Kajian Rutin Pelajar #28 (Yogyakarta, 26 Februari 2017)

Maka dalam kesendirian ini, ku bertanya: Adakah sekejap saja detik detik dapat kuulangi? Maka dalam kesepian ini ku mengiba: Masihkah ada secucur kesempatan dapat kubeli? Maka bersama guratan penyesalan, air mata kesedihan, dan ngilu rengekan keputus-asaan, Aku meronta: Tiadakah bersisa semua ini? Sekali-kali tidak, sungguh sauh telah diangkat menjauh, tali kekang sudah lama melenggang, mata air bening pun telah mengering, Maka dalam simpuh nestapa diri yang hina, pada ratapan nanar pesakitan, di ujung lorong waktu yang telah berlalu, Ku hanya bisa menyeru: ” Celaka diriku, telah habis waktuku “— . Hadirilah Kajian Rutin Majeedr #28 dengan tema: . 🌹 TELAH HABIS WAKTUKU🌹 . 🎖 Bersama Ustadz Sulaiman Rasyid . Insyaa Allaah akan diselenggarakan pada: 📆 Ahad, 26 Februari 2017 🕰 Pukul 08.30 WIB – selesai . 🚩 Bertempat di Masjid Agung Syuhada (Jl. I Dewa Nyoman Oka No.13, Kotabaru, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55224) . 🎁 Acara ini terbuka untuk umum, putra dan putri . Kajian akan disiarkan langsung di: radiomuslim.com . Bawa niat ikhlas dan infaq terbaik anda Sebar dan ajak yang lain, dapatkan pahala berlipat!!! . 📞 CP: 085725901701 . Diseleggarakan oleh: 📎 Majeed Reporters Dawah Bekerjasama dengan: 📎 CDMS 📎 Radio Muslim🔍 Sholat Wustho, Sombong Artinya, Al Mulk Artinya, Madina.or.id

Kajian Rutin Pelajar #28 (Yogyakarta, 26 Februari 2017)

Maka dalam kesendirian ini, ku bertanya: Adakah sekejap saja detik detik dapat kuulangi? Maka dalam kesepian ini ku mengiba: Masihkah ada secucur kesempatan dapat kubeli? Maka bersama guratan penyesalan, air mata kesedihan, dan ngilu rengekan keputus-asaan, Aku meronta: Tiadakah bersisa semua ini? Sekali-kali tidak, sungguh sauh telah diangkat menjauh, tali kekang sudah lama melenggang, mata air bening pun telah mengering, Maka dalam simpuh nestapa diri yang hina, pada ratapan nanar pesakitan, di ujung lorong waktu yang telah berlalu, Ku hanya bisa menyeru: ” Celaka diriku, telah habis waktuku “— . Hadirilah Kajian Rutin Majeedr #28 dengan tema: . 🌹 TELAH HABIS WAKTUKU🌹 . 🎖 Bersama Ustadz Sulaiman Rasyid . Insyaa Allaah akan diselenggarakan pada: 📆 Ahad, 26 Februari 2017 🕰 Pukul 08.30 WIB – selesai . 🚩 Bertempat di Masjid Agung Syuhada (Jl. I Dewa Nyoman Oka No.13, Kotabaru, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55224) . 🎁 Acara ini terbuka untuk umum, putra dan putri . Kajian akan disiarkan langsung di: radiomuslim.com . Bawa niat ikhlas dan infaq terbaik anda Sebar dan ajak yang lain, dapatkan pahala berlipat!!! . 📞 CP: 085725901701 . Diseleggarakan oleh: 📎 Majeed Reporters Dawah Bekerjasama dengan: 📎 CDMS 📎 Radio Muslim🔍 Sholat Wustho, Sombong Artinya, Al Mulk Artinya, Madina.or.id
Maka dalam kesendirian ini, ku bertanya: Adakah sekejap saja detik detik dapat kuulangi? Maka dalam kesepian ini ku mengiba: Masihkah ada secucur kesempatan dapat kubeli? Maka bersama guratan penyesalan, air mata kesedihan, dan ngilu rengekan keputus-asaan, Aku meronta: Tiadakah bersisa semua ini? Sekali-kali tidak, sungguh sauh telah diangkat menjauh, tali kekang sudah lama melenggang, mata air bening pun telah mengering, Maka dalam simpuh nestapa diri yang hina, pada ratapan nanar pesakitan, di ujung lorong waktu yang telah berlalu, Ku hanya bisa menyeru: ” Celaka diriku, telah habis waktuku “— . Hadirilah Kajian Rutin Majeedr #28 dengan tema: . 🌹 TELAH HABIS WAKTUKU🌹 . 🎖 Bersama Ustadz Sulaiman Rasyid . Insyaa Allaah akan diselenggarakan pada: 📆 Ahad, 26 Februari 2017 🕰 Pukul 08.30 WIB – selesai . 🚩 Bertempat di Masjid Agung Syuhada (Jl. I Dewa Nyoman Oka No.13, Kotabaru, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55224) . 🎁 Acara ini terbuka untuk umum, putra dan putri . Kajian akan disiarkan langsung di: radiomuslim.com . Bawa niat ikhlas dan infaq terbaik anda Sebar dan ajak yang lain, dapatkan pahala berlipat!!! . 📞 CP: 085725901701 . Diseleggarakan oleh: 📎 Majeed Reporters Dawah Bekerjasama dengan: 📎 CDMS 📎 Radio Muslim🔍 Sholat Wustho, Sombong Artinya, Al Mulk Artinya, Madina.or.id


Maka dalam kesendirian ini, ku bertanya: Adakah sekejap saja detik detik dapat kuulangi? Maka dalam kesepian ini ku mengiba: Masihkah ada secucur kesempatan dapat kubeli? Maka bersama guratan penyesalan, air mata kesedihan, dan ngilu rengekan keputus-asaan, Aku meronta: Tiadakah bersisa semua ini? Sekali-kali tidak, sungguh sauh telah diangkat menjauh, tali kekang sudah lama melenggang, mata air bening pun telah mengering, Maka dalam simpuh nestapa diri yang hina, pada ratapan nanar pesakitan, di ujung lorong waktu yang telah berlalu, Ku hanya bisa menyeru: ” Celaka diriku, telah habis waktuku “— . Hadirilah Kajian Rutin Majeedr #28 dengan tema: . 🌹 TELAH HABIS WAKTUKU🌹 . 🎖 Bersama Ustadz Sulaiman Rasyid . Insyaa Allaah akan diselenggarakan pada: 📆 Ahad, 26 Februari 2017 🕰 Pukul 08.30 WIB – selesai . 🚩 Bertempat di Masjid Agung Syuhada (Jl. I Dewa Nyoman Oka No.13, Kotabaru, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55224) . 🎁 Acara ini terbuka untuk umum, putra dan putri . Kajian akan disiarkan langsung di: radiomuslim.com . Bawa niat ikhlas dan infaq terbaik anda Sebar dan ajak yang lain, dapatkan pahala berlipat!!! . 📞 CP: 085725901701 . Diseleggarakan oleh: 📎 Majeed Reporters Dawah Bekerjasama dengan: 📎 CDMS 📎 Radio Muslim🔍 Sholat Wustho, Sombong Artinya, Al Mulk Artinya, Madina.or.id

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 106: Teliti Dalam Berdoa Bagian 1

21FebSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 106: Teliti Dalam Berdoa Bagian 1February 21, 2017Belajar Islam, Doa dan Dzikir, Fikih Pada beberapa pertemuan lalu, telah kita jelaskan bahwa doa dan dzikir yang bersumber dari al-Qur’an dan hadits itu sangatlah sempurna. Tidak ada kekurangan atau kekeliruannya. Oleh karena itu para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sangat memperhatikan doa-doa tersebut dan amat bersemangat dalam mempraktekkannya. Pada kesempatan ini kita akan menelaah bagaimana semangat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mengajarkan doa yang benar kepada para sahabatnya, dan bagaimana ketelitian mereka dalam mempraktekkan dan mengamalkannya. Mari kita simak hadits berikut ini, عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُعَلِّمُهُمْ هَذَا الدُّعَاءَ كَمَا يُعَلِّمُهُمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ قُولُوا: اللهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma menuturkan, “Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan doa ini sebagaimana beliau mengajarkan surat al-Qur’an. Beliau bersabda, “Bacalah, “Allôhumma innâ na’ûdzubika min ‘adzâbi Jahannam, wa a’ûdzubika min ‘adzâbil qobri, wa a’ûdzubika min fitnatil masîhid dajjâl, wa a’ûdzu bika min fitnatil mahyâ wal mamât” (Ya Allah sesungguhnya kami memohon kepada-Mu perlindungan dari siksa Jahannam. Aku memohon kepada-Mu perlindungan dari siksa kubur. Aku memohon kepada-Mu perlindungan dari fitnah Dajjal. Dan aku memohon kepada-Mu perlindungan dari fitnah kehidupan dan kematian)”. HR. Muslim. Hadits lain berbunyi, عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنَ القُرْآنِ Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma bertutur, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan pada kami doa istikharah dalam segala urusan, sebagaimana beliau mengajarkan pada kami surat dari al-Qur’an”. HR. Bukhari. Dua hadits di atas menjelaskan kepada kita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan doa-doa kepada umatnya, mirip seperti beliau mengajarkan surat-surat al-Qur’an kepada mereka. Yang jadi pertanyaan adalah, di mana letak kemiripan antara doa dan surat al-Qur’an? Imam Ibn Abi Jamrah rahimahullah (w. 695 H) menjelaskan, “Letak kemiripannya: sama-sama perlu dijaga redaksinya dan susunan kata-katanya, serta tidak boleh ditambah atau dikurangi. Bisa juga kemiripannya sama-sama harus diperhatikan, dipentingkan dan dihormati. Sebab keduanya mendatangkan berkah. Atau kemiripannya karena sama-sama bersumber dari wahyu”. Bersambung.. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Shafar 1438 / 28 Nopember 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 106: Teliti Dalam Berdoa Bagian 1

21FebSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 106: Teliti Dalam Berdoa Bagian 1February 21, 2017Belajar Islam, Doa dan Dzikir, Fikih Pada beberapa pertemuan lalu, telah kita jelaskan bahwa doa dan dzikir yang bersumber dari al-Qur’an dan hadits itu sangatlah sempurna. Tidak ada kekurangan atau kekeliruannya. Oleh karena itu para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sangat memperhatikan doa-doa tersebut dan amat bersemangat dalam mempraktekkannya. Pada kesempatan ini kita akan menelaah bagaimana semangat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mengajarkan doa yang benar kepada para sahabatnya, dan bagaimana ketelitian mereka dalam mempraktekkan dan mengamalkannya. Mari kita simak hadits berikut ini, عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُعَلِّمُهُمْ هَذَا الدُّعَاءَ كَمَا يُعَلِّمُهُمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ قُولُوا: اللهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma menuturkan, “Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan doa ini sebagaimana beliau mengajarkan surat al-Qur’an. Beliau bersabda, “Bacalah, “Allôhumma innâ na’ûdzubika min ‘adzâbi Jahannam, wa a’ûdzubika min ‘adzâbil qobri, wa a’ûdzubika min fitnatil masîhid dajjâl, wa a’ûdzu bika min fitnatil mahyâ wal mamât” (Ya Allah sesungguhnya kami memohon kepada-Mu perlindungan dari siksa Jahannam. Aku memohon kepada-Mu perlindungan dari siksa kubur. Aku memohon kepada-Mu perlindungan dari fitnah Dajjal. Dan aku memohon kepada-Mu perlindungan dari fitnah kehidupan dan kematian)”. HR. Muslim. Hadits lain berbunyi, عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنَ القُرْآنِ Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma bertutur, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan pada kami doa istikharah dalam segala urusan, sebagaimana beliau mengajarkan pada kami surat dari al-Qur’an”. HR. Bukhari. Dua hadits di atas menjelaskan kepada kita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan doa-doa kepada umatnya, mirip seperti beliau mengajarkan surat-surat al-Qur’an kepada mereka. Yang jadi pertanyaan adalah, di mana letak kemiripan antara doa dan surat al-Qur’an? Imam Ibn Abi Jamrah rahimahullah (w. 695 H) menjelaskan, “Letak kemiripannya: sama-sama perlu dijaga redaksinya dan susunan kata-katanya, serta tidak boleh ditambah atau dikurangi. Bisa juga kemiripannya sama-sama harus diperhatikan, dipentingkan dan dihormati. Sebab keduanya mendatangkan berkah. Atau kemiripannya karena sama-sama bersumber dari wahyu”. Bersambung.. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Shafar 1438 / 28 Nopember 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
21FebSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 106: Teliti Dalam Berdoa Bagian 1February 21, 2017Belajar Islam, Doa dan Dzikir, Fikih Pada beberapa pertemuan lalu, telah kita jelaskan bahwa doa dan dzikir yang bersumber dari al-Qur’an dan hadits itu sangatlah sempurna. Tidak ada kekurangan atau kekeliruannya. Oleh karena itu para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sangat memperhatikan doa-doa tersebut dan amat bersemangat dalam mempraktekkannya. Pada kesempatan ini kita akan menelaah bagaimana semangat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mengajarkan doa yang benar kepada para sahabatnya, dan bagaimana ketelitian mereka dalam mempraktekkan dan mengamalkannya. Mari kita simak hadits berikut ini, عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُعَلِّمُهُمْ هَذَا الدُّعَاءَ كَمَا يُعَلِّمُهُمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ قُولُوا: اللهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma menuturkan, “Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan doa ini sebagaimana beliau mengajarkan surat al-Qur’an. Beliau bersabda, “Bacalah, “Allôhumma innâ na’ûdzubika min ‘adzâbi Jahannam, wa a’ûdzubika min ‘adzâbil qobri, wa a’ûdzubika min fitnatil masîhid dajjâl, wa a’ûdzu bika min fitnatil mahyâ wal mamât” (Ya Allah sesungguhnya kami memohon kepada-Mu perlindungan dari siksa Jahannam. Aku memohon kepada-Mu perlindungan dari siksa kubur. Aku memohon kepada-Mu perlindungan dari fitnah Dajjal. Dan aku memohon kepada-Mu perlindungan dari fitnah kehidupan dan kematian)”. HR. Muslim. Hadits lain berbunyi, عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنَ القُرْآنِ Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma bertutur, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan pada kami doa istikharah dalam segala urusan, sebagaimana beliau mengajarkan pada kami surat dari al-Qur’an”. HR. Bukhari. Dua hadits di atas menjelaskan kepada kita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan doa-doa kepada umatnya, mirip seperti beliau mengajarkan surat-surat al-Qur’an kepada mereka. Yang jadi pertanyaan adalah, di mana letak kemiripan antara doa dan surat al-Qur’an? Imam Ibn Abi Jamrah rahimahullah (w. 695 H) menjelaskan, “Letak kemiripannya: sama-sama perlu dijaga redaksinya dan susunan kata-katanya, serta tidak boleh ditambah atau dikurangi. Bisa juga kemiripannya sama-sama harus diperhatikan, dipentingkan dan dihormati. Sebab keduanya mendatangkan berkah. Atau kemiripannya karena sama-sama bersumber dari wahyu”. Bersambung.. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Shafar 1438 / 28 Nopember 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


21FebSilsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 106: Teliti Dalam Berdoa Bagian 1February 21, 2017Belajar Islam, Doa dan Dzikir, Fikih Pada beberapa pertemuan lalu, telah kita jelaskan bahwa doa dan dzikir yang bersumber dari al-Qur’an dan hadits itu sangatlah sempurna. Tidak ada kekurangan atau kekeliruannya. Oleh karena itu para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sangat memperhatikan doa-doa tersebut dan amat bersemangat dalam mempraktekkannya. Pada kesempatan ini kita akan menelaah bagaimana semangat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mengajarkan doa yang benar kepada para sahabatnya, dan bagaimana ketelitian mereka dalam mempraktekkan dan mengamalkannya. Mari kita simak hadits berikut ini, عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُعَلِّمُهُمْ هَذَا الدُّعَاءَ كَمَا يُعَلِّمُهُمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ قُولُوا: اللهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma menuturkan, “Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan doa ini sebagaimana beliau mengajarkan surat al-Qur’an. Beliau bersabda, “Bacalah, “Allôhumma innâ na’ûdzubika min ‘adzâbi Jahannam, wa a’ûdzubika min ‘adzâbil qobri, wa a’ûdzubika min fitnatil masîhid dajjâl, wa a’ûdzu bika min fitnatil mahyâ wal mamât” (Ya Allah sesungguhnya kami memohon kepada-Mu perlindungan dari siksa Jahannam. Aku memohon kepada-Mu perlindungan dari siksa kubur. Aku memohon kepada-Mu perlindungan dari fitnah Dajjal. Dan aku memohon kepada-Mu perlindungan dari fitnah kehidupan dan kematian)”. HR. Muslim. Hadits lain berbunyi, عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنَ القُرْآنِ Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma bertutur, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan pada kami doa istikharah dalam segala urusan, sebagaimana beliau mengajarkan pada kami surat dari al-Qur’an”. HR. Bukhari. Dua hadits di atas menjelaskan kepada kita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan doa-doa kepada umatnya, mirip seperti beliau mengajarkan surat-surat al-Qur’an kepada mereka. Yang jadi pertanyaan adalah, di mana letak kemiripan antara doa dan surat al-Qur’an? Imam Ibn Abi Jamrah rahimahullah (w. 695 H) menjelaskan, “Letak kemiripannya: sama-sama perlu dijaga redaksinya dan susunan kata-katanya, serta tidak boleh ditambah atau dikurangi. Bisa juga kemiripannya sama-sama harus diperhatikan, dipentingkan dan dihormati. Sebab keduanya mendatangkan berkah. Atau kemiripannya karena sama-sama bersumber dari wahyu”. Bersambung.. @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Shafar 1438 / 28 Nopember 2016 PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

[VIDEO] Fiqih Doa dan Dzikir: Teliti Dalam Berdoa Bagian 3

21Feb[VIDEO] Fiqih Doa dan Dzikir: Teliti Dalam Berdoa Bagian 3February 21, 2017Doa dan Dzikir, Fikih PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

[VIDEO] Fiqih Doa dan Dzikir: Teliti Dalam Berdoa Bagian 3

21Feb[VIDEO] Fiqih Doa dan Dzikir: Teliti Dalam Berdoa Bagian 3February 21, 2017Doa dan Dzikir, Fikih PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022
21Feb[VIDEO] Fiqih Doa dan Dzikir: Teliti Dalam Berdoa Bagian 3February 21, 2017Doa dan Dzikir, Fikih PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022


21Feb[VIDEO] Fiqih Doa dan Dzikir: Teliti Dalam Berdoa Bagian 3February 21, 2017Doa dan Dzikir, Fikih PrevNext Leave a Reply Cancel Reply Save my name, email, and website in this browser for the next time I comment. Data TerbaruSerial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDJuly 25, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 89: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8July 18, 2022Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu 1443 HJuly 16, 2022Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HJuly 14, 2022Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 88: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7July 14, 2022

Keutamaan Menunggu Shalat

Hadits berikut akan menerangkan keutamaan berjalan ke masjid dan keutamaan menunggu shalat. وعن أبي هريرة – رضي الله عنه – : أنَّ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( ألا أدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الخَطَايَا ، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ ؟ )) قَالُوا : بَلَى يا رَسُول اللهِ ؟ قَالَ : (( إسْبَاغُ الوُضُوءِ عَلَى المَكَارِهِ ، وَكَثْرَةُ الخُطَا إلَى المَسَاجِدِ ، وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ ، فذَلِكُمُ الرِّبَاطُ )) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?” Para sahabat berkata, “Tentu, wahai Rasulullah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menyempurnakan wudhu pada saat-saat yang tidak disukai, banyak melangkah ke masjid, dan menunggu  shalat setelah shalat. Itulah yang namanya ribath (mencurahkan diri dalam ketaatan), itulah yang namanya ribath.” (HR. Muslim, no. 251)   Kesimpulan Mutiara Hadits Amalan-amalan yang disebutkan dalam hadits yaitu menyempurnakan wudhu saat sulit, banyak melangkah ke masjid, dan menunggu shalat adalah sebab diampuninya dosa dan ditinggakannya derajat. Al-Qadhi ‘Iyadh mengatakan bahwa terhapusnya kesalahan, berarti ibarat untuk diampuninya dosa. Juga bisa maknanya adalah dihapuskan dosa dari kitab cacatan. Itu juga maknanya dosa tersebut diampuni. Sedangkan meninggikan derajat, maksudnya meninggikan derajatnya di surga. Isbaghul wudhu’ maksudnya adalah menyempurnakan wudhu. Menyempurnakan wudhu ketika sulit maksudnya menyempurnakannya ketika keadaan sangat dingin, badan dalam keadaan tidak fit, atau semisal itu. Itulah yang namanya ribath. Ribath asalnya bermakna menahan diri dari sesuatu. Disebut ribath di sini maksudnya orang yang melakukannya berarti menahan diri untuk melakukan amalan tersebut terus menerus (menyempurnakan wudhu saat sulit, banyak melangkah ke masjid, dan menunggu shalat). Ada juga yang memaknakan yang dimaksud adalah itulah ribath (penjagaan) yang paling afdhal. Yang lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud adalah itulah ribath yang paling mudah dan mungkin dilakukan. Pengulangan dua atau kali untuk kalimat “fadzalikumur ribath”, hikmahnya menunjukkan penting dan agungnya amalan yang disebutkan. Hadits ini juga menjelaskan keutamaan rumah yang jauh dibanding yang dekat karena makin jauh rumah, makin banyak langkah. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan orang yang selalu mengaitkan hatinya dengan masjid. Keutamaan lainnya, ia juga akan mendapatkan naungan di hari kiamat yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah. Hadits ini juga merupakan dalil keutamaan shalat berjamaah di masjid. Perlu adanya pengajaran hal yang kecil kemudian hal yang lebih besar. Karena seseorang yang tidak bisa menahan diri untuk menunggu shalat di masjid, maka sungguh sulit untuk menahan dirinya menjaga pos saat berjihad di medan perang. Referensi: Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, 1: 187-188; Syarh Shahih Muslim, 3: 125-126. — Sore hari @ DS, Panggang, 24 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsmenunggu shalat shalat berjamaah shalat jamaah

