RUBUBIYAH ALLAH (Allah Maha Esa dalam penciptaan, pemilikan, dan pengaturan alam semesta)

Khotbah Jum’at dari Masjid Nabawi, 24 Jumadal Ula 1437 H (4/3/2016 M).Oleh : Syekh Dr. Abdul Muhsin Bin Muhamad Al-QasimKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak akan ada yang dapat memberinya petunjuk.Aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepadanya, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya sebanyak-banyaknya. Selanjutnya …….Maka bertakwalah –wahai hamba-hamba Allah- dengan sebenar-benar takwa, dan berpeganglah dengan tali Islam yang kuat. Kaum muslimin !            Kemuliaan suatu ilmu berdasarkan kemuliaan yang diilmui. Ilmu yang paling mulia dan suci adalah mengenal Allah. Kebutuhan akan pengenalan Allah –subhanahu wa ta’ala- dan pengagungan kepada-Nya menempati urutan kebutuhan teratas, bahkan merupakan pokok dari segala kebutuhan yang mendesak.            Allah –subhanahu wa ta’ala- mengeluarkan anak cucu Adam –alaihissalam- dari tulang sulbi untuk menyatakan kesaksian mereka atas diri mereka bahwa Allah adalah Rabb (Tuhan) dan Raja mereka, dan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Firman Allah :وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ [ الأعراف /172]“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. Qs Al-A’raf : 172Hati manusia diciptakan untuk mencintai Allah, dan memang demikianlah Allah menciptakan manusia untuk mencitai dan mengenal-Nya. Firman Allah :فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ [ الروم / 30 ]“(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah”.Qs. Ar-Rum : 30Artinya, janganlah kalian merombak ciptaan Allah, agar kalian tidak menggeser manusia dari fitrahnya.  Fitrah inilah yang disebut kecenderungan kepada kesucian agama (hanifiyah)  yang menjadi pola dasar Allah menciptakan manusia itu, sebagaimana sabda Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-  :كل مَوْلُودٍ  يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ“ Setiap bayi dilahirkan (ke dunia ini) berada dalam kesucian (fitrah)”.Allah –subhanahu wa ta’ala- memberitakan bahwa setan dari kalangan jin dan manusia-lah yang menyimpangkannya.  Firman Allah dalam hadis Qudsi :” وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ ” رواه مسلم“Dan aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hunafa’ (berpaling dari syirik dan mentauhidkan Allah) seluruhnya, dan sesungguhnya setan-setan mendatangi mereka, lalu memalingkan mereka dari agama mereka.” HR. MuslimMaka setiap muslim diperintahkan untuk menjaga dan memperhatikan fitrah-nya agar ketika menyimpang segera kembali kepada rel asalnya dan bagi yang telah beriman semakin bertambah keimanannya.Allah –subhanahu wa ta’ala- memperlihatkan ayat-ayat kekuasaanNya sebagai bukti ke-Esaan Rububiyah dan Uluhiyah-Nya. Seandainya air lautan menjadi tinta untuk mengisi pena yang digunakan menulis kalimat-kalimat Allah, hikmah-hikmah ciptaan-Nya dan ayat-ayatNya yang menunjukkan ke-EsaanNya, niscaya lautan itu habis sama sekali sebelum semua tertulis.  Seandainya didatangkan lagi banyak lautan semisal itu guna menyuplai sarana penulisannya, tentu tetap tidak akan terselesaikan penulisan kalimat-kalimat Allah.Firman Allah :قُل لَّوۡ كَانَ ٱلۡبَحۡرُ مِدَادٗا لِّكَلِمَٰتِ رَبِّي لَنَفِدَ ٱلۡبَحۡرُ قَبۡلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَٰتُ رَبِّي وَلَوۡ جِئۡنَا بِمِثۡلِهِۦ مَدَدٗا [ الكهف /109]“Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” Qs Al-Kahf : 109Para rasul diutus untuk pemantapan dan penyempurnaan fitrah itu. Allah –subhanahu wa ta’ala- berargumentasi terhadap mereka yang tidak meng-Esa-kanNya (dalam peribadatan) dengan (fitroh mereka akan) pengakuan mereka terhadap Rububiyah-Nya. Firman Allah :يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ [ البقرة / 21 ]“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”. Qs Albaqarah : 21Peng-Esa-an Tuhan dalam aspek Rububiyah dengan mengakui ke-Esa-an Allah dalam perbuatanNya merupakan petnunjuk bukti ke-Esa-anNya dalam aspek Uluhiyah-Nya. Ia merupakan salah satu  pokok dari pokok-pokok keimanan, serta salah satu bagian dari macam-macam tauhid (monoteisme) yang karenanya Allah menciptakan manusia.Sementara itu, penyekutuan dalam aspek tauhid rububiyah ini merupakan bentuk kemusyrikan terbesar dan terburuk.  Dan tidak ada yang keliru dalam aspek (Uluhiyah) kecuali orang yang tidak memberikan hak rububiyah Allah sebagaimana mestinya.Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha sempurna dalam segala sifat dan perbuatanNya.  Di antara sifat-sifatNya adalah sifat Rububiyah ( Tuhan Pencipta dan Pengatur segala urusan makhluk-Nya), tidak ada sekutu bagi-Nya dalam aspek Rububiyah-Nya, sebagaimana pula tidak ada sekutu bagi-Nya dalam aspek Uluhiyah-Nya.Firman Allah :قُلۡ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡغِي رَبّٗا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيۡءٖۚ  [ الأنعام 164 ]“ Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu”. Qs Al-An’am : 164Esensi Rububiyah ialah kesendirian/keesaan Allah dalam menciptakan, memerintah, memberi rezeki dan mengatur; Maka Allah –subhanahu wa ta’ala- adalah Tuhan Pencipta, tidak ada pencipta lain bersama-Nya. Firman Allah :هَلۡ مِنۡ خَٰلِقٍ غَيۡرُ ٱللَّهِ  [ فاطر / 3 ]” Adakah pencipta selain Allah “. Qs Fathir : 3Dia Pencipta langit dan bumi, Dia ciptakan dan sempurnakan, Dia membuat baik pada penciptaan segala sesuatu, Dia Maha Kreasi dan Maha mengetahui.هَٰذَا خَلۡقُ ٱللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦۚ [ لقمان / 11]” Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah”. Qs Luqman : 11Sebagaimana Allah menciptakan makhluk pada permulaan, Dia akan menghidupkannya kembali pada hari Kiamat, dan itu tentu lebih mudah bagi-Nya.Setiap sesembahan selain Allah –subhanahu wa ta’ala- tidaklah berhak disembah, karena dia tidak bisa menciptakan.Firman Allah :إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَن يَخۡلُقُواْ ذُبَابٗا وَلَوِ ٱجۡتَمَعُواْ لَهُۥۖ [ الحج / 73 ]“ Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya”.Qs Al-Hajj : 73Dan Allah-lah yang berhak disembah, karena Dia menciptakan. Firman Allah :أَفَمَن يَخۡلُقُ كَمَن لَّا يَخۡلُقُۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ [ النحل / 17 ]“Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)?. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran”. Qs An-Nahl : 17            Setiap hamba pastilah mengakui bahwa dirinya adalah makhluk ciptaan Allah, dan Allah-lah Penciptanya. Firman Allah :وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَهُمۡ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُۖ  [ الزخرف / 87 ]“ Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Qs Az-Zukhruf : 87Allah –subhanahu wa ta’ala- adalah Maha Raja, kerajaan adalah milik-Nya.  Firman Allah :ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡ لَهُ ٱلۡمُلۡكُۚ وَٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ مَا يَمۡلِكُونَ مِن قِطۡمِيرٍ  [ فاطر / 13 ]“Demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari”.Qs Fathir: 13Dan Dia pula Pemilik semua makhluk ciptaan-Nya.  Firman Allah :لَّهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ [ البقرة / 255 ]“ Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi”. Qs Albaqarah : 255Seluruh makhluk tunduk dan bertasbih kepada-Nya.  Firman Allah :تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ ٱلسَّبۡعُ وَٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهِنَّۚ وَإِن مِّن شَيۡءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمۡدِهِۦ وَلَٰكِن لَّا تَفۡقَهُونَ تَسۡبِيحَهُمۡۚ [ الإسراء/44]“ Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka”. Qs Al-Isra : 44Bahkan segenap makhluk, baik benda mati atau hidup bersujud kepada-Nya. Firman Allah :وَلِلَّهِۤ يَسۡجُدُۤ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ طَوۡعٗا وَكَرۡهٗا [ الرعد / 15 ]“ Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa”. Qs Ar-Ra’d : 15Dia-lah Allah Yang Maha Penguasa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Semua makhluk adalah hamba-Nya. Firman Allah :إِن كُلُّ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّآ ءَاتِي ٱلرَّحۡمَٰنِ عَبۡدٗا [ مريم / 93 ]“ Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba”. Qs Maryam : 93Dia yang memegang hak milik mutlak dan langgeng, Raja di dunia dan di hari kemudian.  Di akhirat kelak Dia tampil seraya berkata :لِّمَنِ ٱلۡمُلۡكُ ٱلۡيَوۡمَۖ  [ غافر / 16]“Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Qs Ghafir : 16Lalu Dia sendiri menjawab seraya berkata :لِلَّهِ ٱلۡوَٰحِدِ ٱلۡقَهَّارِ [ غافر / 16 ]“Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan”. Qs Ghafir : 16Allah –subhanahu wa ta’ala- sendirian mengatur segala urusan makhluk-Nya dan kerajaan-Nya. Segala urusan berada di tangan-Nya sendiri. Firman Allah :أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ   [ الأعراف / 54]“ Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah”. Qs Al-A’raf : 54Dia memerintah dan melarang, menciptakan dan memberi rezeki, memberikan dan menahan pemberian, merendahkan dan mengangkat, memuliakan dan menghinakan, menghidupkan dan mematikan. Firman Allah :يُكَوِّرُ ٱلَّيۡلَ عَلَى ٱلنَّهَارِ وَيُكَوِّرُ ٱلنَّهَارَ عَلَى ٱلَّيۡلِۖ وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَۖ   [ الزمر / 5 ]“ Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan”. Qs Az-Zumar : 5Firman Allah :يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ وَيُحۡيِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۚ  [ الروم / 19 ]“Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya”. Qs Ar-Rum : 19Allah mengeluarkan yang tersimpan di langit dan di bumi.Seluruh makhluk berada dalam kekuasaan-Nya dan kehendak-Nya. Hati seluruh hamba dan ubun-ubun mereka berada ditangan-Nya. Segenap urusan penting telah terpatri pada ketetapan takdir-Nya.  Hanya ada pada-Nya segala urusan, sebelum dan sesudah terjadi.  Mengawasi setiap jiwa dengan segala apa yang dilakukan. Langit dan bumi eksis tegak karena perintah-Nya.Firman Allah :وَيُمۡسِكُ ٱلسَّمَآءَ أَن تَقَعَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦٓۚ  [ الحج / 65 ]“Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya”.Qs Al-Haj :65Firman Allah :يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَاۚ  [ فاطر / 41 ]“Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap”. Qs Fathir : 41Semua makhluk di langit dan di bumi memohon kepada-Nya.Firman Allah :كُلَّ يَوۡمٍ هُوَ فِي شَأۡنٖ  [ الرحمن / 29]“ Setiap waktu Dia dalam urusan”. Qs Ar-Rahman : 29Di antara sekian banyak urusan-Nya adalah; mengampuni dosa dan memberi petunjuk bagi yang tersesat, menghilangkan kesedihan, menghilangkan penderitaan, membalut hati yang luka, mencukupkan orang miskin, merespon doa orang-orang yang tertindas.Firman Allah :وَمَا كُنَّا عَنِ ٱلۡخَلۡقِ غَٰفِلِينَ  [ المؤمنون / 17 ]“dan Kami tidaklah lalai dari ciptaan (Kami)”. Qs Almu’minun : 17Perintah-perintahNya berkesinambungan, kehendak-Nya berlaku. Apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan berbuat apa yang diinginkan-Nya.  Keputusan-Nya merupakan keputusan yang pasti berlaku.  Tidak ada yang menghalangi pemberian-Nya dan tidak ada yang melangsungkan penolakan-Nya.Tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya, tidak ada yang dapat menangkis ketentuan takdir-Nya, tidak ada yang dapat menghindar dari kemauan-Nya, tidak ada yang dapat mengganti kalimat-kalimatNya. Allah telah menetapkan takdir makhluk-Nya sejak 50 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.Seandainya seluruh makhluk bersepakat melakukan sesuatu yang tidak ditetapkan oleh Allah untuk terjadi maka mereka tidak mampu melangsungkan maksud mereka. Seandainya mereka semua bersepakat merubah sesuatu yang telah ditetapkan terjadi untuk menggagalkannya, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya.Seandainya seluruh umat manusia bersepakat untuk memberi kemudorotan kepada seseorang, sementara Allah tidak menghendakinya, niscaya mereka tidak mampu melakukannya. Seandainya seluruh umat manusia bersepakat memberi manfaat kepada seseorang yang Allah tidak memberinya izin untuk memperoleh manfaat tersebut, niscaya mereka tidak akan mampu memberi manfaat kepadanya.Tidak ada yang dapat menolak siksaan Allah ketika turun, dan tidak ada yang mampu menghalaunya ketika menimpa. Allah memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya atas anugerah dari-Nya, dan Dia membiarkan sesat siapapun yang dikehendaki-Nya atas keadilan-Nya.Perintah-perintahNya hanya dengan perkataanNya dan terlaksana  :إِذَآ أَرَادَ شَيۡ‍ًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ  [ يس / 82 ]“ Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia”. Qs Yasin : 82Segala tindakan dan perbuatan-Nya tak seorang-pun yang mempertanyakannya.Firman Allah :لَا يُسۡ‍َٔلُ عَمَّا يَفۡعَلُ وَهُمۡ يُسۡ‍َٔلُونَ  [ الأنبياء / 23 ]“ Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai”. Qs Al-Anbiya : 23Firman-Nya sebaik-baik perkataan, tidak berpermulaan dan tidak pula berkesudahan.Firman Allah :وَلَوۡ أَنَّمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ مِن شَجَرَةٍ أَقۡلَٰمٞ وَٱلۡبَحۡرُ يَمُدُّهُۥ مِنۢ بَعۡدِهِۦ سَبۡعَةُ أَبۡحُرٖ مَّا نَفِدَتۡ كَلِمَٰتُ ٱللَّهِۚ  [ لقمان / 27 ]“ Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah”. Qs Luqman : 27ke-Maha Tahuan- Allah meliputi segala sesuatu; mengetahui peristiwa yang telah terjadi, yang belum terjadi dan yang tidak terjadi sama sekali. Mengetahui apa saja yang akan dilakukan oleh makhluk-Nya di waktu sekarang dan akan datang serta  apa yang pernah mereka lakukan sebelumnya.Firman Allah :وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۚ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا [ الأنعام / 59 ]“dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula)”. Qs Al-An’am : 59Tidak ada suatu zarah (partikel kecil) bergerak di alam semesta ini kecuali atas izin-Nya. Tidak samar bagi-Nya apapun yang ada di bumi dan di langit. Dia Maha mengetahui perkara-perkara yang ghaib (tidak terlihat) dari kita seperti peristiwa-peristiwa dan  umat-umat terdahulu, dan Diapun mengetahui yang terlihat. Dia-pun Maha mengetahui bisikan-bisikan halus dalam hati, termasuk lintasan-lintasan kerahasiaan yang tersimpan dalam hati.Allah Maha mengetahui apa yang ada dalam kandungan wanita, Dia mengetahuiوَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَاapa yang tumbuh di bumi, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke langit. (QS Saba’ : 2)لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ“Tidak ada yang tersembuni bagi-Nya suatu apapun seberat zarah, baik di langit maupun di bumi” (QS Saba’ : 3).وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَDi sisiNya-lah kunci-kunci semua perkara ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri” (QS Al-An’aam : 59)Ilmu yang dimiliki seluruh makhluk ini hanyalah bagaikan setetes air dari lautan ilmu Allah.Firman Allah :وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيۡءٖ مِّنۡ عِلۡمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَۚ  [ البقرة / 255 ]“ dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya”. Qs Albaqarah : 255Pernah seekor burung pipit mematuk air di laut, maka Nabi Khodhir berkata kepada Nabi Musa –alaihimassalam- :” مَا نَقَصَ عِلْمِي وَعِلْمُكَ مِنْ عِلْمِ اللهِ إِلاَّ مِثْلَ مَا نَقَصَ هَذاَ العُصْفُوْرُ مِنَ الْبَحْرِ ” رواه مسلم“Ilmu-ku dan ilmu-mu tidaklah mengurangi ilmu Allah kecuali seperti berkurangnya air laut setelah dipatuk oleh burung pipit ini”.Allah –subhanahu wa ta’ala- mendengar setiap suara di jagat raya ini.  Firman Allah tentang Dzat-Nya :أَسۡمَعُ وَأَرَىٰ  [ طه / 46 ]“Aku mendengar dan melihat” Qs Thaha : 46Pendengaran Allah meliputi segala pendengaran; maka apapun pendengaran yang ada tidaklah asing dan tidak pula rancu bagi Allah. Firman Allah :أَمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّا لَا نَسۡمَعُ سِرَّهُمۡ وَنَجۡوَىٰهُمۚ [ الزخرف / 80]” Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka?” Qs Az-Zukhruf : 80            Seorang wanita datang menghadap Nabi –shallallahu alaihi wa salam-  mengadukan perihal suaminya, ketika itu Aisyah –radhiyallahu anha-  yang berada di salah satu sudut rumah berkata, sesungguhnya aku mendengar pembicaraan wanita itu, namun sebagian pembicaraannya samar bagiku, sedangkan Allah dari atas tujuh langit mendengar suaranya. Tidak selang waktu lama tiba-tiba Malaikat Jibril –alaihissalam- turun membawa ayat ini :قَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّتِي تُجَٰدِلُكَ فِي زَوۡجِهَا وَتَشۡتَكِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَسۡمَعُ تَحَاوُرَكُمَآۚ  [ المجادلة / 1 ]“ Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua”. Qs Al-Mujadalah : 1            Setiap gerakan di alam semesta ini dilihat oleh Allah. Penglihatan-Nya meliputi segala yang terlihat. Allah melihat rayapan semut hitam yang merayap di batu halus dalam kegelapan malam yang hitam kelam. Apa yang dilakukan manusia dalam malam gelap gulita-pun tidak samar bagi Allah.Firman Allah :ٱلَّذِي يَرَىٰكَ حِينَ تَقُومُ  – وَتَقَلُّبَكَ فِي ٱلسَّٰجِدِينَ  [ الشعراء / 218 – 219 ]“ Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang) . dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud”. Qs As-Syuara : 218-219            Segala tingkah laku manusia adalah dalam pengawasan Tuhan kita, Allah –subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ [ الفجر / 14 ]“ sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi”. Qs Al-Fajr :14Oleh karena seluruh makhluk adalah ciptaan Allah, maka ketentuan hukum yang mengaturnya hanyalah milik Allah pula.Firman Allah :إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِ  [ يوسف / 40 ]“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah”. Qs Yusuf : 40Semua ketetapan hukum, hukum pidana, aturan perundang-undangan yang ditetapkan Allah merupakan sebaik-baik hukum, tidak ada ketentuan hukum yang lebih baik dari pada hukum Allah.Firman Allah :وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡحَٰكِمِينَ  [ يوسف / 80 ]“Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya” Qs Yusuf : 80Hukum Allah –subhanahu wa ta’ala- tidak berat sebelah dan tidak menzalimi siapapun. Firman Allah :أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَحۡكَمِ ٱلۡحَٰكِمِينَ [ التين / 8 ]“ Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya”. Qs At-Tin : 8Allah –subhanahu wa ta’ala- menetapkan ketentuan hukum, maka tidak ada seorangpun yang mampu menolak ketetapan hukum-Nya.Firman Allah :وَهُوَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ  [ الرعد / 41 ]“ dan Dialah Yang Maha cepat hisab-Nya “. Qs Ar-Ra’d : 41Adapun rahmat kasih sayang-Nya, maka tidak ada seorangpun yang lebih kasih sayang dari pada Allah. Dia berfirman memuji diri-Nya sendiri :وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ [ يوسف / 92 ]“ dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang” Qs Yusuf : 92خَيْرُ الرَّاحِمِينَ“Pemberi rahmat Yang Paling Baik” (QS Al-Mukminun : 109)Kasih sayang-Nya melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pernah menyaksikan seorang wanita dalam tawanan sedang mencari anaknya, ketika melihat seorang bocah kecil, dipeluknya bocah itu dan langsung ia tempelkan pada perutnya lalu ia susui. Maka Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- berkata kepada para sahabat :أَتَرَوْنَ هَذِهِ الْمَرْأَةَ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ ؟ ” قَالُوا : لا ،“Adakah kalian berpikir bahwa wanita ini akan mencampakkan anaknya pada api?”. Mereka menjawab : Tentu tidak Ya Rasulallah. Kemudian beliau –shallallahu alaihi wa sallam- melanjutkan ucapannya :” لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ الْمَرْأَةِ بِوَلَدِهَا ” متفق عليه “Sungguh Allah lebih kasih sayang kepada hamba-Nya dari pada wanita ini kepada anaknya”. (HR Al-Bukhari dan Muslim).            Allah –subhanahu wa ta’ala- menciptakan untukNya 100 rahmat, satu di antaranya Dia turunkan ( sebarkan ), maka dengan rahmat yang satu itu seluruh makhluk di bumi saling berkasih sayang, sementara rahmat yang 99 Dia tahan pada-Nya.            Rahmat Allah merata pada segala sesuatu. Malaikat Penyangga Arsy dan sekitarnya berkata :رَبَّنَا وَسِعۡتَ كُلَّ شَيۡءٖ رَّحۡمَةٗ وَعِلۡمٗا [ غافر / 7 ]“Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu”. Qs Ghafir : 7Rahmat kasih sayang Allah akan terus berkesinambungan hingga akhirat.Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha Pemurah, tidak ada yang lebih murah dari pada-Nya. Allah senang berbuat baik dan memberi hamba-hambaNya. Allah memberi mereka rezeki dari arah atas dan bawah mereka.Firman Allah :قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ [ يونس / 31 ]“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi”. Qs Yunus : 31Karunianya begitu besar dan kekayaan-Nya tidak akan habis.يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لَا يَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَTangan-Nya tak henti-hentinya memberi, dan pemberiannya tidak mengurangi kekayaannya, Ia dermawan senantiasa memberi siang dan malam.  Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ“Tahukah kalian betapa banyak nafkah yang Allah keluarkan sejak Dia menciptakan langit dan bumi, sungguh tidak berkurang kekayaan yang ada di tangan-Nya”. HR Bukhari.            Allah –subhanahu wa ta’ala- tidak menolak permohonan hamba-hambaNya. Firman Allah :وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ [ البقرة / 186 ]“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku”. Qs Albaqarah : 186Allah tidak enggan memberi lantaran besarnya kebutuhan. “Seandainya seluruh hamba ini, mulai generasi pertama sampai terakhir, dari golongan manusia dan jin, berkumpul di suatu tanah lapang untuk memohon kepada-Nya dan Allah memenuhi permohonan setiap orang di antara mereka, tidaklah hal itu mengurangi kekayaan yang ada pada-Nya kecuali seperti air yang melekat pada jarum setelah dimasukkan ke dalam laut”.            Allah –subhanahu wa ta’ala- menjamin rezeki setiap makhluk-Nya, manusia dan jin, yang muslim dan yang kafir, termasuk seluruh hewan melata.  Firman Allah :وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا [ هود / 6 ]“ Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya”. Qs Hud : 6Pemberian-Nya tanpa pamrih. Dia-lah sebaik-baik Pemberi rezeki. Allah membuka pintu-pintu pemberian-Nya untuk hamba-hambaNya; menundukkan lautan, mengalirkan sungai, mengucurkan rezeki, menganugerahkannya dalam jumlah besar kepada hamba-hambaNya padahal mereka tidak memintanya. Dia memberi apa yang mereka minta, bahkan menawarkan kepada mereka untuk selalu memohon kepadaNya.” مَنْ يَسْألنى فَأعْطِيَه “ “Siapakah yang ingin meminta lalu Aku kabulkan permintaannya”.Segala bentuk kebaikan datang dari-Nya. Firman Allah :وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةٖ فَمِنَ ٱللَّهِۖ  [ النحل / 53 ]“ Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah”. Qs An-Nahl : 53            Allah mengirimkan rezeki setiap makhluk-Nya; Dia memberikan rezeki kepada Janin dalam rahim ibunya, kepada semut dalam liangnya, burung di ruang angkasa dan ikan di air yang dalam.Firman Allah :وَكَأَيِّن مِّن دَآبَّةٖ لَّا تَحۡمِلُ رِزۡقَهَا ٱللَّهُ يَرۡزُقُهَا وَإِيَّاكُمۡۚ [ العنكبوت / 60 ]“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu”. Qs Al-Ankabut : 60            Allah begitu Pemurah, Dia tidak rela bila permohonan itu disampaikan kepada selain Dia. Siapa yang tidak meminta kepada-Nya, Allah marah kepadanya. Maka sungguh terhalang dari kemurahan Allah seorang yang berharap kepada selain Penciptanya. Dan tidak ada seorang pun yang lebih tahan terhadap gangguan yang didengarnya dari pada Allah. Mereka menyekutukan Allah dan menuduh Allah punya anak, namun demikian Allah tetap memberi mereka kesehatan dan rezeki.            Allah –subhanahu wa ta’ala- menyambut gembira pertobatan hamba-Nya melebihi dari kegembiraan seorang yang setelah kehilangan hewan tunggangannyaبِأَرْضٍ فَلَاةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَمَا هُوَ كذلكَ إِذ هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فقَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِdi gurun dan berputus asa untuk bertemu kembali hewan tunggangannya, maka iapun mendatangi sebuah pohon lalu merebahkan dirinya di bawah naungan pohon tersebut sementara ia telah putus asa dari bertemu kembali hewan tunggangannya. Dalam keputus asaan itu tiba-tiba hewan tunggangannya itu datang di hadapannya, lalu ia berkata kegirangan : “Ya Allah! Engkau hambaku dan aku TuhanMu”.   Dia salah omong karena terlalu gembira”. (HR Muslim)Allah memberi bimbingan kepada mereka yang taat kepadaNya sebagai karunia dan kebaikan dariNya, lalu Allah memberi ganjaran kepada mereka setelah membimbing mereka. Allah Maha berterima kasih, Ia memberi ganjaran kepada amalan yang sedikit dengan ganjaran yang besar. Satu kebaikan dilipat gandakan olehNya menjadi sepuluh kali lipat bahkan dengan lipat ganda yang banyak. Ia menyiapkan bagi hamba-hambaNya di surga kenikmatan-kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, bahkan tidak pernah terbetik dalam hati manusia. Dan Ia berfirman :إِنَّ هَذَا لَرِزْقُنَا مَا لَهُ مِنْ نَفَادٍ“Sesungguhnya ini adalah benar-benar rezeki dari Kami yang tiada habis-habisnya” (QS Shaad : 54)Bahkan Allah senantiasa ingin memberi kepuasan kepada penduduk surga, Allah berkata :هَلْ رَضِيتُمْ فَيَقُولُونَ وَمَا لَنَا لَا نَرْضَى وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ فَيَقُولُ أَنَا أُعْطِيكُمْ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالُوا يَا رَبِّ وَأَيُّ شَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ فَيَقُولُ أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا“Apakah kalian puas?”, mereka berkata, “Kenapa kami tidak puas?, sementara Engkau telah menganugrahkan kepada kami apa yang tidak pernah Engkau berikan kepada seorangpun dari ciptaanMu”. Maka Allah berkata, “Aku akan memberikan kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari itu semua?”. Mereka berkata, “Ya Rabb, dan apakah lagi yang lebih baik dari kenikmatan ini semua?”. Maka Allah berkata, “Aku akan menganugrahkan kepada kalian keridoanKu maka Aku tidak akan marah kepada kalian setelah itu selamanya” (HR Al-Bukhari)Allah Maha kaya dengan dzatNya, Ia adalah As-Shomad yaitu Yang para makhluq seluruhnya bergantung kepadaNya dalam memenuhi kebutuhan mereka. Ia adalah Sayyid (Pemimpin/Raja dari seluruh raja) yang Maha Sempurna dan tiada berongga.لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)“Allah tidak beranak dan tidak pula dilahirkan, dan tidak ada sesuatupun yang setara denganNya” (QS Al-Ikhlaash 3-4)Tidak ada tuhan yang bersamaNya, dan ia tidak memiliki Istri maupun anak.وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ“Dia tidak memiliki sekutu dalam kerajaanNya, dan Dia juga bukan pula hina yang memerlukan penolong” (QS Al-Isroo’ : 11)Tidak ada tuhan yang menyertaiNya.Ia tidaklah ditaati kecuali karena karuniaNya (kepada hambaNya yang taat tersebut). Dan Ia tidaklah dimaksiati kecuali Ia mengetahuinya. Ia Maha kaya tidak membutuhkan makhlukNya, dan segala sesuatu hanya bisa tegak denganNya dan membutuhkanNya.يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ“Wahai manusia sekalian, sesungguhnya kalianlah yang butuh kepada Allah, sementara Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji” (QS Faathir : 15)Ketaatan orang-orang yang taat tidaklah memberikan manfaat kepadaNya, dan maksiatnya para pelaku maksiat tidaklah memberikan kemudorotan kepadaNya.إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ“Jika kalian kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) kalian” (QS Az-Zumar : 7)Seandainya seluruh manusia dan jin berada diatas hati seorang yang paling bertakwa maka hal itu tidak akan menambah sesuatupun dalam kerajaanNya, dan jika seluruh manusia dan jin berada di atas hati seorang yang paling fajir maka hal itu tidak akan mengurangi sedikitpun dari kerajaanNya. Para hambaNya tidak akan mampu menyampaikan manfaat kepadaNya sehingga bermanfaat bagiNya, dan tidak akan mampu menyampaikan kemudorotan kepadaNya sehingga memudorotkanNya. Ia tegak dengan diriNya sendiri.Dia Maha Besar, Maha Agung, Maha Kuasa da Maha Kuat. Kemuliaan adalah sarungNya dan kesombongan adalah selendangNya. Ia adalah Raja yang tiada sekutu bagiNya, Maha Esa yang tiada tandingan bagiNya, Maha Kaya yang tidak memerlukan penolong bagiNya, Yang Maha Tinggi yang tiada serupa denganNya.كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ“Segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah Allah” (QS Al-Qosos : 88)Seluruh kerajaan pasti akan sirna kecuali kerajaanNya, seluruh karunia pasti akan terputus kecuali karuniaNya. Dia meliputi segala sesuatu, dan tidak ada sesuatupun yang meliputiNya.لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan” (Qs Al-An’aam : 103)وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ“Padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kananNya”(QS Az-Zumar : 67)يَضَعُ السَّمَوَاتِ عَلَى إِصْبَعٍ وَالْأَرَضِينَ عَلَى إِصْبَعٍ وَالْمَاءَ وَالثَّرَى عَلَى إِصْبَعٍ وَالْخَلَائِقَ عَلَى إِصْبَعٍ ثُمَّ يَهُزُّهُنَّ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ“Pada hari kiamat Ia meletakkan langit-langit pada satu jariNya, seluruh bumi pada satu jariNya, dan gunung-gunung pada satu jariNya, pohon-pohon pada satu jariNya, air dan tanah pada satu jariNya, dan seluruh makhluk pada satu jariNya, lalu Iapun mengguncangkannya seraya berkata, “Aku adalah Maha Raja” (HR Al-Bukhari)Ia tidak dimohon syafaatNya demi meminta syafaat seorangpun dari makhlukNya, dan tidak seorangpun yang memberi syafaat di sisiNya kecuali setelah mendapat izin dariNya, dan hal ini berbeda dengan para makhlukNya yang bisa ada syafaat di sisi mereka meskipun tanpa izin mereka. KursiNya –yaitu tempat kedua kakiNya- meliputi seluruh langit dan bumi.Tidaklah kursi di ‘arsyNya kecuali seperti lingkaran besi (kecil) jika diletakkan di padang pasir. Dan ‘Arsy adalah makhluk yang terbesar, yang dipikul oleh para malaikat yang ukuran jarak antara daun telinga malaikat tersebut hingga pundaknya adalah perjalanan selama 700 tahun. Dan Allah beristiwa (berada) di atas ‘arsyNya sesuai dengan kemuliaanNya dan Ia tidak membutuhkan ‘arsyNya dan apa yang dibawahnya.تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْ فَوْقِهِنَّ“Hampir saja langit-langit itu pecah karena (kebesaran Tuhan) yang berada diatas langit-langit tersebut” (QS Asy-Syuroo : 5)Yaitu langit-langit ketakutan karena keagungan Allah. Dan jika Allah berbicara menyampaikan wahyu maka langit-langitpun bergetar dan para penghuni langitpun pingsan dan tunduk sujud kepada Allah.Allah Maha Hidup dan Maha Tegak (dan Menegakkan mahklukNya), Ia sama sekali tidak mengantuk dan tidak tidur.إِنَّ اللَّهَ لَا يَنَامُ، وَلَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ، يَخْفِضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ، يُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ، وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ، حِجَابُهُ النُّورُ، لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِIa tidak tidur dan tidak pantas bagiNya untuk tidur. Ia menaikan timbangan dan menurunkannya (untuk menimbang amalan hamba yang naik kepadaNya dan menimbang rizki mereka yang Allah turunkan kepada mereka). Diangkat kepadaNya amalan malam (para hamba) sebelum naiknya amalan siang mereka, dan amalan siang mereka sebelum amalan malam mereka. TabirNya adalah cayaha, jika seandainya Ia menyingkap tabir tersebut maka cahaya wajahNya akan membakar apa yang sampai kepadanya pandanganNya (yaitu membakar seluruh makhlukNya)” (HR Muslim no 178)Dialah yang Maha Awal tidak ada sesuatupun yang sebelumNya, dan Yang Maha Akhir, maka tidak ada sesuatupun yang setelahNya. Dialah Yang Maha Dzohir maka tidak ada sesuatupun yang di atasNya, dan Yang Maha Bathin maka tidak ada sesuatupun yang tidak diketahuiNya.Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan tidak ada yang lebih kuat dariNya. Kau ‘Aad merasa hebat dengan kekuatan merekaوَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً“Mereka berkata, “Dan siapakah yang lebih kuat dari kita?” (QS Fushhilat : 15)Maka Allah berkata :أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً“Apakah mereka tidak mengetahui bahwasanya Allah Yang telah menciptakan mereka Dialah Yang lebih kuat dari mereka?” (QS Fushilat : 15)Dan Dia lebih mampu menguasai makhlukNya daripada majikan terhadap budaknya. Ia berkata tentang diriNya :أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا“Bahwasanya seluruh kekuatan adalah milik Allah” (QS Al-Baqoroh : 165)Maka tidak ada sesuatupun di langit maupun di bumi yang dapat melemahkanNya. Ia menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam hari dan Ia tidak ditimpa kelelahan sama sekali. Barangsiapa yang ditolong olehNya maka tidak ada yang bisa mengalahkannya. Tidak ada perubahan dan tidak kekuatan bagi makhluk kecuali denganNya. Perkara ketetapanNya hanya seperti sekejap mata bahkan lebih cepat. Ia memiliki pasukan yang tidak mengetahuinya kecuali Ia sendiri. Jika perkara dunia telah selesai maka Ia akan menggoncang bumi dengan sedahsyat-dahsyatnya, lalu Ia membenturkan bumi, menerbangkan gunung-gunung, lalu menghancurkannya sehancur-hancurnya. Dengan tiupan sangkakala yang pertama maka Ia menjadikan makhluk kaget ketakutan, dan dengan tiupan sasangkala yang kedua merekapun mati, dan dengan tiupan yang ketiga merekapun bangkit ke padang mahsyar. Dan jika Ia turun untuk memulai pengadilan maka langit-langitpun terbelah dan jadilah langit seperti mawar merah seperti kilapan minyak.Ia adalah Yang Maha Suci Maha Qudus, Ia tersucikan dari segala aib dan kekurangan. BagiNya puncak kesempurnaan dan puncak keindahan. Tiada tandingan bagiNya dan tiada yang serupa denganNya, tiada yang semisal dan sebanding denganNya.لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ“Tiada yang semisal denganNya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS Asy-Syuroo : 11)            Selanjutnya, kaum muslimin sekalian…Maka apakah tidak wajib bagi kita untuk mencintai Rabb kita yang demikianlah sifat-sifatNya dan perbuatan-perbuatanNya…?, untuk memujiNya dan mengikhlashkan ibadah bagiNya…?Barangsiapa yang mencintai Allah dan menyembahNya maka Allah mencintainya. Barangsiapa yang mengenal Allah maka ia akan dekat dengan Allah dan tunduk dan merendah kepadaNya, dan ia akan merasa tentram dan tenang bersamaNya, akan mengharap ganjaranNya dan takut akan siksaanNya. Ia akan mencurahkan kepadaNya segala hajat kebutuhannya dan ia akan bertawakkal kepadaNya. Dan barangsiapa yang memuji Allah dan banyak menyanjungNya maka akan terangkat derajatnya. Maka tidak ada seseorangpun yang lebih menyukai untuk dipuji seperti Allah, karenanya Ia memuji diriNya sendiri.Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutukمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ“Tidaklah mereka mengagungkan Allah dengan semestinya, sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa” (QS Al-Hajj : 74)Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur’an yang agung…===========Khutbah Kedua            Segala puji bagi Allah atas kebaikanNya, dan syukur terpanjatkan kepadaNya atas bimbinganNya dan karuniaNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, untuk mengagungkanNya. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita Muhammad adalah hamba dan rasulNya. Semoga shalawat dan salam yang banyak tercurahkan kepada beliau, keluarga beliau dan para sahabatnya.Barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah dan berdoa kepada selainNya kepada makhluk dan orang mati maka sungguh ia telah merendahkan Robbul ‘Aalamin (Penguasa alam semesta), dan ia telah berburuk sangka kepada Allah dan ia telah menyamakan Allah dengan selainnya. Dan syirik menggugurkan seluruh amal sholeh, dan pelakunya tidak akan dimaafkan oleh Allah dan Allah tidak akan memasukannya ke dalam surga, dan ia akan termasuk orang-orang yang kekal di neraka. Syirik merupakan perubahan terbesar bagi fitroh manusia dan kerusakan terbesar di atas muka bumi, dan merupakan pokok asal seluruh bencana dan tempat terkumpulnya seluruh penyakit.Kemudorotannya sangatlah besar, dan bahayanya sangatlah buruk. Kemaksiatan-kemaksiatan pembawa kesialan dan keburukan yang sangat besar, terkumpulkan pada seorang hamba lalu membinasakannya, menghalangi antara hamba dan hatinya (untuk mendekat kepada Allah). Sesuai kadar merasa kecil suatu kemaksiatan di mata maka semakin besar kadar nilainya kemaksiatan tersebut di sisi Allah. Dan janganlah engkau melihat kepada kecilnya maksiat akan tetapi lihatlah kepada keagungan Dzat yang engkau maksiati.Kemudian ketahuilah bahwasanya Allah telah memerintahkan kalian untuk bershalawat dan salam kepada nabiNya, maka Allah berfirman di dalam Al-Qur’an :إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا“Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kepadanya dan bersalamlah kepadanya” (QS Al-Ahzaab : 56)   Penerjemah : Ustman Hatim dan Firanda Andirja

