Goblok Tapi Cerdas??

Bpk Kiyai berkata : “Menurut saya orang yang berjenggot itu mengurangi kecerdasannya, karena syaraf yang sebenarnya untuk mendukung otak sehingga dia menjadi cerdas tertarik habis oleh jenggot sehingga jenggotnya menjadi panjang.Nah orang berjenggot panjang walaupun kecerdasannya kurang, dia akan turun ke hati. Artinya orang berjenggot panjang adalah simbol dari orang yang hatinya sudah arif, hatinya sudah bersih, sudah tidak lagi mencintai harta, mencintai dunia, kedudukan, jabatan, orang yang selalu beramal ikhlas lillahi ta’alaa….karena kecerdasannya telah pindah dari otak ke hati…Bagi yang belum sampai ke maqom itu, seyogyanya menurut saya tidak usah menghiasi dirinya dengan penampilan jenggot panjang ….”Demikian sebagian cuplikan dari perkataan kiyai, silahkan lihat lengkapnya di bawah ini {youtube}jeN5D074E7Q{/youtube}Komentar :Pertama : Pak kiyai tetap bersikeras bahwa jenggot adalah penyebab kegoblokan. Akan tetapi pak kiyai kali lebih halus dengan menyatakan bahwa jenggot mengurangi kecerdasan. Padahal dalam bahasa indonesia (Kurang cerdas = goblok)Kedua : Dalil pak kiyai akan pernyataan beliau tdk berubah, yaitu syaraf yg harusnya mendukung kecerdasan otak tertarik habis oleh jenggot sehingga jenggotnya menjadi panjang.Nah “dalil” ini apakah perkara yg ilmiyah?, artinya pak kiyai sudah mengkonsultasikannya kpd para ahli syaraf? para dokter? Ataukah berdasarkan penilitian pak kiyai sendiri?Ketiga : Pak kiyai berusaha memplintir pernyataannya, sehingga sekarang dia ingin menyatakan sebaliknya, yaitu “Jenggot panjang pertanda kecerdasan !!”Yaitu kecerdasan telah pindah ke hati !!!Pernyataan ini juga tentunya butuh penjelasan dan argumen yang kuat. Apakah kecerdasan tersebut berpindah dari otak langsung ke hati? Ataukah kecerdasan berpindah dari otak ke jenggot lalu dari jenggot panjang pindah ke hati?Lalu apa dalil dan argumen pernyataan ini semua? Adakah alim ulama yang menyatakan demikian? Adakah cendekiawan dan ilmuan yang menyatakan demikian? Ataukah ini penemuan nusantara oleh pak Kiyai??!!Keempat : Masih sulit kesimpulan yang bisa diambil dari pernytaan kiyai, apakah orang yang jenggotnya panjang berarti goblok tapi cerdas? Artinya goblok ditinjau dari sisi otak tapi cerdas ditinjau dari sisi hati krn kecerdasan yg berpindah ke hati? Dengan kata lain (goblok otak tapi cerdas hati)Bukankah ini adalah menggabungkan dua hal yang kontradiktif, sebagaimana menggabungkan antara timur dan barat?, air dan api?Kelima : Menurut pak kiyai jenggot panjang merupakan simbol kearifan, tdk mencintai dunia, harta dan jabatan.Maka apakah sebaliknya bahwa jenggot plontos adalah lambang cinta dunia, harta, jabatan, dan ketidak ikhlasan?Krn orang menggundul habis jenggotnya berarti kecerdasannya hanya diotak dan tdk  berpindah ke hati? Jadilah dia (cerdas otak tapi goblok hati)Keenam : Menurut pak kiyai orang yang belum sampai pada maqom ikhlas, tdk mencintai dunia harta dan jabatan, maka sebaiknya tdk usah memelihara jenggot panjang.Ini merupakan pernyataan yang aneh dari pak kiyai. Penjelasan pak kiyai mengisyaratkan bahwa memeihara jenggot menyebabkan berpindahnya kecerdasan dari otak menuju hati, sehingga hati menjadi arif dan tdk mencintai dunia. Maka seharusnya pak kiyai berkata : “Panjangjanlah jenggot kalian agar kecerdasan kalian berpindah dari otak ke hati sehingga kalian mencapai maqom ikhlas dan tdk mengharapkan dunia, harta, dan jabatan !!”Nah sekarang seakan akan pak kiyau berkata, “Janganlah kalian panjangkan jenggot kalian sampai hati kalian bersih terlebih dahulu, yaitu sampai kecerdasan kalian berpindah dari otak ke hati !!”Padahal yang menjadi sarana perpindahan kecerdasan dari otak ke hati adalah jenggot yang panjang!!Maka seakan akan pak Kiyai berkata, “Turunlah dari pohon agar engkau berpindah dari atas pohon ke bawah pohon, tapi janganlah engkau turun dari atas pohon sampai engkau di bawah pohon!!”Nah bagaimana bisa berpindah dari atas ke bawah jika tanpa “turun”?Ketujuh: Pernyataan kiyai tentu berbeda dengan penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang memerintahkan memelihara jenggot adalah untuk menyelishi majusi dan ahlul kitab. Nabi shallalahu ‘alaihi wasllam tdk pernah menjelaskan bahwa memlihara jenggot adalah untuk mengikhlaskan hati dan agar tidak mencintai dunia, harta, dan jabatan. Adakah ulama yang menyatakan demikian sebelum pak kiyai?Kedelapan : Lagi pula Nabi shallallahu ‘alaihi wasallm tatkala memerintahkan memanjangkan jenggot tanpa mempersyaratkan apa yg disyaratkan oleh pak kiyai, nah adakah dalil dari pak kiyai atas persyaratan ini?Kesembilan : Saya rasa jika pak kiyai mengakui kesalahan itu lebih baik dan lebih gentlemen dan menunjukan keikhlasan, kearifan hati, dan bersihnya hati kiyai dari cinta dunia, harta dan jabatan. Karena kalau kita kembali mendengar pernyataan pak kiyai sebelumnya : (semakin panjang jenggot semakin goblok) tentu ini diucapkan dalam kondisi menghina dan bahan tertawaan. Sampai pak kiyai menyebutkan tiga contoh orang cerdas yang tdk berjenggot !!Kesepuluh : Kita berterima kasih kepada pak kiyai yang telah mengingatkan bahwa jenggot adalah “SUNNAH” dan orang yang berjenggot harus mencerminkan akhlak nabi yang tdk sombong dll.Ini adalah masukan yg indah dari pak kiyai, bahwa jangan hanya memperhatikan penampilan luar aja, tapi harus memperhatikan penampilan dalam juga.Kami juga berharap agar pak kiyai sebagaimana memperhatikan penampilan dalam, maka hendaknya juga memperhatikan penampilan luar diantaranya memelihara jenggot. Sehingga pak kiyai indah luar dalam.Yang paling menyedihkan adalah jika kurang baik penampilan luar dalam, sudah tidak menjalankan sunnah jenggot lantas mudah menghina dan mengejek orang lain …Mekkah, 02-12-1436 H / 16-09-2015 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Goblok Tapi Cerdas??

Bpk Kiyai berkata : “Menurut saya orang yang berjenggot itu mengurangi kecerdasannya, karena syaraf yang sebenarnya untuk mendukung otak sehingga dia menjadi cerdas tertarik habis oleh jenggot sehingga jenggotnya menjadi panjang.Nah orang berjenggot panjang walaupun kecerdasannya kurang, dia akan turun ke hati. Artinya orang berjenggot panjang adalah simbol dari orang yang hatinya sudah arif, hatinya sudah bersih, sudah tidak lagi mencintai harta, mencintai dunia, kedudukan, jabatan, orang yang selalu beramal ikhlas lillahi ta’alaa….karena kecerdasannya telah pindah dari otak ke hati…Bagi yang belum sampai ke maqom itu, seyogyanya menurut saya tidak usah menghiasi dirinya dengan penampilan jenggot panjang ….”Demikian sebagian cuplikan dari perkataan kiyai, silahkan lihat lengkapnya di bawah ini {youtube}jeN5D074E7Q{/youtube}Komentar :Pertama : Pak kiyai tetap bersikeras bahwa jenggot adalah penyebab kegoblokan. Akan tetapi pak kiyai kali lebih halus dengan menyatakan bahwa jenggot mengurangi kecerdasan. Padahal dalam bahasa indonesia (Kurang cerdas = goblok)Kedua : Dalil pak kiyai akan pernyataan beliau tdk berubah, yaitu syaraf yg harusnya mendukung kecerdasan otak tertarik habis oleh jenggot sehingga jenggotnya menjadi panjang.Nah “dalil” ini apakah perkara yg ilmiyah?, artinya pak kiyai sudah mengkonsultasikannya kpd para ahli syaraf? para dokter? Ataukah berdasarkan penilitian pak kiyai sendiri?Ketiga : Pak kiyai berusaha memplintir pernyataannya, sehingga sekarang dia ingin menyatakan sebaliknya, yaitu “Jenggot panjang pertanda kecerdasan !!”Yaitu kecerdasan telah pindah ke hati !!!Pernyataan ini juga tentunya butuh penjelasan dan argumen yang kuat. Apakah kecerdasan tersebut berpindah dari otak langsung ke hati? Ataukah kecerdasan berpindah dari otak ke jenggot lalu dari jenggot panjang pindah ke hati?Lalu apa dalil dan argumen pernyataan ini semua? Adakah alim ulama yang menyatakan demikian? Adakah cendekiawan dan ilmuan yang menyatakan demikian? Ataukah ini penemuan nusantara oleh pak Kiyai??!!Keempat : Masih sulit kesimpulan yang bisa diambil dari pernytaan kiyai, apakah orang yang jenggotnya panjang berarti goblok tapi cerdas? Artinya goblok ditinjau dari sisi otak tapi cerdas ditinjau dari sisi hati krn kecerdasan yg berpindah ke hati? Dengan kata lain (goblok otak tapi cerdas hati)Bukankah ini adalah menggabungkan dua hal yang kontradiktif, sebagaimana menggabungkan antara timur dan barat?, air dan api?Kelima : Menurut pak kiyai jenggot panjang merupakan simbol kearifan, tdk mencintai dunia, harta dan jabatan.Maka apakah sebaliknya bahwa jenggot plontos adalah lambang cinta dunia, harta, jabatan, dan ketidak ikhlasan?Krn orang menggundul habis jenggotnya berarti kecerdasannya hanya diotak dan tdk  berpindah ke hati? Jadilah dia (cerdas otak tapi goblok hati)Keenam : Menurut pak kiyai orang yang belum sampai pada maqom ikhlas, tdk mencintai dunia harta dan jabatan, maka sebaiknya tdk usah memelihara jenggot panjang.Ini merupakan pernyataan yang aneh dari pak kiyai. Penjelasan pak kiyai mengisyaratkan bahwa memeihara jenggot menyebabkan berpindahnya kecerdasan dari otak menuju hati, sehingga hati menjadi arif dan tdk mencintai dunia. Maka seharusnya pak kiyai berkata : “Panjangjanlah jenggot kalian agar kecerdasan kalian berpindah dari otak ke hati sehingga kalian mencapai maqom ikhlas dan tdk mengharapkan dunia, harta, dan jabatan !!”Nah sekarang seakan akan pak kiyau berkata, “Janganlah kalian panjangkan jenggot kalian sampai hati kalian bersih terlebih dahulu, yaitu sampai kecerdasan kalian berpindah dari otak ke hati !!”Padahal yang menjadi sarana perpindahan kecerdasan dari otak ke hati adalah jenggot yang panjang!!Maka seakan akan pak Kiyai berkata, “Turunlah dari pohon agar engkau berpindah dari atas pohon ke bawah pohon, tapi janganlah engkau turun dari atas pohon sampai engkau di bawah pohon!!”Nah bagaimana bisa berpindah dari atas ke bawah jika tanpa “turun”?Ketujuh: Pernyataan kiyai tentu berbeda dengan penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang memerintahkan memelihara jenggot adalah untuk menyelishi majusi dan ahlul kitab. Nabi shallalahu ‘alaihi wasllam tdk pernah menjelaskan bahwa memlihara jenggot adalah untuk mengikhlaskan hati dan agar tidak mencintai dunia, harta, dan jabatan. Adakah ulama yang menyatakan demikian sebelum pak kiyai?Kedelapan : Lagi pula Nabi shallallahu ‘alaihi wasallm tatkala memerintahkan memanjangkan jenggot tanpa mempersyaratkan apa yg disyaratkan oleh pak kiyai, nah adakah dalil dari pak kiyai atas persyaratan ini?Kesembilan : Saya rasa jika pak kiyai mengakui kesalahan itu lebih baik dan lebih gentlemen dan menunjukan keikhlasan, kearifan hati, dan bersihnya hati kiyai dari cinta dunia, harta dan jabatan. Karena kalau kita kembali mendengar pernyataan pak kiyai sebelumnya : (semakin panjang jenggot semakin goblok) tentu ini diucapkan dalam kondisi menghina dan bahan tertawaan. Sampai pak kiyai menyebutkan tiga contoh orang cerdas yang tdk berjenggot !!Kesepuluh : Kita berterima kasih kepada pak kiyai yang telah mengingatkan bahwa jenggot adalah “SUNNAH” dan orang yang berjenggot harus mencerminkan akhlak nabi yang tdk sombong dll.Ini adalah masukan yg indah dari pak kiyai, bahwa jangan hanya memperhatikan penampilan luar aja, tapi harus memperhatikan penampilan dalam juga.Kami juga berharap agar pak kiyai sebagaimana memperhatikan penampilan dalam, maka hendaknya juga memperhatikan penampilan luar diantaranya memelihara jenggot. Sehingga pak kiyai indah luar dalam.Yang paling menyedihkan adalah jika kurang baik penampilan luar dalam, sudah tidak menjalankan sunnah jenggot lantas mudah menghina dan mengejek orang lain …Mekkah, 02-12-1436 H / 16-09-2015 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
Bpk Kiyai berkata : “Menurut saya orang yang berjenggot itu mengurangi kecerdasannya, karena syaraf yang sebenarnya untuk mendukung otak sehingga dia menjadi cerdas tertarik habis oleh jenggot sehingga jenggotnya menjadi panjang.Nah orang berjenggot panjang walaupun kecerdasannya kurang, dia akan turun ke hati. Artinya orang berjenggot panjang adalah simbol dari orang yang hatinya sudah arif, hatinya sudah bersih, sudah tidak lagi mencintai harta, mencintai dunia, kedudukan, jabatan, orang yang selalu beramal ikhlas lillahi ta’alaa….karena kecerdasannya telah pindah dari otak ke hati…Bagi yang belum sampai ke maqom itu, seyogyanya menurut saya tidak usah menghiasi dirinya dengan penampilan jenggot panjang ….”Demikian sebagian cuplikan dari perkataan kiyai, silahkan lihat lengkapnya di bawah ini {youtube}jeN5D074E7Q{/youtube}Komentar :Pertama : Pak kiyai tetap bersikeras bahwa jenggot adalah penyebab kegoblokan. Akan tetapi pak kiyai kali lebih halus dengan menyatakan bahwa jenggot mengurangi kecerdasan. Padahal dalam bahasa indonesia (Kurang cerdas = goblok)Kedua : Dalil pak kiyai akan pernyataan beliau tdk berubah, yaitu syaraf yg harusnya mendukung kecerdasan otak tertarik habis oleh jenggot sehingga jenggotnya menjadi panjang.Nah “dalil” ini apakah perkara yg ilmiyah?, artinya pak kiyai sudah mengkonsultasikannya kpd para ahli syaraf? para dokter? Ataukah berdasarkan penilitian pak kiyai sendiri?Ketiga : Pak kiyai berusaha memplintir pernyataannya, sehingga sekarang dia ingin menyatakan sebaliknya, yaitu “Jenggot panjang pertanda kecerdasan !!”Yaitu kecerdasan telah pindah ke hati !!!Pernyataan ini juga tentunya butuh penjelasan dan argumen yang kuat. Apakah kecerdasan tersebut berpindah dari otak langsung ke hati? Ataukah kecerdasan berpindah dari otak ke jenggot lalu dari jenggot panjang pindah ke hati?Lalu apa dalil dan argumen pernyataan ini semua? Adakah alim ulama yang menyatakan demikian? Adakah cendekiawan dan ilmuan yang menyatakan demikian? Ataukah ini penemuan nusantara oleh pak Kiyai??!!Keempat : Masih sulit kesimpulan yang bisa diambil dari pernytaan kiyai, apakah orang yang jenggotnya panjang berarti goblok tapi cerdas? Artinya goblok ditinjau dari sisi otak tapi cerdas ditinjau dari sisi hati krn kecerdasan yg berpindah ke hati? Dengan kata lain (goblok otak tapi cerdas hati)Bukankah ini adalah menggabungkan dua hal yang kontradiktif, sebagaimana menggabungkan antara timur dan barat?, air dan api?Kelima : Menurut pak kiyai jenggot panjang merupakan simbol kearifan, tdk mencintai dunia, harta dan jabatan.Maka apakah sebaliknya bahwa jenggot plontos adalah lambang cinta dunia, harta, jabatan, dan ketidak ikhlasan?Krn orang menggundul habis jenggotnya berarti kecerdasannya hanya diotak dan tdk  berpindah ke hati? Jadilah dia (cerdas otak tapi goblok hati)Keenam : Menurut pak kiyai orang yang belum sampai pada maqom ikhlas, tdk mencintai dunia harta dan jabatan, maka sebaiknya tdk usah memelihara jenggot panjang.Ini merupakan pernyataan yang aneh dari pak kiyai. Penjelasan pak kiyai mengisyaratkan bahwa memeihara jenggot menyebabkan berpindahnya kecerdasan dari otak menuju hati, sehingga hati menjadi arif dan tdk mencintai dunia. Maka seharusnya pak kiyai berkata : “Panjangjanlah jenggot kalian agar kecerdasan kalian berpindah dari otak ke hati sehingga kalian mencapai maqom ikhlas dan tdk mengharapkan dunia, harta, dan jabatan !!”Nah sekarang seakan akan pak kiyau berkata, “Janganlah kalian panjangkan jenggot kalian sampai hati kalian bersih terlebih dahulu, yaitu sampai kecerdasan kalian berpindah dari otak ke hati !!”Padahal yang menjadi sarana perpindahan kecerdasan dari otak ke hati adalah jenggot yang panjang!!Maka seakan akan pak Kiyai berkata, “Turunlah dari pohon agar engkau berpindah dari atas pohon ke bawah pohon, tapi janganlah engkau turun dari atas pohon sampai engkau di bawah pohon!!”Nah bagaimana bisa berpindah dari atas ke bawah jika tanpa “turun”?Ketujuh: Pernyataan kiyai tentu berbeda dengan penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang memerintahkan memelihara jenggot adalah untuk menyelishi majusi dan ahlul kitab. Nabi shallalahu ‘alaihi wasllam tdk pernah menjelaskan bahwa memlihara jenggot adalah untuk mengikhlaskan hati dan agar tidak mencintai dunia, harta, dan jabatan. Adakah ulama yang menyatakan demikian sebelum pak kiyai?Kedelapan : Lagi pula Nabi shallallahu ‘alaihi wasallm tatkala memerintahkan memanjangkan jenggot tanpa mempersyaratkan apa yg disyaratkan oleh pak kiyai, nah adakah dalil dari pak kiyai atas persyaratan ini?Kesembilan : Saya rasa jika pak kiyai mengakui kesalahan itu lebih baik dan lebih gentlemen dan menunjukan keikhlasan, kearifan hati, dan bersihnya hati kiyai dari cinta dunia, harta dan jabatan. Karena kalau kita kembali mendengar pernyataan pak kiyai sebelumnya : (semakin panjang jenggot semakin goblok) tentu ini diucapkan dalam kondisi menghina dan bahan tertawaan. Sampai pak kiyai menyebutkan tiga contoh orang cerdas yang tdk berjenggot !!Kesepuluh : Kita berterima kasih kepada pak kiyai yang telah mengingatkan bahwa jenggot adalah “SUNNAH” dan orang yang berjenggot harus mencerminkan akhlak nabi yang tdk sombong dll.Ini adalah masukan yg indah dari pak kiyai, bahwa jangan hanya memperhatikan penampilan luar aja, tapi harus memperhatikan penampilan dalam juga.Kami juga berharap agar pak kiyai sebagaimana memperhatikan penampilan dalam, maka hendaknya juga memperhatikan penampilan luar diantaranya memelihara jenggot. Sehingga pak kiyai indah luar dalam.Yang paling menyedihkan adalah jika kurang baik penampilan luar dalam, sudah tidak menjalankan sunnah jenggot lantas mudah menghina dan mengejek orang lain …Mekkah, 02-12-1436 H / 16-09-2015 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


Bpk Kiyai berkata : “Menurut saya orang yang berjenggot itu mengurangi kecerdasannya, karena syaraf yang sebenarnya untuk mendukung otak sehingga dia menjadi cerdas tertarik habis oleh jenggot sehingga jenggotnya menjadi panjang.Nah orang berjenggot panjang walaupun kecerdasannya kurang, dia akan turun ke hati. Artinya orang berjenggot panjang adalah simbol dari orang yang hatinya sudah arif, hatinya sudah bersih, sudah tidak lagi mencintai harta, mencintai dunia, kedudukan, jabatan, orang yang selalu beramal ikhlas lillahi ta’alaa….karena kecerdasannya telah pindah dari otak ke hati…Bagi yang belum sampai ke maqom itu, seyogyanya menurut saya tidak usah menghiasi dirinya dengan penampilan jenggot panjang ….”Demikian sebagian cuplikan dari perkataan kiyai, silahkan lihat lengkapnya di bawah ini {youtube}jeN5D074E7Q{/youtube}Komentar :Pertama : Pak kiyai tetap bersikeras bahwa jenggot adalah penyebab kegoblokan. Akan tetapi pak kiyai kali lebih halus dengan menyatakan bahwa jenggot mengurangi kecerdasan. Padahal dalam bahasa indonesia (Kurang cerdas = goblok)Kedua : Dalil pak kiyai akan pernyataan beliau tdk berubah, yaitu syaraf yg harusnya mendukung kecerdasan otak tertarik habis oleh jenggot sehingga jenggotnya menjadi panjang.Nah “dalil” ini apakah perkara yg ilmiyah?, artinya pak kiyai sudah mengkonsultasikannya kpd para ahli syaraf? para dokter? Ataukah berdasarkan penilitian pak kiyai sendiri?Ketiga : Pak kiyai berusaha memplintir pernyataannya, sehingga sekarang dia ingin menyatakan sebaliknya, yaitu “Jenggot panjang pertanda kecerdasan !!”Yaitu kecerdasan telah pindah ke hati !!!Pernyataan ini juga tentunya butuh penjelasan dan argumen yang kuat. Apakah kecerdasan tersebut berpindah dari otak langsung ke hati? Ataukah kecerdasan berpindah dari otak ke jenggot lalu dari jenggot panjang pindah ke hati?Lalu apa dalil dan argumen pernyataan ini semua? Adakah alim ulama yang menyatakan demikian? Adakah cendekiawan dan ilmuan yang menyatakan demikian? Ataukah ini penemuan nusantara oleh pak Kiyai??!!Keempat : Masih sulit kesimpulan yang bisa diambil dari pernytaan kiyai, apakah orang yang jenggotnya panjang berarti goblok tapi cerdas? Artinya goblok ditinjau dari sisi otak tapi cerdas ditinjau dari sisi hati krn kecerdasan yg berpindah ke hati? Dengan kata lain (goblok otak tapi cerdas hati)Bukankah ini adalah menggabungkan dua hal yang kontradiktif, sebagaimana menggabungkan antara timur dan barat?, air dan api?Kelima : Menurut pak kiyai jenggot panjang merupakan simbol kearifan, tdk mencintai dunia, harta dan jabatan.Maka apakah sebaliknya bahwa jenggot plontos adalah lambang cinta dunia, harta, jabatan, dan ketidak ikhlasan?Krn orang menggundul habis jenggotnya berarti kecerdasannya hanya diotak dan tdk  berpindah ke hati? Jadilah dia (cerdas otak tapi goblok hati)Keenam : Menurut pak kiyai orang yang belum sampai pada maqom ikhlas, tdk mencintai dunia harta dan jabatan, maka sebaiknya tdk usah memelihara jenggot panjang.Ini merupakan pernyataan yang aneh dari pak kiyai. Penjelasan pak kiyai mengisyaratkan bahwa memeihara jenggot menyebabkan berpindahnya kecerdasan dari otak menuju hati, sehingga hati menjadi arif dan tdk mencintai dunia. Maka seharusnya pak kiyai berkata : “Panjangjanlah jenggot kalian agar kecerdasan kalian berpindah dari otak ke hati sehingga kalian mencapai maqom ikhlas dan tdk mengharapkan dunia, harta, dan jabatan !!”Nah sekarang seakan akan pak kiyau berkata, “Janganlah kalian panjangkan jenggot kalian sampai hati kalian bersih terlebih dahulu, yaitu sampai kecerdasan kalian berpindah dari otak ke hati !!”Padahal yang menjadi sarana perpindahan kecerdasan dari otak ke hati adalah jenggot yang panjang!!Maka seakan akan pak Kiyai berkata, “Turunlah dari pohon agar engkau berpindah dari atas pohon ke bawah pohon, tapi janganlah engkau turun dari atas pohon sampai engkau di bawah pohon!!”Nah bagaimana bisa berpindah dari atas ke bawah jika tanpa “turun”?Ketujuh: Pernyataan kiyai tentu berbeda dengan penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang memerintahkan memelihara jenggot adalah untuk menyelishi majusi dan ahlul kitab. Nabi shallalahu ‘alaihi wasllam tdk pernah menjelaskan bahwa memlihara jenggot adalah untuk mengikhlaskan hati dan agar tidak mencintai dunia, harta, dan jabatan. Adakah ulama yang menyatakan demikian sebelum pak kiyai?Kedelapan : Lagi pula Nabi shallallahu ‘alaihi wasallm tatkala memerintahkan memanjangkan jenggot tanpa mempersyaratkan apa yg disyaratkan oleh pak kiyai, nah adakah dalil dari pak kiyai atas persyaratan ini?Kesembilan : Saya rasa jika pak kiyai mengakui kesalahan itu lebih baik dan lebih gentlemen dan menunjukan keikhlasan, kearifan hati, dan bersihnya hati kiyai dari cinta dunia, harta dan jabatan. Karena kalau kita kembali mendengar pernyataan pak kiyai sebelumnya : (semakin panjang jenggot semakin goblok) tentu ini diucapkan dalam kondisi menghina dan bahan tertawaan. Sampai pak kiyai menyebutkan tiga contoh orang cerdas yang tdk berjenggot !!Kesepuluh : Kita berterima kasih kepada pak kiyai yang telah mengingatkan bahwa jenggot adalah “SUNNAH” dan orang yang berjenggot harus mencerminkan akhlak nabi yang tdk sombong dll.Ini adalah masukan yg indah dari pak kiyai, bahwa jangan hanya memperhatikan penampilan luar aja, tapi harus memperhatikan penampilan dalam juga.Kami juga berharap agar pak kiyai sebagaimana memperhatikan penampilan dalam, maka hendaknya juga memperhatikan penampilan luar diantaranya memelihara jenggot. Sehingga pak kiyai indah luar dalam.Yang paling menyedihkan adalah jika kurang baik penampilan luar dalam, sudah tidak menjalankan sunnah jenggot lantas mudah menghina dan mengejek orang lain …Mekkah, 02-12-1436 H / 16-09-2015 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Goblok Karena Berjenggot??

Dunia Islam Indonesia dihebohkan dengan pernyataan Ketua PBNU Bpk Kiyai Sa’id Aqil Sirooj –semoga Allah memberi petunjuk kepadanya- bahwa “Berjenggot itu mengurangi kecerdasan seseorang. Semakin panjang jenggot, semakin goblok…!!”, silahkan simak ucapan pak kyai di bawah iniRenungkan poin-poin berikut :Pertama : Imam Ghozali berkata :وقال شريح القاضي : وَدِدْتُ أَنَّ لِي لَحْيَةً وَلَوْ بَعَشْرَةِ آلاَفٍ“Syuraih Al-Qoodhli berkata : “Aku berharap kalau aku memiliki jenggot, meskipun harus membayar 10 ribu dinar/dirham” (Ihyaa ‘Uluum ad-Diin 2/257)Al-Gozali juga berkata : قال أصحاب الأحنف بن قيس وددنا أن نشتري للأحنف لحية ولو بعشرين ألفًا“Para sahabat Al-Ahnaf bin Qois berkata, “Kami berangan-angan untuk membelikan jenggot buat Al-Ahnaf meskipun harus membayar 20 ribu dinar/dirham” (Ihyaa ‘Uluum ad-Diin 2/257)Para ulama yang tidak berjenggot dahulu ternyata berangan-angan untuk memiliki jenggot meskipun harus membayar mahal sekali !!!Apakah mereka begitu bodohnya harus membayar mahal untuk membeli “kegoblokan”??!Kedua : Sebenarnya kelaziman dari pernyataan pak Kiyai ini sungguh berbahaya karena terlalu banyak orang yang akan dianggap goblok menurut “Kaidah” pak Kiyai tersebut. Dan diantara daftar orang-orang goblok tersebut adalah para Nabi dan para ulama.Bukankah jenggot Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tebal?Jabir bin Samuroh berkata :وَكَانَ كَثِيْرَ شَعْرِ اللِّحْيَةِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lebat rambut janggutnya” (HR Muslim no 2344)Padahal kaidah pak Kiyai semakin berat jenggot semakin menimbulkan kebodohan, karena saraf tertarik ke bawah oleh lebatnya jenggot.Bahkan para sahabat mengetahui bacaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sholat sirriah dengan gerakan-gerakan jenggot beliau.عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ قَالَ سَأَلْنَا خَبَّابًا أَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ قَالَ نَعَمْ قُلْنَا بِأَيِّ شَيْءٍ كُنْتُمْ تَعْرِفُونَ قَالَ بِاضْطِرَابِ لِحْيَتِهِDari Abu Ma’mar ia berkata : Kami bertanya kepada Khobbab –radhiallahu ‘nhu- apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca qiroah tatkala sholat dzuhur dan ashar?. Khobbab berkata : “Iya”. Kami berkata, “Bagaimana caranya kalian mengetahui bahwa Nabi membaca?”, Khobbab berkata, “Dengan gerakan jenggot beliau” (HR Al-Bukhari 760)Demikian juga Nabi Harun ‘alaihis salam, Allah berfirman :قَالَ يَبۡنَؤُمَّ لَا تَأۡخُذۡ بِلِحۡيَتِي وَلَا بِرَأۡسِيٓۖ إِنِّي خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقۡتَ بَيۡنَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَلَمۡ تَرۡقُبۡ قَوۡلِيHarun berkata (kepada Nabi Musa) “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku” (QS Toha : 94)Ini dalil yang tegas bahwa jenggot Nabi Harun ‘alaihis salam panjang, sehingga bisa dipegang oleh Nabi Musa ‘alaihis salam.Ayat ini menunjukkan bahwa jenggot bukan ciri khas budaya Arab, bahkan para nabi dari kalangan bani Israil yang sama sekali bukan orang Arab juga berjenggot.Ketiga : Bahkan kita dapati kaum Nashrani juga tatkala menggambarkan nabi Isa ‘alaihis salaam (yang dianggap tuhan oleh mereka) ternyata selalu berjenggot. Apakah ini berarti bahwa kaum Nashrani sepakat bahwa “Tuhan mereka ternyata goblok?”, yang hal ini melazimkan bahwa kaum Nashrani pada goblok semua karena telah bersepakat untuk menjadikan orang goblok sebagai Tuhan !!Keempat : Anehnya ternyata para ulama –terutama Imam Asy-Syafi’i dan para ulama madzhab syafi’i, demikian juga madzhab-madzhab yang lain- telah ijmak (sepakat ) akan larangan mencukur jenggot hingga gundul habis. (silahkan baca https://firanda.com/index.php/artikel/fiqh/437-ajaran-ajaran-madzhab-syafi-i-yang-ditinggalkan-oleh-sebagian-pengikutnya)Maka berarti para ulama telah bersepakat untuk memelihara kegoblokan dan bersepakat untuk menghalangi kecerdasan. Karena menurut pak Kyai semakin habis jenggot semakin mendukung kecerdasan !!!Kelima : Tokoh-tokoh Nusantara pun banyak. Ada Muhammad Yasin Al-Fadani, Nawawi Al-Bantani, Agus Salim, Ahmad Dahlan, Buya Hamka, sampai KH. Hasyim Asy’ari – pendiri NU – juga berjenggot. Ya, mereka tetap memelihara jenggot meski jenggot mereka tidak selebat keturunan ArabKeenam :  Demikian juga banyak tokoh-tokoh non muslim yang berjenggot bahkan yang disembah, contohnya Khong hu cu dan Lao Tse.Demikian juga tokoh-tokoh ilmuan non muslim seperti James Parkinson (1755 –1824), William Edmond Logan (1798 –1875), Asa Gray (1810 – 1888), John Strong Newberry (1822 – 1892), John Tyndall (1820 – 1893), Alfred Bernhard Nobel (1833 – 1896), John Wesley Powell (1834 – 1902), Ludwig Eduard Boltzmann (1844 – 1906), Dmitri Ivanovich Mendeleev (1834 – 1907), Henry Clifton Sorby (1826 – 1908), Grove Karl Gilbert (1843 –1918), Pyotr Alexeyevich Kropotkin (1842 – 1921), Alexander Graham Bell (1847 – 1922), Wilhelm Conrad Röntgen (1845 – 1923), dan masih banyak lagi; ini semua adalah para ilmuwan non-Islam yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan berjenggot (baca http://abul-jauzaa.blogspot.com/2015/09/tragedi-banyolan-pak-kiyai.html)Ketujuh : Tokoh-tokoh Nusantara yang dianggap sangat cerdas oleh pak kyai karena tidak berjenggot, seperti Fulan, Fulan dan Fulan ternyata diantara mereka saking cerdasnya beraliran Liberal dan Pluralisme. Saking cerdasnya ada yang menyatakan jilbab tidak wajib dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak dijamin masuk surga. Atau ada yang menyatakan bahwa semua agama masuk surga (termasuk Yahudi dan Nashrani, Buda dan Hindu). Demikian juga ada yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah kitab porno dll??Inikah ukuran kecerdasan menurut pak Kiyai??Kedelapan : Sebenarnya pernyataan bahwa semakin panjang jenggot semakin goblok itu berdasarkan praduga ataukah berdasarkan disiplin ilmu tertentu, baik di bidang kedokteran, atau ahli saraf, atau ahli agama, atau ahli-ahli yang lainnya disertai penelitian, sensus, dan penjelasan ilmiah?.Adapun yang diriwayatkan dari sebagian ulama bahwasanya panjangnya jenggot adalah tanda kebodohan (sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam kitabnya “Akhbaar al-Hamqoo wa al-Mughoffalin)” maka :(1). Maksudnya yang dicela adalah jenggot yang terlalu panjang yang berlebihan, sehingga melebihi panjang ukuran genggaman tangan.Ibnu Jauzi rahimahullah berkata :قال زياد ابن ابيه : مَا زَادَتْ لِحْيَةُ رَجُلٍ عَلَى قَبْضَتِهِ إِلاَّ كَانَ مَا زَادَ فِيْهَا نَقْصًا مِنْ عَقْلِهِقال بعض الشعراء :إِذَا عَرِضَتْ لِلْفَتَى لِحْيَةٌ … وَطَالَتْ فَصَارَتْ إِلَى سُرَّتِهْفَنُقْصَانُ عَقْلِ الْفَتَى عِنْدَنَا …  بِمِقْدَارِ مَا زَادِ فِى لِحْيَتِهْ“Berkata Ziyad bin Abihi : “Tidaklah panjang jenggot seseorang melebihi ukuran genggaman tangannya kecuali kelebihan panjang tersebut semakin mengurangi akalnya”Sebagian penyair berkata :“Jika melebar jenggot seorang pemuda dan panjang hingga ke pusarnya…Maka di sisi kami kurangnya akal sang pemuda sesuai kadar apa yang lebih pada jenggotnya” (Akhbaar Al-Hamqoo wa al-Mughoffalin 32-33)(2) Lalu apakah pantas kita menjadikan perkataan segelintir kecil para ahli adab atau para ulama untuk menghukum hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?. Para ulama sendiri telah berselisih tentang memotong jenggot jika telah lebih panjang dari ukuran genggaman tangan. Dan yang dikuatkan oleh Al-Imam An-Nawawi adalah makruh memotong jenggot sedikitpun meskipun telah panjang melebihi ukuran genggaman tangan.Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :والصحيح كراهة الاخذ منها مطلقا بل يتركها على حالها كيف كانت، للحديث الصحيح واعفوا اللحي. وأما الحديث عمرو بن شعيب عن ابيه عن جده “ان النبي صلي الله عليه وسلم كان يأخذ من لحيته من عرضها وطولها” فرواه الترمذي باسناد ضعيف لا يحتج به“Yang benar adalah dibencinya perbuatan memangkas jenggot secara mutlak (meskipun jenggot telah panjang dan lebih dari segenggam tangan-pen), tapi harusnya ia membiarkan apa adanya, karena adanya hadits shohih “biarkanlah jenggot panjang“. Adapun haditsnya Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya: “bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dahulu mengambil jenggotnya dari sisi samping dan dari sisi panjangnya”, maka hadits ini telah diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dengan sanad yang lemah dan  tidak bisa dijadikan hujjah. (al-Majmu’ 1/343)Imam An-Nawawi juga berkata :والمختار ترك اللحية على حالها وألا يتعرض لها بتقصير شيء أصلا“Pendapat yang terpilih adalah membiarkan jenggot apa adanya, dan tidak dicukur sama sekali” (Al-Minhaaj Syarah Shohih Muslim, 3/151, hadits no: 260)(3) Apakah yang disebutkan dalam kitab Akhbaar Al-Hamqoo wal Mugaffaliin lantas dibenarkan dan dijadikan rujukan?Diantara sifat-sifat orang bodoh yang disebutkan dalam kitab tersebut adalah : 1. Kecilnya kepala, 2. Pendeknya leher, 3. Kecilnya telinga, 4. Jika bentuk tubuhnya tidak seimbang, 5. Mata yang besar, 6. Adanya rambut di pundak dan di leher, 7. Rambut di dada dan perut, 8. Leher yang panjang dan tipis, 9. Hidung besar, 10. Bibir tebal, 11.Wajah yang sangat bulat, 12. Suara yang indah.Coba kita pikirkan, seandainya kita membenarkan semua yang disebutkan dalam kitab Akhbaar Al-Hamqoo wal Mugoffaliin tentang sifat-sifat orang bodoh maka sungguh terlalu banyak orang bodoh diantara kita. Apalagi suara yang indah ciri orang bodoh? Sungguh terlalu banyak para imam, para muadzzin, para qori’ yang bodoh??!(4) Justru ternyata banyak ulama –terutama ulama madzhab Syafi’iyah- yang mencela orang yang mencukur habis jenggotnya !!.Ibnu Rif’ah rahimahullah berkata:إِنَّ الشَّافِعِي قد نص في الأم على تحريم حلق اللحيةSungguh Imam Syafi’i telah menegaskan dalam kitabnya Al-Umm, tentang haramnya menggundul jenggot. (Hasyiatul Abbadi ala Tuhfatil Muhtaj 9/376)Al-Halimi (wafat 403 H), beliau berkata dalam kitab beliau Al-Minhaaj :لا يحل لأحد أن يحلق لحيته ولا حاجبيه, وإن كان له أن يحلق سباله, لأن لحلقه فائدة, وهي أن لا يعلق به من دسم الطعام ورائحته ما يكره, بخلاف حلق اللحية, فإنه هجنة وشهرة وتشبه بالنساء“Tidak seorang pun dibolehkan memangkas habis jenggotnya, juga alisnya, meski ia boleh memangkas habis kumisnya. Karena memangkas habis kumis ada faedahnya, yakni agar lemak makanan dan bau tidak enaknya tidak tertinggal padanya. Berbeda dengan memangkas habis jenggot, karena itu termasuk (1) tindakan tercela, (2) syuhroh (tampil beda), dan (3) menyerupai wanita” (Sebagaimana dinukil oleh Ibnul Mulaqqin As-Syafi’I dalam kitab al-I’lam fi fawaaid Umdatil Ahkaam, terbitan Daarul ‘Aaashimah 1/711)Abul Hasan Al-Maawardi (wafat 450 H), ia berkata :نَتْفُ اللِّحْيَةِ مِنَ السَّفَهِ الذي تُرَدُّ به الشهادةImam al-Mawardi -rohimahulloh- mengatakan: Mencabuti jenggot merupakan perbuatan safah (bodoh) yang menyebabkan persaksian seseorang ditolak. (al-Hawil Kabir 17/151)Abu Hamid Al-Gozzali rahimahullah (wafat tahun 505 H0, beliau berkata :وأما نتفها في أول النبات تشبها بالمرد فمن المنكرات الكبار فإن اللحية زينة الرجال“Adapun mencabuti jenggot di awal munculnya, agar menyerupai orang yang tidak punya jenggot, maka ini termasuk kemungkaran yang besar, karena jenggot adalah penghias bagi laki-laki” (Ihya’ Ulumiddin 1/280)Abu Syaamah rahimahullah berkata :وقد حدث قوم يحلقون لحاهم, وهو أشد مما نقل عن المجوس أنهم كانوا يقصونها“Telah datang sekelompok kaum yang menggunduli jenggotnya, perbuatan mereka itu lebih parah dari apa yang dinukil dari kaum Majusi, bahwa mereka dulu memendekkannya”. (Fathul Bari 10/351)Kesembilan : Pak Kiyai sendiri disinyalir waktu masa muda pernah gagah berjenggot, apakah waktu itu pak Kiyai sedang “tidak cerdas”?,Kesepuluh : Jika pak Kiyai lebih memilih tidak berjenggot maka silahkan saja, tapi tentu tidak perlulah mengejek yang berjenggot dengan menyatakan mereka goblok.Saya tutup renungan ini dengan dua nasehat dari dua firman Allahيَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُواْ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلۡقِسۡطِۖ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَ‍َٔانُ قَوۡمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعۡدِلُواْۚ ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَHai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Al-Maidah : 8)يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٞ مِّن قَوۡمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُواْ خَيۡرٗا مِّنۡهُمۡ وَلَا نِسَآءٞ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيۡرٗا مِّنۡهُنَّۖHai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. (QS Al-Hujuraat : 11)Jangan kita mengejek orang lain dengan “goblok” karena bisa jadi kita lebih “goblok”. Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 01-12-1436 H / 15-09-2015 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.comSilahkan baca juga artikel “Nasehat DR Said Aqiel Siradj, MA untuk Ketua PBNU Kiyai Haji Said Aqiel Siradj“

Goblok Karena Berjenggot??