Keutamaan Menunggu Shalat

Hadits berikut akan menerangkan keutamaan berjalan ke masjid dan keutamaan menunggu shalat. وعن أبي هريرة – رضي الله عنه – : أنَّ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( ألا أدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الخَطَايَا ، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ ؟ )) قَالُوا : بَلَى يا رَسُول اللهِ ؟ قَالَ : (( إسْبَاغُ الوُضُوءِ عَلَى المَكَارِهِ ، وَكَثْرَةُ الخُطَا إلَى المَسَاجِدِ ، وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ ، فذَلِكُمُ الرِّبَاطُ )) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?” Para sahabat berkata, “Tentu, wahai Rasulullah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menyempurnakan wudhu pada saat-saat yang tidak disukai, banyak melangkah ke masjid, dan menunggu  shalat setelah shalat. Itulah yang namanya ribath (mencurahkan diri dalam ketaatan), itulah yang namanya ribath.” (HR. Muslim, no. 251)   Kesimpulan Mutiara Hadits Amalan-amalan yang disebutkan dalam hadits yaitu menyempurnakan wudhu saat sulit, banyak melangkah ke masjid, dan menunggu shalat adalah sebab diampuninya dosa dan ditinggakannya derajat. Al-Qadhi ‘Iyadh mengatakan bahwa terhapusnya kesalahan, berarti ibarat untuk diampuninya dosa. Juga bisa maknanya adalah dihapuskan dosa dari kitab cacatan. Itu juga maknanya dosa tersebut diampuni. Sedangkan meninggikan derajat, maksudnya meninggikan derajatnya di surga. Isbaghul wudhu’ maksudnya adalah menyempurnakan wudhu. Menyempurnakan wudhu ketika sulit maksudnya menyempurnakannya ketika keadaan sangat dingin, badan dalam keadaan tidak fit, atau semisal itu. Itulah yang namanya ribath. Ribath asalnya bermakna menahan diri dari sesuatu. Disebut ribath di sini maksudnya orang yang melakukannya berarti menahan diri untuk melakukan amalan tersebut terus menerus (menyempurnakan wudhu saat sulit, banyak melangkah ke masjid, dan menunggu shalat). Ada juga yang memaknakan yang dimaksud adalah itulah ribath (penjagaan) yang paling afdhal. Yang lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud adalah itulah ribath yang paling mudah dan mungkin dilakukan. Pengulangan dua atau kali untuk kalimat “fadzalikumur ribath”, hikmahnya menunjukkan penting dan agungnya amalan yang disebutkan. Hadits ini juga menjelaskan keutamaan rumah yang jauh dibanding yang dekat karena makin jauh rumah, makin banyak langkah. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan orang yang selalu mengaitkan hatinya dengan masjid. Keutamaan lainnya, ia juga akan mendapatkan naungan di hari kiamat yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah. Hadits ini juga merupakan dalil keutamaan shalat berjamaah di masjid. Perlu adanya pengajaran hal yang kecil kemudian hal yang lebih besar. Karena seseorang yang tidak bisa menahan diri untuk menunggu shalat di masjid, maka sungguh sulit untuk menahan dirinya menjaga pos saat berjihad di medan perang. Referensi: Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, 1: 187-188; Syarh Shahih Muslim, 3: 125-126. — Sore hari @ DS, Panggang, 24 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsmenunggu shalat shalat berjamaah shalat jamaah
Hadits berikut akan menerangkan keutamaan berjalan ke masjid dan keutamaan menunggu shalat. وعن أبي هريرة – رضي الله عنه – : أنَّ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( ألا أدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الخَطَايَا ، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ ؟ )) قَالُوا : بَلَى يا رَسُول اللهِ ؟ قَالَ : (( إسْبَاغُ الوُضُوءِ عَلَى المَكَارِهِ ، وَكَثْرَةُ الخُطَا إلَى المَسَاجِدِ ، وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ ، فذَلِكُمُ الرِّبَاطُ )) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?” Para sahabat berkata, “Tentu, wahai Rasulullah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menyempurnakan wudhu pada saat-saat yang tidak disukai, banyak melangkah ke masjid, dan menunggu  shalat setelah shalat. Itulah yang namanya ribath (mencurahkan diri dalam ketaatan), itulah yang namanya ribath.” (HR. Muslim, no. 251)   Kesimpulan Mutiara Hadits Amalan-amalan yang disebutkan dalam hadits yaitu menyempurnakan wudhu saat sulit, banyak melangkah ke masjid, dan menunggu shalat adalah sebab diampuninya dosa dan ditinggakannya derajat. Al-Qadhi ‘Iyadh mengatakan bahwa terhapusnya kesalahan, berarti ibarat untuk diampuninya dosa. Juga bisa maknanya adalah dihapuskan dosa dari kitab cacatan. Itu juga maknanya dosa tersebut diampuni. Sedangkan meninggikan derajat, maksudnya meninggikan derajatnya di surga. Isbaghul wudhu’ maksudnya adalah menyempurnakan wudhu. Menyempurnakan wudhu ketika sulit maksudnya menyempurnakannya ketika keadaan sangat dingin, badan dalam keadaan tidak fit, atau semisal itu. Itulah yang namanya ribath. Ribath asalnya bermakna menahan diri dari sesuatu. Disebut ribath di sini maksudnya orang yang melakukannya berarti menahan diri untuk melakukan amalan tersebut terus menerus (menyempurnakan wudhu saat sulit, banyak melangkah ke masjid, dan menunggu shalat). Ada juga yang memaknakan yang dimaksud adalah itulah ribath (penjagaan) yang paling afdhal. Yang lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud adalah itulah ribath yang paling mudah dan mungkin dilakukan. Pengulangan dua atau kali untuk kalimat “fadzalikumur ribath”, hikmahnya menunjukkan penting dan agungnya amalan yang disebutkan. Hadits ini juga menjelaskan keutamaan rumah yang jauh dibanding yang dekat karena makin jauh rumah, makin banyak langkah. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan orang yang selalu mengaitkan hatinya dengan masjid. Keutamaan lainnya, ia juga akan mendapatkan naungan di hari kiamat yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah. Hadits ini juga merupakan dalil keutamaan shalat berjamaah di masjid. Perlu adanya pengajaran hal yang kecil kemudian hal yang lebih besar. Karena seseorang yang tidak bisa menahan diri untuk menunggu shalat di masjid, maka sungguh sulit untuk menahan dirinya menjaga pos saat berjihad di medan perang. Referensi: Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, 1: 187-188; Syarh Shahih Muslim, 3: 125-126. — Sore hari @ DS, Panggang, 24 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsmenunggu shalat shalat berjamaah shalat jamaah


Hadits berikut akan menerangkan keutamaan berjalan ke masjid dan keutamaan menunggu shalat. وعن أبي هريرة – رضي الله عنه – : أنَّ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( ألا أدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الخَطَايَا ، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ ؟ )) قَالُوا : بَلَى يا رَسُول اللهِ ؟ قَالَ : (( إسْبَاغُ الوُضُوءِ عَلَى المَكَارِهِ ، وَكَثْرَةُ الخُطَا إلَى المَسَاجِدِ ، وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ ، فذَلِكُمُ الرِّبَاطُ )) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?” Para sahabat berkata, “Tentu, wahai Rasulullah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menyempurnakan wudhu pada saat-saat yang tidak disukai, banyak melangkah ke masjid, dan menunggu  shalat setelah shalat. Itulah yang namanya ribath (mencurahkan diri dalam ketaatan), itulah yang namanya ribath.” (HR. Muslim, no. 251)   Kesimpulan Mutiara Hadits Amalan-amalan yang disebutkan dalam hadits yaitu menyempurnakan wudhu saat sulit, banyak melangkah ke masjid, dan menunggu shalat adalah sebab diampuninya dosa dan ditinggakannya derajat. Al-Qadhi ‘Iyadh mengatakan bahwa terhapusnya kesalahan, berarti ibarat untuk diampuninya dosa. Juga bisa maknanya adalah dihapuskan dosa dari kitab cacatan. Itu juga maknanya dosa tersebut diampuni. Sedangkan meninggikan derajat, maksudnya meninggikan derajatnya di surga. Isbaghul wudhu’ maksudnya adalah menyempurnakan wudhu. Menyempurnakan wudhu ketika sulit maksudnya menyempurnakannya ketika keadaan sangat dingin, badan dalam keadaan tidak fit, atau semisal itu. Itulah yang namanya ribath. Ribath asalnya bermakna menahan diri dari sesuatu. Disebut ribath di sini maksudnya orang yang melakukannya berarti menahan diri untuk melakukan amalan tersebut terus menerus (menyempurnakan wudhu saat sulit, banyak melangkah ke masjid, dan menunggu shalat). Ada juga yang memaknakan yang dimaksud adalah itulah ribath (penjagaan) yang paling afdhal. Yang lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud adalah itulah ribath yang paling mudah dan mungkin dilakukan. Pengulangan dua atau kali untuk kalimat “fadzalikumur ribath”, hikmahnya menunjukkan penting dan agungnya amalan yang disebutkan. Hadits ini juga menjelaskan keutamaan rumah yang jauh dibanding yang dekat karena makin jauh rumah, makin banyak langkah. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan orang yang selalu mengaitkan hatinya dengan masjid. Keutamaan lainnya, ia juga akan mendapatkan naungan di hari kiamat yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah. Hadits ini juga merupakan dalil keutamaan shalat berjamaah di masjid. Perlu adanya pengajaran hal yang kecil kemudian hal yang lebih besar. Karena seseorang yang tidak bisa menahan diri untuk menunggu shalat di masjid, maka sungguh sulit untuk menahan dirinya menjaga pos saat berjihad di medan perang. Referensi: Bahjah An-Nazhirin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, 1: 187-188; Syarh Shahih Muslim, 3: 125-126. — Sore hari @ DS, Panggang, 24 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsmenunggu shalat shalat berjamaah shalat jamaah

Faedah Surat Yasin: Istri, Buah-Buahan dan Kenikmatan di Surga

Mau tahu bagaimana kenikmatan di surga? Silakan kaji faedah surat Yasin berikut ini. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ (55) هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلَالٍ عَلَى الْأَرَائِكِ مُتَّكِئُونَ (56) لَهُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ وَلَهُمْ مَا يَدَّعُونَ (57) “Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (QS. Yasin: 55-57)   Kesimpulan Mutiara Ayat   Yang dimaksud penghuni surga dalam keadaan sibuk, kata Al-Hasan Al-Bashri, “Mereka sibuk menikmati kenikmatan yang ada di surga, sedangkan penduduk neraka sibuk dengan azab di neraka.” Ibnu Kisan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah di surga mereka sibuk berziarah (berkunjung) satu dan lainnya. (Tafsir Al-Baghawi, 23: 644) Maksud ayat 56, mereka dan istri mereka berada di naungan pohon-pohon, bertelekan (berbaring) di atas dipan-dipan. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 347). “Muttaki’iina” yang dimaksud disebutkan dalam tafsir surat Al-Kahfi ayat 31, yaitu bersandar. Ada juga yang mengartikan berbaring atau duduk bersila. Al-araik, bentuk plural dari kata arikah. Secara bahasa maksudnya, tempat duduk panjang yang ada sandaran seperti sofa. Namun secara jelas yang dimaksud arikah adalah ranjang yang berada di bawah hajalah, yaitu rumah seperti kubah yang dihiasi dengan kain dan penutup (seperti kamar mempelai). (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 156) Maksud ayat 57, orang yang di surga akan menikmati berbagai buah. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 348) Semua kesenangan di surga diperoleh secara sempurna. Yang didapatkan oleh yang masuk surga adalah istri yang begitu cantik menawan yang enak dipandang. Bidadari tersebut adalah bidadari bermata jelita serta tergabung padanya kecantikan wajah, keelokan badan, dan kebagusan akhlak. Yang masuk surga tersebut akan bertelekan di atas dipan yang dihiasi dengan kain yang dipercantik dan terlihat menawan. Ia pun bersandarkan pada dipan dengan begitu santainya, terlihat begitu mendapatkan nikmat dan menyenangkan. Buah-buahan yang ia rasakan begitu banyak yang bentuknya beraneka ragam seperti anggur, buah tin, delima dan lainnya. Apa saja yang ia minta di surga akan diberi. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739)   Semoga bermanfaat, moga kita semua dimudahkan jalan menuju surga sehingga bisa mendapatkan berbagai kenikmatan seperti di atas.   — Sore hari @ DS, Panggang, 23 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsfaedah surat yasin surat yasin surga tafsir surat yasin yasinan

Faedah Surat Yasin: Istri, Buah-Buahan dan Kenikmatan di Surga

Mau tahu bagaimana kenikmatan di surga? Silakan kaji faedah surat Yasin berikut ini. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ (55) هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلَالٍ عَلَى الْأَرَائِكِ مُتَّكِئُونَ (56) لَهُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ وَلَهُمْ مَا يَدَّعُونَ (57) “Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (QS. Yasin: 55-57)   Kesimpulan Mutiara Ayat   Yang dimaksud penghuni surga dalam keadaan sibuk, kata Al-Hasan Al-Bashri, “Mereka sibuk menikmati kenikmatan yang ada di surga, sedangkan penduduk neraka sibuk dengan azab di neraka.” Ibnu Kisan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah di surga mereka sibuk berziarah (berkunjung) satu dan lainnya. (Tafsir Al-Baghawi, 23: 644) Maksud ayat 56, mereka dan istri mereka berada di naungan pohon-pohon, bertelekan (berbaring) di atas dipan-dipan. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 347). “Muttaki’iina” yang dimaksud disebutkan dalam tafsir surat Al-Kahfi ayat 31, yaitu bersandar. Ada juga yang mengartikan berbaring atau duduk bersila. Al-araik, bentuk plural dari kata arikah. Secara bahasa maksudnya, tempat duduk panjang yang ada sandaran seperti sofa. Namun secara jelas yang dimaksud arikah adalah ranjang yang berada di bawah hajalah, yaitu rumah seperti kubah yang dihiasi dengan kain dan penutup (seperti kamar mempelai). (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 156) Maksud ayat 57, orang yang di surga akan menikmati berbagai buah. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 348) Semua kesenangan di surga diperoleh secara sempurna. Yang didapatkan oleh yang masuk surga adalah istri yang begitu cantik menawan yang enak dipandang. Bidadari tersebut adalah bidadari bermata jelita serta tergabung padanya kecantikan wajah, keelokan badan, dan kebagusan akhlak. Yang masuk surga tersebut akan bertelekan di atas dipan yang dihiasi dengan kain yang dipercantik dan terlihat menawan. Ia pun bersandarkan pada dipan dengan begitu santainya, terlihat begitu mendapatkan nikmat dan menyenangkan. Buah-buahan yang ia rasakan begitu banyak yang bentuknya beraneka ragam seperti anggur, buah tin, delima dan lainnya. Apa saja yang ia minta di surga akan diberi. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739)   Semoga bermanfaat, moga kita semua dimudahkan jalan menuju surga sehingga bisa mendapatkan berbagai kenikmatan seperti di atas.   — Sore hari @ DS, Panggang, 23 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsfaedah surat yasin surat yasin surga tafsir surat yasin yasinan
Mau tahu bagaimana kenikmatan di surga? Silakan kaji faedah surat Yasin berikut ini. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ (55) هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلَالٍ عَلَى الْأَرَائِكِ مُتَّكِئُونَ (56) لَهُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ وَلَهُمْ مَا يَدَّعُونَ (57) “Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (QS. Yasin: 55-57)   Kesimpulan Mutiara Ayat   Yang dimaksud penghuni surga dalam keadaan sibuk, kata Al-Hasan Al-Bashri, “Mereka sibuk menikmati kenikmatan yang ada di surga, sedangkan penduduk neraka sibuk dengan azab di neraka.” Ibnu Kisan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah di surga mereka sibuk berziarah (berkunjung) satu dan lainnya. (Tafsir Al-Baghawi, 23: 644) Maksud ayat 56, mereka dan istri mereka berada di naungan pohon-pohon, bertelekan (berbaring) di atas dipan-dipan. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 347). “Muttaki’iina” yang dimaksud disebutkan dalam tafsir surat Al-Kahfi ayat 31, yaitu bersandar. Ada juga yang mengartikan berbaring atau duduk bersila. Al-araik, bentuk plural dari kata arikah. Secara bahasa maksudnya, tempat duduk panjang yang ada sandaran seperti sofa. Namun secara jelas yang dimaksud arikah adalah ranjang yang berada di bawah hajalah, yaitu rumah seperti kubah yang dihiasi dengan kain dan penutup (seperti kamar mempelai). (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 156) Maksud ayat 57, orang yang di surga akan menikmati berbagai buah. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 348) Semua kesenangan di surga diperoleh secara sempurna. Yang didapatkan oleh yang masuk surga adalah istri yang begitu cantik menawan yang enak dipandang. Bidadari tersebut adalah bidadari bermata jelita serta tergabung padanya kecantikan wajah, keelokan badan, dan kebagusan akhlak. Yang masuk surga tersebut akan bertelekan di atas dipan yang dihiasi dengan kain yang dipercantik dan terlihat menawan. Ia pun bersandarkan pada dipan dengan begitu santainya, terlihat begitu mendapatkan nikmat dan menyenangkan. Buah-buahan yang ia rasakan begitu banyak yang bentuknya beraneka ragam seperti anggur, buah tin, delima dan lainnya. Apa saja yang ia minta di surga akan diberi. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739)   Semoga bermanfaat, moga kita semua dimudahkan jalan menuju surga sehingga bisa mendapatkan berbagai kenikmatan seperti di atas.   — Sore hari @ DS, Panggang, 23 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsfaedah surat yasin surat yasin surga tafsir surat yasin yasinan


Mau tahu bagaimana kenikmatan di surga? Silakan kaji faedah surat Yasin berikut ini. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ (55) هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلَالٍ عَلَى الْأَرَائِكِ مُتَّكِئُونَ (56) لَهُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ وَلَهُمْ مَا يَدَّعُونَ (57) “Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (QS. Yasin: 55-57)   Kesimpulan Mutiara Ayat   Yang dimaksud penghuni surga dalam keadaan sibuk, kata Al-Hasan Al-Bashri, “Mereka sibuk menikmati kenikmatan yang ada di surga, sedangkan penduduk neraka sibuk dengan azab di neraka.” Ibnu Kisan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah di surga mereka sibuk berziarah (berkunjung) satu dan lainnya. (Tafsir Al-Baghawi, 23: 644) Maksud ayat 56, mereka dan istri mereka berada di naungan pohon-pohon, bertelekan (berbaring) di atas dipan-dipan. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 347). “Muttaki’iina” yang dimaksud disebutkan dalam tafsir surat Al-Kahfi ayat 31, yaitu bersandar. Ada juga yang mengartikan berbaring atau duduk bersila. Al-araik, bentuk plural dari kata arikah. Secara bahasa maksudnya, tempat duduk panjang yang ada sandaran seperti sofa. Namun secara jelas yang dimaksud arikah adalah ranjang yang berada di bawah hajalah, yaitu rumah seperti kubah yang dihiasi dengan kain dan penutup (seperti kamar mempelai). (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 156) Maksud ayat 57, orang yang di surga akan menikmati berbagai buah. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 348) Semua kesenangan di surga diperoleh secara sempurna. Yang didapatkan oleh yang masuk surga adalah istri yang begitu cantik menawan yang enak dipandang. Bidadari tersebut adalah bidadari bermata jelita serta tergabung padanya kecantikan wajah, keelokan badan, dan kebagusan akhlak. Yang masuk surga tersebut akan bertelekan di atas dipan yang dihiasi dengan kain yang dipercantik dan terlihat menawan. Ia pun bersandarkan pada dipan dengan begitu santainya, terlihat begitu mendapatkan nikmat dan menyenangkan. Buah-buahan yang ia rasakan begitu banyak yang bentuknya beraneka ragam seperti anggur, buah tin, delima dan lainnya. Apa saja yang ia minta di surga akan diberi. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 739)   Semoga bermanfaat, moga kita semua dimudahkan jalan menuju surga sehingga bisa mendapatkan berbagai kenikmatan seperti di atas.   — Sore hari @ DS, Panggang, 23 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsfaedah surat yasin surat yasin surga tafsir surat yasin yasinan

Keindahan Islam (14)

Ibnu Hazm rahimahullah menjelaskan,لا خلاف بين أحد من أهل اللغة والشريعة في أن كل وحي نزل من عند الله تعالى فهو ذكر منزل فالوحي كله محفوظ بحفظ الله تعالى له بيقين وكل ما تكفل الله بحفظه فمضمون ألا يضيع منه وألا يحرف منه شيء أبدا تحريفا لا يأتي البيان ببطلانه “Tidak ada perselisihan diantara ahli bahasa Arab dan ulama syari’at bahwa setiap wahyu yang diturunkan dari sisi Allah Ta’ala itu disebut dengan “Adz-Dzikru” yang diturunkan (dari-Nya). Oleh karena itu, seluruh wahyu (baik Alquran maupun As-Sunnah, pent.) itu dengan yakin (pasti) dijaga dengan penjagaan dari Allah Ta’ala . Dan setiap sesuatu yang Allah jamin penjagaannya, maka sesuatu itu tidak akan ditelantarkan dan tidak akan dibiarkan sedikitpun untuk diselewengkan tanpa ada satupun bantahan yang menyatakan kebatilannya, selama-lamanya (AL-Ihkam fi Ushulil Ahkam).Dari sinilah nampak keindahan agama Islam yang bersumber pada Alquran dan As-Sunnah ini, karena agama ini terjaga dan tidak mungkin Alquran dan As-Sunnah  dirubah, dikurangi, ditambah, diganti ataupun diselewengkan tanpa ada ulama yang bangkit meluruskannya atau menjelaskan kebatilannya. Hal ini mendorong pemeluk agama Islam semakin mantap mempelajari dan mengamalkan seluruh ajaran agama Islam yang senantiasa murni sebagaimana pertama kali Allah Ta’ala turunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.PenutupSesungguhnya apa yang penyusun sampaikan barulah sekelumit dari keistimewaan dan keindahan agama Islam ini, itupun dengan kalimat dan ungkapan yang sangat jauh dari kesempurnaan dalam menggambarkan keindahan satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah Ta’ala ini.Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan,و لا يمكن ضبط الحكم و المصالح في باب واحد من أبواب العلم، فضلا عن جميعه“Tidak mungkin bisa disebutkan semua hikmah dan maslahat dalam satu bab ilmu (Syari’at) ini, apalagi jika harus disebutkan semuanya.”Keindahan tentang shalat saja, misalnya, kita tidaklah bisa mengungkapkan seluruh hikmah dan maslahat yang terdapat di dalamnya, apalagi jika harus menyebutkan semua hikmah dan maslahat dari zakat, puasa, haji, amar ma’ruf nahi mungkar, dan seluruh syari’at Islam ini, maka suatu hal mustahil mampu  diungkapkan oleh manusia.Namun, penyusun berharap lima keistimewaan yang sekaligus merupakan keindahan agama Islam ini, yaitu Islam adalah agama yang sempurna Islam agama Tauhid Islam adalah agama yang mudah Agama Islam terbangun di atas meraih kebaikan dan menolak bahaya Allah Ta’ala menjaga agama Islam ini dari perubahan, menjadi pendorong yang kuat bagi seorang muslim untuk membentengi dirinya dari segala hal yang merusak keimanannya dan ia semakin terdorong untuk meningkatkan keimanannya. Serta diharapkan pula risalah ini mendorong non muslim untuk tertarik kepada agama Islam yang sangat indah, agung dan sempurna ini. Wa shallallahu wa sallam ‘ala Nabiyyina Muhammad, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadist Tentang Takdir, Ayat Alquran Tentang Berbohong, Bentuk Surga Dan Neraka, Doa Pagar Diri Sendiri, Jin Masuk Islam

