Bukan Kaya, Cuma Ingin Banyak Gaya

Mending punya rumah kontrakan, Mending punya kantor disewa, Mending punya motor second tahun 90-an, Mending naik angkot atau ojek.   Daripada … Punya KPR riba, Punya office berutang ratusan juta, Punya motor kredit, Punya mobil perlu DP dan berurusan dengan leasing, Semuanya diperoleh dengan BERUTANG RIBA.   Ingat! Hidup mewah tidak berarti kita KAYA, sebenarnya kita itu cuma ingin BANYAK GAYA. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, ‎أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يقول : (( اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina”.” (HR. Muslim, no. 2721) Ya Allah, berikanlah pada kami KECUKUPAN (GHINA) dan KESABARAN. SABAR DAN CUKUP INILAH SOLUSI DARI RIBA.   TUNDALAH KESENANGAN DARIPADA BESOK SUSAH DAN SENGSARA. ORANG YANG BAHAGIA DI ZAMAN INI, KALAU BEBAS DARI UTANG. TAK PERCAYA? Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   * Riba = setiap utang-piutang yang di dalamnya ditarik manfaat atau keuntungan. (Kata sepakat ulama sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Mundzir dan Ibnu Qudamah) — Di Jumat Pagi penuh berkah @ Warak, Panggang, GK, Darush Sholihin, 14 Rabi’uts Tsabi 1438 H (13-01-2017) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsriba

Bukan Kaya, Cuma Ingin Banyak Gaya

Mending punya rumah kontrakan, Mending punya kantor disewa, Mending punya motor second tahun 90-an, Mending naik angkot atau ojek.   Daripada … Punya KPR riba, Punya office berutang ratusan juta, Punya motor kredit, Punya mobil perlu DP dan berurusan dengan leasing, Semuanya diperoleh dengan BERUTANG RIBA.   Ingat! Hidup mewah tidak berarti kita KAYA, sebenarnya kita itu cuma ingin BANYAK GAYA. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, ‎أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يقول : (( اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina”.” (HR. Muslim, no. 2721) Ya Allah, berikanlah pada kami KECUKUPAN (GHINA) dan KESABARAN. SABAR DAN CUKUP INILAH SOLUSI DARI RIBA.   TUNDALAH KESENANGAN DARIPADA BESOK SUSAH DAN SENGSARA. ORANG YANG BAHAGIA DI ZAMAN INI, KALAU BEBAS DARI UTANG. TAK PERCAYA? Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   * Riba = setiap utang-piutang yang di dalamnya ditarik manfaat atau keuntungan. (Kata sepakat ulama sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Mundzir dan Ibnu Qudamah) — Di Jumat Pagi penuh berkah @ Warak, Panggang, GK, Darush Sholihin, 14 Rabi’uts Tsabi 1438 H (13-01-2017) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsriba
Mending punya rumah kontrakan, Mending punya kantor disewa, Mending punya motor second tahun 90-an, Mending naik angkot atau ojek.   Daripada … Punya KPR riba, Punya office berutang ratusan juta, Punya motor kredit, Punya mobil perlu DP dan berurusan dengan leasing, Semuanya diperoleh dengan BERUTANG RIBA.   Ingat! Hidup mewah tidak berarti kita KAYA, sebenarnya kita itu cuma ingin BANYAK GAYA. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, ‎أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يقول : (( اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina”.” (HR. Muslim, no. 2721) Ya Allah, berikanlah pada kami KECUKUPAN (GHINA) dan KESABARAN. SABAR DAN CUKUP INILAH SOLUSI DARI RIBA.   TUNDALAH KESENANGAN DARIPADA BESOK SUSAH DAN SENGSARA. ORANG YANG BAHAGIA DI ZAMAN INI, KALAU BEBAS DARI UTANG. TAK PERCAYA? Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   * Riba = setiap utang-piutang yang di dalamnya ditarik manfaat atau keuntungan. (Kata sepakat ulama sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Mundzir dan Ibnu Qudamah) — Di Jumat Pagi penuh berkah @ Warak, Panggang, GK, Darush Sholihin, 14 Rabi’uts Tsabi 1438 H (13-01-2017) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsriba


Mending punya rumah kontrakan, Mending punya kantor disewa, Mending punya motor second tahun 90-an, Mending naik angkot atau ojek.   Daripada … Punya KPR riba, Punya office berutang ratusan juta, Punya motor kredit, Punya mobil perlu DP dan berurusan dengan leasing, Semuanya diperoleh dengan BERUTANG RIBA.   Ingat! Hidup mewah tidak berarti kita KAYA, sebenarnya kita itu cuma ingin BANYAK GAYA. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, ‎أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يقول : (( اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina”.” (HR. Muslim, no. 2721) Ya Allah, berikanlah pada kami KECUKUPAN (GHINA) dan KESABARAN. SABAR DAN CUKUP INILAH SOLUSI DARI RIBA.   TUNDALAH KESENANGAN DARIPADA BESOK SUSAH DAN SENGSARA. ORANG YANG BAHAGIA DI ZAMAN INI, KALAU BEBAS DARI UTANG. TAK PERCAYA? Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   * Riba = setiap utang-piutang yang di dalamnya ditarik manfaat atau keuntungan. (Kata sepakat ulama sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Mundzir dan Ibnu Qudamah) — Di Jumat Pagi penuh berkah @ Warak, Panggang, GK, Darush Sholihin, 14 Rabi’uts Tsabi 1438 H (13-01-2017) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsriba

Dampak Fitnah (4)

Nasehat salah satu Khalifah Rasyidun, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu tentang Hal-Hal yang Dibutuhkan Seorang Muslim dalam Menghadapi Fitnah Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam kitabnya Al-Adab Al-Mufrad dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,لا تكونوا عُجُلاً مَذَايِيعَ بُذُرًا: فإن من ورائكم بلاءً مبرِّحاً أو مُكْلِحاً، وأمور مُتَماحِلَةً رُدُحاً “Janganlah kalian suka terburu-buru, mudah menyebarkan dan memperbesar  fitnah serta suka membuka rahasia lagi tidak pandai menjaga lisan, karena di belakang kalian terdapat musibah yang sangat buruk atau tidak disukai, dan perkara-perkara yang membinasakan lagi fitnah-fitnah yang besar” (Al-Adab Al-Mufrad (327), berkata Al-Albani (Hadis ini) sahih).Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu melarang tiga perkara, yaitu: Melarang kita menjadi orang yang ‘ujul, yaitu bersikap suka terburu-buru dalam memutuskan perkara, berucap maupun bertindak. Hendaklah kita menjadi orang yang tenang, berhati-hati dan teliti memandang suatu permasalahan dan dampak-dampak yang ditimbulkannya, serta baik dan buruknya. Dengan demikian, diharapkan seseorang melangkah dengan pertimbangan yang benar-benar matang. Melarang kita menjadi orang yang madzayi’, yaitu tipe penyebar fitnah atau orang yang memperbesar api fitnah, baik dengan ucapan maupun tindakannya. Dengan tersebarnya fitnah, maka daerah yang terkena fitnah menjadi lebih luas dan dengan diperbesar api fitnah akan terjadi keburukan dan bahaya yang lebih besar, meskipun daerah yang tidak terkena fitnah tidaklah bertambah luas. Melarang kita menjadi orang yang budzur, yaitu suka membuka rahasia lagi tidak pandai menjaga lisan. Merupakan perkara yang dimaklumi bersama, bahwa di saat api fitnah bergejolak, satu kalimat saja yang terucapkan -padahal semestinya satu kalimat tersebut disimpan demi mencegah bahaya dan dampak buruk yang besar- terbukti bisa menyebabkan darah kaum muslimin mengalir dan merusak harta dan kehormatan mereka. Bahkan bisa saja timbul bahaya yang lebih besar dari itu semua, yaitu bahaya dan musibah yang menimpa agama seorang muslim. KesimpulanDari beberapa penjelasan pada serial sebelumnya, dapat kita ketahui bahwa pembahasan mengenai “Dampak-dampak negatif fitnah” ini merupakan pembahasan yang sangat penting, karena merupakan penjagaan seseorang dari segala keburukan, baik keburukan di dunia, terlebih lagi keburukan di akhirat.Seseorang yang memahami dampak-dampak negatif fitnah, bahayanya dan pengaruh buruknya, diharapkan akan waspada, berhati-hati dan menjaga diri dari segala keburukan. Ia bukan hanya selamat dari keburukan ketika fitnah itu datang, bahkan jauh-jauh hari sebelum fitnah itu menyerang, iapun akan diberi taufik oleh Allah untuk menyibukkan diri dengan perkara-perkara yang dicintai oleh-Nya, sehingga bisa jadi hal itu menjadi sebab yang besar bagi dirinya untuk menjadi sosok pembuka pintu kebaikan bagi orang lain saat fitnah datang menyerang.Sesungguhnya dampak-dampak negatif fitnah, bahayanya dan pengaruh buruknya itu banyak jumlahnya, namun Syaikh Abdur Razzaq hafizhahullah akan menulis sebagiannya saja dengan harapan Allah menjadikan hal itu bisa bermanfaat luas bagi kaum muslimin.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Syaikh Shalih Fauzan, Hukum Baiat Dalam Islam, Panas Neraka, Mandi Wajib Yg Benar, Hadits Tentang Wabah Penyakit

Dampak Fitnah (4)

Nasehat salah satu Khalifah Rasyidun, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu tentang Hal-Hal yang Dibutuhkan Seorang Muslim dalam Menghadapi Fitnah Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam kitabnya Al-Adab Al-Mufrad dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,لا تكونوا عُجُلاً مَذَايِيعَ بُذُرًا: فإن من ورائكم بلاءً مبرِّحاً أو مُكْلِحاً، وأمور مُتَماحِلَةً رُدُحاً “Janganlah kalian suka terburu-buru, mudah menyebarkan dan memperbesar  fitnah serta suka membuka rahasia lagi tidak pandai menjaga lisan, karena di belakang kalian terdapat musibah yang sangat buruk atau tidak disukai, dan perkara-perkara yang membinasakan lagi fitnah-fitnah yang besar” (Al-Adab Al-Mufrad (327), berkata Al-Albani (Hadis ini) sahih).Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu melarang tiga perkara, yaitu: Melarang kita menjadi orang yang ‘ujul, yaitu bersikap suka terburu-buru dalam memutuskan perkara, berucap maupun bertindak. Hendaklah kita menjadi orang yang tenang, berhati-hati dan teliti memandang suatu permasalahan dan dampak-dampak yang ditimbulkannya, serta baik dan buruknya. Dengan demikian, diharapkan seseorang melangkah dengan pertimbangan yang benar-benar matang. Melarang kita menjadi orang yang madzayi’, yaitu tipe penyebar fitnah atau orang yang memperbesar api fitnah, baik dengan ucapan maupun tindakannya. Dengan tersebarnya fitnah, maka daerah yang terkena fitnah menjadi lebih luas dan dengan diperbesar api fitnah akan terjadi keburukan dan bahaya yang lebih besar, meskipun daerah yang tidak terkena fitnah tidaklah bertambah luas. Melarang kita menjadi orang yang budzur, yaitu suka membuka rahasia lagi tidak pandai menjaga lisan. Merupakan perkara yang dimaklumi bersama, bahwa di saat api fitnah bergejolak, satu kalimat saja yang terucapkan -padahal semestinya satu kalimat tersebut disimpan demi mencegah bahaya dan dampak buruk yang besar- terbukti bisa menyebabkan darah kaum muslimin mengalir dan merusak harta dan kehormatan mereka. Bahkan bisa saja timbul bahaya yang lebih besar dari itu semua, yaitu bahaya dan musibah yang menimpa agama seorang muslim. KesimpulanDari beberapa penjelasan pada serial sebelumnya, dapat kita ketahui bahwa pembahasan mengenai “Dampak-dampak negatif fitnah” ini merupakan pembahasan yang sangat penting, karena merupakan penjagaan seseorang dari segala keburukan, baik keburukan di dunia, terlebih lagi keburukan di akhirat.Seseorang yang memahami dampak-dampak negatif fitnah, bahayanya dan pengaruh buruknya, diharapkan akan waspada, berhati-hati dan menjaga diri dari segala keburukan. Ia bukan hanya selamat dari keburukan ketika fitnah itu datang, bahkan jauh-jauh hari sebelum fitnah itu menyerang, iapun akan diberi taufik oleh Allah untuk menyibukkan diri dengan perkara-perkara yang dicintai oleh-Nya, sehingga bisa jadi hal itu menjadi sebab yang besar bagi dirinya untuk menjadi sosok pembuka pintu kebaikan bagi orang lain saat fitnah datang menyerang.Sesungguhnya dampak-dampak negatif fitnah, bahayanya dan pengaruh buruknya itu banyak jumlahnya, namun Syaikh Abdur Razzaq hafizhahullah akan menulis sebagiannya saja dengan harapan Allah menjadikan hal itu bisa bermanfaat luas bagi kaum muslimin.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Syaikh Shalih Fauzan, Hukum Baiat Dalam Islam, Panas Neraka, Mandi Wajib Yg Benar, Hadits Tentang Wabah Penyakit
Nasehat salah satu Khalifah Rasyidun, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu tentang Hal-Hal yang Dibutuhkan Seorang Muslim dalam Menghadapi Fitnah Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam kitabnya Al-Adab Al-Mufrad dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,لا تكونوا عُجُلاً مَذَايِيعَ بُذُرًا: فإن من ورائكم بلاءً مبرِّحاً أو مُكْلِحاً، وأمور مُتَماحِلَةً رُدُحاً “Janganlah kalian suka terburu-buru, mudah menyebarkan dan memperbesar  fitnah serta suka membuka rahasia lagi tidak pandai menjaga lisan, karena di belakang kalian terdapat musibah yang sangat buruk atau tidak disukai, dan perkara-perkara yang membinasakan lagi fitnah-fitnah yang besar” (Al-Adab Al-Mufrad (327), berkata Al-Albani (Hadis ini) sahih).Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu melarang tiga perkara, yaitu: Melarang kita menjadi orang yang ‘ujul, yaitu bersikap suka terburu-buru dalam memutuskan perkara, berucap maupun bertindak. Hendaklah kita menjadi orang yang tenang, berhati-hati dan teliti memandang suatu permasalahan dan dampak-dampak yang ditimbulkannya, serta baik dan buruknya. Dengan demikian, diharapkan seseorang melangkah dengan pertimbangan yang benar-benar matang. Melarang kita menjadi orang yang madzayi’, yaitu tipe penyebar fitnah atau orang yang memperbesar api fitnah, baik dengan ucapan maupun tindakannya. Dengan tersebarnya fitnah, maka daerah yang terkena fitnah menjadi lebih luas dan dengan diperbesar api fitnah akan terjadi keburukan dan bahaya yang lebih besar, meskipun daerah yang tidak terkena fitnah tidaklah bertambah luas. Melarang kita menjadi orang yang budzur, yaitu suka membuka rahasia lagi tidak pandai menjaga lisan. Merupakan perkara yang dimaklumi bersama, bahwa di saat api fitnah bergejolak, satu kalimat saja yang terucapkan -padahal semestinya satu kalimat tersebut disimpan demi mencegah bahaya dan dampak buruk yang besar- terbukti bisa menyebabkan darah kaum muslimin mengalir dan merusak harta dan kehormatan mereka. Bahkan bisa saja timbul bahaya yang lebih besar dari itu semua, yaitu bahaya dan musibah yang menimpa agama seorang muslim. KesimpulanDari beberapa penjelasan pada serial sebelumnya, dapat kita ketahui bahwa pembahasan mengenai “Dampak-dampak negatif fitnah” ini merupakan pembahasan yang sangat penting, karena merupakan penjagaan seseorang dari segala keburukan, baik keburukan di dunia, terlebih lagi keburukan di akhirat.Seseorang yang memahami dampak-dampak negatif fitnah, bahayanya dan pengaruh buruknya, diharapkan akan waspada, berhati-hati dan menjaga diri dari segala keburukan. Ia bukan hanya selamat dari keburukan ketika fitnah itu datang, bahkan jauh-jauh hari sebelum fitnah itu menyerang, iapun akan diberi taufik oleh Allah untuk menyibukkan diri dengan perkara-perkara yang dicintai oleh-Nya, sehingga bisa jadi hal itu menjadi sebab yang besar bagi dirinya untuk menjadi sosok pembuka pintu kebaikan bagi orang lain saat fitnah datang menyerang.Sesungguhnya dampak-dampak negatif fitnah, bahayanya dan pengaruh buruknya itu banyak jumlahnya, namun Syaikh Abdur Razzaq hafizhahullah akan menulis sebagiannya saja dengan harapan Allah menjadikan hal itu bisa bermanfaat luas bagi kaum muslimin.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Syaikh Shalih Fauzan, Hukum Baiat Dalam Islam, Panas Neraka, Mandi Wajib Yg Benar, Hadits Tentang Wabah Penyakit


