Hari ‘Asyuro (10 muharrom)

خطبة الجمعة من المسجد النبوي 6محرم 1438 هـالخطيب الشيخ / عبد الله البعيجانمترجمة إلى اللغة الإندونيسيةKhotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 6 Muharam 1438 HKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Kami pun berlindung kepadaNya dari kejahatan diri kami dan keburukan perbuatan kami.Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang sesat jalan tidak akan ada yang dapat memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, aku pun bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [ آل عمران / 102]“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah secara sungguh-sungguh, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam (berserah diri kepada Allah)”. Qs Ali Imran : 102 يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا [ النساء / 1 ]“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Tuhan kalian yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan menciptakan dari padanya pasangannya, berikut membiakkan dari keduanya lelaki dan perempuan yang banyak. Takutlah kalian kepada Allah yang kalian meminta (atas namaNya) dan (jagalah) tali kekerabatan. Sesungguhnya Allah Maha mengawasi kalian”. Qs An-Nisa :1يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا (٧٠)يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا[ الأحزاب / 70-71]“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Dia memperbaiki amal perbuatan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasulNya, sungguh ia memperoleh keberuntungan yang besar”. Qs Al-Ahzab:70-71Selanjutnya :Aku pesankan kepada diriku dan kalian wahai hamba Allah untuk selalu bertakwa kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- dalam kesepian dan keramaian. Itulah pesan dari Allah kepada generasi umat terdahulu dan yang datang kemudian. Firman Allah :وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ [ النساء / 131]“Sungguh kami telah berpesan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan kepada kalian pula; Takutlah kalian kepada Allah”. Qs An-Nisa:131Ketahuilah –semoga kalian disayang Allah- bahwa waktu terus bergulir, tahun telah berlalu dan bergeser, yang telah lampau tidak akan kembali, setiap detik mengisyaratkan kepada Anda –wahai hamba Allah- akan datangnya tempo yang dijanjikan, yang menjadi saksi dan yang dipersaksikan, pun pula datangnya hari perpisahan dan dekatnya liang lahad.Optimalkanlah hidup Anda dan lakukanlah introspeksi diri sebelum urusan Anda dihisah (diaudit).وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا [ المزمل/20]“Apapun kebaikan yang kalian lakukan untuk diri kalian, akan kalian dapatkan di sisi Allah suatu balasan lebih baik dan pahala lebih besar”  Qs Al-Muzammil : 20Kaum muslimin sekalian.Kini kalian memasuki tahun baru; Tahun baru berawal dari bulan Muharam dan berakhir pada bulan haram (mulia). Selamat dan bahagialah kalian di awal bulan mulia ini dan di hari-hari berikutnya. Selamat dan berkah untuk kalian sepanjang waktu dan kesempatan di dalamnya.Bulan Muharam merupakan salah satu bulan mulia. Allah berfirman :إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ [ التوبة/36]“Sesungguhnya hitungan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan dalam kitab (ketetapan) Allah pada hari Dia ciptakan langit dan bumi; di antaranya ada empat bulan mulia, itulah agama yang lurus, maka janganlah kalian berbuat aniaya terhadap diri kalian di dalamnya”. Qs At-Taubah:36Abu Bakrah –radhiyallahu anhu- meriwayatkan bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” الزَّمَانُ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو القَعْدَةِ وَذُو الحِجَّةِ وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ، الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ “رواه البخاري ومسلم“Sesungguhnya zaman senantiasa berputar sesuai karakternya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun adalah dua belas bulan, di antaranya terdapat empat bulan mulia; yang tiga bulan berturut-turut, yaitu Dzul-Qa’dah, Dzul-Hijah dan Muharam, sedangkan satunya “Rajab” berada di antara bulan Jumada dan Sya’ban”.HR Bukhari dan Muslim.Sudah sepantasnya bagi seorang muslim menyambut tahun baru ini dengan ketaatan kepada Allah, patuh kepada perintahNya dan mempersiapkan diri untuk perjumpaan denganNya. Sepantasnya pula merasakan keagungan, kemuliaan dan kedudukan bulan ini. Itulah ketaatan yang dicari pahalanya dan diwaspadai hukuman karena meninggalkannya.Hasan Bashri –rahimahullah berkata, ” Sesungguhnya Allah membuka tahun dengan bulan mulia dan menutupnya dengan bulan mulia pula. Tidak ada bulan sesudah Ramadhan lebih agung di sisi Allah dari pada bulan Muharam (bulan yang mulia). Bulan ini (Muharam) disebut pula “Syahrullah Al-asham”karena kemuliaannya”.Para hamba Allah!Pembuat hukum syariat (As-Syari’) telah memotivasi kalian untuk berpuasa sunah pada bulan Muharam. Maka hendaklah kalian mendapatkan sebanyak mungkin porsi untuk meraih anugerah di dalamnya.Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :«أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ، بَعْدَ الْفَرِيضَةِ، صَلَاةُ اللَّيْلِ» رواه مسلم“Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa bulan Allah yang mulia (bulan Muharam), dan sebaik-baik shalat sesudah shalat fardhu adalah shalat malam”. HR Muslim.Kaum muslimin sekalian!Banyak di antara Ulama yang menguatkan pendapat bahwa bulan Muharam adalah bulan yang paling utama di antara bulan-bulan mulia lainnya. Mengingat kedudukan bulan Muharam yang demikian tinggi di hati para sahabat, maka mereka menjadikannya sebagai permulaan Kalender Tahun Hijriyah.Di masa pemerintahan Amirul-mukminin Umar Bin Khatab, beliau mengumpulkan kaum muslimin untuk diajak konsultasi tentang  dari manakah penanggalan itu dimulai ?    Ada yang berpendapat : Dimulai dari tanggal kelahiran Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.    Pendapat lain mengatakan : Dari hari diutusnya Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.    Ada pula yang mengatakan : Dari hijrah beliau –shallallahu alaihi wa sallam-.    Sebagian berpendapat : Dari wafat beliau –shallallahu alaihi wa sallam-.    Namun demikian, pendapat yang paling kuat menurut Umar Bin Khatab –radhiyallahu anhu- adalah “dimuali dari peristiwa hijrah Nabi”, yang merupakan peristiwa dimana Allah –subhanahu wa ta’ala- memisahkan antara kebenaran dengan kebatilan, di samping peristiwa itu merupakan tonggak sejarah berdirinya Institusi yang Independen bagi umat Islam.Setelah itu Umar Bin Khatab bermusyawarah dengan para sahabat lainnya tentang dari manakah tahun itu dimulai ?    Ada yang berpendapat, dari bulan Rabiul Awal, mengingat kedudukannya sebagai bulan di mana Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- berhijrah ke Madinah.    Ada yang mengatakan, di mulai dari bulan Ramadhan. Namun demikian akhirnya Umar Bin Khatab, Utsman Bin Afan dan Ali Bin Abi Thalib –radhiyallahu anhum ajmain- sepakat untuk memulainya dari bulan Muharam yang kemudian diterima oleh seluruh umat Islam secara aklamasi, mengingat kemuliaan bulan Muharam tersebut yang jatuh setelah bulan Dzul Hijah yang juga termasuk bulan mulia, dan letaknya pula setelah bulan di mana Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- membaiat kaum Anshar untuk berhijrah. Itulah sebabnya, bulan Muharam merupakan bulan yang paling berhak untuk diprioritaskan.Semoga Allah –subhanahu wa ta’ala- meridhai Umar dan seluruh sahabat. Kita memohon kepada Allah, kiranya dalam Tahun baru ini Dia memberikan kejayaan, kemantapan kondisi dan kemenangan yang gemilang bagi kaum muslimin, serta memadukan hati mereka, mempertemukan kalimat mereka dan menyatu-padukan barisan mereka.Wahai hamba Allah !Bukanlah untuk bersenda gurau, bermain, bercanda, makan, tidur dan bermalas-malan Anda diciptakan . . Maka bergeralah segera dan tinggalkanlah penyakit yang Anda Idap . . Rebutlah kesempatan sebelum pupus harapan . . Janganlah Anda seperti seseorang yang terlukis dalam senandung Penggembala :قطعت شهور العام لهوا وغفلة        ولم تحترم فيما أتين المحرماEngkau telah menahun dalam kelakar dan seloroh *** Lalai tak pedulikan telah menghampiri bulan suci nan muliaفلا رجبا وافيت فيه بحقه     ولا صمت شهر الصوم صوما متمماRajab pun engkau abaikan hak-haknya ***  Pun pula bulan Ramadhan tak sempurna engkau mempuasainya.ولا في ليالي عشر ذي الحجة الذي   مضى كنت قواما ولا كنت مُحرِماMalam-malam sepuluh Dzulhijah tenggelam begitu saja *** tanpa engkau sapa dengan ibadah malam atau berihram.فهل لك أن تمحو الذنوب بعبرة    وتبكي عليها حسرةً وتَنَدُّماMungkinkan air matamu berderai tuk menghapuskan noda dosa itu *** meratapi diri yang merana dibuatnya dengan penuh penyesalan.وتستقبل العام الجديد بتوبة      لعلك أن تمحو بها ما تقدماSambutlah Tahun Baru ini dengan suatu pertobatan *** Kiranya hanya dengan pertobatan akan terhapus dosa di masa silam.Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ ، وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ ، وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ [ المنافقون / 9-11]“Wahai orang-orang beriman, janganlah sampai melalaikanmu harta bendamu dan anak-anakmu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka itulah orang-orang yang merugi. Belanjakanlah sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadamu sebelum salah seorang di antara kamu kedatangan ajal kematian, nanti akan berkata : “Oh Tuhanku, dapatkan Engkau menunda aku barang sebentar, supaya aku bersedekah dan menjadi orang-orang yang saleh. Namun Allah tidak akan menunda seseorang yang telah jatuh tempo ajalnya. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. Qs Al-Munafiqun : 9-11Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepadaku dan kepada kalian berkat AL-Qur’an yang agung.*****Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikanNya. Puji syukur kepadaNya atas bimbingan dan karuniaNya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, sebagai pengagungan kepadaNya. Aku pun bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya yang selalu mengajak ke jalan yang diridhaiNya. Semoga shalawat dan salam tercurah sebanyak-banyaknya kepada nabi kita beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Kaum muslimin sekalian.Beberapa hari lagi kalian akan memasuki hari Asyura, yaitu hari ke sepuluh bulan Muharam. Suatu hari yang agung dan kemuliannya telah ada sejak dulu. Suatu hari yang istimewa dengan nilai-nilai sejarah dan religius, antara lain :Dianjurkan puasa di dalamnya. Nabi Musa –alaihissalam- puasa pada hari Asyura. Kaum Quraish juga puasa Asyura. Dan tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang di kota Madinah, beliau mendapati kaum yahudi berpuasa hari Asyuro. Dan tatkala tiba tahun berikutnya maka Nabipun berpuasa Asyuro dan memerintahkan untuk berpuasa Asyuro. Setelah itu datang kewajiban puasa bulan Ramadhan pada tahun tersebut, akhirnya kewajiban puasa Asyura dianulir (dibatalkan hukumnya) olehnya, namun menurut pendapat yang kuat tetap sunah berpuasa Asyura’.Disebutkan dalam Shahih Bukhari dari Ibnu Abbas –radhiyallahu anhuma- berkata :“Ketika Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- tiba di Madinah, beliau menyaksikan orang-orang Yahudi sedang berpuasa Asyura. Saat mereka ditanya, mereka pun menjawab : “Ini adalah hari di mana Allah memenangkan Nabi Musa dan Bani Israel atas Fir’aun. Kami berpuasa hari ini untuk mengagungkannya. Maka Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pun lalu bersabda :” نَحْنُ أوْلَى بِمُوْسَى مِنْكُمْ ، فَأمَرَ بِصَوْمِهِ ““Kami lebih berhak kepada Musa dari pada kalian. Lalu beliau memerintahkan untuk berpuasa Asyura”.Dari Ibnu Abbas –radhiyallahu anhuma- berkata :ما رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يتحرى صيام يوم فضَّله على غيره إلا هذا اليوم، يوم عاشوراء، وهذا الشهر يعني شهر رمضان“Aku tidak pernah melihat Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- mengincar puasa suatu hari yang lebih beliau utamakan atas hari-hari lain kecuali hari ini Asyura, dan bulan ini, yaitu bulan Ramadhan”.Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والسنة التي بعده، وصيام يوم عاشوراء أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله“Berpuasa hari Arafah, aku berharap kiranya Allah untuk menghapus (dosa) pada tahun sebelumnya dan tahun sesudahnya. Sedangkan berpuasa hari Asyura’, aku berharap kiranya Allah menghapus (dosa) pada tahun sebelumnya”.Nabi kita – shallallahu alaihi wa sallam- di akhir usianya mengabarkan bahwa orang-orang Yahudi akan menjadikan hari Asyura’ sebagai hari raya, maka beliau berketetapan hati untuk berpuasa pada hari kesembilan dan ke sepuluh tahun depan, hanya saja keinginan beliau tersebut terhalang oleh kematian.Dari Abdullah bin Abbas radhialahu ‘anhuma ia berkata, “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari Asyuro’ dan beliau memerintahkan para sahabat untuk juga berpuasa, maka para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya hari Asyuro’ adalah hari yang diagungkan oleh kaum yahudi dan kaum nasrani”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda ;“فَإِذَا كَانَ العَام الْمُقْبِل إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ”“Jika datang tahun depan inysa Allah kita akan berpuasa pada tanggal sembilan muharrom” (HR Muslim)Maka yang terbaik adalah berpuasa juga sehari sebelum hari Asyuro untuk menyelisihi kaum yahudi. Jika seseorang tidak mampu maka jangan sampai tidak mampu untuk puasa meskipun hanya hari Asyuro (10 Muharrom).Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “Keinginan Nabi untuk berpuasa pada tanggal 9 muharrom mengandung kemungkinan bahwa beliau tidak hanya puasa pada tanggal tersebut tapi menambahkannya pada tanggal 10, dalam rangka untuk kehati-hatian atau untuk menyelisihi kaum yahudi dan kaum nashrani. Dan kemungkinan yang kedua inilah yang lebih kuat”Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suka untuk menyamai ahlul kitab pada perkara-perkara yang tidak ada perintah kepada beliau sama sekali. Terutama jika perkara-perkara tersebut menyelisihi para penyembah berhala. Tatkala Mekah ditaklukan dan Islam semakin tersohor maka beliau juga suka untuk menyelisihi ahlul kitab sebagaimana telah valid dalam riwayat yang shahih. Dan perkara puasa Asyuro termasuk pada hal ini, beliau menyepakati kaum yahudi pada awalnya seraya berkata, “Kami lebih berhak kepada Musa dari pada kalian (wahai kaum yahudi)”, lalu kemudian beliau suka untuk menyelisihi kaum yahudi, maka beliau memerintahkan untuk menambah untuk berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya dalam rangka untuk menyelisihi mereka.Dan diantara keistimewaan hari ini, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya dan Allah membinasakan Fir’aun dan kaumnya. Oleh karenanya Nabi Musa dan bani Israil berpuasa pada hari tersebut untuk bersyukur kepada Allah. Lalu Nabi juga berpuasa pada hari tersebut untuk bersyukur kepada Allah.Maka kita mohon kepada Allah agar memudahkan kita untuk berpuasa pada hari tersebut dan agar Allah menolong pasukan kita yang bertugas di daerah perbatasan sebagaimana Allah menolong Muasa ‘alaihis salam atas Fir’aun dan kaumnya pada hari Asyuro’.Selanjutnya kaum muslimin sekalian, inilah keistimewaan-keistimewaan hari tersebut. Dan para pendusta telah membuat hadits-hadits palsu yang tidak datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat, dan para imam salam yang berkaitan dengan hari tersebut. Maka jadilah sebagian orang berlebih-lebihan dalam hari tersebut lalu mengadakan bid’ah ibadah-ibadah yang tidak disyari’atkan, dengan bersandar kepada dugaan-dugaan dan kesesatan-kesesatan yang mereka tidak terbimbing pada kebaikan dalam melaksanakan bid’ah-bid’ah tersebut.فَلَوْ كَانَ يَدْرِي يَوْمُ عَاشُورَاء       مَا كَانَ فِيْهِ مِنْ بَلاَءِمَا لاَحَ فَجْرُهُ وَلاَ اسْتَنَارَا   وَلاَ أَضَاءَتْ شَمْسُهُ نَهَارَاSeandainya hari Asyuro mengetahui apa yang terjadi padanya berupa bencana…Maka tidak akan terbit fajarnya dan tidak akan terang…dan tidak juga mataharinya akan menyinari siangnya…Syaikhul Islam rahimahullah berkata –yang isinya adalah-, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para khulafaa’ rasyidin tidak pernah menyari’atkan pada hari Asyuro apapun yang berkaitan dengan syi’ar kesedihan dan duka cita, dan tidak juga syi’ar kegembiraan dan kesenangan serta tidak juga perkara-perkara yang lainnya, seperti membuat makanan (yang enak) tidak seperti biasanya atau memakai pakaian baru atau mengeluarkan nafkah (belanjaan) lebih dari pada biasanya, atau membeli keperluan-keperluan selama setahun dibeli pada hari tersebut, atau melakukan ibadah yang khusus seperti sholat khusus hari tersebut, atau menyembelih atau menggunakan celak atau menggunakan semir atau mandi (khusus) atau saling berjabat tangan, atau saling mengunjungi, atau menziarahi mesjid-mesjid dan kuburan-kuburan, atau memakai pakaian berwarna hitam, atau menampar-nampar pipi, atau merobek-robek baju, dan yang semisalnya. Ini semua adalah termasuk bid’ah yang mungkar yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para khulafa rasyidin dan tidak juga dianjurkan  oleh seorangpun dari para imam kaum muslimin.Maka bertakwalah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah pada diri kalian dan agama kalian. Janganlah kalian berbuat-buat bid’ah dan merubah-rubah syari’at Allah. Allah telah menyerahkan amanah kepada kalian dan kalian adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan bagi manusia. Kalian telah diperingatkan dan kalian adalah umat yang tengah (moderat). Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggalkan kita di atas jalan yang terang benderang, malamnya seperti siangnya, tidak ada yang menyimpang darinya kecuali akan binasa. Barangsiapa yang mengada-ngadakan dalam urusan kita perkara (baru) yang bukan darinya maka akan tertolak, dan barangsiapa yang megerjakan suatu amalan yang tidak kami perintahkan maka tertolak. Allah tidaklah diibadahi kecuali dengan apa yang Allah syari’atkan melalui lisan NabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sunnah Nabi sudahlah cukup. Menambah-nambah sunnah nabi adalah bentuk berlebih-lebihan dan ekstrim, dan kurang dalam menjalankan sunnah adalah sikap memudah-mudahkan dan pelalaian.Dan cukup bagi kita firman Rob kita :الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian, dan Aku telah menyempurnakan nikmatKu dan Aku ridho Islam menjadi agama bagi kalian” (QS Al-Maidah : 3)Kita mohon kepada Allah agar menganugrahkan kepada kita sikap berpegang teguh dengan sunnah, dan berjalan diatas petunjuknya, dan menjauhkan kita dari bid’ah-bid’ah dan melindungi kita darinya. Agar Allah menjauhkan kita dari jalan-jalan orang-orang yang berlebih-lebihan atau sebaliknya yang kurang, dan agar Allah melapangkan dada-dada kita untuk menerima kebenaran dan menjadikan kita kaum yang tengah (moderat) dan seimbang, sesungguhnya Allah Yang Maha menguasainya dan maha berkuasa untuk mengabulkannya.Ya Allah muliakanlah Islam dan kaum muslimin, dan hinakanlah kesyirikan dan kaum musyrikin, dan menangkanlah hamba-hambaMu yang bertauhid, dan jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan tentram, demikian juga seluruh negeri-negeri kaum muslimin, Ya Allah berilah keamanan pada negeri kami dan luruskanlah para pemimpin dan waliyyul amr kami.Ya Allah bimbinglah pemimpin kami dengan bimbinganMu, kuatkanlah ia dengan penguatanMu, muliakanlah agamaMu dengannya. Ya Allah bimbinglah ia dan kedua wakilnya kepada perkara yang mendatangkan kebaikan bagi Islam dan kaum muslimin, dan kebaikan bagi negeri dan rakyat wahai penguasa alam semesta. Ya Allah menangkanlah tentara kami yang berjaga di wilayah perbatasan, ya Allah jitukanlah tembakan mereka, kuatkan semangat mereka, dan menangkanlah mereka dengan pertolonganMu wahai penguasa alam semesta.  Ya Allah terimalah yang mati syahid diantara mereka, sembuhkanlah yang sakit diantara mereka, sembuhkanlah yang terluka diantara mereka. Ya Allah jagalah mereka dengan penjagaanmu untuk menjaga keluarga mereka, harta mereka, dan keturunan mereka.Ya Allah jagalah negeri ini  dengan penjagaanMu dan perhatikanlah dengan perhatianMu. Ya Allah barangsiapa yang menghendaki keburukan terhadap negeri ini maka sibukanlah keburukan tersebut pada dirinya, dan kembalikanlah keburukan mengenai lehernya, dan jadikanlah rencana buruknya untuk menghancurkannya, wahai yang Maha Kuat dan Maha Perkasa.Ya Allah sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari keburukannya dan kami menjadikanMu pelindung kami di hadapannya. Ya Allah atasilah ia dengan cara yang Engkau kehendaki.Ya Allah perbaikilah kondisi kaum muslimin dimanapun mereka berada. Ya Allah hilangkanlah penderitaan saudara-saudara kami di negeri Syam. Ya Allah yang mengangkat derajat, wahai yang memenuhi hajat, wahai yang mengabulkan doa, wahai yang menghilangkan penderitaan, hilangkanlah penderitaan mereka, sirnakanlah kesulitan mereka, peganglah urusan mereka, segerakanlah kelonggaran bagi mereka, dan satukanlah hati mereka.Wahai Tuhan kami, sungguh bencana semakin bertambah atas mereka, perkara mereka semakin sulit, mereka dizolimi, terusir, dan dieksploitasi, ya Allah wahai penolong orang-orang yang lemah, wahai penyelamat kaum mukminin, jadikanlah itu semua sebagai kunci pembuka kemenangan mereka.Ya Allah jagalah darah mereka, tutuplah aurot mereka, tenangkanlah hati mereka… Ya Allah sesungguhnya mereka kelaparan maka berilah makanan bagi mereka, sesungguhnya mereka tidak berpakaian maka pakaikanlah sandang mereka, sesungguhnya mereka terzolimi maka tolonglah mereka.Hamba-hamba Allah sekalian, sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian untuk bersholat dan bersalam kepada nabiNya, Allah berfirman :“Sesungguhnya Allah dan para malaikat bersholawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah dan bersalamlah kepadanya”Ya Allah curahkanlah sholawat dan salam kepada nabi kita Muhammad dan ridoilah khulafaa rasyidin yang telah mendapat petunjuk, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali dan seluruh para sahabat, dan ridoilah kami bersama mereka dengan kemuliaanmu wahai Dzat yang Maha Mulia…

Hari ‘Asyuro (10 muharrom)

