MUKMIN SEJATI SENANTIASA PEDULI

MUKMIN SEJATI SENANTIASA PEDULIAbdullah ZaenSaat sakit, tentu kita membutuhkan bantuan dokter dan paramedis, sebagai bentuk ikhtiar lahiriah untuk berobat. Apa yang terjadi manakala mereka tidak ada? Atau jumlah mereka terlalu sedikit, sehingga rasionya tidak sebanding dengan jumlah masyarakat yang membutuhkan bantuan mereka. Tentu kita akan menderita dan kesusahan.Ketidakpedulian kita untuk menerapkan protokol kesehatan—yang mengakibatkan angka positif Covid-19 semakin melambung tinggi—sangat berandil untuk mengurangi jumlah dokter dan paramedis. Bahkan mungkin bisa memunahkan keberadaan mereka. Fakta berbicara bahwa hingga hari ini sudah ratusan tenaga kesehatan yang wafat, akibat terjangkiti virus tersebut.Tidakkah kita berpikir bahwa para pejuang kesehatan itu setiap hari selama berbulan-bulan berjibaku menangani pasien yang semakin hari semakin bertambah.Betapa letihnya fisik mereka!Betapa tidak nyamannya tubuh mereka, karena harus terbungkus rapat APD selama berjam-jam!Betapa ketar-ketirnya perasaan mereka, sebab mau-tidak mau harus berinteraksi intens dengan para pasien positif Covid!Bukankah mereka juga memiliki keluarga? Suami, istri, orang tua dan anak-anak yang selalu merindukan keberadaan mereka di rumah.Mereka juga manusia biasa yang memiliki batas ambang kekuatan fisik. Mereka juga manusia biasa yang memiliki perasaan khawatir, rindu dan sayang.Stop ketidakpedulian untuk mempraktekkan protokol kesehatan!Buang jauh sikap egois, ingin enak sendiri!Sungguh itu bukan karakter mukmin sejati!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Senin, 22 R. Tsani 1442 / 7 Desember 2020 Post navigation Previous Materi PDF Kajian Memuliakan Ilmu – Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MANext PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEBELAS PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1442/1443 H – 2021/2022 M Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

MUKMIN SEJATI SENANTIASA PEDULI

MUKMIN SEJATI SENANTIASA PEDULIAbdullah ZaenSaat sakit, tentu kita membutuhkan bantuan dokter dan paramedis, sebagai bentuk ikhtiar lahiriah untuk berobat. Apa yang terjadi manakala mereka tidak ada? Atau jumlah mereka terlalu sedikit, sehingga rasionya tidak sebanding dengan jumlah masyarakat yang membutuhkan bantuan mereka. Tentu kita akan menderita dan kesusahan.Ketidakpedulian kita untuk menerapkan protokol kesehatan—yang mengakibatkan angka positif Covid-19 semakin melambung tinggi—sangat berandil untuk mengurangi jumlah dokter dan paramedis. Bahkan mungkin bisa memunahkan keberadaan mereka. Fakta berbicara bahwa hingga hari ini sudah ratusan tenaga kesehatan yang wafat, akibat terjangkiti virus tersebut.Tidakkah kita berpikir bahwa para pejuang kesehatan itu setiap hari selama berbulan-bulan berjibaku menangani pasien yang semakin hari semakin bertambah.Betapa letihnya fisik mereka!Betapa tidak nyamannya tubuh mereka, karena harus terbungkus rapat APD selama berjam-jam!Betapa ketar-ketirnya perasaan mereka, sebab mau-tidak mau harus berinteraksi intens dengan para pasien positif Covid!Bukankah mereka juga memiliki keluarga? Suami, istri, orang tua dan anak-anak yang selalu merindukan keberadaan mereka di rumah.Mereka juga manusia biasa yang memiliki batas ambang kekuatan fisik. Mereka juga manusia biasa yang memiliki perasaan khawatir, rindu dan sayang.Stop ketidakpedulian untuk mempraktekkan protokol kesehatan!Buang jauh sikap egois, ingin enak sendiri!Sungguh itu bukan karakter mukmin sejati!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Senin, 22 R. Tsani 1442 / 7 Desember 2020 Post navigation Previous Materi PDF Kajian Memuliakan Ilmu – Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MANext PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEBELAS PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1442/1443 H – 2021/2022 M Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
MUKMIN SEJATI SENANTIASA PEDULIAbdullah ZaenSaat sakit, tentu kita membutuhkan bantuan dokter dan paramedis, sebagai bentuk ikhtiar lahiriah untuk berobat. Apa yang terjadi manakala mereka tidak ada? Atau jumlah mereka terlalu sedikit, sehingga rasionya tidak sebanding dengan jumlah masyarakat yang membutuhkan bantuan mereka. Tentu kita akan menderita dan kesusahan.Ketidakpedulian kita untuk menerapkan protokol kesehatan—yang mengakibatkan angka positif Covid-19 semakin melambung tinggi—sangat berandil untuk mengurangi jumlah dokter dan paramedis. Bahkan mungkin bisa memunahkan keberadaan mereka. Fakta berbicara bahwa hingga hari ini sudah ratusan tenaga kesehatan yang wafat, akibat terjangkiti virus tersebut.Tidakkah kita berpikir bahwa para pejuang kesehatan itu setiap hari selama berbulan-bulan berjibaku menangani pasien yang semakin hari semakin bertambah.Betapa letihnya fisik mereka!Betapa tidak nyamannya tubuh mereka, karena harus terbungkus rapat APD selama berjam-jam!Betapa ketar-ketirnya perasaan mereka, sebab mau-tidak mau harus berinteraksi intens dengan para pasien positif Covid!Bukankah mereka juga memiliki keluarga? Suami, istri, orang tua dan anak-anak yang selalu merindukan keberadaan mereka di rumah.Mereka juga manusia biasa yang memiliki batas ambang kekuatan fisik. Mereka juga manusia biasa yang memiliki perasaan khawatir, rindu dan sayang.Stop ketidakpedulian untuk mempraktekkan protokol kesehatan!Buang jauh sikap egois, ingin enak sendiri!Sungguh itu bukan karakter mukmin sejati!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Senin, 22 R. Tsani 1442 / 7 Desember 2020 Post navigation Previous Materi PDF Kajian Memuliakan Ilmu – Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MANext PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEBELAS PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1442/1443 H – 2021/2022 M Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


MUKMIN SEJATI SENANTIASA PEDULIAbdullah ZaenSaat sakit, tentu kita membutuhkan bantuan dokter dan paramedis, sebagai bentuk ikhtiar lahiriah untuk berobat. Apa yang terjadi manakala mereka tidak ada? Atau jumlah mereka terlalu sedikit, sehingga rasionya tidak sebanding dengan jumlah masyarakat yang membutuhkan bantuan mereka. Tentu kita akan menderita dan kesusahan.Ketidakpedulian kita untuk menerapkan protokol kesehatan—yang mengakibatkan angka positif Covid-19 semakin melambung tinggi—sangat berandil untuk mengurangi jumlah dokter dan paramedis. Bahkan mungkin bisa memunahkan keberadaan mereka. Fakta berbicara bahwa hingga hari ini sudah ratusan tenaga kesehatan yang wafat, akibat terjangkiti virus tersebut.Tidakkah kita berpikir bahwa para pejuang kesehatan itu setiap hari selama berbulan-bulan berjibaku menangani pasien yang semakin hari semakin bertambah.Betapa letihnya fisik mereka!Betapa tidak nyamannya tubuh mereka, karena harus terbungkus rapat APD selama berjam-jam!Betapa ketar-ketirnya perasaan mereka, sebab mau-tidak mau harus berinteraksi intens dengan para pasien positif Covid!Bukankah mereka juga memiliki keluarga? Suami, istri, orang tua dan anak-anak yang selalu merindukan keberadaan mereka di rumah.Mereka juga manusia biasa yang memiliki batas ambang kekuatan fisik. Mereka juga manusia biasa yang memiliki perasaan khawatir, rindu dan sayang.Stop ketidakpedulian untuk mempraktekkan protokol kesehatan!Buang jauh sikap egois, ingin enak sendiri!Sungguh itu bukan karakter mukmin sejati!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Senin, 22 R. Tsani 1442 / 7 Desember 2020 Post navigation Previous Materi PDF Kajian Memuliakan Ilmu – Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MANext PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEBELAS PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1442/1443 H – 2021/2022 M Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

SEGUDANG KARUNIA DI BULAN MULIA

SEGUDANG KARUNIA DI BULAN MULIAOleh: Abdullah Zaen, Lc., MADari hari kehari, seorang hamba seharusnya senantiasa berupaya untuk menyempurnakan keimanannya. Tidak segera merasa puas dengan pencapaian amal salihnya. Ada dua faktor penting yang akan sangat membantu kita meniti proses penyempurnaan iman. Pertama: Mengingat bahwa nikmat Allah untuk kita tak terhingga. Kedua: Merasa bahwa amalan kita masih banyak kekurangannya. Dua poin ini tersebut dalam Sayyidul Istighfar yang rutin kita baca setiap pagi dan petang:“أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي”“Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu”. HR. Bukhari.Segudang Karunia di Bulan MuliaMerenungi banyaknya karunia Allah di bulan Ramadhan, akan sangat membantu kita untuk sukses melewati bulan mulia ini. Di antara karunia tersebut:Pertama: Kita masih diberi umur oleh AllahDetik ini ratusan juta orang tidak bisa berjumpa dengan bulan Ramadhan. Sebab mereka telah berada di alam kubur. Ternyata kita masih diberi oleh Allah kesempatan untuk menjumpai bulan istimewa ini. Tentu ini adalah karunia spesial yang wajib untuk disyukuri.Sulaiman at-Taimiy rahimahullah bila membangunkan keluarganya di malam-malam Ramadhan, beliau berkata, “Ayo pada bangun! Belum tentu tahun depan kita menjumpai lagi bulan mulia ini”.Kedua: Kita dikaruniai ilmu tentang cara beribadah dengan benarAlangkah banyak orang yang belum mengetahui cara menjalankan ibadah sesuai ajaran agama. Padahal salah satu syarat mutlak diterimanya amal adalah harus sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita bersyukur kepada Allah dikaruniai ilmu tentang cara berpuasa yang benar, cara shalat yang benar, cara membaca al-Qur’an yang benar, dan lain sebagainya.Ketiga: Kita ditolong oleh Allah untuk menjalankan ibadahTidak setiap orang yang menjumpai Ramadhan, fisiknya sehat dan hatinya tergerak untuk memanfaatkan secara maksimal peluang emas ini. Betapa banyak orang yang terbaring tak berdaya di Rumah Sakit. Sejatinya tidak sedikit di antara mereka yang ingin berpuasa, namun tidak mampu.Sebaliknya amat disayangkan masih terlihat di sana-sini, orang-orang yang sehat badannya, namun tanpa malu makan-minum, bahkan merokok di siang bulan Ramadhan. Lebih parahnya mereka belum tergugah untuk menunaikan shalat lima waktu. Na’udzu billah min dzalik.Bila kita bersemangat untuk beribadah di bulan suci ini, itu semata-mata karena taufik dan pertolongan dari Allah ta’ala.Keempat: Kita diberi rizki oleh AllahTidak pantas mengeluhkan kekurangan ini dan itu di meja makan kita saat berbuka puasa atau sahur. Sebab masih banyak orang yang bahkan tidak mempunyai walau secuil makanan untuk berbuka atau sahur. Alhamdulillah kita masih bisa makan dan minum. Bahkan banyak sekali orang yang gemar berbagi takjil di mana-mana.Merenungi nikmat-nikmat di atas dan berbagai karunia Allah lainnya, akan semakin menumbuhkan perasaan cinta kita kepada Allah. Sekaligus menggerakkan lisan untuk senantiasa berdzikir dan memuji Allah.Disarikan dari kitab Muhimmât ‘Aqadiyyah fî ‘Ibâdah ash-Shiyâm, karya Prof. Dr. Shalih Sindiy (hal. 6-9).Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Ramadhan 1443 / 8 April 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 185 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-4Next Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 163 MEMAKLUMI DAN MENYAYANGI ANAK Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

SEGUDANG KARUNIA DI BULAN MULIA

SEGUDANG KARUNIA DI BULAN MULIAOleh: Abdullah Zaen, Lc., MADari hari kehari, seorang hamba seharusnya senantiasa berupaya untuk menyempurnakan keimanannya. Tidak segera merasa puas dengan pencapaian amal salihnya. Ada dua faktor penting yang akan sangat membantu kita meniti proses penyempurnaan iman. Pertama: Mengingat bahwa nikmat Allah untuk kita tak terhingga. Kedua: Merasa bahwa amalan kita masih banyak kekurangannya. Dua poin ini tersebut dalam Sayyidul Istighfar yang rutin kita baca setiap pagi dan petang:“أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي”“Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu”. HR. Bukhari.Segudang Karunia di Bulan MuliaMerenungi banyaknya karunia Allah di bulan Ramadhan, akan sangat membantu kita untuk sukses melewati bulan mulia ini. Di antara karunia tersebut:Pertama: Kita masih diberi umur oleh AllahDetik ini ratusan juta orang tidak bisa berjumpa dengan bulan Ramadhan. Sebab mereka telah berada di alam kubur. Ternyata kita masih diberi oleh Allah kesempatan untuk menjumpai bulan istimewa ini. Tentu ini adalah karunia spesial yang wajib untuk disyukuri.Sulaiman at-Taimiy rahimahullah bila membangunkan keluarganya di malam-malam Ramadhan, beliau berkata, “Ayo pada bangun! Belum tentu tahun depan kita menjumpai lagi bulan mulia ini”.Kedua: Kita dikaruniai ilmu tentang cara beribadah dengan benarAlangkah banyak orang yang belum mengetahui cara menjalankan ibadah sesuai ajaran agama. Padahal salah satu syarat mutlak diterimanya amal adalah harus sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita bersyukur kepada Allah dikaruniai ilmu tentang cara berpuasa yang benar, cara shalat yang benar, cara membaca al-Qur’an yang benar, dan lain sebagainya.Ketiga: Kita ditolong oleh Allah untuk menjalankan ibadahTidak setiap orang yang menjumpai Ramadhan, fisiknya sehat dan hatinya tergerak untuk memanfaatkan secara maksimal peluang emas ini. Betapa banyak orang yang terbaring tak berdaya di Rumah Sakit. Sejatinya tidak sedikit di antara mereka yang ingin berpuasa, namun tidak mampu.Sebaliknya amat disayangkan masih terlihat di sana-sini, orang-orang yang sehat badannya, namun tanpa malu makan-minum, bahkan merokok di siang bulan Ramadhan. Lebih parahnya mereka belum tergugah untuk menunaikan shalat lima waktu. Na’udzu billah min dzalik.Bila kita bersemangat untuk beribadah di bulan suci ini, itu semata-mata karena taufik dan pertolongan dari Allah ta’ala.Keempat: Kita diberi rizki oleh AllahTidak pantas mengeluhkan kekurangan ini dan itu di meja makan kita saat berbuka puasa atau sahur. Sebab masih banyak orang yang bahkan tidak mempunyai walau secuil makanan untuk berbuka atau sahur. Alhamdulillah kita masih bisa makan dan minum. Bahkan banyak sekali orang yang gemar berbagi takjil di mana-mana.Merenungi nikmat-nikmat di atas dan berbagai karunia Allah lainnya, akan semakin menumbuhkan perasaan cinta kita kepada Allah. Sekaligus menggerakkan lisan untuk senantiasa berdzikir dan memuji Allah.Disarikan dari kitab Muhimmât ‘Aqadiyyah fî ‘Ibâdah ash-Shiyâm, karya Prof. Dr. Shalih Sindiy (hal. 6-9).Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Ramadhan 1443 / 8 April 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 185 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-4Next Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 163 MEMAKLUMI DAN MENYAYANGI ANAK Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
SEGUDANG KARUNIA DI BULAN MULIAOleh: Abdullah Zaen, Lc., MADari hari kehari, seorang hamba seharusnya senantiasa berupaya untuk menyempurnakan keimanannya. Tidak segera merasa puas dengan pencapaian amal salihnya. Ada dua faktor penting yang akan sangat membantu kita meniti proses penyempurnaan iman. Pertama: Mengingat bahwa nikmat Allah untuk kita tak terhingga. Kedua: Merasa bahwa amalan kita masih banyak kekurangannya. Dua poin ini tersebut dalam Sayyidul Istighfar yang rutin kita baca setiap pagi dan petang:“أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي”“Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu”. HR. Bukhari.Segudang Karunia di Bulan MuliaMerenungi banyaknya karunia Allah di bulan Ramadhan, akan sangat membantu kita untuk sukses melewati bulan mulia ini. Di antara karunia tersebut:Pertama: Kita masih diberi umur oleh AllahDetik ini ratusan juta orang tidak bisa berjumpa dengan bulan Ramadhan. Sebab mereka telah berada di alam kubur. Ternyata kita masih diberi oleh Allah kesempatan untuk menjumpai bulan istimewa ini. Tentu ini adalah karunia spesial yang wajib untuk disyukuri.Sulaiman at-Taimiy rahimahullah bila membangunkan keluarganya di malam-malam Ramadhan, beliau berkata, “Ayo pada bangun! Belum tentu tahun depan kita menjumpai lagi bulan mulia ini”.Kedua: Kita dikaruniai ilmu tentang cara beribadah dengan benarAlangkah banyak orang yang belum mengetahui cara menjalankan ibadah sesuai ajaran agama. Padahal salah satu syarat mutlak diterimanya amal adalah harus sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita bersyukur kepada Allah dikaruniai ilmu tentang cara berpuasa yang benar, cara shalat yang benar, cara membaca al-Qur’an yang benar, dan lain sebagainya.Ketiga: Kita ditolong oleh Allah untuk menjalankan ibadahTidak setiap orang yang menjumpai Ramadhan, fisiknya sehat dan hatinya tergerak untuk memanfaatkan secara maksimal peluang emas ini. Betapa banyak orang yang terbaring tak berdaya di Rumah Sakit. Sejatinya tidak sedikit di antara mereka yang ingin berpuasa, namun tidak mampu.Sebaliknya amat disayangkan masih terlihat di sana-sini, orang-orang yang sehat badannya, namun tanpa malu makan-minum, bahkan merokok di siang bulan Ramadhan. Lebih parahnya mereka belum tergugah untuk menunaikan shalat lima waktu. Na’udzu billah min dzalik.Bila kita bersemangat untuk beribadah di bulan suci ini, itu semata-mata karena taufik dan pertolongan dari Allah ta’ala.Keempat: Kita diberi rizki oleh AllahTidak pantas mengeluhkan kekurangan ini dan itu di meja makan kita saat berbuka puasa atau sahur. Sebab masih banyak orang yang bahkan tidak mempunyai walau secuil makanan untuk berbuka atau sahur. Alhamdulillah kita masih bisa makan dan minum. Bahkan banyak sekali orang yang gemar berbagi takjil di mana-mana.Merenungi nikmat-nikmat di atas dan berbagai karunia Allah lainnya, akan semakin menumbuhkan perasaan cinta kita kepada Allah. Sekaligus menggerakkan lisan untuk senantiasa berdzikir dan memuji Allah.Disarikan dari kitab Muhimmât ‘Aqadiyyah fî ‘Ibâdah ash-Shiyâm, karya Prof. Dr. Shalih Sindiy (hal. 6-9).Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Ramadhan 1443 / 8 April 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 185 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-4Next Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 163 MEMAKLUMI DAN MENYAYANGI ANAK Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


SEGUDANG KARUNIA DI BULAN MULIAOleh: Abdullah Zaen, Lc., MADari hari kehari, seorang hamba seharusnya senantiasa berupaya untuk menyempurnakan keimanannya. Tidak segera merasa puas dengan pencapaian amal salihnya. Ada dua faktor penting yang akan sangat membantu kita meniti proses penyempurnaan iman. Pertama: Mengingat bahwa nikmat Allah untuk kita tak terhingga. Kedua: Merasa bahwa amalan kita masih banyak kekurangannya. Dua poin ini tersebut dalam Sayyidul Istighfar yang rutin kita baca setiap pagi dan petang:“أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي”“Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu”. HR. Bukhari.Segudang Karunia di Bulan MuliaMerenungi banyaknya karunia Allah di bulan Ramadhan, akan sangat membantu kita untuk sukses melewati bulan mulia ini. Di antara karunia tersebut:Pertama: Kita masih diberi umur oleh AllahDetik ini ratusan juta orang tidak bisa berjumpa dengan bulan Ramadhan. Sebab mereka telah berada di alam kubur. Ternyata kita masih diberi oleh Allah kesempatan untuk menjumpai bulan istimewa ini. Tentu ini adalah karunia spesial yang wajib untuk disyukuri.Sulaiman at-Taimiy rahimahullah bila membangunkan keluarganya di malam-malam Ramadhan, beliau berkata, “Ayo pada bangun! Belum tentu tahun depan kita menjumpai lagi bulan mulia ini”.Kedua: Kita dikaruniai ilmu tentang cara beribadah dengan benarAlangkah banyak orang yang belum mengetahui cara menjalankan ibadah sesuai ajaran agama. Padahal salah satu syarat mutlak diterimanya amal adalah harus sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita bersyukur kepada Allah dikaruniai ilmu tentang cara berpuasa yang benar, cara shalat yang benar, cara membaca al-Qur’an yang benar, dan lain sebagainya.Ketiga: Kita ditolong oleh Allah untuk menjalankan ibadahTidak setiap orang yang menjumpai Ramadhan, fisiknya sehat dan hatinya tergerak untuk memanfaatkan secara maksimal peluang emas ini. Betapa banyak orang yang terbaring tak berdaya di Rumah Sakit. Sejatinya tidak sedikit di antara mereka yang ingin berpuasa, namun tidak mampu.Sebaliknya amat disayangkan masih terlihat di sana-sini, orang-orang yang sehat badannya, namun tanpa malu makan-minum, bahkan merokok di siang bulan Ramadhan. Lebih parahnya mereka belum tergugah untuk menunaikan shalat lima waktu. Na’udzu billah min dzalik.Bila kita bersemangat untuk beribadah di bulan suci ini, itu semata-mata karena taufik dan pertolongan dari Allah ta’ala.Keempat: Kita diberi rizki oleh AllahTidak pantas mengeluhkan kekurangan ini dan itu di meja makan kita saat berbuka puasa atau sahur. Sebab masih banyak orang yang bahkan tidak mempunyai walau secuil makanan untuk berbuka atau sahur. Alhamdulillah kita masih bisa makan dan minum. Bahkan banyak sekali orang yang gemar berbagi takjil di mana-mana.Merenungi nikmat-nikmat di atas dan berbagai karunia Allah lainnya, akan semakin menumbuhkan perasaan cinta kita kepada Allah. Sekaligus menggerakkan lisan untuk senantiasa berdzikir dan memuji Allah.Disarikan dari kitab Muhimmât ‘Aqadiyyah fî ‘Ibâdah ash-Shiyâm, karya Prof. Dr. Shalih Sindiy (hal. 6-9).Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Ramadhan 1443 / 8 April 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 185 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-4Next Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 163 MEMAKLUMI DAN MENYAYANGI ANAK Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

MENGHADAPI TAKDIR DENGAN TAKDIR

MENGHADAPI TAKDIR DENGAN TAKDIR Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MATerjadinya wabah covid-19 telah ditakdirkan Allah ta’ala, jauh sebelum adanya alam semesta. Itulah keyakinan yang musti dimiliki setiap muslim. Sebagai konsekwensi kepercayaannya terhadap rukun iman keenam.Tentu di balik seluruh takdir Allah pasti ada hikmah kebaikannya. Sebab Allah adalah al-Hakim. Yang Maha Bijaksana. InsyaAllah di lain kesempatan, penulis akan berupaya mengulas sebagian hikmah tersebut.Jadi, kita wajib meyakini bahwa wabah covid-19 adalah takdir Allah. Namun keyakinan tersebut tidak lantas membuat kita pasrah dan duduk berpangku tangan. Tidak ngapa-ngapain.Justru sikap yang benar adalah kita harus berupaya menghadapi takdir ini dengan takdir Allah yang lainnya. Yaitu doa! Ya, kita harus berdoa. Yang menakdirkan hamba untuk berdoa, adalah Allah. Sehingga ketika terjadi musibah, lantas kita berdoa, sejatinya kita sedang menghadapi takdir dengan takdir.Dahsyatnya Kekuatan DoaEsok ada beberapa kemungkinan kelanjutan wabah ini. Bisa jadi akan semakin parah. Na’udzu billah min dzalik. Atau bisa jadi akan segera berakhir. Dan inilah yang kita harapkan. Dari dua kemungkinan itu, hanya Allah yang tahu, mana yang bakal terjadi.Pun demikian, kita tetap harus berupaya untuk berdoa meminta keselamatan.Apakah doa efektif? Tentu! Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لاَ يَرُدُّ القَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ“Tidak ada hal yang bisa menolak takdir, kecuali doa”. HR. Tirmidziy dan beliau menyatakan hadits ini hasan gharib.Doa sangat efektif untuk mencegah sesuatu yang belum terjadi. Maupun untuk menangani sesuatu yang telah terjadi.Doa bisa menghindarkan seseorang dari terpapar virus covid-19. Juga bisa menyembuhkan orang yang telah positif mengidap penyakit tersebut.Bukankah virus super kecil itu adalah makhluk ciptaan Allah? Yang tentu berada di bawah kendali-Nya. Apapun yang dikehendaki-Nya pasti terjadi. Begitu pula sebaliknya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ، فَعَلَيْكُمْ بِالدُّعَاءِ عِبَادَ اللَّهِ.“Doa itu bermanfaat untuk menangani sesuatu yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi. Wahai para hamba Allah, berdoalah!”. HR. Ahmad. Isnad hadits ini dinilai sahih oleh al-Hakim.Berdoa Yuk!Ikuti arahan para ahli untuk melakukan hal-hal yang bersifat upaya preventif. Rajin cuci tangan menggunakan sabun. Berusaha banyak tinggal di rumah. Mengenakan masker saat harus keluar rumah. Melakukan social distancing. Serta tips-tips lainnya.Namun ingat, upaya lahiriah saja tidak cukup! Sebab virus itu tidak terlihat mata telanjang. Bisa menembus batas-batas yang tidak kita prediksikan.Maka solusi jitunya adalah iringi upaya lahiriah dengan menggencarkan doa. Bukankah di redaksi dzikir pagi-petang banyak doa permohonan keselamatan? Nunggu apa lagi? Ayo rutinkan!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Selasa, 29 Rajab 1441 / 24 Maret 2020 Post navigation Previous PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEPULUH PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1441/1442 H – 2020/2021 MNext MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