Keindahan Islam (14)

Ibnu Hazm rahimahullah menjelaskan,لا خلاف بين أحد من أهل اللغة والشريعة في أن كل وحي نزل من عند الله تعالى فهو ذكر منزل فالوحي كله محفوظ بحفظ الله تعالى له بيقين وكل ما تكفل الله بحفظه فمضمون ألا يضيع منه وألا يحرف منه شيء أبدا تحريفا لا يأتي البيان ببطلانه “Tidak ada perselisihan diantara ahli bahasa Arab dan ulama syari’at bahwa setiap wahyu yang diturunkan dari sisi Allah Ta’ala itu disebut dengan “Adz-Dzikru” yang diturunkan (dari-Nya). Oleh karena itu, seluruh wahyu (baik Alquran maupun As-Sunnah, pent.) itu dengan yakin (pasti) dijaga dengan penjagaan dari Allah Ta’ala . Dan setiap sesuatu yang Allah jamin penjagaannya, maka sesuatu itu tidak akan ditelantarkan dan tidak akan dibiarkan sedikitpun untuk diselewengkan tanpa ada satupun bantahan yang menyatakan kebatilannya, selama-lamanya (AL-Ihkam fi Ushulil Ahkam).Dari sinilah nampak keindahan agama Islam yang bersumber pada Alquran dan As-Sunnah ini, karena agama ini terjaga dan tidak mungkin Alquran dan As-Sunnah  dirubah, dikurangi, ditambah, diganti ataupun diselewengkan tanpa ada ulama yang bangkit meluruskannya atau menjelaskan kebatilannya. Hal ini mendorong pemeluk agama Islam semakin mantap mempelajari dan mengamalkan seluruh ajaran agama Islam yang senantiasa murni sebagaimana pertama kali Allah Ta’ala turunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.PenutupSesungguhnya apa yang penyusun sampaikan barulah sekelumit dari keistimewaan dan keindahan agama Islam ini, itupun dengan kalimat dan ungkapan yang sangat jauh dari kesempurnaan dalam menggambarkan keindahan satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah Ta’ala ini.Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan,و لا يمكن ضبط الحكم و المصالح في باب واحد من أبواب العلم، فضلا عن جميعه“Tidak mungkin bisa disebutkan semua hikmah dan maslahat dalam satu bab ilmu (Syari’at) ini, apalagi jika harus disebutkan semuanya.”Keindahan tentang shalat saja, misalnya, kita tidaklah bisa mengungkapkan seluruh hikmah dan maslahat yang terdapat di dalamnya, apalagi jika harus menyebutkan semua hikmah dan maslahat dari zakat, puasa, haji, amar ma’ruf nahi mungkar, dan seluruh syari’at Islam ini, maka suatu hal mustahil mampu  diungkapkan oleh manusia.Namun, penyusun berharap lima keistimewaan yang sekaligus merupakan keindahan agama Islam ini, yaitu Islam adalah agama yang sempurna Islam agama Tauhid Islam adalah agama yang mudah Agama Islam terbangun di atas meraih kebaikan dan menolak bahaya Allah Ta’ala menjaga agama Islam ini dari perubahan, menjadi pendorong yang kuat bagi seorang muslim untuk membentengi dirinya dari segala hal yang merusak keimanannya dan ia semakin terdorong untuk meningkatkan keimanannya. Serta diharapkan pula risalah ini mendorong non muslim untuk tertarik kepada agama Islam yang sangat indah, agung dan sempurna ini. Wa shallallahu wa sallam ‘ala Nabiyyina Muhammad, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadist Tentang Takdir, Ayat Alquran Tentang Berbohong, Bentuk Surga Dan Neraka, Doa Pagar Diri Sendiri, Jin Masuk Islam
Ibnu Hazm rahimahullah menjelaskan,لا خلاف بين أحد من أهل اللغة والشريعة في أن كل وحي نزل من عند الله تعالى فهو ذكر منزل فالوحي كله محفوظ بحفظ الله تعالى له بيقين وكل ما تكفل الله بحفظه فمضمون ألا يضيع منه وألا يحرف منه شيء أبدا تحريفا لا يأتي البيان ببطلانه “Tidak ada perselisihan diantara ahli bahasa Arab dan ulama syari’at bahwa setiap wahyu yang diturunkan dari sisi Allah Ta’ala itu disebut dengan “Adz-Dzikru” yang diturunkan (dari-Nya). Oleh karena itu, seluruh wahyu (baik Alquran maupun As-Sunnah, pent.) itu dengan yakin (pasti) dijaga dengan penjagaan dari Allah Ta’ala . Dan setiap sesuatu yang Allah jamin penjagaannya, maka sesuatu itu tidak akan ditelantarkan dan tidak akan dibiarkan sedikitpun untuk diselewengkan tanpa ada satupun bantahan yang menyatakan kebatilannya, selama-lamanya (AL-Ihkam fi Ushulil Ahkam).Dari sinilah nampak keindahan agama Islam yang bersumber pada Alquran dan As-Sunnah ini, karena agama ini terjaga dan tidak mungkin Alquran dan As-Sunnah  dirubah, dikurangi, ditambah, diganti ataupun diselewengkan tanpa ada ulama yang bangkit meluruskannya atau menjelaskan kebatilannya. Hal ini mendorong pemeluk agama Islam semakin mantap mempelajari dan mengamalkan seluruh ajaran agama Islam yang senantiasa murni sebagaimana pertama kali Allah Ta’ala turunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.PenutupSesungguhnya apa yang penyusun sampaikan barulah sekelumit dari keistimewaan dan keindahan agama Islam ini, itupun dengan kalimat dan ungkapan yang sangat jauh dari kesempurnaan dalam menggambarkan keindahan satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah Ta’ala ini.Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan,و لا يمكن ضبط الحكم و المصالح في باب واحد من أبواب العلم، فضلا عن جميعه“Tidak mungkin bisa disebutkan semua hikmah dan maslahat dalam satu bab ilmu (Syari’at) ini, apalagi jika harus disebutkan semuanya.”Keindahan tentang shalat saja, misalnya, kita tidaklah bisa mengungkapkan seluruh hikmah dan maslahat yang terdapat di dalamnya, apalagi jika harus menyebutkan semua hikmah dan maslahat dari zakat, puasa, haji, amar ma’ruf nahi mungkar, dan seluruh syari’at Islam ini, maka suatu hal mustahil mampu  diungkapkan oleh manusia.Namun, penyusun berharap lima keistimewaan yang sekaligus merupakan keindahan agama Islam ini, yaitu Islam adalah agama yang sempurna Islam agama Tauhid Islam adalah agama yang mudah Agama Islam terbangun di atas meraih kebaikan dan menolak bahaya Allah Ta’ala menjaga agama Islam ini dari perubahan, menjadi pendorong yang kuat bagi seorang muslim untuk membentengi dirinya dari segala hal yang merusak keimanannya dan ia semakin terdorong untuk meningkatkan keimanannya. Serta diharapkan pula risalah ini mendorong non muslim untuk tertarik kepada agama Islam yang sangat indah, agung dan sempurna ini. Wa shallallahu wa sallam ‘ala Nabiyyina Muhammad, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadist Tentang Takdir, Ayat Alquran Tentang Berbohong, Bentuk Surga Dan Neraka, Doa Pagar Diri Sendiri, Jin Masuk Islam


Ibnu Hazm rahimahullah menjelaskan,لا خلاف بين أحد من أهل اللغة والشريعة في أن كل وحي نزل من عند الله تعالى فهو ذكر منزل فالوحي كله محفوظ بحفظ الله تعالى له بيقين وكل ما تكفل الله بحفظه فمضمون ألا يضيع منه وألا يحرف منه شيء أبدا تحريفا لا يأتي البيان ببطلانه “Tidak ada perselisihan diantara ahli bahasa Arab dan ulama syari’at bahwa setiap wahyu yang diturunkan dari sisi Allah Ta’ala itu disebut dengan “Adz-Dzikru” yang diturunkan (dari-Nya). Oleh karena itu, seluruh wahyu (baik Alquran maupun As-Sunnah, pent.) itu dengan yakin (pasti) dijaga dengan penjagaan dari Allah Ta’ala . Dan setiap sesuatu yang Allah jamin penjagaannya, maka sesuatu itu tidak akan ditelantarkan dan tidak akan dibiarkan sedikitpun untuk diselewengkan tanpa ada satupun bantahan yang menyatakan kebatilannya, selama-lamanya (AL-Ihkam fi Ushulil Ahkam).Dari sinilah nampak keindahan agama Islam yang bersumber pada Alquran dan As-Sunnah ini, karena agama ini terjaga dan tidak mungkin Alquran dan As-Sunnah  dirubah, dikurangi, ditambah, diganti ataupun diselewengkan tanpa ada ulama yang bangkit meluruskannya atau menjelaskan kebatilannya. Hal ini mendorong pemeluk agama Islam semakin mantap mempelajari dan mengamalkan seluruh ajaran agama Islam yang senantiasa murni sebagaimana pertama kali Allah Ta’ala turunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.PenutupSesungguhnya apa yang penyusun sampaikan barulah sekelumit dari keistimewaan dan keindahan agama Islam ini, itupun dengan kalimat dan ungkapan yang sangat jauh dari kesempurnaan dalam menggambarkan keindahan satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah Ta’ala ini.Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan,و لا يمكن ضبط الحكم و المصالح في باب واحد من أبواب العلم، فضلا عن جميعه“Tidak mungkin bisa disebutkan semua hikmah dan maslahat dalam satu bab ilmu (Syari’at) ini, apalagi jika harus disebutkan semuanya.”Keindahan tentang shalat saja, misalnya, kita tidaklah bisa mengungkapkan seluruh hikmah dan maslahat yang terdapat di dalamnya, apalagi jika harus menyebutkan semua hikmah dan maslahat dari zakat, puasa, haji, amar ma’ruf nahi mungkar, dan seluruh syari’at Islam ini, maka suatu hal mustahil mampu  diungkapkan oleh manusia.Namun, penyusun berharap lima keistimewaan yang sekaligus merupakan keindahan agama Islam ini, yaitu Islam adalah agama yang sempurna Islam agama Tauhid Islam adalah agama yang mudah Agama Islam terbangun di atas meraih kebaikan dan menolak bahaya Allah Ta’ala menjaga agama Islam ini dari perubahan, menjadi pendorong yang kuat bagi seorang muslim untuk membentengi dirinya dari segala hal yang merusak keimanannya dan ia semakin terdorong untuk meningkatkan keimanannya. Serta diharapkan pula risalah ini mendorong non muslim untuk tertarik kepada agama Islam yang sangat indah, agung dan sempurna ini. Wa shallallahu wa sallam ‘ala Nabiyyina Muhammad, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Hadist Tentang Takdir, Ayat Alquran Tentang Berbohong, Bentuk Surga Dan Neraka, Doa Pagar Diri Sendiri, Jin Masuk Islam

3 Jalan Memperbaiki Diri

Manusia setiap hari membuat dosa dan kesalahan, yang jika terus menumpuk akan merusak jiwanya. Akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala dengan kasih sayang-Nya, telah memberikan jalan bagi kita untuk memperbaiki diri kita di hadapan-Nya, dengan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat kita.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan jalan untuk memperbaiki diri kita, yaitu di antaranya adalah tiga amalan dalam sabdanya :أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ ” قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: “إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ“Maukah kalian aku beritahukan amalan yang dengannya akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat? Para sahabat menjawab : mau wahai Rasulullah. Beliau bersabda : menyempurnakan wudhu di saat yang sulit, banyak melangkah menuju masjid, dan menunggu sholat setelah sholat, itulah ribath (perjuangan)” (HR.Muslim).Itulah tiga jalan untuk memperbaiki diri kita, menghapus dosa-dosa kita, mengangkat derajat kita di sisi Allah.Pertama, berwudhu di saat yang berat, misalnya setiap kali hendak tidur atau waktu lainnya, dan bahkan setiap kali batal wudhu disunnahkan untuk memperbaharui wudhu kita.Kedua, banyak melangkah menuju masjid, yaitu senantiasa menghadiri shalat berjamaah di masjid, khususnya bagi kaum pria.Ketiga, menunggu sholat setelah sholat, misalnya setelah sholat Maghrib berjamaah tetap duduk berdzikir atau berdoa atau kajian ilmu sambil menunggu didirikannya sholat Isya.Inilah 3 jalan yang memperbaiki keadaan diri kita. Mari kita tempuh 3 jalan tersebut dengan penuh kesungguhan, karena membutuhkan perjuangan berat melawan malas dan lemahnya jiwa.Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita agar dapat mengamalkan ketiganya.. aamiin***Penulis: Ustadz Askar Wardhana, Lc.Artikel Muslim.or.id🔍 Keutamaan Baca Alquran, Rezeki Allah Yang Mengatur, Adab Tidur Sesuai Sunnah, Hukuman Orang Munafik, Topi Sholat

3 Jalan Memperbaiki Diri

Manusia setiap hari membuat dosa dan kesalahan, yang jika terus menumpuk akan merusak jiwanya. Akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala dengan kasih sayang-Nya, telah memberikan jalan bagi kita untuk memperbaiki diri kita di hadapan-Nya, dengan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat kita.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan jalan untuk memperbaiki diri kita, yaitu di antaranya adalah tiga amalan dalam sabdanya :أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ ” قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: “إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ“Maukah kalian aku beritahukan amalan yang dengannya akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat? Para sahabat menjawab : mau wahai Rasulullah. Beliau bersabda : menyempurnakan wudhu di saat yang sulit, banyak melangkah menuju masjid, dan menunggu sholat setelah sholat, itulah ribath (perjuangan)” (HR.Muslim).Itulah tiga jalan untuk memperbaiki diri kita, menghapus dosa-dosa kita, mengangkat derajat kita di sisi Allah.Pertama, berwudhu di saat yang berat, misalnya setiap kali hendak tidur atau waktu lainnya, dan bahkan setiap kali batal wudhu disunnahkan untuk memperbaharui wudhu kita.Kedua, banyak melangkah menuju masjid, yaitu senantiasa menghadiri shalat berjamaah di masjid, khususnya bagi kaum pria.Ketiga, menunggu sholat setelah sholat, misalnya setelah sholat Maghrib berjamaah tetap duduk berdzikir atau berdoa atau kajian ilmu sambil menunggu didirikannya sholat Isya.Inilah 3 jalan yang memperbaiki keadaan diri kita. Mari kita tempuh 3 jalan tersebut dengan penuh kesungguhan, karena membutuhkan perjuangan berat melawan malas dan lemahnya jiwa.Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita agar dapat mengamalkan ketiganya.. aamiin***Penulis: Ustadz Askar Wardhana, Lc.Artikel Muslim.or.id🔍 Keutamaan Baca Alquran, Rezeki Allah Yang Mengatur, Adab Tidur Sesuai Sunnah, Hukuman Orang Munafik, Topi Sholat
Manusia setiap hari membuat dosa dan kesalahan, yang jika terus menumpuk akan merusak jiwanya. Akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala dengan kasih sayang-Nya, telah memberikan jalan bagi kita untuk memperbaiki diri kita di hadapan-Nya, dengan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat kita.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan jalan untuk memperbaiki diri kita, yaitu di antaranya adalah tiga amalan dalam sabdanya :أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ ” قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: “إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ“Maukah kalian aku beritahukan amalan yang dengannya akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat? Para sahabat menjawab : mau wahai Rasulullah. Beliau bersabda : menyempurnakan wudhu di saat yang sulit, banyak melangkah menuju masjid, dan menunggu sholat setelah sholat, itulah ribath (perjuangan)” (HR.Muslim).Itulah tiga jalan untuk memperbaiki diri kita, menghapus dosa-dosa kita, mengangkat derajat kita di sisi Allah.Pertama, berwudhu di saat yang berat, misalnya setiap kali hendak tidur atau waktu lainnya, dan bahkan setiap kali batal wudhu disunnahkan untuk memperbaharui wudhu kita.Kedua, banyak melangkah menuju masjid, yaitu senantiasa menghadiri shalat berjamaah di masjid, khususnya bagi kaum pria.Ketiga, menunggu sholat setelah sholat, misalnya setelah sholat Maghrib berjamaah tetap duduk berdzikir atau berdoa atau kajian ilmu sambil menunggu didirikannya sholat Isya.Inilah 3 jalan yang memperbaiki keadaan diri kita. Mari kita tempuh 3 jalan tersebut dengan penuh kesungguhan, karena membutuhkan perjuangan berat melawan malas dan lemahnya jiwa.Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita agar dapat mengamalkan ketiganya.. aamiin***Penulis: Ustadz Askar Wardhana, Lc.Artikel Muslim.or.id🔍 Keutamaan Baca Alquran, Rezeki Allah Yang Mengatur, Adab Tidur Sesuai Sunnah, Hukuman Orang Munafik, Topi Sholat


Manusia setiap hari membuat dosa dan kesalahan, yang jika terus menumpuk akan merusak jiwanya. Akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala dengan kasih sayang-Nya, telah memberikan jalan bagi kita untuk memperbaiki diri kita di hadapan-Nya, dengan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat kita.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan jalan untuk memperbaiki diri kita, yaitu di antaranya adalah tiga amalan dalam sabdanya :أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ ” قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: “إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ“Maukah kalian aku beritahukan amalan yang dengannya akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat? Para sahabat menjawab : mau wahai Rasulullah. Beliau bersabda : menyempurnakan wudhu di saat yang sulit, banyak melangkah menuju masjid, dan menunggu sholat setelah sholat, itulah ribath (perjuangan)” (HR.Muslim).Itulah tiga jalan untuk memperbaiki diri kita, menghapus dosa-dosa kita, mengangkat derajat kita di sisi Allah.Pertama, berwudhu di saat yang berat, misalnya setiap kali hendak tidur atau waktu lainnya, dan bahkan setiap kali batal wudhu disunnahkan untuk memperbaharui wudhu kita.Kedua, banyak melangkah menuju masjid, yaitu senantiasa menghadiri shalat berjamaah di masjid, khususnya bagi kaum pria.Ketiga, menunggu sholat setelah sholat, misalnya setelah sholat Maghrib berjamaah tetap duduk berdzikir atau berdoa atau kajian ilmu sambil menunggu didirikannya sholat Isya.Inilah 3 jalan yang memperbaiki keadaan diri kita. Mari kita tempuh 3 jalan tersebut dengan penuh kesungguhan, karena membutuhkan perjuangan berat melawan malas dan lemahnya jiwa.Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita agar dapat mengamalkan ketiganya.. aamiin***Penulis: Ustadz Askar Wardhana, Lc.Artikel Muslim.or.id🔍 Keutamaan Baca Alquran, Rezeki Allah Yang Mengatur, Adab Tidur Sesuai Sunnah, Hukuman Orang Munafik, Topi Sholat

