Pembatal Shalat (1)

Apa saja yang membatalkan shalat? Kali ini kita membicarakan tentang satu pembatal yaitu berbicara atau ngobrol dalam shalat. Bahasan ini diambil dari pembahasan Syaikh Musthafa Al-Bugha yang merupakan pakar madzhab Syafi’i saat ini.   1- Berbicara dengan Sengaja Kapan disebut membatalkan shalat? Yaitu ketika berbicara dengan sengaja selain Al-Qur’an, dzikir dan do’a. Dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, كُنَّا نَتَكَلَّمُ فِى الصَّلاَةِ يُكَلِّمُ أَحَدُنَا أَخَاهُ فِى حَاجَتِهِ حَتَّى نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ ( حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاَةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ ) فَأُمِرْنَا بِالسُّكُوتِ “Kami dahulu berbicara di dalam shalat, di antara kami ada yang membicarakan saudaranya mengenai hajatnya sampai turun firman Allah Ta’ala, “Jagalah shalat yang lima waktu dan shalat wustha (shalat ‘Ashar). Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (QS. Al-Baqarah: 238). Maka ketika itu kami diperintahkan untuk diam.” (HR. Bukhari no. 4534 dan Muslim no. 539) Dari Mu’awiyah bin Hakam As-Sulamiy radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padanya ketika ia menjawab ucapan orang yang bersin dengan menyebut “yarhamukallah” lalu orang-orang pada memandanginya, إِنَّ هَذِهِ الصَّلاَةَ لاَ يَصْلُحُ فِيهَا شَىْءٌ مِنْ كَلاَمِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ “Ingatlah shalat itu tidak pantas di dalamnya terdapat perkataan manusia. Shalat itu hanya tasbih, takbir dan bacaan Al-Qur’an.” (HR. Muslim no. 537) Dianggap batal jika sengaja berbicara dalam shalat dan terdiri dari minimal dua huruf walau tidak dipahami maknanya. Bisa juga membatalkan shalat jika bicara terdiri dari minimal satu huruf yang dipahami maknanya. Adapun berbicara dalam shalat dalam keadaan lupa atau tidak tahu akan larangannya karena baru masuk Islam, maka dimaafkan jika pembicaraannya sedikit namun ini selama tidak lebih dari enam kata. Berlanjut insya Allah … Semoga manfaat.   Referensi: Al-Fiqhu Al-Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Asy Syafi’i. Cetakan kesepuluh, tahun 1430 H. Dr. Musthofa Al-Khin, Dr. Musthofa Al-Bugha. Penerbit Darul Qalam. — Selesai disusun di malam hari, 18 Muharram 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagscara shalat pembatal shalat

Pembatal Shalat (1)

Apa saja yang membatalkan shalat? Kali ini kita membicarakan tentang satu pembatal yaitu berbicara atau ngobrol dalam shalat. Bahasan ini diambil dari pembahasan Syaikh Musthafa Al-Bugha yang merupakan pakar madzhab Syafi’i saat ini.   1- Berbicara dengan Sengaja Kapan disebut membatalkan shalat? Yaitu ketika berbicara dengan sengaja selain Al-Qur’an, dzikir dan do’a. Dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, كُنَّا نَتَكَلَّمُ فِى الصَّلاَةِ يُكَلِّمُ أَحَدُنَا أَخَاهُ فِى حَاجَتِهِ حَتَّى نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ ( حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاَةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ ) فَأُمِرْنَا بِالسُّكُوتِ “Kami dahulu berbicara di dalam shalat, di antara kami ada yang membicarakan saudaranya mengenai hajatnya sampai turun firman Allah Ta’ala, “Jagalah shalat yang lima waktu dan shalat wustha (shalat ‘Ashar). Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (QS. Al-Baqarah: 238). Maka ketika itu kami diperintahkan untuk diam.” (HR. Bukhari no. 4534 dan Muslim no. 539) Dari Mu’awiyah bin Hakam As-Sulamiy radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padanya ketika ia menjawab ucapan orang yang bersin dengan menyebut “yarhamukallah” lalu orang-orang pada memandanginya, إِنَّ هَذِهِ الصَّلاَةَ لاَ يَصْلُحُ فِيهَا شَىْءٌ مِنْ كَلاَمِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ “Ingatlah shalat itu tidak pantas di dalamnya terdapat perkataan manusia. Shalat itu hanya tasbih, takbir dan bacaan Al-Qur’an.” (HR. Muslim no. 537) Dianggap batal jika sengaja berbicara dalam shalat dan terdiri dari minimal dua huruf walau tidak dipahami maknanya. Bisa juga membatalkan shalat jika bicara terdiri dari minimal satu huruf yang dipahami maknanya. Adapun berbicara dalam shalat dalam keadaan lupa atau tidak tahu akan larangannya karena baru masuk Islam, maka dimaafkan jika pembicaraannya sedikit namun ini selama tidak lebih dari enam kata. Berlanjut insya Allah … Semoga manfaat.   Referensi: Al-Fiqhu Al-Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Asy Syafi’i. Cetakan kesepuluh, tahun 1430 H. Dr. Musthofa Al-Khin, Dr. Musthofa Al-Bugha. Penerbit Darul Qalam. — Selesai disusun di malam hari, 18 Muharram 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagscara shalat pembatal shalat
Apa saja yang membatalkan shalat? Kali ini kita membicarakan tentang satu pembatal yaitu berbicara atau ngobrol dalam shalat. Bahasan ini diambil dari pembahasan Syaikh Musthafa Al-Bugha yang merupakan pakar madzhab Syafi’i saat ini.   1- Berbicara dengan Sengaja Kapan disebut membatalkan shalat? Yaitu ketika berbicara dengan sengaja selain Al-Qur’an, dzikir dan do’a. Dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, كُنَّا نَتَكَلَّمُ فِى الصَّلاَةِ يُكَلِّمُ أَحَدُنَا أَخَاهُ فِى حَاجَتِهِ حَتَّى نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ ( حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاَةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ ) فَأُمِرْنَا بِالسُّكُوتِ “Kami dahulu berbicara di dalam shalat, di antara kami ada yang membicarakan saudaranya mengenai hajatnya sampai turun firman Allah Ta’ala, “Jagalah shalat yang lima waktu dan shalat wustha (shalat ‘Ashar). Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (QS. Al-Baqarah: 238). Maka ketika itu kami diperintahkan untuk diam.” (HR. Bukhari no. 4534 dan Muslim no. 539) Dari Mu’awiyah bin Hakam As-Sulamiy radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padanya ketika ia menjawab ucapan orang yang bersin dengan menyebut “yarhamukallah” lalu orang-orang pada memandanginya, إِنَّ هَذِهِ الصَّلاَةَ لاَ يَصْلُحُ فِيهَا شَىْءٌ مِنْ كَلاَمِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ “Ingatlah shalat itu tidak pantas di dalamnya terdapat perkataan manusia. Shalat itu hanya tasbih, takbir dan bacaan Al-Qur’an.” (HR. Muslim no. 537) Dianggap batal jika sengaja berbicara dalam shalat dan terdiri dari minimal dua huruf walau tidak dipahami maknanya. Bisa juga membatalkan shalat jika bicara terdiri dari minimal satu huruf yang dipahami maknanya. Adapun berbicara dalam shalat dalam keadaan lupa atau tidak tahu akan larangannya karena baru masuk Islam, maka dimaafkan jika pembicaraannya sedikit namun ini selama tidak lebih dari enam kata. Berlanjut insya Allah … Semoga manfaat.   Referensi: Al-Fiqhu Al-Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Asy Syafi’i. Cetakan kesepuluh, tahun 1430 H. Dr. Musthofa Al-Khin, Dr. Musthofa Al-Bugha. Penerbit Darul Qalam. — Selesai disusun di malam hari, 18 Muharram 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagscara shalat pembatal shalat


Apa saja yang membatalkan shalat? Kali ini kita membicarakan tentang satu pembatal yaitu berbicara atau ngobrol dalam shalat. Bahasan ini diambil dari pembahasan Syaikh Musthafa Al-Bugha yang merupakan pakar madzhab Syafi’i saat ini.   1- Berbicara dengan Sengaja Kapan disebut membatalkan shalat? Yaitu ketika berbicara dengan sengaja selain Al-Qur’an, dzikir dan do’a. Dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, كُنَّا نَتَكَلَّمُ فِى الصَّلاَةِ يُكَلِّمُ أَحَدُنَا أَخَاهُ فِى حَاجَتِهِ حَتَّى نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ ( حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاَةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ ) فَأُمِرْنَا بِالسُّكُوتِ “Kami dahulu berbicara di dalam shalat, di antara kami ada yang membicarakan saudaranya mengenai hajatnya sampai turun firman Allah Ta’ala, “Jagalah shalat yang lima waktu dan shalat wustha (shalat ‘Ashar). Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (QS. Al-Baqarah: 238). Maka ketika itu kami diperintahkan untuk diam.” (HR. Bukhari no. 4534 dan Muslim no. 539) Dari Mu’awiyah bin Hakam As-Sulamiy radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padanya ketika ia menjawab ucapan orang yang bersin dengan menyebut “yarhamukallah” lalu orang-orang pada memandanginya, إِنَّ هَذِهِ الصَّلاَةَ لاَ يَصْلُحُ فِيهَا شَىْءٌ مِنْ كَلاَمِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ “Ingatlah shalat itu tidak pantas di dalamnya terdapat perkataan manusia. Shalat itu hanya tasbih, takbir dan bacaan Al-Qur’an.” (HR. Muslim no. 537) Dianggap batal jika sengaja berbicara dalam shalat dan terdiri dari minimal dua huruf walau tidak dipahami maknanya. Bisa juga membatalkan shalat jika bicara terdiri dari minimal satu huruf yang dipahami maknanya. Adapun berbicara dalam shalat dalam keadaan lupa atau tidak tahu akan larangannya karena baru masuk Islam, maka dimaafkan jika pembicaraannya sedikit namun ini selama tidak lebih dari enam kata. Berlanjut insya Allah … Semoga manfaat.   Referensi: Al-Fiqhu Al-Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Asy Syafi’i. Cetakan kesepuluh, tahun 1430 H. Dr. Musthofa Al-Khin, Dr. Musthofa Al-Bugha. Penerbit Darul Qalam. — Selesai disusun di malam hari, 18 Muharram 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagscara shalat pembatal shalat

Tafsir Surat Asy Syarh (3): Bersama Kesulitan Ada Kemudahan

Pelajaran berikutnya dari Surat Asy-Syarh, bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Allah Ta’ala berfirman, فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6) “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyrah: 1-8) Ada hadits dari Anas, ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk dan sekelilingnya ada lubang. Beliau bersabda, لَوْ جَاءَ العُسْرُ فَدَخَلَ هَذَا الحُجْرَ لَجَاءَ اليُسْرُ حَتَّى يَدْخُلَ عَلَيْهِ فَيُخْرِجُهُ “Seandainya kesulitan itu datang dan masuk dalam lubang ini, maka akan datang kemudahan dan ia turut masuk ke dalam lubang tersebut sampai ia mengeluarkan kesulitan tadi.” Lantas turunlah potongan ayat yang disebutkan di atas. (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 2: 255. Sanad hadits ini dha’if karena terdapat A’idz bin Syuraih) Al-Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa ketika turun surat Alam Nasyrah ayat 5-6, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أبْشِرُوا أتاكُمُ اليُسْرُ، لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ “Kabarkanlah bahwa akan datang pada kalian kemudahan. Karena satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.” Perkataan yang sama disampaikan oleh Qatadah. Qatadah mengatakan, “Diceritakan pada kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi kabar gembira pada para sahabatnya dengan ayat di atas, lalu beliau mengatakan, لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ “Satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.” (Riwayat-riwayat ini adalah riwayat mursal, dikeluarkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam kitab tafsirnya. Lihat Tafsir Ath-Thabari, 24: 496, Dar Hijr. Riwayat mursal adalah riwayat yang terputus sanadnya pada akhir sanad, yaitu setelah tabi’in. Riwayat ini dha’if (lemah) sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jaami’ no. 4784) Al-Hasan Al-Bashri mengatakan, كَانُوا يَقُوْلُوْنَ: لاَ يَغْلِبُ عُسْرٌ وَاحِدٌ يُسْرَيْنِ اِثْنَيْنِ “Para sahabat dahulu berkata bahwa satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.” (Disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim 7: 598. Sanad riwayat ini hasan) Ibnu Katsir menjelaskan perkataan di atas dengan kaedah ilmu bahasa Arab, “Kesulitan (al-‘usru) menggunakan isim ma’rifah di dua keadaan (artinya: terlihat didahului alif laam, pen.), maka kesulitan pertama dan kedua dianggap satu atau dianggap sama. Sedangkan kemudahan (yusrun) menggunakan isim nakirah (artinya: tidak terdapat alif laam, pen.), sehingga KEMUDAHAN itu berbilang, bukan hanya satu. Oleh karenanya disebut, “Satu kesulitan mustahil mengalahkan dua kemudahan.” Kesulitan pertama yang disebut dalam ayat sama dengan kesulitan kedua, berarti kesulitan itu hanya satu. Sedangkan kemudahan itu berbilang.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 598)   Solusinya adalah Sabar … Sabar menanti adanya kelapangan adalah solusi paling ampuh dalam menghadapi masalah, bukan dengan mengeluh dan berkeluh kesah. Imam Syafi’i pernah berkata dalam bait syair, صَبرا جَميلا ما أقرَبَ الفَرجا … مَن رَاقَب الله في الأمور نَجَا … مَن صَدَق الله لَم يَنَلْه أذَى … وَمَن رَجَاه يَكون حَيثُ رَجَا … Bersabarlah yang baik, maka niscaya kelapangan itu begitu dekat. Barangsiapa yang mendekatkan diri pada Allah untuk lepas dari kesulitan, maka ia pasti akan selamat. Barangsiapa yang begitu yakin dengan Allah, maka ia pasti tidak merasakan penderitaan. Barangsiapa yang selalu berharap pada-Nya, maka Allah pasti akan memberi pertolongan. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 598)   Faedah dari Ayat Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi berkata, “Bersama kesulitan itu ada kemudahan seterusnya dan selamanya. Satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan. Harapan seorang mungkin tentunya ingin bahagia selamanya.” (Aysar At-Tafasir, hlm. 1482) Dalam Al-Mukhtashor fii At-Tafsir (hlm. 596) disebutkan bahwa ayat ini mengingatkan pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa di balik kesulitan itu ada kemudahan. Jika telah mengetahui hal itu, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tak perlu khawatir dengan gangguan kaumnya. Jangan pula mengendorkan semangat untuk terus berdakwah pada Allah. Dari situ, setiap da’i yang berdakwah seharusnya bisa mencontoh keadaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Demikian pelajaran berharga dari dua ayat lanjutan dari Surat Asy-Syarh. Moga bermanfaat.   Referensi: Al-Mukhtashar fii At-Tafsir. Penerbit Muassasah Syaikh ‘Abdullah bin Zaid bin Ghanim Al-Khairiyyah. Aysar At-Tafasir li Kalam Al-‘Aliyyil Kabir. Cetakan pertama, tahun 1419 H. Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. Penerbit Maktabah Adhwa’ Al-Manar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Syaikh Abu Ishaq Al-Huwainiy. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun pagi hari, 17 Muharram 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagskemudahan tafsir juz amma

Tafsir Surat Asy Syarh (3): Bersama Kesulitan Ada Kemudahan

Pelajaran berikutnya dari Surat Asy-Syarh, bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Allah Ta’ala berfirman, فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6) “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyrah: 1-8) Ada hadits dari Anas, ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk dan sekelilingnya ada lubang. Beliau bersabda, لَوْ جَاءَ العُسْرُ فَدَخَلَ هَذَا الحُجْرَ لَجَاءَ اليُسْرُ حَتَّى يَدْخُلَ عَلَيْهِ فَيُخْرِجُهُ “Seandainya kesulitan itu datang dan masuk dalam lubang ini, maka akan datang kemudahan dan ia turut masuk ke dalam lubang tersebut sampai ia mengeluarkan kesulitan tadi.” Lantas turunlah potongan ayat yang disebutkan di atas. (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 2: 255. Sanad hadits ini dha’if karena terdapat A’idz bin Syuraih) Al-Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa ketika turun surat Alam Nasyrah ayat 5-6, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أبْشِرُوا أتاكُمُ اليُسْرُ، لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ “Kabarkanlah bahwa akan datang pada kalian kemudahan. Karena satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.” Perkataan yang sama disampaikan oleh Qatadah. Qatadah mengatakan, “Diceritakan pada kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi kabar gembira pada para sahabatnya dengan ayat di atas, lalu beliau mengatakan, لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ “Satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.” (Riwayat-riwayat ini adalah riwayat mursal, dikeluarkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam kitab tafsirnya. Lihat Tafsir Ath-Thabari, 24: 496, Dar Hijr. Riwayat mursal adalah riwayat yang terputus sanadnya pada akhir sanad, yaitu setelah tabi’in. Riwayat ini dha’if (lemah) sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jaami’ no. 4784) Al-Hasan Al-Bashri mengatakan, كَانُوا يَقُوْلُوْنَ: لاَ يَغْلِبُ عُسْرٌ وَاحِدٌ يُسْرَيْنِ اِثْنَيْنِ “Para sahabat dahulu berkata bahwa satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.” (Disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim 7: 598. Sanad riwayat ini hasan) Ibnu Katsir menjelaskan perkataan di atas dengan kaedah ilmu bahasa Arab, “Kesulitan (al-‘usru) menggunakan isim ma’rifah di dua keadaan (artinya: terlihat didahului alif laam, pen.), maka kesulitan pertama dan kedua dianggap satu atau dianggap sama. Sedangkan kemudahan (yusrun) menggunakan isim nakirah (artinya: tidak terdapat alif laam, pen.), sehingga KEMUDAHAN itu berbilang, bukan hanya satu. Oleh karenanya disebut, “Satu kesulitan mustahil mengalahkan dua kemudahan.” Kesulitan pertama yang disebut dalam ayat sama dengan kesulitan kedua, berarti kesulitan itu hanya satu. Sedangkan kemudahan itu berbilang.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 598)   Solusinya adalah Sabar … Sabar menanti adanya kelapangan adalah solusi paling ampuh dalam menghadapi masalah, bukan dengan mengeluh dan berkeluh kesah. Imam Syafi’i pernah berkata dalam bait syair, صَبرا جَميلا ما أقرَبَ الفَرجا … مَن رَاقَب الله في الأمور نَجَا … مَن صَدَق الله لَم يَنَلْه أذَى … وَمَن رَجَاه يَكون حَيثُ رَجَا … Bersabarlah yang baik, maka niscaya kelapangan itu begitu dekat. Barangsiapa yang mendekatkan diri pada Allah untuk lepas dari kesulitan, maka ia pasti akan selamat. Barangsiapa yang begitu yakin dengan Allah, maka ia pasti tidak merasakan penderitaan. Barangsiapa yang selalu berharap pada-Nya, maka Allah pasti akan memberi pertolongan. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 598)   Faedah dari Ayat Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi berkata, “Bersama kesulitan itu ada kemudahan seterusnya dan selamanya. Satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan. Harapan seorang mungkin tentunya ingin bahagia selamanya.” (Aysar At-Tafasir, hlm. 1482) Dalam Al-Mukhtashor fii At-Tafsir (hlm. 596) disebutkan bahwa ayat ini mengingatkan pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa di balik kesulitan itu ada kemudahan. Jika telah mengetahui hal itu, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tak perlu khawatir dengan gangguan kaumnya. Jangan pula mengendorkan semangat untuk terus berdakwah pada Allah. Dari situ, setiap da’i yang berdakwah seharusnya bisa mencontoh keadaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Demikian pelajaran berharga dari dua ayat lanjutan dari Surat Asy-Syarh. Moga bermanfaat.   Referensi: Al-Mukhtashar fii At-Tafsir. Penerbit Muassasah Syaikh ‘Abdullah bin Zaid bin Ghanim Al-Khairiyyah. Aysar At-Tafasir li Kalam Al-‘Aliyyil Kabir. Cetakan pertama, tahun 1419 H. Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. Penerbit Maktabah Adhwa’ Al-Manar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Syaikh Abu Ishaq Al-Huwainiy. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun pagi hari, 17 Muharram 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagskemudahan tafsir juz amma
Pelajaran berikutnya dari Surat Asy-Syarh, bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Allah Ta’ala berfirman, فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6) “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyrah: 1-8) Ada hadits dari Anas, ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk dan sekelilingnya ada lubang. Beliau bersabda, لَوْ جَاءَ العُسْرُ فَدَخَلَ هَذَا الحُجْرَ لَجَاءَ اليُسْرُ حَتَّى يَدْخُلَ عَلَيْهِ فَيُخْرِجُهُ “Seandainya kesulitan itu datang dan masuk dalam lubang ini, maka akan datang kemudahan dan ia turut masuk ke dalam lubang tersebut sampai ia mengeluarkan kesulitan tadi.” Lantas turunlah potongan ayat yang disebutkan di atas. (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 2: 255. Sanad hadits ini dha’if karena terdapat A’idz bin Syuraih) Al-Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa ketika turun surat Alam Nasyrah ayat 5-6, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أبْشِرُوا أتاكُمُ اليُسْرُ، لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ “Kabarkanlah bahwa akan datang pada kalian kemudahan. Karena satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.” Perkataan yang sama disampaikan oleh Qatadah. Qatadah mengatakan, “Diceritakan pada kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi kabar gembira pada para sahabatnya dengan ayat di atas, lalu beliau mengatakan, لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ “Satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.” (Riwayat-riwayat ini adalah riwayat mursal, dikeluarkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam kitab tafsirnya. Lihat Tafsir Ath-Thabari, 24: 496, Dar Hijr. Riwayat mursal adalah riwayat yang terputus sanadnya pada akhir sanad, yaitu setelah tabi’in. Riwayat ini dha’if (lemah) sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jaami’ no. 4784) Al-Hasan Al-Bashri mengatakan, كَانُوا يَقُوْلُوْنَ: لاَ يَغْلِبُ عُسْرٌ وَاحِدٌ يُسْرَيْنِ اِثْنَيْنِ “Para sahabat dahulu berkata bahwa satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.” (Disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim 7: 598. Sanad riwayat ini hasan) Ibnu Katsir menjelaskan perkataan di atas dengan kaedah ilmu bahasa Arab, “Kesulitan (al-‘usru) menggunakan isim ma’rifah di dua keadaan (artinya: terlihat didahului alif laam, pen.), maka kesulitan pertama dan kedua dianggap satu atau dianggap sama. Sedangkan kemudahan (yusrun) menggunakan isim nakirah (artinya: tidak terdapat alif laam, pen.), sehingga KEMUDAHAN itu berbilang, bukan hanya satu. Oleh karenanya disebut, “Satu kesulitan mustahil mengalahkan dua kemudahan.” Kesulitan pertama yang disebut dalam ayat sama dengan kesulitan kedua, berarti kesulitan itu hanya satu. Sedangkan kemudahan itu berbilang.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 598)   Solusinya adalah Sabar … Sabar menanti adanya kelapangan adalah solusi paling ampuh dalam menghadapi masalah, bukan dengan mengeluh dan berkeluh kesah. Imam Syafi’i pernah berkata dalam bait syair, صَبرا جَميلا ما أقرَبَ الفَرجا … مَن رَاقَب الله في الأمور نَجَا … مَن صَدَق الله لَم يَنَلْه أذَى … وَمَن رَجَاه يَكون حَيثُ رَجَا … Bersabarlah yang baik, maka niscaya kelapangan itu begitu dekat. Barangsiapa yang mendekatkan diri pada Allah untuk lepas dari kesulitan, maka ia pasti akan selamat. Barangsiapa yang begitu yakin dengan Allah, maka ia pasti tidak merasakan penderitaan. Barangsiapa yang selalu berharap pada-Nya, maka Allah pasti akan memberi pertolongan. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 598)   Faedah dari Ayat Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi berkata, “Bersama kesulitan itu ada kemudahan seterusnya dan selamanya. Satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan. Harapan seorang mungkin tentunya ingin bahagia selamanya.” (Aysar At-Tafasir, hlm. 1482) Dalam Al-Mukhtashor fii At-Tafsir (hlm. 596) disebutkan bahwa ayat ini mengingatkan pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa di balik kesulitan itu ada kemudahan. Jika telah mengetahui hal itu, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tak perlu khawatir dengan gangguan kaumnya. Jangan pula mengendorkan semangat untuk terus berdakwah pada Allah. Dari situ, setiap da’i yang berdakwah seharusnya bisa mencontoh keadaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Demikian pelajaran berharga dari dua ayat lanjutan dari Surat Asy-Syarh. Moga bermanfaat.   Referensi: Al-Mukhtashar fii At-Tafsir. Penerbit Muassasah Syaikh ‘Abdullah bin Zaid bin Ghanim Al-Khairiyyah. Aysar At-Tafasir li Kalam Al-‘Aliyyil Kabir. Cetakan pertama, tahun 1419 H. Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. Penerbit Maktabah Adhwa’ Al-Manar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Syaikh Abu Ishaq Al-Huwainiy. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun pagi hari, 17 Muharram 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagskemudahan tafsir juz amma


Pelajaran berikutnya dari Surat Asy-Syarh, bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Allah Ta’ala berfirman, فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6) “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyrah: 1-8) Ada hadits dari Anas, ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk dan sekelilingnya ada lubang. Beliau bersabda, لَوْ جَاءَ العُسْرُ فَدَخَلَ هَذَا الحُجْرَ لَجَاءَ اليُسْرُ حَتَّى يَدْخُلَ عَلَيْهِ فَيُخْرِجُهُ “Seandainya kesulitan itu datang dan masuk dalam lubang ini, maka akan datang kemudahan dan ia turut masuk ke dalam lubang tersebut sampai ia mengeluarkan kesulitan tadi.” Lantas turunlah potongan ayat yang disebutkan di atas. (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 2: 255. Sanad hadits ini dha’if karena terdapat A’idz bin Syuraih) Al-Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa ketika turun surat Alam Nasyrah ayat 5-6, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أبْشِرُوا أتاكُمُ اليُسْرُ، لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ “Kabarkanlah bahwa akan datang pada kalian kemudahan. Karena satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.” Perkataan yang sama disampaikan oleh Qatadah. Qatadah mengatakan, “Diceritakan pada kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi kabar gembira pada para sahabatnya dengan ayat di atas, lalu beliau mengatakan, لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ “Satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.” (Riwayat-riwayat ini adalah riwayat mursal, dikeluarkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam kitab tafsirnya. Lihat Tafsir Ath-Thabari, 24: 496, Dar Hijr. Riwayat mursal adalah riwayat yang terputus sanadnya pada akhir sanad, yaitu setelah tabi’in. Riwayat ini dha’if (lemah) sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jaami’ no. 4784) Al-Hasan Al-Bashri mengatakan, كَانُوا يَقُوْلُوْنَ: لاَ يَغْلِبُ عُسْرٌ وَاحِدٌ يُسْرَيْنِ اِثْنَيْنِ “Para sahabat dahulu berkata bahwa satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.” (Disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim 7: 598. Sanad riwayat ini hasan) Ibnu Katsir menjelaskan perkataan di atas dengan kaedah ilmu bahasa Arab, “Kesulitan (al-‘usru) menggunakan isim ma’rifah di dua keadaan (artinya: terlihat didahului alif laam, pen.), maka kesulitan pertama dan kedua dianggap satu atau dianggap sama. Sedangkan kemudahan (yusrun) menggunakan isim nakirah (artinya: tidak terdapat alif laam, pen.), sehingga KEMUDAHAN itu berbilang, bukan hanya satu. Oleh karenanya disebut, “Satu kesulitan mustahil mengalahkan dua kemudahan.” Kesulitan pertama yang disebut dalam ayat sama dengan kesulitan kedua, berarti kesulitan itu hanya satu. Sedangkan kemudahan itu berbilang.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 598)   Solusinya adalah Sabar … Sabar menanti adanya kelapangan adalah solusi paling ampuh dalam menghadapi masalah, bukan dengan mengeluh dan berkeluh kesah. Imam Syafi’i pernah berkata dalam bait syair, صَبرا جَميلا ما أقرَبَ الفَرجا … مَن رَاقَب الله في الأمور نَجَا … مَن صَدَق الله لَم يَنَلْه أذَى … وَمَن رَجَاه يَكون حَيثُ رَجَا … Bersabarlah yang baik, maka niscaya kelapangan itu begitu dekat. Barangsiapa yang mendekatkan diri pada Allah untuk lepas dari kesulitan, maka ia pasti akan selamat. Barangsiapa yang begitu yakin dengan Allah, maka ia pasti tidak merasakan penderitaan. Barangsiapa yang selalu berharap pada-Nya, maka Allah pasti akan memberi pertolongan. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 598)   Faedah dari Ayat Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi berkata, “Bersama kesulitan itu ada kemudahan seterusnya dan selamanya. Satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan. Harapan seorang mungkin tentunya ingin bahagia selamanya.” (Aysar At-Tafasir, hlm. 1482) Dalam Al-Mukhtashor fii At-Tafsir (hlm. 596) disebutkan bahwa ayat ini mengingatkan pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa di balik kesulitan itu ada kemudahan. Jika telah mengetahui hal itu, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tak perlu khawatir dengan gangguan kaumnya. Jangan pula mengendorkan semangat untuk terus berdakwah pada Allah. Dari situ, setiap da’i yang berdakwah seharusnya bisa mencontoh keadaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Demikian pelajaran berharga dari dua ayat lanjutan dari Surat Asy-Syarh. Moga bermanfaat.   Referensi: Al-Mukhtashar fii At-Tafsir. Penerbit Muassasah Syaikh ‘Abdullah bin Zaid bin Ghanim Al-Khairiyyah. Aysar At-Tafasir li Kalam Al-‘Aliyyil Kabir. Cetakan pertama, tahun 1419 H. Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. Penerbit Maktabah Adhwa’ Al-Manar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Syaikh Abu Ishaq Al-Huwainiy. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun pagi hari, 17 Muharram 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagskemudahan tafsir juz amma

Tafsir Surat Asy Syarh (4): Selesai Shalat, Berdoalah

Faedah lainnya dari surat Asy-Syarh, setelah selesai dari ibadah atau shalat, diperintahkan untuk berdoa dan terus berusaha menjaga niatan ikhlas karena Allah.   Allah Ta’ala berfirman, فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (7) وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ (8) “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Alam Nasyrah: 1-8)   Ibnu Katsir berkata, “Jika engkau telah selesai dari urusan dan kesibukan duniamu, maka lakukanlah ibadah. Semangatlah melakukan yang penting. Murnikanlah niatan dan harapanmu pada Rabbmu.” Dua hadits ini adalah contoh diperintahkan kita bisa konsen dalam ibadah. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبَثَانِ “Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan, begitu pula tidak ada shalat bagi yang menahan akhbatsan (kencing atau buang air besar).” (HR. Muslim no. 560). Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ وَحَضَرَ الْعَشَاءُ فَابْدَءُوا بِالْعَشَاءِ “Jika shalat telah ditegakkan dan makanan sudah siap tersajikan, maka dahulukanlah makan malam.” (HR. Bukhari no. 5465) Mujahid berkata tentang ayat ini, “Jika engkau telah selesai dari urusan duniamu, kerjakanlah shalat, hadaplah Rabbmu.” Ada juga riwayat dari Mujahid, “Jika engkau telah selesai shalat, tunaikanlah hajat-hajatmu.” Ibnu Mas’ud berkata, “Jika engkau telah menunaikan shalat fardhu, tunaikanlah shalat malam.” Dari Ibnu ‘Iyadh berpendapat seperti itu pula. ‘Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, { فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ } يعني: فِي الدُّعَاءِ “Jika engkau telah selesai (dari shalat atau ibadah, pen.), maka berdo’alah.” Ini jadi dalil sebagian ulama dibolehkan berdoa setelah shalat fardhu. Ada dalil lain yang lebih spesifik, جاء رجلٌ إلى النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، فقال : أيُّ الصلاة أفضل ؟ قال : (( جوفُ الليل الأوسط )) ، قال : أيُّ الدُّعاء أسمع ؟ قال: (( دُبر المكتوبات )) “Ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya, “Shalat apa yang paling afdhal?” “Shalat di tengah malam”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ditanya kembali, “Doa apa yang paling didengar?” “Doa di dubur shalat wajib (yaitu di akhir shalat wajib, pen.).” (HR. Ibnu Abi Ad-Dunya, Jami’ ‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 143-144) Doa berikut dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dubur shalat, اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ “Allahumma inni a’udzu bika minal jubni, wa a’udzu bika an arudda ila ardzalil ‘umuri, wa a’udzu bika min fitnatit dunyaa wa a’udzu bika min ‘adzabil qabri [artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari sikap pengecut di medan perang, dari jeleknya keadaan di masa tua, dari godaan dunia yang menggiurkan dan dari siksa kubur].” (HR. Bukhari no. 2822) Makna dubur shalat di sini ada beda pendapat di kalangan para ulama. Ada yang mengartikan di akhir shalat sebelum salam. Dan ada pula yang mengartikan setelah shalat. Ini berarti menurut sebagian ulama ada tuntunan berdoa setelah selesai shalat berdasarkan pemahaman ini. Wallahu a’lam bish shawwab.   Perintah untuk Ikhlas Zaid bin Aslam dan Adh-Dhahak berkata, jika engkau telah selesai dari jihad, maka beribadahlah pada Allah. وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ “kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.” Maksud ayat ini kata Ats-Tsauri, “Jadikanlah niat dan harapanmu hanya untuk Allah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 599) Ini berarti harapan dan niatankan kita dalam ibadah hanya untuk Allah, bukan selainnya.   Faedah dari Ayat Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi berkata, “Kehidupan seorang mukmin tidaklah diisi dengan kebatilan maupun permainan yang melalaikan dari ibadah. Setiap kali ibadah, pasti ada kegiatan bermanfaat lainnya, terus seperti itu.” (Aysar At-Tafasir, hlm. 1482)   Referensi: Al-Mukhtashar fii At-Tafsir. Penerbit Muassasah Syaikh ‘Abdullah bin Zaid bin Ghanim Al-Khairiyyah. Aysar At-Tafasir li Kalam Al-‘Aliyyil Kabir. Cetakan pertama, tahun 1419 H. Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. Penerbit Maktabah Adhwa’ Al-Manar. Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Syaikh Abu Ishaq Al-Huwainiy. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun siang hari, 17 Muharram 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsberdoa tafsir juz amma

Tafsir Surat Asy Syarh (4): Selesai Shalat, Berdoalah

Faedah lainnya dari surat Asy-Syarh, setelah selesai dari ibadah atau shalat, diperintahkan untuk berdoa dan terus berusaha menjaga niatan ikhlas karena Allah.   Allah Ta’ala berfirman, فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (7) وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ (8) “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Alam Nasyrah: 1-8)   Ibnu Katsir berkata, “Jika engkau telah selesai dari urusan dan kesibukan duniamu, maka lakukanlah ibadah. Semangatlah melakukan yang penting. Murnikanlah niatan dan harapanmu pada Rabbmu.” Dua hadits ini adalah contoh diperintahkan kita bisa konsen dalam ibadah. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبَثَانِ “Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan, begitu pula tidak ada shalat bagi yang menahan akhbatsan (kencing atau buang air besar).” (HR. Muslim no. 560). Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ وَحَضَرَ الْعَشَاءُ فَابْدَءُوا بِالْعَشَاءِ “Jika shalat telah ditegakkan dan makanan sudah siap tersajikan, maka dahulukanlah makan malam.” (HR. Bukhari no. 5465) Mujahid berkata tentang ayat ini, “Jika engkau telah selesai dari urusan duniamu, kerjakanlah shalat, hadaplah Rabbmu.” Ada juga riwayat dari Mujahid, “Jika engkau telah selesai shalat, tunaikanlah hajat-hajatmu.” Ibnu Mas’ud berkata, “Jika engkau telah menunaikan shalat fardhu, tunaikanlah shalat malam.” Dari Ibnu ‘Iyadh berpendapat seperti itu pula. ‘Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, { فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ } يعني: فِي الدُّعَاءِ “Jika engkau telah selesai (dari shalat atau ibadah, pen.), maka berdo’alah.” Ini jadi dalil sebagian ulama dibolehkan berdoa setelah shalat fardhu. Ada dalil lain yang lebih spesifik, جاء رجلٌ إلى النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، فقال : أيُّ الصلاة أفضل ؟ قال : (( جوفُ الليل الأوسط )) ، قال : أيُّ الدُّعاء أسمع ؟ قال: (( دُبر المكتوبات )) “Ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya, “Shalat apa yang paling afdhal?” “Shalat di tengah malam”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ditanya kembali, “Doa apa yang paling didengar?” “Doa di dubur shalat wajib (yaitu di akhir shalat wajib, pen.).” (HR. Ibnu Abi Ad-Dunya, Jami’ ‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 143-144) Doa berikut dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dubur shalat, اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ “Allahumma inni a’udzu bika minal jubni, wa a’udzu bika an arudda ila ardzalil ‘umuri, wa a’udzu bika min fitnatit dunyaa wa a’udzu bika min ‘adzabil qabri [artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari sikap pengecut di medan perang, dari jeleknya keadaan di masa tua, dari godaan dunia yang menggiurkan dan dari siksa kubur].” (HR. Bukhari no. 2822) Makna dubur shalat di sini ada beda pendapat di kalangan para ulama. Ada yang mengartikan di akhir shalat sebelum salam. Dan ada pula yang mengartikan setelah shalat. Ini berarti menurut sebagian ulama ada tuntunan berdoa setelah selesai shalat berdasarkan pemahaman ini. Wallahu a’lam bish shawwab.   Perintah untuk Ikhlas Zaid bin Aslam dan Adh-Dhahak berkata, jika engkau telah selesai dari jihad, maka beribadahlah pada Allah. وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ “kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.” Maksud ayat ini kata Ats-Tsauri, “Jadikanlah niat dan harapanmu hanya untuk Allah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 599) Ini berarti harapan dan niatankan kita dalam ibadah hanya untuk Allah, bukan selainnya.   Faedah dari Ayat Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi berkata, “Kehidupan seorang mukmin tidaklah diisi dengan kebatilan maupun permainan yang melalaikan dari ibadah. Setiap kali ibadah, pasti ada kegiatan bermanfaat lainnya, terus seperti itu.” (Aysar At-Tafasir, hlm. 1482)   Referensi: Al-Mukhtashar fii At-Tafsir. Penerbit Muassasah Syaikh ‘Abdullah bin Zaid bin Ghanim Al-Khairiyyah. Aysar At-Tafasir li Kalam Al-‘Aliyyil Kabir. Cetakan pertama, tahun 1419 H. Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. Penerbit Maktabah Adhwa’ Al-Manar. Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Syaikh Abu Ishaq Al-Huwainiy. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun siang hari, 17 Muharram 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsberdoa tafsir juz amma
Faedah lainnya dari surat Asy-Syarh, setelah selesai dari ibadah atau shalat, diperintahkan untuk berdoa dan terus berusaha menjaga niatan ikhlas karena Allah.   Allah Ta’ala berfirman, فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (7) وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ (8) “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Alam Nasyrah: 1-8)   Ibnu Katsir berkata, “Jika engkau telah selesai dari urusan dan kesibukan duniamu, maka lakukanlah ibadah. Semangatlah melakukan yang penting. Murnikanlah niatan dan harapanmu pada Rabbmu.” Dua hadits ini adalah contoh diperintahkan kita bisa konsen dalam ibadah. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبَثَانِ “Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan, begitu pula tidak ada shalat bagi yang menahan akhbatsan (kencing atau buang air besar).” (HR. Muslim no. 560). Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ وَحَضَرَ الْعَشَاءُ فَابْدَءُوا بِالْعَشَاءِ “Jika shalat telah ditegakkan dan makanan sudah siap tersajikan, maka dahulukanlah makan malam.” (HR. Bukhari no. 5465) Mujahid berkata tentang ayat ini, “Jika engkau telah selesai dari urusan duniamu, kerjakanlah shalat, hadaplah Rabbmu.” Ada juga riwayat dari Mujahid, “Jika engkau telah selesai shalat, tunaikanlah hajat-hajatmu.” Ibnu Mas’ud berkata, “Jika engkau telah menunaikan shalat fardhu, tunaikanlah shalat malam.” Dari Ibnu ‘Iyadh berpendapat seperti itu pula. ‘Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, { فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ } يعني: فِي الدُّعَاءِ “Jika engkau telah selesai (dari shalat atau ibadah, pen.), maka berdo’alah.” Ini jadi dalil sebagian ulama dibolehkan berdoa setelah shalat fardhu. Ada dalil lain yang lebih spesifik, جاء رجلٌ إلى النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، فقال : أيُّ الصلاة أفضل ؟ قال : (( جوفُ الليل الأوسط )) ، قال : أيُّ الدُّعاء أسمع ؟ قال: (( دُبر المكتوبات )) “Ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya, “Shalat apa yang paling afdhal?” “Shalat di tengah malam”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ditanya kembali, “Doa apa yang paling didengar?” “Doa di dubur shalat wajib (yaitu di akhir shalat wajib, pen.).” (HR. Ibnu Abi Ad-Dunya, Jami’ ‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 143-144) Doa berikut dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dubur shalat, اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ “Allahumma inni a’udzu bika minal jubni, wa a’udzu bika an arudda ila ardzalil ‘umuri, wa a’udzu bika min fitnatit dunyaa wa a’udzu bika min ‘adzabil qabri [artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari sikap pengecut di medan perang, dari jeleknya keadaan di masa tua, dari godaan dunia yang menggiurkan dan dari siksa kubur].” (HR. Bukhari no. 2822) Makna dubur shalat di sini ada beda pendapat di kalangan para ulama. Ada yang mengartikan di akhir shalat sebelum salam. Dan ada pula yang mengartikan setelah shalat. Ini berarti menurut sebagian ulama ada tuntunan berdoa setelah selesai shalat berdasarkan pemahaman ini. Wallahu a’lam bish shawwab.   Perintah untuk Ikhlas Zaid bin Aslam dan Adh-Dhahak berkata, jika engkau telah selesai dari jihad, maka beribadahlah pada Allah. وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ “kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.” Maksud ayat ini kata Ats-Tsauri, “Jadikanlah niat dan harapanmu hanya untuk Allah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 599) Ini berarti harapan dan niatankan kita dalam ibadah hanya untuk Allah, bukan selainnya.   Faedah dari Ayat Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi berkata, “Kehidupan seorang mukmin tidaklah diisi dengan kebatilan maupun permainan yang melalaikan dari ibadah. Setiap kali ibadah, pasti ada kegiatan bermanfaat lainnya, terus seperti itu.” (Aysar At-Tafasir, hlm. 1482)   Referensi: Al-Mukhtashar fii At-Tafsir. Penerbit Muassasah Syaikh ‘Abdullah bin Zaid bin Ghanim Al-Khairiyyah. Aysar At-Tafasir li Kalam Al-‘Aliyyil Kabir. Cetakan pertama, tahun 1419 H. Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. Penerbit Maktabah Adhwa’ Al-Manar. Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Syaikh Abu Ishaq Al-Huwainiy. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun siang hari, 17 Muharram 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsberdoa tafsir juz amma