خطبة الجمعة من المسجد النبوي 6محرم 1438 هـالخطيب الشيخ / عبد الله البعيجانمترجمة إلى اللغة الإندونيسيةKhotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 6 Muharam 1438 HKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Kami pun berlindung kepadaNya dari kejahatan diri kami dan keburukan perbuatan kami.Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang sesat jalan tidak akan ada yang dapat memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, aku pun bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [ آل عمران / 102]“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah secara sungguh-sungguh, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam (berserah diri kepada Allah)”. Qs Ali Imran : 102 يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا [ النساء / 1 ]“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Tuhan kalian yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan menciptakan dari padanya pasangannya, berikut membiakkan dari keduanya lelaki dan perempuan yang banyak. Takutlah kalian kepada Allah yang kalian meminta (atas namaNya) dan (jagalah) tali kekerabatan. Sesungguhnya Allah Maha mengawasi kalian”. Qs An-Nisa :1يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا (٧٠)يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا[ الأحزاب / 70-71]“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Dia memperbaiki amal perbuatan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasulNya, sungguh ia memperoleh keberuntungan yang besar”. Qs Al-Ahzab:70-71Selanjutnya :Aku pesankan kepada diriku dan kalian wahai hamba Allah untuk selalu bertakwa kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- dalam kesepian dan keramaian. Itulah pesan dari Allah kepada generasi umat terdahulu dan yang datang kemudian. Firman Allah :وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ [ النساء / 131]“Sungguh kami telah berpesan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan kepada kalian pula; Takutlah kalian kepada Allah”. Qs An-Nisa:131Ketahuilah –semoga kalian disayang Allah- bahwa waktu terus bergulir, tahun telah berlalu dan bergeser, yang telah lampau tidak akan kembali, setiap detik mengisyaratkan kepada Anda –wahai hamba Allah- akan datangnya tempo yang dijanjikan, yang menjadi saksi dan yang dipersaksikan, pun pula datangnya hari perpisahan dan dekatnya liang lahad.Optimalkanlah hidup Anda dan lakukanlah introspeksi diri sebelum urusan Anda dihisah (diaudit).وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا [ المزمل/20]“Apapun kebaikan yang kalian lakukan untuk diri kalian, akan kalian dapatkan di sisi Allah suatu balasan lebih baik dan pahala lebih besar”  Qs Al-Muzammil : 20Kaum muslimin sekalian.Kini kalian memasuki tahun baru; Tahun baru berawal dari bulan Muharam dan berakhir pada bulan haram (mulia). Selamat dan bahagialah kalian di awal bulan mulia ini dan di hari-hari berikutnya. Selamat dan berkah untuk kalian sepanjang waktu dan kesempatan di dalamnya.Bulan Muharam merupakan salah satu bulan mulia. Allah berfirman :إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ [ التوبة/36]“Sesungguhnya hitungan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan dalam kitab (ketetapan) Allah pada hari Dia ciptakan langit dan bumi; di antaranya ada empat bulan mulia, itulah agama yang lurus, maka janganlah kalian berbuat aniaya terhadap diri kalian di dalamnya”. Qs At-Taubah:36Abu Bakrah –radhiyallahu anhu- meriwayatkan bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” الزَّمَانُ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو القَعْدَةِ وَذُو الحِجَّةِ وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ، الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ “رواه البخاري ومسلم“Sesungguhnya zaman senantiasa berputar sesuai karakternya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun adalah dua belas bulan, di antaranya terdapat empat bulan mulia; yang tiga bulan berturut-turut, yaitu Dzul-Qa’dah, Dzul-Hijah dan Muharam, sedangkan satunya “Rajab” berada di antara bulan Jumada dan Sya’ban”.HR Bukhari dan Muslim.Sudah sepantasnya bagi seorang muslim menyambut tahun baru ini dengan ketaatan kepada Allah, patuh kepada perintahNya dan mempersiapkan diri untuk perjumpaan denganNya. Sepantasnya pula merasakan keagungan, kemuliaan dan kedudukan bulan ini. Itulah ketaatan yang dicari pahalanya dan diwaspadai hukuman karena meninggalkannya.Hasan Bashri –rahimahullah berkata, ” Sesungguhnya Allah membuka tahun dengan bulan mulia dan menutupnya dengan bulan mulia pula. Tidak ada bulan sesudah Ramadhan lebih agung di sisi Allah dari pada bulan Muharam (bulan yang mulia). Bulan ini (Muharam) disebut pula “Syahrullah Al-asham”karena kemuliaannya”.Para hamba Allah!Pembuat hukum syariat (As-Syari’) telah memotivasi kalian untuk berpuasa sunah pada bulan Muharam. Maka hendaklah kalian mendapatkan sebanyak mungkin porsi untuk meraih anugerah di dalamnya.Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :«أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ، بَعْدَ الْفَرِيضَةِ، صَلَاةُ اللَّيْلِ» رواه مسلم“Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa bulan Allah yang mulia (bulan Muharam), dan sebaik-baik shalat sesudah shalat fardhu adalah shalat malam”. HR Muslim.Kaum muslimin sekalian!Banyak di antara Ulama yang menguatkan pendapat bahwa bulan Muharam adalah bulan yang paling utama di antara bulan-bulan mulia lainnya. Mengingat kedudukan bulan Muharam yang demikian tinggi di hati para sahabat, maka mereka menjadikannya sebagai permulaan Kalender Tahun Hijriyah.Di masa pemerintahan Amirul-mukminin Umar Bin Khatab, beliau mengumpulkan kaum muslimin untuk diajak konsultasi tentang  dari manakah penanggalan itu dimulai ?    Ada yang berpendapat : Dimulai dari tanggal kelahiran Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.    Pendapat lain mengatakan : Dari hari diutusnya Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.    Ada pula yang mengatakan : Dari hijrah beliau –shallallahu alaihi wa sallam-.    Sebagian berpendapat : Dari wafat beliau –shallallahu alaihi wa sallam-.    Namun demikian, pendapat yang paling kuat menurut Umar Bin Khatab –radhiyallahu anhu- adalah “dimuali dari peristiwa hijrah Nabi”, yang merupakan peristiwa dimana Allah –subhanahu wa ta’ala- memisahkan antara kebenaran dengan kebatilan, di samping peristiwa itu merupakan tonggak sejarah berdirinya Institusi yang Independen bagi umat Islam.Setelah itu Umar Bin Khatab bermusyawarah dengan para sahabat lainnya tentang dari manakah tahun itu dimulai ?    Ada yang berpendapat, dari bulan Rabiul Awal, mengingat kedudukannya sebagai bulan di mana Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- berhijrah ke Madinah.    Ada yang mengatakan, di mulai dari bulan Ramadhan. Namun demikian akhirnya Umar Bin Khatab, Utsman Bin Afan dan Ali Bin Abi Thalib –radhiyallahu anhum ajmain- sepakat untuk memulainya dari bulan Muharam yang kemudian diterima oleh seluruh umat Islam secara aklamasi, mengingat kemuliaan bulan Muharam tersebut yang jatuh setelah bulan Dzul Hijah yang juga termasuk bulan mulia, dan letaknya pula setelah bulan di mana Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- membaiat kaum Anshar untuk berhijrah. Itulah sebabnya, bulan Muharam merupakan bulan yang paling berhak untuk diprioritaskan.Semoga Allah –subhanahu wa ta’ala- meridhai Umar dan seluruh sahabat. Kita memohon kepada Allah, kiranya dalam Tahun baru ini Dia memberikan kejayaan, kemantapan kondisi dan kemenangan yang gemilang bagi kaum muslimin, serta memadukan hati mereka, mempertemukan kalimat mereka dan menyatu-padukan barisan mereka.Wahai hamba Allah !Bukanlah untuk bersenda gurau, bermain, bercanda, makan, tidur dan bermalas-malan Anda diciptakan . . Maka bergeralah segera dan tinggalkanlah penyakit yang Anda Idap . . Rebutlah kesempatan sebelum pupus harapan . . Janganlah Anda seperti seseorang yang terlukis dalam senandung Penggembala :قطعت شهور العام لهوا وغفلة        ولم تحترم فيما أتين المحرماEngkau telah menahun dalam kelakar dan seloroh *** Lalai tak pedulikan telah menghampiri bulan suci nan muliaفلا رجبا وافيت فيه بحقه     ولا صمت شهر الصوم صوما متمماRajab pun engkau abaikan hak-haknya ***  Pun pula bulan Ramadhan tak sempurna engkau mempuasainya.ولا في ليالي عشر ذي الحجة الذي   مضى كنت قواما ولا كنت مُحرِماMalam-malam sepuluh Dzulhijah tenggelam begitu saja *** tanpa engkau sapa dengan ibadah malam atau berihram.فهل لك أن تمحو الذنوب بعبرة    وتبكي عليها حسرةً وتَنَدُّماMungkinkan air matamu berderai tuk menghapuskan noda dosa itu *** meratapi diri yang merana dibuatnya dengan penuh penyesalan.وتستقبل العام الجديد بتوبة      لعلك أن تمحو بها ما تقدماSambutlah Tahun Baru ini dengan suatu pertobatan *** Kiranya hanya dengan pertobatan akan terhapus dosa di masa silam.Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ ، وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ ، وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ [ المنافقون / 9-11]“Wahai orang-orang beriman, janganlah sampai melalaikanmu harta bendamu dan anak-anakmu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka itulah orang-orang yang merugi. Belanjakanlah sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadamu sebelum salah seorang di antara kamu kedatangan ajal kematian, nanti akan berkata : “Oh Tuhanku, dapatkan Engkau menunda aku barang sebentar, supaya aku bersedekah dan menjadi orang-orang yang saleh. Namun Allah tidak akan menunda seseorang yang telah jatuh tempo ajalnya. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. Qs Al-Munafiqun : 9-11Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepadaku dan kepada kalian berkat AL-Qur’an yang agung.*****Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikanNya. Puji syukur kepadaNya atas bimbingan dan karuniaNya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, sebagai pengagungan kepadaNya. Aku pun bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya yang selalu mengajak ke jalan yang diridhaiNya. Semoga shalawat dan salam tercurah sebanyak-banyaknya kepada nabi kita beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Kaum muslimin sekalian.Beberapa hari lagi kalian akan memasuki hari Asyura, yaitu hari ke sepuluh bulan Muharam. Suatu hari yang agung dan kemuliannya telah ada sejak dulu. Suatu hari yang istimewa dengan nilai-nilai sejarah dan religius, antara lain :Dianjurkan puasa di dalamnya. Nabi Musa –alaihissalam- puasa pada hari Asyura. Kaum Quraish juga puasa Asyura. Dan tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang di kota Madinah, beliau mendapati kaum yahudi berpuasa hari Asyuro. Dan tatkala tiba tahun berikutnya maka Nabipun berpuasa Asyuro dan memerintahkan untuk berpuasa Asyuro. Setelah itu datang kewajiban puasa bulan Ramadhan pada tahun tersebut, akhirnya kewajiban puasa Asyura dianulir (dibatalkan hukumnya) olehnya, namun menurut pendapat yang kuat tetap sunah berpuasa Asyura’.Disebutkan dalam Shahih Bukhari dari Ibnu Abbas –radhiyallahu anhuma- berkata :“Ketika Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- tiba di Madinah, beliau menyaksikan orang-orang Yahudi sedang berpuasa Asyura. Saat mereka ditanya, mereka pun menjawab : “Ini adalah hari di mana Allah memenangkan Nabi Musa dan Bani Israel atas Fir’aun. Kami berpuasa hari ini untuk mengagungkannya. Maka Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pun lalu bersabda :” نَحْنُ أوْلَى بِمُوْسَى مِنْكُمْ ، فَأمَرَ بِصَوْمِهِ ““Kami lebih berhak kepada Musa dari pada kalian. Lalu beliau memerintahkan untuk berpuasa Asyura”.Dari Ibnu Abbas –radhiyallahu anhuma- berkata :ما رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يتحرى صيام يوم فضَّله على غيره إلا هذا اليوم، يوم عاشوراء، وهذا الشهر يعني شهر رمضان“Aku tidak pernah melihat Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- mengincar puasa suatu hari yang lebih beliau utamakan atas hari-hari lain kecuali hari ini Asyura, dan bulan ini, yaitu bulan Ramadhan”.Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والسنة التي بعده، وصيام يوم عاشوراء أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله“Berpuasa hari Arafah, aku berharap kiranya Allah untuk menghapus (dosa) pada tahun sebelumnya dan tahun sesudahnya. Sedangkan berpuasa hari Asyura’, aku berharap kiranya Allah menghapus (dosa) pada tahun sebelumnya”.Nabi kita – shallallahu alaihi wa sallam- di akhir usianya mengabarkan bahwa orang-orang Yahudi akan menjadikan hari Asyura’ sebagai hari raya, maka beliau berketetapan hati untuk berpuasa pada hari kesembilan dan ke sepuluh tahun depan, hanya saja keinginan beliau tersebut terhalang oleh kematian.Dari Abdullah bin Abbas radhialahu ‘anhuma ia berkata, “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari Asyuro’ dan beliau memerintahkan para sahabat untuk juga berpuasa, maka para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya hari Asyuro’ adalah hari yang diagungkan oleh kaum yahudi dan kaum nasrani”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda ;“فَإِذَا كَانَ العَام الْمُقْبِل إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ”“Jika datang tahun depan inysa Allah kita akan berpuasa pada tanggal sembilan muharrom” (HR Muslim)Maka yang terbaik adalah berpuasa juga sehari sebelum hari Asyuro untuk menyelisihi kaum yahudi. Jika seseorang tidak mampu maka jangan sampai tidak mampu untuk puasa meskipun hanya hari Asyuro (10 Muharrom).Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “Keinginan Nabi untuk berpuasa pada tanggal 9 muharrom mengandung kemungkinan bahwa beliau tidak hanya puasa pada tanggal tersebut tapi menambahkannya pada tanggal 10, dalam rangka untuk kehati-hatian atau untuk menyelisihi kaum yahudi dan kaum nashrani. Dan kemungkinan yang kedua inilah yang lebih kuat”Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suka untuk menyamai ahlul kitab pada perkara-perkara yang tidak ada perintah kepada beliau sama sekali. Terutama jika perkara-perkara tersebut menyelisihi para penyembah berhala. Tatkala Mekah ditaklukan dan Islam semakin tersohor maka beliau juga suka untuk menyelisihi ahlul kitab sebagaimana telah valid dalam riwayat yang shahih. Dan perkara puasa Asyuro termasuk pada hal ini, beliau menyepakati kaum yahudi pada awalnya seraya berkata, “Kami lebih berhak kepada Musa dari pada kalian (wahai kaum yahudi)”, lalu kemudian beliau suka untuk menyelisihi kaum yahudi, maka beliau memerintahkan untuk menambah untuk berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya dalam rangka untuk menyelisihi mereka.Dan diantara keistimewaan hari ini, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya dan Allah membinasakan Fir’aun dan kaumnya. Oleh karenanya Nabi Musa dan bani Israil berpuasa pada hari tersebut untuk bersyukur kepada Allah. Lalu Nabi juga berpuasa pada hari tersebut untuk bersyukur kepada Allah.Maka kita mohon kepada Allah agar memudahkan kita untuk berpuasa pada hari tersebut dan agar Allah menolong pasukan kita yang bertugas di daerah perbatasan sebagaimana Allah menolong Muasa ‘alaihis salam atas Fir’aun dan kaumnya pada hari Asyuro’.Selanjutnya kaum muslimin sekalian, inilah keistimewaan-keistimewaan hari tersebut. Dan para pendusta telah membuat hadits-hadits palsu yang tidak datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat, dan para imam salam yang berkaitan dengan hari tersebut. Maka jadilah sebagian orang berlebih-lebihan dalam hari tersebut lalu mengadakan bid’ah ibadah-ibadah yang tidak disyari’atkan, dengan bersandar kepada dugaan-dugaan dan kesesatan-kesesatan yang mereka tidak terbimbing pada kebaikan dalam melaksanakan bid’ah-bid’ah tersebut.فَلَوْ كَانَ يَدْرِي يَوْمُ عَاشُورَاء       مَا كَانَ فِيْهِ مِنْ بَلاَءِمَا لاَحَ فَجْرُهُ وَلاَ اسْتَنَارَا   وَلاَ أَضَاءَتْ شَمْسُهُ نَهَارَاSeandainya hari Asyuro mengetahui apa yang terjadi padanya berupa bencana…Maka tidak akan terbit fajarnya dan tidak akan terang…dan tidak juga mataharinya akan menyinari siangnya…Syaikhul Islam rahimahullah berkata –yang isinya adalah-, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para khulafaa’ rasyidin tidak pernah menyari’atkan pada hari Asyuro apapun yang berkaitan dengan syi’ar kesedihan dan duka cita, dan tidak juga syi’ar kegembiraan dan kesenangan serta tidak juga perkara-perkara yang lainnya, seperti membuat makanan (yang enak) tidak seperti biasanya atau memakai pakaian baru atau mengeluarkan nafkah (belanjaan) lebih dari pada biasanya, atau membeli keperluan-keperluan selama setahun dibeli pada hari tersebut, atau melakukan ibadah yang khusus seperti sholat khusus hari tersebut, atau menyembelih atau menggunakan celak atau menggunakan semir atau mandi (khusus) atau saling berjabat tangan, atau saling mengunjungi, atau menziarahi mesjid-mesjid dan kuburan-kuburan, atau memakai pakaian berwarna hitam, atau menampar-nampar pipi, atau merobek-robek baju, dan yang semisalnya. Ini semua adalah termasuk bid’ah yang mungkar yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para khulafa rasyidin dan tidak juga dianjurkan  oleh seorangpun dari para imam kaum muslimin.Maka bertakwalah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah pada diri kalian dan agama kalian. Janganlah kalian berbuat-buat bid’ah dan merubah-rubah syari’at Allah. Allah telah menyerahkan amanah kepada kalian dan kalian adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan bagi manusia. Kalian telah diperingatkan dan kalian adalah umat yang tengah (moderat). Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggalkan kita di atas jalan yang terang benderang, malamnya seperti siangnya, tidak ada yang menyimpang darinya kecuali akan binasa. Barangsiapa yang mengada-ngadakan dalam urusan kita perkara (baru) yang bukan darinya maka akan tertolak, dan barangsiapa yang megerjakan suatu amalan yang tidak kami perintahkan maka tertolak. Allah tidaklah diibadahi kecuali dengan apa yang Allah syari’atkan melalui lisan NabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sunnah Nabi sudahlah cukup. Menambah-nambah sunnah nabi adalah bentuk berlebih-lebihan dan ekstrim, dan kurang dalam menjalankan sunnah adalah sikap memudah-mudahkan dan pelalaian.Dan cukup bagi kita firman Rob kita :الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian, dan Aku telah menyempurnakan nikmatKu dan Aku ridho Islam menjadi agama bagi kalian” (QS Al-Maidah : 3)Kita mohon kepada Allah agar menganugrahkan kepada kita sikap berpegang teguh dengan sunnah, dan berjalan diatas petunjuknya, dan menjauhkan kita dari bid’ah-bid’ah dan melindungi kita darinya. Agar Allah menjauhkan kita dari jalan-jalan orang-orang yang berlebih-lebihan atau sebaliknya yang kurang, dan agar Allah melapangkan dada-dada kita untuk menerima kebenaran dan menjadikan kita kaum yang tengah (moderat) dan seimbang, sesungguhnya Allah Yang Maha menguasainya dan maha berkuasa untuk mengabulkannya.Ya Allah muliakanlah Islam dan kaum muslimin, dan hinakanlah kesyirikan dan kaum musyrikin, dan menangkanlah hamba-hambaMu yang bertauhid, dan jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan tentram, demikian juga seluruh negeri-negeri kaum muslimin, Ya Allah berilah keamanan pada negeri kami dan luruskanlah para pemimpin dan waliyyul amr kami.Ya Allah bimbinglah pemimpin kami dengan bimbinganMu, kuatkanlah ia dengan penguatanMu, muliakanlah agamaMu dengannya. Ya Allah bimbinglah ia dan kedua wakilnya kepada perkara yang mendatangkan kebaikan bagi Islam dan kaum muslimin, dan kebaikan bagi negeri dan rakyat wahai penguasa alam semesta. Ya Allah menangkanlah tentara kami yang berjaga di wilayah perbatasan, ya Allah jitukanlah tembakan mereka, kuatkan semangat mereka, dan menangkanlah mereka dengan pertolonganMu wahai penguasa alam semesta.  Ya Allah terimalah yang mati syahid diantara mereka, sembuhkanlah yang sakit diantara mereka, sembuhkanlah yang terluka diantara mereka. Ya Allah jagalah mereka dengan penjagaanmu untuk menjaga keluarga mereka, harta mereka, dan keturunan mereka.Ya Allah jagalah negeri ini  dengan penjagaanMu dan perhatikanlah dengan perhatianMu. Ya Allah barangsiapa yang menghendaki keburukan terhadap negeri ini maka sibukanlah keburukan tersebut pada dirinya, dan kembalikanlah keburukan mengenai lehernya, dan jadikanlah rencana buruknya untuk menghancurkannya, wahai yang Maha Kuat dan Maha Perkasa.Ya Allah sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari keburukannya dan kami menjadikanMu pelindung kami di hadapannya. Ya Allah atasilah ia dengan cara yang Engkau kehendaki.Ya Allah perbaikilah kondisi kaum muslimin dimanapun mereka berada. Ya Allah hilangkanlah penderitaan saudara-saudara kami di negeri Syam. Ya Allah yang mengangkat derajat, wahai yang memenuhi hajat, wahai yang mengabulkan doa, wahai yang menghilangkan penderitaan, hilangkanlah penderitaan mereka, sirnakanlah kesulitan mereka, peganglah urusan mereka, segerakanlah kelonggaran bagi mereka, dan satukanlah hati mereka.Wahai Tuhan kami, sungguh bencana semakin bertambah atas mereka, perkara mereka semakin sulit, mereka dizolimi, terusir, dan dieksploitasi, ya Allah wahai penolong orang-orang yang lemah, wahai penyelamat kaum mukminin, jadikanlah itu semua sebagai kunci pembuka kemenangan mereka.Ya Allah jagalah darah mereka, tutuplah aurot mereka, tenangkanlah hati mereka… Ya Allah sesungguhnya mereka kelaparan maka berilah makanan bagi mereka, sesungguhnya mereka tidak berpakaian maka pakaikanlah sandang mereka, sesungguhnya mereka terzolimi maka tolonglah mereka.Hamba-hamba Allah sekalian, sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian untuk bersholat dan bersalam kepada nabiNya, Allah berfirman :“Sesungguhnya Allah dan para malaikat bersholawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah dan bersalamlah kepadanya”Ya Allah curahkanlah sholawat dan salam kepada nabi kita Muhammad dan ridoilah khulafaa rasyidin yang telah mendapat petunjuk, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali dan seluruh para sahabat, dan ridoilah kami bersama mereka dengan kemuliaanmu wahai Dzat yang Maha Mulia…
خطبة الجمعة من المسجد النبوي 6محرم 1438 هـالخطيب الشيخ / عبد الله البعيجانمترجمة إلى اللغة الإندونيسيةKhotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 6 Muharam 1438 HKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Kami pun berlindung kepadaNya dari kejahatan diri kami dan keburukan perbuatan kami.Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang sesat jalan tidak akan ada yang dapat memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, aku pun bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [ آل عمران / 102]“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah secara sungguh-sungguh, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam (berserah diri kepada Allah)”. Qs Ali Imran : 102 يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا [ النساء / 1 ]“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Tuhan kalian yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan menciptakan dari padanya pasangannya, berikut membiakkan dari keduanya lelaki dan perempuan yang banyak. Takutlah kalian kepada Allah yang kalian meminta (atas namaNya) dan (jagalah) tali kekerabatan. Sesungguhnya Allah Maha mengawasi kalian”. Qs An-Nisa :1يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا (٧٠)يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا[ الأحزاب / 70-71]“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Dia memperbaiki amal perbuatan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasulNya, sungguh ia memperoleh keberuntungan yang besar”. Qs Al-Ahzab:70-71Selanjutnya :Aku pesankan kepada diriku dan kalian wahai hamba Allah untuk selalu bertakwa kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- dalam kesepian dan keramaian. Itulah pesan dari Allah kepada generasi umat terdahulu dan yang datang kemudian. Firman Allah :وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ [ النساء / 131]“Sungguh kami telah berpesan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan kepada kalian pula; Takutlah kalian kepada Allah”. Qs An-Nisa:131Ketahuilah –semoga kalian disayang Allah- bahwa waktu terus bergulir, tahun telah berlalu dan bergeser, yang telah lampau tidak akan kembali, setiap detik mengisyaratkan kepada Anda –wahai hamba Allah- akan datangnya tempo yang dijanjikan, yang menjadi saksi dan yang dipersaksikan, pun pula datangnya hari perpisahan dan dekatnya liang lahad.Optimalkanlah hidup Anda dan lakukanlah introspeksi diri sebelum urusan Anda dihisah (diaudit).وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا [ المزمل/20]“Apapun kebaikan yang kalian lakukan untuk diri kalian, akan kalian dapatkan di sisi Allah suatu balasan lebih baik dan pahala lebih besar”  Qs Al-Muzammil : 20Kaum muslimin sekalian.Kini kalian memasuki tahun baru; Tahun baru berawal dari bulan Muharam dan berakhir pada bulan haram (mulia). Selamat dan bahagialah kalian di awal bulan mulia ini dan di hari-hari berikutnya. Selamat dan berkah untuk kalian sepanjang waktu dan kesempatan di dalamnya.Bulan Muharam merupakan salah satu bulan mulia. Allah berfirman :إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ [ التوبة/36]“Sesungguhnya hitungan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan dalam kitab (ketetapan) Allah pada hari Dia ciptakan langit dan bumi; di antaranya ada empat bulan mulia, itulah agama yang lurus, maka janganlah kalian berbuat aniaya terhadap diri kalian di dalamnya”. Qs At-Taubah:36Abu Bakrah –radhiyallahu anhu- meriwayatkan bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” الزَّمَانُ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو القَعْدَةِ وَذُو الحِجَّةِ وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ، الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ “رواه البخاري ومسلم“Sesungguhnya zaman senantiasa berputar sesuai karakternya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun adalah dua belas bulan, di antaranya terdapat empat bulan mulia; yang tiga bulan berturut-turut, yaitu Dzul-Qa’dah, Dzul-Hijah dan Muharam, sedangkan satunya “Rajab” berada di antara bulan Jumada dan Sya’ban”.HR Bukhari dan Muslim.Sudah sepantasnya bagi seorang muslim menyambut tahun baru ini dengan ketaatan kepada Allah, patuh kepada perintahNya dan mempersiapkan diri untuk perjumpaan denganNya. Sepantasnya pula merasakan keagungan, kemuliaan dan kedudukan bulan ini. Itulah ketaatan yang dicari pahalanya dan diwaspadai hukuman karena meninggalkannya.Hasan Bashri –rahimahullah berkata, ” Sesungguhnya Allah membuka tahun dengan bulan mulia dan menutupnya dengan bulan mulia pula. Tidak ada bulan sesudah Ramadhan lebih agung di sisi Allah dari pada bulan Muharam (bulan yang mulia). Bulan ini (Muharam) disebut pula “Syahrullah Al-asham”karena kemuliaannya”.Para hamba Allah!Pembuat hukum syariat (As-Syari’) telah memotivasi kalian untuk berpuasa sunah pada bulan Muharam. Maka hendaklah kalian mendapatkan sebanyak mungkin porsi untuk meraih anugerah di dalamnya.Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :«أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ، بَعْدَ الْفَرِيضَةِ، صَلَاةُ اللَّيْلِ» رواه مسلم“Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa bulan Allah yang mulia (bulan Muharam), dan sebaik-baik shalat sesudah shalat fardhu adalah shalat malam”. HR Muslim.Kaum muslimin sekalian!Banyak di antara Ulama yang menguatkan pendapat bahwa bulan Muharam adalah bulan yang paling utama di antara bulan-bulan mulia lainnya. Mengingat kedudukan bulan Muharam yang demikian tinggi di hati para sahabat, maka mereka menjadikannya sebagai permulaan Kalender Tahun Hijriyah.Di masa pemerintahan Amirul-mukminin Umar Bin Khatab, beliau mengumpulkan kaum muslimin untuk diajak konsultasi tentang  dari manakah penanggalan itu dimulai ?    Ada yang berpendapat : Dimulai dari tanggal kelahiran Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.    Pendapat lain mengatakan : Dari hari diutusnya Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.    Ada pula yang mengatakan : Dari hijrah beliau –shallallahu alaihi wa sallam-.    Sebagian berpendapat : Dari wafat beliau –shallallahu alaihi wa sallam-.    Namun demikian, pendapat yang paling kuat menurut Umar Bin Khatab –radhiyallahu anhu- adalah “dimuali dari peristiwa hijrah Nabi”, yang merupakan peristiwa dimana Allah –subhanahu wa ta’ala- memisahkan antara kebenaran dengan kebatilan, di samping peristiwa itu merupakan tonggak sejarah berdirinya Institusi yang Independen bagi umat Islam.Setelah itu Umar Bin Khatab bermusyawarah dengan para sahabat lainnya tentang dari manakah tahun itu dimulai ?    Ada yang berpendapat, dari bulan Rabiul Awal, mengingat kedudukannya sebagai bulan di mana Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- berhijrah ke Madinah.    Ada yang mengatakan, di mulai dari bulan Ramadhan. Namun demikian akhirnya Umar Bin Khatab, Utsman Bin Afan dan Ali Bin Abi Thalib –radhiyallahu anhum ajmain- sepakat untuk memulainya dari bulan Muharam yang kemudian diterima oleh seluruh umat Islam secara aklamasi, mengingat kemuliaan bulan Muharam tersebut yang jatuh setelah bulan Dzul Hijah yang juga termasuk bulan mulia, dan letaknya pula setelah bulan di mana Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- membaiat kaum Anshar untuk berhijrah. Itulah sebabnya, bulan Muharam merupakan bulan yang paling berhak untuk diprioritaskan.Semoga Allah –subhanahu wa ta’ala- meridhai Umar dan seluruh sahabat. Kita memohon kepada Allah, kiranya dalam Tahun baru ini Dia memberikan kejayaan, kemantapan kondisi dan kemenangan yang gemilang bagi kaum muslimin, serta memadukan hati mereka, mempertemukan kalimat mereka dan menyatu-padukan barisan mereka.Wahai hamba Allah !Bukanlah untuk bersenda gurau, bermain, bercanda, makan, tidur dan bermalas-malan Anda diciptakan . . Maka bergeralah segera dan tinggalkanlah penyakit yang Anda Idap . . Rebutlah kesempatan sebelum pupus harapan . . Janganlah Anda seperti seseorang yang terlukis dalam senandung Penggembala :قطعت شهور العام لهوا وغفلة        ولم تحترم فيما أتين المحرماEngkau telah menahun dalam kelakar dan seloroh *** Lalai tak pedulikan telah menghampiri bulan suci nan muliaفلا رجبا وافيت فيه بحقه     ولا صمت شهر الصوم صوما متمماRajab pun engkau abaikan hak-haknya ***  Pun pula bulan Ramadhan tak sempurna engkau mempuasainya.ولا في ليالي عشر ذي الحجة الذي   مضى كنت قواما ولا كنت مُحرِماMalam-malam sepuluh Dzulhijah tenggelam begitu saja *** tanpa engkau sapa dengan ibadah malam atau berihram.فهل لك أن تمحو الذنوب بعبرة    وتبكي عليها حسرةً وتَنَدُّماMungkinkan air matamu berderai tuk menghapuskan noda dosa itu *** meratapi diri yang merana dibuatnya dengan penuh penyesalan.وتستقبل العام الجديد بتوبة      لعلك أن تمحو بها ما تقدماSambutlah Tahun Baru ini dengan suatu pertobatan *** Kiranya hanya dengan pertobatan akan terhapus dosa di masa silam.Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ ، وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ ، وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ [ المنافقون / 9-11]“Wahai orang-orang beriman, janganlah sampai melalaikanmu harta bendamu dan anak-anakmu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka itulah orang-orang yang merugi. Belanjakanlah sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadamu sebelum salah seorang di antara kamu kedatangan ajal kematian, nanti akan berkata : “Oh Tuhanku, dapatkan Engkau menunda aku barang sebentar, supaya aku bersedekah dan menjadi orang-orang yang saleh. Namun Allah tidak akan menunda seseorang yang telah jatuh tempo ajalnya. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. Qs Al-Munafiqun : 9-11Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepadaku dan kepada kalian berkat AL-Qur’an yang agung.*****Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikanNya. Puji syukur kepadaNya atas bimbingan dan karuniaNya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, sebagai pengagungan kepadaNya. Aku pun bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya yang selalu mengajak ke jalan yang diridhaiNya. Semoga shalawat dan salam tercurah sebanyak-banyaknya kepada nabi kita beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Kaum muslimin sekalian.Beberapa hari lagi kalian akan memasuki hari Asyura, yaitu hari ke sepuluh bulan Muharam. Suatu hari yang agung dan kemuliannya telah ada sejak dulu. Suatu hari yang istimewa dengan nilai-nilai sejarah dan religius, antara lain :Dianjurkan puasa di dalamnya. Nabi Musa –alaihissalam- puasa pada hari Asyura. Kaum Quraish juga puasa Asyura. Dan tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang di kota Madinah, beliau mendapati kaum yahudi berpuasa hari Asyuro. Dan tatkala tiba tahun berikutnya maka Nabipun berpuasa Asyuro dan memerintahkan untuk berpuasa Asyuro. Setelah itu datang kewajiban puasa bulan Ramadhan pada tahun tersebut, akhirnya kewajiban puasa Asyura dianulir (dibatalkan hukumnya) olehnya, namun menurut pendapat yang kuat tetap sunah berpuasa Asyura’.Disebutkan dalam Shahih Bukhari dari Ibnu Abbas –radhiyallahu anhuma- berkata :“Ketika Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- tiba di Madinah, beliau menyaksikan orang-orang Yahudi sedang berpuasa Asyura. Saat mereka ditanya, mereka pun menjawab : “Ini adalah hari di mana Allah memenangkan Nabi Musa dan Bani Israel atas Fir’aun. Kami berpuasa hari ini untuk mengagungkannya. Maka Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pun lalu bersabda :” نَحْنُ أوْلَى بِمُوْسَى مِنْكُمْ ، فَأمَرَ بِصَوْمِهِ ““Kami lebih berhak kepada Musa dari pada kalian. Lalu beliau memerintahkan untuk berpuasa Asyura”.Dari Ibnu Abbas –radhiyallahu anhuma- berkata :ما رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يتحرى صيام يوم فضَّله على غيره إلا هذا اليوم، يوم عاشوراء، وهذا الشهر يعني شهر رمضان“Aku tidak pernah melihat Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- mengincar puasa suatu hari yang lebih beliau utamakan atas hari-hari lain kecuali hari ini Asyura, dan bulan ini, yaitu bulan Ramadhan”.Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والسنة التي بعده، وصيام يوم عاشوراء أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله“Berpuasa hari Arafah, aku berharap kiranya Allah untuk menghapus (dosa) pada tahun sebelumnya dan tahun sesudahnya. Sedangkan berpuasa hari Asyura’, aku berharap kiranya Allah menghapus (dosa) pada tahun sebelumnya”.Nabi kita – shallallahu alaihi wa sallam- di akhir usianya mengabarkan bahwa orang-orang Yahudi akan menjadikan hari Asyura’ sebagai hari raya, maka beliau berketetapan hati untuk berpuasa pada hari kesembilan dan ke sepuluh tahun depan, hanya saja keinginan beliau tersebut terhalang oleh kematian.Dari Abdullah bin Abbas radhialahu ‘anhuma ia berkata, “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari Asyuro’ dan beliau memerintahkan para sahabat untuk juga berpuasa, maka para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya hari Asyuro’ adalah hari yang diagungkan oleh kaum yahudi dan kaum nasrani”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda ;“فَإِذَا كَانَ العَام الْمُقْبِل إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ”“Jika datang tahun depan inysa Allah kita akan berpuasa pada tanggal sembilan muharrom” (HR Muslim)Maka yang terbaik adalah berpuasa juga sehari sebelum hari Asyuro untuk menyelisihi kaum yahudi. Jika seseorang tidak mampu maka jangan sampai tidak mampu untuk puasa meskipun hanya hari Asyuro (10 Muharrom).Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “Keinginan Nabi untuk berpuasa pada tanggal 9 muharrom mengandung kemungkinan bahwa beliau tidak hanya puasa pada tanggal tersebut tapi menambahkannya pada tanggal 10, dalam rangka untuk kehati-hatian atau untuk menyelisihi kaum yahudi dan kaum nashrani. Dan kemungkinan yang kedua inilah yang lebih kuat”Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suka untuk menyamai ahlul kitab pada perkara-perkara yang tidak ada perintah kepada beliau sama sekali. Terutama jika perkara-perkara tersebut menyelisihi para penyembah berhala. Tatkala Mekah ditaklukan dan Islam semakin tersohor maka beliau juga suka untuk menyelisihi ahlul kitab sebagaimana telah valid dalam riwayat yang shahih. Dan perkara puasa Asyuro termasuk pada hal ini, beliau menyepakati kaum yahudi pada awalnya seraya berkata, “Kami lebih berhak kepada Musa dari pada kalian (wahai kaum yahudi)”, lalu kemudian beliau suka untuk menyelisihi kaum yahudi, maka beliau memerintahkan untuk menambah untuk berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya dalam rangka untuk menyelisihi mereka.Dan diantara keistimewaan hari ini, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya dan Allah membinasakan Fir’aun dan kaumnya. Oleh karenanya Nabi Musa dan bani Israil berpuasa pada hari tersebut untuk bersyukur kepada Allah. Lalu Nabi juga berpuasa pada hari tersebut untuk bersyukur kepada Allah.Maka kita mohon kepada Allah agar memudahkan kita untuk berpuasa pada hari tersebut dan agar Allah menolong pasukan kita yang bertugas di daerah perbatasan sebagaimana Allah menolong Muasa ‘alaihis salam atas Fir’aun dan kaumnya pada hari Asyuro’.Selanjutnya kaum muslimin sekalian, inilah keistimewaan-keistimewaan hari tersebut. Dan para pendusta telah membuat hadits-hadits palsu yang tidak datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat, dan para imam salam yang berkaitan dengan hari tersebut. Maka jadilah sebagian orang berlebih-lebihan dalam hari tersebut lalu mengadakan bid’ah ibadah-ibadah yang tidak disyari’atkan, dengan bersandar kepada dugaan-dugaan dan kesesatan-kesesatan yang mereka tidak terbimbing pada kebaikan dalam melaksanakan bid’ah-bid’ah tersebut.فَلَوْ كَانَ يَدْرِي يَوْمُ عَاشُورَاء       مَا كَانَ فِيْهِ مِنْ بَلاَءِمَا لاَحَ فَجْرُهُ وَلاَ اسْتَنَارَا   وَلاَ أَضَاءَتْ شَمْسُهُ نَهَارَاSeandainya hari Asyuro mengetahui apa yang terjadi padanya berupa bencana…Maka tidak akan terbit fajarnya dan tidak akan terang…dan tidak juga mataharinya akan menyinari siangnya…Syaikhul Islam rahimahullah berkata –yang isinya adalah-, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para khulafaa’ rasyidin tidak pernah menyari’atkan pada hari Asyuro apapun yang berkaitan dengan syi’ar kesedihan dan duka cita, dan tidak juga syi’ar kegembiraan dan kesenangan serta tidak juga perkara-perkara yang lainnya, seperti membuat makanan (yang enak) tidak seperti biasanya atau memakai pakaian baru atau mengeluarkan nafkah (belanjaan) lebih dari pada biasanya, atau membeli keperluan-keperluan selama setahun dibeli pada hari tersebut, atau melakukan ibadah yang khusus seperti sholat khusus hari tersebut, atau menyembelih atau menggunakan celak atau menggunakan semir atau mandi (khusus) atau saling berjabat tangan, atau saling mengunjungi, atau menziarahi mesjid-mesjid dan kuburan-kuburan, atau memakai pakaian berwarna hitam, atau menampar-nampar pipi, atau merobek-robek baju, dan yang semisalnya. Ini semua adalah termasuk bid’ah yang mungkar yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para khulafa rasyidin dan tidak juga dianjurkan  oleh seorangpun dari para imam kaum muslimin.Maka bertakwalah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah pada diri kalian dan agama kalian. Janganlah kalian berbuat-buat bid’ah dan merubah-rubah syari’at Allah. Allah telah menyerahkan amanah kepada kalian dan kalian adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan bagi manusia. Kalian telah diperingatkan dan kalian adalah umat yang tengah (moderat). Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggalkan kita di atas jalan yang terang benderang, malamnya seperti siangnya, tidak ada yang menyimpang darinya kecuali akan binasa. Barangsiapa yang mengada-ngadakan dalam urusan kita perkara (baru) yang bukan darinya maka akan tertolak, dan barangsiapa yang megerjakan suatu amalan yang tidak kami perintahkan maka tertolak. Allah tidaklah diibadahi kecuali dengan apa yang Allah syari’atkan melalui lisan NabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sunnah Nabi sudahlah cukup. Menambah-nambah sunnah nabi adalah bentuk berlebih-lebihan dan ekstrim, dan kurang dalam menjalankan sunnah adalah sikap memudah-mudahkan dan pelalaian.Dan cukup bagi kita firman Rob kita :الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian, dan Aku telah menyempurnakan nikmatKu dan Aku ridho Islam menjadi agama bagi kalian” (QS Al-Maidah : 3)Kita mohon kepada Allah agar menganugrahkan kepada kita sikap berpegang teguh dengan sunnah, dan berjalan diatas petunjuknya, dan menjauhkan kita dari bid’ah-bid’ah dan melindungi kita darinya. Agar Allah menjauhkan kita dari jalan-jalan orang-orang yang berlebih-lebihan atau sebaliknya yang kurang, dan agar Allah melapangkan dada-dada kita untuk menerima kebenaran dan menjadikan kita kaum yang tengah (moderat) dan seimbang, sesungguhnya Allah Yang Maha menguasainya dan maha berkuasa untuk mengabulkannya.Ya Allah muliakanlah Islam dan kaum muslimin, dan hinakanlah kesyirikan dan kaum musyrikin, dan menangkanlah hamba-hambaMu yang bertauhid, dan jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan tentram, demikian juga seluruh negeri-negeri kaum muslimin, Ya Allah berilah keamanan pada negeri kami dan luruskanlah para pemimpin dan waliyyul amr kami.Ya Allah bimbinglah pemimpin kami dengan bimbinganMu, kuatkanlah ia dengan penguatanMu, muliakanlah agamaMu dengannya. Ya Allah bimbinglah ia dan kedua wakilnya kepada perkara yang mendatangkan kebaikan bagi Islam dan kaum muslimin, dan kebaikan bagi negeri dan rakyat wahai penguasa alam semesta. Ya Allah menangkanlah tentara kami yang berjaga di wilayah perbatasan, ya Allah jitukanlah tembakan mereka, kuatkan semangat mereka, dan menangkanlah mereka dengan pertolonganMu wahai penguasa alam semesta.  Ya Allah terimalah yang mati syahid diantara mereka, sembuhkanlah yang sakit diantara mereka, sembuhkanlah yang terluka diantara mereka. Ya Allah jagalah mereka dengan penjagaanmu untuk menjaga keluarga mereka, harta mereka, dan keturunan mereka.Ya Allah jagalah negeri ini  dengan penjagaanMu dan perhatikanlah dengan perhatianMu. Ya Allah barangsiapa yang menghendaki keburukan terhadap negeri ini maka sibukanlah keburukan tersebut pada dirinya, dan kembalikanlah keburukan mengenai lehernya, dan jadikanlah rencana buruknya untuk menghancurkannya, wahai yang Maha Kuat dan Maha Perkasa.Ya Allah sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari keburukannya dan kami menjadikanMu pelindung kami di hadapannya. Ya Allah atasilah ia dengan cara yang Engkau kehendaki.Ya Allah perbaikilah kondisi kaum muslimin dimanapun mereka berada. Ya Allah hilangkanlah penderitaan saudara-saudara kami di negeri Syam. Ya Allah yang mengangkat derajat, wahai yang memenuhi hajat, wahai yang mengabulkan doa, wahai yang menghilangkan penderitaan, hilangkanlah penderitaan mereka, sirnakanlah kesulitan mereka, peganglah urusan mereka, segerakanlah kelonggaran bagi mereka, dan satukanlah hati mereka.Wahai Tuhan kami, sungguh bencana semakin bertambah atas mereka, perkara mereka semakin sulit, mereka dizolimi, terusir, dan dieksploitasi, ya Allah wahai penolong orang-orang yang lemah, wahai penyelamat kaum mukminin, jadikanlah itu semua sebagai kunci pembuka kemenangan mereka.Ya Allah jagalah darah mereka, tutuplah aurot mereka, tenangkanlah hati mereka… Ya Allah sesungguhnya mereka kelaparan maka berilah makanan bagi mereka, sesungguhnya mereka tidak berpakaian maka pakaikanlah sandang mereka, sesungguhnya mereka terzolimi maka tolonglah mereka.Hamba-hamba Allah sekalian, sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian untuk bersholat dan bersalam kepada nabiNya, Allah berfirman :“Sesungguhnya Allah dan para malaikat bersholawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah dan bersalamlah kepadanya”Ya Allah curahkanlah sholawat dan salam kepada nabi kita Muhammad dan ridoilah khulafaa rasyidin yang telah mendapat petunjuk, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali dan seluruh para sahabat, dan ridoilah kami bersama mereka dengan kemuliaanmu wahai Dzat yang Maha Mulia…