5 Obrolan Ibu-Ibu Ketika Ngumpul

Kalau lagi ngumpul-ngumpul, atau sedang curhat dengan ibu-ibu lainnya, biasa curhatan atau obrolan ibu-ibu seputar ini:   1- Gosipin tetangga   Padahal gosip seperti ini jika yang dibicarakan adalah perihal aib atau hal-hal yang tidak disukai oleh tetangga kita kalau itu tersebar, maka termasuk dalam GHIBAH. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam GHIBAH adalah dzikruka akhoka bi maa yakroh. Dan ingat gosip juga bisa jadi FITNAH (berita yang tidak benar). Jadinya hancurlah kehormatan orang lain. Lihatlah hadits berikut. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ » Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim, no. 2589). Dalam Al Adzkar (hlm. 597), Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan, “Ghibah adalah sesuatu yang amat jelek, namun tersebar dikhalayak ramai. Yang bisa selamat dari tergelincirnya lisan seperti ini hanyalah sedikit. Ghibah memang membicarakan sesuatu yang ada pada orang lain, namun yang diceritakan adalah sesuatu yang ia tidak suka untuk diperdengarkan pada orang lain. Sesuatu yang diceritakan bisa jadi pada badan, agama, dunia, diri, akhlak, bentuk fisik, harta, anak, orang tua, istri, pembantu, budak, pakaian, cara jalan, gerak-gerik, wajah berseri, kebodohan, wajah cemberutnya, kefasihan lidah, atau segala hal yang berkaitan dengannya. Cara ghibah bisa jadi melakui lisan, tulisan, isyarat, atau bermain isyarat dengan mata, tangan, kepala atau semisal itu.” Termasuk jika yang digosipin adalah suami sendiri. Kecuali jika ada hajat meminta nasihat seperti seorang sahabat wanita yang menceritakan aib suaminya yang SUPER PELIT sampai nafkah pada istrinya kurang. Kalau meminta nasihat pada orang berilmu untuk menanyakan solusi, boleh. Namun baiknya pertanyaan dibuat dengan kalimat yang seakan-akan bukan suaminya yang berbuat agar tetap bisa menjaga kehormatan suami. Coba lihat kisah Hindun berikut. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Hindun binti ‘Utbah, istri dari Abu Sufyan, telah datang berjumpa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan itu orang yang sangat pelit. Ia tidak memberi kepadaku nafkah yang mencukupi dan mencukupi anak-anakku sehingga membuatku mengambil hartanya tanpa sepengetahuannya. Apakah berdosa jika aku melakukan seperti itu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خُذِى مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ وَيَكْفِى بَنِيكِ “Ambillah dari hartanya apa yang mencukupi anak-anakmu dengan cara yang patut.” (HR. Bukhari, no. 5364; Muslim, no. 1714) Baca selengkapnya kisahnya di sini.   2- Curhat tentang keadaan suami masing-masing   Ada pasti yang menceritakan kebaikan suami dan ada yang menceritakan kejelekan suami. Seperti kisah sebelas wanita yang saling curhat tentang suaminya … عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ جَلَسَ إِحْدَى عَشْرَةَ امْرَأَةً فَتَعَاهَدْنَ وَتَعَاقَدْنَ أَنْ لاَ يَكْتُمْنَ مِنْ أَخْبَارِ أَزْوَاجِهِنَّ شَيْئًا Sebelas orang wanita berkumpul lalu mereka berjanji dan bersepakat untuk tidak menyembunyikan sedikit pun cerita tentang suami mereka. Kisah lengkapnya di sini. Yang suami bisa ambil pelajaran bahwa ia baiknya jadi pendengar setia ketika istrinya ingin curhat atau menceritakan kejadian yang ia alami atau ia dengar walaupun mungkin ia tidak tertarik. Sudahlah mendengar saja, walau ada suami yang mendengar sampai ngantuk dan akhirnya tertidur.   3- Gunjing tetangga karena hasad   Hasad adalah sekedar membenci nikmat yang ada pada orang lain itu hilang. Inilah yang jadi qoul (pendapat) dari Ibnu Taimiyah. Beliau menyatakan, الْحَسَدَ هُوَ الْبُغْضُ وَالْكَرَاهَةُ لِمَا يَرَاهُ مِنْ حُسْنِ حَالِ الْمَحْسُودِ “Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad.” (Majmu’ Al-Fatawa, 10: 111). Sedangkan menurut jumhur (mayoritas) ulama, الحسد تمني زوال النعمة التي أنعم الله بها على المحسود ، Hasad adalah menginginkan nikmat yang Allah beri pada orang lain HILANG.   Contoh, tetangga baru saja ngeluarin mobil baru dari dealer. Terbetiklah dalam hati, walau tidak dinyatakan, “Hmmm, moga mobilnya cepat rusak.”   Perlu pahami, ada beberapa tingkatan hasad: • Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang meski tidak berpindah padanya. Orang yang hasad lebih punya keinginan besar nikmat orang lain itu hilang, bukan bermaksud nikmat tersebut berpindah padanya. • Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang lalu berkeinginan nikmat tersebut berpindah padanya. Misalnya, ada wanita cantik yang sudah menjadi istri orang lain, ia punya hasad seandainya suaminya mati atau ia ditalak, lalu ingin menikahinya. Atau bisa jadi pula ada yang punya kekuasaan atau pemerintahan yang besar, ia sangat berharap seandainya raja atau penguasa tersebut mati saja biar kekuasaan tersebut berpindah padanya. • Tidak punya maksud pada nikmat orang lain, namun ia ingin orang lain tetap dalam keadaannya yang miskin dan bodoh. Hasad seperti ini membuat seseorang akan mudah merendahkan dan meremehkan orang lain. • Tidak menginginkan nikmat orang lain hilang, namun ia ingin orang lain tetap sama dengannya. Jika keadaan orang lain lebih dari dirinya, barulah ia hasad dengan menginginkan nikmat orang lain hilang sehingga tetap sama dengannya. Yang tercela adalah keadaan kedua ketika menginginkan nikmat saudaranya itu hilang. • Menginginkan sama dengan orang lain tanpa menginginkan nikmat orang lain hilang. Inilah yang disebut dengan ghibthoh sebagaimana terdapat dalam hadits berikut. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا “Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816) Baca selengkapnya tentang tingkatan hasad di sini.   Lalu adakah obat hasad yang dinilai dosa? Obatnya disebutkan dalam ayat, وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (٣٢) “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain, (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 32). 4- Membicarakan fashion, tas, gamis, sepatu, jam tangan, sampai pakaian dalam.   Obrolan ini bisa jadi di dunia nyata sampai pada dunia whatsapan. Bahkan ada ibu-ibu yang join dengan group atau memfollow beberapa butik ternama, untuk sekedar update model gamis mana yang terbaru. Kalau beli sewajarnya saja tidak masalah. Namun kalau sudah berlebihan itulah yang tercela. Apalagi bagi wanita itu hanya untuk bergaya dan tampil cantik.   Nasihat kami … – Cobalah memiliki sifat NARIMO ING PANDUM, alias qona’ah (merasa cukup dengan apa yang Allah beri), tak banyak lirik-lirik rumput tetangga, banyak lihat yang di bawah yang lebih derita daripada terus memandang yang di atas dalam hal dunia, apalagi kalau kita sendiri orang yang tidak berkemampuan. – Jangan terlalu ikut model kekinian, apalagi yang diikuti gaya-gaya artis atau tauladan yang tidak patut dicontoh. – Ingat pakaian wanita itu punya syarat-syarat yang tujuan ditetapkannya ini biar menyelamatkan wanita seperti hindari pakaian ketat dan tipis (kaasiyatun ‘aariyaat, berpakaian tetapi telanjang), hindari pakaian yang mengikuti model laki-laki, hindari pakaian yang hanya ingin bertujuan tampil cantik dan menawan, hingga pada menghindari minyak wangi saat keluar rumah.   5- Kalau sudah ngaji atau ngerti agama, akan menceritakan problema dakwah pada keluarga.   Ada yang suami belum shalat, ada anak yang malas bangun shubuh, ada anak puteri yang terlalu gaul dan tidak menjaga aurat. Ini perlu strategi dakwah untuk menyelesaikan masalah di atas. Solusi paling utama: sebagai ibu terus belajar, nasihati terus keluarga, nasihati dengan santun, nasihati dengan tunjukkan akhlak kita yang mulia, nasihati dengan sabar.   BIAR MAJELIS NGUMPUL JADI MANFAAT   1- Buat pengajian dengan mendatangkan ahli ilmu yang biasa mengkaji ilmu secara ilmiah, bukan ustadz pelawak atau sekedar ustadz tenar. Lebih-lebih kalau bisa mengkaji ilmunya secara ta’shilii, lebih berjenjang. 2- Kaji Al-Quran dan saling membetulkan bacaannya, bisa juga sampai menghafalkannya. Kan lumayan kalau ibu-ibu punya hafalan Quran dua atau tiga juz. 3- Kalau lagi ngumpul, saling ingatkan (muroja’ah dan mudzakarah) mengenai pelajaran yang pernah dikaji. 4- Kalau punya waktu luang banyak baca buku atau isi waktu lainnya dengan ibadab sehingga terjauhkan dari hal-hal yang sia-sia. 5- Manfaatkan gadget kita untuk hal yang manfaat, bergabung dengan group atau channel yang bermanfaat sehingga bisa mendapatkan ilmu dari ulama dan para ustadz. 6- Hindari majelis ghibah dan kumpul dengan orang-orang shalih karena sifat sahabat biasa menarik kita, sebagaimana kata pepatah Arab “ash-shohibu saahibun.” Kalau kita berteman dengan orang shalih dan semangat ibadah, maka kita juga akan ikut baik.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Selengkapnya di sini untuk mendapatkan teman yang baik.   NASIHAT UNTUK EMAK-EMAK   1- Banyak doakan untuk kebaikan diri, suami dan anak-anak. 2- Jadi istri yang taat pada suami, tunjukkan selalu akhlak yang mulia. Dalam hadits disebutkan, إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ “Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, وليس على المرأة بعد حق الله ورسوله أوجب من حق الزوج “Tidak ada hak yang lebih wajib untuk ditunaikan seorang wanita –setelah hak Allah dan Rasul-Nya- daripada hak suami” (Majmu’ Al Fatawa, 32: 260) Selengkapnya baca di sini tentang kewajiban istri. 3- Jadi istri yang taat ibadah dan rajin pula beribadah sunnah.   Moga Allah beri taufik dan hidayah. — @ Wings Air to Surabaya, Jumat pagi, 20 Jumadal Ula 1438 H (17-02-2017) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagscurhat Masalah keluarga suami istri

5 Obrolan Ibu-Ibu Ketika Ngumpul

Kalau lagi ngumpul-ngumpul, atau sedang curhat dengan ibu-ibu lainnya, biasa curhatan atau obrolan ibu-ibu seputar ini:   1- Gosipin tetangga   Padahal gosip seperti ini jika yang dibicarakan adalah perihal aib atau hal-hal yang tidak disukai oleh tetangga kita kalau itu tersebar, maka termasuk dalam GHIBAH. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam GHIBAH adalah dzikruka akhoka bi maa yakroh. Dan ingat gosip juga bisa jadi FITNAH (berita yang tidak benar). Jadinya hancurlah kehormatan orang lain. Lihatlah hadits berikut. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ » Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim, no. 2589). Dalam Al Adzkar (hlm. 597), Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan, “Ghibah adalah sesuatu yang amat jelek, namun tersebar dikhalayak ramai. Yang bisa selamat dari tergelincirnya lisan seperti ini hanyalah sedikit. Ghibah memang membicarakan sesuatu yang ada pada orang lain, namun yang diceritakan adalah sesuatu yang ia tidak suka untuk diperdengarkan pada orang lain. Sesuatu yang diceritakan bisa jadi pada badan, agama, dunia, diri, akhlak, bentuk fisik, harta, anak, orang tua, istri, pembantu, budak, pakaian, cara jalan, gerak-gerik, wajah berseri, kebodohan, wajah cemberutnya, kefasihan lidah, atau segala hal yang berkaitan dengannya. Cara ghibah bisa jadi melakui lisan, tulisan, isyarat, atau bermain isyarat dengan mata, tangan, kepala atau semisal itu.” Termasuk jika yang digosipin adalah suami sendiri. Kecuali jika ada hajat meminta nasihat seperti seorang sahabat wanita yang menceritakan aib suaminya yang SUPER PELIT sampai nafkah pada istrinya kurang. Kalau meminta nasihat pada orang berilmu untuk menanyakan solusi, boleh. Namun baiknya pertanyaan dibuat dengan kalimat yang seakan-akan bukan suaminya yang berbuat agar tetap bisa menjaga kehormatan suami. Coba lihat kisah Hindun berikut. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Hindun binti ‘Utbah, istri dari Abu Sufyan, telah datang berjumpa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan itu orang yang sangat pelit. Ia tidak memberi kepadaku nafkah yang mencukupi dan mencukupi anak-anakku sehingga membuatku mengambil hartanya tanpa sepengetahuannya. Apakah berdosa jika aku melakukan seperti itu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خُذِى مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ وَيَكْفِى بَنِيكِ “Ambillah dari hartanya apa yang mencukupi anak-anakmu dengan cara yang patut.” (HR. Bukhari, no. 5364; Muslim, no. 1714) Baca selengkapnya kisahnya di sini.   2- Curhat tentang keadaan suami masing-masing   Ada pasti yang menceritakan kebaikan suami dan ada yang menceritakan kejelekan suami. Seperti kisah sebelas wanita yang saling curhat tentang suaminya … عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ جَلَسَ إِحْدَى عَشْرَةَ امْرَأَةً فَتَعَاهَدْنَ وَتَعَاقَدْنَ أَنْ لاَ يَكْتُمْنَ مِنْ أَخْبَارِ أَزْوَاجِهِنَّ شَيْئًا Sebelas orang wanita berkumpul lalu mereka berjanji dan bersepakat untuk tidak menyembunyikan sedikit pun cerita tentang suami mereka. Kisah lengkapnya di sini. Yang suami bisa ambil pelajaran bahwa ia baiknya jadi pendengar setia ketika istrinya ingin curhat atau menceritakan kejadian yang ia alami atau ia dengar walaupun mungkin ia tidak tertarik. Sudahlah mendengar saja, walau ada suami yang mendengar sampai ngantuk dan akhirnya tertidur.   3- Gunjing tetangga karena hasad   Hasad adalah sekedar membenci nikmat yang ada pada orang lain itu hilang. Inilah yang jadi qoul (pendapat) dari Ibnu Taimiyah. Beliau menyatakan, الْحَسَدَ هُوَ الْبُغْضُ وَالْكَرَاهَةُ لِمَا يَرَاهُ مِنْ حُسْنِ حَالِ الْمَحْسُودِ “Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad.” (Majmu’ Al-Fatawa, 10: 111). Sedangkan menurut jumhur (mayoritas) ulama, الحسد تمني زوال النعمة التي أنعم الله بها على المحسود ، Hasad adalah menginginkan nikmat yang Allah beri pada orang lain HILANG.   Contoh, tetangga baru saja ngeluarin mobil baru dari dealer. Terbetiklah dalam hati, walau tidak dinyatakan, “Hmmm, moga mobilnya cepat rusak.”   Perlu pahami, ada beberapa tingkatan hasad: • Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang meski tidak berpindah padanya. Orang yang hasad lebih punya keinginan besar nikmat orang lain itu hilang, bukan bermaksud nikmat tersebut berpindah padanya. • Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang lalu berkeinginan nikmat tersebut berpindah padanya. Misalnya, ada wanita cantik yang sudah menjadi istri orang lain, ia punya hasad seandainya suaminya mati atau ia ditalak, lalu ingin menikahinya. Atau bisa jadi pula ada yang punya kekuasaan atau pemerintahan yang besar, ia sangat berharap seandainya raja atau penguasa tersebut mati saja biar kekuasaan tersebut berpindah padanya. • Tidak punya maksud pada nikmat orang lain, namun ia ingin orang lain tetap dalam keadaannya yang miskin dan bodoh. Hasad seperti ini membuat seseorang akan mudah merendahkan dan meremehkan orang lain. • Tidak menginginkan nikmat orang lain hilang, namun ia ingin orang lain tetap sama dengannya. Jika keadaan orang lain lebih dari dirinya, barulah ia hasad dengan menginginkan nikmat orang lain hilang sehingga tetap sama dengannya. Yang tercela adalah keadaan kedua ketika menginginkan nikmat saudaranya itu hilang. • Menginginkan sama dengan orang lain tanpa menginginkan nikmat orang lain hilang. Inilah yang disebut dengan ghibthoh sebagaimana terdapat dalam hadits berikut. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا “Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816) Baca selengkapnya tentang tingkatan hasad di sini.   Lalu adakah obat hasad yang dinilai dosa? Obatnya disebutkan dalam ayat, وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (٣٢) “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain, (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 32). 4- Membicarakan fashion, tas, gamis, sepatu, jam tangan, sampai pakaian dalam.   Obrolan ini bisa jadi di dunia nyata sampai pada dunia whatsapan. Bahkan ada ibu-ibu yang join dengan group atau memfollow beberapa butik ternama, untuk sekedar update model gamis mana yang terbaru. Kalau beli sewajarnya saja tidak masalah. Namun kalau sudah berlebihan itulah yang tercela. Apalagi bagi wanita itu hanya untuk bergaya dan tampil cantik.   Nasihat kami … – Cobalah memiliki sifat NARIMO ING PANDUM, alias qona’ah (merasa cukup dengan apa yang Allah beri), tak banyak lirik-lirik rumput tetangga, banyak lihat yang di bawah yang lebih derita daripada terus memandang yang di atas dalam hal dunia, apalagi kalau kita sendiri orang yang tidak berkemampuan. – Jangan terlalu ikut model kekinian, apalagi yang diikuti gaya-gaya artis atau tauladan yang tidak patut dicontoh. – Ingat pakaian wanita itu punya syarat-syarat yang tujuan ditetapkannya ini biar menyelamatkan wanita seperti hindari pakaian ketat dan tipis (kaasiyatun ‘aariyaat, berpakaian tetapi telanjang), hindari pakaian yang mengikuti model laki-laki, hindari pakaian yang hanya ingin bertujuan tampil cantik dan menawan, hingga pada menghindari minyak wangi saat keluar rumah.   5- Kalau sudah ngaji atau ngerti agama, akan menceritakan problema dakwah pada keluarga.   Ada yang suami belum shalat, ada anak yang malas bangun shubuh, ada anak puteri yang terlalu gaul dan tidak menjaga aurat. Ini perlu strategi dakwah untuk menyelesaikan masalah di atas. Solusi paling utama: sebagai ibu terus belajar, nasihati terus keluarga, nasihati dengan santun, nasihati dengan tunjukkan akhlak kita yang mulia, nasihati dengan sabar.   BIAR MAJELIS NGUMPUL JADI MANFAAT   1- Buat pengajian dengan mendatangkan ahli ilmu yang biasa mengkaji ilmu secara ilmiah, bukan ustadz pelawak atau sekedar ustadz tenar. Lebih-lebih kalau bisa mengkaji ilmunya secara ta’shilii, lebih berjenjang. 2- Kaji Al-Quran dan saling membetulkan bacaannya, bisa juga sampai menghafalkannya. Kan lumayan kalau ibu-ibu punya hafalan Quran dua atau tiga juz. 3- Kalau lagi ngumpul, saling ingatkan (muroja’ah dan mudzakarah) mengenai pelajaran yang pernah dikaji. 4- Kalau punya waktu luang banyak baca buku atau isi waktu lainnya dengan ibadab sehingga terjauhkan dari hal-hal yang sia-sia. 5- Manfaatkan gadget kita untuk hal yang manfaat, bergabung dengan group atau channel yang bermanfaat sehingga bisa mendapatkan ilmu dari ulama dan para ustadz. 6- Hindari majelis ghibah dan kumpul dengan orang-orang shalih karena sifat sahabat biasa menarik kita, sebagaimana kata pepatah Arab “ash-shohibu saahibun.” Kalau kita berteman dengan orang shalih dan semangat ibadah, maka kita juga akan ikut baik.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Selengkapnya di sini untuk mendapatkan teman yang baik.   NASIHAT UNTUK EMAK-EMAK   1- Banyak doakan untuk kebaikan diri, suami dan anak-anak. 2- Jadi istri yang taat pada suami, tunjukkan selalu akhlak yang mulia. Dalam hadits disebutkan, إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ “Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, وليس على المرأة بعد حق الله ورسوله أوجب من حق الزوج “Tidak ada hak yang lebih wajib untuk ditunaikan seorang wanita –setelah hak Allah dan Rasul-Nya- daripada hak suami” (Majmu’ Al Fatawa, 32: 260) Selengkapnya baca di sini tentang kewajiban istri. 3- Jadi istri yang taat ibadah dan rajin pula beribadah sunnah.   Moga Allah beri taufik dan hidayah. — @ Wings Air to Surabaya, Jumat pagi, 20 Jumadal Ula 1438 H (17-02-2017) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagscurhat Masalah keluarga suami istri
Kalau lagi ngumpul-ngumpul, atau sedang curhat dengan ibu-ibu lainnya, biasa curhatan atau obrolan ibu-ibu seputar ini:   1- Gosipin tetangga   Padahal gosip seperti ini jika yang dibicarakan adalah perihal aib atau hal-hal yang tidak disukai oleh tetangga kita kalau itu tersebar, maka termasuk dalam GHIBAH. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam GHIBAH adalah dzikruka akhoka bi maa yakroh. Dan ingat gosip juga bisa jadi FITNAH (berita yang tidak benar). Jadinya hancurlah kehormatan orang lain. Lihatlah hadits berikut. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ » Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim, no. 2589). Dalam Al Adzkar (hlm. 597), Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan, “Ghibah adalah sesuatu yang amat jelek, namun tersebar dikhalayak ramai. Yang bisa selamat dari tergelincirnya lisan seperti ini hanyalah sedikit. Ghibah memang membicarakan sesuatu yang ada pada orang lain, namun yang diceritakan adalah sesuatu yang ia tidak suka untuk diperdengarkan pada orang lain. Sesuatu yang diceritakan bisa jadi pada badan, agama, dunia, diri, akhlak, bentuk fisik, harta, anak, orang tua, istri, pembantu, budak, pakaian, cara jalan, gerak-gerik, wajah berseri, kebodohan, wajah cemberutnya, kefasihan lidah, atau segala hal yang berkaitan dengannya. Cara ghibah bisa jadi melakui lisan, tulisan, isyarat, atau bermain isyarat dengan mata, tangan, kepala atau semisal itu.” Termasuk jika yang digosipin adalah suami sendiri. Kecuali jika ada hajat meminta nasihat seperti seorang sahabat wanita yang menceritakan aib suaminya yang SUPER PELIT sampai nafkah pada istrinya kurang. Kalau meminta nasihat pada orang berilmu untuk menanyakan solusi, boleh. Namun baiknya pertanyaan dibuat dengan kalimat yang seakan-akan bukan suaminya yang berbuat agar tetap bisa menjaga kehormatan suami. Coba lihat kisah Hindun berikut. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Hindun binti ‘Utbah, istri dari Abu Sufyan, telah datang berjumpa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan itu orang yang sangat pelit. Ia tidak memberi kepadaku nafkah yang mencukupi dan mencukupi anak-anakku sehingga membuatku mengambil hartanya tanpa sepengetahuannya. Apakah berdosa jika aku melakukan seperti itu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خُذِى مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ وَيَكْفِى بَنِيكِ “Ambillah dari hartanya apa yang mencukupi anak-anakmu dengan cara yang patut.” (HR. Bukhari, no. 5364; Muslim, no. 1714) Baca selengkapnya kisahnya di sini.   2- Curhat tentang keadaan suami masing-masing   Ada pasti yang menceritakan kebaikan suami dan ada yang menceritakan kejelekan suami. Seperti kisah sebelas wanita yang saling curhat tentang suaminya … عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ جَلَسَ إِحْدَى عَشْرَةَ امْرَأَةً فَتَعَاهَدْنَ وَتَعَاقَدْنَ أَنْ لاَ يَكْتُمْنَ مِنْ أَخْبَارِ أَزْوَاجِهِنَّ شَيْئًا Sebelas orang wanita berkumpul lalu mereka berjanji dan bersepakat untuk tidak menyembunyikan sedikit pun cerita tentang suami mereka. Kisah lengkapnya di sini. Yang suami bisa ambil pelajaran bahwa ia baiknya jadi pendengar setia ketika istrinya ingin curhat atau menceritakan kejadian yang ia alami atau ia dengar walaupun mungkin ia tidak tertarik. Sudahlah mendengar saja, walau ada suami yang mendengar sampai ngantuk dan akhirnya tertidur.   3- Gunjing tetangga karena hasad   Hasad adalah sekedar membenci nikmat yang ada pada orang lain itu hilang. Inilah yang jadi qoul (pendapat) dari Ibnu Taimiyah. Beliau menyatakan, الْحَسَدَ هُوَ الْبُغْضُ وَالْكَرَاهَةُ لِمَا يَرَاهُ مِنْ حُسْنِ حَالِ الْمَحْسُودِ “Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad.” (Majmu’ Al-Fatawa, 10: 111). Sedangkan menurut jumhur (mayoritas) ulama, الحسد تمني زوال النعمة التي أنعم الله بها على المحسود ، Hasad adalah menginginkan nikmat yang Allah beri pada orang lain HILANG.   Contoh, tetangga baru saja ngeluarin mobil baru dari dealer. Terbetiklah dalam hati, walau tidak dinyatakan, “Hmmm, moga mobilnya cepat rusak.”   Perlu pahami, ada beberapa tingkatan hasad: • Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang meski tidak berpindah padanya. Orang yang hasad lebih punya keinginan besar nikmat orang lain itu hilang, bukan bermaksud nikmat tersebut berpindah padanya. • Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang lalu berkeinginan nikmat tersebut berpindah padanya. Misalnya, ada wanita cantik yang sudah menjadi istri orang lain, ia punya hasad seandainya suaminya mati atau ia ditalak, lalu ingin menikahinya. Atau bisa jadi pula ada yang punya kekuasaan atau pemerintahan yang besar, ia sangat berharap seandainya raja atau penguasa tersebut mati saja biar kekuasaan tersebut berpindah padanya. • Tidak punya maksud pada nikmat orang lain, namun ia ingin orang lain tetap dalam keadaannya yang miskin dan bodoh. Hasad seperti ini membuat seseorang akan mudah merendahkan dan meremehkan orang lain. • Tidak menginginkan nikmat orang lain hilang, namun ia ingin orang lain tetap sama dengannya. Jika keadaan orang lain lebih dari dirinya, barulah ia hasad dengan menginginkan nikmat orang lain hilang sehingga tetap sama dengannya. Yang tercela adalah keadaan kedua ketika menginginkan nikmat saudaranya itu hilang. • Menginginkan sama dengan orang lain tanpa menginginkan nikmat orang lain hilang. Inilah yang disebut dengan ghibthoh sebagaimana terdapat dalam hadits berikut. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا “Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816) Baca selengkapnya tentang tingkatan hasad di sini.   Lalu adakah obat hasad yang dinilai dosa? Obatnya disebutkan dalam ayat, وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (٣٢) “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain, (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 32). 4- Membicarakan fashion, tas, gamis, sepatu, jam tangan, sampai pakaian dalam.   Obrolan ini bisa jadi di dunia nyata sampai pada dunia whatsapan. Bahkan ada ibu-ibu yang join dengan group atau memfollow beberapa butik ternama, untuk sekedar update model gamis mana yang terbaru. Kalau beli sewajarnya saja tidak masalah. Namun kalau sudah berlebihan itulah yang tercela. Apalagi bagi wanita itu hanya untuk bergaya dan tampil cantik.   Nasihat kami … – Cobalah memiliki sifat NARIMO ING PANDUM, alias qona’ah (merasa cukup dengan apa yang Allah beri), tak banyak lirik-lirik rumput tetangga, banyak lihat yang di bawah yang lebih derita daripada terus memandang yang di atas dalam hal dunia, apalagi kalau kita sendiri orang yang tidak berkemampuan. – Jangan terlalu ikut model kekinian, apalagi yang diikuti gaya-gaya artis atau tauladan yang tidak patut dicontoh. – Ingat pakaian wanita itu punya syarat-syarat yang tujuan ditetapkannya ini biar menyelamatkan wanita seperti hindari pakaian ketat dan tipis (kaasiyatun ‘aariyaat, berpakaian tetapi telanjang), hindari pakaian yang mengikuti model laki-laki, hindari pakaian yang hanya ingin bertujuan tampil cantik dan menawan, hingga pada menghindari minyak wangi saat keluar rumah.   5- Kalau sudah ngaji atau ngerti agama, akan menceritakan problema dakwah pada keluarga.   Ada yang suami belum shalat, ada anak yang malas bangun shubuh, ada anak puteri yang terlalu gaul dan tidak menjaga aurat. Ini perlu strategi dakwah untuk menyelesaikan masalah di atas. Solusi paling utama: sebagai ibu terus belajar, nasihati terus keluarga, nasihati dengan santun, nasihati dengan tunjukkan akhlak kita yang mulia, nasihati dengan sabar.   BIAR MAJELIS NGUMPUL JADI MANFAAT   1- Buat pengajian dengan mendatangkan ahli ilmu yang biasa mengkaji ilmu secara ilmiah, bukan ustadz pelawak atau sekedar ustadz tenar. Lebih-lebih kalau bisa mengkaji ilmunya secara ta’shilii, lebih berjenjang. 2- Kaji Al-Quran dan saling membetulkan bacaannya, bisa juga sampai menghafalkannya. Kan lumayan kalau ibu-ibu punya hafalan Quran dua atau tiga juz. 3- Kalau lagi ngumpul, saling ingatkan (muroja’ah dan mudzakarah) mengenai pelajaran yang pernah dikaji. 4- Kalau punya waktu luang banyak baca buku atau isi waktu lainnya dengan ibadab sehingga terjauhkan dari hal-hal yang sia-sia. 5- Manfaatkan gadget kita untuk hal yang manfaat, bergabung dengan group atau channel yang bermanfaat sehingga bisa mendapatkan ilmu dari ulama dan para ustadz. 6- Hindari majelis ghibah dan kumpul dengan orang-orang shalih karena sifat sahabat biasa menarik kita, sebagaimana kata pepatah Arab “ash-shohibu saahibun.” Kalau kita berteman dengan orang shalih dan semangat ibadah, maka kita juga akan ikut baik.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Selengkapnya di sini untuk mendapatkan teman yang baik.   NASIHAT UNTUK EMAK-EMAK   1- Banyak doakan untuk kebaikan diri, suami dan anak-anak. 2- Jadi istri yang taat pada suami, tunjukkan selalu akhlak yang mulia. Dalam hadits disebutkan, إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ “Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, وليس على المرأة بعد حق الله ورسوله أوجب من حق الزوج “Tidak ada hak yang lebih wajib untuk ditunaikan seorang wanita –setelah hak Allah dan Rasul-Nya- daripada hak suami” (Majmu’ Al Fatawa, 32: 260) Selengkapnya baca di sini tentang kewajiban istri. 3- Jadi istri yang taat ibadah dan rajin pula beribadah sunnah.   Moga Allah beri taufik dan hidayah. — @ Wings Air to Surabaya, Jumat pagi, 20 Jumadal Ula 1438 H (17-02-2017) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagscurhat Masalah keluarga suami istri


