Sirah Nabi 10 – Nasab Nabi Muhammad ﷺ

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah manusia termulia yang memiliki nasab yang mulia. Nasab beliau adalah sebagai berikut:مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ المُطَّلِبِ بْنِ هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ قُصَيِّ بْنِ كِلَابِ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعبِ بْنِ لؤَيِّ بْنِ غالِبِ بْنِ فِهْرِ بْنِ مَالِكِ بْنِ النَّضْرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ إِلْيَاسَ بْنِ مُضَرَ بْنِ نِزَارِ بْنِ مَعَدِّ بْنِ عَدْنَانَMuhammad bin ‘Abdillāh bin ‘Abdil Muththalib bin Hāsyim bin ‘Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ghālib bin Fihr bin Nadhar bin Kinānah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyās bin Mudhar bin Nizār bin Ma’ad bin Adnān. (Shahih Al-Bukhari 5/45)Pada bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa Qushay bin Kilab adalah kakek dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang mengumpulkan orang-orang Quraisy yang tercerai berai untuk merebut kekuasaan Ka’bah yang sebelumnya dikuasai oleh Bani Khuzā’ah.Para ulama telah ijmak (sepakat) tentang nasab Nabi hingga Adnān. Adapun dari Adnān sampai ke Ismā’īl ‘alayhissalām maka terdapat khilaf di kalangan para ulama. Selain itu tidak ada hadits shahīh yang menjelaskan tentang hal ini. Ada yang berpendapat bahwa dari Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām ada 40 bapak atau kakek.Ada yang mengatakan bahwa jumlah kakek Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām adalah 7 atau 9 atau 10.Pada intinya tidak ada kesepakatan di antara para ulama mengenai nasab beliau dari Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām. Adapun dari Ismā’īl ‘alayhissalām bin Ibrāhīm ‘alayhissalām sampai ke Ādam ‘alayhissalām lebih tidak pasti lagi. Sedangkan yang dipastikan oleh para ulama yaitu dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sampa Adnān.Di dalam hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beliau bersabda :إِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى بَنِي هَاشِمٍ مِنْ قُرَيْشٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِم“Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah memilih Bani Kinānah dari anak-anak Ismā’īl ‘alayhissalām dan dari keturunan Kinānah Allāh memilih suku Quraisy dan Allāh memilih dari suku Quraisy Bani Hāsyim dan Allāh memilih aku dari Bani Hāsyim.” (HR Muslim no 2276)Hadits di atas menunjukkan betapa mulianya nasab Rasūlullāh ﷺ dimana beliau terlahir dari jalur nasab yang kesemuanya merupakan manusia terpilih.Diantara kakek-kakek Nabi yang terkenal selain Qushay bin Kilab adalah ‘Abdul Muththalib. Dia semakin terkenal kedudukannya di kalangan orang-orang Arab karena dia bertemu langsung dengan Abrahah ketika meminta kembali 200 ekor untanya. Dan semakin terpandang ketika dia menemukan sumur zamzam.Sumur zamzam muncul di zaman Nabi Ismā’īl ‘alayhissalām (sebagaimana telah dijelaskan di bab yang telah lalu). Kemudian sumur zamzam itu sempat menghilang selama beberapa abad sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, disebabkan oleh kemaksiatan yang mereka lakukan di Mekkah. Sehingga lama kelamaan, sumur zamzam kehilangan air dan dilupakan dimana posisinya.Tatkala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan dilahirkan, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla ingin mengembalikan zamzam tersebut yang tadinya surut dan tertutup agar keluar lagi airnya. Dan orang yang menemukan air zamzam tersebut adalah kakek Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sendiri yaitu ‘Abdul Muththalib. Keterangan ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishāq dalam sirahnya dengan tashrih bissamā’ (penegasan mendengarnya), dan beliau (Ibnu Ishaq) adalah seorang yang shadūq. Menurut penilaian para ulama jarh wa ta’dil, apabila Ibnu Ishāq mengatakan “haddatsanii” (telah menyampaikan kepadaku) atau “sami’tu” (aku telah mendengar) maka sanadnya menjadi hasan. Adapun jika dia mengatakan “‘an” (dari) maka sanadnya lemah karena dia seorang mudallis. Di dalam riwayat ini, beliau menyampaikan secara tashrih bit tahdīts, dengan mengatakan “haddatsanii Yazīd bin Abī Habīb Al-Mishriy” hingga menyebutkan sanadnya kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu. Riwayat ini berasal dari kisah ‘Ali bin Abi Thālib yang mana beliau adalah putra dari Abū Thālib, sedangkan Abū Thālib adalah putra ‘Abdul Muththalib. Sehingga ‘Ali bin Abi Thālib menceritakan tentang kisah kakeknya. Riwayat ini bukanlah hadits tapi sekedar cerita tentang kisah kakeknya yaitu ‘Abdul Muththalib. Karena ‘Ali bin Abi Thālib sepupunya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Berikut ini kisahnya sebagaimana disebutkan dalam Sirah Ibnu Ishāq, ‘Abdul Muththalib bercerita:“Suatu hari aku tidur di Hijr Ismā’il (dekat Ka’bah), kemudian ada yang mengatakan kepadaku ‘Gali-lah thayyibah.’ Aku bertanya: ‘Apa itu thayyibah?’ namun dia malah pergi. Keesokan harinya aku kembali tidur di tempat tersebut. Kemudian suara itu datang kembali dan mengatakan ‘Galilah barrah’, maka aku berkata ‘Apa itu barrah?’. Dia pun pergi tidak menjelaskan. Besoknya aku tidur lagi, lalu datang lagi suara itu, dan berkata ‘galilah al-madhnunah’, maka aku berkata,” Apa itu al-madhnuunah?”, lalu ia pun pergi. Keesokan harinya aku kembali tidur di tempat tidurku, kemudian ia kembali berkata ‘Galilah zamzam’, maka aku bertanya ‘Apa itu zamzam?’ Lalu ia berkata, “Zamzam adalah air yang tidak akan surut, dengan air tersebut kau akan memberi minum para jama’ah haji.” Kemudian disebutkan posisinya, yaitu di tempat sarang semut.Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa ada burung gagak yang mematuk-matuk disitu. Dijelaskan namanya dan dijelaskan pula posisinya untuk digali. Karena mimpi yang ketiga lebih jelas maka keesokan harinya ‘Abdul Muththalib berangkat dengan membawa cangkulnya. Saat itu ‘Abdul Muththalib baru memiliki satu orang anak laki-laki yang bernama Al-Hārits. Mulailah ‘Abdul Muththalib menggali sumur tersebut, hingga mulai tampak tanda-tanda adanya sumur. Ketika kaum Quraisy mengetahui bahwa ‘Abdul Muththalib menemukan sumur, mereka mendatangi ‘Abdul Muththalib dan berkata: “Wahai ‘Abdul Muththalib, sumur tersebut adalah sumur kakek kita, Ismā’īl ‘alayhissalām. Kami juga punya hak terhadap sumur tersebut. Maka jadikanlah kami termasuk pemilik sumur tersebut. ‘Abdul Muththalib berkata: “Aku tidak mau, ini milikku. Sumur ini telah dikhususkan menjadi milikku, akan tetapi aku akan berbagi dengan kalian.” Mereka pun berkata: “Adillah terhadap kita, kalau tidak, kami tidak akan membiarkanmu menguasai sumur ini sampai kita berhakim kepada seseorang.” Maka ‘Abdul Muththalib dengan adilnya berkata: “Pilihlah siapa saja yang kita akan berhukum kepadanya.” Mereka berkata : “Ada seorang Perempuan dukun tetapi tempatnya jauh di negeri Syam sana.” Maka ‘Abdul Muththalib pun menyetujuinya. Berangkatlah ‘Abdul Muththalib bersama beberapa saudara dari Bani ‘Abdi Manaf, dengan sejumlah orang Quraisy lainnya, mereka berjalan bersama dalam dua grup rombongan. Grup pertama ‘Abdul Muththalib dengan Bani ‘Abdi Manaf dan grup kedua dari qabilah-qabilah lain yang menuntut untuk diberikan zamzam.Saat mereka melewati padang pasir, tiba-tiba persediaan air milik ‘Abdul Muththalib habis, sementara perjalanan masih sangat jauh. Selama dalam perjalanan tersebut mereka tidak menemukan sumber mata air. Hal ini menyebabkan rombongan ‘Abdul Muththalib kehausan, sementara rombongan yang satu masih memiliki persediaan air yang mencukupi. Akhinya ‘Abdul Muththalib dan rombongannya meminta air ke rombongan satunya, tetapi mereka menolak untuk memberi air. Di saat masing-masing dari kelompok ‘Abdul Muththalib merasa akan mati, muncullah ide dalam benak ‘Abdul Muththalib. “Kita masing-masing akan menggali kuburan kita, daripada kita semua tergeletak tanpa ada yang menguburkan. Siapa yang mati terlebih dahulu kita akan kubur lalu kita tutup, begitupun yang mati berikutnya sampai terakhir hanya bersisa satu yang akan mati tanpa dikuburkan.” Akhirnya mereka mulai menggali kuburan masing-masing dan perbuatan ini disaksikan oleh rombongan satunya dan tanpa memperdulikannya.Namun, setelah lubang-lubang kuburan tersebut tergali, ‘Abdul Muththalib lantas berubah pikiran dan mengatakan: “Perbuatan ini hanyalah sikap pasrah, kita harus berusaha.” Akhirnya mereka meninggalkan kuburan yang telah mereka gali. Mulailah ‘Abdul Muththalib naik ke atas untanya lalu tiba-tiba dari kaki untanya keluar mata air. Setelah itu ‘Abdul Muththalib mengambil air dan meminumnya kemudian memanggil grup sebelah yang tidak mau memberikan air kepada’ Abdul Muththalib dan akhirnya mereka pun datang dan ikut minum. Akhirnya grup sebelah sadar bahwasanya air zamzam itu adalah hak ‘Abdul Muththalib, buktinya adalah di tengah-tengah padang pasir Allāh keluarkan air khusus untuk ‘Abdul Muththalib. Akhirnya mereka tidak jadi pergi ke dukun yang berada di daerah Syam, tetapi mereka kembali ke Mekkah dan menyatakan bahwasanya air zamzam tersebut adalah milik ‘Abdul Muththalib.Demikianlah kisah kakek Nabi, ‘Abdul Muththalib. Telah diterangkan sebelumnya bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dipilih oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan nasab yang sangat tinggi. Sebagaimana dikisahkan dalam Shahīh Bukhari, ketika Abū Sufyan masih dalam keadaan kafir, dia pernah bertemu dengan Kaisar Romawi Hieraklius. Hieraklus bertanya tentang Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan Abū Sufyan menjawabnya dengan jujur walaupun ia kafir. Diantara pertanyaan Hieraklius yang ditanyakan kepada Abū Sufyan adalah tentang nasab Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Hieraklius bertanya,كَيْفَ نَسَبُهُ فِيكُمْ؟“Bagaimana nasab Nabi tersebut?”Maka kata Abū Sufyan:هُوَ فِينَا ذُو نَسَبٍ“Sesungguhnya Muhammad itu di kalangan kami adalah orang yang nasabnya tinggi.”Setelah itu Hieraklius berkata:فَكَذَلِكَ الرُّسُلُ تُبْعَثُ فِي نَسَبِ قَوْمِهَا “Demikianlah para Rasul, mereka diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan nasab yang tinggi diantara kaumnya.” (HR Al-Bukhari no 7)Inilah hikmah yang disebutkan oleh para ulama kenapa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dipilih dari kalangan nasab yang tinggi dan terbaik, sehingga tidak ada orang-orang Arab yang akan mencela nasab Nabi. Karena mereka sadar bahwa nasab mereka lebih rendah dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Bagaimana tidak? Kakek Nabi yaitu ‘Abdul Muththalib adalah pemilik zamzam dan pemimpin orang-orang Quraisy. Seandainya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam diutus dari nasab yang rendah dari rakyat jelata yang tidak punya kedudukan, maka orang-orang akan menuduh bahwa Muhammad mengaku dirinya sebagai Nabi hanya untuk mencari kekuasaan dan penghormatan.Sedangkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak perlu mencari penghormatan, karena beliau sudah menjadi orang yang dihormati. Bahkan ketika berdakwah menyampaikan Islam, beliau malah direndahkan. Sehingga, tatkala Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam diutus dari golongan berstrata tinggi, maka hal ini akan menutup pintu tuduhan bahwa Nabi memiliki tendensi tertentu. Oleh karena itu, Allāh menjadikan Nabi Muhammad (dan juga para nabi yang lain) bernasab tinggi, salah satu hikmahnya adalah apabila orang-orang bernaung di bawah Nabi, mereka tidak akan merasa rendah karena Nabi mereka memilik nasab yang tinggi. Jakarta, 03-02-1439 H / 24-10-2017 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com

Sirah Nabi 10 – Nasab Nabi Muhammad ﷺ

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah manusia termulia yang memiliki nasab yang mulia. Nasab beliau adalah sebagai berikut:مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ المُطَّلِبِ بْنِ هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ قُصَيِّ بْنِ كِلَابِ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعبِ بْنِ لؤَيِّ بْنِ غالِبِ بْنِ فِهْرِ بْنِ مَالِكِ بْنِ النَّضْرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ إِلْيَاسَ بْنِ مُضَرَ بْنِ نِزَارِ بْنِ مَعَدِّ بْنِ عَدْنَانَMuhammad bin ‘Abdillāh bin ‘Abdil Muththalib bin Hāsyim bin ‘Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ghālib bin Fihr bin Nadhar bin Kinānah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyās bin Mudhar bin Nizār bin Ma’ad bin Adnān. (Shahih Al-Bukhari 5/45)Pada bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa Qushay bin Kilab adalah kakek dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang mengumpulkan orang-orang Quraisy yang tercerai berai untuk merebut kekuasaan Ka’bah yang sebelumnya dikuasai oleh Bani Khuzā’ah.Para ulama telah ijmak (sepakat) tentang nasab Nabi hingga Adnān. Adapun dari Adnān sampai ke Ismā’īl ‘alayhissalām maka terdapat khilaf di kalangan para ulama. Selain itu tidak ada hadits shahīh yang menjelaskan tentang hal ini. Ada yang berpendapat bahwa dari Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām ada 40 bapak atau kakek.Ada yang mengatakan bahwa jumlah kakek Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām adalah 7 atau 9 atau 10.Pada intinya tidak ada kesepakatan di antara para ulama mengenai nasab beliau dari Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām. Adapun dari Ismā’īl ‘alayhissalām bin Ibrāhīm ‘alayhissalām sampai ke Ādam ‘alayhissalām lebih tidak pasti lagi. Sedangkan yang dipastikan oleh para ulama yaitu dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sampa Adnān.Di dalam hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beliau bersabda :إِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى بَنِي هَاشِمٍ مِنْ قُرَيْشٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِم“Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah memilih Bani Kinānah dari anak-anak Ismā’īl ‘alayhissalām dan dari keturunan Kinānah Allāh memilih suku Quraisy dan Allāh memilih dari suku Quraisy Bani Hāsyim dan Allāh memilih aku dari Bani Hāsyim.” (HR Muslim no 2276)Hadits di atas menunjukkan betapa mulianya nasab Rasūlullāh ﷺ dimana beliau terlahir dari jalur nasab yang kesemuanya merupakan manusia terpilih.Diantara kakek-kakek Nabi yang terkenal selain Qushay bin Kilab adalah ‘Abdul Muththalib. Dia semakin terkenal kedudukannya di kalangan orang-orang Arab karena dia bertemu langsung dengan Abrahah ketika meminta kembali 200 ekor untanya. Dan semakin terpandang ketika dia menemukan sumur zamzam.Sumur zamzam muncul di zaman Nabi Ismā’īl ‘alayhissalām (sebagaimana telah dijelaskan di bab yang telah lalu). Kemudian sumur zamzam itu sempat menghilang selama beberapa abad sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, disebabkan oleh kemaksiatan yang mereka lakukan di Mekkah. Sehingga lama kelamaan, sumur zamzam kehilangan air dan dilupakan dimana posisinya.Tatkala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan dilahirkan, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla ingin mengembalikan zamzam tersebut yang tadinya surut dan tertutup agar keluar lagi airnya. Dan orang yang menemukan air zamzam tersebut adalah kakek Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sendiri yaitu ‘Abdul Muththalib. Keterangan ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishāq dalam sirahnya dengan tashrih bissamā’ (penegasan mendengarnya), dan beliau (Ibnu Ishaq) adalah seorang yang shadūq. Menurut penilaian para ulama jarh wa ta’dil, apabila Ibnu Ishāq mengatakan “haddatsanii” (telah menyampaikan kepadaku) atau “sami’tu” (aku telah mendengar) maka sanadnya menjadi hasan. Adapun jika dia mengatakan “‘an” (dari) maka sanadnya lemah karena dia seorang mudallis. Di dalam riwayat ini, beliau menyampaikan secara tashrih bit tahdīts, dengan mengatakan “haddatsanii Yazīd bin Abī Habīb Al-Mishriy” hingga menyebutkan sanadnya kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu. Riwayat ini berasal dari kisah ‘Ali bin Abi Thālib yang mana beliau adalah putra dari Abū Thālib, sedangkan Abū Thālib adalah putra ‘Abdul Muththalib. Sehingga ‘Ali bin Abi Thālib menceritakan tentang kisah kakeknya. Riwayat ini bukanlah hadits tapi sekedar cerita tentang kisah kakeknya yaitu ‘Abdul Muththalib. Karena ‘Ali bin Abi Thālib sepupunya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Berikut ini kisahnya sebagaimana disebutkan dalam Sirah Ibnu Ishāq, ‘Abdul Muththalib bercerita:“Suatu hari aku tidur di Hijr Ismā’il (dekat Ka’bah), kemudian ada yang mengatakan kepadaku ‘Gali-lah thayyibah.’ Aku bertanya: ‘Apa itu thayyibah?’ namun dia malah pergi. Keesokan harinya aku kembali tidur di tempat tersebut. Kemudian suara itu datang kembali dan mengatakan ‘Galilah barrah’, maka aku berkata ‘Apa itu barrah?’. Dia pun pergi tidak menjelaskan. Besoknya aku tidur lagi, lalu datang lagi suara itu, dan berkata ‘galilah al-madhnunah’, maka aku berkata,” Apa itu al-madhnuunah?”, lalu ia pun pergi. Keesokan harinya aku kembali tidur di tempat tidurku, kemudian ia kembali berkata ‘Galilah zamzam’, maka aku bertanya ‘Apa itu zamzam?’ Lalu ia berkata, “Zamzam adalah air yang tidak akan surut, dengan air tersebut kau akan memberi minum para jama’ah haji.” Kemudian disebutkan posisinya, yaitu di tempat sarang semut.Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa ada burung gagak yang mematuk-matuk disitu. Dijelaskan namanya dan dijelaskan pula posisinya untuk digali. Karena mimpi yang ketiga lebih jelas maka keesokan harinya ‘Abdul Muththalib berangkat dengan membawa cangkulnya. Saat itu ‘Abdul Muththalib baru memiliki satu orang anak laki-laki yang bernama Al-Hārits. Mulailah ‘Abdul Muththalib menggali sumur tersebut, hingga mulai tampak tanda-tanda adanya sumur. Ketika kaum Quraisy mengetahui bahwa ‘Abdul Muththalib menemukan sumur, mereka mendatangi ‘Abdul Muththalib dan berkata: “Wahai ‘Abdul Muththalib, sumur tersebut adalah sumur kakek kita, Ismā’īl ‘alayhissalām. Kami juga punya hak terhadap sumur tersebut. Maka jadikanlah kami termasuk pemilik sumur tersebut. ‘Abdul Muththalib berkata: “Aku tidak mau, ini milikku. Sumur ini telah dikhususkan menjadi milikku, akan tetapi aku akan berbagi dengan kalian.” Mereka pun berkata: “Adillah terhadap kita, kalau tidak, kami tidak akan membiarkanmu menguasai sumur ini sampai kita berhakim kepada seseorang.” Maka ‘Abdul Muththalib dengan adilnya berkata: “Pilihlah siapa saja yang kita akan berhukum kepadanya.” Mereka berkata : “Ada seorang Perempuan dukun tetapi tempatnya jauh di negeri Syam sana.” Maka ‘Abdul Muththalib pun menyetujuinya. Berangkatlah ‘Abdul Muththalib bersama beberapa saudara dari Bani ‘Abdi Manaf, dengan sejumlah orang Quraisy lainnya, mereka berjalan bersama dalam dua grup rombongan. Grup pertama ‘Abdul Muththalib dengan Bani ‘Abdi Manaf dan grup kedua dari qabilah-qabilah lain yang menuntut untuk diberikan zamzam.Saat mereka melewati padang pasir, tiba-tiba persediaan air milik ‘Abdul Muththalib habis, sementara perjalanan masih sangat jauh. Selama dalam perjalanan tersebut mereka tidak menemukan sumber mata air. Hal ini menyebabkan rombongan ‘Abdul Muththalib kehausan, sementara rombongan yang satu masih memiliki persediaan air yang mencukupi. Akhinya ‘Abdul Muththalib dan rombongannya meminta air ke rombongan satunya, tetapi mereka menolak untuk memberi air. Di saat masing-masing dari kelompok ‘Abdul Muththalib merasa akan mati, muncullah ide dalam benak ‘Abdul Muththalib. “Kita masing-masing akan menggali kuburan kita, daripada kita semua tergeletak tanpa ada yang menguburkan. Siapa yang mati terlebih dahulu kita akan kubur lalu kita tutup, begitupun yang mati berikutnya sampai terakhir hanya bersisa satu yang akan mati tanpa dikuburkan.” Akhirnya mereka mulai menggali kuburan masing-masing dan perbuatan ini disaksikan oleh rombongan satunya dan tanpa memperdulikannya.Namun, setelah lubang-lubang kuburan tersebut tergali, ‘Abdul Muththalib lantas berubah pikiran dan mengatakan: “Perbuatan ini hanyalah sikap pasrah, kita harus berusaha.” Akhirnya mereka meninggalkan kuburan yang telah mereka gali. Mulailah ‘Abdul Muththalib naik ke atas untanya lalu tiba-tiba dari kaki untanya keluar mata air. Setelah itu ‘Abdul Muththalib mengambil air dan meminumnya kemudian memanggil grup sebelah yang tidak mau memberikan air kepada’ Abdul Muththalib dan akhirnya mereka pun datang dan ikut minum. Akhirnya grup sebelah sadar bahwasanya air zamzam itu adalah hak ‘Abdul Muththalib, buktinya adalah di tengah-tengah padang pasir Allāh keluarkan air khusus untuk ‘Abdul Muththalib. Akhirnya mereka tidak jadi pergi ke dukun yang berada di daerah Syam, tetapi mereka kembali ke Mekkah dan menyatakan bahwasanya air zamzam tersebut adalah milik ‘Abdul Muththalib.Demikianlah kisah kakek Nabi, ‘Abdul Muththalib. Telah diterangkan sebelumnya bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dipilih oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan nasab yang sangat tinggi. Sebagaimana dikisahkan dalam Shahīh Bukhari, ketika Abū Sufyan masih dalam keadaan kafir, dia pernah bertemu dengan Kaisar Romawi Hieraklius. Hieraklus bertanya tentang Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan Abū Sufyan menjawabnya dengan jujur walaupun ia kafir. Diantara pertanyaan Hieraklius yang ditanyakan kepada Abū Sufyan adalah tentang nasab Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Hieraklius bertanya,كَيْفَ نَسَبُهُ فِيكُمْ؟“Bagaimana nasab Nabi tersebut?”Maka kata Abū Sufyan:هُوَ فِينَا ذُو نَسَبٍ“Sesungguhnya Muhammad itu di kalangan kami adalah orang yang nasabnya tinggi.”Setelah itu Hieraklius berkata:فَكَذَلِكَ الرُّسُلُ تُبْعَثُ فِي نَسَبِ قَوْمِهَا “Demikianlah para Rasul, mereka diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan nasab yang tinggi diantara kaumnya.” (HR Al-Bukhari no 7)Inilah hikmah yang disebutkan oleh para ulama kenapa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dipilih dari kalangan nasab yang tinggi dan terbaik, sehingga tidak ada orang-orang Arab yang akan mencela nasab Nabi. Karena mereka sadar bahwa nasab mereka lebih rendah dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Bagaimana tidak? Kakek Nabi yaitu ‘Abdul Muththalib adalah pemilik zamzam dan pemimpin orang-orang Quraisy. Seandainya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam diutus dari nasab yang rendah dari rakyat jelata yang tidak punya kedudukan, maka orang-orang akan menuduh bahwa Muhammad mengaku dirinya sebagai Nabi hanya untuk mencari kekuasaan dan penghormatan.Sedangkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak perlu mencari penghormatan, karena beliau sudah menjadi orang yang dihormati. Bahkan ketika berdakwah menyampaikan Islam, beliau malah direndahkan. Sehingga, tatkala Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam diutus dari golongan berstrata tinggi, maka hal ini akan menutup pintu tuduhan bahwa Nabi memiliki tendensi tertentu. Oleh karena itu, Allāh menjadikan Nabi Muhammad (dan juga para nabi yang lain) bernasab tinggi, salah satu hikmahnya adalah apabila orang-orang bernaung di bawah Nabi, mereka tidak akan merasa rendah karena Nabi mereka memilik nasab yang tinggi. Jakarta, 03-02-1439 H / 24-10-2017 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com
Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah manusia termulia yang memiliki nasab yang mulia. Nasab beliau adalah sebagai berikut:مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ المُطَّلِبِ بْنِ هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ قُصَيِّ بْنِ كِلَابِ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعبِ بْنِ لؤَيِّ بْنِ غالِبِ بْنِ فِهْرِ بْنِ مَالِكِ بْنِ النَّضْرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ إِلْيَاسَ بْنِ مُضَرَ بْنِ نِزَارِ بْنِ مَعَدِّ بْنِ عَدْنَانَMuhammad bin ‘Abdillāh bin ‘Abdil Muththalib bin Hāsyim bin ‘Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ghālib bin Fihr bin Nadhar bin Kinānah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyās bin Mudhar bin Nizār bin Ma’ad bin Adnān. (Shahih Al-Bukhari 5/45)Pada bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa Qushay bin Kilab adalah kakek dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang mengumpulkan orang-orang Quraisy yang tercerai berai untuk merebut kekuasaan Ka’bah yang sebelumnya dikuasai oleh Bani Khuzā’ah.Para ulama telah ijmak (sepakat) tentang nasab Nabi hingga Adnān. Adapun dari Adnān sampai ke Ismā’īl ‘alayhissalām maka terdapat khilaf di kalangan para ulama. Selain itu tidak ada hadits shahīh yang menjelaskan tentang hal ini. Ada yang berpendapat bahwa dari Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām ada 40 bapak atau kakek.Ada yang mengatakan bahwa jumlah kakek Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām adalah 7 atau 9 atau 10.Pada intinya tidak ada kesepakatan di antara para ulama mengenai nasab beliau dari Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām. Adapun dari Ismā’īl ‘alayhissalām bin Ibrāhīm ‘alayhissalām sampai ke Ādam ‘alayhissalām lebih tidak pasti lagi. Sedangkan yang dipastikan oleh para ulama yaitu dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sampa Adnān.Di dalam hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beliau bersabda :إِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى بَنِي هَاشِمٍ مِنْ قُرَيْشٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِم“Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah memilih Bani Kinānah dari anak-anak Ismā’īl ‘alayhissalām dan dari keturunan Kinānah Allāh memilih suku Quraisy dan Allāh memilih dari suku Quraisy Bani Hāsyim dan Allāh memilih aku dari Bani Hāsyim.” (HR Muslim no 2276)Hadits di atas menunjukkan betapa mulianya nasab Rasūlullāh ﷺ dimana beliau terlahir dari jalur nasab yang kesemuanya merupakan manusia terpilih.Diantara kakek-kakek Nabi yang terkenal selain Qushay bin Kilab adalah ‘Abdul Muththalib. Dia semakin terkenal kedudukannya di kalangan orang-orang Arab karena dia bertemu langsung dengan Abrahah ketika meminta kembali 200 ekor untanya. Dan semakin terpandang ketika dia menemukan sumur zamzam.Sumur zamzam muncul di zaman Nabi Ismā’īl ‘alayhissalām (sebagaimana telah dijelaskan di bab yang telah lalu). Kemudian sumur zamzam itu sempat menghilang selama beberapa abad sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, disebabkan oleh kemaksiatan yang mereka lakukan di Mekkah. Sehingga lama kelamaan, sumur zamzam kehilangan air dan dilupakan dimana posisinya.Tatkala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan dilahirkan, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla ingin mengembalikan zamzam tersebut yang tadinya surut dan tertutup agar keluar lagi airnya. Dan orang yang menemukan air zamzam tersebut adalah kakek Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sendiri yaitu ‘Abdul Muththalib. Keterangan ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishāq dalam sirahnya dengan tashrih bissamā’ (penegasan mendengarnya), dan beliau (Ibnu Ishaq) adalah seorang yang shadūq. Menurut penilaian para ulama jarh wa ta’dil, apabila Ibnu Ishāq mengatakan “haddatsanii” (telah menyampaikan kepadaku) atau “sami’tu” (aku telah mendengar) maka sanadnya menjadi hasan. Adapun jika dia mengatakan “‘an” (dari) maka sanadnya lemah karena dia seorang mudallis. Di dalam riwayat ini, beliau menyampaikan secara tashrih bit tahdīts, dengan mengatakan “haddatsanii Yazīd bin Abī Habīb Al-Mishriy” hingga menyebutkan sanadnya kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu. Riwayat ini berasal dari kisah ‘Ali bin Abi Thālib yang mana beliau adalah putra dari Abū Thālib, sedangkan Abū Thālib adalah putra ‘Abdul Muththalib. Sehingga ‘Ali bin Abi Thālib menceritakan tentang kisah kakeknya. Riwayat ini bukanlah hadits tapi sekedar cerita tentang kisah kakeknya yaitu ‘Abdul Muththalib. Karena ‘Ali bin Abi Thālib sepupunya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Berikut ini kisahnya sebagaimana disebutkan dalam Sirah Ibnu Ishāq, ‘Abdul Muththalib bercerita:“Suatu hari aku tidur di Hijr Ismā’il (dekat Ka’bah), kemudian ada yang mengatakan kepadaku ‘Gali-lah thayyibah.’ Aku bertanya: ‘Apa itu thayyibah?’ namun dia malah pergi. Keesokan harinya aku kembali tidur di tempat tersebut. Kemudian suara itu datang kembali dan mengatakan ‘Galilah barrah’, maka aku berkata ‘Apa itu barrah?’. Dia pun pergi tidak menjelaskan. Besoknya aku tidur lagi, lalu datang lagi suara itu, dan berkata ‘galilah al-madhnunah’, maka aku berkata,” Apa itu al-madhnuunah?”, lalu ia pun pergi. Keesokan harinya aku kembali tidur di tempat tidurku, kemudian ia kembali berkata ‘Galilah zamzam’, maka aku bertanya ‘Apa itu zamzam?’ Lalu ia berkata, “Zamzam adalah air yang tidak akan surut, dengan air tersebut kau akan memberi minum para jama’ah haji.” Kemudian disebutkan posisinya, yaitu di tempat sarang semut.Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa ada burung gagak yang mematuk-matuk disitu. Dijelaskan namanya dan dijelaskan pula posisinya untuk digali. Karena mimpi yang ketiga lebih jelas maka keesokan harinya ‘Abdul Muththalib berangkat dengan membawa cangkulnya. Saat itu ‘Abdul Muththalib baru memiliki satu orang anak laki-laki yang bernama Al-Hārits. Mulailah ‘Abdul Muththalib menggali sumur tersebut, hingga mulai tampak tanda-tanda adanya sumur. Ketika kaum Quraisy mengetahui bahwa ‘Abdul Muththalib menemukan sumur, mereka mendatangi ‘Abdul Muththalib dan berkata: “Wahai ‘Abdul Muththalib, sumur tersebut adalah sumur kakek kita, Ismā’īl ‘alayhissalām. Kami juga punya hak terhadap sumur tersebut. Maka jadikanlah kami termasuk pemilik sumur tersebut. ‘Abdul Muththalib berkata: “Aku tidak mau, ini milikku. Sumur ini telah dikhususkan menjadi milikku, akan tetapi aku akan berbagi dengan kalian.” Mereka pun berkata: “Adillah terhadap kita, kalau tidak, kami tidak akan membiarkanmu menguasai sumur ini sampai kita berhakim kepada seseorang.” Maka ‘Abdul Muththalib dengan adilnya berkata: “Pilihlah siapa saja yang kita akan berhukum kepadanya.” Mereka berkata : “Ada seorang Perempuan dukun tetapi tempatnya jauh di negeri Syam sana.” Maka ‘Abdul Muththalib pun menyetujuinya. Berangkatlah ‘Abdul Muththalib bersama beberapa saudara dari Bani ‘Abdi Manaf, dengan sejumlah orang Quraisy lainnya, mereka berjalan bersama dalam dua grup rombongan. Grup pertama ‘Abdul Muththalib dengan Bani ‘Abdi Manaf dan grup kedua dari qabilah-qabilah lain yang menuntut untuk diberikan zamzam.Saat mereka melewati padang pasir, tiba-tiba persediaan air milik ‘Abdul Muththalib habis, sementara perjalanan masih sangat jauh. Selama dalam perjalanan tersebut mereka tidak menemukan sumber mata air. Hal ini menyebabkan rombongan ‘Abdul Muththalib kehausan, sementara rombongan yang satu masih memiliki persediaan air yang mencukupi. Akhinya ‘Abdul Muththalib dan rombongannya meminta air ke rombongan satunya, tetapi mereka menolak untuk memberi air. Di saat masing-masing dari kelompok ‘Abdul Muththalib merasa akan mati, muncullah ide dalam benak ‘Abdul Muththalib. “Kita masing-masing akan menggali kuburan kita, daripada kita semua tergeletak tanpa ada yang menguburkan. Siapa yang mati terlebih dahulu kita akan kubur lalu kita tutup, begitupun yang mati berikutnya sampai terakhir hanya bersisa satu yang akan mati tanpa dikuburkan.” Akhirnya mereka mulai menggali kuburan masing-masing dan perbuatan ini disaksikan oleh rombongan satunya dan tanpa memperdulikannya.Namun, setelah lubang-lubang kuburan tersebut tergali, ‘Abdul Muththalib lantas berubah pikiran dan mengatakan: “Perbuatan ini hanyalah sikap pasrah, kita harus berusaha.” Akhirnya mereka meninggalkan kuburan yang telah mereka gali. Mulailah ‘Abdul Muththalib naik ke atas untanya lalu tiba-tiba dari kaki untanya keluar mata air. Setelah itu ‘Abdul Muththalib mengambil air dan meminumnya kemudian memanggil grup sebelah yang tidak mau memberikan air kepada’ Abdul Muththalib dan akhirnya mereka pun datang dan ikut minum. Akhirnya grup sebelah sadar bahwasanya air zamzam itu adalah hak ‘Abdul Muththalib, buktinya adalah di tengah-tengah padang pasir Allāh keluarkan air khusus untuk ‘Abdul Muththalib. Akhirnya mereka tidak jadi pergi ke dukun yang berada di daerah Syam, tetapi mereka kembali ke Mekkah dan menyatakan bahwasanya air zamzam tersebut adalah milik ‘Abdul Muththalib.Demikianlah kisah kakek Nabi, ‘Abdul Muththalib. Telah diterangkan sebelumnya bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dipilih oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan nasab yang sangat tinggi. Sebagaimana dikisahkan dalam Shahīh Bukhari, ketika Abū Sufyan masih dalam keadaan kafir, dia pernah bertemu dengan Kaisar Romawi Hieraklius. Hieraklus bertanya tentang Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan Abū Sufyan menjawabnya dengan jujur walaupun ia kafir. Diantara pertanyaan Hieraklius yang ditanyakan kepada Abū Sufyan adalah tentang nasab Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Hieraklius bertanya,كَيْفَ نَسَبُهُ فِيكُمْ؟“Bagaimana nasab Nabi tersebut?”Maka kata Abū Sufyan:هُوَ فِينَا ذُو نَسَبٍ“Sesungguhnya Muhammad itu di kalangan kami adalah orang yang nasabnya tinggi.”Setelah itu Hieraklius berkata:فَكَذَلِكَ الرُّسُلُ تُبْعَثُ فِي نَسَبِ قَوْمِهَا “Demikianlah para Rasul, mereka diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan nasab yang tinggi diantara kaumnya.” (HR Al-Bukhari no 7)Inilah hikmah yang disebutkan oleh para ulama kenapa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dipilih dari kalangan nasab yang tinggi dan terbaik, sehingga tidak ada orang-orang Arab yang akan mencela nasab Nabi. Karena mereka sadar bahwa nasab mereka lebih rendah dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Bagaimana tidak? Kakek Nabi yaitu ‘Abdul Muththalib adalah pemilik zamzam dan pemimpin orang-orang Quraisy. Seandainya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam diutus dari nasab yang rendah dari rakyat jelata yang tidak punya kedudukan, maka orang-orang akan menuduh bahwa Muhammad mengaku dirinya sebagai Nabi hanya untuk mencari kekuasaan dan penghormatan.Sedangkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak perlu mencari penghormatan, karena beliau sudah menjadi orang yang dihormati. Bahkan ketika berdakwah menyampaikan Islam, beliau malah direndahkan. Sehingga, tatkala Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam diutus dari golongan berstrata tinggi, maka hal ini akan menutup pintu tuduhan bahwa Nabi memiliki tendensi tertentu. Oleh karena itu, Allāh menjadikan Nabi Muhammad (dan juga para nabi yang lain) bernasab tinggi, salah satu hikmahnya adalah apabila orang-orang bernaung di bawah Nabi, mereka tidak akan merasa rendah karena Nabi mereka memilik nasab yang tinggi. Jakarta, 03-02-1439 H / 24-10-2017 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com


Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah manusia termulia yang memiliki nasab yang mulia. Nasab beliau adalah sebagai berikut:مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ المُطَّلِبِ بْنِ هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ قُصَيِّ بْنِ كِلَابِ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعبِ بْنِ لؤَيِّ بْنِ غالِبِ بْنِ فِهْرِ بْنِ مَالِكِ بْنِ النَّضْرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ إِلْيَاسَ بْنِ مُضَرَ بْنِ نِزَارِ بْنِ مَعَدِّ بْنِ عَدْنَانَMuhammad bin ‘Abdillāh bin ‘Abdil Muththalib bin Hāsyim bin ‘Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ghālib bin Fihr bin Nadhar bin Kinānah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyās bin Mudhar bin Nizār bin Ma’ad bin Adnān. (Shahih Al-Bukhari 5/45)Pada bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa Qushay bin Kilab adalah kakek dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang mengumpulkan orang-orang Quraisy yang tercerai berai untuk merebut kekuasaan Ka’bah yang sebelumnya dikuasai oleh Bani Khuzā’ah.Para ulama telah ijmak (sepakat) tentang nasab Nabi hingga Adnān. Adapun dari Adnān sampai ke Ismā’īl ‘alayhissalām maka terdapat khilaf di kalangan para ulama. Selain itu tidak ada hadits shahīh yang menjelaskan tentang hal ini. Ada yang berpendapat bahwa dari Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām ada 40 bapak atau kakek.Ada yang mengatakan bahwa jumlah kakek Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām adalah 7 atau 9 atau 10.Pada intinya tidak ada kesepakatan di antara para ulama mengenai nasab beliau dari Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām. Adapun dari Ismā’īl ‘alayhissalām bin Ibrāhīm ‘alayhissalām sampai ke Ādam ‘alayhissalām lebih tidak pasti lagi. Sedangkan yang dipastikan oleh para ulama yaitu dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sampa Adnān.Di dalam hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beliau bersabda :إِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى بَنِي هَاشِمٍ مِنْ قُرَيْشٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِم“Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah memilih Bani Kinānah dari anak-anak Ismā’īl ‘alayhissalām dan dari keturunan Kinānah Allāh memilih suku Quraisy dan Allāh memilih dari suku Quraisy Bani Hāsyim dan Allāh memilih aku dari Bani Hāsyim.” (HR Muslim no 2276)Hadits di atas menunjukkan betapa mulianya nasab Rasūlullāh ﷺ dimana beliau terlahir dari jalur nasab yang kesemuanya merupakan manusia terpilih.Diantara kakek-kakek Nabi yang terkenal selain Qushay bin Kilab adalah ‘Abdul Muththalib. Dia semakin terkenal kedudukannya di kalangan orang-orang Arab karena dia bertemu langsung dengan Abrahah ketika meminta kembali 200 ekor untanya. Dan semakin terpandang ketika dia menemukan sumur zamzam.Sumur zamzam muncul di zaman Nabi Ismā’īl ‘alayhissalām (sebagaimana telah dijelaskan di bab yang telah lalu). Kemudian sumur zamzam itu sempat menghilang selama beberapa abad sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, disebabkan oleh kemaksiatan yang mereka lakukan di Mekkah. Sehingga lama kelamaan, sumur zamzam kehilangan air dan dilupakan dimana posisinya.Tatkala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan dilahirkan, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla ingin mengembalikan zamzam tersebut yang tadinya surut dan tertutup agar keluar lagi airnya. Dan orang yang menemukan air zamzam tersebut adalah kakek Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sendiri yaitu ‘Abdul Muththalib. Keterangan ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishāq dalam sirahnya dengan tashrih bissamā’ (penegasan mendengarnya), dan beliau (Ibnu Ishaq) adalah seorang yang shadūq. Menurut penilaian para ulama jarh wa ta’dil, apabila Ibnu Ishāq mengatakan “haddatsanii” (telah menyampaikan kepadaku) atau “sami’tu” (aku telah mendengar) maka sanadnya menjadi hasan. Adapun jika dia mengatakan “‘an” (dari) maka sanadnya lemah karena dia seorang mudallis. Di dalam riwayat ini, beliau menyampaikan secara tashrih bit tahdīts, dengan mengatakan “haddatsanii Yazīd bin Abī Habīb Al-Mishriy” hingga menyebutkan sanadnya kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu. Riwayat ini berasal dari kisah ‘Ali bin Abi Thālib yang mana beliau adalah putra dari Abū Thālib, sedangkan Abū Thālib adalah putra ‘Abdul Muththalib. Sehingga ‘Ali bin Abi Thālib menceritakan tentang kisah kakeknya. Riwayat ini bukanlah hadits tapi sekedar cerita tentang kisah kakeknya yaitu ‘Abdul Muththalib. Karena ‘Ali bin Abi Thālib sepupunya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Berikut ini kisahnya sebagaimana disebutkan dalam Sirah Ibnu Ishāq, ‘Abdul Muththalib bercerita:“Suatu hari aku tidur di Hijr Ismā’il (dekat Ka’bah), kemudian ada yang mengatakan kepadaku ‘Gali-lah thayyibah.’ Aku bertanya: ‘Apa itu thayyibah?’ namun dia malah pergi. Keesokan harinya aku kembali tidur di tempat tersebut. Kemudian suara itu datang kembali dan mengatakan ‘Galilah barrah’, maka aku berkata ‘Apa itu barrah?’. Dia pun pergi tidak menjelaskan. Besoknya aku tidur lagi, lalu datang lagi suara itu, dan berkata ‘galilah al-madhnunah’, maka aku berkata,” Apa itu al-madhnuunah?”, lalu ia pun pergi. Keesokan harinya aku kembali tidur di tempat tidurku, kemudian ia kembali berkata ‘Galilah zamzam’, maka aku bertanya ‘Apa itu zamzam?’ Lalu ia berkata, “Zamzam adalah air yang tidak akan surut, dengan air tersebut kau akan memberi minum para jama’ah haji.” Kemudian disebutkan posisinya, yaitu di tempat sarang semut.Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa ada burung gagak yang mematuk-matuk disitu. Dijelaskan namanya dan dijelaskan pula posisinya untuk digali. Karena mimpi yang ketiga lebih jelas maka keesokan harinya ‘Abdul Muththalib berangkat dengan membawa cangkulnya. Saat itu ‘Abdul Muththalib baru memiliki satu orang anak laki-laki yang bernama Al-Hārits. Mulailah ‘Abdul Muththalib menggali sumur tersebut, hingga mulai tampak tanda-tanda adanya sumur. Ketika kaum Quraisy mengetahui bahwa ‘Abdul Muththalib menemukan sumur, mereka mendatangi ‘Abdul Muththalib dan berkata: “Wahai ‘Abdul Muththalib, sumur tersebut adalah sumur kakek kita, Ismā’īl ‘alayhissalām. Kami juga punya hak terhadap sumur tersebut. Maka jadikanlah kami termasuk pemilik sumur tersebut. ‘Abdul Muththalib berkata: “Aku tidak mau, ini milikku. Sumur ini telah dikhususkan menjadi milikku, akan tetapi aku akan berbagi dengan kalian.” Mereka pun berkata: “Adillah terhadap kita, kalau tidak, kami tidak akan membiarkanmu menguasai sumur ini sampai kita berhakim kepada seseorang.” Maka ‘Abdul Muththalib dengan adilnya berkata: “Pilihlah siapa saja yang kita akan berhukum kepadanya.” Mereka berkata : “Ada seorang Perempuan dukun tetapi tempatnya jauh di negeri Syam sana.” Maka ‘Abdul Muththalib pun menyetujuinya. Berangkatlah ‘Abdul Muththalib bersama beberapa saudara dari Bani ‘Abdi Manaf, dengan sejumlah orang Quraisy lainnya, mereka berjalan bersama dalam dua grup rombongan. Grup pertama ‘Abdul Muththalib dengan Bani ‘Abdi Manaf dan grup kedua dari qabilah-qabilah lain yang menuntut untuk diberikan zamzam.Saat mereka melewati padang pasir, tiba-tiba persediaan air milik ‘Abdul Muththalib habis, sementara perjalanan masih sangat jauh. Selama dalam perjalanan tersebut mereka tidak menemukan sumber mata air. Hal ini menyebabkan rombongan ‘Abdul Muththalib kehausan, sementara rombongan yang satu masih memiliki persediaan air yang mencukupi. Akhinya ‘Abdul Muththalib dan rombongannya meminta air ke rombongan satunya, tetapi mereka menolak untuk memberi air. Di saat masing-masing dari kelompok ‘Abdul Muththalib merasa akan mati, muncullah ide dalam benak ‘Abdul Muththalib. “Kita masing-masing akan menggali kuburan kita, daripada kita semua tergeletak tanpa ada yang menguburkan. Siapa yang mati terlebih dahulu kita akan kubur lalu kita tutup, begitupun yang mati berikutnya sampai terakhir hanya bersisa satu yang akan mati tanpa dikuburkan.” Akhirnya mereka mulai menggali kuburan masing-masing dan perbuatan ini disaksikan oleh rombongan satunya dan tanpa memperdulikannya.Namun, setelah lubang-lubang kuburan tersebut tergali, ‘Abdul Muththalib lantas berubah pikiran dan mengatakan: “Perbuatan ini hanyalah sikap pasrah, kita harus berusaha.” Akhirnya mereka meninggalkan kuburan yang telah mereka gali. Mulailah ‘Abdul Muththalib naik ke atas untanya lalu tiba-tiba dari kaki untanya keluar mata air. Setelah itu ‘Abdul Muththalib mengambil air dan meminumnya kemudian memanggil grup sebelah yang tidak mau memberikan air kepada’ Abdul Muththalib dan akhirnya mereka pun datang dan ikut minum. Akhirnya grup sebelah sadar bahwasanya air zamzam itu adalah hak ‘Abdul Muththalib, buktinya adalah di tengah-tengah padang pasir Allāh keluarkan air khusus untuk ‘Abdul Muththalib. Akhirnya mereka tidak jadi pergi ke dukun yang berada di daerah Syam, tetapi mereka kembali ke Mekkah dan menyatakan bahwasanya air zamzam tersebut adalah milik ‘Abdul Muththalib.Demikianlah kisah kakek Nabi, ‘Abdul Muththalib. Telah diterangkan sebelumnya bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dipilih oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan nasab yang sangat tinggi. Sebagaimana dikisahkan dalam Shahīh Bukhari, ketika Abū Sufyan masih dalam keadaan kafir, dia pernah bertemu dengan Kaisar Romawi Hieraklius. Hieraklus bertanya tentang Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan Abū Sufyan menjawabnya dengan jujur walaupun ia kafir. Diantara pertanyaan Hieraklius yang ditanyakan kepada Abū Sufyan adalah tentang nasab Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Hieraklius bertanya,كَيْفَ نَسَبُهُ فِيكُمْ؟“Bagaimana nasab Nabi tersebut?”Maka kata Abū Sufyan:هُوَ فِينَا ذُو نَسَبٍ“Sesungguhnya Muhammad itu di kalangan kami adalah orang yang nasabnya tinggi.”Setelah itu Hieraklius berkata:فَكَذَلِكَ الرُّسُلُ تُبْعَثُ فِي نَسَبِ قَوْمِهَا “Demikianlah para Rasul, mereka diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan nasab yang tinggi diantara kaumnya.” (HR Al-Bukhari no 7)Inilah hikmah yang disebutkan oleh para ulama kenapa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dipilih dari kalangan nasab yang tinggi dan terbaik, sehingga tidak ada orang-orang Arab yang akan mencela nasab Nabi. Karena mereka sadar bahwa nasab mereka lebih rendah dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Bagaimana tidak? Kakek Nabi yaitu ‘Abdul Muththalib adalah pemilik zamzam dan pemimpin orang-orang Quraisy. Seandainya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam diutus dari nasab yang rendah dari rakyat jelata yang tidak punya kedudukan, maka orang-orang akan menuduh bahwa Muhammad mengaku dirinya sebagai Nabi hanya untuk mencari kekuasaan dan penghormatan.Sedangkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak perlu mencari penghormatan, karena beliau sudah menjadi orang yang dihormati. Bahkan ketika berdakwah menyampaikan Islam, beliau malah direndahkan. Sehingga, tatkala Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam diutus dari golongan berstrata tinggi, maka hal ini akan menutup pintu tuduhan bahwa Nabi memiliki tendensi tertentu. Oleh karena itu, Allāh menjadikan Nabi Muhammad (dan juga para nabi yang lain) bernasab tinggi, salah satu hikmahnya adalah apabila orang-orang bernaung di bawah Nabi, mereka tidak akan merasa rendah karena Nabi mereka memilik nasab yang tinggi. Jakarta, 03-02-1439 H / 24-10-2017 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com