خطبة الجمعة من المسجد النبوي 6محرم 1438 هـالخطيب الشيخ / عبد الله البعيجانمترجمة إلى اللغة الإندونيسيةKhotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 6 Muharam 1438 HKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolonganNya dan ampunanNya. Kami pun berlindung kepadaNya dari kejahatan diri kami dan keburukan perbuatan kami.Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang sesat jalan tidak akan ada yang dapat memberinya petunjuk.Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, aku pun bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [ آل عمران / 102]“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah secara sungguh-sungguh, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam (berserah diri kepada Allah)”. Qs Ali Imran : 102 يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا [ النساء / 1 ]“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Tuhan kalian yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan menciptakan dari padanya pasangannya, berikut membiakkan dari keduanya lelaki dan perempuan yang banyak. Takutlah kalian kepada Allah yang kalian meminta (atas namaNya) dan (jagalah) tali kekerabatan. Sesungguhnya Allah Maha mengawasi kalian”. Qs An-Nisa :1يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا (٧٠)يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا[ الأحزاب / 70-71]“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Dia memperbaiki amal perbuatan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasulNya, sungguh ia memperoleh keberuntungan yang besar”. Qs Al-Ahzab:70-71Selanjutnya :Aku pesankan kepada diriku dan kalian wahai hamba Allah untuk selalu bertakwa kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- dalam kesepian dan keramaian. Itulah pesan dari Allah kepada generasi umat terdahulu dan yang datang kemudian. Firman Allah :وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ [ النساء / 131]“Sungguh kami telah berpesan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan kepada kalian pula; Takutlah kalian kepada Allah”. Qs An-Nisa:131Ketahuilah –semoga kalian disayang Allah- bahwa waktu terus bergulir, tahun telah berlalu dan bergeser, yang telah lampau tidak akan kembali, setiap detik mengisyaratkan kepada Anda –wahai hamba Allah- akan datangnya tempo yang dijanjikan, yang menjadi saksi dan yang dipersaksikan, pun pula datangnya hari perpisahan dan dekatnya liang lahad.Optimalkanlah hidup Anda dan lakukanlah introspeksi diri sebelum urusan Anda dihisah (diaudit).وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا [ المزمل/20]“Apapun kebaikan yang kalian lakukan untuk diri kalian, akan kalian dapatkan di sisi Allah suatu balasan lebih baik dan pahala lebih besar”  Qs Al-Muzammil : 20Kaum muslimin sekalian.Kini kalian memasuki tahun baru; Tahun baru berawal dari bulan Muharam dan berakhir pada bulan haram (mulia). Selamat dan bahagialah kalian di awal bulan mulia ini dan di hari-hari berikutnya. Selamat dan berkah untuk kalian sepanjang waktu dan kesempatan di dalamnya.Bulan Muharam merupakan salah satu bulan mulia. Allah berfirman :إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ [ التوبة/36]“Sesungguhnya hitungan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan dalam kitab (ketetapan) Allah pada hari Dia ciptakan langit dan bumi; di antaranya ada empat bulan mulia, itulah agama yang lurus, maka janganlah kalian berbuat aniaya terhadap diri kalian di dalamnya”. Qs At-Taubah:36Abu Bakrah –radhiyallahu anhu- meriwayatkan bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” الزَّمَانُ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو القَعْدَةِ وَذُو الحِجَّةِ وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ، الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ “رواه البخاري ومسلم“Sesungguhnya zaman senantiasa berputar sesuai karakternya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun adalah dua belas bulan, di antaranya terdapat empat bulan mulia; yang tiga bulan berturut-turut, yaitu Dzul-Qa’dah, Dzul-Hijah dan Muharam, sedangkan satunya “Rajab” berada di antara bulan Jumada dan Sya’ban”.HR Bukhari dan Muslim.Sudah sepantasnya bagi seorang muslim menyambut tahun baru ini dengan ketaatan kepada Allah, patuh kepada perintahNya dan mempersiapkan diri untuk perjumpaan denganNya. Sepantasnya pula merasakan keagungan, kemuliaan dan kedudukan bulan ini. Itulah ketaatan yang dicari pahalanya dan diwaspadai hukuman karena meninggalkannya.Hasan Bashri –rahimahullah berkata, ” Sesungguhnya Allah membuka tahun dengan bulan mulia dan menutupnya dengan bulan mulia pula. Tidak ada bulan sesudah Ramadhan lebih agung di sisi Allah dari pada bulan Muharam (bulan yang mulia). Bulan ini (Muharam) disebut pula “Syahrullah Al-asham”karena kemuliaannya”.Para hamba Allah!Pembuat hukum syariat (As-Syari’) telah memotivasi kalian untuk berpuasa sunah pada bulan Muharam. Maka hendaklah kalian mendapatkan sebanyak mungkin porsi untuk meraih anugerah di dalamnya.Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :«أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ، بَعْدَ الْفَرِيضَةِ، صَلَاةُ اللَّيْلِ» رواه مسلم“Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa bulan Allah yang mulia (bulan Muharam), dan sebaik-baik shalat sesudah shalat fardhu adalah shalat malam”. HR Muslim.Kaum muslimin sekalian!Banyak di antara Ulama yang menguatkan pendapat bahwa bulan Muharam adalah bulan yang paling utama di antara bulan-bulan mulia lainnya. Mengingat kedudukan bulan Muharam yang demikian tinggi di hati para sahabat, maka mereka menjadikannya sebagai permulaan Kalender Tahun Hijriyah.Di masa pemerintahan Amirul-mukminin Umar Bin Khatab, beliau mengumpulkan kaum muslimin untuk diajak konsultasi tentang  dari manakah penanggalan itu dimulai ?    Ada yang berpendapat : Dimulai dari tanggal kelahiran Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.    Pendapat lain mengatakan : Dari hari diutusnya Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.    Ada pula yang mengatakan : Dari hijrah beliau –shallallahu alaihi wa sallam-.    Sebagian berpendapat : Dari wafat beliau –shallallahu alaihi wa sallam-.    Namun demikian, pendapat yang paling kuat menurut Umar Bin Khatab –radhiyallahu anhu- adalah “dimuali dari peristiwa hijrah Nabi”, yang merupakan peristiwa dimana Allah –subhanahu wa ta’ala- memisahkan antara kebenaran dengan kebatilan, di samping peristiwa itu merupakan tonggak sejarah berdirinya Institusi yang Independen bagi umat Islam.Setelah itu Umar Bin Khatab bermusyawarah dengan para sahabat lainnya tentang dari manakah tahun itu dimulai ?    Ada yang berpendapat, dari bulan Rabiul Awal, mengingat kedudukannya sebagai bulan di mana Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- berhijrah ke Madinah.    Ada yang mengatakan, di mulai dari bulan Ramadhan. Namun demikian akhirnya Umar Bin Khatab, Utsman Bin Afan dan Ali Bin Abi Thalib –radhiyallahu anhum ajmain- sepakat untuk memulainya dari bulan Muharam yang kemudian diterima oleh seluruh umat Islam secara aklamasi, mengingat kemuliaan bulan Muharam tersebut yang jatuh setelah bulan Dzul Hijah yang juga termasuk bulan mulia, dan letaknya pula setelah bulan di mana Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- membaiat kaum Anshar untuk berhijrah. Itulah sebabnya, bulan Muharam merupakan bulan yang paling berhak untuk diprioritaskan.Semoga Allah –subhanahu wa ta’ala- meridhai Umar dan seluruh sahabat. Kita memohon kepada Allah, kiranya dalam Tahun baru ini Dia memberikan kejayaan, kemantapan kondisi dan kemenangan yang gemilang bagi kaum muslimin, serta memadukan hati mereka, mempertemukan kalimat mereka dan menyatu-padukan barisan mereka.Wahai hamba Allah !Bukanlah untuk bersenda gurau, bermain, bercanda, makan, tidur dan bermalas-malan Anda diciptakan . . Maka bergeralah segera dan tinggalkanlah penyakit yang Anda Idap . . Rebutlah kesempatan sebelum pupus harapan . . Janganlah Anda seperti seseorang yang terlukis dalam senandung Penggembala :قطعت شهور العام لهوا وغفلة        ولم تحترم فيما أتين المحرماEngkau telah menahun dalam kelakar dan seloroh *** Lalai tak pedulikan telah menghampiri bulan suci nan muliaفلا رجبا وافيت فيه بحقه     ولا صمت شهر الصوم صوما متمماRajab pun engkau abaikan hak-haknya ***  Pun pula bulan Ramadhan tak sempurna engkau mempuasainya.ولا في ليالي عشر ذي الحجة الذي   مضى كنت قواما ولا كنت مُحرِماMalam-malam sepuluh Dzulhijah tenggelam begitu saja *** tanpa engkau sapa dengan ibadah malam atau berihram.فهل لك أن تمحو الذنوب بعبرة    وتبكي عليها حسرةً وتَنَدُّماMungkinkan air matamu berderai tuk menghapuskan noda dosa itu *** meratapi diri yang merana dibuatnya dengan penuh penyesalan.وتستقبل العام الجديد بتوبة      لعلك أن تمحو بها ما تقدماSambutlah Tahun Baru ini dengan suatu pertobatan *** Kiranya hanya dengan pertobatan akan terhapus dosa di masa silam.Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ ، وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ ، وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ [ المنافقون / 9-11]“Wahai orang-orang beriman, janganlah sampai melalaikanmu harta bendamu dan anak-anakmu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka itulah orang-orang yang merugi. Belanjakanlah sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadamu sebelum salah seorang di antara kamu kedatangan ajal kematian, nanti akan berkata : “Oh Tuhanku, dapatkan Engkau menunda aku barang sebentar, supaya aku bersedekah dan menjadi orang-orang yang saleh. Namun Allah tidak akan menunda seseorang yang telah jatuh tempo ajalnya. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. Qs Al-Munafiqun : 9-11Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepadaku dan kepada kalian berkat AL-Qur’an yang agung.*****Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikanNya. Puji syukur kepadaNya atas bimbingan dan karuniaNya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, sebagai pengagungan kepadaNya. Aku pun bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya yang selalu mengajak ke jalan yang diridhaiNya. Semoga shalawat dan salam tercurah sebanyak-banyaknya kepada nabi kita beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Kaum muslimin sekalian.Beberapa hari lagi kalian akan memasuki hari Asyura, yaitu hari ke sepuluh bulan Muharam. Suatu hari yang agung dan kemuliannya telah ada sejak dulu. Suatu hari yang istimewa dengan nilai-nilai sejarah dan religius, antara lain :Dianjurkan puasa di dalamnya. Nabi Musa –alaihissalam- puasa pada hari Asyura. Kaum Quraish juga puasa Asyura. Dan tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang di kota Madinah, beliau mendapati kaum yahudi berpuasa hari Asyuro. Dan tatkala tiba tahun berikutnya maka Nabipun berpuasa Asyuro dan memerintahkan untuk berpuasa Asyuro. Setelah itu datang kewajiban puasa bulan Ramadhan pada tahun tersebut, akhirnya kewajiban puasa Asyura dianulir (dibatalkan hukumnya) olehnya, namun menurut pendapat yang kuat tetap sunah berpuasa Asyura’.Disebutkan dalam Shahih Bukhari dari Ibnu Abbas –radhiyallahu anhuma- berkata :“Ketika Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- tiba di Madinah, beliau menyaksikan orang-orang Yahudi sedang berpuasa Asyura. Saat mereka ditanya, mereka pun menjawab : “Ini adalah hari di mana Allah memenangkan Nabi Musa dan Bani Israel atas Fir’aun. Kami berpuasa hari ini untuk mengagungkannya. Maka Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- pun lalu bersabda :” نَحْنُ أوْلَى بِمُوْسَى مِنْكُمْ ، فَأمَرَ بِصَوْمِهِ ““Kami lebih berhak kepada Musa dari pada kalian. Lalu beliau memerintahkan untuk berpuasa Asyura”.Dari Ibnu Abbas –radhiyallahu anhuma- berkata :ما رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يتحرى صيام يوم فضَّله على غيره إلا هذا اليوم، يوم عاشوراء، وهذا الشهر يعني شهر رمضان“Aku tidak pernah melihat Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- mengincar puasa suatu hari yang lebih beliau utamakan atas hari-hari lain kecuali hari ini Asyura, dan bulan ini, yaitu bulan Ramadhan”.Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والسنة التي بعده، وصيام يوم عاشوراء أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله“Berpuasa hari Arafah, aku berharap kiranya Allah untuk menghapus (dosa) pada tahun sebelumnya dan tahun sesudahnya. Sedangkan berpuasa hari Asyura’, aku berharap kiranya Allah menghapus (dosa) pada tahun sebelumnya”.Nabi kita – shallallahu alaihi wa sallam- di akhir usianya mengabarkan bahwa orang-orang Yahudi akan menjadikan hari Asyura’ sebagai hari raya, maka beliau berketetapan hati untuk berpuasa pada hari kesembilan dan ke sepuluh tahun depan, hanya saja keinginan beliau tersebut terhalang oleh kematian.Dari Abdullah bin Abbas radhialahu ‘anhuma ia berkata, “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari Asyuro’ dan beliau memerintahkan para sahabat untuk juga berpuasa, maka para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya hari Asyuro’ adalah hari yang diagungkan oleh kaum yahudi dan kaum nasrani”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda ;“فَإِذَا كَانَ العَام الْمُقْبِل إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ”“Jika datang tahun depan inysa Allah kita akan berpuasa pada tanggal sembilan muharrom” (HR Muslim)Maka yang terbaik adalah berpuasa juga sehari sebelum hari Asyuro untuk menyelisihi kaum yahudi. Jika seseorang tidak mampu maka jangan sampai tidak mampu untuk puasa meskipun hanya hari Asyuro (10 Muharrom).Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “Keinginan Nabi untuk berpuasa pada tanggal 9 muharrom mengandung kemungkinan bahwa beliau tidak hanya puasa pada tanggal tersebut tapi menambahkannya pada tanggal 10, dalam rangka untuk kehati-hatian atau untuk menyelisihi kaum yahudi dan kaum nashrani. Dan kemungkinan yang kedua inilah yang lebih kuat”Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suka untuk menyamai ahlul kitab pada perkara-perkara yang tidak ada perintah kepada beliau sama sekali. Terutama jika perkara-perkara tersebut menyelisihi para penyembah berhala. Tatkala Mekah ditaklukan dan Islam semakin tersohor maka beliau juga suka untuk menyelisihi ahlul kitab sebagaimana telah valid dalam riwayat yang shahih. Dan perkara puasa Asyuro termasuk pada hal ini, beliau menyepakati kaum yahudi pada awalnya seraya berkata, “Kami lebih berhak kepada Musa dari pada kalian (wahai kaum yahudi)”, lalu kemudian beliau suka untuk menyelisihi kaum yahudi, maka beliau memerintahkan untuk menambah untuk berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya dalam rangka untuk menyelisihi mereka.Dan diantara keistimewaan hari ini, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya dan Allah membinasakan Fir’aun dan kaumnya. Oleh karenanya Nabi Musa dan bani Israil berpuasa pada hari tersebut untuk bersyukur kepada Allah. Lalu Nabi juga berpuasa pada hari tersebut untuk bersyukur kepada Allah.Maka kita mohon kepada Allah agar memudahkan kita untuk berpuasa pada hari tersebut dan agar Allah menolong pasukan kita yang bertugas di daerah perbatasan sebagaimana Allah menolong Muasa ‘alaihis salam atas Fir’aun dan kaumnya pada hari Asyuro’.Selanjutnya kaum muslimin sekalian, inilah keistimewaan-keistimewaan hari tersebut. Dan para pendusta telah membuat hadits-hadits palsu yang tidak datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat, dan para imam salam yang berkaitan dengan hari tersebut. Maka jadilah sebagian orang berlebih-lebihan dalam hari tersebut lalu mengadakan bid’ah ibadah-ibadah yang tidak disyari’atkan, dengan bersandar kepada dugaan-dugaan dan kesesatan-kesesatan yang mereka tidak terbimbing pada kebaikan dalam melaksanakan bid’ah-bid’ah tersebut.فَلَوْ كَانَ يَدْرِي يَوْمُ عَاشُورَاء       مَا كَانَ فِيْهِ مِنْ بَلاَءِمَا لاَحَ فَجْرُهُ وَلاَ اسْتَنَارَا   وَلاَ أَضَاءَتْ شَمْسُهُ نَهَارَاSeandainya hari Asyuro mengetahui apa yang terjadi padanya berupa bencana…Maka tidak akan terbit fajarnya dan tidak akan terang…dan tidak juga mataharinya akan menyinari siangnya…Syaikhul Islam rahimahullah berkata –yang isinya adalah-, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para khulafaa’ rasyidin tidak pernah menyari’atkan pada hari Asyuro apapun yang berkaitan dengan syi’ar kesedihan dan duka cita, dan tidak juga syi’ar kegembiraan dan kesenangan serta tidak juga perkara-perkara yang lainnya, seperti membuat makanan (yang enak) tidak seperti biasanya atau memakai pakaian baru atau mengeluarkan nafkah (belanjaan) lebih dari pada biasanya, atau membeli keperluan-keperluan selama setahun dibeli pada hari tersebut, atau melakukan ibadah yang khusus seperti sholat khusus hari tersebut, atau menyembelih atau menggunakan celak atau menggunakan semir atau mandi (khusus) atau saling berjabat tangan, atau saling mengunjungi, atau menziarahi mesjid-mesjid dan kuburan-kuburan, atau memakai pakaian berwarna hitam, atau menampar-nampar pipi, atau merobek-robek baju, dan yang semisalnya. Ini semua adalah termasuk bid’ah yang mungkar yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para khulafa rasyidin dan tidak juga dianjurkan  oleh seorangpun dari para imam kaum muslimin.Maka bertakwalah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah pada diri kalian dan agama kalian. Janganlah kalian berbuat-buat bid’ah dan merubah-rubah syari’at Allah. Allah telah menyerahkan amanah kepada kalian dan kalian adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan bagi manusia. Kalian telah diperingatkan dan kalian adalah umat yang tengah (moderat). Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggalkan kita di atas jalan yang terang benderang, malamnya seperti siangnya, tidak ada yang menyimpang darinya kecuali akan binasa. Barangsiapa yang mengada-ngadakan dalam urusan kita perkara (baru) yang bukan darinya maka akan tertolak, dan barangsiapa yang megerjakan suatu amalan yang tidak kami perintahkan maka tertolak. Allah tidaklah diibadahi kecuali dengan apa yang Allah syari’atkan melalui lisan NabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sunnah Nabi sudahlah cukup. Menambah-nambah sunnah nabi adalah bentuk berlebih-lebihan dan ekstrim, dan kurang dalam menjalankan sunnah adalah sikap memudah-mudahkan dan pelalaian.Dan cukup bagi kita firman Rob kita :الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا“Pada hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian, dan Aku telah menyempurnakan nikmatKu dan Aku ridho Islam menjadi agama bagi kalian” (QS Al-Maidah : 3)Kita mohon kepada Allah agar menganugrahkan kepada kita sikap berpegang teguh dengan sunnah, dan berjalan diatas petunjuknya, dan menjauhkan kita dari bid’ah-bid’ah dan melindungi kita darinya. Agar Allah menjauhkan kita dari jalan-jalan orang-orang yang berlebih-lebihan atau sebaliknya yang kurang, dan agar Allah melapangkan dada-dada kita untuk menerima kebenaran dan menjadikan kita kaum yang tengah (moderat) dan seimbang, sesungguhnya Allah Yang Maha menguasainya dan maha berkuasa untuk mengabulkannya.Ya Allah muliakanlah Islam dan kaum muslimin, dan hinakanlah kesyirikan dan kaum musyrikin, dan menangkanlah hamba-hambaMu yang bertauhid, dan jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan tentram, demikian juga seluruh negeri-negeri kaum muslimin, Ya Allah berilah keamanan pada negeri kami dan luruskanlah para pemimpin dan waliyyul amr kami.Ya Allah bimbinglah pemimpin kami dengan bimbinganMu, kuatkanlah ia dengan penguatanMu, muliakanlah agamaMu dengannya. Ya Allah bimbinglah ia dan kedua wakilnya kepada perkara yang mendatangkan kebaikan bagi Islam dan kaum muslimin, dan kebaikan bagi negeri dan rakyat wahai penguasa alam semesta. Ya Allah menangkanlah tentara kami yang berjaga di wilayah perbatasan, ya Allah jitukanlah tembakan mereka, kuatkan semangat mereka, dan menangkanlah mereka dengan pertolonganMu wahai penguasa alam semesta.  Ya Allah terimalah yang mati syahid diantara mereka, sembuhkanlah yang sakit diantara mereka, sembuhkanlah yang terluka diantara mereka. Ya Allah jagalah mereka dengan penjagaanmu untuk menjaga keluarga mereka, harta mereka, dan keturunan mereka.Ya Allah jagalah negeri ini  dengan penjagaanMu dan perhatikanlah dengan perhatianMu. Ya Allah barangsiapa yang menghendaki keburukan terhadap negeri ini maka sibukanlah keburukan tersebut pada dirinya, dan kembalikanlah keburukan mengenai lehernya, dan jadikanlah rencana buruknya untuk menghancurkannya, wahai yang Maha Kuat dan Maha Perkasa.Ya Allah sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari keburukannya dan kami menjadikanMu pelindung kami di hadapannya. Ya Allah atasilah ia dengan cara yang Engkau kehendaki.Ya Allah perbaikilah kondisi kaum muslimin dimanapun mereka berada. Ya Allah hilangkanlah penderitaan saudara-saudara kami di negeri Syam. Ya Allah yang mengangkat derajat, wahai yang memenuhi hajat, wahai yang mengabulkan doa, wahai yang menghilangkan penderitaan, hilangkanlah penderitaan mereka, sirnakanlah kesulitan mereka, peganglah urusan mereka, segerakanlah kelonggaran bagi mereka, dan satukanlah hati mereka.Wahai Tuhan kami, sungguh bencana semakin bertambah atas mereka, perkara mereka semakin sulit, mereka dizolimi, terusir, dan dieksploitasi, ya Allah wahai penolong orang-orang yang lemah, wahai penyelamat kaum mukminin, jadikanlah itu semua sebagai kunci pembuka kemenangan mereka.Ya Allah jagalah darah mereka, tutuplah aurot mereka, tenangkanlah hati mereka… Ya Allah sesungguhnya mereka kelaparan maka berilah makanan bagi mereka, sesungguhnya mereka tidak berpakaian maka pakaikanlah sandang mereka, sesungguhnya mereka terzolimi maka tolonglah mereka.Hamba-hamba Allah sekalian, sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian untuk bersholat dan bersalam kepada nabiNya, Allah berfirman :“Sesungguhnya Allah dan para malaikat bersholawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah dan bersalamlah kepadanya”Ya Allah curahkanlah sholawat dan salam kepada nabi kita Muhammad dan ridoilah khulafaa rasyidin yang telah mendapat petunjuk, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali dan seluruh para sahabat, dan ridoilah kami bersama mereka dengan kemuliaanmu wahai Dzat yang Maha Mulia…

Khutbah Jumat: Mukjizat Sulaiman dan Karamah Dimas Kanjeng

Apakah penggandaan uang yang dilakukan oleh Dimas Kanjeng Taat Pribadi termasuk Mukjizat seperti Nabi Sulaiman atau seperti Karamah pada Wali Allah?   Khutbah Pertama   الحَمْدُ للهِ الذِّي أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ وَرَضِيَ لَنَا الإِسْلاَمَ دِيْنًا وَحَذَّرَنَا مِنَ الرُّكُوْنِ إِلَى الكُفْرِ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهَ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الأَنْبِيَاءِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَتَمَسَّكَ بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَقَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا وَقَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَأَفْضَلُ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah, Jama’ah shalat Jum’at yang semoga selalu dirahmati oleh Allah …   Segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan iman dan berbagai macam nikmat pada kita, yaitu kesehatan, umur panjang dan sifat kecukupan (qana’ah). Allah pun telah ridha Islam menjadi agama kita. Allah -Sang Khaliq- telah mengingatkan kita agar tidak kembali pada kekufuran setelah kita beriman. Sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan tentang tanda manisnya iman, di antaranya, وَمَنْ يَكْرَهُ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلْقَى فِى النَّارِ “… ia benci kembali pada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana ia tidak suka jika dilemparkan dalam api.” (HR. Bukhari, no. 21; Muslim, no. 43).   Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu baginya. Aku bersaksi pula bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam pada junjungan kita Nabi agung Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, serta kepada setiap orang yang mengikuti manhaj (jalan beragama) beliau dan berpegang teguh pada ajarannya hingga hari kiamat. Dan kita diperintahkan bershalawat di mana pun sebagaimana disebutkan dalam hadits, لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلاَ تَجْعَلُوا قَبْرِى عِيدًا وَصَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِى حَيْثُ كُنْتُمْ “Janganlah jadikan rumahmu seperti kubur, janganlah jadikan kubur sebagai ‘ied, sampaikanlah shalawat kepadaku karena shalawat kalian akan sampai padaku di mana saja kalian berada.” (HR. Abu Daud, no. 2042; Ahmad, 2: 367. Hadits ini shahih dilihat dari berbagai jalan penguat, sebagaimana komentar Syaikh ‘Abdul Qodir Al Arnauth dalam catatan kaki Kitab Tauhid, hal. 89-90).   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga dirahmati oleh Allah …   Kita tahu Nabi Sulaiman ‘alaihis salam memiliki mukjizat yang begitu luar biasa. Mukjizat adalah kejadian luar biasa (di luar kemampuan manusia) yang ada pada para Nabi dan Rasul. Sedangkan karamah adalah kejadian di luar kebiasaan yang ditemukan pada para wali Allah.   Lihatlah di antara mukjizat yang ada pada Nabi Sulaiman ‘alaihis salam. Mukjizat pertama, Nabi Sulaiman bisa mengerti suara burung.   Dalam ayat disebutkan, وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُودَ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata.” (QS. An-Naml: 16)   Nabi Sulaiman pun memiliki pasukan dari jin, manusia dan burung, serta bisa mengerti perkataan semut. وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ (17) حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (18) “Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (QS. An-Naml: 17-18)   Di antara bentuk mukjizat nabi Sulaiman lagi, ada yang disebut burung Hud-hud bisa berbicara pada Nabi Sulaiman.   Sebagaimana disebutkan dalam ayat, فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ “Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.” (QS. An-Naml: 22)   Hud-hud menceritakan tentang ratu Balqis yang memiliki kerajaan yang besar di negeri Saba’ (Yaman). Namun sayangnya kaumnya menyembah matahari, bukan beribadah pada Allah Yang Maha Pencipta dan Pengatur Jagad Raya. Lantas diutuslah burung Hud-hud tadi untuk membawa surat pada Ratu Balqis. Ketika Ratu Balqis menerima suratnya lantas ia mengatakan pada pembesar kaumnya, إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (30) أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ (31) “Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Naml: 30-31)   Ternyata isi surat Nabi Sulaiman adalah untuk mengajak Ratu Balqis pada Islam. Namun karena kesombongannya, ia dan kaumnya malah menentang. Nabi Sulaiman berkata pada pengikutnya, siapakah di antara mereka yang sanggup membawa singgasana (‘Arsy) dari Ratu Balqis ke hadapan Nabi Sulaiman.   Ada yang namanya ‘Ifrit, jin yang benar-benar kuat berkata, أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.” (QS. An-Naml: 39)   Kemudian ada seorang alim yang dikenal dengan nama ‘Ashif bin Barkhiya bisa melakukan lebih daripada ‘Ifrit, di mana ia berkata أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” (QS. An-Naml: 40)   Dari mukjizat itu akhirnya Ratu Balqis pun masuk Islam, رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ “Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam.” (QS. An-Naml: 44)   Kalau demikian apa perbedaan antara mukjizat Nabi Sulaiman dan wali Allah di atas dengan tipu muslihat dari Dimas Kanjeng dengan penggandaan uang yang ia lakukan saat ini: Mukjizat hanya khusus ada pada para nabi. Sedangkan karamah ada pada para wali Allah. Dimas Kanjeng sendiri bukanlah Nabi. Mukjizat itu ditampakkan dan tersohor. Itulah yang ada pada para Nabi. Sedangkan karamah cukup disembunyikan, bukan dipamer-pamerkan. Itulah yang ada pada para wali. Sedangkan Pak Taat Pribadi (Dimas Kanjeng) memamerkan keahliannya menggandakan uang di depan kamera. (Risalah Magister dengan judul “Al-Wilayah wa Al-Karamah fi Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah”, peneliti Muhammad Khoir Al-‘Umari. Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Al-Jawab, no. 124838)   Adapun disebut sebagai wali Allah ketika beriman dan bertakwa, bukan melakukan penipuan, pembunuhan atau menjalankan praktik sihir yang notabene syirik.   Syarat mutlak sebagai wali Allah disebutkan dalam ayat, أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 62-63). Ingat sekali lagi, disebut wali Allah ketika beriman dan bertakwa, bukan dengan menipu atau bahkan menerjangi kesyirikan.   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga selalu dirahmati oleh Allah … Demikian khutbah pertama ini.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah, jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa mendapatkan berkah dari Allah …   Apakah yang dilakukan Dimas Kanjeng termasuk sihir?   Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan, Karamah itu bisa terjadi sebelum Rasulullah atau setelah beliau hingga hari kiamat. Karamah ini dialami oleh wali Allah yang shalih. Karamah ini akan terjadi pada wali Allah yang beragama dengan baik. Namun kalau terjadi pada orang yang beragamanya saja tidak benar (sebut: tukang sihir), maka sejatinya kesaktian yang ia miliki itu dari setan. Dan kita tahu bersama bahwa setan itu akan menolong manusia untuk mencapai tujuan-tujuannya (seperti untuk cepat kaya, pen.). (Liqa’ Al-Bab Al-Maftuh, no. 84, soal no. 8)   Bukti kalau Dimas Kanjeng bukanlah orang yang bagus agamanya: Ia mengajarkan wirid Wihdatul Wujud, Manunggaling Kawulo Gusti, yang dibawa oleh Syaikh Siti Jenar dahulu dan sudah disesatkan oleh para ulama. Ia mengajarkan shalawat fulus (fulus artinya uang). Yang jelas-jelas shalawat itu tidak ada dasarnya, bahkan di kalangan pesantren tradisional pun tidak pernah mendengar shalawat tersebut.   Semoga Allah menyelamatkan kita dari akidah dan cara beragama yang sesat, serta menuntun kita untuk terus berada di jalan yang lurus.   Di akhir khutbah ini … Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Shalawat kita di mana pun tetap akan sampai pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana kata Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa juz pertama halaman 238, فَمَا أَنْتَ وَرَجُلٌ بِالْأَنْدَلُسِ مِنْهُ إلَّا سَوَاءٌ “Engkau dan orang yang berada di Andalus (Spanyol) itu sama (dalam sampainya shalawat).”   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.   Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini.   اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ للَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Uswatun Hasanah, Wiloso, Girikarto, Panggang, Jum’at Kliwon, 6 Muharram 1438 H (7 Oktober 2016) Download Khutbah Jumat: Mukjizat Nabi Sulaiman dan Karamah Dimas Kanjeng   — Disusun @ DS, Warak, Girisekar, Panggang, 6 Muharram 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsdimas kanjeng wali Allah

Khutbah Jumat: Mukjizat Sulaiman dan Karamah Dimas Kanjeng

Apakah penggandaan uang yang dilakukan oleh Dimas Kanjeng Taat Pribadi termasuk Mukjizat seperti Nabi Sulaiman atau seperti Karamah pada Wali Allah?   Khutbah Pertama   الحَمْدُ للهِ الذِّي أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ وَرَضِيَ لَنَا الإِسْلاَمَ دِيْنًا وَحَذَّرَنَا مِنَ الرُّكُوْنِ إِلَى الكُفْرِ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهَ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الأَنْبِيَاءِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَتَمَسَّكَ بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَقَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا وَقَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَأَفْضَلُ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah, Jama’ah shalat Jum’at yang semoga selalu dirahmati oleh Allah …   Segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan iman dan berbagai macam nikmat pada kita, yaitu kesehatan, umur panjang dan sifat kecukupan (qana’ah). Allah pun telah ridha Islam menjadi agama kita. Allah -Sang Khaliq- telah mengingatkan kita agar tidak kembali pada kekufuran setelah kita beriman. Sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan tentang tanda manisnya iman, di antaranya, وَمَنْ يَكْرَهُ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلْقَى فِى النَّارِ “… ia benci kembali pada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana ia tidak suka jika dilemparkan dalam api.” (HR. Bukhari, no. 21; Muslim, no. 43).   Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu baginya. Aku bersaksi pula bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam pada junjungan kita Nabi agung Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, serta kepada setiap orang yang mengikuti manhaj (jalan beragama) beliau dan berpegang teguh pada ajarannya hingga hari kiamat. Dan kita diperintahkan bershalawat di mana pun sebagaimana disebutkan dalam hadits, لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلاَ تَجْعَلُوا قَبْرِى عِيدًا وَصَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِى حَيْثُ كُنْتُمْ “Janganlah jadikan rumahmu seperti kubur, janganlah jadikan kubur sebagai ‘ied, sampaikanlah shalawat kepadaku karena shalawat kalian akan sampai padaku di mana saja kalian berada.” (HR. Abu Daud, no. 2042; Ahmad, 2: 367. Hadits ini shahih dilihat dari berbagai jalan penguat, sebagaimana komentar Syaikh ‘Abdul Qodir Al Arnauth dalam catatan kaki Kitab Tauhid, hal. 89-90).   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga dirahmati oleh Allah …   Kita tahu Nabi Sulaiman ‘alaihis salam memiliki mukjizat yang begitu luar biasa. Mukjizat adalah kejadian luar biasa (di luar kemampuan manusia) yang ada pada para Nabi dan Rasul. Sedangkan karamah adalah kejadian di luar kebiasaan yang ditemukan pada para wali Allah.   Lihatlah di antara mukjizat yang ada pada Nabi Sulaiman ‘alaihis salam. Mukjizat pertama, Nabi Sulaiman bisa mengerti suara burung.   Dalam ayat disebutkan, وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُودَ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata.” (QS. An-Naml: 16)   Nabi Sulaiman pun memiliki pasukan dari jin, manusia dan burung, serta bisa mengerti perkataan semut. وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ (17) حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (18) “Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (QS. An-Naml: 17-18)   Di antara bentuk mukjizat nabi Sulaiman lagi, ada yang disebut burung Hud-hud bisa berbicara pada Nabi Sulaiman.   Sebagaimana disebutkan dalam ayat, فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ “Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.” (QS. An-Naml: 22)   Hud-hud menceritakan tentang ratu Balqis yang memiliki kerajaan yang besar di negeri Saba’ (Yaman). Namun sayangnya kaumnya menyembah matahari, bukan beribadah pada Allah Yang Maha Pencipta dan Pengatur Jagad Raya. Lantas diutuslah burung Hud-hud tadi untuk membawa surat pada Ratu Balqis. Ketika Ratu Balqis menerima suratnya lantas ia mengatakan pada pembesar kaumnya, إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (30) أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ (31) “Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Naml: 30-31)   Ternyata isi surat Nabi Sulaiman adalah untuk mengajak Ratu Balqis pada Islam. Namun karena kesombongannya, ia dan kaumnya malah menentang. Nabi Sulaiman berkata pada pengikutnya, siapakah di antara mereka yang sanggup membawa singgasana (‘Arsy) dari Ratu Balqis ke hadapan Nabi Sulaiman.   Ada yang namanya ‘Ifrit, jin yang benar-benar kuat berkata, أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.” (QS. An-Naml: 39)   Kemudian ada seorang alim yang dikenal dengan nama ‘Ashif bin Barkhiya bisa melakukan lebih daripada ‘Ifrit, di mana ia berkata أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” (QS. An-Naml: 40)   Dari mukjizat itu akhirnya Ratu Balqis pun masuk Islam, رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ “Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam.” (QS. An-Naml: 44)   Kalau demikian apa perbedaan antara mukjizat Nabi Sulaiman dan wali Allah di atas dengan tipu muslihat dari Dimas Kanjeng dengan penggandaan uang yang ia lakukan saat ini: Mukjizat hanya khusus ada pada para nabi. Sedangkan karamah ada pada para wali Allah. Dimas Kanjeng sendiri bukanlah Nabi. Mukjizat itu ditampakkan dan tersohor. Itulah yang ada pada para Nabi. Sedangkan karamah cukup disembunyikan, bukan dipamer-pamerkan. Itulah yang ada pada para wali. Sedangkan Pak Taat Pribadi (Dimas Kanjeng) memamerkan keahliannya menggandakan uang di depan kamera. (Risalah Magister dengan judul “Al-Wilayah wa Al-Karamah fi Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah”, peneliti Muhammad Khoir Al-‘Umari. Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Al-Jawab, no. 124838)   Adapun disebut sebagai wali Allah ketika beriman dan bertakwa, bukan melakukan penipuan, pembunuhan atau menjalankan praktik sihir yang notabene syirik.   Syarat mutlak sebagai wali Allah disebutkan dalam ayat, أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 62-63). Ingat sekali lagi, disebut wali Allah ketika beriman dan bertakwa, bukan dengan menipu atau bahkan menerjangi kesyirikan.   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga selalu dirahmati oleh Allah … Demikian khutbah pertama ini.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah, jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa mendapatkan berkah dari Allah …   Apakah yang dilakukan Dimas Kanjeng termasuk sihir?   Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan, Karamah itu bisa terjadi sebelum Rasulullah atau setelah beliau hingga hari kiamat. Karamah ini dialami oleh wali Allah yang shalih. Karamah ini akan terjadi pada wali Allah yang beragama dengan baik. Namun kalau terjadi pada orang yang beragamanya saja tidak benar (sebut: tukang sihir), maka sejatinya kesaktian yang ia miliki itu dari setan. Dan kita tahu bersama bahwa setan itu akan menolong manusia untuk mencapai tujuan-tujuannya (seperti untuk cepat kaya, pen.). (Liqa’ Al-Bab Al-Maftuh, no. 84, soal no. 8)   Bukti kalau Dimas Kanjeng bukanlah orang yang bagus agamanya: Ia mengajarkan wirid Wihdatul Wujud, Manunggaling Kawulo Gusti, yang dibawa oleh Syaikh Siti Jenar dahulu dan sudah disesatkan oleh para ulama. Ia mengajarkan shalawat fulus (fulus artinya uang). Yang jelas-jelas shalawat itu tidak ada dasarnya, bahkan di kalangan pesantren tradisional pun tidak pernah mendengar shalawat tersebut.   Semoga Allah menyelamatkan kita dari akidah dan cara beragama yang sesat, serta menuntun kita untuk terus berada di jalan yang lurus.   Di akhir khutbah ini … Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Shalawat kita di mana pun tetap akan sampai pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana kata Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa juz pertama halaman 238, فَمَا أَنْتَ وَرَجُلٌ بِالْأَنْدَلُسِ مِنْهُ إلَّا سَوَاءٌ “Engkau dan orang yang berada di Andalus (Spanyol) itu sama (dalam sampainya shalawat).”   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.   Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini.   اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ للَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Uswatun Hasanah, Wiloso, Girikarto, Panggang, Jum’at Kliwon, 6 Muharram 1438 H (7 Oktober 2016) Download Khutbah Jumat: Mukjizat Nabi Sulaiman dan Karamah Dimas Kanjeng   — Disusun @ DS, Warak, Girisekar, Panggang, 6 Muharram 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsdimas kanjeng wali Allah
Apakah penggandaan uang yang dilakukan oleh Dimas Kanjeng Taat Pribadi termasuk Mukjizat seperti Nabi Sulaiman atau seperti Karamah pada Wali Allah?   Khutbah Pertama   الحَمْدُ للهِ الذِّي أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ وَرَضِيَ لَنَا الإِسْلاَمَ دِيْنًا وَحَذَّرَنَا مِنَ الرُّكُوْنِ إِلَى الكُفْرِ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهَ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الأَنْبِيَاءِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَتَمَسَّكَ بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَقَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا وَقَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَأَفْضَلُ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah, Jama’ah shalat Jum’at yang semoga selalu dirahmati oleh Allah …   Segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan iman dan berbagai macam nikmat pada kita, yaitu kesehatan, umur panjang dan sifat kecukupan (qana’ah). Allah pun telah ridha Islam menjadi agama kita. Allah -Sang Khaliq- telah mengingatkan kita agar tidak kembali pada kekufuran setelah kita beriman. Sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan tentang tanda manisnya iman, di antaranya, وَمَنْ يَكْرَهُ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلْقَى فِى النَّارِ “… ia benci kembali pada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana ia tidak suka jika dilemparkan dalam api.” (HR. Bukhari, no. 21; Muslim, no. 43).   Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu baginya. Aku bersaksi pula bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam pada junjungan kita Nabi agung Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, serta kepada setiap orang yang mengikuti manhaj (jalan beragama) beliau dan berpegang teguh pada ajarannya hingga hari kiamat. Dan kita diperintahkan bershalawat di mana pun sebagaimana disebutkan dalam hadits, لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلاَ تَجْعَلُوا قَبْرِى عِيدًا وَصَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِى حَيْثُ كُنْتُمْ “Janganlah jadikan rumahmu seperti kubur, janganlah jadikan kubur sebagai ‘ied, sampaikanlah shalawat kepadaku karena shalawat kalian akan sampai padaku di mana saja kalian berada.” (HR. Abu Daud, no. 2042; Ahmad, 2: 367. Hadits ini shahih dilihat dari berbagai jalan penguat, sebagaimana komentar Syaikh ‘Abdul Qodir Al Arnauth dalam catatan kaki Kitab Tauhid, hal. 89-90).   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga dirahmati oleh Allah …   Kita tahu Nabi Sulaiman ‘alaihis salam memiliki mukjizat yang begitu luar biasa. Mukjizat adalah kejadian luar biasa (di luar kemampuan manusia) yang ada pada para Nabi dan Rasul. Sedangkan karamah adalah kejadian di luar kebiasaan yang ditemukan pada para wali Allah.   Lihatlah di antara mukjizat yang ada pada Nabi Sulaiman ‘alaihis salam. Mukjizat pertama, Nabi Sulaiman bisa mengerti suara burung.   Dalam ayat disebutkan, وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُودَ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata.” (QS. An-Naml: 16)   Nabi Sulaiman pun memiliki pasukan dari jin, manusia dan burung, serta bisa mengerti perkataan semut. وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ (17) حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (18) “Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (QS. An-Naml: 17-18)   Di antara bentuk mukjizat nabi Sulaiman lagi, ada yang disebut burung Hud-hud bisa berbicara pada Nabi Sulaiman.   Sebagaimana disebutkan dalam ayat, فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ “Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.” (QS. An-Naml: 22)   Hud-hud menceritakan tentang ratu Balqis yang memiliki kerajaan yang besar di negeri Saba’ (Yaman). Namun sayangnya kaumnya menyembah matahari, bukan beribadah pada Allah Yang Maha Pencipta dan Pengatur Jagad Raya. Lantas diutuslah burung Hud-hud tadi untuk membawa surat pada Ratu Balqis. Ketika Ratu Balqis menerima suratnya lantas ia mengatakan pada pembesar kaumnya, إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (30) أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ (31) “Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Naml: 30-31)   Ternyata isi surat Nabi Sulaiman adalah untuk mengajak Ratu Balqis pada Islam. Namun karena kesombongannya, ia dan kaumnya malah menentang. Nabi Sulaiman berkata pada pengikutnya, siapakah di antara mereka yang sanggup membawa singgasana (‘Arsy) dari Ratu Balqis ke hadapan Nabi Sulaiman.   Ada yang namanya ‘Ifrit, jin yang benar-benar kuat berkata, أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.” (QS. An-Naml: 39)   Kemudian ada seorang alim yang dikenal dengan nama ‘Ashif bin Barkhiya bisa melakukan lebih daripada ‘Ifrit, di mana ia berkata أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” (QS. An-Naml: 40)   Dari mukjizat itu akhirnya Ratu Balqis pun masuk Islam, رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ “Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam.” (QS. An-Naml: 44)   Kalau demikian apa perbedaan antara mukjizat Nabi Sulaiman dan wali Allah di atas dengan tipu muslihat dari Dimas Kanjeng dengan penggandaan uang yang ia lakukan saat ini: Mukjizat hanya khusus ada pada para nabi. Sedangkan karamah ada pada para wali Allah. Dimas Kanjeng sendiri bukanlah Nabi. Mukjizat itu ditampakkan dan tersohor. Itulah yang ada pada para Nabi. Sedangkan karamah cukup disembunyikan, bukan dipamer-pamerkan. Itulah yang ada pada para wali. Sedangkan Pak Taat Pribadi (Dimas Kanjeng) memamerkan keahliannya menggandakan uang di depan kamera. (Risalah Magister dengan judul “Al-Wilayah wa Al-Karamah fi Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah”, peneliti Muhammad Khoir Al-‘Umari. Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Al-Jawab, no. 124838)   Adapun disebut sebagai wali Allah ketika beriman dan bertakwa, bukan melakukan penipuan, pembunuhan atau menjalankan praktik sihir yang notabene syirik.   Syarat mutlak sebagai wali Allah disebutkan dalam ayat, أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 62-63). Ingat sekali lagi, disebut wali Allah ketika beriman dan bertakwa, bukan dengan menipu atau bahkan menerjangi kesyirikan.   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga selalu dirahmati oleh Allah … Demikian khutbah pertama ini.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah, jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa mendapatkan berkah dari Allah …   Apakah yang dilakukan Dimas Kanjeng termasuk sihir?   Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan, Karamah itu bisa terjadi sebelum Rasulullah atau setelah beliau hingga hari kiamat. Karamah ini dialami oleh wali Allah yang shalih. Karamah ini akan terjadi pada wali Allah yang beragama dengan baik. Namun kalau terjadi pada orang yang beragamanya saja tidak benar (sebut: tukang sihir), maka sejatinya kesaktian yang ia miliki itu dari setan. Dan kita tahu bersama bahwa setan itu akan menolong manusia untuk mencapai tujuan-tujuannya (seperti untuk cepat kaya, pen.). (Liqa’ Al-Bab Al-Maftuh, no. 84, soal no. 8)   Bukti kalau Dimas Kanjeng bukanlah orang yang bagus agamanya: Ia mengajarkan wirid Wihdatul Wujud, Manunggaling Kawulo Gusti, yang dibawa oleh Syaikh Siti Jenar dahulu dan sudah disesatkan oleh para ulama. Ia mengajarkan shalawat fulus (fulus artinya uang). Yang jelas-jelas shalawat itu tidak ada dasarnya, bahkan di kalangan pesantren tradisional pun tidak pernah mendengar shalawat tersebut.   Semoga Allah menyelamatkan kita dari akidah dan cara beragama yang sesat, serta menuntun kita untuk terus berada di jalan yang lurus.   Di akhir khutbah ini … Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Shalawat kita di mana pun tetap akan sampai pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana kata Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa juz pertama halaman 238, فَمَا أَنْتَ وَرَجُلٌ بِالْأَنْدَلُسِ مِنْهُ إلَّا سَوَاءٌ “Engkau dan orang yang berada di Andalus (Spanyol) itu sama (dalam sampainya shalawat).”   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.   Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini.   اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ للَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Uswatun Hasanah, Wiloso, Girikarto, Panggang, Jum’at Kliwon, 6 Muharram 1438 H (7 Oktober 2016) Download Khutbah Jumat: Mukjizat Nabi Sulaiman dan Karamah Dimas Kanjeng   — Disusun @ DS, Warak, Girisekar, Panggang, 6 Muharram 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsdimas kanjeng wali Allah


