Bolehkah Mempekerjakan Orang Lain Dalam Mudharabah?

Bolehkah Mempekerjakan Orang Lain Dalam Mudharabah? Dalam akad kerja sama bagi hasil, pengelola mengajak orang lain untuk ikut bekerja namun digaji. Nah, bolehkah gaji ini diambil dari modal? Shukron… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Dalam akad mudharabah (kerja sama mengembangkan usaha dagang), ada 2 pihak sebagai subjek: [1] Shohibul Mal (pemilik modal) [2] Mudharib (Pengelola modal) Keterlibatan shohibul mal dalam akad ini adalah modal yang dia berikan. Sementara keterlibatan mudharib adalah kerja yang dia lakukan dalam mengelola modal. Karena keterlibatan inilah, masing-masing memiliki hak untuk mendapatkan keuntungan, sebagaimana pula masing-masing juga memiliki peluang terjadinya resiko kerugian. Untuk itulah, jika keterlibatan ini tidak ada, maka masing-masing tidak memiliki hak untuk mendapatkan keuntungan. Misalnya, mudharib tidak mau bekerja, tapi semua dia limpahkan ke orang lain yang mengerjakannya, kemudian gaji orang yang bekerja itu diambilkan dari modal. Prof. Dr. Hasan Abdul Ghani dalam risalahnya – al-Ahkam al-Fiqhiyah al-Muta’alliqah bi Aqd al-Mudharabah – menyebutkan bahwa untuk mengukur kerja apa yang boleh meminta bantuan orang lain, dirinci menjadi 2: [1] Kerja yang tidak mungkin ditangani mudharib sendiri. Baik karena ketidak-mampuannya mengelola itu atau karena faktor lain, misalnya jika ditangani mudharib bisa membahayakan kelangsungan mudharabah. Dalam hal ini, mudharib bisa mempekerjakan orang lain, dan upahnya dijadikan sebagai biaya operasional mudharabah. [2] Kerja yang sangat mungkin dilakukan mudharib, sehingga tidak perlu bantuan orang lain, dalam hal ini mudharib tidak boleh mempekerjakan orang lain dan dibebankan sebagai biaya operasional mudharabah. Karena bagi hasil yang menjadi peluang penghasilan mudharib adalah ganti dari kerja yang wajib dilakukan mudharib. Sehingga jika mudharib tetap mempekerjakan orang lain, biaya operasional dibebankan kepada harta pribadinya dan BUKAN pada modal mudharabah. Dan ukuran berat dan tidaknya kerja semacam ini, kembali kepada urf (tradisi) yang berlaku di masyarakat. Dalam hal ini berlaku kaidah, العادة محكَّمة Adat dan kebiasaan masyarakat menjadi acuan dalam menetapkan hukum. Selanjutnya, gaji untuk orang yang dipekerjakan oleh mudharib, jika memang itu dibutuhkan, boleh dijadikan sebagai biaya operasional. Dan biaya operasional untuk pengembangan usaha dalam akad mudharabah boleh diambil dari modal mudharabah. Seperti transportasi, iklan, perjalanan, dan semua kebutuhan riil untuk pengembangan usaha mudharabah. Standar kebutuhan riil dalam hal ini kembali kepada urf (kebiasaan) yang berlaku di masyarakat. Kecuali jika ada kesepakatan antara shohibul mal dengan mudharib. Dan ini masuk dalam ranah teknis, sehingga kembali kepada tradisi yang berlaku di masyarakat atau kesepakatan yan dibuat bersama. Sementara biaya yang TIDAK termasuk operasional mudharabah tidak boleh dibebankan ke modal mudharabah, tapi ditanggung sendiri oleh mudharib. Seperti nafkah keluarga, konsumsi di luar kerja mudharib, dst. Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Penyebab Mimpi Buruk Menurut Islam, Hukum Istri Mengatakan Cerai Kepada Suami, Sholat Berjamaah Dengan Bukan Muhrim, Materi Kultum Singkat Islami, Lailahaillallah Muhammadarrasulullah In Arabic, Apa Itu Riba Menurut Islam Visited 38 times, 1 visit(s) today Post Views: 227 QRIS donasi Yufid

Bolehkah Mempekerjakan Orang Lain Dalam Mudharabah?

Bolehkah Mempekerjakan Orang Lain Dalam Mudharabah? Dalam akad kerja sama bagi hasil, pengelola mengajak orang lain untuk ikut bekerja namun digaji. Nah, bolehkah gaji ini diambil dari modal? Shukron… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Dalam akad mudharabah (kerja sama mengembangkan usaha dagang), ada 2 pihak sebagai subjek: [1] Shohibul Mal (pemilik modal) [2] Mudharib (Pengelola modal) Keterlibatan shohibul mal dalam akad ini adalah modal yang dia berikan. Sementara keterlibatan mudharib adalah kerja yang dia lakukan dalam mengelola modal. Karena keterlibatan inilah, masing-masing memiliki hak untuk mendapatkan keuntungan, sebagaimana pula masing-masing juga memiliki peluang terjadinya resiko kerugian. Untuk itulah, jika keterlibatan ini tidak ada, maka masing-masing tidak memiliki hak untuk mendapatkan keuntungan. Misalnya, mudharib tidak mau bekerja, tapi semua dia limpahkan ke orang lain yang mengerjakannya, kemudian gaji orang yang bekerja itu diambilkan dari modal. Prof. Dr. Hasan Abdul Ghani dalam risalahnya – al-Ahkam al-Fiqhiyah al-Muta’alliqah bi Aqd al-Mudharabah – menyebutkan bahwa untuk mengukur kerja apa yang boleh meminta bantuan orang lain, dirinci menjadi 2: [1] Kerja yang tidak mungkin ditangani mudharib sendiri. Baik karena ketidak-mampuannya mengelola itu atau karena faktor lain, misalnya jika ditangani mudharib bisa membahayakan kelangsungan mudharabah. Dalam hal ini, mudharib bisa mempekerjakan orang lain, dan upahnya dijadikan sebagai biaya operasional mudharabah. [2] Kerja yang sangat mungkin dilakukan mudharib, sehingga tidak perlu bantuan orang lain, dalam hal ini mudharib tidak boleh mempekerjakan orang lain dan dibebankan sebagai biaya operasional mudharabah. Karena bagi hasil yang menjadi peluang penghasilan mudharib adalah ganti dari kerja yang wajib dilakukan mudharib. Sehingga jika mudharib tetap mempekerjakan orang lain, biaya operasional dibebankan kepada harta pribadinya dan BUKAN pada modal mudharabah. Dan ukuran berat dan tidaknya kerja semacam ini, kembali kepada urf (tradisi) yang berlaku di masyarakat. Dalam hal ini berlaku kaidah, العادة محكَّمة Adat dan kebiasaan masyarakat menjadi acuan dalam menetapkan hukum. Selanjutnya, gaji untuk orang yang dipekerjakan oleh mudharib, jika memang itu dibutuhkan, boleh dijadikan sebagai biaya operasional. Dan biaya operasional untuk pengembangan usaha dalam akad mudharabah boleh diambil dari modal mudharabah. Seperti transportasi, iklan, perjalanan, dan semua kebutuhan riil untuk pengembangan usaha mudharabah. Standar kebutuhan riil dalam hal ini kembali kepada urf (kebiasaan) yang berlaku di masyarakat. Kecuali jika ada kesepakatan antara shohibul mal dengan mudharib. Dan ini masuk dalam ranah teknis, sehingga kembali kepada tradisi yang berlaku di masyarakat atau kesepakatan yan dibuat bersama. Sementara biaya yang TIDAK termasuk operasional mudharabah tidak boleh dibebankan ke modal mudharabah, tapi ditanggung sendiri oleh mudharib. Seperti nafkah keluarga, konsumsi di luar kerja mudharib, dst. Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Penyebab Mimpi Buruk Menurut Islam, Hukum Istri Mengatakan Cerai Kepada Suami, Sholat Berjamaah Dengan Bukan Muhrim, Materi Kultum Singkat Islami, Lailahaillallah Muhammadarrasulullah In Arabic, Apa Itu Riba Menurut Islam Visited 38 times, 1 visit(s) today Post Views: 227 QRIS donasi Yufid
Bolehkah Mempekerjakan Orang Lain Dalam Mudharabah? Dalam akad kerja sama bagi hasil, pengelola mengajak orang lain untuk ikut bekerja namun digaji. Nah, bolehkah gaji ini diambil dari modal? Shukron… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Dalam akad mudharabah (kerja sama mengembangkan usaha dagang), ada 2 pihak sebagai subjek: [1] Shohibul Mal (pemilik modal) [2] Mudharib (Pengelola modal) Keterlibatan shohibul mal dalam akad ini adalah modal yang dia berikan. Sementara keterlibatan mudharib adalah kerja yang dia lakukan dalam mengelola modal. Karena keterlibatan inilah, masing-masing memiliki hak untuk mendapatkan keuntungan, sebagaimana pula masing-masing juga memiliki peluang terjadinya resiko kerugian. Untuk itulah, jika keterlibatan ini tidak ada, maka masing-masing tidak memiliki hak untuk mendapatkan keuntungan. Misalnya, mudharib tidak mau bekerja, tapi semua dia limpahkan ke orang lain yang mengerjakannya, kemudian gaji orang yang bekerja itu diambilkan dari modal. Prof. Dr. Hasan Abdul Ghani dalam risalahnya – al-Ahkam al-Fiqhiyah al-Muta’alliqah bi Aqd al-Mudharabah – menyebutkan bahwa untuk mengukur kerja apa yang boleh meminta bantuan orang lain, dirinci menjadi 2: [1] Kerja yang tidak mungkin ditangani mudharib sendiri. Baik karena ketidak-mampuannya mengelola itu atau karena faktor lain, misalnya jika ditangani mudharib bisa membahayakan kelangsungan mudharabah. Dalam hal ini, mudharib bisa mempekerjakan orang lain, dan upahnya dijadikan sebagai biaya operasional mudharabah. [2] Kerja yang sangat mungkin dilakukan mudharib, sehingga tidak perlu bantuan orang lain, dalam hal ini mudharib tidak boleh mempekerjakan orang lain dan dibebankan sebagai biaya operasional mudharabah. Karena bagi hasil yang menjadi peluang penghasilan mudharib adalah ganti dari kerja yang wajib dilakukan mudharib. Sehingga jika mudharib tetap mempekerjakan orang lain, biaya operasional dibebankan kepada harta pribadinya dan BUKAN pada modal mudharabah. Dan ukuran berat dan tidaknya kerja semacam ini, kembali kepada urf (tradisi) yang berlaku di masyarakat. Dalam hal ini berlaku kaidah, العادة محكَّمة Adat dan kebiasaan masyarakat menjadi acuan dalam menetapkan hukum. Selanjutnya, gaji untuk orang yang dipekerjakan oleh mudharib, jika memang itu dibutuhkan, boleh dijadikan sebagai biaya operasional. Dan biaya operasional untuk pengembangan usaha dalam akad mudharabah boleh diambil dari modal mudharabah. Seperti transportasi, iklan, perjalanan, dan semua kebutuhan riil untuk pengembangan usaha mudharabah. Standar kebutuhan riil dalam hal ini kembali kepada urf (kebiasaan) yang berlaku di masyarakat. Kecuali jika ada kesepakatan antara shohibul mal dengan mudharib. Dan ini masuk dalam ranah teknis, sehingga kembali kepada tradisi yang berlaku di masyarakat atau kesepakatan yan dibuat bersama. Sementara biaya yang TIDAK termasuk operasional mudharabah tidak boleh dibebankan ke modal mudharabah, tapi ditanggung sendiri oleh mudharib. Seperti nafkah keluarga, konsumsi di luar kerja mudharib, dst. Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Penyebab Mimpi Buruk Menurut Islam, Hukum Istri Mengatakan Cerai Kepada Suami, Sholat Berjamaah Dengan Bukan Muhrim, Materi Kultum Singkat Islami, Lailahaillallah Muhammadarrasulullah In Arabic, Apa Itu Riba Menurut Islam Visited 38 times, 1 visit(s) today Post Views: 227 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/556294488&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Bolehkah Mempekerjakan Orang Lain Dalam Mudharabah? Dalam akad kerja sama bagi hasil, pengelola mengajak orang lain untuk ikut bekerja namun digaji. Nah, bolehkah gaji ini diambil dari modal? Shukron… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Dalam akad mudharabah (kerja sama mengembangkan usaha dagang), ada 2 pihak sebagai subjek: [1] Shohibul Mal (pemilik modal) [2] Mudharib (Pengelola modal) Keterlibatan shohibul mal dalam akad ini adalah modal yang dia berikan. Sementara keterlibatan mudharib adalah kerja yang dia lakukan dalam mengelola modal. Karena keterlibatan inilah, masing-masing memiliki hak untuk mendapatkan keuntungan, sebagaimana pula masing-masing juga memiliki peluang terjadinya resiko kerugian. Untuk itulah, jika keterlibatan ini tidak ada, maka masing-masing tidak memiliki hak untuk mendapatkan keuntungan. Misalnya, mudharib tidak mau bekerja, tapi semua dia limpahkan ke orang lain yang mengerjakannya, kemudian gaji orang yang bekerja itu diambilkan dari modal. Prof. Dr. Hasan Abdul Ghani dalam risalahnya – al-Ahkam al-Fiqhiyah al-Muta’alliqah bi Aqd al-Mudharabah – menyebutkan bahwa untuk mengukur kerja apa yang boleh meminta bantuan orang lain, dirinci menjadi 2: [1] Kerja yang tidak mungkin ditangani mudharib sendiri. Baik karena ketidak-mampuannya mengelola itu atau karena faktor lain, misalnya jika ditangani mudharib bisa membahayakan kelangsungan mudharabah. Dalam hal ini, mudharib bisa mempekerjakan orang lain, dan upahnya dijadikan sebagai biaya operasional mudharabah. [2] Kerja yang sangat mungkin dilakukan mudharib, sehingga tidak perlu bantuan orang lain, dalam hal ini mudharib tidak boleh mempekerjakan orang lain dan dibebankan sebagai biaya operasional mudharabah. Karena bagi hasil yang menjadi peluang penghasilan mudharib adalah ganti dari kerja yang wajib dilakukan mudharib. Sehingga jika mudharib tetap mempekerjakan orang lain, biaya operasional dibebankan kepada harta pribadinya dan BUKAN pada modal mudharabah. Dan ukuran berat dan tidaknya kerja semacam ini, kembali kepada urf (tradisi) yang berlaku di masyarakat. Dalam hal ini berlaku kaidah, العادة محكَّمة Adat dan kebiasaan masyarakat menjadi acuan dalam menetapkan hukum. Selanjutnya, gaji untuk orang yang dipekerjakan oleh mudharib, jika memang itu dibutuhkan, boleh dijadikan sebagai biaya operasional. Dan biaya operasional untuk pengembangan usaha dalam akad mudharabah boleh diambil dari modal mudharabah. Seperti transportasi, iklan, perjalanan, dan semua kebutuhan riil untuk pengembangan usaha mudharabah. Standar kebutuhan riil dalam hal ini kembali kepada urf (kebiasaan) yang berlaku di masyarakat. Kecuali jika ada kesepakatan antara shohibul mal dengan mudharib. Dan ini masuk dalam ranah teknis, sehingga kembali kepada tradisi yang berlaku di masyarakat atau kesepakatan yan dibuat bersama. Sementara biaya yang TIDAK termasuk operasional mudharabah tidak boleh dibebankan ke modal mudharabah, tapi ditanggung sendiri oleh mudharib. Seperti nafkah keluarga, konsumsi di luar kerja mudharib, dst. Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Penyebab Mimpi Buruk Menurut Islam, Hukum Istri Mengatakan Cerai Kepada Suami, Sholat Berjamaah Dengan Bukan Muhrim, Materi Kultum Singkat Islami, Lailahaillallah Muhammadarrasulullah In Arabic, Apa Itu Riba Menurut Islam Visited 38 times, 1 visit(s) today Post Views: 227 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Wanita Dilarang Memakai Minyak Wangi?

IlustrasiHukum Wanita Pakai ParfumKapan wanita boleh memakai minyak wangi?Jawab :Sesungguhnya wanita sangat dimuliakan dalam Islam, ia adalah perhiasan yang sangat mahal, tidak boleh disentuh dan dinikmati oleh siapa saja. Wanita dalam Islam hanya boleh disentuh oleh suaminya setelah melalui proses akad yang disebut oleh Allah denganمِيْثَاقًا غَلِيْظًا“perjanjian yang berat”.Berbeda dengan wanita non muslim yang merupakan barang murahan, mudah disentuh oleh siapa saja, ibarat bus kota yang siapa saja boleh mengendarainya. Dijadikan sebagai bahan umpan dan perangkap oleh Iblis untuk menjerumuskan manusia dalam perzinahan yang merusak tatanan sosial masyarakat.Nabi ﷺ bersabda :الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ“Wanita adalah aurot, jika ia keluar (dari rumahnya) maka syaitanpun mengintainya” (HR At-Tirmidzi 1173)Yaitu syaitan mengintai setiap wanita yang keluar dari rumahnya untuk menghiasinya di pandangan para lelaki untuk menggoda mereka. Atau maksudnya adalah wanita diintai oleh syaitan-syaitan manusia yang siap untuk menggodanya (lihat Faidul Qodiir 6/266)Karenanya wanita yang terbaik adalah yang betah dirumahnya, dan jika ia keluar rumah maka ia beradab dengan adab-adab Islami, dengan berhijab dengan hijab yang syarí menutup aurotnya.Karenanya Islam melarang wanita keluar rumah dengan menggunakan minyak wangi yang tercium oleh para lelaki karena menjadikan para lelaki semakin tergoda terhadapnya dan bisa tergerak syahwat mereka. Hal ini tentu untuk menjaga kemuliaan sang wanita agar tidak menjadi korban dan santapan para lelaki dan untuk menghindari jalan-jalan yang mengantarkan kepada zinaNabi ﷺ bersabda :أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ، فَمَرَّتْ بِقَوْمٍ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ“Wanita mana saja yang memakai minyak wangi lalu melewati suatu kaum agar mereka mencium wanginya maka ia adalah wanita pezina” (HR Ahmad no 19711, At-Tirmidzi no 2786, dan An-Nasaai no 5126 dari hadits Abu Musa al-Asyári)Dan parfum yang wangi -apalagi yang keluar dari seorang wanita- bisa menggerakan syahwat. Karenanya tatkala seseorang sedang berihram dilarang untuk menggunakan parfum karena bisa menggerakan syahwat. Larangan wanita menggunakan parfum tatkala keluar rumah bahkan dijelaskan oleh para ulama mencakup jika sang wanita hendak pergi ke masjid, maka tentu lebih terlarang lagi jika sang wanita pergi ke kantor, pasar, atau mall.Namun ada kondisi-kondisi bagi seorang wanita untuk boleh menggunakan parfum. DiantaranyaPertama : Jika parfum tersebut ia pakai hanya di rumah saja, apalagi untuk berhias di hadapan suami, maka tentu ini adalah perkara yang sangat dianjurkan oleh syariát.Kedua : Jika seorang wanita menggunakan parfum yang wanginya tidak sampai keluar dari tubuhnya sehingga bisa dicium aromanya oleh orang lain. Hal ini seperti parfum yang aromanya tidak kuat, seperti yang fungsinya untuk menghilangkan bau keringat atau yang semisalnya. Karena larangan wanita keluar rumah dengan menggunakan minyak wangi adalah larangan yang beríllah (bersebab), jika sebabnya hilang maka hilang pula larangannya. Sebagaimana dalam kaidah,الْحُكْمُ يَدُوْرُ مَعَ عِلَّتِهِ وُجُوْدًا وَعَدَمًا“Hukum itu berlaku berdasarkan sebabnya, jika sebabnya ada maka berlakulah hukum tersebut, dan jika sebabnya hilang maka hilang pula hukumnya”Dan íllah (sebab) wanita tidak boleh keluar rumah dengan menggunakan parfum adalah karena parfum tersebut aromanya bisa tercium oleh para lelaki, yang itu bisa menggerakan syahwat mereka dan menjadikan wanita tersebut sebagai pusat perhatian. Maka jika pewangi yang digunakan oleh seorang wanita aromanya tidak kuat dan tidak sampai tercium oleh orang lain maka tidak mengapa.Ketiga : Jika seorang wanita menggunakan parfum yang wanginya kuat, akan tetapi tatkala keluar rumah dipastikan ia tidak melewati para lelaki yang bukan mahromnya. Misalnya :Ia pergi ditemani oleh suaminya dengan mobil menuju rumah menuju rumah keluarganyaIa pergi ditemani oleh suaminya menuju acara pertemuan para wanita saja, seperti pengajian ibu-ibu, atau walimahan khusus para wanita.Atau ia pergi hanya bersama keluarganya (mahromnya) menuju suatu tempat yang sepi yang tidak ada lelaki lain yang bukan mahromnya.Karena pada kondisi-kondisi di atas íllah (sebab) pelarangan wanita menggunakan parfum tatkala keluar rumah -yaitu tercium oleh para lelaki yang bukan mahromnya- tidak ada. Namun tentu seseorang wanita tidak menggampangkan hal ini, ia harus benar-benar memastikan bahwa jalan yang ia lewati tidak akan melalui lelaki yang bukan mahromnya. Yang lebih selamat adalah ia menggunakan parfum yang ringan aromanya yang tidak sampai keluar baunya. Dan ini juga penting agar tatkala ia bertemu dengan ibu-ibu yang lain tidak tercium bau yang tidak enak dari tubuhnya. Wallahu a’lam bisshowaab.Firanda Andirja Abidin 8/1/1440 H (18/9/2018 M)

Wanita Dilarang Memakai Minyak Wangi?

IlustrasiHukum Wanita Pakai ParfumKapan wanita boleh memakai minyak wangi?Jawab :Sesungguhnya wanita sangat dimuliakan dalam Islam, ia adalah perhiasan yang sangat mahal, tidak boleh disentuh dan dinikmati oleh siapa saja. Wanita dalam Islam hanya boleh disentuh oleh suaminya setelah melalui proses akad yang disebut oleh Allah denganمِيْثَاقًا غَلِيْظًا“perjanjian yang berat”.Berbeda dengan wanita non muslim yang merupakan barang murahan, mudah disentuh oleh siapa saja, ibarat bus kota yang siapa saja boleh mengendarainya. Dijadikan sebagai bahan umpan dan perangkap oleh Iblis untuk menjerumuskan manusia dalam perzinahan yang merusak tatanan sosial masyarakat.Nabi ﷺ bersabda :الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ“Wanita adalah aurot, jika ia keluar (dari rumahnya) maka syaitanpun mengintainya” (HR At-Tirmidzi 1173)Yaitu syaitan mengintai setiap wanita yang keluar dari rumahnya untuk menghiasinya di pandangan para lelaki untuk menggoda mereka. Atau maksudnya adalah wanita diintai oleh syaitan-syaitan manusia yang siap untuk menggodanya (lihat Faidul Qodiir 6/266)Karenanya wanita yang terbaik adalah yang betah dirumahnya, dan jika ia keluar rumah maka ia beradab dengan adab-adab Islami, dengan berhijab dengan hijab yang syarí menutup aurotnya.Karenanya Islam melarang wanita keluar rumah dengan menggunakan minyak wangi yang tercium oleh para lelaki karena menjadikan para lelaki semakin tergoda terhadapnya dan bisa tergerak syahwat mereka. Hal ini tentu untuk menjaga kemuliaan sang wanita agar tidak menjadi korban dan santapan para lelaki dan untuk menghindari jalan-jalan yang mengantarkan kepada zinaNabi ﷺ bersabda :أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ، فَمَرَّتْ بِقَوْمٍ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ“Wanita mana saja yang memakai minyak wangi lalu melewati suatu kaum agar mereka mencium wanginya maka ia adalah wanita pezina” (HR Ahmad no 19711, At-Tirmidzi no 2786, dan An-Nasaai no 5126 dari hadits Abu Musa al-Asyári)Dan parfum yang wangi -apalagi yang keluar dari seorang wanita- bisa menggerakan syahwat. Karenanya tatkala seseorang sedang berihram dilarang untuk menggunakan parfum karena bisa menggerakan syahwat. Larangan wanita menggunakan parfum tatkala keluar rumah bahkan dijelaskan oleh para ulama mencakup jika sang wanita hendak pergi ke masjid, maka tentu lebih terlarang lagi jika sang wanita pergi ke kantor, pasar, atau mall.Namun ada kondisi-kondisi bagi seorang wanita untuk boleh menggunakan parfum. DiantaranyaPertama : Jika parfum tersebut ia pakai hanya di rumah saja, apalagi untuk berhias di hadapan suami, maka tentu ini adalah perkara yang sangat dianjurkan oleh syariát.Kedua : Jika seorang wanita menggunakan parfum yang wanginya tidak sampai keluar dari tubuhnya sehingga bisa dicium aromanya oleh orang lain. Hal ini seperti parfum yang aromanya tidak kuat, seperti yang fungsinya untuk menghilangkan bau keringat atau yang semisalnya. Karena larangan wanita keluar rumah dengan menggunakan minyak wangi adalah larangan yang beríllah (bersebab), jika sebabnya hilang maka hilang pula larangannya. Sebagaimana dalam kaidah,الْحُكْمُ يَدُوْرُ مَعَ عِلَّتِهِ وُجُوْدًا وَعَدَمًا“Hukum itu berlaku berdasarkan sebabnya, jika sebabnya ada maka berlakulah hukum tersebut, dan jika sebabnya hilang maka hilang pula hukumnya”Dan íllah (sebab) wanita tidak boleh keluar rumah dengan menggunakan parfum adalah karena parfum tersebut aromanya bisa tercium oleh para lelaki, yang itu bisa menggerakan syahwat mereka dan menjadikan wanita tersebut sebagai pusat perhatian. Maka jika pewangi yang digunakan oleh seorang wanita aromanya tidak kuat dan tidak sampai tercium oleh orang lain maka tidak mengapa.Ketiga : Jika seorang wanita menggunakan parfum yang wanginya kuat, akan tetapi tatkala keluar rumah dipastikan ia tidak melewati para lelaki yang bukan mahromnya. Misalnya :Ia pergi ditemani oleh suaminya dengan mobil menuju rumah menuju rumah keluarganyaIa pergi ditemani oleh suaminya menuju acara pertemuan para wanita saja, seperti pengajian ibu-ibu, atau walimahan khusus para wanita.Atau ia pergi hanya bersama keluarganya (mahromnya) menuju suatu tempat yang sepi yang tidak ada lelaki lain yang bukan mahromnya.Karena pada kondisi-kondisi di atas íllah (sebab) pelarangan wanita menggunakan parfum tatkala keluar rumah -yaitu tercium oleh para lelaki yang bukan mahromnya- tidak ada. Namun tentu seseorang wanita tidak menggampangkan hal ini, ia harus benar-benar memastikan bahwa jalan yang ia lewati tidak akan melalui lelaki yang bukan mahromnya. Yang lebih selamat adalah ia menggunakan parfum yang ringan aromanya yang tidak sampai keluar baunya. Dan ini juga penting agar tatkala ia bertemu dengan ibu-ibu yang lain tidak tercium bau yang tidak enak dari tubuhnya. Wallahu a’lam bisshowaab.Firanda Andirja Abidin 8/1/1440 H (18/9/2018 M)
IlustrasiHukum Wanita Pakai ParfumKapan wanita boleh memakai minyak wangi?Jawab :Sesungguhnya wanita sangat dimuliakan dalam Islam, ia adalah perhiasan yang sangat mahal, tidak boleh disentuh dan dinikmati oleh siapa saja. Wanita dalam Islam hanya boleh disentuh oleh suaminya setelah melalui proses akad yang disebut oleh Allah denganمِيْثَاقًا غَلِيْظًا“perjanjian yang berat”.Berbeda dengan wanita non muslim yang merupakan barang murahan, mudah disentuh oleh siapa saja, ibarat bus kota yang siapa saja boleh mengendarainya. Dijadikan sebagai bahan umpan dan perangkap oleh Iblis untuk menjerumuskan manusia dalam perzinahan yang merusak tatanan sosial masyarakat.Nabi ﷺ bersabda :الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ“Wanita adalah aurot, jika ia keluar (dari rumahnya) maka syaitanpun mengintainya” (HR At-Tirmidzi 1173)Yaitu syaitan mengintai setiap wanita yang keluar dari rumahnya untuk menghiasinya di pandangan para lelaki untuk menggoda mereka. Atau maksudnya adalah wanita diintai oleh syaitan-syaitan manusia yang siap untuk menggodanya (lihat Faidul Qodiir 6/266)Karenanya wanita yang terbaik adalah yang betah dirumahnya, dan jika ia keluar rumah maka ia beradab dengan adab-adab Islami, dengan berhijab dengan hijab yang syarí menutup aurotnya.Karenanya Islam melarang wanita keluar rumah dengan menggunakan minyak wangi yang tercium oleh para lelaki karena menjadikan para lelaki semakin tergoda terhadapnya dan bisa tergerak syahwat mereka. Hal ini tentu untuk menjaga kemuliaan sang wanita agar tidak menjadi korban dan santapan para lelaki dan untuk menghindari jalan-jalan yang mengantarkan kepada zinaNabi ﷺ bersabda :أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ، فَمَرَّتْ بِقَوْمٍ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ“Wanita mana saja yang memakai minyak wangi lalu melewati suatu kaum agar mereka mencium wanginya maka ia adalah wanita pezina” (HR Ahmad no 19711, At-Tirmidzi no 2786, dan An-Nasaai no 5126 dari hadits Abu Musa al-Asyári)Dan parfum yang wangi -apalagi yang keluar dari seorang wanita- bisa menggerakan syahwat. Karenanya tatkala seseorang sedang berihram dilarang untuk menggunakan parfum karena bisa menggerakan syahwat. Larangan wanita menggunakan parfum tatkala keluar rumah bahkan dijelaskan oleh para ulama mencakup jika sang wanita hendak pergi ke masjid, maka tentu lebih terlarang lagi jika sang wanita pergi ke kantor, pasar, atau mall.Namun ada kondisi-kondisi bagi seorang wanita untuk boleh menggunakan parfum. DiantaranyaPertama : Jika parfum tersebut ia pakai hanya di rumah saja, apalagi untuk berhias di hadapan suami, maka tentu ini adalah perkara yang sangat dianjurkan oleh syariát.Kedua : Jika seorang wanita menggunakan parfum yang wanginya tidak sampai keluar dari tubuhnya sehingga bisa dicium aromanya oleh orang lain. Hal ini seperti parfum yang aromanya tidak kuat, seperti yang fungsinya untuk menghilangkan bau keringat atau yang semisalnya. Karena larangan wanita keluar rumah dengan menggunakan minyak wangi adalah larangan yang beríllah (bersebab), jika sebabnya hilang maka hilang pula larangannya. Sebagaimana dalam kaidah,الْحُكْمُ يَدُوْرُ مَعَ عِلَّتِهِ وُجُوْدًا وَعَدَمًا“Hukum itu berlaku berdasarkan sebabnya, jika sebabnya ada maka berlakulah hukum tersebut, dan jika sebabnya hilang maka hilang pula hukumnya”Dan íllah (sebab) wanita tidak boleh keluar rumah dengan menggunakan parfum adalah karena parfum tersebut aromanya bisa tercium oleh para lelaki, yang itu bisa menggerakan syahwat mereka dan menjadikan wanita tersebut sebagai pusat perhatian. Maka jika pewangi yang digunakan oleh seorang wanita aromanya tidak kuat dan tidak sampai tercium oleh orang lain maka tidak mengapa.Ketiga : Jika seorang wanita menggunakan parfum yang wanginya kuat, akan tetapi tatkala keluar rumah dipastikan ia tidak melewati para lelaki yang bukan mahromnya. Misalnya :Ia pergi ditemani oleh suaminya dengan mobil menuju rumah menuju rumah keluarganyaIa pergi ditemani oleh suaminya menuju acara pertemuan para wanita saja, seperti pengajian ibu-ibu, atau walimahan khusus para wanita.Atau ia pergi hanya bersama keluarganya (mahromnya) menuju suatu tempat yang sepi yang tidak ada lelaki lain yang bukan mahromnya.Karena pada kondisi-kondisi di atas íllah (sebab) pelarangan wanita menggunakan parfum tatkala keluar rumah -yaitu tercium oleh para lelaki yang bukan mahromnya- tidak ada. Namun tentu seseorang wanita tidak menggampangkan hal ini, ia harus benar-benar memastikan bahwa jalan yang ia lewati tidak akan melalui lelaki yang bukan mahromnya. Yang lebih selamat adalah ia menggunakan parfum yang ringan aromanya yang tidak sampai keluar baunya. Dan ini juga penting agar tatkala ia bertemu dengan ibu-ibu yang lain tidak tercium bau yang tidak enak dari tubuhnya. Wallahu a’lam bisshowaab.Firanda Andirja Abidin 8/1/1440 H (18/9/2018 M)


