Serial Fiqih Pendidikan Anak No 166 – HIBURAN BAGI YANG TIDAK DIKARUNIAI ANAK

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 166 HIBURAN BAGI YANG TIDAK DIKARUNIAI ANAKTidak bisa dipungkiri bahwa pasangan suami istri yang normal, tentu sangat menantikan kehadiran anak pasca menikah. Itu sudah merupakan tabiat manusia normal. Pria berharap ada anak yang melanjutkan nasabnya. Wanita berharap bisa menyalurkan naluri keibuannya. Menimang, menyusui, merawat dan mengungkapkan perasaan sayangnya kepada anak.Manusia boleh berkehendak. Namun pada akhirnya, kehendak Allah lah yang menentukan segala sesuatu. Dalam firman-Nya dijelaskan,“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ”Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan anak laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang dikehendaki-Nya. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Realita yang termaktub di ayat di atas bahkan juga dialami oleh para Nabi dan Rasul ‘alaihimush shalatu was salam. Nabi Luth ‘alaihissalam semua anaknya perempuan, beliau tidak memiliki anak laki-laki. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak memiliki anak perempuan, semua anaknya laki-laki. Nabi Adam ‘alaihissalam dan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam_ dikaruniai anak laki-laki dan perempuan. Sedangkan Nabi Yahya ‘alaihissalam tidak dikaruniai anak. Lihat: Tafsîr al-Baghawiy (7/200) dan Tafsîr al-Qurthubiy (18/502).Jika para manusia istimewa tersebut di atas saja mengalami kondisi ini, apalagi manusia biasa.Ayat barusan ditutup dengan dua nama Allah: Al-‘Alîm (Maha Mengetahui) dan Al-Qadîr (Maha Kuasa). Ini menarik untuk kita renungkan. Bahwa Allah menakdirkan beragam macam kondisi orang tua dipandang dari sisi karunia anak; sebab Dia Maha Mengetahui siapakah di antara hamba-Nya yang berhak mendapat karunia tersebut dan siapa yang tidak. Selain itu Allah juga Maha Kuasa untuk menakdirkan kondisi yang berbeda-beda tersebut. Lihat: Tafsîr Ibn Katsîr (7/216).Keterangan di atas bukan untuk menghalangi manusia berikhtiar agar mempunyai anak. Selama ikhtiar itu dibenarkan agama. Namun untuk menjelaskan bahwa yang akan menentukan berhasil atau tidaknya ikhtiar tersebut adalah Allah ta’ala.Peluang Itu Tidak PunahTernyata tidak memiliki anak di dunia, bukan berarti tidak bisa memilikinya di akhirat. Yang penting ia adalah mukmin dan menjadi ahli surga. Hadits berikut menjelaskan,« المُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الوَلَدَ فِي الجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِي سَاعَةٍ كَمَا يَشْتَهِي»“Seorang mukmin yang sangat ingin memiliki anak, di surga kelak ia bisa mengandungnya, melahirkannya dan tumbuh besar dalam sesaat, sesuai dengan yang ia inginkan”. HR. Tirmidziy dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban serta al-Albaniy.Ini adalah satu bukti kebenaran firman Allah ta’ala,“وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الأنْفُسُ وَتَلَذُّ الأعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ”Artinya: “Di dalamnya (surga) terdapat segala apa yang diinginkan hati dan indah (dipandang) mata, serta kalian kekal di dalamnya”. QS. Az-Zukhruf (43): 71.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Dzulhijjah 1443 / 4 Juli 2022Artikel: tunasilmu.com Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 165 SAAT KEHILANGAN BUAH HATINext SAAT PANGGILAN ITU TIBA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 166 – HIBURAN BAGI YANG TIDAK DIKARUNIAI ANAK

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 166 HIBURAN BAGI YANG TIDAK DIKARUNIAI ANAKTidak bisa dipungkiri bahwa pasangan suami istri yang normal, tentu sangat menantikan kehadiran anak pasca menikah. Itu sudah merupakan tabiat manusia normal. Pria berharap ada anak yang melanjutkan nasabnya. Wanita berharap bisa menyalurkan naluri keibuannya. Menimang, menyusui, merawat dan mengungkapkan perasaan sayangnya kepada anak.Manusia boleh berkehendak. Namun pada akhirnya, kehendak Allah lah yang menentukan segala sesuatu. Dalam firman-Nya dijelaskan,“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ”Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan anak laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang dikehendaki-Nya. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Realita yang termaktub di ayat di atas bahkan juga dialami oleh para Nabi dan Rasul ‘alaihimush shalatu was salam. Nabi Luth ‘alaihissalam semua anaknya perempuan, beliau tidak memiliki anak laki-laki. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak memiliki anak perempuan, semua anaknya laki-laki. Nabi Adam ‘alaihissalam dan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam_ dikaruniai anak laki-laki dan perempuan. Sedangkan Nabi Yahya ‘alaihissalam tidak dikaruniai anak. Lihat: Tafsîr al-Baghawiy (7/200) dan Tafsîr al-Qurthubiy (18/502).Jika para manusia istimewa tersebut di atas saja mengalami kondisi ini, apalagi manusia biasa.Ayat barusan ditutup dengan dua nama Allah: Al-‘Alîm (Maha Mengetahui) dan Al-Qadîr (Maha Kuasa). Ini menarik untuk kita renungkan. Bahwa Allah menakdirkan beragam macam kondisi orang tua dipandang dari sisi karunia anak; sebab Dia Maha Mengetahui siapakah di antara hamba-Nya yang berhak mendapat karunia tersebut dan siapa yang tidak. Selain itu Allah juga Maha Kuasa untuk menakdirkan kondisi yang berbeda-beda tersebut. Lihat: Tafsîr Ibn Katsîr (7/216).Keterangan di atas bukan untuk menghalangi manusia berikhtiar agar mempunyai anak. Selama ikhtiar itu dibenarkan agama. Namun untuk menjelaskan bahwa yang akan menentukan berhasil atau tidaknya ikhtiar tersebut adalah Allah ta’ala.Peluang Itu Tidak PunahTernyata tidak memiliki anak di dunia, bukan berarti tidak bisa memilikinya di akhirat. Yang penting ia adalah mukmin dan menjadi ahli surga. Hadits berikut menjelaskan,« المُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الوَلَدَ فِي الجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِي سَاعَةٍ كَمَا يَشْتَهِي»“Seorang mukmin yang sangat ingin memiliki anak, di surga kelak ia bisa mengandungnya, melahirkannya dan tumbuh besar dalam sesaat, sesuai dengan yang ia inginkan”. HR. Tirmidziy dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban serta al-Albaniy.Ini adalah satu bukti kebenaran firman Allah ta’ala,“وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الأنْفُسُ وَتَلَذُّ الأعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ”Artinya: “Di dalamnya (surga) terdapat segala apa yang diinginkan hati dan indah (dipandang) mata, serta kalian kekal di dalamnya”. QS. Az-Zukhruf (43): 71.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Dzulhijjah 1443 / 4 Juli 2022Artikel: tunasilmu.com Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 165 SAAT KEHILANGAN BUAH HATINext SAAT PANGGILAN ITU TIBA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 166 HIBURAN BAGI YANG TIDAK DIKARUNIAI ANAKTidak bisa dipungkiri bahwa pasangan suami istri yang normal, tentu sangat menantikan kehadiran anak pasca menikah. Itu sudah merupakan tabiat manusia normal. Pria berharap ada anak yang melanjutkan nasabnya. Wanita berharap bisa menyalurkan naluri keibuannya. Menimang, menyusui, merawat dan mengungkapkan perasaan sayangnya kepada anak.Manusia boleh berkehendak. Namun pada akhirnya, kehendak Allah lah yang menentukan segala sesuatu. Dalam firman-Nya dijelaskan,“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ”Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan anak laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang dikehendaki-Nya. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Realita yang termaktub di ayat di atas bahkan juga dialami oleh para Nabi dan Rasul ‘alaihimush shalatu was salam. Nabi Luth ‘alaihissalam semua anaknya perempuan, beliau tidak memiliki anak laki-laki. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak memiliki anak perempuan, semua anaknya laki-laki. Nabi Adam ‘alaihissalam dan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam_ dikaruniai anak laki-laki dan perempuan. Sedangkan Nabi Yahya ‘alaihissalam tidak dikaruniai anak. Lihat: Tafsîr al-Baghawiy (7/200) dan Tafsîr al-Qurthubiy (18/502).Jika para manusia istimewa tersebut di atas saja mengalami kondisi ini, apalagi manusia biasa.Ayat barusan ditutup dengan dua nama Allah: Al-‘Alîm (Maha Mengetahui) dan Al-Qadîr (Maha Kuasa). Ini menarik untuk kita renungkan. Bahwa Allah menakdirkan beragam macam kondisi orang tua dipandang dari sisi karunia anak; sebab Dia Maha Mengetahui siapakah di antara hamba-Nya yang berhak mendapat karunia tersebut dan siapa yang tidak. Selain itu Allah juga Maha Kuasa untuk menakdirkan kondisi yang berbeda-beda tersebut. Lihat: Tafsîr Ibn Katsîr (7/216).Keterangan di atas bukan untuk menghalangi manusia berikhtiar agar mempunyai anak. Selama ikhtiar itu dibenarkan agama. Namun untuk menjelaskan bahwa yang akan menentukan berhasil atau tidaknya ikhtiar tersebut adalah Allah ta’ala.Peluang Itu Tidak PunahTernyata tidak memiliki anak di dunia, bukan berarti tidak bisa memilikinya di akhirat. Yang penting ia adalah mukmin dan menjadi ahli surga. Hadits berikut menjelaskan,« المُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الوَلَدَ فِي الجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِي سَاعَةٍ كَمَا يَشْتَهِي»“Seorang mukmin yang sangat ingin memiliki anak, di surga kelak ia bisa mengandungnya, melahirkannya dan tumbuh besar dalam sesaat, sesuai dengan yang ia inginkan”. HR. Tirmidziy dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban serta al-Albaniy.Ini adalah satu bukti kebenaran firman Allah ta’ala,“وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الأنْفُسُ وَتَلَذُّ الأعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ”Artinya: “Di dalamnya (surga) terdapat segala apa yang diinginkan hati dan indah (dipandang) mata, serta kalian kekal di dalamnya”. QS. Az-Zukhruf (43): 71.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Dzulhijjah 1443 / 4 Juli 2022Artikel: tunasilmu.com Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 165 SAAT KEHILANGAN BUAH HATINext SAAT PANGGILAN ITU TIBA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 166 HIBURAN BAGI YANG TIDAK DIKARUNIAI ANAKTidak bisa dipungkiri bahwa pasangan suami istri yang normal, tentu sangat menantikan kehadiran anak pasca menikah. Itu sudah merupakan tabiat manusia normal. Pria berharap ada anak yang melanjutkan nasabnya. Wanita berharap bisa menyalurkan naluri keibuannya. Menimang, menyusui, merawat dan mengungkapkan perasaan sayangnya kepada anak.Manusia boleh berkehendak. Namun pada akhirnya, kehendak Allah lah yang menentukan segala sesuatu. Dalam firman-Nya dijelaskan,“لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ”Artinya: “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan anak laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan mandul siapa yang dikehendaki-Nya. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa”. QS. Asy-Syura (42): 49-50.Realita yang termaktub di ayat di atas bahkan juga dialami oleh para Nabi dan Rasul ‘alaihimush shalatu was salam. Nabi Luth ‘alaihissalam semua anaknya perempuan, beliau tidak memiliki anak laki-laki. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak memiliki anak perempuan, semua anaknya laki-laki. Nabi Adam ‘alaihissalam dan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam_ dikaruniai anak laki-laki dan perempuan. Sedangkan Nabi Yahya ‘alaihissalam tidak dikaruniai anak. Lihat: Tafsîr al-Baghawiy (7/200) dan Tafsîr al-Qurthubiy (18/502).Jika para manusia istimewa tersebut di atas saja mengalami kondisi ini, apalagi manusia biasa.Ayat barusan ditutup dengan dua nama Allah: Al-‘Alîm (Maha Mengetahui) dan Al-Qadîr (Maha Kuasa). Ini menarik untuk kita renungkan. Bahwa Allah menakdirkan beragam macam kondisi orang tua dipandang dari sisi karunia anak; sebab Dia Maha Mengetahui siapakah di antara hamba-Nya yang berhak mendapat karunia tersebut dan siapa yang tidak. Selain itu Allah juga Maha Kuasa untuk menakdirkan kondisi yang berbeda-beda tersebut. Lihat: Tafsîr Ibn Katsîr (7/216).Keterangan di atas bukan untuk menghalangi manusia berikhtiar agar mempunyai anak. Selama ikhtiar itu dibenarkan agama. Namun untuk menjelaskan bahwa yang akan menentukan berhasil atau tidaknya ikhtiar tersebut adalah Allah ta’ala.Peluang Itu Tidak PunahTernyata tidak memiliki anak di dunia, bukan berarti tidak bisa memilikinya di akhirat. Yang penting ia adalah mukmin dan menjadi ahli surga. Hadits berikut menjelaskan,« المُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الوَلَدَ فِي الجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِي سَاعَةٍ كَمَا يَشْتَهِي»“Seorang mukmin yang sangat ingin memiliki anak, di surga kelak ia bisa mengandungnya, melahirkannya dan tumbuh besar dalam sesaat, sesuai dengan yang ia inginkan”. HR. Tirmidziy dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban serta al-Albaniy.Ini adalah satu bukti kebenaran firman Allah ta’ala,“وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الأنْفُسُ وَتَلَذُّ الأعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ”Artinya: “Di dalamnya (surga) terdapat segala apa yang diinginkan hati dan indah (dipandang) mata, serta kalian kekal di dalamnya”. QS. Az-Zukhruf (43): 71.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Dzulhijjah 1443 / 4 Juli 2022Artikel: tunasilmu.com Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 165 SAAT KEHILANGAN BUAH HATINext SAAT PANGGILAN ITU TIBA Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

SAAT PANGGILAN ITU TIBA

SAAT PANGGILAN ITU TIBAKetika adzan dikumandangkan, tinggalkan seluruh aktivitas sepenting apapun. Entah itu meeting dengan rekan bisnis, belajar agama, bekerja di sawah atau memasak di dapur. Tinggalkan itu semua!Apalagi bila aktivitas itu tidak penting. Semisal bermain gadget, menonton televisi atau ngobrol ngalor ngidul. Segera penuhi panggilan Allah; hayya ‘alash shalâh (mari tunaikan shalat).Ketahuilah bahwa seluruh aktivitas akan terasa kecil, bila muadzin telah mengumandangkan Allahu akbar Allahu akbar (Allah Maha besar, Allah maha besar).Singkirkan selimut tebal, tinggalkan kasur empuk, lawan rasa kantuk, sucikan tubuh dengan basuhan air wudhu dan bergegaslah memenuhi panggilan Sang Penguasa alam semesta. Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 166 – HIBURAN BAGI YANG TIDAK DIKARUNIAI ANAKNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 188: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

SAAT PANGGILAN ITU TIBA

SAAT PANGGILAN ITU TIBAKetika adzan dikumandangkan, tinggalkan seluruh aktivitas sepenting apapun. Entah itu meeting dengan rekan bisnis, belajar agama, bekerja di sawah atau memasak di dapur. Tinggalkan itu semua!Apalagi bila aktivitas itu tidak penting. Semisal bermain gadget, menonton televisi atau ngobrol ngalor ngidul. Segera penuhi panggilan Allah; hayya ‘alash shalâh (mari tunaikan shalat).Ketahuilah bahwa seluruh aktivitas akan terasa kecil, bila muadzin telah mengumandangkan Allahu akbar Allahu akbar (Allah Maha besar, Allah maha besar).Singkirkan selimut tebal, tinggalkan kasur empuk, lawan rasa kantuk, sucikan tubuh dengan basuhan air wudhu dan bergegaslah memenuhi panggilan Sang Penguasa alam semesta. Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 166 – HIBURAN BAGI YANG TIDAK DIKARUNIAI ANAKNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 188: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
SAAT PANGGILAN ITU TIBAKetika adzan dikumandangkan, tinggalkan seluruh aktivitas sepenting apapun. Entah itu meeting dengan rekan bisnis, belajar agama, bekerja di sawah atau memasak di dapur. Tinggalkan itu semua!Apalagi bila aktivitas itu tidak penting. Semisal bermain gadget, menonton televisi atau ngobrol ngalor ngidul. Segera penuhi panggilan Allah; hayya ‘alash shalâh (mari tunaikan shalat).Ketahuilah bahwa seluruh aktivitas akan terasa kecil, bila muadzin telah mengumandangkan Allahu akbar Allahu akbar (Allah Maha besar, Allah maha besar).Singkirkan selimut tebal, tinggalkan kasur empuk, lawan rasa kantuk, sucikan tubuh dengan basuhan air wudhu dan bergegaslah memenuhi panggilan Sang Penguasa alam semesta. Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 166 – HIBURAN BAGI YANG TIDAK DIKARUNIAI ANAKNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 188: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


