Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 102 – Akibat Doa dan Dzikir Tidak Sesuai Dengan Tuntunan Bagian 1

09NovSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 102 – Akibat Doa dan Dzikir Tidak Sesuai Dengan Tuntunan Bagian 1November 9, 2016Belajar Islam, Doa dan Dzikir, Fikih Doa dan dzikir yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam teramat sempurna dan memiliki begitu banyak kelebihan. Rata-rata redaksinya simpel, namun maknanya sangat dalam dan luas. Oleh karena itu setiap muslim seharusnya berusaha semaksimal mungkin untuk mempelajari, menghapal dan mengamalkan doa dan dzikir warisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun realita yang ada ternyata amat memprihatinkan. Tidak sedikit di antara kaum muslimin yang malah justru sibuk mengamalkan doa dan dzikir yang tidak dituntunkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam. Siang malam mereka mengamalkannya. Bahkan seringkali gara-gara itu, mereka menjadi jarang membaca al-Qur’an. Apalagi membaca doa dan wirid yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak diragukan lagi bahwa doa dan dzikir yang tidak sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menimbulkan begitu banyak dampak negatif. Di antaranya: Pertama: Tidak mendatangkan ketenangan hati Salah satu buah positif dzikir adalah menenangkan hati. Allah ta’ala berfirman, “أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ” Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. QS. Ar-Ra’du (13): 28. Nah, dzikir yang tidak sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menghasilkan buah manis tersebut. Kalaupun ada orang yang mengklaim bahwa dengan dzikir tersebut ia merasa tenang, maka sejatinya itu adalah tipu daya setan. Yang menginginkan agar ia terus-menerus tenggelam dalam amalan yang tidak ada tuntunannya. Na’udzu billah min dzalik.. Kedua: Kehilangan pahala besar Sebagaimana telah maklum, dalam rangka memotivasi para hamba-Nya, Allah ta’ala menjanjikan pahala dari amal salih yang mereka kerjakan. Allah ta’ala berfirman, “مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ” Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal salih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan pasti akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. QS. An-Nahl (16): 97. Pahala akan diberikan untuk orang yang amalannya diterima. Dan suatu amalan agar diterima harus memenuhi syarat yang digariskan agama. Imam Ibn Katsir (w. 774 H) berkata, “Supaya amalan diterima harus memenuhi dua syarat. Yang pertama: ikhlas karena Allah semata. Syarat kedua: harus benar sesuai dengan syariat”.[1] Alangkah meruginya orang yang beramal tapi tidak mendapatkan pahala. Gara-gara amalannya tidak sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Bersambung… [1] Tafsîr Ibn Katsîr (I/385). * Disarikan dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkar karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr (II/54-55) oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dengan beberapa tambahan.* Tafsîr Ibn Katsîr (I/385). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 102 – Akibat Doa dan Dzikir Tidak Sesuai Dengan Tuntunan Bagian 1

09NovSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 102 – Akibat Doa dan Dzikir Tidak Sesuai Dengan Tuntunan Bagian 1November 9, 2016Belajar Islam, Doa dan Dzikir, Fikih Doa dan dzikir yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam teramat sempurna dan memiliki begitu banyak kelebihan. Rata-rata redaksinya simpel, namun maknanya sangat dalam dan luas. Oleh karena itu setiap muslim seharusnya berusaha semaksimal mungkin untuk mempelajari, menghapal dan mengamalkan doa dan dzikir warisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun realita yang ada ternyata amat memprihatinkan. Tidak sedikit di antara kaum muslimin yang malah justru sibuk mengamalkan doa dan dzikir yang tidak dituntunkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam. Siang malam mereka mengamalkannya. Bahkan seringkali gara-gara itu, mereka menjadi jarang membaca al-Qur’an. Apalagi membaca doa dan wirid yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak diragukan lagi bahwa doa dan dzikir yang tidak sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menimbulkan begitu banyak dampak negatif. Di antaranya: Pertama: Tidak mendatangkan ketenangan hati Salah satu buah positif dzikir adalah menenangkan hati. Allah ta’ala berfirman, “أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ” Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. QS. Ar-Ra’du (13): 28. Nah, dzikir yang tidak sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menghasilkan buah manis tersebut. Kalaupun ada orang yang mengklaim bahwa dengan dzikir tersebut ia merasa tenang, maka sejatinya itu adalah tipu daya setan. Yang menginginkan agar ia terus-menerus tenggelam dalam amalan yang tidak ada tuntunannya. Na’udzu billah min dzalik.. Kedua: Kehilangan pahala besar Sebagaimana telah maklum, dalam rangka memotivasi para hamba-Nya, Allah ta’ala menjanjikan pahala dari amal salih yang mereka kerjakan. Allah ta’ala berfirman, “مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ” Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal salih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan pasti akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. QS. An-Nahl (16): 97. Pahala akan diberikan untuk orang yang amalannya diterima. Dan suatu amalan agar diterima harus memenuhi syarat yang digariskan agama. Imam Ibn Katsir (w. 774 H) berkata, “Supaya amalan diterima harus memenuhi dua syarat. Yang pertama: ikhlas karena Allah semata. Syarat kedua: harus benar sesuai dengan syariat”.[1] Alangkah meruginya orang yang beramal tapi tidak mendapatkan pahala. Gara-gara amalannya tidak sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Bersambung… [1] Tafsîr Ibn Katsîr (I/385). * Disarikan dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkar karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr (II/54-55) oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dengan beberapa tambahan.* Tafsîr Ibn Katsîr (I/385). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
09NovSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 102 – Akibat Doa dan Dzikir Tidak Sesuai Dengan Tuntunan Bagian 1November 9, 2016Belajar Islam, Doa dan Dzikir, Fikih Doa dan dzikir yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam teramat sempurna dan memiliki begitu banyak kelebihan. Rata-rata redaksinya simpel, namun maknanya sangat dalam dan luas. Oleh karena itu setiap muslim seharusnya berusaha semaksimal mungkin untuk mempelajari, menghapal dan mengamalkan doa dan dzikir warisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun realita yang ada ternyata amat memprihatinkan. Tidak sedikit di antara kaum muslimin yang malah justru sibuk mengamalkan doa dan dzikir yang tidak dituntunkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam. Siang malam mereka mengamalkannya. Bahkan seringkali gara-gara itu, mereka menjadi jarang membaca al-Qur’an. Apalagi membaca doa dan wirid yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak diragukan lagi bahwa doa dan dzikir yang tidak sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menimbulkan begitu banyak dampak negatif. Di antaranya: Pertama: Tidak mendatangkan ketenangan hati Salah satu buah positif dzikir adalah menenangkan hati. Allah ta’ala berfirman, “أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ” Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. QS. Ar-Ra’du (13): 28. Nah, dzikir yang tidak sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menghasilkan buah manis tersebut. Kalaupun ada orang yang mengklaim bahwa dengan dzikir tersebut ia merasa tenang, maka sejatinya itu adalah tipu daya setan. Yang menginginkan agar ia terus-menerus tenggelam dalam amalan yang tidak ada tuntunannya. Na’udzu billah min dzalik.. Kedua: Kehilangan pahala besar Sebagaimana telah maklum, dalam rangka memotivasi para hamba-Nya, Allah ta’ala menjanjikan pahala dari amal salih yang mereka kerjakan. Allah ta’ala berfirman, “مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ” Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal salih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan pasti akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. QS. An-Nahl (16): 97. Pahala akan diberikan untuk orang yang amalannya diterima. Dan suatu amalan agar diterima harus memenuhi syarat yang digariskan agama. Imam Ibn Katsir (w. 774 H) berkata, “Supaya amalan diterima harus memenuhi dua syarat. Yang pertama: ikhlas karena Allah semata. Syarat kedua: harus benar sesuai dengan syariat”.[1] Alangkah meruginya orang yang beramal tapi tidak mendapatkan pahala. Gara-gara amalannya tidak sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Bersambung… [1] Tafsîr Ibn Katsîr (I/385). * Disarikan dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkar karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr (II/54-55) oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dengan beberapa tambahan.* Tafsîr Ibn Katsîr (I/385). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


09NovSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 102 – Akibat Doa dan Dzikir Tidak Sesuai Dengan Tuntunan Bagian 1November 9, 2016Belajar Islam, Doa dan Dzikir, Fikih Doa dan dzikir yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam teramat sempurna dan memiliki begitu banyak kelebihan. Rata-rata redaksinya simpel, namun maknanya sangat dalam dan luas. Oleh karena itu setiap muslim seharusnya berusaha semaksimal mungkin untuk mempelajari, menghapal dan mengamalkan doa dan dzikir warisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun realita yang ada ternyata amat memprihatinkan. Tidak sedikit di antara kaum muslimin yang malah justru sibuk mengamalkan doa dan dzikir yang tidak dituntunkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam. Siang malam mereka mengamalkannya. Bahkan seringkali gara-gara itu, mereka menjadi jarang membaca al-Qur’an. Apalagi membaca doa dan wirid yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak diragukan lagi bahwa doa dan dzikir yang tidak sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menimbulkan begitu banyak dampak negatif. Di antaranya: Pertama: Tidak mendatangkan ketenangan hati Salah satu buah positif dzikir adalah menenangkan hati. Allah ta’ala berfirman, “أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ” Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. QS. Ar-Ra’du (13): 28. Nah, dzikir yang tidak sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menghasilkan buah manis tersebut. Kalaupun ada orang yang mengklaim bahwa dengan dzikir tersebut ia merasa tenang, maka sejatinya itu adalah tipu daya setan. Yang menginginkan agar ia terus-menerus tenggelam dalam amalan yang tidak ada tuntunannya. Na’udzu billah min dzalik.. Kedua: Kehilangan pahala besar Sebagaimana telah maklum, dalam rangka memotivasi para hamba-Nya, Allah ta’ala menjanjikan pahala dari amal salih yang mereka kerjakan. Allah ta’ala berfirman, “مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ” Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal salih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan pasti akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. QS. An-Nahl (16): 97. Pahala akan diberikan untuk orang yang amalannya diterima. Dan suatu amalan agar diterima harus memenuhi syarat yang digariskan agama. Imam Ibn Katsir (w. 774 H) berkata, “Supaya amalan diterima harus memenuhi dua syarat. Yang pertama: ikhlas karena Allah semata. Syarat kedua: harus benar sesuai dengan syariat”.[1] Alangkah meruginya orang yang beramal tapi tidak mendapatkan pahala. Gara-gara amalannya tidak sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Bersambung… [1] Tafsîr Ibn Katsîr (I/385). * Disarikan dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkar karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr (II/54-55) oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dengan beberapa tambahan.* Tafsîr Ibn Katsîr (I/385). PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 103 – Akibat Doa dan Dzikir Tidak Sesuai Dengan Tuntunan Bagian 2

09NovSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 103 – Akibat Doa dan Dzikir Tidak Sesuai Dengan Tuntunan Bagian 2November 9, 2016Belajar Islam, Doa dan Dzikir, Fikih Pada artikel sebelumnya telah dipaparkan beberapa dampak buruk yang ditimbulkan oleh doa dan dzikir yang tidak sesuai tuntunan. Berikut kelanjutannya: Ketiga: Peluang dikabulkan tipis Rata-rata orang yang berdoa mengharapkan doanya dikabulkan. Entah ia meminta diberi sesuatu atau memohon dihindarkan dari sesuatu. Nah, orang yang berdoa tidak sesuai tuntunan, tipis harapan dikabulkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ “Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ’anha. Keempat: Kebanyakan doa tersebut mengandung unsur penyimpangan Berbeda dengan doa yang diajarkan dalam al-Qur’an maupun Hadits yang tidak mungkin keliru. Redaksi dan muatannya pasti benar. Adapun doa dan dzikir bikinan manusia biasa, peluang untuk kelirunya besar. Bahkan sudah terbukti, banyak dari doa dan dzikir itu ternyata mengandung unsur penyimpangan. Dan penyimpangan yang paling parah adalah ketika doa tersebut bermuatan kesyirikan. Ada sebagian kalangan yang dengan rutin dan khusyu’ melantunkan aurod (wirid-wirid) yang bermuatan permintaan tolong kepada selain Allah. Contohnya: “الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا سَيِّدِي يَا رَسُوْلَ اللهِ خُذْ بِيَدِيْ قَلَّتْ حِيْلَتِيْ أَدْرِكْنِيْ”. “Shalawat dan salam untukmu wahai sayyidi, wahai Rasulullah, gamitlah tanganku, kemampuanku amat terbatas, bantulah aku!”. Kalimat ini mereka baca 103 x. “يَا شَيْخُ عَبْدَ الْقَادِرْ الْجَيْلاَنِي أَغِثْنِي”. “Wahai Syaikh Abdul Qadir al-Jailany tolonglah aku”. Dua kalimat wirid di atas begitu jelas berisikan permohonan tolong kepada selain Allah, dan ini merupakan kekeliruan yang amat besar. Walaupun yang dimintai pertolongan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sekalipun, maupun Syaikh Abdul Qadir al-Jailany rahimahullah. Karena itu merupakan ibadah yang tidak boleh ditujukan kecuali hanya kepada Allah. Bukankah dalam setiap hari minimal 17 x kita membaca ayat, “إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ” Artinya: “Hanya kepada-Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada-Engkaulah kami memohon pertolongan”. QS. Al-Fatihah (1): 5. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jelas-jelas pernah berpesan, “إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه”. “Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”. Bersambung… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Muharram 1438 / 3 Oktober 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 103 – Akibat Doa dan Dzikir Tidak Sesuai Dengan Tuntunan Bagian 2

09NovSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 103 – Akibat Doa dan Dzikir Tidak Sesuai Dengan Tuntunan Bagian 2November 9, 2016Belajar Islam, Doa dan Dzikir, Fikih Pada artikel sebelumnya telah dipaparkan beberapa dampak buruk yang ditimbulkan oleh doa dan dzikir yang tidak sesuai tuntunan. Berikut kelanjutannya: Ketiga: Peluang dikabulkan tipis Rata-rata orang yang berdoa mengharapkan doanya dikabulkan. Entah ia meminta diberi sesuatu atau memohon dihindarkan dari sesuatu. Nah, orang yang berdoa tidak sesuai tuntunan, tipis harapan dikabulkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ “Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ’anha. Keempat: Kebanyakan doa tersebut mengandung unsur penyimpangan Berbeda dengan doa yang diajarkan dalam al-Qur’an maupun Hadits yang tidak mungkin keliru. Redaksi dan muatannya pasti benar. Adapun doa dan dzikir bikinan manusia biasa, peluang untuk kelirunya besar. Bahkan sudah terbukti, banyak dari doa dan dzikir itu ternyata mengandung unsur penyimpangan. Dan penyimpangan yang paling parah adalah ketika doa tersebut bermuatan kesyirikan. Ada sebagian kalangan yang dengan rutin dan khusyu’ melantunkan aurod (wirid-wirid) yang bermuatan permintaan tolong kepada selain Allah. Contohnya: “الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا سَيِّدِي يَا رَسُوْلَ اللهِ خُذْ بِيَدِيْ قَلَّتْ حِيْلَتِيْ أَدْرِكْنِيْ”. “Shalawat dan salam untukmu wahai sayyidi, wahai Rasulullah, gamitlah tanganku, kemampuanku amat terbatas, bantulah aku!”. Kalimat ini mereka baca 103 x. “يَا شَيْخُ عَبْدَ الْقَادِرْ الْجَيْلاَنِي أَغِثْنِي”. “Wahai Syaikh Abdul Qadir al-Jailany tolonglah aku”. Dua kalimat wirid di atas begitu jelas berisikan permohonan tolong kepada selain Allah, dan ini merupakan kekeliruan yang amat besar. Walaupun yang dimintai pertolongan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sekalipun, maupun Syaikh Abdul Qadir al-Jailany rahimahullah. Karena itu merupakan ibadah yang tidak boleh ditujukan kecuali hanya kepada Allah. Bukankah dalam setiap hari minimal 17 x kita membaca ayat, “إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ” Artinya: “Hanya kepada-Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada-Engkaulah kami memohon pertolongan”. QS. Al-Fatihah (1): 5. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jelas-jelas pernah berpesan, “إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه”. “Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”. Bersambung… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Muharram 1438 / 3 Oktober 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
09NovSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 103 – Akibat Doa dan Dzikir Tidak Sesuai Dengan Tuntunan Bagian 2November 9, 2016Belajar Islam, Doa dan Dzikir, Fikih Pada artikel sebelumnya telah dipaparkan beberapa dampak buruk yang ditimbulkan oleh doa dan dzikir yang tidak sesuai tuntunan. Berikut kelanjutannya: Ketiga: Peluang dikabulkan tipis Rata-rata orang yang berdoa mengharapkan doanya dikabulkan. Entah ia meminta diberi sesuatu atau memohon dihindarkan dari sesuatu. Nah, orang yang berdoa tidak sesuai tuntunan, tipis harapan dikabulkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ “Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ’anha. Keempat: Kebanyakan doa tersebut mengandung unsur penyimpangan Berbeda dengan doa yang diajarkan dalam al-Qur’an maupun Hadits yang tidak mungkin keliru. Redaksi dan muatannya pasti benar. Adapun doa dan dzikir bikinan manusia biasa, peluang untuk kelirunya besar. Bahkan sudah terbukti, banyak dari doa dan dzikir itu ternyata mengandung unsur penyimpangan. Dan penyimpangan yang paling parah adalah ketika doa tersebut bermuatan kesyirikan. Ada sebagian kalangan yang dengan rutin dan khusyu’ melantunkan aurod (wirid-wirid) yang bermuatan permintaan tolong kepada selain Allah. Contohnya: “الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا سَيِّدِي يَا رَسُوْلَ اللهِ خُذْ بِيَدِيْ قَلَّتْ حِيْلَتِيْ أَدْرِكْنِيْ”. “Shalawat dan salam untukmu wahai sayyidi, wahai Rasulullah, gamitlah tanganku, kemampuanku amat terbatas, bantulah aku!”. Kalimat ini mereka baca 103 x. “يَا شَيْخُ عَبْدَ الْقَادِرْ الْجَيْلاَنِي أَغِثْنِي”. “Wahai Syaikh Abdul Qadir al-Jailany tolonglah aku”. Dua kalimat wirid di atas begitu jelas berisikan permohonan tolong kepada selain Allah, dan ini merupakan kekeliruan yang amat besar. Walaupun yang dimintai pertolongan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sekalipun, maupun Syaikh Abdul Qadir al-Jailany rahimahullah. Karena itu merupakan ibadah yang tidak boleh ditujukan kecuali hanya kepada Allah. Bukankah dalam setiap hari minimal 17 x kita membaca ayat, “إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ” Artinya: “Hanya kepada-Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada-Engkaulah kami memohon pertolongan”. QS. Al-Fatihah (1): 5. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jelas-jelas pernah berpesan, “إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه”. “Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”. Bersambung… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Muharram 1438 / 3 Oktober 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


09NovSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 103 – Akibat Doa dan Dzikir Tidak Sesuai Dengan Tuntunan Bagian 2November 9, 2016Belajar Islam, Doa dan Dzikir, Fikih Pada artikel sebelumnya telah dipaparkan beberapa dampak buruk yang ditimbulkan oleh doa dan dzikir yang tidak sesuai tuntunan. Berikut kelanjutannya: Ketiga: Peluang dikabulkan tipis Rata-rata orang yang berdoa mengharapkan doanya dikabulkan. Entah ia meminta diberi sesuatu atau memohon dihindarkan dari sesuatu. Nah, orang yang berdoa tidak sesuai tuntunan, tipis harapan dikabulkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ “Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ’anha. Keempat: Kebanyakan doa tersebut mengandung unsur penyimpangan Berbeda dengan doa yang diajarkan dalam al-Qur’an maupun Hadits yang tidak mungkin keliru. Redaksi dan muatannya pasti benar. Adapun doa dan dzikir bikinan manusia biasa, peluang untuk kelirunya besar. Bahkan sudah terbukti, banyak dari doa dan dzikir itu ternyata mengandung unsur penyimpangan. Dan penyimpangan yang paling parah adalah ketika doa tersebut bermuatan kesyirikan. Ada sebagian kalangan yang dengan rutin dan khusyu’ melantunkan aurod (wirid-wirid) yang bermuatan permintaan tolong kepada selain Allah. Contohnya: “الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا سَيِّدِي يَا رَسُوْلَ اللهِ خُذْ بِيَدِيْ قَلَّتْ حِيْلَتِيْ أَدْرِكْنِيْ”. “Shalawat dan salam untukmu wahai sayyidi, wahai Rasulullah, gamitlah tanganku, kemampuanku amat terbatas, bantulah aku!”. Kalimat ini mereka baca 103 x. “يَا شَيْخُ عَبْدَ الْقَادِرْ الْجَيْلاَنِي أَغِثْنِي”. “Wahai Syaikh Abdul Qadir al-Jailany tolonglah aku”. Dua kalimat wirid di atas begitu jelas berisikan permohonan tolong kepada selain Allah, dan ini merupakan kekeliruan yang amat besar. Walaupun yang dimintai pertolongan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sekalipun, maupun Syaikh Abdul Qadir al-Jailany rahimahullah. Karena itu merupakan ibadah yang tidak boleh ditujukan kecuali hanya kepada Allah. Bukankah dalam setiap hari minimal 17 x kita membaca ayat, “إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ” Artinya: “Hanya kepada-Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada-Engkaulah kami memohon pertolongan”. QS. Al-Fatihah (1): 5. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jelas-jelas pernah berpesan, “إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه”. “Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”. Bersambung… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 1 Muharram 1438 / 3 Oktober 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Kafarah Menyetubuhi Wanita Haidh

Apa ada kafarah atau tebusan karena menyetubuhi wanita saat haidh?   Haram Berhubungan Intim dengan Wanita Haidh Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Menyetubuhi wanita nifas adalah sebagaimana wanita haid yaitu haram berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 21: 624) Allah Ta’ala berfirman, فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ “Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari (hubungan intim dengan) wanita di waktu haidh.” (QS. Al-Baqarah: 222). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- “Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (HR. Tirmidzi, no. 135; Ibnu Majah, no. 639; Abu Daud, no. 3904. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).   Adakah Kafarah? Mengenai kafarah bagi yang menyetubuhi wanita haidh terdapat perselisihan pendapat di antara para ulama. Ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa menyetubuhi wanita haidh di kemaluan termasuk dosa besar jika dilakukan dengan sengaja, atas pilihan sendiri, dan dalam keadaan punya ilmu akan haramnya. Jika ada yang menganggap halal perbuatan tersebut dihukumi kafir. Sedangkan ulama Hanafiyah menyatakan tidak kafir karena pengharamannya untuk sesuatu yang lain. Ulama Hanabilah menyatakan bahwa kafarahnya adalah dengan menunaikan setengah dinar emas. Ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah menyatakan bahwa kafarahnya hendaknya dengan bersedekah satu dinar jika jima’ (hubungan intim) dilakukan di awal haidh. Namun jika dilakukan di akhir haidh, kafarahnya adalah setengah dinar. Sedangkan ulama Malikiyah berpendapat dalam masalah ini tidak ada kafarah. (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 18: 324-325) Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim hafizahullah menyatakan bahwa yang tepat tidak ada kafarah. Adapun hadits Ibnu ‘Abbas yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan adanya kafarah bagi yang menyetubuhi istrinya di masa haidh dengan sedekah satu atau separuh dinar, yang tepat haditsnya itu dha’if. Hukum asal untuk harta muslim haram untuk kita ambil. Harta tersebut hanya boleh diambil jika ada dalil. (Shahih Fiqh As-Sunnah, 1: 212) Kesimpulannya, menyetubuhi wanita saat haidh termasuk dosa besar jika dilakukan dengan sengaja, atas pilihan sendiri dan dalam keadaan punya ilmu akan haramnya. Namun untuk perbuatan ini tidak ada kafarah, yang ada adalah bertaubat dengan taubatan nasuhah (taubat yang tulus) dan tidak mengulanginya lagi. Moga Allah memberi hidayah.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Wakaf dan Urusan Islamiyyah Kuwait. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Ahmad bin Taimiyah Al-Harrani. Penerbit Darul Wafa’. Shahih Fiqh As-Sunnah. Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Tawfiqiyyah. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 9 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsdarah haid darah haidh dosa besar haidh hubungan intim

Kafarah Menyetubuhi Wanita Haidh

Apa ada kafarah atau tebusan karena menyetubuhi wanita saat haidh?   Haram Berhubungan Intim dengan Wanita Haidh Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Menyetubuhi wanita nifas adalah sebagaimana wanita haid yaitu haram berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 21: 624) Allah Ta’ala berfirman, فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ “Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari (hubungan intim dengan) wanita di waktu haidh.” (QS. Al-Baqarah: 222). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- “Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (HR. Tirmidzi, no. 135; Ibnu Majah, no. 639; Abu Daud, no. 3904. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).   Adakah Kafarah? Mengenai kafarah bagi yang menyetubuhi wanita haidh terdapat perselisihan pendapat di antara para ulama. Ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa menyetubuhi wanita haidh di kemaluan termasuk dosa besar jika dilakukan dengan sengaja, atas pilihan sendiri, dan dalam keadaan punya ilmu akan haramnya. Jika ada yang menganggap halal perbuatan tersebut dihukumi kafir. Sedangkan ulama Hanafiyah menyatakan tidak kafir karena pengharamannya untuk sesuatu yang lain. Ulama Hanabilah menyatakan bahwa kafarahnya adalah dengan menunaikan setengah dinar emas. Ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah menyatakan bahwa kafarahnya hendaknya dengan bersedekah satu dinar jika jima’ (hubungan intim) dilakukan di awal haidh. Namun jika dilakukan di akhir haidh, kafarahnya adalah setengah dinar. Sedangkan ulama Malikiyah berpendapat dalam masalah ini tidak ada kafarah. (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 18: 324-325) Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim hafizahullah menyatakan bahwa yang tepat tidak ada kafarah. Adapun hadits Ibnu ‘Abbas yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan adanya kafarah bagi yang menyetubuhi istrinya di masa haidh dengan sedekah satu atau separuh dinar, yang tepat haditsnya itu dha’if. Hukum asal untuk harta muslim haram untuk kita ambil. Harta tersebut hanya boleh diambil jika ada dalil. (Shahih Fiqh As-Sunnah, 1: 212) Kesimpulannya, menyetubuhi wanita saat haidh termasuk dosa besar jika dilakukan dengan sengaja, atas pilihan sendiri dan dalam keadaan punya ilmu akan haramnya. Namun untuk perbuatan ini tidak ada kafarah, yang ada adalah bertaubat dengan taubatan nasuhah (taubat yang tulus) dan tidak mengulanginya lagi. Moga Allah memberi hidayah.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Wakaf dan Urusan Islamiyyah Kuwait. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Ahmad bin Taimiyah Al-Harrani. Penerbit Darul Wafa’. Shahih Fiqh As-Sunnah. Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Tawfiqiyyah. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 9 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsdarah haid darah haidh dosa besar haidh hubungan intim
Apa ada kafarah atau tebusan karena menyetubuhi wanita saat haidh?   Haram Berhubungan Intim dengan Wanita Haidh Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Menyetubuhi wanita nifas adalah sebagaimana wanita haid yaitu haram berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 21: 624) Allah Ta’ala berfirman, فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ “Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari (hubungan intim dengan) wanita di waktu haidh.” (QS. Al-Baqarah: 222). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- “Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (HR. Tirmidzi, no. 135; Ibnu Majah, no. 639; Abu Daud, no. 3904. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).   Adakah Kafarah? Mengenai kafarah bagi yang menyetubuhi wanita haidh terdapat perselisihan pendapat di antara para ulama. Ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa menyetubuhi wanita haidh di kemaluan termasuk dosa besar jika dilakukan dengan sengaja, atas pilihan sendiri, dan dalam keadaan punya ilmu akan haramnya. Jika ada yang menganggap halal perbuatan tersebut dihukumi kafir. Sedangkan ulama Hanafiyah menyatakan tidak kafir karena pengharamannya untuk sesuatu yang lain. Ulama Hanabilah menyatakan bahwa kafarahnya adalah dengan menunaikan setengah dinar emas. Ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah menyatakan bahwa kafarahnya hendaknya dengan bersedekah satu dinar jika jima’ (hubungan intim) dilakukan di awal haidh. Namun jika dilakukan di akhir haidh, kafarahnya adalah setengah dinar. Sedangkan ulama Malikiyah berpendapat dalam masalah ini tidak ada kafarah. (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 18: 324-325) Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim hafizahullah menyatakan bahwa yang tepat tidak ada kafarah. Adapun hadits Ibnu ‘Abbas yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan adanya kafarah bagi yang menyetubuhi istrinya di masa haidh dengan sedekah satu atau separuh dinar, yang tepat haditsnya itu dha’if. Hukum asal untuk harta muslim haram untuk kita ambil. Harta tersebut hanya boleh diambil jika ada dalil. (Shahih Fiqh As-Sunnah, 1: 212) Kesimpulannya, menyetubuhi wanita saat haidh termasuk dosa besar jika dilakukan dengan sengaja, atas pilihan sendiri dan dalam keadaan punya ilmu akan haramnya. Namun untuk perbuatan ini tidak ada kafarah, yang ada adalah bertaubat dengan taubatan nasuhah (taubat yang tulus) dan tidak mengulanginya lagi. Moga Allah memberi hidayah.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Wakaf dan Urusan Islamiyyah Kuwait. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Ahmad bin Taimiyah Al-Harrani. Penerbit Darul Wafa’. Shahih Fiqh As-Sunnah. Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Tawfiqiyyah. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 9 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsdarah haid darah haidh dosa besar haidh hubungan intim


Apa ada kafarah atau tebusan karena menyetubuhi wanita saat haidh?   Haram Berhubungan Intim dengan Wanita Haidh Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Menyetubuhi wanita nifas adalah sebagaimana wanita haid yaitu haram berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 21: 624) Allah Ta’ala berfirman, فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ “Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari (hubungan intim dengan) wanita di waktu haidh.” (QS. Al-Baqarah: 222). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- “Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (HR. Tirmidzi, no. 135; Ibnu Majah, no. 639; Abu Daud, no. 3904. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).   Adakah Kafarah? Mengenai kafarah bagi yang menyetubuhi wanita haidh terdapat perselisihan pendapat di antara para ulama. Ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa menyetubuhi wanita haidh di kemaluan termasuk dosa besar jika dilakukan dengan sengaja, atas pilihan sendiri, dan dalam keadaan punya ilmu akan haramnya. Jika ada yang menganggap halal perbuatan tersebut dihukumi kafir. Sedangkan ulama Hanafiyah menyatakan tidak kafir karena pengharamannya untuk sesuatu yang lain. Ulama Hanabilah menyatakan bahwa kafarahnya adalah dengan menunaikan setengah dinar emas. Ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah menyatakan bahwa kafarahnya hendaknya dengan bersedekah satu dinar jika jima’ (hubungan intim) dilakukan di awal haidh. Namun jika dilakukan di akhir haidh, kafarahnya adalah setengah dinar. Sedangkan ulama Malikiyah berpendapat dalam masalah ini tidak ada kafarah. (Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 18: 324-325) Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim hafizahullah menyatakan bahwa yang tepat tidak ada kafarah. Adapun hadits Ibnu ‘Abbas yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan adanya kafarah bagi yang menyetubuhi istrinya di masa haidh dengan sedekah satu atau separuh dinar, yang tepat haditsnya itu dha’if. Hukum asal untuk harta muslim haram untuk kita ambil. Harta tersebut hanya boleh diambil jika ada dalil. (Shahih Fiqh As-Sunnah, 1: 212) Kesimpulannya, menyetubuhi wanita saat haidh termasuk dosa besar jika dilakukan dengan sengaja, atas pilihan sendiri dan dalam keadaan punya ilmu akan haramnya. Namun untuk perbuatan ini tidak ada kafarah, yang ada adalah bertaubat dengan taubatan nasuhah (taubat yang tulus) dan tidak mengulanginya lagi. Moga Allah memberi hidayah.   Referensi: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Wakaf dan Urusan Islamiyyah Kuwait. Majmu’ah Al-Fatawa. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Ahmad bin Taimiyah Al-Harrani. Penerbit Darul Wafa’. Shahih Fiqh As-Sunnah. Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Penerbit Al-Maktabah At-Tawfiqiyyah. — Disusun @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 9 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsdarah haid darah haidh dosa besar haidh hubungan intim

Makan dari Piring Bekas Makan Babi

Bolehkah makan dari piring bekas makan babi atau gelas bekas minum khamar?   Perlu dipahami terlebih dahulu bahwa hukum asal segala perkakas atau wadah adalah suci, apakah dia digunakan oleh seorang muslim atau non muslim, atau ahli kitab, atau selainnya, sampai diyakini kenajisannya.   Sekarang mengenai permasalahan yang ditanyakan bagaimana?   Ada hadits yang bisa diperhatikan dalam masalah ini, وَعَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ – رضي الله عنه – قَالَ: – قُلْتُ: يَا رَسُولَ الْلَّهِ، إِنَّا بِأَرْضِ قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ، أَفَنَأْكُلُ فِي آنِيَتِهِمْ؟]فَ] قَالَ: “لَا تَأْكُلُوا فِيهَا، إِلَّا أَنْ لَا تَجِدُوا غَيْرَهَا، فَاغْسِلُوهَا، وَكُلُوا فِيهَا” Dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, kami berada di negeri Ahli Kitab. Apakah boleh kami makan dari wadah yang mereka gunakan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jangan makan dalam wadah yang mereka gunakan kecuali kalau tidak dapat wadah yang lain. Cucilah, lalu makanlah dari wadah tersebut.” (HR. Bukhari, no. 5478, 5488, 4596; Muslim, no. 1930) Ada beberapa faedah yang diperoleh dari hadits di atas: Boleh tinggal di negeri Ahli Kitab. Namun hal ini tidak berlaku secara mutlak. Karena dalil lain menunjukkan wajibnya berhijrah dari negeri kafir bagi yang tidak mampu menampakkan syi’ar agama di sana. Sedangkan Abu Tsa’labah ketika itu mampu untuk menampakkan keislamannya dan bisa membedakan dirinya yang seorang muslim dengan orang kafir. Adapun jika tidak bisa sampai membedakan dirinya dengan non-muslim, maka haram baginya. Para sahabat semangat sekali untuk bertanya perihal agama mereka. Para sahabat begitu wara’ (hati-hati), hal-hal yang ringan seperti ini saja ditanyakan. Maka seorang muslim wajib menanyakan tentang masalah yang ia alami, apalagi yang membingungkan dirinya. Tidak boleh menggunakan wadah orang kafir kecuali jika memenuhi dua syarat: (1) tidak ada wadah yang lain, (2) dibersihkan atau dicuci terlebih dahulu. Syarat pertama diberlakukan agar kita bersikap wara’ atau hati-hati. Sedangkan syarat kedua mesti dicuci agar kita yakin bahwa wadah tersebut benar-benar telah suci. Namun perintah mencuci di sini bukanlah wajib, namun anjuran. Kenapa dibawa ke hukum anjuran (sunnah)? Karena dalam surat Al-Maidah ayat 5 disebutkan bahwa makanan ahli kitab halal bagi kita. Makanan mereka tentu saja ada pada wadah mereka. Namun kalau wadah tersebut digunakan untuk wadah babi atau wadah minum khamar, maka tetap wajib dicuci. (Faedah-faedah di atas diambil dari Minhah Al-‘Allam, 1: 95-97 dan Fath Dzi Al-Jalal wa Al-Ikram, 1: 164-168)   Kenapa yang mesti dicuci jika wadah digunakan untuk yang najis dan yang haram seperti ahli kitab menggunakan wadah atau piring untuk makan babi? Lihat hadits berikut juga dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani radhiyallahu ‘anhu. إِنَّا نُجَاوِرُ أَهْلَ الْكِتَابِ ، وَهُمْ يَطْبُخُونَ فِي قُدُورِهِمْ الْخِنْزِيرَ ، وَيَشْرَبُونَ فِي آنِيَتِهِمْ الْخَمْرَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنْ وَجَدْتُمْ غَيْرَهَا فَكُلُوا فِيهَا وَاشْرَبُوا ، وَإِنْ لَمْ تَجِدُوا غَيْرَهَا فَارْحَضُوهَا بِالْمَاءِ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا . صححه الألباني في صحيح أبي داود . “Kami bertetangga dengan Ahli Kitab, mereka memasak babi di panci-panci mereka, dan meminum khamar di wadah-wadah mereka. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika kalian dapatkan selainnya maka gunakanlah (wadah itu) untuk makan dan minum. Jika kalian tidak mendapatkan selainnya, maka cucilah wadah (mereka) dengan air, lalu makan dan minumlah (dengan wadah tersebut).” (HR. Abu Daud, no. 3839; Al-Baihaqi, 1: 33. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Adapun hadits Abu Tsa’labah Al-Khusyani, sesungguhnya Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jangan kalian makan dari wadah tersebut, kecuali kalian tidak mendapatkan selainnya, maka (jika tidak ada selainnya) cucilah wadah itu dan makanlah dengannya.’  Hal ini menunjukkan bahwa yang utama adalah menghindarinya (wadah milik orang kafir). Akan tetapi banyak ulama yang memahami dalil ini berlaku terhadap mereka yang menggunakan wadah tersebut untuk benda-benda najis seperti babi dan semacamnya. Mereka berkata, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang makan dari wadah mereka, kecuali jika kita tidak mendapatkan wadah selainnya, maka kita mencucinya dan makan dengannya. Pandangan ini bagus, dan terkandung padanya prinsip-prinsip syariat.” (Syarh Al-Mumthi’, 1: 84)   Kesimpulannya, jika non-muslim, orang kafir atau ahli kitab tidak menggunakan wadah-wadah tersebut untuk minum khamar atau makan daging babi atau bangkai, maka menggunakan wadah tersebut dibolehkan. Adapun jika mereka menggunakannya untuk makanan dan minuman yang diharamkan atau najis, maka lebih utama bagi kita untuk tidak menggunakannya jika masih ada pengganti wadah yang lain. Namun jika tidak ada pengganti, maka boleh digunakan asalkan dicuci terlebih dahulu. Semoga bermanfaat. Moga kita dihindarkan dari yang haram.   Tonton Yuk! Tonton kajian Bulughul Maram mengenai hadits yang dibahas di atas, jangan lupa SUBSCRIBE Channel Youtube Rumaysho TV.  Referensi: Fath Dzi Al-Jalal wa Al-Ikram bi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madarul Wathan. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan keempat, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Al-Mumthi’ ‘ala Zaad Al-Mustaqni’. Cetakan pertama, tahun 1422 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Tagsalkohol babi daging khamar loyal non muslim makan babi makanan halal minuman keras