IlustrasiHukum Wanita Pakai ParfumKapan wanita boleh memakai minyak wangi?Jawab :Sesungguhnya wanita sangat dimuliakan dalam Islam, ia adalah perhiasan yang sangat mahal, tidak boleh disentuh dan dinikmati oleh siapa saja. Wanita dalam Islam hanya boleh disentuh oleh suaminya setelah melalui proses akad yang disebut oleh Allah denganمِيْثَاقًا غَلِيْظًا“perjanjian yang berat”.Berbeda dengan wanita non muslim yang merupakan barang murahan, mudah disentuh oleh siapa saja, ibarat bus kota yang siapa saja boleh mengendarainya. Dijadikan sebagai bahan umpan dan perangkap oleh Iblis untuk menjerumuskan manusia dalam perzinahan yang merusak tatanan sosial masyarakat.Nabi ﷺ bersabda :الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ“Wanita adalah aurot, jika ia keluar (dari rumahnya) maka syaitanpun mengintainya” (HR At-Tirmidzi 1173)Yaitu syaitan mengintai setiap wanita yang keluar dari rumahnya untuk menghiasinya di pandangan para lelaki untuk menggoda mereka. Atau maksudnya adalah wanita diintai oleh syaitan-syaitan manusia yang siap untuk menggodanya (lihat Faidul Qodiir 6/266)Karenanya wanita yang terbaik adalah yang betah dirumahnya, dan jika ia keluar rumah maka ia beradab dengan adab-adab Islami, dengan berhijab dengan hijab yang syarí menutup aurotnya.Karenanya Islam melarang wanita keluar rumah dengan menggunakan minyak wangi yang tercium oleh para lelaki karena menjadikan para lelaki semakin tergoda terhadapnya dan bisa tergerak syahwat mereka. Hal ini tentu untuk menjaga kemuliaan sang wanita agar tidak menjadi korban dan santapan para lelaki dan untuk menghindari jalan-jalan yang mengantarkan kepada zinaNabi ﷺ bersabda :أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ، فَمَرَّتْ بِقَوْمٍ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ“Wanita mana saja yang memakai minyak wangi lalu melewati suatu kaum agar mereka mencium wanginya maka ia adalah wanita pezina” (HR Ahmad no 19711, At-Tirmidzi no 2786, dan An-Nasaai no 5126 dari hadits Abu Musa al-Asyári)Dan parfum yang wangi -apalagi yang keluar dari seorang wanita- bisa menggerakan syahwat. Karenanya tatkala seseorang sedang berihram dilarang untuk menggunakan parfum karena bisa menggerakan syahwat. Larangan wanita menggunakan parfum tatkala keluar rumah bahkan dijelaskan oleh para ulama mencakup jika sang wanita hendak pergi ke masjid, maka tentu lebih terlarang lagi jika sang wanita pergi ke kantor, pasar, atau mall.Namun ada kondisi-kondisi bagi seorang wanita untuk boleh menggunakan parfum. DiantaranyaPertama : Jika parfum tersebut ia pakai hanya di rumah saja, apalagi untuk berhias di hadapan suami, maka tentu ini adalah perkara yang sangat dianjurkan oleh syariát.Kedua : Jika seorang wanita menggunakan parfum yang wanginya tidak sampai keluar dari tubuhnya sehingga bisa dicium aromanya oleh orang lain. Hal ini seperti parfum yang aromanya tidak kuat, seperti yang fungsinya untuk menghilangkan bau keringat atau yang semisalnya. Karena larangan wanita keluar rumah dengan menggunakan minyak wangi adalah larangan yang beríllah (bersebab), jika sebabnya hilang maka hilang pula larangannya. Sebagaimana dalam kaidah,الْحُكْمُ يَدُوْرُ مَعَ عِلَّتِهِ وُجُوْدًا وَعَدَمًا“Hukum itu berlaku berdasarkan sebabnya, jika sebabnya ada maka berlakulah hukum tersebut, dan jika sebabnya hilang maka hilang pula hukumnya”Dan íllah (sebab) wanita tidak boleh keluar rumah dengan menggunakan parfum adalah karena parfum tersebut aromanya bisa tercium oleh para lelaki, yang itu bisa menggerakan syahwat mereka dan menjadikan wanita tersebut sebagai pusat perhatian. Maka jika pewangi yang digunakan oleh seorang wanita aromanya tidak kuat dan tidak sampai tercium oleh orang lain maka tidak mengapa.Ketiga : Jika seorang wanita menggunakan parfum yang wanginya kuat, akan tetapi tatkala keluar rumah dipastikan ia tidak melewati para lelaki yang bukan mahromnya. Misalnya :Ia pergi ditemani oleh suaminya dengan mobil menuju rumah menuju rumah keluarganyaIa pergi ditemani oleh suaminya menuju acara pertemuan para wanita saja, seperti pengajian ibu-ibu, atau walimahan khusus para wanita.Atau ia pergi hanya bersama keluarganya (mahromnya) menuju suatu tempat yang sepi yang tidak ada lelaki lain yang bukan mahromnya.Karena pada kondisi-kondisi di atas íllah (sebab) pelarangan wanita menggunakan parfum tatkala keluar rumah -yaitu tercium oleh para lelaki yang bukan mahromnya- tidak ada. Namun tentu seseorang wanita tidak menggampangkan hal ini, ia harus benar-benar memastikan bahwa jalan yang ia lewati tidak akan melalui lelaki yang bukan mahromnya. Yang lebih selamat adalah ia menggunakan parfum yang ringan aromanya yang tidak sampai keluar baunya. Dan ini juga penting agar tatkala ia bertemu dengan ibu-ibu yang lain tidak tercium bau yang tidak enak dari tubuhnya. Wallahu a’lam bisshowaab.Firanda Andirja Abidin 8/1/1440 H (18/9/2018 M)

10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 5) : Mencari Panutan dan Teladan yang Baik

Baca pembahasan sebelumnya 10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 4)Kaidah keempat: Mencari seseorag sebagai panutan dan teladanAllah Ta’ala berfirman,لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.“ (QS. Al-Ahzab [33]: 21)Ibnu Katsir rahimahullahu Ta’ala berkata,هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ أَصْلٌ كَبِيرٌ فِي التَّأَسِّي بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَقْوَالِهِ وَأَفْعَالِهِ وَأَحْوَالِهِ“Ayat yang mulia ini merupakan landasan (pokok) penting dalam meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dalam ucapan, perbuatan dan keadaan beliau.” (Tafsir Ibnu Katsir, 11: 133)Al-Hasan rahimahullahu Ta’ala berkata, “Sekelompok orang berkata pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya kami mencintai Rabb kami.” Maka Allah Ta’ala turunkan ayat ini,قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ“Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 31)Baca Juga: Bolehkah Belajar Dari Kitab Saja Ketika Sulit Berguru Pada Ulama?Mengikuti dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bukti benarnya kecintaan seseorang kepada Allah Ta’ala. Hal ini karena mengikuti dan meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menempuh jalan beragama beliau yang lurus adalah penyucian jiwa itu sendiri. Dan tidaklah mungkin seorang bisa mencapai penyucian jiwa tanpa mengikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Gembong-gembong kesesatan di setiap masa berinovasi dengan menciptakan metode-metode baru lagi mungkar, dan mengklaim hal itu mampu menyucikan jiwa, menjernihkan hati, memperkuat hubungan dengan Allah Ta’ala, dan klaim-klaim lain dalam perkataan mereka. Mereka pun memberi wejangan untuk mengasingkan diri dari masyarakat (jamaah) dan menyendiri di tempat-tempat yang gelap, mengulang-ulang model dzikir dan kalimat (lafadz) tertentu, dan mereka menyangka hal itu bisa menyucikan, menjernihkan, memelihara jiwa, dan klaim-klaim lain yang batil (dusta).Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,وتزكية النفوس : أصعب من علاج الأبدان وأشد فمن زكى نفسه بالرياضة والمجاهدة والخلوة التي لم يجىء بها الرسل فهو كالمريض الذي يعالج نفسه برأيه وأين يقع رأيه من معرفة الطبيب فالرسل أطباء القلوب فلا سبيل إلى تزكيتها وصلاحها إلا من طريقهم وعلى أيديهم وبمحض الانقياد والتسليم لهم والله المستعان“Menyucikan jiwa lebih sulit dan lebih berat daripada mengobati badan. Barangsiapa menyucikan jiwanya dengan riyadhah (latihan-latihan rohani untuk menyucikan jiwa, pent.), mujahadah (usaha sungguh-sungguh untuk melawan hawa nafsu menurut pengikut tasawwuf, pent.) dan khulwah (menyendiri) yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seperti orang yang mengobati diri sendiri dengan mengandalkan pendapat sendiri. Apakah pendapatnya itu akan sesuai dengan ilmu yang dimiliki oleh para dokter? Para rasul adalah dokter hati. Tidak ada jalan untuk menyucikan dan memperbaiki hati manusia kecuali mengikuti jalan dan melalui arahan mereka, dan dengan semata-mata menaati dan menerima ajaran mereka. Wallahul musta’an (Dan Allah adalah sebaik-baik tempat untuk meminta pertolongan).” (Madaarijus Saalikiin, 2: 300)Baca Juga: Tepatkah Belajar Agama Tanpa Guru?Demikian pula, seluruh amal yang tidak dilandasi tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka amalan tersebut tertolak. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang beramal dengan amal yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amal tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullahu Ta’ala bekata,إن رسول الله صلى الله عليه و سلم هو الميزان الأكبر، فعليه تعرض الأشياء؛ على خلقه، وسيرته، وهديه، فما وافقها فهو الحق، وماخالفها فهو الباطل“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah al-mizan al-akbar (parameter kebenaran yang agung), segala sesuatu diperbandingkan dengan beliau, baik dengan akhlaknya, sejarah hidupnya, maupun dengan petunjuknya. Apa yang sesuai dengannya, itulah kebenaran. Dan apa yang bertentangan dengannya, itulah kebatilan.” (Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Al-Jaami’ li akhlaaq ar-raawi wa adaab as-saami’, 1: 79)Oleh karena itu, wajib bagi orang yang ingin menyucikan jiwanya untuk bersungguh-sungguh mengikuti, mencontoh dan meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta menjauhi berbagai perkara dan metode-metode baru (bid’ah) yang diklaim oleh para pencetusnya bahwa hal itu dapat menyucikan jiwa.Baca Juga: Adab Seorang Murid Terhadap Guru Memberikan Keteladanan dengan Amal Perbuatan [Bersambung]***@Kantor Jogja, 22 Shafar 1440/ 31 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 20-22, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala.🔍 Hadits Gempa, Arti Hidup Di Dunia, Allah Maha Mendengar Rintihan Hambanya, Apa Itu Wara, Allahumma Bariklana Fi Rajaba Wa Sya Bana Wa Balighna Ramadhan

10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 5) : Mencari Panutan dan Teladan yang Baik

Baca pembahasan sebelumnya 10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 4)Kaidah keempat: Mencari seseorag sebagai panutan dan teladanAllah Ta’ala berfirman,لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.“ (QS. Al-Ahzab [33]: 21)Ibnu Katsir rahimahullahu Ta’ala berkata,هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ أَصْلٌ كَبِيرٌ فِي التَّأَسِّي بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَقْوَالِهِ وَأَفْعَالِهِ وَأَحْوَالِهِ“Ayat yang mulia ini merupakan landasan (pokok) penting dalam meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dalam ucapan, perbuatan dan keadaan beliau.” (Tafsir Ibnu Katsir, 11: 133)Al-Hasan rahimahullahu Ta’ala berkata, “Sekelompok orang berkata pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya kami mencintai Rabb kami.” Maka Allah Ta’ala turunkan ayat ini,قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ“Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 31)Baca Juga: Bolehkah Belajar Dari Kitab Saja Ketika Sulit Berguru Pada Ulama?Mengikuti dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bukti benarnya kecintaan seseorang kepada Allah Ta’ala. Hal ini karena mengikuti dan meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menempuh jalan beragama beliau yang lurus adalah penyucian jiwa itu sendiri. Dan tidaklah mungkin seorang bisa mencapai penyucian jiwa tanpa mengikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Gembong-gembong kesesatan di setiap masa berinovasi dengan menciptakan metode-metode baru lagi mungkar, dan mengklaim hal itu mampu menyucikan jiwa, menjernihkan hati, memperkuat hubungan dengan Allah Ta’ala, dan klaim-klaim lain dalam perkataan mereka. Mereka pun memberi wejangan untuk mengasingkan diri dari masyarakat (jamaah) dan menyendiri di tempat-tempat yang gelap, mengulang-ulang model dzikir dan kalimat (lafadz) tertentu, dan mereka menyangka hal itu bisa menyucikan, menjernihkan, memelihara jiwa, dan klaim-klaim lain yang batil (dusta).Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,وتزكية النفوس : أصعب من علاج الأبدان وأشد فمن زكى نفسه بالرياضة والمجاهدة والخلوة التي لم يجىء بها الرسل فهو كالمريض الذي يعالج نفسه برأيه وأين يقع رأيه من معرفة الطبيب فالرسل أطباء القلوب فلا سبيل إلى تزكيتها وصلاحها إلا من طريقهم وعلى أيديهم وبمحض الانقياد والتسليم لهم والله المستعان“Menyucikan jiwa lebih sulit dan lebih berat daripada mengobati badan. Barangsiapa menyucikan jiwanya dengan riyadhah (latihan-latihan rohani untuk menyucikan jiwa, pent.), mujahadah (usaha sungguh-sungguh untuk melawan hawa nafsu menurut pengikut tasawwuf, pent.) dan khulwah (menyendiri) yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seperti orang yang mengobati diri sendiri dengan mengandalkan pendapat sendiri. Apakah pendapatnya itu akan sesuai dengan ilmu yang dimiliki oleh para dokter? Para rasul adalah dokter hati. Tidak ada jalan untuk menyucikan dan memperbaiki hati manusia kecuali mengikuti jalan dan melalui arahan mereka, dan dengan semata-mata menaati dan menerima ajaran mereka. Wallahul musta’an (Dan Allah adalah sebaik-baik tempat untuk meminta pertolongan).” (Madaarijus Saalikiin, 2: 300)Baca Juga: Tepatkah Belajar Agama Tanpa Guru?Demikian pula, seluruh amal yang tidak dilandasi tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka amalan tersebut tertolak. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang beramal dengan amal yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amal tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullahu Ta’ala bekata,إن رسول الله صلى الله عليه و سلم هو الميزان الأكبر، فعليه تعرض الأشياء؛ على خلقه، وسيرته، وهديه، فما وافقها فهو الحق، وماخالفها فهو الباطل“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah al-mizan al-akbar (parameter kebenaran yang agung), segala sesuatu diperbandingkan dengan beliau, baik dengan akhlaknya, sejarah hidupnya, maupun dengan petunjuknya. Apa yang sesuai dengannya, itulah kebenaran. Dan apa yang bertentangan dengannya, itulah kebatilan.” (Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Al-Jaami’ li akhlaaq ar-raawi wa adaab as-saami’, 1: 79)Oleh karena itu, wajib bagi orang yang ingin menyucikan jiwanya untuk bersungguh-sungguh mengikuti, mencontoh dan meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta menjauhi berbagai perkara dan metode-metode baru (bid’ah) yang diklaim oleh para pencetusnya bahwa hal itu dapat menyucikan jiwa.Baca Juga: Adab Seorang Murid Terhadap Guru Memberikan Keteladanan dengan Amal Perbuatan [Bersambung]***@Kantor Jogja, 22 Shafar 1440/ 31 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 20-22, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala.🔍 Hadits Gempa, Arti Hidup Di Dunia, Allah Maha Mendengar Rintihan Hambanya, Apa Itu Wara, Allahumma Bariklana Fi Rajaba Wa Sya Bana Wa Balighna Ramadhan
Baca pembahasan sebelumnya 10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 4)Kaidah keempat: Mencari seseorag sebagai panutan dan teladanAllah Ta’ala berfirman,لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.“ (QS. Al-Ahzab [33]: 21)Ibnu Katsir rahimahullahu Ta’ala berkata,هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ أَصْلٌ كَبِيرٌ فِي التَّأَسِّي بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَقْوَالِهِ وَأَفْعَالِهِ وَأَحْوَالِهِ“Ayat yang mulia ini merupakan landasan (pokok) penting dalam meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dalam ucapan, perbuatan dan keadaan beliau.” (Tafsir Ibnu Katsir, 11: 133)Al-Hasan rahimahullahu Ta’ala berkata, “Sekelompok orang berkata pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya kami mencintai Rabb kami.” Maka Allah Ta’ala turunkan ayat ini,قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ“Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 31)Baca Juga: Bolehkah Belajar Dari Kitab Saja Ketika Sulit Berguru Pada Ulama?Mengikuti dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bukti benarnya kecintaan seseorang kepada Allah Ta’ala. Hal ini karena mengikuti dan meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menempuh jalan beragama beliau yang lurus adalah penyucian jiwa itu sendiri. Dan tidaklah mungkin seorang bisa mencapai penyucian jiwa tanpa mengikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Gembong-gembong kesesatan di setiap masa berinovasi dengan menciptakan metode-metode baru lagi mungkar, dan mengklaim hal itu mampu menyucikan jiwa, menjernihkan hati, memperkuat hubungan dengan Allah Ta’ala, dan klaim-klaim lain dalam perkataan mereka. Mereka pun memberi wejangan untuk mengasingkan diri dari masyarakat (jamaah) dan menyendiri di tempat-tempat yang gelap, mengulang-ulang model dzikir dan kalimat (lafadz) tertentu, dan mereka menyangka hal itu bisa menyucikan, menjernihkan, memelihara jiwa, dan klaim-klaim lain yang batil (dusta).Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,وتزكية النفوس : أصعب من علاج الأبدان وأشد فمن زكى نفسه بالرياضة والمجاهدة والخلوة التي لم يجىء بها الرسل فهو كالمريض الذي يعالج نفسه برأيه وأين يقع رأيه من معرفة الطبيب فالرسل أطباء القلوب فلا سبيل إلى تزكيتها وصلاحها إلا من طريقهم وعلى أيديهم وبمحض الانقياد والتسليم لهم والله المستعان“Menyucikan jiwa lebih sulit dan lebih berat daripada mengobati badan. Barangsiapa menyucikan jiwanya dengan riyadhah (latihan-latihan rohani untuk menyucikan jiwa, pent.), mujahadah (usaha sungguh-sungguh untuk melawan hawa nafsu menurut pengikut tasawwuf, pent.) dan khulwah (menyendiri) yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seperti orang yang mengobati diri sendiri dengan mengandalkan pendapat sendiri. Apakah pendapatnya itu akan sesuai dengan ilmu yang dimiliki oleh para dokter? Para rasul adalah dokter hati. Tidak ada jalan untuk menyucikan dan memperbaiki hati manusia kecuali mengikuti jalan dan melalui arahan mereka, dan dengan semata-mata menaati dan menerima ajaran mereka. Wallahul musta’an (Dan Allah adalah sebaik-baik tempat untuk meminta pertolongan).” (Madaarijus Saalikiin, 2: 300)Baca Juga: Tepatkah Belajar Agama Tanpa Guru?Demikian pula, seluruh amal yang tidak dilandasi tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka amalan tersebut tertolak. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang beramal dengan amal yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amal tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullahu Ta’ala bekata,إن رسول الله صلى الله عليه و سلم هو الميزان الأكبر، فعليه تعرض الأشياء؛ على خلقه، وسيرته، وهديه، فما وافقها فهو الحق، وماخالفها فهو الباطل“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah al-mizan al-akbar (parameter kebenaran yang agung), segala sesuatu diperbandingkan dengan beliau, baik dengan akhlaknya, sejarah hidupnya, maupun dengan petunjuknya. Apa yang sesuai dengannya, itulah kebenaran. Dan apa yang bertentangan dengannya, itulah kebatilan.” (Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Al-Jaami’ li akhlaaq ar-raawi wa adaab as-saami’, 1: 79)Oleh karena itu, wajib bagi orang yang ingin menyucikan jiwanya untuk bersungguh-sungguh mengikuti, mencontoh dan meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta menjauhi berbagai perkara dan metode-metode baru (bid’ah) yang diklaim oleh para pencetusnya bahwa hal itu dapat menyucikan jiwa.Baca Juga: Adab Seorang Murid Terhadap Guru Memberikan Keteladanan dengan Amal Perbuatan [Bersambung]***@Kantor Jogja, 22 Shafar 1440/ 31 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 20-22, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala.🔍 Hadits Gempa, Arti Hidup Di Dunia, Allah Maha Mendengar Rintihan Hambanya, Apa Itu Wara, Allahumma Bariklana Fi Rajaba Wa Sya Bana Wa Balighna Ramadhan


Baca pembahasan sebelumnya 10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 4)Kaidah keempat: Mencari seseorag sebagai panutan dan teladanAllah Ta’ala berfirman,لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.“ (QS. Al-Ahzab [33]: 21)Ibnu Katsir rahimahullahu Ta’ala berkata,هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ أَصْلٌ كَبِيرٌ فِي التَّأَسِّي بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَقْوَالِهِ وَأَفْعَالِهِ وَأَحْوَالِهِ“Ayat yang mulia ini merupakan landasan (pokok) penting dalam meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dalam ucapan, perbuatan dan keadaan beliau.” (Tafsir Ibnu Katsir, 11: 133)Al-Hasan rahimahullahu Ta’ala berkata, “Sekelompok orang berkata pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya kami mencintai Rabb kami.” Maka Allah Ta’ala turunkan ayat ini,قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ“Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 31)Baca Juga: Bolehkah Belajar Dari Kitab Saja Ketika Sulit Berguru Pada Ulama?Mengikuti dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bukti benarnya kecintaan seseorang kepada Allah Ta’ala. Hal ini karena mengikuti dan meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menempuh jalan beragama beliau yang lurus adalah penyucian jiwa itu sendiri. Dan tidaklah mungkin seorang bisa mencapai penyucian jiwa tanpa mengikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Gembong-gembong kesesatan di setiap masa berinovasi dengan menciptakan metode-metode baru lagi mungkar, dan mengklaim hal itu mampu menyucikan jiwa, menjernihkan hati, memperkuat hubungan dengan Allah Ta’ala, dan klaim-klaim lain dalam perkataan mereka. Mereka pun memberi wejangan untuk mengasingkan diri dari masyarakat (jamaah) dan menyendiri di tempat-tempat yang gelap, mengulang-ulang model dzikir dan kalimat (lafadz) tertentu, dan mereka menyangka hal itu bisa menyucikan, menjernihkan, memelihara jiwa, dan klaim-klaim lain yang batil (dusta).Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,وتزكية النفوس : أصعب من علاج الأبدان وأشد فمن زكى نفسه بالرياضة والمجاهدة والخلوة التي لم يجىء بها الرسل فهو كالمريض الذي يعالج نفسه برأيه وأين يقع رأيه من معرفة الطبيب فالرسل أطباء القلوب فلا سبيل إلى تزكيتها وصلاحها إلا من طريقهم وعلى أيديهم وبمحض الانقياد والتسليم لهم والله المستعان“Menyucikan jiwa lebih sulit dan lebih berat daripada mengobati badan. Barangsiapa menyucikan jiwanya dengan riyadhah (latihan-latihan rohani untuk menyucikan jiwa, pent.), mujahadah (usaha sungguh-sungguh untuk melawan hawa nafsu menurut pengikut tasawwuf, pent.) dan khulwah (menyendiri) yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seperti orang yang mengobati diri sendiri dengan mengandalkan pendapat sendiri. Apakah pendapatnya itu akan sesuai dengan ilmu yang dimiliki oleh para dokter? Para rasul adalah dokter hati. Tidak ada jalan untuk menyucikan dan memperbaiki hati manusia kecuali mengikuti jalan dan melalui arahan mereka, dan dengan semata-mata menaati dan menerima ajaran mereka. Wallahul musta’an (Dan Allah adalah sebaik-baik tempat untuk meminta pertolongan).” (Madaarijus Saalikiin, 2: 300)Baca Juga: Tepatkah Belajar Agama Tanpa Guru?Demikian pula, seluruh amal yang tidak dilandasi tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka amalan tersebut tertolak. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ“Barangsiapa yang beramal dengan amal yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amal tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullahu Ta’ala bekata,إن رسول الله صلى الله عليه و سلم هو الميزان الأكبر، فعليه تعرض الأشياء؛ على خلقه، وسيرته، وهديه، فما وافقها فهو الحق، وماخالفها فهو الباطل“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah al-mizan al-akbar (parameter kebenaran yang agung), segala sesuatu diperbandingkan dengan beliau, baik dengan akhlaknya, sejarah hidupnya, maupun dengan petunjuknya. Apa yang sesuai dengannya, itulah kebenaran. Dan apa yang bertentangan dengannya, itulah kebatilan.” (Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Al-Jaami’ li akhlaaq ar-raawi wa adaab as-saami’, 1: 79)Oleh karena itu, wajib bagi orang yang ingin menyucikan jiwanya untuk bersungguh-sungguh mengikuti, mencontoh dan meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta menjauhi berbagai perkara dan metode-metode baru (bid’ah) yang diklaim oleh para pencetusnya bahwa hal itu dapat menyucikan jiwa.Baca Juga: Adab Seorang Murid Terhadap Guru Memberikan Keteladanan dengan Amal Perbuatan [Bersambung]***@Kantor Jogja, 22 Shafar 1440/ 31 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 20-22, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala.🔍 Hadits Gempa, Arti Hidup Di Dunia, Allah Maha Mendengar Rintihan Hambanya, Apa Itu Wara, Allahumma Bariklana Fi Rajaba Wa Sya Bana Wa Balighna Ramadhan

10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 6) : Upaya untuk Membersihkan dan Menghiasi

Baca pembahasan sebelumnya 10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 5)Kaidah kelima: Membersihkan dan menghiasiSesungguhnya hakikat penyucian jiwa adalah diawali dengan membersihkan jiwa (takhliyyah) (تخلية), yaitu membersihkannya dari kotoran, maksiat, dan perbuatan dosa, setelah itu menghiasinya (tahliyyah) (تحلية) dengan melakukan berbagai amal ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah Ta’ala.Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka.” (QS. At-Taubah [9]: 103)Dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya) “membersihkan mereka” terdapat isyarat tentang kedudukan “takhliyyah” dari keburukan, yaitu membersihkan diri dari perbuatan dosa.Baca Juga: Meraih Ketenangan Hati yang HakikiDalam firman Allah Ta’ala (yang artinya) “menyucikan mereka” terdapat isyarat tentang kedudukan “tahliyyah”, yaitu menghiasi diri dengan keutamaan dan kebaikan.Mendahulukan “pembersihan” (thath-hiir) (تطهير) dari “penyucian” (tazkiyyah) (تزكية) pada ayat di atas, layaknya mendahulukan (takhliyyah) sebelum melakukan tahliyyah.Oleh karena itu, menjadi sebuah keniscayaan bagi orang yang ingin menyucikan jiwanya agar melepaskan diri terlebih dahulu dari dosa dan pelanggaran yang dapat merusak dan menutupi hatinya dari cahaya hidayah dan keimanan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ} [المطففين: 14]“Apabila seorang hamba melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila dia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila dia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan dengan “ar-raan” yang Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”. (QS. Al-Muthaffifiin [83]: 14)” (HR. Tirmidzi no. 3334 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhiib wa At-Tarhiib 2: 268)Baca Juga: Merasakan Bahagia Ketika Ber-khalwat Bersama AllahKemudian, setelah itu dia dapat bersungguh-sungguh memperbanyak amal shalih yang dapat menyucikan jiwanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 69)Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala berkata,فالتزكية وإن كان أصلها النماء، والبركة وزيادة الخير، فإنما تحصل بإزالة الشر؛ فلهذا صار التزكي يجمع هذا وهذا“At-tazkiyah, meskipun makna asalnya adalah pertumbuhan, keberkahan dan pertambahan kebaikan, namun hal itu hanya bisa tercapai dengan menjauhi segala keburukan. Sehingga jadilah tazkiyah itu mengumpulkan antara menjauhi keburukan dan meningkatkan kebaikan.” (Majmuu’ Al-Fataawa, 10: 97)Baca Juga: Terlalu Banyak Tertawa Mengeraskan HatiKetika menjelaskan firman Allah Ta’ala,بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ“Sebenarnya Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 49)Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala berkata,أي: بالإيمان والعمل الصالح بالتخلي عن الأخلاق الرذيلة، والتحلي بالصفات الجميلة“Yaitu Allah membersihkan diri mereka dengan iman dan amal shalih, yaitu dengan at-takhalli, membersihkan diri dari akhlak yang buruk, dan at-tahalliy, menghiasi diri dengan sifat-sifat yang mulia.” (Taisiir Karimirrahman, hal. 182)Baca Juga: Tidak Semua Kejadian Viral Harus Dikomentari Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu Di Masjid [Bersambung]***@Rumah Lendah, 18 Shafar 1440/ 27 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 23-24, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Kewajiban Menuntut Ilmu, Hikmah Penciptaan Manusia, Artikel Aqidah Islam, Surat Al Ankabut Ayat 2, Biografi Ustadz Maududi Abdullah

10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 6) : Upaya untuk Membersihkan dan Menghiasi