Nasehat salah satu Khalifah Rasyidun, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu tentang Hal-Hal yang Dibutuhkan Seorang Muslim dalam Menghadapi Fitnah Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam kitabnya Al-Adab Al-Mufrad dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,لا تكونوا عُجُلاً مَذَايِيعَ بُذُرًا: فإن من ورائكم بلاءً مبرِّحاً أو مُكْلِحاً، وأمور مُتَماحِلَةً رُدُحاً “Janganlah kalian suka terburu-buru, mudah menyebarkan dan memperbesar  fitnah serta suka membuka rahasia lagi tidak pandai menjaga lisan, karena di belakang kalian terdapat musibah yang sangat buruk atau tidak disukai, dan perkara-perkara yang membinasakan lagi fitnah-fitnah yang besar” (Al-Adab Al-Mufrad (327), berkata Al-Albani (Hadis ini) sahih).Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu melarang tiga perkara, yaitu: Melarang kita menjadi orang yang ‘ujul, yaitu bersikap suka terburu-buru dalam memutuskan perkara, berucap maupun bertindak. Hendaklah kita menjadi orang yang tenang, berhati-hati dan teliti memandang suatu permasalahan dan dampak-dampak yang ditimbulkannya, serta baik dan buruknya. Dengan demikian, diharapkan seseorang melangkah dengan pertimbangan yang benar-benar matang. Melarang kita menjadi orang yang madzayi’, yaitu tipe penyebar fitnah atau orang yang memperbesar api fitnah, baik dengan ucapan maupun tindakannya. Dengan tersebarnya fitnah, maka daerah yang terkena fitnah menjadi lebih luas dan dengan diperbesar api fitnah akan terjadi keburukan dan bahaya yang lebih besar, meskipun daerah yang tidak terkena fitnah tidaklah bertambah luas. Melarang kita menjadi orang yang budzur, yaitu suka membuka rahasia lagi tidak pandai menjaga lisan. Merupakan perkara yang dimaklumi bersama, bahwa di saat api fitnah bergejolak, satu kalimat saja yang terucapkan -padahal semestinya satu kalimat tersebut disimpan demi mencegah bahaya dan dampak buruk yang besar- terbukti bisa menyebabkan darah kaum muslimin mengalir dan merusak harta dan kehormatan mereka. Bahkan bisa saja timbul bahaya yang lebih besar dari itu semua, yaitu bahaya dan musibah yang menimpa agama seorang muslim. KesimpulanDari beberapa penjelasan pada serial sebelumnya, dapat kita ketahui bahwa pembahasan mengenai “Dampak-dampak negatif fitnah” ini merupakan pembahasan yang sangat penting, karena merupakan penjagaan seseorang dari segala keburukan, baik keburukan di dunia, terlebih lagi keburukan di akhirat.Seseorang yang memahami dampak-dampak negatif fitnah, bahayanya dan pengaruh buruknya, diharapkan akan waspada, berhati-hati dan menjaga diri dari segala keburukan. Ia bukan hanya selamat dari keburukan ketika fitnah itu datang, bahkan jauh-jauh hari sebelum fitnah itu menyerang, iapun akan diberi taufik oleh Allah untuk menyibukkan diri dengan perkara-perkara yang dicintai oleh-Nya, sehingga bisa jadi hal itu menjadi sebab yang besar bagi dirinya untuk menjadi sosok pembuka pintu kebaikan bagi orang lain saat fitnah datang menyerang.Sesungguhnya dampak-dampak negatif fitnah, bahayanya dan pengaruh buruknya itu banyak jumlahnya, namun Syaikh Abdur Razzaq hafizhahullah akan menulis sebagiannya saja dengan harapan Allah menjadikan hal itu bisa bermanfaat luas bagi kaum muslimin.[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Syaikh Shalih Fauzan, Hukum Baiat Dalam Islam, Panas Neraka, Mandi Wajib Yg Benar, Hadits Tentang Wabah Penyakit

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 81: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 7

12JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 81: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 7January 12, 2017Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Pada pertemuan yang lalu, kita sudah menyelesaikan pembahasan tentang faktor ketiga yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor media elektronik dan cetak. Pembahasan berikutnya adalah tentang faktor keempat. Yaitu: Teman dan Sahabat. Teman memiliki peran dan pengaruh besar dalam pendidikan, sebab teman mampu membentuk prinsip dan pemahaman yang tidak bisa dilakukan kedua orang tua. Setiap anak pasti menginginkan dirinya dihargai dan diterima. Di dalam keluarga, apabila seorang anak merasa tidak dihargai dan tidak diterima, maka pemberontakanlah yang akan dilakukannya. Dia akan mencari orang lain di luar lingkup keluarga yang bersedia menerima dia, menghargainya serta mendukungnya. Umumnya, pengaruh terbesar seorang anak adalah dari teman-temannya. Tak sedikit anak yang jatuh ke dalam perbuatan negatif, akibat pengaruh buruk dari teman-temannya. Supaya dapat diterima oleh kawan-kawannya, biasanya para anak dipaksa harus dapat menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang berlaku di dalam komunitas mereka. Sebagai orang tua, Anda boleh merasa tenang, apabila putra-putri Anda memiliki teman-teman yang baik. Namun sebaliknya, Anda harus waspada serta was-was, apabila putra-putri Anda salah dalam memilih teman. Sebab efek buruk dari salah dalam memilih teman bukan hanya akan dirasakan di dunia saja, namun juga di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ” مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً “. “Perumpamaan teman baik dengan teman buruk, seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak, maka kemungkinan kamu akan diberi olehnya minyak wangi, atau membeli darinya atau tertular aroma wanginya. Adapun pandai besi, maka bisa jadi ia akan membakar pakaianmu atau engkau tertular bau tidak sedapnya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu. Adapun efek buruk di akhiratnya, Allah ceritakan antara lain dalam firman-Nya, “وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَاوَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا (29)“ Artinya: “Ingatlah pada hari ketika orang-orang zalim menggigit kedua tangannya (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Duhai sekiranya dulu aku mengikuti jalan Rasul. Duhai celaka aku! Sekiranya dulu aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sungguh dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur`an ketika Al-Qur`an itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia”. QS. Al-Furqân (25): 27-29. Maka wahai para orang tua, pilihkan untuk anak-anakmu teman yang baik, sebagaimana engkau memilihkan untuk mereka makanan dan pakaian yang terbaik. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 81: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 7

12JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 81: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 7January 12, 2017Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Pada pertemuan yang lalu, kita sudah menyelesaikan pembahasan tentang faktor ketiga yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor media elektronik dan cetak. Pembahasan berikutnya adalah tentang faktor keempat. Yaitu: Teman dan Sahabat. Teman memiliki peran dan pengaruh besar dalam pendidikan, sebab teman mampu membentuk prinsip dan pemahaman yang tidak bisa dilakukan kedua orang tua. Setiap anak pasti menginginkan dirinya dihargai dan diterima. Di dalam keluarga, apabila seorang anak merasa tidak dihargai dan tidak diterima, maka pemberontakanlah yang akan dilakukannya. Dia akan mencari orang lain di luar lingkup keluarga yang bersedia menerima dia, menghargainya serta mendukungnya. Umumnya, pengaruh terbesar seorang anak adalah dari teman-temannya. Tak sedikit anak yang jatuh ke dalam perbuatan negatif, akibat pengaruh buruk dari teman-temannya. Supaya dapat diterima oleh kawan-kawannya, biasanya para anak dipaksa harus dapat menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang berlaku di dalam komunitas mereka. Sebagai orang tua, Anda boleh merasa tenang, apabila putra-putri Anda memiliki teman-teman yang baik. Namun sebaliknya, Anda harus waspada serta was-was, apabila putra-putri Anda salah dalam memilih teman. Sebab efek buruk dari salah dalam memilih teman bukan hanya akan dirasakan di dunia saja, namun juga di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ” مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً “. “Perumpamaan teman baik dengan teman buruk, seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak, maka kemungkinan kamu akan diberi olehnya minyak wangi, atau membeli darinya atau tertular aroma wanginya. Adapun pandai besi, maka bisa jadi ia akan membakar pakaianmu atau engkau tertular bau tidak sedapnya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu. Adapun efek buruk di akhiratnya, Allah ceritakan antara lain dalam firman-Nya, “وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَاوَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا (29)“ Artinya: “Ingatlah pada hari ketika orang-orang zalim menggigit kedua tangannya (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Duhai sekiranya dulu aku mengikuti jalan Rasul. Duhai celaka aku! Sekiranya dulu aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sungguh dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur`an ketika Al-Qur`an itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia”. QS. Al-Furqân (25): 27-29. Maka wahai para orang tua, pilihkan untuk anak-anakmu teman yang baik, sebagaimana engkau memilihkan untuk mereka makanan dan pakaian yang terbaik. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
12JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 81: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 7January 12, 2017Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Pada pertemuan yang lalu, kita sudah menyelesaikan pembahasan tentang faktor ketiga yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor media elektronik dan cetak. Pembahasan berikutnya adalah tentang faktor keempat. Yaitu: Teman dan Sahabat. Teman memiliki peran dan pengaruh besar dalam pendidikan, sebab teman mampu membentuk prinsip dan pemahaman yang tidak bisa dilakukan kedua orang tua. Setiap anak pasti menginginkan dirinya dihargai dan diterima. Di dalam keluarga, apabila seorang anak merasa tidak dihargai dan tidak diterima, maka pemberontakanlah yang akan dilakukannya. Dia akan mencari orang lain di luar lingkup keluarga yang bersedia menerima dia, menghargainya serta mendukungnya. Umumnya, pengaruh terbesar seorang anak adalah dari teman-temannya. Tak sedikit anak yang jatuh ke dalam perbuatan negatif, akibat pengaruh buruk dari teman-temannya. Supaya dapat diterima oleh kawan-kawannya, biasanya para anak dipaksa harus dapat menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang berlaku di dalam komunitas mereka. Sebagai orang tua, Anda boleh merasa tenang, apabila putra-putri Anda memiliki teman-teman yang baik. Namun sebaliknya, Anda harus waspada serta was-was, apabila putra-putri Anda salah dalam memilih teman. Sebab efek buruk dari salah dalam memilih teman bukan hanya akan dirasakan di dunia saja, namun juga di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ” مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً “. “Perumpamaan teman baik dengan teman buruk, seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak, maka kemungkinan kamu akan diberi olehnya minyak wangi, atau membeli darinya atau tertular aroma wanginya. Adapun pandai besi, maka bisa jadi ia akan membakar pakaianmu atau engkau tertular bau tidak sedapnya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu. Adapun efek buruk di akhiratnya, Allah ceritakan antara lain dalam firman-Nya, “وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَاوَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا (29)“ Artinya: “Ingatlah pada hari ketika orang-orang zalim menggigit kedua tangannya (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Duhai sekiranya dulu aku mengikuti jalan Rasul. Duhai celaka aku! Sekiranya dulu aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sungguh dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur`an ketika Al-Qur`an itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia”. QS. Al-Furqân (25): 27-29. Maka wahai para orang tua, pilihkan untuk anak-anakmu teman yang baik, sebagaimana engkau memilihkan untuk mereka makanan dan pakaian yang terbaik. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


12JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 81: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 7January 12, 2017Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Pada pertemuan yang lalu, kita sudah menyelesaikan pembahasan tentang faktor ketiga yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor media elektronik dan cetak. Pembahasan berikutnya adalah tentang faktor keempat. Yaitu: Teman dan Sahabat. Teman memiliki peran dan pengaruh besar dalam pendidikan, sebab teman mampu membentuk prinsip dan pemahaman yang tidak bisa dilakukan kedua orang tua. Setiap anak pasti menginginkan dirinya dihargai dan diterima. Di dalam keluarga, apabila seorang anak merasa tidak dihargai dan tidak diterima, maka pemberontakanlah yang akan dilakukannya. Dia akan mencari orang lain di luar lingkup keluarga yang bersedia menerima dia, menghargainya serta mendukungnya. Umumnya, pengaruh terbesar seorang anak adalah dari teman-temannya. Tak sedikit anak yang jatuh ke dalam perbuatan negatif, akibat pengaruh buruk dari teman-temannya. Supaya dapat diterima oleh kawan-kawannya, biasanya para anak dipaksa harus dapat menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang berlaku di dalam komunitas mereka. Sebagai orang tua, Anda boleh merasa tenang, apabila putra-putri Anda memiliki teman-teman yang baik. Namun sebaliknya, Anda harus waspada serta was-was, apabila putra-putri Anda salah dalam memilih teman. Sebab efek buruk dari salah dalam memilih teman bukan hanya akan dirasakan di dunia saja, namun juga di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ” مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً “. “Perumpamaan teman baik dengan teman buruk, seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak, maka kemungkinan kamu akan diberi olehnya minyak wangi, atau membeli darinya atau tertular aroma wanginya. Adapun pandai besi, maka bisa jadi ia akan membakar pakaianmu atau engkau tertular bau tidak sedapnya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu. Adapun efek buruk di akhiratnya, Allah ceritakan antara lain dalam firman-Nya, “وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَاوَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا (29)“ Artinya: “Ingatlah pada hari ketika orang-orang zalim menggigit kedua tangannya (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Duhai sekiranya dulu aku mengikuti jalan Rasul. Duhai celaka aku! Sekiranya dulu aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sungguh dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur`an ketika Al-Qur`an itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia”. QS. Al-Furqân (25): 27-29. Maka wahai para orang tua, pilihkan untuk anak-anakmu teman yang baik, sebagaimana engkau memilihkan untuk mereka makanan dan pakaian yang terbaik. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Kajian Umum Bersama Ustadz Abuz Zubair, Lc (Yogyakarta, 15 Januari 2017)

🌷 JOGJA MENGAJI 🌷Hadirilah Kajian Umum Bersama Ustadz Abuz Zubair, Lc1. Tanggung Jawab Wanita Muslimah KARUMAH (Kajian Rutin Khusus Muslimah)Waktu : Ahad, 16 Rabbiul Tsani 1438H / 15 Januari 2017 ⏰ : 16.00 – 17.30 WIB Tempat : Masjid Pogung Raya, Pogung – Yogyakarta2. Jadilah Muslim Yang KuatWaktu : Ahad, 17 Rabbiul Tsani 1438H / 15 Januari 2017 ⏰ :18.00 – 20.30 WIB Tempat : Masjid Kampus UGM Yogyakarta☎ 0815 68421778📡Live streaming di www.radiomuslim.com📝 Penyelengara : 🌹YPIA Jogja 🌹Yayasan Peduli Muslim 🌹FKKA Jogja 🌹KARUMAH (Kajian Rutin Khusus Muslimah) 🌹Kampoeng Santri 🌹Bregodo Airsofter MataramBekerja sama dengan : 🏛 Takmir Masjid Kampus UGM 🏛 Takmir Masjid Pogung RayaLihat Poster: klik di sini🔍 Lafadz Salam, Ibnu Taimiyah Bogor, Dalam Agama Islam, Lupa Dalam Islam, Kenapa Harus Menikah Dalam Islam

Kajian Umum Bersama Ustadz Abuz Zubair, Lc (Yogyakarta, 15 Januari 2017)

🌷 JOGJA MENGAJI 🌷Hadirilah Kajian Umum Bersama Ustadz Abuz Zubair, Lc1. Tanggung Jawab Wanita Muslimah KARUMAH (Kajian Rutin Khusus Muslimah)Waktu : Ahad, 16 Rabbiul Tsani 1438H / 15 Januari 2017 ⏰ : 16.00 – 17.30 WIB Tempat : Masjid Pogung Raya, Pogung – Yogyakarta2. Jadilah Muslim Yang KuatWaktu : Ahad, 17 Rabbiul Tsani 1438H / 15 Januari 2017 ⏰ :18.00 – 20.30 WIB Tempat : Masjid Kampus UGM Yogyakarta☎ 0815 68421778📡Live streaming di www.radiomuslim.com📝 Penyelengara : 🌹YPIA Jogja 🌹Yayasan Peduli Muslim 🌹FKKA Jogja 🌹KARUMAH (Kajian Rutin Khusus Muslimah) 🌹Kampoeng Santri 🌹Bregodo Airsofter MataramBekerja sama dengan : 🏛 Takmir Masjid Kampus UGM 🏛 Takmir Masjid Pogung RayaLihat Poster: klik di sini🔍 Lafadz Salam, Ibnu Taimiyah Bogor, Dalam Agama Islam, Lupa Dalam Islam, Kenapa Harus Menikah Dalam Islam
🌷 JOGJA MENGAJI 🌷Hadirilah Kajian Umum Bersama Ustadz Abuz Zubair, Lc1. Tanggung Jawab Wanita Muslimah KARUMAH (Kajian Rutin Khusus Muslimah)Waktu : Ahad, 16 Rabbiul Tsani 1438H / 15 Januari 2017 ⏰ : 16.00 – 17.30 WIB Tempat : Masjid Pogung Raya, Pogung – Yogyakarta2. Jadilah Muslim Yang KuatWaktu : Ahad, 17 Rabbiul Tsani 1438H / 15 Januari 2017 ⏰ :18.00 – 20.30 WIB Tempat : Masjid Kampus UGM Yogyakarta☎ 0815 68421778📡Live streaming di www.radiomuslim.com📝 Penyelengara : 🌹YPIA Jogja 🌹Yayasan Peduli Muslim 🌹FKKA Jogja 🌹KARUMAH (Kajian Rutin Khusus Muslimah) 🌹Kampoeng Santri 🌹Bregodo Airsofter MataramBekerja sama dengan : 🏛 Takmir Masjid Kampus UGM 🏛 Takmir Masjid Pogung RayaLihat Poster: klik di sini🔍 Lafadz Salam, Ibnu Taimiyah Bogor, Dalam Agama Islam, Lupa Dalam Islam, Kenapa Harus Menikah Dalam Islam


🌷 JOGJA MENGAJI 🌷Hadirilah Kajian Umum Bersama Ustadz Abuz Zubair, Lc1. Tanggung Jawab Wanita Muslimah KARUMAH (Kajian Rutin Khusus Muslimah)Waktu : Ahad, 16 Rabbiul Tsani 1438H / 15 Januari 2017 ⏰ : 16.00 – 17.30 WIB Tempat : Masjid Pogung Raya, Pogung – Yogyakarta2. Jadilah Muslim Yang KuatWaktu : Ahad, 17 Rabbiul Tsani 1438H / 15 Januari 2017 ⏰ :18.00 – 20.30 WIB Tempat : Masjid Kampus UGM Yogyakarta☎ 0815 68421778📡Live streaming di www.radiomuslim.com📝 Penyelengara : 🌹YPIA Jogja 🌹Yayasan Peduli Muslim 🌹FKKA Jogja 🌹KARUMAH (Kajian Rutin Khusus Muslimah) 🌹Kampoeng Santri 🌹Bregodo Airsofter MataramBekerja sama dengan : 🏛 Takmir Masjid Kampus UGM 🏛 Takmir Masjid Pogung RayaLihat Poster: klik di sini🔍 Lafadz Salam, Ibnu Taimiyah Bogor, Dalam Agama Islam, Lupa Dalam Islam, Kenapa Harus Menikah Dalam Islam

