Orang Cerdas: Memprioritaskan yang Paling Baik dari yang Baik

Ketika kami belajar ilmu kedokteran, materinya sangat luas dan banyak, berbagai dasar dari cabang ilmunya cukup penting untuk dipelajari semuanya. Hal ini menjadi perhatian bagi kami karena waktu untuk belajar kedokteran tidak banyak dan belum tentu juga rajin belajar semuanya. Teknik menghadapinya adalah kita memilih dari semua pelajaran penting tersebut, mana yang paling penting untuk dipelajari, lalu kita lebih fokus belajar ke materi yang paling penting tersebut yang merupakan kompetensi dasar seorang dokter.Baca Juga: Inilah Pertanyaan Cerdas Sang Arab BaduiHal ini mengingatkan pada perkataan ulama bahwa orang cerdas itu bukan hanya bisa membedakan baik dan buruk saja, tetapi mampu memilih dan memprioritaskan mana yang paling baik di antara yang baik serta mampu membedakan mana yang paling buruk di antara yang buruk. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata,ﺑﺄﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻘﻞ ﺃﻥ ﻳﻌﻠﻢ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺮ ﻓﻘﻂ ، ﺑﻞ ﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﻳﻌﻠﻢ ﺧﻴﺮ ﺍﻟﺨﻴﺮﻳﻦ , ﻭﺷﺮ ﺍﻟﺸﺮﻳﻦ“Bukanlah orang yang cerdas (berakal) yang hanya tahu (membedakan) baik dan buruk saja, tetapi wajib mengetahui yang terbaik dari dua kebaikan dan mengetahui yang terburuk dari dua keburukan.” [Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah]Apabila membedakan baik dan buruk, maka secara umum jiwa hanif manusia bisa membedakannya. Anak pada usia 7 tahun disebut “mumayyiz” karena dianggap sudah mulai bisa membedakan baik dan buruk secara umum.Baca Juga: Makan Berlebihan Sumber Utama PenyakitDemikianlah tipe orang yang sukses dan berhasil, mereka memiliki banyak sekali target-target kebaikan yang harus dilakukan, tapi dia memilih yang paling baik dam paling bermanfaat untuk dilakukan.Demikian juga memilih yang paling buruk untuk dihindari yang pilihan yang buruk-buruk. Terkadang hidup tidak selamanya mulus dan lancar, ada pilihan pahit yang harus dipilih dari beberapa pilihan buruk lainnya, maka orang cerdas akan memilih menghindari yang paling buruk.Seorang sahabat ‘Amr bin ‘Ash berkata,لَيْسَ الْعَاقِلُ الَّذِي يَعْرِفُ الْخَيْرَ مِنَ الشَّرِّ ، وَلَكِنَّهُ الَّذِي يَعْرِفُ خَيْرَ الشَّرَّيْنِ“Orang yang cerdas bukanlah yang hanya bisa membedakan antara kebaikan dan kejelekan, namun orang yang cerdas adalah yang bisa mengetahui mana yang terbaik antara dua pilihan yang buruk (untuk dihindari)”. [Al Isyraf fi Manazill Asyraf, hal 264]Baca Juga: Seorang Mukmin Bagaikan LebahHal ini juga yang dilakukan oleh suri teladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah beliau diberi pilihan, kecuali beliau memilih yang paling mudah perkaranya di antara perkara tersebut.‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,كان النبي صلى الله هليه و سلم أجود الناس، و أشجع الناس، ما سئل شيئا قط فقال : لا. و كان دائما البشر، سهل الخلق، لين الجانب، ما خير بين أمرين إلا اختار أيسر هما؛ إلا أن يكون إثما؛ فيكون أبعد الناس عنه“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu orang yang paling dermawan, manusia yang paling pemberani, jika diminta sesuatu tidak pernah mengatakan tidak, dan wajahnya selalu ceria, ahlaknya enak dan orangnya mudah. Jika diberi pilihan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau akan memilih yang paling mudah, kecuali kalau itu mengandung dosa, maka Beliau adalah orang yang paling menjauhi hal tersebut.” [HR. Bukhari dan Muslim]Baca Juga: Seorang Mukmin Bagaikan Lebah Bimbingan Islam Untuk Si Kaya Dan Si Miskin Demikian semoga bermanfaat@ Bandara Internasional LombokPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Istiqomah, Larangan Meminta Minta Dalam Islam, Hadits Shahih Tentang Shalawat Nabi, Semoga Allah Membalas, Puasa Udah Berapa Hari

Orang Cerdas: Memprioritaskan yang Paling Baik dari yang Baik

Ketika kami belajar ilmu kedokteran, materinya sangat luas dan banyak, berbagai dasar dari cabang ilmunya cukup penting untuk dipelajari semuanya. Hal ini menjadi perhatian bagi kami karena waktu untuk belajar kedokteran tidak banyak dan belum tentu juga rajin belajar semuanya. Teknik menghadapinya adalah kita memilih dari semua pelajaran penting tersebut, mana yang paling penting untuk dipelajari, lalu kita lebih fokus belajar ke materi yang paling penting tersebut yang merupakan kompetensi dasar seorang dokter.Baca Juga: Inilah Pertanyaan Cerdas Sang Arab BaduiHal ini mengingatkan pada perkataan ulama bahwa orang cerdas itu bukan hanya bisa membedakan baik dan buruk saja, tetapi mampu memilih dan memprioritaskan mana yang paling baik di antara yang baik serta mampu membedakan mana yang paling buruk di antara yang buruk. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata,ﺑﺄﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻘﻞ ﺃﻥ ﻳﻌﻠﻢ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺮ ﻓﻘﻂ ، ﺑﻞ ﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﻳﻌﻠﻢ ﺧﻴﺮ ﺍﻟﺨﻴﺮﻳﻦ , ﻭﺷﺮ ﺍﻟﺸﺮﻳﻦ“Bukanlah orang yang cerdas (berakal) yang hanya tahu (membedakan) baik dan buruk saja, tetapi wajib mengetahui yang terbaik dari dua kebaikan dan mengetahui yang terburuk dari dua keburukan.” [Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah]Apabila membedakan baik dan buruk, maka secara umum jiwa hanif manusia bisa membedakannya. Anak pada usia 7 tahun disebut “mumayyiz” karena dianggap sudah mulai bisa membedakan baik dan buruk secara umum.Baca Juga: Makan Berlebihan Sumber Utama PenyakitDemikianlah tipe orang yang sukses dan berhasil, mereka memiliki banyak sekali target-target kebaikan yang harus dilakukan, tapi dia memilih yang paling baik dam paling bermanfaat untuk dilakukan.Demikian juga memilih yang paling buruk untuk dihindari yang pilihan yang buruk-buruk. Terkadang hidup tidak selamanya mulus dan lancar, ada pilihan pahit yang harus dipilih dari beberapa pilihan buruk lainnya, maka orang cerdas akan memilih menghindari yang paling buruk.Seorang sahabat ‘Amr bin ‘Ash berkata,لَيْسَ الْعَاقِلُ الَّذِي يَعْرِفُ الْخَيْرَ مِنَ الشَّرِّ ، وَلَكِنَّهُ الَّذِي يَعْرِفُ خَيْرَ الشَّرَّيْنِ“Orang yang cerdas bukanlah yang hanya bisa membedakan antara kebaikan dan kejelekan, namun orang yang cerdas adalah yang bisa mengetahui mana yang terbaik antara dua pilihan yang buruk (untuk dihindari)”. [Al Isyraf fi Manazill Asyraf, hal 264]Baca Juga: Seorang Mukmin Bagaikan LebahHal ini juga yang dilakukan oleh suri teladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah beliau diberi pilihan, kecuali beliau memilih yang paling mudah perkaranya di antara perkara tersebut.‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,كان النبي صلى الله هليه و سلم أجود الناس، و أشجع الناس، ما سئل شيئا قط فقال : لا. و كان دائما البشر، سهل الخلق، لين الجانب، ما خير بين أمرين إلا اختار أيسر هما؛ إلا أن يكون إثما؛ فيكون أبعد الناس عنه“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu orang yang paling dermawan, manusia yang paling pemberani, jika diminta sesuatu tidak pernah mengatakan tidak, dan wajahnya selalu ceria, ahlaknya enak dan orangnya mudah. Jika diberi pilihan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau akan memilih yang paling mudah, kecuali kalau itu mengandung dosa, maka Beliau adalah orang yang paling menjauhi hal tersebut.” [HR. Bukhari dan Muslim]Baca Juga: Seorang Mukmin Bagaikan Lebah Bimbingan Islam Untuk Si Kaya Dan Si Miskin Demikian semoga bermanfaat@ Bandara Internasional LombokPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Istiqomah, Larangan Meminta Minta Dalam Islam, Hadits Shahih Tentang Shalawat Nabi, Semoga Allah Membalas, Puasa Udah Berapa Hari
Ketika kami belajar ilmu kedokteran, materinya sangat luas dan banyak, berbagai dasar dari cabang ilmunya cukup penting untuk dipelajari semuanya. Hal ini menjadi perhatian bagi kami karena waktu untuk belajar kedokteran tidak banyak dan belum tentu juga rajin belajar semuanya. Teknik menghadapinya adalah kita memilih dari semua pelajaran penting tersebut, mana yang paling penting untuk dipelajari, lalu kita lebih fokus belajar ke materi yang paling penting tersebut yang merupakan kompetensi dasar seorang dokter.Baca Juga: Inilah Pertanyaan Cerdas Sang Arab BaduiHal ini mengingatkan pada perkataan ulama bahwa orang cerdas itu bukan hanya bisa membedakan baik dan buruk saja, tetapi mampu memilih dan memprioritaskan mana yang paling baik di antara yang baik serta mampu membedakan mana yang paling buruk di antara yang buruk. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata,ﺑﺄﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻘﻞ ﺃﻥ ﻳﻌﻠﻢ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺮ ﻓﻘﻂ ، ﺑﻞ ﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﻳﻌﻠﻢ ﺧﻴﺮ ﺍﻟﺨﻴﺮﻳﻦ , ﻭﺷﺮ ﺍﻟﺸﺮﻳﻦ“Bukanlah orang yang cerdas (berakal) yang hanya tahu (membedakan) baik dan buruk saja, tetapi wajib mengetahui yang terbaik dari dua kebaikan dan mengetahui yang terburuk dari dua keburukan.” [Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah]Apabila membedakan baik dan buruk, maka secara umum jiwa hanif manusia bisa membedakannya. Anak pada usia 7 tahun disebut “mumayyiz” karena dianggap sudah mulai bisa membedakan baik dan buruk secara umum.Baca Juga: Makan Berlebihan Sumber Utama PenyakitDemikianlah tipe orang yang sukses dan berhasil, mereka memiliki banyak sekali target-target kebaikan yang harus dilakukan, tapi dia memilih yang paling baik dam paling bermanfaat untuk dilakukan.Demikian juga memilih yang paling buruk untuk dihindari yang pilihan yang buruk-buruk. Terkadang hidup tidak selamanya mulus dan lancar, ada pilihan pahit yang harus dipilih dari beberapa pilihan buruk lainnya, maka orang cerdas akan memilih menghindari yang paling buruk.Seorang sahabat ‘Amr bin ‘Ash berkata,لَيْسَ الْعَاقِلُ الَّذِي يَعْرِفُ الْخَيْرَ مِنَ الشَّرِّ ، وَلَكِنَّهُ الَّذِي يَعْرِفُ خَيْرَ الشَّرَّيْنِ“Orang yang cerdas bukanlah yang hanya bisa membedakan antara kebaikan dan kejelekan, namun orang yang cerdas adalah yang bisa mengetahui mana yang terbaik antara dua pilihan yang buruk (untuk dihindari)”. [Al Isyraf fi Manazill Asyraf, hal 264]Baca Juga: Seorang Mukmin Bagaikan LebahHal ini juga yang dilakukan oleh suri teladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah beliau diberi pilihan, kecuali beliau memilih yang paling mudah perkaranya di antara perkara tersebut.‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,كان النبي صلى الله هليه و سلم أجود الناس، و أشجع الناس، ما سئل شيئا قط فقال : لا. و كان دائما البشر، سهل الخلق، لين الجانب، ما خير بين أمرين إلا اختار أيسر هما؛ إلا أن يكون إثما؛ فيكون أبعد الناس عنه“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu orang yang paling dermawan, manusia yang paling pemberani, jika diminta sesuatu tidak pernah mengatakan tidak, dan wajahnya selalu ceria, ahlaknya enak dan orangnya mudah. Jika diberi pilihan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau akan memilih yang paling mudah, kecuali kalau itu mengandung dosa, maka Beliau adalah orang yang paling menjauhi hal tersebut.” [HR. Bukhari dan Muslim]Baca Juga: Seorang Mukmin Bagaikan Lebah Bimbingan Islam Untuk Si Kaya Dan Si Miskin Demikian semoga bermanfaat@ Bandara Internasional LombokPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Istiqomah, Larangan Meminta Minta Dalam Islam, Hadits Shahih Tentang Shalawat Nabi, Semoga Allah Membalas, Puasa Udah Berapa Hari


Ketika kami belajar ilmu kedokteran, materinya sangat luas dan banyak, berbagai dasar dari cabang ilmunya cukup penting untuk dipelajari semuanya. Hal ini menjadi perhatian bagi kami karena waktu untuk belajar kedokteran tidak banyak dan belum tentu juga rajin belajar semuanya. Teknik menghadapinya adalah kita memilih dari semua pelajaran penting tersebut, mana yang paling penting untuk dipelajari, lalu kita lebih fokus belajar ke materi yang paling penting tersebut yang merupakan kompetensi dasar seorang dokter.Baca Juga: Inilah Pertanyaan Cerdas Sang Arab BaduiHal ini mengingatkan pada perkataan ulama bahwa orang cerdas itu bukan hanya bisa membedakan baik dan buruk saja, tetapi mampu memilih dan memprioritaskan mana yang paling baik di antara yang baik serta mampu membedakan mana yang paling buruk di antara yang buruk. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata,ﺑﺄﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻘﻞ ﺃﻥ ﻳﻌﻠﻢ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺮ ﻓﻘﻂ ، ﺑﻞ ﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﻳﻌﻠﻢ ﺧﻴﺮ ﺍﻟﺨﻴﺮﻳﻦ , ﻭﺷﺮ ﺍﻟﺸﺮﻳﻦ“Bukanlah orang yang cerdas (berakal) yang hanya tahu (membedakan) baik dan buruk saja, tetapi wajib mengetahui yang terbaik dari dua kebaikan dan mengetahui yang terburuk dari dua keburukan.” [Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah]Apabila membedakan baik dan buruk, maka secara umum jiwa hanif manusia bisa membedakannya. Anak pada usia 7 tahun disebut “mumayyiz” karena dianggap sudah mulai bisa membedakan baik dan buruk secara umum.Baca Juga: Makan Berlebihan Sumber Utama PenyakitDemikianlah tipe orang yang sukses dan berhasil, mereka memiliki banyak sekali target-target kebaikan yang harus dilakukan, tapi dia memilih yang paling baik dam paling bermanfaat untuk dilakukan.Demikian juga memilih yang paling buruk untuk dihindari yang pilihan yang buruk-buruk. Terkadang hidup tidak selamanya mulus dan lancar, ada pilihan pahit yang harus dipilih dari beberapa pilihan buruk lainnya, maka orang cerdas akan memilih menghindari yang paling buruk.Seorang sahabat ‘Amr bin ‘Ash berkata,لَيْسَ الْعَاقِلُ الَّذِي يَعْرِفُ الْخَيْرَ مِنَ الشَّرِّ ، وَلَكِنَّهُ الَّذِي يَعْرِفُ خَيْرَ الشَّرَّيْنِ“Orang yang cerdas bukanlah yang hanya bisa membedakan antara kebaikan dan kejelekan, namun orang yang cerdas adalah yang bisa mengetahui mana yang terbaik antara dua pilihan yang buruk (untuk dihindari)”. [Al Isyraf fi Manazill Asyraf, hal 264]Baca Juga: Seorang Mukmin Bagaikan LebahHal ini juga yang dilakukan oleh suri teladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah beliau diberi pilihan, kecuali beliau memilih yang paling mudah perkaranya di antara perkara tersebut.‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,كان النبي صلى الله هليه و سلم أجود الناس، و أشجع الناس، ما سئل شيئا قط فقال : لا. و كان دائما البشر، سهل الخلق، لين الجانب، ما خير بين أمرين إلا اختار أيسر هما؛ إلا أن يكون إثما؛ فيكون أبعد الناس عنه“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu orang yang paling dermawan, manusia yang paling pemberani, jika diminta sesuatu tidak pernah mengatakan tidak, dan wajahnya selalu ceria, ahlaknya enak dan orangnya mudah. Jika diberi pilihan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau akan memilih yang paling mudah, kecuali kalau itu mengandung dosa, maka Beliau adalah orang yang paling menjauhi hal tersebut.” [HR. Bukhari dan Muslim]Baca Juga: Seorang Mukmin Bagaikan Lebah Bimbingan Islam Untuk Si Kaya Dan Si Miskin Demikian semoga bermanfaat@ Bandara Internasional LombokPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Istiqomah, Larangan Meminta Minta Dalam Islam, Hadits Shahih Tentang Shalawat Nabi, Semoga Allah Membalas, Puasa Udah Berapa Hari

Gadget Telah Memalingkan Kita dari Al-Quran

Sungguh di zaman ini manusia benar-benar disibukkan dengan gadget. Apapun keadaanya manusia benar-benar tidak lepas dari gadget dan digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan buang-buang waktu. Di jalan lihat gadget, sedang antre lihat gadget, sedang berbicara pun curi-curi pandang lihat gadget. Memang gadget ibarat pedang bermata dua, jika digunakan dengan bijak, gadget sangat bermanfaat, akan tetapi kebanyakan kita lalai dan kurang bijak menggunakan gadget.Baca Juga: Berbicara dengan Orang Lain Sambil Lihat HP & GadgetSalah satu kelalaian kita adalah gadget memalingkan kita dari Al-Quran. Sungguh sangat tersentuh membaca perkataan Khalid bin Walid yang begitu sedih karena tidak bisa fokus belajar Al-Quran karena sibuk dengan jihad, sedangkan kita sekarang meninggalkan Al-Quran karena gadget.Perhatikan perkataan Khalid bin Walid berikut:شغلنا الجهاد عن تعليم القرآن“Sungguh jihad telah menyibukkan kami dari belajar Al-Quran.” [HR. Ibnu Abi Syaibah 6/151]Di riwayat yang lain, jihad telah menyibukkan mereka dari membaca Al-Quran.لقد منعني كثيراً من القراءة الجهاد في سبيل الله“Sungguh jihad di jalan Allah telah menyibukkan (mencegah) kami dari membaca Al-Quran.” [Musnad Abu Ya’la 6/361]Sungguh benar akan datang zaman di mana manusia benar-benar meninggalkan Al-Quran.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا“Berkatalah Rasul: “Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang TIDAK DIACUHKAN/DITINGGALKAN”. (QS. Al Furqan: 30)Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan bahwa bentuk meninggalkan Al-Quran dalam segala bentuk, mulai dari membaca, mentadabbur, mempelajari tafsirnya dan mengamalkannya. Beliau berkata,قد أعرضوا عنه وهجروه وتركوه مع أن الواجب عليهم الانقياد لحكمه والإقبال على أحكامه، والمشي خلفه“Mereka telah berpaling dan meninggalkan Al-Quran, padahal mereka wajib untuk patuh dan menerima terhadap hukum di dalamnya serta berjalan dengan petunjuk Al-Quran.” [Tafsir As-Sa’diy]Hendaknya seorang muslim berusaha membaca Al-Quran setiap hari. Berusahalah membacanya walaupun hanya beberapa ayat dalam sehari, karena kita terlalu banyak melakukan maksiat setiap hari. Maksiat membuat hati keras dan Al-Quran lah obatnya. Membaca Al-Quran membuat hati menjadi lembuh dan mudah menerimah hidayah serta mudah melakukan ibadah dan kebaikan yang bermanfaat bagi manusia. Al-Quran adalah obat bagi penyakit hati kita.Baca Juga: Adab Berinteraksi Dengan Wanita Di InternetAllah Ta’ala berfirman,وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al-Israa’: 82).Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqith menjelaskan bahwa maksud obat dalam ayat ini adalah obat untuk penyakit fisik dan penyakit hati. Beliau berkata,ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَﺎﺀٌ ﻳَﺸْﻤَﻞُ ﻛَﻮْﻧَﻪُ ﺷِﻔَﺎﺀً ﻟِﻠْﻘَﻠْﺐِ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮَﺍﺿِﻪِ ; ﻛَﺎﻟﺸَّﻚِّ ﻭَﺍﻟﻨِّﻔَﺎﻕِ ﻭَﻏَﻴْﺮِ ﺫَﻟِﻚَ ، ﻭَﻛَﻮْﻧَﻪُ ﺷِﻔَﺎﺀً ﻟِﻠْﺄَﺟْﺴَﺎﻡِ ﺇِﺫَﺍ ﺭُﻗِﻲَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺑِﻪِ ، ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺪُﻝُّ ﻟَﻪُ ﻗِﺼَّﺔُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺭَﻗَﻰ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﺍﻟﻠَّﺪِﻳﻎَ ﺑِﺎﻟْﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ، ﻭَﻫِﻲَ ﺻَﺤِﻴﺤَﺔٌ ﻣَﺸْﻬُﻮﺭَﺓٌ“Obat yang mencakup obat bagi penyakit hati/jiwa, seperti keraguan, kemunafikan, dan perkara lainnya. Bisa menjadi obat bagi jasmani jika dilakukan ruqyah kepada orang yang sakit. Sebagaimana kisah seseorang yang terkena sengatan kalajengking diruqyah dengan membacakan Al-Fatihah. Ini adalah kisah yang shahih dan masyhur.” (Tafsir Adhwaul Bayan).Baca Juga: Kebangkrutan Besar Akibat Buruknya Lisan di Sosial MediaGunung yang keras saja akan hancur apabila Al-Quran turun padanya, apalagi hati yang keras. Tentu hati yang keras akan menjadi lembut dengan Al-Quran.Allah Ta’ala berfirman,لَوْ أَنزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّه“Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah.” (QS. Al Hasyr: 21)Baca Juga: Tidak Semua Kejadian Viral Harus Dikomentari “Mengalah” Dalam Debat yang Tidak Bermanfaat Demikian semoga bermanfaat @ Lombok, Pulau seribu masjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Perdebatan, Ayat Alquran Tentang Kebencian, Doa Di Waktu Hujan, Ma'had Jamilurrahman, Do A Untuk Pengantin Baru

Gadget Telah Memalingkan Kita dari Al-Quran

Sungguh di zaman ini manusia benar-benar disibukkan dengan gadget. Apapun keadaanya manusia benar-benar tidak lepas dari gadget dan digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan buang-buang waktu. Di jalan lihat gadget, sedang antre lihat gadget, sedang berbicara pun curi-curi pandang lihat gadget. Memang gadget ibarat pedang bermata dua, jika digunakan dengan bijak, gadget sangat bermanfaat, akan tetapi kebanyakan kita lalai dan kurang bijak menggunakan gadget.Baca Juga: Berbicara dengan Orang Lain Sambil Lihat HP & GadgetSalah satu kelalaian kita adalah gadget memalingkan kita dari Al-Quran. Sungguh sangat tersentuh membaca perkataan Khalid bin Walid yang begitu sedih karena tidak bisa fokus belajar Al-Quran karena sibuk dengan jihad, sedangkan kita sekarang meninggalkan Al-Quran karena gadget.Perhatikan perkataan Khalid bin Walid berikut:شغلنا الجهاد عن تعليم القرآن“Sungguh jihad telah menyibukkan kami dari belajar Al-Quran.” [HR. Ibnu Abi Syaibah 6/151]Di riwayat yang lain, jihad telah menyibukkan mereka dari membaca Al-Quran.لقد منعني كثيراً من القراءة الجهاد في سبيل الله“Sungguh jihad di jalan Allah telah menyibukkan (mencegah) kami dari membaca Al-Quran.” [Musnad Abu Ya’la 6/361]Sungguh benar akan datang zaman di mana manusia benar-benar meninggalkan Al-Quran.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا“Berkatalah Rasul: “Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang TIDAK DIACUHKAN/DITINGGALKAN”. (QS. Al Furqan: 30)Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan bahwa bentuk meninggalkan Al-Quran dalam segala bentuk, mulai dari membaca, mentadabbur, mempelajari tafsirnya dan mengamalkannya. Beliau berkata,قد أعرضوا عنه وهجروه وتركوه مع أن الواجب عليهم الانقياد لحكمه والإقبال على أحكامه، والمشي خلفه“Mereka telah berpaling dan meninggalkan Al-Quran, padahal mereka wajib untuk patuh dan menerima terhadap hukum di dalamnya serta berjalan dengan petunjuk Al-Quran.” [Tafsir As-Sa’diy]Hendaknya seorang muslim berusaha membaca Al-Quran setiap hari. Berusahalah membacanya walaupun hanya beberapa ayat dalam sehari, karena kita terlalu banyak melakukan maksiat setiap hari. Maksiat membuat hati keras dan Al-Quran lah obatnya. Membaca Al-Quran membuat hati menjadi lembuh dan mudah menerimah hidayah serta mudah melakukan ibadah dan kebaikan yang bermanfaat bagi manusia. Al-Quran adalah obat bagi penyakit hati kita.Baca Juga: Adab Berinteraksi Dengan Wanita Di InternetAllah Ta’ala berfirman,وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al-Israa’: 82).Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqith menjelaskan bahwa maksud obat dalam ayat ini adalah obat untuk penyakit fisik dan penyakit hati. Beliau berkata,ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَﺎﺀٌ ﻳَﺸْﻤَﻞُ ﻛَﻮْﻧَﻪُ ﺷِﻔَﺎﺀً ﻟِﻠْﻘَﻠْﺐِ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮَﺍﺿِﻪِ ; ﻛَﺎﻟﺸَّﻚِّ ﻭَﺍﻟﻨِّﻔَﺎﻕِ ﻭَﻏَﻴْﺮِ ﺫَﻟِﻚَ ، ﻭَﻛَﻮْﻧَﻪُ ﺷِﻔَﺎﺀً ﻟِﻠْﺄَﺟْﺴَﺎﻡِ ﺇِﺫَﺍ ﺭُﻗِﻲَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺑِﻪِ ، ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺪُﻝُّ ﻟَﻪُ ﻗِﺼَّﺔُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺭَﻗَﻰ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﺍﻟﻠَّﺪِﻳﻎَ ﺑِﺎﻟْﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ، ﻭَﻫِﻲَ ﺻَﺤِﻴﺤَﺔٌ ﻣَﺸْﻬُﻮﺭَﺓٌ“Obat yang mencakup obat bagi penyakit hati/jiwa, seperti keraguan, kemunafikan, dan perkara lainnya. Bisa menjadi obat bagi jasmani jika dilakukan ruqyah kepada orang yang sakit. Sebagaimana kisah seseorang yang terkena sengatan kalajengking diruqyah dengan membacakan Al-Fatihah. Ini adalah kisah yang shahih dan masyhur.” (Tafsir Adhwaul Bayan).Baca Juga: Kebangkrutan Besar Akibat Buruknya Lisan di Sosial MediaGunung yang keras saja akan hancur apabila Al-Quran turun padanya, apalagi hati yang keras. Tentu hati yang keras akan menjadi lembut dengan Al-Quran.Allah Ta’ala berfirman,لَوْ أَنزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّه“Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah.” (QS. Al Hasyr: 21)Baca Juga: Tidak Semua Kejadian Viral Harus Dikomentari “Mengalah” Dalam Debat yang Tidak Bermanfaat Demikian semoga bermanfaat @ Lombok, Pulau seribu masjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Perdebatan, Ayat Alquran Tentang Kebencian, Doa Di Waktu Hujan, Ma'had Jamilurrahman, Do A Untuk Pengantin Baru
Sungguh di zaman ini manusia benar-benar disibukkan dengan gadget. Apapun keadaanya manusia benar-benar tidak lepas dari gadget dan digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan buang-buang waktu. Di jalan lihat gadget, sedang antre lihat gadget, sedang berbicara pun curi-curi pandang lihat gadget. Memang gadget ibarat pedang bermata dua, jika digunakan dengan bijak, gadget sangat bermanfaat, akan tetapi kebanyakan kita lalai dan kurang bijak menggunakan gadget.Baca Juga: Berbicara dengan Orang Lain Sambil Lihat HP & GadgetSalah satu kelalaian kita adalah gadget memalingkan kita dari Al-Quran. Sungguh sangat tersentuh membaca perkataan Khalid bin Walid yang begitu sedih karena tidak bisa fokus belajar Al-Quran karena sibuk dengan jihad, sedangkan kita sekarang meninggalkan Al-Quran karena gadget.Perhatikan perkataan Khalid bin Walid berikut:شغلنا الجهاد عن تعليم القرآن“Sungguh jihad telah menyibukkan kami dari belajar Al-Quran.” [HR. Ibnu Abi Syaibah 6/151]Di riwayat yang lain, jihad telah menyibukkan mereka dari membaca Al-Quran.لقد منعني كثيراً من القراءة الجهاد في سبيل الله“Sungguh jihad di jalan Allah telah menyibukkan (mencegah) kami dari membaca Al-Quran.” [Musnad Abu Ya’la 6/361]Sungguh benar akan datang zaman di mana manusia benar-benar meninggalkan Al-Quran.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا“Berkatalah Rasul: “Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang TIDAK DIACUHKAN/DITINGGALKAN”. (QS. Al Furqan: 30)Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan bahwa bentuk meninggalkan Al-Quran dalam segala bentuk, mulai dari membaca, mentadabbur, mempelajari tafsirnya dan mengamalkannya. Beliau berkata,قد أعرضوا عنه وهجروه وتركوه مع أن الواجب عليهم الانقياد لحكمه والإقبال على أحكامه، والمشي خلفه“Mereka telah berpaling dan meninggalkan Al-Quran, padahal mereka wajib untuk patuh dan menerima terhadap hukum di dalamnya serta berjalan dengan petunjuk Al-Quran.” [Tafsir As-Sa’diy]Hendaknya seorang muslim berusaha membaca Al-Quran setiap hari. Berusahalah membacanya walaupun hanya beberapa ayat dalam sehari, karena kita terlalu banyak melakukan maksiat setiap hari. Maksiat membuat hati keras dan Al-Quran lah obatnya. Membaca Al-Quran membuat hati menjadi lembuh dan mudah menerimah hidayah serta mudah melakukan ibadah dan kebaikan yang bermanfaat bagi manusia. Al-Quran adalah obat bagi penyakit hati kita.Baca Juga: Adab Berinteraksi Dengan Wanita Di InternetAllah Ta’ala berfirman,وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al-Israa’: 82).Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqith menjelaskan bahwa maksud obat dalam ayat ini adalah obat untuk penyakit fisik dan penyakit hati. Beliau berkata,ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَﺎﺀٌ ﻳَﺸْﻤَﻞُ ﻛَﻮْﻧَﻪُ ﺷِﻔَﺎﺀً ﻟِﻠْﻘَﻠْﺐِ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮَﺍﺿِﻪِ ; ﻛَﺎﻟﺸَّﻚِّ ﻭَﺍﻟﻨِّﻔَﺎﻕِ ﻭَﻏَﻴْﺮِ ﺫَﻟِﻚَ ، ﻭَﻛَﻮْﻧَﻪُ ﺷِﻔَﺎﺀً ﻟِﻠْﺄَﺟْﺴَﺎﻡِ ﺇِﺫَﺍ ﺭُﻗِﻲَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺑِﻪِ ، ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺪُﻝُّ ﻟَﻪُ ﻗِﺼَّﺔُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺭَﻗَﻰ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﺍﻟﻠَّﺪِﻳﻎَ ﺑِﺎﻟْﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ، ﻭَﻫِﻲَ ﺻَﺤِﻴﺤَﺔٌ ﻣَﺸْﻬُﻮﺭَﺓٌ“Obat yang mencakup obat bagi penyakit hati/jiwa, seperti keraguan, kemunafikan, dan perkara lainnya. Bisa menjadi obat bagi jasmani jika dilakukan ruqyah kepada orang yang sakit. Sebagaimana kisah seseorang yang terkena sengatan kalajengking diruqyah dengan membacakan Al-Fatihah. Ini adalah kisah yang shahih dan masyhur.” (Tafsir Adhwaul Bayan).Baca Juga: Kebangkrutan Besar Akibat Buruknya Lisan di Sosial MediaGunung yang keras saja akan hancur apabila Al-Quran turun padanya, apalagi hati yang keras. Tentu hati yang keras akan menjadi lembut dengan Al-Quran.Allah Ta’ala berfirman,لَوْ أَنزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّه“Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah.” (QS. Al Hasyr: 21)Baca Juga: Tidak Semua Kejadian Viral Harus Dikomentari “Mengalah” Dalam Debat yang Tidak Bermanfaat Demikian semoga bermanfaat @ Lombok, Pulau seribu masjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Perdebatan, Ayat Alquran Tentang Kebencian, Doa Di Waktu Hujan, Ma'had Jamilurrahman, Do A Untuk Pengantin Baru