SAAT PANGGILAN ITU TIBAKetika adzan dikumandangkan, tinggalkan seluruh aktivitas sepenting apapun. Entah itu meeting dengan rekan bisnis, belajar agama, bekerja di sawah atau memasak di dapur. Tinggalkan itu semua!Apalagi bila aktivitas itu tidak penting. Semisal bermain gadget, menonton televisi atau ngobrol ngalor ngidul. Segera penuhi panggilan Allah; hayya ‘alash shalâh (mari tunaikan shalat).Ketahuilah bahwa seluruh aktivitas akan terasa kecil, bila muadzin telah mengumandangkan Allahu akbar Allahu akbar (Allah Maha besar, Allah maha besar).Singkirkan selimut tebal, tinggalkan kasur empuk, lawan rasa kantuk, sucikan tubuh dengan basuhan air wudhu dan bergegaslah memenuhi panggilan Sang Penguasa alam semesta. Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 166 – HIBURAN BAGI YANG TIDAK DIKARUNIAI ANAKNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 188: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 188: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 188DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KETUJUH:Membaca Surat al-Kafirun sebanyak satu kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 109. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 6 ayat.Dalil Landasanعَنْ فَرْوَةَ بْنِ نَوْفَلٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِنَوْفَلٍ: “اقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنْ الشِّرْكِ”.Dari Farwah bin Naufal, dari ayahnya, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda kepada Naufal, “Bacalah “Qul yâ ayyuhal kâfirûn” (Surat al-Kafirun). Lalu tidurlah sesudah engkau selesai membacanya. Sungguh itu adalah bentuk berlepas diri dari kesyirikan”. HR. Abu Dawud (no. 5055). Isnâd hadits ini dinilai sahih oleh al-Hâkim (No. 2121) dan Ibn Hajar.Renungan KandunganTema umum surat mulia ini adalah: pemaparan prinsip barâ’ah (penolakan, berlepas diri) dari kekufuran dan para penganutnya. Serta penegasan akan tamâyuz (diferensiasi, pembedaan) total antara Islam dengan kesyirikan.Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma menerangkan, “Di dalam al-Qur’an tidak ada yang lebih menjengkelkan dan dibenci Iblis, dibanding surat al-Kafirun. Karena isinya adalah tauhid dan penolakan terhadap syirik”.Ayat-ayat surat al-Kafirun datang untuk mempertegas tema umum surat mulia ini. Karena tema tersebut sangat urgen dan prinsipil, maka didukunglah dengan berbagai penegasan berikut:Penegasan pertama: Di ayat ke-1, Allah ta’ala memerintahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memanggil orang-orang kafir dengan panggilan “Yâ ayyuhal kâfirûn” (Wahai orang-orang kafir). Padahal Al-Qur’an tidak biasa memanggil mereka dengan cara yang ‘blak-blakan’ semacam ini. Yang lebih umum digunakan dalam Al-Qur’an adalah khitâb (sapaan) semacam “Yâ ayyuhan nâs” (Wahai sekalian manusia) dan semisalnya.Penegasan kedua: Pada ayat ke-2 لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ dan ke-4 وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyatakan secara tegas, jelas dan terbuka kepada mereka—dan tentu sekaligus kepada setiap orang kafir sepanjang masa—bahwa beliau (begitu pula ummatnya) sama sekali tidak akan pernah (baca: tidak dibenarkan sama sekali) menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir.Penegasan ketiga: Di ayat ke-3 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ dan ke-5 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ Allah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menegaskan juga dengan jelas dan terbuka bahwa, orang-orang kafir pada hakikatnya tidak akan pernah benar-benar menyembah-Nya. Di mana hal ini bisa pula kita pahami sebagai larangan atas orang kafir untuk ikut-ikutan melakukan praktek peribadatan kepada Allah, sementara mereka masih berada dalam kekafirannya. Mereka baru boleh melakukan berbagai praktek peribadatan tersebut jika mereka sudah masuk ke dalam agama Islam.Sebab tidak ada manfaatnya untuk mereka, ikut-ikutan menjalankan praktek peribadatan Islam, selama mereka belum memegang kunci masuk Islam, yakni syahadat.Penegasan keempat: Allah lebih menegaskan hal kedua dan ketiga di atas dengan melakukan pengulangan ayat. Di mana kandungan makna ayat ke-2 لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ diulang dalam ayat ke-4 وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ dengan sedikit perubahan redaksi nash. Sedang ayat ke-3 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ diulang dalam ayat ke-5 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ dengan redaksi nash yang sama persis.Adanya pengulangan ini merupakan peniadaan atas realitas, sekaligus larangan yang bersifat total dan menyeluruh; yang mencakup semua waktu; yang lalu, kini, yang akan datang dan selamanya. Serta mencakup seluruh bentuk dan macam peribadatan.Penegasan kelima: Allah memungkasi dan menyempurnakan semua hal di atas dengan penegasan terakhir dalam firman-Nya: ’Lakum diinukum wa liya diin’ (Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku). Di mana kalimat penutup yang singkat ini memberikan sebuah penegasan sikap atas tidak bolehnya pencampuran antara agama Islam dan agama lainnya. Jika Islam ya Islam tanpa boleh dicampur dengan unsur-unsur agama lainnya. Demikian pula sebaliknya. Ayat ini juga memupus harapan orang-orang kafir yang menginginkan kita untuk mengikuti dan terlibat dalam peribadatan-peribadatan mereka.Pluralitas Yes, Pluralisme NoPluralisme agama adalah: suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.Istilah yang mirip dengan “pluralisme agama” namun berbeda maknanya adalah “pluralitas agama”. Term kedua ini bermakna: sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.Islam adalah agama yang sejak awal mengakui keberagaman. Salah satu aplikasi nyatanya adalah konsep “tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam”. Karena itu, kaum Muslim dilarang keras memaksa orang lain memeluk Islam, meskipun kaum Muslim diwajibkan menyampaikan dakwah Islam. Bahkan, kaum Muslim diwajibkan menghormati dan berbuat baik kepada orang tuanya yang belum masuk Islam. Sejarah Islam membuktikan bagaimana tingginya sikap toleran kaum Muslim terhadap pemeluk agama lain.Namun, dalam konsepsi Islam adalah mustahil untuk menyatakan bahwa semua agama, paham, atau isme adalah benar dan jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan. Sebab faktanya, begitu banyak agama yang jelas-jelas salah dalam pandangan Islam. Maka, ada perbedaan mendasar antara mengakui “adanya keberagaman agama” dengan “mengakui kebenaran semua agama”. Yang pertama bisa dikatakan sebagai mengakui Pluralitas Agama, sedangkan yang kedua adalah mengakui Pluralitas Agama. Islam mengakui adanya perbedaan dan keberagaman, tetapi jelas tidak mengakui bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah dan benar menuju Tuhan yang satu.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Dzulqa’dah 1443 / 27 Juni 2022 Post navigation Previous SAAT PANGGILAN ITU TIBANext Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 H Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 188: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 188DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KETUJUH:Membaca Surat al-Kafirun sebanyak satu kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 109. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 6 ayat.Dalil Landasanعَنْ فَرْوَةَ بْنِ نَوْفَلٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِنَوْفَلٍ: “اقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنْ الشِّرْكِ”.Dari Farwah bin Naufal, dari ayahnya, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda kepada Naufal, “Bacalah “Qul yâ ayyuhal kâfirûn” (Surat al-Kafirun). Lalu tidurlah sesudah engkau selesai membacanya. Sungguh itu adalah bentuk berlepas diri dari kesyirikan”. HR. Abu Dawud (no. 5055). Isnâd hadits ini dinilai sahih oleh al-Hâkim (No. 2121) dan Ibn Hajar.Renungan KandunganTema umum surat mulia ini adalah: pemaparan prinsip barâ’ah (penolakan, berlepas diri) dari kekufuran dan para penganutnya. Serta penegasan akan tamâyuz (diferensiasi, pembedaan) total antara Islam dengan kesyirikan.Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma menerangkan, “Di dalam al-Qur’an tidak ada yang lebih menjengkelkan dan dibenci Iblis, dibanding surat al-Kafirun. Karena isinya adalah tauhid dan penolakan terhadap syirik”.Ayat-ayat surat al-Kafirun datang untuk mempertegas tema umum surat mulia ini. Karena tema tersebut sangat urgen dan prinsipil, maka didukunglah dengan berbagai penegasan berikut:Penegasan pertama: Di ayat ke-1, Allah ta’ala memerintahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memanggil orang-orang kafir dengan panggilan “Yâ ayyuhal kâfirûn” (Wahai orang-orang kafir). Padahal Al-Qur’an tidak biasa memanggil mereka dengan cara yang ‘blak-blakan’ semacam ini. Yang lebih umum digunakan dalam Al-Qur’an adalah khitâb (sapaan) semacam “Yâ ayyuhan nâs” (Wahai sekalian manusia) dan semisalnya.Penegasan kedua: Pada ayat ke-2 لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ dan ke-4 وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyatakan secara tegas, jelas dan terbuka kepada mereka—dan tentu sekaligus kepada setiap orang kafir sepanjang masa—bahwa beliau (begitu pula ummatnya) sama sekali tidak akan pernah (baca: tidak dibenarkan sama sekali) menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir.Penegasan ketiga: Di ayat ke-3 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ dan ke-5 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ Allah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menegaskan juga dengan jelas dan terbuka bahwa, orang-orang kafir pada hakikatnya tidak akan pernah benar-benar menyembah-Nya. Di mana hal ini bisa pula kita pahami sebagai larangan atas orang kafir untuk ikut-ikutan melakukan praktek peribadatan kepada Allah, sementara mereka masih berada dalam kekafirannya. Mereka baru boleh melakukan berbagai praktek peribadatan tersebut jika mereka sudah masuk ke dalam agama Islam.Sebab tidak ada manfaatnya untuk mereka, ikut-ikutan menjalankan praktek peribadatan Islam, selama mereka belum memegang kunci masuk Islam, yakni syahadat.Penegasan keempat: Allah lebih menegaskan hal kedua dan ketiga di atas dengan melakukan pengulangan ayat. Di mana kandungan makna ayat ke-2 لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ diulang dalam ayat ke-4 وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ dengan sedikit perubahan redaksi nash. Sedang ayat ke-3 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ diulang dalam ayat ke-5 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ dengan redaksi nash yang sama persis.Adanya pengulangan ini merupakan peniadaan atas realitas, sekaligus larangan yang bersifat total dan menyeluruh; yang mencakup semua waktu; yang lalu, kini, yang akan datang dan selamanya. Serta mencakup seluruh bentuk dan macam peribadatan.Penegasan kelima: Allah memungkasi dan menyempurnakan semua hal di atas dengan penegasan terakhir dalam firman-Nya: ’Lakum diinukum wa liya diin’ (Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku). Di mana kalimat penutup yang singkat ini memberikan sebuah penegasan sikap atas tidak bolehnya pencampuran antara agama Islam dan agama lainnya. Jika Islam ya Islam tanpa boleh dicampur dengan unsur-unsur agama lainnya. Demikian pula sebaliknya. Ayat ini juga memupus harapan orang-orang kafir yang menginginkan kita untuk mengikuti dan terlibat dalam peribadatan-peribadatan mereka.Pluralitas Yes, Pluralisme NoPluralisme agama adalah: suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.Istilah yang mirip dengan “pluralisme agama” namun berbeda maknanya adalah “pluralitas agama”. Term kedua ini bermakna: sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.Islam adalah agama yang sejak awal mengakui keberagaman. Salah satu aplikasi nyatanya adalah konsep “tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam”. Karena itu, kaum Muslim dilarang keras memaksa orang lain memeluk Islam, meskipun kaum Muslim diwajibkan menyampaikan dakwah Islam. Bahkan, kaum Muslim diwajibkan menghormati dan berbuat baik kepada orang tuanya yang belum masuk Islam. Sejarah Islam membuktikan bagaimana tingginya sikap toleran kaum Muslim terhadap pemeluk agama lain.Namun, dalam konsepsi Islam adalah mustahil untuk menyatakan bahwa semua agama, paham, atau isme adalah benar dan jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan. Sebab faktanya, begitu banyak agama yang jelas-jelas salah dalam pandangan Islam. Maka, ada perbedaan mendasar antara mengakui “adanya keberagaman agama” dengan “mengakui kebenaran semua agama”. Yang pertama bisa dikatakan sebagai mengakui Pluralitas Agama, sedangkan yang kedua adalah mengakui Pluralitas Agama. Islam mengakui adanya perbedaan dan keberagaman, tetapi jelas tidak mengakui bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah dan benar menuju Tuhan yang satu.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Dzulqa’dah 1443 / 27 Juni 2022 Post navigation Previous SAAT PANGGILAN ITU TIBANext Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 H Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 188DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KETUJUH:Membaca Surat al-Kafirun sebanyak satu kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 109. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 6 ayat.Dalil Landasanعَنْ فَرْوَةَ بْنِ نَوْفَلٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِنَوْفَلٍ: “اقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنْ الشِّرْكِ”.Dari Farwah bin Naufal, dari ayahnya, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda kepada Naufal, “Bacalah “Qul yâ ayyuhal kâfirûn” (Surat al-Kafirun). Lalu tidurlah sesudah engkau selesai membacanya. Sungguh itu adalah bentuk berlepas diri dari kesyirikan”. HR. Abu Dawud (no. 5055). Isnâd hadits ini dinilai sahih oleh al-Hâkim (No. 2121) dan Ibn Hajar.Renungan KandunganTema umum surat mulia ini adalah: pemaparan prinsip barâ’ah (penolakan, berlepas diri) dari kekufuran dan para penganutnya. Serta penegasan akan tamâyuz (diferensiasi, pembedaan) total antara Islam dengan kesyirikan.Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma menerangkan, “Di dalam al-Qur’an tidak ada yang lebih menjengkelkan dan dibenci Iblis, dibanding surat al-Kafirun. Karena isinya adalah tauhid dan penolakan terhadap syirik”.Ayat-ayat surat al-Kafirun datang untuk mempertegas tema umum surat mulia ini. Karena tema tersebut sangat urgen dan prinsipil, maka didukunglah dengan berbagai penegasan berikut:Penegasan pertama: Di ayat ke-1, Allah ta’ala memerintahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memanggil orang-orang kafir dengan panggilan “Yâ ayyuhal kâfirûn” (Wahai orang-orang kafir). Padahal Al-Qur’an tidak biasa memanggil mereka dengan cara yang ‘blak-blakan’ semacam ini. Yang lebih umum digunakan dalam Al-Qur’an adalah khitâb (sapaan) semacam “Yâ ayyuhan nâs” (Wahai sekalian manusia) dan semisalnya.Penegasan kedua: Pada ayat ke-2 لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ dan ke-4 وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyatakan secara tegas, jelas dan terbuka kepada mereka—dan tentu sekaligus kepada setiap orang kafir sepanjang masa—bahwa beliau (begitu pula ummatnya) sama sekali tidak akan pernah (baca: tidak dibenarkan sama sekali) menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir.Penegasan ketiga: Di ayat ke-3 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ dan ke-5 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ Allah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menegaskan juga dengan jelas dan terbuka bahwa, orang-orang kafir pada hakikatnya tidak akan pernah benar-benar menyembah-Nya. Di mana hal ini bisa pula kita pahami sebagai larangan atas orang kafir untuk ikut-ikutan melakukan praktek peribadatan kepada Allah, sementara mereka masih berada dalam kekafirannya. Mereka baru boleh melakukan berbagai praktek peribadatan tersebut jika mereka sudah masuk ke dalam agama Islam.Sebab tidak ada manfaatnya untuk mereka, ikut-ikutan menjalankan praktek peribadatan Islam, selama mereka belum memegang kunci masuk Islam, yakni syahadat.Penegasan keempat: Allah lebih menegaskan hal kedua dan ketiga di atas dengan melakukan pengulangan ayat. Di mana kandungan makna ayat ke-2 لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ diulang dalam ayat ke-4 وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ dengan sedikit perubahan redaksi nash. Sedang ayat ke-3 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ diulang dalam ayat ke-5 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ dengan redaksi nash yang sama persis.Adanya pengulangan ini merupakan peniadaan atas realitas, sekaligus larangan yang bersifat total dan menyeluruh; yang mencakup semua waktu; yang lalu, kini, yang akan datang dan selamanya. Serta mencakup seluruh bentuk dan macam peribadatan.Penegasan kelima: Allah memungkasi dan menyempurnakan semua hal di atas dengan penegasan terakhir dalam firman-Nya: ’Lakum diinukum wa liya diin’ (Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku). Di mana kalimat penutup yang singkat ini memberikan sebuah penegasan sikap atas tidak bolehnya pencampuran antara agama Islam dan agama lainnya. Jika Islam ya Islam tanpa boleh dicampur dengan unsur-unsur agama lainnya. Demikian pula sebaliknya. Ayat ini juga memupus harapan orang-orang kafir yang menginginkan kita untuk mengikuti dan terlibat dalam peribadatan-peribadatan mereka.Pluralitas Yes, Pluralisme NoPluralisme agama adalah: suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.Istilah yang mirip dengan “pluralisme agama” namun berbeda maknanya adalah “pluralitas agama”. Term kedua ini bermakna: sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.Islam adalah agama yang sejak awal mengakui keberagaman. Salah satu aplikasi nyatanya adalah konsep “tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam”. Karena itu, kaum Muslim dilarang keras memaksa orang lain memeluk Islam, meskipun kaum Muslim diwajibkan menyampaikan dakwah Islam. Bahkan, kaum Muslim diwajibkan menghormati dan berbuat baik kepada orang tuanya yang belum masuk Islam. Sejarah Islam membuktikan bagaimana tingginya sikap toleran kaum Muslim terhadap pemeluk agama lain.Namun, dalam konsepsi Islam adalah mustahil untuk menyatakan bahwa semua agama, paham, atau isme adalah benar dan jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan. Sebab faktanya, begitu banyak agama yang jelas-jelas salah dalam pandangan Islam. Maka, ada perbedaan mendasar antara mengakui “adanya keberagaman agama” dengan “mengakui kebenaran semua agama”. Yang pertama bisa dikatakan sebagai mengakui Pluralitas Agama, sedangkan yang kedua adalah mengakui Pluralitas Agama. Islam mengakui adanya perbedaan dan keberagaman, tetapi jelas tidak mengakui bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah dan benar menuju Tuhan yang satu.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Dzulqa’dah 1443 / 27 Juni 2022 Post navigation Previous SAAT PANGGILAN ITU TIBANext Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 H Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 188DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KETUJUH:Membaca Surat al-Kafirun sebanyak satu kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 109. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 6 ayat.Dalil Landasanعَنْ فَرْوَةَ بْنِ نَوْفَلٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِنَوْفَلٍ: “اقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنْ الشِّرْكِ”.Dari Farwah bin Naufal, dari ayahnya, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda kepada Naufal, “Bacalah “Qul yâ ayyuhal kâfirûn” (Surat al-Kafirun). Lalu tidurlah sesudah engkau selesai membacanya. Sungguh itu adalah bentuk berlepas diri dari kesyirikan”. HR. Abu Dawud (no. 5055). Isnâd hadits ini dinilai sahih oleh al-Hâkim (No. 2121) dan Ibn Hajar.Renungan KandunganTema umum surat mulia ini adalah: pemaparan prinsip barâ’ah (penolakan, berlepas diri) dari kekufuran dan para penganutnya. Serta penegasan akan tamâyuz (diferensiasi, pembedaan) total antara Islam dengan kesyirikan.Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma menerangkan, “Di dalam al-Qur’an tidak ada yang lebih menjengkelkan dan dibenci Iblis, dibanding surat al-Kafirun. Karena isinya adalah tauhid dan penolakan terhadap syirik”.Ayat-ayat surat al-Kafirun datang untuk mempertegas tema umum surat mulia ini. Karena tema tersebut sangat urgen dan prinsipil, maka didukunglah dengan berbagai penegasan berikut:Penegasan pertama: Di ayat ke-1, Allah ta’ala memerintahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memanggil orang-orang kafir dengan panggilan “Yâ ayyuhal kâfirûn” (Wahai orang-orang kafir). Padahal Al-Qur’an tidak biasa memanggil mereka dengan cara yang ‘blak-blakan’ semacam ini. Yang lebih umum digunakan dalam Al-Qur’an adalah khitâb (sapaan) semacam “Yâ ayyuhan nâs” (Wahai sekalian manusia) dan semisalnya.Penegasan kedua: Pada ayat ke-2 لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ dan ke-4 وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyatakan secara tegas, jelas dan terbuka kepada mereka—dan tentu sekaligus kepada setiap orang kafir sepanjang masa—bahwa beliau (begitu pula ummatnya) sama sekali tidak akan pernah (baca: tidak dibenarkan sama sekali) menyembah apa yang disembah oleh orang-orang kafir.Penegasan ketiga: Di ayat ke-3 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ dan ke-5 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ Allah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menegaskan juga dengan jelas dan terbuka bahwa, orang-orang kafir pada hakikatnya tidak akan pernah benar-benar menyembah-Nya. Di mana hal ini bisa pula kita pahami sebagai larangan atas orang kafir untuk ikut-ikutan melakukan praktek peribadatan kepada Allah, sementara mereka masih berada dalam kekafirannya. Mereka baru boleh melakukan berbagai praktek peribadatan tersebut jika mereka sudah masuk ke dalam agama Islam.Sebab tidak ada manfaatnya untuk mereka, ikut-ikutan menjalankan praktek peribadatan Islam, selama mereka belum memegang kunci masuk Islam, yakni syahadat.Penegasan keempat: Allah lebih menegaskan hal kedua dan ketiga di atas dengan melakukan pengulangan ayat. Di mana kandungan makna ayat ke-2 لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ diulang dalam ayat ke-4 وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ dengan sedikit perubahan redaksi nash. Sedang ayat ke-3 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ diulang dalam ayat ke-5 وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ dengan redaksi nash yang sama persis.Adanya pengulangan ini merupakan peniadaan atas realitas, sekaligus larangan yang bersifat total dan menyeluruh; yang mencakup semua waktu; yang lalu, kini, yang akan datang dan selamanya. Serta mencakup seluruh bentuk dan macam peribadatan.Penegasan kelima: Allah memungkasi dan menyempurnakan semua hal di atas dengan penegasan terakhir dalam firman-Nya: ’Lakum diinukum wa liya diin’ (Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku). Di mana kalimat penutup yang singkat ini memberikan sebuah penegasan sikap atas tidak bolehnya pencampuran antara agama Islam dan agama lainnya. Jika Islam ya Islam tanpa boleh dicampur dengan unsur-unsur agama lainnya. Demikian pula sebaliknya. Ayat ini juga memupus harapan orang-orang kafir yang menginginkan kita untuk mengikuti dan terlibat dalam peribadatan-peribadatan mereka.Pluralitas Yes, Pluralisme NoPluralisme agama adalah: suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.Istilah yang mirip dengan “pluralisme agama” namun berbeda maknanya adalah “pluralitas agama”. Term kedua ini bermakna: sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.Islam adalah agama yang sejak awal mengakui keberagaman. Salah satu aplikasi nyatanya adalah konsep “tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam”. Karena itu, kaum Muslim dilarang keras memaksa orang lain memeluk Islam, meskipun kaum Muslim diwajibkan menyampaikan dakwah Islam. Bahkan, kaum Muslim diwajibkan menghormati dan berbuat baik kepada orang tuanya yang belum masuk Islam. Sejarah Islam membuktikan bagaimana tingginya sikap toleran kaum Muslim terhadap pemeluk agama lain.Namun, dalam konsepsi Islam adalah mustahil untuk menyatakan bahwa semua agama, paham, atau isme adalah benar dan jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan. Sebab faktanya, begitu banyak agama yang jelas-jelas salah dalam pandangan Islam. Maka, ada perbedaan mendasar antara mengakui “adanya keberagaman agama” dengan “mengakui kebenaran semua agama”. Yang pertama bisa dikatakan sebagai mengakui Pluralitas Agama, sedangkan yang kedua adalah mengakui Pluralitas Agama. Islam mengakui adanya perbedaan dan keberagaman, tetapi jelas tidak mengakui bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah dan benar menuju Tuhan yang satu.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 27 Dzulqa’dah 1443 / 27 Juni 2022 Post navigation Previous SAAT PANGGILAN ITU TIBANext Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 H Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 H

Purbalingga – Hari ini Pondok Pesantren Tunas Ilmu telah mengadakan kegiatan sholat Idul Adha di Masjid Manarul Ilmi Kedungwuluh Purbalingga. Kegiatan tersebut berlangsung pada hari Ahad 10 Juli 2022 M atau yang bertepatan pada tanggal 10 Dzulhijjah 1443 H.Dilaksanakan di kompleks Masjid Manarul Ilmi, karena sesuai dengan hasil rapat dengan Kepala Desa beserta jajaran dan tokoh masyarakat, yang isinya, pelaksaaan sholat Idul Adha di masjid masing-masing tidak dilapangan, dan dilaksanakan serentak pada hari Ahad.Adapun yang menjadi petugas khotib sekaligus imam yaitu Ustadz Abdullah Zaen, Lc., Ma hafidzohullah dengan tema “Haji Hati”. Beliau menyampaikan dalam khutbahnya “jika kita belum berkesempatan untuk berhaji dengan fisik kita hari ini, sungguh peluang untuk berhaji dengan hati kita terbuka lebar di hadapan kita kapanpun dan dimanapun. Mari jangan sia-sia kan luasnya rahmat Allah tersebut, dengan cara sekurang kurangnya ada 3 poin; niat yang tulus, serius beribadah, dan selalu berdoa kepada Allah azza wa jalla”Pelaksaan sholat Idul Adha di masjid Manarul Ilmi ramai dihadiri oleh jamaah ikhwan maupun akhwat yang antusias untuk mengikuti serangkaian ibadah Idul Adha.Selain itu, juga akan diadakan Pemotongan hewan Qurban yang akan dilaksanakan esok hari, yaitu pada hari Senin, 11 Juli 2022 M atau yang berepatan pada tanggal 11 Dzulhijjah 1443 H. Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 188: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7Next Pelaksanaan Pemotongan Hewan Qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu 1443 H Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 H

