Ramadhan, segeralah dilunasi karena bulan Sya’ban adalah bulan terakhir sebelum memasuki bulan Ramadhan. Dari Abu Salamah, beliau mengatakan bahwa beliau mendengar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ “Aku masih memiliki utang puasa Ramadhan. Aku tidaklah mampu mengqodho’nya kecuali di bulan Sya’ban.” Yahya (salah satu perowi hadits) mengatakan bahwa hal ini dilakukan ‘Aisyah karena beliau sibuk mengurus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146) Perbanyak Pula Amalan Bacaan Al-Qur’an di Bulan Sya’ban Salamah bin Kahil berkata, كَانَ يُقَالُ شَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ القُرَّاء “Dahulu bulan Sya’ban disebut pula dengan bulan membaca Al Qur’an.” وَكَانَ عَمْرٌو بْنِ قَيْسٍ إِذَا دَخَلَ شَهْرُ شَعْبَانَ أَغْلَقَ حَانَوَتَهُ وَتَفْرُغُ لِقِرَاءَةِ القُرْآنِ ‘Amr bin Qois ketika memasuki bulan Sya’ban, beliau menutup tokonya dan lebih menyibukkan diri dengan Al Qur’an. Abu Bakr Al Balkhi berkata, شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرُ الزَّرْعِ ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سَقْيِ الزَّرْعِ ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حِصَادِ الزَّرْعِ “Bulan Rajab saatnya menanam. Bulan Sya’ban saatnya menyiram tanaman dan bulan Ramadhan saatnya menuai hasil.” (Lihat Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 92748) Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. — Naskah Khutbah Jumat di Masjid Adz Dzikro Ngampel, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 11 Sya’ban 1436 H Selesai disusun Jumat pagi, 11 Sya’ban 1436 H di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan syaban nisfu syaban syaban

Imam Membaca Surat Panjang yang Membuat Makmum Lari

Bagaimana kalau ada imam yang membaca surat panjang yang membuat makmum makmum lari? Apakah tidak sebaiknya imam memperhatikan kondisi jamaah? Karena barangkali ada jamaah yang sepuh, sudah tua, sakit-sakitan atau punya kesibukan. Ada kasus yang pernah terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada seorang sahabat yang memimpin shalat, lantas jamaah di belakangnya lari karena bacaan yang terlalu panjang. Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, صَلَّى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ الأَنْصَارِىُّ لأَصْحَابِهِ الْعِشَاءَ فَطَوَّلَ عَلَيْهِمْ فَانْصَرَفَ رَجُلٌ مِنَّا فَصَلَّى فَأُخْبِرَ مُعَاذٌ عَنْهُ فَقَالَ إِنَّهُ مُنَافِقٌ. فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرَهُ مَا قَالَ مُعَاذٌ فَقَالَ لَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَتُرِيدُ أَنْ تَكُونَ فَتَّانًا يَا مُعَاذُ إِذَا أَمَمْتَ النَّاسَ فَاقْرَأْ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا. وَسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى. وَاقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ. وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى » “Mu’adz bin Jabal Al-Anshari pernah memimpin shalat Isya. Ia pun memperpanjang bacaannya. Lantas ada seseorang di antara kami yang sengaja keluar dari jama’ah. Ia pun shalat sendirian. Mu’adz pun dikabarkan tentang keadaan orang tersebut. Mu’adz pun menyebutnya sebagai seorang munafik. Orang itu pun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan pada beliau apa yang dikatakan oleh Mu’adz padanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menasehati Mu’adz, “Apakah engkau ingin membuat orang lari dari agama, wahai Mu’adz? Jika engkau mengimami orang-orang, bacalah surat