Faedah lainnya dari surat Asy-Syarh, setelah selesai dari ibadah atau shalat, diperintahkan untuk berdoa dan terus berusaha menjaga niatan ikhlas karena Allah.   Allah Ta’ala berfirman, فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (7) وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ (8) “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Alam Nasyrah: 1-8)   Ibnu Katsir berkata, “Jika engkau telah selesai dari urusan dan kesibukan duniamu, maka lakukanlah ibadah. Semangatlah melakukan yang penting. Murnikanlah niatan dan harapanmu pada Rabbmu.” Dua hadits ini adalah contoh diperintahkan kita bisa konsen dalam ibadah. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبَثَانِ “Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan, begitu pula tidak ada shalat bagi yang menahan akhbatsan (kencing atau buang air besar).” (HR. Muslim no. 560). Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ وَحَضَرَ الْعَشَاءُ فَابْدَءُوا بِالْعَشَاءِ “Jika shalat telah ditegakkan dan makanan sudah siap tersajikan, maka dahulukanlah makan malam.” (HR. Bukhari no. 5465) Mujahid berkata tentang ayat ini, “Jika engkau telah selesai dari urusan duniamu, kerjakanlah shalat, hadaplah Rabbmu.” Ada juga riwayat dari Mujahid, “Jika engkau telah selesai shalat, tunaikanlah hajat-hajatmu.” Ibnu Mas’ud berkata, “Jika engkau telah menunaikan shalat fardhu, tunaikanlah shalat malam.” Dari Ibnu ‘Iyadh berpendapat seperti itu pula. ‘Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, { فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ } يعني: فِي الدُّعَاءِ “Jika engkau telah selesai (dari shalat atau ibadah, pen.), maka berdo’alah.” Ini jadi dalil sebagian ulama dibolehkan berdoa setelah shalat fardhu. Ada dalil lain yang lebih spesifik, جاء رجلٌ إلى النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، فقال : أيُّ الصلاة أفضل ؟ قال : (( جوفُ الليل الأوسط )) ، قال : أيُّ الدُّعاء أسمع ؟ قال: (( دُبر المكتوبات )) “Ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya, “Shalat apa yang paling afdhal?” “Shalat di tengah malam”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ditanya kembali, “Doa apa yang paling didengar?” “Doa di dubur shalat wajib (yaitu di akhir shalat wajib, pen.).” (HR. Ibnu Abi Ad-Dunya, Jami’ ‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 143-144) Doa berikut dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dubur shalat, اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ “Allahumma inni a’udzu bika minal jubni, wa a’udzu bika an arudda ila ardzalil ‘umuri, wa a’udzu bika min fitnatit dunyaa wa a’udzu bika min ‘adzabil qabri [artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari sikap pengecut di medan perang, dari jeleknya keadaan di masa tua, dari godaan dunia yang menggiurkan dan dari siksa kubur].” (HR. Bukhari no. 2822) Makna dubur shalat di sini ada beda pendapat di kalangan para ulama. Ada yang mengartikan di akhir shalat sebelum salam. Dan ada pula yang mengartikan setelah shalat. Ini berarti menurut sebagian ulama ada tuntunan berdoa setelah selesai shalat berdasarkan pemahaman ini. Wallahu a’lam bish shawwab.   Perintah untuk Ikhlas Zaid bin Aslam dan Adh-Dhahak berkata, jika engkau telah selesai dari jihad, maka beribadahlah pada Allah. وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ “kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.” Maksud ayat ini kata Ats-Tsauri, “Jadikanlah niat dan harapanmu hanya untuk Allah.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 599) Ini berarti harapan dan niatankan kita dalam ibadah hanya untuk Allah, bukan selainnya.   Faedah dari Ayat Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi berkata, “Kehidupan seorang mukmin tidaklah diisi dengan kebatilan maupun permainan yang melalaikan dari ibadah. Setiap kali ibadah, pasti ada kegiatan bermanfaat lainnya, terus seperti itu.” (Aysar At-Tafasir, hlm. 1482)   Referensi: Al-Mukhtashar fii At-Tafsir. Penerbit Muassasah Syaikh ‘Abdullah bin Zaid bin Ghanim Al-Khairiyyah. Aysar At-Tafasir li Kalam Al-‘Aliyyil Kabir. Cetakan pertama, tahun 1419 H. Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. Penerbit Maktabah Adhwa’ Al-Manar. Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Syaikh Abu Ishaq Al-Huwainiy. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun siang hari, 17 Muharram 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsberdoa tafsir juz amma

Tafsir Surat At-Tiin: Pahala yang Tidak Terputus Hingga Tua

Anak muda kalau rajin beramal di waktu mudanya, maka akan jadi amalan tak terputus hingga waktu tuanya. Inilah faedah dari surat At-Tiin yang kita kaji kali ini.   Allah Ta’ala berfirman, وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ (1) وَطُورِ سِينِينَ (2) وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ (3) لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ (6) فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ (7) أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ (8) “Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (QS. At-Tiin: 1-8)   Keutamaan Nabi Ulul ‘Azmi Allah telah bersumpah dengan tiga tempat diutusnya para Nabi Ulul ‘Azmi yaitu Tempat adanya buah tiin dan zaitun, yaitu Baitul Maqdis, tempat diutusnya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam. Bukit Sinai yaitu tempat Allah berbicara langsung dengan Nabi Musa bin ‘Imran ‘alaihis salam. Negeri Mekah yang penuh rasa aman, tempat diutus Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 601) Sumpah dengan tiga hal di atas menunjukkan kemuliaan Nabi Ulul ‘Azmi –semoga bagi mereka shalawat dan salam-.   Dari Sempurna Lalu Masuk Neraka Setelah bersumpah dengan tiga tempat tersebut, lalu disebutkan al-muqsam ‘alaih yaitu isi sumpah, لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At Tiin: 4-6) Tafsiran pertama dari ayat di atas, manusia diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya yang sempurna. Kemudian ia akan masuk dalam neraka. Demikian yang dikatakan oleh Mujahid, Abul ‘Aliyah, Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Zaid dan selainnya. Ia masuk neraka dikarenakan ia tidak mau taat pada Allah Ta’ala dan enggan mengikuti ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang selamat dari neraka adalah orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 601) Tafsiran kedua dari ayat di atas, manusia diciptakan dalam keadaan kuat ketika muda lalu dikembalikan di usia tua dalam keadaan lemah. Tafsiran kedua ini disebutkan dari Ibnu ‘Abbas dan ‘Ikrimah. Pendapat ini juga dianut oleh Ibnu Jarir. Namun menurut Ibnu Katsir, ayat di atas sama seperti maksud ayat, وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 3 “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3). Maksudnya, yang dikembalikan ke tempat yang rendah adalah dijadikan orang yang merugi. Yang tidak merugi hanyalah orang yang beriman dan beramal shalih. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, فَحَكَمَ عَلَى النَّوْعِ كُلِّهِ وَالْأُمَّةِ الْإِنْسَانِيَّةِ جَمِيعِهَا بِالْخَسَارَةِ وَالسُّفُولِ إلَى الْغَايَةِ إلَّا الْمُؤْمِنِينَ الصَّالِحِينَ “Seluruh manusia dan umat berada dalam kerugian dan keadaan yang serendah-rendahnya kecuali orang beriman dan beramal shalih.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 2: 5) Karena kalau diartikan keadaan yang rendah (jelek) dalam surat At-Tiin adalah keadaan di waktu harom (waktu tua), sebenarnya orang beriman pun ada yang merasakan sulit beramal di waktu tuanya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 601)   Sedari Muda Hingga Tua Penjelasan dari ulama tafsir yang lain …. Maksud ayat “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” ada empat pendapat. Di antara pendapat tersebut adalah “Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya seperti di waktu mudanya yaitu dalam keadaan kuat dan semangat untuk beramal.” Pendapat ini dipilih oleh ‘Ikrimah. “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”. Menurut Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Ibrahim dan Qatadah, juga Adh-Dhahak, yang dimaksudkan dengan bagian ayat ini adalah “dikembalikan ke masa tua renta setelah berada di usia muda, atau dikembalikan di masa-masa tidak semangat untuk beramal setelah sebelumnya berada di masa semangat untuk beramal.” Masa tua adalah masa tidak semangat untuk beramal. Seseorang akan melewati masa kecil, masa muda, dan masa tua. Masa kecil dan masa tua adalah masa sulit untuk beramal, berbeda dengan masa muda, yaitu masa emas untuk beramal shalih. Ibrahim An-Nakha’i mengatakan, “Jika seorang mukmin berada di usia senja dan pada saat itu sangat sulit untuk beramal, maka dia akan dicatat sebagaimana dahulu (di waktu muda) dia pernah beramal. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah (yang artinya): bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” Ibnu Qutaibah mengatakan, “Makna firman Allah yang artinya “Kecuali orang-orang yang beriman” adalah kecuali orang-orang yang beriman di waktu mudanya, di saat kondisi fit (semangat) untuk beramal, maka mereka di waktu tuanya nanti tidaklah berkurang amalan mereka. Walaupun mereka tidak mampu melakukan amalan ketaatan di saat usia senja. Karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui, seandainya mereka masih diberi kekuatan beramal sebagaimana waktu mudanya, maka mereka tidak akan berhenti dari beramal kebaikan. Maka orang yang gemar beramal di waktu mudanya, (di saat tua renta), dia akan diberi ganjaran sebagaimana di waktu mudanya.” (Lihat Zaad Al-Masiir, 9: 172-174 dan Tafsir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 7: 72) Jika seseorang sulit beramal di waktu tua padahal waktu mudanya gemar beramal, maka ia tetap dicatat seperti keadaannya di waktu muda. Sama halnya keadaannya seperti orang yang sakit dan bersafar. Dalam hadits Abu Musa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا “Jika seorang hamba sakit atau bersafar, maka dicatat baginya semisal keadaan ketika ia beramal saat mukim atau sehat.” (HR. Bukhari no. 2996)   Berlindung dari Keadaan Jelek di Waktu Tua Jadi, usia muda adalah masa fit (semangat) untuk beramal. Oleh karena itu, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya. Janganlah disia-siakan. Mintalah juga perlindungan kepada Allah dari usia tua yang jelek sebagaimana do’a yang Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam contohkan. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa meminta perlindungan dengan do’a, اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَرَمِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ “Allahumma inni a’udzu bika minal kasl wa a’udzu bika minal jubn, wa a’udzu bika minal harom, wa a’udzu bika minal bukhl [artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari rasa malas, aku meminta perlindungan pada-Mu dari lemahnya hati, aku meminta perlindungan pada-Mu dari usia tua (yang sulit untuk beramal) dan aku meminta perlindungan pada-Mu dari sifat kikir (pelit)].” (HR. Bukhari no. 6371) Ada empat hal yang diminta dilindungi dalam doa di atas: 1- Sifat al-kasal, yaitu tidak ada atau kurangnya dorongan (motivasi) untuk melakukan kebaikan padahal dalam keadaan mampu untuk melakukannya. Inilah sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah. Bedanya dengan kasal dan ‘ajz, ‘ajz itu tidak ada kemampuan sama sekali, sedangkan kasal itu masih ada kemampuan namun tidak ada dorongan untuk melakukan kebaikan. 2- Sifat al-jubn, artinya berlindung dari rasa takut (lawan dari berani), yaitu berlindung dari sifat takut untuk berperang atau tidak berani untuk beramar ma’ruf nahi mungkar. Juga do’a ini bisa berarti meminta perlindungan dari hati yang lemah. 3- Sifat al-harom, artinya berlindung dari kembali pada kejelekan umur (di masa tua). Ada apa dengan masa tua? Karena pada masa tua, pikiran sudah mulai kacau, kecerdasan dan pemahaman semakin berkurang, dan tidak mampu melakukan banyak ketaatan. 4- Sifat al-bukhl, artinya berlindung dari sifat pelit (kikir). Yaitu do’a ini berisi permintaan agar seseorang bisa menunaikan hak pada harta dengan benar, sehingga memotivasinya untuk rajin berinfak (yang wajib atau yang sunnah), bersikap dermawan dan berakhlak mulia. Juga do’a ini memaksudkan agar seseorang tidak tamak dengan harta yang tidak ada padanya. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 17: 28-30)   Allah adalah Hakim Seadil-Adilnya Di akhir ayat, Allah sebut, فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ (7) أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ (8) “Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (QS. At-Tiin: 1-8) Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata, “Apa yang menyebabkan manusia sampai mengingkari hari pembalasan terhadap amalan. Padahal telah banyak bukti dari berbagai ayat Allah dengan bukti yang yakin. Juga sudah ada bukti dengan berbagai nikmat yang telah Allah beri yang kita jangan sampai mengingkarinya. Bukankah Allah adalah Hakim yang seadil-adilnya? Maksudnya, Allah tidak akan membiarkan manusia begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang. Tak mungkin pula Allah membiarkan mereka tanpa diberi pahala dan tanpa diberi hukuman.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 976)   Faedah Surat At-Tiin Terakhir, faedah penting yang bisa kita ambil: Keutamaan Nabi Ulul ‘Azmi yang disebut dalam surat ini yaitu Nabi ‘Isa, Nabi Musa, dan Nabi Muhammad ‘alaihimush sholaatu was salaam. Buah tiin dan zaitun punya banyak manfaat, dianjurkan untuk menanamnya. Kota Makkah adalah kota yang mulia dan penuh rasa aman. Allah memuliakan manusia dengan menciptakannya dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Allah memuliakan seorang muslim, ketika ia dipanjangkan umurnya, ketika ia berada di usia senja, tetap amalannya dicatat seperti ia muda. Allah terus memberikannya kebaikan dan menjauhkan darinya kejelekan. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Aysar At-Tafasir li Kalam Al-‘Aliyyil Kabir. Cetakan pertama, tahun 1419 H. Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. Penerbit Maktabah Adhwa’ Al-Manar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman). Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Tafsir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Cetakan pertama, tahun 1432 H. Iyad bin ‘Abdul Lathif bin Ibrahim Al-Qaisi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun dini hari 17 Muharram 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagstafsir juz amma waktu muda

Tafsir Surat At-Tiin: Pahala yang Tidak Terputus Hingga Tua

Anak muda kalau rajin beramal di waktu mudanya, maka akan jadi amalan tak terputus hingga waktu tuanya. Inilah faedah dari surat At-Tiin yang kita kaji kali ini.   Allah Ta’ala berfirman, وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ (1) وَطُورِ سِينِينَ (2) وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ (3) لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ (6) فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ (7) أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ (8) “Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (QS. At-Tiin: 1-8)   Keutamaan Nabi Ulul ‘Azmi Allah telah bersumpah dengan tiga tempat diutusnya para Nabi Ulul ‘Azmi yaitu Tempat adanya buah tiin dan zaitun, yaitu Baitul Maqdis, tempat diutusnya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam. Bukit Sinai yaitu tempat Allah berbicara langsung dengan Nabi Musa bin ‘Imran ‘alaihis salam. Negeri Mekah yang penuh rasa aman, tempat diutus Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 601) Sumpah dengan tiga hal di atas menunjukkan kemuliaan Nabi Ulul ‘Azmi –semoga bagi mereka shalawat dan salam-.   Dari Sempurna Lalu Masuk Neraka Setelah bersumpah dengan tiga tempat tersebut, lalu disebutkan al-muqsam ‘alaih yaitu isi sumpah, لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At Tiin: 4-6) Tafsiran pertama dari ayat di atas, manusia diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya yang sempurna. Kemudian ia akan masuk dalam neraka. Demikian yang dikatakan oleh Mujahid, Abul ‘Aliyah, Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Zaid dan selainnya. Ia masuk neraka dikarenakan ia tidak mau taat pada Allah Ta’ala dan enggan mengikuti ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang selamat dari neraka adalah orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 601) Tafsiran kedua dari ayat di atas, manusia diciptakan dalam keadaan kuat ketika muda lalu dikembalikan di usia tua dalam keadaan lemah. Tafsiran kedua ini disebutkan dari Ibnu ‘Abbas dan ‘Ikrimah. Pendapat ini juga dianut oleh Ibnu Jarir. Namun menurut Ibnu Katsir, ayat di atas sama seperti maksud ayat, وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 3 “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3). Maksudnya, yang dikembalikan ke tempat yang rendah adalah dijadikan orang yang merugi. Yang tidak merugi hanyalah orang yang beriman dan beramal shalih. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, فَحَكَمَ عَلَى النَّوْعِ كُلِّهِ وَالْأُمَّةِ الْإِنْسَانِيَّةِ جَمِيعِهَا بِالْخَسَارَةِ وَالسُّفُولِ إلَى الْغَايَةِ إلَّا الْمُؤْمِنِينَ الصَّالِحِينَ “Seluruh manusia dan umat berada dalam kerugian dan keadaan yang serendah-rendahnya kecuali orang beriman dan beramal shalih.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 2: 5) Karena kalau diartikan keadaan yang rendah (jelek) dalam surat At-Tiin adalah keadaan di waktu harom (waktu tua), sebenarnya orang beriman pun ada yang merasakan sulit beramal di waktu tuanya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 601)   Sedari Muda Hingga Tua Penjelasan dari ulama tafsir yang lain …. Maksud ayat “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” ada empat pendapat. Di antara pendapat tersebut adalah “Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya seperti di waktu mudanya yaitu dalam keadaan kuat dan semangat untuk beramal.” Pendapat ini dipilih oleh ‘Ikrimah. “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”. Menurut Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Ibrahim dan Qatadah, juga Adh-Dhahak, yang dimaksudkan dengan bagian ayat ini adalah “dikembalikan ke masa tua renta setelah berada di usia muda, atau dikembalikan di masa-masa tidak semangat untuk beramal setelah sebelumnya berada di masa semangat untuk beramal.” Masa tua adalah masa tidak semangat untuk beramal. Seseorang akan melewati masa kecil, masa muda, dan masa tua. Masa kecil dan masa tua adalah masa sulit untuk beramal, berbeda dengan masa muda, yaitu masa emas untuk beramal shalih. Ibrahim An-Nakha’i mengatakan, “Jika seorang mukmin berada di usia senja dan pada saat itu sangat sulit untuk beramal, maka dia akan dicatat sebagaimana dahulu (di waktu muda) dia pernah beramal. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah (yang artinya): bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” Ibnu Qutaibah mengatakan, “Makna firman Allah yang artinya “Kecuali orang-orang yang beriman” adalah kecuali orang-orang yang beriman di waktu mudanya, di saat kondisi fit (semangat) untuk beramal, maka mereka di waktu tuanya nanti tidaklah berkurang amalan mereka. Walaupun mereka tidak mampu melakukan amalan ketaatan di saat usia senja. Karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui, seandainya mereka masih diberi kekuatan beramal sebagaimana waktu mudanya, maka mereka tidak akan berhenti dari beramal kebaikan. Maka orang yang gemar beramal di waktu mudanya, (di saat tua renta), dia akan diberi ganjaran sebagaimana di waktu mudanya.” (Lihat Zaad Al-Masiir, 9: 172-174 dan Tafsir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 7: 72) Jika seseorang sulit beramal di waktu tua padahal waktu mudanya gemar beramal, maka ia tetap dicatat seperti keadaannya di waktu muda. Sama halnya keadaannya seperti orang yang sakit dan bersafar. Dalam hadits Abu Musa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا “Jika seorang hamba sakit atau bersafar, maka dicatat baginya semisal keadaan ketika ia beramal saat mukim atau sehat.” (HR. Bukhari no. 2996)   Berlindung dari Keadaan Jelek di Waktu Tua Jadi, usia muda adalah masa fit (semangat) untuk beramal. Oleh karena itu, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya. Janganlah disia-siakan. Mintalah juga perlindungan kepada Allah dari usia tua yang jelek sebagaimana do’a yang Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam contohkan. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa meminta perlindungan dengan do’a, اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَرَمِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ “Allahumma inni a’udzu bika minal kasl wa a’udzu bika minal jubn, wa a’udzu bika minal harom, wa a’udzu bika minal bukhl [artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari rasa malas, aku meminta perlindungan pada-Mu dari lemahnya hati, aku meminta perlindungan pada-Mu dari usia tua (yang sulit untuk beramal) dan aku meminta perlindungan pada-Mu dari sifat kikir (pelit)].” (HR. Bukhari no. 6371) Ada empat hal yang diminta dilindungi dalam doa di atas: 1- Sifat al-kasal, yaitu tidak ada atau kurangnya dorongan (motivasi) untuk melakukan kebaikan padahal dalam keadaan mampu untuk melakukannya. Inilah sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah. Bedanya dengan kasal dan ‘ajz, ‘ajz itu tidak ada kemampuan sama sekali, sedangkan kasal itu masih ada kemampuan namun tidak ada dorongan untuk melakukan kebaikan. 2- Sifat al-jubn, artinya berlindung dari rasa takut (lawan dari berani), yaitu berlindung dari sifat takut untuk berperang atau tidak berani untuk beramar ma’ruf nahi mungkar. Juga do’a ini bisa berarti meminta perlindungan dari hati yang lemah. 3- Sifat al-harom, artinya berlindung dari kembali pada kejelekan umur (di masa tua). Ada apa dengan masa tua? Karena pada masa tua, pikiran sudah mulai kacau, kecerdasan dan pemahaman semakin berkurang, dan tidak mampu melakukan banyak ketaatan. 4- Sifat al-bukhl, artinya berlindung dari sifat pelit (kikir). Yaitu do’a ini berisi permintaan agar seseorang bisa menunaikan hak pada harta dengan benar, sehingga memotivasinya untuk rajin berinfak (yang wajib atau yang sunnah), bersikap dermawan dan berakhlak mulia. Juga do’a ini memaksudkan agar seseorang tidak tamak dengan harta yang tidak ada padanya. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 17: 28-30)   Allah adalah Hakim Seadil-Adilnya Di akhir ayat, Allah sebut, فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ (7) أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ (8) “Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (QS. At-Tiin: 1-8) Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata, “Apa yang menyebabkan manusia sampai mengingkari hari pembalasan terhadap amalan. Padahal telah banyak bukti dari berbagai ayat Allah dengan bukti yang yakin. Juga sudah ada bukti dengan berbagai nikmat yang telah Allah beri yang kita jangan sampai mengingkarinya. Bukankah Allah adalah Hakim yang seadil-adilnya? Maksudnya, Allah tidak akan membiarkan manusia begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang. Tak mungkin pula Allah membiarkan mereka tanpa diberi pahala dan tanpa diberi hukuman.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 976)   Faedah Surat At-Tiin Terakhir, faedah penting yang bisa kita ambil: Keutamaan Nabi Ulul ‘Azmi yang disebut dalam surat ini yaitu Nabi ‘Isa, Nabi Musa, dan Nabi Muhammad ‘alaihimush sholaatu was salaam. Buah tiin dan zaitun punya banyak manfaat, dianjurkan untuk menanamnya. Kota Makkah adalah kota yang mulia dan penuh rasa aman. Allah memuliakan manusia dengan menciptakannya dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Allah memuliakan seorang muslim, ketika ia dipanjangkan umurnya, ketika ia berada di usia senja, tetap amalannya dicatat seperti ia muda. Allah terus memberikannya kebaikan dan menjauhkan darinya kejelekan. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Aysar At-Tafasir li Kalam Al-‘Aliyyil Kabir. Cetakan pertama, tahun 1419 H. Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. Penerbit Maktabah Adhwa’ Al-Manar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman). Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Tafsir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Cetakan pertama, tahun 1432 H. Iyad bin ‘Abdul Lathif bin Ibrahim Al-Qaisi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun dini hari 17 Muharram 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagstafsir juz amma waktu muda
Anak muda kalau rajin beramal di waktu mudanya, maka akan jadi amalan tak terputus hingga waktu tuanya. Inilah faedah dari surat At-Tiin yang kita kaji kali ini.   Allah Ta’ala berfirman, وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ (1) وَطُورِ سِينِينَ (2) وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ (3) لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ (6) فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ (7) أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ (8) “Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (QS. At-Tiin: 1-8)   Keutamaan Nabi Ulul ‘Azmi Allah telah bersumpah dengan tiga tempat diutusnya para Nabi Ulul ‘Azmi yaitu Tempat adanya buah tiin dan zaitun, yaitu Baitul Maqdis, tempat diutusnya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam. Bukit Sinai yaitu tempat Allah berbicara langsung dengan Nabi Musa bin ‘Imran ‘alaihis salam. Negeri Mekah yang penuh rasa aman, tempat diutus Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 601) Sumpah dengan tiga hal di atas menunjukkan kemuliaan Nabi Ulul ‘Azmi –semoga bagi mereka shalawat dan salam-.   Dari Sempurna Lalu Masuk Neraka Setelah bersumpah dengan tiga tempat tersebut, lalu disebutkan al-muqsam ‘alaih yaitu isi sumpah, لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At Tiin: 4-6) Tafsiran pertama dari ayat di atas, manusia diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya yang sempurna. Kemudian ia akan masuk dalam neraka. Demikian yang dikatakan oleh Mujahid, Abul ‘Aliyah, Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Zaid dan selainnya. Ia masuk neraka dikarenakan ia tidak mau taat pada Allah Ta’ala dan enggan mengikuti ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang selamat dari neraka adalah orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 601) Tafsiran kedua dari ayat di atas, manusia diciptakan dalam keadaan kuat ketika muda lalu dikembalikan di usia tua dalam keadaan lemah. Tafsiran kedua ini disebutkan dari Ibnu ‘Abbas dan ‘Ikrimah. Pendapat ini juga dianut oleh Ibnu Jarir. Namun menurut Ibnu Katsir, ayat di atas sama seperti maksud ayat, وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 3 “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3). Maksudnya, yang dikembalikan ke tempat yang rendah adalah dijadikan orang yang merugi. Yang tidak merugi hanyalah orang yang beriman dan beramal shalih. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, فَحَكَمَ عَلَى النَّوْعِ كُلِّهِ وَالْأُمَّةِ الْإِنْسَانِيَّةِ جَمِيعِهَا بِالْخَسَارَةِ وَالسُّفُولِ إلَى الْغَايَةِ إلَّا الْمُؤْمِنِينَ الصَّالِحِينَ “Seluruh manusia dan umat berada dalam kerugian dan keadaan yang serendah-rendahnya kecuali orang beriman dan beramal shalih.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 2: 5) Karena kalau diartikan keadaan yang rendah (jelek) dalam surat At-Tiin adalah keadaan di waktu harom (waktu tua), sebenarnya orang beriman pun ada yang merasakan sulit beramal di waktu tuanya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 601)   Sedari Muda Hingga Tua Penjelasan dari ulama tafsir yang lain …. Maksud ayat “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” ada empat pendapat. Di antara pendapat tersebut adalah “Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya seperti di waktu mudanya yaitu dalam keadaan kuat dan semangat untuk beramal.” Pendapat ini dipilih oleh ‘Ikrimah. “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”. Menurut Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Ibrahim dan Qatadah, juga Adh-Dhahak, yang dimaksudkan dengan bagian ayat ini adalah “dikembalikan ke masa tua renta setelah berada di usia muda, atau dikembalikan di masa-masa tidak semangat untuk beramal setelah sebelumnya berada di masa semangat untuk beramal.” Masa tua adalah masa tidak semangat untuk beramal. Seseorang akan melewati masa kecil, masa muda, dan masa tua. Masa kecil dan masa tua adalah masa sulit untuk beramal, berbeda dengan masa muda, yaitu masa emas untuk beramal shalih. Ibrahim An-Nakha’i mengatakan, “Jika seorang mukmin berada di usia senja dan pada saat itu sangat sulit untuk beramal, maka dia akan dicatat sebagaimana dahulu (di waktu muda) dia pernah beramal. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah (yang artinya): bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” Ibnu Qutaibah mengatakan, “Makna firman Allah yang artinya “Kecuali orang-orang yang beriman” adalah kecuali orang-orang yang beriman di waktu mudanya, di saat kondisi fit (semangat) untuk beramal, maka mereka di waktu tuanya nanti tidaklah berkurang amalan mereka. Walaupun mereka tidak mampu melakukan amalan ketaatan di saat usia senja. Karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui, seandainya mereka masih diberi kekuatan beramal sebagaimana waktu mudanya, maka mereka tidak akan berhenti dari beramal kebaikan. Maka orang yang gemar beramal di waktu mudanya, (di saat tua renta), dia akan diberi ganjaran sebagaimana di waktu mudanya.” (Lihat Zaad Al-Masiir, 9: 172-174 dan Tafsir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 7: 72) Jika seseorang sulit beramal di waktu tua padahal waktu mudanya gemar beramal, maka ia tetap dicatat seperti keadaannya di waktu muda. Sama halnya keadaannya seperti orang yang sakit dan bersafar. Dalam hadits Abu Musa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا “Jika seorang hamba sakit atau bersafar, maka dicatat baginya semisal keadaan ketika ia beramal saat mukim atau sehat.” (HR. Bukhari no. 2996)   Berlindung dari Keadaan Jelek di Waktu Tua Jadi, usia muda adalah masa fit (semangat) untuk beramal. Oleh karena itu, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya. Janganlah disia-siakan. Mintalah juga perlindungan kepada Allah dari usia tua yang jelek sebagaimana do’a yang Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam contohkan. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa meminta perlindungan dengan do’a, اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَرَمِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ “Allahumma inni a’udzu bika minal kasl wa a’udzu bika minal jubn, wa a’udzu bika minal harom, wa a’udzu bika minal bukhl [artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari rasa malas, aku meminta perlindungan pada-Mu dari lemahnya hati, aku meminta perlindungan pada-Mu dari usia tua (yang sulit untuk beramal) dan aku meminta perlindungan pada-Mu dari sifat kikir (pelit)].” (HR. Bukhari no. 6371) Ada empat hal yang diminta dilindungi dalam doa di atas: 1- Sifat al-kasal, yaitu tidak ada atau kurangnya dorongan (motivasi) untuk melakukan kebaikan padahal dalam keadaan mampu untuk melakukannya. Inilah sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah. Bedanya dengan kasal dan ‘ajz, ‘ajz itu tidak ada kemampuan sama sekali, sedangkan kasal itu masih ada kemampuan namun tidak ada dorongan untuk melakukan kebaikan. 2- Sifat al-jubn, artinya berlindung dari rasa takut (lawan dari berani), yaitu berlindung dari sifat takut untuk berperang atau tidak berani untuk beramar ma’ruf nahi mungkar. Juga do’a ini bisa berarti meminta perlindungan dari hati yang lemah. 3- Sifat al-harom, artinya berlindung dari kembali pada kejelekan umur (di masa tua). Ada apa dengan masa tua? Karena pada masa tua, pikiran sudah mulai kacau, kecerdasan dan pemahaman semakin berkurang, dan tidak mampu melakukan banyak ketaatan. 4- Sifat al-bukhl, artinya berlindung dari sifat pelit (kikir). Yaitu do’a ini berisi permintaan agar seseorang bisa menunaikan hak pada harta dengan benar, sehingga memotivasinya untuk rajin berinfak (yang wajib atau yang sunnah), bersikap dermawan dan berakhlak mulia. Juga do’a ini memaksudkan agar seseorang tidak tamak dengan harta yang tidak ada padanya. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 17: 28-30)   Allah adalah Hakim Seadil-Adilnya Di akhir ayat, Allah sebut, فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ (7) أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ (8) “Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (QS. At-Tiin: 1-8) Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata, “Apa yang menyebabkan manusia sampai mengingkari hari pembalasan terhadap amalan. Padahal telah banyak bukti dari berbagai ayat Allah dengan bukti yang yakin. Juga sudah ada bukti dengan berbagai nikmat yang telah Allah beri yang kita jangan sampai mengingkarinya. Bukankah Allah adalah Hakim yang seadil-adilnya? Maksudnya, Allah tidak akan membiarkan manusia begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang. Tak mungkin pula Allah membiarkan mereka tanpa diberi pahala dan tanpa diberi hukuman.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 976)   Faedah Surat At-Tiin Terakhir, faedah penting yang bisa kita ambil: Keutamaan Nabi Ulul ‘Azmi yang disebut dalam surat ini yaitu Nabi ‘Isa, Nabi Musa, dan Nabi Muhammad ‘alaihimush sholaatu was salaam. Buah tiin dan zaitun punya banyak manfaat, dianjurkan untuk menanamnya. Kota Makkah adalah kota yang mulia dan penuh rasa aman. Allah memuliakan manusia dengan menciptakannya dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Allah memuliakan seorang muslim, ketika ia dipanjangkan umurnya, ketika ia berada di usia senja, tetap amalannya dicatat seperti ia muda. Allah terus memberikannya kebaikan dan menjauhkan darinya kejelekan. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Aysar At-Tafasir li Kalam Al-‘Aliyyil Kabir. Cetakan pertama, tahun 1419 H. Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. Penerbit Maktabah Adhwa’ Al-Manar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman). Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Tafsir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Cetakan pertama, tahun 1432 H. Iyad bin ‘Abdul Lathif bin Ibrahim Al-Qaisi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun dini hari 17 Muharram 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagstafsir juz amma waktu muda


Anak muda kalau rajin beramal di waktu mudanya, maka akan jadi amalan tak terputus hingga waktu tuanya. Inilah faedah dari surat At-Tiin yang kita kaji kali ini.   Allah Ta’ala berfirman, وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ (1) وَطُورِ سِينِينَ (2) وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ (3) لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ (6) فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ (7) أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ (8) “Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (QS. At-Tiin: 1-8)   Keutamaan Nabi Ulul ‘Azmi Allah telah bersumpah dengan tiga tempat diutusnya para Nabi Ulul ‘Azmi yaitu Tempat adanya buah tiin dan zaitun, yaitu Baitul Maqdis, tempat diutusnya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam. Bukit Sinai yaitu tempat Allah berbicara langsung dengan Nabi Musa bin ‘Imran ‘alaihis salam. Negeri Mekah yang penuh rasa aman, tempat diutus Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 601) Sumpah dengan tiga hal di atas menunjukkan kemuliaan Nabi Ulul ‘Azmi –semoga bagi mereka shalawat dan salam-.   Dari Sempurna Lalu Masuk Neraka Setelah bersumpah dengan tiga tempat tersebut, lalu disebutkan al-muqsam ‘alaih yaitu isi sumpah, لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At Tiin: 4-6) Tafsiran pertama dari ayat di atas, manusia diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya yang sempurna. Kemudian ia akan masuk dalam neraka. Demikian yang dikatakan oleh Mujahid, Abul ‘Aliyah, Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Zaid dan selainnya. Ia masuk neraka dikarenakan ia tidak mau taat pada Allah Ta’ala dan enggan mengikuti ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang selamat dari neraka adalah orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 601) Tafsiran kedua dari ayat di atas, manusia diciptakan dalam keadaan kuat ketika muda lalu dikembalikan di usia tua dalam keadaan lemah. Tafsiran kedua ini disebutkan dari Ibnu ‘Abbas dan ‘Ikrimah. Pendapat ini juga dianut oleh Ibnu Jarir. Namun menurut Ibnu Katsir, ayat di atas sama seperti maksud ayat, وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 3 “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3). Maksudnya, yang dikembalikan ke tempat yang rendah adalah dijadikan orang yang merugi. Yang tidak merugi hanyalah orang yang beriman dan beramal shalih. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, فَحَكَمَ عَلَى النَّوْعِ كُلِّهِ وَالْأُمَّةِ الْإِنْسَانِيَّةِ جَمِيعِهَا بِالْخَسَارَةِ وَالسُّفُولِ إلَى الْغَايَةِ إلَّا الْمُؤْمِنِينَ الصَّالِحِينَ “Seluruh manusia dan umat berada dalam kerugian dan keadaan yang serendah-rendahnya kecuali orang beriman dan beramal shalih.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 2: 5) Karena kalau diartikan keadaan yang rendah (jelek) dalam surat At-Tiin adalah keadaan di waktu harom (waktu tua), sebenarnya orang beriman pun ada yang merasakan sulit beramal di waktu tuanya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 601)   Sedari Muda Hingga Tua Penjelasan dari ulama tafsir yang lain …. Maksud ayat “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” ada empat pendapat. Di antara pendapat tersebut adalah “Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya seperti di waktu mudanya yaitu dalam keadaan kuat dan semangat untuk beramal.” Pendapat ini dipilih oleh ‘Ikrimah. “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”. Menurut Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Ibrahim dan Qatadah, juga Adh-Dhahak, yang dimaksudkan dengan bagian ayat ini adalah “dikembalikan ke masa tua renta setelah berada di usia muda, atau dikembalikan di masa-masa tidak semangat untuk beramal setelah sebelumnya berada di masa semangat untuk beramal.” Masa tua adalah masa tidak semangat untuk beramal. Seseorang akan melewati masa kecil, masa muda, dan masa tua. Masa kecil dan masa tua adalah masa sulit untuk beramal, berbeda dengan masa muda, yaitu masa emas untuk beramal shalih. Ibrahim An-Nakha’i mengatakan, “Jika seorang mukmin berada di usia senja dan pada saat itu sangat sulit untuk beramal, maka dia akan dicatat sebagaimana dahulu (di waktu muda) dia pernah beramal. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah (yang artinya): bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” Ibnu Qutaibah mengatakan, “Makna firman Allah yang artinya “Kecuali orang-orang yang beriman” adalah kecuali orang-orang yang beriman di waktu mudanya, di saat kondisi fit (semangat) untuk beramal, maka mereka di waktu tuanya nanti tidaklah berkurang amalan mereka. Walaupun mereka tidak mampu melakukan amalan ketaatan di saat usia senja. Karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui, seandainya mereka masih diberi kekuatan beramal sebagaimana waktu mudanya, maka mereka tidak akan berhenti dari beramal kebaikan. Maka orang yang gemar beramal di waktu mudanya, (di saat tua renta), dia akan diberi ganjaran sebagaimana di waktu mudanya.” (Lihat Zaad Al-Masiir, 9: 172-174 dan Tafsir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 7: 72) Jika seseorang sulit beramal di waktu tua padahal waktu mudanya gemar beramal, maka ia tetap dicatat seperti keadaannya di waktu muda. Sama halnya keadaannya seperti orang yang sakit dan bersafar. Dalam hadits Abu Musa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا “Jika seorang hamba sakit atau bersafar, maka dicatat baginya semisal keadaan ketika ia beramal saat mukim atau sehat.” (HR. Bukhari no. 2996)   Berlindung dari Keadaan Jelek di Waktu Tua Jadi, usia muda adalah masa fit (semangat) untuk beramal. Oleh karena itu, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya. Janganlah disia-siakan. Mintalah juga perlindungan kepada Allah dari usia tua yang jelek sebagaimana do’a yang Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam contohkan. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa meminta perlindungan dengan do’a, اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَرَمِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ “Allahumma inni a’udzu bika minal kasl wa a’udzu bika minal jubn, wa a’udzu bika minal harom, wa a’udzu bika minal bukhl [artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari rasa malas, aku meminta perlindungan pada-Mu dari lemahnya hati, aku meminta perlindungan pada-Mu dari usia tua (yang sulit untuk beramal) dan aku meminta perlindungan pada-Mu dari sifat kikir (pelit)].” (HR. Bukhari no. 6371) Ada empat hal yang diminta dilindungi dalam doa di atas: 1- Sifat al-kasal, yaitu tidak ada atau kurangnya dorongan (motivasi) untuk melakukan kebaikan padahal dalam keadaan mampu untuk melakukannya. Inilah sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah. Bedanya dengan kasal dan ‘ajz, ‘ajz itu tidak ada kemampuan sama sekali, sedangkan kasal itu masih ada kemampuan namun tidak ada dorongan untuk melakukan kebaikan. 2- Sifat al-jubn, artinya berlindung dari rasa takut (lawan dari berani), yaitu berlindung dari sifat takut untuk berperang atau tidak berani untuk beramar ma’ruf nahi mungkar. Juga do’a ini bisa berarti meminta perlindungan dari hati yang lemah. 3- Sifat al-harom, artinya berlindung dari kembali pada kejelekan umur (di masa tua). Ada apa dengan masa tua? Karena pada masa tua, pikiran sudah mulai kacau, kecerdasan dan pemahaman semakin berkurang, dan tidak mampu melakukan banyak ketaatan. 4- Sifat al-bukhl, artinya berlindung dari sifat pelit (kikir). Yaitu do’a ini berisi permintaan agar seseorang bisa menunaikan hak pada harta dengan benar, sehingga memotivasinya untuk rajin berinfak (yang wajib atau yang sunnah), bersikap dermawan dan berakhlak mulia. Juga do’a ini memaksudkan agar seseorang tidak tamak dengan harta yang tidak ada padanya. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 17: 28-30)   Allah adalah Hakim Seadil-Adilnya Di akhir ayat, Allah sebut, فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ (7) أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ (8) “Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (QS. At-Tiin: 1-8) Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata, “Apa yang menyebabkan manusia sampai mengingkari hari pembalasan terhadap amalan. Padahal telah banyak bukti dari berbagai ayat Allah dengan bukti yang yakin. Juga sudah ada bukti dengan berbagai nikmat yang telah Allah beri yang kita jangan sampai mengingkarinya. Bukankah Allah adalah Hakim yang seadil-adilnya? Maksudnya, Allah tidak akan membiarkan manusia begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang. Tak mungkin pula Allah membiarkan mereka tanpa diberi pahala dan tanpa diberi hukuman.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 976)   Faedah Surat At-Tiin Terakhir, faedah penting yang bisa kita ambil: Keutamaan Nabi Ulul ‘Azmi yang disebut dalam surat ini yaitu Nabi ‘Isa, Nabi Musa, dan Nabi Muhammad ‘alaihimush sholaatu was salaam. Buah tiin dan zaitun punya banyak manfaat, dianjurkan untuk menanamnya. Kota Makkah adalah kota yang mulia dan penuh rasa aman. Allah memuliakan manusia dengan menciptakannya dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Allah memuliakan seorang muslim, ketika ia dipanjangkan umurnya, ketika ia berada di usia senja, tetap amalannya dicatat seperti ia muda. Allah terus memberikannya kebaikan dan menjauhkan darinya kejelekan. Hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Aysar At-Tafasir li Kalam Al-‘Aliyyil Kabir. Cetakan pertama, tahun 1419 H. Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. Penerbit Maktabah Adhwa’ Al-Manar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Tafsir As-Sa’di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman). Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Tafsir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Cetakan pertama, tahun 1432 H. Iyad bin ‘Abdul Lathif bin Ibrahim Al-Qaisi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun dini hari 17 Muharram 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagstafsir juz amma waktu muda