RUBUBIYAH ALLAH (Allah Maha Esa dalam penciptaan, pemilikan, dan pengaturan alam semesta)

Khotbah Jum’at dari Masjid Nabawi, 24 Jumadal Ula 1437 H (4/3/2016 M).Oleh : Syekh Dr. Abdul Muhsin Bin Muhamad Al-QasimKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak akan ada yang dapat memberinya petunjuk.Aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepadanya, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya sebanyak-banyaknya. Selanjutnya …….Maka bertakwalah –wahai hamba-hamba Allah- dengan sebenar-benar takwa, dan berpeganglah dengan tali Islam yang kuat. Kaum muslimin !            Kemuliaan suatu ilmu berdasarkan kemuliaan yang diilmui. Ilmu yang paling mulia dan suci adalah mengenal Allah. Kebutuhan akan pengenalan Allah –subhanahu wa ta’ala- dan pengagungan kepada-Nya menempati urutan kebutuhan teratas, bahkan merupakan pokok dari segala kebutuhan yang mendesak.            Allah –subhanahu wa ta’ala- mengeluarkan anak cucu Adam –alaihissalam- dari tulang sulbi untuk menyatakan kesaksian mereka atas diri mereka bahwa Allah adalah Rabb (Tuhan) dan Raja mereka, dan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Firman Allah :وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ [ الأعراف /172]“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. Qs Al-A’raf : 172Hati manusia diciptakan untuk mencintai Allah, dan memang demikianlah Allah menciptakan manusia untuk mencitai dan mengenal-Nya. Firman Allah :فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ [ الروم / 30 ]“(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah”.Qs. Ar-Rum : 30Artinya, janganlah kalian merombak ciptaan Allah, agar kalian tidak menggeser manusia dari fitrahnya.  Fitrah inilah yang disebut kecenderungan kepada kesucian agama (hanifiyah)  yang menjadi pola dasar Allah menciptakan manusia itu, sebagaimana sabda Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-  :كل مَوْلُودٍ  يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ“ Setiap bayi dilahirkan (ke dunia ini) berada dalam kesucian (fitrah)”.Allah –subhanahu wa ta’ala- memberitakan bahwa setan dari kalangan jin dan manusia-lah yang menyimpangkannya.  Firman Allah dalam hadis Qudsi :” وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ ” رواه مسلم“Dan aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hunafa’ (berpaling dari syirik dan mentauhidkan Allah) seluruhnya, dan sesungguhnya setan-setan mendatangi mereka, lalu memalingkan mereka dari agama mereka.” HR. MuslimMaka setiap muslim diperintahkan untuk menjaga dan memperhatikan fitrah-nya agar ketika menyimpang segera kembali kepada rel asalnya dan bagi yang telah beriman semakin bertambah keimanannya.Allah –subhanahu wa ta’ala- memperlihatkan ayat-ayat kekuasaanNya sebagai bukti ke-Esaan Rububiyah dan Uluhiyah-Nya. Seandainya air lautan menjadi tinta untuk mengisi pena yang digunakan menulis kalimat-kalimat Allah, hikmah-hikmah ciptaan-Nya dan ayat-ayatNya yang menunjukkan ke-EsaanNya, niscaya lautan itu habis sama sekali sebelum semua tertulis.  Seandainya didatangkan lagi banyak lautan semisal itu guna menyuplai sarana penulisannya, tentu tetap tidak akan terselesaikan penulisan kalimat-kalimat Allah.Firman Allah :قُل لَّوۡ كَانَ ٱلۡبَحۡرُ مِدَادٗا لِّكَلِمَٰتِ رَبِّي لَنَفِدَ ٱلۡبَحۡرُ قَبۡلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَٰتُ رَبِّي وَلَوۡ جِئۡنَا بِمِثۡلِهِۦ مَدَدٗا [ الكهف /109]“Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” Qs Al-Kahf : 109Para rasul diutus untuk pemantapan dan penyempurnaan fitrah itu. Allah –subhanahu wa ta’ala- berargumentasi terhadap mereka yang tidak meng-Esa-kanNya (dalam peribadatan) dengan (fitroh mereka akan) pengakuan mereka terhadap Rububiyah-Nya. Firman Allah :يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ [ البقرة / 21 ]“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”. Qs Albaqarah : 21Peng-Esa-an Tuhan dalam aspek Rububiyah dengan mengakui ke-Esa-an Allah dalam perbuatanNya merupakan petnunjuk bukti ke-Esa-anNya dalam aspek Uluhiyah-Nya. Ia merupakan salah satu  pokok dari pokok-pokok keimanan, serta salah satu bagian dari macam-macam tauhid (monoteisme) yang karenanya Allah menciptakan manusia.Sementara itu, penyekutuan dalam aspek tauhid rububiyah ini merupakan bentuk kemusyrikan terbesar dan terburuk.  Dan tidak ada yang keliru dalam aspek (Uluhiyah) kecuali orang yang tidak memberikan hak rububiyah Allah sebagaimana mestinya.Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha sempurna dalam segala sifat dan perbuatanNya.  Di antara sifat-sifatNya adalah sifat Rububiyah ( Tuhan Pencipta dan Pengatur segala urusan makhluk-Nya), tidak ada sekutu bagi-Nya dalam aspek Rububiyah-Nya, sebagaimana pula tidak ada sekutu bagi-Nya dalam aspek Uluhiyah-Nya.Firman Allah :قُلۡ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡغِي رَبّٗا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيۡءٖۚ  [ الأنعام 164 ]“ Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu”. Qs Al-An’am : 164Esensi Rububiyah ialah kesendirian/keesaan Allah dalam menciptakan, memerintah, memberi rezeki dan mengatur; Maka Allah –subhanahu wa ta’ala- adalah Tuhan Pencipta, tidak ada pencipta lain bersama-Nya. Firman Allah :هَلۡ مِنۡ خَٰلِقٍ غَيۡرُ ٱللَّهِ  [ فاطر / 3 ]” Adakah pencipta selain Allah “. Qs Fathir : 3Dia Pencipta langit dan bumi, Dia ciptakan dan sempurnakan, Dia membuat baik pada penciptaan segala sesuatu, Dia Maha Kreasi dan Maha mengetahui.هَٰذَا خَلۡقُ ٱللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦۚ [ لقمان / 11]” Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah”. Qs Luqman : 11Sebagaimana Allah menciptakan makhluk pada permulaan, Dia akan menghidupkannya kembali pada hari Kiamat, dan itu tentu lebih mudah bagi-Nya.Setiap sesembahan selain Allah –subhanahu wa ta’ala- tidaklah berhak disembah, karena dia tidak bisa menciptakan.Firman Allah :إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَن يَخۡلُقُواْ ذُبَابٗا وَلَوِ ٱجۡتَمَعُواْ لَهُۥۖ [ الحج / 73 ]“ Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya”.Qs Al-Hajj : 73Dan Allah-lah yang berhak disembah, karena Dia menciptakan. Firman Allah :أَفَمَن يَخۡلُقُ كَمَن لَّا يَخۡلُقُۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ [ النحل / 17 ]“Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)?. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran”. Qs An-Nahl : 17            Setiap hamba pastilah mengakui bahwa dirinya adalah makhluk ciptaan Allah, dan Allah-lah Penciptanya. Firman Allah :وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَهُمۡ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُۖ  [ الزخرف / 87 ]“ Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Qs Az-Zukhruf : 87Allah –subhanahu wa ta’ala- adalah Maha Raja, kerajaan adalah milik-Nya.  Firman Allah :ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡ لَهُ ٱلۡمُلۡكُۚ وَٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ مَا يَمۡلِكُونَ مِن قِطۡمِيرٍ  [ فاطر / 13 ]“Demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari”.Qs Fathir: 13Dan Dia pula Pemilik semua makhluk ciptaan-Nya.  Firman Allah :لَّهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ [ البقرة / 255 ]“ Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi”. Qs Albaqarah : 255Seluruh makhluk tunduk dan bertasbih kepada-Nya.  Firman Allah :تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ ٱلسَّبۡعُ وَٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهِنَّۚ وَإِن مِّن شَيۡءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمۡدِهِۦ وَلَٰكِن لَّا تَفۡقَهُونَ تَسۡبِيحَهُمۡۚ [ الإسراء/44]“ Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka”. Qs Al-Isra : 44Bahkan segenap makhluk, baik benda mati atau hidup bersujud kepada-Nya. Firman Allah :وَلِلَّهِۤ يَسۡجُدُۤ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ طَوۡعٗا وَكَرۡهٗا [ الرعد / 15 ]“ Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa”. Qs Ar-Ra’d : 15Dia-lah Allah Yang Maha Penguasa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Semua makhluk adalah hamba-Nya. Firman Allah :إِن كُلُّ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّآ ءَاتِي ٱلرَّحۡمَٰنِ عَبۡدٗا [ مريم / 93 ]“ Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba”. Qs Maryam : 93Dia yang memegang hak milik mutlak dan langgeng, Raja di dunia dan di hari kemudian.  Di akhirat kelak Dia tampil seraya berkata :لِّمَنِ ٱلۡمُلۡكُ ٱلۡيَوۡمَۖ  [ غافر / 16]“Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Qs Ghafir : 16Lalu Dia sendiri menjawab seraya berkata :لِلَّهِ ٱلۡوَٰحِدِ ٱلۡقَهَّارِ [ غافر / 16 ]“Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan”. Qs Ghafir : 16Allah –subhanahu wa ta’ala- sendirian mengatur segala urusan makhluk-Nya dan kerajaan-Nya. Segala urusan berada di tangan-Nya sendiri. Firman Allah :أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ   [ الأعراف / 54]“ Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah”. Qs Al-A’raf : 54Dia memerintah dan melarang, menciptakan dan memberi rezeki, memberikan dan menahan pemberian, merendahkan dan mengangkat, memuliakan dan menghinakan, menghidupkan dan mematikan. Firman Allah :يُكَوِّرُ ٱلَّيۡلَ عَلَى ٱلنَّهَارِ وَيُكَوِّرُ ٱلنَّهَارَ عَلَى ٱلَّيۡلِۖ وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَۖ   [ الزمر / 5 ]“ Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan”. Qs Az-Zumar : 5Firman Allah :يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ وَيُحۡيِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۚ  [ الروم / 19 ]“Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya”. Qs Ar-Rum : 19Allah mengeluarkan yang tersimpan di langit dan di bumi.Seluruh makhluk berada dalam kekuasaan-Nya dan kehendak-Nya. Hati seluruh hamba dan ubun-ubun mereka berada ditangan-Nya. Segenap urusan penting telah terpatri pada ketetapan takdir-Nya.  Hanya ada pada-Nya segala urusan, sebelum dan sesudah terjadi.  Mengawasi setiap jiwa dengan segala apa yang dilakukan. Langit dan bumi eksis tegak karena perintah-Nya.Firman Allah :وَيُمۡسِكُ ٱلسَّمَآءَ أَن تَقَعَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦٓۚ  [ الحج / 65 ]“Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya”.Qs Al-Haj :65Firman Allah :يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَاۚ  [ فاطر / 41 ]“Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap”. Qs Fathir : 41Semua makhluk di langit dan di bumi memohon kepada-Nya.Firman Allah :كُلَّ يَوۡمٍ هُوَ فِي شَأۡنٖ  [ الرحمن / 29]“ Setiap waktu Dia dalam urusan”. Qs Ar-Rahman : 29Di antara sekian banyak urusan-Nya adalah; mengampuni dosa dan memberi petunjuk bagi yang tersesat, menghilangkan kesedihan, menghilangkan penderitaan, membalut hati yang luka, mencukupkan orang miskin, merespon doa orang-orang yang tertindas.Firman Allah :وَمَا كُنَّا عَنِ ٱلۡخَلۡقِ غَٰفِلِينَ  [ المؤمنون / 17 ]“dan Kami tidaklah lalai dari ciptaan (Kami)”. Qs Almu’minun : 17Perintah-perintahNya berkesinambungan, kehendak-Nya berlaku. Apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan berbuat apa yang diinginkan-Nya.  Keputusan-Nya merupakan keputusan yang pasti berlaku.  Tidak ada yang menghalangi pemberian-Nya dan tidak ada yang melangsungkan penolakan-Nya.Tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya, tidak ada yang dapat menangkis ketentuan takdir-Nya, tidak ada yang dapat menghindar dari kemauan-Nya, tidak ada yang dapat mengganti kalimat-kalimatNya. Allah telah menetapkan takdir makhluk-Nya sejak 50 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.Seandainya seluruh makhluk bersepakat melakukan sesuatu yang tidak ditetapkan oleh Allah untuk terjadi maka mereka tidak mampu melangsungkan maksud mereka. Seandainya mereka semua bersepakat merubah sesuatu yang telah ditetapkan terjadi untuk menggagalkannya, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya.Seandainya seluruh umat manusia bersepakat untuk memberi kemudorotan kepada seseorang, sementara Allah tidak menghendakinya, niscaya mereka tidak mampu melakukannya. Seandainya seluruh umat manusia bersepakat memberi manfaat kepada seseorang yang Allah tidak memberinya izin untuk memperoleh manfaat tersebut, niscaya mereka tidak akan mampu memberi manfaat kepadanya.Tidak ada yang dapat menolak siksaan Allah ketika turun, dan tidak ada yang mampu menghalaunya ketika menimpa. Allah memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya atas anugerah dari-Nya, dan Dia membiarkan sesat siapapun yang dikehendaki-Nya atas keadilan-Nya.Perintah-perintahNya hanya dengan perkataanNya dan terlaksana  :إِذَآ أَرَادَ شَيۡ‍ًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ  [ يس / 82 ]“ Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia”. Qs Yasin : 82Segala tindakan dan perbuatan-Nya tak seorang-pun yang mempertanyakannya.Firman Allah :لَا يُسۡ‍َٔلُ عَمَّا يَفۡعَلُ وَهُمۡ يُسۡ‍َٔلُونَ  [ الأنبياء / 23 ]“ Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai”. Qs Al-Anbiya : 23Firman-Nya sebaik-baik perkataan, tidak berpermulaan dan tidak pula berkesudahan.Firman Allah :وَلَوۡ أَنَّمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ مِن شَجَرَةٍ أَقۡلَٰمٞ وَٱلۡبَحۡرُ يَمُدُّهُۥ مِنۢ بَعۡدِهِۦ سَبۡعَةُ أَبۡحُرٖ مَّا نَفِدَتۡ كَلِمَٰتُ ٱللَّهِۚ  [ لقمان / 27 ]“ Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah”. Qs Luqman : 27ke-Maha Tahuan- Allah meliputi segala sesuatu; mengetahui peristiwa yang telah terjadi, yang belum terjadi dan yang tidak terjadi sama sekali. Mengetahui apa saja yang akan dilakukan oleh makhluk-Nya di waktu sekarang dan akan datang serta  apa yang pernah mereka lakukan sebelumnya.Firman Allah :وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۚ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا [ الأنعام / 59 ]“dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula)”. Qs Al-An’am : 59Tidak ada suatu zarah (partikel kecil) bergerak di alam semesta ini kecuali atas izin-Nya. Tidak samar bagi-Nya apapun yang ada di bumi dan di langit. Dia Maha mengetahui perkara-perkara yang ghaib (tidak terlihat) dari kita seperti peristiwa-peristiwa dan  umat-umat terdahulu, dan Diapun mengetahui yang terlihat. Dia-pun Maha mengetahui bisikan-bisikan halus dalam hati, termasuk lintasan-lintasan kerahasiaan yang tersimpan dalam hati.Allah Maha mengetahui apa yang ada dalam kandungan wanita, Dia mengetahuiوَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَاapa yang tumbuh di bumi, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke langit. (QS Saba’ : 2)لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ“Tidak ada yang tersembuni bagi-Nya suatu apapun seberat zarah, baik di langit maupun di bumi” (QS Saba’ : 3).وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَDi sisiNya-lah kunci-kunci semua perkara ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri” (QS Al-An’aam : 59)Ilmu yang dimiliki seluruh makhluk ini hanyalah bagaikan setetes air dari lautan ilmu Allah.Firman Allah :وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيۡءٖ مِّنۡ عِلۡمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَۚ  [ البقرة / 255 ]“ dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya”. Qs Albaqarah : 255Pernah seekor burung pipit mematuk air di laut, maka Nabi Khodhir berkata kepada Nabi Musa –alaihimassalam- :” مَا نَقَصَ عِلْمِي وَعِلْمُكَ مِنْ عِلْمِ اللهِ إِلاَّ مِثْلَ مَا نَقَصَ هَذاَ العُصْفُوْرُ مِنَ الْبَحْرِ ” رواه مسلم“Ilmu-ku dan ilmu-mu tidaklah mengurangi ilmu Allah kecuali seperti berkurangnya air laut setelah dipatuk oleh burung pipit ini”.Allah –subhanahu wa ta’ala- mendengar setiap suara di jagat raya ini.  Firman Allah tentang Dzat-Nya :أَسۡمَعُ وَأَرَىٰ  [ طه / 46 ]“Aku mendengar dan melihat” Qs Thaha : 46Pendengaran Allah meliputi segala pendengaran; maka apapun pendengaran yang ada tidaklah asing dan tidak pula rancu bagi Allah. Firman Allah :أَمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّا لَا نَسۡمَعُ سِرَّهُمۡ وَنَجۡوَىٰهُمۚ [ الزخرف / 80]” Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka?” Qs Az-Zukhruf : 80            Seorang wanita datang menghadap Nabi –shallallahu alaihi wa salam-  mengadukan perihal suaminya, ketika itu Aisyah –radhiyallahu anha-  yang berada di salah satu sudut rumah berkata, sesungguhnya aku mendengar pembicaraan wanita itu, namun sebagian pembicaraannya samar bagiku, sedangkan Allah dari atas tujuh langit mendengar suaranya. Tidak selang waktu lama tiba-tiba Malaikat Jibril –alaihissalam- turun membawa ayat ini :قَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّتِي تُجَٰدِلُكَ فِي زَوۡجِهَا وَتَشۡتَكِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَسۡمَعُ تَحَاوُرَكُمَآۚ  [ المجادلة / 1 ]“ Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua”. Qs Al-Mujadalah : 1            Setiap gerakan di alam semesta ini dilihat oleh Allah. Penglihatan-Nya meliputi segala yang terlihat. Allah melihat rayapan semut hitam yang merayap di batu halus dalam kegelapan malam yang hitam kelam. Apa yang dilakukan manusia dalam malam gelap gulita-pun tidak samar bagi Allah.Firman Allah :ٱلَّذِي يَرَىٰكَ حِينَ تَقُومُ  – وَتَقَلُّبَكَ فِي ٱلسَّٰجِدِينَ  [ الشعراء / 218 – 219 ]“ Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang) . dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud”. Qs As-Syuara : 218-219            Segala tingkah laku manusia adalah dalam pengawasan Tuhan kita, Allah –subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ [ الفجر / 14 ]“ sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi”. Qs Al-Fajr :14Oleh karena seluruh makhluk adalah ciptaan Allah, maka ketentuan hukum yang mengaturnya hanyalah milik Allah pula.Firman Allah :إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِ  [ يوسف / 40 ]“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah”. Qs Yusuf : 40Semua ketetapan hukum, hukum pidana, aturan perundang-undangan yang ditetapkan Allah merupakan sebaik-baik hukum, tidak ada ketentuan hukum yang lebih baik dari pada hukum Allah.Firman Allah :وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡحَٰكِمِينَ  [ يوسف / 80 ]“Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya” Qs Yusuf : 80Hukum Allah –subhanahu wa ta’ala- tidak berat sebelah dan tidak menzalimi siapapun. Firman Allah :أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَحۡكَمِ ٱلۡحَٰكِمِينَ [ التين / 8 ]“ Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya”. Qs At-Tin : 8Allah –subhanahu wa ta’ala- menetapkan ketentuan hukum, maka tidak ada seorangpun yang mampu menolak ketetapan hukum-Nya.Firman Allah :وَهُوَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ  [ الرعد / 41 ]“ dan Dialah Yang Maha cepat hisab-Nya “. Qs Ar-Ra’d : 41Adapun rahmat kasih sayang-Nya, maka tidak ada seorangpun yang lebih kasih sayang dari pada Allah. Dia berfirman memuji diri-Nya sendiri :وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ [ يوسف / 92 ]“ dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang” Qs Yusuf : 92خَيْرُ الرَّاحِمِينَ“Pemberi rahmat Yang Paling Baik” (QS Al-Mukminun : 109)Kasih sayang-Nya melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pernah menyaksikan seorang wanita dalam tawanan sedang mencari anaknya, ketika melihat seorang bocah kecil, dipeluknya bocah itu dan langsung ia tempelkan pada perutnya lalu ia susui. Maka Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- berkata kepada para sahabat :أَتَرَوْنَ هَذِهِ الْمَرْأَةَ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ ؟ ” قَالُوا : لا ،“Adakah kalian berpikir bahwa wanita ini akan mencampakkan anaknya pada api?”. Mereka menjawab : Tentu tidak Ya Rasulallah. Kemudian beliau –shallallahu alaihi wa sallam- melanjutkan ucapannya :” لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ الْمَرْأَةِ بِوَلَدِهَا ” متفق عليه “Sungguh Allah lebih kasih sayang kepada hamba-Nya dari pada wanita ini kepada anaknya”. (HR Al-Bukhari dan Muslim).            Allah –subhanahu wa ta’ala- menciptakan untukNya 100 rahmat, satu di antaranya Dia turunkan ( sebarkan ), maka dengan rahmat yang satu itu seluruh makhluk di bumi saling berkasih sayang, sementara rahmat yang 99 Dia tahan pada-Nya.            Rahmat Allah merata pada segala sesuatu. Malaikat Penyangga Arsy dan sekitarnya berkata :رَبَّنَا وَسِعۡتَ كُلَّ شَيۡءٖ رَّحۡمَةٗ وَعِلۡمٗا [ غافر / 7 ]“Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu”. Qs Ghafir : 7Rahmat kasih sayang Allah akan terus berkesinambungan hingga akhirat.Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha Pemurah, tidak ada yang lebih murah dari pada-Nya. Allah senang berbuat baik dan memberi hamba-hambaNya. Allah memberi mereka rezeki dari arah atas dan bawah mereka.Firman Allah :قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ [ يونس / 31 ]“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi”. Qs Yunus : 31Karunianya begitu besar dan kekayaan-Nya tidak akan habis.يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لَا يَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَTangan-Nya tak henti-hentinya memberi, dan pemberiannya tidak mengurangi kekayaannya, Ia dermawan senantiasa memberi siang dan malam.  Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ“Tahukah kalian betapa banyak nafkah yang Allah keluarkan sejak Dia menciptakan langit dan bumi, sungguh tidak berkurang kekayaan yang ada di tangan-Nya”. HR Bukhari.            Allah –subhanahu wa ta’ala- tidak menolak permohonan hamba-hambaNya. Firman Allah :وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ [ البقرة / 186 ]“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku”. Qs Albaqarah : 186Allah tidak enggan memberi lantaran besarnya kebutuhan. “Seandainya seluruh hamba ini, mulai generasi pertama sampai terakhir, dari golongan manusia dan jin, berkumpul di suatu tanah lapang untuk memohon kepada-Nya dan Allah memenuhi permohonan setiap orang di antara mereka, tidaklah hal itu mengurangi kekayaan yang ada pada-Nya kecuali seperti air yang melekat pada jarum setelah dimasukkan ke dalam laut”.            Allah –subhanahu wa ta’ala- menjamin rezeki setiap makhluk-Nya, manusia dan jin, yang muslim dan yang kafir, termasuk seluruh hewan melata.  Firman Allah :وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا [ هود / 6 ]“ Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya”. Qs Hud : 6Pemberian-Nya tanpa pamrih. Dia-lah sebaik-baik Pemberi rezeki. Allah membuka pintu-pintu pemberian-Nya untuk hamba-hambaNya; menundukkan lautan, mengalirkan sungai, mengucurkan rezeki, menganugerahkannya dalam jumlah besar kepada hamba-hambaNya padahal mereka tidak memintanya. Dia memberi apa yang mereka minta, bahkan menawarkan kepada mereka untuk selalu memohon kepadaNya.” مَنْ يَسْألنى فَأعْطِيَه “ “Siapakah yang ingin meminta lalu Aku kabulkan permintaannya”.Segala bentuk kebaikan datang dari-Nya. Firman Allah :وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةٖ فَمِنَ ٱللَّهِۖ  [ النحل / 53 ]“ Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah”. Qs An-Nahl : 53            Allah mengirimkan rezeki setiap makhluk-Nya; Dia memberikan rezeki kepada Janin dalam rahim ibunya, kepada semut dalam liangnya, burung di ruang angkasa dan ikan di air yang dalam.Firman Allah :وَكَأَيِّن مِّن دَآبَّةٖ لَّا تَحۡمِلُ رِزۡقَهَا ٱللَّهُ يَرۡزُقُهَا وَإِيَّاكُمۡۚ [ العنكبوت / 60 ]“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu”. Qs Al-Ankabut : 60            Allah begitu Pemurah, Dia tidak rela bila permohonan itu disampaikan kepada selain Dia. Siapa yang tidak meminta kepada-Nya, Allah marah kepadanya. Maka sungguh terhalang dari kemurahan Allah seorang yang berharap kepada selain Penciptanya. Dan tidak ada seorang pun yang lebih tahan terhadap gangguan yang didengarnya dari pada Allah. Mereka menyekutukan Allah dan menuduh Allah punya anak, namun demikian Allah tetap memberi mereka kesehatan dan rezeki.            Allah –subhanahu wa ta’ala- menyambut gembira pertobatan hamba-Nya melebihi dari kegembiraan seorang yang setelah kehilangan hewan tunggangannyaبِأَرْضٍ فَلَاةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَمَا هُوَ كذلكَ إِذ هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فقَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِdi gurun dan berputus asa untuk bertemu kembali hewan tunggangannya, maka iapun mendatangi sebuah pohon lalu merebahkan dirinya di bawah naungan pohon tersebut sementara ia telah putus asa dari bertemu kembali hewan tunggangannya. Dalam keputus asaan itu tiba-tiba hewan tunggangannya itu datang di hadapannya, lalu ia berkata kegirangan : “Ya Allah! Engkau hambaku dan aku TuhanMu”.   Dia salah omong karena terlalu gembira”. (HR Muslim)Allah memberi bimbingan kepada mereka yang taat kepadaNya sebagai karunia dan kebaikan dariNya, lalu Allah memberi ganjaran kepada mereka setelah membimbing mereka. Allah Maha berterima kasih, Ia memberi ganjaran kepada amalan yang sedikit dengan ganjaran yang besar. Satu kebaikan dilipat gandakan olehNya menjadi sepuluh kali lipat bahkan dengan lipat ganda yang banyak. Ia menyiapkan bagi hamba-hambaNya di surga kenikmatan-kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, bahkan tidak pernah terbetik dalam hati manusia. Dan Ia berfirman :إِنَّ هَذَا لَرِزْقُنَا مَا لَهُ مِنْ نَفَادٍ“Sesungguhnya ini adalah benar-benar rezeki dari Kami yang tiada habis-habisnya” (QS Shaad : 54)Bahkan Allah senantiasa ingin memberi kepuasan kepada penduduk surga, Allah berkata :هَلْ رَضِيتُمْ فَيَقُولُونَ وَمَا لَنَا لَا نَرْضَى وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ فَيَقُولُ أَنَا أُعْطِيكُمْ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالُوا يَا رَبِّ وَأَيُّ شَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ فَيَقُولُ أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا“Apakah kalian puas?”, mereka berkata, “Kenapa kami tidak puas?, sementara Engkau telah menganugrahkan kepada kami apa yang tidak pernah Engkau berikan kepada seorangpun dari ciptaanMu”. Maka Allah berkata, “Aku akan memberikan kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari itu semua?”. Mereka berkata, “Ya Rabb, dan apakah lagi yang lebih baik dari kenikmatan ini semua?”. Maka Allah berkata, “Aku akan menganugrahkan kepada kalian keridoanKu maka Aku tidak akan marah kepada kalian setelah itu selamanya” (HR Al-Bukhari)Allah Maha kaya dengan dzatNya, Ia adalah As-Shomad yaitu Yang para makhluq seluruhnya bergantung kepadaNya dalam memenuhi kebutuhan mereka. Ia adalah Sayyid (Pemimpin/Raja dari seluruh raja) yang Maha Sempurna dan tiada berongga.لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)“Allah tidak beranak dan tidak pula dilahirkan, dan tidak ada sesuatupun yang setara denganNya” (QS Al-Ikhlaash 3-4)Tidak ada tuhan yang bersamaNya, dan ia tidak memiliki Istri maupun anak.وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ“Dia tidak memiliki sekutu dalam kerajaanNya, dan Dia juga bukan pula hina yang memerlukan penolong” (QS Al-Isroo’ : 11)Tidak ada tuhan yang menyertaiNya.Ia tidaklah ditaati kecuali karena karuniaNya (kepada hambaNya yang taat tersebut). Dan Ia tidaklah dimaksiati kecuali Ia mengetahuinya. Ia Maha kaya tidak membutuhkan makhlukNya, dan segala sesuatu hanya bisa tegak denganNya dan membutuhkanNya.يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ“Wahai manusia sekalian, sesungguhnya kalianlah yang butuh kepada Allah, sementara Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji” (QS Faathir : 15)Ketaatan orang-orang yang taat tidaklah memberikan manfaat kepadaNya, dan maksiatnya para pelaku maksiat tidaklah memberikan kemudorotan kepadaNya.إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ“Jika kalian kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) kalian” (QS Az-Zumar : 7)Seandainya seluruh manusia dan jin berada diatas hati seorang yang paling bertakwa maka hal itu tidak akan menambah sesuatupun dalam kerajaanNya, dan jika seluruh manusia dan jin berada di atas hati seorang yang paling fajir maka hal itu tidak akan mengurangi sedikitpun dari kerajaanNya. Para hambaNya tidak akan mampu menyampaikan manfaat kepadaNya sehingga bermanfaat bagiNya, dan tidak akan mampu menyampaikan kemudorotan kepadaNya sehingga memudorotkanNya. Ia tegak dengan diriNya sendiri.Dia Maha Besar, Maha Agung, Maha Kuasa da Maha Kuat. Kemuliaan adalah sarungNya dan kesombongan adalah selendangNya. Ia adalah Raja yang tiada sekutu bagiNya, Maha Esa yang tiada tandingan bagiNya, Maha Kaya yang tidak memerlukan penolong bagiNya, Yang Maha Tinggi yang tiada serupa denganNya.كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ“Segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah Allah” (QS Al-Qosos : 88)Seluruh kerajaan pasti akan sirna kecuali kerajaanNya, seluruh karunia pasti akan terputus kecuali karuniaNya. Dia meliputi segala sesuatu, dan tidak ada sesuatupun yang meliputiNya.لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan” (Qs Al-An’aam : 103)وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ“Padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kananNya”(QS Az-Zumar : 67)يَضَعُ السَّمَوَاتِ عَلَى إِصْبَعٍ وَالْأَرَضِينَ عَلَى إِصْبَعٍ وَالْمَاءَ وَالثَّرَى عَلَى إِصْبَعٍ وَالْخَلَائِقَ عَلَى إِصْبَعٍ ثُمَّ يَهُزُّهُنَّ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ“Pada hari kiamat Ia meletakkan langit-langit pada satu jariNya, seluruh bumi pada satu jariNya, dan gunung-gunung pada satu jariNya, pohon-pohon pada satu jariNya, air dan tanah pada satu jariNya, dan seluruh makhluk pada satu jariNya, lalu Iapun mengguncangkannya seraya berkata, “Aku adalah Maha Raja” (HR Al-Bukhari)Ia tidak dimohon syafaatNya demi meminta syafaat seorangpun dari makhlukNya, dan tidak seorangpun yang memberi syafaat di sisiNya kecuali setelah mendapat izin dariNya, dan hal ini berbeda dengan para makhlukNya yang bisa ada syafaat di sisi mereka meskipun tanpa izin mereka. KursiNya –yaitu tempat kedua kakiNya- meliputi seluruh langit dan bumi.Tidaklah kursi di ‘arsyNya kecuali seperti lingkaran besi (kecil) jika diletakkan di padang pasir. Dan ‘Arsy adalah makhluk yang terbesar, yang dipikul oleh para malaikat yang ukuran jarak antara daun telinga malaikat tersebut hingga pundaknya adalah perjalanan selama 700 tahun. Dan Allah beristiwa (berada) di atas ‘arsyNya sesuai dengan kemuliaanNya dan Ia tidak membutuhkan ‘arsyNya dan apa yang dibawahnya.تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْ فَوْقِهِنَّ“Hampir saja langit-langit itu pecah karena (kebesaran Tuhan) yang berada diatas langit-langit tersebut” (QS Asy-Syuroo : 5)Yaitu langit-langit ketakutan karena keagungan Allah. Dan jika Allah berbicara menyampaikan wahyu maka langit-langitpun bergetar dan para penghuni langitpun pingsan dan tunduk sujud kepada Allah.Allah Maha Hidup dan Maha Tegak (dan Menegakkan mahklukNya), Ia sama sekali tidak mengantuk dan tidak tidur.إِنَّ اللَّهَ لَا يَنَامُ، وَلَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ، يَخْفِضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ، يُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ، وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ، حِجَابُهُ النُّورُ، لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِIa tidak tidur dan tidak pantas bagiNya untuk tidur. Ia menaikan timbangan dan menurunkannya (untuk menimbang amalan hamba yang naik kepadaNya dan menimbang rizki mereka yang Allah turunkan kepada mereka). Diangkat kepadaNya amalan malam (para hamba) sebelum naiknya amalan siang mereka, dan amalan siang mereka sebelum amalan malam mereka. TabirNya adalah cayaha, jika seandainya Ia menyingkap tabir tersebut maka cahaya wajahNya akan membakar apa yang sampai kepadanya pandanganNya (yaitu membakar seluruh makhlukNya)” (HR Muslim no 178)Dialah yang Maha Awal tidak ada sesuatupun yang sebelumNya, dan Yang Maha Akhir, maka tidak ada sesuatupun yang setelahNya. Dialah Yang Maha Dzohir maka tidak ada sesuatupun yang di atasNya, dan Yang Maha Bathin maka tidak ada sesuatupun yang tidak diketahuiNya.Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan tidak ada yang lebih kuat dariNya. Kau ‘Aad merasa hebat dengan kekuatan merekaوَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً“Mereka berkata, “Dan siapakah yang lebih kuat dari kita?” (QS Fushhilat : 15)Maka Allah berkata :أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً“Apakah mereka tidak mengetahui bahwasanya Allah Yang telah menciptakan mereka Dialah Yang lebih kuat dari mereka?” (QS Fushilat : 15)Dan Dia lebih mampu menguasai makhlukNya daripada majikan terhadap budaknya. Ia berkata tentang diriNya :أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا“Bahwasanya seluruh kekuatan adalah milik Allah” (QS Al-Baqoroh : 165)Maka tidak ada sesuatupun di langit maupun di bumi yang dapat melemahkanNya. Ia menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam hari dan Ia tidak ditimpa kelelahan sama sekali. Barangsiapa yang ditolong olehNya maka tidak ada yang bisa mengalahkannya. Tidak ada perubahan dan tidak kekuatan bagi makhluk kecuali denganNya. Perkara ketetapanNya hanya seperti sekejap mata bahkan lebih cepat. Ia memiliki pasukan yang tidak mengetahuinya kecuali Ia sendiri. Jika perkara dunia telah selesai maka Ia akan menggoncang bumi dengan sedahsyat-dahsyatnya, lalu Ia membenturkan bumi, menerbangkan gunung-gunung, lalu menghancurkannya sehancur-hancurnya. Dengan tiupan sangkakala yang pertama maka Ia menjadikan makhluk kaget ketakutan, dan dengan tiupan sasangkala yang kedua merekapun mati, dan dengan tiupan yang ketiga merekapun bangkit ke padang mahsyar. Dan jika Ia turun untuk memulai pengadilan maka langit-langitpun terbelah dan jadilah langit seperti mawar merah seperti kilapan minyak.Ia adalah Yang Maha Suci Maha Qudus, Ia tersucikan dari segala aib dan kekurangan. BagiNya puncak kesempurnaan dan puncak keindahan. Tiada tandingan bagiNya dan tiada yang serupa denganNya, tiada yang semisal dan sebanding denganNya.لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ“Tiada yang semisal denganNya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS Asy-Syuroo : 11)            Selanjutnya, kaum muslimin sekalian…Maka apakah tidak wajib bagi kita untuk mencintai Rabb kita yang demikianlah sifat-sifatNya dan perbuatan-perbuatanNya…?, untuk memujiNya dan mengikhlashkan ibadah bagiNya…?Barangsiapa yang mencintai Allah dan menyembahNya maka Allah mencintainya. Barangsiapa yang mengenal Allah maka ia akan dekat dengan Allah dan tunduk dan merendah kepadaNya, dan ia akan merasa tentram dan tenang bersamaNya, akan mengharap ganjaranNya dan takut akan siksaanNya. Ia akan mencurahkan kepadaNya segala hajat kebutuhannya dan ia akan bertawakkal kepadaNya. Dan barangsiapa yang memuji Allah dan banyak menyanjungNya maka akan terangkat derajatnya. Maka tidak ada seseorangpun yang lebih menyukai untuk dipuji seperti Allah, karenanya Ia memuji diriNya sendiri.Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutukمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ“Tidaklah mereka mengagungkan Allah dengan semestinya, sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa” (QS Al-Hajj : 74)Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur’an yang agung…===========Khutbah Kedua            Segala puji bagi Allah atas kebaikanNya, dan syukur terpanjatkan kepadaNya atas bimbinganNya dan karuniaNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, untuk mengagungkanNya. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita Muhammad adalah hamba dan rasulNya. Semoga shalawat dan salam yang banyak tercurahkan kepada beliau, keluarga beliau dan para sahabatnya.Barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah dan berdoa kepada selainNya kepada makhluk dan orang mati maka sungguh ia telah merendahkan Robbul ‘Aalamin (Penguasa alam semesta), dan ia telah berburuk sangka kepada Allah dan ia telah menyamakan Allah dengan selainnya. Dan syirik menggugurkan seluruh amal sholeh, dan pelakunya tidak akan dimaafkan oleh Allah dan Allah tidak akan memasukannya ke dalam surga, dan ia akan termasuk orang-orang yang kekal di neraka. Syirik merupakan perubahan terbesar bagi fitroh manusia dan kerusakan terbesar di atas muka bumi, dan merupakan pokok asal seluruh bencana dan tempat terkumpulnya seluruh penyakit.Kemudorotannya sangatlah besar, dan bahayanya sangatlah buruk. Kemaksiatan-kemaksiatan pembawa kesialan dan keburukan yang sangat besar, terkumpulkan pada seorang hamba lalu membinasakannya, menghalangi antara hamba dan hatinya (untuk mendekat kepada Allah). Sesuai kadar merasa kecil suatu kemaksiatan di mata maka semakin besar kadar nilainya kemaksiatan tersebut di sisi Allah. Dan janganlah engkau melihat kepada kecilnya maksiat akan tetapi lihatlah kepada keagungan Dzat yang engkau maksiati.Kemudian ketahuilah bahwasanya Allah telah memerintahkan kalian untuk bershalawat dan salam kepada nabiNya, maka Allah berfirman di dalam Al-Qur’an :إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا“Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kepadanya dan bersalamlah kepadanya” (QS Al-Ahzaab : 56)   Penerjemah : Ustman Hatim dan Firanda Andirja