Makan dari Piring Bekas Makan Babi

Bolehkah makan dari piring bekas makan babi atau gelas bekas minum khamar?   Perlu dipahami terlebih dahulu bahwa hukum asal segala perkakas atau wadah adalah suci, apakah dia digunakan oleh seorang muslim atau non muslim, atau ahli kitab, atau selainnya, sampai diyakini kenajisannya.   Sekarang mengenai permasalahan yang ditanyakan bagaimana?   Ada hadits yang bisa diperhatikan dalam masalah ini, وَعَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ – رضي الله عنه – قَالَ: – قُلْتُ: يَا رَسُولَ الْلَّهِ، إِنَّا بِأَرْضِ قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ، أَفَنَأْكُلُ فِي آنِيَتِهِمْ؟]فَ] قَالَ: “لَا تَأْكُلُوا فِيهَا، إِلَّا أَنْ لَا تَجِدُوا غَيْرَهَا، فَاغْسِلُوهَا، وَكُلُوا فِيهَا” Dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, kami berada di negeri Ahli Kitab. Apakah boleh kami makan dari wadah yang mereka gunakan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jangan makan dalam wadah yang mereka gunakan kecuali kalau tidak dapat wadah yang lain. Cucilah, lalu makanlah dari wadah tersebut.” (HR. Bukhari, no. 5478, 5488, 4596; Muslim, no. 1930) Ada beberapa faedah yang diperoleh dari hadits di atas: Boleh tinggal di negeri Ahli Kitab. Namun hal ini tidak berlaku secara mutlak. Karena dalil lain menunjukkan wajibnya berhijrah dari negeri kafir bagi yang tidak mampu menampakkan syi’ar agama di sana. Sedangkan Abu Tsa’labah ketika itu mampu untuk menampakkan keislamannya dan bisa membedakan dirinya yang seorang muslim dengan orang kafir. Adapun jika tidak bisa sampai membedakan dirinya dengan non-muslim, maka haram baginya. Para sahabat semangat sekali untuk bertanya perihal agama mereka. Para sahabat begitu wara’ (hati-hati), hal-hal yang ringan seperti ini saja ditanyakan. Maka seorang muslim wajib menanyakan tentang masalah yang ia alami, apalagi yang membingungkan dirinya. Tidak boleh menggunakan wadah orang kafir kecuali jika memenuhi dua syarat: (1) tidak ada wadah yang lain, (2) dibersihkan atau dicuci terlebih dahulu. Syarat pertama diberlakukan agar kita bersikap wara’ atau hati-hati. Sedangkan syarat kedua mesti dicuci agar kita yakin bahwa wadah tersebut benar-benar telah suci. Namun perintah mencuci di sini bukanlah wajib, namun anjuran. Kenapa dibawa ke hukum anjuran (sunnah)? Karena dalam surat Al-Maidah ayat 5 disebutkan bahwa makanan ahli kitab halal bagi kita. Makanan mereka tentu saja ada pada wadah mereka. Namun kalau wadah tersebut digunakan untuk wadah babi atau wadah minum khamar, maka tetap wajib dicuci. (Faedah-faedah di atas diambil dari Minhah Al-‘Allam, 1: 95-97 dan Fath Dzi Al-Jalal wa Al-Ikram, 1: 164-168)   Kenapa yang mesti dicuci jika wadah digunakan untuk yang najis dan yang haram seperti ahli kitab menggunakan wadah atau piring untuk makan babi? Lihat hadits berikut juga dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani radhiyallahu ‘anhu. إِنَّا نُجَاوِرُ أَهْلَ الْكِتَابِ ، وَهُمْ يَطْبُخُونَ فِي قُدُورِهِمْ الْخِنْزِيرَ ، وَيَشْرَبُونَ فِي آنِيَتِهِمْ الْخَمْرَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنْ وَجَدْتُمْ غَيْرَهَا فَكُلُوا فِيهَا وَاشْرَبُوا ، وَإِنْ لَمْ تَجِدُوا غَيْرَهَا فَارْحَضُوهَا بِالْمَاءِ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا . صححه الألباني في صحيح أبي داود . “Kami bertetangga dengan Ahli Kitab, mereka memasak babi di panci-panci mereka, dan meminum khamar di wadah-wadah mereka. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika kalian dapatkan selainnya maka gunakanlah (wadah itu) untuk makan dan minum. Jika kalian tidak mendapatkan selainnya, maka cucilah wadah (mereka) dengan air, lalu makan dan minumlah (dengan wadah tersebut).” (HR. Abu Daud, no. 3839; Al-Baihaqi, 1: 33. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Adapun hadits Abu Tsa’labah Al-Khusyani, sesungguhnya Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jangan kalian makan dari wadah tersebut, kecuali kalian tidak mendapatkan selainnya, maka (jika tidak ada selainnya) cucilah wadah itu dan makanlah dengannya.’  Hal ini menunjukkan bahwa yang utama adalah menghindarinya (wadah milik orang kafir). Akan tetapi banyak ulama yang memahami dalil ini berlaku terhadap mereka yang menggunakan wadah tersebut untuk benda-benda najis seperti babi dan semacamnya. Mereka berkata, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang makan dari wadah mereka, kecuali jika kita tidak mendapatkan wadah selainnya, maka kita mencucinya dan makan dengannya. Pandangan ini bagus, dan terkandung padanya prinsip-prinsip syariat.” (Syarh Al-Mumthi’, 1: 84)   Kesimpulannya, jika non-muslim, orang kafir atau ahli kitab tidak menggunakan wadah-wadah tersebut untuk minum khamar atau makan daging babi atau bangkai, maka menggunakan wadah tersebut dibolehkan. Adapun jika mereka menggunakannya untuk makanan dan minuman yang diharamkan atau najis, maka lebih utama bagi kita untuk tidak menggunakannya jika masih ada pengganti wadah yang lain. Namun jika tidak ada pengganti, maka boleh digunakan asalkan dicuci terlebih dahulu. Semoga bermanfaat. Moga kita dihindarkan dari yang haram.   Tonton Yuk! Tonton kajian Bulughul Maram mengenai hadits yang dibahas di atas, jangan lupa SUBSCRIBE Channel Youtube Rumaysho TV.  Referensi: Fath Dzi Al-Jalal wa Al-Ikram bi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madarul Wathan. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan keempat, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Al-Mumthi’ ‘ala Zaad Al-Mustaqni’. Cetakan pertama, tahun 1422 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Tagsalkohol babi daging khamar loyal non muslim makan babi makanan halal minuman keras
Bolehkah makan dari piring bekas makan babi atau gelas bekas minum khamar?   Perlu dipahami terlebih dahulu bahwa hukum asal segala perkakas atau wadah adalah suci, apakah dia digunakan oleh seorang muslim atau non muslim, atau ahli kitab, atau selainnya, sampai diyakini kenajisannya.   Sekarang mengenai permasalahan yang ditanyakan bagaimana?   Ada hadits yang bisa diperhatikan dalam masalah ini, وَعَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ – رضي الله عنه – قَالَ: – قُلْتُ: يَا رَسُولَ الْلَّهِ، إِنَّا بِأَرْضِ قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ، أَفَنَأْكُلُ فِي آنِيَتِهِمْ؟]فَ] قَالَ: “لَا تَأْكُلُوا فِيهَا، إِلَّا أَنْ لَا تَجِدُوا غَيْرَهَا، فَاغْسِلُوهَا، وَكُلُوا فِيهَا” Dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, kami berada di negeri Ahli Kitab. Apakah boleh kami makan dari wadah yang mereka gunakan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jangan makan dalam wadah yang mereka gunakan kecuali kalau tidak dapat wadah yang lain. Cucilah, lalu makanlah dari wadah tersebut.” (HR. Bukhari, no. 5478, 5488, 4596; Muslim, no. 1930) Ada beberapa faedah yang diperoleh dari hadits di atas: Boleh tinggal di negeri Ahli Kitab. Namun hal ini tidak berlaku secara mutlak. Karena dalil lain menunjukkan wajibnya berhijrah dari negeri kafir bagi yang tidak mampu menampakkan syi’ar agama di sana. Sedangkan Abu Tsa’labah ketika itu mampu untuk menampakkan keislamannya dan bisa membedakan dirinya yang seorang muslim dengan orang kafir. Adapun jika tidak bisa sampai membedakan dirinya dengan non-muslim, maka haram baginya. Para sahabat semangat sekali untuk bertanya perihal agama mereka. Para sahabat begitu wara’ (hati-hati), hal-hal yang ringan seperti ini saja ditanyakan. Maka seorang muslim wajib menanyakan tentang masalah yang ia alami, apalagi yang membingungkan dirinya. Tidak boleh menggunakan wadah orang kafir kecuali jika memenuhi dua syarat: (1) tidak ada wadah yang lain, (2) dibersihkan atau dicuci terlebih dahulu. Syarat pertama diberlakukan agar kita bersikap wara’ atau hati-hati. Sedangkan syarat kedua mesti dicuci agar kita yakin bahwa wadah tersebut benar-benar telah suci. Namun perintah mencuci di sini bukanlah wajib, namun anjuran. Kenapa dibawa ke hukum anjuran (sunnah)? Karena dalam surat Al-Maidah ayat 5 disebutkan bahwa makanan ahli kitab halal bagi kita. Makanan mereka tentu saja ada pada wadah mereka. Namun kalau wadah tersebut digunakan untuk wadah babi atau wadah minum khamar, maka tetap wajib dicuci. (Faedah-faedah di atas diambil dari Minhah Al-‘Allam, 1: 95-97 dan Fath Dzi Al-Jalal wa Al-Ikram, 1: 164-168)   Kenapa yang mesti dicuci jika wadah digunakan untuk yang najis dan yang haram seperti ahli kitab menggunakan wadah atau piring untuk makan babi? Lihat hadits berikut juga dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani radhiyallahu ‘anhu. إِنَّا نُجَاوِرُ أَهْلَ الْكِتَابِ ، وَهُمْ يَطْبُخُونَ فِي قُدُورِهِمْ الْخِنْزِيرَ ، وَيَشْرَبُونَ فِي آنِيَتِهِمْ الْخَمْرَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنْ وَجَدْتُمْ غَيْرَهَا فَكُلُوا فِيهَا وَاشْرَبُوا ، وَإِنْ لَمْ تَجِدُوا غَيْرَهَا فَارْحَضُوهَا بِالْمَاءِ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا . صححه الألباني في صحيح أبي داود . “Kami bertetangga dengan Ahli Kitab, mereka memasak babi di panci-panci mereka, dan meminum khamar di wadah-wadah mereka. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika kalian dapatkan selainnya maka gunakanlah (wadah itu) untuk makan dan minum. Jika kalian tidak mendapatkan selainnya, maka cucilah wadah (mereka) dengan air, lalu makan dan minumlah (dengan wadah tersebut).” (HR. Abu Daud, no. 3839; Al-Baihaqi, 1: 33. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Adapun hadits Abu Tsa’labah Al-Khusyani, sesungguhnya Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jangan kalian makan dari wadah tersebut, kecuali kalian tidak mendapatkan selainnya, maka (jika tidak ada selainnya) cucilah wadah itu dan makanlah dengannya.’  Hal ini menunjukkan bahwa yang utama adalah menghindarinya (wadah milik orang kafir). Akan tetapi banyak ulama yang memahami dalil ini berlaku terhadap mereka yang menggunakan wadah tersebut untuk benda-benda najis seperti babi dan semacamnya. Mereka berkata, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang makan dari wadah mereka, kecuali jika kita tidak mendapatkan wadah selainnya, maka kita mencucinya dan makan dengannya. Pandangan ini bagus, dan terkandung padanya prinsip-prinsip syariat.” (Syarh Al-Mumthi’, 1: 84)   Kesimpulannya, jika non-muslim, orang kafir atau ahli kitab tidak menggunakan wadah-wadah tersebut untuk minum khamar atau makan daging babi atau bangkai, maka menggunakan wadah tersebut dibolehkan. Adapun jika mereka menggunakannya untuk makanan dan minuman yang diharamkan atau najis, maka lebih utama bagi kita untuk tidak menggunakannya jika masih ada pengganti wadah yang lain. Namun jika tidak ada pengganti, maka boleh digunakan asalkan dicuci terlebih dahulu. Semoga bermanfaat. Moga kita dihindarkan dari yang haram.   Tonton Yuk! Tonton kajian Bulughul Maram mengenai hadits yang dibahas di atas, jangan lupa SUBSCRIBE Channel Youtube Rumaysho TV.  Referensi: Fath Dzi Al-Jalal wa Al-Ikram bi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madarul Wathan. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan keempat, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Al-Mumthi’ ‘ala Zaad Al-Mustaqni’. Cetakan pertama, tahun 1422 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Tagsalkohol babi daging khamar loyal non muslim makan babi makanan halal minuman keras


Bolehkah makan dari piring bekas makan babi atau gelas bekas minum khamar?   Perlu dipahami terlebih dahulu bahwa hukum asal segala perkakas atau wadah adalah suci, apakah dia digunakan oleh seorang muslim atau non muslim, atau ahli kitab, atau selainnya, sampai diyakini kenajisannya.   Sekarang mengenai permasalahan yang ditanyakan bagaimana?   Ada hadits yang bisa diperhatikan dalam masalah ini, وَعَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ – رضي الله عنه – قَالَ: – قُلْتُ: يَا رَسُولَ الْلَّهِ، إِنَّا بِأَرْضِ قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ، أَفَنَأْكُلُ فِي آنِيَتِهِمْ؟]فَ] قَالَ: “لَا تَأْكُلُوا فِيهَا، إِلَّا أَنْ لَا تَجِدُوا غَيْرَهَا، فَاغْسِلُوهَا، وَكُلُوا فِيهَا” Dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, kami berada di negeri Ahli Kitab. Apakah boleh kami makan dari wadah yang mereka gunakan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jangan makan dalam wadah yang mereka gunakan kecuali kalau tidak dapat wadah yang lain. Cucilah, lalu makanlah dari wadah tersebut.” (HR. Bukhari, no. 5478, 5488, 4596; Muslim, no. 1930) Ada beberapa faedah yang diperoleh dari hadits di atas: Boleh tinggal di negeri Ahli Kitab. Namun hal ini tidak berlaku secara mutlak. Karena dalil lain menunjukkan wajibnya berhijrah dari negeri kafir bagi yang tidak mampu menampakkan syi’ar agama di sana. Sedangkan Abu Tsa’labah ketika itu mampu untuk menampakkan keislamannya dan bisa membedakan dirinya yang seorang muslim dengan orang kafir. Adapun jika tidak bisa sampai membedakan dirinya dengan non-muslim, maka haram baginya. Para sahabat semangat sekali untuk bertanya perihal agama mereka. Para sahabat begitu wara’ (hati-hati), hal-hal yang ringan seperti ini saja ditanyakan. Maka seorang muslim wajib menanyakan tentang masalah yang ia alami, apalagi yang membingungkan dirinya. Tidak boleh menggunakan wadah orang kafir kecuali jika memenuhi dua syarat: (1) tidak ada wadah yang lain, (2) dibersihkan atau dicuci terlebih dahulu. Syarat pertama diberlakukan agar kita bersikap wara’ atau hati-hati. Sedangkan syarat kedua mesti dicuci agar kita yakin bahwa wadah tersebut benar-benar telah suci. Namun perintah mencuci di sini bukanlah wajib, namun anjuran. Kenapa dibawa ke hukum anjuran (sunnah)? Karena dalam surat Al-Maidah ayat 5 disebutkan bahwa makanan ahli kitab halal bagi kita. Makanan mereka tentu saja ada pada wadah mereka. Namun kalau wadah tersebut digunakan untuk wadah babi atau wadah minum khamar, maka tetap wajib dicuci. (Faedah-faedah di atas diambil dari Minhah Al-‘Allam, 1: 95-97 dan Fath Dzi Al-Jalal wa Al-Ikram, 1: 164-168)   Kenapa yang mesti dicuci jika wadah digunakan untuk yang najis dan yang haram seperti ahli kitab menggunakan wadah atau piring untuk makan babi? Lihat hadits berikut juga dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani radhiyallahu ‘anhu. إِنَّا نُجَاوِرُ أَهْلَ الْكِتَابِ ، وَهُمْ يَطْبُخُونَ فِي قُدُورِهِمْ الْخِنْزِيرَ ، وَيَشْرَبُونَ فِي آنِيَتِهِمْ الْخَمْرَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنْ وَجَدْتُمْ غَيْرَهَا فَكُلُوا فِيهَا وَاشْرَبُوا ، وَإِنْ لَمْ تَجِدُوا غَيْرَهَا فَارْحَضُوهَا بِالْمَاءِ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا . صححه الألباني في صحيح أبي داود . “Kami bertetangga dengan Ahli Kitab, mereka memasak babi di panci-panci mereka, dan meminum khamar di wadah-wadah mereka. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika kalian dapatkan selainnya maka gunakanlah (wadah itu) untuk makan dan minum. Jika kalian tidak mendapatkan selainnya, maka cucilah wadah (mereka) dengan air, lalu makan dan minumlah (dengan wadah tersebut).” (HR. Abu Daud, no. 3839; Al-Baihaqi, 1: 33. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Adapun hadits Abu Tsa’labah Al-Khusyani, sesungguhnya Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jangan kalian makan dari wadah tersebut, kecuali kalian tidak mendapatkan selainnya, maka (jika tidak ada selainnya) cucilah wadah itu dan makanlah dengannya.’  Hal ini menunjukkan bahwa yang utama adalah menghindarinya (wadah milik orang kafir). Akan tetapi banyak ulama yang memahami dalil ini berlaku terhadap mereka yang menggunakan wadah tersebut untuk benda-benda najis seperti babi dan semacamnya. Mereka berkata, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang makan dari wadah mereka, kecuali jika kita tidak mendapatkan wadah selainnya, maka kita mencucinya dan makan dengannya. Pandangan ini bagus, dan terkandung padanya prinsip-prinsip syariat.” (Syarh Al-Mumthi’, 1: 84)   Kesimpulannya, jika non-muslim, orang kafir atau ahli kitab tidak menggunakan wadah-wadah tersebut untuk minum khamar atau makan daging babi atau bangkai, maka menggunakan wadah tersebut dibolehkan. Adapun jika mereka menggunakannya untuk makanan dan minuman yang diharamkan atau najis, maka lebih utama bagi kita untuk tidak menggunakannya jika masih ada pengganti wadah yang lain. Namun jika tidak ada pengganti, maka boleh digunakan asalkan dicuci terlebih dahulu. Semoga bermanfaat. Moga kita dihindarkan dari yang haram.   Tonton Yuk! Tonton kajian Bulughul Maram mengenai hadits yang dibahas di atas, jangan lupa SUBSCRIBE Channel Youtube Rumaysho TV. <span data-mce-type="bookmark" style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height: 0;" class="mce_SELRES_start"></span> Referensi: Fath Dzi Al-Jalal wa Al-Ikram bi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madarul Wathan. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan keempat, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Al-Mumthi’ ‘ala Zaad Al-Mustaqni’. Cetakan pertama, tahun 1422 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Tagsalkohol babi daging khamar loyal non muslim makan babi makanan halal minuman keras

Bekal yang Sia-Sia

Bagaimana bekal yang sia-sia menuju akhirat?   Ibnul Qayyim memberikan nasehat yang sangat indah, العَمَلُ بِغَيْرِ اِخْلاَصٍ وَلاَ اِقْتِدَاءٍ كَالمُسَافِرِ يَمْلَأُ جِرَابُهُ رَمْلاً يُثْقِلُهُ وَلَا يَنْفَعُهُ “Amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaikan seorang musafir yang membawa ransel berisi pasir. Bekal pada ransel tersebut hanya memberatkan, namun tidak membawa manfaat apa-apa.” (Al-Fawa’id, hlm. 81) Itulah bekal yang sia-sia, berat namun tidak manfaat. Amalan yang dilakukan tidak ikhlas (riya’ dan sum’ah), juga amalan yang tanpa tuntunan Rasul (bid’ah) itulah yang jadi bekal sia-sia. Jangan sampai kita membawa bekal yang sia-sia padahal perjalanan kita begitu berat menuju akhirat.   Referensi: Al-Fawaid. Cetakan keenam, tahun 1431 H. Muhammad bin Abi Bakr Az-Zar’I (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah). Penerbit Maktabah Ar-Rusyd.   Tonton Yuk! Tonton nasihat singkatnya hanya dua menit di Youtube, jangan lupa SUBSCRIBE Channel Youtube Darush Sholihin.   — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsbid'ah bid'ah hasanah riya syirik

Bekal yang Sia-Sia

Bagaimana bekal yang sia-sia menuju akhirat?   Ibnul Qayyim memberikan nasehat yang sangat indah, العَمَلُ بِغَيْرِ اِخْلاَصٍ وَلاَ اِقْتِدَاءٍ كَالمُسَافِرِ يَمْلَأُ جِرَابُهُ رَمْلاً يُثْقِلُهُ وَلَا يَنْفَعُهُ “Amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaikan seorang musafir yang membawa ransel berisi pasir. Bekal pada ransel tersebut hanya memberatkan, namun tidak membawa manfaat apa-apa.” (Al-Fawa’id, hlm. 81) Itulah bekal yang sia-sia, berat namun tidak manfaat. Amalan yang dilakukan tidak ikhlas (riya’ dan sum’ah), juga amalan yang tanpa tuntunan Rasul (bid’ah) itulah yang jadi bekal sia-sia. Jangan sampai kita membawa bekal yang sia-sia padahal perjalanan kita begitu berat menuju akhirat.   Referensi: Al-Fawaid. Cetakan keenam, tahun 1431 H. Muhammad bin Abi Bakr Az-Zar’I (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah). Penerbit Maktabah Ar-Rusyd.   Tonton Yuk! Tonton nasihat singkatnya hanya dua menit di Youtube, jangan lupa SUBSCRIBE Channel Youtube Darush Sholihin.   — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsbid'ah bid'ah hasanah riya syirik
Bagaimana bekal yang sia-sia menuju akhirat?   Ibnul Qayyim memberikan nasehat yang sangat indah, العَمَلُ بِغَيْرِ اِخْلاَصٍ وَلاَ اِقْتِدَاءٍ كَالمُسَافِرِ يَمْلَأُ جِرَابُهُ رَمْلاً يُثْقِلُهُ وَلَا يَنْفَعُهُ “Amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaikan seorang musafir yang membawa ransel berisi pasir. Bekal pada ransel tersebut hanya memberatkan, namun tidak membawa manfaat apa-apa.” (Al-Fawa’id, hlm. 81) Itulah bekal yang sia-sia, berat namun tidak manfaat. Amalan yang dilakukan tidak ikhlas (riya’ dan sum’ah), juga amalan yang tanpa tuntunan Rasul (bid’ah) itulah yang jadi bekal sia-sia. Jangan sampai kita membawa bekal yang sia-sia padahal perjalanan kita begitu berat menuju akhirat.   Referensi: Al-Fawaid. Cetakan keenam, tahun 1431 H. Muhammad bin Abi Bakr Az-Zar’I (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah). Penerbit Maktabah Ar-Rusyd.   Tonton Yuk! Tonton nasihat singkatnya hanya dua menit di Youtube, jangan lupa SUBSCRIBE Channel Youtube Darush Sholihin.   — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsbid'ah bid'ah hasanah riya syirik


Bagaimana bekal yang sia-sia menuju akhirat?   Ibnul Qayyim memberikan nasehat yang sangat indah, العَمَلُ بِغَيْرِ اِخْلاَصٍ وَلاَ اِقْتِدَاءٍ كَالمُسَافِرِ يَمْلَأُ جِرَابُهُ رَمْلاً يُثْقِلُهُ وَلَا يَنْفَعُهُ “Amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaikan seorang musafir yang membawa ransel berisi pasir. Bekal pada ransel tersebut hanya memberatkan, namun tidak membawa manfaat apa-apa.” (Al-Fawa’id, hlm. 81) Itulah bekal yang sia-sia, berat namun tidak manfaat. Amalan yang dilakukan tidak ikhlas (riya’ dan sum’ah), juga amalan yang tanpa tuntunan Rasul (bid’ah) itulah yang jadi bekal sia-sia. Jangan sampai kita membawa bekal yang sia-sia padahal perjalanan kita begitu berat menuju akhirat.   Referensi: Al-Fawaid. Cetakan keenam, tahun 1431 H. Muhammad bin Abi Bakr Az-Zar’I (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah). Penerbit Maktabah Ar-Rusyd.   Tonton Yuk! Tonton nasihat singkatnya hanya dua menit di Youtube, jangan lupa SUBSCRIBE Channel Youtube Darush Sholihin.   — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 8 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsbid'ah bid'ah hasanah riya syirik

Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 4 Shafar 1438 HOleh : Syekh Abdullah Bin Abdurahman Al-Bu’aijanPenerjemah : Usman HatimKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolongan-Nya dan ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan kejahatan perbuatan kami. Siapa yang Allah beri petunjuk, tidak akan ada orang yang menyesatkannya, dan siapa yang sesat jalan tidak akan ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Akupun bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [ آل عمران/102]“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada dengan sesungguhnya, dan janganlah kalian mati kecuali benar-benar sebagai orang-orang Islam (berserah diri)”.Qs Ali Imran : 102يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا [ النساء/1]“Wahai umat manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian yan telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu, dan menciptakan dari padanya pasangannya, lalu membiakkan dari keduanya lelaki dan wanita yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang kepadanNya kalian memohon, dan (jagalah) kekerabatan. Sesungguhnya Allah Maha mengawasi kalian”.Qs An-Nisa : 1يَاأيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا [ الأحزاب / 70-71]“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Dia memperbaiki amal perbuatan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Barangsiapa taat kepada Allah dan rasulNya, sungguh ia mendapatkan keberuntungan yang besar”.Qs Al-Ahzab : 70-71Selanjutnya .. Aku berpesan kepada kalian wahai saudara2ku untuk selalu bertakwa. Ketakwaan merupakan kebahagiaan di dunia dan kesentosaan di akhirat.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ [ الأنفال/29]“Wahai orang-orang yang beriman, jikalau kalian bertakwa kepada Allah, pastilah Allah akan menjadikan bagi kalian(kemampuan) membedakan (baik dan buruk), menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan mengampuni (dosa-dosa) kalian. Allah memiliki anugerah yang besar”.Qs Al-Anfal:29Wahai hamba Allah ! Allah memilih dan mengistimewakan nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- atas seluruh umat manusia dan makhluk. Allah –subhanahu wa ta’ala- mengutusnya sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagai penutup para nabi dan rasul kepada umat ini, sekaligus sebagai saksi, pemberi kabar gembira dan peringatan serta penyeru ke jalan Allah atas izin-Nya bagaikan lentera yang menerangi jalan.Allah memilihnya dari sebaik-baik garis keturunan di zaman dan tempat yang paling mulia. Allah membersihkannya dengan sifat dan akhlak paling sempurna, paling baik dan paling utama.Allah mengistimewakannya atas seluruh makhluk ciptaan-Nya; melapangkan dadanya, mengharumkan sebutan namanya, menghapus dosa-dosa yang membebaninya dan menyeleksinya dalam segala hal.Allah memilihnya dalam hal pemikirannya sebagaimana firmanNya:مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى [ النجم:2]“Tidaklah kawanmu (Muhammad) itu sesat dan tidak pula keliru”. Qs An-Najm:2Allah memilihnya dalam hal akal budinya sebagaimana firmanNya:وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ [ القلم / 4 ]“Dan sungguh engkau berakhlak yang agung”.Qs Al-Qalam:4Allah memilihnya dalam hal kesantunannya sebagaimana firmanNya:بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ [ التوبة/ 128 ]“Terhadap orang-orang mukmin dia amat penyantun dan penyayang”.Qs At-Taubah: 128Allah memilihnya dalam hal keilmuannya sebagaimana firmanNya :عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى [ النجم/ 5 ]” Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat”. Qs An-Najm : 5Allah memilihnya dalam hal kejujurannya sebagaimana firmanNya:وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى [ النجم/3 ]“Dan tidaklah ia (Muhammad) berucap dari hawa nafsunya”.Allah memilihnya dalam hal kelapangan hatinya sebagaimana firmanNya:أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ [ الشرح/1 ]“Tidakkah Kami melapangkan bagimu dadamu”.Allah memilihnya dalam hal kejernihan nuraninya sebagaimana firmanNya:مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى [ النجم/11]“Tidaklah dusta hati nurani terhadap apa yang dilihat”. Qs An-Najm : 11Allah memilihnya dalam hal sebutan namanya sebagaimana firmanNya:وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ [ الشرح/4 ]“Dan kami mengangkat untukmu sebutan namamu”.Allah memilihnya dan ridha kepadanya sebagaimana firmanNya:وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى [ الضحى/ 5 ]“Dan Tuhanmu pasti akan memberimu sehingga engkau ridha”.Allah –subhanahu wa ta’ala- menyejajarkan ketaatan dan kecintaan kepadaNya dengan ketaatan dan kecintaan kepada rasulNya. Maka untuk ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah hanyalah boleh dilakukan sesuai dengan yang Allah ajarkan melalui Nabi-Nya –shallallahu alaihi wa sallam-, karena untuk menuju surga hanyalah dengan menempuh jalur beliau.Meneladani nabi merupakan jalan untuk mendapatkan petunjuk (hidayah) dan keselamatan bagi seseorang. Beliau adalah pemilik syafaat terbesar pada hari dimana setiap orang lari dari saudaranya, ibunya, ayahnya, istrinya dan anak-anaknya.Sudah menjadi watak dasar dan akal sehat manusia bahwa kita mencintai seseorang yang akhlak dan sifat-sifatnya serba terpuji seperti itu.Porsi terbanyak dan terlengkap di antara sifat-sifat dan akhlak terpuji tersebut ada pada pribadi Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam-. Maka mencintai beliau merupakan keniscayaan yang mutlak adanya sebagai syarat sahnya keimanan seseorang. Firman Allah:قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ [آل عمران/ 31 ]“Katakanlah, jika kalian memang mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah cinta kepada kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian”. Qs Ali Imran: 31Firman Allah pula:قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ [ التوبة/ 24]“Jika memang ayah-ayahmu, anak-anak lelakimu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum kerabatmu, harta kekayaan yang kamu hasilkan, perniagaan yang kamu khawatir mengalami kerugian dan tempat tinggal yang menyenangkan hatimu, lebih kamu cintai dari pada Allah dan rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik”. Qs At-Taubah : 24Qadhi Iyadh –rahimahullah- berkata: Fakta demikian itu cukup menjadi motivasi, peringatan, indikasi dan argumentasi atas keniscayaan cinta, kemutlakan cinta dan besarnya arti cinta kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam – sebagai figur yang berhak dicintai.Itulah sebabnya, Allah –subhanahu wa ta’ala- memberi peringatan keras kepada orang yang lebih mencintai hartanya, istrinya dan anak-anaknya dari pada Allah dan rasul-Nya. Firman Allah:” ….  فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ …. ““ …. maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya ….”,lalu di penghujung ayat itu Allah menyatakan kefasikan pada orang tersebut dan menggolongkannya termasuk orang sesat jalan yang tidak terbimbing oleh petunjuk Allah.” …..  وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ  ““ ….. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik”.Disebutkan dalam Shahih Bukhari dari Abdullah Bin Hisyam –radhiyallahu anhu- berkata : “Kami pernah bersama Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- ketika beliau sedang menggandeng tangan Umar Bin Khattab –radhiyallahu anhu-, saat itu Umar berkata kepadanya : “Ya Rasulallah, sungguh engkau lebih aku cintai dari pada segalanya kecuali kepada diriku sendiri. Maka beliau mengatakan : “Tidak, demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, sampai aku lebih kamu cintai dari pada dirimu sendiri wahai Umar”. Maka Umar secara spontan (tanpa pikir panjang) menyatakan, “Sungguh sekarang demi Allah, Pastilah engkau lebih aku cintai dari pada diriku sendiri. Maka Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : “Nah, barulah sekarang ini wahai Umar”.Dari Anas –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ ” رواه البخاري“Tidaklah beriman seseorang di antara kamu hingga aku lebih dicintainya dari pada orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia”. HR Bukhari.Itu semua menjadi bukti nyata bahwa mencintai Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- merupakan prinsip keimanan dan kewajiban agama. Di sisi lain, membenci Nabi merupakan bukti kurangnya iman dan rusaknya keyakinan. Tegasnya, kesempurnaan cinta kepada Nabi identik dengan kesempurnaan keimanan, sedangkan kurangnya cinta kepada beliau merupakan bukti kurangnya keimanan.Para hamba Allah! Cinta kepada Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- merupakan ketaatan (ibadah) yang dapat mendekatkan diri seseorang kepada Allah, suatu cinta yang diikat dengan pengamalan syariat, cinta yang memiliki bukti dan indikasi yang memperlihatkan hakikat makna cinta yang sejati.مَنِ ادَّعَى مَحَبَّة الله وَلَمْ . . يَسِرْ عَلَى سُنَّةِ سَيّدِ الْأمَمِفَذَاكَ كَذَّابٌ أخُو مَلَاهِى . . كَذَّبَ دَعْوَاهُ كِتَاب اللهِ“Siapa gerangan yang mengaku cinta kepada Allah .. sedangkan dirinya tidak menjalankan sunnah Pemimpin umat manusia”.“Maka itulah pengakuan cinta palsu alias main-main .. itu identik dengan mendustakan Kitabullah “.Salah satu bukti cinta kepada Nabi yang paling dominan ialah mengikuti sunnah dan berpegang teguh pada petunjuk beliau. Sebab suatu cinta pastilah membawa konsekuensi keselarasan dan peneladanan. Firman Allah:قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ، وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ [آل عمران/ 31]“Katakanlah, jika kalian memang mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah cinta kepada kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun dan Penyayang”. Qs Ali Imran: 31Salah satu bukti cinta Nabi ialah menolongnya, membelanya dan menyampaikan sunnahnya. Firman Allah:إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا، لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا [ الفتح/8-9]“Sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira dan peringatan, agar kalian beriman kepada Allah dan rasul-Nya, menolong-Nya dan mengagungkan-Nya serta bertasbih kepada-Nya pagi dan petang”.Qs Al-Fath:8-9Para sahabat –radhiyallahu anhum- merupakan teladan paling ideal dalam hal kecintaan dan pemuliaan kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-. Kemurnian cinta mereka kepada beliau demikian menyentuh relung hati, mendominasi kalbu dan perasaan batin mereka. Lalu mereka terjemahkan rasa cinta itu ke dalam tutur kata dan perbuatan nyata, berikut mereka rela mengorbankan segala yang bernilai tinggi demi cinta itu.Ambil contoh Abu Thalhah Al-Anshari –radhiyallahu anhu- ketika perang Uhud menebarkan sarung tombaknya di hadapan Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- seraya berkata: “Ini wajahku kujadikan bumper pengaman wajahmu”.Ketika Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- memeriksa pasukan untuk melihat apa yang mereka lakukan, tiba-tiba Abi Thalha lapor : “Wahai Rasulallah, ayah dan bundaku aku pertaruhkan, jangan sampai engkau terkena sasaran anak panah pasukan perang, leherku ini menjadi pengaman lehermu”.Contoh lain, Abu Dujanah –radhiyallahu anhu- melindungi Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- dengan perisainya sehingga anak panah menancap pada punggungnya saat dirinya membungkuk sehingga punggunggnya penuh anak panah.Demikian pula Zaid Bin Datsinah –radhiyallahu anhu-ketika dinaikkan ke atas tiang kayu untuk disalib, saat diajukan pertanyaan kepadanya, “Berterus-teranglah wahai Zaid, apakah engkau lebih suka Muhammad di tempat kami ini yang engkau saksikan sendiri kami akan pancung lehernya dari pada engkau merasa aman dalam keluargamu?.Jawabnya, “Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, aku tidak menginginkan Muhammad di tempatnya sekarang ini tertusuk oleh satu duri pun yang menyakitinya sementara aku duduk santai di tengah keluargaku”. Semoga shalawat, salam dan keberkahan tercurah kepada Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- dan semoga Allah meridhai seluruh sahabat beliau yang mulia.Wahai hamba Allah! Contoh-contoh lainnya tentang biografi para generasi terdahulu cukup banyak. Kita berharap mudah-mudahan ada dari kalangan umat Islam sekarang ini contoh-contoh yang sejalan dengan itu. Semoga setiap muslim memiliki keteladanan yang cukup memadai dalam konteks tersebut.Termasuk bukti cinta Rasul ialah memperbanyak menyebutnya dengan doa shalawat dan salam kepadanya. Sebab, orang yang mencintai sesuatu pasti sering menyebutnya. Hal itu diperintahkan oleh Allah dalam firman-Nya:إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [ الأحزاب / 56 ]“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman sampaikanlah doa shalawat dan salam kepadanya dengan sesungguhnya”.Qs Al-Ahzab:56Diantara bukti cinta Rasul ialah berharap dapat melihat wajah beliau –shallallahu alaihi wa sallam- dan merindukan perjumpaan dengannya serta memohon kepada Allah agar mempertemukan dirinya dengannya dalam iman dan mengumpulkannya dengan kekasih-Nya dan nabi-Nya di tempat keabadian yang penuh rahmat.Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- bahwa Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا، نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي، يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ ““Di antara umatku yang paling mendalam cintanya kepadaku ialah orang-orang yang hidup sesudah aku, salah seorang di antara mereka menginginkan berjumpa denganku bersama keluarganya dan harta bendanya”.Termasuk bukti cinta Rasul ialah tidak bersikap ekstrem dalam mengikuti beliau. Sebab ekstremisme merupakan pelanggaran dan pemaksaan diri. Firman Allah:وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا [ الحشر/ 7 ]“Apapun yang dibawa oleh Rasul, terimalah (lakukanlah), dan apapun yang dilarang olehnya, tinggalkanlah”.Qs Al-Hasyr:7Diriwayatkan dari Umar Bin Alkhatab –radhiyallahu anhu- bahwa Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ “. رواه البخاري “Janganlah kalian mengultuskan aku seperti halnya kaum nasrani mengultuskan Isa putra Maryam. Aku hanyalah hamba Allah dan rasul-Nya”. HR BukhariDi antara bukti cinta Rasul ialah tekun membaca riwayat hidupnya untuk mengenalnya, sebab mencintainya mengandung konsekuensi keharusan mengenalnya, membaca sejarah perjalanan hidupnya untuk mengetahui sifat-sifat dan akhlaknya. Tidak mungkin terwujud kecintaan pada sesuatu yang tidak dikenal sama sekali, tidak mungkin ada upaya pembelaan dan melindungi sesuatu oleh seseorang yang tidak mengetahui dan mengenal hak-hak apa yang harus dibela dan dilindungi tersebut.    Binatang dan benda mati sekalipun, ketika mengenal Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- dapat memberikan keteladanan bagi kita untuk mencintai beliau. Pernah batang kurma merasa terharu dan rindu kepada beliau lalu menangis. Pernah ada sebuah batu memberi salam kepada beliau. Pernah gunung Uhud bergoyang untuk mengekspresikan rasa cinta dan penghargaannya kepada beliau. Pernah pula seekor Onta berebut (dengan sesamanya) untuk disembelih melalui tangan beliau. Sebagaimana pernah terjadi beliau menunjuk bulan, maka menjadi terbelah, kemudian menunjuk awan, maka terurailah awan itu. Semua itu terjadi atas izin Allah.Ya Allah, jadikanlah beliau penenang mata kami. Tanamlah kecintaan kepadanya di dalam lubuk hati kami. Jadikanlah kecintaan kami kepadanya lebih besar dari pada kecintaan kami kepada diri kami dan keluarga kami. Bimbinglah kami untuk melakukan sesuatu dalam koridor cinta kepadanya wahai Tuhan semesta alam.Aku sampaikan pesanku ini dengan memohon ampun kepada Allah … *****  Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikan-Nya. Ungkapan syukur tertuju kepada-Nya atas bimbingan dan anugerah-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya sebagai pengagungan terhadap urusan-Nya. Aku pun bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba-Nya dan rasul-Nya yang mengajak ke jalan yang diridhai-Nya. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah sebanyak-banyaknya kepadanya beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Kaum muslimin sekalian!Termasuk indikasi loyalitas dan kejujuran hati dalam mencintai Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- ialah mencintai pula apa saja yang dicintai oleh beliau. Sebab keselarasan batin seseorang dengan sang kekasih adalah bukti kejujuran cintanya kepada kekasihnya itu. Mencintai para istri Nabi – shallallahu alaihi wa sallam – dan mencintai para sahabat serta ahli bait beliau merupakan kewajiban dalam Islam yang terkait erat dengan cinta kepada Nabi sendiri, sekaligus merupakan hak yang tidak terpisahkan dari kewajiban meneladani beliau. Hal itu sebagai perwujudan dari tindakan dan ucapan beliau sendiri, yaitu: “Janganlah kalian mencaci maki para sahabatku”.Kaum muslimin sekalian!Cinta Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- sangat erat kaitannya dengan cinta kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- dan erat pula dengan wahyu dan syariat yang beliau sampaikan.Sungguh Allah –subhanahu wa ta’ala- memuliakan kota Mekah yang dipilih-Nya dan disebut dalam sumpah-Nya. Firman Allah :لَا أُقْسِمُ بِهَذَا الْبَلَدِ [ البلد/1]“Aku bersumpah dengan negeri ini”.Qs Albalad :1Allah memuliakannya dan menjadikannya sebagai area tempat turunnya wahyu sekaligus Kiblat bagi umat Islam, tempat ibadah haji mereka dan tumpuan hati mereka.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- mencintai kota Mekah dan tidak bisa menyembunyikan rasa cintanya itu dalam hati, bahkan beliau mengekspresikannya langsung. Tidak cukup sampai di situ, bahkan beliau pun bersumpah dan meneguhkan ucapannya. Beliau tidak mampu menahan perasaannya sehingga air mata beliau bercucuran, lalu beliau ungkapkan perasaan itu sementara air mata beliau terus berderai :” وَاللهِ إنَّكَ لَأحَبُّ الْبِقَاعِ إلَيَّ وَلَوْلَا أنِّي أخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ ““Demi Allah, sungguh engkau (wahai Mekah) tentu merupakan bumi yang paling aku cintai. Andaikan bukan karena aku dikeluarkan darimu, tentu aku tidak akan keluar”.Maka sudah sepantasnya kaum muslimin seluruhnya mengetahui kedudukan dan kemuliaan kota Mekah, dan seharusnya mereka bersatu padu menghadapi pihak yang hendak mengganggu kota Mekah. Namun yakinlah bahwa Baitullah itu ada Pemilik yang melindunginya.Sudah selayaknya kaum muslimin bangkit dan tergerak emosi mereka, hendaklah mereka spontan melompat ketika ada pihak yang mencoba merusak batas-batas kehormatannya dan menghalalkan pelarangannya serta melanggar kesuciannya.Kaum muslimin sekalian!Allah –subhanahu wa ta’ala- menetapkan kesucian kota Mekah secara permanen dan abadi. Allah –subhanahu wa ta’ala- melalui teks suci Al-Qur’an, menyatakan betapa besarnya tindak kejahatan orang yang menyerangnya. Firman Allah :“إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِي جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ ” [الحج/ 25 ] “Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalang-halangi (manusia) darijalan Allah dan Masjidil Haram yang telah Kami jadikan terbuka untuk semua manusia; yaitu orang yang menetap di sana dan pendatang dari luar. Barangsiapa yang bermaksud melakukan menyimpangan di dalamnya secara zalim, pasti Kami akan cicipkan kepadanya sebagian dari siksa yang pedih”.Qs Alhaj : 25Inilah spesialisasi kota suci Mekah, di mana seseorang pasti terhukum atas maksud jahatnya yang tersimpan dalam hati jika baru merencanakan, meskipun belum melakukan.Ibnu Mas’ud –radhiyallahu anhu- berkata : “Tidak ada seseorang yang bermaksud melakukan kejahatan lalu dicatat sebagai tindak kejahatan. Namun seandainya ada seseorang di Adan atau Abyan berencana membunuh seseorang di Baitullah (Ka’bah), pastilah Allah akan menghukumnya dengan siksa yang pedih”.Penyimpangan yang dimaksud dalam ayat bersifat umum meliputi segenap orang yang melakukan perbuatan zalim yang menyimpang dari kebenaran. Itulah sebabnya, maka pasukan bergajah ketika berencana hendak merobohkan Ka’bah, maka Allah mengirimkan kawanan burung untuk melempar mereka dengan batu panas dari sijil, sehingga membuat mereka hancur bagaikan dedaunan yang dimakan ulat.Disebutkan pula dalam Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim) dari hadis Aisyah –radhiyallahu anha- bahwa Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” يَغْزُو جَيْشٌ الكَعْبَةَ، فَإِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنَ الأَرْضِ، يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ““Ada satu regu tentara hendak menyerang Ka’bah, tiba-tiba mereka di suatu gurun terperosok ke dalam bumi mulai dari bagian depan sampai belakang”.Dari Abi Hurairah –radhiyallahu anhu- bahwa pada tahun penaklukan kota Mekah, Bani Khuza’ah membunuh seorang lelaki dari Bani Laits sebagai balasan atas seorang korban milik mereka yang dibunuhnya pada era Jahiliyah. Maka Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bangkit seraya berkata :” إِنَّ اللَّهَ حَبَسَ عَنْ مَكَّةَ الفِيلَ، وَسَلَّطَ عَلَيْهِمْ رَسُولَهُ وَالمُؤْمِنِينَ، أَلاَ وَإِنَّهَا لَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي، وَلاَ تَحِلُّ لِأَحَدٍ بَعْدِي، أَلاَ وَإِنَّمَا أُحِلَّتْ لِي سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، أَلاَ وَإِنَّهَا سَاعَتِي هَذِهِ حَرَامٌ، لاَ يُخْتَلَى شَوْكُهَا، وَلاَ يُعْضَدُ شَجَرُهَا، وَلاَ يَلْتَقِطُ سَاقِطَتَهَا إِلَّا مُنْشِدٌ ” متفق عليه“Sesungguhnya Allah telah menahan pasukan bergajah untuk menyerang Mekah, dan Allah memberikan kekuasaan kepada rasul-Nya dan kaum muslimin atas mereka. Ingatlah bahwa kota Mekah tidak halal bagi seorang pun(untuk mengganggunya) sebelum aku, dan tidak halal pula bagi seorang pun sesudah aku. Ingatlah, sungguh kota Mekah dihalalkan bagiku sesaat di siang hari. Ingatlah kota Mekah pada saat ini adalah haram (dimuliakan); durinya tidak boleh dicabut, pepohonannya tidak boleh ditebang dan barang temuannya tidak boleh dipungut, kecuali bagi yang hendak mengumumkan”. Muttafaq alaihi.Maka wahai hamba Allah !Kita tidak bertanggung jawab sebagai bentuk kutukan, laknat dan sumpah serapah terhadap segala percobaan dan penyerangan frustrasi terhadap induk segala negeri, Mekah, kota kesayangan Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-.Semoga Allah menjaganya dari serangan penyerang yang gegabah, pengkhianat yang jahat, setan yang terkutuk, pembandel yang tidak jelas kiprahnya, mereka hanyalah mengintai kesempatan untuk menghancurkan Islam. Semoga Allah membalikkan tipu muslihat mereka mengena diri mereka sendiri, memutus tindak lanjutnya dan menjadikan perbuatan mereka sebagai pelajaran bagi orang lain.Ya Allah lindungilah negeri ini dengan perlindungan-Mu. Jagalah negeri ini dengan penjagaan-Mu. Ya Allah, siapapun orangnya yang hendak melakukan makar terhadap negeri ini, sibukkanlah dengan urusan dirinya sendiri. Jadikanlah rencana jahatnya sebagai bumerang bagi dirinya. Jadikanlah persekongkolannya menghancurkan dirinya sendiri, wahai Tuhan Yang Maha Kuat dan Perkasa.Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin …  ==== Doa Penutup ====

Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 4 Shafar 1438 HOleh : Syekh Abdullah Bin Abdurahman Al-Bu’aijanPenerjemah : Usman HatimKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolongan-Nya dan ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan kejahatan perbuatan kami. Siapa yang Allah beri petunjuk, tidak akan ada orang yang menyesatkannya, dan siapa yang sesat jalan tidak akan ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Akupun bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [ آل عمران/102]“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada dengan sesungguhnya, dan janganlah kalian mati kecuali benar-benar sebagai orang-orang Islam (berserah diri)”.Qs Ali Imran : 102يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا [ النساء/1]“Wahai umat manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian yan telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu, dan menciptakan dari padanya pasangannya, lalu membiakkan dari keduanya lelaki dan wanita yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang kepadanNya kalian memohon, dan (jagalah) kekerabatan. Sesungguhnya Allah Maha mengawasi kalian”.Qs An-Nisa : 1يَاأيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا [ الأحزاب / 70-71]“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Dia memperbaiki amal perbuatan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Barangsiapa taat kepada Allah dan rasulNya, sungguh ia mendapatkan keberuntungan yang besar”.Qs Al-Ahzab : 70-71Selanjutnya .. Aku berpesan kepada kalian wahai saudara2ku untuk selalu bertakwa. Ketakwaan merupakan kebahagiaan di dunia dan kesentosaan di akhirat.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ [ الأنفال/29]“Wahai orang-orang yang beriman, jikalau kalian bertakwa kepada Allah, pastilah Allah akan menjadikan bagi kalian(kemampuan) membedakan (baik dan buruk), menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan mengampuni (dosa-dosa) kalian. Allah memiliki anugerah yang besar”.Qs Al-Anfal:29Wahai hamba Allah ! Allah memilih dan mengistimewakan nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- atas seluruh umat manusia dan makhluk. Allah –subhanahu wa ta’ala- mengutusnya sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagai penutup para nabi dan rasul kepada umat ini, sekaligus sebagai saksi, pemberi kabar gembira dan peringatan serta penyeru ke jalan Allah atas izin-Nya bagaikan lentera yang menerangi jalan.Allah memilihnya dari sebaik-baik garis keturunan di zaman dan tempat yang paling mulia. Allah membersihkannya dengan sifat dan akhlak paling sempurna, paling baik dan paling utama.Allah mengistimewakannya atas seluruh makhluk ciptaan-Nya; melapangkan dadanya, mengharumkan sebutan namanya, menghapus dosa-dosa yang membebaninya dan menyeleksinya dalam segala hal.Allah memilihnya dalam hal pemikirannya sebagaimana firmanNya:مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى [ النجم:2]“Tidaklah kawanmu (Muhammad) itu sesat dan tidak pula keliru”. Qs An-Najm:2Allah memilihnya dalam hal akal budinya sebagaimana firmanNya:وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ [ القلم / 4 ]“Dan sungguh engkau berakhlak yang agung”.Qs Al-Qalam:4Allah memilihnya dalam hal kesantunannya sebagaimana firmanNya:بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ [ التوبة/ 128 ]“Terhadap orang-orang mukmin dia amat penyantun dan penyayang”.Qs At-Taubah: 128Allah memilihnya dalam hal keilmuannya sebagaimana firmanNya :عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى [ النجم/ 5 ]” Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat”. Qs An-Najm : 5Allah memilihnya dalam hal kejujurannya sebagaimana firmanNya:وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى [ النجم/3 ]“Dan tidaklah ia (Muhammad) berucap dari hawa nafsunya”.Allah memilihnya dalam hal kelapangan hatinya sebagaimana firmanNya:أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ [ الشرح/1 ]“Tidakkah Kami melapangkan bagimu dadamu”.Allah memilihnya dalam hal kejernihan nuraninya sebagaimana firmanNya:مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى [ النجم/11]“Tidaklah dusta hati nurani terhadap apa yang dilihat”. Qs An-Najm : 11Allah memilihnya dalam hal sebutan namanya sebagaimana firmanNya:وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ [ الشرح/4 ]“Dan kami mengangkat untukmu sebutan namamu”.Allah memilihnya dan ridha kepadanya sebagaimana firmanNya:وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى [ الضحى/ 5 ]“Dan Tuhanmu pasti akan memberimu sehingga engkau ridha”.Allah –subhanahu wa ta’ala- menyejajarkan ketaatan dan kecintaan kepadaNya dengan ketaatan dan kecintaan kepada rasulNya. Maka untuk ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah hanyalah boleh dilakukan sesuai dengan yang Allah ajarkan melalui Nabi-Nya –shallallahu alaihi wa sallam-, karena untuk menuju surga hanyalah dengan menempuh jalur beliau.Meneladani nabi merupakan jalan untuk mendapatkan petunjuk (hidayah) dan keselamatan bagi seseorang. Beliau adalah pemilik syafaat terbesar pada hari dimana setiap orang lari dari saudaranya, ibunya, ayahnya, istrinya dan anak-anaknya.Sudah menjadi watak dasar dan akal sehat manusia bahwa kita mencintai seseorang yang akhlak dan sifat-sifatnya serba terpuji seperti itu.Porsi terbanyak dan terlengkap di antara sifat-sifat dan akhlak terpuji tersebut ada pada pribadi Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam-. Maka mencintai beliau merupakan keniscayaan yang mutlak adanya sebagai syarat sahnya keimanan seseorang. Firman Allah:قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ [آل عمران/ 31 ]“Katakanlah, jika kalian memang mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah cinta kepada kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian”. Qs Ali Imran: 31Firman Allah pula:قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ [ التوبة/ 24]“Jika memang ayah-ayahmu, anak-anak lelakimu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum kerabatmu, harta kekayaan yang kamu hasilkan, perniagaan yang kamu khawatir mengalami kerugian dan tempat tinggal yang menyenangkan hatimu, lebih kamu cintai dari pada Allah dan rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik”. Qs At-Taubah : 24Qadhi Iyadh –rahimahullah- berkata: Fakta demikian itu cukup menjadi motivasi, peringatan, indikasi dan argumentasi atas keniscayaan cinta, kemutlakan cinta dan besarnya arti cinta kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam – sebagai figur yang berhak dicintai.Itulah sebabnya, Allah –subhanahu wa ta’ala- memberi peringatan keras kepada orang yang lebih mencintai hartanya, istrinya dan anak-anaknya dari pada Allah dan rasul-Nya. Firman Allah:” ….  فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ …. ““ …. maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya ….”,lalu di penghujung ayat itu Allah menyatakan kefasikan pada orang tersebut dan menggolongkannya termasuk orang sesat jalan yang tidak terbimbing oleh petunjuk Allah.” …..  وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ  ““ ….. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik”.Disebutkan dalam Shahih Bukhari dari Abdullah Bin Hisyam –radhiyallahu anhu- berkata : “Kami pernah bersama Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- ketika beliau sedang menggandeng tangan Umar Bin Khattab –radhiyallahu anhu-, saat itu Umar berkata kepadanya : “Ya Rasulallah, sungguh engkau lebih aku cintai dari pada segalanya kecuali kepada diriku sendiri. Maka beliau mengatakan : “Tidak, demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, sampai aku lebih kamu cintai dari pada dirimu sendiri wahai Umar”. Maka Umar secara spontan (tanpa pikir panjang) menyatakan, “Sungguh sekarang demi Allah, Pastilah engkau lebih aku cintai dari pada diriku sendiri. Maka Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : “Nah, barulah sekarang ini wahai Umar”.Dari Anas –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ ” رواه البخاري“Tidaklah beriman seseorang di antara kamu hingga aku lebih dicintainya dari pada orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia”. HR Bukhari.Itu semua menjadi bukti nyata bahwa mencintai Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- merupakan prinsip keimanan dan kewajiban agama. Di sisi lain, membenci Nabi merupakan bukti kurangnya iman dan rusaknya keyakinan. Tegasnya, kesempurnaan cinta kepada Nabi identik dengan kesempurnaan keimanan, sedangkan kurangnya cinta kepada beliau merupakan bukti kurangnya keimanan.Para hamba Allah! Cinta kepada Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- merupakan ketaatan (ibadah) yang dapat mendekatkan diri seseorang kepada Allah, suatu cinta yang diikat dengan pengamalan syariat, cinta yang memiliki bukti dan indikasi yang memperlihatkan hakikat makna cinta yang sejati.مَنِ ادَّعَى مَحَبَّة الله وَلَمْ . . يَسِرْ عَلَى سُنَّةِ سَيّدِ الْأمَمِفَذَاكَ كَذَّابٌ أخُو مَلَاهِى . . كَذَّبَ دَعْوَاهُ كِتَاب اللهِ“Siapa gerangan yang mengaku cinta kepada Allah .. sedangkan dirinya tidak menjalankan sunnah Pemimpin umat manusia”.“Maka itulah pengakuan cinta palsu alias main-main .. itu identik dengan mendustakan Kitabullah “.Salah satu bukti cinta kepada Nabi yang paling dominan ialah mengikuti sunnah dan berpegang teguh pada petunjuk beliau. Sebab suatu cinta pastilah membawa konsekuensi keselarasan dan peneladanan. Firman Allah:قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ، وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ [آل عمران/ 31]“Katakanlah, jika kalian memang mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah cinta kepada kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun dan Penyayang”. Qs Ali Imran: 31Salah satu bukti cinta Nabi ialah menolongnya, membelanya dan menyampaikan sunnahnya. Firman Allah:إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا، لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا [ الفتح/8-9]“Sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira dan peringatan, agar kalian beriman kepada Allah dan rasul-Nya, menolong-Nya dan mengagungkan-Nya serta bertasbih kepada-Nya pagi dan petang”.Qs Al-Fath:8-9Para sahabat –radhiyallahu anhum- merupakan teladan paling ideal dalam hal kecintaan dan pemuliaan kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-. Kemurnian cinta mereka kepada beliau demikian menyentuh relung hati, mendominasi kalbu dan perasaan batin mereka. Lalu mereka terjemahkan rasa cinta itu ke dalam tutur kata dan perbuatan nyata, berikut mereka rela mengorbankan segala yang bernilai tinggi demi cinta itu.Ambil contoh Abu Thalhah Al-Anshari –radhiyallahu anhu- ketika perang Uhud menebarkan sarung tombaknya di hadapan Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- seraya berkata: “Ini wajahku kujadikan bumper pengaman wajahmu”.Ketika Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- memeriksa pasukan untuk melihat apa yang mereka lakukan, tiba-tiba Abi Thalha lapor : “Wahai Rasulallah, ayah dan bundaku aku pertaruhkan, jangan sampai engkau terkena sasaran anak panah pasukan perang, leherku ini menjadi pengaman lehermu”.Contoh lain, Abu Dujanah –radhiyallahu anhu- melindungi Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- dengan perisainya sehingga anak panah menancap pada punggungnya saat dirinya membungkuk sehingga punggunggnya penuh anak panah.Demikian pula Zaid Bin Datsinah –radhiyallahu anhu-ketika dinaikkan ke atas tiang kayu untuk disalib, saat diajukan pertanyaan kepadanya, “Berterus-teranglah wahai Zaid, apakah engkau lebih suka Muhammad di tempat kami ini yang engkau saksikan sendiri kami akan pancung lehernya dari pada engkau merasa aman dalam keluargamu?.Jawabnya, “Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, aku tidak menginginkan Muhammad di tempatnya sekarang ini tertusuk oleh satu duri pun yang menyakitinya sementara aku duduk santai di tengah keluargaku”. Semoga shalawat, salam dan keberkahan tercurah kepada Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- dan semoga Allah meridhai seluruh sahabat beliau yang mulia.Wahai hamba Allah! Contoh-contoh lainnya tentang biografi para generasi terdahulu cukup banyak. Kita berharap mudah-mudahan ada dari kalangan umat Islam sekarang ini contoh-contoh yang sejalan dengan itu. Semoga setiap muslim memiliki keteladanan yang cukup memadai dalam konteks tersebut.Termasuk bukti cinta Rasul ialah memperbanyak menyebutnya dengan doa shalawat dan salam kepadanya. Sebab, orang yang mencintai sesuatu pasti sering menyebutnya. Hal itu diperintahkan oleh Allah dalam firman-Nya:إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [ الأحزاب / 56 ]“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman sampaikanlah doa shalawat dan salam kepadanya dengan sesungguhnya”.Qs Al-Ahzab:56Diantara bukti cinta Rasul ialah berharap dapat melihat wajah beliau –shallallahu alaihi wa sallam- dan merindukan perjumpaan dengannya serta memohon kepada Allah agar mempertemukan dirinya dengannya dalam iman dan mengumpulkannya dengan kekasih-Nya dan nabi-Nya di tempat keabadian yang penuh rahmat.Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- bahwa Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا، نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي، يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ ““Di antara umatku yang paling mendalam cintanya kepadaku ialah orang-orang yang hidup sesudah aku, salah seorang di antara mereka menginginkan berjumpa denganku bersama keluarganya dan harta bendanya”.Termasuk bukti cinta Rasul ialah tidak bersikap ekstrem dalam mengikuti beliau. Sebab ekstremisme merupakan pelanggaran dan pemaksaan diri. Firman Allah:وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا [ الحشر/ 7 ]“Apapun yang dibawa oleh Rasul, terimalah (lakukanlah), dan apapun yang dilarang olehnya, tinggalkanlah”.Qs Al-Hasyr:7Diriwayatkan dari Umar Bin Alkhatab –radhiyallahu anhu- bahwa Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ “. رواه البخاري “Janganlah kalian mengultuskan aku seperti halnya kaum nasrani mengultuskan Isa putra Maryam. Aku hanyalah hamba Allah dan rasul-Nya”. HR BukhariDi antara bukti cinta Rasul ialah tekun membaca riwayat hidupnya untuk mengenalnya, sebab mencintainya mengandung konsekuensi keharusan mengenalnya, membaca sejarah perjalanan hidupnya untuk mengetahui sifat-sifat dan akhlaknya. Tidak mungkin terwujud kecintaan pada sesuatu yang tidak dikenal sama sekali, tidak mungkin ada upaya pembelaan dan melindungi sesuatu oleh seseorang yang tidak mengetahui dan mengenal hak-hak apa yang harus dibela dan dilindungi tersebut.    Binatang dan benda mati sekalipun, ketika mengenal Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- dapat memberikan keteladanan bagi kita untuk mencintai beliau. Pernah batang kurma merasa terharu dan rindu kepada beliau lalu menangis. Pernah ada sebuah batu memberi salam kepada beliau. Pernah gunung Uhud bergoyang untuk mengekspresikan rasa cinta dan penghargaannya kepada beliau. Pernah pula seekor Onta berebut (dengan sesamanya) untuk disembelih melalui tangan beliau. Sebagaimana pernah terjadi beliau menunjuk bulan, maka menjadi terbelah, kemudian menunjuk awan, maka terurailah awan itu. Semua itu terjadi atas izin Allah.Ya Allah, jadikanlah beliau penenang mata kami. Tanamlah kecintaan kepadanya di dalam lubuk hati kami. Jadikanlah kecintaan kami kepadanya lebih besar dari pada kecintaan kami kepada diri kami dan keluarga kami. Bimbinglah kami untuk melakukan sesuatu dalam koridor cinta kepadanya wahai Tuhan semesta alam.Aku sampaikan pesanku ini dengan memohon ampun kepada Allah … *****  Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikan-Nya. Ungkapan syukur tertuju kepada-Nya atas bimbingan dan anugerah-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya sebagai pengagungan terhadap urusan-Nya. Aku pun bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba-Nya dan rasul-Nya yang mengajak ke jalan yang diridhai-Nya. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah sebanyak-banyaknya kepadanya beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Kaum muslimin sekalian!Termasuk indikasi loyalitas dan kejujuran hati dalam mencintai Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- ialah mencintai pula apa saja yang dicintai oleh beliau. Sebab keselarasan batin seseorang dengan sang kekasih adalah bukti kejujuran cintanya kepada kekasihnya itu. Mencintai para istri Nabi – shallallahu alaihi wa sallam – dan mencintai para sahabat serta ahli bait beliau merupakan kewajiban dalam Islam yang terkait erat dengan cinta kepada Nabi sendiri, sekaligus merupakan hak yang tidak terpisahkan dari kewajiban meneladani beliau. Hal itu sebagai perwujudan dari tindakan dan ucapan beliau sendiri, yaitu: “Janganlah kalian mencaci maki para sahabatku”.Kaum muslimin sekalian!Cinta Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- sangat erat kaitannya dengan cinta kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- dan erat pula dengan wahyu dan syariat yang beliau sampaikan.Sungguh Allah –subhanahu wa ta’ala- memuliakan kota Mekah yang dipilih-Nya dan disebut dalam sumpah-Nya. Firman Allah :لَا أُقْسِمُ بِهَذَا الْبَلَدِ [ البلد/1]“Aku bersumpah dengan negeri ini”.Qs Albalad :1Allah memuliakannya dan menjadikannya sebagai area tempat turunnya wahyu sekaligus Kiblat bagi umat Islam, tempat ibadah haji mereka dan tumpuan hati mereka.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- mencintai kota Mekah dan tidak bisa menyembunyikan rasa cintanya itu dalam hati, bahkan beliau mengekspresikannya langsung. Tidak cukup sampai di situ, bahkan beliau pun bersumpah dan meneguhkan ucapannya. Beliau tidak mampu menahan perasaannya sehingga air mata beliau bercucuran, lalu beliau ungkapkan perasaan itu sementara air mata beliau terus berderai :” وَاللهِ إنَّكَ لَأحَبُّ الْبِقَاعِ إلَيَّ وَلَوْلَا أنِّي أخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ ““Demi Allah, sungguh engkau (wahai Mekah) tentu merupakan bumi yang paling aku cintai. Andaikan bukan karena aku dikeluarkan darimu, tentu aku tidak akan keluar”.Maka sudah sepantasnya kaum muslimin seluruhnya mengetahui kedudukan dan kemuliaan kota Mekah, dan seharusnya mereka bersatu padu menghadapi pihak yang hendak mengganggu kota Mekah. Namun yakinlah bahwa Baitullah itu ada Pemilik yang melindunginya.Sudah selayaknya kaum muslimin bangkit dan tergerak emosi mereka, hendaklah mereka spontan melompat ketika ada pihak yang mencoba merusak batas-batas kehormatannya dan menghalalkan pelarangannya serta melanggar kesuciannya.Kaum muslimin sekalian!Allah –subhanahu wa ta’ala- menetapkan kesucian kota Mekah secara permanen dan abadi. Allah –subhanahu wa ta’ala- melalui teks suci Al-Qur’an, menyatakan betapa besarnya tindak kejahatan orang yang menyerangnya. Firman Allah :“إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِي جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ ” [الحج/ 25 ] “Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalang-halangi (manusia) darijalan Allah dan Masjidil Haram yang telah Kami jadikan terbuka untuk semua manusia; yaitu orang yang menetap di sana dan pendatang dari luar. Barangsiapa yang bermaksud melakukan menyimpangan di dalamnya secara zalim, pasti Kami akan cicipkan kepadanya sebagian dari siksa yang pedih”.Qs Alhaj : 25Inilah spesialisasi kota suci Mekah, di mana seseorang pasti terhukum atas maksud jahatnya yang tersimpan dalam hati jika baru merencanakan, meskipun belum melakukan.Ibnu Mas’ud –radhiyallahu anhu- berkata : “Tidak ada seseorang yang bermaksud melakukan kejahatan lalu dicatat sebagai tindak kejahatan. Namun seandainya ada seseorang di Adan atau Abyan berencana membunuh seseorang di Baitullah (Ka’bah), pastilah Allah akan menghukumnya dengan siksa yang pedih”.Penyimpangan yang dimaksud dalam ayat bersifat umum meliputi segenap orang yang melakukan perbuatan zalim yang menyimpang dari kebenaran. Itulah sebabnya, maka pasukan bergajah ketika berencana hendak merobohkan Ka’bah, maka Allah mengirimkan kawanan burung untuk melempar mereka dengan batu panas dari sijil, sehingga membuat mereka hancur bagaikan dedaunan yang dimakan ulat.Disebutkan pula dalam Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim) dari hadis Aisyah –radhiyallahu anha- bahwa Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” يَغْزُو جَيْشٌ الكَعْبَةَ، فَإِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنَ الأَرْضِ، يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ““Ada satu regu tentara hendak menyerang Ka’bah, tiba-tiba mereka di suatu gurun terperosok ke dalam bumi mulai dari bagian depan sampai belakang”.Dari Abi Hurairah –radhiyallahu anhu- bahwa pada tahun penaklukan kota Mekah, Bani Khuza’ah membunuh seorang lelaki dari Bani Laits sebagai balasan atas seorang korban milik mereka yang dibunuhnya pada era Jahiliyah. Maka Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bangkit seraya berkata :” إِنَّ اللَّهَ حَبَسَ عَنْ مَكَّةَ الفِيلَ، وَسَلَّطَ عَلَيْهِمْ رَسُولَهُ وَالمُؤْمِنِينَ، أَلاَ وَإِنَّهَا لَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي، وَلاَ تَحِلُّ لِأَحَدٍ بَعْدِي، أَلاَ وَإِنَّمَا أُحِلَّتْ لِي سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، أَلاَ وَإِنَّهَا سَاعَتِي هَذِهِ حَرَامٌ، لاَ يُخْتَلَى شَوْكُهَا، وَلاَ يُعْضَدُ شَجَرُهَا، وَلاَ يَلْتَقِطُ سَاقِطَتَهَا إِلَّا مُنْشِدٌ ” متفق عليه“Sesungguhnya Allah telah menahan pasukan bergajah untuk menyerang Mekah, dan Allah memberikan kekuasaan kepada rasul-Nya dan kaum muslimin atas mereka. Ingatlah bahwa kota Mekah tidak halal bagi seorang pun(untuk mengganggunya) sebelum aku, dan tidak halal pula bagi seorang pun sesudah aku. Ingatlah, sungguh kota Mekah dihalalkan bagiku sesaat di siang hari. Ingatlah kota Mekah pada saat ini adalah haram (dimuliakan); durinya tidak boleh dicabut, pepohonannya tidak boleh ditebang dan barang temuannya tidak boleh dipungut, kecuali bagi yang hendak mengumumkan”. Muttafaq alaihi.Maka wahai hamba Allah !Kita tidak bertanggung jawab sebagai bentuk kutukan, laknat dan sumpah serapah terhadap segala percobaan dan penyerangan frustrasi terhadap induk segala negeri, Mekah, kota kesayangan Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-.Semoga Allah menjaganya dari serangan penyerang yang gegabah, pengkhianat yang jahat, setan yang terkutuk, pembandel yang tidak jelas kiprahnya, mereka hanyalah mengintai kesempatan untuk menghancurkan Islam. Semoga Allah membalikkan tipu muslihat mereka mengena diri mereka sendiri, memutus tindak lanjutnya dan menjadikan perbuatan mereka sebagai pelajaran bagi orang lain.Ya Allah lindungilah negeri ini dengan perlindungan-Mu. Jagalah negeri ini dengan penjagaan-Mu. Ya Allah, siapapun orangnya yang hendak melakukan makar terhadap negeri ini, sibukkanlah dengan urusan dirinya sendiri. Jadikanlah rencana jahatnya sebagai bumerang bagi dirinya. Jadikanlah persekongkolannya menghancurkan dirinya sendiri, wahai Tuhan Yang Maha Kuat dan Perkasa.Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin …  ==== Doa Penutup ====
Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 4 Shafar 1438 HOleh : Syekh Abdullah Bin Abdurahman Al-Bu’aijanPenerjemah : Usman HatimKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolongan-Nya dan ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan kejahatan perbuatan kami. Siapa yang Allah beri petunjuk, tidak akan ada orang yang menyesatkannya, dan siapa yang sesat jalan tidak akan ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Akupun bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [ آل عمران/102]“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada dengan sesungguhnya, dan janganlah kalian mati kecuali benar-benar sebagai orang-orang Islam (berserah diri)”.Qs Ali Imran : 102يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا [ النساء/1]“Wahai umat manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian yan telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu, dan menciptakan dari padanya pasangannya, lalu membiakkan dari keduanya lelaki dan wanita yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang kepadanNya kalian memohon, dan (jagalah) kekerabatan. Sesungguhnya Allah Maha mengawasi kalian”.Qs An-Nisa : 1يَاأيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا [ الأحزاب / 70-71]“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Dia memperbaiki amal perbuatan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Barangsiapa taat kepada Allah dan rasulNya, sungguh ia mendapatkan keberuntungan yang besar”.Qs Al-Ahzab : 70-71Selanjutnya .. Aku berpesan kepada kalian wahai saudara2ku untuk selalu bertakwa. Ketakwaan merupakan kebahagiaan di dunia dan kesentosaan di akhirat.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ [ الأنفال/29]“Wahai orang-orang yang beriman, jikalau kalian bertakwa kepada Allah, pastilah Allah akan menjadikan bagi kalian(kemampuan) membedakan (baik dan buruk), menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan mengampuni (dosa-dosa) kalian. Allah memiliki anugerah yang besar”.Qs Al-Anfal:29Wahai hamba Allah ! Allah memilih dan mengistimewakan nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- atas seluruh umat manusia dan makhluk. Allah –subhanahu wa ta’ala- mengutusnya sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagai penutup para nabi dan rasul kepada umat ini, sekaligus sebagai saksi, pemberi kabar gembira dan peringatan serta penyeru ke jalan Allah atas izin-Nya bagaikan lentera yang menerangi jalan.Allah memilihnya dari sebaik-baik garis keturunan di zaman dan tempat yang paling mulia. Allah membersihkannya dengan sifat dan akhlak paling sempurna, paling baik dan paling utama.Allah mengistimewakannya atas seluruh makhluk ciptaan-Nya; melapangkan dadanya, mengharumkan sebutan namanya, menghapus dosa-dosa yang membebaninya dan menyeleksinya dalam segala hal.Allah memilihnya dalam hal pemikirannya sebagaimana firmanNya:مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى [ النجم:2]“Tidaklah kawanmu (Muhammad) itu sesat dan tidak pula keliru”. Qs An-Najm:2Allah memilihnya dalam hal akal budinya sebagaimana firmanNya:وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ [ القلم / 4 ]“Dan sungguh engkau berakhlak yang agung”.Qs Al-Qalam:4Allah memilihnya dalam hal kesantunannya sebagaimana firmanNya:بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ [ التوبة/ 128 ]“Terhadap orang-orang mukmin dia amat penyantun dan penyayang”.Qs At-Taubah: 128Allah memilihnya dalam hal keilmuannya sebagaimana firmanNya :عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى [ النجم/ 5 ]” Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat”. Qs An-Najm : 5Allah memilihnya dalam hal kejujurannya sebagaimana firmanNya:وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى [ النجم/3 ]“Dan tidaklah ia (Muhammad) berucap dari hawa nafsunya”.Allah memilihnya dalam hal kelapangan hatinya sebagaimana firmanNya:أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ [ الشرح/1 ]“Tidakkah Kami melapangkan bagimu dadamu”.Allah memilihnya dalam hal kejernihan nuraninya sebagaimana firmanNya:مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى [ النجم/11]“Tidaklah dusta hati nurani terhadap apa yang dilihat”. Qs An-Najm : 11Allah memilihnya dalam hal sebutan namanya sebagaimana firmanNya:وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ [ الشرح/4 ]“Dan kami mengangkat untukmu sebutan namamu”.Allah memilihnya dan ridha kepadanya sebagaimana firmanNya:وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى [ الضحى/ 5 ]“Dan Tuhanmu pasti akan memberimu sehingga engkau ridha”.Allah –subhanahu wa ta’ala- menyejajarkan ketaatan dan kecintaan kepadaNya dengan ketaatan dan kecintaan kepada rasulNya. Maka untuk ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah hanyalah boleh dilakukan sesuai dengan yang Allah ajarkan melalui Nabi-Nya –shallallahu alaihi wa sallam-, karena untuk menuju surga hanyalah dengan menempuh jalur beliau.Meneladani nabi merupakan jalan untuk mendapatkan petunjuk (hidayah) dan keselamatan bagi seseorang. Beliau adalah pemilik syafaat terbesar pada hari dimana setiap orang lari dari saudaranya, ibunya, ayahnya, istrinya dan anak-anaknya.Sudah menjadi watak dasar dan akal sehat manusia bahwa kita mencintai seseorang yang akhlak dan sifat-sifatnya serba terpuji seperti itu.Porsi terbanyak dan terlengkap di antara sifat-sifat dan akhlak terpuji tersebut ada pada pribadi Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam-. Maka mencintai beliau merupakan keniscayaan yang mutlak adanya sebagai syarat sahnya keimanan seseorang. Firman Allah:قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ [آل عمران/ 31 ]“Katakanlah, jika kalian memang mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah cinta kepada kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian”. Qs Ali Imran: 31Firman Allah pula:قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ [ التوبة/ 24]“Jika memang ayah-ayahmu, anak-anak lelakimu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum kerabatmu, harta kekayaan yang kamu hasilkan, perniagaan yang kamu khawatir mengalami kerugian dan tempat tinggal yang menyenangkan hatimu, lebih kamu cintai dari pada Allah dan rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik”. Qs At-Taubah : 24Qadhi Iyadh –rahimahullah- berkata: Fakta demikian itu cukup menjadi motivasi, peringatan, indikasi dan argumentasi atas keniscayaan cinta, kemutlakan cinta dan besarnya arti cinta kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam – sebagai figur yang berhak dicintai.Itulah sebabnya, Allah –subhanahu wa ta’ala- memberi peringatan keras kepada orang yang lebih mencintai hartanya, istrinya dan anak-anaknya dari pada Allah dan rasul-Nya. Firman Allah:” ….  فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ …. ““ …. maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya ….”,lalu di penghujung ayat itu Allah menyatakan kefasikan pada orang tersebut dan menggolongkannya termasuk orang sesat jalan yang tidak terbimbing oleh petunjuk Allah.” …..  وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ  ““ ….. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik”.Disebutkan dalam Shahih Bukhari dari Abdullah Bin Hisyam –radhiyallahu anhu- berkata : “Kami pernah bersama Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- ketika beliau sedang menggandeng tangan Umar Bin Khattab –radhiyallahu anhu-, saat itu Umar berkata kepadanya : “Ya Rasulallah, sungguh engkau lebih aku cintai dari pada segalanya kecuali kepada diriku sendiri. Maka beliau mengatakan : “Tidak, demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, sampai aku lebih kamu cintai dari pada dirimu sendiri wahai Umar”. Maka Umar secara spontan (tanpa pikir panjang) menyatakan, “Sungguh sekarang demi Allah, Pastilah engkau lebih aku cintai dari pada diriku sendiri. Maka Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : “Nah, barulah sekarang ini wahai Umar”.Dari Anas –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ ” رواه البخاري“Tidaklah beriman seseorang di antara kamu hingga aku lebih dicintainya dari pada orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia”. HR Bukhari.Itu semua menjadi bukti nyata bahwa mencintai Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- merupakan prinsip keimanan dan kewajiban agama. Di sisi lain, membenci Nabi merupakan bukti kurangnya iman dan rusaknya keyakinan. Tegasnya, kesempurnaan cinta kepada Nabi identik dengan kesempurnaan keimanan, sedangkan kurangnya cinta kepada beliau merupakan bukti kurangnya keimanan.Para hamba Allah! Cinta kepada Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- merupakan ketaatan (ibadah) yang dapat mendekatkan diri seseorang kepada Allah, suatu cinta yang diikat dengan pengamalan syariat, cinta yang memiliki bukti dan indikasi yang memperlihatkan hakikat makna cinta yang sejati.مَنِ ادَّعَى مَحَبَّة الله وَلَمْ . . يَسِرْ عَلَى سُنَّةِ سَيّدِ الْأمَمِفَذَاكَ كَذَّابٌ أخُو مَلَاهِى . . كَذَّبَ دَعْوَاهُ كِتَاب اللهِ“Siapa gerangan yang mengaku cinta kepada Allah .. sedangkan dirinya tidak menjalankan sunnah Pemimpin umat manusia”.“Maka itulah pengakuan cinta palsu alias main-main .. itu identik dengan mendustakan Kitabullah “.Salah satu bukti cinta kepada Nabi yang paling dominan ialah mengikuti sunnah dan berpegang teguh pada petunjuk beliau. Sebab suatu cinta pastilah membawa konsekuensi keselarasan dan peneladanan. Firman Allah:قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ، وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ [آل عمران/ 31]“Katakanlah, jika kalian memang mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah cinta kepada kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun dan Penyayang”. Qs Ali Imran: 31Salah satu bukti cinta Nabi ialah menolongnya, membelanya dan menyampaikan sunnahnya. Firman Allah:إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا، لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا [ الفتح/8-9]“Sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira dan peringatan, agar kalian beriman kepada Allah dan rasul-Nya, menolong-Nya dan mengagungkan-Nya serta bertasbih kepada-Nya pagi dan petang”.Qs Al-Fath:8-9Para sahabat –radhiyallahu anhum- merupakan teladan paling ideal dalam hal kecintaan dan pemuliaan kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-. Kemurnian cinta mereka kepada beliau demikian menyentuh relung hati, mendominasi kalbu dan perasaan batin mereka. Lalu mereka terjemahkan rasa cinta itu ke dalam tutur kata dan perbuatan nyata, berikut mereka rela mengorbankan segala yang bernilai tinggi demi cinta itu.Ambil contoh Abu Thalhah Al-Anshari –radhiyallahu anhu- ketika perang Uhud menebarkan sarung tombaknya di hadapan Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- seraya berkata: “Ini wajahku kujadikan bumper pengaman wajahmu”.Ketika Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- memeriksa pasukan untuk melihat apa yang mereka lakukan, tiba-tiba Abi Thalha lapor : “Wahai Rasulallah, ayah dan bundaku aku pertaruhkan, jangan sampai engkau terkena sasaran anak panah pasukan perang, leherku ini menjadi pengaman lehermu”.Contoh lain, Abu Dujanah –radhiyallahu anhu- melindungi Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- dengan perisainya sehingga anak panah menancap pada punggungnya saat dirinya membungkuk sehingga punggunggnya penuh anak panah.Demikian pula Zaid Bin Datsinah –radhiyallahu anhu-ketika dinaikkan ke atas tiang kayu untuk disalib, saat diajukan pertanyaan kepadanya, “Berterus-teranglah wahai Zaid, apakah engkau lebih suka Muhammad di tempat kami ini yang engkau saksikan sendiri kami akan pancung lehernya dari pada engkau merasa aman dalam keluargamu?.Jawabnya, “Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, aku tidak menginginkan Muhammad di tempatnya sekarang ini tertusuk oleh satu duri pun yang menyakitinya sementara aku duduk santai di tengah keluargaku”. Semoga shalawat, salam dan keberkahan tercurah kepada Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- dan semoga Allah meridhai seluruh sahabat beliau yang mulia.Wahai hamba Allah! Contoh-contoh lainnya tentang biografi para generasi terdahulu cukup banyak. Kita berharap mudah-mudahan ada dari kalangan umat Islam sekarang ini contoh-contoh yang sejalan dengan itu. Semoga setiap muslim memiliki keteladanan yang cukup memadai dalam konteks tersebut.Termasuk bukti cinta Rasul ialah memperbanyak menyebutnya dengan doa shalawat dan salam kepadanya. Sebab, orang yang mencintai sesuatu pasti sering menyebutnya. Hal itu diperintahkan oleh Allah dalam firman-Nya:إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [ الأحزاب / 56 ]“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman sampaikanlah doa shalawat dan salam kepadanya dengan sesungguhnya”.Qs Al-Ahzab:56Diantara bukti cinta Rasul ialah berharap dapat melihat wajah beliau –shallallahu alaihi wa sallam- dan merindukan perjumpaan dengannya serta memohon kepada Allah agar mempertemukan dirinya dengannya dalam iman dan mengumpulkannya dengan kekasih-Nya dan nabi-Nya di tempat keabadian yang penuh rahmat.Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- bahwa Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا، نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي، يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ ““Di antara umatku yang paling mendalam cintanya kepadaku ialah orang-orang yang hidup sesudah aku, salah seorang di antara mereka menginginkan berjumpa denganku bersama keluarganya dan harta bendanya”.Termasuk bukti cinta Rasul ialah tidak bersikap ekstrem dalam mengikuti beliau. Sebab ekstremisme merupakan pelanggaran dan pemaksaan diri. Firman Allah:وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا [ الحشر/ 7 ]“Apapun yang dibawa oleh Rasul, terimalah (lakukanlah), dan apapun yang dilarang olehnya, tinggalkanlah”.Qs Al-Hasyr:7Diriwayatkan dari Umar Bin Alkhatab –radhiyallahu anhu- bahwa Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ “. رواه البخاري “Janganlah kalian mengultuskan aku seperti halnya kaum nasrani mengultuskan Isa putra Maryam. Aku hanyalah hamba Allah dan rasul-Nya”. HR BukhariDi antara bukti cinta Rasul ialah tekun membaca riwayat hidupnya untuk mengenalnya, sebab mencintainya mengandung konsekuensi keharusan mengenalnya, membaca sejarah perjalanan hidupnya untuk mengetahui sifat-sifat dan akhlaknya. Tidak mungkin terwujud kecintaan pada sesuatu yang tidak dikenal sama sekali, tidak mungkin ada upaya pembelaan dan melindungi sesuatu oleh seseorang yang tidak mengetahui dan mengenal hak-hak apa yang harus dibela dan dilindungi tersebut.    Binatang dan benda mati sekalipun, ketika mengenal Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- dapat memberikan keteladanan bagi kita untuk mencintai beliau. Pernah batang kurma merasa terharu dan rindu kepada beliau lalu menangis. Pernah ada sebuah batu memberi salam kepada beliau. Pernah gunung Uhud bergoyang untuk mengekspresikan rasa cinta dan penghargaannya kepada beliau. Pernah pula seekor Onta berebut (dengan sesamanya) untuk disembelih melalui tangan beliau. Sebagaimana pernah terjadi beliau menunjuk bulan, maka menjadi terbelah, kemudian menunjuk awan, maka terurailah awan itu. Semua itu terjadi atas izin Allah.Ya Allah, jadikanlah beliau penenang mata kami. Tanamlah kecintaan kepadanya di dalam lubuk hati kami. Jadikanlah kecintaan kami kepadanya lebih besar dari pada kecintaan kami kepada diri kami dan keluarga kami. Bimbinglah kami untuk melakukan sesuatu dalam koridor cinta kepadanya wahai Tuhan semesta alam.Aku sampaikan pesanku ini dengan memohon ampun kepada Allah … *****  Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikan-Nya. Ungkapan syukur tertuju kepada-Nya atas bimbingan dan anugerah-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya sebagai pengagungan terhadap urusan-Nya. Aku pun bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba-Nya dan rasul-Nya yang mengajak ke jalan yang diridhai-Nya. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah sebanyak-banyaknya kepadanya beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Kaum muslimin sekalian!Termasuk indikasi loyalitas dan kejujuran hati dalam mencintai Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- ialah mencintai pula apa saja yang dicintai oleh beliau. Sebab keselarasan batin seseorang dengan sang kekasih adalah bukti kejujuran cintanya kepada kekasihnya itu. Mencintai para istri Nabi – shallallahu alaihi wa sallam – dan mencintai para sahabat serta ahli bait beliau merupakan kewajiban dalam Islam yang terkait erat dengan cinta kepada Nabi sendiri, sekaligus merupakan hak yang tidak terpisahkan dari kewajiban meneladani beliau. Hal itu sebagai perwujudan dari tindakan dan ucapan beliau sendiri, yaitu: “Janganlah kalian mencaci maki para sahabatku”.Kaum muslimin sekalian!Cinta Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- sangat erat kaitannya dengan cinta kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- dan erat pula dengan wahyu dan syariat yang beliau sampaikan.Sungguh Allah –subhanahu wa ta’ala- memuliakan kota Mekah yang dipilih-Nya dan disebut dalam sumpah-Nya. Firman Allah :لَا أُقْسِمُ بِهَذَا الْبَلَدِ [ البلد/1]“Aku bersumpah dengan negeri ini”.Qs Albalad :1Allah memuliakannya dan menjadikannya sebagai area tempat turunnya wahyu sekaligus Kiblat bagi umat Islam, tempat ibadah haji mereka dan tumpuan hati mereka.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- mencintai kota Mekah dan tidak bisa menyembunyikan rasa cintanya itu dalam hati, bahkan beliau mengekspresikannya langsung. Tidak cukup sampai di situ, bahkan beliau pun bersumpah dan meneguhkan ucapannya. Beliau tidak mampu menahan perasaannya sehingga air mata beliau bercucuran, lalu beliau ungkapkan perasaan itu sementara air mata beliau terus berderai :” وَاللهِ إنَّكَ لَأحَبُّ الْبِقَاعِ إلَيَّ وَلَوْلَا أنِّي أخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ ““Demi Allah, sungguh engkau (wahai Mekah) tentu merupakan bumi yang paling aku cintai. Andaikan bukan karena aku dikeluarkan darimu, tentu aku tidak akan keluar”.Maka sudah sepantasnya kaum muslimin seluruhnya mengetahui kedudukan dan kemuliaan kota Mekah, dan seharusnya mereka bersatu padu menghadapi pihak yang hendak mengganggu kota Mekah. Namun yakinlah bahwa Baitullah itu ada Pemilik yang melindunginya.Sudah selayaknya kaum muslimin bangkit dan tergerak emosi mereka, hendaklah mereka spontan melompat ketika ada pihak yang mencoba merusak batas-batas kehormatannya dan menghalalkan pelarangannya serta melanggar kesuciannya.Kaum muslimin sekalian!Allah –subhanahu wa ta’ala- menetapkan kesucian kota Mekah secara permanen dan abadi. Allah –subhanahu wa ta’ala- melalui teks suci Al-Qur’an, menyatakan betapa besarnya tindak kejahatan orang yang menyerangnya. Firman Allah :“إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِي جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ ” [الحج/ 25 ] “Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalang-halangi (manusia) darijalan Allah dan Masjidil Haram yang telah Kami jadikan terbuka untuk semua manusia; yaitu orang yang menetap di sana dan pendatang dari luar. Barangsiapa yang bermaksud melakukan menyimpangan di dalamnya secara zalim, pasti Kami akan cicipkan kepadanya sebagian dari siksa yang pedih”.Qs Alhaj : 25Inilah spesialisasi kota suci Mekah, di mana seseorang pasti terhukum atas maksud jahatnya yang tersimpan dalam hati jika baru merencanakan, meskipun belum melakukan.Ibnu Mas’ud –radhiyallahu anhu- berkata : “Tidak ada seseorang yang bermaksud melakukan kejahatan lalu dicatat sebagai tindak kejahatan. Namun seandainya ada seseorang di Adan atau Abyan berencana membunuh seseorang di Baitullah (Ka’bah), pastilah Allah akan menghukumnya dengan siksa yang pedih”.Penyimpangan yang dimaksud dalam ayat bersifat umum meliputi segenap orang yang melakukan perbuatan zalim yang menyimpang dari kebenaran. Itulah sebabnya, maka pasukan bergajah ketika berencana hendak merobohkan Ka’bah, maka Allah mengirimkan kawanan burung untuk melempar mereka dengan batu panas dari sijil, sehingga membuat mereka hancur bagaikan dedaunan yang dimakan ulat.Disebutkan pula dalam Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim) dari hadis Aisyah –radhiyallahu anha- bahwa Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” يَغْزُو جَيْشٌ الكَعْبَةَ، فَإِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنَ الأَرْضِ، يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ““Ada satu regu tentara hendak menyerang Ka’bah, tiba-tiba mereka di suatu gurun terperosok ke dalam bumi mulai dari bagian depan sampai belakang”.Dari Abi Hurairah –radhiyallahu anhu- bahwa pada tahun penaklukan kota Mekah, Bani Khuza’ah membunuh seorang lelaki dari Bani Laits sebagai balasan atas seorang korban milik mereka yang dibunuhnya pada era Jahiliyah. Maka Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bangkit seraya berkata :” إِنَّ اللَّهَ حَبَسَ عَنْ مَكَّةَ الفِيلَ، وَسَلَّطَ عَلَيْهِمْ رَسُولَهُ وَالمُؤْمِنِينَ، أَلاَ وَإِنَّهَا لَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي، وَلاَ تَحِلُّ لِأَحَدٍ بَعْدِي، أَلاَ وَإِنَّمَا أُحِلَّتْ لِي سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، أَلاَ وَإِنَّهَا سَاعَتِي هَذِهِ حَرَامٌ، لاَ يُخْتَلَى شَوْكُهَا، وَلاَ يُعْضَدُ شَجَرُهَا، وَلاَ يَلْتَقِطُ سَاقِطَتَهَا إِلَّا مُنْشِدٌ ” متفق عليه“Sesungguhnya Allah telah menahan pasukan bergajah untuk menyerang Mekah, dan Allah memberikan kekuasaan kepada rasul-Nya dan kaum muslimin atas mereka. Ingatlah bahwa kota Mekah tidak halal bagi seorang pun(untuk mengganggunya) sebelum aku, dan tidak halal pula bagi seorang pun sesudah aku. Ingatlah, sungguh kota Mekah dihalalkan bagiku sesaat di siang hari. Ingatlah kota Mekah pada saat ini adalah haram (dimuliakan); durinya tidak boleh dicabut, pepohonannya tidak boleh ditebang dan barang temuannya tidak boleh dipungut, kecuali bagi yang hendak mengumumkan”. Muttafaq alaihi.Maka wahai hamba Allah !Kita tidak bertanggung jawab sebagai bentuk kutukan, laknat dan sumpah serapah terhadap segala percobaan dan penyerangan frustrasi terhadap induk segala negeri, Mekah, kota kesayangan Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-.Semoga Allah menjaganya dari serangan penyerang yang gegabah, pengkhianat yang jahat, setan yang terkutuk, pembandel yang tidak jelas kiprahnya, mereka hanyalah mengintai kesempatan untuk menghancurkan Islam. Semoga Allah membalikkan tipu muslihat mereka mengena diri mereka sendiri, memutus tindak lanjutnya dan menjadikan perbuatan mereka sebagai pelajaran bagi orang lain.Ya Allah lindungilah negeri ini dengan perlindungan-Mu. Jagalah negeri ini dengan penjagaan-Mu. Ya Allah, siapapun orangnya yang hendak melakukan makar terhadap negeri ini, sibukkanlah dengan urusan dirinya sendiri. Jadikanlah rencana jahatnya sebagai bumerang bagi dirinya. Jadikanlah persekongkolannya menghancurkan dirinya sendiri, wahai Tuhan Yang Maha Kuat dan Perkasa.Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin …  ==== Doa Penutup ====


Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 4 Shafar 1438 HOleh : Syekh Abdullah Bin Abdurahman Al-Bu’aijanPenerjemah : Usman HatimKhotbah PertamaSegala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolongan-Nya dan ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan kejahatan perbuatan kami. Siapa yang Allah beri petunjuk, tidak akan ada orang yang menyesatkannya, dan siapa yang sesat jalan tidak akan ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Akupun bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [ آل عمران/102]“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada dengan sesungguhnya, dan janganlah kalian mati kecuali benar-benar sebagai orang-orang Islam (berserah diri)”.Qs Ali Imran : 102يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا [ النساء/1]“Wahai umat manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian yan telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu, dan menciptakan dari padanya pasangannya, lalu membiakkan dari keduanya lelaki dan wanita yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang kepadanNya kalian memohon, dan (jagalah) kekerabatan. Sesungguhnya Allah Maha mengawasi kalian”.Qs An-Nisa : 1يَاأيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا [ الأحزاب / 70-71]“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Dia memperbaiki amal perbuatan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Barangsiapa taat kepada Allah dan rasulNya, sungguh ia mendapatkan keberuntungan yang besar”.Qs Al-Ahzab : 70-71Selanjutnya .. Aku berpesan kepada kalian wahai saudara2ku untuk selalu bertakwa. Ketakwaan merupakan kebahagiaan di dunia dan kesentosaan di akhirat.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ [ الأنفال/29]“Wahai orang-orang yang beriman, jikalau kalian bertakwa kepada Allah, pastilah Allah akan menjadikan bagi kalian(kemampuan) membedakan (baik dan buruk), menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan mengampuni (dosa-dosa) kalian. Allah memiliki anugerah yang besar”.Qs Al-Anfal:29Wahai hamba Allah ! Allah memilih dan mengistimewakan nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- atas seluruh umat manusia dan makhluk. Allah –subhanahu wa ta’ala- mengutusnya sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagai penutup para nabi dan rasul kepada umat ini, sekaligus sebagai saksi, pemberi kabar gembira dan peringatan serta penyeru ke jalan Allah atas izin-Nya bagaikan lentera yang menerangi jalan.Allah memilihnya dari sebaik-baik garis keturunan di zaman dan tempat yang paling mulia. Allah membersihkannya dengan sifat dan akhlak paling sempurna, paling baik dan paling utama.Allah mengistimewakannya atas seluruh makhluk ciptaan-Nya; melapangkan dadanya, mengharumkan sebutan namanya, menghapus dosa-dosa yang membebaninya dan menyeleksinya dalam segala hal.Allah memilihnya dalam hal pemikirannya sebagaimana firmanNya:مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى [ النجم:2]“Tidaklah kawanmu (Muhammad) itu sesat dan tidak pula keliru”. Qs An-Najm:2Allah memilihnya dalam hal akal budinya sebagaimana firmanNya:وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ [ القلم / 4 ]“Dan sungguh engkau berakhlak yang agung”.Qs Al-Qalam:4Allah memilihnya dalam hal kesantunannya sebagaimana firmanNya:بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ [ التوبة/ 128 ]“Terhadap orang-orang mukmin dia amat penyantun dan penyayang”.Qs At-Taubah: 128Allah memilihnya dalam hal keilmuannya sebagaimana firmanNya :عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى [ النجم/ 5 ]” Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat”. Qs An-Najm : 5Allah memilihnya dalam hal kejujurannya sebagaimana firmanNya:وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى [ النجم/3 ]“Dan tidaklah ia (Muhammad) berucap dari hawa nafsunya”.Allah memilihnya dalam hal kelapangan hatinya sebagaimana firmanNya:أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ [ الشرح/1 ]“Tidakkah Kami melapangkan bagimu dadamu”.Allah memilihnya dalam hal kejernihan nuraninya sebagaimana firmanNya:مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى [ النجم/11]“Tidaklah dusta hati nurani terhadap apa yang dilihat”. Qs An-Najm : 11Allah memilihnya dalam hal sebutan namanya sebagaimana firmanNya:وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ [ الشرح/4 ]“Dan kami mengangkat untukmu sebutan namamu”.Allah memilihnya dan ridha kepadanya sebagaimana firmanNya:وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى [ الضحى/ 5 ]“Dan Tuhanmu pasti akan memberimu sehingga engkau ridha”.Allah –subhanahu wa ta’ala- menyejajarkan ketaatan dan kecintaan kepadaNya dengan ketaatan dan kecintaan kepada rasulNya. Maka untuk ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah hanyalah boleh dilakukan sesuai dengan yang Allah ajarkan melalui Nabi-Nya –shallallahu alaihi wa sallam-, karena untuk menuju surga hanyalah dengan menempuh jalur beliau.Meneladani nabi merupakan jalan untuk mendapatkan petunjuk (hidayah) dan keselamatan bagi seseorang. Beliau adalah pemilik syafaat terbesar pada hari dimana setiap orang lari dari saudaranya, ibunya, ayahnya, istrinya dan anak-anaknya.Sudah menjadi watak dasar dan akal sehat manusia bahwa kita mencintai seseorang yang akhlak dan sifat-sifatnya serba terpuji seperti itu.Porsi terbanyak dan terlengkap di antara sifat-sifat dan akhlak terpuji tersebut ada pada pribadi Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam-. Maka mencintai beliau merupakan keniscayaan yang mutlak adanya sebagai syarat sahnya keimanan seseorang. Firman Allah:قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ [آل عمران/ 31 ]“Katakanlah, jika kalian memang mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah cinta kepada kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian”. Qs Ali Imran: 31Firman Allah pula:قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ [ التوبة/ 24]“Jika memang ayah-ayahmu, anak-anak lelakimu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum kerabatmu, harta kekayaan yang kamu hasilkan, perniagaan yang kamu khawatir mengalami kerugian dan tempat tinggal yang menyenangkan hatimu, lebih kamu cintai dari pada Allah dan rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik”. Qs At-Taubah : 24Qadhi Iyadh –rahimahullah- berkata: Fakta demikian itu cukup menjadi motivasi, peringatan, indikasi dan argumentasi atas keniscayaan cinta, kemutlakan cinta dan besarnya arti cinta kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam – sebagai figur yang berhak dicintai.Itulah sebabnya, Allah –subhanahu wa ta’ala- memberi peringatan keras kepada orang yang lebih mencintai hartanya, istrinya dan anak-anaknya dari pada Allah dan rasul-Nya. Firman Allah:” ….  فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ …. ““ …. maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya ….”,lalu di penghujung ayat itu Allah menyatakan kefasikan pada orang tersebut dan menggolongkannya termasuk orang sesat jalan yang tidak terbimbing oleh petunjuk Allah.” …..  وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ  ““ ….. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik”.Disebutkan dalam Shahih Bukhari dari Abdullah Bin Hisyam –radhiyallahu anhu- berkata : “Kami pernah bersama Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- ketika beliau sedang menggandeng tangan Umar Bin Khattab –radhiyallahu anhu-, saat itu Umar berkata kepadanya : “Ya Rasulallah, sungguh engkau lebih aku cintai dari pada segalanya kecuali kepada diriku sendiri. Maka beliau mengatakan : “Tidak, demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, sampai aku lebih kamu cintai dari pada dirimu sendiri wahai Umar”. Maka Umar secara spontan (tanpa pikir panjang) menyatakan, “Sungguh sekarang demi Allah, Pastilah engkau lebih aku cintai dari pada diriku sendiri. Maka Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda : “Nah, barulah sekarang ini wahai Umar”.Dari Anas –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ ” رواه البخاري“Tidaklah beriman seseorang di antara kamu hingga aku lebih dicintainya dari pada orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia”. HR Bukhari.Itu semua menjadi bukti nyata bahwa mencintai Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- merupakan prinsip keimanan dan kewajiban agama. Di sisi lain, membenci Nabi merupakan bukti kurangnya iman dan rusaknya keyakinan. Tegasnya, kesempurnaan cinta kepada Nabi identik dengan kesempurnaan keimanan, sedangkan kurangnya cinta kepada beliau merupakan bukti kurangnya keimanan.Para hamba Allah! Cinta kepada Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- merupakan ketaatan (ibadah) yang dapat mendekatkan diri seseorang kepada Allah, suatu cinta yang diikat dengan pengamalan syariat, cinta yang memiliki bukti dan indikasi yang memperlihatkan hakikat makna cinta yang sejati.مَنِ ادَّعَى مَحَبَّة الله وَلَمْ . . يَسِرْ عَلَى سُنَّةِ سَيّدِ الْأمَمِفَذَاكَ كَذَّابٌ أخُو مَلَاهِى . . كَذَّبَ دَعْوَاهُ كِتَاب اللهِ“Siapa gerangan yang mengaku cinta kepada Allah .. sedangkan dirinya tidak menjalankan sunnah Pemimpin umat manusia”.“Maka itulah pengakuan cinta palsu alias main-main .. itu identik dengan mendustakan Kitabullah “.Salah satu bukti cinta kepada Nabi yang paling dominan ialah mengikuti sunnah dan berpegang teguh pada petunjuk beliau. Sebab suatu cinta pastilah membawa konsekuensi keselarasan dan peneladanan. Firman Allah:قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ، وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ [آل عمران/ 31]“Katakanlah, jika kalian memang mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah cinta kepada kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun dan Penyayang”. Qs Ali Imran: 31Salah satu bukti cinta Nabi ialah menolongnya, membelanya dan menyampaikan sunnahnya. Firman Allah:إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا، لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا [ الفتح/8-9]“Sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira dan peringatan, agar kalian beriman kepada Allah dan rasul-Nya, menolong-Nya dan mengagungkan-Nya serta bertasbih kepada-Nya pagi dan petang”.Qs Al-Fath:8-9Para sahabat –radhiyallahu anhum- merupakan teladan paling ideal dalam hal kecintaan dan pemuliaan kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-. Kemurnian cinta mereka kepada beliau demikian menyentuh relung hati, mendominasi kalbu dan perasaan batin mereka. Lalu mereka terjemahkan rasa cinta itu ke dalam tutur kata dan perbuatan nyata, berikut mereka rela mengorbankan segala yang bernilai tinggi demi cinta itu.Ambil contoh Abu Thalhah Al-Anshari –radhiyallahu anhu- ketika perang Uhud menebarkan sarung tombaknya di hadapan Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- seraya berkata: “Ini wajahku kujadikan bumper pengaman wajahmu”.Ketika Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- memeriksa pasukan untuk melihat apa yang mereka lakukan, tiba-tiba Abi Thalha lapor : “Wahai Rasulallah, ayah dan bundaku aku pertaruhkan, jangan sampai engkau terkena sasaran anak panah pasukan perang, leherku ini menjadi pengaman lehermu”.Contoh lain, Abu Dujanah –radhiyallahu anhu- melindungi Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- dengan perisainya sehingga anak panah menancap pada punggungnya saat dirinya membungkuk sehingga punggunggnya penuh anak panah.Demikian pula Zaid Bin Datsinah –radhiyallahu anhu-ketika dinaikkan ke atas tiang kayu untuk disalib, saat diajukan pertanyaan kepadanya, “Berterus-teranglah wahai Zaid, apakah engkau lebih suka Muhammad di tempat kami ini yang engkau saksikan sendiri kami akan pancung lehernya dari pada engkau merasa aman dalam keluargamu?.Jawabnya, “Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, aku tidak menginginkan Muhammad di tempatnya sekarang ini tertusuk oleh satu duri pun yang menyakitinya sementara aku duduk santai di tengah keluargaku”. Semoga shalawat, salam dan keberkahan tercurah kepada Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- dan semoga Allah meridhai seluruh sahabat beliau yang mulia.Wahai hamba Allah! Contoh-contoh lainnya tentang biografi para generasi terdahulu cukup banyak. Kita berharap mudah-mudahan ada dari kalangan umat Islam sekarang ini contoh-contoh yang sejalan dengan itu. Semoga setiap muslim memiliki keteladanan yang cukup memadai dalam konteks tersebut.Termasuk bukti cinta Rasul ialah memperbanyak menyebutnya dengan doa shalawat dan salam kepadanya. Sebab, orang yang mencintai sesuatu pasti sering menyebutnya. Hal itu diperintahkan oleh Allah dalam firman-Nya:إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [ الأحزاب / 56 ]“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman sampaikanlah doa shalawat dan salam kepadanya dengan sesungguhnya”.Qs Al-Ahzab:56Diantara bukti cinta Rasul ialah berharap dapat melihat wajah beliau –shallallahu alaihi wa sallam- dan merindukan perjumpaan dengannya serta memohon kepada Allah agar mempertemukan dirinya dengannya dalam iman dan mengumpulkannya dengan kekasih-Nya dan nabi-Nya di tempat keabadian yang penuh rahmat.Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- bahwa Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا، نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي، يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ ““Di antara umatku yang paling mendalam cintanya kepadaku ialah orang-orang yang hidup sesudah aku, salah seorang di antara mereka menginginkan berjumpa denganku bersama keluarganya dan harta bendanya”.Termasuk bukti cinta Rasul ialah tidak bersikap ekstrem dalam mengikuti beliau. Sebab ekstremisme merupakan pelanggaran dan pemaksaan diri. Firman Allah:وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا [ الحشر/ 7 ]“Apapun yang dibawa oleh Rasul, terimalah (lakukanlah), dan apapun yang dilarang olehnya, tinggalkanlah”.Qs Al-Hasyr:7Diriwayatkan dari Umar Bin Alkhatab –radhiyallahu anhu- bahwa Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ “. رواه البخاري “Janganlah kalian mengultuskan aku seperti halnya kaum nasrani mengultuskan Isa putra Maryam. Aku hanyalah hamba Allah dan rasul-Nya”. HR BukhariDi antara bukti cinta Rasul ialah tekun membaca riwayat hidupnya untuk mengenalnya, sebab mencintainya mengandung konsekuensi keharusan mengenalnya, membaca sejarah perjalanan hidupnya untuk mengetahui sifat-sifat dan akhlaknya. Tidak mungkin terwujud kecintaan pada sesuatu yang tidak dikenal sama sekali, tidak mungkin ada upaya pembelaan dan melindungi sesuatu oleh seseorang yang tidak mengetahui dan mengenal hak-hak apa yang harus dibela dan dilindungi tersebut.    Binatang dan benda mati sekalipun, ketika mengenal Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- dapat memberikan keteladanan bagi kita untuk mencintai beliau. Pernah batang kurma merasa terharu dan rindu kepada beliau lalu menangis. Pernah ada sebuah batu memberi salam kepada beliau. Pernah gunung Uhud bergoyang untuk mengekspresikan rasa cinta dan penghargaannya kepada beliau. Pernah pula seekor Onta berebut (dengan sesamanya) untuk disembelih melalui tangan beliau. Sebagaimana pernah terjadi beliau menunjuk bulan, maka menjadi terbelah, kemudian menunjuk awan, maka terurailah awan itu. Semua itu terjadi atas izin Allah.Ya Allah, jadikanlah beliau penenang mata kami. Tanamlah kecintaan kepadanya di dalam lubuk hati kami. Jadikanlah kecintaan kami kepadanya lebih besar dari pada kecintaan kami kepada diri kami dan keluarga kami. Bimbinglah kami untuk melakukan sesuatu dalam koridor cinta kepadanya wahai Tuhan semesta alam.Aku sampaikan pesanku ini dengan memohon ampun kepada Allah … *****  Khotbah KeduaSegala puji bagi Allah atas kebaikan-Nya. Ungkapan syukur tertuju kepada-Nya atas bimbingan dan anugerah-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya sebagai pengagungan terhadap urusan-Nya. Aku pun bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- adalah hamba-Nya dan rasul-Nya yang mengajak ke jalan yang diridhai-Nya. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah sebanyak-banyaknya kepadanya beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.Kaum muslimin sekalian!Termasuk indikasi loyalitas dan kejujuran hati dalam mencintai Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- ialah mencintai pula apa saja yang dicintai oleh beliau. Sebab keselarasan batin seseorang dengan sang kekasih adalah bukti kejujuran cintanya kepada kekasihnya itu. Mencintai para istri Nabi – shallallahu alaihi wa sallam – dan mencintai para sahabat serta ahli bait beliau merupakan kewajiban dalam Islam yang terkait erat dengan cinta kepada Nabi sendiri, sekaligus merupakan hak yang tidak terpisahkan dari kewajiban meneladani beliau. Hal itu sebagai perwujudan dari tindakan dan ucapan beliau sendiri, yaitu: “Janganlah kalian mencaci maki para sahabatku”.Kaum muslimin sekalian!Cinta Rasul –shallallahu alaihi wa sallam- sangat erat kaitannya dengan cinta kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- dan erat pula dengan wahyu dan syariat yang beliau sampaikan.Sungguh Allah –subhanahu wa ta’ala- memuliakan kota Mekah yang dipilih-Nya dan disebut dalam sumpah-Nya. Firman Allah :لَا أُقْسِمُ بِهَذَا الْبَلَدِ [ البلد/1]“Aku bersumpah dengan negeri ini”.Qs Albalad :1Allah memuliakannya dan menjadikannya sebagai area tempat turunnya wahyu sekaligus Kiblat bagi umat Islam, tempat ibadah haji mereka dan tumpuan hati mereka.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- mencintai kota Mekah dan tidak bisa menyembunyikan rasa cintanya itu dalam hati, bahkan beliau mengekspresikannya langsung. Tidak cukup sampai di situ, bahkan beliau pun bersumpah dan meneguhkan ucapannya. Beliau tidak mampu menahan perasaannya sehingga air mata beliau bercucuran, lalu beliau ungkapkan perasaan itu sementara air mata beliau terus berderai :” وَاللهِ إنَّكَ لَأحَبُّ الْبِقَاعِ إلَيَّ وَلَوْلَا أنِّي أخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ ““Demi Allah, sungguh engkau (wahai Mekah) tentu merupakan bumi yang paling aku cintai. Andaikan bukan karena aku dikeluarkan darimu, tentu aku tidak akan keluar”.Maka sudah sepantasnya kaum muslimin seluruhnya mengetahui kedudukan dan kemuliaan kota Mekah, dan seharusnya mereka bersatu padu menghadapi pihak yang hendak mengganggu kota Mekah. Namun yakinlah bahwa Baitullah itu ada Pemilik yang melindunginya.Sudah selayaknya kaum muslimin bangkit dan tergerak emosi mereka, hendaklah mereka spontan melompat ketika ada pihak yang mencoba merusak batas-batas kehormatannya dan menghalalkan pelarangannya serta melanggar kesuciannya.Kaum muslimin sekalian!Allah –subhanahu wa ta’ala- menetapkan kesucian kota Mekah secara permanen dan abadi. Allah –subhanahu wa ta’ala- melalui teks suci Al-Qur’an, menyatakan betapa besarnya tindak kejahatan orang yang menyerangnya. Firman Allah :“إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِي جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ ” [الحج/ 25 ] “Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalang-halangi (manusia) darijalan Allah dan Masjidil Haram yang telah Kami jadikan terbuka untuk semua manusia; yaitu orang yang menetap di sana dan pendatang dari luar. Barangsiapa yang bermaksud melakukan menyimpangan di dalamnya secara zalim, pasti Kami akan cicipkan kepadanya sebagian dari siksa yang pedih”.Qs Alhaj : 25Inilah spesialisasi kota suci Mekah, di mana seseorang pasti terhukum atas maksud jahatnya yang tersimpan dalam hati jika baru merencanakan, meskipun belum melakukan.Ibnu Mas’ud –radhiyallahu anhu- berkata : “Tidak ada seseorang yang bermaksud melakukan kejahatan lalu dicatat sebagai tindak kejahatan. Namun seandainya ada seseorang di Adan atau Abyan berencana membunuh seseorang di Baitullah (Ka’bah), pastilah Allah akan menghukumnya dengan siksa yang pedih”.Penyimpangan yang dimaksud dalam ayat bersifat umum meliputi segenap orang yang melakukan perbuatan zalim yang menyimpang dari kebenaran. Itulah sebabnya, maka pasukan bergajah ketika berencana hendak merobohkan Ka’bah, maka Allah mengirimkan kawanan burung untuk melempar mereka dengan batu panas dari sijil, sehingga membuat mereka hancur bagaikan dedaunan yang dimakan ulat.Disebutkan pula dalam Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim) dari hadis Aisyah –radhiyallahu anha- bahwa Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” يَغْزُو جَيْشٌ الكَعْبَةَ، فَإِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنَ الأَرْضِ، يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ““Ada satu regu tentara hendak menyerang Ka’bah, tiba-tiba mereka di suatu gurun terperosok ke dalam bumi mulai dari bagian depan sampai belakang”.Dari Abi Hurairah –radhiyallahu anhu- bahwa pada tahun penaklukan kota Mekah, Bani Khuza’ah membunuh seorang lelaki dari Bani Laits sebagai balasan atas seorang korban milik mereka yang dibunuhnya pada era Jahiliyah. Maka Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bangkit seraya berkata :” إِنَّ اللَّهَ حَبَسَ عَنْ مَكَّةَ الفِيلَ، وَسَلَّطَ عَلَيْهِمْ رَسُولَهُ وَالمُؤْمِنِينَ، أَلاَ وَإِنَّهَا لَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي، وَلاَ تَحِلُّ لِأَحَدٍ بَعْدِي، أَلاَ وَإِنَّمَا أُحِلَّتْ لِي سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، أَلاَ وَإِنَّهَا سَاعَتِي هَذِهِ حَرَامٌ، لاَ يُخْتَلَى شَوْكُهَا، وَلاَ يُعْضَدُ شَجَرُهَا، وَلاَ يَلْتَقِطُ سَاقِطَتَهَا إِلَّا مُنْشِدٌ ” متفق عليه“Sesungguhnya Allah telah menahan pasukan bergajah untuk menyerang Mekah, dan Allah memberikan kekuasaan kepada rasul-Nya dan kaum muslimin atas mereka. Ingatlah bahwa kota Mekah tidak halal bagi seorang pun(untuk mengganggunya) sebelum aku, dan tidak halal pula bagi seorang pun sesudah aku. Ingatlah, sungguh kota Mekah dihalalkan bagiku sesaat di siang hari. Ingatlah kota Mekah pada saat ini adalah haram (dimuliakan); durinya tidak boleh dicabut, pepohonannya tidak boleh ditebang dan barang temuannya tidak boleh dipungut, kecuali bagi yang hendak mengumumkan”. Muttafaq alaihi.Maka wahai hamba Allah !Kita tidak bertanggung jawab sebagai bentuk kutukan, laknat dan sumpah serapah terhadap segala percobaan dan penyerangan frustrasi terhadap induk segala negeri, Mekah, kota kesayangan Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-.Semoga Allah menjaganya dari serangan penyerang yang gegabah, pengkhianat yang jahat, setan yang terkutuk, pembandel yang tidak jelas kiprahnya, mereka hanyalah mengintai kesempatan untuk menghancurkan Islam. Semoga Allah membalikkan tipu muslihat mereka mengena diri mereka sendiri, memutus tindak lanjutnya dan menjadikan perbuatan mereka sebagai pelajaran bagi orang lain.Ya Allah lindungilah negeri ini dengan perlindungan-Mu. Jagalah negeri ini dengan penjagaan-Mu. Ya Allah, siapapun orangnya yang hendak melakukan makar terhadap negeri ini, sibukkanlah dengan urusan dirinya sendiri. Jadikanlah rencana jahatnya sebagai bumerang bagi dirinya. Jadikanlah persekongkolannya menghancurkan dirinya sendiri, wahai Tuhan Yang Maha Kuat dan Perkasa.Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin …  ==== Doa Penutup ====