Baca pembahasan sebelumnya 10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 5)Kaidah kelima: Membersihkan dan menghiasiSesungguhnya hakikat penyucian jiwa adalah diawali dengan membersihkan jiwa (takhliyyah) (تخلية), yaitu membersihkannya dari kotoran, maksiat, dan perbuatan dosa, setelah itu menghiasinya (tahliyyah) (تحلية) dengan melakukan berbagai amal ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah Ta’ala.Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka.” (QS. At-Taubah [9]: 103)Dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya) “membersihkan mereka” terdapat isyarat tentang kedudukan “takhliyyah” dari keburukan, yaitu membersihkan diri dari perbuatan dosa.Baca Juga: Meraih Ketenangan Hati yang HakikiDalam firman Allah Ta’ala (yang artinya) “menyucikan mereka” terdapat isyarat tentang kedudukan “tahliyyah”, yaitu menghiasi diri dengan keutamaan dan kebaikan.Mendahulukan “pembersihan” (thath-hiir) (تطهير) dari “penyucian” (tazkiyyah) (تزكية) pada ayat di atas, layaknya mendahulukan (takhliyyah) sebelum melakukan tahliyyah.Oleh karena itu, menjadi sebuah keniscayaan bagi orang yang ingin menyucikan jiwanya agar melepaskan diri terlebih dahulu dari dosa dan pelanggaran yang dapat merusak dan menutupi hatinya dari cahaya hidayah dan keimanan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ} [المطففين: 14]“Apabila seorang hamba melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila dia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila dia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan dengan “ar-raan” yang Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”. (QS. Al-Muthaffifiin [83]: 14)” (HR. Tirmidzi no. 3334 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhiib wa At-Tarhiib 2: 268)Baca Juga: Merasakan Bahagia Ketika Ber-khalwat Bersama AllahKemudian, setelah itu dia dapat bersungguh-sungguh memperbanyak amal shalih yang dapat menyucikan jiwanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 69)Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala berkata,فالتزكية وإن كان أصلها النماء، والبركة وزيادة الخير، فإنما تحصل بإزالة الشر؛ فلهذا صار التزكي يجمع هذا وهذا“At-tazkiyah, meskipun makna asalnya adalah pertumbuhan, keberkahan dan pertambahan kebaikan, namun hal itu hanya bisa tercapai dengan menjauhi segala keburukan. Sehingga jadilah tazkiyah itu mengumpulkan antara menjauhi keburukan dan meningkatkan kebaikan.” (Majmuu’ Al-Fataawa, 10: 97)Baca Juga: Terlalu Banyak Tertawa Mengeraskan HatiKetika menjelaskan firman Allah Ta’ala,بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ“Sebenarnya Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 49)Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala berkata,أي: بالإيمان والعمل الصالح بالتخلي عن الأخلاق الرذيلة، والتحلي بالصفات الجميلة“Yaitu Allah membersihkan diri mereka dengan iman dan amal shalih, yaitu dengan at-takhalli, membersihkan diri dari akhlak yang buruk, dan at-tahalliy, menghiasi diri dengan sifat-sifat yang mulia.” (Taisiir Karimirrahman, hal. 182)Baca Juga: Tidak Semua Kejadian Viral Harus Dikomentari Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu Di Masjid [Bersambung]***@Rumah Lendah, 18 Shafar 1440/ 27 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 23-24, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Kewajiban Menuntut Ilmu, Hikmah Penciptaan Manusia, Artikel Aqidah Islam, Surat Al Ankabut Ayat 2, Biografi Ustadz Maududi Abdullah
Baca pembahasan sebelumnya 10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 5)Kaidah kelima: Membersihkan dan menghiasiSesungguhnya hakikat penyucian jiwa adalah diawali dengan membersihkan jiwa (takhliyyah) (تخلية), yaitu membersihkannya dari kotoran, maksiat, dan perbuatan dosa, setelah itu menghiasinya (tahliyyah) (تحلية) dengan melakukan berbagai amal ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah Ta’ala.Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka.” (QS. At-Taubah [9]: 103)Dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya) “membersihkan mereka” terdapat isyarat tentang kedudukan “takhliyyah” dari keburukan, yaitu membersihkan diri dari perbuatan dosa.Baca Juga: Meraih Ketenangan Hati yang HakikiDalam firman Allah Ta’ala (yang artinya) “menyucikan mereka” terdapat isyarat tentang kedudukan “tahliyyah”, yaitu menghiasi diri dengan keutamaan dan kebaikan.Mendahulukan “pembersihan” (thath-hiir) (تطهير) dari “penyucian” (tazkiyyah) (تزكية) pada ayat di atas, layaknya mendahulukan (takhliyyah) sebelum melakukan tahliyyah.Oleh karena itu, menjadi sebuah keniscayaan bagi orang yang ingin menyucikan jiwanya agar melepaskan diri terlebih dahulu dari dosa dan pelanggaran yang dapat merusak dan menutupi hatinya dari cahaya hidayah dan keimanan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ} [المطففين: 14]“Apabila seorang hamba melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila dia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila dia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan dengan “ar-raan” yang Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”. (QS. Al-Muthaffifiin [83]: 14)” (HR. Tirmidzi no. 3334 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhiib wa At-Tarhiib 2: 268)Baca Juga: Merasakan Bahagia Ketika Ber-khalwat Bersama AllahKemudian, setelah itu dia dapat bersungguh-sungguh memperbanyak amal shalih yang dapat menyucikan jiwanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 69)Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala berkata,فالتزكية وإن كان أصلها النماء، والبركة وزيادة الخير، فإنما تحصل بإزالة الشر؛ فلهذا صار التزكي يجمع هذا وهذا“At-tazkiyah, meskipun makna asalnya adalah pertumbuhan, keberkahan dan pertambahan kebaikan, namun hal itu hanya bisa tercapai dengan menjauhi segala keburukan. Sehingga jadilah tazkiyah itu mengumpulkan antara menjauhi keburukan dan meningkatkan kebaikan.” (Majmuu’ Al-Fataawa, 10: 97)Baca Juga: Terlalu Banyak Tertawa Mengeraskan HatiKetika menjelaskan firman Allah Ta’ala,بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ“Sebenarnya Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 49)Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala berkata,أي: بالإيمان والعمل الصالح بالتخلي عن الأخلاق الرذيلة، والتحلي بالصفات الجميلة“Yaitu Allah membersihkan diri mereka dengan iman dan amal shalih, yaitu dengan at-takhalli, membersihkan diri dari akhlak yang buruk, dan at-tahalliy, menghiasi diri dengan sifat-sifat yang mulia.” (Taisiir Karimirrahman, hal. 182)Baca Juga: Tidak Semua Kejadian Viral Harus Dikomentari Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu Di Masjid [Bersambung]***@Rumah Lendah, 18 Shafar 1440/ 27 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 23-24, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Kewajiban Menuntut Ilmu, Hikmah Penciptaan Manusia, Artikel Aqidah Islam, Surat Al Ankabut Ayat 2, Biografi Ustadz Maududi Abdullah


Baca pembahasan sebelumnya 10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 5)Kaidah kelima: Membersihkan dan menghiasiSesungguhnya hakikat penyucian jiwa adalah diawali dengan membersihkan jiwa (takhliyyah) (تخلية), yaitu membersihkannya dari kotoran, maksiat, dan perbuatan dosa, setelah itu menghiasinya (tahliyyah) (تحلية) dengan melakukan berbagai amal ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah Ta’ala.Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka.” (QS. At-Taubah [9]: 103)Dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya) “membersihkan mereka” terdapat isyarat tentang kedudukan “takhliyyah” dari keburukan, yaitu membersihkan diri dari perbuatan dosa.Baca Juga: Meraih Ketenangan Hati yang HakikiDalam firman Allah Ta’ala (yang artinya) “menyucikan mereka” terdapat isyarat tentang kedudukan “tahliyyah”, yaitu menghiasi diri dengan keutamaan dan kebaikan.Mendahulukan “pembersihan” (thath-hiir) (تطهير) dari “penyucian” (tazkiyyah) (تزكية) pada ayat di atas, layaknya mendahulukan (takhliyyah) sebelum melakukan tahliyyah.Oleh karena itu, menjadi sebuah keniscayaan bagi orang yang ingin menyucikan jiwanya agar melepaskan diri terlebih dahulu dari dosa dan pelanggaran yang dapat merusak dan menutupi hatinya dari cahaya hidayah dan keimanan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ} [المطففين: 14]“Apabila seorang hamba melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila dia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila dia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan dengan “ar-raan” yang Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”. (QS. Al-Muthaffifiin [83]: 14)” (HR. Tirmidzi no. 3334 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhiib wa At-Tarhiib 2: 268)Baca Juga: Merasakan Bahagia Ketika Ber-khalwat Bersama AllahKemudian, setelah itu dia dapat bersungguh-sungguh memperbanyak amal shalih yang dapat menyucikan jiwanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 69)Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala berkata,فالتزكية وإن كان أصلها النماء، والبركة وزيادة الخير، فإنما تحصل بإزالة الشر؛ فلهذا صار التزكي يجمع هذا وهذا“At-tazkiyah, meskipun makna asalnya adalah pertumbuhan, keberkahan dan pertambahan kebaikan, namun hal itu hanya bisa tercapai dengan menjauhi segala keburukan. Sehingga jadilah tazkiyah itu mengumpulkan antara menjauhi keburukan dan meningkatkan kebaikan.” (Majmuu’ Al-Fataawa, 10: 97)Baca Juga: Terlalu Banyak Tertawa Mengeraskan HatiKetika menjelaskan firman Allah Ta’ala,بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ“Sebenarnya Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 49)Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala berkata,أي: بالإيمان والعمل الصالح بالتخلي عن الأخلاق الرذيلة، والتحلي بالصفات الجميلة“Yaitu Allah membersihkan diri mereka dengan iman dan amal shalih, yaitu dengan at-takhalli, membersihkan diri dari akhlak yang buruk, dan at-tahalliy, menghiasi diri dengan sifat-sifat yang mulia.” (Taisiir Karimirrahman, hal. 182)Baca Juga: Tidak Semua Kejadian Viral Harus Dikomentari Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu Di Masjid [Bersambung]***@Rumah Lendah, 18 Shafar 1440/ 27 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 23-24, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Kewajiban Menuntut Ilmu, Hikmah Penciptaan Manusia, Artikel Aqidah Islam, Surat Al Ankabut Ayat 2, Biografi Ustadz Maududi Abdullah

10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 1) : Tentang Jiwa Manusia

PendahuluanSegala puji bagi Allah Ta’ala, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi yang paling mulia, penutup para rasul, teladan dan penyejuk mata kita, yaitu Nabi Muhammad bin ‘Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada keluarga dan sahabat beliau seluruhnya, serta semua orang yang berjalan di atas petunjuk beliau sampai hari kiamat nanti.Jiwa manusia yang memiliki dua sisi (yaitu baik dan buruk, pent.), sangatlah penting dan urgen untuk diperhatikan. Allah Ta’ala telah bersumpah dengan sejumlah makhluk-Nya yang agung, yang menunjukkan keagungan-Nya dalam surat Asy-Syams, bahwasanya di sana ada jiwa yang beruntung dan ada jiwa yang tidak beruntung,وَالشَّمْسِ وَضُحاها (1) وَالْقَمَرِ إِذا تَلاها (2) وَالنَّهارِ إِذا جَلاَّها (3) وَاللَّيْلِ إِذا يَغْشاها (4) وَالسَّماءِ وَما بَناها (5) وَالْأَرْضِ وَما طَحاها (6) وَنَفْسٍ وَما سَوَّاها (7) فَأَلْهَمَها فُجُورَها وَتَقْواها (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاها (9) وَقَدْ خابَ مَنْ دَسَّاها (10)“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari. Dan bulan apabila mengiringinya. Dan siang apabila menampakkannya. Dan malam apabila menutupinya. Dan langit serta pembinaannya. Dan bumi serta penghamparannya. Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams [91]: 1-10)Baca Juga: Inilah Obat Penenang JiwaAllah Ta’ala berfirman sebagaimana ayat di atas,قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاها“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu.”Makna asal kata “az-zakaat” adalah bertambahnya kebaikan, sehingga yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah bahwa siapa saja yang berusaha untuk menyucikan, memperbaiki, dan mengisi jiwa dengan memperbanyak amalan ketaatan dan kebaikan, serta menjauhi segala keburukan, maka pastilah dia akan beruntung.Allah Ta’ala juga berfirman,وَقَدْ خابَ مَنْ دَسَّاها“Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”Makna asal kata “tadsiyyah” adalah menutupi. Orang yang bermaksiat, artinya dia telah menutupi jiwanya yang mulia dengan melakukan berbagai macam dosa, menguburnya dengan berbagai hal yang rendah dan hina, menghancurkan dan merusaknya dengan melakukan berbagai hal yang tercela, sehingga jiwanya pun menjadi jiwa yang rendah dan hina. Sehingga dengan hal itu, jiwa tersebut berhak mendapatkan kesengsaraan dan kerugian (di akhirat). Wal ‘iyaadhu billah. Baca Juga: Untukmu yang Berjiwa Hanif (01)“Jiwa yang mulia, tidaklah ridha terhadap sesuatu, kecuali terhadap sesuatu yang paling tinggi, paling mulia dan paling terpuji (paling baik) hasil akhirnya. Adapun jiwa yang rendah, dia hanya berputar di sekeliling perkara yang hina, dia menghampiri perkara hina itu sebagaimana lalat menghinggapi kotoran. Jiwa yang mulia dan tinggi, tidak akan ridha terhadap tindak kedzaliman, hal yang vulgar, pencurian, dan pengkhianatan, karena jiwanya lebih besar dan lebih mulia dari itu semua. Sedangkan jiwa yang hina dan rendah, berkebalikan dengan hal itu. Maka setiap jiwa akan cenderung kepada sesuatu yang selaras dan sesuai dengannya.” (Al-Fawaaid karya Ibnul Qayyim, hal. 178)Oleh karena pentingnya penyucian jiwa tersebut, maka setiap muslim yang ingin memperbaiki diri wajib memperhatikannya dengan sungguh-sungguh, memaksa jiwanya untuk mewujudkan tujuan yang terpuji ini dalam kehidupannya, sehingga dia beruntung di dunia dan akhirat, serta menikmati kebahagiaan yang hakiki.Sesungguhnya, jiwa seorang muslim memiliki hak, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,وإن لنفسك عليك حقا“Sesungguhnya jiwamu memiliki hak atas dirimu.”Sungguh keliru orang yang menyangka bahwa hak jiwa tersebut adalah dengan bersikap keras kepadanya dan menghalanginya dari fitrah yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana juga keliru orang yang menyangka bahwa hak jiwa tersebut adalah dengan meremehkan dan abai memperbaiki, serta membiarkannya tenggelam dalam syahwat.Baca Juga: Sangatlah jauh dari kebenaran, penyucian jiwa bukanlah semacam itu. Bahkan, penyucian jiwa itu adalah dengan menempuh jalan-jalan syariat, dengan sikap pertengahan, tanpa disertai sikap berlebih-lebihan (ifraath) dan sikap meremehkan (tafriith). Akan tetapi, penyucian jiwa itu adalah dengan berpegang teguh dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan jalannya yang lurus.Penulis (Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullah) akan menyebutkan sepuluh kaidah penting dalam kitab yang ringkas ini, yang akan membantu seorang muslim dalam menyucikan, memperbaiki dan membersihkan jiwa dari segala hal yang akan mengotorinya.Penulis memohon kepada Allah Ta’ala untuk menyucikan jiwa kami, memperbaiki amal kami, meluruskan ucapan kami, menunjukkan kebenaran kepada kami, dan memberikan taufik untuk mengikutinya, menjauhkan dari fitnah, baik yang tampak atau yang tersembunyi. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga dan para sahabatnya, aamiin.Baca Juga: Hukum Mengatakan “Saya Mukmin InsyaAllah” Al-Quran Obat Fisik dan Jiwa [Bersambung]***@Rumah Lendah, 12 Shafar 1440/ 21 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 5-8, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Ayat Alquran Tentang Saling Menasehati, Hadis Tentang Wanita, Kebesaran Allah Swt Di Dunia, Kumpulan Hadits Shahih Tentang Wanita Pdf, Orang Menghina Islam

10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 1) : Tentang Jiwa Manusia

PendahuluanSegala puji bagi Allah Ta’ala, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi yang paling mulia, penutup para rasul, teladan dan penyejuk mata kita, yaitu Nabi Muhammad bin ‘Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada keluarga dan sahabat beliau seluruhnya, serta semua orang yang berjalan di atas petunjuk beliau sampai hari kiamat nanti.Jiwa manusia yang memiliki dua sisi (yaitu baik dan buruk, pent.), sangatlah penting dan urgen untuk diperhatikan. Allah Ta’ala telah bersumpah dengan sejumlah makhluk-Nya yang agung, yang menunjukkan keagungan-Nya dalam surat Asy-Syams, bahwasanya di sana ada jiwa yang beruntung dan ada jiwa yang tidak beruntung,وَالشَّمْسِ وَضُحاها (1) وَالْقَمَرِ إِذا تَلاها (2) وَالنَّهارِ إِذا جَلاَّها (3) وَاللَّيْلِ إِذا يَغْشاها (4) وَالسَّماءِ وَما بَناها (5) وَالْأَرْضِ وَما طَحاها (6) وَنَفْسٍ وَما سَوَّاها (7) فَأَلْهَمَها فُجُورَها وَتَقْواها (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاها (9) وَقَدْ خابَ مَنْ دَسَّاها (10)“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari. Dan bulan apabila mengiringinya. Dan siang apabila menampakkannya. Dan malam apabila menutupinya. Dan langit serta pembinaannya. Dan bumi serta penghamparannya. Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams [91]: 1-10)Baca Juga: Inilah Obat Penenang JiwaAllah Ta’ala berfirman sebagaimana ayat di atas,قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاها“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu.”Makna asal kata “az-zakaat” adalah bertambahnya kebaikan, sehingga yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah bahwa siapa saja yang berusaha untuk menyucikan, memperbaiki, dan mengisi jiwa dengan memperbanyak amalan ketaatan dan kebaikan, serta menjauhi segala keburukan, maka pastilah dia akan beruntung.Allah Ta’ala juga berfirman,وَقَدْ خابَ مَنْ دَسَّاها“Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”Makna asal kata “tadsiyyah” adalah menutupi. Orang yang bermaksiat, artinya dia telah menutupi jiwanya yang mulia dengan melakukan berbagai macam dosa, menguburnya dengan berbagai hal yang rendah dan hina, menghancurkan dan merusaknya dengan melakukan berbagai hal yang tercela, sehingga jiwanya pun menjadi jiwa yang rendah dan hina. Sehingga dengan hal itu, jiwa tersebut berhak mendapatkan kesengsaraan dan kerugian (di akhirat). Wal ‘iyaadhu billah. Baca Juga: Untukmu yang Berjiwa Hanif (01)“Jiwa yang mulia, tidaklah ridha terhadap sesuatu, kecuali terhadap sesuatu yang paling tinggi, paling mulia dan paling terpuji (paling baik) hasil akhirnya. Adapun jiwa yang rendah, dia hanya berputar di sekeliling perkara yang hina, dia menghampiri perkara hina itu sebagaimana lalat menghinggapi kotoran. Jiwa yang mulia dan tinggi, tidak akan ridha terhadap tindak kedzaliman, hal yang vulgar, pencurian, dan pengkhianatan, karena jiwanya lebih besar dan lebih mulia dari itu semua. Sedangkan jiwa yang hina dan rendah, berkebalikan dengan hal itu. Maka setiap jiwa akan cenderung kepada sesuatu yang selaras dan sesuai dengannya.” (Al-Fawaaid karya Ibnul Qayyim, hal. 178)Oleh karena pentingnya penyucian jiwa tersebut, maka setiap muslim yang ingin memperbaiki diri wajib memperhatikannya dengan sungguh-sungguh, memaksa jiwanya untuk mewujudkan tujuan yang terpuji ini dalam kehidupannya, sehingga dia beruntung di dunia dan akhirat, serta menikmati kebahagiaan yang hakiki.Sesungguhnya, jiwa seorang muslim memiliki hak, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,وإن لنفسك عليك حقا“Sesungguhnya jiwamu memiliki hak atas dirimu.”Sungguh keliru orang yang menyangka bahwa hak jiwa tersebut adalah dengan bersikap keras kepadanya dan menghalanginya dari fitrah yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana juga keliru orang yang menyangka bahwa hak jiwa tersebut adalah dengan meremehkan dan abai memperbaiki, serta membiarkannya tenggelam dalam syahwat.Baca Juga: Sangatlah jauh dari kebenaran, penyucian jiwa bukanlah semacam itu. Bahkan, penyucian jiwa itu adalah dengan menempuh jalan-jalan syariat, dengan sikap pertengahan, tanpa disertai sikap berlebih-lebihan (ifraath) dan sikap meremehkan (tafriith). Akan tetapi, penyucian jiwa itu adalah dengan berpegang teguh dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan jalannya yang lurus.Penulis (Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullah) akan menyebutkan sepuluh kaidah penting dalam kitab yang ringkas ini, yang akan membantu seorang muslim dalam menyucikan, memperbaiki dan membersihkan jiwa dari segala hal yang akan mengotorinya.Penulis memohon kepada Allah Ta’ala untuk menyucikan jiwa kami, memperbaiki amal kami, meluruskan ucapan kami, menunjukkan kebenaran kepada kami, dan memberikan taufik untuk mengikutinya, menjauhkan dari fitnah, baik yang tampak atau yang tersembunyi. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga dan para sahabatnya, aamiin.Baca Juga: Hukum Mengatakan “Saya Mukmin InsyaAllah” Al-Quran Obat Fisik dan Jiwa [Bersambung]***@Rumah Lendah, 12 Shafar 1440/ 21 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 5-8, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Ayat Alquran Tentang Saling Menasehati, Hadis Tentang Wanita, Kebesaran Allah Swt Di Dunia, Kumpulan Hadits Shahih Tentang Wanita Pdf, Orang Menghina Islam
PendahuluanSegala puji bagi Allah Ta’ala, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi yang paling mulia, penutup para rasul, teladan dan penyejuk mata kita, yaitu Nabi Muhammad bin ‘Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada keluarga dan sahabat beliau seluruhnya, serta semua orang yang berjalan di atas petunjuk beliau sampai hari kiamat nanti.Jiwa manusia yang memiliki dua sisi (yaitu baik dan buruk, pent.), sangatlah penting dan urgen untuk diperhatikan. Allah Ta’ala telah bersumpah dengan sejumlah makhluk-Nya yang agung, yang menunjukkan keagungan-Nya dalam surat Asy-Syams, bahwasanya di sana ada jiwa yang beruntung dan ada jiwa yang tidak beruntung,وَالشَّمْسِ وَضُحاها (1) وَالْقَمَرِ إِذا تَلاها (2) وَالنَّهارِ إِذا جَلاَّها (3) وَاللَّيْلِ إِذا يَغْشاها (4) وَالسَّماءِ وَما بَناها (5) وَالْأَرْضِ وَما طَحاها (6) وَنَفْسٍ وَما سَوَّاها (7) فَأَلْهَمَها فُجُورَها وَتَقْواها (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاها (9) وَقَدْ خابَ مَنْ دَسَّاها (10)“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari. Dan bulan apabila mengiringinya. Dan siang apabila menampakkannya. Dan malam apabila menutupinya. Dan langit serta pembinaannya. Dan bumi serta penghamparannya. Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams [91]: 1-10)Baca Juga: Inilah Obat Penenang JiwaAllah Ta’ala berfirman sebagaimana ayat di atas,قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاها“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu.”Makna asal kata “az-zakaat” adalah bertambahnya kebaikan, sehingga yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah bahwa siapa saja yang berusaha untuk menyucikan, memperbaiki, dan mengisi jiwa dengan memperbanyak amalan ketaatan dan kebaikan, serta menjauhi segala keburukan, maka pastilah dia akan beruntung.Allah Ta’ala juga berfirman,وَقَدْ خابَ مَنْ دَسَّاها“Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”Makna asal kata “tadsiyyah” adalah menutupi. Orang yang bermaksiat, artinya dia telah menutupi jiwanya yang mulia dengan melakukan berbagai macam dosa, menguburnya dengan berbagai hal yang rendah dan hina, menghancurkan dan merusaknya dengan melakukan berbagai hal yang tercela, sehingga jiwanya pun menjadi jiwa yang rendah dan hina. Sehingga dengan hal itu, jiwa tersebut berhak mendapatkan kesengsaraan dan kerugian (di akhirat). Wal ‘iyaadhu billah. Baca Juga: Untukmu yang Berjiwa Hanif (01)“Jiwa yang mulia, tidaklah ridha terhadap sesuatu, kecuali terhadap sesuatu yang paling tinggi, paling mulia dan paling terpuji (paling baik) hasil akhirnya. Adapun jiwa yang rendah, dia hanya berputar di sekeliling perkara yang hina, dia menghampiri perkara hina itu sebagaimana lalat menghinggapi kotoran. Jiwa yang mulia dan tinggi, tidak akan ridha terhadap tindak kedzaliman, hal yang vulgar, pencurian, dan pengkhianatan, karena jiwanya lebih besar dan lebih mulia dari itu semua. Sedangkan jiwa yang hina dan rendah, berkebalikan dengan hal itu. Maka setiap jiwa akan cenderung kepada sesuatu yang selaras dan sesuai dengannya.” (Al-Fawaaid karya Ibnul Qayyim, hal. 178)Oleh karena pentingnya penyucian jiwa tersebut, maka setiap muslim yang ingin memperbaiki diri wajib memperhatikannya dengan sungguh-sungguh, memaksa jiwanya untuk mewujudkan tujuan yang terpuji ini dalam kehidupannya, sehingga dia beruntung di dunia dan akhirat, serta menikmati kebahagiaan yang hakiki.Sesungguhnya, jiwa seorang muslim memiliki hak, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,وإن لنفسك عليك حقا“Sesungguhnya jiwamu memiliki hak atas dirimu.”Sungguh keliru orang yang menyangka bahwa hak jiwa tersebut adalah dengan bersikap keras kepadanya dan menghalanginya dari fitrah yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana juga keliru orang yang menyangka bahwa hak jiwa tersebut adalah dengan meremehkan dan abai memperbaiki, serta membiarkannya tenggelam dalam syahwat.Baca Juga: Sangatlah jauh dari kebenaran, penyucian jiwa bukanlah semacam itu. Bahkan, penyucian jiwa itu adalah dengan menempuh jalan-jalan syariat, dengan sikap pertengahan, tanpa disertai sikap berlebih-lebihan (ifraath) dan sikap meremehkan (tafriith). Akan tetapi, penyucian jiwa itu adalah dengan berpegang teguh dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan jalannya yang lurus.Penulis (Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullah) akan menyebutkan sepuluh kaidah penting dalam kitab yang ringkas ini, yang akan membantu seorang muslim dalam menyucikan, memperbaiki dan membersihkan jiwa dari segala hal yang akan mengotorinya.Penulis memohon kepada Allah Ta’ala untuk menyucikan jiwa kami, memperbaiki amal kami, meluruskan ucapan kami, menunjukkan kebenaran kepada kami, dan memberikan taufik untuk mengikutinya, menjauhkan dari fitnah, baik yang tampak atau yang tersembunyi. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga dan para sahabatnya, aamiin.Baca Juga: Hukum Mengatakan “Saya Mukmin InsyaAllah” Al-Quran Obat Fisik dan Jiwa [Bersambung]***@Rumah Lendah, 12 Shafar 1440/ 21 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 5-8, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Ayat Alquran Tentang Saling Menasehati, Hadis Tentang Wanita, Kebesaran Allah Swt Di Dunia, Kumpulan Hadits Shahih Tentang Wanita Pdf, Orang Menghina Islam


PendahuluanSegala puji bagi Allah Ta’ala, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi yang paling mulia, penutup para rasul, teladan dan penyejuk mata kita, yaitu Nabi Muhammad bin ‘Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada keluarga dan sahabat beliau seluruhnya, serta semua orang yang berjalan di atas petunjuk beliau sampai hari kiamat nanti.Jiwa manusia yang memiliki dua sisi (yaitu baik dan buruk, pent.), sangatlah penting dan urgen untuk diperhatikan. Allah Ta’ala telah bersumpah dengan sejumlah makhluk-Nya yang agung, yang menunjukkan keagungan-Nya dalam surat Asy-Syams, bahwasanya di sana ada jiwa yang beruntung dan ada jiwa yang tidak beruntung,وَالشَّمْسِ وَضُحاها (1) وَالْقَمَرِ إِذا تَلاها (2) وَالنَّهارِ إِذا جَلاَّها (3) وَاللَّيْلِ إِذا يَغْشاها (4) وَالسَّماءِ وَما بَناها (5) وَالْأَرْضِ وَما طَحاها (6) وَنَفْسٍ وَما سَوَّاها (7) فَأَلْهَمَها فُجُورَها وَتَقْواها (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاها (9) وَقَدْ خابَ مَنْ دَسَّاها (10)“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari. Dan bulan apabila mengiringinya. Dan siang apabila menampakkannya. Dan malam apabila menutupinya. Dan langit serta pembinaannya. Dan bumi serta penghamparannya. Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams [91]: 1-10)Baca Juga: Inilah Obat Penenang JiwaAllah Ta’ala berfirman sebagaimana ayat di atas,قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاها“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu.”Makna asal kata “az-zakaat” adalah bertambahnya kebaikan, sehingga yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah bahwa siapa saja yang berusaha untuk menyucikan, memperbaiki, dan mengisi jiwa dengan memperbanyak amalan ketaatan dan kebaikan, serta menjauhi segala keburukan, maka pastilah dia akan beruntung.Allah Ta’ala juga berfirman,وَقَدْ خابَ مَنْ دَسَّاها“Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”Makna asal kata “tadsiyyah” adalah menutupi. Orang yang bermaksiat, artinya dia telah menutupi jiwanya yang mulia dengan melakukan berbagai macam dosa, menguburnya dengan berbagai hal yang rendah dan hina, menghancurkan dan merusaknya dengan melakukan berbagai hal yang tercela, sehingga jiwanya pun menjadi jiwa yang rendah dan hina. Sehingga dengan hal itu, jiwa tersebut berhak mendapatkan kesengsaraan dan kerugian (di akhirat). Wal ‘iyaadhu billah. Baca Juga: Untukmu yang Berjiwa Hanif (01)“Jiwa yang mulia, tidaklah ridha terhadap sesuatu, kecuali terhadap sesuatu yang paling tinggi, paling mulia dan paling terpuji (paling baik) hasil akhirnya. Adapun jiwa yang rendah, dia hanya berputar di sekeliling perkara yang hina, dia menghampiri perkara hina itu sebagaimana lalat menghinggapi kotoran. Jiwa yang mulia dan tinggi, tidak akan ridha terhadap tindak kedzaliman, hal yang vulgar, pencurian, dan pengkhianatan, karena jiwanya lebih besar dan lebih mulia dari itu semua. Sedangkan jiwa yang hina dan rendah, berkebalikan dengan hal itu. Maka setiap jiwa akan cenderung kepada sesuatu yang selaras dan sesuai dengannya.” (Al-Fawaaid karya Ibnul Qayyim, hal. 178)Oleh karena pentingnya penyucian jiwa tersebut, maka setiap muslim yang ingin memperbaiki diri wajib memperhatikannya dengan sungguh-sungguh, memaksa jiwanya untuk mewujudkan tujuan yang terpuji ini dalam kehidupannya, sehingga dia beruntung di dunia dan akhirat, serta menikmati kebahagiaan yang hakiki.Sesungguhnya, jiwa seorang muslim memiliki hak, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,وإن لنفسك عليك حقا“Sesungguhnya jiwamu memiliki hak atas dirimu.”Sungguh keliru orang yang menyangka bahwa hak jiwa tersebut adalah dengan bersikap keras kepadanya dan menghalanginya dari fitrah yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana juga keliru orang yang menyangka bahwa hak jiwa tersebut adalah dengan meremehkan dan abai memperbaiki, serta membiarkannya tenggelam dalam syahwat.Baca Juga: Sangatlah jauh dari kebenaran, penyucian jiwa bukanlah semacam itu. Bahkan, penyucian jiwa itu adalah dengan menempuh jalan-jalan syariat, dengan sikap pertengahan, tanpa disertai sikap berlebih-lebihan (ifraath) dan sikap meremehkan (tafriith). Akan tetapi, penyucian jiwa itu adalah dengan berpegang teguh dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan jalannya yang lurus.Penulis (Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullah) akan menyebutkan sepuluh kaidah penting dalam kitab yang ringkas ini, yang akan membantu seorang muslim dalam menyucikan, memperbaiki dan membersihkan jiwa dari segala hal yang akan mengotorinya.Penulis memohon kepada Allah Ta’ala untuk menyucikan jiwa kami, memperbaiki amal kami, meluruskan ucapan kami, menunjukkan kebenaran kepada kami, dan memberikan taufik untuk mengikutinya, menjauhkan dari fitnah, baik yang tampak atau yang tersembunyi. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga dan para sahabatnya, aamiin.Baca Juga: Hukum Mengatakan “Saya Mukmin InsyaAllah” Al-Quran Obat Fisik dan Jiwa [Bersambung]***@Rumah Lendah, 12 Shafar 1440/ 21 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 5-8, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Ayat Alquran Tentang Saling Menasehati, Hadis Tentang Wanita, Kebesaran Allah Swt Di Dunia, Kumpulan Hadits Shahih Tentang Wanita Pdf, Orang Menghina Islam