Hanya Berdoa Kepada Allah Ta’ala Dalam Urusan Dunia Semata

Seringkali kita jumpai diri kita sendiri atau sebagian orang yang terlalu fokus dan perhatian terhadap kehidupan di dunia, dan lalai dari kehidupannya kelak di akhirat. Sampai-sampai ketika dia menengadahkan kedua tangan memohon kepada Allah Ta’ala, dia hanya meminta kebaikan untuk urusan dunianya. Yang diminta hanyalah bisnis yang lancar, nilai ujian yang bagus, atau keinginan untuk membeli rumah, mobil, atau permintaan semacam itu. Tidak terucap atau terpikir sedikit pun untuk meminta kebaikan atas kehidupannya di akhirat kelak.Celaan bagi Orang yang Hanya Meminta Urusan DuniaAllah Ta’ala telah mencela orang-orang yang hanya meminta kepada-Nya tentang urusan-urusan dunia. Allah Ta’ala berfirman,فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ”Maka di antara manusia ada orang yang berdoa,’Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia’, dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al Baqarah [2]: 200).Allah Ta’ala juga berfirman,مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا”Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS. Al Isra’ [17]: 18).Apakah hal ini berarti, tidak boleh bagi kita untuk berdoa untuk meminta kebaikan di dunia? Tidaklah demikian. Boleh bagi kita untuk berdoa meminta kebaikan urusan di dunia, namun bukan sebagai hal yang pokok. Hal ini karena prioritas utama seorang mukmin adalah kehidupan yang baik dan selamat di akhirat kelak. Sedangkan dunia hanyalah sebagai sarana untuk meraih kebaikan di akhirat.Oleh karena itu, Allah Ta’ala memberikan pujian kepada orang-orang yang menggabungkan dalam doanya antara meminta kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat sekaligus. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201) أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ (202)”Dan di antara mereka ada orang yang berdoa,’Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka’. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari yang mereka usahakan. Dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Al Baqarah [2]: 201-202) [1. Disarikan dari kitab Fiqhu Ad-Du’a, hal. 133 karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi –hafidzahullahu Ta’ala-.].Orang beriman akan menjadikan akhirat (surga) sebagai cita-cita tertinggi yang hendaknya terus dia minta dalam doanya. Marilah kita merenungkan tentang cita-cita seorang sahabat yang mulia, Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami radhiyallahu ‘anha ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya,“Wahai Robi’ah, memintalah kepadaku!” Rabi’ah berkata,أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ“Aku meminta kepadamu agar aku bisa menemanimu di surga!” Maka Rasulullah berkata,أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ“Atau selain hal itu?” Rabi’ah berkata,“Ya, itu saja.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ“Maka bantulah aku dengan Engkau memperbanyak sujud.” (HR. Muslim no. 226) Adapun dunia, maka hakikatnya adalah sesuatu yang rendah dan hina, sehingga tidak layak dijadikan sebagai cita-cita dan keinginan utama seorang mukmin. Ibnu ‘Abid Dunyaa –rahimahullahu Ta’ala- berkata,حدثني عثمان بن أبي شيبة، أخبرنا معاوية بن هشام، قال: سمعت سفيان الثوري يقول: كان يقال: إنما سميت الدنيا لأنها دنية، وإنما سمي المال لأنه يميل بأهله.“Telah menceritakan kepadaku ‘Utsman bin Abi Syaibah, telah mengkhabarkan kepada kami Mu’awiyah bin Hisyaam, ia berkata, aku mendengar Sufyan Ats-Tsauriy berkata, ‘Pernah dikatakan bahwa (dunia) disebut dunia (الدنيا) hanyalah karena ia merupakan sesuatu yang rendah (hina) (دنية) dan (harta) dinamakan harta (الْمَالُ) karena ia dapat membuat condong pemiliknya [2. Maksudnya, membuat condong pemiliknya ke arah harta tersebut sehingga membuat dia lalai dari kehidupan akhirat.]’” [3. Dzammud Dunyaa, 1/37 (Maktabah Syamilah)].Semoga Allah Ta’ala memperbaiki kehidupan kita di akhirat. ***Diselesaikan menjelang subuh, Rotterdam 9 Rabiul Akhir 1438/7 Januari 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id____ 🔍 Syaikh Shalih Fauzan, Hukum Baiat Dalam Islam, Panas Neraka, Mandi Wajib Yg Benar, Hadits Tentang Wabah Penyakit

Hanya Berdoa Kepada Allah Ta’ala Dalam Urusan Dunia Semata

Seringkali kita jumpai diri kita sendiri atau sebagian orang yang terlalu fokus dan perhatian terhadap kehidupan di dunia, dan lalai dari kehidupannya kelak di akhirat. Sampai-sampai ketika dia menengadahkan kedua tangan memohon kepada Allah Ta’ala, dia hanya meminta kebaikan untuk urusan dunianya. Yang diminta hanyalah bisnis yang lancar, nilai ujian yang bagus, atau keinginan untuk membeli rumah, mobil, atau permintaan semacam itu. Tidak terucap atau terpikir sedikit pun untuk meminta kebaikan atas kehidupannya di akhirat kelak.Celaan bagi Orang yang Hanya Meminta Urusan DuniaAllah Ta’ala telah mencela orang-orang yang hanya meminta kepada-Nya tentang urusan-urusan dunia. Allah Ta’ala berfirman,فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ”Maka di antara manusia ada orang yang berdoa,’Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia’, dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al Baqarah [2]: 200).Allah Ta’ala juga berfirman,مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا”Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS. Al Isra’ [17]: 18).Apakah hal ini berarti, tidak boleh bagi kita untuk berdoa untuk meminta kebaikan di dunia? Tidaklah demikian. Boleh bagi kita untuk berdoa meminta kebaikan urusan di dunia, namun bukan sebagai hal yang pokok. Hal ini karena prioritas utama seorang mukmin adalah kehidupan yang baik dan selamat di akhirat kelak. Sedangkan dunia hanyalah sebagai sarana untuk meraih kebaikan di akhirat.Oleh karena itu, Allah Ta’ala memberikan pujian kepada orang-orang yang menggabungkan dalam doanya antara meminta kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat sekaligus. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201) أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ (202)”Dan di antara mereka ada orang yang berdoa,’Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka’. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari yang mereka usahakan. Dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Al Baqarah [2]: 201-202) [1. Disarikan dari kitab Fiqhu Ad-Du’a, hal. 133 karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi –hafidzahullahu Ta’ala-.].Orang beriman akan menjadikan akhirat (surga) sebagai cita-cita tertinggi yang hendaknya terus dia minta dalam doanya. Marilah kita merenungkan tentang cita-cita seorang sahabat yang mulia, Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami radhiyallahu ‘anha ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya,“Wahai Robi’ah, memintalah kepadaku!” Rabi’ah berkata,أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ“Aku meminta kepadamu agar aku bisa menemanimu di surga!” Maka Rasulullah berkata,أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ“Atau selain hal itu?” Rabi’ah berkata,“Ya, itu saja.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ“Maka bantulah aku dengan Engkau memperbanyak sujud.” (HR. Muslim no. 226) Adapun dunia, maka hakikatnya adalah sesuatu yang rendah dan hina, sehingga tidak layak dijadikan sebagai cita-cita dan keinginan utama seorang mukmin. Ibnu ‘Abid Dunyaa –rahimahullahu Ta’ala- berkata,حدثني عثمان بن أبي شيبة، أخبرنا معاوية بن هشام، قال: سمعت سفيان الثوري يقول: كان يقال: إنما سميت الدنيا لأنها دنية، وإنما سمي المال لأنه يميل بأهله.“Telah menceritakan kepadaku ‘Utsman bin Abi Syaibah, telah mengkhabarkan kepada kami Mu’awiyah bin Hisyaam, ia berkata, aku mendengar Sufyan Ats-Tsauriy berkata, ‘Pernah dikatakan bahwa (dunia) disebut dunia (الدنيا) hanyalah karena ia merupakan sesuatu yang rendah (hina) (دنية) dan (harta) dinamakan harta (الْمَالُ) karena ia dapat membuat condong pemiliknya [2. Maksudnya, membuat condong pemiliknya ke arah harta tersebut sehingga membuat dia lalai dari kehidupan akhirat.]’” [3. Dzammud Dunyaa, 1/37 (Maktabah Syamilah)].Semoga Allah Ta’ala memperbaiki kehidupan kita di akhirat. ***Diselesaikan menjelang subuh, Rotterdam 9 Rabiul Akhir 1438/7 Januari 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id____ 🔍 Syaikh Shalih Fauzan, Hukum Baiat Dalam Islam, Panas Neraka, Mandi Wajib Yg Benar, Hadits Tentang Wabah Penyakit
Seringkali kita jumpai diri kita sendiri atau sebagian orang yang terlalu fokus dan perhatian terhadap kehidupan di dunia, dan lalai dari kehidupannya kelak di akhirat. Sampai-sampai ketika dia menengadahkan kedua tangan memohon kepada Allah Ta’ala, dia hanya meminta kebaikan untuk urusan dunianya. Yang diminta hanyalah bisnis yang lancar, nilai ujian yang bagus, atau keinginan untuk membeli rumah, mobil, atau permintaan semacam itu. Tidak terucap atau terpikir sedikit pun untuk meminta kebaikan atas kehidupannya di akhirat kelak.Celaan bagi Orang yang Hanya Meminta Urusan DuniaAllah Ta’ala telah mencela orang-orang yang hanya meminta kepada-Nya tentang urusan-urusan dunia. Allah Ta’ala berfirman,فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ”Maka di antara manusia ada orang yang berdoa,’Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia’, dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al Baqarah [2]: 200).Allah Ta’ala juga berfirman,مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا”Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS. Al Isra’ [17]: 18).Apakah hal ini berarti, tidak boleh bagi kita untuk berdoa untuk meminta kebaikan di dunia? Tidaklah demikian. Boleh bagi kita untuk berdoa meminta kebaikan urusan di dunia, namun bukan sebagai hal yang pokok. Hal ini karena prioritas utama seorang mukmin adalah kehidupan yang baik dan selamat di akhirat kelak. Sedangkan dunia hanyalah sebagai sarana untuk meraih kebaikan di akhirat.Oleh karena itu, Allah Ta’ala memberikan pujian kepada orang-orang yang menggabungkan dalam doanya antara meminta kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat sekaligus. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201) أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ (202)”Dan di antara mereka ada orang yang berdoa,’Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka’. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari yang mereka usahakan. Dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Al Baqarah [2]: 201-202) [1. Disarikan dari kitab Fiqhu Ad-Du’a, hal. 133 karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi –hafidzahullahu Ta’ala-.].Orang beriman akan menjadikan akhirat (surga) sebagai cita-cita tertinggi yang hendaknya terus dia minta dalam doanya. Marilah kita merenungkan tentang cita-cita seorang sahabat yang mulia, Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami radhiyallahu ‘anha ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya,“Wahai Robi’ah, memintalah kepadaku!” Rabi’ah berkata,أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ“Aku meminta kepadamu agar aku bisa menemanimu di surga!” Maka Rasulullah berkata,أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ“Atau selain hal itu?” Rabi’ah berkata,“Ya, itu saja.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ“Maka bantulah aku dengan Engkau memperbanyak sujud.” (HR. Muslim no. 226) Adapun dunia, maka hakikatnya adalah sesuatu yang rendah dan hina, sehingga tidak layak dijadikan sebagai cita-cita dan keinginan utama seorang mukmin. Ibnu ‘Abid Dunyaa –rahimahullahu Ta’ala- berkata,حدثني عثمان بن أبي شيبة، أخبرنا معاوية بن هشام، قال: سمعت سفيان الثوري يقول: كان يقال: إنما سميت الدنيا لأنها دنية، وإنما سمي المال لأنه يميل بأهله.“Telah menceritakan kepadaku ‘Utsman bin Abi Syaibah, telah mengkhabarkan kepada kami Mu’awiyah bin Hisyaam, ia berkata, aku mendengar Sufyan Ats-Tsauriy berkata, ‘Pernah dikatakan bahwa (dunia) disebut dunia (الدنيا) hanyalah karena ia merupakan sesuatu yang rendah (hina) (دنية) dan (harta) dinamakan harta (الْمَالُ) karena ia dapat membuat condong pemiliknya [2. Maksudnya, membuat condong pemiliknya ke arah harta tersebut sehingga membuat dia lalai dari kehidupan akhirat.]’” [3. Dzammud Dunyaa, 1/37 (Maktabah Syamilah)].Semoga Allah Ta’ala memperbaiki kehidupan kita di akhirat. ***Diselesaikan menjelang subuh, Rotterdam 9 Rabiul Akhir 1438/7 Januari 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id____ 🔍 Syaikh Shalih Fauzan, Hukum Baiat Dalam Islam, Panas Neraka, Mandi Wajib Yg Benar, Hadits Tentang Wabah Penyakit


Seringkali kita jumpai diri kita sendiri atau sebagian orang yang terlalu fokus dan perhatian terhadap kehidupan di dunia, dan lalai dari kehidupannya kelak di akhirat. Sampai-sampai ketika dia menengadahkan kedua tangan memohon kepada Allah Ta’ala, dia hanya meminta kebaikan untuk urusan dunianya. Yang diminta hanyalah bisnis yang lancar, nilai ujian yang bagus, atau keinginan untuk membeli rumah, mobil, atau permintaan semacam itu. Tidak terucap atau terpikir sedikit pun untuk meminta kebaikan atas kehidupannya di akhirat kelak.Celaan bagi Orang yang Hanya Meminta Urusan DuniaAllah Ta’ala telah mencela orang-orang yang hanya meminta kepada-Nya tentang urusan-urusan dunia. Allah Ta’ala berfirman,فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ”Maka di antara manusia ada orang yang berdoa,’Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia’, dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al Baqarah [2]: 200).Allah Ta’ala juga berfirman,مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا”Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS. Al Isra’ [17]: 18).Apakah hal ini berarti, tidak boleh bagi kita untuk berdoa untuk meminta kebaikan di dunia? Tidaklah demikian. Boleh bagi kita untuk berdoa meminta kebaikan urusan di dunia, namun bukan sebagai hal yang pokok. Hal ini karena prioritas utama seorang mukmin adalah kehidupan yang baik dan selamat di akhirat kelak. Sedangkan dunia hanyalah sebagai sarana untuk meraih kebaikan di akhirat.Oleh karena itu, Allah Ta’ala memberikan pujian kepada orang-orang yang menggabungkan dalam doanya antara meminta kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat sekaligus. Allah Ta’ala berfirman,وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201) أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ (202)”Dan di antara mereka ada orang yang berdoa,’Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka’. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari yang mereka usahakan. Dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Al Baqarah [2]: 201-202) [1. Disarikan dari kitab Fiqhu Ad-Du’a, hal. 133 karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi –hafidzahullahu Ta’ala-.].Orang beriman akan menjadikan akhirat (surga) sebagai cita-cita tertinggi yang hendaknya terus dia minta dalam doanya. Marilah kita merenungkan tentang cita-cita seorang sahabat yang mulia, Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami radhiyallahu ‘anha ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya,“Wahai Robi’ah, memintalah kepadaku!” Rabi’ah berkata,أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ“Aku meminta kepadamu agar aku bisa menemanimu di surga!” Maka Rasulullah berkata,أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ“Atau selain hal itu?” Rabi’ah berkata,“Ya, itu saja.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ“Maka bantulah aku dengan Engkau memperbanyak sujud.” (HR. Muslim no. 226) Adapun dunia, maka hakikatnya adalah sesuatu yang rendah dan hina, sehingga tidak layak dijadikan sebagai cita-cita dan keinginan utama seorang mukmin. Ibnu ‘Abid Dunyaa –rahimahullahu Ta’ala- berkata,حدثني عثمان بن أبي شيبة، أخبرنا معاوية بن هشام، قال: سمعت سفيان الثوري يقول: كان يقال: إنما سميت الدنيا لأنها دنية، وإنما سمي المال لأنه يميل بأهله.“Telah menceritakan kepadaku ‘Utsman bin Abi Syaibah, telah mengkhabarkan kepada kami Mu’awiyah bin Hisyaam, ia berkata, aku mendengar Sufyan Ats-Tsauriy berkata, ‘Pernah dikatakan bahwa (dunia) disebut dunia (الدنيا) hanyalah karena ia merupakan sesuatu yang rendah (hina) (دنية) dan (harta) dinamakan harta (الْمَالُ) karena ia dapat membuat condong pemiliknya [2. Maksudnya, membuat condong pemiliknya ke arah harta tersebut sehingga membuat dia lalai dari kehidupan akhirat.]’” [3. Dzammud Dunyaa, 1/37 (Maktabah Syamilah)].Semoga Allah Ta’ala memperbaiki kehidupan kita di akhirat. ***Diselesaikan menjelang subuh, Rotterdam 9 Rabiul Akhir 1438/7 Januari 2017Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel Muslim.or.id____ 🔍 Syaikh Shalih Fauzan, Hukum Baiat Dalam Islam, Panas Neraka, Mandi Wajib Yg Benar, Hadits Tentang Wabah Penyakit

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 83: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 9

12JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 83: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 9January 12, 2017Akhlak, Belajar Islam, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Pada pertemuan yang lalu, kita sudah menyampaikan pembahasan tentang faktor kelima yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor pembantu dan pengasuh anak. Pembahasan berikutnya adalah tentang faktor keenam atau yang terakhir. Yaitu: Tetangga Tak dipungkiri, manusia adalah makhluk sosial, tidak bisa terlepas dari manusia yang lain. Artinya ia mutlak membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Di sinilah, manusia tidak bisa dipisahkan dari kehidupan bertetangga. Islam pun telah menggariskan etika sosial untuk menciptakan jalinan yang harmonis antar keluarga. Bila itu dijalankan; maka keamanan, ketentraman dan roda kehidupan yang didasari saling tepa slira dan menghormati semakin kokoh. Memiliki tetangga yang baik dan mau hidup rukun dengan kita merupakan satu kenikmatan hidup. Namun terkadang, kita diuji Allah dengan memiliki tetangga yang tidak baik akhlaknya. Sehingga itu bisa berdampak buruk terhadap perkembangan perilaku anak-anak kita. Berikut beberapa tips untuk menjauhkan anak dari pengaruh buruk tetangga atau anak tetangga: Pertama: Mulai menciptakan ruang Jika kita ingin melepaskan anak dari pengaruh buruk anak tetangga, batasi intensitas bertemu atau bermain mereka secara perlahan-lahan. Hal ini memang tidak mudah dikarenakan rumah kita dekat dengan rumah tetangga. Namun cobalah atur jam main anak kita secara seksama. Jangan biarkan anak bermain pada jam main si anak tetangga. Namun biarkan anak sesekali bermain dengan anak tetangga tersebut tetapi dalam pengawasan kita. Sehingga, jika ada prilaku anak tetangga yang kurang berkenan kita dapat langsung menegurnya. Kedua: Ajak anak berkomunikasi Pada titik tertentu, anak mungkin bertanya mengapa ia dilarang atau dibatasi untuk bermain bersama anak tetangga? Jika sudah begitu, cobalah menjelaskan tentang perilaku anak tetangga yang tidak baik dan tidak patut ditiru. Katakan pada anak, bahwa ia boleh berteman dengan siapapun, asal memberi pengaruh yang baik. Kita bisa berkomunikasi dengan anak tentang perilaku yang buruk sambil menyampaikan kisah-kisah yang mendidik. Karena berkisah adalah cara yang paling efektif untuk berkomunikasi dan menanamkan pesan moral pada anak, tanpa terkesan menggurui. Ketiga: Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak Karakter anak terbentuk dari hasil pemahaman tiga hubungan yang pasti dialami setiap manusia. Yakni hubungan dengan diri sendiri, hubungan dengan lingkungan (dengan manusia lain dan alam sekitar) serta hubungan dengan Allah ta’ala. Hubungan dengan Allah sangat penting ditanamkan pada anak sejak dini. Misalnya, ketika anak berperilaku buruk karena pengaruh anak tetangga, kita dapat berkata pada anak bahwa Allah Maha melihat dan tidak menyukai anak yang berperilaku buruk. Hal seperti itu mengajarkan kepada anak bahwa perilakunya harus sesuai dengan tuntunan Allah. Jika pemahaman positif sudah tertanam kuat pada diri anak, insyaAllah anak tidak akan mudah goyah pendiriannya dan tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal buruk. Sebaliknya, justru anak kita yang senantiasa memberikan pengaruh positif kepada teman-temannya. Semoga bermanfaat… PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 83: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 9

12JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 83: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 9January 12, 2017Akhlak, Belajar Islam, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Pada pertemuan yang lalu, kita sudah menyampaikan pembahasan tentang faktor kelima yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor pembantu dan pengasuh anak. Pembahasan berikutnya adalah tentang faktor keenam atau yang terakhir. Yaitu: Tetangga Tak dipungkiri, manusia adalah makhluk sosial, tidak bisa terlepas dari manusia yang lain. Artinya ia mutlak membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Di sinilah, manusia tidak bisa dipisahkan dari kehidupan bertetangga. Islam pun telah menggariskan etika sosial untuk menciptakan jalinan yang harmonis antar keluarga. Bila itu dijalankan; maka keamanan, ketentraman dan roda kehidupan yang didasari saling tepa slira dan menghormati semakin kokoh. Memiliki tetangga yang baik dan mau hidup rukun dengan kita merupakan satu kenikmatan hidup. Namun terkadang, kita diuji Allah dengan memiliki tetangga yang tidak baik akhlaknya. Sehingga itu bisa berdampak buruk terhadap perkembangan perilaku anak-anak kita. Berikut beberapa tips untuk menjauhkan anak dari pengaruh buruk tetangga atau anak tetangga: Pertama: Mulai menciptakan ruang Jika kita ingin melepaskan anak dari pengaruh buruk anak tetangga, batasi intensitas bertemu atau bermain mereka secara perlahan-lahan. Hal ini memang tidak mudah dikarenakan rumah kita dekat dengan rumah tetangga. Namun cobalah atur jam main anak kita secara seksama. Jangan biarkan anak bermain pada jam main si anak tetangga. Namun biarkan anak sesekali bermain dengan anak tetangga tersebut tetapi dalam pengawasan kita. Sehingga, jika ada prilaku anak tetangga yang kurang berkenan kita dapat langsung menegurnya. Kedua: Ajak anak berkomunikasi Pada titik tertentu, anak mungkin bertanya mengapa ia dilarang atau dibatasi untuk bermain bersama anak tetangga? Jika sudah begitu, cobalah menjelaskan tentang perilaku anak tetangga yang tidak baik dan tidak patut ditiru. Katakan pada anak, bahwa ia boleh berteman dengan siapapun, asal memberi pengaruh yang baik. Kita bisa berkomunikasi dengan anak tentang perilaku yang buruk sambil menyampaikan kisah-kisah yang mendidik. Karena berkisah adalah cara yang paling efektif untuk berkomunikasi dan menanamkan pesan moral pada anak, tanpa terkesan menggurui. Ketiga: Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak Karakter anak terbentuk dari hasil pemahaman tiga hubungan yang pasti dialami setiap manusia. Yakni hubungan dengan diri sendiri, hubungan dengan lingkungan (dengan manusia lain dan alam sekitar) serta hubungan dengan Allah ta’ala. Hubungan dengan Allah sangat penting ditanamkan pada anak sejak dini. Misalnya, ketika anak berperilaku buruk karena pengaruh anak tetangga, kita dapat berkata pada anak bahwa Allah Maha melihat dan tidak menyukai anak yang berperilaku buruk. Hal seperti itu mengajarkan kepada anak bahwa perilakunya harus sesuai dengan tuntunan Allah. Jika pemahaman positif sudah tertanam kuat pada diri anak, insyaAllah anak tidak akan mudah goyah pendiriannya dan tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal buruk. Sebaliknya, justru anak kita yang senantiasa memberikan pengaruh positif kepada teman-temannya. Semoga bermanfaat… PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
12JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 83: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 9January 12, 2017Akhlak, Belajar Islam, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Pada pertemuan yang lalu, kita sudah menyampaikan pembahasan tentang faktor kelima yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor pembantu dan pengasuh anak. Pembahasan berikutnya adalah tentang faktor keenam atau yang terakhir. Yaitu: Tetangga Tak dipungkiri, manusia adalah makhluk sosial, tidak bisa terlepas dari manusia yang lain. Artinya ia mutlak membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Di sinilah, manusia tidak bisa dipisahkan dari kehidupan bertetangga. Islam pun telah menggariskan etika sosial untuk menciptakan jalinan yang harmonis antar keluarga. Bila itu dijalankan; maka keamanan, ketentraman dan roda kehidupan yang didasari saling tepa slira dan menghormati semakin kokoh. Memiliki tetangga yang baik dan mau hidup rukun dengan kita merupakan satu kenikmatan hidup. Namun terkadang, kita diuji Allah dengan memiliki tetangga yang tidak baik akhlaknya. Sehingga itu bisa berdampak buruk terhadap perkembangan perilaku anak-anak kita. Berikut beberapa tips untuk menjauhkan anak dari pengaruh buruk tetangga atau anak tetangga: Pertama: Mulai menciptakan ruang Jika kita ingin melepaskan anak dari pengaruh buruk anak tetangga, batasi intensitas bertemu atau bermain mereka secara perlahan-lahan. Hal ini memang tidak mudah dikarenakan rumah kita dekat dengan rumah tetangga. Namun cobalah atur jam main anak kita secara seksama. Jangan biarkan anak bermain pada jam main si anak tetangga. Namun biarkan anak sesekali bermain dengan anak tetangga tersebut tetapi dalam pengawasan kita. Sehingga, jika ada prilaku anak tetangga yang kurang berkenan kita dapat langsung menegurnya. Kedua: Ajak anak berkomunikasi Pada titik tertentu, anak mungkin bertanya mengapa ia dilarang atau dibatasi untuk bermain bersama anak tetangga? Jika sudah begitu, cobalah menjelaskan tentang perilaku anak tetangga yang tidak baik dan tidak patut ditiru. Katakan pada anak, bahwa ia boleh berteman dengan siapapun, asal memberi pengaruh yang baik. Kita bisa berkomunikasi dengan anak tentang perilaku yang buruk sambil menyampaikan kisah-kisah yang mendidik. Karena berkisah adalah cara yang paling efektif untuk berkomunikasi dan menanamkan pesan moral pada anak, tanpa terkesan menggurui. Ketiga: Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak Karakter anak terbentuk dari hasil pemahaman tiga hubungan yang pasti dialami setiap manusia. Yakni hubungan dengan diri sendiri, hubungan dengan lingkungan (dengan manusia lain dan alam sekitar) serta hubungan dengan Allah ta’ala. Hubungan dengan Allah sangat penting ditanamkan pada anak sejak dini. Misalnya, ketika anak berperilaku buruk karena pengaruh anak tetangga, kita dapat berkata pada anak bahwa Allah Maha melihat dan tidak menyukai anak yang berperilaku buruk. Hal seperti itu mengajarkan kepada anak bahwa perilakunya harus sesuai dengan tuntunan Allah. Jika pemahaman positif sudah tertanam kuat pada diri anak, insyaAllah anak tidak akan mudah goyah pendiriannya dan tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal buruk. Sebaliknya, justru anak kita yang senantiasa memberikan pengaruh positif kepada teman-temannya. Semoga bermanfaat… PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


12JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 83: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 9January 12, 2017Akhlak, Belajar Islam, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Pada pertemuan yang lalu, kita sudah menyampaikan pembahasan tentang faktor kelima yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor pembantu dan pengasuh anak. Pembahasan berikutnya adalah tentang faktor keenam atau yang terakhir. Yaitu: Tetangga Tak dipungkiri, manusia adalah makhluk sosial, tidak bisa terlepas dari manusia yang lain. Artinya ia mutlak membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Di sinilah, manusia tidak bisa dipisahkan dari kehidupan bertetangga. Islam pun telah menggariskan etika sosial untuk menciptakan jalinan yang harmonis antar keluarga. Bila itu dijalankan; maka keamanan, ketentraman dan roda kehidupan yang didasari saling tepa slira dan menghormati semakin kokoh. Memiliki tetangga yang baik dan mau hidup rukun dengan kita merupakan satu kenikmatan hidup. Namun terkadang, kita diuji Allah dengan memiliki tetangga yang tidak baik akhlaknya. Sehingga itu bisa berdampak buruk terhadap perkembangan perilaku anak-anak kita. Berikut beberapa tips untuk menjauhkan anak dari pengaruh buruk tetangga atau anak tetangga: Pertama: Mulai menciptakan ruang Jika kita ingin melepaskan anak dari pengaruh buruk anak tetangga, batasi intensitas bertemu atau bermain mereka secara perlahan-lahan. Hal ini memang tidak mudah dikarenakan rumah kita dekat dengan rumah tetangga. Namun cobalah atur jam main anak kita secara seksama. Jangan biarkan anak bermain pada jam main si anak tetangga. Namun biarkan anak sesekali bermain dengan anak tetangga tersebut tetapi dalam pengawasan kita. Sehingga, jika ada prilaku anak tetangga yang kurang berkenan kita dapat langsung menegurnya. Kedua: Ajak anak berkomunikasi Pada titik tertentu, anak mungkin bertanya mengapa ia dilarang atau dibatasi untuk bermain bersama anak tetangga? Jika sudah begitu, cobalah menjelaskan tentang perilaku anak tetangga yang tidak baik dan tidak patut ditiru. Katakan pada anak, bahwa ia boleh berteman dengan siapapun, asal memberi pengaruh yang baik. Kita bisa berkomunikasi dengan anak tentang perilaku yang buruk sambil menyampaikan kisah-kisah yang mendidik. Karena berkisah adalah cara yang paling efektif untuk berkomunikasi dan menanamkan pesan moral pada anak, tanpa terkesan menggurui. Ketiga: Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak Karakter anak terbentuk dari hasil pemahaman tiga hubungan yang pasti dialami setiap manusia. Yakni hubungan dengan diri sendiri, hubungan dengan lingkungan (dengan manusia lain dan alam sekitar) serta hubungan dengan Allah ta’ala. Hubungan dengan Allah sangat penting ditanamkan pada anak sejak dini. Misalnya, ketika anak berperilaku buruk karena pengaruh anak tetangga, kita dapat berkata pada anak bahwa Allah Maha melihat dan tidak menyukai anak yang berperilaku buruk. Hal seperti itu mengajarkan kepada anak bahwa perilakunya harus sesuai dengan tuntunan Allah. Jika pemahaman positif sudah tertanam kuat pada diri anak, insyaAllah anak tidak akan mudah goyah pendiriannya dan tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal buruk. Sebaliknya, justru anak kita yang senantiasa memberikan pengaruh positif kepada teman-temannya. Semoga bermanfaat… PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 82: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 8

12JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 82: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 8January 12, 2017Akhlak, Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Pada pertemuan yang lalu, kita sudah menyampaikan pembahasan tentang faktor keempat yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor teman dan sahabat. Pembahasan berikutnya adalah tentang faktor kelima. Yaitu: Pembantu dan Pengasuh Anak Islam telah mengatur kehidupan suami-istri dalam sebuah keluarga, sebagai kehidupan yang saling membantu satu sama lain. Meski demikian, Islam juga membagi fungsi dan peran masing-masing. Suami diperintahkan untuk mencari nafkah dan menangani urusan di luar rumah. Sedangkan istri diperintahkan untuk menangani urusan rumah tangga, mulai dari pendidikan anak, memasak, kebersihan rumah, menjaga kehormatan keluarga dan yang semisalnya. Namun, terkadang karena faktor satu dan lain hal, sebuah rumah tangga membutuhkan adanya pembantu. Perlu diketahui bahwa para ulama telah menjelaskan, tidak diperbolehkan mengambil pembantu, kecuali dalam keadaan darurat atau sangat membutuhkan sekali. Juga harus diperhatikan bisa selamat dari hal-hal yang dilarang oleh syariat. Seperti melihat auratnya, berduaan dengannya, atau bercampurnya pria dan wanita yang bukan mahram, dll. Ketika sebuah rumah tangga memasukkan pembantu, tentu akan memiliki efek terhadap pendidikan anak, disadari ataupun tidak. Menyerahkan pengasuhan anak pada orang lain jelas memiliki resiko. Sebab, setiap orang memiliki pola asuh dan latar belakang asuhan sendiri-sendiri. Pengasuhan orang tua jelas tidak akan sama persis dengan asuhan pembantu, pengasuh, nenek atau bahkan pengurus penitipan anak. Ada beberapa kriteria yang harus terpenuhi dalam diri pembantu atau pengasuh anak. Di antaranya: Taat beribadah Sebab anak akan mencontoh apa yang dilihat dan didengar. Bila ternyata si pembantu malas beribadah maka biasanya akan berpengaruh negatif terhadap anak yang dia asuh. Berkarakter baik Pengasuh yang berkarakter baik biasanya sabar, telaten, menjaga kebersihan, rapi, teratur, disiplin, lebih menegakkan yang baik daripada menuruti kemauan anak dan sebagainya. Sementara pengasuh yang berkarakter buruk adalah sebaliknya. Pemarah, suka mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar, menyakiti anak secara fisik dan psikis, kasar, tidak bersih, mau menuruti anak supaya anak tenang meskipun itu tidak sehat atau membahayakan dan sebagainya. Sehat Fisik Ada fase-fase pertumbuhan anak yang menuntut pengasuh gesit dan cekatan. Pengasuh juga jangan sampai menularkan penyakit atau membuat anak meniru hal-hal yang buruk dari pengasuhnya karena mempunyai kebiasaan atau kekurangan fisik. Catatan Penting: Anak bukan barang titipan Hindari menitipkan anak pada suatu tempat yang berbeda-beda dan tidak jelas hubungannya serta selalu berganti-ganti. Misalnya dititipkan tetangga, dititipkan teman, diitipkan di rekan sekantor dan lain-lain. Lebih baik salah satu orang tua cuti kalau memang pengasuh sedang tidak ada. Menitipkan anak dengan cara di atas, pengaruhnya sangat buruk bagi anak. Di samping itu ada peluang anak menjadi sasaran tindakan kejahatan atau pelecehan. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No 82: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 8

12JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 82: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 8January 12, 2017Akhlak, Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Pada pertemuan yang lalu, kita sudah menyampaikan pembahasan tentang faktor keempat yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor teman dan sahabat. Pembahasan berikutnya adalah tentang faktor kelima. Yaitu: Pembantu dan Pengasuh Anak Islam telah mengatur kehidupan suami-istri dalam sebuah keluarga, sebagai kehidupan yang saling membantu satu sama lain. Meski demikian, Islam juga membagi fungsi dan peran masing-masing. Suami diperintahkan untuk mencari nafkah dan menangani urusan di luar rumah. Sedangkan istri diperintahkan untuk menangani urusan rumah tangga, mulai dari pendidikan anak, memasak, kebersihan rumah, menjaga kehormatan keluarga dan yang semisalnya. Namun, terkadang karena faktor satu dan lain hal, sebuah rumah tangga membutuhkan adanya pembantu. Perlu diketahui bahwa para ulama telah menjelaskan, tidak diperbolehkan mengambil pembantu, kecuali dalam keadaan darurat atau sangat membutuhkan sekali. Juga harus diperhatikan bisa selamat dari hal-hal yang dilarang oleh syariat. Seperti melihat auratnya, berduaan dengannya, atau bercampurnya pria dan wanita yang bukan mahram, dll. Ketika sebuah rumah tangga memasukkan pembantu, tentu akan memiliki efek terhadap pendidikan anak, disadari ataupun tidak. Menyerahkan pengasuhan anak pada orang lain jelas memiliki resiko. Sebab, setiap orang memiliki pola asuh dan latar belakang asuhan sendiri-sendiri. Pengasuhan orang tua jelas tidak akan sama persis dengan asuhan pembantu, pengasuh, nenek atau bahkan pengurus penitipan anak. Ada beberapa kriteria yang harus terpenuhi dalam diri pembantu atau pengasuh anak. Di antaranya: Taat beribadah Sebab anak akan mencontoh apa yang dilihat dan didengar. Bila ternyata si pembantu malas beribadah maka biasanya akan berpengaruh negatif terhadap anak yang dia asuh. Berkarakter baik Pengasuh yang berkarakter baik biasanya sabar, telaten, menjaga kebersihan, rapi, teratur, disiplin, lebih menegakkan yang baik daripada menuruti kemauan anak dan sebagainya. Sementara pengasuh yang berkarakter buruk adalah sebaliknya. Pemarah, suka mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar, menyakiti anak secara fisik dan psikis, kasar, tidak bersih, mau menuruti anak supaya anak tenang meskipun itu tidak sehat atau membahayakan dan sebagainya. Sehat Fisik Ada fase-fase pertumbuhan anak yang menuntut pengasuh gesit dan cekatan. Pengasuh juga jangan sampai menularkan penyakit atau membuat anak meniru hal-hal yang buruk dari pengasuhnya karena mempunyai kebiasaan atau kekurangan fisik. Catatan Penting: Anak bukan barang titipan Hindari menitipkan anak pada suatu tempat yang berbeda-beda dan tidak jelas hubungannya serta selalu berganti-ganti. Misalnya dititipkan tetangga, dititipkan teman, diitipkan di rekan sekantor dan lain-lain. Lebih baik salah satu orang tua cuti kalau memang pengasuh sedang tidak ada. Menitipkan anak dengan cara di atas, pengaruhnya sangat buruk bagi anak. Di samping itu ada peluang anak menjadi sasaran tindakan kejahatan atau pelecehan. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
12JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 82: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 8January 12, 2017Akhlak, Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Pada pertemuan yang lalu, kita sudah menyampaikan pembahasan tentang faktor keempat yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor teman dan sahabat. Pembahasan berikutnya adalah tentang faktor kelima. Yaitu: Pembantu dan Pengasuh Anak Islam telah mengatur kehidupan suami-istri dalam sebuah keluarga, sebagai kehidupan yang saling membantu satu sama lain. Meski demikian, Islam juga membagi fungsi dan peran masing-masing. Suami diperintahkan untuk mencari nafkah dan menangani urusan di luar rumah. Sedangkan istri diperintahkan untuk menangani urusan rumah tangga, mulai dari pendidikan anak, memasak, kebersihan rumah, menjaga kehormatan keluarga dan yang semisalnya. Namun, terkadang karena faktor satu dan lain hal, sebuah rumah tangga membutuhkan adanya pembantu. Perlu diketahui bahwa para ulama telah menjelaskan, tidak diperbolehkan mengambil pembantu, kecuali dalam keadaan darurat atau sangat membutuhkan sekali. Juga harus diperhatikan bisa selamat dari hal-hal yang dilarang oleh syariat. Seperti melihat auratnya, berduaan dengannya, atau bercampurnya pria dan wanita yang bukan mahram, dll. Ketika sebuah rumah tangga memasukkan pembantu, tentu akan memiliki efek terhadap pendidikan anak, disadari ataupun tidak. Menyerahkan pengasuhan anak pada orang lain jelas memiliki resiko. Sebab, setiap orang memiliki pola asuh dan latar belakang asuhan sendiri-sendiri. Pengasuhan orang tua jelas tidak akan sama persis dengan asuhan pembantu, pengasuh, nenek atau bahkan pengurus penitipan anak. Ada beberapa kriteria yang harus terpenuhi dalam diri pembantu atau pengasuh anak. Di antaranya: Taat beribadah Sebab anak akan mencontoh apa yang dilihat dan didengar. Bila ternyata si pembantu malas beribadah maka biasanya akan berpengaruh negatif terhadap anak yang dia asuh. Berkarakter baik Pengasuh yang berkarakter baik biasanya sabar, telaten, menjaga kebersihan, rapi, teratur, disiplin, lebih menegakkan yang baik daripada menuruti kemauan anak dan sebagainya. Sementara pengasuh yang berkarakter buruk adalah sebaliknya. Pemarah, suka mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar, menyakiti anak secara fisik dan psikis, kasar, tidak bersih, mau menuruti anak supaya anak tenang meskipun itu tidak sehat atau membahayakan dan sebagainya. Sehat Fisik Ada fase-fase pertumbuhan anak yang menuntut pengasuh gesit dan cekatan. Pengasuh juga jangan sampai menularkan penyakit atau membuat anak meniru hal-hal yang buruk dari pengasuhnya karena mempunyai kebiasaan atau kekurangan fisik. Catatan Penting: Anak bukan barang titipan Hindari menitipkan anak pada suatu tempat yang berbeda-beda dan tidak jelas hubungannya serta selalu berganti-ganti. Misalnya dititipkan tetangga, dititipkan teman, diitipkan di rekan sekantor dan lain-lain. Lebih baik salah satu orang tua cuti kalau memang pengasuh sedang tidak ada. Menitipkan anak dengan cara di atas, pengaruhnya sangat buruk bagi anak. Di samping itu ada peluang anak menjadi sasaran tindakan kejahatan atau pelecehan. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