MENGHADAPI TAKDIR DENGAN TAKDIR

MENGHADAPI TAKDIR DENGAN TAKDIR Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MATerjadinya wabah covid-19 telah ditakdirkan Allah ta’ala, jauh sebelum adanya alam semesta. Itulah keyakinan yang musti dimiliki setiap muslim. Sebagai konsekwensi kepercayaannya terhadap rukun iman keenam.Tentu di balik seluruh takdir Allah pasti ada hikmah kebaikannya. Sebab Allah adalah al-Hakim. Yang Maha Bijaksana. InsyaAllah di lain kesempatan, penulis akan berupaya mengulas sebagian hikmah tersebut.Jadi, kita wajib meyakini bahwa wabah covid-19 adalah takdir Allah. Namun keyakinan tersebut tidak lantas membuat kita pasrah dan duduk berpangku tangan. Tidak ngapa-ngapain.Justru sikap yang benar adalah kita harus berupaya menghadapi takdir ini dengan takdir Allah yang lainnya. Yaitu doa! Ya, kita harus berdoa. Yang menakdirkan hamba untuk berdoa, adalah Allah. Sehingga ketika terjadi musibah, lantas kita berdoa, sejatinya kita sedang menghadapi takdir dengan takdir.Dahsyatnya Kekuatan DoaEsok ada beberapa kemungkinan kelanjutan wabah ini. Bisa jadi akan semakin parah. Na’udzu billah min dzalik. Atau bisa jadi akan segera berakhir. Dan inilah yang kita harapkan. Dari dua kemungkinan itu, hanya Allah yang tahu, mana yang bakal terjadi.Pun demikian, kita tetap harus berupaya untuk berdoa meminta keselamatan.Apakah doa efektif? Tentu! Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لاَ يَرُدُّ القَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ“Tidak ada hal yang bisa menolak takdir, kecuali doa”. HR. Tirmidziy dan beliau menyatakan hadits ini hasan gharib.Doa sangat efektif untuk mencegah sesuatu yang belum terjadi. Maupun untuk menangani sesuatu yang telah terjadi.Doa bisa menghindarkan seseorang dari terpapar virus covid-19. Juga bisa menyembuhkan orang yang telah positif mengidap penyakit tersebut.Bukankah virus super kecil itu adalah makhluk ciptaan Allah? Yang tentu berada di bawah kendali-Nya. Apapun yang dikehendaki-Nya pasti terjadi. Begitu pula sebaliknya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ، فَعَلَيْكُمْ بِالدُّعَاءِ عِبَادَ اللَّهِ.“Doa itu bermanfaat untuk menangani sesuatu yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi. Wahai para hamba Allah, berdoalah!”. HR. Ahmad. Isnad hadits ini dinilai sahih oleh al-Hakim.Berdoa Yuk!Ikuti arahan para ahli untuk melakukan hal-hal yang bersifat upaya preventif. Rajin cuci tangan menggunakan sabun. Berusaha banyak tinggal di rumah. Mengenakan masker saat harus keluar rumah. Melakukan social distancing. Serta tips-tips lainnya.Namun ingat, upaya lahiriah saja tidak cukup! Sebab virus itu tidak terlihat mata telanjang. Bisa menembus batas-batas yang tidak kita prediksikan.Maka solusi jitunya adalah iringi upaya lahiriah dengan menggencarkan doa. Bukankah di redaksi dzikir pagi-petang banyak doa permohonan keselamatan? Nunggu apa lagi? Ayo rutinkan!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Selasa, 29 Rajab 1441 / 24 Maret 2020 Post navigation Previous PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEPULUH PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1441/1442 H – 2020/2021 MNext MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
MENGHADAPI TAKDIR DENGAN TAKDIR Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MATerjadinya wabah covid-19 telah ditakdirkan Allah ta’ala, jauh sebelum adanya alam semesta. Itulah keyakinan yang musti dimiliki setiap muslim. Sebagai konsekwensi kepercayaannya terhadap rukun iman keenam.Tentu di balik seluruh takdir Allah pasti ada hikmah kebaikannya. Sebab Allah adalah al-Hakim. Yang Maha Bijaksana. InsyaAllah di lain kesempatan, penulis akan berupaya mengulas sebagian hikmah tersebut.Jadi, kita wajib meyakini bahwa wabah covid-19 adalah takdir Allah. Namun keyakinan tersebut tidak lantas membuat kita pasrah dan duduk berpangku tangan. Tidak ngapa-ngapain.Justru sikap yang benar adalah kita harus berupaya menghadapi takdir ini dengan takdir Allah yang lainnya. Yaitu doa! Ya, kita harus berdoa. Yang menakdirkan hamba untuk berdoa, adalah Allah. Sehingga ketika terjadi musibah, lantas kita berdoa, sejatinya kita sedang menghadapi takdir dengan takdir.Dahsyatnya Kekuatan DoaEsok ada beberapa kemungkinan kelanjutan wabah ini. Bisa jadi akan semakin parah. Na’udzu billah min dzalik. Atau bisa jadi akan segera berakhir. Dan inilah yang kita harapkan. Dari dua kemungkinan itu, hanya Allah yang tahu, mana yang bakal terjadi.Pun demikian, kita tetap harus berupaya untuk berdoa meminta keselamatan.Apakah doa efektif? Tentu! Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لاَ يَرُدُّ القَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ“Tidak ada hal yang bisa menolak takdir, kecuali doa”. HR. Tirmidziy dan beliau menyatakan hadits ini hasan gharib.Doa sangat efektif untuk mencegah sesuatu yang belum terjadi. Maupun untuk menangani sesuatu yang telah terjadi.Doa bisa menghindarkan seseorang dari terpapar virus covid-19. Juga bisa menyembuhkan orang yang telah positif mengidap penyakit tersebut.Bukankah virus super kecil itu adalah makhluk ciptaan Allah? Yang tentu berada di bawah kendali-Nya. Apapun yang dikehendaki-Nya pasti terjadi. Begitu pula sebaliknya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ، فَعَلَيْكُمْ بِالدُّعَاءِ عِبَادَ اللَّهِ.“Doa itu bermanfaat untuk menangani sesuatu yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi. Wahai para hamba Allah, berdoalah!”. HR. Ahmad. Isnad hadits ini dinilai sahih oleh al-Hakim.Berdoa Yuk!Ikuti arahan para ahli untuk melakukan hal-hal yang bersifat upaya preventif. Rajin cuci tangan menggunakan sabun. Berusaha banyak tinggal di rumah. Mengenakan masker saat harus keluar rumah. Melakukan social distancing. Serta tips-tips lainnya.Namun ingat, upaya lahiriah saja tidak cukup! Sebab virus itu tidak terlihat mata telanjang. Bisa menembus batas-batas yang tidak kita prediksikan.Maka solusi jitunya adalah iringi upaya lahiriah dengan menggencarkan doa. Bukankah di redaksi dzikir pagi-petang banyak doa permohonan keselamatan? Nunggu apa lagi? Ayo rutinkan!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Selasa, 29 Rajab 1441 / 24 Maret 2020 Post navigation Previous PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEPULUH PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1441/1442 H – 2020/2021 MNext MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


MENGHADAPI TAKDIR DENGAN TAKDIR Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MATerjadinya wabah covid-19 telah ditakdirkan Allah ta’ala, jauh sebelum adanya alam semesta. Itulah keyakinan yang musti dimiliki setiap muslim. Sebagai konsekwensi kepercayaannya terhadap rukun iman keenam.Tentu di balik seluruh takdir Allah pasti ada hikmah kebaikannya. Sebab Allah adalah al-Hakim. Yang Maha Bijaksana. InsyaAllah di lain kesempatan, penulis akan berupaya mengulas sebagian hikmah tersebut.Jadi, kita wajib meyakini bahwa wabah covid-19 adalah takdir Allah. Namun keyakinan tersebut tidak lantas membuat kita pasrah dan duduk berpangku tangan. Tidak ngapa-ngapain.Justru sikap yang benar adalah kita harus berupaya menghadapi takdir ini dengan takdir Allah yang lainnya. Yaitu doa! Ya, kita harus berdoa. Yang menakdirkan hamba untuk berdoa, adalah Allah. Sehingga ketika terjadi musibah, lantas kita berdoa, sejatinya kita sedang menghadapi takdir dengan takdir.Dahsyatnya Kekuatan DoaEsok ada beberapa kemungkinan kelanjutan wabah ini. Bisa jadi akan semakin parah. Na’udzu billah min dzalik. Atau bisa jadi akan segera berakhir. Dan inilah yang kita harapkan. Dari dua kemungkinan itu, hanya Allah yang tahu, mana yang bakal terjadi.Pun demikian, kita tetap harus berupaya untuk berdoa meminta keselamatan.Apakah doa efektif? Tentu! Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لاَ يَرُدُّ القَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ“Tidak ada hal yang bisa menolak takdir, kecuali doa”. HR. Tirmidziy dan beliau menyatakan hadits ini hasan gharib.Doa sangat efektif untuk mencegah sesuatu yang belum terjadi. Maupun untuk menangani sesuatu yang telah terjadi.Doa bisa menghindarkan seseorang dari terpapar virus covid-19. Juga bisa menyembuhkan orang yang telah positif mengidap penyakit tersebut.Bukankah virus super kecil itu adalah makhluk ciptaan Allah? Yang tentu berada di bawah kendali-Nya. Apapun yang dikehendaki-Nya pasti terjadi. Begitu pula sebaliknya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ، فَعَلَيْكُمْ بِالدُّعَاءِ عِبَادَ اللَّهِ.“Doa itu bermanfaat untuk menangani sesuatu yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi. Wahai para hamba Allah, berdoalah!”. HR. Ahmad. Isnad hadits ini dinilai sahih oleh al-Hakim.Berdoa Yuk!Ikuti arahan para ahli untuk melakukan hal-hal yang bersifat upaya preventif. Rajin cuci tangan menggunakan sabun. Berusaha banyak tinggal di rumah. Mengenakan masker saat harus keluar rumah. Melakukan social distancing. Serta tips-tips lainnya.Namun ingat, upaya lahiriah saja tidak cukup! Sebab virus itu tidak terlihat mata telanjang. Bisa menembus batas-batas yang tidak kita prediksikan.Maka solusi jitunya adalah iringi upaya lahiriah dengan menggencarkan doa. Bukankah di redaksi dzikir pagi-petang banyak doa permohonan keselamatan? Nunggu apa lagi? Ayo rutinkan!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Selasa, 29 Rajab 1441 / 24 Maret 2020 Post navigation Previous PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEPULUH PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1441/1442 H – 2020/2021 MNext MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19? Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19?

MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19? Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKewaspadaan berbeda dengan kepanikan. Sikap waspada dibangun di atas dasar ilmu yang jelas. Adapun kepanikan biasanya hanya berlandaskan rumor yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.Mewaspadai penularan virus Covid-19 adalah sebuah keharusan. Sebab wabah tersebut memang amat membahayakan. Namun kewaspadaan itu tidak boleh kebablasan. Hingga menyeret kepada sikap panik berlebihan.Contohnya: adalah menolak jenazah pasien Covid-19.Fenomena yang terjadi di berbagai daerah ini, tidak bisa dibenarkan dari aspek manapun. Aspek sosial, kesehatan maupun agama.Pertama: Aspek SosialDalam kondisi wabah seperti ini, semestinya kepedulian antar masyarakat justru dihidupkan. Kita harus saling peduli, bahu membahu dan bantu membantu.Para penderita Covid-19 adalah korban yang sepatutnya mendapatkan empati. Bukan malah dikucilkan, dibenci atau disakiti.Saat mereka mengalami intimidasi sedemikian rupa, justru akan merugikan kita bersama.Sebab dapat membuat orang yang mengalami gejala, merasa khawatir untuk melapor dan memeriksakan diri. Ini sangat berbahaya. Mengakibatkan virus tidak terdeteksi. Sehingga menyulitkan untuk memutus rantai penyebarannya. Berpeluang besar untuk menularkan virus tersebut kepada orang-orang di sekelilingnya. Tanpa disadari.Apalagi bila penderita itu adalah tenaga medis dan para medis. Mereka adalah pahlawan kita saat ini. Mereka rela mempertaruhkan nyawa demi merawat para korban.Pantaskah orang-orang yang telah berjasa besar, justru dikucilkan masyarakat, diusir dari kontrakan atau ditolak jenazahnya?Bukankah itu adalah sikap membalas air susu dengan air tuba? Di mana hati nurani kita?Kedua: Aspek KesehatanBanyak penolakan terjadi, dikarekan rumor yang berkembang, bahwa jenazah bisa menularkan virus. Sehingga membahayakan lingkungan sekitar.Padahal para pakar kesehatan telah meluruskan pemahaman keliru tersebut.dr. Edi Suyanto SpF, SH, MH, Kepala Departemen Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSU dr. Soetomo Surabaya mengatakan,“Secara ilmiah ilmu kedokteran, korban atau jenazah kemungkinan menularnya sudah tidak ada. Apalagi virus corona. Dia (virus corona) harus hidup pada inangnya. Inangnya sudah mati, virusnya juga ikut mati. Sama dengan HIV/AIDS sama H5N1 (Flu Burung) “.Hermawan Saputra, anggota Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menambahkan, “Corona ditularkan melalui batuk dan bersin. Kira-kira kalau orang meninggal apa bisa batuk dan bersin?”.Lantas bagaimana dengan cairan yang mungkin keluar dari jenazah?Potensi penularan dari cairan tersebut, telah diantisipasi dengan protokol yang ketat.Jenazah akan dibungkus plastik, lalu dikafani, kemudian dibungkus plastik lagi. Setelah itu dimasukkan ke dalam kantong jenazah. Lalu dimasukkan ke dalam peti yang tidak tembus air. Di setiap lapisan tadi dilakukan dekontaminasi. Terakhir jenazah sesegera mungkin dimakamkan. Di lokasi yang tidak dekat dengan sumber mata air.Setelah berbagai prosedur cermat di atas, apalagi yang dikhawatirkan?Alhamdulillah, hingga kini tidak ada laporan dari negara mana pun di seluruh dunia mengenai kasus penularan virus Corona melalui jenazah.Ketiga: Aspek AgamaDalam Islam, hukum memakamkan jenazah adalah fardhu kifayah. Demikian ijma’ para ulama. Bila tidak dilakukan, akibatnya semua orang bakal memikul dosanya.Saking pentingnya hal ini, agama kita memberi aturan agar menyegerakan perawatan, pengantaran dan pemakaman jenazah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَسْرِعُوا بِالْجَنَازَةِ“Segerakanlah (penanganan) jenazah”. HR. Bukhari dan Muslim.Manakala ada penolakan jenazah, itu akan berakibat tertundanya pemakaman. Bahkan di suatu wilayah, karena ditolak di mana-mana, jenazah sempat tertahan hingga dua hari!Sudah matikah naluri kemanusiaan?Keimanan seseorang tidak dianggap sempurna, kecuali manakala ia mencintai saudaranya, seperti ia mencintai dirinya sendiri.Bila jenazah yang terkatung-katung tadi adalah orang tua kita, bagaimana gerangan perasaan kita?Ingat, balasan yang akan didapatkan seseorang, adalah sesuai dengan perbuatan yang ia lakukan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 16 Sya’ban 1441 / 10 April 2020 Post navigation Previous MENGHADAPI TAKDIR DENGAN TAKDIRNext SERIUS MEMINTA MAAF Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19?

MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19? Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKewaspadaan berbeda dengan kepanikan. Sikap waspada dibangun di atas dasar ilmu yang jelas. Adapun kepanikan biasanya hanya berlandaskan rumor yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.Mewaspadai penularan virus Covid-19 adalah sebuah keharusan. Sebab wabah tersebut memang amat membahayakan. Namun kewaspadaan itu tidak boleh kebablasan. Hingga menyeret kepada sikap panik berlebihan.Contohnya: adalah menolak jenazah pasien Covid-19.Fenomena yang terjadi di berbagai daerah ini, tidak bisa dibenarkan dari aspek manapun. Aspek sosial, kesehatan maupun agama.Pertama: Aspek SosialDalam kondisi wabah seperti ini, semestinya kepedulian antar masyarakat justru dihidupkan. Kita harus saling peduli, bahu membahu dan bantu membantu.Para penderita Covid-19 adalah korban yang sepatutnya mendapatkan empati. Bukan malah dikucilkan, dibenci atau disakiti.Saat mereka mengalami intimidasi sedemikian rupa, justru akan merugikan kita bersama.Sebab dapat membuat orang yang mengalami gejala, merasa khawatir untuk melapor dan memeriksakan diri. Ini sangat berbahaya. Mengakibatkan virus tidak terdeteksi. Sehingga menyulitkan untuk memutus rantai penyebarannya. Berpeluang besar untuk menularkan virus tersebut kepada orang-orang di sekelilingnya. Tanpa disadari.Apalagi bila penderita itu adalah tenaga medis dan para medis. Mereka adalah pahlawan kita saat ini. Mereka rela mempertaruhkan nyawa demi merawat para korban.Pantaskah orang-orang yang telah berjasa besar, justru dikucilkan masyarakat, diusir dari kontrakan atau ditolak jenazahnya?Bukankah itu adalah sikap membalas air susu dengan air tuba? Di mana hati nurani kita?Kedua: Aspek KesehatanBanyak penolakan terjadi, dikarekan rumor yang berkembang, bahwa jenazah bisa menularkan virus. Sehingga membahayakan lingkungan sekitar.Padahal para pakar kesehatan telah meluruskan pemahaman keliru tersebut.dr. Edi Suyanto SpF, SH, MH, Kepala Departemen Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSU dr. Soetomo Surabaya mengatakan,“Secara ilmiah ilmu kedokteran, korban atau jenazah kemungkinan menularnya sudah tidak ada. Apalagi virus corona. Dia (virus corona) harus hidup pada inangnya. Inangnya sudah mati, virusnya juga ikut mati. Sama dengan HIV/AIDS sama H5N1 (Flu Burung) “.Hermawan Saputra, anggota Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menambahkan, “Corona ditularkan melalui batuk dan bersin. Kira-kira kalau orang meninggal apa bisa batuk dan bersin?”.Lantas bagaimana dengan cairan yang mungkin keluar dari jenazah?Potensi penularan dari cairan tersebut, telah diantisipasi dengan protokol yang ketat.Jenazah akan dibungkus plastik, lalu dikafani, kemudian dibungkus plastik lagi. Setelah itu dimasukkan ke dalam kantong jenazah. Lalu dimasukkan ke dalam peti yang tidak tembus air. Di setiap lapisan tadi dilakukan dekontaminasi. Terakhir jenazah sesegera mungkin dimakamkan. Di lokasi yang tidak dekat dengan sumber mata air.Setelah berbagai prosedur cermat di atas, apalagi yang dikhawatirkan?Alhamdulillah, hingga kini tidak ada laporan dari negara mana pun di seluruh dunia mengenai kasus penularan virus Corona melalui jenazah.Ketiga: Aspek AgamaDalam Islam, hukum memakamkan jenazah adalah fardhu kifayah. Demikian ijma’ para ulama. Bila tidak dilakukan, akibatnya semua orang bakal memikul dosanya.Saking pentingnya hal ini, agama kita memberi aturan agar menyegerakan perawatan, pengantaran dan pemakaman jenazah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَسْرِعُوا بِالْجَنَازَةِ“Segerakanlah (penanganan) jenazah”. HR. Bukhari dan Muslim.Manakala ada penolakan jenazah, itu akan berakibat tertundanya pemakaman. Bahkan di suatu wilayah, karena ditolak di mana-mana, jenazah sempat tertahan hingga dua hari!Sudah matikah naluri kemanusiaan?Keimanan seseorang tidak dianggap sempurna, kecuali manakala ia mencintai saudaranya, seperti ia mencintai dirinya sendiri.Bila jenazah yang terkatung-katung tadi adalah orang tua kita, bagaimana gerangan perasaan kita?Ingat, balasan yang akan didapatkan seseorang, adalah sesuai dengan perbuatan yang ia lakukan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 16 Sya’ban 1441 / 10 April 2020 Post navigation Previous MENGHADAPI TAKDIR DENGAN TAKDIRNext SERIUS MEMINTA MAAF Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19? Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKewaspadaan berbeda dengan kepanikan. Sikap waspada dibangun di atas dasar ilmu yang jelas. Adapun kepanikan biasanya hanya berlandaskan rumor yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.Mewaspadai penularan virus Covid-19 adalah sebuah keharusan. Sebab wabah tersebut memang amat membahayakan. Namun kewaspadaan itu tidak boleh kebablasan. Hingga menyeret kepada sikap panik berlebihan.Contohnya: adalah menolak jenazah pasien Covid-19.Fenomena yang terjadi di berbagai daerah ini, tidak bisa dibenarkan dari aspek manapun. Aspek sosial, kesehatan maupun agama.Pertama: Aspek SosialDalam kondisi wabah seperti ini, semestinya kepedulian antar masyarakat justru dihidupkan. Kita harus saling peduli, bahu membahu dan bantu membantu.Para penderita Covid-19 adalah korban yang sepatutnya mendapatkan empati. Bukan malah dikucilkan, dibenci atau disakiti.Saat mereka mengalami intimidasi sedemikian rupa, justru akan merugikan kita bersama.Sebab dapat membuat orang yang mengalami gejala, merasa khawatir untuk melapor dan memeriksakan diri. Ini sangat berbahaya. Mengakibatkan virus tidak terdeteksi. Sehingga menyulitkan untuk memutus rantai penyebarannya. Berpeluang besar untuk menularkan virus tersebut kepada orang-orang di sekelilingnya. Tanpa disadari.Apalagi bila penderita itu adalah tenaga medis dan para medis. Mereka adalah pahlawan kita saat ini. Mereka rela mempertaruhkan nyawa demi merawat para korban.Pantaskah orang-orang yang telah berjasa besar, justru dikucilkan masyarakat, diusir dari kontrakan atau ditolak jenazahnya?Bukankah itu adalah sikap membalas air susu dengan air tuba? Di mana hati nurani kita?Kedua: Aspek KesehatanBanyak penolakan terjadi, dikarekan rumor yang berkembang, bahwa jenazah bisa menularkan virus. Sehingga membahayakan lingkungan sekitar.Padahal para pakar kesehatan telah meluruskan pemahaman keliru tersebut.dr. Edi Suyanto SpF, SH, MH, Kepala Departemen Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSU dr. Soetomo Surabaya mengatakan,“Secara ilmiah ilmu kedokteran, korban atau jenazah kemungkinan menularnya sudah tidak ada. Apalagi virus corona. Dia (virus corona) harus hidup pada inangnya. Inangnya sudah mati, virusnya juga ikut mati. Sama dengan HIV/AIDS sama H5N1 (Flu Burung) “.Hermawan Saputra, anggota Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menambahkan, “Corona ditularkan melalui batuk dan bersin. Kira-kira kalau orang meninggal apa bisa batuk dan bersin?”.Lantas bagaimana dengan cairan yang mungkin keluar dari jenazah?Potensi penularan dari cairan tersebut, telah diantisipasi dengan protokol yang ketat.Jenazah akan dibungkus plastik, lalu dikafani, kemudian dibungkus plastik lagi. Setelah itu dimasukkan ke dalam kantong jenazah. Lalu dimasukkan ke dalam peti yang tidak tembus air. Di setiap lapisan tadi dilakukan dekontaminasi. Terakhir jenazah sesegera mungkin dimakamkan. Di lokasi yang tidak dekat dengan sumber mata air.Setelah berbagai prosedur cermat di atas, apalagi yang dikhawatirkan?Alhamdulillah, hingga kini tidak ada laporan dari negara mana pun di seluruh dunia mengenai kasus penularan virus Corona melalui jenazah.Ketiga: Aspek AgamaDalam Islam, hukum memakamkan jenazah adalah fardhu kifayah. Demikian ijma’ para ulama. Bila tidak dilakukan, akibatnya semua orang bakal memikul dosanya.Saking pentingnya hal ini, agama kita memberi aturan agar menyegerakan perawatan, pengantaran dan pemakaman jenazah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَسْرِعُوا بِالْجَنَازَةِ“Segerakanlah (penanganan) jenazah”. HR. Bukhari dan Muslim.Manakala ada penolakan jenazah, itu akan berakibat tertundanya pemakaman. Bahkan di suatu wilayah, karena ditolak di mana-mana, jenazah sempat tertahan hingga dua hari!Sudah matikah naluri kemanusiaan?Keimanan seseorang tidak dianggap sempurna, kecuali manakala ia mencintai saudaranya, seperti ia mencintai dirinya sendiri.Bila jenazah yang terkatung-katung tadi adalah orang tua kita, bagaimana gerangan perasaan kita?Ingat, balasan yang akan didapatkan seseorang, adalah sesuai dengan perbuatan yang ia lakukan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 16 Sya’ban 1441 / 10 April 2020 Post navigation Previous MENGHADAPI TAKDIR DENGAN TAKDIRNext SERIUS MEMINTA MAAF Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19? Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MAKewaspadaan berbeda dengan kepanikan. Sikap waspada dibangun di atas dasar ilmu yang jelas. Adapun kepanikan biasanya hanya berlandaskan rumor yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.Mewaspadai penularan virus Covid-19 adalah sebuah keharusan. Sebab wabah tersebut memang amat membahayakan. Namun kewaspadaan itu tidak boleh kebablasan. Hingga menyeret kepada sikap panik berlebihan.Contohnya: adalah menolak jenazah pasien Covid-19.Fenomena yang terjadi di berbagai daerah ini, tidak bisa dibenarkan dari aspek manapun. Aspek sosial, kesehatan maupun agama.Pertama: Aspek SosialDalam kondisi wabah seperti ini, semestinya kepedulian antar masyarakat justru dihidupkan. Kita harus saling peduli, bahu membahu dan bantu membantu.Para penderita Covid-19 adalah korban yang sepatutnya mendapatkan empati. Bukan malah dikucilkan, dibenci atau disakiti.Saat mereka mengalami intimidasi sedemikian rupa, justru akan merugikan kita bersama.Sebab dapat membuat orang yang mengalami gejala, merasa khawatir untuk melapor dan memeriksakan diri. Ini sangat berbahaya. Mengakibatkan virus tidak terdeteksi. Sehingga menyulitkan untuk memutus rantai penyebarannya. Berpeluang besar untuk menularkan virus tersebut kepada orang-orang di sekelilingnya. Tanpa disadari.Apalagi bila penderita itu adalah tenaga medis dan para medis. Mereka adalah pahlawan kita saat ini. Mereka rela mempertaruhkan nyawa demi merawat para korban.Pantaskah orang-orang yang telah berjasa besar, justru dikucilkan masyarakat, diusir dari kontrakan atau ditolak jenazahnya?Bukankah itu adalah sikap membalas air susu dengan air tuba? Di mana hati nurani kita?Kedua: Aspek KesehatanBanyak penolakan terjadi, dikarekan rumor yang berkembang, bahwa jenazah bisa menularkan virus. Sehingga membahayakan lingkungan sekitar.Padahal para pakar kesehatan telah meluruskan pemahaman keliru tersebut.dr. Edi Suyanto SpF, SH, MH, Kepala Departemen Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSU dr. Soetomo Surabaya mengatakan,“Secara ilmiah ilmu kedokteran, korban atau jenazah kemungkinan menularnya sudah tidak ada. Apalagi virus corona. Dia (virus corona) harus hidup pada inangnya. Inangnya sudah mati, virusnya juga ikut mati. Sama dengan HIV/AIDS sama H5N1 (Flu Burung) “.Hermawan Saputra, anggota Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menambahkan, “Corona ditularkan melalui batuk dan bersin. Kira-kira kalau orang meninggal apa bisa batuk dan bersin?”.Lantas bagaimana dengan cairan yang mungkin keluar dari jenazah?Potensi penularan dari cairan tersebut, telah diantisipasi dengan protokol yang ketat.Jenazah akan dibungkus plastik, lalu dikafani, kemudian dibungkus plastik lagi. Setelah itu dimasukkan ke dalam kantong jenazah. Lalu dimasukkan ke dalam peti yang tidak tembus air. Di setiap lapisan tadi dilakukan dekontaminasi. Terakhir jenazah sesegera mungkin dimakamkan. Di lokasi yang tidak dekat dengan sumber mata air.Setelah berbagai prosedur cermat di atas, apalagi yang dikhawatirkan?Alhamdulillah, hingga kini tidak ada laporan dari negara mana pun di seluruh dunia mengenai kasus penularan virus Corona melalui jenazah.Ketiga: Aspek AgamaDalam Islam, hukum memakamkan jenazah adalah fardhu kifayah. Demikian ijma’ para ulama. Bila tidak dilakukan, akibatnya semua orang bakal memikul dosanya.Saking pentingnya hal ini, agama kita memberi aturan agar menyegerakan perawatan, pengantaran dan pemakaman jenazah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَسْرِعُوا بِالْجَنَازَةِ“Segerakanlah (penanganan) jenazah”. HR. Bukhari dan Muslim.Manakala ada penolakan jenazah, itu akan berakibat tertundanya pemakaman. Bahkan di suatu wilayah, karena ditolak di mana-mana, jenazah sempat tertahan hingga dua hari!Sudah matikah naluri kemanusiaan?Keimanan seseorang tidak dianggap sempurna, kecuali manakala ia mencintai saudaranya, seperti ia mencintai dirinya sendiri.Bila jenazah yang terkatung-katung tadi adalah orang tua kita, bagaimana gerangan perasaan kita?Ingat, balasan yang akan didapatkan seseorang, adalah sesuai dengan perbuatan yang ia lakukan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 16 Sya’ban 1441 / 10 April 2020 Post navigation Previous MENGHADAPI TAKDIR DENGAN TAKDIRNext SERIUS MEMINTA MAAF Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

SERIUS MEMINTA MAAF

SERIUS MEMINTA MAAFImam Ibnu Hubairah rahimahullah (w. 560 H). Salah satu ulama besar mazhab Hambali. Sekaligus menjabat menteri di masa Daulah Abbasiyah. Walau sibuk dengan urusan kementerian, beliau tidak meninggalkan kegiatan dakwah. Kajian rutin beliau biasa dihadiri oleh para ulama lintas madzhab juga para santri.Suatu hari beliau mengisi kajian Fiqih. Di tengah kajian ada seorang ulama mazhab Maliki yang komplain. Mengritik salah satu poin kajian. Maka Ibnu Hubairah pun segera membuka kembali berbagai referensi. Untuk memastikan benar tidaknya kritikan tersebut. Ternyata kritikan tersebut keliru.Namun sang ulama Maliki tetap ngotot dan terus mendebat. Bahkan dengan mengangkat suara tinggi di majlis.Sang Menteri; Ibnu Hubairah tidak kuasa menahan emosi. Beliau berkata, “Aku sudah datangkan berbagai referensi, tapi engkau tetap ngotot dengan pendapatmu! Engkau manusia atau binatang?!”.Tidak lama kemudian pengajian berakhir.Keesokan harinya kajian diadakan kembali. Sebelum dimulai, di hadapan hadirin, Ibnu Hubairah berkata terhadap sang ulama Maliki,“Sungguh aku mohon maaf atas kejadian kemarin. Silahkan ucapkan kalimat serupa padaku. Sebagai bentuk qisos. Aku bukanlah siapa-siapa. Aku sama dengan kalian”.Beliau terus memohon dengan berbagai ungkapan yang sangat menyentuh.Sehingga para santri dan jamaah terharu dengan kerendahhatian beliau. Bahkan tidak sedikit yang meneteskan air mata.Sang ulama Maliki berkata, “Justru kemarin aku yang salah. Akulah yang lebih layak untuk meminta maaf”.Salah seorang ulama yang hadir mengusulkan, “Jika engkau tidak mau melakukan qisos, bagaimana bila Engkau meminta tebusan kepada beliau?”.Dia menjawab, “Kebaikan Sang Menteri kepadaku sudah terlampau banyak”.Setelah didesak-desak, akhirnya dia berkata, “Aku punya tanggungan hutang sekian”.Maka Ibnu Hubairah; sang Menteri pun memberi ulama tersebut seratus dinar untuk melunasi hutangnya. Plus seratus dinar lagi untuk menebus kata-kata kasar beliau.Berarti total yang diberikan beliau sekitar setengah milyar rupiah!Allahu akbar!Begitulah kira-kira gambaran prosedur ideal meminta maaf. Jika kita pernah menyakiti seseorang, mohon maaflah dengan serius. Penuh kesungguhan.Jika kesalahan itu kita lakukan padanya di depan umum, sebisa mungkin minta maaflah di depan umum.Kesalahan pada seseorang di grup WA yang ditebus dengan permohonan maaf via japri, kurang menunjukkan keseriusan dalam meminta maaf.Jangan gengsi!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Selasa, 6 Sya’ban 1441 / 31 Maret 2020Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen dari buku Shuwa wa Kuwa karya Muhammad al-Muhanna (hal. 250-251).  Post navigation Previous MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19?Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 168: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-12) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