Dunia Islam Indonesia dihebohkan dengan pernyataan Ketua PBNU Bpk Kiyai Sa’id Aqil Sirooj –semoga Allah memberi petunjuk kepadanya- bahwa “Berjenggot itu mengurangi kecerdasan seseorang. Semakin panjang jenggot, semakin goblok…!!”, silahkan simak ucapan pak kyai di bawah iniRenungkan poin-poin berikut :Pertama : Imam Ghozali berkata :وقال شريح القاضي : وَدِدْتُ أَنَّ لِي لَحْيَةً وَلَوْ بَعَشْرَةِ آلاَفٍ“Syuraih Al-Qoodhli berkata : “Aku berharap kalau aku memiliki jenggot, meskipun harus membayar 10 ribu dinar/dirham” (Ihyaa ‘Uluum ad-Diin 2/257)Al-Gozali juga berkata : قال أصحاب الأحنف بن قيس وددنا أن نشتري للأحنف لحية ولو بعشرين ألفًا“Para sahabat Al-Ahnaf bin Qois berkata, “Kami berangan-angan untuk membelikan jenggot buat Al-Ahnaf meskipun harus membayar 20 ribu dinar/dirham” (Ihyaa ‘Uluum ad-Diin 2/257)Para ulama yang tidak berjenggot dahulu ternyata berangan-angan untuk memiliki jenggot meskipun harus membayar mahal sekali !!!Apakah mereka begitu bodohnya harus membayar mahal untuk membeli “kegoblokan”??!Kedua : Sebenarnya kelaziman dari pernyataan pak Kiyai ini sungguh berbahaya karena terlalu banyak orang yang akan dianggap goblok menurut “Kaidah” pak Kiyai tersebut. Dan diantara daftar orang-orang goblok tersebut adalah para Nabi dan para ulama.Bukankah jenggot Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tebal?Jabir bin Samuroh berkata :وَكَانَ كَثِيْرَ شَعْرِ اللِّحْيَةِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lebat rambut janggutnya” (HR Muslim no 2344)Padahal kaidah pak Kiyai semakin berat jenggot semakin menimbulkan kebodohan, karena saraf tertarik ke bawah oleh lebatnya jenggot.Bahkan para sahabat mengetahui bacaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sholat sirriah dengan gerakan-gerakan jenggot beliau.عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ قَالَ سَأَلْنَا خَبَّابًا أَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ قَالَ نَعَمْ قُلْنَا بِأَيِّ شَيْءٍ كُنْتُمْ تَعْرِفُونَ قَالَ بِاضْطِرَابِ لِحْيَتِهِDari Abu Ma’mar ia berkata : Kami bertanya kepada Khobbab –radhiallahu ‘nhu- apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca qiroah tatkala sholat dzuhur dan ashar?. Khobbab berkata : “Iya”. Kami berkata, “Bagaimana caranya kalian mengetahui bahwa Nabi membaca?”, Khobbab berkata, “Dengan gerakan jenggot beliau” (HR Al-Bukhari 760)Demikian juga Nabi Harun ‘alaihis salam, Allah berfirman :قَالَ يَبۡنَؤُمَّ لَا تَأۡخُذۡ بِلِحۡيَتِي وَلَا بِرَأۡسِيٓۖ إِنِّي خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقۡتَ بَيۡنَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَلَمۡ تَرۡقُبۡ قَوۡلِيHarun berkata (kepada Nabi Musa) “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku” (QS Toha : 94)Ini dalil yang tegas bahwa jenggot Nabi Harun ‘alaihis salam panjang, sehingga bisa dipegang oleh Nabi Musa ‘alaihis salam.Ayat ini menunjukkan bahwa jenggot bukan ciri khas budaya Arab, bahkan para nabi dari kalangan bani Israil yang sama sekali bukan orang Arab juga berjenggot.Ketiga : Bahkan kita dapati kaum Nashrani juga tatkala menggambarkan nabi Isa ‘alaihis salaam (yang dianggap tuhan oleh mereka) ternyata selalu berjenggot. Apakah ini berarti bahwa kaum Nashrani sepakat bahwa “Tuhan mereka ternyata goblok?”, yang hal ini melazimkan bahwa kaum Nashrani pada goblok semua karena telah bersepakat untuk menjadikan orang goblok sebagai Tuhan !!Keempat : Anehnya ternyata para ulama –terutama Imam Asy-Syafi’i dan para ulama madzhab syafi’i, demikian juga madzhab-madzhab yang lain- telah ijmak (sepakat ) akan larangan mencukur jenggot hingga gundul habis. (silahkan baca https://firanda.com/index.php/artikel/fiqh/437-ajaran-ajaran-madzhab-syafi-i-yang-ditinggalkan-oleh-sebagian-pengikutnya)Maka berarti para ulama telah bersepakat untuk memelihara kegoblokan dan bersepakat untuk menghalangi kecerdasan. Karena menurut pak Kyai semakin habis jenggot semakin mendukung kecerdasan !!!Kelima : Tokoh-tokoh Nusantara pun banyak. Ada Muhammad Yasin Al-Fadani, Nawawi Al-Bantani, Agus Salim, Ahmad Dahlan, Buya Hamka, sampai KH. Hasyim Asy’ari – pendiri NU – juga berjenggot. Ya, mereka tetap memelihara jenggot meski jenggot mereka tidak selebat keturunan ArabKeenam :  Demikian juga banyak tokoh-tokoh non muslim yang berjenggot bahkan yang disembah, contohnya Khong hu cu dan Lao Tse.Demikian juga tokoh-tokoh ilmuan non muslim seperti James Parkinson (1755 –1824), William Edmond Logan (1798 –1875), Asa Gray (1810 – 1888), John Strong Newberry (1822 – 1892), John Tyndall (1820 – 1893), Alfred Bernhard Nobel (1833 – 1896), John Wesley Powell (1834 – 1902), Ludwig Eduard Boltzmann (1844 – 1906), Dmitri Ivanovich Mendeleev (1834 – 1907), Henry Clifton Sorby (1826 – 1908), Grove Karl Gilbert (1843 –1918), Pyotr Alexeyevich Kropotkin (1842 – 1921), Alexander Graham Bell (1847 – 1922), Wilhelm Conrad Röntgen (1845 – 1923), dan masih banyak lagi; ini semua adalah para ilmuwan non-Islam yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan berjenggot (baca http://abul-jauzaa.blogspot.com/2015/09/tragedi-banyolan-pak-kiyai.html)Ketujuh : Tokoh-tokoh Nusantara yang dianggap sangat cerdas oleh pak kyai karena tidak berjenggot, seperti Fulan, Fulan dan Fulan ternyata diantara mereka saking cerdasnya beraliran Liberal dan Pluralisme. Saking cerdasnya ada yang menyatakan jilbab tidak wajib dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak dijamin masuk surga. Atau ada yang menyatakan bahwa semua agama masuk surga (termasuk Yahudi dan Nashrani, Buda dan Hindu). Demikian juga ada yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah kitab porno dll??Inikah ukuran kecerdasan menurut pak Kiyai??Kedelapan : Sebenarnya pernyataan bahwa semakin panjang jenggot semakin goblok itu berdasarkan praduga ataukah berdasarkan disiplin ilmu tertentu, baik di bidang kedokteran, atau ahli saraf, atau ahli agama, atau ahli-ahli yang lainnya disertai penelitian, sensus, dan penjelasan ilmiah?.Adapun yang diriwayatkan dari sebagian ulama bahwasanya panjangnya jenggot adalah tanda kebodohan (sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam kitabnya “Akhbaar al-Hamqoo wa al-Mughoffalin)” maka :(1). Maksudnya yang dicela adalah jenggot yang terlalu panjang yang berlebihan, sehingga melebihi panjang ukuran genggaman tangan.Ibnu Jauzi rahimahullah berkata :قال زياد ابن ابيه : مَا زَادَتْ لِحْيَةُ رَجُلٍ عَلَى قَبْضَتِهِ إِلاَّ كَانَ مَا زَادَ فِيْهَا نَقْصًا مِنْ عَقْلِهِقال بعض الشعراء :إِذَا عَرِضَتْ لِلْفَتَى لِحْيَةٌ … وَطَالَتْ فَصَارَتْ إِلَى سُرَّتِهْفَنُقْصَانُ عَقْلِ الْفَتَى عِنْدَنَا …  بِمِقْدَارِ مَا زَادِ فِى لِحْيَتِهْ“Berkata Ziyad bin Abihi : “Tidaklah panjang jenggot seseorang melebihi ukuran genggaman tangannya kecuali kelebihan panjang tersebut semakin mengurangi akalnya”Sebagian penyair berkata :“Jika melebar jenggot seorang pemuda dan panjang hingga ke pusarnya…Maka di sisi kami kurangnya akal sang pemuda sesuai kadar apa yang lebih pada jenggotnya” (Akhbaar Al-Hamqoo wa al-Mughoffalin 32-33)(2) Lalu apakah pantas kita menjadikan perkataan segelintir kecil para ahli adab atau para ulama untuk menghukum hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?. Para ulama sendiri telah berselisih tentang memotong jenggot jika telah lebih panjang dari ukuran genggaman tangan. Dan yang dikuatkan oleh Al-Imam An-Nawawi adalah makruh memotong jenggot sedikitpun meskipun telah panjang melebihi ukuran genggaman tangan.Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :والصحيح كراهة الاخذ منها مطلقا بل يتركها على حالها كيف كانت، للحديث الصحيح واعفوا اللحي. وأما الحديث عمرو بن شعيب عن ابيه عن جده “ان النبي صلي الله عليه وسلم كان يأخذ من لحيته من عرضها وطولها” فرواه الترمذي باسناد ضعيف لا يحتج به“Yang benar adalah dibencinya perbuatan memangkas jenggot secara mutlak (meskipun jenggot telah panjang dan lebih dari segenggam tangan-pen), tapi harusnya ia membiarkan apa adanya, karena adanya hadits shohih “biarkanlah jenggot panjang“. Adapun haditsnya Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya: “bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dahulu mengambil jenggotnya dari sisi samping dan dari sisi panjangnya”, maka hadits ini telah diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dengan sanad yang lemah dan  tidak bisa dijadikan hujjah. (al-Majmu’ 1/343)Imam An-Nawawi juga berkata :والمختار ترك اللحية على حالها وألا يتعرض لها بتقصير شيء أصلا“Pendapat yang terpilih adalah membiarkan jenggot apa adanya, dan tidak dicukur sama sekali” (Al-Minhaaj Syarah Shohih Muslim, 3/151, hadits no: 260)(3) Apakah yang disebutkan dalam kitab Akhbaar Al-Hamqoo wal Mugaffaliin lantas dibenarkan dan dijadikan rujukan?Diantara sifat-sifat orang bodoh yang disebutkan dalam kitab tersebut adalah : 1. Kecilnya kepala, 2. Pendeknya leher, 3. Kecilnya telinga, 4. Jika bentuk tubuhnya tidak seimbang, 5. Mata yang besar, 6. Adanya rambut di pundak dan di leher, 7. Rambut di dada dan perut, 8. Leher yang panjang dan tipis, 9. Hidung besar, 10. Bibir tebal, 11.Wajah yang sangat bulat, 12. Suara yang indah.Coba kita pikirkan, seandainya kita membenarkan semua yang disebutkan dalam kitab Akhbaar Al-Hamqoo wal Mugoffaliin tentang sifat-sifat orang bodoh maka sungguh terlalu banyak orang bodoh diantara kita. Apalagi suara yang indah ciri orang bodoh? Sungguh terlalu banyak para imam, para muadzzin, para qori’ yang bodoh??!(4) Justru ternyata banyak ulama –terutama ulama madzhab Syafi’iyah- yang mencela orang yang mencukur habis jenggotnya !!.Ibnu Rif’ah rahimahullah berkata:إِنَّ الشَّافِعِي قد نص في الأم على تحريم حلق اللحيةSungguh Imam Syafi’i telah menegaskan dalam kitabnya Al-Umm, tentang haramnya menggundul jenggot. (Hasyiatul Abbadi ala Tuhfatil Muhtaj 9/376)Al-Halimi (wafat 403 H), beliau berkata dalam kitab beliau Al-Minhaaj :لا يحل لأحد أن يحلق لحيته ولا حاجبيه, وإن كان له أن يحلق سباله, لأن لحلقه فائدة, وهي أن لا يعلق به من دسم الطعام ورائحته ما يكره, بخلاف حلق اللحية, فإنه هجنة وشهرة وتشبه بالنساء“Tidak seorang pun dibolehkan memangkas habis jenggotnya, juga alisnya, meski ia boleh memangkas habis kumisnya. Karena memangkas habis kumis ada faedahnya, yakni agar lemak makanan dan bau tidak enaknya tidak tertinggal padanya. Berbeda dengan memangkas habis jenggot, karena itu termasuk (1) tindakan tercela, (2) syuhroh (tampil beda), dan (3) menyerupai wanita” (Sebagaimana dinukil oleh Ibnul Mulaqqin As-Syafi’I dalam kitab al-I’lam fi fawaaid Umdatil Ahkaam, terbitan Daarul ‘Aaashimah 1/711)Abul Hasan Al-Maawardi (wafat 450 H), ia berkata :نَتْفُ اللِّحْيَةِ مِنَ السَّفَهِ الذي تُرَدُّ به الشهادةImam al-Mawardi -rohimahulloh- mengatakan: Mencabuti jenggot merupakan perbuatan safah (bodoh) yang menyebabkan persaksian seseorang ditolak. (al-Hawil Kabir 17/151)Abu Hamid Al-Gozzali rahimahullah (wafat tahun 505 H0, beliau berkata :وأما نتفها في أول النبات تشبها بالمرد فمن المنكرات الكبار فإن اللحية زينة الرجال“Adapun mencabuti jenggot di awal munculnya, agar menyerupai orang yang tidak punya jenggot, maka ini termasuk kemungkaran yang besar, karena jenggot adalah penghias bagi laki-laki” (Ihya’ Ulumiddin 1/280)Abu Syaamah rahimahullah berkata :وقد حدث قوم يحلقون لحاهم, وهو أشد مما نقل عن المجوس أنهم كانوا يقصونها“Telah datang sekelompok kaum yang menggunduli jenggotnya, perbuatan mereka itu lebih parah dari apa yang dinukil dari kaum Majusi, bahwa mereka dulu memendekkannya”. (Fathul Bari 10/351)Kesembilan : Pak Kiyai sendiri disinyalir waktu masa muda pernah gagah berjenggot, apakah waktu itu pak Kiyai sedang “tidak cerdas”?,Kesepuluh : Jika pak Kiyai lebih memilih tidak berjenggot maka silahkan saja, tapi tentu tidak perlulah mengejek yang berjenggot dengan menyatakan mereka goblok.Saya tutup renungan ini dengan dua nasehat dari dua firman Allahيَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُواْ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلۡقِسۡطِۖ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَ‍َٔانُ قَوۡمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعۡدِلُواْۚ ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَHai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Al-Maidah : 8)يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٞ مِّن قَوۡمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُواْ خَيۡرٗا مِّنۡهُمۡ وَلَا نِسَآءٞ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيۡرٗا مِّنۡهُنَّۖHai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. (QS Al-Hujuraat : 11)Jangan kita mengejek orang lain dengan “goblok” karena bisa jadi kita lebih “goblok”. Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 01-12-1436 H / 15-09-2015 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.comSilahkan baca juga artikel “Nasehat DR Said Aqiel Siradj, MA untuk Ketua PBNU Kiyai Haji Said Aqiel Siradj“
Dunia Islam Indonesia dihebohkan dengan pernyataan Ketua PBNU Bpk Kiyai Sa’id Aqil Sirooj –semoga Allah memberi petunjuk kepadanya- bahwa “Berjenggot itu mengurangi kecerdasan seseorang. Semakin panjang jenggot, semakin goblok…!!”, silahkan simak ucapan pak kyai di bawah iniRenungkan poin-poin berikut :Pertama : Imam Ghozali berkata :وقال شريح القاضي : وَدِدْتُ أَنَّ لِي لَحْيَةً وَلَوْ بَعَشْرَةِ آلاَفٍ“Syuraih Al-Qoodhli berkata : “Aku berharap kalau aku memiliki jenggot, meskipun harus membayar 10 ribu dinar/dirham” (Ihyaa ‘Uluum ad-Diin 2/257)Al-Gozali juga berkata : قال أصحاب الأحنف بن قيس وددنا أن نشتري للأحنف لحية ولو بعشرين ألفًا“Para sahabat Al-Ahnaf bin Qois berkata, “Kami berangan-angan untuk membelikan jenggot buat Al-Ahnaf meskipun harus membayar 20 ribu dinar/dirham” (Ihyaa ‘Uluum ad-Diin 2/257)Para ulama yang tidak berjenggot dahulu ternyata berangan-angan untuk memiliki jenggot meskipun harus membayar mahal sekali !!!Apakah mereka begitu bodohnya harus membayar mahal untuk membeli “kegoblokan”??!Kedua : Sebenarnya kelaziman dari pernyataan pak Kiyai ini sungguh berbahaya karena terlalu banyak orang yang akan dianggap goblok menurut “Kaidah” pak Kiyai tersebut. Dan diantara daftar orang-orang goblok tersebut adalah para Nabi dan para ulama.Bukankah jenggot Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tebal?Jabir bin Samuroh berkata :وَكَانَ كَثِيْرَ شَعْرِ اللِّحْيَةِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lebat rambut janggutnya” (HR Muslim no 2344)Padahal kaidah pak Kiyai semakin berat jenggot semakin menimbulkan kebodohan, karena saraf tertarik ke bawah oleh lebatnya jenggot.Bahkan para sahabat mengetahui bacaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sholat sirriah dengan gerakan-gerakan jenggot beliau.عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ قَالَ سَأَلْنَا خَبَّابًا أَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ قَالَ نَعَمْ قُلْنَا بِأَيِّ شَيْءٍ كُنْتُمْ تَعْرِفُونَ قَالَ بِاضْطِرَابِ لِحْيَتِهِDari Abu Ma’mar ia berkata : Kami bertanya kepada Khobbab –radhiallahu ‘nhu- apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca qiroah tatkala sholat dzuhur dan ashar?. Khobbab berkata : “Iya”. Kami berkata, “Bagaimana caranya kalian mengetahui bahwa Nabi membaca?”, Khobbab berkata, “Dengan gerakan jenggot beliau” (HR Al-Bukhari 760)Demikian juga Nabi Harun ‘alaihis salam, Allah berfirman :قَالَ يَبۡنَؤُمَّ لَا تَأۡخُذۡ بِلِحۡيَتِي وَلَا بِرَأۡسِيٓۖ إِنِّي خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقۡتَ بَيۡنَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَلَمۡ تَرۡقُبۡ قَوۡلِيHarun berkata (kepada Nabi Musa) “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku” (QS Toha : 94)Ini dalil yang tegas bahwa jenggot Nabi Harun ‘alaihis salam panjang, sehingga bisa dipegang oleh Nabi Musa ‘alaihis salam.Ayat ini menunjukkan bahwa jenggot bukan ciri khas budaya Arab, bahkan para nabi dari kalangan bani Israil yang sama sekali bukan orang Arab juga berjenggot.Ketiga : Bahkan kita dapati kaum Nashrani juga tatkala menggambarkan nabi Isa ‘alaihis salaam (yang dianggap tuhan oleh mereka) ternyata selalu berjenggot. Apakah ini berarti bahwa kaum Nashrani sepakat bahwa “Tuhan mereka ternyata goblok?”, yang hal ini melazimkan bahwa kaum Nashrani pada goblok semua karena telah bersepakat untuk menjadikan orang goblok sebagai Tuhan !!Keempat : Anehnya ternyata para ulama –terutama Imam Asy-Syafi’i dan para ulama madzhab syafi’i, demikian juga madzhab-madzhab yang lain- telah ijmak (sepakat ) akan larangan mencukur jenggot hingga gundul habis. (silahkan baca https://firanda.com/index.php/artikel/fiqh/437-ajaran-ajaran-madzhab-syafi-i-yang-ditinggalkan-oleh-sebagian-pengikutnya)Maka berarti para ulama telah bersepakat untuk memelihara kegoblokan dan bersepakat untuk menghalangi kecerdasan. Karena menurut pak Kyai semakin habis jenggot semakin mendukung kecerdasan !!!Kelima : Tokoh-tokoh Nusantara pun banyak. Ada Muhammad Yasin Al-Fadani, Nawawi Al-Bantani, Agus Salim, Ahmad Dahlan, Buya Hamka, sampai KH. Hasyim Asy’ari – pendiri NU – juga berjenggot. Ya, mereka tetap memelihara jenggot meski jenggot mereka tidak selebat keturunan ArabKeenam :  Demikian juga banyak tokoh-tokoh non muslim yang berjenggot bahkan yang disembah, contohnya Khong hu cu dan Lao Tse.Demikian juga tokoh-tokoh ilmuan non muslim seperti James Parkinson (1755 –1824), William Edmond Logan (1798 –1875), Asa Gray (1810 – 1888), John Strong Newberry (1822 – 1892), John Tyndall (1820 – 1893), Alfred Bernhard Nobel (1833 – 1896), John Wesley Powell (1834 – 1902), Ludwig Eduard Boltzmann (1844 – 1906), Dmitri Ivanovich Mendeleev (1834 – 1907), Henry Clifton Sorby (1826 – 1908), Grove Karl Gilbert (1843 –1918), Pyotr Alexeyevich Kropotkin (1842 – 1921), Alexander Graham Bell (1847 – 1922), Wilhelm Conrad Röntgen (1845 – 1923), dan masih banyak lagi; ini semua adalah para ilmuwan non-Islam yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan berjenggot (baca http://abul-jauzaa.blogspot.com/2015/09/tragedi-banyolan-pak-kiyai.html)Ketujuh : Tokoh-tokoh Nusantara yang dianggap sangat cerdas oleh pak kyai karena tidak berjenggot, seperti Fulan, Fulan dan Fulan ternyata diantara mereka saking cerdasnya beraliran Liberal dan Pluralisme. Saking cerdasnya ada yang menyatakan jilbab tidak wajib dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak dijamin masuk surga. Atau ada yang menyatakan bahwa semua agama masuk surga (termasuk Yahudi dan Nashrani, Buda dan Hindu). Demikian juga ada yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah kitab porno dll??Inikah ukuran kecerdasan menurut pak Kiyai??Kedelapan : Sebenarnya pernyataan bahwa semakin panjang jenggot semakin goblok itu berdasarkan praduga ataukah berdasarkan disiplin ilmu tertentu, baik di bidang kedokteran, atau ahli saraf, atau ahli agama, atau ahli-ahli yang lainnya disertai penelitian, sensus, dan penjelasan ilmiah?.Adapun yang diriwayatkan dari sebagian ulama bahwasanya panjangnya jenggot adalah tanda kebodohan (sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam kitabnya “Akhbaar al-Hamqoo wa al-Mughoffalin)” maka :(1). Maksudnya yang dicela adalah jenggot yang terlalu panjang yang berlebihan, sehingga melebihi panjang ukuran genggaman tangan.Ibnu Jauzi rahimahullah berkata :قال زياد ابن ابيه : مَا زَادَتْ لِحْيَةُ رَجُلٍ عَلَى قَبْضَتِهِ إِلاَّ كَانَ مَا زَادَ فِيْهَا نَقْصًا مِنْ عَقْلِهِقال بعض الشعراء :إِذَا عَرِضَتْ لِلْفَتَى لِحْيَةٌ … وَطَالَتْ فَصَارَتْ إِلَى سُرَّتِهْفَنُقْصَانُ عَقْلِ الْفَتَى عِنْدَنَا …  بِمِقْدَارِ مَا زَادِ فِى لِحْيَتِهْ“Berkata Ziyad bin Abihi : “Tidaklah panjang jenggot seseorang melebihi ukuran genggaman tangannya kecuali kelebihan panjang tersebut semakin mengurangi akalnya”Sebagian penyair berkata :“Jika melebar jenggot seorang pemuda dan panjang hingga ke pusarnya…Maka di sisi kami kurangnya akal sang pemuda sesuai kadar apa yang lebih pada jenggotnya” (Akhbaar Al-Hamqoo wa al-Mughoffalin 32-33)(2) Lalu apakah pantas kita menjadikan perkataan segelintir kecil para ahli adab atau para ulama untuk menghukum hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?. Para ulama sendiri telah berselisih tentang memotong jenggot jika telah lebih panjang dari ukuran genggaman tangan. Dan yang dikuatkan oleh Al-Imam An-Nawawi adalah makruh memotong jenggot sedikitpun meskipun telah panjang melebihi ukuran genggaman tangan.Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :والصحيح كراهة الاخذ منها مطلقا بل يتركها على حالها كيف كانت، للحديث الصحيح واعفوا اللحي. وأما الحديث عمرو بن شعيب عن ابيه عن جده “ان النبي صلي الله عليه وسلم كان يأخذ من لحيته من عرضها وطولها” فرواه الترمذي باسناد ضعيف لا يحتج به“Yang benar adalah dibencinya perbuatan memangkas jenggot secara mutlak (meskipun jenggot telah panjang dan lebih dari segenggam tangan-pen), tapi harusnya ia membiarkan apa adanya, karena adanya hadits shohih “biarkanlah jenggot panjang“. Adapun haditsnya Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya: “bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dahulu mengambil jenggotnya dari sisi samping dan dari sisi panjangnya”, maka hadits ini telah diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dengan sanad yang lemah dan  tidak bisa dijadikan hujjah. (al-Majmu’ 1/343)Imam An-Nawawi juga berkata :والمختار ترك اللحية على حالها وألا يتعرض لها بتقصير شيء أصلا“Pendapat yang terpilih adalah membiarkan jenggot apa adanya, dan tidak dicukur sama sekali” (Al-Minhaaj Syarah Shohih Muslim, 3/151, hadits no: 260)(3) Apakah yang disebutkan dalam kitab Akhbaar Al-Hamqoo wal Mugaffaliin lantas dibenarkan dan dijadikan rujukan?Diantara sifat-sifat orang bodoh yang disebutkan dalam kitab tersebut adalah : 1. Kecilnya kepala, 2. Pendeknya leher, 3. Kecilnya telinga, 4. Jika bentuk tubuhnya tidak seimbang, 5. Mata yang besar, 6. Adanya rambut di pundak dan di leher, 7. Rambut di dada dan perut, 8. Leher yang panjang dan tipis, 9. Hidung besar, 10. Bibir tebal, 11.Wajah yang sangat bulat, 12. Suara yang indah.Coba kita pikirkan, seandainya kita membenarkan semua yang disebutkan dalam kitab Akhbaar Al-Hamqoo wal Mugoffaliin tentang sifat-sifat orang bodoh maka sungguh terlalu banyak orang bodoh diantara kita. Apalagi suara yang indah ciri orang bodoh? Sungguh terlalu banyak para imam, para muadzzin, para qori’ yang bodoh??!(4) Justru ternyata banyak ulama –terutama ulama madzhab Syafi’iyah- yang mencela orang yang mencukur habis jenggotnya !!.Ibnu Rif’ah rahimahullah berkata:إِنَّ الشَّافِعِي قد نص في الأم على تحريم حلق اللحيةSungguh Imam Syafi’i telah menegaskan dalam kitabnya Al-Umm, tentang haramnya menggundul jenggot. (Hasyiatul Abbadi ala Tuhfatil Muhtaj 9/376)Al-Halimi (wafat 403 H), beliau berkata dalam kitab beliau Al-Minhaaj :لا يحل لأحد أن يحلق لحيته ولا حاجبيه, وإن كان له أن يحلق سباله, لأن لحلقه فائدة, وهي أن لا يعلق به من دسم الطعام ورائحته ما يكره, بخلاف حلق اللحية, فإنه هجنة وشهرة وتشبه بالنساء“Tidak seorang pun dibolehkan memangkas habis jenggotnya, juga alisnya, meski ia boleh memangkas habis kumisnya. Karena memangkas habis kumis ada faedahnya, yakni agar lemak makanan dan bau tidak enaknya tidak tertinggal padanya. Berbeda dengan memangkas habis jenggot, karena itu termasuk (1) tindakan tercela, (2) syuhroh (tampil beda), dan (3) menyerupai wanita” (Sebagaimana dinukil oleh Ibnul Mulaqqin As-Syafi’I dalam kitab al-I’lam fi fawaaid Umdatil Ahkaam, terbitan Daarul ‘Aaashimah 1/711)Abul Hasan Al-Maawardi (wafat 450 H), ia berkata :نَتْفُ اللِّحْيَةِ مِنَ السَّفَهِ الذي تُرَدُّ به الشهادةImam al-Mawardi -rohimahulloh- mengatakan: Mencabuti jenggot merupakan perbuatan safah (bodoh) yang menyebabkan persaksian seseorang ditolak. (al-Hawil Kabir 17/151)Abu Hamid Al-Gozzali rahimahullah (wafat tahun 505 H0, beliau berkata :وأما نتفها في أول النبات تشبها بالمرد فمن المنكرات الكبار فإن اللحية زينة الرجال“Adapun mencabuti jenggot di awal munculnya, agar menyerupai orang yang tidak punya jenggot, maka ini termasuk kemungkaran yang besar, karena jenggot adalah penghias bagi laki-laki” (Ihya’ Ulumiddin 1/280)Abu Syaamah rahimahullah berkata :وقد حدث قوم يحلقون لحاهم, وهو أشد مما نقل عن المجوس أنهم كانوا يقصونها“Telah datang sekelompok kaum yang menggunduli jenggotnya, perbuatan mereka itu lebih parah dari apa yang dinukil dari kaum Majusi, bahwa mereka dulu memendekkannya”. (Fathul Bari 10/351)Kesembilan : Pak Kiyai sendiri disinyalir waktu masa muda pernah gagah berjenggot, apakah waktu itu pak Kiyai sedang “tidak cerdas”?,Kesepuluh : Jika pak Kiyai lebih memilih tidak berjenggot maka silahkan saja, tapi tentu tidak perlulah mengejek yang berjenggot dengan menyatakan mereka goblok.Saya tutup renungan ini dengan dua nasehat dari dua firman Allahيَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُواْ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلۡقِسۡطِۖ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَ‍َٔانُ قَوۡمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعۡدِلُواْۚ ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَHai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Al-Maidah : 8)يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٞ مِّن قَوۡمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُواْ خَيۡرٗا مِّنۡهُمۡ وَلَا نِسَآءٞ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيۡرٗا مِّنۡهُنَّۖHai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. (QS Al-Hujuraat : 11)Jangan kita mengejek orang lain dengan “goblok” karena bisa jadi kita lebih “goblok”. Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 01-12-1436 H / 15-09-2015 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.comSilahkan baca juga artikel “Nasehat DR Said Aqiel Siradj, MA untuk Ketua PBNU Kiyai Haji Said Aqiel Siradj“