Sungguh di zaman ini manusia benar-benar disibukkan dengan gadget. Apapun keadaanya manusia benar-benar tidak lepas dari gadget dan digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan buang-buang waktu. Di jalan lihat gadget, sedang antre lihat gadget, sedang berbicara pun curi-curi pandang lihat gadget. Memang gadget ibarat pedang bermata dua, jika digunakan dengan bijak, gadget sangat bermanfaat, akan tetapi kebanyakan kita lalai dan kurang bijak menggunakan gadget.Baca Juga: Berbicara dengan Orang Lain Sambil Lihat HP & GadgetSalah satu kelalaian kita adalah gadget memalingkan kita dari Al-Quran. Sungguh sangat tersentuh membaca perkataan Khalid bin Walid yang begitu sedih karena tidak bisa fokus belajar Al-Quran karena sibuk dengan jihad, sedangkan kita sekarang meninggalkan Al-Quran karena gadget.Perhatikan perkataan Khalid bin Walid berikut:شغلنا الجهاد عن تعليم القرآن“Sungguh jihad telah menyibukkan kami dari belajar Al-Quran.” [HR. Ibnu Abi Syaibah 6/151]Di riwayat yang lain, jihad telah menyibukkan mereka dari membaca Al-Quran.لقد منعني كثيراً من القراءة الجهاد في سبيل الله“Sungguh jihad di jalan Allah telah menyibukkan (mencegah) kami dari membaca Al-Quran.” [Musnad Abu Ya’la 6/361]Sungguh benar akan datang zaman di mana manusia benar-benar meninggalkan Al-Quran.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا“Berkatalah Rasul: “Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang TIDAK DIACUHKAN/DITINGGALKAN”. (QS. Al Furqan: 30)Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan bahwa bentuk meninggalkan Al-Quran dalam segala bentuk, mulai dari membaca, mentadabbur, mempelajari tafsirnya dan mengamalkannya. Beliau berkata,قد أعرضوا عنه وهجروه وتركوه مع أن الواجب عليهم الانقياد لحكمه والإقبال على أحكامه، والمشي خلفه“Mereka telah berpaling dan meninggalkan Al-Quran, padahal mereka wajib untuk patuh dan menerima terhadap hukum di dalamnya serta berjalan dengan petunjuk Al-Quran.” [Tafsir As-Sa’diy]Hendaknya seorang muslim berusaha membaca Al-Quran setiap hari. Berusahalah membacanya walaupun hanya beberapa ayat dalam sehari, karena kita terlalu banyak melakukan maksiat setiap hari. Maksiat membuat hati keras dan Al-Quran lah obatnya. Membaca Al-Quran membuat hati menjadi lembuh dan mudah menerimah hidayah serta mudah melakukan ibadah dan kebaikan yang bermanfaat bagi manusia. Al-Quran adalah obat bagi penyakit hati kita.Baca Juga: Adab Berinteraksi Dengan Wanita Di InternetAllah Ta’ala berfirman,وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al-Israa’: 82).Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqith menjelaskan bahwa maksud obat dalam ayat ini adalah obat untuk penyakit fisik dan penyakit hati. Beliau berkata,ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَﺎﺀٌ ﻳَﺸْﻤَﻞُ ﻛَﻮْﻧَﻪُ ﺷِﻔَﺎﺀً ﻟِﻠْﻘَﻠْﺐِ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮَﺍﺿِﻪِ ; ﻛَﺎﻟﺸَّﻚِّ ﻭَﺍﻟﻨِّﻔَﺎﻕِ ﻭَﻏَﻴْﺮِ ﺫَﻟِﻚَ ، ﻭَﻛَﻮْﻧَﻪُ ﺷِﻔَﺎﺀً ﻟِﻠْﺄَﺟْﺴَﺎﻡِ ﺇِﺫَﺍ ﺭُﻗِﻲَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺑِﻪِ ، ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺪُﻝُّ ﻟَﻪُ ﻗِﺼَّﺔُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺭَﻗَﻰ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﺍﻟﻠَّﺪِﻳﻎَ ﺑِﺎﻟْﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ، ﻭَﻫِﻲَ ﺻَﺤِﻴﺤَﺔٌ ﻣَﺸْﻬُﻮﺭَﺓٌ“Obat yang mencakup obat bagi penyakit hati/jiwa, seperti keraguan, kemunafikan, dan perkara lainnya. Bisa menjadi obat bagi jasmani jika dilakukan ruqyah kepada orang yang sakit. Sebagaimana kisah seseorang yang terkena sengatan kalajengking diruqyah dengan membacakan Al-Fatihah. Ini adalah kisah yang shahih dan masyhur.” (Tafsir Adhwaul Bayan).Baca Juga: Kebangkrutan Besar Akibat Buruknya Lisan di Sosial MediaGunung yang keras saja akan hancur apabila Al-Quran turun padanya, apalagi hati yang keras. Tentu hati yang keras akan menjadi lembut dengan Al-Quran.Allah Ta’ala berfirman,لَوْ أَنزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّه“Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah.” (QS. Al Hasyr: 21)Baca Juga: Tidak Semua Kejadian Viral Harus Dikomentari “Mengalah” Dalam Debat yang Tidak Bermanfaat Demikian semoga bermanfaat @ Lombok, Pulau seribu masjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Perdebatan, Ayat Alquran Tentang Kebencian, Doa Di Waktu Hujan, Ma'had Jamilurrahman, Do A Untuk Pengantin Baru

Buku Gratis: Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja (PDF)

Buku ini berisi catatan faedah dari penulis yang beliau peroleh dari pelajaran fikih madzhab Syafi’i khusus membahas fikih puasa hingga amalan iktikaf. Buku ini diambil dari matan Abu Syuja dan berbagai syarah atau kitab penjelas. Insya Allah penjelasan yang ada begitu menarik dan menjadi ilmu berharga dalam memahami hukum puasa, bahkan ini jadi dasar untuk memahami permasalahan puasa kontemporer. Yuk baca buku ini hingga tuntas!   Silakan download buku PDF dan covernya, tersedia juga buku versi tablet via dropbox: Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja   Masalah izin mencetak ulang buku ini, silakan menghubungi 085200171222 atau silakan tuliskan izin cetak di kolom komentar di bawah.   Untuk mengetahui buku-buku lainnya karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, silakan hubungi 085200171222 (Toko Online Ruwaifi.Store, via WA/SMS)   Silakan sebar pada yang lain. — Info Rumaysho.Com Tagsbuku gratis buku ramadhan fikih puasa matan abu syuja ramadhan

Buku Gratis: Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja (PDF)

Buku ini berisi catatan faedah dari penulis yang beliau peroleh dari pelajaran fikih madzhab Syafi’i khusus membahas fikih puasa hingga amalan iktikaf. Buku ini diambil dari matan Abu Syuja dan berbagai syarah atau kitab penjelas. Insya Allah penjelasan yang ada begitu menarik dan menjadi ilmu berharga dalam memahami hukum puasa, bahkan ini jadi dasar untuk memahami permasalahan puasa kontemporer. Yuk baca buku ini hingga tuntas!   Silakan download buku PDF dan covernya, tersedia juga buku versi tablet via dropbox: Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja   Masalah izin mencetak ulang buku ini, silakan menghubungi 085200171222 atau silakan tuliskan izin cetak di kolom komentar di bawah.   Untuk mengetahui buku-buku lainnya karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, silakan hubungi 085200171222 (Toko Online Ruwaifi.Store, via WA/SMS)   Silakan sebar pada yang lain. — Info Rumaysho.Com Tagsbuku gratis buku ramadhan fikih puasa matan abu syuja ramadhan
Buku ini berisi catatan faedah dari penulis yang beliau peroleh dari pelajaran fikih madzhab Syafi’i khusus membahas fikih puasa hingga amalan iktikaf. Buku ini diambil dari matan Abu Syuja dan berbagai syarah atau kitab penjelas. Insya Allah penjelasan yang ada begitu menarik dan menjadi ilmu berharga dalam memahami hukum puasa, bahkan ini jadi dasar untuk memahami permasalahan puasa kontemporer. Yuk baca buku ini hingga tuntas!   Silakan download buku PDF dan covernya, tersedia juga buku versi tablet via dropbox: Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja   Masalah izin mencetak ulang buku ini, silakan menghubungi 085200171222 atau silakan tuliskan izin cetak di kolom komentar di bawah.   Untuk mengetahui buku-buku lainnya karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, silakan hubungi 085200171222 (Toko Online Ruwaifi.Store, via WA/SMS)   Silakan sebar pada yang lain. — Info Rumaysho.Com Tagsbuku gratis buku ramadhan fikih puasa matan abu syuja ramadhan


Buku ini berisi catatan faedah dari penulis yang beliau peroleh dari pelajaran fikih madzhab Syafi’i khusus membahas fikih puasa hingga amalan iktikaf. Buku ini diambil dari matan Abu Syuja dan berbagai syarah atau kitab penjelas. Insya Allah penjelasan yang ada begitu menarik dan menjadi ilmu berharga dalam memahami hukum puasa, bahkan ini jadi dasar untuk memahami permasalahan puasa kontemporer. Yuk baca buku ini hingga tuntas!   Silakan download buku PDF dan covernya, tersedia juga buku versi tablet via dropbox: Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja   Masalah izin mencetak ulang buku ini, silakan menghubungi 085200171222 atau silakan tuliskan izin cetak di kolom komentar di bawah.   Untuk mengetahui buku-buku lainnya karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, silakan hubungi 085200171222 (Toko Online Ruwaifi.Store, via WA/SMS)   Silakan sebar pada yang lain. — Info Rumaysho.Com Tagsbuku gratis buku ramadhan fikih puasa matan abu syuja ramadhan

Faedah Sirah Nabi: Pensyariatan Shalat Lima Waktu Ketika Isra Mikraj

Mau tahu bagaimana pensyariatan shalat lima puluh waktu menjadi lima waktu? Bisa lihat dari pelajaran Sirah Nabi berikut ini. Tentang Mikraj, Bukhari dan Muslim meriwayatkannya dari Anas bin Malik dari Malik bin Sha’sha’ah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita kepadanya tentang malam saat beliau di-Isra-kan, beliau bersabda, “Ketika aku sedang berada di Hijir dalam keadaan berbaring tiba-tiba ada yang datang menghampiriku sambil berkata dan aku mendengar ucapannya yang mengatakan, ‘Bedahlah bagian sini hingga bagian sini.” Aku bertanya kepada Jarud yang berada di sampingku, ‘Apa maksudnya?’ Ia berkata, ‘Dari pangkal tenggorokan sampai bagian dadanya’ dan aku mendengarkan ia berkata dari bagian dadanya hingga pusarnya, lalu ia pun mengeluarkan hatiku, kemudian dibawakan bejana emas yang berisi iman, maka hatiku pun dicucinya, kemudian dijahit dan dikembalikan pada tempatnya semula. Kemudian aku dibawakan seekor hewan tunggangan berwarna putih yang lebih kecil dari bighal (peranakan antara kuda dan keledai) dan lebih besar dari keledai. Jarud berkata kepadanya, ‘Itu adalah Buraq, wahai Abu Hamzah?’ Anas berkata, ‘Ya, ia meletakkan langkah kakinya di penghujung pandangan matanya. Kemudian dibawa naik di atasnya.’ Jibril berangkat bersamanya hingga sampai di langit dunia, beliau pun minta dibukakan. Seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’Jawab Jibril, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya.’ Jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, beliau bertemu dengan Adam ‘alaihis salam. Jibril berkata, ‘Ini adalah kakekmu Adam.’ Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, ‘Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.’ Kemudian beliau naik lagi menuju langit kedua. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya’, jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Yahya dan Isa, anak dari bibinya. Jibril memperkenalkannya, ‘Ini adalah Yahya dan Isa.’ Beliau pun mengucapkan salam kepadanya dan keduanya pun menjawab salam tersebut seraya berkata, ‘Selamat datang saudara dan Nabi yang saleh.’ Kemudian beliau naik lagi menuju langit ketiga. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya’, jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Yusuf. Jibril memperkenalkannya, ‘Ini adalah Yusuf.’ Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, ‘Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.’ Kemudian beliau naik lagi menuju langit keempat. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya’, jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Idris. Jibril memperkenalkannya, ‘Ini adalah Idris.’ Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, ‘Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.’ Kemudian beliau naik lagi menuju langit kelima. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya’, jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Harun ‘alaihis salam. Jibril memperkenalkannya, ‘Ini adalah Harun ‘alaihis salam.’ Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, ‘Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.’ Kemudian beliau naik lagi menuju langit keenam. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya’, jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Musa ‘alaihis salam. Jibril memperkenalkannya, ‘Ini adalah Musa ‘alaihis salam.’ Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, ‘Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.’ Ketika beliau meninggalkannya, Musa ‘alaihis salam menangis. Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Apa yang menyebabkan kamu menangis?’ Musa menjawab, ‘Aku menangis karena ada seorang anak yang diutus setelahku, tapi umatnya lebih banyak yang masuk surga daripada umatku.’ Kemudian beliau naik lagi menuju langit ketujuh. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya’, jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Ibrahim ‘alaihis salam. Jibril memperkenalkannya, ‘Ini adalah kakekmu, Ibrahim ‘alaihis salam, ucapkanlah salam kepadanya.’ Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, ‘Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.’ Kemudian aku dibawa ke Sidratul Muntaha yang di dalamnya terdapat pohon-pohon besar yang dedaunannya selebar telinga gajah. Seraya berkata, ‘Ini adalah Sidratul Muntaha yang memiliki empat aliran sungai, dua sungai batiniyah dan dua sungai lagi lahiriyah.’ Aku bertanya, ‘Apa yang dimaksud dua itu wahai Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Dua sungai batiniyah berada di surga dan dua sungai lahiriyah adalah Nil dan Eufrat.’ Kemudian diangkat di hadapanku Baitul Makmur. Kemudian disuguhkan kepadaku segelas khamar, segelas susu, dan segelas madu, aku pun memilih segelas susu. Jibril berkata, ‘Itu adalah fitrah yang kamu dan umatmu berada padanya.’ Kemudian diwajibkan atasku shalat lima puluh waktu sehari semalam, aku pun kembali, lalu aku bertemu Musa ‘alaihis salam. Ia pun bertanya, ‘Apa yang diperintahkan kepadamu?’ Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Aku diperintahkan shalat lima puluh waktu sehari semalam.’ Musa berkata, ‘Umatmu tidak akan sanggup melakukan shalat lima puluh waktu sepanjang hari. Demi Allah, aku pernah mencobanya pada manusia sebelum kamu, aku pun pernah memaksakan Bani Israil dengan serius. Kembalilah kepada Allah, mintalah keringanan bagi umatmu.’ Aku pun kembali (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk meminta keringanan) maka dikurangi sepuluh waktu. Aku pun kembali dan bertemu Musa lagi, ia pun berkata seperti semula. Aku kembali menemui Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dikurangi lagi sepuluh waktu. Aku pun kembali dan bertemu Musa lagi, ia pun berkata seperti semula. Aku pun kembali menemui Allah, maka dikurangi sepuluh waktu lagi. Aku pun kembali dan bertemu Musa lagi, ia pun berkata seperti semula. Aku pun kembali menemui Allah, maka dikurangi sepuluh waktu lagi. Aku pun kembali dan bertemu Musa lagi, ia pun berkata seperti semula. Aku pun kembali menemui Allah, maka aku diperintahkan shalat sepuluh waktu sehari semalam. Aku kembali dan bertemu Musa lagi, lalu ia mengatakan mintalah keringanan lagi. Aku pun kembali, Musa pun bertanya, ‘Apa yang diperintahkan kepadamu?’ Aku menjawab, ‘Aku diperintahkan shalat lima waktu setiap harinya.’ Musa pun berkata, ‘Umatmu tidak akan sanggup shalat lima waktu, aku pernah mencobanya pada manusia sebelummu dan aku pernah memaksakannya kepada Bani Israil dengan serius. Kembalilah kepada Allah mintalah keringanan lagi.’ Muhammmad shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Aku telah meminta kepada Allah hingga aku merasa malu. Akan tetapi, aku ridha dan menerimanya.’ Ketika aku meninggalkannya, terdengarlah sebuah seruan, ‘Aku telah tetapkan kewajibanku dan aku telah ringankan dari hamba-hamba-Ku.’” (HR. Bukhari, no. 3887 dan Muslim, no. 264) Masih berlanjut lagi insya Allah tentang kisah Isra dan Mikraj.   Referensi: Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah.   — Diselesaikan di #darushsholihin, 6 Syaban 1440 H (12 April 2019, Jumat sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsfaedah sirah nabi isra miraj sirah nabi

Faedah Sirah Nabi: Pensyariatan Shalat Lima Waktu Ketika Isra Mikraj

Mau tahu bagaimana pensyariatan shalat lima puluh waktu menjadi lima waktu? Bisa lihat dari pelajaran Sirah Nabi berikut ini. Tentang Mikraj, Bukhari dan Muslim meriwayatkannya dari Anas bin Malik dari Malik bin Sha’sha’ah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita kepadanya tentang malam saat beliau di-Isra-kan, beliau bersabda, “Ketika aku sedang berada di Hijir dalam keadaan berbaring tiba-tiba ada yang datang menghampiriku sambil berkata dan aku mendengar ucapannya yang mengatakan, ‘Bedahlah bagian sini hingga bagian sini.” Aku bertanya kepada Jarud yang berada di sampingku, ‘Apa maksudnya?’ Ia berkata, ‘Dari pangkal tenggorokan sampai bagian dadanya’ dan aku mendengarkan ia berkata dari bagian dadanya hingga pusarnya, lalu ia pun mengeluarkan hatiku, kemudian dibawakan bejana emas yang berisi iman, maka hatiku pun dicucinya, kemudian dijahit dan dikembalikan pada tempatnya semula. Kemudian aku dibawakan seekor hewan tunggangan berwarna putih yang lebih kecil dari bighal (peranakan antara kuda dan keledai) dan lebih besar dari keledai. Jarud berkata kepadanya, ‘Itu adalah Buraq, wahai Abu Hamzah?’ Anas berkata, ‘Ya, ia meletakkan langkah kakinya di penghujung pandangan matanya. Kemudian dibawa naik di atasnya.’ Jibril berangkat bersamanya hingga sampai di langit dunia, beliau pun minta dibukakan. Seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’Jawab Jibril, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya.’ Jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, beliau bertemu dengan Adam ‘alaihis salam. Jibril berkata, ‘Ini adalah kakekmu Adam.’ Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, ‘Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.’ Kemudian beliau naik lagi menuju langit kedua. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya’, jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Yahya dan Isa, anak dari bibinya. Jibril memperkenalkannya, ‘Ini adalah Yahya dan Isa.’ Beliau pun mengucapkan salam kepadanya dan keduanya pun menjawab salam tersebut seraya berkata, ‘Selamat datang saudara dan Nabi yang saleh.’ Kemudian beliau naik lagi menuju langit ketiga. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya’, jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Yusuf. Jibril memperkenalkannya, ‘Ini adalah Yusuf.’ Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, ‘Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.’ Kemudian beliau naik lagi menuju langit keempat. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya’, jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Idris. Jibril memperkenalkannya, ‘Ini adalah Idris.’ Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, ‘Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.’ Kemudian beliau naik lagi menuju langit kelima. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya’, jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Harun ‘alaihis salam. Jibril memperkenalkannya, ‘Ini adalah Harun ‘alaihis salam.’ Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, ‘Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.’ Kemudian beliau naik lagi menuju langit keenam. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya’, jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Musa ‘alaihis salam. Jibril memperkenalkannya, ‘Ini adalah Musa ‘alaihis salam.’ Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, ‘Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.’ Ketika beliau meninggalkannya, Musa ‘alaihis salam menangis. Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Apa yang menyebabkan kamu menangis?’ Musa menjawab, ‘Aku menangis karena ada seorang anak yang diutus setelahku, tapi umatnya lebih banyak yang masuk surga daripada umatku.’ Kemudian beliau naik lagi menuju langit ketujuh. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya’, jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Ibrahim ‘alaihis salam. Jibril memperkenalkannya, ‘Ini adalah kakekmu, Ibrahim ‘alaihis salam, ucapkanlah salam kepadanya.’ Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, ‘Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.’ Kemudian aku dibawa ke Sidratul Muntaha yang di dalamnya terdapat pohon-pohon besar yang dedaunannya selebar telinga gajah. Seraya berkata, ‘Ini adalah Sidratul Muntaha yang memiliki empat aliran sungai, dua sungai batiniyah dan dua sungai lagi lahiriyah.’ Aku bertanya, ‘Apa yang dimaksud dua itu wahai Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Dua sungai batiniyah berada di surga dan dua sungai lahiriyah adalah Nil dan Eufrat.’ Kemudian diangkat di hadapanku Baitul Makmur. Kemudian disuguhkan kepadaku segelas khamar, segelas susu, dan segelas madu, aku pun memilih segelas susu. Jibril berkata, ‘Itu adalah fitrah yang kamu dan umatmu berada padanya.’ Kemudian diwajibkan atasku shalat lima puluh waktu sehari semalam, aku pun kembali, lalu aku bertemu Musa ‘alaihis salam. Ia pun bertanya, ‘Apa yang diperintahkan kepadamu?’ Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Aku diperintahkan shalat lima puluh waktu sehari semalam.’ Musa berkata, ‘Umatmu tidak akan sanggup melakukan shalat lima puluh waktu sepanjang hari. Demi Allah, aku pernah mencobanya pada manusia sebelum kamu, aku pun pernah memaksakan Bani Israil dengan serius. Kembalilah kepada Allah, mintalah keringanan bagi umatmu.’ Aku pun kembali (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk meminta keringanan) maka dikurangi sepuluh waktu. Aku pun kembali dan bertemu Musa lagi, ia pun berkata seperti semula. Aku kembali menemui Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dikurangi lagi sepuluh waktu. Aku pun kembali dan bertemu Musa lagi, ia pun berkata seperti semula. Aku pun kembali menemui Allah, maka dikurangi sepuluh waktu lagi. Aku pun kembali dan bertemu Musa lagi, ia pun berkata seperti semula. Aku pun kembali menemui Allah, maka dikurangi sepuluh waktu lagi. Aku pun kembali dan bertemu Musa lagi, ia pun berkata seperti semula. Aku pun kembali menemui Allah, maka aku diperintahkan shalat sepuluh waktu sehari semalam. Aku kembali dan bertemu Musa lagi, lalu ia mengatakan mintalah keringanan lagi. Aku pun kembali, Musa pun bertanya, ‘Apa yang diperintahkan kepadamu?’ Aku menjawab, ‘Aku diperintahkan shalat lima waktu setiap harinya.’ Musa pun berkata, ‘Umatmu tidak akan sanggup shalat lima waktu, aku pernah mencobanya pada manusia sebelummu dan aku pernah memaksakannya kepada Bani Israil dengan serius. Kembalilah kepada Allah mintalah keringanan lagi.’ Muhammmad shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Aku telah meminta kepada Allah hingga aku merasa malu. Akan tetapi, aku ridha dan menerimanya.’ Ketika aku meninggalkannya, terdengarlah sebuah seruan, ‘Aku telah tetapkan kewajibanku dan aku telah ringankan dari hamba-hamba-Ku.’” (HR. Bukhari, no. 3887 dan Muslim, no. 264) Masih berlanjut lagi insya Allah tentang kisah Isra dan Mikraj.   Referensi: Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah.   — Diselesaikan di #darushsholihin, 6 Syaban 1440 H (12 April 2019, Jumat sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsfaedah sirah nabi isra miraj sirah nabi
Mau tahu bagaimana pensyariatan shalat lima puluh waktu menjadi lima waktu? Bisa lihat dari pelajaran Sirah Nabi berikut ini. Tentang Mikraj, Bukhari dan Muslim meriwayatkannya dari Anas bin Malik dari Malik bin Sha’sha’ah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita kepadanya tentang malam saat beliau di-Isra-kan, beliau bersabda, “Ketika aku sedang berada di Hijir dalam keadaan berbaring tiba-tiba ada yang datang menghampiriku sambil berkata dan aku mendengar ucapannya yang mengatakan, ‘Bedahlah bagian sini hingga bagian sini.” Aku bertanya kepada Jarud yang berada di sampingku, ‘Apa maksudnya?’ Ia berkata, ‘Dari pangkal tenggorokan sampai bagian dadanya’ dan aku mendengarkan ia berkata dari bagian dadanya hingga pusarnya, lalu ia pun mengeluarkan hatiku, kemudian dibawakan bejana emas yang berisi iman, maka hatiku pun dicucinya, kemudian dijahit dan dikembalikan pada tempatnya semula. Kemudian aku dibawakan seekor hewan tunggangan berwarna putih yang lebih kecil dari bighal (peranakan antara kuda dan keledai) dan lebih besar dari keledai. Jarud berkata kepadanya, ‘Itu adalah Buraq, wahai Abu Hamzah?’ Anas berkata, ‘Ya, ia meletakkan langkah kakinya di penghujung pandangan matanya. Kemudian dibawa naik di atasnya.’ Jibril berangkat bersamanya hingga sampai di langit dunia, beliau pun minta dibukakan. Seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’Jawab Jibril, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya.’ Jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, beliau bertemu dengan Adam ‘alaihis salam. Jibril berkata, ‘Ini adalah kakekmu Adam.’ Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, ‘Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.’ Kemudian beliau naik lagi menuju langit kedua. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya’, jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Yahya dan Isa, anak dari bibinya. Jibril memperkenalkannya, ‘Ini adalah Yahya dan Isa.’ Beliau pun mengucapkan salam kepadanya dan keduanya pun menjawab salam tersebut seraya berkata, ‘Selamat datang saudara dan Nabi yang saleh.’ Kemudian beliau naik lagi menuju langit ketiga. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya’, jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Yusuf. Jibril memperkenalkannya, ‘Ini adalah Yusuf.’ Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, ‘Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.’ Kemudian beliau naik lagi menuju langit keempat. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya’, jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Idris. Jibril memperkenalkannya, ‘Ini adalah Idris.’ Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, ‘Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.’ Kemudian beliau naik lagi menuju langit kelima. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya’, jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Harun ‘alaihis salam. Jibril memperkenalkannya, ‘Ini adalah Harun ‘alaihis salam.’ Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, ‘Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.’ Kemudian beliau naik lagi menuju langit keenam. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya’, jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Musa ‘alaihis salam. Jibril memperkenalkannya, ‘Ini adalah Musa ‘alaihis salam.’ Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, ‘Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.’ Ketika beliau meninggalkannya, Musa ‘alaihis salam menangis. Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Apa yang menyebabkan kamu menangis?’ Musa menjawab, ‘Aku menangis karena ada seorang anak yang diutus setelahku, tapi umatnya lebih banyak yang masuk surga daripada umatku.’ Kemudian beliau naik lagi menuju langit ketujuh. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya’, jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Ibrahim ‘alaihis salam. Jibril memperkenalkannya, ‘Ini adalah kakekmu, Ibrahim ‘alaihis salam, ucapkanlah salam kepadanya.’ Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, ‘Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.’ Kemudian aku dibawa ke Sidratul Muntaha yang di dalamnya terdapat pohon-pohon besar yang dedaunannya selebar telinga gajah. Seraya berkata, ‘Ini adalah Sidratul Muntaha yang memiliki empat aliran sungai, dua sungai batiniyah dan dua sungai lagi lahiriyah.’ Aku bertanya, ‘Apa yang dimaksud dua itu wahai Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Dua sungai batiniyah berada di surga dan dua sungai lahiriyah adalah Nil dan Eufrat.’ Kemudian diangkat di hadapanku Baitul Makmur. Kemudian disuguhkan kepadaku segelas khamar, segelas susu, dan segelas madu, aku pun memilih segelas susu. Jibril berkata, ‘Itu adalah fitrah yang kamu dan umatmu berada padanya.’ Kemudian diwajibkan atasku shalat lima puluh waktu sehari semalam, aku pun kembali, lalu aku bertemu Musa ‘alaihis salam. Ia pun bertanya, ‘Apa yang diperintahkan kepadamu?’ Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Aku diperintahkan shalat lima puluh waktu sehari semalam.’ Musa berkata, ‘Umatmu tidak akan sanggup melakukan shalat lima puluh waktu sepanjang hari. Demi Allah, aku pernah mencobanya pada manusia sebelum kamu, aku pun pernah memaksakan Bani Israil dengan serius. Kembalilah kepada Allah, mintalah keringanan bagi umatmu.’ Aku pun kembali (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk meminta keringanan) maka dikurangi sepuluh waktu. Aku pun kembali dan bertemu Musa lagi, ia pun berkata seperti semula. Aku kembali menemui Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dikurangi lagi sepuluh waktu. Aku pun kembali dan bertemu Musa lagi, ia pun berkata seperti semula. Aku pun kembali menemui Allah, maka dikurangi sepuluh waktu lagi. Aku pun kembali dan bertemu Musa lagi, ia pun berkata seperti semula. Aku pun kembali menemui Allah, maka dikurangi sepuluh waktu lagi. Aku pun kembali dan bertemu Musa lagi, ia pun berkata seperti semula. Aku pun kembali menemui Allah, maka aku diperintahkan shalat sepuluh waktu sehari semalam. Aku kembali dan bertemu Musa lagi, lalu ia mengatakan mintalah keringanan lagi. Aku pun kembali, Musa pun bertanya, ‘Apa yang diperintahkan kepadamu?’ Aku menjawab, ‘Aku diperintahkan shalat lima waktu setiap harinya.’ Musa pun berkata, ‘Umatmu tidak akan sanggup shalat lima waktu, aku pernah mencobanya pada manusia sebelummu dan aku pernah memaksakannya kepada Bani Israil dengan serius. Kembalilah kepada Allah mintalah keringanan lagi.’ Muhammmad shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Aku telah meminta kepada Allah hingga aku merasa malu. Akan tetapi, aku ridha dan menerimanya.’ Ketika aku meninggalkannya, terdengarlah sebuah seruan, ‘Aku telah tetapkan kewajibanku dan aku telah ringankan dari hamba-hamba-Ku.’” (HR. Bukhari, no. 3887 dan Muslim, no. 264) Masih berlanjut lagi insya Allah tentang kisah Isra dan Mikraj.   Referensi: Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah.   — Diselesaikan di #darushsholihin, 6 Syaban 1440 H (12 April 2019, Jumat sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsfaedah sirah nabi isra miraj sirah nabi