Asy-Syams, Adh-Dhuha, Al-A’laa, Al-‘Alaq, atau Al-Lail.” (HR. Muslim no. 465) Imam Nawawi menjelaskan bahwa hadits tersebut tetap menunjukkan adanya pengingkaran terhadap suatu yang dilarang. Walau yang dilanggar adalah suatu yang makruh, bukan suatu yang haram. Hadits tersebut berisi pula penjelasan bolehnya mengingatkan orang lain dengan kata-kata. Imam Nawawi melanjutkan, “Hadits di atas berisi penjelasan untuk meringankan shalat dan peringatan agar tidak memperlama shalat apalagi saat makmum tidak ridha (tidak suka) dengan lamanya shalat seperti itu.” (Syarh Shahih Muslim, 4: 164). Dari sini, seharusnya imam menimbang-nimbang surat yang dibaca ketika mengimami shalat sehingga tidak menyusahkan jama’ah apalagi yang belum terbiasa shalat lama. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul @ Darush Sholihin, 10 Sya’ban 1436 H menjelang ‘Ashar. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsshalat jamaah

Imam Membaca Surat Panjang yang Membuat Makmum Lari

Bagaimana kalau ada imam yang membaca surat panjang yang membuat makmum makmum lari? Apakah tidak sebaiknya imam memperhatikan kondisi jamaah? Karena barangkali ada jamaah yang sepuh, sudah tua, sakit-sakitan atau punya kesibukan. Ada kasus yang pernah terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada seorang sahabat yang memimpin shalat, lantas jamaah di belakangnya lari karena bacaan yang terlalu panjang. Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, صَلَّى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ الأَنْصَارِىُّ لأَصْحَابِهِ الْعِشَاءَ فَطَوَّلَ عَلَيْهِمْ فَانْصَرَفَ رَجُلٌ مِنَّا فَصَلَّى فَأُخْبِرَ مُعَاذٌ عَنْهُ فَقَالَ إِنَّهُ مُنَافِقٌ. فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرَهُ مَا قَالَ مُعَاذٌ فَقَالَ لَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَتُرِيدُ أَنْ تَكُونَ فَتَّانًا يَا مُعَاذُ إِذَا أَمَمْتَ النَّاسَ فَاقْرَأْ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا. وَسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى. وَاقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ. وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى » “Mu’adz bin Jabal Al-Anshari pernah memimpin shalat Isya. Ia pun memperpanjang bacaannya. Lantas ada seseorang di antara kami yang sengaja keluar dari jama’ah. Ia pun shalat sendirian. Mu’adz pun dikabarkan tentang keadaan orang tersebut. Mu’adz pun menyebutnya sebagai seorang munafik. Orang itu pun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan pada beliau apa yang dikatakan oleh Mu’adz padanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menasehati Mu’adz, “Apakah engkau ingin membuat orang lari dari agama, wahai Mu’adz? Jika engkau mengimami orang-orang, bacalah surat Asy-Syams, Adh-Dhuha, Al-A’laa, Al-‘Alaq, atau Al-Lail.” (HR. Muslim no. 465) Imam Nawawi menjelaskan bahwa hadits tersebut tetap menunjukkan adanya pengingkaran terhadap suatu yang dilarang. Walau yang dilanggar adalah suatu yang makruh, bukan suatu yang haram. Hadits tersebut berisi pula penjelasan bolehnya mengingatkan orang lain dengan kata-kata. Imam Nawawi melanjutkan, “Hadits di atas berisi penjelasan untuk meringankan shalat dan peringatan agar tidak memperlama shalat apalagi saat makmum tidak ridha (tidak suka) dengan lamanya shalat seperti itu.” (Syarh Shahih Muslim, 4: 164). Dari sini, seharusnya imam menimbang-nimbang surat yang dibaca ketika mengimami shalat sehingga tidak menyusahkan jama’ah apalagi yang belum terbiasa shalat lama. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul @ Darush Sholihin, 10 Sya’ban 1436 H menjelang ‘Ashar. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsshalat jamaah