10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 2) : Tauhid Adalah Kunci Pokok Penyucian Jiwa

Baca pembahasan sebelumnya Sepuluh Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 1) Kaidah pertama: Tauhid adalah kunci pokok penyucian jiwaSesungguhnya, tauhid adalah tujuan Allah Ta’ala ketika menciptakan kita, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51] : 56)Tauhid juga merupakan poros dakwah para nabi dan rasul, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul kepada setiap umat untuk (menyerukan), “Sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut.“ (QS. An-Nahl [16]: 36)Tauhid adalah kewajiban pertama yang harus dilaksanakan manusia agar masuk ke dalam agama Islam. Demikian pula, tauhid adalah materi pertama yang wajib diajarkan oleh para juru dakwah. Hal ini sebagaimana kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika mengutusnya ke negeri Yaman,إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى“Sesungguhnya Engkau akan berdakwah kepada sebuah kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah perkara pertama kali yang Engkau serukan adalah agar mereka menauhidkan Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 7372)Baca Juga: Macam-Macam “Rasa Takut” Dalam Pelajaran TauhidDan sungguh Allah Ta’ala telah mengancam orang-orang yang tidak menyucikan jiwanya dengan tauhid dan iman bahwa mereka akan diadzab dengan pedih pada hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman,وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ ؛ الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ“Dan celakalah orang-orang musyrik. (Yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan az-zakat dan mereka ingkar (kafir) akan adanya (kehidupan) akhirat.“ (QS. Fushshilat [41]: 6-7)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala berkata menjelaskan tafsir ayat tersebut,وهي التوحيد والإيمان الذي به يزكو القلب فإنه يتضمن نفي إلهية ما سوى الحق من القلب وإثبات إلهية الحق في القلب وهو حقيقة لا إله إلا الله . وهذا أصل ما تزكو به القلوب“Az-Zakah pada ayat di atas adalah tauhid dan iman, yang dengannya, jiwa menjadi bersih. Tauhid mengandung makna menafikan hak uluhiyyah dari selain Al-Haq (Allah Ta’ala) dari dalam hati, dan menetapkan hak uluhiyyah bagi Al-Haq (Allah Ta’ala) di dalam hati. Inilah hakikat dari kalimat tauhid, laa ilaaha illallah. Dan inilah pokok yang dapat menyucikan jiwa.” (Majmuu’ Al-Fataawa, 10: 97)Baca Juga: Istiqamah di atas TauhidIbnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,قال أكثر المفسرين من السلف ومن بعدهم : هي التوحيد : شهادة أن لا إله إلا الله والإيمان الذي به يزكو القلب … وهو أصل كل زكاة ونماء …“Mayoritas ahli tafsir dari kalangan salaf dan setelahnya berkata, “Az-Zakah pada ayat tersebut berarti tauhid, yaitu syahadat laa ilaaha illallah dan iman, yang dengannya hati menjadi bersih … Tauhid adalah sumber dari segala pertambahan dan peningkatan kebaikan… “ (Ighaatstaul Lahfaan, 1: 79)Sebagaimana tauhid adalah pokok penyucian dan pembersihan jiwa, maka kesyirikan adalah perkara yang paling mengotori dan merusak jiwa manusia. Bahkan, kesyirikan akan menghapus seluruh amalan kita, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ’Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar [39]: 65)Kesyirikan adalah dosa yang apabila dibawa mati, Allah Ta’ala tidak akan mengampuni dosa itu selama-lamanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang tingkatannya lebih rendah dari (syirik) itu, bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 48)Baca Juga: Solusi Masalah Negeri Adalah Mengaji Tauhid? Masak Sih?Allah Ta’ala mengharamkan surga bagi setiap orang yang mempersekutukan-Nya dengan selain-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ“Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah [5]: 72)Jika seorang hamba memurnikan tauhid, maka akan terwujudlah kesucian (jiwa) yang sempurna, dia akan mendapatkan hidayah dan rasa aman yang sempurna di dunia dan di akhirat, sebagaimana firman Allah Ta’ala,الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-An’am [6]: 82)Baca Juga: Kebahagiaan Melihat Wajah Allah Ta’ala di AkhiratKetika seorang hamba mengikhlaskan penghambaan diri dan rasa cinta (mahabbah) kepada Allah Ta’ala, maka amalnya pun menjadi ikhlas dan tepat, jiwanya pun menjadi bersih (suci) dan baik. Dan ketika masuk hal-hal yang merusaknya, berupa kotoran syirik, maka masuklah noda dan kotoran ke dalam jiwa sesuai dengan kadarnya.Oleh karena itu, jiwa tak akan suci kecuali dengan memurnikan tauhid dan mengesakan Allah Ta’ala dalam ibadah, serta mengikhlaskan amal hanya untuk-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ“Ingatlah, hanya milik Allah-lah agama yang murni (dari syirik).” (QS. Az-Zumar [39]: 3)Dan begitu pula jiwa tak akan suci kecuali dengan membersihkan jiwa dari segala bentuk kesyirikan,dan segala sesuatu yang membatalkan dan melemahkan tauhid.Baca Juga: Agar Dunia Tak Memenjara (1): Carilah Kebahagiaan Yang Hakiki Ingin Meraih Kebahagiaan? Inilah Satu Kuncinya [Bersambung]***@Kantor Jogja, 17 Shafar 1440/ 26 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 9-12, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Cara Menghilangkan Najis, Keutamaan Shalat Subuh Berjamaah, Wasiat Nabi Muhammad Sebelum Wafat, Cara Menenangkan Hati Dalam Islam, Allahummaghfirlahu Untuk Perempuan

10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 2) : Tauhid Adalah Kunci Pokok Penyucian Jiwa

Baca pembahasan sebelumnya Sepuluh Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 1) Kaidah pertama: Tauhid adalah kunci pokok penyucian jiwaSesungguhnya, tauhid adalah tujuan Allah Ta’ala ketika menciptakan kita, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51] : 56)Tauhid juga merupakan poros dakwah para nabi dan rasul, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul kepada setiap umat untuk (menyerukan), “Sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut.“ (QS. An-Nahl [16]: 36)Tauhid adalah kewajiban pertama yang harus dilaksanakan manusia agar masuk ke dalam agama Islam. Demikian pula, tauhid adalah materi pertama yang wajib diajarkan oleh para juru dakwah. Hal ini sebagaimana kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika mengutusnya ke negeri Yaman,إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى“Sesungguhnya Engkau akan berdakwah kepada sebuah kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah perkara pertama kali yang Engkau serukan adalah agar mereka menauhidkan Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 7372)Baca Juga: Macam-Macam “Rasa Takut” Dalam Pelajaran TauhidDan sungguh Allah Ta’ala telah mengancam orang-orang yang tidak menyucikan jiwanya dengan tauhid dan iman bahwa mereka akan diadzab dengan pedih pada hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman,وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ ؛ الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ“Dan celakalah orang-orang musyrik. (Yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan az-zakat dan mereka ingkar (kafir) akan adanya (kehidupan) akhirat.“ (QS. Fushshilat [41]: 6-7)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala berkata menjelaskan tafsir ayat tersebut,وهي التوحيد والإيمان الذي به يزكو القلب فإنه يتضمن نفي إلهية ما سوى الحق من القلب وإثبات إلهية الحق في القلب وهو حقيقة لا إله إلا الله . وهذا أصل ما تزكو به القلوب“Az-Zakah pada ayat di atas adalah tauhid dan iman, yang dengannya, jiwa menjadi bersih. Tauhid mengandung makna menafikan hak uluhiyyah dari selain Al-Haq (Allah Ta’ala) dari dalam hati, dan menetapkan hak uluhiyyah bagi Al-Haq (Allah Ta’ala) di dalam hati. Inilah hakikat dari kalimat tauhid, laa ilaaha illallah. Dan inilah pokok yang dapat menyucikan jiwa.” (Majmuu’ Al-Fataawa, 10: 97)Baca Juga: Istiqamah di atas TauhidIbnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,قال أكثر المفسرين من السلف ومن بعدهم : هي التوحيد : شهادة أن لا إله إلا الله والإيمان الذي به يزكو القلب … وهو أصل كل زكاة ونماء …“Mayoritas ahli tafsir dari kalangan salaf dan setelahnya berkata, “Az-Zakah pada ayat tersebut berarti tauhid, yaitu syahadat laa ilaaha illallah dan iman, yang dengannya hati menjadi bersih … Tauhid adalah sumber dari segala pertambahan dan peningkatan kebaikan… “ (Ighaatstaul Lahfaan, 1: 79)Sebagaimana tauhid adalah pokok penyucian dan pembersihan jiwa, maka kesyirikan adalah perkara yang paling mengotori dan merusak jiwa manusia. Bahkan, kesyirikan akan menghapus seluruh amalan kita, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ’Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar [39]: 65)Kesyirikan adalah dosa yang apabila dibawa mati, Allah Ta’ala tidak akan mengampuni dosa itu selama-lamanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang tingkatannya lebih rendah dari (syirik) itu, bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 48)Baca Juga: Solusi Masalah Negeri Adalah Mengaji Tauhid? Masak Sih?Allah Ta’ala mengharamkan surga bagi setiap orang yang mempersekutukan-Nya dengan selain-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ“Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah [5]: 72)Jika seorang hamba memurnikan tauhid, maka akan terwujudlah kesucian (jiwa) yang sempurna, dia akan mendapatkan hidayah dan rasa aman yang sempurna di dunia dan di akhirat, sebagaimana firman Allah Ta’ala,الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-An’am [6]: 82)Baca Juga: Kebahagiaan Melihat Wajah Allah Ta’ala di AkhiratKetika seorang hamba mengikhlaskan penghambaan diri dan rasa cinta (mahabbah) kepada Allah Ta’ala, maka amalnya pun menjadi ikhlas dan tepat, jiwanya pun menjadi bersih (suci) dan baik. Dan ketika masuk hal-hal yang merusaknya, berupa kotoran syirik, maka masuklah noda dan kotoran ke dalam jiwa sesuai dengan kadarnya.Oleh karena itu, jiwa tak akan suci kecuali dengan memurnikan tauhid dan mengesakan Allah Ta’ala dalam ibadah, serta mengikhlaskan amal hanya untuk-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ“Ingatlah, hanya milik Allah-lah agama yang murni (dari syirik).” (QS. Az-Zumar [39]: 3)Dan begitu pula jiwa tak akan suci kecuali dengan membersihkan jiwa dari segala bentuk kesyirikan,dan segala sesuatu yang membatalkan dan melemahkan tauhid.Baca Juga: Agar Dunia Tak Memenjara (1): Carilah Kebahagiaan Yang Hakiki Ingin Meraih Kebahagiaan? Inilah Satu Kuncinya [Bersambung]***@Kantor Jogja, 17 Shafar 1440/ 26 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 9-12, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Cara Menghilangkan Najis, Keutamaan Shalat Subuh Berjamaah, Wasiat Nabi Muhammad Sebelum Wafat, Cara Menenangkan Hati Dalam Islam, Allahummaghfirlahu Untuk Perempuan
Baca pembahasan sebelumnya Sepuluh Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 1) Kaidah pertama: Tauhid adalah kunci pokok penyucian jiwaSesungguhnya, tauhid adalah tujuan Allah Ta’ala ketika menciptakan kita, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51] : 56)Tauhid juga merupakan poros dakwah para nabi dan rasul, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul kepada setiap umat untuk (menyerukan), “Sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut.“ (QS. An-Nahl [16]: 36)Tauhid adalah kewajiban pertama yang harus dilaksanakan manusia agar masuk ke dalam agama Islam. Demikian pula, tauhid adalah materi pertama yang wajib diajarkan oleh para juru dakwah. Hal ini sebagaimana kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika mengutusnya ke negeri Yaman,إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى“Sesungguhnya Engkau akan berdakwah kepada sebuah kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah perkara pertama kali yang Engkau serukan adalah agar mereka menauhidkan Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 7372)Baca Juga: Macam-Macam “Rasa Takut” Dalam Pelajaran TauhidDan sungguh Allah Ta’ala telah mengancam orang-orang yang tidak menyucikan jiwanya dengan tauhid dan iman bahwa mereka akan diadzab dengan pedih pada hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman,وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ ؛ الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ“Dan celakalah orang-orang musyrik. (Yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan az-zakat dan mereka ingkar (kafir) akan adanya (kehidupan) akhirat.“ (QS. Fushshilat [41]: 6-7)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala berkata menjelaskan tafsir ayat tersebut,وهي التوحيد والإيمان الذي به يزكو القلب فإنه يتضمن نفي إلهية ما سوى الحق من القلب وإثبات إلهية الحق في القلب وهو حقيقة لا إله إلا الله . وهذا أصل ما تزكو به القلوب“Az-Zakah pada ayat di atas adalah tauhid dan iman, yang dengannya, jiwa menjadi bersih. Tauhid mengandung makna menafikan hak uluhiyyah dari selain Al-Haq (Allah Ta’ala) dari dalam hati, dan menetapkan hak uluhiyyah bagi Al-Haq (Allah Ta’ala) di dalam hati. Inilah hakikat dari kalimat tauhid, laa ilaaha illallah. Dan inilah pokok yang dapat menyucikan jiwa.” (Majmuu’ Al-Fataawa, 10: 97)Baca Juga: Istiqamah di atas TauhidIbnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,قال أكثر المفسرين من السلف ومن بعدهم : هي التوحيد : شهادة أن لا إله إلا الله والإيمان الذي به يزكو القلب … وهو أصل كل زكاة ونماء …“Mayoritas ahli tafsir dari kalangan salaf dan setelahnya berkata, “Az-Zakah pada ayat tersebut berarti tauhid, yaitu syahadat laa ilaaha illallah dan iman, yang dengannya hati menjadi bersih … Tauhid adalah sumber dari segala pertambahan dan peningkatan kebaikan… “ (Ighaatstaul Lahfaan, 1: 79)Sebagaimana tauhid adalah pokok penyucian dan pembersihan jiwa, maka kesyirikan adalah perkara yang paling mengotori dan merusak jiwa manusia. Bahkan, kesyirikan akan menghapus seluruh amalan kita, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ’Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar [39]: 65)Kesyirikan adalah dosa yang apabila dibawa mati, Allah Ta’ala tidak akan mengampuni dosa itu selama-lamanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang tingkatannya lebih rendah dari (syirik) itu, bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 48)Baca Juga: Solusi Masalah Negeri Adalah Mengaji Tauhid? Masak Sih?Allah Ta’ala mengharamkan surga bagi setiap orang yang mempersekutukan-Nya dengan selain-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ“Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah [5]: 72)Jika seorang hamba memurnikan tauhid, maka akan terwujudlah kesucian (jiwa) yang sempurna, dia akan mendapatkan hidayah dan rasa aman yang sempurna di dunia dan di akhirat, sebagaimana firman Allah Ta’ala,الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-An’am [6]: 82)Baca Juga: Kebahagiaan Melihat Wajah Allah Ta’ala di AkhiratKetika seorang hamba mengikhlaskan penghambaan diri dan rasa cinta (mahabbah) kepada Allah Ta’ala, maka amalnya pun menjadi ikhlas dan tepat, jiwanya pun menjadi bersih (suci) dan baik. Dan ketika masuk hal-hal yang merusaknya, berupa kotoran syirik, maka masuklah noda dan kotoran ke dalam jiwa sesuai dengan kadarnya.Oleh karena itu, jiwa tak akan suci kecuali dengan memurnikan tauhid dan mengesakan Allah Ta’ala dalam ibadah, serta mengikhlaskan amal hanya untuk-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ“Ingatlah, hanya milik Allah-lah agama yang murni (dari syirik).” (QS. Az-Zumar [39]: 3)Dan begitu pula jiwa tak akan suci kecuali dengan membersihkan jiwa dari segala bentuk kesyirikan,dan segala sesuatu yang membatalkan dan melemahkan tauhid.Baca Juga: Agar Dunia Tak Memenjara (1): Carilah Kebahagiaan Yang Hakiki Ingin Meraih Kebahagiaan? Inilah Satu Kuncinya [Bersambung]***@Kantor Jogja, 17 Shafar 1440/ 26 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 9-12, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Cara Menghilangkan Najis, Keutamaan Shalat Subuh Berjamaah, Wasiat Nabi Muhammad Sebelum Wafat, Cara Menenangkan Hati Dalam Islam, Allahummaghfirlahu Untuk Perempuan


Baca pembahasan sebelumnya Sepuluh Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 1) Kaidah pertama: Tauhid adalah kunci pokok penyucian jiwaSesungguhnya, tauhid adalah tujuan Allah Ta’ala ketika menciptakan kita, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51] : 56)Tauhid juga merupakan poros dakwah para nabi dan rasul, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul kepada setiap umat untuk (menyerukan), “Sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut.“ (QS. An-Nahl [16]: 36)Tauhid adalah kewajiban pertama yang harus dilaksanakan manusia agar masuk ke dalam agama Islam. Demikian pula, tauhid adalah materi pertama yang wajib diajarkan oleh para juru dakwah. Hal ini sebagaimana kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika mengutusnya ke negeri Yaman,إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى“Sesungguhnya Engkau akan berdakwah kepada sebuah kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah perkara pertama kali yang Engkau serukan adalah agar mereka menauhidkan Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 7372)Baca Juga: Macam-Macam “Rasa Takut” Dalam Pelajaran TauhidDan sungguh Allah Ta’ala telah mengancam orang-orang yang tidak menyucikan jiwanya dengan tauhid dan iman bahwa mereka akan diadzab dengan pedih pada hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman,وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ ؛ الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ“Dan celakalah orang-orang musyrik. (Yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan az-zakat dan mereka ingkar (kafir) akan adanya (kehidupan) akhirat.“ (QS. Fushshilat [41]: 6-7)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala berkata menjelaskan tafsir ayat tersebut,وهي التوحيد والإيمان الذي به يزكو القلب فإنه يتضمن نفي إلهية ما سوى الحق من القلب وإثبات إلهية الحق في القلب وهو حقيقة لا إله إلا الله . وهذا أصل ما تزكو به القلوب“Az-Zakah pada ayat di atas adalah tauhid dan iman, yang dengannya, jiwa menjadi bersih. Tauhid mengandung makna menafikan hak uluhiyyah dari selain Al-Haq (Allah Ta’ala) dari dalam hati, dan menetapkan hak uluhiyyah bagi Al-Haq (Allah Ta’ala) di dalam hati. Inilah hakikat dari kalimat tauhid, laa ilaaha illallah. Dan inilah pokok yang dapat menyucikan jiwa.” (Majmuu’ Al-Fataawa, 10: 97)Baca Juga: Istiqamah di atas TauhidIbnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,قال أكثر المفسرين من السلف ومن بعدهم : هي التوحيد : شهادة أن لا إله إلا الله والإيمان الذي به يزكو القلب … وهو أصل كل زكاة ونماء …“Mayoritas ahli tafsir dari kalangan salaf dan setelahnya berkata, “Az-Zakah pada ayat tersebut berarti tauhid, yaitu syahadat laa ilaaha illallah dan iman, yang dengannya hati menjadi bersih … Tauhid adalah sumber dari segala pertambahan dan peningkatan kebaikan… “ (Ighaatstaul Lahfaan, 1: 79)Sebagaimana tauhid adalah pokok penyucian dan pembersihan jiwa, maka kesyirikan adalah perkara yang paling mengotori dan merusak jiwa manusia. Bahkan, kesyirikan akan menghapus seluruh amalan kita, sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ’Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar [39]: 65)Kesyirikan adalah dosa yang apabila dibawa mati, Allah Ta’ala tidak akan mengampuni dosa itu selama-lamanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang tingkatannya lebih rendah dari (syirik) itu, bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 48)Baca Juga: Solusi Masalah Negeri Adalah Mengaji Tauhid? Masak Sih?Allah Ta’ala mengharamkan surga bagi setiap orang yang mempersekutukan-Nya dengan selain-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ“Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah [5]: 72)Jika seorang hamba memurnikan tauhid, maka akan terwujudlah kesucian (jiwa) yang sempurna, dia akan mendapatkan hidayah dan rasa aman yang sempurna di dunia dan di akhirat, sebagaimana firman Allah Ta’ala,الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al-An’am [6]: 82)Baca Juga: Kebahagiaan Melihat Wajah Allah Ta’ala di AkhiratKetika seorang hamba mengikhlaskan penghambaan diri dan rasa cinta (mahabbah) kepada Allah Ta’ala, maka amalnya pun menjadi ikhlas dan tepat, jiwanya pun menjadi bersih (suci) dan baik. Dan ketika masuk hal-hal yang merusaknya, berupa kotoran syirik, maka masuklah noda dan kotoran ke dalam jiwa sesuai dengan kadarnya.Oleh karena itu, jiwa tak akan suci kecuali dengan memurnikan tauhid dan mengesakan Allah Ta’ala dalam ibadah, serta mengikhlaskan amal hanya untuk-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ“Ingatlah, hanya milik Allah-lah agama yang murni (dari syirik).” (QS. Az-Zumar [39]: 3)Dan begitu pula jiwa tak akan suci kecuali dengan membersihkan jiwa dari segala bentuk kesyirikan,dan segala sesuatu yang membatalkan dan melemahkan tauhid.Baca Juga: Agar Dunia Tak Memenjara (1): Carilah Kebahagiaan Yang Hakiki Ingin Meraih Kebahagiaan? Inilah Satu Kuncinya [Bersambung]***@Kantor Jogja, 17 Shafar 1440/ 26 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 9-12, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Cara Menghilangkan Najis, Keutamaan Shalat Subuh Berjamaah, Wasiat Nabi Muhammad Sebelum Wafat, Cara Menenangkan Hati Dalam Islam, Allahummaghfirlahu Untuk Perempuan

10 Kaidah dalam Mensucikan Jiwa (Bag. 7) : Menjaga Kesucian Jiwa

Baca pembahasan sebelumnya 10 Kaidah dalam Mensucikan Jiwa (Bag. 6)Kaidah keenam: Menutup pintu yang dapat mengeluarkan seseorang dari kesucian jiwa, menjauhkannya dari keutamaan dan menjerumuskannya ke dalam kehinaanSeorang hamba memiliki kebutuhan yang sangat mendesak untuk menutup pintu yang dapat merusak dan mengotori jiwanya. Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membuat suatu permisalan untuk kita yang menjelaskan bahaya masuknya seseorang ke dalam perkara yang dapat merusak agamanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا، وَعَلَى جَنْبَتَيْ الصِّرَاطِ سُورَانِ، فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ، وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ، وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ: أَيُّهَا النَّاسُ، ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا، وَلَا تَتَعَرَّجُوا، وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ، فَإِذَا أَرَادَ يَفْتَحُ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ، قَالَ: وَيْحَكَ لَا تَفْتَحْهُ، فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ، وَالصِّرَاطُ الْإِسْلَامُ، وَالسُّورَانِ: حُدُودُ اللَّهِ، وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ: مَحَارِمُ اللَّهِ، وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ: كِتَابُ اللَّهِ، وَالدَّاعِي مِنِ فَوْقَ الصِّرَاطِ: وَاعِظُ اللَّهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ“Allah memberikan perumpamaan berupa jalan yang lurus. Kemudian di atas kedua sisi jalan itu terdapat dua dinding. Dan pada kedua dinding itu terdapat pintu-pintu yang terbuka lebar. Kemudian di atas setiap pintu terdapat tabir penutup yang halus. Dan di atas pintu jalan terdapat penyeru yang berkata, ‘Wahai sekalian manusia, masuklah kalian semua ke dalam shirath dan janganlah kalian menoleh kesana kemari.’ Sementara di bagian dalam dari Shirath juga terdapat penyeru yang selalu mengajak untuk menapaki Shirath, dan jika seseorang hendak membuka pintu-pintu yang berada di sampingnya, maka ia berkata, ‘Celak kamu, jangan sekali-kali kamu membukanya. Karena jika kamu membukanya maka kamu akan masuk kedalamnya.’ Ash Shirath itu adalah Al Islam. Kedua dinding itu merupakan batasan-batasan Allah Ta’ala. Sementara pintu-pintu yang terbuka adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Dan adapun penyeru di depan shirath itu adalah Kitabullah (Al Qur`an) ‘azza wajalla. Sedangkan penyeru dari atas shirath adalah penasihat Allah (naluri) yang terdapat pada setiap kalbu seorang mukmin.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad no. 17909)Baca Juga: Bukan Besarnya Dosa tetapi Kepada Siapa BermaksiatAl-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullahu Ta’ala berkata, “Siapa saja yang ketika berada di dunia tidak istiqamah di atas jalan agama yang lurus, sehingga dia membuka pintu-pintu keharaman yang ada di tirai di sebelah kanan dan kiri jalan tersebut; masuk ke dalamnya, baik hal yang diharamkan itu berupa syahwat ataupun syubhat; maka dia akan disambar oleh pengait yang terdapat di sebelah kanan dan kiri ash–Shirath (pada hari kiamat), sesuai dengan kadar pintu keharaman yang dibukanya ketika di dunia.” (Majmu’ Rasail Ibnu Rajab, 1: 206)Berkaitan dengan hal ini, Allah Ta’ala berfirman,قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nuur [24]: 30)Baca Juga: Sudah Taubat Lalu Bermaksiat Lagi, Apakah Diterima Taubatnya?Abu Hayyan Al-Andalusi rahimahullahu Ta’ala berkata,“Menundukkan pandangan itu lebih didahulukan daripada menjaga kemaluan karena pandangan mata adalah pos menuju zina, pengantar kekejian, dan musibah di dalamnya itu lebih parah dan lebih banyak.” (Al-Bahru Al-Muhiith karya Ibnu Hayyan Al-Andalusi, 8: 33)Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala, فإن من حفظ فرجه وبصره، طهر من الخبث الذي يتدنس به أهل الفواحش، وزكت أعماله، بسبب ترك المحرم، الذي تطمع إليه النفس وتدعو إليه، فمن ترك شيئا لله، عوضه الله خيرا منه“Barangsiapa yang menjaga kemaluan dan penglihatan, dirinya akan tersucikan dari berbagai kotoran yang menodai pelaku kemaksiatan; amalnya murni karena meninggalkan keharaman yang menjadi kecondongan dan keinginan jiwa manusia. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah Ta’ala akan mengganti dengan sesuatu yang lebih baik baginya.” (Taisiir Karimirrahman, hal. 660)Oleh karena itu, termasuk di antara tanda kebaikan agama seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat, baik berupa berlebih-lebihan dalam berbicara, memandang dan yang lainnya.Baca Juga: Larangan Mencela Seorang Muslim yang Sudah Bertaubat Dari Dosa MaksiatnyaIbnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,وأكثر المعاصي إنما تولدها من فضول الكلام والنظر وهما أوسع مداخل الشيطان فإن جارحتيهما لا يملأن ولا يسأمان“Mayoritas kemaksiatan semata-mata disebabkan oleh sikap berlebih-lebihan dalam berbicara dan memandang. Keduanya adalah pintu masuk setan yang paling luas. Karena mulut dan mata adalah dua anggota tubuh yang jarang lelah dan bosan.“ (Badaai’ Al-Fawaaid, 2: 820)Maka hendaklah seorang hamba itu berakal lagi cerdas, sehingga dapat memohon kesabaran dan keselamatan kepada Allah Ta’ala; dan memohon agar Allah Ta’ala menutup jalan yang dapat mengantarkannya menuju kebinasaan dan kemaksiatan. Agama adalah harta seseorang yang paling berharga. Menyia-nyiakan, acuh tak acuh terhadap agama, terkandung kerugian di dunia dan di akhirat. Lebih-lebih di zaman kita, dimana berbagai fitnah turun menimpa manusia seperti derasnya hujan. Berbagai pintu syubhat dan syahwat terbuka dengan keberadaan perangkat teknologi terkini, situs-situs asusila, dan program-program televisi amoral, sehingga banyak manusia berjalan menuju kesesatan dan berpaling dari hidayah. Kami meminta keselamatan hanya kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Meninggalkan Maksiat Bukan Karena Allah, Apakah Berpahala? Inilah Pengaruh Shalat Dan Maksiat Terhadap Rezeki  [Bersambung]***@Rumah Lendah, 18 Shafar 1440/ 27 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 25-28, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Nur Muhammad Dalam Al Quran, Tulisan Taawudz, Hadits Sebaik Baiknya Manusia, Kata Kata Sakit Panas, Khutbah Jumat Bulan Rajab 1434 H

