Ketika Musafir yang Bermakmum di Belakang Mukim

Ketika Musafir yang Bermakmum di Belakang Mukim Jika saya musafir, lalu shalat dzuhur berjamaah di masjid umum, ketika itu saya menyusul di rakaat keempat, sehingga hanya mendapat 1 rakaat bersama imam, apa yang harus saya lakukan? Cukup nambahi 1 rakaat atau harus nambahi 3 rakaat? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Musafir disyariatkan untuk mengerjakan shalat secara qashar. Qashar shalat berarti mengerjakan shalat 4 rakaat menjadi 2 rakaat. Karena itu, istilah qashar hanya berlaku untuk shalat 4 rakaat. Terdapat banyak dalil mengenai hal ini, diantaranya, [1] Firman Allah Ta’ala, وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا “Apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar shalat(mu).” (QS. an-Nisa: 101) [2] Keterangan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan, صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى السَّفَرِ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ … “Saya sering menyertai Nabi ﷺ dalam perjalanan, dan beliau melaksanakan shalat tidak lebih dari dua rakaat, sampai Allah wafatkan beliau.” (HR. Muslim 1611 & Abu Daud 1225). [3] Keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan, فرض الله الصلاة على لسان نبيكم – صلى الله عليه وسلم – في الحضر أربعًا وفي السفر ركعتين وفي الخوف ركعة “Sesungguhnya, Allah mewajibkan shalat melalui lisan Nabi ﷺ; untuk musafir: 2 rakaat, untuk mukim: 4 rakaat, dan shalat khauf (ketika perang) dengan 1 rakaat.” (HR. Muslim). Bagaimana jika musafir bermakmum dengan mukim? Musafir yang bermakmum dengan mukim, dia tidak boleh qashar, namun dia shalat 4 rakaat seperti orang mukim. Musa bin Salamah pernah menyatakan kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, كُنَّا مَعَ ابْنِ عَبَّاسٍ بِمَكَّةَ، فَقُلْتُ: إِنَّا إِذَا كُنَّا مَعَكُمْ صَلَّيْنَا أَرْبَعًا، وَإِذَا رَجَعْنَا إِلَى رِحَالِنَا صَلَّيْنَا رَكْعَتَيْنِ Kami pernah bersama Ibnu Abbas di Mekah. Lalu saya sampaikan, ‘Jika kami shalat bersama anda, kami shalat 4 rakaat. Namun jika kami kembali ke tempat singgah kami, maka kami shalat 2 rakaat.’ Mendengar pernyataan Musa bin Salamah, Ibnu Abbas mengatakan, تلكَ سُنَّةُ أبي القاسمِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ “Itulah ajaran Abul Qasim ﷺ.” (HR. Ahmad 1862 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma ketika itu menetap di Mekah, sehingga beliau mukim di Mekah. Sementara Musa bin Salamah hanyalah musafir yang singgah di kota Mekah. Ketika Musa bin Salamah shalat menjadi makmum Ibnu Abbas, Musa mengerjakannya 4 rakaat. Namun ketika Musa shalat di kemah tempat singgahnya, beliau qashar. Dan kata Ibnu Abbas, ini sesuai ajaran Nabi ﷺ. Karena itu, musafir yang menjadi makmum di belakang orang mukim, dia tidak boleh qashar, meskipun dia hanya menjumpai tasyahud akhir. Syaikh Masyhur Hasan Salman menjelaskan, فإتمام المسافر خلف المقيم سنة، فإذا أدرك المسافر أي شيء من الصلاة الواجب عليه الإتمام . مسافر أدرك مع الإمام ركعتين (في الصلاة الرباعية) ماذا يعمل؟ يأتي بركعتين. ولو أدرك ثلاث ركعات ماذا يعمل؟ عليه أن يأتي بالرابعة فيصلي الصلاة كاملة، وكذلك لو لم يدرك شيئاً (مثل أن يأتي والإمام في التشهد الأخير )، هذا هو الراجح . Musafir shalat 4 rakaat ketika jadi makmum di belakang mukim adalah sunah Nabi ﷺ. Jika seorang musafir menyusl gerakan imam yang mukim di posisi apapun, wajib shalat 4 rakaat. Musafir menyusul imam dapat 2 rakaat (untuk shalat 4 rakaat) apa yang harus dilakukan? Jawab: musafir ini harus menambahi kekurangannya 2 rakaat. Jika musafir menyusul imam dapat 3 rakaat, apa yang harus dilakukan? Jawab: musafir ini harus nambahi 1 rakaat, sehingga shalatnya 4 rakaat. Demikian pula ketika musafir ini tidak mendapatkan rakaat apapun, misalnya dia dapat imam di tasyahud akhir. Inilah pendapat yang rajih. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Merayakan Tahun Baru, Arti Gharim, Doa Terkena Sihir, Sami Na Wa Atho Na, Doa Anak Tidak Rewel, Bahaya Anal Visited 123 times, 2 visit(s) today Post Views: 223 QRIS donasi Yufid

Ketika Musafir yang Bermakmum di Belakang Mukim

Ketika Musafir yang Bermakmum di Belakang Mukim Jika saya musafir, lalu shalat dzuhur berjamaah di masjid umum, ketika itu saya menyusul di rakaat keempat, sehingga hanya mendapat 1 rakaat bersama imam, apa yang harus saya lakukan? Cukup nambahi 1 rakaat atau harus nambahi 3 rakaat? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Musafir disyariatkan untuk mengerjakan shalat secara qashar. Qashar shalat berarti mengerjakan shalat 4 rakaat menjadi 2 rakaat. Karena itu, istilah qashar hanya berlaku untuk shalat 4 rakaat. Terdapat banyak dalil mengenai hal ini, diantaranya, [1] Firman Allah Ta’ala, وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا “Apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar shalat(mu).” (QS. an-Nisa: 101) [2] Keterangan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan, صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى السَّفَرِ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ … “Saya sering menyertai Nabi ﷺ dalam perjalanan, dan beliau melaksanakan shalat tidak lebih dari dua rakaat, sampai Allah wafatkan beliau.” (HR. Muslim 1611 & Abu Daud 1225). [3] Keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan, فرض الله الصلاة على لسان نبيكم – صلى الله عليه وسلم – في الحضر أربعًا وفي السفر ركعتين وفي الخوف ركعة “Sesungguhnya, Allah mewajibkan shalat melalui lisan Nabi ﷺ; untuk musafir: 2 rakaat, untuk mukim: 4 rakaat, dan shalat khauf (ketika perang) dengan 1 rakaat.” (HR. Muslim). Bagaimana jika musafir bermakmum dengan mukim? Musafir yang bermakmum dengan mukim, dia tidak boleh qashar, namun dia shalat 4 rakaat seperti orang mukim. Musa bin Salamah pernah menyatakan kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, كُنَّا مَعَ ابْنِ عَبَّاسٍ بِمَكَّةَ، فَقُلْتُ: إِنَّا إِذَا كُنَّا مَعَكُمْ صَلَّيْنَا أَرْبَعًا، وَإِذَا رَجَعْنَا إِلَى رِحَالِنَا صَلَّيْنَا رَكْعَتَيْنِ Kami pernah bersama Ibnu Abbas di Mekah. Lalu saya sampaikan, ‘Jika kami shalat bersama anda, kami shalat 4 rakaat. Namun jika kami kembali ke tempat singgah kami, maka kami shalat 2 rakaat.’ Mendengar pernyataan Musa bin Salamah, Ibnu Abbas mengatakan, تلكَ سُنَّةُ أبي القاسمِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ “Itulah ajaran Abul Qasim ﷺ.” (HR. Ahmad 1862 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma ketika itu menetap di Mekah, sehingga beliau mukim di Mekah. Sementara Musa bin Salamah hanyalah musafir yang singgah di kota Mekah. Ketika Musa bin Salamah shalat menjadi makmum Ibnu Abbas, Musa mengerjakannya 4 rakaat. Namun ketika Musa shalat di kemah tempat singgahnya, beliau qashar. Dan kata Ibnu Abbas, ini sesuai ajaran Nabi ﷺ. Karena itu, musafir yang menjadi makmum di belakang orang mukim, dia tidak boleh qashar, meskipun dia hanya menjumpai tasyahud akhir. Syaikh Masyhur Hasan Salman menjelaskan, فإتمام المسافر خلف المقيم سنة، فإذا أدرك المسافر أي شيء من الصلاة الواجب عليه الإتمام . مسافر أدرك مع الإمام ركعتين (في الصلاة الرباعية) ماذا يعمل؟ يأتي بركعتين. ولو أدرك ثلاث ركعات ماذا يعمل؟ عليه أن يأتي بالرابعة فيصلي الصلاة كاملة، وكذلك لو لم يدرك شيئاً (مثل أن يأتي والإمام في التشهد الأخير )، هذا هو الراجح . Musafir shalat 4 rakaat ketika jadi makmum di belakang mukim adalah sunah Nabi ﷺ. Jika seorang musafir menyusl gerakan imam yang mukim di posisi apapun, wajib shalat 4 rakaat. Musafir menyusul imam dapat 2 rakaat (untuk shalat 4 rakaat) apa yang harus dilakukan? Jawab: musafir ini harus menambahi kekurangannya 2 rakaat. Jika musafir menyusul imam dapat 3 rakaat, apa yang harus dilakukan? Jawab: musafir ini harus nambahi 1 rakaat, sehingga shalatnya 4 rakaat. Demikian pula ketika musafir ini tidak mendapatkan rakaat apapun, misalnya dia dapat imam di tasyahud akhir. Inilah pendapat yang rajih. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Merayakan Tahun Baru, Arti Gharim, Doa Terkena Sihir, Sami Na Wa Atho Na, Doa Anak Tidak Rewel, Bahaya Anal Visited 123 times, 2 visit(s) today Post Views: 223 QRIS donasi Yufid
Ketika Musafir yang Bermakmum di Belakang Mukim Jika saya musafir, lalu shalat dzuhur berjamaah di masjid umum, ketika itu saya menyusul di rakaat keempat, sehingga hanya mendapat 1 rakaat bersama imam, apa yang harus saya lakukan? Cukup nambahi 1 rakaat atau harus nambahi 3 rakaat? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Musafir disyariatkan untuk mengerjakan shalat secara qashar. Qashar shalat berarti mengerjakan shalat 4 rakaat menjadi 2 rakaat. Karena itu, istilah qashar hanya berlaku untuk shalat 4 rakaat. Terdapat banyak dalil mengenai hal ini, diantaranya, [1] Firman Allah Ta’ala, وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا “Apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar shalat(mu).” (QS. an-Nisa: 101) [2] Keterangan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan, صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى السَّفَرِ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ … “Saya sering menyertai Nabi ﷺ dalam perjalanan, dan beliau melaksanakan shalat tidak lebih dari dua rakaat, sampai Allah wafatkan beliau.” (HR. Muslim 1611 & Abu Daud 1225). [3] Keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan, فرض الله الصلاة على لسان نبيكم – صلى الله عليه وسلم – في الحضر أربعًا وفي السفر ركعتين وفي الخوف ركعة “Sesungguhnya, Allah mewajibkan shalat melalui lisan Nabi ﷺ; untuk musafir: 2 rakaat, untuk mukim: 4 rakaat, dan shalat khauf (ketika perang) dengan 1 rakaat.” (HR. Muslim). Bagaimana jika musafir bermakmum dengan mukim? Musafir yang bermakmum dengan mukim, dia tidak boleh qashar, namun dia shalat 4 rakaat seperti orang mukim. Musa bin Salamah pernah menyatakan kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, كُنَّا مَعَ ابْنِ عَبَّاسٍ بِمَكَّةَ، فَقُلْتُ: إِنَّا إِذَا كُنَّا مَعَكُمْ صَلَّيْنَا أَرْبَعًا، وَإِذَا رَجَعْنَا إِلَى رِحَالِنَا صَلَّيْنَا رَكْعَتَيْنِ Kami pernah bersama Ibnu Abbas di Mekah. Lalu saya sampaikan, ‘Jika kami shalat bersama anda, kami shalat 4 rakaat. Namun jika kami kembali ke tempat singgah kami, maka kami shalat 2 rakaat.’ Mendengar pernyataan Musa bin Salamah, Ibnu Abbas mengatakan, تلكَ سُنَّةُ أبي القاسمِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ “Itulah ajaran Abul Qasim ﷺ.” (HR. Ahmad 1862 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma ketika itu menetap di Mekah, sehingga beliau mukim di Mekah. Sementara Musa bin Salamah hanyalah musafir yang singgah di kota Mekah. Ketika Musa bin Salamah shalat menjadi makmum Ibnu Abbas, Musa mengerjakannya 4 rakaat. Namun ketika Musa shalat di kemah tempat singgahnya, beliau qashar. Dan kata Ibnu Abbas, ini sesuai ajaran Nabi ﷺ. Karena itu, musafir yang menjadi makmum di belakang orang mukim, dia tidak boleh qashar, meskipun dia hanya menjumpai tasyahud akhir. Syaikh Masyhur Hasan Salman menjelaskan, فإتمام المسافر خلف المقيم سنة، فإذا أدرك المسافر أي شيء من الصلاة الواجب عليه الإتمام . مسافر أدرك مع الإمام ركعتين (في الصلاة الرباعية) ماذا يعمل؟ يأتي بركعتين. ولو أدرك ثلاث ركعات ماذا يعمل؟ عليه أن يأتي بالرابعة فيصلي الصلاة كاملة، وكذلك لو لم يدرك شيئاً (مثل أن يأتي والإمام في التشهد الأخير )، هذا هو الراجح . Musafir shalat 4 rakaat ketika jadi makmum di belakang mukim adalah sunah Nabi ﷺ. Jika seorang musafir menyusl gerakan imam yang mukim di posisi apapun, wajib shalat 4 rakaat. Musafir menyusul imam dapat 2 rakaat (untuk shalat 4 rakaat) apa yang harus dilakukan? Jawab: musafir ini harus menambahi kekurangannya 2 rakaat. Jika musafir menyusul imam dapat 3 rakaat, apa yang harus dilakukan? Jawab: musafir ini harus nambahi 1 rakaat, sehingga shalatnya 4 rakaat. Demikian pula ketika musafir ini tidak mendapatkan rakaat apapun, misalnya dia dapat imam di tasyahud akhir. Inilah pendapat yang rajih. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Merayakan Tahun Baru, Arti Gharim, Doa Terkena Sihir, Sami Na Wa Atho Na, Doa Anak Tidak Rewel, Bahaya Anal Visited 123 times, 2 visit(s) today Post Views: 223 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/630741480&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Ketika Musafir yang Bermakmum di Belakang Mukim Jika saya musafir, lalu shalat dzuhur berjamaah di masjid umum, ketika itu saya menyusul di rakaat keempat, sehingga hanya mendapat 1 rakaat bersama imam, apa yang harus saya lakukan? Cukup nambahi 1 rakaat atau harus nambahi 3 rakaat? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Musafir disyariatkan untuk mengerjakan shalat secara qashar. Qashar shalat berarti mengerjakan shalat 4 rakaat menjadi 2 rakaat. Karena itu, istilah qashar hanya berlaku untuk shalat 4 rakaat. Terdapat banyak dalil mengenai hal ini, diantaranya, [1] Firman Allah Ta’ala, وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا “Apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar shalat(mu).” (QS. an-Nisa: 101) [2] Keterangan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan, صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى السَّفَرِ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ … “Saya sering menyertai Nabi ﷺ dalam perjalanan, dan beliau melaksanakan shalat tidak lebih dari dua rakaat, sampai Allah wafatkan beliau.” (HR. Muslim 1611 & Abu Daud 1225). [3] Keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan, فرض الله الصلاة على لسان نبيكم – صلى الله عليه وسلم – في الحضر أربعًا وفي السفر ركعتين وفي الخوف ركعة “Sesungguhnya, Allah mewajibkan shalat melalui lisan Nabi ﷺ; untuk musafir: 2 rakaat, untuk mukim: 4 rakaat, dan shalat khauf (ketika perang) dengan 1 rakaat.” (HR. Muslim). Bagaimana jika musafir bermakmum dengan mukim? Musafir yang bermakmum dengan mukim, dia tidak boleh qashar, namun dia shalat 4 rakaat seperti orang mukim. Musa bin Salamah pernah menyatakan kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, كُنَّا مَعَ ابْنِ عَبَّاسٍ بِمَكَّةَ، فَقُلْتُ: إِنَّا إِذَا كُنَّا مَعَكُمْ صَلَّيْنَا أَرْبَعًا، وَإِذَا رَجَعْنَا إِلَى رِحَالِنَا صَلَّيْنَا رَكْعَتَيْنِ Kami pernah bersama Ibnu Abbas di Mekah. Lalu saya sampaikan, ‘Jika kami shalat bersama anda, kami shalat 4 rakaat. Namun jika kami kembali ke tempat singgah kami, maka kami shalat 2 rakaat.’ Mendengar pernyataan Musa bin Salamah, Ibnu Abbas mengatakan, تلكَ سُنَّةُ أبي القاسمِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ “Itulah ajaran Abul Qasim ﷺ.” (HR. Ahmad 1862 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma ketika itu menetap di Mekah, sehingga beliau mukim di Mekah. Sementara Musa bin Salamah hanyalah musafir yang singgah di kota Mekah. Ketika Musa bin Salamah shalat menjadi makmum Ibnu Abbas, Musa mengerjakannya 4 rakaat. Namun ketika Musa shalat di kemah tempat singgahnya, beliau qashar. Dan kata Ibnu Abbas, ini sesuai ajaran Nabi ﷺ. Karena itu, musafir yang menjadi makmum di belakang orang mukim, dia tidak boleh qashar, meskipun dia hanya menjumpai tasyahud akhir. Syaikh Masyhur Hasan Salman menjelaskan, فإتمام المسافر خلف المقيم سنة، فإذا أدرك المسافر أي شيء من الصلاة الواجب عليه الإتمام . مسافر أدرك مع الإمام ركعتين (في الصلاة الرباعية) ماذا يعمل؟ يأتي بركعتين. ولو أدرك ثلاث ركعات ماذا يعمل؟ عليه أن يأتي بالرابعة فيصلي الصلاة كاملة، وكذلك لو لم يدرك شيئاً (مثل أن يأتي والإمام في التشهد الأخير )، هذا هو الراجح . Musafir shalat 4 rakaat ketika jadi makmum di belakang mukim adalah sunah Nabi ﷺ. Jika seorang musafir menyusl gerakan imam yang mukim di posisi apapun, wajib shalat 4 rakaat. Musafir menyusul imam dapat 2 rakaat (untuk shalat 4 rakaat) apa yang harus dilakukan? Jawab: musafir ini harus menambahi kekurangannya 2 rakaat. Jika musafir menyusul imam dapat 3 rakaat, apa yang harus dilakukan? Jawab: musafir ini harus nambahi 1 rakaat, sehingga shalatnya 4 rakaat. Demikian pula ketika musafir ini tidak mendapatkan rakaat apapun, misalnya dia dapat imam di tasyahud akhir. Inilah pendapat yang rajih. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Merayakan Tahun Baru, Arti Gharim, Doa Terkena Sihir, Sami Na Wa Atho Na, Doa Anak Tidak Rewel, Bahaya Anal Visited 123 times, 2 visit(s) today Post Views: 223 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Kumpulan Amalan Ringan #17: Keutamaan Belajar dan Mengajar di Masjid

Ada amalan ringan luar biasa, yaitu belajar agama di masjid. Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتُهُ “Siapa yang berangkat ke masjid yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna hajinya.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8: 94. Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 86 menyatakan bahwa hadits ini hasan shahih)   Ada lima kiat penting dalam belajar:   1. Membersihkan sebelum mengisi   Ada kaidah yang dikenal oleh para ulama, التَّخْلِيَّةُ قَبْلَ التَّحْلِيَّةِ At-takhliyyah qabla at-tahliyyah yaitu membersihkan sebelum mengisi. Sebelum hati diisi oleh ilmu, berarti hati dibersihkan dahulu. Kaedah di atas diungkapkan oleh Ibnul Qayyim dalam faedah kesepuluh dari kitab beliau yang sungguh berharga yaitu Al-Fawaid, hlm. 56. Beliau rahimahullah mengungkapkan, “Kalau suatu tempat sudah bersih, pasti akan sulit dimasuki oleh lawannya. Hal ini terjadi pada sesuatu yang nampak dan dirasakan secara inderawi, begitu pula pada keyakinan dan iradah. Jika hati terisi dengan akidah dan kecintaan yang batil, maka tidaklah ada tempat untuk kebenaran di dalamnya. Sebagaimana lisan jika disibukkan dengan kata-kata yang tidak manfaat, maka tentu lisan tersebut sulit disibukkan dengan ucapan-ucapan yang bermanfaat, yang ada lisan hanya disibukkan dengan ucapan kebatilan. Begitu pula anggota badan jika telah disibukkan dengan selain ketaatan, tidak mungkin lagi tersibukkan dengan ketaatan, pasti hanya akan tersibukkan dengan lawannya.” Sahl bin ‘Abdullah rahimahullah berkata, “Cahaya ilmu sulit masuk pada hati yang masih terisi dengan sesuatu yang Allah benci.”   2. Niat ikhlas dalam belajar   Yang dimaksud ikhlas dalam belajar–sebagaimana kata Syaikh Shalih Al-’Ushaimi hafizhahullah–: a- Belajar agama untuk menghilangkan kebodohan pada diri sendiri. b- Belajar agama untuk menghilangkan kebodohan pada orang lain. c- Belajar agama untuk menghidupkan dan menjaga ilmu. d- Belajar agama untuk mengamalkan ilmu. Walaupun awalnya orang masuk Islam atau belajar Islam hanya untuk dunia, namun niatnya nantinya bisa berubah karena ilmu yang menuntunnya. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan, إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إِلاَّ الدُّنْيَا فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ الإِسْلاَمُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا “Sesungguhnya pada zaman dahulu, ada sebagian orang yang masuk Islam hanya mengharapkan dunia. Sesudah ia berada dalam Islam, akhirnya Islam menjadi lebih ia cintai daripada dunia dan segala isinya.” (HR. Muslim, no. 2312) Ad-Daruquthni berkata, طَلَبْنَا العِلْمَ لِغَيْرِ اللهِ فَأَبَي أَنْ يَكُوْنَ إِلاَّ لله “Kami dahulu menuntut ilmu karena ingin gapai ridha selain Allah. Namun ilmu itu enggan, ia hanya ingin niatan tersebut untuk Allah.” (Disebutkan dalam Tadzkirah As–Saami’ waAl-Muta’allim, dinukil dari Ma’alim fi ThariqThalabAl-‘Ilmi, hlm. 18)   3. Terus semangat dalam belajar   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ “Semangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah pada Allah, dan jangan malas (patah semangat).” (HR. Muslim,no. 2664).   4. Pelajari ilmu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah   Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi hafizhahullahberkata bahwa semua ilmu yang bermanfaat kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ilmu yang lain bisa jadi adalah turunan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Atau ada ilmu di luar dari dua sumber tadi, namun bukan suatu darurat jika tidak dipelajari. (Ta’zhim Al-‘Ilmi, hlm. 46) 5. Mempelajari ilmu dari guru   Ada faedah belajar dari guru secara langsung: Lebih ringkas dalam meraih ilmu. Beda halnya jika ilmu diperoleh dari buku, yang butuh penelaan yang lama. Seorang guru bisa meringkas perselisihan ulama yang ada dan bisa mengambil pendapat yang lebih kuat. Lebih cepat memahami ilmu. Memang nyata, belajar dari guru lebih cepat memahami dibanding dengan otodidak. Karena dalam membaca bisa jadi ada hal-hal atau istilah yang sulit dipahami. Namun akan sangat terbantu ketika belajar kepada seorang guru. Ada hubungan antara murid dan guru, yaitu antara yang junior dalam mencari ilmu dan yang telah banyak makan garam (alias: berpengalaman).   Nantikan kumpulan amalan ringan berikutnya berserial, dan insya Allah akan menjadi sebuah buku. Bahasan ini dikembangkan dari kitab “Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir” karya Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Cetakan pertama, Tahun 1415 H, Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan ringan amalan ringan berpahala besar belajar belajar agama belajar agama di masjid ilmu keutamaan ilmu kumpulan amalan ringan

Kumpulan Amalan Ringan #17: Keutamaan Belajar dan Mengajar di Masjid

Ada amalan ringan luar biasa, yaitu belajar agama di masjid. Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتُهُ “Siapa yang berangkat ke masjid yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna hajinya.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8: 94. Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 86 menyatakan bahwa hadits ini hasan shahih)   Ada lima kiat penting dalam belajar:   1. Membersihkan sebelum mengisi   Ada kaidah yang dikenal oleh para ulama, التَّخْلِيَّةُ قَبْلَ التَّحْلِيَّةِ At-takhliyyah qabla at-tahliyyah yaitu membersihkan sebelum mengisi. Sebelum hati diisi oleh ilmu, berarti hati dibersihkan dahulu. Kaedah di atas diungkapkan oleh Ibnul Qayyim dalam faedah kesepuluh dari kitab beliau yang sungguh berharga yaitu Al-Fawaid, hlm. 56. Beliau rahimahullah mengungkapkan, “Kalau suatu tempat sudah bersih, pasti akan sulit dimasuki oleh lawannya. Hal ini terjadi pada sesuatu yang nampak dan dirasakan secara inderawi, begitu pula pada keyakinan dan iradah. Jika hati terisi dengan akidah dan kecintaan yang batil, maka tidaklah ada tempat untuk kebenaran di dalamnya. Sebagaimana lisan jika disibukkan dengan kata-kata yang tidak manfaat, maka tentu lisan tersebut sulit disibukkan dengan ucapan-ucapan yang bermanfaat, yang ada lisan hanya disibukkan dengan ucapan kebatilan. Begitu pula anggota badan jika telah disibukkan dengan selain ketaatan, tidak mungkin lagi tersibukkan dengan ketaatan, pasti hanya akan tersibukkan dengan lawannya.” Sahl bin ‘Abdullah rahimahullah berkata, “Cahaya ilmu sulit masuk pada hati yang masih terisi dengan sesuatu yang Allah benci.”   2. Niat ikhlas dalam belajar   Yang dimaksud ikhlas dalam belajar–sebagaimana kata Syaikh Shalih Al-’Ushaimi hafizhahullah–: a- Belajar agama untuk menghilangkan kebodohan pada diri sendiri. b- Belajar agama untuk menghilangkan kebodohan pada orang lain. c- Belajar agama untuk menghidupkan dan menjaga ilmu. d- Belajar agama untuk mengamalkan ilmu. Walaupun awalnya orang masuk Islam atau belajar Islam hanya untuk dunia, namun niatnya nantinya bisa berubah karena ilmu yang menuntunnya. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan, إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إِلاَّ الدُّنْيَا فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ الإِسْلاَمُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا “Sesungguhnya pada zaman dahulu, ada sebagian orang yang masuk Islam hanya mengharapkan dunia. Sesudah ia berada dalam Islam, akhirnya Islam menjadi lebih ia cintai daripada dunia dan segala isinya.” (HR. Muslim, no. 2312) Ad-Daruquthni berkata, طَلَبْنَا العِلْمَ لِغَيْرِ اللهِ فَأَبَي أَنْ يَكُوْنَ إِلاَّ لله “Kami dahulu menuntut ilmu karena ingin gapai ridha selain Allah. Namun ilmu itu enggan, ia hanya ingin niatan tersebut untuk Allah.” (Disebutkan dalam Tadzkirah As–Saami’ waAl-Muta’allim, dinukil dari Ma’alim fi ThariqThalabAl-‘Ilmi, hlm. 18)   3. Terus semangat dalam belajar   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ “Semangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah pada Allah, dan jangan malas (patah semangat).” (HR. Muslim,no. 2664).   4. Pelajari ilmu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah   Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi hafizhahullahberkata bahwa semua ilmu yang bermanfaat kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ilmu yang lain bisa jadi adalah turunan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Atau ada ilmu di luar dari dua sumber tadi, namun bukan suatu darurat jika tidak dipelajari. (Ta’zhim Al-‘Ilmi, hlm. 46) 5. Mempelajari ilmu dari guru   Ada faedah belajar dari guru secara langsung: Lebih ringkas dalam meraih ilmu. Beda halnya jika ilmu diperoleh dari buku, yang butuh penelaan yang lama. Seorang guru bisa meringkas perselisihan ulama yang ada dan bisa mengambil pendapat yang lebih kuat. Lebih cepat memahami ilmu. Memang nyata, belajar dari guru lebih cepat memahami dibanding dengan otodidak. Karena dalam membaca bisa jadi ada hal-hal atau istilah yang sulit dipahami. Namun akan sangat terbantu ketika belajar kepada seorang guru. Ada hubungan antara murid dan guru, yaitu antara yang junior dalam mencari ilmu dan yang telah banyak makan garam (alias: berpengalaman).   Nantikan kumpulan amalan ringan berikutnya berserial, dan insya Allah akan menjadi sebuah buku. Bahasan ini dikembangkan dari kitab “Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir” karya Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Cetakan pertama, Tahun 1415 H, Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan ringan amalan ringan berpahala besar belajar belajar agama belajar agama di masjid ilmu keutamaan ilmu kumpulan amalan ringan
Ada amalan ringan luar biasa, yaitu belajar agama di masjid. Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتُهُ “Siapa yang berangkat ke masjid yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna hajinya.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8: 94. Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 86 menyatakan bahwa hadits ini hasan shahih)   Ada lima kiat penting dalam belajar:   1. Membersihkan sebelum mengisi   Ada kaidah yang dikenal oleh para ulama, التَّخْلِيَّةُ قَبْلَ التَّحْلِيَّةِ At-takhliyyah qabla at-tahliyyah yaitu membersihkan sebelum mengisi. Sebelum hati diisi oleh ilmu, berarti hati dibersihkan dahulu. Kaedah di atas diungkapkan oleh Ibnul Qayyim dalam faedah kesepuluh dari kitab beliau yang sungguh berharga yaitu Al-Fawaid, hlm. 56. Beliau rahimahullah mengungkapkan, “Kalau suatu tempat sudah bersih, pasti akan sulit dimasuki oleh lawannya. Hal ini terjadi pada sesuatu yang nampak dan dirasakan secara inderawi, begitu pula pada keyakinan dan iradah. Jika hati terisi dengan akidah dan kecintaan yang batil, maka tidaklah ada tempat untuk kebenaran di dalamnya. Sebagaimana lisan jika disibukkan dengan kata-kata yang tidak manfaat, maka tentu lisan tersebut sulit disibukkan dengan ucapan-ucapan yang bermanfaat, yang ada lisan hanya disibukkan dengan ucapan kebatilan. Begitu pula anggota badan jika telah disibukkan dengan selain ketaatan, tidak mungkin lagi tersibukkan dengan ketaatan, pasti hanya akan tersibukkan dengan lawannya.” Sahl bin ‘Abdullah rahimahullah berkata, “Cahaya ilmu sulit masuk pada hati yang masih terisi dengan sesuatu yang Allah benci.”   2. Niat ikhlas dalam belajar   Yang dimaksud ikhlas dalam belajar–sebagaimana kata Syaikh Shalih Al-’Ushaimi hafizhahullah–: a- Belajar agama untuk menghilangkan kebodohan pada diri sendiri. b- Belajar agama untuk menghilangkan kebodohan pada orang lain. c- Belajar agama untuk menghidupkan dan menjaga ilmu. d- Belajar agama untuk mengamalkan ilmu. Walaupun awalnya orang masuk Islam atau belajar Islam hanya untuk dunia, namun niatnya nantinya bisa berubah karena ilmu yang menuntunnya. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan, إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إِلاَّ الدُّنْيَا فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ الإِسْلاَمُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا “Sesungguhnya pada zaman dahulu, ada sebagian orang yang masuk Islam hanya mengharapkan dunia. Sesudah ia berada dalam Islam, akhirnya Islam menjadi lebih ia cintai daripada dunia dan segala isinya.” (HR. Muslim, no. 2312) Ad-Daruquthni berkata, طَلَبْنَا العِلْمَ لِغَيْرِ اللهِ فَأَبَي أَنْ يَكُوْنَ إِلاَّ لله “Kami dahulu menuntut ilmu karena ingin gapai ridha selain Allah. Namun ilmu itu enggan, ia hanya ingin niatan tersebut untuk Allah.” (Disebutkan dalam Tadzkirah As–Saami’ waAl-Muta’allim, dinukil dari Ma’alim fi ThariqThalabAl-‘Ilmi, hlm. 18)   3. Terus semangat dalam belajar   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ “Semangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah pada Allah, dan jangan malas (patah semangat).” (HR. Muslim,no. 2664).   4. Pelajari ilmu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah   Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi hafizhahullahberkata bahwa semua ilmu yang bermanfaat kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ilmu yang lain bisa jadi adalah turunan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Atau ada ilmu di luar dari dua sumber tadi, namun bukan suatu darurat jika tidak dipelajari. (Ta’zhim Al-‘Ilmi, hlm. 46) 5. Mempelajari ilmu dari guru   Ada faedah belajar dari guru secara langsung: Lebih ringkas dalam meraih ilmu. Beda halnya jika ilmu diperoleh dari buku, yang butuh penelaan yang lama. Seorang guru bisa meringkas perselisihan ulama yang ada dan bisa mengambil pendapat yang lebih kuat. Lebih cepat memahami ilmu. Memang nyata, belajar dari guru lebih cepat memahami dibanding dengan otodidak. Karena dalam membaca bisa jadi ada hal-hal atau istilah yang sulit dipahami. Namun akan sangat terbantu ketika belajar kepada seorang guru. Ada hubungan antara murid dan guru, yaitu antara yang junior dalam mencari ilmu dan yang telah banyak makan garam (alias: berpengalaman).   Nantikan kumpulan amalan ringan berikutnya berserial, dan insya Allah akan menjadi sebuah buku. Bahasan ini dikembangkan dari kitab “Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir” karya Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Cetakan pertama, Tahun 1415 H, Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan ringan amalan ringan berpahala besar belajar belajar agama belajar agama di masjid ilmu keutamaan ilmu kumpulan amalan ringan


Ada amalan ringan luar biasa, yaitu belajar agama di masjid. Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتُهُ “Siapa yang berangkat ke masjid yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna hajinya.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8: 94. Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 86 menyatakan bahwa hadits ini hasan shahih)   Ada lima kiat penting dalam belajar:   1. Membersihkan sebelum mengisi   Ada kaidah yang dikenal oleh para ulama, التَّخْلِيَّةُ قَبْلَ التَّحْلِيَّةِ At-takhliyyah qabla at-tahliyyah yaitu membersihkan sebelum mengisi. Sebelum hati diisi oleh ilmu, berarti hati dibersihkan dahulu. Kaedah di atas diungkapkan oleh Ibnul Qayyim dalam faedah kesepuluh dari kitab beliau yang sungguh berharga yaitu Al-Fawaid, hlm. 56. Beliau rahimahullah mengungkapkan, “Kalau suatu tempat sudah bersih, pasti akan sulit dimasuki oleh lawannya. Hal ini terjadi pada sesuatu yang nampak dan dirasakan secara inderawi, begitu pula pada keyakinan dan iradah. Jika hati terisi dengan akidah dan kecintaan yang batil, maka tidaklah ada tempat untuk kebenaran di dalamnya. Sebagaimana lisan jika disibukkan dengan kata-kata yang tidak manfaat, maka tentu lisan tersebut sulit disibukkan dengan ucapan-ucapan yang bermanfaat, yang ada lisan hanya disibukkan dengan ucapan kebatilan. Begitu pula anggota badan jika telah disibukkan dengan selain ketaatan, tidak mungkin lagi tersibukkan dengan ketaatan, pasti hanya akan tersibukkan dengan lawannya.” Sahl bin ‘Abdullah rahimahullah berkata, “Cahaya ilmu sulit masuk pada hati yang masih terisi dengan sesuatu yang Allah benci.”   2. Niat ikhlas dalam belajar   Yang dimaksud ikhlas dalam belajar–sebagaimana kata Syaikh Shalih Al-’Ushaimi hafizhahullah–: a- Belajar agama untuk menghilangkan kebodohan pada diri sendiri. b- Belajar agama untuk menghilangkan kebodohan pada orang lain. c- Belajar agama untuk menghidupkan dan menjaga ilmu. d- Belajar agama untuk mengamalkan ilmu. Walaupun awalnya orang masuk Islam atau belajar Islam hanya untuk dunia, namun niatnya nantinya bisa berubah karena ilmu yang menuntunnya. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan, إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إِلاَّ الدُّنْيَا فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ الإِسْلاَمُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا “Sesungguhnya pada zaman dahulu, ada sebagian orang yang masuk Islam hanya mengharapkan dunia. Sesudah ia berada dalam Islam, akhirnya Islam menjadi lebih ia cintai daripada dunia dan segala isinya.” (HR. Muslim, no. 2312) Ad-Daruquthni berkata, طَلَبْنَا العِلْمَ لِغَيْرِ اللهِ فَأَبَي أَنْ يَكُوْنَ إِلاَّ لله “Kami dahulu menuntut ilmu karena ingin gapai ridha selain Allah. Namun ilmu itu enggan, ia hanya ingin niatan tersebut untuk Allah.” (Disebutkan dalam Tadzkirah As–Saami’ waAl-Muta’allim, dinukil dari Ma’alim fi ThariqThalabAl-‘Ilmi, hlm. 18)   3. Terus semangat dalam belajar   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ “Semangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah pada Allah, dan jangan malas (patah semangat).” (HR. Muslim,no. 2664).   4. Pelajari ilmu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah   Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi hafizhahullahberkata bahwa semua ilmu yang bermanfaat kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ilmu yang lain bisa jadi adalah turunan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Atau ada ilmu di luar dari dua sumber tadi, namun bukan suatu darurat jika tidak dipelajari. (Ta’zhim Al-‘Ilmi, hlm. 46) 5. Mempelajari ilmu dari guru   Ada faedah belajar dari guru secara langsung: Lebih ringkas dalam meraih ilmu. Beda halnya jika ilmu diperoleh dari buku, yang butuh penelaan yang lama. Seorang guru bisa meringkas perselisihan ulama yang ada dan bisa mengambil pendapat yang lebih kuat. Lebih cepat memahami ilmu. Memang nyata, belajar dari guru lebih cepat memahami dibanding dengan otodidak. Karena dalam membaca bisa jadi ada hal-hal atau istilah yang sulit dipahami. Namun akan sangat terbantu ketika belajar kepada seorang guru. Ada hubungan antara murid dan guru, yaitu antara yang junior dalam mencari ilmu dan yang telah banyak makan garam (alias: berpengalaman).   Nantikan kumpulan amalan ringan berikutnya berserial, dan insya Allah akan menjadi sebuah buku. Bahasan ini dikembangkan dari kitab “Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir” karya Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Cetakan pertama, Tahun 1415 H, Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan ringan amalan ringan berpahala besar belajar belajar agama belajar agama di masjid ilmu keutamaan ilmu kumpulan amalan ringan

Imam Disunahkan Menghadap Makmum Sesudah Sholat

Imam Disunahkan Menghadap Makmum Sesudah Sholat Ust, sy sering dapati imam sholat habis sholat sll putar balik menghadap makmum, hampir tiap sholat…knp ya ust? Apa mmg ada perintah nya? Syukron Tadz penjelasannya.. Jawaban: Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah. Amma ba’du. Kami sangat bangga dengan sikap Anda yang kritis menanyakan dalil tentang amalan ibadah. Semoga Allah memberi keberkahan kepada Anda. Karena memang dalam hal ibadah, kaedah yang berlaku adalah, اَلْأَصْلَ فِي اَلْعِبَادَةِ اَلتَّوَقُّف Hukum asal ibadah adalah tawaquf (menunggu sampai datangnya dalil) Imam Ibnu Daqiq Al ‘Ied –rahimahumallah-, salah seorang ulama besar mazhab syafi’i menegaskan, لِأَنَّ الْغَالِبَ عَلَى الْعِبَادَاتِ التَّعَبُّدُ ، وَمَأْخَذُهَا التَّوْقِيفُ “Umumnya ibadah adalah penyembahan kepada Allah (ta’abbud). Dan patokannya adalah dalil”. (Lihat : Al-‘Uddah 3/157). Menoleh ke arah makmum sesudah sholat, adalah amalan yang disunahkan bagi Imam. Dijelaskan dalam hadis dari sahabat Samuroh bin Jundub –radhiyallahu’anhu-, كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى صَلاَةً أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ Nabi ﷺ biasa sesudah mengimani sholat beliau menghadap ke arah jama’ah. (HR. Bukhori) Dalam hadis sahabat Barro’ bin Azib –radhiyallahu’anhu– juga dijelaskan, كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَحْبَبْنَا أَنْ نَكُونَ عَنْ يَمِينِهِ ، يُقْبِلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ Dahulu jika kami sholat di belakang Rasulullah ﷺ, kami senang jika berada di sof sisi kanan beliau. Supaya beliau menghadapkan wajahnya kepada kami. (HR. Muslim) Bahkan sebagian ulama menilai makruh jika Imam tetap pada posisinya tidak menghadapkan wajah ke arah makmum, sesudah sholat. Dalam kitab Syarah Mukhtasor Al- Kholil diterangkan, وكره تنفل الإمام بمحراب المسجد، وكذا جلوسه فيه بعد سلامه على هيئته الأولى Makruh bagi imam melakukan sholat sunah (rawatib ba’diah) di mihrab, demikian duduk seperti posisinya sebagai imam (pent. tidak menghadap makmum). (Syarah Mukhtasor Al- Kholil Al-Khorqi 4/428) Mengapa makruh? Karena alasan berikut : Pertama, agar makmum yang ketinggalan (masbuk) tidak salahpaham bahwa sholat sudah selesai. Jika tidak mengubah posisi imam, bisa-bisa makmum yang tertinggal begitu masuk sholat langsung duduk tasyahud. Padahal imam sedang dzikir. Kedua, status ke-imamannya sudah gugur setelah dia mengucapkan salam. Sehingga tidak berhak lagi berada dalam posisi imam. Ketiga, menjaga imam dari penyakit riya’. Karena posisi imam adalah posisi yang rawan mendatangkan perasaan sombong dan ingin dimuliakan. Sehingga mengubah posisi dengan menghadapkan wajah ke arah makmum, dapat mencegah dari perasaan ini. (Lihat : (Syarah Mukhtasor Al- Kholil 4/428 & Fathul Bari 3/89) Kapan Waktu Menghadap Makmum? Sesaat setelah salam. Yakni setelah membaca dzikir setelah sholat istighfar 3x dan Allahumma antas salaam…. Sebagaimana dipaparkan dalam riwayat dari sahabat Tsauban –radhiyallahu’anhu-, كان صلى الله عليه وسلم إذا سلم استغفر ثلاثاً، وقال: “اللهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، ومنكَ السلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ” Nabi ﷺ biasa jika usai salam, beliau beristighfar 3x, kemudian membaca: Allahumma antas salaam, wa minkas salam, tabaarokta ya dzal jalaali wal ikroom. (HR. Muslim) Setelah menukil riwayat di atas Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, ولم يمكث مستقبِلَ القِبلة إلا مقدارَ ما يقولُ ذلك ، بل يُسرع الانتقالَ إلى المأمومين ، وكان ينفتِل عن يمينه وعن يساره Beliau tidak tetap berada posisi duduk menghadap kiblat (setelah sholat, pent) kecuali selama beliau membaca dzikir di atas. Bahkan beliau selalu segera berpindah ke barisan makmum. Beliau terkadang menghadap makmum dengan memutar ke sisi kanan atau terkadang ke sisi kiri. (Zaadul Ma’ad, hal. 91) Wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Puasa Di Bulan Rajab, Kisah Nyata Kematian Khusnul Khotimah, Amalan Di Bulan Sya Ban, Wanita Terbaik Dalam Islam, Shalat Sesuai Sunnah, Amalan Sunnah Di Bulan Muharram Visited 216 times, 1 visit(s) today Post Views: 236 QRIS donasi Yufid

Imam Disunahkan Menghadap Makmum Sesudah Sholat

Imam Disunahkan Menghadap Makmum Sesudah Sholat Ust, sy sering dapati imam sholat habis sholat sll putar balik menghadap makmum, hampir tiap sholat…knp ya ust? Apa mmg ada perintah nya? Syukron Tadz penjelasannya.. Jawaban: Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah. Amma ba’du. Kami sangat bangga dengan sikap Anda yang kritis menanyakan dalil tentang amalan ibadah. Semoga Allah memberi keberkahan kepada Anda. Karena memang dalam hal ibadah, kaedah yang berlaku adalah, اَلْأَصْلَ فِي اَلْعِبَادَةِ اَلتَّوَقُّف Hukum asal ibadah adalah tawaquf (menunggu sampai datangnya dalil) Imam Ibnu Daqiq Al ‘Ied –rahimahumallah-, salah seorang ulama besar mazhab syafi’i menegaskan, لِأَنَّ الْغَالِبَ عَلَى الْعِبَادَاتِ التَّعَبُّدُ ، وَمَأْخَذُهَا التَّوْقِيفُ “Umumnya ibadah adalah penyembahan kepada Allah (ta’abbud). Dan patokannya adalah dalil”. (Lihat : Al-‘Uddah 3/157). Menoleh ke arah makmum sesudah sholat, adalah amalan yang disunahkan bagi Imam. Dijelaskan dalam hadis dari sahabat Samuroh bin Jundub –radhiyallahu’anhu-, كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى صَلاَةً أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ Nabi ﷺ biasa sesudah mengimani sholat beliau menghadap ke arah jama’ah. (HR. Bukhori) Dalam hadis sahabat Barro’ bin Azib –radhiyallahu’anhu– juga dijelaskan, كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَحْبَبْنَا أَنْ نَكُونَ عَنْ يَمِينِهِ ، يُقْبِلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ Dahulu jika kami sholat di belakang Rasulullah ﷺ, kami senang jika berada di sof sisi kanan beliau. Supaya beliau menghadapkan wajahnya kepada kami. (HR. Muslim) Bahkan sebagian ulama menilai makruh jika Imam tetap pada posisinya tidak menghadapkan wajah ke arah makmum, sesudah sholat. Dalam kitab Syarah Mukhtasor Al- Kholil diterangkan, وكره تنفل الإمام بمحراب المسجد، وكذا جلوسه فيه بعد سلامه على هيئته الأولى Makruh bagi imam melakukan sholat sunah (rawatib ba’diah) di mihrab, demikian duduk seperti posisinya sebagai imam (pent. tidak menghadap makmum). (Syarah Mukhtasor Al- Kholil Al-Khorqi 4/428) Mengapa makruh? Karena alasan berikut : Pertama, agar makmum yang ketinggalan (masbuk) tidak salahpaham bahwa sholat sudah selesai. Jika tidak mengubah posisi imam, bisa-bisa makmum yang tertinggal begitu masuk sholat langsung duduk tasyahud. Padahal imam sedang dzikir. Kedua, status ke-imamannya sudah gugur setelah dia mengucapkan salam. Sehingga tidak berhak lagi berada dalam posisi imam. Ketiga, menjaga imam dari penyakit riya’. Karena posisi imam adalah posisi yang rawan mendatangkan perasaan sombong dan ingin dimuliakan. Sehingga mengubah posisi dengan menghadapkan wajah ke arah makmum, dapat mencegah dari perasaan ini. (Lihat : (Syarah Mukhtasor Al- Kholil 4/428 & Fathul Bari 3/89) Kapan Waktu Menghadap Makmum? Sesaat setelah salam. Yakni setelah membaca dzikir setelah sholat istighfar 3x dan Allahumma antas salaam…. Sebagaimana dipaparkan dalam riwayat dari sahabat Tsauban –radhiyallahu’anhu-, كان صلى الله عليه وسلم إذا سلم استغفر ثلاثاً، وقال: “اللهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، ومنكَ السلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ” Nabi ﷺ biasa jika usai salam, beliau beristighfar 3x, kemudian membaca: Allahumma antas salaam, wa minkas salam, tabaarokta ya dzal jalaali wal ikroom. (HR. Muslim) Setelah menukil riwayat di atas Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, ولم يمكث مستقبِلَ القِبلة إلا مقدارَ ما يقولُ ذلك ، بل يُسرع الانتقالَ إلى المأمومين ، وكان ينفتِل عن يمينه وعن يساره Beliau tidak tetap berada posisi duduk menghadap kiblat (setelah sholat, pent) kecuali selama beliau membaca dzikir di atas. Bahkan beliau selalu segera berpindah ke barisan makmum. Beliau terkadang menghadap makmum dengan memutar ke sisi kanan atau terkadang ke sisi kiri. (Zaadul Ma’ad, hal. 91) Wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Puasa Di Bulan Rajab, Kisah Nyata Kematian Khusnul Khotimah, Amalan Di Bulan Sya Ban, Wanita Terbaik Dalam Islam, Shalat Sesuai Sunnah, Amalan Sunnah Di Bulan Muharram Visited 216 times, 1 visit(s) today Post Views: 236 QRIS donasi Yufid
Imam Disunahkan Menghadap Makmum Sesudah Sholat Ust, sy sering dapati imam sholat habis sholat sll putar balik menghadap makmum, hampir tiap sholat…knp ya ust? Apa mmg ada perintah nya? Syukron Tadz penjelasannya.. Jawaban: Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah. Amma ba’du. Kami sangat bangga dengan sikap Anda yang kritis menanyakan dalil tentang amalan ibadah. Semoga Allah memberi keberkahan kepada Anda. Karena memang dalam hal ibadah, kaedah yang berlaku adalah, اَلْأَصْلَ فِي اَلْعِبَادَةِ اَلتَّوَقُّف Hukum asal ibadah adalah tawaquf (menunggu sampai datangnya dalil) Imam Ibnu Daqiq Al ‘Ied –rahimahumallah-, salah seorang ulama besar mazhab syafi’i menegaskan, لِأَنَّ الْغَالِبَ عَلَى الْعِبَادَاتِ التَّعَبُّدُ ، وَمَأْخَذُهَا التَّوْقِيفُ “Umumnya ibadah adalah penyembahan kepada Allah (ta’abbud). Dan patokannya adalah dalil”. (Lihat : Al-‘Uddah 3/157). Menoleh ke arah makmum sesudah sholat, adalah amalan yang disunahkan bagi Imam. Dijelaskan dalam hadis dari sahabat Samuroh bin Jundub –radhiyallahu’anhu-, كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى صَلاَةً أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ Nabi ﷺ biasa sesudah mengimani sholat beliau menghadap ke arah jama’ah. (HR. Bukhori) Dalam hadis sahabat Barro’ bin Azib –radhiyallahu’anhu– juga dijelaskan, كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَحْبَبْنَا أَنْ نَكُونَ عَنْ يَمِينِهِ ، يُقْبِلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ Dahulu jika kami sholat di belakang Rasulullah ﷺ, kami senang jika berada di sof sisi kanan beliau. Supaya beliau menghadapkan wajahnya kepada kami. (HR. Muslim) Bahkan sebagian ulama menilai makruh jika Imam tetap pada posisinya tidak menghadapkan wajah ke arah makmum, sesudah sholat. Dalam kitab Syarah Mukhtasor Al- Kholil diterangkan, وكره تنفل الإمام بمحراب المسجد، وكذا جلوسه فيه بعد سلامه على هيئته الأولى Makruh bagi imam melakukan sholat sunah (rawatib ba’diah) di mihrab, demikian duduk seperti posisinya sebagai imam (pent. tidak menghadap makmum). (Syarah Mukhtasor Al- Kholil Al-Khorqi 4/428) Mengapa makruh? Karena alasan berikut : Pertama, agar makmum yang ketinggalan (masbuk) tidak salahpaham bahwa sholat sudah selesai. Jika tidak mengubah posisi imam, bisa-bisa makmum yang tertinggal begitu masuk sholat langsung duduk tasyahud. Padahal imam sedang dzikir. Kedua, status ke-imamannya sudah gugur setelah dia mengucapkan salam. Sehingga tidak berhak lagi berada dalam posisi imam. Ketiga, menjaga imam dari penyakit riya’. Karena posisi imam adalah posisi yang rawan mendatangkan perasaan sombong dan ingin dimuliakan. Sehingga mengubah posisi dengan menghadapkan wajah ke arah makmum, dapat mencegah dari perasaan ini. (Lihat : (Syarah Mukhtasor Al- Kholil 4/428 & Fathul Bari 3/89) Kapan Waktu Menghadap Makmum? Sesaat setelah salam. Yakni setelah membaca dzikir setelah sholat istighfar 3x dan Allahumma antas salaam…. Sebagaimana dipaparkan dalam riwayat dari sahabat Tsauban –radhiyallahu’anhu-, كان صلى الله عليه وسلم إذا سلم استغفر ثلاثاً، وقال: “اللهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، ومنكَ السلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ” Nabi ﷺ biasa jika usai salam, beliau beristighfar 3x, kemudian membaca: Allahumma antas salaam, wa minkas salam, tabaarokta ya dzal jalaali wal ikroom. (HR. Muslim) Setelah menukil riwayat di atas Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, ولم يمكث مستقبِلَ القِبلة إلا مقدارَ ما يقولُ ذلك ، بل يُسرع الانتقالَ إلى المأمومين ، وكان ينفتِل عن يمينه وعن يساره Beliau tidak tetap berada posisi duduk menghadap kiblat (setelah sholat, pent) kecuali selama beliau membaca dzikir di atas. Bahkan beliau selalu segera berpindah ke barisan makmum. Beliau terkadang menghadap makmum dengan memutar ke sisi kanan atau terkadang ke sisi kiri. (Zaadul Ma’ad, hal. 91) Wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Puasa Di Bulan Rajab, Kisah Nyata Kematian Khusnul Khotimah, Amalan Di Bulan Sya Ban, Wanita Terbaik Dalam Islam, Shalat Sesuai Sunnah, Amalan Sunnah Di Bulan Muharram Visited 216 times, 1 visit(s) today Post Views: 236 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/630739392&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Imam Disunahkan Menghadap Makmum Sesudah Sholat Ust, sy sering dapati imam sholat habis sholat sll putar balik menghadap makmum, hampir tiap sholat…knp ya ust? Apa mmg ada perintah nya? Syukron Tadz penjelasannya.. Jawaban: Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah. Amma ba’du. Kami sangat bangga dengan sikap Anda yang kritis menanyakan dalil tentang amalan ibadah. Semoga Allah memberi keberkahan kepada Anda. Karena memang dalam hal ibadah, kaedah yang berlaku adalah, اَلْأَصْلَ فِي اَلْعِبَادَةِ اَلتَّوَقُّف Hukum asal ibadah adalah tawaquf (menunggu sampai datangnya dalil) Imam Ibnu Daqiq Al ‘Ied –rahimahumallah-, salah seorang ulama besar mazhab syafi’i menegaskan, لِأَنَّ الْغَالِبَ عَلَى الْعِبَادَاتِ التَّعَبُّدُ ، وَمَأْخَذُهَا التَّوْقِيفُ “Umumnya ibadah adalah penyembahan kepada Allah (ta’abbud). Dan patokannya adalah dalil”. (Lihat : Al-‘Uddah 3/157). Menoleh ke arah makmum sesudah sholat, adalah amalan yang disunahkan bagi Imam. Dijelaskan dalam hadis dari sahabat Samuroh bin Jundub –radhiyallahu’anhu-, كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى صَلاَةً أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ Nabi ﷺ biasa sesudah mengimani sholat beliau menghadap ke arah jama’ah. (HR. Bukhori) Dalam hadis sahabat Barro’ bin Azib –radhiyallahu’anhu– juga dijelaskan, كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَحْبَبْنَا أَنْ نَكُونَ عَنْ يَمِينِهِ ، يُقْبِلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ Dahulu jika kami sholat di belakang Rasulullah ﷺ, kami senang jika berada di sof sisi kanan beliau. Supaya beliau menghadapkan wajahnya kepada kami. (HR. Muslim) Bahkan sebagian ulama menilai makruh jika Imam tetap pada posisinya tidak menghadapkan wajah ke arah makmum, sesudah sholat. Dalam kitab Syarah Mukhtasor Al- Kholil diterangkan, وكره تنفل الإمام بمحراب المسجد، وكذا جلوسه فيه بعد سلامه على هيئته الأولى Makruh bagi imam melakukan sholat sunah (rawatib ba’diah) di mihrab, demikian duduk seperti posisinya sebagai imam (pent. tidak menghadap makmum). (Syarah Mukhtasor Al- Kholil Al-Khorqi 4/428) Mengapa makruh? Karena alasan berikut : Pertama, agar makmum yang ketinggalan (masbuk) tidak salahpaham bahwa sholat sudah selesai. Jika tidak mengubah posisi imam, bisa-bisa makmum yang tertinggal begitu masuk sholat langsung duduk tasyahud. Padahal imam sedang dzikir. Kedua, status ke-imamannya sudah gugur setelah dia mengucapkan salam. Sehingga tidak berhak lagi berada dalam posisi imam. Ketiga, menjaga imam dari penyakit riya’. Karena posisi imam adalah posisi yang rawan mendatangkan perasaan sombong dan ingin dimuliakan. Sehingga mengubah posisi dengan menghadapkan wajah ke arah makmum, dapat mencegah dari perasaan ini. (Lihat : (Syarah Mukhtasor Al- Kholil 4/428 & Fathul Bari 3/89) Kapan Waktu Menghadap Makmum? Sesaat setelah salam. Yakni setelah membaca dzikir setelah sholat istighfar 3x dan Allahumma antas salaam…. Sebagaimana dipaparkan dalam riwayat dari sahabat Tsauban –radhiyallahu’anhu-, كان صلى الله عليه وسلم إذا سلم استغفر ثلاثاً، وقال: “اللهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، ومنكَ السلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ” Nabi ﷺ biasa jika usai salam, beliau beristighfar 3x, kemudian membaca: Allahumma antas salaam, wa minkas salam, tabaarokta ya dzal jalaali wal ikroom. (HR. Muslim) Setelah menukil riwayat di atas Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, ولم يمكث مستقبِلَ القِبلة إلا مقدارَ ما يقولُ ذلك ، بل يُسرع الانتقالَ إلى المأمومين ، وكان ينفتِل عن يمينه وعن يساره Beliau tidak tetap berada posisi duduk menghadap kiblat (setelah sholat, pent) kecuali selama beliau membaca dzikir di atas. Bahkan beliau selalu segera berpindah ke barisan makmum. Beliau terkadang menghadap makmum dengan memutar ke sisi kanan atau terkadang ke sisi kiri. (Zaadul Ma’ad, hal. 91) Wallahua’lam bis showab. *** Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Puasa Di Bulan Rajab, Kisah Nyata Kematian Khusnul Khotimah, Amalan Di Bulan Sya Ban, Wanita Terbaik Dalam Islam, Shalat Sesuai Sunnah, Amalan Sunnah Di Bulan Muharram Visited 216 times, 1 visit(s) today Post Views: 236 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Panglima Khalid bin Walid Diganti Karena Kemaslahatan Tauhid