Dunia Islam Indonesia dihebohkan dengan pernyataan Ketua PBNU Bpk Kiyai Sa’id Aqil Sirooj –semoga Allah memberi petunjuk kepadanya- bahwa “Berjenggot itu mengurangi kecerdasan seseorang. Semakin panjang jenggot, semakin goblok…!!”, silahkan simak ucapan pak kyai di bawah iniRenungkan poin-poin berikut :Pertama : Imam Ghozali berkata :وقال شريح القاضي : وَدِدْتُ أَنَّ لِي لَحْيَةً وَلَوْ بَعَشْرَةِ آلاَفٍ“Syuraih Al-Qoodhli berkata : “Aku berharap kalau aku memiliki jenggot, meskipun harus membayar 10 ribu dinar/dirham” (Ihyaa ‘Uluum ad-Diin 2/257)Al-Gozali juga berkata : قال أصحاب الأحنف بن قيس وددنا أن نشتري للأحنف لحية ولو بعشرين ألفًا“Para sahabat Al-Ahnaf bin Qois berkata, “Kami berangan-angan untuk membelikan jenggot buat Al-Ahnaf meskipun harus membayar 20 ribu dinar/dirham” (Ihyaa ‘Uluum ad-Diin 2/257)Para ulama yang tidak berjenggot dahulu ternyata berangan-angan untuk memiliki jenggot meskipun harus membayar mahal sekali !!!Apakah mereka begitu bodohnya harus membayar mahal untuk membeli “kegoblokan”??!Kedua : Sebenarnya kelaziman dari pernyataan pak Kiyai ini sungguh berbahaya karena terlalu banyak orang yang akan dianggap goblok menurut “Kaidah” pak Kiyai tersebut. Dan diantara daftar orang-orang goblok tersebut adalah para Nabi dan para ulama.Bukankah jenggot Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tebal?Jabir bin Samuroh berkata :وَكَانَ كَثِيْرَ شَعْرِ اللِّحْيَةِ“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lebat rambut janggutnya” (HR Muslim no 2344)Padahal kaidah pak Kiyai semakin berat jenggot semakin menimbulkan kebodohan, karena saraf tertarik ke bawah oleh lebatnya jenggot.Bahkan para sahabat mengetahui bacaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sholat sirriah dengan gerakan-gerakan jenggot beliau.عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ قَالَ سَأَلْنَا خَبَّابًا أَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ قَالَ نَعَمْ قُلْنَا بِأَيِّ شَيْءٍ كُنْتُمْ تَعْرِفُونَ قَالَ بِاضْطِرَابِ لِحْيَتِهِDari Abu Ma’mar ia berkata : Kami bertanya kepada Khobbab –radhiallahu ‘nhu- apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca qiroah tatkala sholat dzuhur dan ashar?. Khobbab berkata : “Iya”. Kami berkata, “Bagaimana caranya kalian mengetahui bahwa Nabi membaca?”, Khobbab berkata, “Dengan gerakan jenggot beliau” (HR Al-Bukhari 760)Demikian juga Nabi Harun ‘alaihis salam, Allah berfirman :قَالَ يَبۡنَؤُمَّ لَا تَأۡخُذۡ بِلِحۡيَتِي وَلَا بِرَأۡسِيٓۖ إِنِّي خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقۡتَ بَيۡنَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَلَمۡ تَرۡقُبۡ قَوۡلِيHarun berkata (kepada Nabi Musa) “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku” (QS Toha : 94)Ini dalil yang tegas bahwa jenggot Nabi Harun ‘alaihis salam panjang, sehingga bisa dipegang oleh Nabi Musa ‘alaihis salam.Ayat ini menunjukkan bahwa jenggot bukan ciri khas budaya Arab, bahkan para nabi dari kalangan bani Israil yang sama sekali bukan orang Arab juga berjenggot.Ketiga : Bahkan kita dapati kaum Nashrani juga tatkala menggambarkan nabi Isa ‘alaihis salaam (yang dianggap tuhan oleh mereka) ternyata selalu berjenggot. Apakah ini berarti bahwa kaum Nashrani sepakat bahwa “Tuhan mereka ternyata goblok?”, yang hal ini melazimkan bahwa kaum Nashrani pada goblok semua karena telah bersepakat untuk menjadikan orang goblok sebagai Tuhan !!Keempat : Anehnya ternyata para ulama –terutama Imam Asy-Syafi’i dan para ulama madzhab syafi’i, demikian juga madzhab-madzhab yang lain- telah ijmak (sepakat ) akan larangan mencukur jenggot hingga gundul habis. (silahkan baca https://firanda.com/index.php/artikel/fiqh/437-ajaran-ajaran-madzhab-syafi-i-yang-ditinggalkan-oleh-sebagian-pengikutnya)Maka berarti para ulama telah bersepakat untuk memelihara kegoblokan dan bersepakat untuk menghalangi kecerdasan. Karena menurut pak Kyai semakin habis jenggot semakin mendukung kecerdasan !!!Kelima : Tokoh-tokoh Nusantara pun banyak. Ada Muhammad Yasin Al-Fadani, Nawawi Al-Bantani, Agus Salim, Ahmad Dahlan, Buya Hamka, sampai KH. Hasyim Asy’ari – pendiri NU – juga berjenggot. Ya, mereka tetap memelihara jenggot meski jenggot mereka tidak selebat keturunan ArabKeenam :  Demikian juga banyak tokoh-tokoh non muslim yang berjenggot bahkan yang disembah, contohnya Khong hu cu dan Lao Tse.Demikian juga tokoh-tokoh ilmuan non muslim seperti James Parkinson (1755 –1824), William Edmond Logan (1798 –1875), Asa Gray (1810 – 1888), John Strong Newberry (1822 – 1892), John Tyndall (1820 – 1893), Alfred Bernhard Nobel (1833 – 1896), John Wesley Powell (1834 – 1902), Ludwig Eduard Boltzmann (1844 – 1906), Dmitri Ivanovich Mendeleev (1834 – 1907), Henry Clifton Sorby (1826 – 1908), Grove Karl Gilbert (1843 –1918), Pyotr Alexeyevich Kropotkin (1842 – 1921), Alexander Graham Bell (1847 – 1922), Wilhelm Conrad Röntgen (1845 – 1923), dan masih banyak lagi; ini semua adalah para ilmuwan non-Islam yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan berjenggot (baca http://abul-jauzaa.blogspot.com/2015/09/tragedi-banyolan-pak-kiyai.html)Ketujuh : Tokoh-tokoh Nusantara yang dianggap sangat cerdas oleh pak kyai karena tidak berjenggot, seperti Fulan, Fulan dan Fulan ternyata diantara mereka saking cerdasnya beraliran Liberal dan Pluralisme. Saking cerdasnya ada yang menyatakan jilbab tidak wajib dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak dijamin masuk surga. Atau ada yang menyatakan bahwa semua agama masuk surga (termasuk Yahudi dan Nashrani, Buda dan Hindu). Demikian juga ada yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah kitab porno dll??Inikah ukuran kecerdasan menurut pak Kiyai??Kedelapan : Sebenarnya pernyataan bahwa semakin panjang jenggot semakin goblok itu berdasarkan praduga ataukah berdasarkan disiplin ilmu tertentu, baik di bidang kedokteran, atau ahli saraf, atau ahli agama, atau ahli-ahli yang lainnya disertai penelitian, sensus, dan penjelasan ilmiah?.Adapun yang diriwayatkan dari sebagian ulama bahwasanya panjangnya jenggot adalah tanda kebodohan (sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam kitabnya “Akhbaar al-Hamqoo wa al-Mughoffalin)” maka :(1). Maksudnya yang dicela adalah jenggot yang terlalu panjang yang berlebihan, sehingga melebihi panjang ukuran genggaman tangan.Ibnu Jauzi rahimahullah berkata :قال زياد ابن ابيه : مَا زَادَتْ لِحْيَةُ رَجُلٍ عَلَى قَبْضَتِهِ إِلاَّ كَانَ مَا زَادَ فِيْهَا نَقْصًا مِنْ عَقْلِهِقال بعض الشعراء :إِذَا عَرِضَتْ لِلْفَتَى لِحْيَةٌ … وَطَالَتْ فَصَارَتْ إِلَى سُرَّتِهْفَنُقْصَانُ عَقْلِ الْفَتَى عِنْدَنَا …  بِمِقْدَارِ مَا زَادِ فِى لِحْيَتِهْ“Berkata Ziyad bin Abihi : “Tidaklah panjang jenggot seseorang melebihi ukuran genggaman tangannya kecuali kelebihan panjang tersebut semakin mengurangi akalnya”Sebagian penyair berkata :“Jika melebar jenggot seorang pemuda dan panjang hingga ke pusarnya…Maka di sisi kami kurangnya akal sang pemuda sesuai kadar apa yang lebih pada jenggotnya” (Akhbaar Al-Hamqoo wa al-Mughoffalin 32-33)(2) Lalu apakah pantas kita menjadikan perkataan segelintir kecil para ahli adab atau para ulama untuk menghukum hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?. Para ulama sendiri telah berselisih tentang memotong jenggot jika telah lebih panjang dari ukuran genggaman tangan. Dan yang dikuatkan oleh Al-Imam An-Nawawi adalah makruh memotong jenggot sedikitpun meskipun telah panjang melebihi ukuran genggaman tangan.Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :والصحيح كراهة الاخذ منها مطلقا بل يتركها على حالها كيف كانت، للحديث الصحيح واعفوا اللحي. وأما الحديث عمرو بن شعيب عن ابيه عن جده “ان النبي صلي الله عليه وسلم كان يأخذ من لحيته من عرضها وطولها” فرواه الترمذي باسناد ضعيف لا يحتج به“Yang benar adalah dibencinya perbuatan memangkas jenggot secara mutlak (meskipun jenggot telah panjang dan lebih dari segenggam tangan-pen), tapi harusnya ia membiarkan apa adanya, karena adanya hadits shohih “biarkanlah jenggot panjang“. Adapun haditsnya Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya: “bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dahulu mengambil jenggotnya dari sisi samping dan dari sisi panjangnya”, maka hadits ini telah diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dengan sanad yang lemah dan  tidak bisa dijadikan hujjah. (al-Majmu’ 1/343)Imam An-Nawawi juga berkata :والمختار ترك اللحية على حالها وألا يتعرض لها بتقصير شيء أصلا“Pendapat yang terpilih adalah membiarkan jenggot apa adanya, dan tidak dicukur sama sekali” (Al-Minhaaj Syarah Shohih Muslim, 3/151, hadits no: 260)(3) Apakah yang disebutkan dalam kitab Akhbaar Al-Hamqoo wal Mugaffaliin lantas dibenarkan dan dijadikan rujukan?Diantara sifat-sifat orang bodoh yang disebutkan dalam kitab tersebut adalah : 1. Kecilnya kepala, 2. Pendeknya leher, 3. Kecilnya telinga, 4. Jika bentuk tubuhnya tidak seimbang, 5. Mata yang besar, 6. Adanya rambut di pundak dan di leher, 7. Rambut di dada dan perut, 8. Leher yang panjang dan tipis, 9. Hidung besar, 10. Bibir tebal, 11.Wajah yang sangat bulat, 12. Suara yang indah.Coba kita pikirkan, seandainya kita membenarkan semua yang disebutkan dalam kitab Akhbaar Al-Hamqoo wal Mugoffaliin tentang sifat-sifat orang bodoh maka sungguh terlalu banyak orang bodoh diantara kita. Apalagi suara yang indah ciri orang bodoh? Sungguh terlalu banyak para imam, para muadzzin, para qori’ yang bodoh??!(4) Justru ternyata banyak ulama –terutama ulama madzhab Syafi’iyah- yang mencela orang yang mencukur habis jenggotnya !!.Ibnu Rif’ah rahimahullah berkata:إِنَّ الشَّافِعِي قد نص في الأم على تحريم حلق اللحيةSungguh Imam Syafi’i telah menegaskan dalam kitabnya Al-Umm, tentang haramnya menggundul jenggot. (Hasyiatul Abbadi ala Tuhfatil Muhtaj 9/376)Al-Halimi (wafat 403 H), beliau berkata dalam kitab beliau Al-Minhaaj :لا يحل لأحد أن يحلق لحيته ولا حاجبيه, وإن كان له أن يحلق سباله, لأن لحلقه فائدة, وهي أن لا يعلق به من دسم الطعام ورائحته ما يكره, بخلاف حلق اللحية, فإنه هجنة وشهرة وتشبه بالنساء“Tidak seorang pun dibolehkan memangkas habis jenggotnya, juga alisnya, meski ia boleh memangkas habis kumisnya. Karena memangkas habis kumis ada faedahnya, yakni agar lemak makanan dan bau tidak enaknya tidak tertinggal padanya. Berbeda dengan memangkas habis jenggot, karena itu termasuk (1) tindakan tercela, (2) syuhroh (tampil beda), dan (3) menyerupai wanita” (Sebagaimana dinukil oleh Ibnul Mulaqqin As-Syafi’I dalam kitab al-I’lam fi fawaaid Umdatil Ahkaam, terbitan Daarul ‘Aaashimah 1/711)Abul Hasan Al-Maawardi (wafat 450 H), ia berkata :نَتْفُ اللِّحْيَةِ مِنَ السَّفَهِ الذي تُرَدُّ به الشهادةImam al-Mawardi -rohimahulloh- mengatakan: Mencabuti jenggot merupakan perbuatan safah (bodoh) yang menyebabkan persaksian seseorang ditolak. (al-Hawil Kabir 17/151)Abu Hamid Al-Gozzali rahimahullah (wafat tahun 505 H0, beliau berkata :وأما نتفها في أول النبات تشبها بالمرد فمن المنكرات الكبار فإن اللحية زينة الرجال“Adapun mencabuti jenggot di awal munculnya, agar menyerupai orang yang tidak punya jenggot, maka ini termasuk kemungkaran yang besar, karena jenggot adalah penghias bagi laki-laki” (Ihya’ Ulumiddin 1/280)Abu Syaamah rahimahullah berkata :وقد حدث قوم يحلقون لحاهم, وهو أشد مما نقل عن المجوس أنهم كانوا يقصونها“Telah datang sekelompok kaum yang menggunduli jenggotnya, perbuatan mereka itu lebih parah dari apa yang dinukil dari kaum Majusi, bahwa mereka dulu memendekkannya”. (Fathul Bari 10/351)Kesembilan : Pak Kiyai sendiri disinyalir waktu masa muda pernah gagah berjenggot, apakah waktu itu pak Kiyai sedang “tidak cerdas”?,Kesepuluh : Jika pak Kiyai lebih memilih tidak berjenggot maka silahkan saja, tapi tentu tidak perlulah mengejek yang berjenggot dengan menyatakan mereka goblok.Saya tutup renungan ini dengan dua nasehat dari dua firman Allahيَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُواْ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلۡقِسۡطِۖ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَ‍َٔانُ قَوۡمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعۡدِلُواْۚ ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَHai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Al-Maidah : 8)يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٞ مِّن قَوۡمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُواْ خَيۡرٗا مِّنۡهُمۡ وَلَا نِسَآءٞ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيۡرٗا مِّنۡهُنَّۖHai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. (QS Al-Hujuraat : 11)Jangan kita mengejek orang lain dengan “goblok” karena bisa jadi kita lebih “goblok”. Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 01-12-1436 H / 15-09-2015 MAbu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.comSilahkan baca juga artikel “Nasehat DR Said Aqiel Siradj, MA untuk Ketua PBNU Kiyai Haji Said Aqiel Siradj“

Malu Beramal

Ini kisah lima tahun silam (kira-kira), namun masih teringat hingga saat ini. Lebih-lebih ketika memasuki awal Dzulhijjah seperti saat ini selalu terkenang. Saat di kampus Teknik, King Saud University (Jami’ah Malik Su’ud), kami pernah datang lebih awal sebelum masuk waktu shalat Zhuhur di Musholla. Seperti biasa di musholla kampus berukuran 8 x 8 meter persegi akan dipenuhi oleh mahasiswa dan dosen saat waktu shalat. Kala itu musholla masih sepi. Di karpet hijau nan tebal, kami melangkah menuju shaf pertama. Biasanya kalau mahasiswa lain belum hadir, kami siap kumandangkan azan. Namun kadang, kami selalu kedahuluan. Karena mahasiswa lainnya saling berlomba siapakah yang lebih duluan dalam mengumandangkan azan. Kala itu, ketika menunggu waktu azan, ada seseorang dari jauh bertakbir keras, sambil melangkah masuk ke pintu Musholla. “Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaha illallah wallahu Akbar, Allahu akbar walillahil hamd.” Itu yang terus beliau ucapkan hingga masuk ke shaf depan. Ada yang komandoi kah? Tidak, ia seorang diri. Sejak dari ruang kantornya di lantai 2 terus bertakbir hingga masuk musholla di lantai 1. Beliau yang bertasbih ini adalah seorang dosen. Hanya seorang dosen teknik, bukan dosen agama. Namun ia berlihyah (berjenggot). Sudah amat makruf kalau beliau orang yang giat dalam ibadah. Kami tahu bahwa beliau berasal dari keluarga terhormat, dari keluarga besar Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yaitu keluarga ‘Alu Syaikh’.   Apa yang kami kagumi? Seorang dosen non-agama bisa paham ajaran Rasul seperti ini dan mempraktikannya. Jarang kita bertemu dengan dosen semacam itu di negeri kita. Tak tahulah, mungkin mereka tak kenal sunnah atau tak paham agama atau sedikitnya pengajaran sunnah di negeri ini. Namun banyak dosen yang kami temui terutama di Kampus Biru kami di Jogja, sudah mulai semangat menjalankan ajaran Rasul, entah karena banyak baca buku, buka website Islam (seperti Rumaysho.Com dan Muslim.Or.Id) bahkan sampai hadir di majelis ilmu seperti berbagai kajian di sekitar Pogung dan Karangbendo di Jogja. Walhamdulillah. Ini tanda bahwa pendidikan agama di Saudi Arabia sangat baik karena orang yang tidak sekolah agama secara khusus pun bisa paham ajaran Rasul. Kalau di negeri kita, lulusan pondok pesantren belum tentu kenal sunnah bahkan kadang ada yang penghina sunnah Rasul. Ajaran Rasul begitu menyebar di kalangan awam selain kalangan ulama dan tholabul ilmi di Saudi. Karena di Saudi Arabia, orang yang notabene kuliah umum pun berjenggot dan tak pernah absen dari shalat berjama’ah. Di negeri kita, orang yang berlihyah malah disebut ‘wong bodoh’. Aneh kan. Apa Rasul juga dapat disebut bodoh? Karena Rasul sendiri memerintahkan membiarkan jenggot apa adanya, bahkan keadaan beliau pun berjenggot. Orang Arab seperti dalam kisah ini tak pernah malu untuk berbuat kebaikan. Kalau kita malah malu tuk beramal karena takut dianggap aneh. Sehingga orang yang ingin memelihara jenggot pun MALU. Orang yang ingin bercelana Anti-Isbal pun MALU. Sama halnya dengan sunnah takbir mutlak ini di awal Dzulhijjah, MALU jika dikeraskan di jalan-jalan. Saat awal Dzulhijjah seperti sekarang ini, tak aneh di kalangan masyarakat Arab, terus perbanyak takbir. Takbir ini dikenal dengan takbir mutlak. Takbir tersebut seperti takbir hari raya dikumandangkan di mana pun dan kapan di awal-awal Dzulhijjah. Ajaran seperti ini bukan notabene ajaran fikih Hambali seperti di Saudi, namun juga termasuk ajaran ulama Syafi’iyah. Kita saja yang jarang baca dan tak tahu ilmunya yang mungkin anggap aneh. Bahkan ada riwayat yang mendukung pernyataan kami. Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10 hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir. Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah. (Dikeluarkan oleh Bukhari tanpa sanad (mu’allaq), pada Bab “Keutamaan beramal di hari tasyriq”) Beliau punya garis keturunan yang bagus namun tidak bergantung dengan nasabnya. Beda dengan di negeri kita, yang mengaku sebagai keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal baiknya nasab belum tentu menunjukkan baiknya. Lihat Abu Lahab yang menjadi keluarga dekat Nabi, malah kafir. Jadi siapa yang lambat amalnya, nasabnya tak mungkin mengejar keterlambatannya. وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ “Barangsiapa yang lamban amalnya, maka nasabnya tidak bisa mengejarnya” (HR. Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah). Satu point yang ingin kami tekankan, jangan MALU untuk beramal karena takut dinilai baik oleh orang. Karena siapa yang meninggalkan amalan karena manusia bukan karena Allah, sama saja ia terjatuh dalam RIYA’. Apa yang kami sebut ini telah dikatakan oleh Al-Fudhail bin Iyadh sebelumnya, تَرْكُ الْعَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ وَالْعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ “Meninggalkan amalan karena manusia termasuk riya’ dan beramal karena manusia termasuk syirik.” (Majmu’atul Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 23: 174). Moga jadi faedah berharga. Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a.   Rujukan: Meninggalkan Amalan Karena Manusia http://muslim.or.id/19718-meninggalkan-amalan-karena-manusi… Takbir di Awal Dzulhijjah https://rumaysho.com/8929-memperbanyak-takbir-di-awal-dzulhi… Pandangan Ulama Syafi’iyah Tentang Jenggot https://rumaysho.com/1742-ulama-syafiiyah-mengharamkan-meman… Walau Engkau Seorang Habib https://rumaysho.com/3597-walau-engkau-seorang-habib.html   Catatan kecil di Shubuh hari di perjalanan Panggang – Jogja: Selasa, 1 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan dzulhijjah ikhlas malu riya

Malu Beramal

Ini kisah lima tahun silam (kira-kira), namun masih teringat hingga saat ini. Lebih-lebih ketika memasuki awal Dzulhijjah seperti saat ini selalu terkenang. Saat di kampus Teknik, King Saud University (Jami’ah Malik Su’ud), kami pernah datang lebih awal sebelum masuk waktu shalat Zhuhur di Musholla. Seperti biasa di musholla kampus berukuran 8 x 8 meter persegi akan dipenuhi oleh mahasiswa dan dosen saat waktu shalat. Kala itu musholla masih sepi. Di karpet hijau nan tebal, kami melangkah menuju shaf pertama. Biasanya kalau mahasiswa lain belum hadir, kami siap kumandangkan azan. Namun kadang, kami selalu kedahuluan. Karena mahasiswa lainnya saling berlomba siapakah yang lebih duluan dalam mengumandangkan azan. Kala itu, ketika menunggu waktu azan, ada seseorang dari jauh bertakbir keras, sambil melangkah masuk ke pintu Musholla. “Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaha illallah wallahu Akbar, Allahu akbar walillahil hamd.” Itu yang terus beliau ucapkan hingga masuk ke shaf depan. Ada yang komandoi kah? Tidak, ia seorang diri. Sejak dari ruang kantornya di lantai 2 terus bertakbir hingga masuk musholla di lantai 1. Beliau yang bertasbih ini adalah seorang dosen. Hanya seorang dosen teknik, bukan dosen agama. Namun ia berlihyah (berjenggot). Sudah amat makruf kalau beliau orang yang giat dalam ibadah. Kami tahu bahwa beliau berasal dari keluarga terhormat, dari keluarga besar Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yaitu keluarga ‘Alu Syaikh’.   Apa yang kami kagumi? Seorang dosen non-agama bisa paham ajaran Rasul seperti ini dan mempraktikannya. Jarang kita bertemu dengan dosen semacam itu di negeri kita. Tak tahulah, mungkin mereka tak kenal sunnah atau tak paham agama atau sedikitnya pengajaran sunnah di negeri ini. Namun banyak dosen yang kami temui terutama di Kampus Biru kami di Jogja, sudah mulai semangat menjalankan ajaran Rasul, entah karena banyak baca buku, buka website Islam (seperti Rumaysho.Com dan Muslim.Or.Id) bahkan sampai hadir di majelis ilmu seperti berbagai kajian di sekitar Pogung dan Karangbendo di Jogja. Walhamdulillah. Ini tanda bahwa pendidikan agama di Saudi Arabia sangat baik karena orang yang tidak sekolah agama secara khusus pun bisa paham ajaran Rasul. Kalau di negeri kita, lulusan pondok pesantren belum tentu kenal sunnah bahkan kadang ada yang penghina sunnah Rasul. Ajaran Rasul begitu menyebar di kalangan awam selain kalangan ulama dan tholabul ilmi di Saudi. Karena di Saudi Arabia, orang yang notabene kuliah umum pun berjenggot dan tak pernah absen dari shalat berjama’ah. Di negeri kita, orang yang berlihyah malah disebut ‘wong bodoh’. Aneh kan. Apa Rasul juga dapat disebut bodoh? Karena Rasul sendiri memerintahkan membiarkan jenggot apa adanya, bahkan keadaan beliau pun berjenggot. Orang Arab seperti dalam kisah ini tak pernah malu untuk berbuat kebaikan. Kalau kita malah malu tuk beramal karena takut dianggap aneh. Sehingga orang yang ingin memelihara jenggot pun MALU. Orang yang ingin bercelana Anti-Isbal pun MALU. Sama halnya dengan sunnah takbir mutlak ini di awal Dzulhijjah, MALU jika dikeraskan di jalan-jalan. Saat awal Dzulhijjah seperti sekarang ini, tak aneh di kalangan masyarakat Arab, terus perbanyak takbir. Takbir ini dikenal dengan takbir mutlak. Takbir tersebut seperti takbir hari raya dikumandangkan di mana pun dan kapan di awal-awal Dzulhijjah. Ajaran seperti ini bukan notabene ajaran fikih Hambali seperti di Saudi, namun juga termasuk ajaran ulama Syafi’iyah. Kita saja yang jarang baca dan tak tahu ilmunya yang mungkin anggap aneh. Bahkan ada riwayat yang mendukung pernyataan kami. Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10 hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir. Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah. (Dikeluarkan oleh Bukhari tanpa sanad (mu’allaq), pada Bab “Keutamaan beramal di hari tasyriq”) Beliau punya garis keturunan yang bagus namun tidak bergantung dengan nasabnya. Beda dengan di negeri kita, yang mengaku sebagai keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal baiknya nasab belum tentu menunjukkan baiknya. Lihat Abu Lahab yang menjadi keluarga dekat Nabi, malah kafir. Jadi siapa yang lambat amalnya, nasabnya tak mungkin mengejar keterlambatannya. وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ “Barangsiapa yang lamban amalnya, maka nasabnya tidak bisa mengejarnya” (HR. Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah). Satu point yang ingin kami tekankan, jangan MALU untuk beramal karena takut dinilai baik oleh orang. Karena siapa yang meninggalkan amalan karena manusia bukan karena Allah, sama saja ia terjatuh dalam RIYA’. Apa yang kami sebut ini telah dikatakan oleh Al-Fudhail bin Iyadh sebelumnya, تَرْكُ الْعَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ وَالْعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ “Meninggalkan amalan karena manusia termasuk riya’ dan beramal karena manusia termasuk syirik.” (Majmu’atul Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 23: 174). Moga jadi faedah berharga. Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a.   Rujukan: Meninggalkan Amalan Karena Manusia http://muslim.or.id/19718-meninggalkan-amalan-karena-manusi… Takbir di Awal Dzulhijjah https://rumaysho.com/8929-memperbanyak-takbir-di-awal-dzulhi… Pandangan Ulama Syafi’iyah Tentang Jenggot https://rumaysho.com/1742-ulama-syafiiyah-mengharamkan-meman… Walau Engkau Seorang Habib https://rumaysho.com/3597-walau-engkau-seorang-habib.html   Catatan kecil di Shubuh hari di perjalanan Panggang – Jogja: Selasa, 1 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan dzulhijjah ikhlas malu riya
Ini kisah lima tahun silam (kira-kira), namun masih teringat hingga saat ini. Lebih-lebih ketika memasuki awal Dzulhijjah seperti saat ini selalu terkenang. Saat di kampus Teknik, King Saud University (Jami’ah Malik Su’ud), kami pernah datang lebih awal sebelum masuk waktu shalat Zhuhur di Musholla. Seperti biasa di musholla kampus berukuran 8 x 8 meter persegi akan dipenuhi oleh mahasiswa dan dosen saat waktu shalat. Kala itu musholla masih sepi. Di karpet hijau nan tebal, kami melangkah menuju shaf pertama. Biasanya kalau mahasiswa lain belum hadir, kami siap kumandangkan azan. Namun kadang, kami selalu kedahuluan. Karena mahasiswa lainnya saling berlomba siapakah yang lebih duluan dalam mengumandangkan azan. Kala itu, ketika menunggu waktu azan, ada seseorang dari jauh bertakbir keras, sambil melangkah masuk ke pintu Musholla. “Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaha illallah wallahu Akbar, Allahu akbar walillahil hamd.” Itu yang terus beliau ucapkan hingga masuk ke shaf depan. Ada yang komandoi kah? Tidak, ia seorang diri. Sejak dari ruang kantornya di lantai 2 terus bertakbir hingga masuk musholla di lantai 1. Beliau yang bertasbih ini adalah seorang dosen. Hanya seorang dosen teknik, bukan dosen agama. Namun ia berlihyah (berjenggot). Sudah amat makruf kalau beliau orang yang giat dalam ibadah. Kami tahu bahwa beliau berasal dari keluarga terhormat, dari keluarga besar Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yaitu keluarga ‘Alu Syaikh’.   Apa yang kami kagumi? Seorang dosen non-agama bisa paham ajaran Rasul seperti ini dan mempraktikannya. Jarang kita bertemu dengan dosen semacam itu di negeri kita. Tak tahulah, mungkin mereka tak kenal sunnah atau tak paham agama atau sedikitnya pengajaran sunnah di negeri ini. Namun banyak dosen yang kami temui terutama di Kampus Biru kami di Jogja, sudah mulai semangat menjalankan ajaran Rasul, entah karena banyak baca buku, buka website Islam (seperti Rumaysho.Com dan Muslim.Or.Id) bahkan sampai hadir di majelis ilmu seperti berbagai kajian di sekitar Pogung dan Karangbendo di Jogja. Walhamdulillah. Ini tanda bahwa pendidikan agama di Saudi Arabia sangat baik karena orang yang tidak sekolah agama secara khusus pun bisa paham ajaran Rasul. Kalau di negeri kita, lulusan pondok pesantren belum tentu kenal sunnah bahkan kadang ada yang penghina sunnah Rasul. Ajaran Rasul begitu menyebar di kalangan awam selain kalangan ulama dan tholabul ilmi di Saudi. Karena di Saudi Arabia, orang yang notabene kuliah umum pun berjenggot dan tak pernah absen dari shalat berjama’ah. Di negeri kita, orang yang berlihyah malah disebut ‘wong bodoh’. Aneh kan. Apa Rasul juga dapat disebut bodoh? Karena Rasul sendiri memerintahkan membiarkan jenggot apa adanya, bahkan keadaan beliau pun berjenggot. Orang Arab seperti dalam kisah ini tak pernah malu untuk berbuat kebaikan. Kalau kita malah malu tuk beramal karena takut dianggap aneh. Sehingga orang yang ingin memelihara jenggot pun MALU. Orang yang ingin bercelana Anti-Isbal pun MALU. Sama halnya dengan sunnah takbir mutlak ini di awal Dzulhijjah, MALU jika dikeraskan di jalan-jalan. Saat awal Dzulhijjah seperti sekarang ini, tak aneh di kalangan masyarakat Arab, terus perbanyak takbir. Takbir ini dikenal dengan takbir mutlak. Takbir tersebut seperti takbir hari raya dikumandangkan di mana pun dan kapan di awal-awal Dzulhijjah. Ajaran seperti ini bukan notabene ajaran fikih Hambali seperti di Saudi, namun juga termasuk ajaran ulama Syafi’iyah. Kita saja yang jarang baca dan tak tahu ilmunya yang mungkin anggap aneh. Bahkan ada riwayat yang mendukung pernyataan kami. Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10 hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir. Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah. (Dikeluarkan oleh Bukhari tanpa sanad (mu’allaq), pada Bab “Keutamaan beramal di hari tasyriq”) Beliau punya garis keturunan yang bagus namun tidak bergantung dengan nasabnya. Beda dengan di negeri kita, yang mengaku sebagai keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal baiknya nasab belum tentu menunjukkan baiknya. Lihat Abu Lahab yang menjadi keluarga dekat Nabi, malah kafir. Jadi siapa yang lambat amalnya, nasabnya tak mungkin mengejar keterlambatannya. وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ “Barangsiapa yang lamban amalnya, maka nasabnya tidak bisa mengejarnya” (HR. Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah). Satu point yang ingin kami tekankan, jangan MALU untuk beramal karena takut dinilai baik oleh orang. Karena siapa yang meninggalkan amalan karena manusia bukan karena Allah, sama saja ia terjatuh dalam RIYA’. Apa yang kami sebut ini telah dikatakan oleh Al-Fudhail bin Iyadh sebelumnya, تَرْكُ الْعَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ وَالْعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ “Meninggalkan amalan karena manusia termasuk riya’ dan beramal karena manusia termasuk syirik.” (Majmu’atul Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 23: 174). Moga jadi faedah berharga. Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a.   Rujukan: Meninggalkan Amalan Karena Manusia http://muslim.or.id/19718-meninggalkan-amalan-karena-manusi… Takbir di Awal Dzulhijjah https://rumaysho.com/8929-memperbanyak-takbir-di-awal-dzulhi… Pandangan Ulama Syafi’iyah Tentang Jenggot https://rumaysho.com/1742-ulama-syafiiyah-mengharamkan-meman… Walau Engkau Seorang Habib https://rumaysho.com/3597-walau-engkau-seorang-habib.html   Catatan kecil di Shubuh hari di perjalanan Panggang – Jogja: Selasa, 1 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan dzulhijjah ikhlas malu riya


Ini kisah lima tahun silam (kira-kira), namun masih teringat hingga saat ini. Lebih-lebih ketika memasuki awal Dzulhijjah seperti saat ini selalu terkenang. Saat di kampus Teknik, King Saud University (Jami’ah Malik Su’ud), kami pernah datang lebih awal sebelum masuk waktu shalat Zhuhur di Musholla. Seperti biasa di musholla kampus berukuran 8 x 8 meter persegi akan dipenuhi oleh mahasiswa dan dosen saat waktu shalat. Kala itu musholla masih sepi. Di karpet hijau nan tebal, kami melangkah menuju shaf pertama. Biasanya kalau mahasiswa lain belum hadir, kami siap kumandangkan azan. Namun kadang, kami selalu kedahuluan. Karena mahasiswa lainnya saling berlomba siapakah yang lebih duluan dalam mengumandangkan azan. Kala itu, ketika menunggu waktu azan, ada seseorang dari jauh bertakbir keras, sambil melangkah masuk ke pintu Musholla. “Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaha illallah wallahu Akbar, Allahu akbar walillahil hamd.” Itu yang terus beliau ucapkan hingga masuk ke shaf depan. Ada yang komandoi kah? Tidak, ia seorang diri. Sejak dari ruang kantornya di lantai 2 terus bertakbir hingga masuk musholla di lantai 1. Beliau yang bertasbih ini adalah seorang dosen. Hanya seorang dosen teknik, bukan dosen agama. Namun ia berlihyah (berjenggot). Sudah amat makruf kalau beliau orang yang giat dalam ibadah. Kami tahu bahwa beliau berasal dari keluarga terhormat, dari keluarga besar Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yaitu keluarga ‘Alu Syaikh’.   Apa yang kami kagumi? Seorang dosen non-agama bisa paham ajaran Rasul seperti ini dan mempraktikannya. Jarang kita bertemu dengan dosen semacam itu di negeri kita. Tak tahulah, mungkin mereka tak kenal sunnah atau tak paham agama atau sedikitnya pengajaran sunnah di negeri ini. Namun banyak dosen yang kami temui terutama di Kampus Biru kami di Jogja, sudah mulai semangat menjalankan ajaran Rasul, entah karena banyak baca buku, buka website Islam (seperti Rumaysho.Com dan Muslim.Or.Id) bahkan sampai hadir di majelis ilmu seperti berbagai kajian di sekitar Pogung dan Karangbendo di Jogja. Walhamdulillah. Ini tanda bahwa pendidikan agama di Saudi Arabia sangat baik karena orang yang tidak sekolah agama secara khusus pun bisa paham ajaran Rasul. Kalau di negeri kita, lulusan pondok pesantren belum tentu kenal sunnah bahkan kadang ada yang penghina sunnah Rasul. Ajaran Rasul begitu menyebar di kalangan awam selain kalangan ulama dan tholabul ilmi di Saudi. Karena di Saudi Arabia, orang yang notabene kuliah umum pun berjenggot dan tak pernah absen dari shalat berjama’ah. Di negeri kita, orang yang berlihyah malah disebut ‘wong bodoh’. Aneh kan. Apa Rasul juga dapat disebut bodoh? Karena Rasul sendiri memerintahkan membiarkan jenggot apa adanya, bahkan keadaan beliau pun berjenggot. Orang Arab seperti dalam kisah ini tak pernah malu untuk berbuat kebaikan. Kalau kita malah malu tuk beramal karena takut dianggap aneh. Sehingga orang yang ingin memelihara jenggot pun MALU. Orang yang ingin bercelana Anti-Isbal pun MALU. Sama halnya dengan sunnah takbir mutlak ini di awal Dzulhijjah, MALU jika dikeraskan di jalan-jalan. Saat awal Dzulhijjah seperti sekarang ini, tak aneh di kalangan masyarakat Arab, terus perbanyak takbir. Takbir ini dikenal dengan takbir mutlak. Takbir tersebut seperti takbir hari raya dikumandangkan di mana pun dan kapan di awal-awal Dzulhijjah. Ajaran seperti ini bukan notabene ajaran fikih Hambali seperti di Saudi, namun juga termasuk ajaran ulama Syafi’iyah. Kita saja yang jarang baca dan tak tahu ilmunya yang mungkin anggap aneh. Bahkan ada riwayat yang mendukung pernyataan kami. Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10 hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir. Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah. (Dikeluarkan oleh Bukhari tanpa sanad (mu’allaq), pada Bab “Keutamaan beramal di hari tasyriq”) Beliau punya garis keturunan yang bagus namun tidak bergantung dengan nasabnya. Beda dengan di negeri kita, yang mengaku sebagai keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal baiknya nasab belum tentu menunjukkan baiknya. Lihat Abu Lahab yang menjadi keluarga dekat Nabi, malah kafir. Jadi siapa yang lambat amalnya, nasabnya tak mungkin mengejar keterlambatannya. وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ “Barangsiapa yang lamban amalnya, maka nasabnya tidak bisa mengejarnya” (HR. Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah). Satu point yang ingin kami tekankan, jangan MALU untuk beramal karena takut dinilai baik oleh orang. Karena siapa yang meninggalkan amalan karena manusia bukan karena Allah, sama saja ia terjatuh dalam RIYA’. Apa yang kami sebut ini telah dikatakan oleh Al-Fudhail bin Iyadh sebelumnya, تَرْكُ الْعَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ وَالْعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ “Meninggalkan amalan karena manusia termasuk riya’ dan beramal karena manusia termasuk syirik.” (Majmu’atul Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 23: 174). Moga jadi faedah berharga. Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a.   Rujukan: Meninggalkan Amalan Karena Manusia http://muslim.or.id/19718-meninggalkan-amalan-karena-manusi… Takbir di Awal Dzulhijjah https://rumaysho.com/8929-memperbanyak-takbir-di-awal-dzulhi… Pandangan Ulama Syafi’iyah Tentang Jenggot https://rumaysho.com/1742-ulama-syafiiyah-mengharamkan-meman… Walau Engkau Seorang Habib https://rumaysho.com/3597-walau-engkau-seorang-habib.html   Catatan kecil di Shubuh hari di perjalanan Panggang – Jogja: Selasa, 1 Dzulhijjah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan dzulhijjah ikhlas malu riya

Rincian Amalan di Awal Dzulhijjah

Ini amalan-amalan yang bisa diamalkan oleh kaum muslimin yang tidak berhaji.   1 – 9 Dzulhijjah Puasa sunnah awal Dzulhijjah. Perbanyak takbir mutlak, tidak dibatasi waktu dan tempat. Boleh saat di pasar, di jalan, di kendaraan, di rumah, diperintahkan untuk terus bertakbir seperti layaknya takbiran hari raya. Perbanyak amalan shalih seperti sedekah. Larangan potong rambut dan kuku dari awal Dzulhijjah sampai hewan qurban disembelih.   9 Dzulhijjah Puasa Arafah. Perbanyak doa di hari Arafah karena sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.   9 Dzulhijjah Ba’da Shubuh Hingga Waktu Ashar pada Hari Tasyriq yang Terakhir (13 Dzulhijjah) Perbanyak takbir muqayyad, yaitu setelah shalat lima waktu maupun shalat sunnah. Baiknya tetap mendahululan dzikir setelah shalat kemudian perbanyak takbir. * Wanita diperintahkan melirihkan suara, sedangkan laki-laki mengeraskan suara takbir.   10 Dzulhijjah Shalat Idul Adha Penyembelihan qurban Tidak boleh puasa   Hari-Hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah) Penyembelihan qurban Tidak boleh puasa Perbanyak doa sapu jagad: Rabbana aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban naar.   1 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 15 September 2015 berdasarkan keputusan pemerintah RI.   Wallahu waliyyut taufiq, hanya Allah yang beri taufik dan kemudahan untuk mengamalkan amalan shalih di atas. Sekali SHARE ke yang lain, Anda dapat bagian pahala kebaikan. — Disusun 29 Dzulqa’dah 1436 H di Darush Sholihin, Panggang, GK Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan dzulhijjah

Rincian Amalan di Awal Dzulhijjah

Ini amalan-amalan yang bisa diamalkan oleh kaum muslimin yang tidak berhaji.   1 – 9 Dzulhijjah Puasa sunnah awal Dzulhijjah. Perbanyak takbir mutlak, tidak dibatasi waktu dan tempat. Boleh saat di pasar, di jalan, di kendaraan, di rumah, diperintahkan untuk terus bertakbir seperti layaknya takbiran hari raya. Perbanyak amalan shalih seperti sedekah. Larangan potong rambut dan kuku dari awal Dzulhijjah sampai hewan qurban disembelih.   9 Dzulhijjah Puasa Arafah. Perbanyak doa di hari Arafah karena sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.   9 Dzulhijjah Ba’da Shubuh Hingga Waktu Ashar pada Hari Tasyriq yang Terakhir (13 Dzulhijjah) Perbanyak takbir muqayyad, yaitu setelah shalat lima waktu maupun shalat sunnah. Baiknya tetap mendahululan dzikir setelah shalat kemudian perbanyak takbir. * Wanita diperintahkan melirihkan suara, sedangkan laki-laki mengeraskan suara takbir.   10 Dzulhijjah Shalat Idul Adha Penyembelihan qurban Tidak boleh puasa   Hari-Hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah) Penyembelihan qurban Tidak boleh puasa Perbanyak doa sapu jagad: Rabbana aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban naar.   1 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 15 September 2015 berdasarkan keputusan pemerintah RI.   Wallahu waliyyut taufiq, hanya Allah yang beri taufik dan kemudahan untuk mengamalkan amalan shalih di atas. Sekali SHARE ke yang lain, Anda dapat bagian pahala kebaikan. — Disusun 29 Dzulqa’dah 1436 H di Darush Sholihin, Panggang, GK Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan dzulhijjah
Ini amalan-amalan yang bisa diamalkan oleh kaum muslimin yang tidak berhaji.   1 – 9 Dzulhijjah Puasa sunnah awal Dzulhijjah. Perbanyak takbir mutlak, tidak dibatasi waktu dan tempat. Boleh saat di pasar, di jalan, di kendaraan, di rumah, diperintahkan untuk terus bertakbir seperti layaknya takbiran hari raya. Perbanyak amalan shalih seperti sedekah. Larangan potong rambut dan kuku dari awal Dzulhijjah sampai hewan qurban disembelih.   9 Dzulhijjah Puasa Arafah. Perbanyak doa di hari Arafah karena sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.   9 Dzulhijjah Ba’da Shubuh Hingga Waktu Ashar pada Hari Tasyriq yang Terakhir (13 Dzulhijjah) Perbanyak takbir muqayyad, yaitu setelah shalat lima waktu maupun shalat sunnah. Baiknya tetap mendahululan dzikir setelah shalat kemudian perbanyak takbir. * Wanita diperintahkan melirihkan suara, sedangkan laki-laki mengeraskan suara takbir.   10 Dzulhijjah Shalat Idul Adha Penyembelihan qurban Tidak boleh puasa   Hari-Hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah) Penyembelihan qurban Tidak boleh puasa Perbanyak doa sapu jagad: Rabbana aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban naar.   1 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 15 September 2015 berdasarkan keputusan pemerintah RI.   Wallahu waliyyut taufiq, hanya Allah yang beri taufik dan kemudahan untuk mengamalkan amalan shalih di atas. Sekali SHARE ke yang lain, Anda dapat bagian pahala kebaikan. — Disusun 29 Dzulqa’dah 1436 H di Darush Sholihin, Panggang, GK Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan dzulhijjah


Ini amalan-amalan yang bisa diamalkan oleh kaum muslimin yang tidak berhaji.   1 – 9 Dzulhijjah Puasa sunnah awal Dzulhijjah. Perbanyak takbir mutlak, tidak dibatasi waktu dan tempat. Boleh saat di pasar, di jalan, di kendaraan, di rumah, diperintahkan untuk terus bertakbir seperti layaknya takbiran hari raya. Perbanyak amalan shalih seperti sedekah. Larangan potong rambut dan kuku dari awal Dzulhijjah sampai hewan qurban disembelih.   9 Dzulhijjah Puasa Arafah. Perbanyak doa di hari Arafah karena sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.   9 Dzulhijjah Ba’da Shubuh Hingga Waktu Ashar pada Hari Tasyriq yang Terakhir (13 Dzulhijjah) Perbanyak takbir muqayyad, yaitu setelah shalat lima waktu maupun shalat sunnah. Baiknya tetap mendahululan dzikir setelah shalat kemudian perbanyak takbir. * Wanita diperintahkan melirihkan suara, sedangkan laki-laki mengeraskan suara takbir.   10 Dzulhijjah Shalat Idul Adha Penyembelihan qurban Tidak boleh puasa   Hari-Hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah) Penyembelihan qurban Tidak boleh puasa Perbanyak doa sapu jagad: Rabbana aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban naar.   1 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 15 September 2015 berdasarkan keputusan pemerintah RI.   Wallahu waliyyut taufiq, hanya Allah yang beri taufik dan kemudahan untuk mengamalkan amalan shalih di atas. Sekali SHARE ke yang lain, Anda dapat bagian pahala kebaikan. — Disusun 29 Dzulqa’dah 1436 H di Darush Sholihin, Panggang, GK Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsamalan dzulhijjah