10 Kaidah dalam Mensucikan Jiwa (Bag. 7) : Menjaga Kesucian Jiwa

Baca pembahasan sebelumnya 10 Kaidah dalam Mensucikan Jiwa (Bag. 6)Kaidah keenam: Menutup pintu yang dapat mengeluarkan seseorang dari kesucian jiwa, menjauhkannya dari keutamaan dan menjerumuskannya ke dalam kehinaanSeorang hamba memiliki kebutuhan yang sangat mendesak untuk menutup pintu yang dapat merusak dan mengotori jiwanya. Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membuat suatu permisalan untuk kita yang menjelaskan bahaya masuknya seseorang ke dalam perkara yang dapat merusak agamanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا، وَعَلَى جَنْبَتَيْ الصِّرَاطِ سُورَانِ، فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ، وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ، وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ: أَيُّهَا النَّاسُ، ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا، وَلَا تَتَعَرَّجُوا، وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ، فَإِذَا أَرَادَ يَفْتَحُ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ، قَالَ: وَيْحَكَ لَا تَفْتَحْهُ، فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ، وَالصِّرَاطُ الْإِسْلَامُ، وَالسُّورَانِ: حُدُودُ اللَّهِ، وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ: مَحَارِمُ اللَّهِ، وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ: كِتَابُ اللَّهِ، وَالدَّاعِي مِنِ فَوْقَ الصِّرَاطِ: وَاعِظُ اللَّهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ“Allah memberikan perumpamaan berupa jalan yang lurus. Kemudian di atas kedua sisi jalan itu terdapat dua dinding. Dan pada kedua dinding itu terdapat pintu-pintu yang terbuka lebar. Kemudian di atas setiap pintu terdapat tabir penutup yang halus. Dan di atas pintu jalan terdapat penyeru yang berkata, ‘Wahai sekalian manusia, masuklah kalian semua ke dalam shirath dan janganlah kalian menoleh kesana kemari.’ Sementara di bagian dalam dari Shirath juga terdapat penyeru yang selalu mengajak untuk menapaki Shirath, dan jika seseorang hendak membuka pintu-pintu yang berada di sampingnya, maka ia berkata, ‘Celak kamu, jangan sekali-kali kamu membukanya. Karena jika kamu membukanya maka kamu akan masuk kedalamnya.’ Ash Shirath itu adalah Al Islam. Kedua dinding itu merupakan batasan-batasan Allah Ta’ala. Sementara pintu-pintu yang terbuka adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Dan adapun penyeru di depan shirath itu adalah Kitabullah (Al Qur`an) ‘azza wajalla. Sedangkan penyeru dari atas shirath adalah penasihat Allah (naluri) yang terdapat pada setiap kalbu seorang mukmin.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad no. 17909)Baca Juga: Bukan Besarnya Dosa tetapi Kepada Siapa BermaksiatAl-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullahu Ta’ala berkata, “Siapa saja yang ketika berada di dunia tidak istiqamah di atas jalan agama yang lurus, sehingga dia membuka pintu-pintu keharaman yang ada di tirai di sebelah kanan dan kiri jalan tersebut; masuk ke dalamnya, baik hal yang diharamkan itu berupa syahwat ataupun syubhat; maka dia akan disambar oleh pengait yang terdapat di sebelah kanan dan kiri ash–Shirath (pada hari kiamat), sesuai dengan kadar pintu keharaman yang dibukanya ketika di dunia.” (Majmu’ Rasail Ibnu Rajab, 1: 206)Berkaitan dengan hal ini, Allah Ta’ala berfirman,قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nuur [24]: 30)Baca Juga: Sudah Taubat Lalu Bermaksiat Lagi, Apakah Diterima Taubatnya?Abu Hayyan Al-Andalusi rahimahullahu Ta’ala berkata,“Menundukkan pandangan itu lebih didahulukan daripada menjaga kemaluan karena pandangan mata adalah pos menuju zina, pengantar kekejian, dan musibah di dalamnya itu lebih parah dan lebih banyak.” (Al-Bahru Al-Muhiith karya Ibnu Hayyan Al-Andalusi, 8: 33)Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala, فإن من حفظ فرجه وبصره، طهر من الخبث الذي يتدنس به أهل الفواحش، وزكت أعماله، بسبب ترك المحرم، الذي تطمع إليه النفس وتدعو إليه، فمن ترك شيئا لله، عوضه الله خيرا منه“Barangsiapa yang menjaga kemaluan dan penglihatan, dirinya akan tersucikan dari berbagai kotoran yang menodai pelaku kemaksiatan; amalnya murni karena meninggalkan keharaman yang menjadi kecondongan dan keinginan jiwa manusia. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah Ta’ala akan mengganti dengan sesuatu yang lebih baik baginya.” (Taisiir Karimirrahman, hal. 660)Oleh karena itu, termasuk di antara tanda kebaikan agama seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat, baik berupa berlebih-lebihan dalam berbicara, memandang dan yang lainnya.Baca Juga: Larangan Mencela Seorang Muslim yang Sudah Bertaubat Dari Dosa MaksiatnyaIbnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,وأكثر المعاصي إنما تولدها من فضول الكلام والنظر وهما أوسع مداخل الشيطان فإن جارحتيهما لا يملأن ولا يسأمان“Mayoritas kemaksiatan semata-mata disebabkan oleh sikap berlebih-lebihan dalam berbicara dan memandang. Keduanya adalah pintu masuk setan yang paling luas. Karena mulut dan mata adalah dua anggota tubuh yang jarang lelah dan bosan.“ (Badaai’ Al-Fawaaid, 2: 820)Maka hendaklah seorang hamba itu berakal lagi cerdas, sehingga dapat memohon kesabaran dan keselamatan kepada Allah Ta’ala; dan memohon agar Allah Ta’ala menutup jalan yang dapat mengantarkannya menuju kebinasaan dan kemaksiatan. Agama adalah harta seseorang yang paling berharga. Menyia-nyiakan, acuh tak acuh terhadap agama, terkandung kerugian di dunia dan di akhirat. Lebih-lebih di zaman kita, dimana berbagai fitnah turun menimpa manusia seperti derasnya hujan. Berbagai pintu syubhat dan syahwat terbuka dengan keberadaan perangkat teknologi terkini, situs-situs asusila, dan program-program televisi amoral, sehingga banyak manusia berjalan menuju kesesatan dan berpaling dari hidayah. Kami meminta keselamatan hanya kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Meninggalkan Maksiat Bukan Karena Allah, Apakah Berpahala? Inilah Pengaruh Shalat Dan Maksiat Terhadap Rezeki  [Bersambung]***@Rumah Lendah, 18 Shafar 1440/ 27 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 25-28, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Nur Muhammad Dalam Al Quran, Tulisan Taawudz, Hadits Sebaik Baiknya Manusia, Kata Kata Sakit Panas, Khutbah Jumat Bulan Rajab 1434 H
Baca pembahasan sebelumnya 10 Kaidah dalam Mensucikan Jiwa (Bag. 6)Kaidah keenam: Menutup pintu yang dapat mengeluarkan seseorang dari kesucian jiwa, menjauhkannya dari keutamaan dan menjerumuskannya ke dalam kehinaanSeorang hamba memiliki kebutuhan yang sangat mendesak untuk menutup pintu yang dapat merusak dan mengotori jiwanya. Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membuat suatu permisalan untuk kita yang menjelaskan bahaya masuknya seseorang ke dalam perkara yang dapat merusak agamanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا، وَعَلَى جَنْبَتَيْ الصِّرَاطِ سُورَانِ، فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ، وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ، وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ: أَيُّهَا النَّاسُ، ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا، وَلَا تَتَعَرَّجُوا، وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ، فَإِذَا أَرَادَ يَفْتَحُ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ، قَالَ: وَيْحَكَ لَا تَفْتَحْهُ، فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ، وَالصِّرَاطُ الْإِسْلَامُ، وَالسُّورَانِ: حُدُودُ اللَّهِ، وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ: مَحَارِمُ اللَّهِ، وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ: كِتَابُ اللَّهِ، وَالدَّاعِي مِنِ فَوْقَ الصِّرَاطِ: وَاعِظُ اللَّهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ“Allah memberikan perumpamaan berupa jalan yang lurus. Kemudian di atas kedua sisi jalan itu terdapat dua dinding. Dan pada kedua dinding itu terdapat pintu-pintu yang terbuka lebar. Kemudian di atas setiap pintu terdapat tabir penutup yang halus. Dan di atas pintu jalan terdapat penyeru yang berkata, ‘Wahai sekalian manusia, masuklah kalian semua ke dalam shirath dan janganlah kalian menoleh kesana kemari.’ Sementara di bagian dalam dari Shirath juga terdapat penyeru yang selalu mengajak untuk menapaki Shirath, dan jika seseorang hendak membuka pintu-pintu yang berada di sampingnya, maka ia berkata, ‘Celak kamu, jangan sekali-kali kamu membukanya. Karena jika kamu membukanya maka kamu akan masuk kedalamnya.’ Ash Shirath itu adalah Al Islam. Kedua dinding itu merupakan batasan-batasan Allah Ta’ala. Sementara pintu-pintu yang terbuka adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Dan adapun penyeru di depan shirath itu adalah Kitabullah (Al Qur`an) ‘azza wajalla. Sedangkan penyeru dari atas shirath adalah penasihat Allah (naluri) yang terdapat pada setiap kalbu seorang mukmin.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad no. 17909)Baca Juga: Bukan Besarnya Dosa tetapi Kepada Siapa BermaksiatAl-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullahu Ta’ala berkata, “Siapa saja yang ketika berada di dunia tidak istiqamah di atas jalan agama yang lurus, sehingga dia membuka pintu-pintu keharaman yang ada di tirai di sebelah kanan dan kiri jalan tersebut; masuk ke dalamnya, baik hal yang diharamkan itu berupa syahwat ataupun syubhat; maka dia akan disambar oleh pengait yang terdapat di sebelah kanan dan kiri ash–Shirath (pada hari kiamat), sesuai dengan kadar pintu keharaman yang dibukanya ketika di dunia.” (Majmu’ Rasail Ibnu Rajab, 1: 206)Berkaitan dengan hal ini, Allah Ta’ala berfirman,قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nuur [24]: 30)Baca Juga: Sudah Taubat Lalu Bermaksiat Lagi, Apakah Diterima Taubatnya?Abu Hayyan Al-Andalusi rahimahullahu Ta’ala berkata,“Menundukkan pandangan itu lebih didahulukan daripada menjaga kemaluan karena pandangan mata adalah pos menuju zina, pengantar kekejian, dan musibah di dalamnya itu lebih parah dan lebih banyak.” (Al-Bahru Al-Muhiith karya Ibnu Hayyan Al-Andalusi, 8: 33)Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala, فإن من حفظ فرجه وبصره، طهر من الخبث الذي يتدنس به أهل الفواحش، وزكت أعماله، بسبب ترك المحرم، الذي تطمع إليه النفس وتدعو إليه، فمن ترك شيئا لله، عوضه الله خيرا منه“Barangsiapa yang menjaga kemaluan dan penglihatan, dirinya akan tersucikan dari berbagai kotoran yang menodai pelaku kemaksiatan; amalnya murni karena meninggalkan keharaman yang menjadi kecondongan dan keinginan jiwa manusia. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah Ta’ala akan mengganti dengan sesuatu yang lebih baik baginya.” (Taisiir Karimirrahman, hal. 660)Oleh karena itu, termasuk di antara tanda kebaikan agama seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat, baik berupa berlebih-lebihan dalam berbicara, memandang dan yang lainnya.Baca Juga: Larangan Mencela Seorang Muslim yang Sudah Bertaubat Dari Dosa MaksiatnyaIbnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,وأكثر المعاصي إنما تولدها من فضول الكلام والنظر وهما أوسع مداخل الشيطان فإن جارحتيهما لا يملأن ولا يسأمان“Mayoritas kemaksiatan semata-mata disebabkan oleh sikap berlebih-lebihan dalam berbicara dan memandang. Keduanya adalah pintu masuk setan yang paling luas. Karena mulut dan mata adalah dua anggota tubuh yang jarang lelah dan bosan.“ (Badaai’ Al-Fawaaid, 2: 820)Maka hendaklah seorang hamba itu berakal lagi cerdas, sehingga dapat memohon kesabaran dan keselamatan kepada Allah Ta’ala; dan memohon agar Allah Ta’ala menutup jalan yang dapat mengantarkannya menuju kebinasaan dan kemaksiatan. Agama adalah harta seseorang yang paling berharga. Menyia-nyiakan, acuh tak acuh terhadap agama, terkandung kerugian di dunia dan di akhirat. Lebih-lebih di zaman kita, dimana berbagai fitnah turun menimpa manusia seperti derasnya hujan. Berbagai pintu syubhat dan syahwat terbuka dengan keberadaan perangkat teknologi terkini, situs-situs asusila, dan program-program televisi amoral, sehingga banyak manusia berjalan menuju kesesatan dan berpaling dari hidayah. Kami meminta keselamatan hanya kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Meninggalkan Maksiat Bukan Karena Allah, Apakah Berpahala? Inilah Pengaruh Shalat Dan Maksiat Terhadap Rezeki  [Bersambung]***@Rumah Lendah, 18 Shafar 1440/ 27 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 25-28, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Nur Muhammad Dalam Al Quran, Tulisan Taawudz, Hadits Sebaik Baiknya Manusia, Kata Kata Sakit Panas, Khutbah Jumat Bulan Rajab 1434 H


Baca pembahasan sebelumnya 10 Kaidah dalam Mensucikan Jiwa (Bag. 6)Kaidah keenam: Menutup pintu yang dapat mengeluarkan seseorang dari kesucian jiwa, menjauhkannya dari keutamaan dan menjerumuskannya ke dalam kehinaanSeorang hamba memiliki kebutuhan yang sangat mendesak untuk menutup pintu yang dapat merusak dan mengotori jiwanya. Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membuat suatu permisalan untuk kita yang menjelaskan bahaya masuknya seseorang ke dalam perkara yang dapat merusak agamanya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا، وَعَلَى جَنْبَتَيْ الصِّرَاطِ سُورَانِ، فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ، وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ، وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ: أَيُّهَا النَّاسُ، ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا، وَلَا تَتَعَرَّجُوا، وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ، فَإِذَا أَرَادَ يَفْتَحُ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ، قَالَ: وَيْحَكَ لَا تَفْتَحْهُ، فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ، وَالصِّرَاطُ الْإِسْلَامُ، وَالسُّورَانِ: حُدُودُ اللَّهِ، وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ: مَحَارِمُ اللَّهِ، وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ: كِتَابُ اللَّهِ، وَالدَّاعِي مِنِ فَوْقَ الصِّرَاطِ: وَاعِظُ اللَّهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ“Allah memberikan perumpamaan berupa jalan yang lurus. Kemudian di atas kedua sisi jalan itu terdapat dua dinding. Dan pada kedua dinding itu terdapat pintu-pintu yang terbuka lebar. Kemudian di atas setiap pintu terdapat tabir penutup yang halus. Dan di atas pintu jalan terdapat penyeru yang berkata, ‘Wahai sekalian manusia, masuklah kalian semua ke dalam shirath dan janganlah kalian menoleh kesana kemari.’ Sementara di bagian dalam dari Shirath juga terdapat penyeru yang selalu mengajak untuk menapaki Shirath, dan jika seseorang hendak membuka pintu-pintu yang berada di sampingnya, maka ia berkata, ‘Celak kamu, jangan sekali-kali kamu membukanya. Karena jika kamu membukanya maka kamu akan masuk kedalamnya.’ Ash Shirath itu adalah Al Islam. Kedua dinding itu merupakan batasan-batasan Allah Ta’ala. Sementara pintu-pintu yang terbuka adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Dan adapun penyeru di depan shirath itu adalah Kitabullah (Al Qur`an) ‘azza wajalla. Sedangkan penyeru dari atas shirath adalah penasihat Allah (naluri) yang terdapat pada setiap kalbu seorang mukmin.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad no. 17909)Baca Juga: Bukan Besarnya Dosa tetapi Kepada Siapa BermaksiatAl-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullahu Ta’ala berkata, “Siapa saja yang ketika berada di dunia tidak istiqamah di atas jalan agama yang lurus, sehingga dia membuka pintu-pintu keharaman yang ada di tirai di sebelah kanan dan kiri jalan tersebut; masuk ke dalamnya, baik hal yang diharamkan itu berupa syahwat ataupun syubhat; maka dia akan disambar oleh pengait yang terdapat di sebelah kanan dan kiri ash–Shirath (pada hari kiamat), sesuai dengan kadar pintu keharaman yang dibukanya ketika di dunia.” (Majmu’ Rasail Ibnu Rajab, 1: 206)Berkaitan dengan hal ini, Allah Ta’ala berfirman,قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nuur [24]: 30)Baca Juga: Sudah Taubat Lalu Bermaksiat Lagi, Apakah Diterima Taubatnya?Abu Hayyan Al-Andalusi rahimahullahu Ta’ala berkata,“Menundukkan pandangan itu lebih didahulukan daripada menjaga kemaluan karena pandangan mata adalah pos menuju zina, pengantar kekejian, dan musibah di dalamnya itu lebih parah dan lebih banyak.” (Al-Bahru Al-Muhiith karya Ibnu Hayyan Al-Andalusi, 8: 33)Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala, فإن من حفظ فرجه وبصره، طهر من الخبث الذي يتدنس به أهل الفواحش، وزكت أعماله، بسبب ترك المحرم، الذي تطمع إليه النفس وتدعو إليه، فمن ترك شيئا لله، عوضه الله خيرا منه“Barangsiapa yang menjaga kemaluan dan penglihatan, dirinya akan tersucikan dari berbagai kotoran yang menodai pelaku kemaksiatan; amalnya murni karena meninggalkan keharaman yang menjadi kecondongan dan keinginan jiwa manusia. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah Ta’ala akan mengganti dengan sesuatu yang lebih baik baginya.” (Taisiir Karimirrahman, hal. 660)Oleh karena itu, termasuk di antara tanda kebaikan agama seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat, baik berupa berlebih-lebihan dalam berbicara, memandang dan yang lainnya.Baca Juga: Larangan Mencela Seorang Muslim yang Sudah Bertaubat Dari Dosa MaksiatnyaIbnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,وأكثر المعاصي إنما تولدها من فضول الكلام والنظر وهما أوسع مداخل الشيطان فإن جارحتيهما لا يملأن ولا يسأمان“Mayoritas kemaksiatan semata-mata disebabkan oleh sikap berlebih-lebihan dalam berbicara dan memandang. Keduanya adalah pintu masuk setan yang paling luas. Karena mulut dan mata adalah dua anggota tubuh yang jarang lelah dan bosan.“ (Badaai’ Al-Fawaaid, 2: 820)Maka hendaklah seorang hamba itu berakal lagi cerdas, sehingga dapat memohon kesabaran dan keselamatan kepada Allah Ta’ala; dan memohon agar Allah Ta’ala menutup jalan yang dapat mengantarkannya menuju kebinasaan dan kemaksiatan. Agama adalah harta seseorang yang paling berharga. Menyia-nyiakan, acuh tak acuh terhadap agama, terkandung kerugian di dunia dan di akhirat. Lebih-lebih di zaman kita, dimana berbagai fitnah turun menimpa manusia seperti derasnya hujan. Berbagai pintu syubhat dan syahwat terbuka dengan keberadaan perangkat teknologi terkini, situs-situs asusila, dan program-program televisi amoral, sehingga banyak manusia berjalan menuju kesesatan dan berpaling dari hidayah. Kami meminta keselamatan hanya kepada Allah Ta’ala.Baca Juga: Meninggalkan Maksiat Bukan Karena Allah, Apakah Berpahala? Inilah Pengaruh Shalat Dan Maksiat Terhadap Rezeki  [Bersambung]***@Rumah Lendah, 18 Shafar 1440/ 27 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 25-28, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Nur Muhammad Dalam Al Quran, Tulisan Taawudz, Hadits Sebaik Baiknya Manusia, Kata Kata Sakit Panas, Khutbah Jumat Bulan Rajab 1434 H

10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 3) : Doa Adalah Kunci Penyucian Jiwa

Baca pembahasan sebelumnya Sepuluh Kaidah dalam Mensucikan Jiwa (Bag. 2) Kaidah kedua: Doa adalah kunci penyucian jiwaNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah dibandingkan doa.” (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829, dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahiihul Jaami’, no. 5392)Doa merupakan salah satu ibadah yang paling utama di sisi Allah Ta’ala, karena di dalamnya terkandung sikap menampakkan kelemahan, kefakiran, perendahan diri, hati yang luluh dan pengakuan terhadap kekuatan; kekuasaan; kekayaan dan kemampuan-Nya mengayakan; serta kebesaran-Nya. Bahkan bagi musuh-musuh-Nya (orang musyrik dan kafir), doa adalah solusi atas keputusasaan mereka, apalagi bagi para kekasih dan wali-Nya yang mulia. (Mirqaatul Mafaatih Syarh Misykaatul Mashaabih, 4: 1527)Baca Juga: Mengapa Doaku Belum Dikabulkan?Doa memiliki berpengaruh besar dalam membuka pintu-pintu kebaikan. Sebagaimana perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’la ketika berwasiat kepada Abul Qasim Al-Maghribi,الدعاء مفتاح كل خير“Doa adalah kunci semua kebaikan.” (Majmuu’ Al-Fataawa, 10: 661)Semua kebaikan yang Engkau harapkan dan inginkan, baik berupa kebaikan di dunia dan di akhirat, maka mintalah kepada Allah Ta’ala, bersandarlah kepada-Nya dalam meraih dan mewujudkannya.Allah Ta’ala telah berjanji akan mengabulkan doa orang-orang yang berdoa dan menyandarkan diri kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ“Dan Rabb kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan.” (QS. Ghafir [40]: 60)Amirul mukminin ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata,إني لا أحمل هم الإجابة، ولكن هم الدعاء؛ فإذا ألهمت الدعاء فإن الإجابة معه“Sungguh aku tidak mementingkan tentang kapan suatu doa dikabulkan, justru yang terpenting bagiku adalah bagaimana aku dapat memanjatkan doa. Apabila aku diberi ilham (taufik) agar bisa berdoa, maka sungguh pengabulan doa akan menyertainya.” (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam At-Targhiib, 2: 270)Baca Juga: Doa agar Terhindar dari Hilangnya Nikmat & Bencana yang Tiba-TibaDiriwayatkan dari Mutharrif bin Asy-Syikhir, beliau berkata,تَذَكَّرْتُ مَا جِمَاعُ الْخَيْرِ فَإِذَا الْخَيْرُ كَثِيرٌ: الصَّوْمُ وَالصَّلَاةُ وَإِذَا هُوَ فِي يَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِذَا أَنْتَ لَا تَقْدِرُ عَلَى مَا فِي يَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَنْ تَسْأَلَهُ فَيُعْطِيَكَ، فَإِذَا جِمَاعُ الْخَيْرِ الدُّعَاءُ“Aku merenungkan apakah pokok segala kebaikan, ternyata kebaikan itu banyak. Kebaikan itu mencakup shalat dan puasa, yang urusannya berada di tangan Allah ‘Azza wa Jalla. Apabila ternyata engkau tidak mampu melakukan hal yang berada di tangan Allah, kecuali setelah memohon kepada-Nya, sehingga Dia memberikannya kepadamu, maka hal itu berarti pokok segala kebaikan itu adalah doa.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhd no. 1344)Dalam bab “At-Tazkiyah”, telah valid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berkata dalam doanya,اللهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا“Ya Allah, berikanlah diriku ketakwaan, sucikanlah, karena Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang mensucikannya, Engkaulah yang menguasai dan menjaganya.“ (HR. Muslim no. 2722)Baca Juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi SedekahDalam doa ini terdapat isyarat dan peringatan bahwa penyucian jiwa itu ada di tangan Allah, Dzat Yang mengetahui hal yang ghaib. Sedangkan kunci pembukanya yang agung adalah doa dan merasa butuh di hadapan Allah Ta’ala.Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seringkali berdoa,يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ“Wahai Dzat Yang membolak-balik hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 2140, shahih)Ketika hamba memfokuskan hati; jujur dengan kebutuhan dan kekurangannya, kuat rasa harapnya, tidak tergesa-gesa ingin dikabulkan, dan mencari waktu-waktu berdo’a yang utama, niscaya mustahil doanya ditolak.Faktor terbesar yang dapat membantu kita untuk berdoa adalah menyadari bahwa kesucian jiwa kita terletak di tangan Allah Ta’ala. Allah-lah Dzat yang membersihkan jiwa siapa saja yang Dia kehendaki. Semua urusan adalah milik Allah Ta’ala dan berada di bawah kehendak-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ“Sebenarnya Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 49)Allah Ta’ala berfirman,وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ“Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya. Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya.“ (QS. An-Nuur [24]: 21)Baca Juga: Inilah Sebab-Sebab Terkabulnya DoaIbnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata tentang firman Allah Ta’ala, “niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih” (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu),ما اهتدى منكم من الخلائق لشيء من الخير ينفع به نفسه، ولم يتق شيئا من الشرّ يدفعه عن نفسه“Tidak ada seorang makhluk pun yang dapat memberikan hidayah berupa kebaikan yang bermanfaat untuk dirinya sendiri dan tidak pula menjauhi sesuatu berupa kejelekan yang dia cegah dari dirinya sendiri.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsirnya, 17: 222)Artinya, itu semua adalah semata-mata karunia dari Allah Ta’ala.Al-Barra’ radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْأَحْزَابِ يَنْقُلُ مَعَنَا التُّرَابَ، وَلَقَدْ وَارَى التُّرَابُ بَيَاضَ بَطْنِهِ، وَهُوَ يَقُولُ: وَاللهِ لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا، وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا“Ketika terjadi perang Ahzab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam turut bersama-sama dengan kami mengangkat tanah. Sehingga perut putih beliau menjadi kotor karena tanah. Beliau pun bersenandung, “Ya Allah, sekiranya bukan karena Engkau, tidaklah kami mendapatkan petunjuk, tidaklah kami bersedekah, dan tidaklah kami mendirikan shalat.“ (HR. Bukhari no. 4104 dan Muslim no. 1803)Baca Juga: Orang Islam kok Enggan Berdoa? Hidayah, iman, dan kebaikan, semuanya ada di tangan Allah Ta’ala semata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanamkan hal ini di jiwa para sahabat dan menekankannya berulang-ulang. Di antara pembuka khutbah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ“Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberikan hidayah kepadanya.” (HR. Muslim no. 868 dari riwayat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Abu Dawud no. 1097, Tirmidzi no. 1105, An-Nasa’i no. 3277, Ibnu Majah no. 1892, semuanya dari riwayat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)Hal ini adalah adalah pintu terbesar yang mesti dilalui dalam penyucian jiwa. Barangsiapa yang mengetahui bahwa kebaikan, kesucian dan keistiqamahan jiwanya berada di tangan Allah Ta’ala, dia akan bersandar kepada-Nya. Dia akan menghadap dan memintanya dengan berdoa, dalam kondisi sangat-sangat berharap untuk meraih kesucian, keselamatan, dan keberuntungan jiwanya di dunia dan di akhirat.Baca Juga: Hanya Berdoa Kepada Allah Ta’ala Dalam Urusan Dunia Semata Inilah Manfaatnya Doa Untuk Pemimpin [Bersambung]***@Kantor Jogja, 22 Shafar 1440/ 31 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 13-17, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Nadzor Adalah, Ayat Alquran Tentang Birrul Walidain, Larangan Meninggalkan Shalat, Sembunyikanlah Ibadahmu, Kriteria Istri Idaman Menurut Islam

10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 3) : Doa Adalah Kunci Penyucian Jiwa