SERIUS MEMINTA MAAF

SERIUS MEMINTA MAAFImam Ibnu Hubairah rahimahullah (w. 560 H). Salah satu ulama besar mazhab Hambali. Sekaligus menjabat menteri di masa Daulah Abbasiyah. Walau sibuk dengan urusan kementerian, beliau tidak meninggalkan kegiatan dakwah. Kajian rutin beliau biasa dihadiri oleh para ulama lintas madzhab juga para santri.Suatu hari beliau mengisi kajian Fiqih. Di tengah kajian ada seorang ulama mazhab Maliki yang komplain. Mengritik salah satu poin kajian. Maka Ibnu Hubairah pun segera membuka kembali berbagai referensi. Untuk memastikan benar tidaknya kritikan tersebut. Ternyata kritikan tersebut keliru.Namun sang ulama Maliki tetap ngotot dan terus mendebat. Bahkan dengan mengangkat suara tinggi di majlis.Sang Menteri; Ibnu Hubairah tidak kuasa menahan emosi. Beliau berkata, “Aku sudah datangkan berbagai referensi, tapi engkau tetap ngotot dengan pendapatmu! Engkau manusia atau binatang?!”.Tidak lama kemudian pengajian berakhir.Keesokan harinya kajian diadakan kembali. Sebelum dimulai, di hadapan hadirin, Ibnu Hubairah berkata terhadap sang ulama Maliki,“Sungguh aku mohon maaf atas kejadian kemarin. Silahkan ucapkan kalimat serupa padaku. Sebagai bentuk qisos. Aku bukanlah siapa-siapa. Aku sama dengan kalian”.Beliau terus memohon dengan berbagai ungkapan yang sangat menyentuh.Sehingga para santri dan jamaah terharu dengan kerendahhatian beliau. Bahkan tidak sedikit yang meneteskan air mata.Sang ulama Maliki berkata, “Justru kemarin aku yang salah. Akulah yang lebih layak untuk meminta maaf”.Salah seorang ulama yang hadir mengusulkan, “Jika engkau tidak mau melakukan qisos, bagaimana bila Engkau meminta tebusan kepada beliau?”.Dia menjawab, “Kebaikan Sang Menteri kepadaku sudah terlampau banyak”.Setelah didesak-desak, akhirnya dia berkata, “Aku punya tanggungan hutang sekian”.Maka Ibnu Hubairah; sang Menteri pun memberi ulama tersebut seratus dinar untuk melunasi hutangnya. Plus seratus dinar lagi untuk menebus kata-kata kasar beliau.Berarti total yang diberikan beliau sekitar setengah milyar rupiah!Allahu akbar!Begitulah kira-kira gambaran prosedur ideal meminta maaf. Jika kita pernah menyakiti seseorang, mohon maaflah dengan serius. Penuh kesungguhan.Jika kesalahan itu kita lakukan padanya di depan umum, sebisa mungkin minta maaflah di depan umum.Kesalahan pada seseorang di grup WA yang ditebus dengan permohonan maaf via japri, kurang menunjukkan keseriusan dalam meminta maaf.Jangan gengsi!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Selasa, 6 Sya’ban 1441 / 31 Maret 2020Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen dari buku Shuwa wa Kuwa karya Muhammad al-Muhanna (hal. 250-251).  Post navigation Previous MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19?Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 168: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-12) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
SERIUS MEMINTA MAAFImam Ibnu Hubairah rahimahullah (w. 560 H). Salah satu ulama besar mazhab Hambali. Sekaligus menjabat menteri di masa Daulah Abbasiyah. Walau sibuk dengan urusan kementerian, beliau tidak meninggalkan kegiatan dakwah. Kajian rutin beliau biasa dihadiri oleh para ulama lintas madzhab juga para santri.Suatu hari beliau mengisi kajian Fiqih. Di tengah kajian ada seorang ulama mazhab Maliki yang komplain. Mengritik salah satu poin kajian. Maka Ibnu Hubairah pun segera membuka kembali berbagai referensi. Untuk memastikan benar tidaknya kritikan tersebut. Ternyata kritikan tersebut keliru.Namun sang ulama Maliki tetap ngotot dan terus mendebat. Bahkan dengan mengangkat suara tinggi di majlis.Sang Menteri; Ibnu Hubairah tidak kuasa menahan emosi. Beliau berkata, “Aku sudah datangkan berbagai referensi, tapi engkau tetap ngotot dengan pendapatmu! Engkau manusia atau binatang?!”.Tidak lama kemudian pengajian berakhir.Keesokan harinya kajian diadakan kembali. Sebelum dimulai, di hadapan hadirin, Ibnu Hubairah berkata terhadap sang ulama Maliki,“Sungguh aku mohon maaf atas kejadian kemarin. Silahkan ucapkan kalimat serupa padaku. Sebagai bentuk qisos. Aku bukanlah siapa-siapa. Aku sama dengan kalian”.Beliau terus memohon dengan berbagai ungkapan yang sangat menyentuh.Sehingga para santri dan jamaah terharu dengan kerendahhatian beliau. Bahkan tidak sedikit yang meneteskan air mata.Sang ulama Maliki berkata, “Justru kemarin aku yang salah. Akulah yang lebih layak untuk meminta maaf”.Salah seorang ulama yang hadir mengusulkan, “Jika engkau tidak mau melakukan qisos, bagaimana bila Engkau meminta tebusan kepada beliau?”.Dia menjawab, “Kebaikan Sang Menteri kepadaku sudah terlampau banyak”.Setelah didesak-desak, akhirnya dia berkata, “Aku punya tanggungan hutang sekian”.Maka Ibnu Hubairah; sang Menteri pun memberi ulama tersebut seratus dinar untuk melunasi hutangnya. Plus seratus dinar lagi untuk menebus kata-kata kasar beliau.Berarti total yang diberikan beliau sekitar setengah milyar rupiah!Allahu akbar!Begitulah kira-kira gambaran prosedur ideal meminta maaf. Jika kita pernah menyakiti seseorang, mohon maaflah dengan serius. Penuh kesungguhan.Jika kesalahan itu kita lakukan padanya di depan umum, sebisa mungkin minta maaflah di depan umum.Kesalahan pada seseorang di grup WA yang ditebus dengan permohonan maaf via japri, kurang menunjukkan keseriusan dalam meminta maaf.Jangan gengsi!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Selasa, 6 Sya’ban 1441 / 31 Maret 2020Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen dari buku Shuwa wa Kuwa karya Muhammad al-Muhanna (hal. 250-251).  Post navigation Previous MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19?Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 168: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-12) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


SERIUS MEMINTA MAAFImam Ibnu Hubairah rahimahullah (w. 560 H). Salah satu ulama besar mazhab Hambali. Sekaligus menjabat menteri di masa Daulah Abbasiyah. Walau sibuk dengan urusan kementerian, beliau tidak meninggalkan kegiatan dakwah. Kajian rutin beliau biasa dihadiri oleh para ulama lintas madzhab juga para santri.Suatu hari beliau mengisi kajian Fiqih. Di tengah kajian ada seorang ulama mazhab Maliki yang komplain. Mengritik salah satu poin kajian. Maka Ibnu Hubairah pun segera membuka kembali berbagai referensi. Untuk memastikan benar tidaknya kritikan tersebut. Ternyata kritikan tersebut keliru.Namun sang ulama Maliki tetap ngotot dan terus mendebat. Bahkan dengan mengangkat suara tinggi di majlis.Sang Menteri; Ibnu Hubairah tidak kuasa menahan emosi. Beliau berkata, “Aku sudah datangkan berbagai referensi, tapi engkau tetap ngotot dengan pendapatmu! Engkau manusia atau binatang?!”.Tidak lama kemudian pengajian berakhir.Keesokan harinya kajian diadakan kembali. Sebelum dimulai, di hadapan hadirin, Ibnu Hubairah berkata terhadap sang ulama Maliki,“Sungguh aku mohon maaf atas kejadian kemarin. Silahkan ucapkan kalimat serupa padaku. Sebagai bentuk qisos. Aku bukanlah siapa-siapa. Aku sama dengan kalian”.Beliau terus memohon dengan berbagai ungkapan yang sangat menyentuh.Sehingga para santri dan jamaah terharu dengan kerendahhatian beliau. Bahkan tidak sedikit yang meneteskan air mata.Sang ulama Maliki berkata, “Justru kemarin aku yang salah. Akulah yang lebih layak untuk meminta maaf”.Salah seorang ulama yang hadir mengusulkan, “Jika engkau tidak mau melakukan qisos, bagaimana bila Engkau meminta tebusan kepada beliau?”.Dia menjawab, “Kebaikan Sang Menteri kepadaku sudah terlampau banyak”.Setelah didesak-desak, akhirnya dia berkata, “Aku punya tanggungan hutang sekian”.Maka Ibnu Hubairah; sang Menteri pun memberi ulama tersebut seratus dinar untuk melunasi hutangnya. Plus seratus dinar lagi untuk menebus kata-kata kasar beliau.Berarti total yang diberikan beliau sekitar setengah milyar rupiah!Allahu akbar!Begitulah kira-kira gambaran prosedur ideal meminta maaf. Jika kita pernah menyakiti seseorang, mohon maaflah dengan serius. Penuh kesungguhan.Jika kesalahan itu kita lakukan padanya di depan umum, sebisa mungkin minta maaflah di depan umum.Kesalahan pada seseorang di grup WA yang ditebus dengan permohonan maaf via japri, kurang menunjukkan keseriusan dalam meminta maaf.Jangan gengsi!Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Selasa, 6 Sya’ban 1441 / 31 Maret 2020Diterjemahkan secara bebas oleh Abdullah Zaen dari buku Shuwa wa Kuwa karya Muhammad al-Muhanna (hal. 250-251).  Post navigation Previous MENGAPA MENOLAK JENAZAH COVID-19?Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 168: BACAAN DZIKIR PAGI-PETANG (Bagian-12) Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 161 MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN BERSEDEKAH

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 161MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN BERSEDEKAHIslam mensyariatkan agar rambut bayi dicukur gundul pada hari ketujuh sesudah kelahirannya. Hal itu dalam rangka membersihkan kotoran dari bayi. Selain itu juga dianjurkan untuk bersedekah berupa perak seberat timbangan rambutnya. Hal ini menunjukkan bahwa rambut bayi tidak terbuang sia-sia. Namun dihargai dengan harta yang diperebutkan oleh banyak orang.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menuturkan,عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الحَسَنِ بِشَاةٍ، وَقَالَ: «يَا فَاطِمَةُ، احْلِقِي رَأْسَهُ، ‌وَتَصَدَّقِي ‌بِزِنَةِ ‌شَعْرِهِ ‌فِضَّةً».“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakikahi Al-Hasan dengan menyembelih kambing”. Lalu beliau bersabda, “Wahai Fatimah cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan nominal perak seberat rambutnya”. HR. Tirmidziy dan dinilai hasan oleh al-Haitsamiy serta al-Albaniy.Mayoritas ulama berpendapat bahwa menggunduli rambut bayi laki-laki hukumnya adalah sunnah.Adapun bayi perempuan, maka masih diperselisihkan oleh para ulama, apakah tetap dianjurkan untuk dicukur rambutnya atau tidak? Menurut ulama Syafi’iyyah dan Malikiyah hal itu tetap dianjurkan. Berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa putri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; Zainab dan Ummu Kultsum juga dicukur. Namun sanad riwayat ini dinilai dha’if oleh an-Nawawiy. Mereka juga beralasan bahwa mencukur rambut bayi perempuan tetap ada maslahatnya. Yaitu berupa sedekah dan pertumbuhan bagus rambut pasca dicukur. Adapun menurut ulama Hanabilah, bayi perempuan tidak boleh dicukur gundul, sebab hukum aslinya wanita dilarang untuk digundul rambutnya. Kedua pendapat ini sama-sama memiliki argumen yang kuat. Sehingga memilih salah satunya tidak masalah.Mencukur rambut bayi dalam pandangan medisPencukuran seluruh rambut bayi yang baru lahir ada manfaatnya secara medis. Antara lain: untuk membersihkan lemak dan zat-zat sisa dari rahim ibu yang mungkin terbawa atau menempel pada rambut pada saat persalinan. Pencukuran ini juga membantu proses pembersihan kepala si kecil dari kemungkinan terkena gumoh atau air kencing yang mungkin saja mengotori tubuh hingga rambutnya. Apabila kepala bayi digunduli hingga plontos, tentu akan lebih mudah membersihkannya.Selain itu, kepala plontos juga membuat bayi cenderung merasa lebih adem dan nyaman. Apalagi bagi mereka yang tinggal di daerah tropis seperti Indonesia. Hembusan angin yang langsung mengenai pori-porinya akan mampu mengurangi rasa gerah yang dialami bayi.Tips Mencukur• Tetap tenang dan percaya diri sebelum menggunduli kepala bayi. Jika Anda tidak yakin atau tak berani, sebaiknya biarkan orang lain yang lebih ahli untuk melakukannya.• Pangku bayi dalam posisi tiduran dengan satu tangan mengangkat rambut yang ingin dipotong, dan tangan lain untuk menggunting. Jika Anda takut, mintalah bantuan orang lain agar bisa memangku serta memegangi bayi sementara Anda mencukur rambutnya.• Gunakan gunting dengan ujung yang tumpul. Untuk memudahkan proses pencukuran, Anda bisa membasahi rambut bayi dengan air hangat, tapi tidak perlu sampai basah kuyup.• Apabila Anda ingin menggunduli kepala bayi sampai pelontos, gunakan cukuran baru yang belum pernah dipakai dan pastikan untuk mencukurnya sepelan mungkin dengan meratakan dulu kulit kepalanya agar tak ada lipatan kulit yang tergores.• Jika ada goresan pada kulit kepala bayi hingga berdarah, segera bawa ke dokter. •  Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Rajab 1443 / 21 Februari 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 181 – PAGI YANG ISTIMEWANext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 182 – DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-1 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 161 MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN BERSEDEKAH

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 161MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN BERSEDEKAHIslam mensyariatkan agar rambut bayi dicukur gundul pada hari ketujuh sesudah kelahirannya. Hal itu dalam rangka membersihkan kotoran dari bayi. Selain itu juga dianjurkan untuk bersedekah berupa perak seberat timbangan rambutnya. Hal ini menunjukkan bahwa rambut bayi tidak terbuang sia-sia. Namun dihargai dengan harta yang diperebutkan oleh banyak orang.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menuturkan,عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الحَسَنِ بِشَاةٍ، وَقَالَ: «يَا فَاطِمَةُ، احْلِقِي رَأْسَهُ، ‌وَتَصَدَّقِي ‌بِزِنَةِ ‌شَعْرِهِ ‌فِضَّةً».“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakikahi Al-Hasan dengan menyembelih kambing”. Lalu beliau bersabda, “Wahai Fatimah cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan nominal perak seberat rambutnya”. HR. Tirmidziy dan dinilai hasan oleh al-Haitsamiy serta al-Albaniy.Mayoritas ulama berpendapat bahwa menggunduli rambut bayi laki-laki hukumnya adalah sunnah.Adapun bayi perempuan, maka masih diperselisihkan oleh para ulama, apakah tetap dianjurkan untuk dicukur rambutnya atau tidak? Menurut ulama Syafi’iyyah dan Malikiyah hal itu tetap dianjurkan. Berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa putri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; Zainab dan Ummu Kultsum juga dicukur. Namun sanad riwayat ini dinilai dha’if oleh an-Nawawiy. Mereka juga beralasan bahwa mencukur rambut bayi perempuan tetap ada maslahatnya. Yaitu berupa sedekah dan pertumbuhan bagus rambut pasca dicukur. Adapun menurut ulama Hanabilah, bayi perempuan tidak boleh dicukur gundul, sebab hukum aslinya wanita dilarang untuk digundul rambutnya. Kedua pendapat ini sama-sama memiliki argumen yang kuat. Sehingga memilih salah satunya tidak masalah.Mencukur rambut bayi dalam pandangan medisPencukuran seluruh rambut bayi yang baru lahir ada manfaatnya secara medis. Antara lain: untuk membersihkan lemak dan zat-zat sisa dari rahim ibu yang mungkin terbawa atau menempel pada rambut pada saat persalinan. Pencukuran ini juga membantu proses pembersihan kepala si kecil dari kemungkinan terkena gumoh atau air kencing yang mungkin saja mengotori tubuh hingga rambutnya. Apabila kepala bayi digunduli hingga plontos, tentu akan lebih mudah membersihkannya.Selain itu, kepala plontos juga membuat bayi cenderung merasa lebih adem dan nyaman. Apalagi bagi mereka yang tinggal di daerah tropis seperti Indonesia. Hembusan angin yang langsung mengenai pori-porinya akan mampu mengurangi rasa gerah yang dialami bayi.Tips Mencukur• Tetap tenang dan percaya diri sebelum menggunduli kepala bayi. Jika Anda tidak yakin atau tak berani, sebaiknya biarkan orang lain yang lebih ahli untuk melakukannya.• Pangku bayi dalam posisi tiduran dengan satu tangan mengangkat rambut yang ingin dipotong, dan tangan lain untuk menggunting. Jika Anda takut, mintalah bantuan orang lain agar bisa memangku serta memegangi bayi sementara Anda mencukur rambutnya.• Gunakan gunting dengan ujung yang tumpul. Untuk memudahkan proses pencukuran, Anda bisa membasahi rambut bayi dengan air hangat, tapi tidak perlu sampai basah kuyup.• Apabila Anda ingin menggunduli kepala bayi sampai pelontos, gunakan cukuran baru yang belum pernah dipakai dan pastikan untuk mencukurnya sepelan mungkin dengan meratakan dulu kulit kepalanya agar tak ada lipatan kulit yang tergores.• Jika ada goresan pada kulit kepala bayi hingga berdarah, segera bawa ke dokter. •  Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Rajab 1443 / 21 Februari 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 181 – PAGI YANG ISTIMEWANext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 182 – DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-1 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 161MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN BERSEDEKAHIslam mensyariatkan agar rambut bayi dicukur gundul pada hari ketujuh sesudah kelahirannya. Hal itu dalam rangka membersihkan kotoran dari bayi. Selain itu juga dianjurkan untuk bersedekah berupa perak seberat timbangan rambutnya. Hal ini menunjukkan bahwa rambut bayi tidak terbuang sia-sia. Namun dihargai dengan harta yang diperebutkan oleh banyak orang.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menuturkan,عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الحَسَنِ بِشَاةٍ، وَقَالَ: «يَا فَاطِمَةُ، احْلِقِي رَأْسَهُ، ‌وَتَصَدَّقِي ‌بِزِنَةِ ‌شَعْرِهِ ‌فِضَّةً».“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakikahi Al-Hasan dengan menyembelih kambing”. Lalu beliau bersabda, “Wahai Fatimah cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan nominal perak seberat rambutnya”. HR. Tirmidziy dan dinilai hasan oleh al-Haitsamiy serta al-Albaniy.Mayoritas ulama berpendapat bahwa menggunduli rambut bayi laki-laki hukumnya adalah sunnah.Adapun bayi perempuan, maka masih diperselisihkan oleh para ulama, apakah tetap dianjurkan untuk dicukur rambutnya atau tidak? Menurut ulama Syafi’iyyah dan Malikiyah hal itu tetap dianjurkan. Berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa putri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; Zainab dan Ummu Kultsum juga dicukur. Namun sanad riwayat ini dinilai dha’if oleh an-Nawawiy. Mereka juga beralasan bahwa mencukur rambut bayi perempuan tetap ada maslahatnya. Yaitu berupa sedekah dan pertumbuhan bagus rambut pasca dicukur. Adapun menurut ulama Hanabilah, bayi perempuan tidak boleh dicukur gundul, sebab hukum aslinya wanita dilarang untuk digundul rambutnya. Kedua pendapat ini sama-sama memiliki argumen yang kuat. Sehingga memilih salah satunya tidak masalah.Mencukur rambut bayi dalam pandangan medisPencukuran seluruh rambut bayi yang baru lahir ada manfaatnya secara medis. Antara lain: untuk membersihkan lemak dan zat-zat sisa dari rahim ibu yang mungkin terbawa atau menempel pada rambut pada saat persalinan. Pencukuran ini juga membantu proses pembersihan kepala si kecil dari kemungkinan terkena gumoh atau air kencing yang mungkin saja mengotori tubuh hingga rambutnya. Apabila kepala bayi digunduli hingga plontos, tentu akan lebih mudah membersihkannya.Selain itu, kepala plontos juga membuat bayi cenderung merasa lebih adem dan nyaman. Apalagi bagi mereka yang tinggal di daerah tropis seperti Indonesia. Hembusan angin yang langsung mengenai pori-porinya akan mampu mengurangi rasa gerah yang dialami bayi.Tips Mencukur• Tetap tenang dan percaya diri sebelum menggunduli kepala bayi. Jika Anda tidak yakin atau tak berani, sebaiknya biarkan orang lain yang lebih ahli untuk melakukannya.• Pangku bayi dalam posisi tiduran dengan satu tangan mengangkat rambut yang ingin dipotong, dan tangan lain untuk menggunting. Jika Anda takut, mintalah bantuan orang lain agar bisa memangku serta memegangi bayi sementara Anda mencukur rambutnya.• Gunakan gunting dengan ujung yang tumpul. Untuk memudahkan proses pencukuran, Anda bisa membasahi rambut bayi dengan air hangat, tapi tidak perlu sampai basah kuyup.• Apabila Anda ingin menggunduli kepala bayi sampai pelontos, gunakan cukuran baru yang belum pernah dipakai dan pastikan untuk mencukurnya sepelan mungkin dengan meratakan dulu kulit kepalanya agar tak ada lipatan kulit yang tergores.• Jika ada goresan pada kulit kepala bayi hingga berdarah, segera bawa ke dokter. •  Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Rajab 1443 / 21 Februari 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 181 – PAGI YANG ISTIMEWANext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 182 – DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-1 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 161MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN BERSEDEKAHIslam mensyariatkan agar rambut bayi dicukur gundul pada hari ketujuh sesudah kelahirannya. Hal itu dalam rangka membersihkan kotoran dari bayi. Selain itu juga dianjurkan untuk bersedekah berupa perak seberat timbangan rambutnya. Hal ini menunjukkan bahwa rambut bayi tidak terbuang sia-sia. Namun dihargai dengan harta yang diperebutkan oleh banyak orang.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menuturkan,عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الحَسَنِ بِشَاةٍ، وَقَالَ: «يَا فَاطِمَةُ، احْلِقِي رَأْسَهُ، ‌وَتَصَدَّقِي ‌بِزِنَةِ ‌شَعْرِهِ ‌فِضَّةً».“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakikahi Al-Hasan dengan menyembelih kambing”. Lalu beliau bersabda, “Wahai Fatimah cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan nominal perak seberat rambutnya”. HR. Tirmidziy dan dinilai hasan oleh al-Haitsamiy serta al-Albaniy.Mayoritas ulama berpendapat bahwa menggunduli rambut bayi laki-laki hukumnya adalah sunnah.Adapun bayi perempuan, maka masih diperselisihkan oleh para ulama, apakah tetap dianjurkan untuk dicukur rambutnya atau tidak? Menurut ulama Syafi’iyyah dan Malikiyah hal itu tetap dianjurkan. Berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa putri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; Zainab dan Ummu Kultsum juga dicukur. Namun sanad riwayat ini dinilai dha’if oleh an-Nawawiy. Mereka juga beralasan bahwa mencukur rambut bayi perempuan tetap ada maslahatnya. Yaitu berupa sedekah dan pertumbuhan bagus rambut pasca dicukur. Adapun menurut ulama Hanabilah, bayi perempuan tidak boleh dicukur gundul, sebab hukum aslinya wanita dilarang untuk digundul rambutnya. Kedua pendapat ini sama-sama memiliki argumen yang kuat. Sehingga memilih salah satunya tidak masalah.Mencukur rambut bayi dalam pandangan medisPencukuran seluruh rambut bayi yang baru lahir ada manfaatnya secara medis. Antara lain: untuk membersihkan lemak dan zat-zat sisa dari rahim ibu yang mungkin terbawa atau menempel pada rambut pada saat persalinan. Pencukuran ini juga membantu proses pembersihan kepala si kecil dari kemungkinan terkena gumoh atau air kencing yang mungkin saja mengotori tubuh hingga rambutnya. Apabila kepala bayi digunduli hingga plontos, tentu akan lebih mudah membersihkannya.Selain itu, kepala plontos juga membuat bayi cenderung merasa lebih adem dan nyaman. Apalagi bagi mereka yang tinggal di daerah tropis seperti Indonesia. Hembusan angin yang langsung mengenai pori-porinya akan mampu mengurangi rasa gerah yang dialami bayi.Tips Mencukur• Tetap tenang dan percaya diri sebelum menggunduli kepala bayi. Jika Anda tidak yakin atau tak berani, sebaiknya biarkan orang lain yang lebih ahli untuk melakukannya.• Pangku bayi dalam posisi tiduran dengan satu tangan mengangkat rambut yang ingin dipotong, dan tangan lain untuk menggunting. Jika Anda takut, mintalah bantuan orang lain agar bisa memangku serta memegangi bayi sementara Anda mencukur rambutnya.• Gunakan gunting dengan ujung yang tumpul. Untuk memudahkan proses pencukuran, Anda bisa membasahi rambut bayi dengan air hangat, tapi tidak perlu sampai basah kuyup.• Apabila Anda ingin menggunduli kepala bayi sampai pelontos, gunakan cukuran baru yang belum pernah dipakai dan pastikan untuk mencukurnya sepelan mungkin dengan meratakan dulu kulit kepalanya agar tak ada lipatan kulit yang tergores.• Jika ada goresan pada kulit kepala bayi hingga berdarah, segera bawa ke dokter. •  Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Rajab 1443 / 21 Februari 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 181 – PAGI YANG ISTIMEWANext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 182 – DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-1 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 182 – DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-1

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 182DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-1Banyak orang mengeluh susah tidur, atau bila tidur tidak terasa nyenyak, atau sering mimpi buruk. Semua hal ini—bisa jadi—penyebabnya adalah karena sebelum tidur mereka tidak membaca doa dan dzikir yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Berikut beberapa bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur:BACAAN PERTAMA:Membaca Ayat Kursi sebanyak satu kali.“اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ”Artinya: “Allah, tidak ada yang berhak disembah melainkan Dia. Yang Maha hidup dan terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa seizin-Nya. Dia mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursiy Allah meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha besar”. QS. Al Baqarah (2): 255.Dalil Landasan” إِذَا ‌أَوَيْتَ ‌إِلَى ‌فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ، لَنْ يَزَالَ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ”“Jika engkau akan tidur, bacalah Ayat Kursiy. Niscaya engkau akan senantiasa mendapatkan penjagaan dari Allah dan setan tidak bisa mendekatimu hingga pagi”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu.Renungan KandunganDari sekian ribu ayat yang ada di dalam al-Qur’an, yang paling istimewa adalah Ayat Kursiy. Sebab kandungan makna yang ada di dalamnya amat spesial. Yakni tauhid; pengesaan Allah, pemuliaan dan pengagungan-Nya.Tujuan diciptakannya manusia dan jin adalah untuk bertauhid. Yaitu memurnikan ibadah hanya untuk Allah. Diutusnya para rasul dan diturunkannya beragam kitab suci, pun untuk tujuan yang sama. Yaitu menegakkan tauhid. Maka sebelum tidur kita diperintahkan membaca Ayat Kursi. Agar selalu ingat tujuan utama itu. Sehingga tidak salah tujuan dan langkah dalam mengarungi kehidupan yang fana ini.Sejak awal ayat, Allah mengenalkan diri-Nya kepada kita. Dijelaskan bahwa satu-satunya sembahan yang benar adalah Dia. Sebab memang hanya Dialah yang layak disembah. Dikarenakan Dia adalah al-Hayyu (Maha Hidup) dan _al-Qayyûm- (Maha Mengurusi para makhluk-Nya).Lalu Allah menjelaskan betapa luas wilayah kekuasaan-Nya. Seluruh alam semesta, langit dan bumi, adalah milik-Nya. Sehingga tidak ada satupun sosok yang bisa lepas dari kekuasaan-Nya. Bahkan pemberian syafaat tidak mungkin bisa dilakukan tanpa seizin dari-Nya.Apapun yang akan dan sudah terjadi di alam semesta ini pasti sepengetahuan Allah. Begitulah kemahaluasan ilmu-Nya. Berbeda jauh dengan ilmu manusia yang sangat terbatas. Mereka hanya mengetahui apa yang diajarkan Allah kepada mereka.Selanjutnya Allah menggambarkan kepada kita tentang kebesaran-Nya. Dengan menceritakan kebesaran salah satu makhluk ciptaan-Nya, yaitu Kursiy. Di mana makhluk ini memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan langit dan bumi!Terakhir, ayat spesial ini ditutup oleh Allah dengan menyebutkan dua nama-Nya yang mulia. Al-‘Aliy (Maha Tinggi) dan al-‘Azhîm (Maha Agung). Agar para hamba senantiasa merasa rendah dan kecil di hadapan-Nya. Hati mereka dipenuhi ketundukan, kepatuhan, keimanan dan pengagungan kepada-Nya. Maka siapapun yang demikian kondisinya, amat layak untuk terlindungi dari kejahatan setan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Jumada Tsaniyah 1443 / 31 Januari 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 161 MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN BERSEDEKAHNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 183 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-2 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 182 – DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-1