Menyikapi Isu atau Rumor

Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 27 Muharam 1438 HOleh : Syekh Abdul Bari At-TsubaitiKhotbah PertamaSelanjutnya . . Islam mendidik seorang muslim berdasarkan nilai-nilai filosofis, hukum, norma dan etika Islam untuk mengentaskannya ke puncak cita-cita dan kemuliaan rasa empati yang membuat kehidupannya terangkat, tujuannya semakin mantap, sepak terjangnya konstruktif dan efektif, sehingga menjadi pribadi yang istimewa dan terselamatkan dari berbagai isu murahan. Semua dihadapinya dengan kerja serius, penuh aspirasi untuk mengembangkan usianya ( waktu-nya) dengan membangun, berprestasi dan memberikan sumbangsih. Rambu-rambu ini tidak akan pernah berubah meskipun zaman dan ruang waktu mengalami perubahan.Seorang muslim tidak akan bergeser dari nilai-nilai luhur tersebut, kendatipun menghadapi berbagai macam sarana dan teknologi serba canggih masa kini. Umar Bin Abdul Aziz –rahimahullah anhu- berkata :“إنَّ لِى نَفْسًا تَوَّاقَة ، مَا نَالَتْ شَيْئًا إلَّا اشْتَهَتْ مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ ،اشْتَهَيْتُ الْإمَارَةَ فَلَمَّا نِلْتُهَا اشْتَهَيْتُ الْخِلَافَةَ ، فَلَمَّا نِلْتُهَا اشْتَهَيْتُ مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْهَا ، وَهُوَ الْجَنَّةُ ، وَأرْجُوْ أنْ أنَالَهَا ““Jiwaku ini demikian menggelora. Jika mendapatkan sesuatu, pastilah menginginkan yang lebih baik lagi; Aku pernah menginginkan kekuasaan imarah (Jabatan Gubernur), ketika keinginan itu terwujud, akupun menginginkan kekuasaan tingkat khilafah (Kepala Negara), namun ketika jabatan Kepala Negara itu telah aku dapatkan, ternyata aku lagi-lagi ingin memperoleh yang lebih baik dari itu semua, yaitu surga yang tentu aku mendambakannya”.Islam menggembleng perilaku muslim untuk tidak ikut campur dalam isu-isu murahan dan desas-desus rendahan dalam rangka mencapai tujuan mulia dan cita-cita luhur. Islam mengaitkan perilaku itu dengan sikap penghambaan kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- yang merupakan klimaks kedudukan paling agung yang menjadi tujuan seorang muslim, yang menjadi mercusuar perjalanannya, poros sepak terjangnya dan titik tolak pemikirannya.Sedangkan isu-isu dan desas-desus itu akan memalingkan dirinya dari segala urusan yang bernilai tinggi, akan membunuh jiwa tanggung-jawabnya dan akan melemahkan etos kerjanya, sehingga sulit diharapkan manfaatnya, selain tidak terjaminnya daya tangkal terhadap mara bahaya.Jiwa yang telah keluar dari norma-norma dan tujuan mulianya pastilah merosot sehingga seluruh waktunya sia-sia,hari-harinya menjadi kacau, kewajiban-kewajibannya terabaikan, martabatnya hancur luluh dan peri kehidupannya menjadi hampa tidak bermutu.Semangat seseorang menjadi layu, manakala dirinya tenggelam dalam urusan-urusan sepele yang menyita banyak perhatian. Antara lain; mendokumentasikan berita-berita yang tidak jelas sumbernya dan mengoleksi kata-kata keji dalam bentuk video klip murahan, lalu menyiarkannya melalui sosial media semata-mata ingin mendapatkan popularitas semu dan peliputan kejadian yang tidak bermakna.Bahkan akan membahayakan, bukan memberi manfaat; merusak, bukan membangun; mencoreng rekam jejak pelakunya dan memperlihatkan skandal dirinya, manakala seseorang tampil dalam pakaian yang nista, tutur kata yang kotor dan perilaku yang memalukan, atau ketika dirinya dalam posisi yang menghinakan di mata orang-orang bijak, yang amat menjijikkan dalam pandangan orang-orang bermartabat. Maka dalam kondisi demikian, berarti seseorang melakukan pelecehan terhadap agamanya, tanah airnya dan bangsanya sendiri.Bergelimang dalam berita-berita murahan itu dapat menurunkan akhlak, mengurangi akal pikiran, mengekspresikan kebodohan dalam memahami kehidupan, kedangkalan pola pikir dan ketertinggalan dari gerak laju ilmu pengetahuan, selain dapat mematikan kemauan dan memperlemah pertumbuhan. Tidak samar lagi bagi orang-orang yang cerdas berbagai macam kerusakan sosial dan rumah tangga yang ditimbulkan oleh berita-berita murahan itu.Orang yang pikirannya anjlok karena mengurusi berita-berita murahan itu, telah memuja-muja hawa nafsunya, melecehkan lambang-lambang kebesaran Allah, mengotori hatinya dengan berbagai perbuatan maksiat, mengendur semangatnya karena dosa, lalu tumbang fitrah-nya.Tidak asing lagi bagi orang yang berakal sehat bahwa penyebab keterpurukan dan kenistaan suatu bangsa dalam pandangan Allah dan penilaian sesama manusia adalah pelanggaran terhadap batas-batas yang harus dihormati. Firman Allah :ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ  [ الحج/30 ]“Demikianlah, barangsiapa mengagungkan lambang-lambang yang dimuliakan Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya”. Qs Alhaj : 30Firman Allah :ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ [ الحج/32 ]“Demikianlah (perintah Allah), barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar (lambang-lambang kebesaran) Allah, maka sesungguhnya itu pertanda ketakwaan hati”.Qs Alhaj : 32Tunduk dan menyerah kepada berita-berita bohong dan gunjingan yang tidak bermutu akan melahirkan sikap acuh tak acuh terhadap orang lain dan sikap suka mempertontonkan kebolehan diri yang dapat mematikan rasa malu. Itulah sikap yang dilarang oleh Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- dalam sabdanya :” كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ “رواه البخاري“Seluruh umatku akan diampuni dosanya kecuali orang-orang yang mempertontonkan kemaksiatannya. Termasuk di antaranya ialah seseorang yang telah melakukan perbuatan dosa di malam hari, dan Allah telah menutupi skandalnya itu. Namun keesokan harinya ia lalu berkata : ‘Wahai Si A, semalam aku telah melakukan ini dan itu’, padahal semalam Allah telah menutupi skandalnya, tetapi dirinya sendiri di pagi hari yang membongkar apa yang telah dirahasiakan oleh Allah itu”. HR Bukhari.     Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha menutup aib; Dia menutup aib hambaNya pada hari kiamat. Kebaikan itu Allah berikan bagi orang yang berbuat dosa selama orang tersebut tidak membeberkan aibnya sendiri. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُولُ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا فَيَقُولُ نَعَمْ أَيْ رَبِّ حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ قَالَ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ ” رواه البخاري ومسلم“Sesungguhnya Allah akan mendekatkan seorang mukmin, lalu meletakkan tiraiNya padanya dan menutupinya. Lalu bertanya: “Apakah engkau mengetahui dosa(mu) ini, apakah engkau mengetahui dosa(mu) ini?”. Orang mukmin itu menjawab : “Ya, wahai Tuhanku”. Sehingga, ketika Allah telah membuat orang mukmin itu mengakui dosa-dosanya, dan orang tersebut melihat dirinya pasti celaka, Allah pun berfirman: “Aku telah menutupinya bagimu di dunia, dan sekarang Aku menghapusnya untukmu pada hari kiamat ini”. Sesudah itu, buku catatan kebaikannya diberikan kepadanya. HR Bukhari.     Menaruh perhatian terhadap rumor murahan dan mengikuti langkah orang-orang yang suka memasarkannya dapat mendorong kita menyematkan rambu-rambu ketenaran di pundak mereka yang membuat mereka percaya diri untuk tampil di panggung, padahal mereka itu kerdil; dapat memotivasi mereka menjadi populer lantaran promosi yang kita lakukan terhadap sepak terjang mereka yang memalukan dan prestasi mereka yang rendahan; memperluas kesempatan bagi mereka untuk merusak cita rasa masyarakat luas serta menghancurkan nilai-nilai moral dan memalingkan perhatian orang banyak dari upaya-upaya memajukan diri di bidang pembangunan.     Yang lebih parah lagi ialah manakala kaum pembual murahan itu terbuai oleh popularitas diri mereka lalu berani memasuki persoalan-persoalan yang bukan bidang mereka, kemudian berbicara tentang ilmu yang bukan kapasitas mereka; Di antara mereka ada yang memberi fatwa tentang hukum syara’ dan agama berdasarkan ketidaktahuan dan kemauan hawa nafsunya; ada yang memandang remeh dan melecehkan ketentuan hukum berhijab (bagi wanita); ada yang mencemooh hukum dan ajaran Islam; ada yang suka mengoyak harga diri pejabat pemerintahan; dan ada pula yang meremehkan peran ulama’ para dai dan penuntut Ilmu. Ada peribahasa kuno yang menyatakan :” إذَا خَرَجَ الماَءُ مِنَ الإنَـاءِ مَلَأهُ الْهَـوَاءُ ““Jika suatu tempayan kosong dari air, maka akan dipenuhi udara hampa”.     Siapa saja yang mengikuti berita-berita murahan bersama orang-orang yang suka memasarkannya, akan merusak hari-harinya dengan perdebatan yang dapat mengurangi keimanannya dan melumpuhkan semangatnya. Gara-gara penyebaran rumor dan kabar burung itu, moral seseorang menjadi rusak.Masyarakat akan terkena imbas dari penyebaran gunjingan dan kedustaan yang juga dapat menggoyahkan keamanan mereka. Sudah berapa banyak desas-desus dan kabar burung menimbulkan perpecahan yang sulit dirajut kembali, dan permusuhan yang sukar didamaikan.     Mencintai popularitas merupakan penyakit terselubung. Jika penyakit itu telah menguasai pola pikir seseorang, akan menyeretnya untuk membenarkan segala cara dan melampaui setiap nilai luhur akibat hatinya telah tertutup oleh kabut egoisme sehingga tidak mampu lagi melihat  kebaikan dan secercah cahaya kebenaran. Itulah sebabnya, Islam mewanti-wanti untuk tidak terjebak dalam memburu popularitas dan gaya hidup mentereng yang hanya disandang oleh orang-orang yang jiwanya sakit lantaran suka memamerkan diri yang dapat menghapus pahala amal kebajikan dalam sorotan neraca syariat. Dalam konteks ini, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” مَنْ لَبِسَ ثوْبَ شُهْرَة ألبَسَهُ اللهُ ثَوْبَ مَذَلّةٍ ” رواه ابن ماجة“Barangsiapa yang mengenakan pakaian kesombongan, maka Allah akan mengenakan pakaian kehinaan”. HR Ibnu Majah” قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  لَا شَرِيْكَ لَه”[ الأنعام / 162 ]“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. Qs Al-An’am :162Pastilah orang yang sibuk mengurusi berita-berita murahan itu akan sadar di belakang hari, sementara orang-orang yang (nasibnya) beruntung telah terselamatkan dari padanya, juga orang-orang yang berpikir serius telah meninggalkannya dan orang-orang yang bekerja keras telah terbebas darinya. Saat itulah orang yang termakan isu akan gigit jari penyesalan ketika sadar bahwa dirinya benar-benar tertidur pulas dan terlena dalam fata morgana. Maka ditinggalkannya posisi itu, sementara dirinya telah terjatuh oleh kebodohannya sendiri, semangatnya terperosok dan hilanglah sudah kesempatan. Namun apa boleh dikata jika nasi telah menjadi bubur.Seorang muslim adalah pengemban misi dalam hidupnya. Maka seyogianya menghindar dari lumpur persoalan-persoalan yang tidak bermutu itu, berbekal dengan semangat tinggi dan mencurahkan seluruh usianya untuk meraih ridha Ilahi, memberikan manfaat bagi agamanya, tanah airnya dan bangsanya, melalui ilmu yang bermanfaat dan amal kebajikan.Islam telah menyampaikan pesan-pesannya yang demikian komprehensif dalam upaya melindungi masyarakat dari dampak buruk perilaku yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar akhlak mulia. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :“إِنَّ اللهَ كَرِيْمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ وَمَعَالِيَ اْلأَخْلاَقِ وَيُبْغِضُ سِفْسَافَهَا” رواه الحاكم فى مستدركه“Sesungguhnya Allah Maha Pemurah menyukai kemurahan dan keluhuran akhlak serta membenci kerendahannya (akhlak)”. HR. Alhakim dalam Mustadraknya. ****** Khotbah KeduaRumah tangga adalah pertahanan pertama dalam menghadapi sikap menanggapi isu-isu murahan; yaitu dengan menampilkan perilaku yang baik dan keteladanan yang layak serta dengan mempersiapkan sarana pembinaan semangat dan merancang target pendakian ke puncak pencapaian.Media massa (dalam konteks ini) memikul tanggung jawab yang tidak boleh dipandang sebelah mata dalam upaya mengeringkan sumber-sumber berita bohong dan membungkam para pembawanya yang murahan serta menutup rapat jalur-jalurnya. Instrumen yang paling efektif dalam hal ini adalah dengan cara; tetap konsisten terhadap pondasi akidah dan terus menegakkan norma-norma yang luhur.Para pemuda kita memegang peranan dalam mengubur hidup-hidup segala rumor yang muncul; tanpa ikut menyebarkannya, mengedarkannya dan mendengarkan corong-corongnya. Begitupun para pemudi muslimat kita; rasa malu yang mereka miliki merupakan sumber kejayaan dan keindahan. Sungguh larut dalam terowongan rumor dan isu yang tidak berdasar tersebut merupakan jalan menurun yang sangat berbahaya karena kejahatannya yang cepat menyebar.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” الْحَيَاءُ وَ الْإيْمَانُ قُرِنَا جَمِيْعًا فَإذَا رُفِعَ أحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَرُ ” رواه الحاكم فى المستدرك“Rasa malu dan iman itu terikat menjadi satu. Jika yang satu hilang maka yang lain pun akan menghilang.” HR. Hakim dalam Mustadrak.Allah berfirman :فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ [ الأحزاب/ 32]“Maka janganlah kalian memanjakan (suara) dalam berbicara sehingga orang yang ada penyakit dalam hatinya menaruh harapan”. Qs Al-Ahzab:32     Seharusnya seorang muslim menjaga diri dari isu-isu dan rumor murahan itu dengan selalu merasa akan kehadiran Allah yang melindunginya dari pandangan, pendengaran, perkataan dan pergaulan yang tidak bermakna. Demikian pula dengan merasa dirinya selalu dalam pengawasan Allah. Itulah yang membuat seseorang senantiasa tersambung dengan keagungan Allah sehingga konsepsi tentang popularitas dan superioritas dapat teratasi. Sebab neraca akhirat tidaklah sama dengan neraca dunia.Allah berfirman :إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ، لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ، خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ [ الواقعة/1-3]“Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain”. Qs Al-Waqiah : 1-3===  Doa Penutup ===Penerjemah: Usman Hatimhttps://firanda.com/

Menyikapi Isu atau Rumor

Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 27 Muharam 1438 HOleh : Syekh Abdul Bari At-TsubaitiKhotbah PertamaSelanjutnya . . Islam mendidik seorang muslim berdasarkan nilai-nilai filosofis, hukum, norma dan etika Islam untuk mengentaskannya ke puncak cita-cita dan kemuliaan rasa empati yang membuat kehidupannya terangkat, tujuannya semakin mantap, sepak terjangnya konstruktif dan efektif, sehingga menjadi pribadi yang istimewa dan terselamatkan dari berbagai isu murahan. Semua dihadapinya dengan kerja serius, penuh aspirasi untuk mengembangkan usianya ( waktu-nya) dengan membangun, berprestasi dan memberikan sumbangsih. Rambu-rambu ini tidak akan pernah berubah meskipun zaman dan ruang waktu mengalami perubahan.Seorang muslim tidak akan bergeser dari nilai-nilai luhur tersebut, kendatipun menghadapi berbagai macam sarana dan teknologi serba canggih masa kini. Umar Bin Abdul Aziz –rahimahullah anhu- berkata :“إنَّ لِى نَفْسًا تَوَّاقَة ، مَا نَالَتْ شَيْئًا إلَّا اشْتَهَتْ مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ ،اشْتَهَيْتُ الْإمَارَةَ فَلَمَّا نِلْتُهَا اشْتَهَيْتُ الْخِلَافَةَ ، فَلَمَّا نِلْتُهَا اشْتَهَيْتُ مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْهَا ، وَهُوَ الْجَنَّةُ ، وَأرْجُوْ أنْ أنَالَهَا ““Jiwaku ini demikian menggelora. Jika mendapatkan sesuatu, pastilah menginginkan yang lebih baik lagi; Aku pernah menginginkan kekuasaan imarah (Jabatan Gubernur), ketika keinginan itu terwujud, akupun menginginkan kekuasaan tingkat khilafah (Kepala Negara), namun ketika jabatan Kepala Negara itu telah aku dapatkan, ternyata aku lagi-lagi ingin memperoleh yang lebih baik dari itu semua, yaitu surga yang tentu aku mendambakannya”.Islam menggembleng perilaku muslim untuk tidak ikut campur dalam isu-isu murahan dan desas-desus rendahan dalam rangka mencapai tujuan mulia dan cita-cita luhur. Islam mengaitkan perilaku itu dengan sikap penghambaan kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- yang merupakan klimaks kedudukan paling agung yang menjadi tujuan seorang muslim, yang menjadi mercusuar perjalanannya, poros sepak terjangnya dan titik tolak pemikirannya.Sedangkan isu-isu dan desas-desus itu akan memalingkan dirinya dari segala urusan yang bernilai tinggi, akan membunuh jiwa tanggung-jawabnya dan akan melemahkan etos kerjanya, sehingga sulit diharapkan manfaatnya, selain tidak terjaminnya daya tangkal terhadap mara bahaya.Jiwa yang telah keluar dari norma-norma dan tujuan mulianya pastilah merosot sehingga seluruh waktunya sia-sia,hari-harinya menjadi kacau, kewajiban-kewajibannya terabaikan, martabatnya hancur luluh dan peri kehidupannya menjadi hampa tidak bermutu.Semangat seseorang menjadi layu, manakala dirinya tenggelam dalam urusan-urusan sepele yang menyita banyak perhatian. Antara lain; mendokumentasikan berita-berita yang tidak jelas sumbernya dan mengoleksi kata-kata keji dalam bentuk video klip murahan, lalu menyiarkannya melalui sosial media semata-mata ingin mendapatkan popularitas semu dan peliputan kejadian yang tidak bermakna.Bahkan akan membahayakan, bukan memberi manfaat; merusak, bukan membangun; mencoreng rekam jejak pelakunya dan memperlihatkan skandal dirinya, manakala seseorang tampil dalam pakaian yang nista, tutur kata yang kotor dan perilaku yang memalukan, atau ketika dirinya dalam posisi yang menghinakan di mata orang-orang bijak, yang amat menjijikkan dalam pandangan orang-orang bermartabat. Maka dalam kondisi demikian, berarti seseorang melakukan pelecehan terhadap agamanya, tanah airnya dan bangsanya sendiri.Bergelimang dalam berita-berita murahan itu dapat menurunkan akhlak, mengurangi akal pikiran, mengekspresikan kebodohan dalam memahami kehidupan, kedangkalan pola pikir dan ketertinggalan dari gerak laju ilmu pengetahuan, selain dapat mematikan kemauan dan memperlemah pertumbuhan. Tidak samar lagi bagi orang-orang yang cerdas berbagai macam kerusakan sosial dan rumah tangga yang ditimbulkan oleh berita-berita murahan itu.Orang yang pikirannya anjlok karena mengurusi berita-berita murahan itu, telah memuja-muja hawa nafsunya, melecehkan lambang-lambang kebesaran Allah, mengotori hatinya dengan berbagai perbuatan maksiat, mengendur semangatnya karena dosa, lalu tumbang fitrah-nya.Tidak asing lagi bagi orang yang berakal sehat bahwa penyebab keterpurukan dan kenistaan suatu bangsa dalam pandangan Allah dan penilaian sesama manusia adalah pelanggaran terhadap batas-batas yang harus dihormati. Firman Allah :ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ  [ الحج/30 ]“Demikianlah, barangsiapa mengagungkan lambang-lambang yang dimuliakan Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya”. Qs Alhaj : 30Firman Allah :ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ [ الحج/32 ]“Demikianlah (perintah Allah), barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar (lambang-lambang kebesaran) Allah, maka sesungguhnya itu pertanda ketakwaan hati”.Qs Alhaj : 32Tunduk dan menyerah kepada berita-berita bohong dan gunjingan yang tidak bermutu akan melahirkan sikap acuh tak acuh terhadap orang lain dan sikap suka mempertontonkan kebolehan diri yang dapat mematikan rasa malu. Itulah sikap yang dilarang oleh Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- dalam sabdanya :” كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ “رواه البخاري“Seluruh umatku akan diampuni dosanya kecuali orang-orang yang mempertontonkan kemaksiatannya. Termasuk di antaranya ialah seseorang yang telah melakukan perbuatan dosa di malam hari, dan Allah telah menutupi skandalnya itu. Namun keesokan harinya ia lalu berkata : ‘Wahai Si A, semalam aku telah melakukan ini dan itu’, padahal semalam Allah telah menutupi skandalnya, tetapi dirinya sendiri di pagi hari yang membongkar apa yang telah dirahasiakan oleh Allah itu”. HR Bukhari.     Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha menutup aib; Dia menutup aib hambaNya pada hari kiamat. Kebaikan itu Allah berikan bagi orang yang berbuat dosa selama orang tersebut tidak membeberkan aibnya sendiri. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُولُ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا فَيَقُولُ نَعَمْ أَيْ رَبِّ حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ قَالَ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ ” رواه البخاري ومسلم“Sesungguhnya Allah akan mendekatkan seorang mukmin, lalu meletakkan tiraiNya padanya dan menutupinya. Lalu bertanya: “Apakah engkau mengetahui dosa(mu) ini, apakah engkau mengetahui dosa(mu) ini?”. Orang mukmin itu menjawab : “Ya, wahai Tuhanku”. Sehingga, ketika Allah telah membuat orang mukmin itu mengakui dosa-dosanya, dan orang tersebut melihat dirinya pasti celaka, Allah pun berfirman: “Aku telah menutupinya bagimu di dunia, dan sekarang Aku menghapusnya untukmu pada hari kiamat ini”. Sesudah itu, buku catatan kebaikannya diberikan kepadanya. HR Bukhari.     Menaruh perhatian terhadap rumor murahan dan mengikuti langkah orang-orang yang suka memasarkannya dapat mendorong kita menyematkan rambu-rambu ketenaran di pundak mereka yang membuat mereka percaya diri untuk tampil di panggung, padahal mereka itu kerdil; dapat memotivasi mereka menjadi populer lantaran promosi yang kita lakukan terhadap sepak terjang mereka yang memalukan dan prestasi mereka yang rendahan; memperluas kesempatan bagi mereka untuk merusak cita rasa masyarakat luas serta menghancurkan nilai-nilai moral dan memalingkan perhatian orang banyak dari upaya-upaya memajukan diri di bidang pembangunan.     Yang lebih parah lagi ialah manakala kaum pembual murahan itu terbuai oleh popularitas diri mereka lalu berani memasuki persoalan-persoalan yang bukan bidang mereka, kemudian berbicara tentang ilmu yang bukan kapasitas mereka; Di antara mereka ada yang memberi fatwa tentang hukum syara’ dan agama berdasarkan ketidaktahuan dan kemauan hawa nafsunya; ada yang memandang remeh dan melecehkan ketentuan hukum berhijab (bagi wanita); ada yang mencemooh hukum dan ajaran Islam; ada yang suka mengoyak harga diri pejabat pemerintahan; dan ada pula yang meremehkan peran ulama’ para dai dan penuntut Ilmu. Ada peribahasa kuno yang menyatakan :” إذَا خَرَجَ الماَءُ مِنَ الإنَـاءِ مَلَأهُ الْهَـوَاءُ ““Jika suatu tempayan kosong dari air, maka akan dipenuhi udara hampa”.     Siapa saja yang mengikuti berita-berita murahan bersama orang-orang yang suka memasarkannya, akan merusak hari-harinya dengan perdebatan yang dapat mengurangi keimanannya dan melumpuhkan semangatnya. Gara-gara penyebaran rumor dan kabar burung itu, moral seseorang menjadi rusak.Masyarakat akan terkena imbas dari penyebaran gunjingan dan kedustaan yang juga dapat menggoyahkan keamanan mereka. Sudah berapa banyak desas-desus dan kabar burung menimbulkan perpecahan yang sulit dirajut kembali, dan permusuhan yang sukar didamaikan.     Mencintai popularitas merupakan penyakit terselubung. Jika penyakit itu telah menguasai pola pikir seseorang, akan menyeretnya untuk membenarkan segala cara dan melampaui setiap nilai luhur akibat hatinya telah tertutup oleh kabut egoisme sehingga tidak mampu lagi melihat  kebaikan dan secercah cahaya kebenaran. Itulah sebabnya, Islam mewanti-wanti untuk tidak terjebak dalam memburu popularitas dan gaya hidup mentereng yang hanya disandang oleh orang-orang yang jiwanya sakit lantaran suka memamerkan diri yang dapat menghapus pahala amal kebajikan dalam sorotan neraca syariat. Dalam konteks ini, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” مَنْ لَبِسَ ثوْبَ شُهْرَة ألبَسَهُ اللهُ ثَوْبَ مَذَلّةٍ ” رواه ابن ماجة“Barangsiapa yang mengenakan pakaian kesombongan, maka Allah akan mengenakan pakaian kehinaan”. HR Ibnu Majah” قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  لَا شَرِيْكَ لَه”[ الأنعام / 162 ]“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. Qs Al-An’am :162Pastilah orang yang sibuk mengurusi berita-berita murahan itu akan sadar di belakang hari, sementara orang-orang yang (nasibnya) beruntung telah terselamatkan dari padanya, juga orang-orang yang berpikir serius telah meninggalkannya dan orang-orang yang bekerja keras telah terbebas darinya. Saat itulah orang yang termakan isu akan gigit jari penyesalan ketika sadar bahwa dirinya benar-benar tertidur pulas dan terlena dalam fata morgana. Maka ditinggalkannya posisi itu, sementara dirinya telah terjatuh oleh kebodohannya sendiri, semangatnya terperosok dan hilanglah sudah kesempatan. Namun apa boleh dikata jika nasi telah menjadi bubur.Seorang muslim adalah pengemban misi dalam hidupnya. Maka seyogianya menghindar dari lumpur persoalan-persoalan yang tidak bermutu itu, berbekal dengan semangat tinggi dan mencurahkan seluruh usianya untuk meraih ridha Ilahi, memberikan manfaat bagi agamanya, tanah airnya dan bangsanya, melalui ilmu yang bermanfaat dan amal kebajikan.Islam telah menyampaikan pesan-pesannya yang demikian komprehensif dalam upaya melindungi masyarakat dari dampak buruk perilaku yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar akhlak mulia. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :“إِنَّ اللهَ كَرِيْمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ وَمَعَالِيَ اْلأَخْلاَقِ وَيُبْغِضُ سِفْسَافَهَا” رواه الحاكم فى مستدركه“Sesungguhnya Allah Maha Pemurah menyukai kemurahan dan keluhuran akhlak serta membenci kerendahannya (akhlak)”. HR. Alhakim dalam Mustadraknya. ****** Khotbah KeduaRumah tangga adalah pertahanan pertama dalam menghadapi sikap menanggapi isu-isu murahan; yaitu dengan menampilkan perilaku yang baik dan keteladanan yang layak serta dengan mempersiapkan sarana pembinaan semangat dan merancang target pendakian ke puncak pencapaian.Media massa (dalam konteks ini) memikul tanggung jawab yang tidak boleh dipandang sebelah mata dalam upaya mengeringkan sumber-sumber berita bohong dan membungkam para pembawanya yang murahan serta menutup rapat jalur-jalurnya. Instrumen yang paling efektif dalam hal ini adalah dengan cara; tetap konsisten terhadap pondasi akidah dan terus menegakkan norma-norma yang luhur.Para pemuda kita memegang peranan dalam mengubur hidup-hidup segala rumor yang muncul; tanpa ikut menyebarkannya, mengedarkannya dan mendengarkan corong-corongnya. Begitupun para pemudi muslimat kita; rasa malu yang mereka miliki merupakan sumber kejayaan dan keindahan. Sungguh larut dalam terowongan rumor dan isu yang tidak berdasar tersebut merupakan jalan menurun yang sangat berbahaya karena kejahatannya yang cepat menyebar.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” الْحَيَاءُ وَ الْإيْمَانُ قُرِنَا جَمِيْعًا فَإذَا رُفِعَ أحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَرُ ” رواه الحاكم فى المستدرك“Rasa malu dan iman itu terikat menjadi satu. Jika yang satu hilang maka yang lain pun akan menghilang.” HR. Hakim dalam Mustadrak.Allah berfirman :فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ [ الأحزاب/ 32]“Maka janganlah kalian memanjakan (suara) dalam berbicara sehingga orang yang ada penyakit dalam hatinya menaruh harapan”. Qs Al-Ahzab:32     Seharusnya seorang muslim menjaga diri dari isu-isu dan rumor murahan itu dengan selalu merasa akan kehadiran Allah yang melindunginya dari pandangan, pendengaran, perkataan dan pergaulan yang tidak bermakna. Demikian pula dengan merasa dirinya selalu dalam pengawasan Allah. Itulah yang membuat seseorang senantiasa tersambung dengan keagungan Allah sehingga konsepsi tentang popularitas dan superioritas dapat teratasi. Sebab neraca akhirat tidaklah sama dengan neraca dunia.Allah berfirman :إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ، لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ، خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ [ الواقعة/1-3]“Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain”. Qs Al-Waqiah : 1-3===  Doa Penutup ===Penerjemah: Usman Hatimhttps://firanda.com/
Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 27 Muharam 1438 HOleh : Syekh Abdul Bari At-TsubaitiKhotbah PertamaSelanjutnya . . Islam mendidik seorang muslim berdasarkan nilai-nilai filosofis, hukum, norma dan etika Islam untuk mengentaskannya ke puncak cita-cita dan kemuliaan rasa empati yang membuat kehidupannya terangkat, tujuannya semakin mantap, sepak terjangnya konstruktif dan efektif, sehingga menjadi pribadi yang istimewa dan terselamatkan dari berbagai isu murahan. Semua dihadapinya dengan kerja serius, penuh aspirasi untuk mengembangkan usianya ( waktu-nya) dengan membangun, berprestasi dan memberikan sumbangsih. Rambu-rambu ini tidak akan pernah berubah meskipun zaman dan ruang waktu mengalami perubahan.Seorang muslim tidak akan bergeser dari nilai-nilai luhur tersebut, kendatipun menghadapi berbagai macam sarana dan teknologi serba canggih masa kini. Umar Bin Abdul Aziz –rahimahullah anhu- berkata :“إنَّ لِى نَفْسًا تَوَّاقَة ، مَا نَالَتْ شَيْئًا إلَّا اشْتَهَتْ مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ ،اشْتَهَيْتُ الْإمَارَةَ فَلَمَّا نِلْتُهَا اشْتَهَيْتُ الْخِلَافَةَ ، فَلَمَّا نِلْتُهَا اشْتَهَيْتُ مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْهَا ، وَهُوَ الْجَنَّةُ ، وَأرْجُوْ أنْ أنَالَهَا ““Jiwaku ini demikian menggelora. Jika mendapatkan sesuatu, pastilah menginginkan yang lebih baik lagi; Aku pernah menginginkan kekuasaan imarah (Jabatan Gubernur), ketika keinginan itu terwujud, akupun menginginkan kekuasaan tingkat khilafah (Kepala Negara), namun ketika jabatan Kepala Negara itu telah aku dapatkan, ternyata aku lagi-lagi ingin memperoleh yang lebih baik dari itu semua, yaitu surga yang tentu aku mendambakannya”.Islam menggembleng perilaku muslim untuk tidak ikut campur dalam isu-isu murahan dan desas-desus rendahan dalam rangka mencapai tujuan mulia dan cita-cita luhur. Islam mengaitkan perilaku itu dengan sikap penghambaan kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- yang merupakan klimaks kedudukan paling agung yang menjadi tujuan seorang muslim, yang menjadi mercusuar perjalanannya, poros sepak terjangnya dan titik tolak pemikirannya.Sedangkan isu-isu dan desas-desus itu akan memalingkan dirinya dari segala urusan yang bernilai tinggi, akan membunuh jiwa tanggung-jawabnya dan akan melemahkan etos kerjanya, sehingga sulit diharapkan manfaatnya, selain tidak terjaminnya daya tangkal terhadap mara bahaya.Jiwa yang telah keluar dari norma-norma dan tujuan mulianya pastilah merosot sehingga seluruh waktunya sia-sia,hari-harinya menjadi kacau, kewajiban-kewajibannya terabaikan, martabatnya hancur luluh dan peri kehidupannya menjadi hampa tidak bermutu.Semangat seseorang menjadi layu, manakala dirinya tenggelam dalam urusan-urusan sepele yang menyita banyak perhatian. Antara lain; mendokumentasikan berita-berita yang tidak jelas sumbernya dan mengoleksi kata-kata keji dalam bentuk video klip murahan, lalu menyiarkannya melalui sosial media semata-mata ingin mendapatkan popularitas semu dan peliputan kejadian yang tidak bermakna.Bahkan akan membahayakan, bukan memberi manfaat; merusak, bukan membangun; mencoreng rekam jejak pelakunya dan memperlihatkan skandal dirinya, manakala seseorang tampil dalam pakaian yang nista, tutur kata yang kotor dan perilaku yang memalukan, atau ketika dirinya dalam posisi yang menghinakan di mata orang-orang bijak, yang amat menjijikkan dalam pandangan orang-orang bermartabat. Maka dalam kondisi demikian, berarti seseorang melakukan pelecehan terhadap agamanya, tanah airnya dan bangsanya sendiri.Bergelimang dalam berita-berita murahan itu dapat menurunkan akhlak, mengurangi akal pikiran, mengekspresikan kebodohan dalam memahami kehidupan, kedangkalan pola pikir dan ketertinggalan dari gerak laju ilmu pengetahuan, selain dapat mematikan kemauan dan memperlemah pertumbuhan. Tidak samar lagi bagi orang-orang yang cerdas berbagai macam kerusakan sosial dan rumah tangga yang ditimbulkan oleh berita-berita murahan itu.Orang yang pikirannya anjlok karena mengurusi berita-berita murahan itu, telah memuja-muja hawa nafsunya, melecehkan lambang-lambang kebesaran Allah, mengotori hatinya dengan berbagai perbuatan maksiat, mengendur semangatnya karena dosa, lalu tumbang fitrah-nya.Tidak asing lagi bagi orang yang berakal sehat bahwa penyebab keterpurukan dan kenistaan suatu bangsa dalam pandangan Allah dan penilaian sesama manusia adalah pelanggaran terhadap batas-batas yang harus dihormati. Firman Allah :ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ  [ الحج/30 ]“Demikianlah, barangsiapa mengagungkan lambang-lambang yang dimuliakan Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya”. Qs Alhaj : 30Firman Allah :ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ [ الحج/32 ]“Demikianlah (perintah Allah), barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar (lambang-lambang kebesaran) Allah, maka sesungguhnya itu pertanda ketakwaan hati”.Qs Alhaj : 32Tunduk dan menyerah kepada berita-berita bohong dan gunjingan yang tidak bermutu akan melahirkan sikap acuh tak acuh terhadap orang lain dan sikap suka mempertontonkan kebolehan diri yang dapat mematikan rasa malu. Itulah sikap yang dilarang oleh Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- dalam sabdanya :” كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ “رواه البخاري“Seluruh umatku akan diampuni dosanya kecuali orang-orang yang mempertontonkan kemaksiatannya. Termasuk di antaranya ialah seseorang yang telah melakukan perbuatan dosa di malam hari, dan Allah telah menutupi skandalnya itu. Namun keesokan harinya ia lalu berkata : ‘Wahai Si A, semalam aku telah melakukan ini dan itu’, padahal semalam Allah telah menutupi skandalnya, tetapi dirinya sendiri di pagi hari yang membongkar apa yang telah dirahasiakan oleh Allah itu”. HR Bukhari.     Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha menutup aib; Dia menutup aib hambaNya pada hari kiamat. Kebaikan itu Allah berikan bagi orang yang berbuat dosa selama orang tersebut tidak membeberkan aibnya sendiri. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُولُ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا فَيَقُولُ نَعَمْ أَيْ رَبِّ حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ قَالَ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ ” رواه البخاري ومسلم“Sesungguhnya Allah akan mendekatkan seorang mukmin, lalu meletakkan tiraiNya padanya dan menutupinya. Lalu bertanya: “Apakah engkau mengetahui dosa(mu) ini, apakah engkau mengetahui dosa(mu) ini?”. Orang mukmin itu menjawab : “Ya, wahai Tuhanku”. Sehingga, ketika Allah telah membuat orang mukmin itu mengakui dosa-dosanya, dan orang tersebut melihat dirinya pasti celaka, Allah pun berfirman: “Aku telah menutupinya bagimu di dunia, dan sekarang Aku menghapusnya untukmu pada hari kiamat ini”. Sesudah itu, buku catatan kebaikannya diberikan kepadanya. HR Bukhari.     Menaruh perhatian terhadap rumor murahan dan mengikuti langkah orang-orang yang suka memasarkannya dapat mendorong kita menyematkan rambu-rambu ketenaran di pundak mereka yang membuat mereka percaya diri untuk tampil di panggung, padahal mereka itu kerdil; dapat memotivasi mereka menjadi populer lantaran promosi yang kita lakukan terhadap sepak terjang mereka yang memalukan dan prestasi mereka yang rendahan; memperluas kesempatan bagi mereka untuk merusak cita rasa masyarakat luas serta menghancurkan nilai-nilai moral dan memalingkan perhatian orang banyak dari upaya-upaya memajukan diri di bidang pembangunan.     Yang lebih parah lagi ialah manakala kaum pembual murahan itu terbuai oleh popularitas diri mereka lalu berani memasuki persoalan-persoalan yang bukan bidang mereka, kemudian berbicara tentang ilmu yang bukan kapasitas mereka; Di antara mereka ada yang memberi fatwa tentang hukum syara’ dan agama berdasarkan ketidaktahuan dan kemauan hawa nafsunya; ada yang memandang remeh dan melecehkan ketentuan hukum berhijab (bagi wanita); ada yang mencemooh hukum dan ajaran Islam; ada yang suka mengoyak harga diri pejabat pemerintahan; dan ada pula yang meremehkan peran ulama’ para dai dan penuntut Ilmu. Ada peribahasa kuno yang menyatakan :” إذَا خَرَجَ الماَءُ مِنَ الإنَـاءِ مَلَأهُ الْهَـوَاءُ ““Jika suatu tempayan kosong dari air, maka akan dipenuhi udara hampa”.     Siapa saja yang mengikuti berita-berita murahan bersama orang-orang yang suka memasarkannya, akan merusak hari-harinya dengan perdebatan yang dapat mengurangi keimanannya dan melumpuhkan semangatnya. Gara-gara penyebaran rumor dan kabar burung itu, moral seseorang menjadi rusak.Masyarakat akan terkena imbas dari penyebaran gunjingan dan kedustaan yang juga dapat menggoyahkan keamanan mereka. Sudah berapa banyak desas-desus dan kabar burung menimbulkan perpecahan yang sulit dirajut kembali, dan permusuhan yang sukar didamaikan.     Mencintai popularitas merupakan penyakit terselubung. Jika penyakit itu telah menguasai pola pikir seseorang, akan menyeretnya untuk membenarkan segala cara dan melampaui setiap nilai luhur akibat hatinya telah tertutup oleh kabut egoisme sehingga tidak mampu lagi melihat  kebaikan dan secercah cahaya kebenaran. Itulah sebabnya, Islam mewanti-wanti untuk tidak terjebak dalam memburu popularitas dan gaya hidup mentereng yang hanya disandang oleh orang-orang yang jiwanya sakit lantaran suka memamerkan diri yang dapat menghapus pahala amal kebajikan dalam sorotan neraca syariat. Dalam konteks ini, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” مَنْ لَبِسَ ثوْبَ شُهْرَة ألبَسَهُ اللهُ ثَوْبَ مَذَلّةٍ ” رواه ابن ماجة“Barangsiapa yang mengenakan pakaian kesombongan, maka Allah akan mengenakan pakaian kehinaan”. HR Ibnu Majah” قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  لَا شَرِيْكَ لَه”[ الأنعام / 162 ]“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. Qs Al-An’am :162Pastilah orang yang sibuk mengurusi berita-berita murahan itu akan sadar di belakang hari, sementara orang-orang yang (nasibnya) beruntung telah terselamatkan dari padanya, juga orang-orang yang berpikir serius telah meninggalkannya dan orang-orang yang bekerja keras telah terbebas darinya. Saat itulah orang yang termakan isu akan gigit jari penyesalan ketika sadar bahwa dirinya benar-benar tertidur pulas dan terlena dalam fata morgana. Maka ditinggalkannya posisi itu, sementara dirinya telah terjatuh oleh kebodohannya sendiri, semangatnya terperosok dan hilanglah sudah kesempatan. Namun apa boleh dikata jika nasi telah menjadi bubur.Seorang muslim adalah pengemban misi dalam hidupnya. Maka seyogianya menghindar dari lumpur persoalan-persoalan yang tidak bermutu itu, berbekal dengan semangat tinggi dan mencurahkan seluruh usianya untuk meraih ridha Ilahi, memberikan manfaat bagi agamanya, tanah airnya dan bangsanya, melalui ilmu yang bermanfaat dan amal kebajikan.Islam telah menyampaikan pesan-pesannya yang demikian komprehensif dalam upaya melindungi masyarakat dari dampak buruk perilaku yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar akhlak mulia. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :“إِنَّ اللهَ كَرِيْمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ وَمَعَالِيَ اْلأَخْلاَقِ وَيُبْغِضُ سِفْسَافَهَا” رواه الحاكم فى مستدركه“Sesungguhnya Allah Maha Pemurah menyukai kemurahan dan keluhuran akhlak serta membenci kerendahannya (akhlak)”. HR. Alhakim dalam Mustadraknya. ****** Khotbah KeduaRumah tangga adalah pertahanan pertama dalam menghadapi sikap menanggapi isu-isu murahan; yaitu dengan menampilkan perilaku yang baik dan keteladanan yang layak serta dengan mempersiapkan sarana pembinaan semangat dan merancang target pendakian ke puncak pencapaian.Media massa (dalam konteks ini) memikul tanggung jawab yang tidak boleh dipandang sebelah mata dalam upaya mengeringkan sumber-sumber berita bohong dan membungkam para pembawanya yang murahan serta menutup rapat jalur-jalurnya. Instrumen yang paling efektif dalam hal ini adalah dengan cara; tetap konsisten terhadap pondasi akidah dan terus menegakkan norma-norma yang luhur.Para pemuda kita memegang peranan dalam mengubur hidup-hidup segala rumor yang muncul; tanpa ikut menyebarkannya, mengedarkannya dan mendengarkan corong-corongnya. Begitupun para pemudi muslimat kita; rasa malu yang mereka miliki merupakan sumber kejayaan dan keindahan. Sungguh larut dalam terowongan rumor dan isu yang tidak berdasar tersebut merupakan jalan menurun yang sangat berbahaya karena kejahatannya yang cepat menyebar.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” الْحَيَاءُ وَ الْإيْمَانُ قُرِنَا جَمِيْعًا فَإذَا رُفِعَ أحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَرُ ” رواه الحاكم فى المستدرك“Rasa malu dan iman itu terikat menjadi satu. Jika yang satu hilang maka yang lain pun akan menghilang.” HR. Hakim dalam Mustadrak.Allah berfirman :فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ [ الأحزاب/ 32]“Maka janganlah kalian memanjakan (suara) dalam berbicara sehingga orang yang ada penyakit dalam hatinya menaruh harapan”. Qs Al-Ahzab:32     Seharusnya seorang muslim menjaga diri dari isu-isu dan rumor murahan itu dengan selalu merasa akan kehadiran Allah yang melindunginya dari pandangan, pendengaran, perkataan dan pergaulan yang tidak bermakna. Demikian pula dengan merasa dirinya selalu dalam pengawasan Allah. Itulah yang membuat seseorang senantiasa tersambung dengan keagungan Allah sehingga konsepsi tentang popularitas dan superioritas dapat teratasi. Sebab neraca akhirat tidaklah sama dengan neraca dunia.Allah berfirman :إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ، لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ، خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ [ الواقعة/1-3]“Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain”. Qs Al-Waqiah : 1-3===  Doa Penutup ===Penerjemah: Usman Hatimhttps://firanda.com/


Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 27 Muharam 1438 HOleh : Syekh Abdul Bari At-TsubaitiKhotbah PertamaSelanjutnya . . Islam mendidik seorang muslim berdasarkan nilai-nilai filosofis, hukum, norma dan etika Islam untuk mengentaskannya ke puncak cita-cita dan kemuliaan rasa empati yang membuat kehidupannya terangkat, tujuannya semakin mantap, sepak terjangnya konstruktif dan efektif, sehingga menjadi pribadi yang istimewa dan terselamatkan dari berbagai isu murahan. Semua dihadapinya dengan kerja serius, penuh aspirasi untuk mengembangkan usianya ( waktu-nya) dengan membangun, berprestasi dan memberikan sumbangsih. Rambu-rambu ini tidak akan pernah berubah meskipun zaman dan ruang waktu mengalami perubahan.Seorang muslim tidak akan bergeser dari nilai-nilai luhur tersebut, kendatipun menghadapi berbagai macam sarana dan teknologi serba canggih masa kini. Umar Bin Abdul Aziz –rahimahullah anhu- berkata :“إنَّ لِى نَفْسًا تَوَّاقَة ، مَا نَالَتْ شَيْئًا إلَّا اشْتَهَتْ مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ ،اشْتَهَيْتُ الْإمَارَةَ فَلَمَّا نِلْتُهَا اشْتَهَيْتُ الْخِلَافَةَ ، فَلَمَّا نِلْتُهَا اشْتَهَيْتُ مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْهَا ، وَهُوَ الْجَنَّةُ ، وَأرْجُوْ أنْ أنَالَهَا ““Jiwaku ini demikian menggelora. Jika mendapatkan sesuatu, pastilah menginginkan yang lebih baik lagi; Aku pernah menginginkan kekuasaan imarah (Jabatan Gubernur), ketika keinginan itu terwujud, akupun menginginkan kekuasaan tingkat khilafah (Kepala Negara), namun ketika jabatan Kepala Negara itu telah aku dapatkan, ternyata aku lagi-lagi ingin memperoleh yang lebih baik dari itu semua, yaitu surga yang tentu aku mendambakannya”.Islam menggembleng perilaku muslim untuk tidak ikut campur dalam isu-isu murahan dan desas-desus rendahan dalam rangka mencapai tujuan mulia dan cita-cita luhur. Islam mengaitkan perilaku itu dengan sikap penghambaan kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- yang merupakan klimaks kedudukan paling agung yang menjadi tujuan seorang muslim, yang menjadi mercusuar perjalanannya, poros sepak terjangnya dan titik tolak pemikirannya.Sedangkan isu-isu dan desas-desus itu akan memalingkan dirinya dari segala urusan yang bernilai tinggi, akan membunuh jiwa tanggung-jawabnya dan akan melemahkan etos kerjanya, sehingga sulit diharapkan manfaatnya, selain tidak terjaminnya daya tangkal terhadap mara bahaya.Jiwa yang telah keluar dari norma-norma dan tujuan mulianya pastilah merosot sehingga seluruh waktunya sia-sia,hari-harinya menjadi kacau, kewajiban-kewajibannya terabaikan, martabatnya hancur luluh dan peri kehidupannya menjadi hampa tidak bermutu.Semangat seseorang menjadi layu, manakala dirinya tenggelam dalam urusan-urusan sepele yang menyita banyak perhatian. Antara lain; mendokumentasikan berita-berita yang tidak jelas sumbernya dan mengoleksi kata-kata keji dalam bentuk video klip murahan, lalu menyiarkannya melalui sosial media semata-mata ingin mendapatkan popularitas semu dan peliputan kejadian yang tidak bermakna.Bahkan akan membahayakan, bukan memberi manfaat; merusak, bukan membangun; mencoreng rekam jejak pelakunya dan memperlihatkan skandal dirinya, manakala seseorang tampil dalam pakaian yang nista, tutur kata yang kotor dan perilaku yang memalukan, atau ketika dirinya dalam posisi yang menghinakan di mata orang-orang bijak, yang amat menjijikkan dalam pandangan orang-orang bermartabat. Maka dalam kondisi demikian, berarti seseorang melakukan pelecehan terhadap agamanya, tanah airnya dan bangsanya sendiri.Bergelimang dalam berita-berita murahan itu dapat menurunkan akhlak, mengurangi akal pikiran, mengekspresikan kebodohan dalam memahami kehidupan, kedangkalan pola pikir dan ketertinggalan dari gerak laju ilmu pengetahuan, selain dapat mematikan kemauan dan memperlemah pertumbuhan. Tidak samar lagi bagi orang-orang yang cerdas berbagai macam kerusakan sosial dan rumah tangga yang ditimbulkan oleh berita-berita murahan itu.Orang yang pikirannya anjlok karena mengurusi berita-berita murahan itu, telah memuja-muja hawa nafsunya, melecehkan lambang-lambang kebesaran Allah, mengotori hatinya dengan berbagai perbuatan maksiat, mengendur semangatnya karena dosa, lalu tumbang fitrah-nya.Tidak asing lagi bagi orang yang berakal sehat bahwa penyebab keterpurukan dan kenistaan suatu bangsa dalam pandangan Allah dan penilaian sesama manusia adalah pelanggaran terhadap batas-batas yang harus dihormati. Firman Allah :ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ  [ الحج/30 ]“Demikianlah, barangsiapa mengagungkan lambang-lambang yang dimuliakan Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya”. Qs Alhaj : 30Firman Allah :ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ [ الحج/32 ]“Demikianlah (perintah Allah), barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar (lambang-lambang kebesaran) Allah, maka sesungguhnya itu pertanda ketakwaan hati”.Qs Alhaj : 32Tunduk dan menyerah kepada berita-berita bohong dan gunjingan yang tidak bermutu akan melahirkan sikap acuh tak acuh terhadap orang lain dan sikap suka mempertontonkan kebolehan diri yang dapat mematikan rasa malu. Itulah sikap yang dilarang oleh Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- dalam sabdanya :” كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ “رواه البخاري“Seluruh umatku akan diampuni dosanya kecuali orang-orang yang mempertontonkan kemaksiatannya. Termasuk di antaranya ialah seseorang yang telah melakukan perbuatan dosa di malam hari, dan Allah telah menutupi skandalnya itu. Namun keesokan harinya ia lalu berkata : ‘Wahai Si A, semalam aku telah melakukan ini dan itu’, padahal semalam Allah telah menutupi skandalnya, tetapi dirinya sendiri di pagi hari yang membongkar apa yang telah dirahasiakan oleh Allah itu”. HR Bukhari.     Allah –subhanahu wa ta’ala- Maha menutup aib; Dia menutup aib hambaNya pada hari kiamat. Kebaikan itu Allah berikan bagi orang yang berbuat dosa selama orang tersebut tidak membeberkan aibnya sendiri. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُولُ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا فَيَقُولُ نَعَمْ أَيْ رَبِّ حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ قَالَ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ ” رواه البخاري ومسلم“Sesungguhnya Allah akan mendekatkan seorang mukmin, lalu meletakkan tiraiNya padanya dan menutupinya. Lalu bertanya: “Apakah engkau mengetahui dosa(mu) ini, apakah engkau mengetahui dosa(mu) ini?”. Orang mukmin itu menjawab : “Ya, wahai Tuhanku”. Sehingga, ketika Allah telah membuat orang mukmin itu mengakui dosa-dosanya, dan orang tersebut melihat dirinya pasti celaka, Allah pun berfirman: “Aku telah menutupinya bagimu di dunia, dan sekarang Aku menghapusnya untukmu pada hari kiamat ini”. Sesudah itu, buku catatan kebaikannya diberikan kepadanya. HR Bukhari.     Menaruh perhatian terhadap rumor murahan dan mengikuti langkah orang-orang yang suka memasarkannya dapat mendorong kita menyematkan rambu-rambu ketenaran di pundak mereka yang membuat mereka percaya diri untuk tampil di panggung, padahal mereka itu kerdil; dapat memotivasi mereka menjadi populer lantaran promosi yang kita lakukan terhadap sepak terjang mereka yang memalukan dan prestasi mereka yang rendahan; memperluas kesempatan bagi mereka untuk merusak cita rasa masyarakat luas serta menghancurkan nilai-nilai moral dan memalingkan perhatian orang banyak dari upaya-upaya memajukan diri di bidang pembangunan.     Yang lebih parah lagi ialah manakala kaum pembual murahan itu terbuai oleh popularitas diri mereka lalu berani memasuki persoalan-persoalan yang bukan bidang mereka, kemudian berbicara tentang ilmu yang bukan kapasitas mereka; Di antara mereka ada yang memberi fatwa tentang hukum syara’ dan agama berdasarkan ketidaktahuan dan kemauan hawa nafsunya; ada yang memandang remeh dan melecehkan ketentuan hukum berhijab (bagi wanita); ada yang mencemooh hukum dan ajaran Islam; ada yang suka mengoyak harga diri pejabat pemerintahan; dan ada pula yang meremehkan peran ulama’ para dai dan penuntut Ilmu. Ada peribahasa kuno yang menyatakan :” إذَا خَرَجَ الماَءُ مِنَ الإنَـاءِ مَلَأهُ الْهَـوَاءُ ““Jika suatu tempayan kosong dari air, maka akan dipenuhi udara hampa”.     Siapa saja yang mengikuti berita-berita murahan bersama orang-orang yang suka memasarkannya, akan merusak hari-harinya dengan perdebatan yang dapat mengurangi keimanannya dan melumpuhkan semangatnya. Gara-gara penyebaran rumor dan kabar burung itu, moral seseorang menjadi rusak.Masyarakat akan terkena imbas dari penyebaran gunjingan dan kedustaan yang juga dapat menggoyahkan keamanan mereka. Sudah berapa banyak desas-desus dan kabar burung menimbulkan perpecahan yang sulit dirajut kembali, dan permusuhan yang sukar didamaikan.     Mencintai popularitas merupakan penyakit terselubung. Jika penyakit itu telah menguasai pola pikir seseorang, akan menyeretnya untuk membenarkan segala cara dan melampaui setiap nilai luhur akibat hatinya telah tertutup oleh kabut egoisme sehingga tidak mampu lagi melihat  kebaikan dan secercah cahaya kebenaran. Itulah sebabnya, Islam mewanti-wanti untuk tidak terjebak dalam memburu popularitas dan gaya hidup mentereng yang hanya disandang oleh orang-orang yang jiwanya sakit lantaran suka memamerkan diri yang dapat menghapus pahala amal kebajikan dalam sorotan neraca syariat. Dalam konteks ini, Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” مَنْ لَبِسَ ثوْبَ شُهْرَة ألبَسَهُ اللهُ ثَوْبَ مَذَلّةٍ ” رواه ابن ماجة“Barangsiapa yang mengenakan pakaian kesombongan, maka Allah akan mengenakan pakaian kehinaan”. HR Ibnu Majah” قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  لَا شَرِيْكَ لَه”[ الأنعام / 162 ]“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. Qs Al-An’am :162Pastilah orang yang sibuk mengurusi berita-berita murahan itu akan sadar di belakang hari, sementara orang-orang yang (nasibnya) beruntung telah terselamatkan dari padanya, juga orang-orang yang berpikir serius telah meninggalkannya dan orang-orang yang bekerja keras telah terbebas darinya. Saat itulah orang yang termakan isu akan gigit jari penyesalan ketika sadar bahwa dirinya benar-benar tertidur pulas dan terlena dalam fata morgana. Maka ditinggalkannya posisi itu, sementara dirinya telah terjatuh oleh kebodohannya sendiri, semangatnya terperosok dan hilanglah sudah kesempatan. Namun apa boleh dikata jika nasi telah menjadi bubur.Seorang muslim adalah pengemban misi dalam hidupnya. Maka seyogianya menghindar dari lumpur persoalan-persoalan yang tidak bermutu itu, berbekal dengan semangat tinggi dan mencurahkan seluruh usianya untuk meraih ridha Ilahi, memberikan manfaat bagi agamanya, tanah airnya dan bangsanya, melalui ilmu yang bermanfaat dan amal kebajikan.Islam telah menyampaikan pesan-pesannya yang demikian komprehensif dalam upaya melindungi masyarakat dari dampak buruk perilaku yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar akhlak mulia. Sabda Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- :“إِنَّ اللهَ كَرِيْمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ وَمَعَالِيَ اْلأَخْلاَقِ وَيُبْغِضُ سِفْسَافَهَا” رواه الحاكم فى مستدركه“Sesungguhnya Allah Maha Pemurah menyukai kemurahan dan keluhuran akhlak serta membenci kerendahannya (akhlak)”. HR. Alhakim dalam Mustadraknya. ****** Khotbah KeduaRumah tangga adalah pertahanan pertama dalam menghadapi sikap menanggapi isu-isu murahan; yaitu dengan menampilkan perilaku yang baik dan keteladanan yang layak serta dengan mempersiapkan sarana pembinaan semangat dan merancang target pendakian ke puncak pencapaian.Media massa (dalam konteks ini) memikul tanggung jawab yang tidak boleh dipandang sebelah mata dalam upaya mengeringkan sumber-sumber berita bohong dan membungkam para pembawanya yang murahan serta menutup rapat jalur-jalurnya. Instrumen yang paling efektif dalam hal ini adalah dengan cara; tetap konsisten terhadap pondasi akidah dan terus menegakkan norma-norma yang luhur.Para pemuda kita memegang peranan dalam mengubur hidup-hidup segala rumor yang muncul; tanpa ikut menyebarkannya, mengedarkannya dan mendengarkan corong-corongnya. Begitupun para pemudi muslimat kita; rasa malu yang mereka miliki merupakan sumber kejayaan dan keindahan. Sungguh larut dalam terowongan rumor dan isu yang tidak berdasar tersebut merupakan jalan menurun yang sangat berbahaya karena kejahatannya yang cepat menyebar.Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :” الْحَيَاءُ وَ الْإيْمَانُ قُرِنَا جَمِيْعًا فَإذَا رُفِعَ أحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَرُ ” رواه الحاكم فى المستدرك“Rasa malu dan iman itu terikat menjadi satu. Jika yang satu hilang maka yang lain pun akan menghilang.” HR. Hakim dalam Mustadrak.Allah berfirman :فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ [ الأحزاب/ 32]“Maka janganlah kalian memanjakan (suara) dalam berbicara sehingga orang yang ada penyakit dalam hatinya menaruh harapan”. Qs Al-Ahzab:32     Seharusnya seorang muslim menjaga diri dari isu-isu dan rumor murahan itu dengan selalu merasa akan kehadiran Allah yang melindunginya dari pandangan, pendengaran, perkataan dan pergaulan yang tidak bermakna. Demikian pula dengan merasa dirinya selalu dalam pengawasan Allah. Itulah yang membuat seseorang senantiasa tersambung dengan keagungan Allah sehingga konsepsi tentang popularitas dan superioritas dapat teratasi. Sebab neraca akhirat tidaklah sama dengan neraca dunia.Allah berfirman :إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ، لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ، خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ [ الواقعة/1-3]“Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain”. Qs Al-Waqiah : 1-3===  Doa Penutup ===Penerjemah: Usman Hatimhttps://firanda.com/

3 Sebab Utama Doa Terkabul

Ada tiga sebab utama doa itu terkabul.   Yahya bin Mu’adz berkata, “Siapa yang Allah mudahkan baginya untuk menghadirkan hati dalam do’a, maka do’anya takkan tertolak.”   Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah lantas mengatakan, “Siapa yang menghadirkan hati dalam do’a, pas keadaan darutat (genting) ia meminta, dan kuat rasa harapnya, maka hampir-hampir do’anya sulit untuk ditolak.” (Al-Fawaid, hlm. 78)   Berarti kesimpulannya, ada tiga sebab utama do’a itu terkabul: Hati tidak lalai dalam do’a, benar-benar menghayati saat memanjatkan do’a. Benar-benar butuh, membuat kondisi genting saat meminta. Menaruh harapan besar terkabulnya do’a.   Dalil yang mendasari tiga hal di atas adalah sebagai berikut.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi, no. 3479. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)   Sedangkan kenapa keadaan genting atau sangat butuh pada Allah akan menjadikan doa tersebut cepat terkabul adalah hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ “Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?“ (HR. Muslim, no. 1015) Keadaan dia yang genting sebenarnya membuat doanya terkabul namun dikarenakan ia mengonsumsi yang haram yang mengakibatkan doanya sulit terkabul. Moga Allah mengabulkan setiap doa kita.   Referensi: Al-Fawaid. Cetakan keenam, tahun 1431 H. Muhammad bin Abi Bakr Az-Zar’I (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah). Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 7 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsadab doa doa

3 Sebab Utama Doa Terkabul

Ada tiga sebab utama doa itu terkabul.   Yahya bin Mu’adz berkata, “Siapa yang Allah mudahkan baginya untuk menghadirkan hati dalam do’a, maka do’anya takkan tertolak.”   Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah lantas mengatakan, “Siapa yang menghadirkan hati dalam do’a, pas keadaan darutat (genting) ia meminta, dan kuat rasa harapnya, maka hampir-hampir do’anya sulit untuk ditolak.” (Al-Fawaid, hlm. 78)   Berarti kesimpulannya, ada tiga sebab utama do’a itu terkabul: Hati tidak lalai dalam do’a, benar-benar menghayati saat memanjatkan do’a. Benar-benar butuh, membuat kondisi genting saat meminta. Menaruh harapan besar terkabulnya do’a.   Dalil yang mendasari tiga hal di atas adalah sebagai berikut.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi, no. 3479. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)   Sedangkan kenapa keadaan genting atau sangat butuh pada Allah akan menjadikan doa tersebut cepat terkabul adalah hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ “Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?“ (HR. Muslim, no. 1015) Keadaan dia yang genting sebenarnya membuat doanya terkabul namun dikarenakan ia mengonsumsi yang haram yang mengakibatkan doanya sulit terkabul. Moga Allah mengabulkan setiap doa kita.   Referensi: Al-Fawaid. Cetakan keenam, tahun 1431 H. Muhammad bin Abi Bakr Az-Zar’I (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah). Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 7 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsadab doa doa
Ada tiga sebab utama doa itu terkabul.   Yahya bin Mu’adz berkata, “Siapa yang Allah mudahkan baginya untuk menghadirkan hati dalam do’a, maka do’anya takkan tertolak.”   Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah lantas mengatakan, “Siapa yang menghadirkan hati dalam do’a, pas keadaan darutat (genting) ia meminta, dan kuat rasa harapnya, maka hampir-hampir do’anya sulit untuk ditolak.” (Al-Fawaid, hlm. 78)   Berarti kesimpulannya, ada tiga sebab utama do’a itu terkabul: Hati tidak lalai dalam do’a, benar-benar menghayati saat memanjatkan do’a. Benar-benar butuh, membuat kondisi genting saat meminta. Menaruh harapan besar terkabulnya do’a.   Dalil yang mendasari tiga hal di atas adalah sebagai berikut.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi, no. 3479. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)   Sedangkan kenapa keadaan genting atau sangat butuh pada Allah akan menjadikan doa tersebut cepat terkabul adalah hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ “Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?“ (HR. Muslim, no. 1015) Keadaan dia yang genting sebenarnya membuat doanya terkabul namun dikarenakan ia mengonsumsi yang haram yang mengakibatkan doanya sulit terkabul. Moga Allah mengabulkan setiap doa kita.   Referensi: Al-Fawaid. Cetakan keenam, tahun 1431 H. Muhammad bin Abi Bakr Az-Zar’I (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah). Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 7 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsadab doa doa


Ada tiga sebab utama doa itu terkabul.   Yahya bin Mu’adz berkata, “Siapa yang Allah mudahkan baginya untuk menghadirkan hati dalam do’a, maka do’anya takkan tertolak.”   Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah lantas mengatakan, “Siapa yang menghadirkan hati dalam do’a, pas keadaan darutat (genting) ia meminta, dan kuat rasa harapnya, maka hampir-hampir do’anya sulit untuk ditolak.” (Al-Fawaid, hlm. 78)   Berarti kesimpulannya, ada tiga sebab utama do’a itu terkabul: Hati tidak lalai dalam do’a, benar-benar menghayati saat memanjatkan do’a. Benar-benar butuh, membuat kondisi genting saat meminta. Menaruh harapan besar terkabulnya do’a.   Dalil yang mendasari tiga hal di atas adalah sebagai berikut.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi, no. 3479. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)   Sedangkan kenapa keadaan genting atau sangat butuh pada Allah akan menjadikan doa tersebut cepat terkabul adalah hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ “Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?“ (HR. Muslim, no. 1015) Keadaan dia yang genting sebenarnya membuat doanya terkabul namun dikarenakan ia mengonsumsi yang haram yang mengakibatkan doanya sulit terkabul. Moga Allah mengabulkan setiap doa kita.   Referensi: Al-Fawaid. Cetakan keenam, tahun 1431 H. Muhammad bin Abi Bakr Az-Zar’I (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah). Penerbit Maktabah Ar-Rusyd. — Disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 7 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsadab doa doa

Dua Perang Yang Diabadikan Allah Dalam Al Qur’an

Dua perang itu adalah perang uhud dan perang Hunain. Kaum muslimin menderita kekalahan pada dua perang tersebut. Allah abadikan untuk dijadikan pelajaran bagi orang-orang yang berpikir.Adapun perang Uhud, kekalahan akibat sebagian pasukan pemanah yang ada di Jabal Rumah menyelisihi perintah Nabi shallallahu alaihi wasallam agar tidak turun baik menang maupun kalah. Namun mereka malah turun sehingga Allah berikan kekalahan. Allah Ta’ala berfirman:أولما أصابتكم مصيبة قد أصبتم مثليها قلتم أني هذا قل هو من عند أنفسكم“Apakah ketika kalian ditimpa musibah (di perang uhud) sementara kalian telah mendapatkan kemenangan dua kali lipat (di perang badar), kalianpun berkata: “Bagaimana kami bisa kalah? Katakan, “(Musibah kekalahan itu) berasal dari diri kalian sendiri” (QS. Ali Imron: 165).Allah tidak mengatakan: “Kekalahan itu akibat pasukan musuh yang jumlahnya jauh lebih besar dan lebih kuat”. Tapi akibat kesalahan kalian sendiri…Sebuah renungan yang perlu dicamkan..Di Perang Hunain sebaliknya, jumlah kaum muslim 3x lipat lebih besar dari pasukan musuh. Namun kaum muslimin kalah di putaran pertama, akibat merasa bangga dengan jumlah yang banyak. Allah Ta’ala berfirman:لقد نصركم الله فى مواطن كثيرة ويوم حنين إذ أعجبتكم كثرتكم فلم تغن عنكم شيئا وضاقت عليكم الأرض بما ربحت ثم وليتم مدبرين“Sesungguhnya Allah telah menolongmu di tempat tempat yang banyak dan di hari perang Hunain. Ingatlah di saat itu kalian merasa ujub dengan jumlah yang banyak, padahal jumlah yang banyak itu tidak bermanfaat sedikitpun untuk kalian dan menjadi sempitlah bumi yang luas itu bagi kalian dan kalianpun lari ke belakang” (QS. At Taubah: 25).Merasa ujub dengan jumlah yang banyak ternyata sebab kekalahan kaum muslimin di perang Hunain. Subhanallah…Maka jadikanlah dua peperangan itu sebagai pelajaran berharga untuk kita bahwa betapa pentingnya pengokohan aqidah dan ketundukan yang sempurna kepada Allah dan RasulNya. Itulah sebab kemenangan dan kejayaan.***Penulis: Ust. Badrusalam, Lc.Artikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Kiamat, Tata Cara Dzikir, Iklan Halal, Macam Macam Aliran Syiah, Al Mulk

Dua Perang Yang Diabadikan Allah Dalam Al Qur’an

Dua perang itu adalah perang uhud dan perang Hunain. Kaum muslimin menderita kekalahan pada dua perang tersebut. Allah abadikan untuk dijadikan pelajaran bagi orang-orang yang berpikir.Adapun perang Uhud, kekalahan akibat sebagian pasukan pemanah yang ada di Jabal Rumah menyelisihi perintah Nabi shallallahu alaihi wasallam agar tidak turun baik menang maupun kalah. Namun mereka malah turun sehingga Allah berikan kekalahan. Allah Ta’ala berfirman:أولما أصابتكم مصيبة قد أصبتم مثليها قلتم أني هذا قل هو من عند أنفسكم“Apakah ketika kalian ditimpa musibah (di perang uhud) sementara kalian telah mendapatkan kemenangan dua kali lipat (di perang badar), kalianpun berkata: “Bagaimana kami bisa kalah? Katakan, “(Musibah kekalahan itu) berasal dari diri kalian sendiri” (QS. Ali Imron: 165).Allah tidak mengatakan: “Kekalahan itu akibat pasukan musuh yang jumlahnya jauh lebih besar dan lebih kuat”. Tapi akibat kesalahan kalian sendiri…Sebuah renungan yang perlu dicamkan..Di Perang Hunain sebaliknya, jumlah kaum muslim 3x lipat lebih besar dari pasukan musuh. Namun kaum muslimin kalah di putaran pertama, akibat merasa bangga dengan jumlah yang banyak. Allah Ta’ala berfirman:لقد نصركم الله فى مواطن كثيرة ويوم حنين إذ أعجبتكم كثرتكم فلم تغن عنكم شيئا وضاقت عليكم الأرض بما ربحت ثم وليتم مدبرين“Sesungguhnya Allah telah menolongmu di tempat tempat yang banyak dan di hari perang Hunain. Ingatlah di saat itu kalian merasa ujub dengan jumlah yang banyak, padahal jumlah yang banyak itu tidak bermanfaat sedikitpun untuk kalian dan menjadi sempitlah bumi yang luas itu bagi kalian dan kalianpun lari ke belakang” (QS. At Taubah: 25).Merasa ujub dengan jumlah yang banyak ternyata sebab kekalahan kaum muslimin di perang Hunain. Subhanallah…Maka jadikanlah dua peperangan itu sebagai pelajaran berharga untuk kita bahwa betapa pentingnya pengokohan aqidah dan ketundukan yang sempurna kepada Allah dan RasulNya. Itulah sebab kemenangan dan kejayaan.***Penulis: Ust. Badrusalam, Lc.Artikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Kiamat, Tata Cara Dzikir, Iklan Halal, Macam Macam Aliran Syiah, Al Mulk
Dua perang itu adalah perang uhud dan perang Hunain. Kaum muslimin menderita kekalahan pada dua perang tersebut. Allah abadikan untuk dijadikan pelajaran bagi orang-orang yang berpikir.Adapun perang Uhud, kekalahan akibat sebagian pasukan pemanah yang ada di Jabal Rumah menyelisihi perintah Nabi shallallahu alaihi wasallam agar tidak turun baik menang maupun kalah. Namun mereka malah turun sehingga Allah berikan kekalahan. Allah Ta’ala berfirman:أولما أصابتكم مصيبة قد أصبتم مثليها قلتم أني هذا قل هو من عند أنفسكم“Apakah ketika kalian ditimpa musibah (di perang uhud) sementara kalian telah mendapatkan kemenangan dua kali lipat (di perang badar), kalianpun berkata: “Bagaimana kami bisa kalah? Katakan, “(Musibah kekalahan itu) berasal dari diri kalian sendiri” (QS. Ali Imron: 165).Allah tidak mengatakan: “Kekalahan itu akibat pasukan musuh yang jumlahnya jauh lebih besar dan lebih kuat”. Tapi akibat kesalahan kalian sendiri…Sebuah renungan yang perlu dicamkan..Di Perang Hunain sebaliknya, jumlah kaum muslim 3x lipat lebih besar dari pasukan musuh. Namun kaum muslimin kalah di putaran pertama, akibat merasa bangga dengan jumlah yang banyak. Allah Ta’ala berfirman:لقد نصركم الله فى مواطن كثيرة ويوم حنين إذ أعجبتكم كثرتكم فلم تغن عنكم شيئا وضاقت عليكم الأرض بما ربحت ثم وليتم مدبرين“Sesungguhnya Allah telah menolongmu di tempat tempat yang banyak dan di hari perang Hunain. Ingatlah di saat itu kalian merasa ujub dengan jumlah yang banyak, padahal jumlah yang banyak itu tidak bermanfaat sedikitpun untuk kalian dan menjadi sempitlah bumi yang luas itu bagi kalian dan kalianpun lari ke belakang” (QS. At Taubah: 25).Merasa ujub dengan jumlah yang banyak ternyata sebab kekalahan kaum muslimin di perang Hunain. Subhanallah…Maka jadikanlah dua peperangan itu sebagai pelajaran berharga untuk kita bahwa betapa pentingnya pengokohan aqidah dan ketundukan yang sempurna kepada Allah dan RasulNya. Itulah sebab kemenangan dan kejayaan.***Penulis: Ust. Badrusalam, Lc.Artikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Kiamat, Tata Cara Dzikir, Iklan Halal, Macam Macam Aliran Syiah, Al Mulk