Pendaftaran Santriwan/Wati Baru TP. 2018/2019

PENDAFTARAN SANTRIWAN/WATI BARU TP. 2018/2019PESANTREN ISLAM AL IRSYAD TENGARANJENJANG PENDIDIKAN (PUTRA-PUTRI)1. Sekolah Dasar Islam Tahfidzul Qur’an (SDITQ) tidak menerima asrama 2. Madrasah Tsanawiyah (MTs)/Madrasah Mutawashshitoh (MTW) setingkat SMP 3. I’dad Lughowy (IL) persiapan masuk Madrasah Aliyah (MA) setingkat SMASemua jenjang (SDITQ, MTs dan MA) terakreditasi dan memiliki ijazah negara (Diknas atau Kemenag) serta ijazah pesantren. NB. Tidak menerima pindahanWAKTU PENDAFTARAN DAN SELEKSIPendaftaran : 15 Oktober – 17 Desember 2017 Ujian Seleksi : Sabtu – Ahad, 6 atau 7 Januari 2018 (sesuai undangan, setiap santri hanya 1 hari tes) Pendaftaran dilakukan secara online melalui website pesantren www.pesantrenalirsyad.org Ujian seleksi wajib datang ke pesantren kecuali dari luar Indonesia, Malaysia, Singapura, Timor Leste, Brunei dllPERSYARATAN1. Mengisi formulir pendaftaran online melalui www.pesantrenalirsyad.org 2. Foto copy Raport 2 semester terakhir 3. Menyerahkan NISN (Nomor Induk Siswa Nasional) jika ada 4. Foto hitam putih calon santri ukuran 3 x 4 sebanyak 4 lembar (ketentuan: Putra: baju putih berkerah, tanpa atribut, tanpa penutup kepala dan tanpa kacamata. Putri: Berpakaian putih, berjilbab, dan tanpa kacamata. Dan ditulis nama calon santri di bagian belakang foto) 5. Foto copy Akte Kelahiran 6. Foto copy Kartu Keluarga (KK) 7. Surat keterangan sehat (format khusus dari pesantren dapat didownload setelah pendaftaran online) 8. Membayar biaya pendaftaran (Rp 401.000) atau sesuai jumlah yang tertera usai pendaftaran online ke rekening pesantren, diikuti dengan konfirmasi melalui aplikasi PSB pada menu Informasi Santri bagian Status Pembayaran 9. Mengisi surat kesanggupan membayar biaya pendidikan 10. Diantar orang tua / wali saat datang seleksi ke pesantren, khusus putri wajib diantar mahramMEKANISME & TAHAPAN PENDAFTARAN1. Pendaftaran Online melelui www.pesantrenalirsyad.org 2. Tes Kesehatan (cek umum sesuai form dari Panitia, dapat diperoleh di akhir langkah pendaftaran online) di lembaga kesehatan setempat (Puskesmas/RSUD) dan tes HBSAG dari laborat/rumah sakit 3. Mengirim berkas pendaftaran sesuai ketentuan (via POS) 4. Mengirim/transfer biaya pendaftaran sesuai ketentuan, beserta konfirmasinya 5. Menunggu verifikasi panitia 6. Download dari website pesantren undangan ujian seleksi 7. Datang ke pesantren mengikuti seleksi 8. Menunggu pengumuman hasil seleksi 9. Pengumuman hasil seleksi melalui www.pesantrenalirsyad.org dan SMS Center 10. Membayar/transfer biaya daftar ulang 11. Menunggu kegiatan Pertemuan Wali Santri Baru (PWSB / masuk perdana)UJIAN PERWAKILAN DAERAHMohon maaf, untuk tempat seleksi perwakilan daerah saat ini belum ada, sehingga ujian seleksi hanya diselenggarakan di pusat. Semoga dapat dimaklumi.MATERI UJIAN SELEKSI1. Membaca Al-Qur’an/Iqro’ 2. Tes wawancara lisan/tertulis calon santri dan orang tua/wali 3. Tes Kemampuan Dasar (Matematika dan Bahasa Indonesia) 4. Tes Psikologi (khusus putri)PENGUMUMAN DAN DAFTAR ULANGPengumuman Rabu, 31 Januari 2018 melalui www.pesantrenalirsyad.org Daftar ulang 1 – 14 Februari 2018 (cukup dengan membayar/transfer biaya daftar ulang)GAMBARAN BIAYA DAFTAR ULANGBerikut informasi biaya pendidikan untuk santri baru TP. 2018/2019 Jenis Biaya Putra Putri Putra/i Non Asrama MTs, IL/MA MTs, IL/MA SDITQ * Uang Pangkal 17.000.000 11.000.000 4.500.000 SPP Juli 2018 1.400.000 1.200.000 350.000 Total Biaya Daftar Ulang 18.400.000 12.200.000 4.850.000 * Khusus SDITQ biaya yang tertera pada tabel di atas adalah biaya TP 2017/2018, biaya untuk TP 2018/2019 akan diinformasikan menyusul.NB. Untuk memudahkan pendeteksian uang daftar ulang yang masuk dari transfer bank, harap menambahkan biaya daftar ulang dengan 4 digit akhir nomor pendaftaran. Misal : Ahmad Haikal B181084, maka nominal transfer yang dikirim Rp 18.401.084,-InfoTlp. 0298-321658 (Sabtu – Kamis Pkl 7.30 – 14.30) HP. 0812 8111 1516 (Tlp/SMS/WA) Email : info@pesantrenalirsyad.orgInformasi lanjut : http://www.pesantrenalirsyad.org/pendaftaran-santriwan-santriwati-baru-tp-2018-2019/🔍 Dalil Judi, Doa Ta Awwudz, Riyadussolihin, Hadits Anak Sholeh, Apakah Bumi Datar Atau Bulat

Pendaftaran Santriwan/Wati Baru TP. 2018/2019

PENDAFTARAN SANTRIWAN/WATI BARU TP. 2018/2019PESANTREN ISLAM AL IRSYAD TENGARANJENJANG PENDIDIKAN (PUTRA-PUTRI)1. Sekolah Dasar Islam Tahfidzul Qur’an (SDITQ) tidak menerima asrama 2. Madrasah Tsanawiyah (MTs)/Madrasah Mutawashshitoh (MTW) setingkat SMP 3. I’dad Lughowy (IL) persiapan masuk Madrasah Aliyah (MA) setingkat SMASemua jenjang (SDITQ, MTs dan MA) terakreditasi dan memiliki ijazah negara (Diknas atau Kemenag) serta ijazah pesantren. NB. Tidak menerima pindahanWAKTU PENDAFTARAN DAN SELEKSIPendaftaran : 15 Oktober – 17 Desember 2017 Ujian Seleksi : Sabtu – Ahad, 6 atau 7 Januari 2018 (sesuai undangan, setiap santri hanya 1 hari tes) Pendaftaran dilakukan secara online melalui website pesantren www.pesantrenalirsyad.org Ujian seleksi wajib datang ke pesantren kecuali dari luar Indonesia, Malaysia, Singapura, Timor Leste, Brunei dllPERSYARATAN1. Mengisi formulir pendaftaran online melalui www.pesantrenalirsyad.org 2. Foto copy Raport 2 semester terakhir 3. Menyerahkan NISN (Nomor Induk Siswa Nasional) jika ada 4. Foto hitam putih calon santri ukuran 3 x 4 sebanyak 4 lembar (ketentuan: Putra: baju putih berkerah, tanpa atribut, tanpa penutup kepala dan tanpa kacamata. Putri: Berpakaian putih, berjilbab, dan tanpa kacamata. Dan ditulis nama calon santri di bagian belakang foto) 5. Foto copy Akte Kelahiran 6. Foto copy Kartu Keluarga (KK) 7. Surat keterangan sehat (format khusus dari pesantren dapat didownload setelah pendaftaran online) 8. Membayar biaya pendaftaran (Rp 401.000) atau sesuai jumlah yang tertera usai pendaftaran online ke rekening pesantren, diikuti dengan konfirmasi melalui aplikasi PSB pada menu Informasi Santri bagian Status Pembayaran 9. Mengisi surat kesanggupan membayar biaya pendidikan 10. Diantar orang tua / wali saat datang seleksi ke pesantren, khusus putri wajib diantar mahramMEKANISME & TAHAPAN PENDAFTARAN1. Pendaftaran Online melelui www.pesantrenalirsyad.org 2. Tes Kesehatan (cek umum sesuai form dari Panitia, dapat diperoleh di akhir langkah pendaftaran online) di lembaga kesehatan setempat (Puskesmas/RSUD) dan tes HBSAG dari laborat/rumah sakit 3. Mengirim berkas pendaftaran sesuai ketentuan (via POS) 4. Mengirim/transfer biaya pendaftaran sesuai ketentuan, beserta konfirmasinya 5. Menunggu verifikasi panitia 6. Download dari website pesantren undangan ujian seleksi 7. Datang ke pesantren mengikuti seleksi 8. Menunggu pengumuman hasil seleksi 9. Pengumuman hasil seleksi melalui www.pesantrenalirsyad.org dan SMS Center 10. Membayar/transfer biaya daftar ulang 11. Menunggu kegiatan Pertemuan Wali Santri Baru (PWSB / masuk perdana)UJIAN PERWAKILAN DAERAHMohon maaf, untuk tempat seleksi perwakilan daerah saat ini belum ada, sehingga ujian seleksi hanya diselenggarakan di pusat. Semoga dapat dimaklumi.MATERI UJIAN SELEKSI1. Membaca Al-Qur’an/Iqro’ 2. Tes wawancara lisan/tertulis calon santri dan orang tua/wali 3. Tes Kemampuan Dasar (Matematika dan Bahasa Indonesia) 4. Tes Psikologi (khusus putri)PENGUMUMAN DAN DAFTAR ULANGPengumuman Rabu, 31 Januari 2018 melalui www.pesantrenalirsyad.org Daftar ulang 1 – 14 Februari 2018 (cukup dengan membayar/transfer biaya daftar ulang)GAMBARAN BIAYA DAFTAR ULANGBerikut informasi biaya pendidikan untuk santri baru TP. 2018/2019 Jenis Biaya Putra Putri Putra/i Non Asrama MTs, IL/MA MTs, IL/MA SDITQ * Uang Pangkal 17.000.000 11.000.000 4.500.000 SPP Juli 2018 1.400.000 1.200.000 350.000 Total Biaya Daftar Ulang 18.400.000 12.200.000 4.850.000 * Khusus SDITQ biaya yang tertera pada tabel di atas adalah biaya TP 2017/2018, biaya untuk TP 2018/2019 akan diinformasikan menyusul.NB. Untuk memudahkan pendeteksian uang daftar ulang yang masuk dari transfer bank, harap menambahkan biaya daftar ulang dengan 4 digit akhir nomor pendaftaran. Misal : Ahmad Haikal B181084, maka nominal transfer yang dikirim Rp 18.401.084,-InfoTlp. 0298-321658 (Sabtu – Kamis Pkl 7.30 – 14.30) HP. 0812 8111 1516 (Tlp/SMS/WA) Email : info@pesantrenalirsyad.orgInformasi lanjut : http://www.pesantrenalirsyad.org/pendaftaran-santriwan-santriwati-baru-tp-2018-2019/🔍 Dalil Judi, Doa Ta Awwudz, Riyadussolihin, Hadits Anak Sholeh, Apakah Bumi Datar Atau Bulat
PENDAFTARAN SANTRIWAN/WATI BARU TP. 2018/2019PESANTREN ISLAM AL IRSYAD TENGARANJENJANG PENDIDIKAN (PUTRA-PUTRI)1. Sekolah Dasar Islam Tahfidzul Qur’an (SDITQ) tidak menerima asrama 2. Madrasah Tsanawiyah (MTs)/Madrasah Mutawashshitoh (MTW) setingkat SMP 3. I’dad Lughowy (IL) persiapan masuk Madrasah Aliyah (MA) setingkat SMASemua jenjang (SDITQ, MTs dan MA) terakreditasi dan memiliki ijazah negara (Diknas atau Kemenag) serta ijazah pesantren. NB. Tidak menerima pindahanWAKTU PENDAFTARAN DAN SELEKSIPendaftaran : 15 Oktober – 17 Desember 2017 Ujian Seleksi : Sabtu – Ahad, 6 atau 7 Januari 2018 (sesuai undangan, setiap santri hanya 1 hari tes) Pendaftaran dilakukan secara online melalui website pesantren www.pesantrenalirsyad.org Ujian seleksi wajib datang ke pesantren kecuali dari luar Indonesia, Malaysia, Singapura, Timor Leste, Brunei dllPERSYARATAN1. Mengisi formulir pendaftaran online melalui www.pesantrenalirsyad.org 2. Foto copy Raport 2 semester terakhir 3. Menyerahkan NISN (Nomor Induk Siswa Nasional) jika ada 4. Foto hitam putih calon santri ukuran 3 x 4 sebanyak 4 lembar (ketentuan: Putra: baju putih berkerah, tanpa atribut, tanpa penutup kepala dan tanpa kacamata. Putri: Berpakaian putih, berjilbab, dan tanpa kacamata. Dan ditulis nama calon santri di bagian belakang foto) 5. Foto copy Akte Kelahiran 6. Foto copy Kartu Keluarga (KK) 7. Surat keterangan sehat (format khusus dari pesantren dapat didownload setelah pendaftaran online) 8. Membayar biaya pendaftaran (Rp 401.000) atau sesuai jumlah yang tertera usai pendaftaran online ke rekening pesantren, diikuti dengan konfirmasi melalui aplikasi PSB pada menu Informasi Santri bagian Status Pembayaran 9. Mengisi surat kesanggupan membayar biaya pendidikan 10. Diantar orang tua / wali saat datang seleksi ke pesantren, khusus putri wajib diantar mahramMEKANISME & TAHAPAN PENDAFTARAN1. Pendaftaran Online melelui www.pesantrenalirsyad.org 2. Tes Kesehatan (cek umum sesuai form dari Panitia, dapat diperoleh di akhir langkah pendaftaran online) di lembaga kesehatan setempat (Puskesmas/RSUD) dan tes HBSAG dari laborat/rumah sakit 3. Mengirim berkas pendaftaran sesuai ketentuan (via POS) 4. Mengirim/transfer biaya pendaftaran sesuai ketentuan, beserta konfirmasinya 5. Menunggu verifikasi panitia 6. Download dari website pesantren undangan ujian seleksi 7. Datang ke pesantren mengikuti seleksi 8. Menunggu pengumuman hasil seleksi 9. Pengumuman hasil seleksi melalui www.pesantrenalirsyad.org dan SMS Center 10. Membayar/transfer biaya daftar ulang 11. Menunggu kegiatan Pertemuan Wali Santri Baru (PWSB / masuk perdana)UJIAN PERWAKILAN DAERAHMohon maaf, untuk tempat seleksi perwakilan daerah saat ini belum ada, sehingga ujian seleksi hanya diselenggarakan di pusat. Semoga dapat dimaklumi.MATERI UJIAN SELEKSI1. Membaca Al-Qur’an/Iqro’ 2. Tes wawancara lisan/tertulis calon santri dan orang tua/wali 3. Tes Kemampuan Dasar (Matematika dan Bahasa Indonesia) 4. Tes Psikologi (khusus putri)PENGUMUMAN DAN DAFTAR ULANGPengumuman Rabu, 31 Januari 2018 melalui www.pesantrenalirsyad.org Daftar ulang 1 – 14 Februari 2018 (cukup dengan membayar/transfer biaya daftar ulang)GAMBARAN BIAYA DAFTAR ULANGBerikut informasi biaya pendidikan untuk santri baru TP. 2018/2019 Jenis Biaya Putra Putri Putra/i Non Asrama MTs, IL/MA MTs, IL/MA SDITQ * Uang Pangkal 17.000.000 11.000.000 4.500.000 SPP Juli 2018 1.400.000 1.200.000 350.000 Total Biaya Daftar Ulang 18.400.000 12.200.000 4.850.000 * Khusus SDITQ biaya yang tertera pada tabel di atas adalah biaya TP 2017/2018, biaya untuk TP 2018/2019 akan diinformasikan menyusul.NB. Untuk memudahkan pendeteksian uang daftar ulang yang masuk dari transfer bank, harap menambahkan biaya daftar ulang dengan 4 digit akhir nomor pendaftaran. Misal : Ahmad Haikal B181084, maka nominal transfer yang dikirim Rp 18.401.084,-InfoTlp. 0298-321658 (Sabtu – Kamis Pkl 7.30 – 14.30) HP. 0812 8111 1516 (Tlp/SMS/WA) Email : info@pesantrenalirsyad.orgInformasi lanjut : http://www.pesantrenalirsyad.org/pendaftaran-santriwan-santriwati-baru-tp-2018-2019/🔍 Dalil Judi, Doa Ta Awwudz, Riyadussolihin, Hadits Anak Sholeh, Apakah Bumi Datar Atau Bulat


PENDAFTARAN SANTRIWAN/WATI BARU TP. 2018/2019PESANTREN ISLAM AL IRSYAD TENGARANJENJANG PENDIDIKAN (PUTRA-PUTRI)1. Sekolah Dasar Islam Tahfidzul Qur’an (SDITQ) tidak menerima asrama 2. Madrasah Tsanawiyah (MTs)/Madrasah Mutawashshitoh (MTW) setingkat SMP 3. I’dad Lughowy (IL) persiapan masuk Madrasah Aliyah (MA) setingkat SMASemua jenjang (SDITQ, MTs dan MA) terakreditasi dan memiliki ijazah negara (Diknas atau Kemenag) serta ijazah pesantren. NB. Tidak menerima pindahanWAKTU PENDAFTARAN DAN SELEKSIPendaftaran : 15 Oktober – 17 Desember 2017 Ujian Seleksi : Sabtu – Ahad, 6 atau 7 Januari 2018 (sesuai undangan, setiap santri hanya 1 hari tes) Pendaftaran dilakukan secara online melalui website pesantren www.pesantrenalirsyad.org Ujian seleksi wajib datang ke pesantren kecuali dari luar Indonesia, Malaysia, Singapura, Timor Leste, Brunei dllPERSYARATAN1. Mengisi formulir pendaftaran online melalui www.pesantrenalirsyad.org 2. Foto copy Raport 2 semester terakhir 3. Menyerahkan NISN (Nomor Induk Siswa Nasional) jika ada 4. Foto hitam putih calon santri ukuran 3 x 4 sebanyak 4 lembar (ketentuan: Putra: baju putih berkerah, tanpa atribut, tanpa penutup kepala dan tanpa kacamata. Putri: Berpakaian putih, berjilbab, dan tanpa kacamata. Dan ditulis nama calon santri di bagian belakang foto) 5. Foto copy Akte Kelahiran 6. Foto copy Kartu Keluarga (KK) 7. Surat keterangan sehat (format khusus dari pesantren dapat didownload setelah pendaftaran online) 8. Membayar biaya pendaftaran (Rp 401.000) atau sesuai jumlah yang tertera usai pendaftaran online ke rekening pesantren, diikuti dengan konfirmasi melalui aplikasi PSB pada menu Informasi Santri bagian Status Pembayaran 9. Mengisi surat kesanggupan membayar biaya pendidikan 10. Diantar orang tua / wali saat datang seleksi ke pesantren, khusus putri wajib diantar mahramMEKANISME & TAHAPAN PENDAFTARAN1. Pendaftaran Online melelui www.pesantrenalirsyad.org 2. Tes Kesehatan (cek umum sesuai form dari Panitia, dapat diperoleh di akhir langkah pendaftaran online) di lembaga kesehatan setempat (Puskesmas/RSUD) dan tes HBSAG dari laborat/rumah sakit 3. Mengirim berkas pendaftaran sesuai ketentuan (via POS) 4. Mengirim/transfer biaya pendaftaran sesuai ketentuan, beserta konfirmasinya 5. Menunggu verifikasi panitia 6. Download dari website pesantren undangan ujian seleksi 7. Datang ke pesantren mengikuti seleksi 8. Menunggu pengumuman hasil seleksi 9. Pengumuman hasil seleksi melalui www.pesantrenalirsyad.org dan SMS Center 10. Membayar/transfer biaya daftar ulang 11. Menunggu kegiatan Pertemuan Wali Santri Baru (PWSB / masuk perdana)UJIAN PERWAKILAN DAERAHMohon maaf, untuk tempat seleksi perwakilan daerah saat ini belum ada, sehingga ujian seleksi hanya diselenggarakan di pusat. Semoga dapat dimaklumi.MATERI UJIAN SELEKSI1. Membaca Al-Qur’an/Iqro’ 2. Tes wawancara lisan/tertulis calon santri dan orang tua/wali 3. Tes Kemampuan Dasar (Matematika dan Bahasa Indonesia) 4. Tes Psikologi (khusus putri)PENGUMUMAN DAN DAFTAR ULANGPengumuman Rabu, 31 Januari 2018 melalui www.pesantrenalirsyad.org Daftar ulang 1 – 14 Februari 2018 (cukup dengan membayar/transfer biaya daftar ulang)GAMBARAN BIAYA DAFTAR ULANGBerikut informasi biaya pendidikan untuk santri baru TP. 2018/2019 Jenis Biaya Putra Putri Putra/i Non Asrama MTs, IL/MA MTs, IL/MA SDITQ * Uang Pangkal 17.000.000 11.000.000 4.500.000 SPP Juli 2018 1.400.000 1.200.000 350.000 Total Biaya Daftar Ulang 18.400.000 12.200.000 4.850.000 * Khusus SDITQ biaya yang tertera pada tabel di atas adalah biaya TP 2017/2018, biaya untuk TP 2018/2019 akan diinformasikan menyusul.NB. Untuk memudahkan pendeteksian uang daftar ulang yang masuk dari transfer bank, harap menambahkan biaya daftar ulang dengan 4 digit akhir nomor pendaftaran. Misal : Ahmad Haikal B181084, maka nominal transfer yang dikirim Rp 18.401.084,-InfoTlp. 0298-321658 (Sabtu – Kamis Pkl 7.30 – 14.30) HP. 0812 8111 1516 (Tlp/SMS/WA) Email : info@pesantrenalirsyad.orgInformasi lanjut : http://www.pesantrenalirsyad.org/pendaftaran-santriwan-santriwati-baru-tp-2018-2019/🔍 Dalil Judi, Doa Ta Awwudz, Riyadussolihin, Hadits Anak Sholeh, Apakah Bumi Datar Atau Bulat

Bunga Bank BUKAN Riba, Karena Nasabah Ikhlas?

Bunga Bank itu BUKAN Riba, Asal Saling Ridho? Cak Nun menganggap bunga bank bukan riba, tapi ucapan terima kasih. Karena bank telah memberi utangan. Videonya ada di: https://www.youtube.com/watch?v=o4wGCWhIehg&t=129s Apakah jika saling ikhlas itu bukan riba? maaf, jk ini sya angkat, meskipun sudah basi.. Jawaban: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Dalam setiap perseteruan antara kebenaran dan kebatilan, setan turut bermain di sana. Setan jin dan setan manusia, bekerja sama saling membisikkan kalimat indah, alibi-alibi, upaya pembenaran, untuk dijadikan senjata agar orang yang bersalah, bisa tetap bertahan dalam kesalahan dan penyimpangannya. Dalam Al-Quran Allah menceritakan, bahwa setan membisikkan kalimat indah, namun menipu. Allah berfirman, وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا “Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. al-An’am: 112) Dalam al-Quran Allah bercerita, ketika Iblis diusir oleh Allah dari surga karena tidak mau sujud kepada Adam, Iblis dendam dan dia berjanji dengan bersumpah atas nama Allah, akan mengajak semua keturunan Adam ke Neraka. Namun anehnya, sewaktu Iblis menggoda Adam agar juga diusir dari Surga, Iblis datang tidak dengan wajah garang, tidak menampakkan wajah permusuhan. Tapi dia datang dengan wajah pertemanan, bahkan dia sebut dirinya pemberi nasehat bagi Adam dan Hawa. فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآَتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ  وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua.” (QS. al-A’raf: 20 – 21) Seperti itu pula yang dilakukan oang munafik. Mereka membagun prinsip besar, yaitu prinsip serba boleh (permisif) di tengah kaum Muslimin. Mereka memberikan sejuta alasan agar sesuatu yang dilarang dalam al-Quran, menjadi boleh. Allah Ta’ala befirman, الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ “Orang munafik lelaki dan orang munafik perempuan, satu sama lain saling memerintahkan yang munkar dan mencegah yang makruf.” (QS. At-Taubah: 67). Bunga Bank Bukan Riba? Semua utang yang menuntut adanya kelebihan adalah riba. Ibnu Qudamah mengatakan, كل قرض شرط به أن يزيده فهو حرام بغير خلاف Semua utang yang mempersyaratkan harus dilebihkan (pelunasannya) hukumnya haram tanpa ada perbedaan (sepakat ulama). (al-Mughni, 4/390). Keterangan lain disampaikan Ibnul Mundzir, أجمعوا على أن المسلف إذا شرط على المستسلف زيادة أو هدية فاسلف على ذلك أن أخذ الزيادة على ذلك ربا Ulama sepakat bahwa apabila orang yang memberi utang mempersyaratkan pihak yang dihutangi harus memberi tambahan atau hadiah, kemudian dilakukan transaksi utang piutang dengan kesepakatan itu, maka mengambil tambahan tadi statusnya riba. (al-Ijma’ , hlm. 90). Semua pengajuan kredit di bank, ada ketentuan harus membayar bunga sekian persen perbulan. Dan sangat jelas ini riba, berdasar sepakat ulama. Bunga atas pinjaman ini adalah manfaat yang didapatkan pihak bank karena memberikan dana utangan ke nasabah. Kita memang tidak bisa mendapatkan keterangan tentang bunga bank di buku-buku klasik. Karena ketika itu belum ada bank. Tapi bisa kita dapatkan dari pernyataan ulama kontemporer yang menjumpai bank. Salah satu kesepakatan mereka dinyatakan dalam kitab Ahkam al-Mal al-Haram, “Muktamar Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah di Kairo, tahun 1965, hingga muktamar tertinggi di Mekah, yang dihadiri lebih dari 300 ulama besar, menetapkan bahwa semua bunga bank adalah haram.” (Ahkam al-Mal al-Haram, hlm. 168). Bukankah Bunga itu Saling Ridha? Benar, riba itu saling ridha. Dan saling ridha dalam hal ini tidak mengubah hukum riba menjadi halal. Sahabat Abdullah bin Sallam radhiyallahu ‘anhu pernah berpesan kepada Abu Burdah ketika beliau berkunjung ke rumahnya Abdullah, إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ أَوْ حِمْلَ قَتٍّ فَلا تَأْخُذْهُ فَإِنَّهُ رِبًا “Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” (HR. Bukhari 3603) Judi juga saling ridha… sebelum bermain, para penjudi bersepakat, siapa yang kalah, harus menyerahkan hartanya. Tapi saling ridha tidak menyebabkan judi menjadi halal. Sogok dan gratifikasi juga saling ridha… sebelum menang tender, vendor sudah mengikat perjanjian dengan oknum pejabat, akan ada bagi hasil setelah proyek selesai. Tidak semua akad menjadi halal karena saling ridha. Yang dipersyaratkan saling ridha adalah jual beli atau perdagangan. Agar hasilnya halal, disyaratkan pelaku akad harus saling ridha. Allah berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta orang lain diantara kalian dengan cara batil, kecuali melalui perdagangan yang saling ridha diantara kalian. (QS. an-Nisa: 29) Dalam ayat di atas, ada 2 syarat agar harta yang kita makan tidak terhitung sebagai harta yang bathil: [1] Didapatkan dari hasil perdagangan atau jual beli [2] Dilakukan saling ridha. Demikian… Semoga anda tidak menjadi pengikut preman… Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Sombong Dalam Islam, Hadits Tentang Malaikat Mikail, Hadits Tentang Nikah Siri, Tanda Tanda Mau Meninggal Menurut Islam, Jawab Adzan Subuh, Doa Lupa Menaruh Barang Visited 89 times, 1 visit(s) today Post Views: 299 QRIS donasi Yufid

Bunga Bank BUKAN Riba, Karena Nasabah Ikhlas?

Bunga Bank itu BUKAN Riba, Asal Saling Ridho? Cak Nun menganggap bunga bank bukan riba, tapi ucapan terima kasih. Karena bank telah memberi utangan. Videonya ada di: https://www.youtube.com/watch?v=o4wGCWhIehg&t=129s Apakah jika saling ikhlas itu bukan riba? maaf, jk ini sya angkat, meskipun sudah basi.. Jawaban: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Dalam setiap perseteruan antara kebenaran dan kebatilan, setan turut bermain di sana. Setan jin dan setan manusia, bekerja sama saling membisikkan kalimat indah, alibi-alibi, upaya pembenaran, untuk dijadikan senjata agar orang yang bersalah, bisa tetap bertahan dalam kesalahan dan penyimpangannya. Dalam Al-Quran Allah menceritakan, bahwa setan membisikkan kalimat indah, namun menipu. Allah berfirman, وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا “Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. al-An’am: 112) Dalam al-Quran Allah bercerita, ketika Iblis diusir oleh Allah dari surga karena tidak mau sujud kepada Adam, Iblis dendam dan dia berjanji dengan bersumpah atas nama Allah, akan mengajak semua keturunan Adam ke Neraka. Namun anehnya, sewaktu Iblis menggoda Adam agar juga diusir dari Surga, Iblis datang tidak dengan wajah garang, tidak menampakkan wajah permusuhan. Tapi dia datang dengan wajah pertemanan, bahkan dia sebut dirinya pemberi nasehat bagi Adam dan Hawa. فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآَتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ  وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua.” (QS. al-A’raf: 20 – 21) Seperti itu pula yang dilakukan oang munafik. Mereka membagun prinsip besar, yaitu prinsip serba boleh (permisif) di tengah kaum Muslimin. Mereka memberikan sejuta alasan agar sesuatu yang dilarang dalam al-Quran, menjadi boleh. Allah Ta’ala befirman, الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ “Orang munafik lelaki dan orang munafik perempuan, satu sama lain saling memerintahkan yang munkar dan mencegah yang makruf.” (QS. At-Taubah: 67). Bunga Bank Bukan Riba? Semua utang yang menuntut adanya kelebihan adalah riba. Ibnu Qudamah mengatakan, كل قرض شرط به أن يزيده فهو حرام بغير خلاف Semua utang yang mempersyaratkan harus dilebihkan (pelunasannya) hukumnya haram tanpa ada perbedaan (sepakat ulama). (al-Mughni, 4/390). Keterangan lain disampaikan Ibnul Mundzir, أجمعوا على أن المسلف إذا شرط على المستسلف زيادة أو هدية فاسلف على ذلك أن أخذ الزيادة على ذلك ربا Ulama sepakat bahwa apabila orang yang memberi utang mempersyaratkan pihak yang dihutangi harus memberi tambahan atau hadiah, kemudian dilakukan transaksi utang piutang dengan kesepakatan itu, maka mengambil tambahan tadi statusnya riba. (al-Ijma’ , hlm. 90). Semua pengajuan kredit di bank, ada ketentuan harus membayar bunga sekian persen perbulan. Dan sangat jelas ini riba, berdasar sepakat ulama. Bunga atas pinjaman ini adalah manfaat yang didapatkan pihak bank karena memberikan dana utangan ke nasabah. Kita memang tidak bisa mendapatkan keterangan tentang bunga bank di buku-buku klasik. Karena ketika itu belum ada bank. Tapi bisa kita dapatkan dari pernyataan ulama kontemporer yang menjumpai bank. Salah satu kesepakatan mereka dinyatakan dalam kitab Ahkam al-Mal al-Haram, “Muktamar Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah di Kairo, tahun 1965, hingga muktamar tertinggi di Mekah, yang dihadiri lebih dari 300 ulama besar, menetapkan bahwa semua bunga bank adalah haram.” (Ahkam al-Mal al-Haram, hlm. 168). Bukankah Bunga itu Saling Ridha? Benar, riba itu saling ridha. Dan saling ridha dalam hal ini tidak mengubah hukum riba menjadi halal. Sahabat Abdullah bin Sallam radhiyallahu ‘anhu pernah berpesan kepada Abu Burdah ketika beliau berkunjung ke rumahnya Abdullah, إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ أَوْ حِمْلَ قَتٍّ فَلا تَأْخُذْهُ فَإِنَّهُ رِبًا “Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” (HR. Bukhari 3603) Judi juga saling ridha… sebelum bermain, para penjudi bersepakat, siapa yang kalah, harus menyerahkan hartanya. Tapi saling ridha tidak menyebabkan judi menjadi halal. Sogok dan gratifikasi juga saling ridha… sebelum menang tender, vendor sudah mengikat perjanjian dengan oknum pejabat, akan ada bagi hasil setelah proyek selesai. Tidak semua akad menjadi halal karena saling ridha. Yang dipersyaratkan saling ridha adalah jual beli atau perdagangan. Agar hasilnya halal, disyaratkan pelaku akad harus saling ridha. Allah berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta orang lain diantara kalian dengan cara batil, kecuali melalui perdagangan yang saling ridha diantara kalian. (QS. an-Nisa: 29) Dalam ayat di atas, ada 2 syarat agar harta yang kita makan tidak terhitung sebagai harta yang bathil: [1] Didapatkan dari hasil perdagangan atau jual beli [2] Dilakukan saling ridha. Demikian… Semoga anda tidak menjadi pengikut preman… Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Sombong Dalam Islam, Hadits Tentang Malaikat Mikail, Hadits Tentang Nikah Siri, Tanda Tanda Mau Meninggal Menurut Islam, Jawab Adzan Subuh, Doa Lupa Menaruh Barang Visited 89 times, 1 visit(s) today Post Views: 299 QRIS donasi Yufid
Bunga Bank itu BUKAN Riba, Asal Saling Ridho? Cak Nun menganggap bunga bank bukan riba, tapi ucapan terima kasih. Karena bank telah memberi utangan. Videonya ada di: https://www.youtube.com/watch?v=o4wGCWhIehg&t=129s Apakah jika saling ikhlas itu bukan riba? maaf, jk ini sya angkat, meskipun sudah basi.. Jawaban: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Dalam setiap perseteruan antara kebenaran dan kebatilan, setan turut bermain di sana. Setan jin dan setan manusia, bekerja sama saling membisikkan kalimat indah, alibi-alibi, upaya pembenaran, untuk dijadikan senjata agar orang yang bersalah, bisa tetap bertahan dalam kesalahan dan penyimpangannya. Dalam Al-Quran Allah menceritakan, bahwa setan membisikkan kalimat indah, namun menipu. Allah berfirman, وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا “Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. al-An’am: 112) Dalam al-Quran Allah bercerita, ketika Iblis diusir oleh Allah dari surga karena tidak mau sujud kepada Adam, Iblis dendam dan dia berjanji dengan bersumpah atas nama Allah, akan mengajak semua keturunan Adam ke Neraka. Namun anehnya, sewaktu Iblis menggoda Adam agar juga diusir dari Surga, Iblis datang tidak dengan wajah garang, tidak menampakkan wajah permusuhan. Tapi dia datang dengan wajah pertemanan, bahkan dia sebut dirinya pemberi nasehat bagi Adam dan Hawa. فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآَتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ  وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua.” (QS. al-A’raf: 20 – 21) Seperti itu pula yang dilakukan oang munafik. Mereka membagun prinsip besar, yaitu prinsip serba boleh (permisif) di tengah kaum Muslimin. Mereka memberikan sejuta alasan agar sesuatu yang dilarang dalam al-Quran, menjadi boleh. Allah Ta’ala befirman, الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ “Orang munafik lelaki dan orang munafik perempuan, satu sama lain saling memerintahkan yang munkar dan mencegah yang makruf.” (QS. At-Taubah: 67). Bunga Bank Bukan Riba? Semua utang yang menuntut adanya kelebihan adalah riba. Ibnu Qudamah mengatakan, كل قرض شرط به أن يزيده فهو حرام بغير خلاف Semua utang yang mempersyaratkan harus dilebihkan (pelunasannya) hukumnya haram tanpa ada perbedaan (sepakat ulama). (al-Mughni, 4/390). Keterangan lain disampaikan Ibnul Mundzir, أجمعوا على أن المسلف إذا شرط على المستسلف زيادة أو هدية فاسلف على ذلك أن أخذ الزيادة على ذلك ربا Ulama sepakat bahwa apabila orang yang memberi utang mempersyaratkan pihak yang dihutangi harus memberi tambahan atau hadiah, kemudian dilakukan transaksi utang piutang dengan kesepakatan itu, maka mengambil tambahan tadi statusnya riba. (al-Ijma’ , hlm. 90). Semua pengajuan kredit di bank, ada ketentuan harus membayar bunga sekian persen perbulan. Dan sangat jelas ini riba, berdasar sepakat ulama. Bunga atas pinjaman ini adalah manfaat yang didapatkan pihak bank karena memberikan dana utangan ke nasabah. Kita memang tidak bisa mendapatkan keterangan tentang bunga bank di buku-buku klasik. Karena ketika itu belum ada bank. Tapi bisa kita dapatkan dari pernyataan ulama kontemporer yang menjumpai bank. Salah satu kesepakatan mereka dinyatakan dalam kitab Ahkam al-Mal al-Haram, “Muktamar Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah di Kairo, tahun 1965, hingga muktamar tertinggi di Mekah, yang dihadiri lebih dari 300 ulama besar, menetapkan bahwa semua bunga bank adalah haram.” (Ahkam al-Mal al-Haram, hlm. 168). Bukankah Bunga itu Saling Ridha? Benar, riba itu saling ridha. Dan saling ridha dalam hal ini tidak mengubah hukum riba menjadi halal. Sahabat Abdullah bin Sallam radhiyallahu ‘anhu pernah berpesan kepada Abu Burdah ketika beliau berkunjung ke rumahnya Abdullah, إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ أَوْ حِمْلَ قَتٍّ فَلا تَأْخُذْهُ فَإِنَّهُ رِبًا “Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” (HR. Bukhari 3603) Judi juga saling ridha… sebelum bermain, para penjudi bersepakat, siapa yang kalah, harus menyerahkan hartanya. Tapi saling ridha tidak menyebabkan judi menjadi halal. Sogok dan gratifikasi juga saling ridha… sebelum menang tender, vendor sudah mengikat perjanjian dengan oknum pejabat, akan ada bagi hasil setelah proyek selesai. Tidak semua akad menjadi halal karena saling ridha. Yang dipersyaratkan saling ridha adalah jual beli atau perdagangan. Agar hasilnya halal, disyaratkan pelaku akad harus saling ridha. Allah berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta orang lain diantara kalian dengan cara batil, kecuali melalui perdagangan yang saling ridha diantara kalian. (QS. an-Nisa: 29) Dalam ayat di atas, ada 2 syarat agar harta yang kita makan tidak terhitung sebagai harta yang bathil: [1] Didapatkan dari hasil perdagangan atau jual beli [2] Dilakukan saling ridha. Demikian… Semoga anda tidak menjadi pengikut preman… Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Sombong Dalam Islam, Hadits Tentang Malaikat Mikail, Hadits Tentang Nikah Siri, Tanda Tanda Mau Meninggal Menurut Islam, Jawab Adzan Subuh, Doa Lupa Menaruh Barang Visited 89 times, 1 visit(s) today Post Views: 299 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/348659112&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Bunga Bank itu BUKAN Riba, Asal Saling Ridho? Cak Nun menganggap bunga bank bukan riba, tapi ucapan terima kasih. Karena bank telah memberi utangan. Videonya ada di: https://www.youtube.com/watch?v=o4wGCWhIehg&t=129s Apakah jika saling ikhlas itu bukan riba? maaf, jk ini sya angkat, meskipun sudah basi.. Jawaban: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Dalam setiap perseteruan antara kebenaran dan kebatilan, setan turut bermain di sana. Setan jin dan setan manusia, bekerja sama saling membisikkan kalimat indah, alibi-alibi, upaya pembenaran, untuk dijadikan senjata agar orang yang bersalah, bisa tetap bertahan dalam kesalahan dan penyimpangannya. Dalam Al-Quran Allah menceritakan, bahwa setan membisikkan kalimat indah, namun menipu. Allah berfirman, وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا “Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. al-An’am: 112) Dalam al-Quran Allah bercerita, ketika Iblis diusir oleh Allah dari surga karena tidak mau sujud kepada Adam, Iblis dendam dan dia berjanji dengan bersumpah atas nama Allah, akan mengajak semua keturunan Adam ke Neraka. Namun anehnya, sewaktu Iblis menggoda Adam agar juga diusir dari Surga, Iblis datang tidak dengan wajah garang, tidak menampakkan wajah permusuhan. Tapi dia datang dengan wajah pertemanan, bahkan dia sebut dirinya pemberi nasehat bagi Adam dan Hawa. فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآَتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ  وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ “Syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua.” (QS. al-A’raf: 20 – 21) Seperti itu pula yang dilakukan oang munafik. Mereka membagun prinsip besar, yaitu prinsip serba boleh (permisif) di tengah kaum Muslimin. Mereka memberikan sejuta alasan agar sesuatu yang dilarang dalam al-Quran, menjadi boleh. Allah Ta’ala befirman, الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ “Orang munafik lelaki dan orang munafik perempuan, satu sama lain saling memerintahkan yang munkar dan mencegah yang makruf.” (QS. At-Taubah: 67). Bunga Bank Bukan Riba? Semua utang yang menuntut adanya kelebihan adalah riba. Ibnu Qudamah mengatakan, كل قرض شرط به أن يزيده فهو حرام بغير خلاف Semua utang yang mempersyaratkan harus dilebihkan (pelunasannya) hukumnya haram tanpa ada perbedaan (sepakat ulama). (al-Mughni, 4/390). Keterangan lain disampaikan Ibnul Mundzir, أجمعوا على أن المسلف إذا شرط على المستسلف زيادة أو هدية فاسلف على ذلك أن أخذ الزيادة على ذلك ربا Ulama sepakat bahwa apabila orang yang memberi utang mempersyaratkan pihak yang dihutangi harus memberi tambahan atau hadiah, kemudian dilakukan transaksi utang piutang dengan kesepakatan itu, maka mengambil tambahan tadi statusnya riba. (al-Ijma’ , hlm. 90). Semua pengajuan kredit di bank, ada ketentuan harus membayar bunga sekian persen perbulan. Dan sangat jelas ini riba, berdasar sepakat ulama. Bunga atas pinjaman ini adalah manfaat yang didapatkan pihak bank karena memberikan dana utangan ke nasabah. Kita memang tidak bisa mendapatkan keterangan tentang bunga bank di buku-buku klasik. Karena ketika itu belum ada bank. Tapi bisa kita dapatkan dari pernyataan ulama kontemporer yang menjumpai bank. Salah satu kesepakatan mereka dinyatakan dalam kitab Ahkam al-Mal al-Haram, “Muktamar Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah di Kairo, tahun 1965, hingga muktamar tertinggi di Mekah, yang dihadiri lebih dari 300 ulama besar, menetapkan bahwa semua bunga bank adalah haram.” (Ahkam al-Mal al-Haram, hlm. 168). Bukankah Bunga itu Saling Ridha? Benar, riba itu saling ridha. Dan saling ridha dalam hal ini tidak mengubah hukum riba menjadi halal. Sahabat Abdullah bin Sallam radhiyallahu ‘anhu pernah berpesan kepada Abu Burdah ketika beliau berkunjung ke rumahnya Abdullah, إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ أَوْ حِمْلَ قَتٍّ فَلا تَأْخُذْهُ فَإِنَّهُ رِبًا “Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” (HR. Bukhari 3603) Judi juga saling ridha… sebelum bermain, para penjudi bersepakat, siapa yang kalah, harus menyerahkan hartanya. Tapi saling ridha tidak menyebabkan judi menjadi halal. Sogok dan gratifikasi juga saling ridha… sebelum menang tender, vendor sudah mengikat perjanjian dengan oknum pejabat, akan ada bagi hasil setelah proyek selesai. Tidak semua akad menjadi halal karena saling ridha. Yang dipersyaratkan saling ridha adalah jual beli atau perdagangan. Agar hasilnya halal, disyaratkan pelaku akad harus saling ridha. Allah berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta orang lain diantara kalian dengan cara batil, kecuali melalui perdagangan yang saling ridha diantara kalian. (QS. an-Nisa: 29) Dalam ayat di atas, ada 2 syarat agar harta yang kita makan tidak terhitung sebagai harta yang bathil: [1] Didapatkan dari hasil perdagangan atau jual beli [2] Dilakukan saling ridha. Demikian… Semoga anda tidak menjadi pengikut preman… Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Sombong Dalam Islam, Hadits Tentang Malaikat Mikail, Hadits Tentang Nikah Siri, Tanda Tanda Mau Meninggal Menurut Islam, Jawab Adzan Subuh, Doa Lupa Menaruh Barang Visited 89 times, 1 visit(s) today Post Views: 299 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Faedah Sirah Nabi: Menikahi Khadijah

Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha adalah wanita yang terhormat dan terpandang di kalangan Quraisy, dari garis keturunan yang mulia. Dia adalah perempuan yang terkaya di kalangan Quraisy, seorang pedagang yang sering memakai jasa laki-laki untuk menjalankan perniagaannya dengan imbalan upah. Ketika berita tentang kejujuran dan amanah serta keluhuran budi pekerti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada Khadijah, maka dia pun tertarik menawarkan kepada beliau untuk menjalankan perniagaan ke Syam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menerima tawaran itu, dan beliau berangkat dengan ditemani oleh hamba sahaya milik Khadijah bernama Maisarah. Selama dalam perjalanan, Maisarah banyak menyaksikan peristiwa-peristiwa aneh yang mengagumkan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia juga memperhatikan budi pekerti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, ketinggian akhlak serta kejujurannya. Semua itu ia ceritakan kepada Khadijah sekembalinya dari misi perdagangan yang menguntungkan itu. Setelah semua itu didengar Khadijah, yang sebelumnya dia telah banyak mendengar dari orang lain, akhirnya Khadijah tertarik untuk menikah dengannya. Pada waktu itu usia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 25 tahun (sebagaimana perkataan jumhur) dan Khadijah 40 tahun (sebagaimana pendapat yang masyhur). Namun yang dikuatkan oleh Dr. Akram Dhiya’ Al-‘Umari bahwa usia Khadijah saat menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 28 tahun sebagaimana riwayat dari Ibnu Ishaq. Karena ada dua anak laki-laki dan empat anak perempuan yang dilahirkan dari pernikahan Khadijah radhiyallahu ‘anha dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sangat sulit diharapkan enam anak tersebut dilahirkan di usia Khadijah 40 tahun. Karena biasa  mendekati usia 50 tahun sudah sangat sulit memiliki keturunan lagi apalagi banyak. Dua anak laki-laki tersebut adalah Qasim dan ‘Abdullah. Sedangkan empat anak perempuan adalah Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah. Qasim dan ‘Abdullah meninggal dunia ketika kecil. Sedangkan anak perempuan beliau semuanya memeluk Islam. Namun semua puteri beliau meninggal dunia semasa hidup beliau selain Fathimah. Fathimah meninggal dunia enam bulan setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Sebagian besar riwayat menyebutkan bahwa yang melangsungkan akad nikah adalah paman Khadijah yang bernama Amr bin Sa’ad. Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa sebagai wali nikahnya adalah ayahnya, Khuwailid. Sebelum menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah telah menikah dua kali. Suaminya yang pertama bernama ‘Atiq bin ‘Aidz Al-Makhzumi. Suami yang kedua bernama Abu Halah bin An-Nabbasy At-Tamimi. Khadijah meninggal dunia tiga tahun sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah dan meninggalnya sebelum peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Waqidi, Khadijah meninggal dalam usia 65 tahun.   Pelajaran Penting Boleh bagi wanita berdagang. Akhlak dan budi pekerti yang baik jadi faktor utama seseorang bisa sukses dalam bisnis dan berhasil menarik kepercayaan, sampai menarik hati yang lainnya untuk menikah. Seorang wanita harus dinikahkan oleh walinya. Seorang laki-laki hendaklah mencari wanita shalihah (yang afifah, menjaga diri seperti Khadijah). Begitu juga wanita hendaklah mencari laki-laki yang shalih sebagai pendamping dan imamnya. Dianjurkan menikah di usia muda. Banyak anak itu lebih baik. Tidak masalah menikahi wanita yang lebih tua. Tidak mengapa pria bujang menikahi janda.   Syarat Wanita Bekerja Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah dalam kitab Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtash bi Al-Mu’minaat (hlm. 12) mengenai syarat wanita boleh bekerja di luar rumah sebagai berikut: Pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang ia butuhkan atau pekerjaan yang dibutuhkan masyarakat karena tidak mungkin tergantikan oleh laki-laki. Bekerja di luar rumah dilakukan setelah pekerjaan pokok di rumah beres. Pekerjaan yang dilakukan berada di lingkungan para wanita (jauh dari interaksi dengan pria) seperti sebagai pengajar bagi murid-murid perempuan dan merawat pasien wanita. Namun perlu dipahami bahwa sebaik-baik tempat bagi wanita adalah di rumahnya. Allah Ta’ala berfirman, “Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu.” (QS Al-Ahzab: 33).   Keutamaan Memiliki Banyak Anak Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa seseorang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas ia mengatakan pada beliau bahwa ia tertarik pada wanita yang punya kedudukan dan cantik, namun sayangnya ia mandul. Lantas ia bertanya bolehkah untuk menikahi wanita tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Menikahlah kalian dengan yang penyayang dan punya banyak keturunan. Karena aku begitu bangga dengan banyaknya umatku pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 2050 dan An-Nasa’i, no. 3229. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan.) Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulum Ad-Diin berkata, “Berusaha untuk mendapatkan keturunan sudah dinilai sebagai suatu bentuk ibadah dilihat dari empat sisi: Menjalankan perintah Allah agar manusia tetap memiliki keturunan. Berharap dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau akan bangga dengan banyaknya keturunannya pada hari kiamat. Mengharap berkah dari doa baik dari anak shalih setelah itu. Mengharapkan syafa’at dari anak yang meninggal dunia ketika kecil sebelum orang tuanya.” Semoga bermanfaat dan menjadi pelajaran berharga.   Referensi: Ar-Rahiq Al-Makhtum. Cetakan kesepuluh, Tahun 1420 H. Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri. Penerbit Darul Wafa’ dan Dar At-Tadmuriyah. As-Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah. Cetakan ketujuh, Tahun 1434 H. Dr. Akram Dhiya’ Al-‘Umari. Penerbit Al-‘Ubaikan. hlm. 135-137. As-Sirah An-Nabawiyyah fi Dhau’ Al-Mashadir Al-Ashliyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1424 H. Prof. Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad. Penerbit Dar Zidni. Fiqh As-Sirah An-Nabawiyyah. Cetakan ke-24, Tahun 1436 H. Dr. Muhammad Sa’id Ramdhan Al-Buthi. Penerbit Darus Salam. Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah. Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtash bi Al-Mu’minaat. Cetakan kelima, tahun 1429 H. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan. Penerbit Darul Ifta’. — Disusun di Perpus Rumaysho, 30 Muharram 1439 H,  Jumat siang Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsfaedah sirah nabi khadijah nikah sirah nabi

Faedah Sirah Nabi: Menikahi Khadijah

Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha adalah wanita yang terhormat dan terpandang di kalangan Quraisy, dari garis keturunan yang mulia. Dia adalah perempuan yang terkaya di kalangan Quraisy, seorang pedagang yang sering memakai jasa laki-laki untuk menjalankan perniagaannya dengan imbalan upah. Ketika berita tentang kejujuran dan amanah serta keluhuran budi pekerti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada Khadijah, maka dia pun tertarik menawarkan kepada beliau untuk menjalankan perniagaan ke Syam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menerima tawaran itu, dan beliau berangkat dengan ditemani oleh hamba sahaya milik Khadijah bernama Maisarah. Selama dalam perjalanan, Maisarah banyak menyaksikan peristiwa-peristiwa aneh yang mengagumkan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia juga memperhatikan budi pekerti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, ketinggian akhlak serta kejujurannya. Semua itu ia ceritakan kepada Khadijah sekembalinya dari misi perdagangan yang menguntungkan itu. Setelah semua itu didengar Khadijah, yang sebelumnya dia telah banyak mendengar dari orang lain, akhirnya Khadijah tertarik untuk menikah dengannya. Pada waktu itu usia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 25 tahun (sebagaimana perkataan jumhur) dan Khadijah 40 tahun (sebagaimana pendapat yang masyhur). Namun yang dikuatkan oleh Dr. Akram Dhiya’ Al-‘Umari bahwa usia Khadijah saat menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 28 tahun sebagaimana riwayat dari Ibnu Ishaq. Karena ada dua anak laki-laki dan empat anak perempuan yang dilahirkan dari pernikahan Khadijah radhiyallahu ‘anha dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sangat sulit diharapkan enam anak tersebut dilahirkan di usia Khadijah 40 tahun. Karena biasa  mendekati usia 50 tahun sudah sangat sulit memiliki keturunan lagi apalagi banyak. Dua anak laki-laki tersebut adalah Qasim dan ‘Abdullah. Sedangkan empat anak perempuan adalah Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah. Qasim dan ‘Abdullah meninggal dunia ketika kecil. Sedangkan anak perempuan beliau semuanya memeluk Islam. Namun semua puteri beliau meninggal dunia semasa hidup beliau selain Fathimah. Fathimah meninggal dunia enam bulan setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Sebagian besar riwayat menyebutkan bahwa yang melangsungkan akad nikah adalah paman Khadijah yang bernama Amr bin Sa’ad. Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa sebagai wali nikahnya adalah ayahnya, Khuwailid. Sebelum menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah telah menikah dua kali. Suaminya yang pertama bernama ‘Atiq bin ‘Aidz Al-Makhzumi. Suami yang kedua bernama Abu Halah bin An-Nabbasy At-Tamimi. Khadijah meninggal dunia tiga tahun sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah dan meninggalnya sebelum peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Waqidi, Khadijah meninggal dalam usia 65 tahun.   Pelajaran Penting Boleh bagi wanita berdagang. Akhlak dan budi pekerti yang baik jadi faktor utama seseorang bisa sukses dalam bisnis dan berhasil menarik kepercayaan, sampai menarik hati yang lainnya untuk menikah. Seorang wanita harus dinikahkan oleh walinya. Seorang laki-laki hendaklah mencari wanita shalihah (yang afifah, menjaga diri seperti Khadijah). Begitu juga wanita hendaklah mencari laki-laki yang shalih sebagai pendamping dan imamnya. Dianjurkan menikah di usia muda. Banyak anak itu lebih baik. Tidak masalah menikahi wanita yang lebih tua. Tidak mengapa pria bujang menikahi janda.   Syarat Wanita Bekerja Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah dalam kitab Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtash bi Al-Mu’minaat (hlm. 12) mengenai syarat wanita boleh bekerja di luar rumah sebagai berikut: Pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang ia butuhkan atau pekerjaan yang dibutuhkan masyarakat karena tidak mungkin tergantikan oleh laki-laki. Bekerja di luar rumah dilakukan setelah pekerjaan pokok di rumah beres. Pekerjaan yang dilakukan berada di lingkungan para wanita (jauh dari interaksi dengan pria) seperti sebagai pengajar bagi murid-murid perempuan dan merawat pasien wanita. Namun perlu dipahami bahwa sebaik-baik tempat bagi wanita adalah di rumahnya. Allah Ta’ala berfirman, “Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu.” (QS Al-Ahzab: 33).   Keutamaan Memiliki Banyak Anak Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa seseorang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas ia mengatakan pada beliau bahwa ia tertarik pada wanita yang punya kedudukan dan cantik, namun sayangnya ia mandul. Lantas ia bertanya bolehkah untuk menikahi wanita tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Menikahlah kalian dengan yang penyayang dan punya banyak keturunan. Karena aku begitu bangga dengan banyaknya umatku pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 2050 dan An-Nasa’i, no. 3229. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan.) Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulum Ad-Diin berkata, “Berusaha untuk mendapatkan keturunan sudah dinilai sebagai suatu bentuk ibadah dilihat dari empat sisi: Menjalankan perintah Allah agar manusia tetap memiliki keturunan. Berharap dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau akan bangga dengan banyaknya keturunannya pada hari kiamat. Mengharap berkah dari doa baik dari anak shalih setelah itu. Mengharapkan syafa’at dari anak yang meninggal dunia ketika kecil sebelum orang tuanya.” Semoga bermanfaat dan menjadi pelajaran berharga.   Referensi: Ar-Rahiq Al-Makhtum. Cetakan kesepuluh, Tahun 1420 H. Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri. Penerbit Darul Wafa’ dan Dar At-Tadmuriyah. As-Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah. Cetakan ketujuh, Tahun 1434 H. Dr. Akram Dhiya’ Al-‘Umari. Penerbit Al-‘Ubaikan. hlm. 135-137. As-Sirah An-Nabawiyyah fi Dhau’ Al-Mashadir Al-Ashliyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1424 H. Prof. Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad. Penerbit Dar Zidni. Fiqh As-Sirah An-Nabawiyyah. Cetakan ke-24, Tahun 1436 H. Dr. Muhammad Sa’id Ramdhan Al-Buthi. Penerbit Darus Salam. Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah. Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtash bi Al-Mu’minaat. Cetakan kelima, tahun 1429 H. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan. Penerbit Darul Ifta’. — Disusun di Perpus Rumaysho, 30 Muharram 1439 H,  Jumat siang Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsfaedah sirah nabi khadijah nikah sirah nabi
Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha adalah wanita yang terhormat dan terpandang di kalangan Quraisy, dari garis keturunan yang mulia. Dia adalah perempuan yang terkaya di kalangan Quraisy, seorang pedagang yang sering memakai jasa laki-laki untuk menjalankan perniagaannya dengan imbalan upah. Ketika berita tentang kejujuran dan amanah serta keluhuran budi pekerti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada Khadijah, maka dia pun tertarik menawarkan kepada beliau untuk menjalankan perniagaan ke Syam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menerima tawaran itu, dan beliau berangkat dengan ditemani oleh hamba sahaya milik Khadijah bernama Maisarah. Selama dalam perjalanan, Maisarah banyak menyaksikan peristiwa-peristiwa aneh yang mengagumkan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia juga memperhatikan budi pekerti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, ketinggian akhlak serta kejujurannya. Semua itu ia ceritakan kepada Khadijah sekembalinya dari misi perdagangan yang menguntungkan itu. Setelah semua itu didengar Khadijah, yang sebelumnya dia telah banyak mendengar dari orang lain, akhirnya Khadijah tertarik untuk menikah dengannya. Pada waktu itu usia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 25 tahun (sebagaimana perkataan jumhur) dan Khadijah 40 tahun (sebagaimana pendapat yang masyhur). Namun yang dikuatkan oleh Dr. Akram Dhiya’ Al-‘Umari bahwa usia Khadijah saat menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 28 tahun sebagaimana riwayat dari Ibnu Ishaq. Karena ada dua anak laki-laki dan empat anak perempuan yang dilahirkan dari pernikahan Khadijah radhiyallahu ‘anha dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sangat sulit diharapkan enam anak tersebut dilahirkan di usia Khadijah 40 tahun. Karena biasa  mendekati usia 50 tahun sudah sangat sulit memiliki keturunan lagi apalagi banyak. Dua anak laki-laki tersebut adalah Qasim dan ‘Abdullah. Sedangkan empat anak perempuan adalah Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah. Qasim dan ‘Abdullah meninggal dunia ketika kecil. Sedangkan anak perempuan beliau semuanya memeluk Islam. Namun semua puteri beliau meninggal dunia semasa hidup beliau selain Fathimah. Fathimah meninggal dunia enam bulan setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Sebagian besar riwayat menyebutkan bahwa yang melangsungkan akad nikah adalah paman Khadijah yang bernama Amr bin Sa’ad. Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa sebagai wali nikahnya adalah ayahnya, Khuwailid. Sebelum menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah telah menikah dua kali. Suaminya yang pertama bernama ‘Atiq bin ‘Aidz Al-Makhzumi. Suami yang kedua bernama Abu Halah bin An-Nabbasy At-Tamimi. Khadijah meninggal dunia tiga tahun sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah dan meninggalnya sebelum peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Waqidi, Khadijah meninggal dalam usia 65 tahun.   Pelajaran Penting Boleh bagi wanita berdagang. Akhlak dan budi pekerti yang baik jadi faktor utama seseorang bisa sukses dalam bisnis dan berhasil menarik kepercayaan, sampai menarik hati yang lainnya untuk menikah. Seorang wanita harus dinikahkan oleh walinya. Seorang laki-laki hendaklah mencari wanita shalihah (yang afifah, menjaga diri seperti Khadijah). Begitu juga wanita hendaklah mencari laki-laki yang shalih sebagai pendamping dan imamnya. Dianjurkan menikah di usia muda. Banyak anak itu lebih baik. Tidak masalah menikahi wanita yang lebih tua. Tidak mengapa pria bujang menikahi janda.   Syarat Wanita Bekerja Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah dalam kitab Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtash bi Al-Mu’minaat (hlm. 12) mengenai syarat wanita boleh bekerja di luar rumah sebagai berikut: Pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang ia butuhkan atau pekerjaan yang dibutuhkan masyarakat karena tidak mungkin tergantikan oleh laki-laki. Bekerja di luar rumah dilakukan setelah pekerjaan pokok di rumah beres. Pekerjaan yang dilakukan berada di lingkungan para wanita (jauh dari interaksi dengan pria) seperti sebagai pengajar bagi murid-murid perempuan dan merawat pasien wanita. Namun perlu dipahami bahwa sebaik-baik tempat bagi wanita adalah di rumahnya. Allah Ta’ala berfirman, “Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu.” (QS Al-Ahzab: 33).   Keutamaan Memiliki Banyak Anak Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa seseorang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas ia mengatakan pada beliau bahwa ia tertarik pada wanita yang punya kedudukan dan cantik, namun sayangnya ia mandul. Lantas ia bertanya bolehkah untuk menikahi wanita tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Menikahlah kalian dengan yang penyayang dan punya banyak keturunan. Karena aku begitu bangga dengan banyaknya umatku pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 2050 dan An-Nasa’i, no. 3229. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan.) Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulum Ad-Diin berkata, “Berusaha untuk mendapatkan keturunan sudah dinilai sebagai suatu bentuk ibadah dilihat dari empat sisi: Menjalankan perintah Allah agar manusia tetap memiliki keturunan. Berharap dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau akan bangga dengan banyaknya keturunannya pada hari kiamat. Mengharap berkah dari doa baik dari anak shalih setelah itu. Mengharapkan syafa’at dari anak yang meninggal dunia ketika kecil sebelum orang tuanya.” Semoga bermanfaat dan menjadi pelajaran berharga.   Referensi: Ar-Rahiq Al-Makhtum. Cetakan kesepuluh, Tahun 1420 H. Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri. Penerbit Darul Wafa’ dan Dar At-Tadmuriyah. As-Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah. Cetakan ketujuh, Tahun 1434 H. Dr. Akram Dhiya’ Al-‘Umari. Penerbit Al-‘Ubaikan. hlm. 135-137. As-Sirah An-Nabawiyyah fi Dhau’ Al-Mashadir Al-Ashliyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1424 H. Prof. Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad. Penerbit Dar Zidni. Fiqh As-Sirah An-Nabawiyyah. Cetakan ke-24, Tahun 1436 H. Dr. Muhammad Sa’id Ramdhan Al-Buthi. Penerbit Darus Salam. Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah. Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtash bi Al-Mu’minaat. Cetakan kelima, tahun 1429 H. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan. Penerbit Darul Ifta’. — Disusun di Perpus Rumaysho, 30 Muharram 1439 H,  Jumat siang Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsfaedah sirah nabi khadijah nikah sirah nabi


Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha adalah wanita yang terhormat dan terpandang di kalangan Quraisy, dari garis keturunan yang mulia. Dia adalah perempuan yang terkaya di kalangan Quraisy, seorang pedagang yang sering memakai jasa laki-laki untuk menjalankan perniagaannya dengan imbalan upah. Ketika berita tentang kejujuran dan amanah serta keluhuran budi pekerti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada Khadijah, maka dia pun tertarik menawarkan kepada beliau untuk menjalankan perniagaan ke Syam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menerima tawaran itu, dan beliau berangkat dengan ditemani oleh hamba sahaya milik Khadijah bernama Maisarah. Selama dalam perjalanan, Maisarah banyak menyaksikan peristiwa-peristiwa aneh yang mengagumkan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia juga memperhatikan budi pekerti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, ketinggian akhlak serta kejujurannya. Semua itu ia ceritakan kepada Khadijah sekembalinya dari misi perdagangan yang menguntungkan itu. Setelah semua itu didengar Khadijah, yang sebelumnya dia telah banyak mendengar dari orang lain, akhirnya Khadijah tertarik untuk menikah dengannya. Pada waktu itu usia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 25 tahun (sebagaimana perkataan jumhur) dan Khadijah 40 tahun (sebagaimana pendapat yang masyhur). Namun yang dikuatkan oleh Dr. Akram Dhiya’ Al-‘Umari bahwa usia Khadijah saat menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 28 tahun sebagaimana riwayat dari Ibnu Ishaq. Karena ada dua anak laki-laki dan empat anak perempuan yang dilahirkan dari pernikahan Khadijah radhiyallahu ‘anha dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sangat sulit diharapkan enam anak tersebut dilahirkan di usia Khadijah 40 tahun. Karena biasa  mendekati usia 50 tahun sudah sangat sulit memiliki keturunan lagi apalagi banyak. Dua anak laki-laki tersebut adalah Qasim dan ‘Abdullah. Sedangkan empat anak perempuan adalah Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah. Qasim dan ‘Abdullah meninggal dunia ketika kecil. Sedangkan anak perempuan beliau semuanya memeluk Islam. Namun semua puteri beliau meninggal dunia semasa hidup beliau selain Fathimah. Fathimah meninggal dunia enam bulan setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Sebagian besar riwayat menyebutkan bahwa yang melangsungkan akad nikah adalah paman Khadijah yang bernama Amr bin Sa’ad. Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa sebagai wali nikahnya adalah ayahnya, Khuwailid. Sebelum menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah telah menikah dua kali. Suaminya yang pertama bernama ‘Atiq bin ‘Aidz Al-Makhzumi. Suami yang kedua bernama Abu Halah bin An-Nabbasy At-Tamimi. Khadijah meninggal dunia tiga tahun sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah dan meninggalnya sebelum peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Waqidi, Khadijah meninggal dalam usia 65 tahun.   Pelajaran Penting Boleh bagi wanita berdagang. Akhlak dan budi pekerti yang baik jadi faktor utama seseorang bisa sukses dalam bisnis dan berhasil menarik kepercayaan, sampai menarik hati yang lainnya untuk menikah. Seorang wanita harus dinikahkan oleh walinya. Seorang laki-laki hendaklah mencari wanita shalihah (yang afifah, menjaga diri seperti Khadijah). Begitu juga wanita hendaklah mencari laki-laki yang shalih sebagai pendamping dan imamnya. Dianjurkan menikah di usia muda. Banyak anak itu lebih baik. Tidak masalah menikahi wanita yang lebih tua. Tidak mengapa pria bujang menikahi janda.   Syarat Wanita Bekerja Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah dalam kitab Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtash bi Al-Mu’minaat (hlm. 12) mengenai syarat wanita boleh bekerja di luar rumah sebagai berikut: Pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang ia butuhkan atau pekerjaan yang dibutuhkan masyarakat karena tidak mungkin tergantikan oleh laki-laki. Bekerja di luar rumah dilakukan setelah pekerjaan pokok di rumah beres. Pekerjaan yang dilakukan berada di lingkungan para wanita (jauh dari interaksi dengan pria) seperti sebagai pengajar bagi murid-murid perempuan dan merawat pasien wanita. Namun perlu dipahami bahwa sebaik-baik tempat bagi wanita adalah di rumahnya. Allah Ta’ala berfirman, “Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu.” (QS Al-Ahzab: 33).   Keutamaan Memiliki Banyak Anak Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa seseorang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas ia mengatakan pada beliau bahwa ia tertarik pada wanita yang punya kedudukan dan cantik, namun sayangnya ia mandul. Lantas ia bertanya bolehkah untuk menikahi wanita tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Menikahlah kalian dengan yang penyayang dan punya banyak keturunan. Karena aku begitu bangga dengan banyaknya umatku pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 2050 dan An-Nasa’i, no. 3229. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan.) Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulum Ad-Diin berkata, “Berusaha untuk mendapatkan keturunan sudah dinilai sebagai suatu bentuk ibadah dilihat dari empat sisi: Menjalankan perintah Allah agar manusia tetap memiliki keturunan. Berharap dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau akan bangga dengan banyaknya keturunannya pada hari kiamat. Mengharap berkah dari doa baik dari anak shalih setelah itu. Mengharapkan syafa’at dari anak yang meninggal dunia ketika kecil sebelum orang tuanya.” Semoga bermanfaat dan menjadi pelajaran berharga.   Referensi: Ar-Rahiq Al-Makhtum. Cetakan kesepuluh, Tahun 1420 H. Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri. Penerbit Darul Wafa’ dan Dar At-Tadmuriyah. As-Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah. Cetakan ketujuh, Tahun 1434 H. Dr. Akram Dhiya’ Al-‘Umari. Penerbit Al-‘Ubaikan. hlm. 135-137. As-Sirah An-Nabawiyyah fi Dhau’ Al-Mashadir Al-Ashliyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1424 H. Prof. Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad. Penerbit Dar Zidni. Fiqh As-Sirah An-Nabawiyyah. Cetakan ke-24, Tahun 1436 H. Dr. Muhammad Sa’id Ramdhan Al-Buthi. Penerbit Darus Salam. Fikih Sirah Nabawiyah. Cetakan kelima, 2016. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Zaid. Penerbit Darus Sunnah. Tambihaat ‘ala Ahkam Takhtash bi Al-Mu’minaat. Cetakan kelima, tahun 1429 H. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan. Penerbit Darul Ifta’. — Disusun di Perpus Rumaysho, 30 Muharram 1439 H,  Jumat siang Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagsfaedah sirah nabi khadijah nikah sirah nabi

Khutbah Jumat: Tanda Cinta Dunia

Apakah kita termasuk orang yang cinta dunia? Apa ada bahayanya jika kita gila dunia? Baca dan pelajari dari Khutbah Jumat berikut ini.   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du: Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah … Kita diperintahkan untuk senantiasa bersyukur pada Allah atas nikmat yang telah diberikan kepada kita sekalian. Syukur inilah yang kita buktikan dengan takwa sebagaimana yang Allah perintahkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102). Karena hakikat syukur adalah menjalankan ketaatan dan menjauhi maksiat sebagaimana kata Abu Hazim mengenai syukur dengan anggota badan adalah, أَنْ تُكَفَّ عَنِ المَعَاصِي ، وَتُسْتَعْمَلَ فِي الطَّاعَاتِ “Engkau tahan anggota badanmu dari maksiat dan engkau gunakan dalam ketaatan pada Allah.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:84) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman. Ada delapan hal yang dicintai manusia, Allah rinci dalam ayat berikut ini. قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Ayat di atas menerangkan tentang orang yang mencintai dunia, yaitu keluarga, harta, bisnis hingga rumah tempat tinggalnya. Ayat di atas kata Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab Tauhid menunjukkan ancaman bagi orang yang menjadikan delapan perkara duniawi tersebut lebih daripada agamanya.   Apa tanda seseorang cinta dunia? Tandanya adalah gila harta, gila jabatan, gila kehormatan, gila ketenaran; hidup mewah dengan pakaian, makanan dan minuman; waktunya sibuk mengejar dunia; ia mengejar dunia lewat amalan akhirat; juga lalai dari ibadah.   Apa bahaya cinta dunia? Pertama: Ibnul Qayyim menyatakan dalam Hadi Al-Arwah (hlm. 48) bahwa kunci segala kejelekan adalah cinta dunia dan panjang angan-angan. Kedua: Orang yang cinta dunia bisa saja mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118) Ketiga: Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal shalih. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى “Siapa yang begitu gila dengan dunianya, maka itu akan memudaratkan akhiratnya. Siapa yang begitu cinta akhiratnya, maka itu akan mengurangi kecintaannya pada dunia. Dahulukanlah negeri yang akan kekal abadi (akhirat) dari negeri yang akan fana (dunia).” (HR. Ahmad, 4:412. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi.) Dalam surat Adz-Dzariyat juga disebutkan, قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ (10) الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ (11) “Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai.” (QS. Adz-Dzariyat: 10-11) Yang dimaksud “alladzina hum fii ghomroh” adalah mereka buta dan jahil akan perkara akhirat. “Saahun” berarti lalai. As-sahwu itu berarti lalai dari sesuatu dan hati tidak memperhatikannya. Sebagaimana hal ini ditafsirkan dalam Zaad Al-Masir karya Ibnul Jauzi. Keempat: Juga karena cinta dunia akan menjadikan seseorang kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir. Di dalam Majmu’ah Al-Fatawa (9:312), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan perkataaan ulama Syam yaitu Sulaiman Al-Khawwash, “Dzikir bagi hati kedudukannya seperti makanan untuk badan. Ketika badan sakit, tentu seseorang sulit merasakan lezatnya makanan. Demikian pula untuk hati tidak bisa merasakan nikmatnya dzikir ketika seseorang terlalu cinta dunia.” Terakhir, kelima: Orang yang gila dunia urusannya akan jadi sulit. Beda kalau seseorang mengutamakan akhirat.  Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ “Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi, no. 2465. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.)   Lalu bagaimana agar tidak gila dunia? Marilah kita belajar agama, luangkan waktu walau sesibuk apa pun untuk mendalami ilmu Islam. Harus yakin dunia itu hina dan yakin dunia itu akan fana dibanding akhirat yang kekal abadi. Qana’ah (nerimo) dengan yang sedikit, apa saja yang Allah beri. Mendahulukan ridha Allah daripada hawa nafsu, keluarga dan kepentingan dunia. Sabar dan haraplah kenikmatan yang begitu banyak di surga. Demikian khutbah pertama ini. Moga Allah memberi taufik dan hidayah. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala … Sikap yang seharusnya terhadap dunia Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim, no. 2392) Al-Munawi rahimahullah dalam Mirqah Al-Mafatih menjelaskan, “Dikatakan dalam penjara karena orang mukmin terhalang untuk melakukan syahwat yang diharamkan. Sedangkan keadaan orang kafir adalah sebaliknya sehingga seakan-akan ia berada di surga.” Di hari Jumat yang penuh berkah ini, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada Nabi kita Muhammad. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali. Juga tak lupa nantinya kita berdoa pada Allah di hari penuh berkah ini, moga doa-doa kita diperkenankan oleh Allah Ta’ala. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Referensi utama: Mufsidaat Al-Qulub. Cetakan pertama, Tahun 1438 H. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Al-‘Ubaikan. Hlm. 271-301. Download PDFnya: Khutbah Jumat: Tanda Cinta Dunia — Selesai disusun @ Perpus Rumaysho, saat Jumat siang, Jumat Pon, 30 Muharram 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagscinta dunia

Khutbah Jumat: Tanda Cinta Dunia

Apakah kita termasuk orang yang cinta dunia? Apa ada bahayanya jika kita gila dunia? Baca dan pelajari dari Khutbah Jumat berikut ini.   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du: Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah … Kita diperintahkan untuk senantiasa bersyukur pada Allah atas nikmat yang telah diberikan kepada kita sekalian. Syukur inilah yang kita buktikan dengan takwa sebagaimana yang Allah perintahkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102). Karena hakikat syukur adalah menjalankan ketaatan dan menjauhi maksiat sebagaimana kata Abu Hazim mengenai syukur dengan anggota badan adalah, أَنْ تُكَفَّ عَنِ المَعَاصِي ، وَتُسْتَعْمَلَ فِي الطَّاعَاتِ “Engkau tahan anggota badanmu dari maksiat dan engkau gunakan dalam ketaatan pada Allah.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:84) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman. Ada delapan hal yang dicintai manusia, Allah rinci dalam ayat berikut ini. قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Ayat di atas menerangkan tentang orang yang mencintai dunia, yaitu keluarga, harta, bisnis hingga rumah tempat tinggalnya. Ayat di atas kata Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab Tauhid menunjukkan ancaman bagi orang yang menjadikan delapan perkara duniawi tersebut lebih daripada agamanya.   Apa tanda seseorang cinta dunia? Tandanya adalah gila harta, gila jabatan, gila kehormatan, gila ketenaran; hidup mewah dengan pakaian, makanan dan minuman; waktunya sibuk mengejar dunia; ia mengejar dunia lewat amalan akhirat; juga lalai dari ibadah.   Apa bahaya cinta dunia? Pertama: Ibnul Qayyim menyatakan dalam Hadi Al-Arwah (hlm. 48) bahwa kunci segala kejelekan adalah cinta dunia dan panjang angan-angan. Kedua: Orang yang cinta dunia bisa saja mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118) Ketiga: Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal shalih. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى “Siapa yang begitu gila dengan dunianya, maka itu akan memudaratkan akhiratnya. Siapa yang begitu cinta akhiratnya, maka itu akan mengurangi kecintaannya pada dunia. Dahulukanlah negeri yang akan kekal abadi (akhirat) dari negeri yang akan fana (dunia).” (HR. Ahmad, 4:412. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi.) Dalam surat Adz-Dzariyat juga disebutkan, قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ (10) الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ (11) “Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai.” (QS. Adz-Dzariyat: 10-11) Yang dimaksud “alladzina hum fii ghomroh” adalah mereka buta dan jahil akan perkara akhirat. “Saahun” berarti lalai. As-sahwu itu berarti lalai dari sesuatu dan hati tidak memperhatikannya. Sebagaimana hal ini ditafsirkan dalam Zaad Al-Masir karya Ibnul Jauzi. Keempat: Juga karena cinta dunia akan menjadikan seseorang kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir. Di dalam Majmu’ah Al-Fatawa (9:312), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan perkataaan ulama Syam yaitu Sulaiman Al-Khawwash, “Dzikir bagi hati kedudukannya seperti makanan untuk badan. Ketika badan sakit, tentu seseorang sulit merasakan lezatnya makanan. Demikian pula untuk hati tidak bisa merasakan nikmatnya dzikir ketika seseorang terlalu cinta dunia.” Terakhir, kelima: Orang yang gila dunia urusannya akan jadi sulit. Beda kalau seseorang mengutamakan akhirat.  Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ “Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi, no. 2465. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.)   Lalu bagaimana agar tidak gila dunia? Marilah kita belajar agama, luangkan waktu walau sesibuk apa pun untuk mendalami ilmu Islam. Harus yakin dunia itu hina dan yakin dunia itu akan fana dibanding akhirat yang kekal abadi. Qana’ah (nerimo) dengan yang sedikit, apa saja yang Allah beri. Mendahulukan ridha Allah daripada hawa nafsu, keluarga dan kepentingan dunia. Sabar dan haraplah kenikmatan yang begitu banyak di surga. Demikian khutbah pertama ini. Moga Allah memberi taufik dan hidayah. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala … Sikap yang seharusnya terhadap dunia Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim, no. 2392) Al-Munawi rahimahullah dalam Mirqah Al-Mafatih menjelaskan, “Dikatakan dalam penjara karena orang mukmin terhalang untuk melakukan syahwat yang diharamkan. Sedangkan keadaan orang kafir adalah sebaliknya sehingga seakan-akan ia berada di surga.” Di hari Jumat yang penuh berkah ini, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada Nabi kita Muhammad. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali. Juga tak lupa nantinya kita berdoa pada Allah di hari penuh berkah ini, moga doa-doa kita diperkenankan oleh Allah Ta’ala. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Referensi utama: Mufsidaat Al-Qulub. Cetakan pertama, Tahun 1438 H. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Al-‘Ubaikan. Hlm. 271-301. Download PDFnya: Khutbah Jumat: Tanda Cinta Dunia — Selesai disusun @ Perpus Rumaysho, saat Jumat siang, Jumat Pon, 30 Muharram 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagscinta dunia
Apakah kita termasuk orang yang cinta dunia? Apa ada bahayanya jika kita gila dunia? Baca dan pelajari dari Khutbah Jumat berikut ini.   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du: Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah … Kita diperintahkan untuk senantiasa bersyukur pada Allah atas nikmat yang telah diberikan kepada kita sekalian. Syukur inilah yang kita buktikan dengan takwa sebagaimana yang Allah perintahkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102). Karena hakikat syukur adalah menjalankan ketaatan dan menjauhi maksiat sebagaimana kata Abu Hazim mengenai syukur dengan anggota badan adalah, أَنْ تُكَفَّ عَنِ المَعَاصِي ، وَتُسْتَعْمَلَ فِي الطَّاعَاتِ “Engkau tahan anggota badanmu dari maksiat dan engkau gunakan dalam ketaatan pada Allah.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:84) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman. Ada delapan hal yang dicintai manusia, Allah rinci dalam ayat berikut ini. قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Ayat di atas menerangkan tentang orang yang mencintai dunia, yaitu keluarga, harta, bisnis hingga rumah tempat tinggalnya. Ayat di atas kata Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab Tauhid menunjukkan ancaman bagi orang yang menjadikan delapan perkara duniawi tersebut lebih daripada agamanya.   Apa tanda seseorang cinta dunia? Tandanya adalah gila harta, gila jabatan, gila kehormatan, gila ketenaran; hidup mewah dengan pakaian, makanan dan minuman; waktunya sibuk mengejar dunia; ia mengejar dunia lewat amalan akhirat; juga lalai dari ibadah.   Apa bahaya cinta dunia? Pertama: Ibnul Qayyim menyatakan dalam Hadi Al-Arwah (hlm. 48) bahwa kunci segala kejelekan adalah cinta dunia dan panjang angan-angan. Kedua: Orang yang cinta dunia bisa saja mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118) Ketiga: Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal shalih. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى “Siapa yang begitu gila dengan dunianya, maka itu akan memudaratkan akhiratnya. Siapa yang begitu cinta akhiratnya, maka itu akan mengurangi kecintaannya pada dunia. Dahulukanlah negeri yang akan kekal abadi (akhirat) dari negeri yang akan fana (dunia).” (HR. Ahmad, 4:412. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi.) Dalam surat Adz-Dzariyat juga disebutkan, قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ (10) الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ (11) “Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai.” (QS. Adz-Dzariyat: 10-11) Yang dimaksud “alladzina hum fii ghomroh” adalah mereka buta dan jahil akan perkara akhirat. “Saahun” berarti lalai. As-sahwu itu berarti lalai dari sesuatu dan hati tidak memperhatikannya. Sebagaimana hal ini ditafsirkan dalam Zaad Al-Masir karya Ibnul Jauzi. Keempat: Juga karena cinta dunia akan menjadikan seseorang kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir. Di dalam Majmu’ah Al-Fatawa (9:312), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan perkataaan ulama Syam yaitu Sulaiman Al-Khawwash, “Dzikir bagi hati kedudukannya seperti makanan untuk badan. Ketika badan sakit, tentu seseorang sulit merasakan lezatnya makanan. Demikian pula untuk hati tidak bisa merasakan nikmatnya dzikir ketika seseorang terlalu cinta dunia.” Terakhir, kelima: Orang yang gila dunia urusannya akan jadi sulit. Beda kalau seseorang mengutamakan akhirat.  Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ “Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi, no. 2465. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.)   Lalu bagaimana agar tidak gila dunia? Marilah kita belajar agama, luangkan waktu walau sesibuk apa pun untuk mendalami ilmu Islam. Harus yakin dunia itu hina dan yakin dunia itu akan fana dibanding akhirat yang kekal abadi. Qana’ah (nerimo) dengan yang sedikit, apa saja yang Allah beri. Mendahulukan ridha Allah daripada hawa nafsu, keluarga dan kepentingan dunia. Sabar dan haraplah kenikmatan yang begitu banyak di surga. Demikian khutbah pertama ini. Moga Allah memberi taufik dan hidayah. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala … Sikap yang seharusnya terhadap dunia Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim, no. 2392) Al-Munawi rahimahullah dalam Mirqah Al-Mafatih menjelaskan, “Dikatakan dalam penjara karena orang mukmin terhalang untuk melakukan syahwat yang diharamkan. Sedangkan keadaan orang kafir adalah sebaliknya sehingga seakan-akan ia berada di surga.” Di hari Jumat yang penuh berkah ini, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada Nabi kita Muhammad. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali. Juga tak lupa nantinya kita berdoa pada Allah di hari penuh berkah ini, moga doa-doa kita diperkenankan oleh Allah Ta’ala. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Referensi utama: Mufsidaat Al-Qulub. Cetakan pertama, Tahun 1438 H. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Al-‘Ubaikan. Hlm. 271-301. Download PDFnya: Khutbah Jumat: Tanda Cinta Dunia — Selesai disusun @ Perpus Rumaysho, saat Jumat siang, Jumat Pon, 30 Muharram 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagscinta dunia