Keamanan, Anugerah Yang Terlupakan

(Khutbah Jumat Mesjid Nabawi 17/1/1437 H – 30/10/2015 M)Oleh : As-Syaikh Ali Al-Hudzaifi hafizohullohKhutbah Pertama :          Segala puji bagi Allah pemilik keagungan dan kemuliaan, kebesaran dan kesombongan, pemilik anugerah dan karunia, Yang berhak untuk dipuji dalam kondisi lapang maupun susah. Aku memuji Robbku dan aku bersyukur kepadaNya serta aku bertaubat kepadanya dan memohon ampunanNya. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya. Penguasa bumi dan langit. Dan aku bersaksi bahwasanya nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya yang diutus dengan ‘Al-hanifiyah as-Samhah” (Agama yang lurus jauh dari kesyirikan dan penuh dengan kemudahan).Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan RasulMu Muhammad, dan keluarganya serta para sahabatnya yang baik dan bertakwa. Amma ba’du.           Bertakwalah kepada Allah dengan mentaatiNya, karena ketakwaan merupakan bekal yang terbaik. Tidak seorangpun yang berpegang kepada ketakwaan kecuali beruntung meraih kebaikan-kebaikan dunia dan bahagia pada hari kebangkitan. Allah berfirman :وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يُكَفِّرۡ عَنۡهُ سَيِّ‍َٔاتِهِۦ وَيُعۡظِمۡ لَهُۥٓ أَجۡرًاDan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya (QS At-Thalaq : 5)Wahai manusia sekalian, ingatlah kenikmatan dan anugerah yang Allah telah sempurnakan bagi kalian dan bencana yang Allah hilangkan dari kalian, maka betapa baiknya Allah Swt, dan betapa besarnya kedermawananNya, dan betapa luasnya rahmatNya, serta betapa mantap dan sempurnanya syari’atNya. Maka diantara rahmat Allah adalah Allah mensyari’atkan bagi hamba-hambaNya semua yang bermanfaat bagi mereka dan membahagiakan mereka dan menjadikan mereka hidup dalam kehidupan yang bahagia, tentram dan aman. Maka Allah mensyari’atkan kepada para hamba sebab-sebab yang mewujudkan keamanan dan ketentraman serta kenyamanan dengan kehidupan yang mulia. Allah berfirman :يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْHai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, (QS Al-Anfal : 24)Keamanan merupakan benteng Islam, dan Orang-orang Islam adalah penduduknya, maka benteng akan menjaga mereka dari para musuh Islam dan musuh orang Islam. Maka kaum muslimin menjaga benteng ini agar tidak dihancurkan oleh para perusak. Maka keamanan merupakan pagar Islam yang di balik pagar tersebut kaum muslimin berlindung dan ditolaknya serangan para perusak dan kezoliman orang-orang zalim.Kaum muslimin menjaga pagar ini dari kapak-kapak penghancur dan mereka menjaga pagar ini jangan sampai hancur dan lebur karena dengan terjaganya keamanan Allah menjaga agama, darah, kehormatan, harta, saling bertukar kemanfaatan, dan bebasnya pergerakan kehidupan pada seluruh aktifitasnya, demikian juga menjaga jalan-jalan yang mengantarkan manusia ke berbagai negeri untuk menunaikan kebutuhan mereka dan meraih kemaslahatan mereka serta memperoleh rizki mereka. Allah berfirman :أَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَهُمْ حَرَمًا آمِنًا يُجْبَى إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا مِنْ لَدُنَّا وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَDan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagimu) dari sisi Kami?. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (QS Al-Qosos : 57)Dari Ubaidillah bin Mihson radhiallahu ‘anhu ia berkata ; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا“Siapa diantara kalian yang aman di pagi hari di rumahnya, tubuhnya sehat dan ia memiliki makanan untuk hari tersebut maka seakan-akan dunia seluruhnya telah diberikan kepadanya” (HR At-Tirmidzi dan ia berkata : Hadits hasan)Keamanan merupakan kawannya keimanan dan setara dengan Islam, dari Tholhah bin Ubaidillah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika melihat hilal beliau berkata :اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيْمَانِ، وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللهُ، هِلاَلَ خَيْرٍ وَرُشْدٍ“Ya Allah terbitkanlah hilal kepada kami dengan keamanan, keimanan, keselataman, dan Islam, Robku dan Rabmu adalah Allah, hilal kebaikan dan petunjuk” (HR At-Tirmidzi dan ia berkata ; Hadits hasan)Keamanan adalah ketenangan jiwa, dan ketenangan dalam kehormatan, ketenangan dalam harta dan asset-aset, ketenangan dalam perjalanan, semuanya tanpa ada rasa ketakutan. Demikian juga ketenangan terhadap hak-hak maknawi dan kesopanan yang diakui oleh Islam dengan tidak boleh dibuang atau merendahkannya.Keamanan bagian dari Islam, dan syari’at Islam telah datang menjamin keamanan bagi seorang muslim dalam kehidupannya dan setelah matinya agar ia bisa hidup dengan kehidupan yang bahagian dan tentram, sebagaimana firman Allah :مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَBarangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (Qs An-Nahl 97)Maka mentauhidkan Allah penguasa alam semesta adalah kewajiban yang pertama kali. Siapa yang mewujudkan tauhid maka Allah akan mengganjarinya keamanan dan petunjuk serta menjaganya dari hukuman kesyirikan di dunia dan dari ketakutan di akhirat. Allah berfirman pada kisah Ibrahim shallallahu ‘alaihi wasallam :قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِ وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ (80) وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (81) الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَDia (Ibrahim) berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)? 81. Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui. 82. Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS Al-An’aam : 80-82)Al-Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :“Barangsiapa yang selamat dari ketiga jenis kezoliman yaitu kesyirikan, menzolimi para hamba yang lain dan menzolimi diri sendiri selain kesyirikan maka baginya keamanan yang sempurna dan petunjuk yang sempurna. Barangsiapa yang tidak selamat dari menzolimi dirinya sendiri maka ia akan mendapatkan mutlaknya keamanan dan petunjuk” (demikian).Yaitu berdasarkan selamatnya ia dari perkara-perkara yang selain syirik besar.Allah berfirman :لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْأَكْبَرُ وَتَتَلَقَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ هَذَا يَوْمُكُمُ الَّذِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَMereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat), dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat berkata): “Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu” (QS Al-Anbiyaa : 103)Diantara sebab diraihnya keamanan adalah seorang muslim menjalankan syari’at Islam, karena syari’at Islam menjaga hak-hak Allah, hak para hamba, dan melarang dari dosa, kezoliman, dan pelanggaran. Allah berfirman :وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُDan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). (QS Al-Ankabuut : 45)Allah juga berfirman :إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَSesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS An-Nahl : 90)Dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لا تحاسدوا ولا تناجشوا ولا تباغضوا ولا تدابروا ولا يبع بعضكم على بيع بعض وكونوا عباد الله إخوانا المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يحقره ولا يخذله التقوى هاهنا – ويشير إلى صدره ثلاث مرات- بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه“Janganlah kalian saling hasad, janganlah saling berbuat najasy, janganlah saling membenci, janganlah saling memboikot (saling balik belakang), dan janganlah sebagian kelian menjual di atas penjualan sebagian yang lain, dan jadikanlah hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, ia tidak menzoliminya, tidak merendahkannya, tidak meninggalkannya tatkala perlu. Takwa itu tempatnya di sini –seraya Nabi mengisyaratkan kepada dadanya- tiga kali. Cukuplah seseorang dikatakan telah berbuat keburukan kalau ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Seorang muslim bagi muslim yang lain adalah diharamkan darahnya, hartanya, dan kehormatannya” (HR Muslim)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لاَ تَظْلِمُوا أَهْلَ الذِّمَّةِ“Janganlah kalian menzolimi ahlu adz-Dimmah”Allah telah menjadikan keamanan sebagai perkara yang diakui sebagai syarat dalam sebagian ibadah dan hukum. Allah berfirman tentang sholat yaitu dalam melaksanakannya dengan sifat sholatnya di luar kondisi ketakutan :فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًاMaka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (QS An-Nisaa : 103)Zakat tidak ditarik dari harta-harta yang zahir maupun buah-buahan dan biji-bijian kecuali bila keamanan benar-benar kondusif. Firman Allah :فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِApabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ´umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat) Qs Al-Baqarah : 196          Ibadah kepada Allah akan lebih khusu’ dan jernih dalam suasana aman dari pada yang dilakukan dalam situasi takut.Firman Allah :وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَDan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik (Qs An-Nur : 55)Di antara faktor keamanan ialah memberikan perlindungan keamanan kepada masyarakat dari gangguan para pengacau keamanan, pelaku sabotase, penjahat, dan agresor, yaitu melalui (kontrol sosial) amar makruf dan nahi anil munkar, penyuluhan, bimbingan, pengajaran dan peringatan dari perbuatan bid’ah dan hal-hal yang dilarang agama, termasuk menyempal dari kelompok kaum muslimin dan imam mereka, juga dengan melaporkan kepada penguasa akan gangguan kelompok yang meyimpang dan merusak.Firman Allah :وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَDan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung (Qs Ali Imran : 104) Dari Abi Saed Al-Khudhri r.a., Rasululla Saw bersabda “ Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah merubahnya dengan kekuatan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lidahnya, bila itupun tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemah iman “ HR MuslimTermasuk faktor utama keamanan ialah kekuatan penguasa dan tindakan tegasnya terhadap para pelaku kriminal untuk memberi efek jera terhadap mereka agar tidak berbuat kerusakan di bumi sesuai ketentuan hukum syariat yang toleran. Maka orang yang zalim dan menyerang harus dicegah dengan cara-cara tertentu agar tidak melakukan kezaliman dan penyerangan meskipun dia adalah sesama muslim. Orang kafir zimi dari kalangan Ahlu kitab tetap diakui agamanya, sebab resiko kekafirannya menjadi tanggungan mereka sendiri, sedangkan penguasa bertanggung jawab atas rakyatnya.Utsman r.a. berkata :إن الله يزع بالسلطان ما لا يزع بالقرآنSesungguhnya Allah Swt melalui tangan penguasa dapat mencegah suatu kejahatan yang tidak dapat tercegah oleh Al-Qur’an.Maka akan lebih baik bagi masyarakat bila pengendalian agama yang ada pada mereka kuat dan penguasa pun kuat. Maka dalam kondisi demikian urusan umat menjadi sangat baik dari segi agama dan urusan dunia. Kemudian menyusul kondisi setingkat di bawahnya, yaitu penguasa kuat namun pengendalian agama pada sebagian masyarakat lemah. Di sini penguasa masih tetap dapat meluruskan masyarakat dan menghukum kaum perusak dan penjahat. Dalam kondisi demikian masyarakat tergolong dalam jalan keselamatan.Jika kita mengamati hukum perundang-undangan islam, dapat kita saksikan, banyak kaum muslimin dalam kurun waktu yang panjang tidak ada seorang pun yang menggugat mereka terkait dengan kasus pidana atau kehormatan atau perdata atau hak apapun, sebab mereka benar-benar menerapkan hukum islam dan memenuhi hak-hak orang lain. Oleh karena itu kaum muslimin dapat merasakan nikmatnya aman dan iman. Barangsiapa yang melaksanakan hukum perundang-undangan islam dalam kehidupannya, maka tidak ada jalan untuk mengganggunya.Rasulullah saw bersabda  : الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِOrang islam ialah orang yang membuat orang-orang islam lainnya merasa aman dari gangguan lidahnya dan tangannya .Syariat Islam telah memagari keamanan rapat-rapat melalui penjagaan, pengawasan dan kekuatan. Karena Allah Swt menggantungkan semua kepentingan manusia pada sisi keamanan terkait dengan urusan agama dan dunia. Maka jika ada seseorang yang mencoba melanggar keamanan dengan perbuatan cabul ( zina ) atau homoseksual, maka penguasa akan menegakkan sanksi hukuman terhadap si pelanggar demi terjaganya kehormatan, harga diri dan garis keturunan manusia manakala telah ada bukti-bukti lengkap. Jika keamanan terganggu oleh tindak pencurian, pelakunya pun dijatuhi hukuman demi terpeliharanya harta benda. Jika ada seseorang yang minum khamar atau mengkonsumsi narkoba atau memasarkannya, berarti ia telah melanggar keamanan, maka dia pun dijatuhi hukuman untuk melindungi akal pikiran manusia. Jika ada yang menumpahkan darah secara sengaja, peguasa pun tidak menjatuhkan hukuman Qisas terhadapnya untuk terpeliharanya darah manusia.Jika ada komplotan penjahat yang menumpahkan darah tak berdosa atau merampok harta benda, penguasa pun menegakkan hukum Allah terhadapnya sesuai dengan firmanNya :إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ، إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَقْدِرُوا عَلَيْهِمْ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ .Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. Kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Qs Al-Maidah : 33-34)Sanksi hukuman apapun yang dijatuhkan tiada lain hanyalah untuk melindungi masyarakat dari kejahatan pelaku kriminal yang mengganggu keamanan masyarakat, di samping untuk menghapuskan dosa pelakunya. Barangsiapa yang  bertobat, maka Allah menerima tobatnya, dan barangsiapa yang telah Allah tutupi  kesalahan-kesalahannya, selama dirinya tidak lagi  membahayakan orang lain, maka urusannya ada di tangan Allah.Jika Allah telah menganugerahkan keamanan kepada suatu masyarakat, maka Allah mudahkan sumber-sumber rezekinya sehingga berjalan dinamika kehidupannya, makmur perekonomiannya,  terpelihara jiwanya, hartanya dan martabatnya. Namun jika keamanan terganggu, maka kehidupan terasa pahit yang tidak tertahan.Allah berfirman  :وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً قَرْيَةً كانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيها رِزْقُها رَغَداً مِنْ كُلِّ مَكانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذاقَهَا اللَّهُ لِباسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِما كانُوا يَصْنَعُونَ( Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat ) (Qs An-Nahl : 112)Keamanan merupakan kesempurnaan agama dan salah satu tujuan pokok syariat islam yang agung.Dari Khabab Bin Al-Art r.a. berkata :Kami mengadu kepada Nabi Muhammad saw pada saat beliau sedang berbantal dengan selendangnya di bawah naungan Ka’bah, kami berkata kepada beliau, “Tidakkah engkau memohon agar Allah memberikan pertolongan -Nya bagi kami?. Tidakkah engkau berdo’a agar Allah memberikan kemenangan bagi kami?. Maka Nabi Muhammad saw bersabda, “Sungguh seorang lelaki sebelum kalian digalikan baginya sebuah lubang di tanah lalu dia ditimbun padanya, dan didatangkan baginya sebuah gergaji dan diletakkan pada kepalanya lalu kepalanya dibelah dua, seorang lelaki lain disisir dengan sisir dari besi pada bagian daging, tulang dan urat-uratnya,  namun hal itu sungguh tidak menyurutkan tekadnya dari Agama Allah.Demi Allah! Sungguh Allah akan menyempurnakan urusan agama ini sehingga seseorang akan berjalan dari Shan’a sehingga ke Hadhramaut dan dia tidak akan takut kecuali kepada Allah dan serigala yang akan menerkam kambing gembalaannya, sayangnya kalian tergesa-gesa”. (HR Bukhari).Allah Swt berfirman  :فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِIngatlah kepadaKu, niscaya Aku mengingat kalian dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kalian kafir kepadaKuSemoga Allah curahkan keberkahan kepada kita semua melalui Al-Qur’an yang agung Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dia Yang Maha Kuat dan Maha Kokoh. Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad saw adalah hambaNya dan RasulNya yang penuh amanat.Ya Allah ! sampaikanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan RasulMu Muhammad saw beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya . . .Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Berpegang teguhlah sekuat-kuatnya dengan islam.Hamba-hamba Allah ! sesungguhnya nikmat keamanan adalah anugerah yang sangat agung. Maka ada di antara manusia yang bersyukur atas nikmat itu sehingga Allah memberinya pahala bahkan Allah menambahkan anugrahnya, namun ada pula manusia yang tidak menghargai nikmat dan tidak sabar  sebagai dalam nikmat tersebut sehingga Allah menjatuhkan hukuman terhadapnya dan menghalanginya dari nikmatNya.Allah Swt berfirman :وَلَئِنْ أَذَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنَاهَا مِنْهُ إِنَّهُ لَيَئُوسٌ كَفُورٌ وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ نَعْمَاءَ بَعْدَ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ ذَهَبَ السَّيِّئَاتُ عَنِّي إِنَّهُ لَفَرِحٌ فَخُورٌ ، إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ ،Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih . Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku”; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga . Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar) Qs Hud : 9-11Jelaslah, hukum syariat Allah hakikatnya adalah rahmat, memberikan rasa keadilan, kedamaian, keamanan dan ketenteraman di dunia dan akhirat.Dalam sebuah hadis dari Nabi saw bersabda :لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا“Allah mempunya rahmat kasih sayang kepada hamba-hambaNya melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anak-nya”.Hamba Allah sekalian !Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman, sampaikanlah benar-benar doa shalawat dan salam kepadanya ! Penerjemah : Firanda Andirja & Ustman Hatimhttps://firanda.com

Keamanan, Anugerah Yang Terlupakan

(Khutbah Jumat Mesjid Nabawi 17/1/1437 H – 30/10/2015 M)Oleh : As-Syaikh Ali Al-Hudzaifi hafizohullohKhutbah Pertama :          Segala puji bagi Allah pemilik keagungan dan kemuliaan, kebesaran dan kesombongan, pemilik anugerah dan karunia, Yang berhak untuk dipuji dalam kondisi lapang maupun susah. Aku memuji Robbku dan aku bersyukur kepadaNya serta aku bertaubat kepadanya dan memohon ampunanNya. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya. Penguasa bumi dan langit. Dan aku bersaksi bahwasanya nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya yang diutus dengan ‘Al-hanifiyah as-Samhah” (Agama yang lurus jauh dari kesyirikan dan penuh dengan kemudahan).Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan RasulMu Muhammad, dan keluarganya serta para sahabatnya yang baik dan bertakwa. Amma ba’du.           Bertakwalah kepada Allah dengan mentaatiNya, karena ketakwaan merupakan bekal yang terbaik. Tidak seorangpun yang berpegang kepada ketakwaan kecuali beruntung meraih kebaikan-kebaikan dunia dan bahagia pada hari kebangkitan. Allah berfirman :وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يُكَفِّرۡ عَنۡهُ سَيِّ‍َٔاتِهِۦ وَيُعۡظِمۡ لَهُۥٓ أَجۡرًاDan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya (QS At-Thalaq : 5)Wahai manusia sekalian, ingatlah kenikmatan dan anugerah yang Allah telah sempurnakan bagi kalian dan bencana yang Allah hilangkan dari kalian, maka betapa baiknya Allah Swt, dan betapa besarnya kedermawananNya, dan betapa luasnya rahmatNya, serta betapa mantap dan sempurnanya syari’atNya. Maka diantara rahmat Allah adalah Allah mensyari’atkan bagi hamba-hambaNya semua yang bermanfaat bagi mereka dan membahagiakan mereka dan menjadikan mereka hidup dalam kehidupan yang bahagia, tentram dan aman. Maka Allah mensyari’atkan kepada para hamba sebab-sebab yang mewujudkan keamanan dan ketentraman serta kenyamanan dengan kehidupan yang mulia. Allah berfirman :يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْHai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, (QS Al-Anfal : 24)Keamanan merupakan benteng Islam, dan Orang-orang Islam adalah penduduknya, maka benteng akan menjaga mereka dari para musuh Islam dan musuh orang Islam. Maka kaum muslimin menjaga benteng ini agar tidak dihancurkan oleh para perusak. Maka keamanan merupakan pagar Islam yang di balik pagar tersebut kaum muslimin berlindung dan ditolaknya serangan para perusak dan kezoliman orang-orang zalim.Kaum muslimin menjaga pagar ini dari kapak-kapak penghancur dan mereka menjaga pagar ini jangan sampai hancur dan lebur karena dengan terjaganya keamanan Allah menjaga agama, darah, kehormatan, harta, saling bertukar kemanfaatan, dan bebasnya pergerakan kehidupan pada seluruh aktifitasnya, demikian juga menjaga jalan-jalan yang mengantarkan manusia ke berbagai negeri untuk menunaikan kebutuhan mereka dan meraih kemaslahatan mereka serta memperoleh rizki mereka. Allah berfirman :أَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَهُمْ حَرَمًا آمِنًا يُجْبَى إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا مِنْ لَدُنَّا وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَDan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagimu) dari sisi Kami?. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (QS Al-Qosos : 57)Dari Ubaidillah bin Mihson radhiallahu ‘anhu ia berkata ; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا“Siapa diantara kalian yang aman di pagi hari di rumahnya, tubuhnya sehat dan ia memiliki makanan untuk hari tersebut maka seakan-akan dunia seluruhnya telah diberikan kepadanya” (HR At-Tirmidzi dan ia berkata : Hadits hasan)Keamanan merupakan kawannya keimanan dan setara dengan Islam, dari Tholhah bin Ubaidillah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika melihat hilal beliau berkata :اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيْمَانِ، وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللهُ، هِلاَلَ خَيْرٍ وَرُشْدٍ“Ya Allah terbitkanlah hilal kepada kami dengan keamanan, keimanan, keselataman, dan Islam, Robku dan Rabmu adalah Allah, hilal kebaikan dan petunjuk” (HR At-Tirmidzi dan ia berkata ; Hadits hasan)Keamanan adalah ketenangan jiwa, dan ketenangan dalam kehormatan, ketenangan dalam harta dan asset-aset, ketenangan dalam perjalanan, semuanya tanpa ada rasa ketakutan. Demikian juga ketenangan terhadap hak-hak maknawi dan kesopanan yang diakui oleh Islam dengan tidak boleh dibuang atau merendahkannya.Keamanan bagian dari Islam, dan syari’at Islam telah datang menjamin keamanan bagi seorang muslim dalam kehidupannya dan setelah matinya agar ia bisa hidup dengan kehidupan yang bahagian dan tentram, sebagaimana firman Allah :مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَBarangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (Qs An-Nahl 97)Maka mentauhidkan Allah penguasa alam semesta adalah kewajiban yang pertama kali. Siapa yang mewujudkan tauhid maka Allah akan mengganjarinya keamanan dan petunjuk serta menjaganya dari hukuman kesyirikan di dunia dan dari ketakutan di akhirat. Allah berfirman pada kisah Ibrahim shallallahu ‘alaihi wasallam :قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِ وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ (80) وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (81) الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَDia (Ibrahim) berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)? 81. Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui. 82. Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS Al-An’aam : 80-82)Al-Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :“Barangsiapa yang selamat dari ketiga jenis kezoliman yaitu kesyirikan, menzolimi para hamba yang lain dan menzolimi diri sendiri selain kesyirikan maka baginya keamanan yang sempurna dan petunjuk yang sempurna. Barangsiapa yang tidak selamat dari menzolimi dirinya sendiri maka ia akan mendapatkan mutlaknya keamanan dan petunjuk” (demikian).Yaitu berdasarkan selamatnya ia dari perkara-perkara yang selain syirik besar.Allah berfirman :لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْأَكْبَرُ وَتَتَلَقَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ هَذَا يَوْمُكُمُ الَّذِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَMereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat), dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat berkata): “Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu” (QS Al-Anbiyaa : 103)Diantara sebab diraihnya keamanan adalah seorang muslim menjalankan syari’at Islam, karena syari’at Islam menjaga hak-hak Allah, hak para hamba, dan melarang dari dosa, kezoliman, dan pelanggaran. Allah berfirman :وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُDan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). (QS Al-Ankabuut : 45)Allah juga berfirman :إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَSesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS An-Nahl : 90)Dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لا تحاسدوا ولا تناجشوا ولا تباغضوا ولا تدابروا ولا يبع بعضكم على بيع بعض وكونوا عباد الله إخوانا المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يحقره ولا يخذله التقوى هاهنا – ويشير إلى صدره ثلاث مرات- بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه“Janganlah kalian saling hasad, janganlah saling berbuat najasy, janganlah saling membenci, janganlah saling memboikot (saling balik belakang), dan janganlah sebagian kelian menjual di atas penjualan sebagian yang lain, dan jadikanlah hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, ia tidak menzoliminya, tidak merendahkannya, tidak meninggalkannya tatkala perlu. Takwa itu tempatnya di sini –seraya Nabi mengisyaratkan kepada dadanya- tiga kali. Cukuplah seseorang dikatakan telah berbuat keburukan kalau ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Seorang muslim bagi muslim yang lain adalah diharamkan darahnya, hartanya, dan kehormatannya” (HR Muslim)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لاَ تَظْلِمُوا أَهْلَ الذِّمَّةِ“Janganlah kalian menzolimi ahlu adz-Dimmah”Allah telah menjadikan keamanan sebagai perkara yang diakui sebagai syarat dalam sebagian ibadah dan hukum. Allah berfirman tentang sholat yaitu dalam melaksanakannya dengan sifat sholatnya di luar kondisi ketakutan :فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًاMaka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (QS An-Nisaa : 103)Zakat tidak ditarik dari harta-harta yang zahir maupun buah-buahan dan biji-bijian kecuali bila keamanan benar-benar kondusif. Firman Allah :فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِApabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ´umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat) Qs Al-Baqarah : 196          Ibadah kepada Allah akan lebih khusu’ dan jernih dalam suasana aman dari pada yang dilakukan dalam situasi takut.Firman Allah :وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَDan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik (Qs An-Nur : 55)Di antara faktor keamanan ialah memberikan perlindungan keamanan kepada masyarakat dari gangguan para pengacau keamanan, pelaku sabotase, penjahat, dan agresor, yaitu melalui (kontrol sosial) amar makruf dan nahi anil munkar, penyuluhan, bimbingan, pengajaran dan peringatan dari perbuatan bid’ah dan hal-hal yang dilarang agama, termasuk menyempal dari kelompok kaum muslimin dan imam mereka, juga dengan melaporkan kepada penguasa akan gangguan kelompok yang meyimpang dan merusak.Firman Allah :وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَDan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung (Qs Ali Imran : 104) Dari Abi Saed Al-Khudhri r.a., Rasululla Saw bersabda “ Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah merubahnya dengan kekuatan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lidahnya, bila itupun tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemah iman “ HR MuslimTermasuk faktor utama keamanan ialah kekuatan penguasa dan tindakan tegasnya terhadap para pelaku kriminal untuk memberi efek jera terhadap mereka agar tidak berbuat kerusakan di bumi sesuai ketentuan hukum syariat yang toleran. Maka orang yang zalim dan menyerang harus dicegah dengan cara-cara tertentu agar tidak melakukan kezaliman dan penyerangan meskipun dia adalah sesama muslim. Orang kafir zimi dari kalangan Ahlu kitab tetap diakui agamanya, sebab resiko kekafirannya menjadi tanggungan mereka sendiri, sedangkan penguasa bertanggung jawab atas rakyatnya.Utsman r.a. berkata :إن الله يزع بالسلطان ما لا يزع بالقرآنSesungguhnya Allah Swt melalui tangan penguasa dapat mencegah suatu kejahatan yang tidak dapat tercegah oleh Al-Qur’an.Maka akan lebih baik bagi masyarakat bila pengendalian agama yang ada pada mereka kuat dan penguasa pun kuat. Maka dalam kondisi demikian urusan umat menjadi sangat baik dari segi agama dan urusan dunia. Kemudian menyusul kondisi setingkat di bawahnya, yaitu penguasa kuat namun pengendalian agama pada sebagian masyarakat lemah. Di sini penguasa masih tetap dapat meluruskan masyarakat dan menghukum kaum perusak dan penjahat. Dalam kondisi demikian masyarakat tergolong dalam jalan keselamatan.Jika kita mengamati hukum perundang-undangan islam, dapat kita saksikan, banyak kaum muslimin dalam kurun waktu yang panjang tidak ada seorang pun yang menggugat mereka terkait dengan kasus pidana atau kehormatan atau perdata atau hak apapun, sebab mereka benar-benar menerapkan hukum islam dan memenuhi hak-hak orang lain. Oleh karena itu kaum muslimin dapat merasakan nikmatnya aman dan iman. Barangsiapa yang melaksanakan hukum perundang-undangan islam dalam kehidupannya, maka tidak ada jalan untuk mengganggunya.Rasulullah saw bersabda  : الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِOrang islam ialah orang yang membuat orang-orang islam lainnya merasa aman dari gangguan lidahnya dan tangannya .Syariat Islam telah memagari keamanan rapat-rapat melalui penjagaan, pengawasan dan kekuatan. Karena Allah Swt menggantungkan semua kepentingan manusia pada sisi keamanan terkait dengan urusan agama dan dunia. Maka jika ada seseorang yang mencoba melanggar keamanan dengan perbuatan cabul ( zina ) atau homoseksual, maka penguasa akan menegakkan sanksi hukuman terhadap si pelanggar demi terjaganya kehormatan, harga diri dan garis keturunan manusia manakala telah ada bukti-bukti lengkap. Jika keamanan terganggu oleh tindak pencurian, pelakunya pun dijatuhi hukuman demi terpeliharanya harta benda. Jika ada seseorang yang minum khamar atau mengkonsumsi narkoba atau memasarkannya, berarti ia telah melanggar keamanan, maka dia pun dijatuhi hukuman untuk melindungi akal pikiran manusia. Jika ada yang menumpahkan darah secara sengaja, peguasa pun tidak menjatuhkan hukuman Qisas terhadapnya untuk terpeliharanya darah manusia.Jika ada komplotan penjahat yang menumpahkan darah tak berdosa atau merampok harta benda, penguasa pun menegakkan hukum Allah terhadapnya sesuai dengan firmanNya :إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ، إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَقْدِرُوا عَلَيْهِمْ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ .Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. Kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Qs Al-Maidah : 33-34)Sanksi hukuman apapun yang dijatuhkan tiada lain hanyalah untuk melindungi masyarakat dari kejahatan pelaku kriminal yang mengganggu keamanan masyarakat, di samping untuk menghapuskan dosa pelakunya. Barangsiapa yang  bertobat, maka Allah menerima tobatnya, dan barangsiapa yang telah Allah tutupi  kesalahan-kesalahannya, selama dirinya tidak lagi  membahayakan orang lain, maka urusannya ada di tangan Allah.Jika Allah telah menganugerahkan keamanan kepada suatu masyarakat, maka Allah mudahkan sumber-sumber rezekinya sehingga berjalan dinamika kehidupannya, makmur perekonomiannya,  terpelihara jiwanya, hartanya dan martabatnya. Namun jika keamanan terganggu, maka kehidupan terasa pahit yang tidak tertahan.Allah berfirman  :وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً قَرْيَةً كانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيها رِزْقُها رَغَداً مِنْ كُلِّ مَكانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذاقَهَا اللَّهُ لِباسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِما كانُوا يَصْنَعُونَ( Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat ) (Qs An-Nahl : 112)Keamanan merupakan kesempurnaan agama dan salah satu tujuan pokok syariat islam yang agung.Dari Khabab Bin Al-Art r.a. berkata :Kami mengadu kepada Nabi Muhammad saw pada saat beliau sedang berbantal dengan selendangnya di bawah naungan Ka’bah, kami berkata kepada beliau, “Tidakkah engkau memohon agar Allah memberikan pertolongan -Nya bagi kami?. Tidakkah engkau berdo’a agar Allah memberikan kemenangan bagi kami?. Maka Nabi Muhammad saw bersabda, “Sungguh seorang lelaki sebelum kalian digalikan baginya sebuah lubang di tanah lalu dia ditimbun padanya, dan didatangkan baginya sebuah gergaji dan diletakkan pada kepalanya lalu kepalanya dibelah dua, seorang lelaki lain disisir dengan sisir dari besi pada bagian daging, tulang dan urat-uratnya,  namun hal itu sungguh tidak menyurutkan tekadnya dari Agama Allah.Demi Allah! Sungguh Allah akan menyempurnakan urusan agama ini sehingga seseorang akan berjalan dari Shan’a sehingga ke Hadhramaut dan dia tidak akan takut kecuali kepada Allah dan serigala yang akan menerkam kambing gembalaannya, sayangnya kalian tergesa-gesa”. (HR Bukhari).Allah Swt berfirman  :فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِIngatlah kepadaKu, niscaya Aku mengingat kalian dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kalian kafir kepadaKuSemoga Allah curahkan keberkahan kepada kita semua melalui Al-Qur’an yang agung Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dia Yang Maha Kuat dan Maha Kokoh. Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad saw adalah hambaNya dan RasulNya yang penuh amanat.Ya Allah ! sampaikanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan RasulMu Muhammad saw beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya . . .Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Berpegang teguhlah sekuat-kuatnya dengan islam.Hamba-hamba Allah ! sesungguhnya nikmat keamanan adalah anugerah yang sangat agung. Maka ada di antara manusia yang bersyukur atas nikmat itu sehingga Allah memberinya pahala bahkan Allah menambahkan anugrahnya, namun ada pula manusia yang tidak menghargai nikmat dan tidak sabar  sebagai dalam nikmat tersebut sehingga Allah menjatuhkan hukuman terhadapnya dan menghalanginya dari nikmatNya.Allah Swt berfirman :وَلَئِنْ أَذَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنَاهَا مِنْهُ إِنَّهُ لَيَئُوسٌ كَفُورٌ وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ نَعْمَاءَ بَعْدَ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ ذَهَبَ السَّيِّئَاتُ عَنِّي إِنَّهُ لَفَرِحٌ فَخُورٌ ، إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ ،Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih . Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku”; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga . Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar) Qs Hud : 9-11Jelaslah, hukum syariat Allah hakikatnya adalah rahmat, memberikan rasa keadilan, kedamaian, keamanan dan ketenteraman di dunia dan akhirat.Dalam sebuah hadis dari Nabi saw bersabda :لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا“Allah mempunya rahmat kasih sayang kepada hamba-hambaNya melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anak-nya”.Hamba Allah sekalian !Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman, sampaikanlah benar-benar doa shalawat dan salam kepadanya ! Penerjemah : Firanda Andirja & Ustman Hatimhttps://firanda.com
(Khutbah Jumat Mesjid Nabawi 17/1/1437 H – 30/10/2015 M)Oleh : As-Syaikh Ali Al-Hudzaifi hafizohullohKhutbah Pertama :          Segala puji bagi Allah pemilik keagungan dan kemuliaan, kebesaran dan kesombongan, pemilik anugerah dan karunia, Yang berhak untuk dipuji dalam kondisi lapang maupun susah. Aku memuji Robbku dan aku bersyukur kepadaNya serta aku bertaubat kepadanya dan memohon ampunanNya. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya. Penguasa bumi dan langit. Dan aku bersaksi bahwasanya nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya yang diutus dengan ‘Al-hanifiyah as-Samhah” (Agama yang lurus jauh dari kesyirikan dan penuh dengan kemudahan).Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan RasulMu Muhammad, dan keluarganya serta para sahabatnya yang baik dan bertakwa. Amma ba’du.           Bertakwalah kepada Allah dengan mentaatiNya, karena ketakwaan merupakan bekal yang terbaik. Tidak seorangpun yang berpegang kepada ketakwaan kecuali beruntung meraih kebaikan-kebaikan dunia dan bahagia pada hari kebangkitan. Allah berfirman :وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يُكَفِّرۡ عَنۡهُ سَيِّ‍َٔاتِهِۦ وَيُعۡظِمۡ لَهُۥٓ أَجۡرًاDan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya (QS At-Thalaq : 5)Wahai manusia sekalian, ingatlah kenikmatan dan anugerah yang Allah telah sempurnakan bagi kalian dan bencana yang Allah hilangkan dari kalian, maka betapa baiknya Allah Swt, dan betapa besarnya kedermawananNya, dan betapa luasnya rahmatNya, serta betapa mantap dan sempurnanya syari’atNya. Maka diantara rahmat Allah adalah Allah mensyari’atkan bagi hamba-hambaNya semua yang bermanfaat bagi mereka dan membahagiakan mereka dan menjadikan mereka hidup dalam kehidupan yang bahagia, tentram dan aman. Maka Allah mensyari’atkan kepada para hamba sebab-sebab yang mewujudkan keamanan dan ketentraman serta kenyamanan dengan kehidupan yang mulia. Allah berfirman :يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْHai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, (QS Al-Anfal : 24)Keamanan merupakan benteng Islam, dan Orang-orang Islam adalah penduduknya, maka benteng akan menjaga mereka dari para musuh Islam dan musuh orang Islam. Maka kaum muslimin menjaga benteng ini agar tidak dihancurkan oleh para perusak. Maka keamanan merupakan pagar Islam yang di balik pagar tersebut kaum muslimin berlindung dan ditolaknya serangan para perusak dan kezoliman orang-orang zalim.Kaum muslimin menjaga pagar ini dari kapak-kapak penghancur dan mereka menjaga pagar ini jangan sampai hancur dan lebur karena dengan terjaganya keamanan Allah menjaga agama, darah, kehormatan, harta, saling bertukar kemanfaatan, dan bebasnya pergerakan kehidupan pada seluruh aktifitasnya, demikian juga menjaga jalan-jalan yang mengantarkan manusia ke berbagai negeri untuk menunaikan kebutuhan mereka dan meraih kemaslahatan mereka serta memperoleh rizki mereka. Allah berfirman :أَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَهُمْ حَرَمًا آمِنًا يُجْبَى إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا مِنْ لَدُنَّا وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَDan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagimu) dari sisi Kami?. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (QS Al-Qosos : 57)Dari Ubaidillah bin Mihson radhiallahu ‘anhu ia berkata ; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا“Siapa diantara kalian yang aman di pagi hari di rumahnya, tubuhnya sehat dan ia memiliki makanan untuk hari tersebut maka seakan-akan dunia seluruhnya telah diberikan kepadanya” (HR At-Tirmidzi dan ia berkata : Hadits hasan)Keamanan merupakan kawannya keimanan dan setara dengan Islam, dari Tholhah bin Ubaidillah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika melihat hilal beliau berkata :اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيْمَانِ، وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللهُ، هِلاَلَ خَيْرٍ وَرُشْدٍ“Ya Allah terbitkanlah hilal kepada kami dengan keamanan, keimanan, keselataman, dan Islam, Robku dan Rabmu adalah Allah, hilal kebaikan dan petunjuk” (HR At-Tirmidzi dan ia berkata ; Hadits hasan)Keamanan adalah ketenangan jiwa, dan ketenangan dalam kehormatan, ketenangan dalam harta dan asset-aset, ketenangan dalam perjalanan, semuanya tanpa ada rasa ketakutan. Demikian juga ketenangan terhadap hak-hak maknawi dan kesopanan yang diakui oleh Islam dengan tidak boleh dibuang atau merendahkannya.Keamanan bagian dari Islam, dan syari’at Islam telah datang menjamin keamanan bagi seorang muslim dalam kehidupannya dan setelah matinya agar ia bisa hidup dengan kehidupan yang bahagian dan tentram, sebagaimana firman Allah :مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَBarangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (Qs An-Nahl 97)Maka mentauhidkan Allah penguasa alam semesta adalah kewajiban yang pertama kali. Siapa yang mewujudkan tauhid maka Allah akan mengganjarinya keamanan dan petunjuk serta menjaganya dari hukuman kesyirikan di dunia dan dari ketakutan di akhirat. Allah berfirman pada kisah Ibrahim shallallahu ‘alaihi wasallam :قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِ وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ (80) وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (81) الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَDia (Ibrahim) berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)? 81. Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui. 82. Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS Al-An’aam : 80-82)Al-Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :“Barangsiapa yang selamat dari ketiga jenis kezoliman yaitu kesyirikan, menzolimi para hamba yang lain dan menzolimi diri sendiri selain kesyirikan maka baginya keamanan yang sempurna dan petunjuk yang sempurna. Barangsiapa yang tidak selamat dari menzolimi dirinya sendiri maka ia akan mendapatkan mutlaknya keamanan dan petunjuk” (demikian).Yaitu berdasarkan selamatnya ia dari perkara-perkara yang selain syirik besar.Allah berfirman :لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْأَكْبَرُ وَتَتَلَقَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ هَذَا يَوْمُكُمُ الَّذِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَMereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat), dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat berkata): “Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu” (QS Al-Anbiyaa : 103)Diantara sebab diraihnya keamanan adalah seorang muslim menjalankan syari’at Islam, karena syari’at Islam menjaga hak-hak Allah, hak para hamba, dan melarang dari dosa, kezoliman, dan pelanggaran. Allah berfirman :وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُDan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). (QS Al-Ankabuut : 45)Allah juga berfirman :إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَSesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS An-Nahl : 90)Dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لا تحاسدوا ولا تناجشوا ولا تباغضوا ولا تدابروا ولا يبع بعضكم على بيع بعض وكونوا عباد الله إخوانا المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يحقره ولا يخذله التقوى هاهنا – ويشير إلى صدره ثلاث مرات- بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه“Janganlah kalian saling hasad, janganlah saling berbuat najasy, janganlah saling membenci, janganlah saling memboikot (saling balik belakang), dan janganlah sebagian kelian menjual di atas penjualan sebagian yang lain, dan jadikanlah hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, ia tidak menzoliminya, tidak merendahkannya, tidak meninggalkannya tatkala perlu. Takwa itu tempatnya di sini –seraya Nabi mengisyaratkan kepada dadanya- tiga kali. Cukuplah seseorang dikatakan telah berbuat keburukan kalau ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Seorang muslim bagi muslim yang lain adalah diharamkan darahnya, hartanya, dan kehormatannya” (HR Muslim)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لاَ تَظْلِمُوا أَهْلَ الذِّمَّةِ“Janganlah kalian menzolimi ahlu adz-Dimmah”Allah telah menjadikan keamanan sebagai perkara yang diakui sebagai syarat dalam sebagian ibadah dan hukum. Allah berfirman tentang sholat yaitu dalam melaksanakannya dengan sifat sholatnya di luar kondisi ketakutan :فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًاMaka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (QS An-Nisaa : 103)Zakat tidak ditarik dari harta-harta yang zahir maupun buah-buahan dan biji-bijian kecuali bila keamanan benar-benar kondusif. Firman Allah :فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِApabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ´umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat) Qs Al-Baqarah : 196          Ibadah kepada Allah akan lebih khusu’ dan jernih dalam suasana aman dari pada yang dilakukan dalam situasi takut.Firman Allah :وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَDan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik (Qs An-Nur : 55)Di antara faktor keamanan ialah memberikan perlindungan keamanan kepada masyarakat dari gangguan para pengacau keamanan, pelaku sabotase, penjahat, dan agresor, yaitu melalui (kontrol sosial) amar makruf dan nahi anil munkar, penyuluhan, bimbingan, pengajaran dan peringatan dari perbuatan bid’ah dan hal-hal yang dilarang agama, termasuk menyempal dari kelompok kaum muslimin dan imam mereka, juga dengan melaporkan kepada penguasa akan gangguan kelompok yang meyimpang dan merusak.Firman Allah :وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَDan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung (Qs Ali Imran : 104) Dari Abi Saed Al-Khudhri r.a., Rasululla Saw bersabda “ Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah merubahnya dengan kekuatan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lidahnya, bila itupun tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemah iman “ HR MuslimTermasuk faktor utama keamanan ialah kekuatan penguasa dan tindakan tegasnya terhadap para pelaku kriminal untuk memberi efek jera terhadap mereka agar tidak berbuat kerusakan di bumi sesuai ketentuan hukum syariat yang toleran. Maka orang yang zalim dan menyerang harus dicegah dengan cara-cara tertentu agar tidak melakukan kezaliman dan penyerangan meskipun dia adalah sesama muslim. Orang kafir zimi dari kalangan Ahlu kitab tetap diakui agamanya, sebab resiko kekafirannya menjadi tanggungan mereka sendiri, sedangkan penguasa bertanggung jawab atas rakyatnya.Utsman r.a. berkata :إن الله يزع بالسلطان ما لا يزع بالقرآنSesungguhnya Allah Swt melalui tangan penguasa dapat mencegah suatu kejahatan yang tidak dapat tercegah oleh Al-Qur’an.Maka akan lebih baik bagi masyarakat bila pengendalian agama yang ada pada mereka kuat dan penguasa pun kuat. Maka dalam kondisi demikian urusan umat menjadi sangat baik dari segi agama dan urusan dunia. Kemudian menyusul kondisi setingkat di bawahnya, yaitu penguasa kuat namun pengendalian agama pada sebagian masyarakat lemah. Di sini penguasa masih tetap dapat meluruskan masyarakat dan menghukum kaum perusak dan penjahat. Dalam kondisi demikian masyarakat tergolong dalam jalan keselamatan.Jika kita mengamati hukum perundang-undangan islam, dapat kita saksikan, banyak kaum muslimin dalam kurun waktu yang panjang tidak ada seorang pun yang menggugat mereka terkait dengan kasus pidana atau kehormatan atau perdata atau hak apapun, sebab mereka benar-benar menerapkan hukum islam dan memenuhi hak-hak orang lain. Oleh karena itu kaum muslimin dapat merasakan nikmatnya aman dan iman. Barangsiapa yang melaksanakan hukum perundang-undangan islam dalam kehidupannya, maka tidak ada jalan untuk mengganggunya.Rasulullah saw bersabda  : الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِOrang islam ialah orang yang membuat orang-orang islam lainnya merasa aman dari gangguan lidahnya dan tangannya .Syariat Islam telah memagari keamanan rapat-rapat melalui penjagaan, pengawasan dan kekuatan. Karena Allah Swt menggantungkan semua kepentingan manusia pada sisi keamanan terkait dengan urusan agama dan dunia. Maka jika ada seseorang yang mencoba melanggar keamanan dengan perbuatan cabul ( zina ) atau homoseksual, maka penguasa akan menegakkan sanksi hukuman terhadap si pelanggar demi terjaganya kehormatan, harga diri dan garis keturunan manusia manakala telah ada bukti-bukti lengkap. Jika keamanan terganggu oleh tindak pencurian, pelakunya pun dijatuhi hukuman demi terpeliharanya harta benda. Jika ada seseorang yang minum khamar atau mengkonsumsi narkoba atau memasarkannya, berarti ia telah melanggar keamanan, maka dia pun dijatuhi hukuman untuk melindungi akal pikiran manusia. Jika ada yang menumpahkan darah secara sengaja, peguasa pun tidak menjatuhkan hukuman Qisas terhadapnya untuk terpeliharanya darah manusia.Jika ada komplotan penjahat yang menumpahkan darah tak berdosa atau merampok harta benda, penguasa pun menegakkan hukum Allah terhadapnya sesuai dengan firmanNya :إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ، إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَقْدِرُوا عَلَيْهِمْ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ .Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. Kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Qs Al-Maidah : 33-34)Sanksi hukuman apapun yang dijatuhkan tiada lain hanyalah untuk melindungi masyarakat dari kejahatan pelaku kriminal yang mengganggu keamanan masyarakat, di samping untuk menghapuskan dosa pelakunya. Barangsiapa yang  bertobat, maka Allah menerima tobatnya, dan barangsiapa yang telah Allah tutupi  kesalahan-kesalahannya, selama dirinya tidak lagi  membahayakan orang lain, maka urusannya ada di tangan Allah.Jika Allah telah menganugerahkan keamanan kepada suatu masyarakat, maka Allah mudahkan sumber-sumber rezekinya sehingga berjalan dinamika kehidupannya, makmur perekonomiannya,  terpelihara jiwanya, hartanya dan martabatnya. Namun jika keamanan terganggu, maka kehidupan terasa pahit yang tidak tertahan.Allah berfirman  :وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً قَرْيَةً كانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيها رِزْقُها رَغَداً مِنْ كُلِّ مَكانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذاقَهَا اللَّهُ لِباسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِما كانُوا يَصْنَعُونَ( Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat ) (Qs An-Nahl : 112)Keamanan merupakan kesempurnaan agama dan salah satu tujuan pokok syariat islam yang agung.Dari Khabab Bin Al-Art r.a. berkata :Kami mengadu kepada Nabi Muhammad saw pada saat beliau sedang berbantal dengan selendangnya di bawah naungan Ka’bah, kami berkata kepada beliau, “Tidakkah engkau memohon agar Allah memberikan pertolongan -Nya bagi kami?. Tidakkah engkau berdo’a agar Allah memberikan kemenangan bagi kami?. Maka Nabi Muhammad saw bersabda, “Sungguh seorang lelaki sebelum kalian digalikan baginya sebuah lubang di tanah lalu dia ditimbun padanya, dan didatangkan baginya sebuah gergaji dan diletakkan pada kepalanya lalu kepalanya dibelah dua, seorang lelaki lain disisir dengan sisir dari besi pada bagian daging, tulang dan urat-uratnya,  namun hal itu sungguh tidak menyurutkan tekadnya dari Agama Allah.Demi Allah! Sungguh Allah akan menyempurnakan urusan agama ini sehingga seseorang akan berjalan dari Shan’a sehingga ke Hadhramaut dan dia tidak akan takut kecuali kepada Allah dan serigala yang akan menerkam kambing gembalaannya, sayangnya kalian tergesa-gesa”. (HR Bukhari).Allah Swt berfirman  :فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِIngatlah kepadaKu, niscaya Aku mengingat kalian dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kalian kafir kepadaKuSemoga Allah curahkan keberkahan kepada kita semua melalui Al-Qur’an yang agung Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dia Yang Maha Kuat dan Maha Kokoh. Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad saw adalah hambaNya dan RasulNya yang penuh amanat.Ya Allah ! sampaikanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan RasulMu Muhammad saw beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya . . .Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Berpegang teguhlah sekuat-kuatnya dengan islam.Hamba-hamba Allah ! sesungguhnya nikmat keamanan adalah anugerah yang sangat agung. Maka ada di antara manusia yang bersyukur atas nikmat itu sehingga Allah memberinya pahala bahkan Allah menambahkan anugrahnya, namun ada pula manusia yang tidak menghargai nikmat dan tidak sabar  sebagai dalam nikmat tersebut sehingga Allah menjatuhkan hukuman terhadapnya dan menghalanginya dari nikmatNya.Allah Swt berfirman :وَلَئِنْ أَذَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنَاهَا مِنْهُ إِنَّهُ لَيَئُوسٌ كَفُورٌ وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ نَعْمَاءَ بَعْدَ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ ذَهَبَ السَّيِّئَاتُ عَنِّي إِنَّهُ لَفَرِحٌ فَخُورٌ ، إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ ،Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih . Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku”; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga . Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar) Qs Hud : 9-11Jelaslah, hukum syariat Allah hakikatnya adalah rahmat, memberikan rasa keadilan, kedamaian, keamanan dan ketenteraman di dunia dan akhirat.Dalam sebuah hadis dari Nabi saw bersabda :لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا“Allah mempunya rahmat kasih sayang kepada hamba-hambaNya melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anak-nya”.Hamba Allah sekalian !Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman, sampaikanlah benar-benar doa shalawat dan salam kepadanya ! Penerjemah : Firanda Andirja & Ustman Hatimhttps://firanda.com