12JanSilsilah Fiqih Pendidikan Anak No 82: Efek Buruk Lingkungan Yang Rusak Bagian 8January 12, 2017Akhlak, Belajar Islam, Fikih, Keluarga Islami, Nasihat dan Faidah Pada pertemuan yang lalu, kita sudah menyampaikan pembahasan tentang faktor keempat yang mempengaruhi pendidikan anak. Yakni faktor teman dan sahabat. Pembahasan berikutnya adalah tentang faktor kelima. Yaitu: Pembantu dan Pengasuh Anak Islam telah mengatur kehidupan suami-istri dalam sebuah keluarga, sebagai kehidupan yang saling membantu satu sama lain. Meski demikian, Islam juga membagi fungsi dan peran masing-masing. Suami diperintahkan untuk mencari nafkah dan menangani urusan di luar rumah. Sedangkan istri diperintahkan untuk menangani urusan rumah tangga, mulai dari pendidikan anak, memasak, kebersihan rumah, menjaga kehormatan keluarga dan yang semisalnya. Namun, terkadang karena faktor satu dan lain hal, sebuah rumah tangga membutuhkan adanya pembantu. Perlu diketahui bahwa para ulama telah menjelaskan, tidak diperbolehkan mengambil pembantu, kecuali dalam keadaan darurat atau sangat membutuhkan sekali. Juga harus diperhatikan bisa selamat dari hal-hal yang dilarang oleh syariat. Seperti melihat auratnya, berduaan dengannya, atau bercampurnya pria dan wanita yang bukan mahram, dll. Ketika sebuah rumah tangga memasukkan pembantu, tentu akan memiliki efek terhadap pendidikan anak, disadari ataupun tidak. Menyerahkan pengasuhan anak pada orang lain jelas memiliki resiko. Sebab, setiap orang memiliki pola asuh dan latar belakang asuhan sendiri-sendiri. Pengasuhan orang tua jelas tidak akan sama persis dengan asuhan pembantu, pengasuh, nenek atau bahkan pengurus penitipan anak. Ada beberapa kriteria yang harus terpenuhi dalam diri pembantu atau pengasuh anak. Di antaranya: Taat beribadah Sebab anak akan mencontoh apa yang dilihat dan didengar. Bila ternyata si pembantu malas beribadah maka biasanya akan berpengaruh negatif terhadap anak yang dia asuh. Berkarakter baik Pengasuh yang berkarakter baik biasanya sabar, telaten, menjaga kebersihan, rapi, teratur, disiplin, lebih menegakkan yang baik daripada menuruti kemauan anak dan sebagainya. Sementara pengasuh yang berkarakter buruk adalah sebaliknya. Pemarah, suka mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar, menyakiti anak secara fisik dan psikis, kasar, tidak bersih, mau menuruti anak supaya anak tenang meskipun itu tidak sehat atau membahayakan dan sebagainya. Sehat Fisik Ada fase-fase pertumbuhan anak yang menuntut pengasuh gesit dan cekatan. Pengasuh juga jangan sampai menularkan penyakit atau membuat anak meniru hal-hal yang buruk dari pengasuhnya karena mempunyai kebiasaan atau kekurangan fisik. Catatan Penting: Anak bukan barang titipan Hindari menitipkan anak pada suatu tempat yang berbeda-beda dan tidak jelas hubungannya serta selalu berganti-ganti. Misalnya dititipkan tetangga, dititipkan teman, diitipkan di rekan sekantor dan lain-lain. Lebih baik salah satu orang tua cuti kalau memang pengasuh sedang tidak ada. Menitipkan anak dengan cara di atas, pengaruhnya sangat buruk bagi anak. Di samping itu ada peluang anak menjadi sasaran tindakan kejahatan atau pelecehan. PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

10 Kaedah Memahami Riba (Presentasi)

Banyak di antara kita terjerumus dalam riba. Bahkan jadi pusing hingga stress bahkan bunuh diri ketika menghadapi utang riba.   Bagaimana memahami riba?  Kaedah yang ada dalam presentasi berikut akan sangat membantu sekali dalam memahami riba. Silakan download lewat link berikut: 1- File PDF: 10 Kaedah Memahami Riba 2- File Image: 10 Kaedah Memahami Riba Semoga jadi ilmu yang bermanfaat, moga Allah menjauhkan kita dari utang riba.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Malam Jumat, 14 Rabi’uts Tsani 1438 H Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsriba

10 Kaedah Memahami Riba (Presentasi)

Banyak di antara kita terjerumus dalam riba. Bahkan jadi pusing hingga stress bahkan bunuh diri ketika menghadapi utang riba.   Bagaimana memahami riba?  Kaedah yang ada dalam presentasi berikut akan sangat membantu sekali dalam memahami riba. Silakan download lewat link berikut: 1- File PDF: 10 Kaedah Memahami Riba 2- File Image: 10 Kaedah Memahami Riba Semoga jadi ilmu yang bermanfaat, moga Allah menjauhkan kita dari utang riba.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Malam Jumat, 14 Rabi’uts Tsani 1438 H Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsriba
Banyak di antara kita terjerumus dalam riba. Bahkan jadi pusing hingga stress bahkan bunuh diri ketika menghadapi utang riba.   Bagaimana memahami riba?  Kaedah yang ada dalam presentasi berikut akan sangat membantu sekali dalam memahami riba. Silakan download lewat link berikut: 1- File PDF: 10 Kaedah Memahami Riba 2- File Image: 10 Kaedah Memahami Riba Semoga jadi ilmu yang bermanfaat, moga Allah menjauhkan kita dari utang riba.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Malam Jumat, 14 Rabi’uts Tsani 1438 H Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsriba


Banyak di antara kita terjerumus dalam riba. Bahkan jadi pusing hingga stress bahkan bunuh diri ketika menghadapi utang riba.   Bagaimana memahami riba?  Kaedah yang ada dalam presentasi berikut akan sangat membantu sekali dalam memahami riba. Silakan download lewat link berikut: 1- File PDF: 10 Kaedah Memahami Riba 2- File Image: 10 Kaedah Memahami Riba Semoga jadi ilmu yang bermanfaat, moga Allah menjauhkan kita dari utang riba.   — @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Malam Jumat, 14 Rabi’uts Tsani 1438 H Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam Tagsriba

Yang Penting Khosyah

Khosyah itu rasa takut pada Allah. Rasa takut ini sangat penting kita miliki. Pagi ini, coba buka mushaf lalu renungkan ayat, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28).   Sudah baca? Sudah renungkan?   Akhi … rasa takut pada-Nya inilah yang membuat kita mudah menjauhi maksiat. Ada yang sering ngaji, banyak ilmu, rajin ke majelis ilmu, namun maksiat tetap jalan. Ada tidak? Ya jelas, ada.   Kenapa bisa demikian? Khosyah yaa akhi wa ukhti, itu yang kurang kita miliki.   Coba lihat pembagian mereka yang berilmu sebagai berikut. Sufyan Ats-Tsauri berkata, dari Hayyan At-Taimi, seseorang berkata, “Orang berilmu itu ada tiga: ‘Alimun billah wa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan paham hukum). ‘Alimun billah wa laysa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan tidak paham hukum). ‘Alimun bi amrillah wa laysa a’limun billah (paham hukum namun tidak mengenal Allah).   Yang pertama berarti yang takut pada Allah dengan ilmunya dan paham hukum dan kewajiban pada Allah. Yang kedua berarti yang takut pada Allah namun tidak mengilmui hukum dan kewajiban pada Allah. Yang ketiga berarti yang paham hukum dan kewajiban pada Allah, namun tidak punya rasa takut pada Allah. (Dalam sanad hadits ini guru dari Hayyan At-Taimi tidak disebutkan namanya. As-Suyuthi menguatkan hadits ini hingga Ibnu Abi Hatim).   Akhi, ukhti … Jangan-jangan kita cuma paham hukum Islam (banyak ngaji atau tholabul ilmi), namun karena tidak punya KHOSYAH (rasa takut pada-Nya), akhirnya maksiat tak pernah henti dan enggan bertaubat.   Moga jadi renungan bersama. Moga Allah memberikan kita rasa takut pada-Nya.     * Akhi = saudara laki-laki, Ukhti = saudara perempuan   —   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Kamis ba’da Shubuh, 14 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbelajar ilmu agama takut takut pada Allah

Yang Penting Khosyah

Khosyah itu rasa takut pada Allah. Rasa takut ini sangat penting kita miliki. Pagi ini, coba buka mushaf lalu renungkan ayat, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28).   Sudah baca? Sudah renungkan?   Akhi … rasa takut pada-Nya inilah yang membuat kita mudah menjauhi maksiat. Ada yang sering ngaji, banyak ilmu, rajin ke majelis ilmu, namun maksiat tetap jalan. Ada tidak? Ya jelas, ada.   Kenapa bisa demikian? Khosyah yaa akhi wa ukhti, itu yang kurang kita miliki.   Coba lihat pembagian mereka yang berilmu sebagai berikut. Sufyan Ats-Tsauri berkata, dari Hayyan At-Taimi, seseorang berkata, “Orang berilmu itu ada tiga: ‘Alimun billah wa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan paham hukum). ‘Alimun billah wa laysa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan tidak paham hukum). ‘Alimun bi amrillah wa laysa a’limun billah (paham hukum namun tidak mengenal Allah).   Yang pertama berarti yang takut pada Allah dengan ilmunya dan paham hukum dan kewajiban pada Allah. Yang kedua berarti yang takut pada Allah namun tidak mengilmui hukum dan kewajiban pada Allah. Yang ketiga berarti yang paham hukum dan kewajiban pada Allah, namun tidak punya rasa takut pada Allah. (Dalam sanad hadits ini guru dari Hayyan At-Taimi tidak disebutkan namanya. As-Suyuthi menguatkan hadits ini hingga Ibnu Abi Hatim).   Akhi, ukhti … Jangan-jangan kita cuma paham hukum Islam (banyak ngaji atau tholabul ilmi), namun karena tidak punya KHOSYAH (rasa takut pada-Nya), akhirnya maksiat tak pernah henti dan enggan bertaubat.   Moga jadi renungan bersama. Moga Allah memberikan kita rasa takut pada-Nya.     * Akhi = saudara laki-laki, Ukhti = saudara perempuan   —   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Kamis ba’da Shubuh, 14 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbelajar ilmu agama takut takut pada Allah
Khosyah itu rasa takut pada Allah. Rasa takut ini sangat penting kita miliki. Pagi ini, coba buka mushaf lalu renungkan ayat, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28).   Sudah baca? Sudah renungkan?   Akhi … rasa takut pada-Nya inilah yang membuat kita mudah menjauhi maksiat. Ada yang sering ngaji, banyak ilmu, rajin ke majelis ilmu, namun maksiat tetap jalan. Ada tidak? Ya jelas, ada.   Kenapa bisa demikian? Khosyah yaa akhi wa ukhti, itu yang kurang kita miliki.   Coba lihat pembagian mereka yang berilmu sebagai berikut. Sufyan Ats-Tsauri berkata, dari Hayyan At-Taimi, seseorang berkata, “Orang berilmu itu ada tiga: ‘Alimun billah wa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan paham hukum). ‘Alimun billah wa laysa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan tidak paham hukum). ‘Alimun bi amrillah wa laysa a’limun billah (paham hukum namun tidak mengenal Allah).   Yang pertama berarti yang takut pada Allah dengan ilmunya dan paham hukum dan kewajiban pada Allah. Yang kedua berarti yang takut pada Allah namun tidak mengilmui hukum dan kewajiban pada Allah. Yang ketiga berarti yang paham hukum dan kewajiban pada Allah, namun tidak punya rasa takut pada Allah. (Dalam sanad hadits ini guru dari Hayyan At-Taimi tidak disebutkan namanya. As-Suyuthi menguatkan hadits ini hingga Ibnu Abi Hatim).   Akhi, ukhti … Jangan-jangan kita cuma paham hukum Islam (banyak ngaji atau tholabul ilmi), namun karena tidak punya KHOSYAH (rasa takut pada-Nya), akhirnya maksiat tak pernah henti dan enggan bertaubat.   Moga jadi renungan bersama. Moga Allah memberikan kita rasa takut pada-Nya.     * Akhi = saudara laki-laki, Ukhti = saudara perempuan   —   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Kamis ba’da Shubuh, 14 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbelajar ilmu agama takut takut pada Allah


Khosyah itu rasa takut pada Allah. Rasa takut ini sangat penting kita miliki. Pagi ini, coba buka mushaf lalu renungkan ayat, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28).   Sudah baca? Sudah renungkan?   Akhi … rasa takut pada-Nya inilah yang membuat kita mudah menjauhi maksiat. Ada yang sering ngaji, banyak ilmu, rajin ke majelis ilmu, namun maksiat tetap jalan. Ada tidak? Ya jelas, ada.   Kenapa bisa demikian? Khosyah yaa akhi wa ukhti, itu yang kurang kita miliki.   Coba lihat pembagian mereka yang berilmu sebagai berikut. Sufyan Ats-Tsauri berkata, dari Hayyan At-Taimi, seseorang berkata, “Orang berilmu itu ada tiga: ‘Alimun billah wa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan paham hukum). ‘Alimun billah wa laysa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan tidak paham hukum). ‘Alimun bi amrillah wa laysa a’limun billah (paham hukum namun tidak mengenal Allah).   Yang pertama berarti yang takut pada Allah dengan ilmunya dan paham hukum dan kewajiban pada Allah. Yang kedua berarti yang takut pada Allah namun tidak mengilmui hukum dan kewajiban pada Allah. Yang ketiga berarti yang paham hukum dan kewajiban pada Allah, namun tidak punya rasa takut pada Allah. (Dalam sanad hadits ini guru dari Hayyan At-Taimi tidak disebutkan namanya. As-Suyuthi menguatkan hadits ini hingga Ibnu Abi Hatim).   Akhi, ukhti … Jangan-jangan kita cuma paham hukum Islam (banyak ngaji atau tholabul ilmi), namun karena tidak punya KHOSYAH (rasa takut pada-Nya), akhirnya maksiat tak pernah henti dan enggan bertaubat.   Moga jadi renungan bersama. Moga Allah memberikan kita rasa takut pada-Nya.     * Akhi = saudara laki-laki, Ukhti = saudara perempuan   —   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Kamis ba’da Shubuh, 14 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbelajar ilmu agama takut takut pada Allah

Biar Tertarik Belajar Agama (2)

Ada lagi alasan kenapa kita harus belajar agama.   2- Ingin jadi baik harus mendalami ilmu agama.   Ini satu alasan kenapa seorang muslim mesti mendalami agamanya. Karena seorang mahasiswa, pegawai, sampai Doctor dan Profesor bisalah menjadi baik kalau paham agama. Dalam hadits dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari, no. 71 dan Muslim, no. 1037) Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan, وَمَفْهُوم الْحَدِيث أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّه فِي الدِّين – أَيْ : يَتَعَلَّم قَوَاعِد الْإِسْلَام وَمَا يَتَّصِل بِهَا مِنْ الْفُرُوع – فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْر “Dapat disimpulkan dari hadits tersebut bahwa siapa yang tidak memahami agama, enggan mempelajari dasar-dasar Islam dan cabang-cabangnya, maka ia diharamkan untuk mendapatkan kebaikan.” (Fath Al-Bari, 1: 165) Berarti dengan mendalami ilmu diin barulah bisa jadi baik. Tanpa belajar dan tanpa mendatangi majelis ilmu, tentu tidak bisa meraih kebaikan yang diharap.   -bersambung insya Allah- Bagian dari buku M Abduh Tuasikal dan M Saifudin Hakim: MahaSantri. Moga segera terbit.   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbelajar belajar islam keutamaan belajar agama mahasantri

Biar Tertarik Belajar Agama (2)