Apakah penggandaan uang yang dilakukan oleh Dimas Kanjeng Taat Pribadi termasuk Mukjizat seperti Nabi Sulaiman atau seperti Karamah pada Wali Allah?   Khutbah Pertama   الحَمْدُ للهِ الذِّي أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ وَرَضِيَ لَنَا الإِسْلاَمَ دِيْنًا وَحَذَّرَنَا مِنَ الرُّكُوْنِ إِلَى الكُفْرِ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهَ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الأَنْبِيَاءِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَتَمَسَّكَ بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَقَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا وَقَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَأَفْضَلُ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah, Jama’ah shalat Jum’at yang semoga selalu dirahmati oleh Allah …   Segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan iman dan berbagai macam nikmat pada kita, yaitu kesehatan, umur panjang dan sifat kecukupan (qana’ah). Allah pun telah ridha Islam menjadi agama kita. Allah -Sang Khaliq- telah mengingatkan kita agar tidak kembali pada kekufuran setelah kita beriman. Sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan tentang tanda manisnya iman, di antaranya, وَمَنْ يَكْرَهُ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلْقَى فِى النَّارِ “… ia benci kembali pada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana ia tidak suka jika dilemparkan dalam api.” (HR. Bukhari, no. 21; Muslim, no. 43).   Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu baginya. Aku bersaksi pula bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam pada junjungan kita Nabi agung Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, serta kepada setiap orang yang mengikuti manhaj (jalan beragama) beliau dan berpegang teguh pada ajarannya hingga hari kiamat. Dan kita diperintahkan bershalawat di mana pun sebagaimana disebutkan dalam hadits, لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلاَ تَجْعَلُوا قَبْرِى عِيدًا وَصَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِى حَيْثُ كُنْتُمْ “Janganlah jadikan rumahmu seperti kubur, janganlah jadikan kubur sebagai ‘ied, sampaikanlah shalawat kepadaku karena shalawat kalian akan sampai padaku di mana saja kalian berada.” (HR. Abu Daud, no. 2042; Ahmad, 2: 367. Hadits ini shahih dilihat dari berbagai jalan penguat, sebagaimana komentar Syaikh ‘Abdul Qodir Al Arnauth dalam catatan kaki Kitab Tauhid, hal. 89-90).   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga dirahmati oleh Allah …   Kita tahu Nabi Sulaiman ‘alaihis salam memiliki mukjizat yang begitu luar biasa. Mukjizat adalah kejadian luar biasa (di luar kemampuan manusia) yang ada pada para Nabi dan Rasul. Sedangkan karamah adalah kejadian di luar kebiasaan yang ditemukan pada para wali Allah.   Lihatlah di antara mukjizat yang ada pada Nabi Sulaiman ‘alaihis salam. Mukjizat pertama, Nabi Sulaiman bisa mengerti suara burung.   Dalam ayat disebutkan, وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُودَ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata.” (QS. An-Naml: 16)   Nabi Sulaiman pun memiliki pasukan dari jin, manusia dan burung, serta bisa mengerti perkataan semut. وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ (17) حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (18) “Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (QS. An-Naml: 17-18)   Di antara bentuk mukjizat nabi Sulaiman lagi, ada yang disebut burung Hud-hud bisa berbicara pada Nabi Sulaiman.   Sebagaimana disebutkan dalam ayat, فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ “Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.” (QS. An-Naml: 22)   Hud-hud menceritakan tentang ratu Balqis yang memiliki kerajaan yang besar di negeri Saba’ (Yaman). Namun sayangnya kaumnya menyembah matahari, bukan beribadah pada Allah Yang Maha Pencipta dan Pengatur Jagad Raya. Lantas diutuslah burung Hud-hud tadi untuk membawa surat pada Ratu Balqis. Ketika Ratu Balqis menerima suratnya lantas ia mengatakan pada pembesar kaumnya, إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (30) أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ (31) “Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Naml: 30-31)   Ternyata isi surat Nabi Sulaiman adalah untuk mengajak Ratu Balqis pada Islam. Namun karena kesombongannya, ia dan kaumnya malah menentang. Nabi Sulaiman berkata pada pengikutnya, siapakah di antara mereka yang sanggup membawa singgasana (‘Arsy) dari Ratu Balqis ke hadapan Nabi Sulaiman.   Ada yang namanya ‘Ifrit, jin yang benar-benar kuat berkata, أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.” (QS. An-Naml: 39)   Kemudian ada seorang alim yang dikenal dengan nama ‘Ashif bin Barkhiya bisa melakukan lebih daripada ‘Ifrit, di mana ia berkata أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” (QS. An-Naml: 40)   Dari mukjizat itu akhirnya Ratu Balqis pun masuk Islam, رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ “Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam.” (QS. An-Naml: 44)   Kalau demikian apa perbedaan antara mukjizat Nabi Sulaiman dan wali Allah di atas dengan tipu muslihat dari Dimas Kanjeng dengan penggandaan uang yang ia lakukan saat ini: Mukjizat hanya khusus ada pada para nabi. Sedangkan karamah ada pada para wali Allah. Dimas Kanjeng sendiri bukanlah Nabi. Mukjizat itu ditampakkan dan tersohor. Itulah yang ada pada para Nabi. Sedangkan karamah cukup disembunyikan, bukan dipamer-pamerkan. Itulah yang ada pada para wali. Sedangkan Pak Taat Pribadi (Dimas Kanjeng) memamerkan keahliannya menggandakan uang di depan kamera. (Risalah Magister dengan judul “Al-Wilayah wa Al-Karamah fi Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah”, peneliti Muhammad Khoir Al-‘Umari. Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Al-Jawab, no. 124838)   Adapun disebut sebagai wali Allah ketika beriman dan bertakwa, bukan melakukan penipuan, pembunuhan atau menjalankan praktik sihir yang notabene syirik.   Syarat mutlak sebagai wali Allah disebutkan dalam ayat, أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 62-63). Ingat sekali lagi, disebut wali Allah ketika beriman dan bertakwa, bukan dengan menipu atau bahkan menerjangi kesyirikan.   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga selalu dirahmati oleh Allah … Demikian khutbah pertama ini.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah, jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa mendapatkan berkah dari Allah …   Apakah yang dilakukan Dimas Kanjeng termasuk sihir?   Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan, Karamah itu bisa terjadi sebelum Rasulullah atau setelah beliau hingga hari kiamat. Karamah ini dialami oleh wali Allah yang shalih. Karamah ini akan terjadi pada wali Allah yang beragama dengan baik. Namun kalau terjadi pada orang yang beragamanya saja tidak benar (sebut: tukang sihir), maka sejatinya kesaktian yang ia miliki itu dari setan. Dan kita tahu bersama bahwa setan itu akan menolong manusia untuk mencapai tujuan-tujuannya (seperti untuk cepat kaya, pen.). (Liqa’ Al-Bab Al-Maftuh, no. 84, soal no. 8)   Bukti kalau Dimas Kanjeng bukanlah orang yang bagus agamanya: Ia mengajarkan wirid Wihdatul Wujud, Manunggaling Kawulo Gusti, yang dibawa oleh Syaikh Siti Jenar dahulu dan sudah disesatkan oleh para ulama. Ia mengajarkan shalawat fulus (fulus artinya uang). Yang jelas-jelas shalawat itu tidak ada dasarnya, bahkan di kalangan pesantren tradisional pun tidak pernah mendengar shalawat tersebut.   Semoga Allah menyelamatkan kita dari akidah dan cara beragama yang sesat, serta menuntun kita untuk terus berada di jalan yang lurus.   Di akhir khutbah ini … Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Shalawat kita di mana pun tetap akan sampai pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana kata Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa juz pertama halaman 238, فَمَا أَنْتَ وَرَجُلٌ بِالْأَنْدَلُسِ مِنْهُ إلَّا سَوَاءٌ “Engkau dan orang yang berada di Andalus (Spanyol) itu sama (dalam sampainya shalawat).”   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.   Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini.   اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ للَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Uswatun Hasanah, Wiloso, Girikarto, Panggang, Jum’at Kliwon, 6 Muharram 1438 H (7 Oktober 2016) Download Khutbah Jumat: Mukjizat Nabi Sulaiman dan Karamah Dimas Kanjeng   — Disusun @ DS, Warak, Girisekar, Panggang, 6 Muharram 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsdimas kanjeng wali Allah

Tidak Boleh Bercanda dengan Menodong Pisau

Tidak boleh menodong senjata tajam atau pisau pada orang lain baik serius maupun bercanda. Perbuatan ini dilaknat oleh malaikat.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَشَارَ إِلَى أَخِيهِ بِحَدِيدَةٍ فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّى وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لأَبِيهِ وَأُمِّهِ “Barangsiapa mengacungkan senjata tajam kepada saudaranya, maka para malaikat akan melaknatnya sampai dia meninggalkan perbuatan tersebut, walaupun saudara tersebut adalah saudara kandung sebapak dan seibu.” (HR. Muslim, no. 2616) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُشِيْرُ أَحَدُكُمْ إِلَى أَخِيْهِ بِالسِّلاَحِ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى أَحَدُكُمْ لَعَلَّ الشَّيْطَانَ يَنْزِعُ فِي يَدِهِ فَيَقَعُ فِي حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ “Janganlah seseorang diantara kalian mengacungkan senjata kepada saudaranya karena sesungguhnya kalian tidak tahu bisa jadi setan merenggut (nyawanya) melalui tangannya sehingga mengakibatkannya masuk ke lubang api neraka.” (HR. Bukhari, no. 7072; Muslim, no. 2617)   Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini mengandung larangan terhadap segala hal yang bisa mengantarkan kepada bahaya, walaupun bahaya tersebut belum pasti terjadi, baik hal itu dilakukan dengan serius maupun bercanda”. (Fath Al-Bari, 13: 25)   Ada beberapa faedah dari hadits di atas dari Imam Nawawi: Seorang muslim begitu terhormat. Ada larangan tegas menakut-nakuti dan menyakitinya. Menodong senjata tersebut tidak dibolehkan baik serius maupun bercanda karena menakut-nakuti seorang muslim haram dalam segala keadaan. Perbuatan menakut-nakuti dengan senjata atau pisau itu haram karena dilaknat oleh para malaikat.   Ada hadits yang sifatnya umum, yaitu berisi larangan menakut-nakuti muslim lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا “Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR. Abu Daud, no. 5004; Ahmad 5: 362. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).   Kalau seperti di atas saja dilarang bagaimana mungkin Islam mengizinkan membunuh orang lain yang tidak bersalah?   Moga kita semua dijauhkan dari laknat Allah dan malaikat-Nya. — DS, Warak, Girisekar, Panggang, 5 Muharram 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagslawakan terlaknat

Tidak Boleh Bercanda dengan Menodong Pisau

Tidak boleh menodong senjata tajam atau pisau pada orang lain baik serius maupun bercanda. Perbuatan ini dilaknat oleh malaikat.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَشَارَ إِلَى أَخِيهِ بِحَدِيدَةٍ فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّى وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لأَبِيهِ وَأُمِّهِ “Barangsiapa mengacungkan senjata tajam kepada saudaranya, maka para malaikat akan melaknatnya sampai dia meninggalkan perbuatan tersebut, walaupun saudara tersebut adalah saudara kandung sebapak dan seibu.” (HR. Muslim, no. 2616) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُشِيْرُ أَحَدُكُمْ إِلَى أَخِيْهِ بِالسِّلاَحِ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى أَحَدُكُمْ لَعَلَّ الشَّيْطَانَ يَنْزِعُ فِي يَدِهِ فَيَقَعُ فِي حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ “Janganlah seseorang diantara kalian mengacungkan senjata kepada saudaranya karena sesungguhnya kalian tidak tahu bisa jadi setan merenggut (nyawanya) melalui tangannya sehingga mengakibatkannya masuk ke lubang api neraka.” (HR. Bukhari, no. 7072; Muslim, no. 2617)   Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini mengandung larangan terhadap segala hal yang bisa mengantarkan kepada bahaya, walaupun bahaya tersebut belum pasti terjadi, baik hal itu dilakukan dengan serius maupun bercanda”. (Fath Al-Bari, 13: 25)   Ada beberapa faedah dari hadits di atas dari Imam Nawawi: Seorang muslim begitu terhormat. Ada larangan tegas menakut-nakuti dan menyakitinya. Menodong senjata tersebut tidak dibolehkan baik serius maupun bercanda karena menakut-nakuti seorang muslim haram dalam segala keadaan. Perbuatan menakut-nakuti dengan senjata atau pisau itu haram karena dilaknat oleh para malaikat.   Ada hadits yang sifatnya umum, yaitu berisi larangan menakut-nakuti muslim lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا “Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR. Abu Daud, no. 5004; Ahmad 5: 362. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).   Kalau seperti di atas saja dilarang bagaimana mungkin Islam mengizinkan membunuh orang lain yang tidak bersalah?   Moga kita semua dijauhkan dari laknat Allah dan malaikat-Nya. — DS, Warak, Girisekar, Panggang, 5 Muharram 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagslawakan terlaknat
Tidak boleh menodong senjata tajam atau pisau pada orang lain baik serius maupun bercanda. Perbuatan ini dilaknat oleh malaikat.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَشَارَ إِلَى أَخِيهِ بِحَدِيدَةٍ فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّى وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لأَبِيهِ وَأُمِّهِ “Barangsiapa mengacungkan senjata tajam kepada saudaranya, maka para malaikat akan melaknatnya sampai dia meninggalkan perbuatan tersebut, walaupun saudara tersebut adalah saudara kandung sebapak dan seibu.” (HR. Muslim, no. 2616) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُشِيْرُ أَحَدُكُمْ إِلَى أَخِيْهِ بِالسِّلاَحِ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى أَحَدُكُمْ لَعَلَّ الشَّيْطَانَ يَنْزِعُ فِي يَدِهِ فَيَقَعُ فِي حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ “Janganlah seseorang diantara kalian mengacungkan senjata kepada saudaranya karena sesungguhnya kalian tidak tahu bisa jadi setan merenggut (nyawanya) melalui tangannya sehingga mengakibatkannya masuk ke lubang api neraka.” (HR. Bukhari, no. 7072; Muslim, no. 2617)   Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini mengandung larangan terhadap segala hal yang bisa mengantarkan kepada bahaya, walaupun bahaya tersebut belum pasti terjadi, baik hal itu dilakukan dengan serius maupun bercanda”. (Fath Al-Bari, 13: 25)   Ada beberapa faedah dari hadits di atas dari Imam Nawawi: Seorang muslim begitu terhormat. Ada larangan tegas menakut-nakuti dan menyakitinya. Menodong senjata tersebut tidak dibolehkan baik serius maupun bercanda karena menakut-nakuti seorang muslim haram dalam segala keadaan. Perbuatan menakut-nakuti dengan senjata atau pisau itu haram karena dilaknat oleh para malaikat.   Ada hadits yang sifatnya umum, yaitu berisi larangan menakut-nakuti muslim lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا “Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR. Abu Daud, no. 5004; Ahmad 5: 362. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).   Kalau seperti di atas saja dilarang bagaimana mungkin Islam mengizinkan membunuh orang lain yang tidak bersalah?   Moga kita semua dijauhkan dari laknat Allah dan malaikat-Nya. — DS, Warak, Girisekar, Panggang, 5 Muharram 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagslawakan terlaknat


Tidak boleh menodong senjata tajam atau pisau pada orang lain baik serius maupun bercanda. Perbuatan ini dilaknat oleh malaikat.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَشَارَ إِلَى أَخِيهِ بِحَدِيدَةٍ فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّى وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لأَبِيهِ وَأُمِّهِ “Barangsiapa mengacungkan senjata tajam kepada saudaranya, maka para malaikat akan melaknatnya sampai dia meninggalkan perbuatan tersebut, walaupun saudara tersebut adalah saudara kandung sebapak dan seibu.” (HR. Muslim, no. 2616) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يُشِيْرُ أَحَدُكُمْ إِلَى أَخِيْهِ بِالسِّلاَحِ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى أَحَدُكُمْ لَعَلَّ الشَّيْطَانَ يَنْزِعُ فِي يَدِهِ فَيَقَعُ فِي حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ “Janganlah seseorang diantara kalian mengacungkan senjata kepada saudaranya karena sesungguhnya kalian tidak tahu bisa jadi setan merenggut (nyawanya) melalui tangannya sehingga mengakibatkannya masuk ke lubang api neraka.” (HR. Bukhari, no. 7072; Muslim, no. 2617)   Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini mengandung larangan terhadap segala hal yang bisa mengantarkan kepada bahaya, walaupun bahaya tersebut belum pasti terjadi, baik hal itu dilakukan dengan serius maupun bercanda”. (Fath Al-Bari, 13: 25)   Ada beberapa faedah dari hadits di atas dari Imam Nawawi: Seorang muslim begitu terhormat. Ada larangan tegas menakut-nakuti dan menyakitinya. Menodong senjata tersebut tidak dibolehkan baik serius maupun bercanda karena menakut-nakuti seorang muslim haram dalam segala keadaan. Perbuatan menakut-nakuti dengan senjata atau pisau itu haram karena dilaknat oleh para malaikat.   Ada hadits yang sifatnya umum, yaitu berisi larangan menakut-nakuti muslim lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا “Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR. Abu Daud, no. 5004; Ahmad 5: 362. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).   Kalau seperti di atas saja dilarang bagaimana mungkin Islam mengizinkan membunuh orang lain yang tidak bersalah?   Moga kita semua dijauhkan dari laknat Allah dan malaikat-Nya. — DS, Warak, Girisekar, Panggang, 5 Muharram 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagslawakan terlaknat

Nama Bayi Perempuan (Bahasa Arab)

Ingin memberi nama pada bayi perempuan dengan bahasa Arab? Silakan mengambil dari kata-kata berikut sesuai dengan artinya yang menarik.   Update 11 Muharram 1442 H 30 Agustus 2020 (65 nama)   Huruf Alif Adhwa’ : cahaya Alifah : penyayang Amarah : tanda Aminah : bahagia, tenang Aribah : cerdas Asma’ : cantik, dikenal Ibtihaj : wanita yang gembira dan senang   Huruf Ba’ Badirah : terdepan Badiyah : awal dari sesuatu Bari’ah : wanita yang cantik Basiqah : tinggi, mulia Batsiqah : orang yang sangat mulia   Huruf Ta’ Taufiqah: lurus dan selamat dalam beramal Tamamah: sempurna   Huruf Tsa’ Tsabitah (Sabitah): kokoh, tidak berubah, istiqamah Tsarwah (Sarwah): kaya, dermawan Tsunya (Sunya): pujian Tsanwa (Sanwa): pujian   Huruf Jim Jabirah: kuat, orang yang berbuat baik, orang yang selamat, nama kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Jariyah: berjalan, perahu, pemudi, mentari Jirbah: menunjukkan kesalehan, bermakna secara bahasa yaitu ladang, bisa juga bermakna tetap tumbuh dengan baik Jalilah: sifat agung, memiliki ketenangan (berwibawa), enak dipandang Jamirah: sanggul, kumpulan rambut Jamilah: bagus, cantik, elok Jumhurah: wanita yang mulia Junainah: kebun, taman yang kecil Juhairah: suaranya keras, enak dipandang Jahanah: usianya muda Jaihan: kehidupan, telah dekat Jahidah: berusaha dengan sungguh-sungguh Jahizah: melengkapi, ringan Jaharah: suaranya keras, kedudukannya mulia, enak dipandang Jamalat: menembus, luar biasa, cantik Jauharah: mahal, berharga Jaunah: hitam Jawidah: pemurah, dermawan Jasirah: kuat   Huruf Ha’ (ح) Haritsah: yang menanam, memperoleh, memahami, mengingat Hazimah: orang yang kuat hafalannya dan mutqin Hakimah: yang ditugasi memutuskan hukum antara manusia Hamidah: wanita yang bersyukur, yang dipuji Hababah: dicintai, dikasihi Hibrah: nikmat yang bagus dan kehidupan yang menyenangkan Habasyah: berkumpul Habibah: yang dicintai Hafizhah: yang menjaga perjanjian Hadzayah: cerdas, sempurna Hurriyah: merdeka, bebas dari perbudakan Hasna: wanita yang baik, cantik, elok Hasanah: baik perkjataan, berbuat yang makruf Hafshah: nama istri nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, putri Umar bin Khattab, artinya: mengumpulkan Hakimah: orang yang punya hikmah (selalu tepat). Halilah: wanita yang halal Halimah: wanita yang sabar, wanita yang hikmah, dan mudah memaafkan Hamadah: bersyukur, dipuji Hamdah: pujian untuknya Hananah: penyayang Hamudah: yang dipuji Hanifah: yang berserah diri pada Allah Hanun: sangat penyayang Hanin: sangat penyayang Haura: penyejuk mata Haniyah: penyayang Hassanah: cantik, dicintai Hashifah: pintar dan penuh hikmah   Sumber: Mawsu’ah Al-Asma’ – Ahsanul Asma’ fi Tasmiyyah Al-Abna’. Cetakan pertama, Tahun 1428 H. Dr. Fahd Khalil Zayid. Penerbit Darun Nafais.   Moga lebih dari 100 nama bayi perempuan dalam versi bahasa arab akan tersedia di halaman ini.    Baca juga: Nama terbaik untuk si buah hati Nama yang terlarang untuk si buah hati Semoga bermanfaat. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshadiah hari lahir nama bayi versi rumaysho pemberian nama

Nama Bayi Perempuan (Bahasa Arab)

Ingin memberi nama pada bayi perempuan dengan bahasa Arab? Silakan mengambil dari kata-kata berikut sesuai dengan artinya yang menarik.   Update 11 Muharram 1442 H 30 Agustus 2020 (65 nama)   Huruf Alif Adhwa’ : cahaya Alifah : penyayang Amarah : tanda Aminah : bahagia, tenang Aribah : cerdas Asma’ : cantik, dikenal Ibtihaj : wanita yang gembira dan senang   Huruf Ba’ Badirah : terdepan Badiyah : awal dari sesuatu Bari’ah : wanita yang cantik Basiqah : tinggi, mulia Batsiqah : orang yang sangat mulia   Huruf Ta’ Taufiqah: lurus dan selamat dalam beramal Tamamah: sempurna   Huruf Tsa’ Tsabitah (Sabitah): kokoh, tidak berubah, istiqamah Tsarwah (Sarwah): kaya, dermawan Tsunya (Sunya): pujian Tsanwa (Sanwa): pujian   Huruf Jim Jabirah: kuat, orang yang berbuat baik, orang yang selamat, nama kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Jariyah: berjalan, perahu, pemudi, mentari Jirbah: menunjukkan kesalehan, bermakna secara bahasa yaitu ladang, bisa juga bermakna tetap tumbuh dengan baik Jalilah: sifat agung, memiliki ketenangan (berwibawa), enak dipandang Jamirah: sanggul, kumpulan rambut Jamilah: bagus, cantik, elok Jumhurah: wanita yang mulia Junainah: kebun, taman yang kecil Juhairah: suaranya keras, enak dipandang Jahanah: usianya muda Jaihan: kehidupan, telah dekat Jahidah: berusaha dengan sungguh-sungguh Jahizah: melengkapi, ringan Jaharah: suaranya keras, kedudukannya mulia, enak dipandang Jamalat: menembus, luar biasa, cantik Jauharah: mahal, berharga Jaunah: hitam Jawidah: pemurah, dermawan Jasirah: kuat   Huruf Ha’ (ح) Haritsah: yang menanam, memperoleh, memahami, mengingat Hazimah: orang yang kuat hafalannya dan mutqin Hakimah: yang ditugasi memutuskan hukum antara manusia Hamidah: wanita yang bersyukur, yang dipuji Hababah: dicintai, dikasihi Hibrah: nikmat yang bagus dan kehidupan yang menyenangkan Habasyah: berkumpul Habibah: yang dicintai Hafizhah: yang menjaga perjanjian Hadzayah: cerdas, sempurna Hurriyah: merdeka, bebas dari perbudakan Hasna: wanita yang baik, cantik, elok Hasanah: baik perkjataan, berbuat yang makruf Hafshah: nama istri nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, putri Umar bin Khattab, artinya: mengumpulkan Hakimah: orang yang punya hikmah (selalu tepat). Halilah: wanita yang halal Halimah: wanita yang sabar, wanita yang hikmah, dan mudah memaafkan Hamadah: bersyukur, dipuji Hamdah: pujian untuknya Hananah: penyayang Hamudah: yang dipuji Hanifah: yang berserah diri pada Allah Hanun: sangat penyayang Hanin: sangat penyayang Haura: penyejuk mata Haniyah: penyayang Hassanah: cantik, dicintai Hashifah: pintar dan penuh hikmah   Sumber: Mawsu’ah Al-Asma’ – Ahsanul Asma’ fi Tasmiyyah Al-Abna’. Cetakan pertama, Tahun 1428 H. Dr. Fahd Khalil Zayid. Penerbit Darun Nafais.   Moga lebih dari 100 nama bayi perempuan dalam versi bahasa arab akan tersedia di halaman ini.    Baca juga: Nama terbaik untuk si buah hati Nama yang terlarang untuk si buah hati Semoga bermanfaat. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshadiah hari lahir nama bayi versi rumaysho pemberian nama
Ingin memberi nama pada bayi perempuan dengan bahasa Arab? Silakan mengambil dari kata-kata berikut sesuai dengan artinya yang menarik.   Update 11 Muharram 1442 H 30 Agustus 2020 (65 nama)   Huruf Alif Adhwa’ : cahaya Alifah : penyayang Amarah : tanda Aminah : bahagia, tenang Aribah : cerdas Asma’ : cantik, dikenal Ibtihaj : wanita yang gembira dan senang   Huruf Ba’ Badirah : terdepan Badiyah : awal dari sesuatu Bari’ah : wanita yang cantik Basiqah : tinggi, mulia Batsiqah : orang yang sangat mulia   Huruf Ta’ Taufiqah: lurus dan selamat dalam beramal Tamamah: sempurna   Huruf Tsa’ Tsabitah (Sabitah): kokoh, tidak berubah, istiqamah Tsarwah (Sarwah): kaya, dermawan Tsunya (Sunya): pujian Tsanwa (Sanwa): pujian   Huruf Jim Jabirah: kuat, orang yang berbuat baik, orang yang selamat, nama kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Jariyah: berjalan, perahu, pemudi, mentari Jirbah: menunjukkan kesalehan, bermakna secara bahasa yaitu ladang, bisa juga bermakna tetap tumbuh dengan baik Jalilah: sifat agung, memiliki ketenangan (berwibawa), enak dipandang Jamirah: sanggul, kumpulan rambut Jamilah: bagus, cantik, elok Jumhurah: wanita yang mulia Junainah: kebun, taman yang kecil Juhairah: suaranya keras, enak dipandang Jahanah: usianya muda Jaihan: kehidupan, telah dekat Jahidah: berusaha dengan sungguh-sungguh Jahizah: melengkapi, ringan Jaharah: suaranya keras, kedudukannya mulia, enak dipandang Jamalat: menembus, luar biasa, cantik Jauharah: mahal, berharga Jaunah: hitam Jawidah: pemurah, dermawan Jasirah: kuat   Huruf Ha’ (ح) Haritsah: yang menanam, memperoleh, memahami, mengingat Hazimah: orang yang kuat hafalannya dan mutqin Hakimah: yang ditugasi memutuskan hukum antara manusia Hamidah: wanita yang bersyukur, yang dipuji Hababah: dicintai, dikasihi Hibrah: nikmat yang bagus dan kehidupan yang menyenangkan Habasyah: berkumpul Habibah: yang dicintai Hafizhah: yang menjaga perjanjian Hadzayah: cerdas, sempurna Hurriyah: merdeka, bebas dari perbudakan Hasna: wanita yang baik, cantik, elok Hasanah: baik perkjataan, berbuat yang makruf Hafshah: nama istri nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, putri Umar bin Khattab, artinya: mengumpulkan Hakimah: orang yang punya hikmah (selalu tepat). Halilah: wanita yang halal Halimah: wanita yang sabar, wanita yang hikmah, dan mudah memaafkan Hamadah: bersyukur, dipuji Hamdah: pujian untuknya Hananah: penyayang Hamudah: yang dipuji Hanifah: yang berserah diri pada Allah Hanun: sangat penyayang Hanin: sangat penyayang Haura: penyejuk mata Haniyah: penyayang Hassanah: cantik, dicintai Hashifah: pintar dan penuh hikmah   Sumber: Mawsu’ah Al-Asma’ – Ahsanul Asma’ fi Tasmiyyah Al-Abna’. Cetakan pertama, Tahun 1428 H. Dr. Fahd Khalil Zayid. Penerbit Darun Nafais.   Moga lebih dari 100 nama bayi perempuan dalam versi bahasa arab akan tersedia di halaman ini.    Baca juga: Nama terbaik untuk si buah hati Nama yang terlarang untuk si buah hati Semoga bermanfaat. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshadiah hari lahir nama bayi versi rumaysho pemberian nama


Ingin memberi nama pada bayi perempuan dengan bahasa Arab? Silakan mengambil dari kata-kata berikut sesuai dengan artinya yang menarik.   Update 11 Muharram 1442 H 30 Agustus 2020 (65 nama)   Huruf Alif Adhwa’ : cahaya Alifah : penyayang Amarah : tanda Aminah : bahagia, tenang Aribah : cerdas Asma’ : cantik, dikenal Ibtihaj : wanita yang gembira dan senang   Huruf Ba’ Badirah : terdepan Badiyah : awal dari sesuatu Bari’ah : wanita yang cantik Basiqah : tinggi, mulia Batsiqah : orang yang sangat mulia   Huruf Ta’ Taufiqah: lurus dan selamat dalam beramal Tamamah: sempurna   Huruf Tsa’ Tsabitah (Sabitah): kokoh, tidak berubah, istiqamah Tsarwah (Sarwah): kaya, dermawan Tsunya (Sunya): pujian Tsanwa (Sanwa): pujian   Huruf Jim Jabirah: kuat, orang yang berbuat baik, orang yang selamat, nama kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Jariyah: berjalan, perahu, pemudi, mentari Jirbah: menunjukkan kesalehan, bermakna secara bahasa yaitu ladang, bisa juga bermakna tetap tumbuh dengan baik Jalilah: sifat agung, memiliki ketenangan (berwibawa), enak dipandang Jamirah: sanggul, kumpulan rambut Jamilah: bagus, cantik, elok Jumhurah: wanita yang mulia Junainah: kebun, taman yang kecil Juhairah: suaranya keras, enak dipandang Jahanah: usianya muda Jaihan: kehidupan, telah dekat Jahidah: berusaha dengan sungguh-sungguh Jahizah: melengkapi, ringan Jaharah: suaranya keras, kedudukannya mulia, enak dipandang Jamalat: menembus, luar biasa, cantik Jauharah: mahal, berharga Jaunah: hitam Jawidah: pemurah, dermawan Jasirah: kuat   Huruf Ha’ (ح) Haritsah: yang menanam, memperoleh, memahami, mengingat Hazimah: orang yang kuat hafalannya dan mutqin Hakimah: yang ditugasi memutuskan hukum antara manusia Hamidah: wanita yang bersyukur, yang dipuji Hababah: dicintai, dikasihi Hibrah: nikmat yang bagus dan kehidupan yang menyenangkan Habasyah: berkumpul Habibah: yang dicintai Hafizhah: yang menjaga perjanjian Hadzayah: cerdas, sempurna Hurriyah: merdeka, bebas dari perbudakan Hasna: wanita yang baik, cantik, elok Hasanah: baik perkjataan, berbuat yang makruf Hafshah: nama istri nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, putri Umar bin Khattab, artinya: mengumpulkan Hakimah: orang yang punya hikmah (selalu tepat). Halilah: wanita yang halal Halimah: wanita yang sabar, wanita yang hikmah, dan mudah memaafkan Hamadah: bersyukur, dipuji Hamdah: pujian untuknya Hananah: penyayang Hamudah: yang dipuji Hanifah: yang berserah diri pada Allah Hanun: sangat penyayang Hanin: sangat penyayang Haura: penyejuk mata Haniyah: penyayang Hassanah: cantik, dicintai Hashifah: pintar dan penuh hikmah   Sumber: Mawsu’ah Al-Asma’ – Ahsanul Asma’ fi Tasmiyyah Al-Abna’. Cetakan pertama, Tahun 1428 H. Dr. Fahd Khalil Zayid. Penerbit Darun Nafais.   Moga lebih dari 100 nama bayi perempuan dalam versi bahasa arab akan tersedia di halaman ini.    Baca juga: Nama terbaik untuk si buah hati Nama yang terlarang untuk si buah hati Semoga bermanfaat. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshadiah hari lahir nama bayi versi rumaysho pemberian nama

Nama Bayi Laki-Laki (Bahasa Arab)

Ingin memberi nama pada bayi laki-laki dengan bahasa Arab? Silakan mengambil dari kata-kata berikut sesuai dengan artinya yang menarik.   Update 2 September 2020 (101 nama) Huruf Alif A’jubah : membuat takjub Aban : Jelas Adib : sopan, tahu tata krama Afanin : bagus Afnan : bagus Afrah : senang, bahagia Ahmad : bersyukur, terpuji Akbar : besar, mulia Alif : penyayang Amin : amanat Anam : tumbuh, manusia Anis : ramah, bersahabat Arij : bau yang wangi Arqam : berilmu As’ad : bahagia Asad : pemberani Asarir : wajah yang ceria Ashif : orang yang punya kedudukan yang mulia, tukang tulisnya Nabi Sulaiman Aslam : masuk dalam Islam Asrar : pendiam Asyja’ : pemberani Atsir : Mulia Ayat : tanda, ibrah Aysar : bahagia, berkah dan penuh kebaikan Ayyub : orang yang penyabar, terus kembali pada Allah, orang yang wara’ (sederhana) Azhar : bagus Azraq : biru Ibhaj : gembira Ibkar : shubuh, pagi Ibrahim : cahaya, nama Nabi Ibtisam : Gembira, bahagia Ihsan : melakukan perbuatan baik Ikhtimam : sempurna Ikram : mulia Imtiyaz : berbeda Inas : ramah, bersahabat, yakin Iqbal : terdepan Ishaq : berakhlak mulia, teliti dalam pekerjaan Isma’il : mendengar, nama Nabi Isyraf : mulia Itmam : sempurna Itsar : mulia, kemuliaan Usamah : pemberani   Huruf Ba’ Badi : awal dari sesuatu Badir : wajah yang bersinar Badri: memiliki wajah seperti rembulan Bakir : pagi, awal dari sesuatu Bari’ : kecantikan dan kemuliaan yang sempurna Bariz : muncul setelah tersembunyi Basyir : suka senyum, tampan Batsiq : orang yang sangat mulia Baz/ Bazi : kuat   Huruf Ta’ Taib: taubat dari dosa Taaq: suka pada sesuatu Taaj: mahkota raja Tuhfah: hadiah, sesuatu kebahagiaan Tahiyyah: bertemu, penghormatan, selamat dari penyakit Tahsin: indah, baiknya sesuatu Tadzkar: ibrah, pengingat Turots: peninggalan orang terdahulu Tasnim: mata air di surga Tamar: membeli kurma, menunjukkan banyak Tamara: orang yang suka memberi Taufiq: lurus dan selamat dalam beramal Taisir: urusan selalu mudah Tijan: orang yang punya akhlak yang mulia, orang yang terhormat Taslim: orang yang tunduk dan patuh pada perintah Allah Tamam: sempurna   Huruf Tsa’ Tsabit (Sabit): kokoh, tidak berubah, istiqamah Tsaqib (Saqib): cerdas, bersinar, benar Tsaqif (Saqif): pandai, cakap, pintar Tsamin: berharga Tsauban: kembali kepada Allah, nama sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam   Huruf Ra’ Ruslan : pemberani   Huruf Jim Jabir: kuat, orang yang berbuat baik, orang yang selamat Jad: dermawan Jadullah: pemberian Allah Jarullah: dekat dengan Allah Jarih: orang yang berusaha Jasim: agung, cerdas, berakal Jahid: orang yang berjihad Jawid: dermawan Jabar: pemberani Jarad: menghapuskan, menghilangkan Jarar: banyak Jazil: pemberian, agung, besar Jalal: perkara besar, berwibawa, tenang, teguh Jalil: pemberian, berwibawa Jamal: bagus dalam perbuatan, cerdas Jamil: bagus dalam akhlak Jahid: sangat semangat Jawad: dermawan Jala’: menyingkap, membuka Juud: dermawan Jaud: hujan yang melimpah Jifar: kuat, singa yang kuat   Huruf Ha 95. Hatim: hakim, qadhi, orang yang mulia 96. Harits: berusaha dalam harta, singa, yang berusaha mencari dunua 97. Hasan: bagus, baik 98: Hafizh: penjaga, terang lurus, menghafal Al-Qur’an 99. Hakim: yang memutuskan hukum di tengah manusia 100. Hamid: orang yang bersyukur, banyak pujian   Sumber: Mawsu’ah Al-Asma’ – Ahsanul Asma’ fi Tasmiyyah Al-Abna’. Cetakan pertama, Tahun 1428 H. Dr. Fahd Khalil Zayid. Penerbit Darun Nafais.   Moga lebih dari 100 nama bayi perempuan dalam versi bahasa arab akan tersedia di halaman ini.    Baca juga: Nama terbaik untuk si buah hati Nama yang terlarang untuk si buah hati Semoga bermanfaat.   — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshadiah hari lahir nama bayi versi rumaysho pemberian nama

Nama Bayi Laki-Laki (Bahasa Arab)

Ingin memberi nama pada bayi laki-laki dengan bahasa Arab? Silakan mengambil dari kata-kata berikut sesuai dengan artinya yang menarik.   Update 2 September 2020 (101 nama) Huruf Alif A’jubah : membuat takjub Aban : Jelas Adib : sopan, tahu tata krama Afanin : bagus Afnan : bagus Afrah : senang, bahagia Ahmad : bersyukur, terpuji Akbar : besar, mulia Alif : penyayang Amin : amanat Anam : tumbuh, manusia Anis : ramah, bersahabat Arij : bau yang wangi Arqam : berilmu As’ad : bahagia Asad : pemberani Asarir : wajah yang ceria Ashif : orang yang punya kedudukan yang mulia, tukang tulisnya Nabi Sulaiman Aslam : masuk dalam Islam Asrar : pendiam Asyja’ : pemberani Atsir : Mulia Ayat : tanda, ibrah Aysar : bahagia, berkah dan penuh kebaikan Ayyub : orang yang penyabar, terus kembali pada Allah, orang yang wara’ (sederhana) Azhar : bagus Azraq : biru Ibhaj : gembira Ibkar : shubuh, pagi Ibrahim : cahaya, nama Nabi Ibtisam : Gembira, bahagia Ihsan : melakukan perbuatan baik Ikhtimam : sempurna Ikram : mulia Imtiyaz : berbeda Inas : ramah, bersahabat, yakin Iqbal : terdepan Ishaq : berakhlak mulia, teliti dalam pekerjaan Isma’il : mendengar, nama Nabi Isyraf : mulia Itmam : sempurna Itsar : mulia, kemuliaan Usamah : pemberani   Huruf Ba’ Badi : awal dari sesuatu Badir : wajah yang bersinar Badri: memiliki wajah seperti rembulan Bakir : pagi, awal dari sesuatu Bari’ : kecantikan dan kemuliaan yang sempurna Bariz : muncul setelah tersembunyi Basyir : suka senyum, tampan Batsiq : orang yang sangat mulia Baz/ Bazi : kuat   Huruf Ta’ Taib: taubat dari dosa Taaq: suka pada sesuatu Taaj: mahkota raja Tuhfah: hadiah, sesuatu kebahagiaan Tahiyyah: bertemu, penghormatan, selamat dari penyakit Tahsin: indah, baiknya sesuatu Tadzkar: ibrah, pengingat Turots: peninggalan orang terdahulu Tasnim: mata air di surga Tamar: membeli kurma, menunjukkan banyak Tamara: orang yang suka memberi Taufiq: lurus dan selamat dalam beramal Taisir: urusan selalu mudah Tijan: orang yang punya akhlak yang mulia, orang yang terhormat Taslim: orang yang tunduk dan patuh pada perintah Allah Tamam: sempurna   Huruf Tsa’ Tsabit (Sabit): kokoh, tidak berubah, istiqamah Tsaqib (Saqib): cerdas, bersinar, benar Tsaqif (Saqif): pandai, cakap, pintar Tsamin: berharga Tsauban: kembali kepada Allah, nama sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam   Huruf Ra’ Ruslan : pemberani   Huruf Jim Jabir: kuat, orang yang berbuat baik, orang yang selamat Jad: dermawan Jadullah: pemberian Allah Jarullah: dekat dengan Allah Jarih: orang yang berusaha Jasim: agung, cerdas, berakal Jahid: orang yang berjihad Jawid: dermawan Jabar: pemberani Jarad: menghapuskan, menghilangkan Jarar: banyak Jazil: pemberian, agung, besar Jalal: perkara besar, berwibawa, tenang, teguh Jalil: pemberian, berwibawa Jamal: bagus dalam perbuatan, cerdas Jamil: bagus dalam akhlak Jahid: sangat semangat Jawad: dermawan Jala’: menyingkap, membuka Juud: dermawan Jaud: hujan yang melimpah Jifar: kuat, singa yang kuat   Huruf Ha 95. Hatim: hakim, qadhi, orang yang mulia 96. Harits: berusaha dalam harta, singa, yang berusaha mencari dunua 97. Hasan: bagus, baik 98: Hafizh: penjaga, terang lurus, menghafal Al-Qur’an 99. Hakim: yang memutuskan hukum di tengah manusia 100. Hamid: orang yang bersyukur, banyak pujian   Sumber: Mawsu’ah Al-Asma’ – Ahsanul Asma’ fi Tasmiyyah Al-Abna’. Cetakan pertama, Tahun 1428 H. Dr. Fahd Khalil Zayid. Penerbit Darun Nafais.   Moga lebih dari 100 nama bayi perempuan dalam versi bahasa arab akan tersedia di halaman ini.    Baca juga: Nama terbaik untuk si buah hati Nama yang terlarang untuk si buah hati Semoga bermanfaat.   — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshadiah hari lahir nama bayi versi rumaysho pemberian nama
Ingin memberi nama pada bayi laki-laki dengan bahasa Arab? Silakan mengambil dari kata-kata berikut sesuai dengan artinya yang menarik.   Update 2 September 2020 (101 nama) Huruf Alif A’jubah : membuat takjub Aban : Jelas Adib : sopan, tahu tata krama Afanin : bagus Afnan : bagus Afrah : senang, bahagia Ahmad : bersyukur, terpuji Akbar : besar, mulia Alif : penyayang Amin : amanat Anam : tumbuh, manusia Anis : ramah, bersahabat Arij : bau yang wangi Arqam : berilmu As’ad : bahagia Asad : pemberani Asarir : wajah yang ceria Ashif : orang yang punya kedudukan yang mulia, tukang tulisnya Nabi Sulaiman Aslam : masuk dalam Islam Asrar : pendiam Asyja’ : pemberani Atsir : Mulia Ayat : tanda, ibrah Aysar : bahagia, berkah dan penuh kebaikan Ayyub : orang yang penyabar, terus kembali pada Allah, orang yang wara’ (sederhana) Azhar : bagus Azraq : biru Ibhaj : gembira Ibkar : shubuh, pagi Ibrahim : cahaya, nama Nabi Ibtisam : Gembira, bahagia Ihsan : melakukan perbuatan baik Ikhtimam : sempurna Ikram : mulia Imtiyaz : berbeda Inas : ramah, bersahabat, yakin Iqbal : terdepan Ishaq : berakhlak mulia, teliti dalam pekerjaan Isma’il : mendengar, nama Nabi Isyraf : mulia Itmam : sempurna Itsar : mulia, kemuliaan Usamah : pemberani   Huruf Ba’ Badi : awal dari sesuatu Badir : wajah yang bersinar Badri: memiliki wajah seperti rembulan Bakir : pagi, awal dari sesuatu Bari’ : kecantikan dan kemuliaan yang sempurna Bariz : muncul setelah tersembunyi Basyir : suka senyum, tampan Batsiq : orang yang sangat mulia Baz/ Bazi : kuat   Huruf Ta’ Taib: taubat dari dosa Taaq: suka pada sesuatu Taaj: mahkota raja Tuhfah: hadiah, sesuatu kebahagiaan Tahiyyah: bertemu, penghormatan, selamat dari penyakit Tahsin: indah, baiknya sesuatu Tadzkar: ibrah, pengingat Turots: peninggalan orang terdahulu Tasnim: mata air di surga Tamar: membeli kurma, menunjukkan banyak Tamara: orang yang suka memberi Taufiq: lurus dan selamat dalam beramal Taisir: urusan selalu mudah Tijan: orang yang punya akhlak yang mulia, orang yang terhormat Taslim: orang yang tunduk dan patuh pada perintah Allah Tamam: sempurna   Huruf Tsa’ Tsabit (Sabit): kokoh, tidak berubah, istiqamah Tsaqib (Saqib): cerdas, bersinar, benar Tsaqif (Saqif): pandai, cakap, pintar Tsamin: berharga Tsauban: kembali kepada Allah, nama sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam   Huruf Ra’ Ruslan : pemberani   Huruf Jim Jabir: kuat, orang yang berbuat baik, orang yang selamat Jad: dermawan Jadullah: pemberian Allah Jarullah: dekat dengan Allah Jarih: orang yang berusaha Jasim: agung, cerdas, berakal Jahid: orang yang berjihad Jawid: dermawan Jabar: pemberani Jarad: menghapuskan, menghilangkan Jarar: banyak Jazil: pemberian, agung, besar Jalal: perkara besar, berwibawa, tenang, teguh Jalil: pemberian, berwibawa Jamal: bagus dalam perbuatan, cerdas Jamil: bagus dalam akhlak Jahid: sangat semangat Jawad: dermawan Jala’: menyingkap, membuka Juud: dermawan Jaud: hujan yang melimpah Jifar: kuat, singa yang kuat   Huruf Ha 95. Hatim: hakim, qadhi, orang yang mulia 96. Harits: berusaha dalam harta, singa, yang berusaha mencari dunua 97. Hasan: bagus, baik 98: Hafizh: penjaga, terang lurus, menghafal Al-Qur’an 99. Hakim: yang memutuskan hukum di tengah manusia 100. Hamid: orang yang bersyukur, banyak pujian   Sumber: Mawsu’ah Al-Asma’ – Ahsanul Asma’ fi Tasmiyyah Al-Abna’. Cetakan pertama, Tahun 1428 H. Dr. Fahd Khalil Zayid. Penerbit Darun Nafais.   Moga lebih dari 100 nama bayi perempuan dalam versi bahasa arab akan tersedia di halaman ini.    Baca juga: Nama terbaik untuk si buah hati Nama yang terlarang untuk si buah hati Semoga bermanfaat.   — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshadiah hari lahir nama bayi versi rumaysho pemberian nama