(Khutbah Jumat Mesjid Nabawi 17/1/1437 H – 30/10/2015 M)Oleh : As-Syaikh Ali Al-Hudzaifi hafizohullohKhutbah Pertama :          Segala puji bagi Allah pemilik keagungan dan kemuliaan, kebesaran dan kesombongan, pemilik anugerah dan karunia, Yang berhak untuk dipuji dalam kondisi lapang maupun susah. Aku memuji Robbku dan aku bersyukur kepadaNya serta aku bertaubat kepadanya dan memohon ampunanNya. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya. Penguasa bumi dan langit. Dan aku bersaksi bahwasanya nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya yang diutus dengan ‘Al-hanifiyah as-Samhah” (Agama yang lurus jauh dari kesyirikan dan penuh dengan kemudahan).Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan RasulMu Muhammad, dan keluarganya serta para sahabatnya yang baik dan bertakwa. Amma ba’du.           Bertakwalah kepada Allah dengan mentaatiNya, karena ketakwaan merupakan bekal yang terbaik. Tidak seorangpun yang berpegang kepada ketakwaan kecuali beruntung meraih kebaikan-kebaikan dunia dan bahagia pada hari kebangkitan. Allah berfirman :وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يُكَفِّرۡ عَنۡهُ سَيِّ‍َٔاتِهِۦ وَيُعۡظِمۡ لَهُۥٓ أَجۡرًاDan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya (QS At-Thalaq : 5)Wahai manusia sekalian, ingatlah kenikmatan dan anugerah yang Allah telah sempurnakan bagi kalian dan bencana yang Allah hilangkan dari kalian, maka betapa baiknya Allah Swt, dan betapa besarnya kedermawananNya, dan betapa luasnya rahmatNya, serta betapa mantap dan sempurnanya syari’atNya. Maka diantara rahmat Allah adalah Allah mensyari’atkan bagi hamba-hambaNya semua yang bermanfaat bagi mereka dan membahagiakan mereka dan menjadikan mereka hidup dalam kehidupan yang bahagia, tentram dan aman. Maka Allah mensyari’atkan kepada para hamba sebab-sebab yang mewujudkan keamanan dan ketentraman serta kenyamanan dengan kehidupan yang mulia. Allah berfirman :يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْHai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, (QS Al-Anfal : 24)Keamanan merupakan benteng Islam, dan Orang-orang Islam adalah penduduknya, maka benteng akan menjaga mereka dari para musuh Islam dan musuh orang Islam. Maka kaum muslimin menjaga benteng ini agar tidak dihancurkan oleh para perusak. Maka keamanan merupakan pagar Islam yang di balik pagar tersebut kaum muslimin berlindung dan ditolaknya serangan para perusak dan kezoliman orang-orang zalim.Kaum muslimin menjaga pagar ini dari kapak-kapak penghancur dan mereka menjaga pagar ini jangan sampai hancur dan lebur karena dengan terjaganya keamanan Allah menjaga agama, darah, kehormatan, harta, saling bertukar kemanfaatan, dan bebasnya pergerakan kehidupan pada seluruh aktifitasnya, demikian juga menjaga jalan-jalan yang mengantarkan manusia ke berbagai negeri untuk menunaikan kebutuhan mereka dan meraih kemaslahatan mereka serta memperoleh rizki mereka. Allah berfirman :أَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَهُمْ حَرَمًا آمِنًا يُجْبَى إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا مِنْ لَدُنَّا وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَDan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagimu) dari sisi Kami?. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (QS Al-Qosos : 57)Dari Ubaidillah bin Mihson radhiallahu ‘anhu ia berkata ; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا“Siapa diantara kalian yang aman di pagi hari di rumahnya, tubuhnya sehat dan ia memiliki makanan untuk hari tersebut maka seakan-akan dunia seluruhnya telah diberikan kepadanya” (HR At-Tirmidzi dan ia berkata : Hadits hasan)Keamanan merupakan kawannya keimanan dan setara dengan Islam, dari Tholhah bin Ubaidillah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika melihat hilal beliau berkata :اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيْمَانِ، وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللهُ، هِلاَلَ خَيْرٍ وَرُشْدٍ“Ya Allah terbitkanlah hilal kepada kami dengan keamanan, keimanan, keselataman, dan Islam, Robku dan Rabmu adalah Allah, hilal kebaikan dan petunjuk” (HR At-Tirmidzi dan ia berkata ; Hadits hasan)Keamanan adalah ketenangan jiwa, dan ketenangan dalam kehormatan, ketenangan dalam harta dan asset-aset, ketenangan dalam perjalanan, semuanya tanpa ada rasa ketakutan. Demikian juga ketenangan terhadap hak-hak maknawi dan kesopanan yang diakui oleh Islam dengan tidak boleh dibuang atau merendahkannya.Keamanan bagian dari Islam, dan syari’at Islam telah datang menjamin keamanan bagi seorang muslim dalam kehidupannya dan setelah matinya agar ia bisa hidup dengan kehidupan yang bahagian dan tentram, sebagaimana firman Allah :مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَBarangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (Qs An-Nahl 97)Maka mentauhidkan Allah penguasa alam semesta adalah kewajiban yang pertama kali. Siapa yang mewujudkan tauhid maka Allah akan mengganjarinya keamanan dan petunjuk serta menjaganya dari hukuman kesyirikan di dunia dan dari ketakutan di akhirat. Allah berfirman pada kisah Ibrahim shallallahu ‘alaihi wasallam :قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِ وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ (80) وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (81) الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَDia (Ibrahim) berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku”. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)? 81. Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui. 82. Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS Al-An’aam : 80-82)Al-Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :“Barangsiapa yang selamat dari ketiga jenis kezoliman yaitu kesyirikan, menzolimi para hamba yang lain dan menzolimi diri sendiri selain kesyirikan maka baginya keamanan yang sempurna dan petunjuk yang sempurna. Barangsiapa yang tidak selamat dari menzolimi dirinya sendiri maka ia akan mendapatkan mutlaknya keamanan dan petunjuk” (demikian).Yaitu berdasarkan selamatnya ia dari perkara-perkara yang selain syirik besar.Allah berfirman :لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْأَكْبَرُ وَتَتَلَقَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ هَذَا يَوْمُكُمُ الَّذِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَMereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat), dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat berkata): “Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu” (QS Al-Anbiyaa : 103)Diantara sebab diraihnya keamanan adalah seorang muslim menjalankan syari’at Islam, karena syari’at Islam menjaga hak-hak Allah, hak para hamba, dan melarang dari dosa, kezoliman, dan pelanggaran. Allah berfirman :وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُDan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). (QS Al-Ankabuut : 45)Allah juga berfirman :إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَSesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS An-Nahl : 90)Dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لا تحاسدوا ولا تناجشوا ولا تباغضوا ولا تدابروا ولا يبع بعضكم على بيع بعض وكونوا عباد الله إخوانا المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يحقره ولا يخذله التقوى هاهنا – ويشير إلى صدره ثلاث مرات- بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه“Janganlah kalian saling hasad, janganlah saling berbuat najasy, janganlah saling membenci, janganlah saling memboikot (saling balik belakang), dan janganlah sebagian kelian menjual di atas penjualan sebagian yang lain, dan jadikanlah hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, ia tidak menzoliminya, tidak merendahkannya, tidak meninggalkannya tatkala perlu. Takwa itu tempatnya di sini –seraya Nabi mengisyaratkan kepada dadanya- tiga kali. Cukuplah seseorang dikatakan telah berbuat keburukan kalau ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Seorang muslim bagi muslim yang lain adalah diharamkan darahnya, hartanya, dan kehormatannya” (HR Muslim)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :لاَ تَظْلِمُوا أَهْلَ الذِّمَّةِ“Janganlah kalian menzolimi ahlu adz-Dimmah”Allah telah menjadikan keamanan sebagai perkara yang diakui sebagai syarat dalam sebagian ibadah dan hukum. Allah berfirman tentang sholat yaitu dalam melaksanakannya dengan sifat sholatnya di luar kondisi ketakutan :فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًاMaka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (QS An-Nisaa : 103)Zakat tidak ditarik dari harta-harta yang zahir maupun buah-buahan dan biji-bijian kecuali bila keamanan benar-benar kondusif. Firman Allah :فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِApabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ´umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat) Qs Al-Baqarah : 196          Ibadah kepada Allah akan lebih khusu’ dan jernih dalam suasana aman dari pada yang dilakukan dalam situasi takut.Firman Allah :وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَDan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik (Qs An-Nur : 55)Di antara faktor keamanan ialah memberikan perlindungan keamanan kepada masyarakat dari gangguan para pengacau keamanan, pelaku sabotase, penjahat, dan agresor, yaitu melalui (kontrol sosial) amar makruf dan nahi anil munkar, penyuluhan, bimbingan, pengajaran dan peringatan dari perbuatan bid’ah dan hal-hal yang dilarang agama, termasuk menyempal dari kelompok kaum muslimin dan imam mereka, juga dengan melaporkan kepada penguasa akan gangguan kelompok yang meyimpang dan merusak.Firman Allah :وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَDan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung (Qs Ali Imran : 104) Dari Abi Saed Al-Khudhri r.a., Rasululla Saw bersabda “ Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah merubahnya dengan kekuatan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lidahnya, bila itupun tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemah iman “ HR MuslimTermasuk faktor utama keamanan ialah kekuatan penguasa dan tindakan tegasnya terhadap para pelaku kriminal untuk memberi efek jera terhadap mereka agar tidak berbuat kerusakan di bumi sesuai ketentuan hukum syariat yang toleran. Maka orang yang zalim dan menyerang harus dicegah dengan cara-cara tertentu agar tidak melakukan kezaliman dan penyerangan meskipun dia adalah sesama muslim. Orang kafir zimi dari kalangan Ahlu kitab tetap diakui agamanya, sebab resiko kekafirannya menjadi tanggungan mereka sendiri, sedangkan penguasa bertanggung jawab atas rakyatnya.Utsman r.a. berkata :إن الله يزع بالسلطان ما لا يزع بالقرآنSesungguhnya Allah Swt melalui tangan penguasa dapat mencegah suatu kejahatan yang tidak dapat tercegah oleh Al-Qur’an.Maka akan lebih baik bagi masyarakat bila pengendalian agama yang ada pada mereka kuat dan penguasa pun kuat. Maka dalam kondisi demikian urusan umat menjadi sangat baik dari segi agama dan urusan dunia. Kemudian menyusul kondisi setingkat di bawahnya, yaitu penguasa kuat namun pengendalian agama pada sebagian masyarakat lemah. Di sini penguasa masih tetap dapat meluruskan masyarakat dan menghukum kaum perusak dan penjahat. Dalam kondisi demikian masyarakat tergolong dalam jalan keselamatan.Jika kita mengamati hukum perundang-undangan islam, dapat kita saksikan, banyak kaum muslimin dalam kurun waktu yang panjang tidak ada seorang pun yang menggugat mereka terkait dengan kasus pidana atau kehormatan atau perdata atau hak apapun, sebab mereka benar-benar menerapkan hukum islam dan memenuhi hak-hak orang lain. Oleh karena itu kaum muslimin dapat merasakan nikmatnya aman dan iman. Barangsiapa yang melaksanakan hukum perundang-undangan islam dalam kehidupannya, maka tidak ada jalan untuk mengganggunya.Rasulullah saw bersabda  : الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِOrang islam ialah orang yang membuat orang-orang islam lainnya merasa aman dari gangguan lidahnya dan tangannya .Syariat Islam telah memagari keamanan rapat-rapat melalui penjagaan, pengawasan dan kekuatan. Karena Allah Swt menggantungkan semua kepentingan manusia pada sisi keamanan terkait dengan urusan agama dan dunia. Maka jika ada seseorang yang mencoba melanggar keamanan dengan perbuatan cabul ( zina ) atau homoseksual, maka penguasa akan menegakkan sanksi hukuman terhadap si pelanggar demi terjaganya kehormatan, harga diri dan garis keturunan manusia manakala telah ada bukti-bukti lengkap. Jika keamanan terganggu oleh tindak pencurian, pelakunya pun dijatuhi hukuman demi terpeliharanya harta benda. Jika ada seseorang yang minum khamar atau mengkonsumsi narkoba atau memasarkannya, berarti ia telah melanggar keamanan, maka dia pun dijatuhi hukuman untuk melindungi akal pikiran manusia. Jika ada yang menumpahkan darah secara sengaja, peguasa pun tidak menjatuhkan hukuman Qisas terhadapnya untuk terpeliharanya darah manusia.Jika ada komplotan penjahat yang menumpahkan darah tak berdosa atau merampok harta benda, penguasa pun menegakkan hukum Allah terhadapnya sesuai dengan firmanNya :إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ، إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَقْدِرُوا عَلَيْهِمْ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ .Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. Kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Qs Al-Maidah : 33-34)Sanksi hukuman apapun yang dijatuhkan tiada lain hanyalah untuk melindungi masyarakat dari kejahatan pelaku kriminal yang mengganggu keamanan masyarakat, di samping untuk menghapuskan dosa pelakunya. Barangsiapa yang  bertobat, maka Allah menerima tobatnya, dan barangsiapa yang telah Allah tutupi  kesalahan-kesalahannya, selama dirinya tidak lagi  membahayakan orang lain, maka urusannya ada di tangan Allah.Jika Allah telah menganugerahkan keamanan kepada suatu masyarakat, maka Allah mudahkan sumber-sumber rezekinya sehingga berjalan dinamika kehidupannya, makmur perekonomiannya,  terpelihara jiwanya, hartanya dan martabatnya. Namun jika keamanan terganggu, maka kehidupan terasa pahit yang tidak tertahan.Allah berfirman  :وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً قَرْيَةً كانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيها رِزْقُها رَغَداً مِنْ كُلِّ مَكانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذاقَهَا اللَّهُ لِباسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِما كانُوا يَصْنَعُونَ( Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat ) (Qs An-Nahl : 112)Keamanan merupakan kesempurnaan agama dan salah satu tujuan pokok syariat islam yang agung.Dari Khabab Bin Al-Art r.a. berkata :Kami mengadu kepada Nabi Muhammad saw pada saat beliau sedang berbantal dengan selendangnya di bawah naungan Ka’bah, kami berkata kepada beliau, “Tidakkah engkau memohon agar Allah memberikan pertolongan -Nya bagi kami?. Tidakkah engkau berdo’a agar Allah memberikan kemenangan bagi kami?. Maka Nabi Muhammad saw bersabda, “Sungguh seorang lelaki sebelum kalian digalikan baginya sebuah lubang di tanah lalu dia ditimbun padanya, dan didatangkan baginya sebuah gergaji dan diletakkan pada kepalanya lalu kepalanya dibelah dua, seorang lelaki lain disisir dengan sisir dari besi pada bagian daging, tulang dan urat-uratnya,  namun hal itu sungguh tidak menyurutkan tekadnya dari Agama Allah.Demi Allah! Sungguh Allah akan menyempurnakan urusan agama ini sehingga seseorang akan berjalan dari Shan’a sehingga ke Hadhramaut dan dia tidak akan takut kecuali kepada Allah dan serigala yang akan menerkam kambing gembalaannya, sayangnya kalian tergesa-gesa”. (HR Bukhari).Allah Swt berfirman  :فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِIngatlah kepadaKu, niscaya Aku mengingat kalian dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kalian kafir kepadaKuSemoga Allah curahkan keberkahan kepada kita semua melalui Al-Qur’an yang agung Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dia Yang Maha Kuat dan Maha Kokoh. Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad saw adalah hambaNya dan RasulNya yang penuh amanat.Ya Allah ! sampaikanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan RasulMu Muhammad saw beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya . . .Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Berpegang teguhlah sekuat-kuatnya dengan islam.Hamba-hamba Allah ! sesungguhnya nikmat keamanan adalah anugerah yang sangat agung. Maka ada di antara manusia yang bersyukur atas nikmat itu sehingga Allah memberinya pahala bahkan Allah menambahkan anugrahnya, namun ada pula manusia yang tidak menghargai nikmat dan tidak sabar  sebagai dalam nikmat tersebut sehingga Allah menjatuhkan hukuman terhadapnya dan menghalanginya dari nikmatNya.Allah Swt berfirman :وَلَئِنْ أَذَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنَاهَا مِنْهُ إِنَّهُ لَيَئُوسٌ كَفُورٌ وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ نَعْمَاءَ بَعْدَ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ ذَهَبَ السَّيِّئَاتُ عَنِّي إِنَّهُ لَفَرِحٌ فَخُورٌ ، إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ ،Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih . Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku”; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga . Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar) Qs Hud : 9-11Jelaslah, hukum syariat Allah hakikatnya adalah rahmat, memberikan rasa keadilan, kedamaian, keamanan dan ketenteraman di dunia dan akhirat.Dalam sebuah hadis dari Nabi saw bersabda :لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا“Allah mempunya rahmat kasih sayang kepada hamba-hambaNya melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anak-nya”.Hamba Allah sekalian !Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman, sampaikanlah benar-benar doa shalawat dan salam kepadanya ! Penerjemah : Firanda Andirja & Ustman Hatimhttps://firanda.com

Suami Malas Kerja

Ada suami yang terlihat malas kerja, namun malah istri yang rajin kerja di pasar. Suami tidak memberi nafkah sama sekali pada keluarganya, padahal ia mampu untuk bekerja.   Suami Wajib Mencari Nafkah Perlu diketahui bahwa suami memberikan nafkah untuk istri dan anak. Nafkah pada istri ini wajib didahulukan dari nafkah pada kerabat lainnya. Nafkah pada orang tua dan kerabat barulah diwajibkan ketika mereka miskin dan tidak punya harta. Adapun urutan mendahulukan nafkah pada istri daripada kerabat lainnya tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Hal ini disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ففي صحيح مسلم (997) عَنْ جَابِرٍ أن رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا ، فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ ذِي قَرَابَتِكَ شَيْءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا ، بَيْنَ يَدَيْكَ ، وَعَنْ يَمِينِكَ ، وَعَنْ شِمَالِكَ Dalam Shahih Muslim (997), dari Jabir, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mulailah dari dirimu sendiri. Sedekahkanlah untuk dirimu. Selebihnya dari itu untuk keluargamu (anak dan istrimu). Selebihnya lagi dari itu untuk kerabat dekatmu. Selebihnya lagi dari itu untuk tujuan ini dan itu yang ada di hadapanmu, yang ada di kanan dan kirimu.” Imam Nawawi menerangkan bahwa ada beberapa faedah dari hadits ini: Hendaklah memulai memberi nafkah dari urutan yang disebutkan di atas. Jika kebutuhan dan keperluan saling bertabrakan, maka dahulukan mana yang lebih penting dari yang lainnya. Yang afdhal untuk sedekah sunnah adalah disalurkan untuk jalan kebaikan dilihat dari maslahat. (Syarh Shahih Muslim, 7: 83)   Berdosa Jika Suami Enggan Mencari Nafkah Iya, jelas berdosa. عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ ». Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang cukup dikatakn berdosa jika ia melalaikan orang yang ia wajib beri nafkah.” (HR. Abu Daud no. 1692. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)   Keliru Jika Suami Malas Kerja dan Cuma Pasrah (Tawakkal) Allah memang yang memberi rizki sebagaimana firman-Nya, وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”(QS. Hud: 6). Ibnu Hajar Al ‘Asqalani mengatakan, “Namun hal ini bukan berarti seseorang boleh meninggalkan usaha dan bersandar pada apa yang diperoleh makhluk lainnya. Meninggalkan usaha sangat bertentangan dengan tawakkal itu sendiri.” (Fath Al-Bari, 11: 305) Imam Ahmad pernah ditanyakan mengenai seorang yang kerjaannya hanya duduk di rumah atau di masjid. Orang yang duduk-duduk tersebut pernah berkata, ”Aku tidak mengerjakan apa-apa. Rizkiku pasti akan datang sendiri.” Imam Ahmad lantas mengatakan, ”Orang ini sungguh bodoh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah bersabda, إِنَّ اللَّه جَعَلَ رِزْقِي تَحْت ظِلّ رُمْحِي “Allah menjadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku.” (HR. Ahmad, dari Ibnu ‘Umar. Sanad hadits ini shahih sebagaimana disebutkan Al ‘Iroqi dalam Takhrij Ahaditsil Ihya’, no. 1581. Dalam Shahih Al Jaami’ no. 2831, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang”. Disebutkan dalam hadits ini bahwa burung tersebut pergi pada waktu pagi dan kembali pada waktu sore dalam rangka mencari rizki. Para sahabat pun berdagang. Mereka pun mengolah kurma. Yang patut dijadikan qudwah (teladan) adalah mereka (yaitu para sahabat).” (Fath Al-Bari, 11: 305)   Ingat, Mencari Nafkah itu Berpahala Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ “Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi, pen.)” (HR. Muslim no. 995). Imam Nawawi membuat judul untuk hadits ini, “Keutamaan nafkah bagi keluarga dan hamba sahaya, serta dosa bagi orang yang melalaikan dan menahan nafkahnya untuk mereka”. Dalam Syarh Muslim (7: 82), Imam Nawawi mengatakan, “Nafkah kepada keluarga itu lebih afdhol dari sedekah yang hukumnya sunnah”. Semoga para suami semakin semangat mencari nafkah untuk keluarganya. Baca pula artikel: 6 Keutamaan Mencari Nafkah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Kamis menjelang Ashar, 16 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsnafkah rezeki suami istri

Suami Malas Kerja

Ada suami yang terlihat malas kerja, namun malah istri yang rajin kerja di pasar. Suami tidak memberi nafkah sama sekali pada keluarganya, padahal ia mampu untuk bekerja.   Suami Wajib Mencari Nafkah Perlu diketahui bahwa suami memberikan nafkah untuk istri dan anak. Nafkah pada istri ini wajib didahulukan dari nafkah pada kerabat lainnya. Nafkah pada orang tua dan kerabat barulah diwajibkan ketika mereka miskin dan tidak punya harta. Adapun urutan mendahulukan nafkah pada istri daripada kerabat lainnya tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Hal ini disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ففي صحيح مسلم (997) عَنْ جَابِرٍ أن رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا ، فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ ذِي قَرَابَتِكَ شَيْءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا ، بَيْنَ يَدَيْكَ ، وَعَنْ يَمِينِكَ ، وَعَنْ شِمَالِكَ Dalam Shahih Muslim (997), dari Jabir, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mulailah dari dirimu sendiri. Sedekahkanlah untuk dirimu. Selebihnya dari itu untuk keluargamu (anak dan istrimu). Selebihnya lagi dari itu untuk kerabat dekatmu. Selebihnya lagi dari itu untuk tujuan ini dan itu yang ada di hadapanmu, yang ada di kanan dan kirimu.” Imam Nawawi menerangkan bahwa ada beberapa faedah dari hadits ini: Hendaklah memulai memberi nafkah dari urutan yang disebutkan di atas. Jika kebutuhan dan keperluan saling bertabrakan, maka dahulukan mana yang lebih penting dari yang lainnya. Yang afdhal untuk sedekah sunnah adalah disalurkan untuk jalan kebaikan dilihat dari maslahat. (Syarh Shahih Muslim, 7: 83)   Berdosa Jika Suami Enggan Mencari Nafkah Iya, jelas berdosa. عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ ». Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang cukup dikatakn berdosa jika ia melalaikan orang yang ia wajib beri nafkah.” (HR. Abu Daud no. 1692. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)   Keliru Jika Suami Malas Kerja dan Cuma Pasrah (Tawakkal) Allah memang yang memberi rizki sebagaimana firman-Nya, وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”(QS. Hud: 6). Ibnu Hajar Al ‘Asqalani mengatakan, “Namun hal ini bukan berarti seseorang boleh meninggalkan usaha dan bersandar pada apa yang diperoleh makhluk lainnya. Meninggalkan usaha sangat bertentangan dengan tawakkal itu sendiri.” (Fath Al-Bari, 11: 305) Imam Ahmad pernah ditanyakan mengenai seorang yang kerjaannya hanya duduk di rumah atau di masjid. Orang yang duduk-duduk tersebut pernah berkata, ”Aku tidak mengerjakan apa-apa. Rizkiku pasti akan datang sendiri.” Imam Ahmad lantas mengatakan, ”Orang ini sungguh bodoh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah bersabda, إِنَّ اللَّه جَعَلَ رِزْقِي تَحْت ظِلّ رُمْحِي “Allah menjadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku.” (HR. Ahmad, dari Ibnu ‘Umar. Sanad hadits ini shahih sebagaimana disebutkan Al ‘Iroqi dalam Takhrij Ahaditsil Ihya’, no. 1581. Dalam Shahih Al Jaami’ no. 2831, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang”. Disebutkan dalam hadits ini bahwa burung tersebut pergi pada waktu pagi dan kembali pada waktu sore dalam rangka mencari rizki. Para sahabat pun berdagang. Mereka pun mengolah kurma. Yang patut dijadikan qudwah (teladan) adalah mereka (yaitu para sahabat).” (Fath Al-Bari, 11: 305)   Ingat, Mencari Nafkah itu Berpahala Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ “Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi, pen.)” (HR. Muslim no. 995). Imam Nawawi membuat judul untuk hadits ini, “Keutamaan nafkah bagi keluarga dan hamba sahaya, serta dosa bagi orang yang melalaikan dan menahan nafkahnya untuk mereka”. Dalam Syarh Muslim (7: 82), Imam Nawawi mengatakan, “Nafkah kepada keluarga itu lebih afdhol dari sedekah yang hukumnya sunnah”. Semoga para suami semakin semangat mencari nafkah untuk keluarganya. Baca pula artikel: 6 Keutamaan Mencari Nafkah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Kamis menjelang Ashar, 16 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsnafkah rezeki suami istri
Ada suami yang terlihat malas kerja, namun malah istri yang rajin kerja di pasar. Suami tidak memberi nafkah sama sekali pada keluarganya, padahal ia mampu untuk bekerja.   Suami Wajib Mencari Nafkah Perlu diketahui bahwa suami memberikan nafkah untuk istri dan anak. Nafkah pada istri ini wajib didahulukan dari nafkah pada kerabat lainnya. Nafkah pada orang tua dan kerabat barulah diwajibkan ketika mereka miskin dan tidak punya harta. Adapun urutan mendahulukan nafkah pada istri daripada kerabat lainnya tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Hal ini disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ففي صحيح مسلم (997) عَنْ جَابِرٍ أن رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا ، فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ ذِي قَرَابَتِكَ شَيْءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا ، بَيْنَ يَدَيْكَ ، وَعَنْ يَمِينِكَ ، وَعَنْ شِمَالِكَ Dalam Shahih Muslim (997), dari Jabir, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mulailah dari dirimu sendiri. Sedekahkanlah untuk dirimu. Selebihnya dari itu untuk keluargamu (anak dan istrimu). Selebihnya lagi dari itu untuk kerabat dekatmu. Selebihnya lagi dari itu untuk tujuan ini dan itu yang ada di hadapanmu, yang ada di kanan dan kirimu.” Imam Nawawi menerangkan bahwa ada beberapa faedah dari hadits ini: Hendaklah memulai memberi nafkah dari urutan yang disebutkan di atas. Jika kebutuhan dan keperluan saling bertabrakan, maka dahulukan mana yang lebih penting dari yang lainnya. Yang afdhal untuk sedekah sunnah adalah disalurkan untuk jalan kebaikan dilihat dari maslahat. (Syarh Shahih Muslim, 7: 83)   Berdosa Jika Suami Enggan Mencari Nafkah Iya, jelas berdosa. عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ ». Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang cukup dikatakn berdosa jika ia melalaikan orang yang ia wajib beri nafkah.” (HR. Abu Daud no. 1692. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)   Keliru Jika Suami Malas Kerja dan Cuma Pasrah (Tawakkal) Allah memang yang memberi rizki sebagaimana firman-Nya, وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”(QS. Hud: 6). Ibnu Hajar Al ‘Asqalani mengatakan, “Namun hal ini bukan berarti seseorang boleh meninggalkan usaha dan bersandar pada apa yang diperoleh makhluk lainnya. Meninggalkan usaha sangat bertentangan dengan tawakkal itu sendiri.” (Fath Al-Bari, 11: 305) Imam Ahmad pernah ditanyakan mengenai seorang yang kerjaannya hanya duduk di rumah atau di masjid. Orang yang duduk-duduk tersebut pernah berkata, ”Aku tidak mengerjakan apa-apa. Rizkiku pasti akan datang sendiri.” Imam Ahmad lantas mengatakan, ”Orang ini sungguh bodoh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah bersabda, إِنَّ اللَّه جَعَلَ رِزْقِي تَحْت ظِلّ رُمْحِي “Allah menjadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku.” (HR. Ahmad, dari Ibnu ‘Umar. Sanad hadits ini shahih sebagaimana disebutkan Al ‘Iroqi dalam Takhrij Ahaditsil Ihya’, no. 1581. Dalam Shahih Al Jaami’ no. 2831, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang”. Disebutkan dalam hadits ini bahwa burung tersebut pergi pada waktu pagi dan kembali pada waktu sore dalam rangka mencari rizki. Para sahabat pun berdagang. Mereka pun mengolah kurma. Yang patut dijadikan qudwah (teladan) adalah mereka (yaitu para sahabat).” (Fath Al-Bari, 11: 305)   Ingat, Mencari Nafkah itu Berpahala Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ “Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi, pen.)” (HR. Muslim no. 995). Imam Nawawi membuat judul untuk hadits ini, “Keutamaan nafkah bagi keluarga dan hamba sahaya, serta dosa bagi orang yang melalaikan dan menahan nafkahnya untuk mereka”. Dalam Syarh Muslim (7: 82), Imam Nawawi mengatakan, “Nafkah kepada keluarga itu lebih afdhol dari sedekah yang hukumnya sunnah”. Semoga para suami semakin semangat mencari nafkah untuk keluarganya. Baca pula artikel: 6 Keutamaan Mencari Nafkah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Kamis menjelang Ashar, 16 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsnafkah rezeki suami istri


Ada suami yang terlihat malas kerja, namun malah istri yang rajin kerja di pasar. Suami tidak memberi nafkah sama sekali pada keluarganya, padahal ia mampu untuk bekerja.   Suami Wajib Mencari Nafkah Perlu diketahui bahwa suami memberikan nafkah untuk istri dan anak. Nafkah pada istri ini wajib didahulukan dari nafkah pada kerabat lainnya. Nafkah pada orang tua dan kerabat barulah diwajibkan ketika mereka miskin dan tidak punya harta. Adapun urutan mendahulukan nafkah pada istri daripada kerabat lainnya tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Hal ini disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ففي صحيح مسلم (997) عَنْ جَابِرٍ أن رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا ، فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ ذِي قَرَابَتِكَ شَيْءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا ، بَيْنَ يَدَيْكَ ، وَعَنْ يَمِينِكَ ، وَعَنْ شِمَالِكَ Dalam Shahih Muslim (997), dari Jabir, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mulailah dari dirimu sendiri. Sedekahkanlah untuk dirimu. Selebihnya dari itu untuk keluargamu (anak dan istrimu). Selebihnya lagi dari itu untuk kerabat dekatmu. Selebihnya lagi dari itu untuk tujuan ini dan itu yang ada di hadapanmu, yang ada di kanan dan kirimu.” Imam Nawawi menerangkan bahwa ada beberapa faedah dari hadits ini: Hendaklah memulai memberi nafkah dari urutan yang disebutkan di atas. Jika kebutuhan dan keperluan saling bertabrakan, maka dahulukan mana yang lebih penting dari yang lainnya. Yang afdhal untuk sedekah sunnah adalah disalurkan untuk jalan kebaikan dilihat dari maslahat. (Syarh Shahih Muslim, 7: 83)   Berdosa Jika Suami Enggan Mencari Nafkah Iya, jelas berdosa. عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ ». Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang cukup dikatakn berdosa jika ia melalaikan orang yang ia wajib beri nafkah.” (HR. Abu Daud no. 1692. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)   Keliru Jika Suami Malas Kerja dan Cuma Pasrah (Tawakkal) Allah memang yang memberi rizki sebagaimana firman-Nya, وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”(QS. Hud: 6). Ibnu Hajar Al ‘Asqalani mengatakan, “Namun hal ini bukan berarti seseorang boleh meninggalkan usaha dan bersandar pada apa yang diperoleh makhluk lainnya. Meninggalkan usaha sangat bertentangan dengan tawakkal itu sendiri.” (Fath Al-Bari, 11: 305) Imam Ahmad pernah ditanyakan mengenai seorang yang kerjaannya hanya duduk di rumah atau di masjid. Orang yang duduk-duduk tersebut pernah berkata, ”Aku tidak mengerjakan apa-apa. Rizkiku pasti akan datang sendiri.” Imam Ahmad lantas mengatakan, ”Orang ini sungguh bodoh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah bersabda, إِنَّ اللَّه جَعَلَ رِزْقِي تَحْت ظِلّ رُمْحِي “Allah menjadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku.” (HR. Ahmad, dari Ibnu ‘Umar. Sanad hadits ini shahih sebagaimana disebutkan Al ‘Iroqi dalam Takhrij Ahaditsil Ihya’, no. 1581. Dalam Shahih Al Jaami’ no. 2831, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang”. Disebutkan dalam hadits ini bahwa burung tersebut pergi pada waktu pagi dan kembali pada waktu sore dalam rangka mencari rizki. Para sahabat pun berdagang. Mereka pun mengolah kurma. Yang patut dijadikan qudwah (teladan) adalah mereka (yaitu para sahabat).” (Fath Al-Bari, 11: 305)   Ingat, Mencari Nafkah itu Berpahala Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ “Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi, pen.)” (HR. Muslim no. 995). Imam Nawawi membuat judul untuk hadits ini, “Keutamaan nafkah bagi keluarga dan hamba sahaya, serta dosa bagi orang yang melalaikan dan menahan nafkahnya untuk mereka”. Dalam Syarh Muslim (7: 82), Imam Nawawi mengatakan, “Nafkah kepada keluarga itu lebih afdhol dari sedekah yang hukumnya sunnah”. Semoga para suami semakin semangat mencari nafkah untuk keluarganya. Baca pula artikel: 6 Keutamaan Mencari Nafkah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Kamis menjelang Ashar, 16 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsnafkah rezeki suami istri

Waktu Muda yang Sia-Sia

Pikiran anak muda itu seperti ini … Hidup tanpa tujuan dan cita-cita Hidup hanya ingin bergaul Hidup hanya ingin mencari pacar Hidup hanya ingin memuaskan diri Hidup hanya ingin memamerkan kekayaan Dikira hidupnya masih panjang   Ingat, Waktu Mudamu Akan Ditanya Dari Abu Barzah Al-Aslami, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Manfaatkanlah Waktu Mudamu untuk Kebaikan Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفِرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum waktu fakirmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok, 4: 341. Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Ghanim bin Qais berkata, كُنَّا نَتَوَاعَظُ فِي أوَّلِ الإِسْلاَمِ : اِبْنَ آدَم ، اِعْمَل فِي فَرَاغِك قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَفِي شَبَابِكَ لِكِبَرِكَ ، وَفِي صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَفِي دُنْيَاكَ لِآخِرَتِكَ . وَفِي حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ “Di awal-awal Islam, kami juga saling menasehati: wahai manusia, beramallah di waktu senggangmu sebelum datang waktu sibukmu, beramallah di waktu mudamu untuk masa tuamu, beramallah di kala sehatmu sebelum datang sakitmu, beramallah di dunia untuk akhiratmu, dan beramallah ketika hidup sebelum datang matimu.” (Disebutkan dalam Hilyatul Auliya’. Dinukil dari Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 387-388).   Tujuan Hidupmu untuk Ibadah Allah Ta’ala berfirman, وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz- Dzariyat: 56) Allah Ta’ala berfirman, أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115). Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, “Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dari-Nya?” (Madaarijus Salikin, 1: 98). Jadi beribadah kepada Allah adalah tujuan diciptakannya jin, manusia dan seluruh makhluk. Makhluk tidak mungkin diciptakan begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang. Allah Ta’ala berfirman, أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al Qiyamah: 36). Imam Asy-Syafi’I rahimahullah mengatakan, لاَ يُؤْمَرُ وَلاَ يُنْهَى “(Apakah mereka diciptakan) tanpa diperintah dan dilarang?” Ulama lainnya mengatakan, لاَ يُثاَبُ وَلاَ يُعَاقَبُ “(Apakah mereka diciptakan) tanpa ada balasan dan siksaan?” (Lihat Madaarijus Salikin, 1: 98)   Waktumu yang Sia-Sia Sungguh Derita Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al-Fawaid berkata, اِضَاعَةُ الوَقْتِ اَشَدُّ مِنَ الموْتِ لِاَنَّ اِضَاعَةَ الوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَالموْتِ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَاَهْلِهَا “Menyia-nyiakan waktu itu lebih parah dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat) Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”   Kurangi Maksiat Karena Usiamu Terbatas Karena tak ada satu pun yang yakin, ia bisa hidup terus hingga waktu tua. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menasehati seorang sahabat yang tatkala itu berusia muda (berumur sekitar 12 tahun) yaitu Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah Syaikh Shalih Alu Syaikh, hlm. 294). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundaknya lalu bersabda, كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ , أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ “Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari no. 6416) Apa maksud ibarat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas? Ath Thibiy mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan orang yang hidup di dunia ini dengan orang asing (al-gharib) yang tidak memiliki tempat berbaring dan tempat tinggal. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan lebih lagi yaitu memisalkan dengan pengembara. Orang asing dapat tinggal di negeri asing. Hal ini berbeda dengan seorang pengembara yang bermaksud menuju negeri yang jauh, di kanan kirinya terdapat lembah-lembah, akan ditemui tempat yang membinasakan, dia akan melewati padang pasir yang menyengsarakan dan juga terdapat perampok. Orang seperti ini tidaklah tinggal kecuali hanya sebentar sekali, sekejap mata.” (Dinukil dari Fath Al-Bari, 18: 224) Ada juga ibarat lain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا “Apa peduliku dengan dunia?! Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2377 dan Ibnu Majah no. 4109, hadits dari ‘Alqamah, dari ‘Abdullah. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)   Teman Dekatmu Akan Membuatmu Sengsara atau Selamat Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2: 344, dari Abu Hurairah. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencocoki teman dekatnya. Bahkan kecocokan dengan teman dekat bisa terjadi tanpa disadari.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 94) Semoga membuka kesadaran para pemuda lewat tulisan ini. Nabi Syu’aib ‘alaihis salam pernah berkata, إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ “Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan.” (QS. Hud: 88) Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 15 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagswaktu muda