Khotbah Jum’at dari Masjid Nabawi, 24 Jumadal Ula 1437 H (4/3/2016 M).Oleh : Syekh Dr. Abdul Muhsin Bin Muhamad Al-QasimKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak akan ada yang dapat memberinya petunjuk.Aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepadanya, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya sebanyak-banyaknya. Selanjutnya …….Maka bertakwalah –wahai hamba-hamba Allah- dengan sebenar-benar takwa, dan berpeganglah dengan tali Islam yang kuat. Kaum muslimin !            Kemuliaan suatu ilmu berdasarkan kemuliaan yang diilmui. Ilmu yang paling mulia dan suci adalah mengenal Allah. Kebutuhan akan pengenalan Allah –subhanahu wa ta’ala- dan pengagungan kepada-Nya menempati urutan kebutuhan teratas, bahkan merupakan pokok dari segala kebutuhan yang mendesak.            Allah –subhanahu wa ta’ala- mengeluarkan anak cucu Adam –alaihissalam- dari tulang sulbi untuk menyatakan kesaksian mereka atas diri mereka bahwa Allah adalah Rabb (Tuhan) dan Raja mereka, dan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Firman Allah :وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ [ الأعراف /172]“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. Qs Al-A’raf : 172Hati manusia diciptakan untuk mencintai Allah, dan memang demikianlah Allah menciptakan manusia untuk mencitai dan mengenal-Nya. Firman Allah :فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ [ الروم / 30 ]“(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah”.Qs. Ar-Rum : 30Artinya, janganlah kalian merombak ciptaan Allah, agar kalian tidak menggeser manusia dari fitrahnya.  Fitrah inilah yang disebut kecenderungan kepada kesucian agama (hanifiyah)  yang menjadi pola dasar Allah menciptakan manusia itu, sebagaimana sabda Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-  :كل مَوْلُودٍ  يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ“ Setiap bayi dilahirkan (ke dunia ini) berada dalam kesucian (fitrah)”.Allah –subhanahu wa ta’ala- memberitakan bahwa setan dari kalangan jin dan manusia-lah yang menyimpangkannya.  Firman Allah dalam hadis Qudsi :” وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ ” رواه مسلم“Dan aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hunafa’ (berpaling dari syirik dan mentauhidkan Allah) seluruhnya, dan sesungguhnya setan-setan mendatangi mereka, lalu memalingkan mereka dari agama mereka.” HR. MuslimMaka setiap muslim diperintahkan untuk menjaga dan memperhatikan fitrah-nya agar ketika menyimpang segera kembali kepada rel asalnya dan bagi yang telah beriman semakin bertambah keimanannya.Allah –subhanahu wa ta’ala- memperlihatkan ayat-ayat kekuasaanNya sebagai bukti ke-Esaan Rububiyah dan Uluhiyah-Nya. Seandainya air lautan menjadi tinta untuk mengisi pena yang digunakan menulis kalimat-kalimat Allah, hikmah-hikmah ciptaan-Nya dan ayat-ayatNya yang menunjukkan ke-EsaanNya, niscaya lautan itu habis sama sekali sebelum semua tertulis.  Seandainya didatangkan lagi banyak lautan semisal itu guna menyuplai sarana penulisannya, tentu tetap tidak akan terselesaikan penulisan kalimat-kalimat Allah.Firman Allah :قُل لَّوۡ كَانَ ٱلۡبَحۡرُ مِدَادٗا لِّكَلِمَٰتِ رَبِّي لَنَفِدَ ٱلۡبَحۡرُ قَبۡلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَٰتُ رَبِّي وَلَوۡ جِئۡنَا بِمِثۡلِهِۦ مَدَدٗا [ الكهف /109]“Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” Qs Al-Kahf : 109Para rasul diutus untuk pemantapan dan penyempurnaan fitrah itu. Allah –subhanahu wa ta’ala- berargumentasi terhadap mereka yang tidak meng-Esa-kanNya (dalam peribadatan) dengan (fitroh mereka akan) pengakuan mereka terhadap Rububiyah-Nya. Firman Allah :يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ [ البقرة / 21 ]“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”. Qs Albaqarah : 21Peng-Esa-an Tuhan dalam aspek Rububiyah dengan mengakui ke-Esa-an Allah dalam perbuatanNya merupakan petnunjuk bukti ke-Esa-anNya dalam aspek Uluhiyah-Nya. Ia merupakan salah satu  pokok dari pokok-pokok keimanan, serta salah satu bagian dari macam-macam tauhid (monoteisme) yang karenanya Allah menciptakan manusia.Sementara itu, penyekutuan dalam aspek tauhid rububiyah ini merupakan bentuk kemusyrikan terbesar dan terburuk.  Dan tidak ada yang keliru dalam aspek (Uluhiyah) kecuali orang yang tidak memberikan hak rububiyah Allah sebagaimana mestinya.Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha sempurna dalam segala sifat dan perbuatanNya.  Di antara sifat-sifatNya adalah sifat Rububiyah ( Tuhan Pencipta dan Pengatur segala urusan makhluk-Nya), tidak ada sekutu bagi-Nya dalam aspek Rububiyah-Nya, sebagaimana pula tidak ada sekutu bagi-Nya dalam aspek Uluhiyah-Nya.Firman Allah :قُلۡ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡغِي رَبّٗا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيۡءٖۚ  [ الأنعام 164 ]“ Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu”. Qs Al-An’am : 164Esensi Rububiyah ialah kesendirian/keesaan Allah dalam menciptakan, memerintah, memberi rezeki dan mengatur; Maka Allah –subhanahu wa ta’ala- adalah Tuhan Pencipta, tidak ada pencipta lain bersama-Nya. Firman Allah :هَلۡ مِنۡ خَٰلِقٍ غَيۡرُ ٱللَّهِ  [ فاطر / 3 ]” Adakah pencipta selain Allah “. Qs Fathir : 3Dia Pencipta langit dan bumi, Dia ciptakan dan sempurnakan, Dia membuat baik pada penciptaan segala sesuatu, Dia Maha Kreasi dan Maha mengetahui.هَٰذَا خَلۡقُ ٱللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦۚ [ لقمان / 11]” Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah”. Qs Luqman : 11Sebagaimana Allah menciptakan makhluk pada permulaan, Dia akan menghidupkannya kembali pada hari Kiamat, dan itu tentu lebih mudah bagi-Nya.Setiap sesembahan selain Allah –subhanahu wa ta’ala- tidaklah berhak disembah, karena dia tidak bisa menciptakan.Firman Allah :إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَن يَخۡلُقُواْ ذُبَابٗا وَلَوِ ٱجۡتَمَعُواْ لَهُۥۖ [ الحج / 73 ]“ Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya”.Qs Al-Hajj : 73Dan Allah-lah yang berhak disembah, karena Dia menciptakan. Firman Allah :أَفَمَن يَخۡلُقُ كَمَن لَّا يَخۡلُقُۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ [ النحل / 17 ]“Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)?. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran”. Qs An-Nahl : 17            Setiap hamba pastilah mengakui bahwa dirinya adalah makhluk ciptaan Allah, dan Allah-lah Penciptanya. Firman Allah :وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَهُمۡ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُۖ  [ الزخرف / 87 ]“ Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Qs Az-Zukhruf : 87Allah –subhanahu wa ta’ala- adalah Maha Raja, kerajaan adalah milik-Nya.  Firman Allah :ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡ لَهُ ٱلۡمُلۡكُۚ وَٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ مَا يَمۡلِكُونَ مِن قِطۡمِيرٍ  [ فاطر / 13 ]“Demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari”.Qs Fathir: 13Dan Dia pula Pemilik semua makhluk ciptaan-Nya.  Firman Allah :لَّهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ [ البقرة / 255 ]“ Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi”. Qs Albaqarah : 255Seluruh makhluk tunduk dan bertasbih kepada-Nya.  Firman Allah :تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ ٱلسَّبۡعُ وَٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهِنَّۚ وَإِن مِّن شَيۡءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمۡدِهِۦ وَلَٰكِن لَّا تَفۡقَهُونَ تَسۡبِيحَهُمۡۚ [ الإسراء/44]“ Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka”. Qs Al-Isra : 44Bahkan segenap makhluk, baik benda mati atau hidup bersujud kepada-Nya. Firman Allah :وَلِلَّهِۤ يَسۡجُدُۤ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ طَوۡعٗا وَكَرۡهٗا [ الرعد / 15 ]“ Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa”. Qs Ar-Ra’d : 15Dia-lah Allah Yang Maha Penguasa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Semua makhluk adalah hamba-Nya. Firman Allah :إِن كُلُّ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّآ ءَاتِي ٱلرَّحۡمَٰنِ عَبۡدٗا [ مريم / 93 ]“ Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba”. Qs Maryam : 93Dia yang memegang hak milik mutlak dan langgeng, Raja di dunia dan di hari kemudian.  Di akhirat kelak Dia tampil seraya berkata :لِّمَنِ ٱلۡمُلۡكُ ٱلۡيَوۡمَۖ  [ غافر / 16]“Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Qs Ghafir : 16Lalu Dia sendiri menjawab seraya berkata :لِلَّهِ ٱلۡوَٰحِدِ ٱلۡقَهَّارِ [ غافر / 16 ]“Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan”. Qs Ghafir : 16Allah –subhanahu wa ta’ala- sendirian mengatur segala urusan makhluk-Nya dan kerajaan-Nya. Segala urusan berada di tangan-Nya sendiri. Firman Allah :أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ   [ الأعراف / 54]“ Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah”. Qs Al-A’raf : 54Dia memerintah dan melarang, menciptakan dan memberi rezeki, memberikan dan menahan pemberian, merendahkan dan mengangkat, memuliakan dan menghinakan, menghidupkan dan mematikan. Firman Allah :يُكَوِّرُ ٱلَّيۡلَ عَلَى ٱلنَّهَارِ وَيُكَوِّرُ ٱلنَّهَارَ عَلَى ٱلَّيۡلِۖ وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَۖ   [ الزمر / 5 ]“ Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan”. Qs Az-Zumar : 5Firman Allah :يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ وَيُحۡيِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۚ  [ الروم / 19 ]“Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya”. Qs Ar-Rum : 19Allah mengeluarkan yang tersimpan di langit dan di bumi.Seluruh makhluk berada dalam kekuasaan-Nya dan kehendak-Nya. Hati seluruh hamba dan ubun-ubun mereka berada ditangan-Nya. Segenap urusan penting telah terpatri pada ketetapan takdir-Nya.  Hanya ada pada-Nya segala urusan, sebelum dan sesudah terjadi.  Mengawasi setiap jiwa dengan segala apa yang dilakukan. Langit dan bumi eksis tegak karena perintah-Nya.Firman Allah :وَيُمۡسِكُ ٱلسَّمَآءَ أَن تَقَعَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦٓۚ  [ الحج / 65 ]“Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya”.Qs Al-Haj :65Firman Allah :يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَاۚ  [ فاطر / 41 ]“Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap”. Qs Fathir : 41Semua makhluk di langit dan di bumi memohon kepada-Nya.Firman Allah :كُلَّ يَوۡمٍ هُوَ فِي شَأۡنٖ  [ الرحمن / 29]“ Setiap waktu Dia dalam urusan”. Qs Ar-Rahman : 29Di antara sekian banyak urusan-Nya adalah; mengampuni dosa dan memberi petunjuk bagi yang tersesat, menghilangkan kesedihan, menghilangkan penderitaan, membalut hati yang luka, mencukupkan orang miskin, merespon doa orang-orang yang tertindas.Firman Allah :وَمَا كُنَّا عَنِ ٱلۡخَلۡقِ غَٰفِلِينَ  [ المؤمنون / 17 ]“dan Kami tidaklah lalai dari ciptaan (Kami)”. Qs Almu’minun : 17Perintah-perintahNya berkesinambungan, kehendak-Nya berlaku. Apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan berbuat apa yang diinginkan-Nya.  Keputusan-Nya merupakan keputusan yang pasti berlaku.  Tidak ada yang menghalangi pemberian-Nya dan tidak ada yang melangsungkan penolakan-Nya.Tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya, tidak ada yang dapat menangkis ketentuan takdir-Nya, tidak ada yang dapat menghindar dari kemauan-Nya, tidak ada yang dapat mengganti kalimat-kalimatNya. Allah telah menetapkan takdir makhluk-Nya sejak 50 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.Seandainya seluruh makhluk bersepakat melakukan sesuatu yang tidak ditetapkan oleh Allah untuk terjadi maka mereka tidak mampu melangsungkan maksud mereka. Seandainya mereka semua bersepakat merubah sesuatu yang telah ditetapkan terjadi untuk menggagalkannya, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya.Seandainya seluruh umat manusia bersepakat untuk memberi kemudorotan kepada seseorang, sementara Allah tidak menghendakinya, niscaya mereka tidak mampu melakukannya. Seandainya seluruh umat manusia bersepakat memberi manfaat kepada seseorang yang Allah tidak memberinya izin untuk memperoleh manfaat tersebut, niscaya mereka tidak akan mampu memberi manfaat kepadanya.Tidak ada yang dapat menolak siksaan Allah ketika turun, dan tidak ada yang mampu menghalaunya ketika menimpa. Allah memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya atas anugerah dari-Nya, dan Dia membiarkan sesat siapapun yang dikehendaki-Nya atas keadilan-Nya.Perintah-perintahNya hanya dengan perkataanNya dan terlaksana  :إِذَآ أَرَادَ شَيۡ‍ًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ  [ يس / 82 ]“ Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia”. Qs Yasin : 82Segala tindakan dan perbuatan-Nya tak seorang-pun yang mempertanyakannya.Firman Allah :لَا يُسۡ‍َٔلُ عَمَّا يَفۡعَلُ وَهُمۡ يُسۡ‍َٔلُونَ  [ الأنبياء / 23 ]“ Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai”. Qs Al-Anbiya : 23Firman-Nya sebaik-baik perkataan, tidak berpermulaan dan tidak pula berkesudahan.Firman Allah :وَلَوۡ أَنَّمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ مِن شَجَرَةٍ أَقۡلَٰمٞ وَٱلۡبَحۡرُ يَمُدُّهُۥ مِنۢ بَعۡدِهِۦ سَبۡعَةُ أَبۡحُرٖ مَّا نَفِدَتۡ كَلِمَٰتُ ٱللَّهِۚ  [ لقمان / 27 ]“ Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah”. Qs Luqman : 27ke-Maha Tahuan- Allah meliputi segala sesuatu; mengetahui peristiwa yang telah terjadi, yang belum terjadi dan yang tidak terjadi sama sekali. Mengetahui apa saja yang akan dilakukan oleh makhluk-Nya di waktu sekarang dan akan datang serta  apa yang pernah mereka lakukan sebelumnya.Firman Allah :وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۚ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا [ الأنعام / 59 ]“dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula)”. Qs Al-An’am : 59Tidak ada suatu zarah (partikel kecil) bergerak di alam semesta ini kecuali atas izin-Nya. Tidak samar bagi-Nya apapun yang ada di bumi dan di langit. Dia Maha mengetahui perkara-perkara yang ghaib (tidak terlihat) dari kita seperti peristiwa-peristiwa dan  umat-umat terdahulu, dan Diapun mengetahui yang terlihat. Dia-pun Maha mengetahui bisikan-bisikan halus dalam hati, termasuk lintasan-lintasan kerahasiaan yang tersimpan dalam hati.Allah Maha mengetahui apa yang ada dalam kandungan wanita, Dia mengetahuiوَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَاapa yang tumbuh di bumi, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke langit. (QS Saba’ : 2)لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ“Tidak ada yang tersembuni bagi-Nya suatu apapun seberat zarah, baik di langit maupun di bumi” (QS Saba’ : 3).وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَDi sisiNya-lah kunci-kunci semua perkara ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri” (QS Al-An’aam : 59)Ilmu yang dimiliki seluruh makhluk ini hanyalah bagaikan setetes air dari lautan ilmu Allah.Firman Allah :وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيۡءٖ مِّنۡ عِلۡمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَۚ  [ البقرة / 255 ]“ dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya”. Qs Albaqarah : 255Pernah seekor burung pipit mematuk air di laut, maka Nabi Khodhir berkata kepada Nabi Musa –alaihimassalam- :” مَا نَقَصَ عِلْمِي وَعِلْمُكَ مِنْ عِلْمِ اللهِ إِلاَّ مِثْلَ مَا نَقَصَ هَذاَ العُصْفُوْرُ مِنَ الْبَحْرِ ” رواه مسلم“Ilmu-ku dan ilmu-mu tidaklah mengurangi ilmu Allah kecuali seperti berkurangnya air laut setelah dipatuk oleh burung pipit ini”.Allah –subhanahu wa ta’ala- mendengar setiap suara di jagat raya ini.  Firman Allah tentang Dzat-Nya :أَسۡمَعُ وَأَرَىٰ  [ طه / 46 ]“Aku mendengar dan melihat” Qs Thaha : 46Pendengaran Allah meliputi segala pendengaran; maka apapun pendengaran yang ada tidaklah asing dan tidak pula rancu bagi Allah. Firman Allah :أَمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّا لَا نَسۡمَعُ سِرَّهُمۡ وَنَجۡوَىٰهُمۚ [ الزخرف / 80]” Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka?” Qs Az-Zukhruf : 80            Seorang wanita datang menghadap Nabi –shallallahu alaihi wa salam-  mengadukan perihal suaminya, ketika itu Aisyah –radhiyallahu anha-  yang berada di salah satu sudut rumah berkata, sesungguhnya aku mendengar pembicaraan wanita itu, namun sebagian pembicaraannya samar bagiku, sedangkan Allah dari atas tujuh langit mendengar suaranya. Tidak selang waktu lama tiba-tiba Malaikat Jibril –alaihissalam- turun membawa ayat ini :قَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّتِي تُجَٰدِلُكَ فِي زَوۡجِهَا وَتَشۡتَكِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَسۡمَعُ تَحَاوُرَكُمَآۚ  [ المجادلة / 1 ]“ Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua”. Qs Al-Mujadalah : 1            Setiap gerakan di alam semesta ini dilihat oleh Allah. Penglihatan-Nya meliputi segala yang terlihat. Allah melihat rayapan semut hitam yang merayap di batu halus dalam kegelapan malam yang hitam kelam. Apa yang dilakukan manusia dalam malam gelap gulita-pun tidak samar bagi Allah.Firman Allah :ٱلَّذِي يَرَىٰكَ حِينَ تَقُومُ  – وَتَقَلُّبَكَ فِي ٱلسَّٰجِدِينَ  [ الشعراء / 218 – 219 ]“ Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang) . dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud”. Qs As-Syuara : 218-219            Segala tingkah laku manusia adalah dalam pengawasan Tuhan kita, Allah –subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ [ الفجر / 14 ]“ sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi”. Qs Al-Fajr :14Oleh karena seluruh makhluk adalah ciptaan Allah, maka ketentuan hukum yang mengaturnya hanyalah milik Allah pula.Firman Allah :إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِ  [ يوسف / 40 ]“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah”. Qs Yusuf : 40Semua ketetapan hukum, hukum pidana, aturan perundang-undangan yang ditetapkan Allah merupakan sebaik-baik hukum, tidak ada ketentuan hukum yang lebih baik dari pada hukum Allah.Firman Allah :وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡحَٰكِمِينَ  [ يوسف / 80 ]“Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya” Qs Yusuf : 80Hukum Allah –subhanahu wa ta’ala- tidak berat sebelah dan tidak menzalimi siapapun. Firman Allah :أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَحۡكَمِ ٱلۡحَٰكِمِينَ [ التين / 8 ]“ Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya”. Qs At-Tin : 8Allah –subhanahu wa ta’ala- menetapkan ketentuan hukum, maka tidak ada seorangpun yang mampu menolak ketetapan hukum-Nya.Firman Allah :وَهُوَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ  [ الرعد / 41 ]“ dan Dialah Yang Maha cepat hisab-Nya “. Qs Ar-Ra’d : 41Adapun rahmat kasih sayang-Nya, maka tidak ada seorangpun yang lebih kasih sayang dari pada Allah. Dia berfirman memuji diri-Nya sendiri :وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ [ يوسف / 92 ]“ dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang” Qs Yusuf : 92خَيْرُ الرَّاحِمِينَ“Pemberi rahmat Yang Paling Baik” (QS Al-Mukminun : 109)Kasih sayang-Nya melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pernah menyaksikan seorang wanita dalam tawanan sedang mencari anaknya, ketika melihat seorang bocah kecil, dipeluknya bocah itu dan langsung ia tempelkan pada perutnya lalu ia susui. Maka Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- berkata kepada para sahabat :أَتَرَوْنَ هَذِهِ الْمَرْأَةَ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ ؟ ” قَالُوا : لا ،“Adakah kalian berpikir bahwa wanita ini akan mencampakkan anaknya pada api?”. Mereka menjawab : Tentu tidak Ya Rasulallah. Kemudian beliau –shallallahu alaihi wa sallam- melanjutkan ucapannya :” لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ الْمَرْأَةِ بِوَلَدِهَا ” متفق عليه “Sungguh Allah lebih kasih sayang kepada hamba-Nya dari pada wanita ini kepada anaknya”. (HR Al-Bukhari dan Muslim).            Allah –subhanahu wa ta’ala- menciptakan untukNya 100 rahmat, satu di antaranya Dia turunkan ( sebarkan ), maka dengan rahmat yang satu itu seluruh makhluk di bumi saling berkasih sayang, sementara rahmat yang 99 Dia tahan pada-Nya.            Rahmat Allah merata pada segala sesuatu. Malaikat Penyangga Arsy dan sekitarnya berkata :رَبَّنَا وَسِعۡتَ كُلَّ شَيۡءٖ رَّحۡمَةٗ وَعِلۡمٗا [ غافر / 7 ]“Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu”. Qs Ghafir : 7Rahmat kasih sayang Allah akan terus berkesinambungan hingga akhirat.Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha Pemurah, tidak ada yang lebih murah dari pada-Nya. Allah senang berbuat baik dan memberi hamba-hambaNya. Allah memberi mereka rezeki dari arah atas dan bawah mereka.Firman Allah :قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ [ يونس / 31 ]“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi”. Qs Yunus : 31Karunianya begitu besar dan kekayaan-Nya tidak akan habis.يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لَا يَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَTangan-Nya tak henti-hentinya memberi, dan pemberiannya tidak mengurangi kekayaannya, Ia dermawan senantiasa memberi siang dan malam.  Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ“Tahukah kalian betapa banyak nafkah yang Allah keluarkan sejak Dia menciptakan langit dan bumi, sungguh tidak berkurang kekayaan yang ada di tangan-Nya”. HR Bukhari.            Allah –subhanahu wa ta’ala- tidak menolak permohonan hamba-hambaNya. Firman Allah :وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ [ البقرة / 186 ]“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku”. Qs Albaqarah : 186Allah tidak enggan memberi lantaran besarnya kebutuhan. “Seandainya seluruh hamba ini, mulai generasi pertama sampai terakhir, dari golongan manusia dan jin, berkumpul di suatu tanah lapang untuk memohon kepada-Nya dan Allah memenuhi permohonan setiap orang di antara mereka, tidaklah hal itu mengurangi kekayaan yang ada pada-Nya kecuali seperti air yang melekat pada jarum setelah dimasukkan ke dalam laut”.            Allah –subhanahu wa ta’ala- menjamin rezeki setiap makhluk-Nya, manusia dan jin, yang muslim dan yang kafir, termasuk seluruh hewan melata.  Firman Allah :وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا [ هود / 6 ]“ Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya”. Qs Hud : 6Pemberian-Nya tanpa pamrih. Dia-lah sebaik-baik Pemberi rezeki. Allah membuka pintu-pintu pemberian-Nya untuk hamba-hambaNya; menundukkan lautan, mengalirkan sungai, mengucurkan rezeki, menganugerahkannya dalam jumlah besar kepada hamba-hambaNya padahal mereka tidak memintanya. Dia memberi apa yang mereka minta, bahkan menawarkan kepada mereka untuk selalu memohon kepadaNya.” مَنْ يَسْألنى فَأعْطِيَه “ “Siapakah yang ingin meminta lalu Aku kabulkan permintaannya”.Segala bentuk kebaikan datang dari-Nya. Firman Allah :وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةٖ فَمِنَ ٱللَّهِۖ  [ النحل / 53 ]“ Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah”. Qs An-Nahl : 53            Allah mengirimkan rezeki setiap makhluk-Nya; Dia memberikan rezeki kepada Janin dalam rahim ibunya, kepada semut dalam liangnya, burung di ruang angkasa dan ikan di air yang dalam.Firman Allah :وَكَأَيِّن مِّن دَآبَّةٖ لَّا تَحۡمِلُ رِزۡقَهَا ٱللَّهُ يَرۡزُقُهَا وَإِيَّاكُمۡۚ [ العنكبوت / 60 ]“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu”. Qs Al-Ankabut : 60            Allah begitu Pemurah, Dia tidak rela bila permohonan itu disampaikan kepada selain Dia. Siapa yang tidak meminta kepada-Nya, Allah marah kepadanya. Maka sungguh terhalang dari kemurahan Allah seorang yang berharap kepada selain Penciptanya. Dan tidak ada seorang pun yang lebih tahan terhadap gangguan yang didengarnya dari pada Allah. Mereka menyekutukan Allah dan menuduh Allah punya anak, namun demikian Allah tetap memberi mereka kesehatan dan rezeki.            Allah –subhanahu wa ta’ala- menyambut gembira pertobatan hamba-Nya melebihi dari kegembiraan seorang yang setelah kehilangan hewan tunggangannyaبِأَرْضٍ فَلَاةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَمَا هُوَ كذلكَ إِذ هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فقَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِdi gurun dan berputus asa untuk bertemu kembali hewan tunggangannya, maka iapun mendatangi sebuah pohon lalu merebahkan dirinya di bawah naungan pohon tersebut sementara ia telah putus asa dari bertemu kembali hewan tunggangannya. Dalam keputus asaan itu tiba-tiba hewan tunggangannya itu datang di hadapannya, lalu ia berkata kegirangan : “Ya Allah! Engkau hambaku dan aku TuhanMu”.   Dia salah omong karena terlalu gembira”. (HR Muslim)Allah memberi bimbingan kepada mereka yang taat kepadaNya sebagai karunia dan kebaikan dariNya, lalu Allah memberi ganjaran kepada mereka setelah membimbing mereka. Allah Maha berterima kasih, Ia memberi ganjaran kepada amalan yang sedikit dengan ganjaran yang besar. Satu kebaikan dilipat gandakan olehNya menjadi sepuluh kali lipat bahkan dengan lipat ganda yang banyak. Ia menyiapkan bagi hamba-hambaNya di surga kenikmatan-kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, bahkan tidak pernah terbetik dalam hati manusia. Dan Ia berfirman :إِنَّ هَذَا لَرِزْقُنَا مَا لَهُ مِنْ نَفَادٍ“Sesungguhnya ini adalah benar-benar rezeki dari Kami yang tiada habis-habisnya” (QS Shaad : 54)Bahkan Allah senantiasa ingin memberi kepuasan kepada penduduk surga, Allah berkata :هَلْ رَضِيتُمْ فَيَقُولُونَ وَمَا لَنَا لَا نَرْضَى وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ فَيَقُولُ أَنَا أُعْطِيكُمْ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالُوا يَا رَبِّ وَأَيُّ شَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ فَيَقُولُ أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا“Apakah kalian puas?”, mereka berkata, “Kenapa kami tidak puas?, sementara Engkau telah menganugrahkan kepada kami apa yang tidak pernah Engkau berikan kepada seorangpun dari ciptaanMu”. Maka Allah berkata, “Aku akan memberikan kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari itu semua?”. Mereka berkata, “Ya Rabb, dan apakah lagi yang lebih baik dari kenikmatan ini semua?”. Maka Allah berkata, “Aku akan menganugrahkan kepada kalian keridoanKu maka Aku tidak akan marah kepada kalian setelah itu selamanya” (HR Al-Bukhari)Allah Maha kaya dengan dzatNya, Ia adalah As-Shomad yaitu Yang para makhluq seluruhnya bergantung kepadaNya dalam memenuhi kebutuhan mereka. Ia adalah Sayyid (Pemimpin/Raja dari seluruh raja) yang Maha Sempurna dan tiada berongga.لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)“Allah tidak beranak dan tidak pula dilahirkan, dan tidak ada sesuatupun yang setara denganNya” (QS Al-Ikhlaash 3-4)Tidak ada tuhan yang bersamaNya, dan ia tidak memiliki Istri maupun anak.وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ“Dia tidak memiliki sekutu dalam kerajaanNya, dan Dia juga bukan pula hina yang memerlukan penolong” (QS Al-Isroo’ : 11)Tidak ada tuhan yang menyertaiNya.Ia tidaklah ditaati kecuali karena karuniaNya (kepada hambaNya yang taat tersebut). Dan Ia tidaklah dimaksiati kecuali Ia mengetahuinya. Ia Maha kaya tidak membutuhkan makhlukNya, dan segala sesuatu hanya bisa tegak denganNya dan membutuhkanNya.يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ“Wahai manusia sekalian, sesungguhnya kalianlah yang butuh kepada Allah, sementara Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji” (QS Faathir : 15)Ketaatan orang-orang yang taat tidaklah memberikan manfaat kepadaNya, dan maksiatnya para pelaku maksiat tidaklah memberikan kemudorotan kepadaNya.إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ“Jika kalian kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) kalian” (QS Az-Zumar : 7)Seandainya seluruh manusia dan jin berada diatas hati seorang yang paling bertakwa maka hal itu tidak akan menambah sesuatupun dalam kerajaanNya, dan jika seluruh manusia dan jin berada di atas hati seorang yang paling fajir maka hal itu tidak akan mengurangi sedikitpun dari kerajaanNya. Para hambaNya tidak akan mampu menyampaikan manfaat kepadaNya sehingga bermanfaat bagiNya, dan tidak akan mampu menyampaikan kemudorotan kepadaNya sehingga memudorotkanNya. Ia tegak dengan diriNya sendiri.Dia Maha Besar, Maha Agung, Maha Kuasa da Maha Kuat. Kemuliaan adalah sarungNya dan kesombongan adalah selendangNya. Ia adalah Raja yang tiada sekutu bagiNya, Maha Esa yang tiada tandingan bagiNya, Maha Kaya yang tidak memerlukan penolong bagiNya, Yang Maha Tinggi yang tiada serupa denganNya.كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ“Segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah Allah” (QS Al-Qosos : 88)Seluruh kerajaan pasti akan sirna kecuali kerajaanNya, seluruh karunia pasti akan terputus kecuali karuniaNya. Dia meliputi segala sesuatu, dan tidak ada sesuatupun yang meliputiNya.لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan” (Qs Al-An’aam : 103)وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ“Padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kananNya”(QS Az-Zumar : 67)يَضَعُ السَّمَوَاتِ عَلَى إِصْبَعٍ وَالْأَرَضِينَ عَلَى إِصْبَعٍ وَالْمَاءَ وَالثَّرَى عَلَى إِصْبَعٍ وَالْخَلَائِقَ عَلَى إِصْبَعٍ ثُمَّ يَهُزُّهُنَّ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ“Pada hari kiamat Ia meletakkan langit-langit pada satu jariNya, seluruh bumi pada satu jariNya, dan gunung-gunung pada satu jariNya, pohon-pohon pada satu jariNya, air dan tanah pada satu jariNya, dan seluruh makhluk pada satu jariNya, lalu Iapun mengguncangkannya seraya berkata, “Aku adalah Maha Raja” (HR Al-Bukhari)Ia tidak dimohon syafaatNya demi meminta syafaat seorangpun dari makhlukNya, dan tidak seorangpun yang memberi syafaat di sisiNya kecuali setelah mendapat izin dariNya, dan hal ini berbeda dengan para makhlukNya yang bisa ada syafaat di sisi mereka meskipun tanpa izin mereka. KursiNya –yaitu tempat kedua kakiNya- meliputi seluruh langit dan bumi.Tidaklah kursi di ‘arsyNya kecuali seperti lingkaran besi (kecil) jika diletakkan di padang pasir. Dan ‘Arsy adalah makhluk yang terbesar, yang dipikul oleh para malaikat yang ukuran jarak antara daun telinga malaikat tersebut hingga pundaknya adalah perjalanan selama 700 tahun. Dan Allah beristiwa (berada) di atas ‘arsyNya sesuai dengan kemuliaanNya dan Ia tidak membutuhkan ‘arsyNya dan apa yang dibawahnya.تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْ فَوْقِهِنَّ“Hampir saja langit-langit itu pecah karena (kebesaran Tuhan) yang berada diatas langit-langit tersebut” (QS Asy-Syuroo : 5)Yaitu langit-langit ketakutan karena keagungan Allah. Dan jika Allah berbicara menyampaikan wahyu maka langit-langitpun bergetar dan para penghuni langitpun pingsan dan tunduk sujud kepada Allah.Allah Maha Hidup dan Maha Tegak (dan Menegakkan mahklukNya), Ia sama sekali tidak mengantuk dan tidak tidur.إِنَّ اللَّهَ لَا يَنَامُ، وَلَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ، يَخْفِضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ، يُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ، وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ، حِجَابُهُ النُّورُ، لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِIa tidak tidur dan tidak pantas bagiNya untuk tidur. Ia menaikan timbangan dan menurunkannya (untuk menimbang amalan hamba yang naik kepadaNya dan menimbang rizki mereka yang Allah turunkan kepada mereka). Diangkat kepadaNya amalan malam (para hamba) sebelum naiknya amalan siang mereka, dan amalan siang mereka sebelum amalan malam mereka. TabirNya adalah cayaha, jika seandainya Ia menyingkap tabir tersebut maka cahaya wajahNya akan membakar apa yang sampai kepadanya pandanganNya (yaitu membakar seluruh makhlukNya)” (HR Muslim no 178)Dialah yang Maha Awal tidak ada sesuatupun yang sebelumNya, dan Yang Maha Akhir, maka tidak ada sesuatupun yang setelahNya. Dialah Yang Maha Dzohir maka tidak ada sesuatupun yang di atasNya, dan Yang Maha Bathin maka tidak ada sesuatupun yang tidak diketahuiNya.Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan tidak ada yang lebih kuat dariNya. Kau ‘Aad merasa hebat dengan kekuatan merekaوَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً“Mereka berkata, “Dan siapakah yang lebih kuat dari kita?” (QS Fushhilat : 15)Maka Allah berkata :أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً“Apakah mereka tidak mengetahui bahwasanya Allah Yang telah menciptakan mereka Dialah Yang lebih kuat dari mereka?” (QS Fushilat : 15)Dan Dia lebih mampu menguasai makhlukNya daripada majikan terhadap budaknya. Ia berkata tentang diriNya :أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا“Bahwasanya seluruh kekuatan adalah milik Allah” (QS Al-Baqoroh : 165)Maka tidak ada sesuatupun di langit maupun di bumi yang dapat melemahkanNya. Ia menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam hari dan Ia tidak ditimpa kelelahan sama sekali. Barangsiapa yang ditolong olehNya maka tidak ada yang bisa mengalahkannya. Tidak ada perubahan dan tidak kekuatan bagi makhluk kecuali denganNya. Perkara ketetapanNya hanya seperti sekejap mata bahkan lebih cepat. Ia memiliki pasukan yang tidak mengetahuinya kecuali Ia sendiri. Jika perkara dunia telah selesai maka Ia akan menggoncang bumi dengan sedahsyat-dahsyatnya, lalu Ia membenturkan bumi, menerbangkan gunung-gunung, lalu menghancurkannya sehancur-hancurnya. Dengan tiupan sangkakala yang pertama maka Ia menjadikan makhluk kaget ketakutan, dan dengan tiupan sasangkala yang kedua merekapun mati, dan dengan tiupan yang ketiga merekapun bangkit ke padang mahsyar. Dan jika Ia turun untuk memulai pengadilan maka langit-langitpun terbelah dan jadilah langit seperti mawar merah seperti kilapan minyak.Ia adalah Yang Maha Suci Maha Qudus, Ia tersucikan dari segala aib dan kekurangan. BagiNya puncak kesempurnaan dan puncak keindahan. Tiada tandingan bagiNya dan tiada yang serupa denganNya, tiada yang semisal dan sebanding denganNya.لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ“Tiada yang semisal denganNya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS Asy-Syuroo : 11)            Selanjutnya, kaum muslimin sekalian…Maka apakah tidak wajib bagi kita untuk mencintai Rabb kita yang demikianlah sifat-sifatNya dan perbuatan-perbuatanNya…?, untuk memujiNya dan mengikhlashkan ibadah bagiNya…?Barangsiapa yang mencintai Allah dan menyembahNya maka Allah mencintainya. Barangsiapa yang mengenal Allah maka ia akan dekat dengan Allah dan tunduk dan merendah kepadaNya, dan ia akan merasa tentram dan tenang bersamaNya, akan mengharap ganjaranNya dan takut akan siksaanNya. Ia akan mencurahkan kepadaNya segala hajat kebutuhannya dan ia akan bertawakkal kepadaNya. Dan barangsiapa yang memuji Allah dan banyak menyanjungNya maka akan terangkat derajatnya. Maka tidak ada seseorangpun yang lebih menyukai untuk dipuji seperti Allah, karenanya Ia memuji diriNya sendiri.Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutukمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ“Tidaklah mereka mengagungkan Allah dengan semestinya, sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa” (QS Al-Hajj : 74)Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur’an yang agung…===========Khutbah Kedua            Segala puji bagi Allah atas kebaikanNya, dan syukur terpanjatkan kepadaNya atas bimbinganNya dan karuniaNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, untuk mengagungkanNya. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita Muhammad adalah hamba dan rasulNya. Semoga shalawat dan salam yang banyak tercurahkan kepada beliau, keluarga beliau dan para sahabatnya.Barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah dan berdoa kepada selainNya kepada makhluk dan orang mati maka sungguh ia telah merendahkan Robbul ‘Aalamin (Penguasa alam semesta), dan ia telah berburuk sangka kepada Allah dan ia telah menyamakan Allah dengan selainnya. Dan syirik menggugurkan seluruh amal sholeh, dan pelakunya tidak akan dimaafkan oleh Allah dan Allah tidak akan memasukannya ke dalam surga, dan ia akan termasuk orang-orang yang kekal di neraka. Syirik merupakan perubahan terbesar bagi fitroh manusia dan kerusakan terbesar di atas muka bumi, dan merupakan pokok asal seluruh bencana dan tempat terkumpulnya seluruh penyakit.Kemudorotannya sangatlah besar, dan bahayanya sangatlah buruk. Kemaksiatan-kemaksiatan pembawa kesialan dan keburukan yang sangat besar, terkumpulkan pada seorang hamba lalu membinasakannya, menghalangi antara hamba dan hatinya (untuk mendekat kepada Allah). Sesuai kadar merasa kecil suatu kemaksiatan di mata maka semakin besar kadar nilainya kemaksiatan tersebut di sisi Allah. Dan janganlah engkau melihat kepada kecilnya maksiat akan tetapi lihatlah kepada keagungan Dzat yang engkau maksiati.Kemudian ketahuilah bahwasanya Allah telah memerintahkan kalian untuk bershalawat dan salam kepada nabiNya, maka Allah berfirman di dalam Al-Qur’an :إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا“Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kepadanya dan bersalamlah kepadanya” (QS Al-Ahzaab : 56)   Penerjemah : Ustman Hatim dan Firanda Andirja