Salah satu pendapat yang masyhur mengenai alasan Umar bin Khattab mengganti/mencopot panglima perang Khalid bin Walid adalah untuk kemaslahatan tauhid yaitu menunaikan hak Allah di muka bumi yang merupakan tujuan utama manusia dan jin diciptakan.Baca Juga: Seperti Inilah Kepedulian Umar Terhadap Shalat SubuhKhalib bin Walid adalah panglima perang yang luar biasa, tidak pernah kalah dalam peperangan, baik sebelum masuk Islam, maupun sesudah masuk Islam. Setelah diangkat menjadi penglima perang sejak zaman khalifah Abu Bakar, Klalid bin Walid selalu menang, sehingga saat itu muncul dalam benak dan keyakinan sebagian kaum muslimin:“Kalau khalid jadi panglima, pasti menang”Bahkan sebagian kaum muslimin mengira bahwa Khalid bin Walid (ﺻﺎﻧﻊ ﺍﻟﻨﺼﺮ) “pembuat kemenangan”, sebagian kaum muslimin menyandarkan sepenuhnya hati pada Khalid dan mulai lalai berdoa dan berharap serta meminta kepada Allah Ta’ala.Melihat fenomena ini, Umar bin Khattab mengganti Khalid bin Walid dengan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Umar paham benar bahwa Tauhid lebih penting dari segalanya. Bukan berarti Umar ingin kaum muslimin kalah, akan tetapi TAUHID paling penting dan kemenangan kaum muslimin masih bisa didapatkan dengan kepemimpinan Abu Ubaidah yang diberi gelar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan “Amiinul ummah” (Orang kepercayaan umat).Baca Juga: Cara Mengajarkan Sejarah Islam kepada Anak Sejak Usia DiniPerhatikan perkataan Umar bin Khattab,ﺇﻧﻲ ﻟﻢ ﺃﻋﺰﻝ ﺧﺎﻟﺪﺍً ﻋﻦ ﺳﺨﻄﺔ ﻭﻻ ﺧﻴﺎﻧﺔ ، ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓُﺘﻨﻮﺍ ﺑﻪ ﻓﺄﺣﺒﺒﺖ ﺃﻥ ﻳﻌﻠﻤﻮﺍ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻫﻮ ﺍﻟﺼﺎﻧﻊ“Sesungguhnya aku tidak mencopot Khalid bin Walid karena marah ataupun dia berkhianat, tetapi manusia telah terfitnah dan aku ingin manusia tahu bahwa Allah-lah yang membuat kemenangan.” [Al-Bidayah Wan Nihayah 7/81]Ibnu ‘Aun meriwayatkan tatkala Umar menjadi Khalifah, ia berkata,ﻷﻧﺰﻋﻦَّ ﺧﺎﻟﺪﺍً ﺣﺘﻰ ﻳُﻌﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺇﻧﻤﺎ ﻳﻨﺼﺮ ﺩﻳﻨﻪ . ﻳﻌﻨﻲ ﺑﻐﻴﺮ ﺧﺎﻟﺪ“Sungguh aku akan mencopot Khalid (dari panglima) sehingga manusia tahu bahwa Allah mampu menolong agama-Nya tanpa Khalid.” [Siyaru A’lam An-Nubala 1/378]Sebagaimana dijelaskan bahwa sebab anggapan dan prasangka manusia ini karena Khalid bin Walid tidak pernah kalah dalam peperangan, dalam fatwa Syabakah Islamiyyah dijelaskan,ﻭﺳﺒﺐ ﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﺧﺎﻟﺪﺍً ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻟﻢ ﻳﻬﺰﻡ ﻓﻲ ﺃﻱ ﻣﻌﺮﻛﺔ ﺧﺎﺿﻬﺎ ﻻ ﻓﻲ ﺟﺎﻫﻠﻴﺔ ﻭﻻ ﻓﻲ ﺇﺳﻼﻡ“Sebab hal tersebut bahwa Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu tidak pernah kalah dalam peperangan apapun yang ia pimpin baik itu di masa jahiliyah (sebelum ia masuk Islam) maupun di masa Islam.” [Fatawa no. 9089]Baca Juga: Inilah Potret Kejahatan Syi’ah dalam SejarahPerhatikan bagaimana pentingnya TAUHID yang menjadi perhatian para sahabat, didikan langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena memang tujuan utama kita diciptakan adalah menegakkan dan mendakwahkan tauhid di muka bumi.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)Catatan: Ada beberapa pendapat lain mengenai alasan penggatian Khalid bin Walid yaitu karena sifat Khalid bin Walid yang sama-sama tegas dengan Umar bin Khattab, sifat dasar Umar yang tegas perlu dikombinasikan dengan sifat lembut dan sifat hati-hati yang dimiliki oleh Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, sedangkan sifat Abu Bakar yang lembut dan hati-hati perlu dikombinasikan dengan sifat Khalid bin Walid yang tegas.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan hal ini dan berkata,ﻭﻛﺎﻥ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ – ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ – ﻳﺆﺛﺮ ﻋﺰﻝ ﺧﺎﻟﺪ ﻭﺍﺳﺘﻨﺎﺑﺔ ﺃﺑﻲ ﻋﺒﻴﺪﺓ ﺑﻦ ﺍﻟﺠﺮﺍﺡ – ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ – ؛ ﻷﻥ ﺧﺎﻟﺪﺍً ﻛﺎﻥ ﺷﺪﻳﺪﺍً ﻛﻌﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ، ﻭﺃﺑﺎ ﻋﺒﻴﺪﺓ ﻛﺎﻥ ﻟﻴﻨﺎً ﻛﺄﺑﻲ ﺑﻜﺮ ، ﻭﻛﺎﻥ ﺍﻷﺻﻠﺢ ﻟﻜﻞ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﺃﻥ ﻳﺘﻮﻟﻰ ﻣﻦ ﻭﻻﻩ ﻟﻴﻜﻮﻥ ﺃﻣﺮﻩ ﻣﻌﺘﺪﻻً“Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memilih penggantian Khalid dengan Abu Ubaidah radhiyallahu ‘anhu karena Khalid bersifat tegas seperti Umar bin Khattab. Abu Ubaidah bersifat lembut seperti Abu Bakar. Yang paling baik adalah setiap keduanya (kombinasi tersebut) menjabat agar perkara menjadi seimbang.” [Majmu’ Fatawa 28/258]Baca Juga: Permusuhan Yahudi Terhadap Islam Dalam SejarahDemikian juga penjelasan dari Syaikh Bin Baz, beliau berkata,ﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺃﻥ ﻋﺰﻟﻪ ﻣﻦ ﻋﻤﺮ ﻛﺎﻥ ﻷﻣﺮ ﺳﻴﺎﺳﻲ ﺭﺁﻩ  ، ﻭﺭﺃﻯ ﺇﺑﺪﺍﻟﻪ ﺑـﺄﺑﻲ ﻋﺒﻴﺪﺓ ﺑﻦ ﺍﻟﺠﺮﺍﺡ ، ﻷﻣﺮ ﺭﺁﻩ ﻛﻔﻴﻼً ﺑﺎﻟﻤﺼﻠﺤﺔ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ . ﻭﻗﺎﻝ ﺑﻌﺾ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ : ﺇﻥ ﺍﻟﺴﺒﺐ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ : ﺇﻥ ﻋﻤﺮ ﻛﺎﻥ  ﻗﻮﻳﺎً ﻓﻲ ﻛﻞ ﺍﻷﻣﻮﺭ، ﻭﻛﺎﻥ ﺧﺎﻟﺪ ﻛﺬﻟﻚ ﻗﻮﻳﺎً ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﺍﻷﻣﻮﺭ، ﻓﻨﺎﺳﺐ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺃﺑﻮ ﻋﺒﻴﺪﺓ ﻫﻮ ﺃﻣﻴﺮ ﻋﻤﺮ؛ ﻷﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻟﻴﻨﺎً ﺭﻓﻴﻘﺎً، ﻟﻴﺲ ﻣﺜﻞ ﺧﺎﻟﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺪﺓ، ﺣﺘﻰ ﻳﻌﺘﺪﻝ ﺍﻷﻣﺮ“Pendapat yang terkenal bahwa pencopotan Khalid oleh Umar karena untuk siasat perang. Umar beranggap penggantian ini untuk kemashlahatan kaum muslimin. Sebagian ulama berpendapat bahwa sebabnya adalah Umar bersifat tegas pada semua urusan dan Khalid juga demikian, maka yang cocok bagi Umar adalah Abu Ubaidah sebagai panglima perang karena lembut dan penyayang, tidak seperti Khalid yang tegas. Hal ini membuat urusan jadi seimbang.” [Fatwa Nuur Alad Darb no. 8790]Baca Juga: Bisakah Mengenal Keluarga dan Kerabat Di Surga? Ternyata Inilah Para Pengikut Dajjal Demikian semoga bermanfaat@ Makasar, Kota Daeng, Angin MammiriPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hadits Menjenguk Orang Sakit, Bau Mulut Orang Berpuasa, Kapan Datangnya Hari Kiamat, Koran Suara Islam, Nafkah Anak

Panglima Khalid bin Walid Diganti Karena Kemaslahatan Tauhid

Salah satu pendapat yang masyhur mengenai alasan Umar bin Khattab mengganti/mencopot panglima perang Khalid bin Walid adalah untuk kemaslahatan tauhid yaitu menunaikan hak Allah di muka bumi yang merupakan tujuan utama manusia dan jin diciptakan.Baca Juga: Seperti Inilah Kepedulian Umar Terhadap Shalat SubuhKhalib bin Walid adalah panglima perang yang luar biasa, tidak pernah kalah dalam peperangan, baik sebelum masuk Islam, maupun sesudah masuk Islam. Setelah diangkat menjadi penglima perang sejak zaman khalifah Abu Bakar, Klalid bin Walid selalu menang, sehingga saat itu muncul dalam benak dan keyakinan sebagian kaum muslimin:“Kalau khalid jadi panglima, pasti menang”Bahkan sebagian kaum muslimin mengira bahwa Khalid bin Walid (ﺻﺎﻧﻊ ﺍﻟﻨﺼﺮ) “pembuat kemenangan”, sebagian kaum muslimin menyandarkan sepenuhnya hati pada Khalid dan mulai lalai berdoa dan berharap serta meminta kepada Allah Ta’ala.Melihat fenomena ini, Umar bin Khattab mengganti Khalid bin Walid dengan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Umar paham benar bahwa Tauhid lebih penting dari segalanya. Bukan berarti Umar ingin kaum muslimin kalah, akan tetapi TAUHID paling penting dan kemenangan kaum muslimin masih bisa didapatkan dengan kepemimpinan Abu Ubaidah yang diberi gelar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan “Amiinul ummah” (Orang kepercayaan umat).Baca Juga: Cara Mengajarkan Sejarah Islam kepada Anak Sejak Usia DiniPerhatikan perkataan Umar bin Khattab,ﺇﻧﻲ ﻟﻢ ﺃﻋﺰﻝ ﺧﺎﻟﺪﺍً ﻋﻦ ﺳﺨﻄﺔ ﻭﻻ ﺧﻴﺎﻧﺔ ، ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓُﺘﻨﻮﺍ ﺑﻪ ﻓﺄﺣﺒﺒﺖ ﺃﻥ ﻳﻌﻠﻤﻮﺍ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻫﻮ ﺍﻟﺼﺎﻧﻊ“Sesungguhnya aku tidak mencopot Khalid bin Walid karena marah ataupun dia berkhianat, tetapi manusia telah terfitnah dan aku ingin manusia tahu bahwa Allah-lah yang membuat kemenangan.” [Al-Bidayah Wan Nihayah 7/81]Ibnu ‘Aun meriwayatkan tatkala Umar menjadi Khalifah, ia berkata,ﻷﻧﺰﻋﻦَّ ﺧﺎﻟﺪﺍً ﺣﺘﻰ ﻳُﻌﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺇﻧﻤﺎ ﻳﻨﺼﺮ ﺩﻳﻨﻪ . ﻳﻌﻨﻲ ﺑﻐﻴﺮ ﺧﺎﻟﺪ“Sungguh aku akan mencopot Khalid (dari panglima) sehingga manusia tahu bahwa Allah mampu menolong agama-Nya tanpa Khalid.” [Siyaru A’lam An-Nubala 1/378]Sebagaimana dijelaskan bahwa sebab anggapan dan prasangka manusia ini karena Khalid bin Walid tidak pernah kalah dalam peperangan, dalam fatwa Syabakah Islamiyyah dijelaskan,ﻭﺳﺒﺐ ﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﺧﺎﻟﺪﺍً ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻟﻢ ﻳﻬﺰﻡ ﻓﻲ ﺃﻱ ﻣﻌﺮﻛﺔ ﺧﺎﺿﻬﺎ ﻻ ﻓﻲ ﺟﺎﻫﻠﻴﺔ ﻭﻻ ﻓﻲ ﺇﺳﻼﻡ“Sebab hal tersebut bahwa Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu tidak pernah kalah dalam peperangan apapun yang ia pimpin baik itu di masa jahiliyah (sebelum ia masuk Islam) maupun di masa Islam.” [Fatawa no. 9089]Baca Juga: Inilah Potret Kejahatan Syi’ah dalam SejarahPerhatikan bagaimana pentingnya TAUHID yang menjadi perhatian para sahabat, didikan langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena memang tujuan utama kita diciptakan adalah menegakkan dan mendakwahkan tauhid di muka bumi.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)Catatan: Ada beberapa pendapat lain mengenai alasan penggatian Khalid bin Walid yaitu karena sifat Khalid bin Walid yang sama-sama tegas dengan Umar bin Khattab, sifat dasar Umar yang tegas perlu dikombinasikan dengan sifat lembut dan sifat hati-hati yang dimiliki oleh Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, sedangkan sifat Abu Bakar yang lembut dan hati-hati perlu dikombinasikan dengan sifat Khalid bin Walid yang tegas.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan hal ini dan berkata,ﻭﻛﺎﻥ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ – ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ – ﻳﺆﺛﺮ ﻋﺰﻝ ﺧﺎﻟﺪ ﻭﺍﺳﺘﻨﺎﺑﺔ ﺃﺑﻲ ﻋﺒﻴﺪﺓ ﺑﻦ ﺍﻟﺠﺮﺍﺡ – ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ – ؛ ﻷﻥ ﺧﺎﻟﺪﺍً ﻛﺎﻥ ﺷﺪﻳﺪﺍً ﻛﻌﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ، ﻭﺃﺑﺎ ﻋﺒﻴﺪﺓ ﻛﺎﻥ ﻟﻴﻨﺎً ﻛﺄﺑﻲ ﺑﻜﺮ ، ﻭﻛﺎﻥ ﺍﻷﺻﻠﺢ ﻟﻜﻞ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﺃﻥ ﻳﺘﻮﻟﻰ ﻣﻦ ﻭﻻﻩ ﻟﻴﻜﻮﻥ ﺃﻣﺮﻩ ﻣﻌﺘﺪﻻً“Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memilih penggantian Khalid dengan Abu Ubaidah radhiyallahu ‘anhu karena Khalid bersifat tegas seperti Umar bin Khattab. Abu Ubaidah bersifat lembut seperti Abu Bakar. Yang paling baik adalah setiap keduanya (kombinasi tersebut) menjabat agar perkara menjadi seimbang.” [Majmu’ Fatawa 28/258]Baca Juga: Permusuhan Yahudi Terhadap Islam Dalam SejarahDemikian juga penjelasan dari Syaikh Bin Baz, beliau berkata,ﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺃﻥ ﻋﺰﻟﻪ ﻣﻦ ﻋﻤﺮ ﻛﺎﻥ ﻷﻣﺮ ﺳﻴﺎﺳﻲ ﺭﺁﻩ  ، ﻭﺭﺃﻯ ﺇﺑﺪﺍﻟﻪ ﺑـﺄﺑﻲ ﻋﺒﻴﺪﺓ ﺑﻦ ﺍﻟﺠﺮﺍﺡ ، ﻷﻣﺮ ﺭﺁﻩ ﻛﻔﻴﻼً ﺑﺎﻟﻤﺼﻠﺤﺔ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ . ﻭﻗﺎﻝ ﺑﻌﺾ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ : ﺇﻥ ﺍﻟﺴﺒﺐ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ : ﺇﻥ ﻋﻤﺮ ﻛﺎﻥ  ﻗﻮﻳﺎً ﻓﻲ ﻛﻞ ﺍﻷﻣﻮﺭ، ﻭﻛﺎﻥ ﺧﺎﻟﺪ ﻛﺬﻟﻚ ﻗﻮﻳﺎً ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﺍﻷﻣﻮﺭ، ﻓﻨﺎﺳﺐ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺃﺑﻮ ﻋﺒﻴﺪﺓ ﻫﻮ ﺃﻣﻴﺮ ﻋﻤﺮ؛ ﻷﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻟﻴﻨﺎً ﺭﻓﻴﻘﺎً، ﻟﻴﺲ ﻣﺜﻞ ﺧﺎﻟﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺪﺓ، ﺣﺘﻰ ﻳﻌﺘﺪﻝ ﺍﻷﻣﺮ“Pendapat yang terkenal bahwa pencopotan Khalid oleh Umar karena untuk siasat perang. Umar beranggap penggantian ini untuk kemashlahatan kaum muslimin. Sebagian ulama berpendapat bahwa sebabnya adalah Umar bersifat tegas pada semua urusan dan Khalid juga demikian, maka yang cocok bagi Umar adalah Abu Ubaidah sebagai panglima perang karena lembut dan penyayang, tidak seperti Khalid yang tegas. Hal ini membuat urusan jadi seimbang.” [Fatwa Nuur Alad Darb no. 8790]Baca Juga: Bisakah Mengenal Keluarga dan Kerabat Di Surga? Ternyata Inilah Para Pengikut Dajjal Demikian semoga bermanfaat@ Makasar, Kota Daeng, Angin MammiriPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hadits Menjenguk Orang Sakit, Bau Mulut Orang Berpuasa, Kapan Datangnya Hari Kiamat, Koran Suara Islam, Nafkah Anak
Salah satu pendapat yang masyhur mengenai alasan Umar bin Khattab mengganti/mencopot panglima perang Khalid bin Walid adalah untuk kemaslahatan tauhid yaitu menunaikan hak Allah di muka bumi yang merupakan tujuan utama manusia dan jin diciptakan.Baca Juga: Seperti Inilah Kepedulian Umar Terhadap Shalat SubuhKhalib bin Walid adalah panglima perang yang luar biasa, tidak pernah kalah dalam peperangan, baik sebelum masuk Islam, maupun sesudah masuk Islam. Setelah diangkat menjadi penglima perang sejak zaman khalifah Abu Bakar, Klalid bin Walid selalu menang, sehingga saat itu muncul dalam benak dan keyakinan sebagian kaum muslimin:“Kalau khalid jadi panglima, pasti menang”Bahkan sebagian kaum muslimin mengira bahwa Khalid bin Walid (ﺻﺎﻧﻊ ﺍﻟﻨﺼﺮ) “pembuat kemenangan”, sebagian kaum muslimin menyandarkan sepenuhnya hati pada Khalid dan mulai lalai berdoa dan berharap serta meminta kepada Allah Ta’ala.Melihat fenomena ini, Umar bin Khattab mengganti Khalid bin Walid dengan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Umar paham benar bahwa Tauhid lebih penting dari segalanya. Bukan berarti Umar ingin kaum muslimin kalah, akan tetapi TAUHID paling penting dan kemenangan kaum muslimin masih bisa didapatkan dengan kepemimpinan Abu Ubaidah yang diberi gelar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan “Amiinul ummah” (Orang kepercayaan umat).Baca Juga: Cara Mengajarkan Sejarah Islam kepada Anak Sejak Usia DiniPerhatikan perkataan Umar bin Khattab,ﺇﻧﻲ ﻟﻢ ﺃﻋﺰﻝ ﺧﺎﻟﺪﺍً ﻋﻦ ﺳﺨﻄﺔ ﻭﻻ ﺧﻴﺎﻧﺔ ، ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓُﺘﻨﻮﺍ ﺑﻪ ﻓﺄﺣﺒﺒﺖ ﺃﻥ ﻳﻌﻠﻤﻮﺍ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻫﻮ ﺍﻟﺼﺎﻧﻊ“Sesungguhnya aku tidak mencopot Khalid bin Walid karena marah ataupun dia berkhianat, tetapi manusia telah terfitnah dan aku ingin manusia tahu bahwa Allah-lah yang membuat kemenangan.” [Al-Bidayah Wan Nihayah 7/81]Ibnu ‘Aun meriwayatkan tatkala Umar menjadi Khalifah, ia berkata,ﻷﻧﺰﻋﻦَّ ﺧﺎﻟﺪﺍً ﺣﺘﻰ ﻳُﻌﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺇﻧﻤﺎ ﻳﻨﺼﺮ ﺩﻳﻨﻪ . ﻳﻌﻨﻲ ﺑﻐﻴﺮ ﺧﺎﻟﺪ“Sungguh aku akan mencopot Khalid (dari panglima) sehingga manusia tahu bahwa Allah mampu menolong agama-Nya tanpa Khalid.” [Siyaru A’lam An-Nubala 1/378]Sebagaimana dijelaskan bahwa sebab anggapan dan prasangka manusia ini karena Khalid bin Walid tidak pernah kalah dalam peperangan, dalam fatwa Syabakah Islamiyyah dijelaskan,ﻭﺳﺒﺐ ﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﺧﺎﻟﺪﺍً ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻟﻢ ﻳﻬﺰﻡ ﻓﻲ ﺃﻱ ﻣﻌﺮﻛﺔ ﺧﺎﺿﻬﺎ ﻻ ﻓﻲ ﺟﺎﻫﻠﻴﺔ ﻭﻻ ﻓﻲ ﺇﺳﻼﻡ“Sebab hal tersebut bahwa Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu tidak pernah kalah dalam peperangan apapun yang ia pimpin baik itu di masa jahiliyah (sebelum ia masuk Islam) maupun di masa Islam.” [Fatawa no. 9089]Baca Juga: Inilah Potret Kejahatan Syi’ah dalam SejarahPerhatikan bagaimana pentingnya TAUHID yang menjadi perhatian para sahabat, didikan langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena memang tujuan utama kita diciptakan adalah menegakkan dan mendakwahkan tauhid di muka bumi.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)Catatan: Ada beberapa pendapat lain mengenai alasan penggatian Khalid bin Walid yaitu karena sifat Khalid bin Walid yang sama-sama tegas dengan Umar bin Khattab, sifat dasar Umar yang tegas perlu dikombinasikan dengan sifat lembut dan sifat hati-hati yang dimiliki oleh Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, sedangkan sifat Abu Bakar yang lembut dan hati-hati perlu dikombinasikan dengan sifat Khalid bin Walid yang tegas.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan hal ini dan berkata,ﻭﻛﺎﻥ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ – ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ – ﻳﺆﺛﺮ ﻋﺰﻝ ﺧﺎﻟﺪ ﻭﺍﺳﺘﻨﺎﺑﺔ ﺃﺑﻲ ﻋﺒﻴﺪﺓ ﺑﻦ ﺍﻟﺠﺮﺍﺡ – ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ – ؛ ﻷﻥ ﺧﺎﻟﺪﺍً ﻛﺎﻥ ﺷﺪﻳﺪﺍً ﻛﻌﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ، ﻭﺃﺑﺎ ﻋﺒﻴﺪﺓ ﻛﺎﻥ ﻟﻴﻨﺎً ﻛﺄﺑﻲ ﺑﻜﺮ ، ﻭﻛﺎﻥ ﺍﻷﺻﻠﺢ ﻟﻜﻞ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﺃﻥ ﻳﺘﻮﻟﻰ ﻣﻦ ﻭﻻﻩ ﻟﻴﻜﻮﻥ ﺃﻣﺮﻩ ﻣﻌﺘﺪﻻً“Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memilih penggantian Khalid dengan Abu Ubaidah radhiyallahu ‘anhu karena Khalid bersifat tegas seperti Umar bin Khattab. Abu Ubaidah bersifat lembut seperti Abu Bakar. Yang paling baik adalah setiap keduanya (kombinasi tersebut) menjabat agar perkara menjadi seimbang.” [Majmu’ Fatawa 28/258]Baca Juga: Permusuhan Yahudi Terhadap Islam Dalam SejarahDemikian juga penjelasan dari Syaikh Bin Baz, beliau berkata,ﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺃﻥ ﻋﺰﻟﻪ ﻣﻦ ﻋﻤﺮ ﻛﺎﻥ ﻷﻣﺮ ﺳﻴﺎﺳﻲ ﺭﺁﻩ  ، ﻭﺭﺃﻯ ﺇﺑﺪﺍﻟﻪ ﺑـﺄﺑﻲ ﻋﺒﻴﺪﺓ ﺑﻦ ﺍﻟﺠﺮﺍﺡ ، ﻷﻣﺮ ﺭﺁﻩ ﻛﻔﻴﻼً ﺑﺎﻟﻤﺼﻠﺤﺔ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ . ﻭﻗﺎﻝ ﺑﻌﺾ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ : ﺇﻥ ﺍﻟﺴﺒﺐ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ : ﺇﻥ ﻋﻤﺮ ﻛﺎﻥ  ﻗﻮﻳﺎً ﻓﻲ ﻛﻞ ﺍﻷﻣﻮﺭ، ﻭﻛﺎﻥ ﺧﺎﻟﺪ ﻛﺬﻟﻚ ﻗﻮﻳﺎً ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﺍﻷﻣﻮﺭ، ﻓﻨﺎﺳﺐ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺃﺑﻮ ﻋﺒﻴﺪﺓ ﻫﻮ ﺃﻣﻴﺮ ﻋﻤﺮ؛ ﻷﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻟﻴﻨﺎً ﺭﻓﻴﻘﺎً، ﻟﻴﺲ ﻣﺜﻞ ﺧﺎﻟﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺪﺓ، ﺣﺘﻰ ﻳﻌﺘﺪﻝ ﺍﻷﻣﺮ“Pendapat yang terkenal bahwa pencopotan Khalid oleh Umar karena untuk siasat perang. Umar beranggap penggantian ini untuk kemashlahatan kaum muslimin. Sebagian ulama berpendapat bahwa sebabnya adalah Umar bersifat tegas pada semua urusan dan Khalid juga demikian, maka yang cocok bagi Umar adalah Abu Ubaidah sebagai panglima perang karena lembut dan penyayang, tidak seperti Khalid yang tegas. Hal ini membuat urusan jadi seimbang.” [Fatwa Nuur Alad Darb no. 8790]Baca Juga: Bisakah Mengenal Keluarga dan Kerabat Di Surga? Ternyata Inilah Para Pengikut Dajjal Demikian semoga bermanfaat@ Makasar, Kota Daeng, Angin MammiriPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hadits Menjenguk Orang Sakit, Bau Mulut Orang Berpuasa, Kapan Datangnya Hari Kiamat, Koran Suara Islam, Nafkah Anak


Salah satu pendapat yang masyhur mengenai alasan Umar bin Khattab mengganti/mencopot panglima perang Khalid bin Walid adalah untuk kemaslahatan tauhid yaitu menunaikan hak Allah di muka bumi yang merupakan tujuan utama manusia dan jin diciptakan.Baca Juga: Seperti Inilah Kepedulian Umar Terhadap Shalat SubuhKhalib bin Walid adalah panglima perang yang luar biasa, tidak pernah kalah dalam peperangan, baik sebelum masuk Islam, maupun sesudah masuk Islam. Setelah diangkat menjadi penglima perang sejak zaman khalifah Abu Bakar, Klalid bin Walid selalu menang, sehingga saat itu muncul dalam benak dan keyakinan sebagian kaum muslimin:“Kalau khalid jadi panglima, pasti menang”Bahkan sebagian kaum muslimin mengira bahwa Khalid bin Walid (ﺻﺎﻧﻊ ﺍﻟﻨﺼﺮ) “pembuat kemenangan”, sebagian kaum muslimin menyandarkan sepenuhnya hati pada Khalid dan mulai lalai berdoa dan berharap serta meminta kepada Allah Ta’ala.Melihat fenomena ini, Umar bin Khattab mengganti Khalid bin Walid dengan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Umar paham benar bahwa Tauhid lebih penting dari segalanya. Bukan berarti Umar ingin kaum muslimin kalah, akan tetapi TAUHID paling penting dan kemenangan kaum muslimin masih bisa didapatkan dengan kepemimpinan Abu Ubaidah yang diberi gelar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan “Amiinul ummah” (Orang kepercayaan umat).Baca Juga: Cara Mengajarkan Sejarah Islam kepada Anak Sejak Usia DiniPerhatikan perkataan Umar bin Khattab,ﺇﻧﻲ ﻟﻢ ﺃﻋﺰﻝ ﺧﺎﻟﺪﺍً ﻋﻦ ﺳﺨﻄﺔ ﻭﻻ ﺧﻴﺎﻧﺔ ، ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓُﺘﻨﻮﺍ ﺑﻪ ﻓﺄﺣﺒﺒﺖ ﺃﻥ ﻳﻌﻠﻤﻮﺍ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻫﻮ ﺍﻟﺼﺎﻧﻊ“Sesungguhnya aku tidak mencopot Khalid bin Walid karena marah ataupun dia berkhianat, tetapi manusia telah terfitnah dan aku ingin manusia tahu bahwa Allah-lah yang membuat kemenangan.” [Al-Bidayah Wan Nihayah 7/81]Ibnu ‘Aun meriwayatkan tatkala Umar menjadi Khalifah, ia berkata,ﻷﻧﺰﻋﻦَّ ﺧﺎﻟﺪﺍً ﺣﺘﻰ ﻳُﻌﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺇﻧﻤﺎ ﻳﻨﺼﺮ ﺩﻳﻨﻪ . ﻳﻌﻨﻲ ﺑﻐﻴﺮ ﺧﺎﻟﺪ“Sungguh aku akan mencopot Khalid (dari panglima) sehingga manusia tahu bahwa Allah mampu menolong agama-Nya tanpa Khalid.” [Siyaru A’lam An-Nubala 1/378]Sebagaimana dijelaskan bahwa sebab anggapan dan prasangka manusia ini karena Khalid bin Walid tidak pernah kalah dalam peperangan, dalam fatwa Syabakah Islamiyyah dijelaskan,ﻭﺳﺒﺐ ﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﺧﺎﻟﺪﺍً ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻟﻢ ﻳﻬﺰﻡ ﻓﻲ ﺃﻱ ﻣﻌﺮﻛﺔ ﺧﺎﺿﻬﺎ ﻻ ﻓﻲ ﺟﺎﻫﻠﻴﺔ ﻭﻻ ﻓﻲ ﺇﺳﻼﻡ“Sebab hal tersebut bahwa Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu tidak pernah kalah dalam peperangan apapun yang ia pimpin baik itu di masa jahiliyah (sebelum ia masuk Islam) maupun di masa Islam.” [Fatawa no. 9089]Baca Juga: Inilah Potret Kejahatan Syi’ah dalam SejarahPerhatikan bagaimana pentingnya TAUHID yang menjadi perhatian para sahabat, didikan langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena memang tujuan utama kita diciptakan adalah menegakkan dan mendakwahkan tauhid di muka bumi.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)Catatan: Ada beberapa pendapat lain mengenai alasan penggatian Khalid bin Walid yaitu karena sifat Khalid bin Walid yang sama-sama tegas dengan Umar bin Khattab, sifat dasar Umar yang tegas perlu dikombinasikan dengan sifat lembut dan sifat hati-hati yang dimiliki oleh Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, sedangkan sifat Abu Bakar yang lembut dan hati-hati perlu dikombinasikan dengan sifat Khalid bin Walid yang tegas.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan hal ini dan berkata,ﻭﻛﺎﻥ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ – ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ – ﻳﺆﺛﺮ ﻋﺰﻝ ﺧﺎﻟﺪ ﻭﺍﺳﺘﻨﺎﺑﺔ ﺃﺑﻲ ﻋﺒﻴﺪﺓ ﺑﻦ ﺍﻟﺠﺮﺍﺡ – ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ – ؛ ﻷﻥ ﺧﺎﻟﺪﺍً ﻛﺎﻥ ﺷﺪﻳﺪﺍً ﻛﻌﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ، ﻭﺃﺑﺎ ﻋﺒﻴﺪﺓ ﻛﺎﻥ ﻟﻴﻨﺎً ﻛﺄﺑﻲ ﺑﻜﺮ ، ﻭﻛﺎﻥ ﺍﻷﺻﻠﺢ ﻟﻜﻞ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﺃﻥ ﻳﺘﻮﻟﻰ ﻣﻦ ﻭﻻﻩ ﻟﻴﻜﻮﻥ ﺃﻣﺮﻩ ﻣﻌﺘﺪﻻً“Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memilih penggantian Khalid dengan Abu Ubaidah radhiyallahu ‘anhu karena Khalid bersifat tegas seperti Umar bin Khattab. Abu Ubaidah bersifat lembut seperti Abu Bakar. Yang paling baik adalah setiap keduanya (kombinasi tersebut) menjabat agar perkara menjadi seimbang.” [Majmu’ Fatawa 28/258]Baca Juga: Permusuhan Yahudi Terhadap Islam Dalam SejarahDemikian juga penjelasan dari Syaikh Bin Baz, beliau berkata,ﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺃﻥ ﻋﺰﻟﻪ ﻣﻦ ﻋﻤﺮ ﻛﺎﻥ ﻷﻣﺮ ﺳﻴﺎﺳﻲ ﺭﺁﻩ  ، ﻭﺭﺃﻯ ﺇﺑﺪﺍﻟﻪ ﺑـﺄﺑﻲ ﻋﺒﻴﺪﺓ ﺑﻦ ﺍﻟﺠﺮﺍﺡ ، ﻷﻣﺮ ﺭﺁﻩ ﻛﻔﻴﻼً ﺑﺎﻟﻤﺼﻠﺤﺔ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ . ﻭﻗﺎﻝ ﺑﻌﺾ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ : ﺇﻥ ﺍﻟﺴﺒﺐ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ : ﺇﻥ ﻋﻤﺮ ﻛﺎﻥ  ﻗﻮﻳﺎً ﻓﻲ ﻛﻞ ﺍﻷﻣﻮﺭ، ﻭﻛﺎﻥ ﺧﺎﻟﺪ ﻛﺬﻟﻚ ﻗﻮﻳﺎً ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﺍﻷﻣﻮﺭ، ﻓﻨﺎﺳﺐ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺃﺑﻮ ﻋﺒﻴﺪﺓ ﻫﻮ ﺃﻣﻴﺮ ﻋﻤﺮ؛ ﻷﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻟﻴﻨﺎً ﺭﻓﻴﻘﺎً، ﻟﻴﺲ ﻣﺜﻞ ﺧﺎﻟﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺪﺓ، ﺣﺘﻰ ﻳﻌﺘﺪﻝ ﺍﻷﻣﺮ“Pendapat yang terkenal bahwa pencopotan Khalid oleh Umar karena untuk siasat perang. Umar beranggap penggantian ini untuk kemashlahatan kaum muslimin. Sebagian ulama berpendapat bahwa sebabnya adalah Umar bersifat tegas pada semua urusan dan Khalid juga demikian, maka yang cocok bagi Umar adalah Abu Ubaidah sebagai panglima perang karena lembut dan penyayang, tidak seperti Khalid yang tegas. Hal ini membuat urusan jadi seimbang.” [Fatwa Nuur Alad Darb no. 8790]Baca Juga: Bisakah Mengenal Keluarga dan Kerabat Di Surga? Ternyata Inilah Para Pengikut Dajjal Demikian semoga bermanfaat@ Makasar, Kota Daeng, Angin MammiriPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hadits Menjenguk Orang Sakit, Bau Mulut Orang Berpuasa, Kapan Datangnya Hari Kiamat, Koran Suara Islam, Nafkah Anak

Bulughul Maram – Adab: Makannya Setan, Boros, Hingga Silaturahim

Dalam Islam diajarkan untuk makan dengan tangan kanan, tidak mengikuti cara setan yang makan dengan tangan kiri. Kita juga dilarang israf dan boros. Ada juga anjuran silaturahim. Hal ini bisa dikaji dari bahasan Bulughul Maram berikut ini.   Kitabul Jaami’ dari Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani   Bab Al-Adab Makannya Setan, Boros, Hingga Silaturahim Hadits 1461 وَعَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ, وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ, فَإِنَّ اَلشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ, وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ – أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian makan, maka makanlah dengan tangan kanannya. Jika minum, minumlah dengan tangan kanannya. Karena setan itu makan dengan tangan kiri dan minum dengan tangan kiri.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2020, Bab “Adab makan dan minum, serta hukumnya]   Faedah Hadits Dalil ini menunjukkan bahwa seorang mukmin diperintahkan makan dan minum dengan tangan kanan, dan ia dilarang menggunakan tangan kirinya. Alasan terlarangnya, karena termasuk perbuatan setan. Setan itu makan dan minum dengan tangan kiri. Mayoritas ulama menyatakan bahwa makan dan minum dengan tangan kanan dihukumi sunnah (tidak wajib) karena termasuk pada bab adab dan irsyad. Kita diperintahkan untuk menyelisihi setan dalam perbuatannya.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nuur: 21)   Hadits 1462 وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ, عَنْ أَبِيهِ, عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – كُلْ, وَاشْرَبْ, وَالْبَسْ, وَتَصَدَّقْ فِي غَيْرِ سَرَفٍ, وَلَا مَخِيلَةٍ – أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ, وَأَحْمَدُ, وَعَلَّقَهُ اَلْبُخَارِيُّ. Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan dan minumlah, berpakaianlah, juga bersedekahlah tanpa boros dan bersikap sombong.” (HR. Abu Daud, Ahmad, dan dikeluarkan oleh Al-Bukhari secara mu’allaq). [HR. Abu Daud Ath-Thayalisi, 4:19-20; An-Nasai, 5:79; Ibnu Majah, no. 3605; Ahmad, 11:294,312. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan].   Faedah Hadits Sedekah yang dimaksud dalam hadits ini adalah sedekah sunnah karena sedekah wajib terbatas ukurannya atau besarannya, seperti zakat (maal) dan zakat fithri, sehingga tidak mungkin dibayangkan israf di dalamnya. Israf adalah belebihan dalam ucapan dan perbuatan. Namun istilah israf lebih terkenal digunakan untuk pengeluaran harta yang berlebihan. Israf itu berlebihan dalam mengeluarkan sesuatu, sedangkan tabdzir (boros) berarti mengeluarkan harta bukan pada tempatnya. Tabdzir tidak terkait dengan jumlah namun terkait dengan di manakah disalurkan. Makanya orang yang tabdzir disebut “saudaranya setan” karena mereka menyalurkan hartanya untuk yang haram. Tabdzir itu lebih parah dari israf, sebagaimana kita dapat merujuk pada surah Al-An’am ayat 141 dan Al-Isra’ ayat 27. Allah Ta’ala berfirman. وَلَا تُسْرِفُواۚإِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ “Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-An’am: 141) Allah Ta’ala berfirman tentang sifat boros, وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al Isra’: 26-27). Makan dan minum termasuk kesenangan dunia yang mubah. Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ah Al-Fatawa (32:213) menyatakan bahwa israf dalam makan itu tercela. Hadits ini menunjukkan bahwa mubahnya pakaian. Dilarang israf dan khuyala’ (sombong) dalam berpakaian. Seorang muslim diperintahkan untuk bersedekah jika ia memiliki kelebihan dari yang mencukupi diri dan keluarganya.   —- بَابُ اَلْبِرِّ وَالصِّلَةِ Bab Berbuat Baik pada Orang Tua dan Silaturahim (Berbuat Baik pada Kerabat) Hadits 1463 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – مَنْ أََحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ فِي رِزْقِهِ, وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ, فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ – أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang suka dilapangkan(diberkahi) rezekinya dan dipanjangkan (diberkahi) umurnya hendaklah dia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 5985 dan Muslim, no. 2557]   Faedah Hadits Boleh meminta kelapangan rezeki dan itu tidak tercela. Manfaat silaturahim adalah untuk melapangkan rezeki dan memanjangkan umur. Wajib menjalin silaturahim secara umum, dan diharamkan untuk memutusnya. Rahim yang dimaksud adalah yang masih punya hubungan mahram. Ada juga yang memaknakan dengan ahli waris, Al-jaza’ min jinsil ‘amal (balasan sesuai dengan amal perbuatan). Siapa yang menyambung silaturahim, maka Allah akan sambungkan ia dengan melapangkan rezekinya dan memanjangkan umurnya. Kebaikan akan berlanjut pada kebaikan. Allah menciptakan sebab, dan boleh saja kita mengambil sebab tersebut. Menurut jumhur ulama (mayoritas), umur itu bisa bertambah dan berkurang. Bisa jadi umur bertambah dilihat pada catatan malaikat yang ditugaskan mengurus ajal. Namun dilihat dari qadha’ Allah yang sejak dulu ada, umur tidaklah bertambah dan berkurang. Ada juga yang memaknakan bertambahnya umur di sini dengan bertambahnya berkah dengan diberi taufik pada ketaatan. Semoga bermanfaat.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid kesepuluh.   — Diselesaikan di #darushsholihin, 10 Rajab 1440 H (16 Maret 2019, Sabtu sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsadab makan boros boros saudaranya setan boros temannya setan bulughul maram bulughul maram adab israf keutamaan silaturahim silaturahim silaturahmi

Bulughul Maram – Adab: Makannya Setan, Boros, Hingga Silaturahim

Dalam Islam diajarkan untuk makan dengan tangan kanan, tidak mengikuti cara setan yang makan dengan tangan kiri. Kita juga dilarang israf dan boros. Ada juga anjuran silaturahim. Hal ini bisa dikaji dari bahasan Bulughul Maram berikut ini.   Kitabul Jaami’ dari Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani   Bab Al-Adab Makannya Setan, Boros, Hingga Silaturahim Hadits 1461 وَعَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ, وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ, فَإِنَّ اَلشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ, وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ – أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian makan, maka makanlah dengan tangan kanannya. Jika minum, minumlah dengan tangan kanannya. Karena setan itu makan dengan tangan kiri dan minum dengan tangan kiri.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2020, Bab “Adab makan dan minum, serta hukumnya]   Faedah Hadits Dalil ini menunjukkan bahwa seorang mukmin diperintahkan makan dan minum dengan tangan kanan, dan ia dilarang menggunakan tangan kirinya. Alasan terlarangnya, karena termasuk perbuatan setan. Setan itu makan dan minum dengan tangan kiri. Mayoritas ulama menyatakan bahwa makan dan minum dengan tangan kanan dihukumi sunnah (tidak wajib) karena termasuk pada bab adab dan irsyad. Kita diperintahkan untuk menyelisihi setan dalam perbuatannya.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nuur: 21)   Hadits 1462 وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ, عَنْ أَبِيهِ, عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – كُلْ, وَاشْرَبْ, وَالْبَسْ, وَتَصَدَّقْ فِي غَيْرِ سَرَفٍ, وَلَا مَخِيلَةٍ – أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ, وَأَحْمَدُ, وَعَلَّقَهُ اَلْبُخَارِيُّ. Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan dan minumlah, berpakaianlah, juga bersedekahlah tanpa boros dan bersikap sombong.” (HR. Abu Daud, Ahmad, dan dikeluarkan oleh Al-Bukhari secara mu’allaq). [HR. Abu Daud Ath-Thayalisi, 4:19-20; An-Nasai, 5:79; Ibnu Majah, no. 3605; Ahmad, 11:294,312. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan].   Faedah Hadits Sedekah yang dimaksud dalam hadits ini adalah sedekah sunnah karena sedekah wajib terbatas ukurannya atau besarannya, seperti zakat (maal) dan zakat fithri, sehingga tidak mungkin dibayangkan israf di dalamnya. Israf adalah belebihan dalam ucapan dan perbuatan. Namun istilah israf lebih terkenal digunakan untuk pengeluaran harta yang berlebihan. Israf itu berlebihan dalam mengeluarkan sesuatu, sedangkan tabdzir (boros) berarti mengeluarkan harta bukan pada tempatnya. Tabdzir tidak terkait dengan jumlah namun terkait dengan di manakah disalurkan. Makanya orang yang tabdzir disebut “saudaranya setan” karena mereka menyalurkan hartanya untuk yang haram. Tabdzir itu lebih parah dari israf, sebagaimana kita dapat merujuk pada surah Al-An’am ayat 141 dan Al-Isra’ ayat 27. Allah Ta’ala berfirman. وَلَا تُسْرِفُواۚإِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ “Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-An’am: 141) Allah Ta’ala berfirman tentang sifat boros, وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al Isra’: 26-27). Makan dan minum termasuk kesenangan dunia yang mubah. Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ah Al-Fatawa (32:213) menyatakan bahwa israf dalam makan itu tercela. Hadits ini menunjukkan bahwa mubahnya pakaian. Dilarang israf dan khuyala’ (sombong) dalam berpakaian. Seorang muslim diperintahkan untuk bersedekah jika ia memiliki kelebihan dari yang mencukupi diri dan keluarganya.   —- بَابُ اَلْبِرِّ وَالصِّلَةِ Bab Berbuat Baik pada Orang Tua dan Silaturahim (Berbuat Baik pada Kerabat) Hadits 1463 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – مَنْ أََحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ فِي رِزْقِهِ, وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ, فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ – أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang suka dilapangkan(diberkahi) rezekinya dan dipanjangkan (diberkahi) umurnya hendaklah dia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 5985 dan Muslim, no. 2557]   Faedah Hadits Boleh meminta kelapangan rezeki dan itu tidak tercela. Manfaat silaturahim adalah untuk melapangkan rezeki dan memanjangkan umur. Wajib menjalin silaturahim secara umum, dan diharamkan untuk memutusnya. Rahim yang dimaksud adalah yang masih punya hubungan mahram. Ada juga yang memaknakan dengan ahli waris, Al-jaza’ min jinsil ‘amal (balasan sesuai dengan amal perbuatan). Siapa yang menyambung silaturahim, maka Allah akan sambungkan ia dengan melapangkan rezekinya dan memanjangkan umurnya. Kebaikan akan berlanjut pada kebaikan. Allah menciptakan sebab, dan boleh saja kita mengambil sebab tersebut. Menurut jumhur ulama (mayoritas), umur itu bisa bertambah dan berkurang. Bisa jadi umur bertambah dilihat pada catatan malaikat yang ditugaskan mengurus ajal. Namun dilihat dari qadha’ Allah yang sejak dulu ada, umur tidaklah bertambah dan berkurang. Ada juga yang memaknakan bertambahnya umur di sini dengan bertambahnya berkah dengan diberi taufik pada ketaatan. Semoga bermanfaat.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid kesepuluh.   — Diselesaikan di #darushsholihin, 10 Rajab 1440 H (16 Maret 2019, Sabtu sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsadab makan boros boros saudaranya setan boros temannya setan bulughul maram bulughul maram adab israf keutamaan silaturahim silaturahim silaturahmi
Dalam Islam diajarkan untuk makan dengan tangan kanan, tidak mengikuti cara setan yang makan dengan tangan kiri. Kita juga dilarang israf dan boros. Ada juga anjuran silaturahim. Hal ini bisa dikaji dari bahasan Bulughul Maram berikut ini.   Kitabul Jaami’ dari Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani   Bab Al-Adab Makannya Setan, Boros, Hingga Silaturahim Hadits 1461 وَعَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ, وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ, فَإِنَّ اَلشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ, وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ – أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian makan, maka makanlah dengan tangan kanannya. Jika minum, minumlah dengan tangan kanannya. Karena setan itu makan dengan tangan kiri dan minum dengan tangan kiri.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2020, Bab “Adab makan dan minum, serta hukumnya]   Faedah Hadits Dalil ini menunjukkan bahwa seorang mukmin diperintahkan makan dan minum dengan tangan kanan, dan ia dilarang menggunakan tangan kirinya. Alasan terlarangnya, karena termasuk perbuatan setan. Setan itu makan dan minum dengan tangan kiri. Mayoritas ulama menyatakan bahwa makan dan minum dengan tangan kanan dihukumi sunnah (tidak wajib) karena termasuk pada bab adab dan irsyad. Kita diperintahkan untuk menyelisihi setan dalam perbuatannya.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nuur: 21)   Hadits 1462 وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ, عَنْ أَبِيهِ, عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – كُلْ, وَاشْرَبْ, وَالْبَسْ, وَتَصَدَّقْ فِي غَيْرِ سَرَفٍ, وَلَا مَخِيلَةٍ – أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ, وَأَحْمَدُ, وَعَلَّقَهُ اَلْبُخَارِيُّ. Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan dan minumlah, berpakaianlah, juga bersedekahlah tanpa boros dan bersikap sombong.” (HR. Abu Daud, Ahmad, dan dikeluarkan oleh Al-Bukhari secara mu’allaq). [HR. Abu Daud Ath-Thayalisi, 4:19-20; An-Nasai, 5:79; Ibnu Majah, no. 3605; Ahmad, 11:294,312. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan].   Faedah Hadits Sedekah yang dimaksud dalam hadits ini adalah sedekah sunnah karena sedekah wajib terbatas ukurannya atau besarannya, seperti zakat (maal) dan zakat fithri, sehingga tidak mungkin dibayangkan israf di dalamnya. Israf adalah belebihan dalam ucapan dan perbuatan. Namun istilah israf lebih terkenal digunakan untuk pengeluaran harta yang berlebihan. Israf itu berlebihan dalam mengeluarkan sesuatu, sedangkan tabdzir (boros) berarti mengeluarkan harta bukan pada tempatnya. Tabdzir tidak terkait dengan jumlah namun terkait dengan di manakah disalurkan. Makanya orang yang tabdzir disebut “saudaranya setan” karena mereka menyalurkan hartanya untuk yang haram. Tabdzir itu lebih parah dari israf, sebagaimana kita dapat merujuk pada surah Al-An’am ayat 141 dan Al-Isra’ ayat 27. Allah Ta’ala berfirman. وَلَا تُسْرِفُواۚإِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ “Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-An’am: 141) Allah Ta’ala berfirman tentang sifat boros, وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al Isra’: 26-27). Makan dan minum termasuk kesenangan dunia yang mubah. Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ah Al-Fatawa (32:213) menyatakan bahwa israf dalam makan itu tercela. Hadits ini menunjukkan bahwa mubahnya pakaian. Dilarang israf dan khuyala’ (sombong) dalam berpakaian. Seorang muslim diperintahkan untuk bersedekah jika ia memiliki kelebihan dari yang mencukupi diri dan keluarganya.   —- بَابُ اَلْبِرِّ وَالصِّلَةِ Bab Berbuat Baik pada Orang Tua dan Silaturahim (Berbuat Baik pada Kerabat) Hadits 1463 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – مَنْ أََحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ فِي رِزْقِهِ, وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ, فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ – أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang suka dilapangkan(diberkahi) rezekinya dan dipanjangkan (diberkahi) umurnya hendaklah dia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 5985 dan Muslim, no. 2557]   Faedah Hadits Boleh meminta kelapangan rezeki dan itu tidak tercela. Manfaat silaturahim adalah untuk melapangkan rezeki dan memanjangkan umur. Wajib menjalin silaturahim secara umum, dan diharamkan untuk memutusnya. Rahim yang dimaksud adalah yang masih punya hubungan mahram. Ada juga yang memaknakan dengan ahli waris, Al-jaza’ min jinsil ‘amal (balasan sesuai dengan amal perbuatan). Siapa yang menyambung silaturahim, maka Allah akan sambungkan ia dengan melapangkan rezekinya dan memanjangkan umurnya. Kebaikan akan berlanjut pada kebaikan. Allah menciptakan sebab, dan boleh saja kita mengambil sebab tersebut. Menurut jumhur ulama (mayoritas), umur itu bisa bertambah dan berkurang. Bisa jadi umur bertambah dilihat pada catatan malaikat yang ditugaskan mengurus ajal. Namun dilihat dari qadha’ Allah yang sejak dulu ada, umur tidaklah bertambah dan berkurang. Ada juga yang memaknakan bertambahnya umur di sini dengan bertambahnya berkah dengan diberi taufik pada ketaatan. Semoga bermanfaat.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid kesepuluh.   — Diselesaikan di #darushsholihin, 10 Rajab 1440 H (16 Maret 2019, Sabtu sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsadab makan boros boros saudaranya setan boros temannya setan bulughul maram bulughul maram adab israf keutamaan silaturahim silaturahim silaturahmi


Dalam Islam diajarkan untuk makan dengan tangan kanan, tidak mengikuti cara setan yang makan dengan tangan kiri. Kita juga dilarang israf dan boros. Ada juga anjuran silaturahim. Hal ini bisa dikaji dari bahasan Bulughul Maram berikut ini.   Kitabul Jaami’ dari Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani   Bab Al-Adab Makannya Setan, Boros, Hingga Silaturahim Hadits 1461 وَعَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ, وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ, فَإِنَّ اَلشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ, وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ – أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian makan, maka makanlah dengan tangan kanannya. Jika minum, minumlah dengan tangan kanannya. Karena setan itu makan dengan tangan kiri dan minum dengan tangan kiri.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2020, Bab “Adab makan dan minum, serta hukumnya]   Faedah Hadits Dalil ini menunjukkan bahwa seorang mukmin diperintahkan makan dan minum dengan tangan kanan, dan ia dilarang menggunakan tangan kirinya. Alasan terlarangnya, karena termasuk perbuatan setan. Setan itu makan dan minum dengan tangan kiri. Mayoritas ulama menyatakan bahwa makan dan minum dengan tangan kanan dihukumi sunnah (tidak wajib) karena termasuk pada bab adab dan irsyad. Kita diperintahkan untuk menyelisihi setan dalam perbuatannya.   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nuur: 21)   Hadits 1462 وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ, عَنْ أَبِيهِ, عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – كُلْ, وَاشْرَبْ, وَالْبَسْ, وَتَصَدَّقْ فِي غَيْرِ سَرَفٍ, وَلَا مَخِيلَةٍ – أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ, وَأَحْمَدُ, وَعَلَّقَهُ اَلْبُخَارِيُّ. Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan dan minumlah, berpakaianlah, juga bersedekahlah tanpa boros dan bersikap sombong.” (HR. Abu Daud, Ahmad, dan dikeluarkan oleh Al-Bukhari secara mu’allaq). [HR. Abu Daud Ath-Thayalisi, 4:19-20; An-Nasai, 5:79; Ibnu Majah, no. 3605; Ahmad, 11:294,312. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan].   Faedah Hadits Sedekah yang dimaksud dalam hadits ini adalah sedekah sunnah karena sedekah wajib terbatas ukurannya atau besarannya, seperti zakat (maal) dan zakat fithri, sehingga tidak mungkin dibayangkan israf di dalamnya. Israf adalah belebihan dalam ucapan dan perbuatan. Namun istilah israf lebih terkenal digunakan untuk pengeluaran harta yang berlebihan. Israf itu berlebihan dalam mengeluarkan sesuatu, sedangkan tabdzir (boros) berarti mengeluarkan harta bukan pada tempatnya. Tabdzir tidak terkait dengan jumlah namun terkait dengan di manakah disalurkan. Makanya orang yang tabdzir disebut “saudaranya setan” karena mereka menyalurkan hartanya untuk yang haram. Tabdzir itu lebih parah dari israf, sebagaimana kita dapat merujuk pada surah Al-An’am ayat 141 dan Al-Isra’ ayat 27. Allah Ta’ala berfirman. وَلَا تُسْرِفُواۚإِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ “Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-An’am: 141) Allah Ta’ala berfirman tentang sifat boros, وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al Isra’: 26-27). Makan dan minum termasuk kesenangan dunia yang mubah. Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ah Al-Fatawa (32:213) menyatakan bahwa israf dalam makan itu tercela. Hadits ini menunjukkan bahwa mubahnya pakaian. Dilarang israf dan khuyala’ (sombong) dalam berpakaian. Seorang muslim diperintahkan untuk bersedekah jika ia memiliki kelebihan dari yang mencukupi diri dan keluarganya.   —- بَابُ اَلْبِرِّ وَالصِّلَةِ Bab Berbuat Baik pada Orang Tua dan Silaturahim (Berbuat Baik pada Kerabat) Hadits 1463 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – مَنْ أََحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ فِي رِزْقِهِ, وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ, فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ – أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang suka dilapangkan(diberkahi) rezekinya dan dipanjangkan (diberkahi) umurnya hendaklah dia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 5985 dan Muslim, no. 2557]   Faedah Hadits Boleh meminta kelapangan rezeki dan itu tidak tercela. Manfaat silaturahim adalah untuk melapangkan rezeki dan memanjangkan umur. Wajib menjalin silaturahim secara umum, dan diharamkan untuk memutusnya. Rahim yang dimaksud adalah yang masih punya hubungan mahram. Ada juga yang memaknakan dengan ahli waris, Al-jaza’ min jinsil ‘amal (balasan sesuai dengan amal perbuatan). Siapa yang menyambung silaturahim, maka Allah akan sambungkan ia dengan melapangkan rezekinya dan memanjangkan umurnya. Kebaikan akan berlanjut pada kebaikan. Allah menciptakan sebab, dan boleh saja kita mengambil sebab tersebut. Menurut jumhur ulama (mayoritas), umur itu bisa bertambah dan berkurang. Bisa jadi umur bertambah dilihat pada catatan malaikat yang ditugaskan mengurus ajal. Namun dilihat dari qadha’ Allah yang sejak dulu ada, umur tidaklah bertambah dan berkurang. Ada juga yang memaknakan bertambahnya umur di sini dengan bertambahnya berkah dengan diberi taufik pada ketaatan. Semoga bermanfaat.   Referensi: Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid kesepuluh.   — Diselesaikan di #darushsholihin, 10 Rajab 1440 H (16 Maret 2019, Sabtu sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsadab makan boros boros saudaranya setan boros temannya setan bulughul maram bulughul maram adab israf keutamaan silaturahim silaturahim silaturahmi

Menikahi Janda Kaya Mensyaratkan tidak Dinafkahi

Mensyaratkan tidak Dinafkahi Jika ada janda kaya yang hendak dinikahi seorang lelaki, lalu ada kesepakatan, janda ini tidak perlu diberi nafkah karena sdh kaya, apakah akad nikahnya sah? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ada dua hal yang perlu kita bedakan dalam kasus ini, [1] Akad [2] Syarat/kesepakatan akad Selama akad itu dilakukan dengan memenuhi semua rukun dan syaratnya maka akad itu dinilai sah, meskipun bisa jadi mengandung kesepakatan yang bathil. Yang bermasalah dari kasus di atas adalah bagian kesepakatan dalam akad, bukan akadnya. Karena kesepakatan yang dilakukan, bertentangan dengan konsekuensi akad atau mengandung unsur kedzaliman atau menggugurkan hak orang lain. Al-Buhuti mengatakan, فصل (وإن شرط أن لا مهر لها أو أن لا نفقة) لها، (أو شرط أن يقسم لها أقل من ضرتها أو أكثر) منها، (أو شرط فيه) أي: في النكاح (خيارًا ….. بطل الشرط لمنافاته مقتضى العقد، وتضمنه إسقاط حق يجب به قبل انعقاده. (وصح النكاح) لأن هذه الشروط تعود إلى معنى زائد في العقد Pasal: ketika calon suami mensyaratkan, tidak ada mahar dan nafkah untuk calon istri, atau dia mensyaratkan nanti istri kedua mendapatkan jatah gilir lebih sedikit atau lebih banyak dibandingkan istri pertama, atau mensyaratkan, setelah akad nikah ada hak khiyar (memilih antara melanjutkan atau tidak) … maka syarat semacam ini bathil, karena bertentangan dengan konsekuensi akad. Dan mengandung unsur menggugurkan hak, yang wajib ditunaikan. Meskipun pernikahan sah. karena kesepakatan ini bentuknya adalah tambahan akad. (ar-Raudhul Murbi’, 1/341-342). Beberapa contoh kesepakatan dalam pernikahan seperti yang disebutkan al-Buhuti adalah contoh kesepakatan yang bathil. Meskipun ini tidak mempengaruhi keabsahan akad. Karena kesepakatan ini bathil, maka hak mahar atau hak nafkah harus tetap ada. Demikian pula jatah gilir, harus diberikan yang sama dengan madunya. Meskipun sang istri boleh menggugurkan sebagian haknya. Dulu, ibunda Saudah bintu Zam’ah radhiyallahu ‘anha merelakan haknya dan diberikan ke Aisyah radhiyallahu ‘anha, agar Saudah tetap menjadi istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai beliau meninggal dunia. Dalam Syarh al-Iqna’ dinyatakan, وللمرأة أن تهب حقها من القسم في جميع الزمان، وفي بعضه لبعض ضرائرها بإذنه Bagi si wanita, dia berhak menghibahkan haknya seperti jatah gilir pada semua waktunya atau sebagian waktunya untuk madunya dengan izin suaminya. (al-Iqna’, 3/248). Kemudian penulis menyebutkan hadis Saudah bintu Zam’ah radhiyallahu ‘anha. Sehingga, semua hak itu merupakan hak istri, meskipun dia boleh menggugurkannya. Dan jika dia sudah merelakannya maka suami tidak berdosa. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Jumlah Istri Nabi Sulaiman, Doa Setelah Sholat Rawatib, Bolehkah Berdoa Ketika Sujud, Menjadi Istri Yang Sabar Dan Ikhlas, Sejarah Ibnu Taimiyah, Niat Sesudah Haid Visited 21 times, 1 visit(s) today Post Views: 224 QRIS donasi Yufid