Ada lagi alasan kenapa kita harus belajar agama.   2- Ingin jadi baik harus mendalami ilmu agama.   Ini satu alasan kenapa seorang muslim mesti mendalami agamanya. Karena seorang mahasiswa, pegawai, sampai Doctor dan Profesor bisalah menjadi baik kalau paham agama. Dalam hadits dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari, no. 71 dan Muslim, no. 1037) Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan, وَمَفْهُوم الْحَدِيث أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّه فِي الدِّين – أَيْ : يَتَعَلَّم قَوَاعِد الْإِسْلَام وَمَا يَتَّصِل بِهَا مِنْ الْفُرُوع – فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْر “Dapat disimpulkan dari hadits tersebut bahwa siapa yang tidak memahami agama, enggan mempelajari dasar-dasar Islam dan cabang-cabangnya, maka ia diharamkan untuk mendapatkan kebaikan.” (Fath Al-Bari, 1: 165) Berarti dengan mendalami ilmu diin barulah bisa jadi baik. Tanpa belajar dan tanpa mendatangi majelis ilmu, tentu tidak bisa meraih kebaikan yang diharap.   -bersambung insya Allah- Bagian dari buku M Abduh Tuasikal dan M Saifudin Hakim: MahaSantri. Moga segera terbit.   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbelajar belajar islam keutamaan belajar agama mahasantri
Ada lagi alasan kenapa kita harus belajar agama.   2- Ingin jadi baik harus mendalami ilmu agama.   Ini satu alasan kenapa seorang muslim mesti mendalami agamanya. Karena seorang mahasiswa, pegawai, sampai Doctor dan Profesor bisalah menjadi baik kalau paham agama. Dalam hadits dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari, no. 71 dan Muslim, no. 1037) Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan, وَمَفْهُوم الْحَدِيث أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّه فِي الدِّين – أَيْ : يَتَعَلَّم قَوَاعِد الْإِسْلَام وَمَا يَتَّصِل بِهَا مِنْ الْفُرُوع – فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْر “Dapat disimpulkan dari hadits tersebut bahwa siapa yang tidak memahami agama, enggan mempelajari dasar-dasar Islam dan cabang-cabangnya, maka ia diharamkan untuk mendapatkan kebaikan.” (Fath Al-Bari, 1: 165) Berarti dengan mendalami ilmu diin barulah bisa jadi baik. Tanpa belajar dan tanpa mendatangi majelis ilmu, tentu tidak bisa meraih kebaikan yang diharap.   -bersambung insya Allah- Bagian dari buku M Abduh Tuasikal dan M Saifudin Hakim: MahaSantri. Moga segera terbit.   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbelajar belajar islam keutamaan belajar agama mahasantri


Ada lagi alasan kenapa kita harus belajar agama.   2- Ingin jadi baik harus mendalami ilmu agama.   Ini satu alasan kenapa seorang muslim mesti mendalami agamanya. Karena seorang mahasiswa, pegawai, sampai Doctor dan Profesor bisalah menjadi baik kalau paham agama. Dalam hadits dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari, no. 71 dan Muslim, no. 1037) Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan, وَمَفْهُوم الْحَدِيث أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّه فِي الدِّين – أَيْ : يَتَعَلَّم قَوَاعِد الْإِسْلَام وَمَا يَتَّصِل بِهَا مِنْ الْفُرُوع – فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْر “Dapat disimpulkan dari hadits tersebut bahwa siapa yang tidak memahami agama, enggan mempelajari dasar-dasar Islam dan cabang-cabangnya, maka ia diharamkan untuk mendapatkan kebaikan.” (Fath Al-Bari, 1: 165) Berarti dengan mendalami ilmu diin barulah bisa jadi baik. Tanpa belajar dan tanpa mendatangi majelis ilmu, tentu tidak bisa meraih kebaikan yang diharap.   -bersambung insya Allah- Bagian dari buku M Abduh Tuasikal dan M Saifudin Hakim: MahaSantri. Moga segera terbit.   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbelajar belajar islam keutamaan belajar agama mahasantri

Biar Tertarik Belajar Agama (1)

Akhi/ ukhti, rugi sekali jika kita punya kemampuan belajar agama, bahkan bisa lebih dalam, namun kita selalu beralasan tidak bisa atau sibuk atau tak punya waktu. Akhi/ ukhti, nih sedikit motivasi biar semangat belajar ilmu agama alias ngaji di sela-sela kesibukan kita di kampus atau di dunia kerja.   1- Makin mendalami agama akan semakin takut pada Allah   Coba renungkan firman Allah Ta’ala, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28). Lihatlah yang paling takut pada Allah ialah yang paling berilmu. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling takut pada Allah dengan takut yang sebenarnya adalah para ulama (orang yang berilmu). Karena semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia disifati dengan sifat dan nama yang sempurna lagi baik, lalu ia mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 308). Sa’id bin Jubair mengatakan bahwa rasa takut itulah yang menghalangi kita dari maksiat. (Dikatakan oleh Suyuthi, diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim) Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa ilmu bukanlah dengan banyaknya riwayat, namun ilmu ialah banyaknya rasa takut pada Allah. (HR. Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil fi Adh-Dhu’afaa’, 1: 38; Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8534, dari ‘Aun, dari Ibnu Mas’ud. Sanad hadits ini terputus karena ‘Aun tidak mendengar dari Ibnu Mas’ud) Sufyan Ats-Tsauri berkata, dari Hayyan At-Taimi, seseorang berkata, “Ulama itu ada tiga: ‘Alimun billah wa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan paham hukum). ‘Alimun billah wa laysa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan tidak paham hukum). ‘Alimun bi amrillah wa laysa a’limun billah (paham hukum namun tidak mengenal Allah). Yang pertama berarti yang takut pada Allah dengan ilmunya dan paham hukum dan kewajiban pada Allah. Yang kedua berarti yang takut pada Allah namun tidak mengilmui hukum dan kewajiban pada Allah. Yang ketiga berarti yang paham hukum dan kewajiban pada Allah, namun tidak punya rasa takut pada Allah. (Dalam sanad hadits ini guru dari Hayyan At-Taimi tidak disebutkan namanya. As-Suyuthi menguatkan hadits ini hingga Ibnu Abi Hatim). Lihat berbagai perkataan ulama di atas dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 6: 308 Ada ulama yang membuat ungkapan, مَنْ كَانَ بِاللهِ أَعْرَفُ كَانَ للهِ أَخْوَفُ “Siapa yang paling mengenal Allah, dialah yang paling takut pada Allah.” Lihatlah buah dari mengenal Allah, pasti punya rasa takut yang besar pada Allah. Sehingga kalau memahami agama, ilmu dan rasa takut pada Allah akan mengantarkan seseorang pada kebaikan dan menghindarkannya dari berbagai kerusakan dan maksiat. Silakan buktikan mahasiswa yang paham agama akan lebih takut pada Allah, dibanding yang agamanya nol atau sedikit. Kalau takut pada Allah, kira-kira apa mungkin ia jadi penipu, jadi penjahat, atau jadi koruptor? Kemungkinannya kecil.   -bersambung insya Allah- Bagian dari buku M Abduh Tuasikal dan M Saifudin Hakim: MahaSantri. Moga segera terbit.   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbelajar belajar islam keutamaan belajar agama mahasantri

Biar Tertarik Belajar Agama (1)

Akhi/ ukhti, rugi sekali jika kita punya kemampuan belajar agama, bahkan bisa lebih dalam, namun kita selalu beralasan tidak bisa atau sibuk atau tak punya waktu. Akhi/ ukhti, nih sedikit motivasi biar semangat belajar ilmu agama alias ngaji di sela-sela kesibukan kita di kampus atau di dunia kerja.   1- Makin mendalami agama akan semakin takut pada Allah   Coba renungkan firman Allah Ta’ala, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28). Lihatlah yang paling takut pada Allah ialah yang paling berilmu. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling takut pada Allah dengan takut yang sebenarnya adalah para ulama (orang yang berilmu). Karena semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia disifati dengan sifat dan nama yang sempurna lagi baik, lalu ia mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 308). Sa’id bin Jubair mengatakan bahwa rasa takut itulah yang menghalangi kita dari maksiat. (Dikatakan oleh Suyuthi, diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim) Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa ilmu bukanlah dengan banyaknya riwayat, namun ilmu ialah banyaknya rasa takut pada Allah. (HR. Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil fi Adh-Dhu’afaa’, 1: 38; Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8534, dari ‘Aun, dari Ibnu Mas’ud. Sanad hadits ini terputus karena ‘Aun tidak mendengar dari Ibnu Mas’ud) Sufyan Ats-Tsauri berkata, dari Hayyan At-Taimi, seseorang berkata, “Ulama itu ada tiga: ‘Alimun billah wa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan paham hukum). ‘Alimun billah wa laysa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan tidak paham hukum). ‘Alimun bi amrillah wa laysa a’limun billah (paham hukum namun tidak mengenal Allah). Yang pertama berarti yang takut pada Allah dengan ilmunya dan paham hukum dan kewajiban pada Allah. Yang kedua berarti yang takut pada Allah namun tidak mengilmui hukum dan kewajiban pada Allah. Yang ketiga berarti yang paham hukum dan kewajiban pada Allah, namun tidak punya rasa takut pada Allah. (Dalam sanad hadits ini guru dari Hayyan At-Taimi tidak disebutkan namanya. As-Suyuthi menguatkan hadits ini hingga Ibnu Abi Hatim). Lihat berbagai perkataan ulama di atas dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 6: 308 Ada ulama yang membuat ungkapan, مَنْ كَانَ بِاللهِ أَعْرَفُ كَانَ للهِ أَخْوَفُ “Siapa yang paling mengenal Allah, dialah yang paling takut pada Allah.” Lihatlah buah dari mengenal Allah, pasti punya rasa takut yang besar pada Allah. Sehingga kalau memahami agama, ilmu dan rasa takut pada Allah akan mengantarkan seseorang pada kebaikan dan menghindarkannya dari berbagai kerusakan dan maksiat. Silakan buktikan mahasiswa yang paham agama akan lebih takut pada Allah, dibanding yang agamanya nol atau sedikit. Kalau takut pada Allah, kira-kira apa mungkin ia jadi penipu, jadi penjahat, atau jadi koruptor? Kemungkinannya kecil.   -bersambung insya Allah- Bagian dari buku M Abduh Tuasikal dan M Saifudin Hakim: MahaSantri. Moga segera terbit.   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbelajar belajar islam keutamaan belajar agama mahasantri
Akhi/ ukhti, rugi sekali jika kita punya kemampuan belajar agama, bahkan bisa lebih dalam, namun kita selalu beralasan tidak bisa atau sibuk atau tak punya waktu. Akhi/ ukhti, nih sedikit motivasi biar semangat belajar ilmu agama alias ngaji di sela-sela kesibukan kita di kampus atau di dunia kerja.   1- Makin mendalami agama akan semakin takut pada Allah   Coba renungkan firman Allah Ta’ala, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28). Lihatlah yang paling takut pada Allah ialah yang paling berilmu. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling takut pada Allah dengan takut yang sebenarnya adalah para ulama (orang yang berilmu). Karena semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia disifati dengan sifat dan nama yang sempurna lagi baik, lalu ia mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 308). Sa’id bin Jubair mengatakan bahwa rasa takut itulah yang menghalangi kita dari maksiat. (Dikatakan oleh Suyuthi, diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim) Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa ilmu bukanlah dengan banyaknya riwayat, namun ilmu ialah banyaknya rasa takut pada Allah. (HR. Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil fi Adh-Dhu’afaa’, 1: 38; Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8534, dari ‘Aun, dari Ibnu Mas’ud. Sanad hadits ini terputus karena ‘Aun tidak mendengar dari Ibnu Mas’ud) Sufyan Ats-Tsauri berkata, dari Hayyan At-Taimi, seseorang berkata, “Ulama itu ada tiga: ‘Alimun billah wa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan paham hukum). ‘Alimun billah wa laysa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan tidak paham hukum). ‘Alimun bi amrillah wa laysa a’limun billah (paham hukum namun tidak mengenal Allah). Yang pertama berarti yang takut pada Allah dengan ilmunya dan paham hukum dan kewajiban pada Allah. Yang kedua berarti yang takut pada Allah namun tidak mengilmui hukum dan kewajiban pada Allah. Yang ketiga berarti yang paham hukum dan kewajiban pada Allah, namun tidak punya rasa takut pada Allah. (Dalam sanad hadits ini guru dari Hayyan At-Taimi tidak disebutkan namanya. As-Suyuthi menguatkan hadits ini hingga Ibnu Abi Hatim). Lihat berbagai perkataan ulama di atas dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 6: 308 Ada ulama yang membuat ungkapan, مَنْ كَانَ بِاللهِ أَعْرَفُ كَانَ للهِ أَخْوَفُ “Siapa yang paling mengenal Allah, dialah yang paling takut pada Allah.” Lihatlah buah dari mengenal Allah, pasti punya rasa takut yang besar pada Allah. Sehingga kalau memahami agama, ilmu dan rasa takut pada Allah akan mengantarkan seseorang pada kebaikan dan menghindarkannya dari berbagai kerusakan dan maksiat. Silakan buktikan mahasiswa yang paham agama akan lebih takut pada Allah, dibanding yang agamanya nol atau sedikit. Kalau takut pada Allah, kira-kira apa mungkin ia jadi penipu, jadi penjahat, atau jadi koruptor? Kemungkinannya kecil.   -bersambung insya Allah- Bagian dari buku M Abduh Tuasikal dan M Saifudin Hakim: MahaSantri. Moga segera terbit.   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbelajar belajar islam keutamaan belajar agama mahasantri


Akhi/ ukhti, rugi sekali jika kita punya kemampuan belajar agama, bahkan bisa lebih dalam, namun kita selalu beralasan tidak bisa atau sibuk atau tak punya waktu. Akhi/ ukhti, nih sedikit motivasi biar semangat belajar ilmu agama alias ngaji di sela-sela kesibukan kita di kampus atau di dunia kerja.   1- Makin mendalami agama akan semakin takut pada Allah   Coba renungkan firman Allah Ta’ala, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28). Lihatlah yang paling takut pada Allah ialah yang paling berilmu. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling takut pada Allah dengan takut yang sebenarnya adalah para ulama (orang yang berilmu). Karena semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia disifati dengan sifat dan nama yang sempurna lagi baik, lalu ia mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 308). Sa’id bin Jubair mengatakan bahwa rasa takut itulah yang menghalangi kita dari maksiat. (Dikatakan oleh Suyuthi, diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim) Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa ilmu bukanlah dengan banyaknya riwayat, namun ilmu ialah banyaknya rasa takut pada Allah. (HR. Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil fi Adh-Dhu’afaa’, 1: 38; Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8534, dari ‘Aun, dari Ibnu Mas’ud. Sanad hadits ini terputus karena ‘Aun tidak mendengar dari Ibnu Mas’ud) Sufyan Ats-Tsauri berkata, dari Hayyan At-Taimi, seseorang berkata, “Ulama itu ada tiga: ‘Alimun billah wa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan paham hukum). ‘Alimun billah wa laysa ‘alimun bi amrillah (mengenal Allah dan tidak paham hukum). ‘Alimun bi amrillah wa laysa a’limun billah (paham hukum namun tidak mengenal Allah). Yang pertama berarti yang takut pada Allah dengan ilmunya dan paham hukum dan kewajiban pada Allah. Yang kedua berarti yang takut pada Allah namun tidak mengilmui hukum dan kewajiban pada Allah. Yang ketiga berarti yang paham hukum dan kewajiban pada Allah, namun tidak punya rasa takut pada Allah. (Dalam sanad hadits ini guru dari Hayyan At-Taimi tidak disebutkan namanya. As-Suyuthi menguatkan hadits ini hingga Ibnu Abi Hatim). Lihat berbagai perkataan ulama di atas dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 6: 308 Ada ulama yang membuat ungkapan, مَنْ كَانَ بِاللهِ أَعْرَفُ كَانَ للهِ أَخْوَفُ “Siapa yang paling mengenal Allah, dialah yang paling takut pada Allah.” Lihatlah buah dari mengenal Allah, pasti punya rasa takut yang besar pada Allah. Sehingga kalau memahami agama, ilmu dan rasa takut pada Allah akan mengantarkan seseorang pada kebaikan dan menghindarkannya dari berbagai kerusakan dan maksiat. Silakan buktikan mahasiswa yang paham agama akan lebih takut pada Allah, dibanding yang agamanya nol atau sedikit. Kalau takut pada Allah, kira-kira apa mungkin ia jadi penipu, jadi penjahat, atau jadi koruptor? Kemungkinannya kecil.   -bersambung insya Allah- Bagian dari buku M Abduh Tuasikal dan M Saifudin Hakim: MahaSantri. Moga segera terbit.   @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 11 Rabi’uts Tsani 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsbelajar belajar islam keutamaan belajar agama mahasantri

Dampak Fitnah (3)

Kisah Imam Ahmad rahimahullah ketika Menghadapi FitnahPerhatikanlah begitu menakjubkan sikap Imam Ahmad rahimahullah, sosok yang mendapatkan anugerah Allah berupa ketajaman pandangan jauh ke depan, beliau mampu melihat akibat buruk yang akan ditimbulkan dari sebuah fitnah. Pahami dan hayati kisah sang Imam tersebut, dan bayangkan bagaimanakah seandainya fitnah yang dihadapi oleh Imam Ahmad tersebut terjadi di tengah-tengah masyarakat kita?Berikut kisah singkatnya, suatu saat sejumlah ulama Baghdad mendatangi Imam Ahmad rahimahullah di rumahnya. Ketika itu kaum muslimin sedang menghadapi fitnah munculnya pendapat dari penguasa yang menyatakan bahwa Alquran itu makhluk dan masalah lainnya. Mereka mengatakan kepada Imam Ahmad, “Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad), masalah ini sudah semakin membesar dan tersebar (luas), maka Imam Ahmad pun balik bertanya tentang maksud mereka,“Apa yang kalian inginkan?”“Kami ingin bermusyarah (dengan Anda) untuk menyatakan sikap politik bahwa kita tidak ridha dengan kepemimpinannya dan pemerintahannya” jawab mereka.Lalu Imam Ahmad rahimahullah mendebat mereka sesaat lamanya dan beliaupun berkata,عليكم بالنكرة بقلوبكم ولا تخلعوا يدا من طاعة ولا تشقوا عصا المسلمين ولا تسفكوا دماءكم ودماء المسلمين معكم، انظروا في عاقبة أمركم واصبروا حتى يستريح بر أو يستراح من فاجر“Saudara-saudara wajib mengingkarinya dengan hati, namun janganlah kalian mencabut ketaatan kalian (kepada penguasa) dan janganlan kalian memecah belah barisan kaum muslimin. Janganlah pula kalian alirkan darah kalian dan darah kaum muslimin bersama kalian.  Perhatikanlah akibat (buruk) dari sikap kalian dan bersabarlah hingga orang yang baik dapat hidup tentram atau masyarakat merasa aman dari keburukan orang-orang yang jahat” (Diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Khallali dalam kitab As-Sunnah, no. 90).Ajakan Imam Ahmad rahimahullah ini sesungguhnya didasarkan kepada pandangan beliau yang jauh terhadap akibat buruk yang dikhawatirkan menimpa pelakunya. Namun, sangat disayangkan bahwa mereka tidak menghiraukan nasehat sang Imam! Bahkan, mereka malah mengajak putra dari saudara laki-laki Imam Ahmad untuk ikut serta mengambil langkah politis tersebut. Bapaknyapun tidak tinggal diam, saudara Imam Ahmad itu melarang putranya untuk ikut serta dengan mengatakan, “Hati-hatilah, (jangan sampai) engkau menyertai mereka, karena sesungguhnya Imam Ahmad tidaklah melarang mereka kecuali agar mereka tidak terjatuh kedalam keburukan!” lalu iapun menyampaikan udzurnya.Singkat cerita, mereka tetap mengambil langkah politis keluar dari ketaatan kepada penguasa tatkala itu, akibatnya apa yang dikhawatirkan oleh sang Imam pun terjadi, diantara mereka ada yang terbunuh, dan ada pula yang dipenjara, semua itu terjadi tanpa menghasilkan perbaikan apa-apa. Kisah ini membuktikan bahwa sikap berhati-hati, mempertimbangkan masak-masak akibat buruk sebuah masalah, dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan, termasuk sesuatu yang paling bermanfaat bagi seorang hamba, baik untuk dunianya maupun nasib di akhiratnya.Nasehat Pakar Tafsir di Kalangan Sahabat, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang Sikap yang Benar dalam Menghadapi FitnahSeorang sahabat yang mulia, Ahli Tafsir Alquran, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mengucapkan ucapan emas,  sebagai nasehat bagi kita semua di dalam menghadapi fitnah.Beliau berkata, إنها ستكون أمور متشابهات: فعليكم بالتُّؤَدَة، فإنك أن تكون تابعا في الخير خيرً من أن تكون رأساً في الشر“Sungguh kelak akan muncul perkara -perkara yang samar (fitnah), maka kalian harus bersikap tenang (tidak terburu-buru), karena sesungguhnya engkau menjadi seorang pengikut dalam kebaikan itu lebih baik daripada engkau menjadi pemimpin dalam keburukan” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf : 38343 dan Al-Baihaqi dalam kitab Asyu’ab: 9886).[Bersambung]Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Macam Takdir, Ayat Alquran Tentang Larangan Syirik, Foto Orang Lagi Sholat, Ayah Dalam Islam, Hafizhahullah