Dua perang itu adalah perang uhud dan perang Hunain. Kaum muslimin menderita kekalahan pada dua perang tersebut. Allah abadikan untuk dijadikan pelajaran bagi orang-orang yang berpikir.Adapun perang Uhud, kekalahan akibat sebagian pasukan pemanah yang ada di Jabal Rumah menyelisihi perintah Nabi shallallahu alaihi wasallam agar tidak turun baik menang maupun kalah. Namun mereka malah turun sehingga Allah berikan kekalahan. Allah Ta’ala berfirman:أولما أصابتكم مصيبة قد أصبتم مثليها قلتم أني هذا قل هو من عند أنفسكم“Apakah ketika kalian ditimpa musibah (di perang uhud) sementara kalian telah mendapatkan kemenangan dua kali lipat (di perang badar), kalianpun berkata: “Bagaimana kami bisa kalah? Katakan, “(Musibah kekalahan itu) berasal dari diri kalian sendiri” (QS. Ali Imron: 165).Allah tidak mengatakan: “Kekalahan itu akibat pasukan musuh yang jumlahnya jauh lebih besar dan lebih kuat”. Tapi akibat kesalahan kalian sendiri…Sebuah renungan yang perlu dicamkan..Di Perang Hunain sebaliknya, jumlah kaum muslim 3x lipat lebih besar dari pasukan musuh. Namun kaum muslimin kalah di putaran pertama, akibat merasa bangga dengan jumlah yang banyak. Allah Ta’ala berfirman:لقد نصركم الله فى مواطن كثيرة ويوم حنين إذ أعجبتكم كثرتكم فلم تغن عنكم شيئا وضاقت عليكم الأرض بما ربحت ثم وليتم مدبرين“Sesungguhnya Allah telah menolongmu di tempat tempat yang banyak dan di hari perang Hunain. Ingatlah di saat itu kalian merasa ujub dengan jumlah yang banyak, padahal jumlah yang banyak itu tidak bermanfaat sedikitpun untuk kalian dan menjadi sempitlah bumi yang luas itu bagi kalian dan kalianpun lari ke belakang” (QS. At Taubah: 25).Merasa ujub dengan jumlah yang banyak ternyata sebab kekalahan kaum muslimin di perang Hunain. Subhanallah…Maka jadikanlah dua peperangan itu sebagai pelajaran berharga untuk kita bahwa betapa pentingnya pengokohan aqidah dan ketundukan yang sempurna kepada Allah dan RasulNya. Itulah sebab kemenangan dan kejayaan.***Penulis: Ust. Badrusalam, Lc.Artikel Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Kiamat, Tata Cara Dzikir, Iklan Halal, Macam Macam Aliran Syiah, Al Mulk

Cara Mandi Junub yang Paling Ringkas

Bagaimana tata cara mandi junub ringkas dan yang sepraktis-praktisnya?   From: Eka Noviani (@EkaNvani) puteribertanya__answer241 Date: 2016-10-14 Assalamu’alaikum ustadz, mau tny mengenai mandi wajib/junub. Jika sy mandi wajib dengan membasahi seluruh tubuh dan membersihkannya tanpa mengikuti tata cara sprti berwudhu terlebih dahulu dst. Apakah mandi wajibnya sah? Jazakallah khair ustadz Itu pertanyaan di group Tanya Rumaysho Puteri (https://telegram.me/tanyarumaysho2) — Jawaban: Kalau kita perhatikan dalam ayat Al-Qur’an yang membicarakan tentang perihal mandi, kalimat yang digunakan adalah kalimat perintah fath-thaharu ‘mandilah’, punya makna mengguyur seluruh badan dengan air. Dalam ayat disebutkan, وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا “Dan jika kamu junub maka mandilah …” (QS. Al Maidah: 6). Dalam ayat ini tidak dikhususkan satu anggota tubuh dari anggota lainnya. Akan tetapi, Allah jadikan bersuci untuk seluruh badan. Tata cara mandi adalah dengan mengguyur seluruh badan luar dengan air, termasuk pula bagian bawah rambut, baik rambut yang tipis maupun yang tebal. Mandi dilakukan dengan membasuh atau mencuci, bukan mengusap. Juga ayat menunjukkan bahwa mandi besar tidak ada syarat berurutan dan muwalah (tidak memisah antara bagian yang satu dan lainnya). Kalau kita lihat dalam hadits di antaranya adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menceritakan tata cara mandi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جَسَدِهِ كُلِّهِ “Kemudian beliau mengguyur air pada seluruh badannya.” (HR. An Nasa-i, no. 247. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan, هَذَا التَّأْكِيد يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ عَمَّمَ جَمِيع جَسَدِهِ بِالْغُسْلِ “Penguatan makna dalam hadits ini menunjukkan bahwa ketika mandi beliau mengguyur air ke seluruh tubuh.” (Fath Al-Bari, 1: 361) Jadi kalau ada yang bertanya tata cara mandi yang ringkas adalah cukup mengguyur air pada seluruh badan, tanpa memulai dengan wudhu. Itu sudah memenuhi rukun dalam mandi junub. Adapun tata cara mandi yang sempurna adalah dengan berwudhu terlebih dahulu lalu dilanjutkan dengan mengguyur air pada seluruh badan seperti disebutkan dalam hadits ‘Aisyah berikut ini. Dari ‘Aisyah, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya.” (HR. Bukhari, no. 248; Muslim, no. 316) Semoga bermanfaat. Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a, Ya Allah karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, malam 6 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsmandi junub

Cara Mandi Junub yang Paling Ringkas

Bagaimana tata cara mandi junub ringkas dan yang sepraktis-praktisnya?   From: Eka Noviani (@EkaNvani) puteribertanya__answer241 Date: 2016-10-14 Assalamu’alaikum ustadz, mau tny mengenai mandi wajib/junub. Jika sy mandi wajib dengan membasahi seluruh tubuh dan membersihkannya tanpa mengikuti tata cara sprti berwudhu terlebih dahulu dst. Apakah mandi wajibnya sah? Jazakallah khair ustadz Itu pertanyaan di group Tanya Rumaysho Puteri (https://telegram.me/tanyarumaysho2) — Jawaban: Kalau kita perhatikan dalam ayat Al-Qur’an yang membicarakan tentang perihal mandi, kalimat yang digunakan adalah kalimat perintah fath-thaharu ‘mandilah’, punya makna mengguyur seluruh badan dengan air. Dalam ayat disebutkan, وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا “Dan jika kamu junub maka mandilah …” (QS. Al Maidah: 6). Dalam ayat ini tidak dikhususkan satu anggota tubuh dari anggota lainnya. Akan tetapi, Allah jadikan bersuci untuk seluruh badan. Tata cara mandi adalah dengan mengguyur seluruh badan luar dengan air, termasuk pula bagian bawah rambut, baik rambut yang tipis maupun yang tebal. Mandi dilakukan dengan membasuh atau mencuci, bukan mengusap. Juga ayat menunjukkan bahwa mandi besar tidak ada syarat berurutan dan muwalah (tidak memisah antara bagian yang satu dan lainnya). Kalau kita lihat dalam hadits di antaranya adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menceritakan tata cara mandi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جَسَدِهِ كُلِّهِ “Kemudian beliau mengguyur air pada seluruh badannya.” (HR. An Nasa-i, no. 247. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan, هَذَا التَّأْكِيد يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ عَمَّمَ جَمِيع جَسَدِهِ بِالْغُسْلِ “Penguatan makna dalam hadits ini menunjukkan bahwa ketika mandi beliau mengguyur air ke seluruh tubuh.” (Fath Al-Bari, 1: 361) Jadi kalau ada yang bertanya tata cara mandi yang ringkas adalah cukup mengguyur air pada seluruh badan, tanpa memulai dengan wudhu. Itu sudah memenuhi rukun dalam mandi junub. Adapun tata cara mandi yang sempurna adalah dengan berwudhu terlebih dahulu lalu dilanjutkan dengan mengguyur air pada seluruh badan seperti disebutkan dalam hadits ‘Aisyah berikut ini. Dari ‘Aisyah, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya.” (HR. Bukhari, no. 248; Muslim, no. 316) Semoga bermanfaat. Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a, Ya Allah karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, malam 6 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsmandi junub
Bagaimana tata cara mandi junub ringkas dan yang sepraktis-praktisnya?   From: Eka Noviani (@EkaNvani) puteribertanya__answer241 Date: 2016-10-14 Assalamu’alaikum ustadz, mau tny mengenai mandi wajib/junub. Jika sy mandi wajib dengan membasahi seluruh tubuh dan membersihkannya tanpa mengikuti tata cara sprti berwudhu terlebih dahulu dst. Apakah mandi wajibnya sah? Jazakallah khair ustadz Itu pertanyaan di group Tanya Rumaysho Puteri (https://telegram.me/tanyarumaysho2) — Jawaban: Kalau kita perhatikan dalam ayat Al-Qur’an yang membicarakan tentang perihal mandi, kalimat yang digunakan adalah kalimat perintah fath-thaharu ‘mandilah’, punya makna mengguyur seluruh badan dengan air. Dalam ayat disebutkan, وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا “Dan jika kamu junub maka mandilah …” (QS. Al Maidah: 6). Dalam ayat ini tidak dikhususkan satu anggota tubuh dari anggota lainnya. Akan tetapi, Allah jadikan bersuci untuk seluruh badan. Tata cara mandi adalah dengan mengguyur seluruh badan luar dengan air, termasuk pula bagian bawah rambut, baik rambut yang tipis maupun yang tebal. Mandi dilakukan dengan membasuh atau mencuci, bukan mengusap. Juga ayat menunjukkan bahwa mandi besar tidak ada syarat berurutan dan muwalah (tidak memisah antara bagian yang satu dan lainnya). Kalau kita lihat dalam hadits di antaranya adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menceritakan tata cara mandi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جَسَدِهِ كُلِّهِ “Kemudian beliau mengguyur air pada seluruh badannya.” (HR. An Nasa-i, no. 247. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan, هَذَا التَّأْكِيد يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ عَمَّمَ جَمِيع جَسَدِهِ بِالْغُسْلِ “Penguatan makna dalam hadits ini menunjukkan bahwa ketika mandi beliau mengguyur air ke seluruh tubuh.” (Fath Al-Bari, 1: 361) Jadi kalau ada yang bertanya tata cara mandi yang ringkas adalah cukup mengguyur air pada seluruh badan, tanpa memulai dengan wudhu. Itu sudah memenuhi rukun dalam mandi junub. Adapun tata cara mandi yang sempurna adalah dengan berwudhu terlebih dahulu lalu dilanjutkan dengan mengguyur air pada seluruh badan seperti disebutkan dalam hadits ‘Aisyah berikut ini. Dari ‘Aisyah, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya.” (HR. Bukhari, no. 248; Muslim, no. 316) Semoga bermanfaat. Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a, Ya Allah karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, malam 6 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsmandi junub


Bagaimana tata cara mandi junub ringkas dan yang sepraktis-praktisnya?   From: Eka Noviani (@EkaNvani) puteribertanya__answer241 Date: 2016-10-14 Assalamu’alaikum ustadz, mau tny mengenai mandi wajib/junub. Jika sy mandi wajib dengan membasahi seluruh tubuh dan membersihkannya tanpa mengikuti tata cara sprti berwudhu terlebih dahulu dst. Apakah mandi wajibnya sah? Jazakallah khair ustadz Itu pertanyaan di group Tanya Rumaysho Puteri (https://telegram.me/tanyarumaysho2) — Jawaban: Kalau kita perhatikan dalam ayat Al-Qur’an yang membicarakan tentang perihal mandi, kalimat yang digunakan adalah kalimat perintah fath-thaharu ‘mandilah’, punya makna mengguyur seluruh badan dengan air. Dalam ayat disebutkan, وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا “Dan jika kamu junub maka mandilah …” (QS. Al Maidah: 6). Dalam ayat ini tidak dikhususkan satu anggota tubuh dari anggota lainnya. Akan tetapi, Allah jadikan bersuci untuk seluruh badan. Tata cara mandi adalah dengan mengguyur seluruh badan luar dengan air, termasuk pula bagian bawah rambut, baik rambut yang tipis maupun yang tebal. Mandi dilakukan dengan membasuh atau mencuci, bukan mengusap. Juga ayat menunjukkan bahwa mandi besar tidak ada syarat berurutan dan muwalah (tidak memisah antara bagian yang satu dan lainnya). Kalau kita lihat dalam hadits di antaranya adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menceritakan tata cara mandi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جَسَدِهِ كُلِّهِ “Kemudian beliau mengguyur air pada seluruh badannya.” (HR. An Nasa-i, no. 247. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan, هَذَا التَّأْكِيد يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ عَمَّمَ جَمِيع جَسَدِهِ بِالْغُسْلِ “Penguatan makna dalam hadits ini menunjukkan bahwa ketika mandi beliau mengguyur air ke seluruh tubuh.” (Fath Al-Bari, 1: 361) Jadi kalau ada yang bertanya tata cara mandi yang ringkas adalah cukup mengguyur air pada seluruh badan, tanpa memulai dengan wudhu. Itu sudah memenuhi rukun dalam mandi junub. Adapun tata cara mandi yang sempurna adalah dengan berwudhu terlebih dahulu lalu dilanjutkan dengan mengguyur air pada seluruh badan seperti disebutkan dalam hadits ‘Aisyah berikut ini. Dari ‘Aisyah, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya.” (HR. Bukhari, no. 248; Muslim, no. 316) Semoga bermanfaat. Allahumma inna nas-aluka ‘ilman naafi’a, Ya Allah karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat. — @ DS, Panggang, Gunungkidul, malam 6 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsmandi junub

Khutbah Jumat: Muslim Penista Al Quran

Mungkin saja seorang muslim yang menista dan menghinakan Al-Qur’an ketika ia sendiri tidak mau mempelajari dan mengamalkan.   Khutbah Pertama   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji kita panjatkan pada Allah, atas berbagai macam nikmat. Tanpa petunjuk dari Allah, tentu kita akan berada dalam kesesatan, bukan berada di atas iman. Sungguh suatu nikmat yang besar, dulu kita berada di atas kekafiran dan kemaksiatan. Sekarang kita diberi taufik dan hidayah oleh Allah berada di atas iman. Dan tanda lezatnya iman sebagaimana disebutkan oleh Nabi dalam hadits berikut ini.   Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَمَنْ أَحَبَّ عَبْدًا لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَمَنْ يَكْرَهُ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلْقَى فِى النَّارِ “Tiga perkara yang bisa seseorang memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) Ia mencintai saudaranya hanyalah karena Allah, (3) ia benci kembali pada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana ia tidak suka jika dilemparkan dalam api.” (HR. Bukhari, no. 21; Muslim, no. 43)   Marilah bentuk syukur kita atas nikmat yang ada tadi, kita berusaha untuk terus meningkatkan ketakwaan kita pada Allah dan berusaha mati di atas iman sebagaimana perintah Allah. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman. Kita memang harus membela Al-Qur’an … Siapa saja yang membela Al-Qur’an, maka Al-Qur’an akan menjadi pembelanya pada hari kiamat. Sebagaimana kita tahu pula bahwa Al-Qur’an akan menjadi pemberi syafa’at bagi kita pada hari kiamat. Sebaliknya kita tidak boleh menghinakan dan menistakan Al-Qur’an, kitab suci kita. Bukan hanya orang lain yang tidak boleh menistakan, atau orang lain di luar Islam tidak boleh menistakan. Kita sendiri sebagai umat Islam tidak boleh menistakan Al-Qur’an dan harus mencintai kitab suci kita yang mulia. Coba perhatikan perkataan Ibnul Qayyim berikut yang menunjukkan bagaimana ciri-ciri orang yang mencintai Al-Qur’an.   Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, Cinta pada Al-Qur’an (kalamullah) adalah tanda cinta pada Allah. Jika engkau ingin tahu bagaimanakah tanda dirimu dan sekitarmu cinta pada Allah, maka lihatlah bagaimana kecintaan Al-Qur’an pada dirimu. Ketahuilah, kelezatan mendengar Al-Qur’an lebih lezat daripada kelezatan orang yang mendengar nyanyian (lagu yang benar-benar menyia-nyiakan). Tentu saja tanda seseorang yang mencinta adalah ia sangat menyukai kalam yang dicintai. Sehingga diibaratkan dalam sebuah sya’ir: Jika engkau mengaku mencintai-Ku, janganlah engkau tinggalkan kitab-Ku (Al-Qur’an) Saat engkau merenungkan kitab-Ku, engkau akan rasakan bagaimanakah lezatnya kalimat-Ku di dalamnya. ‘Utsman bin ‘Affan pernah mengutarakan, “Seandainya hati kita bersih, tentu kita tidak akan pernah puas bersama Al-Qur’an (kalamullah). Sungguh aneh, bagaimana seseorang bisa puas mendengar kalimat indah dari yang ia cintai.” (Al-Jawab Al-Kafi, hlm. 170)   Berarti ciri-ciri orang yang mencintai Al-Qur’an adalah selalu bersama Al-Qur’an dan senang mendengar Al-Qur’an. Ingat, Al-Qur’an bisa jadi pembela atau musuh kita pada hari kiamat.   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, وَالقُرْاَنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ “Al Qur’an itu bisa menjadi pembelamu atau musuh bagimu.” (HR. Muslim no. 223)   Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah berkata, ”Al Qur’an itu bisa menjadi pembelamu, jika engkau melaksanakan nasehat terhadap Al Qur’an.”   Bagaimana maksudnya? Tanda seorang muslim mencintai Al-Qur’an, tidak menjadi penista, 1- menghafalkannya, 2- merenungkannya (mentadaburinya), 3- mempelajari lafazh-lafazhnya, 4- mempelajari (memahami) maknanya, 5- berusaha mengamalkannya untuk diri sendiri dan mengajarkannya pada orang lain. (Kata Syaikh As-Sa’di dalam Bahjatul Qulub Al-Abrar)   Contoh orang yang membela Al-Qur’an itu seperti ini … Ketika ia membaca ayat, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat.” (QS. Al Baqarah: 43)   Dia membela Al-Qur’an berarti ia membaca ayat tersebut, sekaligus pahami, lalu amalkan. Berarti ia kerjakan shalat dan mengeluarkan zakat dari hartanya.   Aneh jika kita mau menghukum orang lain yang menistakan Al-Qur’an, sedangkan kita sebagai muslim yang malah menistakan kitab suci kita sendiri.   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Demikian khutbah pertama ini.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Orang yang bersama Al-Qur’an akan selalu mendapatkan kebaikan, perhatikan hadits berikut.   Dari Abu Musa Al Asy’ariy, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالأُتْرُجَّةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ ، وَالْمُؤْمِنُ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالتَّمْرَةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ ، طَعْمُهَا مُرٌّ – أَوْ خَبِيثٌ – وَرِيحُهَا مُرٌّ “Permisalan orang yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah Utrujah, rasa dan baunya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah kurma, rasanya enak namun tidak ada aroma. Orang munafik yang membaca Al Qur’an adalah bagaikan royhanah, baunya menyenangkan namun rasanya pahit. Dan orang munafik yang membaca tidak membaca Al Qur’an bagaikan hanzholah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (HR. Bukhari no. 5059)   Di akhir khutbah ini … Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Siapa yang bershalawat sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sepuluh kali. Arti shalawat dari Allah adalah ampunan dari Allah.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ إِنِّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Adz-Dzikro Ngampel Warak Girisekar Panggang, Jum’at Pon, 4 Safar 1438 H (4 November 2016)   Silakan download naskah khutbah dalam bentuk PDF: Khutbah Jumat : Muslim Penista Al Quran — Disusun di DS Panggang, Gunungkidul, 4 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsadab al quran

Khutbah Jumat: Muslim Penista Al Quran

Mungkin saja seorang muslim yang menista dan menghinakan Al-Qur’an ketika ia sendiri tidak mau mempelajari dan mengamalkan.   Khutbah Pertama   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji kita panjatkan pada Allah, atas berbagai macam nikmat. Tanpa petunjuk dari Allah, tentu kita akan berada dalam kesesatan, bukan berada di atas iman. Sungguh suatu nikmat yang besar, dulu kita berada di atas kekafiran dan kemaksiatan. Sekarang kita diberi taufik dan hidayah oleh Allah berada di atas iman. Dan tanda lezatnya iman sebagaimana disebutkan oleh Nabi dalam hadits berikut ini.   Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَمَنْ أَحَبَّ عَبْدًا لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَمَنْ يَكْرَهُ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلْقَى فِى النَّارِ “Tiga perkara yang bisa seseorang memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) Ia mencintai saudaranya hanyalah karena Allah, (3) ia benci kembali pada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana ia tidak suka jika dilemparkan dalam api.” (HR. Bukhari, no. 21; Muslim, no. 43)   Marilah bentuk syukur kita atas nikmat yang ada tadi, kita berusaha untuk terus meningkatkan ketakwaan kita pada Allah dan berusaha mati di atas iman sebagaimana perintah Allah. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman. Kita memang harus membela Al-Qur’an … Siapa saja yang membela Al-Qur’an, maka Al-Qur’an akan menjadi pembelanya pada hari kiamat. Sebagaimana kita tahu pula bahwa Al-Qur’an akan menjadi pemberi syafa’at bagi kita pada hari kiamat. Sebaliknya kita tidak boleh menghinakan dan menistakan Al-Qur’an, kitab suci kita. Bukan hanya orang lain yang tidak boleh menistakan, atau orang lain di luar Islam tidak boleh menistakan. Kita sendiri sebagai umat Islam tidak boleh menistakan Al-Qur’an dan harus mencintai kitab suci kita yang mulia. Coba perhatikan perkataan Ibnul Qayyim berikut yang menunjukkan bagaimana ciri-ciri orang yang mencintai Al-Qur’an.   Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, Cinta pada Al-Qur’an (kalamullah) adalah tanda cinta pada Allah. Jika engkau ingin tahu bagaimanakah tanda dirimu dan sekitarmu cinta pada Allah, maka lihatlah bagaimana kecintaan Al-Qur’an pada dirimu. Ketahuilah, kelezatan mendengar Al-Qur’an lebih lezat daripada kelezatan orang yang mendengar nyanyian (lagu yang benar-benar menyia-nyiakan). Tentu saja tanda seseorang yang mencinta adalah ia sangat menyukai kalam yang dicintai. Sehingga diibaratkan dalam sebuah sya’ir: Jika engkau mengaku mencintai-Ku, janganlah engkau tinggalkan kitab-Ku (Al-Qur’an) Saat engkau merenungkan kitab-Ku, engkau akan rasakan bagaimanakah lezatnya kalimat-Ku di dalamnya. ‘Utsman bin ‘Affan pernah mengutarakan, “Seandainya hati kita bersih, tentu kita tidak akan pernah puas bersama Al-Qur’an (kalamullah). Sungguh aneh, bagaimana seseorang bisa puas mendengar kalimat indah dari yang ia cintai.” (Al-Jawab Al-Kafi, hlm. 170)   Berarti ciri-ciri orang yang mencintai Al-Qur’an adalah selalu bersama Al-Qur’an dan senang mendengar Al-Qur’an. Ingat, Al-Qur’an bisa jadi pembela atau musuh kita pada hari kiamat.   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, وَالقُرْاَنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ “Al Qur’an itu bisa menjadi pembelamu atau musuh bagimu.” (HR. Muslim no. 223)   Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah berkata, ”Al Qur’an itu bisa menjadi pembelamu, jika engkau melaksanakan nasehat terhadap Al Qur’an.”   Bagaimana maksudnya? Tanda seorang muslim mencintai Al-Qur’an, tidak menjadi penista, 1- menghafalkannya, 2- merenungkannya (mentadaburinya), 3- mempelajari lafazh-lafazhnya, 4- mempelajari (memahami) maknanya, 5- berusaha mengamalkannya untuk diri sendiri dan mengajarkannya pada orang lain. (Kata Syaikh As-Sa’di dalam Bahjatul Qulub Al-Abrar)   Contoh orang yang membela Al-Qur’an itu seperti ini … Ketika ia membaca ayat, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat.” (QS. Al Baqarah: 43)   Dia membela Al-Qur’an berarti ia membaca ayat tersebut, sekaligus pahami, lalu amalkan. Berarti ia kerjakan shalat dan mengeluarkan zakat dari hartanya.   Aneh jika kita mau menghukum orang lain yang menistakan Al-Qur’an, sedangkan kita sebagai muslim yang malah menistakan kitab suci kita sendiri.   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Demikian khutbah pertama ini.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Orang yang bersama Al-Qur’an akan selalu mendapatkan kebaikan, perhatikan hadits berikut.   Dari Abu Musa Al Asy’ariy, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالأُتْرُجَّةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ ، وَالْمُؤْمِنُ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالتَّمْرَةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ ، طَعْمُهَا مُرٌّ – أَوْ خَبِيثٌ – وَرِيحُهَا مُرٌّ “Permisalan orang yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah Utrujah, rasa dan baunya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah kurma, rasanya enak namun tidak ada aroma. Orang munafik yang membaca Al Qur’an adalah bagaikan royhanah, baunya menyenangkan namun rasanya pahit. Dan orang munafik yang membaca tidak membaca Al Qur’an bagaikan hanzholah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (HR. Bukhari no. 5059)   Di akhir khutbah ini … Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Siapa yang bershalawat sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sepuluh kali. Arti shalawat dari Allah adalah ampunan dari Allah.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ إِنِّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Adz-Dzikro Ngampel Warak Girisekar Panggang, Jum’at Pon, 4 Safar 1438 H (4 November 2016)   Silakan download naskah khutbah dalam bentuk PDF: Khutbah Jumat : Muslim Penista Al Quran — Disusun di DS Panggang, Gunungkidul, 4 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsadab al quran
Mungkin saja seorang muslim yang menista dan menghinakan Al-Qur’an ketika ia sendiri tidak mau mempelajari dan mengamalkan.   Khutbah Pertama   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji kita panjatkan pada Allah, atas berbagai macam nikmat. Tanpa petunjuk dari Allah, tentu kita akan berada dalam kesesatan, bukan berada di atas iman. Sungguh suatu nikmat yang besar, dulu kita berada di atas kekafiran dan kemaksiatan. Sekarang kita diberi taufik dan hidayah oleh Allah berada di atas iman. Dan tanda lezatnya iman sebagaimana disebutkan oleh Nabi dalam hadits berikut ini.   Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَمَنْ أَحَبَّ عَبْدًا لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَمَنْ يَكْرَهُ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلْقَى فِى النَّارِ “Tiga perkara yang bisa seseorang memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) Ia mencintai saudaranya hanyalah karena Allah, (3) ia benci kembali pada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana ia tidak suka jika dilemparkan dalam api.” (HR. Bukhari, no. 21; Muslim, no. 43)   Marilah bentuk syukur kita atas nikmat yang ada tadi, kita berusaha untuk terus meningkatkan ketakwaan kita pada Allah dan berusaha mati di atas iman sebagaimana perintah Allah. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman. Kita memang harus membela Al-Qur’an … Siapa saja yang membela Al-Qur’an, maka Al-Qur’an akan menjadi pembelanya pada hari kiamat. Sebagaimana kita tahu pula bahwa Al-Qur’an akan menjadi pemberi syafa’at bagi kita pada hari kiamat. Sebaliknya kita tidak boleh menghinakan dan menistakan Al-Qur’an, kitab suci kita. Bukan hanya orang lain yang tidak boleh menistakan, atau orang lain di luar Islam tidak boleh menistakan. Kita sendiri sebagai umat Islam tidak boleh menistakan Al-Qur’an dan harus mencintai kitab suci kita yang mulia. Coba perhatikan perkataan Ibnul Qayyim berikut yang menunjukkan bagaimana ciri-ciri orang yang mencintai Al-Qur’an.   Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, Cinta pada Al-Qur’an (kalamullah) adalah tanda cinta pada Allah. Jika engkau ingin tahu bagaimanakah tanda dirimu dan sekitarmu cinta pada Allah, maka lihatlah bagaimana kecintaan Al-Qur’an pada dirimu. Ketahuilah, kelezatan mendengar Al-Qur’an lebih lezat daripada kelezatan orang yang mendengar nyanyian (lagu yang benar-benar menyia-nyiakan). Tentu saja tanda seseorang yang mencinta adalah ia sangat menyukai kalam yang dicintai. Sehingga diibaratkan dalam sebuah sya’ir: Jika engkau mengaku mencintai-Ku, janganlah engkau tinggalkan kitab-Ku (Al-Qur’an) Saat engkau merenungkan kitab-Ku, engkau akan rasakan bagaimanakah lezatnya kalimat-Ku di dalamnya. ‘Utsman bin ‘Affan pernah mengutarakan, “Seandainya hati kita bersih, tentu kita tidak akan pernah puas bersama Al-Qur’an (kalamullah). Sungguh aneh, bagaimana seseorang bisa puas mendengar kalimat indah dari yang ia cintai.” (Al-Jawab Al-Kafi, hlm. 170)   Berarti ciri-ciri orang yang mencintai Al-Qur’an adalah selalu bersama Al-Qur’an dan senang mendengar Al-Qur’an. Ingat, Al-Qur’an bisa jadi pembela atau musuh kita pada hari kiamat.   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, وَالقُرْاَنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ “Al Qur’an itu bisa menjadi pembelamu atau musuh bagimu.” (HR. Muslim no. 223)   Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah berkata, ”Al Qur’an itu bisa menjadi pembelamu, jika engkau melaksanakan nasehat terhadap Al Qur’an.”   Bagaimana maksudnya? Tanda seorang muslim mencintai Al-Qur’an, tidak menjadi penista, 1- menghafalkannya, 2- merenungkannya (mentadaburinya), 3- mempelajari lafazh-lafazhnya, 4- mempelajari (memahami) maknanya, 5- berusaha mengamalkannya untuk diri sendiri dan mengajarkannya pada orang lain. (Kata Syaikh As-Sa’di dalam Bahjatul Qulub Al-Abrar)   Contoh orang yang membela Al-Qur’an itu seperti ini … Ketika ia membaca ayat, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat.” (QS. Al Baqarah: 43)   Dia membela Al-Qur’an berarti ia membaca ayat tersebut, sekaligus pahami, lalu amalkan. Berarti ia kerjakan shalat dan mengeluarkan zakat dari hartanya.   Aneh jika kita mau menghukum orang lain yang menistakan Al-Qur’an, sedangkan kita sebagai muslim yang malah menistakan kitab suci kita sendiri.   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Demikian khutbah pertama ini.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Orang yang bersama Al-Qur’an akan selalu mendapatkan kebaikan, perhatikan hadits berikut.   Dari Abu Musa Al Asy’ariy, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالأُتْرُجَّةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ ، وَالْمُؤْمِنُ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالتَّمْرَةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ ، طَعْمُهَا مُرٌّ – أَوْ خَبِيثٌ – وَرِيحُهَا مُرٌّ “Permisalan orang yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah Utrujah, rasa dan baunya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah kurma, rasanya enak namun tidak ada aroma. Orang munafik yang membaca Al Qur’an adalah bagaikan royhanah, baunya menyenangkan namun rasanya pahit. Dan orang munafik yang membaca tidak membaca Al Qur’an bagaikan hanzholah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (HR. Bukhari no. 5059)   Di akhir khutbah ini … Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Siapa yang bershalawat sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sepuluh kali. Arti shalawat dari Allah adalah ampunan dari Allah.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ إِنِّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Adz-Dzikro Ngampel Warak Girisekar Panggang, Jum’at Pon, 4 Safar 1438 H (4 November 2016)   Silakan download naskah khutbah dalam bentuk PDF: Khutbah Jumat : Muslim Penista Al Quran — Disusun di DS Panggang, Gunungkidul, 4 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsadab al quran


Mungkin saja seorang muslim yang menista dan menghinakan Al-Qur’an ketika ia sendiri tidak mau mempelajari dan mengamalkan.   Khutbah Pertama   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji kita panjatkan pada Allah, atas berbagai macam nikmat. Tanpa petunjuk dari Allah, tentu kita akan berada dalam kesesatan, bukan berada di atas iman. Sungguh suatu nikmat yang besar, dulu kita berada di atas kekafiran dan kemaksiatan. Sekarang kita diberi taufik dan hidayah oleh Allah berada di atas iman. Dan tanda lezatnya iman sebagaimana disebutkan oleh Nabi dalam hadits berikut ini.   Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَمَنْ أَحَبَّ عَبْدًا لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَمَنْ يَكْرَهُ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلْقَى فِى النَّارِ “Tiga perkara yang bisa seseorang memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) Ia mencintai saudaranya hanyalah karena Allah, (3) ia benci kembali pada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana ia tidak suka jika dilemparkan dalam api.” (HR. Bukhari, no. 21; Muslim, no. 43)   Marilah bentuk syukur kita atas nikmat yang ada tadi, kita berusaha untuk terus meningkatkan ketakwaan kita pada Allah dan berusaha mati di atas iman sebagaimana perintah Allah. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman. Kita memang harus membela Al-Qur’an … Siapa saja yang membela Al-Qur’an, maka Al-Qur’an akan menjadi pembelanya pada hari kiamat. Sebagaimana kita tahu pula bahwa Al-Qur’an akan menjadi pemberi syafa’at bagi kita pada hari kiamat. Sebaliknya kita tidak boleh menghinakan dan menistakan Al-Qur’an, kitab suci kita. Bukan hanya orang lain yang tidak boleh menistakan, atau orang lain di luar Islam tidak boleh menistakan. Kita sendiri sebagai umat Islam tidak boleh menistakan Al-Qur’an dan harus mencintai kitab suci kita yang mulia. Coba perhatikan perkataan Ibnul Qayyim berikut yang menunjukkan bagaimana ciri-ciri orang yang mencintai Al-Qur’an.   Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, Cinta pada Al-Qur’an (kalamullah) adalah tanda cinta pada Allah. Jika engkau ingin tahu bagaimanakah tanda dirimu dan sekitarmu cinta pada Allah, maka lihatlah bagaimana kecintaan Al-Qur’an pada dirimu. Ketahuilah, kelezatan mendengar Al-Qur’an lebih lezat daripada kelezatan orang yang mendengar nyanyian (lagu yang benar-benar menyia-nyiakan). Tentu saja tanda seseorang yang mencinta adalah ia sangat menyukai kalam yang dicintai. Sehingga diibaratkan dalam sebuah sya’ir: Jika engkau mengaku mencintai-Ku, janganlah engkau tinggalkan kitab-Ku (Al-Qur’an) Saat engkau merenungkan kitab-Ku, engkau akan rasakan bagaimanakah lezatnya kalimat-Ku di dalamnya. ‘Utsman bin ‘Affan pernah mengutarakan, “Seandainya hati kita bersih, tentu kita tidak akan pernah puas bersama Al-Qur’an (kalamullah). Sungguh aneh, bagaimana seseorang bisa puas mendengar kalimat indah dari yang ia cintai.” (Al-Jawab Al-Kafi, hlm. 170)   Berarti ciri-ciri orang yang mencintai Al-Qur’an adalah selalu bersama Al-Qur’an dan senang mendengar Al-Qur’an. Ingat, Al-Qur’an bisa jadi pembela atau musuh kita pada hari kiamat.   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, وَالقُرْاَنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ “Al Qur’an itu bisa menjadi pembelamu atau musuh bagimu.” (HR. Muslim no. 223)   Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah berkata, ”Al Qur’an itu bisa menjadi pembelamu, jika engkau melaksanakan nasehat terhadap Al Qur’an.”   Bagaimana maksudnya? Tanda seorang muslim mencintai Al-Qur’an, tidak menjadi penista, 1- menghafalkannya, 2- merenungkannya (mentadaburinya), 3- mempelajari lafazh-lafazhnya, 4- mempelajari (memahami) maknanya, 5- berusaha mengamalkannya untuk diri sendiri dan mengajarkannya pada orang lain. (Kata Syaikh As-Sa’di dalam Bahjatul Qulub Al-Abrar)   Contoh orang yang membela Al-Qur’an itu seperti ini … Ketika ia membaca ayat, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat.” (QS. Al Baqarah: 43)   Dia membela Al-Qur’an berarti ia membaca ayat tersebut, sekaligus pahami, lalu amalkan. Berarti ia kerjakan shalat dan mengeluarkan zakat dari hartanya.   Aneh jika kita mau menghukum orang lain yang menistakan Al-Qur’an, sedangkan kita sebagai muslim yang malah menistakan kitab suci kita sendiri.   Jama’ah shalat Jum’at yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah. Demikian khutbah pertama ini.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Orang yang bersama Al-Qur’an akan selalu mendapatkan kebaikan, perhatikan hadits berikut.   Dari Abu Musa Al Asy’ariy, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالأُتْرُجَّةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ ، وَالْمُؤْمِنُ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالتَّمْرَةِ ، طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ ، طَعْمُهَا مُرٌّ – أَوْ خَبِيثٌ – وَرِيحُهَا مُرٌّ “Permisalan orang yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah Utrujah, rasa dan baunya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah kurma, rasanya enak namun tidak ada aroma. Orang munafik yang membaca Al Qur’an adalah bagaikan royhanah, baunya menyenangkan namun rasanya pahit. Dan orang munafik yang membaca tidak membaca Al Qur’an bagaikan hanzholah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.” (HR. Bukhari no. 5059)   Di akhir khutbah ini … Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Siapa yang bershalawat sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sepuluh kali. Arti shalawat dari Allah adalah ampunan dari Allah.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ Marilah kita memanjatkan doa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di hari Jum’at yang penuh berkah ini. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ إِنِّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Adz-Dzikro Ngampel Warak Girisekar Panggang, Jum’at Pon, 4 Safar 1438 H (4 November 2016)   Silakan download naskah khutbah dalam bentuk PDF: Khutbah Jumat : Muslim Penista Al Quran — Disusun di DS Panggang, Gunungkidul, 4 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagsadab al quran