Bukan Masalah Bila Idul Adha di Indonesia dan Arab Saudi Berbeda

Bukan masalah bila Idul Adha di Indonesia dan Arab Saudi berbeda, barangkali bisa terjadi tahun ini. Ini jawaban ilmiahnya.   Penglihatan Hilal Indonesia Jadi Rujukan Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ “Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan Sya’ban menjadi 30 hari).” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 1906 dan Muslim no. 1080). Hilal di negeri masing-masinglah yang jadi patokan, itulah maksud perintah hadits. Yang menguatkannya pula adalah riwayat dari Kuraib–, bahwa Ummu Fadhl bintu Al Harits pernah menyuruhnya untuk menemui Muawiyah di Syam, dalam rangka menyelesaikan suatu urusan. Kuraib melanjutkan kisahnya, setibanya di Syam, saya selesaikan urusan yang dititipkan Ummu Fadhl. Ketika itu masuk tanggal 1 Ramadhan dan saya masih di Syam. Saya melihat hilal malam jumat. Kemudian saya pulang ke Madinah. Setibanya di Madinah di akhir bulan, Ibnu Abbas bertanya kepadaku, “Kapan kalian melihat hilal?” tanya Ibnu Abbas. Kuraib menjawab, “Kami melihatnya malam Jumat.” “Kamu melihatnya sendiri?”, tanya Ibnu Abbas. “Ya, saya melihatnya dan penduduk yang ada di negeriku pun melihatnya. Mereka puasa dan Muawiyah pun puasa.” Jawab Kuraib. Ibnu Abbas menjelaskan, لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلاَ نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلاَثِينَ أَوْ نَرَاهُ “Kalau kami melihatnya malam Sabtu. Kami terus berpuasa, hingga kami selesaikan selama 30 hari atau kami melihat hilal Syawal.” Kuraib bertanya lagi, “Mengapa kalian tidak mengikuti rukyah Muawiyah dan puasanya Muawiyah?” Jawab Ibnu Abbas, لاَ هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- “Tidak, seperti ini yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kami.” (HR. Muslim no. 1087). Ini jadi dalil bahwa hilal di negeri kita tidak mesti sama dengan hilal Kerajaan Saudi Arabia, hilal lokal itulah yang berlaku. Kalau hilal negara lain terlalu dipaksakan berlaku di negeri ini, coba bayangkan bagaimana hal ini diterapkan di masa silam yang komunikasinya belum maju seperti saat ini. Tentu berita wukuf di Arafah sulit sampai ke negeri lain karena terkendalanya komunikasi. Syariat dulu dan syariat saat ini berlaku sama. Maka kesimpulan kami, hilal lokal lebih memudahkan kaum muslimin dalam menentukan moment penting mereka. Imam Nawawi rahimahullah membawakan judul untuk hadits Kuraib, “Setiap negeri memiliki penglihatan hilal secara tersendiri. Jika mereka melihat hilal, maka tidak berlaku untuk negeri lainnya.” Imam Nawawi rahimahullah juga menjelaskan, “Hadits Kuraib dari Ibnu ‘Abbas jadi dalil untuk judul yang disampaikan. Menurut pendapat yang kuat di kalangan Syafi’iyah, penglihatan rukyah (hilal) tidak berlaku secara umum. Akan tetapi berlaku khusus untuk orang-orang yang terdekat selama masih dalam jarak belum diqasharnya shalat.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 175). Namun sebagian ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa hilal internasionallah yang berlaku. Maksudnya, penglihatan hilal di suatu tempat berlaku pula untuk tempat lainnya. (Lihat Idem) Hadits berikut pun menunjukkan yang jadi patokan adalah hilal. Hilal yang berlaku adalah di negeri masing-masing. إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئً “Jika telah masuk 10 hari pertama dari Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian berkeinginan untuk berkurban, maka janganlah ia menyentuh (memotong) rambut kepala dan rambut badannya (diartikan oleh sebagian ulama: kuku) sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 1977) Karena larangan yang disebut dalam hadits berlaku jika sudah terlihat hilal Dzulhijjah, maka demikian pula untuk puasa Arafah berpatokan pada hilal dan bukan pada wukuf. Baca penjelasan lengkapnya di sini.   Bukan Masalah Bila Idul Adha di Indonesia dan Arab Saudi Berbeda Berikut kami cuma menukilkan penjelasan dari Prof. Thomas Djamaluddin, seorang pakar hisab di tanah air kita, di mana beliau selalu dijadikan rujukan dalam siding itsbat dari Kementrian Agama RI. Beliau pernah menerangkan 18 tahun lalu (tahun 1997) ketika terjadi perbedaan antara Idul Adha di Indonesia dan di Arab Saudi. Sebagai berikut keterangan beliau. Kejadian tahun 1411 H/1991 berulang lagi. Idul Adha di Indonesia dan di Arab Saudi berbeda hari. Pada tahun 1991 wukuf di Arafah terjadi pada 21 Juni 1991 dan Idul Adha di Arab Saudi jatuh pada 22 Juni 1991. Sedangkan di Indonesia Idul Adha jatuh pada 23 Juni 1991. Tahun ini Arab Saudi mengumumkan hari wukuf 9 Dzulhijjah jatuh pada 16 April 1997 dan Idul Adha jatuh pada 17 April 1997. Sedangkan di Indonesia Idul Adha akan jatuh pada 18 April. Menghadapi kenyataan itu biasanya timbul beberapa pertanyaan di masyarakat. Mengapa terjadi perbedaan hari Idul Adha? Mengapa Arab Saudi yang terletak di sebelah barat Indonesia bisa lebih dahulu merayakan Idul Adha? Dan kapankah puasa hari Arafah bagi masyarakat di Indonesia, 16 April atau 17 April? Bila mengetahui asal-usulnya, “perbedaan” itu sebenarnya semu belaka dan pertanyaan-pertanyaan itu sangat mudah terjawab.   Dua Garis Tanggal: Syamsiah dan Qamariyah Adanya dua sistem kalender yang kita anut, syamsiah (solar calendar) dan qamariyah (lunar calendar), menyebabkan kita akan menghadapi dua garis tanggal: garis tanggal syamsiah dan garis tanggal qamariyah. aris tanggal mesti ada karena bumi kita bulat sehingga perlu pembatas pergantian hari. Garis tanggal syamsiah ditentukan berdasarkan kesepakatan internasional yang menjadikan garis bujur 0 derajat melalui Greenwich dan garis bujur 180 derajat melalui lautan Pasifik. Di sebelah timur garis tanggal internasional tanggalnya lebih muda daripada yang di sebelah baratnya. Contoh yang paling baik adalah catatan sejarah penyerahan Jepang kepada tentara sekutu. Kejadiannya sama, tetapi buku-buku sejarah di Amerika menyebutnya penyerahan itu terjadi pada tanggal 14 Agustus 1945. Sedangkan buku-buku di Asia, termasuk di Indonesia, menyebutkan tanggal 15 Agustus 1945. Garis tanggal qamariyah pun sama sifatnya seperti garis tanggal internasional. Di sebelah timur garis tanggal qamariyah tanggalnya pun lebih muda dari pada di sebelah baratnya. Bedanya, garis tanggal qamariyah tidak tetap pada garis bujur tertentu. Posisinya selalu berubah setiap bulannya, tergantung posisi bulan dan matahari. Ada dua definisi yang saat ini digunakan dalam pembuatan garis tanggal qamariyah. Pertama, berdasarkan visibilitas hilal seperti yang dilakukan oleh IICP (International Islamic Calendar Programme, berpusat di Malaysia). Dan yang kedua, berdasarkan syarat minimal bulan di horizon pada saat matahari terbenam. Cara yang ke dua yang biasanya digunakan di Indonesia. Cara ini pun yang paling sederhana, namun cukup baik untuk menjadi kriteria pertama mengkonfirmasikan rukyatul hilal. Berdasarkan perhitungan cara yang ke dua, garis tanggal awal Dzulhijjah 1417/1997 melalui pantai barat Australia, pantai barat Sumatra, India, Kazakhstan, dan Rusia bagian barat. Dengan demikian garis tanggal ini memisahkan Arab Saudi dengan Indonesia. Adanya garis tanggal yang memisahkan Arab Saudi dan Indonesia itulah yang menyebabkan Idul Adha di Arab Saudi lebih dahulu (menurut kalender syamsiah) daripada di Indonesia. Pada hari Kamis 17 April di bagian barat garis tanggal itu (misalnya Arab Saudi) sudah memasuki 10 Dzulhijjah (Idul Adha) sedangkan di sebelah timurnya masih tanggal 9 Dzulhijjah. Ini analog dengan contoh penyerahan Jepang kepada tentara Sekutu tersebut di atas yang terjadi tanggal 15 Agustus 1945 menurut catatan di Asia, tetapi menurut catatan di Amerika. Hal ini terjadi karena adanya garis tanggal internasional yang memisahkannya. Perhitungan astronomis yang lebih rinci bisa membuktikan keadaan itu. Ijtimak 1 Dzulhijjah 1417 terjadi pada 7 April 1997 pukul 11:04 UT atau pukul 14:04 waktu Arab Saudi, pukul 18:04 WIB. Dengan kata lain, di Arab Saudi ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam (ijtima’ qablal ghurub) sedangkan di sebagian besar Indonesia saat itu matahari sudah terbenam. Jadi berdasarkan saat ijtimak itu saja dapat difahami bahwa masuknya awal Dzulhijjah di Arab Saudi lebih dahulu daripada di Indonesia. Bukti lain bisa ditunjukkan dengan menghitung saat matahari terbenam dan bulan terbenam. Hilal pada prinsipnya sudah wujud di ufuk barat bila saat bulan terbenam lebih lambat daripada saat matahari terbenam. Pada tanggal 7 April, di Mekkah matahari terbenam pukul 18:38 sedangkan bulan terbenam lebih lambat lagi, pukul 18:45. Sehingga 1 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 8 April dan Idul Adha jatuh pada 17 April 1997. Di Indonesia pada tanggal 7 April itu bulan terbenam lebih dahulu daripada matahari. Di Jakarta bulan terbenam pukul 17:54 sedangkan matahari terbenam pukul 17:55. Dan di Bandung bulan terbenam pukul 17:51 sedangkan matahari terbenam pukul 17:52. Bulan sudah di bawah ufuk pada saat matahari terbenam. Dengan demikian 1 Dzulhijjah jatuh pada 9 April dan Idul Adha jatuh pada 18 April 1997.   Ikut Wukuf di Arafah atau Ikut Penanggalan Hijriyah Indonesia? Wukuf di Arafah dilaksanakan pada 9 Dzulhijjah. Bagi umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji, pada hari Arafah itu disunahkan berpuasa. Menurut hadits Rasulullah SAW yang diceritakan Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, puasa hari Arafah akan menghapuskan dosa selama dua tahun, tahun yang berlalu dan tahun mendatang. Oleh karenanya puasa hari Arafah ini tergolong puasa sunah yang muakad (utama) sehingga banyak orang yang melaksanakannya. Mendengar pengumuman Arab Saudi bahwa wukuf di Arfah jatuh pada tanggal 16 April dan Idul Adha jatuh pada 17 April, mungkin banyak orang yang bimbang kapan mesti berpuasa hari Arafah. Hari Arafah adalah 9 Dzulhijjah. Di Indonesia, 9 Dzulhijjah jatuh pada 17 April. Tetapi orang akan bimbang bila berpuasa pada 17 April karena hari itu di Arab Saudi sudah Idul Adha. Menurut Nabi SAW, berpuasa pada hari raya haram hukumnya. Kalau begitu, ada yang berpendapat berpuasalah pada tanggal 16 April karena hari Arafah hanya ada di Arab Saudi, maka mengaculah pada Arab Saudi. Sepintas pendapat itu nampaknya benar. Kalau dikaji lebih lanjut sebenarnya pendapat itu keliru. Pola pikir seperti itu hanya terjadi bila kita merancukan sistem kalender syamsiah dengan sistem kalender qamariyah. Berpuasa hari Arafah di Indonesia pada tanggal 16 April berarti kita tunduk pada kesamaan tanggal syamsiah antara Arab Saudi dan Indonesia. Bukan pada ketentuan kalender qamariyah, 9 Dzulhijjah. Pada tanggal 16 April itu di Indonesia baru tanggal 8 Dzulhijjah. Ada satu prinsip yang harus diingat dalam penentuan waktu ibadah: penentuan secara lokal. Wukuf di Arafah ditentukan berdasarkan penentuan awal Dzulhijjah di Arab Saudi. Awal Ramadan ditentukan berdasarkan rukyatul hilal di masing-masing wilayah. Waktu salat ditentukan berdasarkan posisi matahari di masing-masing tempat. Demikian pula waktu untuk melakukan puasa-puasa sunah, termasuk puasa hari Arafah, 9 Dzulhijjah. Tidak bisa diganti menjadi tanggal 8 Dzulhijjah hanya karena alasan perbedaan tanggal syamsiahnya. Untuk menjawab masalah kapan mesti berpuasa, baiklah kita runtut perjalanan waktu berdasarkan peredaran bumi dengan berpegang pada keyakinan puasa Arafah tetap harus 9 Dzulhijjah. Bagi Muslim di Timur Tengah puasa Arafah mulai sejak fajar 16 April. Makin ke barat waktu fajar bergeser. Di Eropa Barat waktu fajar awal puasa kira-kira 3 jam sesudah di Arab Saudi, tetapi tetap tanggal 16 April. Makin ke barat lagi, di pantai barat Amerika Serikat waktu fajar awal puasa Arafah makin bergeser lagi, 11 jam setelah Arab Saudi. Saat itu orang di Arab Saudi sebentar lagi berbuka puasa. Tanggalnya tetap 16 April. Di Hawaii, puasa Arafah juga 16 April, tetapi fajar awal puasanya sekitar 13,5 jam setelah Arab Saudi. Bila diteruskan ke barat, di tengah lautan Pasifik ada garis tanggal internasional. Mau tidak mau sebutan 16 April harus diganti menjadi 17 April walaupun hanya berbeda beberapa jam dengan Hawaii. Awal puasa Arafah di Indonesia pun yang dilakukan sekitar 6,5 jam setelah fajar di Hawaii, dilakukan dengan sebutan tanggal yang berbeda hanya gara-gara melewati garis tanggal internasional. Di Indonesia puasa Arafah harus dilakukan pada 17 April 1997. Itulah tetap tanggal 9 Dzulhijjah, sama dengan tanggal qamariyah di Arab Saudi. Berdasarkan penalaran seperti itu pula, dalam konperensi kelender Islam internasional di Malaysia, ada salah satu panduan penting yang dirumuskan yang bisa menjadi pegangan bagi umat Islam dalam penentuan waktu ibadah. Panduan itu menyatakan bahwa dalam menentukan awal Ramadan atau awal bulan Islam lainnya, jangan mengacu pada wilayah yang di sebelah barat, tetapi mengacu pada wilayah di sebelah timur. Berdasarkan panduan itu, kita akan semakin yakin dan mempunyai alasan kuat untuk berpuasa Arafah pada 17 April, bukan mengikuti Arab Saudi yang berada di sebalah barat Indonesia yang berpuasa pada 16 April. Demikian nukilan dari tulisan Prof. Thomas Djamaluddin di blog beliau di sini.   Fatwa Ulama: Puasa Arafah dan Idul Adha Ikut Negeri Masing-Masing Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin juga mendapat pertanyaan sebagai berikut, “Jika terdapat perbedaan tentang penetapan hari Arafah disebabkan perbedaan mathla’ (tempat terbit bulan) hilal karena pengaruh perbedaan daerah. Apakah kami berpuasa mengikuti ru’yah negeri yang kami tinggali ataukah mengikuti ru’yah Haromain (dua tanah suci)?” Syaikh rahimahullah menjawab, “Permasalahan ini adalah turunan dari perselisihan ulama apakah hilal untuk seluruh dunia itu satu ataukah berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah. Pendapat yang benar, hilal itu berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah. (Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 20: 47-48). Baca Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin secara lengkap di sini. Kesimpulan dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, puasa Arafah mengikuti penanggalan atau penglihatan di negeri masing-masing dan tidak mesti mengikuti wukuf di Arafah. Begitu pula dalam Idul Adha, baiknya mengikuti negeri masing-masing. Kita harus berlapang dada karena para ulama berselisih pula dalam memberikan jawaban untuk masalah ini. Legowo itu lebih baik. Namun mengikuti keputusan pemerintah RI itu lebih baik karena mereka telah menjalankan sunnah Rasul. Kata para ulama, berdasarkan kesimpulan dari dalil, menentukan awal bulan Hijriyah adalah dengan dua cara: melihat (rukyah) hilal, bulan digenapkan jadi 30 hari. Pemerintah RI kita menempuh dua jalur ini. Adapun hisab tetap dilakukan, namun cuma sekedar alat bantu dan cara untuk menentukan kalender setahun. Sedangkan penglihatan hilal (rukyat), tetap jadi rujukan utama. Ingin ikuti sunnah Rasul?   Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul @ Pesantren Darush Sholihin, 29 Dzulqa’dah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagshilal puasa arafah

Bukan Masalah Bila Idul Adha di Indonesia dan Arab Saudi Berbeda

Bukan masalah bila Idul Adha di Indonesia dan Arab Saudi berbeda, barangkali bisa terjadi tahun ini. Ini jawaban ilmiahnya.   Penglihatan Hilal Indonesia Jadi Rujukan Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ “Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan Sya’ban menjadi 30 hari).” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 1906 dan Muslim no. 1080). Hilal di negeri masing-masinglah yang jadi patokan, itulah maksud perintah hadits. Yang menguatkannya pula adalah riwayat dari Kuraib–, bahwa Ummu Fadhl bintu Al Harits pernah menyuruhnya untuk menemui Muawiyah di Syam, dalam rangka menyelesaikan suatu urusan. Kuraib melanjutkan kisahnya, setibanya di Syam, saya selesaikan urusan yang dititipkan Ummu Fadhl. Ketika itu masuk tanggal 1 Ramadhan dan saya masih di Syam. Saya melihat hilal malam jumat. Kemudian saya pulang ke Madinah. Setibanya di Madinah di akhir bulan, Ibnu Abbas bertanya kepadaku, “Kapan kalian melihat hilal?” tanya Ibnu Abbas. Kuraib menjawab, “Kami melihatnya malam Jumat.” “Kamu melihatnya sendiri?”, tanya Ibnu Abbas. “Ya, saya melihatnya dan penduduk yang ada di negeriku pun melihatnya. Mereka puasa dan Muawiyah pun puasa.” Jawab Kuraib. Ibnu Abbas menjelaskan, لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلاَ نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلاَثِينَ أَوْ نَرَاهُ “Kalau kami melihatnya malam Sabtu. Kami terus berpuasa, hingga kami selesaikan selama 30 hari atau kami melihat hilal Syawal.” Kuraib bertanya lagi, “Mengapa kalian tidak mengikuti rukyah Muawiyah dan puasanya Muawiyah?” Jawab Ibnu Abbas, لاَ هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- “Tidak, seperti ini yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kami.” (HR. Muslim no. 1087). Ini jadi dalil bahwa hilal di negeri kita tidak mesti sama dengan hilal Kerajaan Saudi Arabia, hilal lokal itulah yang berlaku. Kalau hilal negara lain terlalu dipaksakan berlaku di negeri ini, coba bayangkan bagaimana hal ini diterapkan di masa silam yang komunikasinya belum maju seperti saat ini. Tentu berita wukuf di Arafah sulit sampai ke negeri lain karena terkendalanya komunikasi. Syariat dulu dan syariat saat ini berlaku sama. Maka kesimpulan kami, hilal lokal lebih memudahkan kaum muslimin dalam menentukan moment penting mereka. Imam Nawawi rahimahullah membawakan judul untuk hadits Kuraib, “Setiap negeri memiliki penglihatan hilal secara tersendiri. Jika mereka melihat hilal, maka tidak berlaku untuk negeri lainnya.” Imam Nawawi rahimahullah juga menjelaskan, “Hadits Kuraib dari Ibnu ‘Abbas jadi dalil untuk judul yang disampaikan. Menurut pendapat yang kuat di kalangan Syafi’iyah, penglihatan rukyah (hilal) tidak berlaku secara umum. Akan tetapi berlaku khusus untuk orang-orang yang terdekat selama masih dalam jarak belum diqasharnya shalat.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 175). Namun sebagian ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa hilal internasionallah yang berlaku. Maksudnya, penglihatan hilal di suatu tempat berlaku pula untuk tempat lainnya. (Lihat Idem) Hadits berikut pun menunjukkan yang jadi patokan adalah hilal. Hilal yang berlaku adalah di negeri masing-masing. إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئً “Jika telah masuk 10 hari pertama dari Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian berkeinginan untuk berkurban, maka janganlah ia menyentuh (memotong) rambut kepala dan rambut badannya (diartikan oleh sebagian ulama: kuku) sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 1977) Karena larangan yang disebut dalam hadits berlaku jika sudah terlihat hilal Dzulhijjah, maka demikian pula untuk puasa Arafah berpatokan pada hilal dan bukan pada wukuf. Baca penjelasan lengkapnya di sini.   Bukan Masalah Bila Idul Adha di Indonesia dan Arab Saudi Berbeda Berikut kami cuma menukilkan penjelasan dari Prof. Thomas Djamaluddin, seorang pakar hisab di tanah air kita, di mana beliau selalu dijadikan rujukan dalam siding itsbat dari Kementrian Agama RI. Beliau pernah menerangkan 18 tahun lalu (tahun 1997) ketika terjadi perbedaan antara Idul Adha di Indonesia dan di Arab Saudi. Sebagai berikut keterangan beliau. Kejadian tahun 1411 H/1991 berulang lagi. Idul Adha di Indonesia dan di Arab Saudi berbeda hari. Pada tahun 1991 wukuf di Arafah terjadi pada 21 Juni 1991 dan Idul Adha di Arab Saudi jatuh pada 22 Juni 1991. Sedangkan di Indonesia Idul Adha jatuh pada 23 Juni 1991. Tahun ini Arab Saudi mengumumkan hari wukuf 9 Dzulhijjah jatuh pada 16 April 1997 dan Idul Adha jatuh pada 17 April 1997. Sedangkan di Indonesia Idul Adha akan jatuh pada 18 April. Menghadapi kenyataan itu biasanya timbul beberapa pertanyaan di masyarakat. Mengapa terjadi perbedaan hari Idul Adha? Mengapa Arab Saudi yang terletak di sebelah barat Indonesia bisa lebih dahulu merayakan Idul Adha? Dan kapankah puasa hari Arafah bagi masyarakat di Indonesia, 16 April atau 17 April? Bila mengetahui asal-usulnya, “perbedaan” itu sebenarnya semu belaka dan pertanyaan-pertanyaan itu sangat mudah terjawab.   Dua Garis Tanggal: Syamsiah dan Qamariyah Adanya dua sistem kalender yang kita anut, syamsiah (solar calendar) dan qamariyah (lunar calendar), menyebabkan kita akan menghadapi dua garis tanggal: garis tanggal syamsiah dan garis tanggal qamariyah. aris tanggal mesti ada karena bumi kita bulat sehingga perlu pembatas pergantian hari. Garis tanggal syamsiah ditentukan berdasarkan kesepakatan internasional yang menjadikan garis bujur 0 derajat melalui Greenwich dan garis bujur 180 derajat melalui lautan Pasifik. Di sebelah timur garis tanggal internasional tanggalnya lebih muda daripada yang di sebelah baratnya. Contoh yang paling baik adalah catatan sejarah penyerahan Jepang kepada tentara sekutu. Kejadiannya sama, tetapi buku-buku sejarah di Amerika menyebutnya penyerahan itu terjadi pada tanggal 14 Agustus 1945. Sedangkan buku-buku di Asia, termasuk di Indonesia, menyebutkan tanggal 15 Agustus 1945. Garis tanggal qamariyah pun sama sifatnya seperti garis tanggal internasional. Di sebelah timur garis tanggal qamariyah tanggalnya pun lebih muda dari pada di sebelah baratnya. Bedanya, garis tanggal qamariyah tidak tetap pada garis bujur tertentu. Posisinya selalu berubah setiap bulannya, tergantung posisi bulan dan matahari. Ada dua definisi yang saat ini digunakan dalam pembuatan garis tanggal qamariyah. Pertama, berdasarkan visibilitas hilal seperti yang dilakukan oleh IICP (International Islamic Calendar Programme, berpusat di Malaysia). Dan yang kedua, berdasarkan syarat minimal bulan di horizon pada saat matahari terbenam. Cara yang ke dua yang biasanya digunakan di Indonesia. Cara ini pun yang paling sederhana, namun cukup baik untuk menjadi kriteria pertama mengkonfirmasikan rukyatul hilal. Berdasarkan perhitungan cara yang ke dua, garis tanggal awal Dzulhijjah 1417/1997 melalui pantai barat Australia, pantai barat Sumatra, India, Kazakhstan, dan Rusia bagian barat. Dengan demikian garis tanggal ini memisahkan Arab Saudi dengan Indonesia. Adanya garis tanggal yang memisahkan Arab Saudi dan Indonesia itulah yang menyebabkan Idul Adha di Arab Saudi lebih dahulu (menurut kalender syamsiah) daripada di Indonesia. Pada hari Kamis 17 April di bagian barat garis tanggal itu (misalnya Arab Saudi) sudah memasuki 10 Dzulhijjah (Idul Adha) sedangkan di sebelah timurnya masih tanggal 9 Dzulhijjah. Ini analog dengan contoh penyerahan Jepang kepada tentara Sekutu tersebut di atas yang terjadi tanggal 15 Agustus 1945 menurut catatan di Asia, tetapi menurut catatan di Amerika. Hal ini terjadi karena adanya garis tanggal internasional yang memisahkannya. Perhitungan astronomis yang lebih rinci bisa membuktikan keadaan itu. Ijtimak 1 Dzulhijjah 1417 terjadi pada 7 April 1997 pukul 11:04 UT atau pukul 14:04 waktu Arab Saudi, pukul 18:04 WIB. Dengan kata lain, di Arab Saudi ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam (ijtima’ qablal ghurub) sedangkan di sebagian besar Indonesia saat itu matahari sudah terbenam. Jadi berdasarkan saat ijtimak itu saja dapat difahami bahwa masuknya awal Dzulhijjah di Arab Saudi lebih dahulu daripada di Indonesia. Bukti lain bisa ditunjukkan dengan menghitung saat matahari terbenam dan bulan terbenam. Hilal pada prinsipnya sudah wujud di ufuk barat bila saat bulan terbenam lebih lambat daripada saat matahari terbenam. Pada tanggal 7 April, di Mekkah matahari terbenam pukul 18:38 sedangkan bulan terbenam lebih lambat lagi, pukul 18:45. Sehingga 1 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 8 April dan Idul Adha jatuh pada 17 April 1997. Di Indonesia pada tanggal 7 April itu bulan terbenam lebih dahulu daripada matahari. Di Jakarta bulan terbenam pukul 17:54 sedangkan matahari terbenam pukul 17:55. Dan di Bandung bulan terbenam pukul 17:51 sedangkan matahari terbenam pukul 17:52. Bulan sudah di bawah ufuk pada saat matahari terbenam. Dengan demikian 1 Dzulhijjah jatuh pada 9 April dan Idul Adha jatuh pada 18 April 1997.   Ikut Wukuf di Arafah atau Ikut Penanggalan Hijriyah Indonesia? Wukuf di Arafah dilaksanakan pada 9 Dzulhijjah. Bagi umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji, pada hari Arafah itu disunahkan berpuasa. Menurut hadits Rasulullah SAW yang diceritakan Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, puasa hari Arafah akan menghapuskan dosa selama dua tahun, tahun yang berlalu dan tahun mendatang. Oleh karenanya puasa hari Arafah ini tergolong puasa sunah yang muakad (utama) sehingga banyak orang yang melaksanakannya. Mendengar pengumuman Arab Saudi bahwa wukuf di Arfah jatuh pada tanggal 16 April dan Idul Adha jatuh pada 17 April, mungkin banyak orang yang bimbang kapan mesti berpuasa hari Arafah. Hari Arafah adalah 9 Dzulhijjah. Di Indonesia, 9 Dzulhijjah jatuh pada 17 April. Tetapi orang akan bimbang bila berpuasa pada 17 April karena hari itu di Arab Saudi sudah Idul Adha. Menurut Nabi SAW, berpuasa pada hari raya haram hukumnya. Kalau begitu, ada yang berpendapat berpuasalah pada tanggal 16 April karena hari Arafah hanya ada di Arab Saudi, maka mengaculah pada Arab Saudi. Sepintas pendapat itu nampaknya benar. Kalau dikaji lebih lanjut sebenarnya pendapat itu keliru. Pola pikir seperti itu hanya terjadi bila kita merancukan sistem kalender syamsiah dengan sistem kalender qamariyah. Berpuasa hari Arafah di Indonesia pada tanggal 16 April berarti kita tunduk pada kesamaan tanggal syamsiah antara Arab Saudi dan Indonesia. Bukan pada ketentuan kalender qamariyah, 9 Dzulhijjah. Pada tanggal 16 April itu di Indonesia baru tanggal 8 Dzulhijjah. Ada satu prinsip yang harus diingat dalam penentuan waktu ibadah: penentuan secara lokal. Wukuf di Arafah ditentukan berdasarkan penentuan awal Dzulhijjah di Arab Saudi. Awal Ramadan ditentukan berdasarkan rukyatul hilal di masing-masing wilayah. Waktu salat ditentukan berdasarkan posisi matahari di masing-masing tempat. Demikian pula waktu untuk melakukan puasa-puasa sunah, termasuk puasa hari Arafah, 9 Dzulhijjah. Tidak bisa diganti menjadi tanggal 8 Dzulhijjah hanya karena alasan perbedaan tanggal syamsiahnya. Untuk menjawab masalah kapan mesti berpuasa, baiklah kita runtut perjalanan waktu berdasarkan peredaran bumi dengan berpegang pada keyakinan puasa Arafah tetap harus 9 Dzulhijjah. Bagi Muslim di Timur Tengah puasa Arafah mulai sejak fajar 16 April. Makin ke barat waktu fajar bergeser. Di Eropa Barat waktu fajar awal puasa kira-kira 3 jam sesudah di Arab Saudi, tetapi tetap tanggal 16 April. Makin ke barat lagi, di pantai barat Amerika Serikat waktu fajar awal puasa Arafah makin bergeser lagi, 11 jam setelah Arab Saudi. Saat itu orang di Arab Saudi sebentar lagi berbuka puasa. Tanggalnya tetap 16 April. Di Hawaii, puasa Arafah juga 16 April, tetapi fajar awal puasanya sekitar 13,5 jam setelah Arab Saudi. Bila diteruskan ke barat, di tengah lautan Pasifik ada garis tanggal internasional. Mau tidak mau sebutan 16 April harus diganti menjadi 17 April walaupun hanya berbeda beberapa jam dengan Hawaii. Awal puasa Arafah di Indonesia pun yang dilakukan sekitar 6,5 jam setelah fajar di Hawaii, dilakukan dengan sebutan tanggal yang berbeda hanya gara-gara melewati garis tanggal internasional. Di Indonesia puasa Arafah harus dilakukan pada 17 April 1997. Itulah tetap tanggal 9 Dzulhijjah, sama dengan tanggal qamariyah di Arab Saudi. Berdasarkan penalaran seperti itu pula, dalam konperensi kelender Islam internasional di Malaysia, ada salah satu panduan penting yang dirumuskan yang bisa menjadi pegangan bagi umat Islam dalam penentuan waktu ibadah. Panduan itu menyatakan bahwa dalam menentukan awal Ramadan atau awal bulan Islam lainnya, jangan mengacu pada wilayah yang di sebelah barat, tetapi mengacu pada wilayah di sebelah timur. Berdasarkan panduan itu, kita akan semakin yakin dan mempunyai alasan kuat untuk berpuasa Arafah pada 17 April, bukan mengikuti Arab Saudi yang berada di sebalah barat Indonesia yang berpuasa pada 16 April. Demikian nukilan dari tulisan Prof. Thomas Djamaluddin di blog beliau di sini.   Fatwa Ulama: Puasa Arafah dan Idul Adha Ikut Negeri Masing-Masing Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin juga mendapat pertanyaan sebagai berikut, “Jika terdapat perbedaan tentang penetapan hari Arafah disebabkan perbedaan mathla’ (tempat terbit bulan) hilal karena pengaruh perbedaan daerah. Apakah kami berpuasa mengikuti ru’yah negeri yang kami tinggali ataukah mengikuti ru’yah Haromain (dua tanah suci)?” Syaikh rahimahullah menjawab, “Permasalahan ini adalah turunan dari perselisihan ulama apakah hilal untuk seluruh dunia itu satu ataukah berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah. Pendapat yang benar, hilal itu berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah. (Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 20: 47-48). Baca Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin secara lengkap di sini. Kesimpulan dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, puasa Arafah mengikuti penanggalan atau penglihatan di negeri masing-masing dan tidak mesti mengikuti wukuf di Arafah. Begitu pula dalam Idul Adha, baiknya mengikuti negeri masing-masing. Kita harus berlapang dada karena para ulama berselisih pula dalam memberikan jawaban untuk masalah ini. Legowo itu lebih baik. Namun mengikuti keputusan pemerintah RI itu lebih baik karena mereka telah menjalankan sunnah Rasul. Kata para ulama, berdasarkan kesimpulan dari dalil, menentukan awal bulan Hijriyah adalah dengan dua cara: melihat (rukyah) hilal, bulan digenapkan jadi 30 hari. Pemerintah RI kita menempuh dua jalur ini. Adapun hisab tetap dilakukan, namun cuma sekedar alat bantu dan cara untuk menentukan kalender setahun. Sedangkan penglihatan hilal (rukyat), tetap jadi rujukan utama. Ingin ikuti sunnah Rasul?   Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul @ Pesantren Darush Sholihin, 29 Dzulqa’dah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagshilal puasa arafah
Bukan masalah bila Idul Adha di Indonesia dan Arab Saudi berbeda, barangkali bisa terjadi tahun ini. Ini jawaban ilmiahnya.   Penglihatan Hilal Indonesia Jadi Rujukan Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ “Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan Sya’ban menjadi 30 hari).” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 1906 dan Muslim no. 1080). Hilal di negeri masing-masinglah yang jadi patokan, itulah maksud perintah hadits. Yang menguatkannya pula adalah riwayat dari Kuraib–, bahwa Ummu Fadhl bintu Al Harits pernah menyuruhnya untuk menemui Muawiyah di Syam, dalam rangka menyelesaikan suatu urusan. Kuraib melanjutkan kisahnya, setibanya di Syam, saya selesaikan urusan yang dititipkan Ummu Fadhl. Ketika itu masuk tanggal 1 Ramadhan dan saya masih di Syam. Saya melihat hilal malam jumat. Kemudian saya pulang ke Madinah. Setibanya di Madinah di akhir bulan, Ibnu Abbas bertanya kepadaku, “Kapan kalian melihat hilal?” tanya Ibnu Abbas. Kuraib menjawab, “Kami melihatnya malam Jumat.” “Kamu melihatnya sendiri?”, tanya Ibnu Abbas. “Ya, saya melihatnya dan penduduk yang ada di negeriku pun melihatnya. Mereka puasa dan Muawiyah pun puasa.” Jawab Kuraib. Ibnu Abbas menjelaskan, لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلاَ نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلاَثِينَ أَوْ نَرَاهُ “Kalau kami melihatnya malam Sabtu. Kami terus berpuasa, hingga kami selesaikan selama 30 hari atau kami melihat hilal Syawal.” Kuraib bertanya lagi, “Mengapa kalian tidak mengikuti rukyah Muawiyah dan puasanya Muawiyah?” Jawab Ibnu Abbas, لاَ هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- “Tidak, seperti ini yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kami.” (HR. Muslim no. 1087). Ini jadi dalil bahwa hilal di negeri kita tidak mesti sama dengan hilal Kerajaan Saudi Arabia, hilal lokal itulah yang berlaku. Kalau hilal negara lain terlalu dipaksakan berlaku di negeri ini, coba bayangkan bagaimana hal ini diterapkan di masa silam yang komunikasinya belum maju seperti saat ini. Tentu berita wukuf di Arafah sulit sampai ke negeri lain karena terkendalanya komunikasi. Syariat dulu dan syariat saat ini berlaku sama. Maka kesimpulan kami, hilal lokal lebih memudahkan kaum muslimin dalam menentukan moment penting mereka. Imam Nawawi rahimahullah membawakan judul untuk hadits Kuraib, “Setiap negeri memiliki penglihatan hilal secara tersendiri. Jika mereka melihat hilal, maka tidak berlaku untuk negeri lainnya.” Imam Nawawi rahimahullah juga menjelaskan, “Hadits Kuraib dari Ibnu ‘Abbas jadi dalil untuk judul yang disampaikan. Menurut pendapat yang kuat di kalangan Syafi’iyah, penglihatan rukyah (hilal) tidak berlaku secara umum. Akan tetapi berlaku khusus untuk orang-orang yang terdekat selama masih dalam jarak belum diqasharnya shalat.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 175). Namun sebagian ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa hilal internasionallah yang berlaku. Maksudnya, penglihatan hilal di suatu tempat berlaku pula untuk tempat lainnya. (Lihat Idem) Hadits berikut pun menunjukkan yang jadi patokan adalah hilal. Hilal yang berlaku adalah di negeri masing-masing. إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئً “Jika telah masuk 10 hari pertama dari Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian berkeinginan untuk berkurban, maka janganlah ia menyentuh (memotong) rambut kepala dan rambut badannya (diartikan oleh sebagian ulama: kuku) sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 1977) Karena larangan yang disebut dalam hadits berlaku jika sudah terlihat hilal Dzulhijjah, maka demikian pula untuk puasa Arafah berpatokan pada hilal dan bukan pada wukuf. Baca penjelasan lengkapnya di sini.   Bukan Masalah Bila Idul Adha di Indonesia dan Arab Saudi Berbeda Berikut kami cuma menukilkan penjelasan dari Prof. Thomas Djamaluddin, seorang pakar hisab di tanah air kita, di mana beliau selalu dijadikan rujukan dalam siding itsbat dari Kementrian Agama RI. Beliau pernah menerangkan 18 tahun lalu (tahun 1997) ketika terjadi perbedaan antara Idul Adha di Indonesia dan di Arab Saudi. Sebagai berikut keterangan beliau. Kejadian tahun 1411 H/1991 berulang lagi. Idul Adha di Indonesia dan di Arab Saudi berbeda hari. Pada tahun 1991 wukuf di Arafah terjadi pada 21 Juni 1991 dan Idul Adha di Arab Saudi jatuh pada 22 Juni 1991. Sedangkan di Indonesia Idul Adha jatuh pada 23 Juni 1991. Tahun ini Arab Saudi mengumumkan hari wukuf 9 Dzulhijjah jatuh pada 16 April 1997 dan Idul Adha jatuh pada 17 April 1997. Sedangkan di Indonesia Idul Adha akan jatuh pada 18 April. Menghadapi kenyataan itu biasanya timbul beberapa pertanyaan di masyarakat. Mengapa terjadi perbedaan hari Idul Adha? Mengapa Arab Saudi yang terletak di sebelah barat Indonesia bisa lebih dahulu merayakan Idul Adha? Dan kapankah puasa hari Arafah bagi masyarakat di Indonesia, 16 April atau 17 April? Bila mengetahui asal-usulnya, “perbedaan” itu sebenarnya semu belaka dan pertanyaan-pertanyaan itu sangat mudah terjawab.   Dua Garis Tanggal: Syamsiah dan Qamariyah Adanya dua sistem kalender yang kita anut, syamsiah (solar calendar) dan qamariyah (lunar calendar), menyebabkan kita akan menghadapi dua garis tanggal: garis tanggal syamsiah dan garis tanggal qamariyah. aris tanggal mesti ada karena bumi kita bulat sehingga perlu pembatas pergantian hari. Garis tanggal syamsiah ditentukan berdasarkan kesepakatan internasional yang menjadikan garis bujur 0 derajat melalui Greenwich dan garis bujur 180 derajat melalui lautan Pasifik. Di sebelah timur garis tanggal internasional tanggalnya lebih muda daripada yang di sebelah baratnya. Contoh yang paling baik adalah catatan sejarah penyerahan Jepang kepada tentara sekutu. Kejadiannya sama, tetapi buku-buku sejarah di Amerika menyebutnya penyerahan itu terjadi pada tanggal 14 Agustus 1945. Sedangkan buku-buku di Asia, termasuk di Indonesia, menyebutkan tanggal 15 Agustus 1945. Garis tanggal qamariyah pun sama sifatnya seperti garis tanggal internasional. Di sebelah timur garis tanggal qamariyah tanggalnya pun lebih muda dari pada di sebelah baratnya. Bedanya, garis tanggal qamariyah tidak tetap pada garis bujur tertentu. Posisinya selalu berubah setiap bulannya, tergantung posisi bulan dan matahari. Ada dua definisi yang saat ini digunakan dalam pembuatan garis tanggal qamariyah. Pertama, berdasarkan visibilitas hilal seperti yang dilakukan oleh IICP (International Islamic Calendar Programme, berpusat di Malaysia). Dan yang kedua, berdasarkan syarat minimal bulan di horizon pada saat matahari terbenam. Cara yang ke dua yang biasanya digunakan di Indonesia. Cara ini pun yang paling sederhana, namun cukup baik untuk menjadi kriteria pertama mengkonfirmasikan rukyatul hilal. Berdasarkan perhitungan cara yang ke dua, garis tanggal awal Dzulhijjah 1417/1997 melalui pantai barat Australia, pantai barat Sumatra, India, Kazakhstan, dan Rusia bagian barat. Dengan demikian garis tanggal ini memisahkan Arab Saudi dengan Indonesia. Adanya garis tanggal yang memisahkan Arab Saudi dan Indonesia itulah yang menyebabkan Idul Adha di Arab Saudi lebih dahulu (menurut kalender syamsiah) daripada di Indonesia. Pada hari Kamis 17 April di bagian barat garis tanggal itu (misalnya Arab Saudi) sudah memasuki 10 Dzulhijjah (Idul Adha) sedangkan di sebelah timurnya masih tanggal 9 Dzulhijjah. Ini analog dengan contoh penyerahan Jepang kepada tentara Sekutu tersebut di atas yang terjadi tanggal 15 Agustus 1945 menurut catatan di Asia, tetapi menurut catatan di Amerika. Hal ini terjadi karena adanya garis tanggal internasional yang memisahkannya. Perhitungan astronomis yang lebih rinci bisa membuktikan keadaan itu. Ijtimak 1 Dzulhijjah 1417 terjadi pada 7 April 1997 pukul 11:04 UT atau pukul 14:04 waktu Arab Saudi, pukul 18:04 WIB. Dengan kata lain, di Arab Saudi ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam (ijtima’ qablal ghurub) sedangkan di sebagian besar Indonesia saat itu matahari sudah terbenam. Jadi berdasarkan saat ijtimak itu saja dapat difahami bahwa masuknya awal Dzulhijjah di Arab Saudi lebih dahulu daripada di Indonesia. Bukti lain bisa ditunjukkan dengan menghitung saat matahari terbenam dan bulan terbenam. Hilal pada prinsipnya sudah wujud di ufuk barat bila saat bulan terbenam lebih lambat daripada saat matahari terbenam. Pada tanggal 7 April, di Mekkah matahari terbenam pukul 18:38 sedangkan bulan terbenam lebih lambat lagi, pukul 18:45. Sehingga 1 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 8 April dan Idul Adha jatuh pada 17 April 1997. Di Indonesia pada tanggal 7 April itu bulan terbenam lebih dahulu daripada matahari. Di Jakarta bulan terbenam pukul 17:54 sedangkan matahari terbenam pukul 17:55. Dan di Bandung bulan terbenam pukul 17:51 sedangkan matahari terbenam pukul 17:52. Bulan sudah di bawah ufuk pada saat matahari terbenam. Dengan demikian 1 Dzulhijjah jatuh pada 9 April dan Idul Adha jatuh pada 18 April 1997.   Ikut Wukuf di Arafah atau Ikut Penanggalan Hijriyah Indonesia? Wukuf di Arafah dilaksanakan pada 9 Dzulhijjah. Bagi umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji, pada hari Arafah itu disunahkan berpuasa. Menurut hadits Rasulullah SAW yang diceritakan Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, puasa hari Arafah akan menghapuskan dosa selama dua tahun, tahun yang berlalu dan tahun mendatang. Oleh karenanya puasa hari Arafah ini tergolong puasa sunah yang muakad (utama) sehingga banyak orang yang melaksanakannya. Mendengar pengumuman Arab Saudi bahwa wukuf di Arfah jatuh pada tanggal 16 April dan Idul Adha jatuh pada 17 April, mungkin banyak orang yang bimbang kapan mesti berpuasa hari Arafah. Hari Arafah adalah 9 Dzulhijjah. Di Indonesia, 9 Dzulhijjah jatuh pada 17 April. Tetapi orang akan bimbang bila berpuasa pada 17 April karena hari itu di Arab Saudi sudah Idul Adha. Menurut Nabi SAW, berpuasa pada hari raya haram hukumnya. Kalau begitu, ada yang berpendapat berpuasalah pada tanggal 16 April karena hari Arafah hanya ada di Arab Saudi, maka mengaculah pada Arab Saudi. Sepintas pendapat itu nampaknya benar. Kalau dikaji lebih lanjut sebenarnya pendapat itu keliru. Pola pikir seperti itu hanya terjadi bila kita merancukan sistem kalender syamsiah dengan sistem kalender qamariyah. Berpuasa hari Arafah di Indonesia pada tanggal 16 April berarti kita tunduk pada kesamaan tanggal syamsiah antara Arab Saudi dan Indonesia. Bukan pada ketentuan kalender qamariyah, 9 Dzulhijjah. Pada tanggal 16 April itu di Indonesia baru tanggal 8 Dzulhijjah. Ada satu prinsip yang harus diingat dalam penentuan waktu ibadah: penentuan secara lokal. Wukuf di Arafah ditentukan berdasarkan penentuan awal Dzulhijjah di Arab Saudi. Awal Ramadan ditentukan berdasarkan rukyatul hilal di masing-masing wilayah. Waktu salat ditentukan berdasarkan posisi matahari di masing-masing tempat. Demikian pula waktu untuk melakukan puasa-puasa sunah, termasuk puasa hari Arafah, 9 Dzulhijjah. Tidak bisa diganti menjadi tanggal 8 Dzulhijjah hanya karena alasan perbedaan tanggal syamsiahnya. Untuk menjawab masalah kapan mesti berpuasa, baiklah kita runtut perjalanan waktu berdasarkan peredaran bumi dengan berpegang pada keyakinan puasa Arafah tetap harus 9 Dzulhijjah. Bagi Muslim di Timur Tengah puasa Arafah mulai sejak fajar 16 April. Makin ke barat waktu fajar bergeser. Di Eropa Barat waktu fajar awal puasa kira-kira 3 jam sesudah di Arab Saudi, tetapi tetap tanggal 16 April. Makin ke barat lagi, di pantai barat Amerika Serikat waktu fajar awal puasa Arafah makin bergeser lagi, 11 jam setelah Arab Saudi. Saat itu orang di Arab Saudi sebentar lagi berbuka puasa. Tanggalnya tetap 16 April. Di Hawaii, puasa Arafah juga 16 April, tetapi fajar awal puasanya sekitar 13,5 jam setelah Arab Saudi. Bila diteruskan ke barat, di tengah lautan Pasifik ada garis tanggal internasional. Mau tidak mau sebutan 16 April harus diganti menjadi 17 April walaupun hanya berbeda beberapa jam dengan Hawaii. Awal puasa Arafah di Indonesia pun yang dilakukan sekitar 6,5 jam setelah fajar di Hawaii, dilakukan dengan sebutan tanggal yang berbeda hanya gara-gara melewati garis tanggal internasional. Di Indonesia puasa Arafah harus dilakukan pada 17 April 1997. Itulah tetap tanggal 9 Dzulhijjah, sama dengan tanggal qamariyah di Arab Saudi. Berdasarkan penalaran seperti itu pula, dalam konperensi kelender Islam internasional di Malaysia, ada salah satu panduan penting yang dirumuskan yang bisa menjadi pegangan bagi umat Islam dalam penentuan waktu ibadah. Panduan itu menyatakan bahwa dalam menentukan awal Ramadan atau awal bulan Islam lainnya, jangan mengacu pada wilayah yang di sebelah barat, tetapi mengacu pada wilayah di sebelah timur. Berdasarkan panduan itu, kita akan semakin yakin dan mempunyai alasan kuat untuk berpuasa Arafah pada 17 April, bukan mengikuti Arab Saudi yang berada di sebalah barat Indonesia yang berpuasa pada 16 April. Demikian nukilan dari tulisan Prof. Thomas Djamaluddin di blog beliau di sini.   Fatwa Ulama: Puasa Arafah dan Idul Adha Ikut Negeri Masing-Masing Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin juga mendapat pertanyaan sebagai berikut, “Jika terdapat perbedaan tentang penetapan hari Arafah disebabkan perbedaan mathla’ (tempat terbit bulan) hilal karena pengaruh perbedaan daerah. Apakah kami berpuasa mengikuti ru’yah negeri yang kami tinggali ataukah mengikuti ru’yah Haromain (dua tanah suci)?” Syaikh rahimahullah menjawab, “Permasalahan ini adalah turunan dari perselisihan ulama apakah hilal untuk seluruh dunia itu satu ataukah berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah. Pendapat yang benar, hilal itu berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah. (Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 20: 47-48). Baca Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin secara lengkap di sini. Kesimpulan dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, puasa Arafah mengikuti penanggalan atau penglihatan di negeri masing-masing dan tidak mesti mengikuti wukuf di Arafah. Begitu pula dalam Idul Adha, baiknya mengikuti negeri masing-masing. Kita harus berlapang dada karena para ulama berselisih pula dalam memberikan jawaban untuk masalah ini. Legowo itu lebih baik. Namun mengikuti keputusan pemerintah RI itu lebih baik karena mereka telah menjalankan sunnah Rasul. Kata para ulama, berdasarkan kesimpulan dari dalil, menentukan awal bulan Hijriyah adalah dengan dua cara: melihat (rukyah) hilal, bulan digenapkan jadi 30 hari. Pemerintah RI kita menempuh dua jalur ini. Adapun hisab tetap dilakukan, namun cuma sekedar alat bantu dan cara untuk menentukan kalender setahun. Sedangkan penglihatan hilal (rukyat), tetap jadi rujukan utama. Ingin ikuti sunnah Rasul?   Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul @ Pesantren Darush Sholihin, 29 Dzulqa’dah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagshilal puasa arafah