Mau tahu bagaimana pensyariatan shalat lima puluh waktu menjadi lima waktu? Bisa lihat dari pelajaran Sirah Nabi berikut ini. Tentang Mikraj, Bukhari dan Muslim meriwayatkannya dari Anas bin Malik dari Malik bin Sha’sha’ah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita kepadanya tentang malam saat beliau di-Isra-kan, beliau bersabda, “Ketika aku sedang berada di Hijir dalam keadaan berbaring tiba-tiba ada yang datang menghampiriku sambil berkata dan aku mendengar ucapannya yang mengatakan, ‘Bedahlah bagian sini hingga bagian sini.” Aku bertanya kepada Jarud yang berada di sampingku, ‘Apa maksudnya?’ Ia berkata, ‘Dari pangkal tenggorokan sampai bagian dadanya’ dan aku mendengarkan ia berkata dari bagian dadanya hingga pusarnya, lalu ia pun mengeluarkan hatiku, kemudian dibawakan bejana emas yang berisi iman, maka hatiku pun dicucinya, kemudian dijahit dan dikembalikan pada tempatnya semula. Kemudian aku dibawakan seekor hewan tunggangan berwarna putih yang lebih kecil dari bighal (peranakan antara kuda dan keledai) dan lebih besar dari keledai. Jarud berkata kepadanya, ‘Itu adalah Buraq, wahai Abu Hamzah?’ Anas berkata, ‘Ya, ia meletakkan langkah kakinya di penghujung pandangan matanya. Kemudian dibawa naik di atasnya.’ Jibril berangkat bersamanya hingga sampai di langit dunia, beliau pun minta dibukakan. Seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’Jawab Jibril, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya.’ Jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, beliau bertemu dengan Adam ‘alaihis salam. Jibril berkata, ‘Ini adalah kakekmu Adam.’ Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, ‘Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.’ Kemudian beliau naik lagi menuju langit kedua. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya’, jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Yahya dan Isa, anak dari bibinya. Jibril memperkenalkannya, ‘Ini adalah Yahya dan Isa.’ Beliau pun mengucapkan salam kepadanya dan keduanya pun menjawab salam tersebut seraya berkata, ‘Selamat datang saudara dan Nabi yang saleh.’ Kemudian beliau naik lagi menuju langit ketiga. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya’, jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Yusuf. Jibril memperkenalkannya, ‘Ini adalah Yusuf.’ Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, ‘Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.’ Kemudian beliau naik lagi menuju langit keempat. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya’, jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Idris. Jibril memperkenalkannya, ‘Ini adalah Idris.’ Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, ‘Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.’ Kemudian beliau naik lagi menuju langit kelima. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya’, jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Harun ‘alaihis salam. Jibril memperkenalkannya, ‘Ini adalah Harun ‘alaihis salam.’ Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, ‘Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.’ Kemudian beliau naik lagi menuju langit keenam. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya’, jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Musa ‘alaihis salam. Jibril memperkenalkannya, ‘Ini adalah Musa ‘alaihis salam.’ Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, ‘Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.’ Ketika beliau meninggalkannya, Musa ‘alaihis salam menangis. Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Apa yang menyebabkan kamu menangis?’ Musa menjawab, ‘Aku menangis karena ada seorang anak yang diutus setelahku, tapi umatnya lebih banyak yang masuk surga daripada umatku.’ Kemudian beliau naik lagi menuju langit ketujuh. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, ‘Siapa ini?’ Jibril menjawab, ‘Jibril.’ ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ ‘Apakah diutus kepada-Nya?’ ‘Ya’, jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Ibrahim ‘alaihis salam. Jibril memperkenalkannya, ‘Ini adalah kakekmu, Ibrahim ‘alaihis salam, ucapkanlah salam kepadanya.’ Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, ‘Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.’ Kemudian aku dibawa ke Sidratul Muntaha yang di dalamnya terdapat pohon-pohon besar yang dedaunannya selebar telinga gajah. Seraya berkata, ‘Ini adalah Sidratul Muntaha yang memiliki empat aliran sungai, dua sungai batiniyah dan dua sungai lagi lahiriyah.’ Aku bertanya, ‘Apa yang dimaksud dua itu wahai Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Dua sungai batiniyah berada di surga dan dua sungai lahiriyah adalah Nil dan Eufrat.’ Kemudian diangkat di hadapanku Baitul Makmur. Kemudian disuguhkan kepadaku segelas khamar, segelas susu, dan segelas madu, aku pun memilih segelas susu. Jibril berkata, ‘Itu adalah fitrah yang kamu dan umatmu berada padanya.’ Kemudian diwajibkan atasku shalat lima puluh waktu sehari semalam, aku pun kembali, lalu aku bertemu Musa ‘alaihis salam. Ia pun bertanya, ‘Apa yang diperintahkan kepadamu?’ Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Aku diperintahkan shalat lima puluh waktu sehari semalam.’ Musa berkata, ‘Umatmu tidak akan sanggup melakukan shalat lima puluh waktu sepanjang hari. Demi Allah, aku pernah mencobanya pada manusia sebelum kamu, aku pun pernah memaksakan Bani Israil dengan serius. Kembalilah kepada Allah, mintalah keringanan bagi umatmu.’ Aku pun kembali (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk meminta keringanan) maka dikurangi sepuluh waktu. Aku pun kembali dan bertemu Musa lagi, ia pun berkata seperti semula. Aku kembali menemui Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dikurangi lagi sepuluh waktu. Aku pun kembali dan bertemu Musa lagi, ia pun berkata seperti semula. Aku pun kembali menemui Allah, maka dikurangi sepuluh waktu lagi. Aku pun kembali dan bertemu Musa lagi, ia pun berkata seperti semula. Aku pun kembali menemui Allah, maka dikurangi sepuluh waktu lagi. Aku pun kembali dan bertemu Musa lagi, ia pun berkata seperti semula. Aku pun kembali menemui Allah, maka aku diperintahkan shalat sepuluh waktu sehari semalam. Aku kembali dan bertemu Musa lagi, lalu ia mengatakan mintalah keringanan lagi. Aku pun kembali, Musa pun bertanya, ‘Apa yang diperintahkan kepadamu?’ Aku menjawab, ‘Aku diperintahkan shalat lima waktu setiap harinya.’ Musa pun berkata, ‘Umatmu tidak akan sanggup shalat lima waktu, aku pernah mencobanya pada manusia sebelummu dan aku pernah memaksakannya kepada Bani Israil dengan serius. Kembalilah kepada Allah mintalah keringanan lagi.’ Muhammmad shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Aku telah meminta kepada Allah hingga aku merasa malu. Akan tetapi, aku ridha dan menerimanya.’ Ketika aku meninggalkannya, terdengarlah sebuah seruan, ‘Aku telah tetapkan kewajibanku dan aku telah ringankan dari hamba-hamba-Ku.’” (HR. Bukhari, no. 3887 dan Muslim, no. 264) Masih berlanjut lagi insya Allah tentang kisah Isra dan Mikraj.   Referensi: Fiqh As-Sirah.Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr.Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah.   — Diselesaikan di #darushsholihin, 6 Syaban 1440 H (12 April 2019, Jumat sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsfaedah sirah nabi isra miraj sirah nabi

Khutbah Jumat: Enam Catatan tentang Pemimpin Negeri

Catatan ini berharga sekali perlu kita perhatikan terkait dengan pemimpin negeri ini.   Khutbah Pertama   إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kita kepada takwa. Dan kita diperintahkan untuk bertakwa kepada-Nya sebagaimana disebutkan dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam kepada sayyid para nabi, nabi akhir zaman, rasul yang syariatnya telah sempurna, rasul yang mengajarkan perihal ibadah dengan sempurna. Semoga shalawat dari Allah tercurah kepada beliau, kepada istri-istri beliau, para sahabat beliau, serta yang disebut keluarga beliau karena menjadi pengikut beliau yang sejati hingga akhir zaman.  Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Ada enam catatan yang manfaat yang perlu kita perhatikan tentang pemimpin negara kita.   Pertama: Siapa pun pemimpinnya wajib ditaati   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisaa’: 59) Dari Abu Najih, Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan menjadikan air mata berlinang”. Kami (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan adalah nasihat dari orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ , وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكَ عَبْدٌ “Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak)”. (HR. Tirmidzi, no. 2676 dan Abu Daud, no. 4607. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).   Kedua: Menaaati pemimpin dalam kebajikan   Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, السَّمْعُ والطَّاعَةُ علَى المَرْءِ المُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ. “Seorang muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat.” (HR. Bukhari, no. 7144)   Ketiga: Tetap taat pada pemimpin yang zalim   Dari Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْس. قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ». “Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “ Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?” Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim, no. 1847. Lihat penjelasan hadits ini dalam Muroqotul Mafatih Syarh Misykah Al-Mashobih, 15/343, Maktabah Syamilah).   Keempat: Tak boleh memberontak pada pemimpin yang sah   Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, (( مَنْ خَلَعَ يَداً مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ حُجَّةَ لَهُ ، وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ في عُنُقِهِ بَيْعَةٌ ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً )) رواه مسلم. وفي رواية لَهُ : (( وَمَنْ مَاتَ وَهُوَ مُفَارِقٌ لِلجَمَاعَةِ ، فَإنَّهُ يَمُوتُ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً)) . “Barangsiapa melepaskan tangan dari ketaatan pada penguasa, maka ia akan bertemu dengan Allah pada hari kiamat dalam ia tidak punya argumen apa-apa untuk membelanya. Barangsiapa yang mati dan di lehernya tidak ada bai’at, maka ia mati seperti keadaan orang jahiliyah.” (HR. Muslim no. 1851). Dalam riwayat lain dari Imam Muslim disebutkan, “Siapa yang mati dan ia berpisah dari jamaah, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.”   Kelima: Tetap punya kewajiban untuk mendoakan pemimpin   Dari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Doa seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat (yang memiliki tugas mengaminkan doanya kepada saudarany, pen). Ketika dia berdoa kebaikan kepada saudaranya, malaikat tersebut berkata : Amin, engkau akan mendapatkan yang sama dengannya.” (HR. Muslim, no. 2733)   Keenam: Doakanlah pemimpin kita   Dari ‘Abdush Shamad bin Yazid Al-Baghdadiy, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Fudhail bin ‘Iyadh berkata, لَوْ أَنَّ لِي دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ مَا صَيَّرْتُهَا اِلاَّ فِي الاِمَامِ “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.” Ada yang bertanya pada Fudhail, “Kenapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.” (Hilyah Al-Auliya’ karya Abu Nu’aim Al Ashfahaniy, 8:77, Darul Ihya’ At-Turats Al-‘Iraqiy)   Demikian khutbah pertama ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ — Naskah Khutbah Jumat Pahing, 6 Syaban 1440 H @ Masjid Jenderal Sudirman Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagskhutbah jumat pemimpin pemimpin adil taat pemimpin ulil amri

Khutbah Jumat: Enam Catatan tentang Pemimpin Negeri

Catatan ini berharga sekali perlu kita perhatikan terkait dengan pemimpin negeri ini.   Khutbah Pertama   إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kita kepada takwa. Dan kita diperintahkan untuk bertakwa kepada-Nya sebagaimana disebutkan dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam kepada sayyid para nabi, nabi akhir zaman, rasul yang syariatnya telah sempurna, rasul yang mengajarkan perihal ibadah dengan sempurna. Semoga shalawat dari Allah tercurah kepada beliau, kepada istri-istri beliau, para sahabat beliau, serta yang disebut keluarga beliau karena menjadi pengikut beliau yang sejati hingga akhir zaman.  Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Ada enam catatan yang manfaat yang perlu kita perhatikan tentang pemimpin negara kita.   Pertama: Siapa pun pemimpinnya wajib ditaati   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisaa’: 59) Dari Abu Najih, Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan menjadikan air mata berlinang”. Kami (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan adalah nasihat dari orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ , وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكَ عَبْدٌ “Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak)”. (HR. Tirmidzi, no. 2676 dan Abu Daud, no. 4607. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).   Kedua: Menaaati pemimpin dalam kebajikan   Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, السَّمْعُ والطَّاعَةُ علَى المَرْءِ المُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ. “Seorang muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat.” (HR. Bukhari, no. 7144)   Ketiga: Tetap taat pada pemimpin yang zalim   Dari Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْس. قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ». “Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “ Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?” Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim, no. 1847. Lihat penjelasan hadits ini dalam Muroqotul Mafatih Syarh Misykah Al-Mashobih, 15/343, Maktabah Syamilah).   Keempat: Tak boleh memberontak pada pemimpin yang sah   Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, (( مَنْ خَلَعَ يَداً مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ حُجَّةَ لَهُ ، وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ في عُنُقِهِ بَيْعَةٌ ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً )) رواه مسلم. وفي رواية لَهُ : (( وَمَنْ مَاتَ وَهُوَ مُفَارِقٌ لِلجَمَاعَةِ ، فَإنَّهُ يَمُوتُ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً)) . “Barangsiapa melepaskan tangan dari ketaatan pada penguasa, maka ia akan bertemu dengan Allah pada hari kiamat dalam ia tidak punya argumen apa-apa untuk membelanya. Barangsiapa yang mati dan di lehernya tidak ada bai’at, maka ia mati seperti keadaan orang jahiliyah.” (HR. Muslim no. 1851). Dalam riwayat lain dari Imam Muslim disebutkan, “Siapa yang mati dan ia berpisah dari jamaah, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.”   Kelima: Tetap punya kewajiban untuk mendoakan pemimpin   Dari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Doa seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat (yang memiliki tugas mengaminkan doanya kepada saudarany, pen). Ketika dia berdoa kebaikan kepada saudaranya, malaikat tersebut berkata : Amin, engkau akan mendapatkan yang sama dengannya.” (HR. Muslim, no. 2733)   Keenam: Doakanlah pemimpin kita   Dari ‘Abdush Shamad bin Yazid Al-Baghdadiy, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Fudhail bin ‘Iyadh berkata, لَوْ أَنَّ لِي دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ مَا صَيَّرْتُهَا اِلاَّ فِي الاِمَامِ “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.” Ada yang bertanya pada Fudhail, “Kenapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.” (Hilyah Al-Auliya’ karya Abu Nu’aim Al Ashfahaniy, 8:77, Darul Ihya’ At-Turats Al-‘Iraqiy)   Demikian khutbah pertama ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ — Naskah Khutbah Jumat Pahing, 6 Syaban 1440 H @ Masjid Jenderal Sudirman Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagskhutbah jumat pemimpin pemimpin adil taat pemimpin ulil amri
Catatan ini berharga sekali perlu kita perhatikan terkait dengan pemimpin negeri ini.   Khutbah Pertama   إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kita kepada takwa. Dan kita diperintahkan untuk bertakwa kepada-Nya sebagaimana disebutkan dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam kepada sayyid para nabi, nabi akhir zaman, rasul yang syariatnya telah sempurna, rasul yang mengajarkan perihal ibadah dengan sempurna. Semoga shalawat dari Allah tercurah kepada beliau, kepada istri-istri beliau, para sahabat beliau, serta yang disebut keluarga beliau karena menjadi pengikut beliau yang sejati hingga akhir zaman.  Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Ada enam catatan yang manfaat yang perlu kita perhatikan tentang pemimpin negara kita.   Pertama: Siapa pun pemimpinnya wajib ditaati   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisaa’: 59) Dari Abu Najih, Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan menjadikan air mata berlinang”. Kami (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan adalah nasihat dari orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ , وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكَ عَبْدٌ “Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak)”. (HR. Tirmidzi, no. 2676 dan Abu Daud, no. 4607. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).   Kedua: Menaaati pemimpin dalam kebajikan   Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, السَّمْعُ والطَّاعَةُ علَى المَرْءِ المُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ. “Seorang muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat.” (HR. Bukhari, no. 7144)   Ketiga: Tetap taat pada pemimpin yang zalim   Dari Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْس. قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ». “Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “ Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?” Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim, no. 1847. Lihat penjelasan hadits ini dalam Muroqotul Mafatih Syarh Misykah Al-Mashobih, 15/343, Maktabah Syamilah).   Keempat: Tak boleh memberontak pada pemimpin yang sah   Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, (( مَنْ خَلَعَ يَداً مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ حُجَّةَ لَهُ ، وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ في عُنُقِهِ بَيْعَةٌ ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً )) رواه مسلم. وفي رواية لَهُ : (( وَمَنْ مَاتَ وَهُوَ مُفَارِقٌ لِلجَمَاعَةِ ، فَإنَّهُ يَمُوتُ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً)) . “Barangsiapa melepaskan tangan dari ketaatan pada penguasa, maka ia akan bertemu dengan Allah pada hari kiamat dalam ia tidak punya argumen apa-apa untuk membelanya. Barangsiapa yang mati dan di lehernya tidak ada bai’at, maka ia mati seperti keadaan orang jahiliyah.” (HR. Muslim no. 1851). Dalam riwayat lain dari Imam Muslim disebutkan, “Siapa yang mati dan ia berpisah dari jamaah, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.”   Kelima: Tetap punya kewajiban untuk mendoakan pemimpin   Dari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Doa seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat (yang memiliki tugas mengaminkan doanya kepada saudarany, pen). Ketika dia berdoa kebaikan kepada saudaranya, malaikat tersebut berkata : Amin, engkau akan mendapatkan yang sama dengannya.” (HR. Muslim, no. 2733)   Keenam: Doakanlah pemimpin kita   Dari ‘Abdush Shamad bin Yazid Al-Baghdadiy, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Fudhail bin ‘Iyadh berkata, لَوْ أَنَّ لِي دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ مَا صَيَّرْتُهَا اِلاَّ فِي الاِمَامِ “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.” Ada yang bertanya pada Fudhail, “Kenapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.” (Hilyah Al-Auliya’ karya Abu Nu’aim Al Ashfahaniy, 8:77, Darul Ihya’ At-Turats Al-‘Iraqiy)   Demikian khutbah pertama ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ — Naskah Khutbah Jumat Pahing, 6 Syaban 1440 H @ Masjid Jenderal Sudirman Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagskhutbah jumat pemimpin pemimpin adil taat pemimpin ulil amri


Catatan ini berharga sekali perlu kita perhatikan terkait dengan pemimpin negeri ini.   Khutbah Pertama   إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ Amma ba’du … Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah … Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kita kepada takwa. Dan kita diperintahkan untuk bertakwa kepada-Nya sebagaimana disebutkan dalam ayat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102) Shalawat dan salam kepada sayyid para nabi, nabi akhir zaman, rasul yang syariatnya telah sempurna, rasul yang mengajarkan perihal ibadah dengan sempurna. Semoga shalawat dari Allah tercurah kepada beliau, kepada istri-istri beliau, para sahabat beliau, serta yang disebut keluarga beliau karena menjadi pengikut beliau yang sejati hingga akhir zaman.  Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …   Ada enam catatan yang manfaat yang perlu kita perhatikan tentang pemimpin negara kita.   Pertama: Siapa pun pemimpinnya wajib ditaati   Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisaa’: 59) Dari Abu Najih, Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan menjadikan air mata berlinang”. Kami (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan adalah nasihat dari orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ , وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكَ عَبْدٌ “Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak)”. (HR. Tirmidzi, no. 2676 dan Abu Daud, no. 4607. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).   Kedua: Menaaati pemimpin dalam kebajikan   Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, السَّمْعُ والطَّاعَةُ علَى المَرْءِ المُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ. “Seorang muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat.” (HR. Bukhari, no. 7144)   Ketiga: Tetap taat pada pemimpin yang zalim   Dari Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْس. قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ». “Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “ Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?” Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim, no. 1847. Lihat penjelasan hadits ini dalam Muroqotul Mafatih Syarh Misykah Al-Mashobih, 15/343, Maktabah Syamilah).   Keempat: Tak boleh memberontak pada pemimpin yang sah   Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, (( مَنْ خَلَعَ يَداً مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ حُجَّةَ لَهُ ، وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ في عُنُقِهِ بَيْعَةٌ ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً )) رواه مسلم. وفي رواية لَهُ : (( وَمَنْ مَاتَ وَهُوَ مُفَارِقٌ لِلجَمَاعَةِ ، فَإنَّهُ يَمُوتُ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً)) . “Barangsiapa melepaskan tangan dari ketaatan pada penguasa, maka ia akan bertemu dengan Allah pada hari kiamat dalam ia tidak punya argumen apa-apa untuk membelanya. Barangsiapa yang mati dan di lehernya tidak ada bai’at, maka ia mati seperti keadaan orang jahiliyah.” (HR. Muslim no. 1851). Dalam riwayat lain dari Imam Muslim disebutkan, “Siapa yang mati dan ia berpisah dari jamaah, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.”   Kelima: Tetap punya kewajiban untuk mendoakan pemimpin   Dari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Doa seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat (yang memiliki tugas mengaminkan doanya kepada saudarany, pen). Ketika dia berdoa kebaikan kepada saudaranya, malaikat tersebut berkata : Amin, engkau akan mendapatkan yang sama dengannya.” (HR. Muslim, no. 2733)   Keenam: Doakanlah pemimpin kita   Dari ‘Abdush Shamad bin Yazid Al-Baghdadiy, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Fudhail bin ‘Iyadh berkata, لَوْ أَنَّ لِي دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ مَا صَيَّرْتُهَا اِلاَّ فِي الاِمَامِ “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.” Ada yang bertanya pada Fudhail, “Kenapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.” (Hilyah Al-Auliya’ karya Abu Nu’aim Al Ashfahaniy, 8:77, Darul Ihya’ At-Turats Al-‘Iraqiy)   Demikian khutbah pertama ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.   أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ   Khutbah Kedua   الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ — Naskah Khutbah Jumat Pahing, 6 Syaban 1440 H @ Masjid Jenderal Sudirman Panggang Gunungkidul Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagskhutbah jumat pemimpin pemimpin adil taat pemimpin ulil amri

Sya’ban, Bulan Diangkatnya Amal

Sya’ban, Bulan Diangkatnya Amal Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Saat ini kita sedang berada di bulan Sya’ban, atau dalam istilah penanggalan Jawa disebut Ruwah. Satu bulan sebelum tiba bulan mulia yang dirindukan, yaitu bulan suci Ramadhan. Sya’ban, meski sering terabaikan karena diapit oleh dua bulan yang mulia yaitu Rojab,l yang menjadi sorotan, karena termasuk salahsatu dari empat bulan suci (bulan haram), dan Ramadhan, ternyata ada momentum luar biasa yang terjadi di bulan ini. Dijelaskan dalam hadis dari sahabat Usamah bin Zaid, dia berkata, “Aku bertanya kepada Nabi, “Ya Rasulullah, aku tidak melihat engkau sering berpuasa dalam satu bulan kecuali di bulan Sya’ban?” Beliau menjawab, ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين ، فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم “Ini adalah bulan yang banyak dilalaikan orang, terletak antara Rajab dan Ramadan. Padahal Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal kepada Tuhan yang mengatur semesta alam. Aku ingin, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.” Inilah peristiwa agung yang terjadi di bulan Sya’ban, diangkatnya amal perbuatan kita oleh malaikat pencatat amal untuk dilaporkan kepada Allah ‘azza wa jalla. Nabi suka saat amalan diangkat kepada Allah di bulan ini, beliau dalam kondisi baik, yaitu mengisinya dengan puasa. Para ulama menjelaskan, bahwa proses pelaporan amal kepada Allah ‘azza wa jalla terjadi tiga kali: 1. Harian 2. Pekanan 3. Tahunan Pertama, pelaporan amal harian. Yaitu terjadi dua kali dalam sehari : pagi saat sholat subuh, dan sore saat sholat asar. Dalilnya, hadis dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, “Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda, يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِى صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِى فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّون “Para Malaikat dimalam dan siang hari silih berganti mengawasi kalian, dan mereka berkumpul pada saat shalat Subuh dan shalat Ashar, kemudian para malaikat yang mengawasi kalian semalam suntuk naik (ke langit). Allah menanyakan kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui dari mereka, “Dalam keadaan apakah kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?” Mereka menjawab, “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mengerjakan shalat.” (HR. Ahmad 8341, Bukkhari 555, Muslim 1464 dan yang lainnya). Kedua, pelaporan amal pekanan. Terjadi setiap hari Senin dan Kamis. Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu mengabarkan, “Aku pernah mendengar Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, إن أعمال بني آدم تعرض كل خميس ليلة الجمعة ، فلا يقبل عمل قاطع رحم Amalan-amalan manusia dilaporkan kepada Allah setiap hari Kamis malam Jumat. Orang yang memutus tali silaturahmi, amalannya tidak akan diterima. (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat Tirmidzi dijelaskan, تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ ؛ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ Amalan manusia dilaporkan kepada Allah setiap hari Senin dan Kamis. Dan aku suka saat amalku dilaporkan, kondisiku sedang puasa. Ketiga, pelaporan tahunan. Terjadi di bulan Sya’ban. Berdasarkan hadis tersebut di atas. Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين ، فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم “Ini adalah bulan yang banyak dilalaikan orang, terletak antara Rajab dan Ramadan. Padahal Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal kepada Tuhan yang mengatur semesta alam. Aku ingin, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. Nasa-i no. 2329) Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, عمل العام يرفع في شعبان ؛ كما أخبر به الصادق المصدوق ويعرض عمل الأسبوع يوم الاثنين والخميس ، وعمل اليوم يرفع في آخره قبل الليل ، وعمل الليل في آخره قبل النهار . فهذا الرفع في اليوم والليلة أخص من الرفع في العام ، وإذا انقضى الأجل رفع عمل العمر كله وطويت صحيفة العمل Amalan manusia dalam satu tahun, diangkat pada bulan Sya’ban. Sebagaimana dikabarkan oleh As-Shodiqul Mashduq (Orang yang jujur lagi dibenarkan, yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bahwa Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal. Demikian pula amalan dalam sepekan dilaporkan kepada Allah pada hari Senin dan Kamis. Adapun amalan (pent, harian) siang dilaporkan di penghujung siang sebelum malam tiba. Dan amalan malam dilaporkan di penghujung malam sebelum tibanya siang. Pelaporan amal harian, lebih khusus daripada pelaporan amal tahunan. Ketika ajal seseorang datang, seluruh amal perbuatan yang dia lakukan di selama hidupnya, akan diangkat seluruhnya. Kemudahan lembaran catatan amalnya akan digulung.” (Dikutip secara ringkas dari Hasyiyah Ibnul Qayyim ‘alas Sunan Abi Dawud, 12/313) Seluruh hadis yang menerangkan pelaporan amal, mengandung pesan motivasi untuk menambah amal ibadah di saat-saat amal sedang dilaporkan kepada Allah’azza wa jalla. Sebagaimana jawaban Nabi shalallahu alaihi wa sallam saat beliau ditanya mengapa banyak puasa di bulan Sya’ban, فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم “Aku ingin, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa…” Penjelasan yang sama juga beliau utarakan saat beliau shallallahu’alaihi wasallam menerangkan alasan puasa di hari Senin dan Kamis. Demikian pula para Salafussholih dahulu, mereka selalu ingin tampil lebih baik, lebih istimewa di hadapan Allah, saat moment pengangkatan amal. Sampai-sampai mereka khawatir jika keadaan mereka saat itu tidak sedang baik. Ibnu Rajab dalam Latho-iful Ma’arif menyebutkan kisah sebagian Tabi’in, yang setiap hari Kamis menangis curhat kepada istrinya, demikian pula sebaliknya Sang Istri menangis dipangkuan suaminya, seraya berkata, “Hari ini… amalan kita dilaporkan kepada Allah.” (Lihat : Latho-iful Ma’arif hal. 191) Sekian. Wallahua’lam bis showab. *** Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Kapan Alquran Diturunkan Pertama Kali, Keluar Flek Coklat Bolehkah Berpuasa, Hukum Bekerja Di Perusahaan Non Muslim, Balasan Ucapan Idul Fitri, Cara Mengusir Jin Dalam Tubuh, Ciri Ciri Orang Kerasukan Jin Visited 186 times, 4 visit(s) today Post Views: 341 QRIS donasi Yufid