Khotbah Jum’at dari Masjid Nabawi, 24 Jumadal Ula 1437 H (4/3/2016 M).Oleh : Syekh Dr. Abdul Muhsin Bin Muhamad Al-QasimKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah biarkan sesat, tidak akan ada yang dapat memberinya petunjuk.Aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepadanya, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya sebanyak-banyaknya. Selanjutnya …….Maka bertakwalah –wahai hamba-hamba Allah- dengan sebenar-benar takwa, dan berpeganglah dengan tali Islam yang kuat. Kaum muslimin !            Kemuliaan suatu ilmu berdasarkan kemuliaan yang diilmui. Ilmu yang paling mulia dan suci adalah mengenal Allah. Kebutuhan akan pengenalan Allah –subhanahu wa ta’ala- dan pengagungan kepada-Nya menempati urutan kebutuhan teratas, bahkan merupakan pokok dari segala kebutuhan yang mendesak.            Allah –subhanahu wa ta’ala- mengeluarkan anak cucu Adam –alaihissalam- dari tulang sulbi untuk menyatakan kesaksian mereka atas diri mereka bahwa Allah adalah Rabb (Tuhan) dan Raja mereka, dan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Firman Allah :وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ [ الأعراف /172]“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. Qs Al-A’raf : 172Hati manusia diciptakan untuk mencintai Allah, dan memang demikianlah Allah menciptakan manusia untuk mencitai dan mengenal-Nya. Firman Allah :فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ [ الروم / 30 ]“(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah”.Qs. Ar-Rum : 30Artinya, janganlah kalian merombak ciptaan Allah, agar kalian tidak menggeser manusia dari fitrahnya.  Fitrah inilah yang disebut kecenderungan kepada kesucian agama (hanifiyah)  yang menjadi pola dasar Allah menciptakan manusia itu, sebagaimana sabda Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-  :كل مَوْلُودٍ  يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ“ Setiap bayi dilahirkan (ke dunia ini) berada dalam kesucian (fitrah)”.Allah –subhanahu wa ta’ala- memberitakan bahwa setan dari kalangan jin dan manusia-lah yang menyimpangkannya.  Firman Allah dalam hadis Qudsi :” وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ ” رواه مسلم“Dan aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hunafa’ (berpaling dari syirik dan mentauhidkan Allah) seluruhnya, dan sesungguhnya setan-setan mendatangi mereka, lalu memalingkan mereka dari agama mereka.” HR. MuslimMaka setiap muslim diperintahkan untuk menjaga dan memperhatikan fitrah-nya agar ketika menyimpang segera kembali kepada rel asalnya dan bagi yang telah beriman semakin bertambah keimanannya.Allah –subhanahu wa ta’ala- memperlihatkan ayat-ayat kekuasaanNya sebagai bukti ke-Esaan Rububiyah dan Uluhiyah-Nya. Seandainya air lautan menjadi tinta untuk mengisi pena yang digunakan menulis kalimat-kalimat Allah, hikmah-hikmah ciptaan-Nya dan ayat-ayatNya yang menunjukkan ke-EsaanNya, niscaya lautan itu habis sama sekali sebelum semua tertulis.  Seandainya didatangkan lagi banyak lautan semisal itu guna menyuplai sarana penulisannya, tentu tetap tidak akan terselesaikan penulisan kalimat-kalimat Allah.Firman Allah :قُل لَّوۡ كَانَ ٱلۡبَحۡرُ مِدَادٗا لِّكَلِمَٰتِ رَبِّي لَنَفِدَ ٱلۡبَحۡرُ قَبۡلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَٰتُ رَبِّي وَلَوۡ جِئۡنَا بِمِثۡلِهِۦ مَدَدٗا [ الكهف /109]“Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” Qs Al-Kahf : 109Para rasul diutus untuk pemantapan dan penyempurnaan fitrah itu. Allah –subhanahu wa ta’ala- berargumentasi terhadap mereka yang tidak meng-Esa-kanNya (dalam peribadatan) dengan (fitroh mereka akan) pengakuan mereka terhadap Rububiyah-Nya. Firman Allah :يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ [ البقرة / 21 ]“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”. Qs Albaqarah : 21Peng-Esa-an Tuhan dalam aspek Rububiyah dengan mengakui ke-Esa-an Allah dalam perbuatanNya merupakan petnunjuk bukti ke-Esa-anNya dalam aspek Uluhiyah-Nya. Ia merupakan salah satu  pokok dari pokok-pokok keimanan, serta salah satu bagian dari macam-macam tauhid (monoteisme) yang karenanya Allah menciptakan manusia.Sementara itu, penyekutuan dalam aspek tauhid rububiyah ini merupakan bentuk kemusyrikan terbesar dan terburuk.  Dan tidak ada yang keliru dalam aspek (Uluhiyah) kecuali orang yang tidak memberikan hak rububiyah Allah sebagaimana mestinya.Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha sempurna dalam segala sifat dan perbuatanNya.  Di antara sifat-sifatNya adalah sifat Rububiyah ( Tuhan Pencipta dan Pengatur segala urusan makhluk-Nya), tidak ada sekutu bagi-Nya dalam aspek Rububiyah-Nya, sebagaimana pula tidak ada sekutu bagi-Nya dalam aspek Uluhiyah-Nya.Firman Allah :قُلۡ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡغِي رَبّٗا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيۡءٖۚ  [ الأنعام 164 ]“ Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu”. Qs Al-An’am : 164Esensi Rububiyah ialah kesendirian/keesaan Allah dalam menciptakan, memerintah, memberi rezeki dan mengatur; Maka Allah –subhanahu wa ta’ala- adalah Tuhan Pencipta, tidak ada pencipta lain bersama-Nya. Firman Allah :هَلۡ مِنۡ خَٰلِقٍ غَيۡرُ ٱللَّهِ  [ فاطر / 3 ]” Adakah pencipta selain Allah “. Qs Fathir : 3Dia Pencipta langit dan bumi, Dia ciptakan dan sempurnakan, Dia membuat baik pada penciptaan segala sesuatu, Dia Maha Kreasi dan Maha mengetahui.هَٰذَا خَلۡقُ ٱللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦۚ [ لقمان / 11]” Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah”. Qs Luqman : 11Sebagaimana Allah menciptakan makhluk pada permulaan, Dia akan menghidupkannya kembali pada hari Kiamat, dan itu tentu lebih mudah bagi-Nya.Setiap sesembahan selain Allah –subhanahu wa ta’ala- tidaklah berhak disembah, karena dia tidak bisa menciptakan.Firman Allah :إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَن يَخۡلُقُواْ ذُبَابٗا وَلَوِ ٱجۡتَمَعُواْ لَهُۥۖ [ الحج / 73 ]“ Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya”.Qs Al-Hajj : 73Dan Allah-lah yang berhak disembah, karena Dia menciptakan. Firman Allah :أَفَمَن يَخۡلُقُ كَمَن لَّا يَخۡلُقُۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ [ النحل / 17 ]“Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)?. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran”. Qs An-Nahl : 17            Setiap hamba pastilah mengakui bahwa dirinya adalah makhluk ciptaan Allah, dan Allah-lah Penciptanya. Firman Allah :وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَهُمۡ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُۖ  [ الزخرف / 87 ]“ Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Qs Az-Zukhruf : 87Allah –subhanahu wa ta’ala- adalah Maha Raja, kerajaan adalah milik-Nya.  Firman Allah :ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡ لَهُ ٱلۡمُلۡكُۚ وَٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ مَا يَمۡلِكُونَ مِن قِطۡمِيرٍ  [ فاطر / 13 ]“Demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari”.Qs Fathir: 13Dan Dia pula Pemilik semua makhluk ciptaan-Nya.  Firman Allah :لَّهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ [ البقرة / 255 ]“ Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi”. Qs Albaqarah : 255Seluruh makhluk tunduk dan bertasbih kepada-Nya.  Firman Allah :تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ ٱلسَّبۡعُ وَٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهِنَّۚ وَإِن مِّن شَيۡءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمۡدِهِۦ وَلَٰكِن لَّا تَفۡقَهُونَ تَسۡبِيحَهُمۡۚ [ الإسراء/44]“ Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka”. Qs Al-Isra : 44Bahkan segenap makhluk, baik benda mati atau hidup bersujud kepada-Nya. Firman Allah :وَلِلَّهِۤ يَسۡجُدُۤ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ طَوۡعٗا وَكَرۡهٗا [ الرعد / 15 ]“ Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa”. Qs Ar-Ra’d : 15Dia-lah Allah Yang Maha Penguasa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Semua makhluk adalah hamba-Nya. Firman Allah :إِن كُلُّ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّآ ءَاتِي ٱلرَّحۡمَٰنِ عَبۡدٗا [ مريم / 93 ]“ Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba”. Qs Maryam : 93Dia yang memegang hak milik mutlak dan langgeng, Raja di dunia dan di hari kemudian.  Di akhirat kelak Dia tampil seraya berkata :لِّمَنِ ٱلۡمُلۡكُ ٱلۡيَوۡمَۖ  [ غافر / 16]“Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Qs Ghafir : 16Lalu Dia sendiri menjawab seraya berkata :لِلَّهِ ٱلۡوَٰحِدِ ٱلۡقَهَّارِ [ غافر / 16 ]“Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan”. Qs Ghafir : 16Allah –subhanahu wa ta’ala- sendirian mengatur segala urusan makhluk-Nya dan kerajaan-Nya. Segala urusan berada di tangan-Nya sendiri. Firman Allah :أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ   [ الأعراف / 54]“ Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah”. Qs Al-A’raf : 54Dia memerintah dan melarang, menciptakan dan memberi rezeki, memberikan dan menahan pemberian, merendahkan dan mengangkat, memuliakan dan menghinakan, menghidupkan dan mematikan. Firman Allah :يُكَوِّرُ ٱلَّيۡلَ عَلَى ٱلنَّهَارِ وَيُكَوِّرُ ٱلنَّهَارَ عَلَى ٱلَّيۡلِۖ وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَۖ   [ الزمر / 5 ]“ Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan”. Qs Az-Zumar : 5Firman Allah :يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ وَيُحۡيِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۚ  [ الروم / 19 ]“Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya”. Qs Ar-Rum : 19Allah mengeluarkan yang tersimpan di langit dan di bumi.Seluruh makhluk berada dalam kekuasaan-Nya dan kehendak-Nya. Hati seluruh hamba dan ubun-ubun mereka berada ditangan-Nya. Segenap urusan penting telah terpatri pada ketetapan takdir-Nya.  Hanya ada pada-Nya segala urusan, sebelum dan sesudah terjadi.  Mengawasi setiap jiwa dengan segala apa yang dilakukan. Langit dan bumi eksis tegak karena perintah-Nya.Firman Allah :وَيُمۡسِكُ ٱلسَّمَآءَ أَن تَقَعَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦٓۚ  [ الحج / 65 ]“Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya”.Qs Al-Haj :65Firman Allah :يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَاۚ  [ فاطر / 41 ]“Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap”. Qs Fathir : 41Semua makhluk di langit dan di bumi memohon kepada-Nya.Firman Allah :كُلَّ يَوۡمٍ هُوَ فِي شَأۡنٖ  [ الرحمن / 29]“ Setiap waktu Dia dalam urusan”. Qs Ar-Rahman : 29Di antara sekian banyak urusan-Nya adalah; mengampuni dosa dan memberi petunjuk bagi yang tersesat, menghilangkan kesedihan, menghilangkan penderitaan, membalut hati yang luka, mencukupkan orang miskin, merespon doa orang-orang yang tertindas.Firman Allah :وَمَا كُنَّا عَنِ ٱلۡخَلۡقِ غَٰفِلِينَ  [ المؤمنون / 17 ]“dan Kami tidaklah lalai dari ciptaan (Kami)”. Qs Almu’minun : 17Perintah-perintahNya berkesinambungan, kehendak-Nya berlaku. Apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan berbuat apa yang diinginkan-Nya.  Keputusan-Nya merupakan keputusan yang pasti berlaku.  Tidak ada yang menghalangi pemberian-Nya dan tidak ada yang melangsungkan penolakan-Nya.Tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya, tidak ada yang dapat menangkis ketentuan takdir-Nya, tidak ada yang dapat menghindar dari kemauan-Nya, tidak ada yang dapat mengganti kalimat-kalimatNya. Allah telah menetapkan takdir makhluk-Nya sejak 50 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.Seandainya seluruh makhluk bersepakat melakukan sesuatu yang tidak ditetapkan oleh Allah untuk terjadi maka mereka tidak mampu melangsungkan maksud mereka. Seandainya mereka semua bersepakat merubah sesuatu yang telah ditetapkan terjadi untuk menggagalkannya, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya.Seandainya seluruh umat manusia bersepakat untuk memberi kemudorotan kepada seseorang, sementara Allah tidak menghendakinya, niscaya mereka tidak mampu melakukannya. Seandainya seluruh umat manusia bersepakat memberi manfaat kepada seseorang yang Allah tidak memberinya izin untuk memperoleh manfaat tersebut, niscaya mereka tidak akan mampu memberi manfaat kepadanya.Tidak ada yang dapat menolak siksaan Allah ketika turun, dan tidak ada yang mampu menghalaunya ketika menimpa. Allah memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya atas anugerah dari-Nya, dan Dia membiarkan sesat siapapun yang dikehendaki-Nya atas keadilan-Nya.Perintah-perintahNya hanya dengan perkataanNya dan terlaksana  :إِذَآ أَرَادَ شَيۡ‍ًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ  [ يس / 82 ]“ Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia”. Qs Yasin : 82Segala tindakan dan perbuatan-Nya tak seorang-pun yang mempertanyakannya.Firman Allah :لَا يُسۡ‍َٔلُ عَمَّا يَفۡعَلُ وَهُمۡ يُسۡ‍َٔلُونَ  [ الأنبياء / 23 ]“ Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai”. Qs Al-Anbiya : 23Firman-Nya sebaik-baik perkataan, tidak berpermulaan dan tidak pula berkesudahan.Firman Allah :وَلَوۡ أَنَّمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ مِن شَجَرَةٍ أَقۡلَٰمٞ وَٱلۡبَحۡرُ يَمُدُّهُۥ مِنۢ بَعۡدِهِۦ سَبۡعَةُ أَبۡحُرٖ مَّا نَفِدَتۡ كَلِمَٰتُ ٱللَّهِۚ  [ لقمان / 27 ]“ Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah”. Qs Luqman : 27ke-Maha Tahuan- Allah meliputi segala sesuatu; mengetahui peristiwa yang telah terjadi, yang belum terjadi dan yang tidak terjadi sama sekali. Mengetahui apa saja yang akan dilakukan oleh makhluk-Nya di waktu sekarang dan akan datang serta  apa yang pernah mereka lakukan sebelumnya.Firman Allah :وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۚ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا [ الأنعام / 59 ]“dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula)”. Qs Al-An’am : 59Tidak ada suatu zarah (partikel kecil) bergerak di alam semesta ini kecuali atas izin-Nya. Tidak samar bagi-Nya apapun yang ada di bumi dan di langit. Dia Maha mengetahui perkara-perkara yang ghaib (tidak terlihat) dari kita seperti peristiwa-peristiwa dan  umat-umat terdahulu, dan Diapun mengetahui yang terlihat. Dia-pun Maha mengetahui bisikan-bisikan halus dalam hati, termasuk lintasan-lintasan kerahasiaan yang tersimpan dalam hati.Allah Maha mengetahui apa yang ada dalam kandungan wanita, Dia mengetahuiوَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَاapa yang tumbuh di bumi, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke langit. (QS Saba’ : 2)لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ“Tidak ada yang tersembuni bagi-Nya suatu apapun seberat zarah, baik di langit maupun di bumi” (QS Saba’ : 3).وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَDi sisiNya-lah kunci-kunci semua perkara ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri” (QS Al-An’aam : 59)Ilmu yang dimiliki seluruh makhluk ini hanyalah bagaikan setetes air dari lautan ilmu Allah.Firman Allah :وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيۡءٖ مِّنۡ عِلۡمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَۚ  [ البقرة / 255 ]“ dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya”. Qs Albaqarah : 255Pernah seekor burung pipit mematuk air di laut, maka Nabi Khodhir berkata kepada Nabi Musa –alaihimassalam- :” مَا نَقَصَ عِلْمِي وَعِلْمُكَ مِنْ عِلْمِ اللهِ إِلاَّ مِثْلَ مَا نَقَصَ هَذاَ العُصْفُوْرُ مِنَ الْبَحْرِ ” رواه مسلم“Ilmu-ku dan ilmu-mu tidaklah mengurangi ilmu Allah kecuali seperti berkurangnya air laut setelah dipatuk oleh burung pipit ini”.Allah –subhanahu wa ta’ala- mendengar setiap suara di jagat raya ini.  Firman Allah tentang Dzat-Nya :أَسۡمَعُ وَأَرَىٰ  [ طه / 46 ]“Aku mendengar dan melihat” Qs Thaha : 46Pendengaran Allah meliputi segala pendengaran; maka apapun pendengaran yang ada tidaklah asing dan tidak pula rancu bagi Allah. Firman Allah :أَمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّا لَا نَسۡمَعُ سِرَّهُمۡ وَنَجۡوَىٰهُمۚ [ الزخرف / 80]” Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka?” Qs Az-Zukhruf : 80            Seorang wanita datang menghadap Nabi –shallallahu alaihi wa salam-  mengadukan perihal suaminya, ketika itu Aisyah –radhiyallahu anha-  yang berada di salah satu sudut rumah berkata, sesungguhnya aku mendengar pembicaraan wanita itu, namun sebagian pembicaraannya samar bagiku, sedangkan Allah dari atas tujuh langit mendengar suaranya. Tidak selang waktu lama tiba-tiba Malaikat Jibril –alaihissalam- turun membawa ayat ini :قَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّتِي تُجَٰدِلُكَ فِي زَوۡجِهَا وَتَشۡتَكِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَسۡمَعُ تَحَاوُرَكُمَآۚ  [ المجادلة / 1 ]“ Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua”. Qs Al-Mujadalah : 1            Setiap gerakan di alam semesta ini dilihat oleh Allah. Penglihatan-Nya meliputi segala yang terlihat. Allah melihat rayapan semut hitam yang merayap di batu halus dalam kegelapan malam yang hitam kelam. Apa yang dilakukan manusia dalam malam gelap gulita-pun tidak samar bagi Allah.Firman Allah :ٱلَّذِي يَرَىٰكَ حِينَ تَقُومُ  – وَتَقَلُّبَكَ فِي ٱلسَّٰجِدِينَ  [ الشعراء / 218 – 219 ]“ Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang) . dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud”. Qs As-Syuara : 218-219            Segala tingkah laku manusia adalah dalam pengawasan Tuhan kita, Allah –subhanahu wa ta’ala-. Firman Allah :إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ [ الفجر / 14 ]“ sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi”. Qs Al-Fajr :14Oleh karena seluruh makhluk adalah ciptaan Allah, maka ketentuan hukum yang mengaturnya hanyalah milik Allah pula.Firman Allah :إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِ  [ يوسف / 40 ]“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah”. Qs Yusuf : 40Semua ketetapan hukum, hukum pidana, aturan perundang-undangan yang ditetapkan Allah merupakan sebaik-baik hukum, tidak ada ketentuan hukum yang lebih baik dari pada hukum Allah.Firman Allah :وَهُوَ خَيۡرُ ٱلۡحَٰكِمِينَ  [ يوسف / 80 ]“Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya” Qs Yusuf : 80Hukum Allah –subhanahu wa ta’ala- tidak berat sebelah dan tidak menzalimi siapapun. Firman Allah :أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَحۡكَمِ ٱلۡحَٰكِمِينَ [ التين / 8 ]“ Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya”. Qs At-Tin : 8Allah –subhanahu wa ta’ala- menetapkan ketentuan hukum, maka tidak ada seorangpun yang mampu menolak ketetapan hukum-Nya.Firman Allah :وَهُوَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ  [ الرعد / 41 ]“ dan Dialah Yang Maha cepat hisab-Nya “. Qs Ar-Ra’d : 41Adapun rahmat kasih sayang-Nya, maka tidak ada seorangpun yang lebih kasih sayang dari pada Allah. Dia berfirman memuji diri-Nya sendiri :وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ [ يوسف / 92 ]“ dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang” Qs Yusuf : 92خَيْرُ الرَّاحِمِينَ“Pemberi rahmat Yang Paling Baik” (QS Al-Mukminun : 109)Kasih sayang-Nya melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pernah menyaksikan seorang wanita dalam tawanan sedang mencari anaknya, ketika melihat seorang bocah kecil, dipeluknya bocah itu dan langsung ia tempelkan pada perutnya lalu ia susui. Maka Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- berkata kepada para sahabat :أَتَرَوْنَ هَذِهِ الْمَرْأَةَ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ ؟ ” قَالُوا : لا ،“Adakah kalian berpikir bahwa wanita ini akan mencampakkan anaknya pada api?”. Mereka menjawab : Tentu tidak Ya Rasulallah. Kemudian beliau –shallallahu alaihi wa sallam- melanjutkan ucapannya :” لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ الْمَرْأَةِ بِوَلَدِهَا ” متفق عليه “Sungguh Allah lebih kasih sayang kepada hamba-Nya dari pada wanita ini kepada anaknya”. (HR Al-Bukhari dan Muslim).            Allah –subhanahu wa ta’ala- menciptakan untukNya 100 rahmat, satu di antaranya Dia turunkan ( sebarkan ), maka dengan rahmat yang satu itu seluruh makhluk di bumi saling berkasih sayang, sementara rahmat yang 99 Dia tahan pada-Nya.            Rahmat Allah merata pada segala sesuatu. Malaikat Penyangga Arsy dan sekitarnya berkata :رَبَّنَا وَسِعۡتَ كُلَّ شَيۡءٖ رَّحۡمَةٗ وَعِلۡمٗا [ غافر / 7 ]“Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu”. Qs Ghafir : 7Rahmat kasih sayang Allah akan terus berkesinambungan hingga akhirat.Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha Pemurah, tidak ada yang lebih murah dari pada-Nya. Allah senang berbuat baik dan memberi hamba-hambaNya. Allah memberi mereka rezeki dari arah atas dan bawah mereka.Firman Allah :قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ [ يونس / 31 ]“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi”. Qs Yunus : 31Karunianya begitu besar dan kekayaan-Nya tidak akan habis.يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لَا يَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَTangan-Nya tak henti-hentinya memberi, dan pemberiannya tidak mengurangi kekayaannya, Ia dermawan senantiasa memberi siang dan malam.  Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ“Tahukah kalian betapa banyak nafkah yang Allah keluarkan sejak Dia menciptakan langit dan bumi, sungguh tidak berkurang kekayaan yang ada di tangan-Nya”. HR Bukhari.            Allah –subhanahu wa ta’ala- tidak menolak permohonan hamba-hambaNya. Firman Allah :وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ [ البقرة / 186 ]“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku”. Qs Albaqarah : 186Allah tidak enggan memberi lantaran besarnya kebutuhan. “Seandainya seluruh hamba ini, mulai generasi pertama sampai terakhir, dari golongan manusia dan jin, berkumpul di suatu tanah lapang untuk memohon kepada-Nya dan Allah memenuhi permohonan setiap orang di antara mereka, tidaklah hal itu mengurangi kekayaan yang ada pada-Nya kecuali seperti air yang melekat pada jarum setelah dimasukkan ke dalam laut”.            Allah –subhanahu wa ta’ala- menjamin rezeki setiap makhluk-Nya, manusia dan jin, yang muslim dan yang kafir, termasuk seluruh hewan melata.  Firman Allah :وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا [ هود / 6 ]“ Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya”. Qs Hud : 6Pemberian-Nya tanpa pamrih. Dia-lah sebaik-baik Pemberi rezeki. Allah membuka pintu-pintu pemberian-Nya untuk hamba-hambaNya; menundukkan lautan, mengalirkan sungai, mengucurkan rezeki, menganugerahkannya dalam jumlah besar kepada hamba-hambaNya padahal mereka tidak memintanya. Dia memberi apa yang mereka minta, bahkan menawarkan kepada mereka untuk selalu memohon kepadaNya.” مَنْ يَسْألنى فَأعْطِيَه “ “Siapakah yang ingin meminta lalu Aku kabulkan permintaannya”.Segala bentuk kebaikan datang dari-Nya. Firman Allah :وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةٖ فَمِنَ ٱللَّهِۖ  [ النحل / 53 ]“ Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah”. Qs An-Nahl : 53            Allah mengirimkan rezeki setiap makhluk-Nya; Dia memberikan rezeki kepada Janin dalam rahim ibunya, kepada semut dalam liangnya, burung di ruang angkasa dan ikan di air yang dalam.Firman Allah :وَكَأَيِّن مِّن دَآبَّةٖ لَّا تَحۡمِلُ رِزۡقَهَا ٱللَّهُ يَرۡزُقُهَا وَإِيَّاكُمۡۚ [ العنكبوت / 60 ]“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu”. Qs Al-Ankabut : 60            Allah begitu Pemurah, Dia tidak rela bila permohonan itu disampaikan kepada selain Dia. Siapa yang tidak meminta kepada-Nya, Allah marah kepadanya. Maka sungguh terhalang dari kemurahan Allah seorang yang berharap kepada selain Penciptanya. Dan tidak ada seorang pun yang lebih tahan terhadap gangguan yang didengarnya dari pada Allah. Mereka menyekutukan Allah dan menuduh Allah punya anak, namun demikian Allah tetap memberi mereka kesehatan dan rezeki.            Allah –subhanahu wa ta’ala- menyambut gembira pertobatan hamba-Nya melebihi dari kegembiraan seorang yang setelah kehilangan hewan tunggangannyaبِأَرْضٍ فَلَاةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَمَا هُوَ كذلكَ إِذ هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فقَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِdi gurun dan berputus asa untuk bertemu kembali hewan tunggangannya, maka iapun mendatangi sebuah pohon lalu merebahkan dirinya di bawah naungan pohon tersebut sementara ia telah putus asa dari bertemu kembali hewan tunggangannya. Dalam keputus asaan itu tiba-tiba hewan tunggangannya itu datang di hadapannya, lalu ia berkata kegirangan : “Ya Allah! Engkau hambaku dan aku TuhanMu”.   Dia salah omong karena terlalu gembira”. (HR Muslim)Allah memberi bimbingan kepada mereka yang taat kepadaNya sebagai karunia dan kebaikan dariNya, lalu Allah memberi ganjaran kepada mereka setelah membimbing mereka. Allah Maha berterima kasih, Ia memberi ganjaran kepada amalan yang sedikit dengan ganjaran yang besar. Satu kebaikan dilipat gandakan olehNya menjadi sepuluh kali lipat bahkan dengan lipat ganda yang banyak. Ia menyiapkan bagi hamba-hambaNya di surga kenikmatan-kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, bahkan tidak pernah terbetik dalam hati manusia. Dan Ia berfirman :إِنَّ هَذَا لَرِزْقُنَا مَا لَهُ مِنْ نَفَادٍ“Sesungguhnya ini adalah benar-benar rezeki dari Kami yang tiada habis-habisnya” (QS Shaad : 54)Bahkan Allah senantiasa ingin memberi kepuasan kepada penduduk surga, Allah berkata :هَلْ رَضِيتُمْ فَيَقُولُونَ وَمَا لَنَا لَا نَرْضَى وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ فَيَقُولُ أَنَا أُعْطِيكُمْ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالُوا يَا رَبِّ وَأَيُّ شَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ فَيَقُولُ أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا“Apakah kalian puas?”, mereka berkata, “Kenapa kami tidak puas?, sementara Engkau telah menganugrahkan kepada kami apa yang tidak pernah Engkau berikan kepada seorangpun dari ciptaanMu”. Maka Allah berkata, “Aku akan memberikan kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari itu semua?”. Mereka berkata, “Ya Rabb, dan apakah lagi yang lebih baik dari kenikmatan ini semua?”. Maka Allah berkata, “Aku akan menganugrahkan kepada kalian keridoanKu maka Aku tidak akan marah kepada kalian setelah itu selamanya” (HR Al-Bukhari)Allah Maha kaya dengan dzatNya, Ia adalah As-Shomad yaitu Yang para makhluq seluruhnya bergantung kepadaNya dalam memenuhi kebutuhan mereka. Ia adalah Sayyid (Pemimpin/Raja dari seluruh raja) yang Maha Sempurna dan tiada berongga.لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)“Allah tidak beranak dan tidak pula dilahirkan, dan tidak ada sesuatupun yang setara denganNya” (QS Al-Ikhlaash 3-4)Tidak ada tuhan yang bersamaNya, dan ia tidak memiliki Istri maupun anak.وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ“Dia tidak memiliki sekutu dalam kerajaanNya, dan Dia juga bukan pula hina yang memerlukan penolong” (QS Al-Isroo’ : 11)Tidak ada tuhan yang menyertaiNya.Ia tidaklah ditaati kecuali karena karuniaNya (kepada hambaNya yang taat tersebut). Dan Ia tidaklah dimaksiati kecuali Ia mengetahuinya. Ia Maha kaya tidak membutuhkan makhlukNya, dan segala sesuatu hanya bisa tegak denganNya dan membutuhkanNya.يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ“Wahai manusia sekalian, sesungguhnya kalianlah yang butuh kepada Allah, sementara Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji” (QS Faathir : 15)Ketaatan orang-orang yang taat tidaklah memberikan manfaat kepadaNya, dan maksiatnya para pelaku maksiat tidaklah memberikan kemudorotan kepadaNya.إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ“Jika kalian kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) kalian” (QS Az-Zumar : 7)Seandainya seluruh manusia dan jin berada diatas hati seorang yang paling bertakwa maka hal itu tidak akan menambah sesuatupun dalam kerajaanNya, dan jika seluruh manusia dan jin berada di atas hati seorang yang paling fajir maka hal itu tidak akan mengurangi sedikitpun dari kerajaanNya. Para hambaNya tidak akan mampu menyampaikan manfaat kepadaNya sehingga bermanfaat bagiNya, dan tidak akan mampu menyampaikan kemudorotan kepadaNya sehingga memudorotkanNya. Ia tegak dengan diriNya sendiri.Dia Maha Besar, Maha Agung, Maha Kuasa da Maha Kuat. Kemuliaan adalah sarungNya dan kesombongan adalah selendangNya. Ia adalah Raja yang tiada sekutu bagiNya, Maha Esa yang tiada tandingan bagiNya, Maha Kaya yang tidak memerlukan penolong bagiNya, Yang Maha Tinggi yang tiada serupa denganNya.كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ“Segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah Allah” (QS Al-Qosos : 88)Seluruh kerajaan pasti akan sirna kecuali kerajaanNya, seluruh karunia pasti akan terputus kecuali karuniaNya. Dia meliputi segala sesuatu, dan tidak ada sesuatupun yang meliputiNya.لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan” (Qs Al-An’aam : 103)وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ“Padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kananNya”(QS Az-Zumar : 67)يَضَعُ السَّمَوَاتِ عَلَى إِصْبَعٍ وَالْأَرَضِينَ عَلَى إِصْبَعٍ وَالْمَاءَ وَالثَّرَى عَلَى إِصْبَعٍ وَالْخَلَائِقَ عَلَى إِصْبَعٍ ثُمَّ يَهُزُّهُنَّ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ“Pada hari kiamat Ia meletakkan langit-langit pada satu jariNya, seluruh bumi pada satu jariNya, dan gunung-gunung pada satu jariNya, pohon-pohon pada satu jariNya, air dan tanah pada satu jariNya, dan seluruh makhluk pada satu jariNya, lalu Iapun mengguncangkannya seraya berkata, “Aku adalah Maha Raja” (HR Al-Bukhari)Ia tidak dimohon syafaatNya demi meminta syafaat seorangpun dari makhlukNya, dan tidak seorangpun yang memberi syafaat di sisiNya kecuali setelah mendapat izin dariNya, dan hal ini berbeda dengan para makhlukNya yang bisa ada syafaat di sisi mereka meskipun tanpa izin mereka. KursiNya –yaitu tempat kedua kakiNya- meliputi seluruh langit dan bumi.Tidaklah kursi di ‘arsyNya kecuali seperti lingkaran besi (kecil) jika diletakkan di padang pasir. Dan ‘Arsy adalah makhluk yang terbesar, yang dipikul oleh para malaikat yang ukuran jarak antara daun telinga malaikat tersebut hingga pundaknya adalah perjalanan selama 700 tahun. Dan Allah beristiwa (berada) di atas ‘arsyNya sesuai dengan kemuliaanNya dan Ia tidak membutuhkan ‘arsyNya dan apa yang dibawahnya.تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْ فَوْقِهِنَّ“Hampir saja langit-langit itu pecah karena (kebesaran Tuhan) yang berada diatas langit-langit tersebut” (QS Asy-Syuroo : 5)Yaitu langit-langit ketakutan karena keagungan Allah. Dan jika Allah berbicara menyampaikan wahyu maka langit-langitpun bergetar dan para penghuni langitpun pingsan dan tunduk sujud kepada Allah.Allah Maha Hidup dan Maha Tegak (dan Menegakkan mahklukNya), Ia sama sekali tidak mengantuk dan tidak tidur.إِنَّ اللَّهَ لَا يَنَامُ، وَلَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ، يَخْفِضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ، يُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ، وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ، حِجَابُهُ النُّورُ، لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِIa tidak tidur dan tidak pantas bagiNya untuk tidur. Ia menaikan timbangan dan menurunkannya (untuk menimbang amalan hamba yang naik kepadaNya dan menimbang rizki mereka yang Allah turunkan kepada mereka). Diangkat kepadaNya amalan malam (para hamba) sebelum naiknya amalan siang mereka, dan amalan siang mereka sebelum amalan malam mereka. TabirNya adalah cayaha, jika seandainya Ia menyingkap tabir tersebut maka cahaya wajahNya akan membakar apa yang sampai kepadanya pandanganNya (yaitu membakar seluruh makhlukNya)” (HR Muslim no 178)Dialah yang Maha Awal tidak ada sesuatupun yang sebelumNya, dan Yang Maha Akhir, maka tidak ada sesuatupun yang setelahNya. Dialah Yang Maha Dzohir maka tidak ada sesuatupun yang di atasNya, dan Yang Maha Bathin maka tidak ada sesuatupun yang tidak diketahuiNya.Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan tidak ada yang lebih kuat dariNya. Kau ‘Aad merasa hebat dengan kekuatan merekaوَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً“Mereka berkata, “Dan siapakah yang lebih kuat dari kita?” (QS Fushhilat : 15)Maka Allah berkata :أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً“Apakah mereka tidak mengetahui bahwasanya Allah Yang telah menciptakan mereka Dialah Yang lebih kuat dari mereka?” (QS Fushilat : 15)Dan Dia lebih mampu menguasai makhlukNya daripada majikan terhadap budaknya. Ia berkata tentang diriNya :أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا“Bahwasanya seluruh kekuatan adalah milik Allah” (QS Al-Baqoroh : 165)Maka tidak ada sesuatupun di langit maupun di bumi yang dapat melemahkanNya. Ia menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam hari dan Ia tidak ditimpa kelelahan sama sekali. Barangsiapa yang ditolong olehNya maka tidak ada yang bisa mengalahkannya. Tidak ada perubahan dan tidak kekuatan bagi makhluk kecuali denganNya. Perkara ketetapanNya hanya seperti sekejap mata bahkan lebih cepat. Ia memiliki pasukan yang tidak mengetahuinya kecuali Ia sendiri. Jika perkara dunia telah selesai maka Ia akan menggoncang bumi dengan sedahsyat-dahsyatnya, lalu Ia membenturkan bumi, menerbangkan gunung-gunung, lalu menghancurkannya sehancur-hancurnya. Dengan tiupan sangkakala yang pertama maka Ia menjadikan makhluk kaget ketakutan, dan dengan tiupan sasangkala yang kedua merekapun mati, dan dengan tiupan yang ketiga merekapun bangkit ke padang mahsyar. Dan jika Ia turun untuk memulai pengadilan maka langit-langitpun terbelah dan jadilah langit seperti mawar merah seperti kilapan minyak.Ia adalah Yang Maha Suci Maha Qudus, Ia tersucikan dari segala aib dan kekurangan. BagiNya puncak kesempurnaan dan puncak keindahan. Tiada tandingan bagiNya dan tiada yang serupa denganNya, tiada yang semisal dan sebanding denganNya.لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ“Tiada yang semisal denganNya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS Asy-Syuroo : 11)            Selanjutnya, kaum muslimin sekalian…Maka apakah tidak wajib bagi kita untuk mencintai Rabb kita yang demikianlah sifat-sifatNya dan perbuatan-perbuatanNya…?, untuk memujiNya dan mengikhlashkan ibadah bagiNya…?Barangsiapa yang mencintai Allah dan menyembahNya maka Allah mencintainya. Barangsiapa yang mengenal Allah maka ia akan dekat dengan Allah dan tunduk dan merendah kepadaNya, dan ia akan merasa tentram dan tenang bersamaNya, akan mengharap ganjaranNya dan takut akan siksaanNya. Ia akan mencurahkan kepadaNya segala hajat kebutuhannya dan ia akan bertawakkal kepadaNya. Dan barangsiapa yang memuji Allah dan banyak menyanjungNya maka akan terangkat derajatnya. Maka tidak ada seseorangpun yang lebih menyukai untuk dipuji seperti Allah, karenanya Ia memuji diriNya sendiri.Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutukمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ“Tidaklah mereka mengagungkan Allah dengan semestinya, sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa” (QS Al-Hajj : 74)Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur’an yang agung…===========Khutbah Kedua            Segala puji bagi Allah atas kebaikanNya, dan syukur terpanjatkan kepadaNya atas bimbinganNya dan karuniaNya. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata tiada sekutu bagiNya, untuk mengagungkanNya. Dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita Muhammad adalah hamba dan rasulNya. Semoga shalawat dan salam yang banyak tercurahkan kepada beliau, keluarga beliau dan para sahabatnya.Barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah dan berdoa kepada selainNya kepada makhluk dan orang mati maka sungguh ia telah merendahkan Robbul ‘Aalamin (Penguasa alam semesta), dan ia telah berburuk sangka kepada Allah dan ia telah menyamakan Allah dengan selainnya. Dan syirik menggugurkan seluruh amal sholeh, dan pelakunya tidak akan dimaafkan oleh Allah dan Allah tidak akan memasukannya ke dalam surga, dan ia akan termasuk orang-orang yang kekal di neraka. Syirik merupakan perubahan terbesar bagi fitroh manusia dan kerusakan terbesar di atas muka bumi, dan merupakan pokok asal seluruh bencana dan tempat terkumpulnya seluruh penyakit.Kemudorotannya sangatlah besar, dan bahayanya sangatlah buruk. Kemaksiatan-kemaksiatan pembawa kesialan dan keburukan yang sangat besar, terkumpulkan pada seorang hamba lalu membinasakannya, menghalangi antara hamba dan hatinya (untuk mendekat kepada Allah). Sesuai kadar merasa kecil suatu kemaksiatan di mata maka semakin besar kadar nilainya kemaksiatan tersebut di sisi Allah. Dan janganlah engkau melihat kepada kecilnya maksiat akan tetapi lihatlah kepada keagungan Dzat yang engkau maksiati.Kemudian ketahuilah bahwasanya Allah telah memerintahkan kalian untuk bershalawat dan salam kepada nabiNya, maka Allah berfirman di dalam Al-Qur’an :إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا“Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kepadanya dan bersalamlah kepadanya” (QS Al-Ahzaab : 56)   Penerjemah : Ustman Hatim dan Firanda Andirja

Apa itu Shalat Awwabin?