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 182DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-1Banyak orang mengeluh susah tidur, atau bila tidur tidak terasa nyenyak, atau sering mimpi buruk. Semua hal ini—bisa jadi—penyebabnya adalah karena sebelum tidur mereka tidak membaca doa dan dzikir yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Berikut beberapa bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur:BACAAN PERTAMA:Membaca Ayat Kursi sebanyak satu kali.“اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ”Artinya: “Allah, tidak ada yang berhak disembah melainkan Dia. Yang Maha hidup dan terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa seizin-Nya. Dia mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursiy Allah meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha besar”. QS. Al Baqarah (2): 255.Dalil Landasan” إِذَا ‌أَوَيْتَ ‌إِلَى ‌فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ، لَنْ يَزَالَ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ”“Jika engkau akan tidur, bacalah Ayat Kursiy. Niscaya engkau akan senantiasa mendapatkan penjagaan dari Allah dan setan tidak bisa mendekatimu hingga pagi”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu.Renungan KandunganDari sekian ribu ayat yang ada di dalam al-Qur’an, yang paling istimewa adalah Ayat Kursiy. Sebab kandungan makna yang ada di dalamnya amat spesial. Yakni tauhid; pengesaan Allah, pemuliaan dan pengagungan-Nya.Tujuan diciptakannya manusia dan jin adalah untuk bertauhid. Yaitu memurnikan ibadah hanya untuk Allah. Diutusnya para rasul dan diturunkannya beragam kitab suci, pun untuk tujuan yang sama. Yaitu menegakkan tauhid. Maka sebelum tidur kita diperintahkan membaca Ayat Kursi. Agar selalu ingat tujuan utama itu. Sehingga tidak salah tujuan dan langkah dalam mengarungi kehidupan yang fana ini.Sejak awal ayat, Allah mengenalkan diri-Nya kepada kita. Dijelaskan bahwa satu-satunya sembahan yang benar adalah Dia. Sebab memang hanya Dialah yang layak disembah. Dikarenakan Dia adalah al-Hayyu (Maha Hidup) dan _al-Qayyûm- (Maha Mengurusi para makhluk-Nya).Lalu Allah menjelaskan betapa luas wilayah kekuasaan-Nya. Seluruh alam semesta, langit dan bumi, adalah milik-Nya. Sehingga tidak ada satupun sosok yang bisa lepas dari kekuasaan-Nya. Bahkan pemberian syafaat tidak mungkin bisa dilakukan tanpa seizin dari-Nya.Apapun yang akan dan sudah terjadi di alam semesta ini pasti sepengetahuan Allah. Begitulah kemahaluasan ilmu-Nya. Berbeda jauh dengan ilmu manusia yang sangat terbatas. Mereka hanya mengetahui apa yang diajarkan Allah kepada mereka.Selanjutnya Allah menggambarkan kepada kita tentang kebesaran-Nya. Dengan menceritakan kebesaran salah satu makhluk ciptaan-Nya, yaitu Kursiy. Di mana makhluk ini memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan langit dan bumi!Terakhir, ayat spesial ini ditutup oleh Allah dengan menyebutkan dua nama-Nya yang mulia. Al-‘Aliy (Maha Tinggi) dan al-‘Azhîm (Maha Agung). Agar para hamba senantiasa merasa rendah dan kecil di hadapan-Nya. Hati mereka dipenuhi ketundukan, kepatuhan, keimanan dan pengagungan kepada-Nya. Maka siapapun yang demikian kondisinya, amat layak untuk terlindungi dari kejahatan setan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Jumada Tsaniyah 1443 / 31 Januari 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 161 MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN BERSEDEKAHNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 183 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-2 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 182DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-1Banyak orang mengeluh susah tidur, atau bila tidur tidak terasa nyenyak, atau sering mimpi buruk. Semua hal ini—bisa jadi—penyebabnya adalah karena sebelum tidur mereka tidak membaca doa dan dzikir yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Berikut beberapa bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur:BACAAN PERTAMA:Membaca Ayat Kursi sebanyak satu kali.“اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ”Artinya: “Allah, tidak ada yang berhak disembah melainkan Dia. Yang Maha hidup dan terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa seizin-Nya. Dia mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursiy Allah meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha besar”. QS. Al Baqarah (2): 255.Dalil Landasan” إِذَا ‌أَوَيْتَ ‌إِلَى ‌فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ، لَنْ يَزَالَ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ”“Jika engkau akan tidur, bacalah Ayat Kursiy. Niscaya engkau akan senantiasa mendapatkan penjagaan dari Allah dan setan tidak bisa mendekatimu hingga pagi”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu.Renungan KandunganDari sekian ribu ayat yang ada di dalam al-Qur’an, yang paling istimewa adalah Ayat Kursiy. Sebab kandungan makna yang ada di dalamnya amat spesial. Yakni tauhid; pengesaan Allah, pemuliaan dan pengagungan-Nya.Tujuan diciptakannya manusia dan jin adalah untuk bertauhid. Yaitu memurnikan ibadah hanya untuk Allah. Diutusnya para rasul dan diturunkannya beragam kitab suci, pun untuk tujuan yang sama. Yaitu menegakkan tauhid. Maka sebelum tidur kita diperintahkan membaca Ayat Kursi. Agar selalu ingat tujuan utama itu. Sehingga tidak salah tujuan dan langkah dalam mengarungi kehidupan yang fana ini.Sejak awal ayat, Allah mengenalkan diri-Nya kepada kita. Dijelaskan bahwa satu-satunya sembahan yang benar adalah Dia. Sebab memang hanya Dialah yang layak disembah. Dikarenakan Dia adalah al-Hayyu (Maha Hidup) dan _al-Qayyûm- (Maha Mengurusi para makhluk-Nya).Lalu Allah menjelaskan betapa luas wilayah kekuasaan-Nya. Seluruh alam semesta, langit dan bumi, adalah milik-Nya. Sehingga tidak ada satupun sosok yang bisa lepas dari kekuasaan-Nya. Bahkan pemberian syafaat tidak mungkin bisa dilakukan tanpa seizin dari-Nya.Apapun yang akan dan sudah terjadi di alam semesta ini pasti sepengetahuan Allah. Begitulah kemahaluasan ilmu-Nya. Berbeda jauh dengan ilmu manusia yang sangat terbatas. Mereka hanya mengetahui apa yang diajarkan Allah kepada mereka.Selanjutnya Allah menggambarkan kepada kita tentang kebesaran-Nya. Dengan menceritakan kebesaran salah satu makhluk ciptaan-Nya, yaitu Kursiy. Di mana makhluk ini memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan langit dan bumi!Terakhir, ayat spesial ini ditutup oleh Allah dengan menyebutkan dua nama-Nya yang mulia. Al-‘Aliy (Maha Tinggi) dan al-‘Azhîm (Maha Agung). Agar para hamba senantiasa merasa rendah dan kecil di hadapan-Nya. Hati mereka dipenuhi ketundukan, kepatuhan, keimanan dan pengagungan kepada-Nya. Maka siapapun yang demikian kondisinya, amat layak untuk terlindungi dari kejahatan setan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Jumada Tsaniyah 1443 / 31 Januari 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 161 MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN BERSEDEKAHNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 183 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-2 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 182DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-1Banyak orang mengeluh susah tidur, atau bila tidur tidak terasa nyenyak, atau sering mimpi buruk. Semua hal ini—bisa jadi—penyebabnya adalah karena sebelum tidur mereka tidak membaca doa dan dzikir yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Berikut beberapa bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur:BACAAN PERTAMA:Membaca Ayat Kursi sebanyak satu kali.“اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ”Artinya: “Allah, tidak ada yang berhak disembah melainkan Dia. Yang Maha hidup dan terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa seizin-Nya. Dia mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursiy Allah meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha besar”. QS. Al Baqarah (2): 255.Dalil Landasan” إِذَا ‌أَوَيْتَ ‌إِلَى ‌فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ، لَنْ يَزَالَ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ”“Jika engkau akan tidur, bacalah Ayat Kursiy. Niscaya engkau akan senantiasa mendapatkan penjagaan dari Allah dan setan tidak bisa mendekatimu hingga pagi”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu.Renungan KandunganDari sekian ribu ayat yang ada di dalam al-Qur’an, yang paling istimewa adalah Ayat Kursiy. Sebab kandungan makna yang ada di dalamnya amat spesial. Yakni tauhid; pengesaan Allah, pemuliaan dan pengagungan-Nya.Tujuan diciptakannya manusia dan jin adalah untuk bertauhid. Yaitu memurnikan ibadah hanya untuk Allah. Diutusnya para rasul dan diturunkannya beragam kitab suci, pun untuk tujuan yang sama. Yaitu menegakkan tauhid. Maka sebelum tidur kita diperintahkan membaca Ayat Kursi. Agar selalu ingat tujuan utama itu. Sehingga tidak salah tujuan dan langkah dalam mengarungi kehidupan yang fana ini.Sejak awal ayat, Allah mengenalkan diri-Nya kepada kita. Dijelaskan bahwa satu-satunya sembahan yang benar adalah Dia. Sebab memang hanya Dialah yang layak disembah. Dikarenakan Dia adalah al-Hayyu (Maha Hidup) dan _al-Qayyûm- (Maha Mengurusi para makhluk-Nya).Lalu Allah menjelaskan betapa luas wilayah kekuasaan-Nya. Seluruh alam semesta, langit dan bumi, adalah milik-Nya. Sehingga tidak ada satupun sosok yang bisa lepas dari kekuasaan-Nya. Bahkan pemberian syafaat tidak mungkin bisa dilakukan tanpa seizin dari-Nya.Apapun yang akan dan sudah terjadi di alam semesta ini pasti sepengetahuan Allah. Begitulah kemahaluasan ilmu-Nya. Berbeda jauh dengan ilmu manusia yang sangat terbatas. Mereka hanya mengetahui apa yang diajarkan Allah kepada mereka.Selanjutnya Allah menggambarkan kepada kita tentang kebesaran-Nya. Dengan menceritakan kebesaran salah satu makhluk ciptaan-Nya, yaitu Kursiy. Di mana makhluk ini memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan langit dan bumi!Terakhir, ayat spesial ini ditutup oleh Allah dengan menyebutkan dua nama-Nya yang mulia. Al-‘Aliy (Maha Tinggi) dan al-‘Azhîm (Maha Agung). Agar para hamba senantiasa merasa rendah dan kecil di hadapan-Nya. Hati mereka dipenuhi ketundukan, kepatuhan, keimanan dan pengagungan kepada-Nya. Maka siapapun yang demikian kondisinya, amat layak untuk terlindungi dari kejahatan setan.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Jumada Tsaniyah 1443 / 31 Januari 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 161 MENCUKUR RAMBUT BAYI DAN BERSEDEKAHNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 183 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-2 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 189: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 189 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KEDELAPAN:Membaca Surat al-Ikhlas sebanyak tiga kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 112. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 4 ayat.Dalil LandasanAisyah radhiyallahu ’anha menuturkan,“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ”.“Setiap malam jika Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam beranjak ke peraduan, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya. Kemudian meniupkan nafas dari mulutnya dengan sedikit air ludah. Lalu membaca, “Qul huwallahu ahad” (Surat al-Ikhlas), “Qul a’ûdzubirabbil falaq” (Surat al-Falaq) dan “Qul a’udzubirabbin nas” (Surat an-Nas). Kemudian mengusapkan kedua tangannya ke seluruh bagian tubuh yang bisa dijangkau. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal itu tiga kali”. HR. Bukhari (no. 5017).Dzikir ini akan melindungi insan dari bahaya apapun juga, entah itu setan maupun binatang berbisa. Juga menghindarkan dia dari mimpi buruk.Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sangat menjaga wirid ini. Bahkan dalam suatu riwayat Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan, “Saat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sakit, beliau menyuruhku untuk membacakan wirid tersebut atas beliau”. HR. Bukhari (no. 5748).Renungan KandunganSurat yang mulia ini memiliki keistimewaan spesial yang tidak dimiliki surat al-Qur’an lainnya. Di antaranya: surat ini sepadan dengan sepertiga al-Qur’an. Sebab kandungannya sebanding dengan sepertiga kandungan al-Qur’an. Secara garis besar, isi al-Qur’an terbagi menjadi tiga bahasan pokok; akidah, hukum dan kisah. Sedang surat al-Ikhlas berisikan bagian pertama; yaitu tauhid. Sehingga barang siapa membaca surat al-Ikhlas, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang membaca sepertiga al-Qur’an.Di awal surat ini Allah ta’ala menegaskan keesaan-Nya. Keesaan Allah ini bersifat mutlak, dalam segala-galanya. Allah Maha Esa dzat-Nya. Allah Maha Esa dalam keberhakan-Nya atas ibadah para hamba. Allah Maha Esa dalam perbuatan ketuhanan-Nya. Serta Allah Maha Esa dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.Selanjutnya kita diingatkan akan kesempurnaan Allah. Sehingga mau tidak mau seluruh penghuni langit dan bumi, tanpa terkecuali, sangat membutuhkan-Nya. Mereka semua meminta pada-Nya dalam setiap kebutuhan dan memohon pada-Nya dalam setiap kepentingan.Lalu Allah menjelaskan bahwa diri-Nya berbeda dengan tuhan-tuhan kaum musyrikin. Dia tidak melahirkan anak. Sebab Dia tidak membutuhkan selain-Nya. Bukan pula merupakan anak dari dzat lain. Sebab jika demikian, maka Dia tidak menjadi yang pertama.Adapun ayat terakhir merupakan rangkuman dan penegasan bahwa pemilik sifat-sifat tersebut di ayat-ayat sebelumnya adalah Dzat yang tidak ada bandingannya sama sekali. Tidak ada apapun yang serupa, apalagi sama dengan Allah dalam segala sesuatu. Baik dalam dzat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya maupun keberhakkan-Nya akan ibadah para hamba.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Dzulhijjah 1443 / 18 Juli 2022Artikel: https://tunasilmu.com Post navigation Previous Pelaksanaan Pemotongan Hewan Qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu 1443 HNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJID Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 189: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 189 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KEDELAPAN:Membaca Surat al-Ikhlas sebanyak tiga kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 112. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 4 ayat.Dalil LandasanAisyah radhiyallahu ’anha menuturkan,“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ”.“Setiap malam jika Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam beranjak ke peraduan, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya. Kemudian meniupkan nafas dari mulutnya dengan sedikit air ludah. Lalu membaca, “Qul huwallahu ahad” (Surat al-Ikhlas), “Qul a’ûdzubirabbil falaq” (Surat al-Falaq) dan “Qul a’udzubirabbin nas” (Surat an-Nas). Kemudian mengusapkan kedua tangannya ke seluruh bagian tubuh yang bisa dijangkau. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal itu tiga kali”. HR. Bukhari (no. 5017).Dzikir ini akan melindungi insan dari bahaya apapun juga, entah itu setan maupun binatang berbisa. Juga menghindarkan dia dari mimpi buruk.Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sangat menjaga wirid ini. Bahkan dalam suatu riwayat Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan, “Saat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sakit, beliau menyuruhku untuk membacakan wirid tersebut atas beliau”. HR. Bukhari (no. 5748).Renungan KandunganSurat yang mulia ini memiliki keistimewaan spesial yang tidak dimiliki surat al-Qur’an lainnya. Di antaranya: surat ini sepadan dengan sepertiga al-Qur’an. Sebab kandungannya sebanding dengan sepertiga kandungan al-Qur’an. Secara garis besar, isi al-Qur’an terbagi menjadi tiga bahasan pokok; akidah, hukum dan kisah. Sedang surat al-Ikhlas berisikan bagian pertama; yaitu tauhid. Sehingga barang siapa membaca surat al-Ikhlas, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang membaca sepertiga al-Qur’an.Di awal surat ini Allah ta’ala menegaskan keesaan-Nya. Keesaan Allah ini bersifat mutlak, dalam segala-galanya. Allah Maha Esa dzat-Nya. Allah Maha Esa dalam keberhakan-Nya atas ibadah para hamba. Allah Maha Esa dalam perbuatan ketuhanan-Nya. Serta Allah Maha Esa dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.Selanjutnya kita diingatkan akan kesempurnaan Allah. Sehingga mau tidak mau seluruh penghuni langit dan bumi, tanpa terkecuali, sangat membutuhkan-Nya. Mereka semua meminta pada-Nya dalam setiap kebutuhan dan memohon pada-Nya dalam setiap kepentingan.Lalu Allah menjelaskan bahwa diri-Nya berbeda dengan tuhan-tuhan kaum musyrikin. Dia tidak melahirkan anak. Sebab Dia tidak membutuhkan selain-Nya. Bukan pula merupakan anak dari dzat lain. Sebab jika demikian, maka Dia tidak menjadi yang pertama.Adapun ayat terakhir merupakan rangkuman dan penegasan bahwa pemilik sifat-sifat tersebut di ayat-ayat sebelumnya adalah Dzat yang tidak ada bandingannya sama sekali. Tidak ada apapun yang serupa, apalagi sama dengan Allah dalam segala sesuatu. Baik dalam dzat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya maupun keberhakkan-Nya akan ibadah para hamba.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Dzulhijjah 1443 / 18 Juli 2022Artikel: https://tunasilmu.com Post navigation Previous Pelaksanaan Pemotongan Hewan Qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu 1443 HNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJID Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 189 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KEDELAPAN:Membaca Surat al-Ikhlas sebanyak tiga kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 112. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 4 ayat.Dalil LandasanAisyah radhiyallahu ’anha menuturkan,“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ”.“Setiap malam jika Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam beranjak ke peraduan, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya. Kemudian meniupkan nafas dari mulutnya dengan sedikit air ludah. Lalu membaca, “Qul huwallahu ahad” (Surat al-Ikhlas), “Qul a’ûdzubirabbil falaq” (Surat al-Falaq) dan “Qul a’udzubirabbin nas” (Surat an-Nas). Kemudian mengusapkan kedua tangannya ke seluruh bagian tubuh yang bisa dijangkau. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal itu tiga kali”. HR. Bukhari (no. 5017).Dzikir ini akan melindungi insan dari bahaya apapun juga, entah itu setan maupun binatang berbisa. Juga menghindarkan dia dari mimpi buruk.Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sangat menjaga wirid ini. Bahkan dalam suatu riwayat Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan, “Saat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sakit, beliau menyuruhku untuk membacakan wirid tersebut atas beliau”. HR. Bukhari (no. 5748).Renungan KandunganSurat yang mulia ini memiliki keistimewaan spesial yang tidak dimiliki surat al-Qur’an lainnya. Di antaranya: surat ini sepadan dengan sepertiga al-Qur’an. Sebab kandungannya sebanding dengan sepertiga kandungan al-Qur’an. Secara garis besar, isi al-Qur’an terbagi menjadi tiga bahasan pokok; akidah, hukum dan kisah. Sedang surat al-Ikhlas berisikan bagian pertama; yaitu tauhid. Sehingga barang siapa membaca surat al-Ikhlas, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang membaca sepertiga al-Qur’an.Di awal surat ini Allah ta’ala menegaskan keesaan-Nya. Keesaan Allah ini bersifat mutlak, dalam segala-galanya. Allah Maha Esa dzat-Nya. Allah Maha Esa dalam keberhakan-Nya atas ibadah para hamba. Allah Maha Esa dalam perbuatan ketuhanan-Nya. Serta Allah Maha Esa dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.Selanjutnya kita diingatkan akan kesempurnaan Allah. Sehingga mau tidak mau seluruh penghuni langit dan bumi, tanpa terkecuali, sangat membutuhkan-Nya. Mereka semua meminta pada-Nya dalam setiap kebutuhan dan memohon pada-Nya dalam setiap kepentingan.Lalu Allah menjelaskan bahwa diri-Nya berbeda dengan tuhan-tuhan kaum musyrikin. Dia tidak melahirkan anak. Sebab Dia tidak membutuhkan selain-Nya. Bukan pula merupakan anak dari dzat lain. Sebab jika demikian, maka Dia tidak menjadi yang pertama.Adapun ayat terakhir merupakan rangkuman dan penegasan bahwa pemilik sifat-sifat tersebut di ayat-ayat sebelumnya adalah Dzat yang tidak ada bandingannya sama sekali. Tidak ada apapun yang serupa, apalagi sama dengan Allah dalam segala sesuatu. Baik dalam dzat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya maupun keberhakkan-Nya akan ibadah para hamba.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Dzulhijjah 1443 / 18 Juli 2022Artikel: https://tunasilmu.com Post navigation Previous Pelaksanaan Pemotongan Hewan Qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu 1443 HNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJID Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 189 DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KEDELAPAN:Membaca Surat al-Ikhlas sebanyak tiga kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 112. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 4 ayat.Dalil LandasanAisyah radhiyallahu ’anha menuturkan,“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ”.“Setiap malam jika Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam beranjak ke peraduan, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya. Kemudian meniupkan nafas dari mulutnya dengan sedikit air ludah. Lalu membaca, “Qul huwallahu ahad” (Surat al-Ikhlas), “Qul a’ûdzubirabbil falaq” (Surat al-Falaq) dan “Qul a’udzubirabbin nas” (Surat an-Nas). Kemudian mengusapkan kedua tangannya ke seluruh bagian tubuh yang bisa dijangkau. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal itu tiga kali”. HR. Bukhari (no. 5017).Dzikir ini akan melindungi insan dari bahaya apapun juga, entah itu setan maupun binatang berbisa. Juga menghindarkan dia dari mimpi buruk.Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sangat menjaga wirid ini. Bahkan dalam suatu riwayat Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan, “Saat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sakit, beliau menyuruhku untuk membacakan wirid tersebut atas beliau”. HR. Bukhari (no. 5748).Renungan KandunganSurat yang mulia ini memiliki keistimewaan spesial yang tidak dimiliki surat al-Qur’an lainnya. Di antaranya: surat ini sepadan dengan sepertiga al-Qur’an. Sebab kandungannya sebanding dengan sepertiga kandungan al-Qur’an. Secara garis besar, isi al-Qur’an terbagi menjadi tiga bahasan pokok; akidah, hukum dan kisah. Sedang surat al-Ikhlas berisikan bagian pertama; yaitu tauhid. Sehingga barang siapa membaca surat al-Ikhlas, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang membaca sepertiga al-Qur’an.Di awal surat ini Allah ta’ala menegaskan keesaan-Nya. Keesaan Allah ini bersifat mutlak, dalam segala-galanya. Allah Maha Esa dzat-Nya. Allah Maha Esa dalam keberhakan-Nya atas ibadah para hamba. Allah Maha Esa dalam perbuatan ketuhanan-Nya. Serta Allah Maha Esa dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.Selanjutnya kita diingatkan akan kesempurnaan Allah. Sehingga mau tidak mau seluruh penghuni langit dan bumi, tanpa terkecuali, sangat membutuhkan-Nya. Mereka semua meminta pada-Nya dalam setiap kebutuhan dan memohon pada-Nya dalam setiap kepentingan.Lalu Allah menjelaskan bahwa diri-Nya berbeda dengan tuhan-tuhan kaum musyrikin. Dia tidak melahirkan anak. Sebab Dia tidak membutuhkan selain-Nya. Bukan pula merupakan anak dari dzat lain. Sebab jika demikian, maka Dia tidak menjadi yang pertama.Adapun ayat terakhir merupakan rangkuman dan penegasan bahwa pemilik sifat-sifat tersebut di ayat-ayat sebelumnya adalah Dzat yang tidak ada bandingannya sama sekali. Tidak ada apapun yang serupa, apalagi sama dengan Allah dalam segala sesuatu. Baik dalam dzat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya maupun keberhakkan-Nya akan ibadah para hamba.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Dzulhijjah 1443 / 18 Juli 2022Artikel: https://tunasilmu.com Post navigation Previous Pelaksanaan Pemotongan Hewan Qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu 1443 HNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJID Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

RINDU ALLAH

Rindu adalah perasaan sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu. Perasaan ini biasanya muncul saat lama tak berjumpa dengan seseorang yang amat disayangi. Hal ini manusiawi dan sah-sah saja. Selama tidak berlebihan atau melampaui batas.Namun, pernahkah kita merindukan Dzat yang teramat sangat menyayangi kita? Bahkan tak mungkin kita hidup tanpa kasih sayang-Nya. Dialah Allah subhanahu wa ta’ala.Kerinduan hamba kepada Rabbnya terobati saat bermunajat kepada-Nya. Terutama ketika menunaikan shalat. Sehingga ia benar-benar selalu menunggu-nunggu kedatangan waktu shalat dan sangat menikmati saat menjalaninya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan,“وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ““Hiburanku adalah shalat”. HR. Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim, adh-Dhiya’ al-Maqdisiy serta al-Albaniy.Bagaimana tidak terhibur dan menikmati shalat, sedangkan di dalamnya seorang hamba ‘bercakap-cakap’ dengan Allah ta’ala.Dalam Shahîh Muslim (IV/324 no. 876) disebutkan bahwa setiap hamba membaca ayat per ayat surat al-Fatihah, Allah ta’ala akan membalas dengan firman-Nya.Imam Ibn Rajab (w. 795 H) menjelaskan bahwa “hadits di atas menunjukkan bahwasanya Allah mendengarkan bacaan orang yang shalat. Sebab dia sedang bermunajat (berbisik-bisik) dengan Rabbnya. Lalu Allah menjawab setiap bisikan hamba-Nya, kalimat per kalimat”.Pertemuan akbarPertemuan rutin harian hamba dengan Allah adalah ketika shalat. Adapun pertemuan akbarnya, adalah ketika ia bertemu Allah di surga-Nya. Hanya orang-orang beriman yang merindukan pertemuan tersebutlah, yang akan menikmati karunia terbesar itu.عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“، قَالَتْ عَائِشَةُ أَوْ بَعْضُ أَزْوَاجِهِ: إِنَّا لَنَكْرَهُ المَوْتَ، قَالَ: “لَيْسَ ذَاكِ، وَلَكِنَّ المُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ المَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ. وَإِنَّ الكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“.Dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Barang siapa menyukai perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun akan menyukai perjumpaan dengannya. Barang siapa membenci perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun akan membenci perjumpaan dengannya”. Aisyah atau sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kita semua membenci kematian”.Beliau menjawab, “Bukan itu yang dimaksud. Namun seorang mukmin saat menghadapi sakaratul maut, dia akan diberi kabar gembira berupa ridha Allah dan karunia-Nya. Tidak ada sesuatu yang lebih ia sukai dibandingkan apa yang akan ia peroleh kelak. Saat itulah ia menyukai perjumpaan dengan Allah. Sehingga Allah pun menyukai perjumpaan dengannya. Adapun orang kafir, ketika menghadapi sakaratul maut, ia akan diancam dengan azab dan hukuman Allah. Tidak ada sesuatu yang lebih ia benci dibanding apa yang akan menimpanya kelak. Sehingga ia membenci perjumpaan dengan Allah. Maka Allah pun membenci perjumpaan dengannya”. HR. Bukhari dan Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 25 Muharram 1440 H / 5 Oktober 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No 106: Anak dan Adab Meminta Ijin Bagian 3 (selesai)Next Laporan Pengeluaran Dana Masjid Manarul Ilmi Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