Purbalingga – Hari ini Pondok Pesantren Tunas Ilmu telah mengadakan kegiatan sholat Idul Adha di Masjid Manarul Ilmi Kedungwuluh Purbalingga. Kegiatan tersebut berlangsung pada hari Ahad 10 Juli 2022 M atau yang bertepatan pada tanggal 10 Dzulhijjah 1443 H.Dilaksanakan di kompleks Masjid Manarul Ilmi, karena sesuai dengan hasil rapat dengan Kepala Desa beserta jajaran dan tokoh masyarakat, yang isinya, pelaksaaan sholat Idul Adha di masjid masing-masing tidak dilapangan, dan dilaksanakan serentak pada hari Ahad.Adapun yang menjadi petugas khotib sekaligus imam yaitu Ustadz Abdullah Zaen, Lc., Ma hafidzohullah dengan tema “Haji Hati”. Beliau menyampaikan dalam khutbahnya “jika kita belum berkesempatan untuk berhaji dengan fisik kita hari ini, sungguh peluang untuk berhaji dengan hati kita terbuka lebar di hadapan kita kapanpun dan dimanapun. Mari jangan sia-sia kan luasnya rahmat Allah tersebut, dengan cara sekurang kurangnya ada 3 poin; niat yang tulus, serius beribadah, dan selalu berdoa kepada Allah azza wa jalla”Pelaksaan sholat Idul Adha di masjid Manarul Ilmi ramai dihadiri oleh jamaah ikhwan maupun akhwat yang antusias untuk mengikuti serangkaian ibadah Idul Adha.Selain itu, juga akan diadakan Pemotongan hewan Qurban yang akan dilaksanakan esok hari, yaitu pada hari Senin, 11 Juli 2022 M atau yang berepatan pada tanggal 11 Dzulhijjah 1443 H. Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 188: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7Next Pelaksanaan Pemotongan Hewan Qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu 1443 H Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Purbalingga – Hari ini Pondok Pesantren Tunas Ilmu telah mengadakan kegiatan sholat Idul Adha di Masjid Manarul Ilmi Kedungwuluh Purbalingga. Kegiatan tersebut berlangsung pada hari Ahad 10 Juli 2022 M atau yang bertepatan pada tanggal 10 Dzulhijjah 1443 H.Dilaksanakan di kompleks Masjid Manarul Ilmi, karena sesuai dengan hasil rapat dengan Kepala Desa beserta jajaran dan tokoh masyarakat, yang isinya, pelaksaaan sholat Idul Adha di masjid masing-masing tidak dilapangan, dan dilaksanakan serentak pada hari Ahad.Adapun yang menjadi petugas khotib sekaligus imam yaitu Ustadz Abdullah Zaen, Lc., Ma hafidzohullah dengan tema “Haji Hati”. Beliau menyampaikan dalam khutbahnya “jika kita belum berkesempatan untuk berhaji dengan fisik kita hari ini, sungguh peluang untuk berhaji dengan hati kita terbuka lebar di hadapan kita kapanpun dan dimanapun. Mari jangan sia-sia kan luasnya rahmat Allah tersebut, dengan cara sekurang kurangnya ada 3 poin; niat yang tulus, serius beribadah, dan selalu berdoa kepada Allah azza wa jalla”Pelaksaan sholat Idul Adha di masjid Manarul Ilmi ramai dihadiri oleh jamaah ikhwan maupun akhwat yang antusias untuk mengikuti serangkaian ibadah Idul Adha.Selain itu, juga akan diadakan Pemotongan hewan Qurban yang akan dilaksanakan esok hari, yaitu pada hari Senin, 11 Juli 2022 M atau yang berepatan pada tanggal 11 Dzulhijjah 1443 H. Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 188: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7Next Pelaksanaan Pemotongan Hewan Qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu 1443 H Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Purbalingga – Hari ini Pondok Pesantren Tunas Ilmu telah mengadakan kegiatan sholat Idul Adha di Masjid Manarul Ilmi Kedungwuluh Purbalingga. Kegiatan tersebut berlangsung pada hari Ahad 10 Juli 2022 M atau yang bertepatan pada tanggal 10 Dzulhijjah 1443 H.Dilaksanakan di kompleks Masjid Manarul Ilmi, karena sesuai dengan hasil rapat dengan Kepala Desa beserta jajaran dan tokoh masyarakat, yang isinya, pelaksaaan sholat Idul Adha di masjid masing-masing tidak dilapangan, dan dilaksanakan serentak pada hari Ahad.Adapun yang menjadi petugas khotib sekaligus imam yaitu Ustadz Abdullah Zaen, Lc., Ma hafidzohullah dengan tema “Haji Hati”. Beliau menyampaikan dalam khutbahnya “jika kita belum berkesempatan untuk berhaji dengan fisik kita hari ini, sungguh peluang untuk berhaji dengan hati kita terbuka lebar di hadapan kita kapanpun dan dimanapun. Mari jangan sia-sia kan luasnya rahmat Allah tersebut, dengan cara sekurang kurangnya ada 3 poin; niat yang tulus, serius beribadah, dan selalu berdoa kepada Allah azza wa jalla”Pelaksaan sholat Idul Adha di masjid Manarul Ilmi ramai dihadiri oleh jamaah ikhwan maupun akhwat yang antusias untuk mengikuti serangkaian ibadah Idul Adha.Selain itu, juga akan diadakan Pemotongan hewan Qurban yang akan dilaksanakan esok hari, yaitu pada hari Senin, 11 Juli 2022 M atau yang berepatan pada tanggal 11 Dzulhijjah 1443 H. Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 188: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-7Next Pelaksanaan Pemotongan Hewan Qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu 1443 H Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Pelaksanaan Pemotongan Hewan Qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu 1443 H

Purbalingga – Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu dilaksanakan pada hari Senin, 11 Juli 2022 atau yang bertepatan pada tanggal 11 Dzullhijjah 1443 H di halaman gedung Griya Qur’an.. Pada hari sebelumnya, telah diadakan pelatihan penyembelihan hewan qurban yang disampaikan oleh ustadz Abdullah Zaen, Lc,. MA hafidzohullah Yang mana dalam pelatihan tersebut dijelaskan tentang keutamaan qurban, syarat menyembelih hewan qurban, tata cara menyembelih sampai tahapan dalam memproses hewan qurban.Untuk pelaksanaan pemotongan hewan qurban dimulai pada jam 05.30 WIB, oleh para santri yang dibantu oleh masyarakat sekitar dan dipandu oleh ustadz Bagus hafidzohullah.Adapun jumlah hewan qurban yang masuk berjumlah 5 ekor sapi dan 14 ekor kambing.Kegiatan pemotongan hewan qurban berjalan dengan lancar, sebagian santri mengatakan bahwa kegiatan qurban ini menjadi pengalaman pertama mereka untuk ikut terjun langsung menyembelih hewan qurban, “ini menjadi pengalaman pertama bagi ana untuk terjun langsung menyembelih hewan qurban, tentu ini menjadi bekal yang sangat penting ketika nanti terjun di masyarakat” ungkap salah seorang santri.Pelaksanaan pemotongan hewan qurban selesai pada pukul 10.30 WIB, daging dan hati yg sudah dipisah langsung diperiksa oleh pegawai dari Dinas Kesehatan berkaitan dengan ramainya virus PMK dan cacing hati. Alhamdulillah, semuanya terbebebas dari virus atau cacing tersebut.Setelah itu, tahapan pengemasan dan pendistribusian. Untuk jumlah penerima daging qurban sekitar 335 orang, terdiri dari para asatidz karyawan Tunas Ilmu, tokoh masyarakat, dan warga sekitar. Adapun untuk pengambilan daging qurban di stand yang telah disediakan di depan masjid Manarul Ilmi dengan menggunakan kupon yang sudah dibagikanSekian berita seputar qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu, kami sampaikan jazakumullah khairan kepada semua pihak yang ikut andil dalam kegiatan qurban ini, semoga menjadi penambah timbangan amal kebaikan di hari kiamat nanti. Amiin. Post navigation Previous Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 189: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Pelaksanaan Pemotongan Hewan Qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu 1443 H

Purbalingga – Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu dilaksanakan pada hari Senin, 11 Juli 2022 atau yang bertepatan pada tanggal 11 Dzullhijjah 1443 H di halaman gedung Griya Qur’an.. Pada hari sebelumnya, telah diadakan pelatihan penyembelihan hewan qurban yang disampaikan oleh ustadz Abdullah Zaen, Lc,. MA hafidzohullah Yang mana dalam pelatihan tersebut dijelaskan tentang keutamaan qurban, syarat menyembelih hewan qurban, tata cara menyembelih sampai tahapan dalam memproses hewan qurban.Untuk pelaksanaan pemotongan hewan qurban dimulai pada jam 05.30 WIB, oleh para santri yang dibantu oleh masyarakat sekitar dan dipandu oleh ustadz Bagus hafidzohullah.Adapun jumlah hewan qurban yang masuk berjumlah 5 ekor sapi dan 14 ekor kambing.Kegiatan pemotongan hewan qurban berjalan dengan lancar, sebagian santri mengatakan bahwa kegiatan qurban ini menjadi pengalaman pertama mereka untuk ikut terjun langsung menyembelih hewan qurban, “ini menjadi pengalaman pertama bagi ana untuk terjun langsung menyembelih hewan qurban, tentu ini menjadi bekal yang sangat penting ketika nanti terjun di masyarakat” ungkap salah seorang santri.Pelaksanaan pemotongan hewan qurban selesai pada pukul 10.30 WIB, daging dan hati yg sudah dipisah langsung diperiksa oleh pegawai dari Dinas Kesehatan berkaitan dengan ramainya virus PMK dan cacing hati. Alhamdulillah, semuanya terbebebas dari virus atau cacing tersebut.Setelah itu, tahapan pengemasan dan pendistribusian. Untuk jumlah penerima daging qurban sekitar 335 orang, terdiri dari para asatidz karyawan Tunas Ilmu, tokoh masyarakat, dan warga sekitar. Adapun untuk pengambilan daging qurban di stand yang telah disediakan di depan masjid Manarul Ilmi dengan menggunakan kupon yang sudah dibagikanSekian berita seputar qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu, kami sampaikan jazakumullah khairan kepada semua pihak yang ikut andil dalam kegiatan qurban ini, semoga menjadi penambah timbangan amal kebaikan di hari kiamat nanti. Amiin. Post navigation Previous Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 189: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Purbalingga – Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu dilaksanakan pada hari Senin, 11 Juli 2022 atau yang bertepatan pada tanggal 11 Dzullhijjah 1443 H di halaman gedung Griya Qur’an.. Pada hari sebelumnya, telah diadakan pelatihan penyembelihan hewan qurban yang disampaikan oleh ustadz Abdullah Zaen, Lc,. MA hafidzohullah Yang mana dalam pelatihan tersebut dijelaskan tentang keutamaan qurban, syarat menyembelih hewan qurban, tata cara menyembelih sampai tahapan dalam memproses hewan qurban.Untuk pelaksanaan pemotongan hewan qurban dimulai pada jam 05.30 WIB, oleh para santri yang dibantu oleh masyarakat sekitar dan dipandu oleh ustadz Bagus hafidzohullah.Adapun jumlah hewan qurban yang masuk berjumlah 5 ekor sapi dan 14 ekor kambing.Kegiatan pemotongan hewan qurban berjalan dengan lancar, sebagian santri mengatakan bahwa kegiatan qurban ini menjadi pengalaman pertama mereka untuk ikut terjun langsung menyembelih hewan qurban, “ini menjadi pengalaman pertama bagi ana untuk terjun langsung menyembelih hewan qurban, tentu ini menjadi bekal yang sangat penting ketika nanti terjun di masyarakat” ungkap salah seorang santri.Pelaksanaan pemotongan hewan qurban selesai pada pukul 10.30 WIB, daging dan hati yg sudah dipisah langsung diperiksa oleh pegawai dari Dinas Kesehatan berkaitan dengan ramainya virus PMK dan cacing hati. Alhamdulillah, semuanya terbebebas dari virus atau cacing tersebut.Setelah itu, tahapan pengemasan dan pendistribusian. Untuk jumlah penerima daging qurban sekitar 335 orang, terdiri dari para asatidz karyawan Tunas Ilmu, tokoh masyarakat, dan warga sekitar. Adapun untuk pengambilan daging qurban di stand yang telah disediakan di depan masjid Manarul Ilmi dengan menggunakan kupon yang sudah dibagikanSekian berita seputar qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu, kami sampaikan jazakumullah khairan kepada semua pihak yang ikut andil dalam kegiatan qurban ini, semoga menjadi penambah timbangan amal kebaikan di hari kiamat nanti. Amiin. Post navigation Previous Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 189: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Purbalingga – Pelaksanaan pemotongan hewan qurban pondok pesantren Tunas Ilmu dilaksanakan pada hari Senin, 11 Juli 2022 atau yang bertepatan pada tanggal 11 Dzullhijjah 1443 H di halaman gedung Griya Qur’an.. Pada hari sebelumnya, telah diadakan pelatihan penyembelihan hewan qurban yang disampaikan oleh ustadz Abdullah Zaen, Lc,. MA hafidzohullah Yang mana dalam pelatihan tersebut dijelaskan tentang keutamaan qurban, syarat menyembelih hewan qurban, tata cara menyembelih sampai tahapan dalam memproses hewan qurban.Untuk pelaksanaan pemotongan hewan qurban dimulai pada jam 05.30 WIB, oleh para santri yang dibantu oleh masyarakat sekitar dan dipandu oleh ustadz Bagus hafidzohullah.Adapun jumlah hewan qurban yang masuk berjumlah 5 ekor sapi dan 14 ekor kambing.Kegiatan pemotongan hewan qurban berjalan dengan lancar, sebagian santri mengatakan bahwa kegiatan qurban ini menjadi pengalaman pertama mereka untuk ikut terjun langsung menyembelih hewan qurban, “ini menjadi pengalaman pertama bagi ana untuk terjun langsung menyembelih hewan qurban, tentu ini menjadi bekal yang sangat penting ketika nanti terjun di masyarakat” ungkap salah seorang santri.Pelaksanaan pemotongan hewan qurban selesai pada pukul 10.30 WIB, daging dan hati yg sudah dipisah langsung diperiksa oleh pegawai dari Dinas Kesehatan berkaitan dengan ramainya virus PMK dan cacing hati. Alhamdulillah, semuanya terbebebas dari virus atau cacing tersebut.Setelah itu, tahapan pengemasan dan pendistribusian. Untuk jumlah penerima daging qurban sekitar 335 orang, terdiri dari para asatidz karyawan Tunas Ilmu, tokoh masyarakat, dan warga sekitar. Adapun untuk pengambilan daging qurban di stand yang telah disediakan di depan masjid Manarul Ilmi dengan menggunakan kupon yang sudah dibagikanSekian berita seputar qurban Pondok Pesantren Tunas Ilmu, kami sampaikan jazakumullah khairan kepada semua pihak yang ikut andil dalam kegiatan qurban ini, semoga menjadi penambah timbangan amal kebaikan di hari kiamat nanti. Amiin. Post navigation Previous Pelaksanaan Sholat Idul Adha Dan Kurban 1443 HNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 189: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJID

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 167 MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDDalam menyikapi masalah di atas, ada dua kubu ekstrim yang bertolak belakang. Kubu pertama: melarang sama sekali. Kubu kedua: membebaskan sebebas-bebasnya. Yang benar adalah sikap pertengahan di antara dua kubu tersebut. Yaitu boleh mengajak anak kecil, asalkan bisa dikondisikan, dan orang tua harus bertanggungjawab, sehingga tidak mengakibatkan kegaduhan di masjid.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun pernah membawa anak kecil ke masjid.Syaddad radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Di suatu shalat Isya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang sambil membawa Hasan atau Husain. Beliau maju ke pengimaman dan meletakkan cucunya lalu bertakbiratul ihram. Di tengah shalat, beliau sujud lama sekali. Karena penasaran, Syaddad mengangkat kepalanya untuk mencari tahu. Ternyata sang cucu naik ke pundak Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sujud. Syaddad pun kembali sujud. Seusai shalat, jamaah bertanya, “Wahai Rasulullah, tadi engkau sujud lama sekali. Hingga kami mengira ada kejadian buruk atau ada wahyu yang turun padamu”. Beliau menjawab,كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ، وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي، فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ“Bukan itu yang terjadi. Tetapi tadi cucuku menjadikan punggungku sebagai tunggangan. Aku tidak suka memutus kesenangannya hingga dia puas”. HR. Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim.Di lain kesempatan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkan sikap bertanggungjawab saat membawa anak kecil.Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى لِلنَّاسِ وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِى الْعَاصِ عَلَى عُنُقِهِ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami shalat sambil menggendong cucunya; Umamah binti Abi al-‘Ash di pundaknya. Bila beliau akan sujud, maka anak tersebut diturunkannya”. HR. Bukhari dan Muslim.Hadits ini menjelaskan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lepas tangan saat membawa anak ke masjid. Cucunya dipegangi, bahkan digendong. Agar tidak mengganggu jamaah lainnya.Menyikapi Tangisan Anak KecilTerkadang anak menangis saat shalat. Mungkin akibat terjatuh, atau merasa haus, atau kepanasan, atau takut melihat kerumunan, atau karena faktor lainnya. Saat itulah imam shalat tertuntut untuk bersikap bijaksana.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنِّي لَأَدْخُلُ فِي الصَّلَاةِ وَأَنَا أُرِيدُ إِطَالَتَهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي مِمَّا أَعْلَمُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ مِنْ بُكَائِهِ“Sungguh saat memulai shalat, aku ingin memperpanjang bacaan shalatku. Namun karena mendengar tangisan bayi, maka akupun mempersingkat shalatku. Sebab aku tahu betapa gelisahnya perasaan si ibu saat mendengar tangisan anaknya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.Ini menunjukkan perpaduan apik antara menaati peraturan agama dan mengakomodir perasaan manusiawi. Aturan agama tidak dilanggar. Buktinya shalat tetap dilanjutkan. Sebab tangisan biasa anak kecil bukanlah hal darurat yang mengharuskan dibatalkannya shalat. Namun di waktu yang sama, perasaan resah ibu si anak juga dihargai. Dengan cara bacaan dan ritme gerakan shalat dipersingkat, tanpa merusak ketumakninahan shalat. Alangkah indahnya ajaran Islam…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Dzulhijjah 1443 / 25 Juli 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 189: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 168: MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’AN Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJID

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 167 MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDDalam menyikapi masalah di atas, ada dua kubu ekstrim yang bertolak belakang. Kubu pertama: melarang sama sekali. Kubu kedua: membebaskan sebebas-bebasnya. Yang benar adalah sikap pertengahan di antara dua kubu tersebut. Yaitu boleh mengajak anak kecil, asalkan bisa dikondisikan, dan orang tua harus bertanggungjawab, sehingga tidak mengakibatkan kegaduhan di masjid.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun pernah membawa anak kecil ke masjid.Syaddad radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Di suatu shalat Isya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang sambil membawa Hasan atau Husain. Beliau maju ke pengimaman dan meletakkan cucunya lalu bertakbiratul ihram. Di tengah shalat, beliau sujud lama sekali. Karena penasaran, Syaddad mengangkat kepalanya untuk mencari tahu. Ternyata sang cucu naik ke pundak Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sujud. Syaddad pun kembali sujud. Seusai shalat, jamaah bertanya, “Wahai Rasulullah, tadi engkau sujud lama sekali. Hingga kami mengira ada kejadian buruk atau ada wahyu yang turun padamu”. Beliau menjawab,كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ، وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي، فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ“Bukan itu yang terjadi. Tetapi tadi cucuku menjadikan punggungku sebagai tunggangan. Aku tidak suka memutus kesenangannya hingga dia puas”. HR. Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim.Di lain kesempatan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkan sikap bertanggungjawab saat membawa anak kecil.Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى لِلنَّاسِ وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِى الْعَاصِ عَلَى عُنُقِهِ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami shalat sambil menggendong cucunya; Umamah binti Abi al-‘Ash di pundaknya. Bila beliau akan sujud, maka anak tersebut diturunkannya”. HR. Bukhari dan Muslim.Hadits ini menjelaskan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lepas tangan saat membawa anak ke masjid. Cucunya dipegangi, bahkan digendong. Agar tidak mengganggu jamaah lainnya.Menyikapi Tangisan Anak KecilTerkadang anak menangis saat shalat. Mungkin akibat terjatuh, atau merasa haus, atau kepanasan, atau takut melihat kerumunan, atau karena faktor lainnya. Saat itulah imam shalat tertuntut untuk bersikap bijaksana.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنِّي لَأَدْخُلُ فِي الصَّلَاةِ وَأَنَا أُرِيدُ إِطَالَتَهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي مِمَّا أَعْلَمُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ مِنْ بُكَائِهِ“Sungguh saat memulai shalat, aku ingin memperpanjang bacaan shalatku. Namun karena mendengar tangisan bayi, maka akupun mempersingkat shalatku. Sebab aku tahu betapa gelisahnya perasaan si ibu saat mendengar tangisan anaknya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.Ini menunjukkan perpaduan apik antara menaati peraturan agama dan mengakomodir perasaan manusiawi. Aturan agama tidak dilanggar. Buktinya shalat tetap dilanjutkan. Sebab tangisan biasa anak kecil bukanlah hal darurat yang mengharuskan dibatalkannya shalat. Namun di waktu yang sama, perasaan resah ibu si anak juga dihargai. Dengan cara bacaan dan ritme gerakan shalat dipersingkat, tanpa merusak ketumakninahan shalat. Alangkah indahnya ajaran Islam…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Dzulhijjah 1443 / 25 Juli 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 189: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 168: MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’AN Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 167 MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDDalam menyikapi masalah di atas, ada dua kubu ekstrim yang bertolak belakang. Kubu pertama: melarang sama sekali. Kubu kedua: membebaskan sebebas-bebasnya. Yang benar adalah sikap pertengahan di antara dua kubu tersebut. Yaitu boleh mengajak anak kecil, asalkan bisa dikondisikan, dan orang tua harus bertanggungjawab, sehingga tidak mengakibatkan kegaduhan di masjid.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun pernah membawa anak kecil ke masjid.Syaddad radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Di suatu shalat Isya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang sambil membawa Hasan atau Husain. Beliau maju ke pengimaman dan meletakkan cucunya lalu bertakbiratul ihram. Di tengah shalat, beliau sujud lama sekali. Karena penasaran, Syaddad mengangkat kepalanya untuk mencari tahu. Ternyata sang cucu naik ke pundak Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sujud. Syaddad pun kembali sujud. Seusai shalat, jamaah bertanya, “Wahai Rasulullah, tadi engkau sujud lama sekali. Hingga kami mengira ada kejadian buruk atau ada wahyu yang turun padamu”. Beliau menjawab,كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ، وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي، فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ“Bukan itu yang terjadi. Tetapi tadi cucuku menjadikan punggungku sebagai tunggangan. Aku tidak suka memutus kesenangannya hingga dia puas”. HR. Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim.Di lain kesempatan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkan sikap bertanggungjawab saat membawa anak kecil.Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى لِلنَّاسِ وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِى الْعَاصِ عَلَى عُنُقِهِ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami shalat sambil menggendong cucunya; Umamah binti Abi al-‘Ash di pundaknya. Bila beliau akan sujud, maka anak tersebut diturunkannya”. HR. Bukhari dan Muslim.Hadits ini menjelaskan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lepas tangan saat membawa anak ke masjid. Cucunya dipegangi, bahkan digendong. Agar tidak mengganggu jamaah lainnya.Menyikapi Tangisan Anak KecilTerkadang anak menangis saat shalat. Mungkin akibat terjatuh, atau merasa haus, atau kepanasan, atau takut melihat kerumunan, atau karena faktor lainnya. Saat itulah imam shalat tertuntut untuk bersikap bijaksana.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنِّي لَأَدْخُلُ فِي الصَّلَاةِ وَأَنَا أُرِيدُ إِطَالَتَهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي مِمَّا أَعْلَمُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ مِنْ بُكَائِهِ“Sungguh saat memulai shalat, aku ingin memperpanjang bacaan shalatku. Namun karena mendengar tangisan bayi, maka akupun mempersingkat shalatku. Sebab aku tahu betapa gelisahnya perasaan si ibu saat mendengar tangisan anaknya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.Ini menunjukkan perpaduan apik antara menaati peraturan agama dan mengakomodir perasaan manusiawi. Aturan agama tidak dilanggar. Buktinya shalat tetap dilanjutkan. Sebab tangisan biasa anak kecil bukanlah hal darurat yang mengharuskan dibatalkannya shalat. Namun di waktu yang sama, perasaan resah ibu si anak juga dihargai. Dengan cara bacaan dan ritme gerakan shalat dipersingkat, tanpa merusak ketumakninahan shalat. Alangkah indahnya ajaran Islam…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Dzulhijjah 1443 / 25 Juli 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 189: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 168: MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’AN Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 167 MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDDalam menyikapi masalah di atas, ada dua kubu ekstrim yang bertolak belakang. Kubu pertama: melarang sama sekali. Kubu kedua: membebaskan sebebas-bebasnya. Yang benar adalah sikap pertengahan di antara dua kubu tersebut. Yaitu boleh mengajak anak kecil, asalkan bisa dikondisikan, dan orang tua harus bertanggungjawab, sehingga tidak mengakibatkan kegaduhan di masjid.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun pernah membawa anak kecil ke masjid.Syaddad radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Di suatu shalat Isya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang sambil membawa Hasan atau Husain. Beliau maju ke pengimaman dan meletakkan cucunya lalu bertakbiratul ihram. Di tengah shalat, beliau sujud lama sekali. Karena penasaran, Syaddad mengangkat kepalanya untuk mencari tahu. Ternyata sang cucu naik ke pundak Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sujud. Syaddad pun kembali sujud. Seusai shalat, jamaah bertanya, “Wahai Rasulullah, tadi engkau sujud lama sekali. Hingga kami mengira ada kejadian buruk atau ada wahyu yang turun padamu”. Beliau menjawab,كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ، وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي، فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ“Bukan itu yang terjadi. Tetapi tadi cucuku menjadikan punggungku sebagai tunggangan. Aku tidak suka memutus kesenangannya hingga dia puas”. HR. Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim.Di lain kesempatan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkan sikap bertanggungjawab saat membawa anak kecil.Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى لِلنَّاسِ وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِى الْعَاصِ عَلَى عُنُقِهِ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami shalat sambil menggendong cucunya; Umamah binti Abi al-‘Ash di pundaknya. Bila beliau akan sujud, maka anak tersebut diturunkannya”. HR. Bukhari dan Muslim.Hadits ini menjelaskan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lepas tangan saat membawa anak ke masjid. Cucunya dipegangi, bahkan digendong. Agar tidak mengganggu jamaah lainnya.Menyikapi Tangisan Anak KecilTerkadang anak menangis saat shalat. Mungkin akibat terjatuh, atau merasa haus, atau kepanasan, atau takut melihat kerumunan, atau karena faktor lainnya. Saat itulah imam shalat tertuntut untuk bersikap bijaksana.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إِنِّي لَأَدْخُلُ فِي الصَّلَاةِ وَأَنَا أُرِيدُ إِطَالَتَهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي مِمَّا أَعْلَمُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ مِنْ بُكَائِهِ“Sungguh saat memulai shalat, aku ingin memperpanjang bacaan shalatku. Namun karena mendengar tangisan bayi, maka akupun mempersingkat shalatku. Sebab aku tahu betapa gelisahnya perasaan si ibu saat mendengar tangisan anaknya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.Ini menunjukkan perpaduan apik antara menaati peraturan agama dan mengakomodir perasaan manusiawi. Aturan agama tidak dilanggar. Buktinya shalat tetap dilanjutkan. Sebab tangisan biasa anak kecil bukanlah hal darurat yang mengharuskan dibatalkannya shalat. Namun di waktu yang sama, perasaan resah ibu si anak juga dihargai. Dengan cara bacaan dan ritme gerakan shalat dipersingkat, tanpa merusak ketumakninahan shalat. Alangkah indahnya ajaran Islam…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 25 Dzulhijjah 1443 / 25 Juli 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 189: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-8Next Serial Fiqih Pendidikan Anak No 168: MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’AN Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 168: MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’AN