Sya’ban, Bulan Diangkatnya Amal

Sya’ban, Bulan Diangkatnya Amal Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Saat ini kita sedang berada di bulan Sya’ban, atau dalam istilah penanggalan Jawa disebut Ruwah. Satu bulan sebelum tiba bulan mulia yang dirindukan, yaitu bulan suci Ramadhan. Sya’ban, meski sering terabaikan karena diapit oleh dua bulan yang mulia yaitu Rojab,l yang menjadi sorotan, karena termasuk salahsatu dari empat bulan suci (bulan haram), dan Ramadhan, ternyata ada momentum luar biasa yang terjadi di bulan ini. Dijelaskan dalam hadis dari sahabat Usamah bin Zaid, dia berkata, “Aku bertanya kepada Nabi, “Ya Rasulullah, aku tidak melihat engkau sering berpuasa dalam satu bulan kecuali di bulan Sya’ban?” Beliau menjawab, ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين ، فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم “Ini adalah bulan yang banyak dilalaikan orang, terletak antara Rajab dan Ramadan. Padahal Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal kepada Tuhan yang mengatur semesta alam. Aku ingin, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.” Inilah peristiwa agung yang terjadi di bulan Sya’ban, diangkatnya amal perbuatan kita oleh malaikat pencatat amal untuk dilaporkan kepada Allah ‘azza wa jalla. Nabi suka saat amalan diangkat kepada Allah di bulan ini, beliau dalam kondisi baik, yaitu mengisinya dengan puasa. Para ulama menjelaskan, bahwa proses pelaporan amal kepada Allah ‘azza wa jalla terjadi tiga kali: 1. Harian 2. Pekanan 3. Tahunan Pertama, pelaporan amal harian. Yaitu terjadi dua kali dalam sehari : pagi saat sholat subuh, dan sore saat sholat asar. Dalilnya, hadis dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, “Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda, يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِى صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِى فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّون “Para Malaikat dimalam dan siang hari silih berganti mengawasi kalian, dan mereka berkumpul pada saat shalat Subuh dan shalat Ashar, kemudian para malaikat yang mengawasi kalian semalam suntuk naik (ke langit). Allah menanyakan kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui dari mereka, “Dalam keadaan apakah kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?” Mereka menjawab, “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mengerjakan shalat.” (HR. Ahmad 8341, Bukkhari 555, Muslim 1464 dan yang lainnya). Kedua, pelaporan amal pekanan. Terjadi setiap hari Senin dan Kamis. Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu mengabarkan, “Aku pernah mendengar Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, إن أعمال بني آدم تعرض كل خميس ليلة الجمعة ، فلا يقبل عمل قاطع رحم Amalan-amalan manusia dilaporkan kepada Allah setiap hari Kamis malam Jumat. Orang yang memutus tali silaturahmi, amalannya tidak akan diterima. (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat Tirmidzi dijelaskan, تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ ؛ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ Amalan manusia dilaporkan kepada Allah setiap hari Senin dan Kamis. Dan aku suka saat amalku dilaporkan, kondisiku sedang puasa. Ketiga, pelaporan tahunan. Terjadi di bulan Sya’ban. Berdasarkan hadis tersebut di atas. Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين ، فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم “Ini adalah bulan yang banyak dilalaikan orang, terletak antara Rajab dan Ramadan. Padahal Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal kepada Tuhan yang mengatur semesta alam. Aku ingin, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. Nasa-i no. 2329) Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, عمل العام يرفع في شعبان ؛ كما أخبر به الصادق المصدوق ويعرض عمل الأسبوع يوم الاثنين والخميس ، وعمل اليوم يرفع في آخره قبل الليل ، وعمل الليل في آخره قبل النهار . فهذا الرفع في اليوم والليلة أخص من الرفع في العام ، وإذا انقضى الأجل رفع عمل العمر كله وطويت صحيفة العمل Amalan manusia dalam satu tahun, diangkat pada bulan Sya’ban. Sebagaimana dikabarkan oleh As-Shodiqul Mashduq (Orang yang jujur lagi dibenarkan, yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bahwa Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal. Demikian pula amalan dalam sepekan dilaporkan kepada Allah pada hari Senin dan Kamis. Adapun amalan (pent, harian) siang dilaporkan di penghujung siang sebelum malam tiba. Dan amalan malam dilaporkan di penghujung malam sebelum tibanya siang. Pelaporan amal harian, lebih khusus daripada pelaporan amal tahunan. Ketika ajal seseorang datang, seluruh amal perbuatan yang dia lakukan di selama hidupnya, akan diangkat seluruhnya. Kemudahan lembaran catatan amalnya akan digulung.” (Dikutip secara ringkas dari Hasyiyah Ibnul Qayyim ‘alas Sunan Abi Dawud, 12/313) Seluruh hadis yang menerangkan pelaporan amal, mengandung pesan motivasi untuk menambah amal ibadah di saat-saat amal sedang dilaporkan kepada Allah’azza wa jalla. Sebagaimana jawaban Nabi shalallahu alaihi wa sallam saat beliau ditanya mengapa banyak puasa di bulan Sya’ban, فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم “Aku ingin, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa…” Penjelasan yang sama juga beliau utarakan saat beliau shallallahu’alaihi wasallam menerangkan alasan puasa di hari Senin dan Kamis. Demikian pula para Salafussholih dahulu, mereka selalu ingin tampil lebih baik, lebih istimewa di hadapan Allah, saat moment pengangkatan amal. Sampai-sampai mereka khawatir jika keadaan mereka saat itu tidak sedang baik. Ibnu Rajab dalam Latho-iful Ma’arif menyebutkan kisah sebagian Tabi’in, yang setiap hari Kamis menangis curhat kepada istrinya, demikian pula sebaliknya Sang Istri menangis dipangkuan suaminya, seraya berkata, “Hari ini… amalan kita dilaporkan kepada Allah.” (Lihat : Latho-iful Ma’arif hal. 191) Sekian. Wallahua’lam bis showab. *** Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Kapan Alquran Diturunkan Pertama Kali, Keluar Flek Coklat Bolehkah Berpuasa, Hukum Bekerja Di Perusahaan Non Muslim, Balasan Ucapan Idul Fitri, Cara Mengusir Jin Dalam Tubuh, Ciri Ciri Orang Kerasukan Jin Visited 186 times, 4 visit(s) today Post Views: 341 QRIS donasi Yufid
Sya’ban, Bulan Diangkatnya Amal Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Saat ini kita sedang berada di bulan Sya’ban, atau dalam istilah penanggalan Jawa disebut Ruwah. Satu bulan sebelum tiba bulan mulia yang dirindukan, yaitu bulan suci Ramadhan. Sya’ban, meski sering terabaikan karena diapit oleh dua bulan yang mulia yaitu Rojab,l yang menjadi sorotan, karena termasuk salahsatu dari empat bulan suci (bulan haram), dan Ramadhan, ternyata ada momentum luar biasa yang terjadi di bulan ini. Dijelaskan dalam hadis dari sahabat Usamah bin Zaid, dia berkata, “Aku bertanya kepada Nabi, “Ya Rasulullah, aku tidak melihat engkau sering berpuasa dalam satu bulan kecuali di bulan Sya’ban?” Beliau menjawab, ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين ، فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم “Ini adalah bulan yang banyak dilalaikan orang, terletak antara Rajab dan Ramadan. Padahal Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal kepada Tuhan yang mengatur semesta alam. Aku ingin, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.” Inilah peristiwa agung yang terjadi di bulan Sya’ban, diangkatnya amal perbuatan kita oleh malaikat pencatat amal untuk dilaporkan kepada Allah ‘azza wa jalla. Nabi suka saat amalan diangkat kepada Allah di bulan ini, beliau dalam kondisi baik, yaitu mengisinya dengan puasa. Para ulama menjelaskan, bahwa proses pelaporan amal kepada Allah ‘azza wa jalla terjadi tiga kali: 1. Harian 2. Pekanan 3. Tahunan Pertama, pelaporan amal harian. Yaitu terjadi dua kali dalam sehari : pagi saat sholat subuh, dan sore saat sholat asar. Dalilnya, hadis dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, “Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda, يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِى صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِى فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّون “Para Malaikat dimalam dan siang hari silih berganti mengawasi kalian, dan mereka berkumpul pada saat shalat Subuh dan shalat Ashar, kemudian para malaikat yang mengawasi kalian semalam suntuk naik (ke langit). Allah menanyakan kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui dari mereka, “Dalam keadaan apakah kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?” Mereka menjawab, “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mengerjakan shalat.” (HR. Ahmad 8341, Bukkhari 555, Muslim 1464 dan yang lainnya). Kedua, pelaporan amal pekanan. Terjadi setiap hari Senin dan Kamis. Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu mengabarkan, “Aku pernah mendengar Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, إن أعمال بني آدم تعرض كل خميس ليلة الجمعة ، فلا يقبل عمل قاطع رحم Amalan-amalan manusia dilaporkan kepada Allah setiap hari Kamis malam Jumat. Orang yang memutus tali silaturahmi, amalannya tidak akan diterima. (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat Tirmidzi dijelaskan, تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ ؛ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ Amalan manusia dilaporkan kepada Allah setiap hari Senin dan Kamis. Dan aku suka saat amalku dilaporkan, kondisiku sedang puasa. Ketiga, pelaporan tahunan. Terjadi di bulan Sya’ban. Berdasarkan hadis tersebut di atas. Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين ، فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم “Ini adalah bulan yang banyak dilalaikan orang, terletak antara Rajab dan Ramadan. Padahal Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal kepada Tuhan yang mengatur semesta alam. Aku ingin, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. Nasa-i no. 2329) Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, عمل العام يرفع في شعبان ؛ كما أخبر به الصادق المصدوق ويعرض عمل الأسبوع يوم الاثنين والخميس ، وعمل اليوم يرفع في آخره قبل الليل ، وعمل الليل في آخره قبل النهار . فهذا الرفع في اليوم والليلة أخص من الرفع في العام ، وإذا انقضى الأجل رفع عمل العمر كله وطويت صحيفة العمل Amalan manusia dalam satu tahun, diangkat pada bulan Sya’ban. Sebagaimana dikabarkan oleh As-Shodiqul Mashduq (Orang yang jujur lagi dibenarkan, yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bahwa Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal. Demikian pula amalan dalam sepekan dilaporkan kepada Allah pada hari Senin dan Kamis. Adapun amalan (pent, harian) siang dilaporkan di penghujung siang sebelum malam tiba. Dan amalan malam dilaporkan di penghujung malam sebelum tibanya siang. Pelaporan amal harian, lebih khusus daripada pelaporan amal tahunan. Ketika ajal seseorang datang, seluruh amal perbuatan yang dia lakukan di selama hidupnya, akan diangkat seluruhnya. Kemudahan lembaran catatan amalnya akan digulung.” (Dikutip secara ringkas dari Hasyiyah Ibnul Qayyim ‘alas Sunan Abi Dawud, 12/313) Seluruh hadis yang menerangkan pelaporan amal, mengandung pesan motivasi untuk menambah amal ibadah di saat-saat amal sedang dilaporkan kepada Allah’azza wa jalla. Sebagaimana jawaban Nabi shalallahu alaihi wa sallam saat beliau ditanya mengapa banyak puasa di bulan Sya’ban, فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم “Aku ingin, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa…” Penjelasan yang sama juga beliau utarakan saat beliau shallallahu’alaihi wasallam menerangkan alasan puasa di hari Senin dan Kamis. Demikian pula para Salafussholih dahulu, mereka selalu ingin tampil lebih baik, lebih istimewa di hadapan Allah, saat moment pengangkatan amal. Sampai-sampai mereka khawatir jika keadaan mereka saat itu tidak sedang baik. Ibnu Rajab dalam Latho-iful Ma’arif menyebutkan kisah sebagian Tabi’in, yang setiap hari Kamis menangis curhat kepada istrinya, demikian pula sebaliknya Sang Istri menangis dipangkuan suaminya, seraya berkata, “Hari ini… amalan kita dilaporkan kepada Allah.” (Lihat : Latho-iful Ma’arif hal. 191) Sekian. Wallahua’lam bis showab. *** Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Kapan Alquran Diturunkan Pertama Kali, Keluar Flek Coklat Bolehkah Berpuasa, Hukum Bekerja Di Perusahaan Non Muslim, Balasan Ucapan Idul Fitri, Cara Mengusir Jin Dalam Tubuh, Ciri Ciri Orang Kerasukan Jin Visited 186 times, 4 visit(s) today Post Views: 341 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1225597849&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Sya’ban, Bulan Diangkatnya Amal Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Saat ini kita sedang berada di bulan Sya’ban, atau dalam istilah penanggalan Jawa disebut Ruwah. Satu bulan sebelum tiba bulan mulia yang dirindukan, yaitu bulan suci Ramadhan. Sya’ban, meski sering terabaikan karena diapit oleh dua bulan yang mulia yaitu Rojab,l yang menjadi sorotan, karena termasuk salahsatu dari empat bulan suci (bulan haram), dan Ramadhan, ternyata ada momentum luar biasa yang terjadi di bulan ini. Dijelaskan dalam hadis dari sahabat Usamah bin Zaid, dia berkata, “Aku bertanya kepada Nabi, “Ya Rasulullah, aku tidak melihat engkau sering berpuasa dalam satu bulan kecuali di bulan Sya’ban?” Beliau menjawab, ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين ، فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم “Ini adalah bulan yang banyak dilalaikan orang, terletak antara Rajab dan Ramadan. Padahal Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal kepada Tuhan yang mengatur semesta alam. Aku ingin, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.” Inilah peristiwa agung yang terjadi di bulan Sya’ban, diangkatnya amal perbuatan kita oleh malaikat pencatat amal untuk dilaporkan kepada Allah ‘azza wa jalla. Nabi suka saat amalan diangkat kepada Allah di bulan ini, beliau dalam kondisi baik, yaitu mengisinya dengan puasa. Para ulama menjelaskan, bahwa proses pelaporan amal kepada Allah ‘azza wa jalla terjadi tiga kali: 1. Harian 2. Pekanan 3. Tahunan Pertama, pelaporan amal harian. Yaitu terjadi dua kali dalam sehari : pagi saat sholat subuh, dan sore saat sholat asar. Dalilnya, hadis dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, “Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda, يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِى صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِى فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّون “Para Malaikat dimalam dan siang hari silih berganti mengawasi kalian, dan mereka berkumpul pada saat shalat Subuh dan shalat Ashar, kemudian para malaikat yang mengawasi kalian semalam suntuk naik (ke langit). Allah menanyakan kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui dari mereka, “Dalam keadaan apakah kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?” Mereka menjawab, “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mengerjakan shalat.” (HR. Ahmad 8341, Bukkhari 555, Muslim 1464 dan yang lainnya). Kedua, pelaporan amal pekanan. Terjadi setiap hari Senin dan Kamis. Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu mengabarkan, “Aku pernah mendengar Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, إن أعمال بني آدم تعرض كل خميس ليلة الجمعة ، فلا يقبل عمل قاطع رحم Amalan-amalan manusia dilaporkan kepada Allah setiap hari Kamis malam Jumat. Orang yang memutus tali silaturahmi, amalannya tidak akan diterima. (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat Tirmidzi dijelaskan, تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ ؛ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ Amalan manusia dilaporkan kepada Allah setiap hari Senin dan Kamis. Dan aku suka saat amalku dilaporkan, kondisiku sedang puasa. Ketiga, pelaporan tahunan. Terjadi di bulan Sya’ban. Berdasarkan hadis tersebut di atas. Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين ، فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم “Ini adalah bulan yang banyak dilalaikan orang, terletak antara Rajab dan Ramadan. Padahal Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal kepada Tuhan yang mengatur semesta alam. Aku ingin, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. Nasa-i no. 2329) Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, عمل العام يرفع في شعبان ؛ كما أخبر به الصادق المصدوق ويعرض عمل الأسبوع يوم الاثنين والخميس ، وعمل اليوم يرفع في آخره قبل الليل ، وعمل الليل في آخره قبل النهار . فهذا الرفع في اليوم والليلة أخص من الرفع في العام ، وإذا انقضى الأجل رفع عمل العمر كله وطويت صحيفة العمل Amalan manusia dalam satu tahun, diangkat pada bulan Sya’ban. Sebagaimana dikabarkan oleh As-Shodiqul Mashduq (Orang yang jujur lagi dibenarkan, yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bahwa Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal. Demikian pula amalan dalam sepekan dilaporkan kepada Allah pada hari Senin dan Kamis. Adapun amalan (pent, harian) siang dilaporkan di penghujung siang sebelum malam tiba. Dan amalan malam dilaporkan di penghujung malam sebelum tibanya siang. Pelaporan amal harian, lebih khusus daripada pelaporan amal tahunan. Ketika ajal seseorang datang, seluruh amal perbuatan yang dia lakukan di selama hidupnya, akan diangkat seluruhnya. Kemudahan lembaran catatan amalnya akan digulung.” (Dikutip secara ringkas dari Hasyiyah Ibnul Qayyim ‘alas Sunan Abi Dawud, 12/313) Seluruh hadis yang menerangkan pelaporan amal, mengandung pesan motivasi untuk menambah amal ibadah di saat-saat amal sedang dilaporkan kepada Allah’azza wa jalla. Sebagaimana jawaban Nabi shalallahu alaihi wa sallam saat beliau ditanya mengapa banyak puasa di bulan Sya’ban, فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم “Aku ingin, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa…” Penjelasan yang sama juga beliau utarakan saat beliau shallallahu’alaihi wasallam menerangkan alasan puasa di hari Senin dan Kamis. Demikian pula para Salafussholih dahulu, mereka selalu ingin tampil lebih baik, lebih istimewa di hadapan Allah, saat moment pengangkatan amal. Sampai-sampai mereka khawatir jika keadaan mereka saat itu tidak sedang baik. Ibnu Rajab dalam Latho-iful Ma’arif menyebutkan kisah sebagian Tabi’in, yang setiap hari Kamis menangis curhat kepada istrinya, demikian pula sebaliknya Sang Istri menangis dipangkuan suaminya, seraya berkata, “Hari ini… amalan kita dilaporkan kepada Allah.” (Lihat : Latho-iful Ma’arif hal. 191) Sekian. Wallahua’lam bis showab. *** Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Kapan Alquran Diturunkan Pertama Kali, Keluar Flek Coklat Bolehkah Berpuasa, Hukum Bekerja Di Perusahaan Non Muslim, Balasan Ucapan Idul Fitri, Cara Mengusir Jin Dalam Tubuh, Ciri Ciri Orang Kerasukan Jin Visited 186 times, 4 visit(s) today Post Views: 341 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Manhajus Salikin: Sifat Shalat Nabi, Membaca Surat yang Panjang dan Pendek

Apa saja surat yang dibaca Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, apa selalu surat panjang? Kita lihat dari penjelasan Manhajus Salikin berikut ini.   Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin, وَيَقْرَأُ مَعَهَا فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُوْلَيَيْنِ مِنَ الرُّبَاعِيَّةِ وَالثُّلاَثِيَّةِ سُوْرَةً ، تَكُوْنُ فِي الفَجْرِ مِنْ طِوَالِ المُفَصَّلِ ، وَفِي المَغْرِبِ مِنْ قِصَارِهِ ، وَفِي البَاقِي مِنْ أَوْسَاطِهِ “Kemudian membaca setelah Al-Fatihah, satu surah lainnya di dua rakaat pertama dari shalat tiga dan empat rakaat. Surah yang dituntunkan untuk dibaca: a- Shalat Shubuh dengan surah thiwalil mufashshal. b- Shalat Maghrib dengan surah qisharil mufashshal. c- Shalat wajib lainnya dengan surah awsathil mufashshal.   Panjang dan Pendeknya Surah yang Dibaca   Surah thiwalil mufashshal adalah mulai dari surah Qaaf hingga surah Al-Mursalaat. Surah qisharil mufashshal adalah mulai dari surah Adh-Dhuha hingga akhir Al-Quran. Sedangkan surah awsathil mufashshal adalah mulai dari surah An-Naba’ hingga surah Al-Lail. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al-Jibrin rahimahullah berkata, “Surah yang dibaca setelah Al-Fatihah adalah bisa satu surah utuh atau sebagiannya saja dari awal, pertengahan atau akhir, itu pun sah.” (Ibhaj Al-Mu’minin, 1:143). Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari membaca Al-Fatihah, beliau membaca surah lainnya. Kadang beliau baca bacaan yang panjang. Kadang beliau memperingannya karena maksud safar atau hajat lainnya. Kadang pula beliau membaca bacaan yang pertengahan (tidak terlalu panjang, tidak terlalu pendek). Yang terakhir inilah yang umumnya beliau lakukan.” (Zaad Al-Ma’ad, 1:202) Dari Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Seusai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat Ashar, salah seorang di antara kami pulang ke rumahnya yang terletak di pinggir kota Madinah dan saat itu matahari masih sangat panas terik. Beliau suka mengakhirkan shalat Isya, tidak menyukai tidur sebelumnya dan berbincang-bincang setelahnya. Beliau pulang dari shalat Shubuh saat seseorang dapat mengenali siapa yang duduk di sampingnya. وَيَقْرَأُ بِالسِّتِّينَ إِلَى اَلْمِائَةِ Beliau membaca sekitar 60 hingga 100 ayat Al-Qur’an pada shalat Shubuh.” (HR. Bukhari, no. 547, 640) Adapun dalil membaca surah yang panjang dan pendek seperti yang disebutkan tadi, عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ مَا صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَحَدٍ أَشْبَهَ صَلاَةً بِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ فُلاَنٍ. فَصَلَّيْنَا وَرَاءَ ذَلِكَ الإِنْسَانِ وَكَانَ يُطِيلُ الأُولَيَيْنِ مِنَ الظُّهْرِ وَيُخَفِّفُ فِى الأُخْرَيَيْنِ وَيُخَفِّفُ فِى الْعَصْرِ وَيَقْرَأُ فِى الْمَغْرِبِ بِقِصَارِ الْمُفَصَّلِ وَيَقْرَأُ فِى الْعِشَاءِ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا وَأَشْبَاهِهَا وَيَقْرَأُ فِى الصُّبْحِ بِسُورَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah shalat di belakang seseorang yang shalatnya mirip dengan shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada yang lainnya. Kami shalat di belakangnya dan ia memanjangkan dua rakaat pertama dari shalat Zhuhur dan memperingan dua rakaat terakhirnya. Sedangkan shalat Ashar lebih diperingan dari shalat Zhuhur. Adapun shalat Maghrib dibacakan surah qishorul mufasshol. Pada shalat Isya dibacakan surah Asy-Syams dan yang semisal dengannya. Adapun shalat Shubuh dibacakan dua surah yang panjang.” (HR. An-Nasa’i, no. 983. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Semoga bermanfaat.   Referensi: Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Ibhaj Al-Mu’minin bi Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah Al-Jibrin. Penerbit Madarul Wathon. Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. Zaad Al-Ma’ad fii Hadyi Khoir Al-‘Ibad. Cetakan keempat, tahun 1425 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Diselesaikan di #Dasinem Pogung Dalangan, 5 Syaban 1440 H (11 April 2019, Kamis sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara membaca surat cara shalat cara shalat nabi manhajus salikin sifat shalat nabi