Menikahi Janda Kaya Mensyaratkan tidak Dinafkahi

Mensyaratkan tidak Dinafkahi Jika ada janda kaya yang hendak dinikahi seorang lelaki, lalu ada kesepakatan, janda ini tidak perlu diberi nafkah karena sdh kaya, apakah akad nikahnya sah? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ada dua hal yang perlu kita bedakan dalam kasus ini, [1] Akad [2] Syarat/kesepakatan akad Selama akad itu dilakukan dengan memenuhi semua rukun dan syaratnya maka akad itu dinilai sah, meskipun bisa jadi mengandung kesepakatan yang bathil. Yang bermasalah dari kasus di atas adalah bagian kesepakatan dalam akad, bukan akadnya. Karena kesepakatan yang dilakukan, bertentangan dengan konsekuensi akad atau mengandung unsur kedzaliman atau menggugurkan hak orang lain. Al-Buhuti mengatakan, فصل (وإن شرط أن لا مهر لها أو أن لا نفقة) لها، (أو شرط أن يقسم لها أقل من ضرتها أو أكثر) منها، (أو شرط فيه) أي: في النكاح (خيارًا ….. بطل الشرط لمنافاته مقتضى العقد، وتضمنه إسقاط حق يجب به قبل انعقاده. (وصح النكاح) لأن هذه الشروط تعود إلى معنى زائد في العقد Pasal: ketika calon suami mensyaratkan, tidak ada mahar dan nafkah untuk calon istri, atau dia mensyaratkan nanti istri kedua mendapatkan jatah gilir lebih sedikit atau lebih banyak dibandingkan istri pertama, atau mensyaratkan, setelah akad nikah ada hak khiyar (memilih antara melanjutkan atau tidak) … maka syarat semacam ini bathil, karena bertentangan dengan konsekuensi akad. Dan mengandung unsur menggugurkan hak, yang wajib ditunaikan. Meskipun pernikahan sah. karena kesepakatan ini bentuknya adalah tambahan akad. (ar-Raudhul Murbi’, 1/341-342). Beberapa contoh kesepakatan dalam pernikahan seperti yang disebutkan al-Buhuti adalah contoh kesepakatan yang bathil. Meskipun ini tidak mempengaruhi keabsahan akad. Karena kesepakatan ini bathil, maka hak mahar atau hak nafkah harus tetap ada. Demikian pula jatah gilir, harus diberikan yang sama dengan madunya. Meskipun sang istri boleh menggugurkan sebagian haknya. Dulu, ibunda Saudah bintu Zam’ah radhiyallahu ‘anha merelakan haknya dan diberikan ke Aisyah radhiyallahu ‘anha, agar Saudah tetap menjadi istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai beliau meninggal dunia. Dalam Syarh al-Iqna’ dinyatakan, وللمرأة أن تهب حقها من القسم في جميع الزمان، وفي بعضه لبعض ضرائرها بإذنه Bagi si wanita, dia berhak menghibahkan haknya seperti jatah gilir pada semua waktunya atau sebagian waktunya untuk madunya dengan izin suaminya. (al-Iqna’, 3/248). Kemudian penulis menyebutkan hadis Saudah bintu Zam’ah radhiyallahu ‘anha. Sehingga, semua hak itu merupakan hak istri, meskipun dia boleh menggugurkannya. Dan jika dia sudah merelakannya maka suami tidak berdosa. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Jumlah Istri Nabi Sulaiman, Doa Setelah Sholat Rawatib, Bolehkah Berdoa Ketika Sujud, Menjadi Istri Yang Sabar Dan Ikhlas, Sejarah Ibnu Taimiyah, Niat Sesudah Haid Visited 21 times, 1 visit(s) today Post Views: 224 QRIS donasi Yufid
Mensyaratkan tidak Dinafkahi Jika ada janda kaya yang hendak dinikahi seorang lelaki, lalu ada kesepakatan, janda ini tidak perlu diberi nafkah karena sdh kaya, apakah akad nikahnya sah? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ada dua hal yang perlu kita bedakan dalam kasus ini, [1] Akad [2] Syarat/kesepakatan akad Selama akad itu dilakukan dengan memenuhi semua rukun dan syaratnya maka akad itu dinilai sah, meskipun bisa jadi mengandung kesepakatan yang bathil. Yang bermasalah dari kasus di atas adalah bagian kesepakatan dalam akad, bukan akadnya. Karena kesepakatan yang dilakukan, bertentangan dengan konsekuensi akad atau mengandung unsur kedzaliman atau menggugurkan hak orang lain. Al-Buhuti mengatakan, فصل (وإن شرط أن لا مهر لها أو أن لا نفقة) لها، (أو شرط أن يقسم لها أقل من ضرتها أو أكثر) منها، (أو شرط فيه) أي: في النكاح (خيارًا ….. بطل الشرط لمنافاته مقتضى العقد، وتضمنه إسقاط حق يجب به قبل انعقاده. (وصح النكاح) لأن هذه الشروط تعود إلى معنى زائد في العقد Pasal: ketika calon suami mensyaratkan, tidak ada mahar dan nafkah untuk calon istri, atau dia mensyaratkan nanti istri kedua mendapatkan jatah gilir lebih sedikit atau lebih banyak dibandingkan istri pertama, atau mensyaratkan, setelah akad nikah ada hak khiyar (memilih antara melanjutkan atau tidak) … maka syarat semacam ini bathil, karena bertentangan dengan konsekuensi akad. Dan mengandung unsur menggugurkan hak, yang wajib ditunaikan. Meskipun pernikahan sah. karena kesepakatan ini bentuknya adalah tambahan akad. (ar-Raudhul Murbi’, 1/341-342). Beberapa contoh kesepakatan dalam pernikahan seperti yang disebutkan al-Buhuti adalah contoh kesepakatan yang bathil. Meskipun ini tidak mempengaruhi keabsahan akad. Karena kesepakatan ini bathil, maka hak mahar atau hak nafkah harus tetap ada. Demikian pula jatah gilir, harus diberikan yang sama dengan madunya. Meskipun sang istri boleh menggugurkan sebagian haknya. Dulu, ibunda Saudah bintu Zam’ah radhiyallahu ‘anha merelakan haknya dan diberikan ke Aisyah radhiyallahu ‘anha, agar Saudah tetap menjadi istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai beliau meninggal dunia. Dalam Syarh al-Iqna’ dinyatakan, وللمرأة أن تهب حقها من القسم في جميع الزمان، وفي بعضه لبعض ضرائرها بإذنه Bagi si wanita, dia berhak menghibahkan haknya seperti jatah gilir pada semua waktunya atau sebagian waktunya untuk madunya dengan izin suaminya. (al-Iqna’, 3/248). Kemudian penulis menyebutkan hadis Saudah bintu Zam’ah radhiyallahu ‘anha. Sehingga, semua hak itu merupakan hak istri, meskipun dia boleh menggugurkannya. Dan jika dia sudah merelakannya maka suami tidak berdosa. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Jumlah Istri Nabi Sulaiman, Doa Setelah Sholat Rawatib, Bolehkah Berdoa Ketika Sujud, Menjadi Istri Yang Sabar Dan Ikhlas, Sejarah Ibnu Taimiyah, Niat Sesudah Haid Visited 21 times, 1 visit(s) today Post Views: 224 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/628857636&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Mensyaratkan tidak Dinafkahi Jika ada janda kaya yang hendak dinikahi seorang lelaki, lalu ada kesepakatan, janda ini tidak perlu diberi nafkah karena sdh kaya, apakah akad nikahnya sah? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Ada dua hal yang perlu kita bedakan dalam kasus ini, [1] Akad [2] Syarat/kesepakatan akad Selama akad itu dilakukan dengan memenuhi semua rukun dan syaratnya maka akad itu dinilai sah, meskipun bisa jadi mengandung kesepakatan yang bathil. Yang bermasalah dari kasus di atas adalah bagian kesepakatan dalam akad, bukan akadnya. Karena kesepakatan yang dilakukan, bertentangan dengan konsekuensi akad atau mengandung unsur kedzaliman atau menggugurkan hak orang lain. Al-Buhuti mengatakan, فصل (وإن شرط أن لا مهر لها أو أن لا نفقة) لها، (أو شرط أن يقسم لها أقل من ضرتها أو أكثر) منها، (أو شرط فيه) أي: في النكاح (خيارًا ….. بطل الشرط لمنافاته مقتضى العقد، وتضمنه إسقاط حق يجب به قبل انعقاده. (وصح النكاح) لأن هذه الشروط تعود إلى معنى زائد في العقد Pasal: ketika calon suami mensyaratkan, tidak ada mahar dan nafkah untuk calon istri, atau dia mensyaratkan nanti istri kedua mendapatkan jatah gilir lebih sedikit atau lebih banyak dibandingkan istri pertama, atau mensyaratkan, setelah akad nikah ada hak khiyar (memilih antara melanjutkan atau tidak) … maka syarat semacam ini bathil, karena bertentangan dengan konsekuensi akad. Dan mengandung unsur menggugurkan hak, yang wajib ditunaikan. Meskipun pernikahan sah. karena kesepakatan ini bentuknya adalah tambahan akad. (ar-Raudhul Murbi’, 1/341-342). Beberapa contoh kesepakatan dalam pernikahan seperti yang disebutkan al-Buhuti adalah contoh kesepakatan yang bathil. Meskipun ini tidak mempengaruhi keabsahan akad. Karena kesepakatan ini bathil, maka hak mahar atau hak nafkah harus tetap ada. Demikian pula jatah gilir, harus diberikan yang sama dengan madunya. Meskipun sang istri boleh menggugurkan sebagian haknya. Dulu, ibunda Saudah bintu Zam’ah radhiyallahu ‘anha merelakan haknya dan diberikan ke Aisyah radhiyallahu ‘anha, agar Saudah tetap menjadi istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai beliau meninggal dunia. Dalam Syarh al-Iqna’ dinyatakan, وللمرأة أن تهب حقها من القسم في جميع الزمان، وفي بعضه لبعض ضرائرها بإذنه Bagi si wanita, dia berhak menghibahkan haknya seperti jatah gilir pada semua waktunya atau sebagian waktunya untuk madunya dengan izin suaminya. (al-Iqna’, 3/248). Kemudian penulis menyebutkan hadis Saudah bintu Zam’ah radhiyallahu ‘anha. Sehingga, semua hak itu merupakan hak istri, meskipun dia boleh menggugurkannya. Dan jika dia sudah merelakannya maka suami tidak berdosa. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Jumlah Istri Nabi Sulaiman, Doa Setelah Sholat Rawatib, Bolehkah Berdoa Ketika Sujud, Menjadi Istri Yang Sabar Dan Ikhlas, Sejarah Ibnu Taimiyah, Niat Sesudah Haid Visited 21 times, 1 visit(s) today Post Views: 224 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Hukum Menyebar Video Penembakan Sadis di New Zealand

Hukum Menyebar Video Penembakan Sadis di New Zealand Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Muslim adalah orang-orang yang penyayang dan menyukai kedamaian. Dari ucapan salamnya, “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”, artinya : semoga keselamatan, rahmat dan keberkahan Allah menyertai kalian..” seorang bisa membuktikan bahwa agama Islam adalah agama penyayang dan penebar kedamaian. Kasih sayang Islam tak hanya dirasakan oleh manusia sebagai makhluk yang paling bermartabat di muka bumi ini. Bahkan hewanpun merasakan kasih sayang Islam. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, أفلا تتقي الله في هذه البهيمة التي ملكك الله إياها ؟ فإنه شكا إلي أنك تجيعه وتدئبه “Tidakkah kamu bertakwa kepada Allah dalam urusan binatang yang telah Allah kuasakan kepadamu?! Dia mengeluh kepadaku bahwa kamu telah membiarkannya lapar dan membebaninya dengan pekerjaan yang berat.” (HR. Abu Daud) Bahkan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam melarang membunuh hewan tanpa alasan yang benar. مَنْ قَتَلَ عُصْفُوْرًا عَبَثًا اِلَى اللهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ يَقُوْلُ: يَا رَبِّ اِنَّ فُلاَنًا قَتَلَنِى عَبَثًا وَ لَمْ يَقْتُلْنِى مَنْفَعَةً Siapa membunuh seekor burung ‘usfur dengan sia-sia, maka nanti di hari kiamat burung tersebut akan mengadu kepada Allah, seraya berkata, “Ya Allah, ya Tuhanku, si Fulan telah membunuhku dengan bermain-main, dan tidak membunuhku untuk diambil manfaatnya”. (HR. Nasai dan Ibnu Hibban) Jika hewan saja dilarang dibunuh secara biadab dalam Islam, apalagi manusia! Apalagi orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya!! Terlebih mereka dibunuh di rumah Allah, di hari Jumat yang mulia. Sungguh tindakan teramat biadab teroris yang telah menghilangkan nyawa-nyawa manusia yang berikrar “LAA ILAA HA ILLALLAH…” (Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah). Hadis di atas bukti bahwa ajaran Islam berlepas diri dari aksi terorisme. Ibnul Arobi (ulama Mazhab Maliki) rahimahullah mengatakan, ثبت النهي عن قتل البهيمة بغير حق والوعيد في ذلك فكيف بقتل الآدمي فكيف بالمسلم فكيف بالتقي الصالح Ada hadis-hadis valid bersumber dari Nabi yang melarang membunuh binatang tanpa alasan yang benar dan dijelaskan ancamannya. Maka bagaimana dengan membunuh manusia?! Apalagi seorang Muslim.. Apalagi membunuh muslim yang taat dan sholih! (Lihat : Fathul Bari, 12/196) Sehingga pantas jika Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengatakan, لزوالُ الدُّنيا أهونُ على اللهِ من قتلِ مؤمنٍ بغيرِ حقٍّ Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang mukmin tanpa alasan yang benar. Kita semua mengecam aksi biadab yang dilakukan oleh seorang teroris bernama Brenton Tarrant, yang menembaki saudara-saudara seiman kita jamaah Shalat Jumat di dua masjid, New Zealand. Kecemburuan dan kemarahan ini, adalah tanda kejujuran iman dalam sanubari kita. Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد ؛ اذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى Perumpamaan seorang mukmin dalam berkasihsayang di antara mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu bagian tubuh merasa sakit, maka semua anggota tubuh lainnya akan ikut merasakannya, sampai tak dapat tidur dan demam.” (HR. Bukhori & Muslim) Hukum Menyebar Video Penambakan Namun tentu saja, seorang mukmin itu adalah orang yang selalu menimbang sikapnya dengan ilmu, di setiap keadaan. Berkaitan penyebaran video penembakan biadab di New Zealand Jumat kemarin, ada beberapa catatan yang perlu kita perhatikan : Pertama, menjaga wibawa Islam. Aksi penembakan membabi buta yang terekam jelas, adalah penghinaan kepada kaum muslimin, terutama saudara-saudara kita yang menjadi korban. Seakan membunuh kaum muslimin itu begitu mudah seperti menembaki burung di sawah. Dengan tidak menyebarkan video tersebut, kita ikut andil dalam menjaga wibawa Islam dan kaum muslimin. Kedua, wajib menjaga kehormatan seorang mukmin saat hidup maupun setelah wafat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, لا تسبوا الأموات فإنهم قد أفضوا إلى ما قدموا “Janganlah kalian mencela orang yang telah wafat. Sesungguhnya mereka telah mendapatkan ganjaran atas apa yang telah mereka perbuat.” (HR. Bukhari) Dalam video tersebut terekam para korban yang diperlakukan tidak manusiawi, sangat menjatuhkan martabat mereka. Apalagi mereka orang muslim. Tentu diantara bentuk menjaga martabat meraka, dengan tidak menyebarkan video biadab tersebut. Ketiga, menginspirasi orang-orang kafir yang lain. Jika alasannya adalah maslahat membangkitkan kecemburuan kaum Muslimin yang lain, kami memandang tidak harus dengan menyebar video tersebut, bisa melalui sarana lain, seperti objek visual lainnya yang lebih aman, seperti gambar/video masjidnya atau objek lain. Berdasarkan kaidah fikih درء المفاسد مقدم على جلب المصالح mencegah bahaya lebih diprioritaskan daripada mendatangkan manfaat. Keempat, dapat memancing kemarahan kaum awam yang hanya didasari emosional. Sehingga bisa memicu aksi balasan yang tidak sejalan dengan kemoderatan Islam dan berdampak mencoreng Islam, yang barangkali memang direncanakan oleh orang-orang kafir. Yang juga mendasari pertimbangan ini adalah kaidah fikih di atas, bahwa mencegah bahaya lebih diutamakan daripada mendatangkan manfaat. Sehingga berdasarkan pertimbangan di atas, sebaiknya kita menahan diri untuk tidak ikut andil menyebarkan video tersebut. Dan semoga Allah merahmati para korban dan memasukkannya kedalam barisan syuhada. Serta mengokohkan kaum muslimin di New Zealand. Aamiin. Demikian, wallahua’lam bis showab.. **** Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni UIM dan Pengasuh PP. Hamalatul Quran, DIY) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Menikah Dengan Sepupu, Shalat Jumat Bagi Wanita, Mohon Maaf Sebelum Ramadhan, Cara Mengganti Rakaat Yang Tertinggal, Iqomah Adalah, Shalawat Yang Diajarkan Nabi Muhammad Visited 26 times, 1 visit(s) today Post Views: 268 QRIS donasi Yufid

Hukum Menyebar Video Penembakan Sadis di New Zealand

Hukum Menyebar Video Penembakan Sadis di New Zealand Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Muslim adalah orang-orang yang penyayang dan menyukai kedamaian. Dari ucapan salamnya, “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”, artinya : semoga keselamatan, rahmat dan keberkahan Allah menyertai kalian..” seorang bisa membuktikan bahwa agama Islam adalah agama penyayang dan penebar kedamaian. Kasih sayang Islam tak hanya dirasakan oleh manusia sebagai makhluk yang paling bermartabat di muka bumi ini. Bahkan hewanpun merasakan kasih sayang Islam. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, أفلا تتقي الله في هذه البهيمة التي ملكك الله إياها ؟ فإنه شكا إلي أنك تجيعه وتدئبه “Tidakkah kamu bertakwa kepada Allah dalam urusan binatang yang telah Allah kuasakan kepadamu?! Dia mengeluh kepadaku bahwa kamu telah membiarkannya lapar dan membebaninya dengan pekerjaan yang berat.” (HR. Abu Daud) Bahkan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam melarang membunuh hewan tanpa alasan yang benar. مَنْ قَتَلَ عُصْفُوْرًا عَبَثًا اِلَى اللهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ يَقُوْلُ: يَا رَبِّ اِنَّ فُلاَنًا قَتَلَنِى عَبَثًا وَ لَمْ يَقْتُلْنِى مَنْفَعَةً Siapa membunuh seekor burung ‘usfur dengan sia-sia, maka nanti di hari kiamat burung tersebut akan mengadu kepada Allah, seraya berkata, “Ya Allah, ya Tuhanku, si Fulan telah membunuhku dengan bermain-main, dan tidak membunuhku untuk diambil manfaatnya”. (HR. Nasai dan Ibnu Hibban) Jika hewan saja dilarang dibunuh secara biadab dalam Islam, apalagi manusia! Apalagi orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya!! Terlebih mereka dibunuh di rumah Allah, di hari Jumat yang mulia. Sungguh tindakan teramat biadab teroris yang telah menghilangkan nyawa-nyawa manusia yang berikrar “LAA ILAA HA ILLALLAH…” (Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah). Hadis di atas bukti bahwa ajaran Islam berlepas diri dari aksi terorisme. Ibnul Arobi (ulama Mazhab Maliki) rahimahullah mengatakan, ثبت النهي عن قتل البهيمة بغير حق والوعيد في ذلك فكيف بقتل الآدمي فكيف بالمسلم فكيف بالتقي الصالح Ada hadis-hadis valid bersumber dari Nabi yang melarang membunuh binatang tanpa alasan yang benar dan dijelaskan ancamannya. Maka bagaimana dengan membunuh manusia?! Apalagi seorang Muslim.. Apalagi membunuh muslim yang taat dan sholih! (Lihat : Fathul Bari, 12/196) Sehingga pantas jika Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengatakan, لزوالُ الدُّنيا أهونُ على اللهِ من قتلِ مؤمنٍ بغيرِ حقٍّ Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang mukmin tanpa alasan yang benar. Kita semua mengecam aksi biadab yang dilakukan oleh seorang teroris bernama Brenton Tarrant, yang menembaki saudara-saudara seiman kita jamaah Shalat Jumat di dua masjid, New Zealand. Kecemburuan dan kemarahan ini, adalah tanda kejujuran iman dalam sanubari kita. Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد ؛ اذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى Perumpamaan seorang mukmin dalam berkasihsayang di antara mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu bagian tubuh merasa sakit, maka semua anggota tubuh lainnya akan ikut merasakannya, sampai tak dapat tidur dan demam.” (HR. Bukhori & Muslim) Hukum Menyebar Video Penambakan Namun tentu saja, seorang mukmin itu adalah orang yang selalu menimbang sikapnya dengan ilmu, di setiap keadaan. Berkaitan penyebaran video penembakan biadab di New Zealand Jumat kemarin, ada beberapa catatan yang perlu kita perhatikan : Pertama, menjaga wibawa Islam. Aksi penembakan membabi buta yang terekam jelas, adalah penghinaan kepada kaum muslimin, terutama saudara-saudara kita yang menjadi korban. Seakan membunuh kaum muslimin itu begitu mudah seperti menembaki burung di sawah. Dengan tidak menyebarkan video tersebut, kita ikut andil dalam menjaga wibawa Islam dan kaum muslimin. Kedua, wajib menjaga kehormatan seorang mukmin saat hidup maupun setelah wafat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, لا تسبوا الأموات فإنهم قد أفضوا إلى ما قدموا “Janganlah kalian mencela orang yang telah wafat. Sesungguhnya mereka telah mendapatkan ganjaran atas apa yang telah mereka perbuat.” (HR. Bukhari) Dalam video tersebut terekam para korban yang diperlakukan tidak manusiawi, sangat menjatuhkan martabat mereka. Apalagi mereka orang muslim. Tentu diantara bentuk menjaga martabat meraka, dengan tidak menyebarkan video biadab tersebut. Ketiga, menginspirasi orang-orang kafir yang lain. Jika alasannya adalah maslahat membangkitkan kecemburuan kaum Muslimin yang lain, kami memandang tidak harus dengan menyebar video tersebut, bisa melalui sarana lain, seperti objek visual lainnya yang lebih aman, seperti gambar/video masjidnya atau objek lain. Berdasarkan kaidah fikih درء المفاسد مقدم على جلب المصالح mencegah bahaya lebih diprioritaskan daripada mendatangkan manfaat. Keempat, dapat memancing kemarahan kaum awam yang hanya didasari emosional. Sehingga bisa memicu aksi balasan yang tidak sejalan dengan kemoderatan Islam dan berdampak mencoreng Islam, yang barangkali memang direncanakan oleh orang-orang kafir. Yang juga mendasari pertimbangan ini adalah kaidah fikih di atas, bahwa mencegah bahaya lebih diutamakan daripada mendatangkan manfaat. Sehingga berdasarkan pertimbangan di atas, sebaiknya kita menahan diri untuk tidak ikut andil menyebarkan video tersebut. Dan semoga Allah merahmati para korban dan memasukkannya kedalam barisan syuhada. Serta mengokohkan kaum muslimin di New Zealand. Aamiin. Demikian, wallahua’lam bis showab.. **** Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni UIM dan Pengasuh PP. Hamalatul Quran, DIY) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Menikah Dengan Sepupu, Shalat Jumat Bagi Wanita, Mohon Maaf Sebelum Ramadhan, Cara Mengganti Rakaat Yang Tertinggal, Iqomah Adalah, Shalawat Yang Diajarkan Nabi Muhammad Visited 26 times, 1 visit(s) today Post Views: 268 QRIS donasi Yufid
Hukum Menyebar Video Penembakan Sadis di New Zealand Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Muslim adalah orang-orang yang penyayang dan menyukai kedamaian. Dari ucapan salamnya, “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”, artinya : semoga keselamatan, rahmat dan keberkahan Allah menyertai kalian..” seorang bisa membuktikan bahwa agama Islam adalah agama penyayang dan penebar kedamaian. Kasih sayang Islam tak hanya dirasakan oleh manusia sebagai makhluk yang paling bermartabat di muka bumi ini. Bahkan hewanpun merasakan kasih sayang Islam. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, أفلا تتقي الله في هذه البهيمة التي ملكك الله إياها ؟ فإنه شكا إلي أنك تجيعه وتدئبه “Tidakkah kamu bertakwa kepada Allah dalam urusan binatang yang telah Allah kuasakan kepadamu?! Dia mengeluh kepadaku bahwa kamu telah membiarkannya lapar dan membebaninya dengan pekerjaan yang berat.” (HR. Abu Daud) Bahkan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam melarang membunuh hewan tanpa alasan yang benar. مَنْ قَتَلَ عُصْفُوْرًا عَبَثًا اِلَى اللهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ يَقُوْلُ: يَا رَبِّ اِنَّ فُلاَنًا قَتَلَنِى عَبَثًا وَ لَمْ يَقْتُلْنِى مَنْفَعَةً Siapa membunuh seekor burung ‘usfur dengan sia-sia, maka nanti di hari kiamat burung tersebut akan mengadu kepada Allah, seraya berkata, “Ya Allah, ya Tuhanku, si Fulan telah membunuhku dengan bermain-main, dan tidak membunuhku untuk diambil manfaatnya”. (HR. Nasai dan Ibnu Hibban) Jika hewan saja dilarang dibunuh secara biadab dalam Islam, apalagi manusia! Apalagi orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya!! Terlebih mereka dibunuh di rumah Allah, di hari Jumat yang mulia. Sungguh tindakan teramat biadab teroris yang telah menghilangkan nyawa-nyawa manusia yang berikrar “LAA ILAA HA ILLALLAH…” (Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah). Hadis di atas bukti bahwa ajaran Islam berlepas diri dari aksi terorisme. Ibnul Arobi (ulama Mazhab Maliki) rahimahullah mengatakan, ثبت النهي عن قتل البهيمة بغير حق والوعيد في ذلك فكيف بقتل الآدمي فكيف بالمسلم فكيف بالتقي الصالح Ada hadis-hadis valid bersumber dari Nabi yang melarang membunuh binatang tanpa alasan yang benar dan dijelaskan ancamannya. Maka bagaimana dengan membunuh manusia?! Apalagi seorang Muslim.. Apalagi membunuh muslim yang taat dan sholih! (Lihat : Fathul Bari, 12/196) Sehingga pantas jika Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengatakan, لزوالُ الدُّنيا أهونُ على اللهِ من قتلِ مؤمنٍ بغيرِ حقٍّ Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang mukmin tanpa alasan yang benar. Kita semua mengecam aksi biadab yang dilakukan oleh seorang teroris bernama Brenton Tarrant, yang menembaki saudara-saudara seiman kita jamaah Shalat Jumat di dua masjid, New Zealand. Kecemburuan dan kemarahan ini, adalah tanda kejujuran iman dalam sanubari kita. Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد ؛ اذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى Perumpamaan seorang mukmin dalam berkasihsayang di antara mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu bagian tubuh merasa sakit, maka semua anggota tubuh lainnya akan ikut merasakannya, sampai tak dapat tidur dan demam.” (HR. Bukhori & Muslim) Hukum Menyebar Video Penambakan Namun tentu saja, seorang mukmin itu adalah orang yang selalu menimbang sikapnya dengan ilmu, di setiap keadaan. Berkaitan penyebaran video penembakan biadab di New Zealand Jumat kemarin, ada beberapa catatan yang perlu kita perhatikan : Pertama, menjaga wibawa Islam. Aksi penembakan membabi buta yang terekam jelas, adalah penghinaan kepada kaum muslimin, terutama saudara-saudara kita yang menjadi korban. Seakan membunuh kaum muslimin itu begitu mudah seperti menembaki burung di sawah. Dengan tidak menyebarkan video tersebut, kita ikut andil dalam menjaga wibawa Islam dan kaum muslimin. Kedua, wajib menjaga kehormatan seorang mukmin saat hidup maupun setelah wafat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, لا تسبوا الأموات فإنهم قد أفضوا إلى ما قدموا “Janganlah kalian mencela orang yang telah wafat. Sesungguhnya mereka telah mendapatkan ganjaran atas apa yang telah mereka perbuat.” (HR. Bukhari) Dalam video tersebut terekam para korban yang diperlakukan tidak manusiawi, sangat menjatuhkan martabat mereka. Apalagi mereka orang muslim. Tentu diantara bentuk menjaga martabat meraka, dengan tidak menyebarkan video biadab tersebut. Ketiga, menginspirasi orang-orang kafir yang lain. Jika alasannya adalah maslahat membangkitkan kecemburuan kaum Muslimin yang lain, kami memandang tidak harus dengan menyebar video tersebut, bisa melalui sarana lain, seperti objek visual lainnya yang lebih aman, seperti gambar/video masjidnya atau objek lain. Berdasarkan kaidah fikih درء المفاسد مقدم على جلب المصالح mencegah bahaya lebih diprioritaskan daripada mendatangkan manfaat. Keempat, dapat memancing kemarahan kaum awam yang hanya didasari emosional. Sehingga bisa memicu aksi balasan yang tidak sejalan dengan kemoderatan Islam dan berdampak mencoreng Islam, yang barangkali memang direncanakan oleh orang-orang kafir. Yang juga mendasari pertimbangan ini adalah kaidah fikih di atas, bahwa mencegah bahaya lebih diutamakan daripada mendatangkan manfaat. Sehingga berdasarkan pertimbangan di atas, sebaiknya kita menahan diri untuk tidak ikut andil menyebarkan video tersebut. Dan semoga Allah merahmati para korban dan memasukkannya kedalam barisan syuhada. Serta mengokohkan kaum muslimin di New Zealand. Aamiin. Demikian, wallahua’lam bis showab.. **** Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni UIM dan Pengasuh PP. Hamalatul Quran, DIY) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Menikah Dengan Sepupu, Shalat Jumat Bagi Wanita, Mohon Maaf Sebelum Ramadhan, Cara Mengganti Rakaat Yang Tertinggal, Iqomah Adalah, Shalawat Yang Diajarkan Nabi Muhammad Visited 26 times, 1 visit(s) today Post Views: 268 QRIS donasi Yufid


Hukum Menyebar Video Penembakan Sadis di New Zealand Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Muslim adalah orang-orang yang penyayang dan menyukai kedamaian. Dari ucapan salamnya, “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”, artinya : semoga keselamatan, rahmat dan keberkahan Allah menyertai kalian..” seorang bisa membuktikan bahwa agama Islam adalah agama penyayang dan penebar kedamaian. Kasih sayang Islam tak hanya dirasakan oleh manusia sebagai makhluk yang paling bermartabat di muka bumi ini. Bahkan hewanpun merasakan kasih sayang Islam. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, أفلا تتقي الله في هذه البهيمة التي ملكك الله إياها ؟ فإنه شكا إلي أنك تجيعه وتدئبه “Tidakkah kamu bertakwa kepada Allah dalam urusan binatang yang telah Allah kuasakan kepadamu?! Dia mengeluh kepadaku bahwa kamu telah membiarkannya lapar dan membebaninya dengan pekerjaan yang berat.” (HR. Abu Daud) Bahkan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam melarang membunuh hewan tanpa alasan yang benar. مَنْ قَتَلَ عُصْفُوْرًا عَبَثًا اِلَى اللهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ يَقُوْلُ: يَا رَبِّ اِنَّ فُلاَنًا قَتَلَنِى عَبَثًا وَ لَمْ يَقْتُلْنِى مَنْفَعَةً Siapa membunuh seekor burung ‘usfur dengan sia-sia, maka nanti di hari kiamat burung tersebut akan mengadu kepada Allah, seraya berkata, “Ya Allah, ya Tuhanku, si Fulan telah membunuhku dengan bermain-main, dan tidak membunuhku untuk diambil manfaatnya”. (HR. Nasai dan Ibnu Hibban) Jika hewan saja dilarang dibunuh secara biadab dalam Islam, apalagi manusia! Apalagi orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya!! Terlebih mereka dibunuh di rumah Allah, di hari Jumat yang mulia. Sungguh tindakan teramat biadab teroris yang telah menghilangkan nyawa-nyawa manusia yang berikrar “LAA ILAA HA ILLALLAH…” (Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah). Hadis di atas bukti bahwa ajaran Islam berlepas diri dari aksi terorisme. Ibnul Arobi (ulama Mazhab Maliki) rahimahullah mengatakan, ثبت النهي عن قتل البهيمة بغير حق والوعيد في ذلك فكيف بقتل الآدمي فكيف بالمسلم فكيف بالتقي الصالح Ada hadis-hadis valid bersumber dari Nabi yang melarang membunuh binatang tanpa alasan yang benar dan dijelaskan ancamannya. Maka bagaimana dengan membunuh manusia?! Apalagi seorang Muslim.. Apalagi membunuh muslim yang taat dan sholih! (Lihat : Fathul Bari, 12/196) Sehingga pantas jika Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengatakan, لزوالُ الدُّنيا أهونُ على اللهِ من قتلِ مؤمنٍ بغيرِ حقٍّ Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang mukmin tanpa alasan yang benar. Kita semua mengecam aksi biadab yang dilakukan oleh seorang teroris bernama Brenton Tarrant, yang menembaki saudara-saudara seiman kita jamaah Shalat Jumat di dua masjid, New Zealand. Kecemburuan dan kemarahan ini, adalah tanda kejujuran iman dalam sanubari kita. Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد ؛ اذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى Perumpamaan seorang mukmin dalam berkasihsayang di antara mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu bagian tubuh merasa sakit, maka semua anggota tubuh lainnya akan ikut merasakannya, sampai tak dapat tidur dan demam.” (HR. Bukhori & Muslim) Hukum Menyebar Video Penambakan Namun tentu saja, seorang mukmin itu adalah orang yang selalu menimbang sikapnya dengan ilmu, di setiap keadaan. Berkaitan penyebaran video penembakan biadab di New Zealand Jumat kemarin, ada beberapa catatan yang perlu kita perhatikan : Pertama, menjaga wibawa Islam. Aksi penembakan membabi buta yang terekam jelas, adalah penghinaan kepada kaum muslimin, terutama saudara-saudara kita yang menjadi korban. Seakan membunuh kaum muslimin itu begitu mudah seperti menembaki burung di sawah. Dengan tidak menyebarkan video tersebut, kita ikut andil dalam menjaga wibawa Islam dan kaum muslimin. Kedua, wajib menjaga kehormatan seorang mukmin saat hidup maupun setelah wafat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, لا تسبوا الأموات فإنهم قد أفضوا إلى ما قدموا “Janganlah kalian mencela orang yang telah wafat. Sesungguhnya mereka telah mendapatkan ganjaran atas apa yang telah mereka perbuat.” (HR. Bukhari) Dalam video tersebut terekam para korban yang diperlakukan tidak manusiawi, sangat menjatuhkan martabat mereka. Apalagi mereka orang muslim. Tentu diantara bentuk menjaga martabat meraka, dengan tidak menyebarkan video biadab tersebut. Ketiga, menginspirasi orang-orang kafir yang lain. Jika alasannya adalah maslahat membangkitkan kecemburuan kaum Muslimin yang lain, kami memandang tidak harus dengan menyebar video tersebut, bisa melalui sarana lain, seperti objek visual lainnya yang lebih aman, seperti gambar/video masjidnya atau objek lain. Berdasarkan kaidah fikih درء المفاسد مقدم على جلب المصالح mencegah bahaya lebih diprioritaskan daripada mendatangkan manfaat. Keempat, dapat memancing kemarahan kaum awam yang hanya didasari emosional. Sehingga bisa memicu aksi balasan yang tidak sejalan dengan kemoderatan Islam dan berdampak mencoreng Islam, yang barangkali memang direncanakan oleh orang-orang kafir. Yang juga mendasari pertimbangan ini adalah kaidah fikih di atas, bahwa mencegah bahaya lebih diutamakan daripada mendatangkan manfaat. Sehingga berdasarkan pertimbangan di atas, sebaiknya kita menahan diri untuk tidak ikut andil menyebarkan video tersebut. Dan semoga Allah merahmati para korban dan memasukkannya kedalam barisan syuhada. Serta mengokohkan kaum muslimin di New Zealand. Aamiin. Demikian, wallahua’lam bis showab.. **** Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni UIM dan Pengasuh PP. Hamalatul Quran, DIY) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Menikah Dengan Sepupu, Shalat Jumat Bagi Wanita, Mohon Maaf Sebelum Ramadhan, Cara Mengganti Rakaat Yang Tertinggal, Iqomah Adalah, Shalawat Yang Diajarkan Nabi Muhammad Visited 26 times, 1 visit(s) today Post Views: 268 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Bulughul Maram – Shalat: Thawaf dan Shalat pada Waktu Terlarang

Apakah boleh thawaf pada waktu terlarang untuk shalat?   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat – Bab Al-Mawaqit (Waktu Shalat)   Hadits #167 وَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ, لَا تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا اَلْبَيْتِ وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلأوْ نَهَارٍ – رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّانَ Dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Bani Abdu Manaf, janganlah engkau melarang seseorang melakukan thawaf di Baitullah ini dan melakukan shalat pada waktu kapan saja baik malam maupun siang.” (Diriwayatkan oleh imam yang lima dan hadits ini shahih menurut At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban) [HR. Abu Daud, no. 1894; Tirmidzi, no. 868, An-Nasai, 1:284; Ibnu Majah, no. 1254; Ahmad, 27:297, Ibnu Hibban, 1552, 1553, 1554. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya perawi Muslim. Lihat Minhah Al-‘Allam, 2:210-211]   Faedah Hadits Bani Abdu Manaf adalah yang mengurus Masjidil Haram. Manaf adalah kakek keempat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena nama beliau adalah Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Muththalib bin Hasyim bin ‘Abdu Manaf. Bani Abdu Manaf punya kuasa di Masjidil Haram untuk melarang atau membuat aturan tertentu. Tidak boleh dilarang orang untuk thawaf walaupun pada waktu terlarang untuk shalat seperti bada Shubuh, bada Ashar, atau ketika matahari di atas kepala. Thawaf bukanlah shalat. Sebagian ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah memilih pendapat bahwa thawaf tidak disyaratkan bersuci. Tidak boleh penguasa melarang manusia yang punya hak untuk mengerjakan. Namun jika ada maslahat boleh saja yang punya kuasa melarang. Boleh melakukan thawaf pada waktu kapan pun, begitu pula shalat sunnah bada thawaf boleh dilakukan pada waktu apa pun meskipun pada waktu terlarang untuk shalat dikarenakan shalat sunnah bada thawaf adalah shalat sunnah yang punya sebab.   Hadits #168 وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; عَنْ اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – اَلشَّفَقُ اَلْحُمْرَةُ – رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَغَيْرُهُ وَقْفَهُ Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Asy-Syafaq adalah awan yang merah.” (Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan yang lainnya menyatakan hadits ini mauquf dari Ibnu Umar). [HR. Ad-Daruquthni, 1:269. Al-Baihaqi menyatakan hadits ini shahih secara mauquf, artinya hanya perkataan Ibnu Umar saja]   Faedah Hadits Hadits ini menunjukkan cahaya merah di ufuk barat bila hilang menunjukkan waktu Maghrib telah usai dan mulainya waktu shalat Isya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menyatakan bahwa cahaya merah di ufuk barat tersebut muncul sekitar 70-75 menit sebagaimana disebutkan dalam Fath Dzi Al-Jalali wa Al-Ikram, 2:100.   Hadits #169 وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – اَلْفَجْرُ فَجْرَانِ: فَجْرٌ يُحَرِّمُ اَلطَّعَامَ وَتَحِلُّ فِيهِ اَلصَّلَاةُ, وَفَجْرٌ تَحْرُمُ فِيهِ اَلصَّلَاةُ – أَيْ: صَلَاةُ اَلصُّبْحِ – وَيَحِلَّ فِيهِ اَلطَّعَامُ – رَوَاهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ, وَالْحَاكِمُ, وَصَحَّحَاهُ Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Fajar itu ada dua macam, yaitu fajar yang diharamkan makan dan diperbolehkan melakukan shalat; dan fajar yang diharamkan melakukan shalat yakni shalat Shubuh dan diperbolehkan makan makanan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim, menurut keduanya hadits ini shahih) [HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya, 1:184, 185; Al-Hakim, 1:191. Hadits ini mauquf—hanya perkataan sahabat–sebagaimana dikuatkan oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 2:216-217]   Hadits #170 وَلِلْحَاكِمِ فِي حَدِيثِ جَابِرٍ – رضي الله عنه – نَحْوُهُ, وَزَادَ فِي اَلَّذِي يُحَرِّمُ اَلطَّعَامَ: – إِنَّهُ يَذْهَبُ مُسْتَطِيلاً فِي اَلْأُفُقِ – وَفِي اَلْآخَرِ: – إِنَّهُ كَذَنَبِ اَلسِّرْحَان – Dalam riwayat Al-Hakim dari hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, ada hadits yang serupa dengannya dengan tambahan pada fajar yang mengharamkan makan makanan, “Fajar yang memanjang di ufuk.” Dalam riwayat yang lain, “Yaitu seperti seekor serigala.” [HR. Al-Hakim, 1:191; Al-Baihaqi, 1:377. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menguatkan hadits ini mursal sebagaimana disebutkan dalam Minhah Al-‘Allam, 1:217]   Faedah Hadits Ada dua fajar yang berbeda secara hukum dan sifat. Fajar pertama yaitu fajar kadzib, menjulang vertikal di ufuk; dan fajar kedua (fajar shodiq) memanjang di ufuk dan makin lama makin terang. Fajar pertama (fajar kadzib) tidak diharamkan makan (masih boleh makan sahur) dan masih belum dibolehkan dilaksanakannya shalat Shubuh. Fajar kedua (fajar shodiq), diharamkan makan bagi yang berpuasa, dan sudah boleh dilaksanakan shalat Shubuh karena sudah masuk waktunya. Fajar kadzib muncul sebagai persiapan untuk imsak dalam puasa dan persiapan shalat Shubuh, juga sebagai pengingat bahwa shalat Shubuh sudah semakin dekat dan yang sedang shalat malam segera menutupnya dengan shalat witir.   Hadits #171 وَعَنْ اِبْنِ مَسْعُودٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – أَفْضَلُ اَلْأَعْمَالِ اَلصَّلَاةُ فِي أَوَّلِ وَقْتِهَا – رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَالْحَاكِمُ. وَصَحَّحَاهُ وَأَصْلُهُ فِي “اَلصَّحِيحَيْنِ” Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal yang paling utama adalah shalat pada awal waktu.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Hakim, menurut keduanya hadits ini shahih. Asalnya dari Al-Bukhari dan Muslim). [HR. Hakim, 1:188, hadits ini tidak dikeluarkan Imam Tirmidzi. Hadits ini asalnya ada dalam shahihain].   Faedah Hadits Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat pada waktu yang ditentukan, tidak dikerjakan sebelum waktunya dan tidak diakhirkan sampai di luar waktu. Hadits ini menunjukkan perintah untuk bersegera dalam kebaikan. Paling bagus melaksanakan shalat lima waktu pada awal waktu kecuali shalat yang boleh diundur: shalat Zhuhur jika cuaca begitu panas dan shalat Isya boleh diakhirkan dengan melihat keadaan makmum. Shalat pada awal waktu adalah sebaik-baik amalan.   Referensi: Fath Dzi Al-Jalali wa Al-Ikram bi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1426 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madarul Wathan. Jilid kedua. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram.Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Kedua. — Diselesaikan di #darushsholihin, 9 Rajab 1440 H (15 Maret 2019, Jumat sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram waktu shalat jadwal waktu shalat tawaf pada waktu terlarang thawaf thawaf keliling kabah waktu shalat shubuh waktu shubuh waktu terlarang shalat waktu terlarang shalat bada ashar waktu terlarang shalat bada shubuh waktu-waktu shalat

Bulughul Maram – Shalat: Thawaf dan Shalat pada Waktu Terlarang

Apakah boleh thawaf pada waktu terlarang untuk shalat?   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat – Bab Al-Mawaqit (Waktu Shalat)   Hadits #167 وَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ, لَا تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا اَلْبَيْتِ وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلأوْ نَهَارٍ – رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّانَ Dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Bani Abdu Manaf, janganlah engkau melarang seseorang melakukan thawaf di Baitullah ini dan melakukan shalat pada waktu kapan saja baik malam maupun siang.” (Diriwayatkan oleh imam yang lima dan hadits ini shahih menurut At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban) [HR. Abu Daud, no. 1894; Tirmidzi, no. 868, An-Nasai, 1:284; Ibnu Majah, no. 1254; Ahmad, 27:297, Ibnu Hibban, 1552, 1553, 1554. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya perawi Muslim. Lihat Minhah Al-‘Allam, 2:210-211]   Faedah Hadits Bani Abdu Manaf adalah yang mengurus Masjidil Haram. Manaf adalah kakek keempat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena nama beliau adalah Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Muththalib bin Hasyim bin ‘Abdu Manaf. Bani Abdu Manaf punya kuasa di Masjidil Haram untuk melarang atau membuat aturan tertentu. Tidak boleh dilarang orang untuk thawaf walaupun pada waktu terlarang untuk shalat seperti bada Shubuh, bada Ashar, atau ketika matahari di atas kepala. Thawaf bukanlah shalat. Sebagian ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah memilih pendapat bahwa thawaf tidak disyaratkan bersuci. Tidak boleh penguasa melarang manusia yang punya hak untuk mengerjakan. Namun jika ada maslahat boleh saja yang punya kuasa melarang. Boleh melakukan thawaf pada waktu kapan pun, begitu pula shalat sunnah bada thawaf boleh dilakukan pada waktu apa pun meskipun pada waktu terlarang untuk shalat dikarenakan shalat sunnah bada thawaf adalah shalat sunnah yang punya sebab.   Hadits #168 وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; عَنْ اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – اَلشَّفَقُ اَلْحُمْرَةُ – رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَغَيْرُهُ وَقْفَهُ Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Asy-Syafaq adalah awan yang merah.” (Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan yang lainnya menyatakan hadits ini mauquf dari Ibnu Umar). [HR. Ad-Daruquthni, 1:269. Al-Baihaqi menyatakan hadits ini shahih secara mauquf, artinya hanya perkataan Ibnu Umar saja]   Faedah Hadits Hadits ini menunjukkan cahaya merah di ufuk barat bila hilang menunjukkan waktu Maghrib telah usai dan mulainya waktu shalat Isya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menyatakan bahwa cahaya merah di ufuk barat tersebut muncul sekitar 70-75 menit sebagaimana disebutkan dalam Fath Dzi Al-Jalali wa Al-Ikram, 2:100.   Hadits #169 وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – اَلْفَجْرُ فَجْرَانِ: فَجْرٌ يُحَرِّمُ اَلطَّعَامَ وَتَحِلُّ فِيهِ اَلصَّلَاةُ, وَفَجْرٌ تَحْرُمُ فِيهِ اَلصَّلَاةُ – أَيْ: صَلَاةُ اَلصُّبْحِ – وَيَحِلَّ فِيهِ اَلطَّعَامُ – رَوَاهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ, وَالْحَاكِمُ, وَصَحَّحَاهُ Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Fajar itu ada dua macam, yaitu fajar yang diharamkan makan dan diperbolehkan melakukan shalat; dan fajar yang diharamkan melakukan shalat yakni shalat Shubuh dan diperbolehkan makan makanan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim, menurut keduanya hadits ini shahih) [HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya, 1:184, 185; Al-Hakim, 1:191. Hadits ini mauquf—hanya perkataan sahabat–sebagaimana dikuatkan oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 2:216-217]   Hadits #170 وَلِلْحَاكِمِ فِي حَدِيثِ جَابِرٍ – رضي الله عنه – نَحْوُهُ, وَزَادَ فِي اَلَّذِي يُحَرِّمُ اَلطَّعَامَ: – إِنَّهُ يَذْهَبُ مُسْتَطِيلاً فِي اَلْأُفُقِ – وَفِي اَلْآخَرِ: – إِنَّهُ كَذَنَبِ اَلسِّرْحَان – Dalam riwayat Al-Hakim dari hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, ada hadits yang serupa dengannya dengan tambahan pada fajar yang mengharamkan makan makanan, “Fajar yang memanjang di ufuk.” Dalam riwayat yang lain, “Yaitu seperti seekor serigala.” [HR. Al-Hakim, 1:191; Al-Baihaqi, 1:377. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menguatkan hadits ini mursal sebagaimana disebutkan dalam Minhah Al-‘Allam, 1:217]   Faedah Hadits Ada dua fajar yang berbeda secara hukum dan sifat. Fajar pertama yaitu fajar kadzib, menjulang vertikal di ufuk; dan fajar kedua (fajar shodiq) memanjang di ufuk dan makin lama makin terang. Fajar pertama (fajar kadzib) tidak diharamkan makan (masih boleh makan sahur) dan masih belum dibolehkan dilaksanakannya shalat Shubuh. Fajar kedua (fajar shodiq), diharamkan makan bagi yang berpuasa, dan sudah boleh dilaksanakan shalat Shubuh karena sudah masuk waktunya. Fajar kadzib muncul sebagai persiapan untuk imsak dalam puasa dan persiapan shalat Shubuh, juga sebagai pengingat bahwa shalat Shubuh sudah semakin dekat dan yang sedang shalat malam segera menutupnya dengan shalat witir.   Hadits #171 وَعَنْ اِبْنِ مَسْعُودٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – أَفْضَلُ اَلْأَعْمَالِ اَلصَّلَاةُ فِي أَوَّلِ وَقْتِهَا – رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَالْحَاكِمُ. وَصَحَّحَاهُ وَأَصْلُهُ فِي “اَلصَّحِيحَيْنِ” Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal yang paling utama adalah shalat pada awal waktu.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Hakim, menurut keduanya hadits ini shahih. Asalnya dari Al-Bukhari dan Muslim). [HR. Hakim, 1:188, hadits ini tidak dikeluarkan Imam Tirmidzi. Hadits ini asalnya ada dalam shahihain].   Faedah Hadits Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat pada waktu yang ditentukan, tidak dikerjakan sebelum waktunya dan tidak diakhirkan sampai di luar waktu. Hadits ini menunjukkan perintah untuk bersegera dalam kebaikan. Paling bagus melaksanakan shalat lima waktu pada awal waktu kecuali shalat yang boleh diundur: shalat Zhuhur jika cuaca begitu panas dan shalat Isya boleh diakhirkan dengan melihat keadaan makmum. Shalat pada awal waktu adalah sebaik-baik amalan.   Referensi: Fath Dzi Al-Jalali wa Al-Ikram bi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1426 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madarul Wathan. Jilid kedua. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram.Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Kedua. — Diselesaikan di #darushsholihin, 9 Rajab 1440 H (15 Maret 2019, Jumat sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram waktu shalat jadwal waktu shalat tawaf pada waktu terlarang thawaf thawaf keliling kabah waktu shalat shubuh waktu shubuh waktu terlarang shalat waktu terlarang shalat bada ashar waktu terlarang shalat bada shubuh waktu-waktu shalat
Apakah boleh thawaf pada waktu terlarang untuk shalat?   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat – Bab Al-Mawaqit (Waktu Shalat)   Hadits #167 وَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ, لَا تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا اَلْبَيْتِ وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلأوْ نَهَارٍ – رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّانَ Dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Bani Abdu Manaf, janganlah engkau melarang seseorang melakukan thawaf di Baitullah ini dan melakukan shalat pada waktu kapan saja baik malam maupun siang.” (Diriwayatkan oleh imam yang lima dan hadits ini shahih menurut At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban) [HR. Abu Daud, no. 1894; Tirmidzi, no. 868, An-Nasai, 1:284; Ibnu Majah, no. 1254; Ahmad, 27:297, Ibnu Hibban, 1552, 1553, 1554. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya perawi Muslim. Lihat Minhah Al-‘Allam, 2:210-211]   Faedah Hadits Bani Abdu Manaf adalah yang mengurus Masjidil Haram. Manaf adalah kakek keempat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena nama beliau adalah Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Muththalib bin Hasyim bin ‘Abdu Manaf. Bani Abdu Manaf punya kuasa di Masjidil Haram untuk melarang atau membuat aturan tertentu. Tidak boleh dilarang orang untuk thawaf walaupun pada waktu terlarang untuk shalat seperti bada Shubuh, bada Ashar, atau ketika matahari di atas kepala. Thawaf bukanlah shalat. Sebagian ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah memilih pendapat bahwa thawaf tidak disyaratkan bersuci. Tidak boleh penguasa melarang manusia yang punya hak untuk mengerjakan. Namun jika ada maslahat boleh saja yang punya kuasa melarang. Boleh melakukan thawaf pada waktu kapan pun, begitu pula shalat sunnah bada thawaf boleh dilakukan pada waktu apa pun meskipun pada waktu terlarang untuk shalat dikarenakan shalat sunnah bada thawaf adalah shalat sunnah yang punya sebab.   Hadits #168 وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; عَنْ اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – اَلشَّفَقُ اَلْحُمْرَةُ – رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَغَيْرُهُ وَقْفَهُ Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Asy-Syafaq adalah awan yang merah.” (Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan yang lainnya menyatakan hadits ini mauquf dari Ibnu Umar). [HR. Ad-Daruquthni, 1:269. Al-Baihaqi menyatakan hadits ini shahih secara mauquf, artinya hanya perkataan Ibnu Umar saja]   Faedah Hadits Hadits ini menunjukkan cahaya merah di ufuk barat bila hilang menunjukkan waktu Maghrib telah usai dan mulainya waktu shalat Isya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menyatakan bahwa cahaya merah di ufuk barat tersebut muncul sekitar 70-75 menit sebagaimana disebutkan dalam Fath Dzi Al-Jalali wa Al-Ikram, 2:100.   Hadits #169 وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – اَلْفَجْرُ فَجْرَانِ: فَجْرٌ يُحَرِّمُ اَلطَّعَامَ وَتَحِلُّ فِيهِ اَلصَّلَاةُ, وَفَجْرٌ تَحْرُمُ فِيهِ اَلصَّلَاةُ – أَيْ: صَلَاةُ اَلصُّبْحِ – وَيَحِلَّ فِيهِ اَلطَّعَامُ – رَوَاهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ, وَالْحَاكِمُ, وَصَحَّحَاهُ Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Fajar itu ada dua macam, yaitu fajar yang diharamkan makan dan diperbolehkan melakukan shalat; dan fajar yang diharamkan melakukan shalat yakni shalat Shubuh dan diperbolehkan makan makanan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim, menurut keduanya hadits ini shahih) [HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya, 1:184, 185; Al-Hakim, 1:191. Hadits ini mauquf—hanya perkataan sahabat–sebagaimana dikuatkan oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 2:216-217]   Hadits #170 وَلِلْحَاكِمِ فِي حَدِيثِ جَابِرٍ – رضي الله عنه – نَحْوُهُ, وَزَادَ فِي اَلَّذِي يُحَرِّمُ اَلطَّعَامَ: – إِنَّهُ يَذْهَبُ مُسْتَطِيلاً فِي اَلْأُفُقِ – وَفِي اَلْآخَرِ: – إِنَّهُ كَذَنَبِ اَلسِّرْحَان – Dalam riwayat Al-Hakim dari hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, ada hadits yang serupa dengannya dengan tambahan pada fajar yang mengharamkan makan makanan, “Fajar yang memanjang di ufuk.” Dalam riwayat yang lain, “Yaitu seperti seekor serigala.” [HR. Al-Hakim, 1:191; Al-Baihaqi, 1:377. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menguatkan hadits ini mursal sebagaimana disebutkan dalam Minhah Al-‘Allam, 1:217]   Faedah Hadits Ada dua fajar yang berbeda secara hukum dan sifat. Fajar pertama yaitu fajar kadzib, menjulang vertikal di ufuk; dan fajar kedua (fajar shodiq) memanjang di ufuk dan makin lama makin terang. Fajar pertama (fajar kadzib) tidak diharamkan makan (masih boleh makan sahur) dan masih belum dibolehkan dilaksanakannya shalat Shubuh. Fajar kedua (fajar shodiq), diharamkan makan bagi yang berpuasa, dan sudah boleh dilaksanakan shalat Shubuh karena sudah masuk waktunya. Fajar kadzib muncul sebagai persiapan untuk imsak dalam puasa dan persiapan shalat Shubuh, juga sebagai pengingat bahwa shalat Shubuh sudah semakin dekat dan yang sedang shalat malam segera menutupnya dengan shalat witir.   Hadits #171 وَعَنْ اِبْنِ مَسْعُودٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – أَفْضَلُ اَلْأَعْمَالِ اَلصَّلَاةُ فِي أَوَّلِ وَقْتِهَا – رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَالْحَاكِمُ. وَصَحَّحَاهُ وَأَصْلُهُ فِي “اَلصَّحِيحَيْنِ” Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal yang paling utama adalah shalat pada awal waktu.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Hakim, menurut keduanya hadits ini shahih. Asalnya dari Al-Bukhari dan Muslim). [HR. Hakim, 1:188, hadits ini tidak dikeluarkan Imam Tirmidzi. Hadits ini asalnya ada dalam shahihain].   Faedah Hadits Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat pada waktu yang ditentukan, tidak dikerjakan sebelum waktunya dan tidak diakhirkan sampai di luar waktu. Hadits ini menunjukkan perintah untuk bersegera dalam kebaikan. Paling bagus melaksanakan shalat lima waktu pada awal waktu kecuali shalat yang boleh diundur: shalat Zhuhur jika cuaca begitu panas dan shalat Isya boleh diakhirkan dengan melihat keadaan makmum. Shalat pada awal waktu adalah sebaik-baik amalan.   Referensi: Fath Dzi Al-Jalali wa Al-Ikram bi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1426 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madarul Wathan. Jilid kedua. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram.Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Kedua. — Diselesaikan di #darushsholihin, 9 Rajab 1440 H (15 Maret 2019, Jumat sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram waktu shalat jadwal waktu shalat tawaf pada waktu terlarang thawaf thawaf keliling kabah waktu shalat shubuh waktu shubuh waktu terlarang shalat waktu terlarang shalat bada ashar waktu terlarang shalat bada shubuh waktu-waktu shalat