RINDU ALLAH

Rindu adalah perasaan sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu. Perasaan ini biasanya muncul saat lama tak berjumpa dengan seseorang yang amat disayangi. Hal ini manusiawi dan sah-sah saja. Selama tidak berlebihan atau melampaui batas.Namun, pernahkah kita merindukan Dzat yang teramat sangat menyayangi kita? Bahkan tak mungkin kita hidup tanpa kasih sayang-Nya. Dialah Allah subhanahu wa ta’ala.Kerinduan hamba kepada Rabbnya terobati saat bermunajat kepada-Nya. Terutama ketika menunaikan shalat. Sehingga ia benar-benar selalu menunggu-nunggu kedatangan waktu shalat dan sangat menikmati saat menjalaninya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan,“وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ““Hiburanku adalah shalat”. HR. Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim, adh-Dhiya’ al-Maqdisiy serta al-Albaniy.Bagaimana tidak terhibur dan menikmati shalat, sedangkan di dalamnya seorang hamba ‘bercakap-cakap’ dengan Allah ta’ala.Dalam Shahîh Muslim (IV/324 no. 876) disebutkan bahwa setiap hamba membaca ayat per ayat surat al-Fatihah, Allah ta’ala akan membalas dengan firman-Nya.Imam Ibn Rajab (w. 795 H) menjelaskan bahwa “hadits di atas menunjukkan bahwasanya Allah mendengarkan bacaan orang yang shalat. Sebab dia sedang bermunajat (berbisik-bisik) dengan Rabbnya. Lalu Allah menjawab setiap bisikan hamba-Nya, kalimat per kalimat”.Pertemuan akbarPertemuan rutin harian hamba dengan Allah adalah ketika shalat. Adapun pertemuan akbarnya, adalah ketika ia bertemu Allah di surga-Nya. Hanya orang-orang beriman yang merindukan pertemuan tersebutlah, yang akan menikmati karunia terbesar itu.عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“، قَالَتْ عَائِشَةُ أَوْ بَعْضُ أَزْوَاجِهِ: إِنَّا لَنَكْرَهُ المَوْتَ، قَالَ: “لَيْسَ ذَاكِ، وَلَكِنَّ المُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ المَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ. وَإِنَّ الكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“.Dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Barang siapa menyukai perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun akan menyukai perjumpaan dengannya. Barang siapa membenci perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun akan membenci perjumpaan dengannya”. Aisyah atau sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kita semua membenci kematian”.Beliau menjawab, “Bukan itu yang dimaksud. Namun seorang mukmin saat menghadapi sakaratul maut, dia akan diberi kabar gembira berupa ridha Allah dan karunia-Nya. Tidak ada sesuatu yang lebih ia sukai dibandingkan apa yang akan ia peroleh kelak. Saat itulah ia menyukai perjumpaan dengan Allah. Sehingga Allah pun menyukai perjumpaan dengannya. Adapun orang kafir, ketika menghadapi sakaratul maut, ia akan diancam dengan azab dan hukuman Allah. Tidak ada sesuatu yang lebih ia benci dibanding apa yang akan menimpanya kelak. Sehingga ia membenci perjumpaan dengan Allah. Maka Allah pun membenci perjumpaan dengannya”. HR. Bukhari dan Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 25 Muharram 1440 H / 5 Oktober 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No 106: Anak dan Adab Meminta Ijin Bagian 3 (selesai)Next Laporan Pengeluaran Dana Masjid Manarul Ilmi Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Rindu adalah perasaan sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu. Perasaan ini biasanya muncul saat lama tak berjumpa dengan seseorang yang amat disayangi. Hal ini manusiawi dan sah-sah saja. Selama tidak berlebihan atau melampaui batas.Namun, pernahkah kita merindukan Dzat yang teramat sangat menyayangi kita? Bahkan tak mungkin kita hidup tanpa kasih sayang-Nya. Dialah Allah subhanahu wa ta’ala.Kerinduan hamba kepada Rabbnya terobati saat bermunajat kepada-Nya. Terutama ketika menunaikan shalat. Sehingga ia benar-benar selalu menunggu-nunggu kedatangan waktu shalat dan sangat menikmati saat menjalaninya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan,“وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ““Hiburanku adalah shalat”. HR. Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim, adh-Dhiya’ al-Maqdisiy serta al-Albaniy.Bagaimana tidak terhibur dan menikmati shalat, sedangkan di dalamnya seorang hamba ‘bercakap-cakap’ dengan Allah ta’ala.Dalam Shahîh Muslim (IV/324 no. 876) disebutkan bahwa setiap hamba membaca ayat per ayat surat al-Fatihah, Allah ta’ala akan membalas dengan firman-Nya.Imam Ibn Rajab (w. 795 H) menjelaskan bahwa “hadits di atas menunjukkan bahwasanya Allah mendengarkan bacaan orang yang shalat. Sebab dia sedang bermunajat (berbisik-bisik) dengan Rabbnya. Lalu Allah menjawab setiap bisikan hamba-Nya, kalimat per kalimat”.Pertemuan akbarPertemuan rutin harian hamba dengan Allah adalah ketika shalat. Adapun pertemuan akbarnya, adalah ketika ia bertemu Allah di surga-Nya. Hanya orang-orang beriman yang merindukan pertemuan tersebutlah, yang akan menikmati karunia terbesar itu.عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“، قَالَتْ عَائِشَةُ أَوْ بَعْضُ أَزْوَاجِهِ: إِنَّا لَنَكْرَهُ المَوْتَ، قَالَ: “لَيْسَ ذَاكِ، وَلَكِنَّ المُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ المَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ. وَإِنَّ الكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“.Dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Barang siapa menyukai perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun akan menyukai perjumpaan dengannya. Barang siapa membenci perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun akan membenci perjumpaan dengannya”. Aisyah atau sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kita semua membenci kematian”.Beliau menjawab, “Bukan itu yang dimaksud. Namun seorang mukmin saat menghadapi sakaratul maut, dia akan diberi kabar gembira berupa ridha Allah dan karunia-Nya. Tidak ada sesuatu yang lebih ia sukai dibandingkan apa yang akan ia peroleh kelak. Saat itulah ia menyukai perjumpaan dengan Allah. Sehingga Allah pun menyukai perjumpaan dengannya. Adapun orang kafir, ketika menghadapi sakaratul maut, ia akan diancam dengan azab dan hukuman Allah. Tidak ada sesuatu yang lebih ia benci dibanding apa yang akan menimpanya kelak. Sehingga ia membenci perjumpaan dengan Allah. Maka Allah pun membenci perjumpaan dengannya”. HR. Bukhari dan Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 25 Muharram 1440 H / 5 Oktober 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No 106: Anak dan Adab Meminta Ijin Bagian 3 (selesai)Next Laporan Pengeluaran Dana Masjid Manarul Ilmi Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Rindu adalah perasaan sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu. Perasaan ini biasanya muncul saat lama tak berjumpa dengan seseorang yang amat disayangi. Hal ini manusiawi dan sah-sah saja. Selama tidak berlebihan atau melampaui batas.Namun, pernahkah kita merindukan Dzat yang teramat sangat menyayangi kita? Bahkan tak mungkin kita hidup tanpa kasih sayang-Nya. Dialah Allah subhanahu wa ta’ala.Kerinduan hamba kepada Rabbnya terobati saat bermunajat kepada-Nya. Terutama ketika menunaikan shalat. Sehingga ia benar-benar selalu menunggu-nunggu kedatangan waktu shalat dan sangat menikmati saat menjalaninya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan,“وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ““Hiburanku adalah shalat”. HR. Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim, adh-Dhiya’ al-Maqdisiy serta al-Albaniy.Bagaimana tidak terhibur dan menikmati shalat, sedangkan di dalamnya seorang hamba ‘bercakap-cakap’ dengan Allah ta’ala.Dalam Shahîh Muslim (IV/324 no. 876) disebutkan bahwa setiap hamba membaca ayat per ayat surat al-Fatihah, Allah ta’ala akan membalas dengan firman-Nya.Imam Ibn Rajab (w. 795 H) menjelaskan bahwa “hadits di atas menunjukkan bahwasanya Allah mendengarkan bacaan orang yang shalat. Sebab dia sedang bermunajat (berbisik-bisik) dengan Rabbnya. Lalu Allah menjawab setiap bisikan hamba-Nya, kalimat per kalimat”.Pertemuan akbarPertemuan rutin harian hamba dengan Allah adalah ketika shalat. Adapun pertemuan akbarnya, adalah ketika ia bertemu Allah di surga-Nya. Hanya orang-orang beriman yang merindukan pertemuan tersebutlah, yang akan menikmati karunia terbesar itu.عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“، قَالَتْ عَائِشَةُ أَوْ بَعْضُ أَزْوَاجِهِ: إِنَّا لَنَكْرَهُ المَوْتَ، قَالَ: “لَيْسَ ذَاكِ، وَلَكِنَّ المُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ المَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ. وَإِنَّ الكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ، كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ“.Dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Barang siapa menyukai perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun akan menyukai perjumpaan dengannya. Barang siapa membenci perjumpaan dengan Allah, maka Allah pun akan membenci perjumpaan dengannya”. Aisyah atau sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kita semua membenci kematian”.Beliau menjawab, “Bukan itu yang dimaksud. Namun seorang mukmin saat menghadapi sakaratul maut, dia akan diberi kabar gembira berupa ridha Allah dan karunia-Nya. Tidak ada sesuatu yang lebih ia sukai dibandingkan apa yang akan ia peroleh kelak. Saat itulah ia menyukai perjumpaan dengan Allah. Sehingga Allah pun menyukai perjumpaan dengannya. Adapun orang kafir, ketika menghadapi sakaratul maut, ia akan diancam dengan azab dan hukuman Allah. Tidak ada sesuatu yang lebih ia benci dibanding apa yang akan menimpanya kelak. Sehingga ia membenci perjumpaan dengan Allah. Maka Allah pun membenci perjumpaan dengannya”. HR. Bukhari dan Muslim.@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 25 Muharram 1440 H / 5 Oktober 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No 106: Anak dan Adab Meminta Ijin Bagian 3 (selesai)Next Laporan Pengeluaran Dana Masjid Manarul Ilmi Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Tiga Kaidah Penting Berkaitan dengan Pembatal Iman (Bag. 1)

Di antara ilmu dasar yang wajib diketahui oleh seorang muslim adalah ilmu yang berkaitan dengan pembatal-pembatal iman. Dengan ilmu tersebut, seorang muslim akan senantiasa menjaga ucapan dan perbuatannya dari hal-hal yang dapat membatalkan keimanannya. Demikian pula, dengan memahami kaidah-kaidah yang terkait dengan pembatal iman, kita dapat bersikap kepada sesama muslim dengan ilmu dan metode yang benar.Dalam tulisan kali ini, kami akan menyampaikan tiga kaidah penting yang wajib kita ketahui berkaitan dengan pembatal iman.Kaidah pertama: Hukum asal seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah seorang muslimPara ulama kita telah bersepakat bahwa hukum asal orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah dia seorang muslim. Inilah keyakinan kita terhadap status orang tersebut. Jika telah diketahui dengan yakin bahwa kondisi seseorang itu seorang muslim, maka tidak boleh dikeluarkan dari status muslim (menjadi kafir) kecuali atas dasar keyakinan pula. Jika kita hanya ragu-ragu status kafirnya, maka wajib dikembalikan kepada hukum asal, yaitu masih muslim. Keraguan tersebut wajib ditolak dan tidak boleh divonis kafir.Oleh karena itu, kita berinteraksi (bermuamalah) kepada orang-orang yang menampakkan keislaman dengan bentuk muamalah yang sesuai dan yang seharusnya kita tunjukkan kepada sesama kaum muslimin. Contoh, jika ada seorang muslim yang meninggal dunia dan didatangkan ke perkampungan muslim untuk dishalati, maka wajib dishalati. Adapun sikap yang ditunjukkan oleh sebagian orang ketika mereka enggan untuk menshalati jenazah saudaranya, sampai dia betul-betul mengetahui kondisi jenazah tersebut masih muslim, maka ini adalah sikap yang tidak benar dan tidak ada tuntunannya.Contoh lainnya, jika kita bertamu ke seorang muslim dan dihidangkan daging sembelishan, maka hukum asal daging sembelihan tersebut adalah halal. Kita tidak boleh menganggap haram karena keraguan jangan-jangan tidak disembelih sesuai syariat Islam, dan keraguan-keraguan lainnya. Sebuah kekeliruan ketika mengharamkan sembelihan sesama kaum muslimin sampai kita betul-betul mengetahui dan yakin bahwa dia muslim dan tidak batal imannya. Ini sikap yang keliru, karena berarti dia ragu dengan status muslim saudaranya yang secara lahiriyah adalah seorang muslim.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala berkata ketika menjelaskan manhaj ahlus sunnah dalam masalah ini,وَلَيْسَ لِأَحَدِ أَنْ يُكَفِّرَ أَحَدًا مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَإِنْ أَخْطَأَ وَغَلِطَ حَتَّى تُقَامَ عَلَيْهِ الْحُجَّةُ وَتُبَيَّنَ لَهُ الْمَحَجَّةُ وَمَنْ ثَبَتَ إسْلَامُهُ بِيَقِينِ لَمْ يَزُلْ ذَلِكَ عَنْهُ بِالشَّكِّ؛ بَلْ لَا يَزُولُ إلَّا بَعْدَ إقَامَةِ الْحُجَّةِ وَإِزَالَةِ الشُّبْهَةِ“Tidak boleh atas siapa pun untuk mengkafirkan seorang pun dari kaum muslimin, meskipun dia salah dan keliru, sampai ditegakkan hujjah (argumentasi) atasnya dan dijelaskan kepadanya jalan yang benar. Siapa saja yang status keislamannya telah ditetapkan atas dasar keyakinan, maka tidak boleh dikeluarkan dari status muslim hanya berdasar keragu-raguan. Bahkan, tidak boleh dikeluarkan (dari status muslim) kecuali setelah ditegakkan hujjah dan dihilangkan syubhat (pemikiran-pemikiran yang rancu).” (Majmuu’ Al-Fataawa, 12: 466)Beliau kembali menegaskan di tempat yang lainnya,وَمَنْ ثَبَتَ إيمَانُهُ بِيَقِينِ لَمْ يَزُلْ ذَلِكَ عَنْهُ بِالشَّكِّ“Siapa saja yang status keimanannya telah ditetapkan atas dasar keyakinan, maka tidak boleh dikeluarkan dari status muslim hanya berdasar keragu-raguan.” (Majmuu’ Al-Fataawa, 12: 501)Begitu pula yang disampaikan oleh Ibnu Nuhaim Al-Hanafi rahimahullahu Ta’ala,وَمَا يَشُكُّ أَنَّهُ رِدَّةٌ لَا يَحْكُمُ بِهَا إذْ الْإِسْلَامُ الثَّابِتُ لَا يَزُولُ بِشَكٍّ“Barangsiapa yang ragu apakah seseorang telah keluar dari Islam, maka keraguan ini tidak dianggap. Karena status Islam yang ada pada dirinya tidak boleh dihilangkan dengan keraguan.” (Al-Bahru Ar-Raa’iq, 5: 134)Dalil kaidah ini adalah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الحُرَقَةِ مِنْ جُهَيْنَةَ، قَالَ: فَصَبَّحْنَا القَوْمَ فَهَزَمْنَاهُمْ، قَالَ: وَلَحِقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ رَجُلًا مِنْهُمْ، قَالَ: فَلَمَّا غَشِينَاهُ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: فَكَفَّ عَنْهُ الأَنْصَارِيُّ، فَطَعَنْتُهُ بِرُمْحِي حَتَّى قَتَلْتُهُ، قَالَ: فَلَمَّا قَدِمْنَا بَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ: فَقَالَ لِي:“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami dalam sebuah pasukan perang untuk menyerang orang-orang kafir Bani Huraqah, dari suku Juhainah. Kami menyerang mereka di waktu pagi dan kami pun mengalahkan mereka. Saya dan salah seorang sahabat Anshar mengejar seorang anggota Bani Huraqah yang melarikan diri. Ketika kami mengepungnya, tiba-tiba dia mengucapkan ‘laa ilaaha illa Allah’ (Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah). Sahabat Anshar itu pun menahan dirinya (tidak jadi membunuhnya, pen.). Adapun saya, saya menusuk orang tersebut dengan tombakku sampai saya menewaskannya.”Usamah bin Zaid melanjutkan ceritanya, “Ketika kami tiba di Madinah, berita tersebut sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bertanya kepadaku,يَا أُسَامَةُ، أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ“Wahai Usamah, apakah Engkau tetap membunuhnya setelah dia mengucapkan laa ilaaha illa Allah?”Saya (Usamah) menjawab,يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا“Wahai Rasulullah, dia mengucapkannya sekedar untuk melindungi dirinya.”Namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bertanya,أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ“Apakah Engkau tetap membunuhnya setelah dia mengucapkan laa ilaaha illa Allah?”Saya (Usamah) berkata,فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ، حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ اليَوْمِ“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus mengulang-ulang pertanyaan itu, sehingga saya berangan-angan andai saja saya belum masuk Islam sebelum hari itu.” (HR. Bukhari no. 6872)Dalam riwayat Muslim disebutkan, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Usamah,أَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَقَتَلْتَهُ؟“Mengapa Engkau membunuh orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah?”Usamah menjawab,يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلَاحِ“Wahai Rasulullah! Sesungguhnya dia hanyalah mengucapkannya karena takut dengan pedang.”Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi,أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا؟“Apakah Engkau telah membelah dadanya sehingga kamu tahu dia benar-benar mengucapkan dua kalimat syahadat atau tidak?”Usamah berkata,فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus mengulang-ulang pertanyaan itu, sehingga saya berandai-andai bahwa saya baru masuk Islam saat itu.” (HR. Bukhari no. 6872)Marilah kita renungkan kisah Usamah radhiyallahu ‘anhu di atas. Ada seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dengan ucapan dan kesaksiannya itu, dia masuk Islam. Akan tetapi, terdapat indikasi yang menunjukkan keragu-raguan tentang kejujuran ucapannya itu. Karena orang ini belum lama adalah orang kafir yang telah membunuh kaum muslimin dan dia pun melarikan diri. Ketika dia tertangkap dan hampir dibunuh, dia sudah melihat kilatan pedang di atas kepalanya, maka dia pun mengucapkan dua kalimat syahadat. Dan dengan persaksian itu, dia juga tidak membatalkan keimanannya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam mencela dan mengingkari Usamah yang telah membunuhnya.Ini adalah kaidah penting bagi seorang muslim agar selamat dari penyakit bermudah-mudah dan ceroboh dalam memvons kafir (takfir) sesama muslim.[Bersambung]***@Sint-Jobskade 718 NL, 18 Syawwal 1439/ 2 Juli 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Disarikan dari kitab Al-Ilmaam bi Syarhi Nawaaqidhil Islaam li Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, karya Syaikh Dr. Sulaiman bin Salimullah Ar-Ruhaili hafidzahullah, hal. 9-10.🔍 Doa Mohon Perlindungan Dari Kejahatan Semua Makhluk, Dzikir Setelah Sholat Sunnah, Dzikir Jumat, Berjilbab Menurut Islam, Ciri Ciri Rumah Ada Gangguan Jin

Tiga Kaidah Penting Berkaitan dengan Pembatal Iman (Bag. 1)

Di antara ilmu dasar yang wajib diketahui oleh seorang muslim adalah ilmu yang berkaitan dengan pembatal-pembatal iman. Dengan ilmu tersebut, seorang muslim akan senantiasa menjaga ucapan dan perbuatannya dari hal-hal yang dapat membatalkan keimanannya. Demikian pula, dengan memahami kaidah-kaidah yang terkait dengan pembatal iman, kita dapat bersikap kepada sesama muslim dengan ilmu dan metode yang benar.Dalam tulisan kali ini, kami akan menyampaikan tiga kaidah penting yang wajib kita ketahui berkaitan dengan pembatal iman.Kaidah pertama: Hukum asal seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah seorang muslimPara ulama kita telah bersepakat bahwa hukum asal orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah dia seorang muslim. Inilah keyakinan kita terhadap status orang tersebut. Jika telah diketahui dengan yakin bahwa kondisi seseorang itu seorang muslim, maka tidak boleh dikeluarkan dari status muslim (menjadi kafir) kecuali atas dasar keyakinan pula. Jika kita hanya ragu-ragu status kafirnya, maka wajib dikembalikan kepada hukum asal, yaitu masih muslim. Keraguan tersebut wajib ditolak dan tidak boleh divonis kafir.Oleh karena itu, kita berinteraksi (bermuamalah) kepada orang-orang yang menampakkan keislaman dengan bentuk muamalah yang sesuai dan yang seharusnya kita tunjukkan kepada sesama kaum muslimin. Contoh, jika ada seorang muslim yang meninggal dunia dan didatangkan ke perkampungan muslim untuk dishalati, maka wajib dishalati. Adapun sikap yang ditunjukkan oleh sebagian orang ketika mereka enggan untuk menshalati jenazah saudaranya, sampai dia betul-betul mengetahui kondisi jenazah tersebut masih muslim, maka ini adalah sikap yang tidak benar dan tidak ada tuntunannya.Contoh lainnya, jika kita bertamu ke seorang muslim dan dihidangkan daging sembelishan, maka hukum asal daging sembelihan tersebut adalah halal. Kita tidak boleh menganggap haram karena keraguan jangan-jangan tidak disembelih sesuai syariat Islam, dan keraguan-keraguan lainnya. Sebuah kekeliruan ketika mengharamkan sembelihan sesama kaum muslimin sampai kita betul-betul mengetahui dan yakin bahwa dia muslim dan tidak batal imannya. Ini sikap yang keliru, karena berarti dia ragu dengan status muslim saudaranya yang secara lahiriyah adalah seorang muslim.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala berkata ketika menjelaskan manhaj ahlus sunnah dalam masalah ini,وَلَيْسَ لِأَحَدِ أَنْ يُكَفِّرَ أَحَدًا مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَإِنْ أَخْطَأَ وَغَلِطَ حَتَّى تُقَامَ عَلَيْهِ الْحُجَّةُ وَتُبَيَّنَ لَهُ الْمَحَجَّةُ وَمَنْ ثَبَتَ إسْلَامُهُ بِيَقِينِ لَمْ يَزُلْ ذَلِكَ عَنْهُ بِالشَّكِّ؛ بَلْ لَا يَزُولُ إلَّا بَعْدَ إقَامَةِ الْحُجَّةِ وَإِزَالَةِ الشُّبْهَةِ“Tidak boleh atas siapa pun untuk mengkafirkan seorang pun dari kaum muslimin, meskipun dia salah dan keliru, sampai ditegakkan hujjah (argumentasi) atasnya dan dijelaskan kepadanya jalan yang benar. Siapa saja yang status keislamannya telah ditetapkan atas dasar keyakinan, maka tidak boleh dikeluarkan dari status muslim hanya berdasar keragu-raguan. Bahkan, tidak boleh dikeluarkan (dari status muslim) kecuali setelah ditegakkan hujjah dan dihilangkan syubhat (pemikiran-pemikiran yang rancu).” (Majmuu’ Al-Fataawa, 12: 466)Beliau kembali menegaskan di tempat yang lainnya,وَمَنْ ثَبَتَ إيمَانُهُ بِيَقِينِ لَمْ يَزُلْ ذَلِكَ عَنْهُ بِالشَّكِّ“Siapa saja yang status keimanannya telah ditetapkan atas dasar keyakinan, maka tidak boleh dikeluarkan dari status muslim hanya berdasar keragu-raguan.” (Majmuu’ Al-Fataawa, 12: 501)Begitu pula yang disampaikan oleh Ibnu Nuhaim Al-Hanafi rahimahullahu Ta’ala,وَمَا يَشُكُّ أَنَّهُ رِدَّةٌ لَا يَحْكُمُ بِهَا إذْ الْإِسْلَامُ الثَّابِتُ لَا يَزُولُ بِشَكٍّ“Barangsiapa yang ragu apakah seseorang telah keluar dari Islam, maka keraguan ini tidak dianggap. Karena status Islam yang ada pada dirinya tidak boleh dihilangkan dengan keraguan.” (Al-Bahru Ar-Raa’iq, 5: 134)Dalil kaidah ini adalah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الحُرَقَةِ مِنْ جُهَيْنَةَ، قَالَ: فَصَبَّحْنَا القَوْمَ فَهَزَمْنَاهُمْ، قَالَ: وَلَحِقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ رَجُلًا مِنْهُمْ، قَالَ: فَلَمَّا غَشِينَاهُ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: فَكَفَّ عَنْهُ الأَنْصَارِيُّ، فَطَعَنْتُهُ بِرُمْحِي حَتَّى قَتَلْتُهُ، قَالَ: فَلَمَّا قَدِمْنَا بَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ: فَقَالَ لِي:“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami dalam sebuah pasukan perang untuk menyerang orang-orang kafir Bani Huraqah, dari suku Juhainah. Kami menyerang mereka di waktu pagi dan kami pun mengalahkan mereka. Saya dan salah seorang sahabat Anshar mengejar seorang anggota Bani Huraqah yang melarikan diri. Ketika kami mengepungnya, tiba-tiba dia mengucapkan ‘laa ilaaha illa Allah’ (Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah). Sahabat Anshar itu pun menahan dirinya (tidak jadi membunuhnya, pen.). Adapun saya, saya menusuk orang tersebut dengan tombakku sampai saya menewaskannya.”Usamah bin Zaid melanjutkan ceritanya, “Ketika kami tiba di Madinah, berita tersebut sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bertanya kepadaku,يَا أُسَامَةُ، أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ“Wahai Usamah, apakah Engkau tetap membunuhnya setelah dia mengucapkan laa ilaaha illa Allah?”Saya (Usamah) menjawab,يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا“Wahai Rasulullah, dia mengucapkannya sekedar untuk melindungi dirinya.”Namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bertanya,أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ“Apakah Engkau tetap membunuhnya setelah dia mengucapkan laa ilaaha illa Allah?”Saya (Usamah) berkata,فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ، حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ اليَوْمِ“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus mengulang-ulang pertanyaan itu, sehingga saya berangan-angan andai saja saya belum masuk Islam sebelum hari itu.” (HR. Bukhari no. 6872)Dalam riwayat Muslim disebutkan, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Usamah,أَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَقَتَلْتَهُ؟“Mengapa Engkau membunuh orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah?”Usamah menjawab,يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلَاحِ“Wahai Rasulullah! Sesungguhnya dia hanyalah mengucapkannya karena takut dengan pedang.”Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi,أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا؟“Apakah Engkau telah membelah dadanya sehingga kamu tahu dia benar-benar mengucapkan dua kalimat syahadat atau tidak?”Usamah berkata,فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus mengulang-ulang pertanyaan itu, sehingga saya berandai-andai bahwa saya baru masuk Islam saat itu.” (HR. Bukhari no. 6872)Marilah kita renungkan kisah Usamah radhiyallahu ‘anhu di atas. Ada seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dengan ucapan dan kesaksiannya itu, dia masuk Islam. Akan tetapi, terdapat indikasi yang menunjukkan keragu-raguan tentang kejujuran ucapannya itu. Karena orang ini belum lama adalah orang kafir yang telah membunuh kaum muslimin dan dia pun melarikan diri. Ketika dia tertangkap dan hampir dibunuh, dia sudah melihat kilatan pedang di atas kepalanya, maka dia pun mengucapkan dua kalimat syahadat. Dan dengan persaksian itu, dia juga tidak membatalkan keimanannya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam mencela dan mengingkari Usamah yang telah membunuhnya.Ini adalah kaidah penting bagi seorang muslim agar selamat dari penyakit bermudah-mudah dan ceroboh dalam memvons kafir (takfir) sesama muslim.[Bersambung]***@Sint-Jobskade 718 NL, 18 Syawwal 1439/ 2 Juli 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Disarikan dari kitab Al-Ilmaam bi Syarhi Nawaaqidhil Islaam li Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, karya Syaikh Dr. Sulaiman bin Salimullah Ar-Ruhaili hafidzahullah, hal. 9-10.🔍 Doa Mohon Perlindungan Dari Kejahatan Semua Makhluk, Dzikir Setelah Sholat Sunnah, Dzikir Jumat, Berjilbab Menurut Islam, Ciri Ciri Rumah Ada Gangguan Jin
Di antara ilmu dasar yang wajib diketahui oleh seorang muslim adalah ilmu yang berkaitan dengan pembatal-pembatal iman. Dengan ilmu tersebut, seorang muslim akan senantiasa menjaga ucapan dan perbuatannya dari hal-hal yang dapat membatalkan keimanannya. Demikian pula, dengan memahami kaidah-kaidah yang terkait dengan pembatal iman, kita dapat bersikap kepada sesama muslim dengan ilmu dan metode yang benar.Dalam tulisan kali ini, kami akan menyampaikan tiga kaidah penting yang wajib kita ketahui berkaitan dengan pembatal iman.Kaidah pertama: Hukum asal seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah seorang muslimPara ulama kita telah bersepakat bahwa hukum asal orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah dia seorang muslim. Inilah keyakinan kita terhadap status orang tersebut. Jika telah diketahui dengan yakin bahwa kondisi seseorang itu seorang muslim, maka tidak boleh dikeluarkan dari status muslim (menjadi kafir) kecuali atas dasar keyakinan pula. Jika kita hanya ragu-ragu status kafirnya, maka wajib dikembalikan kepada hukum asal, yaitu masih muslim. Keraguan tersebut wajib ditolak dan tidak boleh divonis kafir.Oleh karena itu, kita berinteraksi (bermuamalah) kepada orang-orang yang menampakkan keislaman dengan bentuk muamalah yang sesuai dan yang seharusnya kita tunjukkan kepada sesama kaum muslimin. Contoh, jika ada seorang muslim yang meninggal dunia dan didatangkan ke perkampungan muslim untuk dishalati, maka wajib dishalati. Adapun sikap yang ditunjukkan oleh sebagian orang ketika mereka enggan untuk menshalati jenazah saudaranya, sampai dia betul-betul mengetahui kondisi jenazah tersebut masih muslim, maka ini adalah sikap yang tidak benar dan tidak ada tuntunannya.Contoh lainnya, jika kita bertamu ke seorang muslim dan dihidangkan daging sembelishan, maka hukum asal daging sembelihan tersebut adalah halal. Kita tidak boleh menganggap haram karena keraguan jangan-jangan tidak disembelih sesuai syariat Islam, dan keraguan-keraguan lainnya. Sebuah kekeliruan ketika mengharamkan sembelihan sesama kaum muslimin sampai kita betul-betul mengetahui dan yakin bahwa dia muslim dan tidak batal imannya. Ini sikap yang keliru, karena berarti dia ragu dengan status muslim saudaranya yang secara lahiriyah adalah seorang muslim.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala berkata ketika menjelaskan manhaj ahlus sunnah dalam masalah ini,وَلَيْسَ لِأَحَدِ أَنْ يُكَفِّرَ أَحَدًا مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَإِنْ أَخْطَأَ وَغَلِطَ حَتَّى تُقَامَ عَلَيْهِ الْحُجَّةُ وَتُبَيَّنَ لَهُ الْمَحَجَّةُ وَمَنْ ثَبَتَ إسْلَامُهُ بِيَقِينِ لَمْ يَزُلْ ذَلِكَ عَنْهُ بِالشَّكِّ؛ بَلْ لَا يَزُولُ إلَّا بَعْدَ إقَامَةِ الْحُجَّةِ وَإِزَالَةِ الشُّبْهَةِ“Tidak boleh atas siapa pun untuk mengkafirkan seorang pun dari kaum muslimin, meskipun dia salah dan keliru, sampai ditegakkan hujjah (argumentasi) atasnya dan dijelaskan kepadanya jalan yang benar. Siapa saja yang status keislamannya telah ditetapkan atas dasar keyakinan, maka tidak boleh dikeluarkan dari status muslim hanya berdasar keragu-raguan. Bahkan, tidak boleh dikeluarkan (dari status muslim) kecuali setelah ditegakkan hujjah dan dihilangkan syubhat (pemikiran-pemikiran yang rancu).” (Majmuu’ Al-Fataawa, 12: 466)Beliau kembali menegaskan di tempat yang lainnya,وَمَنْ ثَبَتَ إيمَانُهُ بِيَقِينِ لَمْ يَزُلْ ذَلِكَ عَنْهُ بِالشَّكِّ“Siapa saja yang status keimanannya telah ditetapkan atas dasar keyakinan, maka tidak boleh dikeluarkan dari status muslim hanya berdasar keragu-raguan.” (Majmuu’ Al-Fataawa, 12: 501)Begitu pula yang disampaikan oleh Ibnu Nuhaim Al-Hanafi rahimahullahu Ta’ala,وَمَا يَشُكُّ أَنَّهُ رِدَّةٌ لَا يَحْكُمُ بِهَا إذْ الْإِسْلَامُ الثَّابِتُ لَا يَزُولُ بِشَكٍّ“Barangsiapa yang ragu apakah seseorang telah keluar dari Islam, maka keraguan ini tidak dianggap. Karena status Islam yang ada pada dirinya tidak boleh dihilangkan dengan keraguan.” (Al-Bahru Ar-Raa’iq, 5: 134)Dalil kaidah ini adalah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الحُرَقَةِ مِنْ جُهَيْنَةَ، قَالَ: فَصَبَّحْنَا القَوْمَ فَهَزَمْنَاهُمْ، قَالَ: وَلَحِقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ رَجُلًا مِنْهُمْ، قَالَ: فَلَمَّا غَشِينَاهُ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: فَكَفَّ عَنْهُ الأَنْصَارِيُّ، فَطَعَنْتُهُ بِرُمْحِي حَتَّى قَتَلْتُهُ، قَالَ: فَلَمَّا قَدِمْنَا بَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ: فَقَالَ لِي:“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami dalam sebuah pasukan perang untuk menyerang orang-orang kafir Bani Huraqah, dari suku Juhainah. Kami menyerang mereka di waktu pagi dan kami pun mengalahkan mereka. Saya dan salah seorang sahabat Anshar mengejar seorang anggota Bani Huraqah yang melarikan diri. Ketika kami mengepungnya, tiba-tiba dia mengucapkan ‘laa ilaaha illa Allah’ (Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah). Sahabat Anshar itu pun menahan dirinya (tidak jadi membunuhnya, pen.). Adapun saya, saya menusuk orang tersebut dengan tombakku sampai saya menewaskannya.”Usamah bin Zaid melanjutkan ceritanya, “Ketika kami tiba di Madinah, berita tersebut sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bertanya kepadaku,يَا أُسَامَةُ، أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ“Wahai Usamah, apakah Engkau tetap membunuhnya setelah dia mengucapkan laa ilaaha illa Allah?”Saya (Usamah) menjawab,يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا“Wahai Rasulullah, dia mengucapkannya sekedar untuk melindungi dirinya.”Namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bertanya,أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ“Apakah Engkau tetap membunuhnya setelah dia mengucapkan laa ilaaha illa Allah?”Saya (Usamah) berkata,فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ، حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ اليَوْمِ“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus mengulang-ulang pertanyaan itu, sehingga saya berangan-angan andai saja saya belum masuk Islam sebelum hari itu.” (HR. Bukhari no. 6872)Dalam riwayat Muslim disebutkan, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Usamah,أَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَقَتَلْتَهُ؟“Mengapa Engkau membunuh orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah?”Usamah menjawab,يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلَاحِ“Wahai Rasulullah! Sesungguhnya dia hanyalah mengucapkannya karena takut dengan pedang.”Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi,أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا؟“Apakah Engkau telah membelah dadanya sehingga kamu tahu dia benar-benar mengucapkan dua kalimat syahadat atau tidak?”Usamah berkata,فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus mengulang-ulang pertanyaan itu, sehingga saya berandai-andai bahwa saya baru masuk Islam saat itu.” (HR. Bukhari no. 6872)Marilah kita renungkan kisah Usamah radhiyallahu ‘anhu di atas. Ada seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dengan ucapan dan kesaksiannya itu, dia masuk Islam. Akan tetapi, terdapat indikasi yang menunjukkan keragu-raguan tentang kejujuran ucapannya itu. Karena orang ini belum lama adalah orang kafir yang telah membunuh kaum muslimin dan dia pun melarikan diri. Ketika dia tertangkap dan hampir dibunuh, dia sudah melihat kilatan pedang di atas kepalanya, maka dia pun mengucapkan dua kalimat syahadat. Dan dengan persaksian itu, dia juga tidak membatalkan keimanannya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam mencela dan mengingkari Usamah yang telah membunuhnya.Ini adalah kaidah penting bagi seorang muslim agar selamat dari penyakit bermudah-mudah dan ceroboh dalam memvons kafir (takfir) sesama muslim.[Bersambung]***@Sint-Jobskade 718 NL, 18 Syawwal 1439/ 2 Juli 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Disarikan dari kitab Al-Ilmaam bi Syarhi Nawaaqidhil Islaam li Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, karya Syaikh Dr. Sulaiman bin Salimullah Ar-Ruhaili hafidzahullah, hal. 9-10.🔍 Doa Mohon Perlindungan Dari Kejahatan Semua Makhluk, Dzikir Setelah Sholat Sunnah, Dzikir Jumat, Berjilbab Menurut Islam, Ciri Ciri Rumah Ada Gangguan Jin