Baca pembahasan sebelumnya Sepuluh Kaidah dalam Mensucikan Jiwa (Bag. 2) Kaidah kedua: Doa adalah kunci penyucian jiwaNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah dibandingkan doa.” (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829, dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahiihul Jaami’, no. 5392)Doa merupakan salah satu ibadah yang paling utama di sisi Allah Ta’ala, karena di dalamnya terkandung sikap menampakkan kelemahan, kefakiran, perendahan diri, hati yang luluh dan pengakuan terhadap kekuatan; kekuasaan; kekayaan dan kemampuan-Nya mengayakan; serta kebesaran-Nya. Bahkan bagi musuh-musuh-Nya (orang musyrik dan kafir), doa adalah solusi atas keputusasaan mereka, apalagi bagi para kekasih dan wali-Nya yang mulia. (Mirqaatul Mafaatih Syarh Misykaatul Mashaabih, 4: 1527)Baca Juga: Mengapa Doaku Belum Dikabulkan?Doa memiliki berpengaruh besar dalam membuka pintu-pintu kebaikan. Sebagaimana perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’la ketika berwasiat kepada Abul Qasim Al-Maghribi,الدعاء مفتاح كل خير“Doa adalah kunci semua kebaikan.” (Majmuu’ Al-Fataawa, 10: 661)Semua kebaikan yang Engkau harapkan dan inginkan, baik berupa kebaikan di dunia dan di akhirat, maka mintalah kepada Allah Ta’ala, bersandarlah kepada-Nya dalam meraih dan mewujudkannya.Allah Ta’ala telah berjanji akan mengabulkan doa orang-orang yang berdoa dan menyandarkan diri kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ“Dan Rabb kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan.” (QS. Ghafir [40]: 60)Amirul mukminin ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata,إني لا أحمل هم الإجابة، ولكن هم الدعاء؛ فإذا ألهمت الدعاء فإن الإجابة معه“Sungguh aku tidak mementingkan tentang kapan suatu doa dikabulkan, justru yang terpenting bagiku adalah bagaimana aku dapat memanjatkan doa. Apabila aku diberi ilham (taufik) agar bisa berdoa, maka sungguh pengabulan doa akan menyertainya.” (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam At-Targhiib, 2: 270)Baca Juga: Doa agar Terhindar dari Hilangnya Nikmat & Bencana yang Tiba-TibaDiriwayatkan dari Mutharrif bin Asy-Syikhir, beliau berkata,تَذَكَّرْتُ مَا جِمَاعُ الْخَيْرِ فَإِذَا الْخَيْرُ كَثِيرٌ: الصَّوْمُ وَالصَّلَاةُ وَإِذَا هُوَ فِي يَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِذَا أَنْتَ لَا تَقْدِرُ عَلَى مَا فِي يَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَنْ تَسْأَلَهُ فَيُعْطِيَكَ، فَإِذَا جِمَاعُ الْخَيْرِ الدُّعَاءُ“Aku merenungkan apakah pokok segala kebaikan, ternyata kebaikan itu banyak. Kebaikan itu mencakup shalat dan puasa, yang urusannya berada di tangan Allah ‘Azza wa Jalla. Apabila ternyata engkau tidak mampu melakukan hal yang berada di tangan Allah, kecuali setelah memohon kepada-Nya, sehingga Dia memberikannya kepadamu, maka hal itu berarti pokok segala kebaikan itu adalah doa.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhd no. 1344)Dalam bab “At-Tazkiyah”, telah valid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berkata dalam doanya,اللهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا“Ya Allah, berikanlah diriku ketakwaan, sucikanlah, karena Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang mensucikannya, Engkaulah yang menguasai dan menjaganya.“ (HR. Muslim no. 2722)Baca Juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi SedekahDalam doa ini terdapat isyarat dan peringatan bahwa penyucian jiwa itu ada di tangan Allah, Dzat Yang mengetahui hal yang ghaib. Sedangkan kunci pembukanya yang agung adalah doa dan merasa butuh di hadapan Allah Ta’ala.Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seringkali berdoa,يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ“Wahai Dzat Yang membolak-balik hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 2140, shahih)Ketika hamba memfokuskan hati; jujur dengan kebutuhan dan kekurangannya, kuat rasa harapnya, tidak tergesa-gesa ingin dikabulkan, dan mencari waktu-waktu berdo’a yang utama, niscaya mustahil doanya ditolak.Faktor terbesar yang dapat membantu kita untuk berdoa adalah menyadari bahwa kesucian jiwa kita terletak di tangan Allah Ta’ala. Allah-lah Dzat yang membersihkan jiwa siapa saja yang Dia kehendaki. Semua urusan adalah milik Allah Ta’ala dan berada di bawah kehendak-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ“Sebenarnya Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 49)Allah Ta’ala berfirman,وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ“Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya. Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya.“ (QS. An-Nuur [24]: 21)Baca Juga: Inilah Sebab-Sebab Terkabulnya DoaIbnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata tentang firman Allah Ta’ala, “niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih” (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu),ما اهتدى منكم من الخلائق لشيء من الخير ينفع به نفسه، ولم يتق شيئا من الشرّ يدفعه عن نفسه“Tidak ada seorang makhluk pun yang dapat memberikan hidayah berupa kebaikan yang bermanfaat untuk dirinya sendiri dan tidak pula menjauhi sesuatu berupa kejelekan yang dia cegah dari dirinya sendiri.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsirnya, 17: 222)Artinya, itu semua adalah semata-mata karunia dari Allah Ta’ala.Al-Barra’ radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْأَحْزَابِ يَنْقُلُ مَعَنَا التُّرَابَ، وَلَقَدْ وَارَى التُّرَابُ بَيَاضَ بَطْنِهِ، وَهُوَ يَقُولُ: وَاللهِ لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا، وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا“Ketika terjadi perang Ahzab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam turut bersama-sama dengan kami mengangkat tanah. Sehingga perut putih beliau menjadi kotor karena tanah. Beliau pun bersenandung, “Ya Allah, sekiranya bukan karena Engkau, tidaklah kami mendapatkan petunjuk, tidaklah kami bersedekah, dan tidaklah kami mendirikan shalat.“ (HR. Bukhari no. 4104 dan Muslim no. 1803)Baca Juga: Orang Islam kok Enggan Berdoa? Hidayah, iman, dan kebaikan, semuanya ada di tangan Allah Ta’ala semata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanamkan hal ini di jiwa para sahabat dan menekankannya berulang-ulang. Di antara pembuka khutbah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ“Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberikan hidayah kepadanya.” (HR. Muslim no. 868 dari riwayat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Abu Dawud no. 1097, Tirmidzi no. 1105, An-Nasa’i no. 3277, Ibnu Majah no. 1892, semuanya dari riwayat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)Hal ini adalah adalah pintu terbesar yang mesti dilalui dalam penyucian jiwa. Barangsiapa yang mengetahui bahwa kebaikan, kesucian dan keistiqamahan jiwanya berada di tangan Allah Ta’ala, dia akan bersandar kepada-Nya. Dia akan menghadap dan memintanya dengan berdoa, dalam kondisi sangat-sangat berharap untuk meraih kesucian, keselamatan, dan keberuntungan jiwanya di dunia dan di akhirat.Baca Juga: Hanya Berdoa Kepada Allah Ta’ala Dalam Urusan Dunia Semata Inilah Manfaatnya Doa Untuk Pemimpin [Bersambung]***@Kantor Jogja, 22 Shafar 1440/ 31 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 13-17, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Nadzor Adalah, Ayat Alquran Tentang Birrul Walidain, Larangan Meninggalkan Shalat, Sembunyikanlah Ibadahmu, Kriteria Istri Idaman Menurut Islam
Baca pembahasan sebelumnya Sepuluh Kaidah dalam Mensucikan Jiwa (Bag. 2) Kaidah kedua: Doa adalah kunci penyucian jiwaNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah dibandingkan doa.” (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829, dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahiihul Jaami’, no. 5392)Doa merupakan salah satu ibadah yang paling utama di sisi Allah Ta’ala, karena di dalamnya terkandung sikap menampakkan kelemahan, kefakiran, perendahan diri, hati yang luluh dan pengakuan terhadap kekuatan; kekuasaan; kekayaan dan kemampuan-Nya mengayakan; serta kebesaran-Nya. Bahkan bagi musuh-musuh-Nya (orang musyrik dan kafir), doa adalah solusi atas keputusasaan mereka, apalagi bagi para kekasih dan wali-Nya yang mulia. (Mirqaatul Mafaatih Syarh Misykaatul Mashaabih, 4: 1527)Baca Juga: Mengapa Doaku Belum Dikabulkan?Doa memiliki berpengaruh besar dalam membuka pintu-pintu kebaikan. Sebagaimana perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’la ketika berwasiat kepada Abul Qasim Al-Maghribi,الدعاء مفتاح كل خير“Doa adalah kunci semua kebaikan.” (Majmuu’ Al-Fataawa, 10: 661)Semua kebaikan yang Engkau harapkan dan inginkan, baik berupa kebaikan di dunia dan di akhirat, maka mintalah kepada Allah Ta’ala, bersandarlah kepada-Nya dalam meraih dan mewujudkannya.Allah Ta’ala telah berjanji akan mengabulkan doa orang-orang yang berdoa dan menyandarkan diri kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ“Dan Rabb kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan.” (QS. Ghafir [40]: 60)Amirul mukminin ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata,إني لا أحمل هم الإجابة، ولكن هم الدعاء؛ فإذا ألهمت الدعاء فإن الإجابة معه“Sungguh aku tidak mementingkan tentang kapan suatu doa dikabulkan, justru yang terpenting bagiku adalah bagaimana aku dapat memanjatkan doa. Apabila aku diberi ilham (taufik) agar bisa berdoa, maka sungguh pengabulan doa akan menyertainya.” (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam At-Targhiib, 2: 270)Baca Juga: Doa agar Terhindar dari Hilangnya Nikmat & Bencana yang Tiba-TibaDiriwayatkan dari Mutharrif bin Asy-Syikhir, beliau berkata,تَذَكَّرْتُ مَا جِمَاعُ الْخَيْرِ فَإِذَا الْخَيْرُ كَثِيرٌ: الصَّوْمُ وَالصَّلَاةُ وَإِذَا هُوَ فِي يَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِذَا أَنْتَ لَا تَقْدِرُ عَلَى مَا فِي يَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَنْ تَسْأَلَهُ فَيُعْطِيَكَ، فَإِذَا جِمَاعُ الْخَيْرِ الدُّعَاءُ“Aku merenungkan apakah pokok segala kebaikan, ternyata kebaikan itu banyak. Kebaikan itu mencakup shalat dan puasa, yang urusannya berada di tangan Allah ‘Azza wa Jalla. Apabila ternyata engkau tidak mampu melakukan hal yang berada di tangan Allah, kecuali setelah memohon kepada-Nya, sehingga Dia memberikannya kepadamu, maka hal itu berarti pokok segala kebaikan itu adalah doa.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhd no. 1344)Dalam bab “At-Tazkiyah”, telah valid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berkata dalam doanya,اللهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا“Ya Allah, berikanlah diriku ketakwaan, sucikanlah, karena Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang mensucikannya, Engkaulah yang menguasai dan menjaganya.“ (HR. Muslim no. 2722)Baca Juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi SedekahDalam doa ini terdapat isyarat dan peringatan bahwa penyucian jiwa itu ada di tangan Allah, Dzat Yang mengetahui hal yang ghaib. Sedangkan kunci pembukanya yang agung adalah doa dan merasa butuh di hadapan Allah Ta’ala.Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seringkali berdoa,يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ“Wahai Dzat Yang membolak-balik hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 2140, shahih)Ketika hamba memfokuskan hati; jujur dengan kebutuhan dan kekurangannya, kuat rasa harapnya, tidak tergesa-gesa ingin dikabulkan, dan mencari waktu-waktu berdo’a yang utama, niscaya mustahil doanya ditolak.Faktor terbesar yang dapat membantu kita untuk berdoa adalah menyadari bahwa kesucian jiwa kita terletak di tangan Allah Ta’ala. Allah-lah Dzat yang membersihkan jiwa siapa saja yang Dia kehendaki. Semua urusan adalah milik Allah Ta’ala dan berada di bawah kehendak-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ“Sebenarnya Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 49)Allah Ta’ala berfirman,وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ“Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya. Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya.“ (QS. An-Nuur [24]: 21)Baca Juga: Inilah Sebab-Sebab Terkabulnya DoaIbnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata tentang firman Allah Ta’ala, “niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih” (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu),ما اهتدى منكم من الخلائق لشيء من الخير ينفع به نفسه، ولم يتق شيئا من الشرّ يدفعه عن نفسه“Tidak ada seorang makhluk pun yang dapat memberikan hidayah berupa kebaikan yang bermanfaat untuk dirinya sendiri dan tidak pula menjauhi sesuatu berupa kejelekan yang dia cegah dari dirinya sendiri.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsirnya, 17: 222)Artinya, itu semua adalah semata-mata karunia dari Allah Ta’ala.Al-Barra’ radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْأَحْزَابِ يَنْقُلُ مَعَنَا التُّرَابَ، وَلَقَدْ وَارَى التُّرَابُ بَيَاضَ بَطْنِهِ، وَهُوَ يَقُولُ: وَاللهِ لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا، وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا“Ketika terjadi perang Ahzab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam turut bersama-sama dengan kami mengangkat tanah. Sehingga perut putih beliau menjadi kotor karena tanah. Beliau pun bersenandung, “Ya Allah, sekiranya bukan karena Engkau, tidaklah kami mendapatkan petunjuk, tidaklah kami bersedekah, dan tidaklah kami mendirikan shalat.“ (HR. Bukhari no. 4104 dan Muslim no. 1803)Baca Juga: Orang Islam kok Enggan Berdoa? Hidayah, iman, dan kebaikan, semuanya ada di tangan Allah Ta’ala semata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanamkan hal ini di jiwa para sahabat dan menekankannya berulang-ulang. Di antara pembuka khutbah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ“Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberikan hidayah kepadanya.” (HR. Muslim no. 868 dari riwayat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Abu Dawud no. 1097, Tirmidzi no. 1105, An-Nasa’i no. 3277, Ibnu Majah no. 1892, semuanya dari riwayat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)Hal ini adalah adalah pintu terbesar yang mesti dilalui dalam penyucian jiwa. Barangsiapa yang mengetahui bahwa kebaikan, kesucian dan keistiqamahan jiwanya berada di tangan Allah Ta’ala, dia akan bersandar kepada-Nya. Dia akan menghadap dan memintanya dengan berdoa, dalam kondisi sangat-sangat berharap untuk meraih kesucian, keselamatan, dan keberuntungan jiwanya di dunia dan di akhirat.Baca Juga: Hanya Berdoa Kepada Allah Ta’ala Dalam Urusan Dunia Semata Inilah Manfaatnya Doa Untuk Pemimpin [Bersambung]***@Kantor Jogja, 22 Shafar 1440/ 31 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 13-17, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Nadzor Adalah, Ayat Alquran Tentang Birrul Walidain, Larangan Meninggalkan Shalat, Sembunyikanlah Ibadahmu, Kriteria Istri Idaman Menurut Islam


Baca pembahasan sebelumnya Sepuluh Kaidah dalam Mensucikan Jiwa (Bag. 2) Kaidah kedua: Doa adalah kunci penyucian jiwaNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah dibandingkan doa.” (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829, dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahiihul Jaami’, no. 5392)Doa merupakan salah satu ibadah yang paling utama di sisi Allah Ta’ala, karena di dalamnya terkandung sikap menampakkan kelemahan, kefakiran, perendahan diri, hati yang luluh dan pengakuan terhadap kekuatan; kekuasaan; kekayaan dan kemampuan-Nya mengayakan; serta kebesaran-Nya. Bahkan bagi musuh-musuh-Nya (orang musyrik dan kafir), doa adalah solusi atas keputusasaan mereka, apalagi bagi para kekasih dan wali-Nya yang mulia. (Mirqaatul Mafaatih Syarh Misykaatul Mashaabih, 4: 1527)Baca Juga: Mengapa Doaku Belum Dikabulkan?Doa memiliki berpengaruh besar dalam membuka pintu-pintu kebaikan. Sebagaimana perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’la ketika berwasiat kepada Abul Qasim Al-Maghribi,الدعاء مفتاح كل خير“Doa adalah kunci semua kebaikan.” (Majmuu’ Al-Fataawa, 10: 661)Semua kebaikan yang Engkau harapkan dan inginkan, baik berupa kebaikan di dunia dan di akhirat, maka mintalah kepada Allah Ta’ala, bersandarlah kepada-Nya dalam meraih dan mewujudkannya.Allah Ta’ala telah berjanji akan mengabulkan doa orang-orang yang berdoa dan menyandarkan diri kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ“Dan Rabb kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan.” (QS. Ghafir [40]: 60)Amirul mukminin ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata,إني لا أحمل هم الإجابة، ولكن هم الدعاء؛ فإذا ألهمت الدعاء فإن الإجابة معه“Sungguh aku tidak mementingkan tentang kapan suatu doa dikabulkan, justru yang terpenting bagiku adalah bagaimana aku dapat memanjatkan doa. Apabila aku diberi ilham (taufik) agar bisa berdoa, maka sungguh pengabulan doa akan menyertainya.” (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam At-Targhiib, 2: 270)Baca Juga: Doa agar Terhindar dari Hilangnya Nikmat & Bencana yang Tiba-TibaDiriwayatkan dari Mutharrif bin Asy-Syikhir, beliau berkata,تَذَكَّرْتُ مَا جِمَاعُ الْخَيْرِ فَإِذَا الْخَيْرُ كَثِيرٌ: الصَّوْمُ وَالصَّلَاةُ وَإِذَا هُوَ فِي يَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِذَا أَنْتَ لَا تَقْدِرُ عَلَى مَا فِي يَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَنْ تَسْأَلَهُ فَيُعْطِيَكَ، فَإِذَا جِمَاعُ الْخَيْرِ الدُّعَاءُ“Aku merenungkan apakah pokok segala kebaikan, ternyata kebaikan itu banyak. Kebaikan itu mencakup shalat dan puasa, yang urusannya berada di tangan Allah ‘Azza wa Jalla. Apabila ternyata engkau tidak mampu melakukan hal yang berada di tangan Allah, kecuali setelah memohon kepada-Nya, sehingga Dia memberikannya kepadamu, maka hal itu berarti pokok segala kebaikan itu adalah doa.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhd no. 1344)Dalam bab “At-Tazkiyah”, telah valid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berkata dalam doanya,اللهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا“Ya Allah, berikanlah diriku ketakwaan, sucikanlah, karena Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang mensucikannya, Engkaulah yang menguasai dan menjaganya.“ (HR. Muslim no. 2722)Baca Juga: Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi SedekahDalam doa ini terdapat isyarat dan peringatan bahwa penyucian jiwa itu ada di tangan Allah, Dzat Yang mengetahui hal yang ghaib. Sedangkan kunci pembukanya yang agung adalah doa dan merasa butuh di hadapan Allah Ta’ala.Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seringkali berdoa,يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ“Wahai Dzat Yang membolak-balik hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 2140, shahih)Ketika hamba memfokuskan hati; jujur dengan kebutuhan dan kekurangannya, kuat rasa harapnya, tidak tergesa-gesa ingin dikabulkan, dan mencari waktu-waktu berdo’a yang utama, niscaya mustahil doanya ditolak.Faktor terbesar yang dapat membantu kita untuk berdoa adalah menyadari bahwa kesucian jiwa kita terletak di tangan Allah Ta’ala. Allah-lah Dzat yang membersihkan jiwa siapa saja yang Dia kehendaki. Semua urusan adalah milik Allah Ta’ala dan berada di bawah kehendak-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ“Sebenarnya Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 49)Allah Ta’ala berfirman,وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ“Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya. Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya.“ (QS. An-Nuur [24]: 21)Baca Juga: Inilah Sebab-Sebab Terkabulnya DoaIbnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata tentang firman Allah Ta’ala, “niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih” (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu),ما اهتدى منكم من الخلائق لشيء من الخير ينفع به نفسه، ولم يتق شيئا من الشرّ يدفعه عن نفسه“Tidak ada seorang makhluk pun yang dapat memberikan hidayah berupa kebaikan yang bermanfaat untuk dirinya sendiri dan tidak pula menjauhi sesuatu berupa kejelekan yang dia cegah dari dirinya sendiri.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsirnya, 17: 222)Artinya, itu semua adalah semata-mata karunia dari Allah Ta’ala.Al-Barra’ radhiyallahu ‘anhu berkata,كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْأَحْزَابِ يَنْقُلُ مَعَنَا التُّرَابَ، وَلَقَدْ وَارَى التُّرَابُ بَيَاضَ بَطْنِهِ، وَهُوَ يَقُولُ: وَاللهِ لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا، وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا“Ketika terjadi perang Ahzab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam turut bersama-sama dengan kami mengangkat tanah. Sehingga perut putih beliau menjadi kotor karena tanah. Beliau pun bersenandung, “Ya Allah, sekiranya bukan karena Engkau, tidaklah kami mendapatkan petunjuk, tidaklah kami bersedekah, dan tidaklah kami mendirikan shalat.“ (HR. Bukhari no. 4104 dan Muslim no. 1803)Baca Juga: Orang Islam kok Enggan Berdoa? Hidayah, iman, dan kebaikan, semuanya ada di tangan Allah Ta’ala semata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanamkan hal ini di jiwa para sahabat dan menekankannya berulang-ulang. Di antara pembuka khutbah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ“Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberikan hidayah kepadanya.” (HR. Muslim no. 868 dari riwayat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Abu Dawud no. 1097, Tirmidzi no. 1105, An-Nasa’i no. 3277, Ibnu Majah no. 1892, semuanya dari riwayat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)Hal ini adalah adalah pintu terbesar yang mesti dilalui dalam penyucian jiwa. Barangsiapa yang mengetahui bahwa kebaikan, kesucian dan keistiqamahan jiwanya berada di tangan Allah Ta’ala, dia akan bersandar kepada-Nya. Dia akan menghadap dan memintanya dengan berdoa, dalam kondisi sangat-sangat berharap untuk meraih kesucian, keselamatan, dan keberuntungan jiwanya di dunia dan di akhirat.Baca Juga: Hanya Berdoa Kepada Allah Ta’ala Dalam Urusan Dunia Semata Inilah Manfaatnya Doa Untuk Pemimpin [Bersambung]***@Kantor Jogja, 22 Shafar 1440/ 31 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.IdReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 13-17, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Nadzor Adalah, Ayat Alquran Tentang Birrul Walidain, Larangan Meninggalkan Shalat, Sembunyikanlah Ibadahmu, Kriteria Istri Idaman Menurut Islam

10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 4) : Alquran Adalah Mata Air Penyucian Jiwa

Baca pembahasan sebelumnya Sepuluh Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 3) Kaidah ketiga: Al-Qur’an Al-Karim adalah sumber mata air penyucian jiwaAllah Ta’ala berfirman,لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 164)Al-Qur’an adalah sarana terbesar untuk menyucikan jiwa. Al-Qur’an adalah kitab penyucian jiwa yang menjadi sumber dan mata air penyucian jiwa. Barangsiapa yang menginginkan kesucian jiwa, hendaklah mencarinya dalam Al-Qur’an.Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,ضَمِنَ اللَّهُ لِمَنِ اتَّبَعَ الْقُرْآنَ أَنْ لَا يَضِلَّ فِي الدُّنْيَا وَلَا يَشْقَى فِي الْآخِرَةِ» ، ثُمَّ تَلَا: ” {فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى}“Allah menjamin bagi orang yang mengikuti ajaran Al-Qur’an bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.” Kemudian Ibnu ‘Abbas membacakan ayat (yang artinya), “Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha [20]: 123)” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 35926)Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus [10]: 57)Baca Juga: Hukum Jimat dengan menggunakan Al-Qur’anIbnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,فَالْقُرْآنُ هُوَ الشّفَاءُ التّامّ مِنْ جَمِيعِ الْأَدْوَاءِ الْقَلْبِيّةِ وَالْبَدَنِيّةِ وَأَدْوَاءِ الدّنْيَا وَالْآخِرَةِ“Al-Qur’an adalah obat yang paling sempurna untuk seluruh penyakit hati dan jasmani; serta untuk penyakit dunia dan akhirat.” (Zaadul Ma’aad, 4: 119)Allah Ta’ala berfirman,الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ“Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 121)Yang dimaksud dengan “bacaan yang sebenarnya“ adalah dengan membaca, menghafal, memahami, merenungkan dan mengamalkannya, sebagaimana penjelasan (tafsir) dari para sahabat dan tabi’in.Baca Juga: Tadabbur Alquran, Cara Dahsyat Meningkatkan ImanIbnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,كان الرجلُ منا إذا تعلَّم عشرَ آياتٍ لم يجاوزهن حتى يعرف معانيَهُن والعمل بهن“Dulu, orang-orang di antara kami jika mempelajari sepuluh ayat (dari Al-Qur’an), tidak akan berpindah (ke ayat yang lainnya) sampai dia memahami makna dan mengamalkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad no. 23482)Membaca Al-Qur’an tanpa memahami makna dan mengamalkan isi kandungannya, tidaklah dianggap “membaca” dengan sebenarnya. Oleh karena itu, Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullahu Ta’ala berkata,إنما نزل القرآن ليعمل به، فاتخذ الناس قراءته عملا“Al-Qur’an itu diturunkan semata-mata untuk diamalkan. Sedangkan manusia menyangka dengan cukup membaca Al-Qur’an, mereka telah mengamalkannya.” (Diriwayatkan oleh Al-Aajuri dalam Akhlaq hamalatul Qur’an, hal. 41)Jika Allah Ta’ala memuliakan hamba-Nya dengan (memberikan taufik agar dapat) membaca, merenungkan makna, dan memaksa jiwa dalam mengamalkan al-Quran, niscaya dia akan meraih kesucian jiwa.Baca Juga: Waktu Terbaik Untuk Tadabbur Alqur’an Lebih Utama Menghafal Al-Qur’an Atau Membacanya Ketika Ramadhan? [Bersambung]***@Kantor Jogja, 22 Shafar 1440/ 31 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 18-19, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Hukum Memajang Foto, Hukum Sunat Dalam Islam, Hadist Tentang Imam Mahdi, Kesehatan Muslim, Hukum Nadzar

10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 4) : Alquran Adalah Mata Air Penyucian Jiwa

Baca pembahasan sebelumnya Sepuluh Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 3) Kaidah ketiga: Al-Qur’an Al-Karim adalah sumber mata air penyucian jiwaAllah Ta’ala berfirman,لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 164)Al-Qur’an adalah sarana terbesar untuk menyucikan jiwa. Al-Qur’an adalah kitab penyucian jiwa yang menjadi sumber dan mata air penyucian jiwa. Barangsiapa yang menginginkan kesucian jiwa, hendaklah mencarinya dalam Al-Qur’an.Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,ضَمِنَ اللَّهُ لِمَنِ اتَّبَعَ الْقُرْآنَ أَنْ لَا يَضِلَّ فِي الدُّنْيَا وَلَا يَشْقَى فِي الْآخِرَةِ» ، ثُمَّ تَلَا: ” {فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى}“Allah menjamin bagi orang yang mengikuti ajaran Al-Qur’an bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.” Kemudian Ibnu ‘Abbas membacakan ayat (yang artinya), “Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha [20]: 123)” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 35926)Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus [10]: 57)Baca Juga: Hukum Jimat dengan menggunakan Al-Qur’anIbnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,فَالْقُرْآنُ هُوَ الشّفَاءُ التّامّ مِنْ جَمِيعِ الْأَدْوَاءِ الْقَلْبِيّةِ وَالْبَدَنِيّةِ وَأَدْوَاءِ الدّنْيَا وَالْآخِرَةِ“Al-Qur’an adalah obat yang paling sempurna untuk seluruh penyakit hati dan jasmani; serta untuk penyakit dunia dan akhirat.” (Zaadul Ma’aad, 4: 119)Allah Ta’ala berfirman,الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ“Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 121)Yang dimaksud dengan “bacaan yang sebenarnya“ adalah dengan membaca, menghafal, memahami, merenungkan dan mengamalkannya, sebagaimana penjelasan (tafsir) dari para sahabat dan tabi’in.Baca Juga: Tadabbur Alquran, Cara Dahsyat Meningkatkan ImanIbnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,كان الرجلُ منا إذا تعلَّم عشرَ آياتٍ لم يجاوزهن حتى يعرف معانيَهُن والعمل بهن“Dulu, orang-orang di antara kami jika mempelajari sepuluh ayat (dari Al-Qur’an), tidak akan berpindah (ke ayat yang lainnya) sampai dia memahami makna dan mengamalkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad no. 23482)Membaca Al-Qur’an tanpa memahami makna dan mengamalkan isi kandungannya, tidaklah dianggap “membaca” dengan sebenarnya. Oleh karena itu, Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullahu Ta’ala berkata,إنما نزل القرآن ليعمل به، فاتخذ الناس قراءته عملا“Al-Qur’an itu diturunkan semata-mata untuk diamalkan. Sedangkan manusia menyangka dengan cukup membaca Al-Qur’an, mereka telah mengamalkannya.” (Diriwayatkan oleh Al-Aajuri dalam Akhlaq hamalatul Qur’an, hal. 41)Jika Allah Ta’ala memuliakan hamba-Nya dengan (memberikan taufik agar dapat) membaca, merenungkan makna, dan memaksa jiwa dalam mengamalkan al-Quran, niscaya dia akan meraih kesucian jiwa.Baca Juga: Waktu Terbaik Untuk Tadabbur Alqur’an Lebih Utama Menghafal Al-Qur’an Atau Membacanya Ketika Ramadhan? [Bersambung]***@Kantor Jogja, 22 Shafar 1440/ 31 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 18-19, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Hukum Memajang Foto, Hukum Sunat Dalam Islam, Hadist Tentang Imam Mahdi, Kesehatan Muslim, Hukum Nadzar
Baca pembahasan sebelumnya Sepuluh Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 3) Kaidah ketiga: Al-Qur’an Al-Karim adalah sumber mata air penyucian jiwaAllah Ta’ala berfirman,لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 164)Al-Qur’an adalah sarana terbesar untuk menyucikan jiwa. Al-Qur’an adalah kitab penyucian jiwa yang menjadi sumber dan mata air penyucian jiwa. Barangsiapa yang menginginkan kesucian jiwa, hendaklah mencarinya dalam Al-Qur’an.Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,ضَمِنَ اللَّهُ لِمَنِ اتَّبَعَ الْقُرْآنَ أَنْ لَا يَضِلَّ فِي الدُّنْيَا وَلَا يَشْقَى فِي الْآخِرَةِ» ، ثُمَّ تَلَا: ” {فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى}“Allah menjamin bagi orang yang mengikuti ajaran Al-Qur’an bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.” Kemudian Ibnu ‘Abbas membacakan ayat (yang artinya), “Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha [20]: 123)” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 35926)Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus [10]: 57)Baca Juga: Hukum Jimat dengan menggunakan Al-Qur’anIbnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,فَالْقُرْآنُ هُوَ الشّفَاءُ التّامّ مِنْ جَمِيعِ الْأَدْوَاءِ الْقَلْبِيّةِ وَالْبَدَنِيّةِ وَأَدْوَاءِ الدّنْيَا وَالْآخِرَةِ“Al-Qur’an adalah obat yang paling sempurna untuk seluruh penyakit hati dan jasmani; serta untuk penyakit dunia dan akhirat.” (Zaadul Ma’aad, 4: 119)Allah Ta’ala berfirman,الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ“Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 121)Yang dimaksud dengan “bacaan yang sebenarnya“ adalah dengan membaca, menghafal, memahami, merenungkan dan mengamalkannya, sebagaimana penjelasan (tafsir) dari para sahabat dan tabi’in.Baca Juga: Tadabbur Alquran, Cara Dahsyat Meningkatkan ImanIbnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,كان الرجلُ منا إذا تعلَّم عشرَ آياتٍ لم يجاوزهن حتى يعرف معانيَهُن والعمل بهن“Dulu, orang-orang di antara kami jika mempelajari sepuluh ayat (dari Al-Qur’an), tidak akan berpindah (ke ayat yang lainnya) sampai dia memahami makna dan mengamalkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad no. 23482)Membaca Al-Qur’an tanpa memahami makna dan mengamalkan isi kandungannya, tidaklah dianggap “membaca” dengan sebenarnya. Oleh karena itu, Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullahu Ta’ala berkata,إنما نزل القرآن ليعمل به، فاتخذ الناس قراءته عملا“Al-Qur’an itu diturunkan semata-mata untuk diamalkan. Sedangkan manusia menyangka dengan cukup membaca Al-Qur’an, mereka telah mengamalkannya.” (Diriwayatkan oleh Al-Aajuri dalam Akhlaq hamalatul Qur’an, hal. 41)Jika Allah Ta’ala memuliakan hamba-Nya dengan (memberikan taufik agar dapat) membaca, merenungkan makna, dan memaksa jiwa dalam mengamalkan al-Quran, niscaya dia akan meraih kesucian jiwa.Baca Juga: Waktu Terbaik Untuk Tadabbur Alqur’an Lebih Utama Menghafal Al-Qur’an Atau Membacanya Ketika Ramadhan? [Bersambung]***@Kantor Jogja, 22 Shafar 1440/ 31 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 18-19, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Hukum Memajang Foto, Hukum Sunat Dalam Islam, Hadist Tentang Imam Mahdi, Kesehatan Muslim, Hukum Nadzar


Baca pembahasan sebelumnya Sepuluh Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 3) Kaidah ketiga: Al-Qur’an Al-Karim adalah sumber mata air penyucian jiwaAllah Ta’ala berfirman,لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 164)Al-Qur’an adalah sarana terbesar untuk menyucikan jiwa. Al-Qur’an adalah kitab penyucian jiwa yang menjadi sumber dan mata air penyucian jiwa. Barangsiapa yang menginginkan kesucian jiwa, hendaklah mencarinya dalam Al-Qur’an.Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,ضَمِنَ اللَّهُ لِمَنِ اتَّبَعَ الْقُرْآنَ أَنْ لَا يَضِلَّ فِي الدُّنْيَا وَلَا يَشْقَى فِي الْآخِرَةِ» ، ثُمَّ تَلَا: ” {فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى}“Allah menjamin bagi orang yang mengikuti ajaran Al-Qur’an bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.” Kemudian Ibnu ‘Abbas membacakan ayat (yang artinya), “Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha [20]: 123)” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 35926)Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus [10]: 57)Baca Juga: Hukum Jimat dengan menggunakan Al-Qur’anIbnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,فَالْقُرْآنُ هُوَ الشّفَاءُ التّامّ مِنْ جَمِيعِ الْأَدْوَاءِ الْقَلْبِيّةِ وَالْبَدَنِيّةِ وَأَدْوَاءِ الدّنْيَا وَالْآخِرَةِ“Al-Qur’an adalah obat yang paling sempurna untuk seluruh penyakit hati dan jasmani; serta untuk penyakit dunia dan akhirat.” (Zaadul Ma’aad, 4: 119)Allah Ta’ala berfirman,الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ“Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 121)Yang dimaksud dengan “bacaan yang sebenarnya“ adalah dengan membaca, menghafal, memahami, merenungkan dan mengamalkannya, sebagaimana penjelasan (tafsir) dari para sahabat dan tabi’in.Baca Juga: Tadabbur Alquran, Cara Dahsyat Meningkatkan ImanIbnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,كان الرجلُ منا إذا تعلَّم عشرَ آياتٍ لم يجاوزهن حتى يعرف معانيَهُن والعمل بهن“Dulu, orang-orang di antara kami jika mempelajari sepuluh ayat (dari Al-Qur’an), tidak akan berpindah (ke ayat yang lainnya) sampai dia memahami makna dan mengamalkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad no. 23482)Membaca Al-Qur’an tanpa memahami makna dan mengamalkan isi kandungannya, tidaklah dianggap “membaca” dengan sebenarnya. Oleh karena itu, Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullahu Ta’ala berkata,إنما نزل القرآن ليعمل به، فاتخذ الناس قراءته عملا“Al-Qur’an itu diturunkan semata-mata untuk diamalkan. Sedangkan manusia menyangka dengan cukup membaca Al-Qur’an, mereka telah mengamalkannya.” (Diriwayatkan oleh Al-Aajuri dalam Akhlaq hamalatul Qur’an, hal. 41)Jika Allah Ta’ala memuliakan hamba-Nya dengan (memberikan taufik agar dapat) membaca, merenungkan makna, dan memaksa jiwa dalam mengamalkan al-Quran, niscaya dia akan meraih kesucian jiwa.Baca Juga: Waktu Terbaik Untuk Tadabbur Alqur’an Lebih Utama Menghafal Al-Qur’an Atau Membacanya Ketika Ramadhan? [Bersambung]***@Kantor Jogja, 22 Shafar 1440/ 31 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idReferensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 18-19, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Hukum Memajang Foto, Hukum Sunat Dalam Islam, Hadist Tentang Imam Mahdi, Kesehatan Muslim, Hukum Nadzar

10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 8) : Mengingat Mati dan Perjumpaan dengan Allah