Kalau lagi ngumpul-ngumpul, atau sedang curhat dengan ibu-ibu lainnya, biasa curhatan atau obrolan ibu-ibu seputar ini:   1- Gosipin tetangga   Padahal gosip seperti ini jika yang dibicarakan adalah perihal aib atau hal-hal yang tidak disukai oleh tetangga kita kalau itu tersebar, maka termasuk dalam GHIBAH. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam GHIBAH adalah dzikruka akhoka bi maa yakroh. Dan ingat gosip juga bisa jadi FITNAH (berita yang tidak benar). Jadinya hancurlah kehormatan orang lain. Lihatlah hadits berikut. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ » Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim, no. 2589). Dalam Al Adzkar (hlm. 597), Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan, “Ghibah adalah sesuatu yang amat jelek, namun tersebar dikhalayak ramai. Yang bisa selamat dari tergelincirnya lisan seperti ini hanyalah sedikit. Ghibah memang membicarakan sesuatu yang ada pada orang lain, namun yang diceritakan adalah sesuatu yang ia tidak suka untuk diperdengarkan pada orang lain. Sesuatu yang diceritakan bisa jadi pada badan, agama, dunia, diri, akhlak, bentuk fisik, harta, anak, orang tua, istri, pembantu, budak, pakaian, cara jalan, gerak-gerik, wajah berseri, kebodohan, wajah cemberutnya, kefasihan lidah, atau segala hal yang berkaitan dengannya. Cara ghibah bisa jadi melakui lisan, tulisan, isyarat, atau bermain isyarat dengan mata, tangan, kepala atau semisal itu.” Termasuk jika yang digosipin adalah suami sendiri. Kecuali jika ada hajat meminta nasihat seperti seorang sahabat wanita yang menceritakan aib suaminya yang SUPER PELIT sampai nafkah pada istrinya kurang. Kalau meminta nasihat pada orang berilmu untuk menanyakan solusi, boleh. Namun baiknya pertanyaan dibuat dengan kalimat yang seakan-akan bukan suaminya yang berbuat agar tetap bisa menjaga kehormatan suami. Coba lihat kisah Hindun berikut. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Hindun binti ‘Utbah, istri dari Abu Sufyan, telah datang berjumpa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan itu orang yang sangat pelit. Ia tidak memberi kepadaku nafkah yang mencukupi dan mencukupi anak-anakku sehingga membuatku mengambil hartanya tanpa sepengetahuannya. Apakah berdosa jika aku melakukan seperti itu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, خُذِى مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ وَيَكْفِى بَنِيكِ “Ambillah dari hartanya apa yang mencukupi anak-anakmu dengan cara yang patut.” (HR. Bukhari, no. 5364; Muslim, no. 1714) Baca selengkapnya kisahnya di sini.   2- Curhat tentang keadaan suami masing-masing   Ada pasti yang menceritakan kebaikan suami dan ada yang menceritakan kejelekan suami. Seperti kisah sebelas wanita yang saling curhat tentang suaminya … عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ جَلَسَ إِحْدَى عَشْرَةَ امْرَأَةً فَتَعَاهَدْنَ وَتَعَاقَدْنَ أَنْ لاَ يَكْتُمْنَ مِنْ أَخْبَارِ أَزْوَاجِهِنَّ شَيْئًا Sebelas orang wanita berkumpul lalu mereka berjanji dan bersepakat untuk tidak menyembunyikan sedikit pun cerita tentang suami mereka. Kisah lengkapnya di sini. Yang suami bisa ambil pelajaran bahwa ia baiknya jadi pendengar setia ketika istrinya ingin curhat atau menceritakan kejadian yang ia alami atau ia dengar walaupun mungkin ia tidak tertarik. Sudahlah mendengar saja, walau ada suami yang mendengar sampai ngantuk dan akhirnya tertidur.   3- Gunjing tetangga karena hasad   Hasad adalah sekedar membenci nikmat yang ada pada orang lain itu hilang. Inilah yang jadi qoul (pendapat) dari Ibnu Taimiyah. Beliau menyatakan, الْحَسَدَ هُوَ الْبُغْضُ وَالْكَرَاهَةُ لِمَا يَرَاهُ مِنْ حُسْنِ حَالِ الْمَحْسُودِ “Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad.” (Majmu’ Al-Fatawa, 10: 111). Sedangkan menurut jumhur (mayoritas) ulama, الحسد تمني زوال النعمة التي أنعم الله بها على المحسود ، Hasad adalah menginginkan nikmat yang Allah beri pada orang lain HILANG.   Contoh, tetangga baru saja ngeluarin mobil baru dari dealer. Terbetiklah dalam hati, walau tidak dinyatakan, “Hmmm, moga mobilnya cepat rusak.”   Perlu pahami, ada beberapa tingkatan hasad: • Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang meski tidak berpindah padanya. Orang yang hasad lebih punya keinginan besar nikmat orang lain itu hilang, bukan bermaksud nikmat tersebut berpindah padanya. • Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang lalu berkeinginan nikmat tersebut berpindah padanya. Misalnya, ada wanita cantik yang sudah menjadi istri orang lain, ia punya hasad seandainya suaminya mati atau ia ditalak, lalu ingin menikahinya. Atau bisa jadi pula ada yang punya kekuasaan atau pemerintahan yang besar, ia sangat berharap seandainya raja atau penguasa tersebut mati saja biar kekuasaan tersebut berpindah padanya. • Tidak punya maksud pada nikmat orang lain, namun ia ingin orang lain tetap dalam keadaannya yang miskin dan bodoh. Hasad seperti ini membuat seseorang akan mudah merendahkan dan meremehkan orang lain. • Tidak menginginkan nikmat orang lain hilang, namun ia ingin orang lain tetap sama dengannya. Jika keadaan orang lain lebih dari dirinya, barulah ia hasad dengan menginginkan nikmat orang lain hilang sehingga tetap sama dengannya. Yang tercela adalah keadaan kedua ketika menginginkan nikmat saudaranya itu hilang. • Menginginkan sama dengan orang lain tanpa menginginkan nikmat orang lain hilang. Inilah yang disebut dengan ghibthoh sebagaimana terdapat dalam hadits berikut. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا “Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816) Baca selengkapnya tentang tingkatan hasad di sini.   Lalu adakah obat hasad yang dinilai dosa? Obatnya disebutkan dalam ayat, وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (٣٢) “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain, (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 32). 4- Membicarakan fashion, tas, gamis, sepatu, jam tangan, sampai pakaian dalam.   Obrolan ini bisa jadi di dunia nyata sampai pada dunia whatsapan. Bahkan ada ibu-ibu yang join dengan group atau memfollow beberapa butik ternama, untuk sekedar update model gamis mana yang terbaru. Kalau beli sewajarnya saja tidak masalah. Namun kalau sudah berlebihan itulah yang tercela. Apalagi bagi wanita itu hanya untuk bergaya dan tampil cantik.   Nasihat kami … – Cobalah memiliki sifat NARIMO ING PANDUM, alias qona’ah (merasa cukup dengan apa yang Allah beri), tak banyak lirik-lirik rumput tetangga, banyak lihat yang di bawah yang lebih derita daripada terus memandang yang di atas dalam hal dunia, apalagi kalau kita sendiri orang yang tidak berkemampuan. – Jangan terlalu ikut model kekinian, apalagi yang diikuti gaya-gaya artis atau tauladan yang tidak patut dicontoh. – Ingat pakaian wanita itu punya syarat-syarat yang tujuan ditetapkannya ini biar menyelamatkan wanita seperti hindari pakaian ketat dan tipis (kaasiyatun ‘aariyaat, berpakaian tetapi telanjang), hindari pakaian yang mengikuti model laki-laki, hindari pakaian yang hanya ingin bertujuan tampil cantik dan menawan, hingga pada menghindari minyak wangi saat keluar rumah.   5- Kalau sudah ngaji atau ngerti agama, akan menceritakan problema dakwah pada keluarga.   Ada yang suami belum shalat, ada anak yang malas bangun shubuh, ada anak puteri yang terlalu gaul dan tidak menjaga aurat. Ini perlu strategi dakwah untuk menyelesaikan masalah di atas. Solusi paling utama: sebagai ibu terus belajar, nasihati terus keluarga, nasihati dengan santun, nasihati dengan tunjukkan akhlak kita yang mulia, nasihati dengan sabar.   BIAR MAJELIS NGUMPUL JADI MANFAAT   1- Buat pengajian dengan mendatangkan ahli ilmu yang biasa mengkaji ilmu secara ilmiah, bukan ustadz pelawak atau sekedar ustadz tenar. Lebih-lebih kalau bisa mengkaji ilmunya secara ta’shilii, lebih berjenjang. 2- Kaji Al-Quran dan saling membetulkan bacaannya, bisa juga sampai menghafalkannya. Kan lumayan kalau ibu-ibu punya hafalan Quran dua atau tiga juz. 3- Kalau lagi ngumpul, saling ingatkan (muroja’ah dan mudzakarah) mengenai pelajaran yang pernah dikaji. 4- Kalau punya waktu luang banyak baca buku atau isi waktu lainnya dengan ibadab sehingga terjauhkan dari hal-hal yang sia-sia. 5- Manfaatkan gadget kita untuk hal yang manfaat, bergabung dengan group atau channel yang bermanfaat sehingga bisa mendapatkan ilmu dari ulama dan para ustadz. 6- Hindari majelis ghibah dan kumpul dengan orang-orang shalih karena sifat sahabat biasa menarik kita, sebagaimana kata pepatah Arab “ash-shohibu saahibun.” Kalau kita berteman dengan orang shalih dan semangat ibadah, maka kita juga akan ikut baik.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih) Selengkapnya di sini untuk mendapatkan teman yang baik.   NASIHAT UNTUK EMAK-EMAK   1- Banyak doakan untuk kebaikan diri, suami dan anak-anak. 2- Jadi istri yang taat pada suami, tunjukkan selalu akhlak yang mulia. Dalam hadits disebutkan, إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ “Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, وليس على المرأة بعد حق الله ورسوله أوجب من حق الزوج “Tidak ada hak yang lebih wajib untuk ditunaikan seorang wanita –setelah hak Allah dan Rasul-Nya- daripada hak suami” (Majmu’ Al Fatawa, 32: 260) Selengkapnya baca di sini tentang kewajiban istri. 3- Jadi istri yang taat ibadah dan rajin pula beribadah sunnah.   Moga Allah beri taufik dan hidayah. — @ Wings Air to Surabaya, Jumat pagi, 20 Jumadal Ula 1438 H (17-02-2017) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagscurhat Masalah keluarga suami istri

Khutbah Jumat: Kita akan Dipimpin oleh yang Semisal Kita

Benarkah kita akan dipimpin oleh yang semisal kita?   Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat. Nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan islam yang Allah anugerahkan. Begitu pula Allah masih menjaga diri kita, istri dan anak kita dari musibah yang menimpa agama. Kita memohon pada Allah supaya nikmat-nikmat tersebut tetap terus terjaga. Moga kita dapat mensyukuri nikmat yang ada tadi dengan terus meningkatkan ketakwaan pada Allah.   Allah Ta’ala memerintah untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)   Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah shalat jumat rahimani wa rahimakumullah …   Pemilihan pemimpin di beberapa propinsi, kabupaten dan kota yang baru-baru ini diadakan, sebenarnya bisa kita ambil beberapa hikmah dan pelajaran. Di antaranya, kita bisa tahu bagaimanakah keadaan umat Islam saat ini. Ada yang berilmu dan paham akan akidah, sehingga daerahnya memiliki pemimpin yang baik dan seorang muslim. Sebaliknya ada yang butuh pembinaan sehingga daerahnya memiliki pemimpin yang tidak baik dari sisi akhlak, bahkan yang terpilih non-muslim. Ini tanda bahwa pemimpin itu cerminan dari rakyatnya. Coba lihat dari beberapa dalil berikut.   Dalil pertama, وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allâh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu.” (QS. Asy-Syura: 30] Kezhaliman seorang pemimpin adalah musibah yang mengancam umat. Allah sudah memberitahukan bahwa penyebab musibah tersebut adalah kesalahan umat.   Dalil kedua, وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al-An’am: 129)   Dalil ketiga, Muhammad Haqqi saat menafsirkan makna firman Allâh di bawah ini : قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ Katakanlah, “Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Ali ‘Imran: 26) Kandungan ayat ini adalah “Jika kalian adalah orang-orang yang taat dan patuh niscaya Allâh Azza wa Jalla akan menjadikan orang yang penuh kasih sayang sebagai pemimpin kalian. Namun jika kalian pelaku kemaksiatan, niscaya Allâh akan menjadi orang jahat sebagai penguasa kalian.”   Dalil keempat, Qatadah rahimahullah berkata, “Dahulu Bani Israil pernah mengatakan, ‘Wahai Tuhan kami! Engkau di langit sementara kami di bumi, lalu bagaimana kami dapat mengetahui ridha dan murka-Mu?’ Lalu Allâh Azza wa Jalla mengilhamkan kepada sebagian para Nabi-Nya “Kalau Aku angkat orang-orang baik sebagai pemimpin kalian, berarti Aku ridha kepada kalian. Kalau Aku angkat orang-orang jahat sebagai pemimpin kalian, berarti Aku murka kepada kalian.’   Dalil kelima, Dalil lain adalah kisah perjalanan hidup Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memfokuskan diri untuk mendakwahi masyarakat umum, tidak fokus pada jajaran konglomerat, pejabat, penguasa serta tokoh masyarakat. Cara dakwah semacam inilah yang merupakan metode berdakwahnya para Nabi.   Ada perkataan yang sudah masyhur pula walau berasal dari hadits dho’if, كما تكونوا يول عليكم “Bagaimana keadaanmu, itulah juga keadaan orang yang memimpinmu.”   Kalau kita tahu demikian, tugas kita sebagai rakyat haruskah bagaimana menghadapi situasi politik yang mencengangkan saat ini?   Pertama, giatkan terus majelis ilmu, karena umat Islam akan semakin jaya dengan majelis ilmu dan dakwah. Kedua, perbaiki akidah umat. Karena dakwah seperti inilah yang lebih maslahat yang akan memperbaiki akidah umat sehingga Islam bisa jaya. Allah Ta’ala berfirman, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah seluruh rasul adalah dakwah tauhid. Kalau kita tempuh dakwah ini, itulah jalan keselamatan dan jalan terbaik yang kita tempuh.   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada kita semua. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Yang ketiga, patut diingat adalah dakwah dengan akhlak. Karena dakwah seperti inilah yang lebih mengena dan akan lebih membuat tertarik non-Islam. إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan baiknya akhlaq.” (HR. Ahmad, 2: 381, shahih) Demikian khutbah kami untuk Jumat kali ini.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Naskah Khutbah Masjid Jami’ Makkah Surabaya, Jum’at Pon, 20 Jumadal Ula 1438 H (17 Februari 2017) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagspemilu pemimpin pilkada