Apakah kita termasuk orang yang cinta dunia? Apa ada bahayanya jika kita gila dunia? Baca dan pelajari dari Khutbah Jumat berikut ini.   Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du: Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah … Kita diperintahkan untuk senantiasa bersyukur pada Allah atas nikmat yang telah diberikan kepada kita sekalian. Syukur inilah yang kita buktikan dengan takwa sebagaimana yang Allah perintahkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102). Karena hakikat syukur adalah menjalankan ketaatan dan menjauhi maksiat sebagaimana kata Abu Hazim mengenai syukur dengan anggota badan adalah, أَنْ تُكَفَّ عَنِ المَعَاصِي ، وَتُسْتَعْمَلَ فِي الطَّاعَاتِ “Engkau tahan anggota badanmu dari maksiat dan engkau gunakan dalam ketaatan pada Allah.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:84) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman. Ada delapan hal yang dicintai manusia, Allah rinci dalam ayat berikut ini. قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ “Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24) Ayat di atas menerangkan tentang orang yang mencintai dunia, yaitu keluarga, harta, bisnis hingga rumah tempat tinggalnya. Ayat di atas kata Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab Tauhid menunjukkan ancaman bagi orang yang menjadikan delapan perkara duniawi tersebut lebih daripada agamanya.   Apa tanda seseorang cinta dunia? Tandanya adalah gila harta, gila jabatan, gila kehormatan, gila ketenaran; hidup mewah dengan pakaian, makanan dan minuman; waktunya sibuk mengejar dunia; ia mengejar dunia lewat amalan akhirat; juga lalai dari ibadah.   Apa bahaya cinta dunia? Pertama: Ibnul Qayyim menyatakan dalam Hadi Al-Arwah (hlm. 48) bahwa kunci segala kejelekan adalah cinta dunia dan panjang angan-angan. Kedua: Orang yang cinta dunia bisa saja mengorbankan agama dan lebih memilih kekafiran. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118) Ketiga: Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal shalih. Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى “Siapa yang begitu gila dengan dunianya, maka itu akan memudaratkan akhiratnya. Siapa yang begitu cinta akhiratnya, maka itu akan mengurangi kecintaannya pada dunia. Dahulukanlah negeri yang akan kekal abadi (akhirat) dari negeri yang akan fana (dunia).” (HR. Ahmad, 4:412. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi.) Dalam surat Adz-Dzariyat juga disebutkan, قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ (10) الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ (11) “Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai.” (QS. Adz-Dzariyat: 10-11) Yang dimaksud “alladzina hum fii ghomroh” adalah mereka buta dan jahil akan perkara akhirat. “Saahun” berarti lalai. As-sahwu itu berarti lalai dari sesuatu dan hati tidak memperhatikannya. Sebagaimana hal ini ditafsirkan dalam Zaad Al-Masir karya Ibnul Jauzi. Keempat: Juga karena cinta dunia akan menjadikan seseorang kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir. Di dalam Majmu’ah Al-Fatawa (9:312), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan perkataaan ulama Syam yaitu Sulaiman Al-Khawwash, “Dzikir bagi hati kedudukannya seperti makanan untuk badan. Ketika badan sakit, tentu seseorang sulit merasakan lezatnya makanan. Demikian pula untuk hati tidak bisa merasakan nikmatnya dzikir ketika seseorang terlalu cinta dunia.” Terakhir, kelima: Orang yang gila dunia urusannya akan jadi sulit. Beda kalau seseorang mengutamakan akhirat.  Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ “Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi, no. 2465. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.)   Lalu bagaimana agar tidak gila dunia? Marilah kita belajar agama, luangkan waktu walau sesibuk apa pun untuk mendalami ilmu Islam. Harus yakin dunia itu hina dan yakin dunia itu akan fana dibanding akhirat yang kekal abadi. Qana’ah (nerimo) dengan yang sedikit, apa saja yang Allah beri. Mendahulukan ridha Allah daripada hawa nafsu, keluarga dan kepentingan dunia. Sabar dan haraplah kenikmatan yang begitu banyak di surga. Demikian khutbah pertama ini. Moga Allah memberi taufik dan hidayah. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala … Sikap yang seharusnya terhadap dunia Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim, no. 2392) Al-Munawi rahimahullah dalam Mirqah Al-Mafatih menjelaskan, “Dikatakan dalam penjara karena orang mukmin terhalang untuk melakukan syahwat yang diharamkan. Sedangkan keadaan orang kafir adalah sebaliknya sehingga seakan-akan ia berada di surga.” Di hari Jumat yang penuh berkah ini, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada Nabi kita Muhammad. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali. Juga tak lupa nantinya kita berdoa pada Allah di hari penuh berkah ini, moga doa-doa kita diperkenankan oleh Allah Ta’ala. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   Referensi utama: Mufsidaat Al-Qulub. Cetakan pertama, Tahun 1438 H. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Al-‘Ubaikan. Hlm. 271-301. Download PDFnya: Khutbah Jumat: Tanda Cinta Dunia — Selesai disusun @ Perpus Rumaysho, saat Jumat siang, Jumat Pon, 30 Muharram 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Tagscinta dunia

Khutbah Jumat: Selingkuh itu Mudah

Selingkuh itu mudah dilakukan karena ada nafsu untuk mendorongnya.   Khutbah Pertama الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى دِيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du: Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah … Kita diperintahkan untuk senantiasa bersyukur pada Allah atas nikmat yang telah diberikan kepada kita sekalian. Syukur inilah yang kita buktikan dengan takwa sebagaimana yang Allah perintahkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku.” (QS. Yusuf: 53) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Nafsu akan terus mengajak manusia pada kejelekan dan perbuatan keji serta perbuatan dosa lainnya. Nafsu jelek ini jadi tunggangan setan untuk menyesatka manusia dan dari jalan nafsu inilah setan akan masuk kecuali bagi siapa saja yang dirahmati oleh Allah.” Di antara bentuk nafsu yang diperintahkan untuk dijaga adalah menjaga kemaluan, yaitu menjaganya dari perbuatan zina dan perselingkuhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan, وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 29-31). Maksud menjaga kemaluan adalah menjaganya dari zina, onani, liwath (homoseks), menyetubuhi pada dubur, juga tidak menyentuh kemaluan lainnya (selain yang halal). Demikian diterangkan oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam tafsir surat Al-Ma’arij. Bukti bahwa manusia akan didorong untuk berzina adalah setiap anggota badannya punya peluang untuk berzina. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim, no. 6925)   Hal di atas menunjukkan bahwa kita punya kesempatan untuk berzina, dan berselingkuh, itu mudah dilakukan. Itulah yang kita pikirkan saat ini bagaimana nafsu jelek bisa dikendalikan. Terlebih dahulu kita pelajari sebab terjadinya perselingkuhan.   Kenapa perselingkuhan bisa terjadi? Kurang menundukkan pandangan, ini sebab yang ada pada laki-laki. Ia berselingkuh karena memandang ada yang lebih baik dan cantik, ditambah lagi ada wanita yang memberikan perhatian. Mendapatkan kenyamanan emosional dengan laki-laki lain, ada yang beri perhatian lebih. Istri tidak menjaga diri ketika keluar rumah, lebih-lebih ketika bekerja di kantoran. Beberapa kasus, selingkuh terjadi dengan atasan, ada juga dengan rekan kerja. Mungkin karena sering bertemu, akhirnya fall in love. Suami merasa kurang puas dengan pelayanan istri di rumah. Ingin mendapatkan kesenangan sementara dan sesaat, tak mau berpikir panjang. Lingkungan masyarakat yang tidak mendukung, termasuk juga lingkungan kerja. Ingin sekedar menghambur-hamburkan uang dengan berfoya-foya melampiaskan syahwat dengan mencari teman selingkuhan. Bergaul bebas dengan lawan jenis baik di dunia nyata maupun di dunia maya termasuk lewat handphone tanpa sepengetahuan pasangan. CLBK = Cinta Lama Bersemi Kembali. Ingat akan mantan pacar, akhirnya berzina dengannya. Itulah akibat dari maksiat bisa berbuah maksiat selanjutnya. Wanita yang berpenampilan menor dan menggoda saat keluar rumah.   Terus, bagaimana kiat mengatasi perselingkuhan? Mempelajari agama secara mendalam. Dekat dengan orang shalih. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; Ahmad, 2: 344. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahihul Jaami’ 3545). Memperhatikan kewajiban masing-masing; suami menjalankan kewajibannya, istri pula menjalankan kewajibannya. Berusaha menundukkan pandangan dari melihat yang tidak halal. Berhati-hati bergaul dengan lawan jenis, tidak begitu saja bebas berhubungan dengan siapa saja Demikian khutbah pertama ini. Moga Allah memberi taufik dan hidayah. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala … Satu lagi peringatan agar kita tidak menuruti hawa nafsu dengan selingkuh ada hadits yang jadi renungan sebagai berikut. Sahabat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah! Izinkanlah aku untuk berzina.” Spontan seluruh sahabat yang hadir menoleh kepadanya dan menghardiknya, sambil berkata kepadanya: “Apa-apaan ini!” Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda kepada pemuda itu, “Mendekatlah.” Pemuda itu segera mendekat ke sebelah beliau, lalu ia duduk. Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda kepadanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa ibumu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa ibu-ibu mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa anak gadismu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa anak gadis mereka.” Selanjutnya beliau bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudarimu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpalinya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ayahmu (bibikmu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannnya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ayah mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ibumu (bibikmu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ibu mereka.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut, dan berdoa, اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan lindungilah kemaluannya.” Semenjak hari itu, pemuda tersebut tidak pernah menoleh ke sesuatu hal (tidak pernah memiliki keinginan untuk berbuat serong atau zina).” (HR. Ahmad, 5:256. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya tsiqah termasuk dalam jajaran perawi shahih) Semoga dengan memperhatikan hadits di atas, kita tidak lagi punya niatan untuk berzina karena kita tentu tidak senang orang-orang dekat kita dizinai, begitu pula dengan orang lain. Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa dirahmati oleh Allah Ta’ala … Di hari Jumat yang penuh berkah ini, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada Nabi kita Muhammad. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali. Juga tak lupa nantinya kita berdoa pada Allah di hari penuh berkah ini, moga doa-doa kita diperkenankan oleh Allah Ta’ala. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Selesai disusun @ Perpus Rumaysho, saat Jumat siang, Jumat Legi, 23 Muharram 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagspeselingkuh pezina selingkuh zina

Khutbah Jumat: Selingkuh itu Mudah

Selingkuh itu mudah dilakukan karena ada nafsu untuk mendorongnya.   Khutbah Pertama الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى دِيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du: Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah … Kita diperintahkan untuk senantiasa bersyukur pada Allah atas nikmat yang telah diberikan kepada kita sekalian. Syukur inilah yang kita buktikan dengan takwa sebagaimana yang Allah perintahkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku.” (QS. Yusuf: 53) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Nafsu akan terus mengajak manusia pada kejelekan dan perbuatan keji serta perbuatan dosa lainnya. Nafsu jelek ini jadi tunggangan setan untuk menyesatka manusia dan dari jalan nafsu inilah setan akan masuk kecuali bagi siapa saja yang dirahmati oleh Allah.” Di antara bentuk nafsu yang diperintahkan untuk dijaga adalah menjaga kemaluan, yaitu menjaganya dari perbuatan zina dan perselingkuhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan, وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 29-31). Maksud menjaga kemaluan adalah menjaganya dari zina, onani, liwath (homoseks), menyetubuhi pada dubur, juga tidak menyentuh kemaluan lainnya (selain yang halal). Demikian diterangkan oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam tafsir surat Al-Ma’arij. Bukti bahwa manusia akan didorong untuk berzina adalah setiap anggota badannya punya peluang untuk berzina. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim, no. 6925)   Hal di atas menunjukkan bahwa kita punya kesempatan untuk berzina, dan berselingkuh, itu mudah dilakukan. Itulah yang kita pikirkan saat ini bagaimana nafsu jelek bisa dikendalikan. Terlebih dahulu kita pelajari sebab terjadinya perselingkuhan.   Kenapa perselingkuhan bisa terjadi? Kurang menundukkan pandangan, ini sebab yang ada pada laki-laki. Ia berselingkuh karena memandang ada yang lebih baik dan cantik, ditambah lagi ada wanita yang memberikan perhatian. Mendapatkan kenyamanan emosional dengan laki-laki lain, ada yang beri perhatian lebih. Istri tidak menjaga diri ketika keluar rumah, lebih-lebih ketika bekerja di kantoran. Beberapa kasus, selingkuh terjadi dengan atasan, ada juga dengan rekan kerja. Mungkin karena sering bertemu, akhirnya fall in love. Suami merasa kurang puas dengan pelayanan istri di rumah. Ingin mendapatkan kesenangan sementara dan sesaat, tak mau berpikir panjang. Lingkungan masyarakat yang tidak mendukung, termasuk juga lingkungan kerja. Ingin sekedar menghambur-hamburkan uang dengan berfoya-foya melampiaskan syahwat dengan mencari teman selingkuhan. Bergaul bebas dengan lawan jenis baik di dunia nyata maupun di dunia maya termasuk lewat handphone tanpa sepengetahuan pasangan. CLBK = Cinta Lama Bersemi Kembali. Ingat akan mantan pacar, akhirnya berzina dengannya. Itulah akibat dari maksiat bisa berbuah maksiat selanjutnya. Wanita yang berpenampilan menor dan menggoda saat keluar rumah.   Terus, bagaimana kiat mengatasi perselingkuhan? Mempelajari agama secara mendalam. Dekat dengan orang shalih. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; Ahmad, 2: 344. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahihul Jaami’ 3545). Memperhatikan kewajiban masing-masing; suami menjalankan kewajibannya, istri pula menjalankan kewajibannya. Berusaha menundukkan pandangan dari melihat yang tidak halal. Berhati-hati bergaul dengan lawan jenis, tidak begitu saja bebas berhubungan dengan siapa saja Demikian khutbah pertama ini. Moga Allah memberi taufik dan hidayah. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala … Satu lagi peringatan agar kita tidak menuruti hawa nafsu dengan selingkuh ada hadits yang jadi renungan sebagai berikut. Sahabat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah! Izinkanlah aku untuk berzina.” Spontan seluruh sahabat yang hadir menoleh kepadanya dan menghardiknya, sambil berkata kepadanya: “Apa-apaan ini!” Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda kepada pemuda itu, “Mendekatlah.” Pemuda itu segera mendekat ke sebelah beliau, lalu ia duduk. Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda kepadanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa ibumu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa ibu-ibu mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa anak gadismu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa anak gadis mereka.” Selanjutnya beliau bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudarimu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpalinya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ayahmu (bibikmu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannnya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ayah mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ibumu (bibikmu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ibu mereka.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut, dan berdoa, اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan lindungilah kemaluannya.” Semenjak hari itu, pemuda tersebut tidak pernah menoleh ke sesuatu hal (tidak pernah memiliki keinginan untuk berbuat serong atau zina).” (HR. Ahmad, 5:256. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya tsiqah termasuk dalam jajaran perawi shahih) Semoga dengan memperhatikan hadits di atas, kita tidak lagi punya niatan untuk berzina karena kita tentu tidak senang orang-orang dekat kita dizinai, begitu pula dengan orang lain. Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa dirahmati oleh Allah Ta’ala … Di hari Jumat yang penuh berkah ini, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada Nabi kita Muhammad. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali. Juga tak lupa nantinya kita berdoa pada Allah di hari penuh berkah ini, moga doa-doa kita diperkenankan oleh Allah Ta’ala. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Selesai disusun @ Perpus Rumaysho, saat Jumat siang, Jumat Legi, 23 Muharram 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagspeselingkuh pezina selingkuh zina
Selingkuh itu mudah dilakukan karena ada nafsu untuk mendorongnya.   Khutbah Pertama الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى دِيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du: Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah … Kita diperintahkan untuk senantiasa bersyukur pada Allah atas nikmat yang telah diberikan kepada kita sekalian. Syukur inilah yang kita buktikan dengan takwa sebagaimana yang Allah perintahkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku.” (QS. Yusuf: 53) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Nafsu akan terus mengajak manusia pada kejelekan dan perbuatan keji serta perbuatan dosa lainnya. Nafsu jelek ini jadi tunggangan setan untuk menyesatka manusia dan dari jalan nafsu inilah setan akan masuk kecuali bagi siapa saja yang dirahmati oleh Allah.” Di antara bentuk nafsu yang diperintahkan untuk dijaga adalah menjaga kemaluan, yaitu menjaganya dari perbuatan zina dan perselingkuhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan, وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 29-31). Maksud menjaga kemaluan adalah menjaganya dari zina, onani, liwath (homoseks), menyetubuhi pada dubur, juga tidak menyentuh kemaluan lainnya (selain yang halal). Demikian diterangkan oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam tafsir surat Al-Ma’arij. Bukti bahwa manusia akan didorong untuk berzina adalah setiap anggota badannya punya peluang untuk berzina. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim, no. 6925)   Hal di atas menunjukkan bahwa kita punya kesempatan untuk berzina, dan berselingkuh, itu mudah dilakukan. Itulah yang kita pikirkan saat ini bagaimana nafsu jelek bisa dikendalikan. Terlebih dahulu kita pelajari sebab terjadinya perselingkuhan.   Kenapa perselingkuhan bisa terjadi? Kurang menundukkan pandangan, ini sebab yang ada pada laki-laki. Ia berselingkuh karena memandang ada yang lebih baik dan cantik, ditambah lagi ada wanita yang memberikan perhatian. Mendapatkan kenyamanan emosional dengan laki-laki lain, ada yang beri perhatian lebih. Istri tidak menjaga diri ketika keluar rumah, lebih-lebih ketika bekerja di kantoran. Beberapa kasus, selingkuh terjadi dengan atasan, ada juga dengan rekan kerja. Mungkin karena sering bertemu, akhirnya fall in love. Suami merasa kurang puas dengan pelayanan istri di rumah. Ingin mendapatkan kesenangan sementara dan sesaat, tak mau berpikir panjang. Lingkungan masyarakat yang tidak mendukung, termasuk juga lingkungan kerja. Ingin sekedar menghambur-hamburkan uang dengan berfoya-foya melampiaskan syahwat dengan mencari teman selingkuhan. Bergaul bebas dengan lawan jenis baik di dunia nyata maupun di dunia maya termasuk lewat handphone tanpa sepengetahuan pasangan. CLBK = Cinta Lama Bersemi Kembali. Ingat akan mantan pacar, akhirnya berzina dengannya. Itulah akibat dari maksiat bisa berbuah maksiat selanjutnya. Wanita yang berpenampilan menor dan menggoda saat keluar rumah.   Terus, bagaimana kiat mengatasi perselingkuhan? Mempelajari agama secara mendalam. Dekat dengan orang shalih. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; Ahmad, 2: 344. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahihul Jaami’ 3545). Memperhatikan kewajiban masing-masing; suami menjalankan kewajibannya, istri pula menjalankan kewajibannya. Berusaha menundukkan pandangan dari melihat yang tidak halal. Berhati-hati bergaul dengan lawan jenis, tidak begitu saja bebas berhubungan dengan siapa saja Demikian khutbah pertama ini. Moga Allah memberi taufik dan hidayah. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala … Satu lagi peringatan agar kita tidak menuruti hawa nafsu dengan selingkuh ada hadits yang jadi renungan sebagai berikut. Sahabat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah! Izinkanlah aku untuk berzina.” Spontan seluruh sahabat yang hadir menoleh kepadanya dan menghardiknya, sambil berkata kepadanya: “Apa-apaan ini!” Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda kepada pemuda itu, “Mendekatlah.” Pemuda itu segera mendekat ke sebelah beliau, lalu ia duduk. Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda kepadanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa ibumu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa ibu-ibu mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa anak gadismu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa anak gadis mereka.” Selanjutnya beliau bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudarimu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpalinya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ayahmu (bibikmu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannnya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ayah mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ibumu (bibikmu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ibu mereka.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut, dan berdoa, اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan lindungilah kemaluannya.” Semenjak hari itu, pemuda tersebut tidak pernah menoleh ke sesuatu hal (tidak pernah memiliki keinginan untuk berbuat serong atau zina).” (HR. Ahmad, 5:256. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya tsiqah termasuk dalam jajaran perawi shahih) Semoga dengan memperhatikan hadits di atas, kita tidak lagi punya niatan untuk berzina karena kita tentu tidak senang orang-orang dekat kita dizinai, begitu pula dengan orang lain. Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa dirahmati oleh Allah Ta’ala … Di hari Jumat yang penuh berkah ini, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada Nabi kita Muhammad. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali. Juga tak lupa nantinya kita berdoa pada Allah di hari penuh berkah ini, moga doa-doa kita diperkenankan oleh Allah Ta’ala. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Selesai disusun @ Perpus Rumaysho, saat Jumat siang, Jumat Legi, 23 Muharram 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagspeselingkuh pezina selingkuh zina


Selingkuh itu mudah dilakukan karena ada nafsu untuk mendorongnya.   Khutbah Pertama الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى دِيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du: Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah … Kita diperintahkan untuk senantiasa bersyukur pada Allah atas nikmat yang telah diberikan kepada kita sekalian. Syukur inilah yang kita buktikan dengan takwa sebagaimana yang Allah perintahkan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku.” (QS. Yusuf: 53) Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Nafsu akan terus mengajak manusia pada kejelekan dan perbuatan keji serta perbuatan dosa lainnya. Nafsu jelek ini jadi tunggangan setan untuk menyesatka manusia dan dari jalan nafsu inilah setan akan masuk kecuali bagi siapa saja yang dirahmati oleh Allah.” Di antara bentuk nafsu yang diperintahkan untuk dijaga adalah menjaga kemaluan, yaitu menjaganya dari perbuatan zina dan perselingkuhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan, وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 29-31). Maksud menjaga kemaluan adalah menjaganya dari zina, onani, liwath (homoseks), menyetubuhi pada dubur, juga tidak menyentuh kemaluan lainnya (selain yang halal). Demikian diterangkan oleh Syaikh Musthafa Al-‘Adawi dalam tafsir surat Al-Ma’arij. Bukti bahwa manusia akan didorong untuk berzina adalah setiap anggota badannya punya peluang untuk berzina. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim, no. 6925)   Hal di atas menunjukkan bahwa kita punya kesempatan untuk berzina, dan berselingkuh, itu mudah dilakukan. Itulah yang kita pikirkan saat ini bagaimana nafsu jelek bisa dikendalikan. Terlebih dahulu kita pelajari sebab terjadinya perselingkuhan.   Kenapa perselingkuhan bisa terjadi? Kurang menundukkan pandangan, ini sebab yang ada pada laki-laki. Ia berselingkuh karena memandang ada yang lebih baik dan cantik, ditambah lagi ada wanita yang memberikan perhatian. Mendapatkan kenyamanan emosional dengan laki-laki lain, ada yang beri perhatian lebih. Istri tidak menjaga diri ketika keluar rumah, lebih-lebih ketika bekerja di kantoran. Beberapa kasus, selingkuh terjadi dengan atasan, ada juga dengan rekan kerja. Mungkin karena sering bertemu, akhirnya fall in love. Suami merasa kurang puas dengan pelayanan istri di rumah. Ingin mendapatkan kesenangan sementara dan sesaat, tak mau berpikir panjang. Lingkungan masyarakat yang tidak mendukung, termasuk juga lingkungan kerja. Ingin sekedar menghambur-hamburkan uang dengan berfoya-foya melampiaskan syahwat dengan mencari teman selingkuhan. Bergaul bebas dengan lawan jenis baik di dunia nyata maupun di dunia maya termasuk lewat handphone tanpa sepengetahuan pasangan. CLBK = Cinta Lama Bersemi Kembali. Ingat akan mantan pacar, akhirnya berzina dengannya. Itulah akibat dari maksiat bisa berbuah maksiat selanjutnya. Wanita yang berpenampilan menor dan menggoda saat keluar rumah.   Terus, bagaimana kiat mengatasi perselingkuhan? Mempelajari agama secara mendalam. Dekat dengan orang shalih. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; Ahmad, 2: 344. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahihul Jaami’ 3545). Memperhatikan kewajiban masing-masing; suami menjalankan kewajibannya, istri pula menjalankan kewajibannya. Berusaha menundukkan pandangan dari melihat yang tidak halal. Berhati-hati bergaul dengan lawan jenis, tidak begitu saja bebas berhubungan dengan siapa saja Demikian khutbah pertama ini. Moga Allah memberi taufik dan hidayah. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala … Satu lagi peringatan agar kita tidak menuruti hawa nafsu dengan selingkuh ada hadits yang jadi renungan sebagai berikut. Sahabat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah! Izinkanlah aku untuk berzina.” Spontan seluruh sahabat yang hadir menoleh kepadanya dan menghardiknya, sambil berkata kepadanya: “Apa-apaan ini!” Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda kepada pemuda itu, “Mendekatlah.” Pemuda itu segera mendekat ke sebelah beliau, lalu ia duduk. Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda kepadanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa ibumu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa ibu-ibu mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa anak gadismu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa anak gadis mereka.” Selanjutnya beliau bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudarimu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpalinya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ayahmu (bibikmu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannnya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ayah mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ibumu (bibikmu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ibu mereka.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut, dan berdoa, اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan lindungilah kemaluannya.” Semenjak hari itu, pemuda tersebut tidak pernah menoleh ke sesuatu hal (tidak pernah memiliki keinginan untuk berbuat serong atau zina).” (HR. Ahmad, 5:256. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya tsiqah termasuk dalam jajaran perawi shahih) Semoga dengan memperhatikan hadits di atas, kita tidak lagi punya niatan untuk berzina karena kita tentu tidak senang orang-orang dekat kita dizinai, begitu pula dengan orang lain. Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa dirahmati oleh Allah Ta’ala … Di hari Jumat yang penuh berkah ini, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada Nabi kita Muhammad. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali. Juga tak lupa nantinya kita berdoa pada Allah di hari penuh berkah ini, moga doa-doa kita diperkenankan oleh Allah Ta’ala. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   — Selesai disusun @ Perpus Rumaysho, saat Jumat siang, Jumat Legi, 23 Muharram 1439 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagspeselingkuh pezina selingkuh zina

Agar Mudah Shalat Subuh Berjamaah

Shubuh Berjamaah Bagaimana caranya agar solat subuh terasa ringan? Karna tak jarang saya tidak mendengar azan padahal jarak masjid tidak terlalu jauh dengan rumah saya Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Bagi sebagian orang, shalat subuh berjamaah di masjid adalah hal ringan. Bahkan dia merasa hidupnya ada yang kurang, ketika dia tidak bisa mengerjakan shalat subuh berjamaah di masjid. Jika anda masuk dalam kategori ini, anda layak untuk bersyukur. Kebalikannya, ada orang yang sangat kesulitan shalat subuh berjamaah di masjid. Butuh perjuangan yang luar biasa untuk bisa bangun subuh. Jika anda masuk kategori ini, bersabarlah untuk terus berjuang, semoga Allah memberikan kekuatan untuk istiqamah. Allah berfirman, وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ Orang-orang yang berjihad di jalan Kami, sungguh akan Kami berikan petunjuk kepada mereka untuk istiqamah di jalan Kami. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Ankabut: 69). Ibnul Qayim memberikan catatan ketika menyebutkan ayat ini, علق سبحانه الهداية بالجهاد، فأكمل الناس هداية أعظمهم جهادا، Allah menggandengkan antara hidayah dengan jihad (perjuangan). Karena itu, manusia yang paling sempurna hidayahnya adalah manusia yang paling besar perjuangannya. Beliau melanjutkan, وأفرضُ الجهادِ جهادُ النفس، وجهاد الهوى، وجهادُ الشيطان، وجهادُ الدنيا فمن جاهد هذه الأربعة في الله هداه الله سُبلَ رضاهُ الموصلة الى جنَّته Jihad yang paling wajib adalah jihad mendidik jiwa, jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan setan, dan jihad untuk zuhud terhadap dunia. Siapa yang bisa berjihad menghadapi 4 hal ini di jalan Allah maka Allah akan berikan petunjuk kepadanya jalan untuk menggapai ridha-Nya yang akan mengantarkan ke surga-Nya. (al-Fawaid, hlm. 59). Semakin besar perjuangan anda untuk bisa melaksanakan jamaah shalat subuh, semakin besar pula peluang untuk dimudahkan mendapatkan hidayah kebaikan, termasuk shalat subuh berjamaah. Tips Bangun Subuh Selanjutnya ada beberapa sarana yang bisa digunakan untuk membantu kita agar bisa bangun sebelum subuh, [1] Kuatkan tekad untuk bangun subuh. Anda bisa baca mengenai keutamaan shalat subuh berjamaah di masjid. Ada banyak sekali keutamaan shalat subuh berjamaah. Anda bisa baca di: Keutamaan Shalat Shubuh [2] Hindari bergadang – dan tidurlah di awal malam. Batasi maksimal bergadang sampai jam 22.00 atau lebih bagus lagi, jam 21.00 [3] Berwudhu sebelum tidur. Ada keistimewaan yang luar biasa untuk orang yang berwudhu sebelum tidur. Disamping ini akan membantu kita untuk bangun sebelum subuh. Dari Abdullah bin Umar radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَاتَ طَاهِرًا، بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلَانٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.’” (HR. Ibn Hibban 3/329. Syuaib Al-Arnauth mengatakan, Perawi hadis ini termasuk perawi kitab shahih. Hadis ini juga dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37) [4] Jangan lupa pasang weaker atau alarm di jadwal sesaat sebelum subuh. Ini bukti bahwa anda serius ingin bangun subuh. [5] Jangan lupa membaca dzikir sebelum tidur. Akhiri hari anda dengan ucapan kebaikan sebelum tidur, anda akan dijaga malaikat. Dari Jabir bin Abdullah, dinyatakan: إذا أوى الرجل إلى فراشه أتاه ملك وشيطان فيقول الملك اختم بخير ويقول الشيطان اختم بشر فان ذكر الله ثم نام باتت الملائكة تكلؤه “Apabila manusia berbaring di pembaringannya (akan tidur), malaikat dan setan segera menghampirinya. Malaikat membisikkan, “Akhiri (malam-mu) dengan kebaikan”, sedangkan setan membisikan, “Akhiri (malam-mu) dengan keburukan”. Apabila dia berdzikir menyebut nama Allah kemudian tidur, maka malaikat melindungi dia di malam itu.” (HR. Ibnu Hibban 5533, Hakim dalam al-Mustadrak 1969 dan beliau shahihkan, kemudian disepakati oleh Adz-Dzahabi) Diantara doa dan dzikir yang bisa anda baca sebelum tidur, Pertama, Tidur dengan menyebut Nama Allah بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا BISMIKA ALLAHUMMA AMUUTU WA AHYAA “Dengan Nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup.” Keterangan: Orang yang sedang tidur, sejatinya sedang Allah wafatkan. Allah berfirman: اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى “Allah mewafatkan jiwa (orang) ketika matinya dan (mewafatkan) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya (sehingga tidak bangun dari tidurnya) dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan.” (QS. Az-Zumar: 42) Karena itulah, ketika hendak tidur, kita membaca : Dengan Nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup. Maknanya, aku mati ketika tidur dan aku hidup ketika bangun. Allahu a’lam. Hadis Selengkapnya: Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ: «بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا» “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak tidur, beliau membaca: Bismika Allahumma amuutu wa ahyaa.. (HR. Bukhari 6324) Kedua, Ayat Kursi Baca ayat kursi sebelum tidur. Jika Anda belum hafal, bisa buka surat Al-Baqarah ayat: 255. Bacaan ini sebelum tidur memiliki keutamaan yang besar. Hadis selengkapnya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah ditugasi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjaga zakat Ramadhan. Malam harinya datang seorang pencuri dan mengambil makanan. Dia langsung ditangkap oleh Abu Hurairah. “Akan aku laporkan kamu ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Orang inipun memelas. Minta dilepaskan karena dia sangat membutuhkan dan punya tanggungan keluarga. Dilepaslah pencuri ini. Siang harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Abu Hurairah tentang kejadian semalam. Setelah diberi laporan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dia dusta, dia akan kembali lagi.” Benar, di malam kedua dia datang lagi. Ditangkap Abu Hurairah, dan memelas, kemudian beliau lepas. Malam ketiga dia datang lagi. Kali ini tidak ada ampun. Orang inipun minta dilepaskan. “Lepaskan aku, nanti aku ajari bacaan yang bermanfaat untukmu.” Dia mengatakan: إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ، فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ: {اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّومُ}، حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ، فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلاَ يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ “Jika kamu hendak tidur, bacalah ayat kursi sampai selesai satu ayat. Maka akan ada penjaga dari Allah untukmu, dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.” (HR. Bukhari 2311) Ketiga, Dua Ayat Terakhir Surat Al-Baqarah, Sudah Mencukupi Dua ayat terakhir surat Al-Baqarah, mulai: [آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ] sampai selesai. Tepatnya surat Al-Baqarah ayat 285 dan 286. Dua ayat ini cukup bagi Anda dari segala sesuatu. Keterangan: 1. Dua ayat terakhir surat Al-Baqarah, sarat dengan kandungan makna iman, islam, bergantung kepada Allah, memohon pertolongan-Nya, tawakkal kepada-Nya, diakhiri dengan permohonan ampunan dan rahmat. 2. Makna “dua ayat ini cukup bagi pembacanya” : dua ayat ini akan menjaganya dari segala keburukan, dan melindunginya dari segala yang dibenci. Ada sebagian ulama yang mengatakan; dua ayat ini menjadi sebab baginya untuk bangun malam. Sehingga dia bisa mudah melakukan tahajud. [keterangan Dr. Dib Bagha dalam Ta’liq Shahih Bukhari, 5/84] Hadis Selengkapnya: Dari Abu Mas’ud Al-badri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: الآيَتَانِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ البَقَرَةِ، مَنْ قَرَأَهُمَا فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ “Dua ayat di akhir surat Al-Baqarah, siapa yang membacanya di suatu malam, itu sudah cukup baginya.” (HR. Bukhari 4008 & Muslim 807) Kelima, Dzikir Pelepas Lelah Anda yang sedang menahan rasa sakit, terkadang membuat Anda sangat lelah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan dzikir yang bisa menambah kekuatan bagi Anda, sehingga mengurangi kelelahan Anda karena sakit atau karena aktivitas lainnya. Dzikir itu adalah membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 34 kali, sehingga genap 100. Tasbih : سُبْحَانَ اللهِ [SUBHAANALLAH] Tahmid : الْحَمْدُ للهِ [ALHAMDULILLAH] Takbir : اللهُ أَكْبَرُ [ALLAHU AKBAR] Hadis Selengkapnya: Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Fatimah pernah mengadukan tangannya yang lecet karena sering memutar gilingan. Ketika itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru memililki seorang budak. Fatimahpun datang ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (berharap diberi budak sebagai pembantu), namun beliau tidak ada dan hanya menemui Aisyah. Fatimah menyampaikan keluhannya kepada Aisyah. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, Aisyah memberitahu tentang kedatangan Fatimah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Malam harinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami (Ali dan Fatimah). Sementara kami sudah di tempat tidur. Kamipun beranjak berdiri, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelahi: “Tetap di tempat.” Beliaupun duduk diantara kami, sampai aku bisa merasakan dinginnya kaki beliau sampai ke dadaku. Beliau bersabda: ألا أعلمكما خيرا مما سألتما، إذا أخذتما مضاجعكما، أن تكبرا الله أربعا وثلاثين، وتسبحاه ثلاثا وثلاثين، وتحمداه ثلاثا وثلاثين، فهو خير لكما من خادم “Akan aku ajari kalian, sesuatu yang lebih baik dari pada yang kalian minta. Jika kalian hendak tidur, bacalah takbir [ALLAHU AKBAR] 34 kali, tasbih [SUBHANALLAH] 33 kali, dan tahmid [ALHAMDULILLAH] 33 kali. itu lebih baik bagi kalian dari pada seorang pembantu.” (HR. Bukhari 3113 dan Muslim 2727) Semenjak mendengar petuah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi, Ali tak pernah lalai meninggalkan wirid tadi. Ia selalu membacanya, bahkan di malam perang Shiffin (HR. Bukhari keterangan hadis no. 5362) Selamat mencoba, semoga Allah melimpahkan pahala yang banyak bagi perjuangan anda… Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Doa Tahajud Shahih, Perbedaan Antara Nabi Dan Rasul, Sumpah Dalam Islam, Kami Bahasa Arab, Doa Niat Puasa Satu Bulan Sekaligus, Niat Solat Qosor Visited 101 times, 1 visit(s) today Post Views: 279 QRIS donasi Yufid