Di antara ilmu dasar yang wajib diketahui oleh seorang muslim adalah ilmu yang berkaitan dengan pembatal-pembatal iman. Dengan ilmu tersebut, seorang muslim akan senantiasa menjaga ucapan dan perbuatannya dari hal-hal yang dapat membatalkan keimanannya. Demikian pula, dengan memahami kaidah-kaidah yang terkait dengan pembatal iman, kita dapat bersikap kepada sesama muslim dengan ilmu dan metode yang benar.Dalam tulisan kali ini, kami akan menyampaikan tiga kaidah penting yang wajib kita ketahui berkaitan dengan pembatal iman.Kaidah pertama: Hukum asal seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah seorang muslimPara ulama kita telah bersepakat bahwa hukum asal orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah dia seorang muslim. Inilah keyakinan kita terhadap status orang tersebut. Jika telah diketahui dengan yakin bahwa kondisi seseorang itu seorang muslim, maka tidak boleh dikeluarkan dari status muslim (menjadi kafir) kecuali atas dasar keyakinan pula. Jika kita hanya ragu-ragu status kafirnya, maka wajib dikembalikan kepada hukum asal, yaitu masih muslim. Keraguan tersebut wajib ditolak dan tidak boleh divonis kafir.Oleh karena itu, kita berinteraksi (bermuamalah) kepada orang-orang yang menampakkan keislaman dengan bentuk muamalah yang sesuai dan yang seharusnya kita tunjukkan kepada sesama kaum muslimin. Contoh, jika ada seorang muslim yang meninggal dunia dan didatangkan ke perkampungan muslim untuk dishalati, maka wajib dishalati. Adapun sikap yang ditunjukkan oleh sebagian orang ketika mereka enggan untuk menshalati jenazah saudaranya, sampai dia betul-betul mengetahui kondisi jenazah tersebut masih muslim, maka ini adalah sikap yang tidak benar dan tidak ada tuntunannya.Contoh lainnya, jika kita bertamu ke seorang muslim dan dihidangkan daging sembelishan, maka hukum asal daging sembelihan tersebut adalah halal. Kita tidak boleh menganggap haram karena keraguan jangan-jangan tidak disembelih sesuai syariat Islam, dan keraguan-keraguan lainnya. Sebuah kekeliruan ketika mengharamkan sembelihan sesama kaum muslimin sampai kita betul-betul mengetahui dan yakin bahwa dia muslim dan tidak batal imannya. Ini sikap yang keliru, karena berarti dia ragu dengan status muslim saudaranya yang secara lahiriyah adalah seorang muslim.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala berkata ketika menjelaskan manhaj ahlus sunnah dalam masalah ini,وَلَيْسَ لِأَحَدِ أَنْ يُكَفِّرَ أَحَدًا مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَإِنْ أَخْطَأَ وَغَلِطَ حَتَّى تُقَامَ عَلَيْهِ الْحُجَّةُ وَتُبَيَّنَ لَهُ الْمَحَجَّةُ وَمَنْ ثَبَتَ إسْلَامُهُ بِيَقِينِ لَمْ يَزُلْ ذَلِكَ عَنْهُ بِالشَّكِّ؛ بَلْ لَا يَزُولُ إلَّا بَعْدَ إقَامَةِ الْحُجَّةِ وَإِزَالَةِ الشُّبْهَةِ“Tidak boleh atas siapa pun untuk mengkafirkan seorang pun dari kaum muslimin, meskipun dia salah dan keliru, sampai ditegakkan hujjah (argumentasi) atasnya dan dijelaskan kepadanya jalan yang benar. Siapa saja yang status keislamannya telah ditetapkan atas dasar keyakinan, maka tidak boleh dikeluarkan dari status muslim hanya berdasar keragu-raguan. Bahkan, tidak boleh dikeluarkan (dari status muslim) kecuali setelah ditegakkan hujjah dan dihilangkan syubhat (pemikiran-pemikiran yang rancu).” (Majmuu’ Al-Fataawa, 12: 466)Beliau kembali menegaskan di tempat yang lainnya,وَمَنْ ثَبَتَ إيمَانُهُ بِيَقِينِ لَمْ يَزُلْ ذَلِكَ عَنْهُ بِالشَّكِّ“Siapa saja yang status keimanannya telah ditetapkan atas dasar keyakinan, maka tidak boleh dikeluarkan dari status muslim hanya berdasar keragu-raguan.” (Majmuu’ Al-Fataawa, 12: 501)Begitu pula yang disampaikan oleh Ibnu Nuhaim Al-Hanafi rahimahullahu Ta’ala,وَمَا يَشُكُّ أَنَّهُ رِدَّةٌ لَا يَحْكُمُ بِهَا إذْ الْإِسْلَامُ الثَّابِتُ لَا يَزُولُ بِشَكٍّ“Barangsiapa yang ragu apakah seseorang telah keluar dari Islam, maka keraguan ini tidak dianggap. Karena status Islam yang ada pada dirinya tidak boleh dihilangkan dengan keraguan.” (Al-Bahru Ar-Raa’iq, 5: 134)Dalil kaidah ini adalah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الحُرَقَةِ مِنْ جُهَيْنَةَ، قَالَ: فَصَبَّحْنَا القَوْمَ فَهَزَمْنَاهُمْ، قَالَ: وَلَحِقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ رَجُلًا مِنْهُمْ، قَالَ: فَلَمَّا غَشِينَاهُ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: فَكَفَّ عَنْهُ الأَنْصَارِيُّ، فَطَعَنْتُهُ بِرُمْحِي حَتَّى قَتَلْتُهُ، قَالَ: فَلَمَّا قَدِمْنَا بَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ: فَقَالَ لِي:“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami dalam sebuah pasukan perang untuk menyerang orang-orang kafir Bani Huraqah, dari suku Juhainah. Kami menyerang mereka di waktu pagi dan kami pun mengalahkan mereka. Saya dan salah seorang sahabat Anshar mengejar seorang anggota Bani Huraqah yang melarikan diri. Ketika kami mengepungnya, tiba-tiba dia mengucapkan ‘laa ilaaha illa Allah’ (Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah). Sahabat Anshar itu pun menahan dirinya (tidak jadi membunuhnya, pen.). Adapun saya, saya menusuk orang tersebut dengan tombakku sampai saya menewaskannya.”Usamah bin Zaid melanjutkan ceritanya, “Ketika kami tiba di Madinah, berita tersebut sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bertanya kepadaku,يَا أُسَامَةُ، أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ“Wahai Usamah, apakah Engkau tetap membunuhnya setelah dia mengucapkan laa ilaaha illa Allah?”Saya (Usamah) menjawab,يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا“Wahai Rasulullah, dia mengucapkannya sekedar untuk melindungi dirinya.”Namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bertanya,أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ“Apakah Engkau tetap membunuhnya setelah dia mengucapkan laa ilaaha illa Allah?”Saya (Usamah) berkata,فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ، حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ اليَوْمِ“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus mengulang-ulang pertanyaan itu, sehingga saya berangan-angan andai saja saya belum masuk Islam sebelum hari itu.” (HR. Bukhari no. 6872)Dalam riwayat Muslim disebutkan, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Usamah,أَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَقَتَلْتَهُ؟“Mengapa Engkau membunuh orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah?”Usamah menjawab,يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلَاحِ“Wahai Rasulullah! Sesungguhnya dia hanyalah mengucapkannya karena takut dengan pedang.”Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi,أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا؟“Apakah Engkau telah membelah dadanya sehingga kamu tahu dia benar-benar mengucapkan dua kalimat syahadat atau tidak?”Usamah berkata,فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus mengulang-ulang pertanyaan itu, sehingga saya berandai-andai bahwa saya baru masuk Islam saat itu.” (HR. Bukhari no. 6872)Marilah kita renungkan kisah Usamah radhiyallahu ‘anhu di atas. Ada seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dengan ucapan dan kesaksiannya itu, dia masuk Islam. Akan tetapi, terdapat indikasi yang menunjukkan keragu-raguan tentang kejujuran ucapannya itu. Karena orang ini belum lama adalah orang kafir yang telah membunuh kaum muslimin dan dia pun melarikan diri. Ketika dia tertangkap dan hampir dibunuh, dia sudah melihat kilatan pedang di atas kepalanya, maka dia pun mengucapkan dua kalimat syahadat. Dan dengan persaksian itu, dia juga tidak membatalkan keimanannya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam mencela dan mengingkari Usamah yang telah membunuhnya.Ini adalah kaidah penting bagi seorang muslim agar selamat dari penyakit bermudah-mudah dan ceroboh dalam memvons kafir (takfir) sesama muslim.[Bersambung]***@Sint-Jobskade 718 NL, 18 Syawwal 1439/ 2 Juli 2018Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Disarikan dari kitab Al-Ilmaam bi Syarhi Nawaaqidhil Islaam li Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, karya Syaikh Dr. Sulaiman bin Salimullah Ar-Ruhaili hafidzahullah, hal. 9-10.🔍 Doa Mohon Perlindungan Dari Kejahatan Semua Makhluk, Dzikir Setelah Sholat Sunnah, Dzikir Jumat, Berjilbab Menurut Islam, Ciri Ciri Rumah Ada Gangguan Jin

Shalat, Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 2)

Baca artikel sebelumnya Shalat, Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 1)Kisah Nabi Dawud ‘alaihis salaamKetika beliau melakukan suatu kesalahan, dan ingin bertaubat, beliau memulai taubatnya dengan segera mendirikan shalat. Allah Ta’ala berfirman,وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعاً وَأَنَابَ“Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya, maka ia meminta ampun (istighfar) kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.” (QS. Shaad [38]: 24)Kisah Nabi Sulaiman bin Dawud ‘alaihimas salaamDitunjukkan kepada Nabi Sulaiman kuda di sore hari. Kemudian beliau tersibukkan diri dengan memandangi kuda-kuda tersebut sehingga beliau pun lupa mendirikan shalat Ashar dan shalat di akhir waktunya. Kemudian beliau pun menyesal. Allah Ta’ala berfirman,وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَن ذِكْرِ رَبِّي حَتَّى تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ رُدُّوهَا عَلَيَّ فَطَفِقَ مَسْحاً بِالسُّوقِ وَالْأَعْنَاقِ“Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (Ingatlah) ketika ditunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata, ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.’ Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.” (QS. Shaad [38]: 30-33)Baca Juga: Hubungan antara Shalat dan Melihat Wajah Allah Ta’alaIbnu Katsir rahimahullah berkata,“Banyak salaf dan ahli tafsir menyebutkan bahwa beliau sibuk melihat (kuda) sampai terlewat dari waktu shalat ashar. Yang dapat dipastikan bahwa beliau tidaklah meninggalkan shalat Ashar secara sengaja, akan tetapi karena lupa. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersibukkan diri saat perang Khandaq dari shalat Ashar sampai beliau mendirikan shalat Ashar setelah matahari tenggelam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 65)Kisah Nabi Zakariyya ‘alaihis salaamAllah Ta’ala berfirman,فَنَادَتْهُ الْمَلآئِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ“Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang dia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 39)Kisah Nabi Isa ‘alaihis salaamKetika beliau mampu berbicara saat masih dalam gendongan, beliau berkata,قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيّاً وَجَعَلَنِي مُبَارَكاً أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيّاً“Isa berkata, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.’” (QS. Maryam [19]: 30-31)Baca Juga: Menjawab Argumen: “Apa Dalilnya Membuka Handphone Setelah Shalat?Kisah para Nabi Bani IsrailAllah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ أَخَذَ اللّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيباً وَقَالَ اللّهُ إِنِّي مَعَكُمْ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلاَةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنتُم بِرُسُلِي“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku …'” (QS. Al-Maidah [5]: 12).Selain itu, Allah Ta’ala juga menyebutkan satu per satu Nabi, kemudian menceritakan tentang mereka,أُوْلَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ مِن ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَن خَرُّوا سُجَّداً وَبُكِيّاً“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam [19]: 58)Allah pun mengabarkan bahwa seluruh Nabi beribadah kepada Allah Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah shalat. Kemudian Allah Ta’ala mengatakan,فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam [19]: 59)Baca Juga: Berdoa Dengan Bahasa Indonesia Di Dalam ShalatNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersama JibrilSesungguhnya para Nabi terdahulu seluruhnya, mereka terus-menerus mendirikan shalat wajib lima waktu sebagaimana shalat yang diajarkan oleh malaikat Jibril kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَمَّنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام عِنْدَ الْبَيْتِ مَرَّتَيْنِ، فَصَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَتْ قَدْرَ الشِّرَاكِ، وَصَلَّى بِيَ الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ، وَصَلَّى بِيَ يَعْنِي الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ، وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ، وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ حِينَ حَرُمَ الطَّعَامُ وَالشَّرَابُ عَلَى الصَّائِمِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ صَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ، وَصَلَّى بِي الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَيْهِ، وَصَلَّى بِيَ الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ، وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ، وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ فَأَسْفَرَ“Jibril ‘alaihis salam telah mengimamiku di sisi Baitullah dua kali. Dia shalat Zuhur bersamaku ketika matahari tergelincir (condong) ke barat sepanjang tali sandal, kemudian shalat Ashar denganku ketika panjang bayangan suatu benda sama dengannya, lalu shalat Maghrib bersamaku ketika orang yang berpuasa berbuka, kemudian shalat Isya’ bersamaku ketika awan merah telah hilang, dan shalat Subuh bersamaku tatkala orang yang berpuasa dilarang makan dan minum.Besok harinya, dia shalat Zuhur bersamaku ketika bayangan suatu benda sama dengannya, lalu shalat Ashar bersamaku ketika bayangan suatu benda sepanjang dua kali benda itu, kemudian shalat Maghrib bersamaku ketika orang yang berpuasa berbuka, lalu shalat Isya’ bersamaku hingga sepertiga malam, dan shalat subuh bersamaku ketika waktu pagi mulai bercahaya.”Kemudian Jibril menoleh kepadaku seraya berkata,يَا مُحَمَّدُ، هَذَا وَقْتُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِكَ، وَالْوَقْتُ مَا بَيْنَ هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ“Wahai Muhammad, inilah waktu shalat para Nabi sebelum kamu, dan jarak waktu untuk shalat adalah antara dua waktu ini.” (HR. Abu Dawud no. 393, At-Tirmidzi no. 149, dan Ahmad no. 3322. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 1402)Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada kita agar mengagungkan shalat dan senantiasa mendirikan shalat.Baca Juga:[Selesai]***@FK UGM, 29 Shafar 1442/ 16 Oktober 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 11-12, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.🔍 Subhanakallahumma, Hadits Setiap Kalian Adalah Pemimpin, Tasyakur Bi Ni'mah Artinya, Hikmah Membaca Sholawat, Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi Pdf

Shalat, Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 2)

Baca artikel sebelumnya Shalat, Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 1)Kisah Nabi Dawud ‘alaihis salaamKetika beliau melakukan suatu kesalahan, dan ingin bertaubat, beliau memulai taubatnya dengan segera mendirikan shalat. Allah Ta’ala berfirman,وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعاً وَأَنَابَ“Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya, maka ia meminta ampun (istighfar) kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.” (QS. Shaad [38]: 24)Kisah Nabi Sulaiman bin Dawud ‘alaihimas salaamDitunjukkan kepada Nabi Sulaiman kuda di sore hari. Kemudian beliau tersibukkan diri dengan memandangi kuda-kuda tersebut sehingga beliau pun lupa mendirikan shalat Ashar dan shalat di akhir waktunya. Kemudian beliau pun menyesal. Allah Ta’ala berfirman,وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَن ذِكْرِ رَبِّي حَتَّى تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ رُدُّوهَا عَلَيَّ فَطَفِقَ مَسْحاً بِالسُّوقِ وَالْأَعْنَاقِ“Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (Ingatlah) ketika ditunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata, ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.’ Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.” (QS. Shaad [38]: 30-33)Baca Juga: Hubungan antara Shalat dan Melihat Wajah Allah Ta’alaIbnu Katsir rahimahullah berkata,“Banyak salaf dan ahli tafsir menyebutkan bahwa beliau sibuk melihat (kuda) sampai terlewat dari waktu shalat ashar. Yang dapat dipastikan bahwa beliau tidaklah meninggalkan shalat Ashar secara sengaja, akan tetapi karena lupa. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersibukkan diri saat perang Khandaq dari shalat Ashar sampai beliau mendirikan shalat Ashar setelah matahari tenggelam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 65)Kisah Nabi Zakariyya ‘alaihis salaamAllah Ta’ala berfirman,فَنَادَتْهُ الْمَلآئِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ“Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang dia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 39)Kisah Nabi Isa ‘alaihis salaamKetika beliau mampu berbicara saat masih dalam gendongan, beliau berkata,قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيّاً وَجَعَلَنِي مُبَارَكاً أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيّاً“Isa berkata, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.’” (QS. Maryam [19]: 30-31)Baca Juga: Menjawab Argumen: “Apa Dalilnya Membuka Handphone Setelah Shalat?Kisah para Nabi Bani IsrailAllah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ أَخَذَ اللّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيباً وَقَالَ اللّهُ إِنِّي مَعَكُمْ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلاَةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنتُم بِرُسُلِي“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku …'” (QS. Al-Maidah [5]: 12).Selain itu, Allah Ta’ala juga menyebutkan satu per satu Nabi, kemudian menceritakan tentang mereka,أُوْلَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ مِن ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَن خَرُّوا سُجَّداً وَبُكِيّاً“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam [19]: 58)Allah pun mengabarkan bahwa seluruh Nabi beribadah kepada Allah Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah shalat. Kemudian Allah Ta’ala mengatakan,فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam [19]: 59)Baca Juga: Berdoa Dengan Bahasa Indonesia Di Dalam ShalatNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersama JibrilSesungguhnya para Nabi terdahulu seluruhnya, mereka terus-menerus mendirikan shalat wajib lima waktu sebagaimana shalat yang diajarkan oleh malaikat Jibril kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَمَّنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام عِنْدَ الْبَيْتِ مَرَّتَيْنِ، فَصَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَتْ قَدْرَ الشِّرَاكِ، وَصَلَّى بِيَ الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ، وَصَلَّى بِيَ يَعْنِي الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ، وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ، وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ حِينَ حَرُمَ الطَّعَامُ وَالشَّرَابُ عَلَى الصَّائِمِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ صَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ، وَصَلَّى بِي الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَيْهِ، وَصَلَّى بِيَ الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ، وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ، وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ فَأَسْفَرَ“Jibril ‘alaihis salam telah mengimamiku di sisi Baitullah dua kali. Dia shalat Zuhur bersamaku ketika matahari tergelincir (condong) ke barat sepanjang tali sandal, kemudian shalat Ashar denganku ketika panjang bayangan suatu benda sama dengannya, lalu shalat Maghrib bersamaku ketika orang yang berpuasa berbuka, kemudian shalat Isya’ bersamaku ketika awan merah telah hilang, dan shalat Subuh bersamaku tatkala orang yang berpuasa dilarang makan dan minum.Besok harinya, dia shalat Zuhur bersamaku ketika bayangan suatu benda sama dengannya, lalu shalat Ashar bersamaku ketika bayangan suatu benda sepanjang dua kali benda itu, kemudian shalat Maghrib bersamaku ketika orang yang berpuasa berbuka, lalu shalat Isya’ bersamaku hingga sepertiga malam, dan shalat subuh bersamaku ketika waktu pagi mulai bercahaya.”Kemudian Jibril menoleh kepadaku seraya berkata,يَا مُحَمَّدُ، هَذَا وَقْتُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِكَ، وَالْوَقْتُ مَا بَيْنَ هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ“Wahai Muhammad, inilah waktu shalat para Nabi sebelum kamu, dan jarak waktu untuk shalat adalah antara dua waktu ini.” (HR. Abu Dawud no. 393, At-Tirmidzi no. 149, dan Ahmad no. 3322. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 1402)Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada kita agar mengagungkan shalat dan senantiasa mendirikan shalat.Baca Juga:[Selesai]***@FK UGM, 29 Shafar 1442/ 16 Oktober 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 11-12, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.🔍 Subhanakallahumma, Hadits Setiap Kalian Adalah Pemimpin, Tasyakur Bi Ni'mah Artinya, Hikmah Membaca Sholawat, Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi Pdf
Baca artikel sebelumnya Shalat, Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 1)Kisah Nabi Dawud ‘alaihis salaamKetika beliau melakukan suatu kesalahan, dan ingin bertaubat, beliau memulai taubatnya dengan segera mendirikan shalat. Allah Ta’ala berfirman,وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعاً وَأَنَابَ“Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya, maka ia meminta ampun (istighfar) kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.” (QS. Shaad [38]: 24)Kisah Nabi Sulaiman bin Dawud ‘alaihimas salaamDitunjukkan kepada Nabi Sulaiman kuda di sore hari. Kemudian beliau tersibukkan diri dengan memandangi kuda-kuda tersebut sehingga beliau pun lupa mendirikan shalat Ashar dan shalat di akhir waktunya. Kemudian beliau pun menyesal. Allah Ta’ala berfirman,وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَن ذِكْرِ رَبِّي حَتَّى تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ رُدُّوهَا عَلَيَّ فَطَفِقَ مَسْحاً بِالسُّوقِ وَالْأَعْنَاقِ“Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (Ingatlah) ketika ditunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata, ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.’ Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.” (QS. Shaad [38]: 30-33)Baca Juga: Hubungan antara Shalat dan Melihat Wajah Allah Ta’alaIbnu Katsir rahimahullah berkata,“Banyak salaf dan ahli tafsir menyebutkan bahwa beliau sibuk melihat (kuda) sampai terlewat dari waktu shalat ashar. Yang dapat dipastikan bahwa beliau tidaklah meninggalkan shalat Ashar secara sengaja, akan tetapi karena lupa. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersibukkan diri saat perang Khandaq dari shalat Ashar sampai beliau mendirikan shalat Ashar setelah matahari tenggelam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 65)Kisah Nabi Zakariyya ‘alaihis salaamAllah Ta’ala berfirman,فَنَادَتْهُ الْمَلآئِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ“Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang dia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 39)Kisah Nabi Isa ‘alaihis salaamKetika beliau mampu berbicara saat masih dalam gendongan, beliau berkata,قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيّاً وَجَعَلَنِي مُبَارَكاً أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيّاً“Isa berkata, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.’” (QS. Maryam [19]: 30-31)Baca Juga: Menjawab Argumen: “Apa Dalilnya Membuka Handphone Setelah Shalat?Kisah para Nabi Bani IsrailAllah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ أَخَذَ اللّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيباً وَقَالَ اللّهُ إِنِّي مَعَكُمْ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلاَةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنتُم بِرُسُلِي“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku …'” (QS. Al-Maidah [5]: 12).Selain itu, Allah Ta’ala juga menyebutkan satu per satu Nabi, kemudian menceritakan tentang mereka,أُوْلَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ مِن ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَن خَرُّوا سُجَّداً وَبُكِيّاً“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam [19]: 58)Allah pun mengabarkan bahwa seluruh Nabi beribadah kepada Allah Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah shalat. Kemudian Allah Ta’ala mengatakan,فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam [19]: 59)Baca Juga: Berdoa Dengan Bahasa Indonesia Di Dalam ShalatNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersama JibrilSesungguhnya para Nabi terdahulu seluruhnya, mereka terus-menerus mendirikan shalat wajib lima waktu sebagaimana shalat yang diajarkan oleh malaikat Jibril kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَمَّنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام عِنْدَ الْبَيْتِ مَرَّتَيْنِ، فَصَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَتْ قَدْرَ الشِّرَاكِ، وَصَلَّى بِيَ الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ، وَصَلَّى بِيَ يَعْنِي الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ، وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ، وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ حِينَ حَرُمَ الطَّعَامُ وَالشَّرَابُ عَلَى الصَّائِمِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ صَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ، وَصَلَّى بِي الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَيْهِ، وَصَلَّى بِيَ الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ، وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ، وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ فَأَسْفَرَ“Jibril ‘alaihis salam telah mengimamiku di sisi Baitullah dua kali. Dia shalat Zuhur bersamaku ketika matahari tergelincir (condong) ke barat sepanjang tali sandal, kemudian shalat Ashar denganku ketika panjang bayangan suatu benda sama dengannya, lalu shalat Maghrib bersamaku ketika orang yang berpuasa berbuka, kemudian shalat Isya’ bersamaku ketika awan merah telah hilang, dan shalat Subuh bersamaku tatkala orang yang berpuasa dilarang makan dan minum.Besok harinya, dia shalat Zuhur bersamaku ketika bayangan suatu benda sama dengannya, lalu shalat Ashar bersamaku ketika bayangan suatu benda sepanjang dua kali benda itu, kemudian shalat Maghrib bersamaku ketika orang yang berpuasa berbuka, lalu shalat Isya’ bersamaku hingga sepertiga malam, dan shalat subuh bersamaku ketika waktu pagi mulai bercahaya.”Kemudian Jibril menoleh kepadaku seraya berkata,يَا مُحَمَّدُ، هَذَا وَقْتُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِكَ، وَالْوَقْتُ مَا بَيْنَ هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ“Wahai Muhammad, inilah waktu shalat para Nabi sebelum kamu, dan jarak waktu untuk shalat adalah antara dua waktu ini.” (HR. Abu Dawud no. 393, At-Tirmidzi no. 149, dan Ahmad no. 3322. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 1402)Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada kita agar mengagungkan shalat dan senantiasa mendirikan shalat.Baca Juga:[Selesai]***@FK UGM, 29 Shafar 1442/ 16 Oktober 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 11-12, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.🔍 Subhanakallahumma, Hadits Setiap Kalian Adalah Pemimpin, Tasyakur Bi Ni'mah Artinya, Hikmah Membaca Sholawat, Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi Pdf