Manhajus Salikin: Sifat Shalat Nabi, Membaca Surat yang Panjang dan Pendek

Apa saja surat yang dibaca Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, apa selalu surat panjang? Kita lihat dari penjelasan Manhajus Salikin berikut ini.   Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin, وَيَقْرَأُ مَعَهَا فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُوْلَيَيْنِ مِنَ الرُّبَاعِيَّةِ وَالثُّلاَثِيَّةِ سُوْرَةً ، تَكُوْنُ فِي الفَجْرِ مِنْ طِوَالِ المُفَصَّلِ ، وَفِي المَغْرِبِ مِنْ قِصَارِهِ ، وَفِي البَاقِي مِنْ أَوْسَاطِهِ “Kemudian membaca setelah Al-Fatihah, satu surah lainnya di dua rakaat pertama dari shalat tiga dan empat rakaat. Surah yang dituntunkan untuk dibaca: a- Shalat Shubuh dengan surah thiwalil mufashshal. b- Shalat Maghrib dengan surah qisharil mufashshal. c- Shalat wajib lainnya dengan surah awsathil mufashshal.   Panjang dan Pendeknya Surah yang Dibaca   Surah thiwalil mufashshal adalah mulai dari surah Qaaf hingga surah Al-Mursalaat. Surah qisharil mufashshal adalah mulai dari surah Adh-Dhuha hingga akhir Al-Quran. Sedangkan surah awsathil mufashshal adalah mulai dari surah An-Naba’ hingga surah Al-Lail. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al-Jibrin rahimahullah berkata, “Surah yang dibaca setelah Al-Fatihah adalah bisa satu surah utuh atau sebagiannya saja dari awal, pertengahan atau akhir, itu pun sah.” (Ibhaj Al-Mu’minin, 1:143). Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari membaca Al-Fatihah, beliau membaca surah lainnya. Kadang beliau baca bacaan yang panjang. Kadang beliau memperingannya karena maksud safar atau hajat lainnya. Kadang pula beliau membaca bacaan yang pertengahan (tidak terlalu panjang, tidak terlalu pendek). Yang terakhir inilah yang umumnya beliau lakukan.” (Zaad Al-Ma’ad, 1:202) Dari Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Seusai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat Ashar, salah seorang di antara kami pulang ke rumahnya yang terletak di pinggir kota Madinah dan saat itu matahari masih sangat panas terik. Beliau suka mengakhirkan shalat Isya, tidak menyukai tidur sebelumnya dan berbincang-bincang setelahnya. Beliau pulang dari shalat Shubuh saat seseorang dapat mengenali siapa yang duduk di sampingnya. وَيَقْرَأُ بِالسِّتِّينَ إِلَى اَلْمِائَةِ Beliau membaca sekitar 60 hingga 100 ayat Al-Qur’an pada shalat Shubuh.” (HR. Bukhari, no. 547, 640) Adapun dalil membaca surah yang panjang dan pendek seperti yang disebutkan tadi, عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ مَا صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَحَدٍ أَشْبَهَ صَلاَةً بِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ فُلاَنٍ. فَصَلَّيْنَا وَرَاءَ ذَلِكَ الإِنْسَانِ وَكَانَ يُطِيلُ الأُولَيَيْنِ مِنَ الظُّهْرِ وَيُخَفِّفُ فِى الأُخْرَيَيْنِ وَيُخَفِّفُ فِى الْعَصْرِ وَيَقْرَأُ فِى الْمَغْرِبِ بِقِصَارِ الْمُفَصَّلِ وَيَقْرَأُ فِى الْعِشَاءِ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا وَأَشْبَاهِهَا وَيَقْرَأُ فِى الصُّبْحِ بِسُورَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah shalat di belakang seseorang yang shalatnya mirip dengan shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada yang lainnya. Kami shalat di belakangnya dan ia memanjangkan dua rakaat pertama dari shalat Zhuhur dan memperingan dua rakaat terakhirnya. Sedangkan shalat Ashar lebih diperingan dari shalat Zhuhur. Adapun shalat Maghrib dibacakan surah qishorul mufasshol. Pada shalat Isya dibacakan surah Asy-Syams dan yang semisal dengannya. Adapun shalat Shubuh dibacakan dua surah yang panjang.” (HR. An-Nasa’i, no. 983. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Semoga bermanfaat.   Referensi: Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Ibhaj Al-Mu’minin bi Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah Al-Jibrin. Penerbit Madarul Wathon. Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. Zaad Al-Ma’ad fii Hadyi Khoir Al-‘Ibad. Cetakan keempat, tahun 1425 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Diselesaikan di #Dasinem Pogung Dalangan, 5 Syaban 1440 H (11 April 2019, Kamis sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara membaca surat cara shalat cara shalat nabi manhajus salikin sifat shalat nabi
Apa saja surat yang dibaca Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, apa selalu surat panjang? Kita lihat dari penjelasan Manhajus Salikin berikut ini.   Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin, وَيَقْرَأُ مَعَهَا فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُوْلَيَيْنِ مِنَ الرُّبَاعِيَّةِ وَالثُّلاَثِيَّةِ سُوْرَةً ، تَكُوْنُ فِي الفَجْرِ مِنْ طِوَالِ المُفَصَّلِ ، وَفِي المَغْرِبِ مِنْ قِصَارِهِ ، وَفِي البَاقِي مِنْ أَوْسَاطِهِ “Kemudian membaca setelah Al-Fatihah, satu surah lainnya di dua rakaat pertama dari shalat tiga dan empat rakaat. Surah yang dituntunkan untuk dibaca: a- Shalat Shubuh dengan surah thiwalil mufashshal. b- Shalat Maghrib dengan surah qisharil mufashshal. c- Shalat wajib lainnya dengan surah awsathil mufashshal.   Panjang dan Pendeknya Surah yang Dibaca   Surah thiwalil mufashshal adalah mulai dari surah Qaaf hingga surah Al-Mursalaat. Surah qisharil mufashshal adalah mulai dari surah Adh-Dhuha hingga akhir Al-Quran. Sedangkan surah awsathil mufashshal adalah mulai dari surah An-Naba’ hingga surah Al-Lail. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al-Jibrin rahimahullah berkata, “Surah yang dibaca setelah Al-Fatihah adalah bisa satu surah utuh atau sebagiannya saja dari awal, pertengahan atau akhir, itu pun sah.” (Ibhaj Al-Mu’minin, 1:143). Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari membaca Al-Fatihah, beliau membaca surah lainnya. Kadang beliau baca bacaan yang panjang. Kadang beliau memperingannya karena maksud safar atau hajat lainnya. Kadang pula beliau membaca bacaan yang pertengahan (tidak terlalu panjang, tidak terlalu pendek). Yang terakhir inilah yang umumnya beliau lakukan.” (Zaad Al-Ma’ad, 1:202) Dari Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Seusai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat Ashar, salah seorang di antara kami pulang ke rumahnya yang terletak di pinggir kota Madinah dan saat itu matahari masih sangat panas terik. Beliau suka mengakhirkan shalat Isya, tidak menyukai tidur sebelumnya dan berbincang-bincang setelahnya. Beliau pulang dari shalat Shubuh saat seseorang dapat mengenali siapa yang duduk di sampingnya. وَيَقْرَأُ بِالسِّتِّينَ إِلَى اَلْمِائَةِ Beliau membaca sekitar 60 hingga 100 ayat Al-Qur’an pada shalat Shubuh.” (HR. Bukhari, no. 547, 640) Adapun dalil membaca surah yang panjang dan pendek seperti yang disebutkan tadi, عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ مَا صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَحَدٍ أَشْبَهَ صَلاَةً بِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ فُلاَنٍ. فَصَلَّيْنَا وَرَاءَ ذَلِكَ الإِنْسَانِ وَكَانَ يُطِيلُ الأُولَيَيْنِ مِنَ الظُّهْرِ وَيُخَفِّفُ فِى الأُخْرَيَيْنِ وَيُخَفِّفُ فِى الْعَصْرِ وَيَقْرَأُ فِى الْمَغْرِبِ بِقِصَارِ الْمُفَصَّلِ وَيَقْرَأُ فِى الْعِشَاءِ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا وَأَشْبَاهِهَا وَيَقْرَأُ فِى الصُّبْحِ بِسُورَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah shalat di belakang seseorang yang shalatnya mirip dengan shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada yang lainnya. Kami shalat di belakangnya dan ia memanjangkan dua rakaat pertama dari shalat Zhuhur dan memperingan dua rakaat terakhirnya. Sedangkan shalat Ashar lebih diperingan dari shalat Zhuhur. Adapun shalat Maghrib dibacakan surah qishorul mufasshol. Pada shalat Isya dibacakan surah Asy-Syams dan yang semisal dengannya. Adapun shalat Shubuh dibacakan dua surah yang panjang.” (HR. An-Nasa’i, no. 983. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Semoga bermanfaat.   Referensi: Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Ibhaj Al-Mu’minin bi Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah Al-Jibrin. Penerbit Madarul Wathon. Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. Zaad Al-Ma’ad fii Hadyi Khoir Al-‘Ibad. Cetakan keempat, tahun 1425 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Diselesaikan di #Dasinem Pogung Dalangan, 5 Syaban 1440 H (11 April 2019, Kamis sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara membaca surat cara shalat cara shalat nabi manhajus salikin sifat shalat nabi


Apa saja surat yang dibaca Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, apa selalu surat panjang? Kita lihat dari penjelasan Manhajus Salikin berikut ini.   Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin, وَيَقْرَأُ مَعَهَا فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُوْلَيَيْنِ مِنَ الرُّبَاعِيَّةِ وَالثُّلاَثِيَّةِ سُوْرَةً ، تَكُوْنُ فِي الفَجْرِ مِنْ طِوَالِ المُفَصَّلِ ، وَفِي المَغْرِبِ مِنْ قِصَارِهِ ، وَفِي البَاقِي مِنْ أَوْسَاطِهِ “Kemudian membaca setelah Al-Fatihah, satu surah lainnya di dua rakaat pertama dari shalat tiga dan empat rakaat. Surah yang dituntunkan untuk dibaca: a- Shalat Shubuh dengan surah thiwalil mufashshal. b- Shalat Maghrib dengan surah qisharil mufashshal. c- Shalat wajib lainnya dengan surah awsathil mufashshal.   Panjang dan Pendeknya Surah yang Dibaca   Surah thiwalil mufashshal adalah mulai dari surah Qaaf hingga surah Al-Mursalaat. Surah qisharil mufashshal adalah mulai dari surah Adh-Dhuha hingga akhir Al-Quran. Sedangkan surah awsathil mufashshal adalah mulai dari surah An-Naba’ hingga surah Al-Lail. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al-Jibrin rahimahullah berkata, “Surah yang dibaca setelah Al-Fatihah adalah bisa satu surah utuh atau sebagiannya saja dari awal, pertengahan atau akhir, itu pun sah.” (Ibhaj Al-Mu’minin, 1:143). Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari membaca Al-Fatihah, beliau membaca surah lainnya. Kadang beliau baca bacaan yang panjang. Kadang beliau memperingannya karena maksud safar atau hajat lainnya. Kadang pula beliau membaca bacaan yang pertengahan (tidak terlalu panjang, tidak terlalu pendek). Yang terakhir inilah yang umumnya beliau lakukan.” (Zaad Al-Ma’ad, 1:202) Dari Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Seusai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat Ashar, salah seorang di antara kami pulang ke rumahnya yang terletak di pinggir kota Madinah dan saat itu matahari masih sangat panas terik. Beliau suka mengakhirkan shalat Isya, tidak menyukai tidur sebelumnya dan berbincang-bincang setelahnya. Beliau pulang dari shalat Shubuh saat seseorang dapat mengenali siapa yang duduk di sampingnya. وَيَقْرَأُ بِالسِّتِّينَ إِلَى اَلْمِائَةِ Beliau membaca sekitar 60 hingga 100 ayat Al-Qur’an pada shalat Shubuh.” (HR. Bukhari, no. 547, 640) Adapun dalil membaca surah yang panjang dan pendek seperti yang disebutkan tadi, عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ مَا صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَحَدٍ أَشْبَهَ صَلاَةً بِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ فُلاَنٍ. فَصَلَّيْنَا وَرَاءَ ذَلِكَ الإِنْسَانِ وَكَانَ يُطِيلُ الأُولَيَيْنِ مِنَ الظُّهْرِ وَيُخَفِّفُ فِى الأُخْرَيَيْنِ وَيُخَفِّفُ فِى الْعَصْرِ وَيَقْرَأُ فِى الْمَغْرِبِ بِقِصَارِ الْمُفَصَّلِ وَيَقْرَأُ فِى الْعِشَاءِ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا وَأَشْبَاهِهَا وَيَقْرَأُ فِى الصُّبْحِ بِسُورَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah shalat di belakang seseorang yang shalatnya mirip dengan shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada yang lainnya. Kami shalat di belakangnya dan ia memanjangkan dua rakaat pertama dari shalat Zhuhur dan memperingan dua rakaat terakhirnya. Sedangkan shalat Ashar lebih diperingan dari shalat Zhuhur. Adapun shalat Maghrib dibacakan surah qishorul mufasshol. Pada shalat Isya dibacakan surah Asy-Syams dan yang semisal dengannya. Adapun shalat Shubuh dibacakan dua surah yang panjang.” (HR. An-Nasa’i, no. 983. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Semoga bermanfaat.   Referensi: Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Ibhaj Al-Mu’minin bi Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan keempat, tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah Al-Jibrin. Penerbit Madarul Wathon. Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. Zaad Al-Ma’ad fii Hadyi Khoir Al-‘Ibad. Cetakan keempat, tahun 1425 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. — Diselesaikan di #Dasinem Pogung Dalangan, 5 Syaban 1440 H (11 April 2019, Kamis sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagscara membaca surat cara shalat cara shalat nabi manhajus salikin sifat shalat nabi

Doa Agar Tidak Malas dan Terbebas dari Lilitan Utang

Doa ini bagus diamalkan karena akan menjauhkan kita dari sifat-sifat jelek, yaitu sifat malas dalam ibadah dan kelemahan, serta pengecut. Juga berisi meminta perlindungan dari Allah agar tidak dizalimi dan dijauhkan dari utang yang berat.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa), Bab 250. Keutamaan Doa Hadits #1474 وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُوْلُ : اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ ، وَالكَسَلِ ، وَالجُبْنِ ، والهَرَمِ ، والبُخْلِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ وَفِي رِوَايَةٍ : وَضَلَعِ الدَّيْنِ ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ALLOHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL ‘AJZI, WAL KASALI, WAL JUBNI, WAL HAROMI, WAL BUKHLI, WA A’UDZU BIKA MIN ‘ADZABIL QOBRI, WA A’UDZU BIKA MIN FITNATIL MAHYAA WAL MAMAAT (artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, sifat malas, sifat pengecut, kepikunan, kekikiran, dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian).” Dalam riwayat lain disebutkan, “DHOLA’ID DAIN WA GHALABATIR RIJAAL (Lilitan utang dan laki-laki yang menindas).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6367 dan Muslim, no. 2706]   Keterangan Doa   Al-‘ajz: kelemahan di mana seorang hamba tidak bisa melakukan kebaikan karena ketidakmampuan dan tidak adanya kekuatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan dari hal ini dikarena sifat ‘ajz akan menghalangi seseorang dalam menunaikan kewajiban agama atau perkara dunia. Allah Ta’alatelah mencela orang yang ‘aajiz (lemah) dalam kitabnya, ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا عَبْدًا مَمْلُوكًا لَا يَقْدِرُ عَلَىٰ شَيْء “Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatu pun.” (QS. An-Nahl: 75) Al-kasl: kemalasan di mana seorang hamba tidak bisa melakukan kebaikan padahal dalam keadaan punya kemampuan. Sifat ini adalah sifat tercela karena menjadikannya berat pada sesuatu yang seharusnya tidak sulit ia kerjakan, akhirnya ia tidak punya semangat melakukan kebaikan. Dari sifat al-kasl, seseorang akhirnya melalaikan hal-hal yang bermanfaat terkait dunia dan akhiratnya. Allah Ta’ala telah mencela orang-orang munafik dengan sifat malasnya, وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ “Dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas.” (QS. At-Taubah: 54) Al-bukhl: pelit, di mana menghalangi seseorang dari berinfak terkait dengan kewajiban harta, seperti zakat, nafkah untuk keluarga, sampai pada melayani tamu. Ada juga terkait dengan kewajiban berupa ucapan seperti perintah bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perintah menjawab salam. Al-jubn: takut ketika perang dan takut berjihad di jalan Allah. Juga bisa maknanya, takut dalam menyuarakan kebenaran dalam amar makruf nahi mungkar, atau takut ketika berjuang melawan setan dan hawa nafsu. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly hafizhahullah dalam Bahjah An-Nazhirin (2:452) menyatakan bahwa al-jubn adalah enggan berbuat baik terkait dengan badan, sedangkan al-bukhl adalah enggan berbuat baik terkait dengan harta. Al-harom: usia senja yang kembali lagi pada ardzalil ‘umur (usia yang hina). Keadaan ketika usia senja itu kekuatan sudah menurun, berpikir sudah semakin sulit (pikun), dan keadaan fisik lainnya yang semuanya membuat berat untuk beraktivitas. Keadaan al-harom ini kembali lagi seperti bocah ketika masih berada dalam gendongan. Semoga kita terlindung dari keadaan tua yang seperti ini. Fitnah hidup dan mati: Ibnu Daqi Al-‘Ied mengatakan, “Fitnah kehidupan adalah fitnah yang dihadapi manusia semasa ia hidup yaitu berupa fitnah-fitnah dunia (harta), fitnah syahwat, kebodohan dan yang paling besar dari itu semua –semoga Allah melindungi kita darinya- yaitu cobaan di ujung akhir menjelang kematian. Sedangkan fitnah kematian  yang dimaksud adalah fitnah ketika mati. Fitnah kehidupan bisa kita maksudkan pada segala fitnah yang ada sebelum kematian. Boleh jadi fitnah kematian juga bermakna fitnah (cobaan) di kubur.” Lihat ‘Aun Al-Ma’bud, 3:95. Dhola’id dain: sulitnya utang. Gholabatir rijaal: dikuasai dan dizalimi, dan ditindas tanpa jalan yang benar. Akibatnya, seseorang kendur dalam melakukan ketaatan dan ibadah. Karena diperlakukan seperti ini akhirnya timbul kebencian.   Faedah Hadits   Selama Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menjadi pembantu Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, ia paling sering mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa ini. (HR. Bukhari, no. 6363) Bisa saja al-‘ajz (kelemahan) itu hasil dari al-kasl (kemalasan). Karena banyak yang malas pada sesuatu padahal dia mampu melakukannya, akhirnya ia makin lemah keinginannya, akhirnya ia dapati al-‘ajz (lemah untuk berbuat). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan dari sifat malas dengan harta (al-bukhl) dan sifat malas dengan badan (al-kasl). Penetapan adanya azab atau siksa kubur. Menindas di sini ada dua: menindas hak hingga berat dalam utang, dan menindas dengan kebatilan hingga dizalimi.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. https://kalemtayeb.com/safahat/item/3146 https://kalemtayeb.com/safahat/item/3193 — Diselesaikan di #Dasinem Pogung Dalangan, 5 Syaban 1440 H (11 April 2019, Kamis sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdoa agar tidak malas doa lunas utang kumpulan doa riyadhus sholihin solusi utang riba utang piutag

Doa Agar Tidak Malas dan Terbebas dari Lilitan Utang

Doa ini bagus diamalkan karena akan menjauhkan kita dari sifat-sifat jelek, yaitu sifat malas dalam ibadah dan kelemahan, serta pengecut. Juga berisi meminta perlindungan dari Allah agar tidak dizalimi dan dijauhkan dari utang yang berat.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa), Bab 250. Keutamaan Doa Hadits #1474 وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُوْلُ : اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ ، وَالكَسَلِ ، وَالجُبْنِ ، والهَرَمِ ، والبُخْلِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ وَفِي رِوَايَةٍ : وَضَلَعِ الدَّيْنِ ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ALLOHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL ‘AJZI, WAL KASALI, WAL JUBNI, WAL HAROMI, WAL BUKHLI, WA A’UDZU BIKA MIN ‘ADZABIL QOBRI, WA A’UDZU BIKA MIN FITNATIL MAHYAA WAL MAMAAT (artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, sifat malas, sifat pengecut, kepikunan, kekikiran, dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian).” Dalam riwayat lain disebutkan, “DHOLA’ID DAIN WA GHALABATIR RIJAAL (Lilitan utang dan laki-laki yang menindas).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6367 dan Muslim, no. 2706]   Keterangan Doa   Al-‘ajz: kelemahan di mana seorang hamba tidak bisa melakukan kebaikan karena ketidakmampuan dan tidak adanya kekuatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan dari hal ini dikarena sifat ‘ajz akan menghalangi seseorang dalam menunaikan kewajiban agama atau perkara dunia. Allah Ta’alatelah mencela orang yang ‘aajiz (lemah) dalam kitabnya, ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا عَبْدًا مَمْلُوكًا لَا يَقْدِرُ عَلَىٰ شَيْء “Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatu pun.” (QS. An-Nahl: 75) Al-kasl: kemalasan di mana seorang hamba tidak bisa melakukan kebaikan padahal dalam keadaan punya kemampuan. Sifat ini adalah sifat tercela karena menjadikannya berat pada sesuatu yang seharusnya tidak sulit ia kerjakan, akhirnya ia tidak punya semangat melakukan kebaikan. Dari sifat al-kasl, seseorang akhirnya melalaikan hal-hal yang bermanfaat terkait dunia dan akhiratnya. Allah Ta’ala telah mencela orang-orang munafik dengan sifat malasnya, وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ “Dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas.” (QS. At-Taubah: 54) Al-bukhl: pelit, di mana menghalangi seseorang dari berinfak terkait dengan kewajiban harta, seperti zakat, nafkah untuk keluarga, sampai pada melayani tamu. Ada juga terkait dengan kewajiban berupa ucapan seperti perintah bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perintah menjawab salam. Al-jubn: takut ketika perang dan takut berjihad di jalan Allah. Juga bisa maknanya, takut dalam menyuarakan kebenaran dalam amar makruf nahi mungkar, atau takut ketika berjuang melawan setan dan hawa nafsu. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly hafizhahullah dalam Bahjah An-Nazhirin (2:452) menyatakan bahwa al-jubn adalah enggan berbuat baik terkait dengan badan, sedangkan al-bukhl adalah enggan berbuat baik terkait dengan harta. Al-harom: usia senja yang kembali lagi pada ardzalil ‘umur (usia yang hina). Keadaan ketika usia senja itu kekuatan sudah menurun, berpikir sudah semakin sulit (pikun), dan keadaan fisik lainnya yang semuanya membuat berat untuk beraktivitas. Keadaan al-harom ini kembali lagi seperti bocah ketika masih berada dalam gendongan. Semoga kita terlindung dari keadaan tua yang seperti ini. Fitnah hidup dan mati: Ibnu Daqi Al-‘Ied mengatakan, “Fitnah kehidupan adalah fitnah yang dihadapi manusia semasa ia hidup yaitu berupa fitnah-fitnah dunia (harta), fitnah syahwat, kebodohan dan yang paling besar dari itu semua –semoga Allah melindungi kita darinya- yaitu cobaan di ujung akhir menjelang kematian. Sedangkan fitnah kematian  yang dimaksud adalah fitnah ketika mati. Fitnah kehidupan bisa kita maksudkan pada segala fitnah yang ada sebelum kematian. Boleh jadi fitnah kematian juga bermakna fitnah (cobaan) di kubur.” Lihat ‘Aun Al-Ma’bud, 3:95. Dhola’id dain: sulitnya utang. Gholabatir rijaal: dikuasai dan dizalimi, dan ditindas tanpa jalan yang benar. Akibatnya, seseorang kendur dalam melakukan ketaatan dan ibadah. Karena diperlakukan seperti ini akhirnya timbul kebencian.   Faedah Hadits   Selama Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menjadi pembantu Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, ia paling sering mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa ini. (HR. Bukhari, no. 6363) Bisa saja al-‘ajz (kelemahan) itu hasil dari al-kasl (kemalasan). Karena banyak yang malas pada sesuatu padahal dia mampu melakukannya, akhirnya ia makin lemah keinginannya, akhirnya ia dapati al-‘ajz (lemah untuk berbuat). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan dari sifat malas dengan harta (al-bukhl) dan sifat malas dengan badan (al-kasl). Penetapan adanya azab atau siksa kubur. Menindas di sini ada dua: menindas hak hingga berat dalam utang, dan menindas dengan kebatilan hingga dizalimi.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. https://kalemtayeb.com/safahat/item/3146 https://kalemtayeb.com/safahat/item/3193 — Diselesaikan di #Dasinem Pogung Dalangan, 5 Syaban 1440 H (11 April 2019, Kamis sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdoa agar tidak malas doa lunas utang kumpulan doa riyadhus sholihin solusi utang riba utang piutag
Doa ini bagus diamalkan karena akan menjauhkan kita dari sifat-sifat jelek, yaitu sifat malas dalam ibadah dan kelemahan, serta pengecut. Juga berisi meminta perlindungan dari Allah agar tidak dizalimi dan dijauhkan dari utang yang berat.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa), Bab 250. Keutamaan Doa Hadits #1474 وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُوْلُ : اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ ، وَالكَسَلِ ، وَالجُبْنِ ، والهَرَمِ ، والبُخْلِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ وَفِي رِوَايَةٍ : وَضَلَعِ الدَّيْنِ ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ALLOHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL ‘AJZI, WAL KASALI, WAL JUBNI, WAL HAROMI, WAL BUKHLI, WA A’UDZU BIKA MIN ‘ADZABIL QOBRI, WA A’UDZU BIKA MIN FITNATIL MAHYAA WAL MAMAAT (artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, sifat malas, sifat pengecut, kepikunan, kekikiran, dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian).” Dalam riwayat lain disebutkan, “DHOLA’ID DAIN WA GHALABATIR RIJAAL (Lilitan utang dan laki-laki yang menindas).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6367 dan Muslim, no. 2706]   Keterangan Doa   Al-‘ajz: kelemahan di mana seorang hamba tidak bisa melakukan kebaikan karena ketidakmampuan dan tidak adanya kekuatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan dari hal ini dikarena sifat ‘ajz akan menghalangi seseorang dalam menunaikan kewajiban agama atau perkara dunia. Allah Ta’alatelah mencela orang yang ‘aajiz (lemah) dalam kitabnya, ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا عَبْدًا مَمْلُوكًا لَا يَقْدِرُ عَلَىٰ شَيْء “Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatu pun.” (QS. An-Nahl: 75) Al-kasl: kemalasan di mana seorang hamba tidak bisa melakukan kebaikan padahal dalam keadaan punya kemampuan. Sifat ini adalah sifat tercela karena menjadikannya berat pada sesuatu yang seharusnya tidak sulit ia kerjakan, akhirnya ia tidak punya semangat melakukan kebaikan. Dari sifat al-kasl, seseorang akhirnya melalaikan hal-hal yang bermanfaat terkait dunia dan akhiratnya. Allah Ta’ala telah mencela orang-orang munafik dengan sifat malasnya, وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ “Dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas.” (QS. At-Taubah: 54) Al-bukhl: pelit, di mana menghalangi seseorang dari berinfak terkait dengan kewajiban harta, seperti zakat, nafkah untuk keluarga, sampai pada melayani tamu. Ada juga terkait dengan kewajiban berupa ucapan seperti perintah bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perintah menjawab salam. Al-jubn: takut ketika perang dan takut berjihad di jalan Allah. Juga bisa maknanya, takut dalam menyuarakan kebenaran dalam amar makruf nahi mungkar, atau takut ketika berjuang melawan setan dan hawa nafsu. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly hafizhahullah dalam Bahjah An-Nazhirin (2:452) menyatakan bahwa al-jubn adalah enggan berbuat baik terkait dengan badan, sedangkan al-bukhl adalah enggan berbuat baik terkait dengan harta. Al-harom: usia senja yang kembali lagi pada ardzalil ‘umur (usia yang hina). Keadaan ketika usia senja itu kekuatan sudah menurun, berpikir sudah semakin sulit (pikun), dan keadaan fisik lainnya yang semuanya membuat berat untuk beraktivitas. Keadaan al-harom ini kembali lagi seperti bocah ketika masih berada dalam gendongan. Semoga kita terlindung dari keadaan tua yang seperti ini. Fitnah hidup dan mati: Ibnu Daqi Al-‘Ied mengatakan, “Fitnah kehidupan adalah fitnah yang dihadapi manusia semasa ia hidup yaitu berupa fitnah-fitnah dunia (harta), fitnah syahwat, kebodohan dan yang paling besar dari itu semua –semoga Allah melindungi kita darinya- yaitu cobaan di ujung akhir menjelang kematian. Sedangkan fitnah kematian  yang dimaksud adalah fitnah ketika mati. Fitnah kehidupan bisa kita maksudkan pada segala fitnah yang ada sebelum kematian. Boleh jadi fitnah kematian juga bermakna fitnah (cobaan) di kubur.” Lihat ‘Aun Al-Ma’bud, 3:95. Dhola’id dain: sulitnya utang. Gholabatir rijaal: dikuasai dan dizalimi, dan ditindas tanpa jalan yang benar. Akibatnya, seseorang kendur dalam melakukan ketaatan dan ibadah. Karena diperlakukan seperti ini akhirnya timbul kebencian.   Faedah Hadits   Selama Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menjadi pembantu Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, ia paling sering mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa ini. (HR. Bukhari, no. 6363) Bisa saja al-‘ajz (kelemahan) itu hasil dari al-kasl (kemalasan). Karena banyak yang malas pada sesuatu padahal dia mampu melakukannya, akhirnya ia makin lemah keinginannya, akhirnya ia dapati al-‘ajz (lemah untuk berbuat). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan dari sifat malas dengan harta (al-bukhl) dan sifat malas dengan badan (al-kasl). Penetapan adanya azab atau siksa kubur. Menindas di sini ada dua: menindas hak hingga berat dalam utang, dan menindas dengan kebatilan hingga dizalimi.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. https://kalemtayeb.com/safahat/item/3146 https://kalemtayeb.com/safahat/item/3193 — Diselesaikan di #Dasinem Pogung Dalangan, 5 Syaban 1440 H (11 April 2019, Kamis sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdoa agar tidak malas doa lunas utang kumpulan doa riyadhus sholihin solusi utang riba utang piutag


Doa ini bagus diamalkan karena akan menjauhkan kita dari sifat-sifat jelek, yaitu sifat malas dalam ibadah dan kelemahan, serta pengecut. Juga berisi meminta perlindungan dari Allah agar tidak dizalimi dan dijauhkan dari utang yang berat.   Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa), Bab 250. Keutamaan Doa Hadits #1474 وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُوْلُ : اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ ، وَالكَسَلِ ، وَالجُبْنِ ، والهَرَمِ ، والبُخْلِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ وَفِي رِوَايَةٍ : وَضَلَعِ الدَّيْنِ ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ALLOHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL ‘AJZI, WAL KASALI, WAL JUBNI, WAL HAROMI, WAL BUKHLI, WA A’UDZU BIKA MIN ‘ADZABIL QOBRI, WA A’UDZU BIKA MIN FITNATIL MAHYAA WAL MAMAAT (artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, sifat malas, sifat pengecut, kepikunan, kekikiran, dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian).” Dalam riwayat lain disebutkan, “DHOLA’ID DAIN WA GHALABATIR RIJAAL (Lilitan utang dan laki-laki yang menindas).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6367 dan Muslim, no. 2706]   Keterangan Doa   Al-‘ajz: kelemahan di mana seorang hamba tidak bisa melakukan kebaikan karena ketidakmampuan dan tidak adanya kekuatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan dari hal ini dikarena sifat ‘ajz akan menghalangi seseorang dalam menunaikan kewajiban agama atau perkara dunia. Allah Ta’alatelah mencela orang yang ‘aajiz (lemah) dalam kitabnya, ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا عَبْدًا مَمْلُوكًا لَا يَقْدِرُ عَلَىٰ شَيْء “Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatu pun.” (QS. An-Nahl: 75) Al-kasl: kemalasan di mana seorang hamba tidak bisa melakukan kebaikan padahal dalam keadaan punya kemampuan. Sifat ini adalah sifat tercela karena menjadikannya berat pada sesuatu yang seharusnya tidak sulit ia kerjakan, akhirnya ia tidak punya semangat melakukan kebaikan. Dari sifat al-kasl, seseorang akhirnya melalaikan hal-hal yang bermanfaat terkait dunia dan akhiratnya. Allah Ta’ala telah mencela orang-orang munafik dengan sifat malasnya, وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ “Dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas.” (QS. At-Taubah: 54) Al-bukhl: pelit, di mana menghalangi seseorang dari berinfak terkait dengan kewajiban harta, seperti zakat, nafkah untuk keluarga, sampai pada melayani tamu. Ada juga terkait dengan kewajiban berupa ucapan seperti perintah bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perintah menjawab salam. Al-jubn: takut ketika perang dan takut berjihad di jalan Allah. Juga bisa maknanya, takut dalam menyuarakan kebenaran dalam amar makruf nahi mungkar, atau takut ketika berjuang melawan setan dan hawa nafsu. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly hafizhahullah dalam Bahjah An-Nazhirin (2:452) menyatakan bahwa al-jubn adalah enggan berbuat baik terkait dengan badan, sedangkan al-bukhl adalah enggan berbuat baik terkait dengan harta. Al-harom: usia senja yang kembali lagi pada ardzalil ‘umur (usia yang hina). Keadaan ketika usia senja itu kekuatan sudah menurun, berpikir sudah semakin sulit (pikun), dan keadaan fisik lainnya yang semuanya membuat berat untuk beraktivitas. Keadaan al-harom ini kembali lagi seperti bocah ketika masih berada dalam gendongan. Semoga kita terlindung dari keadaan tua yang seperti ini. Fitnah hidup dan mati: Ibnu Daqi Al-‘Ied mengatakan, “Fitnah kehidupan adalah fitnah yang dihadapi manusia semasa ia hidup yaitu berupa fitnah-fitnah dunia (harta), fitnah syahwat, kebodohan dan yang paling besar dari itu semua –semoga Allah melindungi kita darinya- yaitu cobaan di ujung akhir menjelang kematian. Sedangkan fitnah kematian  yang dimaksud adalah fitnah ketika mati. Fitnah kehidupan bisa kita maksudkan pada segala fitnah yang ada sebelum kematian. Boleh jadi fitnah kematian juga bermakna fitnah (cobaan) di kubur.” Lihat ‘Aun Al-Ma’bud, 3:95. Dhola’id dain: sulitnya utang. Gholabatir rijaal: dikuasai dan dizalimi, dan ditindas tanpa jalan yang benar. Akibatnya, seseorang kendur dalam melakukan ketaatan dan ibadah. Karena diperlakukan seperti ini akhirnya timbul kebencian.   Faedah Hadits   Selama Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menjadi pembantu Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, ia paling sering mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa ini. (HR. Bukhari, no. 6363) Bisa saja al-‘ajz (kelemahan) itu hasil dari al-kasl (kemalasan). Karena banyak yang malas pada sesuatu padahal dia mampu melakukannya, akhirnya ia makin lemah keinginannya, akhirnya ia dapati al-‘ajz (lemah untuk berbuat). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan dari sifat malas dengan harta (al-bukhl) dan sifat malas dengan badan (al-kasl). Penetapan adanya azab atau siksa kubur. Menindas di sini ada dua: menindas hak hingga berat dalam utang, dan menindas dengan kebatilan hingga dizalimi.   Referensi: Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. https://kalemtayeb.com/safahat/item/3146 https://kalemtayeb.com/safahat/item/3193 — Diselesaikan di #Dasinem Pogung Dalangan, 5 Syaban 1440 H (11 April 2019, Kamis sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsdoa agar tidak malas doa lunas utang kumpulan doa riyadhus sholihin solusi utang riba utang piutag

