Senilai Pahala Belajar Agama

أَنَّ كُلَّ مَنْ أَعَانَ شَخْصًا فِيْ طَاعَةِ اللَّهِ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ فَإِذَا أَعَنْتَ طَالَبَ عِلْمٍ فِيْ شِرَاءِ الْكُتُبِ لَهُ أَوْ تَأْمِيْنِ السَّكَنِ أَوِ النَّفَقَةِ أَوْ مَا أشْبَهَ ذَلَكَ فَإِنَّ لَكَ أَجْرًا مَثْلَ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْئًا “Sungguh semua orang yang membantu seseorang untuk taat kepada Allah akan mendapatkan pahala semisal pahala orang yang berbuat taat tersebut. Jika anda membantu pelajar agama (baca: santri) untuk membeli buku agama yang dia pelajari atau menyediakan asrama atau biaya konsumsi bulanan nya atau yang lain niscaya akan mendapatkan pahala semisal pahala orang yang belajar agama tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” (Syarh Riyadhus Shalihin 2/375, Madar al-Wathan) Diantara kemurahan Allah adalah kaedah pahala semua orang yang membantu orang yang berbuat taat baginya pahala semisal pahala orang yang berbuat taat tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun. Diantara proyek kebaikan yang perlu didukung oleh seluruh kaum muslimin adalah proyek mencetak calon-calon guru ngaji yang akan menyebarkan kebaikan di tengah-tengah masyarakat Orang yang mendukung proyek ini tidak hanya mendapatkan pahala semisal pahala santri yang belajar agama namun juga mendapatkan pahala semisal pahala ustadz pengajar ilmu agama.  Disamping dukungan untuk segera tersedianya gedung asrama adalah bagian dari pahala jariyah.  Membelikan buku agama yang akan dipelajari santri atau diajarkan oleh seorang ustadz adalah bagian dari pahala jariyah.  Menanggung kebutuhan makan orang yang belajar agama sehingga bisa beraktivitas berbuah semua aktivitas kebaikan orang tersebut jadi pahala bagi orang yang menanggung kebutuhan konsumsinya.  Tidaklah diragukan dukungan dalam proyek kebaikan semisal ini adalah bagian dari sumber pahala yang berlimpah Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini agar memiliki banyak kran-kran pahala jariyah yang terus mengalir sampai hari Kiamat. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Senilai Pahala Belajar Agama

أَنَّ كُلَّ مَنْ أَعَانَ شَخْصًا فِيْ طَاعَةِ اللَّهِ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ فَإِذَا أَعَنْتَ طَالَبَ عِلْمٍ فِيْ شِرَاءِ الْكُتُبِ لَهُ أَوْ تَأْمِيْنِ السَّكَنِ أَوِ النَّفَقَةِ أَوْ مَا أشْبَهَ ذَلَكَ فَإِنَّ لَكَ أَجْرًا مَثْلَ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْئًا “Sungguh semua orang yang membantu seseorang untuk taat kepada Allah akan mendapatkan pahala semisal pahala orang yang berbuat taat tersebut. Jika anda membantu pelajar agama (baca: santri) untuk membeli buku agama yang dia pelajari atau menyediakan asrama atau biaya konsumsi bulanan nya atau yang lain niscaya akan mendapatkan pahala semisal pahala orang yang belajar agama tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” (Syarh Riyadhus Shalihin 2/375, Madar al-Wathan) Diantara kemurahan Allah adalah kaedah pahala semua orang yang membantu orang yang berbuat taat baginya pahala semisal pahala orang yang berbuat taat tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun. Diantara proyek kebaikan yang perlu didukung oleh seluruh kaum muslimin adalah proyek mencetak calon-calon guru ngaji yang akan menyebarkan kebaikan di tengah-tengah masyarakat Orang yang mendukung proyek ini tidak hanya mendapatkan pahala semisal pahala santri yang belajar agama namun juga mendapatkan pahala semisal pahala ustadz pengajar ilmu agama.  Disamping dukungan untuk segera tersedianya gedung asrama adalah bagian dari pahala jariyah.  Membelikan buku agama yang akan dipelajari santri atau diajarkan oleh seorang ustadz adalah bagian dari pahala jariyah.  Menanggung kebutuhan makan orang yang belajar agama sehingga bisa beraktivitas berbuah semua aktivitas kebaikan orang tersebut jadi pahala bagi orang yang menanggung kebutuhan konsumsinya.  Tidaklah diragukan dukungan dalam proyek kebaikan semisal ini adalah bagian dari sumber pahala yang berlimpah Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini agar memiliki banyak kran-kran pahala jariyah yang terus mengalir sampai hari Kiamat. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