Apakah boleh thawaf pada waktu terlarang untuk shalat?   Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat – Bab Al-Mawaqit (Waktu Shalat)   Hadits #167 وَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ, لَا تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا اَلْبَيْتِ وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلأوْ نَهَارٍ – رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّانَ Dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Bani Abdu Manaf, janganlah engkau melarang seseorang melakukan thawaf di Baitullah ini dan melakukan shalat pada waktu kapan saja baik malam maupun siang.” (Diriwayatkan oleh imam yang lima dan hadits ini shahih menurut At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban) [HR. Abu Daud, no. 1894; Tirmidzi, no. 868, An-Nasai, 1:284; Ibnu Majah, no. 1254; Ahmad, 27:297, Ibnu Hibban, 1552, 1553, 1554. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya perawi Muslim. Lihat Minhah Al-‘Allam, 2:210-211]   Faedah Hadits Bani Abdu Manaf adalah yang mengurus Masjidil Haram. Manaf adalah kakek keempat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena nama beliau adalah Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Muththalib bin Hasyim bin ‘Abdu Manaf. Bani Abdu Manaf punya kuasa di Masjidil Haram untuk melarang atau membuat aturan tertentu. Tidak boleh dilarang orang untuk thawaf walaupun pada waktu terlarang untuk shalat seperti bada Shubuh, bada Ashar, atau ketika matahari di atas kepala. Thawaf bukanlah shalat. Sebagian ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah memilih pendapat bahwa thawaf tidak disyaratkan bersuci. Tidak boleh penguasa melarang manusia yang punya hak untuk mengerjakan. Namun jika ada maslahat boleh saja yang punya kuasa melarang. Boleh melakukan thawaf pada waktu kapan pun, begitu pula shalat sunnah bada thawaf boleh dilakukan pada waktu apa pun meskipun pada waktu terlarang untuk shalat dikarenakan shalat sunnah bada thawaf adalah shalat sunnah yang punya sebab.   Hadits #168 وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; عَنْ اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – اَلشَّفَقُ اَلْحُمْرَةُ – رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَغَيْرُهُ وَقْفَهُ Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Asy-Syafaq adalah awan yang merah.” (Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan yang lainnya menyatakan hadits ini mauquf dari Ibnu Umar). [HR. Ad-Daruquthni, 1:269. Al-Baihaqi menyatakan hadits ini shahih secara mauquf, artinya hanya perkataan Ibnu Umar saja]   Faedah Hadits Hadits ini menunjukkan cahaya merah di ufuk barat bila hilang menunjukkan waktu Maghrib telah usai dan mulainya waktu shalat Isya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menyatakan bahwa cahaya merah di ufuk barat tersebut muncul sekitar 70-75 menit sebagaimana disebutkan dalam Fath Dzi Al-Jalali wa Al-Ikram, 2:100.   Hadits #169 وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – اَلْفَجْرُ فَجْرَانِ: فَجْرٌ يُحَرِّمُ اَلطَّعَامَ وَتَحِلُّ فِيهِ اَلصَّلَاةُ, وَفَجْرٌ تَحْرُمُ فِيهِ اَلصَّلَاةُ – أَيْ: صَلَاةُ اَلصُّبْحِ – وَيَحِلَّ فِيهِ اَلطَّعَامُ – رَوَاهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ, وَالْحَاكِمُ, وَصَحَّحَاهُ Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Fajar itu ada dua macam, yaitu fajar yang diharamkan makan dan diperbolehkan melakukan shalat; dan fajar yang diharamkan melakukan shalat yakni shalat Shubuh dan diperbolehkan makan makanan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim, menurut keduanya hadits ini shahih) [HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya, 1:184, 185; Al-Hakim, 1:191. Hadits ini mauquf—hanya perkataan sahabat–sebagaimana dikuatkan oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 2:216-217]   Hadits #170 وَلِلْحَاكِمِ فِي حَدِيثِ جَابِرٍ – رضي الله عنه – نَحْوُهُ, وَزَادَ فِي اَلَّذِي يُحَرِّمُ اَلطَّعَامَ: – إِنَّهُ يَذْهَبُ مُسْتَطِيلاً فِي اَلْأُفُقِ – وَفِي اَلْآخَرِ: – إِنَّهُ كَذَنَبِ اَلسِّرْحَان – Dalam riwayat Al-Hakim dari hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, ada hadits yang serupa dengannya dengan tambahan pada fajar yang mengharamkan makan makanan, “Fajar yang memanjang di ufuk.” Dalam riwayat yang lain, “Yaitu seperti seekor serigala.” [HR. Al-Hakim, 1:191; Al-Baihaqi, 1:377. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menguatkan hadits ini mursal sebagaimana disebutkan dalam Minhah Al-‘Allam, 1:217]   Faedah Hadits Ada dua fajar yang berbeda secara hukum dan sifat. Fajar pertama yaitu fajar kadzib, menjulang vertikal di ufuk; dan fajar kedua (fajar shodiq) memanjang di ufuk dan makin lama makin terang. Fajar pertama (fajar kadzib) tidak diharamkan makan (masih boleh makan sahur) dan masih belum dibolehkan dilaksanakannya shalat Shubuh. Fajar kedua (fajar shodiq), diharamkan makan bagi yang berpuasa, dan sudah boleh dilaksanakan shalat Shubuh karena sudah masuk waktunya. Fajar kadzib muncul sebagai persiapan untuk imsak dalam puasa dan persiapan shalat Shubuh, juga sebagai pengingat bahwa shalat Shubuh sudah semakin dekat dan yang sedang shalat malam segera menutupnya dengan shalat witir.   Hadits #171 وَعَنْ اِبْنِ مَسْعُودٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – أَفْضَلُ اَلْأَعْمَالِ اَلصَّلَاةُ فِي أَوَّلِ وَقْتِهَا – رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَالْحَاكِمُ. وَصَحَّحَاهُ وَأَصْلُهُ فِي “اَلصَّحِيحَيْنِ” Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal yang paling utama adalah shalat pada awal waktu.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Hakim, menurut keduanya hadits ini shahih. Asalnya dari Al-Bukhari dan Muslim). [HR. Hakim, 1:188, hadits ini tidak dikeluarkan Imam Tirmidzi. Hadits ini asalnya ada dalam shahihain].   Faedah Hadits Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat pada waktu yang ditentukan, tidak dikerjakan sebelum waktunya dan tidak diakhirkan sampai di luar waktu. Hadits ini menunjukkan perintah untuk bersegera dalam kebaikan. Paling bagus melaksanakan shalat lima waktu pada awal waktu kecuali shalat yang boleh diundur: shalat Zhuhur jika cuaca begitu panas dan shalat Isya boleh diakhirkan dengan melihat keadaan makmum. Shalat pada awal waktu adalah sebaik-baik amalan.   Referensi: Fath Dzi Al-Jalali wa Al-Ikram bi Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan pertama, Tahun 1426 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madarul Wathan. Jilid kedua. Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram.Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Kedua. — Diselesaikan di #darushsholihin, 9 Rajab 1440 H (15 Maret 2019, Jumat sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsbulughul maram bulughul maram shalat bulughul maram waktu shalat jadwal waktu shalat tawaf pada waktu terlarang thawaf thawaf keliling kabah waktu shalat shubuh waktu shubuh waktu terlarang shalat waktu terlarang shalat bada ashar waktu terlarang shalat bada shubuh waktu-waktu shalat

Faedah Sirah Nabi: Pelajaran dari Dakwah ke Thaif #01

Apa saja pelajaran yang bisa diambil dari dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Thaif?   Pelajaran #01   Telah kita saksikan bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki kota Thaif, beliau memulai berdakwah kepada para pembesar Thaif. Hal ini memberi pelajaran bahwa seorang dai hendaknya memulai dakwahnya dengan kepala rumah tangga di tingkat keluarga, sebab seorang ayah memiliki pengaruh di dalam rumah tangganya. Jika dai berada di sebuah wilayah atau pedesaan, hendaknya ia menghargai posisi kepala wilayah tersebut dengan pertama kali berkunjung kepadanya, atau bahkan sangat dianjurkan kalau ia meminta izin kepadanya untuk berdakwah di wilayahnya. Dai yang tidak mampu membedakan antara yang kecil dan yang besar, dan antara tokoh dan orang biasa, ia akan sering mendapatkan kesalahan dalam dakwahnya. Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dakwahnya di Thaif dengan mendatangi para pemuka kaum, dan ketika mereka tidak menerima dakwah beliau, beliau pun pulang dan meninggalkan mereka.   Pelajaran #02   Kita juga memperhatikan bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa bahwa para tokoh itu tidak mau menerima dakwah beliau, maka beliau pun meminta kepada mereka agar merahasiakan kedatangan beliau kepada mereka. Ini mengajarkan kepada kita bahwa termasuk sikap yang bijaksana adalah ketika seseorang tidak mengatakan apa saja yang ia ketahui, tetapi hendaknya ada perkara-perkara tertentu yang harus ia rahasiakan dan tidak menyebarkannya kepada orang lain karena berbahaya. Di dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, اسْتَعِينُوا عَلَى إِنْجَاحِ الْحَوَائِجِ بِالْكِتْمَانِ، فَإِنَّ كُلَّ ذِي نِعْمَةٍ مَحْسُودٌ “Mintalah pertolongan (berupayalah) untuk mencapai keinginan-keinginan itu dengan merahasiakannya, sebab setiap orang yang mendapatkan kenikmatan itu ada yang dengki kepadanya.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 20:94. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1453 mengatakan bahwa hadits ini shahih). Sebenarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya meminta agar para pembesar Thaif itu merahasiakan perlakuan buruk mereka kepada beliau. Karena hal tersebut akan menambah senangnya musuh-musuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah. Dari sini juga, kita dapat ambil pelajaran bahwa tidak semua yang kita dengar perlu kita sebar. Dari Hafsh bin ‘Ashim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ “Cukup seseorang dikatakan dusta, jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar.” (HR. Muslim, no. 5). Imam Nawawi rahimahullah membawakan hadits di atas pada Shahih Muslim dalam judul Bab “Larangan membicarakan semua yang didengar.”   Pelajaran #03   Pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bergegas keluar dari Thaif dan orang-orang bodoh Thaif melempari beliau dengan batu, maka Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu memasang badan untuk melindungi beliau, maka Zaid pun banyak terkena lemparan batu sehingga tubuhnya banyak yang terluka. Ketika Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu memasang badannya untuk melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seharusnya kita pada hari ini, melindungi ajaran beliau dengan menjaganya. Kalau Zaid pada saat itu membela beliau, seharusnya kita saat ini membela sunnah (ajaran) beliau. Membela sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa diwujudkan dengan mengamalkannya dan memeliharanya serta sungguh-sungguh untuk meneladani perilaku beliau dan menghidupkan sunnah beliau dalam segala aspek kehidupan kita, kembali kepada ajaran beliau dan berhukum dengannya, dan meninggalkan bid’ah yang tidak termasuk dalam ajaran beliau. Di antara bentuk membela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِۖوَاتَّقُوا اللَّهَۚإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat: 1)   Pelajaran #04   Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari Thaif dan beliau mendapatkan kesulitan dan kepayahan yang luar biasa, maka beliau mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada Rabbnya, sebagaimana yang tersebut dalam banyak kitab sirah. Sikap mengadu kepada Allah di sini bukanlah menunjukkan sikap tidak sabar. Sebab sikap seorang muslim yang benar adalah bersabar atas segala yang dihadapi sambil mengangkat kedua tangannya untuk mengharapkan solusi dan jalan keluar dari Allah subhanahu wa ta’ala.   Pelajaran #05   Dianjurkan mengangkat tangan saat berdoa. Dari Salman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحِى إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ “Sesungguhnya Allah itu Maha Hidup lagi Mulia, Dia malu jika ada seseorang yang mengangkat tangan menghadap kepada-Nya lantas kedua tangan tersebut kembali dalam keadaan hampa dan tidak mendapatkan hasil apa-apa.” (HR. Tirmidzi, no. 3556. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   Pelajaran #06   Dalam kasus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dari kedua putra Rabi’ah yaitu Syaibah dan Utbah, yang mengirimkan setangkai buah anggur, kita mendapatkan pelajaran darinya bahwa boleh kita menerima hadiah dari orang kafir dan menggunakannya, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memakan buah anggur yang dikirim oleh orang kafir kepada beliau. Dan secara umum masih boleh bermuamalah untuk urusan dunia dengan mereka. Allah Ta’ala berfirman, لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8) Masih berlanjut pelajaran lainnya insya Allah. Semoga bermanfaat.   Referensi: Fiqh As-Sirah. Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Tahqiq: Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrahim Bajis. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Diselesaikan di #darushsholihin, 8 Rajab 1440 H (15 Maret 2019) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagscara dakwah dakwah dakwah ke thaif faedah sirah nabi sirah nabi strategi dakwah thaif

Faedah Sirah Nabi: Pelajaran dari Dakwah ke Thaif #01

Apa saja pelajaran yang bisa diambil dari dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Thaif?   Pelajaran #01   Telah kita saksikan bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki kota Thaif, beliau memulai berdakwah kepada para pembesar Thaif. Hal ini memberi pelajaran bahwa seorang dai hendaknya memulai dakwahnya dengan kepala rumah tangga di tingkat keluarga, sebab seorang ayah memiliki pengaruh di dalam rumah tangganya. Jika dai berada di sebuah wilayah atau pedesaan, hendaknya ia menghargai posisi kepala wilayah tersebut dengan pertama kali berkunjung kepadanya, atau bahkan sangat dianjurkan kalau ia meminta izin kepadanya untuk berdakwah di wilayahnya. Dai yang tidak mampu membedakan antara yang kecil dan yang besar, dan antara tokoh dan orang biasa, ia akan sering mendapatkan kesalahan dalam dakwahnya. Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dakwahnya di Thaif dengan mendatangi para pemuka kaum, dan ketika mereka tidak menerima dakwah beliau, beliau pun pulang dan meninggalkan mereka.   Pelajaran #02   Kita juga memperhatikan bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa bahwa para tokoh itu tidak mau menerima dakwah beliau, maka beliau pun meminta kepada mereka agar merahasiakan kedatangan beliau kepada mereka. Ini mengajarkan kepada kita bahwa termasuk sikap yang bijaksana adalah ketika seseorang tidak mengatakan apa saja yang ia ketahui, tetapi hendaknya ada perkara-perkara tertentu yang harus ia rahasiakan dan tidak menyebarkannya kepada orang lain karena berbahaya. Di dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, اسْتَعِينُوا عَلَى إِنْجَاحِ الْحَوَائِجِ بِالْكِتْمَانِ، فَإِنَّ كُلَّ ذِي نِعْمَةٍ مَحْسُودٌ “Mintalah pertolongan (berupayalah) untuk mencapai keinginan-keinginan itu dengan merahasiakannya, sebab setiap orang yang mendapatkan kenikmatan itu ada yang dengki kepadanya.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 20:94. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1453 mengatakan bahwa hadits ini shahih). Sebenarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya meminta agar para pembesar Thaif itu merahasiakan perlakuan buruk mereka kepada beliau. Karena hal tersebut akan menambah senangnya musuh-musuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah. Dari sini juga, kita dapat ambil pelajaran bahwa tidak semua yang kita dengar perlu kita sebar. Dari Hafsh bin ‘Ashim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ “Cukup seseorang dikatakan dusta, jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar.” (HR. Muslim, no. 5). Imam Nawawi rahimahullah membawakan hadits di atas pada Shahih Muslim dalam judul Bab “Larangan membicarakan semua yang didengar.”   Pelajaran #03   Pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bergegas keluar dari Thaif dan orang-orang bodoh Thaif melempari beliau dengan batu, maka Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu memasang badan untuk melindungi beliau, maka Zaid pun banyak terkena lemparan batu sehingga tubuhnya banyak yang terluka. Ketika Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu memasang badannya untuk melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seharusnya kita pada hari ini, melindungi ajaran beliau dengan menjaganya. Kalau Zaid pada saat itu membela beliau, seharusnya kita saat ini membela sunnah (ajaran) beliau. Membela sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa diwujudkan dengan mengamalkannya dan memeliharanya serta sungguh-sungguh untuk meneladani perilaku beliau dan menghidupkan sunnah beliau dalam segala aspek kehidupan kita, kembali kepada ajaran beliau dan berhukum dengannya, dan meninggalkan bid’ah yang tidak termasuk dalam ajaran beliau. Di antara bentuk membela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِۖوَاتَّقُوا اللَّهَۚإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat: 1)   Pelajaran #04   Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari Thaif dan beliau mendapatkan kesulitan dan kepayahan yang luar biasa, maka beliau mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada Rabbnya, sebagaimana yang tersebut dalam banyak kitab sirah. Sikap mengadu kepada Allah di sini bukanlah menunjukkan sikap tidak sabar. Sebab sikap seorang muslim yang benar adalah bersabar atas segala yang dihadapi sambil mengangkat kedua tangannya untuk mengharapkan solusi dan jalan keluar dari Allah subhanahu wa ta’ala.   Pelajaran #05   Dianjurkan mengangkat tangan saat berdoa. Dari Salman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحِى إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ “Sesungguhnya Allah itu Maha Hidup lagi Mulia, Dia malu jika ada seseorang yang mengangkat tangan menghadap kepada-Nya lantas kedua tangan tersebut kembali dalam keadaan hampa dan tidak mendapatkan hasil apa-apa.” (HR. Tirmidzi, no. 3556. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   Pelajaran #06   Dalam kasus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dari kedua putra Rabi’ah yaitu Syaibah dan Utbah, yang mengirimkan setangkai buah anggur, kita mendapatkan pelajaran darinya bahwa boleh kita menerima hadiah dari orang kafir dan menggunakannya, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memakan buah anggur yang dikirim oleh orang kafir kepada beliau. Dan secara umum masih boleh bermuamalah untuk urusan dunia dengan mereka. Allah Ta’ala berfirman, لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8) Masih berlanjut pelajaran lainnya insya Allah. Semoga bermanfaat.   Referensi: Fiqh As-Sirah. Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Tahqiq: Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrahim Bajis. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Diselesaikan di #darushsholihin, 8 Rajab 1440 H (15 Maret 2019) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagscara dakwah dakwah dakwah ke thaif faedah sirah nabi sirah nabi strategi dakwah thaif
Apa saja pelajaran yang bisa diambil dari dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Thaif?   Pelajaran #01   Telah kita saksikan bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki kota Thaif, beliau memulai berdakwah kepada para pembesar Thaif. Hal ini memberi pelajaran bahwa seorang dai hendaknya memulai dakwahnya dengan kepala rumah tangga di tingkat keluarga, sebab seorang ayah memiliki pengaruh di dalam rumah tangganya. Jika dai berada di sebuah wilayah atau pedesaan, hendaknya ia menghargai posisi kepala wilayah tersebut dengan pertama kali berkunjung kepadanya, atau bahkan sangat dianjurkan kalau ia meminta izin kepadanya untuk berdakwah di wilayahnya. Dai yang tidak mampu membedakan antara yang kecil dan yang besar, dan antara tokoh dan orang biasa, ia akan sering mendapatkan kesalahan dalam dakwahnya. Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dakwahnya di Thaif dengan mendatangi para pemuka kaum, dan ketika mereka tidak menerima dakwah beliau, beliau pun pulang dan meninggalkan mereka.   Pelajaran #02   Kita juga memperhatikan bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa bahwa para tokoh itu tidak mau menerima dakwah beliau, maka beliau pun meminta kepada mereka agar merahasiakan kedatangan beliau kepada mereka. Ini mengajarkan kepada kita bahwa termasuk sikap yang bijaksana adalah ketika seseorang tidak mengatakan apa saja yang ia ketahui, tetapi hendaknya ada perkara-perkara tertentu yang harus ia rahasiakan dan tidak menyebarkannya kepada orang lain karena berbahaya. Di dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, اسْتَعِينُوا عَلَى إِنْجَاحِ الْحَوَائِجِ بِالْكِتْمَانِ، فَإِنَّ كُلَّ ذِي نِعْمَةٍ مَحْسُودٌ “Mintalah pertolongan (berupayalah) untuk mencapai keinginan-keinginan itu dengan merahasiakannya, sebab setiap orang yang mendapatkan kenikmatan itu ada yang dengki kepadanya.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 20:94. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1453 mengatakan bahwa hadits ini shahih). Sebenarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya meminta agar para pembesar Thaif itu merahasiakan perlakuan buruk mereka kepada beliau. Karena hal tersebut akan menambah senangnya musuh-musuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah. Dari sini juga, kita dapat ambil pelajaran bahwa tidak semua yang kita dengar perlu kita sebar. Dari Hafsh bin ‘Ashim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ “Cukup seseorang dikatakan dusta, jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar.” (HR. Muslim, no. 5). Imam Nawawi rahimahullah membawakan hadits di atas pada Shahih Muslim dalam judul Bab “Larangan membicarakan semua yang didengar.”   Pelajaran #03   Pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bergegas keluar dari Thaif dan orang-orang bodoh Thaif melempari beliau dengan batu, maka Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu memasang badan untuk melindungi beliau, maka Zaid pun banyak terkena lemparan batu sehingga tubuhnya banyak yang terluka. Ketika Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu memasang badannya untuk melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seharusnya kita pada hari ini, melindungi ajaran beliau dengan menjaganya. Kalau Zaid pada saat itu membela beliau, seharusnya kita saat ini membela sunnah (ajaran) beliau. Membela sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa diwujudkan dengan mengamalkannya dan memeliharanya serta sungguh-sungguh untuk meneladani perilaku beliau dan menghidupkan sunnah beliau dalam segala aspek kehidupan kita, kembali kepada ajaran beliau dan berhukum dengannya, dan meninggalkan bid’ah yang tidak termasuk dalam ajaran beliau. Di antara bentuk membela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِۖوَاتَّقُوا اللَّهَۚإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat: 1)   Pelajaran #04   Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari Thaif dan beliau mendapatkan kesulitan dan kepayahan yang luar biasa, maka beliau mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada Rabbnya, sebagaimana yang tersebut dalam banyak kitab sirah. Sikap mengadu kepada Allah di sini bukanlah menunjukkan sikap tidak sabar. Sebab sikap seorang muslim yang benar adalah bersabar atas segala yang dihadapi sambil mengangkat kedua tangannya untuk mengharapkan solusi dan jalan keluar dari Allah subhanahu wa ta’ala.   Pelajaran #05   Dianjurkan mengangkat tangan saat berdoa. Dari Salman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحِى إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ “Sesungguhnya Allah itu Maha Hidup lagi Mulia, Dia malu jika ada seseorang yang mengangkat tangan menghadap kepada-Nya lantas kedua tangan tersebut kembali dalam keadaan hampa dan tidak mendapatkan hasil apa-apa.” (HR. Tirmidzi, no. 3556. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   Pelajaran #06   Dalam kasus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dari kedua putra Rabi’ah yaitu Syaibah dan Utbah, yang mengirimkan setangkai buah anggur, kita mendapatkan pelajaran darinya bahwa boleh kita menerima hadiah dari orang kafir dan menggunakannya, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memakan buah anggur yang dikirim oleh orang kafir kepada beliau. Dan secara umum masih boleh bermuamalah untuk urusan dunia dengan mereka. Allah Ta’ala berfirman, لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8) Masih berlanjut pelajaran lainnya insya Allah. Semoga bermanfaat.   Referensi: Fiqh As-Sirah. Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Tahqiq: Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrahim Bajis. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Diselesaikan di #darushsholihin, 8 Rajab 1440 H (15 Maret 2019) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagscara dakwah dakwah dakwah ke thaif faedah sirah nabi sirah nabi strategi dakwah thaif


Apa saja pelajaran yang bisa diambil dari dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Thaif?   Pelajaran #01   Telah kita saksikan bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki kota Thaif, beliau memulai berdakwah kepada para pembesar Thaif. Hal ini memberi pelajaran bahwa seorang dai hendaknya memulai dakwahnya dengan kepala rumah tangga di tingkat keluarga, sebab seorang ayah memiliki pengaruh di dalam rumah tangganya. Jika dai berada di sebuah wilayah atau pedesaan, hendaknya ia menghargai posisi kepala wilayah tersebut dengan pertama kali berkunjung kepadanya, atau bahkan sangat dianjurkan kalau ia meminta izin kepadanya untuk berdakwah di wilayahnya. Dai yang tidak mampu membedakan antara yang kecil dan yang besar, dan antara tokoh dan orang biasa, ia akan sering mendapatkan kesalahan dalam dakwahnya. Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dakwahnya di Thaif dengan mendatangi para pemuka kaum, dan ketika mereka tidak menerima dakwah beliau, beliau pun pulang dan meninggalkan mereka.   Pelajaran #02   Kita juga memperhatikan bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa bahwa para tokoh itu tidak mau menerima dakwah beliau, maka beliau pun meminta kepada mereka agar merahasiakan kedatangan beliau kepada mereka. Ini mengajarkan kepada kita bahwa termasuk sikap yang bijaksana adalah ketika seseorang tidak mengatakan apa saja yang ia ketahui, tetapi hendaknya ada perkara-perkara tertentu yang harus ia rahasiakan dan tidak menyebarkannya kepada orang lain karena berbahaya. Di dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, اسْتَعِينُوا عَلَى إِنْجَاحِ الْحَوَائِجِ بِالْكِتْمَانِ، فَإِنَّ كُلَّ ذِي نِعْمَةٍ مَحْسُودٌ “Mintalah pertolongan (berupayalah) untuk mencapai keinginan-keinginan itu dengan merahasiakannya, sebab setiap orang yang mendapatkan kenikmatan itu ada yang dengki kepadanya.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 20:94. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1453 mengatakan bahwa hadits ini shahih). Sebenarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya meminta agar para pembesar Thaif itu merahasiakan perlakuan buruk mereka kepada beliau. Karena hal tersebut akan menambah senangnya musuh-musuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah. Dari sini juga, kita dapat ambil pelajaran bahwa tidak semua yang kita dengar perlu kita sebar. Dari Hafsh bin ‘Ashim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ “Cukup seseorang dikatakan dusta, jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar.” (HR. Muslim, no. 5). Imam Nawawi rahimahullah membawakan hadits di atas pada Shahih Muslim dalam judul Bab “Larangan membicarakan semua yang didengar.”   Pelajaran #03   Pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bergegas keluar dari Thaif dan orang-orang bodoh Thaif melempari beliau dengan batu, maka Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu memasang badan untuk melindungi beliau, maka Zaid pun banyak terkena lemparan batu sehingga tubuhnya banyak yang terluka. Ketika Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu memasang badannya untuk melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seharusnya kita pada hari ini, melindungi ajaran beliau dengan menjaganya. Kalau Zaid pada saat itu membela beliau, seharusnya kita saat ini membela sunnah (ajaran) beliau. Membela sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa diwujudkan dengan mengamalkannya dan memeliharanya serta sungguh-sungguh untuk meneladani perilaku beliau dan menghidupkan sunnah beliau dalam segala aspek kehidupan kita, kembali kepada ajaran beliau dan berhukum dengannya, dan meninggalkan bid’ah yang tidak termasuk dalam ajaran beliau. Di antara bentuk membela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِۖوَاتَّقُوا اللَّهَۚإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat: 1)   Pelajaran #04   Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari Thaif dan beliau mendapatkan kesulitan dan kepayahan yang luar biasa, maka beliau mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada Rabbnya, sebagaimana yang tersebut dalam banyak kitab sirah. Sikap mengadu kepada Allah di sini bukanlah menunjukkan sikap tidak sabar. Sebab sikap seorang muslim yang benar adalah bersabar atas segala yang dihadapi sambil mengangkat kedua tangannya untuk mengharapkan solusi dan jalan keluar dari Allah subhanahu wa ta’ala.   Pelajaran #05   Dianjurkan mengangkat tangan saat berdoa. Dari Salman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحِى إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ “Sesungguhnya Allah itu Maha Hidup lagi Mulia, Dia malu jika ada seseorang yang mengangkat tangan menghadap kepada-Nya lantas kedua tangan tersebut kembali dalam keadaan hampa dan tidak mendapatkan hasil apa-apa.” (HR. Tirmidzi, no. 3556. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).   Pelajaran #06   Dalam kasus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dari kedua putra Rabi’ah yaitu Syaibah dan Utbah, yang mengirimkan setangkai buah anggur, kita mendapatkan pelajaran darinya bahwa boleh kita menerima hadiah dari orang kafir dan menggunakannya, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memakan buah anggur yang dikirim oleh orang kafir kepada beliau. Dan secara umum masih boleh bermuamalah untuk urusan dunia dengan mereka. Allah Ta’ala berfirman, لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8) Masih berlanjut pelajaran lainnya insya Allah. Semoga bermanfaat.   Referensi: Fiqh As-Sirah. Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah. Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Tahqiq: Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrahim Bajis. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Diselesaikan di #darushsholihin, 8 Rajab 1440 H (15 Maret 2019) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagscara dakwah dakwah dakwah ke thaif faedah sirah nabi sirah nabi strategi dakwah thaif

Manhajus Salikin: Sifat Shalat Nabi, Membaca Doa Iftitah

Masih melanjutkan bahasan sifat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kitab Manhajus Salikin karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah. Kali ini kita akan lihat bagaimana cara membaca doa iftitah atau istiftah.   Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin, وَيَقُوْلُ : ” سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ ، وَتَعَالَى جَدُّكَ ، وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ ” ، أَوْ غَيْرُهُ مِنَ الاِسْتِفْتَاحَاتِ الوَارِدَةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. “Lalu menyebut (doa istiftah): SUBHAANAKALLOHUMMA WA BI HAMDIKA WA TABAAROKASMUKA WA TA’AALAAJADDUKA WA LAA ILAHA GHOIRUK (artinya: Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau). Atau bisa pula membaca doa istiftah lainnya yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”   Berbagai Bentuk Doa Istiftah   Doa Istiftah #01 سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ “SUBHAANAKALLOHUMMA WA BI HAMDIKA WA TABAAROKASMUKA WA TA’AALAAJADDUKA WA LAA ILAHA GHOIRUK (artinya: Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau).” (HR. Muslim, no. 399; Abu Daud, no. 775;Tirmidzi, no. 242; Ibnu Majah, no. 804). Ibnu Taimiyah menyatakan, “Disunnahkan membaca doa istiftah tersebut dalam shalat wajib. Sedangkan doa istiftah yang lain dianjurkan oleh sebagian ulama untuk dibaca pada shalat nafilah (shalat sunnah).” (Kitab Shifat Ash-Shalah min SyarhAl-‘Umdahkarya Ibnu Taimiyah, hlm. 86). Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaad Al-Ma’ad (1:194) berkata, “Ada riwayat shahih dari ‘Umar bahwa ia mencontohkan membaca doa istiftah seperti ini dan menganggap bahwa inilah kebiasaan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Umar menjaherkannya dan mengajarkannya kepada yang lainnya. Apa yang dilakukan ‘Umar di sini dapat dihukumi marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Imam Ahmad sampai-sampai mengatakan, ‘Adapun saya, biasa memakai doa istiftah seperti yang dibaca oleh ‘Umar. Seandainya yang lainnya mengamalkan doa istiftah model lain, maka itu juga baik.”   Doa Istiftah #02 اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ “ALLOHUMMA BAA’ID BAYNII WA BAYNA KHOTHOYAAYA KAMAA BAA’ADTA BAYNAL MASYRIQI WAL MAGHRIB. ALLOHUMMA NAQQINII MIN KHOTHOYAAYA KAMAA YUNAQQOTS TSAUBUL ABYADHU MINAD DANAS. ALLOHUMMAGH-SILNII MIN KHOTHOYAAYA BIL MAA-I WATS TSALJI WAL BAROD (artinya: Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun).” (HR. Bukhari,no. 744;Muslim,no. 598;An-Nasa’i,no. 896;teks haditsnyaadalah dari An-Nasa’i).   Doa Istiftah #03 Biasa dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat malam. اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اِهْدِنِى لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِى مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ “ALLOHUMMA ROBBA JIBROO-IILA WA MII-KA-IILA WA ISROOFIILA, FAATHIROS SAMAAWAATI WAL ARDHI ‘ALIIMAL GHOIBI WASY SYAHAADAH ANTA TAHKUMU BAYNA ‘IBAADIKA FIIMAA KAANUU FIIHI YAKHTALIFUUN, IHDINII LIMAKHTULIFA FIIHI MINAL HAQQI BI-IDZNIK, INNAKA TAHDI MAN TASYAA-U ILAA SHIROOTIM MUSTAQIIM (artinya: Ya Allah, Rabbnya Jibril, Mikail dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Rabb yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum untuk memutuskan apa yang mereka pertentangkan. Tunjukkanlah aku pada kebenaran apa yang dipertentangkan dengan seizin dari-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus bagi orang yang Engkau kehendaki).” (HR. Muslim, no. 770)   Doa Istiftah #04 اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ مِنْ نَفْخِهِ وَنَفْثِهِ وَهَمْزِهِ “ALLOHU AKBAR KABIIRO, ALLOHU AKBAR KABIIRO, ALLOHU AKBAR KABIIRO, WALHAMDULILLAHI KATSIIRO, WALHAMDULILLAHI KATSIIRO, WALHAMDULILLAHI KATSIIRO, WA SUBHANALLAHI BUKROTAW WASHIILAA, WA SUBHANALLAHI BUKROTAW WASHIILAA, WA SUBHANALLAHI BUKROTAW WASHIILA A’UDZU BILLAHI MINASY SYAITHOONI MIN NAFKHIHI, WA NAFTSHIHI, WA HAMZIH (artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Aku berlindung kepada Allah dari tiupan, bisikan, dan godaan setan).” (HR. Abu Daud, no. 764; Ibnu Majah, no. 807; Ahmad, 4:80,85. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan ‘Abdul Qadir Al-Arnauth dalam tahqiq Zaad Al-Ma’ad, 1:197 mengatakan bahwa hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al-Hakim dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi). Sebagaimana kata penulis Ghayah Al-Muqtashidin (1:210), baiknya tidak menggabungkan di antara doa istiftah yang ada. Para ulama seperti Ibnu Taimiyyah, Syaikh As-Sa’di, Syaikh Ibnu Baz, dan Syaikh Ibnu Utsaimin menyatakan bahwa dianjurkan mengamalkan doa istiftah di atas secara bergantian, kadang baca yang satu, di kesempatan yang lainnya baca doa istiftah lainnya. Lihat Mulakhash Fiqh Al-‘Ibadat, hlm. 208. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Jika ada yang lupa membaca doa istiftah pada tempatnya, maka ia tidak perlu mengganti di rakaat kedua.” (Kitab Shifat Ash-Shalah min SyarhAl-‘Umdah, hlm. 97) Semoga bermanfaat. Nantikan bahasan sifat shalat selanjutnya.   Referensi: Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Mulakhash Fiqh Al-‘Ibadat.I’dad: Al-Qism Al-‘Ilmi bi Muassasah Ad-Duror As-Saniyyah. Musyrif: Syaikh ‘Alawi bin ‘Abdul Qadir As-Saqqaf. Penerbit Ad-Duror As-Saniyyah. dorar.net. Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. — Diselesaikan di #darushsholihin, 7 Rajab 1440 H (14 Maret 2019) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagscara baca doa iftitah cara shalat nabi doa iftitah doa istiftah macam-macam doa iftitah manhajus salikin shalat nabi sifat shalat nabi

Manhajus Salikin: Sifat Shalat Nabi, Membaca Doa Iftitah

Masih melanjutkan bahasan sifat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kitab Manhajus Salikin karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah. Kali ini kita akan lihat bagaimana cara membaca doa iftitah atau istiftah.   Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin, وَيَقُوْلُ : ” سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ ، وَتَعَالَى جَدُّكَ ، وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ ” ، أَوْ غَيْرُهُ مِنَ الاِسْتِفْتَاحَاتِ الوَارِدَةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. “Lalu menyebut (doa istiftah): SUBHAANAKALLOHUMMA WA BI HAMDIKA WA TABAAROKASMUKA WA TA’AALAAJADDUKA WA LAA ILAHA GHOIRUK (artinya: Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau). Atau bisa pula membaca doa istiftah lainnya yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”   Berbagai Bentuk Doa Istiftah   Doa Istiftah #01 سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ “SUBHAANAKALLOHUMMA WA BI HAMDIKA WA TABAAROKASMUKA WA TA’AALAAJADDUKA WA LAA ILAHA GHOIRUK (artinya: Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau).” (HR. Muslim, no. 399; Abu Daud, no. 775;Tirmidzi, no. 242; Ibnu Majah, no. 804). Ibnu Taimiyah menyatakan, “Disunnahkan membaca doa istiftah tersebut dalam shalat wajib. Sedangkan doa istiftah yang lain dianjurkan oleh sebagian ulama untuk dibaca pada shalat nafilah (shalat sunnah).” (Kitab Shifat Ash-Shalah min SyarhAl-‘Umdahkarya Ibnu Taimiyah, hlm. 86). Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaad Al-Ma’ad (1:194) berkata, “Ada riwayat shahih dari ‘Umar bahwa ia mencontohkan membaca doa istiftah seperti ini dan menganggap bahwa inilah kebiasaan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Umar menjaherkannya dan mengajarkannya kepada yang lainnya. Apa yang dilakukan ‘Umar di sini dapat dihukumi marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Imam Ahmad sampai-sampai mengatakan, ‘Adapun saya, biasa memakai doa istiftah seperti yang dibaca oleh ‘Umar. Seandainya yang lainnya mengamalkan doa istiftah model lain, maka itu juga baik.”   Doa Istiftah #02 اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ “ALLOHUMMA BAA’ID BAYNII WA BAYNA KHOTHOYAAYA KAMAA BAA’ADTA BAYNAL MASYRIQI WAL MAGHRIB. ALLOHUMMA NAQQINII MIN KHOTHOYAAYA KAMAA YUNAQQOTS TSAUBUL ABYADHU MINAD DANAS. ALLOHUMMAGH-SILNII MIN KHOTHOYAAYA BIL MAA-I WATS TSALJI WAL BAROD (artinya: Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun).” (HR. Bukhari,no. 744;Muslim,no. 598;An-Nasa’i,no. 896;teks haditsnyaadalah dari An-Nasa’i).   Doa Istiftah #03 Biasa dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat malam. اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اِهْدِنِى لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِى مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ “ALLOHUMMA ROBBA JIBROO-IILA WA MII-KA-IILA WA ISROOFIILA, FAATHIROS SAMAAWAATI WAL ARDHI ‘ALIIMAL GHOIBI WASY SYAHAADAH ANTA TAHKUMU BAYNA ‘IBAADIKA FIIMAA KAANUU FIIHI YAKHTALIFUUN, IHDINII LIMAKHTULIFA FIIHI MINAL HAQQI BI-IDZNIK, INNAKA TAHDI MAN TASYAA-U ILAA SHIROOTIM MUSTAQIIM (artinya: Ya Allah, Rabbnya Jibril, Mikail dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Rabb yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum untuk memutuskan apa yang mereka pertentangkan. Tunjukkanlah aku pada kebenaran apa yang dipertentangkan dengan seizin dari-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus bagi orang yang Engkau kehendaki).” (HR. Muslim, no. 770)   Doa Istiftah #04 اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ مِنْ نَفْخِهِ وَنَفْثِهِ وَهَمْزِهِ “ALLOHU AKBAR KABIIRO, ALLOHU AKBAR KABIIRO, ALLOHU AKBAR KABIIRO, WALHAMDULILLAHI KATSIIRO, WALHAMDULILLAHI KATSIIRO, WALHAMDULILLAHI KATSIIRO, WA SUBHANALLAHI BUKROTAW WASHIILAA, WA SUBHANALLAHI BUKROTAW WASHIILAA, WA SUBHANALLAHI BUKROTAW WASHIILA A’UDZU BILLAHI MINASY SYAITHOONI MIN NAFKHIHI, WA NAFTSHIHI, WA HAMZIH (artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Aku berlindung kepada Allah dari tiupan, bisikan, dan godaan setan).” (HR. Abu Daud, no. 764; Ibnu Majah, no. 807; Ahmad, 4:80,85. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan ‘Abdul Qadir Al-Arnauth dalam tahqiq Zaad Al-Ma’ad, 1:197 mengatakan bahwa hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al-Hakim dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi). Sebagaimana kata penulis Ghayah Al-Muqtashidin (1:210), baiknya tidak menggabungkan di antara doa istiftah yang ada. Para ulama seperti Ibnu Taimiyyah, Syaikh As-Sa’di, Syaikh Ibnu Baz, dan Syaikh Ibnu Utsaimin menyatakan bahwa dianjurkan mengamalkan doa istiftah di atas secara bergantian, kadang baca yang satu, di kesempatan yang lainnya baca doa istiftah lainnya. Lihat Mulakhash Fiqh Al-‘Ibadat, hlm. 208. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Jika ada yang lupa membaca doa istiftah pada tempatnya, maka ia tidak perlu mengganti di rakaat kedua.” (Kitab Shifat Ash-Shalah min SyarhAl-‘Umdah, hlm. 97) Semoga bermanfaat. Nantikan bahasan sifat shalat selanjutnya.   Referensi: Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Mulakhash Fiqh Al-‘Ibadat.I’dad: Al-Qism Al-‘Ilmi bi Muassasah Ad-Duror As-Saniyyah. Musyrif: Syaikh ‘Alawi bin ‘Abdul Qadir As-Saqqaf. Penerbit Ad-Duror As-Saniyyah. dorar.net. Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. — Diselesaikan di #darushsholihin, 7 Rajab 1440 H (14 Maret 2019) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagscara baca doa iftitah cara shalat nabi doa iftitah doa istiftah macam-macam doa iftitah manhajus salikin shalat nabi sifat shalat nabi
Masih melanjutkan bahasan sifat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kitab Manhajus Salikin karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah. Kali ini kita akan lihat bagaimana cara membaca doa iftitah atau istiftah.   Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin, وَيَقُوْلُ : ” سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ ، وَتَعَالَى جَدُّكَ ، وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ ” ، أَوْ غَيْرُهُ مِنَ الاِسْتِفْتَاحَاتِ الوَارِدَةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. “Lalu menyebut (doa istiftah): SUBHAANAKALLOHUMMA WA BI HAMDIKA WA TABAAROKASMUKA WA TA’AALAAJADDUKA WA LAA ILAHA GHOIRUK (artinya: Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau). Atau bisa pula membaca doa istiftah lainnya yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”   Berbagai Bentuk Doa Istiftah   Doa Istiftah #01 سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ “SUBHAANAKALLOHUMMA WA BI HAMDIKA WA TABAAROKASMUKA WA TA’AALAAJADDUKA WA LAA ILAHA GHOIRUK (artinya: Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau).” (HR. Muslim, no. 399; Abu Daud, no. 775;Tirmidzi, no. 242; Ibnu Majah, no. 804). Ibnu Taimiyah menyatakan, “Disunnahkan membaca doa istiftah tersebut dalam shalat wajib. Sedangkan doa istiftah yang lain dianjurkan oleh sebagian ulama untuk dibaca pada shalat nafilah (shalat sunnah).” (Kitab Shifat Ash-Shalah min SyarhAl-‘Umdahkarya Ibnu Taimiyah, hlm. 86). Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaad Al-Ma’ad (1:194) berkata, “Ada riwayat shahih dari ‘Umar bahwa ia mencontohkan membaca doa istiftah seperti ini dan menganggap bahwa inilah kebiasaan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Umar menjaherkannya dan mengajarkannya kepada yang lainnya. Apa yang dilakukan ‘Umar di sini dapat dihukumi marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Imam Ahmad sampai-sampai mengatakan, ‘Adapun saya, biasa memakai doa istiftah seperti yang dibaca oleh ‘Umar. Seandainya yang lainnya mengamalkan doa istiftah model lain, maka itu juga baik.”   Doa Istiftah #02 اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ “ALLOHUMMA BAA’ID BAYNII WA BAYNA KHOTHOYAAYA KAMAA BAA’ADTA BAYNAL MASYRIQI WAL MAGHRIB. ALLOHUMMA NAQQINII MIN KHOTHOYAAYA KAMAA YUNAQQOTS TSAUBUL ABYADHU MINAD DANAS. ALLOHUMMAGH-SILNII MIN KHOTHOYAAYA BIL MAA-I WATS TSALJI WAL BAROD (artinya: Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun).” (HR. Bukhari,no. 744;Muslim,no. 598;An-Nasa’i,no. 896;teks haditsnyaadalah dari An-Nasa’i).   Doa Istiftah #03 Biasa dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat malam. اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اِهْدِنِى لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِى مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ “ALLOHUMMA ROBBA JIBROO-IILA WA MII-KA-IILA WA ISROOFIILA, FAATHIROS SAMAAWAATI WAL ARDHI ‘ALIIMAL GHOIBI WASY SYAHAADAH ANTA TAHKUMU BAYNA ‘IBAADIKA FIIMAA KAANUU FIIHI YAKHTALIFUUN, IHDINII LIMAKHTULIFA FIIHI MINAL HAQQI BI-IDZNIK, INNAKA TAHDI MAN TASYAA-U ILAA SHIROOTIM MUSTAQIIM (artinya: Ya Allah, Rabbnya Jibril, Mikail dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Rabb yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum untuk memutuskan apa yang mereka pertentangkan. Tunjukkanlah aku pada kebenaran apa yang dipertentangkan dengan seizin dari-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus bagi orang yang Engkau kehendaki).” (HR. Muslim, no. 770)   Doa Istiftah #04 اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ مِنْ نَفْخِهِ وَنَفْثِهِ وَهَمْزِهِ “ALLOHU AKBAR KABIIRO, ALLOHU AKBAR KABIIRO, ALLOHU AKBAR KABIIRO, WALHAMDULILLAHI KATSIIRO, WALHAMDULILLAHI KATSIIRO, WALHAMDULILLAHI KATSIIRO, WA SUBHANALLAHI BUKROTAW WASHIILAA, WA SUBHANALLAHI BUKROTAW WASHIILAA, WA SUBHANALLAHI BUKROTAW WASHIILA A’UDZU BILLAHI MINASY SYAITHOONI MIN NAFKHIHI, WA NAFTSHIHI, WA HAMZIH (artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Aku berlindung kepada Allah dari tiupan, bisikan, dan godaan setan).” (HR. Abu Daud, no. 764; Ibnu Majah, no. 807; Ahmad, 4:80,85. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan ‘Abdul Qadir Al-Arnauth dalam tahqiq Zaad Al-Ma’ad, 1:197 mengatakan bahwa hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al-Hakim dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi). Sebagaimana kata penulis Ghayah Al-Muqtashidin (1:210), baiknya tidak menggabungkan di antara doa istiftah yang ada. Para ulama seperti Ibnu Taimiyyah, Syaikh As-Sa’di, Syaikh Ibnu Baz, dan Syaikh Ibnu Utsaimin menyatakan bahwa dianjurkan mengamalkan doa istiftah di atas secara bergantian, kadang baca yang satu, di kesempatan yang lainnya baca doa istiftah lainnya. Lihat Mulakhash Fiqh Al-‘Ibadat, hlm. 208. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Jika ada yang lupa membaca doa istiftah pada tempatnya, maka ia tidak perlu mengganti di rakaat kedua.” (Kitab Shifat Ash-Shalah min SyarhAl-‘Umdah, hlm. 97) Semoga bermanfaat. Nantikan bahasan sifat shalat selanjutnya.   Referensi: Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Mulakhash Fiqh Al-‘Ibadat.I’dad: Al-Qism Al-‘Ilmi bi Muassasah Ad-Duror As-Saniyyah. Musyrif: Syaikh ‘Alawi bin ‘Abdul Qadir As-Saqqaf. Penerbit Ad-Duror As-Saniyyah. dorar.net. Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. — Diselesaikan di #darushsholihin, 7 Rajab 1440 H (14 Maret 2019) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagscara baca doa iftitah cara shalat nabi doa iftitah doa istiftah macam-macam doa iftitah manhajus salikin shalat nabi sifat shalat nabi


Masih melanjutkan bahasan sifat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kitab Manhajus Salikin karya Syaikh As-Sa’di rahimahullah. Kali ini kita akan lihat bagaimana cara membaca doa iftitah atau istiftah.   Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin, وَيَقُوْلُ : ” سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ ، وَتَعَالَى جَدُّكَ ، وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ ” ، أَوْ غَيْرُهُ مِنَ الاِسْتِفْتَاحَاتِ الوَارِدَةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. “Lalu menyebut (doa istiftah): SUBHAANAKALLOHUMMA WA BI HAMDIKA WA TABAAROKASMUKA WA TA’AALAAJADDUKA WA LAA ILAHA GHOIRUK (artinya: Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau). Atau bisa pula membaca doa istiftah lainnya yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”   Berbagai Bentuk Doa Istiftah   Doa Istiftah #01 سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ “SUBHAANAKALLOHUMMA WA BI HAMDIKA WA TABAAROKASMUKA WA TA’AALAAJADDUKA WA LAA ILAHA GHOIRUK (artinya: Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau).” (HR. Muslim, no. 399; Abu Daud, no. 775;Tirmidzi, no. 242; Ibnu Majah, no. 804). Ibnu Taimiyah menyatakan, “Disunnahkan membaca doa istiftah tersebut dalam shalat wajib. Sedangkan doa istiftah yang lain dianjurkan oleh sebagian ulama untuk dibaca pada shalat nafilah (shalat sunnah).” (Kitab Shifat Ash-Shalah min SyarhAl-‘Umdahkarya Ibnu Taimiyah, hlm. 86). Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaad Al-Ma’ad (1:194) berkata, “Ada riwayat shahih dari ‘Umar bahwa ia mencontohkan membaca doa istiftah seperti ini dan menganggap bahwa inilah kebiasaan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Umar menjaherkannya dan mengajarkannya kepada yang lainnya. Apa yang dilakukan ‘Umar di sini dapat dihukumi marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Imam Ahmad sampai-sampai mengatakan, ‘Adapun saya, biasa memakai doa istiftah seperti yang dibaca oleh ‘Umar. Seandainya yang lainnya mengamalkan doa istiftah model lain, maka itu juga baik.”   Doa Istiftah #02 اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ “ALLOHUMMA BAA’ID BAYNII WA BAYNA KHOTHOYAAYA KAMAA BAA’ADTA BAYNAL MASYRIQI WAL MAGHRIB. ALLOHUMMA NAQQINII MIN KHOTHOYAAYA KAMAA YUNAQQOTS TSAUBUL ABYADHU MINAD DANAS. ALLOHUMMAGH-SILNII MIN KHOTHOYAAYA BIL MAA-I WATS TSALJI WAL BAROD (artinya: Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun).” (HR. Bukhari,no. 744;Muslim,no. 598;An-Nasa’i,no. 896;teks haditsnyaadalah dari An-Nasa’i).   Doa Istiftah #03 Biasa dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat malam. اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اِهْدِنِى لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِى مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ “ALLOHUMMA ROBBA JIBROO-IILA WA MII-KA-IILA WA ISROOFIILA, FAATHIROS SAMAAWAATI WAL ARDHI ‘ALIIMAL GHOIBI WASY SYAHAADAH ANTA TAHKUMU BAYNA ‘IBAADIKA FIIMAA KAANUU FIIHI YAKHTALIFUUN, IHDINII LIMAKHTULIFA FIIHI MINAL HAQQI BI-IDZNIK, INNAKA TAHDI MAN TASYAA-U ILAA SHIROOTIM MUSTAQIIM (artinya: Ya Allah, Rabbnya Jibril, Mikail dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Rabb yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum untuk memutuskan apa yang mereka pertentangkan. Tunjukkanlah aku pada kebenaran apa yang dipertentangkan dengan seizin dari-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus bagi orang yang Engkau kehendaki).” (HR. Muslim, no. 770)   Doa Istiftah #04 اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ مِنْ نَفْخِهِ وَنَفْثِهِ وَهَمْزِهِ “ALLOHU AKBAR KABIIRO, ALLOHU AKBAR KABIIRO, ALLOHU AKBAR KABIIRO, WALHAMDULILLAHI KATSIIRO, WALHAMDULILLAHI KATSIIRO, WALHAMDULILLAHI KATSIIRO, WA SUBHANALLAHI BUKROTAW WASHIILAA, WA SUBHANALLAHI BUKROTAW WASHIILAA, WA SUBHANALLAHI BUKROTAW WASHIILA A’UDZU BILLAHI MINASY SYAITHOONI MIN NAFKHIHI, WA NAFTSHIHI, WA HAMZIH (artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Aku berlindung kepada Allah dari tiupan, bisikan, dan godaan setan).” (HR. Abu Daud, no. 764; Ibnu Majah, no. 807; Ahmad, 4:80,85. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan ‘Abdul Qadir Al-Arnauth dalam tahqiq Zaad Al-Ma’ad, 1:197 mengatakan bahwa hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al-Hakim dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi). Sebagaimana kata penulis Ghayah Al-Muqtashidin (1:210), baiknya tidak menggabungkan di antara doa istiftah yang ada. Para ulama seperti Ibnu Taimiyyah, Syaikh As-Sa’di, Syaikh Ibnu Baz, dan Syaikh Ibnu Utsaimin menyatakan bahwa dianjurkan mengamalkan doa istiftah di atas secara bergantian, kadang baca yang satu, di kesempatan yang lainnya baca doa istiftah lainnya. Lihat Mulakhash Fiqh Al-‘Ibadat, hlm. 208. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Jika ada yang lupa membaca doa istiftah pada tempatnya, maka ia tidak perlu mengganti di rakaat kedua.” (Kitab Shifat Ash-Shalah min SyarhAl-‘Umdah, hlm. 97) Semoga bermanfaat. Nantikan bahasan sifat shalat selanjutnya.   Referensi: Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Mulakhash Fiqh Al-‘Ibadat.I’dad: Al-Qism Al-‘Ilmi bi Muassasah Ad-Duror As-Saniyyah. Musyrif: Syaikh ‘Alawi bin ‘Abdul Qadir As-Saqqaf. Penerbit Ad-Duror As-Saniyyah. dorar.net. Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. — Diselesaikan di #darushsholihin, 7 Rajab 1440 H (14 Maret 2019) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagscara baca doa iftitah cara shalat nabi doa iftitah doa istiftah macam-macam doa iftitah manhajus salikin shalat nabi sifat shalat nabi