Ingin memberi nama pada bayi laki-laki dengan bahasa Arab? Silakan mengambil dari kata-kata berikut sesuai dengan artinya yang menarik.   Update 2 September 2020 (101 nama) Huruf Alif A’jubah : membuat takjub Aban : Jelas Adib : sopan, tahu tata krama Afanin : bagus Afnan : bagus Afrah : senang, bahagia Ahmad : bersyukur, terpuji Akbar : besar, mulia Alif : penyayang Amin : amanat Anam : tumbuh, manusia Anis : ramah, bersahabat Arij : bau yang wangi Arqam : berilmu As’ad : bahagia Asad : pemberani Asarir : wajah yang ceria Ashif : orang yang punya kedudukan yang mulia, tukang tulisnya Nabi Sulaiman Aslam : masuk dalam Islam Asrar : pendiam Asyja’ : pemberani Atsir : Mulia Ayat : tanda, ibrah Aysar : bahagia, berkah dan penuh kebaikan Ayyub : orang yang penyabar, terus kembali pada Allah, orang yang wara’ (sederhana) Azhar : bagus Azraq : biru Ibhaj : gembira Ibkar : shubuh, pagi Ibrahim : cahaya, nama Nabi Ibtisam : Gembira, bahagia Ihsan : melakukan perbuatan baik Ikhtimam : sempurna Ikram : mulia Imtiyaz : berbeda Inas : ramah, bersahabat, yakin Iqbal : terdepan Ishaq : berakhlak mulia, teliti dalam pekerjaan Isma’il : mendengar, nama Nabi Isyraf : mulia Itmam : sempurna Itsar : mulia, kemuliaan Usamah : pemberani   Huruf Ba’ Badi : awal dari sesuatu Badir : wajah yang bersinar Badri: memiliki wajah seperti rembulan Bakir : pagi, awal dari sesuatu Bari’ : kecantikan dan kemuliaan yang sempurna Bariz : muncul setelah tersembunyi Basyir : suka senyum, tampan Batsiq : orang yang sangat mulia Baz/ Bazi : kuat   Huruf Ta’ Taib: taubat dari dosa Taaq: suka pada sesuatu Taaj: mahkota raja Tuhfah: hadiah, sesuatu kebahagiaan Tahiyyah: bertemu, penghormatan, selamat dari penyakit Tahsin: indah, baiknya sesuatu Tadzkar: ibrah, pengingat Turots: peninggalan orang terdahulu Tasnim: mata air di surga Tamar: membeli kurma, menunjukkan banyak Tamara: orang yang suka memberi Taufiq: lurus dan selamat dalam beramal Taisir: urusan selalu mudah Tijan: orang yang punya akhlak yang mulia, orang yang terhormat Taslim: orang yang tunduk dan patuh pada perintah Allah Tamam: sempurna   Huruf Tsa’ Tsabit (Sabit): kokoh, tidak berubah, istiqamah Tsaqib (Saqib): cerdas, bersinar, benar Tsaqif (Saqif): pandai, cakap, pintar Tsamin: berharga Tsauban: kembali kepada Allah, nama sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam   Huruf Ra’ Ruslan : pemberani   Huruf Jim Jabir: kuat, orang yang berbuat baik, orang yang selamat Jad: dermawan Jadullah: pemberian Allah Jarullah: dekat dengan Allah Jarih: orang yang berusaha Jasim: agung, cerdas, berakal Jahid: orang yang berjihad Jawid: dermawan Jabar: pemberani Jarad: menghapuskan, menghilangkan Jarar: banyak Jazil: pemberian, agung, besar Jalal: perkara besar, berwibawa, tenang, teguh Jalil: pemberian, berwibawa Jamal: bagus dalam perbuatan, cerdas Jamil: bagus dalam akhlak Jahid: sangat semangat Jawad: dermawan Jala’: menyingkap, membuka Juud: dermawan Jaud: hujan yang melimpah Jifar: kuat, singa yang kuat   Huruf Ha 95. Hatim: hakim, qadhi, orang yang mulia 96. Harits: berusaha dalam harta, singa, yang berusaha mencari dunua 97. Hasan: bagus, baik 98: Hafizh: penjaga, terang lurus, menghafal Al-Qur’an 99. Hakim: yang memutuskan hukum di tengah manusia 100. Hamid: orang yang bersyukur, banyak pujian   Sumber: Mawsu’ah Al-Asma’ – Ahsanul Asma’ fi Tasmiyyah Al-Abna’. Cetakan pertama, Tahun 1428 H. Dr. Fahd Khalil Zayid. Penerbit Darun Nafais.   Moga lebih dari 100 nama bayi perempuan dalam versi bahasa arab akan tersedia di halaman ini.    Baca juga: Nama terbaik untuk si buah hati Nama yang terlarang untuk si buah hati Semoga bermanfaat.   — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagshadiah hari lahir nama bayi versi rumaysho pemberian nama

Rincian Amal Jariyah (seri 2): Membangun Masjid

Di antara amal jariyah yang saat ini dibahas adalah membangun masjid.   5- Membangun Masjid Karena masjid adalah tempat yang paling dicintai di sisi Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا “Sebaik-baik negeri (tempat) yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid. Sebaik-baik tempat yang dibenci oleh Allah adalah pasar.” (HR. Muslim, no. 671) Tentang masjid pula Allah sebutkan, فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” (QS. An-Nur: 36) Maksud ayat di atas, inilah tempat yang Allah perintahkan bersih dari berbagai kotoran dan hal-hal yang melalaikan (laghwu), juga bersih dari perbuatan dan perkataan yang tidak pantas. Pernyataan seperti ini seperti dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Abu Shalih, Adh-Dhahak, Nafi’ bin Jubair, Abu Bakr bin Sulaiman bin Abi Hatsmah, Sufyan bin Husain, dan ulama tafsir lainnya. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 546. Masjid inilah nantinya diisi dengan shalat, diisi dengan tilawah Al-Qur’an, diisi dengan dzikir pada Allah, di dalamnya disebarkan ilmu-ilmu dinul Islam serta dimanfaatkan untuk kemaslahatan kaum muslimin lainnya. Siapa yang membangun masjid untuk maksud semacam ini, nantinya akan mendapatkan ganjaran dan sebagai amal jariyah. Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ مِثْلَهُ “Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di surga.” (HR. Bukhari, no. 450; Muslim, no. 533).   Dari ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يُذْكَرُ فِيهِ اسْمُ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ “Siapa yang membangun masjdi lalu di dalamnya digunakan untuk berdzikir (mengingat) nama Allah, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 735; Ahmad, 1: 20. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Mafhash qathaah dalam hadits artinya lubang yang dipakai burung menaruh telurnya dan menderum di tempat tesebut. Dan qathah adalah sejenis burung. Ibnu Hajar dalam Al-Fath (1: 545) menyatakan, (مَنْ بَنَى مَسْجِدًا) التَّنْكِير فِيهِ لِلشُّيُوعِ فَيَدْخُلُ فِيهِ الْكَبِير وَالصَّغِير ، وَوَقَعَ فِي رِوَايَةِ أَنَس عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا “Maksud dari “siapa yang membangun masjid” digunakan isim nakirah yang menunjukkan keumuman, sehingga maksud hadits adalah siapa yang membangun masjid besar maupun kecil. Dalam riwayat Anas yang dikeluarkan oleh Tirmidzi yang mendukung yang menyatakan dengan masjid kecil atau besar.”   Masih melanjutkan penjelasan Ibnu Hajar, yang diterangkan dalam hadits di atas adalah cuma bahasa hiperbolis. Karena tak mungkin tempat burung menaruh telur dan menderum yang seukuran itu dijadikan tempat shalat. Ada riwayat Jabir semakin memperkuat hal ini. Di setiap kampung hendaklah pula dibuatkan masjid agar orang bisa melaksanakan shalat lima waktu dengan mudah. Dalam Sunan Abi Daud disebutkan judul Bab “Membangun Masjid di Perkampungan”, lalu dibawakanlah dua hadits berikut. عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِبِنَاءِ الْمَسَاجِدِ فِى الدُّورِ وَأَنْ تُنَظَّفَ وَتُطَيَّبَ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membangun masjid di kampung-kampung, hendaklah masjid tersebut dijaga kebersihan dan dibuat dalam keadaan wangi. (HR. Abu Daud, no. 455; Tirmidzi, no. 594; Ibnu Majah, no. 758. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)   عَنْ أَبِيهِ سُلَيْمَانَ بْنِ سَمُرَةَ عَنْ أَبِيهِ سَمُرَةَ أَنَّهُ كَتَبَ إِلَى ابْنِهِ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَأْمُرُنَا بِالْمَسَاجِدِ أَنْ نَصْنَعَهَا فِى دِيَارِنَا وَنُصْلِحَ صَنْعَتَهَا وَنُطَهِّرَهَا. Dari Samurah, ia pernah menulis surat pada anaknya yang bernama Sulaiman, yang isinya, “Amma ba’du, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan kepada kami untuk membuat masjid di kampung kami, lalu memperbagus pembuatannya dan menjaga kebersihannya.” (HR. Abu Daud, no. 456; Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, 7: 252. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if)   Semoga kita bisa menjadikan pembangunan masjid seperti ini sebagai amal jariyah.   Dikembangkan dari penjelasan Syaikh ‘Abdur Razaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr di sini. Bersambung insya Allah. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Muharram 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsamal jariyah kirim pahala renovasi masjid

Rincian Amal Jariyah (seri 2): Membangun Masjid

Di antara amal jariyah yang saat ini dibahas adalah membangun masjid.   5- Membangun Masjid Karena masjid adalah tempat yang paling dicintai di sisi Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا “Sebaik-baik negeri (tempat) yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid. Sebaik-baik tempat yang dibenci oleh Allah adalah pasar.” (HR. Muslim, no. 671) Tentang masjid pula Allah sebutkan, فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” (QS. An-Nur: 36) Maksud ayat di atas, inilah tempat yang Allah perintahkan bersih dari berbagai kotoran dan hal-hal yang melalaikan (laghwu), juga bersih dari perbuatan dan perkataan yang tidak pantas. Pernyataan seperti ini seperti dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Abu Shalih, Adh-Dhahak, Nafi’ bin Jubair, Abu Bakr bin Sulaiman bin Abi Hatsmah, Sufyan bin Husain, dan ulama tafsir lainnya. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 546. Masjid inilah nantinya diisi dengan shalat, diisi dengan tilawah Al-Qur’an, diisi dengan dzikir pada Allah, di dalamnya disebarkan ilmu-ilmu dinul Islam serta dimanfaatkan untuk kemaslahatan kaum muslimin lainnya. Siapa yang membangun masjid untuk maksud semacam ini, nantinya akan mendapatkan ganjaran dan sebagai amal jariyah. Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ مِثْلَهُ “Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di surga.” (HR. Bukhari, no. 450; Muslim, no. 533).   Dari ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يُذْكَرُ فِيهِ اسْمُ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ “Siapa yang membangun masjdi lalu di dalamnya digunakan untuk berdzikir (mengingat) nama Allah, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 735; Ahmad, 1: 20. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Mafhash qathaah dalam hadits artinya lubang yang dipakai burung menaruh telurnya dan menderum di tempat tesebut. Dan qathah adalah sejenis burung. Ibnu Hajar dalam Al-Fath (1: 545) menyatakan, (مَنْ بَنَى مَسْجِدًا) التَّنْكِير فِيهِ لِلشُّيُوعِ فَيَدْخُلُ فِيهِ الْكَبِير وَالصَّغِير ، وَوَقَعَ فِي رِوَايَةِ أَنَس عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا “Maksud dari “siapa yang membangun masjid” digunakan isim nakirah yang menunjukkan keumuman, sehingga maksud hadits adalah siapa yang membangun masjid besar maupun kecil. Dalam riwayat Anas yang dikeluarkan oleh Tirmidzi yang mendukung yang menyatakan dengan masjid kecil atau besar.”   Masih melanjutkan penjelasan Ibnu Hajar, yang diterangkan dalam hadits di atas adalah cuma bahasa hiperbolis. Karena tak mungkin tempat burung menaruh telur dan menderum yang seukuran itu dijadikan tempat shalat. Ada riwayat Jabir semakin memperkuat hal ini. Di setiap kampung hendaklah pula dibuatkan masjid agar orang bisa melaksanakan shalat lima waktu dengan mudah. Dalam Sunan Abi Daud disebutkan judul Bab “Membangun Masjid di Perkampungan”, lalu dibawakanlah dua hadits berikut. عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِبِنَاءِ الْمَسَاجِدِ فِى الدُّورِ وَأَنْ تُنَظَّفَ وَتُطَيَّبَ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membangun masjid di kampung-kampung, hendaklah masjid tersebut dijaga kebersihan dan dibuat dalam keadaan wangi. (HR. Abu Daud, no. 455; Tirmidzi, no. 594; Ibnu Majah, no. 758. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)   عَنْ أَبِيهِ سُلَيْمَانَ بْنِ سَمُرَةَ عَنْ أَبِيهِ سَمُرَةَ أَنَّهُ كَتَبَ إِلَى ابْنِهِ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَأْمُرُنَا بِالْمَسَاجِدِ أَنْ نَصْنَعَهَا فِى دِيَارِنَا وَنُصْلِحَ صَنْعَتَهَا وَنُطَهِّرَهَا. Dari Samurah, ia pernah menulis surat pada anaknya yang bernama Sulaiman, yang isinya, “Amma ba’du, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan kepada kami untuk membuat masjid di kampung kami, lalu memperbagus pembuatannya dan menjaga kebersihannya.” (HR. Abu Daud, no. 456; Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, 7: 252. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if)   Semoga kita bisa menjadikan pembangunan masjid seperti ini sebagai amal jariyah.   Dikembangkan dari penjelasan Syaikh ‘Abdur Razaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr di sini. Bersambung insya Allah. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Muharram 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsamal jariyah kirim pahala renovasi masjid
Di antara amal jariyah yang saat ini dibahas adalah membangun masjid.   5- Membangun Masjid Karena masjid adalah tempat yang paling dicintai di sisi Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا “Sebaik-baik negeri (tempat) yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid. Sebaik-baik tempat yang dibenci oleh Allah adalah pasar.” (HR. Muslim, no. 671) Tentang masjid pula Allah sebutkan, فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” (QS. An-Nur: 36) Maksud ayat di atas, inilah tempat yang Allah perintahkan bersih dari berbagai kotoran dan hal-hal yang melalaikan (laghwu), juga bersih dari perbuatan dan perkataan yang tidak pantas. Pernyataan seperti ini seperti dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Abu Shalih, Adh-Dhahak, Nafi’ bin Jubair, Abu Bakr bin Sulaiman bin Abi Hatsmah, Sufyan bin Husain, dan ulama tafsir lainnya. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 546. Masjid inilah nantinya diisi dengan shalat, diisi dengan tilawah Al-Qur’an, diisi dengan dzikir pada Allah, di dalamnya disebarkan ilmu-ilmu dinul Islam serta dimanfaatkan untuk kemaslahatan kaum muslimin lainnya. Siapa yang membangun masjid untuk maksud semacam ini, nantinya akan mendapatkan ganjaran dan sebagai amal jariyah. Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ مِثْلَهُ “Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di surga.” (HR. Bukhari, no. 450; Muslim, no. 533).   Dari ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يُذْكَرُ فِيهِ اسْمُ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ “Siapa yang membangun masjdi lalu di dalamnya digunakan untuk berdzikir (mengingat) nama Allah, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 735; Ahmad, 1: 20. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Mafhash qathaah dalam hadits artinya lubang yang dipakai burung menaruh telurnya dan menderum di tempat tesebut. Dan qathah adalah sejenis burung. Ibnu Hajar dalam Al-Fath (1: 545) menyatakan, (مَنْ بَنَى مَسْجِدًا) التَّنْكِير فِيهِ لِلشُّيُوعِ فَيَدْخُلُ فِيهِ الْكَبِير وَالصَّغِير ، وَوَقَعَ فِي رِوَايَةِ أَنَس عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا “Maksud dari “siapa yang membangun masjid” digunakan isim nakirah yang menunjukkan keumuman, sehingga maksud hadits adalah siapa yang membangun masjid besar maupun kecil. Dalam riwayat Anas yang dikeluarkan oleh Tirmidzi yang mendukung yang menyatakan dengan masjid kecil atau besar.”   Masih melanjutkan penjelasan Ibnu Hajar, yang diterangkan dalam hadits di atas adalah cuma bahasa hiperbolis. Karena tak mungkin tempat burung menaruh telur dan menderum yang seukuran itu dijadikan tempat shalat. Ada riwayat Jabir semakin memperkuat hal ini. Di setiap kampung hendaklah pula dibuatkan masjid agar orang bisa melaksanakan shalat lima waktu dengan mudah. Dalam Sunan Abi Daud disebutkan judul Bab “Membangun Masjid di Perkampungan”, lalu dibawakanlah dua hadits berikut. عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِبِنَاءِ الْمَسَاجِدِ فِى الدُّورِ وَأَنْ تُنَظَّفَ وَتُطَيَّبَ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membangun masjid di kampung-kampung, hendaklah masjid tersebut dijaga kebersihan dan dibuat dalam keadaan wangi. (HR. Abu Daud, no. 455; Tirmidzi, no. 594; Ibnu Majah, no. 758. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)   عَنْ أَبِيهِ سُلَيْمَانَ بْنِ سَمُرَةَ عَنْ أَبِيهِ سَمُرَةَ أَنَّهُ كَتَبَ إِلَى ابْنِهِ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَأْمُرُنَا بِالْمَسَاجِدِ أَنْ نَصْنَعَهَا فِى دِيَارِنَا وَنُصْلِحَ صَنْعَتَهَا وَنُطَهِّرَهَا. Dari Samurah, ia pernah menulis surat pada anaknya yang bernama Sulaiman, yang isinya, “Amma ba’du, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan kepada kami untuk membuat masjid di kampung kami, lalu memperbagus pembuatannya dan menjaga kebersihannya.” (HR. Abu Daud, no. 456; Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, 7: 252. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if)   Semoga kita bisa menjadikan pembangunan masjid seperti ini sebagai amal jariyah.   Dikembangkan dari penjelasan Syaikh ‘Abdur Razaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr di sini. Bersambung insya Allah. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Muharram 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsamal jariyah kirim pahala renovasi masjid


Di antara amal jariyah yang saat ini dibahas adalah membangun masjid.   5- Membangun Masjid Karena masjid adalah tempat yang paling dicintai di sisi Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا “Sebaik-baik negeri (tempat) yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid. Sebaik-baik tempat yang dibenci oleh Allah adalah pasar.” (HR. Muslim, no. 671) Tentang masjid pula Allah sebutkan, فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” (QS. An-Nur: 36) Maksud ayat di atas, inilah tempat yang Allah perintahkan bersih dari berbagai kotoran dan hal-hal yang melalaikan (laghwu), juga bersih dari perbuatan dan perkataan yang tidak pantas. Pernyataan seperti ini seperti dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Abu Shalih, Adh-Dhahak, Nafi’ bin Jubair, Abu Bakr bin Sulaiman bin Abi Hatsmah, Sufyan bin Husain, dan ulama tafsir lainnya. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 546. Masjid inilah nantinya diisi dengan shalat, diisi dengan tilawah Al-Qur’an, diisi dengan dzikir pada Allah, di dalamnya disebarkan ilmu-ilmu dinul Islam serta dimanfaatkan untuk kemaslahatan kaum muslimin lainnya. Siapa yang membangun masjid untuk maksud semacam ini, nantinya akan mendapatkan ganjaran dan sebagai amal jariyah. Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ مِثْلَهُ “Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di surga.” (HR. Bukhari, no. 450; Muslim, no. 533).   Dari ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يُذْكَرُ فِيهِ اسْمُ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ “Siapa yang membangun masjdi lalu di dalamnya digunakan untuk berdzikir (mengingat) nama Allah, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 735; Ahmad, 1: 20. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)   Mafhash qathaah dalam hadits artinya lubang yang dipakai burung menaruh telurnya dan menderum di tempat tesebut. Dan qathah adalah sejenis burung. Ibnu Hajar dalam Al-Fath (1: 545) menyatakan, (مَنْ بَنَى مَسْجِدًا) التَّنْكِير فِيهِ لِلشُّيُوعِ فَيَدْخُلُ فِيهِ الْكَبِير وَالصَّغِير ، وَوَقَعَ فِي رِوَايَةِ أَنَس عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا “Maksud dari “siapa yang membangun masjid” digunakan isim nakirah yang menunjukkan keumuman, sehingga maksud hadits adalah siapa yang membangun masjid besar maupun kecil. Dalam riwayat Anas yang dikeluarkan oleh Tirmidzi yang mendukung yang menyatakan dengan masjid kecil atau besar.”   Masih melanjutkan penjelasan Ibnu Hajar, yang diterangkan dalam hadits di atas adalah cuma bahasa hiperbolis. Karena tak mungkin tempat burung menaruh telur dan menderum yang seukuran itu dijadikan tempat shalat. Ada riwayat Jabir semakin memperkuat hal ini. Di setiap kampung hendaklah pula dibuatkan masjid agar orang bisa melaksanakan shalat lima waktu dengan mudah. Dalam Sunan Abi Daud disebutkan judul Bab “Membangun Masjid di Perkampungan”, lalu dibawakanlah dua hadits berikut. عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِبِنَاءِ الْمَسَاجِدِ فِى الدُّورِ وَأَنْ تُنَظَّفَ وَتُطَيَّبَ Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membangun masjid di kampung-kampung, hendaklah masjid tersebut dijaga kebersihan dan dibuat dalam keadaan wangi. (HR. Abu Daud, no. 455; Tirmidzi, no. 594; Ibnu Majah, no. 758. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)   عَنْ أَبِيهِ سُلَيْمَانَ بْنِ سَمُرَةَ عَنْ أَبِيهِ سَمُرَةَ أَنَّهُ كَتَبَ إِلَى ابْنِهِ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَأْمُرُنَا بِالْمَسَاجِدِ أَنْ نَصْنَعَهَا فِى دِيَارِنَا وَنُصْلِحَ صَنْعَتَهَا وَنُطَهِّرَهَا. Dari Samurah, ia pernah menulis surat pada anaknya yang bernama Sulaiman, yang isinya, “Amma ba’du, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan kepada kami untuk membuat masjid di kampung kami, lalu memperbagus pembuatannya dan menjaga kebersihannya.” (HR. Abu Daud, no. 456; Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, 7: 252. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if)   Semoga kita bisa menjadikan pembangunan masjid seperti ini sebagai amal jariyah.   Dikembangkan dari penjelasan Syaikh ‘Abdur Razaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr di sini. Bersambung insya Allah. — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 2 Muharram 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsamal jariyah kirim pahala renovasi masjid

I‘rab Lā ilāha illallāh dan Pengaruh Maknanya (9)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah raḥimahullāh menjelaskan bahwa Al-Ilāh (Tuhan yang benar) adalah Yang Diibadahi (Al-Ma‘būd) dan Yang Ditaati (Al-Muṭā‘), karena Al-Ilāh adalah Al-Ma`lūh sedangkan Al-Ma`lūh adalah Yang Berhak untuk diibadahi. Dia berhak diibadahi (disembah) karena bersifat dengan sifat-sifat yang mengandung konsekuensi, yaitu Dia menjadi (Sesembahan) yang dicintai dengan puncak kecintaan dan ditaati dengan puncak ketundukan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah raḥimahullāh juga menjelaskan bahwa Al-Ilāh (Tuhan yang haq) adalah Tuhan yang dicintai lagi disembah, yang dipertuhankan oleh hati dengan mencintai-Nya, mematuhi-Nya, merendahkan diri, takut dan berharap kepada-Nya, kembali kepada-Nya dalam kesulitan, berdoa kepada-Nya dalam terkait berbabgai urusan, bertawakkal kepada-Nya untuk meraih berbagai kemaslahatan, berlindung kepada-Nya, merasa tentram dengan menyebut-Nya, merasa tenang dengan mencintai-Nya, semua ibadah ini hanya untuk Allah semata[1. Fatḥul Majīd, hal. 53]. Ibnu Rajab raḥimahullāh menjelaskan bahwa realisasi kalimat lā ilāha illallāh yang mengandung dua rukun tersebut adalah dengan mewujudkan tauhid dengan hatinya, maka ia akan mengeluarkan segala sesuatu (segala bentuk peribadatan kepada) selain Allah, seperti kecintaan, pengagungan, penghormatan, pemuliaan, rasa takut dan tawakkal (kepada selain Allah dari hatinya), pada saat itu seluruh dosa-dosa dan kesalahanya dihapuskan, walaupun seperti buih di lautan[2. Fatḥul Majīd, hal. 72.]. Lihatlah, bagaimana beliau memaparkan rukun An-Nafyu dengan mengeluarkan segala sesuatu selain Allah dari hati seorang hamba! Tentunya rukun An-Nafyu haruslah dipahami dalam konteks An-Nafyu yang mengandung Al-Iṡbāt, sehingga nampak nilai pengesaan Allah (tauhid) dengan kedua rukun sekaligus. Demikianseorang hamba yang benar-benar memahami dan mengamalkan tuntutan kalimat tauhid ini adalah sosok hamba yang tidak mencintai dengan jenis cinta yang ibadah kecuali kepada Allah, tidaklah takut dengan jenis takut yang ibadah kecuali kepada Allah, tidaklah mengharap dengan jenis harapan yang ibadah kecuali kepada Allah, dan seterusnya dari berbagai macam ibadah ia hanya persembahkan kepada Allah semata, bahkan ia sempurnakan peribadatan kepada Rabbnya tersebut. Syaikh Abdur Rahman Alusy-Syaikh raḥimahullāh menjelaskan dalam kitabnya Fathul Majid bahwa orang yang ikhlas dalam mengucapkan kalimat tauhid ini adalah yang mengucapkan kalimat tauhid tersebut dengan ikhlas dan keyakinan sempurna, maka dalam keadaan yang seperti ini -pada asalnya- tidaklah ia terus-menerus melakukan suatu dosa, karena kesempurnaan ikhlas dan keyakinannya mengharuskan Allah lebih ia cintai dari segala sesuatu dan lebih ia takuti dari segala sesuatu, maka ketika itu tidak tersisa dalam hatinya kehendak terhadap apa yang Allah haramkan dan tidak terdapat pula ketidaksukaan terhadap apa yang Allah perintahkan[3. Fatḥul Majīd, hal. 5]. [Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id___🔍 Hadits Taubat, Kisah Ibnu Taimiyah, Materi Kajian Remaja, Kitab Sholat, Tips Bersabar

I‘rab Lā ilāha illallāh dan Pengaruh Maknanya (9)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah raḥimahullāh menjelaskan bahwa Al-Ilāh (Tuhan yang benar) adalah Yang Diibadahi (Al-Ma‘būd) dan Yang Ditaati (Al-Muṭā‘), karena Al-Ilāh adalah Al-Ma`lūh sedangkan Al-Ma`lūh adalah Yang Berhak untuk diibadahi. Dia berhak diibadahi (disembah) karena bersifat dengan sifat-sifat yang mengandung konsekuensi, yaitu Dia menjadi (Sesembahan) yang dicintai dengan puncak kecintaan dan ditaati dengan puncak ketundukan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah raḥimahullāh juga menjelaskan bahwa Al-Ilāh (Tuhan yang haq) adalah Tuhan yang dicintai lagi disembah, yang dipertuhankan oleh hati dengan mencintai-Nya, mematuhi-Nya, merendahkan diri, takut dan berharap kepada-Nya, kembali kepada-Nya dalam kesulitan, berdoa kepada-Nya dalam terkait berbabgai urusan, bertawakkal kepada-Nya untuk meraih berbagai kemaslahatan, berlindung kepada-Nya, merasa tentram dengan menyebut-Nya, merasa tenang dengan mencintai-Nya, semua ibadah ini hanya untuk Allah semata[1. Fatḥul Majīd, hal. 53]. Ibnu Rajab raḥimahullāh menjelaskan bahwa realisasi kalimat lā ilāha illallāh yang mengandung dua rukun tersebut adalah dengan mewujudkan tauhid dengan hatinya, maka ia akan mengeluarkan segala sesuatu (segala bentuk peribadatan kepada) selain Allah, seperti kecintaan, pengagungan, penghormatan, pemuliaan, rasa takut dan tawakkal (kepada selain Allah dari hatinya), pada saat itu seluruh dosa-dosa dan kesalahanya dihapuskan, walaupun seperti buih di lautan[2. Fatḥul Majīd, hal. 72.]. Lihatlah, bagaimana beliau memaparkan rukun An-Nafyu dengan mengeluarkan segala sesuatu selain Allah dari hati seorang hamba! Tentunya rukun An-Nafyu haruslah dipahami dalam konteks An-Nafyu yang mengandung Al-Iṡbāt, sehingga nampak nilai pengesaan Allah (tauhid) dengan kedua rukun sekaligus. Demikianseorang hamba yang benar-benar memahami dan mengamalkan tuntutan kalimat tauhid ini adalah sosok hamba yang tidak mencintai dengan jenis cinta yang ibadah kecuali kepada Allah, tidaklah takut dengan jenis takut yang ibadah kecuali kepada Allah, tidaklah mengharap dengan jenis harapan yang ibadah kecuali kepada Allah, dan seterusnya dari berbagai macam ibadah ia hanya persembahkan kepada Allah semata, bahkan ia sempurnakan peribadatan kepada Rabbnya tersebut. Syaikh Abdur Rahman Alusy-Syaikh raḥimahullāh menjelaskan dalam kitabnya Fathul Majid bahwa orang yang ikhlas dalam mengucapkan kalimat tauhid ini adalah yang mengucapkan kalimat tauhid tersebut dengan ikhlas dan keyakinan sempurna, maka dalam keadaan yang seperti ini -pada asalnya- tidaklah ia terus-menerus melakukan suatu dosa, karena kesempurnaan ikhlas dan keyakinannya mengharuskan Allah lebih ia cintai dari segala sesuatu dan lebih ia takuti dari segala sesuatu, maka ketika itu tidak tersisa dalam hatinya kehendak terhadap apa yang Allah haramkan dan tidak terdapat pula ketidaksukaan terhadap apa yang Allah perintahkan[3. Fatḥul Majīd, hal. 5]. [Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id___🔍 Hadits Taubat, Kisah Ibnu Taimiyah, Materi Kajian Remaja, Kitab Sholat, Tips Bersabar
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah raḥimahullāh menjelaskan bahwa Al-Ilāh (Tuhan yang benar) adalah Yang Diibadahi (Al-Ma‘būd) dan Yang Ditaati (Al-Muṭā‘), karena Al-Ilāh adalah Al-Ma`lūh sedangkan Al-Ma`lūh adalah Yang Berhak untuk diibadahi. Dia berhak diibadahi (disembah) karena bersifat dengan sifat-sifat yang mengandung konsekuensi, yaitu Dia menjadi (Sesembahan) yang dicintai dengan puncak kecintaan dan ditaati dengan puncak ketundukan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah raḥimahullāh juga menjelaskan bahwa Al-Ilāh (Tuhan yang haq) adalah Tuhan yang dicintai lagi disembah, yang dipertuhankan oleh hati dengan mencintai-Nya, mematuhi-Nya, merendahkan diri, takut dan berharap kepada-Nya, kembali kepada-Nya dalam kesulitan, berdoa kepada-Nya dalam terkait berbabgai urusan, bertawakkal kepada-Nya untuk meraih berbagai kemaslahatan, berlindung kepada-Nya, merasa tentram dengan menyebut-Nya, merasa tenang dengan mencintai-Nya, semua ibadah ini hanya untuk Allah semata[1. Fatḥul Majīd, hal. 53]. Ibnu Rajab raḥimahullāh menjelaskan bahwa realisasi kalimat lā ilāha illallāh yang mengandung dua rukun tersebut adalah dengan mewujudkan tauhid dengan hatinya, maka ia akan mengeluarkan segala sesuatu (segala bentuk peribadatan kepada) selain Allah, seperti kecintaan, pengagungan, penghormatan, pemuliaan, rasa takut dan tawakkal (kepada selain Allah dari hatinya), pada saat itu seluruh dosa-dosa dan kesalahanya dihapuskan, walaupun seperti buih di lautan[2. Fatḥul Majīd, hal. 72.]. Lihatlah, bagaimana beliau memaparkan rukun An-Nafyu dengan mengeluarkan segala sesuatu selain Allah dari hati seorang hamba! Tentunya rukun An-Nafyu haruslah dipahami dalam konteks An-Nafyu yang mengandung Al-Iṡbāt, sehingga nampak nilai pengesaan Allah (tauhid) dengan kedua rukun sekaligus. Demikianseorang hamba yang benar-benar memahami dan mengamalkan tuntutan kalimat tauhid ini adalah sosok hamba yang tidak mencintai dengan jenis cinta yang ibadah kecuali kepada Allah, tidaklah takut dengan jenis takut yang ibadah kecuali kepada Allah, tidaklah mengharap dengan jenis harapan yang ibadah kecuali kepada Allah, dan seterusnya dari berbagai macam ibadah ia hanya persembahkan kepada Allah semata, bahkan ia sempurnakan peribadatan kepada Rabbnya tersebut. Syaikh Abdur Rahman Alusy-Syaikh raḥimahullāh menjelaskan dalam kitabnya Fathul Majid bahwa orang yang ikhlas dalam mengucapkan kalimat tauhid ini adalah yang mengucapkan kalimat tauhid tersebut dengan ikhlas dan keyakinan sempurna, maka dalam keadaan yang seperti ini -pada asalnya- tidaklah ia terus-menerus melakukan suatu dosa, karena kesempurnaan ikhlas dan keyakinannya mengharuskan Allah lebih ia cintai dari segala sesuatu dan lebih ia takuti dari segala sesuatu, maka ketika itu tidak tersisa dalam hatinya kehendak terhadap apa yang Allah haramkan dan tidak terdapat pula ketidaksukaan terhadap apa yang Allah perintahkan[3. Fatḥul Majīd, hal. 5]. [Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id___🔍 Hadits Taubat, Kisah Ibnu Taimiyah, Materi Kajian Remaja, Kitab Sholat, Tips Bersabar