Dampak Fitnah (3)

Kisah Imam Ahmad rahimahullah ketika Menghadapi FitnahPerhatikanlah begitu menakjubkan sikap Imam Ahmad rahimahullah, sosok yang mendapatkan anugerah Allah berupa ketajaman pandangan jauh ke depan, beliau mampu melihat akibat buruk yang akan ditimbulkan dari sebuah fitnah. Pahami dan hayati kisah sang Imam tersebut, dan bayangkan bagaimanakah seandainya fitnah yang dihadapi oleh Imam Ahmad tersebut terjadi di tengah-tengah masyarakat kita?Berikut kisah singkatnya, suatu saat sejumlah ulama Baghdad mendatangi Imam Ahmad rahimahullah di rumahnya. Ketika itu kaum muslimin sedang menghadapi fitnah munculnya pendapat dari penguasa yang menyatakan bahwa Alquran itu makhluk dan masalah lainnya. Mereka mengatakan kepada Imam Ahmad, “Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad), masalah ini sudah semakin membesar dan tersebar (luas), maka Imam Ahmad pun balik bertanya tentang maksud mereka,“Apa yang kalian inginkan?”“Kami ingin bermusyarah (dengan Anda) untuk menyatakan sikap politik bahwa kita tidak ridha dengan kepemimpinannya dan pemerintahannya” jawab mereka.Lalu Imam Ahmad rahimahullah mendebat mereka sesaat lamanya dan beliaupun berkata,عليكم بالنكرة بقلوبكم ولا تخلعوا يدا من طاعة ولا تشقوا عصا المسلمين ولا تسفكوا دماءكم ودماء المسلمين معكم، انظروا في عاقبة أمركم واصبروا حتى يستريح بر أو يستراح من فاجر“Saudara-saudara wajib mengingkarinya dengan hati, namun janganlah kalian mencabut ketaatan kalian (kepada penguasa) dan janganlan kalian memecah belah barisan kaum muslimin. Janganlah pula kalian alirkan darah kalian dan darah kaum muslimin bersama kalian.  Perhatikanlah akibat (buruk) dari sikap kalian dan bersabarlah hingga orang yang baik dapat hidup tentram atau masyarakat merasa aman dari keburukan orang-orang yang jahat” (Diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Khallali dalam kitab As-Sunnah, no. 90).Ajakan Imam Ahmad rahimahullah ini sesungguhnya didasarkan kepada pandangan beliau yang jauh terhadap akibat buruk yang dikhawatirkan menimpa pelakunya. Namun, sangat disayangkan bahwa mereka tidak menghiraukan nasehat sang Imam! Bahkan, mereka malah mengajak putra dari saudara laki-laki Imam Ahmad untuk ikut serta mengambil langkah politis tersebut. Bapaknyapun tidak tinggal diam, saudara Imam Ahmad itu melarang putranya untuk ikut serta dengan mengatakan, “Hati-hatilah, (jangan sampai) engkau menyertai mereka, karena sesungguhnya Imam Ahmad tidaklah melarang mereka kecuali agar mereka tidak terjatuh kedalam keburukan!” lalu iapun menyampaikan udzurnya.Singkat cerita, mereka tetap mengambil langkah politis keluar dari ketaatan kepada penguasa tatkala itu, akibatnya apa yang dikhawatirkan oleh sang Imam pun terjadi, diantara mereka ada yang terbunuh, dan ada pula yang dipenjara, semua itu terjadi tanpa menghasilkan perbaikan apa-apa. Kisah ini membuktikan bahwa sikap berhati-hati, mempertimbangkan masak-masak akibat buruk sebuah masalah, dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan, termasuk sesuatu yang paling bermanfaat bagi seorang hamba, baik untuk dunianya maupun nasib di akhiratnya.Nasehat Pakar Tafsir di Kalangan Sahabat, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang Sikap yang Benar dalam Menghadapi FitnahSeorang sahabat yang mulia, Ahli Tafsir Alquran, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mengucapkan ucapan emas,  sebagai nasehat bagi kita semua di dalam menghadapi fitnah.Beliau berkata, إنها ستكون أمور متشابهات: فعليكم بالتُّؤَدَة، فإنك أن تكون تابعا في الخير خيرً من أن تكون رأساً في الشر“Sungguh kelak akan muncul perkara -perkara yang samar (fitnah), maka kalian harus bersikap tenang (tidak terburu-buru), karena sesungguhnya engkau menjadi seorang pengikut dalam kebaikan itu lebih baik daripada engkau menjadi pemimpin dalam keburukan” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf : 38343 dan Al-Baihaqi dalam kitab Asyu’ab: 9886).[Bersambung]Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Macam Takdir, Ayat Alquran Tentang Larangan Syirik, Foto Orang Lagi Sholat, Ayah Dalam Islam, Hafizhahullah
Kisah Imam Ahmad rahimahullah ketika Menghadapi FitnahPerhatikanlah begitu menakjubkan sikap Imam Ahmad rahimahullah, sosok yang mendapatkan anugerah Allah berupa ketajaman pandangan jauh ke depan, beliau mampu melihat akibat buruk yang akan ditimbulkan dari sebuah fitnah. Pahami dan hayati kisah sang Imam tersebut, dan bayangkan bagaimanakah seandainya fitnah yang dihadapi oleh Imam Ahmad tersebut terjadi di tengah-tengah masyarakat kita?Berikut kisah singkatnya, suatu saat sejumlah ulama Baghdad mendatangi Imam Ahmad rahimahullah di rumahnya. Ketika itu kaum muslimin sedang menghadapi fitnah munculnya pendapat dari penguasa yang menyatakan bahwa Alquran itu makhluk dan masalah lainnya. Mereka mengatakan kepada Imam Ahmad, “Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad), masalah ini sudah semakin membesar dan tersebar (luas), maka Imam Ahmad pun balik bertanya tentang maksud mereka,“Apa yang kalian inginkan?”“Kami ingin bermusyarah (dengan Anda) untuk menyatakan sikap politik bahwa kita tidak ridha dengan kepemimpinannya dan pemerintahannya” jawab mereka.Lalu Imam Ahmad rahimahullah mendebat mereka sesaat lamanya dan beliaupun berkata,عليكم بالنكرة بقلوبكم ولا تخلعوا يدا من طاعة ولا تشقوا عصا المسلمين ولا تسفكوا دماءكم ودماء المسلمين معكم، انظروا في عاقبة أمركم واصبروا حتى يستريح بر أو يستراح من فاجر“Saudara-saudara wajib mengingkarinya dengan hati, namun janganlah kalian mencabut ketaatan kalian (kepada penguasa) dan janganlan kalian memecah belah barisan kaum muslimin. Janganlah pula kalian alirkan darah kalian dan darah kaum muslimin bersama kalian.  Perhatikanlah akibat (buruk) dari sikap kalian dan bersabarlah hingga orang yang baik dapat hidup tentram atau masyarakat merasa aman dari keburukan orang-orang yang jahat” (Diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Khallali dalam kitab As-Sunnah, no. 90).Ajakan Imam Ahmad rahimahullah ini sesungguhnya didasarkan kepada pandangan beliau yang jauh terhadap akibat buruk yang dikhawatirkan menimpa pelakunya. Namun, sangat disayangkan bahwa mereka tidak menghiraukan nasehat sang Imam! Bahkan, mereka malah mengajak putra dari saudara laki-laki Imam Ahmad untuk ikut serta mengambil langkah politis tersebut. Bapaknyapun tidak tinggal diam, saudara Imam Ahmad itu melarang putranya untuk ikut serta dengan mengatakan, “Hati-hatilah, (jangan sampai) engkau menyertai mereka, karena sesungguhnya Imam Ahmad tidaklah melarang mereka kecuali agar mereka tidak terjatuh kedalam keburukan!” lalu iapun menyampaikan udzurnya.Singkat cerita, mereka tetap mengambil langkah politis keluar dari ketaatan kepada penguasa tatkala itu, akibatnya apa yang dikhawatirkan oleh sang Imam pun terjadi, diantara mereka ada yang terbunuh, dan ada pula yang dipenjara, semua itu terjadi tanpa menghasilkan perbaikan apa-apa. Kisah ini membuktikan bahwa sikap berhati-hati, mempertimbangkan masak-masak akibat buruk sebuah masalah, dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan, termasuk sesuatu yang paling bermanfaat bagi seorang hamba, baik untuk dunianya maupun nasib di akhiratnya.Nasehat Pakar Tafsir di Kalangan Sahabat, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang Sikap yang Benar dalam Menghadapi FitnahSeorang sahabat yang mulia, Ahli Tafsir Alquran, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mengucapkan ucapan emas,  sebagai nasehat bagi kita semua di dalam menghadapi fitnah.Beliau berkata, إنها ستكون أمور متشابهات: فعليكم بالتُّؤَدَة، فإنك أن تكون تابعا في الخير خيرً من أن تكون رأساً في الشر“Sungguh kelak akan muncul perkara -perkara yang samar (fitnah), maka kalian harus bersikap tenang (tidak terburu-buru), karena sesungguhnya engkau menjadi seorang pengikut dalam kebaikan itu lebih baik daripada engkau menjadi pemimpin dalam keburukan” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf : 38343 dan Al-Baihaqi dalam kitab Asyu’ab: 9886).[Bersambung]Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Macam Takdir, Ayat Alquran Tentang Larangan Syirik, Foto Orang Lagi Sholat, Ayah Dalam Islam, Hafizhahullah


Kisah Imam Ahmad rahimahullah ketika Menghadapi FitnahPerhatikanlah begitu menakjubkan sikap Imam Ahmad rahimahullah, sosok yang mendapatkan anugerah Allah berupa ketajaman pandangan jauh ke depan, beliau mampu melihat akibat buruk yang akan ditimbulkan dari sebuah fitnah. Pahami dan hayati kisah sang Imam tersebut, dan bayangkan bagaimanakah seandainya fitnah yang dihadapi oleh Imam Ahmad tersebut terjadi di tengah-tengah masyarakat kita?Berikut kisah singkatnya, suatu saat sejumlah ulama Baghdad mendatangi Imam Ahmad rahimahullah di rumahnya. Ketika itu kaum muslimin sedang menghadapi fitnah munculnya pendapat dari penguasa yang menyatakan bahwa Alquran itu makhluk dan masalah lainnya. Mereka mengatakan kepada Imam Ahmad, “Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad), masalah ini sudah semakin membesar dan tersebar (luas), maka Imam Ahmad pun balik bertanya tentang maksud mereka,“Apa yang kalian inginkan?”“Kami ingin bermusyarah (dengan Anda) untuk menyatakan sikap politik bahwa kita tidak ridha dengan kepemimpinannya dan pemerintahannya” jawab mereka.Lalu Imam Ahmad rahimahullah mendebat mereka sesaat lamanya dan beliaupun berkata,عليكم بالنكرة بقلوبكم ولا تخلعوا يدا من طاعة ولا تشقوا عصا المسلمين ولا تسفكوا دماءكم ودماء المسلمين معكم، انظروا في عاقبة أمركم واصبروا حتى يستريح بر أو يستراح من فاجر“Saudara-saudara wajib mengingkarinya dengan hati, namun janganlah kalian mencabut ketaatan kalian (kepada penguasa) dan janganlan kalian memecah belah barisan kaum muslimin. Janganlah pula kalian alirkan darah kalian dan darah kaum muslimin bersama kalian.  Perhatikanlah akibat (buruk) dari sikap kalian dan bersabarlah hingga orang yang baik dapat hidup tentram atau masyarakat merasa aman dari keburukan orang-orang yang jahat” (Diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Khallali dalam kitab As-Sunnah, no. 90).Ajakan Imam Ahmad rahimahullah ini sesungguhnya didasarkan kepada pandangan beliau yang jauh terhadap akibat buruk yang dikhawatirkan menimpa pelakunya. Namun, sangat disayangkan bahwa mereka tidak menghiraukan nasehat sang Imam! Bahkan, mereka malah mengajak putra dari saudara laki-laki Imam Ahmad untuk ikut serta mengambil langkah politis tersebut. Bapaknyapun tidak tinggal diam, saudara Imam Ahmad itu melarang putranya untuk ikut serta dengan mengatakan, “Hati-hatilah, (jangan sampai) engkau menyertai mereka, karena sesungguhnya Imam Ahmad tidaklah melarang mereka kecuali agar mereka tidak terjatuh kedalam keburukan!” lalu iapun menyampaikan udzurnya.Singkat cerita, mereka tetap mengambil langkah politis keluar dari ketaatan kepada penguasa tatkala itu, akibatnya apa yang dikhawatirkan oleh sang Imam pun terjadi, diantara mereka ada yang terbunuh, dan ada pula yang dipenjara, semua itu terjadi tanpa menghasilkan perbaikan apa-apa. Kisah ini membuktikan bahwa sikap berhati-hati, mempertimbangkan masak-masak akibat buruk sebuah masalah, dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan, termasuk sesuatu yang paling bermanfaat bagi seorang hamba, baik untuk dunianya maupun nasib di akhiratnya.Nasehat Pakar Tafsir di Kalangan Sahabat, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang Sikap yang Benar dalam Menghadapi FitnahSeorang sahabat yang mulia, Ahli Tafsir Alquran, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mengucapkan ucapan emas,  sebagai nasehat bagi kita semua di dalam menghadapi fitnah.Beliau berkata, إنها ستكون أمور متشابهات: فعليكم بالتُّؤَدَة، فإنك أن تكون تابعا في الخير خيرً من أن تكون رأساً في الشر“Sungguh kelak akan muncul perkara -perkara yang samar (fitnah), maka kalian harus bersikap tenang (tidak terburu-buru), karena sesungguhnya engkau menjadi seorang pengikut dalam kebaikan itu lebih baik daripada engkau menjadi pemimpin dalam keburukan” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf : 38343 dan Al-Baihaqi dalam kitab Asyu’ab: 9886).[Bersambung]Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Macam Takdir, Ayat Alquran Tentang Larangan Syirik, Foto Orang Lagi Sholat, Ayah Dalam Islam, Hafizhahullah

Dampak Fitnah (1)