Agar Mudah Shalat Subuh Berjamaah

Shubuh Berjamaah Bagaimana caranya agar solat subuh terasa ringan? Karna tak jarang saya tidak mendengar azan padahal jarak masjid tidak terlalu jauh dengan rumah saya Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Bagi sebagian orang, shalat subuh berjamaah di masjid adalah hal ringan. Bahkan dia merasa hidupnya ada yang kurang, ketika dia tidak bisa mengerjakan shalat subuh berjamaah di masjid. Jika anda masuk dalam kategori ini, anda layak untuk bersyukur. Kebalikannya, ada orang yang sangat kesulitan shalat subuh berjamaah di masjid. Butuh perjuangan yang luar biasa untuk bisa bangun subuh. Jika anda masuk kategori ini, bersabarlah untuk terus berjuang, semoga Allah memberikan kekuatan untuk istiqamah. Allah berfirman, وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ Orang-orang yang berjihad di jalan Kami, sungguh akan Kami berikan petunjuk kepada mereka untuk istiqamah di jalan Kami. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Ankabut: 69). Ibnul Qayim memberikan catatan ketika menyebutkan ayat ini, علق سبحانه الهداية بالجهاد، فأكمل الناس هداية أعظمهم جهادا، Allah menggandengkan antara hidayah dengan jihad (perjuangan). Karena itu, manusia yang paling sempurna hidayahnya adalah manusia yang paling besar perjuangannya. Beliau melanjutkan, وأفرضُ الجهادِ جهادُ النفس، وجهاد الهوى، وجهادُ الشيطان، وجهادُ الدنيا فمن جاهد هذه الأربعة في الله هداه الله سُبلَ رضاهُ الموصلة الى جنَّته Jihad yang paling wajib adalah jihad mendidik jiwa, jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan setan, dan jihad untuk zuhud terhadap dunia. Siapa yang bisa berjihad menghadapi 4 hal ini di jalan Allah maka Allah akan berikan petunjuk kepadanya jalan untuk menggapai ridha-Nya yang akan mengantarkan ke surga-Nya. (al-Fawaid, hlm. 59). Semakin besar perjuangan anda untuk bisa melaksanakan jamaah shalat subuh, semakin besar pula peluang untuk dimudahkan mendapatkan hidayah kebaikan, termasuk shalat subuh berjamaah. Tips Bangun Subuh Selanjutnya ada beberapa sarana yang bisa digunakan untuk membantu kita agar bisa bangun sebelum subuh, [1] Kuatkan tekad untuk bangun subuh. Anda bisa baca mengenai keutamaan shalat subuh berjamaah di masjid. Ada banyak sekali keutamaan shalat subuh berjamaah. Anda bisa baca di: Keutamaan Shalat Shubuh [2] Hindari bergadang – dan tidurlah di awal malam. Batasi maksimal bergadang sampai jam 22.00 atau lebih bagus lagi, jam 21.00 [3] Berwudhu sebelum tidur. Ada keistimewaan yang luar biasa untuk orang yang berwudhu sebelum tidur. Disamping ini akan membantu kita untuk bangun sebelum subuh. Dari Abdullah bin Umar radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَاتَ طَاهِرًا، بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلَانٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.’” (HR. Ibn Hibban 3/329. Syuaib Al-Arnauth mengatakan, Perawi hadis ini termasuk perawi kitab shahih. Hadis ini juga dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37) [4] Jangan lupa pasang weaker atau alarm di jadwal sesaat sebelum subuh. Ini bukti bahwa anda serius ingin bangun subuh. [5] Jangan lupa membaca dzikir sebelum tidur. Akhiri hari anda dengan ucapan kebaikan sebelum tidur, anda akan dijaga malaikat. Dari Jabir bin Abdullah, dinyatakan: إذا أوى الرجل إلى فراشه أتاه ملك وشيطان فيقول الملك اختم بخير ويقول الشيطان اختم بشر فان ذكر الله ثم نام باتت الملائكة تكلؤه “Apabila manusia berbaring di pembaringannya (akan tidur), malaikat dan setan segera menghampirinya. Malaikat membisikkan, “Akhiri (malam-mu) dengan kebaikan”, sedangkan setan membisikan, “Akhiri (malam-mu) dengan keburukan”. Apabila dia berdzikir menyebut nama Allah kemudian tidur, maka malaikat melindungi dia di malam itu.” (HR. Ibnu Hibban 5533, Hakim dalam al-Mustadrak 1969 dan beliau shahihkan, kemudian disepakati oleh Adz-Dzahabi) Diantara doa dan dzikir yang bisa anda baca sebelum tidur, Pertama, Tidur dengan menyebut Nama Allah بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا BISMIKA ALLAHUMMA AMUUTU WA AHYAA “Dengan Nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup.” Keterangan: Orang yang sedang tidur, sejatinya sedang Allah wafatkan. Allah berfirman: اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى “Allah mewafatkan jiwa (orang) ketika matinya dan (mewafatkan) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya (sehingga tidak bangun dari tidurnya) dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan.” (QS. Az-Zumar: 42) Karena itulah, ketika hendak tidur, kita membaca : Dengan Nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup. Maknanya, aku mati ketika tidur dan aku hidup ketika bangun. Allahu a’lam. Hadis Selengkapnya: Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ: «بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا» “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak tidur, beliau membaca: Bismika Allahumma amuutu wa ahyaa.. (HR. Bukhari 6324) Kedua, Ayat Kursi Baca ayat kursi sebelum tidur. Jika Anda belum hafal, bisa buka surat Al-Baqarah ayat: 255. Bacaan ini sebelum tidur memiliki keutamaan yang besar. Hadis selengkapnya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah ditugasi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjaga zakat Ramadhan. Malam harinya datang seorang pencuri dan mengambil makanan. Dia langsung ditangkap oleh Abu Hurairah. “Akan aku laporkan kamu ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Orang inipun memelas. Minta dilepaskan karena dia sangat membutuhkan dan punya tanggungan keluarga. Dilepaslah pencuri ini. Siang harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Abu Hurairah tentang kejadian semalam. Setelah diberi laporan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dia dusta, dia akan kembali lagi.” Benar, di malam kedua dia datang lagi. Ditangkap Abu Hurairah, dan memelas, kemudian beliau lepas. Malam ketiga dia datang lagi. Kali ini tidak ada ampun. Orang inipun minta dilepaskan. “Lepaskan aku, nanti aku ajari bacaan yang bermanfaat untukmu.” Dia mengatakan: إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ، فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ: {اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّومُ}، حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ، فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلاَ يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ “Jika kamu hendak tidur, bacalah ayat kursi sampai selesai satu ayat. Maka akan ada penjaga dari Allah untukmu, dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.” (HR. Bukhari 2311) Ketiga, Dua Ayat Terakhir Surat Al-Baqarah, Sudah Mencukupi Dua ayat terakhir surat Al-Baqarah, mulai: [آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ] sampai selesai. Tepatnya surat Al-Baqarah ayat 285 dan 286. Dua ayat ini cukup bagi Anda dari segala sesuatu. Keterangan: 1. Dua ayat terakhir surat Al-Baqarah, sarat dengan kandungan makna iman, islam, bergantung kepada Allah, memohon pertolongan-Nya, tawakkal kepada-Nya, diakhiri dengan permohonan ampunan dan rahmat. 2. Makna “dua ayat ini cukup bagi pembacanya” : dua ayat ini akan menjaganya dari segala keburukan, dan melindunginya dari segala yang dibenci. Ada sebagian ulama yang mengatakan; dua ayat ini menjadi sebab baginya untuk bangun malam. Sehingga dia bisa mudah melakukan tahajud. [keterangan Dr. Dib Bagha dalam Ta’liq Shahih Bukhari, 5/84] Hadis Selengkapnya: Dari Abu Mas’ud Al-badri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: الآيَتَانِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ البَقَرَةِ، مَنْ قَرَأَهُمَا فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ “Dua ayat di akhir surat Al-Baqarah, siapa yang membacanya di suatu malam, itu sudah cukup baginya.” (HR. Bukhari 4008 & Muslim 807) Kelima, Dzikir Pelepas Lelah Anda yang sedang menahan rasa sakit, terkadang membuat Anda sangat lelah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan dzikir yang bisa menambah kekuatan bagi Anda, sehingga mengurangi kelelahan Anda karena sakit atau karena aktivitas lainnya. Dzikir itu adalah membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 34 kali, sehingga genap 100. Tasbih : سُبْحَانَ اللهِ [SUBHAANALLAH] Tahmid : الْحَمْدُ للهِ [ALHAMDULILLAH] Takbir : اللهُ أَكْبَرُ [ALLAHU AKBAR] Hadis Selengkapnya: Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Fatimah pernah mengadukan tangannya yang lecet karena sering memutar gilingan. Ketika itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru memililki seorang budak. Fatimahpun datang ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (berharap diberi budak sebagai pembantu), namun beliau tidak ada dan hanya menemui Aisyah. Fatimah menyampaikan keluhannya kepada Aisyah. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, Aisyah memberitahu tentang kedatangan Fatimah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Malam harinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami (Ali dan Fatimah). Sementara kami sudah di tempat tidur. Kamipun beranjak berdiri, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelahi: “Tetap di tempat.” Beliaupun duduk diantara kami, sampai aku bisa merasakan dinginnya kaki beliau sampai ke dadaku. Beliau bersabda: ألا أعلمكما خيرا مما سألتما، إذا أخذتما مضاجعكما، أن تكبرا الله أربعا وثلاثين، وتسبحاه ثلاثا وثلاثين، وتحمداه ثلاثا وثلاثين، فهو خير لكما من خادم “Akan aku ajari kalian, sesuatu yang lebih baik dari pada yang kalian minta. Jika kalian hendak tidur, bacalah takbir [ALLAHU AKBAR] 34 kali, tasbih [SUBHANALLAH] 33 kali, dan tahmid [ALHAMDULILLAH] 33 kali. itu lebih baik bagi kalian dari pada seorang pembantu.” (HR. Bukhari 3113 dan Muslim 2727) Semenjak mendengar petuah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi, Ali tak pernah lalai meninggalkan wirid tadi. Ia selalu membacanya, bahkan di malam perang Shiffin (HR. Bukhari keterangan hadis no. 5362) Selamat mencoba, semoga Allah melimpahkan pahala yang banyak bagi perjuangan anda… Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Doa Tahajud Shahih, Perbedaan Antara Nabi Dan Rasul, Sumpah Dalam Islam, Kami Bahasa Arab, Doa Niat Puasa Satu Bulan Sekaligus, Niat Solat Qosor Visited 101 times, 1 visit(s) today Post Views: 279 QRIS donasi Yufid
Shubuh Berjamaah Bagaimana caranya agar solat subuh terasa ringan? Karna tak jarang saya tidak mendengar azan padahal jarak masjid tidak terlalu jauh dengan rumah saya Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Bagi sebagian orang, shalat subuh berjamaah di masjid adalah hal ringan. Bahkan dia merasa hidupnya ada yang kurang, ketika dia tidak bisa mengerjakan shalat subuh berjamaah di masjid. Jika anda masuk dalam kategori ini, anda layak untuk bersyukur. Kebalikannya, ada orang yang sangat kesulitan shalat subuh berjamaah di masjid. Butuh perjuangan yang luar biasa untuk bisa bangun subuh. Jika anda masuk kategori ini, bersabarlah untuk terus berjuang, semoga Allah memberikan kekuatan untuk istiqamah. Allah berfirman, وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ Orang-orang yang berjihad di jalan Kami, sungguh akan Kami berikan petunjuk kepada mereka untuk istiqamah di jalan Kami. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Ankabut: 69). Ibnul Qayim memberikan catatan ketika menyebutkan ayat ini, علق سبحانه الهداية بالجهاد، فأكمل الناس هداية أعظمهم جهادا، Allah menggandengkan antara hidayah dengan jihad (perjuangan). Karena itu, manusia yang paling sempurna hidayahnya adalah manusia yang paling besar perjuangannya. Beliau melanjutkan, وأفرضُ الجهادِ جهادُ النفس، وجهاد الهوى، وجهادُ الشيطان، وجهادُ الدنيا فمن جاهد هذه الأربعة في الله هداه الله سُبلَ رضاهُ الموصلة الى جنَّته Jihad yang paling wajib adalah jihad mendidik jiwa, jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan setan, dan jihad untuk zuhud terhadap dunia. Siapa yang bisa berjihad menghadapi 4 hal ini di jalan Allah maka Allah akan berikan petunjuk kepadanya jalan untuk menggapai ridha-Nya yang akan mengantarkan ke surga-Nya. (al-Fawaid, hlm. 59). Semakin besar perjuangan anda untuk bisa melaksanakan jamaah shalat subuh, semakin besar pula peluang untuk dimudahkan mendapatkan hidayah kebaikan, termasuk shalat subuh berjamaah. Tips Bangun Subuh Selanjutnya ada beberapa sarana yang bisa digunakan untuk membantu kita agar bisa bangun sebelum subuh, [1] Kuatkan tekad untuk bangun subuh. Anda bisa baca mengenai keutamaan shalat subuh berjamaah di masjid. Ada banyak sekali keutamaan shalat subuh berjamaah. Anda bisa baca di: Keutamaan Shalat Shubuh [2] Hindari bergadang – dan tidurlah di awal malam. Batasi maksimal bergadang sampai jam 22.00 atau lebih bagus lagi, jam 21.00 [3] Berwudhu sebelum tidur. Ada keistimewaan yang luar biasa untuk orang yang berwudhu sebelum tidur. Disamping ini akan membantu kita untuk bangun sebelum subuh. Dari Abdullah bin Umar radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَاتَ طَاهِرًا، بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلَانٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.’” (HR. Ibn Hibban 3/329. Syuaib Al-Arnauth mengatakan, Perawi hadis ini termasuk perawi kitab shahih. Hadis ini juga dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37) [4] Jangan lupa pasang weaker atau alarm di jadwal sesaat sebelum subuh. Ini bukti bahwa anda serius ingin bangun subuh. [5] Jangan lupa membaca dzikir sebelum tidur. Akhiri hari anda dengan ucapan kebaikan sebelum tidur, anda akan dijaga malaikat. Dari Jabir bin Abdullah, dinyatakan: إذا أوى الرجل إلى فراشه أتاه ملك وشيطان فيقول الملك اختم بخير ويقول الشيطان اختم بشر فان ذكر الله ثم نام باتت الملائكة تكلؤه “Apabila manusia berbaring di pembaringannya (akan tidur), malaikat dan setan segera menghampirinya. Malaikat membisikkan, “Akhiri (malam-mu) dengan kebaikan”, sedangkan setan membisikan, “Akhiri (malam-mu) dengan keburukan”. Apabila dia berdzikir menyebut nama Allah kemudian tidur, maka malaikat melindungi dia di malam itu.” (HR. Ibnu Hibban 5533, Hakim dalam al-Mustadrak 1969 dan beliau shahihkan, kemudian disepakati oleh Adz-Dzahabi) Diantara doa dan dzikir yang bisa anda baca sebelum tidur, Pertama, Tidur dengan menyebut Nama Allah بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا BISMIKA ALLAHUMMA AMUUTU WA AHYAA “Dengan Nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup.” Keterangan: Orang yang sedang tidur, sejatinya sedang Allah wafatkan. Allah berfirman: اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى “Allah mewafatkan jiwa (orang) ketika matinya dan (mewafatkan) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya (sehingga tidak bangun dari tidurnya) dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan.” (QS. Az-Zumar: 42) Karena itulah, ketika hendak tidur, kita membaca : Dengan Nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup. Maknanya, aku mati ketika tidur dan aku hidup ketika bangun. Allahu a’lam. Hadis Selengkapnya: Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ: «بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا» “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak tidur, beliau membaca: Bismika Allahumma amuutu wa ahyaa.. (HR. Bukhari 6324) Kedua, Ayat Kursi Baca ayat kursi sebelum tidur. Jika Anda belum hafal, bisa buka surat Al-Baqarah ayat: 255. Bacaan ini sebelum tidur memiliki keutamaan yang besar. Hadis selengkapnya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah ditugasi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjaga zakat Ramadhan. Malam harinya datang seorang pencuri dan mengambil makanan. Dia langsung ditangkap oleh Abu Hurairah. “Akan aku laporkan kamu ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Orang inipun memelas. Minta dilepaskan karena dia sangat membutuhkan dan punya tanggungan keluarga. Dilepaslah pencuri ini. Siang harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Abu Hurairah tentang kejadian semalam. Setelah diberi laporan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dia dusta, dia akan kembali lagi.” Benar, di malam kedua dia datang lagi. Ditangkap Abu Hurairah, dan memelas, kemudian beliau lepas. Malam ketiga dia datang lagi. Kali ini tidak ada ampun. Orang inipun minta dilepaskan. “Lepaskan aku, nanti aku ajari bacaan yang bermanfaat untukmu.” Dia mengatakan: إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ، فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ: {اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّومُ}، حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ، فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلاَ يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ “Jika kamu hendak tidur, bacalah ayat kursi sampai selesai satu ayat. Maka akan ada penjaga dari Allah untukmu, dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.” (HR. Bukhari 2311) Ketiga, Dua Ayat Terakhir Surat Al-Baqarah, Sudah Mencukupi Dua ayat terakhir surat Al-Baqarah, mulai: [آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ] sampai selesai. Tepatnya surat Al-Baqarah ayat 285 dan 286. Dua ayat ini cukup bagi Anda dari segala sesuatu. Keterangan: 1. Dua ayat terakhir surat Al-Baqarah, sarat dengan kandungan makna iman, islam, bergantung kepada Allah, memohon pertolongan-Nya, tawakkal kepada-Nya, diakhiri dengan permohonan ampunan dan rahmat. 2. Makna “dua ayat ini cukup bagi pembacanya” : dua ayat ini akan menjaganya dari segala keburukan, dan melindunginya dari segala yang dibenci. Ada sebagian ulama yang mengatakan; dua ayat ini menjadi sebab baginya untuk bangun malam. Sehingga dia bisa mudah melakukan tahajud. [keterangan Dr. Dib Bagha dalam Ta’liq Shahih Bukhari, 5/84] Hadis Selengkapnya: Dari Abu Mas’ud Al-badri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: الآيَتَانِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ البَقَرَةِ، مَنْ قَرَأَهُمَا فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ “Dua ayat di akhir surat Al-Baqarah, siapa yang membacanya di suatu malam, itu sudah cukup baginya.” (HR. Bukhari 4008 & Muslim 807) Kelima, Dzikir Pelepas Lelah Anda yang sedang menahan rasa sakit, terkadang membuat Anda sangat lelah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan dzikir yang bisa menambah kekuatan bagi Anda, sehingga mengurangi kelelahan Anda karena sakit atau karena aktivitas lainnya. Dzikir itu adalah membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 34 kali, sehingga genap 100. Tasbih : سُبْحَانَ اللهِ [SUBHAANALLAH] Tahmid : الْحَمْدُ للهِ [ALHAMDULILLAH] Takbir : اللهُ أَكْبَرُ [ALLAHU AKBAR] Hadis Selengkapnya: Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Fatimah pernah mengadukan tangannya yang lecet karena sering memutar gilingan. Ketika itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru memililki seorang budak. Fatimahpun datang ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (berharap diberi budak sebagai pembantu), namun beliau tidak ada dan hanya menemui Aisyah. Fatimah menyampaikan keluhannya kepada Aisyah. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, Aisyah memberitahu tentang kedatangan Fatimah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Malam harinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami (Ali dan Fatimah). Sementara kami sudah di tempat tidur. Kamipun beranjak berdiri, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelahi: “Tetap di tempat.” Beliaupun duduk diantara kami, sampai aku bisa merasakan dinginnya kaki beliau sampai ke dadaku. Beliau bersabda: ألا أعلمكما خيرا مما سألتما، إذا أخذتما مضاجعكما، أن تكبرا الله أربعا وثلاثين، وتسبحاه ثلاثا وثلاثين، وتحمداه ثلاثا وثلاثين، فهو خير لكما من خادم “Akan aku ajari kalian, sesuatu yang lebih baik dari pada yang kalian minta. Jika kalian hendak tidur, bacalah takbir [ALLAHU AKBAR] 34 kali, tasbih [SUBHANALLAH] 33 kali, dan tahmid [ALHAMDULILLAH] 33 kali. itu lebih baik bagi kalian dari pada seorang pembantu.” (HR. Bukhari 3113 dan Muslim 2727) Semenjak mendengar petuah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi, Ali tak pernah lalai meninggalkan wirid tadi. Ia selalu membacanya, bahkan di malam perang Shiffin (HR. Bukhari keterangan hadis no. 5362) Selamat mencoba, semoga Allah melimpahkan pahala yang banyak bagi perjuangan anda… Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Doa Tahajud Shahih, Perbedaan Antara Nabi Dan Rasul, Sumpah Dalam Islam, Kami Bahasa Arab, Doa Niat Puasa Satu Bulan Sekaligus, Niat Solat Qosor Visited 101 times, 1 visit(s) today Post Views: 279 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/348659031&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Shubuh Berjamaah Bagaimana caranya agar solat subuh terasa ringan? Karna tak jarang saya tidak mendengar azan padahal jarak masjid tidak terlalu jauh dengan rumah saya Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Bagi sebagian orang, shalat subuh berjamaah di masjid adalah hal ringan. Bahkan dia merasa hidupnya ada yang kurang, ketika dia tidak bisa mengerjakan shalat subuh berjamaah di masjid. Jika anda masuk dalam kategori ini, anda layak untuk bersyukur. Kebalikannya, ada orang yang sangat kesulitan shalat subuh berjamaah di masjid. Butuh perjuangan yang luar biasa untuk bisa bangun subuh. Jika anda masuk kategori ini, bersabarlah untuk terus berjuang, semoga Allah memberikan kekuatan untuk istiqamah. Allah berfirman, وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ Orang-orang yang berjihad di jalan Kami, sungguh akan Kami berikan petunjuk kepada mereka untuk istiqamah di jalan Kami. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Ankabut: 69). Ibnul Qayim memberikan catatan ketika menyebutkan ayat ini, علق سبحانه الهداية بالجهاد، فأكمل الناس هداية أعظمهم جهادا، Allah menggandengkan antara hidayah dengan jihad (perjuangan). Karena itu, manusia yang paling sempurna hidayahnya adalah manusia yang paling besar perjuangannya. Beliau melanjutkan, وأفرضُ الجهادِ جهادُ النفس، وجهاد الهوى، وجهادُ الشيطان، وجهادُ الدنيا فمن جاهد هذه الأربعة في الله هداه الله سُبلَ رضاهُ الموصلة الى جنَّته Jihad yang paling wajib adalah jihad mendidik jiwa, jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan setan, dan jihad untuk zuhud terhadap dunia. Siapa yang bisa berjihad menghadapi 4 hal ini di jalan Allah maka Allah akan berikan petunjuk kepadanya jalan untuk menggapai ridha-Nya yang akan mengantarkan ke surga-Nya. (al-Fawaid, hlm. 59). Semakin besar perjuangan anda untuk bisa melaksanakan jamaah shalat subuh, semakin besar pula peluang untuk dimudahkan mendapatkan hidayah kebaikan, termasuk shalat subuh berjamaah. Tips Bangun Subuh Selanjutnya ada beberapa sarana yang bisa digunakan untuk membantu kita agar bisa bangun sebelum subuh, [1] Kuatkan tekad untuk bangun subuh. Anda bisa baca mengenai keutamaan shalat subuh berjamaah di masjid. Ada banyak sekali keutamaan shalat subuh berjamaah. Anda bisa baca di: Keutamaan Shalat Shubuh [2] Hindari bergadang – dan tidurlah di awal malam. Batasi maksimal bergadang sampai jam 22.00 atau lebih bagus lagi, jam 21.00 [3] Berwudhu sebelum tidur. Ada keistimewaan yang luar biasa untuk orang yang berwudhu sebelum tidur. Disamping ini akan membantu kita untuk bangun sebelum subuh. Dari Abdullah bin Umar radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَاتَ طَاهِرًا، بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلَانٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.’” (HR. Ibn Hibban 3/329. Syuaib Al-Arnauth mengatakan, Perawi hadis ini termasuk perawi kitab shahih. Hadis ini juga dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37) [4] Jangan lupa pasang weaker atau alarm di jadwal sesaat sebelum subuh. Ini bukti bahwa anda serius ingin bangun subuh. [5] Jangan lupa membaca dzikir sebelum tidur. Akhiri hari anda dengan ucapan kebaikan sebelum tidur, anda akan dijaga malaikat. Dari Jabir bin Abdullah, dinyatakan: إذا أوى الرجل إلى فراشه أتاه ملك وشيطان فيقول الملك اختم بخير ويقول الشيطان اختم بشر فان ذكر الله ثم نام باتت الملائكة تكلؤه “Apabila manusia berbaring di pembaringannya (akan tidur), malaikat dan setan segera menghampirinya. Malaikat membisikkan, “Akhiri (malam-mu) dengan kebaikan”, sedangkan setan membisikan, “Akhiri (malam-mu) dengan keburukan”. Apabila dia berdzikir menyebut nama Allah kemudian tidur, maka malaikat melindungi dia di malam itu.” (HR. Ibnu Hibban 5533, Hakim dalam al-Mustadrak 1969 dan beliau shahihkan, kemudian disepakati oleh Adz-Dzahabi) Diantara doa dan dzikir yang bisa anda baca sebelum tidur, Pertama, Tidur dengan menyebut Nama Allah بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا BISMIKA ALLAHUMMA AMUUTU WA AHYAA “Dengan Nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup.” Keterangan: Orang yang sedang tidur, sejatinya sedang Allah wafatkan. Allah berfirman: اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى “Allah mewafatkan jiwa (orang) ketika matinya dan (mewafatkan) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya (sehingga tidak bangun dari tidurnya) dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan.” (QS. Az-Zumar: 42) Karena itulah, ketika hendak tidur, kita membaca : Dengan Nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup. Maknanya, aku mati ketika tidur dan aku hidup ketika bangun. Allahu a’lam. Hadis Selengkapnya: Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ: «بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا» “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak tidur, beliau membaca: Bismika Allahumma amuutu wa ahyaa.. (HR. Bukhari 6324) Kedua, Ayat Kursi Baca ayat kursi sebelum tidur. Jika Anda belum hafal, bisa buka surat Al-Baqarah ayat: 255. Bacaan ini sebelum tidur memiliki keutamaan yang besar. Hadis selengkapnya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah ditugasi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjaga zakat Ramadhan. Malam harinya datang seorang pencuri dan mengambil makanan. Dia langsung ditangkap oleh Abu Hurairah. “Akan aku laporkan kamu ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Orang inipun memelas. Minta dilepaskan karena dia sangat membutuhkan dan punya tanggungan keluarga. Dilepaslah pencuri ini. Siang harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Abu Hurairah tentang kejadian semalam. Setelah diberi laporan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dia dusta, dia akan kembali lagi.” Benar, di malam kedua dia datang lagi. Ditangkap Abu Hurairah, dan memelas, kemudian beliau lepas. Malam ketiga dia datang lagi. Kali ini tidak ada ampun. Orang inipun minta dilepaskan. “Lepaskan aku, nanti aku ajari bacaan yang bermanfaat untukmu.” Dia mengatakan: إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ، فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ: {اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّومُ}، حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ، فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلاَ يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ “Jika kamu hendak tidur, bacalah ayat kursi sampai selesai satu ayat. Maka akan ada penjaga dari Allah untukmu, dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.” (HR. Bukhari 2311) Ketiga, Dua Ayat Terakhir Surat Al-Baqarah, Sudah Mencukupi Dua ayat terakhir surat Al-Baqarah, mulai: [آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ] sampai selesai. Tepatnya surat Al-Baqarah ayat 285 dan 286. Dua ayat ini cukup bagi Anda dari segala sesuatu. Keterangan: 1. Dua ayat terakhir surat Al-Baqarah, sarat dengan kandungan makna iman, islam, bergantung kepada Allah, memohon pertolongan-Nya, tawakkal kepada-Nya, diakhiri dengan permohonan ampunan dan rahmat. 2. Makna “dua ayat ini cukup bagi pembacanya” : dua ayat ini akan menjaganya dari segala keburukan, dan melindunginya dari segala yang dibenci. Ada sebagian ulama yang mengatakan; dua ayat ini menjadi sebab baginya untuk bangun malam. Sehingga dia bisa mudah melakukan tahajud. [keterangan Dr. Dib Bagha dalam Ta’liq Shahih Bukhari, 5/84] Hadis Selengkapnya: Dari Abu Mas’ud Al-badri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: الآيَتَانِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ البَقَرَةِ، مَنْ قَرَأَهُمَا فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ “Dua ayat di akhir surat Al-Baqarah, siapa yang membacanya di suatu malam, itu sudah cukup baginya.” (HR. Bukhari 4008 & Muslim 807) Kelima, Dzikir Pelepas Lelah Anda yang sedang menahan rasa sakit, terkadang membuat Anda sangat lelah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan dzikir yang bisa menambah kekuatan bagi Anda, sehingga mengurangi kelelahan Anda karena sakit atau karena aktivitas lainnya. Dzikir itu adalah membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 34 kali, sehingga genap 100. Tasbih : سُبْحَانَ اللهِ [SUBHAANALLAH] Tahmid : الْحَمْدُ للهِ [ALHAMDULILLAH] Takbir : اللهُ أَكْبَرُ [ALLAHU AKBAR] Hadis Selengkapnya: Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Fatimah pernah mengadukan tangannya yang lecet karena sering memutar gilingan. Ketika itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru memililki seorang budak. Fatimahpun datang ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (berharap diberi budak sebagai pembantu), namun beliau tidak ada dan hanya menemui Aisyah. Fatimah menyampaikan keluhannya kepada Aisyah. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, Aisyah memberitahu tentang kedatangan Fatimah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Malam harinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami (Ali dan Fatimah). Sementara kami sudah di tempat tidur. Kamipun beranjak berdiri, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelahi: “Tetap di tempat.” Beliaupun duduk diantara kami, sampai aku bisa merasakan dinginnya kaki beliau sampai ke dadaku. Beliau bersabda: ألا أعلمكما خيرا مما سألتما، إذا أخذتما مضاجعكما، أن تكبرا الله أربعا وثلاثين، وتسبحاه ثلاثا وثلاثين، وتحمداه ثلاثا وثلاثين، فهو خير لكما من خادم “Akan aku ajari kalian, sesuatu yang lebih baik dari pada yang kalian minta. Jika kalian hendak tidur, bacalah takbir [ALLAHU AKBAR] 34 kali, tasbih [SUBHANALLAH] 33 kali, dan tahmid [ALHAMDULILLAH] 33 kali. itu lebih baik bagi kalian dari pada seorang pembantu.” (HR. Bukhari 3113 dan Muslim 2727) Semenjak mendengar petuah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi, Ali tak pernah lalai meninggalkan wirid tadi. Ia selalu membacanya, bahkan di malam perang Shiffin (HR. Bukhari keterangan hadis no. 5362) Selamat mencoba, semoga Allah melimpahkan pahala yang banyak bagi perjuangan anda… Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Doa Tahajud Shahih, Perbedaan Antara Nabi Dan Rasul, Sumpah Dalam Islam, Kami Bahasa Arab, Doa Niat Puasa Satu Bulan Sekaligus, Niat Solat Qosor Visited 101 times, 1 visit(s) today Post Views: 279 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Manhajus Salikin: Niat dan Membaca Bismillah Saat Wudhu

Sekarang kita akan mengkaji masalah wudhu dari kitab Manhajus Salikin karya Syaikh As-Sa’di. Yang dipelajari saat ini tentang niat dan membaca bismillah saat wudhu.   Kitab Ath-Thaharah (Bersuci), Bab Sifat Wudhu   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: “Ketika memulai berwudhu hendaklah berniat untuk menghilangkan hadats atau berniat berwudhu untuk shalat atau semisal itu. Niat adalah syarat diterimanya amalan, termasuk syarat diterimanya thaharah dan selainnya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907] Lalu mengucapkan bismillah.”   Apa itu Wudhu? Kenapa Mesti Berwudhu? Wudhu adalah membasuh dan mengusap anggota tertentu disertai niat. Wudhu dilakukan untuk menghilangkan hadats atau untuk shalat atau sebab lainnya seperti menyentuh mushaf Al-Qur’an dan ingin melakukan thawaf.   Berniat Saat Wudhu Niat secara bahasa berarti al-qashdu (keinginan). Sedangkan niat secara istilah syar’i, yang dimaksud adalah berazam (bertekad) mengerjakan suatu ibadah ikhlas karena Allah. Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Niat itu letaknya di hati berdasarkan kesepakatan ulama. Jika seseorang berniat di hatinya tanpa ia lafazhkan dengan lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 18:262) Niat ada dua macam: (1) niat pada siapakah ditujukan amalan tersebut (al-ma’mul lahu), (2) niat amalan. Niat jenis pertama adalah niat yang ditujukan untuk mengharap wajah Allah dan kehidupan akhirat. Inilah yang dimaksud dengan niat yang ikhlas. Sedangkan niat amalan itu ada dua fungsi: (1) untuk membedakan manakah adat (kebiasaan), manakah ibadah, (2) untuk membedakan satu ibadah dan ibadah lainnya.   Membaca Bismillah Saat Wudhu Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوءَ لَهُ وَلاَ وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهِ “Tidak ada shalat bagi yang tidak ada wudhu. Tidak ada wudhu bagi yang tidak membaca bismillah di dalamnya.” (HR. Abu Daud no. 101 dan Ibnu Majah no. 399. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Kalau dilihat dari hadits-hadits yang ada yang semisal dengan hadits di atas, dapat dikatakan bahwa haditsnya saling menguatkan satu dan lainnya. Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Nampak bahwa dilihat dari berbagai macam jalur, hadits yang membicarakan anjuran bismillah saat wudhu saling menguatkan, yang menunjukkan adanya ajaran akan hal itu.” (Talkhisul Habir, 1: 128). Sebagian ulama mendhaifkan hadits di atas, namun dari berbagai jalur, hadits menjadi kuat. Sedangkan penafian (peniadaan) yang disebutkan dalam hadits adalah kesempurnaan. Jadi maksudnya adalah tidak sempurna wudhunya. Karena ada hadits-hadits yang membicarakan tentang wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti hadits ‘Abdullah bin Zaid, ‘Utsman bin ‘Affan dan juga Ibnu ‘Abbas, tidak menyebutkan bismilah di dalamnya. Sehingga penafian yang ada dimaknakan, tidak sempurna. Jadi tetap ada anjuran membaca bismillah di awal wudhu, namun tidak menunjukkan wajib. Sebagaimana disebutkan oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan, “Pendapat yang menyatakan hukum membaca bismillah saat wudhu adalah sunnah, itulah yang lebih kuat -insya Allah-. Namun sunnahnya itu begitu ditekankan, jangan sampai ditinggalkan dengan sengaja.” (Minhah Al-‘Allam, 1:224). Semoga meraih ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As- Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan ketiga, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. hlm. 44-45. — Disusun di Perpus Rumaysho, 29 Muharram 1439 H,  Kamis siang Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara wudhu manhajus salikin niat

Manhajus Salikin: Niat dan Membaca Bismillah Saat Wudhu

Sekarang kita akan mengkaji masalah wudhu dari kitab Manhajus Salikin karya Syaikh As-Sa’di. Yang dipelajari saat ini tentang niat dan membaca bismillah saat wudhu.   Kitab Ath-Thaharah (Bersuci), Bab Sifat Wudhu   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: “Ketika memulai berwudhu hendaklah berniat untuk menghilangkan hadats atau berniat berwudhu untuk shalat atau semisal itu. Niat adalah syarat diterimanya amalan, termasuk syarat diterimanya thaharah dan selainnya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907] Lalu mengucapkan bismillah.”   Apa itu Wudhu? Kenapa Mesti Berwudhu? Wudhu adalah membasuh dan mengusap anggota tertentu disertai niat. Wudhu dilakukan untuk menghilangkan hadats atau untuk shalat atau sebab lainnya seperti menyentuh mushaf Al-Qur’an dan ingin melakukan thawaf.   Berniat Saat Wudhu Niat secara bahasa berarti al-qashdu (keinginan). Sedangkan niat secara istilah syar’i, yang dimaksud adalah berazam (bertekad) mengerjakan suatu ibadah ikhlas karena Allah. Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Niat itu letaknya di hati berdasarkan kesepakatan ulama. Jika seseorang berniat di hatinya tanpa ia lafazhkan dengan lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 18:262) Niat ada dua macam: (1) niat pada siapakah ditujukan amalan tersebut (al-ma’mul lahu), (2) niat amalan. Niat jenis pertama adalah niat yang ditujukan untuk mengharap wajah Allah dan kehidupan akhirat. Inilah yang dimaksud dengan niat yang ikhlas. Sedangkan niat amalan itu ada dua fungsi: (1) untuk membedakan manakah adat (kebiasaan), manakah ibadah, (2) untuk membedakan satu ibadah dan ibadah lainnya.   Membaca Bismillah Saat Wudhu Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوءَ لَهُ وَلاَ وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهِ “Tidak ada shalat bagi yang tidak ada wudhu. Tidak ada wudhu bagi yang tidak membaca bismillah di dalamnya.” (HR. Abu Daud no. 101 dan Ibnu Majah no. 399. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Kalau dilihat dari hadits-hadits yang ada yang semisal dengan hadits di atas, dapat dikatakan bahwa haditsnya saling menguatkan satu dan lainnya. Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Nampak bahwa dilihat dari berbagai macam jalur, hadits yang membicarakan anjuran bismillah saat wudhu saling menguatkan, yang menunjukkan adanya ajaran akan hal itu.” (Talkhisul Habir, 1: 128). Sebagian ulama mendhaifkan hadits di atas, namun dari berbagai jalur, hadits menjadi kuat. Sedangkan penafian (peniadaan) yang disebutkan dalam hadits adalah kesempurnaan. Jadi maksudnya adalah tidak sempurna wudhunya. Karena ada hadits-hadits yang membicarakan tentang wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti hadits ‘Abdullah bin Zaid, ‘Utsman bin ‘Affan dan juga Ibnu ‘Abbas, tidak menyebutkan bismilah di dalamnya. Sehingga penafian yang ada dimaknakan, tidak sempurna. Jadi tetap ada anjuran membaca bismillah di awal wudhu, namun tidak menunjukkan wajib. Sebagaimana disebutkan oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan, “Pendapat yang menyatakan hukum membaca bismillah saat wudhu adalah sunnah, itulah yang lebih kuat -insya Allah-. Namun sunnahnya itu begitu ditekankan, jangan sampai ditinggalkan dengan sengaja.” (Minhah Al-‘Allam, 1:224). Semoga meraih ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As- Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan ketiga, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. hlm. 44-45. — Disusun di Perpus Rumaysho, 29 Muharram 1439 H,  Kamis siang Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara wudhu manhajus salikin niat
Sekarang kita akan mengkaji masalah wudhu dari kitab Manhajus Salikin karya Syaikh As-Sa’di. Yang dipelajari saat ini tentang niat dan membaca bismillah saat wudhu.   Kitab Ath-Thaharah (Bersuci), Bab Sifat Wudhu   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: “Ketika memulai berwudhu hendaklah berniat untuk menghilangkan hadats atau berniat berwudhu untuk shalat atau semisal itu. Niat adalah syarat diterimanya amalan, termasuk syarat diterimanya thaharah dan selainnya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907] Lalu mengucapkan bismillah.”   Apa itu Wudhu? Kenapa Mesti Berwudhu? Wudhu adalah membasuh dan mengusap anggota tertentu disertai niat. Wudhu dilakukan untuk menghilangkan hadats atau untuk shalat atau sebab lainnya seperti menyentuh mushaf Al-Qur’an dan ingin melakukan thawaf.   Berniat Saat Wudhu Niat secara bahasa berarti al-qashdu (keinginan). Sedangkan niat secara istilah syar’i, yang dimaksud adalah berazam (bertekad) mengerjakan suatu ibadah ikhlas karena Allah. Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Niat itu letaknya di hati berdasarkan kesepakatan ulama. Jika seseorang berniat di hatinya tanpa ia lafazhkan dengan lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 18:262) Niat ada dua macam: (1) niat pada siapakah ditujukan amalan tersebut (al-ma’mul lahu), (2) niat amalan. Niat jenis pertama adalah niat yang ditujukan untuk mengharap wajah Allah dan kehidupan akhirat. Inilah yang dimaksud dengan niat yang ikhlas. Sedangkan niat amalan itu ada dua fungsi: (1) untuk membedakan manakah adat (kebiasaan), manakah ibadah, (2) untuk membedakan satu ibadah dan ibadah lainnya.   Membaca Bismillah Saat Wudhu Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوءَ لَهُ وَلاَ وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهِ “Tidak ada shalat bagi yang tidak ada wudhu. Tidak ada wudhu bagi yang tidak membaca bismillah di dalamnya.” (HR. Abu Daud no. 101 dan Ibnu Majah no. 399. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Kalau dilihat dari hadits-hadits yang ada yang semisal dengan hadits di atas, dapat dikatakan bahwa haditsnya saling menguatkan satu dan lainnya. Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Nampak bahwa dilihat dari berbagai macam jalur, hadits yang membicarakan anjuran bismillah saat wudhu saling menguatkan, yang menunjukkan adanya ajaran akan hal itu.” (Talkhisul Habir, 1: 128). Sebagian ulama mendhaifkan hadits di atas, namun dari berbagai jalur, hadits menjadi kuat. Sedangkan penafian (peniadaan) yang disebutkan dalam hadits adalah kesempurnaan. Jadi maksudnya adalah tidak sempurna wudhunya. Karena ada hadits-hadits yang membicarakan tentang wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti hadits ‘Abdullah bin Zaid, ‘Utsman bin ‘Affan dan juga Ibnu ‘Abbas, tidak menyebutkan bismilah di dalamnya. Sehingga penafian yang ada dimaknakan, tidak sempurna. Jadi tetap ada anjuran membaca bismillah di awal wudhu, namun tidak menunjukkan wajib. Sebagaimana disebutkan oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan, “Pendapat yang menyatakan hukum membaca bismillah saat wudhu adalah sunnah, itulah yang lebih kuat -insya Allah-. Namun sunnahnya itu begitu ditekankan, jangan sampai ditinggalkan dengan sengaja.” (Minhah Al-‘Allam, 1:224). Semoga meraih ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As- Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan ketiga, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. hlm. 44-45. — Disusun di Perpus Rumaysho, 29 Muharram 1439 H,  Kamis siang Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara wudhu manhajus salikin niat


Sekarang kita akan mengkaji masalah wudhu dari kitab Manhajus Salikin karya Syaikh As-Sa’di. Yang dipelajari saat ini tentang niat dan membaca bismillah saat wudhu.   Kitab Ath-Thaharah (Bersuci), Bab Sifat Wudhu   Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: “Ketika memulai berwudhu hendaklah berniat untuk menghilangkan hadats atau berniat berwudhu untuk shalat atau semisal itu. Niat adalah syarat diterimanya amalan, termasuk syarat diterimanya thaharah dan selainnya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907] Lalu mengucapkan bismillah.”   Apa itu Wudhu? Kenapa Mesti Berwudhu? Wudhu adalah membasuh dan mengusap anggota tertentu disertai niat. Wudhu dilakukan untuk menghilangkan hadats atau untuk shalat atau sebab lainnya seperti menyentuh mushaf Al-Qur’an dan ingin melakukan thawaf.   Berniat Saat Wudhu Niat secara bahasa berarti al-qashdu (keinginan). Sedangkan niat secara istilah syar’i, yang dimaksud adalah berazam (bertekad) mengerjakan suatu ibadah ikhlas karena Allah. Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Niat itu letaknya di hati berdasarkan kesepakatan ulama. Jika seseorang berniat di hatinya tanpa ia lafazhkan dengan lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 18:262) Niat ada dua macam: (1) niat pada siapakah ditujukan amalan tersebut (al-ma’mul lahu), (2) niat amalan. Niat jenis pertama adalah niat yang ditujukan untuk mengharap wajah Allah dan kehidupan akhirat. Inilah yang dimaksud dengan niat yang ikhlas. Sedangkan niat amalan itu ada dua fungsi: (1) untuk membedakan manakah adat (kebiasaan), manakah ibadah, (2) untuk membedakan satu ibadah dan ibadah lainnya.   Membaca Bismillah Saat Wudhu Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوءَ لَهُ وَلاَ وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهِ “Tidak ada shalat bagi yang tidak ada wudhu. Tidak ada wudhu bagi yang tidak membaca bismillah di dalamnya.” (HR. Abu Daud no. 101 dan Ibnu Majah no. 399. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Kalau dilihat dari hadits-hadits yang ada yang semisal dengan hadits di atas, dapat dikatakan bahwa haditsnya saling menguatkan satu dan lainnya. Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Nampak bahwa dilihat dari berbagai macam jalur, hadits yang membicarakan anjuran bismillah saat wudhu saling menguatkan, yang menunjukkan adanya ajaran akan hal itu.” (Talkhisul Habir, 1: 128). Sebagian ulama mendhaifkan hadits di atas, namun dari berbagai jalur, hadits menjadi kuat. Sedangkan penafian (peniadaan) yang disebutkan dalam hadits adalah kesempurnaan. Jadi maksudnya adalah tidak sempurna wudhunya. Karena ada hadits-hadits yang membicarakan tentang wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti hadits ‘Abdullah bin Zaid, ‘Utsman bin ‘Affan dan juga Ibnu ‘Abbas, tidak menyebutkan bismilah di dalamnya. Sehingga penafian yang ada dimaknakan, tidak sempurna. Jadi tetap ada anjuran membaca bismillah di awal wudhu, namun tidak menunjukkan wajib. Sebagaimana disebutkan oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan, “Pendapat yang menyatakan hukum membaca bismillah saat wudhu adalah sunnah, itulah yang lebih kuat -insya Allah-. Namun sunnahnya itu begitu ditekankan, jangan sampai ditinggalkan dengan sengaja.” (Minhah Al-‘Allam, 1:224). Semoga meraih ilmu yang bermanfaat.   Referensi: Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As- Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan ketiga, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. hlm. 44-45. — Disusun di Perpus Rumaysho, 29 Muharram 1439 H,  Kamis siang Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara wudhu manhajus salikin niat

Qanaah dalam Beragama

Qanaah dalam Beragama Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Qanaah adalah merasa cukup dengan apapun yang diberikan oleh Allah kepada kita. Dan orang yang qana’ah hidupnya akan tenang, karena dia tidak bernafsu untuk mendapatkan apa yang tidak dia miliki. Seperti yang kita pahami, pemberian Allah yang merupakan nikmat Allah kepada para hamba-Nya ada 2, [1] Nikmat duniawi, seperti nikmat hidup, kesehatan, nikmat rizki, fasilitas hidup, harta simpanan, dst. [2] Nikmat berupa syari’at. Allah lah yang menurunkan syariat kepada untuk para hamba-Nya, agar mereka bisa mendapatkan kebahagiaan kelak di akhirat. Untuk nikmat pertama, semua manusia bisa merasakannya. Sementara untuk nikmat jenis kedua, tidak ada yang bisa merasakannya, kecuali mereka yang diberi petunjuk oleh Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لا يُحِبُّ وَلا يُعْطِي الدِّينَ إِلا لِمَنْ أَحَبَّ فَمَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ الدِّينَ فَقَدْ أَحَبَّهُ Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada siapa saja yang Allah cintai dan yang tidak Allah cintai. Namun Allah tidak akan memberikan agama kecuali kepada orang yang Allah cintai. Siapa yang diberi agama oleh Allah, berarti Allah mencintainya. (HR. Ahmad 3672 dan dishahihkan al-Albani). Qanaah Terhadap Kedua Nikmat Kit diajarkan untuk qanaah dalam perkara dunia. Agar hati kita tidak bernafsu untuk apa yang tidak kita miliki. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela orang yang selalu merasa kurang. Beliau bersabda, لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ Andai manusia memiliki satu lembah emas, dia akan mengejar untuk memiliki dua lembah. Dan tidak ada yang memenuhi mulut manusia, kecuali tanah. Dan Allah menerima taubat bagi mereka yang rajin bertaubat. (HR. Bukhari 6439 & Muslim 1048). Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan, bahwa orang yang qanaah, hidupnya akan bahagia. Beliau bersabda, قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ Sungguh bahagia orang yang masuk islam, diberi rizqi yang cukup, dan Allah jadikan orang yang qanaah terhadap apa yang Allah berikan kepadanya. (HR. Ahmad 6572 & Muslim 1054). Sebagaimana kita diajarkan untuk bersikap qanaah terhadap rizqi dunia, kita juga diajarkan untuk qanaah terhadap pemberian berupa syariat. Dan bentuk qanaah terhadap syariat adalah kita menerima dengan lapang hati, dan tidak menambah-nambahi sedikitpun. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita suatu amalan, kita ikuti seperti yang beliau ajarkan, tanpa menambah-nambahi dengan tata cara  ibadah apapun. Orang yang menambah-nambahi dalam tata cara ibadah, berarti dia tidak qanaah terhadap pemberian Allah berupa syariat. Karena itulah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras hal ini. Dalam mukadimah khutbah beliau, seringkali beliau mengulang nasehat, وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ “Hindari semua perkara yang baru dalam masalah agama, karena semua perkara yang baru dalam agama adalah bid’ah, dan semua bid’ah itu sesat.” (HR. Ahmad 17144 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Karena bid’ah dalam urusan agama, adalah tindakan yang menunjukkan bahwa dia tidak qana’ah terhadap syariat Allah. Yang Sempurna Jangan Ditambahi Semua kaum muslimin mengakui bahwa syariat islam itu sudah sempurna. Allah tegaskan hal ini dalam firman-Nya, الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3). Dan kita memahami, sesuatu yang sempurna jika ditambahi bukan semakin menyempurnakan. Namun justru akan semakin merusak. Manusia sempurna dengan 2 matanya. Jika ditambahi satu mata, bukan membuatnya semakin indah, namun semakin merusak. Kedua tangan sempurna dengan 10 jari. Jika ditambahi satu jari, tidak semakin menyempurnakan, tapi itu kelainan. Syariat itu sempurna… dan kita layak bersyukur dengan syariat yang sempurna ini. Jangan sampai kita memberikan tambahan, yang justru akan semakin merusak. Demikian, Allahu a’lam. Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Tanggal Baik Pernikahan 2018 Menurut Islam, Pengertian Ikhtilat, Arti Istidraj Dalam Islam, Doa Masuk Bulan Rajab, Bacaan Tahyatul Akhir, Doa Untuk Ayah Yang Sudah Meninggal Visited 123 times, 1 visit(s) today Post Views: 269 QRIS donasi Yufid