Khutbah Jumat: Kita akan Dipimpin oleh yang Semisal Kita

Benarkah kita akan dipimpin oleh yang semisal kita?   Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat. Nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan islam yang Allah anugerahkan. Begitu pula Allah masih menjaga diri kita, istri dan anak kita dari musibah yang menimpa agama. Kita memohon pada Allah supaya nikmat-nikmat tersebut tetap terus terjaga. Moga kita dapat mensyukuri nikmat yang ada tadi dengan terus meningkatkan ketakwaan pada Allah.   Allah Ta’ala memerintah untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)   Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah shalat jumat rahimani wa rahimakumullah …   Pemilihan pemimpin di beberapa propinsi, kabupaten dan kota yang baru-baru ini diadakan, sebenarnya bisa kita ambil beberapa hikmah dan pelajaran. Di antaranya, kita bisa tahu bagaimanakah keadaan umat Islam saat ini. Ada yang berilmu dan paham akan akidah, sehingga daerahnya memiliki pemimpin yang baik dan seorang muslim. Sebaliknya ada yang butuh pembinaan sehingga daerahnya memiliki pemimpin yang tidak baik dari sisi akhlak, bahkan yang terpilih non-muslim. Ini tanda bahwa pemimpin itu cerminan dari rakyatnya. Coba lihat dari beberapa dalil berikut.   Dalil pertama, وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allâh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu.” (QS. Asy-Syura: 30] Kezhaliman seorang pemimpin adalah musibah yang mengancam umat. Allah sudah memberitahukan bahwa penyebab musibah tersebut adalah kesalahan umat.   Dalil kedua, وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al-An’am: 129)   Dalil ketiga, Muhammad Haqqi saat menafsirkan makna firman Allâh di bawah ini : قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ Katakanlah, “Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Ali ‘Imran: 26) Kandungan ayat ini adalah “Jika kalian adalah orang-orang yang taat dan patuh niscaya Allâh Azza wa Jalla akan menjadikan orang yang penuh kasih sayang sebagai pemimpin kalian. Namun jika kalian pelaku kemaksiatan, niscaya Allâh akan menjadi orang jahat sebagai penguasa kalian.”   Dalil keempat, Qatadah rahimahullah berkata, “Dahulu Bani Israil pernah mengatakan, ‘Wahai Tuhan kami! Engkau di langit sementara kami di bumi, lalu bagaimana kami dapat mengetahui ridha dan murka-Mu?’ Lalu Allâh Azza wa Jalla mengilhamkan kepada sebagian para Nabi-Nya “Kalau Aku angkat orang-orang baik sebagai pemimpin kalian, berarti Aku ridha kepada kalian. Kalau Aku angkat orang-orang jahat sebagai pemimpin kalian, berarti Aku murka kepada kalian.’   Dalil kelima, Dalil lain adalah kisah perjalanan hidup Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memfokuskan diri untuk mendakwahi masyarakat umum, tidak fokus pada jajaran konglomerat, pejabat, penguasa serta tokoh masyarakat. Cara dakwah semacam inilah yang merupakan metode berdakwahnya para Nabi.   Ada perkataan yang sudah masyhur pula walau berasal dari hadits dho’if, كما تكونوا يول عليكم “Bagaimana keadaanmu, itulah juga keadaan orang yang memimpinmu.”   Kalau kita tahu demikian, tugas kita sebagai rakyat haruskah bagaimana menghadapi situasi politik yang mencengangkan saat ini?   Pertama, giatkan terus majelis ilmu, karena umat Islam akan semakin jaya dengan majelis ilmu dan dakwah. Kedua, perbaiki akidah umat. Karena dakwah seperti inilah yang lebih maslahat yang akan memperbaiki akidah umat sehingga Islam bisa jaya. Allah Ta’ala berfirman, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah seluruh rasul adalah dakwah tauhid. Kalau kita tempuh dakwah ini, itulah jalan keselamatan dan jalan terbaik yang kita tempuh.   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada kita semua. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Yang ketiga, patut diingat adalah dakwah dengan akhlak. Karena dakwah seperti inilah yang lebih mengena dan akan lebih membuat tertarik non-Islam. إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan baiknya akhlaq.” (HR. Ahmad, 2: 381, shahih) Demikian khutbah kami untuk Jumat kali ini.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Naskah Khutbah Masjid Jami’ Makkah Surabaya, Jum’at Pon, 20 Jumadal Ula 1438 H (17 Februari 2017) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagspemilu pemimpin pilkada
Benarkah kita akan dipimpin oleh yang semisal kita?   Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat. Nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan islam yang Allah anugerahkan. Begitu pula Allah masih menjaga diri kita, istri dan anak kita dari musibah yang menimpa agama. Kita memohon pada Allah supaya nikmat-nikmat tersebut tetap terus terjaga. Moga kita dapat mensyukuri nikmat yang ada tadi dengan terus meningkatkan ketakwaan pada Allah.   Allah Ta’ala memerintah untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)   Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah shalat jumat rahimani wa rahimakumullah …   Pemilihan pemimpin di beberapa propinsi, kabupaten dan kota yang baru-baru ini diadakan, sebenarnya bisa kita ambil beberapa hikmah dan pelajaran. Di antaranya, kita bisa tahu bagaimanakah keadaan umat Islam saat ini. Ada yang berilmu dan paham akan akidah, sehingga daerahnya memiliki pemimpin yang baik dan seorang muslim. Sebaliknya ada yang butuh pembinaan sehingga daerahnya memiliki pemimpin yang tidak baik dari sisi akhlak, bahkan yang terpilih non-muslim. Ini tanda bahwa pemimpin itu cerminan dari rakyatnya. Coba lihat dari beberapa dalil berikut.   Dalil pertama, وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allâh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu.” (QS. Asy-Syura: 30] Kezhaliman seorang pemimpin adalah musibah yang mengancam umat. Allah sudah memberitahukan bahwa penyebab musibah tersebut adalah kesalahan umat.   Dalil kedua, وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al-An’am: 129)   Dalil ketiga, Muhammad Haqqi saat menafsirkan makna firman Allâh di bawah ini : قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ Katakanlah, “Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Ali ‘Imran: 26) Kandungan ayat ini adalah “Jika kalian adalah orang-orang yang taat dan patuh niscaya Allâh Azza wa Jalla akan menjadikan orang yang penuh kasih sayang sebagai pemimpin kalian. Namun jika kalian pelaku kemaksiatan, niscaya Allâh akan menjadi orang jahat sebagai penguasa kalian.”   Dalil keempat, Qatadah rahimahullah berkata, “Dahulu Bani Israil pernah mengatakan, ‘Wahai Tuhan kami! Engkau di langit sementara kami di bumi, lalu bagaimana kami dapat mengetahui ridha dan murka-Mu?’ Lalu Allâh Azza wa Jalla mengilhamkan kepada sebagian para Nabi-Nya “Kalau Aku angkat orang-orang baik sebagai pemimpin kalian, berarti Aku ridha kepada kalian. Kalau Aku angkat orang-orang jahat sebagai pemimpin kalian, berarti Aku murka kepada kalian.’   Dalil kelima, Dalil lain adalah kisah perjalanan hidup Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memfokuskan diri untuk mendakwahi masyarakat umum, tidak fokus pada jajaran konglomerat, pejabat, penguasa serta tokoh masyarakat. Cara dakwah semacam inilah yang merupakan metode berdakwahnya para Nabi.   Ada perkataan yang sudah masyhur pula walau berasal dari hadits dho’if, كما تكونوا يول عليكم “Bagaimana keadaanmu, itulah juga keadaan orang yang memimpinmu.”   Kalau kita tahu demikian, tugas kita sebagai rakyat haruskah bagaimana menghadapi situasi politik yang mencengangkan saat ini?   Pertama, giatkan terus majelis ilmu, karena umat Islam akan semakin jaya dengan majelis ilmu dan dakwah. Kedua, perbaiki akidah umat. Karena dakwah seperti inilah yang lebih maslahat yang akan memperbaiki akidah umat sehingga Islam bisa jaya. Allah Ta’ala berfirman, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah seluruh rasul adalah dakwah tauhid. Kalau kita tempuh dakwah ini, itulah jalan keselamatan dan jalan terbaik yang kita tempuh.   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada kita semua. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Yang ketiga, patut diingat adalah dakwah dengan akhlak. Karena dakwah seperti inilah yang lebih mengena dan akan lebih membuat tertarik non-Islam. إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan baiknya akhlaq.” (HR. Ahmad, 2: 381, shahih) Demikian khutbah kami untuk Jumat kali ini.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Naskah Khutbah Masjid Jami’ Makkah Surabaya, Jum’at Pon, 20 Jumadal Ula 1438 H (17 Februari 2017) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagspemilu pemimpin pilkada


Benarkah kita akan dipimpin oleh yang semisal kita?   Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat. Nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan islam yang Allah anugerahkan. Begitu pula Allah masih menjaga diri kita, istri dan anak kita dari musibah yang menimpa agama. Kita memohon pada Allah supaya nikmat-nikmat tersebut tetap terus terjaga. Moga kita dapat mensyukuri nikmat yang ada tadi dengan terus meningkatkan ketakwaan pada Allah.   Allah Ta’ala memerintah untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)   Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat dan istri-istri beliau yang tercinta serta pada setiap pengikut beliau yang mengikuti beliau dengan baik hingga akhir zaman.   Para jama’ah shalat jumat rahimani wa rahimakumullah …   Pemilihan pemimpin di beberapa propinsi, kabupaten dan kota yang baru-baru ini diadakan, sebenarnya bisa kita ambil beberapa hikmah dan pelajaran. Di antaranya, kita bisa tahu bagaimanakah keadaan umat Islam saat ini. Ada yang berilmu dan paham akan akidah, sehingga daerahnya memiliki pemimpin yang baik dan seorang muslim. Sebaliknya ada yang butuh pembinaan sehingga daerahnya memiliki pemimpin yang tidak baik dari sisi akhlak, bahkan yang terpilih non-muslim. Ini tanda bahwa pemimpin itu cerminan dari rakyatnya. Coba lihat dari beberapa dalil berikut.   Dalil pertama, وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allâh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu.” (QS. Asy-Syura: 30] Kezhaliman seorang pemimpin adalah musibah yang mengancam umat. Allah sudah memberitahukan bahwa penyebab musibah tersebut adalah kesalahan umat.   Dalil kedua, وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al-An’am: 129)   Dalil ketiga, Muhammad Haqqi saat menafsirkan makna firman Allâh di bawah ini : قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ Katakanlah, “Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Ali ‘Imran: 26) Kandungan ayat ini adalah “Jika kalian adalah orang-orang yang taat dan patuh niscaya Allâh Azza wa Jalla akan menjadikan orang yang penuh kasih sayang sebagai pemimpin kalian. Namun jika kalian pelaku kemaksiatan, niscaya Allâh akan menjadi orang jahat sebagai penguasa kalian.”   Dalil keempat, Qatadah rahimahullah berkata, “Dahulu Bani Israil pernah mengatakan, ‘Wahai Tuhan kami! Engkau di langit sementara kami di bumi, lalu bagaimana kami dapat mengetahui ridha dan murka-Mu?’ Lalu Allâh Azza wa Jalla mengilhamkan kepada sebagian para Nabi-Nya “Kalau Aku angkat orang-orang baik sebagai pemimpin kalian, berarti Aku ridha kepada kalian. Kalau Aku angkat orang-orang jahat sebagai pemimpin kalian, berarti Aku murka kepada kalian.’   Dalil kelima, Dalil lain adalah kisah perjalanan hidup Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memfokuskan diri untuk mendakwahi masyarakat umum, tidak fokus pada jajaran konglomerat, pejabat, penguasa serta tokoh masyarakat. Cara dakwah semacam inilah yang merupakan metode berdakwahnya para Nabi.   Ada perkataan yang sudah masyhur pula walau berasal dari hadits dho’if, كما تكونوا يول عليكم “Bagaimana keadaanmu, itulah juga keadaan orang yang memimpinmu.”   Kalau kita tahu demikian, tugas kita sebagai rakyat haruskah bagaimana menghadapi situasi politik yang mencengangkan saat ini?   Pertama, giatkan terus majelis ilmu, karena umat Islam akan semakin jaya dengan majelis ilmu dan dakwah. Kedua, perbaiki akidah umat. Karena dakwah seperti inilah yang lebih maslahat yang akan memperbaiki akidah umat sehingga Islam bisa jaya. Allah Ta’ala berfirman, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah seluruh rasul adalah dakwah tauhid. Kalau kita tempuh dakwah ini, itulah jalan keselamatan dan jalan terbaik yang kita tempuh.   Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada kita semua. Demikian khutbah pertama ini. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ   Amma ba’du Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …   Yang ketiga, patut diingat adalah dakwah dengan akhlak. Karena dakwah seperti inilah yang lebih mengena dan akan lebih membuat tertarik non-Islam. إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan baiknya akhlaq.” (HR. Ahmad, 2: 381, shahih) Demikian khutbah kami untuk Jumat kali ini.   إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Naskah Khutbah Masjid Jami’ Makkah Surabaya, Jum’at Pon, 20 Jumadal Ula 1438 H (17 Februari 2017) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagspemilu pemimpin pilkada

Dua Cara Mengangkat Tangan Ketika Berdoa

Ada di antara adab dalam berdoa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu mengangkat kedua tangan. Seperti yang disebutkan dalam hadits berikut ini.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ “Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim, no. 1015)   Bagaimanakah cara mengangkat tangan tersebut?   Ada dua cara mengangkat tangan ketika berdoa secara umum yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali: Pertama, mengangkat tangan dengan menjadikan bagian punggung telapak tangan diarahkan ke arah kiblat, sambil yang berdoa menghadap kiblat, sedangkan bagian dalam telapak tangannya diarahkan ke arah wajah. Riwayat cara ini adalah dari contoh doa istisqa yang dipraktikkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua, mengangkat kedua tangan dengan menjadikan bagian dalam telapak tangan dihadapakan ke langit, lantas punggung telapak tangan dihadapkan ke bumi. Ada riwayat seperti dari Ibnu ‘Umar, Abu Hurairah, dan Ibnu Sirin. Lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam karya Ibnu Rajab Al-Hambali, 1: 271-272, Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Semoga bermanfaat. — Malam hari @ DS, Panggang, 20 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsberdoa cara berdoa doa

Dua Cara Mengangkat Tangan Ketika Berdoa

Ada di antara adab dalam berdoa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu mengangkat kedua tangan. Seperti yang disebutkan dalam hadits berikut ini.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ “Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim, no. 1015)   Bagaimanakah cara mengangkat tangan tersebut?   Ada dua cara mengangkat tangan ketika berdoa secara umum yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali: Pertama, mengangkat tangan dengan menjadikan bagian punggung telapak tangan diarahkan ke arah kiblat, sambil yang berdoa menghadap kiblat, sedangkan bagian dalam telapak tangannya diarahkan ke arah wajah. Riwayat cara ini adalah dari contoh doa istisqa yang dipraktikkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua, mengangkat kedua tangan dengan menjadikan bagian dalam telapak tangan dihadapakan ke langit, lantas punggung telapak tangan dihadapkan ke bumi. Ada riwayat seperti dari Ibnu ‘Umar, Abu Hurairah, dan Ibnu Sirin. Lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam karya Ibnu Rajab Al-Hambali, 1: 271-272, Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Semoga bermanfaat. — Malam hari @ DS, Panggang, 20 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsberdoa cara berdoa doa
Ada di antara adab dalam berdoa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu mengangkat kedua tangan. Seperti yang disebutkan dalam hadits berikut ini.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ “Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim, no. 1015)   Bagaimanakah cara mengangkat tangan tersebut?   Ada dua cara mengangkat tangan ketika berdoa secara umum yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali: Pertama, mengangkat tangan dengan menjadikan bagian punggung telapak tangan diarahkan ke arah kiblat, sambil yang berdoa menghadap kiblat, sedangkan bagian dalam telapak tangannya diarahkan ke arah wajah. Riwayat cara ini adalah dari contoh doa istisqa yang dipraktikkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua, mengangkat kedua tangan dengan menjadikan bagian dalam telapak tangan dihadapakan ke langit, lantas punggung telapak tangan dihadapkan ke bumi. Ada riwayat seperti dari Ibnu ‘Umar, Abu Hurairah, dan Ibnu Sirin. Lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam karya Ibnu Rajab Al-Hambali, 1: 271-272, Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Semoga bermanfaat. — Malam hari @ DS, Panggang, 20 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsberdoa cara berdoa doa


Ada di antara adab dalam berdoa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu mengangkat kedua tangan. Seperti yang disebutkan dalam hadits berikut ini.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ “Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim, no. 1015)   Bagaimanakah cara mengangkat tangan tersebut?   Ada dua cara mengangkat tangan ketika berdoa secara umum yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali: Pertama, mengangkat tangan dengan menjadikan bagian punggung telapak tangan diarahkan ke arah kiblat, sambil yang berdoa menghadap kiblat, sedangkan bagian dalam telapak tangannya diarahkan ke arah wajah. Riwayat cara ini adalah dari contoh doa istisqa yang dipraktikkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua, mengangkat kedua tangan dengan menjadikan bagian dalam telapak tangan dihadapakan ke langit, lantas punggung telapak tangan dihadapkan ke bumi. Ada riwayat seperti dari Ibnu ‘Umar, Abu Hurairah, dan Ibnu Sirin. Lihat Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam karya Ibnu Rajab Al-Hambali, 1: 271-272, Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Semoga bermanfaat. — Malam hari @ DS, Panggang, 20 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagsberdoa cara berdoa doa

Pemakan Riba Lebih Buruk dibanding Pecandu Khamar

Ada kisah menarik yang menunjukkan bagaimana ngerinya RIBA dibanding miras. Ibnu Bakir menceritakan bahwa ada seseorang yang pernah mendatangi Imam Malik bin Anas rahimahullah. Ia berkata, “Wahai Abu ‘Abdillah, aku pernah melihat seseorang mabuk lalu dia menjadi pecandu dan ingin bermain judi.” Lalu ia menyatakan, “(Kalau engkau bisa buktikan), istriku jadi tertalak jika memang ada yang masuk dalam rongga anak Adam yang lebih buruk daripada khamar.” Imam Malik menjawab, “Pulanglah sampai aku cari dahulu jawaban pertanyaanmu!” Keesokan harinya orang tersebut datang dan Imam Malik mengatakan jawaban seperti di atas. Setelah beberapa hari, orang tersebut mendatangi Imam Malik, lalu Imam Malik memberikan jawaban, “Istrimu jadi tertalak. Aku telah mencari dari seluruh ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah kutemukan sesuatu yang lebih parah yang masuk dalam rongga anak Adam selain riba.” Karena Allah telah menyatakan akan memerangi pemakan riba. (Tafsir Al-Qurthubi, 2: 237) Yang dimaksud oleh Imam Malik rahimahullah adalah ayat berikut, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Al-Baqarah: 279) Moga jadi renungan! — Sore hari di Panggang, Gunungkidul, 18 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagskhamar minuman keras miras riba

Pemakan Riba Lebih Buruk dibanding Pecandu Khamar

Ada kisah menarik yang menunjukkan bagaimana ngerinya RIBA dibanding miras. Ibnu Bakir menceritakan bahwa ada seseorang yang pernah mendatangi Imam Malik bin Anas rahimahullah. Ia berkata, “Wahai Abu ‘Abdillah, aku pernah melihat seseorang mabuk lalu dia menjadi pecandu dan ingin bermain judi.” Lalu ia menyatakan, “(Kalau engkau bisa buktikan), istriku jadi tertalak jika memang ada yang masuk dalam rongga anak Adam yang lebih buruk daripada khamar.” Imam Malik menjawab, “Pulanglah sampai aku cari dahulu jawaban pertanyaanmu!” Keesokan harinya orang tersebut datang dan Imam Malik mengatakan jawaban seperti di atas. Setelah beberapa hari, orang tersebut mendatangi Imam Malik, lalu Imam Malik memberikan jawaban, “Istrimu jadi tertalak. Aku telah mencari dari seluruh ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah kutemukan sesuatu yang lebih parah yang masuk dalam rongga anak Adam selain riba.” Karena Allah telah menyatakan akan memerangi pemakan riba. (Tafsir Al-Qurthubi, 2: 237) Yang dimaksud oleh Imam Malik rahimahullah adalah ayat berikut, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Al-Baqarah: 279) Moga jadi renungan! — Sore hari di Panggang, Gunungkidul, 18 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagskhamar minuman keras miras riba
Ada kisah menarik yang menunjukkan bagaimana ngerinya RIBA dibanding miras. Ibnu Bakir menceritakan bahwa ada seseorang yang pernah mendatangi Imam Malik bin Anas rahimahullah. Ia berkata, “Wahai Abu ‘Abdillah, aku pernah melihat seseorang mabuk lalu dia menjadi pecandu dan ingin bermain judi.” Lalu ia menyatakan, “(Kalau engkau bisa buktikan), istriku jadi tertalak jika memang ada yang masuk dalam rongga anak Adam yang lebih buruk daripada khamar.” Imam Malik menjawab, “Pulanglah sampai aku cari dahulu jawaban pertanyaanmu!” Keesokan harinya orang tersebut datang dan Imam Malik mengatakan jawaban seperti di atas. Setelah beberapa hari, orang tersebut mendatangi Imam Malik, lalu Imam Malik memberikan jawaban, “Istrimu jadi tertalak. Aku telah mencari dari seluruh ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah kutemukan sesuatu yang lebih parah yang masuk dalam rongga anak Adam selain riba.” Karena Allah telah menyatakan akan memerangi pemakan riba. (Tafsir Al-Qurthubi, 2: 237) Yang dimaksud oleh Imam Malik rahimahullah adalah ayat berikut, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Al-Baqarah: 279) Moga jadi renungan! — Sore hari di Panggang, Gunungkidul, 18 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagskhamar minuman keras miras riba


Ada kisah menarik yang menunjukkan bagaimana ngerinya RIBA dibanding miras. Ibnu Bakir menceritakan bahwa ada seseorang yang pernah mendatangi Imam Malik bin Anas rahimahullah. Ia berkata, “Wahai Abu ‘Abdillah, aku pernah melihat seseorang mabuk lalu dia menjadi pecandu dan ingin bermain judi.” Lalu ia menyatakan, “(Kalau engkau bisa buktikan), istriku jadi tertalak jika memang ada yang masuk dalam rongga anak Adam yang lebih buruk daripada khamar.” Imam Malik menjawab, “Pulanglah sampai aku cari dahulu jawaban pertanyaanmu!” Keesokan harinya orang tersebut datang dan Imam Malik mengatakan jawaban seperti di atas. Setelah beberapa hari, orang tersebut mendatangi Imam Malik, lalu Imam Malik memberikan jawaban, “Istrimu jadi tertalak. Aku telah mencari dari seluruh ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah kutemukan sesuatu yang lebih parah yang masuk dalam rongga anak Adam selain riba.” Karena Allah telah menyatakan akan memerangi pemakan riba. (Tafsir Al-Qurthubi, 2: 237) Yang dimaksud oleh Imam Malik rahimahullah adalah ayat berikut, فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Al-Baqarah: 279) Moga jadi renungan! — Sore hari di Panggang, Gunungkidul, 18 Jumadal Ula 1438 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store di sini. Follow Us : Facebook Muhammad Abduh Tuasikal | Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat | Twitter @RumayshoCom | Instagram @RumayshoCom | Channel Telegram @RumayshoCom | Channel Telegram @TanyaRumayshoCom Tagskhamar minuman keras miras riba