Apa yang dimaksud shalat awwabin? Mungkin kita pernah mendengar dari sebagian orang yang menyebutnya, namun barangkali belum tahu maksudnya. Shalat awwabin bisa ditujukan pada dua maksud:   Pertama: Shalat Awwabin adalah shalat Dhuha Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُحَافِظُ عَلَى صَلاَةِ الضُّحَى إِلاَّ أَوَّابٌ، وَهِيَ صَلاَةُ الأَوَّابِيْنَ “Tidaklah menjaga shalat sunnah Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali taat). Inilah shalat awwabin.” (HR. Ibnu Khuzaimah, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib 1: 164). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Awwab adalah muthii’ (orang yang taat). Ada pula ulama yang mengatakan bahwa maknanya adalah orang yang kembali taat” (Syarh Shahih Muslim, 6: 30).   Kedua: Shalat Awwabin adalah shalat sunnah enam raka’at setelah maghrib Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى سِتَّ رَكَعَاتٍ بَعْدَ الْمَغْرِبِ لَمْ يَتَكَلَّمْ بَيْنَهُنَّ بِسُوءٍ عُدِلَتْ لَهُ عِبَادَةَ اثْنَتَىْ عَشْرَةَ سَنَةً “Siapa yang shalat enam raka’at ba’da Maghrib, dan ia tidak berbicara kejelekan di antaranya, maka ia dicatat seperti ibadah 12 tahun.” (HR. Ibnu Majah, no. 1167; Tirmidzi, no. 435. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if jiddan. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini dha’if jiddan) Al-Mawardi mengatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat tersebut dan mengatakan, هَذِهِ صَلاَةُ الأَوَّابِيْنَ “Ini adalah shalat awwabin.” (HR. Ibnu ‘Abidin, 1: 453. Imam Asy-Syaukani mengatakan bahwa hadits ini disebutkan oleh Ibnul Jauzi bahwa hadits ini terdapat perawi yang tidak diketahui) Kalau kita telusuri, ternyata hadits yang membicarakan shalat awwabin untuk shalat sunnah antara Maghrib dan ‘Isya itu dha’if dari sisi periwayatan hadits. Akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih melakukan shalat antara Maghrib dan Isya. Dari Hudzaifah, ia berkata, جِئْتُ النبي صلى الله عليه وسلم فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الْمَغْرِبَ ، فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَامَ يُصَلِّي ، فَلَمْ يَزَلْ يُصَلِّي حَتَّى صَلَّى الْعِشَاءَ “Aku pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku melaksanakan shalat bersama beliau yaitu shalat Maghrib. Setelah selesai shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri lalu melaksanakan shalat lagi (shalat sunnah). Beliau terus menerus shalat hingga datang shalat ‘Isya’.” Juga ada pemahaman dari sebagian sahabat mengenai shalat antara Maghrib dan ‘Isya’. Mengenai firman Allah Ta’ala, تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan.” (QS. As-Sajdah: 16). Disebutkan, “Mereka (sifat orang shalih) melaksanakan shalat sunnah.” Yang dimaksud di sini adalah shalat sunnah antara Maghrib dan Isya. Ulama lain seperti Al-Hasan Al-Bashri menafsirkan ayat itu dengan menyatakan, mereka melakukan shalat malam. (HR. Abu Daud, no. 1321. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani berpendapat bahwa hadits ini shahih) Ibnu Mardawaih dalam tafsirnya, dari Anas radhiyallahu ‘anhu berpendapat mengenai ayat di atas, mereka melakukan shalat (sunnah) antara Maghrib dan Isya. Al-‘Iraqi mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid, sebagaimana dinukil dari ‘Aunul Ma’bud. Imam Asy-Syaukani dalam Nail Al-Authar (3: 68) berkata, “Ayat dan hadits yang disebutkan dalam bab menyebutkan akan disyari’atkannya memperbanyak shalat (sunnah) antara Maghrib dan Isya. Hadits-hadits yang ada walaupun dha’if namun bisa menguatkan satu dan lainnya. Apalagi hadits tersebut membicarakan tentang fadhilah amal. Al-‘Iraqi berkata bahwa ada sahabat yang melakukan shalat antara Maghrib dan Isya yaitu ‘Abdullah bin Mas’ud, ‘Abdullah bin ‘Amr, Salman Al-Farisi, Ibnu ‘Umar, Anas bin Malik dan beberapa kalangan Anshar. Dari kalangan tabi’in, ada juga yang berpendapat seperti itu, contohnya Al-Aswad bin Yazid, Abu ‘Utsman An-Nahdi, Ibnu Abi Mulaikah, Sa’id bin Jubair, Muhammad bin Al-Munkadir, Abu Hatim, ‘Abdullah bin Sakhbarah, ‘Ali bin Al-Husain, Abu ‘Abdirrahman Al-Habli, Syuraih Al-Qadhi, ‘Abdullah bin Mughaffal dan selain mereka. Sedangkan dari kalangan ulama setelah itu ada Sufyan Ats-Tsauri.” Dari kalangan ulama Syafi’iyah, mereka bersendirian mengatakan bahwa shalat awwabin adalah shalat sunnah antara shalat Maghrib dan shalat ‘Isya. Shalat tersebut dinamakan pula shalat ghaflah. Karena shalat tersebut dilakukan saat orang-orang ghaflah (lalai), kebanyakan orang di waktu tersebut disibukkan dengan makan malam, tidur, dan lainnya. Ulama Syafi’iyah berpandangan bahwa jumlah raka’at shalat tersebut adalah 20 raka’at. Dalam pendapat lainnya disebutkan hanya enam raka’at. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27: 135)   Kesimpulannya, shalat awwabin adalah shalat dhuha. Bisa juga shalat awwabin dimaksudkan untuk shalat sunnah antara Maghrib dan Isya menurut sebagian ulama. Kalau membicarakan dengan jumlah raka’at tertentu (seperti enam raka’at), haditsnya lemah. Namun kalau tanpa menetapkan batasan raka’at, maka ada contohnya. Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 97456. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 23 Jumadal Ula 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsshalat dhuha shalat sunnah

Apa itu Shalat Awwabin?

Apa yang dimaksud shalat awwabin? Mungkin kita pernah mendengar dari sebagian orang yang menyebutnya, namun barangkali belum tahu maksudnya. Shalat awwabin bisa ditujukan pada dua maksud:   Pertama: Shalat Awwabin adalah shalat Dhuha Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُحَافِظُ عَلَى صَلاَةِ الضُّحَى إِلاَّ أَوَّابٌ، وَهِيَ صَلاَةُ الأَوَّابِيْنَ “Tidaklah menjaga shalat sunnah Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali taat). Inilah shalat awwabin.” (HR. Ibnu Khuzaimah, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib 1: 164). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Awwab adalah muthii’ (orang yang taat). Ada pula ulama yang mengatakan bahwa maknanya adalah orang yang kembali taat” (Syarh Shahih Muslim, 6: 30).   Kedua: Shalat Awwabin adalah shalat sunnah enam raka’at setelah maghrib Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى سِتَّ رَكَعَاتٍ بَعْدَ الْمَغْرِبِ لَمْ يَتَكَلَّمْ بَيْنَهُنَّ بِسُوءٍ عُدِلَتْ لَهُ عِبَادَةَ اثْنَتَىْ عَشْرَةَ سَنَةً “Siapa yang shalat enam raka’at ba’da Maghrib, dan ia tidak berbicara kejelekan di antaranya, maka ia dicatat seperti ibadah 12 tahun.” (HR. Ibnu Majah, no. 1167; Tirmidzi, no. 435. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if jiddan. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini dha’if jiddan) Al-Mawardi mengatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat tersebut dan mengatakan, هَذِهِ صَلاَةُ الأَوَّابِيْنَ “Ini adalah shalat awwabin.” (HR. Ibnu ‘Abidin, 1: 453. Imam Asy-Syaukani mengatakan bahwa hadits ini disebutkan oleh Ibnul Jauzi bahwa hadits ini terdapat perawi yang tidak diketahui) Kalau kita telusuri, ternyata hadits yang membicarakan shalat awwabin untuk shalat sunnah antara Maghrib dan ‘Isya itu dha’if dari sisi periwayatan hadits. Akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih melakukan shalat antara Maghrib dan Isya. Dari Hudzaifah, ia berkata, جِئْتُ النبي صلى الله عليه وسلم فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الْمَغْرِبَ ، فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَامَ يُصَلِّي ، فَلَمْ يَزَلْ يُصَلِّي حَتَّى صَلَّى الْعِشَاءَ “Aku pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku melaksanakan shalat bersama beliau yaitu shalat Maghrib. Setelah selesai shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri lalu melaksanakan shalat lagi (shalat sunnah). Beliau terus menerus shalat hingga datang shalat ‘Isya’.” Juga ada pemahaman dari sebagian sahabat mengenai shalat antara Maghrib dan ‘Isya’. Mengenai firman Allah Ta’ala, تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan.” (QS. As-Sajdah: 16). Disebutkan, “Mereka (sifat orang shalih) melaksanakan shalat sunnah.” Yang dimaksud di sini adalah shalat sunnah antara Maghrib dan Isya. Ulama lain seperti Al-Hasan Al-Bashri menafsirkan ayat itu dengan menyatakan, mereka melakukan shalat malam. (HR. Abu Daud, no. 1321. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani berpendapat bahwa hadits ini shahih) Ibnu Mardawaih dalam tafsirnya, dari Anas radhiyallahu ‘anhu berpendapat mengenai ayat di atas, mereka melakukan shalat (sunnah) antara Maghrib dan Isya. Al-‘Iraqi mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid, sebagaimana dinukil dari ‘Aunul Ma’bud. Imam Asy-Syaukani dalam Nail Al-Authar (3: 68) berkata, “Ayat dan hadits yang disebutkan dalam bab menyebutkan akan disyari’atkannya memperbanyak shalat (sunnah) antara Maghrib dan Isya. Hadits-hadits yang ada walaupun dha’if namun bisa menguatkan satu dan lainnya. Apalagi hadits tersebut membicarakan tentang fadhilah amal. Al-‘Iraqi berkata bahwa ada sahabat yang melakukan shalat antara Maghrib dan Isya yaitu ‘Abdullah bin Mas’ud, ‘Abdullah bin ‘Amr, Salman Al-Farisi, Ibnu ‘Umar, Anas bin Malik dan beberapa kalangan Anshar. Dari kalangan tabi’in, ada juga yang berpendapat seperti itu, contohnya Al-Aswad bin Yazid, Abu ‘Utsman An-Nahdi, Ibnu Abi Mulaikah, Sa’id bin Jubair, Muhammad bin Al-Munkadir, Abu Hatim, ‘Abdullah bin Sakhbarah, ‘Ali bin Al-Husain, Abu ‘Abdirrahman Al-Habli, Syuraih Al-Qadhi, ‘Abdullah bin Mughaffal dan selain mereka. Sedangkan dari kalangan ulama setelah itu ada Sufyan Ats-Tsauri.” Dari kalangan ulama Syafi’iyah, mereka bersendirian mengatakan bahwa shalat awwabin adalah shalat sunnah antara shalat Maghrib dan shalat ‘Isya. Shalat tersebut dinamakan pula shalat ghaflah. Karena shalat tersebut dilakukan saat orang-orang ghaflah (lalai), kebanyakan orang di waktu tersebut disibukkan dengan makan malam, tidur, dan lainnya. Ulama Syafi’iyah berpandangan bahwa jumlah raka’at shalat tersebut adalah 20 raka’at. Dalam pendapat lainnya disebutkan hanya enam raka’at. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27: 135)   Kesimpulannya, shalat awwabin adalah shalat dhuha. Bisa juga shalat awwabin dimaksudkan untuk shalat sunnah antara Maghrib dan Isya menurut sebagian ulama. Kalau membicarakan dengan jumlah raka’at tertentu (seperti enam raka’at), haditsnya lemah. Namun kalau tanpa menetapkan batasan raka’at, maka ada contohnya. Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 97456. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 23 Jumadal Ula 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsshalat dhuha shalat sunnah
Apa yang dimaksud shalat awwabin? Mungkin kita pernah mendengar dari sebagian orang yang menyebutnya, namun barangkali belum tahu maksudnya. Shalat awwabin bisa ditujukan pada dua maksud:   Pertama: Shalat Awwabin adalah shalat Dhuha Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُحَافِظُ عَلَى صَلاَةِ الضُّحَى إِلاَّ أَوَّابٌ، وَهِيَ صَلاَةُ الأَوَّابِيْنَ “Tidaklah menjaga shalat sunnah Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali taat). Inilah shalat awwabin.” (HR. Ibnu Khuzaimah, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib 1: 164). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Awwab adalah muthii’ (orang yang taat). Ada pula ulama yang mengatakan bahwa maknanya adalah orang yang kembali taat” (Syarh Shahih Muslim, 6: 30).   Kedua: Shalat Awwabin adalah shalat sunnah enam raka’at setelah maghrib Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى سِتَّ رَكَعَاتٍ بَعْدَ الْمَغْرِبِ لَمْ يَتَكَلَّمْ بَيْنَهُنَّ بِسُوءٍ عُدِلَتْ لَهُ عِبَادَةَ اثْنَتَىْ عَشْرَةَ سَنَةً “Siapa yang shalat enam raka’at ba’da Maghrib, dan ia tidak berbicara kejelekan di antaranya, maka ia dicatat seperti ibadah 12 tahun.” (HR. Ibnu Majah, no. 1167; Tirmidzi, no. 435. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if jiddan. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini dha’if jiddan) Al-Mawardi mengatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat tersebut dan mengatakan, هَذِهِ صَلاَةُ الأَوَّابِيْنَ “Ini adalah shalat awwabin.” (HR. Ibnu ‘Abidin, 1: 453. Imam Asy-Syaukani mengatakan bahwa hadits ini disebutkan oleh Ibnul Jauzi bahwa hadits ini terdapat perawi yang tidak diketahui) Kalau kita telusuri, ternyata hadits yang membicarakan shalat awwabin untuk shalat sunnah antara Maghrib dan ‘Isya itu dha’if dari sisi periwayatan hadits. Akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih melakukan shalat antara Maghrib dan Isya. Dari Hudzaifah, ia berkata, جِئْتُ النبي صلى الله عليه وسلم فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الْمَغْرِبَ ، فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَامَ يُصَلِّي ، فَلَمْ يَزَلْ يُصَلِّي حَتَّى صَلَّى الْعِشَاءَ “Aku pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku melaksanakan shalat bersama beliau yaitu shalat Maghrib. Setelah selesai shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri lalu melaksanakan shalat lagi (shalat sunnah). Beliau terus menerus shalat hingga datang shalat ‘Isya’.” Juga ada pemahaman dari sebagian sahabat mengenai shalat antara Maghrib dan ‘Isya’. Mengenai firman Allah Ta’ala, تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan.” (QS. As-Sajdah: 16). Disebutkan, “Mereka (sifat orang shalih) melaksanakan shalat sunnah.” Yang dimaksud di sini adalah shalat sunnah antara Maghrib dan Isya. Ulama lain seperti Al-Hasan Al-Bashri menafsirkan ayat itu dengan menyatakan, mereka melakukan shalat malam. (HR. Abu Daud, no. 1321. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani berpendapat bahwa hadits ini shahih) Ibnu Mardawaih dalam tafsirnya, dari Anas radhiyallahu ‘anhu berpendapat mengenai ayat di atas, mereka melakukan shalat (sunnah) antara Maghrib dan Isya. Al-‘Iraqi mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid, sebagaimana dinukil dari ‘Aunul Ma’bud. Imam Asy-Syaukani dalam Nail Al-Authar (3: 68) berkata, “Ayat dan hadits yang disebutkan dalam bab menyebutkan akan disyari’atkannya memperbanyak shalat (sunnah) antara Maghrib dan Isya. Hadits-hadits yang ada walaupun dha’if namun bisa menguatkan satu dan lainnya. Apalagi hadits tersebut membicarakan tentang fadhilah amal. Al-‘Iraqi berkata bahwa ada sahabat yang melakukan shalat antara Maghrib dan Isya yaitu ‘Abdullah bin Mas’ud, ‘Abdullah bin ‘Amr, Salman Al-Farisi, Ibnu ‘Umar, Anas bin Malik dan beberapa kalangan Anshar. Dari kalangan tabi’in, ada juga yang berpendapat seperti itu, contohnya Al-Aswad bin Yazid, Abu ‘Utsman An-Nahdi, Ibnu Abi Mulaikah, Sa’id bin Jubair, Muhammad bin Al-Munkadir, Abu Hatim, ‘Abdullah bin Sakhbarah, ‘Ali bin Al-Husain, Abu ‘Abdirrahman Al-Habli, Syuraih Al-Qadhi, ‘Abdullah bin Mughaffal dan selain mereka. Sedangkan dari kalangan ulama setelah itu ada Sufyan Ats-Tsauri.” Dari kalangan ulama Syafi’iyah, mereka bersendirian mengatakan bahwa shalat awwabin adalah shalat sunnah antara shalat Maghrib dan shalat ‘Isya. Shalat tersebut dinamakan pula shalat ghaflah. Karena shalat tersebut dilakukan saat orang-orang ghaflah (lalai), kebanyakan orang di waktu tersebut disibukkan dengan makan malam, tidur, dan lainnya. Ulama Syafi’iyah berpandangan bahwa jumlah raka’at shalat tersebut adalah 20 raka’at. Dalam pendapat lainnya disebutkan hanya enam raka’at. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27: 135)   Kesimpulannya, shalat awwabin adalah shalat dhuha. Bisa juga shalat awwabin dimaksudkan untuk shalat sunnah antara Maghrib dan Isya menurut sebagian ulama. Kalau membicarakan dengan jumlah raka’at tertentu (seperti enam raka’at), haditsnya lemah. Namun kalau tanpa menetapkan batasan raka’at, maka ada contohnya. Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 97456. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 23 Jumadal Ula 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsshalat dhuha shalat sunnah


Apa yang dimaksud shalat awwabin? Mungkin kita pernah mendengar dari sebagian orang yang menyebutnya, namun barangkali belum tahu maksudnya. Shalat awwabin bisa ditujukan pada dua maksud:   Pertama: Shalat Awwabin adalah shalat Dhuha Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُحَافِظُ عَلَى صَلاَةِ الضُّحَى إِلاَّ أَوَّابٌ، وَهِيَ صَلاَةُ الأَوَّابِيْنَ “Tidaklah menjaga shalat sunnah Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali taat). Inilah shalat awwabin.” (HR. Ibnu Khuzaimah, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib 1: 164). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Awwab adalah muthii’ (orang yang taat). Ada pula ulama yang mengatakan bahwa maknanya adalah orang yang kembali taat” (Syarh Shahih Muslim, 6: 30).   Kedua: Shalat Awwabin adalah shalat sunnah enam raka’at setelah maghrib Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَلَّى سِتَّ رَكَعَاتٍ بَعْدَ الْمَغْرِبِ لَمْ يَتَكَلَّمْ بَيْنَهُنَّ بِسُوءٍ عُدِلَتْ لَهُ عِبَادَةَ اثْنَتَىْ عَشْرَةَ سَنَةً “Siapa yang shalat enam raka’at ba’da Maghrib, dan ia tidak berbicara kejelekan di antaranya, maka ia dicatat seperti ibadah 12 tahun.” (HR. Ibnu Majah, no. 1167; Tirmidzi, no. 435. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if jiddan. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini dha’if jiddan) Al-Mawardi mengatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat tersebut dan mengatakan, هَذِهِ صَلاَةُ الأَوَّابِيْنَ “Ini adalah shalat awwabin.” (HR. Ibnu ‘Abidin, 1: 453. Imam Asy-Syaukani mengatakan bahwa hadits ini disebutkan oleh Ibnul Jauzi bahwa hadits ini terdapat perawi yang tidak diketahui) Kalau kita telusuri, ternyata hadits yang membicarakan shalat awwabin untuk shalat sunnah antara Maghrib dan ‘Isya itu dha’if dari sisi periwayatan hadits. Akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih melakukan shalat antara Maghrib dan Isya. Dari Hudzaifah, ia berkata, جِئْتُ النبي صلى الله عليه وسلم فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الْمَغْرِبَ ، فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَامَ يُصَلِّي ، فَلَمْ يَزَلْ يُصَلِّي حَتَّى صَلَّى الْعِشَاءَ “Aku pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku melaksanakan shalat bersama beliau yaitu shalat Maghrib. Setelah selesai shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri lalu melaksanakan shalat lagi (shalat sunnah). Beliau terus menerus shalat hingga datang shalat ‘Isya’.” Juga ada pemahaman dari sebagian sahabat mengenai shalat antara Maghrib dan ‘Isya’. Mengenai firman Allah Ta’ala, تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan.” (QS. As-Sajdah: 16). Disebutkan, “Mereka (sifat orang shalih) melaksanakan shalat sunnah.” Yang dimaksud di sini adalah shalat sunnah antara Maghrib dan Isya. Ulama lain seperti Al-Hasan Al-Bashri menafsirkan ayat itu dengan menyatakan, mereka melakukan shalat malam. (HR. Abu Daud, no. 1321. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani berpendapat bahwa hadits ini shahih) Ibnu Mardawaih dalam tafsirnya, dari Anas radhiyallahu ‘anhu berpendapat mengenai ayat di atas, mereka melakukan shalat (sunnah) antara Maghrib dan Isya. Al-‘Iraqi mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid, sebagaimana dinukil dari ‘Aunul Ma’bud. Imam Asy-Syaukani dalam Nail Al-Authar (3: 68) berkata, “Ayat dan hadits yang disebutkan dalam bab menyebutkan akan disyari’atkannya memperbanyak shalat (sunnah) antara Maghrib dan Isya. Hadits-hadits yang ada walaupun dha’if namun bisa menguatkan satu dan lainnya. Apalagi hadits tersebut membicarakan tentang fadhilah amal. Al-‘Iraqi berkata bahwa ada sahabat yang melakukan shalat antara Maghrib dan Isya yaitu ‘Abdullah bin Mas’ud, ‘Abdullah bin ‘Amr, Salman Al-Farisi, Ibnu ‘Umar, Anas bin Malik dan beberapa kalangan Anshar. Dari kalangan tabi’in, ada juga yang berpendapat seperti itu, contohnya Al-Aswad bin Yazid, Abu ‘Utsman An-Nahdi, Ibnu Abi Mulaikah, Sa’id bin Jubair, Muhammad bin Al-Munkadir, Abu Hatim, ‘Abdullah bin Sakhbarah, ‘Ali bin Al-Husain, Abu ‘Abdirrahman Al-Habli, Syuraih Al-Qadhi, ‘Abdullah bin Mughaffal dan selain mereka. Sedangkan dari kalangan ulama setelah itu ada Sufyan Ats-Tsauri.” Dari kalangan ulama Syafi’iyah, mereka bersendirian mengatakan bahwa shalat awwabin adalah shalat sunnah antara shalat Maghrib dan shalat ‘Isya. Shalat tersebut dinamakan pula shalat ghaflah. Karena shalat tersebut dilakukan saat orang-orang ghaflah (lalai), kebanyakan orang di waktu tersebut disibukkan dengan makan malam, tidur, dan lainnya. Ulama Syafi’iyah berpandangan bahwa jumlah raka’at shalat tersebut adalah 20 raka’at. Dalam pendapat lainnya disebutkan hanya enam raka’at. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27: 135)   Kesimpulannya, shalat awwabin adalah shalat dhuha. Bisa juga shalat awwabin dimaksudkan untuk shalat sunnah antara Maghrib dan Isya menurut sebagian ulama. Kalau membicarakan dengan jumlah raka’at tertentu (seperti enam raka’at), haditsnya lemah. Namun kalau tanpa menetapkan batasan raka’at, maka ada contohnya. Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 97456. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 23 Jumadal Ula 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsshalat dhuha shalat sunnah

Dua Kali Khutbah untuk Shalat Gerhana

Bagaimana cara khutbah untuk shalat gerhana? Apakah dua kali khutbah atau sekali khutbah? Menurut pendapat Abu Hanifah, Malik dan Ahmad, tidak ada khutbah untuk shalat gerhana. Karena disebutkan dalam hadits, “Jika kalian melihat gerhana, maka berdoalah pada Allah, bertakbirlah, lakukanlah shalat dan bersedekahlah.” Dalam hadits ini tidak disebutkan khutbah gerhana. Seandainya khutbah itu disyari’atkan, maka tentu akan diperintahkan. Sedangkan ulama Syafi’iyah itu berpandangan bahwa khutbah shalat gerhana itu disunnahkan setelah shalat dengan dua kali khutbah sebagaimana shalat ‘ied. Dalil bahwasanya khutbah shalat gerhana itu ada tuntunannya adalah dilihat dari hadits ‘Aisyah, فَخَطبَ الناسَ فَحَمِدَ الله وأثنَى عَليهِ ثم قالَ إن الشَّمس و القَمَر آيتانِ مِنْ آيَاتِ الله لاَ تنْخَسِفَانِ لِمَوتِ أحد. وَلاَ لِحَيَاتِهِ. فَإذَا رَأيتمْ ذلك فَادعُوا الله وَكبروا وَصَلُّوا وَتَصَدَّ قوا Setelah itu beliau berkhutbah di hadapan orang banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda, ”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari, no. 1044). Demikian keterangan dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27: 255. Jadi, khutbah shalat gerhana tetap ada dengan dua kali khutbah sebagaimana shalat ‘ied. Keterangan untuk khutbah shalat ‘ied, silakan lihat di sini: https://rumaysho.com/9023-khutbah-hari-raya-ied-dua-kali.html. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 23 Jumadal Ula 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsshalat gerhana

Dua Kali Khutbah untuk Shalat Gerhana

Bagaimana cara khutbah untuk shalat gerhana? Apakah dua kali khutbah atau sekali khutbah? Menurut pendapat Abu Hanifah, Malik dan Ahmad, tidak ada khutbah untuk shalat gerhana. Karena disebutkan dalam hadits, “Jika kalian melihat gerhana, maka berdoalah pada Allah, bertakbirlah, lakukanlah shalat dan bersedekahlah.” Dalam hadits ini tidak disebutkan khutbah gerhana. Seandainya khutbah itu disyari’atkan, maka tentu akan diperintahkan. Sedangkan ulama Syafi’iyah itu berpandangan bahwa khutbah shalat gerhana itu disunnahkan setelah shalat dengan dua kali khutbah sebagaimana shalat ‘ied. Dalil bahwasanya khutbah shalat gerhana itu ada tuntunannya adalah dilihat dari hadits ‘Aisyah, فَخَطبَ الناسَ فَحَمِدَ الله وأثنَى عَليهِ ثم قالَ إن الشَّمس و القَمَر آيتانِ مِنْ آيَاتِ الله لاَ تنْخَسِفَانِ لِمَوتِ أحد. وَلاَ لِحَيَاتِهِ. فَإذَا رَأيتمْ ذلك فَادعُوا الله وَكبروا وَصَلُّوا وَتَصَدَّ قوا Setelah itu beliau berkhutbah di hadapan orang banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda, ”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari, no. 1044). Demikian keterangan dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27: 255. Jadi, khutbah shalat gerhana tetap ada dengan dua kali khutbah sebagaimana shalat ‘ied. Keterangan untuk khutbah shalat ‘ied, silakan lihat di sini: https://rumaysho.com/9023-khutbah-hari-raya-ied-dua-kali.html. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 23 Jumadal Ula 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsshalat gerhana
Bagaimana cara khutbah untuk shalat gerhana? Apakah dua kali khutbah atau sekali khutbah? Menurut pendapat Abu Hanifah, Malik dan Ahmad, tidak ada khutbah untuk shalat gerhana. Karena disebutkan dalam hadits, “Jika kalian melihat gerhana, maka berdoalah pada Allah, bertakbirlah, lakukanlah shalat dan bersedekahlah.” Dalam hadits ini tidak disebutkan khutbah gerhana. Seandainya khutbah itu disyari’atkan, maka tentu akan diperintahkan. Sedangkan ulama Syafi’iyah itu berpandangan bahwa khutbah shalat gerhana itu disunnahkan setelah shalat dengan dua kali khutbah sebagaimana shalat ‘ied. Dalil bahwasanya khutbah shalat gerhana itu ada tuntunannya adalah dilihat dari hadits ‘Aisyah, فَخَطبَ الناسَ فَحَمِدَ الله وأثنَى عَليهِ ثم قالَ إن الشَّمس و القَمَر آيتانِ مِنْ آيَاتِ الله لاَ تنْخَسِفَانِ لِمَوتِ أحد. وَلاَ لِحَيَاتِهِ. فَإذَا رَأيتمْ ذلك فَادعُوا الله وَكبروا وَصَلُّوا وَتَصَدَّ قوا Setelah itu beliau berkhutbah di hadapan orang banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda, ”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari, no. 1044). Demikian keterangan dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27: 255. Jadi, khutbah shalat gerhana tetap ada dengan dua kali khutbah sebagaimana shalat ‘ied. Keterangan untuk khutbah shalat ‘ied, silakan lihat di sini: https://rumaysho.com/9023-khutbah-hari-raya-ied-dua-kali.html. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 23 Jumadal Ula 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsshalat gerhana


Bagaimana cara khutbah untuk shalat gerhana? Apakah dua kali khutbah atau sekali khutbah? Menurut pendapat Abu Hanifah, Malik dan Ahmad, tidak ada khutbah untuk shalat gerhana. Karena disebutkan dalam hadits, “Jika kalian melihat gerhana, maka berdoalah pada Allah, bertakbirlah, lakukanlah shalat dan bersedekahlah.” Dalam hadits ini tidak disebutkan khutbah gerhana. Seandainya khutbah itu disyari’atkan, maka tentu akan diperintahkan. Sedangkan ulama Syafi’iyah itu berpandangan bahwa khutbah shalat gerhana itu disunnahkan setelah shalat dengan dua kali khutbah sebagaimana shalat ‘ied. Dalil bahwasanya khutbah shalat gerhana itu ada tuntunannya adalah dilihat dari hadits ‘Aisyah, فَخَطبَ الناسَ فَحَمِدَ الله وأثنَى عَليهِ ثم قالَ إن الشَّمس و القَمَر آيتانِ مِنْ آيَاتِ الله لاَ تنْخَسِفَانِ لِمَوتِ أحد. وَلاَ لِحَيَاتِهِ. فَإذَا رَأيتمْ ذلك فَادعُوا الله وَكبروا وَصَلُّوا وَتَصَدَّ قوا Setelah itu beliau berkhutbah di hadapan orang banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda, ”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari, no. 1044). Demikian keterangan dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27: 255. Jadi, khutbah shalat gerhana tetap ada dengan dua kali khutbah sebagaimana shalat ‘ied. Keterangan untuk khutbah shalat ‘ied, silakan lihat di sini: https://rumaysho.com/9023-khutbah-hari-raya-ied-dua-kali.html. Semoga bermanfaat.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Agama Kuwait. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 23 Jumadal Ula 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsshalat gerhana

Adakah Khutbah Shalat Gerhana?

Khutbah shalat gerhana ada sebagaimana pada shalat ‘ied maupun shalat istisqa’ (minta hujan). Hadits yang menjadi dalil adalah berikut ini. عَنْ عَائِشةَ رَضي الله عَنْهَا قَالَتْ: خَسَفَتِ الشمسُ عَلَى عَهدِ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم. فَقَامَ فَصَلَّى رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم بالنَّاس فَأطَالَ القِيَام، ثُمَّ رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكُوعَ، ثُمَّ قَامَ فَأطَالَ القيَامَ وَهو دُونَ القِيَام الأوَّلِ، ثم رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكوعَ وهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأوَّلِ، ثُم سَجَدَ فَأطَالَ السُّجُودَ، ثم فَعَلَ في الركعَةِ الأخْرَى مِثْل مَا فَعَل في الركْعَةِ الأولى، ثُمَّ انصرَفَ وَقَدْ انجَلتِ الشَّمْسُ، فَخَطبَ الناسَ فَحَمِدَ الله وأثنَى عَليهِ ثم قالَ: ” إن الشَّمس و القَمَر آيتانِ مِنْ آيَاتِ الله لاَ تنْخَسِفَانِ لِمَوتِ أحد. وَلاَ لِحَيَاتِهِ. فَإذَا رَأيتمْ ذلك فَادعُوا الله وَكبروا وَصَلُّوا وَتَصَدَّ قوا”. ثم قال: ” يَا أمةَ مُحمَّد ” : والله مَا مِنْ أحَد أغَْيَرُ مِنَ الله سُبْحَانَهُ من أن يَزْنَي عَبْدُهُ أوْ تَزني أمَتُهُ. يَا أمةَ مُحَمد، وَالله لو تَعْلمُونَ مَا أعلم لضَحكْتُمْ قَليلاً وَلَبَكَيتم كثِيراً “. Dari Aisyah, beliau menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemudian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya, beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak. Setelah itu beliau berkhutbah di hadapan orang banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda, ”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” Nabi selanjutnya bersabda, ”Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah karena ada seorang hamba baik laki-laki maupun perempuan yang berzina. Wahai Umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari, no. 1044) Oleh karenanya, jumhur salaf (kebanyakan ulama salaf) menganjurkan adanya khutbah setelah shalat gerhana. Demikian dalam madzhab Syafi’i, salah satu pendapat dari Imam Ahmad dan menjadi pendapat kebanyakan ulama salaf. Dalam Al-Majmu’ (5: 59) disebutkan oleh Imam Nawawi bahwa yang berpendapat disunnahkannya khutbah setelah shalat gerhana adalah jumhur atau kebanyakan ulama sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mundzir. Penjelasan tentang khutbah shalat gerhana, isinya dan apakah dua kali khutbah atau sekali, akan dikaji di bahasan selanjutnya. Ada contoh khutbah shalat gerhana dari guru kami -Syaikh Shalih Al-Fauzan- di sini: https://rumaysho.com/2124-khutbah-shalat-gerhana-syaikh-sholeh-al-fauzan.html. Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq. — Menjelang Maghrib 22 Jumadal Ula 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsshalat gerhana

Adakah Khutbah Shalat Gerhana?