Waktu Muda yang Sia-Sia

Pikiran anak muda itu seperti ini … Hidup tanpa tujuan dan cita-cita Hidup hanya ingin bergaul Hidup hanya ingin mencari pacar Hidup hanya ingin memuaskan diri Hidup hanya ingin memamerkan kekayaan Dikira hidupnya masih panjang   Ingat, Waktu Mudamu Akan Ditanya Dari Abu Barzah Al-Aslami, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Manfaatkanlah Waktu Mudamu untuk Kebaikan Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفِرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum waktu fakirmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok, 4: 341. Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Ghanim bin Qais berkata, كُنَّا نَتَوَاعَظُ فِي أوَّلِ الإِسْلاَمِ : اِبْنَ آدَم ، اِعْمَل فِي فَرَاغِك قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَفِي شَبَابِكَ لِكِبَرِكَ ، وَفِي صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَفِي دُنْيَاكَ لِآخِرَتِكَ . وَفِي حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ “Di awal-awal Islam, kami juga saling menasehati: wahai manusia, beramallah di waktu senggangmu sebelum datang waktu sibukmu, beramallah di waktu mudamu untuk masa tuamu, beramallah di kala sehatmu sebelum datang sakitmu, beramallah di dunia untuk akhiratmu, dan beramallah ketika hidup sebelum datang matimu.” (Disebutkan dalam Hilyatul Auliya’. Dinukil dari Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 387-388).   Tujuan Hidupmu untuk Ibadah Allah Ta’ala berfirman, وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz- Dzariyat: 56) Allah Ta’ala berfirman, أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115). Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, “Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dari-Nya?” (Madaarijus Salikin, 1: 98). Jadi beribadah kepada Allah adalah tujuan diciptakannya jin, manusia dan seluruh makhluk. Makhluk tidak mungkin diciptakan begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang. Allah Ta’ala berfirman, أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al Qiyamah: 36). Imam Asy-Syafi’I rahimahullah mengatakan, لاَ يُؤْمَرُ وَلاَ يُنْهَى “(Apakah mereka diciptakan) tanpa diperintah dan dilarang?” Ulama lainnya mengatakan, لاَ يُثاَبُ وَلاَ يُعَاقَبُ “(Apakah mereka diciptakan) tanpa ada balasan dan siksaan?” (Lihat Madaarijus Salikin, 1: 98)   Waktumu yang Sia-Sia Sungguh Derita Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al-Fawaid berkata, اِضَاعَةُ الوَقْتِ اَشَدُّ مِنَ الموْتِ لِاَنَّ اِضَاعَةَ الوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَالموْتِ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَاَهْلِهَا “Menyia-nyiakan waktu itu lebih parah dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat) Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”   Kurangi Maksiat Karena Usiamu Terbatas Karena tak ada satu pun yang yakin, ia bisa hidup terus hingga waktu tua. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menasehati seorang sahabat yang tatkala itu berusia muda (berumur sekitar 12 tahun) yaitu Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah Syaikh Shalih Alu Syaikh, hlm. 294). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundaknya lalu bersabda, كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ , أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ “Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari no. 6416) Apa maksud ibarat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas? Ath Thibiy mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan orang yang hidup di dunia ini dengan orang asing (al-gharib) yang tidak memiliki tempat berbaring dan tempat tinggal. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan lebih lagi yaitu memisalkan dengan pengembara. Orang asing dapat tinggal di negeri asing. Hal ini berbeda dengan seorang pengembara yang bermaksud menuju negeri yang jauh, di kanan kirinya terdapat lembah-lembah, akan ditemui tempat yang membinasakan, dia akan melewati padang pasir yang menyengsarakan dan juga terdapat perampok. Orang seperti ini tidaklah tinggal kecuali hanya sebentar sekali, sekejap mata.” (Dinukil dari Fath Al-Bari, 18: 224) Ada juga ibarat lain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا “Apa peduliku dengan dunia?! Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2377 dan Ibnu Majah no. 4109, hadits dari ‘Alqamah, dari ‘Abdullah. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)   Teman Dekatmu Akan Membuatmu Sengsara atau Selamat Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2: 344, dari Abu Hurairah. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencocoki teman dekatnya. Bahkan kecocokan dengan teman dekat bisa terjadi tanpa disadari.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 94) Semoga membuka kesadaran para pemuda lewat tulisan ini. Nabi Syu’aib ‘alaihis salam pernah berkata, إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ “Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan.” (QS. Hud: 88) Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 15 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagswaktu muda
Pikiran anak muda itu seperti ini … Hidup tanpa tujuan dan cita-cita Hidup hanya ingin bergaul Hidup hanya ingin mencari pacar Hidup hanya ingin memuaskan diri Hidup hanya ingin memamerkan kekayaan Dikira hidupnya masih panjang   Ingat, Waktu Mudamu Akan Ditanya Dari Abu Barzah Al-Aslami, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Manfaatkanlah Waktu Mudamu untuk Kebaikan Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفِرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum waktu fakirmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok, 4: 341. Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Ghanim bin Qais berkata, كُنَّا نَتَوَاعَظُ فِي أوَّلِ الإِسْلاَمِ : اِبْنَ آدَم ، اِعْمَل فِي فَرَاغِك قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَفِي شَبَابِكَ لِكِبَرِكَ ، وَفِي صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَفِي دُنْيَاكَ لِآخِرَتِكَ . وَفِي حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ “Di awal-awal Islam, kami juga saling menasehati: wahai manusia, beramallah di waktu senggangmu sebelum datang waktu sibukmu, beramallah di waktu mudamu untuk masa tuamu, beramallah di kala sehatmu sebelum datang sakitmu, beramallah di dunia untuk akhiratmu, dan beramallah ketika hidup sebelum datang matimu.” (Disebutkan dalam Hilyatul Auliya’. Dinukil dari Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 387-388).   Tujuan Hidupmu untuk Ibadah Allah Ta’ala berfirman, وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz- Dzariyat: 56) Allah Ta’ala berfirman, أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115). Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, “Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dari-Nya?” (Madaarijus Salikin, 1: 98). Jadi beribadah kepada Allah adalah tujuan diciptakannya jin, manusia dan seluruh makhluk. Makhluk tidak mungkin diciptakan begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang. Allah Ta’ala berfirman, أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al Qiyamah: 36). Imam Asy-Syafi’I rahimahullah mengatakan, لاَ يُؤْمَرُ وَلاَ يُنْهَى “(Apakah mereka diciptakan) tanpa diperintah dan dilarang?” Ulama lainnya mengatakan, لاَ يُثاَبُ وَلاَ يُعَاقَبُ “(Apakah mereka diciptakan) tanpa ada balasan dan siksaan?” (Lihat Madaarijus Salikin, 1: 98)   Waktumu yang Sia-Sia Sungguh Derita Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al-Fawaid berkata, اِضَاعَةُ الوَقْتِ اَشَدُّ مِنَ الموْتِ لِاَنَّ اِضَاعَةَ الوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَالموْتِ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَاَهْلِهَا “Menyia-nyiakan waktu itu lebih parah dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat) Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”   Kurangi Maksiat Karena Usiamu Terbatas Karena tak ada satu pun yang yakin, ia bisa hidup terus hingga waktu tua. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menasehati seorang sahabat yang tatkala itu berusia muda (berumur sekitar 12 tahun) yaitu Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah Syaikh Shalih Alu Syaikh, hlm. 294). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundaknya lalu bersabda, كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ , أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ “Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari no. 6416) Apa maksud ibarat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas? Ath Thibiy mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan orang yang hidup di dunia ini dengan orang asing (al-gharib) yang tidak memiliki tempat berbaring dan tempat tinggal. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan lebih lagi yaitu memisalkan dengan pengembara. Orang asing dapat tinggal di negeri asing. Hal ini berbeda dengan seorang pengembara yang bermaksud menuju negeri yang jauh, di kanan kirinya terdapat lembah-lembah, akan ditemui tempat yang membinasakan, dia akan melewati padang pasir yang menyengsarakan dan juga terdapat perampok. Orang seperti ini tidaklah tinggal kecuali hanya sebentar sekali, sekejap mata.” (Dinukil dari Fath Al-Bari, 18: 224) Ada juga ibarat lain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا “Apa peduliku dengan dunia?! Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2377 dan Ibnu Majah no. 4109, hadits dari ‘Alqamah, dari ‘Abdullah. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)   Teman Dekatmu Akan Membuatmu Sengsara atau Selamat Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2: 344, dari Abu Hurairah. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencocoki teman dekatnya. Bahkan kecocokan dengan teman dekat bisa terjadi tanpa disadari.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 94) Semoga membuka kesadaran para pemuda lewat tulisan ini. Nabi Syu’aib ‘alaihis salam pernah berkata, إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ “Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan.” (QS. Hud: 88) Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 15 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagswaktu muda


Pikiran anak muda itu seperti ini … Hidup tanpa tujuan dan cita-cita Hidup hanya ingin bergaul Hidup hanya ingin mencari pacar Hidup hanya ingin memuaskan diri Hidup hanya ingin memamerkan kekayaan Dikira hidupnya masih panjang   Ingat, Waktu Mudamu Akan Ditanya Dari Abu Barzah Al-Aslami, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Manfaatkanlah Waktu Mudamu untuk Kebaikan Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفِرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: waktu mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum waktu fakirmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok, 4: 341. Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim) Ghanim bin Qais berkata, كُنَّا نَتَوَاعَظُ فِي أوَّلِ الإِسْلاَمِ : اِبْنَ آدَم ، اِعْمَل فِي فَرَاغِك قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَفِي شَبَابِكَ لِكِبَرِكَ ، وَفِي صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَفِي دُنْيَاكَ لِآخِرَتِكَ . وَفِي حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ “Di awal-awal Islam, kami juga saling menasehati: wahai manusia, beramallah di waktu senggangmu sebelum datang waktu sibukmu, beramallah di waktu mudamu untuk masa tuamu, beramallah di kala sehatmu sebelum datang sakitmu, beramallah di dunia untuk akhiratmu, dan beramallah ketika hidup sebelum datang matimu.” (Disebutkan dalam Hilyatul Auliya’. Dinukil dari Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 387-388).   Tujuan Hidupmu untuk Ibadah Allah Ta’ala berfirman, وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz- Dzariyat: 56) Allah Ta’ala berfirman, أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115). Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, “Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dari-Nya?” (Madaarijus Salikin, 1: 98). Jadi beribadah kepada Allah adalah tujuan diciptakannya jin, manusia dan seluruh makhluk. Makhluk tidak mungkin diciptakan begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang. Allah Ta’ala berfirman, أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al Qiyamah: 36). Imam Asy-Syafi’I rahimahullah mengatakan, لاَ يُؤْمَرُ وَلاَ يُنْهَى “(Apakah mereka diciptakan) tanpa diperintah dan dilarang?” Ulama lainnya mengatakan, لاَ يُثاَبُ وَلاَ يُعَاقَبُ “(Apakah mereka diciptakan) tanpa ada balasan dan siksaan?” (Lihat Madaarijus Salikin, 1: 98)   Waktumu yang Sia-Sia Sungguh Derita Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al-Fawaid berkata, اِضَاعَةُ الوَقْتِ اَشَدُّ مِنَ الموْتِ لِاَنَّ اِضَاعَةَ الوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَالموْتِ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَاَهْلِهَا “Menyia-nyiakan waktu itu lebih parah dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat) Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”   Kurangi Maksiat Karena Usiamu Terbatas Karena tak ada satu pun yang yakin, ia bisa hidup terus hingga waktu tua. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menasehati seorang sahabat yang tatkala itu berusia muda (berumur sekitar 12 tahun) yaitu Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah Syaikh Shalih Alu Syaikh, hlm. 294). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundaknya lalu bersabda, كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ , أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ “Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari no. 6416) Apa maksud ibarat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas? Ath Thibiy mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan orang yang hidup di dunia ini dengan orang asing (al-gharib) yang tidak memiliki tempat berbaring dan tempat tinggal. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan lebih lagi yaitu memisalkan dengan pengembara. Orang asing dapat tinggal di negeri asing. Hal ini berbeda dengan seorang pengembara yang bermaksud menuju negeri yang jauh, di kanan kirinya terdapat lembah-lembah, akan ditemui tempat yang membinasakan, dia akan melewati padang pasir yang menyengsarakan dan juga terdapat perampok. Orang seperti ini tidaklah tinggal kecuali hanya sebentar sekali, sekejap mata.” (Dinukil dari Fath Al-Bari, 18: 224) Ada juga ibarat lain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا “Apa peduliku dengan dunia?! Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2377 dan Ibnu Majah no. 4109, hadits dari ‘Alqamah, dari ‘Abdullah. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)   Teman Dekatmu Akan Membuatmu Sengsara atau Selamat Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2: 344, dari Abu Hurairah. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencocoki teman dekatnya. Bahkan kecocokan dengan teman dekat bisa terjadi tanpa disadari.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 94) Semoga membuka kesadaran para pemuda lewat tulisan ini. Nabi Syu’aib ‘alaihis salam pernah berkata, إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ “Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan.” (QS. Hud: 88) Hanya Allah yang memberi taufik. — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 15 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagswaktu muda

Join dengan Channel Rumaysho.Com di Telegram

Ingin dapatkan kajian artikel, audio atau video dari Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, pengasuh Rumaysho.Com. Dengan mudah, Anda bisa peroleh lewat aplikasi Telegram. Silakan download lewat Play Store atau App Store. Lalu gabung dengan channel RumayshoCom: https://telegram.me/rumayshocom. Channel Rumaysho terkait: @RumayshoCom, @KajianJogja, @UntaianNasihat, @RemajaIslam, @DarushSholihin Yang lainnya bisa gabung ke account LINE: http://line.me/ti/p/%40rqv1064d Moga raih ilmu bermanfaat lewat gadget Anda, di mana pun dan kapan pun Anda berada. — Info Rumaysho.Com   Tagsaplikasi

Join dengan Channel Rumaysho.Com di Telegram

Ingin dapatkan kajian artikel, audio atau video dari Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, pengasuh Rumaysho.Com. Dengan mudah, Anda bisa peroleh lewat aplikasi Telegram. Silakan download lewat Play Store atau App Store. Lalu gabung dengan channel RumayshoCom: https://telegram.me/rumayshocom. Channel Rumaysho terkait: @RumayshoCom, @KajianJogja, @UntaianNasihat, @RemajaIslam, @DarushSholihin Yang lainnya bisa gabung ke account LINE: http://line.me/ti/p/%40rqv1064d Moga raih ilmu bermanfaat lewat gadget Anda, di mana pun dan kapan pun Anda berada. — Info Rumaysho.Com   Tagsaplikasi
Ingin dapatkan kajian artikel, audio atau video dari Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, pengasuh Rumaysho.Com. Dengan mudah, Anda bisa peroleh lewat aplikasi Telegram. Silakan download lewat Play Store atau App Store. Lalu gabung dengan channel RumayshoCom: https://telegram.me/rumayshocom. Channel Rumaysho terkait: @RumayshoCom, @KajianJogja, @UntaianNasihat, @RemajaIslam, @DarushSholihin Yang lainnya bisa gabung ke account LINE: http://line.me/ti/p/%40rqv1064d Moga raih ilmu bermanfaat lewat gadget Anda, di mana pun dan kapan pun Anda berada. — Info Rumaysho.Com   Tagsaplikasi


Ingin dapatkan kajian artikel, audio atau video dari Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, pengasuh Rumaysho.Com. Dengan mudah, Anda bisa peroleh lewat aplikasi Telegram. Silakan download lewat Play Store atau App Store. Lalu gabung dengan channel RumayshoCom: https://telegram.me/rumayshocom. Channel Rumaysho terkait: @RumayshoCom, @KajianJogja, @UntaianNasihat, @RemajaIslam, @DarushSholihin Yang lainnya bisa gabung ke account LINE: http://line.me/ti/p/%40rqv1064d Moga raih ilmu bermanfaat lewat gadget Anda, di mana pun dan kapan pun Anda berada. — Info Rumaysho.Com   Tagsaplikasi

Meraih Ilmu Lewat Buku dan Belajar dari Ulama

Cara meraih ilmu bisa dengan dua cara, yaitu lewat belajar dari buku atau dari ulama secara langsung. Bagaimana cara meraih ilmu? Cara meraih ilmu ada dua cara:   1- Mempelajari dari buku terpercaya Yaitu yang ditulis oleh ulama yang telah dikenal ilmu, amanat, selamat akidahnya dan selamat dari bid’ah dan khurafat. Namun mengambil ilmu otodidak akan menimbulkan dua problema: Butuh waktu yang lama. Ilmunya lemah dan bisa ditemukan banyak salahnya karena ia tidak memiliki dasar dan kaedah yang kuat.   2- Belajar dari ulama atau seorang ustadz yang pakar secara langsung Cara kedua ini membuat ilmu menancap dengan cepat. Kalau cara pertama dengan belajar otodidak dari buku, bisa jadi membuat penuntut ilmu salah jalan. Entah itu karena pemahaman yang jelek, kedangkalan ilmunya, atau sebab lainnya. Sedangkan cara kedua, bisa terjadi diskusi antara guru dan murid. Di situ akan terbuka pemahaman ilmu yang baik serta bisa diraih kesimpulan manakah pendapat terkuat serta pendapat yang lemah. Jika dua cara di atas digabungkan, maka itu lebih sempurna dan lebih baik. Namun tentu saja mempelajari ilmu tersebut tahap demi tahap. Yang penjelasan ini akan diulas pada bahasan lainnya. Demikian ringkasan dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dari Kitab Al-‘Ilmi, hlm. 68-69. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Kitab Al-‘Ilmi. Cetakan pertama, tahun 1423 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Tsaraya. — Selesai disusun pagi hari, 14 Muharram 1437 H (27/10/2015) di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar

Meraih Ilmu Lewat Buku dan Belajar dari Ulama

Cara meraih ilmu bisa dengan dua cara, yaitu lewat belajar dari buku atau dari ulama secara langsung. Bagaimana cara meraih ilmu? Cara meraih ilmu ada dua cara:   1- Mempelajari dari buku terpercaya Yaitu yang ditulis oleh ulama yang telah dikenal ilmu, amanat, selamat akidahnya dan selamat dari bid’ah dan khurafat. Namun mengambil ilmu otodidak akan menimbulkan dua problema: Butuh waktu yang lama. Ilmunya lemah dan bisa ditemukan banyak salahnya karena ia tidak memiliki dasar dan kaedah yang kuat.   2- Belajar dari ulama atau seorang ustadz yang pakar secara langsung Cara kedua ini membuat ilmu menancap dengan cepat. Kalau cara pertama dengan belajar otodidak dari buku, bisa jadi membuat penuntut ilmu salah jalan. Entah itu karena pemahaman yang jelek, kedangkalan ilmunya, atau sebab lainnya. Sedangkan cara kedua, bisa terjadi diskusi antara guru dan murid. Di situ akan terbuka pemahaman ilmu yang baik serta bisa diraih kesimpulan manakah pendapat terkuat serta pendapat yang lemah. Jika dua cara di atas digabungkan, maka itu lebih sempurna dan lebih baik. Namun tentu saja mempelajari ilmu tersebut tahap demi tahap. Yang penjelasan ini akan diulas pada bahasan lainnya. Demikian ringkasan dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dari Kitab Al-‘Ilmi, hlm. 68-69. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Kitab Al-‘Ilmi. Cetakan pertama, tahun 1423 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Tsaraya. — Selesai disusun pagi hari, 14 Muharram 1437 H (27/10/2015) di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar
Cara meraih ilmu bisa dengan dua cara, yaitu lewat belajar dari buku atau dari ulama secara langsung. Bagaimana cara meraih ilmu? Cara meraih ilmu ada dua cara:   1- Mempelajari dari buku terpercaya Yaitu yang ditulis oleh ulama yang telah dikenal ilmu, amanat, selamat akidahnya dan selamat dari bid’ah dan khurafat. Namun mengambil ilmu otodidak akan menimbulkan dua problema: Butuh waktu yang lama. Ilmunya lemah dan bisa ditemukan banyak salahnya karena ia tidak memiliki dasar dan kaedah yang kuat.   2- Belajar dari ulama atau seorang ustadz yang pakar secara langsung Cara kedua ini membuat ilmu menancap dengan cepat. Kalau cara pertama dengan belajar otodidak dari buku, bisa jadi membuat penuntut ilmu salah jalan. Entah itu karena pemahaman yang jelek, kedangkalan ilmunya, atau sebab lainnya. Sedangkan cara kedua, bisa terjadi diskusi antara guru dan murid. Di situ akan terbuka pemahaman ilmu yang baik serta bisa diraih kesimpulan manakah pendapat terkuat serta pendapat yang lemah. Jika dua cara di atas digabungkan, maka itu lebih sempurna dan lebih baik. Namun tentu saja mempelajari ilmu tersebut tahap demi tahap. Yang penjelasan ini akan diulas pada bahasan lainnya. Demikian ringkasan dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dari Kitab Al-‘Ilmi, hlm. 68-69. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Kitab Al-‘Ilmi. Cetakan pertama, tahun 1423 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Tsaraya. — Selesai disusun pagi hari, 14 Muharram 1437 H (27/10/2015) di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar


Cara meraih ilmu bisa dengan dua cara, yaitu lewat belajar dari buku atau dari ulama secara langsung. Bagaimana cara meraih ilmu? Cara meraih ilmu ada dua cara:   1- Mempelajari dari buku terpercaya Yaitu yang ditulis oleh ulama yang telah dikenal ilmu, amanat, selamat akidahnya dan selamat dari bid’ah dan khurafat. Namun mengambil ilmu otodidak akan menimbulkan dua problema: Butuh waktu yang lama. Ilmunya lemah dan bisa ditemukan banyak salahnya karena ia tidak memiliki dasar dan kaedah yang kuat.   2- Belajar dari ulama atau seorang ustadz yang pakar secara langsung Cara kedua ini membuat ilmu menancap dengan cepat. Kalau cara pertama dengan belajar otodidak dari buku, bisa jadi membuat penuntut ilmu salah jalan. Entah itu karena pemahaman yang jelek, kedangkalan ilmunya, atau sebab lainnya. Sedangkan cara kedua, bisa terjadi diskusi antara guru dan murid. Di situ akan terbuka pemahaman ilmu yang baik serta bisa diraih kesimpulan manakah pendapat terkuat serta pendapat yang lemah. Jika dua cara di atas digabungkan, maka itu lebih sempurna dan lebih baik. Namun tentu saja mempelajari ilmu tersebut tahap demi tahap. Yang penjelasan ini akan diulas pada bahasan lainnya. Demikian ringkasan dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dari Kitab Al-‘Ilmi, hlm. 68-69. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Kitab Al-‘Ilmi. Cetakan pertama, tahun 1423 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Tsaraya. — Selesai disusun pagi hari, 14 Muharram 1437 H (27/10/2015) di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar

Kembali pada Al Quran dan Hadits, Bukan Berarti Melupakan Ulama

Ingat, ketika kita mengajak kembali pada Al-Qur’an dan Al-Hadits, bukan berarti kita meninggalkan perkataan para ulama atau meninggalkan pendapat madzhab. Bahkan boleh kita mengikuti pendapat ulama selama tidak keluar dari ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Siapa yang mencintai para ulama, boleh baginya mengikuti pendapatnya selama pendapat tersebut sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seperti itu disebut muhsin (orang yang baik). Bahkan keadaan ini lebih baik daripada yang lainnya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 22: 249)   Rambu Ketika Bermadzhab Bermadzhab itu boleh asalkan kita mau mengikuti rambu-rambut berikut ini. Rambu pertama: Harus diyakini bahwa bermadzhab bukan dijadikan standar kawan dan musuh yang akhirnya memecah belah persatuan kaum muslimin. Yang tepat, yang jadi prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang dijadikan standar kawan adalah jika mengikuti Al Qur’an dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta ijma’ (konsensus) para ulama kaum muslimin. Menyelisihi ketiga hal tadi, berarti dijadikan standar untuk bara’ atau berlepas diri. Rambu kedua: Tidak boleh seseorang meyakini bahwa setiap muslim wajib mengikuti imam tertentu, tidak boleh mengikuti imam lainnya. Mengikuti satu imam inilah sebagai standar kebenaran, tidak pada lainnya. Ibnu Taimiyah berkata, “Yang bisa kita katakan pada orang awam, hendaklah ia taklid (ikut saja pendapat) dari satu orang, tanpa kita tentukan harus ikut Zaid atau ‘Amr. Sedangkan jika kita katakana, “Wajib bagi orang awam untuk taklid pada si A atau si B (dengan menunjuk orang tertentu, lalu dilarang ikuti yang lain), seperti itu bukanlah prinsip orang muslim yang sebenarnya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 22: 249) Rambu ketiga: Imam yang diikuti madzhabnya tersebut harus diyakini bahwa ia hanya diaati karena ia menyampaikan maksud dari agama dan syari’at Allah. Sedangkan yang mutlak ditaati adalah Allah dan Rasul-Nya. Rambut keempat: Menjaga diri agar tidak terjatuh pada hal-hal yang terlarang sebagaimana yang dialami para pengikut madzhab di antaranya: Fanatik buta dan ingin berpecah belah. Berpaling dari Al Qur’an dan As-Sunnah karena yang diagungkan adalah perkataan imam madzhab. Membela madzhab secara overdosis bahkan sampai menggunakan hadits-hadits dhaif agar orang lain mengikuti madzhabnya. Mendudukkan imam madzhab sebagai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Ma’alim Ushul Al-Fiqh, hlm. 496-497) Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, أَمَّا وُجُوبُ اتِّبَاعِ الْقَائِلِ فِي كُلِّ مَا يَقُولُهُ مِنْ غَيْرِ ذِكْرِ دَلِيلٍ يَدُلُّ عَلَى صِحَّةِ مَا يَقُولُ فَلَيْسَ بِصَحِيحِ ؛ بَلْ هَذِهِ الْمَرْتَبَةُ هِيَ ” مَرْتَبَةُ الرَّسُولِ ” الَّتِي لَا تَصْلُحُ إلَّا لَهُ “Adapun menyatakan bahwa wajib mengikuti seseorang dalam setiap perkataannya tanpa menyebutkan dalil mengenai benarnya apa yang ia ucapkan, maka ini adalah sesuatu yang tidak tepat. Menyikapi seseorang seperti ini sama halnya dengan menyikapi rasul semata yang selainnya tidak boleh diperlakukan seperti itu.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 35: 121) Allah Ta’ala berfirman, فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An- Nisa’: 65)   Bermadzhab dan Ikuti Ulama itu Boleh, Asalkan … Dijadikan sebagai wasilah (perantara untuk belajar), bukan tujuan. Untuk menghilangkan mafsadat (kerusakan) lebih besar. (Lihat Ma’alim Ushul Al-Fiqh, 495)   Prinsip Taat Ulama Wajib mentaati ulama ketika selaras dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Namun ketaatan pada ulama bukan berdiri sendiri, artinya jika tidak bersesuaian dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka wajib ditinggalkan. Kita diperintahkan untuk mentaati ulama. Namun kalau ada perselisihan kembali pada Allah dan Rasul-Nya sebagaimana dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59) Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Ma’alim Ushul Al-Fiqh ‘inda Ahli As-Sunnah wa Al-Jama’ah. Cetakan kesembilan, tahun 1431 H. Muhammad bin Husain bin Hasan Al-Jizaniy. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Ahmad bin Taimiyyah Al-Harrani. Penerbit Darul Wafa’. — Selesai disusun dini hari, 14 Muharram 1437 H (27/10/2015) di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar

Kembali pada Al Quran dan Hadits, Bukan Berarti Melupakan Ulama

Ingat, ketika kita mengajak kembali pada Al-Qur’an dan Al-Hadits, bukan berarti kita meninggalkan perkataan para ulama atau meninggalkan pendapat madzhab. Bahkan boleh kita mengikuti pendapat ulama selama tidak keluar dari ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Siapa yang mencintai para ulama, boleh baginya mengikuti pendapatnya selama pendapat tersebut sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seperti itu disebut muhsin (orang yang baik). Bahkan keadaan ini lebih baik daripada yang lainnya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 22: 249)   Rambu Ketika Bermadzhab Bermadzhab itu boleh asalkan kita mau mengikuti rambu-rambut berikut ini. Rambu pertama: Harus diyakini bahwa bermadzhab bukan dijadikan standar kawan dan musuh yang akhirnya memecah belah persatuan kaum muslimin. Yang tepat, yang jadi prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang dijadikan standar kawan adalah jika mengikuti Al Qur’an dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta ijma’ (konsensus) para ulama kaum muslimin. Menyelisihi ketiga hal tadi, berarti dijadikan standar untuk bara’ atau berlepas diri. Rambu kedua: Tidak boleh seseorang meyakini bahwa setiap muslim wajib mengikuti imam tertentu, tidak boleh mengikuti imam lainnya. Mengikuti satu imam inilah sebagai standar kebenaran, tidak pada lainnya. Ibnu Taimiyah berkata, “Yang bisa kita katakan pada orang awam, hendaklah ia taklid (ikut saja pendapat) dari satu orang, tanpa kita tentukan harus ikut Zaid atau ‘Amr. Sedangkan jika kita katakana, “Wajib bagi orang awam untuk taklid pada si A atau si B (dengan menunjuk orang tertentu, lalu dilarang ikuti yang lain), seperti itu bukanlah prinsip orang muslim yang sebenarnya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 22: 249) Rambu ketiga: Imam yang diikuti madzhabnya tersebut harus diyakini bahwa ia hanya diaati karena ia menyampaikan maksud dari agama dan syari’at Allah. Sedangkan yang mutlak ditaati adalah Allah dan Rasul-Nya. Rambut keempat: Menjaga diri agar tidak terjatuh pada hal-hal yang terlarang sebagaimana yang dialami para pengikut madzhab di antaranya: Fanatik buta dan ingin berpecah belah. Berpaling dari Al Qur’an dan As-Sunnah karena yang diagungkan adalah perkataan imam madzhab. Membela madzhab secara overdosis bahkan sampai menggunakan hadits-hadits dhaif agar orang lain mengikuti madzhabnya. Mendudukkan imam madzhab sebagai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Ma’alim Ushul Al-Fiqh, hlm. 496-497) Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, أَمَّا وُجُوبُ اتِّبَاعِ الْقَائِلِ فِي كُلِّ مَا يَقُولُهُ مِنْ غَيْرِ ذِكْرِ دَلِيلٍ يَدُلُّ عَلَى صِحَّةِ مَا يَقُولُ فَلَيْسَ بِصَحِيحِ ؛ بَلْ هَذِهِ الْمَرْتَبَةُ هِيَ ” مَرْتَبَةُ الرَّسُولِ ” الَّتِي لَا تَصْلُحُ إلَّا لَهُ “Adapun menyatakan bahwa wajib mengikuti seseorang dalam setiap perkataannya tanpa menyebutkan dalil mengenai benarnya apa yang ia ucapkan, maka ini adalah sesuatu yang tidak tepat. Menyikapi seseorang seperti ini sama halnya dengan menyikapi rasul semata yang selainnya tidak boleh diperlakukan seperti itu.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 35: 121) Allah Ta’ala berfirman, فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An- Nisa’: 65)   Bermadzhab dan Ikuti Ulama itu Boleh, Asalkan … Dijadikan sebagai wasilah (perantara untuk belajar), bukan tujuan. Untuk menghilangkan mafsadat (kerusakan) lebih besar. (Lihat Ma’alim Ushul Al-Fiqh, 495)   Prinsip Taat Ulama Wajib mentaati ulama ketika selaras dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Namun ketaatan pada ulama bukan berdiri sendiri, artinya jika tidak bersesuaian dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka wajib ditinggalkan. Kita diperintahkan untuk mentaati ulama. Namun kalau ada perselisihan kembali pada Allah dan Rasul-Nya sebagaimana dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59) Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Ma’alim Ushul Al-Fiqh ‘inda Ahli As-Sunnah wa Al-Jama’ah. Cetakan kesembilan, tahun 1431 H. Muhammad bin Husain bin Hasan Al-Jizaniy. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Ahmad bin Taimiyyah Al-Harrani. Penerbit Darul Wafa’. — Selesai disusun dini hari, 14 Muharram 1437 H (27/10/2015) di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar
Ingat, ketika kita mengajak kembali pada Al-Qur’an dan Al-Hadits, bukan berarti kita meninggalkan perkataan para ulama atau meninggalkan pendapat madzhab. Bahkan boleh kita mengikuti pendapat ulama selama tidak keluar dari ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Siapa yang mencintai para ulama, boleh baginya mengikuti pendapatnya selama pendapat tersebut sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seperti itu disebut muhsin (orang yang baik). Bahkan keadaan ini lebih baik daripada yang lainnya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 22: 249)   Rambu Ketika Bermadzhab Bermadzhab itu boleh asalkan kita mau mengikuti rambu-rambut berikut ini. Rambu pertama: Harus diyakini bahwa bermadzhab bukan dijadikan standar kawan dan musuh yang akhirnya memecah belah persatuan kaum muslimin. Yang tepat, yang jadi prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang dijadikan standar kawan adalah jika mengikuti Al Qur’an dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta ijma’ (konsensus) para ulama kaum muslimin. Menyelisihi ketiga hal tadi, berarti dijadikan standar untuk bara’ atau berlepas diri. Rambu kedua: Tidak boleh seseorang meyakini bahwa setiap muslim wajib mengikuti imam tertentu, tidak boleh mengikuti imam lainnya. Mengikuti satu imam inilah sebagai standar kebenaran, tidak pada lainnya. Ibnu Taimiyah berkata, “Yang bisa kita katakan pada orang awam, hendaklah ia taklid (ikut saja pendapat) dari satu orang, tanpa kita tentukan harus ikut Zaid atau ‘Amr. Sedangkan jika kita katakana, “Wajib bagi orang awam untuk taklid pada si A atau si B (dengan menunjuk orang tertentu, lalu dilarang ikuti yang lain), seperti itu bukanlah prinsip orang muslim yang sebenarnya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 22: 249) Rambu ketiga: Imam yang diikuti madzhabnya tersebut harus diyakini bahwa ia hanya diaati karena ia menyampaikan maksud dari agama dan syari’at Allah. Sedangkan yang mutlak ditaati adalah Allah dan Rasul-Nya. Rambut keempat: Menjaga diri agar tidak terjatuh pada hal-hal yang terlarang sebagaimana yang dialami para pengikut madzhab di antaranya: Fanatik buta dan ingin berpecah belah. Berpaling dari Al Qur’an dan As-Sunnah karena yang diagungkan adalah perkataan imam madzhab. Membela madzhab secara overdosis bahkan sampai menggunakan hadits-hadits dhaif agar orang lain mengikuti madzhabnya. Mendudukkan imam madzhab sebagai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Ma’alim Ushul Al-Fiqh, hlm. 496-497) Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, أَمَّا وُجُوبُ اتِّبَاعِ الْقَائِلِ فِي كُلِّ مَا يَقُولُهُ مِنْ غَيْرِ ذِكْرِ دَلِيلٍ يَدُلُّ عَلَى صِحَّةِ مَا يَقُولُ فَلَيْسَ بِصَحِيحِ ؛ بَلْ هَذِهِ الْمَرْتَبَةُ هِيَ ” مَرْتَبَةُ الرَّسُولِ ” الَّتِي لَا تَصْلُحُ إلَّا لَهُ “Adapun menyatakan bahwa wajib mengikuti seseorang dalam setiap perkataannya tanpa menyebutkan dalil mengenai benarnya apa yang ia ucapkan, maka ini adalah sesuatu yang tidak tepat. Menyikapi seseorang seperti ini sama halnya dengan menyikapi rasul semata yang selainnya tidak boleh diperlakukan seperti itu.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 35: 121) Allah Ta’ala berfirman, فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An- Nisa’: 65)   Bermadzhab dan Ikuti Ulama itu Boleh, Asalkan … Dijadikan sebagai wasilah (perantara untuk belajar), bukan tujuan. Untuk menghilangkan mafsadat (kerusakan) lebih besar. (Lihat Ma’alim Ushul Al-Fiqh, 495)   Prinsip Taat Ulama Wajib mentaati ulama ketika selaras dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Namun ketaatan pada ulama bukan berdiri sendiri, artinya jika tidak bersesuaian dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka wajib ditinggalkan. Kita diperintahkan untuk mentaati ulama. Namun kalau ada perselisihan kembali pada Allah dan Rasul-Nya sebagaimana dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59) Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Ma’alim Ushul Al-Fiqh ‘inda Ahli As-Sunnah wa Al-Jama’ah. Cetakan kesembilan, tahun 1431 H. Muhammad bin Husain bin Hasan Al-Jizaniy. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Ahmad bin Taimiyyah Al-Harrani. Penerbit Darul Wafa’. — Selesai disusun dini hari, 14 Muharram 1437 H (27/10/2015) di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar


Ingat, ketika kita mengajak kembali pada Al-Qur’an dan Al-Hadits, bukan berarti kita meninggalkan perkataan para ulama atau meninggalkan pendapat madzhab. Bahkan boleh kita mengikuti pendapat ulama selama tidak keluar dari ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Siapa yang mencintai para ulama, boleh baginya mengikuti pendapatnya selama pendapat tersebut sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seperti itu disebut muhsin (orang yang baik). Bahkan keadaan ini lebih baik daripada yang lainnya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 22: 249)   Rambu Ketika Bermadzhab Bermadzhab itu boleh asalkan kita mau mengikuti rambu-rambut berikut ini. Rambu pertama: Harus diyakini bahwa bermadzhab bukan dijadikan standar kawan dan musuh yang akhirnya memecah belah persatuan kaum muslimin. Yang tepat, yang jadi prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang dijadikan standar kawan adalah jika mengikuti Al Qur’an dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta ijma’ (konsensus) para ulama kaum muslimin. Menyelisihi ketiga hal tadi, berarti dijadikan standar untuk bara’ atau berlepas diri. Rambu kedua: Tidak boleh seseorang meyakini bahwa setiap muslim wajib mengikuti imam tertentu, tidak boleh mengikuti imam lainnya. Mengikuti satu imam inilah sebagai standar kebenaran, tidak pada lainnya. Ibnu Taimiyah berkata, “Yang bisa kita katakan pada orang awam, hendaklah ia taklid (ikut saja pendapat) dari satu orang, tanpa kita tentukan harus ikut Zaid atau ‘Amr. Sedangkan jika kita katakana, “Wajib bagi orang awam untuk taklid pada si A atau si B (dengan menunjuk orang tertentu, lalu dilarang ikuti yang lain), seperti itu bukanlah prinsip orang muslim yang sebenarnya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 22: 249) Rambu ketiga: Imam yang diikuti madzhabnya tersebut harus diyakini bahwa ia hanya diaati karena ia menyampaikan maksud dari agama dan syari’at Allah. Sedangkan yang mutlak ditaati adalah Allah dan Rasul-Nya. Rambut keempat: Menjaga diri agar tidak terjatuh pada hal-hal yang terlarang sebagaimana yang dialami para pengikut madzhab di antaranya: Fanatik buta dan ingin berpecah belah. Berpaling dari Al Qur’an dan As-Sunnah karena yang diagungkan adalah perkataan imam madzhab. Membela madzhab secara overdosis bahkan sampai menggunakan hadits-hadits dhaif agar orang lain mengikuti madzhabnya. Mendudukkan imam madzhab sebagai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Ma’alim Ushul Al-Fiqh, hlm. 496-497) Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, أَمَّا وُجُوبُ اتِّبَاعِ الْقَائِلِ فِي كُلِّ مَا يَقُولُهُ مِنْ غَيْرِ ذِكْرِ دَلِيلٍ يَدُلُّ عَلَى صِحَّةِ مَا يَقُولُ فَلَيْسَ بِصَحِيحِ ؛ بَلْ هَذِهِ الْمَرْتَبَةُ هِيَ ” مَرْتَبَةُ الرَّسُولِ ” الَّتِي لَا تَصْلُحُ إلَّا لَهُ “Adapun menyatakan bahwa wajib mengikuti seseorang dalam setiap perkataannya tanpa menyebutkan dalil mengenai benarnya apa yang ia ucapkan, maka ini adalah sesuatu yang tidak tepat. Menyikapi seseorang seperti ini sama halnya dengan menyikapi rasul semata yang selainnya tidak boleh diperlakukan seperti itu.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 35: 121) Allah Ta’ala berfirman, فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An- Nisa’: 65)   Bermadzhab dan Ikuti Ulama itu Boleh, Asalkan … Dijadikan sebagai wasilah (perantara untuk belajar), bukan tujuan. Untuk menghilangkan mafsadat (kerusakan) lebih besar. (Lihat Ma’alim Ushul Al-Fiqh, 495)   Prinsip Taat Ulama Wajib mentaati ulama ketika selaras dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Namun ketaatan pada ulama bukan berdiri sendiri, artinya jika tidak bersesuaian dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka wajib ditinggalkan. Kita diperintahkan untuk mentaati ulama. Namun kalau ada perselisihan kembali pada Allah dan Rasul-Nya sebagaimana dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59) Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Ma’alim Ushul Al-Fiqh ‘inda Ahli As-Sunnah wa Al-Jama’ah. Cetakan kesembilan, tahun 1431 H. Muhammad bin Husain bin Hasan Al-Jizaniy. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Ahmad bin Taimiyyah Al-Harrani. Penerbit Darul Wafa’. — Selesai disusun dini hari, 14 Muharram 1437 H (27/10/2015) di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsbelajar

Digigit Ular di Lubang yang Sama Dua Kali

Seorang mukmin yang cerdas tak mungkin digigit ular di lubang yang sama dua kali. Maksudnya apa? Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ “Tidak selayaknya seorang mukmin dipatuk ular dari lubang yang sama sebanyak dua kali.” (HR. Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2998) Imam Nawawi menyatakan bahwa Al-Qadhi Iyadh berkata, cara baca “yuldagu” ada dua cara: Pertama: Yuldagu dengan ghainnya didhammah. Kalimatnya menjadi kalimat berita. Maksudnya, seorang mukmin itu terpuji ketika ia cerdas, mantap dalam pekerjaannya, tidak lalai dalam urusannya, juga tidak terjatuh di lain waktu di lubang yang sama. Ada juga ulama yang berpendapat bahwa ia tergelincir dalam urusan agama (akhirat). Kedua: Yuldagi dengan ghainnya dikasrah. Kalimatnya menjadi kalimat larangan. Maksudnya, janganlah sampai lalai dalam suatu perkara. (Syarh Shahih Muslim, 12: 104) Ibnu Hajar berkata, “Seorang muslim harus terus waspada, jangan sampai lalai, baik dalam urusan agama maupun urusan dunianya.” (Fath Al-Bari, 10: 530) Kesimpulannya, muslim yang cerdas tak mungkin berbuat dosa yang sama dua kali. Ketika ia sudah berbuat kesalahan, ia terus hati-hati jangan digigit lagi di lubang yang sama. Semoga kita demikian. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetekan keempat, tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al-Asqalani. Penerbit Dar Thiybah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 14 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom , Line Rumaysho Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmaksiat

Digigit Ular di Lubang yang Sama Dua Kali

Seorang mukmin yang cerdas tak mungkin digigit ular di lubang yang sama dua kali. Maksudnya apa? Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ “Tidak selayaknya seorang mukmin dipatuk ular dari lubang yang sama sebanyak dua kali.” (HR. Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2998) Imam Nawawi menyatakan bahwa Al-Qadhi Iyadh berkata, cara baca “yuldagu” ada dua cara: Pertama: Yuldagu dengan ghainnya didhammah. Kalimatnya menjadi kalimat berita. Maksudnya, seorang mukmin itu terpuji ketika ia cerdas, mantap dalam pekerjaannya, tidak lalai dalam urusannya, juga tidak terjatuh di lain waktu di lubang yang sama. Ada juga ulama yang berpendapat bahwa ia tergelincir dalam urusan agama (akhirat). Kedua: Yuldagi dengan ghainnya dikasrah. Kalimatnya menjadi kalimat larangan. Maksudnya, janganlah sampai lalai dalam suatu perkara. (Syarh Shahih Muslim, 12: 104) Ibnu Hajar berkata, “Seorang muslim harus terus waspada, jangan sampai lalai, baik dalam urusan agama maupun urusan dunianya.” (Fath Al-Bari, 10: 530) Kesimpulannya, muslim yang cerdas tak mungkin berbuat dosa yang sama dua kali. Ketika ia sudah berbuat kesalahan, ia terus hati-hati jangan digigit lagi di lubang yang sama. Semoga kita demikian. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetekan keempat, tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al-Asqalani. Penerbit Dar Thiybah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 14 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom , Line Rumaysho Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmaksiat
Seorang mukmin yang cerdas tak mungkin digigit ular di lubang yang sama dua kali. Maksudnya apa? Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ “Tidak selayaknya seorang mukmin dipatuk ular dari lubang yang sama sebanyak dua kali.” (HR. Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2998) Imam Nawawi menyatakan bahwa Al-Qadhi Iyadh berkata, cara baca “yuldagu” ada dua cara: Pertama: Yuldagu dengan ghainnya didhammah. Kalimatnya menjadi kalimat berita. Maksudnya, seorang mukmin itu terpuji ketika ia cerdas, mantap dalam pekerjaannya, tidak lalai dalam urusannya, juga tidak terjatuh di lain waktu di lubang yang sama. Ada juga ulama yang berpendapat bahwa ia tergelincir dalam urusan agama (akhirat). Kedua: Yuldagi dengan ghainnya dikasrah. Kalimatnya menjadi kalimat larangan. Maksudnya, janganlah sampai lalai dalam suatu perkara. (Syarh Shahih Muslim, 12: 104) Ibnu Hajar berkata, “Seorang muslim harus terus waspada, jangan sampai lalai, baik dalam urusan agama maupun urusan dunianya.” (Fath Al-Bari, 10: 530) Kesimpulannya, muslim yang cerdas tak mungkin berbuat dosa yang sama dua kali. Ketika ia sudah berbuat kesalahan, ia terus hati-hati jangan digigit lagi di lubang yang sama. Semoga kita demikian. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetekan keempat, tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al-Asqalani. Penerbit Dar Thiybah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 14 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom , Line Rumaysho Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmaksiat


Seorang mukmin yang cerdas tak mungkin digigit ular di lubang yang sama dua kali. Maksudnya apa? Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ “Tidak selayaknya seorang mukmin dipatuk ular dari lubang yang sama sebanyak dua kali.” (HR. Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2998) Imam Nawawi menyatakan bahwa Al-Qadhi Iyadh berkata, cara baca “yuldagu” ada dua cara: Pertama: Yuldagu dengan ghainnya didhammah. Kalimatnya menjadi kalimat berita. Maksudnya, seorang mukmin itu terpuji ketika ia cerdas, mantap dalam pekerjaannya, tidak lalai dalam urusannya, juga tidak terjatuh di lain waktu di lubang yang sama. Ada juga ulama yang berpendapat bahwa ia tergelincir dalam urusan agama (akhirat). Kedua: Yuldagi dengan ghainnya dikasrah. Kalimatnya menjadi kalimat larangan. Maksudnya, janganlah sampai lalai dalam suatu perkara. (Syarh Shahih Muslim, 12: 104) Ibnu Hajar berkata, “Seorang muslim harus terus waspada, jangan sampai lalai, baik dalam urusan agama maupun urusan dunianya.” (Fath Al-Bari, 10: 530) Kesimpulannya, muslim yang cerdas tak mungkin berbuat dosa yang sama dua kali. Ketika ia sudah berbuat kesalahan, ia terus hati-hati jangan digigit lagi di lubang yang sama. Semoga kita demikian. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetekan keempat, tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al-Asqalani. Penerbit Dar Thiybah. — Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 14 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom, Telegram @RumayshoCom , Line Rumaysho Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsmaksiat

Strategi Dakwah (1)

Dakwah butuh strategi, bukan sekedar asal-asalan dalam berdakwah. Strategi ini bisa dipraktikkan dalam ruang lingkup kecil di tengah-tengah keluarga, kerabat, hingga masyarakat secara umum. Dakwah yang pertama adalah dakwah tauhid dan pembinaan akidah. Prioritaskan materi dakwah yang lebih penting: dakwah pada tauhid, baru dakwah pada amalan yang lebih penting, dan tidak mesti langsung pada perkara parsial (juz’iyyat). Dakwah mesti dengan cara yang tepat dengan memperhatikan kondisi masyarakat. Dakwah pada dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, jangan sampai dakwah tanpa dalil, tanpa mengikuti tuntunan. Dakwah itu mengajak orang melakukan perintah dan menjauhi larangan (amar makruf nahi mungkar). Berdakwah sesuai kemampuan. Kemungkaran yang nampak wajib diingkari. Mengingkari dalam hati lalu lisan didahulukan daripada mengingkari dengan tangan. Mengingkari kemungkaran hanya boleh dengan hujjah (dalil) yang jelas. Tidak boleh mengingkari kemungkaran dengan hal yang lebih mungkar. Siapa yang menghadiri suatu acara kemungkaran dengan pilihan hatinya, maka ia dihukumi seperti melakukan kemungkaran tersebut. Melarang sesuatu kemungkaran hendaklah mengarahkan juga pada hal yang manfaat lainnya, bukan sekedar melarang. Hendaklah yang berdakwah menyelamatkan bahaya dirinya sebelum bahaya pada orang lain. Itu kaedah atau strategi umum yang kami himpun dari bahasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Semoga bisa berlanjut perinciannya di kesempatan lainnya.   Referensi: Qawa’id wa Dhawabith Fiqh Ad-Da’wah ‘inda Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Cetakan kedua, tahun 1430 H. ‘Abid bin Muhammad As-Sufyani. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, @ Darush Sholihin, Senin sore, 13 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsdakwah

Strategi Dakwah (1)

Dakwah butuh strategi, bukan sekedar asal-asalan dalam berdakwah. Strategi ini bisa dipraktikkan dalam ruang lingkup kecil di tengah-tengah keluarga, kerabat, hingga masyarakat secara umum. Dakwah yang pertama adalah dakwah tauhid dan pembinaan akidah. Prioritaskan materi dakwah yang lebih penting: dakwah pada tauhid, baru dakwah pada amalan yang lebih penting, dan tidak mesti langsung pada perkara parsial (juz’iyyat). Dakwah mesti dengan cara yang tepat dengan memperhatikan kondisi masyarakat. Dakwah pada dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, jangan sampai dakwah tanpa dalil, tanpa mengikuti tuntunan. Dakwah itu mengajak orang melakukan perintah dan menjauhi larangan (amar makruf nahi mungkar). Berdakwah sesuai kemampuan. Kemungkaran yang nampak wajib diingkari. Mengingkari dalam hati lalu lisan didahulukan daripada mengingkari dengan tangan. Mengingkari kemungkaran hanya boleh dengan hujjah (dalil) yang jelas. Tidak boleh mengingkari kemungkaran dengan hal yang lebih mungkar. Siapa yang menghadiri suatu acara kemungkaran dengan pilihan hatinya, maka ia dihukumi seperti melakukan kemungkaran tersebut. Melarang sesuatu kemungkaran hendaklah mengarahkan juga pada hal yang manfaat lainnya, bukan sekedar melarang. Hendaklah yang berdakwah menyelamatkan bahaya dirinya sebelum bahaya pada orang lain. Itu kaedah atau strategi umum yang kami himpun dari bahasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Semoga bisa berlanjut perinciannya di kesempatan lainnya.   Referensi: Qawa’id wa Dhawabith Fiqh Ad-Da’wah ‘inda Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Cetakan kedua, tahun 1430 H. ‘Abid bin Muhammad As-Sufyani. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, @ Darush Sholihin, Senin sore, 13 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsdakwah
Dakwah butuh strategi, bukan sekedar asal-asalan dalam berdakwah. Strategi ini bisa dipraktikkan dalam ruang lingkup kecil di tengah-tengah keluarga, kerabat, hingga masyarakat secara umum. Dakwah yang pertama adalah dakwah tauhid dan pembinaan akidah. Prioritaskan materi dakwah yang lebih penting: dakwah pada tauhid, baru dakwah pada amalan yang lebih penting, dan tidak mesti langsung pada perkara parsial (juz’iyyat). Dakwah mesti dengan cara yang tepat dengan memperhatikan kondisi masyarakat. Dakwah pada dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, jangan sampai dakwah tanpa dalil, tanpa mengikuti tuntunan. Dakwah itu mengajak orang melakukan perintah dan menjauhi larangan (amar makruf nahi mungkar). Berdakwah sesuai kemampuan. Kemungkaran yang nampak wajib diingkari. Mengingkari dalam hati lalu lisan didahulukan daripada mengingkari dengan tangan. Mengingkari kemungkaran hanya boleh dengan hujjah (dalil) yang jelas. Tidak boleh mengingkari kemungkaran dengan hal yang lebih mungkar. Siapa yang menghadiri suatu acara kemungkaran dengan pilihan hatinya, maka ia dihukumi seperti melakukan kemungkaran tersebut. Melarang sesuatu kemungkaran hendaklah mengarahkan juga pada hal yang manfaat lainnya, bukan sekedar melarang. Hendaklah yang berdakwah menyelamatkan bahaya dirinya sebelum bahaya pada orang lain. Itu kaedah atau strategi umum yang kami himpun dari bahasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Semoga bisa berlanjut perinciannya di kesempatan lainnya.   Referensi: Qawa’id wa Dhawabith Fiqh Ad-Da’wah ‘inda Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Cetakan kedua, tahun 1430 H. ‘Abid bin Muhammad As-Sufyani. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, @ Darush Sholihin, Senin sore, 13 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsdakwah


Dakwah butuh strategi, bukan sekedar asal-asalan dalam berdakwah. Strategi ini bisa dipraktikkan dalam ruang lingkup kecil di tengah-tengah keluarga, kerabat, hingga masyarakat secara umum. Dakwah yang pertama adalah dakwah tauhid dan pembinaan akidah. Prioritaskan materi dakwah yang lebih penting: dakwah pada tauhid, baru dakwah pada amalan yang lebih penting, dan tidak mesti langsung pada perkara parsial (juz’iyyat). Dakwah mesti dengan cara yang tepat dengan memperhatikan kondisi masyarakat. Dakwah pada dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, jangan sampai dakwah tanpa dalil, tanpa mengikuti tuntunan. Dakwah itu mengajak orang melakukan perintah dan menjauhi larangan (amar makruf nahi mungkar). Berdakwah sesuai kemampuan. Kemungkaran yang nampak wajib diingkari. Mengingkari dalam hati lalu lisan didahulukan daripada mengingkari dengan tangan. Mengingkari kemungkaran hanya boleh dengan hujjah (dalil) yang jelas. Tidak boleh mengingkari kemungkaran dengan hal yang lebih mungkar. Siapa yang menghadiri suatu acara kemungkaran dengan pilihan hatinya, maka ia dihukumi seperti melakukan kemungkaran tersebut. Melarang sesuatu kemungkaran hendaklah mengarahkan juga pada hal yang manfaat lainnya, bukan sekedar melarang. Hendaklah yang berdakwah menyelamatkan bahaya dirinya sebelum bahaya pada orang lain. Itu kaedah atau strategi umum yang kami himpun dari bahasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Semoga bisa berlanjut perinciannya di kesempatan lainnya.   Referensi: Qawa’id wa Dhawabith Fiqh Ad-Da’wah ‘inda Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Cetakan kedua, tahun 1430 H. ‘Abid bin Muhammad As-Sufyani. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, @ Darush Sholihin, Senin sore, 13 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagsdakwah

Kenapa Pohon Kurma itu Bisa Menangis?

Kenapa pohon kurma itu bisa menangis? Berikut kisahnya … Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdiri di atas sebatang pohon kurma ketika berkhutbah. Setelah dibuatkan mimbar, kami mendengar sesuatu pada batang pohon kurma tersebut seperti suara teriakan unta yang bunting. Sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam turun, lalu meletakkan tangannya pada batang kurma tersebut. Setelah itu, batang pohon itu pun diam.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Ketika hari Jum’at, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di atas mimbar. Lalu batang kurma yang biasa beliau berkhutbah di sana itu berteriak, hampir-hampir batang kurma itu terbelah.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Lalu batang kurma itu berteriak seperti teriakan anak kecil. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam turun lalu memegangnya dan memeluknya. Setelah itu, mulailah batang pohon itu mengerang seperti erangan anak kecil yang sedang diredakan tangisannya sampai ia terdiam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, بَكَتْ عَلَى مَا كَانَتْ تَسْمَعُ مِنَ الذِّكْرِ “Ia menangis karena dzikir yang dulu biasa ia dengar.” (HR. Bukhari no. 2095. Disebutkan dalam Riyadh Ash-Shalihin karya Imam Nawawi pada hadits no. 1831)   Tangisan Pohon Kurma, Tanda Mukjizat Nabi Kisah tangisan pohon kurma merupakan kisah yang benar-benar nyata yang diketahui dari khalaf (yang belakangan) dari salaf (yang sebelumnya ada). Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata bahwa ini merupakan tanda kalau benda seperti batang kurma yang tidak bergerak memiliki perasaan seperti hewan, bahkan lebih unggul dari beberapa hewan yang lebih cerdas. Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala di mana sebagian ulama maknakan secara tekstual, تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra’: 44) Ibnu Abi Hatim telah menukilkan dari Manaqib Asy-Syafi’i, dari bapaknya, dari ‘Amr bin Sawad, dari Imam Asy-Syafi’i, ia berkata, مَا أَعْطَى اللَّه نَبِيًّا مَا أَعْطَى مُحَمَّدًا “Allah tidaklah pernah memberikan sesuatu kepada seorang Nabi seperti yang diberikan pada Nabi Muhammad.” Aku (Ibnu Abi Hatim) berkata, “Nabi ’Isa diberi mukjizat bisa menghidupkan yang mati.” Imam Syafi’i berkata, “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi mukjizat bisa mendengar suara rintihan batang kurma yang menangis (karena ia tidak mendengar lagi dzikir yang dibaca Nabi ketika Nabi beralih menggunakan mimbar, pen). Mukjizat ini lebih luar biasa dari mukjizat yang diberikan pada Nabi Isa.” (Fath Al-Bari, 6: 603)   Rintihan Pohon Kurma Karena Ditinggal Nabi Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata, ketika seorang wanita Anshar membuatkan mimbar lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di atasnya, maka batang pohon kurma yang biasa dipakai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berkhutbah pun menangis. Pohon tersebut kadang berteriak seperti keadaan unta yang sedang bunting, kadang pula seperti rintihan anak kecil yang menangis. Pohon tersebut menangis karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi berkhutbah di sisinya. Allahu akbar … Benda yang diam seperti itu merintih dan menangis karena ditinggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang ajaran-ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditinggalkan, tak ada satu pun yang merintih. Semoga Allah menolong kita sekalian untuk senantiasa berdzikir, bersyukur, dan terus memperbagus ibadah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun turun, lantas pohon kurma tersebut terdiam. Nabi mendiamkannya seperti seorang ibu mendiamkan anaknya padahal itu hanyalah sebuah batang yang tidak bergerak. Dari sini menunjukkan bahwa ada dua mukjizat Nabi: (1) rintihan pohon kurma setelah ditinggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tidak dipakai lagi untuk tempat berkhutbah, (2) dengan turunnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memeluk batang kurma tersebut akhirnya menjadi diam dari tangisan atau teriakannya. (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 6: 641)   Pohon Kurma Menangis Karena Cinta dan Rindu pada Nabinya, Bagaimana dengan Kita Manusia? Perlu diketahui, mukjizat itu ada dua macam: Mukjizat yang masih taraf kemampuan manusia, namun tidak bisa dilakukan lalu Allah wujudkan tanda akan benarnya Nabi tersebut. Contoh, Zakariya yang baru memiliki keturunan di masa tua. Mukjizat yang di luar kemampuan manusia dan tidak bisa dilakukan yang semisalnya. Contoh, rintihan pohon kurma yang cinta pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan begitu merindukan ketika berpisah dengan beliau. (Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 21: 465) Ada perkataan yang bagus dari Al-Hasan Al-Bashri ketika ia menyebutkan hadits rintihan pohon kurma ini, ia berkata, يَا مَعْشَر الْمُسْلِمِينَ الْخَشَبَة تَحِنّ إِلَى رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَوْقًا إِلَى لِقَائِهِ فَأَنْتُمْ أَحَقّ أَنْ تَشْتَاقُوا إِلَيْهِ “Wahai kaum muslimin, batang kurma saja bisa merintih karena rindu bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalian harusnya lebih berhak rindu pada beliau.” (Fath Al-Bari, 6: 697) Bukankah kita telah diperintahkan untuk mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah: 24) Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.” Ancaman keras inilah yang menunjukkan bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari makhluk lainnya adalah wajib. Ingatlah tanda cinta Allah adalah dengan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.” (QS. Ali Imran: 31) Ibnu Katsir berkata mengenai ayat di atas, هذه الآية الكريمة حاكمة على كل من ادعى محبة الله، وليس هو على الطريقة المحمدية فإنه كاذب في دعواه في نفس الأمر “Ayat yang muliau ini menghakimi setiap yang mengakui mencintai Allah sedangkan ia tidak mau mengikuti petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia berarti telah berdusta dengan pengakuannya sendiri.” Al-Hasan Al-Bashri dan sebagian ulama salaf lainnya, زعم قوم أنهم يحبون الله فابتلاهم الله بهذه الآية “Suatu kaum mengakui cinta pada Allah, maka Allah menguji mereka dengan ayat di atas.” Semoga Allah beri tambahan ilmu yang bermanfaat dan semakin melembutkan hati. — Naskah Khutbah Jumat  11 Muharram 1437 H, di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagscinta nabi kurma

Kenapa Pohon Kurma itu Bisa Menangis?

Kenapa pohon kurma itu bisa menangis? Berikut kisahnya … Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdiri di atas sebatang pohon kurma ketika berkhutbah. Setelah dibuatkan mimbar, kami mendengar sesuatu pada batang pohon kurma tersebut seperti suara teriakan unta yang bunting. Sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam turun, lalu meletakkan tangannya pada batang kurma tersebut. Setelah itu, batang pohon itu pun diam.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Ketika hari Jum’at, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di atas mimbar. Lalu batang kurma yang biasa beliau berkhutbah di sana itu berteriak, hampir-hampir batang kurma itu terbelah.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Lalu batang kurma itu berteriak seperti teriakan anak kecil. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam turun lalu memegangnya dan memeluknya. Setelah itu, mulailah batang pohon itu mengerang seperti erangan anak kecil yang sedang diredakan tangisannya sampai ia terdiam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, بَكَتْ عَلَى مَا كَانَتْ تَسْمَعُ مِنَ الذِّكْرِ “Ia menangis karena dzikir yang dulu biasa ia dengar.” (HR. Bukhari no. 2095. Disebutkan dalam Riyadh Ash-Shalihin karya Imam Nawawi pada hadits no. 1831)   Tangisan Pohon Kurma, Tanda Mukjizat Nabi Kisah tangisan pohon kurma merupakan kisah yang benar-benar nyata yang diketahui dari khalaf (yang belakangan) dari salaf (yang sebelumnya ada). Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata bahwa ini merupakan tanda kalau benda seperti batang kurma yang tidak bergerak memiliki perasaan seperti hewan, bahkan lebih unggul dari beberapa hewan yang lebih cerdas. Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala di mana sebagian ulama maknakan secara tekstual, تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra’: 44) Ibnu Abi Hatim telah menukilkan dari Manaqib Asy-Syafi’i, dari bapaknya, dari ‘Amr bin Sawad, dari Imam Asy-Syafi’i, ia berkata, مَا أَعْطَى اللَّه نَبِيًّا مَا أَعْطَى مُحَمَّدًا “Allah tidaklah pernah memberikan sesuatu kepada seorang Nabi seperti yang diberikan pada Nabi Muhammad.” Aku (Ibnu Abi Hatim) berkata, “Nabi ’Isa diberi mukjizat bisa menghidupkan yang mati.” Imam Syafi’i berkata, “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi mukjizat bisa mendengar suara rintihan batang kurma yang menangis (karena ia tidak mendengar lagi dzikir yang dibaca Nabi ketika Nabi beralih menggunakan mimbar, pen). Mukjizat ini lebih luar biasa dari mukjizat yang diberikan pada Nabi Isa.” (Fath Al-Bari, 6: 603)   Rintihan Pohon Kurma Karena Ditinggal Nabi Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata, ketika seorang wanita Anshar membuatkan mimbar lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di atasnya, maka batang pohon kurma yang biasa dipakai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berkhutbah pun menangis. Pohon tersebut kadang berteriak seperti keadaan unta yang sedang bunting, kadang pula seperti rintihan anak kecil yang menangis. Pohon tersebut menangis karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi berkhutbah di sisinya. Allahu akbar … Benda yang diam seperti itu merintih dan menangis karena ditinggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang ajaran-ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditinggalkan, tak ada satu pun yang merintih. Semoga Allah menolong kita sekalian untuk senantiasa berdzikir, bersyukur, dan terus memperbagus ibadah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun turun, lantas pohon kurma tersebut terdiam. Nabi mendiamkannya seperti seorang ibu mendiamkan anaknya padahal itu hanyalah sebuah batang yang tidak bergerak. Dari sini menunjukkan bahwa ada dua mukjizat Nabi: (1) rintihan pohon kurma setelah ditinggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tidak dipakai lagi untuk tempat berkhutbah, (2) dengan turunnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memeluk batang kurma tersebut akhirnya menjadi diam dari tangisan atau teriakannya. (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 6: 641)   Pohon Kurma Menangis Karena Cinta dan Rindu pada Nabinya, Bagaimana dengan Kita Manusia? Perlu diketahui, mukjizat itu ada dua macam: Mukjizat yang masih taraf kemampuan manusia, namun tidak bisa dilakukan lalu Allah wujudkan tanda akan benarnya Nabi tersebut. Contoh, Zakariya yang baru memiliki keturunan di masa tua. Mukjizat yang di luar kemampuan manusia dan tidak bisa dilakukan yang semisalnya. Contoh, rintihan pohon kurma yang cinta pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan begitu merindukan ketika berpisah dengan beliau. (Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 21: 465) Ada perkataan yang bagus dari Al-Hasan Al-Bashri ketika ia menyebutkan hadits rintihan pohon kurma ini, ia berkata, يَا مَعْشَر الْمُسْلِمِينَ الْخَشَبَة تَحِنّ إِلَى رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَوْقًا إِلَى لِقَائِهِ فَأَنْتُمْ أَحَقّ أَنْ تَشْتَاقُوا إِلَيْهِ “Wahai kaum muslimin, batang kurma saja bisa merintih karena rindu bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalian harusnya lebih berhak rindu pada beliau.” (Fath Al-Bari, 6: 697) Bukankah kita telah diperintahkan untuk mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah: 24) Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.” Ancaman keras inilah yang menunjukkan bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari makhluk lainnya adalah wajib. Ingatlah tanda cinta Allah adalah dengan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.” (QS. Ali Imran: 31) Ibnu Katsir berkata mengenai ayat di atas, هذه الآية الكريمة حاكمة على كل من ادعى محبة الله، وليس هو على الطريقة المحمدية فإنه كاذب في دعواه في نفس الأمر “Ayat yang muliau ini menghakimi setiap yang mengakui mencintai Allah sedangkan ia tidak mau mengikuti petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia berarti telah berdusta dengan pengakuannya sendiri.” Al-Hasan Al-Bashri dan sebagian ulama salaf lainnya, زعم قوم أنهم يحبون الله فابتلاهم الله بهذه الآية “Suatu kaum mengakui cinta pada Allah, maka Allah menguji mereka dengan ayat di atas.” Semoga Allah beri tambahan ilmu yang bermanfaat dan semakin melembutkan hati. — Naskah Khutbah Jumat  11 Muharram 1437 H, di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagscinta nabi kurma
Kenapa pohon kurma itu bisa menangis? Berikut kisahnya … Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdiri di atas sebatang pohon kurma ketika berkhutbah. Setelah dibuatkan mimbar, kami mendengar sesuatu pada batang pohon kurma tersebut seperti suara teriakan unta yang bunting. Sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam turun, lalu meletakkan tangannya pada batang kurma tersebut. Setelah itu, batang pohon itu pun diam.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Ketika hari Jum’at, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di atas mimbar. Lalu batang kurma yang biasa beliau berkhutbah di sana itu berteriak, hampir-hampir batang kurma itu terbelah.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Lalu batang kurma itu berteriak seperti teriakan anak kecil. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam turun lalu memegangnya dan memeluknya. Setelah itu, mulailah batang pohon itu mengerang seperti erangan anak kecil yang sedang diredakan tangisannya sampai ia terdiam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, بَكَتْ عَلَى مَا كَانَتْ تَسْمَعُ مِنَ الذِّكْرِ “Ia menangis karena dzikir yang dulu biasa ia dengar.” (HR. Bukhari no. 2095. Disebutkan dalam Riyadh Ash-Shalihin karya Imam Nawawi pada hadits no. 1831)   Tangisan Pohon Kurma, Tanda Mukjizat Nabi Kisah tangisan pohon kurma merupakan kisah yang benar-benar nyata yang diketahui dari khalaf (yang belakangan) dari salaf (yang sebelumnya ada). Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata bahwa ini merupakan tanda kalau benda seperti batang kurma yang tidak bergerak memiliki perasaan seperti hewan, bahkan lebih unggul dari beberapa hewan yang lebih cerdas. Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala di mana sebagian ulama maknakan secara tekstual, تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra’: 44) Ibnu Abi Hatim telah menukilkan dari Manaqib Asy-Syafi’i, dari bapaknya, dari ‘Amr bin Sawad, dari Imam Asy-Syafi’i, ia berkata, مَا أَعْطَى اللَّه نَبِيًّا مَا أَعْطَى مُحَمَّدًا “Allah tidaklah pernah memberikan sesuatu kepada seorang Nabi seperti yang diberikan pada Nabi Muhammad.” Aku (Ibnu Abi Hatim) berkata, “Nabi ’Isa diberi mukjizat bisa menghidupkan yang mati.” Imam Syafi’i berkata, “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi mukjizat bisa mendengar suara rintihan batang kurma yang menangis (karena ia tidak mendengar lagi dzikir yang dibaca Nabi ketika Nabi beralih menggunakan mimbar, pen). Mukjizat ini lebih luar biasa dari mukjizat yang diberikan pada Nabi Isa.” (Fath Al-Bari, 6: 603)   Rintihan Pohon Kurma Karena Ditinggal Nabi Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata, ketika seorang wanita Anshar membuatkan mimbar lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di atasnya, maka batang pohon kurma yang biasa dipakai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berkhutbah pun menangis. Pohon tersebut kadang berteriak seperti keadaan unta yang sedang bunting, kadang pula seperti rintihan anak kecil yang menangis. Pohon tersebut menangis karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi berkhutbah di sisinya. Allahu akbar … Benda yang diam seperti itu merintih dan menangis karena ditinggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang ajaran-ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditinggalkan, tak ada satu pun yang merintih. Semoga Allah menolong kita sekalian untuk senantiasa berdzikir, bersyukur, dan terus memperbagus ibadah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun turun, lantas pohon kurma tersebut terdiam. Nabi mendiamkannya seperti seorang ibu mendiamkan anaknya padahal itu hanyalah sebuah batang yang tidak bergerak. Dari sini menunjukkan bahwa ada dua mukjizat Nabi: (1) rintihan pohon kurma setelah ditinggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tidak dipakai lagi untuk tempat berkhutbah, (2) dengan turunnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memeluk batang kurma tersebut akhirnya menjadi diam dari tangisan atau teriakannya. (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 6: 641)   Pohon Kurma Menangis Karena Cinta dan Rindu pada Nabinya, Bagaimana dengan Kita Manusia? Perlu diketahui, mukjizat itu ada dua macam: Mukjizat yang masih taraf kemampuan manusia, namun tidak bisa dilakukan lalu Allah wujudkan tanda akan benarnya Nabi tersebut. Contoh, Zakariya yang baru memiliki keturunan di masa tua. Mukjizat yang di luar kemampuan manusia dan tidak bisa dilakukan yang semisalnya. Contoh, rintihan pohon kurma yang cinta pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan begitu merindukan ketika berpisah dengan beliau. (Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 21: 465) Ada perkataan yang bagus dari Al-Hasan Al-Bashri ketika ia menyebutkan hadits rintihan pohon kurma ini, ia berkata, يَا مَعْشَر الْمُسْلِمِينَ الْخَشَبَة تَحِنّ إِلَى رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَوْقًا إِلَى لِقَائِهِ فَأَنْتُمْ أَحَقّ أَنْ تَشْتَاقُوا إِلَيْهِ “Wahai kaum muslimin, batang kurma saja bisa merintih karena rindu bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalian harusnya lebih berhak rindu pada beliau.” (Fath Al-Bari, 6: 697) Bukankah kita telah diperintahkan untuk mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah: 24) Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.” Ancaman keras inilah yang menunjukkan bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari makhluk lainnya adalah wajib. Ingatlah tanda cinta Allah adalah dengan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.” (QS. Ali Imran: 31) Ibnu Katsir berkata mengenai ayat di atas, هذه الآية الكريمة حاكمة على كل من ادعى محبة الله، وليس هو على الطريقة المحمدية فإنه كاذب في دعواه في نفس الأمر “Ayat yang muliau ini menghakimi setiap yang mengakui mencintai Allah sedangkan ia tidak mau mengikuti petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia berarti telah berdusta dengan pengakuannya sendiri.” Al-Hasan Al-Bashri dan sebagian ulama salaf lainnya, زعم قوم أنهم يحبون الله فابتلاهم الله بهذه الآية “Suatu kaum mengakui cinta pada Allah, maka Allah menguji mereka dengan ayat di atas.” Semoga Allah beri tambahan ilmu yang bermanfaat dan semakin melembutkan hati. — Naskah Khutbah Jumat  11 Muharram 1437 H, di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagscinta nabi kurma


Kenapa pohon kurma itu bisa menangis? Berikut kisahnya … Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdiri di atas sebatang pohon kurma ketika berkhutbah. Setelah dibuatkan mimbar, kami mendengar sesuatu pada batang pohon kurma tersebut seperti suara teriakan unta yang bunting. Sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam turun, lalu meletakkan tangannya pada batang kurma tersebut. Setelah itu, batang pohon itu pun diam.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Ketika hari Jum’at, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di atas mimbar. Lalu batang kurma yang biasa beliau berkhutbah di sana itu berteriak, hampir-hampir batang kurma itu terbelah.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Lalu batang kurma itu berteriak seperti teriakan anak kecil. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam turun lalu memegangnya dan memeluknya. Setelah itu, mulailah batang pohon itu mengerang seperti erangan anak kecil yang sedang diredakan tangisannya sampai ia terdiam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, بَكَتْ عَلَى مَا كَانَتْ تَسْمَعُ مِنَ الذِّكْرِ “Ia menangis karena dzikir yang dulu biasa ia dengar.” (HR. Bukhari no. 2095. Disebutkan dalam Riyadh Ash-Shalihin karya Imam Nawawi pada hadits no. 1831)   Tangisan Pohon Kurma, Tanda Mukjizat Nabi Kisah tangisan pohon kurma merupakan kisah yang benar-benar nyata yang diketahui dari khalaf (yang belakangan) dari salaf (yang sebelumnya ada). Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata bahwa ini merupakan tanda kalau benda seperti batang kurma yang tidak bergerak memiliki perasaan seperti hewan, bahkan lebih unggul dari beberapa hewan yang lebih cerdas. Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala di mana sebagian ulama maknakan secara tekstual, تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra’: 44) Ibnu Abi Hatim telah menukilkan dari Manaqib Asy-Syafi’i, dari bapaknya, dari ‘Amr bin Sawad, dari Imam Asy-Syafi’i, ia berkata, مَا أَعْطَى اللَّه نَبِيًّا مَا أَعْطَى مُحَمَّدًا “Allah tidaklah pernah memberikan sesuatu kepada seorang Nabi seperti yang diberikan pada Nabi Muhammad.” Aku (Ibnu Abi Hatim) berkata, “Nabi ’Isa diberi mukjizat bisa menghidupkan yang mati.” Imam Syafi’i berkata, “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi mukjizat bisa mendengar suara rintihan batang kurma yang menangis (karena ia tidak mendengar lagi dzikir yang dibaca Nabi ketika Nabi beralih menggunakan mimbar, pen). Mukjizat ini lebih luar biasa dari mukjizat yang diberikan pada Nabi Isa.” (Fath Al-Bari, 6: 603)   Rintihan Pohon Kurma Karena Ditinggal Nabi Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata, ketika seorang wanita Anshar membuatkan mimbar lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di atasnya, maka batang pohon kurma yang biasa dipakai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berkhutbah pun menangis. Pohon tersebut kadang berteriak seperti keadaan unta yang sedang bunting, kadang pula seperti rintihan anak kecil yang menangis. Pohon tersebut menangis karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi berkhutbah di sisinya. Allahu akbar … Benda yang diam seperti itu merintih dan menangis karena ditinggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang ajaran-ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditinggalkan, tak ada satu pun yang merintih. Semoga Allah menolong kita sekalian untuk senantiasa berdzikir, bersyukur, dan terus memperbagus ibadah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun turun, lantas pohon kurma tersebut terdiam. Nabi mendiamkannya seperti seorang ibu mendiamkan anaknya padahal itu hanyalah sebuah batang yang tidak bergerak. Dari sini menunjukkan bahwa ada dua mukjizat Nabi: (1) rintihan pohon kurma setelah ditinggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tidak dipakai lagi untuk tempat berkhutbah, (2) dengan turunnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memeluk batang kurma tersebut akhirnya menjadi diam dari tangisan atau teriakannya. (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 6: 641)   Pohon Kurma Menangis Karena Cinta dan Rindu pada Nabinya, Bagaimana dengan Kita Manusia? Perlu diketahui, mukjizat itu ada dua macam: Mukjizat yang masih taraf kemampuan manusia, namun tidak bisa dilakukan lalu Allah wujudkan tanda akan benarnya Nabi tersebut. Contoh, Zakariya yang baru memiliki keturunan di masa tua. Mukjizat yang di luar kemampuan manusia dan tidak bisa dilakukan yang semisalnya. Contoh, rintihan pohon kurma yang cinta pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan begitu merindukan ketika berpisah dengan beliau. (Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 21: 465) Ada perkataan yang bagus dari Al-Hasan Al-Bashri ketika ia menyebutkan hadits rintihan pohon kurma ini, ia berkata, يَا مَعْشَر الْمُسْلِمِينَ الْخَشَبَة تَحِنّ إِلَى رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَوْقًا إِلَى لِقَائِهِ فَأَنْتُمْ أَحَقّ أَنْ تَشْتَاقُوا إِلَيْهِ “Wahai kaum muslimin, batang kurma saja bisa merintih karena rindu bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalian harusnya lebih berhak rindu pada beliau.” (Fath Al-Bari, 6: 697) Bukankah kita telah diperintahkan untuk mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah: 24) Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.” Ancaman keras inilah yang menunjukkan bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari makhluk lainnya adalah wajib. Ingatlah tanda cinta Allah adalah dengan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.” (QS. Ali Imran: 31) Ibnu Katsir berkata mengenai ayat di atas, هذه الآية الكريمة حاكمة على كل من ادعى محبة الله، وليس هو على الطريقة المحمدية فإنه كاذب في دعواه في نفس الأمر “Ayat yang muliau ini menghakimi setiap yang mengakui mencintai Allah sedangkan ia tidak mau mengikuti petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia berarti telah berdusta dengan pengakuannya sendiri.” Al-Hasan Al-Bashri dan sebagian ulama salaf lainnya, زعم قوم أنهم يحبون الله فابتلاهم الله بهذه الآية “Suatu kaum mengakui cinta pada Allah, maka Allah menguji mereka dengan ayat di atas.” Semoga Allah beri tambahan ilmu yang bermanfaat dan semakin melembutkan hati. — Naskah Khutbah Jumat  11 Muharram 1437 H, di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti update artikel Rumaysho.Com di Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans), Facebook Muhammad Abduh Tuasikal, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab. Tagscinta nabi kurma