Tafsir Surat An-Naba’ Ayat 1 – 30 (Bagian Kesatu) – Tafsir Juz ‘Amma

Surat pertama dari juz ‘amma yang akan kita selami kandungannya adalah surat an-Naba’ yaitu surat ke 78. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :1) عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ“Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?” (QS An-Naba’ : 1)Ayat ini turun sebagai bantahan terhadap orang-orang musyrikin, yang mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala namun mereka mengingkari adanya hari kiamat. Orang-orang musyrikin mengakui akan adanya pencipta, mereka mengenal Allah Subhanallahu wata’ala. Dalil-dalil bahwasanya orang-orang musyrikin mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala sangatlah banyak. Seperti firman Allah Subhanallahu wata’ala:وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُDan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. (QS Luqman : 25)وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (61) اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (62) وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ (63)Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi serta menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka mengapa mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya). (QS al-‘Ankabut : 61-63)وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ (9)Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. (QS Az-Zukhruf : 9)وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (87)Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka akan menjawab: “Allah”, maka mengapa mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? (QS Az-Zukhruf : 87)قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (84) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (85) قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (86) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ (87) قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (88) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ (89)Katakanlah (Muhammad), “Milik siapakah bumi, dan semua yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ´Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (Al-Mukminun : 84-89)Oleh karena itu, banyak diantara orang-orang musyrikin yang bernama Abdullah yang artinya hamba Allah Subhanallahu wata’ala. Demikian juga orang-orang musyrikin dahulu mereka berhaji sebagaimana kaum muslimin berhaji, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadist-hadist yang shahih tentang bagaimana kaum musyrikin melaksankaan ibadah haji dan umrah. Hanya saja mereka mencampurkan haji mereka dengan syirik dan bid’ah tidak sebagaimana haji yang dilakukan oleh leluhur mereka yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ‘alaihimas salaam.Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma ia berkata,كَانَ الْمُشْرِكُونَ يَقُولُونَ: لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، قَالَ: فَيَقُولُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَيْلَكُمْ، قَدْ قَدْ» فَيَقُولُونَ: إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ، تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ، يَقُولُونَ هَذَا وَهُمْ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ“Kaum musyrikin berkata, “Labbaika laa syarika laka” (Ya Allah kami memenuhi panggilanMu, tidak ada sekutu bagiMu). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Celaka kalian, cukuplah, cukupkanlah!). Maka mereka (kaum musyrikin) berkata (dengan menambah), “illa syarikan huwa laka, tamlikuhu wamaa malaka” (Kecuali sekutu milikMu yang Engkau memilikinya dan ia tidak memiliki). Mereka mengucapkan hal ini sambil thawaf di ka’bah.” (HR. Muslim No. 1185)Intinya adalah orang-orang musyrikin mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala, hanya saja mereka mengingkari adanya hari kebangkitan. Sehingga tatkala Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam diutus oleh Allah Subhanallahu wata’ala dan mengingatkan kepada kaum musyrikin akan adanya hari kebangkitan seakan-akan beliau berkata, “Hai kalian kaum musyrikin yang terjerumus kedalam berbagai macam kemaksiatan, yang terjerumus kedalam berbagai macam kesyirikan, dan praktek-praktek perkara yang diharamkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala kalian akan dibangkitkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala dan kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang telah kalian lakukan” maka ini menjadi buah bibir diantara mereka, mereka saling berbicara ada apa gerangan? Muhammad telah mengabarkan akan terjadinya hari kiamat. Seketika menjadi buah bibir yang hangat di kalangan mereka. Mereka bertanya-tanya mengapa hari kiamat bisa terjadi? Seakan-akan otak mereka tidak menerima akan adanya hari kiamat, mereka mengingkari bagaimana bisa manusia yang sudah meninggal dunia kemudian menjadi tulang-belulang bahkan tulang belulang tersebut sudah melumat dengan tanah tetapi masih bisa dibangkitkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala? Keheranan ini menimbulkan tanya diantara mereka. Inilah yang Allah Subhanallahu wata’ala sebutkan dalam Al Quran,عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ “Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?”Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:2) عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ“mereka bertanya tentang berita yang besar.” (QS An-Naba’ : 2)An-Naba’ dalam bahasa arab artinya berita, yaitu berita yang penting yang sedang mereka bicarakan. Bahkan Allah Subhanallahu wata’ala sifatkan dalam hal ini dengan الْعَظِيمِ yaitu berita yang besar. Para ahli tafsir masa salaf memiliki 3 pendapat tentang makna firman Allah Subhanallahu wata’ala النَّبَإِ الْعَظِيمِ “tentang berita yang besar”Apa yang dimaksud dengan berita yang besar ini? Sebagian salaf mengatakan bahwasanya yang dimaksud dengan berita yang besar tersebut adalah al–Qur‘an al-‘Adzim. Ini pendapat sebagian salaf bahwasanya yang mereka perselisihkan dan ingkari adalah Al-Qur’an al-Karim, karena Al–Quran adalah berita yang agung sebagaimana firman Allah:قُلْ هُوَ نَبَأٌ عَظِيمٌKatakanlah: “Berita itu (yaitu al-Qur’an) adalah berita yang besar. (QS Shad : 67)Mereka berselisih tentang al-Qur’an. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah sihir, ada pula yang mengatakan sya’ir, dan ada juga yang mengatakan bahwa al-Qur’an itu adalah dongeng-dongeng orang-orang terdahulu.Sebagian salaf yang lain menyatakan bahwa yang dimaksud dengan النَّبَإِ الْعَظِيمِ adalah kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka sangat mengingkari kenabian Muhammad. Meskipun mereka mengenal dan menggelari Nabi sebagai al-Amiin (orang yang sangat amanah dan terpercaya), akan tetapi mereka kaget dan tidak menduga bahwa Muhammad akan menyatakan bahwa dirinya adalah utusan Allah.Pendapat ketiga dari para salaf bahwa yang mereka ingkari dan mereka perdebatkan adalah hari kiamat atau hari kebangkitan setelah kematian. Kaum musyrikin mengingkari bahwa orang yang telah meninggal dunia akan dibangkitkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Adapun kematian maka kaum musyrikin tidaklah mengingkarinya, karena mereka telah melihat langsung bahwasanya orang hidup akan meninggal. Yang membuat mereka heran adalah bagaimana yang mati bisa dihidupkan kembali? Inilah yang mereka pertanyakan عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ yaitu tentang hari kiamat.Apabila dicermati, konteks ayat yang Allah Subhanallahu wata’ala sebutkan setelah ayat ini berbicara tentang hari kebangkitan. Sehingga pendapat yang lebih kuat dari 3 pendapat ini bahwa yang dimakskud dengan النَّبَإِ الْعَظِيمِ “berita yang besar” adalah berita dahsyat tentang hari kebangkitan pada hari kiamat. Pendapat ketiga ini dipilih oleh Ibnu Jarir At-Thabari (lihat : Tafsir At-Thabari 7/24), al-Baghawi (lihat Tafsir Al-Baghawi 8/309), Ibnu Katsir (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/302), dan Asy-Syaukani (lihat Fathul Qodir). Meskipun sebagian ulama mengkompromikannya dengan menyatakan bahwa yang dimaksud denga النَّبَإِ الْعَظِيمِ adalah Al–Quran al-Karim yang di dalamnya disebutkan tentang adanya hari kebangkitan.Diantara dalil yang menguatkan bahwasanya النَّبَإِ الْعَظِيمِ adalah hari kebangkitan, yaitu ayat setelahnya dimana Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan :3) الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ“yang mereka perselisihkan tentang hal ini” (QS An-Naba’ : 3)Diantara mereka (penduduk kota Mekah) terjadi perdebatan tentang suatu berita besar yang membuat mereka berselisih. Ada yang sekedar menyangka akan adanya hari kebangkitan namun tidak meyakini, ada yang meyakini akan adanya hari kebangkitan mereka itulah kaum muslimin, ada pula yang benar-benar mengingkari akan adanya hari kebangkitan yaitu dari kaum musyrikin arab. Kaum musyrikin arab lalu membodoh-bodohkan orang yang mengatakan akan adanya hari kiamat. Mereka berpendapat bagaimana bisa manusia yang sudah meninggal dunia kemudian menjadi tulang belulang, lalu lumat bercampur dengan tanah yang terkadang tidak bisa dibedakan mana tulang mana tanah saking hancurnya, kemudian dibangkitkan kembali oleh Allah Subhanallahu wata’ala?Allah Subhanallahu wata’ala membantah persangkaan mereka dengan firmanNya :4) كَلَّا سَيَعْلَمُونَ 5) ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ“sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui. Dan kemudian sekali-kali tidak, mereka akan mengetahui (kebenaran dari hari kebangkitan tersebut)” (QS An-Naba’ : 4)Sekarang mereka mengingkari, tetapi kelak mereka akan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana mereka dibangkitkan. Mereka akan menyaksikan dahsyatnya hari kiamat tersebut. Seakan-akan Allah Subhanallahu wata’ala menyatakan : “Mana akal kalian wahai kaum musyrikin? Apakah kalian menyangka bahwa kehidupan ini akan sirna begitu saja? Tidak ada hari kebangkitan dan tidak ada pembedaan? Kalian mengakui adanya Tuhan, kalian mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala, kalian percaya adanya pencipta, lantas kalian mengatakan pencipta tersebut hanya menciptakan begitu saja tanpa ada pertanggungjawaban di hari akhirat? Sehingga kalian menyangka tidak ada yang membedakan antara mana yang dzalim dan didzalimi, semua sama saja menjadi tanah tulang belulang, tidak ada hari pertanggung jawaban, tidak dibedakan antara kafir dan beriman, tidak akan dibedakan antara yang mendustakan dan yang membenarkan?” Sesungguhnya ini adalah pemikiran yang konyol, sikap seperti ini tidak mungkin dilakukan oleh pencipta alam semesta yang Maha Hikmah dan Maha Bijak. Jika sikap seperti ini tidak layak dilakukan oleh seorang pemimpin dunia terhadap bawahannya apalagi Allah Subhanallahu wata’ala terhdap ciptaanNya.Beriman kepada akhirat merupakan perkara yang sangat penting. Karena ini akan mempengaruhi perjalanan hidup manusia. Seorang yang beriman kepada Allah Subhanallahu wata’ala dan beriman bahwasanya dia akan dibangkitkan dan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanallahu wata’ala, akan nampak dampaknya dalam kehidupannya. Dia tahu bahwa setiap lafal yang dia ucapkan, setiap perbuatan yang dia kerjakan, akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Berbeda dengan seseorang yang tidak beriman akan hal ini, dia merasa bahwa dia tidak akan dibangkitkan. Sehingga dia akan melakukan segala kegiatan seenaknya karena dia merasa tidak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanallahu wata’ala.Kemudian setelah itu Allah Subhanallahu wata’ala mulai menyebutkan tentang kenikmatan-kenikmatan yang Dia berikan kepada manusia untuk mengingatkan kaum musyrikin bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala adalah عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ “Maha Kuasa atas segala Sesuatu”, bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala mampu untuk membangkitkan para hamba. Allah Subhanallahu wata’ala menjelaskan bahwa penciptaan manusia adalah perkara yang ringan. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar (dahsyat) daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Ghafir : 57)Alam semesta ini luar biasa luasnya, luar biasa megahnya. Allah Subhanallahu wata’ala menciptakan ini semua dengan mudahnya, maka mudah pula bagi Allah Subhanallahu wata’ala untuk sekedar membangkitkan manusia yang sudah menjadi tulang belulang. Bukankah Allah Subhanallahu wata’ala telah menciptakan mereka sebelumnya dari ketiadaan?Perkara ini (yaitu Allah menciptakan alam semesta) merupakan perkara yang diyakini oleh orang-orang musyrikin. Orang-orang musyrikin bukanlah dahriah -yaitu orang-orang yang mengingkari adanya Tuhan-, akan tetapi kaum musyrikin mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala, hanya saja mereka mengingkari adanya hari kebangkitan, sehingga Allah Subhanallahu wata’ala menjelaskan kepada mereka :“jika kalian mengakui bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala lah yang telah menciptakan kalian, maka mengulangi penciptaan kalian lebih mudah perkaranya”. Diantara bentuk penjelasan Allah Subhanallahu wata’ala kepada mereka adalah Allah menjelaskan bahwa yang menciptakan alam semesta ini adalah Allah Subhanallahu wata’ala, dan penciptaan alam semesta lebih dahsyat daripada penciptaan manusia.Oleh karena itu, dari ayat yang ke-enam dan seterusnya Allah Subhanallahu wata’ala akan menyebutkan perkara-perkara yang berkaitan dengan penciptaan alam, diantaranya kenikmatan-kenikmatan yang Allah diberikan kepada orang-orang musyrikin. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :6) أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَاداً“bukankah kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?” (QS An-Naba’ : 6)Sebagian ahli tafsir menafsirkannya dengan مُمَهَّدًا (dipersiapkan), yaitu bukankah kami menjadikan bumi itu dalam kondisi telah dipersiapkan sehingga manusia mudah menempatinya, mudah untuk bercocok tanam, mudah untuk menjalani kehidupan?. Dalam sebagian qira’ah dibaca مَهْدًا yaitu kasur yang disiapkan untuk bayi agar bayi tersebut tidur di atasnya. Demikian pula Allah menyiapkan bumi ini dengan segala fasilitasnya agar mudah untuk ditempati oleh manusia.Menciptakan bumi dalam kondisi dipersiapkan adalah perkara yang sangat mudah bagi Allah Subhanallahu wata’ala. Ini adalah nikmat yang luar biasa dari Allah Subhanallahu wata’ala kepada kalian wahai kaum musyrikin! Jika menciptakan bumi yang sedemikian hebat untuk kalian adalah mudah, maka membangkitkan kalian tentu juga mudah.Lalu mulailah Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan karunia-karunia-Nya kepada mereka, sehingga tampaklah kekuasaan Allah dan kemaha mampuan Allah Subhanallahu wata’ala serta kemaha Esaan Allah Subhanallahu wata’ala.7) وَالْجِبَالَ أَوْتَاداً“dan gunung-gunung sebagai pasak.” (QS An-Naba’ : 7)أَوْتَاداً dalam bahasa arab adalah bentuk jamak (plural) dari الوَتَدُ yang artinya adalah pasak. Jika kita ingin mendirikan kemah, maka kita perlu menancapkan semacam paku baik dari besi maupun dari kayu. Kita tancapkan terlebih dahulu dengan kuat kemudian kita ikat tali penyangga kemah tersebut. Kalau perlu kita memasang lima atau enam pasak/paku tersebut, atau minimal empat pasak sehingga kemah tersebut tegak dan tidak jatuh. Gunung yang Allah Subhanallahu wata’ala tancapkan ke bumi ini semacam pasak. Kabar ini diucapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala 1400 tahun yang lalu. Di jaman sekarang yang semakin modern ini, setelah orang-orang melakukan penggalian-penggalian, mereka kemudian mengetahui bahwasanya gunung itu sangat tinggi, baik yang menjulang ke atas maupun yang menjulang ke bawah. Dari sini diketahui bahwasanya gunung itu bukanlah tumpukan tanah di atas permukaan bumi, akan tetapi dia tertancapkan ke bawah ibarat paku/pasak yang ditanamkan. Sehingga akan kita dapati kawah gunung itu berada di bawah permukaan tanah dan terus ke bawah. Akar gunung itu menjulang ke dalam jauh bahkan sebagian ahli dalam hal ini mengatakan bahwa bagian gunung yang muncul di atas permukaan bumi hanyalah 1/3 bagian. Jika kita menancapkan paku untuk membuat ikatan dari kemah, maka kita akan menancapkannya dengan dalam, yang kita sisakan hanya sebagian kecil agar paku tersebut kuat mengikat tali. Seperti itulah gunung-gunung yang ditancapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala di atas muka bumi agar bumi ini tidak bergetar. Hal ini diucapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala 1400 tahun yang lalu dan baru diketahui akan kebenarannya bahwasanya gunung itu tidak terhamparkan seperti tanah yang dihamburkan ke atas kemudian menggunung melainkan tertancapkan. Bukan seperti gunung di padang pasir yang bisa berpindah-pindah karena ditiup angin. Hal ini disebabkan karena gunung yang ada di padang pasir tidak tertancapkan di dalam bumi, tetapi ia hanyalah sekedar kumpulan pasir yang berada di atas daratan. Karenanya jika seseorang masuk ke dalam gurun/padang pasir, susah baginya untuk keluar, karena tidak ada gunung yang bisa dijadikan patokan, disebabkan gunung-gunung tersebut bisa berpindah-pindah tertiup angin. Adapun gunung bumi maka ia tertancap kuat di bawah tanah, makanya Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan أَوْتَاداً “gunung-gunung yang kami pasakkan.”Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala mengingatkan kenikmatan yang lain yang menunjukkan akan kekuasaan-Nya. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:8) وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجاً“dan kami jadikan kalian berpasang-pasangan”Ini merupakan nikmat dari Allah Subhanallahu wata’ala, Allah menjadikan setiap makhluk berpasang-pasangan. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam ayat yang lainوَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan” (QS Adz-Dzariyat : 49)Para ulama mengatakan tentang faidah Allah Subhanallahu wata’ala menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan.Yang pertama, Allah Subhanallahu wata’ala ingin menjelaskan bahwa Dia Maha Esa tidak butuh dengan pasangan.قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ“Dialah Allah yang maha esa” (QS Al-Ikhlas : 1)بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (101)Dia (Allah) Pencipta langit dan bumi. Bagaimana (mungkin) Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu (QS Al-An’aam : 101)وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا (3)Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak (QS Al-Jinn : 3)Allah Subhanallahu wata’ala tidak butuh dengan sesuatu pun, Allah Subhanallahu wata’ala tidak butuh kepada anak dan juga tidak butuh kepada pasangan. Semua makhluk yang Allah ciptakan adalah berpasang-pasangan. Contohnya manusia, ada Adam dan Hawa, ayah dan ibunda kita, kemudian setiap manusia pun demikian ada laki-laki dan ada pula perempuan, hewan-hewan pun demikian ada jantan dan ada betina, bahkan dalam hal listrik pun ada positif dan ada negatif. Hampir semua perkara ada pasangannya, menunjukkan bahwasanya Maha Esa lah yang menciptakan pasangan-pasangan tersebut. Ini adalah nikmat luar biasa yang Allah Subhanallahu wata’ala berikan. Bagaimana Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan lelaki dan wanita berpasangan yang saling membutuhkan diantara mereka yang tidak mungkin seorang lelaki bisa tenteram dan merasa nyaman kecuali ada wanita/istri yang mendampinginya. Bahkan Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan pasangan tersebut sebagai tanda-tanda kebesaran Allah Subhanallahu wata’ala, tanda-tanda bahwa Allah adalah Sang Pencipta, sebagaimana dalam firman-Nya :وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَDan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS Ar-Ruum : 21)Fungsinya adalah لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا yaitu agar kalian merasa tenang bersama istri-istri kalian tersebut. Mustahil seorang lelaki normal bisa hidup dengan tenang tanpa ada pasangan di dalam hidupnya. Diantara nikmat dari Allah Subhanallahu wata’ala ialah Dia menumbuhkan kebutuhan seorang lelaki dengan pasangannya tersebut. Allah Subhanallahu wata’ala pula lah yang menumbuhkan rasa kasih sayang diantara pasangan tersebut.Demikian juga dengan menciptakan segala sesuatu secara berpasangan, menunjukkan akan kekuasaan Allah karena bisa menciptakan dua hal yang saling berlawanan dan kontradiktif. Allah menciptakan surga, namun Allah juga menciptakan lawannya yaitu neraka. Allah menciptakan malaikat Jibril, namun Allah juga menciptakan Iblis. Allah menciptakan Fir’aun, namun Allah juga menciptakan Musa ‘alaihis salam.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:9) وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتاً“dan kami jadikan tidur kalian untuk istirahat”سُبَاتاً dalam bahasa arab artinya istirahat. Ini juga merupakan anugerah dari Allah Subhanallahu wata’ala. Seandainya seseorang bekerja terus-menerus tanpa istirahat niscaya dia akan binasa. Oleh karena itu, Alah menjadikan seseorang lelah sehingga dia butuh dengan istirahat.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:10) وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاساً“dan kami jadikan malam sebagai pakaian dari kalian”Sebagian ahli tafsir mengatakan, seseorang yang memasuki malam hari, maka malam tersebut yaitu gelapnya malam akan meliputi dia. Pada zaman dahulu tatkala lampu belum ada begitupun penerangan lainnya, manusia sering berada dalam keadaan gelap. Seseorang tidak akan membuka pakaiannya kecuali di malam hari ketika dia sudah tertutupi oleh gelapnya malam, karenanya dia tidak malu untuk membuka pakaiannya. Sehingga seakan-akan Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan malam-malam tersebut sebagai ganti dari pakaiannya.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:11) وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشاً“dan kami jadikan siang hari sebagai tempat mencari kehidupan (untuk mencari ma’isyah)”Para ulama menyebutkan sunnatullah (aturan Allah Subhanallahu wata’ala) bahwa malam adalah waktu istirahat dan siang adalah waktu mencari nafkah dan mencari kehidupan. “barang siapa yang merubah tatanan ini maka dia akan ditimpa dengan berbagai macam gangguan”. Seseorang yang harusnya menjadikan malamnya sebagai waktu istirahat dan siang sebagai waktu bekerja namun dia balik menjadi siang untuk tidur dan malam untuk kelayapan maka dia akan terganggu, tubuhnya tidak akan segar meskipun waktu tidurnya di siang hari lebih banyak. Tetap saja dia tidak akan merasakan kelezatan sebagaimana yang dia rasakan ketika dia tidur pada malam hari selama 8 jam, meskipun pada siang hari tidurnya lebih panjang. Hal ini terjadi karena dia mengubah tatanan, yang seharusnya malam menjadi tempat istirahat, namun dia ubah malamnya menjadi tempat untuk mencari penghidupan dan siangnya menjadi tempat untuk istirahat. Orang seperti ini kehidupan yang dia jalani tidak akan berjalan dengan normal, dia akan merasakan gangguan kesehatan, gangguan dalam pikirannya, dan berbagai hal lainnya.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman lagi tentang anugerah yang Dia berikan :12) وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعاً شِدَاداً“dan kami bangun di atas kalian 7 langit yang kokoh”Langit yang berada di atas kita ada sebanyak 7 lapis, jarak antara langit satu dengan langit lainnya membutuhkan perjalanan yang sangat jauh. Ini menunjukkan bagaimana luasnya ke-Maha kuasaan Allah Subhanallahu wata’ala. Langit yang kita saksikan ini tidak diketahui dimana penghujungnya. Allah Subhanallahu wata’ala menegakkannya tanpa pasak dari bumi dan langit juga lebih luas daripada bumi ini. Padahal kita tahu pada umumnya yang berada di atas itu lebih kecil daripada yang di bawah. Kemudian yang di atas itu lebih butuh daripada yang di bawah, apabila yang di bawah jatuh maka yang di atas juga akan jatuh, sehingga butuh pasak untuk menahan. Inilah yang sering kita lihat dalam praktek kehidupan sehari-hari, yang di atas lebih kecil daripada yang di bawah, yang di bawah menaungi yang di atas, dan yang di atas butuh dengan pasak agar dia tidak terjatuh. Namun hal ini tidak berlaku pada langit. Langit jauh lebih tinggi daripada bumi dan jauh lebih luas daripada bumi. Sementara itu tidak ada pasak yang tertancap dari bumi menuju langit padahal langit yang dengan kokohnya berada di atas kita bukan hanya satu lapis melainkan 7 lapis. Seseorang yang merenungkan hal ini akan menyadari bahwa dia adalah makhluk yang sangat kecil yang tidak ada tandingannya dengan bumi ini. Lantas bagaimana dengan kedahsyatan langit yang Allah Subhanallahu wata’ala bangun 7 lapis di atas bumi ini.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:13) وَجَعَلْنَا سِرَاجاً وَهَّاجاً“dan kami jadikan pelita yang amat terang (yaitu matahari)”Barangsiapa yang memperhatikan Al Quran, dia akan mengetahui bahwasanya Al Quran diturunkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Al Quran datang dengan lafal-lafal yang detail dan tidak mungkin keliru.لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍYang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji (QS Fusshilat : 42)Tidak akan ada kesalahan dari depan maupun belakang, dan dari arah manapun, karena diturunkan dari Allah Subhanallahu wata’ala.Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan tentang matahari dimana Dia mengatakan :وَجَعَلْنَا سِرَاجاً وَهَّاجاً “kami jadikan sinar yang وَهَّاجاً yaitu mengandung rasa panas”. Kata para ulama maksudnya adalah matahari. Matahari tidak disebut oleh Allah Subhanallahu wata’ala dengan Nur, berbeda dengan rembulan. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُوراً“Dan Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan pada langit-langit tersebut terdapat Nur” yaitu cahaya. Matahari oleh Allah Subhanallahu wata’ala dikatakan sebagai سِرَاجاyang bermakna sinar. Adapun rembulan dikatakan sebagai cahaya karena pantulan dari sinar tersebut. Ini menunjukkan betapa detailnya Al Quran yang Allah Subhanallahu wata’ala turunkan 1400 tahun yang lalu.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:14) وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجاً“dan kami turunkan dari awan air yang banyak”Diantara makna الْمُعْصِرَاتِdalam bahasa arab adalah awan yang sudah hitam yang mengandung butiran-butiran air dan siap diturunkan ke langit. Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجاً “dan kami turunkan dari awan tersebut air yang banyak”, yaitu hujan yang deras. ini merupakan nikmat dari Allah Subhanallahu wata’ala juga. Kemudian apa fungsi dari air yang turun tersebut? Kata Allah Subhanallahu wata’ala :15) لِنُخْرِجَ بِهِ حَبّاً وَنَبَاتاً“agar kami turunkan kami tumbuhkan dari air hujan tersebut”حَبّاً adalah biji-bijian sedangkan نَبَاتاً adalah tumbuhan-tumbuhan. Biji-bijian disini mengandung segala bentuk biji-bijian yang merupakan makanan pokok manusia. Seperti beras, gandum, jagung, adas, fuul (kacang merah).Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan وَنَبَاتاً. Mengapa Alah menyebutkan biji-bijian terlebih dahulu? Karena biji-bijian merupakan makanan pokok yang hampir tidak mungkin hidup tanpa makanan tersebut. Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan, sayur-mayur, buah-buahan, terkadang manusia itu tidak butuh terhadap sayur–mayur dan buah-buahan. Sehingga dalam penyebutannya, Allah Subhanallahu wata’ala pun menyebutkannya secara berurutan yaitu biji-bijian terlebih dahulu kemudian tumbuh-tumbuhan yang lainnya.Setelah itu, Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan :16) وَجَنَّاتٍ أَلْفَافاً“kemudian kebun-kebun yang lebat”Ayat ini adalah bagian terakhir yang berisi tentang karunia-karunia yang beraneka ragam yang Allah Subhanallahu wata’ala berikan kepada manusia sebagai bukti bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala Maha Kuasa. Allah Subhanallahu wata’ala yang menumbuhkan tetumbuhan, Allah Subhanallahu wata’ala yang meninggikan langit, Allah Subhanallahu wata’ala yang telah menciptakan bumi, Allah Subhanallahu wata’ala yang telah memberikan dan menurunkan hujan ini. Ini semua menunjukkan akan kekuasaan Allah Subhanallahu wata’ala. Seakan-akan Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan kepada orang-orang musyrikin, “Hai orang-orang musyrikin, jika kami bisa melakukan itu semua, maka menghidupkan kembali yang telah menjadi tulang belulang adalah perkara yang mudah”.Setelah itu Allah Subhanallahu wata’ala mulai menyebutkan tentang hari kiamat yaitu pembahasan selanjutnya setelah pembahasan sebelumnya yang menyebutkan berbagai macam kenikmatan yang disebutkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Diantara cara belajar ilmu tafsir yang dilakukan oleh sebagian ulama adalah sebagian surat diklasifikasikan menjadi pokok-pokok bahasan, mulai dari paragraf pertama berbicara tentang ini, paragraf ke dua berbicara tentang itu, paragraf ketiga, dan seterusnya. Hal ini dilakukan agar kita bisa melihat maknanya secara kompleks atau secara keseluruhan dengan cara mengetahui masing-masing maksud dari setiap paragrafnya. Belajar ilmu tafsir memang butuh kesabaran untuk mempelajarinya bagian per bagian, terutama surat-surat yang sering kita baca. Sebisa mungkin surat-surat yang ada di juz ‘amma dihafalkan dengan baik dan dipelajari tafsirnya dengan cermat secara bertahap.Setelah itu masuk ke dalam pembahasan yang baru, Allah Subhanallahu wata’ala menjelaskan tentang dahsyatnya hari kiamat. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:17) إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتاً“sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang sudah ditetapkan”Yaitu hari kiamat yang pasti datangnya. Barang siapa yang meninggal dunia maka dia telah memasuki kiamat kecil. Dan selanjutnya dia akan memasuki alam akhirat. Hari kiamat sudah tegak baginya meskipun kiamat kubra (kiamat besar, untuk semua makhluk) belum datang. Setiap manusia telah ditentukan kiamat baginya, berbeda dengan datangnya hari kiamat besar maka tidak ada yang mengetahui waktunya kecuali Allah Subhanallahu wata’ala. Memang benar Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassallam telah mengabarkan bahwa hari kiamat akan terjadi pada hari jumat, tetapi tidak ada yang mengetahui hari jumat tersebut jatuh pada minggu, bulan, dan pada tahun yang mana. Dia akan datang dengan tiba-tiba, dan kedatangannya tersebut adalah sesuatu yang pasti. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتاً“sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang sudah ditetapkan”Allah Subhanallahu wata’ala menamakannya dengan hari keputusan/hari pembeda. Sehingga salah satu nama hari kiamat adalah hari pembeda. Karena pada hari tersebut Allah Subhanallahu wata’ala akan bedakan antara kebenaran dengan kebathilan, antara orang yang dzalim dan orang yang di dzalimi, antara yang mukmin dan yang kafir, semua dibedakan pada hari tersebut. Allah Subhanallahu wata’ala juga akan membedakan antara penghuni surga dan penghuni neraka.Ketahuilah bahwa pada hari tersebut seluruh atribut akan ditinggalkan dan seluruh pangkat serta jabatan akan ditinggalkan. Di hari kiamat kelak tidak ada kecuali 2 golongan : sebagian di surga, sebagian di neraka jahannam. Tidak ada lagi perbedaan kaya dan miskin, si kaya tidak bisa sombong pada hari tersebut. Si panglima dan jenderal tidak akan bisa sombong pada hari tersebut. Dia tidak akan menampakkan jabatannya, tetapi dia akan termasuk ke dalam 2 golongan, apakah masuk surga atau masuk neraka. Oleh karena itu, hari itu adalah yaumal fashli yaitu hari pembeda antara hak dan bathil, hari pembeda antara yang beriman dan yang kafir, hari pembeda antara yang dibenarkan dan yang didustakan.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan :18) يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجاً“pada hari tersebut sangkakala ditiup lalu kalian akan datang berkelompok-kelompok”Pada hari kiamat akan terjadi 2 tiupan sangkakala dan hari kebangkitan akan terjadi pada tiupan yang kedua. Yang akan meniupkan sangkakala adalah malaikat israfil yang disebut dengan shahibul qarn. Dia akan meniup semacam bom dengan tiupan yang sangat dahsyat sehingga tatkala tiupan pertama :وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ“maka seluruh yang hidup di langit dan di bumi akan meninggal/mati tatkala itu, kecuali yang Allah Subhanallahu wata’ala hendaki.” (QS Az-Zumar : 68)Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman dalam lanjutan ayat tersebut:ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ“kemudian ditiupkan dengan tiupan yang kedua tiba-tiba manusia seluruhnya bangkit”.Dalam ayat ini Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan bahwa kebangkitan terletak pada tiupan yang kedua. Adapun jarak antara tiupan pertama dan kedua adalah 40. Namun 40 yang dimaksud tidak diketahui secara pasti apakah 40 hari atau 40 bulan atau 40 tahun karena sang perawi lupa apa yang didengar dari Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam, hanya saja Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam berkata jarak tiupan pertama dan tiupan kedua adalah 40. Dan tatkala tiupan sangkakala yang kedua “فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ” maka semuanya pun dibangkitkan. Kata Allah Subhanallahu wata’ala : “فَتَأْتُونَ أَفْوَاجا“ kalian akan datang kepada kami dalam keadaan berkelompok-kelompok. Pada hari tersebut kata Allah Subhanallahu wata’ala :19) وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَاباً“maka langit-angit akan dibukakan”Langit-langit yang kita saksikan sekarang tidak ada lubang dan tidak ada celahnya sama sekali. Namun pada hari kiamat akan terbuka, akan banyak pintu-pintu yang Allah Subhanallahu wata’ala bukakan. Karena pada hari tersebut malaikat akan turun, dan kita tahu bahwa malaikat penghuni langit amatlah banyak. Oleh karena itu, dalam suatu hadits Nabi berkata :إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ، وَأَسْمَعُ مَا لَا تَسْمَعُونَ، أَطَّتِ السَّمَاءُ وَحَقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ، مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلَّا عَلَيْهِ مَلَكٌ سَاجِدٌ“Sesungguhnya aku melihat apa yang kalian tidak lihat, dan aku mendengar apa yang kalian tidak mendengarnya. Langit terasa berat dan pantas bagi langit untuk terasa berat. Tidak ada satu tempat seukuran empat jari kecuali ada malaikat yang sujud di atasnya” (HR Ahmad no 21516, At-Tirmidzi no 2312 dan Ibnu Maajah no 4190 dengan sanad yang hasan)أَطِيْطٌ asalnya adalah suara yang keluar dari rahil (pelana onta yang terbuat dari kayu) tatkala diduduki oleh penunggang onta. Atau suara rintihan onta tatkala dibebani dengan beban yang sangat berat. Maksud dari hadits di atas adalah langit seakan-akan merasa keberatan karena betapa banyaknya malaikat yang menempati langit.Pada hari kiamat kelak langit-langit akan terbelah dan terbuka menjadi seperti pintu-pintu, para malaikat itu pun turun (lihat Tafsir Al-Baghowi 8/313). Hal ini sebagaimana firman Allah :وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّماءُ بِالْغَمامِ وَنُزِّلَ الْمَلائِكَةُ تَنْزِيلًا‘’Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang’’ (QS Al-Furqon : 25)Pendapat yang lain menyatakan bahwa langit-langit pada hari kiamat terbelah-belah sehingga menjadi seperti potongan-potongan kayu seperti pintu-pintu (Lihat Tafsir At-Thobari 24/19).Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:20) وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَاباً“dan dijamakkanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah dia”Gunung-gunung di akhirat kelak akan diangkat oleh Allah Subhanallahu wata’ala kemudian diterbangkan di udara lalu dihancurkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Dan ini terjadi tatkala tiupan sangkakala yang pertama dimana bumi ini akan dihancurkan dan digoncangkan dengan sedahsyat-dahsyatnya. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam banyak surat. Allah akan menggantikan bumi ini dengan yang lain, bumi di padang mahsyar yang dijadikan sebagai tempat untuk kita dihisab oleh Allah bukanlah bukanlah bumi yang sekarang kita pijak. Allah mengatakan:يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْض“pada hari dimana Allah akan gantikan bumi dengan bumi yang lain.” (QS Ibrahim : 48)Bumi yang akan kita pijak di padang mahsyar nanti berbentuk datar, tidak ada gunung dan tidak ada lembah. Semua gunung dihancurkan oleh Allah,وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا“mereka bertanya kepada engkau tentang gunung-gunung, katakanlah “Tuhanku akan menghancurkan (pada hari kiamat) sehancur-hancurnya“. (QS Thaha : 105)Gunung-gunung besar yang sekarang kita saksikan akan hancur lebur menjadi seperti fatamorgana, dari kejauhan terlihat seperti air, namun dari dekat ternyata adalah debu-debu yang berterbangan (lihat Tafsir At-Thobari 24/20).Kemudian Allah berfirman :21) إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا“sesungguhnya neraka jahannam itu sebagai tempat pengintai”.Setelah Allah menyebutkan tentang dahsyatnya hari kiamat, Allah kemudian menyebutkan pembahasan selanjutnya yaitu tentang neraka jahannam. Sesungguhnya para penjaga neraka akan mengintai, terutama mengintai manusia yang sedang melewati shirath (jembatan yang terbentang di atas neraka). Neraka mengintai untuk menjerumuskan mereka ke dalam neraka. Neraka jahannam mengintai siapa? Allah kemudian berfirman :22) لِلطَّاغِينَ مَآبًا“merupakan tempat kembali bagi orang-orang yang melampui batas“.Ini adalah ancaman bagi orang-orang musyirikin, orang-orang kafir, orang-orang yang melakukan kedzhaliman dan melampui batas di atas muka bumi ini. Merekalah yang diintai dan ditunggu oleh neraka jahannam.23) لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا“mereka akan tinggal dalam waktu yang lama di neraka jahannam“Ada khilaf diantara para ulama tentang makna أَحْقَابًا. أَحْقَابًا adalah bentuk jamak dari حُقُبْ. Sebagian salaf menafsirkan حُقُبْ dengan 70 tahun, ada yang mengatakan 80 tahun, dan ada pula yang mengatakan 300 tahun.Maksud dari pendapat-pendapat di atas adalah dengan perhitungan setiap harinya seperti 1000 tahun di dunia. Sehingga yang berpendapat bahwa الْحُقْبُ adalah 70 tahun berarti setiap tahunnya ada 12 bulan, kemudian setiap bulannya 30 hari, dan setiap harinya 1000 tahun. Maka satu al-huqub ada 1000 tahun kali 30 (hari) kali 12 (bulan) kali 70 (tahun) sama dengan 25 juta tahun lebih dengan ukuran tahun di dunia. Adapun pendapat yang mengatakan satu al-huqub adalah 300 tahun tentu lebih banyak lagi.Namun dalam ayat ini Allah tidak mengatakan satu al-huqub akan tetapi Allah menyatakan dengan lafal jamak yaitu أَحْقَابًا (banyak huqub) yang intinya adalah orang-orang yang berbuat bermaksiat melampaui batas akan tinggal di neraka jahannam dalam waktu yang sangat lama. Jika mereka orang-orang kafir maka خَالِدَيْنِ فِيهَا “kekal dalam neraka tidak akan keluar”. Yaitu jika selesai al-huqub yang pertama akan datang al-huqub yang kedua, begitu seterusnya sampai tiada penghujungnya.Jika mereka orang-orang yang berbuat dzhalim, tetapi tidak kafir dan juga tidak musyirik maka mereka akan tinggal di neraka jahannam dalam waktu yang lama, boleh jadi ratusan ratusan tahun, ribuan tahun, atau bakan jutaan tahun, tentu ini adalah waktu yang sangat lama.Oleh karena itu, hendaknya seseorang itu jangan mengatakan, “meskipun saya bermaksiat namun saya masih islam, saya akan diadzab oleh Allah dan suatu saat saya akan dikeluarkan dan dimasukkan kedalam surga.” Apa yang dikatakannya memang benar karena seorang muslim tidak akan kekal di dalam neraka, dan ini adalah aqidah ahlussunnah. Yang kekal dalam neraka jahannam adalah orang-orang musyrik dan orang-orang kafir, adapun orang muslim dia tidak akan kekal di neraka, dia akan diadzab namun dia akan dikeluarkan. Tetapi hendaklah diingat bahwasanya jika seorang muslim telah diadzab maka ingatlah bahwa أَحْقَابًا sangat lama, bukan waktu yang sebentar. Jangan sampai seseorang mirip dengan keyakinan orang-orang Yahudi yang berkata :وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (80) بَلَى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (81)Dan mereka (Yahudi) berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja”. Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya (QS Al-Baqarah : 80-81)أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُدْعَوْنَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ وَهُمْ مُعْرِضُونَ (23) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ وَغَرَّهُمْ فِي دِينِهِمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَTidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; kemudian sebagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran). Hal itu adalah karena mereka mengaku: “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung”. Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan . (QS Ali-Imran : 23-24)Barang siapa yang masuk ke dalam neraka jahannam niscaya dia akan merasakan kepedihan yang amat sangat dalam waktu yang sangat lama. Oleh karena itu, kita berlindung kepada Allah dari siksa api neraka jahannam.Ibnu Katsir menyebutkan salah satu pendapat yang menyatakan bahwa firman Allah أَحْقَابًا berkaitan dengan ayat sesudahnya yaitu (mereka tidak akan merasakan dalam neraka jahannam kesejukan dan juga tidak ada minuman), artinya mereka akan disiksa dengan siksaan tersebut (tidak ada kesejukan dan tidak ada minuman) selama أَحْقَابًا, setelah itu Allah akan memberikan jenis-jenis penyiksaan yang lainnya.Kemudian kata Allah Subhanallahu wata’ala tentang orang-orang yang masuk kedalam neraka Jahannam :24) لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْداً وَلَا شَرَاباً“mereka tidak akan merasakan dalam neraka jahannam kesejukan dan juga tidak ada minuman”Yang dirasakan oleh mereka keseluruhannya adalah kepanasan. Tidak ada air minum yang bisa menghilangkan kehausan mereka. Bayangkan tatkala orang dikumpulkan di padang mahsyar mereka menunggu di hari yang sangat panjang yang 1 harinya seperti 50.000 tahun. Matahari pada saat itu jaraknya satu mil sehingga semua orang dalam kondisi kepanasan pada hari tersebut. Mereka merasakan dahaga yang sangat dan rasa lapar yang sangat.Para penghuni surga akan diberikan minuman, akan diberikan kelezatan didalam surge. Adapun penghuni neraka, maka rasa lapar yang amat sangat akan menyerang mereka, rasa haus yang amat sangat akan menyerang mereka. Mereka tidak akan menemukan rasa dingin sama sekali di dalamnya, melainkan kepanasanlah yang akan mereka rasakan. Mereka merasa tidak mendapatkan air minum sama sekali. Karena sebenarnya Allah Subhanallahu wata’ala menyediakan air untuk mereka, namun air tersebut sebagaimana firman Allah Subhanallahu wata’ala :25) إِلَّا حَمِيماً وَغَسَّاقاً“kecuali air yang mendidih dan nanah”حَمِيماً adalah air panas yang berada puncak panasnya. وَغَسَّاقاً kata para ulama adalah air yang dinginnya luar biasa tetapi bukan berasal dari air melainkan dari nanahnya penghuni neraka jahannam. Dari luka penghuni neraka, keringat mereka, dan nanah mereka, dikumpulkan dan didinginkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala kemudian dijadikan air minum untuk mereka. Sesungguhnya ini sangat menyiksa mereka. Selain itu minuman mereka tersebut sangat berbau busuk -sebagaimana penjelasan al-Hafiz Ibnu Katsir dalam tafsirnya-. Jadi di neraka jahannam nanti ada sebagian penghuni neraka yang disiksa dengan panas yang amat parah dan terkadang pula disiksa dengan dingin yang amat parah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا، فَقَالَتْ: يَا رَبِّ أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًا، فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ، نَفَسٍ فِي الشِّتَاءِ، وَنَفَسٍ فِي الصَّيْفِ، فَهْوَ أَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الْحَرِّ، وَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الزَّمْهَرِيرِNeraka mengeluh kepada Rabb-nya seraya berkata, “Ya Rabbku, sebagian dariku memakan sebagian yang lainnya”. Maka Allah memberi izin baginya dengan dua hembusan, hembusan tatkala musim panas dan hembusan tatkala musim dingin. Maka itulah panas yang paling parah yang kalian rasakan dan dingin yang paling parah yang kalian rasakan.” (HR Muslim No. 617)Kita tahu bahwa orang yang tinggal pada tempat yang bersuhu 1 derajat atau di bawah minus 1 derajat, maka orang tersebut akan merasa sangat tersiksa karena dingin yang menusuk ke dalam tulangnya. Jadi neraka jahannam bukan hanya berbentuk api yang amat panas tapi juga rasa dingin yang amat parah. Dan ini mudah bagi Allah Subhanallahu wata’ala untuk menggabungkan dalam satu tempat, ada yang dingin ada yang panas. Kita saksikan sebagian alat seperti AC atau kulkas. Kulkas dalamnya dingin, namun belakangnya panas. Demikian juga AC, mesinnya panas tetapi mengeluarkan udara yang dingin. Sehingga sangat mudah bagi Allah Subhanallahu wata’ala membuat neraka jahannam memiliki tempat yang sangat panas dan tempat yang sangat dingin. Ada حَمِيماً yaitu air yang sangat panas dan وَغَسَّاقاً yaitu nanah darah penghuni neraka jahannam yang sangat dingin yang jika diminum akan sangat menyiksa orang yang meminumnya.Mengapa para penghuni neraka tetap meminum minuman seperti ini padahal mereka tahu bahwa minuman tersebut hanya akan menambah siksaan bagi mereka, kata para ulama karena saking dahaganya sehingga harus ada sesuatu yang harus mereka masukkan ke dalam mulut mereka. Mereka sampai tidak peduli lagi apa yang mereka masukkan ke dalam mulutnya, meskipun mereka tahu bahwa meminum air panas hanya akan merusak isi perut mereka. Keadaannya sama seperti orang-orang yang kecanduan morfinis dan semacamnya, mereka ingin terus menghirupnya bahkan kadang dijumpai orang yang rela menggoret-goret tubuhnya untuk menghirup darahnya yang mengandung heroin tersebut. Mereka terpaksa melakukannya meskipun merasakan penderitaan. Demikian juga orang-orang musyrikin ketika merasakan dahaga yang amat sangat, mereka harus minum apapun yang bisa diminum. Meskipun air yang diminum adalah air panas yang bisa memotong-motong isi perut mereka, mereka tidak peduli yang penting bisa minum. Bahkan nanah dari para penghuni nereka jahannam yang terkumpulkan terpaksa diminum karena rasa dahaga yang amat yang mereka rasakan. Inilah air minum yang disediakan Allah Subhanallahu wata’ala untuk mereka.Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:26) جَزَاءً وِفَاقاً“sebagai balasan yang setimpal”Allah Subhanallahu wata’ala Maha Adil. Allah Subhanallahu wata’ala memberikan balasan seperti itu karena keadilan Allah Subhanallahu wata’ala. Allah membalas sesuai dengan apa yang mereka lakukan selama di dunia berupa kerusakan.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:27) إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَاباً“sesungguhnya mereka tidak berharap kepada yaumal hisab (hari perhitungan)”Orang-orang musyrikin tidak mau dan dan takut akan adanya perhitungan terhadap amal perbuatan mereka di dunia. Padahal mereka akan menemukan hari tersebut.Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :28) وَكَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا كِذَّاباً“mereka benar-benar mendustakan ayat kami”Mereka tahu apa yang mereka kerjakan kebanyakannya adalah maksiat. Seandainya mereka tahu bahwa mereka akan dihisab niscaya mereka tidak akan melakukan kemaksiatan. Karenanya mereka tidak meyakini adanya hisab, bahkan mereka tidak mau adanya hisab dan mereka takut adanya hisab. Mereka kemudian mendustakan ayat-ayat Allah Subhanallahu wata’ala yang menjelaskan tentang yaumul hisab, ayat-ayat tentang hari kebangkitan, dan ayat-ayat tentang hari persidangan. Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:29) وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَاباً“segala sesuatu dicatat oleh Allah Subhanallahu wata’ala”Tidak ada kemaksiatan apapun yang luput dari catatan Allah Subhanallahu wata’ala dan akan dihadirkan. Mereka akan melihat apa yang telah mereka lakukan, tidak ada kemaksiatan yang mereka lakukan kecuali telah dicatat.Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:30) فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَاباًini ayat yang paling mengerikan, kata Allah Subhanallahu wata’ala :“rasakanlah adzab Allah Subhanallahu wata’ala maka kami tidak akan menambah pada kalian kecuali adzab”.Ketika mereka diadzab di nereka jahannam dengan berabagai macam siksaan, siksaan yang mereka rasakan tidaklah satu jenis melainka setiap harinya bertambah kadar siksaannya. Orang yang diadzab di neraka Jahannam, mereka akan diadzab dengan beraneka ragam variasi siksaan yang semakin bertambah kerasnya.Ini adalah ayat yang sangat ditakutkan oleh para penghuni neraka Jahannam. Sampai-sampai Abdullah bin ‘Amr berkata :مَا أُنْزِلَتْ عَلَى أَهْلِ النَّارِ آيَةٌ قَطٌّ أَشَدُّ مِنْهَا“Tidak pernah turun satu ayatpun yang lebih berat kepada penghuni neraka dari pada ayat ini” (Fathul Qodiir 5/444)Bersambung Insya Allah…