Faedah Surat Yasin: Pelajaran Penting dan Keutamaan Membaca Surat Yasin

Kali ini kita bisa gali pelajaran dari surat Yasin, apa saja inti pelajarannya dan adakah keutamaan surat Yasin dibaca untuk orang mati.   Pelajaran Penting dari Surat Yasin   Pertama: Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi, Allah mengutusnya dengan agama yang benar, beliau berada di atas jalan yang lurus. Kedua: Islam itu jalan yang jelas dan lurus. Mengikuti selain Islam yang murni berarti dianggap menyimpang dan dianggap terpecah belah. Ketiga: Penentangan terhadap ajaran yang benar, menjadikan seseorang sulit melakukan kebaikan dan menerima kebenaran. Keempat: Allah menghitung rinci yang besar maupun yang kecil pada apa yang kita lakukan ketika hidup di dunia. Kelima: Al-Qur’an Al-Karim adalah jalan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wajib diikuti. Keenam: Wajib menyampaikan dakwah yang benar selama dibutuhkan. Ketujuh: Kebahagiaan untuk mukmin ketika meninggal dunia, lebih-lebih yang mati syahid akan benar-benar melihat surga dengan nyata. Kedelapan: Hendaklah kita mengambil pelajaran dari orang-orang terdahulu. Kesembilan: Wajib beriman kepada hari berbangkit dan hari pembalasan, ini akan lebih menyemangati dalam melakukan kebaikan dan menjauhi larangan Allah. Kesepuluh: Allah Ta’ala memberikan kita nikmat untuk disyukuri, dan hendaklah nikmat tersebut dimanfaatkan untuk ketaatan kepada Allah. Kesebelas: Setan itu diingatkan sebagai musuh manusia. Keduabelas: Manusia akan dibangkitkan dan akan dihisab, dan itu mudah dilakukan oleh Allah.   Keutamaan Membaca Surat Yasin bagi Orang Mati   Ada hadits yang menyebutkan sebagai berikut, عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « اقْرَءُوا (يس) عَلَى مَوْتَاكُمْ». Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Bacakanlah surat Yasin pada orang yang hampir mati di antara kalian.” (HR. Abu Daud, no. 3121; Ibnu Majah, no. 1448; An-Nasa’i dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 1074. Kata Ibnu Hajar dalam Bulugh Al-Maram, no. 538, hadits ini dianggap shahih oleh Ibnu Hibban).   Penilaian Hadits   Hadits ini memiliki dua alasan dhaif: Hadits ini mengalami idhthirab dalam sanad. Hadits ini diriwayatkan dari Abu ‘Utsman, dari bapaknya, dari Ma’qil secara marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Ada pula riwayat yang menyebutkan dari Abu ‘Utsman, dari Ma’qil secara marfu’, tanpa menyebut bapak dari Abu ‘Utsman. Juga ada riwayat yang menyebut dari seseorang (tanpa menyebut nama), dari bapaknya, dari Ma’qil secara marfu’. Ada juga riwayat dari Ma’qil secara mawquf (hanya sampai pada sahabat Nabi saja, artinya jadi perkataan Ma’qil). Sebagaimana disebutkan oleh Imam Adz-Dzahabi dalam Mizan Al-I’tidal fii Naqd Ar-Rijal, Abu ‘Utsman dan bapaknya adalah perawi majhul (tidak dikenal) yang tidak diketahui siapa mereka. Namun perlu dipahami, Abu ‘Utsman yang dimaksud di atas bukanlah Abu ‘Utsman An-Nahdi. Karena Sulaiman At-Taimi biasa memiliki riwayat dari Abu ‘Utsman An-Nahdi, nama aslinya adalah ‘Abdurrahman bin Mall. Abu ‘Utsman An-Nahdi di sini kredibel, seorang yang terpercaya dan seorang ahli ibadah sebagaimana disebutkan dalam At-Taqrib. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam At-Talkhish(2:110) menukil dari Ibnul ‘Arabi, dari Ad-Daruquthni, ia berkata, “Sanad hadits ini dhaif, matannya majhul (tidak diketahui). Tidak ada hadits yang shahih dalam bab ini sama sekali.” (Lihat Minhah Al-‘Allam, 4:241-242) Al-Hafizh Abu Thahir dalam Tahqiq sunan Abu Daud juga mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif. Dari kesimpulan hadits di atas, berarti pembacaan surat Yasin untuk orang yang akan mati tidaklah disyari’atkan karena hadits tersebut dhaif.   Yang Sesuai Tuntunan   Sebenarnya sudah cukup dengan mentalqinkan orang yang akan meninggal dunia dengan kalimat laa ilaha illallah sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ “Ingatkanlah (talqinkanlah) pada orang yang akan meninggal dunia di antara kalian dengan kalimat laa ilaha illallah (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah).” (HR. Muslim, 916, dari Abu Sa’id Al-Khudri; no. 917, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu). Kata Imam Nawawi, yang dimaksud di sini adalah ingatkanlah pada orang yang akan mati di antara kita dengan kalimat laa ilaha illallah agar menjadi akhir kalimatnya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ “Siapa yang akhir perkataannya adalah kalimat laa ilaha illallah, maka ia akan masuk surga.”  (HR. Abu Daud, no. 3116; Ahmad, 5: 247. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Imam Nawawi menyebutkan bahwa perintah talqin di sini adalah sunnah (anjuran). Para ulama sepakat bahwa talqin ini dituntunkan. Para ulama memakruhkan untuk talqin ini diperbanyak dan dibaca terus menerus secara berturut-turut. Biar orang yang ditalqinkan tadi tidaklah bosan, apalagi karena menghadapi sakratul maut begitu berat. Dimakruhkan jika laa ilaha illallah itu hanya ada di hati dan dimakruhkan pula ketika keadaan sakratul maut seperti berbicara yang tidak pantas. Para ulama berkata, jika sudah ditalqin lalu ia mengucapkan laa ilaha illallah sekali, maka jangan diulang lagi kecuali kalau yang akan meninggal dunia tersebut mengucapkan kata-kata lain. Kalau ia mengucapkan kalimat lain, maka talqin laa ilaha illallah tersebut diulang supaya menjadi akhir perkataannya. (Syarh Shahih Muslim, 6:197) Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. At-Tafsir Al-Mawdhu’i li Suwar Al-Qur’an Al-Karim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Musyrif: Prof. Dr. Musthafa Muslim. Penerbit University of Sharjah. Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Taisir Musthalah Al-Hadits. Cetakan kesepuluh, tahun 1425 H. Dr. Mahmud Ath-Thahan. Penerbit Maktabah Al-Ma’arif. — Diselesaikan di #darushsholihin, 4 Syaban 1440 H (10 April 2019, Rabu sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsfaedah surat yasin selamatan kematian surat yasin tafsir surat yasin

Faedah Surat Yasin: Pelajaran Penting dan Keutamaan Membaca Surat Yasin

Kali ini kita bisa gali pelajaran dari surat Yasin, apa saja inti pelajarannya dan adakah keutamaan surat Yasin dibaca untuk orang mati.   Pelajaran Penting dari Surat Yasin   Pertama: Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi, Allah mengutusnya dengan agama yang benar, beliau berada di atas jalan yang lurus. Kedua: Islam itu jalan yang jelas dan lurus. Mengikuti selain Islam yang murni berarti dianggap menyimpang dan dianggap terpecah belah. Ketiga: Penentangan terhadap ajaran yang benar, menjadikan seseorang sulit melakukan kebaikan dan menerima kebenaran. Keempat: Allah menghitung rinci yang besar maupun yang kecil pada apa yang kita lakukan ketika hidup di dunia. Kelima: Al-Qur’an Al-Karim adalah jalan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wajib diikuti. Keenam: Wajib menyampaikan dakwah yang benar selama dibutuhkan. Ketujuh: Kebahagiaan untuk mukmin ketika meninggal dunia, lebih-lebih yang mati syahid akan benar-benar melihat surga dengan nyata. Kedelapan: Hendaklah kita mengambil pelajaran dari orang-orang terdahulu. Kesembilan: Wajib beriman kepada hari berbangkit dan hari pembalasan, ini akan lebih menyemangati dalam melakukan kebaikan dan menjauhi larangan Allah. Kesepuluh: Allah Ta’ala memberikan kita nikmat untuk disyukuri, dan hendaklah nikmat tersebut dimanfaatkan untuk ketaatan kepada Allah. Kesebelas: Setan itu diingatkan sebagai musuh manusia. Keduabelas: Manusia akan dibangkitkan dan akan dihisab, dan itu mudah dilakukan oleh Allah.   Keutamaan Membaca Surat Yasin bagi Orang Mati   Ada hadits yang menyebutkan sebagai berikut, عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « اقْرَءُوا (يس) عَلَى مَوْتَاكُمْ». Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Bacakanlah surat Yasin pada orang yang hampir mati di antara kalian.” (HR. Abu Daud, no. 3121; Ibnu Majah, no. 1448; An-Nasa’i dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 1074. Kata Ibnu Hajar dalam Bulugh Al-Maram, no. 538, hadits ini dianggap shahih oleh Ibnu Hibban).   Penilaian Hadits   Hadits ini memiliki dua alasan dhaif: Hadits ini mengalami idhthirab dalam sanad. Hadits ini diriwayatkan dari Abu ‘Utsman, dari bapaknya, dari Ma’qil secara marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Ada pula riwayat yang menyebutkan dari Abu ‘Utsman, dari Ma’qil secara marfu’, tanpa menyebut bapak dari Abu ‘Utsman. Juga ada riwayat yang menyebut dari seseorang (tanpa menyebut nama), dari bapaknya, dari Ma’qil secara marfu’. Ada juga riwayat dari Ma’qil secara mawquf (hanya sampai pada sahabat Nabi saja, artinya jadi perkataan Ma’qil). Sebagaimana disebutkan oleh Imam Adz-Dzahabi dalam Mizan Al-I’tidal fii Naqd Ar-Rijal, Abu ‘Utsman dan bapaknya adalah perawi majhul (tidak dikenal) yang tidak diketahui siapa mereka. Namun perlu dipahami, Abu ‘Utsman yang dimaksud di atas bukanlah Abu ‘Utsman An-Nahdi. Karena Sulaiman At-Taimi biasa memiliki riwayat dari Abu ‘Utsman An-Nahdi, nama aslinya adalah ‘Abdurrahman bin Mall. Abu ‘Utsman An-Nahdi di sini kredibel, seorang yang terpercaya dan seorang ahli ibadah sebagaimana disebutkan dalam At-Taqrib. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam At-Talkhish(2:110) menukil dari Ibnul ‘Arabi, dari Ad-Daruquthni, ia berkata, “Sanad hadits ini dhaif, matannya majhul (tidak diketahui). Tidak ada hadits yang shahih dalam bab ini sama sekali.” (Lihat Minhah Al-‘Allam, 4:241-242) Al-Hafizh Abu Thahir dalam Tahqiq sunan Abu Daud juga mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif. Dari kesimpulan hadits di atas, berarti pembacaan surat Yasin untuk orang yang akan mati tidaklah disyari’atkan karena hadits tersebut dhaif.   Yang Sesuai Tuntunan   Sebenarnya sudah cukup dengan mentalqinkan orang yang akan meninggal dunia dengan kalimat laa ilaha illallah sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ “Ingatkanlah (talqinkanlah) pada orang yang akan meninggal dunia di antara kalian dengan kalimat laa ilaha illallah (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah).” (HR. Muslim, 916, dari Abu Sa’id Al-Khudri; no. 917, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu). Kata Imam Nawawi, yang dimaksud di sini adalah ingatkanlah pada orang yang akan mati di antara kita dengan kalimat laa ilaha illallah agar menjadi akhir kalimatnya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ “Siapa yang akhir perkataannya adalah kalimat laa ilaha illallah, maka ia akan masuk surga.”  (HR. Abu Daud, no. 3116; Ahmad, 5: 247. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Imam Nawawi menyebutkan bahwa perintah talqin di sini adalah sunnah (anjuran). Para ulama sepakat bahwa talqin ini dituntunkan. Para ulama memakruhkan untuk talqin ini diperbanyak dan dibaca terus menerus secara berturut-turut. Biar orang yang ditalqinkan tadi tidaklah bosan, apalagi karena menghadapi sakratul maut begitu berat. Dimakruhkan jika laa ilaha illallah itu hanya ada di hati dan dimakruhkan pula ketika keadaan sakratul maut seperti berbicara yang tidak pantas. Para ulama berkata, jika sudah ditalqin lalu ia mengucapkan laa ilaha illallah sekali, maka jangan diulang lagi kecuali kalau yang akan meninggal dunia tersebut mengucapkan kata-kata lain. Kalau ia mengucapkan kalimat lain, maka talqin laa ilaha illallah tersebut diulang supaya menjadi akhir perkataannya. (Syarh Shahih Muslim, 6:197) Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. At-Tafsir Al-Mawdhu’i li Suwar Al-Qur’an Al-Karim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Musyrif: Prof. Dr. Musthafa Muslim. Penerbit University of Sharjah. Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Taisir Musthalah Al-Hadits. Cetakan kesepuluh, tahun 1425 H. Dr. Mahmud Ath-Thahan. Penerbit Maktabah Al-Ma’arif. — Diselesaikan di #darushsholihin, 4 Syaban 1440 H (10 April 2019, Rabu sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsfaedah surat yasin selamatan kematian surat yasin tafsir surat yasin
Kali ini kita bisa gali pelajaran dari surat Yasin, apa saja inti pelajarannya dan adakah keutamaan surat Yasin dibaca untuk orang mati.   Pelajaran Penting dari Surat Yasin   Pertama: Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi, Allah mengutusnya dengan agama yang benar, beliau berada di atas jalan yang lurus. Kedua: Islam itu jalan yang jelas dan lurus. Mengikuti selain Islam yang murni berarti dianggap menyimpang dan dianggap terpecah belah. Ketiga: Penentangan terhadap ajaran yang benar, menjadikan seseorang sulit melakukan kebaikan dan menerima kebenaran. Keempat: Allah menghitung rinci yang besar maupun yang kecil pada apa yang kita lakukan ketika hidup di dunia. Kelima: Al-Qur’an Al-Karim adalah jalan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wajib diikuti. Keenam: Wajib menyampaikan dakwah yang benar selama dibutuhkan. Ketujuh: Kebahagiaan untuk mukmin ketika meninggal dunia, lebih-lebih yang mati syahid akan benar-benar melihat surga dengan nyata. Kedelapan: Hendaklah kita mengambil pelajaran dari orang-orang terdahulu. Kesembilan: Wajib beriman kepada hari berbangkit dan hari pembalasan, ini akan lebih menyemangati dalam melakukan kebaikan dan menjauhi larangan Allah. Kesepuluh: Allah Ta’ala memberikan kita nikmat untuk disyukuri, dan hendaklah nikmat tersebut dimanfaatkan untuk ketaatan kepada Allah. Kesebelas: Setan itu diingatkan sebagai musuh manusia. Keduabelas: Manusia akan dibangkitkan dan akan dihisab, dan itu mudah dilakukan oleh Allah.   Keutamaan Membaca Surat Yasin bagi Orang Mati   Ada hadits yang menyebutkan sebagai berikut, عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « اقْرَءُوا (يس) عَلَى مَوْتَاكُمْ». Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Bacakanlah surat Yasin pada orang yang hampir mati di antara kalian.” (HR. Abu Daud, no. 3121; Ibnu Majah, no. 1448; An-Nasa’i dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 1074. Kata Ibnu Hajar dalam Bulugh Al-Maram, no. 538, hadits ini dianggap shahih oleh Ibnu Hibban).   Penilaian Hadits   Hadits ini memiliki dua alasan dhaif: Hadits ini mengalami idhthirab dalam sanad. Hadits ini diriwayatkan dari Abu ‘Utsman, dari bapaknya, dari Ma’qil secara marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Ada pula riwayat yang menyebutkan dari Abu ‘Utsman, dari Ma’qil secara marfu’, tanpa menyebut bapak dari Abu ‘Utsman. Juga ada riwayat yang menyebut dari seseorang (tanpa menyebut nama), dari bapaknya, dari Ma’qil secara marfu’. Ada juga riwayat dari Ma’qil secara mawquf (hanya sampai pada sahabat Nabi saja, artinya jadi perkataan Ma’qil). Sebagaimana disebutkan oleh Imam Adz-Dzahabi dalam Mizan Al-I’tidal fii Naqd Ar-Rijal, Abu ‘Utsman dan bapaknya adalah perawi majhul (tidak dikenal) yang tidak diketahui siapa mereka. Namun perlu dipahami, Abu ‘Utsman yang dimaksud di atas bukanlah Abu ‘Utsman An-Nahdi. Karena Sulaiman At-Taimi biasa memiliki riwayat dari Abu ‘Utsman An-Nahdi, nama aslinya adalah ‘Abdurrahman bin Mall. Abu ‘Utsman An-Nahdi di sini kredibel, seorang yang terpercaya dan seorang ahli ibadah sebagaimana disebutkan dalam At-Taqrib. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam At-Talkhish(2:110) menukil dari Ibnul ‘Arabi, dari Ad-Daruquthni, ia berkata, “Sanad hadits ini dhaif, matannya majhul (tidak diketahui). Tidak ada hadits yang shahih dalam bab ini sama sekali.” (Lihat Minhah Al-‘Allam, 4:241-242) Al-Hafizh Abu Thahir dalam Tahqiq sunan Abu Daud juga mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif. Dari kesimpulan hadits di atas, berarti pembacaan surat Yasin untuk orang yang akan mati tidaklah disyari’atkan karena hadits tersebut dhaif.   Yang Sesuai Tuntunan   Sebenarnya sudah cukup dengan mentalqinkan orang yang akan meninggal dunia dengan kalimat laa ilaha illallah sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ “Ingatkanlah (talqinkanlah) pada orang yang akan meninggal dunia di antara kalian dengan kalimat laa ilaha illallah (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah).” (HR. Muslim, 916, dari Abu Sa’id Al-Khudri; no. 917, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu). Kata Imam Nawawi, yang dimaksud di sini adalah ingatkanlah pada orang yang akan mati di antara kita dengan kalimat laa ilaha illallah agar menjadi akhir kalimatnya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ “Siapa yang akhir perkataannya adalah kalimat laa ilaha illallah, maka ia akan masuk surga.”  (HR. Abu Daud, no. 3116; Ahmad, 5: 247. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Imam Nawawi menyebutkan bahwa perintah talqin di sini adalah sunnah (anjuran). Para ulama sepakat bahwa talqin ini dituntunkan. Para ulama memakruhkan untuk talqin ini diperbanyak dan dibaca terus menerus secara berturut-turut. Biar orang yang ditalqinkan tadi tidaklah bosan, apalagi karena menghadapi sakratul maut begitu berat. Dimakruhkan jika laa ilaha illallah itu hanya ada di hati dan dimakruhkan pula ketika keadaan sakratul maut seperti berbicara yang tidak pantas. Para ulama berkata, jika sudah ditalqin lalu ia mengucapkan laa ilaha illallah sekali, maka jangan diulang lagi kecuali kalau yang akan meninggal dunia tersebut mengucapkan kata-kata lain. Kalau ia mengucapkan kalimat lain, maka talqin laa ilaha illallah tersebut diulang supaya menjadi akhir perkataannya. (Syarh Shahih Muslim, 6:197) Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. At-Tafsir Al-Mawdhu’i li Suwar Al-Qur’an Al-Karim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Musyrif: Prof. Dr. Musthafa Muslim. Penerbit University of Sharjah. Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Taisir Musthalah Al-Hadits. Cetakan kesepuluh, tahun 1425 H. Dr. Mahmud Ath-Thahan. Penerbit Maktabah Al-Ma’arif. — Diselesaikan di #darushsholihin, 4 Syaban 1440 H (10 April 2019, Rabu sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsfaedah surat yasin selamatan kematian surat yasin tafsir surat yasin


Kali ini kita bisa gali pelajaran dari surat Yasin, apa saja inti pelajarannya dan adakah keutamaan surat Yasin dibaca untuk orang mati.   Pelajaran Penting dari Surat Yasin   Pertama: Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi, Allah mengutusnya dengan agama yang benar, beliau berada di atas jalan yang lurus. Kedua: Islam itu jalan yang jelas dan lurus. Mengikuti selain Islam yang murni berarti dianggap menyimpang dan dianggap terpecah belah. Ketiga: Penentangan terhadap ajaran yang benar, menjadikan seseorang sulit melakukan kebaikan dan menerima kebenaran. Keempat: Allah menghitung rinci yang besar maupun yang kecil pada apa yang kita lakukan ketika hidup di dunia. Kelima: Al-Qur’an Al-Karim adalah jalan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wajib diikuti. Keenam: Wajib menyampaikan dakwah yang benar selama dibutuhkan. Ketujuh: Kebahagiaan untuk mukmin ketika meninggal dunia, lebih-lebih yang mati syahid akan benar-benar melihat surga dengan nyata. Kedelapan: Hendaklah kita mengambil pelajaran dari orang-orang terdahulu. Kesembilan: Wajib beriman kepada hari berbangkit dan hari pembalasan, ini akan lebih menyemangati dalam melakukan kebaikan dan menjauhi larangan Allah. Kesepuluh: Allah Ta’ala memberikan kita nikmat untuk disyukuri, dan hendaklah nikmat tersebut dimanfaatkan untuk ketaatan kepada Allah. Kesebelas: Setan itu diingatkan sebagai musuh manusia. Keduabelas: Manusia akan dibangkitkan dan akan dihisab, dan itu mudah dilakukan oleh Allah.   Keutamaan Membaca Surat Yasin bagi Orang Mati   Ada hadits yang menyebutkan sebagai berikut, عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « اقْرَءُوا (يس) عَلَى مَوْتَاكُمْ». Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Bacakanlah surat Yasin pada orang yang hampir mati di antara kalian.” (HR. Abu Daud, no. 3121; Ibnu Majah, no. 1448; An-Nasa’i dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 1074. Kata Ibnu Hajar dalam Bulugh Al-Maram, no. 538, hadits ini dianggap shahih oleh Ibnu Hibban).   Penilaian Hadits   Hadits ini memiliki dua alasan dhaif: Hadits ini mengalami idhthirab dalam sanad. Hadits ini diriwayatkan dari Abu ‘Utsman, dari bapaknya, dari Ma’qil secara marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Ada pula riwayat yang menyebutkan dari Abu ‘Utsman, dari Ma’qil secara marfu’, tanpa menyebut bapak dari Abu ‘Utsman. Juga ada riwayat yang menyebut dari seseorang (tanpa menyebut nama), dari bapaknya, dari Ma’qil secara marfu’. Ada juga riwayat dari Ma’qil secara mawquf (hanya sampai pada sahabat Nabi saja, artinya jadi perkataan Ma’qil). Sebagaimana disebutkan oleh Imam Adz-Dzahabi dalam Mizan Al-I’tidal fii Naqd Ar-Rijal, Abu ‘Utsman dan bapaknya adalah perawi majhul (tidak dikenal) yang tidak diketahui siapa mereka. Namun perlu dipahami, Abu ‘Utsman yang dimaksud di atas bukanlah Abu ‘Utsman An-Nahdi. Karena Sulaiman At-Taimi biasa memiliki riwayat dari Abu ‘Utsman An-Nahdi, nama aslinya adalah ‘Abdurrahman bin Mall. Abu ‘Utsman An-Nahdi di sini kredibel, seorang yang terpercaya dan seorang ahli ibadah sebagaimana disebutkan dalam At-Taqrib. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam At-Talkhish(2:110) menukil dari Ibnul ‘Arabi, dari Ad-Daruquthni, ia berkata, “Sanad hadits ini dhaif, matannya majhul (tidak diketahui). Tidak ada hadits yang shahih dalam bab ini sama sekali.” (Lihat Minhah Al-‘Allam, 4:241-242) Al-Hafizh Abu Thahir dalam Tahqiq sunan Abu Daud juga mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif. Dari kesimpulan hadits di atas, berarti pembacaan surat Yasin untuk orang yang akan mati tidaklah disyari’atkan karena hadits tersebut dhaif.   Yang Sesuai Tuntunan   Sebenarnya sudah cukup dengan mentalqinkan orang yang akan meninggal dunia dengan kalimat laa ilaha illallah sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ “Ingatkanlah (talqinkanlah) pada orang yang akan meninggal dunia di antara kalian dengan kalimat laa ilaha illallah (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah).” (HR. Muslim, 916, dari Abu Sa’id Al-Khudri; no. 917, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu). Kata Imam Nawawi, yang dimaksud di sini adalah ingatkanlah pada orang yang akan mati di antara kita dengan kalimat laa ilaha illallah agar menjadi akhir kalimatnya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ “Siapa yang akhir perkataannya adalah kalimat laa ilaha illallah, maka ia akan masuk surga.”  (HR. Abu Daud, no. 3116; Ahmad, 5: 247. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Imam Nawawi menyebutkan bahwa perintah talqin di sini adalah sunnah (anjuran). Para ulama sepakat bahwa talqin ini dituntunkan. Para ulama memakruhkan untuk talqin ini diperbanyak dan dibaca terus menerus secara berturut-turut. Biar orang yang ditalqinkan tadi tidaklah bosan, apalagi karena menghadapi sakratul maut begitu berat. Dimakruhkan jika laa ilaha illallah itu hanya ada di hati dan dimakruhkan pula ketika keadaan sakratul maut seperti berbicara yang tidak pantas. Para ulama berkata, jika sudah ditalqin lalu ia mengucapkan laa ilaha illallah sekali, maka jangan diulang lagi kecuali kalau yang akan meninggal dunia tersebut mengucapkan kata-kata lain. Kalau ia mengucapkan kalimat lain, maka talqin laa ilaha illallah tersebut diulang supaya menjadi akhir perkataannya. (Syarh Shahih Muslim, 6:197) Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.   Referensi: Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. At-Tafsir Al-Mawdhu’i li Suwar Al-Qur’an Al-Karim. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Musyrif: Prof. Dr. Musthafa Muslim. Penerbit University of Sharjah. Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Taisir Musthalah Al-Hadits. Cetakan kesepuluh, tahun 1425 H. Dr. Mahmud Ath-Thahan. Penerbit Maktabah Al-Ma’arif. — Diselesaikan di #darushsholihin, 4 Syaban 1440 H (10 April 2019, Rabu sore) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com   Download Tagsfaedah surat yasin selamatan kematian surat yasin tafsir surat yasin