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 168 MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’ANSalah satu kunci sukses mendidik anak adalah memahami dan menjalankan tahapan yang seharusnya diikuti dalam proses pendidikan anak. Terutama tahapan yang dipraktekkan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap para sahabatnya. Sebab itu pasti adalah metode yang terbaik; karena bersumber dari wahyu dan sudah terbukti keberhasilannya dalam mencetak generasi sahabat yang hebat.Jundub bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu memaparkan tahapan tersebut,«كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ، فَتَعَلَّمْنَا الْإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا»“Dahulu saat kami masih anak-anak bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami belajar iman sebelum belajar al-Qur’an. Setelah itu kami baru belajar al-Qur’an. Sehingga iman kami pun semakin bertambah kuat”. HR. Ibn Majah dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Maksud hadits di atas adalah bahwa mengajarkan nilai-nilai yang terkandung di dalam al-Qur’an itu seharusnya didahulukan sebelum mengajarkan cara membaca al-Qur’an. Sehingga di saat anak mulai belajar makharijul huruf, tajwid dan cara yang benar dalam membaca al-Qur’an, saat itu anak sudah mengerti secara global ajaran yang terkandung di dalam ayat-ayat yang dipelajarinya.Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,« لَقَدْ عِشْنَا بُرْهَةً مِنْ دَهْرِنَا، وَأَحَدُنَا يُؤْتَى الْإِيمَانَ قَبْلَ الْقُرْآنِ، وَتَنْزِلُ السُّورَةُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَتَعَلَّمُ حَلَالَهَا وَحَرَامَهَا، وَآمِرَهَا وَزَاجِرَهَا، وَمَا يَنْبَغِي أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهَا، كَمَا تَعَلَّمُونَ أَنْتُمُ الْيَوْمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ لَقَدْ رَأَيْتُ الْيَوْمَ رِجَالًا يُؤْتَى أَحَدُهُمُ الْقُرْآنَ قَبْلَ الْإِيمَانِ، فَيَقْرَأُ مَا بَيْنَ فَاتِحَتِهِ إِلَى خَاتِمَتِهِ مَا يَدْرِي مَا آمِرُهُ وَلَا زَاجِرُهُ، وَلَا مَا يَنْبَغِي أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهُ»“Kami mengalami masa di mana kami belajar iman sebelum belajar al-Qur’an. Saat diturunkan surat al-Qur’an kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kami mempelajari hukum halal dan haram yang terkandung di dalamnya. Juga perintah dan larangannya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi. Seperti detilnya kalian sekarang mempelajari cara membaca al-Qur’an. Namun hari ini aku menyaksikan orang belajar al-Qur’an sebelum belajar iman. Ia lancar membaca surat al-Fatihah hingga surat an-Nas. Namun tidak mengerti perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi”. HR. Al-Baihaqiy dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga adz-Dhahabiy.Cara Mengajarkan Nilai-nilai Al-Qur’anAjaran yang terkandung di dalam al-Qur’an, secara global bisa dibagi menjadi tiga: akidah, ibadah dan akhlak. Akidah adalah terkait dengan keimanan kita tentang keberadaan Allah, sifat-sifat dan perbuatan-Nya, serta keberhakkan-Nya terhadap ibadah para hamba. Ibadah adalah ritual peribadatan hamba kepada Allah, seperti shalat, puasa, haji dan semisalnya. Akhlak adalah perilaku baik kita terhadap sesama.Nah, tiga nilai utama ajaran al-Qur’an di atas, perlu diajarkan terhadap anak-anak kita, sebelum diajarkan kepada mereka cara membaca al-Qur’an. Sebelum mengenalkan kepada mereka huruf hija’iyah, makharijul huruf, tajwid dan yang semisalnya.Adapun cara mengajarkannya adalah dengan ucapan dan perbuatan. Maksud mengajarkan dengan ucapan adalah rutin menyampaikan nasehat dan wejangan secara lisan terhadap anak terkait tiga nilai utama di atas. Sedangkan maksud mengajarkan dengan perbuatan adalah dengan memberikan teladan dalam keseharian. Yakni orang tua mempraktekkan tiga nilai utama tersebut. Sehingga anak meniru kebaikan-kebaikan yang dicontohkan orang tuanya. Wallahu a’lam bis shawab…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Muharram 1444 / 15 Agustus 2022Artikel: tunasilmu.com Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 191: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 168: MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’AN

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 168 MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’ANSalah satu kunci sukses mendidik anak adalah memahami dan menjalankan tahapan yang seharusnya diikuti dalam proses pendidikan anak. Terutama tahapan yang dipraktekkan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap para sahabatnya. Sebab itu pasti adalah metode yang terbaik; karena bersumber dari wahyu dan sudah terbukti keberhasilannya dalam mencetak generasi sahabat yang hebat.Jundub bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu memaparkan tahapan tersebut,«كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ، فَتَعَلَّمْنَا الْإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا»“Dahulu saat kami masih anak-anak bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami belajar iman sebelum belajar al-Qur’an. Setelah itu kami baru belajar al-Qur’an. Sehingga iman kami pun semakin bertambah kuat”. HR. Ibn Majah dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Maksud hadits di atas adalah bahwa mengajarkan nilai-nilai yang terkandung di dalam al-Qur’an itu seharusnya didahulukan sebelum mengajarkan cara membaca al-Qur’an. Sehingga di saat anak mulai belajar makharijul huruf, tajwid dan cara yang benar dalam membaca al-Qur’an, saat itu anak sudah mengerti secara global ajaran yang terkandung di dalam ayat-ayat yang dipelajarinya.Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,« لَقَدْ عِشْنَا بُرْهَةً مِنْ دَهْرِنَا، وَأَحَدُنَا يُؤْتَى الْإِيمَانَ قَبْلَ الْقُرْآنِ، وَتَنْزِلُ السُّورَةُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَتَعَلَّمُ حَلَالَهَا وَحَرَامَهَا، وَآمِرَهَا وَزَاجِرَهَا، وَمَا يَنْبَغِي أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهَا، كَمَا تَعَلَّمُونَ أَنْتُمُ الْيَوْمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ لَقَدْ رَأَيْتُ الْيَوْمَ رِجَالًا يُؤْتَى أَحَدُهُمُ الْقُرْآنَ قَبْلَ الْإِيمَانِ، فَيَقْرَأُ مَا بَيْنَ فَاتِحَتِهِ إِلَى خَاتِمَتِهِ مَا يَدْرِي مَا آمِرُهُ وَلَا زَاجِرُهُ، وَلَا مَا يَنْبَغِي أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهُ»“Kami mengalami masa di mana kami belajar iman sebelum belajar al-Qur’an. Saat diturunkan surat al-Qur’an kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kami mempelajari hukum halal dan haram yang terkandung di dalamnya. Juga perintah dan larangannya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi. Seperti detilnya kalian sekarang mempelajari cara membaca al-Qur’an. Namun hari ini aku menyaksikan orang belajar al-Qur’an sebelum belajar iman. Ia lancar membaca surat al-Fatihah hingga surat an-Nas. Namun tidak mengerti perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi”. HR. Al-Baihaqiy dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga adz-Dhahabiy.Cara Mengajarkan Nilai-nilai Al-Qur’anAjaran yang terkandung di dalam al-Qur’an, secara global bisa dibagi menjadi tiga: akidah, ibadah dan akhlak. Akidah adalah terkait dengan keimanan kita tentang keberadaan Allah, sifat-sifat dan perbuatan-Nya, serta keberhakkan-Nya terhadap ibadah para hamba. Ibadah adalah ritual peribadatan hamba kepada Allah, seperti shalat, puasa, haji dan semisalnya. Akhlak adalah perilaku baik kita terhadap sesama.Nah, tiga nilai utama ajaran al-Qur’an di atas, perlu diajarkan terhadap anak-anak kita, sebelum diajarkan kepada mereka cara membaca al-Qur’an. Sebelum mengenalkan kepada mereka huruf hija’iyah, makharijul huruf, tajwid dan yang semisalnya.Adapun cara mengajarkannya adalah dengan ucapan dan perbuatan. Maksud mengajarkan dengan ucapan adalah rutin menyampaikan nasehat dan wejangan secara lisan terhadap anak terkait tiga nilai utama di atas. Sedangkan maksud mengajarkan dengan perbuatan adalah dengan memberikan teladan dalam keseharian. Yakni orang tua mempraktekkan tiga nilai utama tersebut. Sehingga anak meniru kebaikan-kebaikan yang dicontohkan orang tuanya. Wallahu a’lam bis shawab…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Muharram 1444 / 15 Agustus 2022Artikel: tunasilmu.com Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 191: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 168 MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’ANSalah satu kunci sukses mendidik anak adalah memahami dan menjalankan tahapan yang seharusnya diikuti dalam proses pendidikan anak. Terutama tahapan yang dipraktekkan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap para sahabatnya. Sebab itu pasti adalah metode yang terbaik; karena bersumber dari wahyu dan sudah terbukti keberhasilannya dalam mencetak generasi sahabat yang hebat.Jundub bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu memaparkan tahapan tersebut,«كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ، فَتَعَلَّمْنَا الْإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا»“Dahulu saat kami masih anak-anak bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami belajar iman sebelum belajar al-Qur’an. Setelah itu kami baru belajar al-Qur’an. Sehingga iman kami pun semakin bertambah kuat”. HR. Ibn Majah dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Maksud hadits di atas adalah bahwa mengajarkan nilai-nilai yang terkandung di dalam al-Qur’an itu seharusnya didahulukan sebelum mengajarkan cara membaca al-Qur’an. Sehingga di saat anak mulai belajar makharijul huruf, tajwid dan cara yang benar dalam membaca al-Qur’an, saat itu anak sudah mengerti secara global ajaran yang terkandung di dalam ayat-ayat yang dipelajarinya.Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,« لَقَدْ عِشْنَا بُرْهَةً مِنْ دَهْرِنَا، وَأَحَدُنَا يُؤْتَى الْإِيمَانَ قَبْلَ الْقُرْآنِ، وَتَنْزِلُ السُّورَةُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَتَعَلَّمُ حَلَالَهَا وَحَرَامَهَا، وَآمِرَهَا وَزَاجِرَهَا، وَمَا يَنْبَغِي أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهَا، كَمَا تَعَلَّمُونَ أَنْتُمُ الْيَوْمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ لَقَدْ رَأَيْتُ الْيَوْمَ رِجَالًا يُؤْتَى أَحَدُهُمُ الْقُرْآنَ قَبْلَ الْإِيمَانِ، فَيَقْرَأُ مَا بَيْنَ فَاتِحَتِهِ إِلَى خَاتِمَتِهِ مَا يَدْرِي مَا آمِرُهُ وَلَا زَاجِرُهُ، وَلَا مَا يَنْبَغِي أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهُ»“Kami mengalami masa di mana kami belajar iman sebelum belajar al-Qur’an. Saat diturunkan surat al-Qur’an kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kami mempelajari hukum halal dan haram yang terkandung di dalamnya. Juga perintah dan larangannya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi. Seperti detilnya kalian sekarang mempelajari cara membaca al-Qur’an. Namun hari ini aku menyaksikan orang belajar al-Qur’an sebelum belajar iman. Ia lancar membaca surat al-Fatihah hingga surat an-Nas. Namun tidak mengerti perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi”. HR. Al-Baihaqiy dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga adz-Dhahabiy.Cara Mengajarkan Nilai-nilai Al-Qur’anAjaran yang terkandung di dalam al-Qur’an, secara global bisa dibagi menjadi tiga: akidah, ibadah dan akhlak. Akidah adalah terkait dengan keimanan kita tentang keberadaan Allah, sifat-sifat dan perbuatan-Nya, serta keberhakkan-Nya terhadap ibadah para hamba. Ibadah adalah ritual peribadatan hamba kepada Allah, seperti shalat, puasa, haji dan semisalnya. Akhlak adalah perilaku baik kita terhadap sesama.Nah, tiga nilai utama ajaran al-Qur’an di atas, perlu diajarkan terhadap anak-anak kita, sebelum diajarkan kepada mereka cara membaca al-Qur’an. Sebelum mengenalkan kepada mereka huruf hija’iyah, makharijul huruf, tajwid dan yang semisalnya.Adapun cara mengajarkannya adalah dengan ucapan dan perbuatan. Maksud mengajarkan dengan ucapan adalah rutin menyampaikan nasehat dan wejangan secara lisan terhadap anak terkait tiga nilai utama di atas. Sedangkan maksud mengajarkan dengan perbuatan adalah dengan memberikan teladan dalam keseharian. Yakni orang tua mempraktekkan tiga nilai utama tersebut. Sehingga anak meniru kebaikan-kebaikan yang dicontohkan orang tuanya. Wallahu a’lam bis shawab…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Muharram 1444 / 15 Agustus 2022Artikel: tunasilmu.com Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 191: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 168 MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’ANSalah satu kunci sukses mendidik anak adalah memahami dan menjalankan tahapan yang seharusnya diikuti dalam proses pendidikan anak. Terutama tahapan yang dipraktekkan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap para sahabatnya. Sebab itu pasti adalah metode yang terbaik; karena bersumber dari wahyu dan sudah terbukti keberhasilannya dalam mencetak generasi sahabat yang hebat.Jundub bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu memaparkan tahapan tersebut,«كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ، فَتَعَلَّمْنَا الْإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا»“Dahulu saat kami masih anak-anak bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami belajar iman sebelum belajar al-Qur’an. Setelah itu kami baru belajar al-Qur’an. Sehingga iman kami pun semakin bertambah kuat”. HR. Ibn Majah dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Maksud hadits di atas adalah bahwa mengajarkan nilai-nilai yang terkandung di dalam al-Qur’an itu seharusnya didahulukan sebelum mengajarkan cara membaca al-Qur’an. Sehingga di saat anak mulai belajar makharijul huruf, tajwid dan cara yang benar dalam membaca al-Qur’an, saat itu anak sudah mengerti secara global ajaran yang terkandung di dalam ayat-ayat yang dipelajarinya.Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,« لَقَدْ عِشْنَا بُرْهَةً مِنْ دَهْرِنَا، وَأَحَدُنَا يُؤْتَى الْإِيمَانَ قَبْلَ الْقُرْآنِ، وَتَنْزِلُ السُّورَةُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَتَعَلَّمُ حَلَالَهَا وَحَرَامَهَا، وَآمِرَهَا وَزَاجِرَهَا، وَمَا يَنْبَغِي أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهَا، كَمَا تَعَلَّمُونَ أَنْتُمُ الْيَوْمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ لَقَدْ رَأَيْتُ الْيَوْمَ رِجَالًا يُؤْتَى أَحَدُهُمُ الْقُرْآنَ قَبْلَ الْإِيمَانِ، فَيَقْرَأُ مَا بَيْنَ فَاتِحَتِهِ إِلَى خَاتِمَتِهِ مَا يَدْرِي مَا آمِرُهُ وَلَا زَاجِرُهُ، وَلَا مَا يَنْبَغِي أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهُ»“Kami mengalami masa di mana kami belajar iman sebelum belajar al-Qur’an. Saat diturunkan surat al-Qur’an kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kami mempelajari hukum halal dan haram yang terkandung di dalamnya. Juga perintah dan larangannya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi. Seperti detilnya kalian sekarang mempelajari cara membaca al-Qur’an. Namun hari ini aku menyaksikan orang belajar al-Qur’an sebelum belajar iman. Ia lancar membaca surat al-Fatihah hingga surat an-Nas. Namun tidak mengerti perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi”. HR. Al-Baihaqiy dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga adz-Dhahabiy.Cara Mengajarkan Nilai-nilai Al-Qur’anAjaran yang terkandung di dalam al-Qur’an, secara global bisa dibagi menjadi tiga: akidah, ibadah dan akhlak. Akidah adalah terkait dengan keimanan kita tentang keberadaan Allah, sifat-sifat dan perbuatan-Nya, serta keberhakkan-Nya terhadap ibadah para hamba. Ibadah adalah ritual peribadatan hamba kepada Allah, seperti shalat, puasa, haji dan semisalnya. Akhlak adalah perilaku baik kita terhadap sesama.Nah, tiga nilai utama ajaran al-Qur’an di atas, perlu diajarkan terhadap anak-anak kita, sebelum diajarkan kepada mereka cara membaca al-Qur’an. Sebelum mengenalkan kepada mereka huruf hija’iyah, makharijul huruf, tajwid dan yang semisalnya.Adapun cara mengajarkannya adalah dengan ucapan dan perbuatan. Maksud mengajarkan dengan ucapan adalah rutin menyampaikan nasehat dan wejangan secara lisan terhadap anak terkait tiga nilai utama di atas. Sedangkan maksud mengajarkan dengan perbuatan adalah dengan memberikan teladan dalam keseharian. Yakni orang tua mempraktekkan tiga nilai utama tersebut. Sehingga anak meniru kebaikan-kebaikan yang dicontohkan orang tuanya. Wallahu a’lam bis shawab…Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Muharram 1444 / 15 Agustus 2022Artikel: tunasilmu.com Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 167 – MEMBAWA ANAK KECIL KE MASJIDNext Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 191: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 191: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 191DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KESEPULUH:Membaca Surat an-Nas sebanyak tiga kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 114. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 6 ayat.Dalil LandasanAisyah radhiyallahu ’anha menuturkan,“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ”.“Setiap malam jika Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam beranjak ke peraduan, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya. Kemudian meniupkan nafas dari mulutnya dengan sedikit air ludah. Lalu membaca, “Qul huwallahu ahad”, “Qul a’ûdzubirabbil falaq” dan “Qul a’udzubirabbin nas” (Surat an-Nas). Kemudian mengusapkan kedua tangannya ke seluruh bagian tubuh yang bisa dijangkau. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal itu tiga kali”. HR. Bukhari (no. 5017).Dzikir ini akan melindungi insan dari bahaya apapun juga, entah itu setan maupun binatang berbisa. Juga menghindarkannya dari mimpi buruk. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sangat menjaga wirid ini. Bahkan dalam suatu riwayat Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan, “Saat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sakit, beliau menyuruhku untuk membacakan wirid tersebut atas beliau”. HR. Bukhari (no. 5748).Renungan KandunganSurat mulia ini mengandung permohonan perlindungan kepada Rabb para manusia. Penguasa dan Sembahan mereka. Dari kejahatan setan yang merupakan sumber segala kejahatan.Di antara bentuk kejahatan setan: ia mengganggu hati manusia. Keburukan ia hiasi sampai terlihat indah. Sehingga manusia tergoda untuk melakukannya. Sebaliknya ia menjadikan manusia malas untuk melakukan kebaikan dan menggambarkannya tidak sesuai dengan bentuk aslinya.Dalam melakukan misinya tersebut, setan memiliki siasat untuk maju dan mundur. Dia akan maju manakala kita lalai dari berdzikir, dan mundur saat kita menyerangnya dengan dzikrullah. Jika kita menginginkan agar setan senantiasa mundur, maka kita pun harus senantiasa memukulnya terus dengan dzikir.“Dzikir merupakan cemeti untuk mencambuk setan. Sebagaimana para penjahat dibuat jera dengan sabetan cemeti, kayu atau besi. Dzikrullah akan memukul dan menyakiti setan, persis seperti cemeti menyakiti orang yang disabet dengannya. Karena itulah setan yang menyertai mukmin, ia berbadan kurus, lemah dan ceking. Sebab selalu disiksa dengan dzikir dan ketaatan pada Allah … Kebalikannya, setan yang bersama orang fasik, ia hidup dalam kenyamanan. Akibatnya dia menjadi kuat dan sombong.Barang siapa yang tidak pernah menyiksa setannya di dunia ini dengan dzikrullah, tauhid, istighfar dan ketaatan pada Allah, maka ia akan ‘disiksa’ oleh setannya kelak di neraka. Hanya ada dua pilihan; seorang hamba menyiksa setannya, atau ia disiksa oleh setannya”.Gangguan terhadap kita, sebagaimana muncul dari setan golongan jin, juga muncul dari setan golongan manusia. Kedua jenis setan tersebut berkolaborasi dan saling bantu membantu dalam merealisasikan kejahatan mereka. Allah ta’ala menjelaskan, “Begitulah ketetapan Kami. Setiap nabi, Kami hadapkan dengan musuh-musuh dari golongan manusia dan jin. Mereka saling membisikkan satu sama lainnya perkataan manis yang penuh tipuan”. QS. Al-An’am (6): 112.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,24 Muharram 1444 / 22 Agustus 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 168: MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’ANNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 169: MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 191: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 191DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KESEPULUH:Membaca Surat an-Nas sebanyak tiga kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 114. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 6 ayat.Dalil LandasanAisyah radhiyallahu ’anha menuturkan,“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ”.“Setiap malam jika Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam beranjak ke peraduan, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya. Kemudian meniupkan nafas dari mulutnya dengan sedikit air ludah. Lalu membaca, “Qul huwallahu ahad”, “Qul a’ûdzubirabbil falaq” dan “Qul a’udzubirabbin nas” (Surat an-Nas). Kemudian mengusapkan kedua tangannya ke seluruh bagian tubuh yang bisa dijangkau. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal itu tiga kali”. HR. Bukhari (no. 5017).Dzikir ini akan melindungi insan dari bahaya apapun juga, entah itu setan maupun binatang berbisa. Juga menghindarkannya dari mimpi buruk. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sangat menjaga wirid ini. Bahkan dalam suatu riwayat Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan, “Saat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sakit, beliau menyuruhku untuk membacakan wirid tersebut atas beliau”. HR. Bukhari (no. 5748).Renungan KandunganSurat mulia ini mengandung permohonan perlindungan kepada Rabb para manusia. Penguasa dan Sembahan mereka. Dari kejahatan setan yang merupakan sumber segala kejahatan.Di antara bentuk kejahatan setan: ia mengganggu hati manusia. Keburukan ia hiasi sampai terlihat indah. Sehingga manusia tergoda untuk melakukannya. Sebaliknya ia menjadikan manusia malas untuk melakukan kebaikan dan menggambarkannya tidak sesuai dengan bentuk aslinya.Dalam melakukan misinya tersebut, setan memiliki siasat untuk maju dan mundur. Dia akan maju manakala kita lalai dari berdzikir, dan mundur saat kita menyerangnya dengan dzikrullah. Jika kita menginginkan agar setan senantiasa mundur, maka kita pun harus senantiasa memukulnya terus dengan dzikir.“Dzikir merupakan cemeti untuk mencambuk setan. Sebagaimana para penjahat dibuat jera dengan sabetan cemeti, kayu atau besi. Dzikrullah akan memukul dan menyakiti setan, persis seperti cemeti menyakiti orang yang disabet dengannya. Karena itulah setan yang menyertai mukmin, ia berbadan kurus, lemah dan ceking. Sebab selalu disiksa dengan dzikir dan ketaatan pada Allah … Kebalikannya, setan yang bersama orang fasik, ia hidup dalam kenyamanan. Akibatnya dia menjadi kuat dan sombong.Barang siapa yang tidak pernah menyiksa setannya di dunia ini dengan dzikrullah, tauhid, istighfar dan ketaatan pada Allah, maka ia akan ‘disiksa’ oleh setannya kelak di neraka. Hanya ada dua pilihan; seorang hamba menyiksa setannya, atau ia disiksa oleh setannya”.Gangguan terhadap kita, sebagaimana muncul dari setan golongan jin, juga muncul dari setan golongan manusia. Kedua jenis setan tersebut berkolaborasi dan saling bantu membantu dalam merealisasikan kejahatan mereka. Allah ta’ala menjelaskan, “Begitulah ketetapan Kami. Setiap nabi, Kami hadapkan dengan musuh-musuh dari golongan manusia dan jin. Mereka saling membisikkan satu sama lainnya perkataan manis yang penuh tipuan”. QS. Al-An’am (6): 112.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,24 Muharram 1444 / 22 Agustus 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 168: MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’ANNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 169: MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 191DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KESEPULUH:Membaca Surat an-Nas sebanyak tiga kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 114. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 6 ayat.Dalil LandasanAisyah radhiyallahu ’anha menuturkan,“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ”.“Setiap malam jika Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam beranjak ke peraduan, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya. Kemudian meniupkan nafas dari mulutnya dengan sedikit air ludah. Lalu membaca, “Qul huwallahu ahad”, “Qul a’ûdzubirabbil falaq” dan “Qul a’udzubirabbin nas” (Surat an-Nas). Kemudian mengusapkan kedua tangannya ke seluruh bagian tubuh yang bisa dijangkau. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal itu tiga kali”. HR. Bukhari (no. 5017).Dzikir ini akan melindungi insan dari bahaya apapun juga, entah itu setan maupun binatang berbisa. Juga menghindarkannya dari mimpi buruk. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sangat menjaga wirid ini. Bahkan dalam suatu riwayat Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan, “Saat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sakit, beliau menyuruhku untuk membacakan wirid tersebut atas beliau”. HR. Bukhari (no. 5748).Renungan KandunganSurat mulia ini mengandung permohonan perlindungan kepada Rabb para manusia. Penguasa dan Sembahan mereka. Dari kejahatan setan yang merupakan sumber segala kejahatan.Di antara bentuk kejahatan setan: ia mengganggu hati manusia. Keburukan ia hiasi sampai terlihat indah. Sehingga manusia tergoda untuk melakukannya. Sebaliknya ia menjadikan manusia malas untuk melakukan kebaikan dan menggambarkannya tidak sesuai dengan bentuk aslinya.Dalam melakukan misinya tersebut, setan memiliki siasat untuk maju dan mundur. Dia akan maju manakala kita lalai dari berdzikir, dan mundur saat kita menyerangnya dengan dzikrullah. Jika kita menginginkan agar setan senantiasa mundur, maka kita pun harus senantiasa memukulnya terus dengan dzikir.“Dzikir merupakan cemeti untuk mencambuk setan. Sebagaimana para penjahat dibuat jera dengan sabetan cemeti, kayu atau besi. Dzikrullah akan memukul dan menyakiti setan, persis seperti cemeti menyakiti orang yang disabet dengannya. Karena itulah setan yang menyertai mukmin, ia berbadan kurus, lemah dan ceking. Sebab selalu disiksa dengan dzikir dan ketaatan pada Allah … Kebalikannya, setan yang bersama orang fasik, ia hidup dalam kenyamanan. Akibatnya dia menjadi kuat dan sombong.Barang siapa yang tidak pernah menyiksa setannya di dunia ini dengan dzikrullah, tauhid, istighfar dan ketaatan pada Allah, maka ia akan ‘disiksa’ oleh setannya kelak di neraka. Hanya ada dua pilihan; seorang hamba menyiksa setannya, atau ia disiksa oleh setannya”.Gangguan terhadap kita, sebagaimana muncul dari setan golongan jin, juga muncul dari setan golongan manusia. Kedua jenis setan tersebut berkolaborasi dan saling bantu membantu dalam merealisasikan kejahatan mereka. Allah ta’ala menjelaskan, “Begitulah ketetapan Kami. Setiap nabi, Kami hadapkan dengan musuh-musuh dari golongan manusia dan jin. Mereka saling membisikkan satu sama lainnya perkataan manis yang penuh tipuan”. QS. Al-An’am (6): 112.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,24 Muharram 1444 / 22 Agustus 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 168: MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’ANNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 169: MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 191DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KESEPULUH:Membaca Surat an-Nas sebanyak tiga kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf al-Qur’an adalah nomor 114. Terletak di juz 30. Jumlah ayatnya sebanyak 6 ayat.Dalil LandasanAisyah radhiyallahu ’anha menuturkan,“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ”.“Setiap malam jika Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam beranjak ke peraduan, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya. Kemudian meniupkan nafas dari mulutnya dengan sedikit air ludah. Lalu membaca, “Qul huwallahu ahad”, “Qul a’ûdzubirabbil falaq” dan “Qul a’udzubirabbin nas” (Surat an-Nas). Kemudian mengusapkan kedua tangannya ke seluruh bagian tubuh yang bisa dijangkau. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal itu tiga kali”. HR. Bukhari (no. 5017).Dzikir ini akan melindungi insan dari bahaya apapun juga, entah itu setan maupun binatang berbisa. Juga menghindarkannya dari mimpi buruk. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sangat menjaga wirid ini. Bahkan dalam suatu riwayat Aisyah radhiyallahu ’anha menceritakan, “Saat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sakit, beliau menyuruhku untuk membacakan wirid tersebut atas beliau”. HR. Bukhari (no. 5748).Renungan KandunganSurat mulia ini mengandung permohonan perlindungan kepada Rabb para manusia. Penguasa dan Sembahan mereka. Dari kejahatan setan yang merupakan sumber segala kejahatan.Di antara bentuk kejahatan setan: ia mengganggu hati manusia. Keburukan ia hiasi sampai terlihat indah. Sehingga manusia tergoda untuk melakukannya. Sebaliknya ia menjadikan manusia malas untuk melakukan kebaikan dan menggambarkannya tidak sesuai dengan bentuk aslinya.Dalam melakukan misinya tersebut, setan memiliki siasat untuk maju dan mundur. Dia akan maju manakala kita lalai dari berdzikir, dan mundur saat kita menyerangnya dengan dzikrullah. Jika kita menginginkan agar setan senantiasa mundur, maka kita pun harus senantiasa memukulnya terus dengan dzikir.“Dzikir merupakan cemeti untuk mencambuk setan. Sebagaimana para penjahat dibuat jera dengan sabetan cemeti, kayu atau besi. Dzikrullah akan memukul dan menyakiti setan, persis seperti cemeti menyakiti orang yang disabet dengannya. Karena itulah setan yang menyertai mukmin, ia berbadan kurus, lemah dan ceking. Sebab selalu disiksa dengan dzikir dan ketaatan pada Allah … Kebalikannya, setan yang bersama orang fasik, ia hidup dalam kenyamanan. Akibatnya dia menjadi kuat dan sombong.Barang siapa yang tidak pernah menyiksa setannya di dunia ini dengan dzikrullah, tauhid, istighfar dan ketaatan pada Allah, maka ia akan ‘disiksa’ oleh setannya kelak di neraka. Hanya ada dua pilihan; seorang hamba menyiksa setannya, atau ia disiksa oleh setannya”.Gangguan terhadap kita, sebagaimana muncul dari setan golongan jin, juga muncul dari setan golongan manusia. Kedua jenis setan tersebut berkolaborasi dan saling bantu membantu dalam merealisasikan kejahatan mereka. Allah ta’ala menjelaskan, “Begitulah ketetapan Kami. Setiap nabi, Kami hadapkan dengan musuh-musuh dari golongan manusia dan jin. Mereka saling membisikkan satu sama lainnya perkataan manis yang penuh tipuan”. QS. Al-An’am (6): 112.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,24 Muharram 1444 / 22 Agustus 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 168: MENGAJARKAN IMAN SEBELUM AL-QUR’ANNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 169: MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 169: MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAK

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 169 MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAKPenampilan luar seseorang adalah cerminan dari ideologi dan pemahaman yang diyakininya. Sehingga sejak dini orang tua perlu memperhatikan penampilan putra-putrinya. Gaya cukuran rambutnya, model pakaiannya, begitu pula sikap dan gerak-geriknya. Walaupun masih kecil, itu bukan alasan untuk membiarkan anak melakukan perilaku negatif. Sebab jika dibiarkan, dikhawatirkan akan menjadi kebiasaan buruk hingga beranjak dewasa. Akibatnya kelak sulit untuk dihilangkan.Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى صَبِيًّا حَلَقَ بَعْضَ شَعْرِهِ وَتَرَكَ بَعْضَهُ، فَنَهَى عَنْ ذَلِكَ وَقَالَ: «‌احْلِقُوهُ ‌كُلَّهُ، أَوِ اتْرُكُوهُ كُلَّهُ»“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat seorang bayi yang sebagian sisi rambutnya dicukur habis, sedangkan sebagian yang lain dibiarkan. Maka beliaupun melarang hal tersebut, seraya bersabda, “Cukur habislah semua rambutnya, atau biarkan semua”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga al-Albaniy.Bahkan untuk memastikan model cukuran anak-anak, beliau sendiri mengawasi proses pencukuran mereka. Yakni saat beliau menjenguk putra-putra sepupu beliau; Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pasca wafatnya. Beliau bersabda,«ادْعُوا إِلَيَّ الْحَلاقَ، فَجِيءَ بِالْحَلاقِ فَحَلَقَ رُءُوسَنَا»“Tolong panggilkan kemari tukang cukur. Setelah tiba, tukang cukur tersebut memangkas rambut kami (anak-anak Ja’far)”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisiy serta al-Albaniy.Hadits ini menunjukkan bahwa orang tua seharusnya peduli dengan penampilan rambut anak-anaknya. Kapan saatnya mereka dicukur, dan kapan belum. Lalu juga memastikan, apakah model cukuran mereka melanggar aturan agama atau tidak? Menyerupai gaya cukuran rambut non muslim atau tidak?Selain cukuran rambut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memperhatikan pakaian anak. Memastikan agar tidak menyelisihi aturan agama. Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu mengisahkan,رَأَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‌عَلَيَّ ‌ثَوْبَيْنِ ‌مُعَصْفَرَيْنِ، فَقَالَ: «إِنَّ هَذِهِ مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلَا تَلْبَسْهَا»Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihatku mengenakan dua pakaian mu’ashfar (pakaian yang dicelup dengan tetumbuhan ‘Ushfur sehingga menghasilkan warna merah kekuningan). Maka beliau bersabda, “Ini adalah pakaian orang-orang kafir. Janganlah engkau memakainya”. HR. Muslim.‘Sekedar’ menyerupai warna pakaian orang kafir saja dilarang. Apalagi pakaian yang memuat simbol-simbol keagamaan mereka. Semisal salib, simbol Yahudi, gambar berhala atau dewa. Juga pakaian yang memuat tulisan-tulisan tidak bermoral, atau gambar yang memamerkan aurat. Ini semua dan yang semisal tidak layak dikenakan oleh muslim dan muslimah yang telah dimuliakan Allah dengan ajaran Islam.Anas radhiyallahu ‘anhu menambahkan,«نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‌أَنْ ‌يَتَزَعْفَرَ ‌الرَّجُلُ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang pria untuk mengenakan Za’faran (warna yang dihasilkan tetumbuhan Za’faran, biasanya dikenakan wanita)”. HR. Bukhari dan Muslim.Ini menunjukkan larangan memakai busana yang biasa dipakai lawan jenis. Pria tidak boleh mengenakan pakaian wanita, begitu pula sebaliknya. Juga tidak boleh memakai busana yang menonjolkan aurat. Sejak dini anak-anak perlu dididik dan diarahkan—dengan cara yang baik—untuk menghindari hal-hal terlarang tersebut. Guna mencegah munculnya penyimpangan orientasi seksual, semisal Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Shafar 1444 / 29 Agustus 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 191: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No – 193: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-12 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 169: MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAK

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 169 MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAKPenampilan luar seseorang adalah cerminan dari ideologi dan pemahaman yang diyakininya. Sehingga sejak dini orang tua perlu memperhatikan penampilan putra-putrinya. Gaya cukuran rambutnya, model pakaiannya, begitu pula sikap dan gerak-geriknya. Walaupun masih kecil, itu bukan alasan untuk membiarkan anak melakukan perilaku negatif. Sebab jika dibiarkan, dikhawatirkan akan menjadi kebiasaan buruk hingga beranjak dewasa. Akibatnya kelak sulit untuk dihilangkan.Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى صَبِيًّا حَلَقَ بَعْضَ شَعْرِهِ وَتَرَكَ بَعْضَهُ، فَنَهَى عَنْ ذَلِكَ وَقَالَ: «‌احْلِقُوهُ ‌كُلَّهُ، أَوِ اتْرُكُوهُ كُلَّهُ»“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat seorang bayi yang sebagian sisi rambutnya dicukur habis, sedangkan sebagian yang lain dibiarkan. Maka beliaupun melarang hal tersebut, seraya bersabda, “Cukur habislah semua rambutnya, atau biarkan semua”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga al-Albaniy.Bahkan untuk memastikan model cukuran anak-anak, beliau sendiri mengawasi proses pencukuran mereka. Yakni saat beliau menjenguk putra-putra sepupu beliau; Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pasca wafatnya. Beliau bersabda,«ادْعُوا إِلَيَّ الْحَلاقَ، فَجِيءَ بِالْحَلاقِ فَحَلَقَ رُءُوسَنَا»“Tolong panggilkan kemari tukang cukur. Setelah tiba, tukang cukur tersebut memangkas rambut kami (anak-anak Ja’far)”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisiy serta al-Albaniy.Hadits ini menunjukkan bahwa orang tua seharusnya peduli dengan penampilan rambut anak-anaknya. Kapan saatnya mereka dicukur, dan kapan belum. Lalu juga memastikan, apakah model cukuran mereka melanggar aturan agama atau tidak? Menyerupai gaya cukuran rambut non muslim atau tidak?Selain cukuran rambut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memperhatikan pakaian anak. Memastikan agar tidak menyelisihi aturan agama. Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu mengisahkan,رَأَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‌عَلَيَّ ‌ثَوْبَيْنِ ‌مُعَصْفَرَيْنِ، فَقَالَ: «إِنَّ هَذِهِ مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلَا تَلْبَسْهَا»Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihatku mengenakan dua pakaian mu’ashfar (pakaian yang dicelup dengan tetumbuhan ‘Ushfur sehingga menghasilkan warna merah kekuningan). Maka beliau bersabda, “Ini adalah pakaian orang-orang kafir. Janganlah engkau memakainya”. HR. Muslim.‘Sekedar’ menyerupai warna pakaian orang kafir saja dilarang. Apalagi pakaian yang memuat simbol-simbol keagamaan mereka. Semisal salib, simbol Yahudi, gambar berhala atau dewa. Juga pakaian yang memuat tulisan-tulisan tidak bermoral, atau gambar yang memamerkan aurat. Ini semua dan yang semisal tidak layak dikenakan oleh muslim dan muslimah yang telah dimuliakan Allah dengan ajaran Islam.Anas radhiyallahu ‘anhu menambahkan,«نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‌أَنْ ‌يَتَزَعْفَرَ ‌الرَّجُلُ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang pria untuk mengenakan Za’faran (warna yang dihasilkan tetumbuhan Za’faran, biasanya dikenakan wanita)”. HR. Bukhari dan Muslim.Ini menunjukkan larangan memakai busana yang biasa dipakai lawan jenis. Pria tidak boleh mengenakan pakaian wanita, begitu pula sebaliknya. Juga tidak boleh memakai busana yang menonjolkan aurat. Sejak dini anak-anak perlu dididik dan diarahkan—dengan cara yang baik—untuk menghindari hal-hal terlarang tersebut. Guna mencegah munculnya penyimpangan orientasi seksual, semisal Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Shafar 1444 / 29 Agustus 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 191: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No – 193: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-12 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 169 MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAKPenampilan luar seseorang adalah cerminan dari ideologi dan pemahaman yang diyakininya. Sehingga sejak dini orang tua perlu memperhatikan penampilan putra-putrinya. Gaya cukuran rambutnya, model pakaiannya, begitu pula sikap dan gerak-geriknya. Walaupun masih kecil, itu bukan alasan untuk membiarkan anak melakukan perilaku negatif. Sebab jika dibiarkan, dikhawatirkan akan menjadi kebiasaan buruk hingga beranjak dewasa. Akibatnya kelak sulit untuk dihilangkan.Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى صَبِيًّا حَلَقَ بَعْضَ شَعْرِهِ وَتَرَكَ بَعْضَهُ، فَنَهَى عَنْ ذَلِكَ وَقَالَ: «‌احْلِقُوهُ ‌كُلَّهُ، أَوِ اتْرُكُوهُ كُلَّهُ»“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat seorang bayi yang sebagian sisi rambutnya dicukur habis, sedangkan sebagian yang lain dibiarkan. Maka beliaupun melarang hal tersebut, seraya bersabda, “Cukur habislah semua rambutnya, atau biarkan semua”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga al-Albaniy.Bahkan untuk memastikan model cukuran anak-anak, beliau sendiri mengawasi proses pencukuran mereka. Yakni saat beliau menjenguk putra-putra sepupu beliau; Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pasca wafatnya. Beliau bersabda,«ادْعُوا إِلَيَّ الْحَلاقَ، فَجِيءَ بِالْحَلاقِ فَحَلَقَ رُءُوسَنَا»“Tolong panggilkan kemari tukang cukur. Setelah tiba, tukang cukur tersebut memangkas rambut kami (anak-anak Ja’far)”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisiy serta al-Albaniy.Hadits ini menunjukkan bahwa orang tua seharusnya peduli dengan penampilan rambut anak-anaknya. Kapan saatnya mereka dicukur, dan kapan belum. Lalu juga memastikan, apakah model cukuran mereka melanggar aturan agama atau tidak? Menyerupai gaya cukuran rambut non muslim atau tidak?Selain cukuran rambut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memperhatikan pakaian anak. Memastikan agar tidak menyelisihi aturan agama. Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu mengisahkan,رَأَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‌عَلَيَّ ‌ثَوْبَيْنِ ‌مُعَصْفَرَيْنِ، فَقَالَ: «إِنَّ هَذِهِ مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلَا تَلْبَسْهَا»Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihatku mengenakan dua pakaian mu’ashfar (pakaian yang dicelup dengan tetumbuhan ‘Ushfur sehingga menghasilkan warna merah kekuningan). Maka beliau bersabda, “Ini adalah pakaian orang-orang kafir. Janganlah engkau memakainya”. HR. Muslim.‘Sekedar’ menyerupai warna pakaian orang kafir saja dilarang. Apalagi pakaian yang memuat simbol-simbol keagamaan mereka. Semisal salib, simbol Yahudi, gambar berhala atau dewa. Juga pakaian yang memuat tulisan-tulisan tidak bermoral, atau gambar yang memamerkan aurat. Ini semua dan yang semisal tidak layak dikenakan oleh muslim dan muslimah yang telah dimuliakan Allah dengan ajaran Islam.Anas radhiyallahu ‘anhu menambahkan,«نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‌أَنْ ‌يَتَزَعْفَرَ ‌الرَّجُلُ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang pria untuk mengenakan Za’faran (warna yang dihasilkan tetumbuhan Za’faran, biasanya dikenakan wanita)”. HR. Bukhari dan Muslim.Ini menunjukkan larangan memakai busana yang biasa dipakai lawan jenis. Pria tidak boleh mengenakan pakaian wanita, begitu pula sebaliknya. Juga tidak boleh memakai busana yang menonjolkan aurat. Sejak dini anak-anak perlu dididik dan diarahkan—dengan cara yang baik—untuk menghindari hal-hal terlarang tersebut. Guna mencegah munculnya penyimpangan orientasi seksual, semisal Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Shafar 1444 / 29 Agustus 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 191: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No – 193: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-12 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 169 MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAKPenampilan luar seseorang adalah cerminan dari ideologi dan pemahaman yang diyakininya. Sehingga sejak dini orang tua perlu memperhatikan penampilan putra-putrinya. Gaya cukuran rambutnya, model pakaiannya, begitu pula sikap dan gerak-geriknya. Walaupun masih kecil, itu bukan alasan untuk membiarkan anak melakukan perilaku negatif. Sebab jika dibiarkan, dikhawatirkan akan menjadi kebiasaan buruk hingga beranjak dewasa. Akibatnya kelak sulit untuk dihilangkan.Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى صَبِيًّا حَلَقَ بَعْضَ شَعْرِهِ وَتَرَكَ بَعْضَهُ، فَنَهَى عَنْ ذَلِكَ وَقَالَ: «‌احْلِقُوهُ ‌كُلَّهُ، أَوِ اتْرُكُوهُ كُلَّهُ»“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat seorang bayi yang sebagian sisi rambutnya dicukur habis, sedangkan sebagian yang lain dibiarkan. Maka beliaupun melarang hal tersebut, seraya bersabda, “Cukur habislah semua rambutnya, atau biarkan semua”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban juga al-Albaniy.Bahkan untuk memastikan model cukuran anak-anak, beliau sendiri mengawasi proses pencukuran mereka. Yakni saat beliau menjenguk putra-putra sepupu beliau; Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pasca wafatnya. Beliau bersabda,«ادْعُوا إِلَيَّ الْحَلاقَ، فَجِيءَ بِالْحَلاقِ فَحَلَقَ رُءُوسَنَا»“Tolong panggilkan kemari tukang cukur. Setelah tiba, tukang cukur tersebut memangkas rambut kami (anak-anak Ja’far)”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisiy serta al-Albaniy.Hadits ini menunjukkan bahwa orang tua seharusnya peduli dengan penampilan rambut anak-anaknya. Kapan saatnya mereka dicukur, dan kapan belum. Lalu juga memastikan, apakah model cukuran mereka melanggar aturan agama atau tidak? Menyerupai gaya cukuran rambut non muslim atau tidak?Selain cukuran rambut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memperhatikan pakaian anak. Memastikan agar tidak menyelisihi aturan agama. Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu mengisahkan,رَأَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‌عَلَيَّ ‌ثَوْبَيْنِ ‌مُعَصْفَرَيْنِ، فَقَالَ: «إِنَّ هَذِهِ مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلَا تَلْبَسْهَا»Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihatku mengenakan dua pakaian mu’ashfar (pakaian yang dicelup dengan tetumbuhan ‘Ushfur sehingga menghasilkan warna merah kekuningan). Maka beliau bersabda, “Ini adalah pakaian orang-orang kafir. Janganlah engkau memakainya”. HR. Muslim.‘Sekedar’ menyerupai warna pakaian orang kafir saja dilarang. Apalagi pakaian yang memuat simbol-simbol keagamaan mereka. Semisal salib, simbol Yahudi, gambar berhala atau dewa. Juga pakaian yang memuat tulisan-tulisan tidak bermoral, atau gambar yang memamerkan aurat. Ini semua dan yang semisal tidak layak dikenakan oleh muslim dan muslimah yang telah dimuliakan Allah dengan ajaran Islam.Anas radhiyallahu ‘anhu menambahkan,«نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‌أَنْ ‌يَتَزَعْفَرَ ‌الرَّجُلُ»“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang pria untuk mengenakan Za’faran (warna yang dihasilkan tetumbuhan Za’faran, biasanya dikenakan wanita)”. HR. Bukhari dan Muslim.Ini menunjukkan larangan memakai busana yang biasa dipakai lawan jenis. Pria tidak boleh mengenakan pakaian wanita, begitu pula sebaliknya. Juga tidak boleh memakai busana yang menonjolkan aurat. Sejak dini anak-anak perlu dididik dan diarahkan—dengan cara yang baik—untuk menghindari hal-hal terlarang tersebut. Guna mencegah munculnya penyimpangan orientasi seksual, semisal Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Shafar 1444 / 29 Agustus 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No 191: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-10Next Serial Fiqih Doa dan Dzikir No – 193: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-12 Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No – 193: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-12

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 193DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-12Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KEDUABELAS:Membaca doa berikut ini sekali:«‌اللَّهُمَّ ‌رَبَّ ‌السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ»“Allôhumma Rabbas samâwâti wa Rabbal ardh, wa Rabbal ‘arsyil azhîm. Rabbanâ wa Rabba kulli syai’. Fâliqol habbi wan nawâ, wa Munzilat Taurâti wal Injîli wal Furqôn. A’ûdzubika min syarri kulli syai’in Anta âkhidzun binâshiyatih. Allôhumma Antal Awwalu falaisa qablaka syai’, wa Antal Âkhiru falaisa ba’daka syai’, wa Antazh Zhôhiru falaisa fauqoka syai’, wa Antal Bâthinu falaisa dûnaka syai’; iqdhi ‘annad dain, wa aghninâ minal faqr”.Dalil LandasanAbu Hurairah radhiyallahu ’anhu menuturkan,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا إِذَا أَرَادَ أَحَدُنَا أَنْ يَنَامَ أَنْ يَضْطَجِعَ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ. ثُمَّ يَقُولُ: ‌اللَّهُمَّ ‌رَبَّ ‌السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ؛ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ؛ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِNabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami bila akan tidur agar menghadap ke sebelah kanan, lalu membaca doa: “Ya Allah, Rabb yang menguasai langit dan menguasai bumi. Rabb yang menguasai ‘Arsy yang agung. Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Rabb yang membelah benih tetumbuhan dan biji buah. Rabb yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan al-Qur’an. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau kuasai. Ya Allah, Engkau-lah Yang Maha Pertama, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkaulah Yang Maha Akhir, tidak ada sesuatu pun setelah-Mu. Engkau-lah Yang Maha Tinggi, tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Engkau-lah Yang Maha Dekat, tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat dibandingkan-Mu. Lunaskanlah hutang kami dan berilah kami kecukupan, hingga terlepas dari kefakiran”. (HR. Muslim no. 2713).Renungan KandunganDoa di atas memang cukup panjang. Namun mengajarkan kepada kita salah satu etika penting dalam doa. Yakni bertawasul kepada Allah sebelum memanjatkan permohonan kepada-Nya. Ada dua permintaan yang kita tujukan kepada Allah di dalam doa ini.Pertama: Permohonan agar kita dilindungi dari kejahatan seluruh makhluk Allah. Sebelum mengajukan permohonan ini, kita bertawasul dengan mengakui kekuasaan mutlak Allah atas alam semesta. Langit, bumi, arsy dan seluruh makhluk-Nya. Juga kekuasaan Allah untuk menumbuhkan tanaman dan pepohonan. Serta karunia-Nya berupa diturunkannya kitab-kitab suci.Kedua: Permohonan agar hutang kita dilunasi Allah dan kita dikaruniai kecukupan. Sebelum memanjatkan permintaan ini, kita bertawassul dengan menyebutkan beberapa asmaul husna. Al-Awwal (Maha Pertama), al-Âkhir (Maha Akhir), azh-Zhôhir (Maha Tinggi) dan al-Bâthin (Maha Dekat). Nama-nama ini menunjukkan betapa mutlaknya kekuasaan Allah yang meliputi segala zaman dan semua tempat.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 7 Rabi’ul Awwal 1444 / 3 Oktober 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 169: MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAKNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 171: BERCENGKERAMA DENGAN ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No – 193: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-12

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 193DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-12Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KEDUABELAS:Membaca doa berikut ini sekali:«‌اللَّهُمَّ ‌رَبَّ ‌السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ»“Allôhumma Rabbas samâwâti wa Rabbal ardh, wa Rabbal ‘arsyil azhîm. Rabbanâ wa Rabba kulli syai’. Fâliqol habbi wan nawâ, wa Munzilat Taurâti wal Injîli wal Furqôn. A’ûdzubika min syarri kulli syai’in Anta âkhidzun binâshiyatih. Allôhumma Antal Awwalu falaisa qablaka syai’, wa Antal Âkhiru falaisa ba’daka syai’, wa Antazh Zhôhiru falaisa fauqoka syai’, wa Antal Bâthinu falaisa dûnaka syai’; iqdhi ‘annad dain, wa aghninâ minal faqr”.Dalil LandasanAbu Hurairah radhiyallahu ’anhu menuturkan,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا إِذَا أَرَادَ أَحَدُنَا أَنْ يَنَامَ أَنْ يَضْطَجِعَ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ. ثُمَّ يَقُولُ: ‌اللَّهُمَّ ‌رَبَّ ‌السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ؛ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ؛ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِNabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami bila akan tidur agar menghadap ke sebelah kanan, lalu membaca doa: “Ya Allah, Rabb yang menguasai langit dan menguasai bumi. Rabb yang menguasai ‘Arsy yang agung. Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Rabb yang membelah benih tetumbuhan dan biji buah. Rabb yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan al-Qur’an. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau kuasai. Ya Allah, Engkau-lah Yang Maha Pertama, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkaulah Yang Maha Akhir, tidak ada sesuatu pun setelah-Mu. Engkau-lah Yang Maha Tinggi, tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Engkau-lah Yang Maha Dekat, tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat dibandingkan-Mu. Lunaskanlah hutang kami dan berilah kami kecukupan, hingga terlepas dari kefakiran”. (HR. Muslim no. 2713).Renungan KandunganDoa di atas memang cukup panjang. Namun mengajarkan kepada kita salah satu etika penting dalam doa. Yakni bertawasul kepada Allah sebelum memanjatkan permohonan kepada-Nya. Ada dua permintaan yang kita tujukan kepada Allah di dalam doa ini.Pertama: Permohonan agar kita dilindungi dari kejahatan seluruh makhluk Allah. Sebelum mengajukan permohonan ini, kita bertawasul dengan mengakui kekuasaan mutlak Allah atas alam semesta. Langit, bumi, arsy dan seluruh makhluk-Nya. Juga kekuasaan Allah untuk menumbuhkan tanaman dan pepohonan. Serta karunia-Nya berupa diturunkannya kitab-kitab suci.Kedua: Permohonan agar hutang kita dilunasi Allah dan kita dikaruniai kecukupan. Sebelum memanjatkan permintaan ini, kita bertawassul dengan menyebutkan beberapa asmaul husna. Al-Awwal (Maha Pertama), al-Âkhir (Maha Akhir), azh-Zhôhir (Maha Tinggi) dan al-Bâthin (Maha Dekat). Nama-nama ini menunjukkan betapa mutlaknya kekuasaan Allah yang meliputi segala zaman dan semua tempat.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 7 Rabi’ul Awwal 1444 / 3 Oktober 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 169: MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAKNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 171: BERCENGKERAMA DENGAN ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 193DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-12Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KEDUABELAS:Membaca doa berikut ini sekali:«‌اللَّهُمَّ ‌رَبَّ ‌السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ»“Allôhumma Rabbas samâwâti wa Rabbal ardh, wa Rabbal ‘arsyil azhîm. Rabbanâ wa Rabba kulli syai’. Fâliqol habbi wan nawâ, wa Munzilat Taurâti wal Injîli wal Furqôn. A’ûdzubika min syarri kulli syai’in Anta âkhidzun binâshiyatih. Allôhumma Antal Awwalu falaisa qablaka syai’, wa Antal Âkhiru falaisa ba’daka syai’, wa Antazh Zhôhiru falaisa fauqoka syai’, wa Antal Bâthinu falaisa dûnaka syai’; iqdhi ‘annad dain, wa aghninâ minal faqr”.Dalil LandasanAbu Hurairah radhiyallahu ’anhu menuturkan,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا إِذَا أَرَادَ أَحَدُنَا أَنْ يَنَامَ أَنْ يَضْطَجِعَ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ. ثُمَّ يَقُولُ: ‌اللَّهُمَّ ‌رَبَّ ‌السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ؛ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ؛ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِNabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami bila akan tidur agar menghadap ke sebelah kanan, lalu membaca doa: “Ya Allah, Rabb yang menguasai langit dan menguasai bumi. Rabb yang menguasai ‘Arsy yang agung. Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Rabb yang membelah benih tetumbuhan dan biji buah. Rabb yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan al-Qur’an. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau kuasai. Ya Allah, Engkau-lah Yang Maha Pertama, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkaulah Yang Maha Akhir, tidak ada sesuatu pun setelah-Mu. Engkau-lah Yang Maha Tinggi, tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Engkau-lah Yang Maha Dekat, tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat dibandingkan-Mu. Lunaskanlah hutang kami dan berilah kami kecukupan, hingga terlepas dari kefakiran”. (HR. Muslim no. 2713).Renungan KandunganDoa di atas memang cukup panjang. Namun mengajarkan kepada kita salah satu etika penting dalam doa. Yakni bertawasul kepada Allah sebelum memanjatkan permohonan kepada-Nya. Ada dua permintaan yang kita tujukan kepada Allah di dalam doa ini.Pertama: Permohonan agar kita dilindungi dari kejahatan seluruh makhluk Allah. Sebelum mengajukan permohonan ini, kita bertawasul dengan mengakui kekuasaan mutlak Allah atas alam semesta. Langit, bumi, arsy dan seluruh makhluk-Nya. Juga kekuasaan Allah untuk menumbuhkan tanaman dan pepohonan. Serta karunia-Nya berupa diturunkannya kitab-kitab suci.Kedua: Permohonan agar hutang kita dilunasi Allah dan kita dikaruniai kecukupan. Sebelum memanjatkan permintaan ini, kita bertawassul dengan menyebutkan beberapa asmaul husna. Al-Awwal (Maha Pertama), al-Âkhir (Maha Akhir), azh-Zhôhir (Maha Tinggi) dan al-Bâthin (Maha Dekat). Nama-nama ini menunjukkan betapa mutlaknya kekuasaan Allah yang meliputi segala zaman dan semua tempat.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 7 Rabi’ul Awwal 1444 / 3 Oktober 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 169: MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAKNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 171: BERCENGKERAMA DENGAN ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 193DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-12Pada beberapa pertemuan lalu, kita telah mengkaji berbagai bacaan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tidur. Berikut kelanjutannya:BACAAN KEDUABELAS:Membaca doa berikut ini sekali:«‌اللَّهُمَّ ‌رَبَّ ‌السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ»“Allôhumma Rabbas samâwâti wa Rabbal ardh, wa Rabbal ‘arsyil azhîm. Rabbanâ wa Rabba kulli syai’. Fâliqol habbi wan nawâ, wa Munzilat Taurâti wal Injîli wal Furqôn. A’ûdzubika min syarri kulli syai’in Anta âkhidzun binâshiyatih. Allôhumma Antal Awwalu falaisa qablaka syai’, wa Antal Âkhiru falaisa ba’daka syai’, wa Antazh Zhôhiru falaisa fauqoka syai’, wa Antal Bâthinu falaisa dûnaka syai’; iqdhi ‘annad dain, wa aghninâ minal faqr”.Dalil LandasanAbu Hurairah radhiyallahu ’anhu menuturkan,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا إِذَا أَرَادَ أَحَدُنَا أَنْ يَنَامَ أَنْ يَضْطَجِعَ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ. ثُمَّ يَقُولُ: ‌اللَّهُمَّ ‌رَبَّ ‌السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ؛ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ؛ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِNabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami bila akan tidur agar menghadap ke sebelah kanan, lalu membaca doa: “Ya Allah, Rabb yang menguasai langit dan menguasai bumi. Rabb yang menguasai ‘Arsy yang agung. Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Rabb yang membelah benih tetumbuhan dan biji buah. Rabb yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan al-Qur’an. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau kuasai. Ya Allah, Engkau-lah Yang Maha Pertama, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkaulah Yang Maha Akhir, tidak ada sesuatu pun setelah-Mu. Engkau-lah Yang Maha Tinggi, tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Engkau-lah Yang Maha Dekat, tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat dibandingkan-Mu. Lunaskanlah hutang kami dan berilah kami kecukupan, hingga terlepas dari kefakiran”. (HR. Muslim no. 2713).Renungan KandunganDoa di atas memang cukup panjang. Namun mengajarkan kepada kita salah satu etika penting dalam doa. Yakni bertawasul kepada Allah sebelum memanjatkan permohonan kepada-Nya. Ada dua permintaan yang kita tujukan kepada Allah di dalam doa ini.Pertama: Permohonan agar kita dilindungi dari kejahatan seluruh makhluk Allah. Sebelum mengajukan permohonan ini, kita bertawasul dengan mengakui kekuasaan mutlak Allah atas alam semesta. Langit, bumi, arsy dan seluruh makhluk-Nya. Juga kekuasaan Allah untuk menumbuhkan tanaman dan pepohonan. Serta karunia-Nya berupa diturunkannya kitab-kitab suci.Kedua: Permohonan agar hutang kita dilunasi Allah dan kita dikaruniai kecukupan. Sebelum memanjatkan permintaan ini, kita bertawassul dengan menyebutkan beberapa asmaul husna. Al-Awwal (Maha Pertama), al-Âkhir (Maha Akhir), azh-Zhôhir (Maha Tinggi) dan al-Bâthin (Maha Dekat). Nama-nama ini menunjukkan betapa mutlaknya kekuasaan Allah yang meliputi segala zaman dan semua tempat.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 7 Rabi’ul Awwal 1444 / 3 Oktober 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 169: MEMPERHATIKAN PENAMPILAN ANAKNext Serial Fiqih Pendidikan Anak No 171: BERCENGKERAMA DENGAN ANAK Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 171: BERCENGKERAMA DENGAN ANAK

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 171BERCENGKERAMA DENGAN ANAKSalah satu tabiat dasar anak kecil adalah suka bermain. Menghalangi hajatnya ini justru akan membuat anak jenuh, bosan dan malas belajar. Bercengkeramanya orang tua dengan anak-anak akan membangun kedekatan dan keakraban di antara mereka. Sehingga anak-anak akan lebih mudah mendengar nasehat dan arahan orang tua, lalu menerimanya dengan senang hati.Panutan kita Rasulullah shallalallahu ’alaihi wasallam secara nyata mencontohkan hal tersebut dalam kesehariannya. Ya’la bin Murrah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,خَرجنَا مَع النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ودُعِينَا إِلَى طَعامٍ، فَإِذا حُسينٌ يَلعبُ فِي الطَّريق، فَأسرعَ النبيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمامَ القَومِ ثُم بَسطَ يَديهِ، فَجَعلَ الغُلامُ يَفِر هَهُنا وهَهُنا، ويُضَاحِكُه النَبيُ صلى الله عليه وسلم، حَتى أَخذهُ، فَجعلَ إِحدى يَديهِ فِي ذَقْنِهِ والأُخرَى فِي رَأسهِ، ثُم اعتَنَقَه، ثُم قَال النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (حُسينٌ مِني وَأنَا مِنهُ، أَحبَّ اللهُ مَن أَحبَّ الحَسنَ والحُسينَ سبطان مِن الأسباط)“Kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi undangan makan. Di tengah perjalanan, kami mendapati Husain sedang bermain di jalan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bergegas mendahului kami dan membentangkan kedua tangannya. Husain pun lari menghindar kesana dan kemari. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terus mencandainya, hingga beliau berhasil menangkapnya. Salah satu tangan beliau memegang dagu Husain dan satunya memegang kepala, lalu beliau memeluknya. Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Husain bagian dariku dan aku bagian darinya. Semoga Allah mencintai orang yang mencintai Hasan dan Husain; kedua cucuku”. HR. Bukhariy dalam Al-Adab al-Mufrad dan dinilai hasan oleh al-Albaniy.Sangat menarik merenungkan hadits di atas. Ada beberapa poin penting yang bisa disimpulkan:Pertama: Usia senja bukan alasan untuk tidak bercengkerama dengan anakPeristiwa di atas terjadi saat usia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendekati 60 an tahun. Ini menunjukkan bahwa usia senja tidak menghalangi ayah dan bunda untuk bermain dengan anak dan cucunya. Jika yang sudah tua saja masih bermain dengan anak, seharusnya yang masih muda pun demikian.Kedua: Tidak gengsi walau dilihat khalayakRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bercanda dengan anak kecil di depan umum. Hal itu tidak menjatuhkan kewibawaan beliau. Beliau tidak jaim (jaga image). Padahal beliau adalah seorang Nabi dan panglima besar. Beliau justru menampakkan keakraban dengan anak kecil di hadapan khalayak, sebagai bentuk pembelajaran bagi mereka. Beginilah kondisi ideal hubungan orang tua dengan anak atau cucunya.Status Anda sebagai ulama kharismatik, rektor universitas ternama, bos perusahaan besar atau jenderal yang membawahi ribuan prajurit, seharusnya status itu semua dikesampingkan saat Anda sedang bermain dengan anak. Sehingga tidak ada sekat-sekat yang menghalangi kedekatan Anda dengan mereka.Ketiga: Totalitas dalam bercengkeramaAktivitas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bercanda dengan anak kecil bukan sekedar formalitas. Namun beliau benar-benar menghayati dan menjiwainya. Itu bisa dilihat dari gabungan antara raut muka, gerakan tubuh dan ungkapan lisan beliau. Muka beliau cerah dan tersenyum. Beliau membentangkan kedua tangannya, bergerak ke sana kemari, lalu memeluk hangat cucunya. Tidak lupa juga secara verbal, beliau mengungkapkan perasaan cintanya kepada sang cucu.Itulah potret totalitas dalam bercengkerama. Maka jangan biarkan benda-benda asing mengganggu kebersamaan kita dengan anak. Salah satunya adalah gadget. Benda ini seringkali merusak suasana keakraban orang tua dengan anak-anaknya. Singkirkan HP saat kita bercengkerama dengan putra dan putri kita. Fokus menjalankan aktivitas kebersamaan ini, akan membuatnya lebih berkualitas.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Rabi’ul Awwal 1444 / 10 Oktober 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No – 193: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-12Next Pamer Harta Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 171: BERCENGKERAMA DENGAN ANAK