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah raḥimahullāh menjelaskan bahwa Al-Ilāh (Tuhan yang benar) adalah Yang Diibadahi (Al-Ma‘būd) dan Yang Ditaati (Al-Muṭā‘), karena Al-Ilāh adalah Al-Ma`lūh sedangkan Al-Ma`lūh adalah Yang Berhak untuk diibadahi. Dia berhak diibadahi (disembah) karena bersifat dengan sifat-sifat yang mengandung konsekuensi, yaitu Dia menjadi (Sesembahan) yang dicintai dengan puncak kecintaan dan ditaati dengan puncak ketundukan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah raḥimahullāh juga menjelaskan bahwa Al-Ilāh (Tuhan yang haq) adalah Tuhan yang dicintai lagi disembah, yang dipertuhankan oleh hati dengan mencintai-Nya, mematuhi-Nya, merendahkan diri, takut dan berharap kepada-Nya, kembali kepada-Nya dalam kesulitan, berdoa kepada-Nya dalam terkait berbabgai urusan, bertawakkal kepada-Nya untuk meraih berbagai kemaslahatan, berlindung kepada-Nya, merasa tentram dengan menyebut-Nya, merasa tenang dengan mencintai-Nya, semua ibadah ini hanya untuk Allah semata[1. Fatḥul Majīd, hal. 53]. Ibnu Rajab raḥimahullāh menjelaskan bahwa realisasi kalimat lā ilāha illallāh yang mengandung dua rukun tersebut adalah dengan mewujudkan tauhid dengan hatinya, maka ia akan mengeluarkan segala sesuatu (segala bentuk peribadatan kepada) selain Allah, seperti kecintaan, pengagungan, penghormatan, pemuliaan, rasa takut dan tawakkal (kepada selain Allah dari hatinya), pada saat itu seluruh dosa-dosa dan kesalahanya dihapuskan, walaupun seperti buih di lautan[2. Fatḥul Majīd, hal. 72.]. Lihatlah, bagaimana beliau memaparkan rukun An-Nafyu dengan mengeluarkan segala sesuatu selain Allah dari hati seorang hamba! Tentunya rukun An-Nafyu haruslah dipahami dalam konteks An-Nafyu yang mengandung Al-Iṡbāt, sehingga nampak nilai pengesaan Allah (tauhid) dengan kedua rukun sekaligus. Demikianseorang hamba yang benar-benar memahami dan mengamalkan tuntutan kalimat tauhid ini adalah sosok hamba yang tidak mencintai dengan jenis cinta yang ibadah kecuali kepada Allah, tidaklah takut dengan jenis takut yang ibadah kecuali kepada Allah, tidaklah mengharap dengan jenis harapan yang ibadah kecuali kepada Allah, dan seterusnya dari berbagai macam ibadah ia hanya persembahkan kepada Allah semata, bahkan ia sempurnakan peribadatan kepada Rabbnya tersebut. Syaikh Abdur Rahman Alusy-Syaikh raḥimahullāh menjelaskan dalam kitabnya Fathul Majid bahwa orang yang ikhlas dalam mengucapkan kalimat tauhid ini adalah yang mengucapkan kalimat tauhid tersebut dengan ikhlas dan keyakinan sempurna, maka dalam keadaan yang seperti ini -pada asalnya- tidaklah ia terus-menerus melakukan suatu dosa, karena kesempurnaan ikhlas dan keyakinannya mengharuskan Allah lebih ia cintai dari segala sesuatu dan lebih ia takuti dari segala sesuatu, maka ketika itu tidak tersisa dalam hatinya kehendak terhadap apa yang Allah haramkan dan tidak terdapat pula ketidaksukaan terhadap apa yang Allah perintahkan[3. Fatḥul Majīd, hal. 5]. [Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id___🔍 Hadits Taubat, Kisah Ibnu Taimiyah, Materi Kajian Remaja, Kitab Sholat, Tips Bersabar

Boleh Mendoakan “Jazakallahu Khairan” Kepada Orang Kafir

Dewan fatwa Islamweb dibawah asuhan Syaikh Abdullah Al-Faqih ditanya, “Apakah boleh bagi saya mengucapkan kepada orang kafir doa “Jazakallahu khairan” (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), jika ia telah membantu saya”Jawaban:ﻓﺎﻟﺬﻱ ﻳﻈﻬﺮ ـ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ ـ ﺃﻧﻪ ﻻ ﺣﺮﺝ ﻓﻲ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﻟﻠﻜﺎﻓﺮ ﺍﻟﺤﻲ ” ﺟﺰﺍﻙ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮﺍ ” ﻣﻜﺄﻓﺎﺓ ﻟﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﺮﻭﻓﻪ ﺃﺳﺪﺍﻩ ﺇﻟﻴﻪ. ﻓﺈﻥ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻗﺪ ﻧﺼﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻠﻜﺎﻓﺮ ﺑﺎﻟﻬﺪﺍﻳﺔ ﻟﻺﻳﻤﺎﻥ ﻭﺍﻟﺪﺧﻮﻝ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻪ ﺑﻤﺼﺎﻟﺢ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻣﻦ ﻧﻌﻤﺔ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻭﺍﻟﻮﻟﺪ ﻭﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻣﺴﺎﻟﻤﺎ، ﻭﻫﺬﺍ ﻛﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻪ ﺑﻪYang nampak lebih tepat menurut kami -wallahu a’lam- adalah tidak mengapa seorang muslim mengucapkan kepada orang kafir yang masih hidup ucapan “Jazakallahu khairan“, Sebagai balasan terhadap perbuatan baik yang ia lakukan padanya.Para ulama telah menegaskan bahwa boleh berdoa untuk orang kafir berupa hidayah kepada iman dan agar masuk Islam. Demikian juga doa untuk kemashlahatan dunia berupa nikmat harta, anak dan sejenisnya jika mereka termasuk kafir yang tidak memerangi Islam. Ini semua adalah kebaikan dan boleh berdoa untuknya.Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=136628***Penerjemah: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id🔍 Sujud Yang Benar, Cara Mengobati Orang Kesurupan Dari Jarak Jauh, Membenci, Menjalani Hidup Dalam Islam, Firman Allah Tentang Tolong Menolong

Boleh Mendoakan “Jazakallahu Khairan” Kepada Orang Kafir

Dewan fatwa Islamweb dibawah asuhan Syaikh Abdullah Al-Faqih ditanya, “Apakah boleh bagi saya mengucapkan kepada orang kafir doa “Jazakallahu khairan” (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), jika ia telah membantu saya”Jawaban:ﻓﺎﻟﺬﻱ ﻳﻈﻬﺮ ـ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ ـ ﺃﻧﻪ ﻻ ﺣﺮﺝ ﻓﻲ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﻟﻠﻜﺎﻓﺮ ﺍﻟﺤﻲ ” ﺟﺰﺍﻙ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮﺍ ” ﻣﻜﺄﻓﺎﺓ ﻟﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﺮﻭﻓﻪ ﺃﺳﺪﺍﻩ ﺇﻟﻴﻪ. ﻓﺈﻥ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻗﺪ ﻧﺼﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻠﻜﺎﻓﺮ ﺑﺎﻟﻬﺪﺍﻳﺔ ﻟﻺﻳﻤﺎﻥ ﻭﺍﻟﺪﺧﻮﻝ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻪ ﺑﻤﺼﺎﻟﺢ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻣﻦ ﻧﻌﻤﺔ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻭﺍﻟﻮﻟﺪ ﻭﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻣﺴﺎﻟﻤﺎ، ﻭﻫﺬﺍ ﻛﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻪ ﺑﻪYang nampak lebih tepat menurut kami -wallahu a’lam- adalah tidak mengapa seorang muslim mengucapkan kepada orang kafir yang masih hidup ucapan “Jazakallahu khairan“, Sebagai balasan terhadap perbuatan baik yang ia lakukan padanya.Para ulama telah menegaskan bahwa boleh berdoa untuk orang kafir berupa hidayah kepada iman dan agar masuk Islam. Demikian juga doa untuk kemashlahatan dunia berupa nikmat harta, anak dan sejenisnya jika mereka termasuk kafir yang tidak memerangi Islam. Ini semua adalah kebaikan dan boleh berdoa untuknya.Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=136628***Penerjemah: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id🔍 Sujud Yang Benar, Cara Mengobati Orang Kesurupan Dari Jarak Jauh, Membenci, Menjalani Hidup Dalam Islam, Firman Allah Tentang Tolong Menolong
Dewan fatwa Islamweb dibawah asuhan Syaikh Abdullah Al-Faqih ditanya, “Apakah boleh bagi saya mengucapkan kepada orang kafir doa “Jazakallahu khairan” (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), jika ia telah membantu saya”Jawaban:ﻓﺎﻟﺬﻱ ﻳﻈﻬﺮ ـ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ ـ ﺃﻧﻪ ﻻ ﺣﺮﺝ ﻓﻲ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﻟﻠﻜﺎﻓﺮ ﺍﻟﺤﻲ ” ﺟﺰﺍﻙ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮﺍ ” ﻣﻜﺄﻓﺎﺓ ﻟﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﺮﻭﻓﻪ ﺃﺳﺪﺍﻩ ﺇﻟﻴﻪ. ﻓﺈﻥ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻗﺪ ﻧﺼﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻠﻜﺎﻓﺮ ﺑﺎﻟﻬﺪﺍﻳﺔ ﻟﻺﻳﻤﺎﻥ ﻭﺍﻟﺪﺧﻮﻝ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻪ ﺑﻤﺼﺎﻟﺢ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻣﻦ ﻧﻌﻤﺔ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻭﺍﻟﻮﻟﺪ ﻭﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻣﺴﺎﻟﻤﺎ، ﻭﻫﺬﺍ ﻛﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻪ ﺑﻪYang nampak lebih tepat menurut kami -wallahu a’lam- adalah tidak mengapa seorang muslim mengucapkan kepada orang kafir yang masih hidup ucapan “Jazakallahu khairan“, Sebagai balasan terhadap perbuatan baik yang ia lakukan padanya.Para ulama telah menegaskan bahwa boleh berdoa untuk orang kafir berupa hidayah kepada iman dan agar masuk Islam. Demikian juga doa untuk kemashlahatan dunia berupa nikmat harta, anak dan sejenisnya jika mereka termasuk kafir yang tidak memerangi Islam. Ini semua adalah kebaikan dan boleh berdoa untuknya.Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=136628***Penerjemah: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id🔍 Sujud Yang Benar, Cara Mengobati Orang Kesurupan Dari Jarak Jauh, Membenci, Menjalani Hidup Dalam Islam, Firman Allah Tentang Tolong Menolong


Dewan fatwa Islamweb dibawah asuhan Syaikh Abdullah Al-Faqih ditanya, “Apakah boleh bagi saya mengucapkan kepada orang kafir doa “Jazakallahu khairan” (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), jika ia telah membantu saya”Jawaban:ﻓﺎﻟﺬﻱ ﻳﻈﻬﺮ ـ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ ـ ﺃﻧﻪ ﻻ ﺣﺮﺝ ﻓﻲ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﻟﻠﻜﺎﻓﺮ ﺍﻟﺤﻲ ” ﺟﺰﺍﻙ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮﺍ ” ﻣﻜﺄﻓﺎﺓ ﻟﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﺮﻭﻓﻪ ﺃﺳﺪﺍﻩ ﺇﻟﻴﻪ. ﻓﺈﻥ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻗﺪ ﻧﺼﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻠﻜﺎﻓﺮ ﺑﺎﻟﻬﺪﺍﻳﺔ ﻟﻺﻳﻤﺎﻥ ﻭﺍﻟﺪﺧﻮﻝ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻪ ﺑﻤﺼﺎﻟﺢ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻣﻦ ﻧﻌﻤﺔ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻭﺍﻟﻮﻟﺪ ﻭﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻣﺴﺎﻟﻤﺎ، ﻭﻫﺬﺍ ﻛﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻪ ﺑﻪYang nampak lebih tepat menurut kami -wallahu a’lam- adalah tidak mengapa seorang muslim mengucapkan kepada orang kafir yang masih hidup ucapan “Jazakallahu khairan“, Sebagai balasan terhadap perbuatan baik yang ia lakukan padanya.Para ulama telah menegaskan bahwa boleh berdoa untuk orang kafir berupa hidayah kepada iman dan agar masuk Islam. Demikian juga doa untuk kemashlahatan dunia berupa nikmat harta, anak dan sejenisnya jika mereka termasuk kafir yang tidak memerangi Islam. Ini semua adalah kebaikan dan boleh berdoa untuknya.Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=136628***Penerjemah: dr. Raehanul BahraenArtikel Muslim.or.id🔍 Sujud Yang Benar, Cara Mengobati Orang Kesurupan Dari Jarak Jauh, Membenci, Menjalani Hidup Dalam Islam, Firman Allah Tentang Tolong Menolong

Laporan Donasi YPIA periode Bulan September 2016

Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan September 2016. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan September 2016Adapun Rekap Donasi Bulan September 2016  sebagai berikut:  No. Alokasi Donasi Jumlah (Rp) 1 Buletin Jum’at “At-Tauhid” 9.500.471 2 Dana Riba 300.000 3 Donasi HP 12.865.101 4 FKKA (Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari) 250.000 5 Kajian Umum 100.000 6 Kampus Tahfizh 6.480.000 7 Ma’had Al ‘Ilmi 6.400.000 8 MUBK (Ma’had Umar Bin Khattab) 900.000 9 Pendidikan 750.000 10 Peduli Muslim (Operasional) 250.000 11 Peduli Muslim (Zakat Maal) 4.300.000 12 Radio Muslim 700.000 13 SDIT “Yaa Bunayya” 11.898.447 14 SMS Tausyiah 250.000 15 Operasional / Umum 2.811.789 16 Website 3.415.000 17 Wisma Muslim 600.000 18 Donasi Pulsa 3.735.000 LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Desember 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Doa Walimah, Berpakaian Dalam Islam, Makna Illah, Poster Sumbangan Buku, Video Kuasa Allah Di Dunia

Laporan Donasi YPIA periode Bulan September 2016

Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan September 2016. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan September 2016Adapun Rekap Donasi Bulan September 2016  sebagai berikut:  No. Alokasi Donasi Jumlah (Rp) 1 Buletin Jum’at “At-Tauhid” 9.500.471 2 Dana Riba 300.000 3 Donasi HP 12.865.101 4 FKKA (Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari) 250.000 5 Kajian Umum 100.000 6 Kampus Tahfizh 6.480.000 7 Ma’had Al ‘Ilmi 6.400.000 8 MUBK (Ma’had Umar Bin Khattab) 900.000 9 Pendidikan 750.000 10 Peduli Muslim (Operasional) 250.000 11 Peduli Muslim (Zakat Maal) 4.300.000 12 Radio Muslim 700.000 13 SDIT “Yaa Bunayya” 11.898.447 14 SMS Tausyiah 250.000 15 Operasional / Umum 2.811.789 16 Website 3.415.000 17 Wisma Muslim 600.000 18 Donasi Pulsa 3.735.000 LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Desember 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Doa Walimah, Berpakaian Dalam Islam, Makna Illah, Poster Sumbangan Buku, Video Kuasa Allah Di Dunia
Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan September 2016. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan September 2016Adapun Rekap Donasi Bulan September 2016  sebagai berikut:  No. Alokasi Donasi Jumlah (Rp) 1 Buletin Jum’at “At-Tauhid” 9.500.471 2 Dana Riba 300.000 3 Donasi HP 12.865.101 4 FKKA (Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari) 250.000 5 Kajian Umum 100.000 6 Kampus Tahfizh 6.480.000 7 Ma’had Al ‘Ilmi 6.400.000 8 MUBK (Ma’had Umar Bin Khattab) 900.000 9 Pendidikan 750.000 10 Peduli Muslim (Operasional) 250.000 11 Peduli Muslim (Zakat Maal) 4.300.000 12 Radio Muslim 700.000 13 SDIT “Yaa Bunayya” 11.898.447 14 SMS Tausyiah 250.000 15 Operasional / Umum 2.811.789 16 Website 3.415.000 17 Wisma Muslim 600.000 18 Donasi Pulsa 3.735.000 LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Desember 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Doa Walimah, Berpakaian Dalam Islam, Makna Illah, Poster Sumbangan Buku, Video Kuasa Allah Di Dunia


Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan September 2016. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan September 2016Adapun Rekap Donasi Bulan September 2016  sebagai berikut:  No. Alokasi Donasi Jumlah (Rp) 1 Buletin Jum’at “At-Tauhid” 9.500.471 2 Dana Riba 300.000 3 Donasi HP 12.865.101 4 FKKA (Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari) 250.000 5 Kajian Umum 100.000 6 Kampus Tahfizh 6.480.000 7 Ma’had Al ‘Ilmi 6.400.000 8 MUBK (Ma’had Umar Bin Khattab) 900.000 9 Pendidikan 750.000 10 Peduli Muslim (Operasional) 250.000 11 Peduli Muslim (Zakat Maal) 4.300.000 12 Radio Muslim 700.000 13 SDIT “Yaa Bunayya” 11.898.447 14 SMS Tausyiah 250.000 15 Operasional / Umum 2.811.789 16 Website 3.415.000 17 Wisma Muslim 600.000 18 Donasi Pulsa 3.735.000 LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Desember 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Doa Walimah, Berpakaian Dalam Islam, Makna Illah, Poster Sumbangan Buku, Video Kuasa Allah Di Dunia

Ritual Akhir Tahun Hijriyah

Detik-detik pergantian tahun adalah saat-saat yang sangat bersejarah dalam lembaran umat manusia, sehingga menjadikan sebagian orang membuat ritual-ritual dan amalan yang keabsahan dalilnya dipertanyakan.Diantara hadits yang dijadikan sandaran adalah:مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ، وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ، فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ بِصَوْمٍ وَافْتَتَحَ السَّنَةَ الْمُسْتَقْبَلَةَ بِصَوْمٍ، جَعَلَ اللَّهُ لَهُ كَفَّارَةً خَمْسِيْنَ سَنَةً“Barang siapa berpuasa akhir hari bulan Dzulhijjah dan awal Muharram, maka dia telah menutup tahun lalunya dengan puasa dan membuka tahun barunya dengan puasa, Allah menjadikan baginya kaffarah lima puluh tahun”.Hadits ini maudhu’. Dibawakan Ibnul Jauzi dalam al-Maudhū’āt 2/566 dengan sanadnya sampai kepada Ibnu Abbas, lalu katanya, “Al-Harawi adalah al-Juwaibari dan Wahb, kedunya adalah pendusta dan pemalsu hadits”. Dan disetujui As-Suyuthi, Ibnu Arraq, dan Asy-Syaukani.Dengan demikian, maka pengkhususan akhir tahun dan awal tahun dengan puasa termasuk kebid’ahan dalam agama. Demikian juga ritual-ritual serupa yang tidak ada dalilnya, seperti do’a awal dan akhir tahun.Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid berkata dalam Tashihud Dua: “Tidak ada dalam syari’at ini sedikit pun do’a atau dzikir untuk awal tahun. Manusia zaman sekarang banyak membuat bid’ah berupa do’a, dzikir, demikian pula puasa awal tahun baru, menghidupkan malam pertama bulan Muharram dengan shalat, dzikir atau do’a, puasa akhir tahun, dan sebagainya yang semua ini tidak ada dalilnya sama sekali!!”.***Penulis: Ust. Yusuf Abu Ubaidah As SidawiArtikel Muslim.or.id🔍 Berapa Jumlah Nabi, 10 Dzulhijjah, Tawasul Yang Benar, Hijrah Dijalan Allah, Bumi Itu Datar Atau Bulat

Ritual Akhir Tahun Hijriyah

Detik-detik pergantian tahun adalah saat-saat yang sangat bersejarah dalam lembaran umat manusia, sehingga menjadikan sebagian orang membuat ritual-ritual dan amalan yang keabsahan dalilnya dipertanyakan.Diantara hadits yang dijadikan sandaran adalah:مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ، وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ، فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ بِصَوْمٍ وَافْتَتَحَ السَّنَةَ الْمُسْتَقْبَلَةَ بِصَوْمٍ، جَعَلَ اللَّهُ لَهُ كَفَّارَةً خَمْسِيْنَ سَنَةً“Barang siapa berpuasa akhir hari bulan Dzulhijjah dan awal Muharram, maka dia telah menutup tahun lalunya dengan puasa dan membuka tahun barunya dengan puasa, Allah menjadikan baginya kaffarah lima puluh tahun”.Hadits ini maudhu’. Dibawakan Ibnul Jauzi dalam al-Maudhū’āt 2/566 dengan sanadnya sampai kepada Ibnu Abbas, lalu katanya, “Al-Harawi adalah al-Juwaibari dan Wahb, kedunya adalah pendusta dan pemalsu hadits”. Dan disetujui As-Suyuthi, Ibnu Arraq, dan Asy-Syaukani.Dengan demikian, maka pengkhususan akhir tahun dan awal tahun dengan puasa termasuk kebid’ahan dalam agama. Demikian juga ritual-ritual serupa yang tidak ada dalilnya, seperti do’a awal dan akhir tahun.Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid berkata dalam Tashihud Dua: “Tidak ada dalam syari’at ini sedikit pun do’a atau dzikir untuk awal tahun. Manusia zaman sekarang banyak membuat bid’ah berupa do’a, dzikir, demikian pula puasa awal tahun baru, menghidupkan malam pertama bulan Muharram dengan shalat, dzikir atau do’a, puasa akhir tahun, dan sebagainya yang semua ini tidak ada dalilnya sama sekali!!”.***Penulis: Ust. Yusuf Abu Ubaidah As SidawiArtikel Muslim.or.id🔍 Berapa Jumlah Nabi, 10 Dzulhijjah, Tawasul Yang Benar, Hijrah Dijalan Allah, Bumi Itu Datar Atau Bulat
Detik-detik pergantian tahun adalah saat-saat yang sangat bersejarah dalam lembaran umat manusia, sehingga menjadikan sebagian orang membuat ritual-ritual dan amalan yang keabsahan dalilnya dipertanyakan.Diantara hadits yang dijadikan sandaran adalah:مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ، وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ، فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ بِصَوْمٍ وَافْتَتَحَ السَّنَةَ الْمُسْتَقْبَلَةَ بِصَوْمٍ، جَعَلَ اللَّهُ لَهُ كَفَّارَةً خَمْسِيْنَ سَنَةً“Barang siapa berpuasa akhir hari bulan Dzulhijjah dan awal Muharram, maka dia telah menutup tahun lalunya dengan puasa dan membuka tahun barunya dengan puasa, Allah menjadikan baginya kaffarah lima puluh tahun”.Hadits ini maudhu’. Dibawakan Ibnul Jauzi dalam al-Maudhū’āt 2/566 dengan sanadnya sampai kepada Ibnu Abbas, lalu katanya, “Al-Harawi adalah al-Juwaibari dan Wahb, kedunya adalah pendusta dan pemalsu hadits”. Dan disetujui As-Suyuthi, Ibnu Arraq, dan Asy-Syaukani.Dengan demikian, maka pengkhususan akhir tahun dan awal tahun dengan puasa termasuk kebid’ahan dalam agama. Demikian juga ritual-ritual serupa yang tidak ada dalilnya, seperti do’a awal dan akhir tahun.Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid berkata dalam Tashihud Dua: “Tidak ada dalam syari’at ini sedikit pun do’a atau dzikir untuk awal tahun. Manusia zaman sekarang banyak membuat bid’ah berupa do’a, dzikir, demikian pula puasa awal tahun baru, menghidupkan malam pertama bulan Muharram dengan shalat, dzikir atau do’a, puasa akhir tahun, dan sebagainya yang semua ini tidak ada dalilnya sama sekali!!”.***Penulis: Ust. Yusuf Abu Ubaidah As SidawiArtikel Muslim.or.id🔍 Berapa Jumlah Nabi, 10 Dzulhijjah, Tawasul Yang Benar, Hijrah Dijalan Allah, Bumi Itu Datar Atau Bulat


Detik-detik pergantian tahun adalah saat-saat yang sangat bersejarah dalam lembaran umat manusia, sehingga menjadikan sebagian orang membuat ritual-ritual dan amalan yang keabsahan dalilnya dipertanyakan.Diantara hadits yang dijadikan sandaran adalah:مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ، وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ، فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ بِصَوْمٍ وَافْتَتَحَ السَّنَةَ الْمُسْتَقْبَلَةَ بِصَوْمٍ، جَعَلَ اللَّهُ لَهُ كَفَّارَةً خَمْسِيْنَ سَنَةً“Barang siapa berpuasa akhir hari bulan Dzulhijjah dan awal Muharram, maka dia telah menutup tahun lalunya dengan puasa dan membuka tahun barunya dengan puasa, Allah menjadikan baginya kaffarah lima puluh tahun”.Hadits ini maudhu’. Dibawakan Ibnul Jauzi dalam al-Maudhū’āt 2/566 dengan sanadnya sampai kepada Ibnu Abbas, lalu katanya, “Al-Harawi adalah al-Juwaibari dan Wahb, kedunya adalah pendusta dan pemalsu hadits”. Dan disetujui As-Suyuthi, Ibnu Arraq, dan Asy-Syaukani.Dengan demikian, maka pengkhususan akhir tahun dan awal tahun dengan puasa termasuk kebid’ahan dalam agama. Demikian juga ritual-ritual serupa yang tidak ada dalilnya, seperti do’a awal dan akhir tahun.Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid berkata dalam Tashihud Dua: “Tidak ada dalam syari’at ini sedikit pun do’a atau dzikir untuk awal tahun. Manusia zaman sekarang banyak membuat bid’ah berupa do’a, dzikir, demikian pula puasa awal tahun baru, menghidupkan malam pertama bulan Muharram dengan shalat, dzikir atau do’a, puasa akhir tahun, dan sebagainya yang semua ini tidak ada dalilnya sama sekali!!”.***Penulis: Ust. Yusuf Abu Ubaidah As SidawiArtikel Muslim.or.id🔍 Berapa Jumlah Nabi, 10 Dzulhijjah, Tawasul Yang Benar, Hijrah Dijalan Allah, Bumi Itu Datar Atau Bulat

Khutbah Jumat: Suro, Bulan Sial

Karena sebab enggan mengikuti Rasul, kita bisa kena sial, tertimpa musibah. Sial bukanlah disebabkan karena bulan Suro, waktu keramat, tempat angker atau sebab person tertentu, bukan sama sekali.   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَأَفْضَلُ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga selalu diberkahi oleh Allah …   Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita petunjuk dan berbagai macam nikmat. Seandainya bukan karena hidayah dari Allah, tentu kita tidak bisa berada di atas Islam dan Iman. Begitu pula seandainya bukan karena kasih sayang Allah dan rahmat-Nya, kita tentu akan tersibukkan terus dengan dunia, tidak memikirkan kewajiban. Begitu pula karena berkat nikmat Allah-lah, kita masih terus sehat sehingga bisa beribadah dengan mudah dan kuat.   إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِى الْعَبْدَ مِنَ النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ “Sungguh nikmat yang akan ditanyakan pada hamba pertama kali pada hari kiamat kelak adalah dengan pertanyaan: “Bukankah Kami telah memberikan kesehatan pada badanmu dan telah memberikan padamu air yang menyegarkan?” (HR. Tirmidzi, no. 3358. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).   Shalawat dan salam semoga tercurah kepada suri tauladan dan panutan kita, Nabi besar Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.   Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً “Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubro. Hadits ini hasan ligoirihi –yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya-)   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga dirahmati oleh Allah …   Di bulan besar dalam sebutan kita, yaitu bulan Dzulhijjah dalam kalender Hijriyah, kita lihat begitu banyak yang mengadakan hajatan terutama hajatan manten. Sampai kita pun bisa mendapatkan tiga atau empat undangan dalam satu hari. Namun ketika tiba bulan Muharram atau bulan Suro, ada pantangan untuk melakukan berbagai hajatan. Anggapan utamanya karena meyakini bulan Suro sebagai bulan sial, bulan penuh petaka.   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga dirahmati oleh Allah …   Kadang kita menyandarkan sial kepada sesuatu yang bukan jadi sebab. Asal menuduh saja atau asal mencari kambing hitam. Padahal Allah-lah yang mengatur waktu, mengatur siang dan malam. Sebab sial berarti bukan dari waktu tersebut. Dalam hadits qudsi disebutkan, قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ”Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Muslim, no. 6000)   Coba perhatikan dalam surat Yasin, Allah Ta’ala berfirman, قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (18) قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (19) “Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.” Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas.” (QS. Yasin: 18-19)   Dalam ayat ini disebutkan mengenai thiyarah, istilah dalam bahasa kita adalah beranggapan sial. Kata para ulama, beranggapan sial di sini bisa jadi dengan orang. Seperti ada yang berkata, “Wah gara-gara kamu datang nih, kami jadi sial.” Bisa jadi beranggapan sial dengan apa yang didengar, bisa pula dengan waktu (seperti dengan bulan Suro dan bulan Ruwah). Ada juga yang beranggapan sial ketika lewat suatu tempat. Sehingga untuk membuang kesialan ketika lewat tempat angker -misalnya-, maka ada yang menyalakan lampu kendaraan dengan sengaja atau membunyikan klakson ‘tiiit, tiiit’. Dahulu orang Arab ketika ingin mengetahui nasib mereka baik ataukah tidak ketika akan melakukan perjalanan, maka mereka melepaskan burung. Jika burung tersebut terbang ke arah kanan, berarti bernasib baik. Jika ke arah kiri, berarti bernasib sial. Kalau kita saat ini, bertemu dengan bulan sial, pasti yang dilakukan adalah ruwatan untuk menolak bala’.   Sedangkan dalam surat Yasin yang disebutkan tadi, penduduk negeri yang disebut dalam kisah menganggap nasib sial menimpa mereka karena kedatangan dua utusan (lalu menjadi yang ketiga) yang diutus di tengah-tengah mereka. Namun hal itu dibantah oleh Allah Ta’ala. Dinyatakan bahwa kesialan itu karena sebab pembangkangan penduduk itu sendiri.   Lihatlah yang terjadi di tengah mereka, وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ (13) إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ (14) “Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang di utus kepadamu.”” (QS. Yasin: 13-14)   Lihatlah karena sebab enggan mengikuti Rasul, kita bisa kena sial, tertimpa musibah. Jadi sial bukanlah disebabkan karena bulan Suro, waktu keramat, tempat angker atau sebab person tertentu, bukan sama sekali.   Maka benarlah firman Allah, قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ “ Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas.” (QS. Yasin: 19)   Yang terjadi pada masa Nabi Musa juga sama, kaumnya menuduh Nabi Musa dan pengikutnyalah yang bawa sial.   Sebagaimana disebutkan dalam ayat, فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ “Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 131).   Yang benar adalah karena mengikuti Rasul itulah yang membawa berkah. Karena sebab mendustakan Rasul itulah yang membawa sial atau musibah.   Dalam ayat disebutkan, وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al-A’raf: 96).   Kita seharusnya yang harus rajin introspeksi diri. Karena bisa jadi karena dosa besar yang kita lakukan, itulah yang menyebabkan berbagai kesialan itu datang. Lihatlah di tengah-tengah kita masih merajalela minuman keras, perjudian, perselingkuhan, bahkan karena kejahilan kita masih percaya klenik dan terus mewarisi perbuatan syirik.   Ingatlah ayat, وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)   Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ “Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Al-Jawab Al-Kaafi karya Ibnul Qayyim, hal. 87)   Semoga Allah menunjukkan pada kita jalan untuk kembali bertaubat, memberi kita kemudahan untuk diangkatnya musibah.   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga selalu dirahmati oleh Allah … Demikian khutbah pertama ini.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah, jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa mendapatkan berkah dari Allah,   Bulan Suro sejatinya adalah bulan yang baik, bukan bulan yang membawa sial. Karena bulan Suro masuk dalam bulan Haram, bulan mulia atau bulan yang disucikan. Buktinya pada bulan ini dikatakan bahwa sebaik-baik puasa adalah di bulan Suro, di bulan Muharram,   Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram.” (HR. Muslim, no. 1163)   Ada yang akan beranggapan sial, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa berikut ini, اللَّهُمَّ لاَ يَأْتِى بِالْحَسَنَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ Allahumma laa ya’ti bilhasanaati illa anta. Wa yadfa’us sayyi-ati illa anta. Wa laa hawla wa laa quwwata illa billah “Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali engkau. Tidak ada yang dapat menolak bahaya kecuali engkau. Tidak ada daya dan upaya melainkan denganmu.” (HR. Abu Daud, no. 3919; Al-Baihaqi, 8: 139. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if)   Di akhir khutbah ini … Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Siapa yang bershalawat sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sepuluh kali. Arti shalawat dari Allah adalah ampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.   Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini.   اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ إِنِّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.   — Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Payak Piyungan: Khutbah Jumat: Karena Bulan Sial Jum’at Pon, 28 Dzulhijjah 1437 H (30 September 2016), DS, Warak, Girisekar, Panggang, 27 Dzulhijjah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsbulan suro syirik

Khutbah Jumat: Suro, Bulan Sial

Karena sebab enggan mengikuti Rasul, kita bisa kena sial, tertimpa musibah. Sial bukanlah disebabkan karena bulan Suro, waktu keramat, tempat angker atau sebab person tertentu, bukan sama sekali.   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَأَفْضَلُ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga selalu diberkahi oleh Allah …   Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita petunjuk dan berbagai macam nikmat. Seandainya bukan karena hidayah dari Allah, tentu kita tidak bisa berada di atas Islam dan Iman. Begitu pula seandainya bukan karena kasih sayang Allah dan rahmat-Nya, kita tentu akan tersibukkan terus dengan dunia, tidak memikirkan kewajiban. Begitu pula karena berkat nikmat Allah-lah, kita masih terus sehat sehingga bisa beribadah dengan mudah dan kuat.   إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِى الْعَبْدَ مِنَ النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ “Sungguh nikmat yang akan ditanyakan pada hamba pertama kali pada hari kiamat kelak adalah dengan pertanyaan: “Bukankah Kami telah memberikan kesehatan pada badanmu dan telah memberikan padamu air yang menyegarkan?” (HR. Tirmidzi, no. 3358. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).   Shalawat dan salam semoga tercurah kepada suri tauladan dan panutan kita, Nabi besar Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.   Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً “Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubro. Hadits ini hasan ligoirihi –yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya-)   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga dirahmati oleh Allah …   Di bulan besar dalam sebutan kita, yaitu bulan Dzulhijjah dalam kalender Hijriyah, kita lihat begitu banyak yang mengadakan hajatan terutama hajatan manten. Sampai kita pun bisa mendapatkan tiga atau empat undangan dalam satu hari. Namun ketika tiba bulan Muharram atau bulan Suro, ada pantangan untuk melakukan berbagai hajatan. Anggapan utamanya karena meyakini bulan Suro sebagai bulan sial, bulan penuh petaka.   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga dirahmati oleh Allah …   Kadang kita menyandarkan sial kepada sesuatu yang bukan jadi sebab. Asal menuduh saja atau asal mencari kambing hitam. Padahal Allah-lah yang mengatur waktu, mengatur siang dan malam. Sebab sial berarti bukan dari waktu tersebut. Dalam hadits qudsi disebutkan, قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ”Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Muslim, no. 6000)   Coba perhatikan dalam surat Yasin, Allah Ta’ala berfirman, قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (18) قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (19) “Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.” Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas.” (QS. Yasin: 18-19)   Dalam ayat ini disebutkan mengenai thiyarah, istilah dalam bahasa kita adalah beranggapan sial. Kata para ulama, beranggapan sial di sini bisa jadi dengan orang. Seperti ada yang berkata, “Wah gara-gara kamu datang nih, kami jadi sial.” Bisa jadi beranggapan sial dengan apa yang didengar, bisa pula dengan waktu (seperti dengan bulan Suro dan bulan Ruwah). Ada juga yang beranggapan sial ketika lewat suatu tempat. Sehingga untuk membuang kesialan ketika lewat tempat angker -misalnya-, maka ada yang menyalakan lampu kendaraan dengan sengaja atau membunyikan klakson ‘tiiit, tiiit’. Dahulu orang Arab ketika ingin mengetahui nasib mereka baik ataukah tidak ketika akan melakukan perjalanan, maka mereka melepaskan burung. Jika burung tersebut terbang ke arah kanan, berarti bernasib baik. Jika ke arah kiri, berarti bernasib sial. Kalau kita saat ini, bertemu dengan bulan sial, pasti yang dilakukan adalah ruwatan untuk menolak bala’.   Sedangkan dalam surat Yasin yang disebutkan tadi, penduduk negeri yang disebut dalam kisah menganggap nasib sial menimpa mereka karena kedatangan dua utusan (lalu menjadi yang ketiga) yang diutus di tengah-tengah mereka. Namun hal itu dibantah oleh Allah Ta’ala. Dinyatakan bahwa kesialan itu karena sebab pembangkangan penduduk itu sendiri.   Lihatlah yang terjadi di tengah mereka, وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ (13) إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ (14) “Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang di utus kepadamu.”” (QS. Yasin: 13-14)   Lihatlah karena sebab enggan mengikuti Rasul, kita bisa kena sial, tertimpa musibah. Jadi sial bukanlah disebabkan karena bulan Suro, waktu keramat, tempat angker atau sebab person tertentu, bukan sama sekali.   Maka benarlah firman Allah, قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ “ Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas.” (QS. Yasin: 19)   Yang terjadi pada masa Nabi Musa juga sama, kaumnya menuduh Nabi Musa dan pengikutnyalah yang bawa sial.   Sebagaimana disebutkan dalam ayat, فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ “Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 131).   Yang benar adalah karena mengikuti Rasul itulah yang membawa berkah. Karena sebab mendustakan Rasul itulah yang membawa sial atau musibah.   Dalam ayat disebutkan, وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al-A’raf: 96).   Kita seharusnya yang harus rajin introspeksi diri. Karena bisa jadi karena dosa besar yang kita lakukan, itulah yang menyebabkan berbagai kesialan itu datang. Lihatlah di tengah-tengah kita masih merajalela minuman keras, perjudian, perselingkuhan, bahkan karena kejahilan kita masih percaya klenik dan terus mewarisi perbuatan syirik.   Ingatlah ayat, وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)   Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ “Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Al-Jawab Al-Kaafi karya Ibnul Qayyim, hal. 87)   Semoga Allah menunjukkan pada kita jalan untuk kembali bertaubat, memberi kita kemudahan untuk diangkatnya musibah.   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga selalu dirahmati oleh Allah … Demikian khutbah pertama ini.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah, jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa mendapatkan berkah dari Allah,   Bulan Suro sejatinya adalah bulan yang baik, bukan bulan yang membawa sial. Karena bulan Suro masuk dalam bulan Haram, bulan mulia atau bulan yang disucikan. Buktinya pada bulan ini dikatakan bahwa sebaik-baik puasa adalah di bulan Suro, di bulan Muharram,   Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram.” (HR. Muslim, no. 1163)   Ada yang akan beranggapan sial, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa berikut ini, اللَّهُمَّ لاَ يَأْتِى بِالْحَسَنَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ Allahumma laa ya’ti bilhasanaati illa anta. Wa yadfa’us sayyi-ati illa anta. Wa laa hawla wa laa quwwata illa billah “Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali engkau. Tidak ada yang dapat menolak bahaya kecuali engkau. Tidak ada daya dan upaya melainkan denganmu.” (HR. Abu Daud, no. 3919; Al-Baihaqi, 8: 139. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if)   Di akhir khutbah ini … Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Siapa yang bershalawat sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sepuluh kali. Arti shalawat dari Allah adalah ampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.   Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini.   اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ إِنِّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.   — Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Payak Piyungan: Khutbah Jumat: Karena Bulan Sial Jum’at Pon, 28 Dzulhijjah 1437 H (30 September 2016), DS, Warak, Girisekar, Panggang, 27 Dzulhijjah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsbulan suro syirik
Karena sebab enggan mengikuti Rasul, kita bisa kena sial, tertimpa musibah. Sial bukanlah disebabkan karena bulan Suro, waktu keramat, tempat angker atau sebab person tertentu, bukan sama sekali.   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَأَفْضَلُ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga selalu diberkahi oleh Allah …   Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita petunjuk dan berbagai macam nikmat. Seandainya bukan karena hidayah dari Allah, tentu kita tidak bisa berada di atas Islam dan Iman. Begitu pula seandainya bukan karena kasih sayang Allah dan rahmat-Nya, kita tentu akan tersibukkan terus dengan dunia, tidak memikirkan kewajiban. Begitu pula karena berkat nikmat Allah-lah, kita masih terus sehat sehingga bisa beribadah dengan mudah dan kuat.   إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِى الْعَبْدَ مِنَ النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ “Sungguh nikmat yang akan ditanyakan pada hamba pertama kali pada hari kiamat kelak adalah dengan pertanyaan: “Bukankah Kami telah memberikan kesehatan pada badanmu dan telah memberikan padamu air yang menyegarkan?” (HR. Tirmidzi, no. 3358. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).   Shalawat dan salam semoga tercurah kepada suri tauladan dan panutan kita, Nabi besar Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.   Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً “Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubro. Hadits ini hasan ligoirihi –yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya-)   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga dirahmati oleh Allah …   Di bulan besar dalam sebutan kita, yaitu bulan Dzulhijjah dalam kalender Hijriyah, kita lihat begitu banyak yang mengadakan hajatan terutama hajatan manten. Sampai kita pun bisa mendapatkan tiga atau empat undangan dalam satu hari. Namun ketika tiba bulan Muharram atau bulan Suro, ada pantangan untuk melakukan berbagai hajatan. Anggapan utamanya karena meyakini bulan Suro sebagai bulan sial, bulan penuh petaka.   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga dirahmati oleh Allah …   Kadang kita menyandarkan sial kepada sesuatu yang bukan jadi sebab. Asal menuduh saja atau asal mencari kambing hitam. Padahal Allah-lah yang mengatur waktu, mengatur siang dan malam. Sebab sial berarti bukan dari waktu tersebut. Dalam hadits qudsi disebutkan, قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ”Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Muslim, no. 6000)   Coba perhatikan dalam surat Yasin, Allah Ta’ala berfirman, قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (18) قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (19) “Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.” Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas.” (QS. Yasin: 18-19)   Dalam ayat ini disebutkan mengenai thiyarah, istilah dalam bahasa kita adalah beranggapan sial. Kata para ulama, beranggapan sial di sini bisa jadi dengan orang. Seperti ada yang berkata, “Wah gara-gara kamu datang nih, kami jadi sial.” Bisa jadi beranggapan sial dengan apa yang didengar, bisa pula dengan waktu (seperti dengan bulan Suro dan bulan Ruwah). Ada juga yang beranggapan sial ketika lewat suatu tempat. Sehingga untuk membuang kesialan ketika lewat tempat angker -misalnya-, maka ada yang menyalakan lampu kendaraan dengan sengaja atau membunyikan klakson ‘tiiit, tiiit’. Dahulu orang Arab ketika ingin mengetahui nasib mereka baik ataukah tidak ketika akan melakukan perjalanan, maka mereka melepaskan burung. Jika burung tersebut terbang ke arah kanan, berarti bernasib baik. Jika ke arah kiri, berarti bernasib sial. Kalau kita saat ini, bertemu dengan bulan sial, pasti yang dilakukan adalah ruwatan untuk menolak bala’.   Sedangkan dalam surat Yasin yang disebutkan tadi, penduduk negeri yang disebut dalam kisah menganggap nasib sial menimpa mereka karena kedatangan dua utusan (lalu menjadi yang ketiga) yang diutus di tengah-tengah mereka. Namun hal itu dibantah oleh Allah Ta’ala. Dinyatakan bahwa kesialan itu karena sebab pembangkangan penduduk itu sendiri.   Lihatlah yang terjadi di tengah mereka, وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ (13) إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ (14) “Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang di utus kepadamu.”” (QS. Yasin: 13-14)   Lihatlah karena sebab enggan mengikuti Rasul, kita bisa kena sial, tertimpa musibah. Jadi sial bukanlah disebabkan karena bulan Suro, waktu keramat, tempat angker atau sebab person tertentu, bukan sama sekali.   Maka benarlah firman Allah, قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ “ Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas.” (QS. Yasin: 19)   Yang terjadi pada masa Nabi Musa juga sama, kaumnya menuduh Nabi Musa dan pengikutnyalah yang bawa sial.   Sebagaimana disebutkan dalam ayat, فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ “Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 131).   Yang benar adalah karena mengikuti Rasul itulah yang membawa berkah. Karena sebab mendustakan Rasul itulah yang membawa sial atau musibah.   Dalam ayat disebutkan, وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al-A’raf: 96).   Kita seharusnya yang harus rajin introspeksi diri. Karena bisa jadi karena dosa besar yang kita lakukan, itulah yang menyebabkan berbagai kesialan itu datang. Lihatlah di tengah-tengah kita masih merajalela minuman keras, perjudian, perselingkuhan, bahkan karena kejahilan kita masih percaya klenik dan terus mewarisi perbuatan syirik.   Ingatlah ayat, وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)   Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ “Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Al-Jawab Al-Kaafi karya Ibnul Qayyim, hal. 87)   Semoga Allah menunjukkan pada kita jalan untuk kembali bertaubat, memberi kita kemudahan untuk diangkatnya musibah.   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga selalu dirahmati oleh Allah … Demikian khutbah pertama ini.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah, jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa mendapatkan berkah dari Allah,   Bulan Suro sejatinya adalah bulan yang baik, bukan bulan yang membawa sial. Karena bulan Suro masuk dalam bulan Haram, bulan mulia atau bulan yang disucikan. Buktinya pada bulan ini dikatakan bahwa sebaik-baik puasa adalah di bulan Suro, di bulan Muharram,   Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram.” (HR. Muslim, no. 1163)   Ada yang akan beranggapan sial, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa berikut ini, اللَّهُمَّ لاَ يَأْتِى بِالْحَسَنَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ Allahumma laa ya’ti bilhasanaati illa anta. Wa yadfa’us sayyi-ati illa anta. Wa laa hawla wa laa quwwata illa billah “Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali engkau. Tidak ada yang dapat menolak bahaya kecuali engkau. Tidak ada daya dan upaya melainkan denganmu.” (HR. Abu Daud, no. 3919; Al-Baihaqi, 8: 139. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if)   Di akhir khutbah ini … Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Siapa yang bershalawat sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sepuluh kali. Arti shalawat dari Allah adalah ampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.   Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini.   اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ إِنِّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.   — Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Payak Piyungan: Khutbah Jumat: Karena Bulan Sial Jum’at Pon, 28 Dzulhijjah 1437 H (30 September 2016), DS, Warak, Girisekar, Panggang, 27 Dzulhijjah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsbulan suro syirik