DAHSYATNYA ISTIGHFAR

(Khutbah Jum’at 9/1/1437 H – 23/10/2015)Oleh Asy-Syaikh Ali Al-HudzaifiKhutbah PertamaSegala puji bagi Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang Maha mengetahui lagi maha bijaksana, pemberi karunia yang besar. Aku memuji Robbku dan aku bersyukur kepadaNya dan aku bertaubat kepadaNya dan beristighfar kepadaNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya –Pemilik ‘Arsy yang mulia-. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan RasulNya, pemilik akhlak yang agung. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad, dan kepada keluarganya serta para sahabatnya yang merupakan para da’i yang mendapatkan petunjuk menujuk kepada jalan yang lurus.Amma ba’du, maka bertakwalah kepada Allah dengan menjalankan apa yang diridoi oleh Allah dan meninggalkan apa yang diharamkanNya agar kalian meraih keridoanNya dan kenikmatan surgaNya, serta kalian selamat dari kemurkaanNya dan siksaanNya. Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya Robb kita yang Maha mulia telah memperbanyak pintu-pintu kebaikan dan jalan-jalan untuk beramal sholeh sebagai bentuk karunia, kasih sayang, kedermawanan, dan kebaikan Allah yang maha perkasa dan mulia. Agar seorang muslim masuk ke pintu kebaikan mana saja dan menempuh jalan ketaatan mana saja sehingga Allah memperbaiki kehidupan dunianya, dan mengangkat derajatnya di akhirat. Maka Allah akan memuliakannya dengan kehidupan yang baik dan penuh kebahagiaan, dan meraih kenikmatan yang abadi serta keridhoan Robbnya setelah kematiannya. Allah berfirman :فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌMaka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS Al-Baqoroh : 148)Dan Allah berfirman tentang para Nabi –’alaihis salam- yang merupakan teladan bagi manusiaإِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَSesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu´ kepada Kami (QS Al-Anbiyaa : 90)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Mu’adz radhiallahu ‘anhu :“Maukah aku tunjukan kepadamu pintu-pintu kebaikan?, puasa adalah perisai, dan sedekah memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api,  dan sholatnya seseorang di tengah malam, lalu Nabi membacakan firman Allah :تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (16) فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَLambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan (QS As-Sajdah 16-17)Kemudian Nabi berkata ; “Maukah aku kabarkan kepadamu tentang kepala agama ini dan tiangnya serta puncaknya?”Aku (Muadz) berkata : “Tentu wahai Rasulullah”Nabi berkata, “Kepala agama adalah Islam, dan tiangnya adalah sholat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah” (HR At-Tirmidzi dan dishahihkan olehnya)Diantara pintu-pintu kebaikan dan jalan-jalan ketaatan serta sebab-sebab penghapus dosa-dosa adalah beristighfar. Dan istighfar adalah sunnahnya para nabi dan rasul ‘alaihimus salam. Allah berfirman tentang dua nenek moyang manusia :قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَKeduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi (QS Al-A’rof : 23)Dan Allah berfirman tentang Nuh ‘alaihis salam :رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِYa Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. (Qs Nuuh : 28)Allah azza wa jalla berfirman tentang Al-Kholil (Ibrahim a.s) :رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُYa Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (Qs Ibrahim : 41)Allah berfirman tentang Musa a.s :قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَMusa berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang” (QS Al-A’raf : 151)Dan Allah berfirman :وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَDan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat (QS Shaad : 24)Allah berfirman seraya memerintahkan NabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam:فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِMaka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. (Qs Muhammad : 19)Diantara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah banyak beristighfar padahal Allah telah mengampuni bagi beliau dosa beliau yang telah lalu maupun yang akan datang. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma ia berkata :كُنَّا نَعُدُّ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ “رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ تَوَّابُ رَحِيْمٌ”“Kami menghitung dalam satu majelis seratus kali Rasulullah berucap : “Ya Allah ampuni aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha penerima taubat dan maha penyayang” (HR Abu Dawud dan At-Thirmidzi, dan ia berkata : Hadits hasan shahih).Dan dari Aisyah r.a ia berkata :“Rasulullah sebelum meninggalnya banyak mengucapkan :سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغِفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ(Aku mensucikan Allah dan memujiNya, Aku beristighfar kepadaNya dan bertaubat kepadaNya) (HR Al-Bukhari dan Muslim).Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih banyak dari pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mengucapkan :أَسْتَغِفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِAku beristighfar kepadaNya dan bertaubat kepadaNya (HR An-Nasaai).Dan Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam setelah salam dari sholat beliau berkata “Astaghfirullah” (Aku memohon ampunan Allah) sebanyak tiga kali” (HR Muslim dari Tsauban r.a), lalu setelah itu Nabi mengucapkan dzikir yang disyari’atkan setelah sholat.Istighfar merupakan kebiasaan orang-orang shalih dan amal orang-orang baik yang bertakwa, serta merupakan syi’ar kaum mukminin. Allah berfirman tentang mereka :الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (16) الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ(Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,  (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur (Qs Ali-‘Imron : 16-17)Dan Allah berfirman :وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَDan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui (QS Ali-Imron : 135)Ibnu Rojab rahimahullah berkata, “Adapun beristighfar dari dosa-dosa adalah adalah memohon ampunan, dan seorang hamba sangat membutuhkan ampunan Allah, karena ia berdosa siang dan malam, dan telah berulang-ulang dalam Al-Qur’an penyebutan taubat dan istighfar dan perintah untuk melakukan keduanya serta motivasi untuk melakukannya”Dan memohon ampunan kepada Rabb jalla wa ‘ala maka Allah menjanjikan untuk mengabulkan dan memberi ampunan.          Dan disyari’atkan seorang hamba memohon ampunan untuk dosa tertentu berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :إِنَّ عَبْدًا أَذْنَبَ ذَنْبًا فَقَالَ : يَا رَبِّ إِنِّي عَمِلْتُ ذَنْبًا فَاغْفِرْ لِي، فَقَالَ اللهُ : عَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ ربّاً يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي“Sesungguhnya seorang hamba berbuat suatu dosa, maka ia berkata : Ya Rabbku sesungguhnya aku melakukan suatu dosa maka ampunilah aku. Maka Allah berkata, “HambaKu tahu bahwasanya ia memiliki Robb yang mengampuni dosa dan menghukum karena dosa, maka sungguh aku telah mengampuni hambaKu” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah r.a)Sebagaimana juga disyari’atkan agar seorang hamba memohon ampunan (maghfiroh) secara mutlak yaitu dengan berkataرَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي“Ya Allah ampuni aku dan rahmatilah aku”Allah berfirman :وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَDan katakanlah: “Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik” (QS Al-Mukminun : 118)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada seseorang jika ia masuk Islam agar ia berdoa dengan doa berikut :اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَعَافِنِي وَارْزُقْنِي“Ya Allah ampuni aku, rahmatilah aku, berilah petunjuk kepadaku, sehatkanlah tubuhku, dan berilah rizki kepadaku” (HR Muslim dari hadits Thariq bin Usyaim r.a.)Sebagaiman disyari’atkan bagi seorang hamba untuk memohon dari Robnya ampunan bagi seluruh dosa-dosanya apa yang ia ketahui dana yang ia tidak ketahui dari dosa-dosanya tersebut. Karena banyak dari dosa yang ia tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah sementara hamba dihukum karenanya.Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau berdoa dengan doa berikut ini :«اللهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي جِدِّي وَهَزْلِي، وَخَطَئِي وَعَمْدِي، وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ»“Ya Allah ampunilah bagiku dosa karena kesalahanku, dosa karena kebodohanku, sikap berlebihanku dalam urusanku, dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku, Ya Allah ampunilah bagiku dosa yang karena yang kulakukan dengan sungguh-sungguh, dosa karena candaku, dosa karena ketidak sengajaanku, dosa karena kesengajaanku, dan itu semua ada pada diriku. Ya Allah ampunilah dosa-dosakua yang telah lalu dan yang akan datang, dosa yang kulakukan dengan sembunyi-sembunyi dan yang aku lakukan terang-terangan, dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya dari pada aku. Engkau adalah yang menentukan maju atau mundurnya, dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihin wasallam :الشِّرْكُ فِي هَذِهِ الأُمَّةِ أَخْفَى مِنْ دَبِيْبِ النَّمْلِ“Kesyirikan pada umat ini lebih samar daripada rayapan semut”. Maka Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berkata,فَكَيْفَ الْخَلاَصُ مِنْهُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟“Bagaimana cara selamat darinya wahai Rasulullah?”.Nabi berkata, “Hendaknya engkau berdoa :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا وَأَنَا أَعْلَمُهُ وَأَسْتَغْفِرُكَ مِنَ الذَّنْبِ الَّذِي لاَ أَعْلَمُ“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari berbuat syirik apapun kepadaMu yang aku  mengetahuinya dan aku memohon ampunan kepadaMu dari dosa yang aku tidak mengetahuinya” (HR Ibnu Hibban dari hadits Abu Bakar, dan Ahmad dari hadits Abu Musa).Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau berdoa :اللهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ، وَجِلَّهُ، خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ وَسِرَّهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ“Ya Allah ampunilah dosaku seluruhnya, yang kecil dan yang besar, yang tanpa sengaja maupun yang disengaja, yang tersembunyi maupun yang tampak, yang awal dan yang terakhir” (HR Muslim dan Abu Dawud)Jika seorang hamba memohon kepada Robbnya ampunan dosa-dosanya dengan doa yang ikhlas dan penuh permohonan serta permintaan penuh ketundukan dan kehinaan maka mencakup taubat dari dosa-dosa.Dan memohon taubat serta bimbingan untuk taubat mencakup istighfar, maka istighfar dan taubat jika disebutkan masing-masing sendirian maka mencakup yang lainnya. Dan jika disebutkan keduanya (secara bersamaan) dalam nash-nash maka makna istighfar adalah memohon dihapuskannya dosa-dosa dan dihilangkannya sisa dan dampaknya serta memohon perlindungan dari buruknya dosa-dosa yang telah lalu serta agar ditutup. Dan taubat maknanya adalah kembali kepada Allah dengan meninggalkan dosa-dosa dan memohon perlindungan dari apa yang dikhawatirkan di kemudian hari dari keburukan-keburukan amalannya serta tekad untuk tidak kembali melakukannya lagi.Dan telah dikumpulkan antara istighfar dan taubat dalam firman Allah :وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍDan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat (QS Huud :3) dan ayat-ayat lainnya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :يَا أَيُّهَا النَّاسُ ! تُوْبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَاسْتَغْفِرُوْهُ، فَإِنِّي أَتُوْبُ إِلى اللهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai manusia ! bertobatlah kalian kepada Tuhan kalian dan mintalah ampun kepadaNya. Sesungguhnya aku sendiri bertobat kepada Allah dan memohon ampunanNya setiap hari Seratus kali “. HR An-Nasai dari hadis Al-Muzani radhiyallahu ‘anhuSeorang hamba seharusnya selalu sangat butuh untuk memohon ampun kepada Allah, terutama di zaman seperti sekarang ini karena bermacam-macam cobaan lantaran banyaknya dosa dan fitnah, sehingga Allah membimbingnya dalam kehidupannya dan setelah matinya serta memperbaiki urusannya. Sesungguhnya istighfar merupakan pintu masuk segala kebaikan dan benteng dari segala keburukan berikut  hukumannya. Maka umat ini sangat perlu beristighfar secara terus menerus agar Allah mengangkat bencana yang menimpa umat ini, dan menghapuskan sanksi hukuman yang akan dijatuhkan. Tidak ada yang enggan beristighfar kecuali orang yang tidak memahami manfaatnya dan keberkahannya. Al-Qur’an dan As-Sunnah telah banyak menjelaskan tentang keutamaan istighfar.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nabi Salih a.s. :قَالَ يَاقَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“ Dia [Shalih] berkata, “ Hai kaumku ! Mengapa kalian meminta disegerakan suatu keburukan sebelum kebaikan, mengapakah kalian tidak memohon ampun kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat “.(QS An-Naml : 46)Maka dengan Istighfar, turunlah rahmat Allah kepada umat ini.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nuh a.s. :فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا “Mintalah ampun kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Supaya Dia menurunkan kepada kalian hujan deras dari langit. Dan mengirim bantuan kepada kalian [berupa] harta benda dan [keturunan] anak-anak lelaki serta menjadikan untuk kalian kebun-kebun dan sungai-sungai. (QS Nuuh : 10-12)Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nabi Hud, a.s. :وَيَاقَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ“Wahai kaumku ! mohonlah ampun kepada Tuhan kalian kemudian bertobatlah kalian kepadaNya, niscaya Dia akan mengirimkan hujan deras kepada kalian dan menambah kekuatan lebih dari kekuatan yang ada pada kalian, dan janganlah kalian berpaling sebagai orang-orang yang berdosa”. (QS Huud : 52)Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ “Tidaklah mungkin Allah menghukum mereka sementara engkau berada di tengah-tengah mereka, dan tidak mungkin pula Allah menghukum mereka sementara mereka sedang beristighfar “ (QS Al-Anfaal : 33)Abu Musa berkata  : “Kalian dahulu mendapatkan dua jaminan keamanan; Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka telah wafat, namun istighfar tetap ada pada kalian hingga hari Kiamat.Seringnya istighfar yang dilakukan umat ini dapat mengangkat bencana yang telah terjadi dan menolak bencana yang akan terjadi. Tiada suatu bencana yang melanda kecuali disebabkan suatu dosa manusia, dan tidak ada cara lain menghilangkan bencana kecuali bertobat dan beristighfar”.Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“ Barangsiapa yang selalu beristighfar, maka Allah menjadikan baginya pada setiap kesempitan suatu solusi, dan setiap keprihatinan suatu jalan keluar, dan Allah memberinya rezeki dari jalan yang tak terduga”). HR Abu Dawud.Telah datang dari Nabi Saw. sabda-sabda beliau yang terjaga yang penuh berkah tentang Istighfar, dimana istighfar mendatangkan pahala yang besar. Antara lain sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :مَنْ قَالَ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ“Barangsiapa mengucapkan kalimat : Aku memohon ampun kepada Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Yang Mengayomi. Aku bertobat kepadaNya, maka diampuni dosa-dosanya meskipun ia pernah lari dari barisan perang”. HR Abu Dawud  dan At-Turmuzi dan Al-Hakim. Dikatakannya, sebagai hadis Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim.Dari Abi Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ قَالَ حِينَ يَأْوِي إِلَى فِرَاشِهِ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِله إِلا هوَ الحيَّ القيومَ وأتوبُ إِليهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ أَوْ عَدَدَ رَمْلِ عَالَجٍ أَوْ عَدَدَ وَرَقِ الشَّجَرِ أَوْ عَدَدَ أَيَّامِ الدُّنْيَا“Barangsiapa berucap ketika hendak  menuju tempat tidurnya, “Aku memohon ampun kepada Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Yang Mengayomi. Aku bertobat kepadaNya tiga kali, maka Allah ampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di laut ). HR At-Turmuzi.Dari Ubadah Bin As-Shamit radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ: رَبِّ اغْفِرْ لِي أَوْ قَالَ: ثمَّ دَعَا استيجيب لَهُ فَإِنْ تَوَضَّأَ وَصَلَّى قُبِلَتْ صَلَاتُهُ“Barangsiapa yang terjaga di malam hari lalu mengucapkan zikir, “ Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Hanya milikNya kerajaan dan hanya milikNya pula segala pujian. Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa. Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah. Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah ampunilah aku. Lalu berdo’a, niscaya dikabulkan do’anya. Jika dia shalat, niscaya diterima shalatnya”. (HR Bukhari).Disebutkan dalam hadis pula :من قال صبيحة يوم الجمعة قبل صلاة الغداة: أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه ثلاث مرات غفر الله تعالى ذنوبه ولو كانت مثل زبد البحر“Barangsiapa yang berzikir sebelum terbitnya fajar hari Jum’at, “Aku memohon ampun kepada Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Yang Mengayomi. Aku bertobat kepadaNya Tiga kali, maka diampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di laut”.Diriwayatkan dari Syaddad Bin Aus  radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :Penghulu Istighfar adalah ucapan seorang hamba :سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعَتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ “. قَالَ: «وَمَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ»“Ya Allah, Engkau Tuhanku, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau telah ciptakan diriku, dan aku hambaMu, aku tetap setia memegang janjiMu dengan segala kemampuanku, aku berlindung kepadaMu dari kejahatan perbuatanku, aku mengakui besarnya nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Barangsiapa yang mengucapkannya di siang hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum menjelang sore, maka masuklah ia ke dalam surga. Dan barangsiapa yang mengucapkannya di malam hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum menjelang pagi, maka diapun termasuk penghuni surga”. (HR Bukhari)Dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :يَا ابنَ آدمَ إِنَّك لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي“Wahai anak Adam, Andaikata dosa-dosamu telah mencapai setinggi langit lalu maku meminta ampun kepadaKu, Akupun mengampunimu tanpa mempedulikan”  (HR Turmuzi. Dikatakannya sebagai hadis hasan).Sebagaimana pula seseorang diperintahkan beristighfar ketika sedang melaksanakan ibadah dan ketika selesai beribadah untuk menutup kekurangan yang terjadi, serta menghindari rasa ujub (bangga diri) dan riya’.  Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌKemudian bertolaklah kalian dari tempat di mana orang-orang lainnya bertolak dan mintalah ampun kalian kepada Allah, sesungguhnya ALLAH Maha Pengampun dan Maha Pemurah. (QS Al-Baqoroh : 199)Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌDirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah dengan suatu pinjaman yang baik. Apapun kebaikan yang kalian lakukan untuk diri kalian, niscaya akan kalian dapatkannya di sisi Allah suatu balasan yang lebih baik dan pahala yang lebih besar. Dan mintalah ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Pemurah (QS Al-Muzammil ; 20)Sebagaimana disyariatkan juga seorang muslim memintakan ampun untuk kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, sebagai suatu persembahan amal baik dan rasa cinta yang tulus kepada mereka yang seagama dan sebagai syafaat bagi mereka di sisi Allah.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌDan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa, “Ya Tuhan kami ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam iman, janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dendam terhadap orang-orang yang beriman, Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyayang dan Pemurah (QS Al-Hasyr : 10)Dari Ubadah Bin Shamit radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda :مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلِلْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةًBarangsiapa yang memintakan ampun untuk orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan, maka Allah subhanahu wa ta’ala mencatat baginya suatu kebaikan sebanyak  orang mukmin lelaki dan perempuan (Al-Haitsami berkata : Isnad hadis ini adalah Jayyid ( bagus ),Istighfar yang dimaksud seperti ketika mendoakan mereka dalam shalat Jenazah dan memintakan ampun untuk mereka  yang ada di alam kubur ketika berziarah kuburDan memohonkan ampunan bagi kaum mukminin adalah untuk meneladani para Malaikat pembawa Arasy dan Malaikat Muqarrabin.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman  :الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ“Mereka [malaikat] pemikul Arasy di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhan mereka, dan beriman kepadaNya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman, “ Ya Tuhan kami, Engkau meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan pengetahuan, maka ampunilah orang-orang bertobat dan mengikuti jalanMu, lindunginlah mereka dari siksa neraka Jahim” (QS Ghofir : 7)Dan ini merupakan bentuk berbuat baik yang besar untuk kaum mukminin. Wahai hamba-hamba Allah. Laksanakanlah perintah TuhanMu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam hadis Qudsi :يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ“Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian semua berbuat salah di malam dan siang hari, sedangkan Aku mengampuni segala dosa, maka mohonlah ampun kepadaKu, niscaya Aku mengampuni kalian semua “ (HR Muslim dari hadis Abi Zar).Maka, bersungguh-sungguhlah kalian beristighfar kepada Allah, niscaya akan kalian rasakan kemurahan dan keberkahan Allah Swt, akan kalian rasakan pula pengaruhnya pada penghapusan dosa dan terangkatnya derajat kalian.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ“Demi Allah yang jiwaku ada pada genggamanNya, seandainya kalian tidak berbuat dosa niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan mendatangkan kaum lain yang berbuat dosa lalu mereka memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala lalu Allah mengampuni mereka”. (HR Muslim)Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala Maha luas ampunanNya, Maha Pemurah dan Maha Mulia.Firman Allah  :وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًاBarangsiapa yang melakukan suatu kejahatan atau berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri lalu memohon ampun kepada Allah, niscaya ia dapatkan Allah Maha Pengampun dan Maha Pemurah (QS An-Nisaa : 110).Semoga Allah mencurahkan keberkahan atas kita semua berkat Al-Qur’an yang agung.==================Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah, Maha Pengampun dosa, Maha Penerima tobat, Yang Maha keras siksaNya, Yang mempunya karunia, tiada Tuhan yang berhak disembah kesuali Dia. Kepadanya segalanya akan kembali. Aku memuji Tuhanku dan bersyukur kepadaNya atas anugerahNya yang agung. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan Selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya, Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa. Aku bersaksi bahwa Nabi kita dan junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Hamba Allah dan Rasul-Nya, sebagai Pemberi kabar gembira dan peringatan bagaikan pelita yang menerangi. Ya Allah curahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada HambaMu dan RasulMu, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya, Bertakwalah kepada Tuhan kalian dan murnikanlah ibadah kalian hanya untuk Allah. Takutlah akan hukumanNya dan siksaNya.Kaum muslimin !  waspadalah terhadap fitnah (bencana ) yang sangat membahayakan agama dan urusan dunia, membinasakan hamba di akhirat dan merusak penghidupannya di dunia ini. Maka orang yang selamat adalah orang yang menghindarkan dirinya dari fitnah.  Dan fitnah (bencana) yang paling besar adalah ketika seseorang rancu kepadanya kebenaran yang telah bercampur baur dengan kebatilan, petunjuk dengan kesesatan, amal kebajikan dengan kemungkaran, yang halal dengan yang haram. Nah kini fitnah itu telah mengacaukan negeri  dan penduduknya sehingga sebagian anak-anak muda kaum muslimin keluar dari tempat naungan dan lingkungan mereka yang aman dan kokoh, dari komunitas masyarakat yang santun beralih ke jalan pemikiran yang menyimpang dan sesat karena mengikuti dan loyal kepada kelompok khawarij masa kini yang menyeret mereka untuk mengkafirkan kaum muslimin dan menumpahkan darah tak berdosa, bahkan menfatwakan untuk meledakkan bom bunih diri – Naudzu billah-. Apakah mereka yang meledakkan dirinya itu mengira bahwa dengan perbuatannya itu akan masuk surga.?.  Apakah mereka tidak tahu bahwa orang yang bunuh diri itu tempatnya di neraka ?Tidakkah mereka mendengar atau membaca firman Allah  :وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا (29) وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (30)Janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha Pengasih terhadap kalian. Barangsiapa yang melakukan perbuatan itu karena melampaui batas dan aniaya, maka Kami akan masukkan dia ke dalam neraka. Dan yang demikian itu bagi Allah sangat mudah (QS An-Nisaa : 29-30)Apakah orang yang membunuh orang islam itu mengira bahwa perbuatannya itu menjadi penyebab dirinya masuk surga ?. Apakah dia tidak tahu bahwa membunuh seorang muslim itu menyebabkan dirinya kekal di neraka ? Apakah dia tidak mendengar atau membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala :وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًاBarangsiapa yang membunuh orang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya neraka Jahannam, kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya serta mengutuknya dan menyedikan baginya siksa yang besar (QS An-Nisaa : 93).Apakah tidak sampai kepadanya peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِBarangsiapa yang membunuh seorang kafir Mu’ahad ( yang terikat perjanjian damai ), maka ia tidak akan mencium aroma surga .Apakah mereka tidak mengambil pelajaran dari rekan-rekannya sebelumnya di mana mereka melanggar ketentuan-ketentuan Allah lalu akhirnya mereka menyesali perbuatan mereka pada saat penyesalan tidak lagi berguna dan orang-orang yang memperdayakan pun tidak mampu menyelamatkan mereka.  Katakan kepada orang yang menyuruh Anda meledakkan diri, supaya mereka meledakkan dirinya sendiri terlebih dahulu, dan ia tidak mungkin berani melakukannya sendiri, karena ia ingin mencampakkan diri Anda ke neraka. Ia ingin memerangi kaum muslimin melalui tangan Anda, mengacaukan keamanan dengan bantuan Anda, menciptakan huru hara melalui perbuatan Anda. Demikian pula kerusakan perusakan dan pertumpahan darah jiwa tak berdosa, mereka jadikan Anda sebagai alat dan mengeluarkan Anda dari masyarakat muslim dan pemimpin umat islam. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah berpesan :عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِHendaklah kalian tetap bersama jemaah kaum muslimin, barangsiapa yang menyendiri akan menyendiri pula di neraka ).Hamba Allah ! Sesungguhnya Allah dan malaikatNya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yag beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan sampaikan do’a keselamatan kepadanya.===========  Do’a   ===========Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com

DAHSYATNYA ISTIGHFAR

(Khutbah Jum’at 9/1/1437 H – 23/10/2015)Oleh Asy-Syaikh Ali Al-HudzaifiKhutbah PertamaSegala puji bagi Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang Maha mengetahui lagi maha bijaksana, pemberi karunia yang besar. Aku memuji Robbku dan aku bersyukur kepadaNya dan aku bertaubat kepadaNya dan beristighfar kepadaNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya –Pemilik ‘Arsy yang mulia-. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan RasulNya, pemilik akhlak yang agung. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad, dan kepada keluarganya serta para sahabatnya yang merupakan para da’i yang mendapatkan petunjuk menujuk kepada jalan yang lurus.Amma ba’du, maka bertakwalah kepada Allah dengan menjalankan apa yang diridoi oleh Allah dan meninggalkan apa yang diharamkanNya agar kalian meraih keridoanNya dan kenikmatan surgaNya, serta kalian selamat dari kemurkaanNya dan siksaanNya. Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya Robb kita yang Maha mulia telah memperbanyak pintu-pintu kebaikan dan jalan-jalan untuk beramal sholeh sebagai bentuk karunia, kasih sayang, kedermawanan, dan kebaikan Allah yang maha perkasa dan mulia. Agar seorang muslim masuk ke pintu kebaikan mana saja dan menempuh jalan ketaatan mana saja sehingga Allah memperbaiki kehidupan dunianya, dan mengangkat derajatnya di akhirat. Maka Allah akan memuliakannya dengan kehidupan yang baik dan penuh kebahagiaan, dan meraih kenikmatan yang abadi serta keridhoan Robbnya setelah kematiannya. Allah berfirman :فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌMaka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS Al-Baqoroh : 148)Dan Allah berfirman tentang para Nabi –’alaihis salam- yang merupakan teladan bagi manusiaإِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَSesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu´ kepada Kami (QS Al-Anbiyaa : 90)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Mu’adz radhiallahu ‘anhu :“Maukah aku tunjukan kepadamu pintu-pintu kebaikan?, puasa adalah perisai, dan sedekah memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api,  dan sholatnya seseorang di tengah malam, lalu Nabi membacakan firman Allah :تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (16) فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَLambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan (QS As-Sajdah 16-17)Kemudian Nabi berkata ; “Maukah aku kabarkan kepadamu tentang kepala agama ini dan tiangnya serta puncaknya?”Aku (Muadz) berkata : “Tentu wahai Rasulullah”Nabi berkata, “Kepala agama adalah Islam, dan tiangnya adalah sholat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah” (HR At-Tirmidzi dan dishahihkan olehnya)Diantara pintu-pintu kebaikan dan jalan-jalan ketaatan serta sebab-sebab penghapus dosa-dosa adalah beristighfar. Dan istighfar adalah sunnahnya para nabi dan rasul ‘alaihimus salam. Allah berfirman tentang dua nenek moyang manusia :قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَKeduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi (QS Al-A’rof : 23)Dan Allah berfirman tentang Nuh ‘alaihis salam :رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِYa Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. (Qs Nuuh : 28)Allah azza wa jalla berfirman tentang Al-Kholil (Ibrahim a.s) :رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُYa Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (Qs Ibrahim : 41)Allah berfirman tentang Musa a.s :قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَMusa berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang” (QS Al-A’raf : 151)Dan Allah berfirman :وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَDan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat (QS Shaad : 24)Allah berfirman seraya memerintahkan NabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam:فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِMaka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. (Qs Muhammad : 19)Diantara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah banyak beristighfar padahal Allah telah mengampuni bagi beliau dosa beliau yang telah lalu maupun yang akan datang. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma ia berkata :كُنَّا نَعُدُّ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ “رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ تَوَّابُ رَحِيْمٌ”“Kami menghitung dalam satu majelis seratus kali Rasulullah berucap : “Ya Allah ampuni aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha penerima taubat dan maha penyayang” (HR Abu Dawud dan At-Thirmidzi, dan ia berkata : Hadits hasan shahih).Dan dari Aisyah r.a ia berkata :“Rasulullah sebelum meninggalnya banyak mengucapkan :سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغِفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ(Aku mensucikan Allah dan memujiNya, Aku beristighfar kepadaNya dan bertaubat kepadaNya) (HR Al-Bukhari dan Muslim).Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih banyak dari pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mengucapkan :أَسْتَغِفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِAku beristighfar kepadaNya dan bertaubat kepadaNya (HR An-Nasaai).Dan Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam setelah salam dari sholat beliau berkata “Astaghfirullah” (Aku memohon ampunan Allah) sebanyak tiga kali” (HR Muslim dari Tsauban r.a), lalu setelah itu Nabi mengucapkan dzikir yang disyari’atkan setelah sholat.Istighfar merupakan kebiasaan orang-orang shalih dan amal orang-orang baik yang bertakwa, serta merupakan syi’ar kaum mukminin. Allah berfirman tentang mereka :الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (16) الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ(Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,  (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur (Qs Ali-‘Imron : 16-17)Dan Allah berfirman :وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَDan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui (QS Ali-Imron : 135)Ibnu Rojab rahimahullah berkata, “Adapun beristighfar dari dosa-dosa adalah adalah memohon ampunan, dan seorang hamba sangat membutuhkan ampunan Allah, karena ia berdosa siang dan malam, dan telah berulang-ulang dalam Al-Qur’an penyebutan taubat dan istighfar dan perintah untuk melakukan keduanya serta motivasi untuk melakukannya”Dan memohon ampunan kepada Rabb jalla wa ‘ala maka Allah menjanjikan untuk mengabulkan dan memberi ampunan.          Dan disyari’atkan seorang hamba memohon ampunan untuk dosa tertentu berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :إِنَّ عَبْدًا أَذْنَبَ ذَنْبًا فَقَالَ : يَا رَبِّ إِنِّي عَمِلْتُ ذَنْبًا فَاغْفِرْ لِي، فَقَالَ اللهُ : عَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ ربّاً يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي“Sesungguhnya seorang hamba berbuat suatu dosa, maka ia berkata : Ya Rabbku sesungguhnya aku melakukan suatu dosa maka ampunilah aku. Maka Allah berkata, “HambaKu tahu bahwasanya ia memiliki Robb yang mengampuni dosa dan menghukum karena dosa, maka sungguh aku telah mengampuni hambaKu” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah r.a)Sebagaimana juga disyari’atkan agar seorang hamba memohon ampunan (maghfiroh) secara mutlak yaitu dengan berkataرَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي“Ya Allah ampuni aku dan rahmatilah aku”Allah berfirman :وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَDan katakanlah: “Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik” (QS Al-Mukminun : 118)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada seseorang jika ia masuk Islam agar ia berdoa dengan doa berikut :اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَعَافِنِي وَارْزُقْنِي“Ya Allah ampuni aku, rahmatilah aku, berilah petunjuk kepadaku, sehatkanlah tubuhku, dan berilah rizki kepadaku” (HR Muslim dari hadits Thariq bin Usyaim r.a.)Sebagaiman disyari’atkan bagi seorang hamba untuk memohon dari Robnya ampunan bagi seluruh dosa-dosanya apa yang ia ketahui dana yang ia tidak ketahui dari dosa-dosanya tersebut. Karena banyak dari dosa yang ia tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah sementara hamba dihukum karenanya.Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau berdoa dengan doa berikut ini :«اللهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي جِدِّي وَهَزْلِي، وَخَطَئِي وَعَمْدِي، وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ»“Ya Allah ampunilah bagiku dosa karena kesalahanku, dosa karena kebodohanku, sikap berlebihanku dalam urusanku, dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku, Ya Allah ampunilah bagiku dosa yang karena yang kulakukan dengan sungguh-sungguh, dosa karena candaku, dosa karena ketidak sengajaanku, dosa karena kesengajaanku, dan itu semua ada pada diriku. Ya Allah ampunilah dosa-dosakua yang telah lalu dan yang akan datang, dosa yang kulakukan dengan sembunyi-sembunyi dan yang aku lakukan terang-terangan, dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya dari pada aku. Engkau adalah yang menentukan maju atau mundurnya, dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihin wasallam :الشِّرْكُ فِي هَذِهِ الأُمَّةِ أَخْفَى مِنْ دَبِيْبِ النَّمْلِ“Kesyirikan pada umat ini lebih samar daripada rayapan semut”. Maka Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berkata,فَكَيْفَ الْخَلاَصُ مِنْهُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟“Bagaimana cara selamat darinya wahai Rasulullah?”.Nabi berkata, “Hendaknya engkau berdoa :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا وَأَنَا أَعْلَمُهُ وَأَسْتَغْفِرُكَ مِنَ الذَّنْبِ الَّذِي لاَ أَعْلَمُ“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari berbuat syirik apapun kepadaMu yang aku  mengetahuinya dan aku memohon ampunan kepadaMu dari dosa yang aku tidak mengetahuinya” (HR Ibnu Hibban dari hadits Abu Bakar, dan Ahmad dari hadits Abu Musa).Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau berdoa :اللهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ، وَجِلَّهُ، خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ وَسِرَّهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ“Ya Allah ampunilah dosaku seluruhnya, yang kecil dan yang besar, yang tanpa sengaja maupun yang disengaja, yang tersembunyi maupun yang tampak, yang awal dan yang terakhir” (HR Muslim dan Abu Dawud)Jika seorang hamba memohon kepada Robbnya ampunan dosa-dosanya dengan doa yang ikhlas dan penuh permohonan serta permintaan penuh ketundukan dan kehinaan maka mencakup taubat dari dosa-dosa.Dan memohon taubat serta bimbingan untuk taubat mencakup istighfar, maka istighfar dan taubat jika disebutkan masing-masing sendirian maka mencakup yang lainnya. Dan jika disebutkan keduanya (secara bersamaan) dalam nash-nash maka makna istighfar adalah memohon dihapuskannya dosa-dosa dan dihilangkannya sisa dan dampaknya serta memohon perlindungan dari buruknya dosa-dosa yang telah lalu serta agar ditutup. Dan taubat maknanya adalah kembali kepada Allah dengan meninggalkan dosa-dosa dan memohon perlindungan dari apa yang dikhawatirkan di kemudian hari dari keburukan-keburukan amalannya serta tekad untuk tidak kembali melakukannya lagi.Dan telah dikumpulkan antara istighfar dan taubat dalam firman Allah :وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍDan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat (QS Huud :3) dan ayat-ayat lainnya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :يَا أَيُّهَا النَّاسُ ! تُوْبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَاسْتَغْفِرُوْهُ، فَإِنِّي أَتُوْبُ إِلى اللهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai manusia ! bertobatlah kalian kepada Tuhan kalian dan mintalah ampun kepadaNya. Sesungguhnya aku sendiri bertobat kepada Allah dan memohon ampunanNya setiap hari Seratus kali “. HR An-Nasai dari hadis Al-Muzani radhiyallahu ‘anhuSeorang hamba seharusnya selalu sangat butuh untuk memohon ampun kepada Allah, terutama di zaman seperti sekarang ini karena bermacam-macam cobaan lantaran banyaknya dosa dan fitnah, sehingga Allah membimbingnya dalam kehidupannya dan setelah matinya serta memperbaiki urusannya. Sesungguhnya istighfar merupakan pintu masuk segala kebaikan dan benteng dari segala keburukan berikut  hukumannya. Maka umat ini sangat perlu beristighfar secara terus menerus agar Allah mengangkat bencana yang menimpa umat ini, dan menghapuskan sanksi hukuman yang akan dijatuhkan. Tidak ada yang enggan beristighfar kecuali orang yang tidak memahami manfaatnya dan keberkahannya. Al-Qur’an dan As-Sunnah telah banyak menjelaskan tentang keutamaan istighfar.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nabi Salih a.s. :قَالَ يَاقَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“ Dia [Shalih] berkata, “ Hai kaumku ! Mengapa kalian meminta disegerakan suatu keburukan sebelum kebaikan, mengapakah kalian tidak memohon ampun kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat “.(QS An-Naml : 46)Maka dengan Istighfar, turunlah rahmat Allah kepada umat ini.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nuh a.s. :فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا “Mintalah ampun kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Supaya Dia menurunkan kepada kalian hujan deras dari langit. Dan mengirim bantuan kepada kalian [berupa] harta benda dan [keturunan] anak-anak lelaki serta menjadikan untuk kalian kebun-kebun dan sungai-sungai. (QS Nuuh : 10-12)Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nabi Hud, a.s. :وَيَاقَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ“Wahai kaumku ! mohonlah ampun kepada Tuhan kalian kemudian bertobatlah kalian kepadaNya, niscaya Dia akan mengirimkan hujan deras kepada kalian dan menambah kekuatan lebih dari kekuatan yang ada pada kalian, dan janganlah kalian berpaling sebagai orang-orang yang berdosa”. (QS Huud : 52)Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ “Tidaklah mungkin Allah menghukum mereka sementara engkau berada di tengah-tengah mereka, dan tidak mungkin pula Allah menghukum mereka sementara mereka sedang beristighfar “ (QS Al-Anfaal : 33)Abu Musa berkata  : “Kalian dahulu mendapatkan dua jaminan keamanan; Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka telah wafat, namun istighfar tetap ada pada kalian hingga hari Kiamat.Seringnya istighfar yang dilakukan umat ini dapat mengangkat bencana yang telah terjadi dan menolak bencana yang akan terjadi. Tiada suatu bencana yang melanda kecuali disebabkan suatu dosa manusia, dan tidak ada cara lain menghilangkan bencana kecuali bertobat dan beristighfar”.Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“ Barangsiapa yang selalu beristighfar, maka Allah menjadikan baginya pada setiap kesempitan suatu solusi, dan setiap keprihatinan suatu jalan keluar, dan Allah memberinya rezeki dari jalan yang tak terduga”). HR Abu Dawud.Telah datang dari Nabi Saw. sabda-sabda beliau yang terjaga yang penuh berkah tentang Istighfar, dimana istighfar mendatangkan pahala yang besar. Antara lain sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :مَنْ قَالَ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ“Barangsiapa mengucapkan kalimat : Aku memohon ampun kepada Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Yang Mengayomi. Aku bertobat kepadaNya, maka diampuni dosa-dosanya meskipun ia pernah lari dari barisan perang”. HR Abu Dawud  dan At-Turmuzi dan Al-Hakim. Dikatakannya, sebagai hadis Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim.Dari Abi Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ قَالَ حِينَ يَأْوِي إِلَى فِرَاشِهِ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِله إِلا هوَ الحيَّ القيومَ وأتوبُ إِليهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ أَوْ عَدَدَ رَمْلِ عَالَجٍ أَوْ عَدَدَ وَرَقِ الشَّجَرِ أَوْ عَدَدَ أَيَّامِ الدُّنْيَا“Barangsiapa berucap ketika hendak  menuju tempat tidurnya, “Aku memohon ampun kepada Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Yang Mengayomi. Aku bertobat kepadaNya tiga kali, maka Allah ampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di laut ). HR At-Turmuzi.Dari Ubadah Bin As-Shamit radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ: رَبِّ اغْفِرْ لِي أَوْ قَالَ: ثمَّ دَعَا استيجيب لَهُ فَإِنْ تَوَضَّأَ وَصَلَّى قُبِلَتْ صَلَاتُهُ“Barangsiapa yang terjaga di malam hari lalu mengucapkan zikir, “ Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Hanya milikNya kerajaan dan hanya milikNya pula segala pujian. Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa. Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah. Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah ampunilah aku. Lalu berdo’a, niscaya dikabulkan do’anya. Jika dia shalat, niscaya diterima shalatnya”. (HR Bukhari).Disebutkan dalam hadis pula :من قال صبيحة يوم الجمعة قبل صلاة الغداة: أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه ثلاث مرات غفر الله تعالى ذنوبه ولو كانت مثل زبد البحر“Barangsiapa yang berzikir sebelum terbitnya fajar hari Jum’at, “Aku memohon ampun kepada Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Yang Mengayomi. Aku bertobat kepadaNya Tiga kali, maka diampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di laut”.Diriwayatkan dari Syaddad Bin Aus  radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :Penghulu Istighfar adalah ucapan seorang hamba :سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعَتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ “. قَالَ: «وَمَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ»“Ya Allah, Engkau Tuhanku, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau telah ciptakan diriku, dan aku hambaMu, aku tetap setia memegang janjiMu dengan segala kemampuanku, aku berlindung kepadaMu dari kejahatan perbuatanku, aku mengakui besarnya nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Barangsiapa yang mengucapkannya di siang hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum menjelang sore, maka masuklah ia ke dalam surga. Dan barangsiapa yang mengucapkannya di malam hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum menjelang pagi, maka diapun termasuk penghuni surga”. (HR Bukhari)Dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :يَا ابنَ آدمَ إِنَّك لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي“Wahai anak Adam, Andaikata dosa-dosamu telah mencapai setinggi langit lalu maku meminta ampun kepadaKu, Akupun mengampunimu tanpa mempedulikan”  (HR Turmuzi. Dikatakannya sebagai hadis hasan).Sebagaimana pula seseorang diperintahkan beristighfar ketika sedang melaksanakan ibadah dan ketika selesai beribadah untuk menutup kekurangan yang terjadi, serta menghindari rasa ujub (bangga diri) dan riya’.  Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌKemudian bertolaklah kalian dari tempat di mana orang-orang lainnya bertolak dan mintalah ampun kalian kepada Allah, sesungguhnya ALLAH Maha Pengampun dan Maha Pemurah. (QS Al-Baqoroh : 199)Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌDirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah dengan suatu pinjaman yang baik. Apapun kebaikan yang kalian lakukan untuk diri kalian, niscaya akan kalian dapatkannya di sisi Allah suatu balasan yang lebih baik dan pahala yang lebih besar. Dan mintalah ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Pemurah (QS Al-Muzammil ; 20)Sebagaimana disyariatkan juga seorang muslim memintakan ampun untuk kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, sebagai suatu persembahan amal baik dan rasa cinta yang tulus kepada mereka yang seagama dan sebagai syafaat bagi mereka di sisi Allah.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌDan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa, “Ya Tuhan kami ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam iman, janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dendam terhadap orang-orang yang beriman, Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyayang dan Pemurah (QS Al-Hasyr : 10)Dari Ubadah Bin Shamit radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda :مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلِلْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةًBarangsiapa yang memintakan ampun untuk orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan, maka Allah subhanahu wa ta’ala mencatat baginya suatu kebaikan sebanyak  orang mukmin lelaki dan perempuan (Al-Haitsami berkata : Isnad hadis ini adalah Jayyid ( bagus ),Istighfar yang dimaksud seperti ketika mendoakan mereka dalam shalat Jenazah dan memintakan ampun untuk mereka  yang ada di alam kubur ketika berziarah kuburDan memohonkan ampunan bagi kaum mukminin adalah untuk meneladani para Malaikat pembawa Arasy dan Malaikat Muqarrabin.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman  :الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ“Mereka [malaikat] pemikul Arasy di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhan mereka, dan beriman kepadaNya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman, “ Ya Tuhan kami, Engkau meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan pengetahuan, maka ampunilah orang-orang bertobat dan mengikuti jalanMu, lindunginlah mereka dari siksa neraka Jahim” (QS Ghofir : 7)Dan ini merupakan bentuk berbuat baik yang besar untuk kaum mukminin. Wahai hamba-hamba Allah. Laksanakanlah perintah TuhanMu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam hadis Qudsi :يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ“Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian semua berbuat salah di malam dan siang hari, sedangkan Aku mengampuni segala dosa, maka mohonlah ampun kepadaKu, niscaya Aku mengampuni kalian semua “ (HR Muslim dari hadis Abi Zar).Maka, bersungguh-sungguhlah kalian beristighfar kepada Allah, niscaya akan kalian rasakan kemurahan dan keberkahan Allah Swt, akan kalian rasakan pula pengaruhnya pada penghapusan dosa dan terangkatnya derajat kalian.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ“Demi Allah yang jiwaku ada pada genggamanNya, seandainya kalian tidak berbuat dosa niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan mendatangkan kaum lain yang berbuat dosa lalu mereka memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala lalu Allah mengampuni mereka”. (HR Muslim)Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala Maha luas ampunanNya, Maha Pemurah dan Maha Mulia.Firman Allah  :وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًاBarangsiapa yang melakukan suatu kejahatan atau berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri lalu memohon ampun kepada Allah, niscaya ia dapatkan Allah Maha Pengampun dan Maha Pemurah (QS An-Nisaa : 110).Semoga Allah mencurahkan keberkahan atas kita semua berkat Al-Qur’an yang agung.==================Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah, Maha Pengampun dosa, Maha Penerima tobat, Yang Maha keras siksaNya, Yang mempunya karunia, tiada Tuhan yang berhak disembah kesuali Dia. Kepadanya segalanya akan kembali. Aku memuji Tuhanku dan bersyukur kepadaNya atas anugerahNya yang agung. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan Selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya, Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa. Aku bersaksi bahwa Nabi kita dan junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Hamba Allah dan Rasul-Nya, sebagai Pemberi kabar gembira dan peringatan bagaikan pelita yang menerangi. Ya Allah curahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada HambaMu dan RasulMu, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya, Bertakwalah kepada Tuhan kalian dan murnikanlah ibadah kalian hanya untuk Allah. Takutlah akan hukumanNya dan siksaNya.Kaum muslimin !  waspadalah terhadap fitnah (bencana ) yang sangat membahayakan agama dan urusan dunia, membinasakan hamba di akhirat dan merusak penghidupannya di dunia ini. Maka orang yang selamat adalah orang yang menghindarkan dirinya dari fitnah.  Dan fitnah (bencana) yang paling besar adalah ketika seseorang rancu kepadanya kebenaran yang telah bercampur baur dengan kebatilan, petunjuk dengan kesesatan, amal kebajikan dengan kemungkaran, yang halal dengan yang haram. Nah kini fitnah itu telah mengacaukan negeri  dan penduduknya sehingga sebagian anak-anak muda kaum muslimin keluar dari tempat naungan dan lingkungan mereka yang aman dan kokoh, dari komunitas masyarakat yang santun beralih ke jalan pemikiran yang menyimpang dan sesat karena mengikuti dan loyal kepada kelompok khawarij masa kini yang menyeret mereka untuk mengkafirkan kaum muslimin dan menumpahkan darah tak berdosa, bahkan menfatwakan untuk meledakkan bom bunih diri – Naudzu billah-. Apakah mereka yang meledakkan dirinya itu mengira bahwa dengan perbuatannya itu akan masuk surga.?.  Apakah mereka tidak tahu bahwa orang yang bunuh diri itu tempatnya di neraka ?Tidakkah mereka mendengar atau membaca firman Allah  :وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا (29) وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (30)Janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha Pengasih terhadap kalian. Barangsiapa yang melakukan perbuatan itu karena melampaui batas dan aniaya, maka Kami akan masukkan dia ke dalam neraka. Dan yang demikian itu bagi Allah sangat mudah (QS An-Nisaa : 29-30)Apakah orang yang membunuh orang islam itu mengira bahwa perbuatannya itu menjadi penyebab dirinya masuk surga ?. Apakah dia tidak tahu bahwa membunuh seorang muslim itu menyebabkan dirinya kekal di neraka ? Apakah dia tidak mendengar atau membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala :وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًاBarangsiapa yang membunuh orang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya neraka Jahannam, kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya serta mengutuknya dan menyedikan baginya siksa yang besar (QS An-Nisaa : 93).Apakah tidak sampai kepadanya peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِBarangsiapa yang membunuh seorang kafir Mu’ahad ( yang terikat perjanjian damai ), maka ia tidak akan mencium aroma surga .Apakah mereka tidak mengambil pelajaran dari rekan-rekannya sebelumnya di mana mereka melanggar ketentuan-ketentuan Allah lalu akhirnya mereka menyesali perbuatan mereka pada saat penyesalan tidak lagi berguna dan orang-orang yang memperdayakan pun tidak mampu menyelamatkan mereka.  Katakan kepada orang yang menyuruh Anda meledakkan diri, supaya mereka meledakkan dirinya sendiri terlebih dahulu, dan ia tidak mungkin berani melakukannya sendiri, karena ia ingin mencampakkan diri Anda ke neraka. Ia ingin memerangi kaum muslimin melalui tangan Anda, mengacaukan keamanan dengan bantuan Anda, menciptakan huru hara melalui perbuatan Anda. Demikian pula kerusakan perusakan dan pertumpahan darah jiwa tak berdosa, mereka jadikan Anda sebagai alat dan mengeluarkan Anda dari masyarakat muslim dan pemimpin umat islam. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah berpesan :عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِHendaklah kalian tetap bersama jemaah kaum muslimin, barangsiapa yang menyendiri akan menyendiri pula di neraka ).Hamba Allah ! Sesungguhnya Allah dan malaikatNya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yag beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan sampaikan do’a keselamatan kepadanya.===========  Do’a   ===========Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
(Khutbah Jum’at 9/1/1437 H – 23/10/2015)Oleh Asy-Syaikh Ali Al-HudzaifiKhutbah PertamaSegala puji bagi Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang Maha mengetahui lagi maha bijaksana, pemberi karunia yang besar. Aku memuji Robbku dan aku bersyukur kepadaNya dan aku bertaubat kepadaNya dan beristighfar kepadaNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya –Pemilik ‘Arsy yang mulia-. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan RasulNya, pemilik akhlak yang agung. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad, dan kepada keluarganya serta para sahabatnya yang merupakan para da’i yang mendapatkan petunjuk menujuk kepada jalan yang lurus.Amma ba’du, maka bertakwalah kepada Allah dengan menjalankan apa yang diridoi oleh Allah dan meninggalkan apa yang diharamkanNya agar kalian meraih keridoanNya dan kenikmatan surgaNya, serta kalian selamat dari kemurkaanNya dan siksaanNya. Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya Robb kita yang Maha mulia telah memperbanyak pintu-pintu kebaikan dan jalan-jalan untuk beramal sholeh sebagai bentuk karunia, kasih sayang, kedermawanan, dan kebaikan Allah yang maha perkasa dan mulia. Agar seorang muslim masuk ke pintu kebaikan mana saja dan menempuh jalan ketaatan mana saja sehingga Allah memperbaiki kehidupan dunianya, dan mengangkat derajatnya di akhirat. Maka Allah akan memuliakannya dengan kehidupan yang baik dan penuh kebahagiaan, dan meraih kenikmatan yang abadi serta keridhoan Robbnya setelah kematiannya. Allah berfirman :فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌMaka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS Al-Baqoroh : 148)Dan Allah berfirman tentang para Nabi –’alaihis salam- yang merupakan teladan bagi manusiaإِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَSesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu´ kepada Kami (QS Al-Anbiyaa : 90)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Mu’adz radhiallahu ‘anhu :“Maukah aku tunjukan kepadamu pintu-pintu kebaikan?, puasa adalah perisai, dan sedekah memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api,  dan sholatnya seseorang di tengah malam, lalu Nabi membacakan firman Allah :تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (16) فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَLambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan (QS As-Sajdah 16-17)Kemudian Nabi berkata ; “Maukah aku kabarkan kepadamu tentang kepala agama ini dan tiangnya serta puncaknya?”Aku (Muadz) berkata : “Tentu wahai Rasulullah”Nabi berkata, “Kepala agama adalah Islam, dan tiangnya adalah sholat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah” (HR At-Tirmidzi dan dishahihkan olehnya)Diantara pintu-pintu kebaikan dan jalan-jalan ketaatan serta sebab-sebab penghapus dosa-dosa adalah beristighfar. Dan istighfar adalah sunnahnya para nabi dan rasul ‘alaihimus salam. Allah berfirman tentang dua nenek moyang manusia :قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَKeduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi (QS Al-A’rof : 23)Dan Allah berfirman tentang Nuh ‘alaihis salam :رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِYa Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. (Qs Nuuh : 28)Allah azza wa jalla berfirman tentang Al-Kholil (Ibrahim a.s) :رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُYa Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (Qs Ibrahim : 41)Allah berfirman tentang Musa a.s :قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَMusa berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang” (QS Al-A’raf : 151)Dan Allah berfirman :وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَDan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat (QS Shaad : 24)Allah berfirman seraya memerintahkan NabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam:فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِMaka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. (Qs Muhammad : 19)Diantara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah banyak beristighfar padahal Allah telah mengampuni bagi beliau dosa beliau yang telah lalu maupun yang akan datang. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma ia berkata :كُنَّا نَعُدُّ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ “رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ تَوَّابُ رَحِيْمٌ”“Kami menghitung dalam satu majelis seratus kali Rasulullah berucap : “Ya Allah ampuni aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha penerima taubat dan maha penyayang” (HR Abu Dawud dan At-Thirmidzi, dan ia berkata : Hadits hasan shahih).Dan dari Aisyah r.a ia berkata :“Rasulullah sebelum meninggalnya banyak mengucapkan :سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغِفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ(Aku mensucikan Allah dan memujiNya, Aku beristighfar kepadaNya dan bertaubat kepadaNya) (HR Al-Bukhari dan Muslim).Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih banyak dari pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mengucapkan :أَسْتَغِفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِAku beristighfar kepadaNya dan bertaubat kepadaNya (HR An-Nasaai).Dan Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam setelah salam dari sholat beliau berkata “Astaghfirullah” (Aku memohon ampunan Allah) sebanyak tiga kali” (HR Muslim dari Tsauban r.a), lalu setelah itu Nabi mengucapkan dzikir yang disyari’atkan setelah sholat.Istighfar merupakan kebiasaan orang-orang shalih dan amal orang-orang baik yang bertakwa, serta merupakan syi’ar kaum mukminin. Allah berfirman tentang mereka :الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (16) الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ(Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,  (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur (Qs Ali-‘Imron : 16-17)Dan Allah berfirman :وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَDan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui (QS Ali-Imron : 135)Ibnu Rojab rahimahullah berkata, “Adapun beristighfar dari dosa-dosa adalah adalah memohon ampunan, dan seorang hamba sangat membutuhkan ampunan Allah, karena ia berdosa siang dan malam, dan telah berulang-ulang dalam Al-Qur’an penyebutan taubat dan istighfar dan perintah untuk melakukan keduanya serta motivasi untuk melakukannya”Dan memohon ampunan kepada Rabb jalla wa ‘ala maka Allah menjanjikan untuk mengabulkan dan memberi ampunan.          Dan disyari’atkan seorang hamba memohon ampunan untuk dosa tertentu berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :إِنَّ عَبْدًا أَذْنَبَ ذَنْبًا فَقَالَ : يَا رَبِّ إِنِّي عَمِلْتُ ذَنْبًا فَاغْفِرْ لِي، فَقَالَ اللهُ : عَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ ربّاً يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي“Sesungguhnya seorang hamba berbuat suatu dosa, maka ia berkata : Ya Rabbku sesungguhnya aku melakukan suatu dosa maka ampunilah aku. Maka Allah berkata, “HambaKu tahu bahwasanya ia memiliki Robb yang mengampuni dosa dan menghukum karena dosa, maka sungguh aku telah mengampuni hambaKu” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah r.a)Sebagaimana juga disyari’atkan agar seorang hamba memohon ampunan (maghfiroh) secara mutlak yaitu dengan berkataرَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي“Ya Allah ampuni aku dan rahmatilah aku”Allah berfirman :وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَDan katakanlah: “Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik” (QS Al-Mukminun : 118)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada seseorang jika ia masuk Islam agar ia berdoa dengan doa berikut :اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَعَافِنِي وَارْزُقْنِي“Ya Allah ampuni aku, rahmatilah aku, berilah petunjuk kepadaku, sehatkanlah tubuhku, dan berilah rizki kepadaku” (HR Muslim dari hadits Thariq bin Usyaim r.a.)Sebagaiman disyari’atkan bagi seorang hamba untuk memohon dari Robnya ampunan bagi seluruh dosa-dosanya apa yang ia ketahui dana yang ia tidak ketahui dari dosa-dosanya tersebut. Karena banyak dari dosa yang ia tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah sementara hamba dihukum karenanya.Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau berdoa dengan doa berikut ini :«اللهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي جِدِّي وَهَزْلِي، وَخَطَئِي وَعَمْدِي، وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ»“Ya Allah ampunilah bagiku dosa karena kesalahanku, dosa karena kebodohanku, sikap berlebihanku dalam urusanku, dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku, Ya Allah ampunilah bagiku dosa yang karena yang kulakukan dengan sungguh-sungguh, dosa karena candaku, dosa karena ketidak sengajaanku, dosa karena kesengajaanku, dan itu semua ada pada diriku. Ya Allah ampunilah dosa-dosakua yang telah lalu dan yang akan datang, dosa yang kulakukan dengan sembunyi-sembunyi dan yang aku lakukan terang-terangan, dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya dari pada aku. Engkau adalah yang menentukan maju atau mundurnya, dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihin wasallam :الشِّرْكُ فِي هَذِهِ الأُمَّةِ أَخْفَى مِنْ دَبِيْبِ النَّمْلِ“Kesyirikan pada umat ini lebih samar daripada rayapan semut”. Maka Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berkata,فَكَيْفَ الْخَلاَصُ مِنْهُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟“Bagaimana cara selamat darinya wahai Rasulullah?”.Nabi berkata, “Hendaknya engkau berdoa :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا وَأَنَا أَعْلَمُهُ وَأَسْتَغْفِرُكَ مِنَ الذَّنْبِ الَّذِي لاَ أَعْلَمُ“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari berbuat syirik apapun kepadaMu yang aku  mengetahuinya dan aku memohon ampunan kepadaMu dari dosa yang aku tidak mengetahuinya” (HR Ibnu Hibban dari hadits Abu Bakar, dan Ahmad dari hadits Abu Musa).Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau berdoa :اللهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ، وَجِلَّهُ، خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ وَسِرَّهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ“Ya Allah ampunilah dosaku seluruhnya, yang kecil dan yang besar, yang tanpa sengaja maupun yang disengaja, yang tersembunyi maupun yang tampak, yang awal dan yang terakhir” (HR Muslim dan Abu Dawud)Jika seorang hamba memohon kepada Robbnya ampunan dosa-dosanya dengan doa yang ikhlas dan penuh permohonan serta permintaan penuh ketundukan dan kehinaan maka mencakup taubat dari dosa-dosa.Dan memohon taubat serta bimbingan untuk taubat mencakup istighfar, maka istighfar dan taubat jika disebutkan masing-masing sendirian maka mencakup yang lainnya. Dan jika disebutkan keduanya (secara bersamaan) dalam nash-nash maka makna istighfar adalah memohon dihapuskannya dosa-dosa dan dihilangkannya sisa dan dampaknya serta memohon perlindungan dari buruknya dosa-dosa yang telah lalu serta agar ditutup. Dan taubat maknanya adalah kembali kepada Allah dengan meninggalkan dosa-dosa dan memohon perlindungan dari apa yang dikhawatirkan di kemudian hari dari keburukan-keburukan amalannya serta tekad untuk tidak kembali melakukannya lagi.Dan telah dikumpulkan antara istighfar dan taubat dalam firman Allah :وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍDan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat (QS Huud :3) dan ayat-ayat lainnya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :يَا أَيُّهَا النَّاسُ ! تُوْبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَاسْتَغْفِرُوْهُ، فَإِنِّي أَتُوْبُ إِلى اللهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai manusia ! bertobatlah kalian kepada Tuhan kalian dan mintalah ampun kepadaNya. Sesungguhnya aku sendiri bertobat kepada Allah dan memohon ampunanNya setiap hari Seratus kali “. HR An-Nasai dari hadis Al-Muzani radhiyallahu ‘anhuSeorang hamba seharusnya selalu sangat butuh untuk memohon ampun kepada Allah, terutama di zaman seperti sekarang ini karena bermacam-macam cobaan lantaran banyaknya dosa dan fitnah, sehingga Allah membimbingnya dalam kehidupannya dan setelah matinya serta memperbaiki urusannya. Sesungguhnya istighfar merupakan pintu masuk segala kebaikan dan benteng dari segala keburukan berikut  hukumannya. Maka umat ini sangat perlu beristighfar secara terus menerus agar Allah mengangkat bencana yang menimpa umat ini, dan menghapuskan sanksi hukuman yang akan dijatuhkan. Tidak ada yang enggan beristighfar kecuali orang yang tidak memahami manfaatnya dan keberkahannya. Al-Qur’an dan As-Sunnah telah banyak menjelaskan tentang keutamaan istighfar.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nabi Salih a.s. :قَالَ يَاقَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“ Dia [Shalih] berkata, “ Hai kaumku ! Mengapa kalian meminta disegerakan suatu keburukan sebelum kebaikan, mengapakah kalian tidak memohon ampun kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat “.(QS An-Naml : 46)Maka dengan Istighfar, turunlah rahmat Allah kepada umat ini.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nuh a.s. :فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا “Mintalah ampun kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Supaya Dia menurunkan kepada kalian hujan deras dari langit. Dan mengirim bantuan kepada kalian [berupa] harta benda dan [keturunan] anak-anak lelaki serta menjadikan untuk kalian kebun-kebun dan sungai-sungai. (QS Nuuh : 10-12)Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nabi Hud, a.s. :وَيَاقَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ“Wahai kaumku ! mohonlah ampun kepada Tuhan kalian kemudian bertobatlah kalian kepadaNya, niscaya Dia akan mengirimkan hujan deras kepada kalian dan menambah kekuatan lebih dari kekuatan yang ada pada kalian, dan janganlah kalian berpaling sebagai orang-orang yang berdosa”. (QS Huud : 52)Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ “Tidaklah mungkin Allah menghukum mereka sementara engkau berada di tengah-tengah mereka, dan tidak mungkin pula Allah menghukum mereka sementara mereka sedang beristighfar “ (QS Al-Anfaal : 33)Abu Musa berkata  : “Kalian dahulu mendapatkan dua jaminan keamanan; Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka telah wafat, namun istighfar tetap ada pada kalian hingga hari Kiamat.Seringnya istighfar yang dilakukan umat ini dapat mengangkat bencana yang telah terjadi dan menolak bencana yang akan terjadi. Tiada suatu bencana yang melanda kecuali disebabkan suatu dosa manusia, dan tidak ada cara lain menghilangkan bencana kecuali bertobat dan beristighfar”.Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“ Barangsiapa yang selalu beristighfar, maka Allah menjadikan baginya pada setiap kesempitan suatu solusi, dan setiap keprihatinan suatu jalan keluar, dan Allah memberinya rezeki dari jalan yang tak terduga”). HR Abu Dawud.Telah datang dari Nabi Saw. sabda-sabda beliau yang terjaga yang penuh berkah tentang Istighfar, dimana istighfar mendatangkan pahala yang besar. Antara lain sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :مَنْ قَالَ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ“Barangsiapa mengucapkan kalimat : Aku memohon ampun kepada Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Yang Mengayomi. Aku bertobat kepadaNya, maka diampuni dosa-dosanya meskipun ia pernah lari dari barisan perang”. HR Abu Dawud  dan At-Turmuzi dan Al-Hakim. Dikatakannya, sebagai hadis Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim.Dari Abi Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ قَالَ حِينَ يَأْوِي إِلَى فِرَاشِهِ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِله إِلا هوَ الحيَّ القيومَ وأتوبُ إِليهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ أَوْ عَدَدَ رَمْلِ عَالَجٍ أَوْ عَدَدَ وَرَقِ الشَّجَرِ أَوْ عَدَدَ أَيَّامِ الدُّنْيَا“Barangsiapa berucap ketika hendak  menuju tempat tidurnya, “Aku memohon ampun kepada Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Yang Mengayomi. Aku bertobat kepadaNya tiga kali, maka Allah ampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di laut ). HR At-Turmuzi.Dari Ubadah Bin As-Shamit radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ: رَبِّ اغْفِرْ لِي أَوْ قَالَ: ثمَّ دَعَا استيجيب لَهُ فَإِنْ تَوَضَّأَ وَصَلَّى قُبِلَتْ صَلَاتُهُ“Barangsiapa yang terjaga di malam hari lalu mengucapkan zikir, “ Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Hanya milikNya kerajaan dan hanya milikNya pula segala pujian. Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa. Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah. Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah ampunilah aku. Lalu berdo’a, niscaya dikabulkan do’anya. Jika dia shalat, niscaya diterima shalatnya”. (HR Bukhari).Disebutkan dalam hadis pula :من قال صبيحة يوم الجمعة قبل صلاة الغداة: أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه ثلاث مرات غفر الله تعالى ذنوبه ولو كانت مثل زبد البحر“Barangsiapa yang berzikir sebelum terbitnya fajar hari Jum’at, “Aku memohon ampun kepada Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Yang Mengayomi. Aku bertobat kepadaNya Tiga kali, maka diampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di laut”.Diriwayatkan dari Syaddad Bin Aus  radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :Penghulu Istighfar adalah ucapan seorang hamba :سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعَتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ “. قَالَ: «وَمَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ»“Ya Allah, Engkau Tuhanku, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau telah ciptakan diriku, dan aku hambaMu, aku tetap setia memegang janjiMu dengan segala kemampuanku, aku berlindung kepadaMu dari kejahatan perbuatanku, aku mengakui besarnya nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Barangsiapa yang mengucapkannya di siang hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum menjelang sore, maka masuklah ia ke dalam surga. Dan barangsiapa yang mengucapkannya di malam hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum menjelang pagi, maka diapun termasuk penghuni surga”. (HR Bukhari)Dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :يَا ابنَ آدمَ إِنَّك لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي“Wahai anak Adam, Andaikata dosa-dosamu telah mencapai setinggi langit lalu maku meminta ampun kepadaKu, Akupun mengampunimu tanpa mempedulikan”  (HR Turmuzi. Dikatakannya sebagai hadis hasan).Sebagaimana pula seseorang diperintahkan beristighfar ketika sedang melaksanakan ibadah dan ketika selesai beribadah untuk menutup kekurangan yang terjadi, serta menghindari rasa ujub (bangga diri) dan riya’.  Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌKemudian bertolaklah kalian dari tempat di mana orang-orang lainnya bertolak dan mintalah ampun kalian kepada Allah, sesungguhnya ALLAH Maha Pengampun dan Maha Pemurah. (QS Al-Baqoroh : 199)Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌDirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah dengan suatu pinjaman yang baik. Apapun kebaikan yang kalian lakukan untuk diri kalian, niscaya akan kalian dapatkannya di sisi Allah suatu balasan yang lebih baik dan pahala yang lebih besar. Dan mintalah ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Pemurah (QS Al-Muzammil ; 20)Sebagaimana disyariatkan juga seorang muslim memintakan ampun untuk kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, sebagai suatu persembahan amal baik dan rasa cinta yang tulus kepada mereka yang seagama dan sebagai syafaat bagi mereka di sisi Allah.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌDan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa, “Ya Tuhan kami ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam iman, janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dendam terhadap orang-orang yang beriman, Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyayang dan Pemurah (QS Al-Hasyr : 10)Dari Ubadah Bin Shamit radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda :مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلِلْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةًBarangsiapa yang memintakan ampun untuk orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan, maka Allah subhanahu wa ta’ala mencatat baginya suatu kebaikan sebanyak  orang mukmin lelaki dan perempuan (Al-Haitsami berkata : Isnad hadis ini adalah Jayyid ( bagus ),Istighfar yang dimaksud seperti ketika mendoakan mereka dalam shalat Jenazah dan memintakan ampun untuk mereka  yang ada di alam kubur ketika berziarah kuburDan memohonkan ampunan bagi kaum mukminin adalah untuk meneladani para Malaikat pembawa Arasy dan Malaikat Muqarrabin.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman  :الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ“Mereka [malaikat] pemikul Arasy di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhan mereka, dan beriman kepadaNya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman, “ Ya Tuhan kami, Engkau meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan pengetahuan, maka ampunilah orang-orang bertobat dan mengikuti jalanMu, lindunginlah mereka dari siksa neraka Jahim” (QS Ghofir : 7)Dan ini merupakan bentuk berbuat baik yang besar untuk kaum mukminin. Wahai hamba-hamba Allah. Laksanakanlah perintah TuhanMu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam hadis Qudsi :يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ“Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian semua berbuat salah di malam dan siang hari, sedangkan Aku mengampuni segala dosa, maka mohonlah ampun kepadaKu, niscaya Aku mengampuni kalian semua “ (HR Muslim dari hadis Abi Zar).Maka, bersungguh-sungguhlah kalian beristighfar kepada Allah, niscaya akan kalian rasakan kemurahan dan keberkahan Allah Swt, akan kalian rasakan pula pengaruhnya pada penghapusan dosa dan terangkatnya derajat kalian.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ“Demi Allah yang jiwaku ada pada genggamanNya, seandainya kalian tidak berbuat dosa niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan mendatangkan kaum lain yang berbuat dosa lalu mereka memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala lalu Allah mengampuni mereka”. (HR Muslim)Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala Maha luas ampunanNya, Maha Pemurah dan Maha Mulia.Firman Allah  :وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًاBarangsiapa yang melakukan suatu kejahatan atau berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri lalu memohon ampun kepada Allah, niscaya ia dapatkan Allah Maha Pengampun dan Maha Pemurah (QS An-Nisaa : 110).Semoga Allah mencurahkan keberkahan atas kita semua berkat Al-Qur’an yang agung.==================Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah, Maha Pengampun dosa, Maha Penerima tobat, Yang Maha keras siksaNya, Yang mempunya karunia, tiada Tuhan yang berhak disembah kesuali Dia. Kepadanya segalanya akan kembali. Aku memuji Tuhanku dan bersyukur kepadaNya atas anugerahNya yang agung. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan Selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya, Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa. Aku bersaksi bahwa Nabi kita dan junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Hamba Allah dan Rasul-Nya, sebagai Pemberi kabar gembira dan peringatan bagaikan pelita yang menerangi. Ya Allah curahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada HambaMu dan RasulMu, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya, Bertakwalah kepada Tuhan kalian dan murnikanlah ibadah kalian hanya untuk Allah. Takutlah akan hukumanNya dan siksaNya.Kaum muslimin !  waspadalah terhadap fitnah (bencana ) yang sangat membahayakan agama dan urusan dunia, membinasakan hamba di akhirat dan merusak penghidupannya di dunia ini. Maka orang yang selamat adalah orang yang menghindarkan dirinya dari fitnah.  Dan fitnah (bencana) yang paling besar adalah ketika seseorang rancu kepadanya kebenaran yang telah bercampur baur dengan kebatilan, petunjuk dengan kesesatan, amal kebajikan dengan kemungkaran, yang halal dengan yang haram. Nah kini fitnah itu telah mengacaukan negeri  dan penduduknya sehingga sebagian anak-anak muda kaum muslimin keluar dari tempat naungan dan lingkungan mereka yang aman dan kokoh, dari komunitas masyarakat yang santun beralih ke jalan pemikiran yang menyimpang dan sesat karena mengikuti dan loyal kepada kelompok khawarij masa kini yang menyeret mereka untuk mengkafirkan kaum muslimin dan menumpahkan darah tak berdosa, bahkan menfatwakan untuk meledakkan bom bunih diri – Naudzu billah-. Apakah mereka yang meledakkan dirinya itu mengira bahwa dengan perbuatannya itu akan masuk surga.?.  Apakah mereka tidak tahu bahwa orang yang bunuh diri itu tempatnya di neraka ?Tidakkah mereka mendengar atau membaca firman Allah  :وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا (29) وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (30)Janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha Pengasih terhadap kalian. Barangsiapa yang melakukan perbuatan itu karena melampaui batas dan aniaya, maka Kami akan masukkan dia ke dalam neraka. Dan yang demikian itu bagi Allah sangat mudah (QS An-Nisaa : 29-30)Apakah orang yang membunuh orang islam itu mengira bahwa perbuatannya itu menjadi penyebab dirinya masuk surga ?. Apakah dia tidak tahu bahwa membunuh seorang muslim itu menyebabkan dirinya kekal di neraka ? Apakah dia tidak mendengar atau membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala :وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًاBarangsiapa yang membunuh orang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya neraka Jahannam, kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya serta mengutuknya dan menyedikan baginya siksa yang besar (QS An-Nisaa : 93).Apakah tidak sampai kepadanya peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِBarangsiapa yang membunuh seorang kafir Mu’ahad ( yang terikat perjanjian damai ), maka ia tidak akan mencium aroma surga .Apakah mereka tidak mengambil pelajaran dari rekan-rekannya sebelumnya di mana mereka melanggar ketentuan-ketentuan Allah lalu akhirnya mereka menyesali perbuatan mereka pada saat penyesalan tidak lagi berguna dan orang-orang yang memperdayakan pun tidak mampu menyelamatkan mereka.  Katakan kepada orang yang menyuruh Anda meledakkan diri, supaya mereka meledakkan dirinya sendiri terlebih dahulu, dan ia tidak mungkin berani melakukannya sendiri, karena ia ingin mencampakkan diri Anda ke neraka. Ia ingin memerangi kaum muslimin melalui tangan Anda, mengacaukan keamanan dengan bantuan Anda, menciptakan huru hara melalui perbuatan Anda. Demikian pula kerusakan perusakan dan pertumpahan darah jiwa tak berdosa, mereka jadikan Anda sebagai alat dan mengeluarkan Anda dari masyarakat muslim dan pemimpin umat islam. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah berpesan :عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِHendaklah kalian tetap bersama jemaah kaum muslimin, barangsiapa yang menyendiri akan menyendiri pula di neraka ).Hamba Allah ! Sesungguhnya Allah dan malaikatNya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yag beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan sampaikan do’a keselamatan kepadanya.===========  Do’a   ===========Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com