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 171BERCENGKERAMA DENGAN ANAKSalah satu tabiat dasar anak kecil adalah suka bermain. Menghalangi hajatnya ini justru akan membuat anak jenuh, bosan dan malas belajar. Bercengkeramanya orang tua dengan anak-anak akan membangun kedekatan dan keakraban di antara mereka. Sehingga anak-anak akan lebih mudah mendengar nasehat dan arahan orang tua, lalu menerimanya dengan senang hati.Panutan kita Rasulullah shallalallahu ’alaihi wasallam secara nyata mencontohkan hal tersebut dalam kesehariannya. Ya’la bin Murrah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,خَرجنَا مَع النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ودُعِينَا إِلَى طَعامٍ، فَإِذا حُسينٌ يَلعبُ فِي الطَّريق، فَأسرعَ النبيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمامَ القَومِ ثُم بَسطَ يَديهِ، فَجَعلَ الغُلامُ يَفِر هَهُنا وهَهُنا، ويُضَاحِكُه النَبيُ صلى الله عليه وسلم، حَتى أَخذهُ، فَجعلَ إِحدى يَديهِ فِي ذَقْنِهِ والأُخرَى فِي رَأسهِ، ثُم اعتَنَقَه، ثُم قَال النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (حُسينٌ مِني وَأنَا مِنهُ، أَحبَّ اللهُ مَن أَحبَّ الحَسنَ والحُسينَ سبطان مِن الأسباط)“Kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi undangan makan. Di tengah perjalanan, kami mendapati Husain sedang bermain di jalan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bergegas mendahului kami dan membentangkan kedua tangannya. Husain pun lari menghindar kesana dan kemari. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terus mencandainya, hingga beliau berhasil menangkapnya. Salah satu tangan beliau memegang dagu Husain dan satunya memegang kepala, lalu beliau memeluknya. Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Husain bagian dariku dan aku bagian darinya. Semoga Allah mencintai orang yang mencintai Hasan dan Husain; kedua cucuku”. HR. Bukhariy dalam Al-Adab al-Mufrad dan dinilai hasan oleh al-Albaniy.Sangat menarik merenungkan hadits di atas. Ada beberapa poin penting yang bisa disimpulkan:Pertama: Usia senja bukan alasan untuk tidak bercengkerama dengan anakPeristiwa di atas terjadi saat usia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendekati 60 an tahun. Ini menunjukkan bahwa usia senja tidak menghalangi ayah dan bunda untuk bermain dengan anak dan cucunya. Jika yang sudah tua saja masih bermain dengan anak, seharusnya yang masih muda pun demikian.Kedua: Tidak gengsi walau dilihat khalayakRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bercanda dengan anak kecil di depan umum. Hal itu tidak menjatuhkan kewibawaan beliau. Beliau tidak jaim (jaga image). Padahal beliau adalah seorang Nabi dan panglima besar. Beliau justru menampakkan keakraban dengan anak kecil di hadapan khalayak, sebagai bentuk pembelajaran bagi mereka. Beginilah kondisi ideal hubungan orang tua dengan anak atau cucunya.Status Anda sebagai ulama kharismatik, rektor universitas ternama, bos perusahaan besar atau jenderal yang membawahi ribuan prajurit, seharusnya status itu semua dikesampingkan saat Anda sedang bermain dengan anak. Sehingga tidak ada sekat-sekat yang menghalangi kedekatan Anda dengan mereka.Ketiga: Totalitas dalam bercengkeramaAktivitas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bercanda dengan anak kecil bukan sekedar formalitas. Namun beliau benar-benar menghayati dan menjiwainya. Itu bisa dilihat dari gabungan antara raut muka, gerakan tubuh dan ungkapan lisan beliau. Muka beliau cerah dan tersenyum. Beliau membentangkan kedua tangannya, bergerak ke sana kemari, lalu memeluk hangat cucunya. Tidak lupa juga secara verbal, beliau mengungkapkan perasaan cintanya kepada sang cucu.Itulah potret totalitas dalam bercengkerama. Maka jangan biarkan benda-benda asing mengganggu kebersamaan kita dengan anak. Salah satunya adalah gadget. Benda ini seringkali merusak suasana keakraban orang tua dengan anak-anaknya. Singkirkan HP saat kita bercengkerama dengan putra dan putri kita. Fokus menjalankan aktivitas kebersamaan ini, akan membuatnya lebih berkualitas.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Rabi’ul Awwal 1444 / 10 Oktober 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No – 193: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-12Next Pamer Harta Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 171BERCENGKERAMA DENGAN ANAKSalah satu tabiat dasar anak kecil adalah suka bermain. Menghalangi hajatnya ini justru akan membuat anak jenuh, bosan dan malas belajar. Bercengkeramanya orang tua dengan anak-anak akan membangun kedekatan dan keakraban di antara mereka. Sehingga anak-anak akan lebih mudah mendengar nasehat dan arahan orang tua, lalu menerimanya dengan senang hati.Panutan kita Rasulullah shallalallahu ’alaihi wasallam secara nyata mencontohkan hal tersebut dalam kesehariannya. Ya’la bin Murrah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,خَرجنَا مَع النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ودُعِينَا إِلَى طَعامٍ، فَإِذا حُسينٌ يَلعبُ فِي الطَّريق، فَأسرعَ النبيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمامَ القَومِ ثُم بَسطَ يَديهِ، فَجَعلَ الغُلامُ يَفِر هَهُنا وهَهُنا، ويُضَاحِكُه النَبيُ صلى الله عليه وسلم، حَتى أَخذهُ، فَجعلَ إِحدى يَديهِ فِي ذَقْنِهِ والأُخرَى فِي رَأسهِ، ثُم اعتَنَقَه، ثُم قَال النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (حُسينٌ مِني وَأنَا مِنهُ، أَحبَّ اللهُ مَن أَحبَّ الحَسنَ والحُسينَ سبطان مِن الأسباط)“Kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi undangan makan. Di tengah perjalanan, kami mendapati Husain sedang bermain di jalan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bergegas mendahului kami dan membentangkan kedua tangannya. Husain pun lari menghindar kesana dan kemari. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terus mencandainya, hingga beliau berhasil menangkapnya. Salah satu tangan beliau memegang dagu Husain dan satunya memegang kepala, lalu beliau memeluknya. Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Husain bagian dariku dan aku bagian darinya. Semoga Allah mencintai orang yang mencintai Hasan dan Husain; kedua cucuku”. HR. Bukhariy dalam Al-Adab al-Mufrad dan dinilai hasan oleh al-Albaniy.Sangat menarik merenungkan hadits di atas. Ada beberapa poin penting yang bisa disimpulkan:Pertama: Usia senja bukan alasan untuk tidak bercengkerama dengan anakPeristiwa di atas terjadi saat usia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendekati 60 an tahun. Ini menunjukkan bahwa usia senja tidak menghalangi ayah dan bunda untuk bermain dengan anak dan cucunya. Jika yang sudah tua saja masih bermain dengan anak, seharusnya yang masih muda pun demikian.Kedua: Tidak gengsi walau dilihat khalayakRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bercanda dengan anak kecil di depan umum. Hal itu tidak menjatuhkan kewibawaan beliau. Beliau tidak jaim (jaga image). Padahal beliau adalah seorang Nabi dan panglima besar. Beliau justru menampakkan keakraban dengan anak kecil di hadapan khalayak, sebagai bentuk pembelajaran bagi mereka. Beginilah kondisi ideal hubungan orang tua dengan anak atau cucunya.Status Anda sebagai ulama kharismatik, rektor universitas ternama, bos perusahaan besar atau jenderal yang membawahi ribuan prajurit, seharusnya status itu semua dikesampingkan saat Anda sedang bermain dengan anak. Sehingga tidak ada sekat-sekat yang menghalangi kedekatan Anda dengan mereka.Ketiga: Totalitas dalam bercengkeramaAktivitas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bercanda dengan anak kecil bukan sekedar formalitas. Namun beliau benar-benar menghayati dan menjiwainya. Itu bisa dilihat dari gabungan antara raut muka, gerakan tubuh dan ungkapan lisan beliau. Muka beliau cerah dan tersenyum. Beliau membentangkan kedua tangannya, bergerak ke sana kemari, lalu memeluk hangat cucunya. Tidak lupa juga secara verbal, beliau mengungkapkan perasaan cintanya kepada sang cucu.Itulah potret totalitas dalam bercengkerama. Maka jangan biarkan benda-benda asing mengganggu kebersamaan kita dengan anak. Salah satunya adalah gadget. Benda ini seringkali merusak suasana keakraban orang tua dengan anak-anaknya. Singkirkan HP saat kita bercengkerama dengan putra dan putri kita. Fokus menjalankan aktivitas kebersamaan ini, akan membuatnya lebih berkualitas.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Rabi’ul Awwal 1444 / 10 Oktober 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No – 193: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-12Next Pamer Harta Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 171BERCENGKERAMA DENGAN ANAKSalah satu tabiat dasar anak kecil adalah suka bermain. Menghalangi hajatnya ini justru akan membuat anak jenuh, bosan dan malas belajar. Bercengkeramanya orang tua dengan anak-anak akan membangun kedekatan dan keakraban di antara mereka. Sehingga anak-anak akan lebih mudah mendengar nasehat dan arahan orang tua, lalu menerimanya dengan senang hati.Panutan kita Rasulullah shallalallahu ’alaihi wasallam secara nyata mencontohkan hal tersebut dalam kesehariannya. Ya’la bin Murrah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,خَرجنَا مَع النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ودُعِينَا إِلَى طَعامٍ، فَإِذا حُسينٌ يَلعبُ فِي الطَّريق، فَأسرعَ النبيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمامَ القَومِ ثُم بَسطَ يَديهِ، فَجَعلَ الغُلامُ يَفِر هَهُنا وهَهُنا، ويُضَاحِكُه النَبيُ صلى الله عليه وسلم، حَتى أَخذهُ، فَجعلَ إِحدى يَديهِ فِي ذَقْنِهِ والأُخرَى فِي رَأسهِ، ثُم اعتَنَقَه، ثُم قَال النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (حُسينٌ مِني وَأنَا مِنهُ، أَحبَّ اللهُ مَن أَحبَّ الحَسنَ والحُسينَ سبطان مِن الأسباط)“Kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi undangan makan. Di tengah perjalanan, kami mendapati Husain sedang bermain di jalan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bergegas mendahului kami dan membentangkan kedua tangannya. Husain pun lari menghindar kesana dan kemari. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terus mencandainya, hingga beliau berhasil menangkapnya. Salah satu tangan beliau memegang dagu Husain dan satunya memegang kepala, lalu beliau memeluknya. Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Husain bagian dariku dan aku bagian darinya. Semoga Allah mencintai orang yang mencintai Hasan dan Husain; kedua cucuku”. HR. Bukhariy dalam Al-Adab al-Mufrad dan dinilai hasan oleh al-Albaniy.Sangat menarik merenungkan hadits di atas. Ada beberapa poin penting yang bisa disimpulkan:Pertama: Usia senja bukan alasan untuk tidak bercengkerama dengan anakPeristiwa di atas terjadi saat usia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendekati 60 an tahun. Ini menunjukkan bahwa usia senja tidak menghalangi ayah dan bunda untuk bermain dengan anak dan cucunya. Jika yang sudah tua saja masih bermain dengan anak, seharusnya yang masih muda pun demikian.Kedua: Tidak gengsi walau dilihat khalayakRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bercanda dengan anak kecil di depan umum. Hal itu tidak menjatuhkan kewibawaan beliau. Beliau tidak jaim (jaga image). Padahal beliau adalah seorang Nabi dan panglima besar. Beliau justru menampakkan keakraban dengan anak kecil di hadapan khalayak, sebagai bentuk pembelajaran bagi mereka. Beginilah kondisi ideal hubungan orang tua dengan anak atau cucunya.Status Anda sebagai ulama kharismatik, rektor universitas ternama, bos perusahaan besar atau jenderal yang membawahi ribuan prajurit, seharusnya status itu semua dikesampingkan saat Anda sedang bermain dengan anak. Sehingga tidak ada sekat-sekat yang menghalangi kedekatan Anda dengan mereka.Ketiga: Totalitas dalam bercengkeramaAktivitas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bercanda dengan anak kecil bukan sekedar formalitas. Namun beliau benar-benar menghayati dan menjiwainya. Itu bisa dilihat dari gabungan antara raut muka, gerakan tubuh dan ungkapan lisan beliau. Muka beliau cerah dan tersenyum. Beliau membentangkan kedua tangannya, bergerak ke sana kemari, lalu memeluk hangat cucunya. Tidak lupa juga secara verbal, beliau mengungkapkan perasaan cintanya kepada sang cucu.Itulah potret totalitas dalam bercengkerama. Maka jangan biarkan benda-benda asing mengganggu kebersamaan kita dengan anak. Salah satunya adalah gadget. Benda ini seringkali merusak suasana keakraban orang tua dengan anak-anaknya. Singkirkan HP saat kita bercengkerama dengan putra dan putri kita. Fokus menjalankan aktivitas kebersamaan ini, akan membuatnya lebih berkualitas.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Rabi’ul Awwal 1444 / 10 Oktober 2022 Post navigation Previous Serial Fiqih Doa dan Dzikir No – 193: DZIKIR DAN DOA SEBELUM TIDUR Bagian-12Next Pamer Harta Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 173: MENANAMKAN KEJUJURAN PADA ANAK

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 173MENANAMKAN KEJUJURAN PADA ANAKKejujuran adalah sebuah sifat positif yang akan menyelamatkan orang yang memilikinya. Baik di dunia, maupun di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Bersikap jujurlah, karena kejujuran itu akan membawa pada kebaikan, sedangkan kebaikan akan mengantarkan ke surga. Seorang yang bersikap jujur dan selalu berusaha jujur; pasti akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Jauhilah sikap dusta, karena kedustaan itu akan membawa pada kekejian, sedangkan kekejian akan mengantarkan kepada neraka. Orang yang berbuat dusta dan selalu berdusta pasti akan dicap di sisi Allah sebagai pendusta”. HR. Muslim.Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan pada orang tua agar menanamkan kejujuran ini dalam diri putra-putrinya sejak dini.Teladan KejujuranPenanaman itu diawali dengan teladan kejujuran dari sang orang tua. Sehingga tidak dibenarkan menipu atau berbohong kepada anak, dengan cara atau alasan apapun. Beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda,“مَنْ قَالَ لِصَبِيٍّ: تَعَالَ هَاكَ، ثُمَّ لَمْ يُعْطِهِ فَهِيَ كَذْبَةٌ”“Barangsiapa berkata kepada anak kecil, “Kemarilah! Kuberimu sesuatu”. Tapi ternyata ia tidak memberi apa-apa; maka perbuatan tersebut dianggap sebuah kedustaan”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Mengembangkan Modal dari AllahManusia terlahir dalam keadaan fitrah mencintai kebaikan. Makanya pikiran anak-anak itu masih polos. Reaksi mereka sangat spontan, lugu dan jujur. Bahkan bila anak diajari untuk berbohong pun, ternyata ia akan kesulitan untuk berbohong. Misalkan saat ia dipesani oleh bapaknya yang baru pulang kerja dan ingin segera istirahat tanpa diganggu oleh tamu. Sebelum masuk ke kamar tidur, si bapak berpesan, “Nak, kalau ada tamu, bilang bahwa bapak sedang keluar rumah ya!”. Ternyata benar ada tamu. Si anak dengan lugunya berkata, “Maaf pak, tadi sebelum ayah masuk kamar beliau berpesan, jika ada tamu supaya memberitahu bahwa ayah sedang keluar rumah”. (!)Maka seharusnya modal yang dikaruniakan oleh Allah ini, dijaga dengan baik oleh orang tua, bahkan dikembangkan. Bukan malah dirusak dan disia-siakan.Salah satu caranya adalah dengan mengapresiasi kejujuran anak. Contohnya: ketika anak kelas satu SD dilatih untuk berpuasa. Namun karena ia terlalu aktif di sekolahan, banyak bermain dan berlari-lari, akibatnya puasanya batal. Ia membeli minuman di warung dekat sekolahan. Saat pulang ia ditanya oleh ibunya, “Bagaimana nak puasanya tadi? Batal ndak?”. Dengan takut-takut ia menjawab, “Emmm, maaf tadi batal Bu. Soalnya tadi aku kehausan banget”.Seharusnya orang tua mengapresiasi kejujuran si anak. Bukan malah memarahinya. Sebab itu membuat ia kapok di kemudian hari untuk kembali jujur. Lalu cenderung memilih berbohong supaya tidak dimarahi orang tuanya. Perlu ditekankan di sini, bahwa yang diapresiasi dari anak adalah kejujurannya. Bukan pembatalan puasanya.Bahkan saat anak jujur mengatakan apa adanya, bisa jadi itu adalah pertanda bahwa mungkin ia memahami salah satu hikmah puasa, yang mengajarkan kejujuran. Paling tidak jujur kepada diri sendiri. Ketika sedang berpuasa, meskipun di rumah tidak ada siapa-siapa, di siang hari tidak berani berbuka. Walaupun orang lain tidak ada yang melihat. Itulah kejujuran yang seharusnya mewarnai seluruh aktivitas keseharian kita.Meski puasa anak batal puasa, tapi ia berkata jujur. Itu lebih baik daripada sudah puasanya batal, masih ketambahan berbohong pula!Setelah kita mengapresiasi kejujuran anak, barulah kita mengarahkan dia agar di keesokan hari tidak terlalu banyak berlari-lari. Supaya tidak kehausan. Lalu bisa menyempurnakan puasanya.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Rabi’uts Tsani 1444 / 14 Nopember 2022 Post navigation Previous Pamer HartaNext Naskah dan Teks Khutbah Jumat – Pemimpin Idaman Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Serial Fiqih Pendidikan Anak No 173: MENANAMKAN KEJUJURAN PADA ANAK