Bukan masalah bila Idul Adha di Indonesia dan Arab Saudi berbeda, barangkali bisa terjadi tahun ini. Ini jawaban ilmiahnya.   Penglihatan Hilal Indonesia Jadi Rujukan Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ “Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan Sya’ban menjadi 30 hari).” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 1906 dan Muslim no. 1080). Hilal di negeri masing-masinglah yang jadi patokan, itulah maksud perintah hadits. Yang menguatkannya pula adalah riwayat dari Kuraib–, bahwa Ummu Fadhl bintu Al Harits pernah menyuruhnya untuk menemui Muawiyah di Syam, dalam rangka menyelesaikan suatu urusan. Kuraib melanjutkan kisahnya, setibanya di Syam, saya selesaikan urusan yang dititipkan Ummu Fadhl. Ketika itu masuk tanggal 1 Ramadhan dan saya masih di Syam. Saya melihat hilal malam jumat. Kemudian saya pulang ke Madinah. Setibanya di Madinah di akhir bulan, Ibnu Abbas bertanya kepadaku, “Kapan kalian melihat hilal?” tanya Ibnu Abbas. Kuraib menjawab, “Kami melihatnya malam Jumat.” “Kamu melihatnya sendiri?”, tanya Ibnu Abbas. “Ya, saya melihatnya dan penduduk yang ada di negeriku pun melihatnya. Mereka puasa dan Muawiyah pun puasa.” Jawab Kuraib. Ibnu Abbas menjelaskan, لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلاَ نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلاَثِينَ أَوْ نَرَاهُ “Kalau kami melihatnya malam Sabtu. Kami terus berpuasa, hingga kami selesaikan selama 30 hari atau kami melihat hilal Syawal.” Kuraib bertanya lagi, “Mengapa kalian tidak mengikuti rukyah Muawiyah dan puasanya Muawiyah?” Jawab Ibnu Abbas, لاَ هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- “Tidak, seperti ini yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kami.” (HR. Muslim no. 1087). Ini jadi dalil bahwa hilal di negeri kita tidak mesti sama dengan hilal Kerajaan Saudi Arabia, hilal lokal itulah yang berlaku. Kalau hilal negara lain terlalu dipaksakan berlaku di negeri ini, coba bayangkan bagaimana hal ini diterapkan di masa silam yang komunikasinya belum maju seperti saat ini. Tentu berita wukuf di Arafah sulit sampai ke negeri lain karena terkendalanya komunikasi. Syariat dulu dan syariat saat ini berlaku sama. Maka kesimpulan kami, hilal lokal lebih memudahkan kaum muslimin dalam menentukan moment penting mereka. Imam Nawawi rahimahullah membawakan judul untuk hadits Kuraib, “Setiap negeri memiliki penglihatan hilal secara tersendiri. Jika mereka melihat hilal, maka tidak berlaku untuk negeri lainnya.” Imam Nawawi rahimahullah juga menjelaskan, “Hadits Kuraib dari Ibnu ‘Abbas jadi dalil untuk judul yang disampaikan. Menurut pendapat yang kuat di kalangan Syafi’iyah, penglihatan rukyah (hilal) tidak berlaku secara umum. Akan tetapi berlaku khusus untuk orang-orang yang terdekat selama masih dalam jarak belum diqasharnya shalat.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 175). Namun sebagian ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa hilal internasionallah yang berlaku. Maksudnya, penglihatan hilal di suatu tempat berlaku pula untuk tempat lainnya. (Lihat Idem) Hadits berikut pun menunjukkan yang jadi patokan adalah hilal. Hilal yang berlaku adalah di negeri masing-masing. إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئً “Jika telah masuk 10 hari pertama dari Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian berkeinginan untuk berkurban, maka janganlah ia menyentuh (memotong) rambut kepala dan rambut badannya (diartikan oleh sebagian ulama: kuku) sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 1977) Karena larangan yang disebut dalam hadits berlaku jika sudah terlihat hilal Dzulhijjah, maka demikian pula untuk puasa Arafah berpatokan pada hilal dan bukan pada wukuf. Baca penjelasan lengkapnya di sini.   Bukan Masalah Bila Idul Adha di Indonesia dan Arab Saudi Berbeda Berikut kami cuma menukilkan penjelasan dari Prof. Thomas Djamaluddin, seorang pakar hisab di tanah air kita, di mana beliau selalu dijadikan rujukan dalam siding itsbat dari Kementrian Agama RI. Beliau pernah menerangkan 18 tahun lalu (tahun 1997) ketika terjadi perbedaan antara Idul Adha di Indonesia dan di Arab Saudi. Sebagai berikut keterangan beliau. Kejadian tahun 1411 H/1991 berulang lagi. Idul Adha di Indonesia dan di Arab Saudi berbeda hari. Pada tahun 1991 wukuf di Arafah terjadi pada 21 Juni 1991 dan Idul Adha di Arab Saudi jatuh pada 22 Juni 1991. Sedangkan di Indonesia Idul Adha jatuh pada 23 Juni 1991. Tahun ini Arab Saudi mengumumkan hari wukuf 9 Dzulhijjah jatuh pada 16 April 1997 dan Idul Adha jatuh pada 17 April 1997. Sedangkan di Indonesia Idul Adha akan jatuh pada 18 April. Menghadapi kenyataan itu biasanya timbul beberapa pertanyaan di masyarakat. Mengapa terjadi perbedaan hari Idul Adha? Mengapa Arab Saudi yang terletak di sebelah barat Indonesia bisa lebih dahulu merayakan Idul Adha? Dan kapankah puasa hari Arafah bagi masyarakat di Indonesia, 16 April atau 17 April? Bila mengetahui asal-usulnya, “perbedaan” itu sebenarnya semu belaka dan pertanyaan-pertanyaan itu sangat mudah terjawab.   Dua Garis Tanggal: Syamsiah dan Qamariyah Adanya dua sistem kalender yang kita anut, syamsiah (solar calendar) dan qamariyah (lunar calendar), menyebabkan kita akan menghadapi dua garis tanggal: garis tanggal syamsiah dan garis tanggal qamariyah. aris tanggal mesti ada karena bumi kita bulat sehingga perlu pembatas pergantian hari. Garis tanggal syamsiah ditentukan berdasarkan kesepakatan internasional yang menjadikan garis bujur 0 derajat melalui Greenwich dan garis bujur 180 derajat melalui lautan Pasifik. Di sebelah timur garis tanggal internasional tanggalnya lebih muda daripada yang di sebelah baratnya. Contoh yang paling baik adalah catatan sejarah penyerahan Jepang kepada tentara sekutu. Kejadiannya sama, tetapi buku-buku sejarah di Amerika menyebutnya penyerahan itu terjadi pada tanggal 14 Agustus 1945. Sedangkan buku-buku di Asia, termasuk di Indonesia, menyebutkan tanggal 15 Agustus 1945. Garis tanggal qamariyah pun sama sifatnya seperti garis tanggal internasional. Di sebelah timur garis tanggal qamariyah tanggalnya pun lebih muda dari pada di sebelah baratnya. Bedanya, garis tanggal qamariyah tidak tetap pada garis bujur tertentu. Posisinya selalu berubah setiap bulannya, tergantung posisi bulan dan matahari. Ada dua definisi yang saat ini digunakan dalam pembuatan garis tanggal qamariyah. Pertama, berdasarkan visibilitas hilal seperti yang dilakukan oleh IICP (International Islamic Calendar Programme, berpusat di Malaysia). Dan yang kedua, berdasarkan syarat minimal bulan di horizon pada saat matahari terbenam. Cara yang ke dua yang biasanya digunakan di Indonesia. Cara ini pun yang paling sederhana, namun cukup baik untuk menjadi kriteria pertama mengkonfirmasikan rukyatul hilal. Berdasarkan perhitungan cara yang ke dua, garis tanggal awal Dzulhijjah 1417/1997 melalui pantai barat Australia, pantai barat Sumatra, India, Kazakhstan, dan Rusia bagian barat. Dengan demikian garis tanggal ini memisahkan Arab Saudi dengan Indonesia. Adanya garis tanggal yang memisahkan Arab Saudi dan Indonesia itulah yang menyebabkan Idul Adha di Arab Saudi lebih dahulu (menurut kalender syamsiah) daripada di Indonesia. Pada hari Kamis 17 April di bagian barat garis tanggal itu (misalnya Arab Saudi) sudah memasuki 10 Dzulhijjah (Idul Adha) sedangkan di sebelah timurnya masih tanggal 9 Dzulhijjah. Ini analog dengan contoh penyerahan Jepang kepada tentara Sekutu tersebut di atas yang terjadi tanggal 15 Agustus 1945 menurut catatan di Asia, tetapi menurut catatan di Amerika. Hal ini terjadi karena adanya garis tanggal internasional yang memisahkannya. Perhitungan astronomis yang lebih rinci bisa membuktikan keadaan itu. Ijtimak 1 Dzulhijjah 1417 terjadi pada 7 April 1997 pukul 11:04 UT atau pukul 14:04 waktu Arab Saudi, pukul 18:04 WIB. Dengan kata lain, di Arab Saudi ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam (ijtima’ qablal ghurub) sedangkan di sebagian besar Indonesia saat itu matahari sudah terbenam. Jadi berdasarkan saat ijtimak itu saja dapat difahami bahwa masuknya awal Dzulhijjah di Arab Saudi lebih dahulu daripada di Indonesia. Bukti lain bisa ditunjukkan dengan menghitung saat matahari terbenam dan bulan terbenam. Hilal pada prinsipnya sudah wujud di ufuk barat bila saat bulan terbenam lebih lambat daripada saat matahari terbenam. Pada tanggal 7 April, di Mekkah matahari terbenam pukul 18:38 sedangkan bulan terbenam lebih lambat lagi, pukul 18:45. Sehingga 1 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 8 April dan Idul Adha jatuh pada 17 April 1997. Di Indonesia pada tanggal 7 April itu bulan terbenam lebih dahulu daripada matahari. Di Jakarta bulan terbenam pukul 17:54 sedangkan matahari terbenam pukul 17:55. Dan di Bandung bulan terbenam pukul 17:51 sedangkan matahari terbenam pukul 17:52. Bulan sudah di bawah ufuk pada saat matahari terbenam. Dengan demikian 1 Dzulhijjah jatuh pada 9 April dan Idul Adha jatuh pada 18 April 1997.   Ikut Wukuf di Arafah atau Ikut Penanggalan Hijriyah Indonesia? Wukuf di Arafah dilaksanakan pada 9 Dzulhijjah. Bagi umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji, pada hari Arafah itu disunahkan berpuasa. Menurut hadits Rasulullah SAW yang diceritakan Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, puasa hari Arafah akan menghapuskan dosa selama dua tahun, tahun yang berlalu dan tahun mendatang. Oleh karenanya puasa hari Arafah ini tergolong puasa sunah yang muakad (utama) sehingga banyak orang yang melaksanakannya. Mendengar pengumuman Arab Saudi bahwa wukuf di Arfah jatuh pada tanggal 16 April dan Idul Adha jatuh pada 17 April, mungkin banyak orang yang bimbang kapan mesti berpuasa hari Arafah. Hari Arafah adalah 9 Dzulhijjah. Di Indonesia, 9 Dzulhijjah jatuh pada 17 April. Tetapi orang akan bimbang bila berpuasa pada 17 April karena hari itu di Arab Saudi sudah Idul Adha. Menurut Nabi SAW, berpuasa pada hari raya haram hukumnya. Kalau begitu, ada yang berpendapat berpuasalah pada tanggal 16 April karena hari Arafah hanya ada di Arab Saudi, maka mengaculah pada Arab Saudi. Sepintas pendapat itu nampaknya benar. Kalau dikaji lebih lanjut sebenarnya pendapat itu keliru. Pola pikir seperti itu hanya terjadi bila kita merancukan sistem kalender syamsiah dengan sistem kalender qamariyah. Berpuasa hari Arafah di Indonesia pada tanggal 16 April berarti kita tunduk pada kesamaan tanggal syamsiah antara Arab Saudi dan Indonesia. Bukan pada ketentuan kalender qamariyah, 9 Dzulhijjah. Pada tanggal 16 April itu di Indonesia baru tanggal 8 Dzulhijjah. Ada satu prinsip yang harus diingat dalam penentuan waktu ibadah: penentuan secara lokal. Wukuf di Arafah ditentukan berdasarkan penentuan awal Dzulhijjah di Arab Saudi. Awal Ramadan ditentukan berdasarkan rukyatul hilal di masing-masing wilayah. Waktu salat ditentukan berdasarkan posisi matahari di masing-masing tempat. Demikian pula waktu untuk melakukan puasa-puasa sunah, termasuk puasa hari Arafah, 9 Dzulhijjah. Tidak bisa diganti menjadi tanggal 8 Dzulhijjah hanya karena alasan perbedaan tanggal syamsiahnya. Untuk menjawab masalah kapan mesti berpuasa, baiklah kita runtut perjalanan waktu berdasarkan peredaran bumi dengan berpegang pada keyakinan puasa Arafah tetap harus 9 Dzulhijjah. Bagi Muslim di Timur Tengah puasa Arafah mulai sejak fajar 16 April. Makin ke barat waktu fajar bergeser. Di Eropa Barat waktu fajar awal puasa kira-kira 3 jam sesudah di Arab Saudi, tetapi tetap tanggal 16 April. Makin ke barat lagi, di pantai barat Amerika Serikat waktu fajar awal puasa Arafah makin bergeser lagi, 11 jam setelah Arab Saudi. Saat itu orang di Arab Saudi sebentar lagi berbuka puasa. Tanggalnya tetap 16 April. Di Hawaii, puasa Arafah juga 16 April, tetapi fajar awal puasanya sekitar 13,5 jam setelah Arab Saudi. Bila diteruskan ke barat, di tengah lautan Pasifik ada garis tanggal internasional. Mau tidak mau sebutan 16 April harus diganti menjadi 17 April walaupun hanya berbeda beberapa jam dengan Hawaii. Awal puasa Arafah di Indonesia pun yang dilakukan sekitar 6,5 jam setelah fajar di Hawaii, dilakukan dengan sebutan tanggal yang berbeda hanya gara-gara melewati garis tanggal internasional. Di Indonesia puasa Arafah harus dilakukan pada 17 April 1997. Itulah tetap tanggal 9 Dzulhijjah, sama dengan tanggal qamariyah di Arab Saudi. Berdasarkan penalaran seperti itu pula, dalam konperensi kelender Islam internasional di Malaysia, ada salah satu panduan penting yang dirumuskan yang bisa menjadi pegangan bagi umat Islam dalam penentuan waktu ibadah. Panduan itu menyatakan bahwa dalam menentukan awal Ramadan atau awal bulan Islam lainnya, jangan mengacu pada wilayah yang di sebelah barat, tetapi mengacu pada wilayah di sebelah timur. Berdasarkan panduan itu, kita akan semakin yakin dan mempunyai alasan kuat untuk berpuasa Arafah pada 17 April, bukan mengikuti Arab Saudi yang berada di sebalah barat Indonesia yang berpuasa pada 16 April. Demikian nukilan dari tulisan Prof. Thomas Djamaluddin di blog beliau di sini.   Fatwa Ulama: Puasa Arafah dan Idul Adha Ikut Negeri Masing-Masing Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin juga mendapat pertanyaan sebagai berikut, “Jika terdapat perbedaan tentang penetapan hari Arafah disebabkan perbedaan mathla’ (tempat terbit bulan) hilal karena pengaruh perbedaan daerah. Apakah kami berpuasa mengikuti ru’yah negeri yang kami tinggali ataukah mengikuti ru’yah Haromain (dua tanah suci)?” Syaikh rahimahullah menjawab, “Permasalahan ini adalah turunan dari perselisihan ulama apakah hilal untuk seluruh dunia itu satu ataukah berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah. Pendapat yang benar, hilal itu berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah. (Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 20: 47-48). Baca Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin secara lengkap di sini. Kesimpulan dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, puasa Arafah mengikuti penanggalan atau penglihatan di negeri masing-masing dan tidak mesti mengikuti wukuf di Arafah. Begitu pula dalam Idul Adha, baiknya mengikuti negeri masing-masing. Kita harus berlapang dada karena para ulama berselisih pula dalam memberikan jawaban untuk masalah ini. Legowo itu lebih baik. Namun mengikuti keputusan pemerintah RI itu lebih baik karena mereka telah menjalankan sunnah Rasul. Kata para ulama, berdasarkan kesimpulan dari dalil, menentukan awal bulan Hijriyah adalah dengan dua cara: melihat (rukyah) hilal, bulan digenapkan jadi 30 hari. Pemerintah RI kita menempuh dua jalur ini. Adapun hisab tetap dilakukan, namun cuma sekedar alat bantu dan cara untuk menentukan kalender setahun. Sedangkan penglihatan hilal (rukyat), tetap jadi rujukan utama. Ingin ikuti sunnah Rasul?   Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul @ Pesantren Darush Sholihin, 29 Dzulqa’dah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagshilal puasa arafah

Hadiah di Hari Lahir (15): Bolehkah Memakai Nama Nabi dan Malaikat?

Bolehkah memakai nama nabi dan malaikat untuk nama anak? Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Menurut madzhab kami (Syafi’i) dan madzhab kebanyakan ulama, boleh memakai nama Nabi dan nama malaikat –shalawat dan salam bagi mereka semua-. Dan tidak diketahui ada beda pendapat kecuali dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu yang melarang menggunakan nama-nama Nabi. Dari Al-Harits bin Miskin, ia memakruhkan menggunakan nama para malaikat. Imam Malik sendiri memakruhkan memakai nama Jibril dan Yasin. Dalil yang menunjukkan bolehnya memakai nama Nabi adalah Ibrahim dijadikan sebagai nama dari putera Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sahabat-sahabat Nabi pun dinamakan dengan nama para nabi ketika mereka hidup atau telah tiada. … Seperti itu tidak ada dalil yang melarangnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga hal itu tidaklah makruh.” (Al-Majmu’, 8: 253) Kesimpulan, boleh menamakan anak dengan nama nabi dan malaikat karena tidak ada dalil yang melarang. Wallahu a’lam. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab li Asy-Syairazy. Cetakan kedua, tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 28 Dzulqa’dah 1436 H Tagshadiah hari lahir pemberian nama

Hadiah di Hari Lahir (15): Bolehkah Memakai Nama Nabi dan Malaikat?

Bolehkah memakai nama nabi dan malaikat untuk nama anak? Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Menurut madzhab kami (Syafi’i) dan madzhab kebanyakan ulama, boleh memakai nama Nabi dan nama malaikat –shalawat dan salam bagi mereka semua-. Dan tidak diketahui ada beda pendapat kecuali dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu yang melarang menggunakan nama-nama Nabi. Dari Al-Harits bin Miskin, ia memakruhkan menggunakan nama para malaikat. Imam Malik sendiri memakruhkan memakai nama Jibril dan Yasin. Dalil yang menunjukkan bolehnya memakai nama Nabi adalah Ibrahim dijadikan sebagai nama dari putera Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sahabat-sahabat Nabi pun dinamakan dengan nama para nabi ketika mereka hidup atau telah tiada. … Seperti itu tidak ada dalil yang melarangnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga hal itu tidaklah makruh.” (Al-Majmu’, 8: 253) Kesimpulan, boleh menamakan anak dengan nama nabi dan malaikat karena tidak ada dalil yang melarang. Wallahu a’lam. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab li Asy-Syairazy. Cetakan kedua, tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 28 Dzulqa’dah 1436 H Tagshadiah hari lahir pemberian nama
Bolehkah memakai nama nabi dan malaikat untuk nama anak? Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Menurut madzhab kami (Syafi’i) dan madzhab kebanyakan ulama, boleh memakai nama Nabi dan nama malaikat –shalawat dan salam bagi mereka semua-. Dan tidak diketahui ada beda pendapat kecuali dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu yang melarang menggunakan nama-nama Nabi. Dari Al-Harits bin Miskin, ia memakruhkan menggunakan nama para malaikat. Imam Malik sendiri memakruhkan memakai nama Jibril dan Yasin. Dalil yang menunjukkan bolehnya memakai nama Nabi adalah Ibrahim dijadikan sebagai nama dari putera Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sahabat-sahabat Nabi pun dinamakan dengan nama para nabi ketika mereka hidup atau telah tiada. … Seperti itu tidak ada dalil yang melarangnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga hal itu tidaklah makruh.” (Al-Majmu’, 8: 253) Kesimpulan, boleh menamakan anak dengan nama nabi dan malaikat karena tidak ada dalil yang melarang. Wallahu a’lam. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab li Asy-Syairazy. Cetakan kedua, tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 28 Dzulqa’dah 1436 H Tagshadiah hari lahir pemberian nama


Bolehkah memakai nama nabi dan malaikat untuk nama anak? Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Menurut madzhab kami (Syafi’i) dan madzhab kebanyakan ulama, boleh memakai nama Nabi dan nama malaikat –shalawat dan salam bagi mereka semua-. Dan tidak diketahui ada beda pendapat kecuali dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu yang melarang menggunakan nama-nama Nabi. Dari Al-Harits bin Miskin, ia memakruhkan menggunakan nama para malaikat. Imam Malik sendiri memakruhkan memakai nama Jibril dan Yasin. Dalil yang menunjukkan bolehnya memakai nama Nabi adalah Ibrahim dijadikan sebagai nama dari putera Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sahabat-sahabat Nabi pun dinamakan dengan nama para nabi ketika mereka hidup atau telah tiada. … Seperti itu tidak ada dalil yang melarangnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga hal itu tidaklah makruh.” (Al-Majmu’, 8: 253) Kesimpulan, boleh menamakan anak dengan nama nabi dan malaikat karena tidak ada dalil yang melarang. Wallahu a’lam. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab li Asy-Syairazy. Cetakan kedua, tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 28 Dzulqa’dah 1436 H Tagshadiah hari lahir pemberian nama

Tebar Qurban untuk Daerah Kristenisasi Gunungkidul Hingga Ambon dan Flores Timur

Warak, 11 Dzulqa’dah 1436 H: Sepekan lalu Pesantren Darush Sholihin mengumumkan akan menyalurkan 100 qurban sapi ke daerah miskin dan daerah Kristenisasi di Gunungkidul sebagaimana info di sini. Karena banyak permintaan di daerah yang membutuhkan, kali ini qurban akan disalurkan hingga Ambon (bekas daerah konflik tahun 2000) dan Flores Timur (Solor Timur Selatan). Di mana yang kami sebutkan terakhir memang daerah miskin, kering dan sangat butuh uluran tangan kaum muslimin dalam hal qurban. Target untuk tebar qurban adalah 50 sapi, 50 kambing. Sudah terdata di Yayasan Darush Sholihin, 26 masjid akan disalurkan qurban sapi. Harga hewan qurban langsung dari peternak warga masyarakat masih relatif murah saat ini: Sapi: Rp.16.000.000,- per ekor untuk patungan 7 orang @ Rp.2.300.000,- Kambing: Rp.2.100.000,- sampai dengan Rp.3.500.000,- * Untuk Ambon dan Flores Timur, harga Sapi mulai dari Rp.9.000.000,- (relatif lebih murah dibanding di Jawa). Donasi untuk qurban Indonesia Timur sudah tutup. Infonya di sini. Bagi yang ingin berqurban, silakan disalurkan ke rekening Bank Syariah Mandiri (BSM) a/n Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Setelah itu kirim konfirmasi berupa SMS ke 082313950500: QurbanDS#nama shohibul qurban#alamat#no HP#bentuk qurban#bank tujuan transfer#tanggal transfer#besar transfer. Contoh: QurbanDS#Usman Tuasikal#Jayapura#08156807937#1/7 sapi#BSM#18 Agustus 2015#2.300.000.   Keterangan: Harga di atas mendekati Idul Adha bisa berubah. Penyembelihan qurban dilakukan pada hari pertama (Idul Adha) menunggu keputusan pemerintah (perkiraan Kamis, 24 September 2015). Biaya di atas sudah termasuk pengurusan penyembelihan qurban dan transport. Panitia atau Yayasan tidak mengambil untung untuk kegiatan ini, murni kegiatan sosial. Nomor HP dari shahibul qurban diperlukan untuk keperluan konfirmasi jika qurbannya telah disembelih pada hari H. Info qurban, silakan CALL, SMS, atau WA ke nomor: 0811 267791 (Mas Jarot) Mohon bantuan untuk dishare pada kaum muslimin lainnya. Laporan qurban terupdate bisa dilihat di sini.   Artikel yang penting untuk dibaca: Bolehnya Transfer Uang untuk Qurban di Daerah Lain. Laporan qurban tahun lalu: Qurban 1435 H dengan 20 ekor sapi, 142 ekor kambing. — Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Muhammad Abduh Tuasikal, MSc Info DarushSholihin.Com Tagskristenisasi tebar qurban

Tebar Qurban untuk Daerah Kristenisasi Gunungkidul Hingga Ambon dan Flores Timur

Warak, 11 Dzulqa’dah 1436 H: Sepekan lalu Pesantren Darush Sholihin mengumumkan akan menyalurkan 100 qurban sapi ke daerah miskin dan daerah Kristenisasi di Gunungkidul sebagaimana info di sini. Karena banyak permintaan di daerah yang membutuhkan, kali ini qurban akan disalurkan hingga Ambon (bekas daerah konflik tahun 2000) dan Flores Timur (Solor Timur Selatan). Di mana yang kami sebutkan terakhir memang daerah miskin, kering dan sangat butuh uluran tangan kaum muslimin dalam hal qurban. Target untuk tebar qurban adalah 50 sapi, 50 kambing. Sudah terdata di Yayasan Darush Sholihin, 26 masjid akan disalurkan qurban sapi. Harga hewan qurban langsung dari peternak warga masyarakat masih relatif murah saat ini: Sapi: Rp.16.000.000,- per ekor untuk patungan 7 orang @ Rp.2.300.000,- Kambing: Rp.2.100.000,- sampai dengan Rp.3.500.000,- * Untuk Ambon dan Flores Timur, harga Sapi mulai dari Rp.9.000.000,- (relatif lebih murah dibanding di Jawa). Donasi untuk qurban Indonesia Timur sudah tutup. Infonya di sini. Bagi yang ingin berqurban, silakan disalurkan ke rekening Bank Syariah Mandiri (BSM) a/n Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Setelah itu kirim konfirmasi berupa SMS ke 082313950500: QurbanDS#nama shohibul qurban#alamat#no HP#bentuk qurban#bank tujuan transfer#tanggal transfer#besar transfer. Contoh: QurbanDS#Usman Tuasikal#Jayapura#08156807937#1/7 sapi#BSM#18 Agustus 2015#2.300.000.   Keterangan: Harga di atas mendekati Idul Adha bisa berubah. Penyembelihan qurban dilakukan pada hari pertama (Idul Adha) menunggu keputusan pemerintah (perkiraan Kamis, 24 September 2015). Biaya di atas sudah termasuk pengurusan penyembelihan qurban dan transport. Panitia atau Yayasan tidak mengambil untung untuk kegiatan ini, murni kegiatan sosial. Nomor HP dari shahibul qurban diperlukan untuk keperluan konfirmasi jika qurbannya telah disembelih pada hari H. Info qurban, silakan CALL, SMS, atau WA ke nomor: 0811 267791 (Mas Jarot) Mohon bantuan untuk dishare pada kaum muslimin lainnya. Laporan qurban terupdate bisa dilihat di sini.   Artikel yang penting untuk dibaca: Bolehnya Transfer Uang untuk Qurban di Daerah Lain. Laporan qurban tahun lalu: Qurban 1435 H dengan 20 ekor sapi, 142 ekor kambing. — Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Muhammad Abduh Tuasikal, MSc Info DarushSholihin.Com Tagskristenisasi tebar qurban
Warak, 11 Dzulqa’dah 1436 H: Sepekan lalu Pesantren Darush Sholihin mengumumkan akan menyalurkan 100 qurban sapi ke daerah miskin dan daerah Kristenisasi di Gunungkidul sebagaimana info di sini. Karena banyak permintaan di daerah yang membutuhkan, kali ini qurban akan disalurkan hingga Ambon (bekas daerah konflik tahun 2000) dan Flores Timur (Solor Timur Selatan). Di mana yang kami sebutkan terakhir memang daerah miskin, kering dan sangat butuh uluran tangan kaum muslimin dalam hal qurban. Target untuk tebar qurban adalah 50 sapi, 50 kambing. Sudah terdata di Yayasan Darush Sholihin, 26 masjid akan disalurkan qurban sapi. Harga hewan qurban langsung dari peternak warga masyarakat masih relatif murah saat ini: Sapi: Rp.16.000.000,- per ekor untuk patungan 7 orang @ Rp.2.300.000,- Kambing: Rp.2.100.000,- sampai dengan Rp.3.500.000,- * Untuk Ambon dan Flores Timur, harga Sapi mulai dari Rp.9.000.000,- (relatif lebih murah dibanding di Jawa). Donasi untuk qurban Indonesia Timur sudah tutup. Infonya di sini. Bagi yang ingin berqurban, silakan disalurkan ke rekening Bank Syariah Mandiri (BSM) a/n Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Setelah itu kirim konfirmasi berupa SMS ke 082313950500: QurbanDS#nama shohibul qurban#alamat#no HP#bentuk qurban#bank tujuan transfer#tanggal transfer#besar transfer. Contoh: QurbanDS#Usman Tuasikal#Jayapura#08156807937#1/7 sapi#BSM#18 Agustus 2015#2.300.000.   Keterangan: Harga di atas mendekati Idul Adha bisa berubah. Penyembelihan qurban dilakukan pada hari pertama (Idul Adha) menunggu keputusan pemerintah (perkiraan Kamis, 24 September 2015). Biaya di atas sudah termasuk pengurusan penyembelihan qurban dan transport. Panitia atau Yayasan tidak mengambil untung untuk kegiatan ini, murni kegiatan sosial. Nomor HP dari shahibul qurban diperlukan untuk keperluan konfirmasi jika qurbannya telah disembelih pada hari H. Info qurban, silakan CALL, SMS, atau WA ke nomor: 0811 267791 (Mas Jarot) Mohon bantuan untuk dishare pada kaum muslimin lainnya. Laporan qurban terupdate bisa dilihat di sini.   Artikel yang penting untuk dibaca: Bolehnya Transfer Uang untuk Qurban di Daerah Lain. Laporan qurban tahun lalu: Qurban 1435 H dengan 20 ekor sapi, 142 ekor kambing. — Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Muhammad Abduh Tuasikal, MSc Info DarushSholihin.Com Tagskristenisasi tebar qurban