(Khutbah Jum’at 9/1/1437 H – 23/10/2015)Oleh Asy-Syaikh Ali Al-HudzaifiKhutbah PertamaSegala puji bagi Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang Maha mengetahui lagi maha bijaksana, pemberi karunia yang besar. Aku memuji Robbku dan aku bersyukur kepadaNya dan aku bertaubat kepadaNya dan beristighfar kepadaNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya –Pemilik ‘Arsy yang mulia-. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan RasulNya, pemilik akhlak yang agung. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad, dan kepada keluarganya serta para sahabatnya yang merupakan para da’i yang mendapatkan petunjuk menujuk kepada jalan yang lurus.Amma ba’du, maka bertakwalah kepada Allah dengan menjalankan apa yang diridoi oleh Allah dan meninggalkan apa yang diharamkanNya agar kalian meraih keridoanNya dan kenikmatan surgaNya, serta kalian selamat dari kemurkaanNya dan siksaanNya. Kaum muslimin sekalian, sesungguhnya Robb kita yang Maha mulia telah memperbanyak pintu-pintu kebaikan dan jalan-jalan untuk beramal sholeh sebagai bentuk karunia, kasih sayang, kedermawanan, dan kebaikan Allah yang maha perkasa dan mulia. Agar seorang muslim masuk ke pintu kebaikan mana saja dan menempuh jalan ketaatan mana saja sehingga Allah memperbaiki kehidupan dunianya, dan mengangkat derajatnya di akhirat. Maka Allah akan memuliakannya dengan kehidupan yang baik dan penuh kebahagiaan, dan meraih kenikmatan yang abadi serta keridhoan Robbnya setelah kematiannya. Allah berfirman :فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌMaka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS Al-Baqoroh : 148)Dan Allah berfirman tentang para Nabi –’alaihis salam- yang merupakan teladan bagi manusiaإِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَSesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu´ kepada Kami (QS Al-Anbiyaa : 90)Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Mu’adz radhiallahu ‘anhu :“Maukah aku tunjukan kepadamu pintu-pintu kebaikan?, puasa adalah perisai, dan sedekah memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api,  dan sholatnya seseorang di tengah malam, lalu Nabi membacakan firman Allah :تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (16) فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَLambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan (QS As-Sajdah 16-17)Kemudian Nabi berkata ; “Maukah aku kabarkan kepadamu tentang kepala agama ini dan tiangnya serta puncaknya?”Aku (Muadz) berkata : “Tentu wahai Rasulullah”Nabi berkata, “Kepala agama adalah Islam, dan tiangnya adalah sholat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah” (HR At-Tirmidzi dan dishahihkan olehnya)Diantara pintu-pintu kebaikan dan jalan-jalan ketaatan serta sebab-sebab penghapus dosa-dosa adalah beristighfar. Dan istighfar adalah sunnahnya para nabi dan rasul ‘alaihimus salam. Allah berfirman tentang dua nenek moyang manusia :قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَKeduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi (QS Al-A’rof : 23)Dan Allah berfirman tentang Nuh ‘alaihis salam :رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِYa Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. (Qs Nuuh : 28)Allah azza wa jalla berfirman tentang Al-Kholil (Ibrahim a.s) :رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُYa Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (Qs Ibrahim : 41)Allah berfirman tentang Musa a.s :قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَMusa berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang” (QS Al-A’raf : 151)Dan Allah berfirman :وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَDan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat (QS Shaad : 24)Allah berfirman seraya memerintahkan NabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam:فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِMaka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. (Qs Muhammad : 19)Diantara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah banyak beristighfar padahal Allah telah mengampuni bagi beliau dosa beliau yang telah lalu maupun yang akan datang. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma ia berkata :كُنَّا نَعُدُّ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ “رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ تَوَّابُ رَحِيْمٌ”“Kami menghitung dalam satu majelis seratus kali Rasulullah berucap : “Ya Allah ampuni aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha penerima taubat dan maha penyayang” (HR Abu Dawud dan At-Thirmidzi, dan ia berkata : Hadits hasan shahih).Dan dari Aisyah r.a ia berkata :“Rasulullah sebelum meninggalnya banyak mengucapkan :سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغِفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ(Aku mensucikan Allah dan memujiNya, Aku beristighfar kepadaNya dan bertaubat kepadaNya) (HR Al-Bukhari dan Muslim).Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih banyak dari pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mengucapkan :أَسْتَغِفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِAku beristighfar kepadaNya dan bertaubat kepadaNya (HR An-Nasaai).Dan Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam setelah salam dari sholat beliau berkata “Astaghfirullah” (Aku memohon ampunan Allah) sebanyak tiga kali” (HR Muslim dari Tsauban r.a), lalu setelah itu Nabi mengucapkan dzikir yang disyari’atkan setelah sholat.Istighfar merupakan kebiasaan orang-orang shalih dan amal orang-orang baik yang bertakwa, serta merupakan syi’ar kaum mukminin. Allah berfirman tentang mereka :الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (16) الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ(Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,  (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur (Qs Ali-‘Imron : 16-17)Dan Allah berfirman :وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَDan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui (QS Ali-Imron : 135)Ibnu Rojab rahimahullah berkata, “Adapun beristighfar dari dosa-dosa adalah adalah memohon ampunan, dan seorang hamba sangat membutuhkan ampunan Allah, karena ia berdosa siang dan malam, dan telah berulang-ulang dalam Al-Qur’an penyebutan taubat dan istighfar dan perintah untuk melakukan keduanya serta motivasi untuk melakukannya”Dan memohon ampunan kepada Rabb jalla wa ‘ala maka Allah menjanjikan untuk mengabulkan dan memberi ampunan.          Dan disyari’atkan seorang hamba memohon ampunan untuk dosa tertentu berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :إِنَّ عَبْدًا أَذْنَبَ ذَنْبًا فَقَالَ : يَا رَبِّ إِنِّي عَمِلْتُ ذَنْبًا فَاغْفِرْ لِي، فَقَالَ اللهُ : عَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ ربّاً يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي“Sesungguhnya seorang hamba berbuat suatu dosa, maka ia berkata : Ya Rabbku sesungguhnya aku melakukan suatu dosa maka ampunilah aku. Maka Allah berkata, “HambaKu tahu bahwasanya ia memiliki Robb yang mengampuni dosa dan menghukum karena dosa, maka sungguh aku telah mengampuni hambaKu” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah r.a)Sebagaimana juga disyari’atkan agar seorang hamba memohon ampunan (maghfiroh) secara mutlak yaitu dengan berkataرَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي“Ya Allah ampuni aku dan rahmatilah aku”Allah berfirman :وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَDan katakanlah: “Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik” (QS Al-Mukminun : 118)Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada seseorang jika ia masuk Islam agar ia berdoa dengan doa berikut :اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَعَافِنِي وَارْزُقْنِي“Ya Allah ampuni aku, rahmatilah aku, berilah petunjuk kepadaku, sehatkanlah tubuhku, dan berilah rizki kepadaku” (HR Muslim dari hadits Thariq bin Usyaim r.a.)Sebagaiman disyari’atkan bagi seorang hamba untuk memohon dari Robnya ampunan bagi seluruh dosa-dosanya apa yang ia ketahui dana yang ia tidak ketahui dari dosa-dosanya tersebut. Karena banyak dari dosa yang ia tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah sementara hamba dihukum karenanya.Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau berdoa dengan doa berikut ini :«اللهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي جِدِّي وَهَزْلِي، وَخَطَئِي وَعَمْدِي، وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ»“Ya Allah ampunilah bagiku dosa karena kesalahanku, dosa karena kebodohanku, sikap berlebihanku dalam urusanku, dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku, Ya Allah ampunilah bagiku dosa yang karena yang kulakukan dengan sungguh-sungguh, dosa karena candaku, dosa karena ketidak sengajaanku, dosa karena kesengajaanku, dan itu semua ada pada diriku. Ya Allah ampunilah dosa-dosakua yang telah lalu dan yang akan datang, dosa yang kulakukan dengan sembunyi-sembunyi dan yang aku lakukan terang-terangan, dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya dari pada aku. Engkau adalah yang menentukan maju atau mundurnya, dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihin wasallam :الشِّرْكُ فِي هَذِهِ الأُمَّةِ أَخْفَى مِنْ دَبِيْبِ النَّمْلِ“Kesyirikan pada umat ini lebih samar daripada rayapan semut”. Maka Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berkata,فَكَيْفَ الْخَلاَصُ مِنْهُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟“Bagaimana cara selamat darinya wahai Rasulullah?”.Nabi berkata, “Hendaknya engkau berdoa :اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا وَأَنَا أَعْلَمُهُ وَأَسْتَغْفِرُكَ مِنَ الذَّنْبِ الَّذِي لاَ أَعْلَمُ“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari berbuat syirik apapun kepadaMu yang aku  mengetahuinya dan aku memohon ampunan kepadaMu dari dosa yang aku tidak mengetahuinya” (HR Ibnu Hibban dari hadits Abu Bakar, dan Ahmad dari hadits Abu Musa).Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau berdoa :اللهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ، وَجِلَّهُ، خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ وَسِرَّهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ“Ya Allah ampunilah dosaku seluruhnya, yang kecil dan yang besar, yang tanpa sengaja maupun yang disengaja, yang tersembunyi maupun yang tampak, yang awal dan yang terakhir” (HR Muslim dan Abu Dawud)Jika seorang hamba memohon kepada Robbnya ampunan dosa-dosanya dengan doa yang ikhlas dan penuh permohonan serta permintaan penuh ketundukan dan kehinaan maka mencakup taubat dari dosa-dosa.Dan memohon taubat serta bimbingan untuk taubat mencakup istighfar, maka istighfar dan taubat jika disebutkan masing-masing sendirian maka mencakup yang lainnya. Dan jika disebutkan keduanya (secara bersamaan) dalam nash-nash maka makna istighfar adalah memohon dihapuskannya dosa-dosa dan dihilangkannya sisa dan dampaknya serta memohon perlindungan dari buruknya dosa-dosa yang telah lalu serta agar ditutup. Dan taubat maknanya adalah kembali kepada Allah dengan meninggalkan dosa-dosa dan memohon perlindungan dari apa yang dikhawatirkan di kemudian hari dari keburukan-keburukan amalannya serta tekad untuk tidak kembali melakukannya lagi.Dan telah dikumpulkan antara istighfar dan taubat dalam firman Allah :وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍDan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat (QS Huud :3) dan ayat-ayat lainnya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :يَا أَيُّهَا النَّاسُ ! تُوْبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَاسْتَغْفِرُوْهُ، فَإِنِّي أَتُوْبُ إِلى اللهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ“Wahai manusia ! bertobatlah kalian kepada Tuhan kalian dan mintalah ampun kepadaNya. Sesungguhnya aku sendiri bertobat kepada Allah dan memohon ampunanNya setiap hari Seratus kali “. HR An-Nasai dari hadis Al-Muzani radhiyallahu ‘anhuSeorang hamba seharusnya selalu sangat butuh untuk memohon ampun kepada Allah, terutama di zaman seperti sekarang ini karena bermacam-macam cobaan lantaran banyaknya dosa dan fitnah, sehingga Allah membimbingnya dalam kehidupannya dan setelah matinya serta memperbaiki urusannya. Sesungguhnya istighfar merupakan pintu masuk segala kebaikan dan benteng dari segala keburukan berikut  hukumannya. Maka umat ini sangat perlu beristighfar secara terus menerus agar Allah mengangkat bencana yang menimpa umat ini, dan menghapuskan sanksi hukuman yang akan dijatuhkan. Tidak ada yang enggan beristighfar kecuali orang yang tidak memahami manfaatnya dan keberkahannya. Al-Qur’an dan As-Sunnah telah banyak menjelaskan tentang keutamaan istighfar.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nabi Salih a.s. :قَالَ يَاقَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ“ Dia [Shalih] berkata, “ Hai kaumku ! Mengapa kalian meminta disegerakan suatu keburukan sebelum kebaikan, mengapakah kalian tidak memohon ampun kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat “.(QS An-Naml : 46)Maka dengan Istighfar, turunlah rahmat Allah kepada umat ini.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nuh a.s. :فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا “Mintalah ampun kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Supaya Dia menurunkan kepada kalian hujan deras dari langit. Dan mengirim bantuan kepada kalian [berupa] harta benda dan [keturunan] anak-anak lelaki serta menjadikan untuk kalian kebun-kebun dan sungai-sungai. (QS Nuuh : 10-12)Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nabi Hud, a.s. :وَيَاقَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ“Wahai kaumku ! mohonlah ampun kepada Tuhan kalian kemudian bertobatlah kalian kepadaNya, niscaya Dia akan mengirimkan hujan deras kepada kalian dan menambah kekuatan lebih dari kekuatan yang ada pada kalian, dan janganlah kalian berpaling sebagai orang-orang yang berdosa”. (QS Huud : 52)Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ “Tidaklah mungkin Allah menghukum mereka sementara engkau berada di tengah-tengah mereka, dan tidak mungkin pula Allah menghukum mereka sementara mereka sedang beristighfar “ (QS Al-Anfaal : 33)Abu Musa berkata  : “Kalian dahulu mendapatkan dua jaminan keamanan; Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka telah wafat, namun istighfar tetap ada pada kalian hingga hari Kiamat.Seringnya istighfar yang dilakukan umat ini dapat mengangkat bencana yang telah terjadi dan menolak bencana yang akan terjadi. Tiada suatu bencana yang melanda kecuali disebabkan suatu dosa manusia, dan tidak ada cara lain menghilangkan bencana kecuali bertobat dan beristighfar”.Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ“ Barangsiapa yang selalu beristighfar, maka Allah menjadikan baginya pada setiap kesempitan suatu solusi, dan setiap keprihatinan suatu jalan keluar, dan Allah memberinya rezeki dari jalan yang tak terduga”). HR Abu Dawud.Telah datang dari Nabi Saw. sabda-sabda beliau yang terjaga yang penuh berkah tentang Istighfar, dimana istighfar mendatangkan pahala yang besar. Antara lain sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :مَنْ قَالَ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ“Barangsiapa mengucapkan kalimat : Aku memohon ampun kepada Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Yang Mengayomi. Aku bertobat kepadaNya, maka diampuni dosa-dosanya meskipun ia pernah lari dari barisan perang”. HR Abu Dawud  dan At-Turmuzi dan Al-Hakim. Dikatakannya, sebagai hadis Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim.Dari Abi Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ قَالَ حِينَ يَأْوِي إِلَى فِرَاشِهِ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِله إِلا هوَ الحيَّ القيومَ وأتوبُ إِليهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ أَوْ عَدَدَ رَمْلِ عَالَجٍ أَوْ عَدَدَ وَرَقِ الشَّجَرِ أَوْ عَدَدَ أَيَّامِ الدُّنْيَا“Barangsiapa berucap ketika hendak  menuju tempat tidurnya, “Aku memohon ampun kepada Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Yang Mengayomi. Aku bertobat kepadaNya tiga kali, maka Allah ampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di laut ). HR At-Turmuzi.Dari Ubadah Bin As-Shamit radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ: رَبِّ اغْفِرْ لِي أَوْ قَالَ: ثمَّ دَعَا استيجيب لَهُ فَإِنْ تَوَضَّأَ وَصَلَّى قُبِلَتْ صَلَاتُهُ“Barangsiapa yang terjaga di malam hari lalu mengucapkan zikir, “ Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Hanya milikNya kerajaan dan hanya milikNya pula segala pujian. Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa. Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah. Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah ampunilah aku. Lalu berdo’a, niscaya dikabulkan do’anya. Jika dia shalat, niscaya diterima shalatnya”. (HR Bukhari).Disebutkan dalam hadis pula :من قال صبيحة يوم الجمعة قبل صلاة الغداة: أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه ثلاث مرات غفر الله تعالى ذنوبه ولو كانت مثل زبد البحر“Barangsiapa yang berzikir sebelum terbitnya fajar hari Jum’at, “Aku memohon ampun kepada Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Yang Mengayomi. Aku bertobat kepadaNya Tiga kali, maka diampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di laut”.Diriwayatkan dari Syaddad Bin Aus  radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :Penghulu Istighfar adalah ucapan seorang hamba :سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعَتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ “. قَالَ: «وَمَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ»“Ya Allah, Engkau Tuhanku, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau telah ciptakan diriku, dan aku hambaMu, aku tetap setia memegang janjiMu dengan segala kemampuanku, aku berlindung kepadaMu dari kejahatan perbuatanku, aku mengakui besarnya nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Barangsiapa yang mengucapkannya di siang hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum menjelang sore, maka masuklah ia ke dalam surga. Dan barangsiapa yang mengucapkannya di malam hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum menjelang pagi, maka diapun termasuk penghuni surga”. (HR Bukhari)Dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :يَا ابنَ آدمَ إِنَّك لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي“Wahai anak Adam, Andaikata dosa-dosamu telah mencapai setinggi langit lalu maku meminta ampun kepadaKu, Akupun mengampunimu tanpa mempedulikan”  (HR Turmuzi. Dikatakannya sebagai hadis hasan).Sebagaimana pula seseorang diperintahkan beristighfar ketika sedang melaksanakan ibadah dan ketika selesai beribadah untuk menutup kekurangan yang terjadi, serta menghindari rasa ujub (bangga diri) dan riya’.  Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌKemudian bertolaklah kalian dari tempat di mana orang-orang lainnya bertolak dan mintalah ampun kalian kepada Allah, sesungguhnya ALLAH Maha Pengampun dan Maha Pemurah. (QS Al-Baqoroh : 199)Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌDirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah dengan suatu pinjaman yang baik. Apapun kebaikan yang kalian lakukan untuk diri kalian, niscaya akan kalian dapatkannya di sisi Allah suatu balasan yang lebih baik dan pahala yang lebih besar. Dan mintalah ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Pemurah (QS Al-Muzammil ; 20)Sebagaimana disyariatkan juga seorang muslim memintakan ampun untuk kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, sebagai suatu persembahan amal baik dan rasa cinta yang tulus kepada mereka yang seagama dan sebagai syafaat bagi mereka di sisi Allah.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌDan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa, “Ya Tuhan kami ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam iman, janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dendam terhadap orang-orang yang beriman, Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyayang dan Pemurah (QS Al-Hasyr : 10)Dari Ubadah Bin Shamit radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda :مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلِلْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةًBarangsiapa yang memintakan ampun untuk orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan, maka Allah subhanahu wa ta’ala mencatat baginya suatu kebaikan sebanyak  orang mukmin lelaki dan perempuan (Al-Haitsami berkata : Isnad hadis ini adalah Jayyid ( bagus ),Istighfar yang dimaksud seperti ketika mendoakan mereka dalam shalat Jenazah dan memintakan ampun untuk mereka  yang ada di alam kubur ketika berziarah kuburDan memohonkan ampunan bagi kaum mukminin adalah untuk meneladani para Malaikat pembawa Arasy dan Malaikat Muqarrabin.Allah subhanahu wa ta’ala berfirman  :الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ“Mereka [malaikat] pemikul Arasy di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhan mereka, dan beriman kepadaNya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman, “ Ya Tuhan kami, Engkau meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan pengetahuan, maka ampunilah orang-orang bertobat dan mengikuti jalanMu, lindunginlah mereka dari siksa neraka Jahim” (QS Ghofir : 7)Dan ini merupakan bentuk berbuat baik yang besar untuk kaum mukminin. Wahai hamba-hamba Allah. Laksanakanlah perintah TuhanMu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam hadis Qudsi :يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ“Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian semua berbuat salah di malam dan siang hari, sedangkan Aku mengampuni segala dosa, maka mohonlah ampun kepadaKu, niscaya Aku mengampuni kalian semua “ (HR Muslim dari hadis Abi Zar).Maka, bersungguh-sungguhlah kalian beristighfar kepada Allah, niscaya akan kalian rasakan kemurahan dan keberkahan Allah Swt, akan kalian rasakan pula pengaruhnya pada penghapusan dosa dan terangkatnya derajat kalian.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ“Demi Allah yang jiwaku ada pada genggamanNya, seandainya kalian tidak berbuat dosa niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan mendatangkan kaum lain yang berbuat dosa lalu mereka memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala lalu Allah mengampuni mereka”. (HR Muslim)Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala Maha luas ampunanNya, Maha Pemurah dan Maha Mulia.Firman Allah  :وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًاBarangsiapa yang melakukan suatu kejahatan atau berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri lalu memohon ampun kepada Allah, niscaya ia dapatkan Allah Maha Pengampun dan Maha Pemurah (QS An-Nisaa : 110).Semoga Allah mencurahkan keberkahan atas kita semua berkat Al-Qur’an yang agung.==================Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah, Maha Pengampun dosa, Maha Penerima tobat, Yang Maha keras siksaNya, Yang mempunya karunia, tiada Tuhan yang berhak disembah kesuali Dia. Kepadanya segalanya akan kembali. Aku memuji Tuhanku dan bersyukur kepadaNya atas anugerahNya yang agung. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan Selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya, Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa. Aku bersaksi bahwa Nabi kita dan junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Hamba Allah dan Rasul-Nya, sebagai Pemberi kabar gembira dan peringatan bagaikan pelita yang menerangi. Ya Allah curahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada HambaMu dan RasulMu, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Selanjutnya, Bertakwalah kepada Tuhan kalian dan murnikanlah ibadah kalian hanya untuk Allah. Takutlah akan hukumanNya dan siksaNya.Kaum muslimin !  waspadalah terhadap fitnah (bencana ) yang sangat membahayakan agama dan urusan dunia, membinasakan hamba di akhirat dan merusak penghidupannya di dunia ini. Maka orang yang selamat adalah orang yang menghindarkan dirinya dari fitnah.  Dan fitnah (bencana) yang paling besar adalah ketika seseorang rancu kepadanya kebenaran yang telah bercampur baur dengan kebatilan, petunjuk dengan kesesatan, amal kebajikan dengan kemungkaran, yang halal dengan yang haram. Nah kini fitnah itu telah mengacaukan negeri  dan penduduknya sehingga sebagian anak-anak muda kaum muslimin keluar dari tempat naungan dan lingkungan mereka yang aman dan kokoh, dari komunitas masyarakat yang santun beralih ke jalan pemikiran yang menyimpang dan sesat karena mengikuti dan loyal kepada kelompok khawarij masa kini yang menyeret mereka untuk mengkafirkan kaum muslimin dan menumpahkan darah tak berdosa, bahkan menfatwakan untuk meledakkan bom bunih diri – Naudzu billah-. Apakah mereka yang meledakkan dirinya itu mengira bahwa dengan perbuatannya itu akan masuk surga.?.  Apakah mereka tidak tahu bahwa orang yang bunuh diri itu tempatnya di neraka ?Tidakkah mereka mendengar atau membaca firman Allah  :وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا (29) وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (30)Janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha Pengasih terhadap kalian. Barangsiapa yang melakukan perbuatan itu karena melampaui batas dan aniaya, maka Kami akan masukkan dia ke dalam neraka. Dan yang demikian itu bagi Allah sangat mudah (QS An-Nisaa : 29-30)Apakah orang yang membunuh orang islam itu mengira bahwa perbuatannya itu menjadi penyebab dirinya masuk surga ?. Apakah dia tidak tahu bahwa membunuh seorang muslim itu menyebabkan dirinya kekal di neraka ? Apakah dia tidak mendengar atau membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala :وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًاBarangsiapa yang membunuh orang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya neraka Jahannam, kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya serta mengutuknya dan menyedikan baginya siksa yang besar (QS An-Nisaa : 93).Apakah tidak sampai kepadanya peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِBarangsiapa yang membunuh seorang kafir Mu’ahad ( yang terikat perjanjian damai ), maka ia tidak akan mencium aroma surga .Apakah mereka tidak mengambil pelajaran dari rekan-rekannya sebelumnya di mana mereka melanggar ketentuan-ketentuan Allah lalu akhirnya mereka menyesali perbuatan mereka pada saat penyesalan tidak lagi berguna dan orang-orang yang memperdayakan pun tidak mampu menyelamatkan mereka.  Katakan kepada orang yang menyuruh Anda meledakkan diri, supaya mereka meledakkan dirinya sendiri terlebih dahulu, dan ia tidak mungkin berani melakukannya sendiri, karena ia ingin mencampakkan diri Anda ke neraka. Ia ingin memerangi kaum muslimin melalui tangan Anda, mengacaukan keamanan dengan bantuan Anda, menciptakan huru hara melalui perbuatan Anda. Demikian pula kerusakan perusakan dan pertumpahan darah jiwa tak berdosa, mereka jadikan Anda sebagai alat dan mengeluarkan Anda dari masyarakat muslim dan pemimpin umat islam. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah berpesan :عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِHendaklah kalian tetap bersama jemaah kaum muslimin, barangsiapa yang menyendiri akan menyendiri pula di neraka ).Hamba Allah ! Sesungguhnya Allah dan malaikatNya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yag beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan sampaikan do’a keselamatan kepadanya.===========  Do’a   ===========Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firandawww.firanda.com
Prev     Next