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 173MENANAMKAN KEJUJURAN PADA ANAKKejujuran adalah sebuah sifat positif yang akan menyelamatkan orang yang memilikinya. Baik di dunia, maupun di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Bersikap jujurlah, karena kejujuran itu akan membawa pada kebaikan, sedangkan kebaikan akan mengantarkan ke surga. Seorang yang bersikap jujur dan selalu berusaha jujur; pasti akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Jauhilah sikap dusta, karena kedustaan itu akan membawa pada kekejian, sedangkan kekejian akan mengantarkan kepada neraka. Orang yang berbuat dusta dan selalu berdusta pasti akan dicap di sisi Allah sebagai pendusta”. HR. Muslim.Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan pada orang tua agar menanamkan kejujuran ini dalam diri putra-putrinya sejak dini.Teladan KejujuranPenanaman itu diawali dengan teladan kejujuran dari sang orang tua. Sehingga tidak dibenarkan menipu atau berbohong kepada anak, dengan cara atau alasan apapun. Beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda,“مَنْ قَالَ لِصَبِيٍّ: تَعَالَ هَاكَ، ثُمَّ لَمْ يُعْطِهِ فَهِيَ كَذْبَةٌ”“Barangsiapa berkata kepada anak kecil, “Kemarilah! Kuberimu sesuatu”. Tapi ternyata ia tidak memberi apa-apa; maka perbuatan tersebut dianggap sebuah kedustaan”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Mengembangkan Modal dari AllahManusia terlahir dalam keadaan fitrah mencintai kebaikan. Makanya pikiran anak-anak itu masih polos. Reaksi mereka sangat spontan, lugu dan jujur. Bahkan bila anak diajari untuk berbohong pun, ternyata ia akan kesulitan untuk berbohong. Misalkan saat ia dipesani oleh bapaknya yang baru pulang kerja dan ingin segera istirahat tanpa diganggu oleh tamu. Sebelum masuk ke kamar tidur, si bapak berpesan, “Nak, kalau ada tamu, bilang bahwa bapak sedang keluar rumah ya!”. Ternyata benar ada tamu. Si anak dengan lugunya berkata, “Maaf pak, tadi sebelum ayah masuk kamar beliau berpesan, jika ada tamu supaya memberitahu bahwa ayah sedang keluar rumah”. (!)Maka seharusnya modal yang dikaruniakan oleh Allah ini, dijaga dengan baik oleh orang tua, bahkan dikembangkan. Bukan malah dirusak dan disia-siakan.Salah satu caranya adalah dengan mengapresiasi kejujuran anak. Contohnya: ketika anak kelas satu SD dilatih untuk berpuasa. Namun karena ia terlalu aktif di sekolahan, banyak bermain dan berlari-lari, akibatnya puasanya batal. Ia membeli minuman di warung dekat sekolahan. Saat pulang ia ditanya oleh ibunya, “Bagaimana nak puasanya tadi? Batal ndak?”. Dengan takut-takut ia menjawab, “Emmm, maaf tadi batal Bu. Soalnya tadi aku kehausan banget”.Seharusnya orang tua mengapresiasi kejujuran si anak. Bukan malah memarahinya. Sebab itu membuat ia kapok di kemudian hari untuk kembali jujur. Lalu cenderung memilih berbohong supaya tidak dimarahi orang tuanya. Perlu ditekankan di sini, bahwa yang diapresiasi dari anak adalah kejujurannya. Bukan pembatalan puasanya.Bahkan saat anak jujur mengatakan apa adanya, bisa jadi itu adalah pertanda bahwa mungkin ia memahami salah satu hikmah puasa, yang mengajarkan kejujuran. Paling tidak jujur kepada diri sendiri. Ketika sedang berpuasa, meskipun di rumah tidak ada siapa-siapa, di siang hari tidak berani berbuka. Walaupun orang lain tidak ada yang melihat. Itulah kejujuran yang seharusnya mewarnai seluruh aktivitas keseharian kita.Meski puasa anak batal puasa, tapi ia berkata jujur. Itu lebih baik daripada sudah puasanya batal, masih ketambahan berbohong pula!Setelah kita mengapresiasi kejujuran anak, barulah kita mengarahkan dia agar di keesokan hari tidak terlalu banyak berlari-lari. Supaya tidak kehausan. Lalu bisa menyempurnakan puasanya.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Rabi’uts Tsani 1444 / 14 Nopember 2022 Post navigation Previous Pamer HartaNext Naskah dan Teks Khutbah Jumat – Pemimpin Idaman Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 173MENANAMKAN KEJUJURAN PADA ANAKKejujuran adalah sebuah sifat positif yang akan menyelamatkan orang yang memilikinya. Baik di dunia, maupun di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Bersikap jujurlah, karena kejujuran itu akan membawa pada kebaikan, sedangkan kebaikan akan mengantarkan ke surga. Seorang yang bersikap jujur dan selalu berusaha jujur; pasti akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Jauhilah sikap dusta, karena kedustaan itu akan membawa pada kekejian, sedangkan kekejian akan mengantarkan kepada neraka. Orang yang berbuat dusta dan selalu berdusta pasti akan dicap di sisi Allah sebagai pendusta”. HR. Muslim.Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan pada orang tua agar menanamkan kejujuran ini dalam diri putra-putrinya sejak dini.Teladan KejujuranPenanaman itu diawali dengan teladan kejujuran dari sang orang tua. Sehingga tidak dibenarkan menipu atau berbohong kepada anak, dengan cara atau alasan apapun. Beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda,“مَنْ قَالَ لِصَبِيٍّ: تَعَالَ هَاكَ، ثُمَّ لَمْ يُعْطِهِ فَهِيَ كَذْبَةٌ”“Barangsiapa berkata kepada anak kecil, “Kemarilah! Kuberimu sesuatu”. Tapi ternyata ia tidak memberi apa-apa; maka perbuatan tersebut dianggap sebuah kedustaan”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Mengembangkan Modal dari AllahManusia terlahir dalam keadaan fitrah mencintai kebaikan. Makanya pikiran anak-anak itu masih polos. Reaksi mereka sangat spontan, lugu dan jujur. Bahkan bila anak diajari untuk berbohong pun, ternyata ia akan kesulitan untuk berbohong. Misalkan saat ia dipesani oleh bapaknya yang baru pulang kerja dan ingin segera istirahat tanpa diganggu oleh tamu. Sebelum masuk ke kamar tidur, si bapak berpesan, “Nak, kalau ada tamu, bilang bahwa bapak sedang keluar rumah ya!”. Ternyata benar ada tamu. Si anak dengan lugunya berkata, “Maaf pak, tadi sebelum ayah masuk kamar beliau berpesan, jika ada tamu supaya memberitahu bahwa ayah sedang keluar rumah”. (!)Maka seharusnya modal yang dikaruniakan oleh Allah ini, dijaga dengan baik oleh orang tua, bahkan dikembangkan. Bukan malah dirusak dan disia-siakan.Salah satu caranya adalah dengan mengapresiasi kejujuran anak. Contohnya: ketika anak kelas satu SD dilatih untuk berpuasa. Namun karena ia terlalu aktif di sekolahan, banyak bermain dan berlari-lari, akibatnya puasanya batal. Ia membeli minuman di warung dekat sekolahan. Saat pulang ia ditanya oleh ibunya, “Bagaimana nak puasanya tadi? Batal ndak?”. Dengan takut-takut ia menjawab, “Emmm, maaf tadi batal Bu. Soalnya tadi aku kehausan banget”.Seharusnya orang tua mengapresiasi kejujuran si anak. Bukan malah memarahinya. Sebab itu membuat ia kapok di kemudian hari untuk kembali jujur. Lalu cenderung memilih berbohong supaya tidak dimarahi orang tuanya. Perlu ditekankan di sini, bahwa yang diapresiasi dari anak adalah kejujurannya. Bukan pembatalan puasanya.Bahkan saat anak jujur mengatakan apa adanya, bisa jadi itu adalah pertanda bahwa mungkin ia memahami salah satu hikmah puasa, yang mengajarkan kejujuran. Paling tidak jujur kepada diri sendiri. Ketika sedang berpuasa, meskipun di rumah tidak ada siapa-siapa, di siang hari tidak berani berbuka. Walaupun orang lain tidak ada yang melihat. Itulah kejujuran yang seharusnya mewarnai seluruh aktivitas keseharian kita.Meski puasa anak batal puasa, tapi ia berkata jujur. Itu lebih baik daripada sudah puasanya batal, masih ketambahan berbohong pula!Setelah kita mengapresiasi kejujuran anak, barulah kita mengarahkan dia agar di keesokan hari tidak terlalu banyak berlari-lari. Supaya tidak kehausan. Lalu bisa menyempurnakan puasanya.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Rabi’uts Tsani 1444 / 14 Nopember 2022 Post navigation Previous Pamer HartaNext Naskah dan Teks Khutbah Jumat – Pemimpin Idaman Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 173MENANAMKAN KEJUJURAN PADA ANAKKejujuran adalah sebuah sifat positif yang akan menyelamatkan orang yang memilikinya. Baik di dunia, maupun di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Bersikap jujurlah, karena kejujuran itu akan membawa pada kebaikan, sedangkan kebaikan akan mengantarkan ke surga. Seorang yang bersikap jujur dan selalu berusaha jujur; pasti akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Jauhilah sikap dusta, karena kedustaan itu akan membawa pada kekejian, sedangkan kekejian akan mengantarkan kepada neraka. Orang yang berbuat dusta dan selalu berdusta pasti akan dicap di sisi Allah sebagai pendusta”. HR. Muslim.Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan pada orang tua agar menanamkan kejujuran ini dalam diri putra-putrinya sejak dini.Teladan KejujuranPenanaman itu diawali dengan teladan kejujuran dari sang orang tua. Sehingga tidak dibenarkan menipu atau berbohong kepada anak, dengan cara atau alasan apapun. Beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda,“مَنْ قَالَ لِصَبِيٍّ: تَعَالَ هَاكَ، ثُمَّ لَمْ يُعْطِهِ فَهِيَ كَذْبَةٌ”“Barangsiapa berkata kepada anak kecil, “Kemarilah! Kuberimu sesuatu”. Tapi ternyata ia tidak memberi apa-apa; maka perbuatan tersebut dianggap sebuah kedustaan”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.Mengembangkan Modal dari AllahManusia terlahir dalam keadaan fitrah mencintai kebaikan. Makanya pikiran anak-anak itu masih polos. Reaksi mereka sangat spontan, lugu dan jujur. Bahkan bila anak diajari untuk berbohong pun, ternyata ia akan kesulitan untuk berbohong. Misalkan saat ia dipesani oleh bapaknya yang baru pulang kerja dan ingin segera istirahat tanpa diganggu oleh tamu. Sebelum masuk ke kamar tidur, si bapak berpesan, “Nak, kalau ada tamu, bilang bahwa bapak sedang keluar rumah ya!”. Ternyata benar ada tamu. Si anak dengan lugunya berkata, “Maaf pak, tadi sebelum ayah masuk kamar beliau berpesan, jika ada tamu supaya memberitahu bahwa ayah sedang keluar rumah”. (!)Maka seharusnya modal yang dikaruniakan oleh Allah ini, dijaga dengan baik oleh orang tua, bahkan dikembangkan. Bukan malah dirusak dan disia-siakan.Salah satu caranya adalah dengan mengapresiasi kejujuran anak. Contohnya: ketika anak kelas satu SD dilatih untuk berpuasa. Namun karena ia terlalu aktif di sekolahan, banyak bermain dan berlari-lari, akibatnya puasanya batal. Ia membeli minuman di warung dekat sekolahan. Saat pulang ia ditanya oleh ibunya, “Bagaimana nak puasanya tadi? Batal ndak?”. Dengan takut-takut ia menjawab, “Emmm, maaf tadi batal Bu. Soalnya tadi aku kehausan banget”.Seharusnya orang tua mengapresiasi kejujuran si anak. Bukan malah memarahinya. Sebab itu membuat ia kapok di kemudian hari untuk kembali jujur. Lalu cenderung memilih berbohong supaya tidak dimarahi orang tuanya. Perlu ditekankan di sini, bahwa yang diapresiasi dari anak adalah kejujurannya. Bukan pembatalan puasanya.Bahkan saat anak jujur mengatakan apa adanya, bisa jadi itu adalah pertanda bahwa mungkin ia memahami salah satu hikmah puasa, yang mengajarkan kejujuran. Paling tidak jujur kepada diri sendiri. Ketika sedang berpuasa, meskipun di rumah tidak ada siapa-siapa, di siang hari tidak berani berbuka. Walaupun orang lain tidak ada yang melihat. Itulah kejujuran yang seharusnya mewarnai seluruh aktivitas keseharian kita.Meski puasa anak batal puasa, tapi ia berkata jujur. Itu lebih baik daripada sudah puasanya batal, masih ketambahan berbohong pula!Setelah kita mengapresiasi kejujuran anak, barulah kita mengarahkan dia agar di keesokan hari tidak terlalu banyak berlari-lari. Supaya tidak kehausan. Lalu bisa menyempurnakan puasanya.Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Rabi’uts Tsani 1444 / 14 Nopember 2022 Post navigation Previous Pamer HartaNext Naskah dan Teks Khutbah Jumat – Pemimpin Idaman Related Posts Serial Fiqih Pendidikan Anak No 2: ANAK, SEBUAH NIKMAT BESARBelajar Islam / By tunasilmu Serial Fiqih Pendidikan Anak No 3: ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIANBelajar Islam / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Naskah dan Teks Khutbah Jumat – Pemimpin Idaman

Naskah dan Teks Khutbah Jumat dengan tema “Pemimpin Idaman”DONWLOAD NASKAH / TEKS KHUTBAH JUMAT Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 173: MENANAMKAN KEJUJURAN PADA ANAKNext PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI BARU ANGKATAN KEEMPATBELAS – TAHUN AJARAN 1445-1446 / 2024-2025 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

Naskah dan Teks Khutbah Jumat – Pemimpin Idaman

Naskah dan Teks Khutbah Jumat dengan tema “Pemimpin Idaman”DONWLOAD NASKAH / TEKS KHUTBAH JUMAT Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 173: MENANAMKAN KEJUJURAN PADA ANAKNext PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI BARU ANGKATAN KEEMPATBELAS – TAHUN AJARAN 1445-1446 / 2024-2025 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Naskah dan Teks Khutbah Jumat dengan tema “Pemimpin Idaman”DONWLOAD NASKAH / TEKS KHUTBAH JUMAT Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 173: MENANAMKAN KEJUJURAN PADA ANAKNext PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI BARU ANGKATAN KEEMPATBELAS – TAHUN AJARAN 1445-1446 / 2024-2025 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


Naskah dan Teks Khutbah Jumat dengan tema “Pemimpin Idaman”DONWLOAD NASKAH / TEKS KHUTBAH JUMAT Post navigation Previous Serial Fiqih Pendidikan Anak No 173: MENANAMKAN KEJUJURAN PADA ANAKNext PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI BARU ANGKATAN KEEMPATBELAS – TAHUN AJARAN 1445-1446 / 2024-2025 Related Posts Berdakwah Dengan Akhlak MuliaUncategorized / By tunasilmu Tafsir Surat An-nas ayat 1Uncategorized / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI BARU ANGKATAN KEEMPATBELAS – TAHUN AJARAN 1445-1446 / 2024-2025

PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI BARUPONDOK PESANTREN “TUNAS ILMU” PURBALINGGA ANGKATAN KEEMPATBELAS – TAHUN AJARAN 1445-1446 / 2024-2025 NONAMAPROGRAMASALKETERANGAN1Abdullah Azzam Al-FawwazPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS2Muhammad Fathi FarhatPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS3Fino Tegar FebriantoPengkaderan Da’iLampung TengahLULUS4Muhamad Rizki RamadhanPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS5Iqbal Haitamy El-ZaidPengkaderan Da’iBanjarnegaraLULUS6Hammad AbdullohPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS7Akbar RamadhanTahfidz PlusMetro LampungLULUS8BaihakiTahfidz PlusLampung TimurLULUS9Muhammad Agung BayuputraTahfidz PlusPurbalinggaLULUS10DaudPengkaderan Da’iBantulLULUS11Nur Fatah ArdyansyahPengkaderan Da’iPekalonganLULUS12MuhammadPengkaderan Da’iGresikLULUS13Fahgrurozi Eka SuyatamaPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS14RahmaddanyPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS15Arfan HakimPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS16Ihsan Mundzir AbdullahPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS17Iqbal Maula AzzuraPengkaderan Da’iBanyumasLULUS18Indra ArdiansyahPengkaderan Da’iBanyumasLULUS19Faza Monzer El TsaqibPengkaderan Da’iTulang BawangLULUS20Muhammad Abyan Hafidz Al MustafaPengkaderan Da’iJakarta SelatanLULUS21Yusuf AbdullahPengkaderan Da’iMagelangLULUS22Raihan ErwindoTahfidz PlusPesisir BaratTIDAK LULUS23Kholil FauziTahfidz PlusTulang BawangTIDAK LULUS24Afgan Hanif MafadzaTahfidz PlusBekasiTIDAK LULUS25Ar BaidPengkaderan Da’iTebo JambiTIDAK LULUS26Arfan IslahudinPengkaderan Da’iBanyumasTIDAK LULUS27Hafidz Dwi FirmansyahPengkaderan Da’iBanyumasTIDAK LULUS28Fadhlan AzkatullahTahfidz PlusBanjarnegaraTIDAK LULUS29Abdullah AzamPengkaderan Da’iBanjarnegaraTIDAK LULUS30Ya’qub Adnan SukurPengkaderan Da’iPurbalinggaGUGUR31Muhammad Raihan NurfadliTahfidz PlusTegalGUGUR32Raihan Maulana FirdausPengkaderan Da’iKota SurabayaGUGUR33Jundi Hizbul HaqPengkaderan Da’iBrebesGUGUR  Post navigation Previous Naskah dan Teks Khutbah Jumat – Pemimpin IdamanNext Acara Grand Launching WALMAGH di Ponpes Tunas Ilmu Purbalingga Related Posts PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 MInformasi / By tunasilmu PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEPULUH PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1441/1442 H – 2020/2021 MInformasi / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu

PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI BARU ANGKATAN KEEMPATBELAS – TAHUN AJARAN 1445-1446 / 2024-2025

PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI BARUPONDOK PESANTREN “TUNAS ILMU” PURBALINGGA ANGKATAN KEEMPATBELAS – TAHUN AJARAN 1445-1446 / 2024-2025 NONAMAPROGRAMASALKETERANGAN1Abdullah Azzam Al-FawwazPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS2Muhammad Fathi FarhatPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS3Fino Tegar FebriantoPengkaderan Da’iLampung TengahLULUS4Muhamad Rizki RamadhanPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS5Iqbal Haitamy El-ZaidPengkaderan Da’iBanjarnegaraLULUS6Hammad AbdullohPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS7Akbar RamadhanTahfidz PlusMetro LampungLULUS8BaihakiTahfidz PlusLampung TimurLULUS9Muhammad Agung BayuputraTahfidz PlusPurbalinggaLULUS10DaudPengkaderan Da’iBantulLULUS11Nur Fatah ArdyansyahPengkaderan Da’iPekalonganLULUS12MuhammadPengkaderan Da’iGresikLULUS13Fahgrurozi Eka SuyatamaPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS14RahmaddanyPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS15Arfan HakimPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS16Ihsan Mundzir AbdullahPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS17Iqbal Maula AzzuraPengkaderan Da’iBanyumasLULUS18Indra ArdiansyahPengkaderan Da’iBanyumasLULUS19Faza Monzer El TsaqibPengkaderan Da’iTulang BawangLULUS20Muhammad Abyan Hafidz Al MustafaPengkaderan Da’iJakarta SelatanLULUS21Yusuf AbdullahPengkaderan Da’iMagelangLULUS22Raihan ErwindoTahfidz PlusPesisir BaratTIDAK LULUS23Kholil FauziTahfidz PlusTulang BawangTIDAK LULUS24Afgan Hanif MafadzaTahfidz PlusBekasiTIDAK LULUS25Ar BaidPengkaderan Da’iTebo JambiTIDAK LULUS26Arfan IslahudinPengkaderan Da’iBanyumasTIDAK LULUS27Hafidz Dwi FirmansyahPengkaderan Da’iBanyumasTIDAK LULUS28Fadhlan AzkatullahTahfidz PlusBanjarnegaraTIDAK LULUS29Abdullah AzamPengkaderan Da’iBanjarnegaraTIDAK LULUS30Ya’qub Adnan SukurPengkaderan Da’iPurbalinggaGUGUR31Muhammad Raihan NurfadliTahfidz PlusTegalGUGUR32Raihan Maulana FirdausPengkaderan Da’iKota SurabayaGUGUR33Jundi Hizbul HaqPengkaderan Da’iBrebesGUGUR  Post navigation Previous Naskah dan Teks Khutbah Jumat – Pemimpin IdamanNext Acara Grand Launching WALMAGH di Ponpes Tunas Ilmu Purbalingga Related Posts PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 MInformasi / By tunasilmu PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEPULUH PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1441/1442 H – 2020/2021 MInformasi / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI BARUPONDOK PESANTREN “TUNAS ILMU” PURBALINGGA ANGKATAN KEEMPATBELAS – TAHUN AJARAN 1445-1446 / 2024-2025 NONAMAPROGRAMASALKETERANGAN1Abdullah Azzam Al-FawwazPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS2Muhammad Fathi FarhatPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS3Fino Tegar FebriantoPengkaderan Da’iLampung TengahLULUS4Muhamad Rizki RamadhanPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS5Iqbal Haitamy El-ZaidPengkaderan Da’iBanjarnegaraLULUS6Hammad AbdullohPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS7Akbar RamadhanTahfidz PlusMetro LampungLULUS8BaihakiTahfidz PlusLampung TimurLULUS9Muhammad Agung BayuputraTahfidz PlusPurbalinggaLULUS10DaudPengkaderan Da’iBantulLULUS11Nur Fatah ArdyansyahPengkaderan Da’iPekalonganLULUS12MuhammadPengkaderan Da’iGresikLULUS13Fahgrurozi Eka SuyatamaPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS14RahmaddanyPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS15Arfan HakimPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS16Ihsan Mundzir AbdullahPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS17Iqbal Maula AzzuraPengkaderan Da’iBanyumasLULUS18Indra ArdiansyahPengkaderan Da’iBanyumasLULUS19Faza Monzer El TsaqibPengkaderan Da’iTulang BawangLULUS20Muhammad Abyan Hafidz Al MustafaPengkaderan Da’iJakarta SelatanLULUS21Yusuf AbdullahPengkaderan Da’iMagelangLULUS22Raihan ErwindoTahfidz PlusPesisir BaratTIDAK LULUS23Kholil FauziTahfidz PlusTulang BawangTIDAK LULUS24Afgan Hanif MafadzaTahfidz PlusBekasiTIDAK LULUS25Ar BaidPengkaderan Da’iTebo JambiTIDAK LULUS26Arfan IslahudinPengkaderan Da’iBanyumasTIDAK LULUS27Hafidz Dwi FirmansyahPengkaderan Da’iBanyumasTIDAK LULUS28Fadhlan AzkatullahTahfidz PlusBanjarnegaraTIDAK LULUS29Abdullah AzamPengkaderan Da’iBanjarnegaraTIDAK LULUS30Ya’qub Adnan SukurPengkaderan Da’iPurbalinggaGUGUR31Muhammad Raihan NurfadliTahfidz PlusTegalGUGUR32Raihan Maulana FirdausPengkaderan Da’iKota SurabayaGUGUR33Jundi Hizbul HaqPengkaderan Da’iBrebesGUGUR  Post navigation Previous Naskah dan Teks Khutbah Jumat – Pemimpin IdamanNext Acara Grand Launching WALMAGH di Ponpes Tunas Ilmu Purbalingga Related Posts PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 MInformasi / By tunasilmu PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEPULUH PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1441/1442 H – 2020/2021 MInformasi / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu


PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI BARUPONDOK PESANTREN “TUNAS ILMU” PURBALINGGA ANGKATAN KEEMPATBELAS – TAHUN AJARAN 1445-1446 / 2024-2025 NONAMAPROGRAMASALKETERANGAN1Abdullah Azzam Al-FawwazPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS2Muhammad Fathi FarhatPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS3Fino Tegar FebriantoPengkaderan Da’iLampung TengahLULUS4Muhamad Rizki RamadhanPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS5Iqbal Haitamy El-ZaidPengkaderan Da’iBanjarnegaraLULUS6Hammad AbdullohPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS7Akbar RamadhanTahfidz PlusMetro LampungLULUS8BaihakiTahfidz PlusLampung TimurLULUS9Muhammad Agung BayuputraTahfidz PlusPurbalinggaLULUS10DaudPengkaderan Da’iBantulLULUS11Nur Fatah ArdyansyahPengkaderan Da’iPekalonganLULUS12MuhammadPengkaderan Da’iGresikLULUS13Fahgrurozi Eka SuyatamaPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS14RahmaddanyPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS15Arfan HakimPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS16Ihsan Mundzir AbdullahPengkaderan Da’iPurbalinggaLULUS17Iqbal Maula AzzuraPengkaderan Da’iBanyumasLULUS18Indra ArdiansyahPengkaderan Da’iBanyumasLULUS19Faza Monzer El TsaqibPengkaderan Da’iTulang BawangLULUS20Muhammad Abyan Hafidz Al MustafaPengkaderan Da’iJakarta SelatanLULUS21Yusuf AbdullahPengkaderan Da’iMagelangLULUS22Raihan ErwindoTahfidz PlusPesisir BaratTIDAK LULUS23Kholil FauziTahfidz PlusTulang BawangTIDAK LULUS24Afgan Hanif MafadzaTahfidz PlusBekasiTIDAK LULUS25Ar BaidPengkaderan Da’iTebo JambiTIDAK LULUS26Arfan IslahudinPengkaderan Da’iBanyumasTIDAK LULUS27Hafidz Dwi FirmansyahPengkaderan Da’iBanyumasTIDAK LULUS28Fadhlan AzkatullahTahfidz PlusBanjarnegaraTIDAK LULUS29Abdullah AzamPengkaderan Da’iBanjarnegaraTIDAK LULUS30Ya’qub Adnan SukurPengkaderan Da’iPurbalinggaGUGUR31Muhammad Raihan NurfadliTahfidz PlusTegalGUGUR32Raihan Maulana FirdausPengkaderan Da’iKota SurabayaGUGUR33Jundi Hizbul HaqPengkaderan Da’iBrebesGUGUR  Post navigation Previous Naskah dan Teks Khutbah Jumat – Pemimpin IdamanNext Acara Grand Launching WALMAGH di Ponpes Tunas Ilmu Purbalingga Related Posts PENGUMUMAN KELULUSAN CALON SANTRI: ANGKATAN KESEMBILAN – TAHUN AJARAN 1440-1441 H / 2019-2020 MInformasi / By tunasilmu PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KESEPULUH PROGRAM PENGKADERAN DA’I TAHUN AKADEMIK: 1441/1442 H – 2020/2021 MInformasi / By tunasilmu Informasi / Artikel TerbaruBuku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam BerdakwahSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 216 – Doa Masuk Masjid Bagian-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 215 – Doa Pergi Ke MasjidSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 214 – Doa Setelah Berwudhu Bag-2 (selesai)Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 213 – Doa Setelah Berwudhu Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 212 – Adakah Doa Saat Berwudhu?Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 211 – Doa Sebelum BerwudhuSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 210 – Adab Buang Hajat Bag-2Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 209 Adab Buang Hajat Bag-1Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 208 Doa Keluar ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 207 – Doa Masuk ToiletSerial Fiqih Doa dan Dzikir No: 206 – Doa Masuk Rumah Bag-3Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 202 – Menanamkan Sifat Amanah Pada AnakPenerimaan Santri Baru Angkatan Kelima Belas Program Pengkaderan Da’I Dan Tahfidz Plus “Bersanad” Tahun Akademik: 1447 H / 2025-2026 MPuskesmas Kalimanah Gelar Penyuluhan TBC Di Ponpes Tunas Ilmu
Prev     Next