Keindahan Islam (12)

– Zakat Adalah Syari’at Allah yang Mengandung Tarbiyyah berupa penyucian jiwa, sekaligus tarbiyyah akhlak berupa dermawan, peka terhadap penderitaan saudara seiman sehingga dapat membantu saudara seiman yang membutuhkan harta. Di antara pendidikan yang terkandung dalam syari’at Zakat adalah sikap menjauhi kebakhilan, pandai mensyukuri nikmat Allah, serta menjadi penyebab keberkahan dan terjaganya harta muzakki, baik secara maknawi maupun fakta yang nampak, dan mendidik orang yang menunaikannya agar senantiasa bertawakkal kepada Allah Sang Pemberi rezeki. Di samping itu, zakat juga bisa merupakan sarana penopang jihad fi sabilillah.– Dalam puasa terdapat maslahat berupa latihan mengendalikan hawa nafsu dengan meninggalkan perkara yang dicintai dalam rangka mencari sesuatu yang dicintai oleh Allah dan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Orang yang berpuasa terdidik dengan keikhlasan, kesabaran, dan tekad kuat meraih ridha Allah.– Adapun orang yang menunaikan Haji akan terdidik untuk berkorban dengan harta, waktu, tenaga, bahkan jiwa demi meraih keridhaan Allah Ta’ala, demikian pula ia akan terdorong untuk mengingat padang mahsyar dan prosesi hari Akhir. Di samping itu, orang yang menunaikan haji akan melakukan berbagai macam bentuk peribadahan. Orang yang menunaikan haji dengan baik akan terisi pengagungan terhadap Allah ‘Azza wa Jalla, ia juga akan mengingat keadaan para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam, serta mencintai mereka. Di samping itu juga terdapat kemaslahatan saling mengenal antar kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia dan menggalang persatuan imaniyyah sesama kaum muslimin serta mempererat ukhuwwah Islamiyyah. Semua maslahat di atas, masih ditambah lagi diraihnya pahala yang besar, keridhaan-Nya, serta terhindar dari murka-Nya. – Disyari’atkan berkumpul dalam peribadahan shalat berjama’ah, shalat jum’at, shalat ‘Idul Fithri  dan ‘Idul Adha, bermajelis ta’lim mengandung kemaslahatan yang besar berupa menghilangkan pemutusan hubungan, kedengkian, dan permusuhan, menumbuhkan saling kasih sayang, saling tolong menolong dan berlomba-lomba dalam kebaikan, serta menghasilkan sikap mencontoh satu sama lainnya dalam kebaikan, di samping itu juga mendapatkan pahala yang tidak didapatkan dalam ibadah-ibadah lainnya yang dilakukan tanpa berjama’ah.– Dibolehkannya jual beli dan berbagai akad yang mubah dalam Islam adalah dalam rangka menjaga keadilan di antara manusia, melindungi hak mereka, dan memenuhi kebutuhan mereka dengan cara yang halal.– Dihalalkannya berbagai makanan, minuman, dan pakaian yang baik serta pernikahan yang sah, karena adanya kemaslahatan untuk mereka, pemenuhan kebutuhan dengan cara yang baik dan karena tidak ada bahaya di dalamnya.– Sebaliknya, diharamkan berbagai makanan, minuman, dan pakaian yang buruk dan bentuk pernikahan yang batil, karena terdapat bahaya di dalamnya, baik di dunia maupun di akhirat dan tidak butuhnya manusia terhadap hal-hal yang buruk tersebut.Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan,و بالجمــــــــــلة: فإن أوامر الرب قوت القلوب و غذاؤها، و نواهيه داء القلوب و كلومها“Kesimpulannya bahwa perintah-perintah Ar-Robb adalah makanan pokok hati dan gizinya, sedangkan larangan-larangan-Nya adalah penyakit hati dan sesuatu yang melukainya.”[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Ayat Tentang Jilbab, Pengertian Rezeki, Kumpulan Hadits Marah, Ilmu Fiqih Wanita, Cara Tahajud Rasulullah

Keindahan Islam (12)

– Zakat Adalah Syari’at Allah yang Mengandung Tarbiyyah berupa penyucian jiwa, sekaligus tarbiyyah akhlak berupa dermawan, peka terhadap penderitaan saudara seiman sehingga dapat membantu saudara seiman yang membutuhkan harta. Di antara pendidikan yang terkandung dalam syari’at Zakat adalah sikap menjauhi kebakhilan, pandai mensyukuri nikmat Allah, serta menjadi penyebab keberkahan dan terjaganya harta muzakki, baik secara maknawi maupun fakta yang nampak, dan mendidik orang yang menunaikannya agar senantiasa bertawakkal kepada Allah Sang Pemberi rezeki. Di samping itu, zakat juga bisa merupakan sarana penopang jihad fi sabilillah.– Dalam puasa terdapat maslahat berupa latihan mengendalikan hawa nafsu dengan meninggalkan perkara yang dicintai dalam rangka mencari sesuatu yang dicintai oleh Allah dan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Orang yang berpuasa terdidik dengan keikhlasan, kesabaran, dan tekad kuat meraih ridha Allah.– Adapun orang yang menunaikan Haji akan terdidik untuk berkorban dengan harta, waktu, tenaga, bahkan jiwa demi meraih keridhaan Allah Ta’ala, demikian pula ia akan terdorong untuk mengingat padang mahsyar dan prosesi hari Akhir. Di samping itu, orang yang menunaikan haji akan melakukan berbagai macam bentuk peribadahan. Orang yang menunaikan haji dengan baik akan terisi pengagungan terhadap Allah ‘Azza wa Jalla, ia juga akan mengingat keadaan para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam, serta mencintai mereka. Di samping itu juga terdapat kemaslahatan saling mengenal antar kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia dan menggalang persatuan imaniyyah sesama kaum muslimin serta mempererat ukhuwwah Islamiyyah. Semua maslahat di atas, masih ditambah lagi diraihnya pahala yang besar, keridhaan-Nya, serta terhindar dari murka-Nya. – Disyari’atkan berkumpul dalam peribadahan shalat berjama’ah, shalat jum’at, shalat ‘Idul Fithri  dan ‘Idul Adha, bermajelis ta’lim mengandung kemaslahatan yang besar berupa menghilangkan pemutusan hubungan, kedengkian, dan permusuhan, menumbuhkan saling kasih sayang, saling tolong menolong dan berlomba-lomba dalam kebaikan, serta menghasilkan sikap mencontoh satu sama lainnya dalam kebaikan, di samping itu juga mendapatkan pahala yang tidak didapatkan dalam ibadah-ibadah lainnya yang dilakukan tanpa berjama’ah.– Dibolehkannya jual beli dan berbagai akad yang mubah dalam Islam adalah dalam rangka menjaga keadilan di antara manusia, melindungi hak mereka, dan memenuhi kebutuhan mereka dengan cara yang halal.– Dihalalkannya berbagai makanan, minuman, dan pakaian yang baik serta pernikahan yang sah, karena adanya kemaslahatan untuk mereka, pemenuhan kebutuhan dengan cara yang baik dan karena tidak ada bahaya di dalamnya.– Sebaliknya, diharamkan berbagai makanan, minuman, dan pakaian yang buruk dan bentuk pernikahan yang batil, karena terdapat bahaya di dalamnya, baik di dunia maupun di akhirat dan tidak butuhnya manusia terhadap hal-hal yang buruk tersebut.Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan,و بالجمــــــــــلة: فإن أوامر الرب قوت القلوب و غذاؤها، و نواهيه داء القلوب و كلومها“Kesimpulannya bahwa perintah-perintah Ar-Robb adalah makanan pokok hati dan gizinya, sedangkan larangan-larangan-Nya adalah penyakit hati dan sesuatu yang melukainya.”[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Ayat Tentang Jilbab, Pengertian Rezeki, Kumpulan Hadits Marah, Ilmu Fiqih Wanita, Cara Tahajud Rasulullah
– Zakat Adalah Syari’at Allah yang Mengandung Tarbiyyah berupa penyucian jiwa, sekaligus tarbiyyah akhlak berupa dermawan, peka terhadap penderitaan saudara seiman sehingga dapat membantu saudara seiman yang membutuhkan harta. Di antara pendidikan yang terkandung dalam syari’at Zakat adalah sikap menjauhi kebakhilan, pandai mensyukuri nikmat Allah, serta menjadi penyebab keberkahan dan terjaganya harta muzakki, baik secara maknawi maupun fakta yang nampak, dan mendidik orang yang menunaikannya agar senantiasa bertawakkal kepada Allah Sang Pemberi rezeki. Di samping itu, zakat juga bisa merupakan sarana penopang jihad fi sabilillah.– Dalam puasa terdapat maslahat berupa latihan mengendalikan hawa nafsu dengan meninggalkan perkara yang dicintai dalam rangka mencari sesuatu yang dicintai oleh Allah dan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Orang yang berpuasa terdidik dengan keikhlasan, kesabaran, dan tekad kuat meraih ridha Allah.– Adapun orang yang menunaikan Haji akan terdidik untuk berkorban dengan harta, waktu, tenaga, bahkan jiwa demi meraih keridhaan Allah Ta’ala, demikian pula ia akan terdorong untuk mengingat padang mahsyar dan prosesi hari Akhir. Di samping itu, orang yang menunaikan haji akan melakukan berbagai macam bentuk peribadahan. Orang yang menunaikan haji dengan baik akan terisi pengagungan terhadap Allah ‘Azza wa Jalla, ia juga akan mengingat keadaan para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam, serta mencintai mereka. Di samping itu juga terdapat kemaslahatan saling mengenal antar kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia dan menggalang persatuan imaniyyah sesama kaum muslimin serta mempererat ukhuwwah Islamiyyah. Semua maslahat di atas, masih ditambah lagi diraihnya pahala yang besar, keridhaan-Nya, serta terhindar dari murka-Nya. – Disyari’atkan berkumpul dalam peribadahan shalat berjama’ah, shalat jum’at, shalat ‘Idul Fithri  dan ‘Idul Adha, bermajelis ta’lim mengandung kemaslahatan yang besar berupa menghilangkan pemutusan hubungan, kedengkian, dan permusuhan, menumbuhkan saling kasih sayang, saling tolong menolong dan berlomba-lomba dalam kebaikan, serta menghasilkan sikap mencontoh satu sama lainnya dalam kebaikan, di samping itu juga mendapatkan pahala yang tidak didapatkan dalam ibadah-ibadah lainnya yang dilakukan tanpa berjama’ah.– Dibolehkannya jual beli dan berbagai akad yang mubah dalam Islam adalah dalam rangka menjaga keadilan di antara manusia, melindungi hak mereka, dan memenuhi kebutuhan mereka dengan cara yang halal.– Dihalalkannya berbagai makanan, minuman, dan pakaian yang baik serta pernikahan yang sah, karena adanya kemaslahatan untuk mereka, pemenuhan kebutuhan dengan cara yang baik dan karena tidak ada bahaya di dalamnya.– Sebaliknya, diharamkan berbagai makanan, minuman, dan pakaian yang buruk dan bentuk pernikahan yang batil, karena terdapat bahaya di dalamnya, baik di dunia maupun di akhirat dan tidak butuhnya manusia terhadap hal-hal yang buruk tersebut.Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan,و بالجمــــــــــلة: فإن أوامر الرب قوت القلوب و غذاؤها، و نواهيه داء القلوب و كلومها“Kesimpulannya bahwa perintah-perintah Ar-Robb adalah makanan pokok hati dan gizinya, sedangkan larangan-larangan-Nya adalah penyakit hati dan sesuatu yang melukainya.”[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Ayat Tentang Jilbab, Pengertian Rezeki, Kumpulan Hadits Marah, Ilmu Fiqih Wanita, Cara Tahajud Rasulullah


– Zakat Adalah Syari’at Allah yang Mengandung Tarbiyyah berupa penyucian jiwa, sekaligus tarbiyyah akhlak berupa dermawan, peka terhadap penderitaan saudara seiman sehingga dapat membantu saudara seiman yang membutuhkan harta. Di antara pendidikan yang terkandung dalam syari’at Zakat adalah sikap menjauhi kebakhilan, pandai mensyukuri nikmat Allah, serta menjadi penyebab keberkahan dan terjaganya harta muzakki, baik secara maknawi maupun fakta yang nampak, dan mendidik orang yang menunaikannya agar senantiasa bertawakkal kepada Allah Sang Pemberi rezeki. Di samping itu, zakat juga bisa merupakan sarana penopang jihad fi sabilillah.– Dalam puasa terdapat maslahat berupa latihan mengendalikan hawa nafsu dengan meninggalkan perkara yang dicintai dalam rangka mencari sesuatu yang dicintai oleh Allah dan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Orang yang berpuasa terdidik dengan keikhlasan, kesabaran, dan tekad kuat meraih ridha Allah.– Adapun orang yang menunaikan Haji akan terdidik untuk berkorban dengan harta, waktu, tenaga, bahkan jiwa demi meraih keridhaan Allah Ta’ala, demikian pula ia akan terdorong untuk mengingat padang mahsyar dan prosesi hari Akhir. Di samping itu, orang yang menunaikan haji akan melakukan berbagai macam bentuk peribadahan. Orang yang menunaikan haji dengan baik akan terisi pengagungan terhadap Allah ‘Azza wa Jalla, ia juga akan mengingat keadaan para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam, serta mencintai mereka. Di samping itu juga terdapat kemaslahatan saling mengenal antar kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia dan menggalang persatuan imaniyyah sesama kaum muslimin serta mempererat ukhuwwah Islamiyyah. Semua maslahat di atas, masih ditambah lagi diraihnya pahala yang besar, keridhaan-Nya, serta terhindar dari murka-Nya. – Disyari’atkan berkumpul dalam peribadahan shalat berjama’ah, shalat jum’at, shalat ‘Idul Fithri  dan ‘Idul Adha, bermajelis ta’lim mengandung kemaslahatan yang besar berupa menghilangkan pemutusan hubungan, kedengkian, dan permusuhan, menumbuhkan saling kasih sayang, saling tolong menolong dan berlomba-lomba dalam kebaikan, serta menghasilkan sikap mencontoh satu sama lainnya dalam kebaikan, di samping itu juga mendapatkan pahala yang tidak didapatkan dalam ibadah-ibadah lainnya yang dilakukan tanpa berjama’ah.– Dibolehkannya jual beli dan berbagai akad yang mubah dalam Islam adalah dalam rangka menjaga keadilan di antara manusia, melindungi hak mereka, dan memenuhi kebutuhan mereka dengan cara yang halal.– Dihalalkannya berbagai makanan, minuman, dan pakaian yang baik serta pernikahan yang sah, karena adanya kemaslahatan untuk mereka, pemenuhan kebutuhan dengan cara yang baik dan karena tidak ada bahaya di dalamnya.– Sebaliknya, diharamkan berbagai makanan, minuman, dan pakaian yang buruk dan bentuk pernikahan yang batil, karena terdapat bahaya di dalamnya, baik di dunia maupun di akhirat dan tidak butuhnya manusia terhadap hal-hal yang buruk tersebut.Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan,و بالجمــــــــــلة: فإن أوامر الرب قوت القلوب و غذاؤها، و نواهيه داء القلوب و كلومها“Kesimpulannya bahwa perintah-perintah Ar-Robb adalah makanan pokok hati dan gizinya, sedangkan larangan-larangan-Nya adalah penyakit hati dan sesuatu yang melukainya.”[Bersambung]***Penulis: Ust. Sa’id Abu UkasyahArtikel Muslim.or.id🔍 Ayat Tentang Jilbab, Pengertian Rezeki, Kumpulan Hadits Marah, Ilmu Fiqih Wanita, Cara Tahajud Rasulullah

Ketika Saudaramu Salah

قال الإمام ربيع بن هادي المدخلي – حفظه الله : – “إذا أخطأ أخوك فانصحه باللين وقدم له الحجة والبرهان؛ ينفعه الله بذلك أما أن تجلس وتتربص أن يخطئ فلان وتقوم تشيع هنا وهناك أن فلاناً فعل كذاوكذا، فهذه طرق الشياطين وليست طرق السلفيين ” بهجة القاري ( ص 107 ) Berkata Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkholy hafidzahullah: Apabila saudaramu bersalah, maka nasehatilah ia dengan lemah lembut, sampaikan hujjah kepadanya dan penjelasannya, semoga Allah memberi mafaat dari itu kepadanya. Adapun jika engkau selalu menunggu dan mencari-cari kesalahan si Fulan dan membicarakan kesana-kemari bahwa si fulan telah melakukan ini dan itu, maka ini adalah jalannya setan dan bukan jalannya salafus sholeh. (Bahjatul Qari, 107)

Ketika Saudaramu Salah

قال الإمام ربيع بن هادي المدخلي – حفظه الله : – “إذا أخطأ أخوك فانصحه باللين وقدم له الحجة والبرهان؛ ينفعه الله بذلك أما أن تجلس وتتربص أن يخطئ فلان وتقوم تشيع هنا وهناك أن فلاناً فعل كذاوكذا، فهذه طرق الشياطين وليست طرق السلفيين ” بهجة القاري ( ص 107 ) Berkata Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkholy hafidzahullah: Apabila saudaramu bersalah, maka nasehatilah ia dengan lemah lembut, sampaikan hujjah kepadanya dan penjelasannya, semoga Allah memberi mafaat dari itu kepadanya. Adapun jika engkau selalu menunggu dan mencari-cari kesalahan si Fulan dan membicarakan kesana-kemari bahwa si fulan telah melakukan ini dan itu, maka ini adalah jalannya setan dan bukan jalannya salafus sholeh. (Bahjatul Qari, 107)
قال الإمام ربيع بن هادي المدخلي – حفظه الله : – “إذا أخطأ أخوك فانصحه باللين وقدم له الحجة والبرهان؛ ينفعه الله بذلك أما أن تجلس وتتربص أن يخطئ فلان وتقوم تشيع هنا وهناك أن فلاناً فعل كذاوكذا، فهذه طرق الشياطين وليست طرق السلفيين ” بهجة القاري ( ص 107 ) Berkata Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkholy hafidzahullah: Apabila saudaramu bersalah, maka nasehatilah ia dengan lemah lembut, sampaikan hujjah kepadanya dan penjelasannya, semoga Allah memberi mafaat dari itu kepadanya. Adapun jika engkau selalu menunggu dan mencari-cari kesalahan si Fulan dan membicarakan kesana-kemari bahwa si fulan telah melakukan ini dan itu, maka ini adalah jalannya setan dan bukan jalannya salafus sholeh. (Bahjatul Qari, 107)


قال الإمام ربيع بن هادي المدخلي – حفظه الله : – “إذا أخطأ أخوك فانصحه باللين وقدم له الحجة والبرهان؛ ينفعه الله بذلك أما أن تجلس وتتربص أن يخطئ فلان وتقوم تشيع هنا وهناك أن فلاناً فعل كذاوكذا، فهذه طرق الشياطين وليست طرق السلفيين ” بهجة القاري ( ص 107 ) Berkata Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkholy hafidzahullah: Apabila saudaramu bersalah, maka nasehatilah ia dengan lemah lembut, sampaikan hujjah kepadanya dan penjelasannya, semoga Allah memberi mafaat dari itu kepadanya. Adapun jika engkau selalu menunggu dan mencari-cari kesalahan si Fulan dan membicarakan kesana-kemari bahwa si fulan telah melakukan ini dan itu, maka ini adalah jalannya setan dan bukan jalannya salafus sholeh. (Bahjatul Qari, 107)

Apa Yang Dilakukan Ketika Imam Batal Wudhu Di Tengah Shalat?