Baca pembahasan sebelumnya: 10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 7)Kaidah ketujuh: Mengingat kematian dan perjumpaan dengan Allah Ta’alaAllah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).“ (QS. Al-Hasyr [59]: 18)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ ، يَعْنِي الْمَوْتَ“Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan.” (yaitu, kematian) (HR. Ibnu Majah no. 4258 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’ 3: 145)Kematian adalah pemisah antara negeri dunia dan negeri akhirat, juga pemisah antara waktu beramal dan waktu pembalasan amal. Juga merupakan batasan yang membedakan antara menyiapkan perbekalan dan menjumpai balasannya. Setelah kematian, tidak ada lagi kesempatan untuk bertaubat dan memohon ampun dari kesalahan. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.” (QS. An-Nisa’ [4]: 18)Baca Juga:  Jadilah Hamba yang Mudah Terenyuh dengan Pesan KematianKematian itu pasti akan menemui dan menjumpai kita, tanpa ada keraguan di dalamnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ“Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu.“ (QS. Al-Jumu’ah [62]: 8)أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.“ (QS. An-Nisa’ [4]: 78)Bersamaan dengan itu, kematian itu mendatangi orang yang sedang tidur dengan tiba-tiba. Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ“Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya.“ (QS. An-Nahl [16]: 61)Baca Juga: Para Salaf Masih Bersemangat Beragama Walaupun Menjelang KematianBetapa banyak orang yang keluar dari rumah dengan mengendarai mobil, lalu dia kembali dengan terbungkus kain kafan. Betapa banyak orang yang berkata kepada istri, “Siapkan makanan untukku”, lalu dia meninggal dan belum sempat memakannya. Betapa banyak orang yang memakai pakaian, mengancingkan baju, lalu yang melepas kancing bajunya adalah orang yang memandikan jenazahnya.Dengan mengingat kematian, terdapat manfaat besar. Dengan mengingat kematian, hati yang lalai menjadi tersadar; hati yang mati menjadi hidup; hamba kembali mau menghadap kepada Allah Ta’ala; serta hilanglah sikap lalai dan berpaling dari ketaatan kepada Allah Ta’ala.Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu berkata,لو فارق ذكر الموت قلبي، خشيت أن يفسد علي قلبي“Seandainya hatiku berpisah dari mengingat kematian, aku khawatir hal itu justru akan merusak hatiku.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhd no. 2210)Baca Juga: Berlindung Dari Kecelakaan Dan Kematian Yang MengerikanSeorang hamba akan senantiasa berada dalam kebaikan selama dia mengingat posisinya di hadapan Allah Ta’ala pada hari kiamat dan tempat kembalinya setelah kematian.Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullahu Ta’ala berkata,مَثَّلْتُ نَفْسِي فِي الْجَنَّةِ، آكُلُ ثِمَارَهَا، وَأَشْرَبُ مِنْ أَنْهَارِهَا، وَأُعَانِقُ أَبْكَارَهَا، ثُمَّ مَثَّلْتُ نَفْسِي فِي النَّارِ، آكُلُ مِنْ زَقُّومِهَا، وَأَشْرَبُ مِنْ صَدِيدِهَا، وَأُعَالِجُ سَلَاسِلَهَا وَأَغْلَالَهَا؛ فَقُلْتُ لِنَفْسِي: أَيْ نَفْسِي، أَيُّ شَيْءٍ تُرِيدِينَ؟، قَالَتْ: أُرِيدُ أَنْ أُرَدَّ إِلَى الدُّنْيَا؛ فَأَعْمَلَ صَالِحًا قَالَ: قُلْتُ: فَأَنْتِ فِي الْأُمْنِيَةِ فَاعْمَلِي“Aku umpamakan diriku sedang berada di surga, memakan buah-buahannya, minum dari sunga-sungainya, dan memeluk bidadari. Kemudian aku umpamakan diriku sedang berada di neraka, aku makan dari buah zaqum, aku minum dari nanah, dan aku berhadapan dengan rantai dan belenggu neraka. Lalu aku berkata kepada diriku, “Wahai jiwaku, mana yang Engkau inginkan?” Jiwaku berkata, “Aku ingin kembali ke dunia dan beramal shalih.” Aku berkata, “Engkau sekarang sedang berada di dunia, maka beramallah.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Muhaasabatun Nafs hal. 26)Berkatalah kepada jiwa juga, “Wahai jiwa, jika aku mati, siapakah yang menshalatkanku setelah aku mati, siapakah yang berpuasa untukku, dan siapakah yang memohonkan ampun untukku dari dosa dan kecerobohanku?”Baca Juga: Ziarah Kuburan Untuk Mengingat Kematian Fenomena Kematian Mendadak [Bersambung]***@Rumah Lendah, 18 Shafar 1440/ 27 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 29-31, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Allah Maha Menyembuhkan Segala Penyakit, Apa Itu Poligami, Dasar Dasar Agama, Sahabat Sunnah, Kumpulan Hadist Shahih Bukhari

10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 8) : Mengingat Mati dan Perjumpaan dengan Allah

Baca pembahasan sebelumnya: 10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 7)Kaidah ketujuh: Mengingat kematian dan perjumpaan dengan Allah Ta’alaAllah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).“ (QS. Al-Hasyr [59]: 18)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ ، يَعْنِي الْمَوْتَ“Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan.” (yaitu, kematian) (HR. Ibnu Majah no. 4258 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’ 3: 145)Kematian adalah pemisah antara negeri dunia dan negeri akhirat, juga pemisah antara waktu beramal dan waktu pembalasan amal. Juga merupakan batasan yang membedakan antara menyiapkan perbekalan dan menjumpai balasannya. Setelah kematian, tidak ada lagi kesempatan untuk bertaubat dan memohon ampun dari kesalahan. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.” (QS. An-Nisa’ [4]: 18)Baca Juga:  Jadilah Hamba yang Mudah Terenyuh dengan Pesan KematianKematian itu pasti akan menemui dan menjumpai kita, tanpa ada keraguan di dalamnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ“Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu.“ (QS. Al-Jumu’ah [62]: 8)أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.“ (QS. An-Nisa’ [4]: 78)Bersamaan dengan itu, kematian itu mendatangi orang yang sedang tidur dengan tiba-tiba. Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ“Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya.“ (QS. An-Nahl [16]: 61)Baca Juga: Para Salaf Masih Bersemangat Beragama Walaupun Menjelang KematianBetapa banyak orang yang keluar dari rumah dengan mengendarai mobil, lalu dia kembali dengan terbungkus kain kafan. Betapa banyak orang yang berkata kepada istri, “Siapkan makanan untukku”, lalu dia meninggal dan belum sempat memakannya. Betapa banyak orang yang memakai pakaian, mengancingkan baju, lalu yang melepas kancing bajunya adalah orang yang memandikan jenazahnya.Dengan mengingat kematian, terdapat manfaat besar. Dengan mengingat kematian, hati yang lalai menjadi tersadar; hati yang mati menjadi hidup; hamba kembali mau menghadap kepada Allah Ta’ala; serta hilanglah sikap lalai dan berpaling dari ketaatan kepada Allah Ta’ala.Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu berkata,لو فارق ذكر الموت قلبي، خشيت أن يفسد علي قلبي“Seandainya hatiku berpisah dari mengingat kematian, aku khawatir hal itu justru akan merusak hatiku.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhd no. 2210)Baca Juga: Berlindung Dari Kecelakaan Dan Kematian Yang MengerikanSeorang hamba akan senantiasa berada dalam kebaikan selama dia mengingat posisinya di hadapan Allah Ta’ala pada hari kiamat dan tempat kembalinya setelah kematian.Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullahu Ta’ala berkata,مَثَّلْتُ نَفْسِي فِي الْجَنَّةِ، آكُلُ ثِمَارَهَا، وَأَشْرَبُ مِنْ أَنْهَارِهَا، وَأُعَانِقُ أَبْكَارَهَا، ثُمَّ مَثَّلْتُ نَفْسِي فِي النَّارِ، آكُلُ مِنْ زَقُّومِهَا، وَأَشْرَبُ مِنْ صَدِيدِهَا، وَأُعَالِجُ سَلَاسِلَهَا وَأَغْلَالَهَا؛ فَقُلْتُ لِنَفْسِي: أَيْ نَفْسِي، أَيُّ شَيْءٍ تُرِيدِينَ؟، قَالَتْ: أُرِيدُ أَنْ أُرَدَّ إِلَى الدُّنْيَا؛ فَأَعْمَلَ صَالِحًا قَالَ: قُلْتُ: فَأَنْتِ فِي الْأُمْنِيَةِ فَاعْمَلِي“Aku umpamakan diriku sedang berada di surga, memakan buah-buahannya, minum dari sunga-sungainya, dan memeluk bidadari. Kemudian aku umpamakan diriku sedang berada di neraka, aku makan dari buah zaqum, aku minum dari nanah, dan aku berhadapan dengan rantai dan belenggu neraka. Lalu aku berkata kepada diriku, “Wahai jiwaku, mana yang Engkau inginkan?” Jiwaku berkata, “Aku ingin kembali ke dunia dan beramal shalih.” Aku berkata, “Engkau sekarang sedang berada di dunia, maka beramallah.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Muhaasabatun Nafs hal. 26)Berkatalah kepada jiwa juga, “Wahai jiwa, jika aku mati, siapakah yang menshalatkanku setelah aku mati, siapakah yang berpuasa untukku, dan siapakah yang memohonkan ampun untukku dari dosa dan kecerobohanku?”Baca Juga: Ziarah Kuburan Untuk Mengingat Kematian Fenomena Kematian Mendadak [Bersambung]***@Rumah Lendah, 18 Shafar 1440/ 27 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 29-31, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Allah Maha Menyembuhkan Segala Penyakit, Apa Itu Poligami, Dasar Dasar Agama, Sahabat Sunnah, Kumpulan Hadist Shahih Bukhari
Baca pembahasan sebelumnya: 10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 7)Kaidah ketujuh: Mengingat kematian dan perjumpaan dengan Allah Ta’alaAllah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).“ (QS. Al-Hasyr [59]: 18)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ ، يَعْنِي الْمَوْتَ“Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan.” (yaitu, kematian) (HR. Ibnu Majah no. 4258 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’ 3: 145)Kematian adalah pemisah antara negeri dunia dan negeri akhirat, juga pemisah antara waktu beramal dan waktu pembalasan amal. Juga merupakan batasan yang membedakan antara menyiapkan perbekalan dan menjumpai balasannya. Setelah kematian, tidak ada lagi kesempatan untuk bertaubat dan memohon ampun dari kesalahan. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.” (QS. An-Nisa’ [4]: 18)Baca Juga:  Jadilah Hamba yang Mudah Terenyuh dengan Pesan KematianKematian itu pasti akan menemui dan menjumpai kita, tanpa ada keraguan di dalamnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ“Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu.“ (QS. Al-Jumu’ah [62]: 8)أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.“ (QS. An-Nisa’ [4]: 78)Bersamaan dengan itu, kematian itu mendatangi orang yang sedang tidur dengan tiba-tiba. Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ“Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya.“ (QS. An-Nahl [16]: 61)Baca Juga: Para Salaf Masih Bersemangat Beragama Walaupun Menjelang KematianBetapa banyak orang yang keluar dari rumah dengan mengendarai mobil, lalu dia kembali dengan terbungkus kain kafan. Betapa banyak orang yang berkata kepada istri, “Siapkan makanan untukku”, lalu dia meninggal dan belum sempat memakannya. Betapa banyak orang yang memakai pakaian, mengancingkan baju, lalu yang melepas kancing bajunya adalah orang yang memandikan jenazahnya.Dengan mengingat kematian, terdapat manfaat besar. Dengan mengingat kematian, hati yang lalai menjadi tersadar; hati yang mati menjadi hidup; hamba kembali mau menghadap kepada Allah Ta’ala; serta hilanglah sikap lalai dan berpaling dari ketaatan kepada Allah Ta’ala.Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu berkata,لو فارق ذكر الموت قلبي، خشيت أن يفسد علي قلبي“Seandainya hatiku berpisah dari mengingat kematian, aku khawatir hal itu justru akan merusak hatiku.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhd no. 2210)Baca Juga: Berlindung Dari Kecelakaan Dan Kematian Yang MengerikanSeorang hamba akan senantiasa berada dalam kebaikan selama dia mengingat posisinya di hadapan Allah Ta’ala pada hari kiamat dan tempat kembalinya setelah kematian.Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullahu Ta’ala berkata,مَثَّلْتُ نَفْسِي فِي الْجَنَّةِ، آكُلُ ثِمَارَهَا، وَأَشْرَبُ مِنْ أَنْهَارِهَا، وَأُعَانِقُ أَبْكَارَهَا، ثُمَّ مَثَّلْتُ نَفْسِي فِي النَّارِ، آكُلُ مِنْ زَقُّومِهَا، وَأَشْرَبُ مِنْ صَدِيدِهَا، وَأُعَالِجُ سَلَاسِلَهَا وَأَغْلَالَهَا؛ فَقُلْتُ لِنَفْسِي: أَيْ نَفْسِي، أَيُّ شَيْءٍ تُرِيدِينَ؟، قَالَتْ: أُرِيدُ أَنْ أُرَدَّ إِلَى الدُّنْيَا؛ فَأَعْمَلَ صَالِحًا قَالَ: قُلْتُ: فَأَنْتِ فِي الْأُمْنِيَةِ فَاعْمَلِي“Aku umpamakan diriku sedang berada di surga, memakan buah-buahannya, minum dari sunga-sungainya, dan memeluk bidadari. Kemudian aku umpamakan diriku sedang berada di neraka, aku makan dari buah zaqum, aku minum dari nanah, dan aku berhadapan dengan rantai dan belenggu neraka. Lalu aku berkata kepada diriku, “Wahai jiwaku, mana yang Engkau inginkan?” Jiwaku berkata, “Aku ingin kembali ke dunia dan beramal shalih.” Aku berkata, “Engkau sekarang sedang berada di dunia, maka beramallah.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Muhaasabatun Nafs hal. 26)Berkatalah kepada jiwa juga, “Wahai jiwa, jika aku mati, siapakah yang menshalatkanku setelah aku mati, siapakah yang berpuasa untukku, dan siapakah yang memohonkan ampun untukku dari dosa dan kecerobohanku?”Baca Juga: Ziarah Kuburan Untuk Mengingat Kematian Fenomena Kematian Mendadak [Bersambung]***@Rumah Lendah, 18 Shafar 1440/ 27 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 29-31, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Allah Maha Menyembuhkan Segala Penyakit, Apa Itu Poligami, Dasar Dasar Agama, Sahabat Sunnah, Kumpulan Hadist Shahih Bukhari


Baca pembahasan sebelumnya: 10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 7)Kaidah ketujuh: Mengingat kematian dan perjumpaan dengan Allah Ta’alaAllah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).“ (QS. Al-Hasyr [59]: 18)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ ، يَعْنِي الْمَوْتَ“Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan.” (yaitu, kematian) (HR. Ibnu Majah no. 4258 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’ 3: 145)Kematian adalah pemisah antara negeri dunia dan negeri akhirat, juga pemisah antara waktu beramal dan waktu pembalasan amal. Juga merupakan batasan yang membedakan antara menyiapkan perbekalan dan menjumpai balasannya. Setelah kematian, tidak ada lagi kesempatan untuk bertaubat dan memohon ampun dari kesalahan. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.” (QS. An-Nisa’ [4]: 18)Baca Juga:  Jadilah Hamba yang Mudah Terenyuh dengan Pesan KematianKematian itu pasti akan menemui dan menjumpai kita, tanpa ada keraguan di dalamnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ“Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu.“ (QS. Al-Jumu’ah [62]: 8)أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.“ (QS. An-Nisa’ [4]: 78)Bersamaan dengan itu, kematian itu mendatangi orang yang sedang tidur dengan tiba-tiba. Allah Ta’ala berfirman,فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ“Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya.“ (QS. An-Nahl [16]: 61)Baca Juga: Para Salaf Masih Bersemangat Beragama Walaupun Menjelang KematianBetapa banyak orang yang keluar dari rumah dengan mengendarai mobil, lalu dia kembali dengan terbungkus kain kafan. Betapa banyak orang yang berkata kepada istri, “Siapkan makanan untukku”, lalu dia meninggal dan belum sempat memakannya. Betapa banyak orang yang memakai pakaian, mengancingkan baju, lalu yang melepas kancing bajunya adalah orang yang memandikan jenazahnya.Dengan mengingat kematian, terdapat manfaat besar. Dengan mengingat kematian, hati yang lalai menjadi tersadar; hati yang mati menjadi hidup; hamba kembali mau menghadap kepada Allah Ta’ala; serta hilanglah sikap lalai dan berpaling dari ketaatan kepada Allah Ta’ala.Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu berkata,لو فارق ذكر الموت قلبي، خشيت أن يفسد علي قلبي“Seandainya hatiku berpisah dari mengingat kematian, aku khawatir hal itu justru akan merusak hatiku.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhd no. 2210)Baca Juga: Berlindung Dari Kecelakaan Dan Kematian Yang MengerikanSeorang hamba akan senantiasa berada dalam kebaikan selama dia mengingat posisinya di hadapan Allah Ta’ala pada hari kiamat dan tempat kembalinya setelah kematian.Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullahu Ta’ala berkata,مَثَّلْتُ نَفْسِي فِي الْجَنَّةِ، آكُلُ ثِمَارَهَا، وَأَشْرَبُ مِنْ أَنْهَارِهَا، وَأُعَانِقُ أَبْكَارَهَا، ثُمَّ مَثَّلْتُ نَفْسِي فِي النَّارِ، آكُلُ مِنْ زَقُّومِهَا، وَأَشْرَبُ مِنْ صَدِيدِهَا، وَأُعَالِجُ سَلَاسِلَهَا وَأَغْلَالَهَا؛ فَقُلْتُ لِنَفْسِي: أَيْ نَفْسِي، أَيُّ شَيْءٍ تُرِيدِينَ؟، قَالَتْ: أُرِيدُ أَنْ أُرَدَّ إِلَى الدُّنْيَا؛ فَأَعْمَلَ صَالِحًا قَالَ: قُلْتُ: فَأَنْتِ فِي الْأُمْنِيَةِ فَاعْمَلِي“Aku umpamakan diriku sedang berada di surga, memakan buah-buahannya, minum dari sunga-sungainya, dan memeluk bidadari. Kemudian aku umpamakan diriku sedang berada di neraka, aku makan dari buah zaqum, aku minum dari nanah, dan aku berhadapan dengan rantai dan belenggu neraka. Lalu aku berkata kepada diriku, “Wahai jiwaku, mana yang Engkau inginkan?” Jiwaku berkata, “Aku ingin kembali ke dunia dan beramal shalih.” Aku berkata, “Engkau sekarang sedang berada di dunia, maka beramallah.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Muhaasabatun Nafs hal. 26)Berkatalah kepada jiwa juga, “Wahai jiwa, jika aku mati, siapakah yang menshalatkanku setelah aku mati, siapakah yang berpuasa untukku, dan siapakah yang memohonkan ampun untukku dari dosa dan kecerobohanku?”Baca Juga: Ziarah Kuburan Untuk Mengingat Kematian Fenomena Kematian Mendadak [Bersambung]***@Rumah Lendah, 18 Shafar 1440/ 27 Oktober 2018Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Referensi:Diterjemahkan dari kitab ‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, hal. 29-31, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala. 🔍 Allah Maha Menyembuhkan Segala Penyakit, Apa Itu Poligami, Dasar Dasar Agama, Sahabat Sunnah, Kumpulan Hadist Shahih Bukhari

Khutbah Jumat: Bermaksiat dengan Gadget

Download   Mungkinkah bermaksiat dengan gadget? Bukan mungkin lagi, namun sering sekali.   Khutbah Pertama   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ   Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang memerintahkan kita untuk terus bertakwa kepada-Nya. Prinsip bertakwa yang penting adalah menjalankan Islam dengan benar. Pada hari Jumat yang penuh berkah ini, kita diperintahkan bershalawat kepada Nabi akhir zaman, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, para sahabat, serta pengikut setia beliau hingga akhir zaman. Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Sekarang bermaksiat semakin berkembang, paling sering saat ini adalah dengan memandang, terutama dengan majunya teknologi saat ini dengan melihat gambar-gambar telanjang lewat sebuah gadget (Handphone). Mungkinkah? Mungkin sekali seperti itu dan inilah penyakit anak muda saat ini, apalagi jauh dari agama, apalagi jauh dari pengawasan, apalagi jauh dari perhatian orang tua. Selain dengan pandangan, juga kadang dengan lisan, kata-kata yang tidak bisa dijaga saat di medsos dan mudahnya terkena pergaulan bebas sehingga akidah pun menjadi rusak.   Beberapa kiat untuk menghindari maksiat dengan gadget (Handphone):   Pertama: Memperbanyak doa   Karena Allah-lah yang menyelamatkan kita dari maksiat. Tanpa pertolongan Allah, sulit kiranya kita bisa selamat. Di antara doa yang bisa diamalkan untuk mata dan lisan hingga kemaluan terjaga adalah doa, اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى “ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MIN SYARRI SAM’II, WA MIN SYARRI BASHARII, WA MIN SYARRI LISANII, WA MIN SYARRI QALBII, WA MIN SYARRI MANIYYI” (artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelakan pada pendengaranku, dari kejelakan pada penglihatanku, dari kejelekan pada lisanku, dari kejelekan pada hatiku, serta dari kejelakan pada mani atau kemaluanku). (HR. An-Nasa’i, no. 5446; Abu Daud, no. 1551; Tirmidzi, no. 3492. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)   Kedua: Jauhi pergaulan yang rusak   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; Ahmad, 2:344. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahihul Jaami’ 3545).   Ketiga: Jangan buat kecewa orang sekitar kita   Sahabat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah! Izinkanlah aku untuk berzina.” Spontan seluruh sahabat yang hadir menoleh kepadanya dan menghardiknya, sambil berkata kepadanya: “Apa-apaan ini!” Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda kepada pemuda itu, “Mendekatlah.” Pemuda itu segera mendekat ke sebelah beliau, lalu ia duduk. Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda kepadanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa ibumu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa ibu-ibu mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa anak gadismu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa anak gadis mereka.” Selanjutnya beliau bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudarimu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpalinya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ayahmu (bibimu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannnya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ayah mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ibumu (bibimu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ibu mereka.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut, dan berdoa: اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan lindungilah kemaluannya.” Semenjak hari itu, pemuda tersebut tidak pernah menoleh ke sesuatu hal (tidak pernah memiliki keinginan untuk berbuat serong atau zina).” (HR. Ahmad, 5:256. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya tsiqah termasuk dalam jajaran perawi shahih)   Keempat: Kurangi begadang malam ketika tidak ada hajat karena maksiat seringnya terjadi pada malam hari   Diriwayatkan dari Abu Barzah, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari, no. 568)   Kelima: Ingat akan suul khatimah (akhir hidup yang jelek) ketika kita bermaksiat   Sebagaimana kata Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ “Sesungguhnya amalan itu dilihat dari akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607)   Keenam: Jangan sampai lupa waktu dengan gadget, karena waktu begitu berharga   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi, no. 2317; Ibnu Majah, no. 3976. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Ketujuh: Ingat semua nikmat akan ditanya, termasuk waktu senggang   Allah Ta’ala berfirman, ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).”  (QS. At Takatsur: 8).   Demikian khutbah pertama ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk bisa menghindarkan diri dari maksiat. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ Khutbah Jumat @ Masjid Jami’ Al-Adha Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Jumat Pahing, 20 Rabi’ul Akhir 1440 H (28 Desember 2018) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskhutbah jumat maksiat

Khutbah Jumat: Bermaksiat dengan Gadget

Download   Mungkinkah bermaksiat dengan gadget? Bukan mungkin lagi, namun sering sekali.   Khutbah Pertama   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ   Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang memerintahkan kita untuk terus bertakwa kepada-Nya. Prinsip bertakwa yang penting adalah menjalankan Islam dengan benar. Pada hari Jumat yang penuh berkah ini, kita diperintahkan bershalawat kepada Nabi akhir zaman, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, para sahabat, serta pengikut setia beliau hingga akhir zaman. Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Sekarang bermaksiat semakin berkembang, paling sering saat ini adalah dengan memandang, terutama dengan majunya teknologi saat ini dengan melihat gambar-gambar telanjang lewat sebuah gadget (Handphone). Mungkinkah? Mungkin sekali seperti itu dan inilah penyakit anak muda saat ini, apalagi jauh dari agama, apalagi jauh dari pengawasan, apalagi jauh dari perhatian orang tua. Selain dengan pandangan, juga kadang dengan lisan, kata-kata yang tidak bisa dijaga saat di medsos dan mudahnya terkena pergaulan bebas sehingga akidah pun menjadi rusak.   Beberapa kiat untuk menghindari maksiat dengan gadget (Handphone):   Pertama: Memperbanyak doa   Karena Allah-lah yang menyelamatkan kita dari maksiat. Tanpa pertolongan Allah, sulit kiranya kita bisa selamat. Di antara doa yang bisa diamalkan untuk mata dan lisan hingga kemaluan terjaga adalah doa, اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى “ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MIN SYARRI SAM’II, WA MIN SYARRI BASHARII, WA MIN SYARRI LISANII, WA MIN SYARRI QALBII, WA MIN SYARRI MANIYYI” (artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelakan pada pendengaranku, dari kejelakan pada penglihatanku, dari kejelekan pada lisanku, dari kejelekan pada hatiku, serta dari kejelakan pada mani atau kemaluanku). (HR. An-Nasa’i, no. 5446; Abu Daud, no. 1551; Tirmidzi, no. 3492. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)   Kedua: Jauhi pergaulan yang rusak   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; Ahmad, 2:344. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahihul Jaami’ 3545).   Ketiga: Jangan buat kecewa orang sekitar kita   Sahabat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah! Izinkanlah aku untuk berzina.” Spontan seluruh sahabat yang hadir menoleh kepadanya dan menghardiknya, sambil berkata kepadanya: “Apa-apaan ini!” Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda kepada pemuda itu, “Mendekatlah.” Pemuda itu segera mendekat ke sebelah beliau, lalu ia duduk. Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda kepadanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa ibumu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa ibu-ibu mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa anak gadismu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa anak gadis mereka.” Selanjutnya beliau bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudarimu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpalinya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ayahmu (bibimu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannnya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ayah mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ibumu (bibimu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ibu mereka.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut, dan berdoa: اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan lindungilah kemaluannya.” Semenjak hari itu, pemuda tersebut tidak pernah menoleh ke sesuatu hal (tidak pernah memiliki keinginan untuk berbuat serong atau zina).” (HR. Ahmad, 5:256. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya tsiqah termasuk dalam jajaran perawi shahih)   Keempat: Kurangi begadang malam ketika tidak ada hajat karena maksiat seringnya terjadi pada malam hari   Diriwayatkan dari Abu Barzah, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari, no. 568)   Kelima: Ingat akan suul khatimah (akhir hidup yang jelek) ketika kita bermaksiat   Sebagaimana kata Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ “Sesungguhnya amalan itu dilihat dari akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607)   Keenam: Jangan sampai lupa waktu dengan gadget, karena waktu begitu berharga   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi, no. 2317; Ibnu Majah, no. 3976. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Ketujuh: Ingat semua nikmat akan ditanya, termasuk waktu senggang   Allah Ta’ala berfirman, ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).”  (QS. At Takatsur: 8).   Demikian khutbah pertama ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk bisa menghindarkan diri dari maksiat. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ Khutbah Jumat @ Masjid Jami’ Al-Adha Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Jumat Pahing, 20 Rabi’ul Akhir 1440 H (28 Desember 2018) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskhutbah jumat maksiat
Download   Mungkinkah bermaksiat dengan gadget? Bukan mungkin lagi, namun sering sekali.   Khutbah Pertama   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ   Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang memerintahkan kita untuk terus bertakwa kepada-Nya. Prinsip bertakwa yang penting adalah menjalankan Islam dengan benar. Pada hari Jumat yang penuh berkah ini, kita diperintahkan bershalawat kepada Nabi akhir zaman, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, para sahabat, serta pengikut setia beliau hingga akhir zaman. Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Sekarang bermaksiat semakin berkembang, paling sering saat ini adalah dengan memandang, terutama dengan majunya teknologi saat ini dengan melihat gambar-gambar telanjang lewat sebuah gadget (Handphone). Mungkinkah? Mungkin sekali seperti itu dan inilah penyakit anak muda saat ini, apalagi jauh dari agama, apalagi jauh dari pengawasan, apalagi jauh dari perhatian orang tua. Selain dengan pandangan, juga kadang dengan lisan, kata-kata yang tidak bisa dijaga saat di medsos dan mudahnya terkena pergaulan bebas sehingga akidah pun menjadi rusak.   Beberapa kiat untuk menghindari maksiat dengan gadget (Handphone):   Pertama: Memperbanyak doa   Karena Allah-lah yang menyelamatkan kita dari maksiat. Tanpa pertolongan Allah, sulit kiranya kita bisa selamat. Di antara doa yang bisa diamalkan untuk mata dan lisan hingga kemaluan terjaga adalah doa, اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى “ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MIN SYARRI SAM’II, WA MIN SYARRI BASHARII, WA MIN SYARRI LISANII, WA MIN SYARRI QALBII, WA MIN SYARRI MANIYYI” (artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelakan pada pendengaranku, dari kejelakan pada penglihatanku, dari kejelekan pada lisanku, dari kejelekan pada hatiku, serta dari kejelakan pada mani atau kemaluanku). (HR. An-Nasa’i, no. 5446; Abu Daud, no. 1551; Tirmidzi, no. 3492. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)   Kedua: Jauhi pergaulan yang rusak   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; Ahmad, 2:344. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahihul Jaami’ 3545).   Ketiga: Jangan buat kecewa orang sekitar kita   Sahabat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah! Izinkanlah aku untuk berzina.” Spontan seluruh sahabat yang hadir menoleh kepadanya dan menghardiknya, sambil berkata kepadanya: “Apa-apaan ini!” Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda kepada pemuda itu, “Mendekatlah.” Pemuda itu segera mendekat ke sebelah beliau, lalu ia duduk. Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda kepadanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa ibumu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa ibu-ibu mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa anak gadismu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa anak gadis mereka.” Selanjutnya beliau bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudarimu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpalinya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ayahmu (bibimu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannnya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ayah mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ibumu (bibimu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ibu mereka.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut, dan berdoa: اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan lindungilah kemaluannya.” Semenjak hari itu, pemuda tersebut tidak pernah menoleh ke sesuatu hal (tidak pernah memiliki keinginan untuk berbuat serong atau zina).” (HR. Ahmad, 5:256. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya tsiqah termasuk dalam jajaran perawi shahih)   Keempat: Kurangi begadang malam ketika tidak ada hajat karena maksiat seringnya terjadi pada malam hari   Diriwayatkan dari Abu Barzah, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari, no. 568)   Kelima: Ingat akan suul khatimah (akhir hidup yang jelek) ketika kita bermaksiat   Sebagaimana kata Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ “Sesungguhnya amalan itu dilihat dari akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607)   Keenam: Jangan sampai lupa waktu dengan gadget, karena waktu begitu berharga   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi, no. 2317; Ibnu Majah, no. 3976. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Ketujuh: Ingat semua nikmat akan ditanya, termasuk waktu senggang   Allah Ta’ala berfirman, ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).”  (QS. At Takatsur: 8).   Demikian khutbah pertama ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk bisa menghindarkan diri dari maksiat. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ Khutbah Jumat @ Masjid Jami’ Al-Adha Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Jumat Pahing, 20 Rabi’ul Akhir 1440 H (28 Desember 2018) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskhutbah jumat maksiat