Makna FitnahPakar bahasa Arab, Ibnu Faris rahimahullah menjelaskan huruf fa`, ta` dan nun adalah (huruf-huruf) dasar yang sahih menunjukkan kepada makna cobaan dan ujian (Maqayisul Lughah: 4/472).Ahli Nahwu, Al-Jurjani mengatakan bahwa fitnah adalah sesuatu yang dengannya menjadi jelas keadaan manusia, keadaan yang baik maupun buruk. (Dalam Bahasa Arab) disebutkan Anda menguji emas dengan api, jika api membakarnya. Dengannya dapat Anda ketahui mana emas yang murni atau tercampur (kotoran) (At-Ta’rifat: 138)Hal ini selaras dengan penjelasan Ar-Raghib rahimahullah dalam Al-Mufrodatnya: 623 bahwa asal kata ‘fitnah’ adalah memasukkan emas kedalam api, agar nampak yang baik dari yang buruk.Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari: 11/176 membawakan salah satu pendapat yang menjelaskan tentang fitnah,أصل الفتنة الاختبار، ثم استعملت فيما أخرجته المحنة والاختبار إلى المكروه، ثم أطلقت على كل مكروه أو آيل إليه كالكفر والإثم والتحريق والفضيحة والفجور وغير ذلك. “Pada asalnya kata ‘fitnah’ bermakna ‘ujian’, kemudian kata tersebut dipakai untuk menunjukkan kepada sesuatu yang dikeluarkan kepada sesuatu yang dibenci melalui cobaan dan ujian, kemudian kata ‘fitnah’ tersebut itu dimutlakkan untuk setiap yang dibenci atau akibatnya kembali kepada sesuatu yang  dibenci, seperti kekafiran, dosa, pembakaran, penyingkapan aib, kefajiran dan selainnya.”Dalam Fathul Bari disebutkan salah satu bentuk fitnah adalahالفتنة: ما ينشأ عن الاختلاف في طلب الملك حيث لا يعلم المحقّ من المبطل (فتح الباري [13/ 34]) Fitnah adalah sesuatu yang muncul dari perselisihan (manusia) dalam memperoleh kekuasaan hingga tidak diketahui siapa yang benar dan siapa yang salah.Ibnul A’rabi telah meringkas makna-makna fitnah secara bahasa, yaitu,الفتنة الاختبار، والفتنة المحنة، والفتنة المال، والفتنة الأولاد، والفتنة الكفر، والفتنة اختلاف الناس بالآراء والفتنة الإحراق بالنار (لسان العرب لابن منظور).“Fitnah bermakna ujian, fitnah bermakna cobaan, fitnah bermakna harta, fitnah bermakna anak-anak, fitnah bermakna kekafiran, fitnah bermakna perselisihan pendapat di antara manusia,  fitnah bermakna pembakaran dengan api” (Lisanul Arab, Ibnu Manzhur).Kata Fitnah dalam Al Qur’anul Karim dan As-SunnahKata ‘fitnah’ dalam dalil mengandung banyak makna, di antara makna kata ‘fitnah’ dalam dalil, yaitu cobaan dan ujian, memalingkan dari jalan kebenaran dan menolaknya, siksa, syirik dan kekufuran, terjatuh di dalam kemaksiatan dan kemunafikan, samarnya antara kebenaran dengan kebatilan, penyesatan, pembunuhan dan penawanan, perselisihan pendapat dan tidak bersatunya hati orang-orang, dan selainnya. Demikan banyaknya makna kata ‘fitnah’ dalam dalil, sehingga pantas jika Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyimpulkan tips memaknai kata fitnah dalam sebuah kalimat, ويعرف المراد حيثما ورد بالسياق والقرائن “Dan dimanapun (kata fitnah) disebutkan, dapat diketahui maksudnya dari konteks kalimat dan petunjuk-petunjuknya” (Fathul Bari 11/176). Urgensi Mengetahui Bentuk Fitnah dan Dampak-Dampak NegatifnyaAda suatu ungkapan indah, كيف يتقي من لا يدري ما يتقي“Bagaimana seseorang bisa menjaga diri dari suatu bahaya, jika ia tidak mengetahui bahaya apa yang ia harus jaga dirinya darinya?”Orang yang tidak mengetahui fitnah dan tidak mengetahui dampak buruknya, sangat mungkin ia akan terjatuh kedalam suatu fitnah dan bahkan bergelimang dengannya serta membahayakan kehidupannya, namun tidak menyadarinya, yang ada adalah penyesalan. Mengenal dampak buruk sesuatu dan bahaya-bahayanya, memberikan bekal kepada seorang hamba berupa sikap menjaga diri darinya dan sikap berhati-hati terhadapnya.Demikian pula, mengenal fitnah dan dampaknya sangat besar manfaatnya, karena hal ini termasuk sikap melihat akibat dan kembalinya suatu perkara, dan sikap ini terhitung sebagai sikap kecerdikan seorang hamba sebelum melangkah dan memutuskan perkara, ia memandang jauh kedepan akibat dan dampak perkara tersebut. Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dan mengulangi sabdanya sampai tiga kali,إن السعيد لمن جُنِّبَ الفتن“Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah-fitnah”.[Bersambung]Disarikan dari kitab Atsarul Fitan, Syaikh Abdur Razzaq, hal.5-6.Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Awal Mula Syiah, Berharganya Waktu, Pengertian Ketauhidan, Pengertian Iqomah, Shalat Sunnah Qabliyah Subuh

Dampak Fitnah (1)

Makna FitnahPakar bahasa Arab, Ibnu Faris rahimahullah menjelaskan huruf fa`, ta` dan nun adalah (huruf-huruf) dasar yang sahih menunjukkan kepada makna cobaan dan ujian (Maqayisul Lughah: 4/472).Ahli Nahwu, Al-Jurjani mengatakan bahwa fitnah adalah sesuatu yang dengannya menjadi jelas keadaan manusia, keadaan yang baik maupun buruk. (Dalam Bahasa Arab) disebutkan Anda menguji emas dengan api, jika api membakarnya. Dengannya dapat Anda ketahui mana emas yang murni atau tercampur (kotoran) (At-Ta’rifat: 138)Hal ini selaras dengan penjelasan Ar-Raghib rahimahullah dalam Al-Mufrodatnya: 623 bahwa asal kata ‘fitnah’ adalah memasukkan emas kedalam api, agar nampak yang baik dari yang buruk.Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari: 11/176 membawakan salah satu pendapat yang menjelaskan tentang fitnah,أصل الفتنة الاختبار، ثم استعملت فيما أخرجته المحنة والاختبار إلى المكروه، ثم أطلقت على كل مكروه أو آيل إليه كالكفر والإثم والتحريق والفضيحة والفجور وغير ذلك. “Pada asalnya kata ‘fitnah’ bermakna ‘ujian’, kemudian kata tersebut dipakai untuk menunjukkan kepada sesuatu yang dikeluarkan kepada sesuatu yang dibenci melalui cobaan dan ujian, kemudian kata ‘fitnah’ tersebut itu dimutlakkan untuk setiap yang dibenci atau akibatnya kembali kepada sesuatu yang  dibenci, seperti kekafiran, dosa, pembakaran, penyingkapan aib, kefajiran dan selainnya.”Dalam Fathul Bari disebutkan salah satu bentuk fitnah adalahالفتنة: ما ينشأ عن الاختلاف في طلب الملك حيث لا يعلم المحقّ من المبطل (فتح الباري [13/ 34]) Fitnah adalah sesuatu yang muncul dari perselisihan (manusia) dalam memperoleh kekuasaan hingga tidak diketahui siapa yang benar dan siapa yang salah.Ibnul A’rabi telah meringkas makna-makna fitnah secara bahasa, yaitu,الفتنة الاختبار، والفتنة المحنة، والفتنة المال، والفتنة الأولاد، والفتنة الكفر، والفتنة اختلاف الناس بالآراء والفتنة الإحراق بالنار (لسان العرب لابن منظور).“Fitnah bermakna ujian, fitnah bermakna cobaan, fitnah bermakna harta, fitnah bermakna anak-anak, fitnah bermakna kekafiran, fitnah bermakna perselisihan pendapat di antara manusia,  fitnah bermakna pembakaran dengan api” (Lisanul Arab, Ibnu Manzhur).Kata Fitnah dalam Al Qur’anul Karim dan As-SunnahKata ‘fitnah’ dalam dalil mengandung banyak makna, di antara makna kata ‘fitnah’ dalam dalil, yaitu cobaan dan ujian, memalingkan dari jalan kebenaran dan menolaknya, siksa, syirik dan kekufuran, terjatuh di dalam kemaksiatan dan kemunafikan, samarnya antara kebenaran dengan kebatilan, penyesatan, pembunuhan dan penawanan, perselisihan pendapat dan tidak bersatunya hati orang-orang, dan selainnya. Demikan banyaknya makna kata ‘fitnah’ dalam dalil, sehingga pantas jika Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyimpulkan tips memaknai kata fitnah dalam sebuah kalimat, ويعرف المراد حيثما ورد بالسياق والقرائن “Dan dimanapun (kata fitnah) disebutkan, dapat diketahui maksudnya dari konteks kalimat dan petunjuk-petunjuknya” (Fathul Bari 11/176). Urgensi Mengetahui Bentuk Fitnah dan Dampak-Dampak NegatifnyaAda suatu ungkapan indah, كيف يتقي من لا يدري ما يتقي“Bagaimana seseorang bisa menjaga diri dari suatu bahaya, jika ia tidak mengetahui bahaya apa yang ia harus jaga dirinya darinya?”Orang yang tidak mengetahui fitnah dan tidak mengetahui dampak buruknya, sangat mungkin ia akan terjatuh kedalam suatu fitnah dan bahkan bergelimang dengannya serta membahayakan kehidupannya, namun tidak menyadarinya, yang ada adalah penyesalan. Mengenal dampak buruk sesuatu dan bahaya-bahayanya, memberikan bekal kepada seorang hamba berupa sikap menjaga diri darinya dan sikap berhati-hati terhadapnya.Demikian pula, mengenal fitnah dan dampaknya sangat besar manfaatnya, karena hal ini termasuk sikap melihat akibat dan kembalinya suatu perkara, dan sikap ini terhitung sebagai sikap kecerdikan seorang hamba sebelum melangkah dan memutuskan perkara, ia memandang jauh kedepan akibat dan dampak perkara tersebut. Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dan mengulangi sabdanya sampai tiga kali,إن السعيد لمن جُنِّبَ الفتن“Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah-fitnah”.[Bersambung]Disarikan dari kitab Atsarul Fitan, Syaikh Abdur Razzaq, hal.5-6.Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Awal Mula Syiah, Berharganya Waktu, Pengertian Ketauhidan, Pengertian Iqomah, Shalat Sunnah Qabliyah Subuh
Makna FitnahPakar bahasa Arab, Ibnu Faris rahimahullah menjelaskan huruf fa`, ta` dan nun adalah (huruf-huruf) dasar yang sahih menunjukkan kepada makna cobaan dan ujian (Maqayisul Lughah: 4/472).Ahli Nahwu, Al-Jurjani mengatakan bahwa fitnah adalah sesuatu yang dengannya menjadi jelas keadaan manusia, keadaan yang baik maupun buruk. (Dalam Bahasa Arab) disebutkan Anda menguji emas dengan api, jika api membakarnya. Dengannya dapat Anda ketahui mana emas yang murni atau tercampur (kotoran) (At-Ta’rifat: 138)Hal ini selaras dengan penjelasan Ar-Raghib rahimahullah dalam Al-Mufrodatnya: 623 bahwa asal kata ‘fitnah’ adalah memasukkan emas kedalam api, agar nampak yang baik dari yang buruk.Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari: 11/176 membawakan salah satu pendapat yang menjelaskan tentang fitnah,أصل الفتنة الاختبار، ثم استعملت فيما أخرجته المحنة والاختبار إلى المكروه، ثم أطلقت على كل مكروه أو آيل إليه كالكفر والإثم والتحريق والفضيحة والفجور وغير ذلك. “Pada asalnya kata ‘fitnah’ bermakna ‘ujian’, kemudian kata tersebut dipakai untuk menunjukkan kepada sesuatu yang dikeluarkan kepada sesuatu yang dibenci melalui cobaan dan ujian, kemudian kata ‘fitnah’ tersebut itu dimutlakkan untuk setiap yang dibenci atau akibatnya kembali kepada sesuatu yang  dibenci, seperti kekafiran, dosa, pembakaran, penyingkapan aib, kefajiran dan selainnya.”Dalam Fathul Bari disebutkan salah satu bentuk fitnah adalahالفتنة: ما ينشأ عن الاختلاف في طلب الملك حيث لا يعلم المحقّ من المبطل (فتح الباري [13/ 34]) Fitnah adalah sesuatu yang muncul dari perselisihan (manusia) dalam memperoleh kekuasaan hingga tidak diketahui siapa yang benar dan siapa yang salah.Ibnul A’rabi telah meringkas makna-makna fitnah secara bahasa, yaitu,الفتنة الاختبار، والفتنة المحنة، والفتنة المال، والفتنة الأولاد، والفتنة الكفر، والفتنة اختلاف الناس بالآراء والفتنة الإحراق بالنار (لسان العرب لابن منظور).“Fitnah bermakna ujian, fitnah bermakna cobaan, fitnah bermakna harta, fitnah bermakna anak-anak, fitnah bermakna kekafiran, fitnah bermakna perselisihan pendapat di antara manusia,  fitnah bermakna pembakaran dengan api” (Lisanul Arab, Ibnu Manzhur).Kata Fitnah dalam Al Qur’anul Karim dan As-SunnahKata ‘fitnah’ dalam dalil mengandung banyak makna, di antara makna kata ‘fitnah’ dalam dalil, yaitu cobaan dan ujian, memalingkan dari jalan kebenaran dan menolaknya, siksa, syirik dan kekufuran, terjatuh di dalam kemaksiatan dan kemunafikan, samarnya antara kebenaran dengan kebatilan, penyesatan, pembunuhan dan penawanan, perselisihan pendapat dan tidak bersatunya hati orang-orang, dan selainnya. Demikan banyaknya makna kata ‘fitnah’ dalam dalil, sehingga pantas jika Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyimpulkan tips memaknai kata fitnah dalam sebuah kalimat, ويعرف المراد حيثما ورد بالسياق والقرائن “Dan dimanapun (kata fitnah) disebutkan, dapat diketahui maksudnya dari konteks kalimat dan petunjuk-petunjuknya” (Fathul Bari 11/176). Urgensi Mengetahui Bentuk Fitnah dan Dampak-Dampak NegatifnyaAda suatu ungkapan indah, كيف يتقي من لا يدري ما يتقي“Bagaimana seseorang bisa menjaga diri dari suatu bahaya, jika ia tidak mengetahui bahaya apa yang ia harus jaga dirinya darinya?”Orang yang tidak mengetahui fitnah dan tidak mengetahui dampak buruknya, sangat mungkin ia akan terjatuh kedalam suatu fitnah dan bahkan bergelimang dengannya serta membahayakan kehidupannya, namun tidak menyadarinya, yang ada adalah penyesalan. Mengenal dampak buruk sesuatu dan bahaya-bahayanya, memberikan bekal kepada seorang hamba berupa sikap menjaga diri darinya dan sikap berhati-hati terhadapnya.Demikian pula, mengenal fitnah dan dampaknya sangat besar manfaatnya, karena hal ini termasuk sikap melihat akibat dan kembalinya suatu perkara, dan sikap ini terhitung sebagai sikap kecerdikan seorang hamba sebelum melangkah dan memutuskan perkara, ia memandang jauh kedepan akibat dan dampak perkara tersebut. Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dan mengulangi sabdanya sampai tiga kali,إن السعيد لمن جُنِّبَ الفتن“Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah-fitnah”.[Bersambung]Disarikan dari kitab Atsarul Fitan, Syaikh Abdur Razzaq, hal.5-6.Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Awal Mula Syiah, Berharganya Waktu, Pengertian Ketauhidan, Pengertian Iqomah, Shalat Sunnah Qabliyah Subuh


Makna FitnahPakar bahasa Arab, Ibnu Faris rahimahullah menjelaskan huruf fa`, ta` dan nun adalah (huruf-huruf) dasar yang sahih menunjukkan kepada makna cobaan dan ujian (Maqayisul Lughah: 4/472).Ahli Nahwu, Al-Jurjani mengatakan bahwa fitnah adalah sesuatu yang dengannya menjadi jelas keadaan manusia, keadaan yang baik maupun buruk. (Dalam Bahasa Arab) disebutkan Anda menguji emas dengan api, jika api membakarnya. Dengannya dapat Anda ketahui mana emas yang murni atau tercampur (kotoran) (At-Ta’rifat: 138)Hal ini selaras dengan penjelasan Ar-Raghib rahimahullah dalam Al-Mufrodatnya: 623 bahwa asal kata ‘fitnah’ adalah memasukkan emas kedalam api, agar nampak yang baik dari yang buruk.Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari: 11/176 membawakan salah satu pendapat yang menjelaskan tentang fitnah,أصل الفتنة الاختبار، ثم استعملت فيما أخرجته المحنة والاختبار إلى المكروه، ثم أطلقت على كل مكروه أو آيل إليه كالكفر والإثم والتحريق والفضيحة والفجور وغير ذلك. “Pada asalnya kata ‘fitnah’ bermakna ‘ujian’, kemudian kata tersebut dipakai untuk menunjukkan kepada sesuatu yang dikeluarkan kepada sesuatu yang dibenci melalui cobaan dan ujian, kemudian kata ‘fitnah’ tersebut itu dimutlakkan untuk setiap yang dibenci atau akibatnya kembali kepada sesuatu yang  dibenci, seperti kekafiran, dosa, pembakaran, penyingkapan aib, kefajiran dan selainnya.”Dalam Fathul Bari disebutkan salah satu bentuk fitnah adalahالفتنة: ما ينشأ عن الاختلاف في طلب الملك حيث لا يعلم المحقّ من المبطل (فتح الباري [13/ 34]) Fitnah adalah sesuatu yang muncul dari perselisihan (manusia) dalam memperoleh kekuasaan hingga tidak diketahui siapa yang benar dan siapa yang salah.Ibnul A’rabi telah meringkas makna-makna fitnah secara bahasa, yaitu,الفتنة الاختبار، والفتنة المحنة، والفتنة المال، والفتنة الأولاد، والفتنة الكفر، والفتنة اختلاف الناس بالآراء والفتنة الإحراق بالنار (لسان العرب لابن منظور).“Fitnah bermakna ujian, fitnah bermakna cobaan, fitnah bermakna harta, fitnah bermakna anak-anak, fitnah bermakna kekafiran, fitnah bermakna perselisihan pendapat di antara manusia,  fitnah bermakna pembakaran dengan api” (Lisanul Arab, Ibnu Manzhur).Kata Fitnah dalam Al Qur’anul Karim dan As-SunnahKata ‘fitnah’ dalam dalil mengandung banyak makna, di antara makna kata ‘fitnah’ dalam dalil, yaitu cobaan dan ujian, memalingkan dari jalan kebenaran dan menolaknya, siksa, syirik dan kekufuran, terjatuh di dalam kemaksiatan dan kemunafikan, samarnya antara kebenaran dengan kebatilan, penyesatan, pembunuhan dan penawanan, perselisihan pendapat dan tidak bersatunya hati orang-orang, dan selainnya. Demikan banyaknya makna kata ‘fitnah’ dalam dalil, sehingga pantas jika Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyimpulkan tips memaknai kata fitnah dalam sebuah kalimat, ويعرف المراد حيثما ورد بالسياق والقرائن “Dan dimanapun (kata fitnah) disebutkan, dapat diketahui maksudnya dari konteks kalimat dan petunjuk-petunjuknya” (Fathul Bari 11/176). Urgensi Mengetahui Bentuk Fitnah dan Dampak-Dampak NegatifnyaAda suatu ungkapan indah, كيف يتقي من لا يدري ما يتقي“Bagaimana seseorang bisa menjaga diri dari suatu bahaya, jika ia tidak mengetahui bahaya apa yang ia harus jaga dirinya darinya?”Orang yang tidak mengetahui fitnah dan tidak mengetahui dampak buruknya, sangat mungkin ia akan terjatuh kedalam suatu fitnah dan bahkan bergelimang dengannya serta membahayakan kehidupannya, namun tidak menyadarinya, yang ada adalah penyesalan. Mengenal dampak buruk sesuatu dan bahaya-bahayanya, memberikan bekal kepada seorang hamba berupa sikap menjaga diri darinya dan sikap berhati-hati terhadapnya.Demikian pula, mengenal fitnah dan dampaknya sangat besar manfaatnya, karena hal ini termasuk sikap melihat akibat dan kembalinya suatu perkara, dan sikap ini terhitung sebagai sikap kecerdikan seorang hamba sebelum melangkah dan memutuskan perkara, ia memandang jauh kedepan akibat dan dampak perkara tersebut. Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dan mengulangi sabdanya sampai tiga kali,إن السعيد لمن جُنِّبَ الفتن“Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah-fitnah”.[Bersambung]Disarikan dari kitab Atsarul Fitan, Syaikh Abdur Razzaq, hal.5-6.Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Awal Mula Syiah, Berharganya Waktu, Pengertian Ketauhidan, Pengertian Iqomah, Shalat Sunnah Qabliyah Subuh
Prev     Next