Cara Orang Murtad kembali Masuk Islam

Cara Orang Murtad kembali Masuk Islam Jika ada orang murtad karena mengingkari salah satu kewajiban dalam islam, misalnya tidak mau mengakui bahwa mengerjakan shalat 5 waktu itu wajib, bgmn cara taubatnya? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Pada prinsipnya, cara taubat untuk semua perbuatan maksiat adalah sama. Termasuk perbuatan dosa besar berupa murtad, keluar dari islam. Prinsip taubat dari perbuatan dosa adalah menyesal (an-Nadm), memohon ampun (Istighfar), dan meninggalkan dosa yang pernah dikerjakan (al-Iqla’). Dan jika dosa itu berkaitan dengan hak orang lain, maka dia wajib mengembalikan hak dan meminta kerelaan dari pihak yang didzalimi. Sementara untuk dosa yang menyebabkan seseorang keluar dari islam, maka dia harus mengembalikan dirinya masuk ke dalam islam dengan meng-ikrarkan dua kalimat syahadat. Dalam Zadul Mustaqni’ dinyatakan, وتوبة المرتدِّ – وكل كافر – إسلامُه؛ بأن يشهد أن لا إله إلا الله، وأن محمدًا رسول الله Taubatnya orang yang murtad – dan semua orang kafir – adalah dengan masuk kembali ke dalam agama islam, yaitu dengan meng-ikrarkan dua kalimat syahadat: Asyhadu an-laa ilaaha illallah wa anna Muhammad Rasulullah. Kemudian penulis menjelaskan cara taubat orang yang murtad, jika sebab murtadnya adalah menentang salah satu ajaran islam, maka taubatnya, disamping meng-ikrarkan syahadat adalah meng-ikrarkan bahwa dia telah mengakui syariat itu. Penulis Zadul Mustaqni’ menyatakan, ومَن كفر بجحدِ فرضٍ ونحوه، فتوبته مع الشهادتين إقراره بالمجحودِ به، أو قول: أنا بريء من كلِّ دين يخالف دين الإسلام Siapa yang kafir disebabkan menentang salah satu kewajiban dalam islam atau aturan lainnya, maka taubatnya disamping membaca dua kalimat syahadat adalah melakukan ikrar (pengakuan) menerima syariat yang dia tentang. Atau dia menyatakan, ‘Saya berlepas diri dari semua ajaran yang bertentangan dengan ajaran islam’. (Zadul Mustaqni’, al-Hajawi, hlm. 282) Apakah harus mandi besar? Setelah meng-ikrarkan dua kalimat syahadat, apakah orang murtad yang taubat ini wajib mandi besar? Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada sebagian pendapat yang mewajibkan untuk mandi besar bagi orang kafir atau orang murtad yang kembali masuk islam. Pendapat ini berdalil dengan hadis dari Qais bin Ashim, beliau mengatakan, أَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أُرِيدُ الإِسْلاَمَ فَأَمَرَنِى أَنْ أَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْر Aku mendatangi Nabi ﷺ untuk masuk islam. Lalu beliau memerintahkanku untuk mandi dengan air campur bidara. (HR. Abu Daud 355 dan dishahihkan al-Albani). Dan hukum asal perintah adalah wajib. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Istri Menyuruh Suami Sholat, Rendah Diri Dalam Islam, Cara Mencintai Nabi Muhammad, Tata Cara Shalat Jamak Dan Qasar, Sholat Sunnah Idul Fitri, Shalat Sunnah Fajar Adalah Visited 222 times, 1 visit(s) today Post Views: 280 QRIS donasi Yufid

Cara Orang Murtad kembali Masuk Islam

Cara Orang Murtad kembali Masuk Islam Jika ada orang murtad karena mengingkari salah satu kewajiban dalam islam, misalnya tidak mau mengakui bahwa mengerjakan shalat 5 waktu itu wajib, bgmn cara taubatnya? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Pada prinsipnya, cara taubat untuk semua perbuatan maksiat adalah sama. Termasuk perbuatan dosa besar berupa murtad, keluar dari islam. Prinsip taubat dari perbuatan dosa adalah menyesal (an-Nadm), memohon ampun (Istighfar), dan meninggalkan dosa yang pernah dikerjakan (al-Iqla’). Dan jika dosa itu berkaitan dengan hak orang lain, maka dia wajib mengembalikan hak dan meminta kerelaan dari pihak yang didzalimi. Sementara untuk dosa yang menyebabkan seseorang keluar dari islam, maka dia harus mengembalikan dirinya masuk ke dalam islam dengan meng-ikrarkan dua kalimat syahadat. Dalam Zadul Mustaqni’ dinyatakan, وتوبة المرتدِّ – وكل كافر – إسلامُه؛ بأن يشهد أن لا إله إلا الله، وأن محمدًا رسول الله Taubatnya orang yang murtad – dan semua orang kafir – adalah dengan masuk kembali ke dalam agama islam, yaitu dengan meng-ikrarkan dua kalimat syahadat: Asyhadu an-laa ilaaha illallah wa anna Muhammad Rasulullah. Kemudian penulis menjelaskan cara taubat orang yang murtad, jika sebab murtadnya adalah menentang salah satu ajaran islam, maka taubatnya, disamping meng-ikrarkan syahadat adalah meng-ikrarkan bahwa dia telah mengakui syariat itu. Penulis Zadul Mustaqni’ menyatakan, ومَن كفر بجحدِ فرضٍ ونحوه، فتوبته مع الشهادتين إقراره بالمجحودِ به، أو قول: أنا بريء من كلِّ دين يخالف دين الإسلام Siapa yang kafir disebabkan menentang salah satu kewajiban dalam islam atau aturan lainnya, maka taubatnya disamping membaca dua kalimat syahadat adalah melakukan ikrar (pengakuan) menerima syariat yang dia tentang. Atau dia menyatakan, ‘Saya berlepas diri dari semua ajaran yang bertentangan dengan ajaran islam’. (Zadul Mustaqni’, al-Hajawi, hlm. 282) Apakah harus mandi besar? Setelah meng-ikrarkan dua kalimat syahadat, apakah orang murtad yang taubat ini wajib mandi besar? Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada sebagian pendapat yang mewajibkan untuk mandi besar bagi orang kafir atau orang murtad yang kembali masuk islam. Pendapat ini berdalil dengan hadis dari Qais bin Ashim, beliau mengatakan, أَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أُرِيدُ الإِسْلاَمَ فَأَمَرَنِى أَنْ أَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْر Aku mendatangi Nabi ﷺ untuk masuk islam. Lalu beliau memerintahkanku untuk mandi dengan air campur bidara. (HR. Abu Daud 355 dan dishahihkan al-Albani). Dan hukum asal perintah adalah wajib. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Istri Menyuruh Suami Sholat, Rendah Diri Dalam Islam, Cara Mencintai Nabi Muhammad, Tata Cara Shalat Jamak Dan Qasar, Sholat Sunnah Idul Fitri, Shalat Sunnah Fajar Adalah Visited 222 times, 1 visit(s) today Post Views: 280 QRIS donasi Yufid
Cara Orang Murtad kembali Masuk Islam Jika ada orang murtad karena mengingkari salah satu kewajiban dalam islam, misalnya tidak mau mengakui bahwa mengerjakan shalat 5 waktu itu wajib, bgmn cara taubatnya? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Pada prinsipnya, cara taubat untuk semua perbuatan maksiat adalah sama. Termasuk perbuatan dosa besar berupa murtad, keluar dari islam. Prinsip taubat dari perbuatan dosa adalah menyesal (an-Nadm), memohon ampun (Istighfar), dan meninggalkan dosa yang pernah dikerjakan (al-Iqla’). Dan jika dosa itu berkaitan dengan hak orang lain, maka dia wajib mengembalikan hak dan meminta kerelaan dari pihak yang didzalimi. Sementara untuk dosa yang menyebabkan seseorang keluar dari islam, maka dia harus mengembalikan dirinya masuk ke dalam islam dengan meng-ikrarkan dua kalimat syahadat. Dalam Zadul Mustaqni’ dinyatakan, وتوبة المرتدِّ – وكل كافر – إسلامُه؛ بأن يشهد أن لا إله إلا الله، وأن محمدًا رسول الله Taubatnya orang yang murtad – dan semua orang kafir – adalah dengan masuk kembali ke dalam agama islam, yaitu dengan meng-ikrarkan dua kalimat syahadat: Asyhadu an-laa ilaaha illallah wa anna Muhammad Rasulullah. Kemudian penulis menjelaskan cara taubat orang yang murtad, jika sebab murtadnya adalah menentang salah satu ajaran islam, maka taubatnya, disamping meng-ikrarkan syahadat adalah meng-ikrarkan bahwa dia telah mengakui syariat itu. Penulis Zadul Mustaqni’ menyatakan, ومَن كفر بجحدِ فرضٍ ونحوه، فتوبته مع الشهادتين إقراره بالمجحودِ به، أو قول: أنا بريء من كلِّ دين يخالف دين الإسلام Siapa yang kafir disebabkan menentang salah satu kewajiban dalam islam atau aturan lainnya, maka taubatnya disamping membaca dua kalimat syahadat adalah melakukan ikrar (pengakuan) menerima syariat yang dia tentang. Atau dia menyatakan, ‘Saya berlepas diri dari semua ajaran yang bertentangan dengan ajaran islam’. (Zadul Mustaqni’, al-Hajawi, hlm. 282) Apakah harus mandi besar? Setelah meng-ikrarkan dua kalimat syahadat, apakah orang murtad yang taubat ini wajib mandi besar? Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada sebagian pendapat yang mewajibkan untuk mandi besar bagi orang kafir atau orang murtad yang kembali masuk islam. Pendapat ini berdalil dengan hadis dari Qais bin Ashim, beliau mengatakan, أَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أُرِيدُ الإِسْلاَمَ فَأَمَرَنِى أَنْ أَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْر Aku mendatangi Nabi ﷺ untuk masuk islam. Lalu beliau memerintahkanku untuk mandi dengan air campur bidara. (HR. Abu Daud 355 dan dishahihkan al-Albani). Dan hukum asal perintah adalah wajib. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Istri Menyuruh Suami Sholat, Rendah Diri Dalam Islam, Cara Mencintai Nabi Muhammad, Tata Cara Shalat Jamak Dan Qasar, Sholat Sunnah Idul Fitri, Shalat Sunnah Fajar Adalah Visited 222 times, 1 visit(s) today Post Views: 280 QRIS donasi Yufid


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/630741162&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe> Cara Orang Murtad kembali Masuk Islam Jika ada orang murtad karena mengingkari salah satu kewajiban dalam islam, misalnya tidak mau mengakui bahwa mengerjakan shalat 5 waktu itu wajib, bgmn cara taubatnya? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Pada prinsipnya, cara taubat untuk semua perbuatan maksiat adalah sama. Termasuk perbuatan dosa besar berupa murtad, keluar dari islam. Prinsip taubat dari perbuatan dosa adalah menyesal (an-Nadm), memohon ampun (Istighfar), dan meninggalkan dosa yang pernah dikerjakan (al-Iqla’). Dan jika dosa itu berkaitan dengan hak orang lain, maka dia wajib mengembalikan hak dan meminta kerelaan dari pihak yang didzalimi. Sementara untuk dosa yang menyebabkan seseorang keluar dari islam, maka dia harus mengembalikan dirinya masuk ke dalam islam dengan meng-ikrarkan dua kalimat syahadat. Dalam Zadul Mustaqni’ dinyatakan, وتوبة المرتدِّ – وكل كافر – إسلامُه؛ بأن يشهد أن لا إله إلا الله، وأن محمدًا رسول الله Taubatnya orang yang murtad – dan semua orang kafir – adalah dengan masuk kembali ke dalam agama islam, yaitu dengan meng-ikrarkan dua kalimat syahadat: Asyhadu an-laa ilaaha illallah wa anna Muhammad Rasulullah. Kemudian penulis menjelaskan cara taubat orang yang murtad, jika sebab murtadnya adalah menentang salah satu ajaran islam, maka taubatnya, disamping meng-ikrarkan syahadat adalah meng-ikrarkan bahwa dia telah mengakui syariat itu. Penulis Zadul Mustaqni’ menyatakan, ومَن كفر بجحدِ فرضٍ ونحوه، فتوبته مع الشهادتين إقراره بالمجحودِ به، أو قول: أنا بريء من كلِّ دين يخالف دين الإسلام Siapa yang kafir disebabkan menentang salah satu kewajiban dalam islam atau aturan lainnya, maka taubatnya disamping membaca dua kalimat syahadat adalah melakukan ikrar (pengakuan) menerima syariat yang dia tentang. Atau dia menyatakan, ‘Saya berlepas diri dari semua ajaran yang bertentangan dengan ajaran islam’. (Zadul Mustaqni’, al-Hajawi, hlm. 282) Apakah harus mandi besar? Setelah meng-ikrarkan dua kalimat syahadat, apakah orang murtad yang taubat ini wajib mandi besar? Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada sebagian pendapat yang mewajibkan untuk mandi besar bagi orang kafir atau orang murtad yang kembali masuk islam. Pendapat ini berdalil dengan hadis dari Qais bin Ashim, beliau mengatakan, أَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أُرِيدُ الإِسْلاَمَ فَأَمَرَنِى أَنْ أَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْر Aku mendatangi Nabi ﷺ untuk masuk islam. Lalu beliau memerintahkanku untuk mandi dengan air campur bidara. (HR. Abu Daud 355 dan dishahihkan al-Albani). Dan hukum asal perintah adalah wajib. Demikian, Allahu a’lam. Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Istri Menyuruh Suami Sholat, Rendah Diri Dalam Islam, Cara Mencintai Nabi Muhammad, Tata Cara Shalat Jamak Dan Qasar, Sholat Sunnah Idul Fitri, Shalat Sunnah Fajar Adalah Visited 222 times, 1 visit(s) today Post Views: 280 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />

Matan Abu Syuja: Hari Terlarang Puasa

Apa saja hari terlarang puasa? Ada yang termasuk haram, ada yang termasuk makruh. Coba lihat penjelasan berikut ini.   Disebutkan oleh Abu Syuja’ rahimahullah: وَيَحْرُمُ صِيَامُ خَمْسَةِ أَيَّامٍ : العِيْدَانِ وَأيَاَّمُ التَّشْرِيْقِ الثَّلاَثَةُ وَيُكْرَهُ صَوْمُ يَوْمِ الشَّكِّ إِلاَّ أَنْ يُوَافِقَ عَادَةً لَهُ أَوْ يَصِلَهُ بِمَا قَبْلَهُ Diharamkan berpuasa pada 5 hari: (1, 2) dua hari raya (Idul Fithri dan Idul Adha); (3, 4, 5) hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah). Dimaruhkan berpuasa pada hari meragukan (yaumusy syakk) kecuali jika berpapasan dengan kebiasaan puasanya atau bersambung dengan hari sebelumnya.   Puasa pada hari id: Idul Fithri dan Idul Adha   Larangan berpuasa pada hari tersebut berdasarkan hadits berikut. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ يَوْمِ الأَضْحَى وَيَوْمِ الْفِطْرِ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari puasa pada dua hari: Idul Fithri dan Idul ‘Adha. (HR. Muslim no. 1138). Jika dikatakan dilarang, berarti tidak sah berpuasa pada hari Idul Fithri dan Idul Adha, bahkan inilah yang disepakati (adanya ijmak) dari para ulama. Jadi diharamkan berpuasa pada kedua hari tersebut dan yang melakukannya dinilai berdosa. Karena ibadahnya sendiri termasuk maksiat. Contohnya yang menjalani puasa sunnah, atau puasa wajib seperti puasa nadzar, maka tidak teranggap puasanya atau nadzarnya. Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 253.   Puasa pada hari Tasyrik   Berpuasa pada tiga hari tersebut karena ada larangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan hal ini, عَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ» “Dari Nubaisyah Al-Hudzaliy, ia bersabda bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hari tasyrik adalah hari makan dan minum.” (HR. Muslim, no. 1141). Menurut qaul qadim (pendapat terdahulu) dari Imam Syafi’i masih boleh berpuasa pada tiga hari tasyrik bagi orang yang berhaji tamattu’ dan tidak memiliki hewan untuk disembelih. Sedangkan qaul jadiid (pendapat terbaru), berpuasa pada hari tasyrik tetap terlarang. Jika kita memilih qaul qadim (pendapat terdahulu), itu bukan berarti kita membolehkan untuk orang selain haji tamattu’ untuk puasa saat itu. Bahkan berpuasa saat itu dihukumi haram. Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 253.   Puasa pada hari syakk (meragukan)   Yang dimaksud hari meragukan adalah tanggal 30 Sya’ban. Abu Syuja’ lebih memilih pendapat makruh bagi yang berpuasa di hari meragukan. Namun yang jadi pegangan dalam madzhab Syafi’i, larangan dari berpuasa pada hari syakk adalah larangan haram. ‘Ammar bin Yasir pernah berkata, مَنْ صَامَ يَوْمَ الشَّكِّ فَقَدْ عَصَى أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ “Barangsiapa yang berpuasa pada hari meragukan, maka ia telah mendurhakai Abul Qosim shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Tirmidzi, no. 686; Ibnu Hibban, no. 3596. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih). Kecuali orang yang punya kebiasaan berpuasa, yaitu bertepatan dengan hari puasa Daudnya (sehari puasa, sehari tidak) atau puasa Senin Kamis, maka ia masih boleh melakukan sunnah tersebut. Lihat Al-Iqna’, 1:413. Nantikan buku gratisnya insya Allah akan segera hadir, begitu pula buku versi PDF-nya di web Rumaysho.Com ini. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan syaban hari dimakruhkan puasa hari haram puasa hari terlarang puasa matan abu syuja syaban

Matan Abu Syuja: Hari Terlarang Puasa

Apa saja hari terlarang puasa? Ada yang termasuk haram, ada yang termasuk makruh. Coba lihat penjelasan berikut ini.   Disebutkan oleh Abu Syuja’ rahimahullah: وَيَحْرُمُ صِيَامُ خَمْسَةِ أَيَّامٍ : العِيْدَانِ وَأيَاَّمُ التَّشْرِيْقِ الثَّلاَثَةُ وَيُكْرَهُ صَوْمُ يَوْمِ الشَّكِّ إِلاَّ أَنْ يُوَافِقَ عَادَةً لَهُ أَوْ يَصِلَهُ بِمَا قَبْلَهُ Diharamkan berpuasa pada 5 hari: (1, 2) dua hari raya (Idul Fithri dan Idul Adha); (3, 4, 5) hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah). Dimaruhkan berpuasa pada hari meragukan (yaumusy syakk) kecuali jika berpapasan dengan kebiasaan puasanya atau bersambung dengan hari sebelumnya.   Puasa pada hari id: Idul Fithri dan Idul Adha   Larangan berpuasa pada hari tersebut berdasarkan hadits berikut. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ يَوْمِ الأَضْحَى وَيَوْمِ الْفِطْرِ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari puasa pada dua hari: Idul Fithri dan Idul ‘Adha. (HR. Muslim no. 1138). Jika dikatakan dilarang, berarti tidak sah berpuasa pada hari Idul Fithri dan Idul Adha, bahkan inilah yang disepakati (adanya ijmak) dari para ulama. Jadi diharamkan berpuasa pada kedua hari tersebut dan yang melakukannya dinilai berdosa. Karena ibadahnya sendiri termasuk maksiat. Contohnya yang menjalani puasa sunnah, atau puasa wajib seperti puasa nadzar, maka tidak teranggap puasanya atau nadzarnya. Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 253.   Puasa pada hari Tasyrik   Berpuasa pada tiga hari tersebut karena ada larangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan hal ini, عَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ» “Dari Nubaisyah Al-Hudzaliy, ia bersabda bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hari tasyrik adalah hari makan dan minum.” (HR. Muslim, no. 1141). Menurut qaul qadim (pendapat terdahulu) dari Imam Syafi’i masih boleh berpuasa pada tiga hari tasyrik bagi orang yang berhaji tamattu’ dan tidak memiliki hewan untuk disembelih. Sedangkan qaul jadiid (pendapat terbaru), berpuasa pada hari tasyrik tetap terlarang. Jika kita memilih qaul qadim (pendapat terdahulu), itu bukan berarti kita membolehkan untuk orang selain haji tamattu’ untuk puasa saat itu. Bahkan berpuasa saat itu dihukumi haram. Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 253.   Puasa pada hari syakk (meragukan)   Yang dimaksud hari meragukan adalah tanggal 30 Sya’ban. Abu Syuja’ lebih memilih pendapat makruh bagi yang berpuasa di hari meragukan. Namun yang jadi pegangan dalam madzhab Syafi’i, larangan dari berpuasa pada hari syakk adalah larangan haram. ‘Ammar bin Yasir pernah berkata, مَنْ صَامَ يَوْمَ الشَّكِّ فَقَدْ عَصَى أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ “Barangsiapa yang berpuasa pada hari meragukan, maka ia telah mendurhakai Abul Qosim shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Tirmidzi, no. 686; Ibnu Hibban, no. 3596. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih). Kecuali orang yang punya kebiasaan berpuasa, yaitu bertepatan dengan hari puasa Daudnya (sehari puasa, sehari tidak) atau puasa Senin Kamis, maka ia masih boleh melakukan sunnah tersebut. Lihat Al-Iqna’, 1:413. Nantikan buku gratisnya insya Allah akan segera hadir, begitu pula buku versi PDF-nya di web Rumaysho.Com ini. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan syaban hari dimakruhkan puasa hari haram puasa hari terlarang puasa matan abu syuja syaban
Apa saja hari terlarang puasa? Ada yang termasuk haram, ada yang termasuk makruh. Coba lihat penjelasan berikut ini.   Disebutkan oleh Abu Syuja’ rahimahullah: وَيَحْرُمُ صِيَامُ خَمْسَةِ أَيَّامٍ : العِيْدَانِ وَأيَاَّمُ التَّشْرِيْقِ الثَّلاَثَةُ وَيُكْرَهُ صَوْمُ يَوْمِ الشَّكِّ إِلاَّ أَنْ يُوَافِقَ عَادَةً لَهُ أَوْ يَصِلَهُ بِمَا قَبْلَهُ Diharamkan berpuasa pada 5 hari: (1, 2) dua hari raya (Idul Fithri dan Idul Adha); (3, 4, 5) hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah). Dimaruhkan berpuasa pada hari meragukan (yaumusy syakk) kecuali jika berpapasan dengan kebiasaan puasanya atau bersambung dengan hari sebelumnya.   Puasa pada hari id: Idul Fithri dan Idul Adha   Larangan berpuasa pada hari tersebut berdasarkan hadits berikut. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ يَوْمِ الأَضْحَى وَيَوْمِ الْفِطْرِ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari puasa pada dua hari: Idul Fithri dan Idul ‘Adha. (HR. Muslim no. 1138). Jika dikatakan dilarang, berarti tidak sah berpuasa pada hari Idul Fithri dan Idul Adha, bahkan inilah yang disepakati (adanya ijmak) dari para ulama. Jadi diharamkan berpuasa pada kedua hari tersebut dan yang melakukannya dinilai berdosa. Karena ibadahnya sendiri termasuk maksiat. Contohnya yang menjalani puasa sunnah, atau puasa wajib seperti puasa nadzar, maka tidak teranggap puasanya atau nadzarnya. Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 253.   Puasa pada hari Tasyrik   Berpuasa pada tiga hari tersebut karena ada larangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan hal ini, عَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ» “Dari Nubaisyah Al-Hudzaliy, ia bersabda bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hari tasyrik adalah hari makan dan minum.” (HR. Muslim, no. 1141). Menurut qaul qadim (pendapat terdahulu) dari Imam Syafi’i masih boleh berpuasa pada tiga hari tasyrik bagi orang yang berhaji tamattu’ dan tidak memiliki hewan untuk disembelih. Sedangkan qaul jadiid (pendapat terbaru), berpuasa pada hari tasyrik tetap terlarang. Jika kita memilih qaul qadim (pendapat terdahulu), itu bukan berarti kita membolehkan untuk orang selain haji tamattu’ untuk puasa saat itu. Bahkan berpuasa saat itu dihukumi haram. Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 253.   Puasa pada hari syakk (meragukan)   Yang dimaksud hari meragukan adalah tanggal 30 Sya’ban. Abu Syuja’ lebih memilih pendapat makruh bagi yang berpuasa di hari meragukan. Namun yang jadi pegangan dalam madzhab Syafi’i, larangan dari berpuasa pada hari syakk adalah larangan haram. ‘Ammar bin Yasir pernah berkata, مَنْ صَامَ يَوْمَ الشَّكِّ فَقَدْ عَصَى أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ “Barangsiapa yang berpuasa pada hari meragukan, maka ia telah mendurhakai Abul Qosim shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Tirmidzi, no. 686; Ibnu Hibban, no. 3596. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih). Kecuali orang yang punya kebiasaan berpuasa, yaitu bertepatan dengan hari puasa Daudnya (sehari puasa, sehari tidak) atau puasa Senin Kamis, maka ia masih boleh melakukan sunnah tersebut. Lihat Al-Iqna’, 1:413. Nantikan buku gratisnya insya Allah akan segera hadir, begitu pula buku versi PDF-nya di web Rumaysho.Com ini. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan syaban hari dimakruhkan puasa hari haram puasa hari terlarang puasa matan abu syuja syaban


Apa saja hari terlarang puasa? Ada yang termasuk haram, ada yang termasuk makruh. Coba lihat penjelasan berikut ini.   Disebutkan oleh Abu Syuja’ rahimahullah: وَيَحْرُمُ صِيَامُ خَمْسَةِ أَيَّامٍ : العِيْدَانِ وَأيَاَّمُ التَّشْرِيْقِ الثَّلاَثَةُ وَيُكْرَهُ صَوْمُ يَوْمِ الشَّكِّ إِلاَّ أَنْ يُوَافِقَ عَادَةً لَهُ أَوْ يَصِلَهُ بِمَا قَبْلَهُ Diharamkan berpuasa pada 5 hari: (1, 2) dua hari raya (Idul Fithri dan Idul Adha); (3, 4, 5) hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah). Dimaruhkan berpuasa pada hari meragukan (yaumusy syakk) kecuali jika berpapasan dengan kebiasaan puasanya atau bersambung dengan hari sebelumnya.   Puasa pada hari id: Idul Fithri dan Idul Adha   Larangan berpuasa pada hari tersebut berdasarkan hadits berikut. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ يَوْمِ الأَضْحَى وَيَوْمِ الْفِطْرِ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari puasa pada dua hari: Idul Fithri dan Idul ‘Adha. (HR. Muslim no. 1138). Jika dikatakan dilarang, berarti tidak sah berpuasa pada hari Idul Fithri dan Idul Adha, bahkan inilah yang disepakati (adanya ijmak) dari para ulama. Jadi diharamkan berpuasa pada kedua hari tersebut dan yang melakukannya dinilai berdosa. Karena ibadahnya sendiri termasuk maksiat. Contohnya yang menjalani puasa sunnah, atau puasa wajib seperti puasa nadzar, maka tidak teranggap puasanya atau nadzarnya. Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 253.   Puasa pada hari Tasyrik   Berpuasa pada tiga hari tersebut karena ada larangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan hal ini, عَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ» “Dari Nubaisyah Al-Hudzaliy, ia bersabda bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hari tasyrik adalah hari makan dan minum.” (HR. Muslim, no. 1141). Menurut qaul qadim (pendapat terdahulu) dari Imam Syafi’i masih boleh berpuasa pada tiga hari tasyrik bagi orang yang berhaji tamattu’ dan tidak memiliki hewan untuk disembelih. Sedangkan qaul jadiid (pendapat terbaru), berpuasa pada hari tasyrik tetap terlarang. Jika kita memilih qaul qadim (pendapat terdahulu), itu bukan berarti kita membolehkan untuk orang selain haji tamattu’ untuk puasa saat itu. Bahkan berpuasa saat itu dihukumi haram. Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 253.   Puasa pada hari syakk (meragukan)   Yang dimaksud hari meragukan adalah tanggal 30 Sya’ban. Abu Syuja’ lebih memilih pendapat makruh bagi yang berpuasa di hari meragukan. Namun yang jadi pegangan dalam madzhab Syafi’i, larangan dari berpuasa pada hari syakk adalah larangan haram. ‘Ammar bin Yasir pernah berkata, مَنْ صَامَ يَوْمَ الشَّكِّ فَقَدْ عَصَى أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ “Barangsiapa yang berpuasa pada hari meragukan, maka ia telah mendurhakai Abul Qosim shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Tirmidzi, no. 686; Ibnu Hibban, no. 3596. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih). Kecuali orang yang punya kebiasaan berpuasa, yaitu bertepatan dengan hari puasa Daudnya (sehari puasa, sehari tidak) atau puasa Senin Kamis, maka ia masih boleh melakukan sunnah tersebut. Lihat Al-Iqna’, 1:413. Nantikan buku gratisnya insya Allah akan segera hadir, begitu pula buku versi PDF-nya di web Rumaysho.Com ini. — Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan syaban hari dimakruhkan puasa hari haram puasa hari terlarang puasa matan abu syuja syaban