Baca artikel sebelumnya Shalat, Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 1)Kisah Nabi Dawud ‘alaihis salaamKetika beliau melakukan suatu kesalahan, dan ingin bertaubat, beliau memulai taubatnya dengan segera mendirikan shalat. Allah Ta’ala berfirman,وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعاً وَأَنَابَ“Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya, maka ia meminta ampun (istighfar) kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.” (QS. Shaad [38]: 24)Kisah Nabi Sulaiman bin Dawud ‘alaihimas salaamDitunjukkan kepada Nabi Sulaiman kuda di sore hari. Kemudian beliau tersibukkan diri dengan memandangi kuda-kuda tersebut sehingga beliau pun lupa mendirikan shalat Ashar dan shalat di akhir waktunya. Kemudian beliau pun menyesal. Allah Ta’ala berfirman,وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَن ذِكْرِ رَبِّي حَتَّى تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ رُدُّوهَا عَلَيَّ فَطَفِقَ مَسْحاً بِالسُّوقِ وَالْأَعْنَاقِ“Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (Ingatlah) ketika ditunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata, ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.’ Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.” (QS. Shaad [38]: 30-33)Baca Juga: Hubungan antara Shalat dan Melihat Wajah Allah Ta’alaIbnu Katsir rahimahullah berkata,“Banyak salaf dan ahli tafsir menyebutkan bahwa beliau sibuk melihat (kuda) sampai terlewat dari waktu shalat ashar. Yang dapat dipastikan bahwa beliau tidaklah meninggalkan shalat Ashar secara sengaja, akan tetapi karena lupa. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersibukkan diri saat perang Khandaq dari shalat Ashar sampai beliau mendirikan shalat Ashar setelah matahari tenggelam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 65)Kisah Nabi Zakariyya ‘alaihis salaamAllah Ta’ala berfirman,فَنَادَتْهُ الْمَلآئِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ“Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang dia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 39)Kisah Nabi Isa ‘alaihis salaamKetika beliau mampu berbicara saat masih dalam gendongan, beliau berkata,قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيّاً وَجَعَلَنِي مُبَارَكاً أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيّاً“Isa berkata, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.’” (QS. Maryam [19]: 30-31)Baca Juga: Menjawab Argumen: “Apa Dalilnya Membuka Handphone Setelah Shalat?Kisah para Nabi Bani IsrailAllah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ أَخَذَ اللّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيباً وَقَالَ اللّهُ إِنِّي مَعَكُمْ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلاَةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنتُم بِرُسُلِي“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku …'” (QS. Al-Maidah [5]: 12).Selain itu, Allah Ta’ala juga menyebutkan satu per satu Nabi, kemudian menceritakan tentang mereka,أُوْلَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ مِن ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَن خَرُّوا سُجَّداً وَبُكِيّاً“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam [19]: 58)Allah pun mengabarkan bahwa seluruh Nabi beribadah kepada Allah Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah shalat. Kemudian Allah Ta’ala mengatakan,فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam [19]: 59)Baca Juga: Berdoa Dengan Bahasa Indonesia Di Dalam ShalatNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersama JibrilSesungguhnya para Nabi terdahulu seluruhnya, mereka terus-menerus mendirikan shalat wajib lima waktu sebagaimana shalat yang diajarkan oleh malaikat Jibril kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَمَّنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام عِنْدَ الْبَيْتِ مَرَّتَيْنِ، فَصَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَتْ قَدْرَ الشِّرَاكِ، وَصَلَّى بِيَ الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ، وَصَلَّى بِيَ يَعْنِي الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ، وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ، وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ حِينَ حَرُمَ الطَّعَامُ وَالشَّرَابُ عَلَى الصَّائِمِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ صَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ، وَصَلَّى بِي الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَيْهِ، وَصَلَّى بِيَ الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ، وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ، وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ فَأَسْفَرَ“Jibril ‘alaihis salam telah mengimamiku di sisi Baitullah dua kali. Dia shalat Zuhur bersamaku ketika matahari tergelincir (condong) ke barat sepanjang tali sandal, kemudian shalat Ashar denganku ketika panjang bayangan suatu benda sama dengannya, lalu shalat Maghrib bersamaku ketika orang yang berpuasa berbuka, kemudian shalat Isya’ bersamaku ketika awan merah telah hilang, dan shalat Subuh bersamaku tatkala orang yang berpuasa dilarang makan dan minum.Besok harinya, dia shalat Zuhur bersamaku ketika bayangan suatu benda sama dengannya, lalu shalat Ashar bersamaku ketika bayangan suatu benda sepanjang dua kali benda itu, kemudian shalat Maghrib bersamaku ketika orang yang berpuasa berbuka, lalu shalat Isya’ bersamaku hingga sepertiga malam, dan shalat subuh bersamaku ketika waktu pagi mulai bercahaya.”Kemudian Jibril menoleh kepadaku seraya berkata,يَا مُحَمَّدُ، هَذَا وَقْتُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِكَ، وَالْوَقْتُ مَا بَيْنَ هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ“Wahai Muhammad, inilah waktu shalat para Nabi sebelum kamu, dan jarak waktu untuk shalat adalah antara dua waktu ini.” (HR. Abu Dawud no. 393, At-Tirmidzi no. 149, dan Ahmad no. 3322. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 1402)Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada kita agar mengagungkan shalat dan senantiasa mendirikan shalat.Baca Juga:[Selesai]***@FK UGM, 29 Shafar 1442/ 16 Oktober 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 11-12, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.🔍 Subhanakallahumma, Hadits Setiap Kalian Adalah Pemimpin, Tasyakur Bi Ni'mah Artinya, Hikmah Membaca Sholawat, Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi Pdf

Shalat, Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 1)

Termasuk yang menunjukkan agungnya kedudukan shalat adalah kewajiban shalat tersebut yang berlaku kepada seluruh Nabi ‘alaihimush shalaatu was salaam. Juga berita yang menunjukkan betapa seluruh Nabi tersebut mengagungkan ibadah shalat. Terdapat banyak dalil yang menguatkan dan menunjukkan hal tersebut dalam Al-Qur’an Al-Karim.Kisah Nabi Yunus ‘alahis salaamAllah Ta’ala berfirman ketika beliau dimakan ikan,فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنْ الْمُسَبِّحِينَ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (QS. Ash-Shaaffat [37]: 143-144)Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,“Termasuk orang-orang yang mendirikan shalat.”Demikian juga semisal penafsiran tersebut dari Sa’id bin Jubair, Qatadah, dan lain-lain. (Tafsir Ath-Thabari, 21: 109)Baca Juga: Keutamaan Bersegera Menuju ke Masjid dan Menunggu Shalat Jama’ahKisah Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimus salaamKetika beliau meninggalkan Isma’il ‘alaihis salaam di sebuah lembah yang tidak ada seorang manusia lain di sana. Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah Ta’ala dengan mengatakan,رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat.” (QS. Ibrahim [14]: 37)Dan beliau tidak menyebutkan amalan lain selain shalat. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada amalan yang lebih afdhal dibandingkan shalat, juga tidak ada amalan yang sebanding dengannya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِي شَيْئاً وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, orang-orang yang beribadah, dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.’” (QS. Al-Hajj [22]: 26)Allah Ta’ala juga menyebutkan bahwa di antara doa beliau adalah,رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim [14]: 40)Adapun Nabi Isma’il ‘alaihis salaam, Allah Ta’ala berfirman menceritakan kondisi beliau,وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولاً نَّبِيّاً وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيّاً“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan dia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat. Dan dia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya.” (QS. Maryam [19]: 54-55)Baca Juga: Memakai Pakaian Terbaik ketika ShalatKisah Nabi Ishaq ‘alaihis salaam dan keturunannyaAllah Ta’ala berfirman,وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً وَكُلّاً جَعَلْنَا صَالِحِينَ وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاء الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ“Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshak dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka agar mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 72-73)Kisah Nabi Syu’aib ‘alaihis salaamAllah Ta’ala menceritakan kisah Nabi Syu’aib ‘alaihis salaam, ketika beliau melarang kaumnya dari beribadah kepada selain Allah Ta’ala dan juga melarang mereka melakukan kecurangan dalam takaran dan timbangan,قَالُواْ يَا شُعَيْبُ أَصَلاَتُكَ تَأْمُرُكَ أَن نَّتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَن نَّفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاء إِنَّكَ لَأَنتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ“Mereka berkata, ‘Hai Syu’aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.’” (QS. Huud [11]: 87)Hal ini menunjukkan bahwa kaum Nabi Syu’aib tidak melihat Nabi Syu’aib mengagungkan sesuatu melebihi pengagungan terhadap ibadah shalat.Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ini,“Shalat terus-menerus disyariatkan atas para Nabi terdahulu dan shalat merupakan amal yang paling utama. Sampai-sampai tertanam dalam diri orang kafir tentang keutamaan dibandingkan amal-amal yang lain. Bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar, dan shalat merupakan timbangan bagi iman dan syariat. Dengan mendirikan shalat, sempurnalah kondisi seseorang, dan dengan tidak mendirikan shalat, maka cacatlah kondisi agamanya.”Baca Juga: Bolehkah Ada Beberapa Shalat Jama’ah dalam Satu MasjidKisah Nabi Musa ‘alaihis salaamAllah Ta’ala mengajak Nabi Musa berbicara secara langsung. Dan perkara yang pertama kali diwajibkan kepada Nabi Musa setelah Allah Ta’ala memerintahkan Nabi Musa beribadah kepada-Nya adalah kewajiban shalat. Allah Ta’ala berkata secara langsung kepada Nabi Musa tanpa ada penerjemah,فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي“Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaaha [20]: 13-14)Hal ini menunjukkan tingginya kedudukan shalat dibandingkan seluruh amal ibadah yang lain. Karena Allah Ta’ala tidaklah memulai pembicaraan untuk menyebutkan kewajiban suatu ibadah, kecuali menyebutkan ibadah shalat.Kemudian di antara yang diperintahkan oleh Nabi Musa ‘alaihis salaam kepada kaumnya Bani Israil setelah perintah agar mereka beriman adalah perintah untuk mendirikan shalat. Allah Ta’ala berfirman,وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَن تَبَوَّءَا لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتاً وَاجْعَلُواْ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ“Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, ‘Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah shalat, serta gembirakanlah orang-orang yang beriman.’” (QS. Yunus [10]: 87)[Bersambung]Baca artikel selanjutnya di Shalat: Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 2)Baca Juga:***@FK UGM, 29 Shafar 1442/ 16 Oktober 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 9-10, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.

Shalat, Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 1)

Termasuk yang menunjukkan agungnya kedudukan shalat adalah kewajiban shalat tersebut yang berlaku kepada seluruh Nabi ‘alaihimush shalaatu was salaam. Juga berita yang menunjukkan betapa seluruh Nabi tersebut mengagungkan ibadah shalat. Terdapat banyak dalil yang menguatkan dan menunjukkan hal tersebut dalam Al-Qur’an Al-Karim.Kisah Nabi Yunus ‘alahis salaamAllah Ta’ala berfirman ketika beliau dimakan ikan,فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنْ الْمُسَبِّحِينَ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (QS. Ash-Shaaffat [37]: 143-144)Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,“Termasuk orang-orang yang mendirikan shalat.”Demikian juga semisal penafsiran tersebut dari Sa’id bin Jubair, Qatadah, dan lain-lain. (Tafsir Ath-Thabari, 21: 109)Baca Juga: Keutamaan Bersegera Menuju ke Masjid dan Menunggu Shalat Jama’ahKisah Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimus salaamKetika beliau meninggalkan Isma’il ‘alaihis salaam di sebuah lembah yang tidak ada seorang manusia lain di sana. Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah Ta’ala dengan mengatakan,رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat.” (QS. Ibrahim [14]: 37)Dan beliau tidak menyebutkan amalan lain selain shalat. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada amalan yang lebih afdhal dibandingkan shalat, juga tidak ada amalan yang sebanding dengannya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِي شَيْئاً وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, orang-orang yang beribadah, dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.’” (QS. Al-Hajj [22]: 26)Allah Ta’ala juga menyebutkan bahwa di antara doa beliau adalah,رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim [14]: 40)Adapun Nabi Isma’il ‘alaihis salaam, Allah Ta’ala berfirman menceritakan kondisi beliau,وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولاً نَّبِيّاً وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيّاً“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan dia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat. Dan dia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya.” (QS. Maryam [19]: 54-55)Baca Juga: Memakai Pakaian Terbaik ketika ShalatKisah Nabi Ishaq ‘alaihis salaam dan keturunannyaAllah Ta’ala berfirman,وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً وَكُلّاً جَعَلْنَا صَالِحِينَ وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاء الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ“Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshak dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka agar mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 72-73)Kisah Nabi Syu’aib ‘alaihis salaamAllah Ta’ala menceritakan kisah Nabi Syu’aib ‘alaihis salaam, ketika beliau melarang kaumnya dari beribadah kepada selain Allah Ta’ala dan juga melarang mereka melakukan kecurangan dalam takaran dan timbangan,قَالُواْ يَا شُعَيْبُ أَصَلاَتُكَ تَأْمُرُكَ أَن نَّتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَن نَّفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاء إِنَّكَ لَأَنتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ“Mereka berkata, ‘Hai Syu’aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.’” (QS. Huud [11]: 87)Hal ini menunjukkan bahwa kaum Nabi Syu’aib tidak melihat Nabi Syu’aib mengagungkan sesuatu melebihi pengagungan terhadap ibadah shalat.Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ini,“Shalat terus-menerus disyariatkan atas para Nabi terdahulu dan shalat merupakan amal yang paling utama. Sampai-sampai tertanam dalam diri orang kafir tentang keutamaan dibandingkan amal-amal yang lain. Bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar, dan shalat merupakan timbangan bagi iman dan syariat. Dengan mendirikan shalat, sempurnalah kondisi seseorang, dan dengan tidak mendirikan shalat, maka cacatlah kondisi agamanya.”Baca Juga: Bolehkah Ada Beberapa Shalat Jama’ah dalam Satu MasjidKisah Nabi Musa ‘alaihis salaamAllah Ta’ala mengajak Nabi Musa berbicara secara langsung. Dan perkara yang pertama kali diwajibkan kepada Nabi Musa setelah Allah Ta’ala memerintahkan Nabi Musa beribadah kepada-Nya adalah kewajiban shalat. Allah Ta’ala berkata secara langsung kepada Nabi Musa tanpa ada penerjemah,فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي“Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaaha [20]: 13-14)Hal ini menunjukkan tingginya kedudukan shalat dibandingkan seluruh amal ibadah yang lain. Karena Allah Ta’ala tidaklah memulai pembicaraan untuk menyebutkan kewajiban suatu ibadah, kecuali menyebutkan ibadah shalat.Kemudian di antara yang diperintahkan oleh Nabi Musa ‘alaihis salaam kepada kaumnya Bani Israil setelah perintah agar mereka beriman adalah perintah untuk mendirikan shalat. Allah Ta’ala berfirman,وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَن تَبَوَّءَا لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتاً وَاجْعَلُواْ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ“Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, ‘Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah shalat, serta gembirakanlah orang-orang yang beriman.’” (QS. Yunus [10]: 87)[Bersambung]Baca artikel selanjutnya di Shalat: Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 2)Baca Juga:***@FK UGM, 29 Shafar 1442/ 16 Oktober 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 9-10, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.
Termasuk yang menunjukkan agungnya kedudukan shalat adalah kewajiban shalat tersebut yang berlaku kepada seluruh Nabi ‘alaihimush shalaatu was salaam. Juga berita yang menunjukkan betapa seluruh Nabi tersebut mengagungkan ibadah shalat. Terdapat banyak dalil yang menguatkan dan menunjukkan hal tersebut dalam Al-Qur’an Al-Karim.Kisah Nabi Yunus ‘alahis salaamAllah Ta’ala berfirman ketika beliau dimakan ikan,فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنْ الْمُسَبِّحِينَ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (QS. Ash-Shaaffat [37]: 143-144)Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,“Termasuk orang-orang yang mendirikan shalat.”Demikian juga semisal penafsiran tersebut dari Sa’id bin Jubair, Qatadah, dan lain-lain. (Tafsir Ath-Thabari, 21: 109)Baca Juga: Keutamaan Bersegera Menuju ke Masjid dan Menunggu Shalat Jama’ahKisah Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimus salaamKetika beliau meninggalkan Isma’il ‘alaihis salaam di sebuah lembah yang tidak ada seorang manusia lain di sana. Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah Ta’ala dengan mengatakan,رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat.” (QS. Ibrahim [14]: 37)Dan beliau tidak menyebutkan amalan lain selain shalat. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada amalan yang lebih afdhal dibandingkan shalat, juga tidak ada amalan yang sebanding dengannya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِي شَيْئاً وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, orang-orang yang beribadah, dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.’” (QS. Al-Hajj [22]: 26)Allah Ta’ala juga menyebutkan bahwa di antara doa beliau adalah,رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim [14]: 40)Adapun Nabi Isma’il ‘alaihis salaam, Allah Ta’ala berfirman menceritakan kondisi beliau,وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولاً نَّبِيّاً وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيّاً“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan dia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat. Dan dia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya.” (QS. Maryam [19]: 54-55)Baca Juga: Memakai Pakaian Terbaik ketika ShalatKisah Nabi Ishaq ‘alaihis salaam dan keturunannyaAllah Ta’ala berfirman,وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً وَكُلّاً جَعَلْنَا صَالِحِينَ وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاء الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ“Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshak dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka agar mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 72-73)Kisah Nabi Syu’aib ‘alaihis salaamAllah Ta’ala menceritakan kisah Nabi Syu’aib ‘alaihis salaam, ketika beliau melarang kaumnya dari beribadah kepada selain Allah Ta’ala dan juga melarang mereka melakukan kecurangan dalam takaran dan timbangan,قَالُواْ يَا شُعَيْبُ أَصَلاَتُكَ تَأْمُرُكَ أَن نَّتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَن نَّفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاء إِنَّكَ لَأَنتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ“Mereka berkata, ‘Hai Syu’aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.’” (QS. Huud [11]: 87)Hal ini menunjukkan bahwa kaum Nabi Syu’aib tidak melihat Nabi Syu’aib mengagungkan sesuatu melebihi pengagungan terhadap ibadah shalat.Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ini,“Shalat terus-menerus disyariatkan atas para Nabi terdahulu dan shalat merupakan amal yang paling utama. Sampai-sampai tertanam dalam diri orang kafir tentang keutamaan dibandingkan amal-amal yang lain. Bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar, dan shalat merupakan timbangan bagi iman dan syariat. Dengan mendirikan shalat, sempurnalah kondisi seseorang, dan dengan tidak mendirikan shalat, maka cacatlah kondisi agamanya.”Baca Juga: Bolehkah Ada Beberapa Shalat Jama’ah dalam Satu MasjidKisah Nabi Musa ‘alaihis salaamAllah Ta’ala mengajak Nabi Musa berbicara secara langsung. Dan perkara yang pertama kali diwajibkan kepada Nabi Musa setelah Allah Ta’ala memerintahkan Nabi Musa beribadah kepada-Nya adalah kewajiban shalat. Allah Ta’ala berkata secara langsung kepada Nabi Musa tanpa ada penerjemah,فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي“Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaaha [20]: 13-14)Hal ini menunjukkan tingginya kedudukan shalat dibandingkan seluruh amal ibadah yang lain. Karena Allah Ta’ala tidaklah memulai pembicaraan untuk menyebutkan kewajiban suatu ibadah, kecuali menyebutkan ibadah shalat.Kemudian di antara yang diperintahkan oleh Nabi Musa ‘alaihis salaam kepada kaumnya Bani Israil setelah perintah agar mereka beriman adalah perintah untuk mendirikan shalat. Allah Ta’ala berfirman,وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَن تَبَوَّءَا لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتاً وَاجْعَلُواْ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ“Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, ‘Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah shalat, serta gembirakanlah orang-orang yang beriman.’” (QS. Yunus [10]: 87)[Bersambung]Baca artikel selanjutnya di Shalat: Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 2)Baca Juga:***@FK UGM, 29 Shafar 1442/ 16 Oktober 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 9-10, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.


Termasuk yang menunjukkan agungnya kedudukan shalat adalah kewajiban shalat tersebut yang berlaku kepada seluruh Nabi ‘alaihimush shalaatu was salaam. Juga berita yang menunjukkan betapa seluruh Nabi tersebut mengagungkan ibadah shalat. Terdapat banyak dalil yang menguatkan dan menunjukkan hal tersebut dalam Al-Qur’an Al-Karim.Kisah Nabi Yunus ‘alahis salaamAllah Ta’ala berfirman ketika beliau dimakan ikan,فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنْ الْمُسَبِّحِينَ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (QS. Ash-Shaaffat [37]: 143-144)Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,“Termasuk orang-orang yang mendirikan shalat.”Demikian juga semisal penafsiran tersebut dari Sa’id bin Jubair, Qatadah, dan lain-lain. (Tafsir Ath-Thabari, 21: 109)Baca Juga: Keutamaan Bersegera Menuju ke Masjid dan Menunggu Shalat Jama’ahKisah Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimus salaamKetika beliau meninggalkan Isma’il ‘alaihis salaam di sebuah lembah yang tidak ada seorang manusia lain di sana. Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah Ta’ala dengan mengatakan,رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat.” (QS. Ibrahim [14]: 37)Dan beliau tidak menyebutkan amalan lain selain shalat. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada amalan yang lebih afdhal dibandingkan shalat, juga tidak ada amalan yang sebanding dengannya.Allah Ta’ala berfirman,وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِي شَيْئاً وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, orang-orang yang beribadah, dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.’” (QS. Al-Hajj [22]: 26)Allah Ta’ala juga menyebutkan bahwa di antara doa beliau adalah,رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim [14]: 40)Adapun Nabi Isma’il ‘alaihis salaam, Allah Ta’ala berfirman menceritakan kondisi beliau,وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولاً نَّبِيّاً وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيّاً“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan dia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat. Dan dia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya.” (QS. Maryam [19]: 54-55)Baca Juga: Memakai Pakaian Terbaik ketika ShalatKisah Nabi Ishaq ‘alaihis salaam dan keturunannyaAllah Ta’ala berfirman,وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً وَكُلّاً جَعَلْنَا صَالِحِينَ وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاء الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ“Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshak dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka agar mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 72-73)Kisah Nabi Syu’aib ‘alaihis salaamAllah Ta’ala menceritakan kisah Nabi Syu’aib ‘alaihis salaam, ketika beliau melarang kaumnya dari beribadah kepada selain Allah Ta’ala dan juga melarang mereka melakukan kecurangan dalam takaran dan timbangan,قَالُواْ يَا شُعَيْبُ أَصَلاَتُكَ تَأْمُرُكَ أَن نَّتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَن نَّفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاء إِنَّكَ لَأَنتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ“Mereka berkata, ‘Hai Syu’aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.’” (QS. Huud [11]: 87)Hal ini menunjukkan bahwa kaum Nabi Syu’aib tidak melihat Nabi Syu’aib mengagungkan sesuatu melebihi pengagungan terhadap ibadah shalat.Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ini,“Shalat terus-menerus disyariatkan atas para Nabi terdahulu dan shalat merupakan amal yang paling utama. Sampai-sampai tertanam dalam diri orang kafir tentang keutamaan dibandingkan amal-amal yang lain. Bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar, dan shalat merupakan timbangan bagi iman dan syariat. Dengan mendirikan shalat, sempurnalah kondisi seseorang, dan dengan tidak mendirikan shalat, maka cacatlah kondisi agamanya.”Baca Juga: Bolehkah Ada Beberapa Shalat Jama’ah dalam Satu MasjidKisah Nabi Musa ‘alaihis salaamAllah Ta’ala mengajak Nabi Musa berbicara secara langsung. Dan perkara yang pertama kali diwajibkan kepada Nabi Musa setelah Allah Ta’ala memerintahkan Nabi Musa beribadah kepada-Nya adalah kewajiban shalat. Allah Ta’ala berkata secara langsung kepada Nabi Musa tanpa ada penerjemah,فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي“Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaaha [20]: 13-14)Hal ini menunjukkan tingginya kedudukan shalat dibandingkan seluruh amal ibadah yang lain. Karena Allah Ta’ala tidaklah memulai pembicaraan untuk menyebutkan kewajiban suatu ibadah, kecuali menyebutkan ibadah shalat.Kemudian di antara yang diperintahkan oleh Nabi Musa ‘alaihis salaam kepada kaumnya Bani Israil setelah perintah agar mereka beriman adalah perintah untuk mendirikan shalat. Allah Ta’ala berfirman,وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَن تَبَوَّءَا لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتاً وَاجْعَلُواْ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ“Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, ‘Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah shalat, serta gembirakanlah orang-orang yang beriman.’” (QS. Yunus [10]: 87)[Bersambung]Baca artikel selanjutnya di Shalat: Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 2)Baca Juga:***@FK UGM, 29 Shafar 1442/ 16 Oktober 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 9-10, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.