Tafsir Surat An-Naba’ Ayat 1 – 30 (Bagian Kesatu) – Tafsir Juz ‘Amma

Surat pertama dari juz ‘amma yang akan kita selami kandungannya adalah surat an-Naba’ yaitu surat ke 78. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :1) عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ“Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?” (QS An-Naba’ : 1)Ayat ini turun sebagai bantahan terhadap orang-orang musyrikin, yang mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala namun mereka mengingkari adanya hari kiamat. Orang-orang musyrikin mengakui akan adanya pencipta, mereka mengenal Allah Subhanallahu wata’ala. Dalil-dalil bahwasanya orang-orang musyrikin mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala sangatlah banyak. Seperti firman Allah Subhanallahu wata’ala:وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُDan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. (QS Luqman : 25)وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (61) اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (62) وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ (63)Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi serta menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka mengapa mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya). (QS al-‘Ankabut : 61-63)وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ (9)Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. (QS Az-Zukhruf : 9)وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (87)Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka akan menjawab: “Allah”, maka mengapa mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? (QS Az-Zukhruf : 87)قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (84) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (85) قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (86) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ (87) قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (88) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ (89)Katakanlah (Muhammad), “Milik siapakah bumi, dan semua yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ´Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (Al-Mukminun : 84-89)Oleh karena itu, banyak diantara orang-orang musyrikin yang bernama Abdullah yang artinya hamba Allah Subhanallahu wata’ala. Demikian juga orang-orang musyrikin dahulu mereka berhaji sebagaimana kaum muslimin berhaji, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadist-hadist yang shahih tentang bagaimana kaum musyrikin melaksankaan ibadah haji dan umrah. Hanya saja mereka mencampurkan haji mereka dengan syirik dan bid’ah tidak sebagaimana haji yang dilakukan oleh leluhur mereka yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ‘alaihimas salaam.Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma ia berkata,كَانَ الْمُشْرِكُونَ يَقُولُونَ: لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، قَالَ: فَيَقُولُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَيْلَكُمْ، قَدْ قَدْ» فَيَقُولُونَ: إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ، تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ، يَقُولُونَ هَذَا وَهُمْ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ“Kaum musyrikin berkata, “Labbaika laa syarika laka” (Ya Allah kami memenuhi panggilanMu, tidak ada sekutu bagiMu). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Celaka kalian, cukuplah, cukupkanlah!). Maka mereka (kaum musyrikin) berkata (dengan menambah), “illa syarikan huwa laka, tamlikuhu wamaa malaka” (Kecuali sekutu milikMu yang Engkau memilikinya dan ia tidak memiliki). Mereka mengucapkan hal ini sambil thawaf di ka’bah.” (HR. Muslim No. 1185)Intinya adalah orang-orang musyrikin mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala, hanya saja mereka mengingkari adanya hari kebangkitan. Sehingga tatkala Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam diutus oleh Allah Subhanallahu wata’ala dan mengingatkan kepada kaum musyrikin akan adanya hari kebangkitan seakan-akan beliau berkata, “Hai kalian kaum musyrikin yang terjerumus kedalam berbagai macam kemaksiatan, yang terjerumus kedalam berbagai macam kesyirikan, dan praktek-praktek perkara yang diharamkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala kalian akan dibangkitkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala dan kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang telah kalian lakukan” maka ini menjadi buah bibir diantara mereka, mereka saling berbicara ada apa gerangan? Muhammad telah mengabarkan akan terjadinya hari kiamat. Seketika menjadi buah bibir yang hangat di kalangan mereka. Mereka bertanya-tanya mengapa hari kiamat bisa terjadi? Seakan-akan otak mereka tidak menerima akan adanya hari kiamat, mereka mengingkari bagaimana bisa manusia yang sudah meninggal dunia kemudian menjadi tulang-belulang bahkan tulang belulang tersebut sudah melumat dengan tanah tetapi masih bisa dibangkitkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala? Keheranan ini menimbulkan tanya diantara mereka. Inilah yang Allah Subhanallahu wata’ala sebutkan dalam Al Quran,عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ “Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?”Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:2) عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ“mereka bertanya tentang berita yang besar.” (QS An-Naba’ : 2)An-Naba’ dalam bahasa arab artinya berita, yaitu berita yang penting yang sedang mereka bicarakan. Bahkan Allah Subhanallahu wata’ala sifatkan dalam hal ini dengan الْعَظِيمِ yaitu berita yang besar. Para ahli tafsir masa salaf memiliki 3 pendapat tentang makna firman Allah Subhanallahu wata’ala النَّبَإِ الْعَظِيمِ “tentang berita yang besar”Apa yang dimaksud dengan berita yang besar ini? Sebagian salaf mengatakan bahwasanya yang dimaksud dengan berita yang besar tersebut adalah al–Qur‘an al-‘Adzim. Ini pendapat sebagian salaf bahwasanya yang mereka perselisihkan dan ingkari adalah Al-Qur’an al-Karim, karena Al–Quran adalah berita yang agung sebagaimana firman Allah:قُلْ هُوَ نَبَأٌ عَظِيمٌKatakanlah: “Berita itu (yaitu al-Qur’an) adalah berita yang besar. (QS Shad : 67)Mereka berselisih tentang al-Qur’an. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah sihir, ada pula yang mengatakan sya’ir, dan ada juga yang mengatakan bahwa al-Qur’an itu adalah dongeng-dongeng orang-orang terdahulu.Sebagian salaf yang lain menyatakan bahwa yang dimaksud dengan النَّبَإِ الْعَظِيمِ adalah kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka sangat mengingkari kenabian Muhammad. Meskipun mereka mengenal dan menggelari Nabi sebagai al-Amiin (orang yang sangat amanah dan terpercaya), akan tetapi mereka kaget dan tidak menduga bahwa Muhammad akan menyatakan bahwa dirinya adalah utusan Allah.Pendapat ketiga dari para salaf bahwa yang mereka ingkari dan mereka perdebatkan adalah hari kiamat atau hari kebangkitan setelah kematian. Kaum musyrikin mengingkari bahwa orang yang telah meninggal dunia akan dibangkitkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Adapun kematian maka kaum musyrikin tidaklah mengingkarinya, karena mereka telah melihat langsung bahwasanya orang hidup akan meninggal. Yang membuat mereka heran adalah bagaimana yang mati bisa dihidupkan kembali? Inilah yang mereka pertanyakan عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ yaitu tentang hari kiamat.Apabila dicermati, konteks ayat yang Allah Subhanallahu wata’ala sebutkan setelah ayat ini berbicara tentang hari kebangkitan. Sehingga pendapat yang lebih kuat dari 3 pendapat ini bahwa yang dimakskud dengan النَّبَإِ الْعَظِيمِ “berita yang besar” adalah berita dahsyat tentang hari kebangkitan pada hari kiamat. Pendapat ketiga ini dipilih oleh Ibnu Jarir At-Thabari (lihat : Tafsir At-Thabari 7/24), al-Baghawi (lihat Tafsir Al-Baghawi 8/309), Ibnu Katsir (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/302), dan Asy-Syaukani (lihat Fathul Qodir). Meskipun sebagian ulama mengkompromikannya dengan menyatakan bahwa yang dimaksud denga النَّبَإِ الْعَظِيمِ adalah Al–Quran al-Karim yang di dalamnya disebutkan tentang adanya hari kebangkitan.Diantara dalil yang menguatkan bahwasanya النَّبَإِ الْعَظِيمِ adalah hari kebangkitan, yaitu ayat setelahnya dimana Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan :3) الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ“yang mereka perselisihkan tentang hal ini” (QS An-Naba’ : 3)Diantara mereka (penduduk kota Mekah) terjadi perdebatan tentang suatu berita besar yang membuat mereka berselisih. Ada yang sekedar menyangka akan adanya hari kebangkitan namun tidak meyakini, ada yang meyakini akan adanya hari kebangkitan mereka itulah kaum muslimin, ada pula yang benar-benar mengingkari akan adanya hari kebangkitan yaitu dari kaum musyrikin arab. Kaum musyrikin arab lalu membodoh-bodohkan orang yang mengatakan akan adanya hari kiamat. Mereka berpendapat bagaimana bisa manusia yang sudah meninggal dunia kemudian menjadi tulang belulang, lalu lumat bercampur dengan tanah yang terkadang tidak bisa dibedakan mana tulang mana tanah saking hancurnya, kemudian dibangkitkan kembali oleh Allah Subhanallahu wata’ala?Allah Subhanallahu wata’ala membantah persangkaan mereka dengan firmanNya :4) كَلَّا سَيَعْلَمُونَ 5) ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ“sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui. Dan kemudian sekali-kali tidak, mereka akan mengetahui (kebenaran dari hari kebangkitan tersebut)” (QS An-Naba’ : 4)Sekarang mereka mengingkari, tetapi kelak mereka akan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana mereka dibangkitkan. Mereka akan menyaksikan dahsyatnya hari kiamat tersebut. Seakan-akan Allah Subhanallahu wata’ala menyatakan : “Mana akal kalian wahai kaum musyrikin? Apakah kalian menyangka bahwa kehidupan ini akan sirna begitu saja? Tidak ada hari kebangkitan dan tidak ada pembedaan? Kalian mengakui adanya Tuhan, kalian mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala, kalian percaya adanya pencipta, lantas kalian mengatakan pencipta tersebut hanya menciptakan begitu saja tanpa ada pertanggungjawaban di hari akhirat? Sehingga kalian menyangka tidak ada yang membedakan antara mana yang dzalim dan didzalimi, semua sama saja menjadi tanah tulang belulang, tidak ada hari pertanggung jawaban, tidak dibedakan antara kafir dan beriman, tidak akan dibedakan antara yang mendustakan dan yang membenarkan?” Sesungguhnya ini adalah pemikiran yang konyol, sikap seperti ini tidak mungkin dilakukan oleh pencipta alam semesta yang Maha Hikmah dan Maha Bijak. Jika sikap seperti ini tidak layak dilakukan oleh seorang pemimpin dunia terhadap bawahannya apalagi Allah Subhanallahu wata’ala terhdap ciptaanNya.Beriman kepada akhirat merupakan perkara yang sangat penting. Karena ini akan mempengaruhi perjalanan hidup manusia. Seorang yang beriman kepada Allah Subhanallahu wata’ala dan beriman bahwasanya dia akan dibangkitkan dan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanallahu wata’ala, akan nampak dampaknya dalam kehidupannya. Dia tahu bahwa setiap lafal yang dia ucapkan, setiap perbuatan yang dia kerjakan, akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Berbeda dengan seseorang yang tidak beriman akan hal ini, dia merasa bahwa dia tidak akan dibangkitkan. Sehingga dia akan melakukan segala kegiatan seenaknya karena dia merasa tidak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanallahu wata’ala.Kemudian setelah itu Allah Subhanallahu wata’ala mulai menyebutkan tentang kenikmatan-kenikmatan yang Dia berikan kepada manusia untuk mengingatkan kaum musyrikin bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala adalah عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ “Maha Kuasa atas segala Sesuatu”, bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala mampu untuk membangkitkan para hamba. Allah Subhanallahu wata’ala menjelaskan bahwa penciptaan manusia adalah perkara yang ringan. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar (dahsyat) daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Ghafir : 57)Alam semesta ini luar biasa luasnya, luar biasa megahnya. Allah Subhanallahu wata’ala menciptakan ini semua dengan mudahnya, maka mudah pula bagi Allah Subhanallahu wata’ala untuk sekedar membangkitkan manusia yang sudah menjadi tulang belulang. Bukankah Allah Subhanallahu wata’ala telah menciptakan mereka sebelumnya dari ketiadaan?Perkara ini (yaitu Allah menciptakan alam semesta) merupakan perkara yang diyakini oleh orang-orang musyrikin. Orang-orang musyrikin bukanlah dahriah -yaitu orang-orang yang mengingkari adanya Tuhan-, akan tetapi kaum musyrikin mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala, hanya saja mereka mengingkari adanya hari kebangkitan, sehingga Allah Subhanallahu wata’ala menjelaskan kepada mereka :“jika kalian mengakui bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala lah yang telah menciptakan kalian, maka mengulangi penciptaan kalian lebih mudah perkaranya”. Diantara bentuk penjelasan Allah Subhanallahu wata’ala kepada mereka adalah Allah menjelaskan bahwa yang menciptakan alam semesta ini adalah Allah Subhanallahu wata’ala, dan penciptaan alam semesta lebih dahsyat daripada penciptaan manusia.Oleh karena itu, dari ayat yang ke-enam dan seterusnya Allah Subhanallahu wata’ala akan menyebutkan perkara-perkara yang berkaitan dengan penciptaan alam, diantaranya kenikmatan-kenikmatan yang Allah diberikan kepada orang-orang musyrikin. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :6) أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَاداً“bukankah kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?” (QS An-Naba’ : 6)Sebagian ahli tafsir menafsirkannya dengan مُمَهَّدًا (dipersiapkan), yaitu bukankah kami menjadikan bumi itu dalam kondisi telah dipersiapkan sehingga manusia mudah menempatinya, mudah untuk bercocok tanam, mudah untuk menjalani kehidupan?. Dalam sebagian qira’ah dibaca مَهْدًا yaitu kasur yang disiapkan untuk bayi agar bayi tersebut tidur di atasnya. Demikian pula Allah menyiapkan bumi ini dengan segala fasilitasnya agar mudah untuk ditempati oleh manusia.Menciptakan bumi dalam kondisi dipersiapkan adalah perkara yang sangat mudah bagi Allah Subhanallahu wata’ala. Ini adalah nikmat yang luar biasa dari Allah Subhanallahu wata’ala kepada kalian wahai kaum musyrikin! Jika menciptakan bumi yang sedemikian hebat untuk kalian adalah mudah, maka membangkitkan kalian tentu juga mudah.Lalu mulailah Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan karunia-karunia-Nya kepada mereka, sehingga tampaklah kekuasaan Allah dan kemaha mampuan Allah Subhanallahu wata’ala serta kemaha Esaan Allah Subhanallahu wata’ala.7) وَالْجِبَالَ أَوْتَاداً“dan gunung-gunung sebagai pasak.” (QS An-Naba’ : 7)أَوْتَاداً dalam bahasa arab adalah bentuk jamak (plural) dari الوَتَدُ yang artinya adalah pasak. Jika kita ingin mendirikan kemah, maka kita perlu menancapkan semacam paku baik dari besi maupun dari kayu. Kita tancapkan terlebih dahulu dengan kuat kemudian kita ikat tali penyangga kemah tersebut. Kalau perlu kita memasang lima atau enam pasak/paku tersebut, atau minimal empat pasak sehingga kemah tersebut tegak dan tidak jatuh. Gunung yang Allah Subhanallahu wata’ala tancapkan ke bumi ini semacam pasak. Kabar ini diucapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala 1400 tahun yang lalu. Di jaman sekarang yang semakin modern ini, setelah orang-orang melakukan penggalian-penggalian, mereka kemudian mengetahui bahwasanya gunung itu sangat tinggi, baik yang menjulang ke atas maupun yang menjulang ke bawah. Dari sini diketahui bahwasanya gunung itu bukanlah tumpukan tanah di atas permukaan bumi, akan tetapi dia tertancapkan ke bawah ibarat paku/pasak yang ditanamkan. Sehingga akan kita dapati kawah gunung itu berada di bawah permukaan tanah dan terus ke bawah. Akar gunung itu menjulang ke dalam jauh bahkan sebagian ahli dalam hal ini mengatakan bahwa bagian gunung yang muncul di atas permukaan bumi hanyalah 1/3 bagian. Jika kita menancapkan paku untuk membuat ikatan dari kemah, maka kita akan menancapkannya dengan dalam, yang kita sisakan hanya sebagian kecil agar paku tersebut kuat mengikat tali. Seperti itulah gunung-gunung yang ditancapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala di atas muka bumi agar bumi ini tidak bergetar. Hal ini diucapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala 1400 tahun yang lalu dan baru diketahui akan kebenarannya bahwasanya gunung itu tidak terhamparkan seperti tanah yang dihamburkan ke atas kemudian menggunung melainkan tertancapkan. Bukan seperti gunung di padang pasir yang bisa berpindah-pindah karena ditiup angin. Hal ini disebabkan karena gunung yang ada di padang pasir tidak tertancapkan di dalam bumi, tetapi ia hanyalah sekedar kumpulan pasir yang berada di atas daratan. Karenanya jika seseorang masuk ke dalam gurun/padang pasir, susah baginya untuk keluar, karena tidak ada gunung yang bisa dijadikan patokan, disebabkan gunung-gunung tersebut bisa berpindah-pindah tertiup angin. Adapun gunung bumi maka ia tertancap kuat di bawah tanah, makanya Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan أَوْتَاداً “gunung-gunung yang kami pasakkan.”Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala mengingatkan kenikmatan yang lain yang menunjukkan akan kekuasaan-Nya. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:8) وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجاً“dan kami jadikan kalian berpasang-pasangan”Ini merupakan nikmat dari Allah Subhanallahu wata’ala, Allah menjadikan setiap makhluk berpasang-pasangan. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam ayat yang lainوَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan” (QS Adz-Dzariyat : 49)Para ulama mengatakan tentang faidah Allah Subhanallahu wata’ala menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan.Yang pertama, Allah Subhanallahu wata’ala ingin menjelaskan bahwa Dia Maha Esa tidak butuh dengan pasangan.قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ“Dialah Allah yang maha esa” (QS Al-Ikhlas : 1)بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (101)Dia (Allah) Pencipta langit dan bumi. Bagaimana (mungkin) Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu (QS Al-An’aam : 101)وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا (3)Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak (QS Al-Jinn : 3)Allah Subhanallahu wata’ala tidak butuh dengan sesuatu pun, Allah Subhanallahu wata’ala tidak butuh kepada anak dan juga tidak butuh kepada pasangan. Semua makhluk yang Allah ciptakan adalah berpasang-pasangan. Contohnya manusia, ada Adam dan Hawa, ayah dan ibunda kita, kemudian setiap manusia pun demikian ada laki-laki dan ada pula perempuan, hewan-hewan pun demikian ada jantan dan ada betina, bahkan dalam hal listrik pun ada positif dan ada negatif. Hampir semua perkara ada pasangannya, menunjukkan bahwasanya Maha Esa lah yang menciptakan pasangan-pasangan tersebut. Ini adalah nikmat luar biasa yang Allah Subhanallahu wata’ala berikan. Bagaimana Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan lelaki dan wanita berpasangan yang saling membutuhkan diantara mereka yang tidak mungkin seorang lelaki bisa tenteram dan merasa nyaman kecuali ada wanita/istri yang mendampinginya. Bahkan Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan pasangan tersebut sebagai tanda-tanda kebesaran Allah Subhanallahu wata’ala, tanda-tanda bahwa Allah adalah Sang Pencipta, sebagaimana dalam firman-Nya :وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَDan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS Ar-Ruum : 21)Fungsinya adalah لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا yaitu agar kalian merasa tenang bersama istri-istri kalian tersebut. Mustahil seorang lelaki normal bisa hidup dengan tenang tanpa ada pasangan di dalam hidupnya. Diantara nikmat dari Allah Subhanallahu wata’ala ialah Dia menumbuhkan kebutuhan seorang lelaki dengan pasangannya tersebut. Allah Subhanallahu wata’ala pula lah yang menumbuhkan rasa kasih sayang diantara pasangan tersebut.Demikian juga dengan menciptakan segala sesuatu secara berpasangan, menunjukkan akan kekuasaan Allah karena bisa menciptakan dua hal yang saling berlawanan dan kontradiktif. Allah menciptakan surga, namun Allah juga menciptakan lawannya yaitu neraka. Allah menciptakan malaikat Jibril, namun Allah juga menciptakan Iblis. Allah menciptakan Fir’aun, namun Allah juga menciptakan Musa ‘alaihis salam.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:9) وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتاً“dan kami jadikan tidur kalian untuk istirahat”سُبَاتاً dalam bahasa arab artinya istirahat. Ini juga merupakan anugerah dari Allah Subhanallahu wata’ala. Seandainya seseorang bekerja terus-menerus tanpa istirahat niscaya dia akan binasa. Oleh karena itu, Alah menjadikan seseorang lelah sehingga dia butuh dengan istirahat.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:10) وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاساً“dan kami jadikan malam sebagai pakaian dari kalian”Sebagian ahli tafsir mengatakan, seseorang yang memasuki malam hari, maka malam tersebut yaitu gelapnya malam akan meliputi dia. Pada zaman dahulu tatkala lampu belum ada begitupun penerangan lainnya, manusia sering berada dalam keadaan gelap. Seseorang tidak akan membuka pakaiannya kecuali di malam hari ketika dia sudah tertutupi oleh gelapnya malam, karenanya dia tidak malu untuk membuka pakaiannya. Sehingga seakan-akan Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan malam-malam tersebut sebagai ganti dari pakaiannya.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:11) وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشاً“dan kami jadikan siang hari sebagai tempat mencari kehidupan (untuk mencari ma’isyah)”Para ulama menyebutkan sunnatullah (aturan Allah Subhanallahu wata’ala) bahwa malam adalah waktu istirahat dan siang adalah waktu mencari nafkah dan mencari kehidupan. “barang siapa yang merubah tatanan ini maka dia akan ditimpa dengan berbagai macam gangguan”. Seseorang yang harusnya menjadikan malamnya sebagai waktu istirahat dan siang sebagai waktu bekerja namun dia balik menjadi siang untuk tidur dan malam untuk kelayapan maka dia akan terganggu, tubuhnya tidak akan segar meskipun waktu tidurnya di siang hari lebih banyak. Tetap saja dia tidak akan merasakan kelezatan sebagaimana yang dia rasakan ketika dia tidur pada malam hari selama 8 jam, meskipun pada siang hari tidurnya lebih panjang. Hal ini terjadi karena dia mengubah tatanan, yang seharusnya malam menjadi tempat istirahat, namun dia ubah malamnya menjadi tempat untuk mencari penghidupan dan siangnya menjadi tempat untuk istirahat. Orang seperti ini kehidupan yang dia jalani tidak akan berjalan dengan normal, dia akan merasakan gangguan kesehatan, gangguan dalam pikirannya, dan berbagai hal lainnya.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman lagi tentang anugerah yang Dia berikan :12) وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعاً شِدَاداً“dan kami bangun di atas kalian 7 langit yang kokoh”Langit yang berada di atas kita ada sebanyak 7 lapis, jarak antara langit satu dengan langit lainnya membutuhkan perjalanan yang sangat jauh. Ini menunjukkan bagaimana luasnya ke-Maha kuasaan Allah Subhanallahu wata’ala. Langit yang kita saksikan ini tidak diketahui dimana penghujungnya. Allah Subhanallahu wata’ala menegakkannya tanpa pasak dari bumi dan langit juga lebih luas daripada bumi ini. Padahal kita tahu pada umumnya yang berada di atas itu lebih kecil daripada yang di bawah. Kemudian yang di atas itu lebih butuh daripada yang di bawah, apabila yang di bawah jatuh maka yang di atas juga akan jatuh, sehingga butuh pasak untuk menahan. Inilah yang sering kita lihat dalam praktek kehidupan sehari-hari, yang di atas lebih kecil daripada yang di bawah, yang di bawah menaungi yang di atas, dan yang di atas butuh dengan pasak agar dia tidak terjatuh. Namun hal ini tidak berlaku pada langit. Langit jauh lebih tinggi daripada bumi dan jauh lebih luas daripada bumi. Sementara itu tidak ada pasak yang tertancap dari bumi menuju langit padahal langit yang dengan kokohnya berada di atas kita bukan hanya satu lapis melainkan 7 lapis. Seseorang yang merenungkan hal ini akan menyadari bahwa dia adalah makhluk yang sangat kecil yang tidak ada tandingannya dengan bumi ini. Lantas bagaimana dengan kedahsyatan langit yang Allah Subhanallahu wata’ala bangun 7 lapis di atas bumi ini.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:13) وَجَعَلْنَا سِرَاجاً وَهَّاجاً“dan kami jadikan pelita yang amat terang (yaitu matahari)”Barangsiapa yang memperhatikan Al Quran, dia akan mengetahui bahwasanya Al Quran diturunkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Al Quran datang dengan lafal-lafal yang detail dan tidak mungkin keliru.لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍYang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji (QS Fusshilat : 42)Tidak akan ada kesalahan dari depan maupun belakang, dan dari arah manapun, karena diturunkan dari Allah Subhanallahu wata’ala.Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan tentang matahari dimana Dia mengatakan :وَجَعَلْنَا سِرَاجاً وَهَّاجاً “kami jadikan sinar yang وَهَّاجاً yaitu mengandung rasa panas”. Kata para ulama maksudnya adalah matahari. Matahari tidak disebut oleh Allah Subhanallahu wata’ala dengan Nur, berbeda dengan rembulan. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُوراً“Dan Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan pada langit-langit tersebut terdapat Nur” yaitu cahaya. Matahari oleh Allah Subhanallahu wata’ala dikatakan sebagai سِرَاجاyang bermakna sinar. Adapun rembulan dikatakan sebagai cahaya karena pantulan dari sinar tersebut. Ini menunjukkan betapa detailnya Al Quran yang Allah Subhanallahu wata’ala turunkan 1400 tahun yang lalu.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:14) وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجاً“dan kami turunkan dari awan air yang banyak”Diantara makna الْمُعْصِرَاتِdalam bahasa arab adalah awan yang sudah hitam yang mengandung butiran-butiran air dan siap diturunkan ke langit. Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجاً “dan kami turunkan dari awan tersebut air yang banyak”, yaitu hujan yang deras. ini merupakan nikmat dari Allah Subhanallahu wata’ala juga. Kemudian apa fungsi dari air yang turun tersebut? Kata Allah Subhanallahu wata’ala :15) لِنُخْرِجَ بِهِ حَبّاً وَنَبَاتاً“agar kami turunkan kami tumbuhkan dari air hujan tersebut”حَبّاً adalah biji-bijian sedangkan نَبَاتاً adalah tumbuhan-tumbuhan. Biji-bijian disini mengandung segala bentuk biji-bijian yang merupakan makanan pokok manusia. Seperti beras, gandum, jagung, adas, fuul (kacang merah).Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan وَنَبَاتاً. Mengapa Alah menyebutkan biji-bijian terlebih dahulu? Karena biji-bijian merupakan makanan pokok yang hampir tidak mungkin hidup tanpa makanan tersebut. Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan, sayur-mayur, buah-buahan, terkadang manusia itu tidak butuh terhadap sayur–mayur dan buah-buahan. Sehingga dalam penyebutannya, Allah Subhanallahu wata’ala pun menyebutkannya secara berurutan yaitu biji-bijian terlebih dahulu kemudian tumbuh-tumbuhan yang lainnya.Setelah itu, Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan :16) وَجَنَّاتٍ أَلْفَافاً“kemudian kebun-kebun yang lebat”Ayat ini adalah bagian terakhir yang berisi tentang karunia-karunia yang beraneka ragam yang Allah Subhanallahu wata’ala berikan kepada manusia sebagai bukti bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala Maha Kuasa. Allah Subhanallahu wata’ala yang menumbuhkan tetumbuhan, Allah Subhanallahu wata’ala yang meninggikan langit, Allah Subhanallahu wata’ala yang telah menciptakan bumi, Allah Subhanallahu wata’ala yang telah memberikan dan menurunkan hujan ini. Ini semua menunjukkan akan kekuasaan Allah Subhanallahu wata’ala. Seakan-akan Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan kepada orang-orang musyrikin, “Hai orang-orang musyrikin, jika kami bisa melakukan itu semua, maka menghidupkan kembali yang telah menjadi tulang belulang adalah perkara yang mudah”.Setelah itu Allah Subhanallahu wata’ala mulai menyebutkan tentang hari kiamat yaitu pembahasan selanjutnya setelah pembahasan sebelumnya yang menyebutkan berbagai macam kenikmatan yang disebutkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Diantara cara belajar ilmu tafsir yang dilakukan oleh sebagian ulama adalah sebagian surat diklasifikasikan menjadi pokok-pokok bahasan, mulai dari paragraf pertama berbicara tentang ini, paragraf ke dua berbicara tentang itu, paragraf ketiga, dan seterusnya. Hal ini dilakukan agar kita bisa melihat maknanya secara kompleks atau secara keseluruhan dengan cara mengetahui masing-masing maksud dari setiap paragrafnya. Belajar ilmu tafsir memang butuh kesabaran untuk mempelajarinya bagian per bagian, terutama surat-surat yang sering kita baca. Sebisa mungkin surat-surat yang ada di juz ‘amma dihafalkan dengan baik dan dipelajari tafsirnya dengan cermat secara bertahap.Setelah itu masuk ke dalam pembahasan yang baru, Allah Subhanallahu wata’ala menjelaskan tentang dahsyatnya hari kiamat. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:17) إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتاً“sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang sudah ditetapkan”Yaitu hari kiamat yang pasti datangnya. Barang siapa yang meninggal dunia maka dia telah memasuki kiamat kecil. Dan selanjutnya dia akan memasuki alam akhirat. Hari kiamat sudah tegak baginya meskipun kiamat kubra (kiamat besar, untuk semua makhluk) belum datang. Setiap manusia telah ditentukan kiamat baginya, berbeda dengan datangnya hari kiamat besar maka tidak ada yang mengetahui waktunya kecuali Allah Subhanallahu wata’ala. Memang benar Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassallam telah mengabarkan bahwa hari kiamat akan terjadi pada hari jumat, tetapi tidak ada yang mengetahui hari jumat tersebut jatuh pada minggu, bulan, dan pada tahun yang mana. Dia akan datang dengan tiba-tiba, dan kedatangannya tersebut adalah sesuatu yang pasti. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتاً“sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang sudah ditetapkan”Allah Subhanallahu wata’ala menamakannya dengan hari keputusan/hari pembeda. Sehingga salah satu nama hari kiamat adalah hari pembeda. Karena pada hari tersebut Allah Subhanallahu wata’ala akan bedakan antara kebenaran dengan kebathilan, antara orang yang dzalim dan orang yang di dzalimi, antara yang mukmin dan yang kafir, semua dibedakan pada hari tersebut. Allah Subhanallahu wata’ala juga akan membedakan antara penghuni surga dan penghuni neraka.Ketahuilah bahwa pada hari tersebut seluruh atribut akan ditinggalkan dan seluruh pangkat serta jabatan akan ditinggalkan. Di hari kiamat kelak tidak ada kecuali 2 golongan : sebagian di surga, sebagian di neraka jahannam. Tidak ada lagi perbedaan kaya dan miskin, si kaya tidak bisa sombong pada hari tersebut. Si panglima dan jenderal tidak akan bisa sombong pada hari tersebut. Dia tidak akan menampakkan jabatannya, tetapi dia akan termasuk ke dalam 2 golongan, apakah masuk surga atau masuk neraka. Oleh karena itu, hari itu adalah yaumal fashli yaitu hari pembeda antara hak dan bathil, hari pembeda antara yang beriman dan yang kafir, hari pembeda antara yang dibenarkan dan yang didustakan.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan :18) يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجاً“pada hari tersebut sangkakala ditiup lalu kalian akan datang berkelompok-kelompok”Pada hari kiamat akan terjadi 2 tiupan sangkakala dan hari kebangkitan akan terjadi pada tiupan yang kedua. Yang akan meniupkan sangkakala adalah malaikat israfil yang disebut dengan shahibul qarn. Dia akan meniup semacam bom dengan tiupan yang sangat dahsyat sehingga tatkala tiupan pertama :وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ“maka seluruh yang hidup di langit dan di bumi akan meninggal/mati tatkala itu, kecuali yang Allah Subhanallahu wata’ala hendaki.” (QS Az-Zumar : 68)Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman dalam lanjutan ayat tersebut:ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ“kemudian ditiupkan dengan tiupan yang kedua tiba-tiba manusia seluruhnya bangkit”.Dalam ayat ini Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan bahwa kebangkitan terletak pada tiupan yang kedua. Adapun jarak antara tiupan pertama dan kedua adalah 40. Namun 40 yang dimaksud tidak diketahui secara pasti apakah 40 hari atau 40 bulan atau 40 tahun karena sang perawi lupa apa yang didengar dari Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam, hanya saja Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam berkata jarak tiupan pertama dan tiupan kedua adalah 40. Dan tatkala tiupan sangkakala yang kedua “فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ” maka semuanya pun dibangkitkan. Kata Allah Subhanallahu wata’ala : “فَتَأْتُونَ أَفْوَاجا“ kalian akan datang kepada kami dalam keadaan berkelompok-kelompok. Pada hari tersebut kata Allah Subhanallahu wata’ala :19) وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَاباً“maka langit-angit akan dibukakan”Langit-langit yang kita saksikan sekarang tidak ada lubang dan tidak ada celahnya sama sekali. Namun pada hari kiamat akan terbuka, akan banyak pintu-pintu yang Allah Subhanallahu wata’ala bukakan. Karena pada hari tersebut malaikat akan turun, dan kita tahu bahwa malaikat penghuni langit amatlah banyak. Oleh karena itu, dalam suatu hadits Nabi berkata :إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ، وَأَسْمَعُ مَا لَا تَسْمَعُونَ، أَطَّتِ السَّمَاءُ وَحَقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ، مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلَّا عَلَيْهِ مَلَكٌ سَاجِدٌ“Sesungguhnya aku melihat apa yang kalian tidak lihat, dan aku mendengar apa yang kalian tidak mendengarnya. Langit terasa berat dan pantas bagi langit untuk terasa berat. Tidak ada satu tempat seukuran empat jari kecuali ada malaikat yang sujud di atasnya” (HR Ahmad no 21516, At-Tirmidzi no 2312 dan Ibnu Maajah no 4190 dengan sanad yang hasan)أَطِيْطٌ asalnya adalah suara yang keluar dari rahil (pelana onta yang terbuat dari kayu) tatkala diduduki oleh penunggang onta. Atau suara rintihan onta tatkala dibebani dengan beban yang sangat berat. Maksud dari hadits di atas adalah langit seakan-akan merasa keberatan karena betapa banyaknya malaikat yang menempati langit.Pada hari kiamat kelak langit-langit akan terbelah dan terbuka menjadi seperti pintu-pintu, para malaikat itu pun turun (lihat Tafsir Al-Baghowi 8/313). Hal ini sebagaimana firman Allah :وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّماءُ بِالْغَمامِ وَنُزِّلَ الْمَلائِكَةُ تَنْزِيلًا‘’Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang’’ (QS Al-Furqon : 25)Pendapat yang lain menyatakan bahwa langit-langit pada hari kiamat terbelah-belah sehingga menjadi seperti potongan-potongan kayu seperti pintu-pintu (Lihat Tafsir At-Thobari 24/19).Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:20) وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَاباً“dan dijamakkanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah dia”Gunung-gunung di akhirat kelak akan diangkat oleh Allah Subhanallahu wata’ala kemudian diterbangkan di udara lalu dihancurkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Dan ini terjadi tatkala tiupan sangkakala yang pertama dimana bumi ini akan dihancurkan dan digoncangkan dengan sedahsyat-dahsyatnya. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam banyak surat. Allah akan menggantikan bumi ini dengan yang lain, bumi di padang mahsyar yang dijadikan sebagai tempat untuk kita dihisab oleh Allah bukanlah bukanlah bumi yang sekarang kita pijak. Allah mengatakan:يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْض“pada hari dimana Allah akan gantikan bumi dengan bumi yang lain.” (QS Ibrahim : 48)Bumi yang akan kita pijak di padang mahsyar nanti berbentuk datar, tidak ada gunung dan tidak ada lembah. Semua gunung dihancurkan oleh Allah,وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا“mereka bertanya kepada engkau tentang gunung-gunung, katakanlah “Tuhanku akan menghancurkan (pada hari kiamat) sehancur-hancurnya“. (QS Thaha : 105)Gunung-gunung besar yang sekarang kita saksikan akan hancur lebur menjadi seperti fatamorgana, dari kejauhan terlihat seperti air, namun dari dekat ternyata adalah debu-debu yang berterbangan (lihat Tafsir At-Thobari 24/20).Kemudian Allah berfirman :21) إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا“sesungguhnya neraka jahannam itu sebagai tempat pengintai”.Setelah Allah menyebutkan tentang dahsyatnya hari kiamat, Allah kemudian menyebutkan pembahasan selanjutnya yaitu tentang neraka jahannam. Sesungguhnya para penjaga neraka akan mengintai, terutama mengintai manusia yang sedang melewati shirath (jembatan yang terbentang di atas neraka). Neraka mengintai untuk menjerumuskan mereka ke dalam neraka. Neraka jahannam mengintai siapa? Allah kemudian berfirman :22) لِلطَّاغِينَ مَآبًا“merupakan tempat kembali bagi orang-orang yang melampui batas“.Ini adalah ancaman bagi orang-orang musyirikin, orang-orang kafir, orang-orang yang melakukan kedzhaliman dan melampui batas di atas muka bumi ini. Merekalah yang diintai dan ditunggu oleh neraka jahannam.23) لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا“mereka akan tinggal dalam waktu yang lama di neraka jahannam“Ada khilaf diantara para ulama tentang makna أَحْقَابًا. أَحْقَابًا adalah bentuk jamak dari حُقُبْ. Sebagian salaf menafsirkan حُقُبْ dengan 70 tahun, ada yang mengatakan 80 tahun, dan ada pula yang mengatakan 300 tahun.Maksud dari pendapat-pendapat di atas adalah dengan perhitungan setiap harinya seperti 1000 tahun di dunia. Sehingga yang berpendapat bahwa الْحُقْبُ adalah 70 tahun berarti setiap tahunnya ada 12 bulan, kemudian setiap bulannya 30 hari, dan setiap harinya 1000 tahun. Maka satu al-huqub ada 1000 tahun kali 30 (hari) kali 12 (bulan) kali 70 (tahun) sama dengan 25 juta tahun lebih dengan ukuran tahun di dunia. Adapun pendapat yang mengatakan satu al-huqub adalah 300 tahun tentu lebih banyak lagi.Namun dalam ayat ini Allah tidak mengatakan satu al-huqub akan tetapi Allah menyatakan dengan lafal jamak yaitu أَحْقَابًا (banyak huqub) yang intinya adalah orang-orang yang berbuat bermaksiat melampaui batas akan tinggal di neraka jahannam dalam waktu yang sangat lama. Jika mereka orang-orang kafir maka خَالِدَيْنِ فِيهَا “kekal dalam neraka tidak akan keluar”. Yaitu jika selesai al-huqub yang pertama akan datang al-huqub yang kedua, begitu seterusnya sampai tiada penghujungnya.Jika mereka orang-orang yang berbuat dzhalim, tetapi tidak kafir dan juga tidak musyirik maka mereka akan tinggal di neraka jahannam dalam waktu yang lama, boleh jadi ratusan ratusan tahun, ribuan tahun, atau bakan jutaan tahun, tentu ini adalah waktu yang sangat lama.Oleh karena itu, hendaknya seseorang itu jangan mengatakan, “meskipun saya bermaksiat namun saya masih islam, saya akan diadzab oleh Allah dan suatu saat saya akan dikeluarkan dan dimasukkan kedalam surga.” Apa yang dikatakannya memang benar karena seorang muslim tidak akan kekal di dalam neraka, dan ini adalah aqidah ahlussunnah. Yang kekal dalam neraka jahannam adalah orang-orang musyrik dan orang-orang kafir, adapun orang muslim dia tidak akan kekal di neraka, dia akan diadzab namun dia akan dikeluarkan. Tetapi hendaklah diingat bahwasanya jika seorang muslim telah diadzab maka ingatlah bahwa أَحْقَابًا sangat lama, bukan waktu yang sebentar. Jangan sampai seseorang mirip dengan keyakinan orang-orang Yahudi yang berkata :وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (80) بَلَى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (81)Dan mereka (Yahudi) berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja”. Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya (QS Al-Baqarah : 80-81)أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُدْعَوْنَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ وَهُمْ مُعْرِضُونَ (23) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ وَغَرَّهُمْ فِي دِينِهِمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَTidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; kemudian sebagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran). Hal itu adalah karena mereka mengaku: “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung”. Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan . (QS Ali-Imran : 23-24)Barang siapa yang masuk ke dalam neraka jahannam niscaya dia akan merasakan kepedihan yang amat sangat dalam waktu yang sangat lama. Oleh karena itu, kita berlindung kepada Allah dari siksa api neraka jahannam.Ibnu Katsir menyebutkan salah satu pendapat yang menyatakan bahwa firman Allah أَحْقَابًا berkaitan dengan ayat sesudahnya yaitu (mereka tidak akan merasakan dalam neraka jahannam kesejukan dan juga tidak ada minuman), artinya mereka akan disiksa dengan siksaan tersebut (tidak ada kesejukan dan tidak ada minuman) selama أَحْقَابًا, setelah itu Allah akan memberikan jenis-jenis penyiksaan yang lainnya.Kemudian kata Allah Subhanallahu wata’ala tentang orang-orang yang masuk kedalam neraka Jahannam :24) لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْداً وَلَا شَرَاباً“mereka tidak akan merasakan dalam neraka jahannam kesejukan dan juga tidak ada minuman”Yang dirasakan oleh mereka keseluruhannya adalah kepanasan. Tidak ada air minum yang bisa menghilangkan kehausan mereka. Bayangkan tatkala orang dikumpulkan di padang mahsyar mereka menunggu di hari yang sangat panjang yang 1 harinya seperti 50.000 tahun. Matahari pada saat itu jaraknya satu mil sehingga semua orang dalam kondisi kepanasan pada hari tersebut. Mereka merasakan dahaga yang sangat dan rasa lapar yang sangat.Para penghuni surga akan diberikan minuman, akan diberikan kelezatan didalam surge. Adapun penghuni neraka, maka rasa lapar yang amat sangat akan menyerang mereka, rasa haus yang amat sangat akan menyerang mereka. Mereka tidak akan menemukan rasa dingin sama sekali di dalamnya, melainkan kepanasanlah yang akan mereka rasakan. Mereka merasa tidak mendapatkan air minum sama sekali. Karena sebenarnya Allah Subhanallahu wata’ala menyediakan air untuk mereka, namun air tersebut sebagaimana firman Allah Subhanallahu wata’ala :25) إِلَّا حَمِيماً وَغَسَّاقاً“kecuali air yang mendidih dan nanah”حَمِيماً adalah air panas yang berada puncak panasnya. وَغَسَّاقاً kata para ulama adalah air yang dinginnya luar biasa tetapi bukan berasal dari air melainkan dari nanahnya penghuni neraka jahannam. Dari luka penghuni neraka, keringat mereka, dan nanah mereka, dikumpulkan dan didinginkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala kemudian dijadikan air minum untuk mereka. Sesungguhnya ini sangat menyiksa mereka. Selain itu minuman mereka tersebut sangat berbau busuk -sebagaimana penjelasan al-Hafiz Ibnu Katsir dalam tafsirnya-. Jadi di neraka jahannam nanti ada sebagian penghuni neraka yang disiksa dengan panas yang amat parah dan terkadang pula disiksa dengan dingin yang amat parah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا، فَقَالَتْ: يَا رَبِّ أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًا، فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ، نَفَسٍ فِي الشِّتَاءِ، وَنَفَسٍ فِي الصَّيْفِ، فَهْوَ أَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الْحَرِّ، وَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الزَّمْهَرِيرِNeraka mengeluh kepada Rabb-nya seraya berkata, “Ya Rabbku, sebagian dariku memakan sebagian yang lainnya”. Maka Allah memberi izin baginya dengan dua hembusan, hembusan tatkala musim panas dan hembusan tatkala musim dingin. Maka itulah panas yang paling parah yang kalian rasakan dan dingin yang paling parah yang kalian rasakan.” (HR Muslim No. 617)Kita tahu bahwa orang yang tinggal pada tempat yang bersuhu 1 derajat atau di bawah minus 1 derajat, maka orang tersebut akan merasa sangat tersiksa karena dingin yang menusuk ke dalam tulangnya. Jadi neraka jahannam bukan hanya berbentuk api yang amat panas tapi juga rasa dingin yang amat parah. Dan ini mudah bagi Allah Subhanallahu wata’ala untuk menggabungkan dalam satu tempat, ada yang dingin ada yang panas. Kita saksikan sebagian alat seperti AC atau kulkas. Kulkas dalamnya dingin, namun belakangnya panas. Demikian juga AC, mesinnya panas tetapi mengeluarkan udara yang dingin. Sehingga sangat mudah bagi Allah Subhanallahu wata’ala membuat neraka jahannam memiliki tempat yang sangat panas dan tempat yang sangat dingin. Ada حَمِيماً yaitu air yang sangat panas dan وَغَسَّاقاً yaitu nanah darah penghuni neraka jahannam yang sangat dingin yang jika diminum akan sangat menyiksa orang yang meminumnya.Mengapa para penghuni neraka tetap meminum minuman seperti ini padahal mereka tahu bahwa minuman tersebut hanya akan menambah siksaan bagi mereka, kata para ulama karena saking dahaganya sehingga harus ada sesuatu yang harus mereka masukkan ke dalam mulut mereka. Mereka sampai tidak peduli lagi apa yang mereka masukkan ke dalam mulutnya, meskipun mereka tahu bahwa meminum air panas hanya akan merusak isi perut mereka. Keadaannya sama seperti orang-orang yang kecanduan morfinis dan semacamnya, mereka ingin terus menghirupnya bahkan kadang dijumpai orang yang rela menggoret-goret tubuhnya untuk menghirup darahnya yang mengandung heroin tersebut. Mereka terpaksa melakukannya meskipun merasakan penderitaan. Demikian juga orang-orang musyrikin ketika merasakan dahaga yang amat sangat, mereka harus minum apapun yang bisa diminum. Meskipun air yang diminum adalah air panas yang bisa memotong-motong isi perut mereka, mereka tidak peduli yang penting bisa minum. Bahkan nanah dari para penghuni nereka jahannam yang terkumpulkan terpaksa diminum karena rasa dahaga yang amat yang mereka rasakan. Inilah air minum yang disediakan Allah Subhanallahu wata’ala untuk mereka.Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:26) جَزَاءً وِفَاقاً“sebagai balasan yang setimpal”Allah Subhanallahu wata’ala Maha Adil. Allah Subhanallahu wata’ala memberikan balasan seperti itu karena keadilan Allah Subhanallahu wata’ala. Allah membalas sesuai dengan apa yang mereka lakukan selama di dunia berupa kerusakan.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:27) إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَاباً“sesungguhnya mereka tidak berharap kepada yaumal hisab (hari perhitungan)”Orang-orang musyrikin tidak mau dan dan takut akan adanya perhitungan terhadap amal perbuatan mereka di dunia. Padahal mereka akan menemukan hari tersebut.Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :28) وَكَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا كِذَّاباً“mereka benar-benar mendustakan ayat kami”Mereka tahu apa yang mereka kerjakan kebanyakannya adalah maksiat. Seandainya mereka tahu bahwa mereka akan dihisab niscaya mereka tidak akan melakukan kemaksiatan. Karenanya mereka tidak meyakini adanya hisab, bahkan mereka tidak mau adanya hisab dan mereka takut adanya hisab. Mereka kemudian mendustakan ayat-ayat Allah Subhanallahu wata’ala yang menjelaskan tentang yaumul hisab, ayat-ayat tentang hari kebangkitan, dan ayat-ayat tentang hari persidangan. Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:29) وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَاباً“segala sesuatu dicatat oleh Allah Subhanallahu wata’ala”Tidak ada kemaksiatan apapun yang luput dari catatan Allah Subhanallahu wata’ala dan akan dihadirkan. Mereka akan melihat apa yang telah mereka lakukan, tidak ada kemaksiatan yang mereka lakukan kecuali telah dicatat.Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:30) فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَاباًini ayat yang paling mengerikan, kata Allah Subhanallahu wata’ala :“rasakanlah adzab Allah Subhanallahu wata’ala maka kami tidak akan menambah pada kalian kecuali adzab”.Ketika mereka diadzab di nereka jahannam dengan berabagai macam siksaan, siksaan yang mereka rasakan tidaklah satu jenis melainka setiap harinya bertambah kadar siksaannya. Orang yang diadzab di neraka Jahannam, mereka akan diadzab dengan beraneka ragam variasi siksaan yang semakin bertambah kerasnya.Ini adalah ayat yang sangat ditakutkan oleh para penghuni neraka Jahannam. Sampai-sampai Abdullah bin ‘Amr berkata :مَا أُنْزِلَتْ عَلَى أَهْلِ النَّارِ آيَةٌ قَطٌّ أَشَدُّ مِنْهَا“Tidak pernah turun satu ayatpun yang lebih berat kepada penghuni neraka dari pada ayat ini” (Fathul Qodiir 5/444)Bersambung Insya Allah…
Surat pertama dari juz ‘amma yang akan kita selami kandungannya adalah surat an-Naba’ yaitu surat ke 78. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :1) عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ“Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?” (QS An-Naba’ : 1)Ayat ini turun sebagai bantahan terhadap orang-orang musyrikin, yang mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala namun mereka mengingkari adanya hari kiamat. Orang-orang musyrikin mengakui akan adanya pencipta, mereka mengenal Allah Subhanallahu wata’ala. Dalil-dalil bahwasanya orang-orang musyrikin mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala sangatlah banyak. Seperti firman Allah Subhanallahu wata’ala:وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُDan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. (QS Luqman : 25)وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (61) اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (62) وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ (63)Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi serta menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka mengapa mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya). (QS al-‘Ankabut : 61-63)وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ (9)Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. (QS Az-Zukhruf : 9)وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (87)Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka akan menjawab: “Allah”, maka mengapa mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? (QS Az-Zukhruf : 87)قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (84) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (85) قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (86) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ (87) قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (88) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ (89)Katakanlah (Muhammad), “Milik siapakah bumi, dan semua yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ´Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (Al-Mukminun : 84-89)Oleh karena itu, banyak diantara orang-orang musyrikin yang bernama Abdullah yang artinya hamba Allah Subhanallahu wata’ala. Demikian juga orang-orang musyrikin dahulu mereka berhaji sebagaimana kaum muslimin berhaji, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadist-hadist yang shahih tentang bagaimana kaum musyrikin melaksankaan ibadah haji dan umrah. Hanya saja mereka mencampurkan haji mereka dengan syirik dan bid’ah tidak sebagaimana haji yang dilakukan oleh leluhur mereka yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ‘alaihimas salaam.Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma ia berkata,كَانَ الْمُشْرِكُونَ يَقُولُونَ: لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، قَالَ: فَيَقُولُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَيْلَكُمْ، قَدْ قَدْ» فَيَقُولُونَ: إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ، تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ، يَقُولُونَ هَذَا وَهُمْ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ“Kaum musyrikin berkata, “Labbaika laa syarika laka” (Ya Allah kami memenuhi panggilanMu, tidak ada sekutu bagiMu). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Celaka kalian, cukuplah, cukupkanlah!). Maka mereka (kaum musyrikin) berkata (dengan menambah), “illa syarikan huwa laka, tamlikuhu wamaa malaka” (Kecuali sekutu milikMu yang Engkau memilikinya dan ia tidak memiliki). Mereka mengucapkan hal ini sambil thawaf di ka’bah.” (HR. Muslim No. 1185)Intinya adalah orang-orang musyrikin mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala, hanya saja mereka mengingkari adanya hari kebangkitan. Sehingga tatkala Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam diutus oleh Allah Subhanallahu wata’ala dan mengingatkan kepada kaum musyrikin akan adanya hari kebangkitan seakan-akan beliau berkata, “Hai kalian kaum musyrikin yang terjerumus kedalam berbagai macam kemaksiatan, yang terjerumus kedalam berbagai macam kesyirikan, dan praktek-praktek perkara yang diharamkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala kalian akan dibangkitkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala dan kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang telah kalian lakukan” maka ini menjadi buah bibir diantara mereka, mereka saling berbicara ada apa gerangan? Muhammad telah mengabarkan akan terjadinya hari kiamat. Seketika menjadi buah bibir yang hangat di kalangan mereka. Mereka bertanya-tanya mengapa hari kiamat bisa terjadi? Seakan-akan otak mereka tidak menerima akan adanya hari kiamat, mereka mengingkari bagaimana bisa manusia yang sudah meninggal dunia kemudian menjadi tulang-belulang bahkan tulang belulang tersebut sudah melumat dengan tanah tetapi masih bisa dibangkitkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala? Keheranan ini menimbulkan tanya diantara mereka. Inilah yang Allah Subhanallahu wata’ala sebutkan dalam Al Quran,عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ “Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?”Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:2) عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ“mereka bertanya tentang berita yang besar.” (QS An-Naba’ : 2)An-Naba’ dalam bahasa arab artinya berita, yaitu berita yang penting yang sedang mereka bicarakan. Bahkan Allah Subhanallahu wata’ala sifatkan dalam hal ini dengan الْعَظِيمِ yaitu berita yang besar. Para ahli tafsir masa salaf memiliki 3 pendapat tentang makna firman Allah Subhanallahu wata’ala النَّبَإِ الْعَظِيمِ “tentang berita yang besar”Apa yang dimaksud dengan berita yang besar ini? Sebagian salaf mengatakan bahwasanya yang dimaksud dengan berita yang besar tersebut adalah al–Qur‘an al-‘Adzim. Ini pendapat sebagian salaf bahwasanya yang mereka perselisihkan dan ingkari adalah Al-Qur’an al-Karim, karena Al–Quran adalah berita yang agung sebagaimana firman Allah:قُلْ هُوَ نَبَأٌ عَظِيمٌKatakanlah: “Berita itu (yaitu al-Qur’an) adalah berita yang besar. (QS Shad : 67)Mereka berselisih tentang al-Qur’an. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah sihir, ada pula yang mengatakan sya’ir, dan ada juga yang mengatakan bahwa al-Qur’an itu adalah dongeng-dongeng orang-orang terdahulu.Sebagian salaf yang lain menyatakan bahwa yang dimaksud dengan النَّبَإِ الْعَظِيمِ adalah kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka sangat mengingkari kenabian Muhammad. Meskipun mereka mengenal dan menggelari Nabi sebagai al-Amiin (orang yang sangat amanah dan terpercaya), akan tetapi mereka kaget dan tidak menduga bahwa Muhammad akan menyatakan bahwa dirinya adalah utusan Allah.Pendapat ketiga dari para salaf bahwa yang mereka ingkari dan mereka perdebatkan adalah hari kiamat atau hari kebangkitan setelah kematian. Kaum musyrikin mengingkari bahwa orang yang telah meninggal dunia akan dibangkitkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Adapun kematian maka kaum musyrikin tidaklah mengingkarinya, karena mereka telah melihat langsung bahwasanya orang hidup akan meninggal. Yang membuat mereka heran adalah bagaimana yang mati bisa dihidupkan kembali? Inilah yang mereka pertanyakan عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ yaitu tentang hari kiamat.Apabila dicermati, konteks ayat yang Allah Subhanallahu wata’ala sebutkan setelah ayat ini berbicara tentang hari kebangkitan. Sehingga pendapat yang lebih kuat dari 3 pendapat ini bahwa yang dimakskud dengan النَّبَإِ الْعَظِيمِ “berita yang besar” adalah berita dahsyat tentang hari kebangkitan pada hari kiamat. Pendapat ketiga ini dipilih oleh Ibnu Jarir At-Thabari (lihat : Tafsir At-Thabari 7/24), al-Baghawi (lihat Tafsir Al-Baghawi 8/309), Ibnu Katsir (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/302), dan Asy-Syaukani (lihat Fathul Qodir). Meskipun sebagian ulama mengkompromikannya dengan menyatakan bahwa yang dimaksud denga النَّبَإِ الْعَظِيمِ adalah Al–Quran al-Karim yang di dalamnya disebutkan tentang adanya hari kebangkitan.Diantara dalil yang menguatkan bahwasanya النَّبَإِ الْعَظِيمِ adalah hari kebangkitan, yaitu ayat setelahnya dimana Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan :3) الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ“yang mereka perselisihkan tentang hal ini” (QS An-Naba’ : 3)Diantara mereka (penduduk kota Mekah) terjadi perdebatan tentang suatu berita besar yang membuat mereka berselisih. Ada yang sekedar menyangka akan adanya hari kebangkitan namun tidak meyakini, ada yang meyakini akan adanya hari kebangkitan mereka itulah kaum muslimin, ada pula yang benar-benar mengingkari akan adanya hari kebangkitan yaitu dari kaum musyrikin arab. Kaum musyrikin arab lalu membodoh-bodohkan orang yang mengatakan akan adanya hari kiamat. Mereka berpendapat bagaimana bisa manusia yang sudah meninggal dunia kemudian menjadi tulang belulang, lalu lumat bercampur dengan tanah yang terkadang tidak bisa dibedakan mana tulang mana tanah saking hancurnya, kemudian dibangkitkan kembali oleh Allah Subhanallahu wata’ala?Allah Subhanallahu wata’ala membantah persangkaan mereka dengan firmanNya :4) كَلَّا سَيَعْلَمُونَ 5) ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ“sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui. Dan kemudian sekali-kali tidak, mereka akan mengetahui (kebenaran dari hari kebangkitan tersebut)” (QS An-Naba’ : 4)Sekarang mereka mengingkari, tetapi kelak mereka akan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana mereka dibangkitkan. Mereka akan menyaksikan dahsyatnya hari kiamat tersebut. Seakan-akan Allah Subhanallahu wata’ala menyatakan : “Mana akal kalian wahai kaum musyrikin? Apakah kalian menyangka bahwa kehidupan ini akan sirna begitu saja? Tidak ada hari kebangkitan dan tidak ada pembedaan? Kalian mengakui adanya Tuhan, kalian mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala, kalian percaya adanya pencipta, lantas kalian mengatakan pencipta tersebut hanya menciptakan begitu saja tanpa ada pertanggungjawaban di hari akhirat? Sehingga kalian menyangka tidak ada yang membedakan antara mana yang dzalim dan didzalimi, semua sama saja menjadi tanah tulang belulang, tidak ada hari pertanggung jawaban, tidak dibedakan antara kafir dan beriman, tidak akan dibedakan antara yang mendustakan dan yang membenarkan?” Sesungguhnya ini adalah pemikiran yang konyol, sikap seperti ini tidak mungkin dilakukan oleh pencipta alam semesta yang Maha Hikmah dan Maha Bijak. Jika sikap seperti ini tidak layak dilakukan oleh seorang pemimpin dunia terhadap bawahannya apalagi Allah Subhanallahu wata’ala terhdap ciptaanNya.Beriman kepada akhirat merupakan perkara yang sangat penting. Karena ini akan mempengaruhi perjalanan hidup manusia. Seorang yang beriman kepada Allah Subhanallahu wata’ala dan beriman bahwasanya dia akan dibangkitkan dan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanallahu wata’ala, akan nampak dampaknya dalam kehidupannya. Dia tahu bahwa setiap lafal yang dia ucapkan, setiap perbuatan yang dia kerjakan, akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Berbeda dengan seseorang yang tidak beriman akan hal ini, dia merasa bahwa dia tidak akan dibangkitkan. Sehingga dia akan melakukan segala kegiatan seenaknya karena dia merasa tidak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanallahu wata’ala.Kemudian setelah itu Allah Subhanallahu wata’ala mulai menyebutkan tentang kenikmatan-kenikmatan yang Dia berikan kepada manusia untuk mengingatkan kaum musyrikin bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala adalah عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ “Maha Kuasa atas segala Sesuatu”, bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala mampu untuk membangkitkan para hamba. Allah Subhanallahu wata’ala menjelaskan bahwa penciptaan manusia adalah perkara yang ringan. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar (dahsyat) daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Ghafir : 57)Alam semesta ini luar biasa luasnya, luar biasa megahnya. Allah Subhanallahu wata’ala menciptakan ini semua dengan mudahnya, maka mudah pula bagi Allah Subhanallahu wata’ala untuk sekedar membangkitkan manusia yang sudah menjadi tulang belulang. Bukankah Allah Subhanallahu wata’ala telah menciptakan mereka sebelumnya dari ketiadaan?Perkara ini (yaitu Allah menciptakan alam semesta) merupakan perkara yang diyakini oleh orang-orang musyrikin. Orang-orang musyrikin bukanlah dahriah -yaitu orang-orang yang mengingkari adanya Tuhan-, akan tetapi kaum musyrikin mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala, hanya saja mereka mengingkari adanya hari kebangkitan, sehingga Allah Subhanallahu wata’ala menjelaskan kepada mereka :“jika kalian mengakui bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala lah yang telah menciptakan kalian, maka mengulangi penciptaan kalian lebih mudah perkaranya”. Diantara bentuk penjelasan Allah Subhanallahu wata’ala kepada mereka adalah Allah menjelaskan bahwa yang menciptakan alam semesta ini adalah Allah Subhanallahu wata’ala, dan penciptaan alam semesta lebih dahsyat daripada penciptaan manusia.Oleh karena itu, dari ayat yang ke-enam dan seterusnya Allah Subhanallahu wata’ala akan menyebutkan perkara-perkara yang berkaitan dengan penciptaan alam, diantaranya kenikmatan-kenikmatan yang Allah diberikan kepada orang-orang musyrikin. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :6) أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَاداً“bukankah kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?” (QS An-Naba’ : 6)Sebagian ahli tafsir menafsirkannya dengan مُمَهَّدًا (dipersiapkan), yaitu bukankah kami menjadikan bumi itu dalam kondisi telah dipersiapkan sehingga manusia mudah menempatinya, mudah untuk bercocok tanam, mudah untuk menjalani kehidupan?. Dalam sebagian qira’ah dibaca مَهْدًا yaitu kasur yang disiapkan untuk bayi agar bayi tersebut tidur di atasnya. Demikian pula Allah menyiapkan bumi ini dengan segala fasilitasnya agar mudah untuk ditempati oleh manusia.Menciptakan bumi dalam kondisi dipersiapkan adalah perkara yang sangat mudah bagi Allah Subhanallahu wata’ala. Ini adalah nikmat yang luar biasa dari Allah Subhanallahu wata’ala kepada kalian wahai kaum musyrikin! Jika menciptakan bumi yang sedemikian hebat untuk kalian adalah mudah, maka membangkitkan kalian tentu juga mudah.Lalu mulailah Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan karunia-karunia-Nya kepada mereka, sehingga tampaklah kekuasaan Allah dan kemaha mampuan Allah Subhanallahu wata’ala serta kemaha Esaan Allah Subhanallahu wata’ala.7) وَالْجِبَالَ أَوْتَاداً“dan gunung-gunung sebagai pasak.” (QS An-Naba’ : 7)أَوْتَاداً dalam bahasa arab adalah bentuk jamak (plural) dari الوَتَدُ yang artinya adalah pasak. Jika kita ingin mendirikan kemah, maka kita perlu menancapkan semacam paku baik dari besi maupun dari kayu. Kita tancapkan terlebih dahulu dengan kuat kemudian kita ikat tali penyangga kemah tersebut. Kalau perlu kita memasang lima atau enam pasak/paku tersebut, atau minimal empat pasak sehingga kemah tersebut tegak dan tidak jatuh. Gunung yang Allah Subhanallahu wata’ala tancapkan ke bumi ini semacam pasak. Kabar ini diucapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala 1400 tahun yang lalu. Di jaman sekarang yang semakin modern ini, setelah orang-orang melakukan penggalian-penggalian, mereka kemudian mengetahui bahwasanya gunung itu sangat tinggi, baik yang menjulang ke atas maupun yang menjulang ke bawah. Dari sini diketahui bahwasanya gunung itu bukanlah tumpukan tanah di atas permukaan bumi, akan tetapi dia tertancapkan ke bawah ibarat paku/pasak yang ditanamkan. Sehingga akan kita dapati kawah gunung itu berada di bawah permukaan tanah dan terus ke bawah. Akar gunung itu menjulang ke dalam jauh bahkan sebagian ahli dalam hal ini mengatakan bahwa bagian gunung yang muncul di atas permukaan bumi hanyalah 1/3 bagian. Jika kita menancapkan paku untuk membuat ikatan dari kemah, maka kita akan menancapkannya dengan dalam, yang kita sisakan hanya sebagian kecil agar paku tersebut kuat mengikat tali. Seperti itulah gunung-gunung yang ditancapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala di atas muka bumi agar bumi ini tidak bergetar. Hal ini diucapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala 1400 tahun yang lalu dan baru diketahui akan kebenarannya bahwasanya gunung itu tidak terhamparkan seperti tanah yang dihamburkan ke atas kemudian menggunung melainkan tertancapkan. Bukan seperti gunung di padang pasir yang bisa berpindah-pindah karena ditiup angin. Hal ini disebabkan karena gunung yang ada di padang pasir tidak tertancapkan di dalam bumi, tetapi ia hanyalah sekedar kumpulan pasir yang berada di atas daratan. Karenanya jika seseorang masuk ke dalam gurun/padang pasir, susah baginya untuk keluar, karena tidak ada gunung yang bisa dijadikan patokan, disebabkan gunung-gunung tersebut bisa berpindah-pindah tertiup angin. Adapun gunung bumi maka ia tertancap kuat di bawah tanah, makanya Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan أَوْتَاداً “gunung-gunung yang kami pasakkan.”Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala mengingatkan kenikmatan yang lain yang menunjukkan akan kekuasaan-Nya. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:8) وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجاً“dan kami jadikan kalian berpasang-pasangan”Ini merupakan nikmat dari Allah Subhanallahu wata’ala, Allah menjadikan setiap makhluk berpasang-pasangan. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam ayat yang lainوَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan” (QS Adz-Dzariyat : 49)Para ulama mengatakan tentang faidah Allah Subhanallahu wata’ala menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan.Yang pertama, Allah Subhanallahu wata’ala ingin menjelaskan bahwa Dia Maha Esa tidak butuh dengan pasangan.قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ“Dialah Allah yang maha esa” (QS Al-Ikhlas : 1)بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (101)Dia (Allah) Pencipta langit dan bumi. Bagaimana (mungkin) Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu (QS Al-An’aam : 101)وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا (3)Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak (QS Al-Jinn : 3)Allah Subhanallahu wata’ala tidak butuh dengan sesuatu pun, Allah Subhanallahu wata’ala tidak butuh kepada anak dan juga tidak butuh kepada pasangan. Semua makhluk yang Allah ciptakan adalah berpasang-pasangan. Contohnya manusia, ada Adam dan Hawa, ayah dan ibunda kita, kemudian setiap manusia pun demikian ada laki-laki dan ada pula perempuan, hewan-hewan pun demikian ada jantan dan ada betina, bahkan dalam hal listrik pun ada positif dan ada negatif. Hampir semua perkara ada pasangannya, menunjukkan bahwasanya Maha Esa lah yang menciptakan pasangan-pasangan tersebut. Ini adalah nikmat luar biasa yang Allah Subhanallahu wata’ala berikan. Bagaimana Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan lelaki dan wanita berpasangan yang saling membutuhkan diantara mereka yang tidak mungkin seorang lelaki bisa tenteram dan merasa nyaman kecuali ada wanita/istri yang mendampinginya. Bahkan Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan pasangan tersebut sebagai tanda-tanda kebesaran Allah Subhanallahu wata’ala, tanda-tanda bahwa Allah adalah Sang Pencipta, sebagaimana dalam firman-Nya :وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَDan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS Ar-Ruum : 21)Fungsinya adalah لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا yaitu agar kalian merasa tenang bersama istri-istri kalian tersebut. Mustahil seorang lelaki normal bisa hidup dengan tenang tanpa ada pasangan di dalam hidupnya. Diantara nikmat dari Allah Subhanallahu wata’ala ialah Dia menumbuhkan kebutuhan seorang lelaki dengan pasangannya tersebut. Allah Subhanallahu wata’ala pula lah yang menumbuhkan rasa kasih sayang diantara pasangan tersebut.Demikian juga dengan menciptakan segala sesuatu secara berpasangan, menunjukkan akan kekuasaan Allah karena bisa menciptakan dua hal yang saling berlawanan dan kontradiktif. Allah menciptakan surga, namun Allah juga menciptakan lawannya yaitu neraka. Allah menciptakan malaikat Jibril, namun Allah juga menciptakan Iblis. Allah menciptakan Fir’aun, namun Allah juga menciptakan Musa ‘alaihis salam.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:9) وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتاً“dan kami jadikan tidur kalian untuk istirahat”سُبَاتاً dalam bahasa arab artinya istirahat. Ini juga merupakan anugerah dari Allah Subhanallahu wata’ala. Seandainya seseorang bekerja terus-menerus tanpa istirahat niscaya dia akan binasa. Oleh karena itu, Alah menjadikan seseorang lelah sehingga dia butuh dengan istirahat.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:10) وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاساً“dan kami jadikan malam sebagai pakaian dari kalian”Sebagian ahli tafsir mengatakan, seseorang yang memasuki malam hari, maka malam tersebut yaitu gelapnya malam akan meliputi dia. Pada zaman dahulu tatkala lampu belum ada begitupun penerangan lainnya, manusia sering berada dalam keadaan gelap. Seseorang tidak akan membuka pakaiannya kecuali di malam hari ketika dia sudah tertutupi oleh gelapnya malam, karenanya dia tidak malu untuk membuka pakaiannya. Sehingga seakan-akan Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan malam-malam tersebut sebagai ganti dari pakaiannya.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:11) وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشاً“dan kami jadikan siang hari sebagai tempat mencari kehidupan (untuk mencari ma’isyah)”Para ulama menyebutkan sunnatullah (aturan Allah Subhanallahu wata’ala) bahwa malam adalah waktu istirahat dan siang adalah waktu mencari nafkah dan mencari kehidupan. “barang siapa yang merubah tatanan ini maka dia akan ditimpa dengan berbagai macam gangguan”. Seseorang yang harusnya menjadikan malamnya sebagai waktu istirahat dan siang sebagai waktu bekerja namun dia balik menjadi siang untuk tidur dan malam untuk kelayapan maka dia akan terganggu, tubuhnya tidak akan segar meskipun waktu tidurnya di siang hari lebih banyak. Tetap saja dia tidak akan merasakan kelezatan sebagaimana yang dia rasakan ketika dia tidur pada malam hari selama 8 jam, meskipun pada siang hari tidurnya lebih panjang. Hal ini terjadi karena dia mengubah tatanan, yang seharusnya malam menjadi tempat istirahat, namun dia ubah malamnya menjadi tempat untuk mencari penghidupan dan siangnya menjadi tempat untuk istirahat. Orang seperti ini kehidupan yang dia jalani tidak akan berjalan dengan normal, dia akan merasakan gangguan kesehatan, gangguan dalam pikirannya, dan berbagai hal lainnya.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman lagi tentang anugerah yang Dia berikan :12) وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعاً شِدَاداً“dan kami bangun di atas kalian 7 langit yang kokoh”Langit yang berada di atas kita ada sebanyak 7 lapis, jarak antara langit satu dengan langit lainnya membutuhkan perjalanan yang sangat jauh. Ini menunjukkan bagaimana luasnya ke-Maha kuasaan Allah Subhanallahu wata’ala. Langit yang kita saksikan ini tidak diketahui dimana penghujungnya. Allah Subhanallahu wata’ala menegakkannya tanpa pasak dari bumi dan langit juga lebih luas daripada bumi ini. Padahal kita tahu pada umumnya yang berada di atas itu lebih kecil daripada yang di bawah. Kemudian yang di atas itu lebih butuh daripada yang di bawah, apabila yang di bawah jatuh maka yang di atas juga akan jatuh, sehingga butuh pasak untuk menahan. Inilah yang sering kita lihat dalam praktek kehidupan sehari-hari, yang di atas lebih kecil daripada yang di bawah, yang di bawah menaungi yang di atas, dan yang di atas butuh dengan pasak agar dia tidak terjatuh. Namun hal ini tidak berlaku pada langit. Langit jauh lebih tinggi daripada bumi dan jauh lebih luas daripada bumi. Sementara itu tidak ada pasak yang tertancap dari bumi menuju langit padahal langit yang dengan kokohnya berada di atas kita bukan hanya satu lapis melainkan 7 lapis. Seseorang yang merenungkan hal ini akan menyadari bahwa dia adalah makhluk yang sangat kecil yang tidak ada tandingannya dengan bumi ini. Lantas bagaimana dengan kedahsyatan langit yang Allah Subhanallahu wata’ala bangun 7 lapis di atas bumi ini.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:13) وَجَعَلْنَا سِرَاجاً وَهَّاجاً“dan kami jadikan pelita yang amat terang (yaitu matahari)”Barangsiapa yang memperhatikan Al Quran, dia akan mengetahui bahwasanya Al Quran diturunkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Al Quran datang dengan lafal-lafal yang detail dan tidak mungkin keliru.لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍYang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji (QS Fusshilat : 42)Tidak akan ada kesalahan dari depan maupun belakang, dan dari arah manapun, karena diturunkan dari Allah Subhanallahu wata’ala.Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan tentang matahari dimana Dia mengatakan :وَجَعَلْنَا سِرَاجاً وَهَّاجاً “kami jadikan sinar yang وَهَّاجاً yaitu mengandung rasa panas”. Kata para ulama maksudnya adalah matahari. Matahari tidak disebut oleh Allah Subhanallahu wata’ala dengan Nur, berbeda dengan rembulan. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُوراً“Dan Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan pada langit-langit tersebut terdapat Nur” yaitu cahaya. Matahari oleh Allah Subhanallahu wata’ala dikatakan sebagai سِرَاجاyang bermakna sinar. Adapun rembulan dikatakan sebagai cahaya karena pantulan dari sinar tersebut. Ini menunjukkan betapa detailnya Al Quran yang Allah Subhanallahu wata’ala turunkan 1400 tahun yang lalu.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:14) وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجاً“dan kami turunkan dari awan air yang banyak”Diantara makna الْمُعْصِرَاتِdalam bahasa arab adalah awan yang sudah hitam yang mengandung butiran-butiran air dan siap diturunkan ke langit. Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجاً “dan kami turunkan dari awan tersebut air yang banyak”, yaitu hujan yang deras. ini merupakan nikmat dari Allah Subhanallahu wata’ala juga. Kemudian apa fungsi dari air yang turun tersebut? Kata Allah Subhanallahu wata’ala :15) لِنُخْرِجَ بِهِ حَبّاً وَنَبَاتاً“agar kami turunkan kami tumbuhkan dari air hujan tersebut”حَبّاً adalah biji-bijian sedangkan نَبَاتاً adalah tumbuhan-tumbuhan. Biji-bijian disini mengandung segala bentuk biji-bijian yang merupakan makanan pokok manusia. Seperti beras, gandum, jagung, adas, fuul (kacang merah).Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan وَنَبَاتاً. Mengapa Alah menyebutkan biji-bijian terlebih dahulu? Karena biji-bijian merupakan makanan pokok yang hampir tidak mungkin hidup tanpa makanan tersebut. Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan, sayur-mayur, buah-buahan, terkadang manusia itu tidak butuh terhadap sayur–mayur dan buah-buahan. Sehingga dalam penyebutannya, Allah Subhanallahu wata’ala pun menyebutkannya secara berurutan yaitu biji-bijian terlebih dahulu kemudian tumbuh-tumbuhan yang lainnya.Setelah itu, Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan :16) وَجَنَّاتٍ أَلْفَافاً“kemudian kebun-kebun yang lebat”Ayat ini adalah bagian terakhir yang berisi tentang karunia-karunia yang beraneka ragam yang Allah Subhanallahu wata’ala berikan kepada manusia sebagai bukti bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala Maha Kuasa. Allah Subhanallahu wata’ala yang menumbuhkan tetumbuhan, Allah Subhanallahu wata’ala yang meninggikan langit, Allah Subhanallahu wata’ala yang telah menciptakan bumi, Allah Subhanallahu wata’ala yang telah memberikan dan menurunkan hujan ini. Ini semua menunjukkan akan kekuasaan Allah Subhanallahu wata’ala. Seakan-akan Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan kepada orang-orang musyrikin, “Hai orang-orang musyrikin, jika kami bisa melakukan itu semua, maka menghidupkan kembali yang telah menjadi tulang belulang adalah perkara yang mudah”.Setelah itu Allah Subhanallahu wata’ala mulai menyebutkan tentang hari kiamat yaitu pembahasan selanjutnya setelah pembahasan sebelumnya yang menyebutkan berbagai macam kenikmatan yang disebutkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Diantara cara belajar ilmu tafsir yang dilakukan oleh sebagian ulama adalah sebagian surat diklasifikasikan menjadi pokok-pokok bahasan, mulai dari paragraf pertama berbicara tentang ini, paragraf ke dua berbicara tentang itu, paragraf ketiga, dan seterusnya. Hal ini dilakukan agar kita bisa melihat maknanya secara kompleks atau secara keseluruhan dengan cara mengetahui masing-masing maksud dari setiap paragrafnya. Belajar ilmu tafsir memang butuh kesabaran untuk mempelajarinya bagian per bagian, terutama surat-surat yang sering kita baca. Sebisa mungkin surat-surat yang ada di juz ‘amma dihafalkan dengan baik dan dipelajari tafsirnya dengan cermat secara bertahap.Setelah itu masuk ke dalam pembahasan yang baru, Allah Subhanallahu wata’ala menjelaskan tentang dahsyatnya hari kiamat. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:17) إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتاً“sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang sudah ditetapkan”Yaitu hari kiamat yang pasti datangnya. Barang siapa yang meninggal dunia maka dia telah memasuki kiamat kecil. Dan selanjutnya dia akan memasuki alam akhirat. Hari kiamat sudah tegak baginya meskipun kiamat kubra (kiamat besar, untuk semua makhluk) belum datang. Setiap manusia telah ditentukan kiamat baginya, berbeda dengan datangnya hari kiamat besar maka tidak ada yang mengetahui waktunya kecuali Allah Subhanallahu wata’ala. Memang benar Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassallam telah mengabarkan bahwa hari kiamat akan terjadi pada hari jumat, tetapi tidak ada yang mengetahui hari jumat tersebut jatuh pada minggu, bulan, dan pada tahun yang mana. Dia akan datang dengan tiba-tiba, dan kedatangannya tersebut adalah sesuatu yang pasti. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتاً“sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang sudah ditetapkan”Allah Subhanallahu wata’ala menamakannya dengan hari keputusan/hari pembeda. Sehingga salah satu nama hari kiamat adalah hari pembeda. Karena pada hari tersebut Allah Subhanallahu wata’ala akan bedakan antara kebenaran dengan kebathilan, antara orang yang dzalim dan orang yang di dzalimi, antara yang mukmin dan yang kafir, semua dibedakan pada hari tersebut. Allah Subhanallahu wata’ala juga akan membedakan antara penghuni surga dan penghuni neraka.Ketahuilah bahwa pada hari tersebut seluruh atribut akan ditinggalkan dan seluruh pangkat serta jabatan akan ditinggalkan. Di hari kiamat kelak tidak ada kecuali 2 golongan : sebagian di surga, sebagian di neraka jahannam. Tidak ada lagi perbedaan kaya dan miskin, si kaya tidak bisa sombong pada hari tersebut. Si panglima dan jenderal tidak akan bisa sombong pada hari tersebut. Dia tidak akan menampakkan jabatannya, tetapi dia akan termasuk ke dalam 2 golongan, apakah masuk surga atau masuk neraka. Oleh karena itu, hari itu adalah yaumal fashli yaitu hari pembeda antara hak dan bathil, hari pembeda antara yang beriman dan yang kafir, hari pembeda antara yang dibenarkan dan yang didustakan.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan :18) يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجاً“pada hari tersebut sangkakala ditiup lalu kalian akan datang berkelompok-kelompok”Pada hari kiamat akan terjadi 2 tiupan sangkakala dan hari kebangkitan akan terjadi pada tiupan yang kedua. Yang akan meniupkan sangkakala adalah malaikat israfil yang disebut dengan shahibul qarn. Dia akan meniup semacam bom dengan tiupan yang sangat dahsyat sehingga tatkala tiupan pertama :وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ“maka seluruh yang hidup di langit dan di bumi akan meninggal/mati tatkala itu, kecuali yang Allah Subhanallahu wata’ala hendaki.” (QS Az-Zumar : 68)Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman dalam lanjutan ayat tersebut:ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ“kemudian ditiupkan dengan tiupan yang kedua tiba-tiba manusia seluruhnya bangkit”.Dalam ayat ini Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan bahwa kebangkitan terletak pada tiupan yang kedua. Adapun jarak antara tiupan pertama dan kedua adalah 40. Namun 40 yang dimaksud tidak diketahui secara pasti apakah 40 hari atau 40 bulan atau 40 tahun karena sang perawi lupa apa yang didengar dari Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam, hanya saja Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam berkata jarak tiupan pertama dan tiupan kedua adalah 40. Dan tatkala tiupan sangkakala yang kedua “فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ” maka semuanya pun dibangkitkan. Kata Allah Subhanallahu wata’ala : “فَتَأْتُونَ أَفْوَاجا“ kalian akan datang kepada kami dalam keadaan berkelompok-kelompok. Pada hari tersebut kata Allah Subhanallahu wata’ala :19) وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَاباً“maka langit-angit akan dibukakan”Langit-langit yang kita saksikan sekarang tidak ada lubang dan tidak ada celahnya sama sekali. Namun pada hari kiamat akan terbuka, akan banyak pintu-pintu yang Allah Subhanallahu wata’ala bukakan. Karena pada hari tersebut malaikat akan turun, dan kita tahu bahwa malaikat penghuni langit amatlah banyak. Oleh karena itu, dalam suatu hadits Nabi berkata :إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ، وَأَسْمَعُ مَا لَا تَسْمَعُونَ، أَطَّتِ السَّمَاءُ وَحَقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ، مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلَّا عَلَيْهِ مَلَكٌ سَاجِدٌ“Sesungguhnya aku melihat apa yang kalian tidak lihat, dan aku mendengar apa yang kalian tidak mendengarnya. Langit terasa berat dan pantas bagi langit untuk terasa berat. Tidak ada satu tempat seukuran empat jari kecuali ada malaikat yang sujud di atasnya” (HR Ahmad no 21516, At-Tirmidzi no 2312 dan Ibnu Maajah no 4190 dengan sanad yang hasan)أَطِيْطٌ asalnya adalah suara yang keluar dari rahil (pelana onta yang terbuat dari kayu) tatkala diduduki oleh penunggang onta. Atau suara rintihan onta tatkala dibebani dengan beban yang sangat berat. Maksud dari hadits di atas adalah langit seakan-akan merasa keberatan karena betapa banyaknya malaikat yang menempati langit.Pada hari kiamat kelak langit-langit akan terbelah dan terbuka menjadi seperti pintu-pintu, para malaikat itu pun turun (lihat Tafsir Al-Baghowi 8/313). Hal ini sebagaimana firman Allah :وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّماءُ بِالْغَمامِ وَنُزِّلَ الْمَلائِكَةُ تَنْزِيلًا‘’Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang’’ (QS Al-Furqon : 25)Pendapat yang lain menyatakan bahwa langit-langit pada hari kiamat terbelah-belah sehingga menjadi seperti potongan-potongan kayu seperti pintu-pintu (Lihat Tafsir At-Thobari 24/19).Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:20) وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَاباً“dan dijamakkanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah dia”Gunung-gunung di akhirat kelak akan diangkat oleh Allah Subhanallahu wata’ala kemudian diterbangkan di udara lalu dihancurkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Dan ini terjadi tatkala tiupan sangkakala yang pertama dimana bumi ini akan dihancurkan dan digoncangkan dengan sedahsyat-dahsyatnya. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam banyak surat. Allah akan menggantikan bumi ini dengan yang lain, bumi di padang mahsyar yang dijadikan sebagai tempat untuk kita dihisab oleh Allah bukanlah bukanlah bumi yang sekarang kita pijak. Allah mengatakan:يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْض“pada hari dimana Allah akan gantikan bumi dengan bumi yang lain.” (QS Ibrahim : 48)Bumi yang akan kita pijak di padang mahsyar nanti berbentuk datar, tidak ada gunung dan tidak ada lembah. Semua gunung dihancurkan oleh Allah,وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا“mereka bertanya kepada engkau tentang gunung-gunung, katakanlah “Tuhanku akan menghancurkan (pada hari kiamat) sehancur-hancurnya“. (QS Thaha : 105)Gunung-gunung besar yang sekarang kita saksikan akan hancur lebur menjadi seperti fatamorgana, dari kejauhan terlihat seperti air, namun dari dekat ternyata adalah debu-debu yang berterbangan (lihat Tafsir At-Thobari 24/20).Kemudian Allah berfirman :21) إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا“sesungguhnya neraka jahannam itu sebagai tempat pengintai”.Setelah Allah menyebutkan tentang dahsyatnya hari kiamat, Allah kemudian menyebutkan pembahasan selanjutnya yaitu tentang neraka jahannam. Sesungguhnya para penjaga neraka akan mengintai, terutama mengintai manusia yang sedang melewati shirath (jembatan yang terbentang di atas neraka). Neraka mengintai untuk menjerumuskan mereka ke dalam neraka. Neraka jahannam mengintai siapa? Allah kemudian berfirman :22) لِلطَّاغِينَ مَآبًا“merupakan tempat kembali bagi orang-orang yang melampui batas“.Ini adalah ancaman bagi orang-orang musyirikin, orang-orang kafir, orang-orang yang melakukan kedzhaliman dan melampui batas di atas muka bumi ini. Merekalah yang diintai dan ditunggu oleh neraka jahannam.23) لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا“mereka akan tinggal dalam waktu yang lama di neraka jahannam“Ada khilaf diantara para ulama tentang makna أَحْقَابًا. أَحْقَابًا adalah bentuk jamak dari حُقُبْ. Sebagian salaf menafsirkan حُقُبْ dengan 70 tahun, ada yang mengatakan 80 tahun, dan ada pula yang mengatakan 300 tahun.Maksud dari pendapat-pendapat di atas adalah dengan perhitungan setiap harinya seperti 1000 tahun di dunia. Sehingga yang berpendapat bahwa الْحُقْبُ adalah 70 tahun berarti setiap tahunnya ada 12 bulan, kemudian setiap bulannya 30 hari, dan setiap harinya 1000 tahun. Maka satu al-huqub ada 1000 tahun kali 30 (hari) kali 12 (bulan) kali 70 (tahun) sama dengan 25 juta tahun lebih dengan ukuran tahun di dunia. Adapun pendapat yang mengatakan satu al-huqub adalah 300 tahun tentu lebih banyak lagi.Namun dalam ayat ini Allah tidak mengatakan satu al-huqub akan tetapi Allah menyatakan dengan lafal jamak yaitu أَحْقَابًا (banyak huqub) yang intinya adalah orang-orang yang berbuat bermaksiat melampaui batas akan tinggal di neraka jahannam dalam waktu yang sangat lama. Jika mereka orang-orang kafir maka خَالِدَيْنِ فِيهَا “kekal dalam neraka tidak akan keluar”. Yaitu jika selesai al-huqub yang pertama akan datang al-huqub yang kedua, begitu seterusnya sampai tiada penghujungnya.Jika mereka orang-orang yang berbuat dzhalim, tetapi tidak kafir dan juga tidak musyirik maka mereka akan tinggal di neraka jahannam dalam waktu yang lama, boleh jadi ratusan ratusan tahun, ribuan tahun, atau bakan jutaan tahun, tentu ini adalah waktu yang sangat lama.Oleh karena itu, hendaknya seseorang itu jangan mengatakan, “meskipun saya bermaksiat namun saya masih islam, saya akan diadzab oleh Allah dan suatu saat saya akan dikeluarkan dan dimasukkan kedalam surga.” Apa yang dikatakannya memang benar karena seorang muslim tidak akan kekal di dalam neraka, dan ini adalah aqidah ahlussunnah. Yang kekal dalam neraka jahannam adalah orang-orang musyrik dan orang-orang kafir, adapun orang muslim dia tidak akan kekal di neraka, dia akan diadzab namun dia akan dikeluarkan. Tetapi hendaklah diingat bahwasanya jika seorang muslim telah diadzab maka ingatlah bahwa أَحْقَابًا sangat lama, bukan waktu yang sebentar. Jangan sampai seseorang mirip dengan keyakinan orang-orang Yahudi yang berkata :وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (80) بَلَى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (81)Dan mereka (Yahudi) berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja”. Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya (QS Al-Baqarah : 80-81)أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُدْعَوْنَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ وَهُمْ مُعْرِضُونَ (23) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ وَغَرَّهُمْ فِي دِينِهِمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَTidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; kemudian sebagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran). Hal itu adalah karena mereka mengaku: “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung”. Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan . (QS Ali-Imran : 23-24)Barang siapa yang masuk ke dalam neraka jahannam niscaya dia akan merasakan kepedihan yang amat sangat dalam waktu yang sangat lama. Oleh karena itu, kita berlindung kepada Allah dari siksa api neraka jahannam.Ibnu Katsir menyebutkan salah satu pendapat yang menyatakan bahwa firman Allah أَحْقَابًا berkaitan dengan ayat sesudahnya yaitu (mereka tidak akan merasakan dalam neraka jahannam kesejukan dan juga tidak ada minuman), artinya mereka akan disiksa dengan siksaan tersebut (tidak ada kesejukan dan tidak ada minuman) selama أَحْقَابًا, setelah itu Allah akan memberikan jenis-jenis penyiksaan yang lainnya.Kemudian kata Allah Subhanallahu wata’ala tentang orang-orang yang masuk kedalam neraka Jahannam :24) لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْداً وَلَا شَرَاباً“mereka tidak akan merasakan dalam neraka jahannam kesejukan dan juga tidak ada minuman”Yang dirasakan oleh mereka keseluruhannya adalah kepanasan. Tidak ada air minum yang bisa menghilangkan kehausan mereka. Bayangkan tatkala orang dikumpulkan di padang mahsyar mereka menunggu di hari yang sangat panjang yang 1 harinya seperti 50.000 tahun. Matahari pada saat itu jaraknya satu mil sehingga semua orang dalam kondisi kepanasan pada hari tersebut. Mereka merasakan dahaga yang sangat dan rasa lapar yang sangat.Para penghuni surga akan diberikan minuman, akan diberikan kelezatan didalam surge. Adapun penghuni neraka, maka rasa lapar yang amat sangat akan menyerang mereka, rasa haus yang amat sangat akan menyerang mereka. Mereka tidak akan menemukan rasa dingin sama sekali di dalamnya, melainkan kepanasanlah yang akan mereka rasakan. Mereka merasa tidak mendapatkan air minum sama sekali. Karena sebenarnya Allah Subhanallahu wata’ala menyediakan air untuk mereka, namun air tersebut sebagaimana firman Allah Subhanallahu wata’ala :25) إِلَّا حَمِيماً وَغَسَّاقاً“kecuali air yang mendidih dan nanah”حَمِيماً adalah air panas yang berada puncak panasnya. وَغَسَّاقاً kata para ulama adalah air yang dinginnya luar biasa tetapi bukan berasal dari air melainkan dari nanahnya penghuni neraka jahannam. Dari luka penghuni neraka, keringat mereka, dan nanah mereka, dikumpulkan dan didinginkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala kemudian dijadikan air minum untuk mereka. Sesungguhnya ini sangat menyiksa mereka. Selain itu minuman mereka tersebut sangat berbau busuk -sebagaimana penjelasan al-Hafiz Ibnu Katsir dalam tafsirnya-. Jadi di neraka jahannam nanti ada sebagian penghuni neraka yang disiksa dengan panas yang amat parah dan terkadang pula disiksa dengan dingin yang amat parah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا، فَقَالَتْ: يَا رَبِّ أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًا، فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ، نَفَسٍ فِي الشِّتَاءِ، وَنَفَسٍ فِي الصَّيْفِ، فَهْوَ أَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الْحَرِّ، وَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الزَّمْهَرِيرِNeraka mengeluh kepada Rabb-nya seraya berkata, “Ya Rabbku, sebagian dariku memakan sebagian yang lainnya”. Maka Allah memberi izin baginya dengan dua hembusan, hembusan tatkala musim panas dan hembusan tatkala musim dingin. Maka itulah panas yang paling parah yang kalian rasakan dan dingin yang paling parah yang kalian rasakan.” (HR Muslim No. 617)Kita tahu bahwa orang yang tinggal pada tempat yang bersuhu 1 derajat atau di bawah minus 1 derajat, maka orang tersebut akan merasa sangat tersiksa karena dingin yang menusuk ke dalam tulangnya. Jadi neraka jahannam bukan hanya berbentuk api yang amat panas tapi juga rasa dingin yang amat parah. Dan ini mudah bagi Allah Subhanallahu wata’ala untuk menggabungkan dalam satu tempat, ada yang dingin ada yang panas. Kita saksikan sebagian alat seperti AC atau kulkas. Kulkas dalamnya dingin, namun belakangnya panas. Demikian juga AC, mesinnya panas tetapi mengeluarkan udara yang dingin. Sehingga sangat mudah bagi Allah Subhanallahu wata’ala membuat neraka jahannam memiliki tempat yang sangat panas dan tempat yang sangat dingin. Ada حَمِيماً yaitu air yang sangat panas dan وَغَسَّاقاً yaitu nanah darah penghuni neraka jahannam yang sangat dingin yang jika diminum akan sangat menyiksa orang yang meminumnya.Mengapa para penghuni neraka tetap meminum minuman seperti ini padahal mereka tahu bahwa minuman tersebut hanya akan menambah siksaan bagi mereka, kata para ulama karena saking dahaganya sehingga harus ada sesuatu yang harus mereka masukkan ke dalam mulut mereka. Mereka sampai tidak peduli lagi apa yang mereka masukkan ke dalam mulutnya, meskipun mereka tahu bahwa meminum air panas hanya akan merusak isi perut mereka. Keadaannya sama seperti orang-orang yang kecanduan morfinis dan semacamnya, mereka ingin terus menghirupnya bahkan kadang dijumpai orang yang rela menggoret-goret tubuhnya untuk menghirup darahnya yang mengandung heroin tersebut. Mereka terpaksa melakukannya meskipun merasakan penderitaan. Demikian juga orang-orang musyrikin ketika merasakan dahaga yang amat sangat, mereka harus minum apapun yang bisa diminum. Meskipun air yang diminum adalah air panas yang bisa memotong-motong isi perut mereka, mereka tidak peduli yang penting bisa minum. Bahkan nanah dari para penghuni nereka jahannam yang terkumpulkan terpaksa diminum karena rasa dahaga yang amat yang mereka rasakan. Inilah air minum yang disediakan Allah Subhanallahu wata’ala untuk mereka.Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:26) جَزَاءً وِفَاقاً“sebagai balasan yang setimpal”Allah Subhanallahu wata’ala Maha Adil. Allah Subhanallahu wata’ala memberikan balasan seperti itu karena keadilan Allah Subhanallahu wata’ala. Allah membalas sesuai dengan apa yang mereka lakukan selama di dunia berupa kerusakan.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:27) إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَاباً“sesungguhnya mereka tidak berharap kepada yaumal hisab (hari perhitungan)”Orang-orang musyrikin tidak mau dan dan takut akan adanya perhitungan terhadap amal perbuatan mereka di dunia. Padahal mereka akan menemukan hari tersebut.Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :28) وَكَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا كِذَّاباً“mereka benar-benar mendustakan ayat kami”Mereka tahu apa yang mereka kerjakan kebanyakannya adalah maksiat. Seandainya mereka tahu bahwa mereka akan dihisab niscaya mereka tidak akan melakukan kemaksiatan. Karenanya mereka tidak meyakini adanya hisab, bahkan mereka tidak mau adanya hisab dan mereka takut adanya hisab. Mereka kemudian mendustakan ayat-ayat Allah Subhanallahu wata’ala yang menjelaskan tentang yaumul hisab, ayat-ayat tentang hari kebangkitan, dan ayat-ayat tentang hari persidangan. Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:29) وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَاباً“segala sesuatu dicatat oleh Allah Subhanallahu wata’ala”Tidak ada kemaksiatan apapun yang luput dari catatan Allah Subhanallahu wata’ala dan akan dihadirkan. Mereka akan melihat apa yang telah mereka lakukan, tidak ada kemaksiatan yang mereka lakukan kecuali telah dicatat.Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:30) فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَاباًini ayat yang paling mengerikan, kata Allah Subhanallahu wata’ala :“rasakanlah adzab Allah Subhanallahu wata’ala maka kami tidak akan menambah pada kalian kecuali adzab”.Ketika mereka diadzab di nereka jahannam dengan berabagai macam siksaan, siksaan yang mereka rasakan tidaklah satu jenis melainka setiap harinya bertambah kadar siksaannya. Orang yang diadzab di neraka Jahannam, mereka akan diadzab dengan beraneka ragam variasi siksaan yang semakin bertambah kerasnya.Ini adalah ayat yang sangat ditakutkan oleh para penghuni neraka Jahannam. Sampai-sampai Abdullah bin ‘Amr berkata :مَا أُنْزِلَتْ عَلَى أَهْلِ النَّارِ آيَةٌ قَطٌّ أَشَدُّ مِنْهَا“Tidak pernah turun satu ayatpun yang lebih berat kepada penghuni neraka dari pada ayat ini” (Fathul Qodiir 5/444)Bersambung Insya Allah…