Download   Mungkinkah bermaksiat dengan gadget? Bukan mungkin lagi, namun sering sekali.   Khutbah Pertama   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ   Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang memerintahkan kita untuk terus bertakwa kepada-Nya. Prinsip bertakwa yang penting adalah menjalankan Islam dengan benar. Pada hari Jumat yang penuh berkah ini, kita diperintahkan bershalawat kepada Nabi akhir zaman, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, para sahabat, serta pengikut setia beliau hingga akhir zaman. Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Sekarang bermaksiat semakin berkembang, paling sering saat ini adalah dengan memandang, terutama dengan majunya teknologi saat ini dengan melihat gambar-gambar telanjang lewat sebuah gadget (Handphone). Mungkinkah? Mungkin sekali seperti itu dan inilah penyakit anak muda saat ini, apalagi jauh dari agama, apalagi jauh dari pengawasan, apalagi jauh dari perhatian orang tua. Selain dengan pandangan, juga kadang dengan lisan, kata-kata yang tidak bisa dijaga saat di medsos dan mudahnya terkena pergaulan bebas sehingga akidah pun menjadi rusak.   Beberapa kiat untuk menghindari maksiat dengan gadget (Handphone):   Pertama: Memperbanyak doa   Karena Allah-lah yang menyelamatkan kita dari maksiat. Tanpa pertolongan Allah, sulit kiranya kita bisa selamat. Di antara doa yang bisa diamalkan untuk mata dan lisan hingga kemaluan terjaga adalah doa, اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى “ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MIN SYARRI SAM’II, WA MIN SYARRI BASHARII, WA MIN SYARRI LISANII, WA MIN SYARRI QALBII, WA MIN SYARRI MANIYYI” (artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelakan pada pendengaranku, dari kejelakan pada penglihatanku, dari kejelekan pada lisanku, dari kejelekan pada hatiku, serta dari kejelakan pada mani atau kemaluanku). (HR. An-Nasa’i, no. 5446; Abu Daud, no. 1551; Tirmidzi, no. 3492. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)   Kedua: Jauhi pergaulan yang rusak   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; Ahmad, 2:344. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahihul Jaami’ 3545).   Ketiga: Jangan buat kecewa orang sekitar kita   Sahabat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah! Izinkanlah aku untuk berzina.” Spontan seluruh sahabat yang hadir menoleh kepadanya dan menghardiknya, sambil berkata kepadanya: “Apa-apaan ini!” Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda kepada pemuda itu, “Mendekatlah.” Pemuda itu segera mendekat ke sebelah beliau, lalu ia duduk. Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda kepadanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa ibumu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa ibu-ibu mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa anak gadismu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa anak gadis mereka.” Selanjutnya beliau bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudarimu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpalinya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ayahmu (bibimu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannnya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ayah mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ibumu (bibimu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ibu mereka.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut, dan berdoa: اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan lindungilah kemaluannya.” Semenjak hari itu, pemuda tersebut tidak pernah menoleh ke sesuatu hal (tidak pernah memiliki keinginan untuk berbuat serong atau zina).” (HR. Ahmad, 5:256. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya tsiqah termasuk dalam jajaran perawi shahih)   Keempat: Kurangi begadang malam ketika tidak ada hajat karena maksiat seringnya terjadi pada malam hari   Diriwayatkan dari Abu Barzah, beliau berkata, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari, no. 568)   Kelima: Ingat akan suul khatimah (akhir hidup yang jelek) ketika kita bermaksiat   Sebagaimana kata Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ “Sesungguhnya amalan itu dilihat dari akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607)   Keenam: Jangan sampai lupa waktu dengan gadget, karena waktu begitu berharga   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi, no. 2317; Ibnu Majah, no. 3976. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Ketujuh: Ingat semua nikmat akan ditanya, termasuk waktu senggang   Allah Ta’ala berfirman, ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).”  (QS. At Takatsur: 8).   Demikian khutbah pertama ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah untuk bisa menghindarkan diri dari maksiat. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ Khutbah Jumat @ Masjid Jami’ Al-Adha Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul Jumat Pahing, 20 Rabi’ul Akhir 1440 H (28 Desember 2018) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagskhutbah jumat maksiat

Faedah Sirah Nabi: Pemboikotan dari Orang Quraisy

Download   Setelah Umar masuk Islam, akhirnya kaum Quraisy melakukan pemboikotan terhadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengikutnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan sehari setelah hari Nahar (Idul Adha) ketika berada di Mina, kita besok akan singgah di Khaif Bani Kinanah, tempat di mana mereka membuat permufakatan kekafiran.” Khaif Bani Kinanah ini dikenal pula dengan sebutan Al-Muhasshab. Di tempat ini, kaum Quraisy dan kaum Kinanah melakukan persengkongkolan untuk memboikot Bani Hasyim dan Bani Al-Muththallib, untuk tidak saling melakukan akad nikah dan bertransaksi jual beli dengan bangsa Quraisy sebelum mereka rela menyerahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum Quraisy. (HR. Bukhari, no. 159 dan Muslim, no. 1314) Di dalam hadits tersebut menunjukkan riwayat asli dari kisah ini, sementara riwayat-riwayat yang disebutkan di dalam kitab-kitab sirah merupakan penjelasan atas sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, bahwa kaum Quraisy dan Kinanah telah melakukan pemufakatan kekafiran.  Artinya, bahwa ketika kaum Quraisy mengetahui pengaruh yang besar bagi masuk Islamnya Hamzah dan Umar radhiyallahu ‘anhu sehingga Islam menyebar ke kabilah-kabilah di Mekah, serta kesepakatan Bani Muththalib dan Bani Hasyim (keluarga besar Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam), baik mereka yang sudah masuk Islam atas dasar keimanannya maupun yang masih kafir atas dasar fanatisme keluarga, untuk membela dan menjaga Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketika Quraisy mengetahui hal tersebut, mereka pun melakukan pertemuan dan akhirnya bersepakat untuk tidak mengadakan hubungan tali pernikahan atau bisnis dan tidak akan berbicara dengan mereka sebelum mereka rela menyerahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka. Untuk mengokohkan kesepakatan tersebut, maka poin-poinnya mereka tulis dalam satu lembar papan lalu mereka gantungkan di tembok Ka’bah. Ibnu Ishaq mengatakan, “Maka Bani Hasyim dan Bani Al-Muththalib ikut bergabung seluruhnya dengan Abu Thalib, kecuali Abu Lahab karena ia bergabung dengan orang Quraisy. Permulaan pemboikotan ini terjadi pada hari pertama bulan Muharram tahun ketujuh kenabian.” Lihat Fath Al-Bari, 7:192.   Boikot, Tidak Ajak Bicara Menurut Aturan Islam   Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا ، وَخَيْرُهُمَا الَّذِى يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ “Tidak halal bagi seseorang memutuskan hubungan dengan saudaranya sesama muslim melebihi tiga hari, keduanya saling bertemu namun saling mengacuhkan satu sama lain. Yang terbaik antara keduanya adalah yang memulai menegur dengan mengucapkan salam.” (HR. Bukhari, no. 6077  dan Muslim, no. 2560) Ibnu Abdi Al-Barr berkata, “Para ulama bersepakat bahwasannya tidak diperkenankan bagi seorang muslim memutuskan hubungannya dengan sesama muslim yang lain melebihi tiga hari. Hal ini dikecualikan jika memang ia khawatir apabila berhubungan dan mengajak bicara dengannya akan mengakibatkan kerancuan dalam beragama atau akan menimbulkan dalam dirinya apa yang bisa membahayakan urusan agama dan dunianya. Jika memang itu yang dikhawatirkan akan terjadi apabila berhubungan dengan pelaku maksiat maka dibolehkan menjauhinya. Boleh jadi orang yang kelihatannya keras tapi memiliki hati yang mulia, itu lebih baik daripada orang yang sering bercengkerama dan bergaul dengan kita tetapi seringkali pula dia menyakiti kita.” Diambil dari kitab Tharhu At-Tatsrieb, 8:99. Masih berlanjut tentang tema pemboikotan ini. Semoga bermanfaat.   Referensi: Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. https://islamqa.info/id/answers/21878/dilarang-memutuskan-hubungan-atau-tidak-saling-bertegur-sapa-dengan-sesama-muslim-karena-perbedaan-sudut-pandang — Disusun Jumat sore, 20 Rabi’ul Akhir 1440 H di #darushsholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsboikot faedah sirah nabi sirah nabi umar bin khaththab

Faedah Sirah Nabi: Pemboikotan dari Orang Quraisy

Download   Setelah Umar masuk Islam, akhirnya kaum Quraisy melakukan pemboikotan terhadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengikutnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan sehari setelah hari Nahar (Idul Adha) ketika berada di Mina, kita besok akan singgah di Khaif Bani Kinanah, tempat di mana mereka membuat permufakatan kekafiran.” Khaif Bani Kinanah ini dikenal pula dengan sebutan Al-Muhasshab. Di tempat ini, kaum Quraisy dan kaum Kinanah melakukan persengkongkolan untuk memboikot Bani Hasyim dan Bani Al-Muththallib, untuk tidak saling melakukan akad nikah dan bertransaksi jual beli dengan bangsa Quraisy sebelum mereka rela menyerahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum Quraisy. (HR. Bukhari, no. 159 dan Muslim, no. 1314) Di dalam hadits tersebut menunjukkan riwayat asli dari kisah ini, sementara riwayat-riwayat yang disebutkan di dalam kitab-kitab sirah merupakan penjelasan atas sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, bahwa kaum Quraisy dan Kinanah telah melakukan pemufakatan kekafiran.  Artinya, bahwa ketika kaum Quraisy mengetahui pengaruh yang besar bagi masuk Islamnya Hamzah dan Umar radhiyallahu ‘anhu sehingga Islam menyebar ke kabilah-kabilah di Mekah, serta kesepakatan Bani Muththalib dan Bani Hasyim (keluarga besar Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam), baik mereka yang sudah masuk Islam atas dasar keimanannya maupun yang masih kafir atas dasar fanatisme keluarga, untuk membela dan menjaga Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketika Quraisy mengetahui hal tersebut, mereka pun melakukan pertemuan dan akhirnya bersepakat untuk tidak mengadakan hubungan tali pernikahan atau bisnis dan tidak akan berbicara dengan mereka sebelum mereka rela menyerahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka. Untuk mengokohkan kesepakatan tersebut, maka poin-poinnya mereka tulis dalam satu lembar papan lalu mereka gantungkan di tembok Ka’bah. Ibnu Ishaq mengatakan, “Maka Bani Hasyim dan Bani Al-Muththalib ikut bergabung seluruhnya dengan Abu Thalib, kecuali Abu Lahab karena ia bergabung dengan orang Quraisy. Permulaan pemboikotan ini terjadi pada hari pertama bulan Muharram tahun ketujuh kenabian.” Lihat Fath Al-Bari, 7:192.   Boikot, Tidak Ajak Bicara Menurut Aturan Islam   Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا ، وَخَيْرُهُمَا الَّذِى يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ “Tidak halal bagi seseorang memutuskan hubungan dengan saudaranya sesama muslim melebihi tiga hari, keduanya saling bertemu namun saling mengacuhkan satu sama lain. Yang terbaik antara keduanya adalah yang memulai menegur dengan mengucapkan salam.” (HR. Bukhari, no. 6077  dan Muslim, no. 2560) Ibnu Abdi Al-Barr berkata, “Para ulama bersepakat bahwasannya tidak diperkenankan bagi seorang muslim memutuskan hubungannya dengan sesama muslim yang lain melebihi tiga hari. Hal ini dikecualikan jika memang ia khawatir apabila berhubungan dan mengajak bicara dengannya akan mengakibatkan kerancuan dalam beragama atau akan menimbulkan dalam dirinya apa yang bisa membahayakan urusan agama dan dunianya. Jika memang itu yang dikhawatirkan akan terjadi apabila berhubungan dengan pelaku maksiat maka dibolehkan menjauhinya. Boleh jadi orang yang kelihatannya keras tapi memiliki hati yang mulia, itu lebih baik daripada orang yang sering bercengkerama dan bergaul dengan kita tetapi seringkali pula dia menyakiti kita.” Diambil dari kitab Tharhu At-Tatsrieb, 8:99. Masih berlanjut tentang tema pemboikotan ini. Semoga bermanfaat.   Referensi: Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. https://islamqa.info/id/answers/21878/dilarang-memutuskan-hubungan-atau-tidak-saling-bertegur-sapa-dengan-sesama-muslim-karena-perbedaan-sudut-pandang — Disusun Jumat sore, 20 Rabi’ul Akhir 1440 H di #darushsholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsboikot faedah sirah nabi sirah nabi umar bin khaththab
Download   Setelah Umar masuk Islam, akhirnya kaum Quraisy melakukan pemboikotan terhadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengikutnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan sehari setelah hari Nahar (Idul Adha) ketika berada di Mina, kita besok akan singgah di Khaif Bani Kinanah, tempat di mana mereka membuat permufakatan kekafiran.” Khaif Bani Kinanah ini dikenal pula dengan sebutan Al-Muhasshab. Di tempat ini, kaum Quraisy dan kaum Kinanah melakukan persengkongkolan untuk memboikot Bani Hasyim dan Bani Al-Muththallib, untuk tidak saling melakukan akad nikah dan bertransaksi jual beli dengan bangsa Quraisy sebelum mereka rela menyerahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum Quraisy. (HR. Bukhari, no. 159 dan Muslim, no. 1314) Di dalam hadits tersebut menunjukkan riwayat asli dari kisah ini, sementara riwayat-riwayat yang disebutkan di dalam kitab-kitab sirah merupakan penjelasan atas sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, bahwa kaum Quraisy dan Kinanah telah melakukan pemufakatan kekafiran.  Artinya, bahwa ketika kaum Quraisy mengetahui pengaruh yang besar bagi masuk Islamnya Hamzah dan Umar radhiyallahu ‘anhu sehingga Islam menyebar ke kabilah-kabilah di Mekah, serta kesepakatan Bani Muththalib dan Bani Hasyim (keluarga besar Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam), baik mereka yang sudah masuk Islam atas dasar keimanannya maupun yang masih kafir atas dasar fanatisme keluarga, untuk membela dan menjaga Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketika Quraisy mengetahui hal tersebut, mereka pun melakukan pertemuan dan akhirnya bersepakat untuk tidak mengadakan hubungan tali pernikahan atau bisnis dan tidak akan berbicara dengan mereka sebelum mereka rela menyerahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka. Untuk mengokohkan kesepakatan tersebut, maka poin-poinnya mereka tulis dalam satu lembar papan lalu mereka gantungkan di tembok Ka’bah. Ibnu Ishaq mengatakan, “Maka Bani Hasyim dan Bani Al-Muththalib ikut bergabung seluruhnya dengan Abu Thalib, kecuali Abu Lahab karena ia bergabung dengan orang Quraisy. Permulaan pemboikotan ini terjadi pada hari pertama bulan Muharram tahun ketujuh kenabian.” Lihat Fath Al-Bari, 7:192.   Boikot, Tidak Ajak Bicara Menurut Aturan Islam   Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا ، وَخَيْرُهُمَا الَّذِى يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ “Tidak halal bagi seseorang memutuskan hubungan dengan saudaranya sesama muslim melebihi tiga hari, keduanya saling bertemu namun saling mengacuhkan satu sama lain. Yang terbaik antara keduanya adalah yang memulai menegur dengan mengucapkan salam.” (HR. Bukhari, no. 6077  dan Muslim, no. 2560) Ibnu Abdi Al-Barr berkata, “Para ulama bersepakat bahwasannya tidak diperkenankan bagi seorang muslim memutuskan hubungannya dengan sesama muslim yang lain melebihi tiga hari. Hal ini dikecualikan jika memang ia khawatir apabila berhubungan dan mengajak bicara dengannya akan mengakibatkan kerancuan dalam beragama atau akan menimbulkan dalam dirinya apa yang bisa membahayakan urusan agama dan dunianya. Jika memang itu yang dikhawatirkan akan terjadi apabila berhubungan dengan pelaku maksiat maka dibolehkan menjauhinya. Boleh jadi orang yang kelihatannya keras tapi memiliki hati yang mulia, itu lebih baik daripada orang yang sering bercengkerama dan bergaul dengan kita tetapi seringkali pula dia menyakiti kita.” Diambil dari kitab Tharhu At-Tatsrieb, 8:99. Masih berlanjut tentang tema pemboikotan ini. Semoga bermanfaat.   Referensi: Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. https://islamqa.info/id/answers/21878/dilarang-memutuskan-hubungan-atau-tidak-saling-bertegur-sapa-dengan-sesama-muslim-karena-perbedaan-sudut-pandang — Disusun Jumat sore, 20 Rabi’ul Akhir 1440 H di #darushsholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsboikot faedah sirah nabi sirah nabi umar bin khaththab


Download   Setelah Umar masuk Islam, akhirnya kaum Quraisy melakukan pemboikotan terhadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengikutnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan sehari setelah hari Nahar (Idul Adha) ketika berada di Mina, kita besok akan singgah di Khaif Bani Kinanah, tempat di mana mereka membuat permufakatan kekafiran.” Khaif Bani Kinanah ini dikenal pula dengan sebutan Al-Muhasshab. Di tempat ini, kaum Quraisy dan kaum Kinanah melakukan persengkongkolan untuk memboikot Bani Hasyim dan Bani Al-Muththallib, untuk tidak saling melakukan akad nikah dan bertransaksi jual beli dengan bangsa Quraisy sebelum mereka rela menyerahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum Quraisy. (HR. Bukhari, no. 159 dan Muslim, no. 1314) Di dalam hadits tersebut menunjukkan riwayat asli dari kisah ini, sementara riwayat-riwayat yang disebutkan di dalam kitab-kitab sirah merupakan penjelasan atas sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, bahwa kaum Quraisy dan Kinanah telah melakukan pemufakatan kekafiran.  Artinya, bahwa ketika kaum Quraisy mengetahui pengaruh yang besar bagi masuk Islamnya Hamzah dan Umar radhiyallahu ‘anhu sehingga Islam menyebar ke kabilah-kabilah di Mekah, serta kesepakatan Bani Muththalib dan Bani Hasyim (keluarga besar Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam), baik mereka yang sudah masuk Islam atas dasar keimanannya maupun yang masih kafir atas dasar fanatisme keluarga, untuk membela dan menjaga Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketika Quraisy mengetahui hal tersebut, mereka pun melakukan pertemuan dan akhirnya bersepakat untuk tidak mengadakan hubungan tali pernikahan atau bisnis dan tidak akan berbicara dengan mereka sebelum mereka rela menyerahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka. Untuk mengokohkan kesepakatan tersebut, maka poin-poinnya mereka tulis dalam satu lembar papan lalu mereka gantungkan di tembok Ka’bah. Ibnu Ishaq mengatakan, “Maka Bani Hasyim dan Bani Al-Muththalib ikut bergabung seluruhnya dengan Abu Thalib, kecuali Abu Lahab karena ia bergabung dengan orang Quraisy. Permulaan pemboikotan ini terjadi pada hari pertama bulan Muharram tahun ketujuh kenabian.” Lihat Fath Al-Bari, 7:192.   Boikot, Tidak Ajak Bicara Menurut Aturan Islam   Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا ، وَخَيْرُهُمَا الَّذِى يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ “Tidak halal bagi seseorang memutuskan hubungan dengan saudaranya sesama muslim melebihi tiga hari, keduanya saling bertemu namun saling mengacuhkan satu sama lain. Yang terbaik antara keduanya adalah yang memulai menegur dengan mengucapkan salam.” (HR. Bukhari, no. 6077  dan Muslim, no. 2560) Ibnu Abdi Al-Barr berkata, “Para ulama bersepakat bahwasannya tidak diperkenankan bagi seorang muslim memutuskan hubungannya dengan sesama muslim yang lain melebihi tiga hari. Hal ini dikecualikan jika memang ia khawatir apabila berhubungan dan mengajak bicara dengannya akan mengakibatkan kerancuan dalam beragama atau akan menimbulkan dalam dirinya apa yang bisa membahayakan urusan agama dan dunianya. Jika memang itu yang dikhawatirkan akan terjadi apabila berhubungan dengan pelaku maksiat maka dibolehkan menjauhinya. Boleh jadi orang yang kelihatannya keras tapi memiliki hati yang mulia, itu lebih baik daripada orang yang sering bercengkerama dan bergaul dengan kita tetapi seringkali pula dia menyakiti kita.” Diambil dari kitab Tharhu At-Tatsrieb, 8:99. Masih berlanjut tentang tema pemboikotan ini. Semoga bermanfaat.   Referensi: Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. https://islamqa.info/id/answers/21878/dilarang-memutuskan-hubungan-atau-tidak-saling-bertegur-sapa-dengan-sesama-muslim-karena-perbedaan-sudut-pandang — Disusun Jumat sore, 20 Rabi’ul Akhir 1440 H di #darushsholihin Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsboikot faedah sirah nabi sirah nabi umar bin khaththab

Hukum Guru Mengajar Les Sampingan Bagi Siswa

Guru Mengajar Les Sampingan Bagi Siswa Jika ada guru yang mengajar matematika, lalu ada siswa yang meminta utk les d luar kelas, dengan biaya tertentu, apakah ini dibolehkan? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Pertanyaan semacam ini pernah disampaikan kepada Imam Abdul Aziz Ibnu Baz – rahimahullah –. Teks pertanyaan, يتساءل بعض الطلاب عن الاستعانة ببعض المدرسين لتدريسهم خارج المدرسة فيما لم يفقهوه مقابل مبلغ من المال ، علماً بأن الطالب هو الذي يلح على المدرس في ذلك وهل يختلف الحكم إذا كان الطالب يدرس عند المدرس في نفس المدرسة ؟ Sebagian siswa bertanya tentang hukum meminta tolong ke beberapa guru agar mengajar tambahan di luar kelas, untuk materi yang tidak mereka pahami, dengan membayar biaya tertentu. Dengan catatan, bahwa sang siswa yang meminta guru untuk melakukan itu. Apakah hukumnya berbeda jika yang meminta diadakan les adalah guru yang mengajar di sekolah tersebut? Jawaban Syaikh Ibnu Baz, لا بأس أن يستعين الطالب بالمدرس خارج غرفة التدريس في أن يعلمه ويفقهه في المواد التي يدرسها ، سواء كان المدرس هو الذي يدرسه أو مع مدرس آخر ، إلا إذا كانت التعليمات لدى المدرسة تمنع من ذلك ، فعلى الطالب أن يلتزم بالتعليمات التي توجه إليه Tidak masalah siswa meminta tolong guru untuk les tambahan materi yang dia ajarkan di luar kelas. Baik beliau guru materi tersebut atau guru yang lain. Kecuali jika ada aturan di sekolah yang melarang hal itu, sehingga semua siswa wajib mentaati aturan yang berlaku baginya. Beliau melanjutkan, أما إذا لم يكن هناك تعليمات تمنع فلا مانع من أن يكون بعض الأساتذة يدرسونه ويعلمونه في خارج أوقات الدراسة في بيته أو في المسجد ولا حرج في ذلك Namun jika di sana tidak ada aturan yang melarang hal itu, maka tidak masalah sebagian guru mengajar les tambahan di luar waktu belajar, baik di rumahnya atau di masjid. Semacam ini tidak masalah. [Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Imam Ibnu Baz. 8/279]. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Tanya Jawab Hukum Islam, Doa Istiharah, Hukum Orang Tua Melarang Anaknya Menikah, Hukum Merayakan Ulang Tahun Menurut Ulama Salaf, Kandungan Air Mani Wanita, Sholat Setelah Sholat Jumat Visited 132 times, 1 visit(s) today Post Views: 300 QRIS donasi Yufid

Hukum Guru Mengajar Les Sampingan Bagi Siswa

Guru Mengajar Les Sampingan Bagi Siswa Jika ada guru yang mengajar matematika, lalu ada siswa yang meminta utk les d luar kelas, dengan biaya tertentu, apakah ini dibolehkan? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Pertanyaan semacam ini pernah disampaikan kepada Imam Abdul Aziz Ibnu Baz – rahimahullah –. Teks pertanyaan, يتساءل بعض الطلاب عن الاستعانة ببعض المدرسين لتدريسهم خارج المدرسة فيما لم يفقهوه مقابل مبلغ من المال ، علماً بأن الطالب هو الذي يلح على المدرس في ذلك وهل يختلف الحكم إذا كان الطالب يدرس عند المدرس في نفس المدرسة ؟ Sebagian siswa bertanya tentang hukum meminta tolong ke beberapa guru agar mengajar tambahan di luar kelas, untuk materi yang tidak mereka pahami, dengan membayar biaya tertentu. Dengan catatan, bahwa sang siswa yang meminta guru untuk melakukan itu. Apakah hukumnya berbeda jika yang meminta diadakan les adalah guru yang mengajar di sekolah tersebut? Jawaban Syaikh Ibnu Baz, لا بأس أن يستعين الطالب بالمدرس خارج غرفة التدريس في أن يعلمه ويفقهه في المواد التي يدرسها ، سواء كان المدرس هو الذي يدرسه أو مع مدرس آخر ، إلا إذا كانت التعليمات لدى المدرسة تمنع من ذلك ، فعلى الطالب أن يلتزم بالتعليمات التي توجه إليه Tidak masalah siswa meminta tolong guru untuk les tambahan materi yang dia ajarkan di luar kelas. Baik beliau guru materi tersebut atau guru yang lain. Kecuali jika ada aturan di sekolah yang melarang hal itu, sehingga semua siswa wajib mentaati aturan yang berlaku baginya. Beliau melanjutkan, أما إذا لم يكن هناك تعليمات تمنع فلا مانع من أن يكون بعض الأساتذة يدرسونه ويعلمونه في خارج أوقات الدراسة في بيته أو في المسجد ولا حرج في ذلك Namun jika di sana tidak ada aturan yang melarang hal itu, maka tidak masalah sebagian guru mengajar les tambahan di luar waktu belajar, baik di rumahnya atau di masjid. Semacam ini tidak masalah. [Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Imam Ibnu Baz. 8/279]. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Tanya Jawab Hukum Islam, Doa Istiharah, Hukum Orang Tua Melarang Anaknya Menikah, Hukum Merayakan Ulang Tahun Menurut Ulama Salaf, Kandungan Air Mani Wanita, Sholat Setelah Sholat Jumat Visited 132 times, 1 visit(s) today Post Views: 300 QRIS donasi Yufid
Guru Mengajar Les Sampingan Bagi Siswa Jika ada guru yang mengajar matematika, lalu ada siswa yang meminta utk les d luar kelas, dengan biaya tertentu, apakah ini dibolehkan? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Pertanyaan semacam ini pernah disampaikan kepada Imam Abdul Aziz Ibnu Baz – rahimahullah –. Teks pertanyaan, يتساءل بعض الطلاب عن الاستعانة ببعض المدرسين لتدريسهم خارج المدرسة فيما لم يفقهوه مقابل مبلغ من المال ، علماً بأن الطالب هو الذي يلح على المدرس في ذلك وهل يختلف الحكم إذا كان الطالب يدرس عند المدرس في نفس المدرسة ؟ Sebagian siswa bertanya tentang hukum meminta tolong ke beberapa guru agar mengajar tambahan di luar kelas, untuk materi yang tidak mereka pahami, dengan membayar biaya tertentu. Dengan catatan, bahwa sang siswa yang meminta guru untuk melakukan itu. Apakah hukumnya berbeda jika yang meminta diadakan les adalah guru yang mengajar di sekolah tersebut? Jawaban Syaikh Ibnu Baz, لا بأس أن يستعين الطالب بالمدرس خارج غرفة التدريس في أن يعلمه ويفقهه في المواد التي يدرسها ، سواء كان المدرس هو الذي يدرسه أو مع مدرس آخر ، إلا إذا كانت التعليمات لدى المدرسة تمنع من ذلك ، فعلى الطالب أن يلتزم بالتعليمات التي توجه إليه Tidak masalah siswa meminta tolong guru untuk les tambahan materi yang dia ajarkan di luar kelas. Baik beliau guru materi tersebut atau guru yang lain. Kecuali jika ada aturan di sekolah yang melarang hal itu, sehingga semua siswa wajib mentaati aturan yang berlaku baginya. Beliau melanjutkan, أما إذا لم يكن هناك تعليمات تمنع فلا مانع من أن يكون بعض الأساتذة يدرسونه ويعلمونه في خارج أوقات الدراسة في بيته أو في المسجد ولا حرج في ذلك Namun jika di sana tidak ada aturan yang melarang hal itu, maka tidak masalah sebagian guru mengajar les tambahan di luar waktu belajar, baik di rumahnya atau di masjid. Semacam ini tidak masalah. [Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Imam Ibnu Baz. 8/279]. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Tanya Jawab Hukum Islam, Doa Istiharah, Hukum Orang Tua Melarang Anaknya Menikah, Hukum Merayakan Ulang Tahun Menurut Ulama Salaf, Kandungan Air Mani Wanita, Sholat Setelah Sholat Jumat Visited 132 times, 1 visit(s) today Post Views: 300 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/554370948&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Guru Mengajar Les Sampingan Bagi Siswa Jika ada guru yang mengajar matematika, lalu ada siswa yang meminta utk les d luar kelas, dengan biaya tertentu, apakah ini dibolehkan? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Pertanyaan semacam ini pernah disampaikan kepada Imam Abdul Aziz Ibnu Baz – rahimahullah –. Teks pertanyaan, يتساءل بعض الطلاب عن الاستعانة ببعض المدرسين لتدريسهم خارج المدرسة فيما لم يفقهوه مقابل مبلغ من المال ، علماً بأن الطالب هو الذي يلح على المدرس في ذلك وهل يختلف الحكم إذا كان الطالب يدرس عند المدرس في نفس المدرسة ؟ Sebagian siswa bertanya tentang hukum meminta tolong ke beberapa guru agar mengajar tambahan di luar kelas, untuk materi yang tidak mereka pahami, dengan membayar biaya tertentu. Dengan catatan, bahwa sang siswa yang meminta guru untuk melakukan itu. Apakah hukumnya berbeda jika yang meminta diadakan les adalah guru yang mengajar di sekolah tersebut? Jawaban Syaikh Ibnu Baz, لا بأس أن يستعين الطالب بالمدرس خارج غرفة التدريس في أن يعلمه ويفقهه في المواد التي يدرسها ، سواء كان المدرس هو الذي يدرسه أو مع مدرس آخر ، إلا إذا كانت التعليمات لدى المدرسة تمنع من ذلك ، فعلى الطالب أن يلتزم بالتعليمات التي توجه إليه Tidak masalah siswa meminta tolong guru untuk les tambahan materi yang dia ajarkan di luar kelas. Baik beliau guru materi tersebut atau guru yang lain. Kecuali jika ada aturan di sekolah yang melarang hal itu, sehingga semua siswa wajib mentaati aturan yang berlaku baginya. Beliau melanjutkan, أما إذا لم يكن هناك تعليمات تمنع فلا مانع من أن يكون بعض الأساتذة يدرسونه ويعلمونه في خارج أوقات الدراسة في بيته أو في المسجد ولا حرج في ذلك Namun jika di sana tidak ada aturan yang melarang hal itu, maka tidak masalah sebagian guru mengajar les tambahan di luar waktu belajar, baik di rumahnya atau di masjid. Semacam ini tidak masalah. [Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Imam Ibnu Baz. 8/279]. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Tanya Jawab Hukum Islam, Doa Istiharah, Hukum Orang Tua Melarang Anaknya Menikah, Hukum Merayakan Ulang Tahun Menurut Ulama Salaf, Kandungan Air Mani Wanita, Sholat Setelah Sholat Jumat Visited 132 times, 1 visit(s) today Post Views: 300 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />
Prev     Next