Warak, 11 Dzulqa’dah 1436 H: Sepekan lalu Pesantren Darush Sholihin mengumumkan akan menyalurkan 100 qurban sapi ke daerah miskin dan daerah Kristenisasi di Gunungkidul sebagaimana info di sini. Karena banyak permintaan di daerah yang membutuhkan, kali ini qurban akan disalurkan hingga Ambon (bekas daerah konflik tahun 2000) dan Flores Timur (Solor Timur Selatan). Di mana yang kami sebutkan terakhir memang daerah miskin, kering dan sangat butuh uluran tangan kaum muslimin dalam hal qurban. Target untuk tebar qurban adalah 50 sapi, 50 kambing. Sudah terdata di Yayasan Darush Sholihin, 26 masjid akan disalurkan qurban sapi. Harga hewan qurban langsung dari peternak warga masyarakat masih relatif murah saat ini: Sapi: Rp.16.000.000,- per ekor untuk patungan 7 orang @ Rp.2.300.000,- Kambing: Rp.2.100.000,- sampai dengan Rp.3.500.000,- * Untuk Ambon dan Flores Timur, harga Sapi mulai dari Rp.9.000.000,- (relatif lebih murah dibanding di Jawa). Donasi untuk qurban Indonesia Timur sudah tutup. Infonya di sini. Bagi yang ingin berqurban, silakan disalurkan ke rekening Bank Syariah Mandiri (BSM) a/n Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Setelah itu kirim konfirmasi berupa SMS ke 082313950500: QurbanDS#nama shohibul qurban#alamat#no HP#bentuk qurban#bank tujuan transfer#tanggal transfer#besar transfer. Contoh: QurbanDS#Usman Tuasikal#Jayapura#08156807937#1/7 sapi#BSM#18 Agustus 2015#2.300.000.   Keterangan: Harga di atas mendekati Idul Adha bisa berubah. Penyembelihan qurban dilakukan pada hari pertama (Idul Adha) menunggu keputusan pemerintah (perkiraan Kamis, 24 September 2015). Biaya di atas sudah termasuk pengurusan penyembelihan qurban dan transport. Panitia atau Yayasan tidak mengambil untung untuk kegiatan ini, murni kegiatan sosial. Nomor HP dari shahibul qurban diperlukan untuk keperluan konfirmasi jika qurbannya telah disembelih pada hari H. Info qurban, silakan CALL, SMS, atau WA ke nomor: 0811 267791 (Mas Jarot) Mohon bantuan untuk dishare pada kaum muslimin lainnya. Laporan qurban terupdate bisa dilihat di sini.   Artikel yang penting untuk dibaca: Bolehnya Transfer Uang untuk Qurban di Daerah Lain. Laporan qurban tahun lalu: Qurban 1435 H dengan 20 ekor sapi, 142 ekor kambing. — Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Muhammad Abduh Tuasikal, MSc Info DarushSholihin.Com Tagskristenisasi tebar qurban

Buku Terbaru: Panduan Qurban

Ayo segera pesan buku terbaru mengenai masalah qurban karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. (Pengasuh Rumaysho.Com). Judul: Panduan Qurban Jumlah halaman: 116 Ukuran: 14,5 cm x 21 cm Isi bahasan: 1- Keutamaan qurban 2- Hikmah qurban 3- Ketentuan qurban 4- Adab penyembelihan 5- Pemanfaatan qurban 6- Penyaluran qurban 7- Masalah terkini seputar qurban 8- Menggabungkan qurban dan aqiqah Rugi kalau buku ini tidak Anda miliki karena lengkap membicarakan Qurban. Pemesanan ke Toko Online Ruwaifi.Com (Mas Slamet): SMS 085200171222 WA 082226042114 # Segera pesan karena stock terbatas. — Toko Online Ruwaifi.Com Tagsbuku terbaru panduan qurban

Buku Terbaru: Panduan Qurban

Ayo segera pesan buku terbaru mengenai masalah qurban karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. (Pengasuh Rumaysho.Com). Judul: Panduan Qurban Jumlah halaman: 116 Ukuran: 14,5 cm x 21 cm Isi bahasan: 1- Keutamaan qurban 2- Hikmah qurban 3- Ketentuan qurban 4- Adab penyembelihan 5- Pemanfaatan qurban 6- Penyaluran qurban 7- Masalah terkini seputar qurban 8- Menggabungkan qurban dan aqiqah Rugi kalau buku ini tidak Anda miliki karena lengkap membicarakan Qurban. Pemesanan ke Toko Online Ruwaifi.Com (Mas Slamet): SMS 085200171222 WA 082226042114 # Segera pesan karena stock terbatas. — Toko Online Ruwaifi.Com Tagsbuku terbaru panduan qurban
Ayo segera pesan buku terbaru mengenai masalah qurban karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. (Pengasuh Rumaysho.Com). Judul: Panduan Qurban Jumlah halaman: 116 Ukuran: 14,5 cm x 21 cm Isi bahasan: 1- Keutamaan qurban 2- Hikmah qurban 3- Ketentuan qurban 4- Adab penyembelihan 5- Pemanfaatan qurban 6- Penyaluran qurban 7- Masalah terkini seputar qurban 8- Menggabungkan qurban dan aqiqah Rugi kalau buku ini tidak Anda miliki karena lengkap membicarakan Qurban. Pemesanan ke Toko Online Ruwaifi.Com (Mas Slamet): SMS 085200171222 WA 082226042114 # Segera pesan karena stock terbatas. — Toko Online Ruwaifi.Com Tagsbuku terbaru panduan qurban


Ayo segera pesan buku terbaru mengenai masalah qurban karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. (Pengasuh Rumaysho.Com). Judul: Panduan Qurban Jumlah halaman: 116 Ukuran: 14,5 cm x 21 cm Isi bahasan: 1- Keutamaan qurban 2- Hikmah qurban 3- Ketentuan qurban 4- Adab penyembelihan 5- Pemanfaatan qurban 6- Penyaluran qurban 7- Masalah terkini seputar qurban 8- Menggabungkan qurban dan aqiqah Rugi kalau buku ini tidak Anda miliki karena lengkap membicarakan Qurban. Pemesanan ke Toko Online Ruwaifi.Com (Mas Slamet): SMS 085200171222 WA 082226042114 # Segera pesan karena stock terbatas. — Toko Online Ruwaifi.Com Tagsbuku terbaru panduan qurban

Keutamaan Sepuluh Hari Awal Bulan Dzulhijjah

Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 27/11/1436 H – 11/9/2015 MOleh : Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Qosim hafizohullahKhutbah Pertama          Segala puji bagi Allah, kami memujinya, memohon pertolongannya, dan memohon ampunanNya. Dan kami berlindung dari keburukan jiwa kami dan dari kesalahan amal perbuatan kami. Siapa yang diberi hidayah oleh Allah maka tidak ada yang akan menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan maka tidak ada yang memberi petunjuk kepadanya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada syarikat bagiNya, dan aku bersakasi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusanNya, semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada beliau, keluarga dan para sahabatnya.Amma ba’du, bertakwalah kepada Allah wahai para hamba Allah dengan takwa yang sesungguhnya, karena Rob kita tidak menerima kecuali takwa, dan tidak merahmati kecuali orang yang bertakwa.Kaum muslimin sekalian…, sesungguhnya Allah memilih apa yang Allah kehendaki diantara ciptaanNya.وَرَبُّكَ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخۡتَارُۗDan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. (QS Al-Qosos : 68) Allah memilih diantara para malaikatnya dan diantara manusia untuk menjadi para rasulNya, Allah memilih dzikrullah diantara perkataan-perkataan, memilih rumah mesjid-mesjid Allah diantara yang ada di bumi. Allah memilih bulan Ramadhan dan bulan-bulan haram diantara seluruh bulan. Kaum jahiliyah dahulu menambah-nambah hari dan menguranginya karena mengikuti hawa nafsu mereka, maka mereka berpuasa di luar jadwal waktunya, mereka berhaji bukan di musimnya. Hingga Allah memberi karunia bagi umat ini dengan mengutus penegak agama maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjalankan hajinya yaitu haji wada’ sementara zaman telah kembali lagi sebagaimana semula, dan haji wada’ beliau dilaksanakan pas bulan Dzulhijjah, dan beliau bersabda dalam khutbahnya :إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ“Sesungguhnya zaman telah kembali lagi semula sebagaimana kondisinya tatkala Allah menciptakan langit dan bumi” (Al-Bukhari dan Muslim)Maka hitungan kembali lagi dan dan penanggalan telah tepat dan perkaranya kembali seperti semua seseuai dengan penetapan Allah yang semula.Adanya pemuliaan antara malam-malam dan siang-siang merupakan motivasi yang menyeru untuk menggunakan kesempatan beramal kebajikan, dan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam memotivasi untuk menggunakan kesempatan pada lima perkara sebelum hilangnya lima perkara tersebut. Beliau bersabada :اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ، شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ“Manfaatkanlah 5 perkara sebelum 5 perkara, manfaatkanlah masa mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kekyaanmu sebelu miskinmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, dan kehidupanmu sebelum matimu” (HR Al-Hakim)   Sebentar lagi sepuluh awal dzulhijjah akan menaungi kita, dan ia teramasuk hari-hari Allah yang mulia, dan penutup dari bulan-bulan yang telah diketahui yang Allah berfirman tentang bulan-bulan tersebut :ٱلۡحَجُّ أَشۡهُرٞ مَّعۡلُومَٰتٞۚ(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, (QS Al-Baqoroh : 197)Yaitu bulan Syawwal, Dzulqo’dah, dan 10 hari pertama Dzulhijjah. Dan karena keagunggannya maka seluruh kegiatan amalan haji dilaksanakan pada 10 Dzulhijjah, dan Allah bersumpah dengan malam-malamnya dalam firmanNya :وَٱلۡفَجۡرِ ١  وَلَيَالٍ عَشۡرٖ ٢Demi fajar,  dan malam yang sepuluh (QS Al-Fajr ; 1-2)Dan siangnya lebih afdol daripada siang 10 hari terakhir bulan Ramadhan, Nabi ‘alaihis sholatu was salaam bersabda :أَفْضَلُ أَيَّامِ الدُّنْيَا أَيَّامُ الْعَشْرِ“Sebaik-baik siang hari dunia adalah siang 10 hari awal Dzulhijjah” (HR Ibnu Hibban)Dan teristimewakannya 10 hari Dzulhijjah karena terkumpulkannya induk-induk ibadah padanya, seperti sholat, puasa, sedekah, dan haji, dan tidak terkumpulkan hal ini pada waktu yang lain.Dan seluruh amal sholeh pada 10 hari Dzulhijjah lebih disukai oleh Allah dari pada jika dikerjakan di waktu yang lain. Nabi ‘alaihis sholatu was salaam bersabda :مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ، قَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِبْيلِ اللهِ؟، قَالَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَماَلِهِ وَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ“Tidak ada hari-hari yang amal sholeh padanya lebih dicintai oleh Allah dari pada hari-hari 10 Dzulhijjah”. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?”. Nabi berkata, “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali seseorang yang keluar dengan membawa jiwanya dan hartanya lalu jiwa dan hartanya tidak kembali lagi” (HR Al-Bukhari)Ibnu Rojab berkata : “Hadits ini menunjukan bahwa amal sholeh di hari-hari 10 Dzulhijjah lebih disukai oleh Allah daripada amal di hari-hari yang lain di duni ini, dan tanpa ada pengecualian sama sekali”Para salaf dahulu berjuang untuk beramal soleh pada 10 hari Dzulhijjah, jika telah masuk 10 Dzulhijjah maka Sa’id bin Jubair bersungguh-sungguh dalam beribadah sampai-sampai hampir ia tidak mampu melakukannya.          Dan diantara karunia Allah dan kebaikanNya ketaatan-ketaatan yang bisa dilaksanakan pada 10 hari dzulhijjah bervariasi. Diantara yang disyari’atkan adalah memperbanyak berdzikir kepada Allah, Allah berfirman :وَيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡلُومَٰتٍDan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan (QS Al-Hajj : 28)Ibnu Abbas berkata ; “Yaitu 10 hari Dzulhijjah”.Dan berdzikir kepada Allah pada hari-hari tersebut termasuk ibadah yang paling afdol, Nabi ‘alaihis sholatu was salaam bersabda :مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلاَ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنَ الْعَمَلِ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْعَشْرِ، فَأَكْثِرُوا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْدِ“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan lebih dicintai oleh Allah dari pada beramal pada hari-hari tersebut daripada 10 hari Dzulhijjah, maka perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid” (HR Ahmad)Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Disukai untuk memperbanyak dzikir pada 10 hari Dzulhijjah, lebih dari pada di waktu yang lain, dan disukai untuk lebih banyak lagi di hari Arofah dari pada sisa 10 hari yang lainnya”Dan dzikir yang paling afdol adalah tilawah al-Qur’an, karena al-Qur’an adalah petunjuk dan cahaya yang jelas.Takbir mutlak yang dilakukan setiap waktu termasuk syi’ar pada 10 hari Dzulhijjah. Ibnu Umar dan Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhuma- keluar ke pasar pada 10 hari Dzulhijjah dan bertakbir, dan orang-orangpun bertakbir dengan takbir mereka berdua (HR Al-Bukhari).Dan disyari’atkan takbir tertentu waktunya yaitu setiap kalai selesai sholat dari waktu fajar pada hari Arofah bagi jama’ah haji dan selain mereka. Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Pendapat yang paling kuat tentang bertakbir, yang pendapat ini merupakan pendapat mayoritas salaf, para fuqoha, para sahabat, dan para imam adalah bertakbir sejak fajar hari Arofah hingga akhir hari tasyriq setiap kali habis sholat”Diantara perkara yang dianjurkan adalah puasa 9 hari pertama Dzulhijjah, Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Hal ini sangat-sangat dianjurkan”Dan sedekah adalah amal sholeh, dengannya terangkatlah kesulitan dan hilangnya kesedihan, dan yang terbaik adalah tatkala waktu dibutuhkan dan di zaman yang mulia.Dan taubat memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama, ia merupakan sebab kemenangan dan kebahagiaan. Allah mewajibkannya bagi semuat umat dari segala dosa. Allah berkata kepada mereka yang menyatakan Allah punya istri dan anak :أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى ٱللَّهِ وَيَسۡتَغۡفِرُونَهُۥMaka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya?. (Qs Al-Maidah : 74)Dan Allah berfirman kepada kaum mukminin :وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣١Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (QS An-Nuur : 31)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertaubat kepada Allah setiap harinya 100 kali, beliau bersabda :يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوا إِلَى اللهِ فَإِنِّي أَتُوْبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepadaNya sehari 100 kali” (Al-Bukhari dan Muslim)Dan kita lebih membutuhkan untuk bertaubat, dan sebaik-baik hari bagi seorang hamba adalah hari dimana ia bertaubat. Nabi ‘alaihis sholatu was salam berkata kepada Ka’ab bin Malik radhiallahu ‘anhu :أَبْشِرْ بِخَيْرِ يَوْمٍ مَرَّ عَلَيْكَ مُنْذُ وَلَدَتْكَ أُمُّكَ“Bergembiralah dengan hari terbaik yang engkau lalui sejak engkau dilahirkan oleh ibumu” (Al-Bukhari dan Muslim)Maka sungguh indah seseorang yang bertaubat ia bertaubat di hari-hari yang paling dicintai oleh Allah. Dan siapa yang benar dalam taubatnya maka ia akan meraih derajat yang tinggi, dan Allah akan merubah dosa-dosanya menjadi pahala-pahala.          Dan pada 10 hari Dzulhijjah dilaksanakan haji, yang ia merupakan salah satu rukun Islam dan pondasinya yang kuat. Allah berfirman :وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚMengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (QS Ali ‘Imron : 97)Dan Nabi ‘alaihis sholatu was salam bersabda :يَا أَيُّهَا النَّاسُ، قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا“Wahai manusia, Allah telah mewajibkan haji atas kalian, maka berhajilah” (HR Muslim)Dan ia termasuk amalan yang paling mulia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya ; أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ “Amalan apakah yang paling afdol?”, Nabi menjawab, إِيْمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُوْلِهِ “Iman kepada Allah dan RasulNya”. Dikatakan, “Lalu apa?”, beliau menjawab, الجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ “Jihad di jalan Allah”, dikatakan, “Lalu apa?”, beliau menjawab, حَجٌّ مَبْرُوْرٌ “Haji mabrur” (Al-Bukhari dan Muslim)Dan haji mabrur tidak ada balasan yang setimpal kecuali surga. Dengan haji gugurlah dosa dan kesalahan, Nabi ‘alaihis sholat was salam bersabda:مَنْ حَجَّ الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ“Siapa yang berhaji dan tidak melakukan rofats (jimak dan pendahuluannya), dan tidak berbuat kefasikan (kemasiatan) maka ia akan bersih dari dosa-dosanya seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya” (Al-Bukhari dan Muslim)Dan sungguh Allah membanggakan para jema’ah tatkala di padang Arofah dihadapan penghuni langit.          Haji memiliki hikmah-hikmah yang agung dan tujuan-tujuan yang indah dan mulia dalam agama, dunia, kehidupan, dan hari akhirat. Hikmah yang pertama adalah memantapkan tauhid. Syi’ar hajji adalah :لبيك اللهم لبيك، لبيك لا شريك لبيك، إن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك“Ya Allah aku memenuhi panggilanmu, Ya Allah aku memenuhi panggilanmu, tidak ada syarikat bagiMu, sesungguhnya pujian, segala kenikmatan adalah milikMu demikian juga kerajaan, tiada syarikat bagiMu”Diantara hikmah haji adalah memurnikan keikhlasan untuk Allah dan memurnikan “teladan” kepada Rasulullah. Allah berfirman :وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ للهِ“Dan sempurnakanlah haji dan umroh karena Allah” (QS Al-Baqoroh :Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ“Ambillah dariku tata cara manasik haji kalian” (HR Muslim).Diantara hikmah haji adalah :لِّيَشۡهَدُواْ مَنَٰفِعَ لَهُمۡSupaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka (QS Al-Hajj : 28) yaitu di dunia dari kebaikan-kebaikan yang mereka peroleh, dan di akhirat dengan masuk surga.وَيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡلُومَٰتٍDan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan (QS Al-Hajj : 28)          Haji adalah peringatan terhadap saatnya meninggalkan dunia ini. Waktu pelaksanaannya adalah di hari-hari yang terakhir, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam menunaikannya di akhir kehidupan beliau, dan beliau mengucapkan selamat tinggal kepada para sahabatnya, dan Allah telah menyempurnakan bagi beliau agama bagi umatnya, dan di hari Arofah Allah menurukan kepada beliau firmanNyaٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِيPada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, (QS Al-Maidah : 3)Seorang yang tidak mampu untuk berhaji karena ada udzur maka ia ikut menyertai para jama’ah haji dalam memperoleh pahala jika benar niatnya, bahkan bisa jadi dengan hatinya ia mendahului orang-orang yang berjalan dengan badannya.Di 10 Hari Dzulhijjah ada hari Arofah, berpuasa pada hari tersebut akan menggugurkan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Nabi bersabda :وَمَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرُ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيْهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ“Tidak ada hari yang lebih banyak Allah membebaskan hambanya dari neraka dari pada hari Arofah” (HR Muslim)Diantaranya juga ada hari An-Nahr, yang merupakan hari terbaik dari hari-hari manasik dan yang paling nampak dan yang paling banyak orang berkumpul, dan hari inilah yang disebut haji akbar. Allah berfirman :وَأَذَٰنٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦٓ إِلَى ٱلنَّاسِ يَوۡمَ ٱلۡحَجِّ ٱلۡأَكۡبَرِDan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar (QS At-taubah : 3)Dan ia merupakan hari teragung di sisi Allah. Nabi bersabda :إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ“Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari An-Nahr, kemudian hari al-Qorr” (Hr Abu Dawud).Dan hari An-Nahr adalah salah satu dari dua hari raya kaum muslimin, ia merupakan hari kegembiraan, hari riang dan senang dengan menunaikan salah satu dari rukun Islam. Dan bisa jadi orang-orang terlalaikan dari berdzikir kepada Allah –bersamaan dengan kegembiraan mereka- padahal tatkala itu berdzikir kepada Allah afdol. Allah berfirman۞وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡدُودَٰتٖۚDan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. (QS Al-Baqoroh : 203), yaitu hari-hari tasyriiq. Dan Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda :أَيَّامُ التَّشْرِيْقِ –يعني أيام العيد- أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ للهِ“Hari-hari tasyriq adalah hari-hari untuk makan dan minum serta untuk berdzikir kepada Allah” (HR Muslim)Ibnu Hajar berkata, “Telah tetap kemuliaan 10 hari pertama Dzulhijjah, maka tetap pula kemuliaan tersebut pada hari-hari tasyriq”Dan di hari-hari An-Nahr dan at-Tasyriq ada suatu ibadah harta (maliah) dan raga (badaniah), dan ia merupakan ibadah yang sangat dicintai oleh Allah (yaitu ibadah menyembelih kurban). Allah menggandengkannya dengan sholat :فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ“Sholatlah untuk Allah dan sembelihlah juga karena Allah”Maka Allah Swt memotivasi untuk ikhlas dalam penyembelihan kurban hanya semata-mata tertuju kepada Allah Swt, bukan untuk membanggakan diri atau pamer atau mencari reputasi, dan tidak pula hanya sekadar mengikuti tradisi. Allah berfirman :لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمۡ لِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُحۡسِنِينَ “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (QS Al-Hajj : 37)“Nabi saw berkurban dua ekor kambing kibas (domba jantan) hitam putih yang bertanduk yang beliau sembelih dengan tangan beliau sendiri”.Yakni kambing berbulu hitam yang bagian atasnya putih dan bertanduk.Boleh juga seseorang berhutang untuk berkurban dan mencari diganti oleh Allah dengan anugrahNya. Tidak boleh menggerutu disebabkan kemahalan harganya, karena pahalanya di sisi Allah sangat agung.Barangsiapa yang berniat kurban tidak diperkenankan memotong rambutnya atau kukunya sedikitpun. Rasulullah saw bersabda :مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أَهَلَّ هِلاَلُ ذِيْ الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّيَ“Barangsiapa yang hewan kurbannya telah tersedia untuk dipotong, maka ketika telah kelihatan hilal bulan Dzulhijah maka janganlah ia memotong rambutnya ataupun kukunya sedikitpun hingga ia menyembelih kurbannya”. (HR Muslim).Kaum muslimin !Orang yang beruntung ialah orang yang mampu memanfaatkan event-event setiap bulan, setiap hari, setiap saat untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan menjalankan ibadah rutinitas pada event-event tersebut. Siapa tahu dirinya yang beruntung meraih anugrah sehingga menjadi manusia yang selamat dari neraka dengan segala kobaran apinya dan memperoleh pahala surga yang luasnya seluas bumi dan langit. Saat itu dia menikmati kehidupan yang makmur dan kebahagiaan yang kekal abadi. Dan ke surgalah hendaklah orang-orang yang berlomba menyingsingkan lengan mereka.Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.سَابِقُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا كَعَرۡضِ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أُعِدَّتۡ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦۚ ذَٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ ٢١ “Dan berlombalah menuju ampunan dari Tuhan kalian dan surgaNya yang luasnya seluas langit dan bumi; disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Itulah anugerah Allah yang Dia berikan kepada orang yang dikehendakiNya. Dan Allah mempunyai anugerah yang agung”. (QS Al-Hadid : 21)Semoga Allah memberkahi kami dan kalian dalam mengamalkan Al-Qur’an yang agung  ! ! Khutbah KeduaSegala puji bagi Allah atas segala kebaikanNya. Puji syukur kepadaNya atas taufiq dan anugerahNya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan sealin Allah semata, tiada sekutu bagiNya, kesaksianku  sebagai pengagungan terhadapNya. Akupun bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah HambaNya dan RasulNya. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepadanya beserta seluruh keluarga dan sahabatnya sebanyak-banyaknya. Kaum muslimin !Kemaksiatan adalah penyebab jauhnya seseorang dari Allah, sebagaimana ketaatan menjadi penyebab kedekatan dengan Allah. Maka dosa merupakan pembawa kesialan bagi individu dan masyarakat. Allah Swt berfirman :وَذَرُواْ ظَٰهِرَ ٱلۡإِثۡمِ وَبَاطِنَهُۥٓۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكۡسِبُونَ ٱلۡإِثۡمَ سَيُجۡزَوۡنَ بِمَا كَانُواْ يَقۡتَرِفُونَ ١٢٠“Dan tinggalkanlah dosa yang terang-terangan dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat dosa akan mendapatkan balasan dengan apa yang pernah mereka lakukan”. (QS Al-An’aam : 120)Akan lebih besar lagi bahaya kemaksiatan ketika dilakukan di tengah-tengah musim penebaran rahmat dan kebaikan.Allah Swt berfirman :إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ “Sesungguhnya hitungan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan (yang telah tetap) pada kitab Allah pada hari Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya terdapat empat bulan haram, maka janganlah kalian berbuat aniaya di dalamnya terhadap diri kalian”.Qatadah – Rahimahullah – berkata :  “Berbuat zolim pada bulan-bulan suci lebih besar tingkat pelanggarannya dan dosanya dibanding di bulan-bulan lainnya, meskipun perbuatan zolim bagaimanapun juga keburukan yang besar. Tetapi Allahlah yang berhak meningkatkan apapun yang dikehendakiNya di antara urusanNya”.Maka sebagaimana perbuatan dosa pada bulan-bulan suci tersebut tergolong besar, demikian pula amal shalih dan kebajikan yang dilakukan di dalamnya merupakan sesuatu yang sangat besar pahalanya. Oleh sebab itu manfaatkanlah event-event pembagian anugrah kebaikan dan peningkatan derajat ini sebaik-baiknya. Jauhilah perbuatan yang dapat menyebabkan terhalangnya diri dari ampunan Allah dalam musim-musim pembagian rahmat seperti ini dan juga di waktu-waktu yang lain.Selanjutnya, ketahuilah bahwa Allah memerintahkan kalian berdoa shalawat dan salam kepada Nabi-Nya . . .Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Keutamaan Sepuluh Hari Awal Bulan Dzulhijjah

Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 27/11/1436 H – 11/9/2015 MOleh : Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Qosim hafizohullahKhutbah Pertama          Segala puji bagi Allah, kami memujinya, memohon pertolongannya, dan memohon ampunanNya. Dan kami berlindung dari keburukan jiwa kami dan dari kesalahan amal perbuatan kami. Siapa yang diberi hidayah oleh Allah maka tidak ada yang akan menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan maka tidak ada yang memberi petunjuk kepadanya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada syarikat bagiNya, dan aku bersakasi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusanNya, semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada beliau, keluarga dan para sahabatnya.Amma ba’du, bertakwalah kepada Allah wahai para hamba Allah dengan takwa yang sesungguhnya, karena Rob kita tidak menerima kecuali takwa, dan tidak merahmati kecuali orang yang bertakwa.Kaum muslimin sekalian…, sesungguhnya Allah memilih apa yang Allah kehendaki diantara ciptaanNya.وَرَبُّكَ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخۡتَارُۗDan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. (QS Al-Qosos : 68) Allah memilih diantara para malaikatnya dan diantara manusia untuk menjadi para rasulNya, Allah memilih dzikrullah diantara perkataan-perkataan, memilih rumah mesjid-mesjid Allah diantara yang ada di bumi. Allah memilih bulan Ramadhan dan bulan-bulan haram diantara seluruh bulan. Kaum jahiliyah dahulu menambah-nambah hari dan menguranginya karena mengikuti hawa nafsu mereka, maka mereka berpuasa di luar jadwal waktunya, mereka berhaji bukan di musimnya. Hingga Allah memberi karunia bagi umat ini dengan mengutus penegak agama maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjalankan hajinya yaitu haji wada’ sementara zaman telah kembali lagi sebagaimana semula, dan haji wada’ beliau dilaksanakan pas bulan Dzulhijjah, dan beliau bersabda dalam khutbahnya :إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ“Sesungguhnya zaman telah kembali lagi semula sebagaimana kondisinya tatkala Allah menciptakan langit dan bumi” (Al-Bukhari dan Muslim)Maka hitungan kembali lagi dan dan penanggalan telah tepat dan perkaranya kembali seperti semua seseuai dengan penetapan Allah yang semula.Adanya pemuliaan antara malam-malam dan siang-siang merupakan motivasi yang menyeru untuk menggunakan kesempatan beramal kebajikan, dan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam memotivasi untuk menggunakan kesempatan pada lima perkara sebelum hilangnya lima perkara tersebut. Beliau bersabada :اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ، شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ“Manfaatkanlah 5 perkara sebelum 5 perkara, manfaatkanlah masa mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kekyaanmu sebelu miskinmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, dan kehidupanmu sebelum matimu” (HR Al-Hakim)   Sebentar lagi sepuluh awal dzulhijjah akan menaungi kita, dan ia teramasuk hari-hari Allah yang mulia, dan penutup dari bulan-bulan yang telah diketahui yang Allah berfirman tentang bulan-bulan tersebut :ٱلۡحَجُّ أَشۡهُرٞ مَّعۡلُومَٰتٞۚ(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, (QS Al-Baqoroh : 197)Yaitu bulan Syawwal, Dzulqo’dah, dan 10 hari pertama Dzulhijjah. Dan karena keagunggannya maka seluruh kegiatan amalan haji dilaksanakan pada 10 Dzulhijjah, dan Allah bersumpah dengan malam-malamnya dalam firmanNya :وَٱلۡفَجۡرِ ١  وَلَيَالٍ عَشۡرٖ ٢Demi fajar,  dan malam yang sepuluh (QS Al-Fajr ; 1-2)Dan siangnya lebih afdol daripada siang 10 hari terakhir bulan Ramadhan, Nabi ‘alaihis sholatu was salaam bersabda :أَفْضَلُ أَيَّامِ الدُّنْيَا أَيَّامُ الْعَشْرِ“Sebaik-baik siang hari dunia adalah siang 10 hari awal Dzulhijjah” (HR Ibnu Hibban)Dan teristimewakannya 10 hari Dzulhijjah karena terkumpulkannya induk-induk ibadah padanya, seperti sholat, puasa, sedekah, dan haji, dan tidak terkumpulkan hal ini pada waktu yang lain.Dan seluruh amal sholeh pada 10 hari Dzulhijjah lebih disukai oleh Allah dari pada jika dikerjakan di waktu yang lain. Nabi ‘alaihis sholatu was salaam bersabda :مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ، قَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِبْيلِ اللهِ؟، قَالَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَماَلِهِ وَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ“Tidak ada hari-hari yang amal sholeh padanya lebih dicintai oleh Allah dari pada hari-hari 10 Dzulhijjah”. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?”. Nabi berkata, “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali seseorang yang keluar dengan membawa jiwanya dan hartanya lalu jiwa dan hartanya tidak kembali lagi” (HR Al-Bukhari)Ibnu Rojab berkata : “Hadits ini menunjukan bahwa amal sholeh di hari-hari 10 Dzulhijjah lebih disukai oleh Allah daripada amal di hari-hari yang lain di duni ini, dan tanpa ada pengecualian sama sekali”Para salaf dahulu berjuang untuk beramal soleh pada 10 hari Dzulhijjah, jika telah masuk 10 Dzulhijjah maka Sa’id bin Jubair bersungguh-sungguh dalam beribadah sampai-sampai hampir ia tidak mampu melakukannya.          Dan diantara karunia Allah dan kebaikanNya ketaatan-ketaatan yang bisa dilaksanakan pada 10 hari dzulhijjah bervariasi. Diantara yang disyari’atkan adalah memperbanyak berdzikir kepada Allah, Allah berfirman :وَيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡلُومَٰتٍDan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan (QS Al-Hajj : 28)Ibnu Abbas berkata ; “Yaitu 10 hari Dzulhijjah”.Dan berdzikir kepada Allah pada hari-hari tersebut termasuk ibadah yang paling afdol, Nabi ‘alaihis sholatu was salaam bersabda :مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلاَ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنَ الْعَمَلِ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْعَشْرِ، فَأَكْثِرُوا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْدِ“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan lebih dicintai oleh Allah dari pada beramal pada hari-hari tersebut daripada 10 hari Dzulhijjah, maka perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid” (HR Ahmad)Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Disukai untuk memperbanyak dzikir pada 10 hari Dzulhijjah, lebih dari pada di waktu yang lain, dan disukai untuk lebih banyak lagi di hari Arofah dari pada sisa 10 hari yang lainnya”Dan dzikir yang paling afdol adalah tilawah al-Qur’an, karena al-Qur’an adalah petunjuk dan cahaya yang jelas.Takbir mutlak yang dilakukan setiap waktu termasuk syi’ar pada 10 hari Dzulhijjah. Ibnu Umar dan Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhuma- keluar ke pasar pada 10 hari Dzulhijjah dan bertakbir, dan orang-orangpun bertakbir dengan takbir mereka berdua (HR Al-Bukhari).Dan disyari’atkan takbir tertentu waktunya yaitu setiap kalai selesai sholat dari waktu fajar pada hari Arofah bagi jama’ah haji dan selain mereka. Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Pendapat yang paling kuat tentang bertakbir, yang pendapat ini merupakan pendapat mayoritas salaf, para fuqoha, para sahabat, dan para imam adalah bertakbir sejak fajar hari Arofah hingga akhir hari tasyriq setiap kali habis sholat”Diantara perkara yang dianjurkan adalah puasa 9 hari pertama Dzulhijjah, Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Hal ini sangat-sangat dianjurkan”Dan sedekah adalah amal sholeh, dengannya terangkatlah kesulitan dan hilangnya kesedihan, dan yang terbaik adalah tatkala waktu dibutuhkan dan di zaman yang mulia.Dan taubat memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama, ia merupakan sebab kemenangan dan kebahagiaan. Allah mewajibkannya bagi semuat umat dari segala dosa. Allah berkata kepada mereka yang menyatakan Allah punya istri dan anak :أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى ٱللَّهِ وَيَسۡتَغۡفِرُونَهُۥMaka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya?. (Qs Al-Maidah : 74)Dan Allah berfirman kepada kaum mukminin :وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣١Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (QS An-Nuur : 31)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertaubat kepada Allah setiap harinya 100 kali, beliau bersabda :يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوا إِلَى اللهِ فَإِنِّي أَتُوْبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepadaNya sehari 100 kali” (Al-Bukhari dan Muslim)Dan kita lebih membutuhkan untuk bertaubat, dan sebaik-baik hari bagi seorang hamba adalah hari dimana ia bertaubat. Nabi ‘alaihis sholatu was salam berkata kepada Ka’ab bin Malik radhiallahu ‘anhu :أَبْشِرْ بِخَيْرِ يَوْمٍ مَرَّ عَلَيْكَ مُنْذُ وَلَدَتْكَ أُمُّكَ“Bergembiralah dengan hari terbaik yang engkau lalui sejak engkau dilahirkan oleh ibumu” (Al-Bukhari dan Muslim)Maka sungguh indah seseorang yang bertaubat ia bertaubat di hari-hari yang paling dicintai oleh Allah. Dan siapa yang benar dalam taubatnya maka ia akan meraih derajat yang tinggi, dan Allah akan merubah dosa-dosanya menjadi pahala-pahala.          Dan pada 10 hari Dzulhijjah dilaksanakan haji, yang ia merupakan salah satu rukun Islam dan pondasinya yang kuat. Allah berfirman :وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚMengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (QS Ali ‘Imron : 97)Dan Nabi ‘alaihis sholatu was salam bersabda :يَا أَيُّهَا النَّاسُ، قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا“Wahai manusia, Allah telah mewajibkan haji atas kalian, maka berhajilah” (HR Muslim)Dan ia termasuk amalan yang paling mulia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya ; أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ “Amalan apakah yang paling afdol?”, Nabi menjawab, إِيْمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُوْلِهِ “Iman kepada Allah dan RasulNya”. Dikatakan, “Lalu apa?”, beliau menjawab, الجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ “Jihad di jalan Allah”, dikatakan, “Lalu apa?”, beliau menjawab, حَجٌّ مَبْرُوْرٌ “Haji mabrur” (Al-Bukhari dan Muslim)Dan haji mabrur tidak ada balasan yang setimpal kecuali surga. Dengan haji gugurlah dosa dan kesalahan, Nabi ‘alaihis sholat was salam bersabda:مَنْ حَجَّ الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ“Siapa yang berhaji dan tidak melakukan rofats (jimak dan pendahuluannya), dan tidak berbuat kefasikan (kemasiatan) maka ia akan bersih dari dosa-dosanya seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya” (Al-Bukhari dan Muslim)Dan sungguh Allah membanggakan para jema’ah tatkala di padang Arofah dihadapan penghuni langit.          Haji memiliki hikmah-hikmah yang agung dan tujuan-tujuan yang indah dan mulia dalam agama, dunia, kehidupan, dan hari akhirat. Hikmah yang pertama adalah memantapkan tauhid. Syi’ar hajji adalah :لبيك اللهم لبيك، لبيك لا شريك لبيك، إن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك“Ya Allah aku memenuhi panggilanmu, Ya Allah aku memenuhi panggilanmu, tidak ada syarikat bagiMu, sesungguhnya pujian, segala kenikmatan adalah milikMu demikian juga kerajaan, tiada syarikat bagiMu”Diantara hikmah haji adalah memurnikan keikhlasan untuk Allah dan memurnikan “teladan” kepada Rasulullah. Allah berfirman :وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ للهِ“Dan sempurnakanlah haji dan umroh karena Allah” (QS Al-Baqoroh :Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ“Ambillah dariku tata cara manasik haji kalian” (HR Muslim).Diantara hikmah haji adalah :لِّيَشۡهَدُواْ مَنَٰفِعَ لَهُمۡSupaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka (QS Al-Hajj : 28) yaitu di dunia dari kebaikan-kebaikan yang mereka peroleh, dan di akhirat dengan masuk surga.وَيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡلُومَٰتٍDan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan (QS Al-Hajj : 28)          Haji adalah peringatan terhadap saatnya meninggalkan dunia ini. Waktu pelaksanaannya adalah di hari-hari yang terakhir, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam menunaikannya di akhir kehidupan beliau, dan beliau mengucapkan selamat tinggal kepada para sahabatnya, dan Allah telah menyempurnakan bagi beliau agama bagi umatnya, dan di hari Arofah Allah menurukan kepada beliau firmanNyaٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِيPada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, (QS Al-Maidah : 3)Seorang yang tidak mampu untuk berhaji karena ada udzur maka ia ikut menyertai para jama’ah haji dalam memperoleh pahala jika benar niatnya, bahkan bisa jadi dengan hatinya ia mendahului orang-orang yang berjalan dengan badannya.Di 10 Hari Dzulhijjah ada hari Arofah, berpuasa pada hari tersebut akan menggugurkan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Nabi bersabda :وَمَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرُ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيْهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ“Tidak ada hari yang lebih banyak Allah membebaskan hambanya dari neraka dari pada hari Arofah” (HR Muslim)Diantaranya juga ada hari An-Nahr, yang merupakan hari terbaik dari hari-hari manasik dan yang paling nampak dan yang paling banyak orang berkumpul, dan hari inilah yang disebut haji akbar. Allah berfirman :وَأَذَٰنٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦٓ إِلَى ٱلنَّاسِ يَوۡمَ ٱلۡحَجِّ ٱلۡأَكۡبَرِDan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar (QS At-taubah : 3)Dan ia merupakan hari teragung di sisi Allah. Nabi bersabda :إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ“Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari An-Nahr, kemudian hari al-Qorr” (Hr Abu Dawud).Dan hari An-Nahr adalah salah satu dari dua hari raya kaum muslimin, ia merupakan hari kegembiraan, hari riang dan senang dengan menunaikan salah satu dari rukun Islam. Dan bisa jadi orang-orang terlalaikan dari berdzikir kepada Allah –bersamaan dengan kegembiraan mereka- padahal tatkala itu berdzikir kepada Allah afdol. Allah berfirman۞وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡدُودَٰتٖۚDan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. (QS Al-Baqoroh : 203), yaitu hari-hari tasyriiq. Dan Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda :أَيَّامُ التَّشْرِيْقِ –يعني أيام العيد- أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ للهِ“Hari-hari tasyriq adalah hari-hari untuk makan dan minum serta untuk berdzikir kepada Allah” (HR Muslim)Ibnu Hajar berkata, “Telah tetap kemuliaan 10 hari pertama Dzulhijjah, maka tetap pula kemuliaan tersebut pada hari-hari tasyriq”Dan di hari-hari An-Nahr dan at-Tasyriq ada suatu ibadah harta (maliah) dan raga (badaniah), dan ia merupakan ibadah yang sangat dicintai oleh Allah (yaitu ibadah menyembelih kurban). Allah menggandengkannya dengan sholat :فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ“Sholatlah untuk Allah dan sembelihlah juga karena Allah”Maka Allah Swt memotivasi untuk ikhlas dalam penyembelihan kurban hanya semata-mata tertuju kepada Allah Swt, bukan untuk membanggakan diri atau pamer atau mencari reputasi, dan tidak pula hanya sekadar mengikuti tradisi. Allah berfirman :لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمۡ لِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُحۡسِنِينَ “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (QS Al-Hajj : 37)“Nabi saw berkurban dua ekor kambing kibas (domba jantan) hitam putih yang bertanduk yang beliau sembelih dengan tangan beliau sendiri”.Yakni kambing berbulu hitam yang bagian atasnya putih dan bertanduk.Boleh juga seseorang berhutang untuk berkurban dan mencari diganti oleh Allah dengan anugrahNya. Tidak boleh menggerutu disebabkan kemahalan harganya, karena pahalanya di sisi Allah sangat agung.Barangsiapa yang berniat kurban tidak diperkenankan memotong rambutnya atau kukunya sedikitpun. Rasulullah saw bersabda :مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أَهَلَّ هِلاَلُ ذِيْ الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّيَ“Barangsiapa yang hewan kurbannya telah tersedia untuk dipotong, maka ketika telah kelihatan hilal bulan Dzulhijah maka janganlah ia memotong rambutnya ataupun kukunya sedikitpun hingga ia menyembelih kurbannya”. (HR Muslim).Kaum muslimin !Orang yang beruntung ialah orang yang mampu memanfaatkan event-event setiap bulan, setiap hari, setiap saat untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan menjalankan ibadah rutinitas pada event-event tersebut. Siapa tahu dirinya yang beruntung meraih anugrah sehingga menjadi manusia yang selamat dari neraka dengan segala kobaran apinya dan memperoleh pahala surga yang luasnya seluas bumi dan langit. Saat itu dia menikmati kehidupan yang makmur dan kebahagiaan yang kekal abadi. Dan ke surgalah hendaklah orang-orang yang berlomba menyingsingkan lengan mereka.Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.سَابِقُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا كَعَرۡضِ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أُعِدَّتۡ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦۚ ذَٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ ٢١ “Dan berlombalah menuju ampunan dari Tuhan kalian dan surgaNya yang luasnya seluas langit dan bumi; disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Itulah anugerah Allah yang Dia berikan kepada orang yang dikehendakiNya. Dan Allah mempunyai anugerah yang agung”. (QS Al-Hadid : 21)Semoga Allah memberkahi kami dan kalian dalam mengamalkan Al-Qur’an yang agung  ! ! Khutbah KeduaSegala puji bagi Allah atas segala kebaikanNya. Puji syukur kepadaNya atas taufiq dan anugerahNya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan sealin Allah semata, tiada sekutu bagiNya, kesaksianku  sebagai pengagungan terhadapNya. Akupun bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah HambaNya dan RasulNya. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepadanya beserta seluruh keluarga dan sahabatnya sebanyak-banyaknya. Kaum muslimin !Kemaksiatan adalah penyebab jauhnya seseorang dari Allah, sebagaimana ketaatan menjadi penyebab kedekatan dengan Allah. Maka dosa merupakan pembawa kesialan bagi individu dan masyarakat. Allah Swt berfirman :وَذَرُواْ ظَٰهِرَ ٱلۡإِثۡمِ وَبَاطِنَهُۥٓۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكۡسِبُونَ ٱلۡإِثۡمَ سَيُجۡزَوۡنَ بِمَا كَانُواْ يَقۡتَرِفُونَ ١٢٠“Dan tinggalkanlah dosa yang terang-terangan dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat dosa akan mendapatkan balasan dengan apa yang pernah mereka lakukan”. (QS Al-An’aam : 120)Akan lebih besar lagi bahaya kemaksiatan ketika dilakukan di tengah-tengah musim penebaran rahmat dan kebaikan.Allah Swt berfirman :إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ “Sesungguhnya hitungan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan (yang telah tetap) pada kitab Allah pada hari Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya terdapat empat bulan haram, maka janganlah kalian berbuat aniaya di dalamnya terhadap diri kalian”.Qatadah – Rahimahullah – berkata :  “Berbuat zolim pada bulan-bulan suci lebih besar tingkat pelanggarannya dan dosanya dibanding di bulan-bulan lainnya, meskipun perbuatan zolim bagaimanapun juga keburukan yang besar. Tetapi Allahlah yang berhak meningkatkan apapun yang dikehendakiNya di antara urusanNya”.Maka sebagaimana perbuatan dosa pada bulan-bulan suci tersebut tergolong besar, demikian pula amal shalih dan kebajikan yang dilakukan di dalamnya merupakan sesuatu yang sangat besar pahalanya. Oleh sebab itu manfaatkanlah event-event pembagian anugrah kebaikan dan peningkatan derajat ini sebaik-baiknya. Jauhilah perbuatan yang dapat menyebabkan terhalangnya diri dari ampunan Allah dalam musim-musim pembagian rahmat seperti ini dan juga di waktu-waktu yang lain.Selanjutnya, ketahuilah bahwa Allah memerintahkan kalian berdoa shalawat dan salam kepada Nabi-Nya . . .Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 27/11/1436 H – 11/9/2015 MOleh : Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Qosim hafizohullahKhutbah Pertama          Segala puji bagi Allah, kami memujinya, memohon pertolongannya, dan memohon ampunanNya. Dan kami berlindung dari keburukan jiwa kami dan dari kesalahan amal perbuatan kami. Siapa yang diberi hidayah oleh Allah maka tidak ada yang akan menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan maka tidak ada yang memberi petunjuk kepadanya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada syarikat bagiNya, dan aku bersakasi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusanNya, semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada beliau, keluarga dan para sahabatnya.Amma ba’du, bertakwalah kepada Allah wahai para hamba Allah dengan takwa yang sesungguhnya, karena Rob kita tidak menerima kecuali takwa, dan tidak merahmati kecuali orang yang bertakwa.Kaum muslimin sekalian…, sesungguhnya Allah memilih apa yang Allah kehendaki diantara ciptaanNya.وَرَبُّكَ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخۡتَارُۗDan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. (QS Al-Qosos : 68) Allah memilih diantara para malaikatnya dan diantara manusia untuk menjadi para rasulNya, Allah memilih dzikrullah diantara perkataan-perkataan, memilih rumah mesjid-mesjid Allah diantara yang ada di bumi. Allah memilih bulan Ramadhan dan bulan-bulan haram diantara seluruh bulan. Kaum jahiliyah dahulu menambah-nambah hari dan menguranginya karena mengikuti hawa nafsu mereka, maka mereka berpuasa di luar jadwal waktunya, mereka berhaji bukan di musimnya. Hingga Allah memberi karunia bagi umat ini dengan mengutus penegak agama maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjalankan hajinya yaitu haji wada’ sementara zaman telah kembali lagi sebagaimana semula, dan haji wada’ beliau dilaksanakan pas bulan Dzulhijjah, dan beliau bersabda dalam khutbahnya :إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ“Sesungguhnya zaman telah kembali lagi semula sebagaimana kondisinya tatkala Allah menciptakan langit dan bumi” (Al-Bukhari dan Muslim)Maka hitungan kembali lagi dan dan penanggalan telah tepat dan perkaranya kembali seperti semua seseuai dengan penetapan Allah yang semula.Adanya pemuliaan antara malam-malam dan siang-siang merupakan motivasi yang menyeru untuk menggunakan kesempatan beramal kebajikan, dan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam memotivasi untuk menggunakan kesempatan pada lima perkara sebelum hilangnya lima perkara tersebut. Beliau bersabada :اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ، شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ“Manfaatkanlah 5 perkara sebelum 5 perkara, manfaatkanlah masa mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kekyaanmu sebelu miskinmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, dan kehidupanmu sebelum matimu” (HR Al-Hakim)   Sebentar lagi sepuluh awal dzulhijjah akan menaungi kita, dan ia teramasuk hari-hari Allah yang mulia, dan penutup dari bulan-bulan yang telah diketahui yang Allah berfirman tentang bulan-bulan tersebut :ٱلۡحَجُّ أَشۡهُرٞ مَّعۡلُومَٰتٞۚ(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, (QS Al-Baqoroh : 197)Yaitu bulan Syawwal, Dzulqo’dah, dan 10 hari pertama Dzulhijjah. Dan karena keagunggannya maka seluruh kegiatan amalan haji dilaksanakan pada 10 Dzulhijjah, dan Allah bersumpah dengan malam-malamnya dalam firmanNya :وَٱلۡفَجۡرِ ١  وَلَيَالٍ عَشۡرٖ ٢Demi fajar,  dan malam yang sepuluh (QS Al-Fajr ; 1-2)Dan siangnya lebih afdol daripada siang 10 hari terakhir bulan Ramadhan, Nabi ‘alaihis sholatu was salaam bersabda :أَفْضَلُ أَيَّامِ الدُّنْيَا أَيَّامُ الْعَشْرِ“Sebaik-baik siang hari dunia adalah siang 10 hari awal Dzulhijjah” (HR Ibnu Hibban)Dan teristimewakannya 10 hari Dzulhijjah karena terkumpulkannya induk-induk ibadah padanya, seperti sholat, puasa, sedekah, dan haji, dan tidak terkumpulkan hal ini pada waktu yang lain.Dan seluruh amal sholeh pada 10 hari Dzulhijjah lebih disukai oleh Allah dari pada jika dikerjakan di waktu yang lain. Nabi ‘alaihis sholatu was salaam bersabda :مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ، قَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِبْيلِ اللهِ؟، قَالَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَماَلِهِ وَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ“Tidak ada hari-hari yang amal sholeh padanya lebih dicintai oleh Allah dari pada hari-hari 10 Dzulhijjah”. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?”. Nabi berkata, “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali seseorang yang keluar dengan membawa jiwanya dan hartanya lalu jiwa dan hartanya tidak kembali lagi” (HR Al-Bukhari)Ibnu Rojab berkata : “Hadits ini menunjukan bahwa amal sholeh di hari-hari 10 Dzulhijjah lebih disukai oleh Allah daripada amal di hari-hari yang lain di duni ini, dan tanpa ada pengecualian sama sekali”Para salaf dahulu berjuang untuk beramal soleh pada 10 hari Dzulhijjah, jika telah masuk 10 Dzulhijjah maka Sa’id bin Jubair bersungguh-sungguh dalam beribadah sampai-sampai hampir ia tidak mampu melakukannya.          Dan diantara karunia Allah dan kebaikanNya ketaatan-ketaatan yang bisa dilaksanakan pada 10 hari dzulhijjah bervariasi. Diantara yang disyari’atkan adalah memperbanyak berdzikir kepada Allah, Allah berfirman :وَيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡلُومَٰتٍDan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan (QS Al-Hajj : 28)Ibnu Abbas berkata ; “Yaitu 10 hari Dzulhijjah”.Dan berdzikir kepada Allah pada hari-hari tersebut termasuk ibadah yang paling afdol, Nabi ‘alaihis sholatu was salaam bersabda :مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلاَ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنَ الْعَمَلِ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْعَشْرِ، فَأَكْثِرُوا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْدِ“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan lebih dicintai oleh Allah dari pada beramal pada hari-hari tersebut daripada 10 hari Dzulhijjah, maka perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid” (HR Ahmad)Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Disukai untuk memperbanyak dzikir pada 10 hari Dzulhijjah, lebih dari pada di waktu yang lain, dan disukai untuk lebih banyak lagi di hari Arofah dari pada sisa 10 hari yang lainnya”Dan dzikir yang paling afdol adalah tilawah al-Qur’an, karena al-Qur’an adalah petunjuk dan cahaya yang jelas.Takbir mutlak yang dilakukan setiap waktu termasuk syi’ar pada 10 hari Dzulhijjah. Ibnu Umar dan Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhuma- keluar ke pasar pada 10 hari Dzulhijjah dan bertakbir, dan orang-orangpun bertakbir dengan takbir mereka berdua (HR Al-Bukhari).Dan disyari’atkan takbir tertentu waktunya yaitu setiap kalai selesai sholat dari waktu fajar pada hari Arofah bagi jama’ah haji dan selain mereka. Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Pendapat yang paling kuat tentang bertakbir, yang pendapat ini merupakan pendapat mayoritas salaf, para fuqoha, para sahabat, dan para imam adalah bertakbir sejak fajar hari Arofah hingga akhir hari tasyriq setiap kali habis sholat”Diantara perkara yang dianjurkan adalah puasa 9 hari pertama Dzulhijjah, Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Hal ini sangat-sangat dianjurkan”Dan sedekah adalah amal sholeh, dengannya terangkatlah kesulitan dan hilangnya kesedihan, dan yang terbaik adalah tatkala waktu dibutuhkan dan di zaman yang mulia.Dan taubat memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama, ia merupakan sebab kemenangan dan kebahagiaan. Allah mewajibkannya bagi semuat umat dari segala dosa. Allah berkata kepada mereka yang menyatakan Allah punya istri dan anak :أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى ٱللَّهِ وَيَسۡتَغۡفِرُونَهُۥMaka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya?. (Qs Al-Maidah : 74)Dan Allah berfirman kepada kaum mukminin :وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣١Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (QS An-Nuur : 31)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertaubat kepada Allah setiap harinya 100 kali, beliau bersabda :يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوا إِلَى اللهِ فَإِنِّي أَتُوْبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepadaNya sehari 100 kali” (Al-Bukhari dan Muslim)Dan kita lebih membutuhkan untuk bertaubat, dan sebaik-baik hari bagi seorang hamba adalah hari dimana ia bertaubat. Nabi ‘alaihis sholatu was salam berkata kepada Ka’ab bin Malik radhiallahu ‘anhu :أَبْشِرْ بِخَيْرِ يَوْمٍ مَرَّ عَلَيْكَ مُنْذُ وَلَدَتْكَ أُمُّكَ“Bergembiralah dengan hari terbaik yang engkau lalui sejak engkau dilahirkan oleh ibumu” (Al-Bukhari dan Muslim)Maka sungguh indah seseorang yang bertaubat ia bertaubat di hari-hari yang paling dicintai oleh Allah. Dan siapa yang benar dalam taubatnya maka ia akan meraih derajat yang tinggi, dan Allah akan merubah dosa-dosanya menjadi pahala-pahala.          Dan pada 10 hari Dzulhijjah dilaksanakan haji, yang ia merupakan salah satu rukun Islam dan pondasinya yang kuat. Allah berfirman :وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚMengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (QS Ali ‘Imron : 97)Dan Nabi ‘alaihis sholatu was salam bersabda :يَا أَيُّهَا النَّاسُ، قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا“Wahai manusia, Allah telah mewajibkan haji atas kalian, maka berhajilah” (HR Muslim)Dan ia termasuk amalan yang paling mulia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya ; أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ “Amalan apakah yang paling afdol?”, Nabi menjawab, إِيْمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُوْلِهِ “Iman kepada Allah dan RasulNya”. Dikatakan, “Lalu apa?”, beliau menjawab, الجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ “Jihad di jalan Allah”, dikatakan, “Lalu apa?”, beliau menjawab, حَجٌّ مَبْرُوْرٌ “Haji mabrur” (Al-Bukhari dan Muslim)Dan haji mabrur tidak ada balasan yang setimpal kecuali surga. Dengan haji gugurlah dosa dan kesalahan, Nabi ‘alaihis sholat was salam bersabda:مَنْ حَجَّ الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ“Siapa yang berhaji dan tidak melakukan rofats (jimak dan pendahuluannya), dan tidak berbuat kefasikan (kemasiatan) maka ia akan bersih dari dosa-dosanya seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya” (Al-Bukhari dan Muslim)Dan sungguh Allah membanggakan para jema’ah tatkala di padang Arofah dihadapan penghuni langit.          Haji memiliki hikmah-hikmah yang agung dan tujuan-tujuan yang indah dan mulia dalam agama, dunia, kehidupan, dan hari akhirat. Hikmah yang pertama adalah memantapkan tauhid. Syi’ar hajji adalah :لبيك اللهم لبيك، لبيك لا شريك لبيك، إن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك“Ya Allah aku memenuhi panggilanmu, Ya Allah aku memenuhi panggilanmu, tidak ada syarikat bagiMu, sesungguhnya pujian, segala kenikmatan adalah milikMu demikian juga kerajaan, tiada syarikat bagiMu”Diantara hikmah haji adalah memurnikan keikhlasan untuk Allah dan memurnikan “teladan” kepada Rasulullah. Allah berfirman :وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ للهِ“Dan sempurnakanlah haji dan umroh karena Allah” (QS Al-Baqoroh :Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ“Ambillah dariku tata cara manasik haji kalian” (HR Muslim).Diantara hikmah haji adalah :لِّيَشۡهَدُواْ مَنَٰفِعَ لَهُمۡSupaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka (QS Al-Hajj : 28) yaitu di dunia dari kebaikan-kebaikan yang mereka peroleh, dan di akhirat dengan masuk surga.وَيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡلُومَٰتٍDan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan (QS Al-Hajj : 28)          Haji adalah peringatan terhadap saatnya meninggalkan dunia ini. Waktu pelaksanaannya adalah di hari-hari yang terakhir, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam menunaikannya di akhir kehidupan beliau, dan beliau mengucapkan selamat tinggal kepada para sahabatnya, dan Allah telah menyempurnakan bagi beliau agama bagi umatnya, dan di hari Arofah Allah menurukan kepada beliau firmanNyaٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِيPada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, (QS Al-Maidah : 3)Seorang yang tidak mampu untuk berhaji karena ada udzur maka ia ikut menyertai para jama’ah haji dalam memperoleh pahala jika benar niatnya, bahkan bisa jadi dengan hatinya ia mendahului orang-orang yang berjalan dengan badannya.Di 10 Hari Dzulhijjah ada hari Arofah, berpuasa pada hari tersebut akan menggugurkan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Nabi bersabda :وَمَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرُ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيْهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ“Tidak ada hari yang lebih banyak Allah membebaskan hambanya dari neraka dari pada hari Arofah” (HR Muslim)Diantaranya juga ada hari An-Nahr, yang merupakan hari terbaik dari hari-hari manasik dan yang paling nampak dan yang paling banyak orang berkumpul, dan hari inilah yang disebut haji akbar. Allah berfirman :وَأَذَٰنٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦٓ إِلَى ٱلنَّاسِ يَوۡمَ ٱلۡحَجِّ ٱلۡأَكۡبَرِDan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar (QS At-taubah : 3)Dan ia merupakan hari teragung di sisi Allah. Nabi bersabda :إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ“Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari An-Nahr, kemudian hari al-Qorr” (Hr Abu Dawud).Dan hari An-Nahr adalah salah satu dari dua hari raya kaum muslimin, ia merupakan hari kegembiraan, hari riang dan senang dengan menunaikan salah satu dari rukun Islam. Dan bisa jadi orang-orang terlalaikan dari berdzikir kepada Allah –bersamaan dengan kegembiraan mereka- padahal tatkala itu berdzikir kepada Allah afdol. Allah berfirman۞وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡدُودَٰتٖۚDan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. (QS Al-Baqoroh : 203), yaitu hari-hari tasyriiq. Dan Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda :أَيَّامُ التَّشْرِيْقِ –يعني أيام العيد- أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ للهِ“Hari-hari tasyriq adalah hari-hari untuk makan dan minum serta untuk berdzikir kepada Allah” (HR Muslim)Ibnu Hajar berkata, “Telah tetap kemuliaan 10 hari pertama Dzulhijjah, maka tetap pula kemuliaan tersebut pada hari-hari tasyriq”Dan di hari-hari An-Nahr dan at-Tasyriq ada suatu ibadah harta (maliah) dan raga (badaniah), dan ia merupakan ibadah yang sangat dicintai oleh Allah (yaitu ibadah menyembelih kurban). Allah menggandengkannya dengan sholat :فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ“Sholatlah untuk Allah dan sembelihlah juga karena Allah”Maka Allah Swt memotivasi untuk ikhlas dalam penyembelihan kurban hanya semata-mata tertuju kepada Allah Swt, bukan untuk membanggakan diri atau pamer atau mencari reputasi, dan tidak pula hanya sekadar mengikuti tradisi. Allah berfirman :لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمۡ لِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُحۡسِنِينَ “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (QS Al-Hajj : 37)“Nabi saw berkurban dua ekor kambing kibas (domba jantan) hitam putih yang bertanduk yang beliau sembelih dengan tangan beliau sendiri”.Yakni kambing berbulu hitam yang bagian atasnya putih dan bertanduk.Boleh juga seseorang berhutang untuk berkurban dan mencari diganti oleh Allah dengan anugrahNya. Tidak boleh menggerutu disebabkan kemahalan harganya, karena pahalanya di sisi Allah sangat agung.Barangsiapa yang berniat kurban tidak diperkenankan memotong rambutnya atau kukunya sedikitpun. Rasulullah saw bersabda :مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أَهَلَّ هِلاَلُ ذِيْ الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّيَ“Barangsiapa yang hewan kurbannya telah tersedia untuk dipotong, maka ketika telah kelihatan hilal bulan Dzulhijah maka janganlah ia memotong rambutnya ataupun kukunya sedikitpun hingga ia menyembelih kurbannya”. (HR Muslim).Kaum muslimin !Orang yang beruntung ialah orang yang mampu memanfaatkan event-event setiap bulan, setiap hari, setiap saat untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan menjalankan ibadah rutinitas pada event-event tersebut. Siapa tahu dirinya yang beruntung meraih anugrah sehingga menjadi manusia yang selamat dari neraka dengan segala kobaran apinya dan memperoleh pahala surga yang luasnya seluas bumi dan langit. Saat itu dia menikmati kehidupan yang makmur dan kebahagiaan yang kekal abadi. Dan ke surgalah hendaklah orang-orang yang berlomba menyingsingkan lengan mereka.Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.سَابِقُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا كَعَرۡضِ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أُعِدَّتۡ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦۚ ذَٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ ٢١ “Dan berlombalah menuju ampunan dari Tuhan kalian dan surgaNya yang luasnya seluas langit dan bumi; disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Itulah anugerah Allah yang Dia berikan kepada orang yang dikehendakiNya. Dan Allah mempunyai anugerah yang agung”. (QS Al-Hadid : 21)Semoga Allah memberkahi kami dan kalian dalam mengamalkan Al-Qur’an yang agung  ! ! Khutbah KeduaSegala puji bagi Allah atas segala kebaikanNya. Puji syukur kepadaNya atas taufiq dan anugerahNya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan sealin Allah semata, tiada sekutu bagiNya, kesaksianku  sebagai pengagungan terhadapNya. Akupun bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah HambaNya dan RasulNya. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepadanya beserta seluruh keluarga dan sahabatnya sebanyak-banyaknya. Kaum muslimin !Kemaksiatan adalah penyebab jauhnya seseorang dari Allah, sebagaimana ketaatan menjadi penyebab kedekatan dengan Allah. Maka dosa merupakan pembawa kesialan bagi individu dan masyarakat. Allah Swt berfirman :وَذَرُواْ ظَٰهِرَ ٱلۡإِثۡمِ وَبَاطِنَهُۥٓۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكۡسِبُونَ ٱلۡإِثۡمَ سَيُجۡزَوۡنَ بِمَا كَانُواْ يَقۡتَرِفُونَ ١٢٠“Dan tinggalkanlah dosa yang terang-terangan dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat dosa akan mendapatkan balasan dengan apa yang pernah mereka lakukan”. (QS Al-An’aam : 120)Akan lebih besar lagi bahaya kemaksiatan ketika dilakukan di tengah-tengah musim penebaran rahmat dan kebaikan.Allah Swt berfirman :إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ “Sesungguhnya hitungan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan (yang telah tetap) pada kitab Allah pada hari Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya terdapat empat bulan haram, maka janganlah kalian berbuat aniaya di dalamnya terhadap diri kalian”.Qatadah – Rahimahullah – berkata :  “Berbuat zolim pada bulan-bulan suci lebih besar tingkat pelanggarannya dan dosanya dibanding di bulan-bulan lainnya, meskipun perbuatan zolim bagaimanapun juga keburukan yang besar. Tetapi Allahlah yang berhak meningkatkan apapun yang dikehendakiNya di antara urusanNya”.Maka sebagaimana perbuatan dosa pada bulan-bulan suci tersebut tergolong besar, demikian pula amal shalih dan kebajikan yang dilakukan di dalamnya merupakan sesuatu yang sangat besar pahalanya. Oleh sebab itu manfaatkanlah event-event pembagian anugrah kebaikan dan peningkatan derajat ini sebaik-baiknya. Jauhilah perbuatan yang dapat menyebabkan terhalangnya diri dari ampunan Allah dalam musim-musim pembagian rahmat seperti ini dan juga di waktu-waktu yang lain.Selanjutnya, ketahuilah bahwa Allah memerintahkan kalian berdoa shalawat dan salam kepada Nabi-Nya . . .Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


Khutbah Jum’at Masjid Nabawi 27/11/1436 H – 11/9/2015 MOleh : Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Qosim hafizohullahKhutbah Pertama          Segala puji bagi Allah, kami memujinya, memohon pertolongannya, dan memohon ampunanNya. Dan kami berlindung dari keburukan jiwa kami dan dari kesalahan amal perbuatan kami. Siapa yang diberi hidayah oleh Allah maka tidak ada yang akan menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan maka tidak ada yang memberi petunjuk kepadanya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada syarikat bagiNya, dan aku bersakasi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusanNya, semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada beliau, keluarga dan para sahabatnya.Amma ba’du, bertakwalah kepada Allah wahai para hamba Allah dengan takwa yang sesungguhnya, karena Rob kita tidak menerima kecuali takwa, dan tidak merahmati kecuali orang yang bertakwa.Kaum muslimin sekalian…, sesungguhnya Allah memilih apa yang Allah kehendaki diantara ciptaanNya.وَرَبُّكَ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخۡتَارُۗDan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. (QS Al-Qosos : 68) Allah memilih diantara para malaikatnya dan diantara manusia untuk menjadi para rasulNya, Allah memilih dzikrullah diantara perkataan-perkataan, memilih rumah mesjid-mesjid Allah diantara yang ada di bumi. Allah memilih bulan Ramadhan dan bulan-bulan haram diantara seluruh bulan. Kaum jahiliyah dahulu menambah-nambah hari dan menguranginya karena mengikuti hawa nafsu mereka, maka mereka berpuasa di luar jadwal waktunya, mereka berhaji bukan di musimnya. Hingga Allah memberi karunia bagi umat ini dengan mengutus penegak agama maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjalankan hajinya yaitu haji wada’ sementara zaman telah kembali lagi sebagaimana semula, dan haji wada’ beliau dilaksanakan pas bulan Dzulhijjah, dan beliau bersabda dalam khutbahnya :إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ“Sesungguhnya zaman telah kembali lagi semula sebagaimana kondisinya tatkala Allah menciptakan langit dan bumi” (Al-Bukhari dan Muslim)Maka hitungan kembali lagi dan dan penanggalan telah tepat dan perkaranya kembali seperti semua seseuai dengan penetapan Allah yang semula.Adanya pemuliaan antara malam-malam dan siang-siang merupakan motivasi yang menyeru untuk menggunakan kesempatan beramal kebajikan, dan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam memotivasi untuk menggunakan kesempatan pada lima perkara sebelum hilangnya lima perkara tersebut. Beliau bersabada :اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ، شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ“Manfaatkanlah 5 perkara sebelum 5 perkara, manfaatkanlah masa mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kekyaanmu sebelu miskinmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, dan kehidupanmu sebelum matimu” (HR Al-Hakim)   Sebentar lagi sepuluh awal dzulhijjah akan menaungi kita, dan ia teramasuk hari-hari Allah yang mulia, dan penutup dari bulan-bulan yang telah diketahui yang Allah berfirman tentang bulan-bulan tersebut :ٱلۡحَجُّ أَشۡهُرٞ مَّعۡلُومَٰتٞۚ(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, (QS Al-Baqoroh : 197)Yaitu bulan Syawwal, Dzulqo’dah, dan 10 hari pertama Dzulhijjah. Dan karena keagunggannya maka seluruh kegiatan amalan haji dilaksanakan pada 10 Dzulhijjah, dan Allah bersumpah dengan malam-malamnya dalam firmanNya :وَٱلۡفَجۡرِ ١  وَلَيَالٍ عَشۡرٖ ٢Demi fajar,  dan malam yang sepuluh (QS Al-Fajr ; 1-2)Dan siangnya lebih afdol daripada siang 10 hari terakhir bulan Ramadhan, Nabi ‘alaihis sholatu was salaam bersabda :أَفْضَلُ أَيَّامِ الدُّنْيَا أَيَّامُ الْعَشْرِ“Sebaik-baik siang hari dunia adalah siang 10 hari awal Dzulhijjah” (HR Ibnu Hibban)Dan teristimewakannya 10 hari Dzulhijjah karena terkumpulkannya induk-induk ibadah padanya, seperti sholat, puasa, sedekah, dan haji, dan tidak terkumpulkan hal ini pada waktu yang lain.Dan seluruh amal sholeh pada 10 hari Dzulhijjah lebih disukai oleh Allah dari pada jika dikerjakan di waktu yang lain. Nabi ‘alaihis sholatu was salaam bersabda :مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ، قَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِبْيلِ اللهِ؟، قَالَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَماَلِهِ وَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ“Tidak ada hari-hari yang amal sholeh padanya lebih dicintai oleh Allah dari pada hari-hari 10 Dzulhijjah”. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?”. Nabi berkata, “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali seseorang yang keluar dengan membawa jiwanya dan hartanya lalu jiwa dan hartanya tidak kembali lagi” (HR Al-Bukhari)Ibnu Rojab berkata : “Hadits ini menunjukan bahwa amal sholeh di hari-hari 10 Dzulhijjah lebih disukai oleh Allah daripada amal di hari-hari yang lain di duni ini, dan tanpa ada pengecualian sama sekali”Para salaf dahulu berjuang untuk beramal soleh pada 10 hari Dzulhijjah, jika telah masuk 10 Dzulhijjah maka Sa’id bin Jubair bersungguh-sungguh dalam beribadah sampai-sampai hampir ia tidak mampu melakukannya.          Dan diantara karunia Allah dan kebaikanNya ketaatan-ketaatan yang bisa dilaksanakan pada 10 hari dzulhijjah bervariasi. Diantara yang disyari’atkan adalah memperbanyak berdzikir kepada Allah, Allah berfirman :وَيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡلُومَٰتٍDan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan (QS Al-Hajj : 28)Ibnu Abbas berkata ; “Yaitu 10 hari Dzulhijjah”.Dan berdzikir kepada Allah pada hari-hari tersebut termasuk ibadah yang paling afdol, Nabi ‘alaihis sholatu was salaam bersabda :مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلاَ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنَ الْعَمَلِ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْعَشْرِ، فَأَكْثِرُوا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْدِ“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan lebih dicintai oleh Allah dari pada beramal pada hari-hari tersebut daripada 10 hari Dzulhijjah, maka perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid” (HR Ahmad)Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Disukai untuk memperbanyak dzikir pada 10 hari Dzulhijjah, lebih dari pada di waktu yang lain, dan disukai untuk lebih banyak lagi di hari Arofah dari pada sisa 10 hari yang lainnya”Dan dzikir yang paling afdol adalah tilawah al-Qur’an, karena al-Qur’an adalah petunjuk dan cahaya yang jelas.Takbir mutlak yang dilakukan setiap waktu termasuk syi’ar pada 10 hari Dzulhijjah. Ibnu Umar dan Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhuma- keluar ke pasar pada 10 hari Dzulhijjah dan bertakbir, dan orang-orangpun bertakbir dengan takbir mereka berdua (HR Al-Bukhari).Dan disyari’atkan takbir tertentu waktunya yaitu setiap kalai selesai sholat dari waktu fajar pada hari Arofah bagi jama’ah haji dan selain mereka. Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Pendapat yang paling kuat tentang bertakbir, yang pendapat ini merupakan pendapat mayoritas salaf, para fuqoha, para sahabat, dan para imam adalah bertakbir sejak fajar hari Arofah hingga akhir hari tasyriq setiap kali habis sholat”Diantara perkara yang dianjurkan adalah puasa 9 hari pertama Dzulhijjah, Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Hal ini sangat-sangat dianjurkan”Dan sedekah adalah amal sholeh, dengannya terangkatlah kesulitan dan hilangnya kesedihan, dan yang terbaik adalah tatkala waktu dibutuhkan dan di zaman yang mulia.Dan taubat memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama, ia merupakan sebab kemenangan dan kebahagiaan. Allah mewajibkannya bagi semuat umat dari segala dosa. Allah berkata kepada mereka yang menyatakan Allah punya istri dan anak :أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى ٱللَّهِ وَيَسۡتَغۡفِرُونَهُۥMaka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya?. (Qs Al-Maidah : 74)Dan Allah berfirman kepada kaum mukminin :وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣١Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (QS An-Nuur : 31)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertaubat kepada Allah setiap harinya 100 kali, beliau bersabda :يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوا إِلَى اللهِ فَإِنِّي أَتُوْبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepadaNya sehari 100 kali” (Al-Bukhari dan Muslim)Dan kita lebih membutuhkan untuk bertaubat, dan sebaik-baik hari bagi seorang hamba adalah hari dimana ia bertaubat. Nabi ‘alaihis sholatu was salam berkata kepada Ka’ab bin Malik radhiallahu ‘anhu :أَبْشِرْ بِخَيْرِ يَوْمٍ مَرَّ عَلَيْكَ مُنْذُ وَلَدَتْكَ أُمُّكَ“Bergembiralah dengan hari terbaik yang engkau lalui sejak engkau dilahirkan oleh ibumu” (Al-Bukhari dan Muslim)Maka sungguh indah seseorang yang bertaubat ia bertaubat di hari-hari yang paling dicintai oleh Allah. Dan siapa yang benar dalam taubatnya maka ia akan meraih derajat yang tinggi, dan Allah akan merubah dosa-dosanya menjadi pahala-pahala.          Dan pada 10 hari Dzulhijjah dilaksanakan haji, yang ia merupakan salah satu rukun Islam dan pondasinya yang kuat. Allah berfirman :وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚMengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (QS Ali ‘Imron : 97)Dan Nabi ‘alaihis sholatu was salam bersabda :يَا أَيُّهَا النَّاسُ، قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا“Wahai manusia, Allah telah mewajibkan haji atas kalian, maka berhajilah” (HR Muslim)Dan ia termasuk amalan yang paling mulia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya ; أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ “Amalan apakah yang paling afdol?”, Nabi menjawab, إِيْمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُوْلِهِ “Iman kepada Allah dan RasulNya”. Dikatakan, “Lalu apa?”, beliau menjawab, الجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ “Jihad di jalan Allah”, dikatakan, “Lalu apa?”, beliau menjawab, حَجٌّ مَبْرُوْرٌ “Haji mabrur” (Al-Bukhari dan Muslim)Dan haji mabrur tidak ada balasan yang setimpal kecuali surga. Dengan haji gugurlah dosa dan kesalahan, Nabi ‘alaihis sholat was salam bersabda:مَنْ حَجَّ الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ“Siapa yang berhaji dan tidak melakukan rofats (jimak dan pendahuluannya), dan tidak berbuat kefasikan (kemasiatan) maka ia akan bersih dari dosa-dosanya seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya” (Al-Bukhari dan Muslim)Dan sungguh Allah membanggakan para jema’ah tatkala di padang Arofah dihadapan penghuni langit.          Haji memiliki hikmah-hikmah yang agung dan tujuan-tujuan yang indah dan mulia dalam agama, dunia, kehidupan, dan hari akhirat. Hikmah yang pertama adalah memantapkan tauhid. Syi’ar hajji adalah :لبيك اللهم لبيك، لبيك لا شريك لبيك، إن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك“Ya Allah aku memenuhi panggilanmu, Ya Allah aku memenuhi panggilanmu, tidak ada syarikat bagiMu, sesungguhnya pujian, segala kenikmatan adalah milikMu demikian juga kerajaan, tiada syarikat bagiMu”Diantara hikmah haji adalah memurnikan keikhlasan untuk Allah dan memurnikan “teladan” kepada Rasulullah. Allah berfirman :وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ للهِ“Dan sempurnakanlah haji dan umroh karena Allah” (QS Al-Baqoroh :Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ“Ambillah dariku tata cara manasik haji kalian” (HR Muslim).Diantara hikmah haji adalah :لِّيَشۡهَدُواْ مَنَٰفِعَ لَهُمۡSupaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka (QS Al-Hajj : 28) yaitu di dunia dari kebaikan-kebaikan yang mereka peroleh, dan di akhirat dengan masuk surga.وَيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡلُومَٰتٍDan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan (QS Al-Hajj : 28)          Haji adalah peringatan terhadap saatnya meninggalkan dunia ini. Waktu pelaksanaannya adalah di hari-hari yang terakhir, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam menunaikannya di akhir kehidupan beliau, dan beliau mengucapkan selamat tinggal kepada para sahabatnya, dan Allah telah menyempurnakan bagi beliau agama bagi umatnya, dan di hari Arofah Allah menurukan kepada beliau firmanNyaٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِيPada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, (QS Al-Maidah : 3)Seorang yang tidak mampu untuk berhaji karena ada udzur maka ia ikut menyertai para jama’ah haji dalam memperoleh pahala jika benar niatnya, bahkan bisa jadi dengan hatinya ia mendahului orang-orang yang berjalan dengan badannya.Di 10 Hari Dzulhijjah ada hari Arofah, berpuasa pada hari tersebut akan menggugurkan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Nabi bersabda :وَمَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرُ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيْهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ“Tidak ada hari yang lebih banyak Allah membebaskan hambanya dari neraka dari pada hari Arofah” (HR Muslim)Diantaranya juga ada hari An-Nahr, yang merupakan hari terbaik dari hari-hari manasik dan yang paling nampak dan yang paling banyak orang berkumpul, dan hari inilah yang disebut haji akbar. Allah berfirman :وَأَذَٰنٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦٓ إِلَى ٱلنَّاسِ يَوۡمَ ٱلۡحَجِّ ٱلۡأَكۡبَرِDan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar (QS At-taubah : 3)Dan ia merupakan hari teragung di sisi Allah. Nabi bersabda :إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ“Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari An-Nahr, kemudian hari al-Qorr” (Hr Abu Dawud).Dan hari An-Nahr adalah salah satu dari dua hari raya kaum muslimin, ia merupakan hari kegembiraan, hari riang dan senang dengan menunaikan salah satu dari rukun Islam. Dan bisa jadi orang-orang terlalaikan dari berdzikir kepada Allah –bersamaan dengan kegembiraan mereka- padahal tatkala itu berdzikir kepada Allah afdol. Allah berfirman۞وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡدُودَٰتٖۚDan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. (QS Al-Baqoroh : 203), yaitu hari-hari tasyriiq. Dan Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda :أَيَّامُ التَّشْرِيْقِ –يعني أيام العيد- أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ للهِ“Hari-hari tasyriq adalah hari-hari untuk makan dan minum serta untuk berdzikir kepada Allah” (HR Muslim)Ibnu Hajar berkata, “Telah tetap kemuliaan 10 hari pertama Dzulhijjah, maka tetap pula kemuliaan tersebut pada hari-hari tasyriq”Dan di hari-hari An-Nahr dan at-Tasyriq ada suatu ibadah harta (maliah) dan raga (badaniah), dan ia merupakan ibadah yang sangat dicintai oleh Allah (yaitu ibadah menyembelih kurban). Allah menggandengkannya dengan sholat :فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ“Sholatlah untuk Allah dan sembelihlah juga karena Allah”Maka Allah Swt memotivasi untuk ikhlas dalam penyembelihan kurban hanya semata-mata tertuju kepada Allah Swt, bukan untuk membanggakan diri atau pamer atau mencari reputasi, dan tidak pula hanya sekadar mengikuti tradisi. Allah berfirman :لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمۡ لِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُحۡسِنِينَ “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (QS Al-Hajj : 37)“Nabi saw berkurban dua ekor kambing kibas (domba jantan) hitam putih yang bertanduk yang beliau sembelih dengan tangan beliau sendiri”.Yakni kambing berbulu hitam yang bagian atasnya putih dan bertanduk.Boleh juga seseorang berhutang untuk berkurban dan mencari diganti oleh Allah dengan anugrahNya. Tidak boleh menggerutu disebabkan kemahalan harganya, karena pahalanya di sisi Allah sangat agung.Barangsiapa yang berniat kurban tidak diperkenankan memotong rambutnya atau kukunya sedikitpun. Rasulullah saw bersabda :مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أَهَلَّ هِلاَلُ ذِيْ الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّيَ“Barangsiapa yang hewan kurbannya telah tersedia untuk dipotong, maka ketika telah kelihatan hilal bulan Dzulhijah maka janganlah ia memotong rambutnya ataupun kukunya sedikitpun hingga ia menyembelih kurbannya”. (HR Muslim).Kaum muslimin !Orang yang beruntung ialah orang yang mampu memanfaatkan event-event setiap bulan, setiap hari, setiap saat untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan menjalankan ibadah rutinitas pada event-event tersebut. Siapa tahu dirinya yang beruntung meraih anugrah sehingga menjadi manusia yang selamat dari neraka dengan segala kobaran apinya dan memperoleh pahala surga yang luasnya seluas bumi dan langit. Saat itu dia menikmati kehidupan yang makmur dan kebahagiaan yang kekal abadi. Dan ke surgalah hendaklah orang-orang yang berlomba menyingsingkan lengan mereka.Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.سَابِقُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا كَعَرۡضِ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أُعِدَّتۡ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦۚ ذَٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ ٢١ “Dan berlombalah menuju ampunan dari Tuhan kalian dan surgaNya yang luasnya seluas langit dan bumi; disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Itulah anugerah Allah yang Dia berikan kepada orang yang dikehendakiNya. Dan Allah mempunyai anugerah yang agung”. (QS Al-Hadid : 21)Semoga Allah memberkahi kami dan kalian dalam mengamalkan Al-Qur’an yang agung  ! ! Khutbah KeduaSegala puji bagi Allah atas segala kebaikanNya. Puji syukur kepadaNya atas taufiq dan anugerahNya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan sealin Allah semata, tiada sekutu bagiNya, kesaksianku  sebagai pengagungan terhadapNya. Akupun bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah HambaNya dan RasulNya. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepadanya beserta seluruh keluarga dan sahabatnya sebanyak-banyaknya. Kaum muslimin !Kemaksiatan adalah penyebab jauhnya seseorang dari Allah, sebagaimana ketaatan menjadi penyebab kedekatan dengan Allah. Maka dosa merupakan pembawa kesialan bagi individu dan masyarakat. Allah Swt berfirman :وَذَرُواْ ظَٰهِرَ ٱلۡإِثۡمِ وَبَاطِنَهُۥٓۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكۡسِبُونَ ٱلۡإِثۡمَ سَيُجۡزَوۡنَ بِمَا كَانُواْ يَقۡتَرِفُونَ ١٢٠“Dan tinggalkanlah dosa yang terang-terangan dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat dosa akan mendapatkan balasan dengan apa yang pernah mereka lakukan”. (QS Al-An’aam : 120)Akan lebih besar lagi bahaya kemaksiatan ketika dilakukan di tengah-tengah musim penebaran rahmat dan kebaikan.Allah Swt berfirman :إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ “Sesungguhnya hitungan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan (yang telah tetap) pada kitab Allah pada hari Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya terdapat empat bulan haram, maka janganlah kalian berbuat aniaya di dalamnya terhadap diri kalian”.Qatadah – Rahimahullah – berkata :  “Berbuat zolim pada bulan-bulan suci lebih besar tingkat pelanggarannya dan dosanya dibanding di bulan-bulan lainnya, meskipun perbuatan zolim bagaimanapun juga keburukan yang besar. Tetapi Allahlah yang berhak meningkatkan apapun yang dikehendakiNya di antara urusanNya”.Maka sebagaimana perbuatan dosa pada bulan-bulan suci tersebut tergolong besar, demikian pula amal shalih dan kebajikan yang dilakukan di dalamnya merupakan sesuatu yang sangat besar pahalanya. Oleh sebab itu manfaatkanlah event-event pembagian anugrah kebaikan dan peningkatan derajat ini sebaik-baiknya. Jauhilah perbuatan yang dapat menyebabkan terhalangnya diri dari ampunan Allah dalam musim-musim pembagian rahmat seperti ini dan juga di waktu-waktu yang lain.Selanjutnya, ketahuilah bahwa Allah memerintahkan kalian berdoa shalawat dan salam kepada Nabi-Nya . . .Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

Hadiah di Hari Lahir (14): Pakai Nama Asli atau Nama Kunyah?