Qanaah dalam Beragama

Qanaah dalam Beragama Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Qanaah adalah merasa cukup dengan apapun yang diberikan oleh Allah kepada kita. Dan orang yang qana’ah hidupnya akan tenang, karena dia tidak bernafsu untuk mendapatkan apa yang tidak dia miliki. Seperti yang kita pahami, pemberian Allah yang merupakan nikmat Allah kepada para hamba-Nya ada 2, [1] Nikmat duniawi, seperti nikmat hidup, kesehatan, nikmat rizki, fasilitas hidup, harta simpanan, dst. [2] Nikmat berupa syari’at. Allah lah yang menurunkan syariat kepada untuk para hamba-Nya, agar mereka bisa mendapatkan kebahagiaan kelak di akhirat. Untuk nikmat pertama, semua manusia bisa merasakannya. Sementara untuk nikmat jenis kedua, tidak ada yang bisa merasakannya, kecuali mereka yang diberi petunjuk oleh Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لا يُحِبُّ وَلا يُعْطِي الدِّينَ إِلا لِمَنْ أَحَبَّ فَمَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ الدِّينَ فَقَدْ أَحَبَّهُ Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada siapa saja yang Allah cintai dan yang tidak Allah cintai. Namun Allah tidak akan memberikan agama kecuali kepada orang yang Allah cintai. Siapa yang diberi agama oleh Allah, berarti Allah mencintainya. (HR. Ahmad 3672 dan dishahihkan al-Albani). Qanaah Terhadap Kedua Nikmat Kit diajarkan untuk qanaah dalam perkara dunia. Agar hati kita tidak bernafsu untuk apa yang tidak kita miliki. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela orang yang selalu merasa kurang. Beliau bersabda, لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ Andai manusia memiliki satu lembah emas, dia akan mengejar untuk memiliki dua lembah. Dan tidak ada yang memenuhi mulut manusia, kecuali tanah. Dan Allah menerima taubat bagi mereka yang rajin bertaubat. (HR. Bukhari 6439 & Muslim 1048). Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan, bahwa orang yang qanaah, hidupnya akan bahagia. Beliau bersabda, قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ Sungguh bahagia orang yang masuk islam, diberi rizqi yang cukup, dan Allah jadikan orang yang qanaah terhadap apa yang Allah berikan kepadanya. (HR. Ahmad 6572 & Muslim 1054). Sebagaimana kita diajarkan untuk bersikap qanaah terhadap rizqi dunia, kita juga diajarkan untuk qanaah terhadap pemberian berupa syariat. Dan bentuk qanaah terhadap syariat adalah kita menerima dengan lapang hati, dan tidak menambah-nambahi sedikitpun. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita suatu amalan, kita ikuti seperti yang beliau ajarkan, tanpa menambah-nambahi dengan tata cara  ibadah apapun. Orang yang menambah-nambahi dalam tata cara ibadah, berarti dia tidak qanaah terhadap pemberian Allah berupa syariat. Karena itulah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras hal ini. Dalam mukadimah khutbah beliau, seringkali beliau mengulang nasehat, وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ “Hindari semua perkara yang baru dalam masalah agama, karena semua perkara yang baru dalam agama adalah bid’ah, dan semua bid’ah itu sesat.” (HR. Ahmad 17144 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Karena bid’ah dalam urusan agama, adalah tindakan yang menunjukkan bahwa dia tidak qana’ah terhadap syariat Allah. Yang Sempurna Jangan Ditambahi Semua kaum muslimin mengakui bahwa syariat islam itu sudah sempurna. Allah tegaskan hal ini dalam firman-Nya, الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3). Dan kita memahami, sesuatu yang sempurna jika ditambahi bukan semakin menyempurnakan. Namun justru akan semakin merusak. Manusia sempurna dengan 2 matanya. Jika ditambahi satu mata, bukan membuatnya semakin indah, namun semakin merusak. Kedua tangan sempurna dengan 10 jari. Jika ditambahi satu jari, tidak semakin menyempurnakan, tapi itu kelainan. Syariat itu sempurna… dan kita layak bersyukur dengan syariat yang sempurna ini. Jangan sampai kita memberikan tambahan, yang justru akan semakin merusak. Demikian, Allahu a’lam. Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Tanggal Baik Pernikahan 2018 Menurut Islam, Pengertian Ikhtilat, Arti Istidraj Dalam Islam, Doa Masuk Bulan Rajab, Bacaan Tahyatul Akhir, Doa Untuk Ayah Yang Sudah Meninggal Visited 123 times, 1 visit(s) today Post Views: 269 QRIS donasi Yufid
Qanaah dalam Beragama Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Qanaah adalah merasa cukup dengan apapun yang diberikan oleh Allah kepada kita. Dan orang yang qana’ah hidupnya akan tenang, karena dia tidak bernafsu untuk mendapatkan apa yang tidak dia miliki. Seperti yang kita pahami, pemberian Allah yang merupakan nikmat Allah kepada para hamba-Nya ada 2, [1] Nikmat duniawi, seperti nikmat hidup, kesehatan, nikmat rizki, fasilitas hidup, harta simpanan, dst. [2] Nikmat berupa syari’at. Allah lah yang menurunkan syariat kepada untuk para hamba-Nya, agar mereka bisa mendapatkan kebahagiaan kelak di akhirat. Untuk nikmat pertama, semua manusia bisa merasakannya. Sementara untuk nikmat jenis kedua, tidak ada yang bisa merasakannya, kecuali mereka yang diberi petunjuk oleh Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لا يُحِبُّ وَلا يُعْطِي الدِّينَ إِلا لِمَنْ أَحَبَّ فَمَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ الدِّينَ فَقَدْ أَحَبَّهُ Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada siapa saja yang Allah cintai dan yang tidak Allah cintai. Namun Allah tidak akan memberikan agama kecuali kepada orang yang Allah cintai. Siapa yang diberi agama oleh Allah, berarti Allah mencintainya. (HR. Ahmad 3672 dan dishahihkan al-Albani). Qanaah Terhadap Kedua Nikmat Kit diajarkan untuk qanaah dalam perkara dunia. Agar hati kita tidak bernafsu untuk apa yang tidak kita miliki. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela orang yang selalu merasa kurang. Beliau bersabda, لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ Andai manusia memiliki satu lembah emas, dia akan mengejar untuk memiliki dua lembah. Dan tidak ada yang memenuhi mulut manusia, kecuali tanah. Dan Allah menerima taubat bagi mereka yang rajin bertaubat. (HR. Bukhari 6439 & Muslim 1048). Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan, bahwa orang yang qanaah, hidupnya akan bahagia. Beliau bersabda, قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ Sungguh bahagia orang yang masuk islam, diberi rizqi yang cukup, dan Allah jadikan orang yang qanaah terhadap apa yang Allah berikan kepadanya. (HR. Ahmad 6572 & Muslim 1054). Sebagaimana kita diajarkan untuk bersikap qanaah terhadap rizqi dunia, kita juga diajarkan untuk qanaah terhadap pemberian berupa syariat. Dan bentuk qanaah terhadap syariat adalah kita menerima dengan lapang hati, dan tidak menambah-nambahi sedikitpun. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita suatu amalan, kita ikuti seperti yang beliau ajarkan, tanpa menambah-nambahi dengan tata cara  ibadah apapun. Orang yang menambah-nambahi dalam tata cara ibadah, berarti dia tidak qanaah terhadap pemberian Allah berupa syariat. Karena itulah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras hal ini. Dalam mukadimah khutbah beliau, seringkali beliau mengulang nasehat, وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ “Hindari semua perkara yang baru dalam masalah agama, karena semua perkara yang baru dalam agama adalah bid’ah, dan semua bid’ah itu sesat.” (HR. Ahmad 17144 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Karena bid’ah dalam urusan agama, adalah tindakan yang menunjukkan bahwa dia tidak qana’ah terhadap syariat Allah. Yang Sempurna Jangan Ditambahi Semua kaum muslimin mengakui bahwa syariat islam itu sudah sempurna. Allah tegaskan hal ini dalam firman-Nya, الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3). Dan kita memahami, sesuatu yang sempurna jika ditambahi bukan semakin menyempurnakan. Namun justru akan semakin merusak. Manusia sempurna dengan 2 matanya. Jika ditambahi satu mata, bukan membuatnya semakin indah, namun semakin merusak. Kedua tangan sempurna dengan 10 jari. Jika ditambahi satu jari, tidak semakin menyempurnakan, tapi itu kelainan. Syariat itu sempurna… dan kita layak bersyukur dengan syariat yang sempurna ini. Jangan sampai kita memberikan tambahan, yang justru akan semakin merusak. Demikian, Allahu a’lam. Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Tanggal Baik Pernikahan 2018 Menurut Islam, Pengertian Ikhtilat, Arti Istidraj Dalam Islam, Doa Masuk Bulan Rajab, Bacaan Tahyatul Akhir, Doa Untuk Ayah Yang Sudah Meninggal Visited 123 times, 1 visit(s) today Post Views: 269 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/348964515&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Qanaah dalam Beragama Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Qanaah adalah merasa cukup dengan apapun yang diberikan oleh Allah kepada kita. Dan orang yang qana’ah hidupnya akan tenang, karena dia tidak bernafsu untuk mendapatkan apa yang tidak dia miliki. Seperti yang kita pahami, pemberian Allah yang merupakan nikmat Allah kepada para hamba-Nya ada 2, [1] Nikmat duniawi, seperti nikmat hidup, kesehatan, nikmat rizki, fasilitas hidup, harta simpanan, dst. [2] Nikmat berupa syari’at. Allah lah yang menurunkan syariat kepada untuk para hamba-Nya, agar mereka bisa mendapatkan kebahagiaan kelak di akhirat. Untuk nikmat pertama, semua manusia bisa merasakannya. Sementara untuk nikmat jenis kedua, tidak ada yang bisa merasakannya, kecuali mereka yang diberi petunjuk oleh Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لا يُحِبُّ وَلا يُعْطِي الدِّينَ إِلا لِمَنْ أَحَبَّ فَمَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ الدِّينَ فَقَدْ أَحَبَّهُ Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada siapa saja yang Allah cintai dan yang tidak Allah cintai. Namun Allah tidak akan memberikan agama kecuali kepada orang yang Allah cintai. Siapa yang diberi agama oleh Allah, berarti Allah mencintainya. (HR. Ahmad 3672 dan dishahihkan al-Albani). Qanaah Terhadap Kedua Nikmat Kit diajarkan untuk qanaah dalam perkara dunia. Agar hati kita tidak bernafsu untuk apa yang tidak kita miliki. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela orang yang selalu merasa kurang. Beliau bersabda, لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ Andai manusia memiliki satu lembah emas, dia akan mengejar untuk memiliki dua lembah. Dan tidak ada yang memenuhi mulut manusia, kecuali tanah. Dan Allah menerima taubat bagi mereka yang rajin bertaubat. (HR. Bukhari 6439 & Muslim 1048). Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan, bahwa orang yang qanaah, hidupnya akan bahagia. Beliau bersabda, قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ Sungguh bahagia orang yang masuk islam, diberi rizqi yang cukup, dan Allah jadikan orang yang qanaah terhadap apa yang Allah berikan kepadanya. (HR. Ahmad 6572 & Muslim 1054). Sebagaimana kita diajarkan untuk bersikap qanaah terhadap rizqi dunia, kita juga diajarkan untuk qanaah terhadap pemberian berupa syariat. Dan bentuk qanaah terhadap syariat adalah kita menerima dengan lapang hati, dan tidak menambah-nambahi sedikitpun. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita suatu amalan, kita ikuti seperti yang beliau ajarkan, tanpa menambah-nambahi dengan tata cara  ibadah apapun. Orang yang menambah-nambahi dalam tata cara ibadah, berarti dia tidak qanaah terhadap pemberian Allah berupa syariat. Karena itulah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras hal ini. Dalam mukadimah khutbah beliau, seringkali beliau mengulang nasehat, وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ “Hindari semua perkara yang baru dalam masalah agama, karena semua perkara yang baru dalam agama adalah bid’ah, dan semua bid’ah itu sesat.” (HR. Ahmad 17144 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). Karena bid’ah dalam urusan agama, adalah tindakan yang menunjukkan bahwa dia tidak qana’ah terhadap syariat Allah. Yang Sempurna Jangan Ditambahi Semua kaum muslimin mengakui bahwa syariat islam itu sudah sempurna. Allah tegaskan hal ini dalam firman-Nya, الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3). Dan kita memahami, sesuatu yang sempurna jika ditambahi bukan semakin menyempurnakan. Namun justru akan semakin merusak. Manusia sempurna dengan 2 matanya. Jika ditambahi satu mata, bukan membuatnya semakin indah, namun semakin merusak. Kedua tangan sempurna dengan 10 jari. Jika ditambahi satu jari, tidak semakin menyempurnakan, tapi itu kelainan. Syariat itu sempurna… dan kita layak bersyukur dengan syariat yang sempurna ini. Jangan sampai kita memberikan tambahan, yang justru akan semakin merusak. Demikian, Allahu a’lam. Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi: 081 326 333 328 DONASI hubungi: 087 882 888 727 REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Tanggal Baik Pernikahan 2018 Menurut Islam, Pengertian Ikhtilat, Arti Istidraj Dalam Islam, Doa Masuk Bulan Rajab, Bacaan Tahyatul Akhir, Doa Untuk Ayah Yang Sudah Meninggal Visited 123 times, 1 visit(s) today Post Views: 269 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Berdoa di Akhir Shalat Agar Rajin Berdzikir, Bersyukur dan Memperbagus Ibadah

Ada anjuran membaca doa agar rajin berdzikir, bersyukur dan memperbagus ibadah di akhir shalat sebagai berikut.   Riyadhus Sholihin, Kitab Al-Adzkar, Bab Keutamaan Dzikir dan Dorongan untuk Berdzikir  (Hadits no. 1422) وَعَنْ مُعَاذٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، أَخَذَ بِيَدِهِ ، وَقَالَ :(( يَا مُعَاذُ ، وَاللهِ إنِّي لَأُحِبُّكَ )) فَقَالَ : (( أُوصِيْكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ في دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُوْلُ : اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ )) . رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ . Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tangannya dan beliau berkata, “Wahai Mu’adz, demi Allah, aku mencintaimu.” Lalu beliau berkata, “Aku wasiatkan kepadamu, wahai Mu’adz, janganlah engkau sekali-kali meninggalkan doa ini di akhir setiap shalat, ‘ALLOOHUMMA A’INNII ‘ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBAADATIK (Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur, dan beribadah yang baik kepada-Mu).’” (HR. Abu Daud dengan sanad shahih) [HR. Abu Daud, no. 1522; An-Nasa’i, no. 1304. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.]   Penjelesan: 1- Boleh memegang tangan lainnya. 2- Disunnahkan memberitahu orang yang kita cintai bahwa kita mencintainya karena Allah. 3- Keutamaan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. 4- Disunnahkan melazimkan doa yang ada dalam hadits di atas pada setiap akhir shalat. 5- Disunnahkan meminta tolong pada Allah dan meminta diberi taufik dari Allah agar mudah berdzikir, bersyukur dan memperbagus ibadah. 6- Tanda seseorang itu mencintai lainnya adalah ia memberikan nasihat agar yang ia cintai terus berada di atas kebenaran dan terus bersabar.   Mencintai Karena Allah Dari Habib bin ‘Ubaid, dari Miqdam ibnu Ma’dy Kariba –dan Habib menjumpai Miqdam ibnu Ma’di Kariba-, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya hendaklah dia memberitahu saudaranya itu bahwa dia mencintainya.” (HR. Bukhari, dalam Adabul Mufrod, no. 421/542, shahih kata Syaikh Al-Albani) Dari Mujahid berkata, “Ada salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu denganku lalu ia memegang pundakku dari belakang dan berkata, “Sungguh saya mencintaimu.” Dia lalu berkata, أَحَبَّكَ اللهُ الَّذِي أَحْبَبْتَنِي لَهُ “Semoga Allah yang membuatmu mencintaiku turut mencintaimu karena-Nya.” Dia berkata, “Kalau sekiranya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersabda, “Jika seorang pria mencintai saudaranya hendaklah dia memberi tahu bahwa dia mencintainya“, maka tentulah ucapanku tadi tidak kuberitahukan kepadamu.” Dia   lalu   menyodorkan   sebuah lamaran kepadaku sambil berkata, “Kami memiliki seorang budak  perempuan  dia  buta sebelah matanya (silakan engkau mengambilnya).” (HR. Bukhari, dalam Adabul Mufrod, 422/543. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.) Adapun keutamaan mencintai karena Allah disebutkan dalam hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga perkara yang bisa seseorang memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) Ia mencintai saudaranya hanyalah karena Allah, (3) ia benci kembali pada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana ia tidak suka jika dilemparkan dalam api.” (HR. Bukhari, no. 21 dan Muslim, no. 43).   Referensi Utama: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 1:412-413. — Disusun di Perpus Rumaysho, 29 Muharram 1439 H,  Kamis siang Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdoa shalat Dzikir dzikir bada shalat

Berdoa di Akhir Shalat Agar Rajin Berdzikir, Bersyukur dan Memperbagus Ibadah

Ada anjuran membaca doa agar rajin berdzikir, bersyukur dan memperbagus ibadah di akhir shalat sebagai berikut.   Riyadhus Sholihin, Kitab Al-Adzkar, Bab Keutamaan Dzikir dan Dorongan untuk Berdzikir  (Hadits no. 1422) وَعَنْ مُعَاذٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، أَخَذَ بِيَدِهِ ، وَقَالَ :(( يَا مُعَاذُ ، وَاللهِ إنِّي لَأُحِبُّكَ )) فَقَالَ : (( أُوصِيْكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ في دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُوْلُ : اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ )) . رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ . Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tangannya dan beliau berkata, “Wahai Mu’adz, demi Allah, aku mencintaimu.” Lalu beliau berkata, “Aku wasiatkan kepadamu, wahai Mu’adz, janganlah engkau sekali-kali meninggalkan doa ini di akhir setiap shalat, ‘ALLOOHUMMA A’INNII ‘ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBAADATIK (Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur, dan beribadah yang baik kepada-Mu).’” (HR. Abu Daud dengan sanad shahih) [HR. Abu Daud, no. 1522; An-Nasa’i, no. 1304. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.]   Penjelesan: 1- Boleh memegang tangan lainnya. 2- Disunnahkan memberitahu orang yang kita cintai bahwa kita mencintainya karena Allah. 3- Keutamaan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. 4- Disunnahkan melazimkan doa yang ada dalam hadits di atas pada setiap akhir shalat. 5- Disunnahkan meminta tolong pada Allah dan meminta diberi taufik dari Allah agar mudah berdzikir, bersyukur dan memperbagus ibadah. 6- Tanda seseorang itu mencintai lainnya adalah ia memberikan nasihat agar yang ia cintai terus berada di atas kebenaran dan terus bersabar.   Mencintai Karena Allah Dari Habib bin ‘Ubaid, dari Miqdam ibnu Ma’dy Kariba –dan Habib menjumpai Miqdam ibnu Ma’di Kariba-, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya hendaklah dia memberitahu saudaranya itu bahwa dia mencintainya.” (HR. Bukhari, dalam Adabul Mufrod, no. 421/542, shahih kata Syaikh Al-Albani) Dari Mujahid berkata, “Ada salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu denganku lalu ia memegang pundakku dari belakang dan berkata, “Sungguh saya mencintaimu.” Dia lalu berkata, أَحَبَّكَ اللهُ الَّذِي أَحْبَبْتَنِي لَهُ “Semoga Allah yang membuatmu mencintaiku turut mencintaimu karena-Nya.” Dia berkata, “Kalau sekiranya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersabda, “Jika seorang pria mencintai saudaranya hendaklah dia memberi tahu bahwa dia mencintainya“, maka tentulah ucapanku tadi tidak kuberitahukan kepadamu.” Dia   lalu   menyodorkan   sebuah lamaran kepadaku sambil berkata, “Kami memiliki seorang budak  perempuan  dia  buta sebelah matanya (silakan engkau mengambilnya).” (HR. Bukhari, dalam Adabul Mufrod, 422/543. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.) Adapun keutamaan mencintai karena Allah disebutkan dalam hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga perkara yang bisa seseorang memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) Ia mencintai saudaranya hanyalah karena Allah, (3) ia benci kembali pada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana ia tidak suka jika dilemparkan dalam api.” (HR. Bukhari, no. 21 dan Muslim, no. 43).   Referensi Utama: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 1:412-413. — Disusun di Perpus Rumaysho, 29 Muharram 1439 H,  Kamis siang Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdoa shalat Dzikir dzikir bada shalat
Ada anjuran membaca doa agar rajin berdzikir, bersyukur dan memperbagus ibadah di akhir shalat sebagai berikut.   Riyadhus Sholihin, Kitab Al-Adzkar, Bab Keutamaan Dzikir dan Dorongan untuk Berdzikir  (Hadits no. 1422) وَعَنْ مُعَاذٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، أَخَذَ بِيَدِهِ ، وَقَالَ :(( يَا مُعَاذُ ، وَاللهِ إنِّي لَأُحِبُّكَ )) فَقَالَ : (( أُوصِيْكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ في دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُوْلُ : اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ )) . رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ . Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tangannya dan beliau berkata, “Wahai Mu’adz, demi Allah, aku mencintaimu.” Lalu beliau berkata, “Aku wasiatkan kepadamu, wahai Mu’adz, janganlah engkau sekali-kali meninggalkan doa ini di akhir setiap shalat, ‘ALLOOHUMMA A’INNII ‘ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBAADATIK (Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur, dan beribadah yang baik kepada-Mu).’” (HR. Abu Daud dengan sanad shahih) [HR. Abu Daud, no. 1522; An-Nasa’i, no. 1304. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.]   Penjelesan: 1- Boleh memegang tangan lainnya. 2- Disunnahkan memberitahu orang yang kita cintai bahwa kita mencintainya karena Allah. 3- Keutamaan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. 4- Disunnahkan melazimkan doa yang ada dalam hadits di atas pada setiap akhir shalat. 5- Disunnahkan meminta tolong pada Allah dan meminta diberi taufik dari Allah agar mudah berdzikir, bersyukur dan memperbagus ibadah. 6- Tanda seseorang itu mencintai lainnya adalah ia memberikan nasihat agar yang ia cintai terus berada di atas kebenaran dan terus bersabar.   Mencintai Karena Allah Dari Habib bin ‘Ubaid, dari Miqdam ibnu Ma’dy Kariba –dan Habib menjumpai Miqdam ibnu Ma’di Kariba-, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya hendaklah dia memberitahu saudaranya itu bahwa dia mencintainya.” (HR. Bukhari, dalam Adabul Mufrod, no. 421/542, shahih kata Syaikh Al-Albani) Dari Mujahid berkata, “Ada salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu denganku lalu ia memegang pundakku dari belakang dan berkata, “Sungguh saya mencintaimu.” Dia lalu berkata, أَحَبَّكَ اللهُ الَّذِي أَحْبَبْتَنِي لَهُ “Semoga Allah yang membuatmu mencintaiku turut mencintaimu karena-Nya.” Dia berkata, “Kalau sekiranya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersabda, “Jika seorang pria mencintai saudaranya hendaklah dia memberi tahu bahwa dia mencintainya“, maka tentulah ucapanku tadi tidak kuberitahukan kepadamu.” Dia   lalu   menyodorkan   sebuah lamaran kepadaku sambil berkata, “Kami memiliki seorang budak  perempuan  dia  buta sebelah matanya (silakan engkau mengambilnya).” (HR. Bukhari, dalam Adabul Mufrod, 422/543. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.) Adapun keutamaan mencintai karena Allah disebutkan dalam hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga perkara yang bisa seseorang memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) Ia mencintai saudaranya hanyalah karena Allah, (3) ia benci kembali pada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana ia tidak suka jika dilemparkan dalam api.” (HR. Bukhari, no. 21 dan Muslim, no. 43).   Referensi Utama: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 1:412-413. — Disusun di Perpus Rumaysho, 29 Muharram 1439 H,  Kamis siang Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdoa shalat Dzikir dzikir bada shalat


Ada anjuran membaca doa agar rajin berdzikir, bersyukur dan memperbagus ibadah di akhir shalat sebagai berikut.   Riyadhus Sholihin, Kitab Al-Adzkar, Bab Keutamaan Dzikir dan Dorongan untuk Berdzikir  (Hadits no. 1422) وَعَنْ مُعَاذٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، أَخَذَ بِيَدِهِ ، وَقَالَ :(( يَا مُعَاذُ ، وَاللهِ إنِّي لَأُحِبُّكَ )) فَقَالَ : (( أُوصِيْكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ في دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُوْلُ : اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ )) . رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ . Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tangannya dan beliau berkata, “Wahai Mu’adz, demi Allah, aku mencintaimu.” Lalu beliau berkata, “Aku wasiatkan kepadamu, wahai Mu’adz, janganlah engkau sekali-kali meninggalkan doa ini di akhir setiap shalat, ‘ALLOOHUMMA A’INNII ‘ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBAADATIK (Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur, dan beribadah yang baik kepada-Mu).’” (HR. Abu Daud dengan sanad shahih) [HR. Abu Daud, no. 1522; An-Nasa’i, no. 1304. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.]   Penjelesan: 1- Boleh memegang tangan lainnya. 2- Disunnahkan memberitahu orang yang kita cintai bahwa kita mencintainya karena Allah. 3- Keutamaan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. 4- Disunnahkan melazimkan doa yang ada dalam hadits di atas pada setiap akhir shalat. 5- Disunnahkan meminta tolong pada Allah dan meminta diberi taufik dari Allah agar mudah berdzikir, bersyukur dan memperbagus ibadah. 6- Tanda seseorang itu mencintai lainnya adalah ia memberikan nasihat agar yang ia cintai terus berada di atas kebenaran dan terus bersabar.   Mencintai Karena Allah Dari Habib bin ‘Ubaid, dari Miqdam ibnu Ma’dy Kariba –dan Habib menjumpai Miqdam ibnu Ma’di Kariba-, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya hendaklah dia memberitahu saudaranya itu bahwa dia mencintainya.” (HR. Bukhari, dalam Adabul Mufrod, no. 421/542, shahih kata Syaikh Al-Albani) Dari Mujahid berkata, “Ada salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu denganku lalu ia memegang pundakku dari belakang dan berkata, “Sungguh saya mencintaimu.” Dia lalu berkata, أَحَبَّكَ اللهُ الَّذِي أَحْبَبْتَنِي لَهُ “Semoga Allah yang membuatmu mencintaiku turut mencintaimu karena-Nya.” Dia berkata, “Kalau sekiranya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersabda, “Jika seorang pria mencintai saudaranya hendaklah dia memberi tahu bahwa dia mencintainya“, maka tentulah ucapanku tadi tidak kuberitahukan kepadamu.” Dia   lalu   menyodorkan   sebuah lamaran kepadaku sambil berkata, “Kami memiliki seorang budak  perempuan  dia  buta sebelah matanya (silakan engkau mengambilnya).” (HR. Bukhari, dalam Adabul Mufrod, 422/543. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.) Adapun keutamaan mencintai karena Allah disebutkan dalam hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga perkara yang bisa seseorang memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) Ia mencintai saudaranya hanyalah karena Allah, (3) ia benci kembali pada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana ia tidak suka jika dilemparkan dalam api.” (HR. Bukhari, no. 21 dan Muslim, no. 43).   Referensi Utama: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 1:412-413. — Disusun di Perpus Rumaysho, 29 Muharram 1439 H,  Kamis siang Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdoa shalat Dzikir dzikir bada shalat

10 Kiat Istiqomah (8)

Baca pembahasan sebelumnya 10 Kiat Istiqomah (7)Berdasarkan penjelasan yang telah lalu, maka dalam ajaran Islam seorang hamba diperintahkan untuk melakukan as-sadad dalam melaksanakan ajaran Islam, dan jika ia tidak mampu maka beralih kepada muqarabah. Jadi, seorang hamba teruntut untuk berusaha dengan sungguh-sungguh untuk melakukan as-sadad, dan ia tidak menyengaja untuk meninggalkan as-sadad.Namun jika ia tidak mampu untuk melakukan as-sadad barulah ia beralih kepada muqarabah, sehingga ia tidak menyengaja untuk bersikap muqarabah, karena muqarabah ia tempuh ketika ia tidak mampu melakukan as-sadad.Sedangkan  as-sadad adalah anda beramal sesuai dengan sunah (syariat Islam),  melakukan amalan yang paling sempurna dan  benar tanpa melampui batasan syariat serta tanpa menguranginya,  benar dalam seluruh ucapan, perbuatan dan niat. Ibarat orang yang membidik suatu sasaran lalu tepat bidikannya mengenai sasaran tersebut.Adapun muqarabah adalah anda melakukan amalan mendekati tujuan (sunah) dan mendekati amalan yang paling sempurna, meski tidak tepat sesuai dengan tujuannya (sunah) dan tidak sampai paling sempurna karena ketidakmampuan anda.Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah di dalam kitabnya Fathul Bari syarhu Shahihil Bukhari menukilkan perkataan Ibnul Munir rahimahullah, beliau berkata:في هذا الحديث علم من أعلام النبوة ، فقد رأينا ورأى الناس قبلنا أن كل متنطع في الدين ينقطع“Dalam hadits ini terdapat salah satu dari tanda-tanda kenabian, kami telah menyaksikan (sendiri), demikian pula orang-orang sebelum kamipun menyaksikan bahwa setiap orang yang melampui batasan (syariat) akan terputus (amalannya)”,وليس المراد منع طلب الأكمل في العبادة فإنه من الأمور المحمودة ، بل منع الإفراط المؤدي إلى الملال ، أو المبالغة في التطوع المفضي إلى ترك الأفضل ، أو إخراج الفرض عن وقته“Bukanlah maksudnya: melarang dari mencari amalan yang paling sempurna dalam beribadah, karena sesungguhnya hal itu termasuk perkara yang terpuji, akan tetapi yang dimaksud adalah melarang dari bersikap melampui batas (syariat) yang menyebabkan kebosanan atau berlebihan dalam amalan sunah (amalan yang tidak wajib) yang mengakibatkan kepada sikap meninggalkan amalan yang lebih utama (afdhal) atau mengeluarkan amalan wajib dari waktunya”,كمن بات يصلي الليل كله ويغالب النوم إلى أن غلبته عيناه في آخر الليل فنام عن صلاة الصبح في الجماعة ، أو إلى أن خرج الوقت المختار ، أو إلى أن طلعت الشمس فخرج وقت الفريضة“Misalnya seseorang tidak tidur semalam suntuk untuk melakukan shalat malam lalu tertidur sampai kedua matanya tak mampu terbuka di penghujung malam, sehingga tertinggal dari shalat subuh berjamaah atau sampai keluar dari waktu shalat yang diperbolehkan diakhirkan (mukhtar) atau sampai matahari terbit sehingga lewatlah waktu shalat wajib”.Ibnul Munir rahimahullah berkata pula pada kalimat yang lainya:وقد يستفاد من هذا الإشارة إلى الأخذ بالرخصة الشرعية ، فإن الأخذ بالعزيمة في موضع الرخصة تنطع ، كمن يترك التيمم عند العجز عن استعمال الماء فيفضي به استعماله إلى حصول الضرر “(Dari hadits ini) dapat diambil isyarat kepada tuntutan mengambil keringanan (rukhshah) syar’i, karena tidak mengambil keringanan pada saat tertuntut mengambilnya merupakan sikap melampui batas, seperti sikap meninggalkan tayamum ketika tidak mampu menggunakan air sehingga (jika nekad) menggunakan air akan menjerumuskan kepada bahaya”.Daftar link artikel ini: 10 Kiat Istiqamah (1) 10 Kiat Istiqamah (2) 10 Kiat Istiqamah (3) 10 Kiat Istiqamah (4) 10 Kiat Istiqamah (5) 10 Kiat Istiqamah (6) 10 Kiat Istiqamah (7) 10 Kiat Istiqamah (8) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id 🔍 Dalil Tentang Hutang, Qs Adz Dzariyat 56, Penjelasan Alquran Tentang Bumi, Contoh Syirik Akbar Dan Syirik Asghar, Abubakar

10 Kiat Istiqomah (8)

Baca pembahasan sebelumnya 10 Kiat Istiqomah (7)Berdasarkan penjelasan yang telah lalu, maka dalam ajaran Islam seorang hamba diperintahkan untuk melakukan as-sadad dalam melaksanakan ajaran Islam, dan jika ia tidak mampu maka beralih kepada muqarabah. Jadi, seorang hamba teruntut untuk berusaha dengan sungguh-sungguh untuk melakukan as-sadad, dan ia tidak menyengaja untuk meninggalkan as-sadad.Namun jika ia tidak mampu untuk melakukan as-sadad barulah ia beralih kepada muqarabah, sehingga ia tidak menyengaja untuk bersikap muqarabah, karena muqarabah ia tempuh ketika ia tidak mampu melakukan as-sadad.Sedangkan  as-sadad adalah anda beramal sesuai dengan sunah (syariat Islam),  melakukan amalan yang paling sempurna dan  benar tanpa melampui batasan syariat serta tanpa menguranginya,  benar dalam seluruh ucapan, perbuatan dan niat. Ibarat orang yang membidik suatu sasaran lalu tepat bidikannya mengenai sasaran tersebut.Adapun muqarabah adalah anda melakukan amalan mendekati tujuan (sunah) dan mendekati amalan yang paling sempurna, meski tidak tepat sesuai dengan tujuannya (sunah) dan tidak sampai paling sempurna karena ketidakmampuan anda.Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah di dalam kitabnya Fathul Bari syarhu Shahihil Bukhari menukilkan perkataan Ibnul Munir rahimahullah, beliau berkata:في هذا الحديث علم من أعلام النبوة ، فقد رأينا ورأى الناس قبلنا أن كل متنطع في الدين ينقطع“Dalam hadits ini terdapat salah satu dari tanda-tanda kenabian, kami telah menyaksikan (sendiri), demikian pula orang-orang sebelum kamipun menyaksikan bahwa setiap orang yang melampui batasan (syariat) akan terputus (amalannya)”,وليس المراد منع طلب الأكمل في العبادة فإنه من الأمور المحمودة ، بل منع الإفراط المؤدي إلى الملال ، أو المبالغة في التطوع المفضي إلى ترك الأفضل ، أو إخراج الفرض عن وقته“Bukanlah maksudnya: melarang dari mencari amalan yang paling sempurna dalam beribadah, karena sesungguhnya hal itu termasuk perkara yang terpuji, akan tetapi yang dimaksud adalah melarang dari bersikap melampui batas (syariat) yang menyebabkan kebosanan atau berlebihan dalam amalan sunah (amalan yang tidak wajib) yang mengakibatkan kepada sikap meninggalkan amalan yang lebih utama (afdhal) atau mengeluarkan amalan wajib dari waktunya”,كمن بات يصلي الليل كله ويغالب النوم إلى أن غلبته عيناه في آخر الليل فنام عن صلاة الصبح في الجماعة ، أو إلى أن خرج الوقت المختار ، أو إلى أن طلعت الشمس فخرج وقت الفريضة“Misalnya seseorang tidak tidur semalam suntuk untuk melakukan shalat malam lalu tertidur sampai kedua matanya tak mampu terbuka di penghujung malam, sehingga tertinggal dari shalat subuh berjamaah atau sampai keluar dari waktu shalat yang diperbolehkan diakhirkan (mukhtar) atau sampai matahari terbit sehingga lewatlah waktu shalat wajib”.Ibnul Munir rahimahullah berkata pula pada kalimat yang lainya:وقد يستفاد من هذا الإشارة إلى الأخذ بالرخصة الشرعية ، فإن الأخذ بالعزيمة في موضع الرخصة تنطع ، كمن يترك التيمم عند العجز عن استعمال الماء فيفضي به استعماله إلى حصول الضرر “(Dari hadits ini) dapat diambil isyarat kepada tuntutan mengambil keringanan (rukhshah) syar’i, karena tidak mengambil keringanan pada saat tertuntut mengambilnya merupakan sikap melampui batas, seperti sikap meninggalkan tayamum ketika tidak mampu menggunakan air sehingga (jika nekad) menggunakan air akan menjerumuskan kepada bahaya”.Daftar link artikel ini: 10 Kiat Istiqamah (1) 10 Kiat Istiqamah (2) 10 Kiat Istiqamah (3) 10 Kiat Istiqamah (4) 10 Kiat Istiqamah (5) 10 Kiat Istiqamah (6) 10 Kiat Istiqamah (7) 10 Kiat Istiqamah (8) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id 🔍 Dalil Tentang Hutang, Qs Adz Dzariyat 56, Penjelasan Alquran Tentang Bumi, Contoh Syirik Akbar Dan Syirik Asghar, Abubakar
Baca pembahasan sebelumnya 10 Kiat Istiqomah (7)Berdasarkan penjelasan yang telah lalu, maka dalam ajaran Islam seorang hamba diperintahkan untuk melakukan as-sadad dalam melaksanakan ajaran Islam, dan jika ia tidak mampu maka beralih kepada muqarabah. Jadi, seorang hamba teruntut untuk berusaha dengan sungguh-sungguh untuk melakukan as-sadad, dan ia tidak menyengaja untuk meninggalkan as-sadad.Namun jika ia tidak mampu untuk melakukan as-sadad barulah ia beralih kepada muqarabah, sehingga ia tidak menyengaja untuk bersikap muqarabah, karena muqarabah ia tempuh ketika ia tidak mampu melakukan as-sadad.Sedangkan  as-sadad adalah anda beramal sesuai dengan sunah (syariat Islam),  melakukan amalan yang paling sempurna dan  benar tanpa melampui batasan syariat serta tanpa menguranginya,  benar dalam seluruh ucapan, perbuatan dan niat. Ibarat orang yang membidik suatu sasaran lalu tepat bidikannya mengenai sasaran tersebut.Adapun muqarabah adalah anda melakukan amalan mendekati tujuan (sunah) dan mendekati amalan yang paling sempurna, meski tidak tepat sesuai dengan tujuannya (sunah) dan tidak sampai paling sempurna karena ketidakmampuan anda.Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah di dalam kitabnya Fathul Bari syarhu Shahihil Bukhari menukilkan perkataan Ibnul Munir rahimahullah, beliau berkata:في هذا الحديث علم من أعلام النبوة ، فقد رأينا ورأى الناس قبلنا أن كل متنطع في الدين ينقطع“Dalam hadits ini terdapat salah satu dari tanda-tanda kenabian, kami telah menyaksikan (sendiri), demikian pula orang-orang sebelum kamipun menyaksikan bahwa setiap orang yang melampui batasan (syariat) akan terputus (amalannya)”,وليس المراد منع طلب الأكمل في العبادة فإنه من الأمور المحمودة ، بل منع الإفراط المؤدي إلى الملال ، أو المبالغة في التطوع المفضي إلى ترك الأفضل ، أو إخراج الفرض عن وقته“Bukanlah maksudnya: melarang dari mencari amalan yang paling sempurna dalam beribadah, karena sesungguhnya hal itu termasuk perkara yang terpuji, akan tetapi yang dimaksud adalah melarang dari bersikap melampui batas (syariat) yang menyebabkan kebosanan atau berlebihan dalam amalan sunah (amalan yang tidak wajib) yang mengakibatkan kepada sikap meninggalkan amalan yang lebih utama (afdhal) atau mengeluarkan amalan wajib dari waktunya”,كمن بات يصلي الليل كله ويغالب النوم إلى أن غلبته عيناه في آخر الليل فنام عن صلاة الصبح في الجماعة ، أو إلى أن خرج الوقت المختار ، أو إلى أن طلعت الشمس فخرج وقت الفريضة“Misalnya seseorang tidak tidur semalam suntuk untuk melakukan shalat malam lalu tertidur sampai kedua matanya tak mampu terbuka di penghujung malam, sehingga tertinggal dari shalat subuh berjamaah atau sampai keluar dari waktu shalat yang diperbolehkan diakhirkan (mukhtar) atau sampai matahari terbit sehingga lewatlah waktu shalat wajib”.Ibnul Munir rahimahullah berkata pula pada kalimat yang lainya:وقد يستفاد من هذا الإشارة إلى الأخذ بالرخصة الشرعية ، فإن الأخذ بالعزيمة في موضع الرخصة تنطع ، كمن يترك التيمم عند العجز عن استعمال الماء فيفضي به استعماله إلى حصول الضرر “(Dari hadits ini) dapat diambil isyarat kepada tuntutan mengambil keringanan (rukhshah) syar’i, karena tidak mengambil keringanan pada saat tertuntut mengambilnya merupakan sikap melampui batas, seperti sikap meninggalkan tayamum ketika tidak mampu menggunakan air sehingga (jika nekad) menggunakan air akan menjerumuskan kepada bahaya”.Daftar link artikel ini: 10 Kiat Istiqamah (1) 10 Kiat Istiqamah (2) 10 Kiat Istiqamah (3) 10 Kiat Istiqamah (4) 10 Kiat Istiqamah (5) 10 Kiat Istiqamah (6) 10 Kiat Istiqamah (7) 10 Kiat Istiqamah (8) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id 🔍 Dalil Tentang Hutang, Qs Adz Dzariyat 56, Penjelasan Alquran Tentang Bumi, Contoh Syirik Akbar Dan Syirik Asghar, Abubakar


Baca pembahasan sebelumnya 10 Kiat Istiqomah (7)Berdasarkan penjelasan yang telah lalu, maka dalam ajaran Islam seorang hamba diperintahkan untuk melakukan as-sadad dalam melaksanakan ajaran Islam, dan jika ia tidak mampu maka beralih kepada muqarabah. Jadi, seorang hamba teruntut untuk berusaha dengan sungguh-sungguh untuk melakukan as-sadad, dan ia tidak menyengaja untuk meninggalkan as-sadad.Namun jika ia tidak mampu untuk melakukan as-sadad barulah ia beralih kepada muqarabah, sehingga ia tidak menyengaja untuk bersikap muqarabah, karena muqarabah ia tempuh ketika ia tidak mampu melakukan as-sadad.Sedangkan  as-sadad adalah anda beramal sesuai dengan sunah (syariat Islam),  melakukan amalan yang paling sempurna dan  benar tanpa melampui batasan syariat serta tanpa menguranginya,  benar dalam seluruh ucapan, perbuatan dan niat. Ibarat orang yang membidik suatu sasaran lalu tepat bidikannya mengenai sasaran tersebut.Adapun muqarabah adalah anda melakukan amalan mendekati tujuan (sunah) dan mendekati amalan yang paling sempurna, meski tidak tepat sesuai dengan tujuannya (sunah) dan tidak sampai paling sempurna karena ketidakmampuan anda.Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah di dalam kitabnya Fathul Bari syarhu Shahihil Bukhari menukilkan perkataan Ibnul Munir rahimahullah, beliau berkata:في هذا الحديث علم من أعلام النبوة ، فقد رأينا ورأى الناس قبلنا أن كل متنطع في الدين ينقطع“Dalam hadits ini terdapat salah satu dari tanda-tanda kenabian, kami telah menyaksikan (sendiri), demikian pula orang-orang sebelum kamipun menyaksikan bahwa setiap orang yang melampui batasan (syariat) akan terputus (amalannya)”,وليس المراد منع طلب الأكمل في العبادة فإنه من الأمور المحمودة ، بل منع الإفراط المؤدي إلى الملال ، أو المبالغة في التطوع المفضي إلى ترك الأفضل ، أو إخراج الفرض عن وقته“Bukanlah maksudnya: melarang dari mencari amalan yang paling sempurna dalam beribadah, karena sesungguhnya hal itu termasuk perkara yang terpuji, akan tetapi yang dimaksud adalah melarang dari bersikap melampui batas (syariat) yang menyebabkan kebosanan atau berlebihan dalam amalan sunah (amalan yang tidak wajib) yang mengakibatkan kepada sikap meninggalkan amalan yang lebih utama (afdhal) atau mengeluarkan amalan wajib dari waktunya”,كمن بات يصلي الليل كله ويغالب النوم إلى أن غلبته عيناه في آخر الليل فنام عن صلاة الصبح في الجماعة ، أو إلى أن خرج الوقت المختار ، أو إلى أن طلعت الشمس فخرج وقت الفريضة“Misalnya seseorang tidak tidur semalam suntuk untuk melakukan shalat malam lalu tertidur sampai kedua matanya tak mampu terbuka di penghujung malam, sehingga tertinggal dari shalat subuh berjamaah atau sampai keluar dari waktu shalat yang diperbolehkan diakhirkan (mukhtar) atau sampai matahari terbit sehingga lewatlah waktu shalat wajib”.Ibnul Munir rahimahullah berkata pula pada kalimat yang lainya:وقد يستفاد من هذا الإشارة إلى الأخذ بالرخصة الشرعية ، فإن الأخذ بالعزيمة في موضع الرخصة تنطع ، كمن يترك التيمم عند العجز عن استعمال الماء فيفضي به استعماله إلى حصول الضرر “(Dari hadits ini) dapat diambil isyarat kepada tuntutan mengambil keringanan (rukhshah) syar’i, karena tidak mengambil keringanan pada saat tertuntut mengambilnya merupakan sikap melampui batas, seperti sikap meninggalkan tayamum ketika tidak mampu menggunakan air sehingga (jika nekad) menggunakan air akan menjerumuskan kepada bahaya”.Daftar link artikel ini: 10 Kiat Istiqamah (1) 10 Kiat Istiqamah (2) 10 Kiat Istiqamah (3) 10 Kiat Istiqamah (4) 10 Kiat Istiqamah (5) 10 Kiat Istiqamah (6) 10 Kiat Istiqamah (7) 10 Kiat Istiqamah (8) Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah Artikel: Muslim.or.id 🔍 Dalil Tentang Hutang, Qs Adz Dzariyat 56, Penjelasan Alquran Tentang Bumi, Contoh Syirik Akbar Dan Syirik Asghar, Abubakar