Khutbah shalat gerhana ada sebagaimana pada shalat ‘ied maupun shalat istisqa’ (minta hujan). Hadits yang menjadi dalil adalah berikut ini. عَنْ عَائِشةَ رَضي الله عَنْهَا قَالَتْ: خَسَفَتِ الشمسُ عَلَى عَهدِ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم. فَقَامَ فَصَلَّى رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم بالنَّاس فَأطَالَ القِيَام، ثُمَّ رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكُوعَ، ثُمَّ قَامَ فَأطَالَ القيَامَ وَهو دُونَ القِيَام الأوَّلِ، ثم رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكوعَ وهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأوَّلِ، ثُم سَجَدَ فَأطَالَ السُّجُودَ، ثم فَعَلَ في الركعَةِ الأخْرَى مِثْل مَا فَعَل في الركْعَةِ الأولى، ثُمَّ انصرَفَ وَقَدْ انجَلتِ الشَّمْسُ، فَخَطبَ الناسَ فَحَمِدَ الله وأثنَى عَليهِ ثم قالَ: ” إن الشَّمس و القَمَر آيتانِ مِنْ آيَاتِ الله لاَ تنْخَسِفَانِ لِمَوتِ أحد. وَلاَ لِحَيَاتِهِ. فَإذَا رَأيتمْ ذلك فَادعُوا الله وَكبروا وَصَلُّوا وَتَصَدَّ قوا”. ثم قال: ” يَا أمةَ مُحمَّد ” : والله مَا مِنْ أحَد أغَْيَرُ مِنَ الله سُبْحَانَهُ من أن يَزْنَي عَبْدُهُ أوْ تَزني أمَتُهُ. يَا أمةَ مُحَمد، وَالله لو تَعْلمُونَ مَا أعلم لضَحكْتُمْ قَليلاً وَلَبَكَيتم كثِيراً “. Dari Aisyah, beliau menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemudian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya, beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak. Setelah itu beliau berkhutbah di hadapan orang banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda, ”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” Nabi selanjutnya bersabda, ”Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah karena ada seorang hamba baik laki-laki maupun perempuan yang berzina. Wahai Umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari, no. 1044) Oleh karenanya, jumhur salaf (kebanyakan ulama salaf) menganjurkan adanya khutbah setelah shalat gerhana. Demikian dalam madzhab Syafi’i, salah satu pendapat dari Imam Ahmad dan menjadi pendapat kebanyakan ulama salaf. Dalam Al-Majmu’ (5: 59) disebutkan oleh Imam Nawawi bahwa yang berpendapat disunnahkannya khutbah setelah shalat gerhana adalah jumhur atau kebanyakan ulama sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mundzir. Penjelasan tentang khutbah shalat gerhana, isinya dan apakah dua kali khutbah atau sekali, akan dikaji di bahasan selanjutnya. Ada contoh khutbah shalat gerhana dari guru kami -Syaikh Shalih Al-Fauzan- di sini: https://rumaysho.com/2124-khutbah-shalat-gerhana-syaikh-sholeh-al-fauzan.html. Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq. — Menjelang Maghrib 22 Jumadal Ula 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsshalat gerhana
Khutbah shalat gerhana ada sebagaimana pada shalat ‘ied maupun shalat istisqa’ (minta hujan). Hadits yang menjadi dalil adalah berikut ini. عَنْ عَائِشةَ رَضي الله عَنْهَا قَالَتْ: خَسَفَتِ الشمسُ عَلَى عَهدِ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم. فَقَامَ فَصَلَّى رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم بالنَّاس فَأطَالَ القِيَام، ثُمَّ رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكُوعَ، ثُمَّ قَامَ فَأطَالَ القيَامَ وَهو دُونَ القِيَام الأوَّلِ، ثم رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكوعَ وهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأوَّلِ، ثُم سَجَدَ فَأطَالَ السُّجُودَ، ثم فَعَلَ في الركعَةِ الأخْرَى مِثْل مَا فَعَل في الركْعَةِ الأولى، ثُمَّ انصرَفَ وَقَدْ انجَلتِ الشَّمْسُ، فَخَطبَ الناسَ فَحَمِدَ الله وأثنَى عَليهِ ثم قالَ: ” إن الشَّمس و القَمَر آيتانِ مِنْ آيَاتِ الله لاَ تنْخَسِفَانِ لِمَوتِ أحد. وَلاَ لِحَيَاتِهِ. فَإذَا رَأيتمْ ذلك فَادعُوا الله وَكبروا وَصَلُّوا وَتَصَدَّ قوا”. ثم قال: ” يَا أمةَ مُحمَّد ” : والله مَا مِنْ أحَد أغَْيَرُ مِنَ الله سُبْحَانَهُ من أن يَزْنَي عَبْدُهُ أوْ تَزني أمَتُهُ. يَا أمةَ مُحَمد، وَالله لو تَعْلمُونَ مَا أعلم لضَحكْتُمْ قَليلاً وَلَبَكَيتم كثِيراً “. Dari Aisyah, beliau menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemudian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya, beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak. Setelah itu beliau berkhutbah di hadapan orang banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda, ”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” Nabi selanjutnya bersabda, ”Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah karena ada seorang hamba baik laki-laki maupun perempuan yang berzina. Wahai Umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari, no. 1044) Oleh karenanya, jumhur salaf (kebanyakan ulama salaf) menganjurkan adanya khutbah setelah shalat gerhana. Demikian dalam madzhab Syafi’i, salah satu pendapat dari Imam Ahmad dan menjadi pendapat kebanyakan ulama salaf. Dalam Al-Majmu’ (5: 59) disebutkan oleh Imam Nawawi bahwa yang berpendapat disunnahkannya khutbah setelah shalat gerhana adalah jumhur atau kebanyakan ulama sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mundzir. Penjelasan tentang khutbah shalat gerhana, isinya dan apakah dua kali khutbah atau sekali, akan dikaji di bahasan selanjutnya. Ada contoh khutbah shalat gerhana dari guru kami -Syaikh Shalih Al-Fauzan- di sini: https://rumaysho.com/2124-khutbah-shalat-gerhana-syaikh-sholeh-al-fauzan.html. Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq. — Menjelang Maghrib 22 Jumadal Ula 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsshalat gerhana


Khutbah shalat gerhana ada sebagaimana pada shalat ‘ied maupun shalat istisqa’ (minta hujan). Hadits yang menjadi dalil adalah berikut ini. عَنْ عَائِشةَ رَضي الله عَنْهَا قَالَتْ: خَسَفَتِ الشمسُ عَلَى عَهدِ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم. فَقَامَ فَصَلَّى رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم بالنَّاس فَأطَالَ القِيَام، ثُمَّ رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكُوعَ، ثُمَّ قَامَ فَأطَالَ القيَامَ وَهو دُونَ القِيَام الأوَّلِ، ثم رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكوعَ وهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأوَّلِ، ثُم سَجَدَ فَأطَالَ السُّجُودَ، ثم فَعَلَ في الركعَةِ الأخْرَى مِثْل مَا فَعَل في الركْعَةِ الأولى، ثُمَّ انصرَفَ وَقَدْ انجَلتِ الشَّمْسُ، فَخَطبَ الناسَ فَحَمِدَ الله وأثنَى عَليهِ ثم قالَ: ” إن الشَّمس و القَمَر آيتانِ مِنْ آيَاتِ الله لاَ تنْخَسِفَانِ لِمَوتِ أحد. وَلاَ لِحَيَاتِهِ. فَإذَا رَأيتمْ ذلك فَادعُوا الله وَكبروا وَصَلُّوا وَتَصَدَّ قوا”. ثم قال: ” يَا أمةَ مُحمَّد ” : والله مَا مِنْ أحَد أغَْيَرُ مِنَ الله سُبْحَانَهُ من أن يَزْنَي عَبْدُهُ أوْ تَزني أمَتُهُ. يَا أمةَ مُحَمد، وَالله لو تَعْلمُونَ مَا أعلم لضَحكْتُمْ قَليلاً وَلَبَكَيتم كثِيراً “. Dari Aisyah, beliau menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemudian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya, beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak. Setelah itu beliau berkhutbah di hadapan orang banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda, ”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” Nabi selanjutnya bersabda, ”Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah karena ada seorang hamba baik laki-laki maupun perempuan yang berzina. Wahai Umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari, no. 1044) Oleh karenanya, jumhur salaf (kebanyakan ulama salaf) menganjurkan adanya khutbah setelah shalat gerhana. Demikian dalam madzhab Syafi’i, salah satu pendapat dari Imam Ahmad dan menjadi pendapat kebanyakan ulama salaf. Dalam Al-Majmu’ (5: 59) disebutkan oleh Imam Nawawi bahwa yang berpendapat disunnahkannya khutbah setelah shalat gerhana adalah jumhur atau kebanyakan ulama sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mundzir. Penjelasan tentang khutbah shalat gerhana, isinya dan apakah dua kali khutbah atau sekali, akan dikaji di bahasan selanjutnya. Ada contoh khutbah shalat gerhana dari guru kami -Syaikh Shalih Al-Fauzan- di sini: https://rumaysho.com/2124-khutbah-shalat-gerhana-syaikh-sholeh-al-fauzan.html. Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq. — Menjelang Maghrib 22 Jumadal Ula 1437 H @ Darush Sholihin, Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsshalat gerhana

Kaedah Fikih (19): Tidak Sengaja, Tidak Dikenai Dosa

Kalau seseorang tidak sengaja melakukan suatu larangan, apakah dikenai hukuman? Kaedah Syaikh As-Sa’di berikut bisa menjawabnya. Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam bait sya’irnya berkata, وَالخَطَاءُ وَالإِكْرَاهُ وَالنِّسْيَانُ أَسْقَطَهُ مَعْبُوْدُنَا الرَّحْمَانُ لَكِنْ مَعَ الإِتْلاَفِ يَثْبُتُ البَدَلُ وَيَنْتَفِي التَّأْثِيْمُ عَنْهُ وَالزَّلَلُ Tidak sengaja, dipaksa dan lupa, Maka Allah -sesembahan kita yang Maha Pengasih- menggugurkan dosa Akan tetapi jika ada penghancuran, mesti ada ganti rugi, Namun untuk dosa dan kekeliruan tidaklah dikenakan   Tidak Sengaja, Tidak Dikenai Dosa Yang pertama dibahas adalah ketidaksengajaan. Yang dimaksud di sini adalah tidak punya maksud untuk melakukan sesuatu. Bukan yang dimaksud dengan khatha’ di sini adalah lawan dari benar atau berarti salah. Sesuatu ketidaksengajaan tidaklah dikenakan dosa sebagaimana disebutkan dalam ayat, رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tidak sengaja.” (QS. Al-Baqarah: 286). Dalam hadits disebutkan bahwa Allah telah memenuhi hal tersebut. Dalam hadits disebutkan, إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِى الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ “Sesungguhnya Allah memaafkan umatku ketika ia tidak sengaja, lupa atau dipaksa.” (HR. Ibnu Majah, no. 2043. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih karena memiliki penguat dari jalur lainnya)   Apakah Kalau Tidak Sengaja Dikenakan Ganti Rugi? Hal ini perlu dirinci. Pertama, jika terkait dengan hak sesama manusia. Ada dua hal yang perlu diperhatikan: Jika memang perbuatan tersebut diizinkan, ia sengaja melakukan, namun tidak sengaja merusak, ketika itu tidak ada dhaman (ganti rugi). Contoh seperti yang dilakukan oleh seorang tabib atau dokter, atau orang yang menjadi wakil (diserahi tanggung jawab) lalu tidak sengaja merusak. Karena kaedahnya, sesuatu yang dibolehkan oleh syari’at mengakibatkan tidak ada dhaman (ganti rugi). Jika memang perbuatan tersebut tidak diizinkan, maka dikenakan dhaman (ganti rugi). Contoh orang yang tidak sengaja membunuh orang lain walaupun tidak dikenakan qishash (nyawa dibalas nyawa), namun tetap dikenakan dhaman (ganti rugi) yaitu dikenakan diyyat. Kedua, jika terkait dengan hak Allah, maka tidak ada hukuman had. Namun apakah ada dhaman (ganti rugi)? Hal ini perlu dirinci. Jika tidak ada itlaf (pengrusakan) seperti seseorang yang tidak sengaja menutup kepalanya saat ihram atau memakai baju saat ihram (padahal tidak boleh mengenakan pakaian yang membentuk lekuk tubuh seperti baju, pen.), maka tidak ada kafarah Jika ada itlaf (pengrusakan) seperti memotong kuku saat ihram atau memotong rambut saat ihram atau berburu hewan saat ihram, maka ada beda pendapat jika dilakukan tidak sengaja untuk kasus kedua ini. Pendapat yang lebih kuat adalah tetap dikenakan kafarah.[1]   Kaedah ini masih berlanjut di kaedah selanjutnya. Semoga bermanfaat, hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Syarh Al-Manzhumah As-Sa’diyah fi Al-Qowa’id Al-Fiqhiyyah. Cetakan kedua, tahun 1426 H. Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syatsri. Penerbit Dar Kanuz Isybiliya. —   [1] Adapun yang dimaksud dengan kafarah atau fidyah: Fidyah karena melakukan larangan ihram yaitu mencukur rambut, memotong kuku, memakai harum-haruman, mencumbu istri dengan syahwat, memakai pakaian berjahit yang membentuk lekuk tubuh bagi laki-laki, memakai sarung tangan, menutup rambut kepala, dan memakai niqob bagi wanita. Bentuk fidyah dari setiap pelanggaran ini adalah memilih salah satu dari tiga hal: Menyembelih satu ekor kambing Memberi makan kepada enam orang miskin Berpuasa selama tiga hari Bahasan lengkapnya: https://rumaysho.com/2857-memahami-fidyah-dan-damm-dalam-haji.html — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 21 Jumadal Ula 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Tagskaedah fikih

Kaedah Fikih (19): Tidak Sengaja, Tidak Dikenai Dosa

Kalau seseorang tidak sengaja melakukan suatu larangan, apakah dikenai hukuman? Kaedah Syaikh As-Sa’di berikut bisa menjawabnya. Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam bait sya’irnya berkata, وَالخَطَاءُ وَالإِكْرَاهُ وَالنِّسْيَانُ أَسْقَطَهُ مَعْبُوْدُنَا الرَّحْمَانُ لَكِنْ مَعَ الإِتْلاَفِ يَثْبُتُ البَدَلُ وَيَنْتَفِي التَّأْثِيْمُ عَنْهُ وَالزَّلَلُ Tidak sengaja, dipaksa dan lupa, Maka Allah -sesembahan kita yang Maha Pengasih- menggugurkan dosa Akan tetapi jika ada penghancuran, mesti ada ganti rugi, Namun untuk dosa dan kekeliruan tidaklah dikenakan   Tidak Sengaja, Tidak Dikenai Dosa Yang pertama dibahas adalah ketidaksengajaan. Yang dimaksud di sini adalah tidak punya maksud untuk melakukan sesuatu. Bukan yang dimaksud dengan khatha’ di sini adalah lawan dari benar atau berarti salah. Sesuatu ketidaksengajaan tidaklah dikenakan dosa sebagaimana disebutkan dalam ayat, رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tidak sengaja.” (QS. Al-Baqarah: 286). Dalam hadits disebutkan bahwa Allah telah memenuhi hal tersebut. Dalam hadits disebutkan, إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِى الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ “Sesungguhnya Allah memaafkan umatku ketika ia tidak sengaja, lupa atau dipaksa.” (HR. Ibnu Majah, no. 2043. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih karena memiliki penguat dari jalur lainnya)   Apakah Kalau Tidak Sengaja Dikenakan Ganti Rugi? Hal ini perlu dirinci. Pertama, jika terkait dengan hak sesama manusia. Ada dua hal yang perlu diperhatikan: Jika memang perbuatan tersebut diizinkan, ia sengaja melakukan, namun tidak sengaja merusak, ketika itu tidak ada dhaman (ganti rugi). Contoh seperti yang dilakukan oleh seorang tabib atau dokter, atau orang yang menjadi wakil (diserahi tanggung jawab) lalu tidak sengaja merusak. Karena kaedahnya, sesuatu yang dibolehkan oleh syari’at mengakibatkan tidak ada dhaman (ganti rugi). Jika memang perbuatan tersebut tidak diizinkan, maka dikenakan dhaman (ganti rugi). Contoh orang yang tidak sengaja membunuh orang lain walaupun tidak dikenakan qishash (nyawa dibalas nyawa), namun tetap dikenakan dhaman (ganti rugi) yaitu dikenakan diyyat. Kedua, jika terkait dengan hak Allah, maka tidak ada hukuman had. Namun apakah ada dhaman (ganti rugi)? Hal ini perlu dirinci. Jika tidak ada itlaf (pengrusakan) seperti seseorang yang tidak sengaja menutup kepalanya saat ihram atau memakai baju saat ihram (padahal tidak boleh mengenakan pakaian yang membentuk lekuk tubuh seperti baju, pen.), maka tidak ada kafarah Jika ada itlaf (pengrusakan) seperti memotong kuku saat ihram atau memotong rambut saat ihram atau berburu hewan saat ihram, maka ada beda pendapat jika dilakukan tidak sengaja untuk kasus kedua ini. Pendapat yang lebih kuat adalah tetap dikenakan kafarah.[1]   Kaedah ini masih berlanjut di kaedah selanjutnya. Semoga bermanfaat, hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Syarh Al-Manzhumah As-Sa’diyah fi Al-Qowa’id Al-Fiqhiyyah. Cetakan kedua, tahun 1426 H. Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syatsri. Penerbit Dar Kanuz Isybiliya. —   [1] Adapun yang dimaksud dengan kafarah atau fidyah: Fidyah karena melakukan larangan ihram yaitu mencukur rambut, memotong kuku, memakai harum-haruman, mencumbu istri dengan syahwat, memakai pakaian berjahit yang membentuk lekuk tubuh bagi laki-laki, memakai sarung tangan, menutup rambut kepala, dan memakai niqob bagi wanita. Bentuk fidyah dari setiap pelanggaran ini adalah memilih salah satu dari tiga hal: Menyembelih satu ekor kambing Memberi makan kepada enam orang miskin Berpuasa selama tiga hari Bahasan lengkapnya: https://rumaysho.com/2857-memahami-fidyah-dan-damm-dalam-haji.html — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 21 Jumadal Ula 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Tagskaedah fikih
Kalau seseorang tidak sengaja melakukan suatu larangan, apakah dikenai hukuman? Kaedah Syaikh As-Sa’di berikut bisa menjawabnya. Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam bait sya’irnya berkata, وَالخَطَاءُ وَالإِكْرَاهُ وَالنِّسْيَانُ أَسْقَطَهُ مَعْبُوْدُنَا الرَّحْمَانُ لَكِنْ مَعَ الإِتْلاَفِ يَثْبُتُ البَدَلُ وَيَنْتَفِي التَّأْثِيْمُ عَنْهُ وَالزَّلَلُ Tidak sengaja, dipaksa dan lupa, Maka Allah -sesembahan kita yang Maha Pengasih- menggugurkan dosa Akan tetapi jika ada penghancuran, mesti ada ganti rugi, Namun untuk dosa dan kekeliruan tidaklah dikenakan   Tidak Sengaja, Tidak Dikenai Dosa Yang pertama dibahas adalah ketidaksengajaan. Yang dimaksud di sini adalah tidak punya maksud untuk melakukan sesuatu. Bukan yang dimaksud dengan khatha’ di sini adalah lawan dari benar atau berarti salah. Sesuatu ketidaksengajaan tidaklah dikenakan dosa sebagaimana disebutkan dalam ayat, رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tidak sengaja.” (QS. Al-Baqarah: 286). Dalam hadits disebutkan bahwa Allah telah memenuhi hal tersebut. Dalam hadits disebutkan, إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِى الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ “Sesungguhnya Allah memaafkan umatku ketika ia tidak sengaja, lupa atau dipaksa.” (HR. Ibnu Majah, no. 2043. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih karena memiliki penguat dari jalur lainnya)   Apakah Kalau Tidak Sengaja Dikenakan Ganti Rugi? Hal ini perlu dirinci. Pertama, jika terkait dengan hak sesama manusia. Ada dua hal yang perlu diperhatikan: Jika memang perbuatan tersebut diizinkan, ia sengaja melakukan, namun tidak sengaja merusak, ketika itu tidak ada dhaman (ganti rugi). Contoh seperti yang dilakukan oleh seorang tabib atau dokter, atau orang yang menjadi wakil (diserahi tanggung jawab) lalu tidak sengaja merusak. Karena kaedahnya, sesuatu yang dibolehkan oleh syari’at mengakibatkan tidak ada dhaman (ganti rugi). Jika memang perbuatan tersebut tidak diizinkan, maka dikenakan dhaman (ganti rugi). Contoh orang yang tidak sengaja membunuh orang lain walaupun tidak dikenakan qishash (nyawa dibalas nyawa), namun tetap dikenakan dhaman (ganti rugi) yaitu dikenakan diyyat. Kedua, jika terkait dengan hak Allah, maka tidak ada hukuman had. Namun apakah ada dhaman (ganti rugi)? Hal ini perlu dirinci. Jika tidak ada itlaf (pengrusakan) seperti seseorang yang tidak sengaja menutup kepalanya saat ihram atau memakai baju saat ihram (padahal tidak boleh mengenakan pakaian yang membentuk lekuk tubuh seperti baju, pen.), maka tidak ada kafarah Jika ada itlaf (pengrusakan) seperti memotong kuku saat ihram atau memotong rambut saat ihram atau berburu hewan saat ihram, maka ada beda pendapat jika dilakukan tidak sengaja untuk kasus kedua ini. Pendapat yang lebih kuat adalah tetap dikenakan kafarah.[1]   Kaedah ini masih berlanjut di kaedah selanjutnya. Semoga bermanfaat, hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Syarh Al-Manzhumah As-Sa’diyah fi Al-Qowa’id Al-Fiqhiyyah. Cetakan kedua, tahun 1426 H. Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syatsri. Penerbit Dar Kanuz Isybiliya. —   [1] Adapun yang dimaksud dengan kafarah atau fidyah: Fidyah karena melakukan larangan ihram yaitu mencukur rambut, memotong kuku, memakai harum-haruman, mencumbu istri dengan syahwat, memakai pakaian berjahit yang membentuk lekuk tubuh bagi laki-laki, memakai sarung tangan, menutup rambut kepala, dan memakai niqob bagi wanita. Bentuk fidyah dari setiap pelanggaran ini adalah memilih salah satu dari tiga hal: Menyembelih satu ekor kambing Memberi makan kepada enam orang miskin Berpuasa selama tiga hari Bahasan lengkapnya: https://rumaysho.com/2857-memahami-fidyah-dan-damm-dalam-haji.html — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 21 Jumadal Ula 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Tagskaedah fikih


Kalau seseorang tidak sengaja melakukan suatu larangan, apakah dikenai hukuman? Kaedah Syaikh As-Sa’di berikut bisa menjawabnya. Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam bait sya’irnya berkata, وَالخَطَاءُ وَالإِكْرَاهُ وَالنِّسْيَانُ أَسْقَطَهُ مَعْبُوْدُنَا الرَّحْمَانُ لَكِنْ مَعَ الإِتْلاَفِ يَثْبُتُ البَدَلُ وَيَنْتَفِي التَّأْثِيْمُ عَنْهُ وَالزَّلَلُ Tidak sengaja, dipaksa dan lupa, Maka Allah -sesembahan kita yang Maha Pengasih- menggugurkan dosa Akan tetapi jika ada penghancuran, mesti ada ganti rugi, Namun untuk dosa dan kekeliruan tidaklah dikenakan   Tidak Sengaja, Tidak Dikenai Dosa Yang pertama dibahas adalah ketidaksengajaan. Yang dimaksud di sini adalah tidak punya maksud untuk melakukan sesuatu. Bukan yang dimaksud dengan khatha’ di sini adalah lawan dari benar atau berarti salah. Sesuatu ketidaksengajaan tidaklah dikenakan dosa sebagaimana disebutkan dalam ayat, رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tidak sengaja.” (QS. Al-Baqarah: 286). Dalam hadits disebutkan bahwa Allah telah memenuhi hal tersebut. Dalam hadits disebutkan, إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِى الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ “Sesungguhnya Allah memaafkan umatku ketika ia tidak sengaja, lupa atau dipaksa.” (HR. Ibnu Majah, no. 2043. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih karena memiliki penguat dari jalur lainnya)   Apakah Kalau Tidak Sengaja Dikenakan Ganti Rugi? Hal ini perlu dirinci. Pertama, jika terkait dengan hak sesama manusia. Ada dua hal yang perlu diperhatikan: Jika memang perbuatan tersebut diizinkan, ia sengaja melakukan, namun tidak sengaja merusak, ketika itu tidak ada dhaman (ganti rugi). Contoh seperti yang dilakukan oleh seorang tabib atau dokter, atau orang yang menjadi wakil (diserahi tanggung jawab) lalu tidak sengaja merusak. Karena kaedahnya, sesuatu yang dibolehkan oleh syari’at mengakibatkan tidak ada dhaman (ganti rugi). Jika memang perbuatan tersebut tidak diizinkan, maka dikenakan dhaman (ganti rugi). Contoh orang yang tidak sengaja membunuh orang lain walaupun tidak dikenakan qishash (nyawa dibalas nyawa), namun tetap dikenakan dhaman (ganti rugi) yaitu dikenakan diyyat. Kedua, jika terkait dengan hak Allah, maka tidak ada hukuman had. Namun apakah ada dhaman (ganti rugi)? Hal ini perlu dirinci. Jika tidak ada itlaf (pengrusakan) seperti seseorang yang tidak sengaja menutup kepalanya saat ihram atau memakai baju saat ihram (padahal tidak boleh mengenakan pakaian yang membentuk lekuk tubuh seperti baju, pen.), maka tidak ada kafarah Jika ada itlaf (pengrusakan) seperti memotong kuku saat ihram atau memotong rambut saat ihram atau berburu hewan saat ihram, maka ada beda pendapat jika dilakukan tidak sengaja untuk kasus kedua ini. Pendapat yang lebih kuat adalah tetap dikenakan kafarah.[1]   Kaedah ini masih berlanjut di kaedah selanjutnya. Semoga bermanfaat, hanya Allah yang memberi taufik.   Referensi: Syarh Al-Manzhumah As-Sa’diyah fi Al-Qowa’id Al-Fiqhiyyah. Cetakan kedua, tahun 1426 H. Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syatsri. Penerbit Dar Kanuz Isybiliya. —   [1] Adapun yang dimaksud dengan kafarah atau fidyah: Fidyah karena melakukan larangan ihram yaitu mencukur rambut, memotong kuku, memakai harum-haruman, mencumbu istri dengan syahwat, memakai pakaian berjahit yang membentuk lekuk tubuh bagi laki-laki, memakai sarung tangan, menutup rambut kepala, dan memakai niqob bagi wanita. Bentuk fidyah dari setiap pelanggaran ini adalah memilih salah satu dari tiga hal: Menyembelih satu ekor kambing Memberi makan kepada enam orang miskin Berpuasa selama tiga hari Bahasan lengkapnya: https://rumaysho.com/2857-memahami-fidyah-dan-damm-dalam-haji.html — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 21 Jumadal Ula 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Tagskaedah fikih

Butuh Kamera untuk TV DS, Kebutuhan 58 Juta

Saat ini radio dan TV Darush Sholihin (DSTV) membutuhkan kamera untuk LIVE dan perekaman. Yang dibutuhkan adalah kamera type: Sony NX3, kisaran harga 40 juta rupiah. Lumix GH4, kisaran harga 18 juta rupiah. Total dana yang dibutuhkan adalah 58 juta rupiah. Di samping itu, radio dan TV DS mengalami penyusutan dana sebesar 200 juta rupiah.   Yang Ingin Berdonasi Amal Jariyah Silakan transfer ke rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Donasi TV Radio DS# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Donasi TV Radio DS# Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 23 November 2015 # 1.000.000. Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Ikuti info Pesantren Masyarakat Darush Sholihin di Channel Telegram: @DarushSholihin.   Laporan donasi ada di Donasi TV: http://darushsholihin.com/tv-radio-ds Video-video TV Darush Sholihin, bisa dilihat di Youtube: https://www.youtube.com/playlist?list=PLUYZIGi0rAXBYEfbChwPFsgmGGdMkgt9J   Semoga menjadi amal jariyah. — Info DarushSholihin.Com | Rumaysho.Com Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsradio

Butuh Kamera untuk TV DS, Kebutuhan 58 Juta

Saat ini radio dan TV Darush Sholihin (DSTV) membutuhkan kamera untuk LIVE dan perekaman. Yang dibutuhkan adalah kamera type: Sony NX3, kisaran harga 40 juta rupiah. Lumix GH4, kisaran harga 18 juta rupiah. Total dana yang dibutuhkan adalah 58 juta rupiah. Di samping itu, radio dan TV DS mengalami penyusutan dana sebesar 200 juta rupiah.   Yang Ingin Berdonasi Amal Jariyah Silakan transfer ke rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Donasi TV Radio DS# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Donasi TV Radio DS# Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 23 November 2015 # 1.000.000. Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Ikuti info Pesantren Masyarakat Darush Sholihin di Channel Telegram: @DarushSholihin.   Laporan donasi ada di Donasi TV: http://darushsholihin.com/tv-radio-ds Video-video TV Darush Sholihin, bisa dilihat di Youtube: https://www.youtube.com/playlist?list=PLUYZIGi0rAXBYEfbChwPFsgmGGdMkgt9J   Semoga menjadi amal jariyah. — Info DarushSholihin.Com | Rumaysho.Com Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsradio
Saat ini radio dan TV Darush Sholihin (DSTV) membutuhkan kamera untuk LIVE dan perekaman. Yang dibutuhkan adalah kamera type: Sony NX3, kisaran harga 40 juta rupiah. Lumix GH4, kisaran harga 18 juta rupiah. Total dana yang dibutuhkan adalah 58 juta rupiah. Di samping itu, radio dan TV DS mengalami penyusutan dana sebesar 200 juta rupiah.   Yang Ingin Berdonasi Amal Jariyah Silakan transfer ke rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Donasi TV Radio DS# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Donasi TV Radio DS# Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 23 November 2015 # 1.000.000. Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Ikuti info Pesantren Masyarakat Darush Sholihin di Channel Telegram: @DarushSholihin.   Laporan donasi ada di Donasi TV: http://darushsholihin.com/tv-radio-ds Video-video TV Darush Sholihin, bisa dilihat di Youtube: https://www.youtube.com/playlist?list=PLUYZIGi0rAXBYEfbChwPFsgmGGdMkgt9J   Semoga menjadi amal jariyah. — Info DarushSholihin.Com | Rumaysho.Com Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsradio


Saat ini radio dan TV Darush Sholihin (DSTV) membutuhkan kamera untuk LIVE dan perekaman. Yang dibutuhkan adalah kamera type: Sony NX3, kisaran harga 40 juta rupiah. Lumix GH4, kisaran harga 18 juta rupiah. Total dana yang dibutuhkan adalah 58 juta rupiah. Di samping itu, radio dan TV DS mengalami penyusutan dana sebesar 200 juta rupiah.   Yang Ingin Berdonasi Amal Jariyah Silakan transfer ke rekening: Bank Syariah Mandiri (BSM) atas nama Yayasan Darush Sholihin Gunungkidul: 7068478612. Konfirmasi via sms ke 082313950500 dengan format: Donasi TV Radio DS# Nama Donatur # Alamat # Bank Tujuan Transfer # Tgl Transfer # Besar Donasi. Contoh: Donasi TV Radio DS# Muslim # Godean Yogyakarta # BSM # 23 November 2015 # 1.000.000. Info donasi: 0811 26 7791 (CALL/WA), 0823 139 50500 (SMS) Ikuti info Pesantren Masyarakat Darush Sholihin di Channel Telegram: @DarushSholihin.   Laporan donasi ada di Donasi TV: http://darushsholihin.com/tv-radio-ds Video-video TV Darush Sholihin, bisa dilihat di Youtube: https://www.youtube.com/playlist?list=PLUYZIGi0rAXBYEfbChwPFsgmGGdMkgt9J   Semoga menjadi amal jariyah. — Info DarushSholihin.Com | Rumaysho.Com Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsradio

Shalat Gerhana di Siang Hari, Apa Dikeraskan Bacaan?

Kita tahu bahwa shalat di siang hari biasa dengan bacaan yang sirr, tidak dikeraskan. Bagaimana jika terjadi gerhana matahari (di siang hari), apakah bacaannya tetap dikeraskan? Coba perhatikan hadits berikut dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- جَهَرَ فِى صَلاَةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِى رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan (menjaherkan) bacaannya dalam shalat kusuf (shalat gerhana). Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.” (HR. Bukhari, no. 1065; Muslim, no. 901) Di antara faedah yang bisa diambil dari hadits di atas: Disyari’atkan mengeraskan bacaan (menjaherkan) ketika pelaksanaan shalat gerhana baik ketika di siang hari (gerhana matahari) maupun di malam hari (gerhana bulan). Karena shalat gerhana termasuk shalat sunnah yang diperintahkan berjama’ah. Dalam shalat jama’ah seperti ini diperintahkan untuk dijaherkan, sama halnya seperti shalat istisqa’ (minta hujan), shalat ‘ied dan shalat tarawih. Hadits yang disebutkan di atas dimaksudkan untuk gerhana matahari, gerhana bulan pun sama. Juga dari hadits, bisa disimpulkan bahwa shalat gerhana itu dua raka’at. Dalam dua raka’at tersebut terdapat empat kali ruku’ dan empat kali sujud. Adapun Panduan Shalat Gerhana secara lengkap, bisa dipelajari di sini: https://rumaysho.com/753-panduan-shalat-gerhana.html.   Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. 4: 157-158. Cetakan ketiga, tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. 3: 205-207. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 21 Jumadal Ula 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsshalat gerhana

Shalat Gerhana di Siang Hari, Apa Dikeraskan Bacaan?