Surat pertama dari juz ‘amma yang akan kita selami kandungannya adalah surat an-Naba’ yaitu surat ke 78. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :1) عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ“Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?” (QS An-Naba’ : 1)Ayat ini turun sebagai bantahan terhadap orang-orang musyrikin, yang mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala namun mereka mengingkari adanya hari kiamat. Orang-orang musyrikin mengakui akan adanya pencipta, mereka mengenal Allah Subhanallahu wata’ala. Dalil-dalil bahwasanya orang-orang musyrikin mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala sangatlah banyak. Seperti firman Allah Subhanallahu wata’ala:وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُDan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. (QS Luqman : 25)وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (61) اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (62) وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ (63)Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi serta menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka mengapa mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya). (QS al-‘Ankabut : 61-63)وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ (9)Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. (QS Az-Zukhruf : 9)وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (87)Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka akan menjawab: “Allah”, maka mengapa mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? (QS Az-Zukhruf : 87)قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (84) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (85) قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (86) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ (87) قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (88) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ (89)Katakanlah (Muhammad), “Milik siapakah bumi, dan semua yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ´Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (Al-Mukminun : 84-89)Oleh karena itu, banyak diantara orang-orang musyrikin yang bernama Abdullah yang artinya hamba Allah Subhanallahu wata’ala. Demikian juga orang-orang musyrikin dahulu mereka berhaji sebagaimana kaum muslimin berhaji, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadist-hadist yang shahih tentang bagaimana kaum musyrikin melaksankaan ibadah haji dan umrah. Hanya saja mereka mencampurkan haji mereka dengan syirik dan bid’ah tidak sebagaimana haji yang dilakukan oleh leluhur mereka yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ‘alaihimas salaam.Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma ia berkata,كَانَ الْمُشْرِكُونَ يَقُولُونَ: لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، قَالَ: فَيَقُولُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَيْلَكُمْ، قَدْ قَدْ» فَيَقُولُونَ: إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ، تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ، يَقُولُونَ هَذَا وَهُمْ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ“Kaum musyrikin berkata, “Labbaika laa syarika laka” (Ya Allah kami memenuhi panggilanMu, tidak ada sekutu bagiMu). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Celaka kalian, cukuplah, cukupkanlah!). Maka mereka (kaum musyrikin) berkata (dengan menambah), “illa syarikan huwa laka, tamlikuhu wamaa malaka” (Kecuali sekutu milikMu yang Engkau memilikinya dan ia tidak memiliki). Mereka mengucapkan hal ini sambil thawaf di ka’bah.” (HR. Muslim No. 1185)Intinya adalah orang-orang musyrikin mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala, hanya saja mereka mengingkari adanya hari kebangkitan. Sehingga tatkala Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam diutus oleh Allah Subhanallahu wata’ala dan mengingatkan kepada kaum musyrikin akan adanya hari kebangkitan seakan-akan beliau berkata, “Hai kalian kaum musyrikin yang terjerumus kedalam berbagai macam kemaksiatan, yang terjerumus kedalam berbagai macam kesyirikan, dan praktek-praktek perkara yang diharamkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala kalian akan dibangkitkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala dan kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang telah kalian lakukan” maka ini menjadi buah bibir diantara mereka, mereka saling berbicara ada apa gerangan? Muhammad telah mengabarkan akan terjadinya hari kiamat. Seketika menjadi buah bibir yang hangat di kalangan mereka. Mereka bertanya-tanya mengapa hari kiamat bisa terjadi? Seakan-akan otak mereka tidak menerima akan adanya hari kiamat, mereka mengingkari bagaimana bisa manusia yang sudah meninggal dunia kemudian menjadi tulang-belulang bahkan tulang belulang tersebut sudah melumat dengan tanah tetapi masih bisa dibangkitkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala? Keheranan ini menimbulkan tanya diantara mereka. Inilah yang Allah Subhanallahu wata’ala sebutkan dalam Al Quran,عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ “Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?”Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:2) عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ“mereka bertanya tentang berita yang besar.” (QS An-Naba’ : 2)An-Naba’ dalam bahasa arab artinya berita, yaitu berita yang penting yang sedang mereka bicarakan. Bahkan Allah Subhanallahu wata’ala sifatkan dalam hal ini dengan الْعَظِيمِ yaitu berita yang besar. Para ahli tafsir masa salaf memiliki 3 pendapat tentang makna firman Allah Subhanallahu wata’ala النَّبَإِ الْعَظِيمِ “tentang berita yang besar”Apa yang dimaksud dengan berita yang besar ini? Sebagian salaf mengatakan bahwasanya yang dimaksud dengan berita yang besar tersebut adalah al–Qur‘an al-‘Adzim. Ini pendapat sebagian salaf bahwasanya yang mereka perselisihkan dan ingkari adalah Al-Qur’an al-Karim, karena Al–Quran adalah berita yang agung sebagaimana firman Allah:قُلْ هُوَ نَبَأٌ عَظِيمٌKatakanlah: “Berita itu (yaitu al-Qur’an) adalah berita yang besar. (QS Shad : 67)Mereka berselisih tentang al-Qur’an. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah sihir, ada pula yang mengatakan sya’ir, dan ada juga yang mengatakan bahwa al-Qur’an itu adalah dongeng-dongeng orang-orang terdahulu.Sebagian salaf yang lain menyatakan bahwa yang dimaksud dengan النَّبَإِ الْعَظِيمِ adalah kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka sangat mengingkari kenabian Muhammad. Meskipun mereka mengenal dan menggelari Nabi sebagai al-Amiin (orang yang sangat amanah dan terpercaya), akan tetapi mereka kaget dan tidak menduga bahwa Muhammad akan menyatakan bahwa dirinya adalah utusan Allah.Pendapat ketiga dari para salaf bahwa yang mereka ingkari dan mereka perdebatkan adalah hari kiamat atau hari kebangkitan setelah kematian. Kaum musyrikin mengingkari bahwa orang yang telah meninggal dunia akan dibangkitkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Adapun kematian maka kaum musyrikin tidaklah mengingkarinya, karena mereka telah melihat langsung bahwasanya orang hidup akan meninggal. Yang membuat mereka heran adalah bagaimana yang mati bisa dihidupkan kembali? Inilah yang mereka pertanyakan عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ yaitu tentang hari kiamat.Apabila dicermati, konteks ayat yang Allah Subhanallahu wata’ala sebutkan setelah ayat ini berbicara tentang hari kebangkitan. Sehingga pendapat yang lebih kuat dari 3 pendapat ini bahwa yang dimakskud dengan النَّبَإِ الْعَظِيمِ “berita yang besar” adalah berita dahsyat tentang hari kebangkitan pada hari kiamat. Pendapat ketiga ini dipilih oleh Ibnu Jarir At-Thabari (lihat : Tafsir At-Thabari 7/24), al-Baghawi (lihat Tafsir Al-Baghawi 8/309), Ibnu Katsir (lihat Tafsir Ibnu Katsir 8/302), dan Asy-Syaukani (lihat Fathul Qodir). Meskipun sebagian ulama mengkompromikannya dengan menyatakan bahwa yang dimaksud denga النَّبَإِ الْعَظِيمِ adalah Al–Quran al-Karim yang di dalamnya disebutkan tentang adanya hari kebangkitan.Diantara dalil yang menguatkan bahwasanya النَّبَإِ الْعَظِيمِ adalah hari kebangkitan, yaitu ayat setelahnya dimana Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan :3) الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ“yang mereka perselisihkan tentang hal ini” (QS An-Naba’ : 3)Diantara mereka (penduduk kota Mekah) terjadi perdebatan tentang suatu berita besar yang membuat mereka berselisih. Ada yang sekedar menyangka akan adanya hari kebangkitan namun tidak meyakini, ada yang meyakini akan adanya hari kebangkitan mereka itulah kaum muslimin, ada pula yang benar-benar mengingkari akan adanya hari kebangkitan yaitu dari kaum musyrikin arab. Kaum musyrikin arab lalu membodoh-bodohkan orang yang mengatakan akan adanya hari kiamat. Mereka berpendapat bagaimana bisa manusia yang sudah meninggal dunia kemudian menjadi tulang belulang, lalu lumat bercampur dengan tanah yang terkadang tidak bisa dibedakan mana tulang mana tanah saking hancurnya, kemudian dibangkitkan kembali oleh Allah Subhanallahu wata’ala?Allah Subhanallahu wata’ala membantah persangkaan mereka dengan firmanNya :4) كَلَّا سَيَعْلَمُونَ 5) ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ“sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui. Dan kemudian sekali-kali tidak, mereka akan mengetahui (kebenaran dari hari kebangkitan tersebut)” (QS An-Naba’ : 4)Sekarang mereka mengingkari, tetapi kelak mereka akan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana mereka dibangkitkan. Mereka akan menyaksikan dahsyatnya hari kiamat tersebut. Seakan-akan Allah Subhanallahu wata’ala menyatakan : “Mana akal kalian wahai kaum musyrikin? Apakah kalian menyangka bahwa kehidupan ini akan sirna begitu saja? Tidak ada hari kebangkitan dan tidak ada pembedaan? Kalian mengakui adanya Tuhan, kalian mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala, kalian percaya adanya pencipta, lantas kalian mengatakan pencipta tersebut hanya menciptakan begitu saja tanpa ada pertanggungjawaban di hari akhirat? Sehingga kalian menyangka tidak ada yang membedakan antara mana yang dzalim dan didzalimi, semua sama saja menjadi tanah tulang belulang, tidak ada hari pertanggung jawaban, tidak dibedakan antara kafir dan beriman, tidak akan dibedakan antara yang mendustakan dan yang membenarkan?” Sesungguhnya ini adalah pemikiran yang konyol, sikap seperti ini tidak mungkin dilakukan oleh pencipta alam semesta yang Maha Hikmah dan Maha Bijak. Jika sikap seperti ini tidak layak dilakukan oleh seorang pemimpin dunia terhadap bawahannya apalagi Allah Subhanallahu wata’ala terhdap ciptaanNya.Beriman kepada akhirat merupakan perkara yang sangat penting. Karena ini akan mempengaruhi perjalanan hidup manusia. Seorang yang beriman kepada Allah Subhanallahu wata’ala dan beriman bahwasanya dia akan dibangkitkan dan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanallahu wata’ala, akan nampak dampaknya dalam kehidupannya. Dia tahu bahwa setiap lafal yang dia ucapkan, setiap perbuatan yang dia kerjakan, akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Berbeda dengan seseorang yang tidak beriman akan hal ini, dia merasa bahwa dia tidak akan dibangkitkan. Sehingga dia akan melakukan segala kegiatan seenaknya karena dia merasa tidak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanallahu wata’ala.Kemudian setelah itu Allah Subhanallahu wata’ala mulai menyebutkan tentang kenikmatan-kenikmatan yang Dia berikan kepada manusia untuk mengingatkan kaum musyrikin bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala adalah عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ “Maha Kuasa atas segala Sesuatu”, bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala mampu untuk membangkitkan para hamba. Allah Subhanallahu wata’ala menjelaskan bahwa penciptaan manusia adalah perkara yang ringan. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar (dahsyat) daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Ghafir : 57)Alam semesta ini luar biasa luasnya, luar biasa megahnya. Allah Subhanallahu wata’ala menciptakan ini semua dengan mudahnya, maka mudah pula bagi Allah Subhanallahu wata’ala untuk sekedar membangkitkan manusia yang sudah menjadi tulang belulang. Bukankah Allah Subhanallahu wata’ala telah menciptakan mereka sebelumnya dari ketiadaan?Perkara ini (yaitu Allah menciptakan alam semesta) merupakan perkara yang diyakini oleh orang-orang musyrikin. Orang-orang musyrikin bukanlah dahriah -yaitu orang-orang yang mengingkari adanya Tuhan-, akan tetapi kaum musyrikin mengakui adanya Allah Subhanallahu wata’ala, hanya saja mereka mengingkari adanya hari kebangkitan, sehingga Allah Subhanallahu wata’ala menjelaskan kepada mereka :“jika kalian mengakui bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala lah yang telah menciptakan kalian, maka mengulangi penciptaan kalian lebih mudah perkaranya”. Diantara bentuk penjelasan Allah Subhanallahu wata’ala kepada mereka adalah Allah menjelaskan bahwa yang menciptakan alam semesta ini adalah Allah Subhanallahu wata’ala, dan penciptaan alam semesta lebih dahsyat daripada penciptaan manusia.Oleh karena itu, dari ayat yang ke-enam dan seterusnya Allah Subhanallahu wata’ala akan menyebutkan perkara-perkara yang berkaitan dengan penciptaan alam, diantaranya kenikmatan-kenikmatan yang Allah diberikan kepada orang-orang musyrikin. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :6) أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَاداً“bukankah kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?” (QS An-Naba’ : 6)Sebagian ahli tafsir menafsirkannya dengan مُمَهَّدًا (dipersiapkan), yaitu bukankah kami menjadikan bumi itu dalam kondisi telah dipersiapkan sehingga manusia mudah menempatinya, mudah untuk bercocok tanam, mudah untuk menjalani kehidupan?. Dalam sebagian qira’ah dibaca مَهْدًا yaitu kasur yang disiapkan untuk bayi agar bayi tersebut tidur di atasnya. Demikian pula Allah menyiapkan bumi ini dengan segala fasilitasnya agar mudah untuk ditempati oleh manusia.Menciptakan bumi dalam kondisi dipersiapkan adalah perkara yang sangat mudah bagi Allah Subhanallahu wata’ala. Ini adalah nikmat yang luar biasa dari Allah Subhanallahu wata’ala kepada kalian wahai kaum musyrikin! Jika menciptakan bumi yang sedemikian hebat untuk kalian adalah mudah, maka membangkitkan kalian tentu juga mudah.Lalu mulailah Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan karunia-karunia-Nya kepada mereka, sehingga tampaklah kekuasaan Allah dan kemaha mampuan Allah Subhanallahu wata’ala serta kemaha Esaan Allah Subhanallahu wata’ala.7) وَالْجِبَالَ أَوْتَاداً“dan gunung-gunung sebagai pasak.” (QS An-Naba’ : 7)أَوْتَاداً dalam bahasa arab adalah bentuk jamak (plural) dari الوَتَدُ yang artinya adalah pasak. Jika kita ingin mendirikan kemah, maka kita perlu menancapkan semacam paku baik dari besi maupun dari kayu. Kita tancapkan terlebih dahulu dengan kuat kemudian kita ikat tali penyangga kemah tersebut. Kalau perlu kita memasang lima atau enam pasak/paku tersebut, atau minimal empat pasak sehingga kemah tersebut tegak dan tidak jatuh. Gunung yang Allah Subhanallahu wata’ala tancapkan ke bumi ini semacam pasak. Kabar ini diucapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala 1400 tahun yang lalu. Di jaman sekarang yang semakin modern ini, setelah orang-orang melakukan penggalian-penggalian, mereka kemudian mengetahui bahwasanya gunung itu sangat tinggi, baik yang menjulang ke atas maupun yang menjulang ke bawah. Dari sini diketahui bahwasanya gunung itu bukanlah tumpukan tanah di atas permukaan bumi, akan tetapi dia tertancapkan ke bawah ibarat paku/pasak yang ditanamkan. Sehingga akan kita dapati kawah gunung itu berada di bawah permukaan tanah dan terus ke bawah. Akar gunung itu menjulang ke dalam jauh bahkan sebagian ahli dalam hal ini mengatakan bahwa bagian gunung yang muncul di atas permukaan bumi hanyalah 1/3 bagian. Jika kita menancapkan paku untuk membuat ikatan dari kemah, maka kita akan menancapkannya dengan dalam, yang kita sisakan hanya sebagian kecil agar paku tersebut kuat mengikat tali. Seperti itulah gunung-gunung yang ditancapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala di atas muka bumi agar bumi ini tidak bergetar. Hal ini diucapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala 1400 tahun yang lalu dan baru diketahui akan kebenarannya bahwasanya gunung itu tidak terhamparkan seperti tanah yang dihamburkan ke atas kemudian menggunung melainkan tertancapkan. Bukan seperti gunung di padang pasir yang bisa berpindah-pindah karena ditiup angin. Hal ini disebabkan karena gunung yang ada di padang pasir tidak tertancapkan di dalam bumi, tetapi ia hanyalah sekedar kumpulan pasir yang berada di atas daratan. Karenanya jika seseorang masuk ke dalam gurun/padang pasir, susah baginya untuk keluar, karena tidak ada gunung yang bisa dijadikan patokan, disebabkan gunung-gunung tersebut bisa berpindah-pindah tertiup angin. Adapun gunung bumi maka ia tertancap kuat di bawah tanah, makanya Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan أَوْتَاداً “gunung-gunung yang kami pasakkan.”Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala mengingatkan kenikmatan yang lain yang menunjukkan akan kekuasaan-Nya. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:8) وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجاً“dan kami jadikan kalian berpasang-pasangan”Ini merupakan nikmat dari Allah Subhanallahu wata’ala, Allah menjadikan setiap makhluk berpasang-pasangan. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam ayat yang lainوَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ“dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan” (QS Adz-Dzariyat : 49)Para ulama mengatakan tentang faidah Allah Subhanallahu wata’ala menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan.Yang pertama, Allah Subhanallahu wata’ala ingin menjelaskan bahwa Dia Maha Esa tidak butuh dengan pasangan.قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ“Dialah Allah yang maha esa” (QS Al-Ikhlas : 1)بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (101)Dia (Allah) Pencipta langit dan bumi. Bagaimana (mungkin) Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu (QS Al-An’aam : 101)وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا (3)Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak (QS Al-Jinn : 3)Allah Subhanallahu wata’ala tidak butuh dengan sesuatu pun, Allah Subhanallahu wata’ala tidak butuh kepada anak dan juga tidak butuh kepada pasangan. Semua makhluk yang Allah ciptakan adalah berpasang-pasangan. Contohnya manusia, ada Adam dan Hawa, ayah dan ibunda kita, kemudian setiap manusia pun demikian ada laki-laki dan ada pula perempuan, hewan-hewan pun demikian ada jantan dan ada betina, bahkan dalam hal listrik pun ada positif dan ada negatif. Hampir semua perkara ada pasangannya, menunjukkan bahwasanya Maha Esa lah yang menciptakan pasangan-pasangan tersebut. Ini adalah nikmat luar biasa yang Allah Subhanallahu wata’ala berikan. Bagaimana Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan lelaki dan wanita berpasangan yang saling membutuhkan diantara mereka yang tidak mungkin seorang lelaki bisa tenteram dan merasa nyaman kecuali ada wanita/istri yang mendampinginya. Bahkan Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan pasangan tersebut sebagai tanda-tanda kebesaran Allah Subhanallahu wata’ala, tanda-tanda bahwa Allah adalah Sang Pencipta, sebagaimana dalam firman-Nya :وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَDan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS Ar-Ruum : 21)Fungsinya adalah لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا yaitu agar kalian merasa tenang bersama istri-istri kalian tersebut. Mustahil seorang lelaki normal bisa hidup dengan tenang tanpa ada pasangan di dalam hidupnya. Diantara nikmat dari Allah Subhanallahu wata’ala ialah Dia menumbuhkan kebutuhan seorang lelaki dengan pasangannya tersebut. Allah Subhanallahu wata’ala pula lah yang menumbuhkan rasa kasih sayang diantara pasangan tersebut.Demikian juga dengan menciptakan segala sesuatu secara berpasangan, menunjukkan akan kekuasaan Allah karena bisa menciptakan dua hal yang saling berlawanan dan kontradiktif. Allah menciptakan surga, namun Allah juga menciptakan lawannya yaitu neraka. Allah menciptakan malaikat Jibril, namun Allah juga menciptakan Iblis. Allah menciptakan Fir’aun, namun Allah juga menciptakan Musa ‘alaihis salam.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:9) وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتاً“dan kami jadikan tidur kalian untuk istirahat”سُبَاتاً dalam bahasa arab artinya istirahat. Ini juga merupakan anugerah dari Allah Subhanallahu wata’ala. Seandainya seseorang bekerja terus-menerus tanpa istirahat niscaya dia akan binasa. Oleh karena itu, Alah menjadikan seseorang lelah sehingga dia butuh dengan istirahat.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:10) وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاساً“dan kami jadikan malam sebagai pakaian dari kalian”Sebagian ahli tafsir mengatakan, seseorang yang memasuki malam hari, maka malam tersebut yaitu gelapnya malam akan meliputi dia. Pada zaman dahulu tatkala lampu belum ada begitupun penerangan lainnya, manusia sering berada dalam keadaan gelap. Seseorang tidak akan membuka pakaiannya kecuali di malam hari ketika dia sudah tertutupi oleh gelapnya malam, karenanya dia tidak malu untuk membuka pakaiannya. Sehingga seakan-akan Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan malam-malam tersebut sebagai ganti dari pakaiannya.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:11) وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشاً“dan kami jadikan siang hari sebagai tempat mencari kehidupan (untuk mencari ma’isyah)”Para ulama menyebutkan sunnatullah (aturan Allah Subhanallahu wata’ala) bahwa malam adalah waktu istirahat dan siang adalah waktu mencari nafkah dan mencari kehidupan. “barang siapa yang merubah tatanan ini maka dia akan ditimpa dengan berbagai macam gangguan”. Seseorang yang harusnya menjadikan malamnya sebagai waktu istirahat dan siang sebagai waktu bekerja namun dia balik menjadi siang untuk tidur dan malam untuk kelayapan maka dia akan terganggu, tubuhnya tidak akan segar meskipun waktu tidurnya di siang hari lebih banyak. Tetap saja dia tidak akan merasakan kelezatan sebagaimana yang dia rasakan ketika dia tidur pada malam hari selama 8 jam, meskipun pada siang hari tidurnya lebih panjang. Hal ini terjadi karena dia mengubah tatanan, yang seharusnya malam menjadi tempat istirahat, namun dia ubah malamnya menjadi tempat untuk mencari penghidupan dan siangnya menjadi tempat untuk istirahat. Orang seperti ini kehidupan yang dia jalani tidak akan berjalan dengan normal, dia akan merasakan gangguan kesehatan, gangguan dalam pikirannya, dan berbagai hal lainnya.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman lagi tentang anugerah yang Dia berikan :12) وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعاً شِدَاداً“dan kami bangun di atas kalian 7 langit yang kokoh”Langit yang berada di atas kita ada sebanyak 7 lapis, jarak antara langit satu dengan langit lainnya membutuhkan perjalanan yang sangat jauh. Ini menunjukkan bagaimana luasnya ke-Maha kuasaan Allah Subhanallahu wata’ala. Langit yang kita saksikan ini tidak diketahui dimana penghujungnya. Allah Subhanallahu wata’ala menegakkannya tanpa pasak dari bumi dan langit juga lebih luas daripada bumi ini. Padahal kita tahu pada umumnya yang berada di atas itu lebih kecil daripada yang di bawah. Kemudian yang di atas itu lebih butuh daripada yang di bawah, apabila yang di bawah jatuh maka yang di atas juga akan jatuh, sehingga butuh pasak untuk menahan. Inilah yang sering kita lihat dalam praktek kehidupan sehari-hari, yang di atas lebih kecil daripada yang di bawah, yang di bawah menaungi yang di atas, dan yang di atas butuh dengan pasak agar dia tidak terjatuh. Namun hal ini tidak berlaku pada langit. Langit jauh lebih tinggi daripada bumi dan jauh lebih luas daripada bumi. Sementara itu tidak ada pasak yang tertancap dari bumi menuju langit padahal langit yang dengan kokohnya berada di atas kita bukan hanya satu lapis melainkan 7 lapis. Seseorang yang merenungkan hal ini akan menyadari bahwa dia adalah makhluk yang sangat kecil yang tidak ada tandingannya dengan bumi ini. Lantas bagaimana dengan kedahsyatan langit yang Allah Subhanallahu wata’ala bangun 7 lapis di atas bumi ini.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:13) وَجَعَلْنَا سِرَاجاً وَهَّاجاً“dan kami jadikan pelita yang amat terang (yaitu matahari)”Barangsiapa yang memperhatikan Al Quran, dia akan mengetahui bahwasanya Al Quran diturunkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Al Quran datang dengan lafal-lafal yang detail dan tidak mungkin keliru.لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍYang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji (QS Fusshilat : 42)Tidak akan ada kesalahan dari depan maupun belakang, dan dari arah manapun, karena diturunkan dari Allah Subhanallahu wata’ala.Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan tentang matahari dimana Dia mengatakan :وَجَعَلْنَا سِرَاجاً وَهَّاجاً “kami jadikan sinar yang وَهَّاجاً yaitu mengandung rasa panas”. Kata para ulama maksudnya adalah matahari. Matahari tidak disebut oleh Allah Subhanallahu wata’ala dengan Nur, berbeda dengan rembulan. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُوراً“Dan Allah Subhanallahu wata’ala menjadikan pada langit-langit tersebut terdapat Nur” yaitu cahaya. Matahari oleh Allah Subhanallahu wata’ala dikatakan sebagai سِرَاجاyang bermakna sinar. Adapun rembulan dikatakan sebagai cahaya karena pantulan dari sinar tersebut. Ini menunjukkan betapa detailnya Al Quran yang Allah Subhanallahu wata’ala turunkan 1400 tahun yang lalu.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:14) وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجاً“dan kami turunkan dari awan air yang banyak”Diantara makna الْمُعْصِرَاتِdalam bahasa arab adalah awan yang sudah hitam yang mengandung butiran-butiran air dan siap diturunkan ke langit. Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجاً “dan kami turunkan dari awan tersebut air yang banyak”, yaitu hujan yang deras. ini merupakan nikmat dari Allah Subhanallahu wata’ala juga. Kemudian apa fungsi dari air yang turun tersebut? Kata Allah Subhanallahu wata’ala :15) لِنُخْرِجَ بِهِ حَبّاً وَنَبَاتاً“agar kami turunkan kami tumbuhkan dari air hujan tersebut”حَبّاً adalah biji-bijian sedangkan نَبَاتاً adalah tumbuhan-tumbuhan. Biji-bijian disini mengandung segala bentuk biji-bijian yang merupakan makanan pokok manusia. Seperti beras, gandum, jagung, adas, fuul (kacang merah).Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan وَنَبَاتاً. Mengapa Alah menyebutkan biji-bijian terlebih dahulu? Karena biji-bijian merupakan makanan pokok yang hampir tidak mungkin hidup tanpa makanan tersebut. Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan, sayur-mayur, buah-buahan, terkadang manusia itu tidak butuh terhadap sayur–mayur dan buah-buahan. Sehingga dalam penyebutannya, Allah Subhanallahu wata’ala pun menyebutkannya secara berurutan yaitu biji-bijian terlebih dahulu kemudian tumbuh-tumbuhan yang lainnya.Setelah itu, Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan :16) وَجَنَّاتٍ أَلْفَافاً“kemudian kebun-kebun yang lebat”Ayat ini adalah bagian terakhir yang berisi tentang karunia-karunia yang beraneka ragam yang Allah Subhanallahu wata’ala berikan kepada manusia sebagai bukti bahwasanya Allah Subhanallahu wata’ala Maha Kuasa. Allah Subhanallahu wata’ala yang menumbuhkan tetumbuhan, Allah Subhanallahu wata’ala yang meninggikan langit, Allah Subhanallahu wata’ala yang telah menciptakan bumi, Allah Subhanallahu wata’ala yang telah memberikan dan menurunkan hujan ini. Ini semua menunjukkan akan kekuasaan Allah Subhanallahu wata’ala. Seakan-akan Allah Subhanallahu wata’ala mengatakan kepada orang-orang musyrikin, “Hai orang-orang musyrikin, jika kami bisa melakukan itu semua, maka menghidupkan kembali yang telah menjadi tulang belulang adalah perkara yang mudah”.Setelah itu Allah Subhanallahu wata’ala mulai menyebutkan tentang hari kiamat yaitu pembahasan selanjutnya setelah pembahasan sebelumnya yang menyebutkan berbagai macam kenikmatan yang disebutkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Diantara cara belajar ilmu tafsir yang dilakukan oleh sebagian ulama adalah sebagian surat diklasifikasikan menjadi pokok-pokok bahasan, mulai dari paragraf pertama berbicara tentang ini, paragraf ke dua berbicara tentang itu, paragraf ketiga, dan seterusnya. Hal ini dilakukan agar kita bisa melihat maknanya secara kompleks atau secara keseluruhan dengan cara mengetahui masing-masing maksud dari setiap paragrafnya. Belajar ilmu tafsir memang butuh kesabaran untuk mempelajarinya bagian per bagian, terutama surat-surat yang sering kita baca. Sebisa mungkin surat-surat yang ada di juz ‘amma dihafalkan dengan baik dan dipelajari tafsirnya dengan cermat secara bertahap.Setelah itu masuk ke dalam pembahasan yang baru, Allah Subhanallahu wata’ala menjelaskan tentang dahsyatnya hari kiamat. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:17) إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتاً“sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang sudah ditetapkan”Yaitu hari kiamat yang pasti datangnya. Barang siapa yang meninggal dunia maka dia telah memasuki kiamat kecil. Dan selanjutnya dia akan memasuki alam akhirat. Hari kiamat sudah tegak baginya meskipun kiamat kubra (kiamat besar, untuk semua makhluk) belum datang. Setiap manusia telah ditentukan kiamat baginya, berbeda dengan datangnya hari kiamat besar maka tidak ada yang mengetahui waktunya kecuali Allah Subhanallahu wata’ala. Memang benar Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassallam telah mengabarkan bahwa hari kiamat akan terjadi pada hari jumat, tetapi tidak ada yang mengetahui hari jumat tersebut jatuh pada minggu, bulan, dan pada tahun yang mana. Dia akan datang dengan tiba-tiba, dan kedatangannya tersebut adalah sesuatu yang pasti. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتاً“sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang sudah ditetapkan”Allah Subhanallahu wata’ala menamakannya dengan hari keputusan/hari pembeda. Sehingga salah satu nama hari kiamat adalah hari pembeda. Karena pada hari tersebut Allah Subhanallahu wata’ala akan bedakan antara kebenaran dengan kebathilan, antara orang yang dzalim dan orang yang di dzalimi, antara yang mukmin dan yang kafir, semua dibedakan pada hari tersebut. Allah Subhanallahu wata’ala juga akan membedakan antara penghuni surga dan penghuni neraka.Ketahuilah bahwa pada hari tersebut seluruh atribut akan ditinggalkan dan seluruh pangkat serta jabatan akan ditinggalkan. Di hari kiamat kelak tidak ada kecuali 2 golongan : sebagian di surga, sebagian di neraka jahannam. Tidak ada lagi perbedaan kaya dan miskin, si kaya tidak bisa sombong pada hari tersebut. Si panglima dan jenderal tidak akan bisa sombong pada hari tersebut. Dia tidak akan menampakkan jabatannya, tetapi dia akan termasuk ke dalam 2 golongan, apakah masuk surga atau masuk neraka. Oleh karena itu, hari itu adalah yaumal fashli yaitu hari pembeda antara hak dan bathil, hari pembeda antara yang beriman dan yang kafir, hari pembeda antara yang dibenarkan dan yang didustakan.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan :18) يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجاً“pada hari tersebut sangkakala ditiup lalu kalian akan datang berkelompok-kelompok”Pada hari kiamat akan terjadi 2 tiupan sangkakala dan hari kebangkitan akan terjadi pada tiupan yang kedua. Yang akan meniupkan sangkakala adalah malaikat israfil yang disebut dengan shahibul qarn. Dia akan meniup semacam bom dengan tiupan yang sangat dahsyat sehingga tatkala tiupan pertama :وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ“maka seluruh yang hidup di langit dan di bumi akan meninggal/mati tatkala itu, kecuali yang Allah Subhanallahu wata’ala hendaki.” (QS Az-Zumar : 68)Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman dalam lanjutan ayat tersebut:ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ“kemudian ditiupkan dengan tiupan yang kedua tiba-tiba manusia seluruhnya bangkit”.Dalam ayat ini Allah Subhanallahu wata’ala menyebutkan bahwa kebangkitan terletak pada tiupan yang kedua. Adapun jarak antara tiupan pertama dan kedua adalah 40. Namun 40 yang dimaksud tidak diketahui secara pasti apakah 40 hari atau 40 bulan atau 40 tahun karena sang perawi lupa apa yang didengar dari Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam, hanya saja Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam berkata jarak tiupan pertama dan tiupan kedua adalah 40. Dan tatkala tiupan sangkakala yang kedua “فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ” maka semuanya pun dibangkitkan. Kata Allah Subhanallahu wata’ala : “فَتَأْتُونَ أَفْوَاجا“ kalian akan datang kepada kami dalam keadaan berkelompok-kelompok. Pada hari tersebut kata Allah Subhanallahu wata’ala :19) وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَاباً“maka langit-angit akan dibukakan”Langit-langit yang kita saksikan sekarang tidak ada lubang dan tidak ada celahnya sama sekali. Namun pada hari kiamat akan terbuka, akan banyak pintu-pintu yang Allah Subhanallahu wata’ala bukakan. Karena pada hari tersebut malaikat akan turun, dan kita tahu bahwa malaikat penghuni langit amatlah banyak. Oleh karena itu, dalam suatu hadits Nabi berkata :إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ، وَأَسْمَعُ مَا لَا تَسْمَعُونَ، أَطَّتِ السَّمَاءُ وَحَقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ، مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلَّا عَلَيْهِ مَلَكٌ سَاجِدٌ“Sesungguhnya aku melihat apa yang kalian tidak lihat, dan aku mendengar apa yang kalian tidak mendengarnya. Langit terasa berat dan pantas bagi langit untuk terasa berat. Tidak ada satu tempat seukuran empat jari kecuali ada malaikat yang sujud di atasnya” (HR Ahmad no 21516, At-Tirmidzi no 2312 dan Ibnu Maajah no 4190 dengan sanad yang hasan)أَطِيْطٌ asalnya adalah suara yang keluar dari rahil (pelana onta yang terbuat dari kayu) tatkala diduduki oleh penunggang onta. Atau suara rintihan onta tatkala dibebani dengan beban yang sangat berat. Maksud dari hadits di atas adalah langit seakan-akan merasa keberatan karena betapa banyaknya malaikat yang menempati langit.Pada hari kiamat kelak langit-langit akan terbelah dan terbuka menjadi seperti pintu-pintu, para malaikat itu pun turun (lihat Tafsir Al-Baghowi 8/313). Hal ini sebagaimana firman Allah :وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّماءُ بِالْغَمامِ وَنُزِّلَ الْمَلائِكَةُ تَنْزِيلًا‘’Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang’’ (QS Al-Furqon : 25)Pendapat yang lain menyatakan bahwa langit-langit pada hari kiamat terbelah-belah sehingga menjadi seperti potongan-potongan kayu seperti pintu-pintu (Lihat Tafsir At-Thobari 24/19).Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:20) وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَاباً“dan dijamakkanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah dia”Gunung-gunung di akhirat kelak akan diangkat oleh Allah Subhanallahu wata’ala kemudian diterbangkan di udara lalu dihancurkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala. Dan ini terjadi tatkala tiupan sangkakala yang pertama dimana bumi ini akan dihancurkan dan digoncangkan dengan sedahsyat-dahsyatnya. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam banyak surat. Allah akan menggantikan bumi ini dengan yang lain, bumi di padang mahsyar yang dijadikan sebagai tempat untuk kita dihisab oleh Allah bukanlah bukanlah bumi yang sekarang kita pijak. Allah mengatakan:يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْض“pada hari dimana Allah akan gantikan bumi dengan bumi yang lain.” (QS Ibrahim : 48)Bumi yang akan kita pijak di padang mahsyar nanti berbentuk datar, tidak ada gunung dan tidak ada lembah. Semua gunung dihancurkan oleh Allah,وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا“mereka bertanya kepada engkau tentang gunung-gunung, katakanlah “Tuhanku akan menghancurkan (pada hari kiamat) sehancur-hancurnya“. (QS Thaha : 105)Gunung-gunung besar yang sekarang kita saksikan akan hancur lebur menjadi seperti fatamorgana, dari kejauhan terlihat seperti air, namun dari dekat ternyata adalah debu-debu yang berterbangan (lihat Tafsir At-Thobari 24/20).Kemudian Allah berfirman :21) إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا“sesungguhnya neraka jahannam itu sebagai tempat pengintai”.Setelah Allah menyebutkan tentang dahsyatnya hari kiamat, Allah kemudian menyebutkan pembahasan selanjutnya yaitu tentang neraka jahannam. Sesungguhnya para penjaga neraka akan mengintai, terutama mengintai manusia yang sedang melewati shirath (jembatan yang terbentang di atas neraka). Neraka mengintai untuk menjerumuskan mereka ke dalam neraka. Neraka jahannam mengintai siapa? Allah kemudian berfirman :22) لِلطَّاغِينَ مَآبًا“merupakan tempat kembali bagi orang-orang yang melampui batas“.Ini adalah ancaman bagi orang-orang musyirikin, orang-orang kafir, orang-orang yang melakukan kedzhaliman dan melampui batas di atas muka bumi ini. Merekalah yang diintai dan ditunggu oleh neraka jahannam.23) لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا“mereka akan tinggal dalam waktu yang lama di neraka jahannam“Ada khilaf diantara para ulama tentang makna أَحْقَابًا. أَحْقَابًا adalah bentuk jamak dari حُقُبْ. Sebagian salaf menafsirkan حُقُبْ dengan 70 tahun, ada yang mengatakan 80 tahun, dan ada pula yang mengatakan 300 tahun.Maksud dari pendapat-pendapat di atas adalah dengan perhitungan setiap harinya seperti 1000 tahun di dunia. Sehingga yang berpendapat bahwa الْحُقْبُ adalah 70 tahun berarti setiap tahunnya ada 12 bulan, kemudian setiap bulannya 30 hari, dan setiap harinya 1000 tahun. Maka satu al-huqub ada 1000 tahun kali 30 (hari) kali 12 (bulan) kali 70 (tahun) sama dengan 25 juta tahun lebih dengan ukuran tahun di dunia. Adapun pendapat yang mengatakan satu al-huqub adalah 300 tahun tentu lebih banyak lagi.Namun dalam ayat ini Allah tidak mengatakan satu al-huqub akan tetapi Allah menyatakan dengan lafal jamak yaitu أَحْقَابًا (banyak huqub) yang intinya adalah orang-orang yang berbuat bermaksiat melampaui batas akan tinggal di neraka jahannam dalam waktu yang sangat lama. Jika mereka orang-orang kafir maka خَالِدَيْنِ فِيهَا “kekal dalam neraka tidak akan keluar”. Yaitu jika selesai al-huqub yang pertama akan datang al-huqub yang kedua, begitu seterusnya sampai tiada penghujungnya.Jika mereka orang-orang yang berbuat dzhalim, tetapi tidak kafir dan juga tidak musyirik maka mereka akan tinggal di neraka jahannam dalam waktu yang lama, boleh jadi ratusan ratusan tahun, ribuan tahun, atau bakan jutaan tahun, tentu ini adalah waktu yang sangat lama.Oleh karena itu, hendaknya seseorang itu jangan mengatakan, “meskipun saya bermaksiat namun saya masih islam, saya akan diadzab oleh Allah dan suatu saat saya akan dikeluarkan dan dimasukkan kedalam surga.” Apa yang dikatakannya memang benar karena seorang muslim tidak akan kekal di dalam neraka, dan ini adalah aqidah ahlussunnah. Yang kekal dalam neraka jahannam adalah orang-orang musyrik dan orang-orang kafir, adapun orang muslim dia tidak akan kekal di neraka, dia akan diadzab namun dia akan dikeluarkan. Tetapi hendaklah diingat bahwasanya jika seorang muslim telah diadzab maka ingatlah bahwa أَحْقَابًا sangat lama, bukan waktu yang sebentar. Jangan sampai seseorang mirip dengan keyakinan orang-orang Yahudi yang berkata :وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (80) بَلَى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (81)Dan mereka (Yahudi) berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja”. Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya (QS Al-Baqarah : 80-81)أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُدْعَوْنَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ وَهُمْ مُعْرِضُونَ (23) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ وَغَرَّهُمْ فِي دِينِهِمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَTidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; kemudian sebagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran). Hal itu adalah karena mereka mengaku: “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung”. Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan . (QS Ali-Imran : 23-24)Barang siapa yang masuk ke dalam neraka jahannam niscaya dia akan merasakan kepedihan yang amat sangat dalam waktu yang sangat lama. Oleh karena itu, kita berlindung kepada Allah dari siksa api neraka jahannam.Ibnu Katsir menyebutkan salah satu pendapat yang menyatakan bahwa firman Allah أَحْقَابًا berkaitan dengan ayat sesudahnya yaitu (mereka tidak akan merasakan dalam neraka jahannam kesejukan dan juga tidak ada minuman), artinya mereka akan disiksa dengan siksaan tersebut (tidak ada kesejukan dan tidak ada minuman) selama أَحْقَابًا, setelah itu Allah akan memberikan jenis-jenis penyiksaan yang lainnya.Kemudian kata Allah Subhanallahu wata’ala tentang orang-orang yang masuk kedalam neraka Jahannam :24) لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْداً وَلَا شَرَاباً“mereka tidak akan merasakan dalam neraka jahannam kesejukan dan juga tidak ada minuman”Yang dirasakan oleh mereka keseluruhannya adalah kepanasan. Tidak ada air minum yang bisa menghilangkan kehausan mereka. Bayangkan tatkala orang dikumpulkan di padang mahsyar mereka menunggu di hari yang sangat panjang yang 1 harinya seperti 50.000 tahun. Matahari pada saat itu jaraknya satu mil sehingga semua orang dalam kondisi kepanasan pada hari tersebut. Mereka merasakan dahaga yang sangat dan rasa lapar yang sangat.Para penghuni surga akan diberikan minuman, akan diberikan kelezatan didalam surge. Adapun penghuni neraka, maka rasa lapar yang amat sangat akan menyerang mereka, rasa haus yang amat sangat akan menyerang mereka. Mereka tidak akan menemukan rasa dingin sama sekali di dalamnya, melainkan kepanasanlah yang akan mereka rasakan. Mereka merasa tidak mendapatkan air minum sama sekali. Karena sebenarnya Allah Subhanallahu wata’ala menyediakan air untuk mereka, namun air tersebut sebagaimana firman Allah Subhanallahu wata’ala :25) إِلَّا حَمِيماً وَغَسَّاقاً“kecuali air yang mendidih dan nanah”حَمِيماً adalah air panas yang berada puncak panasnya. وَغَسَّاقاً kata para ulama adalah air yang dinginnya luar biasa tetapi bukan berasal dari air melainkan dari nanahnya penghuni neraka jahannam. Dari luka penghuni neraka, keringat mereka, dan nanah mereka, dikumpulkan dan didinginkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala kemudian dijadikan air minum untuk mereka. Sesungguhnya ini sangat menyiksa mereka. Selain itu minuman mereka tersebut sangat berbau busuk -sebagaimana penjelasan al-Hafiz Ibnu Katsir dalam tafsirnya-. Jadi di neraka jahannam nanti ada sebagian penghuni neraka yang disiksa dengan panas yang amat parah dan terkadang pula disiksa dengan dingin yang amat parah.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :اشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا، فَقَالَتْ: يَا رَبِّ أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًا، فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ، نَفَسٍ فِي الشِّتَاءِ، وَنَفَسٍ فِي الصَّيْفِ، فَهْوَ أَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الْحَرِّ، وَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الزَّمْهَرِيرِNeraka mengeluh kepada Rabb-nya seraya berkata, “Ya Rabbku, sebagian dariku memakan sebagian yang lainnya”. Maka Allah memberi izin baginya dengan dua hembusan, hembusan tatkala musim panas dan hembusan tatkala musim dingin. Maka itulah panas yang paling parah yang kalian rasakan dan dingin yang paling parah yang kalian rasakan.” (HR Muslim No. 617)Kita tahu bahwa orang yang tinggal pada tempat yang bersuhu 1 derajat atau di bawah minus 1 derajat, maka orang tersebut akan merasa sangat tersiksa karena dingin yang menusuk ke dalam tulangnya. Jadi neraka jahannam bukan hanya berbentuk api yang amat panas tapi juga rasa dingin yang amat parah. Dan ini mudah bagi Allah Subhanallahu wata’ala untuk menggabungkan dalam satu tempat, ada yang dingin ada yang panas. Kita saksikan sebagian alat seperti AC atau kulkas. Kulkas dalamnya dingin, namun belakangnya panas. Demikian juga AC, mesinnya panas tetapi mengeluarkan udara yang dingin. Sehingga sangat mudah bagi Allah Subhanallahu wata’ala membuat neraka jahannam memiliki tempat yang sangat panas dan tempat yang sangat dingin. Ada حَمِيماً yaitu air yang sangat panas dan وَغَسَّاقاً yaitu nanah darah penghuni neraka jahannam yang sangat dingin yang jika diminum akan sangat menyiksa orang yang meminumnya.Mengapa para penghuni neraka tetap meminum minuman seperti ini padahal mereka tahu bahwa minuman tersebut hanya akan menambah siksaan bagi mereka, kata para ulama karena saking dahaganya sehingga harus ada sesuatu yang harus mereka masukkan ke dalam mulut mereka. Mereka sampai tidak peduli lagi apa yang mereka masukkan ke dalam mulutnya, meskipun mereka tahu bahwa meminum air panas hanya akan merusak isi perut mereka. Keadaannya sama seperti orang-orang yang kecanduan morfinis dan semacamnya, mereka ingin terus menghirupnya bahkan kadang dijumpai orang yang rela menggoret-goret tubuhnya untuk menghirup darahnya yang mengandung heroin tersebut. Mereka terpaksa melakukannya meskipun merasakan penderitaan. Demikian juga orang-orang musyrikin ketika merasakan dahaga yang amat sangat, mereka harus minum apapun yang bisa diminum. Meskipun air yang diminum adalah air panas yang bisa memotong-motong isi perut mereka, mereka tidak peduli yang penting bisa minum. Bahkan nanah dari para penghuni nereka jahannam yang terkumpulkan terpaksa diminum karena rasa dahaga yang amat yang mereka rasakan. Inilah air minum yang disediakan Allah Subhanallahu wata’ala untuk mereka.Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:26) جَزَاءً وِفَاقاً“sebagai balasan yang setimpal”Allah Subhanallahu wata’ala Maha Adil. Allah Subhanallahu wata’ala memberikan balasan seperti itu karena keadilan Allah Subhanallahu wata’ala. Allah membalas sesuai dengan apa yang mereka lakukan selama di dunia berupa kerusakan.Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:27) إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَاباً“sesungguhnya mereka tidak berharap kepada yaumal hisab (hari perhitungan)”Orang-orang musyrikin tidak mau dan dan takut akan adanya perhitungan terhadap amal perbuatan mereka di dunia. Padahal mereka akan menemukan hari tersebut.Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :28) وَكَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا كِذَّاباً“mereka benar-benar mendustakan ayat kami”Mereka tahu apa yang mereka kerjakan kebanyakannya adalah maksiat. Seandainya mereka tahu bahwa mereka akan dihisab niscaya mereka tidak akan melakukan kemaksiatan. Karenanya mereka tidak meyakini adanya hisab, bahkan mereka tidak mau adanya hisab dan mereka takut adanya hisab. Mereka kemudian mendustakan ayat-ayat Allah Subhanallahu wata’ala yang menjelaskan tentang yaumul hisab, ayat-ayat tentang hari kebangkitan, dan ayat-ayat tentang hari persidangan. Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:29) وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَاباً“segala sesuatu dicatat oleh Allah Subhanallahu wata’ala”Tidak ada kemaksiatan apapun yang luput dari catatan Allah Subhanallahu wata’ala dan akan dihadirkan. Mereka akan melihat apa yang telah mereka lakukan, tidak ada kemaksiatan yang mereka lakukan kecuali telah dicatat.Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:30) فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَاباًini ayat yang paling mengerikan, kata Allah Subhanallahu wata’ala :“rasakanlah adzab Allah Subhanallahu wata’ala maka kami tidak akan menambah pada kalian kecuali adzab”.Ketika mereka diadzab di nereka jahannam dengan berabagai macam siksaan, siksaan yang mereka rasakan tidaklah satu jenis melainka setiap harinya bertambah kadar siksaannya. Orang yang diadzab di neraka Jahannam, mereka akan diadzab dengan beraneka ragam variasi siksaan yang semakin bertambah kerasnya.Ini adalah ayat yang sangat ditakutkan oleh para penghuni neraka Jahannam. Sampai-sampai Abdullah bin ‘Amr berkata :مَا أُنْزِلَتْ عَلَى أَهْلِ النَّارِ آيَةٌ قَطٌّ أَشَدُّ مِنْهَا“Tidak pernah turun satu ayatpun yang lebih berat kepada penghuni neraka dari pada ayat ini” (Fathul Qodiir 5/444)Bersambung Insya Allah…