Kalau ingin kenalan dengan orang lain, baiknya menggunakan nama asli ataukah nama kunyah? Nama kunyah adalah nama dengan Abu atau Ummu. Contoh: Abu Sufyan, Ummu Abdillah. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Yang sesuai dengan adab, janganlah seseorang menyebut nama kunyah (dengan Abu atau Ummu, pen.) dalam tulisan atau di keadaan lainnya. Hanya dibolehkan jika ia memang hanya dikenal dengan nama kunyah atau sudah tersohor dengan nama tersebut. Dalam Shahihain, dari Ummu Hani, nama aslinya Fakhitah. Ada juga yang menyebut bahwa nama aslinya adalah Fatimah, ada juga yang menyebut Hindun. Ia berkata, “Aku pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau bertanya, “Siapa ini?” Aku menjawab, “Aku Ummu Hani.” Dalam Shahihain, dari Abu Dzar, nama aslinya adalah Jundub. Ia berkata, “Aku pernah berjalan di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di bawah bayangan rembulan. Lalu beliau menoleh kemudian melihatku dan bertanya, “Siapa ini?” Jawabku, “Abu Dzar.” Dalam Shahih Muslim, dari Abu Qatadah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan padanya, “Siapa ini?” Jawabku, “Abu Qatadah.” Dalam Shahih Muslim pula, dari Abu Hurairah, ia berkata pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah berdo’alah pada Allah supaya memberikan petunjuk pada ibu dari Abu Hurairah.” Contoh nama-nama yang sudah sangat terkenal dengan nama kunyah seperti di atas banyak sekali. Wallahu a’lam. (Al-Majmu’, 8: 256) Kesimpulannya, kalau sudah dikenal oleh orang-orang dengan nama asli, maka pakailah nama asli saat kenalan. Janganlah sesuatu yang sudah dikenal disamarkan dengan sesuatu yang belum jelas. Kecuali kalau memang yang ma’rufnya dikenal dengan nama kunyah, bukan nama asli. Atau pilihan lain adalah gunakan nama kunyah dengan berbarengan menyebut nama asli, seperti Abu Rumaysho Muhammad Abduh Tuasikal. Wallahu a’lam bish shawwab. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab li Asy-Syairazy. Cetakan kedua, tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Dzulqa’dah 1436 H Tagshadiah hari lahir nama kunyah

Hadiah di Hari Lahir (14): Pakai Nama Asli atau Nama Kunyah?

Kalau ingin kenalan dengan orang lain, baiknya menggunakan nama asli ataukah nama kunyah? Nama kunyah adalah nama dengan Abu atau Ummu. Contoh: Abu Sufyan, Ummu Abdillah. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Yang sesuai dengan adab, janganlah seseorang menyebut nama kunyah (dengan Abu atau Ummu, pen.) dalam tulisan atau di keadaan lainnya. Hanya dibolehkan jika ia memang hanya dikenal dengan nama kunyah atau sudah tersohor dengan nama tersebut. Dalam Shahihain, dari Ummu Hani, nama aslinya Fakhitah. Ada juga yang menyebut bahwa nama aslinya adalah Fatimah, ada juga yang menyebut Hindun. Ia berkata, “Aku pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau bertanya, “Siapa ini?” Aku menjawab, “Aku Ummu Hani.” Dalam Shahihain, dari Abu Dzar, nama aslinya adalah Jundub. Ia berkata, “Aku pernah berjalan di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di bawah bayangan rembulan. Lalu beliau menoleh kemudian melihatku dan bertanya, “Siapa ini?” Jawabku, “Abu Dzar.” Dalam Shahih Muslim, dari Abu Qatadah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan padanya, “Siapa ini?” Jawabku, “Abu Qatadah.” Dalam Shahih Muslim pula, dari Abu Hurairah, ia berkata pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah berdo’alah pada Allah supaya memberikan petunjuk pada ibu dari Abu Hurairah.” Contoh nama-nama yang sudah sangat terkenal dengan nama kunyah seperti di atas banyak sekali. Wallahu a’lam. (Al-Majmu’, 8: 256) Kesimpulannya, kalau sudah dikenal oleh orang-orang dengan nama asli, maka pakailah nama asli saat kenalan. Janganlah sesuatu yang sudah dikenal disamarkan dengan sesuatu yang belum jelas. Kecuali kalau memang yang ma’rufnya dikenal dengan nama kunyah, bukan nama asli. Atau pilihan lain adalah gunakan nama kunyah dengan berbarengan menyebut nama asli, seperti Abu Rumaysho Muhammad Abduh Tuasikal. Wallahu a’lam bish shawwab. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab li Asy-Syairazy. Cetakan kedua, tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Dzulqa’dah 1436 H Tagshadiah hari lahir nama kunyah
Kalau ingin kenalan dengan orang lain, baiknya menggunakan nama asli ataukah nama kunyah? Nama kunyah adalah nama dengan Abu atau Ummu. Contoh: Abu Sufyan, Ummu Abdillah. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Yang sesuai dengan adab, janganlah seseorang menyebut nama kunyah (dengan Abu atau Ummu, pen.) dalam tulisan atau di keadaan lainnya. Hanya dibolehkan jika ia memang hanya dikenal dengan nama kunyah atau sudah tersohor dengan nama tersebut. Dalam Shahihain, dari Ummu Hani, nama aslinya Fakhitah. Ada juga yang menyebut bahwa nama aslinya adalah Fatimah, ada juga yang menyebut Hindun. Ia berkata, “Aku pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau bertanya, “Siapa ini?” Aku menjawab, “Aku Ummu Hani.” Dalam Shahihain, dari Abu Dzar, nama aslinya adalah Jundub. Ia berkata, “Aku pernah berjalan di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di bawah bayangan rembulan. Lalu beliau menoleh kemudian melihatku dan bertanya, “Siapa ini?” Jawabku, “Abu Dzar.” Dalam Shahih Muslim, dari Abu Qatadah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan padanya, “Siapa ini?” Jawabku, “Abu Qatadah.” Dalam Shahih Muslim pula, dari Abu Hurairah, ia berkata pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah berdo’alah pada Allah supaya memberikan petunjuk pada ibu dari Abu Hurairah.” Contoh nama-nama yang sudah sangat terkenal dengan nama kunyah seperti di atas banyak sekali. Wallahu a’lam. (Al-Majmu’, 8: 256) Kesimpulannya, kalau sudah dikenal oleh orang-orang dengan nama asli, maka pakailah nama asli saat kenalan. Janganlah sesuatu yang sudah dikenal disamarkan dengan sesuatu yang belum jelas. Kecuali kalau memang yang ma’rufnya dikenal dengan nama kunyah, bukan nama asli. Atau pilihan lain adalah gunakan nama kunyah dengan berbarengan menyebut nama asli, seperti Abu Rumaysho Muhammad Abduh Tuasikal. Wallahu a’lam bish shawwab. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab li Asy-Syairazy. Cetakan kedua, tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Dzulqa’dah 1436 H Tagshadiah hari lahir nama kunyah


Kalau ingin kenalan dengan orang lain, baiknya menggunakan nama asli ataukah nama kunyah? Nama kunyah adalah nama dengan Abu atau Ummu. Contoh: Abu Sufyan, Ummu Abdillah. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Yang sesuai dengan adab, janganlah seseorang menyebut nama kunyah (dengan Abu atau Ummu, pen.) dalam tulisan atau di keadaan lainnya. Hanya dibolehkan jika ia memang hanya dikenal dengan nama kunyah atau sudah tersohor dengan nama tersebut. Dalam Shahihain, dari Ummu Hani, nama aslinya Fakhitah. Ada juga yang menyebut bahwa nama aslinya adalah Fatimah, ada juga yang menyebut Hindun. Ia berkata, “Aku pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau bertanya, “Siapa ini?” Aku menjawab, “Aku Ummu Hani.” Dalam Shahihain, dari Abu Dzar, nama aslinya adalah Jundub. Ia berkata, “Aku pernah berjalan di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di bawah bayangan rembulan. Lalu beliau menoleh kemudian melihatku dan bertanya, “Siapa ini?” Jawabku, “Abu Dzar.” Dalam Shahih Muslim, dari Abu Qatadah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan padanya, “Siapa ini?” Jawabku, “Abu Qatadah.” Dalam Shahih Muslim pula, dari Abu Hurairah, ia berkata pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah berdo’alah pada Allah supaya memberikan petunjuk pada ibu dari Abu Hurairah.” Contoh nama-nama yang sudah sangat terkenal dengan nama kunyah seperti di atas banyak sekali. Wallahu a’lam. (Al-Majmu’, 8: 256) Kesimpulannya, kalau sudah dikenal oleh orang-orang dengan nama asli, maka pakailah nama asli saat kenalan. Janganlah sesuatu yang sudah dikenal disamarkan dengan sesuatu yang belum jelas. Kecuali kalau memang yang ma’rufnya dikenal dengan nama kunyah, bukan nama asli. Atau pilihan lain adalah gunakan nama kunyah dengan berbarengan menyebut nama asli, seperti Abu Rumaysho Muhammad Abduh Tuasikal. Wallahu a’lam bish shawwab. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab li Asy-Syairazy. Cetakan kedua, tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 27 Dzulqa’dah 1436 H Tagshadiah hari lahir nama kunyah

Berdiri yang Pertama Memudahkan Berdiri yang Kedua

Berdiri yang pertama memudahkan berdiri yang kedua. Apa itu? Ibnul Qayyim katakan sebagai berikut. Ada dua keadaan kita berdiri menghadap Allah: berdiri menghadap Allah dalam shalat berdiri menghadap Allah di hari kiamat Siapa yg berdiri untuk keadaan pertama -yaitu shalat-, maka akan dimudahkan baginya menghadap keadaan mawqif (berdiri) pada hari kiamat. وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari. إِنَّ هَٰؤُلَاءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلًا Sesungguhnya mereka menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat). ~QS. Al-Insan atau Ad-Dahr: 26-27~ [Fawaid Al-Fawaid, disusun sesuai bab oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halabi, hlm. 398, Penerbit Dar Ibnul Jauzi] # Sungguh kita banyak lalai dari berdiri yang pertama. Kalau kita kerjakan pun, kadang separuh hati, tak khusyu’, penuh kekurangan. Ya Allah, jadikanlah kami hamba yang taat shalat, agar dimudahkan pada mawqif hari kiamat. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 26 Dzulqa’dah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagskiamat

Berdiri yang Pertama Memudahkan Berdiri yang Kedua

Berdiri yang pertama memudahkan berdiri yang kedua. Apa itu? Ibnul Qayyim katakan sebagai berikut. Ada dua keadaan kita berdiri menghadap Allah: berdiri menghadap Allah dalam shalat berdiri menghadap Allah di hari kiamat Siapa yg berdiri untuk keadaan pertama -yaitu shalat-, maka akan dimudahkan baginya menghadap keadaan mawqif (berdiri) pada hari kiamat. وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari. إِنَّ هَٰؤُلَاءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلًا Sesungguhnya mereka menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat). ~QS. Al-Insan atau Ad-Dahr: 26-27~ [Fawaid Al-Fawaid, disusun sesuai bab oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halabi, hlm. 398, Penerbit Dar Ibnul Jauzi] # Sungguh kita banyak lalai dari berdiri yang pertama. Kalau kita kerjakan pun, kadang separuh hati, tak khusyu’, penuh kekurangan. Ya Allah, jadikanlah kami hamba yang taat shalat, agar dimudahkan pada mawqif hari kiamat. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 26 Dzulqa’dah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagskiamat
Berdiri yang pertama memudahkan berdiri yang kedua. Apa itu? Ibnul Qayyim katakan sebagai berikut. Ada dua keadaan kita berdiri menghadap Allah: berdiri menghadap Allah dalam shalat berdiri menghadap Allah di hari kiamat Siapa yg berdiri untuk keadaan pertama -yaitu shalat-, maka akan dimudahkan baginya menghadap keadaan mawqif (berdiri) pada hari kiamat. وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari. إِنَّ هَٰؤُلَاءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلًا Sesungguhnya mereka menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat). ~QS. Al-Insan atau Ad-Dahr: 26-27~ [Fawaid Al-Fawaid, disusun sesuai bab oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halabi, hlm. 398, Penerbit Dar Ibnul Jauzi] # Sungguh kita banyak lalai dari berdiri yang pertama. Kalau kita kerjakan pun, kadang separuh hati, tak khusyu’, penuh kekurangan. Ya Allah, jadikanlah kami hamba yang taat shalat, agar dimudahkan pada mawqif hari kiamat. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 26 Dzulqa’dah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagskiamat


Berdiri yang pertama memudahkan berdiri yang kedua. Apa itu? Ibnul Qayyim katakan sebagai berikut. Ada dua keadaan kita berdiri menghadap Allah: berdiri menghadap Allah dalam shalat berdiri menghadap Allah di hari kiamat Siapa yg berdiri untuk keadaan pertama -yaitu shalat-, maka akan dimudahkan baginya menghadap keadaan mawqif (berdiri) pada hari kiamat. وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari. إِنَّ هَٰؤُلَاءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلًا Sesungguhnya mereka menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat). ~QS. Al-Insan atau Ad-Dahr: 26-27~ [Fawaid Al-Fawaid, disusun sesuai bab oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halabi, hlm. 398, Penerbit Dar Ibnul Jauzi] # Sungguh kita banyak lalai dari berdiri yang pertama. Kalau kita kerjakan pun, kadang separuh hati, tak khusyu’, penuh kekurangan. Ya Allah, jadikanlah kami hamba yang taat shalat, agar dimudahkan pada mawqif hari kiamat. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 26 Dzulqa’dah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagskiamat

Qurban untuk Satu Keluarga: Sunnah Kifayah

Hukum qurban untuk satu keluarga adalah sunnah kifayah. Apa maksudnya? Abu Bakr bin Muhammad bin ‘Abdul Mu’min –semoga Allah merahmati beliau– berkata, “Qurban itu adalah sunnah kifayah. Maksudnya, jika satu anggota keluarga sudah melakukannya, maka semuanya telah memenuhi yang sunnah. Seandainya tidak ada yang berqurban dalam satu keluarga, hal itu dimakruhkan. Namun tentu saja yang dikenakan di sini adalah orang yang merdeka dan berkemampuan.” (Kifayah Al-Akhyar fi Halli Ghayah Al-Ikhtishar, hlm. 579) Bahkan satu keluarga pun bisa berserikat dalam pahala. Dalil bahwa satu qurban bisa berserikat pahala untuk satu keluarga yaitu hadits dari ‘Atha’ bin Yasar, ia berkata, سَأَلْتُ أَبَا أَيُّوبَ الأَنْصَارِيَّ كَيْفَ كَانَتْ الضَّحَايَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فَقَالَ : كَانَ الرَّجُلُ يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ ، فَيَأْكُلُونَ وَيُطْعِمُونَ “Aku pernah bertanya pada Ayyub Al-Anshari, bagaimana qurban di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Beliau menjawab, “Seseorang biasa berqurban dengan seekor kambing (diniatkan) untuk dirinya dan satu keluarganya. Lalu mereka memakan qurban tersebut dan memberikan makan untuk yang lainnya.” (HR. Tirmidzi no. 1505 dan Ibnu Majah no. 3147. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Namun ada kajian penting yang perlu dibaca di sini: Syarat Satu Bagian Qurban Bisa untuk Satu Keluarga   Bagi keluarga yang mampu berqurbanlah baik dengan seekor kambing atau 1/7 sapi atau bisa jadi lebih dari itu, moga Allah berkahi rezekinya sekeluarga.   Semoga Allah beri kepahaman, moga jadi ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Kifayah Al-Akhyar fi Halli Ghayah Al-Ikhtishar. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Taqiyuddin Abu Bakr bin Muhammad bin ‘Abdul Mu’min Al-Hishniy Al-Husaini Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i. Penerbit Dar Al-Minhaj. — Selesai disusun menjelang Ashar, 25 Dzulqa’dah 1436 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsqurban

Qurban untuk Satu Keluarga: Sunnah Kifayah

Hukum qurban untuk satu keluarga adalah sunnah kifayah. Apa maksudnya? Abu Bakr bin Muhammad bin ‘Abdul Mu’min –semoga Allah merahmati beliau– berkata, “Qurban itu adalah sunnah kifayah. Maksudnya, jika satu anggota keluarga sudah melakukannya, maka semuanya telah memenuhi yang sunnah. Seandainya tidak ada yang berqurban dalam satu keluarga, hal itu dimakruhkan. Namun tentu saja yang dikenakan di sini adalah orang yang merdeka dan berkemampuan.” (Kifayah Al-Akhyar fi Halli Ghayah Al-Ikhtishar, hlm. 579) Bahkan satu keluarga pun bisa berserikat dalam pahala. Dalil bahwa satu qurban bisa berserikat pahala untuk satu keluarga yaitu hadits dari ‘Atha’ bin Yasar, ia berkata, سَأَلْتُ أَبَا أَيُّوبَ الأَنْصَارِيَّ كَيْفَ كَانَتْ الضَّحَايَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فَقَالَ : كَانَ الرَّجُلُ يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ ، فَيَأْكُلُونَ وَيُطْعِمُونَ “Aku pernah bertanya pada Ayyub Al-Anshari, bagaimana qurban di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Beliau menjawab, “Seseorang biasa berqurban dengan seekor kambing (diniatkan) untuk dirinya dan satu keluarganya. Lalu mereka memakan qurban tersebut dan memberikan makan untuk yang lainnya.” (HR. Tirmidzi no. 1505 dan Ibnu Majah no. 3147. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Namun ada kajian penting yang perlu dibaca di sini: Syarat Satu Bagian Qurban Bisa untuk Satu Keluarga   Bagi keluarga yang mampu berqurbanlah baik dengan seekor kambing atau 1/7 sapi atau bisa jadi lebih dari itu, moga Allah berkahi rezekinya sekeluarga.   Semoga Allah beri kepahaman, moga jadi ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Kifayah Al-Akhyar fi Halli Ghayah Al-Ikhtishar. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Taqiyuddin Abu Bakr bin Muhammad bin ‘Abdul Mu’min Al-Hishniy Al-Husaini Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i. Penerbit Dar Al-Minhaj. — Selesai disusun menjelang Ashar, 25 Dzulqa’dah 1436 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsqurban
Hukum qurban untuk satu keluarga adalah sunnah kifayah. Apa maksudnya? Abu Bakr bin Muhammad bin ‘Abdul Mu’min –semoga Allah merahmati beliau– berkata, “Qurban itu adalah sunnah kifayah. Maksudnya, jika satu anggota keluarga sudah melakukannya, maka semuanya telah memenuhi yang sunnah. Seandainya tidak ada yang berqurban dalam satu keluarga, hal itu dimakruhkan. Namun tentu saja yang dikenakan di sini adalah orang yang merdeka dan berkemampuan.” (Kifayah Al-Akhyar fi Halli Ghayah Al-Ikhtishar, hlm. 579) Bahkan satu keluarga pun bisa berserikat dalam pahala. Dalil bahwa satu qurban bisa berserikat pahala untuk satu keluarga yaitu hadits dari ‘Atha’ bin Yasar, ia berkata, سَأَلْتُ أَبَا أَيُّوبَ الأَنْصَارِيَّ كَيْفَ كَانَتْ الضَّحَايَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فَقَالَ : كَانَ الرَّجُلُ يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ ، فَيَأْكُلُونَ وَيُطْعِمُونَ “Aku pernah bertanya pada Ayyub Al-Anshari, bagaimana qurban di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Beliau menjawab, “Seseorang biasa berqurban dengan seekor kambing (diniatkan) untuk dirinya dan satu keluarganya. Lalu mereka memakan qurban tersebut dan memberikan makan untuk yang lainnya.” (HR. Tirmidzi no. 1505 dan Ibnu Majah no. 3147. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Namun ada kajian penting yang perlu dibaca di sini: Syarat Satu Bagian Qurban Bisa untuk Satu Keluarga   Bagi keluarga yang mampu berqurbanlah baik dengan seekor kambing atau 1/7 sapi atau bisa jadi lebih dari itu, moga Allah berkahi rezekinya sekeluarga.   Semoga Allah beri kepahaman, moga jadi ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Kifayah Al-Akhyar fi Halli Ghayah Al-Ikhtishar. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Taqiyuddin Abu Bakr bin Muhammad bin ‘Abdul Mu’min Al-Hishniy Al-Husaini Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i. Penerbit Dar Al-Minhaj. — Selesai disusun menjelang Ashar, 25 Dzulqa’dah 1436 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsqurban


Hukum qurban untuk satu keluarga adalah sunnah kifayah. Apa maksudnya? Abu Bakr bin Muhammad bin ‘Abdul Mu’min –semoga Allah merahmati beliau– berkata, “Qurban itu adalah sunnah kifayah. Maksudnya, jika satu anggota keluarga sudah melakukannya, maka semuanya telah memenuhi yang sunnah. Seandainya tidak ada yang berqurban dalam satu keluarga, hal itu dimakruhkan. Namun tentu saja yang dikenakan di sini adalah orang yang merdeka dan berkemampuan.” (Kifayah Al-Akhyar fi Halli Ghayah Al-Ikhtishar, hlm. 579) Bahkan satu keluarga pun bisa berserikat dalam pahala. Dalil bahwa satu qurban bisa berserikat pahala untuk satu keluarga yaitu hadits dari ‘Atha’ bin Yasar, ia berkata, سَأَلْتُ أَبَا أَيُّوبَ الأَنْصَارِيَّ كَيْفَ كَانَتْ الضَّحَايَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فَقَالَ : كَانَ الرَّجُلُ يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ ، فَيَأْكُلُونَ وَيُطْعِمُونَ “Aku pernah bertanya pada Ayyub Al-Anshari, bagaimana qurban di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Beliau menjawab, “Seseorang biasa berqurban dengan seekor kambing (diniatkan) untuk dirinya dan satu keluarganya. Lalu mereka memakan qurban tersebut dan memberikan makan untuk yang lainnya.” (HR. Tirmidzi no. 1505 dan Ibnu Majah no. 3147. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih) Namun ada kajian penting yang perlu dibaca di sini: Syarat Satu Bagian Qurban Bisa untuk Satu Keluarga   Bagi keluarga yang mampu berqurbanlah baik dengan seekor kambing atau 1/7 sapi atau bisa jadi lebih dari itu, moga Allah berkahi rezekinya sekeluarga.   Semoga Allah beri kepahaman, moga jadi ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Kifayah Al-Akhyar fi Halli Ghayah Al-Ikhtishar. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Taqiyuddin Abu Bakr bin Muhammad bin ‘Abdul Mu’min Al-Hishniy Al-Husaini Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i. Penerbit Dar Al-Minhaj. — Selesai disusun menjelang Ashar, 25 Dzulqa’dah 1436 H di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsqurban

Faedah Surat Yasin: Sebab Orang Sulit Menerima Kebenaran

Ada beberapa sebab orang sulit menerima kebenaran. Ada pula sifat yang mudah menerima kebenaran. Yang perlu dipahami, manusia hanyalah pemberi peringatan atau mengajarkan ilmu. Namun untuk membuat seseorang menjadi baik dan dapat hidayah adalah wewenang Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (7) إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ (8) وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ (9) وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (10) إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ (11) “Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.” (QS. Yasin: 7-11) Faedah penting dari ayat di atas adalah siapa yang mengamalkan isi Al-Qur’an (diambil dari faedah ayat sebelumnya) dan punya rasa takut yang besar pada Allah adalah sebab ia mudah masuk surga. Penentangan adalah penghalang bagi seseorang untuk mendapatkan hidayah. (Al-Mukhtashar fi At-Tafsir, hlm. 440) Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa orang mudah menerima kebenaran memiliki dua sifat: Punya niatan yang baik dalam mencari kebenaran. Takut pada Allah. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 734)   Kalau kita kaji, ada tiga sebab utama kenapa kebenaran itu ditolak oleh seseorang: 1- Kebodohan Kebodohan adalah penghalang terbesar bagi seseorang untuk menerima kebenaran.   2- Adanya kepentingan duniawi yang lebih ingin dikejar Seperti Heraklius yang sebenarnya menerima kebenaran Islam, namun karena kepentingan duniawi yaitu takut pengikutnya lari, akhirnya ia pun mengurungkan niatnya untuk masuk Islam.   3- Hasad (benci akan nikmat yang ada pada orang lain) Sifat ini yang membuat Iblis enggan sujud pada Adam ‘alaihis salam. Penyakit ini punya yang menyebabkan orang Yahudi enggan beriman pada Isa bin Maryam. Begitu pula ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka hasad pula sehingga lebih memilih kafir daripada keimanan. Nabi Isa sebenarnya datang untuk menyempurnakan ajaran yang ada pada Taurat. Ada ajaran Nabi Isa yang memberikan keringanan dengan menghalalkan hal yang sebelumnya dilarang sebagai bentuk kasih sayang. Tentu sikap mereka dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih menolak dengan keras karena Nabi Muhammad membawa syari’at baru yang berdiri sendiri dan menghapus syari’at sebelumnya. Demikian kami ringkaskan dari penjelasan Ibnul Qayyim dalam Hidayah Al-Hayara fi Ajwibah Al-Yahud wa An-Nashara, hlm. 16. Nasihat di atas sangat bermanfaat bagi setiap yang berdakwah … Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Al-Mukhtashar fi At-Tafsir. Penerbit Markaz Tafsir li Dirasah Al-Islamiyyah. Hidayah Al-Hayara fi Ajwibah Al-Yahud wa An-Nashara. Muhammad bin Abu Bakr Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Al-Jami’ah Al-Islamiyyah Al-Madinah Al-Munawwarah. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman). Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 25 Dzulqa’dah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsfaedah surat yasin kebenaran surat yasin tafsir surat yasin

Faedah Surat Yasin: Sebab Orang Sulit Menerima Kebenaran

Ada beberapa sebab orang sulit menerima kebenaran. Ada pula sifat yang mudah menerima kebenaran. Yang perlu dipahami, manusia hanyalah pemberi peringatan atau mengajarkan ilmu. Namun untuk membuat seseorang menjadi baik dan dapat hidayah adalah wewenang Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (7) إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ (8) وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ (9) وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (10) إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ (11) “Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.” (QS. Yasin: 7-11) Faedah penting dari ayat di atas adalah siapa yang mengamalkan isi Al-Qur’an (diambil dari faedah ayat sebelumnya) dan punya rasa takut yang besar pada Allah adalah sebab ia mudah masuk surga. Penentangan adalah penghalang bagi seseorang untuk mendapatkan hidayah. (Al-Mukhtashar fi At-Tafsir, hlm. 440) Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa orang mudah menerima kebenaran memiliki dua sifat: Punya niatan yang baik dalam mencari kebenaran. Takut pada Allah. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 734)   Kalau kita kaji, ada tiga sebab utama kenapa kebenaran itu ditolak oleh seseorang: 1- Kebodohan Kebodohan adalah penghalang terbesar bagi seseorang untuk menerima kebenaran.   2- Adanya kepentingan duniawi yang lebih ingin dikejar Seperti Heraklius yang sebenarnya menerima kebenaran Islam, namun karena kepentingan duniawi yaitu takut pengikutnya lari, akhirnya ia pun mengurungkan niatnya untuk masuk Islam.   3- Hasad (benci akan nikmat yang ada pada orang lain) Sifat ini yang membuat Iblis enggan sujud pada Adam ‘alaihis salam. Penyakit ini punya yang menyebabkan orang Yahudi enggan beriman pada Isa bin Maryam. Begitu pula ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka hasad pula sehingga lebih memilih kafir daripada keimanan. Nabi Isa sebenarnya datang untuk menyempurnakan ajaran yang ada pada Taurat. Ada ajaran Nabi Isa yang memberikan keringanan dengan menghalalkan hal yang sebelumnya dilarang sebagai bentuk kasih sayang. Tentu sikap mereka dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih menolak dengan keras karena Nabi Muhammad membawa syari’at baru yang berdiri sendiri dan menghapus syari’at sebelumnya. Demikian kami ringkaskan dari penjelasan Ibnul Qayyim dalam Hidayah Al-Hayara fi Ajwibah Al-Yahud wa An-Nashara, hlm. 16. Nasihat di atas sangat bermanfaat bagi setiap yang berdakwah … Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Al-Mukhtashar fi At-Tafsir. Penerbit Markaz Tafsir li Dirasah Al-Islamiyyah. Hidayah Al-Hayara fi Ajwibah Al-Yahud wa An-Nashara. Muhammad bin Abu Bakr Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Al-Jami’ah Al-Islamiyyah Al-Madinah Al-Munawwarah. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman). Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 25 Dzulqa’dah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsfaedah surat yasin kebenaran surat yasin tafsir surat yasin
Ada beberapa sebab orang sulit menerima kebenaran. Ada pula sifat yang mudah menerima kebenaran. Yang perlu dipahami, manusia hanyalah pemberi peringatan atau mengajarkan ilmu. Namun untuk membuat seseorang menjadi baik dan dapat hidayah adalah wewenang Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (7) إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ (8) وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ (9) وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (10) إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ (11) “Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.” (QS. Yasin: 7-11) Faedah penting dari ayat di atas adalah siapa yang mengamalkan isi Al-Qur’an (diambil dari faedah ayat sebelumnya) dan punya rasa takut yang besar pada Allah adalah sebab ia mudah masuk surga. Penentangan adalah penghalang bagi seseorang untuk mendapatkan hidayah. (Al-Mukhtashar fi At-Tafsir, hlm. 440) Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa orang mudah menerima kebenaran memiliki dua sifat: Punya niatan yang baik dalam mencari kebenaran. Takut pada Allah. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 734)   Kalau kita kaji, ada tiga sebab utama kenapa kebenaran itu ditolak oleh seseorang: 1- Kebodohan Kebodohan adalah penghalang terbesar bagi seseorang untuk menerima kebenaran.   2- Adanya kepentingan duniawi yang lebih ingin dikejar Seperti Heraklius yang sebenarnya menerima kebenaran Islam, namun karena kepentingan duniawi yaitu takut pengikutnya lari, akhirnya ia pun mengurungkan niatnya untuk masuk Islam.   3- Hasad (benci akan nikmat yang ada pada orang lain) Sifat ini yang membuat Iblis enggan sujud pada Adam ‘alaihis salam. Penyakit ini punya yang menyebabkan orang Yahudi enggan beriman pada Isa bin Maryam. Begitu pula ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka hasad pula sehingga lebih memilih kafir daripada keimanan. Nabi Isa sebenarnya datang untuk menyempurnakan ajaran yang ada pada Taurat. Ada ajaran Nabi Isa yang memberikan keringanan dengan menghalalkan hal yang sebelumnya dilarang sebagai bentuk kasih sayang. Tentu sikap mereka dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih menolak dengan keras karena Nabi Muhammad membawa syari’at baru yang berdiri sendiri dan menghapus syari’at sebelumnya. Demikian kami ringkaskan dari penjelasan Ibnul Qayyim dalam Hidayah Al-Hayara fi Ajwibah Al-Yahud wa An-Nashara, hlm. 16. Nasihat di atas sangat bermanfaat bagi setiap yang berdakwah … Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Al-Mukhtashar fi At-Tafsir. Penerbit Markaz Tafsir li Dirasah Al-Islamiyyah. Hidayah Al-Hayara fi Ajwibah Al-Yahud wa An-Nashara. Muhammad bin Abu Bakr Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Al-Jami’ah Al-Islamiyyah Al-Madinah Al-Munawwarah. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman). Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 25 Dzulqa’dah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsfaedah surat yasin kebenaran surat yasin tafsir surat yasin


Ada beberapa sebab orang sulit menerima kebenaran. Ada pula sifat yang mudah menerima kebenaran. Yang perlu dipahami, manusia hanyalah pemberi peringatan atau mengajarkan ilmu. Namun untuk membuat seseorang menjadi baik dan dapat hidayah adalah wewenang Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (7) إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ (8) وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ (9) وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (10) إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ (11) “Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.” (QS. Yasin: 7-11) Faedah penting dari ayat di atas adalah siapa yang mengamalkan isi Al-Qur’an (diambil dari faedah ayat sebelumnya) dan punya rasa takut yang besar pada Allah adalah sebab ia mudah masuk surga. Penentangan adalah penghalang bagi seseorang untuk mendapatkan hidayah. (Al-Mukhtashar fi At-Tafsir, hlm. 440) Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa orang mudah menerima kebenaran memiliki dua sifat: Punya niatan yang baik dalam mencari kebenaran. Takut pada Allah. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 734)   Kalau kita kaji, ada tiga sebab utama kenapa kebenaran itu ditolak oleh seseorang: 1- Kebodohan Kebodohan adalah penghalang terbesar bagi seseorang untuk menerima kebenaran.   2- Adanya kepentingan duniawi yang lebih ingin dikejar Seperti Heraklius yang sebenarnya menerima kebenaran Islam, namun karena kepentingan duniawi yaitu takut pengikutnya lari, akhirnya ia pun mengurungkan niatnya untuk masuk Islam.   3- Hasad (benci akan nikmat yang ada pada orang lain) Sifat ini yang membuat Iblis enggan sujud pada Adam ‘alaihis salam. Penyakit ini punya yang menyebabkan orang Yahudi enggan beriman pada Isa bin Maryam. Begitu pula ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka hasad pula sehingga lebih memilih kafir daripada keimanan. Nabi Isa sebenarnya datang untuk menyempurnakan ajaran yang ada pada Taurat. Ada ajaran Nabi Isa yang memberikan keringanan dengan menghalalkan hal yang sebelumnya dilarang sebagai bentuk kasih sayang. Tentu sikap mereka dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih menolak dengan keras karena Nabi Muhammad membawa syari’at baru yang berdiri sendiri dan menghapus syari’at sebelumnya. Demikian kami ringkaskan dari penjelasan Ibnul Qayyim dalam Hidayah Al-Hayara fi Ajwibah Al-Yahud wa An-Nashara, hlm. 16. Nasihat di atas sangat bermanfaat bagi setiap yang berdakwah … Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Al-Mukhtashar fi At-Tafsir. Penerbit Markaz Tafsir li Dirasah Al-Islamiyyah. Hidayah Al-Hayara fi Ajwibah Al-Yahud wa An-Nashara. Muhammad bin Abu Bakr Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Al-Jami’ah Al-Islamiyyah Al-Madinah Al-Munawwarah. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman). Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 25 Dzulqa’dah 1436 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsfaedah surat yasin kebenaran surat yasin tafsir surat yasin
Prev     Next