Sirah Nabi 9 – Kisah Tentara Bergajah

Kita sering mendengar bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dilahirkan di tahun gajah. Disebut tahun gajah karena pada tahun tersebut terjadi peristiwa yang sangat besar yaitu pasukan bergajah dihancurkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Tentang kisah pasukan bergajah ini, diabadikan oleh Allah ﷻ dalam firman-Nya :أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (1) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5)Artinya:“1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan makar mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berkelompok-kelompok yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS Al-Fiil : 1-5)  Disebutkan oleh sejarawan bahwa Raja Najasyi -yang beragama Nashrani- tinggal di Habasyah (Ethiopia) dan memiliki seorang wakil yang bernama Abrahah yang ditugaskan di Yaman. Dari sini diketahui bahwasanya Abrahah adalah seorang Habasyi yang bermukim di Yaman. Abrahah ingin mencari muka kepada Najasyi dan kepada para pembesar Romawi. Raja Najasyi dikenal memiliki hubungan erat dengan Romawi, Karena Najasyi beragama Nashrani sedangkan pusat Kristiani berada di Romawi.Abrahah berkeinginan membuat sebuah gereja yang sangat besar yang dapat memalingkan orang-orang Arab supaya tidak lagi berhaji ke Mekkah (Ka’bah), dan dipalingkan agar berhaji ke Shan’a (Yaman). Inilah tujuan dan tekad Abrahah ketika itu.Karena rasa hasad dan iri saat melihat orang-orang Arab mengagungkan Ka’bah dengan cara berhaji dan berthawaf setiap tahun ke Ka’bah, maka diapun bertekad membangun sebuah gereja yang sangat besar yang dia namakan sebagai Al-Qullais. Al-Qullais disebutkan oleh sebagian ulama maknanya diambil dari qalansuah yang artinya peci. Mengapa dinamakan demikian? Kata sebagian ulama saking tingginya gereja itu sehingga jika ada seseorang yang menggunakan peci melihat puncak gereja tersebut maka  pecinya hampir jatuh. Abrahah berniat agar orang-orang meninggalkan ka’bah untuk menuju ke gereja yang dia bangun tersebut. Lalu iapun mengumumkan hal ini di negerinya. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/484)Akhirnya niat busuk Abrahah terdengar sampai di Mekkah. Salah satu dari suku Kinanah (dari Quraisy) berjalan dari Arab menuju ke Shan’a, menuju ke gereja Abrahah. Saat tiba di geraja tersebut, dia buang air besar dan buang air kecil di situ, kemudian dia hambur-hamburkan kotorannya di dinding-dinding gereja.Keesokan harinya, saat mengetahui gereja menjadi kotor dan yang melakukannya adalah orang Arab (orang Quraisy dari Kinanah), Abrahah pun murka kemudian menyiapkan pasukan yang sangat besar agar tidak ada yang mampu menghadangnya. Abrahah juga membawa seekor gajah yang sangat besar tubuhnya dan tidak pernah terlihat gajah sebesar itu. Gajah tersebut dipanggil dengan panggilan “Mahmud”. Disebutkan juga bahwa selain gajah Mahmud ada 8 ekor gajah yang lain, ada juga yang mengatakan 12 gajah yang lain. Tujuan Abrahah membawa banyak ekor gajah adalah untuk menghancurkan ka’bah dengan cara mencungkilnya sekali cungkil. Dengan menyiapkan rantai-rantai besi yang diikatkan ke leher gajah-gajah tersebut lalu rantai tersebut diikatkan ke sudut-sudut ka’bah kemudian gajah-gajah tersebut beramai-ramai mencungkil ka’bah.Tatkala bangsa Arab mendengar kedatangan Abrahah, mereka pun mengadakan perlawanan. Namun kabilah-kabilah Arab pada saat itu tidak bersatu, sehingga tidak ada yang bisa mengalahkan Abrahah. Terlebih lagi, Abrahah membawa pasukan dalam jumlah yang besar disertai hewan gajah yang sangat besar. Sementara orang-orang Arab belum pernah melihat gajah. Hal ini semakin menimbulkan ketakutan di hati orang-orang Arab.Kabilah Arab yang paling masyhur dan terkenal serta dimuliakan pada saat itu adalah bangsa Quraisy, namun mereka juga tidak melakukan perlawanan sama sekali. Ketika Abrahah tiba di suatu tempat yang disebut dengan Mughammas, datanglah ‘Abdul Muththalib (kakek Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan pemimpin Quraisy saat itu) untuk bertemu dengan Abrahah. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/484-485)Ibnu Katsir rahimahullah berkata :“Tatkala Abrahah melihat Abdul Muttholib dia pun memuliakannya. Abdul Muttholib adalah seorang yang tampan dan berpenampilan indah. Abrahah kemudian turun dari singgasananya (karena menghormati Abdul Muttholib –pent) lalu duduk bersama Abdul Muttholib di karpet. Abrahah berkata kepada penerjemahnya, “Tanyakan kepadanya, apa keperluannya?” Abdul Muttholib berkata kepada si penerjemah, “Keperluanku adalah agar sang raja Abrahah mengembalikan kepadaku 200 ekor ontaku yang diambil oleh sang raja”. Maka Abrahah berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepada Abdul Muttholib, sungguh tadinya engkau membuatku kagum tatkala melihatmu, namun aku menjadi menyepelekanmu ketika engkau berbicara denganku (mengenai onta tadi -pent). Apakah engkau berbicara denganku mengenai 200 ekor ontamu yang aku ambil agar aku mengembalikannya padamu, lalu engkau membiarkan ka’bah yang merupakan agamamu dan agama nenek moyangmu, sementara aku datang untuk menghancurkannya, lantas engkau tidak berbicara kepadaku tentang ka’bah?”Maka Abdul Muttholib berkata kepada Abrahah :إِنِّي أَنَا رَبُّ الْإِبِلِ، وَإِنَّ لِلْبَيْتِ رِبًّا سَيَمْنَعُهُ“Sesungguhnya aku adalah pemilik onta, dan sesungguhnya ka’bah punya pemilik sendiri yang akan membelanya”Abrahah berkata,مَا كَانَ لِيَمْتَنِعَ مِنِّي“Dia tidak akan bisa mencegahku (untuk menghancurkan ka’bah)”Abdul Muttholib kemudian berkata, أَنْتَ وَذَاكَ  “Itu urusanmu denganNya.”  (Tafsir Ibnu Katsir 8/485)Kisah pertemuan Abdul Muthhalib dengan Abrahah juga dinukil oleh Al-Hākim dalam Al-Mustadrāk dan dishahihkan oleh Al-Hākim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā, beliau berkata:أَقْبَلَ أَصْحَابُ الْفِيلِ حَتَّى إِذَا دَنَوْا مِنْ مَكَّةَ اسْتَقْبَلَهُمْ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ لِمَلِكِهِمْ: مَا جَاءَ بِكَ إِلَيْنَا مَا عَنَاكَ يَا رَبَّنَا أَلَا بَعَثْتَ فَنَأْتِيكَ بِكُلِّ شَيْءٍ أَرَدْتَ؟ ” فَقَالَ: أُخْبِرْتُ بِهَذَا الْبَيْتِ الَّذِي لَا يَدْخُلُهُ أَحَدٌ إِلَّا آمَنَ فَجِئْتُ أُخِيفُ أَهْلَهُ. فَقَالَ: إِنَّا نَأْتِيكَ بِكُلِّ شَيْءٍ تُرِيدُ فَارْجِعْ” فَأَبَى إِلَّا أَنْ يَدْخُلَهُ “Pasukan bergajah pun datang. Ketika mereka mulai mendekati Mekkah, maka datanglah ‘Abdul Muththalib, kakek Nabi ﷺ menemui pasukan tersebut. ‘Abdul Muthalib berkata kepada pemimpin mereka (yaitu Abrahah): “Untuk apa engkau datang kepada kami? Tidak cukupkah engkau mengirim utusanmu sehingga kami akan membawakan kepadamu semua yang kau inginkan?”Abrahah (dengan sombongnya –pent) berkata, “Aku dikabarkan tentang ka’bah (kota Mekah) yang tidak seorangpun memasukinya kecuali dalam keadaan aman. Maka aku datang ke mari untuk memberi ketakutan kepada penduduknya.”Abdul Muthhalib berkata, “Kami akan memberikan semua yang kau inginkan, kembalilah engkau !”. Akan tetapi Abrahah tetap bersikeras untuk masuk Mekah (menuju ka’bah).  (HR Al-Hakim dalam Al-Mustadrok no 3974)Dalam riwayat yang lain Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata;فَأَتَاهُمْ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ إِنَّ هَذَا بَيْتُ اللَّهِ لَمْ يُسَلِّطْ عَلَيْهِ أَحَدًا قَالُوا لَا نَرْجِعُ حَتَّى نَهْدِمَهُ فَكَانُوا لَا يُقَدِّمُونَ فِيلَهُمْ إِلَّا تَأَخَّرَ فَدَعَا اللَّهُ الطَّيْرَ الْأَبَابِيلَ فَأَعْطَاهَا حِجَارَةً سَوْدَاءَ فَلَمَّا حَاذَتْهُمْ رَمَتْهُمْ فَمَا بَقِيَ مِنْهُمْ أَحَدٌ إِلَّا أَخَذَتْهُ الْحَكَّةُ فَكَانَ لَا يَحُكُّ أَحَدٌ مِنْهُمْ جِلْدَهُ إِلَّا تَسَاقَطَ لَحْمُهُAbdul Muttholib mendatangi mereka dan berkata, “Sesungguhnya ini adalah rumah Allah. Allah tidak akan menyerahkannya kepada seorangpun untuk menguasai nya (menghancurkannya).” Mereka berkata, “Kami tidak akan kembali hingga kami menghancurkannya.” Maka tidaklah mereka memerintahkan gajah mereka untuk maju kecuali gajah tersebut mundur. Allah kemudian memanggil burung-burung dengan berbondong-bondong, lalu Allah memberikan batu berwarna hitam kepada burung-burung tersebut. Tatkala burung-burung itu telah sejajar dengan mereka maka burung-burung itu melemparkan batu tersebut kepada mereka. Sehingga tidak tersisa seorang pun dari mereka kecuali mengalami rasa gatal (yang luar biasa-pent). Tidaklah seorangpun dari mereka yang menggaruk kulitnya kecuali dagingnya berjatuhan.” (Disebutkan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 12/207 dan beliau menilai sanadnya hasan)Dalam riwayat yang lain dari Ikrimah, beliau berkata:أَنَّهَا كَانَتْ طَيْرًا خُضْرًا خَرَجَتْ من الْبَحْر لَهَا رُؤُوس كَرُءُوسِ السِّبَاعِ“Burung-burung tersebut berwarna hijau, muncul dari laut, kepalanya seperti kepala binatang buas.” (Disebutkan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 12/207 dan beliau menilai sanadnya shahih) Pasukan Abrahah yang terkena lemparan batu tidak semuanya tewas seketika. Sebagian mereka tewas dengan cepat, sebagian lagi kabur dalam kondisi terputus-putus dan terlepas-lepas anggota tubuhnya hingga tewas. Adapun Abrahah, dia tidak tewas seketika namun dia termasuk yang kabur melarikan diri. Allah tidak menjadikannya langsung tewas karena Allah ingin menyiksanya. Ada yang mengatakan bahwa dia tewas di negeri Khots’am. Ada pula yang berpendapat bahwa dia berhasil kembali ke Shan’a dan mati disana. Namun selama dalam perjalanan kaburnya, badannya terlepas sedikit demi sedikit dari tubuhnya sampai akhirnya di Shan’a dadanya terbelah dan jantungnya keluar, Allāh menyiksanya dan tidak langsung mematikannya. Demikianlah kisah Abrahah dengan pasukan tentara bergajahnya yang dihancurkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/486) Di tahun itu pula, lahirlah Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, sebagian menyebutkan bahwa kelahirannya sekitar 50 hari setelah tragedi pasukan bergajah. Kisah ini adalah kisah yang nyata, tidak sebagaimana klaim orang-orang Nashara yang berusaha mengingkari kisah ini. Kita dapati ada sebagian penulis dari orientalis yang mengatakan bahwa ini hanyalah dongeng yang disebutkan Allāh dalam Al-Qurān, tidak mungkin ada kisah tentara bergajah yang dihancurkan oleh burung-burung dengan cara melemparinya dengan batu. Klaim mereka dibantah oleh para ulama, bahwa kisah ini bukanlah dongeng semata. Diantara buktinya adalah peninggalan syair-syair jahiliyyah yang sebagiannya banyak menyebutkan tentang kisah pasukan bergajah ini, yang disaksikan langsung oleh mereka, dan syair-syair di zaman jahiliyyah tersebut masih ada sampai sekarang. Dan juga diantara bukti yang menunjukkan akan kebenaran kisah ini adalah sebagaimana yang sering tercantum di dalam buku-buku sejarah yang menyebutkan bahwa si fulan lahir pada tahun ke sekian sebelum tahun gajah atau setelah tahun gajah. Sehingga tahun gajah sering dijadikan sebagai istilah penanggalan. Seandainya kisah ini hanyalah dongeng belaka, maka tidak mungkin tahun gajah dijadikan sebagai suatu istilah penanggalan.Menurut orang-orang Nasrani, Abrahah tidak berniat ke Mekkah untuk menghancurkan Ka’bah atau karena hasad dengan Ka’bah. Namun dia berangkat dari Yaman dalam rangka berperang dengan bangsa Persia, dimana saat itu terjadi peperangan antara Persia dan Romawi. Dalam perjalanannya, Abrahah memutuskan mengambil jalan darat melewati Mekkah. Klaim ini juga tidak benar. Karena jika Abrahah benar-benar ingin menyerang Persia, maka dia akan mengambil jalan laut yang lebih mudah dan lebih dekat.Disebutkan pula oleh Ibnu Hisyām, dengan sanad yang hasan, ‘Āisyah menceritakan bahwa dia melihat pemimpin gajah dan pawangnya masih hidup dalam kondisi buta meminta-minta makanan di Mekah (lihat As-Shiroh An-Nabawiyah As-Shahihah 1/98). Pasukan Abrahah tidak semuanya mati, masih ada yang hidup, namun dalam keadaan buta dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.Ini menunjukkan bahwa kisah ini real dan terjadi di tahun dilahirkannya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Menurut para ulama, peristiwa tahun gajah ini sebenarnya merupakan pendahuluan akan mu’jizat yang sangat besar, yaitu lahirnya Nabi Muhammad ﷺ. Hancurnya tentara bergajah ini menjadikan bangsa Quraisy semakin mulia, karena mereka tidak perlu melakukan perlawanan sama sekali, namun Allāh lah yang membela mereka. Sebenarnya, ketika Abrahah berjalan dari Shan’a menuju ke Makkah telah banyak kabilah yang mencoba melakukan perlawanan, tetapi mereka takluk semuanya kemudian harta mereka dirampas oleh Abrahah. Namun ketika Abrahah tiba di pusat Quraisy, orang-orang Quraisy tidak melakukan perlawanan tetapi Allāh Subhānahu wa Ta’āla sendiri yang membela mereka.Demikianlah, akhirnya mulai tersebar saat itu bahwa orang-orang Quraisy adalah orang-orang mulia. Karena Tuhan Pencipta alam semesta yang langsung membela mereka sehingga mereka tidak perlu melakukan perlawanan sama sekali. Hal ini mengangkat kedudukan orang-orang Quraisy, dan diantara mereka terdapat kakeknya Nabi ﷺ, yaitu ‘Abdul Muthalib. Dengan terangkatnya kedudukan Quraisy ini, maka kedudukan Nabi ﷺ juga terangkat karena Nabi dilahirkan dari suku Quraisy. Seakan-akan Quraisy menjadi pusat segala kabilah atau kabilah induk, yang membawahi semua kabilah-kabilah saat itu. Dan Nabi dilahirkan dari kabilah induk dan bukan dari sembarang nasab, tidak seperti anggapan sebagian orang bahwa saat seseorang disepelekan atau direndahkan maka orang tersebut cenderung akan membuat pemikiran baru, atau jika berasal dari kalangan rendahan maka akan dikatakan bahwa orang ini mengaku sebagai Nabi hanya untuk mencari kekuasaan. Namun semua anggapan dan asumsi ini terpatahkan, sebab Nabi ﷺ lahir dari kabilah yang terkenal dan dimuliakan. Seandainya Nabi hanya mencari kekuasaan tentu ini adalah hal yang sangat mudah, beliau hanya tinggal mengikuti tradisi kesyirikan nenek moyangnya maka otomatis beliau akan menjadi pemimpin Quraisy. Akan tetapi justru beliau menyelisihi dan meninggalkan tradisi nenek moyangnya.Oleh karena itu, menurut para ulama, kejadian dihancurkannya tentara bergajah ini adalah dalam rangka untuk mengangkat derajat Nabi. Adapun Quraisy hanya sekedar wasilah (sarana) terangkatnya Nabi ﷺ.Manakah yang lebih buruk antara penyembah berhala atau orang-orang musyrikin Nashara? Jelas yang lebih buruk adalah penyembah berhala. Orang-orang Nashara masih disebut Ahli kitab, adapun penyembah berhala mereka lebih sesat karena menyembah berhala yang lebih banyak. Namun Allāh saat itu memenangkan para penyembah berhala musyrikin Quraisy atas orang-orang Nashara. Allāh menghancurkan orang-orang Nashara karena ada Nabi ﷺ yang akan lahir dari orang-orang Quraisy tersebut. Oleh karena itu, kejadian tersebut termasuk mu’jizat kelahiran Nabi ﷺ, yang terjadi di tahun dimana Nabi ﷺ lahir. Pamor bangsa Quraisy menjadi naik lantaran dibela langsung oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan diantara hikmahnya pula, kelak orang-orang Quraisy lah yang masuk Islam, yang membuat kabilah-kabilah dibawahnya akan turut masuk Islam. Saat Fathu Makkah, ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam hendak menaklukkan kota Mekkah, banyak kabilah-kabilah Arab yang sebelumnya tidak mau masuk Islam. Mereka berkata “Kita tunggu dulu, biar Muhammad berperang dengan orang-orang Quraisy, kalau ternyata orang-orang Quraisy yang menang maka hubungan kita masih baik, namun jika Qurasiy kalah maka kita akan masuk Islam.” Dan benar lah tatkala Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menaklukkan kota Mekkah, orang-orang Quraisy semua tunduk kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Sehingga orang-orang Arab dari kabilah yang lebih rendah secara otomatis juga ikut masuk Islam. Faidah-Faidah yang dipetik dari kisah Abrahah dan dihancurkannya tentara bergajah oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla,⑴ Sehebat dan sekuat apapun seseorang niscaya ada yang lebih hebat dan lebih kuat lagi.Abrahah dengan sombongnya membawa pasukan bergajah beserta ribuan pasukan lainnya, namun akhirnya hancur lebur dihantam pasukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang berupa burung-burung kecil yang berbondong-bondong. Telah berlalu sebagaimana yang diceritakan dalam sejarah bagaimana negara-negara adidaya yang kuat akhirnya hancur lebur. Kemana Persia sekarang? Kemana Romawi sekarang? Dahulu mereka menguasai dunia. Kemana kaum ‘Ād yang begitu sombong? Yang mana mereka mengatakan “Siapa yang lebih kuat dari kita?” tetapi mereka dihancurkan oleh Allāh. Kemana Fir’aun? Fir’aun yang begitu sombongnya, menyiksa Bani Isrāil puluhan tahun sejak lahirnya Nabi Mūsa sampai Nabi Mūsa kembali lagi berdakwah (sekitar 40 atau 50 tahun), namun akhirnya Allāh pun menghancurkannya. Kemana Qarun yang sombong dengan hartanya? Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan yang dibangun di atas kebathilan, tidak akan jaya selama-lamanya. Suatu saat Allāh akan menghancurkan mereka dengan cara-Nya, seperti orang-orang Abrahah yang dihancurkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.⑵ Kondisi orang-orang Arab sebelum Islam adalah berupa kabilah-kabilah (suku-suku) yang tercerai berai. Mereka tidak mampu berhadapan dengan Abrahah, padahal mereka berkumpul dalam satu asal bangsa yaitu Arab. Selain itu mereka juga sama-sama mengagungkan Ka’bah. Tetapi karena mereka tidak di atas suatu ikatan Aqidah maka akhirnya mereka berhasil dikalahkan.Orang-orang Arab menjadi mulia karena Islam, bukan Karena Arab-nya. Para ulama telah banyak membantah pemikiran yang disebut dengan Qaumiyyah (fanatik kebangsaan), yaitu fanatisme yang dibangun di atas sentimen golongan Arab, dengan slogan “semua harus kembali kepada Arab” atau “hanya Arab saja yang Berjaya”. Syaikh bin Bāz rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya seruan kepada fanatik kebangsaan Arab merupakan bentuk perbuatan buruk terhadap Islam dan peperangan melawan Islam, dan juga merupakan bentuk keburukan kepada Arab itu sendiri. Karena seruan ini hakikatnya ingin memisahkan antara Arab dan Islam, padahal Islam adalah puncak kejayaan Arab dan kemuliaan Arab. Islam merupakan sumber kejayaan Arab dan kepemimpinan Arab di dunia. Bagaimana bisa seorang Arab yang berakal, ridha dengan propaganda yang demikian hakekat dan tujuannya?” (lihat Naqdul Qoumiyah al-‘Arobiyah hal 58)Sesungguhnya Islam lah yang telah memuliakan Arab. Andai saja tidak ada Islam maka Arab tidak akan mulia, bahkan Arab akan menadi rendah sebagaimana yang lainnya. Tapi melalui Islam lah, Arab menjadi mulia. Sehingga siapa saja yang berpegang teguh kepada agama Islam -Arab atau selain Arab- niscaya Allāh akan memuliakannya. Jakarta, 29-01-1439 H / 19-10-2017 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com