Bagaimana kalau ada imam yang membaca surat panjang yang membuat makmum makmum lari? Apakah tidak sebaiknya imam memperhatikan kondisi jamaah? Karena barangkali ada jamaah yang sepuh, sudah tua, sakit-sakitan atau punya kesibukan. Ada kasus yang pernah terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada seorang sahabat yang memimpin shalat, lantas jamaah di belakangnya lari karena bacaan yang terlalu panjang. Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, صَلَّى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ الأَنْصَارِىُّ لأَصْحَابِهِ الْعِشَاءَ فَطَوَّلَ عَلَيْهِمْ فَانْصَرَفَ رَجُلٌ مِنَّا فَصَلَّى فَأُخْبِرَ مُعَاذٌ عَنْهُ فَقَالَ إِنَّهُ مُنَافِقٌ. فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرَهُ مَا قَالَ مُعَاذٌ فَقَالَ لَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَتُرِيدُ أَنْ تَكُونَ فَتَّانًا يَا مُعَاذُ إِذَا أَمَمْتَ النَّاسَ فَاقْرَأْ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا. وَسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى. وَاقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ. وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى » “Mu’adz bin Jabal Al-Anshari pernah memimpin shalat Isya. Ia pun memperpanjang bacaannya. Lantas ada seseorang di antara kami yang sengaja keluar dari jama’ah. Ia pun shalat sendirian. Mu’adz pun dikabarkan tentang keadaan orang tersebut. Mu’adz pun menyebutnya sebagai seorang munafik. Orang itu pun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan pada beliau apa yang dikatakan oleh Mu’adz padanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menasehati Mu’adz, “Apakah engkau ingin membuat orang lari dari agama, wahai Mu’adz? Jika engkau mengimami orang-orang, bacalah surat Asy-Syams, Adh-Dhuha, Al-A’laa, Al-‘Alaq, atau Al-Lail.” (HR. Muslim no. 465) Imam Nawawi menjelaskan bahwa hadits tersebut tetap menunjukkan adanya pengingkaran terhadap suatu yang dilarang. Walau yang dilanggar adalah suatu yang makruh, bukan suatu yang haram. Hadits tersebut berisi pula penjelasan bolehnya mengingatkan orang lain dengan kata-kata. Imam Nawawi melanjutkan, “Hadits di atas berisi penjelasan untuk meringankan shalat dan peringatan agar tidak memperlama shalat apalagi saat makmum tidak ridha (tidak suka) dengan lamanya shalat seperti itu.” (Syarh Shahih Muslim, 4: 164). Dari sini, seharusnya imam menimbang-nimbang surat yang dibaca ketika mengimami shalat sehingga tidak menyusahkan jama’ah apalagi yang belum terbiasa shalat lama. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul @ Darush Sholihin, 10 Sya’ban 1436 H menjelang ‘Ashar. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsshalat jamaah


Bagaimana kalau ada imam yang membaca surat panjang yang membuat makmum makmum lari? Apakah tidak sebaiknya imam memperhatikan kondisi jamaah? Karena barangkali ada jamaah yang sepuh, sudah tua, sakit-sakitan atau punya kesibukan. Ada kasus yang pernah terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada seorang sahabat yang memimpin shalat, lantas jamaah di belakangnya lari karena bacaan yang terlalu panjang. Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, صَلَّى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ الأَنْصَارِىُّ لأَصْحَابِهِ الْعِشَاءَ فَطَوَّلَ عَلَيْهِمْ فَانْصَرَفَ رَجُلٌ مِنَّا فَصَلَّى فَأُخْبِرَ مُعَاذٌ عَنْهُ فَقَالَ إِنَّهُ مُنَافِقٌ. فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرَهُ مَا قَالَ مُعَاذٌ فَقَالَ لَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَتُرِيدُ أَنْ تَكُونَ فَتَّانًا يَا مُعَاذُ إِذَا أَمَمْتَ النَّاسَ فَاقْرَأْ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا. وَسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى. وَاقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ. وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى » “Mu’adz bin Jabal Al-Anshari pernah memimpin shalat Isya. Ia pun memperpanjang bacaannya. Lantas ada seseorang di antara kami yang sengaja keluar dari jama’ah. Ia pun shalat sendirian. Mu’adz pun dikabarkan tentang keadaan orang tersebut. Mu’adz pun menyebutnya sebagai seorang munafik. Orang itu pun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan pada beliau apa yang dikatakan oleh Mu’adz padanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menasehati Mu’adz, “Apakah engkau ingin membuat orang lari dari agama, wahai Mu’adz? Jika engkau mengimami orang-orang, bacalah surat Asy-Syams, Adh-Dhuha, Al-A’laa, Al-‘Alaq, atau Al-Lail.” (HR. Muslim no. 465) Imam Nawawi menjelaskan bahwa hadits tersebut tetap menunjukkan adanya pengingkaran terhadap suatu yang dilarang. Walau yang dilanggar adalah suatu yang makruh, bukan suatu yang haram. Hadits tersebut berisi pula penjelasan bolehnya mengingatkan orang lain dengan kata-kata. Imam Nawawi melanjutkan, “Hadits di atas berisi penjelasan untuk meringankan shalat dan peringatan agar tidak memperlama shalat apalagi saat makmum tidak ridha (tidak suka) dengan lamanya shalat seperti itu.” (Syarh Shahih Muslim, 4: 164). Dari sini, seharusnya imam menimbang-nimbang surat yang dibaca ketika mengimami shalat sehingga tidak menyusahkan jama’ah apalagi yang belum terbiasa shalat lama. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul @ Darush Sholihin, 10 Sya’ban 1436 H menjelang ‘Ashar. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsshalat jamaah

Hanya Memikirkan Nikmat Perut, Amalan Tentu Berkurang

Saudaraku … kita kira nikmat itu hanyalah masalah perut. Kita kira nikmat itu hanyalah masalah makan bisa mengenyangkan. Kita kira nikmat itu berupa sesuatu yang bisa menghilangkan rasa haus. Nikmat itu tak sebatas itu, saudaraku. Kalau yang dipikirkan hanya perut, tentu amalan seseorang akan berkurang. Karena perut yang berisi lebih mendatangkan sifat malas dibanding yang tidak. Coba renungkan perkataan sahabat Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu berikut ini, مَنْ لَمْ يَعْرِفْ نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْهِ إِلاَّ فِي مَطْعَمِهِ وَمَشْرَبِهِ فَقَدْ قَلَّ عَمَلُهُ وَحَضَرَ عَذَابُهُ وَمَنْ لَمْ يَكُنْ غَنِيًا عَنِ الدُّنْيَا فَلاَ دُنْيَا لَهُ “Siapa yang tidak mengenal nikmat Allah padanya, ia hanya tahu nikmat makan dan minum saja, tentu amalannya akan berkurang, siksa akan mendatanginya. Siapa yang tidak merasa puas dengan nikmat dunia, maka tidak ada dunia untuknya.” (Hilyatul Auliya’, 1: 210) Abu Ad-Darda’ juga berkata, كَمْ مِنْ نِعْمَةِ للهِ تَعَالَى فِي عِرْقٍ سَاكِنٍ “Betapa banyak nikmat milik Allah ada pada urat (pembuluh darah).” (Hilyatul Auliya’, 1: 210) Coba lihat pada pembuluh darah kita, nikmat apa yang kita bisa renungkan yang ada di dalamnya? Bagaimana terjadi jika pembuluh darah itu terputus? فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 13). Ketika jin dibacakan surat Ar-Rahman ini oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada saat melewati ayat yang kami sebut di atas, para jin menyatakan, “Tidak ada sama sekali dari nikmat Rabb kami yang kami dustakan. Bagi-Mu pujian.” Oleh karenanya, jika seorang hamba disebut padanya nikmat Allah, hendaklah ia mengakui nikmat tersebut lantas ia bersyukur dan memuji Allah atas nikmat itu. (Tafsir As-Sa’di, hal. 878) Nikmat Allah itu begitu banyak, jangan hanya memikirkan nikmat perut saja. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba bersyukur. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul @ Darush Sholihin, 10 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagssyukur

Hanya Memikirkan Nikmat Perut, Amalan Tentu Berkurang

Saudaraku … kita kira nikmat itu hanyalah masalah perut. Kita kira nikmat itu hanyalah masalah makan bisa mengenyangkan. Kita kira nikmat itu berupa sesuatu yang bisa menghilangkan rasa haus. Nikmat itu tak sebatas itu, saudaraku. Kalau yang dipikirkan hanya perut, tentu amalan seseorang akan berkurang. Karena perut yang berisi lebih mendatangkan sifat malas dibanding yang tidak. Coba renungkan perkataan sahabat Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu berikut ini, مَنْ لَمْ يَعْرِفْ نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْهِ إِلاَّ فِي مَطْعَمِهِ وَمَشْرَبِهِ فَقَدْ قَلَّ عَمَلُهُ وَحَضَرَ عَذَابُهُ وَمَنْ لَمْ يَكُنْ غَنِيًا عَنِ الدُّنْيَا فَلاَ دُنْيَا لَهُ “Siapa yang tidak mengenal nikmat Allah padanya, ia hanya tahu nikmat makan dan minum saja, tentu amalannya akan berkurang, siksa akan mendatanginya. Siapa yang tidak merasa puas dengan nikmat dunia, maka tidak ada dunia untuknya.” (Hilyatul Auliya’, 1: 210) Abu Ad-Darda’ juga berkata, كَمْ مِنْ نِعْمَةِ للهِ تَعَالَى فِي عِرْقٍ سَاكِنٍ “Betapa banyak nikmat milik Allah ada pada urat (pembuluh darah).” (Hilyatul Auliya’, 1: 210) Coba lihat pada pembuluh darah kita, nikmat apa yang kita bisa renungkan yang ada di dalamnya? Bagaimana terjadi jika pembuluh darah itu terputus? فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 13). Ketika jin dibacakan surat Ar-Rahman ini oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada saat melewati ayat yang kami sebut di atas, para jin menyatakan, “Tidak ada sama sekali dari nikmat Rabb kami yang kami dustakan. Bagi-Mu pujian.” Oleh karenanya, jika seorang hamba disebut padanya nikmat Allah, hendaklah ia mengakui nikmat tersebut lantas ia bersyukur dan memuji Allah atas nikmat itu. (Tafsir As-Sa’di, hal. 878) Nikmat Allah itu begitu banyak, jangan hanya memikirkan nikmat perut saja. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba bersyukur. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul @ Darush Sholihin, 10 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagssyukur
Saudaraku … kita kira nikmat itu hanyalah masalah perut. Kita kira nikmat itu hanyalah masalah makan bisa mengenyangkan. Kita kira nikmat itu berupa sesuatu yang bisa menghilangkan rasa haus. Nikmat itu tak sebatas itu, saudaraku. Kalau yang dipikirkan hanya perut, tentu amalan seseorang akan berkurang. Karena perut yang berisi lebih mendatangkan sifat malas dibanding yang tidak. Coba renungkan perkataan sahabat Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu berikut ini, مَنْ لَمْ يَعْرِفْ نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْهِ إِلاَّ فِي مَطْعَمِهِ وَمَشْرَبِهِ فَقَدْ قَلَّ عَمَلُهُ وَحَضَرَ عَذَابُهُ وَمَنْ لَمْ يَكُنْ غَنِيًا عَنِ الدُّنْيَا فَلاَ دُنْيَا لَهُ “Siapa yang tidak mengenal nikmat Allah padanya, ia hanya tahu nikmat makan dan minum saja, tentu amalannya akan berkurang, siksa akan mendatanginya. Siapa yang tidak merasa puas dengan nikmat dunia, maka tidak ada dunia untuknya.” (Hilyatul Auliya’, 1: 210) Abu Ad-Darda’ juga berkata, كَمْ مِنْ نِعْمَةِ للهِ تَعَالَى فِي عِرْقٍ سَاكِنٍ “Betapa banyak nikmat milik Allah ada pada urat (pembuluh darah).” (Hilyatul Auliya’, 1: 210) Coba lihat pada pembuluh darah kita, nikmat apa yang kita bisa renungkan yang ada di dalamnya? Bagaimana terjadi jika pembuluh darah itu terputus? فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 13). Ketika jin dibacakan surat Ar-Rahman ini oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada saat melewati ayat yang kami sebut di atas, para jin menyatakan, “Tidak ada sama sekali dari nikmat Rabb kami yang kami dustakan. Bagi-Mu pujian.” Oleh karenanya, jika seorang hamba disebut padanya nikmat Allah, hendaklah ia mengakui nikmat tersebut lantas ia bersyukur dan memuji Allah atas nikmat itu. (Tafsir As-Sa’di, hal. 878) Nikmat Allah itu begitu banyak, jangan hanya memikirkan nikmat perut saja. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba bersyukur. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul @ Darush Sholihin, 10 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagssyukur


Saudaraku … kita kira nikmat itu hanyalah masalah perut. Kita kira nikmat itu hanyalah masalah makan bisa mengenyangkan. Kita kira nikmat itu berupa sesuatu yang bisa menghilangkan rasa haus. Nikmat itu tak sebatas itu, saudaraku. Kalau yang dipikirkan hanya perut, tentu amalan seseorang akan berkurang. Karena perut yang berisi lebih mendatangkan sifat malas dibanding yang tidak. Coba renungkan perkataan sahabat Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu berikut ini, مَنْ لَمْ يَعْرِفْ نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْهِ إِلاَّ فِي مَطْعَمِهِ وَمَشْرَبِهِ فَقَدْ قَلَّ عَمَلُهُ وَحَضَرَ عَذَابُهُ وَمَنْ لَمْ يَكُنْ غَنِيًا عَنِ الدُّنْيَا فَلاَ دُنْيَا لَهُ “Siapa yang tidak mengenal nikmat Allah padanya, ia hanya tahu nikmat makan dan minum saja, tentu amalannya akan berkurang, siksa akan mendatanginya. Siapa yang tidak merasa puas dengan nikmat dunia, maka tidak ada dunia untuknya.” (Hilyatul Auliya’, 1: 210) Abu Ad-Darda’ juga berkata, كَمْ مِنْ نِعْمَةِ للهِ تَعَالَى فِي عِرْقٍ سَاكِنٍ “Betapa banyak nikmat milik Allah ada pada urat (pembuluh darah).” (Hilyatul Auliya’, 1: 210) Coba lihat pada pembuluh darah kita, nikmat apa yang kita bisa renungkan yang ada di dalamnya? Bagaimana terjadi jika pembuluh darah itu terputus? فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 13). Ketika jin dibacakan surat Ar-Rahman ini oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada saat melewati ayat yang kami sebut di atas, para jin menyatakan, “Tidak ada sama sekali dari nikmat Rabb kami yang kami dustakan. Bagi-Mu pujian.” Oleh karenanya, jika seorang hamba disebut padanya nikmat Allah, hendaklah ia mengakui nikmat tersebut lantas ia bersyukur dan memuji Allah atas nikmat itu. (Tafsir As-Sa’di, hal. 878) Nikmat Allah itu begitu banyak, jangan hanya memikirkan nikmat perut saja. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba bersyukur. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul @ Darush Sholihin, 10 Sya’ban 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagssyukur
Prev     Next