Kita tahu bahwa shalat di siang hari biasa dengan bacaan yang sirr, tidak dikeraskan. Bagaimana jika terjadi gerhana matahari (di siang hari), apakah bacaannya tetap dikeraskan? Coba perhatikan hadits berikut dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- جَهَرَ فِى صَلاَةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِى رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan (menjaherkan) bacaannya dalam shalat kusuf (shalat gerhana). Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.” (HR. Bukhari, no. 1065; Muslim, no. 901) Di antara faedah yang bisa diambil dari hadits di atas: Disyari’atkan mengeraskan bacaan (menjaherkan) ketika pelaksanaan shalat gerhana baik ketika di siang hari (gerhana matahari) maupun di malam hari (gerhana bulan). Karena shalat gerhana termasuk shalat sunnah yang diperintahkan berjama’ah. Dalam shalat jama’ah seperti ini diperintahkan untuk dijaherkan, sama halnya seperti shalat istisqa’ (minta hujan), shalat ‘ied dan shalat tarawih. Hadits yang disebutkan di atas dimaksudkan untuk gerhana matahari, gerhana bulan pun sama. Juga dari hadits, bisa disimpulkan bahwa shalat gerhana itu dua raka’at. Dalam dua raka’at tersebut terdapat empat kali ruku’ dan empat kali sujud. Adapun Panduan Shalat Gerhana secara lengkap, bisa dipelajari di sini: https://rumaysho.com/753-panduan-shalat-gerhana.html.   Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. 4: 157-158. Cetakan ketiga, tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. 3: 205-207. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 21 Jumadal Ula 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsshalat gerhana
Kita tahu bahwa shalat di siang hari biasa dengan bacaan yang sirr, tidak dikeraskan. Bagaimana jika terjadi gerhana matahari (di siang hari), apakah bacaannya tetap dikeraskan? Coba perhatikan hadits berikut dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- جَهَرَ فِى صَلاَةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِى رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan (menjaherkan) bacaannya dalam shalat kusuf (shalat gerhana). Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.” (HR. Bukhari, no. 1065; Muslim, no. 901) Di antara faedah yang bisa diambil dari hadits di atas: Disyari’atkan mengeraskan bacaan (menjaherkan) ketika pelaksanaan shalat gerhana baik ketika di siang hari (gerhana matahari) maupun di malam hari (gerhana bulan). Karena shalat gerhana termasuk shalat sunnah yang diperintahkan berjama’ah. Dalam shalat jama’ah seperti ini diperintahkan untuk dijaherkan, sama halnya seperti shalat istisqa’ (minta hujan), shalat ‘ied dan shalat tarawih. Hadits yang disebutkan di atas dimaksudkan untuk gerhana matahari, gerhana bulan pun sama. Juga dari hadits, bisa disimpulkan bahwa shalat gerhana itu dua raka’at. Dalam dua raka’at tersebut terdapat empat kali ruku’ dan empat kali sujud. Adapun Panduan Shalat Gerhana secara lengkap, bisa dipelajari di sini: https://rumaysho.com/753-panduan-shalat-gerhana.html.   Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. 4: 157-158. Cetakan ketiga, tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. 3: 205-207. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 21 Jumadal Ula 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsshalat gerhana


Kita tahu bahwa shalat di siang hari biasa dengan bacaan yang sirr, tidak dikeraskan. Bagaimana jika terjadi gerhana matahari (di siang hari), apakah bacaannya tetap dikeraskan? Coba perhatikan hadits berikut dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- جَهَرَ فِى صَلاَةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِى رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan (menjaherkan) bacaannya dalam shalat kusuf (shalat gerhana). Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.” (HR. Bukhari, no. 1065; Muslim, no. 901) Di antara faedah yang bisa diambil dari hadits di atas: Disyari’atkan mengeraskan bacaan (menjaherkan) ketika pelaksanaan shalat gerhana baik ketika di siang hari (gerhana matahari) maupun di malam hari (gerhana bulan). Karena shalat gerhana termasuk shalat sunnah yang diperintahkan berjama’ah. Dalam shalat jama’ah seperti ini diperintahkan untuk dijaherkan, sama halnya seperti shalat istisqa’ (minta hujan), shalat ‘ied dan shalat tarawih. Hadits yang disebutkan di atas dimaksudkan untuk gerhana matahari, gerhana bulan pun sama. Juga dari hadits, bisa disimpulkan bahwa shalat gerhana itu dua raka’at. Dalam dua raka’at tersebut terdapat empat kali ruku’ dan empat kali sujud. Adapun Panduan Shalat Gerhana secara lengkap, bisa dipelajari di sini: https://rumaysho.com/753-panduan-shalat-gerhana.html.   Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. 4: 157-158. Cetakan ketiga, tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Subul As-Salam Al-Muwshilah ila Bulugh Al-Maram. 3: 205-207. Cetakan kedua, tahun 1432 H. Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 21 Jumadal Ula 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsshalat gerhana

Allah akan Menolong Orang yang Berutang

Punya tekad lunasi utang, dan ia selalu berusaha keras agar utangnya itu lunas, maka Allah akan menolongnya. Beda halnya dengan orang yang cari utangan, lantas kabur atau menghindarkan diri dan tak pernah mau melunasi. Ibnu Majah dalam sunannya membawakan dalam Bab “Siapa saja yang memiliki utang dan dia berniat melunasinya.” Lalu beliau membawakan hadits dari Ummul Mukminin Maimunah. كَانَتْ تَدَّانُ دَيْنًا فَقَالَ لَهَا بَعْضُ أَهْلِهَا لاَ تَفْعَلِى وَأَنْكَرَ ذَلِكَ عَلَيْهَا قَالَتْ بَلَى إِنِّى سَمِعْتُ نَبِيِّى وَخَلِيلِى -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدَّانُ دَيْنًا يَعْلَمُ اللَّهُ مِنْهُ أَنَّهُ يُرِيدُ أَدَاءَهُ إِلاَّ أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِى الدُّنْيَا Dulu Maimunah ingin berutang. Lalu di antara kerabatnya ada yang mengatakan, “Jangan kamu lakukan itu!” Sebagian kerabatnya ini mengingkari perbuatan Maimunah tersebut. Lalu Maimunah mengatakan, “Iya. Sesungguhnya aku mendengar Nabi dan kekasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang muslim memiliki utang dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi utang tersebut, maka Allah akan memudahkan baginya untuk melunasi utang tersebut di dunia”. (HR. Ibnu Majah, no. 2408; An-Nasa’i, no. 4690. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Juga terdapat hadits dari ‘Abdullah bin Ja’far, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِىَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ “Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berutang (yang ingin melunasi utangnya) sampai dia melunasi utang tersebut selama utang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah, no. 2409. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Dalam riwayat lainnya disebutkan pula hadits dari Maimunah, ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَخَذَ دَيْنًا وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يُؤَدِّيَهُ أَعَانَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ “Siapa yang mengambil utangan, lantas ia bertekad untuk melunasinya, maka Allah akan menolongnya.” (HR. An-Nasa’i, no. 4691. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Yang dimaksud dengan hadits di atas, siapa yang mati dalam keadaan utangnya belum dilunasi, padahal ia tidak menyepelekannya seperti ia termasuk orang yang sulit melunasi (orang susah) atau ia mati tiba-tiba padahal ia memiliki harta yang tersembunyi dan niatannya memang untuk melunasi utang tersebut di dunia. Ini menurut salah satu pengertian yang disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari, 5: 54. Adapun hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ “Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan utangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi no. 1079 dan Ibnu Majah no. 2413. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).[1] Hadits ini ditujukan pada orang yang mampu melunasi utangnya, lantas enggan melunasi. Adapun yang sudah bertekad melunasinya atau dalam keadaan sulit melunasi tetapi sudah bertekad, maka Allah akan menolongnya. (Lihat Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, 6: 259) Dan ingat pula ancaman lainnya, kalau seseorang meminjam harta (berutang) lantas tidak punya niatan untuk mengembalikan. Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ “Siapa yang mengambil harta orang lain (di antaranya berutang, pen.) lantas ia bertekad untuk mengembalikannya, maka Allah akan menolongnya (untuk melunasi utang tersebut, pen.). Siapa yang meminjam harta orang lain (di antaranya berutang, pen.) lantas ia bertekad untuk tidak mengembalikannya, maka Allah akan menghancurkan dirinya (hidupnya akan sulit, pen.).” (HR. Bukhari, no. 2387. Lihat pengertian hadits ini dalam Minhah Al-‘Allam, 6: 257-258) Semoga jadi renungan berharga. Semoga Allah beri pertolongan segera bagi yang berutang, apalagi terlilit utang riba ratusan juta. Wallahu waliyyut taufiq. — [1] Asy-Syaukani berkata, “Hadits ini adalah dorongan agar ahli waris segera melunasi utang si mayit. Hadits ini sebagai berita bagi mereka bahwa status orang yang berutang masih menggantung disebabkan oleh utangnya sampai utang tersebut lunas. Ancaman dalam hadits ini ditujukan bagi orang yang memiliki harta untuk melunasi utangnya lantas ia tidak lunasi. Sedangkan orang yang tidak memiliki harta dan sudah bertekad ingin melunasi utangnya, maka ia akan mendapat pertolongan Allah untuk memutihkan utangnya tadi sebagaimana hal ini diterangkan dalam beberapa hadits.” (Nail Al-Authar, 6: 114).   — Disusun setelah ‘Ashar, @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 20 Jumadal Ula 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsriba utang piutang

Allah akan Menolong Orang yang Berutang

Punya tekad lunasi utang, dan ia selalu berusaha keras agar utangnya itu lunas, maka Allah akan menolongnya. Beda halnya dengan orang yang cari utangan, lantas kabur atau menghindarkan diri dan tak pernah mau melunasi. Ibnu Majah dalam sunannya membawakan dalam Bab “Siapa saja yang memiliki utang dan dia berniat melunasinya.” Lalu beliau membawakan hadits dari Ummul Mukminin Maimunah. كَانَتْ تَدَّانُ دَيْنًا فَقَالَ لَهَا بَعْضُ أَهْلِهَا لاَ تَفْعَلِى وَأَنْكَرَ ذَلِكَ عَلَيْهَا قَالَتْ بَلَى إِنِّى سَمِعْتُ نَبِيِّى وَخَلِيلِى -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدَّانُ دَيْنًا يَعْلَمُ اللَّهُ مِنْهُ أَنَّهُ يُرِيدُ أَدَاءَهُ إِلاَّ أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِى الدُّنْيَا Dulu Maimunah ingin berutang. Lalu di antara kerabatnya ada yang mengatakan, “Jangan kamu lakukan itu!” Sebagian kerabatnya ini mengingkari perbuatan Maimunah tersebut. Lalu Maimunah mengatakan, “Iya. Sesungguhnya aku mendengar Nabi dan kekasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang muslim memiliki utang dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi utang tersebut, maka Allah akan memudahkan baginya untuk melunasi utang tersebut di dunia”. (HR. Ibnu Majah, no. 2408; An-Nasa’i, no. 4690. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Juga terdapat hadits dari ‘Abdullah bin Ja’far, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِىَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ “Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berutang (yang ingin melunasi utangnya) sampai dia melunasi utang tersebut selama utang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah, no. 2409. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Dalam riwayat lainnya disebutkan pula hadits dari Maimunah, ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَخَذَ دَيْنًا وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يُؤَدِّيَهُ أَعَانَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ “Siapa yang mengambil utangan, lantas ia bertekad untuk melunasinya, maka Allah akan menolongnya.” (HR. An-Nasa’i, no. 4691. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Yang dimaksud dengan hadits di atas, siapa yang mati dalam keadaan utangnya belum dilunasi, padahal ia tidak menyepelekannya seperti ia termasuk orang yang sulit melunasi (orang susah) atau ia mati tiba-tiba padahal ia memiliki harta yang tersembunyi dan niatannya memang untuk melunasi utang tersebut di dunia. Ini menurut salah satu pengertian yang disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari, 5: 54. Adapun hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ “Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan utangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi no. 1079 dan Ibnu Majah no. 2413. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).[1] Hadits ini ditujukan pada orang yang mampu melunasi utangnya, lantas enggan melunasi. Adapun yang sudah bertekad melunasinya atau dalam keadaan sulit melunasi tetapi sudah bertekad, maka Allah akan menolongnya. (Lihat Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, 6: 259) Dan ingat pula ancaman lainnya, kalau seseorang meminjam harta (berutang) lantas tidak punya niatan untuk mengembalikan. Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ “Siapa yang mengambil harta orang lain (di antaranya berutang, pen.) lantas ia bertekad untuk mengembalikannya, maka Allah akan menolongnya (untuk melunasi utang tersebut, pen.). Siapa yang meminjam harta orang lain (di antaranya berutang, pen.) lantas ia bertekad untuk tidak mengembalikannya, maka Allah akan menghancurkan dirinya (hidupnya akan sulit, pen.).” (HR. Bukhari, no. 2387. Lihat pengertian hadits ini dalam Minhah Al-‘Allam, 6: 257-258) Semoga jadi renungan berharga. Semoga Allah beri pertolongan segera bagi yang berutang, apalagi terlilit utang riba ratusan juta. Wallahu waliyyut taufiq. — [1] Asy-Syaukani berkata, “Hadits ini adalah dorongan agar ahli waris segera melunasi utang si mayit. Hadits ini sebagai berita bagi mereka bahwa status orang yang berutang masih menggantung disebabkan oleh utangnya sampai utang tersebut lunas. Ancaman dalam hadits ini ditujukan bagi orang yang memiliki harta untuk melunasi utangnya lantas ia tidak lunasi. Sedangkan orang yang tidak memiliki harta dan sudah bertekad ingin melunasi utangnya, maka ia akan mendapat pertolongan Allah untuk memutihkan utangnya tadi sebagaimana hal ini diterangkan dalam beberapa hadits.” (Nail Al-Authar, 6: 114).   — Disusun setelah ‘Ashar, @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 20 Jumadal Ula 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsriba utang piutang
Punya tekad lunasi utang, dan ia selalu berusaha keras agar utangnya itu lunas, maka Allah akan menolongnya. Beda halnya dengan orang yang cari utangan, lantas kabur atau menghindarkan diri dan tak pernah mau melunasi. Ibnu Majah dalam sunannya membawakan dalam Bab “Siapa saja yang memiliki utang dan dia berniat melunasinya.” Lalu beliau membawakan hadits dari Ummul Mukminin Maimunah. كَانَتْ تَدَّانُ دَيْنًا فَقَالَ لَهَا بَعْضُ أَهْلِهَا لاَ تَفْعَلِى وَأَنْكَرَ ذَلِكَ عَلَيْهَا قَالَتْ بَلَى إِنِّى سَمِعْتُ نَبِيِّى وَخَلِيلِى -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدَّانُ دَيْنًا يَعْلَمُ اللَّهُ مِنْهُ أَنَّهُ يُرِيدُ أَدَاءَهُ إِلاَّ أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِى الدُّنْيَا Dulu Maimunah ingin berutang. Lalu di antara kerabatnya ada yang mengatakan, “Jangan kamu lakukan itu!” Sebagian kerabatnya ini mengingkari perbuatan Maimunah tersebut. Lalu Maimunah mengatakan, “Iya. Sesungguhnya aku mendengar Nabi dan kekasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang muslim memiliki utang dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi utang tersebut, maka Allah akan memudahkan baginya untuk melunasi utang tersebut di dunia”. (HR. Ibnu Majah, no. 2408; An-Nasa’i, no. 4690. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Juga terdapat hadits dari ‘Abdullah bin Ja’far, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِىَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ “Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berutang (yang ingin melunasi utangnya) sampai dia melunasi utang tersebut selama utang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah, no. 2409. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Dalam riwayat lainnya disebutkan pula hadits dari Maimunah, ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَخَذَ دَيْنًا وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يُؤَدِّيَهُ أَعَانَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ “Siapa yang mengambil utangan, lantas ia bertekad untuk melunasinya, maka Allah akan menolongnya.” (HR. An-Nasa’i, no. 4691. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Yang dimaksud dengan hadits di atas, siapa yang mati dalam keadaan utangnya belum dilunasi, padahal ia tidak menyepelekannya seperti ia termasuk orang yang sulit melunasi (orang susah) atau ia mati tiba-tiba padahal ia memiliki harta yang tersembunyi dan niatannya memang untuk melunasi utang tersebut di dunia. Ini menurut salah satu pengertian yang disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari, 5: 54. Adapun hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ “Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan utangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi no. 1079 dan Ibnu Majah no. 2413. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).[1] Hadits ini ditujukan pada orang yang mampu melunasi utangnya, lantas enggan melunasi. Adapun yang sudah bertekad melunasinya atau dalam keadaan sulit melunasi tetapi sudah bertekad, maka Allah akan menolongnya. (Lihat Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, 6: 259) Dan ingat pula ancaman lainnya, kalau seseorang meminjam harta (berutang) lantas tidak punya niatan untuk mengembalikan. Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ “Siapa yang mengambil harta orang lain (di antaranya berutang, pen.) lantas ia bertekad untuk mengembalikannya, maka Allah akan menolongnya (untuk melunasi utang tersebut, pen.). Siapa yang meminjam harta orang lain (di antaranya berutang, pen.) lantas ia bertekad untuk tidak mengembalikannya, maka Allah akan menghancurkan dirinya (hidupnya akan sulit, pen.).” (HR. Bukhari, no. 2387. Lihat pengertian hadits ini dalam Minhah Al-‘Allam, 6: 257-258) Semoga jadi renungan berharga. Semoga Allah beri pertolongan segera bagi yang berutang, apalagi terlilit utang riba ratusan juta. Wallahu waliyyut taufiq. — [1] Asy-Syaukani berkata, “Hadits ini adalah dorongan agar ahli waris segera melunasi utang si mayit. Hadits ini sebagai berita bagi mereka bahwa status orang yang berutang masih menggantung disebabkan oleh utangnya sampai utang tersebut lunas. Ancaman dalam hadits ini ditujukan bagi orang yang memiliki harta untuk melunasi utangnya lantas ia tidak lunasi. Sedangkan orang yang tidak memiliki harta dan sudah bertekad ingin melunasi utangnya, maka ia akan mendapat pertolongan Allah untuk memutihkan utangnya tadi sebagaimana hal ini diterangkan dalam beberapa hadits.” (Nail Al-Authar, 6: 114).   — Disusun setelah ‘Ashar, @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 20 Jumadal Ula 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsriba utang piutang


Punya tekad lunasi utang, dan ia selalu berusaha keras agar utangnya itu lunas, maka Allah akan menolongnya. Beda halnya dengan orang yang cari utangan, lantas kabur atau menghindarkan diri dan tak pernah mau melunasi. Ibnu Majah dalam sunannya membawakan dalam Bab “Siapa saja yang memiliki utang dan dia berniat melunasinya.” Lalu beliau membawakan hadits dari Ummul Mukminin Maimunah. كَانَتْ تَدَّانُ دَيْنًا فَقَالَ لَهَا بَعْضُ أَهْلِهَا لاَ تَفْعَلِى وَأَنْكَرَ ذَلِكَ عَلَيْهَا قَالَتْ بَلَى إِنِّى سَمِعْتُ نَبِيِّى وَخَلِيلِى -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدَّانُ دَيْنًا يَعْلَمُ اللَّهُ مِنْهُ أَنَّهُ يُرِيدُ أَدَاءَهُ إِلاَّ أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِى الدُّنْيَا Dulu Maimunah ingin berutang. Lalu di antara kerabatnya ada yang mengatakan, “Jangan kamu lakukan itu!” Sebagian kerabatnya ini mengingkari perbuatan Maimunah tersebut. Lalu Maimunah mengatakan, “Iya. Sesungguhnya aku mendengar Nabi dan kekasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang muslim memiliki utang dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi utang tersebut, maka Allah akan memudahkan baginya untuk melunasi utang tersebut di dunia”. (HR. Ibnu Majah, no. 2408; An-Nasa’i, no. 4690. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan) Juga terdapat hadits dari ‘Abdullah bin Ja’far, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِىَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ “Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berutang (yang ingin melunasi utangnya) sampai dia melunasi utang tersebut selama utang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah, no. 2409. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan) Dalam riwayat lainnya disebutkan pula hadits dari Maimunah, ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَخَذَ دَيْنًا وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يُؤَدِّيَهُ أَعَانَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ “Siapa yang mengambil utangan, lantas ia bertekad untuk melunasinya, maka Allah akan menolongnya.” (HR. An-Nasa’i, no. 4691. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Yang dimaksud dengan hadits di atas, siapa yang mati dalam keadaan utangnya belum dilunasi, padahal ia tidak menyepelekannya seperti ia termasuk orang yang sulit melunasi (orang susah) atau ia mati tiba-tiba padahal ia memiliki harta yang tersembunyi dan niatannya memang untuk melunasi utang tersebut di dunia. Ini menurut salah satu pengertian yang disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari, 5: 54. Adapun hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ “Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan utangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi no. 1079 dan Ibnu Majah no. 2413. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).[1] Hadits ini ditujukan pada orang yang mampu melunasi utangnya, lantas enggan melunasi. Adapun yang sudah bertekad melunasinya atau dalam keadaan sulit melunasi tetapi sudah bertekad, maka Allah akan menolongnya. (Lihat Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, 6: 259) Dan ingat pula ancaman lainnya, kalau seseorang meminjam harta (berutang) lantas tidak punya niatan untuk mengembalikan. Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ “Siapa yang mengambil harta orang lain (di antaranya berutang, pen.) lantas ia bertekad untuk mengembalikannya, maka Allah akan menolongnya (untuk melunasi utang tersebut, pen.). Siapa yang meminjam harta orang lain (di antaranya berutang, pen.) lantas ia bertekad untuk tidak mengembalikannya, maka Allah akan menghancurkan dirinya (hidupnya akan sulit, pen.).” (HR. Bukhari, no. 2387. Lihat pengertian hadits ini dalam Minhah Al-‘Allam, 6: 257-258) Semoga jadi renungan berharga. Semoga Allah beri pertolongan segera bagi yang berutang, apalagi terlilit utang riba ratusan juta. Wallahu waliyyut taufiq. — [1] Asy-Syaukani berkata, “Hadits ini adalah dorongan agar ahli waris segera melunasi utang si mayit. Hadits ini sebagai berita bagi mereka bahwa status orang yang berutang masih menggantung disebabkan oleh utangnya sampai utang tersebut lunas. Ancaman dalam hadits ini ditujukan bagi orang yang memiliki harta untuk melunasi utangnya lantas ia tidak lunasi. Sedangkan orang yang tidak memiliki harta dan sudah bertekad ingin melunasi utangnya, maka ia akan mendapat pertolongan Allah untuk memutihkan utangnya tadi sebagaimana hal ini diterangkan dalam beberapa hadits.” (Nail Al-Authar, 6: 114).   — Disusun setelah ‘Ashar, @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 20 Jumadal Ula 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsriba utang piutang

Ajaibnya Keadaan Seorang Mukmin

Ajaibnya keadaan seorang mukmin? Bagaimana bisa?   Dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)   Imam Al-Munawi berkata dalam Faidhul Qadir, “Keadaan seorang mukmin semuanya itu baik. Hanya didapati hal ini pada seorang mukmin. Seperti itu tidak ditemukan pada orang kafir maupun munafik. Keajaibannya adalah ketika ia diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta dan kedudukan, maka ia bersyukur pada Allah atas karunia tersebut. Ia akan dicatat termasuk orang yang bersyukur. Ketika ia ditimpa musibah, ia bersabar. Ia akan dicatat termasuk orang yang bersabar. Oleh karenanya, selama seseorang itu dibebani syari’at, maka jalan kebaikan selalu terbuka untuknya. Sehingga seorang hamba yang beriman itu berada di antara mendapatkan nikmat yang ia diperintahkan untuk mensyukurinya dan musibah yang ia diperintahkan untuk bersabar.   Semoga keadaan kita semuanya baik.   —- @ Darush Sholihin, Panggang, GK, 19 Jumadal Ula 1437 H setelah ‘Ashar Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagssabar syukur

Ajaibnya Keadaan Seorang Mukmin

Ajaibnya keadaan seorang mukmin? Bagaimana bisa?   Dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)   Imam Al-Munawi berkata dalam Faidhul Qadir, “Keadaan seorang mukmin semuanya itu baik. Hanya didapati hal ini pada seorang mukmin. Seperti itu tidak ditemukan pada orang kafir maupun munafik. Keajaibannya adalah ketika ia diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta dan kedudukan, maka ia bersyukur pada Allah atas karunia tersebut. Ia akan dicatat termasuk orang yang bersyukur. Ketika ia ditimpa musibah, ia bersabar. Ia akan dicatat termasuk orang yang bersabar. Oleh karenanya, selama seseorang itu dibebani syari’at, maka jalan kebaikan selalu terbuka untuknya. Sehingga seorang hamba yang beriman itu berada di antara mendapatkan nikmat yang ia diperintahkan untuk mensyukurinya dan musibah yang ia diperintahkan untuk bersabar.   Semoga keadaan kita semuanya baik.   —- @ Darush Sholihin, Panggang, GK, 19 Jumadal Ula 1437 H setelah ‘Ashar Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagssabar syukur
Ajaibnya keadaan seorang mukmin? Bagaimana bisa?   Dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)   Imam Al-Munawi berkata dalam Faidhul Qadir, “Keadaan seorang mukmin semuanya itu baik. Hanya didapati hal ini pada seorang mukmin. Seperti itu tidak ditemukan pada orang kafir maupun munafik. Keajaibannya adalah ketika ia diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta dan kedudukan, maka ia bersyukur pada Allah atas karunia tersebut. Ia akan dicatat termasuk orang yang bersyukur. Ketika ia ditimpa musibah, ia bersabar. Ia akan dicatat termasuk orang yang bersabar. Oleh karenanya, selama seseorang itu dibebani syari’at, maka jalan kebaikan selalu terbuka untuknya. Sehingga seorang hamba yang beriman itu berada di antara mendapatkan nikmat yang ia diperintahkan untuk mensyukurinya dan musibah yang ia diperintahkan untuk bersabar.   Semoga keadaan kita semuanya baik.   —- @ Darush Sholihin, Panggang, GK, 19 Jumadal Ula 1437 H setelah ‘Ashar Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagssabar syukur


Ajaibnya keadaan seorang mukmin? Bagaimana bisa?   Dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)   Imam Al-Munawi berkata dalam Faidhul Qadir, “Keadaan seorang mukmin semuanya itu baik. Hanya didapati hal ini pada seorang mukmin. Seperti itu tidak ditemukan pada orang kafir maupun munafik. Keajaibannya adalah ketika ia diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta dan kedudukan, maka ia bersyukur pada Allah atas karunia tersebut. Ia akan dicatat termasuk orang yang bersyukur. Ketika ia ditimpa musibah, ia bersabar. Ia akan dicatat termasuk orang yang bersabar. Oleh karenanya, selama seseorang itu dibebani syari’at, maka jalan kebaikan selalu terbuka untuknya. Sehingga seorang hamba yang beriman itu berada di antara mendapatkan nikmat yang ia diperintahkan untuk mensyukurinya dan musibah yang ia diperintahkan untuk bersabar.   Semoga keadaan kita semuanya baik.   —- @ Darush Sholihin, Panggang, GK, 19 Jumadal Ula 1437 H setelah ‘Ashar Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagssabar syukur

Kapan Mau Hijrah?

Kapan mau hijrah? Kalau serius berhijrah, janganlah menunda-nunda.   Apa Sih yang Dimaksud Hijrah? Secara etimologi, hijrah adalah lawan dari kata washal (bersambung). Maksud hijrah di sini adalah berpisahnya seseorang entah berpisah dengan badan, dengan lisan, dengan hati. Asal hijrah di sini bermakna meninggalkan, yaitu meninggalkan berbicara atau meninggalkan perbuatan. Tidak berbicara pada orang lain, itu bermakna hajr. Sedangkan kalau membahas hijrah, ada dua maksud: Hijrah hissi, yaitu berpindah tempat, yaitu berpindah dari negeri kafir ke negeri Islam atau berpindah dari negeri yang banyak fitnah ke negeri yang tidak banyak fitnah. Ini adalah hijrah yang disyari’atkan. Hijrah maknawi (dengan hati), yaitu berpindah dari maksiat dan segala apa yang Allah larang menuju ketaatan.   Setiap manusia mesti berhijrah, yaitu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Yang akan diulas dalam tulisan ini adalah berhijrah dari maksiat pada ketaatan. Ingatlah, Tujuan Kita Diciptakan Allah Ta’ala berfirman, وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56) Allah tidak menciptakan kita sia-sia, pasti ada suatu perintah dan larangan yang mesti kita jalankan dan mesti kita jauhi. Allah Ta’ala berfirman, أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115). Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, “Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dari-Nya?” (Madarij As-Salikin, 1: 98) Jadi beribadah kepada Allah adalah tujuan diciptakannya jin, manusia dan seluruh makhluk. Makhluk tidak mungkin diciptakan begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang. Allah Ta’ala berfirman, أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah: 36). Imam Asy Syafi’i mengatakan, لاَ يُؤْمَرُ وَلاَ يُنْهَى “(Apakah mereka diciptakan) tanpa diperintah dan dilarang?”. Ulama lainnya mengatakan, لاَ يُثاَبُ وَلاَ يُعَاقَبُ “(Apakah mereka diciptakan) tanpa ada balasan dan siksaan?” (Lihat Madarij As-Salikin, 1: 98)   Menjadi Manusia Ideal Manusia ideal tentu saja yang merealisasikan tujuan penciptaannya di atas. Ia menjalankan yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Perintah dan larangan ini dalam hal hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama. Manusia ideal adalah yang baik terhadap Allah dan terhadap manusia. Kriteria ini masuk dalam kriteria orang shalih. Ibnu Hajar berkata, “Shalih sendiri berarti, الْقَائِم بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ حُقُوق اللَّه وَحُقُوق عِبَاده وَتَتَفَاوَت دَرَجَاته “Orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama hamba Allah. Kedudukan shalih pun bertingkat-tingkat” (Fath Al-Bari, 2: 314). Karena Rasul tidak hanya diutus untuk membetulkan ibadah, namun juga mengajarkan akhlak sesama. Disebutkan dalam hadits, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan baiknya akhlak.” (HR. Ahmad, 2: 381. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Mendekati Ideal Dari hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, إِنّمَا النَّاسُ كَالإِبْلِ المِائَةِ لاَ تَكَادُ تَجِدُ فِيْهَا رَاحِلَةٌ “Sesungguhnya manusia seperti unta sebanyak seratus, hampir-hampir tidaklah engkau dapatkan di antara unta-unta tersebut, seekor pun yang layak untuk ditunggangi.” (HR. Bukhari, no. 6498). Maksud hadits, tak ada memang yang sempurna. Namun tetap memang ada yang mendekati ideal atau kesempurnaan. Karena Rasul juga mengatakan bahwa yang terbaik bukanlah orang yang tidak pernah berbuat dosa. Setiap manusia pernah berbuat salah. Yang paling baik dari mereka adalah yang mau bertaubat. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ “Setiap manusia pernah berbuat salah. Namun yang paling baik dari yang berbuat salah adalah yang mau bertaubat.” (HR. Tirmidzi no. 2499; Ibnu Majah, no. 4251; Ahmad, 3: 198. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan) Kata Ibnu Rajab dalam Fathul Barinya, yang dimaksud at-tawwabun adalah: أَيْ الرَّجَّاعُونَ إِلَى اللَّهِ بِالتَّوْبَةِ مِنْ الْمَعْصِيَةِ إِلَى الطَّاعَةِ . “Orang yang mau kembali pada Allah dari maksiat menuju ketaatan.“ Artinya, mau berhijrah dari maksiat dahulu menjadi lebih baik saat ini. Tentu saja hijrah tersebut haruslah tulus lillah, tulus karena Allah … يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8) Ibnu Katsir menerangkan mengenai taubat yang tulus sebagaimana diutarakan oleh para ulama, “Taubat yang tulus yaitu dengan menghindari dosa untuk saat ini, menyesali dosa yang telah lalu, bertekad tidak mengulangi dosa itu lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya atau mengembalikannya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 323). Hudzaifah pernah berkata, بحسب المرءِ من الكذب أنْ يقول : أستغفر الله ، ثم يعود “Cukup seseorang dikatakan berdusta ketika ia mengucapkan, “Aku beristighfar pada Allah (aku memohon ampun pada Allah) lantas ia mengulangi dosa tersebut lagi.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 411).   Siapa Saja yang Mau Berhijrah … Siapa saja yang mau berhijrah, Allah akan menerima hijrahnya. قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53). Tentu saja setelah berhijrah, seseorang harus punya tekad menjadi baik dan bertekad tidak mengulangi lagi maksiat yang dahulu dilakukan. ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.” Begitu juga dalam ayat disebutkan, وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)   Agar Bisa Istiqamah dalam Berhijrah? Ingatlah kalau bisa istiqamah, itu benar-benar suatu karunia yang besar. Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah disampaikan oleh muridnya Ibnul Qayyim dalam Madarij As-Salikin, أَعْظَمُ الكَرَامَةِ لُزُوْمُ الاِسْتِقَامَةِ “Karamah yang paling besar adalah bisa terus istiqamah.”   Kiat agar bisa terus istiqamah adalah: Harus dimulai dengan niatan yang ikhlas. Meninggalkan maskiat dahulu yang dilakukan. Bertekad untuk jadi lebih baik. Mencari lingkungan bergaul yang baik. Berusaha terus menambah ilmu lewat majelis ilmu. Memperbanyak doa.   Terutama masalah teman, ini teramat penting. Karena tanpa teman yang baik, kita sulit untuk berubah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; Ahmad, 2: 344. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahihul Jaami’ 3545). Teman-teman shalih bisa didapat di majelis ilmu. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101, dari Abu Musa) Yang jelas hijrah tersebut harus ikhlas karena Allah, bukan karena cari ridha manusia. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, وما لا يكون له لا ينفع ولا يدوم “Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.”  (Dar-ut Ta’arudh Al ‘Aql wan Naql, 2: 188). Para ulama juga memiliki istilah lain, ما كان لله يبقى “Segala sesuatu yang didasari ikhlas karena Allah, pasti akan langgeng.” Juga jangan lupa untuk panjatkan doa pada Allah. Karena tanpa pertolongan-Nya, kita tak berdaya dengan berbagai godaan. Do’a yang paling sering nabi panjatkan agar bisa terus istiqamah adalah, يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenapa do’a tersebut yang sering beliau baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab, يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ “Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” Dalam riwayat lain dikatakan, إِنَّ الْقُلُوبَ بِيَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا “Sesungguhnya hati berada di tangan Allah ‘azza wa jalla, Allah yang membolak-balikkannya.”   Kapan Mau Hijrah? Allah Ta’ala menyeru kita, وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133) Dalam ayat di atas disuruh bersegera bertaubat. Ini berarti disuruh pula untuk segera meninggalkan maksiat dan raihlah ampunan Allah. Ini maksud yang sama yang berisi perintah untuk segera berhijrah. Imam Asy-Syaukani dalam Fath Al-Qadir menyatakan, سارعوا إلى ما يوجب المغفرة من الطاعات “Bersegeralah meraih ampunan Allah dengan melakukan ketaatan.”   Semoga kita bisa semangat terus dalam berhijrah, menjadi lebih baik mulai saat ini dan bisa terus istiqamah. — @ Sekolah Vokasi Teknik Sipil UGM, 18 Jumadal Ula 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagshijrah taubat

Kapan Mau Hijrah?