Sebulan Sebelum Ramadan

Sebulan Sebelum Ramadan Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Saat ini kita berada di permulaan bulan Sya’ban. Satu bulan sebelum tibanya bulan suci Ramadhan. Kesempatan untuk bersiap-siap, agar Ramadhan ini lebih bermakna. Abu Bakar al Balkhi rahimahullah mengatakan, شهر رجب شهر الزرع، وشهر شعبان شهر سقي الزرع، وشهر رمضان شهر حصاد الزرع “Bulan Rajab adalah bulan Menanam, Bulan Sya’ban adalah bulan untuk mengairi tananam, sedangkan bulan Ramadhan adalah bulan Memanen (pahala).” Kita tak bisa bayangkan bagaimana khawatirnya seseorang saat besok sudah mulai Ujian Akhir Sekolah atau Ujian Akhir Semester (UAS) namun diri sama sekali belum siap. Bayangan-banyangan menakutkan menghantui, wajah pucat, tak bisa tidur, gelisah dll. Khawatir tidak lulus, khawatir mendapat nilai raport merah. Raport merah di bulan Ramadhan, lebih menakutkan dan lebih layak dikhawatirkan. Nabi ﷺ pernah mengingatkan, رغم أنف رجل دخل عليه رمضان ثم انسلخ قبل أن يغفر له ” ورغم أنف رجل أدرك عنده أبواه فلم يدخلاه الجنة “Celaka seseorang yang mendapati bulan Ramadhan hingga berlalu tanpa diampuni dosanya. Dan celaka pula sesorang yang mendapati kedua orang tuanya (masih dalam keadaan hidup) tetapi tidak menjadikannya masuk ke dalam surga.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad) Oleh karenanya, kita perlu mempersiapkan diri matang-matang sebelum berjumpa ramadhan. Perbanyak Ibadah di Bulan Sya’ban Ramadhan bukan lagi saatnya pemanasan merenggangkan otot.Tapi waktunya bertarung mencapai kemenangan. Sya’banlah kesempatan menyiapkan bekal untuk bertempur. Agar kita sukses di ramadhan ini. Siap-siap ilmu, siap-siap membiasakan diri untuk giat ibadah. Begitu berjumpa ramadhan, ilmu siap, ibadahpun sudah terbiasa giat. Nabi mengingatkan kita untuk mengisi Sya’ban dengan banyak ibadah. Dari Usamah bin Zaid, dia berkata, “Aku bertanya kepada Nabi, “Ya Rasulullah, aku tidak melihat engkau sering berpuasa dalam satu bulan kecuali di bulan Sya’ban?” Beliau bersabda, ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين ، فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم “Ini adalah bulan yang banyak dilalaikan orang, terletak antara Rajab dan Ramadan. Padahal Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal kepada Tuhan yang mengatur semesta alam. Aku ingin, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.” Sya’ban menjadi bulan yang dilalaikan, karena diapit dua bulan yang mulia, Rojab yang termasuk empat bulan suci (bulan haram), dan Ramadhan.Ternyata, kondisi ini justeru menjadikan bulan Sya’ban bulan yang istimewa. Dimana beribadah di bulan ini, bernilai sangat istimewa. Karena untuk bisa tetap semangat di waktu-waktu yang terabaikan, butuh perjuangan besar. Sehingga pahalanya pun besar. Imam Ibnu Rojab Al-Hambali rahimahullah menjelaskan, وفيه: دليل على استحباب عمارة أوقات غفلة الناس بالطاعة، وأن ذلك محبوب لله عز وجل، كما كان طائفة من السلف يستحبون إحياء ما نين العشائين بالصلاة، ويقولون : هي ساعة غفلة Hadis ini dalil anjuran mengisi waktu yang sering diabaikan dengan amalan ibadah. Dan mengisi waktu yang diabaikan dengan aktivitas ibadah adalah dicintai oleh Allah ‘azza wajalla. Sebagaimana dilakukan oleh para ulama salaf dahulu, mereka mengisi antara Maghrib dan Isya dengan sholat sunah. Ketika ditanya alasan mereka menjawab, “Ini adalah waktu yang sering diabaikan manusia.” (Latho-iful Ma’arif hal. 251) Dalil lainnya yang menunjukkan keutamaan ibadah di waktu yang dilalaikan, adalah hadis tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah di hari kiamat, diantaranya adalah, وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ Pemuda yang tumbuh dalam ibadah…(HR. Bukhori) Masa muda adalah masa yang panjang, sehingga seringkali dilalaikan untuk ibadah. Oleh karenanya Allah memberikan pahala istimewa untuk mereka yang berhasil berjuang mengisi masa mudanya untuk beribadah. Maka Sya’ban, adalah bulan ibadah, yang ibadah di bulan ini juga berfungsi melatih diri untuk giat beribadah sebelum bertemu ramadhan. Latihan Puasa Di Bulan Sya’ban Seperti yang diceritakan dalam hadis dari sahabat Usamah bin Zaid di atas, Nabi ﷺ banyak mengisi hari-hari di bulan Sya’ban dengan puasa. Yang tujuannya adalah, karena pada bulan ini amalan tahunan diangkat untuk dilaporkan kepada Allah Ta’ala. Alasan lain adalah, untuk membiasakan diri puasa, sehingga begitu berjumpa Ramadhan, seorang dapat melakukan puasa secara sempurna sejak hari pertama. Karena dia sudah terlatih sejak jauh hari. Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan, قيل في صوم شعبان أن صيامه كالتمرين على صيام رمضان لئلا يدخل في صوم رمضان على مشقة وكلفة، بل يكون قد تمرن على الصيام واعتاده ووجد بصيام شعبان قبله حلاوة الصيام ولذته فيدخل في صيام رمضان بقوة ونشاط. Ada ulama yang berpandangan, bahwa puasa Nabi ﷺ di bulan Sya’ban, bertujuan untuk latihan sebelum menjalani puasa ramadhan. Supaya berjumpa ramadhan tidak dengan rasa berat. Dia telah berlatih puasa dan dia telah merasakan kelezatan dan manisnya puasa Sya’ban di hatinya. Sehingga memasuki Ramadhan dengan penuh kekuatan dan semangat. (Dikutip dari: Nida’ ar Royyan 1/479) Puasa hanyalah salahsatu dari berbagai kegiatan ibadah yang mewarnai bulan suci Ramadhan. Ada ibadah-ibadah lain yang diperintahkan untuk giat dikerjakan di bulan yang berkah itu, juga patut kita persiapkan. Seperti sedekah, qiyamul lail, tadarus Al Qur’an dll. Sehingga begitu berjumpa ramadhan, kita sudah ringan sedekah, ringan qiyamullail, ringan baca Qur’an. Karena sudah terbiasa. Benar kata Allah ‘azza wa jalla, وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰۖ Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. (QS. Al-Baqarah : 197). Sampai-sampai para Salafussholih dahulu mengatakan, شهر شعبان شهر القراء Bulan Sya’ban adalah bulan membaca Al Qur’an. Habib bin Abi Tsabit rahimahullah, jika memasuki bulan Sya’ban beliau berkata هذا شهر القرّاء Ini adalah bulan membaca Al Qur’an. Imam Amr bin Qais rahimahullah bila memasuki bulan Sya’ban, beliau menutup toko beliau (cuti dagang), kemudian beliau banyak mengisi hari-hari beliau dengan membaca Al-Qur’an. Demikian, semoga nasehat ini bermanfaat untuk penulis dan pembaca sekalian. Wallahua’lam bis showab. *** Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Sulam Alis, Kuburan Nabi Muhammad Dibongkar, Buah Zakum, Menikah Di Bulan Mulud Menurut Islam, Niat Mandi Wajib Setelah Berhubungan, Doa Punya Anak Visited 76 times, 5 visit(s) today Post Views: 165 QRIS donasi Yufid

Sebulan Sebelum Ramadan

Sebulan Sebelum Ramadan Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Saat ini kita berada di permulaan bulan Sya’ban. Satu bulan sebelum tibanya bulan suci Ramadhan. Kesempatan untuk bersiap-siap, agar Ramadhan ini lebih bermakna. Abu Bakar al Balkhi rahimahullah mengatakan, شهر رجب شهر الزرع، وشهر شعبان شهر سقي الزرع، وشهر رمضان شهر حصاد الزرع “Bulan Rajab adalah bulan Menanam, Bulan Sya’ban adalah bulan untuk mengairi tananam, sedangkan bulan Ramadhan adalah bulan Memanen (pahala).” Kita tak bisa bayangkan bagaimana khawatirnya seseorang saat besok sudah mulai Ujian Akhir Sekolah atau Ujian Akhir Semester (UAS) namun diri sama sekali belum siap. Bayangan-banyangan menakutkan menghantui, wajah pucat, tak bisa tidur, gelisah dll. Khawatir tidak lulus, khawatir mendapat nilai raport merah. Raport merah di bulan Ramadhan, lebih menakutkan dan lebih layak dikhawatirkan. Nabi ﷺ pernah mengingatkan, رغم أنف رجل دخل عليه رمضان ثم انسلخ قبل أن يغفر له ” ورغم أنف رجل أدرك عنده أبواه فلم يدخلاه الجنة “Celaka seseorang yang mendapati bulan Ramadhan hingga berlalu tanpa diampuni dosanya. Dan celaka pula sesorang yang mendapati kedua orang tuanya (masih dalam keadaan hidup) tetapi tidak menjadikannya masuk ke dalam surga.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad) Oleh karenanya, kita perlu mempersiapkan diri matang-matang sebelum berjumpa ramadhan. Perbanyak Ibadah di Bulan Sya’ban Ramadhan bukan lagi saatnya pemanasan merenggangkan otot.Tapi waktunya bertarung mencapai kemenangan. Sya’banlah kesempatan menyiapkan bekal untuk bertempur. Agar kita sukses di ramadhan ini. Siap-siap ilmu, siap-siap membiasakan diri untuk giat ibadah. Begitu berjumpa ramadhan, ilmu siap, ibadahpun sudah terbiasa giat. Nabi mengingatkan kita untuk mengisi Sya’ban dengan banyak ibadah. Dari Usamah bin Zaid, dia berkata, “Aku bertanya kepada Nabi, “Ya Rasulullah, aku tidak melihat engkau sering berpuasa dalam satu bulan kecuali di bulan Sya’ban?” Beliau bersabda, ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين ، فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم “Ini adalah bulan yang banyak dilalaikan orang, terletak antara Rajab dan Ramadan. Padahal Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal kepada Tuhan yang mengatur semesta alam. Aku ingin, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.” Sya’ban menjadi bulan yang dilalaikan, karena diapit dua bulan yang mulia, Rojab yang termasuk empat bulan suci (bulan haram), dan Ramadhan.Ternyata, kondisi ini justeru menjadikan bulan Sya’ban bulan yang istimewa. Dimana beribadah di bulan ini, bernilai sangat istimewa. Karena untuk bisa tetap semangat di waktu-waktu yang terabaikan, butuh perjuangan besar. Sehingga pahalanya pun besar. Imam Ibnu Rojab Al-Hambali rahimahullah menjelaskan, وفيه: دليل على استحباب عمارة أوقات غفلة الناس بالطاعة، وأن ذلك محبوب لله عز وجل، كما كان طائفة من السلف يستحبون إحياء ما نين العشائين بالصلاة، ويقولون : هي ساعة غفلة Hadis ini dalil anjuran mengisi waktu yang sering diabaikan dengan amalan ibadah. Dan mengisi waktu yang diabaikan dengan aktivitas ibadah adalah dicintai oleh Allah ‘azza wajalla. Sebagaimana dilakukan oleh para ulama salaf dahulu, mereka mengisi antara Maghrib dan Isya dengan sholat sunah. Ketika ditanya alasan mereka menjawab, “Ini adalah waktu yang sering diabaikan manusia.” (Latho-iful Ma’arif hal. 251) Dalil lainnya yang menunjukkan keutamaan ibadah di waktu yang dilalaikan, adalah hadis tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah di hari kiamat, diantaranya adalah, وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ Pemuda yang tumbuh dalam ibadah…(HR. Bukhori) Masa muda adalah masa yang panjang, sehingga seringkali dilalaikan untuk ibadah. Oleh karenanya Allah memberikan pahala istimewa untuk mereka yang berhasil berjuang mengisi masa mudanya untuk beribadah. Maka Sya’ban, adalah bulan ibadah, yang ibadah di bulan ini juga berfungsi melatih diri untuk giat beribadah sebelum bertemu ramadhan. Latihan Puasa Di Bulan Sya’ban Seperti yang diceritakan dalam hadis dari sahabat Usamah bin Zaid di atas, Nabi ﷺ banyak mengisi hari-hari di bulan Sya’ban dengan puasa. Yang tujuannya adalah, karena pada bulan ini amalan tahunan diangkat untuk dilaporkan kepada Allah Ta’ala. Alasan lain adalah, untuk membiasakan diri puasa, sehingga begitu berjumpa Ramadhan, seorang dapat melakukan puasa secara sempurna sejak hari pertama. Karena dia sudah terlatih sejak jauh hari. Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan, قيل في صوم شعبان أن صيامه كالتمرين على صيام رمضان لئلا يدخل في صوم رمضان على مشقة وكلفة، بل يكون قد تمرن على الصيام واعتاده ووجد بصيام شعبان قبله حلاوة الصيام ولذته فيدخل في صيام رمضان بقوة ونشاط. Ada ulama yang berpandangan, bahwa puasa Nabi ﷺ di bulan Sya’ban, bertujuan untuk latihan sebelum menjalani puasa ramadhan. Supaya berjumpa ramadhan tidak dengan rasa berat. Dia telah berlatih puasa dan dia telah merasakan kelezatan dan manisnya puasa Sya’ban di hatinya. Sehingga memasuki Ramadhan dengan penuh kekuatan dan semangat. (Dikutip dari: Nida’ ar Royyan 1/479) Puasa hanyalah salahsatu dari berbagai kegiatan ibadah yang mewarnai bulan suci Ramadhan. Ada ibadah-ibadah lain yang diperintahkan untuk giat dikerjakan di bulan yang berkah itu, juga patut kita persiapkan. Seperti sedekah, qiyamul lail, tadarus Al Qur’an dll. Sehingga begitu berjumpa ramadhan, kita sudah ringan sedekah, ringan qiyamullail, ringan baca Qur’an. Karena sudah terbiasa. Benar kata Allah ‘azza wa jalla, وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰۖ Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. (QS. Al-Baqarah : 197). Sampai-sampai para Salafussholih dahulu mengatakan, شهر شعبان شهر القراء Bulan Sya’ban adalah bulan membaca Al Qur’an. Habib bin Abi Tsabit rahimahullah, jika memasuki bulan Sya’ban beliau berkata هذا شهر القرّاء Ini adalah bulan membaca Al Qur’an. Imam Amr bin Qais rahimahullah bila memasuki bulan Sya’ban, beliau menutup toko beliau (cuti dagang), kemudian beliau banyak mengisi hari-hari beliau dengan membaca Al-Qur’an. Demikian, semoga nasehat ini bermanfaat untuk penulis dan pembaca sekalian. Wallahua’lam bis showab. *** Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Sulam Alis, Kuburan Nabi Muhammad Dibongkar, Buah Zakum, Menikah Di Bulan Mulud Menurut Islam, Niat Mandi Wajib Setelah Berhubungan, Doa Punya Anak Visited 76 times, 5 visit(s) today Post Views: 165 QRIS donasi Yufid
Sebulan Sebelum Ramadan Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Saat ini kita berada di permulaan bulan Sya’ban. Satu bulan sebelum tibanya bulan suci Ramadhan. Kesempatan untuk bersiap-siap, agar Ramadhan ini lebih bermakna. Abu Bakar al Balkhi rahimahullah mengatakan, شهر رجب شهر الزرع، وشهر شعبان شهر سقي الزرع، وشهر رمضان شهر حصاد الزرع “Bulan Rajab adalah bulan Menanam, Bulan Sya’ban adalah bulan untuk mengairi tananam, sedangkan bulan Ramadhan adalah bulan Memanen (pahala).” Kita tak bisa bayangkan bagaimana khawatirnya seseorang saat besok sudah mulai Ujian Akhir Sekolah atau Ujian Akhir Semester (UAS) namun diri sama sekali belum siap. Bayangan-banyangan menakutkan menghantui, wajah pucat, tak bisa tidur, gelisah dll. Khawatir tidak lulus, khawatir mendapat nilai raport merah. Raport merah di bulan Ramadhan, lebih menakutkan dan lebih layak dikhawatirkan. Nabi ﷺ pernah mengingatkan, رغم أنف رجل دخل عليه رمضان ثم انسلخ قبل أن يغفر له ” ورغم أنف رجل أدرك عنده أبواه فلم يدخلاه الجنة “Celaka seseorang yang mendapati bulan Ramadhan hingga berlalu tanpa diampuni dosanya. Dan celaka pula sesorang yang mendapati kedua orang tuanya (masih dalam keadaan hidup) tetapi tidak menjadikannya masuk ke dalam surga.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad) Oleh karenanya, kita perlu mempersiapkan diri matang-matang sebelum berjumpa ramadhan. Perbanyak Ibadah di Bulan Sya’ban Ramadhan bukan lagi saatnya pemanasan merenggangkan otot.Tapi waktunya bertarung mencapai kemenangan. Sya’banlah kesempatan menyiapkan bekal untuk bertempur. Agar kita sukses di ramadhan ini. Siap-siap ilmu, siap-siap membiasakan diri untuk giat ibadah. Begitu berjumpa ramadhan, ilmu siap, ibadahpun sudah terbiasa giat. Nabi mengingatkan kita untuk mengisi Sya’ban dengan banyak ibadah. Dari Usamah bin Zaid, dia berkata, “Aku bertanya kepada Nabi, “Ya Rasulullah, aku tidak melihat engkau sering berpuasa dalam satu bulan kecuali di bulan Sya’ban?” Beliau bersabda, ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين ، فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم “Ini adalah bulan yang banyak dilalaikan orang, terletak antara Rajab dan Ramadan. Padahal Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal kepada Tuhan yang mengatur semesta alam. Aku ingin, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.” Sya’ban menjadi bulan yang dilalaikan, karena diapit dua bulan yang mulia, Rojab yang termasuk empat bulan suci (bulan haram), dan Ramadhan.Ternyata, kondisi ini justeru menjadikan bulan Sya’ban bulan yang istimewa. Dimana beribadah di bulan ini, bernilai sangat istimewa. Karena untuk bisa tetap semangat di waktu-waktu yang terabaikan, butuh perjuangan besar. Sehingga pahalanya pun besar. Imam Ibnu Rojab Al-Hambali rahimahullah menjelaskan, وفيه: دليل على استحباب عمارة أوقات غفلة الناس بالطاعة، وأن ذلك محبوب لله عز وجل، كما كان طائفة من السلف يستحبون إحياء ما نين العشائين بالصلاة، ويقولون : هي ساعة غفلة Hadis ini dalil anjuran mengisi waktu yang sering diabaikan dengan amalan ibadah. Dan mengisi waktu yang diabaikan dengan aktivitas ibadah adalah dicintai oleh Allah ‘azza wajalla. Sebagaimana dilakukan oleh para ulama salaf dahulu, mereka mengisi antara Maghrib dan Isya dengan sholat sunah. Ketika ditanya alasan mereka menjawab, “Ini adalah waktu yang sering diabaikan manusia.” (Latho-iful Ma’arif hal. 251) Dalil lainnya yang menunjukkan keutamaan ibadah di waktu yang dilalaikan, adalah hadis tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah di hari kiamat, diantaranya adalah, وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ Pemuda yang tumbuh dalam ibadah…(HR. Bukhori) Masa muda adalah masa yang panjang, sehingga seringkali dilalaikan untuk ibadah. Oleh karenanya Allah memberikan pahala istimewa untuk mereka yang berhasil berjuang mengisi masa mudanya untuk beribadah. Maka Sya’ban, adalah bulan ibadah, yang ibadah di bulan ini juga berfungsi melatih diri untuk giat beribadah sebelum bertemu ramadhan. Latihan Puasa Di Bulan Sya’ban Seperti yang diceritakan dalam hadis dari sahabat Usamah bin Zaid di atas, Nabi ﷺ banyak mengisi hari-hari di bulan Sya’ban dengan puasa. Yang tujuannya adalah, karena pada bulan ini amalan tahunan diangkat untuk dilaporkan kepada Allah Ta’ala. Alasan lain adalah, untuk membiasakan diri puasa, sehingga begitu berjumpa Ramadhan, seorang dapat melakukan puasa secara sempurna sejak hari pertama. Karena dia sudah terlatih sejak jauh hari. Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan, قيل في صوم شعبان أن صيامه كالتمرين على صيام رمضان لئلا يدخل في صوم رمضان على مشقة وكلفة، بل يكون قد تمرن على الصيام واعتاده ووجد بصيام شعبان قبله حلاوة الصيام ولذته فيدخل في صيام رمضان بقوة ونشاط. Ada ulama yang berpandangan, bahwa puasa Nabi ﷺ di bulan Sya’ban, bertujuan untuk latihan sebelum menjalani puasa ramadhan. Supaya berjumpa ramadhan tidak dengan rasa berat. Dia telah berlatih puasa dan dia telah merasakan kelezatan dan manisnya puasa Sya’ban di hatinya. Sehingga memasuki Ramadhan dengan penuh kekuatan dan semangat. (Dikutip dari: Nida’ ar Royyan 1/479) Puasa hanyalah salahsatu dari berbagai kegiatan ibadah yang mewarnai bulan suci Ramadhan. Ada ibadah-ibadah lain yang diperintahkan untuk giat dikerjakan di bulan yang berkah itu, juga patut kita persiapkan. Seperti sedekah, qiyamul lail, tadarus Al Qur’an dll. Sehingga begitu berjumpa ramadhan, kita sudah ringan sedekah, ringan qiyamullail, ringan baca Qur’an. Karena sudah terbiasa. Benar kata Allah ‘azza wa jalla, وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰۖ Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. (QS. Al-Baqarah : 197). Sampai-sampai para Salafussholih dahulu mengatakan, شهر شعبان شهر القراء Bulan Sya’ban adalah bulan membaca Al Qur’an. Habib bin Abi Tsabit rahimahullah, jika memasuki bulan Sya’ban beliau berkata هذا شهر القرّاء Ini adalah bulan membaca Al Qur’an. Imam Amr bin Qais rahimahullah bila memasuki bulan Sya’ban, beliau menutup toko beliau (cuti dagang), kemudian beliau banyak mengisi hari-hari beliau dengan membaca Al-Qur’an. Demikian, semoga nasehat ini bermanfaat untuk penulis dan pembaca sekalian. Wallahua’lam bis showab. *** Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Sulam Alis, Kuburan Nabi Muhammad Dibongkar, Buah Zakum, Menikah Di Bulan Mulud Menurut Islam, Niat Mandi Wajib Setelah Berhubungan, Doa Punya Anak Visited 76 times, 5 visit(s) today Post Views: 165 QRIS donasi Yufid


<iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1225597660&#038;color=d5265f&#038;hide_related=true&#038;show_artwork=false&#038;show_comments=false&#038;show_teaser=false&#038;show_user=false"></iframe> Sebulan Sebelum Ramadan Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du. Saat ini kita berada di permulaan bulan Sya’ban. Satu bulan sebelum tibanya bulan suci Ramadhan. Kesempatan untuk bersiap-siap, agar Ramadhan ini lebih bermakna. Abu Bakar al Balkhi rahimahullah mengatakan, شهر رجب شهر الزرع، وشهر شعبان شهر سقي الزرع، وشهر رمضان شهر حصاد الزرع “Bulan Rajab adalah bulan Menanam, Bulan Sya’ban adalah bulan untuk mengairi tananam, sedangkan bulan Ramadhan adalah bulan Memanen (pahala).” Kita tak bisa bayangkan bagaimana khawatirnya seseorang saat besok sudah mulai Ujian Akhir Sekolah atau Ujian Akhir Semester (UAS) namun diri sama sekali belum siap. Bayangan-banyangan menakutkan menghantui, wajah pucat, tak bisa tidur, gelisah dll. Khawatir tidak lulus, khawatir mendapat nilai raport merah. Raport merah di bulan Ramadhan, lebih menakutkan dan lebih layak dikhawatirkan. Nabi ﷺ pernah mengingatkan, رغم أنف رجل دخل عليه رمضان ثم انسلخ قبل أن يغفر له ” ورغم أنف رجل أدرك عنده أبواه فلم يدخلاه الجنة “Celaka seseorang yang mendapati bulan Ramadhan hingga berlalu tanpa diampuni dosanya. Dan celaka pula sesorang yang mendapati kedua orang tuanya (masih dalam keadaan hidup) tetapi tidak menjadikannya masuk ke dalam surga.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad) Oleh karenanya, kita perlu mempersiapkan diri matang-matang sebelum berjumpa ramadhan. Perbanyak Ibadah di Bulan Sya’ban Ramadhan bukan lagi saatnya pemanasan merenggangkan otot.Tapi waktunya bertarung mencapai kemenangan. Sya’banlah kesempatan menyiapkan bekal untuk bertempur. Agar kita sukses di ramadhan ini. Siap-siap ilmu, siap-siap membiasakan diri untuk giat ibadah. Begitu berjumpa ramadhan, ilmu siap, ibadahpun sudah terbiasa giat. Nabi mengingatkan kita untuk mengisi Sya’ban dengan banyak ibadah. Dari Usamah bin Zaid, dia berkata, “Aku bertanya kepada Nabi, “Ya Rasulullah, aku tidak melihat engkau sering berpuasa dalam satu bulan kecuali di bulan Sya’ban?” Beliau bersabda, ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين ، فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم “Ini adalah bulan yang banyak dilalaikan orang, terletak antara Rajab dan Ramadan. Padahal Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal kepada Tuhan yang mengatur semesta alam. Aku ingin, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.” Sya’ban menjadi bulan yang dilalaikan, karena diapit dua bulan yang mulia, Rojab yang termasuk empat bulan suci (bulan haram), dan Ramadhan.Ternyata, kondisi ini justeru menjadikan bulan Sya’ban bulan yang istimewa. Dimana beribadah di bulan ini, bernilai sangat istimewa. Karena untuk bisa tetap semangat di waktu-waktu yang terabaikan, butuh perjuangan besar. Sehingga pahalanya pun besar. Imam Ibnu Rojab Al-Hambali rahimahullah menjelaskan, وفيه: دليل على استحباب عمارة أوقات غفلة الناس بالطاعة، وأن ذلك محبوب لله عز وجل، كما كان طائفة من السلف يستحبون إحياء ما نين العشائين بالصلاة، ويقولون : هي ساعة غفلة Hadis ini dalil anjuran mengisi waktu yang sering diabaikan dengan amalan ibadah. Dan mengisi waktu yang diabaikan dengan aktivitas ibadah adalah dicintai oleh Allah ‘azza wajalla. Sebagaimana dilakukan oleh para ulama salaf dahulu, mereka mengisi antara Maghrib dan Isya dengan sholat sunah. Ketika ditanya alasan mereka menjawab, “Ini adalah waktu yang sering diabaikan manusia.” (Latho-iful Ma’arif hal. 251) Dalil lainnya yang menunjukkan keutamaan ibadah di waktu yang dilalaikan, adalah hadis tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah di hari kiamat, diantaranya adalah, وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ Pemuda yang tumbuh dalam ibadah…(HR. Bukhori) Masa muda adalah masa yang panjang, sehingga seringkali dilalaikan untuk ibadah. Oleh karenanya Allah memberikan pahala istimewa untuk mereka yang berhasil berjuang mengisi masa mudanya untuk beribadah. Maka Sya’ban, adalah bulan ibadah, yang ibadah di bulan ini juga berfungsi melatih diri untuk giat beribadah sebelum bertemu ramadhan. Latihan Puasa Di Bulan Sya’ban Seperti yang diceritakan dalam hadis dari sahabat Usamah bin Zaid di atas, Nabi ﷺ banyak mengisi hari-hari di bulan Sya’ban dengan puasa. Yang tujuannya adalah, karena pada bulan ini amalan tahunan diangkat untuk dilaporkan kepada Allah Ta’ala. Alasan lain adalah, untuk membiasakan diri puasa, sehingga begitu berjumpa Ramadhan, seorang dapat melakukan puasa secara sempurna sejak hari pertama. Karena dia sudah terlatih sejak jauh hari. Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan, قيل في صوم شعبان أن صيامه كالتمرين على صيام رمضان لئلا يدخل في صوم رمضان على مشقة وكلفة، بل يكون قد تمرن على الصيام واعتاده ووجد بصيام شعبان قبله حلاوة الصيام ولذته فيدخل في صيام رمضان بقوة ونشاط. Ada ulama yang berpandangan, bahwa puasa Nabi ﷺ di bulan Sya’ban, bertujuan untuk latihan sebelum menjalani puasa ramadhan. Supaya berjumpa ramadhan tidak dengan rasa berat. Dia telah berlatih puasa dan dia telah merasakan kelezatan dan manisnya puasa Sya’ban di hatinya. Sehingga memasuki Ramadhan dengan penuh kekuatan dan semangat. (Dikutip dari: Nida’ ar Royyan 1/479) Puasa hanyalah salahsatu dari berbagai kegiatan ibadah yang mewarnai bulan suci Ramadhan. Ada ibadah-ibadah lain yang diperintahkan untuk giat dikerjakan di bulan yang berkah itu, juga patut kita persiapkan. Seperti sedekah, qiyamul lail, tadarus Al Qur’an dll. Sehingga begitu berjumpa ramadhan, kita sudah ringan sedekah, ringan qiyamullail, ringan baca Qur’an. Karena sudah terbiasa. Benar kata Allah ‘azza wa jalla, وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰۖ Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. (QS. Al-Baqarah : 197). Sampai-sampai para Salafussholih dahulu mengatakan, شهر شعبان شهر القراء Bulan Sya’ban adalah bulan membaca Al Qur’an. Habib bin Abi Tsabit rahimahullah, jika memasuki bulan Sya’ban beliau berkata هذا شهر القرّاء Ini adalah bulan membaca Al Qur’an. Imam Amr bin Qais rahimahullah bila memasuki bulan Sya’ban, beliau menutup toko beliau (cuti dagang), kemudian beliau banyak mengisi hari-hari beliau dengan membaca Al-Qur’an. Demikian, semoga nasehat ini bermanfaat untuk penulis dan pembaca sekalian. Wallahua’lam bis showab. *** Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori (Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android. Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989 🔍 Hukum Sulam Alis, Kuburan Nabi Muhammad Dibongkar, Buah Zakum, Menikah Di Bulan Mulud Menurut Islam, Niat Mandi Wajib Setelah Berhubungan, Doa Punya Anak Visited 76 times, 5 visit(s) today Post Views: 165 <img class="aligncenter wp-image-43307" src="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2023/10/qris-donasi-yufid-resized.jpeg" alt="QRIS donasi Yufid" width="741" height="1024" />
Prev     Next