Kita ketahui bersama bahwa wudhu adalah syarat sah shalat. Tidak sah shalat seseorang tanpa wudhu dan jika wudhu seseorang batal, maka batal juga shalatnya. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:لا يقبلُ اللهَ صلاةَ أحدِكم إذا أحدثَ حتى يتوضأَ“Allah tidak menerima shalat seseorang jika ia berhadats sampai ia berwudhu“[1. HR. Al Bukhari no. 6954, Muslim no. 225].Lalu apa yang mesti dilakukan jika imam batal wudhunya ketika di tengah shalat? Yang dilakukan adalah imam membatalkan shalatnya lalu memerintahkan salah seorang makmum untuk meneruskan shalat. Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:أن المشروع للإمام أن يستخلف من يكمل بهم الصلاة، كما فعل عمر رضي الله عنه لما طعن وهو يصلي استخلف عبد الرحمن بن عوف رضي الله عنه فأتم بهم صلاة الفجر“yang disyariatkan bagi imam adalah meminta orang lain untuk menyempurnakan shalat. Sebagaimana dilakukan oleh Umar radhiallahu’anhu ketika beliau ditikam dalam keadaan sedang shalat. Lalu Umar meminta Abdurrahman bin Auf radhiallahu’anhu untuk menggantikannya dan menyempurnakan shalat shubuh[2. HR. Al Bukhari no. 3700]” (Majmu Fatawa wal Maqalat Mutanawwi’ah, juz 12 hal. 138).Atau jika imam tidak memerintahkan salah seorang makmum untuk menggantikan, maka makmum yang berdiri di belakang imam maju untuk menjadi imam. Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan:فإن لم يستخلف بهم الإمام تقدم بعض من وراءه فأكمل بالناس، فإن استأنفوا الصلاة من أولها فلا حرج في ذلك؛ لأن المسألة فيها خلاف بين أهل العلم لكن الأرجح هو أن الإمام يستخلف من يكمل بهم لما ذكرنا من فعل عمر رضي الله عنه فإن استأنفوا فلا بأس“Jika imam tidak meminta salah seorang makmum untuk menggantikannya, maka makmum yang ada di belakang imam maju untuk menggantikannya dan menyempurnakan shalat bersama para makmum yang lain. Jika para makmum ingin memulai shalat dari awal lagi maka tidak mengapa, karena masalah ini ada khilaf di antara para ulama. Namun yang lebih rajih, hendaknya imam meminta salah seorang makmum untuk meneruskan shalat sebagaimana yang telah kami jelaskan, berdasarkan perbuatan Umar bin Khathab radhiallahu’anhu. Jika mereka ingin memulai shalat dari awal lagi maka tidak mengapa” (Majmu Fatawa wal Mawalat Mutanawwi’ah, juz 12 hal. 138).Imam tidak boleh meneruskan shalat dalam keadaan tanpa wudhuJika imam batal wudhu di tengah shalat, maka tidak boleh ia sengaja meneruskan shalatnya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:العمل في هذه الحال أن ينصرف من الصلاة، ويأمر أحد المأمومين الذين خلفه بتكميل الصلاة بالجماعة، فإذا قدرنا أنه تذكر وهو في الركعة الثالثة من الظهر أن ليس على طهارة، فإن الواجب عليه أن ينصرف، ولا يجوز أن يكمل الصلاة على غير طهارة، ويأخذ أحد المأمومين الذين خلفه ليتم الصلاة فيكمل بهم الثالثة، ويأتي بالرابعة ويسلم. فإذا قدر أنه لم يتذكر إلا بعد السلام، بطلت صلاته، أما صلاة المأمومين فصحيحة وليست باطلة“Yang dilakukan dalam keadaan demikian adalah imam membatalkan shalatnya, lalu memerintahkan salah seorang makmum yang ada di belakangnya untuk meneruskan shalat jama’ah. Jika kita katakan imam ingat pada rakaat ke tiga pada shalat zhuhur, bahwa ia belum berwudhu, maka wajib baginya untuk membatalkan shalat. Tidak boleh baginya untuk meneruskan shalat dalam keadaan tanpa wudhu. Lalu ia menarik salah seorang makmum yang ada di belakangnya kemudian (makmum ini menjadi imam) meneruskan rakaat ke tiga, lalu rakaat ke empat, lalu salam. Jika kita katakan imam baru ingat bahwa ia belum wudhu ketika setelah salam, maka shalat imam tersebut batal, namun shalat para makmum tetap sah dan tidak batal” (Majmu Fatawa war Rasail Syaikh Ibnu Al Utsaimin, juz 15, hal 219).Shalat makmum tidak batal dengan batalnya shalat imamJika shalat imam batal, apakah shalat makmum menjadi batal? Ulama khilaf dalam masalah ini. Yang rajih (kuat), shalat makmum tidak batal berdasarkan kaidah baqa’ul ashl (tetapnya hukum asal). Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:لا تبطل صلاة المأموم ببطلان صلاة الإمام، لأن صلاة المأموم صحيحه، والأصل بقاء الصحة، ولا يمكن أن تبطل إلا بدليل صحيح، فالإمام بطلت صلاته بمقتضى الدليل الصحيح، ولكن المأموم دخل بأمر الله فلا يمكن أن تفسد صلاته إلا بأمر الله، القاعدة: “أن من دخل في عبادة حسب ما أمر به فإننا لا نبطلها إلا بدليل”“Shalat makmum tidak batal dengan batalnya shalat imam. Shalat makmum tetap shahih. Hukum asalnya status sah tetap berlaku. Tidak mungkin kita menganggap batalnya suatu ibadah tanpa dalil. Adapun imam menjadi batal shalatnya berdasarkan dalil yang shahih. Sedangkan makmum dalam keadaan sedang melaksanakan perintah Allah (shalat), maka tidak mungkin kita anggap batal kecuali dengan perintah Allah pula. Kaidah mengatakan: ‘Barangsiapa yang melakukan suatu ibadah sesuai dengan apa yang Allah perintahkan, maka tidak menganggapnya batal kecuali dengan dalil'” (Majmu Fatawa war Rasail Syaikh Ibnu Al Utsaimin, juz 12, hal 451).Demikian semoga bermanfaat, wabillahi at taufiq was sadaad.***Penyusun: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id____🔍 Hadits Syukur, Arti Yaumul Mizan, Muhasabah Hati, Alquran Dengan Tajwid, Jumroh Aqobah

Apa Yang Dilakukan Ketika Imam Batal Wudhu Di Tengah Shalat?

Kita ketahui bersama bahwa wudhu adalah syarat sah shalat. Tidak sah shalat seseorang tanpa wudhu dan jika wudhu seseorang batal, maka batal juga shalatnya. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:لا يقبلُ اللهَ صلاةَ أحدِكم إذا أحدثَ حتى يتوضأَ“Allah tidak menerima shalat seseorang jika ia berhadats sampai ia berwudhu“[1. HR. Al Bukhari no. 6954, Muslim no. 225].Lalu apa yang mesti dilakukan jika imam batal wudhunya ketika di tengah shalat? Yang dilakukan adalah imam membatalkan shalatnya lalu memerintahkan salah seorang makmum untuk meneruskan shalat. Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:أن المشروع للإمام أن يستخلف من يكمل بهم الصلاة، كما فعل عمر رضي الله عنه لما طعن وهو يصلي استخلف عبد الرحمن بن عوف رضي الله عنه فأتم بهم صلاة الفجر“yang disyariatkan bagi imam adalah meminta orang lain untuk menyempurnakan shalat. Sebagaimana dilakukan oleh Umar radhiallahu’anhu ketika beliau ditikam dalam keadaan sedang shalat. Lalu Umar meminta Abdurrahman bin Auf radhiallahu’anhu untuk menggantikannya dan menyempurnakan shalat shubuh[2. HR. Al Bukhari no. 3700]” (Majmu Fatawa wal Maqalat Mutanawwi’ah, juz 12 hal. 138).Atau jika imam tidak memerintahkan salah seorang makmum untuk menggantikan, maka makmum yang berdiri di belakang imam maju untuk menjadi imam. Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan:فإن لم يستخلف بهم الإمام تقدم بعض من وراءه فأكمل بالناس، فإن استأنفوا الصلاة من أولها فلا حرج في ذلك؛ لأن المسألة فيها خلاف بين أهل العلم لكن الأرجح هو أن الإمام يستخلف من يكمل بهم لما ذكرنا من فعل عمر رضي الله عنه فإن استأنفوا فلا بأس“Jika imam tidak meminta salah seorang makmum untuk menggantikannya, maka makmum yang ada di belakang imam maju untuk menggantikannya dan menyempurnakan shalat bersama para makmum yang lain. Jika para makmum ingin memulai shalat dari awal lagi maka tidak mengapa, karena masalah ini ada khilaf di antara para ulama. Namun yang lebih rajih, hendaknya imam meminta salah seorang makmum untuk meneruskan shalat sebagaimana yang telah kami jelaskan, berdasarkan perbuatan Umar bin Khathab radhiallahu’anhu. Jika mereka ingin memulai shalat dari awal lagi maka tidak mengapa” (Majmu Fatawa wal Mawalat Mutanawwi’ah, juz 12 hal. 138).Imam tidak boleh meneruskan shalat dalam keadaan tanpa wudhuJika imam batal wudhu di tengah shalat, maka tidak boleh ia sengaja meneruskan shalatnya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:العمل في هذه الحال أن ينصرف من الصلاة، ويأمر أحد المأمومين الذين خلفه بتكميل الصلاة بالجماعة، فإذا قدرنا أنه تذكر وهو في الركعة الثالثة من الظهر أن ليس على طهارة، فإن الواجب عليه أن ينصرف، ولا يجوز أن يكمل الصلاة على غير طهارة، ويأخذ أحد المأمومين الذين خلفه ليتم الصلاة فيكمل بهم الثالثة، ويأتي بالرابعة ويسلم. فإذا قدر أنه لم يتذكر إلا بعد السلام، بطلت صلاته، أما صلاة المأمومين فصحيحة وليست باطلة“Yang dilakukan dalam keadaan demikian adalah imam membatalkan shalatnya, lalu memerintahkan salah seorang makmum yang ada di belakangnya untuk meneruskan shalat jama’ah. Jika kita katakan imam ingat pada rakaat ke tiga pada shalat zhuhur, bahwa ia belum berwudhu, maka wajib baginya untuk membatalkan shalat. Tidak boleh baginya untuk meneruskan shalat dalam keadaan tanpa wudhu. Lalu ia menarik salah seorang makmum yang ada di belakangnya kemudian (makmum ini menjadi imam) meneruskan rakaat ke tiga, lalu rakaat ke empat, lalu salam. Jika kita katakan imam baru ingat bahwa ia belum wudhu ketika setelah salam, maka shalat imam tersebut batal, namun shalat para makmum tetap sah dan tidak batal” (Majmu Fatawa war Rasail Syaikh Ibnu Al Utsaimin, juz 15, hal 219).Shalat makmum tidak batal dengan batalnya shalat imamJika shalat imam batal, apakah shalat makmum menjadi batal? Ulama khilaf dalam masalah ini. Yang rajih (kuat), shalat makmum tidak batal berdasarkan kaidah baqa’ul ashl (tetapnya hukum asal). Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:لا تبطل صلاة المأموم ببطلان صلاة الإمام، لأن صلاة المأموم صحيحه، والأصل بقاء الصحة، ولا يمكن أن تبطل إلا بدليل صحيح، فالإمام بطلت صلاته بمقتضى الدليل الصحيح، ولكن المأموم دخل بأمر الله فلا يمكن أن تفسد صلاته إلا بأمر الله، القاعدة: “أن من دخل في عبادة حسب ما أمر به فإننا لا نبطلها إلا بدليل”“Shalat makmum tidak batal dengan batalnya shalat imam. Shalat makmum tetap shahih. Hukum asalnya status sah tetap berlaku. Tidak mungkin kita menganggap batalnya suatu ibadah tanpa dalil. Adapun imam menjadi batal shalatnya berdasarkan dalil yang shahih. Sedangkan makmum dalam keadaan sedang melaksanakan perintah Allah (shalat), maka tidak mungkin kita anggap batal kecuali dengan perintah Allah pula. Kaidah mengatakan: ‘Barangsiapa yang melakukan suatu ibadah sesuai dengan apa yang Allah perintahkan, maka tidak menganggapnya batal kecuali dengan dalil'” (Majmu Fatawa war Rasail Syaikh Ibnu Al Utsaimin, juz 12, hal 451).Demikian semoga bermanfaat, wabillahi at taufiq was sadaad.***Penyusun: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id____🔍 Hadits Syukur, Arti Yaumul Mizan, Muhasabah Hati, Alquran Dengan Tajwid, Jumroh Aqobah
Kita ketahui bersama bahwa wudhu adalah syarat sah shalat. Tidak sah shalat seseorang tanpa wudhu dan jika wudhu seseorang batal, maka batal juga shalatnya. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:لا يقبلُ اللهَ صلاةَ أحدِكم إذا أحدثَ حتى يتوضأَ“Allah tidak menerima shalat seseorang jika ia berhadats sampai ia berwudhu“[1. HR. Al Bukhari no. 6954, Muslim no. 225].Lalu apa yang mesti dilakukan jika imam batal wudhunya ketika di tengah shalat? Yang dilakukan adalah imam membatalkan shalatnya lalu memerintahkan salah seorang makmum untuk meneruskan shalat. Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:أن المشروع للإمام أن يستخلف من يكمل بهم الصلاة، كما فعل عمر رضي الله عنه لما طعن وهو يصلي استخلف عبد الرحمن بن عوف رضي الله عنه فأتم بهم صلاة الفجر“yang disyariatkan bagi imam adalah meminta orang lain untuk menyempurnakan shalat. Sebagaimana dilakukan oleh Umar radhiallahu’anhu ketika beliau ditikam dalam keadaan sedang shalat. Lalu Umar meminta Abdurrahman bin Auf radhiallahu’anhu untuk menggantikannya dan menyempurnakan shalat shubuh[2. HR. Al Bukhari no. 3700]” (Majmu Fatawa wal Maqalat Mutanawwi’ah, juz 12 hal. 138).Atau jika imam tidak memerintahkan salah seorang makmum untuk menggantikan, maka makmum yang berdiri di belakang imam maju untuk menjadi imam. Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan:فإن لم يستخلف بهم الإمام تقدم بعض من وراءه فأكمل بالناس، فإن استأنفوا الصلاة من أولها فلا حرج في ذلك؛ لأن المسألة فيها خلاف بين أهل العلم لكن الأرجح هو أن الإمام يستخلف من يكمل بهم لما ذكرنا من فعل عمر رضي الله عنه فإن استأنفوا فلا بأس“Jika imam tidak meminta salah seorang makmum untuk menggantikannya, maka makmum yang ada di belakang imam maju untuk menggantikannya dan menyempurnakan shalat bersama para makmum yang lain. Jika para makmum ingin memulai shalat dari awal lagi maka tidak mengapa, karena masalah ini ada khilaf di antara para ulama. Namun yang lebih rajih, hendaknya imam meminta salah seorang makmum untuk meneruskan shalat sebagaimana yang telah kami jelaskan, berdasarkan perbuatan Umar bin Khathab radhiallahu’anhu. Jika mereka ingin memulai shalat dari awal lagi maka tidak mengapa” (Majmu Fatawa wal Mawalat Mutanawwi’ah, juz 12 hal. 138).Imam tidak boleh meneruskan shalat dalam keadaan tanpa wudhuJika imam batal wudhu di tengah shalat, maka tidak boleh ia sengaja meneruskan shalatnya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:العمل في هذه الحال أن ينصرف من الصلاة، ويأمر أحد المأمومين الذين خلفه بتكميل الصلاة بالجماعة، فإذا قدرنا أنه تذكر وهو في الركعة الثالثة من الظهر أن ليس على طهارة، فإن الواجب عليه أن ينصرف، ولا يجوز أن يكمل الصلاة على غير طهارة، ويأخذ أحد المأمومين الذين خلفه ليتم الصلاة فيكمل بهم الثالثة، ويأتي بالرابعة ويسلم. فإذا قدر أنه لم يتذكر إلا بعد السلام، بطلت صلاته، أما صلاة المأمومين فصحيحة وليست باطلة“Yang dilakukan dalam keadaan demikian adalah imam membatalkan shalatnya, lalu memerintahkan salah seorang makmum yang ada di belakangnya untuk meneruskan shalat jama’ah. Jika kita katakan imam ingat pada rakaat ke tiga pada shalat zhuhur, bahwa ia belum berwudhu, maka wajib baginya untuk membatalkan shalat. Tidak boleh baginya untuk meneruskan shalat dalam keadaan tanpa wudhu. Lalu ia menarik salah seorang makmum yang ada di belakangnya kemudian (makmum ini menjadi imam) meneruskan rakaat ke tiga, lalu rakaat ke empat, lalu salam. Jika kita katakan imam baru ingat bahwa ia belum wudhu ketika setelah salam, maka shalat imam tersebut batal, namun shalat para makmum tetap sah dan tidak batal” (Majmu Fatawa war Rasail Syaikh Ibnu Al Utsaimin, juz 15, hal 219).Shalat makmum tidak batal dengan batalnya shalat imamJika shalat imam batal, apakah shalat makmum menjadi batal? Ulama khilaf dalam masalah ini. Yang rajih (kuat), shalat makmum tidak batal berdasarkan kaidah baqa’ul ashl (tetapnya hukum asal). Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:لا تبطل صلاة المأموم ببطلان صلاة الإمام، لأن صلاة المأموم صحيحه، والأصل بقاء الصحة، ولا يمكن أن تبطل إلا بدليل صحيح، فالإمام بطلت صلاته بمقتضى الدليل الصحيح، ولكن المأموم دخل بأمر الله فلا يمكن أن تفسد صلاته إلا بأمر الله، القاعدة: “أن من دخل في عبادة حسب ما أمر به فإننا لا نبطلها إلا بدليل”“Shalat makmum tidak batal dengan batalnya shalat imam. Shalat makmum tetap shahih. Hukum asalnya status sah tetap berlaku. Tidak mungkin kita menganggap batalnya suatu ibadah tanpa dalil. Adapun imam menjadi batal shalatnya berdasarkan dalil yang shahih. Sedangkan makmum dalam keadaan sedang melaksanakan perintah Allah (shalat), maka tidak mungkin kita anggap batal kecuali dengan perintah Allah pula. Kaidah mengatakan: ‘Barangsiapa yang melakukan suatu ibadah sesuai dengan apa yang Allah perintahkan, maka tidak menganggapnya batal kecuali dengan dalil'” (Majmu Fatawa war Rasail Syaikh Ibnu Al Utsaimin, juz 12, hal 451).Demikian semoga bermanfaat, wabillahi at taufiq was sadaad.***Penyusun: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id____🔍 Hadits Syukur, Arti Yaumul Mizan, Muhasabah Hati, Alquran Dengan Tajwid, Jumroh Aqobah


Kita ketahui bersama bahwa wudhu adalah syarat sah shalat. Tidak sah shalat seseorang tanpa wudhu dan jika wudhu seseorang batal, maka batal juga shalatnya. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:لا يقبلُ اللهَ صلاةَ أحدِكم إذا أحدثَ حتى يتوضأَ“Allah tidak menerima shalat seseorang jika ia berhadats sampai ia berwudhu“[1. HR. Al Bukhari no. 6954, Muslim no. 225].Lalu apa yang mesti dilakukan jika imam batal wudhunya ketika di tengah shalat? Yang dilakukan adalah imam membatalkan shalatnya lalu memerintahkan salah seorang makmum untuk meneruskan shalat. Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:أن المشروع للإمام أن يستخلف من يكمل بهم الصلاة، كما فعل عمر رضي الله عنه لما طعن وهو يصلي استخلف عبد الرحمن بن عوف رضي الله عنه فأتم بهم صلاة الفجر“yang disyariatkan bagi imam adalah meminta orang lain untuk menyempurnakan shalat. Sebagaimana dilakukan oleh Umar radhiallahu’anhu ketika beliau ditikam dalam keadaan sedang shalat. Lalu Umar meminta Abdurrahman bin Auf radhiallahu’anhu untuk menggantikannya dan menyempurnakan shalat shubuh[2. HR. Al Bukhari no. 3700]” (Majmu Fatawa wal Maqalat Mutanawwi’ah, juz 12 hal. 138).Atau jika imam tidak memerintahkan salah seorang makmum untuk menggantikan, maka makmum yang berdiri di belakang imam maju untuk menjadi imam. Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan:فإن لم يستخلف بهم الإمام تقدم بعض من وراءه فأكمل بالناس، فإن استأنفوا الصلاة من أولها فلا حرج في ذلك؛ لأن المسألة فيها خلاف بين أهل العلم لكن الأرجح هو أن الإمام يستخلف من يكمل بهم لما ذكرنا من فعل عمر رضي الله عنه فإن استأنفوا فلا بأس“Jika imam tidak meminta salah seorang makmum untuk menggantikannya, maka makmum yang ada di belakang imam maju untuk menggantikannya dan menyempurnakan shalat bersama para makmum yang lain. Jika para makmum ingin memulai shalat dari awal lagi maka tidak mengapa, karena masalah ini ada khilaf di antara para ulama. Namun yang lebih rajih, hendaknya imam meminta salah seorang makmum untuk meneruskan shalat sebagaimana yang telah kami jelaskan, berdasarkan perbuatan Umar bin Khathab radhiallahu’anhu. Jika mereka ingin memulai shalat dari awal lagi maka tidak mengapa” (Majmu Fatawa wal Mawalat Mutanawwi’ah, juz 12 hal. 138).Imam tidak boleh meneruskan shalat dalam keadaan tanpa wudhuJika imam batal wudhu di tengah shalat, maka tidak boleh ia sengaja meneruskan shalatnya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:العمل في هذه الحال أن ينصرف من الصلاة، ويأمر أحد المأمومين الذين خلفه بتكميل الصلاة بالجماعة، فإذا قدرنا أنه تذكر وهو في الركعة الثالثة من الظهر أن ليس على طهارة، فإن الواجب عليه أن ينصرف، ولا يجوز أن يكمل الصلاة على غير طهارة، ويأخذ أحد المأمومين الذين خلفه ليتم الصلاة فيكمل بهم الثالثة، ويأتي بالرابعة ويسلم. فإذا قدر أنه لم يتذكر إلا بعد السلام، بطلت صلاته، أما صلاة المأمومين فصحيحة وليست باطلة“Yang dilakukan dalam keadaan demikian adalah imam membatalkan shalatnya, lalu memerintahkan salah seorang makmum yang ada di belakangnya untuk meneruskan shalat jama’ah. Jika kita katakan imam ingat pada rakaat ke tiga pada shalat zhuhur, bahwa ia belum berwudhu, maka wajib baginya untuk membatalkan shalat. Tidak boleh baginya untuk meneruskan shalat dalam keadaan tanpa wudhu. Lalu ia menarik salah seorang makmum yang ada di belakangnya kemudian (makmum ini menjadi imam) meneruskan rakaat ke tiga, lalu rakaat ke empat, lalu salam. Jika kita katakan imam baru ingat bahwa ia belum wudhu ketika setelah salam, maka shalat imam tersebut batal, namun shalat para makmum tetap sah dan tidak batal” (Majmu Fatawa war Rasail Syaikh Ibnu Al Utsaimin, juz 15, hal 219).Shalat makmum tidak batal dengan batalnya shalat imamJika shalat imam batal, apakah shalat makmum menjadi batal? Ulama khilaf dalam masalah ini. Yang rajih (kuat), shalat makmum tidak batal berdasarkan kaidah baqa’ul ashl (tetapnya hukum asal). Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:لا تبطل صلاة المأموم ببطلان صلاة الإمام، لأن صلاة المأموم صحيحه، والأصل بقاء الصحة، ولا يمكن أن تبطل إلا بدليل صحيح، فالإمام بطلت صلاته بمقتضى الدليل الصحيح، ولكن المأموم دخل بأمر الله فلا يمكن أن تفسد صلاته إلا بأمر الله، القاعدة: “أن من دخل في عبادة حسب ما أمر به فإننا لا نبطلها إلا بدليل”“Shalat makmum tidak batal dengan batalnya shalat imam. Shalat makmum tetap shahih. Hukum asalnya status sah tetap berlaku. Tidak mungkin kita menganggap batalnya suatu ibadah tanpa dalil. Adapun imam menjadi batal shalatnya berdasarkan dalil yang shahih. Sedangkan makmum dalam keadaan sedang melaksanakan perintah Allah (shalat), maka tidak mungkin kita anggap batal kecuali dengan perintah Allah pula. Kaidah mengatakan: ‘Barangsiapa yang melakukan suatu ibadah sesuai dengan apa yang Allah perintahkan, maka tidak menganggapnya batal kecuali dengan dalil'” (Majmu Fatawa war Rasail Syaikh Ibnu Al Utsaimin, juz 12, hal 451).Demikian semoga bermanfaat, wabillahi at taufiq was sadaad.***Penyusun: Yulian PurnamaArtikel Muslim.or.id____🔍 Hadits Syukur, Arti Yaumul Mizan, Muhasabah Hati, Alquran Dengan Tajwid, Jumroh Aqobah
Prev     Next