Karena sebab enggan mengikuti Rasul, kita bisa kena sial, tertimpa musibah. Sial bukanlah disebabkan karena bulan Suro, waktu keramat, tempat angker atau sebab person tertentu, bukan sama sekali.   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَأَفْضَلُ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga selalu diberkahi oleh Allah …   Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita petunjuk dan berbagai macam nikmat. Seandainya bukan karena hidayah dari Allah, tentu kita tidak bisa berada di atas Islam dan Iman. Begitu pula seandainya bukan karena kasih sayang Allah dan rahmat-Nya, kita tentu akan tersibukkan terus dengan dunia, tidak memikirkan kewajiban. Begitu pula karena berkat nikmat Allah-lah, kita masih terus sehat sehingga bisa beribadah dengan mudah dan kuat.   إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِى الْعَبْدَ مِنَ النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ “Sungguh nikmat yang akan ditanyakan pada hamba pertama kali pada hari kiamat kelak adalah dengan pertanyaan: “Bukankah Kami telah memberikan kesehatan pada badanmu dan telah memberikan padamu air yang menyegarkan?” (HR. Tirmidzi, no. 3358. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).   Shalawat dan salam semoga tercurah kepada suri tauladan dan panutan kita, Nabi besar Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.   Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً “Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubro. Hadits ini hasan ligoirihi –yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya-)   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga dirahmati oleh Allah …   Di bulan besar dalam sebutan kita, yaitu bulan Dzulhijjah dalam kalender Hijriyah, kita lihat begitu banyak yang mengadakan hajatan terutama hajatan manten. Sampai kita pun bisa mendapatkan tiga atau empat undangan dalam satu hari. Namun ketika tiba bulan Muharram atau bulan Suro, ada pantangan untuk melakukan berbagai hajatan. Anggapan utamanya karena meyakini bulan Suro sebagai bulan sial, bulan penuh petaka.   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga dirahmati oleh Allah …   Kadang kita menyandarkan sial kepada sesuatu yang bukan jadi sebab. Asal menuduh saja atau asal mencari kambing hitam. Padahal Allah-lah yang mengatur waktu, mengatur siang dan malam. Sebab sial berarti bukan dari waktu tersebut. Dalam hadits qudsi disebutkan, قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ”Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Muslim, no. 6000)   Coba perhatikan dalam surat Yasin, Allah Ta’ala berfirman, قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (18) قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (19) “Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.” Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas.” (QS. Yasin: 18-19)   Dalam ayat ini disebutkan mengenai thiyarah, istilah dalam bahasa kita adalah beranggapan sial. Kata para ulama, beranggapan sial di sini bisa jadi dengan orang. Seperti ada yang berkata, “Wah gara-gara kamu datang nih, kami jadi sial.” Bisa jadi beranggapan sial dengan apa yang didengar, bisa pula dengan waktu (seperti dengan bulan Suro dan bulan Ruwah). Ada juga yang beranggapan sial ketika lewat suatu tempat. Sehingga untuk membuang kesialan ketika lewat tempat angker -misalnya-, maka ada yang menyalakan lampu kendaraan dengan sengaja atau membunyikan klakson ‘tiiit, tiiit’. Dahulu orang Arab ketika ingin mengetahui nasib mereka baik ataukah tidak ketika akan melakukan perjalanan, maka mereka melepaskan burung. Jika burung tersebut terbang ke arah kanan, berarti bernasib baik. Jika ke arah kiri, berarti bernasib sial. Kalau kita saat ini, bertemu dengan bulan sial, pasti yang dilakukan adalah ruwatan untuk menolak bala’.   Sedangkan dalam surat Yasin yang disebutkan tadi, penduduk negeri yang disebut dalam kisah menganggap nasib sial menimpa mereka karena kedatangan dua utusan (lalu menjadi yang ketiga) yang diutus di tengah-tengah mereka. Namun hal itu dibantah oleh Allah Ta’ala. Dinyatakan bahwa kesialan itu karena sebab pembangkangan penduduk itu sendiri.   Lihatlah yang terjadi di tengah mereka, وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ (13) إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ (14) “Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang di utus kepadamu.”” (QS. Yasin: 13-14)   Lihatlah karena sebab enggan mengikuti Rasul, kita bisa kena sial, tertimpa musibah. Jadi sial bukanlah disebabkan karena bulan Suro, waktu keramat, tempat angker atau sebab person tertentu, bukan sama sekali.   Maka benarlah firman Allah, قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ “ Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas.” (QS. Yasin: 19)   Yang terjadi pada masa Nabi Musa juga sama, kaumnya menuduh Nabi Musa dan pengikutnyalah yang bawa sial.   Sebagaimana disebutkan dalam ayat, فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ “Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 131).   Yang benar adalah karena mengikuti Rasul itulah yang membawa berkah. Karena sebab mendustakan Rasul itulah yang membawa sial atau musibah.   Dalam ayat disebutkan, وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al-A’raf: 96).   Kita seharusnya yang harus rajin introspeksi diri. Karena bisa jadi karena dosa besar yang kita lakukan, itulah yang menyebabkan berbagai kesialan itu datang. Lihatlah di tengah-tengah kita masih merajalela minuman keras, perjudian, perselingkuhan, bahkan karena kejahilan kita masih percaya klenik dan terus mewarisi perbuatan syirik.   Ingatlah ayat, وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)   Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ “Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Al-Jawab Al-Kaafi karya Ibnul Qayyim, hal. 87)   Semoga Allah menunjukkan pada kita jalan untuk kembali bertaubat, memberi kita kemudahan untuk diangkatnya musibah.   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga selalu dirahmati oleh Allah … Demikian khutbah pertama ini.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah, jama’ah shalat Jumat yang semoga senantiasa mendapatkan berkah dari Allah,   Bulan Suro sejatinya adalah bulan yang baik, bukan bulan yang membawa sial. Karena bulan Suro masuk dalam bulan Haram, bulan mulia atau bulan yang disucikan. Buktinya pada bulan ini dikatakan bahwa sebaik-baik puasa adalah di bulan Suro, di bulan Muharram,   Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram.” (HR. Muslim, no. 1163)   Ada yang akan beranggapan sial, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa berikut ini, اللَّهُمَّ لاَ يَأْتِى بِالْحَسَنَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ Allahumma laa ya’ti bilhasanaati illa anta. Wa yadfa’us sayyi-ati illa anta. Wa laa hawla wa laa quwwata illa billah “Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali engkau. Tidak ada yang dapat menolak bahaya kecuali engkau. Tidak ada daya dan upaya melainkan denganmu.” (HR. Abu Daud, no. 3919; Al-Baihaqi, 8: 139. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if)   Di akhir khutbah ini … Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Siapa yang bershalawat sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sepuluh kali. Arti shalawat dari Allah adalah ampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.   Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini.   اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ إِنِّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.   — Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Payak Piyungan: Khutbah Jumat: Karena Bulan Sial Jum’at Pon, 28 Dzulhijjah 1437 H (30 September 2016), DS, Warak, Girisekar, Panggang, 27 Dzulhijjah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsbulan suro syirik

Mukmin Seperti Buah Utrujah

Buah utrujah itu: wanginya tercium, rasanya enak. Dari Abu Musa Al Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالأُتْرُجَّةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ ، وَالْمُؤْمِنُ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالتَّمْرَةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ ، طَعْمُهَا مُرٌّ – أَوْ خَبِيثٌ – وَرِيحُهَا مُرٌّ “Permisalan orang yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah utrujah, rasa dan baunya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah kurma, rasanya enak namun tidak beraroma. Orang munafik yang membaca Al Qur’an adalah bagaikan royhanah, baunya menyenangkan namun rasanya pahit. Dan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an bagaikan hanzholah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 5059) Utrujah itu baunya enak tercium, kalau dirasakan buahnya pun enak. Jadilah orang yang membaca Al-Qur’an bukan sekedar membaca dan menghafal. Namun hendaknya Al-Qur’an tersebut bisa diaplikasikan. Semakin banyak kaji Al-Qur’an, mestinya semakin bagus iman dan akhlaknya. Karena sifat orang yang membaca Al-Qur’an itu akan tercium wanginya. Artinya, ia akan buktikan dalam amal dan perilakunya keseharian.   Bukan sebaliknya …. Semakin banyak ngaji, malah semakin tidak baik pada suami/ istrinya di rumah, semakin tidak berbakti pada ibu/ bapaknya, semakin keras pada tetangga, semakin tidak santun pada masyarakat sekitar. Moga perilaku kita bisa selaras dengan tuntunan Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. — DS, Warak, Girisekar, Panggang, 27 Dzulhijjah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsadab al quran iman

Mukmin Seperti Buah Utrujah

Buah utrujah itu: wanginya tercium, rasanya enak. Dari Abu Musa Al Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالأُتْرُجَّةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ ، وَالْمُؤْمِنُ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالتَّمْرَةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ ، طَعْمُهَا مُرٌّ – أَوْ خَبِيثٌ – وَرِيحُهَا مُرٌّ “Permisalan orang yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah utrujah, rasa dan baunya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah kurma, rasanya enak namun tidak beraroma. Orang munafik yang membaca Al Qur’an adalah bagaikan royhanah, baunya menyenangkan namun rasanya pahit. Dan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an bagaikan hanzholah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 5059) Utrujah itu baunya enak tercium, kalau dirasakan buahnya pun enak. Jadilah orang yang membaca Al-Qur’an bukan sekedar membaca dan menghafal. Namun hendaknya Al-Qur’an tersebut bisa diaplikasikan. Semakin banyak kaji Al-Qur’an, mestinya semakin bagus iman dan akhlaknya. Karena sifat orang yang membaca Al-Qur’an itu akan tercium wanginya. Artinya, ia akan buktikan dalam amal dan perilakunya keseharian.   Bukan sebaliknya …. Semakin banyak ngaji, malah semakin tidak baik pada suami/ istrinya di rumah, semakin tidak berbakti pada ibu/ bapaknya, semakin keras pada tetangga, semakin tidak santun pada masyarakat sekitar. Moga perilaku kita bisa selaras dengan tuntunan Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. — DS, Warak, Girisekar, Panggang, 27 Dzulhijjah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsadab al quran iman
Buah utrujah itu: wanginya tercium, rasanya enak. Dari Abu Musa Al Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالأُتْرُجَّةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ ، وَالْمُؤْمِنُ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالتَّمْرَةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ ، طَعْمُهَا مُرٌّ – أَوْ خَبِيثٌ – وَرِيحُهَا مُرٌّ “Permisalan orang yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah utrujah, rasa dan baunya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah kurma, rasanya enak namun tidak beraroma. Orang munafik yang membaca Al Qur’an adalah bagaikan royhanah, baunya menyenangkan namun rasanya pahit. Dan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an bagaikan hanzholah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 5059) Utrujah itu baunya enak tercium, kalau dirasakan buahnya pun enak. Jadilah orang yang membaca Al-Qur’an bukan sekedar membaca dan menghafal. Namun hendaknya Al-Qur’an tersebut bisa diaplikasikan. Semakin banyak kaji Al-Qur’an, mestinya semakin bagus iman dan akhlaknya. Karena sifat orang yang membaca Al-Qur’an itu akan tercium wanginya. Artinya, ia akan buktikan dalam amal dan perilakunya keseharian.   Bukan sebaliknya …. Semakin banyak ngaji, malah semakin tidak baik pada suami/ istrinya di rumah, semakin tidak berbakti pada ibu/ bapaknya, semakin keras pada tetangga, semakin tidak santun pada masyarakat sekitar. Moga perilaku kita bisa selaras dengan tuntunan Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. — DS, Warak, Girisekar, Panggang, 27 Dzulhijjah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsadab al quran iman


Buah utrujah itu: wanginya tercium, rasanya enak. Dari Abu Musa Al Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالأُتْرُجَّةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ ، وَالْمُؤْمِنُ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالتَّمْرَةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ ، طَعْمُهَا مُرٌّ – أَوْ خَبِيثٌ – وَرِيحُهَا مُرٌّ “Permisalan orang yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah utrujah, rasa dan baunya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah kurma, rasanya enak namun tidak beraroma. Orang munafik yang membaca Al Qur’an adalah bagaikan royhanah, baunya menyenangkan namun rasanya pahit. Dan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an bagaikan hanzholah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 5059) Utrujah itu baunya enak tercium, kalau dirasakan buahnya pun enak. Jadilah orang yang membaca Al-Qur’an bukan sekedar membaca dan menghafal. Namun hendaknya Al-Qur’an tersebut bisa diaplikasikan. Semakin banyak kaji Al-Qur’an, mestinya semakin bagus iman dan akhlaknya. Karena sifat orang yang membaca Al-Qur’an itu akan tercium wanginya. Artinya, ia akan buktikan dalam amal dan perilakunya keseharian.   Bukan sebaliknya …. Semakin banyak ngaji, malah semakin tidak baik pada suami/ istrinya di rumah, semakin tidak berbakti pada ibu/ bapaknya, semakin keras pada tetangga, semakin tidak santun pada masyarakat sekitar. Moga perilaku kita bisa selaras dengan tuntunan Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. — DS, Warak, Girisekar, Panggang, 27 Dzulhijjah 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsadab al quran iman

Bimbingan Islam Untuk Si Kaya Dan Si Miskin (3)

Kepada si miskin, Islam membimbing dalam berbagai hal berikut ini.Pertama: Sabar dan ridha dengan ketetapan Allah Ta’alaSyaikh Abdurrahman ibn Nashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan,وأما ما صنعه الدين الإسلامي مع الفقراء , فقد أمرهم وكل من لم يدرك محبوباته النفسية أن يصبروا ويرضوا بقضائه وتدبيره“Adapun solusi bagi si miskin, maka agama Islam memerintahkan mereka yang tidak mempunyai segala kesenangan duniawi, agar bersabar, agar ridha dengan ketetapan yang telah Allah Ta’ala berikan”.Syaikh Abdurrazzaq ibn Abdil Muhsin Al Badr hafizhahullah dalam penjelasan beliau atas risalah As Sa’di ini mengatakan,“Islam membimbing si miskin untuk berhias dengan sikap sabar di kala tidak mempunyai kesenangan dunia, di kala menghadapi kemiskinan dan tidak memiliki sesuatu di tangannya. Inilah cobaan dan ujian dunia baginya, maka wajib baginya untuk bersabar. Tidak marah dan mudah mengeluh kecuali mengeluh pada Allah Ta’ala, bukan pada makhluk. Hakikat sabar ialah menahan diri dari rasa menyesal, mengeluh, marah. Maka apabila si miskin menghias diri dengan sifat ini, ia akan memperoleh ganjaran orang-orang yang sabar, dan kondisinya akan sama dengan si kaya yang bersyukur. Karena si kaya yang bersyukur dan si miskin yang bersabar apabila sama-sama bertaqwa pada Allah Ta’ala, maka derajat keduanya akan sama. Sebagaimana dinukil dari Ibnul Qayyim dalam ‘Uddatus Shabirin, perkataan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah,وقد قالت طائفة ثالثة ليس لأحدهما على الاخر فضيلة إلا بالتقوى ، فأيهما أعظم ايمانا وتقوى كان أفضل، فان استويا في ذلك ، استويا في الفضيلة“Kelompok ketiga berpendapat bahwa tidak ada yang lebih utama salah satu dari keduanya (si kaya yang bersyukur atau si miskin yang bersabar) melainkan mana yang lebih bertaqwa. Maka siapa saja dari mereka yang paling besar iman dan taqwanya itulah yang paling utama. Maka apabila mereka setara dalam hal iman dan taqwa, setara pula keutamaan mereka”.Kedua: Menyadari berbagai hikmah dan maslahat di balik kemiskinan. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,وأن يعترفوا أن الله حكيم له في ذلك حكم , وفيه مصالح متنوعة فنظرهم هذا يذهب الحزن الذي يقع في القلوب فيحدث العجز والكسل“Dan hendaklah si miskin menyadari bahwa Allah Al Hakiim Yang Maha Bijaksana dengan segala hikmahNya, dan dalam kondisi miskinnya itu pasti terdapat berbagai macam kemaslahatan. Apabila ia melihat hal ini maka niscaya hilanglah kesedihan dari hatinya”.Syaikh Abdurrazzaq ibn Abdil Muhsin Al Badr hafizhahullah menjelaskan, “Terkadang dalam kondisi kemiskinan itu lebih baik dan lebih bermanfaat buat si miskin dalam hubungannya kepada Rabbnya. Apabila ia diberi harta yang banyak maka ia akan terfitnah, dan tidak ada yang dapat memperbaikinya kecuali kemiskinan. Maka miskinnya lebih baik baginya daripada kayanya. Itulah diantara rahasia firman Allah Ta’ala,وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 216).Terkadang si miskin membenci kemiskinan padahal itu baik baginya. Terkadang ia mencintai kekayaan padahal itu buruk baginya. Padahal diantara nikmat Allah Ta’ala adalah Allah jadikan ia dalam kondisi miskin. Karena apabila ada harta dalam genggamannya, ia akan terfitnah dan ia gunakan tidak untuk ketaatan pada Allah, beribadah, dan untuk kebaikan lainnya. Apabila seorang hamba menyadari hal ini, maka akan hilanglah kesedihan dari hatinya”.Ketiga: Membimbing untuk tidak meminta-minta pada orang lain. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,ثم أمرهم أن لا ينظروا في دفع فقرهم وحاجاتهم إلى المخلوقين , ولا يسألوهم إلا حيث لا مندوحة عن السؤال عند الضرورة إلى ذلك“Kemudian Islam memerintahkan si miskin untuk tidak mengatasi kemiskinan dan kebutuhan hidupnya dengan meminta-minta pada sesama makhluk, kecuali meminta tolong dalam kebutuhan daruratnya”.Meminta-minta tidak diperbolehkan dalam Islam kecuali dalam tiga perkara. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن المسألة لا تحل لأحد إلا لثلاثة : رجل تحمل حمالة فحلت له المسألة حتى يصيبها ثم يمسك، ورجل أصابته جائحة اجتاحت ماله فحلت له المسألة حتى يصيب قواماً من عيش، ورجل أصابته فاقة فقال ثلاثة من ذوي الحجى من قومه لقدأصابت فلاناً فاقة، فحلت له المسألة حتى يصيب قواماً من عيش“Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali untuk salah satu dari tiga orang : orang yang menanggung kerugian dalam mendamaikan (dua kabilah yang berperang), maka boleh baginya meminta-minta hingga ia mendapatkan kecukupan untuk membayar semuanya. seseorang yang bangkrut, maka ia boleh meminta-minta hingga ia mendapatkan sesuatu yang mencukupi hidupnya. orang yang sangat fakir, dan disaksikan oleh tiga orang yang adil di kaumnya tersebut bahwa ia benar-benar orang fakir, maka ia boleh meminta-minta hingga mendapatkan kecukupan” (HR Muslim). Keempat: Meminta pertolongan pada Allah, berdoa kepadaNya, ber-ta’awudz (memohon perlindungan) dari kemiskinan dan fitnah yang timbul akibat kemiskinan, memohon pada Allah Ta’ala akan berbagai keutamaanNya, dan bertawassul pada Allah dengan nama-namaNya seperti : Al-Wahhaab, Al-Muhsin, Al-Mannaan, Ar-Razzaaq, dan menggunakan nama-namaNya tersebut dalam doa kepadaNya.Kelima: Mengerahkan segala kemampuan, bersungguh-sungguh dalam bekerja dan mencari rizki yang halal. Bertahap dalam bekerja dan berusaha, memulai usaha dari awal dengan sabar hingga menuai hasil. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,وأن يطلبوا دفع فقرهم من الله وحده لا شريك له , بما جعله من الأسباب الدافعة للفقر الجالبة للغنى . وهي الأعمال والأسباب المتنوعة , كل واحد يشتغل بالسبب الذي يناسبه , ويليق بحاله , فيستفيد بذلك تحرره من رق المخلوقين وتمرنه على القوة والنشاط , ومحاربة الكسل والفتور“Hendaknya si miskin mengatasi kemiskinannya dengan memohon pada Allah semata dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun. Dengan mengupayakan berbagai sebab untuk mengatasi kemiskinan dan meraih kekayaan dengan bekerja atau kesibukan lain yang sesuai”.Keenam: Tidak hasad kepada orang-orang kaya. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,ومع ذلك لا يقع في قلوبهم حسد للأغنياء على ما آتاهم الله من فضله“Mencegah dalam hati timbulnya hasad dan dengki pada orang-orang kaya yang kepada mereka Allah berikan rizki”.Si miskin hendaknya berhati-hati dari hasad kepada orang-orang kaya, karena harta yang ada di sisi orang kaya adalah karunia dari Allah semata.وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. An Nisa : 32)Ketujuh: Berhati-hati dengan harta yang haram. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,وأمرهم أن ينصحوا في أعمالهم ومعاملاتهم وصناعاتهم , وأن لا يتعجلوا الرزق بالانغماس في المكاسب الدنيئة التي تذهب الدين والدنيا“Islam memerintahkan untuk menasihati si miskin dalam pekerjaan mereka, muamalah mereka dan usaha mereka, agar tidak tergesa-gesa dalam mencari rizki dengan cara yang hina dan dapat menghilangkan agama dan dunia mereka”.Kedelapan: Bersikap hemat dan qana’ah. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,وأمرهم بأمرين يعينانهم على مشقة الفقر : الاقتصاد في تدبير المعاش , والاقتناع برزق الله ; فالرزق القليل مع الاقتصاد الحكيم يكون كثيرا , والقناعة كنز لا ينفد وغنى بلا مال“Islam memerintahkan si miskin dengan dua hal yang dapat menolong mereka dari beratnya kemiskinan : (1) bersikap hemat dalam membelanjakan nafkah (2) memiliki sikap qana’ah (cukup) akan rizki dari Allah, karena rizki yang sedikit dan sikap hemat nan bijak niscaya harta akan menjadi banyak, dan sikap qana’ah adalah gudang yang tiada habisnya, kekayaan walaupun tanpa harta”.Kesembilan: Senantiasa melihat mereka yang berada di bawah, bukan mereka yang ada di atas.Syaikh Abdurrazzaq ibn Abdil Muhsin Al Badr hafizhahullah menjelaskan, “Jangan melihat pada mereka yang berada di atasmu (lebih kaya, lebih makmur, lebih sejahtera) karena itu hanya akan membuatmu lupa akan hakikat nikmat yang diberikan Allah berupa : nikmatnya Islam, nikmatnya sehat, nikmatnya masih bisa tinggal di rumah, nikmatnya keamanan, nikmat anak, dan masih banyak lagi. Namun lihatlah mereka yang ada di bawahmu, niscaya engkau akan selalu mengucapkan ‘Alhamdulillah’. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,انظروا إلى من هو أسفل منكم ، ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر ألا تزدروا نعمة الله عليكم“Lihatlah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau lihat orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu” (HR Muslim).Kesepuluh: Memperbanyak istighfar memohon ampun kepada Allah. Terakhir, perbanyak memohon ampun kepada Allah. Firman Allah Ta’ala,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا“Maka aku berkata kepada mereka, ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun” (QS. Nuh : 10)Diantara balasan duniawi yang disiapkan Allah Ta’ala bagi mereka yang beristighfar,يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا“Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu” (QS. Nuh : 11-12)Ibn Katsir rahimahullah menjelaskan tafsir ayat tersebut,إذا تبتم إلى الله واستغفرتموه وأطعتموه ، كثر الرزق عليكم ، وأسقاكم من بركات السماء ، وأنبت لكم من بركات الأرض ، وأنبت لكم الزرع ، وأدر لكم الضرع ، وأمدكم بأموال وبنين ، أي : أعطاكم الأموال والأولاد ، وجعل لكم جنات فيها أنواع الثمار ، وخللها بالأنهار الجارية بينها“Apabila kalian bertaubat kepada Allah, memohon ampun padaNya dan menaatiNya, maka rizki akan diperbanyak atas kalian, hujan akan tercurah dari langit pada kalian, tumbuh berbagai tanaman dari tanah yang berkah, tumbuh berbagai macam hasil pertanian tumbuh, tanah subur, mendapat anugerah berupa harta dan anak-anak, dan dijadikan bagi kalian kebun-kebun dengan berbagai buah-buahannya, dialiri dengan sungai yang mengalirinya”.Demikianlah beberapa bimbingan bagi si kaya dan si miskin yang kiranya dapat menghilangkan jurang kesenjangan sosial yang semakin parah akhir-akhir ini. Semoga bermanfaat.***Penyusun: Yhouga Mopratama AriestaArtikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Sesajen, Ayat Alquran Tentang Kesembuhan, Niat Imam, Islam Kafah, Fatwa Ulama Syiah

Bimbingan Islam Untuk Si Kaya Dan Si Miskin (3)