Tanya Jawab Seputar Syirik Kecil (Bag. 1)

Di antara perkara yang wajib dipelajari pertama kali oleh seorang muslim adalah tauhid, dan juga mengenal lawannya, yaitu kemusyrikan. Mempelajari tauhid adalah proses yang tidak pernah berhenti sampai ajal menjemput, mengingat urgensi perkara ini dalam kehidupan seorang muslim.Dalam beberapa serial tulisan ini, kami akan membahas syirik kecil (syirik ashghar), dalam bentuk tanya jawab ringkas sehingga bisa dipahami dengan mudah oleh kaum muslimin. Tulisan ini adalah terjemah dari kitab As’ilah muhimmah muta’alliqah bi asy-syirki al-ashghar wal jawaabu ‘anhaa karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najjaar (cetakan Daar An-Nashihah, tahun 1435).Baca Juga: Cara Mendakwahi Keluarga Yang Berbuat SyirikKata pengantar oleh penulis, Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-NajjaarSegala puji bagi Allah Ta’ala, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul yang paling mulia, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabat seluruhnya. Amma ba’du.Sesungguhnya tauhid adalah hak Allah atas hamba-Nya, yang tidak menerima perdebatan dalam bentuk apa pun. Seluruh rasul diutus untuk mendakwahkan tauhid dan memperingatkan umat dari terjerumus ke dalam lawannya, yaitu syirik.Allah Ta’ala memberikan keutamaan bagi orang yang merealisasikannya berupa keamanan dan hidayah yang sempurna. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am [6]: 82)Allah Ta’ala juga menjanjikan surga, sebagaimana yang terdapat dalam riwayat dari sahabat ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلىَ مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةَ حَقٌّ، وَالنَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ”Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, (dan bersaksi) bahwa Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, serta ruh dari-Nya, (dan bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya, bahwa neraka adalah benar adanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga betapa pun amal yang telah diperbuatnya.” (HR. Bukhari no. 3435)Baca Juga: Parahnya Praktek Syirik Di Masa KiniAllah Ta’ala juga mengharamkan jasadnya untuk tersentuh api neraka. Sebagaimana yang diriwayatkan dari ‘Itban bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan neraka bagi siapa saja yang mengucapkan laa ilaaha illallah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah) dengan mengharapkan wajah Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 425)Dan tauhid ini memiliki pembatal. Di antara pembatal tersebut ada yang membatalkan tauhid sampai ke akarnya, itulah syirik besar (syirik akbar). Dan ada pula yang membatalkan kesempurnaan tauhid yang wajib, itulah syirik kecil (syirik ashghar). Pembahasan kita dalam tulisan ini akan berkaitan dengan jenis yang ke dua, yaitu syirik kecil, sebagai peringatan bagi manusia dari terjerumus ke dalamnya.Sedangkan manusia tidak mungkin bisa menjauhinya kecuali jika mereka mengetahui hakikatnya, mengetahui contoh-contohnya, dan memahami bahayanya.Menjadi kewajiban atas para ulama untuk mengingatkan manusia, terlebih lagi setelah kita mendengar ada orang yang mengatakan bahwa umat Islam tidak mungkin terjerumus ke dalam syirik. Ini adalah perkataan yang batil (tidak benar), bertentangan dengan dalil syariat dan juga bertentangan dengan realita.Baca Juga: Terkadang Adzab Kubur Diperlihatkan kepada ManusiaAdapun dalil dari syariat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَذْهَبُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى تُعْبَدَ اللَّاتُ وَالْعُزَّى“Malam dan siang tidaklah lenyap sampai Al-Lata dan Al-‘Uzza disembah.” (HR. Muslim no. 2907)Ini adalah berita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seseorang yang tidak berbicara dengan hawa nafsu, tentang kembalinya sekelompok umat ini menuju peribadatan kepada Al-Lata dan Al-‘Uzza. Syubhat ini datang dari orang-orang yang menyangka bahwa umat ini tidak mungkin terjerumus ke dalam syirik karena kesalahpahaman mereka dalam mengenal kemusyrikan. Syirik menurut mereka itu hanya berkaitan dengan i’tiqad (keyakinan), bukan dengan perbuatan. Maka seseorang tidaklah menjadi musyrik kecuali jika dia meyakini bahwa (mendatangkan) manfaat dan (menolak) bahaya itu di tangan selain Allah Ta’ala. Artinya, mereka mengkhususkan kemusyrikan itu hanya berkaitan dengan rububiyyah saja. Oleh karena itu, menurut mereka, siapa saja yang menujukan ibadah kepada selain Allah Ta’ala itu tidak syirik.Jika kemusyrikan itu hanya berkaitan dengan rububiyyah saja sebagaimana persangkaan mereka, niscaya perang terhadap kaum musyrikin Quraisy adalah sebuah kedzaliman dan tindakan melampaui batas. Hal ini karena meyakini rububiyyah Allah Ta’ala, bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang memberi rizki, memberikan manfaat dan mendatangkan bahaya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah.” Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” (QS. Al-‘Ankabuut [29]: 61)Maka mendefinisikan syirik sebatas (syirik dalam) rububiyyah mengandung celaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan juga celaan terhadap Dzat yang mengutusnya, yaitu Allah Ta’ala.Selain iyu, alasan yang dikemukakan oleh musyrikin Arab ternyata membatalkan persangkaan mereka itu. Karena orang-orang musyrik mengatakan,مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى“Kami tidaklah beribadah kepada mereka kecuali supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar [39]: 3)Mereka mengakui bahwa peribadatan mereka kepada selain Allah Ta’ala adalah untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah Ta’ala, bukan karena keyakinan bahwa sesembahan mereka selain Allah itu (memiliki kuasa dalam mendatangkan) manfaat atau bahaya.Baca Juga: Beranggapan Sial Itu Termasuk Syirik?Jika kita telah mengetahui hal ini, maka sesungguhnya kemusyrikan yang terjadi pada sekelompok umat ini wajib untuk dihindari dan wajib untuk diperingatkan darinya.Adapun secara realita, orang bisa menyaksikan sendiri apa yang dilakukan oleh sekelompok kaum muslimin di sisi makam, agar mereka bisa mengetahui dengan seyakin-yakinnya terjerumusnya sebagian umat ini ke dalam kemusyrikan.Aku memohon kepada Allah Ta’ala agar mengeluarkan mereka dari gelapnya kemusyrikan menuju cahaya tauhid.Buku ini mengandung penjelasan tentang syirik kecil, contoh-contohnya, melalui metode soal jawab, agar mempermudah pemahaman dan lebih mudah dihapal.Aku memohon kepada Allah Ta’ala agar menjadikan amal kami ini seluruhnya sebagai amal yang ikhlas, dan kami berlindung dari kemusyrikan dan terjerumus ke dalamnya.Baca Juga: Tawasul Syar’i vs Tawasul Syirik Waspada Berbagai Syirik di Sekitar Kita! [Bersambung]***@Puri Gardenia, 18 Jumadil akhir 1440/23 Februari 2019Penerjemah: M. Saifudin HakiArtikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Memakai Gelang, Buku Islam Pdf, Arti Bid'ah, يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات والله بما تعملون خبير, Definisi Kafir Kbbi

Tanya Jawab Seputar Syirik Kecil (Bag. 1)

Di antara perkara yang wajib dipelajari pertama kali oleh seorang muslim adalah tauhid, dan juga mengenal lawannya, yaitu kemusyrikan. Mempelajari tauhid adalah proses yang tidak pernah berhenti sampai ajal menjemput, mengingat urgensi perkara ini dalam kehidupan seorang muslim.Dalam beberapa serial tulisan ini, kami akan membahas syirik kecil (syirik ashghar), dalam bentuk tanya jawab ringkas sehingga bisa dipahami dengan mudah oleh kaum muslimin. Tulisan ini adalah terjemah dari kitab As’ilah muhimmah muta’alliqah bi asy-syirki al-ashghar wal jawaabu ‘anhaa karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najjaar (cetakan Daar An-Nashihah, tahun 1435).Baca Juga: Cara Mendakwahi Keluarga Yang Berbuat SyirikKata pengantar oleh penulis, Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-NajjaarSegala puji bagi Allah Ta’ala, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul yang paling mulia, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabat seluruhnya. Amma ba’du.Sesungguhnya tauhid adalah hak Allah atas hamba-Nya, yang tidak menerima perdebatan dalam bentuk apa pun. Seluruh rasul diutus untuk mendakwahkan tauhid dan memperingatkan umat dari terjerumus ke dalam lawannya, yaitu syirik.Allah Ta’ala memberikan keutamaan bagi orang yang merealisasikannya berupa keamanan dan hidayah yang sempurna. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am [6]: 82)Allah Ta’ala juga menjanjikan surga, sebagaimana yang terdapat dalam riwayat dari sahabat ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلىَ مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةَ حَقٌّ، وَالنَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ”Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, (dan bersaksi) bahwa Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, serta ruh dari-Nya, (dan bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya, bahwa neraka adalah benar adanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga betapa pun amal yang telah diperbuatnya.” (HR. Bukhari no. 3435)Baca Juga: Parahnya Praktek Syirik Di Masa KiniAllah Ta’ala juga mengharamkan jasadnya untuk tersentuh api neraka. Sebagaimana yang diriwayatkan dari ‘Itban bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan neraka bagi siapa saja yang mengucapkan laa ilaaha illallah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah) dengan mengharapkan wajah Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 425)Dan tauhid ini memiliki pembatal. Di antara pembatal tersebut ada yang membatalkan tauhid sampai ke akarnya, itulah syirik besar (syirik akbar). Dan ada pula yang membatalkan kesempurnaan tauhid yang wajib, itulah syirik kecil (syirik ashghar). Pembahasan kita dalam tulisan ini akan berkaitan dengan jenis yang ke dua, yaitu syirik kecil, sebagai peringatan bagi manusia dari terjerumus ke dalamnya.Sedangkan manusia tidak mungkin bisa menjauhinya kecuali jika mereka mengetahui hakikatnya, mengetahui contoh-contohnya, dan memahami bahayanya.Menjadi kewajiban atas para ulama untuk mengingatkan manusia, terlebih lagi setelah kita mendengar ada orang yang mengatakan bahwa umat Islam tidak mungkin terjerumus ke dalam syirik. Ini adalah perkataan yang batil (tidak benar), bertentangan dengan dalil syariat dan juga bertentangan dengan realita.Baca Juga: Terkadang Adzab Kubur Diperlihatkan kepada ManusiaAdapun dalil dari syariat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَذْهَبُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى تُعْبَدَ اللَّاتُ وَالْعُزَّى“Malam dan siang tidaklah lenyap sampai Al-Lata dan Al-‘Uzza disembah.” (HR. Muslim no. 2907)Ini adalah berita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seseorang yang tidak berbicara dengan hawa nafsu, tentang kembalinya sekelompok umat ini menuju peribadatan kepada Al-Lata dan Al-‘Uzza. Syubhat ini datang dari orang-orang yang menyangka bahwa umat ini tidak mungkin terjerumus ke dalam syirik karena kesalahpahaman mereka dalam mengenal kemusyrikan. Syirik menurut mereka itu hanya berkaitan dengan i’tiqad (keyakinan), bukan dengan perbuatan. Maka seseorang tidaklah menjadi musyrik kecuali jika dia meyakini bahwa (mendatangkan) manfaat dan (menolak) bahaya itu di tangan selain Allah Ta’ala. Artinya, mereka mengkhususkan kemusyrikan itu hanya berkaitan dengan rububiyyah saja. Oleh karena itu, menurut mereka, siapa saja yang menujukan ibadah kepada selain Allah Ta’ala itu tidak syirik.Jika kemusyrikan itu hanya berkaitan dengan rububiyyah saja sebagaimana persangkaan mereka, niscaya perang terhadap kaum musyrikin Quraisy adalah sebuah kedzaliman dan tindakan melampaui batas. Hal ini karena meyakini rububiyyah Allah Ta’ala, bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang memberi rizki, memberikan manfaat dan mendatangkan bahaya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah.” Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” (QS. Al-‘Ankabuut [29]: 61)Maka mendefinisikan syirik sebatas (syirik dalam) rububiyyah mengandung celaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan juga celaan terhadap Dzat yang mengutusnya, yaitu Allah Ta’ala.Selain iyu, alasan yang dikemukakan oleh musyrikin Arab ternyata membatalkan persangkaan mereka itu. Karena orang-orang musyrik mengatakan,مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى“Kami tidaklah beribadah kepada mereka kecuali supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar [39]: 3)Mereka mengakui bahwa peribadatan mereka kepada selain Allah Ta’ala adalah untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah Ta’ala, bukan karena keyakinan bahwa sesembahan mereka selain Allah itu (memiliki kuasa dalam mendatangkan) manfaat atau bahaya.Baca Juga: Beranggapan Sial Itu Termasuk Syirik?Jika kita telah mengetahui hal ini, maka sesungguhnya kemusyrikan yang terjadi pada sekelompok umat ini wajib untuk dihindari dan wajib untuk diperingatkan darinya.Adapun secara realita, orang bisa menyaksikan sendiri apa yang dilakukan oleh sekelompok kaum muslimin di sisi makam, agar mereka bisa mengetahui dengan seyakin-yakinnya terjerumusnya sebagian umat ini ke dalam kemusyrikan.Aku memohon kepada Allah Ta’ala agar mengeluarkan mereka dari gelapnya kemusyrikan menuju cahaya tauhid.Buku ini mengandung penjelasan tentang syirik kecil, contoh-contohnya, melalui metode soal jawab, agar mempermudah pemahaman dan lebih mudah dihapal.Aku memohon kepada Allah Ta’ala agar menjadikan amal kami ini seluruhnya sebagai amal yang ikhlas, dan kami berlindung dari kemusyrikan dan terjerumus ke dalamnya.Baca Juga: Tawasul Syar’i vs Tawasul Syirik Waspada Berbagai Syirik di Sekitar Kita! [Bersambung]***@Puri Gardenia, 18 Jumadil akhir 1440/23 Februari 2019Penerjemah: M. Saifudin HakiArtikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Memakai Gelang, Buku Islam Pdf, Arti Bid'ah, يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات والله بما تعملون خبير, Definisi Kafir Kbbi
Di antara perkara yang wajib dipelajari pertama kali oleh seorang muslim adalah tauhid, dan juga mengenal lawannya, yaitu kemusyrikan. Mempelajari tauhid adalah proses yang tidak pernah berhenti sampai ajal menjemput, mengingat urgensi perkara ini dalam kehidupan seorang muslim.Dalam beberapa serial tulisan ini, kami akan membahas syirik kecil (syirik ashghar), dalam bentuk tanya jawab ringkas sehingga bisa dipahami dengan mudah oleh kaum muslimin. Tulisan ini adalah terjemah dari kitab As’ilah muhimmah muta’alliqah bi asy-syirki al-ashghar wal jawaabu ‘anhaa karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najjaar (cetakan Daar An-Nashihah, tahun 1435).Baca Juga: Cara Mendakwahi Keluarga Yang Berbuat SyirikKata pengantar oleh penulis, Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-NajjaarSegala puji bagi Allah Ta’ala, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul yang paling mulia, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabat seluruhnya. Amma ba’du.Sesungguhnya tauhid adalah hak Allah atas hamba-Nya, yang tidak menerima perdebatan dalam bentuk apa pun. Seluruh rasul diutus untuk mendakwahkan tauhid dan memperingatkan umat dari terjerumus ke dalam lawannya, yaitu syirik.Allah Ta’ala memberikan keutamaan bagi orang yang merealisasikannya berupa keamanan dan hidayah yang sempurna. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am [6]: 82)Allah Ta’ala juga menjanjikan surga, sebagaimana yang terdapat dalam riwayat dari sahabat ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلىَ مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةَ حَقٌّ، وَالنَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ”Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, (dan bersaksi) bahwa Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, serta ruh dari-Nya, (dan bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya, bahwa neraka adalah benar adanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga betapa pun amal yang telah diperbuatnya.” (HR. Bukhari no. 3435)Baca Juga: Parahnya Praktek Syirik Di Masa KiniAllah Ta’ala juga mengharamkan jasadnya untuk tersentuh api neraka. Sebagaimana yang diriwayatkan dari ‘Itban bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan neraka bagi siapa saja yang mengucapkan laa ilaaha illallah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah) dengan mengharapkan wajah Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 425)Dan tauhid ini memiliki pembatal. Di antara pembatal tersebut ada yang membatalkan tauhid sampai ke akarnya, itulah syirik besar (syirik akbar). Dan ada pula yang membatalkan kesempurnaan tauhid yang wajib, itulah syirik kecil (syirik ashghar). Pembahasan kita dalam tulisan ini akan berkaitan dengan jenis yang ke dua, yaitu syirik kecil, sebagai peringatan bagi manusia dari terjerumus ke dalamnya.Sedangkan manusia tidak mungkin bisa menjauhinya kecuali jika mereka mengetahui hakikatnya, mengetahui contoh-contohnya, dan memahami bahayanya.Menjadi kewajiban atas para ulama untuk mengingatkan manusia, terlebih lagi setelah kita mendengar ada orang yang mengatakan bahwa umat Islam tidak mungkin terjerumus ke dalam syirik. Ini adalah perkataan yang batil (tidak benar), bertentangan dengan dalil syariat dan juga bertentangan dengan realita.Baca Juga: Terkadang Adzab Kubur Diperlihatkan kepada ManusiaAdapun dalil dari syariat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَذْهَبُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى تُعْبَدَ اللَّاتُ وَالْعُزَّى“Malam dan siang tidaklah lenyap sampai Al-Lata dan Al-‘Uzza disembah.” (HR. Muslim no. 2907)Ini adalah berita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seseorang yang tidak berbicara dengan hawa nafsu, tentang kembalinya sekelompok umat ini menuju peribadatan kepada Al-Lata dan Al-‘Uzza. Syubhat ini datang dari orang-orang yang menyangka bahwa umat ini tidak mungkin terjerumus ke dalam syirik karena kesalahpahaman mereka dalam mengenal kemusyrikan. Syirik menurut mereka itu hanya berkaitan dengan i’tiqad (keyakinan), bukan dengan perbuatan. Maka seseorang tidaklah menjadi musyrik kecuali jika dia meyakini bahwa (mendatangkan) manfaat dan (menolak) bahaya itu di tangan selain Allah Ta’ala. Artinya, mereka mengkhususkan kemusyrikan itu hanya berkaitan dengan rububiyyah saja. Oleh karena itu, menurut mereka, siapa saja yang menujukan ibadah kepada selain Allah Ta’ala itu tidak syirik.Jika kemusyrikan itu hanya berkaitan dengan rububiyyah saja sebagaimana persangkaan mereka, niscaya perang terhadap kaum musyrikin Quraisy adalah sebuah kedzaliman dan tindakan melampaui batas. Hal ini karena meyakini rububiyyah Allah Ta’ala, bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang memberi rizki, memberikan manfaat dan mendatangkan bahaya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah.” Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” (QS. Al-‘Ankabuut [29]: 61)Maka mendefinisikan syirik sebatas (syirik dalam) rububiyyah mengandung celaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan juga celaan terhadap Dzat yang mengutusnya, yaitu Allah Ta’ala.Selain iyu, alasan yang dikemukakan oleh musyrikin Arab ternyata membatalkan persangkaan mereka itu. Karena orang-orang musyrik mengatakan,مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى“Kami tidaklah beribadah kepada mereka kecuali supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar [39]: 3)Mereka mengakui bahwa peribadatan mereka kepada selain Allah Ta’ala adalah untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah Ta’ala, bukan karena keyakinan bahwa sesembahan mereka selain Allah itu (memiliki kuasa dalam mendatangkan) manfaat atau bahaya.Baca Juga: Beranggapan Sial Itu Termasuk Syirik?Jika kita telah mengetahui hal ini, maka sesungguhnya kemusyrikan yang terjadi pada sekelompok umat ini wajib untuk dihindari dan wajib untuk diperingatkan darinya.Adapun secara realita, orang bisa menyaksikan sendiri apa yang dilakukan oleh sekelompok kaum muslimin di sisi makam, agar mereka bisa mengetahui dengan seyakin-yakinnya terjerumusnya sebagian umat ini ke dalam kemusyrikan.Aku memohon kepada Allah Ta’ala agar mengeluarkan mereka dari gelapnya kemusyrikan menuju cahaya tauhid.Buku ini mengandung penjelasan tentang syirik kecil, contoh-contohnya, melalui metode soal jawab, agar mempermudah pemahaman dan lebih mudah dihapal.Aku memohon kepada Allah Ta’ala agar menjadikan amal kami ini seluruhnya sebagai amal yang ikhlas, dan kami berlindung dari kemusyrikan dan terjerumus ke dalamnya.Baca Juga: Tawasul Syar’i vs Tawasul Syirik Waspada Berbagai Syirik di Sekitar Kita! [Bersambung]***@Puri Gardenia, 18 Jumadil akhir 1440/23 Februari 2019Penerjemah: M. Saifudin HakiArtikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Memakai Gelang, Buku Islam Pdf, Arti Bid'ah, يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات والله بما تعملون خبير, Definisi Kafir Kbbi


Di antara perkara yang wajib dipelajari pertama kali oleh seorang muslim adalah tauhid, dan juga mengenal lawannya, yaitu kemusyrikan. Mempelajari tauhid adalah proses yang tidak pernah berhenti sampai ajal menjemput, mengingat urgensi perkara ini dalam kehidupan seorang muslim.Dalam beberapa serial tulisan ini, kami akan membahas syirik kecil (syirik ashghar), dalam bentuk tanya jawab ringkas sehingga bisa dipahami dengan mudah oleh kaum muslimin. Tulisan ini adalah terjemah dari kitab As’ilah muhimmah muta’alliqah bi asy-syirki al-ashghar wal jawaabu ‘anhaa karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najjaar (cetakan Daar An-Nashihah, tahun 1435).Baca Juga: Cara Mendakwahi Keluarga Yang Berbuat SyirikKata pengantar oleh penulis, Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-NajjaarSegala puji bagi Allah Ta’ala, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul yang paling mulia, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabat seluruhnya. Amma ba’du.Sesungguhnya tauhid adalah hak Allah atas hamba-Nya, yang tidak menerima perdebatan dalam bentuk apa pun. Seluruh rasul diutus untuk mendakwahkan tauhid dan memperingatkan umat dari terjerumus ke dalam lawannya, yaitu syirik.Allah Ta’ala memberikan keutamaan bagi orang yang merealisasikannya berupa keamanan dan hidayah yang sempurna. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am [6]: 82)Allah Ta’ala juga menjanjikan surga, sebagaimana yang terdapat dalam riwayat dari sahabat ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلىَ مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةَ حَقٌّ، وَالنَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ”Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, (dan bersaksi) bahwa Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, serta ruh dari-Nya, (dan bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya, bahwa neraka adalah benar adanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga betapa pun amal yang telah diperbuatnya.” (HR. Bukhari no. 3435)Baca Juga: Parahnya Praktek Syirik Di Masa KiniAllah Ta’ala juga mengharamkan jasadnya untuk tersentuh api neraka. Sebagaimana yang diriwayatkan dari ‘Itban bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan neraka bagi siapa saja yang mengucapkan laa ilaaha illallah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah) dengan mengharapkan wajah Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari no. 425)Dan tauhid ini memiliki pembatal. Di antara pembatal tersebut ada yang membatalkan tauhid sampai ke akarnya, itulah syirik besar (syirik akbar). Dan ada pula yang membatalkan kesempurnaan tauhid yang wajib, itulah syirik kecil (syirik ashghar). Pembahasan kita dalam tulisan ini akan berkaitan dengan jenis yang ke dua, yaitu syirik kecil, sebagai peringatan bagi manusia dari terjerumus ke dalamnya.Sedangkan manusia tidak mungkin bisa menjauhinya kecuali jika mereka mengetahui hakikatnya, mengetahui contoh-contohnya, dan memahami bahayanya.Menjadi kewajiban atas para ulama untuk mengingatkan manusia, terlebih lagi setelah kita mendengar ada orang yang mengatakan bahwa umat Islam tidak mungkin terjerumus ke dalam syirik. Ini adalah perkataan yang batil (tidak benar), bertentangan dengan dalil syariat dan juga bertentangan dengan realita.Baca Juga: Terkadang Adzab Kubur Diperlihatkan kepada ManusiaAdapun dalil dari syariat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَذْهَبُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى تُعْبَدَ اللَّاتُ وَالْعُزَّى“Malam dan siang tidaklah lenyap sampai Al-Lata dan Al-‘Uzza disembah.” (HR. Muslim no. 2907)Ini adalah berita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seseorang yang tidak berbicara dengan hawa nafsu, tentang kembalinya sekelompok umat ini menuju peribadatan kepada Al-Lata dan Al-‘Uzza. Syubhat ini datang dari orang-orang yang menyangka bahwa umat ini tidak mungkin terjerumus ke dalam syirik karena kesalahpahaman mereka dalam mengenal kemusyrikan. Syirik menurut mereka itu hanya berkaitan dengan i’tiqad (keyakinan), bukan dengan perbuatan. Maka seseorang tidaklah menjadi musyrik kecuali jika dia meyakini bahwa (mendatangkan) manfaat dan (menolak) bahaya itu di tangan selain Allah Ta’ala. Artinya, mereka mengkhususkan kemusyrikan itu hanya berkaitan dengan rububiyyah saja. Oleh karena itu, menurut mereka, siapa saja yang menujukan ibadah kepada selain Allah Ta’ala itu tidak syirik.Jika kemusyrikan itu hanya berkaitan dengan rububiyyah saja sebagaimana persangkaan mereka, niscaya perang terhadap kaum musyrikin Quraisy adalah sebuah kedzaliman dan tindakan melampaui batas. Hal ini karena meyakini rububiyyah Allah Ta’ala, bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang memberi rizki, memberikan manfaat dan mendatangkan bahaya. Allah Ta’ala berfirman,وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah.” Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” (QS. Al-‘Ankabuut [29]: 61)Maka mendefinisikan syirik sebatas (syirik dalam) rububiyyah mengandung celaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan juga celaan terhadap Dzat yang mengutusnya, yaitu Allah Ta’ala.Selain iyu, alasan yang dikemukakan oleh musyrikin Arab ternyata membatalkan persangkaan mereka itu. Karena orang-orang musyrik mengatakan,مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى“Kami tidaklah beribadah kepada mereka kecuali supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar [39]: 3)Mereka mengakui bahwa peribadatan mereka kepada selain Allah Ta’ala adalah untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah Ta’ala, bukan karena keyakinan bahwa sesembahan mereka selain Allah itu (memiliki kuasa dalam mendatangkan) manfaat atau bahaya.Baca Juga: Beranggapan Sial Itu Termasuk Syirik?Jika kita telah mengetahui hal ini, maka sesungguhnya kemusyrikan yang terjadi pada sekelompok umat ini wajib untuk dihindari dan wajib untuk diperingatkan darinya.Adapun secara realita, orang bisa menyaksikan sendiri apa yang dilakukan oleh sekelompok kaum muslimin di sisi makam, agar mereka bisa mengetahui dengan seyakin-yakinnya terjerumusnya sebagian umat ini ke dalam kemusyrikan.Aku memohon kepada Allah Ta’ala agar mengeluarkan mereka dari gelapnya kemusyrikan menuju cahaya tauhid.Buku ini mengandung penjelasan tentang syirik kecil, contoh-contohnya, melalui metode soal jawab, agar mempermudah pemahaman dan lebih mudah dihapal.Aku memohon kepada Allah Ta’ala agar menjadikan amal kami ini seluruhnya sebagai amal yang ikhlas, dan kami berlindung dari kemusyrikan dan terjerumus ke dalamnya.Baca Juga: Tawasul Syar’i vs Tawasul Syirik Waspada Berbagai Syirik di Sekitar Kita! [Bersambung]***@Puri Gardenia, 18 Jumadil akhir 1440/23 Februari 2019Penerjemah: M. Saifudin HakiArtikel: Muslim.or.id🔍 Hukum Memakai Gelang, Buku Islam Pdf, Arti Bid'ah, يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات والله بما تعملون خبير, Definisi Kafir Kbbi

Tersenyum Tidak Batal Shalat

Tersenyum Tidak Batal Shalat Jika kita shalat, lalu mendengar atau melihat kejadian yang lucu, kemudian kita tersenyum, apakah shalat kita batal? mohon penjelasannya… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Allah ta’ala menjanjikan kebaikan bagi mereka yang shalat dengan khusyu’. Allah berfirman, قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُون – الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُون “Sungguh berbahagia orang yang beriman – yaitu orang yang khusyu dalam shalatnya.” (QS. al-Mukminun: 1-2) Allah menjelaskan bahwa khusyu bagian dari ciri orang mukmin yang baik, yaitu mukmin yang mendapatkan keberuntungan. Karena itulah, setiap peluang yang bisa menghilangkan khusyu’, harus disingkirkan. Dan seperti yang kita pahami bahwa tersenyum termasuk perbuatan yang bertentangan dengan khusyu’ dalam shalat. Hanya saja, khusyu 100% hukumnya tidak wajib. Karena dalam banyak kejadian, terkadang Nabi ﷺ terganggu ke-khusyu’an beliau ketika shalat. Meskipun beliau tetap lanjutkan shalat hingga selesai dan tidak diulang. Selanjutnya, Apakah tersenyum membatalkan shalat? Jumhur ulama menegaskan bahwa senyum tidak membatalkan shalat. Karena senyum tidak mengeluarkan suara, sehingga tidak terhitung sebagai berbicara. Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan, أما الضحك بغير صوت وهو التبسم، فلا تفسد الصلاة به عند جمهور الفقهاء لأنه لم يحدث فيها كلام Tertawa tanpa suara, yaitu tersenyum, tidak membatalkan shalat menurut mayoritas ulama. Karena orang ini tidak berbicara. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 28/174). Keterangan lain, bisa kita jumpai di beberapa referensi, diantaranya, [1] Keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, أما التبسم فلا يبطل الصلاة وأما إذا قهقه في الصلاة فإنها تبطل ولا ينتقض وضوءه عند الجمهور كمالك والشافعي وأحمد Tersenyum ketika shalat tidak membatalkan shalat. Sedangkan tertawa dalam shalat, maka membatalkan shalat, namun tidak membatalkan wudhunya menurut jumhur ulama, seperti Imam Malik, Imam as-Syafii, dan Imam Ahmad. (Majmu’ Fatawa, 22/614). [2] Keterangan Ibnu Qudamah قال ابن المنذر : أجمعوا على أن الضحك يفسد الصلاة وأكثر أهل العلم على أن التبسم لا يفسدها Ibnul Mundzir mengatakan, ‘Ulama sepakat bahwa tertawa membatalkan shalat. Sementara mayoritas ulama berpendapat bahwa tersenyum tidak membatalkan shalat.’ (al-Mughni, 1/741). [3] Keterangan an-Nawawi والتبسم في الصلاة: مذهبنا ان التبسم لا يضر وكذا الضحك ان لم يبن منه حرفان فان بان بطلت صلاته Masalah senyum dalam shalat. Pendapat kami (ulama Syafi’iyah) bahwa tersenyum tidak mempengaruhi keabsahan shalat. Demikian pula tertawa, selama tidak sampai keluar 2 huruf. Jika keluar kata (dua huruf) maka batal shalatnya. (al-Majmu’, 4/89). Kita membahas sisi batal dan tidaknya. Bahwa tersenyum tidak membatalkan shalat. Hanya saja, mengurangi kesempurnaan shalat. Selanjutnya, bagi orang yang tersenyum dalam shalat, bisa lanjutkan shalatnya dan berusaha fokus dalam shalat, sehingga tidak terpengaruh dengan semua yang mengganggu di sekitarnya. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Tulisan Insyaallah, Menikah Tanpa Restu Orang Tua Dalam Islam, Masjid Warna Hijau, Niat Puasa Asyura 11 Muharram, Debat Islam Vs Nasrani, Tidur Dalam Keadaan Junub Visited 297 times, 3 visit(s) today Post Views: 417 QRIS donasi Yufid

Tersenyum Tidak Batal Shalat

Tersenyum Tidak Batal Shalat Jika kita shalat, lalu mendengar atau melihat kejadian yang lucu, kemudian kita tersenyum, apakah shalat kita batal? mohon penjelasannya… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Allah ta’ala menjanjikan kebaikan bagi mereka yang shalat dengan khusyu’. Allah berfirman, قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُون – الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُون “Sungguh berbahagia orang yang beriman – yaitu orang yang khusyu dalam shalatnya.” (QS. al-Mukminun: 1-2) Allah menjelaskan bahwa khusyu bagian dari ciri orang mukmin yang baik, yaitu mukmin yang mendapatkan keberuntungan. Karena itulah, setiap peluang yang bisa menghilangkan khusyu’, harus disingkirkan. Dan seperti yang kita pahami bahwa tersenyum termasuk perbuatan yang bertentangan dengan khusyu’ dalam shalat. Hanya saja, khusyu 100% hukumnya tidak wajib. Karena dalam banyak kejadian, terkadang Nabi ﷺ terganggu ke-khusyu’an beliau ketika shalat. Meskipun beliau tetap lanjutkan shalat hingga selesai dan tidak diulang. Selanjutnya, Apakah tersenyum membatalkan shalat? Jumhur ulama menegaskan bahwa senyum tidak membatalkan shalat. Karena senyum tidak mengeluarkan suara, sehingga tidak terhitung sebagai berbicara. Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan, أما الضحك بغير صوت وهو التبسم، فلا تفسد الصلاة به عند جمهور الفقهاء لأنه لم يحدث فيها كلام Tertawa tanpa suara, yaitu tersenyum, tidak membatalkan shalat menurut mayoritas ulama. Karena orang ini tidak berbicara. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 28/174). Keterangan lain, bisa kita jumpai di beberapa referensi, diantaranya, [1] Keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, أما التبسم فلا يبطل الصلاة وأما إذا قهقه في الصلاة فإنها تبطل ولا ينتقض وضوءه عند الجمهور كمالك والشافعي وأحمد Tersenyum ketika shalat tidak membatalkan shalat. Sedangkan tertawa dalam shalat, maka membatalkan shalat, namun tidak membatalkan wudhunya menurut jumhur ulama, seperti Imam Malik, Imam as-Syafii, dan Imam Ahmad. (Majmu’ Fatawa, 22/614). [2] Keterangan Ibnu Qudamah قال ابن المنذر : أجمعوا على أن الضحك يفسد الصلاة وأكثر أهل العلم على أن التبسم لا يفسدها Ibnul Mundzir mengatakan, ‘Ulama sepakat bahwa tertawa membatalkan shalat. Sementara mayoritas ulama berpendapat bahwa tersenyum tidak membatalkan shalat.’ (al-Mughni, 1/741). [3] Keterangan an-Nawawi والتبسم في الصلاة: مذهبنا ان التبسم لا يضر وكذا الضحك ان لم يبن منه حرفان فان بان بطلت صلاته Masalah senyum dalam shalat. Pendapat kami (ulama Syafi’iyah) bahwa tersenyum tidak mempengaruhi keabsahan shalat. Demikian pula tertawa, selama tidak sampai keluar 2 huruf. Jika keluar kata (dua huruf) maka batal shalatnya. (al-Majmu’, 4/89). Kita membahas sisi batal dan tidaknya. Bahwa tersenyum tidak membatalkan shalat. Hanya saja, mengurangi kesempurnaan shalat. Selanjutnya, bagi orang yang tersenyum dalam shalat, bisa lanjutkan shalatnya dan berusaha fokus dalam shalat, sehingga tidak terpengaruh dengan semua yang mengganggu di sekitarnya. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Tulisan Insyaallah, Menikah Tanpa Restu Orang Tua Dalam Islam, Masjid Warna Hijau, Niat Puasa Asyura 11 Muharram, Debat Islam Vs Nasrani, Tidur Dalam Keadaan Junub Visited 297 times, 3 visit(s) today Post Views: 417 QRIS donasi Yufid
Tersenyum Tidak Batal Shalat Jika kita shalat, lalu mendengar atau melihat kejadian yang lucu, kemudian kita tersenyum, apakah shalat kita batal? mohon penjelasannya… Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Allah ta’ala menjanjikan kebaikan bagi mereka yang shalat dengan khusyu’. Allah berfirman, قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُون – الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُون “Sungguh berbahagia orang yang beriman – yaitu orang yang khusyu dalam shalatnya.” (QS. al-Mukminun: 1-2) Allah menjelaskan bahwa khusyu bagian dari ciri orang mukmin yang baik, yaitu mukmin yang mendapatkan keberuntungan. Karena itulah, setiap peluang yang bisa menghilangkan khusyu’, harus disingkirkan. Dan seperti yang kita pahami bahwa tersenyum termasuk perbuatan yang bertentangan dengan khusyu’ dalam shalat. Hanya saja, khusyu 100% hukumnya tidak wajib. Karena dalam banyak kejadian, terkadang Nabi ﷺ terganggu ke-khusyu’an beliau ketika shalat. Meskipun beliau tetap lanjutkan shalat hingga selesai dan tidak diulang. Selanjutnya, Apakah tersenyum membatalkan shalat? Jumhur ulama menegaskan bahwa senyum tidak membatalkan shalat. Karena senyum tidak mengeluarkan suara, sehingga tidak terhitung sebagai berbicara. Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan, أما الضحك بغير صوت وهو التبسم، فلا تفسد الصلاة به عند جمهور الفقهاء لأنه لم يحدث فيها كلام Tertawa tanpa suara, yaitu tersenyum, tidak membatalkan shalat menurut mayoritas ulama. Karena orang ini tidak berbicara. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 28/174). Keterangan lain, bisa kita jumpai di beberapa referensi, diantaranya, [1] Keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, أما التبسم فلا يبطل الصلاة وأما إذا قهقه في الصلاة فإنها تبطل ولا ينتقض وضوءه عند الجمهور كمالك والشافعي وأحمد Tersenyum ketika shalat tidak membatalkan shalat. Sedangkan tertawa dalam shalat, maka membatalkan shalat, namun tidak membatalkan wudhunya menurut jumhur ulama, seperti Imam Malik, Imam as-Syafii, dan Imam Ahmad. (Majmu’ Fatawa, 22/614). [2] Keterangan Ibnu Qudamah قال ابن المنذر : أجمعوا على أن الضحك يفسد الصلاة وأكثر أهل العلم على أن التبسم لا يفسدها Ibnul Mundzir mengatakan, ‘Ulama sepakat bahwa tertawa membatalkan shalat. Sementara mayoritas ulama berpendapat bahwa tersenyum tidak membatalkan shalat.’ (al-Mughni, 1/741). [3] Keterangan an-Nawawi والتبسم في الصلاة: مذهبنا ان التبسم لا يضر وكذا الضحك ان لم يبن منه حرفان فان بان بطلت صلاته Masalah senyum dalam shalat. Pendapat kami (ulama Syafi’iyah) bahwa tersenyum tidak mempengaruhi keabsahan shalat. Demikian pula tertawa, selama tidak sampai keluar 2 huruf. Jika keluar kata (dua huruf) maka batal shalatnya. (al-Majmu’, 4/89). Kita membahas sisi batal dan tidaknya. Bahwa tersenyum tidak membatalkan shalat. Hanya saja, mengurangi kesempurnaan shalat. Selanjutnya, bagi orang yang tersenyum dalam shalat, bisa lanjutkan shalatnya dan berusaha fokus dalam shalat, sehingga tidak terpengaruh dengan semua yang mengganggu di sekitarnya. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Tulisan Insyaallah, Menikah Tanpa Restu Orang Tua Dalam Islam, Masjid Warna Hijau, Niat Puasa Asyura 11 Muharram, Debat Islam Vs Nasrani, Tidur Dalam Keadaan Junub Visited 297 times, 3 visit(s) today Post Views: 417 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1045561624&#038;color=d5265f&#038;hide_related=true&#038;show_artwork=false&#038;show_comments=false&#038;show_teaser=false&#038;show_user=false"></iframe> Tersenyum Tidak Batal Shalat Jika kita shalat, lalu mendengar atau melihat kejadian yang lucu, kemudian kita tersenyum, apakah shalat kita batal? mohon penjelasannya… Jawab: <iframe src="https://www.youtube.com/embed/ypVvWkEXfhs" width="560" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe> Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Allah ta’ala menjanjikan kebaikan bagi mereka yang shalat dengan khusyu’. Allah berfirman, قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُون – الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُون “Sungguh berbahagia orang yang beriman – yaitu orang yang khusyu dalam shalatnya.” (QS. al-Mukminun: 1-2) Allah menjelaskan bahwa khusyu bagian dari ciri orang mukmin yang baik, yaitu mukmin yang mendapatkan keberuntungan. Karena itulah, setiap peluang yang bisa menghilangkan khusyu’, harus disingkirkan. Dan seperti yang kita pahami bahwa tersenyum termasuk perbuatan yang bertentangan dengan khusyu’ dalam shalat. Hanya saja, khusyu 100% hukumnya tidak wajib. Karena dalam banyak kejadian, terkadang Nabi ﷺ terganggu ke-khusyu’an beliau ketika shalat. Meskipun beliau tetap lanjutkan shalat hingga selesai dan tidak diulang. Selanjutnya, Apakah tersenyum membatalkan shalat? Jumhur ulama menegaskan bahwa senyum tidak membatalkan shalat. Karena senyum tidak mengeluarkan suara, sehingga tidak terhitung sebagai berbicara. Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan, أما الضحك بغير صوت وهو التبسم، فلا تفسد الصلاة به عند جمهور الفقهاء لأنه لم يحدث فيها كلام Tertawa tanpa suara, yaitu tersenyum, tidak membatalkan shalat menurut mayoritas ulama. Karena orang ini tidak berbicara. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 28/174). Keterangan lain, bisa kita jumpai di beberapa referensi, diantaranya, [1] Keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, أما التبسم فلا يبطل الصلاة وأما إذا قهقه في الصلاة فإنها تبطل ولا ينتقض وضوءه عند الجمهور كمالك والشافعي وأحمد Tersenyum ketika shalat tidak membatalkan shalat. Sedangkan tertawa dalam shalat, maka membatalkan shalat, namun tidak membatalkan wudhunya menurut jumhur ulama, seperti Imam Malik, Imam as-Syafii, dan Imam Ahmad. (Majmu’ Fatawa, 22/614). [2] Keterangan Ibnu Qudamah قال ابن المنذر : أجمعوا على أن الضحك يفسد الصلاة وأكثر أهل العلم على أن التبسم لا يفسدها Ibnul Mundzir mengatakan, ‘Ulama sepakat bahwa tertawa membatalkan shalat. Sementara mayoritas ulama berpendapat bahwa tersenyum tidak membatalkan shalat.’ (al-Mughni, 1/741). [3] Keterangan an-Nawawi والتبسم في الصلاة: مذهبنا ان التبسم لا يضر وكذا الضحك ان لم يبن منه حرفان فان بان بطلت صلاته Masalah senyum dalam shalat. Pendapat kami (ulama Syafi’iyah) bahwa tersenyum tidak mempengaruhi keabsahan shalat. Demikian pula tertawa, selama tidak sampai keluar 2 huruf. Jika keluar kata (dua huruf) maka batal shalatnya. (al-Majmu’, 4/89). Kita membahas sisi batal dan tidaknya. Bahwa tersenyum tidak membatalkan shalat. Hanya saja, mengurangi kesempurnaan shalat. Selanjutnya, bagi orang yang tersenyum dalam shalat, bisa lanjutkan shalatnya dan berusaha fokus dalam shalat, sehingga tidak terpengaruh dengan semua yang mengganggu di sekitarnya. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Tulisan Insyaallah, Menikah Tanpa Restu Orang Tua Dalam Islam, Masjid Warna Hijau, Niat Puasa Asyura 11 Muharram, Debat Islam Vs Nasrani, Tidur Dalam Keadaan Junub Visited 297 times, 3 visit(s) today Post Views: 417 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Kumpulan Amalan Ringan #16: Membangun Masjid

Di antara amalan ringan bagi yang dimudahkan rezekinya oleh Allah adalah membangun masjid, walau ia punya peran serta dalam sedikit harta saja.   Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Mafhash qathaah dalam hadits artinya lubang yang dipakai burung menaruh telurnya dan menderum di tempat tesebut. Dan qathah adalah sejenis burung. Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari (1:545) menyatakan, “Maksud dari ‘siapa yang membangun masjid’ digunakan isim nakirah yang menunjukkan keumuman, sehingga maksud hadits adalah siapa yang membangun masjid besar maupun kecil. Dalam riwayat Anas yang dikeluarkan oleh Tirmidzi yang mendukung yang menyatakan dengan masjid kecil atau besar.” Hadits tentang keutamaan membangun masjid juga disebutkan dari hadits Utsman bin Affan. Di masa Utsman yaitu tahun 30 Hijriyah hingga khilafah beliau berakhir karena terbunuhnya beliau, dibangunlah masjid Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Utsman katakan pada mereka yang membangun sebagai bentuk pengingkaran bahwa mereka terlalu bermegah-megahan. Lalu Utsman membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ مِثْلَهُ “Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di surga.” (HR. Bukhari, no. 450 dan Muslim, no. 533). Kata Imam Nawawi rahimahullah, maksud akan dibangun baginya semisal itu di surga ada dua tafsiran: 1- Allah akan membangunkan semisal itu dengan bangunan yang disebut bait (rumah). Namun sifatnya dalam hal luasnya dan lainnya, tentu punya keutamaan tersendiri. Bangunan di surga tentu tidak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan tak pernah terbetik dalam hati akan indahnya. 2- Keutamaan bangunan yang diperoleh di surga dibanding dengan rumah di surga lainnya adalah seperti keutamaan masjid di dunia dibanding dengan rumah-rumah di dunia. (Syarh Shahih Muslim, 5:14)   Nantikan kumpulan amalan ringan berikutnya berserial, dan insya Allah akan menjadi sebuah buku.   Bahasan ini dikembangkan dari kitab “Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir” karya Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Cetakan pertama, Tahun 1415 H, Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan ringan amalan ringan berpahala besar bangun masjid kumpulan amalan ringan membangun masjid

Kumpulan Amalan Ringan #16: Membangun Masjid

Di antara amalan ringan bagi yang dimudahkan rezekinya oleh Allah adalah membangun masjid, walau ia punya peran serta dalam sedikit harta saja.   Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Mafhash qathaah dalam hadits artinya lubang yang dipakai burung menaruh telurnya dan menderum di tempat tesebut. Dan qathah adalah sejenis burung. Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari (1:545) menyatakan, “Maksud dari ‘siapa yang membangun masjid’ digunakan isim nakirah yang menunjukkan keumuman, sehingga maksud hadits adalah siapa yang membangun masjid besar maupun kecil. Dalam riwayat Anas yang dikeluarkan oleh Tirmidzi yang mendukung yang menyatakan dengan masjid kecil atau besar.” Hadits tentang keutamaan membangun masjid juga disebutkan dari hadits Utsman bin Affan. Di masa Utsman yaitu tahun 30 Hijriyah hingga khilafah beliau berakhir karena terbunuhnya beliau, dibangunlah masjid Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Utsman katakan pada mereka yang membangun sebagai bentuk pengingkaran bahwa mereka terlalu bermegah-megahan. Lalu Utsman membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ مِثْلَهُ “Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di surga.” (HR. Bukhari, no. 450 dan Muslim, no. 533). Kata Imam Nawawi rahimahullah, maksud akan dibangun baginya semisal itu di surga ada dua tafsiran: 1- Allah akan membangunkan semisal itu dengan bangunan yang disebut bait (rumah). Namun sifatnya dalam hal luasnya dan lainnya, tentu punya keutamaan tersendiri. Bangunan di surga tentu tidak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan tak pernah terbetik dalam hati akan indahnya. 2- Keutamaan bangunan yang diperoleh di surga dibanding dengan rumah di surga lainnya adalah seperti keutamaan masjid di dunia dibanding dengan rumah-rumah di dunia. (Syarh Shahih Muslim, 5:14)   Nantikan kumpulan amalan ringan berikutnya berserial, dan insya Allah akan menjadi sebuah buku.   Bahasan ini dikembangkan dari kitab “Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir” karya Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Cetakan pertama, Tahun 1415 H, Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan ringan amalan ringan berpahala besar bangun masjid kumpulan amalan ringan membangun masjid
Di antara amalan ringan bagi yang dimudahkan rezekinya oleh Allah adalah membangun masjid, walau ia punya peran serta dalam sedikit harta saja.   Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Mafhash qathaah dalam hadits artinya lubang yang dipakai burung menaruh telurnya dan menderum di tempat tesebut. Dan qathah adalah sejenis burung. Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari (1:545) menyatakan, “Maksud dari ‘siapa yang membangun masjid’ digunakan isim nakirah yang menunjukkan keumuman, sehingga maksud hadits adalah siapa yang membangun masjid besar maupun kecil. Dalam riwayat Anas yang dikeluarkan oleh Tirmidzi yang mendukung yang menyatakan dengan masjid kecil atau besar.” Hadits tentang keutamaan membangun masjid juga disebutkan dari hadits Utsman bin Affan. Di masa Utsman yaitu tahun 30 Hijriyah hingga khilafah beliau berakhir karena terbunuhnya beliau, dibangunlah masjid Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Utsman katakan pada mereka yang membangun sebagai bentuk pengingkaran bahwa mereka terlalu bermegah-megahan. Lalu Utsman membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ مِثْلَهُ “Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di surga.” (HR. Bukhari, no. 450 dan Muslim, no. 533). Kata Imam Nawawi rahimahullah, maksud akan dibangun baginya semisal itu di surga ada dua tafsiran: 1- Allah akan membangunkan semisal itu dengan bangunan yang disebut bait (rumah). Namun sifatnya dalam hal luasnya dan lainnya, tentu punya keutamaan tersendiri. Bangunan di surga tentu tidak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan tak pernah terbetik dalam hati akan indahnya. 2- Keutamaan bangunan yang diperoleh di surga dibanding dengan rumah di surga lainnya adalah seperti keutamaan masjid di dunia dibanding dengan rumah-rumah di dunia. (Syarh Shahih Muslim, 5:14)   Nantikan kumpulan amalan ringan berikutnya berserial, dan insya Allah akan menjadi sebuah buku.   Bahasan ini dikembangkan dari kitab “Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir” karya Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Cetakan pertama, Tahun 1415 H, Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan ringan amalan ringan berpahala besar bangun masjid kumpulan amalan ringan membangun masjid


Di antara amalan ringan bagi yang dimudahkan rezekinya oleh Allah adalah membangun masjid, walau ia punya peran serta dalam sedikit harta saja.   Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah, no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Mafhash qathaah dalam hadits artinya lubang yang dipakai burung menaruh telurnya dan menderum di tempat tesebut. Dan qathah adalah sejenis burung. Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari (1:545) menyatakan, “Maksud dari ‘siapa yang membangun masjid’ digunakan isim nakirah yang menunjukkan keumuman, sehingga maksud hadits adalah siapa yang membangun masjid besar maupun kecil. Dalam riwayat Anas yang dikeluarkan oleh Tirmidzi yang mendukung yang menyatakan dengan masjid kecil atau besar.” Hadits tentang keutamaan membangun masjid juga disebutkan dari hadits Utsman bin Affan. Di masa Utsman yaitu tahun 30 Hijriyah hingga khilafah beliau berakhir karena terbunuhnya beliau, dibangunlah masjid Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Utsman katakan pada mereka yang membangun sebagai bentuk pengingkaran bahwa mereka terlalu bermegah-megahan. Lalu Utsman membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ مِثْلَهُ “Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di surga.” (HR. Bukhari, no. 450 dan Muslim, no. 533). Kata Imam Nawawi rahimahullah, maksud akan dibangun baginya semisal itu di surga ada dua tafsiran: 1- Allah akan membangunkan semisal itu dengan bangunan yang disebut bait (rumah). Namun sifatnya dalam hal luasnya dan lainnya, tentu punya keutamaan tersendiri. Bangunan di surga tentu tidak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan tak pernah terbetik dalam hati akan indahnya. 2- Keutamaan bangunan yang diperoleh di surga dibanding dengan rumah di surga lainnya adalah seperti keutamaan masjid di dunia dibanding dengan rumah-rumah di dunia. (Syarh Shahih Muslim, 5:14)   Nantikan kumpulan amalan ringan berikutnya berserial, dan insya Allah akan menjadi sebuah buku.   Bahasan ini dikembangkan dari kitab “Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir” karya Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Cetakan pertama, Tahun 1415 H, Penerbit Dar Ibnu Hazm. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan ringan amalan ringan berpahala besar bangun masjid kumpulan amalan ringan membangun masjid
Prev     Next