Ngaji Fikih Syafi’i Matan Safinatun Najah

Kajian perdananya mulai hari ini, 3/11/2016, rutin setiap Malam Jumat bada Maghrib.   Membahas: KITAB MATAN SAFINATUN NAJAH Kitab ini adalah kitab dasar untuk memahami fikih ibadah dalam madzhab Syafi’i Karya Syaikh Salim bin Samir Al-Hadrami   Bersama : Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul dan Pengasuh RumayshoCom)   Syarh (Kitab Penjelas) : Kasyifatus Saja’ Syarh Safinatun Najah, karya Syaikh Nawawi Al-Jawi Al-Bantani At-Tanari Asy-Syafi’i (ulama Makkah, kelahiran Indonesia, 1815 – 1898 M)   Di Masjid Al-Ikhlas Karang Bendo, Utara Fakultas Pertanian UGM, dekat Toko Ihya’ Jogja (Google Map : https://goo.gl/maps/tEHkVtdeFvK2) Sekaligus dengan Kajian Aqidah dari Kitab Lum’atul Itiqad karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisi   Setiap Malam Jum’at (Kamis Malam) Bada Maghrib – 20.00 WIB   – Tersedia kitab bagi yang ingin ikut rutin kajian hanya diberi saat perdana. Info pemesanan kitab: 085200171222 – Kajian ini untuk ikhwan dan akhwat – Disediakan makan malam dan buka puasa bagi yang berpuasa – Disiarkan LIVE via Facebook Muhammad Abduh Tuasikal   Penyelenggara : RumayshoCom dan Takmir Masjid Al-Ikhlas Karang Bendo — Info Rumaysho.Com Tagskajian islam

Ngaji Fikih Syafi’i Matan Safinatun Najah

Kajian perdananya mulai hari ini, 3/11/2016, rutin setiap Malam Jumat bada Maghrib.   Membahas: KITAB MATAN SAFINATUN NAJAH Kitab ini adalah kitab dasar untuk memahami fikih ibadah dalam madzhab Syafi’i Karya Syaikh Salim bin Samir Al-Hadrami   Bersama : Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul dan Pengasuh RumayshoCom)   Syarh (Kitab Penjelas) : Kasyifatus Saja’ Syarh Safinatun Najah, karya Syaikh Nawawi Al-Jawi Al-Bantani At-Tanari Asy-Syafi’i (ulama Makkah, kelahiran Indonesia, 1815 – 1898 M)   Di Masjid Al-Ikhlas Karang Bendo, Utara Fakultas Pertanian UGM, dekat Toko Ihya’ Jogja (Google Map : https://goo.gl/maps/tEHkVtdeFvK2) Sekaligus dengan Kajian Aqidah dari Kitab Lum’atul Itiqad karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisi   Setiap Malam Jum’at (Kamis Malam) Bada Maghrib – 20.00 WIB   – Tersedia kitab bagi yang ingin ikut rutin kajian hanya diberi saat perdana. Info pemesanan kitab: 085200171222 – Kajian ini untuk ikhwan dan akhwat – Disediakan makan malam dan buka puasa bagi yang berpuasa – Disiarkan LIVE via Facebook Muhammad Abduh Tuasikal   Penyelenggara : RumayshoCom dan Takmir Masjid Al-Ikhlas Karang Bendo — Info Rumaysho.Com Tagskajian islam
Kajian perdananya mulai hari ini, 3/11/2016, rutin setiap Malam Jumat bada Maghrib.   Membahas: KITAB MATAN SAFINATUN NAJAH Kitab ini adalah kitab dasar untuk memahami fikih ibadah dalam madzhab Syafi’i Karya Syaikh Salim bin Samir Al-Hadrami   Bersama : Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul dan Pengasuh RumayshoCom)   Syarh (Kitab Penjelas) : Kasyifatus Saja’ Syarh Safinatun Najah, karya Syaikh Nawawi Al-Jawi Al-Bantani At-Tanari Asy-Syafi’i (ulama Makkah, kelahiran Indonesia, 1815 – 1898 M)   Di Masjid Al-Ikhlas Karang Bendo, Utara Fakultas Pertanian UGM, dekat Toko Ihya’ Jogja (Google Map : https://goo.gl/maps/tEHkVtdeFvK2) Sekaligus dengan Kajian Aqidah dari Kitab Lum’atul Itiqad karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisi   Setiap Malam Jum’at (Kamis Malam) Bada Maghrib – 20.00 WIB   – Tersedia kitab bagi yang ingin ikut rutin kajian hanya diberi saat perdana. Info pemesanan kitab: 085200171222 – Kajian ini untuk ikhwan dan akhwat – Disediakan makan malam dan buka puasa bagi yang berpuasa – Disiarkan LIVE via Facebook Muhammad Abduh Tuasikal   Penyelenggara : RumayshoCom dan Takmir Masjid Al-Ikhlas Karang Bendo — Info Rumaysho.Com Tagskajian islam


Kajian perdananya mulai hari ini, 3/11/2016, rutin setiap Malam Jumat bada Maghrib.   Membahas: KITAB MATAN SAFINATUN NAJAH Kitab ini adalah kitab dasar untuk memahami fikih ibadah dalam madzhab Syafi’i Karya Syaikh Salim bin Samir Al-Hadrami   Bersama : Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul dan Pengasuh RumayshoCom)   Syarh (Kitab Penjelas) : Kasyifatus Saja’ Syarh Safinatun Najah, karya Syaikh Nawawi Al-Jawi Al-Bantani At-Tanari Asy-Syafi’i (ulama Makkah, kelahiran Indonesia, 1815 – 1898 M)   Di Masjid Al-Ikhlas Karang Bendo, Utara Fakultas Pertanian UGM, dekat Toko Ihya’ Jogja (Google Map : https://goo.gl/maps/tEHkVtdeFvK2) Sekaligus dengan Kajian Aqidah dari Kitab Lum’atul Itiqad karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisi   Setiap Malam Jum’at (Kamis Malam) Bada Maghrib – 20.00 WIB   – Tersedia kitab bagi yang ingin ikut rutin kajian hanya diberi saat perdana. Info pemesanan kitab: 085200171222 – Kajian ini untuk ikhwan dan akhwat – Disediakan makan malam dan buka puasa bagi yang berpuasa – Disiarkan LIVE via Facebook Muhammad Abduh Tuasikal   Penyelenggara : RumayshoCom dan Takmir Masjid Al-Ikhlas Karang Bendo — Info Rumaysho.Com Tagskajian islam

Hadits Wakaf (02): Aturan Penting Wakaf

Apa saja ketentuan dalam wakaf?   Wakaf sendiri berarti menahan bentuk pokok dan menjadikannya untuk fii sabilillah sebagai bentuk qurbah (pendekatan diri pada Allah). (Lihat Minhah Al-‘Allam, 7: 5)   Mengenai ketentuan tentang wakaf dijelaskan dalam hadits ‘Umar berikut ini. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Umar pernah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, lalu ia menghadap Nabi shamohon petunjuk beliau tentang pengelolaannya seraya berkata, “Wahai Rasulullah, saya mendapatkan tanah di Khaibar. Yang menurut saya, saya belum pernah memiliki tanah yang lebih baik daripada tanah tersebut. Beliau bersabda, إِنْ شِئْتَ حَبَّسْتَ أَصْلَهَا ، وَتَصَدَّقْتَ بِهَا “Kalau engkau mau, kau tahan pohonnya dan sedekahkan buah (hasilnya).”   Perawi hadits berkata, فَتَصَدَّقَ عُمَرُ أَنَّهُ لاَ يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلاَ يُوهَبُ وَلاَ يُورَثُ ، فِى الْفُقَرَاءِ وَالْقُرْبَى وَالرِّقَابِ وَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالضَّيْفِ وَابْنِ السَّبِيلِ ، وَلاَ جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ ، أَوْ يُطْعِمَ صَدِيقًا غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِ Lalu Umar mewakafkan tanahnya dengan syarat pohonnya tidak boleh dijual, tidak boleh dihadiahkan, dan tidak boleh diwarisi. Hasil dari pohon tersebut disedekahkan kepada kaum fakir, kerabat-kerabat, budak-budak, orang-orang yang membela agama Allah, tamu, dan musafir yang kehabisan bekal. Namun tidak masalah bagi pengurus wakaf untuk memakan hasilnya dengan baik dan memberi makan teman-temannya yang tidak memiliki harta. (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, no. 2772; Muslim, no. 1632). Dalil di atas disebut oleh para ulama sebagai dalil pokok yang membicarakan masalah wakaf. Ada beberapa kesimpulan dari hadits tersebut yang bisa diambil: Wakaf merupakan bentuk amal jariyah. Wakaf hendaklah diambil dari harta yang terbaik sehingga berbuah pahala yang besar. Untuk mempertimbangkan harta yang diwakafkan bisa meminta pendapat dari orang yang berilmu (seorang alim). Orang berilmu tadi bisa mengarahkan wakaf pada hal yang bermanfaat. Pengertian wakaf telah diterangkan dalam hadits di atas lewat kalimat yang singkat namun syarat makna. Singkatnya wakaf itu menahan pokoknya dan menyedekahkan hasilnya. Misal wakaf berupa tanah, berarti tanah tetap ditahan, sedangkan pemanfaatannya itu yang disedekahkan. Kalau lafazh yang digunakan adalah tahbis (engkau tahan), walau bukan dengan lafazh ‘aku wakafkan’, seperti itu sudah bisa dianggap sebagai akad wakaf tanpa perlu ada niatan atau indikasi tambahan. Wakaf itu khusus untuk sesuatu yang bertahan bentuknya dan terus bisa dimanfaatkan, bukan sesuatu yang sekali pakai yang langsung pemanfaatannya hilang. Contohnya makanan termasuk sedekah, bukan termasuk wakaf. Barang wakaf tidak boleh ditasharufkan dengan dijual, diwariskan, atau dihibahkan. Boleh saja orang yang memberi wakaf memberikan syarat-syarat tertentu dalam pemanfaatan wakaf asal tidak bertentangan dengan ketentuann syariat. Syarat yang tidak bertentangan tersebut wajib dijalankan. Yang memanfaatkan wakaf ini adalah fakir miskin dan orang-orang yang dituju untuk berbuat baik. Namun yang pertama masuk dalam itu semua adalah kerabat dekat dibanding orang jauh. Sebagai nazhir atau pengurus wakaf boleh memanfaatkan wakaf dengan cara yang makruf (sewajarnya). Ia boleh memakan sesuai kebutuhannya dan sesuai kerja kerasnya dalam merawat harta wakaf tersebut. Orang kaya boleh makan dari harta wakaf seperti sebagai pengurus atau sebagai tamu. Namun yang jelas harta wakaf tersebut tidak boleh dijadikan milik. Jika sudah terjadi akad wakaf, maka sudah menjadi akad lazim walau hanya dengan sekedar perkataan. Kalau sudah lazim berarti sudah jadi akad mengikat dan tidak bisa diminta kembali. Boleh bagi pewakaf untuk memberikan syarat agar sebagian wakaf tersebut dimanfaatkan misal oleh nazhir (pengurus wakaf).   Apakah harta wakaf boleh dijual? Ada beda pendapat dalam masalah ini. Ada ulama seperti Imam Malik dan Imam Syafi’i yang berpendapat bahwa harta wakaf tidak boleh dijual sama sekali. Sedangkan Imam Abu Hanifah menyatakan bolehnya. Adapun Imam Ahmad berpandangan bahwa harta wakaf boleh dijual dan diganti hanya jika kemanfaataannya sudah tidak ada secara total dan tidak mungkin diperbaiki lagi. Misalnya untuk masjid yang tidak dipakai lagi karena penduduknya sudah tidak ada (pergi) atau ada masjid yang sudah sangat sempit dan tidak mungkin diperlebar lagi. Untuk kasus ini, yang sudah diwakafkan boleh dijual. Seperti ini menjadi pendapat Umar bin Khattab dan pernah ia terapkan, dan  tidak ada seorang sahabat pun yang mengkritik pendapat Umar. Inilah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini. Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam fatawanya berpandangan bahwa boleh harta wakaf itu dijual dengan pertimbangan penjualan itu lebih bermaslahat dan lebih bermanfaat. Lihat Majmu’ah Al-Fatawa, 31: 219, 229.   Faedah-faedah di atas diambil dari Minhah Al-‘Allam karya Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan, 7: 19-23.   Semoga bermanfaat. — Disusun di DS Panggang, Gunungkidul, 1 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagswakaf

Hadits Wakaf (02): Aturan Penting Wakaf

Apa saja ketentuan dalam wakaf?   Wakaf sendiri berarti menahan bentuk pokok dan menjadikannya untuk fii sabilillah sebagai bentuk qurbah (pendekatan diri pada Allah). (Lihat Minhah Al-‘Allam, 7: 5)   Mengenai ketentuan tentang wakaf dijelaskan dalam hadits ‘Umar berikut ini. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Umar pernah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, lalu ia menghadap Nabi shamohon petunjuk beliau tentang pengelolaannya seraya berkata, “Wahai Rasulullah, saya mendapatkan tanah di Khaibar. Yang menurut saya, saya belum pernah memiliki tanah yang lebih baik daripada tanah tersebut. Beliau bersabda, إِنْ شِئْتَ حَبَّسْتَ أَصْلَهَا ، وَتَصَدَّقْتَ بِهَا “Kalau engkau mau, kau tahan pohonnya dan sedekahkan buah (hasilnya).”   Perawi hadits berkata, فَتَصَدَّقَ عُمَرُ أَنَّهُ لاَ يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلاَ يُوهَبُ وَلاَ يُورَثُ ، فِى الْفُقَرَاءِ وَالْقُرْبَى وَالرِّقَابِ وَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالضَّيْفِ وَابْنِ السَّبِيلِ ، وَلاَ جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ ، أَوْ يُطْعِمَ صَدِيقًا غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِ Lalu Umar mewakafkan tanahnya dengan syarat pohonnya tidak boleh dijual, tidak boleh dihadiahkan, dan tidak boleh diwarisi. Hasil dari pohon tersebut disedekahkan kepada kaum fakir, kerabat-kerabat, budak-budak, orang-orang yang membela agama Allah, tamu, dan musafir yang kehabisan bekal. Namun tidak masalah bagi pengurus wakaf untuk memakan hasilnya dengan baik dan memberi makan teman-temannya yang tidak memiliki harta. (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, no. 2772; Muslim, no. 1632). Dalil di atas disebut oleh para ulama sebagai dalil pokok yang membicarakan masalah wakaf. Ada beberapa kesimpulan dari hadits tersebut yang bisa diambil: Wakaf merupakan bentuk amal jariyah. Wakaf hendaklah diambil dari harta yang terbaik sehingga berbuah pahala yang besar. Untuk mempertimbangkan harta yang diwakafkan bisa meminta pendapat dari orang yang berilmu (seorang alim). Orang berilmu tadi bisa mengarahkan wakaf pada hal yang bermanfaat. Pengertian wakaf telah diterangkan dalam hadits di atas lewat kalimat yang singkat namun syarat makna. Singkatnya wakaf itu menahan pokoknya dan menyedekahkan hasilnya. Misal wakaf berupa tanah, berarti tanah tetap ditahan, sedangkan pemanfaatannya itu yang disedekahkan. Kalau lafazh yang digunakan adalah tahbis (engkau tahan), walau bukan dengan lafazh ‘aku wakafkan’, seperti itu sudah bisa dianggap sebagai akad wakaf tanpa perlu ada niatan atau indikasi tambahan. Wakaf itu khusus untuk sesuatu yang bertahan bentuknya dan terus bisa dimanfaatkan, bukan sesuatu yang sekali pakai yang langsung pemanfaatannya hilang. Contohnya makanan termasuk sedekah, bukan termasuk wakaf. Barang wakaf tidak boleh ditasharufkan dengan dijual, diwariskan, atau dihibahkan. Boleh saja orang yang memberi wakaf memberikan syarat-syarat tertentu dalam pemanfaatan wakaf asal tidak bertentangan dengan ketentuann syariat. Syarat yang tidak bertentangan tersebut wajib dijalankan. Yang memanfaatkan wakaf ini adalah fakir miskin dan orang-orang yang dituju untuk berbuat baik. Namun yang pertama masuk dalam itu semua adalah kerabat dekat dibanding orang jauh. Sebagai nazhir atau pengurus wakaf boleh memanfaatkan wakaf dengan cara yang makruf (sewajarnya). Ia boleh memakan sesuai kebutuhannya dan sesuai kerja kerasnya dalam merawat harta wakaf tersebut. Orang kaya boleh makan dari harta wakaf seperti sebagai pengurus atau sebagai tamu. Namun yang jelas harta wakaf tersebut tidak boleh dijadikan milik. Jika sudah terjadi akad wakaf, maka sudah menjadi akad lazim walau hanya dengan sekedar perkataan. Kalau sudah lazim berarti sudah jadi akad mengikat dan tidak bisa diminta kembali. Boleh bagi pewakaf untuk memberikan syarat agar sebagian wakaf tersebut dimanfaatkan misal oleh nazhir (pengurus wakaf).   Apakah harta wakaf boleh dijual? Ada beda pendapat dalam masalah ini. Ada ulama seperti Imam Malik dan Imam Syafi’i yang berpendapat bahwa harta wakaf tidak boleh dijual sama sekali. Sedangkan Imam Abu Hanifah menyatakan bolehnya. Adapun Imam Ahmad berpandangan bahwa harta wakaf boleh dijual dan diganti hanya jika kemanfaataannya sudah tidak ada secara total dan tidak mungkin diperbaiki lagi. Misalnya untuk masjid yang tidak dipakai lagi karena penduduknya sudah tidak ada (pergi) atau ada masjid yang sudah sangat sempit dan tidak mungkin diperlebar lagi. Untuk kasus ini, yang sudah diwakafkan boleh dijual. Seperti ini menjadi pendapat Umar bin Khattab dan pernah ia terapkan, dan  tidak ada seorang sahabat pun yang mengkritik pendapat Umar. Inilah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini. Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam fatawanya berpandangan bahwa boleh harta wakaf itu dijual dengan pertimbangan penjualan itu lebih bermaslahat dan lebih bermanfaat. Lihat Majmu’ah Al-Fatawa, 31: 219, 229.   Faedah-faedah di atas diambil dari Minhah Al-‘Allam karya Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan, 7: 19-23.   Semoga bermanfaat. — Disusun di DS Panggang, Gunungkidul, 1 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagswakaf
Apa saja ketentuan dalam wakaf?   Wakaf sendiri berarti menahan bentuk pokok dan menjadikannya untuk fii sabilillah sebagai bentuk qurbah (pendekatan diri pada Allah). (Lihat Minhah Al-‘Allam, 7: 5)   Mengenai ketentuan tentang wakaf dijelaskan dalam hadits ‘Umar berikut ini. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Umar pernah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, lalu ia menghadap Nabi shamohon petunjuk beliau tentang pengelolaannya seraya berkata, “Wahai Rasulullah, saya mendapatkan tanah di Khaibar. Yang menurut saya, saya belum pernah memiliki tanah yang lebih baik daripada tanah tersebut. Beliau bersabda, إِنْ شِئْتَ حَبَّسْتَ أَصْلَهَا ، وَتَصَدَّقْتَ بِهَا “Kalau engkau mau, kau tahan pohonnya dan sedekahkan buah (hasilnya).”   Perawi hadits berkata, فَتَصَدَّقَ عُمَرُ أَنَّهُ لاَ يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلاَ يُوهَبُ وَلاَ يُورَثُ ، فِى الْفُقَرَاءِ وَالْقُرْبَى وَالرِّقَابِ وَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالضَّيْفِ وَابْنِ السَّبِيلِ ، وَلاَ جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ ، أَوْ يُطْعِمَ صَدِيقًا غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِ Lalu Umar mewakafkan tanahnya dengan syarat pohonnya tidak boleh dijual, tidak boleh dihadiahkan, dan tidak boleh diwarisi. Hasil dari pohon tersebut disedekahkan kepada kaum fakir, kerabat-kerabat, budak-budak, orang-orang yang membela agama Allah, tamu, dan musafir yang kehabisan bekal. Namun tidak masalah bagi pengurus wakaf untuk memakan hasilnya dengan baik dan memberi makan teman-temannya yang tidak memiliki harta. (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, no. 2772; Muslim, no. 1632). Dalil di atas disebut oleh para ulama sebagai dalil pokok yang membicarakan masalah wakaf. Ada beberapa kesimpulan dari hadits tersebut yang bisa diambil: Wakaf merupakan bentuk amal jariyah. Wakaf hendaklah diambil dari harta yang terbaik sehingga berbuah pahala yang besar. Untuk mempertimbangkan harta yang diwakafkan bisa meminta pendapat dari orang yang berilmu (seorang alim). Orang berilmu tadi bisa mengarahkan wakaf pada hal yang bermanfaat. Pengertian wakaf telah diterangkan dalam hadits di atas lewat kalimat yang singkat namun syarat makna. Singkatnya wakaf itu menahan pokoknya dan menyedekahkan hasilnya. Misal wakaf berupa tanah, berarti tanah tetap ditahan, sedangkan pemanfaatannya itu yang disedekahkan. Kalau lafazh yang digunakan adalah tahbis (engkau tahan), walau bukan dengan lafazh ‘aku wakafkan’, seperti itu sudah bisa dianggap sebagai akad wakaf tanpa perlu ada niatan atau indikasi tambahan. Wakaf itu khusus untuk sesuatu yang bertahan bentuknya dan terus bisa dimanfaatkan, bukan sesuatu yang sekali pakai yang langsung pemanfaatannya hilang. Contohnya makanan termasuk sedekah, bukan termasuk wakaf. Barang wakaf tidak boleh ditasharufkan dengan dijual, diwariskan, atau dihibahkan. Boleh saja orang yang memberi wakaf memberikan syarat-syarat tertentu dalam pemanfaatan wakaf asal tidak bertentangan dengan ketentuann syariat. Syarat yang tidak bertentangan tersebut wajib dijalankan. Yang memanfaatkan wakaf ini adalah fakir miskin dan orang-orang yang dituju untuk berbuat baik. Namun yang pertama masuk dalam itu semua adalah kerabat dekat dibanding orang jauh. Sebagai nazhir atau pengurus wakaf boleh memanfaatkan wakaf dengan cara yang makruf (sewajarnya). Ia boleh memakan sesuai kebutuhannya dan sesuai kerja kerasnya dalam merawat harta wakaf tersebut. Orang kaya boleh makan dari harta wakaf seperti sebagai pengurus atau sebagai tamu. Namun yang jelas harta wakaf tersebut tidak boleh dijadikan milik. Jika sudah terjadi akad wakaf, maka sudah menjadi akad lazim walau hanya dengan sekedar perkataan. Kalau sudah lazim berarti sudah jadi akad mengikat dan tidak bisa diminta kembali. Boleh bagi pewakaf untuk memberikan syarat agar sebagian wakaf tersebut dimanfaatkan misal oleh nazhir (pengurus wakaf).   Apakah harta wakaf boleh dijual? Ada beda pendapat dalam masalah ini. Ada ulama seperti Imam Malik dan Imam Syafi’i yang berpendapat bahwa harta wakaf tidak boleh dijual sama sekali. Sedangkan Imam Abu Hanifah menyatakan bolehnya. Adapun Imam Ahmad berpandangan bahwa harta wakaf boleh dijual dan diganti hanya jika kemanfaataannya sudah tidak ada secara total dan tidak mungkin diperbaiki lagi. Misalnya untuk masjid yang tidak dipakai lagi karena penduduknya sudah tidak ada (pergi) atau ada masjid yang sudah sangat sempit dan tidak mungkin diperlebar lagi. Untuk kasus ini, yang sudah diwakafkan boleh dijual. Seperti ini menjadi pendapat Umar bin Khattab dan pernah ia terapkan, dan  tidak ada seorang sahabat pun yang mengkritik pendapat Umar. Inilah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini. Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam fatawanya berpandangan bahwa boleh harta wakaf itu dijual dengan pertimbangan penjualan itu lebih bermaslahat dan lebih bermanfaat. Lihat Majmu’ah Al-Fatawa, 31: 219, 229.   Faedah-faedah di atas diambil dari Minhah Al-‘Allam karya Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan, 7: 19-23.   Semoga bermanfaat. — Disusun di DS Panggang, Gunungkidul, 1 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagswakaf


Apa saja ketentuan dalam wakaf?   Wakaf sendiri berarti menahan bentuk pokok dan menjadikannya untuk fii sabilillah sebagai bentuk qurbah (pendekatan diri pada Allah). (Lihat Minhah Al-‘Allam, 7: 5)   Mengenai ketentuan tentang wakaf dijelaskan dalam hadits ‘Umar berikut ini. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Umar pernah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, lalu ia menghadap Nabi shamohon petunjuk beliau tentang pengelolaannya seraya berkata, “Wahai Rasulullah, saya mendapatkan tanah di Khaibar. Yang menurut saya, saya belum pernah memiliki tanah yang lebih baik daripada tanah tersebut. Beliau bersabda, إِنْ شِئْتَ حَبَّسْتَ أَصْلَهَا ، وَتَصَدَّقْتَ بِهَا “Kalau engkau mau, kau tahan pohonnya dan sedekahkan buah (hasilnya).”   Perawi hadits berkata, فَتَصَدَّقَ عُمَرُ أَنَّهُ لاَ يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلاَ يُوهَبُ وَلاَ يُورَثُ ، فِى الْفُقَرَاءِ وَالْقُرْبَى وَالرِّقَابِ وَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالضَّيْفِ وَابْنِ السَّبِيلِ ، وَلاَ جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ ، أَوْ يُطْعِمَ صَدِيقًا غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِ Lalu Umar mewakafkan tanahnya dengan syarat pohonnya tidak boleh dijual, tidak boleh dihadiahkan, dan tidak boleh diwarisi. Hasil dari pohon tersebut disedekahkan kepada kaum fakir, kerabat-kerabat, budak-budak, orang-orang yang membela agama Allah, tamu, dan musafir yang kehabisan bekal. Namun tidak masalah bagi pengurus wakaf untuk memakan hasilnya dengan baik dan memberi makan teman-temannya yang tidak memiliki harta. (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, no. 2772; Muslim, no. 1632). Dalil di atas disebut oleh para ulama sebagai dalil pokok yang membicarakan masalah wakaf. Ada beberapa kesimpulan dari hadits tersebut yang bisa diambil: Wakaf merupakan bentuk amal jariyah. Wakaf hendaklah diambil dari harta yang terbaik sehingga berbuah pahala yang besar. Untuk mempertimbangkan harta yang diwakafkan bisa meminta pendapat dari orang yang berilmu (seorang alim). Orang berilmu tadi bisa mengarahkan wakaf pada hal yang bermanfaat. Pengertian wakaf telah diterangkan dalam hadits di atas lewat kalimat yang singkat namun syarat makna. Singkatnya wakaf itu menahan pokoknya dan menyedekahkan hasilnya. Misal wakaf berupa tanah, berarti tanah tetap ditahan, sedangkan pemanfaatannya itu yang disedekahkan. Kalau lafazh yang digunakan adalah tahbis (engkau tahan), walau bukan dengan lafazh ‘aku wakafkan’, seperti itu sudah bisa dianggap sebagai akad wakaf tanpa perlu ada niatan atau indikasi tambahan. Wakaf itu khusus untuk sesuatu yang bertahan bentuknya dan terus bisa dimanfaatkan, bukan sesuatu yang sekali pakai yang langsung pemanfaatannya hilang. Contohnya makanan termasuk sedekah, bukan termasuk wakaf. Barang wakaf tidak boleh ditasharufkan dengan dijual, diwariskan, atau dihibahkan. Boleh saja orang yang memberi wakaf memberikan syarat-syarat tertentu dalam pemanfaatan wakaf asal tidak bertentangan dengan ketentuann syariat. Syarat yang tidak bertentangan tersebut wajib dijalankan. Yang memanfaatkan wakaf ini adalah fakir miskin dan orang-orang yang dituju untuk berbuat baik. Namun yang pertama masuk dalam itu semua adalah kerabat dekat dibanding orang jauh. Sebagai nazhir atau pengurus wakaf boleh memanfaatkan wakaf dengan cara yang makruf (sewajarnya). Ia boleh memakan sesuai kebutuhannya dan sesuai kerja kerasnya dalam merawat harta wakaf tersebut. Orang kaya boleh makan dari harta wakaf seperti sebagai pengurus atau sebagai tamu. Namun yang jelas harta wakaf tersebut tidak boleh dijadikan milik. Jika sudah terjadi akad wakaf, maka sudah menjadi akad lazim walau hanya dengan sekedar perkataan. Kalau sudah lazim berarti sudah jadi akad mengikat dan tidak bisa diminta kembali. Boleh bagi pewakaf untuk memberikan syarat agar sebagian wakaf tersebut dimanfaatkan misal oleh nazhir (pengurus wakaf).   Apakah harta wakaf boleh dijual? Ada beda pendapat dalam masalah ini. Ada ulama seperti Imam Malik dan Imam Syafi’i yang berpendapat bahwa harta wakaf tidak boleh dijual sama sekali. Sedangkan Imam Abu Hanifah menyatakan bolehnya. Adapun Imam Ahmad berpandangan bahwa harta wakaf boleh dijual dan diganti hanya jika kemanfaataannya sudah tidak ada secara total dan tidak mungkin diperbaiki lagi. Misalnya untuk masjid yang tidak dipakai lagi karena penduduknya sudah tidak ada (pergi) atau ada masjid yang sudah sangat sempit dan tidak mungkin diperlebar lagi. Untuk kasus ini, yang sudah diwakafkan boleh dijual. Seperti ini menjadi pendapat Umar bin Khattab dan pernah ia terapkan, dan  tidak ada seorang sahabat pun yang mengkritik pendapat Umar. Inilah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini. Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam fatawanya berpandangan bahwa boleh harta wakaf itu dijual dengan pertimbangan penjualan itu lebih bermaslahat dan lebih bermanfaat. Lihat Majmu’ah Al-Fatawa, 31: 219, 229.   Faedah-faedah di atas diambil dari Minhah Al-‘Allam karya Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan, 7: 19-23.   Semoga bermanfaat. — Disusun di DS Panggang, Gunungkidul, 1 Safar 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @RemajaIslam Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Tagswakaf

Laporan Donasi YPIA periode Bulan Oktober 2016

Laporan Donasi YPIA periode Bulan Oktober 2016Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan Oktober 2016. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan Oktober 2016Adapun Rekap Donasi Bulan Oktober 2016  sebagai berikut: No. Alokasi  Jumlah (Rp) 1 Buletin Jum’at At-Tauhid            7.408.094 2 Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari (FKKA)            3.331.000 3 Kajian Umum                200.000 4 Kampus Tahfizh          12.300.000 5 Ma’had Al-‘Ilmi          12.455.000 6 Ma’had Umar bin Khattab (MUBK)            3.171.545 7 Pendidikan                300.000 8 Peduli Muslim (Suriah)            1.472.350 9 Peduli Muslim (Operasional)                100.000 10 Radio Muslim            1.500.000 11 SDIT Yaa Bunayya          23.732.450 12 SMS Tausyiah                750.000 13 Operasional / Umum            1.855.000 14 Website            3.690.000 15 Donasi Pulsa            3.067.500 LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Desember 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Khalaf, Arti Kata Ramadhan, Dp Mengalah, Nabi Yang Diutus Untuk Kaum Bani Israil, Ayat Tentang Kesembuhan

Laporan Donasi YPIA periode Bulan Oktober 2016

Laporan Donasi YPIA periode Bulan Oktober 2016Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan Oktober 2016. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan Oktober 2016Adapun Rekap Donasi Bulan Oktober 2016  sebagai berikut: No. Alokasi  Jumlah (Rp) 1 Buletin Jum’at At-Tauhid            7.408.094 2 Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari (FKKA)            3.331.000 3 Kajian Umum                200.000 4 Kampus Tahfizh          12.300.000 5 Ma’had Al-‘Ilmi          12.455.000 6 Ma’had Umar bin Khattab (MUBK)            3.171.545 7 Pendidikan                300.000 8 Peduli Muslim (Suriah)            1.472.350 9 Peduli Muslim (Operasional)                100.000 10 Radio Muslim            1.500.000 11 SDIT Yaa Bunayya          23.732.450 12 SMS Tausyiah                750.000 13 Operasional / Umum            1.855.000 14 Website            3.690.000 15 Donasi Pulsa            3.067.500 LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Desember 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Khalaf, Arti Kata Ramadhan, Dp Mengalah, Nabi Yang Diutus Untuk Kaum Bani Israil, Ayat Tentang Kesembuhan
Laporan Donasi YPIA periode Bulan Oktober 2016Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan Oktober 2016. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan Oktober 2016Adapun Rekap Donasi Bulan Oktober 2016  sebagai berikut: No. Alokasi  Jumlah (Rp) 1 Buletin Jum’at At-Tauhid            7.408.094 2 Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari (FKKA)            3.331.000 3 Kajian Umum                200.000 4 Kampus Tahfizh          12.300.000 5 Ma’had Al-‘Ilmi          12.455.000 6 Ma’had Umar bin Khattab (MUBK)            3.171.545 7 Pendidikan                300.000 8 Peduli Muslim (Suriah)            1.472.350 9 Peduli Muslim (Operasional)                100.000 10 Radio Muslim            1.500.000 11 SDIT Yaa Bunayya          23.732.450 12 SMS Tausyiah                750.000 13 Operasional / Umum            1.855.000 14 Website            3.690.000 15 Donasi Pulsa            3.067.500 LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Desember 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Khalaf, Arti Kata Ramadhan, Dp Mengalah, Nabi Yang Diutus Untuk Kaum Bani Israil, Ayat Tentang Kesembuhan


Laporan Donasi YPIA periode Bulan Oktober 2016Segala puji bagi Allah ta’ala atas limpahan rahmat dan hidayah dari-Nya. Kami mengucapkan jazakumullohu khairan atas partisipasi dan kepercayaan para donatur yang dalam menyalurkan donasinya untuk dakwah melalui Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari.Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan memudahkan urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Barakallahu fiikumBerikut ini kami laporkan pemasukan donasi melalui YPIA Bulan Oktober 2016. Semoga bantuan dari kaum muslimin sekalian memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq.Kami mohon maaf, apabila ada penulisan nama ataupun donasi yang belum terlaporkan dalam laporan ini, bisa dikonfirmasikan kepada bidang donasi Dakwah YPIA. Jazakumullohu khairan.Kami juga memohon maaf, untuk rincian lebih lengkapnya bisa mendownload link yang kami berikan di bawah, sekaligus rincian donasi pulsa, karena banyaknya donatur pada Bulan Oktober 2016Adapun Rekap Donasi Bulan Oktober 2016  sebagai berikut: No. Alokasi  Jumlah (Rp) 1 Buletin Jum’at At-Tauhid            7.408.094 2 Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari (FKKA)            3.331.000 3 Kajian Umum                200.000 4 Kampus Tahfizh          12.300.000 5 Ma’had Al-‘Ilmi          12.455.000 6 Ma’had Umar bin Khattab (MUBK)            3.171.545 7 Pendidikan                300.000 8 Peduli Muslim (Suriah)            1.472.350 9 Peduli Muslim (Operasional)                100.000 10 Radio Muslim            1.500.000 11 SDIT Yaa Bunayya          23.732.450 12 SMS Tausyiah                750.000 13 Operasional / Umum            1.855.000 14 Website            3.690.000 15 Donasi Pulsa            3.067.500 LINK DOWNLOAD: KLIK DI SINIBagi kaum muslimin yang hendak membantu donasi dalam syi’ar dakwah Islam, bisa disalurkan ke rekening  YPIA berikut ini:REKENING DONASI YPIA: Bank BNI Syariah Yogyakarta atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 024 1913 801. Bank Muamalat atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta. Nomor rekening: 5350002594 Bank Syariah Mandiri atas nama YPIA Yogyakarta. Nomor rekening: 703 157 1329. CIMB Niaga Syariah atas nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari. Nomor rekening: 508.01.00028.00.0. Rekening paypal: donasi@muslim.or.id Western union an Muhammad Akmalul Khuluk d/a Kauman GM 1/241 RT/RW 049/013 kel. Ngupasan kec. Gondomanan Yogyakarta Indonesia 55122 (harap segera menginformasikan Nomor Transaksi Pengiriman Uang (MTCN) setelah pengiriman ke: 0857-4722-3366)Konfirmasi donasi :Setiap donatur yang telah menyalurkan bantuan donasi dakwah dimohon mengkonfirmasikan donasi yang telah dikirimkan ke nomor Donasi Dakwah & Sosial YPIA berikut ini:HP: 0857-4722-3366 ( SMS, Telpon, Whatsapp dan Telegram)PIN BBM Tambahan: 7E51c4a4.PIN BBM: 73db10e1 (kontak Penuh)Dengan format konfirmasi sebagai berikut:Nama#Alamat#email#BesarDonasi#TanggalTransfer#Rekening#Tujuan Donasi#Contoh:Abdullah#Jl. Slamet Riyadi, no. 100, Solo.#500.000#12 Desember 2012#Muamalat#Buletin At Tauhid🔍 Khalaf, Arti Kata Ramadhan, Dp Mengalah, Nabi Yang Diutus Untuk Kaum Bani Israil, Ayat Tentang Kesembuhan
Prev     Next