Kepada si miskin, Islam membimbing dalam berbagai hal berikut ini.Pertama: Sabar dan ridha dengan ketetapan Allah Ta’alaSyaikh Abdurrahman ibn Nashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan,وأما ما صنعه الدين الإسلامي مع الفقراء , فقد أمرهم وكل من لم يدرك محبوباته النفسية أن يصبروا ويرضوا بقضائه وتدبيره“Adapun solusi bagi si miskin, maka agama Islam memerintahkan mereka yang tidak mempunyai segala kesenangan duniawi, agar bersabar, agar ridha dengan ketetapan yang telah Allah Ta’ala berikan”.Syaikh Abdurrazzaq ibn Abdil Muhsin Al Badr hafizhahullah dalam penjelasan beliau atas risalah As Sa’di ini mengatakan,“Islam membimbing si miskin untuk berhias dengan sikap sabar di kala tidak mempunyai kesenangan dunia, di kala menghadapi kemiskinan dan tidak memiliki sesuatu di tangannya. Inilah cobaan dan ujian dunia baginya, maka wajib baginya untuk bersabar. Tidak marah dan mudah mengeluh kecuali mengeluh pada Allah Ta’ala, bukan pada makhluk. Hakikat sabar ialah menahan diri dari rasa menyesal, mengeluh, marah. Maka apabila si miskin menghias diri dengan sifat ini, ia akan memperoleh ganjaran orang-orang yang sabar, dan kondisinya akan sama dengan si kaya yang bersyukur. Karena si kaya yang bersyukur dan si miskin yang bersabar apabila sama-sama bertaqwa pada Allah Ta’ala, maka derajat keduanya akan sama. Sebagaimana dinukil dari Ibnul Qayyim dalam ‘Uddatus Shabirin, perkataan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah,وقد قالت طائفة ثالثة ليس لأحدهما على الاخر فضيلة إلا بالتقوى ، فأيهما أعظم ايمانا وتقوى كان أفضل، فان استويا في ذلك ، استويا في الفضيلة“Kelompok ketiga berpendapat bahwa tidak ada yang lebih utama salah satu dari keduanya (si kaya yang bersyukur atau si miskin yang bersabar) melainkan mana yang lebih bertaqwa. Maka siapa saja dari mereka yang paling besar iman dan taqwanya itulah yang paling utama. Maka apabila mereka setara dalam hal iman dan taqwa, setara pula keutamaan mereka”.Kedua: Menyadari berbagai hikmah dan maslahat di balik kemiskinan. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,وأن يعترفوا أن الله حكيم له في ذلك حكم , وفيه مصالح متنوعة فنظرهم هذا يذهب الحزن الذي يقع في القلوب فيحدث العجز والكسل“Dan hendaklah si miskin menyadari bahwa Allah Al Hakiim Yang Maha Bijaksana dengan segala hikmahNya, dan dalam kondisi miskinnya itu pasti terdapat berbagai macam kemaslahatan. Apabila ia melihat hal ini maka niscaya hilanglah kesedihan dari hatinya”.Syaikh Abdurrazzaq ibn Abdil Muhsin Al Badr hafizhahullah menjelaskan, “Terkadang dalam kondisi kemiskinan itu lebih baik dan lebih bermanfaat buat si miskin dalam hubungannya kepada Rabbnya. Apabila ia diberi harta yang banyak maka ia akan terfitnah, dan tidak ada yang dapat memperbaikinya kecuali kemiskinan. Maka miskinnya lebih baik baginya daripada kayanya. Itulah diantara rahasia firman Allah Ta’ala,وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 216).Terkadang si miskin membenci kemiskinan padahal itu baik baginya. Terkadang ia mencintai kekayaan padahal itu buruk baginya. Padahal diantara nikmat Allah Ta’ala adalah Allah jadikan ia dalam kondisi miskin. Karena apabila ada harta dalam genggamannya, ia akan terfitnah dan ia gunakan tidak untuk ketaatan pada Allah, beribadah, dan untuk kebaikan lainnya. Apabila seorang hamba menyadari hal ini, maka akan hilanglah kesedihan dari hatinya”.Ketiga: Membimbing untuk tidak meminta-minta pada orang lain. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,ثم أمرهم أن لا ينظروا في دفع فقرهم وحاجاتهم إلى المخلوقين , ولا يسألوهم إلا حيث لا مندوحة عن السؤال عند الضرورة إلى ذلك“Kemudian Islam memerintahkan si miskin untuk tidak mengatasi kemiskinan dan kebutuhan hidupnya dengan meminta-minta pada sesama makhluk, kecuali meminta tolong dalam kebutuhan daruratnya”.Meminta-minta tidak diperbolehkan dalam Islam kecuali dalam tiga perkara. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن المسألة لا تحل لأحد إلا لثلاثة : رجل تحمل حمالة فحلت له المسألة حتى يصيبها ثم يمسك، ورجل أصابته جائحة اجتاحت ماله فحلت له المسألة حتى يصيب قواماً من عيش، ورجل أصابته فاقة فقال ثلاثة من ذوي الحجى من قومه لقدأصابت فلاناً فاقة، فحلت له المسألة حتى يصيب قواماً من عيش“Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali untuk salah satu dari tiga orang : orang yang menanggung kerugian dalam mendamaikan (dua kabilah yang berperang), maka boleh baginya meminta-minta hingga ia mendapatkan kecukupan untuk membayar semuanya. seseorang yang bangkrut, maka ia boleh meminta-minta hingga ia mendapatkan sesuatu yang mencukupi hidupnya. orang yang sangat fakir, dan disaksikan oleh tiga orang yang adil di kaumnya tersebut bahwa ia benar-benar orang fakir, maka ia boleh meminta-minta hingga mendapatkan kecukupan” (HR Muslim). Keempat: Meminta pertolongan pada Allah, berdoa kepadaNya, ber-ta’awudz (memohon perlindungan) dari kemiskinan dan fitnah yang timbul akibat kemiskinan, memohon pada Allah Ta’ala akan berbagai keutamaanNya, dan bertawassul pada Allah dengan nama-namaNya seperti : Al-Wahhaab, Al-Muhsin, Al-Mannaan, Ar-Razzaaq, dan menggunakan nama-namaNya tersebut dalam doa kepadaNya.Kelima: Mengerahkan segala kemampuan, bersungguh-sungguh dalam bekerja dan mencari rizki yang halal. Bertahap dalam bekerja dan berusaha, memulai usaha dari awal dengan sabar hingga menuai hasil. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,وأن يطلبوا دفع فقرهم من الله وحده لا شريك له , بما جعله من الأسباب الدافعة للفقر الجالبة للغنى . وهي الأعمال والأسباب المتنوعة , كل واحد يشتغل بالسبب الذي يناسبه , ويليق بحاله , فيستفيد بذلك تحرره من رق المخلوقين وتمرنه على القوة والنشاط , ومحاربة الكسل والفتور“Hendaknya si miskin mengatasi kemiskinannya dengan memohon pada Allah semata dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun. Dengan mengupayakan berbagai sebab untuk mengatasi kemiskinan dan meraih kekayaan dengan bekerja atau kesibukan lain yang sesuai”.Keenam: Tidak hasad kepada orang-orang kaya. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,ومع ذلك لا يقع في قلوبهم حسد للأغنياء على ما آتاهم الله من فضله“Mencegah dalam hati timbulnya hasad dan dengki pada orang-orang kaya yang kepada mereka Allah berikan rizki”.Si miskin hendaknya berhati-hati dari hasad kepada orang-orang kaya, karena harta yang ada di sisi orang kaya adalah karunia dari Allah semata.وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. An Nisa : 32)Ketujuh: Berhati-hati dengan harta yang haram. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,وأمرهم أن ينصحوا في أعمالهم ومعاملاتهم وصناعاتهم , وأن لا يتعجلوا الرزق بالانغماس في المكاسب الدنيئة التي تذهب الدين والدنيا“Islam memerintahkan untuk menasihati si miskin dalam pekerjaan mereka, muamalah mereka dan usaha mereka, agar tidak tergesa-gesa dalam mencari rizki dengan cara yang hina dan dapat menghilangkan agama dan dunia mereka”.Kedelapan: Bersikap hemat dan qana’ah. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,وأمرهم بأمرين يعينانهم على مشقة الفقر : الاقتصاد في تدبير المعاش , والاقتناع برزق الله ; فالرزق القليل مع الاقتصاد الحكيم يكون كثيرا , والقناعة كنز لا ينفد وغنى بلا مال“Islam memerintahkan si miskin dengan dua hal yang dapat menolong mereka dari beratnya kemiskinan : (1) bersikap hemat dalam membelanjakan nafkah (2) memiliki sikap qana’ah (cukup) akan rizki dari Allah, karena rizki yang sedikit dan sikap hemat nan bijak niscaya harta akan menjadi banyak, dan sikap qana’ah adalah gudang yang tiada habisnya, kekayaan walaupun tanpa harta”.Kesembilan: Senantiasa melihat mereka yang berada di bawah, bukan mereka yang ada di atas.Syaikh Abdurrazzaq ibn Abdil Muhsin Al Badr hafizhahullah menjelaskan, “Jangan melihat pada mereka yang berada di atasmu (lebih kaya, lebih makmur, lebih sejahtera) karena itu hanya akan membuatmu lupa akan hakikat nikmat yang diberikan Allah berupa : nikmatnya Islam, nikmatnya sehat, nikmatnya masih bisa tinggal di rumah, nikmatnya keamanan, nikmat anak, dan masih banyak lagi. Namun lihatlah mereka yang ada di bawahmu, niscaya engkau akan selalu mengucapkan ‘Alhamdulillah’. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,انظروا إلى من هو أسفل منكم ، ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر ألا تزدروا نعمة الله عليكم“Lihatlah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau lihat orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu” (HR Muslim).Kesepuluh: Memperbanyak istighfar memohon ampun kepada Allah. Terakhir, perbanyak memohon ampun kepada Allah. Firman Allah Ta’ala,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا“Maka aku berkata kepada mereka, ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun” (QS. Nuh : 10)Diantara balasan duniawi yang disiapkan Allah Ta’ala bagi mereka yang beristighfar,يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا“Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu” (QS. Nuh : 11-12)Ibn Katsir rahimahullah menjelaskan tafsir ayat tersebut,إذا تبتم إلى الله واستغفرتموه وأطعتموه ، كثر الرزق عليكم ، وأسقاكم من بركات السماء ، وأنبت لكم من بركات الأرض ، وأنبت لكم الزرع ، وأدر لكم الضرع ، وأمدكم بأموال وبنين ، أي : أعطاكم الأموال والأولاد ، وجعل لكم جنات فيها أنواع الثمار ، وخللها بالأنهار الجارية بينها“Apabila kalian bertaubat kepada Allah, memohon ampun padaNya dan menaatiNya, maka rizki akan diperbanyak atas kalian, hujan akan tercurah dari langit pada kalian, tumbuh berbagai tanaman dari tanah yang berkah, tumbuh berbagai macam hasil pertanian tumbuh, tanah subur, mendapat anugerah berupa harta dan anak-anak, dan dijadikan bagi kalian kebun-kebun dengan berbagai buah-buahannya, dialiri dengan sungai yang mengalirinya”.Demikianlah beberapa bimbingan bagi si kaya dan si miskin yang kiranya dapat menghilangkan jurang kesenjangan sosial yang semakin parah akhir-akhir ini. Semoga bermanfaat.***Penyusun: Yhouga Mopratama AriestaArtikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Sesajen, Ayat Alquran Tentang Kesembuhan, Niat Imam, Islam Kafah, Fatwa Ulama Syiah
Kepada si miskin, Islam membimbing dalam berbagai hal berikut ini.Pertama: Sabar dan ridha dengan ketetapan Allah Ta’alaSyaikh Abdurrahman ibn Nashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan,وأما ما صنعه الدين الإسلامي مع الفقراء , فقد أمرهم وكل من لم يدرك محبوباته النفسية أن يصبروا ويرضوا بقضائه وتدبيره“Adapun solusi bagi si miskin, maka agama Islam memerintahkan mereka yang tidak mempunyai segala kesenangan duniawi, agar bersabar, agar ridha dengan ketetapan yang telah Allah Ta’ala berikan”.Syaikh Abdurrazzaq ibn Abdil Muhsin Al Badr hafizhahullah dalam penjelasan beliau atas risalah As Sa’di ini mengatakan,“Islam membimbing si miskin untuk berhias dengan sikap sabar di kala tidak mempunyai kesenangan dunia, di kala menghadapi kemiskinan dan tidak memiliki sesuatu di tangannya. Inilah cobaan dan ujian dunia baginya, maka wajib baginya untuk bersabar. Tidak marah dan mudah mengeluh kecuali mengeluh pada Allah Ta’ala, bukan pada makhluk. Hakikat sabar ialah menahan diri dari rasa menyesal, mengeluh, marah. Maka apabila si miskin menghias diri dengan sifat ini, ia akan memperoleh ganjaran orang-orang yang sabar, dan kondisinya akan sama dengan si kaya yang bersyukur. Karena si kaya yang bersyukur dan si miskin yang bersabar apabila sama-sama bertaqwa pada Allah Ta’ala, maka derajat keduanya akan sama. Sebagaimana dinukil dari Ibnul Qayyim dalam ‘Uddatus Shabirin, perkataan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah,وقد قالت طائفة ثالثة ليس لأحدهما على الاخر فضيلة إلا بالتقوى ، فأيهما أعظم ايمانا وتقوى كان أفضل، فان استويا في ذلك ، استويا في الفضيلة“Kelompok ketiga berpendapat bahwa tidak ada yang lebih utama salah satu dari keduanya (si kaya yang bersyukur atau si miskin yang bersabar) melainkan mana yang lebih bertaqwa. Maka siapa saja dari mereka yang paling besar iman dan taqwanya itulah yang paling utama. Maka apabila mereka setara dalam hal iman dan taqwa, setara pula keutamaan mereka”.Kedua: Menyadari berbagai hikmah dan maslahat di balik kemiskinan. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,وأن يعترفوا أن الله حكيم له في ذلك حكم , وفيه مصالح متنوعة فنظرهم هذا يذهب الحزن الذي يقع في القلوب فيحدث العجز والكسل“Dan hendaklah si miskin menyadari bahwa Allah Al Hakiim Yang Maha Bijaksana dengan segala hikmahNya, dan dalam kondisi miskinnya itu pasti terdapat berbagai macam kemaslahatan. Apabila ia melihat hal ini maka niscaya hilanglah kesedihan dari hatinya”.Syaikh Abdurrazzaq ibn Abdil Muhsin Al Badr hafizhahullah menjelaskan, “Terkadang dalam kondisi kemiskinan itu lebih baik dan lebih bermanfaat buat si miskin dalam hubungannya kepada Rabbnya. Apabila ia diberi harta yang banyak maka ia akan terfitnah, dan tidak ada yang dapat memperbaikinya kecuali kemiskinan. Maka miskinnya lebih baik baginya daripada kayanya. Itulah diantara rahasia firman Allah Ta’ala,وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 216).Terkadang si miskin membenci kemiskinan padahal itu baik baginya. Terkadang ia mencintai kekayaan padahal itu buruk baginya. Padahal diantara nikmat Allah Ta’ala adalah Allah jadikan ia dalam kondisi miskin. Karena apabila ada harta dalam genggamannya, ia akan terfitnah dan ia gunakan tidak untuk ketaatan pada Allah, beribadah, dan untuk kebaikan lainnya. Apabila seorang hamba menyadari hal ini, maka akan hilanglah kesedihan dari hatinya”.Ketiga: Membimbing untuk tidak meminta-minta pada orang lain. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,ثم أمرهم أن لا ينظروا في دفع فقرهم وحاجاتهم إلى المخلوقين , ولا يسألوهم إلا حيث لا مندوحة عن السؤال عند الضرورة إلى ذلك“Kemudian Islam memerintahkan si miskin untuk tidak mengatasi kemiskinan dan kebutuhan hidupnya dengan meminta-minta pada sesama makhluk, kecuali meminta tolong dalam kebutuhan daruratnya”.Meminta-minta tidak diperbolehkan dalam Islam kecuali dalam tiga perkara. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن المسألة لا تحل لأحد إلا لثلاثة : رجل تحمل حمالة فحلت له المسألة حتى يصيبها ثم يمسك، ورجل أصابته جائحة اجتاحت ماله فحلت له المسألة حتى يصيب قواماً من عيش، ورجل أصابته فاقة فقال ثلاثة من ذوي الحجى من قومه لقدأصابت فلاناً فاقة، فحلت له المسألة حتى يصيب قواماً من عيش“Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali untuk salah satu dari tiga orang : orang yang menanggung kerugian dalam mendamaikan (dua kabilah yang berperang), maka boleh baginya meminta-minta hingga ia mendapatkan kecukupan untuk membayar semuanya. seseorang yang bangkrut, maka ia boleh meminta-minta hingga ia mendapatkan sesuatu yang mencukupi hidupnya. orang yang sangat fakir, dan disaksikan oleh tiga orang yang adil di kaumnya tersebut bahwa ia benar-benar orang fakir, maka ia boleh meminta-minta hingga mendapatkan kecukupan” (HR Muslim). Keempat: Meminta pertolongan pada Allah, berdoa kepadaNya, ber-ta’awudz (memohon perlindungan) dari kemiskinan dan fitnah yang timbul akibat kemiskinan, memohon pada Allah Ta’ala akan berbagai keutamaanNya, dan bertawassul pada Allah dengan nama-namaNya seperti : Al-Wahhaab, Al-Muhsin, Al-Mannaan, Ar-Razzaaq, dan menggunakan nama-namaNya tersebut dalam doa kepadaNya.Kelima: Mengerahkan segala kemampuan, bersungguh-sungguh dalam bekerja dan mencari rizki yang halal. Bertahap dalam bekerja dan berusaha, memulai usaha dari awal dengan sabar hingga menuai hasil. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,وأن يطلبوا دفع فقرهم من الله وحده لا شريك له , بما جعله من الأسباب الدافعة للفقر الجالبة للغنى . وهي الأعمال والأسباب المتنوعة , كل واحد يشتغل بالسبب الذي يناسبه , ويليق بحاله , فيستفيد بذلك تحرره من رق المخلوقين وتمرنه على القوة والنشاط , ومحاربة الكسل والفتور“Hendaknya si miskin mengatasi kemiskinannya dengan memohon pada Allah semata dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun. Dengan mengupayakan berbagai sebab untuk mengatasi kemiskinan dan meraih kekayaan dengan bekerja atau kesibukan lain yang sesuai”.Keenam: Tidak hasad kepada orang-orang kaya. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,ومع ذلك لا يقع في قلوبهم حسد للأغنياء على ما آتاهم الله من فضله“Mencegah dalam hati timbulnya hasad dan dengki pada orang-orang kaya yang kepada mereka Allah berikan rizki”.Si miskin hendaknya berhati-hati dari hasad kepada orang-orang kaya, karena harta yang ada di sisi orang kaya adalah karunia dari Allah semata.وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. An Nisa : 32)Ketujuh: Berhati-hati dengan harta yang haram. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,وأمرهم أن ينصحوا في أعمالهم ومعاملاتهم وصناعاتهم , وأن لا يتعجلوا الرزق بالانغماس في المكاسب الدنيئة التي تذهب الدين والدنيا“Islam memerintahkan untuk menasihati si miskin dalam pekerjaan mereka, muamalah mereka dan usaha mereka, agar tidak tergesa-gesa dalam mencari rizki dengan cara yang hina dan dapat menghilangkan agama dan dunia mereka”.Kedelapan: Bersikap hemat dan qana’ah. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,وأمرهم بأمرين يعينانهم على مشقة الفقر : الاقتصاد في تدبير المعاش , والاقتناع برزق الله ; فالرزق القليل مع الاقتصاد الحكيم يكون كثيرا , والقناعة كنز لا ينفد وغنى بلا مال“Islam memerintahkan si miskin dengan dua hal yang dapat menolong mereka dari beratnya kemiskinan : (1) bersikap hemat dalam membelanjakan nafkah (2) memiliki sikap qana’ah (cukup) akan rizki dari Allah, karena rizki yang sedikit dan sikap hemat nan bijak niscaya harta akan menjadi banyak, dan sikap qana’ah adalah gudang yang tiada habisnya, kekayaan walaupun tanpa harta”.Kesembilan: Senantiasa melihat mereka yang berada di bawah, bukan mereka yang ada di atas.Syaikh Abdurrazzaq ibn Abdil Muhsin Al Badr hafizhahullah menjelaskan, “Jangan melihat pada mereka yang berada di atasmu (lebih kaya, lebih makmur, lebih sejahtera) karena itu hanya akan membuatmu lupa akan hakikat nikmat yang diberikan Allah berupa : nikmatnya Islam, nikmatnya sehat, nikmatnya masih bisa tinggal di rumah, nikmatnya keamanan, nikmat anak, dan masih banyak lagi. Namun lihatlah mereka yang ada di bawahmu, niscaya engkau akan selalu mengucapkan ‘Alhamdulillah’. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,انظروا إلى من هو أسفل منكم ، ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر ألا تزدروا نعمة الله عليكم“Lihatlah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau lihat orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu” (HR Muslim).Kesepuluh: Memperbanyak istighfar memohon ampun kepada Allah. Terakhir, perbanyak memohon ampun kepada Allah. Firman Allah Ta’ala,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا“Maka aku berkata kepada mereka, ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun” (QS. Nuh : 10)Diantara balasan duniawi yang disiapkan Allah Ta’ala bagi mereka yang beristighfar,يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا“Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu” (QS. Nuh : 11-12)Ibn Katsir rahimahullah menjelaskan tafsir ayat tersebut,إذا تبتم إلى الله واستغفرتموه وأطعتموه ، كثر الرزق عليكم ، وأسقاكم من بركات السماء ، وأنبت لكم من بركات الأرض ، وأنبت لكم الزرع ، وأدر لكم الضرع ، وأمدكم بأموال وبنين ، أي : أعطاكم الأموال والأولاد ، وجعل لكم جنات فيها أنواع الثمار ، وخللها بالأنهار الجارية بينها“Apabila kalian bertaubat kepada Allah, memohon ampun padaNya dan menaatiNya, maka rizki akan diperbanyak atas kalian, hujan akan tercurah dari langit pada kalian, tumbuh berbagai tanaman dari tanah yang berkah, tumbuh berbagai macam hasil pertanian tumbuh, tanah subur, mendapat anugerah berupa harta dan anak-anak, dan dijadikan bagi kalian kebun-kebun dengan berbagai buah-buahannya, dialiri dengan sungai yang mengalirinya”.Demikianlah beberapa bimbingan bagi si kaya dan si miskin yang kiranya dapat menghilangkan jurang kesenjangan sosial yang semakin parah akhir-akhir ini. Semoga bermanfaat.***Penyusun: Yhouga Mopratama AriestaArtikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Sesajen, Ayat Alquran Tentang Kesembuhan, Niat Imam, Islam Kafah, Fatwa Ulama Syiah


Kepada si miskin, Islam membimbing dalam berbagai hal berikut ini.Pertama: Sabar dan ridha dengan ketetapan Allah Ta’alaSyaikh Abdurrahman ibn Nashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan,وأما ما صنعه الدين الإسلامي مع الفقراء , فقد أمرهم وكل من لم يدرك محبوباته النفسية أن يصبروا ويرضوا بقضائه وتدبيره“Adapun solusi bagi si miskin, maka agama Islam memerintahkan mereka yang tidak mempunyai segala kesenangan duniawi, agar bersabar, agar ridha dengan ketetapan yang telah Allah Ta’ala berikan”.Syaikh Abdurrazzaq ibn Abdil Muhsin Al Badr hafizhahullah dalam penjelasan beliau atas risalah As Sa’di ini mengatakan,“Islam membimbing si miskin untuk berhias dengan sikap sabar di kala tidak mempunyai kesenangan dunia, di kala menghadapi kemiskinan dan tidak memiliki sesuatu di tangannya. Inilah cobaan dan ujian dunia baginya, maka wajib baginya untuk bersabar. Tidak marah dan mudah mengeluh kecuali mengeluh pada Allah Ta’ala, bukan pada makhluk. Hakikat sabar ialah menahan diri dari rasa menyesal, mengeluh, marah. Maka apabila si miskin menghias diri dengan sifat ini, ia akan memperoleh ganjaran orang-orang yang sabar, dan kondisinya akan sama dengan si kaya yang bersyukur. Karena si kaya yang bersyukur dan si miskin yang bersabar apabila sama-sama bertaqwa pada Allah Ta’ala, maka derajat keduanya akan sama. Sebagaimana dinukil dari Ibnul Qayyim dalam ‘Uddatus Shabirin, perkataan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah,وقد قالت طائفة ثالثة ليس لأحدهما على الاخر فضيلة إلا بالتقوى ، فأيهما أعظم ايمانا وتقوى كان أفضل، فان استويا في ذلك ، استويا في الفضيلة“Kelompok ketiga berpendapat bahwa tidak ada yang lebih utama salah satu dari keduanya (si kaya yang bersyukur atau si miskin yang bersabar) melainkan mana yang lebih bertaqwa. Maka siapa saja dari mereka yang paling besar iman dan taqwanya itulah yang paling utama. Maka apabila mereka setara dalam hal iman dan taqwa, setara pula keutamaan mereka”.Kedua: Menyadari berbagai hikmah dan maslahat di balik kemiskinan. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,وأن يعترفوا أن الله حكيم له في ذلك حكم , وفيه مصالح متنوعة فنظرهم هذا يذهب الحزن الذي يقع في القلوب فيحدث العجز والكسل“Dan hendaklah si miskin menyadari bahwa Allah Al Hakiim Yang Maha Bijaksana dengan segala hikmahNya, dan dalam kondisi miskinnya itu pasti terdapat berbagai macam kemaslahatan. Apabila ia melihat hal ini maka niscaya hilanglah kesedihan dari hatinya”.Syaikh Abdurrazzaq ibn Abdil Muhsin Al Badr hafizhahullah menjelaskan, “Terkadang dalam kondisi kemiskinan itu lebih baik dan lebih bermanfaat buat si miskin dalam hubungannya kepada Rabbnya. Apabila ia diberi harta yang banyak maka ia akan terfitnah, dan tidak ada yang dapat memperbaikinya kecuali kemiskinan. Maka miskinnya lebih baik baginya daripada kayanya. Itulah diantara rahasia firman Allah Ta’ala,وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 216).Terkadang si miskin membenci kemiskinan padahal itu baik baginya. Terkadang ia mencintai kekayaan padahal itu buruk baginya. Padahal diantara nikmat Allah Ta’ala adalah Allah jadikan ia dalam kondisi miskin. Karena apabila ada harta dalam genggamannya, ia akan terfitnah dan ia gunakan tidak untuk ketaatan pada Allah, beribadah, dan untuk kebaikan lainnya. Apabila seorang hamba menyadari hal ini, maka akan hilanglah kesedihan dari hatinya”.Ketiga: Membimbing untuk tidak meminta-minta pada orang lain. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,ثم أمرهم أن لا ينظروا في دفع فقرهم وحاجاتهم إلى المخلوقين , ولا يسألوهم إلا حيث لا مندوحة عن السؤال عند الضرورة إلى ذلك“Kemudian Islam memerintahkan si miskin untuk tidak mengatasi kemiskinan dan kebutuhan hidupnya dengan meminta-minta pada sesama makhluk, kecuali meminta tolong dalam kebutuhan daruratnya”.Meminta-minta tidak diperbolehkan dalam Islam kecuali dalam tiga perkara. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إن المسألة لا تحل لأحد إلا لثلاثة : رجل تحمل حمالة فحلت له المسألة حتى يصيبها ثم يمسك، ورجل أصابته جائحة اجتاحت ماله فحلت له المسألة حتى يصيب قواماً من عيش، ورجل أصابته فاقة فقال ثلاثة من ذوي الحجى من قومه لقدأصابت فلاناً فاقة، فحلت له المسألة حتى يصيب قواماً من عيش“Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali untuk salah satu dari tiga orang : orang yang menanggung kerugian dalam mendamaikan (dua kabilah yang berperang), maka boleh baginya meminta-minta hingga ia mendapatkan kecukupan untuk membayar semuanya. seseorang yang bangkrut, maka ia boleh meminta-minta hingga ia mendapatkan sesuatu yang mencukupi hidupnya. orang yang sangat fakir, dan disaksikan oleh tiga orang yang adil di kaumnya tersebut bahwa ia benar-benar orang fakir, maka ia boleh meminta-minta hingga mendapatkan kecukupan” (HR Muslim). Keempat: Meminta pertolongan pada Allah, berdoa kepadaNya, ber-ta’awudz (memohon perlindungan) dari kemiskinan dan fitnah yang timbul akibat kemiskinan, memohon pada Allah Ta’ala akan berbagai keutamaanNya, dan bertawassul pada Allah dengan nama-namaNya seperti : Al-Wahhaab, Al-Muhsin, Al-Mannaan, Ar-Razzaaq, dan menggunakan nama-namaNya tersebut dalam doa kepadaNya.Kelima: Mengerahkan segala kemampuan, bersungguh-sungguh dalam bekerja dan mencari rizki yang halal. Bertahap dalam bekerja dan berusaha, memulai usaha dari awal dengan sabar hingga menuai hasil. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,وأن يطلبوا دفع فقرهم من الله وحده لا شريك له , بما جعله من الأسباب الدافعة للفقر الجالبة للغنى . وهي الأعمال والأسباب المتنوعة , كل واحد يشتغل بالسبب الذي يناسبه , ويليق بحاله , فيستفيد بذلك تحرره من رق المخلوقين وتمرنه على القوة والنشاط , ومحاربة الكسل والفتور“Hendaknya si miskin mengatasi kemiskinannya dengan memohon pada Allah semata dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun. Dengan mengupayakan berbagai sebab untuk mengatasi kemiskinan dan meraih kekayaan dengan bekerja atau kesibukan lain yang sesuai”.Keenam: Tidak hasad kepada orang-orang kaya. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,ومع ذلك لا يقع في قلوبهم حسد للأغنياء على ما آتاهم الله من فضله“Mencegah dalam hati timbulnya hasad dan dengki pada orang-orang kaya yang kepada mereka Allah berikan rizki”.Si miskin hendaknya berhati-hati dari hasad kepada orang-orang kaya, karena harta yang ada di sisi orang kaya adalah karunia dari Allah semata.وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. An Nisa : 32)Ketujuh: Berhati-hati dengan harta yang haram. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,وأمرهم أن ينصحوا في أعمالهم ومعاملاتهم وصناعاتهم , وأن لا يتعجلوا الرزق بالانغماس في المكاسب الدنيئة التي تذهب الدين والدنيا“Islam memerintahkan untuk menasihati si miskin dalam pekerjaan mereka, muamalah mereka dan usaha mereka, agar tidak tergesa-gesa dalam mencari rizki dengan cara yang hina dan dapat menghilangkan agama dan dunia mereka”.Kedelapan: Bersikap hemat dan qana’ah. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,وأمرهم بأمرين يعينانهم على مشقة الفقر : الاقتصاد في تدبير المعاش , والاقتناع برزق الله ; فالرزق القليل مع الاقتصاد الحكيم يكون كثيرا , والقناعة كنز لا ينفد وغنى بلا مال“Islam memerintahkan si miskin dengan dua hal yang dapat menolong mereka dari beratnya kemiskinan : (1) bersikap hemat dalam membelanjakan nafkah (2) memiliki sikap qana’ah (cukup) akan rizki dari Allah, karena rizki yang sedikit dan sikap hemat nan bijak niscaya harta akan menjadi banyak, dan sikap qana’ah adalah gudang yang tiada habisnya, kekayaan walaupun tanpa harta”.Kesembilan: Senantiasa melihat mereka yang berada di bawah, bukan mereka yang ada di atas.Syaikh Abdurrazzaq ibn Abdil Muhsin Al Badr hafizhahullah menjelaskan, “Jangan melihat pada mereka yang berada di atasmu (lebih kaya, lebih makmur, lebih sejahtera) karena itu hanya akan membuatmu lupa akan hakikat nikmat yang diberikan Allah berupa : nikmatnya Islam, nikmatnya sehat, nikmatnya masih bisa tinggal di rumah, nikmatnya keamanan, nikmat anak, dan masih banyak lagi. Namun lihatlah mereka yang ada di bawahmu, niscaya engkau akan selalu mengucapkan ‘Alhamdulillah’. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,انظروا إلى من هو أسفل منكم ، ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر ألا تزدروا نعمة الله عليكم“Lihatlah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau lihat orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu” (HR Muslim).Kesepuluh: Memperbanyak istighfar memohon ampun kepada Allah. Terakhir, perbanyak memohon ampun kepada Allah. Firman Allah Ta’ala,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا“Maka aku berkata kepada mereka, ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun” (QS. Nuh : 10)Diantara balasan duniawi yang disiapkan Allah Ta’ala bagi mereka yang beristighfar,يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا“Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu” (QS. Nuh : 11-12)Ibn Katsir rahimahullah menjelaskan tafsir ayat tersebut,إذا تبتم إلى الله واستغفرتموه وأطعتموه ، كثر الرزق عليكم ، وأسقاكم من بركات السماء ، وأنبت لكم من بركات الأرض ، وأنبت لكم الزرع ، وأدر لكم الضرع ، وأمدكم بأموال وبنين ، أي : أعطاكم الأموال والأولاد ، وجعل لكم جنات فيها أنواع الثمار ، وخللها بالأنهار الجارية بينها“Apabila kalian bertaubat kepada Allah, memohon ampun padaNya dan menaatiNya, maka rizki akan diperbanyak atas kalian, hujan akan tercurah dari langit pada kalian, tumbuh berbagai tanaman dari tanah yang berkah, tumbuh berbagai macam hasil pertanian tumbuh, tanah subur, mendapat anugerah berupa harta dan anak-anak, dan dijadikan bagi kalian kebun-kebun dengan berbagai buah-buahannya, dialiri dengan sungai yang mengalirinya”.Demikianlah beberapa bimbingan bagi si kaya dan si miskin yang kiranya dapat menghilangkan jurang kesenjangan sosial yang semakin parah akhir-akhir ini. Semoga bermanfaat.***Penyusun: Yhouga Mopratama AriestaArtikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Sesajen, Ayat Alquran Tentang Kesembuhan, Niat Imam, Islam Kafah, Fatwa Ulama Syiah

I‘rab Lā ilāha illallāh dan Pengaruh Maknanya (8)

Rukun Lā ilāha illallāh dan KandungannyaSebagaimana telah diketahui, bahwa makna lā ilāha illallāh adalah tidak ada sesembahan yang berhak disembah atau diibadahi kecuali Allah. Di dalam kandungan kalimat tauhid tersebut terdapat dua rukun, yaitu:   An-Nafyu (Peniadaan/penolakan), rukun ini diambil dari petikan kalimat tauhid lā ilāha. rukun peniadaan di sini maksudnya adalah: Meniadakan seluruh sesembahan selain Allah. Menolak mempersembahkan ibadah kepada selain Allah. Rukun Iṡbāt (Penetapan), rukun ini diambil dari petikan kalimat tauhid illallāh. Rukun penetapan disini maksudnya: Menetapkan satu-satunya Sesembahan yang benar adalah Allah Ta‘ala. Menetapkan bahwa peribadatan hanya ditujukan kepada Allah saja. Faedah: Ibadah, sebagaimana didefinisikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah raḥimahullāh adalah sebuah nama yang mencakup seluruh yang dicintai Allah dan diridai-Nya, berupa ucapan maupun perbuatan, lahir maupun batin. Tauhid itu mencakup ucapan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, demikian pula syirik dan kekufuran pun mencakup ucapan dan perbuatan lahir maupun batin. An-Nafyu saja bukan tauhid dan Al-Itsbat saja bukan tauhid, karena tauhid adalah An-Nafyu dan Al-Iṡbāt. Sudah seharusnyalah dalam mendidik umat Islam ini dengan pendidikan An-Nafyu dan Al-Iṡbāt sekaligus, yaitu dengan penolakan,berlepas diri, benci karena Allah, membenci kesyirikan dan kekafiran serta pelakunya, juga menyatakan kekafiran orang yang dikafirkan Allah dalam Alquran dan As-Sunnah, tanpa berlebihan ataupun mengurangi dari batasan yang telah disebutkan dalam Alquran dan As-Sunnah. Demikian pula mendidik masyarakat dengan  Al-Iṡbāt, Al-Walā`, cinta Allah, cinta karena Allah dan cinta kepada tauhid dan Ahli Tauhid. Konsekuensi Kalimat TauhidSeseorang yang bersaksi dengan kalimat tauhid lā ilāha illallāh ini punya konsekuensi sebagai berikut. Mencintai Allah di atas segala sesuatu. Mencintai tauhid. Mencintai dan menolong ahli tauhid. Membenci syirik. Membenci musuh Allah, orang musyrik dan orang kafir. Tentunya bentuk cinta dan benci disini, sesuai dengan aturan syari’at Islam yang agung tanpa bersikap melampaui batas syari’at atau menguranginya, sebagaimana dalam syahadat yang kedua. Di dalamnya terdapat penjagaan dari dua sikap yang tercela tersebut, yaitu dari sikap melampaui batasan syari’at atau menguranginya, karena dalam syahadat yang kedua seorang bersaksi, bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Syahadat tersebut mengandung keyakinan bahwa Nabi Muhammad bin Abdullah adalah hanya sebatas hamba Allah, tidak boleh dilebihkan dari batasan syar’i sampai melampaui batasan hamba, sehingga menjadi sesembahan. Ini dari satu sisi.Dari sisi lain, syahadat yang kedua mengandung keyakinan bahwa Nabi Muhammad bin Abdullah adalah sosok utusan Allah -bahkan utusan Allah yang paling mulia-, sehingga tidak boleh dikurangi derajatnya dari batasan syar’i ini.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Robbana Atina Fiddunya Hasanah Wafil Akhirati Hasanah Waqina Adzabannar, Hadits Shahih Tentang Rumah Tangga, Keras Hati, Bentuk Malaikat Menurut Islam, Shahih Bukhari Lengkap

I‘rab Lā ilāha illallāh dan Pengaruh Maknanya (8)

Rukun Lā ilāha illallāh dan KandungannyaSebagaimana telah diketahui, bahwa makna lā ilāha illallāh adalah tidak ada sesembahan yang berhak disembah atau diibadahi kecuali Allah. Di dalam kandungan kalimat tauhid tersebut terdapat dua rukun, yaitu:   An-Nafyu (Peniadaan/penolakan), rukun ini diambil dari petikan kalimat tauhid lā ilāha. rukun peniadaan di sini maksudnya adalah: Meniadakan seluruh sesembahan selain Allah. Menolak mempersembahkan ibadah kepada selain Allah. Rukun Iṡbāt (Penetapan), rukun ini diambil dari petikan kalimat tauhid illallāh. Rukun penetapan disini maksudnya: Menetapkan satu-satunya Sesembahan yang benar adalah Allah Ta‘ala. Menetapkan bahwa peribadatan hanya ditujukan kepada Allah saja. Faedah: Ibadah, sebagaimana didefinisikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah raḥimahullāh adalah sebuah nama yang mencakup seluruh yang dicintai Allah dan diridai-Nya, berupa ucapan maupun perbuatan, lahir maupun batin. Tauhid itu mencakup ucapan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, demikian pula syirik dan kekufuran pun mencakup ucapan dan perbuatan lahir maupun batin. An-Nafyu saja bukan tauhid dan Al-Itsbat saja bukan tauhid, karena tauhid adalah An-Nafyu dan Al-Iṡbāt. Sudah seharusnyalah dalam mendidik umat Islam ini dengan pendidikan An-Nafyu dan Al-Iṡbāt sekaligus, yaitu dengan penolakan,berlepas diri, benci karena Allah, membenci kesyirikan dan kekafiran serta pelakunya, juga menyatakan kekafiran orang yang dikafirkan Allah dalam Alquran dan As-Sunnah, tanpa berlebihan ataupun mengurangi dari batasan yang telah disebutkan dalam Alquran dan As-Sunnah. Demikian pula mendidik masyarakat dengan  Al-Iṡbāt, Al-Walā`, cinta Allah, cinta karena Allah dan cinta kepada tauhid dan Ahli Tauhid. Konsekuensi Kalimat TauhidSeseorang yang bersaksi dengan kalimat tauhid lā ilāha illallāh ini punya konsekuensi sebagai berikut. Mencintai Allah di atas segala sesuatu. Mencintai tauhid. Mencintai dan menolong ahli tauhid. Membenci syirik. Membenci musuh Allah, orang musyrik dan orang kafir. Tentunya bentuk cinta dan benci disini, sesuai dengan aturan syari’at Islam yang agung tanpa bersikap melampaui batas syari’at atau menguranginya, sebagaimana dalam syahadat yang kedua. Di dalamnya terdapat penjagaan dari dua sikap yang tercela tersebut, yaitu dari sikap melampaui batasan syari’at atau menguranginya, karena dalam syahadat yang kedua seorang bersaksi, bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Syahadat tersebut mengandung keyakinan bahwa Nabi Muhammad bin Abdullah adalah hanya sebatas hamba Allah, tidak boleh dilebihkan dari batasan syar’i sampai melampaui batasan hamba, sehingga menjadi sesembahan. Ini dari satu sisi.Dari sisi lain, syahadat yang kedua mengandung keyakinan bahwa Nabi Muhammad bin Abdullah adalah sosok utusan Allah -bahkan utusan Allah yang paling mulia-, sehingga tidak boleh dikurangi derajatnya dari batasan syar’i ini.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Robbana Atina Fiddunya Hasanah Wafil Akhirati Hasanah Waqina Adzabannar, Hadits Shahih Tentang Rumah Tangga, Keras Hati, Bentuk Malaikat Menurut Islam, Shahih Bukhari Lengkap
Rukun Lā ilāha illallāh dan KandungannyaSebagaimana telah diketahui, bahwa makna lā ilāha illallāh adalah tidak ada sesembahan yang berhak disembah atau diibadahi kecuali Allah. Di dalam kandungan kalimat tauhid tersebut terdapat dua rukun, yaitu:   An-Nafyu (Peniadaan/penolakan), rukun ini diambil dari petikan kalimat tauhid lā ilāha. rukun peniadaan di sini maksudnya adalah: Meniadakan seluruh sesembahan selain Allah. Menolak mempersembahkan ibadah kepada selain Allah. Rukun Iṡbāt (Penetapan), rukun ini diambil dari petikan kalimat tauhid illallāh. Rukun penetapan disini maksudnya: Menetapkan satu-satunya Sesembahan yang benar adalah Allah Ta‘ala. Menetapkan bahwa peribadatan hanya ditujukan kepada Allah saja. Faedah: Ibadah, sebagaimana didefinisikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah raḥimahullāh adalah sebuah nama yang mencakup seluruh yang dicintai Allah dan diridai-Nya, berupa ucapan maupun perbuatan, lahir maupun batin. Tauhid itu mencakup ucapan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, demikian pula syirik dan kekufuran pun mencakup ucapan dan perbuatan lahir maupun batin. An-Nafyu saja bukan tauhid dan Al-Itsbat saja bukan tauhid, karena tauhid adalah An-Nafyu dan Al-Iṡbāt. Sudah seharusnyalah dalam mendidik umat Islam ini dengan pendidikan An-Nafyu dan Al-Iṡbāt sekaligus, yaitu dengan penolakan,berlepas diri, benci karena Allah, membenci kesyirikan dan kekafiran serta pelakunya, juga menyatakan kekafiran orang yang dikafirkan Allah dalam Alquran dan As-Sunnah, tanpa berlebihan ataupun mengurangi dari batasan yang telah disebutkan dalam Alquran dan As-Sunnah. Demikian pula mendidik masyarakat dengan  Al-Iṡbāt, Al-Walā`, cinta Allah, cinta karena Allah dan cinta kepada tauhid dan Ahli Tauhid. Konsekuensi Kalimat TauhidSeseorang yang bersaksi dengan kalimat tauhid lā ilāha illallāh ini punya konsekuensi sebagai berikut. Mencintai Allah di atas segala sesuatu. Mencintai tauhid. Mencintai dan menolong ahli tauhid. Membenci syirik. Membenci musuh Allah, orang musyrik dan orang kafir. Tentunya bentuk cinta dan benci disini, sesuai dengan aturan syari’at Islam yang agung tanpa bersikap melampaui batas syari’at atau menguranginya, sebagaimana dalam syahadat yang kedua. Di dalamnya terdapat penjagaan dari dua sikap yang tercela tersebut, yaitu dari sikap melampaui batasan syari’at atau menguranginya, karena dalam syahadat yang kedua seorang bersaksi, bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Syahadat tersebut mengandung keyakinan bahwa Nabi Muhammad bin Abdullah adalah hanya sebatas hamba Allah, tidak boleh dilebihkan dari batasan syar’i sampai melampaui batasan hamba, sehingga menjadi sesembahan. Ini dari satu sisi.Dari sisi lain, syahadat yang kedua mengandung keyakinan bahwa Nabi Muhammad bin Abdullah adalah sosok utusan Allah -bahkan utusan Allah yang paling mulia-, sehingga tidak boleh dikurangi derajatnya dari batasan syar’i ini.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Robbana Atina Fiddunya Hasanah Wafil Akhirati Hasanah Waqina Adzabannar, Hadits Shahih Tentang Rumah Tangga, Keras Hati, Bentuk Malaikat Menurut Islam, Shahih Bukhari Lengkap


Rukun Lā ilāha illallāh dan KandungannyaSebagaimana telah diketahui, bahwa makna lā ilāha illallāh adalah tidak ada sesembahan yang berhak disembah atau diibadahi kecuali Allah. Di dalam kandungan kalimat tauhid tersebut terdapat dua rukun, yaitu:   An-Nafyu (Peniadaan/penolakan), rukun ini diambil dari petikan kalimat tauhid lā ilāha. rukun peniadaan di sini maksudnya adalah: Meniadakan seluruh sesembahan selain Allah. Menolak mempersembahkan ibadah kepada selain Allah. Rukun Iṡbāt (Penetapan), rukun ini diambil dari petikan kalimat tauhid illallāh. Rukun penetapan disini maksudnya: Menetapkan satu-satunya Sesembahan yang benar adalah Allah Ta‘ala. Menetapkan bahwa peribadatan hanya ditujukan kepada Allah saja. Faedah: Ibadah, sebagaimana didefinisikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah raḥimahullāh adalah sebuah nama yang mencakup seluruh yang dicintai Allah dan diridai-Nya, berupa ucapan maupun perbuatan, lahir maupun batin. Tauhid itu mencakup ucapan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, demikian pula syirik dan kekufuran pun mencakup ucapan dan perbuatan lahir maupun batin. An-Nafyu saja bukan tauhid dan Al-Itsbat saja bukan tauhid, karena tauhid adalah An-Nafyu dan Al-Iṡbāt. Sudah seharusnyalah dalam mendidik umat Islam ini dengan pendidikan An-Nafyu dan Al-Iṡbāt sekaligus, yaitu dengan penolakan,berlepas diri, benci karena Allah, membenci kesyirikan dan kekafiran serta pelakunya, juga menyatakan kekafiran orang yang dikafirkan Allah dalam Alquran dan As-Sunnah, tanpa berlebihan ataupun mengurangi dari batasan yang telah disebutkan dalam Alquran dan As-Sunnah. Demikian pula mendidik masyarakat dengan  Al-Iṡbāt, Al-Walā`, cinta Allah, cinta karena Allah dan cinta kepada tauhid dan Ahli Tauhid. Konsekuensi Kalimat TauhidSeseorang yang bersaksi dengan kalimat tauhid lā ilāha illallāh ini punya konsekuensi sebagai berikut. Mencintai Allah di atas segala sesuatu. Mencintai tauhid. Mencintai dan menolong ahli tauhid. Membenci syirik. Membenci musuh Allah, orang musyrik dan orang kafir. Tentunya bentuk cinta dan benci disini, sesuai dengan aturan syari’at Islam yang agung tanpa bersikap melampaui batas syari’at atau menguranginya, sebagaimana dalam syahadat yang kedua. Di dalamnya terdapat penjagaan dari dua sikap yang tercela tersebut, yaitu dari sikap melampaui batasan syari’at atau menguranginya, karena dalam syahadat yang kedua seorang bersaksi, bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Syahadat tersebut mengandung keyakinan bahwa Nabi Muhammad bin Abdullah adalah hanya sebatas hamba Allah, tidak boleh dilebihkan dari batasan syar’i sampai melampaui batasan hamba, sehingga menjadi sesembahan. Ini dari satu sisi.Dari sisi lain, syahadat yang kedua mengandung keyakinan bahwa Nabi Muhammad bin Abdullah adalah sosok utusan Allah -bahkan utusan Allah yang paling mulia-, sehingga tidak boleh dikurangi derajatnya dari batasan syar’i ini.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Robbana Atina Fiddunya Hasanah Wafil Akhirati Hasanah Waqina Adzabannar, Hadits Shahih Tentang Rumah Tangga, Keras Hati, Bentuk Malaikat Menurut Islam, Shahih Bukhari Lengkap
Prev     Next