Bahaya Meninggalkan Salat Asar

Terdapat hadis khusus yang mengancam dengan keras orang-orang yang meninggalkan salat asar. Dari Buraidah bin Al-Hashib Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,بَكِّرُوا بالصَّلَاةِ، فإنَّ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ قَالَ: مَن تَرَكَ صَلَاةَ العَصْرِ حَبِطَ عَمَلُهُ“Bersegeralah untuk melakukan salat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang meninggalkan salat asar, maka akan terhapus amalannya.” (HR. Bukhari no. 553 dan 594)Dalam riwayat lain, dari Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ مُتَعَمِّدًا ، حَتَّى تَفُوتَهُ ، فَقَدْ أُحْبِطَ عَمَلُهُ“Barangsiapa yang meninggalkan salat asar dengan sengaja sampai keluar waktunya, maka akan terhapus amalnya.” (HR. Ahmad no. 27492, disahihkan Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad)Penjelasan hadisMeninggalkan salat secara umum adalah dosa besar dan bisa menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Dari Abdullah bin Buraidah radhiyallahu’anhu, Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,إنَّ العَهدَ الذي بيننا وبينهم الصَّلاةُ، فمَن تَرَكها فقدْ كَفَرَ“Sesungguhnya perjanjian antara kita dan mereka (kaum musyrikin) adalah salat. Barangsiapa yang meninggalkannya, maka ia telah kafir.” (HR. At-Tirmidzi no. 2621, disahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)Dan khusus salat asar, meninggalkannya lebih ditekankan lagi larangannya dalam hadis di atas.Yang dimaksud meninggalkan salat asar adalah dengan sengaja tidak salat asar. Sehingga, hadis ini tidak membahas orang yang salat asar, namun tidak di awal waktu atau lelaki yang salat asar di rumah tanpa uzur. Karena, dua model orang ini masih termasuk orang yang mengerjakan salat asar. Demikian juga, orang-orang yang menjamak salat zuhur dan asar atau orang yang terluput salat asar karena ada uzur, ini tidak termasuk yang diancam dalam hadis ini.Baca Juga: Keutamaan Waktu Ba’da Ashar Hari JumatAdapun lafaz “akan terhapus amalnya” ini diperselisihkan para ulama tentang maknanya. Secara garis besar ulama berbeda menjadi tiga pendapat:Pertama, sebagian ulama menafsirkan bahwa maknanya adalah terhapus pahala amalnya pada hari itu saja. Ini pendapat dari Ibnul Qayyim rahimahullah.Kedua, sebagian ulama menafsirkan bahwa maknanya adalah terhapus seluruh pahalanya sebagaimana zahir hadis. Ini pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Rajab rahimahullah.Ketiga, pendapat sebagian ulama yang mentakwil makna hadits ini. Seperti Ibnu Bathal rahimahullah, beliau menjelaskan bahwa maknanya adalah terhapus pahala dan keutamaan salat asar baginya, bukan pahala amal lainnya. Dan banyak sekali takwil yang lainnya. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,وَتَمَسَّكَ بِظَاهِرِ الْحَدِيثِ أَيْضًا الْحَنَابِلَةُ ، وَمَنْ قَالَ بِقَوْلِهِمْ مِنْ أَنَّ تَارِكَ الصَّلَاةِ يَكْفُرُ ، وَأَمَّا الْجُمْهُورُ فَتَأَوَّلُوا الْحَدِيثَ , فَافْتَرَقُوا فِي تَأْوِيلِهِ فِرَقًا“Ulama Hanabilah dan ulama yang berpendapat bahwa meninggalkan salat itu kufur, mereka berpegang pada zahir hadits. Adapun jumhur ulama, mereka mentakwil hadis ini. Namun, mereka berbeda-beda dalam mentakwilkannya dengan perbedaan yang banyak.” (Fathul Bari, 2: 31)Makna yang dikuatkan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz dan juga Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahumallah adalah pendapat kedua yang sesuai zahir dari hadis. Bahwa orang yang meninggalkan salat asar dengan sengaja maka terhapus semua amalnya. Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,هذا يدل على أن ترك الصلاة كفر إذا تركها عمدًا، عزم على تركها بالكلية، فهذا يحبط عمله لأن تركها كفر“Hadis ini menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan salat asar itu kufur jika meninggalkannya dengan sengaja dan memang berniat untuk meninggalkannya secara keseluruhan. Orang seperti ini terhapus amalannya karena meninggalkan salat itu kekufuran.” (Fatawa Al-Lajnah, 28: 89)Oleh karena itu, sudah selayaknya kita menjaga salat asar. Jangan sampai meninggalkannya. Karena, meninggalkan salat asar sangat keras ancamannya.Semoga Allah Ta’ala memberi taufik. Baca Juga: Penjelasan Hadits Larangan Shalat Setelah Shubuh dan Setelah Ashar Bolehkah Menjamak Shalat Zhuhur dan Ashar Saat Hujan? Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Ayat Tentang Riba, Kultum Tentang Berbakti Kepada Kedua Orang Tua, Ayat Tentang Syahadat, Doa Penting, Hukum Bersalaman

Bahaya Meninggalkan Salat Asar

Terdapat hadis khusus yang mengancam dengan keras orang-orang yang meninggalkan salat asar. Dari Buraidah bin Al-Hashib Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,بَكِّرُوا بالصَّلَاةِ، فإنَّ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ قَالَ: مَن تَرَكَ صَلَاةَ العَصْرِ حَبِطَ عَمَلُهُ“Bersegeralah untuk melakukan salat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang meninggalkan salat asar, maka akan terhapus amalannya.” (HR. Bukhari no. 553 dan 594)Dalam riwayat lain, dari Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ مُتَعَمِّدًا ، حَتَّى تَفُوتَهُ ، فَقَدْ أُحْبِطَ عَمَلُهُ“Barangsiapa yang meninggalkan salat asar dengan sengaja sampai keluar waktunya, maka akan terhapus amalnya.” (HR. Ahmad no. 27492, disahihkan Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad)Penjelasan hadisMeninggalkan salat secara umum adalah dosa besar dan bisa menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Dari Abdullah bin Buraidah radhiyallahu’anhu, Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,إنَّ العَهدَ الذي بيننا وبينهم الصَّلاةُ، فمَن تَرَكها فقدْ كَفَرَ“Sesungguhnya perjanjian antara kita dan mereka (kaum musyrikin) adalah salat. Barangsiapa yang meninggalkannya, maka ia telah kafir.” (HR. At-Tirmidzi no. 2621, disahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)Dan khusus salat asar, meninggalkannya lebih ditekankan lagi larangannya dalam hadis di atas.Yang dimaksud meninggalkan salat asar adalah dengan sengaja tidak salat asar. Sehingga, hadis ini tidak membahas orang yang salat asar, namun tidak di awal waktu atau lelaki yang salat asar di rumah tanpa uzur. Karena, dua model orang ini masih termasuk orang yang mengerjakan salat asar. Demikian juga, orang-orang yang menjamak salat zuhur dan asar atau orang yang terluput salat asar karena ada uzur, ini tidak termasuk yang diancam dalam hadis ini.Baca Juga: Keutamaan Waktu Ba’da Ashar Hari JumatAdapun lafaz “akan terhapus amalnya” ini diperselisihkan para ulama tentang maknanya. Secara garis besar ulama berbeda menjadi tiga pendapat:Pertama, sebagian ulama menafsirkan bahwa maknanya adalah terhapus pahala amalnya pada hari itu saja. Ini pendapat dari Ibnul Qayyim rahimahullah.Kedua, sebagian ulama menafsirkan bahwa maknanya adalah terhapus seluruh pahalanya sebagaimana zahir hadis. Ini pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Rajab rahimahullah.Ketiga, pendapat sebagian ulama yang mentakwil makna hadits ini. Seperti Ibnu Bathal rahimahullah, beliau menjelaskan bahwa maknanya adalah terhapus pahala dan keutamaan salat asar baginya, bukan pahala amal lainnya. Dan banyak sekali takwil yang lainnya. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,وَتَمَسَّكَ بِظَاهِرِ الْحَدِيثِ أَيْضًا الْحَنَابِلَةُ ، وَمَنْ قَالَ بِقَوْلِهِمْ مِنْ أَنَّ تَارِكَ الصَّلَاةِ يَكْفُرُ ، وَأَمَّا الْجُمْهُورُ فَتَأَوَّلُوا الْحَدِيثَ , فَافْتَرَقُوا فِي تَأْوِيلِهِ فِرَقًا“Ulama Hanabilah dan ulama yang berpendapat bahwa meninggalkan salat itu kufur, mereka berpegang pada zahir hadits. Adapun jumhur ulama, mereka mentakwil hadis ini. Namun, mereka berbeda-beda dalam mentakwilkannya dengan perbedaan yang banyak.” (Fathul Bari, 2: 31)Makna yang dikuatkan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz dan juga Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahumallah adalah pendapat kedua yang sesuai zahir dari hadis. Bahwa orang yang meninggalkan salat asar dengan sengaja maka terhapus semua amalnya. Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,هذا يدل على أن ترك الصلاة كفر إذا تركها عمدًا، عزم على تركها بالكلية، فهذا يحبط عمله لأن تركها كفر“Hadis ini menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan salat asar itu kufur jika meninggalkannya dengan sengaja dan memang berniat untuk meninggalkannya secara keseluruhan. Orang seperti ini terhapus amalannya karena meninggalkan salat itu kekufuran.” (Fatawa Al-Lajnah, 28: 89)Oleh karena itu, sudah selayaknya kita menjaga salat asar. Jangan sampai meninggalkannya. Karena, meninggalkan salat asar sangat keras ancamannya.Semoga Allah Ta’ala memberi taufik. Baca Juga: Penjelasan Hadits Larangan Shalat Setelah Shubuh dan Setelah Ashar Bolehkah Menjamak Shalat Zhuhur dan Ashar Saat Hujan? Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Ayat Tentang Riba, Kultum Tentang Berbakti Kepada Kedua Orang Tua, Ayat Tentang Syahadat, Doa Penting, Hukum Bersalaman
Terdapat hadis khusus yang mengancam dengan keras orang-orang yang meninggalkan salat asar. Dari Buraidah bin Al-Hashib Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,بَكِّرُوا بالصَّلَاةِ، فإنَّ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ قَالَ: مَن تَرَكَ صَلَاةَ العَصْرِ حَبِطَ عَمَلُهُ“Bersegeralah untuk melakukan salat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang meninggalkan salat asar, maka akan terhapus amalannya.” (HR. Bukhari no. 553 dan 594)Dalam riwayat lain, dari Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ مُتَعَمِّدًا ، حَتَّى تَفُوتَهُ ، فَقَدْ أُحْبِطَ عَمَلُهُ“Barangsiapa yang meninggalkan salat asar dengan sengaja sampai keluar waktunya, maka akan terhapus amalnya.” (HR. Ahmad no. 27492, disahihkan Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad)Penjelasan hadisMeninggalkan salat secara umum adalah dosa besar dan bisa menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Dari Abdullah bin Buraidah radhiyallahu’anhu, Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,إنَّ العَهدَ الذي بيننا وبينهم الصَّلاةُ، فمَن تَرَكها فقدْ كَفَرَ“Sesungguhnya perjanjian antara kita dan mereka (kaum musyrikin) adalah salat. Barangsiapa yang meninggalkannya, maka ia telah kafir.” (HR. At-Tirmidzi no. 2621, disahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)Dan khusus salat asar, meninggalkannya lebih ditekankan lagi larangannya dalam hadis di atas.Yang dimaksud meninggalkan salat asar adalah dengan sengaja tidak salat asar. Sehingga, hadis ini tidak membahas orang yang salat asar, namun tidak di awal waktu atau lelaki yang salat asar di rumah tanpa uzur. Karena, dua model orang ini masih termasuk orang yang mengerjakan salat asar. Demikian juga, orang-orang yang menjamak salat zuhur dan asar atau orang yang terluput salat asar karena ada uzur, ini tidak termasuk yang diancam dalam hadis ini.Baca Juga: Keutamaan Waktu Ba’da Ashar Hari JumatAdapun lafaz “akan terhapus amalnya” ini diperselisihkan para ulama tentang maknanya. Secara garis besar ulama berbeda menjadi tiga pendapat:Pertama, sebagian ulama menafsirkan bahwa maknanya adalah terhapus pahala amalnya pada hari itu saja. Ini pendapat dari Ibnul Qayyim rahimahullah.Kedua, sebagian ulama menafsirkan bahwa maknanya adalah terhapus seluruh pahalanya sebagaimana zahir hadis. Ini pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Rajab rahimahullah.Ketiga, pendapat sebagian ulama yang mentakwil makna hadits ini. Seperti Ibnu Bathal rahimahullah, beliau menjelaskan bahwa maknanya adalah terhapus pahala dan keutamaan salat asar baginya, bukan pahala amal lainnya. Dan banyak sekali takwil yang lainnya. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,وَتَمَسَّكَ بِظَاهِرِ الْحَدِيثِ أَيْضًا الْحَنَابِلَةُ ، وَمَنْ قَالَ بِقَوْلِهِمْ مِنْ أَنَّ تَارِكَ الصَّلَاةِ يَكْفُرُ ، وَأَمَّا الْجُمْهُورُ فَتَأَوَّلُوا الْحَدِيثَ , فَافْتَرَقُوا فِي تَأْوِيلِهِ فِرَقًا“Ulama Hanabilah dan ulama yang berpendapat bahwa meninggalkan salat itu kufur, mereka berpegang pada zahir hadits. Adapun jumhur ulama, mereka mentakwil hadis ini. Namun, mereka berbeda-beda dalam mentakwilkannya dengan perbedaan yang banyak.” (Fathul Bari, 2: 31)Makna yang dikuatkan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz dan juga Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahumallah adalah pendapat kedua yang sesuai zahir dari hadis. Bahwa orang yang meninggalkan salat asar dengan sengaja maka terhapus semua amalnya. Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,هذا يدل على أن ترك الصلاة كفر إذا تركها عمدًا، عزم على تركها بالكلية، فهذا يحبط عمله لأن تركها كفر“Hadis ini menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan salat asar itu kufur jika meninggalkannya dengan sengaja dan memang berniat untuk meninggalkannya secara keseluruhan. Orang seperti ini terhapus amalannya karena meninggalkan salat itu kekufuran.” (Fatawa Al-Lajnah, 28: 89)Oleh karena itu, sudah selayaknya kita menjaga salat asar. Jangan sampai meninggalkannya. Karena, meninggalkan salat asar sangat keras ancamannya.Semoga Allah Ta’ala memberi taufik. Baca Juga: Penjelasan Hadits Larangan Shalat Setelah Shubuh dan Setelah Ashar Bolehkah Menjamak Shalat Zhuhur dan Ashar Saat Hujan? Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Ayat Tentang Riba, Kultum Tentang Berbakti Kepada Kedua Orang Tua, Ayat Tentang Syahadat, Doa Penting, Hukum Bersalaman


Terdapat hadis khusus yang mengancam dengan keras orang-orang yang meninggalkan salat asar. Dari Buraidah bin Al-Hashib Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,بَكِّرُوا بالصَّلَاةِ، فإنَّ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ قَالَ: مَن تَرَكَ صَلَاةَ العَصْرِ حَبِطَ عَمَلُهُ“Bersegeralah untuk melakukan salat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang meninggalkan salat asar, maka akan terhapus amalannya.” (HR. Bukhari no. 553 dan 594)Dalam riwayat lain, dari Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ مُتَعَمِّدًا ، حَتَّى تَفُوتَهُ ، فَقَدْ أُحْبِطَ عَمَلُهُ“Barangsiapa yang meninggalkan salat asar dengan sengaja sampai keluar waktunya, maka akan terhapus amalnya.” (HR. Ahmad no. 27492, disahihkan Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad)Penjelasan hadisMeninggalkan salat secara umum adalah dosa besar dan bisa menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Dari Abdullah bin Buraidah radhiyallahu’anhu, Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,إنَّ العَهدَ الذي بيننا وبينهم الصَّلاةُ، فمَن تَرَكها فقدْ كَفَرَ“Sesungguhnya perjanjian antara kita dan mereka (kaum musyrikin) adalah salat. Barangsiapa yang meninggalkannya, maka ia telah kafir.” (HR. At-Tirmidzi no. 2621, disahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)Dan khusus salat asar, meninggalkannya lebih ditekankan lagi larangannya dalam hadis di atas.Yang dimaksud meninggalkan salat asar adalah dengan sengaja tidak salat asar. Sehingga, hadis ini tidak membahas orang yang salat asar, namun tidak di awal waktu atau lelaki yang salat asar di rumah tanpa uzur. Karena, dua model orang ini masih termasuk orang yang mengerjakan salat asar. Demikian juga, orang-orang yang menjamak salat zuhur dan asar atau orang yang terluput salat asar karena ada uzur, ini tidak termasuk yang diancam dalam hadis ini.Baca Juga: Keutamaan Waktu Ba’da Ashar Hari JumatAdapun lafaz “akan terhapus amalnya” ini diperselisihkan para ulama tentang maknanya. Secara garis besar ulama berbeda menjadi tiga pendapat:Pertama, sebagian ulama menafsirkan bahwa maknanya adalah terhapus pahala amalnya pada hari itu saja. Ini pendapat dari Ibnul Qayyim rahimahullah.Kedua, sebagian ulama menafsirkan bahwa maknanya adalah terhapus seluruh pahalanya sebagaimana zahir hadis. Ini pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Rajab rahimahullah.Ketiga, pendapat sebagian ulama yang mentakwil makna hadits ini. Seperti Ibnu Bathal rahimahullah, beliau menjelaskan bahwa maknanya adalah terhapus pahala dan keutamaan salat asar baginya, bukan pahala amal lainnya. Dan banyak sekali takwil yang lainnya. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,وَتَمَسَّكَ بِظَاهِرِ الْحَدِيثِ أَيْضًا الْحَنَابِلَةُ ، وَمَنْ قَالَ بِقَوْلِهِمْ مِنْ أَنَّ تَارِكَ الصَّلَاةِ يَكْفُرُ ، وَأَمَّا الْجُمْهُورُ فَتَأَوَّلُوا الْحَدِيثَ , فَافْتَرَقُوا فِي تَأْوِيلِهِ فِرَقًا“Ulama Hanabilah dan ulama yang berpendapat bahwa meninggalkan salat itu kufur, mereka berpegang pada zahir hadits. Adapun jumhur ulama, mereka mentakwil hadis ini. Namun, mereka berbeda-beda dalam mentakwilkannya dengan perbedaan yang banyak.” (Fathul Bari, 2: 31)Makna yang dikuatkan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz dan juga Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahumallah adalah pendapat kedua yang sesuai zahir dari hadis. Bahwa orang yang meninggalkan salat asar dengan sengaja maka terhapus semua amalnya. Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,هذا يدل على أن ترك الصلاة كفر إذا تركها عمدًا، عزم على تركها بالكلية، فهذا يحبط عمله لأن تركها كفر“Hadis ini menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan salat asar itu kufur jika meninggalkannya dengan sengaja dan memang berniat untuk meninggalkannya secara keseluruhan. Orang seperti ini terhapus amalannya karena meninggalkan salat itu kekufuran.” (Fatawa Al-Lajnah, 28: 89)Oleh karena itu, sudah selayaknya kita menjaga salat asar. Jangan sampai meninggalkannya. Karena, meninggalkan salat asar sangat keras ancamannya.Semoga Allah Ta’ala memberi taufik. Baca Juga: Penjelasan Hadits Larangan Shalat Setelah Shubuh dan Setelah Ashar Bolehkah Menjamak Shalat Zhuhur dan Ashar Saat Hujan? Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Ayat Tentang Riba, Kultum Tentang Berbakti Kepada Kedua Orang Tua, Ayat Tentang Syahadat, Doa Penting, Hukum Bersalaman

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 135: Hikmah Angkat Tangan Saat Berdoa Bagian 1

Banyak pelajaran berharga dan hikmah mulia yang bisa kita ambil dari mengangkat tangan saat berdoa. Di antaranya:Pertama: Menunjukkan kebutuhan hamba kepada AllahKita semua fakir dan butuh terhadap rahmat Allah ta’ala. Dengan mengangkat tangan saat berdoa, sejatinya kita sedang menampakkan kerendahan, ketundukan dan ketergantungan kepada Allah ‘azza wa jalla. Menyadari bahwa tanpa bantuan dari-Nya, kita tidak bisa berbuat apa-apa.Allah ta’ala mengingatkan,“يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ، وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ“Artinya: “Wahai para manusia, kalianlah yang memerlukan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dan Maha Terpuji”. QS. Fâthir (35): 15.Semakin besar keperluan dan kebutuhan kita, maka semakin tinggi pula kita mengangkat tangan. Dari sini kita bisa memahami mengapa saat berdoa memohon hujan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangan lebih tinggi dibandingkan biasanya. Sebab kebutuhan umat manusia terhadap air sangatlah primer.Kedua: Mengakui kekuasaan AllahDengan mengangkat tangan saat berdoa, sejatinya kita sedang mengakui betapa besarnya kekuasaan Allah. Dialah yang mengatur segala urusan dan menguasai seluruh makhluk. Dzat yang memiliki keistimewaan seperti inilah yang layak untuk disembah. Dialah yang berhak untuk diibadahi, dicintai secara total dan dipatuhi secara mutlak.Allah ta’ala berfirman,“ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ”Artinya: “Demikianlah karena sesungguhnya Allah Dialah (sesembahan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka sembah selain-Nya adalah batil. Sungguh Allah Dialah yang Mahatinggi, Mahabesar”. QS. Al-Hajj (22): 62.Maka setiap penyembahan kepada selain Allah; pasti batil, meletihkan dan menyesatkan.Setiap kecintaan total kepada selain Allah; pasti akan menyakitkan.Setiap ketergantungan kepada selain Allah; pasti akan mengantarkan kepada kemiskinan.Setiap kekuasaan tanpa melibatkan Allah; pasti akan berakhir dengan kehinaan.Hanya kepada Allah lah kita menggantungkan keinginan kita. Hanya kepada-Nya lah kita mengajukan permohonan. Hanya pintu-Nya lah yang kita ketuk, saat kita memiliki kebutuhan.“يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ“Artinya: “Apa yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan”. QS. Ar-Rahman (55): 29.Dalam Tafsîr as-Sa’diy dijelaskan bahwa setiap saat Allah memberi yang fakir, membantu yang membutuhkan, menghidupkan dan mematikan, mengangkat dan merendahkan. Satu pekerjaan tidak mengganggu pekerjaan lain. Allah tidak pernah keliru dalam melayani permintaan para hamba-Nya. Dan tidak pernah merasa letih dalam melayani mereka.Bersambung… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Sya’ban 1439 / 7 Mei 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No105: Anak dan Adab Minta Ijin Bagian 2Next Antara Simpati dan Situasi Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 135: Hikmah Angkat Tangan Saat Berdoa Bagian 1

Banyak pelajaran berharga dan hikmah mulia yang bisa kita ambil dari mengangkat tangan saat berdoa. Di antaranya:Pertama: Menunjukkan kebutuhan hamba kepada AllahKita semua fakir dan butuh terhadap rahmat Allah ta’ala. Dengan mengangkat tangan saat berdoa, sejatinya kita sedang menampakkan kerendahan, ketundukan dan ketergantungan kepada Allah ‘azza wa jalla. Menyadari bahwa tanpa bantuan dari-Nya, kita tidak bisa berbuat apa-apa.Allah ta’ala mengingatkan,“يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ، وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ“Artinya: “Wahai para manusia, kalianlah yang memerlukan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dan Maha Terpuji”. QS. Fâthir (35): 15.Semakin besar keperluan dan kebutuhan kita, maka semakin tinggi pula kita mengangkat tangan. Dari sini kita bisa memahami mengapa saat berdoa memohon hujan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangan lebih tinggi dibandingkan biasanya. Sebab kebutuhan umat manusia terhadap air sangatlah primer.Kedua: Mengakui kekuasaan AllahDengan mengangkat tangan saat berdoa, sejatinya kita sedang mengakui betapa besarnya kekuasaan Allah. Dialah yang mengatur segala urusan dan menguasai seluruh makhluk. Dzat yang memiliki keistimewaan seperti inilah yang layak untuk disembah. Dialah yang berhak untuk diibadahi, dicintai secara total dan dipatuhi secara mutlak.Allah ta’ala berfirman,“ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ”Artinya: “Demikianlah karena sesungguhnya Allah Dialah (sesembahan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka sembah selain-Nya adalah batil. Sungguh Allah Dialah yang Mahatinggi, Mahabesar”. QS. Al-Hajj (22): 62.Maka setiap penyembahan kepada selain Allah; pasti batil, meletihkan dan menyesatkan.Setiap kecintaan total kepada selain Allah; pasti akan menyakitkan.Setiap ketergantungan kepada selain Allah; pasti akan mengantarkan kepada kemiskinan.Setiap kekuasaan tanpa melibatkan Allah; pasti akan berakhir dengan kehinaan.Hanya kepada Allah lah kita menggantungkan keinginan kita. Hanya kepada-Nya lah kita mengajukan permohonan. Hanya pintu-Nya lah yang kita ketuk, saat kita memiliki kebutuhan.“يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ“Artinya: “Apa yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan”. QS. Ar-Rahman (55): 29.Dalam Tafsîr as-Sa’diy dijelaskan bahwa setiap saat Allah memberi yang fakir, membantu yang membutuhkan, menghidupkan dan mematikan, mengangkat dan merendahkan. Satu pekerjaan tidak mengganggu pekerjaan lain. Allah tidak pernah keliru dalam melayani permintaan para hamba-Nya. Dan tidak pernah merasa letih dalam melayani mereka.Bersambung… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Sya’ban 1439 / 7 Mei 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No105: Anak dan Adab Minta Ijin Bagian 2Next Antara Simpati dan Situasi Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Banyak pelajaran berharga dan hikmah mulia yang bisa kita ambil dari mengangkat tangan saat berdoa. Di antaranya:Pertama: Menunjukkan kebutuhan hamba kepada AllahKita semua fakir dan butuh terhadap rahmat Allah ta’ala. Dengan mengangkat tangan saat berdoa, sejatinya kita sedang menampakkan kerendahan, ketundukan dan ketergantungan kepada Allah ‘azza wa jalla. Menyadari bahwa tanpa bantuan dari-Nya, kita tidak bisa berbuat apa-apa.Allah ta’ala mengingatkan,“يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ، وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ“Artinya: “Wahai para manusia, kalianlah yang memerlukan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dan Maha Terpuji”. QS. Fâthir (35): 15.Semakin besar keperluan dan kebutuhan kita, maka semakin tinggi pula kita mengangkat tangan. Dari sini kita bisa memahami mengapa saat berdoa memohon hujan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangan lebih tinggi dibandingkan biasanya. Sebab kebutuhan umat manusia terhadap air sangatlah primer.Kedua: Mengakui kekuasaan AllahDengan mengangkat tangan saat berdoa, sejatinya kita sedang mengakui betapa besarnya kekuasaan Allah. Dialah yang mengatur segala urusan dan menguasai seluruh makhluk. Dzat yang memiliki keistimewaan seperti inilah yang layak untuk disembah. Dialah yang berhak untuk diibadahi, dicintai secara total dan dipatuhi secara mutlak.Allah ta’ala berfirman,“ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ”Artinya: “Demikianlah karena sesungguhnya Allah Dialah (sesembahan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka sembah selain-Nya adalah batil. Sungguh Allah Dialah yang Mahatinggi, Mahabesar”. QS. Al-Hajj (22): 62.Maka setiap penyembahan kepada selain Allah; pasti batil, meletihkan dan menyesatkan.Setiap kecintaan total kepada selain Allah; pasti akan menyakitkan.Setiap ketergantungan kepada selain Allah; pasti akan mengantarkan kepada kemiskinan.Setiap kekuasaan tanpa melibatkan Allah; pasti akan berakhir dengan kehinaan.Hanya kepada Allah lah kita menggantungkan keinginan kita. Hanya kepada-Nya lah kita mengajukan permohonan. Hanya pintu-Nya lah yang kita ketuk, saat kita memiliki kebutuhan.“يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ“Artinya: “Apa yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan”. QS. Ar-Rahman (55): 29.Dalam Tafsîr as-Sa’diy dijelaskan bahwa setiap saat Allah memberi yang fakir, membantu yang membutuhkan, menghidupkan dan mematikan, mengangkat dan merendahkan. Satu pekerjaan tidak mengganggu pekerjaan lain. Allah tidak pernah keliru dalam melayani permintaan para hamba-Nya. Dan tidak pernah merasa letih dalam melayani mereka.Bersambung… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Sya’ban 1439 / 7 Mei 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No105: Anak dan Adab Minta Ijin Bagian 2Next Antara Simpati dan Situasi Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Banyak pelajaran berharga dan hikmah mulia yang bisa kita ambil dari mengangkat tangan saat berdoa. Di antaranya:Pertama: Menunjukkan kebutuhan hamba kepada AllahKita semua fakir dan butuh terhadap rahmat Allah ta’ala. Dengan mengangkat tangan saat berdoa, sejatinya kita sedang menampakkan kerendahan, ketundukan dan ketergantungan kepada Allah ‘azza wa jalla. Menyadari bahwa tanpa bantuan dari-Nya, kita tidak bisa berbuat apa-apa.Allah ta’ala mengingatkan,“يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ، وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ“Artinya: “Wahai para manusia, kalianlah yang memerlukan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dan Maha Terpuji”. QS. Fâthir (35): 15.Semakin besar keperluan dan kebutuhan kita, maka semakin tinggi pula kita mengangkat tangan. Dari sini kita bisa memahami mengapa saat berdoa memohon hujan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangan lebih tinggi dibandingkan biasanya. Sebab kebutuhan umat manusia terhadap air sangatlah primer.Kedua: Mengakui kekuasaan AllahDengan mengangkat tangan saat berdoa, sejatinya kita sedang mengakui betapa besarnya kekuasaan Allah. Dialah yang mengatur segala urusan dan menguasai seluruh makhluk. Dzat yang memiliki keistimewaan seperti inilah yang layak untuk disembah. Dialah yang berhak untuk diibadahi, dicintai secara total dan dipatuhi secara mutlak.Allah ta’ala berfirman,“ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ”Artinya: “Demikianlah karena sesungguhnya Allah Dialah (sesembahan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka sembah selain-Nya adalah batil. Sungguh Allah Dialah yang Mahatinggi, Mahabesar”. QS. Al-Hajj (22): 62.Maka setiap penyembahan kepada selain Allah; pasti batil, meletihkan dan menyesatkan.Setiap kecintaan total kepada selain Allah; pasti akan menyakitkan.Setiap ketergantungan kepada selain Allah; pasti akan mengantarkan kepada kemiskinan.Setiap kekuasaan tanpa melibatkan Allah; pasti akan berakhir dengan kehinaan.Hanya kepada Allah lah kita menggantungkan keinginan kita. Hanya kepada-Nya lah kita mengajukan permohonan. Hanya pintu-Nya lah yang kita ketuk, saat kita memiliki kebutuhan.“يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ“Artinya: “Apa yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan”. QS. Ar-Rahman (55): 29.Dalam Tafsîr as-Sa’diy dijelaskan bahwa setiap saat Allah memberi yang fakir, membantu yang membutuhkan, menghidupkan dan mematikan, mengangkat dan merendahkan. Satu pekerjaan tidak mengganggu pekerjaan lain. Allah tidak pernah keliru dalam melayani permintaan para hamba-Nya. Dan tidak pernah merasa letih dalam melayani mereka.Bersambung… @ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Sya’ban 1439 / 7 Mei 2018 Post navigation Previous Silsilah Fiqih Pendidikan Anak No105: Anak dan Adab Minta Ijin Bagian 2Next Antara Simpati dan Situasi Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Prev     Next