Sirah Nabi 9 – Kisah Tentara Bergajah

Kita sering mendengar bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dilahirkan di tahun gajah. Disebut tahun gajah karena pada tahun tersebut terjadi peristiwa yang sangat besar yaitu pasukan bergajah dihancurkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Tentang kisah pasukan bergajah ini, diabadikan oleh Allah ﷻ dalam firman-Nya :أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (1) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5)Artinya:“1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan makar mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berkelompok-kelompok yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS Al-Fiil : 1-5)  Disebutkan oleh sejarawan bahwa Raja Najasyi -yang beragama Nashrani- tinggal di Habasyah (Ethiopia) dan memiliki seorang wakil yang bernama Abrahah yang ditugaskan di Yaman. Dari sini diketahui bahwasanya Abrahah adalah seorang Habasyi yang bermukim di Yaman. Abrahah ingin mencari muka kepada Najasyi dan kepada para pembesar Romawi. Raja Najasyi dikenal memiliki hubungan erat dengan Romawi, Karena Najasyi beragama Nashrani sedangkan pusat Kristiani berada di Romawi.Abrahah berkeinginan membuat sebuah gereja yang sangat besar yang dapat memalingkan orang-orang Arab supaya tidak lagi berhaji ke Mekkah (Ka’bah), dan dipalingkan agar berhaji ke Shan’a (Yaman). Inilah tujuan dan tekad Abrahah ketika itu.Karena rasa hasad dan iri saat melihat orang-orang Arab mengagungkan Ka’bah dengan cara berhaji dan berthawaf setiap tahun ke Ka’bah, maka diapun bertekad membangun sebuah gereja yang sangat besar yang dia namakan sebagai Al-Qullais. Al-Qullais disebutkan oleh sebagian ulama maknanya diambil dari qalansuah yang artinya peci. Mengapa dinamakan demikian? Kata sebagian ulama saking tingginya gereja itu sehingga jika ada seseorang yang menggunakan peci melihat puncak gereja tersebut maka  pecinya hampir jatuh. Abrahah berniat agar orang-orang meninggalkan ka’bah untuk menuju ke gereja yang dia bangun tersebut. Lalu iapun mengumumkan hal ini di negerinya. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/484)Akhirnya niat busuk Abrahah terdengar sampai di Mekkah. Salah satu dari suku Kinanah (dari Quraisy) berjalan dari Arab menuju ke Shan’a, menuju ke gereja Abrahah. Saat tiba di geraja tersebut, dia buang air besar dan buang air kecil di situ, kemudian dia hambur-hamburkan kotorannya di dinding-dinding gereja.Keesokan harinya, saat mengetahui gereja menjadi kotor dan yang melakukannya adalah orang Arab (orang Quraisy dari Kinanah), Abrahah pun murka kemudian menyiapkan pasukan yang sangat besar agar tidak ada yang mampu menghadangnya. Abrahah juga membawa seekor gajah yang sangat besar tubuhnya dan tidak pernah terlihat gajah sebesar itu. Gajah tersebut dipanggil dengan panggilan “Mahmud”. Disebutkan juga bahwa selain gajah Mahmud ada 8 ekor gajah yang lain, ada juga yang mengatakan 12 gajah yang lain. Tujuan Abrahah membawa banyak ekor gajah adalah untuk menghancurkan ka’bah dengan cara mencungkilnya sekali cungkil. Dengan menyiapkan rantai-rantai besi yang diikatkan ke leher gajah-gajah tersebut lalu rantai tersebut diikatkan ke sudut-sudut ka’bah kemudian gajah-gajah tersebut beramai-ramai mencungkil ka’bah.Tatkala bangsa Arab mendengar kedatangan Abrahah, mereka pun mengadakan perlawanan. Namun kabilah-kabilah Arab pada saat itu tidak bersatu, sehingga tidak ada yang bisa mengalahkan Abrahah. Terlebih lagi, Abrahah membawa pasukan dalam jumlah yang besar disertai hewan gajah yang sangat besar. Sementara orang-orang Arab belum pernah melihat gajah. Hal ini semakin menimbulkan ketakutan di hati orang-orang Arab.Kabilah Arab yang paling masyhur dan terkenal serta dimuliakan pada saat itu adalah bangsa Quraisy, namun mereka juga tidak melakukan perlawanan sama sekali. Ketika Abrahah tiba di suatu tempat yang disebut dengan Mughammas, datanglah ‘Abdul Muththalib (kakek Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan pemimpin Quraisy saat itu) untuk bertemu dengan Abrahah. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/484-485)Ibnu Katsir rahimahullah berkata :“Tatkala Abrahah melihat Abdul Muttholib dia pun memuliakannya. Abdul Muttholib adalah seorang yang tampan dan berpenampilan indah. Abrahah kemudian turun dari singgasananya (karena menghormati Abdul Muttholib –pent) lalu duduk bersama Abdul Muttholib di karpet. Abrahah berkata kepada penerjemahnya, “Tanyakan kepadanya, apa keperluannya?” Abdul Muttholib berkata kepada si penerjemah, “Keperluanku adalah agar sang raja Abrahah mengembalikan kepadaku 200 ekor ontaku yang diambil oleh sang raja”. Maka Abrahah berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepada Abdul Muttholib, sungguh tadinya engkau membuatku kagum tatkala melihatmu, namun aku menjadi menyepelekanmu ketika engkau berbicara denganku (mengenai onta tadi -pent). Apakah engkau berbicara denganku mengenai 200 ekor ontamu yang aku ambil agar aku mengembalikannya padamu, lalu engkau membiarkan ka’bah yang merupakan agamamu dan agama nenek moyangmu, sementara aku datang untuk menghancurkannya, lantas engkau tidak berbicara kepadaku tentang ka’bah?”Maka Abdul Muttholib berkata kepada Abrahah :إِنِّي أَنَا رَبُّ الْإِبِلِ، وَإِنَّ لِلْبَيْتِ رِبًّا سَيَمْنَعُهُ“Sesungguhnya aku adalah pemilik onta, dan sesungguhnya ka’bah punya pemilik sendiri yang akan membelanya”Abrahah berkata,مَا كَانَ لِيَمْتَنِعَ مِنِّي“Dia tidak akan bisa mencegahku (untuk menghancurkan ka’bah)”Abdul Muttholib kemudian berkata, أَنْتَ وَذَاكَ  “Itu urusanmu denganNya.”  (Tafsir Ibnu Katsir 8/485)Kisah pertemuan Abdul Muthhalib dengan Abrahah juga dinukil oleh Al-Hākim dalam Al-Mustadrāk dan dishahihkan oleh Al-Hākim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā, beliau berkata:أَقْبَلَ أَصْحَابُ الْفِيلِ حَتَّى إِذَا دَنَوْا مِنْ مَكَّةَ اسْتَقْبَلَهُمْ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ لِمَلِكِهِمْ: مَا جَاءَ بِكَ إِلَيْنَا مَا عَنَاكَ يَا رَبَّنَا أَلَا بَعَثْتَ فَنَأْتِيكَ بِكُلِّ شَيْءٍ أَرَدْتَ؟ ” فَقَالَ: أُخْبِرْتُ بِهَذَا الْبَيْتِ الَّذِي لَا يَدْخُلُهُ أَحَدٌ إِلَّا آمَنَ فَجِئْتُ أُخِيفُ أَهْلَهُ. فَقَالَ: إِنَّا نَأْتِيكَ بِكُلِّ شَيْءٍ تُرِيدُ فَارْجِعْ” فَأَبَى إِلَّا أَنْ يَدْخُلَهُ “Pasukan bergajah pun datang. Ketika mereka mulai mendekati Mekkah, maka datanglah ‘Abdul Muththalib, kakek Nabi ﷺ menemui pasukan tersebut. ‘Abdul Muthalib berkata kepada pemimpin mereka (yaitu Abrahah): “Untuk apa engkau datang kepada kami? Tidak cukupkah engkau mengirim utusanmu sehingga kami akan membawakan kepadamu semua yang kau inginkan?”Abrahah (dengan sombongnya –pent) berkata, “Aku dikabarkan tentang ka’bah (kota Mekah) yang tidak seorangpun memasukinya kecuali dalam keadaan aman. Maka aku datang ke mari untuk memberi ketakutan kepada penduduknya.”Abdul Muthhalib berkata, “Kami akan memberikan semua yang kau inginkan, kembalilah engkau !”. Akan tetapi Abrahah tetap bersikeras untuk masuk Mekah (menuju ka’bah).  (HR Al-Hakim dalam Al-Mustadrok no 3974)Dalam riwayat yang lain Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata;فَأَتَاهُمْ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ إِنَّ هَذَا بَيْتُ اللَّهِ لَمْ يُسَلِّطْ عَلَيْهِ أَحَدًا قَالُوا لَا نَرْجِعُ حَتَّى نَهْدِمَهُ فَكَانُوا لَا يُقَدِّمُونَ فِيلَهُمْ إِلَّا تَأَخَّرَ فَدَعَا اللَّهُ الطَّيْرَ الْأَبَابِيلَ فَأَعْطَاهَا حِجَارَةً سَوْدَاءَ فَلَمَّا حَاذَتْهُمْ رَمَتْهُمْ فَمَا بَقِيَ مِنْهُمْ أَحَدٌ إِلَّا أَخَذَتْهُ الْحَكَّةُ فَكَانَ لَا يَحُكُّ أَحَدٌ مِنْهُمْ جِلْدَهُ إِلَّا تَسَاقَطَ لَحْمُهُAbdul Muttholib mendatangi mereka dan berkata, “Sesungguhnya ini adalah rumah Allah. Allah tidak akan menyerahkannya kepada seorangpun untuk menguasai nya (menghancurkannya).” Mereka berkata, “Kami tidak akan kembali hingga kami menghancurkannya.” Maka tidaklah mereka memerintahkan gajah mereka untuk maju kecuali gajah tersebut mundur. Allah kemudian memanggil burung-burung dengan berbondong-bondong, lalu Allah memberikan batu berwarna hitam kepada burung-burung tersebut. Tatkala burung-burung itu telah sejajar dengan mereka maka burung-burung itu melemparkan batu tersebut kepada mereka. Sehingga tidak tersisa seorang pun dari mereka kecuali mengalami rasa gatal (yang luar biasa-pent). Tidaklah seorangpun dari mereka yang menggaruk kulitnya kecuali dagingnya berjatuhan.” (Disebutkan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 12/207 dan beliau menilai sanadnya hasan)Dalam riwayat yang lain dari Ikrimah, beliau berkata:أَنَّهَا كَانَتْ طَيْرًا خُضْرًا خَرَجَتْ من الْبَحْر لَهَا رُؤُوس كَرُءُوسِ السِّبَاعِ“Burung-burung tersebut berwarna hijau, muncul dari laut, kepalanya seperti kepala binatang buas.” (Disebutkan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 12/207 dan beliau menilai sanadnya shahih) Pasukan Abrahah yang terkena lemparan batu tidak semuanya tewas seketika. Sebagian mereka tewas dengan cepat, sebagian lagi kabur dalam kondisi terputus-putus dan terlepas-lepas anggota tubuhnya hingga tewas. Adapun Abrahah, dia tidak tewas seketika namun dia termasuk yang kabur melarikan diri. Allah tidak menjadikannya langsung tewas karena Allah ingin menyiksanya. Ada yang mengatakan bahwa dia tewas di negeri Khots’am. Ada pula yang berpendapat bahwa dia berhasil kembali ke Shan’a dan mati disana. Namun selama dalam perjalanan kaburnya, badannya terlepas sedikit demi sedikit dari tubuhnya sampai akhirnya di Shan’a dadanya terbelah dan jantungnya keluar, Allāh menyiksanya dan tidak langsung mematikannya. Demikianlah kisah Abrahah dengan pasukan tentara bergajahnya yang dihancurkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/486) Di tahun itu pula, lahirlah Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, sebagian menyebutkan bahwa kelahirannya sekitar 50 hari setelah tragedi pasukan bergajah. Kisah ini adalah kisah yang nyata, tidak sebagaimana klaim orang-orang Nashara yang berusaha mengingkari kisah ini. Kita dapati ada sebagian penulis dari orientalis yang mengatakan bahwa ini hanyalah dongeng yang disebutkan Allāh dalam Al-Qurān, tidak mungkin ada kisah tentara bergajah yang dihancurkan oleh burung-burung dengan cara melemparinya dengan batu. Klaim mereka dibantah oleh para ulama, bahwa kisah ini bukanlah dongeng semata. Diantara buktinya adalah peninggalan syair-syair jahiliyyah yang sebagiannya banyak menyebutkan tentang kisah pasukan bergajah ini, yang disaksikan langsung oleh mereka, dan syair-syair di zaman jahiliyyah tersebut masih ada sampai sekarang. Dan juga diantara bukti yang menunjukkan akan kebenaran kisah ini adalah sebagaimana yang sering tercantum di dalam buku-buku sejarah yang menyebutkan bahwa si fulan lahir pada tahun ke sekian sebelum tahun gajah atau setelah tahun gajah. Sehingga tahun gajah sering dijadikan sebagai istilah penanggalan. Seandainya kisah ini hanyalah dongeng belaka, maka tidak mungkin tahun gajah dijadikan sebagai suatu istilah penanggalan.Menurut orang-orang Nasrani, Abrahah tidak berniat ke Mekkah untuk menghancurkan Ka’bah atau karena hasad dengan Ka’bah. Namun dia berangkat dari Yaman dalam rangka berperang dengan bangsa Persia, dimana saat itu terjadi peperangan antara Persia dan Romawi. Dalam perjalanannya, Abrahah memutuskan mengambil jalan darat melewati Mekkah. Klaim ini juga tidak benar. Karena jika Abrahah benar-benar ingin menyerang Persia, maka dia akan mengambil jalan laut yang lebih mudah dan lebih dekat.Disebutkan pula oleh Ibnu Hisyām, dengan sanad yang hasan, ‘Āisyah menceritakan bahwa dia melihat pemimpin gajah dan pawangnya masih hidup dalam kondisi buta meminta-minta makanan di Mekah (lihat As-Shiroh An-Nabawiyah As-Shahihah 1/98). Pasukan Abrahah tidak semuanya mati, masih ada yang hidup, namun dalam keadaan buta dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.Ini menunjukkan bahwa kisah ini real dan terjadi di tahun dilahirkannya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Menurut para ulama, peristiwa tahun gajah ini sebenarnya merupakan pendahuluan akan mu’jizat yang sangat besar, yaitu lahirnya Nabi Muhammad ﷺ. Hancurnya tentara bergajah ini menjadikan bangsa Quraisy semakin mulia, karena mereka tidak perlu melakukan perlawanan sama sekali, namun Allāh lah yang membela mereka. Sebenarnya, ketika Abrahah berjalan dari Shan’a menuju ke Makkah telah banyak kabilah yang mencoba melakukan perlawanan, tetapi mereka takluk semuanya kemudian harta mereka dirampas oleh Abrahah. Namun ketika Abrahah tiba di pusat Quraisy, orang-orang Quraisy tidak melakukan perlawanan tetapi Allāh Subhānahu wa Ta’āla sendiri yang membela mereka.Demikianlah, akhirnya mulai tersebar saat itu bahwa orang-orang Quraisy adalah orang-orang mulia. Karena Tuhan Pencipta alam semesta yang langsung membela mereka sehingga mereka tidak perlu melakukan perlawanan sama sekali. Hal ini mengangkat kedudukan orang-orang Quraisy, dan diantara mereka terdapat kakeknya Nabi ﷺ, yaitu ‘Abdul Muthalib. Dengan terangkatnya kedudukan Quraisy ini, maka kedudukan Nabi ﷺ juga terangkat karena Nabi dilahirkan dari suku Quraisy. Seakan-akan Quraisy menjadi pusat segala kabilah atau kabilah induk, yang membawahi semua kabilah-kabilah saat itu. Dan Nabi dilahirkan dari kabilah induk dan bukan dari sembarang nasab, tidak seperti anggapan sebagian orang bahwa saat seseorang disepelekan atau direndahkan maka orang tersebut cenderung akan membuat pemikiran baru, atau jika berasal dari kalangan rendahan maka akan dikatakan bahwa orang ini mengaku sebagai Nabi hanya untuk mencari kekuasaan. Namun semua anggapan dan asumsi ini terpatahkan, sebab Nabi ﷺ lahir dari kabilah yang terkenal dan dimuliakan. Seandainya Nabi hanya mencari kekuasaan tentu ini adalah hal yang sangat mudah, beliau hanya tinggal mengikuti tradisi kesyirikan nenek moyangnya maka otomatis beliau akan menjadi pemimpin Quraisy. Akan tetapi justru beliau menyelisihi dan meninggalkan tradisi nenek moyangnya.Oleh karena itu, menurut para ulama, kejadian dihancurkannya tentara bergajah ini adalah dalam rangka untuk mengangkat derajat Nabi. Adapun Quraisy hanya sekedar wasilah (sarana) terangkatnya Nabi ﷺ.Manakah yang lebih buruk antara penyembah berhala atau orang-orang musyrikin Nashara? Jelas yang lebih buruk adalah penyembah berhala. Orang-orang Nashara masih disebut Ahli kitab, adapun penyembah berhala mereka lebih sesat karena menyembah berhala yang lebih banyak. Namun Allāh saat itu memenangkan para penyembah berhala musyrikin Quraisy atas orang-orang Nashara. Allāh menghancurkan orang-orang Nashara karena ada Nabi ﷺ yang akan lahir dari orang-orang Quraisy tersebut. Oleh karena itu, kejadian tersebut termasuk mu’jizat kelahiran Nabi ﷺ, yang terjadi di tahun dimana Nabi ﷺ lahir. Pamor bangsa Quraisy menjadi naik lantaran dibela langsung oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan diantara hikmahnya pula, kelak orang-orang Quraisy lah yang masuk Islam, yang membuat kabilah-kabilah dibawahnya akan turut masuk Islam. Saat Fathu Makkah, ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam hendak menaklukkan kota Mekkah, banyak kabilah-kabilah Arab yang sebelumnya tidak mau masuk Islam. Mereka berkata “Kita tunggu dulu, biar Muhammad berperang dengan orang-orang Quraisy, kalau ternyata orang-orang Quraisy yang menang maka hubungan kita masih baik, namun jika Qurasiy kalah maka kita akan masuk Islam.” Dan benar lah tatkala Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menaklukkan kota Mekkah, orang-orang Quraisy semua tunduk kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Sehingga orang-orang Arab dari kabilah yang lebih rendah secara otomatis juga ikut masuk Islam. Faidah-Faidah yang dipetik dari kisah Abrahah dan dihancurkannya tentara bergajah oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla,⑴ Sehebat dan sekuat apapun seseorang niscaya ada yang lebih hebat dan lebih kuat lagi.Abrahah dengan sombongnya membawa pasukan bergajah beserta ribuan pasukan lainnya, namun akhirnya hancur lebur dihantam pasukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang berupa burung-burung kecil yang berbondong-bondong. Telah berlalu sebagaimana yang diceritakan dalam sejarah bagaimana negara-negara adidaya yang kuat akhirnya hancur lebur. Kemana Persia sekarang? Kemana Romawi sekarang? Dahulu mereka menguasai dunia. Kemana kaum ‘Ād yang begitu sombong? Yang mana mereka mengatakan “Siapa yang lebih kuat dari kita?” tetapi mereka dihancurkan oleh Allāh. Kemana Fir’aun? Fir’aun yang begitu sombongnya, menyiksa Bani Isrāil puluhan tahun sejak lahirnya Nabi Mūsa sampai Nabi Mūsa kembali lagi berdakwah (sekitar 40 atau 50 tahun), namun akhirnya Allāh pun menghancurkannya. Kemana Qarun yang sombong dengan hartanya? Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan yang dibangun di atas kebathilan, tidak akan jaya selama-lamanya. Suatu saat Allāh akan menghancurkan mereka dengan cara-Nya, seperti orang-orang Abrahah yang dihancurkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.⑵ Kondisi orang-orang Arab sebelum Islam adalah berupa kabilah-kabilah (suku-suku) yang tercerai berai. Mereka tidak mampu berhadapan dengan Abrahah, padahal mereka berkumpul dalam satu asal bangsa yaitu Arab. Selain itu mereka juga sama-sama mengagungkan Ka’bah. Tetapi karena mereka tidak di atas suatu ikatan Aqidah maka akhirnya mereka berhasil dikalahkan.Orang-orang Arab menjadi mulia karena Islam, bukan Karena Arab-nya. Para ulama telah banyak membantah pemikiran yang disebut dengan Qaumiyyah (fanatik kebangsaan), yaitu fanatisme yang dibangun di atas sentimen golongan Arab, dengan slogan “semua harus kembali kepada Arab” atau “hanya Arab saja yang Berjaya”. Syaikh bin Bāz rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya seruan kepada fanatik kebangsaan Arab merupakan bentuk perbuatan buruk terhadap Islam dan peperangan melawan Islam, dan juga merupakan bentuk keburukan kepada Arab itu sendiri. Karena seruan ini hakikatnya ingin memisahkan antara Arab dan Islam, padahal Islam adalah puncak kejayaan Arab dan kemuliaan Arab. Islam merupakan sumber kejayaan Arab dan kepemimpinan Arab di dunia. Bagaimana bisa seorang Arab yang berakal, ridha dengan propaganda yang demikian hakekat dan tujuannya?” (lihat Naqdul Qoumiyah al-‘Arobiyah hal 58)Sesungguhnya Islam lah yang telah memuliakan Arab. Andai saja tidak ada Islam maka Arab tidak akan mulia, bahkan Arab akan menadi rendah sebagaimana yang lainnya. Tapi melalui Islam lah, Arab menjadi mulia. Sehingga siapa saja yang berpegang teguh kepada agama Islam -Arab atau selain Arab- niscaya Allāh akan memuliakannya. Jakarta, 29-01-1439 H / 19-10-2017 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com
Kita sering mendengar bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dilahirkan di tahun gajah. Disebut tahun gajah karena pada tahun tersebut terjadi peristiwa yang sangat besar yaitu pasukan bergajah dihancurkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Tentang kisah pasukan bergajah ini, diabadikan oleh Allah ﷻ dalam firman-Nya :أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (1) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5)Artinya:“1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan makar mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berkelompok-kelompok yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS Al-Fiil : 1-5)  Disebutkan oleh sejarawan bahwa Raja Najasyi -yang beragama Nashrani- tinggal di Habasyah (Ethiopia) dan memiliki seorang wakil yang bernama Abrahah yang ditugaskan di Yaman. Dari sini diketahui bahwasanya Abrahah adalah seorang Habasyi yang bermukim di Yaman. Abrahah ingin mencari muka kepada Najasyi dan kepada para pembesar Romawi. Raja Najasyi dikenal memiliki hubungan erat dengan Romawi, Karena Najasyi beragama Nashrani sedangkan pusat Kristiani berada di Romawi.Abrahah berkeinginan membuat sebuah gereja yang sangat besar yang dapat memalingkan orang-orang Arab supaya tidak lagi berhaji ke Mekkah (Ka’bah), dan dipalingkan agar berhaji ke Shan’a (Yaman). Inilah tujuan dan tekad Abrahah ketika itu.Karena rasa hasad dan iri saat melihat orang-orang Arab mengagungkan Ka’bah dengan cara berhaji dan berthawaf setiap tahun ke Ka’bah, maka diapun bertekad membangun sebuah gereja yang sangat besar yang dia namakan sebagai Al-Qullais. Al-Qullais disebutkan oleh sebagian ulama maknanya diambil dari qalansuah yang artinya peci. Mengapa dinamakan demikian? Kata sebagian ulama saking tingginya gereja itu sehingga jika ada seseorang yang menggunakan peci melihat puncak gereja tersebut maka  pecinya hampir jatuh. Abrahah berniat agar orang-orang meninggalkan ka’bah untuk menuju ke gereja yang dia bangun tersebut. Lalu iapun mengumumkan hal ini di negerinya. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/484)Akhirnya niat busuk Abrahah terdengar sampai di Mekkah. Salah satu dari suku Kinanah (dari Quraisy) berjalan dari Arab menuju ke Shan’a, menuju ke gereja Abrahah. Saat tiba di geraja tersebut, dia buang air besar dan buang air kecil di situ, kemudian dia hambur-hamburkan kotorannya di dinding-dinding gereja.Keesokan harinya, saat mengetahui gereja menjadi kotor dan yang melakukannya adalah orang Arab (orang Quraisy dari Kinanah), Abrahah pun murka kemudian menyiapkan pasukan yang sangat besar agar tidak ada yang mampu menghadangnya. Abrahah juga membawa seekor gajah yang sangat besar tubuhnya dan tidak pernah terlihat gajah sebesar itu. Gajah tersebut dipanggil dengan panggilan “Mahmud”. Disebutkan juga bahwa selain gajah Mahmud ada 8 ekor gajah yang lain, ada juga yang mengatakan 12 gajah yang lain. Tujuan Abrahah membawa banyak ekor gajah adalah untuk menghancurkan ka’bah dengan cara mencungkilnya sekali cungkil. Dengan menyiapkan rantai-rantai besi yang diikatkan ke leher gajah-gajah tersebut lalu rantai tersebut diikatkan ke sudut-sudut ka’bah kemudian gajah-gajah tersebut beramai-ramai mencungkil ka’bah.Tatkala bangsa Arab mendengar kedatangan Abrahah, mereka pun mengadakan perlawanan. Namun kabilah-kabilah Arab pada saat itu tidak bersatu, sehingga tidak ada yang bisa mengalahkan Abrahah. Terlebih lagi, Abrahah membawa pasukan dalam jumlah yang besar disertai hewan gajah yang sangat besar. Sementara orang-orang Arab belum pernah melihat gajah. Hal ini semakin menimbulkan ketakutan di hati orang-orang Arab.Kabilah Arab yang paling masyhur dan terkenal serta dimuliakan pada saat itu adalah bangsa Quraisy, namun mereka juga tidak melakukan perlawanan sama sekali. Ketika Abrahah tiba di suatu tempat yang disebut dengan Mughammas, datanglah ‘Abdul Muththalib (kakek Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan pemimpin Quraisy saat itu) untuk bertemu dengan Abrahah. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/484-485)Ibnu Katsir rahimahullah berkata :“Tatkala Abrahah melihat Abdul Muttholib dia pun memuliakannya. Abdul Muttholib adalah seorang yang tampan dan berpenampilan indah. Abrahah kemudian turun dari singgasananya (karena menghormati Abdul Muttholib –pent) lalu duduk bersama Abdul Muttholib di karpet. Abrahah berkata kepada penerjemahnya, “Tanyakan kepadanya, apa keperluannya?” Abdul Muttholib berkata kepada si penerjemah, “Keperluanku adalah agar sang raja Abrahah mengembalikan kepadaku 200 ekor ontaku yang diambil oleh sang raja”. Maka Abrahah berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepada Abdul Muttholib, sungguh tadinya engkau membuatku kagum tatkala melihatmu, namun aku menjadi menyepelekanmu ketika engkau berbicara denganku (mengenai onta tadi -pent). Apakah engkau berbicara denganku mengenai 200 ekor ontamu yang aku ambil agar aku mengembalikannya padamu, lalu engkau membiarkan ka’bah yang merupakan agamamu dan agama nenek moyangmu, sementara aku datang untuk menghancurkannya, lantas engkau tidak berbicara kepadaku tentang ka’bah?”Maka Abdul Muttholib berkata kepada Abrahah :إِنِّي أَنَا رَبُّ الْإِبِلِ، وَإِنَّ لِلْبَيْتِ رِبًّا سَيَمْنَعُهُ“Sesungguhnya aku adalah pemilik onta, dan sesungguhnya ka’bah punya pemilik sendiri yang akan membelanya”Abrahah berkata,مَا كَانَ لِيَمْتَنِعَ مِنِّي“Dia tidak akan bisa mencegahku (untuk menghancurkan ka’bah)”Abdul Muttholib kemudian berkata, أَنْتَ وَذَاكَ  “Itu urusanmu denganNya.”  (Tafsir Ibnu Katsir 8/485)Kisah pertemuan Abdul Muthhalib dengan Abrahah juga dinukil oleh Al-Hākim dalam Al-Mustadrāk dan dishahihkan oleh Al-Hākim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā, beliau berkata:أَقْبَلَ أَصْحَابُ الْفِيلِ حَتَّى إِذَا دَنَوْا مِنْ مَكَّةَ اسْتَقْبَلَهُمْ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ لِمَلِكِهِمْ: مَا جَاءَ بِكَ إِلَيْنَا مَا عَنَاكَ يَا رَبَّنَا أَلَا بَعَثْتَ فَنَأْتِيكَ بِكُلِّ شَيْءٍ أَرَدْتَ؟ ” فَقَالَ: أُخْبِرْتُ بِهَذَا الْبَيْتِ الَّذِي لَا يَدْخُلُهُ أَحَدٌ إِلَّا آمَنَ فَجِئْتُ أُخِيفُ أَهْلَهُ. فَقَالَ: إِنَّا نَأْتِيكَ بِكُلِّ شَيْءٍ تُرِيدُ فَارْجِعْ” فَأَبَى إِلَّا أَنْ يَدْخُلَهُ “Pasukan bergajah pun datang. Ketika mereka mulai mendekati Mekkah, maka datanglah ‘Abdul Muththalib, kakek Nabi ﷺ menemui pasukan tersebut. ‘Abdul Muthalib berkata kepada pemimpin mereka (yaitu Abrahah): “Untuk apa engkau datang kepada kami? Tidak cukupkah engkau mengirim utusanmu sehingga kami akan membawakan kepadamu semua yang kau inginkan?”Abrahah (dengan sombongnya –pent) berkata, “Aku dikabarkan tentang ka’bah (kota Mekah) yang tidak seorangpun memasukinya kecuali dalam keadaan aman. Maka aku datang ke mari untuk memberi ketakutan kepada penduduknya.”Abdul Muthhalib berkata, “Kami akan memberikan semua yang kau inginkan, kembalilah engkau !”. Akan tetapi Abrahah tetap bersikeras untuk masuk Mekah (menuju ka’bah).  (HR Al-Hakim dalam Al-Mustadrok no 3974)Dalam riwayat yang lain Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata;فَأَتَاهُمْ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ إِنَّ هَذَا بَيْتُ اللَّهِ لَمْ يُسَلِّطْ عَلَيْهِ أَحَدًا قَالُوا لَا نَرْجِعُ حَتَّى نَهْدِمَهُ فَكَانُوا لَا يُقَدِّمُونَ فِيلَهُمْ إِلَّا تَأَخَّرَ فَدَعَا اللَّهُ الطَّيْرَ الْأَبَابِيلَ فَأَعْطَاهَا حِجَارَةً سَوْدَاءَ فَلَمَّا حَاذَتْهُمْ رَمَتْهُمْ فَمَا بَقِيَ مِنْهُمْ أَحَدٌ إِلَّا أَخَذَتْهُ الْحَكَّةُ فَكَانَ لَا يَحُكُّ أَحَدٌ مِنْهُمْ جِلْدَهُ إِلَّا تَسَاقَطَ لَحْمُهُAbdul Muttholib mendatangi mereka dan berkata, “Sesungguhnya ini adalah rumah Allah. Allah tidak akan menyerahkannya kepada seorangpun untuk menguasai nya (menghancurkannya).” Mereka berkata, “Kami tidak akan kembali hingga kami menghancurkannya.” Maka tidaklah mereka memerintahkan gajah mereka untuk maju kecuali gajah tersebut mundur. Allah kemudian memanggil burung-burung dengan berbondong-bondong, lalu Allah memberikan batu berwarna hitam kepada burung-burung tersebut. Tatkala burung-burung itu telah sejajar dengan mereka maka burung-burung itu melemparkan batu tersebut kepada mereka. Sehingga tidak tersisa seorang pun dari mereka kecuali mengalami rasa gatal (yang luar biasa-pent). Tidaklah seorangpun dari mereka yang menggaruk kulitnya kecuali dagingnya berjatuhan.” (Disebutkan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 12/207 dan beliau menilai sanadnya hasan)Dalam riwayat yang lain dari Ikrimah, beliau berkata:أَنَّهَا كَانَتْ طَيْرًا خُضْرًا خَرَجَتْ من الْبَحْر لَهَا رُؤُوس كَرُءُوسِ السِّبَاعِ“Burung-burung tersebut berwarna hijau, muncul dari laut, kepalanya seperti kepala binatang buas.” (Disebutkan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 12/207 dan beliau menilai sanadnya shahih) Pasukan Abrahah yang terkena lemparan batu tidak semuanya tewas seketika. Sebagian mereka tewas dengan cepat, sebagian lagi kabur dalam kondisi terputus-putus dan terlepas-lepas anggota tubuhnya hingga tewas. Adapun Abrahah, dia tidak tewas seketika namun dia termasuk yang kabur melarikan diri. Allah tidak menjadikannya langsung tewas karena Allah ingin menyiksanya. Ada yang mengatakan bahwa dia tewas di negeri Khots’am. Ada pula yang berpendapat bahwa dia berhasil kembali ke Shan’a dan mati disana. Namun selama dalam perjalanan kaburnya, badannya terlepas sedikit demi sedikit dari tubuhnya sampai akhirnya di Shan’a dadanya terbelah dan jantungnya keluar, Allāh menyiksanya dan tidak langsung mematikannya. Demikianlah kisah Abrahah dengan pasukan tentara bergajahnya yang dihancurkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/486) Di tahun itu pula, lahirlah Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, sebagian menyebutkan bahwa kelahirannya sekitar 50 hari setelah tragedi pasukan bergajah. Kisah ini adalah kisah yang nyata, tidak sebagaimana klaim orang-orang Nashara yang berusaha mengingkari kisah ini. Kita dapati ada sebagian penulis dari orientalis yang mengatakan bahwa ini hanyalah dongeng yang disebutkan Allāh dalam Al-Qurān, tidak mungkin ada kisah tentara bergajah yang dihancurkan oleh burung-burung dengan cara melemparinya dengan batu. Klaim mereka dibantah oleh para ulama, bahwa kisah ini bukanlah dongeng semata. Diantara buktinya adalah peninggalan syair-syair jahiliyyah yang sebagiannya banyak menyebutkan tentang kisah pasukan bergajah ini, yang disaksikan langsung oleh mereka, dan syair-syair di zaman jahiliyyah tersebut masih ada sampai sekarang. Dan juga diantara bukti yang menunjukkan akan kebenaran kisah ini adalah sebagaimana yang sering tercantum di dalam buku-buku sejarah yang menyebutkan bahwa si fulan lahir pada tahun ke sekian sebelum tahun gajah atau setelah tahun gajah. Sehingga tahun gajah sering dijadikan sebagai istilah penanggalan. Seandainya kisah ini hanyalah dongeng belaka, maka tidak mungkin tahun gajah dijadikan sebagai suatu istilah penanggalan.Menurut orang-orang Nasrani, Abrahah tidak berniat ke Mekkah untuk menghancurkan Ka’bah atau karena hasad dengan Ka’bah. Namun dia berangkat dari Yaman dalam rangka berperang dengan bangsa Persia, dimana saat itu terjadi peperangan antara Persia dan Romawi. Dalam perjalanannya, Abrahah memutuskan mengambil jalan darat melewati Mekkah. Klaim ini juga tidak benar. Karena jika Abrahah benar-benar ingin menyerang Persia, maka dia akan mengambil jalan laut yang lebih mudah dan lebih dekat.Disebutkan pula oleh Ibnu Hisyām, dengan sanad yang hasan, ‘Āisyah menceritakan bahwa dia melihat pemimpin gajah dan pawangnya masih hidup dalam kondisi buta meminta-minta makanan di Mekah (lihat As-Shiroh An-Nabawiyah As-Shahihah 1/98). Pasukan Abrahah tidak semuanya mati, masih ada yang hidup, namun dalam keadaan buta dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.Ini menunjukkan bahwa kisah ini real dan terjadi di tahun dilahirkannya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Menurut para ulama, peristiwa tahun gajah ini sebenarnya merupakan pendahuluan akan mu’jizat yang sangat besar, yaitu lahirnya Nabi Muhammad ﷺ. Hancurnya tentara bergajah ini menjadikan bangsa Quraisy semakin mulia, karena mereka tidak perlu melakukan perlawanan sama sekali, namun Allāh lah yang membela mereka. Sebenarnya, ketika Abrahah berjalan dari Shan’a menuju ke Makkah telah banyak kabilah yang mencoba melakukan perlawanan, tetapi mereka takluk semuanya kemudian harta mereka dirampas oleh Abrahah. Namun ketika Abrahah tiba di pusat Quraisy, orang-orang Quraisy tidak melakukan perlawanan tetapi Allāh Subhānahu wa Ta’āla sendiri yang membela mereka.Demikianlah, akhirnya mulai tersebar saat itu bahwa orang-orang Quraisy adalah orang-orang mulia. Karena Tuhan Pencipta alam semesta yang langsung membela mereka sehingga mereka tidak perlu melakukan perlawanan sama sekali. Hal ini mengangkat kedudukan orang-orang Quraisy, dan diantara mereka terdapat kakeknya Nabi ﷺ, yaitu ‘Abdul Muthalib. Dengan terangkatnya kedudukan Quraisy ini, maka kedudukan Nabi ﷺ juga terangkat karena Nabi dilahirkan dari suku Quraisy. Seakan-akan Quraisy menjadi pusat segala kabilah atau kabilah induk, yang membawahi semua kabilah-kabilah saat itu. Dan Nabi dilahirkan dari kabilah induk dan bukan dari sembarang nasab, tidak seperti anggapan sebagian orang bahwa saat seseorang disepelekan atau direndahkan maka orang tersebut cenderung akan membuat pemikiran baru, atau jika berasal dari kalangan rendahan maka akan dikatakan bahwa orang ini mengaku sebagai Nabi hanya untuk mencari kekuasaan. Namun semua anggapan dan asumsi ini terpatahkan, sebab Nabi ﷺ lahir dari kabilah yang terkenal dan dimuliakan. Seandainya Nabi hanya mencari kekuasaan tentu ini adalah hal yang sangat mudah, beliau hanya tinggal mengikuti tradisi kesyirikan nenek moyangnya maka otomatis beliau akan menjadi pemimpin Quraisy. Akan tetapi justru beliau menyelisihi dan meninggalkan tradisi nenek moyangnya.Oleh karena itu, menurut para ulama, kejadian dihancurkannya tentara bergajah ini adalah dalam rangka untuk mengangkat derajat Nabi. Adapun Quraisy hanya sekedar wasilah (sarana) terangkatnya Nabi ﷺ.Manakah yang lebih buruk antara penyembah berhala atau orang-orang musyrikin Nashara? Jelas yang lebih buruk adalah penyembah berhala. Orang-orang Nashara masih disebut Ahli kitab, adapun penyembah berhala mereka lebih sesat karena menyembah berhala yang lebih banyak. Namun Allāh saat itu memenangkan para penyembah berhala musyrikin Quraisy atas orang-orang Nashara. Allāh menghancurkan orang-orang Nashara karena ada Nabi ﷺ yang akan lahir dari orang-orang Quraisy tersebut. Oleh karena itu, kejadian tersebut termasuk mu’jizat kelahiran Nabi ﷺ, yang terjadi di tahun dimana Nabi ﷺ lahir. Pamor bangsa Quraisy menjadi naik lantaran dibela langsung oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan diantara hikmahnya pula, kelak orang-orang Quraisy lah yang masuk Islam, yang membuat kabilah-kabilah dibawahnya akan turut masuk Islam. Saat Fathu Makkah, ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam hendak menaklukkan kota Mekkah, banyak kabilah-kabilah Arab yang sebelumnya tidak mau masuk Islam. Mereka berkata “Kita tunggu dulu, biar Muhammad berperang dengan orang-orang Quraisy, kalau ternyata orang-orang Quraisy yang menang maka hubungan kita masih baik, namun jika Qurasiy kalah maka kita akan masuk Islam.” Dan benar lah tatkala Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menaklukkan kota Mekkah, orang-orang Quraisy semua tunduk kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Sehingga orang-orang Arab dari kabilah yang lebih rendah secara otomatis juga ikut masuk Islam. Faidah-Faidah yang dipetik dari kisah Abrahah dan dihancurkannya tentara bergajah oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla,⑴ Sehebat dan sekuat apapun seseorang niscaya ada yang lebih hebat dan lebih kuat lagi.Abrahah dengan sombongnya membawa pasukan bergajah beserta ribuan pasukan lainnya, namun akhirnya hancur lebur dihantam pasukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang berupa burung-burung kecil yang berbondong-bondong. Telah berlalu sebagaimana yang diceritakan dalam sejarah bagaimana negara-negara adidaya yang kuat akhirnya hancur lebur. Kemana Persia sekarang? Kemana Romawi sekarang? Dahulu mereka menguasai dunia. Kemana kaum ‘Ād yang begitu sombong? Yang mana mereka mengatakan “Siapa yang lebih kuat dari kita?” tetapi mereka dihancurkan oleh Allāh. Kemana Fir’aun? Fir’aun yang begitu sombongnya, menyiksa Bani Isrāil puluhan tahun sejak lahirnya Nabi Mūsa sampai Nabi Mūsa kembali lagi berdakwah (sekitar 40 atau 50 tahun), namun akhirnya Allāh pun menghancurkannya. Kemana Qarun yang sombong dengan hartanya? Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan yang dibangun di atas kebathilan, tidak akan jaya selama-lamanya. Suatu saat Allāh akan menghancurkan mereka dengan cara-Nya, seperti orang-orang Abrahah yang dihancurkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.⑵ Kondisi orang-orang Arab sebelum Islam adalah berupa kabilah-kabilah (suku-suku) yang tercerai berai. Mereka tidak mampu berhadapan dengan Abrahah, padahal mereka berkumpul dalam satu asal bangsa yaitu Arab. Selain itu mereka juga sama-sama mengagungkan Ka’bah. Tetapi karena mereka tidak di atas suatu ikatan Aqidah maka akhirnya mereka berhasil dikalahkan.Orang-orang Arab menjadi mulia karena Islam, bukan Karena Arab-nya. Para ulama telah banyak membantah pemikiran yang disebut dengan Qaumiyyah (fanatik kebangsaan), yaitu fanatisme yang dibangun di atas sentimen golongan Arab, dengan slogan “semua harus kembali kepada Arab” atau “hanya Arab saja yang Berjaya”. Syaikh bin Bāz rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya seruan kepada fanatik kebangsaan Arab merupakan bentuk perbuatan buruk terhadap Islam dan peperangan melawan Islam, dan juga merupakan bentuk keburukan kepada Arab itu sendiri. Karena seruan ini hakikatnya ingin memisahkan antara Arab dan Islam, padahal Islam adalah puncak kejayaan Arab dan kemuliaan Arab. Islam merupakan sumber kejayaan Arab dan kepemimpinan Arab di dunia. Bagaimana bisa seorang Arab yang berakal, ridha dengan propaganda yang demikian hakekat dan tujuannya?” (lihat Naqdul Qoumiyah al-‘Arobiyah hal 58)Sesungguhnya Islam lah yang telah memuliakan Arab. Andai saja tidak ada Islam maka Arab tidak akan mulia, bahkan Arab akan menadi rendah sebagaimana yang lainnya. Tapi melalui Islam lah, Arab menjadi mulia. Sehingga siapa saja yang berpegang teguh kepada agama Islam -Arab atau selain Arab- niscaya Allāh akan memuliakannya. Jakarta, 29-01-1439 H / 19-10-2017 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com


Kita sering mendengar bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dilahirkan di tahun gajah. Disebut tahun gajah karena pada tahun tersebut terjadi peristiwa yang sangat besar yaitu pasukan bergajah dihancurkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Tentang kisah pasukan bergajah ini, diabadikan oleh Allah ﷻ dalam firman-Nya :أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (1) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5)Artinya:“1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan makar mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berkelompok-kelompok yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS Al-Fiil : 1-5)  Disebutkan oleh sejarawan bahwa Raja Najasyi -yang beragama Nashrani- tinggal di Habasyah (Ethiopia) dan memiliki seorang wakil yang bernama Abrahah yang ditugaskan di Yaman. Dari sini diketahui bahwasanya Abrahah adalah seorang Habasyi yang bermukim di Yaman. Abrahah ingin mencari muka kepada Najasyi dan kepada para pembesar Romawi. Raja Najasyi dikenal memiliki hubungan erat dengan Romawi, Karena Najasyi beragama Nashrani sedangkan pusat Kristiani berada di Romawi.Abrahah berkeinginan membuat sebuah gereja yang sangat besar yang dapat memalingkan orang-orang Arab supaya tidak lagi berhaji ke Mekkah (Ka’bah), dan dipalingkan agar berhaji ke Shan’a (Yaman). Inilah tujuan dan tekad Abrahah ketika itu.Karena rasa hasad dan iri saat melihat orang-orang Arab mengagungkan Ka’bah dengan cara berhaji dan berthawaf setiap tahun ke Ka’bah, maka diapun bertekad membangun sebuah gereja yang sangat besar yang dia namakan sebagai Al-Qullais. Al-Qullais disebutkan oleh sebagian ulama maknanya diambil dari qalansuah yang artinya peci. Mengapa dinamakan demikian? Kata sebagian ulama saking tingginya gereja itu sehingga jika ada seseorang yang menggunakan peci melihat puncak gereja tersebut maka  pecinya hampir jatuh. Abrahah berniat agar orang-orang meninggalkan ka’bah untuk menuju ke gereja yang dia bangun tersebut. Lalu iapun mengumumkan hal ini di negerinya. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/484)Akhirnya niat busuk Abrahah terdengar sampai di Mekkah. Salah satu dari suku Kinanah (dari Quraisy) berjalan dari Arab menuju ke Shan’a, menuju ke gereja Abrahah. Saat tiba di geraja tersebut, dia buang air besar dan buang air kecil di situ, kemudian dia hambur-hamburkan kotorannya di dinding-dinding gereja.Keesokan harinya, saat mengetahui gereja menjadi kotor dan yang melakukannya adalah orang Arab (orang Quraisy dari Kinanah), Abrahah pun murka kemudian menyiapkan pasukan yang sangat besar agar tidak ada yang mampu menghadangnya. Abrahah juga membawa seekor gajah yang sangat besar tubuhnya dan tidak pernah terlihat gajah sebesar itu. Gajah tersebut dipanggil dengan panggilan “Mahmud”. Disebutkan juga bahwa selain gajah Mahmud ada 8 ekor gajah yang lain, ada juga yang mengatakan 12 gajah yang lain. Tujuan Abrahah membawa banyak ekor gajah adalah untuk menghancurkan ka’bah dengan cara mencungkilnya sekali cungkil. Dengan menyiapkan rantai-rantai besi yang diikatkan ke leher gajah-gajah tersebut lalu rantai tersebut diikatkan ke sudut-sudut ka’bah kemudian gajah-gajah tersebut beramai-ramai mencungkil ka’bah.Tatkala bangsa Arab mendengar kedatangan Abrahah, mereka pun mengadakan perlawanan. Namun kabilah-kabilah Arab pada saat itu tidak bersatu, sehingga tidak ada yang bisa mengalahkan Abrahah. Terlebih lagi, Abrahah membawa pasukan dalam jumlah yang besar disertai hewan gajah yang sangat besar. Sementara orang-orang Arab belum pernah melihat gajah. Hal ini semakin menimbulkan ketakutan di hati orang-orang Arab.Kabilah Arab yang paling masyhur dan terkenal serta dimuliakan pada saat itu adalah bangsa Quraisy, namun mereka juga tidak melakukan perlawanan sama sekali. Ketika Abrahah tiba di suatu tempat yang disebut dengan Mughammas, datanglah ‘Abdul Muththalib (kakek Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan pemimpin Quraisy saat itu) untuk bertemu dengan Abrahah. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/484-485)Ibnu Katsir rahimahullah berkata :“Tatkala Abrahah melihat Abdul Muttholib dia pun memuliakannya. Abdul Muttholib adalah seorang yang tampan dan berpenampilan indah. Abrahah kemudian turun dari singgasananya (karena menghormati Abdul Muttholib –pent) lalu duduk bersama Abdul Muttholib di karpet. Abrahah berkata kepada penerjemahnya, “Tanyakan kepadanya, apa keperluannya?” Abdul Muttholib berkata kepada si penerjemah, “Keperluanku adalah agar sang raja Abrahah mengembalikan kepadaku 200 ekor ontaku yang diambil oleh sang raja”. Maka Abrahah berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepada Abdul Muttholib, sungguh tadinya engkau membuatku kagum tatkala melihatmu, namun aku menjadi menyepelekanmu ketika engkau berbicara denganku (mengenai onta tadi -pent). Apakah engkau berbicara denganku mengenai 200 ekor ontamu yang aku ambil agar aku mengembalikannya padamu, lalu engkau membiarkan ka’bah yang merupakan agamamu dan agama nenek moyangmu, sementara aku datang untuk menghancurkannya, lantas engkau tidak berbicara kepadaku tentang ka’bah?”Maka Abdul Muttholib berkata kepada Abrahah :إِنِّي أَنَا رَبُّ الْإِبِلِ، وَإِنَّ لِلْبَيْتِ رِبًّا سَيَمْنَعُهُ“Sesungguhnya aku adalah pemilik onta, dan sesungguhnya ka’bah punya pemilik sendiri yang akan membelanya”Abrahah berkata,مَا كَانَ لِيَمْتَنِعَ مِنِّي“Dia tidak akan bisa mencegahku (untuk menghancurkan ka’bah)”Abdul Muttholib kemudian berkata, أَنْتَ وَذَاكَ  “Itu urusanmu denganNya.”  (Tafsir Ibnu Katsir 8/485)Kisah pertemuan Abdul Muthhalib dengan Abrahah juga dinukil oleh Al-Hākim dalam Al-Mustadrāk dan dishahihkan oleh Al-Hākim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā, beliau berkata:أَقْبَلَ أَصْحَابُ الْفِيلِ حَتَّى إِذَا دَنَوْا مِنْ مَكَّةَ اسْتَقْبَلَهُمْ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ لِمَلِكِهِمْ: مَا جَاءَ بِكَ إِلَيْنَا مَا عَنَاكَ يَا رَبَّنَا أَلَا بَعَثْتَ فَنَأْتِيكَ بِكُلِّ شَيْءٍ أَرَدْتَ؟ ” فَقَالَ: أُخْبِرْتُ بِهَذَا الْبَيْتِ الَّذِي لَا يَدْخُلُهُ أَحَدٌ إِلَّا آمَنَ فَجِئْتُ أُخِيفُ أَهْلَهُ. فَقَالَ: إِنَّا نَأْتِيكَ بِكُلِّ شَيْءٍ تُرِيدُ فَارْجِعْ” فَأَبَى إِلَّا أَنْ يَدْخُلَهُ “Pasukan bergajah pun datang. Ketika mereka mulai mendekati Mekkah, maka datanglah ‘Abdul Muththalib, kakek Nabi ﷺ menemui pasukan tersebut. ‘Abdul Muthalib berkata kepada pemimpin mereka (yaitu Abrahah): “Untuk apa engkau datang kepada kami? Tidak cukupkah engkau mengirim utusanmu sehingga kami akan membawakan kepadamu semua yang kau inginkan?”Abrahah (dengan sombongnya –pent) berkata, “Aku dikabarkan tentang ka’bah (kota Mekah) yang tidak seorangpun memasukinya kecuali dalam keadaan aman. Maka aku datang ke mari untuk memberi ketakutan kepada penduduknya.”Abdul Muthhalib berkata, “Kami akan memberikan semua yang kau inginkan, kembalilah engkau !”. Akan tetapi Abrahah tetap bersikeras untuk masuk Mekah (menuju ka’bah).  (HR Al-Hakim dalam Al-Mustadrok no 3974)Dalam riwayat yang lain Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata;فَأَتَاهُمْ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ إِنَّ هَذَا بَيْتُ اللَّهِ لَمْ يُسَلِّطْ عَلَيْهِ أَحَدًا قَالُوا لَا نَرْجِعُ حَتَّى نَهْدِمَهُ فَكَانُوا لَا يُقَدِّمُونَ فِيلَهُمْ إِلَّا تَأَخَّرَ فَدَعَا اللَّهُ الطَّيْرَ الْأَبَابِيلَ فَأَعْطَاهَا حِجَارَةً سَوْدَاءَ فَلَمَّا حَاذَتْهُمْ رَمَتْهُمْ فَمَا بَقِيَ مِنْهُمْ أَحَدٌ إِلَّا أَخَذَتْهُ الْحَكَّةُ فَكَانَ لَا يَحُكُّ أَحَدٌ مِنْهُمْ جِلْدَهُ إِلَّا تَسَاقَطَ لَحْمُهُAbdul Muttholib mendatangi mereka dan berkata, “Sesungguhnya ini adalah rumah Allah. Allah tidak akan menyerahkannya kepada seorangpun untuk menguasai nya (menghancurkannya).” Mereka berkata, “Kami tidak akan kembali hingga kami menghancurkannya.” Maka tidaklah mereka memerintahkan gajah mereka untuk maju kecuali gajah tersebut mundur. Allah kemudian memanggil burung-burung dengan berbondong-bondong, lalu Allah memberikan batu berwarna hitam kepada burung-burung tersebut. Tatkala burung-burung itu telah sejajar dengan mereka maka burung-burung itu melemparkan batu tersebut kepada mereka. Sehingga tidak tersisa seorang pun dari mereka kecuali mengalami rasa gatal (yang luar biasa-pent). Tidaklah seorangpun dari mereka yang menggaruk kulitnya kecuali dagingnya berjatuhan.” (Disebutkan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 12/207 dan beliau menilai sanadnya hasan)Dalam riwayat yang lain dari Ikrimah, beliau berkata:أَنَّهَا كَانَتْ طَيْرًا خُضْرًا خَرَجَتْ من الْبَحْر لَهَا رُؤُوس كَرُءُوسِ السِّبَاعِ“Burung-burung tersebut berwarna hijau, muncul dari laut, kepalanya seperti kepala binatang buas.” (Disebutkan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 12/207 dan beliau menilai sanadnya shahih) Pasukan Abrahah yang terkena lemparan batu tidak semuanya tewas seketika. Sebagian mereka tewas dengan cepat, sebagian lagi kabur dalam kondisi terputus-putus dan terlepas-lepas anggota tubuhnya hingga tewas. Adapun Abrahah, dia tidak tewas seketika namun dia termasuk yang kabur melarikan diri. Allah tidak menjadikannya langsung tewas karena Allah ingin menyiksanya. Ada yang mengatakan bahwa dia tewas di negeri Khots’am. Ada pula yang berpendapat bahwa dia berhasil kembali ke Shan’a dan mati disana. Namun selama dalam perjalanan kaburnya, badannya terlepas sedikit demi sedikit dari tubuhnya sampai akhirnya di Shan’a dadanya terbelah dan jantungnya keluar, Allāh menyiksanya dan tidak langsung mematikannya. Demikianlah kisah Abrahah dengan pasukan tentara bergajahnya yang dihancurkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/486) Di tahun itu pula, lahirlah Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, sebagian menyebutkan bahwa kelahirannya sekitar 50 hari setelah tragedi pasukan bergajah. Kisah ini adalah kisah yang nyata, tidak sebagaimana klaim orang-orang Nashara yang berusaha mengingkari kisah ini. Kita dapati ada sebagian penulis dari orientalis yang mengatakan bahwa ini hanyalah dongeng yang disebutkan Allāh dalam Al-Qurān, tidak mungkin ada kisah tentara bergajah yang dihancurkan oleh burung-burung dengan cara melemparinya dengan batu. Klaim mereka dibantah oleh para ulama, bahwa kisah ini bukanlah dongeng semata. Diantara buktinya adalah peninggalan syair-syair jahiliyyah yang sebagiannya banyak menyebutkan tentang kisah pasukan bergajah ini, yang disaksikan langsung oleh mereka, dan syair-syair di zaman jahiliyyah tersebut masih ada sampai sekarang. Dan juga diantara bukti yang menunjukkan akan kebenaran kisah ini adalah sebagaimana yang sering tercantum di dalam buku-buku sejarah yang menyebutkan bahwa si fulan lahir pada tahun ke sekian sebelum tahun gajah atau setelah tahun gajah. Sehingga tahun gajah sering dijadikan sebagai istilah penanggalan. Seandainya kisah ini hanyalah dongeng belaka, maka tidak mungkin tahun gajah dijadikan sebagai suatu istilah penanggalan.Menurut orang-orang Nasrani, Abrahah tidak berniat ke Mekkah untuk menghancurkan Ka’bah atau karena hasad dengan Ka’bah. Namun dia berangkat dari Yaman dalam rangka berperang dengan bangsa Persia, dimana saat itu terjadi peperangan antara Persia dan Romawi. Dalam perjalanannya, Abrahah memutuskan mengambil jalan darat melewati Mekkah. Klaim ini juga tidak benar. Karena jika Abrahah benar-benar ingin menyerang Persia, maka dia akan mengambil jalan laut yang lebih mudah dan lebih dekat.Disebutkan pula oleh Ibnu Hisyām, dengan sanad yang hasan, ‘Āisyah menceritakan bahwa dia melihat pemimpin gajah dan pawangnya masih hidup dalam kondisi buta meminta-minta makanan di Mekah (lihat As-Shiroh An-Nabawiyah As-Shahihah 1/98). Pasukan Abrahah tidak semuanya mati, masih ada yang hidup, namun dalam keadaan buta dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.Ini menunjukkan bahwa kisah ini real dan terjadi di tahun dilahirkannya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Menurut para ulama, peristiwa tahun gajah ini sebenarnya merupakan pendahuluan akan mu’jizat yang sangat besar, yaitu lahirnya Nabi Muhammad ﷺ. Hancurnya tentara bergajah ini menjadikan bangsa Quraisy semakin mulia, karena mereka tidak perlu melakukan perlawanan sama sekali, namun Allāh lah yang membela mereka. Sebenarnya, ketika Abrahah berjalan dari Shan’a menuju ke Makkah telah banyak kabilah yang mencoba melakukan perlawanan, tetapi mereka takluk semuanya kemudian harta mereka dirampas oleh Abrahah. Namun ketika Abrahah tiba di pusat Quraisy, orang-orang Quraisy tidak melakukan perlawanan tetapi Allāh Subhānahu wa Ta’āla sendiri yang membela mereka.Demikianlah, akhirnya mulai tersebar saat itu bahwa orang-orang Quraisy adalah orang-orang mulia. Karena Tuhan Pencipta alam semesta yang langsung membela mereka sehingga mereka tidak perlu melakukan perlawanan sama sekali. Hal ini mengangkat kedudukan orang-orang Quraisy, dan diantara mereka terdapat kakeknya Nabi ﷺ, yaitu ‘Abdul Muthalib. Dengan terangkatnya kedudukan Quraisy ini, maka kedudukan Nabi ﷺ juga terangkat karena Nabi dilahirkan dari suku Quraisy. Seakan-akan Quraisy menjadi pusat segala kabilah atau kabilah induk, yang membawahi semua kabilah-kabilah saat itu. Dan Nabi dilahirkan dari kabilah induk dan bukan dari sembarang nasab, tidak seperti anggapan sebagian orang bahwa saat seseorang disepelekan atau direndahkan maka orang tersebut cenderung akan membuat pemikiran baru, atau jika berasal dari kalangan rendahan maka akan dikatakan bahwa orang ini mengaku sebagai Nabi hanya untuk mencari kekuasaan. Namun semua anggapan dan asumsi ini terpatahkan, sebab Nabi ﷺ lahir dari kabilah yang terkenal dan dimuliakan. Seandainya Nabi hanya mencari kekuasaan tentu ini adalah hal yang sangat mudah, beliau hanya tinggal mengikuti tradisi kesyirikan nenek moyangnya maka otomatis beliau akan menjadi pemimpin Quraisy. Akan tetapi justru beliau menyelisihi dan meninggalkan tradisi nenek moyangnya.Oleh karena itu, menurut para ulama, kejadian dihancurkannya tentara bergajah ini adalah dalam rangka untuk mengangkat derajat Nabi. Adapun Quraisy hanya sekedar wasilah (sarana) terangkatnya Nabi ﷺ.Manakah yang lebih buruk antara penyembah berhala atau orang-orang musyrikin Nashara? Jelas yang lebih buruk adalah penyembah berhala. Orang-orang Nashara masih disebut Ahli kitab, adapun penyembah berhala mereka lebih sesat karena menyembah berhala yang lebih banyak. Namun Allāh saat itu memenangkan para penyembah berhala musyrikin Quraisy atas orang-orang Nashara. Allāh menghancurkan orang-orang Nashara karena ada Nabi ﷺ yang akan lahir dari orang-orang Quraisy tersebut. Oleh karena itu, kejadian tersebut termasuk mu’jizat kelahiran Nabi ﷺ, yang terjadi di tahun dimana Nabi ﷺ lahir. Pamor bangsa Quraisy menjadi naik lantaran dibela langsung oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan diantara hikmahnya pula, kelak orang-orang Quraisy lah yang masuk Islam, yang membuat kabilah-kabilah dibawahnya akan turut masuk Islam. Saat Fathu Makkah, ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam hendak menaklukkan kota Mekkah, banyak kabilah-kabilah Arab yang sebelumnya tidak mau masuk Islam. Mereka berkata “Kita tunggu dulu, biar Muhammad berperang dengan orang-orang Quraisy, kalau ternyata orang-orang Quraisy yang menang maka hubungan kita masih baik, namun jika Qurasiy kalah maka kita akan masuk Islam.” Dan benar lah tatkala Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menaklukkan kota Mekkah, orang-orang Quraisy semua tunduk kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Sehingga orang-orang Arab dari kabilah yang lebih rendah secara otomatis juga ikut masuk Islam. Faidah-Faidah yang dipetik dari kisah Abrahah dan dihancurkannya tentara bergajah oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla,⑴ Sehebat dan sekuat apapun seseorang niscaya ada yang lebih hebat dan lebih kuat lagi.Abrahah dengan sombongnya membawa pasukan bergajah beserta ribuan pasukan lainnya, namun akhirnya hancur lebur dihantam pasukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang berupa burung-burung kecil yang berbondong-bondong. Telah berlalu sebagaimana yang diceritakan dalam sejarah bagaimana negara-negara adidaya yang kuat akhirnya hancur lebur. Kemana Persia sekarang? Kemana Romawi sekarang? Dahulu mereka menguasai dunia. Kemana kaum ‘Ād yang begitu sombong? Yang mana mereka mengatakan “Siapa yang lebih kuat dari kita?” tetapi mereka dihancurkan oleh Allāh. Kemana Fir’aun? Fir’aun yang begitu sombongnya, menyiksa Bani Isrāil puluhan tahun sejak lahirnya Nabi Mūsa sampai Nabi Mūsa kembali lagi berdakwah (sekitar 40 atau 50 tahun), namun akhirnya Allāh pun menghancurkannya. Kemana Qarun yang sombong dengan hartanya? Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan yang dibangun di atas kebathilan, tidak akan jaya selama-lamanya. Suatu saat Allāh akan menghancurkan mereka dengan cara-Nya, seperti orang-orang Abrahah yang dihancurkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.⑵ Kondisi orang-orang Arab sebelum Islam adalah berupa kabilah-kabilah (suku-suku) yang tercerai berai. Mereka tidak mampu berhadapan dengan Abrahah, padahal mereka berkumpul dalam satu asal bangsa yaitu Arab. Selain itu mereka juga sama-sama mengagungkan Ka’bah. Tetapi karena mereka tidak di atas suatu ikatan Aqidah maka akhirnya mereka berhasil dikalahkan.Orang-orang Arab menjadi mulia karena Islam, bukan Karena Arab-nya. Para ulama telah banyak membantah pemikiran yang disebut dengan Qaumiyyah (fanatik kebangsaan), yaitu fanatisme yang dibangun di atas sentimen golongan Arab, dengan slogan “semua harus kembali kepada Arab” atau “hanya Arab saja yang Berjaya”. Syaikh bin Bāz rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya seruan kepada fanatik kebangsaan Arab merupakan bentuk perbuatan buruk terhadap Islam dan peperangan melawan Islam, dan juga merupakan bentuk keburukan kepada Arab itu sendiri. Karena seruan ini hakikatnya ingin memisahkan antara Arab dan Islam, padahal Islam adalah puncak kejayaan Arab dan kemuliaan Arab. Islam merupakan sumber kejayaan Arab dan kepemimpinan Arab di dunia. Bagaimana bisa seorang Arab yang berakal, ridha dengan propaganda yang demikian hakekat dan tujuannya?” (lihat Naqdul Qoumiyah al-‘Arobiyah hal 58)Sesungguhnya Islam lah yang telah memuliakan Arab. Andai saja tidak ada Islam maka Arab tidak akan mulia, bahkan Arab akan menadi rendah sebagaimana yang lainnya. Tapi melalui Islam lah, Arab menjadi mulia. Sehingga siapa saja yang berpegang teguh kepada agama Islam -Arab atau selain Arab- niscaya Allāh akan memuliakannya. Jakarta, 29-01-1439 H / 19-10-2017 MAbu Abdil Muhsin Firanda Andirjawww.firanda.com
Prev     Next