Kapan mau hijrah? Kalau serius berhijrah, janganlah menunda-nunda.   Apa Sih yang Dimaksud Hijrah? Secara etimologi, hijrah adalah lawan dari kata washal (bersambung). Maksud hijrah di sini adalah berpisahnya seseorang entah berpisah dengan badan, dengan lisan, dengan hati. Asal hijrah di sini bermakna meninggalkan, yaitu meninggalkan berbicara atau meninggalkan perbuatan. Tidak berbicara pada orang lain, itu bermakna hajr. Sedangkan kalau membahas hijrah, ada dua maksud: Hijrah hissi, yaitu berpindah tempat, yaitu berpindah dari negeri kafir ke negeri Islam atau berpindah dari negeri yang banyak fitnah ke negeri yang tidak banyak fitnah. Ini adalah hijrah yang disyari’atkan. Hijrah maknawi (dengan hati), yaitu berpindah dari maksiat dan segala apa yang Allah larang menuju ketaatan.   Setiap manusia mesti berhijrah, yaitu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Yang akan diulas dalam tulisan ini adalah berhijrah dari maksiat pada ketaatan. Ingatlah, Tujuan Kita Diciptakan Allah Ta’ala berfirman, وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56) Allah tidak menciptakan kita sia-sia, pasti ada suatu perintah dan larangan yang mesti kita jalankan dan mesti kita jauhi. Allah Ta’ala berfirman, أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115). Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, “Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dari-Nya?” (Madarij As-Salikin, 1: 98) Jadi beribadah kepada Allah adalah tujuan diciptakannya jin, manusia dan seluruh makhluk. Makhluk tidak mungkin diciptakan begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang. Allah Ta’ala berfirman, أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah: 36). Imam Asy Syafi’i mengatakan, لاَ يُؤْمَرُ وَلاَ يُنْهَى “(Apakah mereka diciptakan) tanpa diperintah dan dilarang?”. Ulama lainnya mengatakan, لاَ يُثاَبُ وَلاَ يُعَاقَبُ “(Apakah mereka diciptakan) tanpa ada balasan dan siksaan?” (Lihat Madarij As-Salikin, 1: 98)   Menjadi Manusia Ideal Manusia ideal tentu saja yang merealisasikan tujuan penciptaannya di atas. Ia menjalankan yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Perintah dan larangan ini dalam hal hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama. Manusia ideal adalah yang baik terhadap Allah dan terhadap manusia. Kriteria ini masuk dalam kriteria orang shalih. Ibnu Hajar berkata, “Shalih sendiri berarti, الْقَائِم بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ حُقُوق اللَّه وَحُقُوق عِبَاده وَتَتَفَاوَت دَرَجَاته “Orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama hamba Allah. Kedudukan shalih pun bertingkat-tingkat” (Fath Al-Bari, 2: 314). Karena Rasul tidak hanya diutus untuk membetulkan ibadah, namun juga mengajarkan akhlak sesama. Disebutkan dalam hadits, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan baiknya akhlak.” (HR. Ahmad, 2: 381. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Mendekati Ideal Dari hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, إِنّمَا النَّاسُ كَالإِبْلِ المِائَةِ لاَ تَكَادُ تَجِدُ فِيْهَا رَاحِلَةٌ “Sesungguhnya manusia seperti unta sebanyak seratus, hampir-hampir tidaklah engkau dapatkan di antara unta-unta tersebut, seekor pun yang layak untuk ditunggangi.” (HR. Bukhari, no. 6498). Maksud hadits, tak ada memang yang sempurna. Namun tetap memang ada yang mendekati ideal atau kesempurnaan. Karena Rasul juga mengatakan bahwa yang terbaik bukanlah orang yang tidak pernah berbuat dosa. Setiap manusia pernah berbuat salah. Yang paling baik dari mereka adalah yang mau bertaubat. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ “Setiap manusia pernah berbuat salah. Namun yang paling baik dari yang berbuat salah adalah yang mau bertaubat.” (HR. Tirmidzi no. 2499; Ibnu Majah, no. 4251; Ahmad, 3: 198. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan) Kata Ibnu Rajab dalam Fathul Barinya, yang dimaksud at-tawwabun adalah: أَيْ الرَّجَّاعُونَ إِلَى اللَّهِ بِالتَّوْبَةِ مِنْ الْمَعْصِيَةِ إِلَى الطَّاعَةِ . “Orang yang mau kembali pada Allah dari maksiat menuju ketaatan.“ Artinya, mau berhijrah dari maksiat dahulu menjadi lebih baik saat ini. Tentu saja hijrah tersebut haruslah tulus lillah, tulus karena Allah … يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8) Ibnu Katsir menerangkan mengenai taubat yang tulus sebagaimana diutarakan oleh para ulama, “Taubat yang tulus yaitu dengan menghindari dosa untuk saat ini, menyesali dosa yang telah lalu, bertekad tidak mengulangi dosa itu lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya atau mengembalikannya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 323). Hudzaifah pernah berkata, بحسب المرءِ من الكذب أنْ يقول : أستغفر الله ، ثم يعود “Cukup seseorang dikatakan berdusta ketika ia mengucapkan, “Aku beristighfar pada Allah (aku memohon ampun pada Allah) lantas ia mengulangi dosa tersebut lagi.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 411).   Siapa Saja yang Mau Berhijrah … Siapa saja yang mau berhijrah, Allah akan menerima hijrahnya. قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53). Tentu saja setelah berhijrah, seseorang harus punya tekad menjadi baik dan bertekad tidak mengulangi lagi maksiat yang dahulu dilakukan. ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.” Begitu juga dalam ayat disebutkan, وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)   Agar Bisa Istiqamah dalam Berhijrah? Ingatlah kalau bisa istiqamah, itu benar-benar suatu karunia yang besar. Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah disampaikan oleh muridnya Ibnul Qayyim dalam Madarij As-Salikin, أَعْظَمُ الكَرَامَةِ لُزُوْمُ الاِسْتِقَامَةِ “Karamah yang paling besar adalah bisa terus istiqamah.”   Kiat agar bisa terus istiqamah adalah: Harus dimulai dengan niatan yang ikhlas. Meninggalkan maskiat dahulu yang dilakukan. Bertekad untuk jadi lebih baik. Mencari lingkungan bergaul yang baik. Berusaha terus menambah ilmu lewat majelis ilmu. Memperbanyak doa.   Terutama masalah teman, ini teramat penting. Karena tanpa teman yang baik, kita sulit untuk berubah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; Ahmad, 2: 344. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahihul Jaami’ 3545). Teman-teman shalih bisa didapat di majelis ilmu. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101, dari Abu Musa) Yang jelas hijrah tersebut harus ikhlas karena Allah, bukan karena cari ridha manusia. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, وما لا يكون له لا ينفع ولا يدوم “Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.”  (Dar-ut Ta’arudh Al ‘Aql wan Naql, 2: 188). Para ulama juga memiliki istilah lain, ما كان لله يبقى “Segala sesuatu yang didasari ikhlas karena Allah, pasti akan langgeng.” Juga jangan lupa untuk panjatkan doa pada Allah. Karena tanpa pertolongan-Nya, kita tak berdaya dengan berbagai godaan. Do’a yang paling sering nabi panjatkan agar bisa terus istiqamah adalah, يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenapa do’a tersebut yang sering beliau baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab, يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ “Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” Dalam riwayat lain dikatakan, إِنَّ الْقُلُوبَ بِيَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا “Sesungguhnya hati berada di tangan Allah ‘azza wa jalla, Allah yang membolak-balikkannya.”   Kapan Mau Hijrah? Allah Ta’ala menyeru kita, وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133) Dalam ayat di atas disuruh bersegera bertaubat. Ini berarti disuruh pula untuk segera meninggalkan maksiat dan raihlah ampunan Allah. Ini maksud yang sama yang berisi perintah untuk segera berhijrah. Imam Asy-Syaukani dalam Fath Al-Qadir menyatakan, سارعوا إلى ما يوجب المغفرة من الطاعات “Bersegeralah meraih ampunan Allah dengan melakukan ketaatan.”   Semoga kita bisa semangat terus dalam berhijrah, menjadi lebih baik mulai saat ini dan bisa terus istiqamah. — @ Sekolah Vokasi Teknik Sipil UGM, 18 Jumadal Ula 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagshijrah taubat
Kapan mau hijrah? Kalau serius berhijrah, janganlah menunda-nunda.   Apa Sih yang Dimaksud Hijrah? Secara etimologi, hijrah adalah lawan dari kata washal (bersambung). Maksud hijrah di sini adalah berpisahnya seseorang entah berpisah dengan badan, dengan lisan, dengan hati. Asal hijrah di sini bermakna meninggalkan, yaitu meninggalkan berbicara atau meninggalkan perbuatan. Tidak berbicara pada orang lain, itu bermakna hajr. Sedangkan kalau membahas hijrah, ada dua maksud: Hijrah hissi, yaitu berpindah tempat, yaitu berpindah dari negeri kafir ke negeri Islam atau berpindah dari negeri yang banyak fitnah ke negeri yang tidak banyak fitnah. Ini adalah hijrah yang disyari’atkan. Hijrah maknawi (dengan hati), yaitu berpindah dari maksiat dan segala apa yang Allah larang menuju ketaatan.   Setiap manusia mesti berhijrah, yaitu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Yang akan diulas dalam tulisan ini adalah berhijrah dari maksiat pada ketaatan. Ingatlah, Tujuan Kita Diciptakan Allah Ta’ala berfirman, وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56) Allah tidak menciptakan kita sia-sia, pasti ada suatu perintah dan larangan yang mesti kita jalankan dan mesti kita jauhi. Allah Ta’ala berfirman, أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115). Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, “Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dari-Nya?” (Madarij As-Salikin, 1: 98) Jadi beribadah kepada Allah adalah tujuan diciptakannya jin, manusia dan seluruh makhluk. Makhluk tidak mungkin diciptakan begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang. Allah Ta’ala berfirman, أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah: 36). Imam Asy Syafi’i mengatakan, لاَ يُؤْمَرُ وَلاَ يُنْهَى “(Apakah mereka diciptakan) tanpa diperintah dan dilarang?”. Ulama lainnya mengatakan, لاَ يُثاَبُ وَلاَ يُعَاقَبُ “(Apakah mereka diciptakan) tanpa ada balasan dan siksaan?” (Lihat Madarij As-Salikin, 1: 98)   Menjadi Manusia Ideal Manusia ideal tentu saja yang merealisasikan tujuan penciptaannya di atas. Ia menjalankan yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Perintah dan larangan ini dalam hal hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama. Manusia ideal adalah yang baik terhadap Allah dan terhadap manusia. Kriteria ini masuk dalam kriteria orang shalih. Ibnu Hajar berkata, “Shalih sendiri berarti, الْقَائِم بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ حُقُوق اللَّه وَحُقُوق عِبَاده وَتَتَفَاوَت دَرَجَاته “Orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama hamba Allah. Kedudukan shalih pun bertingkat-tingkat” (Fath Al-Bari, 2: 314). Karena Rasul tidak hanya diutus untuk membetulkan ibadah, namun juga mengajarkan akhlak sesama. Disebutkan dalam hadits, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan baiknya akhlak.” (HR. Ahmad, 2: 381. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Mendekati Ideal Dari hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, إِنّمَا النَّاسُ كَالإِبْلِ المِائَةِ لاَ تَكَادُ تَجِدُ فِيْهَا رَاحِلَةٌ “Sesungguhnya manusia seperti unta sebanyak seratus, hampir-hampir tidaklah engkau dapatkan di antara unta-unta tersebut, seekor pun yang layak untuk ditunggangi.” (HR. Bukhari, no. 6498). Maksud hadits, tak ada memang yang sempurna. Namun tetap memang ada yang mendekati ideal atau kesempurnaan. Karena Rasul juga mengatakan bahwa yang terbaik bukanlah orang yang tidak pernah berbuat dosa. Setiap manusia pernah berbuat salah. Yang paling baik dari mereka adalah yang mau bertaubat. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ “Setiap manusia pernah berbuat salah. Namun yang paling baik dari yang berbuat salah adalah yang mau bertaubat.” (HR. Tirmidzi no. 2499; Ibnu Majah, no. 4251; Ahmad, 3: 198. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan) Kata Ibnu Rajab dalam Fathul Barinya, yang dimaksud at-tawwabun adalah: أَيْ الرَّجَّاعُونَ إِلَى اللَّهِ بِالتَّوْبَةِ مِنْ الْمَعْصِيَةِ إِلَى الطَّاعَةِ . “Orang yang mau kembali pada Allah dari maksiat menuju ketaatan.“ Artinya, mau berhijrah dari maksiat dahulu menjadi lebih baik saat ini. Tentu saja hijrah tersebut haruslah tulus lillah, tulus karena Allah … يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8) Ibnu Katsir menerangkan mengenai taubat yang tulus sebagaimana diutarakan oleh para ulama, “Taubat yang tulus yaitu dengan menghindari dosa untuk saat ini, menyesali dosa yang telah lalu, bertekad tidak mengulangi dosa itu lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya atau mengembalikannya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 323). Hudzaifah pernah berkata, بحسب المرءِ من الكذب أنْ يقول : أستغفر الله ، ثم يعود “Cukup seseorang dikatakan berdusta ketika ia mengucapkan, “Aku beristighfar pada Allah (aku memohon ampun pada Allah) lantas ia mengulangi dosa tersebut lagi.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 411).   Siapa Saja yang Mau Berhijrah … Siapa saja yang mau berhijrah, Allah akan menerima hijrahnya. قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53). Tentu saja setelah berhijrah, seseorang harus punya tekad menjadi baik dan bertekad tidak mengulangi lagi maksiat yang dahulu dilakukan. ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.” Begitu juga dalam ayat disebutkan, وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)   Agar Bisa Istiqamah dalam Berhijrah? Ingatlah kalau bisa istiqamah, itu benar-benar suatu karunia yang besar. Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah disampaikan oleh muridnya Ibnul Qayyim dalam Madarij As-Salikin, أَعْظَمُ الكَرَامَةِ لُزُوْمُ الاِسْتِقَامَةِ “Karamah yang paling besar adalah bisa terus istiqamah.”   Kiat agar bisa terus istiqamah adalah: Harus dimulai dengan niatan yang ikhlas. Meninggalkan maskiat dahulu yang dilakukan. Bertekad untuk jadi lebih baik. Mencari lingkungan bergaul yang baik. Berusaha terus menambah ilmu lewat majelis ilmu. Memperbanyak doa.   Terutama masalah teman, ini teramat penting. Karena tanpa teman yang baik, kita sulit untuk berubah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; Ahmad, 2: 344. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahihul Jaami’ 3545). Teman-teman shalih bisa didapat di majelis ilmu. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101, dari Abu Musa) Yang jelas hijrah tersebut harus ikhlas karena Allah, bukan karena cari ridha manusia. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, وما لا يكون له لا ينفع ولا يدوم “Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.”  (Dar-ut Ta’arudh Al ‘Aql wan Naql, 2: 188). Para ulama juga memiliki istilah lain, ما كان لله يبقى “Segala sesuatu yang didasari ikhlas karena Allah, pasti akan langgeng.” Juga jangan lupa untuk panjatkan doa pada Allah. Karena tanpa pertolongan-Nya, kita tak berdaya dengan berbagai godaan. Do’a yang paling sering nabi panjatkan agar bisa terus istiqamah adalah, يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenapa do’a tersebut yang sering beliau baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab, يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ “Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” Dalam riwayat lain dikatakan, إِنَّ الْقُلُوبَ بِيَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا “Sesungguhnya hati berada di tangan Allah ‘azza wa jalla, Allah yang membolak-balikkannya.”   Kapan Mau Hijrah? Allah Ta’ala menyeru kita, وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133) Dalam ayat di atas disuruh bersegera bertaubat. Ini berarti disuruh pula untuk segera meninggalkan maksiat dan raihlah ampunan Allah. Ini maksud yang sama yang berisi perintah untuk segera berhijrah. Imam Asy-Syaukani dalam Fath Al-Qadir menyatakan, سارعوا إلى ما يوجب المغفرة من الطاعات “Bersegeralah meraih ampunan Allah dengan melakukan ketaatan.”   Semoga kita bisa semangat terus dalam berhijrah, menjadi lebih baik mulai saat ini dan bisa terus istiqamah. — @ Sekolah Vokasi Teknik Sipil UGM, 18 Jumadal Ula 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagshijrah taubat


Kapan mau hijrah? Kalau serius berhijrah, janganlah menunda-nunda.   Apa Sih yang Dimaksud Hijrah? Secara etimologi, hijrah adalah lawan dari kata washal (bersambung). Maksud hijrah di sini adalah berpisahnya seseorang entah berpisah dengan badan, dengan lisan, dengan hati. Asal hijrah di sini bermakna meninggalkan, yaitu meninggalkan berbicara atau meninggalkan perbuatan. Tidak berbicara pada orang lain, itu bermakna hajr. Sedangkan kalau membahas hijrah, ada dua maksud: Hijrah hissi, yaitu berpindah tempat, yaitu berpindah dari negeri kafir ke negeri Islam atau berpindah dari negeri yang banyak fitnah ke negeri yang tidak banyak fitnah. Ini adalah hijrah yang disyari’atkan. Hijrah maknawi (dengan hati), yaitu berpindah dari maksiat dan segala apa yang Allah larang menuju ketaatan.   Setiap manusia mesti berhijrah, yaitu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Yang akan diulas dalam tulisan ini adalah berhijrah dari maksiat pada ketaatan. Ingatlah, Tujuan Kita Diciptakan Allah Ta’ala berfirman, وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56) Allah tidak menciptakan kita sia-sia, pasti ada suatu perintah dan larangan yang mesti kita jalankan dan mesti kita jauhi. Allah Ta’ala berfirman, أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115). Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, “Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dari-Nya?” (Madarij As-Salikin, 1: 98) Jadi beribadah kepada Allah adalah tujuan diciptakannya jin, manusia dan seluruh makhluk. Makhluk tidak mungkin diciptakan begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang. Allah Ta’ala berfirman, أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah: 36). Imam Asy Syafi’i mengatakan, لاَ يُؤْمَرُ وَلاَ يُنْهَى “(Apakah mereka diciptakan) tanpa diperintah dan dilarang?”. Ulama lainnya mengatakan, لاَ يُثاَبُ وَلاَ يُعَاقَبُ “(Apakah mereka diciptakan) tanpa ada balasan dan siksaan?” (Lihat Madarij As-Salikin, 1: 98)   Menjadi Manusia Ideal Manusia ideal tentu saja yang merealisasikan tujuan penciptaannya di atas. Ia menjalankan yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Perintah dan larangan ini dalam hal hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama. Manusia ideal adalah yang baik terhadap Allah dan terhadap manusia. Kriteria ini masuk dalam kriteria orang shalih. Ibnu Hajar berkata, “Shalih sendiri berarti, الْقَائِم بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ حُقُوق اللَّه وَحُقُوق عِبَاده وَتَتَفَاوَت دَرَجَاته “Orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama hamba Allah. Kedudukan shalih pun bertingkat-tingkat” (Fath Al-Bari, 2: 314). Karena Rasul tidak hanya diutus untuk membetulkan ibadah, namun juga mengajarkan akhlak sesama. Disebutkan dalam hadits, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan baiknya akhlak.” (HR. Ahmad, 2: 381. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Mendekati Ideal Dari hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, إِنّمَا النَّاسُ كَالإِبْلِ المِائَةِ لاَ تَكَادُ تَجِدُ فِيْهَا رَاحِلَةٌ “Sesungguhnya manusia seperti unta sebanyak seratus, hampir-hampir tidaklah engkau dapatkan di antara unta-unta tersebut, seekor pun yang layak untuk ditunggangi.” (HR. Bukhari, no. 6498). Maksud hadits, tak ada memang yang sempurna. Namun tetap memang ada yang mendekati ideal atau kesempurnaan. Karena Rasul juga mengatakan bahwa yang terbaik bukanlah orang yang tidak pernah berbuat dosa. Setiap manusia pernah berbuat salah. Yang paling baik dari mereka adalah yang mau bertaubat. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ “Setiap manusia pernah berbuat salah. Namun yang paling baik dari yang berbuat salah adalah yang mau bertaubat.” (HR. Tirmidzi no. 2499; Ibnu Majah, no. 4251; Ahmad, 3: 198. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan) Kata Ibnu Rajab dalam Fathul Barinya, yang dimaksud at-tawwabun adalah: أَيْ الرَّجَّاعُونَ إِلَى اللَّهِ بِالتَّوْبَةِ مِنْ الْمَعْصِيَةِ إِلَى الطَّاعَةِ . “Orang yang mau kembali pada Allah dari maksiat menuju ketaatan.“ Artinya, mau berhijrah dari maksiat dahulu menjadi lebih baik saat ini. Tentu saja hijrah tersebut haruslah tulus lillah, tulus karena Allah … يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8) Ibnu Katsir menerangkan mengenai taubat yang tulus sebagaimana diutarakan oleh para ulama, “Taubat yang tulus yaitu dengan menghindari dosa untuk saat ini, menyesali dosa yang telah lalu, bertekad tidak mengulangi dosa itu lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya atau mengembalikannya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 323). Hudzaifah pernah berkata, بحسب المرءِ من الكذب أنْ يقول : أستغفر الله ، ثم يعود “Cukup seseorang dikatakan berdusta ketika ia mengucapkan, “Aku beristighfar pada Allah (aku memohon ampun pada Allah) lantas ia mengulangi dosa tersebut lagi.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 411).   Siapa Saja yang Mau Berhijrah … Siapa saja yang mau berhijrah, Allah akan menerima hijrahnya. قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53). Tentu saja setelah berhijrah, seseorang harus punya tekad menjadi baik dan bertekad tidak mengulangi lagi maksiat yang dahulu dilakukan. ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.” Begitu juga dalam ayat disebutkan, وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)   Agar Bisa Istiqamah dalam Berhijrah? Ingatlah kalau bisa istiqamah, itu benar-benar suatu karunia yang besar. Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah disampaikan oleh muridnya Ibnul Qayyim dalam Madarij As-Salikin, أَعْظَمُ الكَرَامَةِ لُزُوْمُ الاِسْتِقَامَةِ “Karamah yang paling besar adalah bisa terus istiqamah.”   Kiat agar bisa terus istiqamah adalah: Harus dimulai dengan niatan yang ikhlas. Meninggalkan maskiat dahulu yang dilakukan. Bertekad untuk jadi lebih baik. Mencari lingkungan bergaul yang baik. Berusaha terus menambah ilmu lewat majelis ilmu. Memperbanyak doa.   Terutama masalah teman, ini teramat penting. Karena tanpa teman yang baik, kita sulit untuk berubah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; Ahmad, 2: 344. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahihul Jaami’ 3545). Teman-teman shalih bisa didapat di majelis ilmu. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101, dari Abu Musa) Yang jelas hijrah tersebut harus ikhlas karena Allah, bukan karena cari ridha manusia. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, وما لا يكون له لا ينفع ولا يدوم “Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.”  (Dar-ut Ta’arudh Al ‘Aql wan Naql, 2: 188). Para ulama juga memiliki istilah lain, ما كان لله يبقى “Segala sesuatu yang didasari ikhlas karena Allah, pasti akan langgeng.” Juga jangan lupa untuk panjatkan doa pada Allah. Karena tanpa pertolongan-Nya, kita tak berdaya dengan berbagai godaan. Do’a yang paling sering nabi panjatkan agar bisa terus istiqamah adalah, يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenapa do’a tersebut yang sering beliau baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab, يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ “Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” Dalam riwayat lain dikatakan, إِنَّ الْقُلُوبَ بِيَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا “Sesungguhnya hati berada di tangan Allah ‘azza wa jalla, Allah yang membolak-balikkannya.”   Kapan Mau Hijrah? Allah Ta’ala menyeru kita, وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133) Dalam ayat di atas disuruh bersegera bertaubat. Ini berarti disuruh pula untuk segera meninggalkan maksiat dan raihlah ampunan Allah. Ini maksud yang sama yang berisi perintah untuk segera berhijrah. Imam Asy-Syaukani dalam Fath Al-Qadir menyatakan, سارعوا إلى ما يوجب المغفرة من الطاعات “Bersegeralah meraih ampunan Allah dengan melakukan ketaatan.”   Semoga kita bisa semangat terus dalam berhijrah, menjadi lebih baik mulai saat ini dan bisa terus istiqamah. — @ Sekolah Vokasi Teknik Sipil UGM, 18 Jumadal Ula 1437 H Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagshijrah taubat

6 Tahapan Setan Menyesatkan Manusia

Ada enam tahapan setan dalam menyesatkan manusia.   Langkah pertama: Diajak pada kekafiran, kesyirikan, serta memusuhi Allah dan Rasul-Nya Inilah langkah pertama yang ditempuh oleh setan, barulah ketika itu ia beristirahat dari rasa capeknya. Setan akan terus menggoda manusia agar bisa terjerumus dalam dosa pertama ini. Jika telah berhasil, pasukan dan bala tentara iblis akan diangkat posisinya menjadi pengganti iblis.   Langkah kedua: Diajak pada perbuatan bid’ah Jika langkah pertama tidak berhasil, manusia diajak pada perbuatan bid’ah. Perbuatan ini lebih disukai oleh iblis daripada dosa besar atau pun maksiat lainnya. Karena bahaya bid’ah itu: (1) membahayakan agama seseorang, (2) membahayakan orang lain, jadi ikut-ikutan berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunan, (3) orang yang berbuat bid’ah akan sulit sadar untuk taubat karena ia merasa amalannya selalu benar, (4) bid’ah itu menyelisihi ajaran Rasul dan selalu mengajak untuk menyelisihi ajaran beliau. Setan yang menggoda seperti ini pun juga akan diangkat sebagai pembantu iblis jika telah berhasil menyesatkan manusia dalam hal ini.   Langkah ketiga: Diajak pada dosa besar (al-kabair) Kalau langkah kedua tidak berhasil, setan akan mengajak manusia untuk melakukan dosa besar, lebih-lebih jika ia adalah seorang alim (berilmu) dan diikuti orang banyak. Setan lebih semangat lagi menyesatkan alim semacam itu supaya membuat manusia menjauh darinya, maksiat semacam itu pun akan mudah tersebar, dan akan dirasa pula bahwa maksiat itu malah mendekatkan diri pada Allah. Yang berhasil menyesatkan manusia dalam hal ini, dialah yang nanti akan menjadi pengganti iblis.   Langkah keempat: Diajak dalam dosa kecil (ash-shaghair) Jika setan gagal menjerumuskan dalam dosa besar, setan akan mengajak pada dosa kecil. Dosa kecil ini juga berbahaya. إياكم ومحقرات الذنوب كقوم نزلوا في بطن واد فجاء ذا بعود وجاء ذا بعود حتى انضجوا خبزتهم وإن محقرات الذنوب متى يؤخذ بها صاحبها تهلكه “Jauhilah oleh kalian dosa-dosa kecil. (Karena perumpamaan hal tersebut adalah) seperti satu kaum yang singgah di satu lembah, lalu datanglah seseorang demi seorang membawa kayu sehingga masaklah roti mereka dengan itu. Sesungguhnya dosa-dosa kecil itu ketika akan diambil pemiliknya, maka ia akan membinasakannya.” (HR. Ahmad, 5: 331, no. 22860. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Maksud hadits, jika dosa kecil terus menumpuk dan tidak terhapus, maka itu akan membinasakan. Di sini tidak disebutkan dosa besar karena jarang terjadi di masa silam dan dosa besar memang benar-benar dijaga agar tidak terjerumus di dalamnya. Demikian dijelaskan oleh Al-Munawi. Imam Al-Ghazali menyebutkan, dosa kecil lama-lama bisa menjadi besar karena: (1) menganggap remeh dosa kecil tersebut, (2) terus menerus dalam berbuat dosa. Karena ingatlah yang namanya dosa ketika seseorang menganggap itu begitu besar (berbahaya), menjadi kecil di sisi Allah. Sebaliknya, ketika dosa itu dianggap remeh, maka menjadi besar di sisi Allah. (Dinukil dari Faidh Al-Qadir, 3: 127)   Langkah kelima: Disibukkan dengan perkara mubah (yang sifatnya boleh, tidak ada pahala dan tidak ada sanksi di dalamnya) Namun karena sibuk dengan yang mubah mengakibatkan luput dari pahala. Jika setan tidak mampu menggoda dalam tingkatan kelima ini, maka seorang hamba akan benar-benar tamak pada waktunya. Ia akan tahu bagaimanakah berharganya waktu. Ia pun tahu ada nikmat dan ada akibat jelek jika tidak menjaganya dengan baik. Jika tidak mampu dalam langkah kelima, maka setan beralih pada langkah yang keenam.   Langkah keenam: Disibukkan dalam amalan yang kurang afdhal, padahal ada amalan yang lebih afdhal Setan akan menggoda manusia supaya ia luput dari pahala amalan yang lebih utama dan ia terus tersibukkan dengan yang kurang afdhal.   Mengenal enam langkah ini seharusnya membuat kita bisa melakukan prioritas dalam bneramal dan mencari manakah yang paling diridhai oleh Allah.   Pembahasan di atas kami sarikan dari Badai’ul Fawaid (3: 381 – 385) karya Ibnul Qayyim rahimahullah. Moga bermanfaat. — Diselesaikan menjelang Maghrib, 17 Jumadal Ula 1437 H di Darush Sholihin Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam   Tagssetan

6 Tahapan Setan Menyesatkan Manusia

Ada enam tahapan setan dalam menyesatkan manusia.   Langkah pertama: Diajak pada kekafiran, kesyirikan, serta memusuhi Allah dan Rasul-Nya Inilah langkah pertama yang ditempuh oleh setan, barulah ketika itu ia beristirahat dari rasa capeknya. Setan akan terus menggoda manusia agar bisa terjerumus dalam dosa pertama ini. Jika telah berhasil, pasukan dan bala tentara iblis akan diangkat posisinya menjadi pengganti iblis.   Langkah kedua: Diajak pada perbuatan bid’ah Jika langkah pertama tidak berhasil, manusia diajak pada perbuatan bid’ah. Perbuatan ini lebih disukai oleh iblis daripada dosa besar atau pun maksiat lainnya. Karena bahaya bid’ah itu: (1) membahayakan agama seseorang, (2) membahayakan orang lain, jadi ikut-ikutan berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunan, (3) orang yang berbuat bid’ah akan sulit sadar untuk taubat karena ia merasa amalannya selalu benar, (4) bid’ah itu menyelisihi ajaran Rasul dan selalu mengajak untuk menyelisihi ajaran beliau. Setan yang menggoda seperti ini pun juga akan diangkat sebagai pembantu iblis jika telah berhasil menyesatkan manusia dalam hal ini.   Langkah ketiga: Diajak pada dosa besar (al-kabair) Kalau langkah kedua tidak berhasil, setan akan mengajak manusia untuk melakukan dosa besar, lebih-lebih jika ia adalah seorang alim (berilmu) dan diikuti orang banyak. Setan lebih semangat lagi menyesatkan alim semacam itu supaya membuat manusia menjauh darinya, maksiat semacam itu pun akan mudah tersebar, dan akan dirasa pula bahwa maksiat itu malah mendekatkan diri pada Allah. Yang berhasil menyesatkan manusia dalam hal ini, dialah yang nanti akan menjadi pengganti iblis.   Langkah keempat: Diajak dalam dosa kecil (ash-shaghair) Jika setan gagal menjerumuskan dalam dosa besar, setan akan mengajak pada dosa kecil. Dosa kecil ini juga berbahaya. إياكم ومحقرات الذنوب كقوم نزلوا في بطن واد فجاء ذا بعود وجاء ذا بعود حتى انضجوا خبزتهم وإن محقرات الذنوب متى يؤخذ بها صاحبها تهلكه “Jauhilah oleh kalian dosa-dosa kecil. (Karena perumpamaan hal tersebut adalah) seperti satu kaum yang singgah di satu lembah, lalu datanglah seseorang demi seorang membawa kayu sehingga masaklah roti mereka dengan itu. Sesungguhnya dosa-dosa kecil itu ketika akan diambil pemiliknya, maka ia akan membinasakannya.” (HR. Ahmad, 5: 331, no. 22860. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Maksud hadits, jika dosa kecil terus menumpuk dan tidak terhapus, maka itu akan membinasakan. Di sini tidak disebutkan dosa besar karena jarang terjadi di masa silam dan dosa besar memang benar-benar dijaga agar tidak terjerumus di dalamnya. Demikian dijelaskan oleh Al-Munawi. Imam Al-Ghazali menyebutkan, dosa kecil lama-lama bisa menjadi besar karena: (1) menganggap remeh dosa kecil tersebut, (2) terus menerus dalam berbuat dosa. Karena ingatlah yang namanya dosa ketika seseorang menganggap itu begitu besar (berbahaya), menjadi kecil di sisi Allah. Sebaliknya, ketika dosa itu dianggap remeh, maka menjadi besar di sisi Allah. (Dinukil dari Faidh Al-Qadir, 3: 127)   Langkah kelima: Disibukkan dengan perkara mubah (yang sifatnya boleh, tidak ada pahala dan tidak ada sanksi di dalamnya) Namun karena sibuk dengan yang mubah mengakibatkan luput dari pahala. Jika setan tidak mampu menggoda dalam tingkatan kelima ini, maka seorang hamba akan benar-benar tamak pada waktunya. Ia akan tahu bagaimanakah berharganya waktu. Ia pun tahu ada nikmat dan ada akibat jelek jika tidak menjaganya dengan baik. Jika tidak mampu dalam langkah kelima, maka setan beralih pada langkah yang keenam.   Langkah keenam: Disibukkan dalam amalan yang kurang afdhal, padahal ada amalan yang lebih afdhal Setan akan menggoda manusia supaya ia luput dari pahala amalan yang lebih utama dan ia terus tersibukkan dengan yang kurang afdhal.   Mengenal enam langkah ini seharusnya membuat kita bisa melakukan prioritas dalam bneramal dan mencari manakah yang paling diridhai oleh Allah.   Pembahasan di atas kami sarikan dari Badai’ul Fawaid (3: 381 – 385) karya Ibnul Qayyim rahimahullah. Moga bermanfaat. — Diselesaikan menjelang Maghrib, 17 Jumadal Ula 1437 H di Darush Sholihin Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam   Tagssetan
Ada enam tahapan setan dalam menyesatkan manusia.   Langkah pertama: Diajak pada kekafiran, kesyirikan, serta memusuhi Allah dan Rasul-Nya Inilah langkah pertama yang ditempuh oleh setan, barulah ketika itu ia beristirahat dari rasa capeknya. Setan akan terus menggoda manusia agar bisa terjerumus dalam dosa pertama ini. Jika telah berhasil, pasukan dan bala tentara iblis akan diangkat posisinya menjadi pengganti iblis.   Langkah kedua: Diajak pada perbuatan bid’ah Jika langkah pertama tidak berhasil, manusia diajak pada perbuatan bid’ah. Perbuatan ini lebih disukai oleh iblis daripada dosa besar atau pun maksiat lainnya. Karena bahaya bid’ah itu: (1) membahayakan agama seseorang, (2) membahayakan orang lain, jadi ikut-ikutan berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunan, (3) orang yang berbuat bid’ah akan sulit sadar untuk taubat karena ia merasa amalannya selalu benar, (4) bid’ah itu menyelisihi ajaran Rasul dan selalu mengajak untuk menyelisihi ajaran beliau. Setan yang menggoda seperti ini pun juga akan diangkat sebagai pembantu iblis jika telah berhasil menyesatkan manusia dalam hal ini.   Langkah ketiga: Diajak pada dosa besar (al-kabair) Kalau langkah kedua tidak berhasil, setan akan mengajak manusia untuk melakukan dosa besar, lebih-lebih jika ia adalah seorang alim (berilmu) dan diikuti orang banyak. Setan lebih semangat lagi menyesatkan alim semacam itu supaya membuat manusia menjauh darinya, maksiat semacam itu pun akan mudah tersebar, dan akan dirasa pula bahwa maksiat itu malah mendekatkan diri pada Allah. Yang berhasil menyesatkan manusia dalam hal ini, dialah yang nanti akan menjadi pengganti iblis.   Langkah keempat: Diajak dalam dosa kecil (ash-shaghair) Jika setan gagal menjerumuskan dalam dosa besar, setan akan mengajak pada dosa kecil. Dosa kecil ini juga berbahaya. إياكم ومحقرات الذنوب كقوم نزلوا في بطن واد فجاء ذا بعود وجاء ذا بعود حتى انضجوا خبزتهم وإن محقرات الذنوب متى يؤخذ بها صاحبها تهلكه “Jauhilah oleh kalian dosa-dosa kecil. (Karena perumpamaan hal tersebut adalah) seperti satu kaum yang singgah di satu lembah, lalu datanglah seseorang demi seorang membawa kayu sehingga masaklah roti mereka dengan itu. Sesungguhnya dosa-dosa kecil itu ketika akan diambil pemiliknya, maka ia akan membinasakannya.” (HR. Ahmad, 5: 331, no. 22860. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Maksud hadits, jika dosa kecil terus menumpuk dan tidak terhapus, maka itu akan membinasakan. Di sini tidak disebutkan dosa besar karena jarang terjadi di masa silam dan dosa besar memang benar-benar dijaga agar tidak terjerumus di dalamnya. Demikian dijelaskan oleh Al-Munawi. Imam Al-Ghazali menyebutkan, dosa kecil lama-lama bisa menjadi besar karena: (1) menganggap remeh dosa kecil tersebut, (2) terus menerus dalam berbuat dosa. Karena ingatlah yang namanya dosa ketika seseorang menganggap itu begitu besar (berbahaya), menjadi kecil di sisi Allah. Sebaliknya, ketika dosa itu dianggap remeh, maka menjadi besar di sisi Allah. (Dinukil dari Faidh Al-Qadir, 3: 127)   Langkah kelima: Disibukkan dengan perkara mubah (yang sifatnya boleh, tidak ada pahala dan tidak ada sanksi di dalamnya) Namun karena sibuk dengan yang mubah mengakibatkan luput dari pahala. Jika setan tidak mampu menggoda dalam tingkatan kelima ini, maka seorang hamba akan benar-benar tamak pada waktunya. Ia akan tahu bagaimanakah berharganya waktu. Ia pun tahu ada nikmat dan ada akibat jelek jika tidak menjaganya dengan baik. Jika tidak mampu dalam langkah kelima, maka setan beralih pada langkah yang keenam.   Langkah keenam: Disibukkan dalam amalan yang kurang afdhal, padahal ada amalan yang lebih afdhal Setan akan menggoda manusia supaya ia luput dari pahala amalan yang lebih utama dan ia terus tersibukkan dengan yang kurang afdhal.   Mengenal enam langkah ini seharusnya membuat kita bisa melakukan prioritas dalam bneramal dan mencari manakah yang paling diridhai oleh Allah.   Pembahasan di atas kami sarikan dari Badai’ul Fawaid (3: 381 – 385) karya Ibnul Qayyim rahimahullah. Moga bermanfaat. — Diselesaikan menjelang Maghrib, 17 Jumadal Ula 1437 H di Darush Sholihin Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam   Tagssetan


Ada enam tahapan setan dalam menyesatkan manusia.   Langkah pertama: Diajak pada kekafiran, kesyirikan, serta memusuhi Allah dan Rasul-Nya Inilah langkah pertama yang ditempuh oleh setan, barulah ketika itu ia beristirahat dari rasa capeknya. Setan akan terus menggoda manusia agar bisa terjerumus dalam dosa pertama ini. Jika telah berhasil, pasukan dan bala tentara iblis akan diangkat posisinya menjadi pengganti iblis.   Langkah kedua: Diajak pada perbuatan bid’ah Jika langkah pertama tidak berhasil, manusia diajak pada perbuatan bid’ah. Perbuatan ini lebih disukai oleh iblis daripada dosa besar atau pun maksiat lainnya. Karena bahaya bid’ah itu: (1) membahayakan agama seseorang, (2) membahayakan orang lain, jadi ikut-ikutan berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunan, (3) orang yang berbuat bid’ah akan sulit sadar untuk taubat karena ia merasa amalannya selalu benar, (4) bid’ah itu menyelisihi ajaran Rasul dan selalu mengajak untuk menyelisihi ajaran beliau. Setan yang menggoda seperti ini pun juga akan diangkat sebagai pembantu iblis jika telah berhasil menyesatkan manusia dalam hal ini.   Langkah ketiga: Diajak pada dosa besar (al-kabair) Kalau langkah kedua tidak berhasil, setan akan mengajak manusia untuk melakukan dosa besar, lebih-lebih jika ia adalah seorang alim (berilmu) dan diikuti orang banyak. Setan lebih semangat lagi menyesatkan alim semacam itu supaya membuat manusia menjauh darinya, maksiat semacam itu pun akan mudah tersebar, dan akan dirasa pula bahwa maksiat itu malah mendekatkan diri pada Allah. Yang berhasil menyesatkan manusia dalam hal ini, dialah yang nanti akan menjadi pengganti iblis.   Langkah keempat: Diajak dalam dosa kecil (ash-shaghair) Jika setan gagal menjerumuskan dalam dosa besar, setan akan mengajak pada dosa kecil. Dosa kecil ini juga berbahaya. إياكم ومحقرات الذنوب كقوم نزلوا في بطن واد فجاء ذا بعود وجاء ذا بعود حتى انضجوا خبزتهم وإن محقرات الذنوب متى يؤخذ بها صاحبها تهلكه “Jauhilah oleh kalian dosa-dosa kecil. (Karena perumpamaan hal tersebut adalah) seperti satu kaum yang singgah di satu lembah, lalu datanglah seseorang demi seorang membawa kayu sehingga masaklah roti mereka dengan itu. Sesungguhnya dosa-dosa kecil itu ketika akan diambil pemiliknya, maka ia akan membinasakannya.” (HR. Ahmad, 5: 331, no. 22860. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Maksud hadits, jika dosa kecil terus menumpuk dan tidak terhapus, maka itu akan membinasakan. Di sini tidak disebutkan dosa besar karena jarang terjadi di masa silam dan dosa besar memang benar-benar dijaga agar tidak terjerumus di dalamnya. Demikian dijelaskan oleh Al-Munawi. Imam Al-Ghazali menyebutkan, dosa kecil lama-lama bisa menjadi besar karena: (1) menganggap remeh dosa kecil tersebut, (2) terus menerus dalam berbuat dosa. Karena ingatlah yang namanya dosa ketika seseorang menganggap itu begitu besar (berbahaya), menjadi kecil di sisi Allah. Sebaliknya, ketika dosa itu dianggap remeh, maka menjadi besar di sisi Allah. (Dinukil dari Faidh Al-Qadir, 3: 127)   Langkah kelima: Disibukkan dengan perkara mubah (yang sifatnya boleh, tidak ada pahala dan tidak ada sanksi di dalamnya) Namun karena sibuk dengan yang mubah mengakibatkan luput dari pahala. Jika setan tidak mampu menggoda dalam tingkatan kelima ini, maka seorang hamba akan benar-benar tamak pada waktunya. Ia akan tahu bagaimanakah berharganya waktu. Ia pun tahu ada nikmat dan ada akibat jelek jika tidak menjaganya dengan baik. Jika tidak mampu dalam langkah kelima, maka setan beralih pada langkah yang keenam.   Langkah keenam: Disibukkan dalam amalan yang kurang afdhal, padahal ada amalan yang lebih afdhal Setan akan menggoda manusia supaya ia luput dari pahala amalan yang lebih utama dan ia terus tersibukkan dengan yang kurang afdhal.   Mengenal enam langkah ini seharusnya membuat kita bisa melakukan prioritas dalam bneramal dan mencari manakah yang paling diridhai oleh Allah.   Pembahasan di atas kami sarikan dari Badai’ul Fawaid (3: 381 – 385) karya Ibnul Qayyim rahimahullah. Moga bermanfaat. — Diselesaikan menjelang Maghrib, 17 Jumadal Ula 1437 H di Darush Sholihin Panggang, GK Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam   Tagssetan
Prev     Next