أَنَّ كُلَّ مَنْ أَعَانَ شَخْصًا فِيْ طَاعَةِ اللَّهِ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ فَإِذَا أَعَنْتَ طَالَبَ عِلْمٍ فِيْ شِرَاءِ الْكُتُبِ لَهُ أَوْ تَأْمِيْنِ السَّكَنِ أَوِ النَّفَقَةِ أَوْ مَا أشْبَهَ ذَلَكَ فَإِنَّ لَكَ أَجْرًا مَثْلَ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْئًا “Sungguh semua orang yang membantu seseorang untuk taat kepada Allah akan mendapatkan pahala semisal pahala orang yang berbuat taat tersebut. Jika anda membantu pelajar agama (baca: santri) untuk membeli buku agama yang dia pelajari atau menyediakan asrama atau biaya konsumsi bulanan nya atau yang lain niscaya akan mendapatkan pahala semisal pahala orang yang belajar agama tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” (Syarh Riyadhus Shalihin 2/375, Madar al-Wathan) Diantara kemurahan Allah adalah kaedah pahala semua orang yang membantu orang yang berbuat taat baginya pahala semisal pahala orang yang berbuat taat tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun. Diantara proyek kebaikan yang perlu didukung oleh seluruh kaum muslimin adalah proyek mencetak calon-calon guru ngaji yang akan menyebarkan kebaikan di tengah-tengah masyarakat Orang yang mendukung proyek ini tidak hanya mendapatkan pahala semisal pahala santri yang belajar agama namun juga mendapatkan pahala semisal pahala ustadz pengajar ilmu agama.  Disamping dukungan untuk segera tersedianya gedung asrama adalah bagian dari pahala jariyah.  Membelikan buku agama yang akan dipelajari santri atau diajarkan oleh seorang ustadz adalah bagian dari pahala jariyah.  Menanggung kebutuhan makan orang yang belajar agama sehingga bisa beraktivitas berbuah semua aktivitas kebaikan orang tersebut jadi pahala bagi orang yang menanggung kebutuhan konsumsinya.  Tidaklah diragukan dukungan dalam proyek kebaikan semisal ini adalah bagian dari sumber pahala yang berlimpah Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini agar memiliki banyak kran-kran pahala jariyah yang terus mengalir sampai hari Kiamat. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


أَنَّ كُلَّ مَنْ أَعَانَ شَخْصًا فِيْ طَاعَةِ اللَّهِ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ فَإِذَا أَعَنْتَ طَالَبَ عِلْمٍ فِيْ شِرَاءِ الْكُتُبِ لَهُ أَوْ تَأْمِيْنِ السَّكَنِ أَوِ النَّفَقَةِ أَوْ مَا أشْبَهَ ذَلَكَ فَإِنَّ لَكَ أَجْرًا مَثْلَ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْئًا “Sungguh semua orang yang membantu seseorang untuk taat kepada Allah akan mendapatkan pahala semisal pahala orang yang berbuat taat tersebut. Jika anda membantu pelajar agama (baca: santri) untuk membeli buku agama yang dia pelajari atau menyediakan asrama atau biaya konsumsi bulanan nya atau yang lain niscaya akan mendapatkan pahala semisal pahala orang yang belajar agama tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” (Syarh Riyadhus Shalihin 2/375, Madar al-Wathan) Diantara kemurahan Allah adalah kaedah pahala semua orang yang membantu orang yang berbuat taat baginya pahala semisal pahala orang yang berbuat taat tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun. Diantara proyek kebaikan yang perlu didukung oleh seluruh kaum muslimin adalah proyek mencetak calon-calon guru ngaji yang akan menyebarkan kebaikan di tengah-tengah masyarakat Orang yang mendukung proyek ini tidak hanya mendapatkan pahala semisal pahala santri yang belajar agama namun juga mendapatkan pahala semisal pahala ustadz pengajar ilmu agama.  Disamping dukungan untuk segera tersedianya gedung asrama adalah bagian dari pahala jariyah.  Membelikan buku agama yang akan dipelajari santri atau diajarkan oleh seorang ustadz adalah bagian dari pahala jariyah.  Menanggung kebutuhan makan orang yang belajar agama sehingga bisa beraktivitas berbuah semua aktivitas kebaikan orang tersebut jadi pahala bagi orang yang menanggung kebutuhan konsumsinya.  Tidaklah diragukan dukungan dalam proyek kebaikan semisal ini adalah bagian dari sumber pahala yang berlimpah Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini agar memiliki banyak kran-kran pahala jariyah yang terus mengalir sampai hari Kiamat. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Jawaban Bagi Yang Mengingkari Sifat Nuzul

Dalil Tentang Sifat NuzulPenetapan aqidah mengenai sifat nuzul (Allah turun ke langit dunia) telah diterangkan oleh banyak hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mencapai derajat mutawatir (melalui jalur yang banyak). Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ “ Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam pada sepertiga malam yang terakhir, kemudian berfirman : “ Barang siapa berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku akan Aku beri, barang siapa memohon ampun kepadaku akan Aku ampuni” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini secara jelas  dan gamblang menunjukkan penetapan sifat nuzul bagi Allah, yakni Allah turun ke langit dunia.Keyakinan Yang Benar tentang Sifat NuzulMakna nuzul dalam hadits di atas yaitu bahwa Allah turun secara hakiki ke langit dunia. Wajib bagi kita mengimaninya dan membenarkannya. Allah turun ke langit dunia yang merupakan langit yang paling dekat dengan dunia. Turun-Nya Allah adalah sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya, tidak seperti turunnya makhluk. Allah Ta’ala berfirman :لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah.” (Asy-Syura: 11).Oleh karena itu kita menetapkan nuzul dari sisi makna dan bukan dari sisi kaifyah (bagaimana cara turun). Kita menetapkannya tanpa tamsil (menyerupakan dengan sifat makhluk) dan Allah turun sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya. Tidak boleh menolak sifat ini ataupun menyelewengkan maknanya dengan makna yang lain. Baca Juga: Jawaban Global Bagi Yang Menolak Sifat NuzulSudah menjadi kebiasaan ahlul bid’ah bahwasanya mereka akan menolak atau menyelewengkan sifat-sifat Allah yang tidak mereka imani, termasuk sifat nuzul ini. Mereka menolak sifat nuzul dengan berbagai alasan yang sebenarnya merupakan syubhat yang lemah.Jawaban secara global terhadap setiap penolak sifat Allah, termasuk bagi yang mengingkari sifat nuzul, adalah sebagai berikut : Ketika mereka menolak dan menyelewengkan makna nuzul maka ini menyelisihi dhohir nash, bahwa yang dimaksud nuzul dari dalil-dalil yang menyebutkan sifat nuzul adalah turun-Nya Allah secara hakiki sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Allah dan tidak sama dengan turunnya makhluk. Yang mereka lakukan ketika menolak atau menyelewengkan makna sifat nuzul adalah menyelisih jalannya para sahabat dan para salafus shalih sesudahnya dalam memahami dan mengimani sifat nuzul. Tidak ada satupun dari salafus shalih yang menolak dan menyelewengkan makna nuzul dengan makna yang lain. Bahkan mereka telah ijma’ dalam masalah ini. Baca Juga: Berbagai Syubhat Penolak Sifat Nuzul dan Jawabannya Berikutnya akan kita bahas perincian beberapa syubhat yang dilontarkan untuk menolak sifat nuzul dan jawaban atas batilnya alasan dari syubhat tersebut. Syubhat 1 : Menetapkan Allah turun bertentangan dengan akal dan turun adalah perbuatan makhluk. Jika ada yang mengatakan : “Mengapa engkau katakan Allah turun? Jika Allah turun, bagaimana dengan ke-Maha Tinggian Allah ? Jika Allah turun, bagaimana dengan istiwa’-Nya Allah di atas ‘arsy ? Jika Allah turun, maka turun adalah bergerak dan berpindah. Jika Allah turun, maka turun adalah perbuatan makhluk. ”Kita katakan bahwa itu semua itu adalah anggapan yang batil dan itu semua tidak bertentangan dengan hakikat turun-Nya Allah. Apakah kalian lebih tahu tentang hakikat turun-Nya Allah  daripada sahabat Rasulullah?. Para sahabat tidak pernah sama sekali mengatakan kemungkinan-kemungkinan seperti yang kalian katakan. Mereka semua (para sahabat) mengatakan. : kami mendengar, kami beriman, kami menerima, dan kami membenarkan. Sedangkan ahlu ta’thil (para penolak sifat) mereka memperdebatkan dengan perdebatan yang batil dengan bertanya mengapa begini dan mengapa begitu. Cukuplah kita katakan Allah Ta’ala turun dan kita tidak perlu memperdebatkan tentang apakah ‘arsy Allah kosong atau tidak. Adapun sifat ke-Maha Tinggian Allah, kita katakan bahwa Allah turun akan tetapi Allah tetap di atas para makhluk-Nya, karena bukanlah makna dari turun-Nya Allah akan diliputi dan dinaungi langit, karena tidak ada satu makhluk pun yang dapat meliputi Allah Ta’ala.Syubhat 2 : Kalau Allah turun berarti Allah akan dilingkupi langit yang merupakan makhluk dan akan berada di bawahnya.Perlu kita camkan baik-baik, bahwa ketika kita menetapkan sifat bagi Allah, maka sifat tersebut adalah sifat yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Allah dan sama sekali berbeda dengan sifat yang ada pada makhluk. Demikian pula dengan sifat nuzul. Ketika kita menetapkan Allah turun, maka turun-Nya Allah tidak sama dengan makhluk. Turun yang bermakna berpindah dari atas ke bawah sehingga tempat yang di atas akan melingkupi dzat yang telah turun ke tempat yang lebih rendah, ini adalah sifat turun yang ada pada makhluk. Adapun Allah berbeda dengan makhluk, karena Allah sendiri yang berfirman :لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah.” (Asy-Syura: 11).Anggapan yang dilontarkan syubhat ini akan terjadi pada turunnya makhluk. Adapun Allah tidak sama dengan makhluk. Maha suci Allah dari keserupaan dengan makhluk. Allah turun ke langit dunia dan sama sekali tidak ada satu pun makhluk yang melingkupinya. Oleh karena itu kita wajib menetapkan sifat nuzul bagi Allah, kita tetapkan maknanya tanpa menentukan kaifiyah-nya dan tanpa menyerupakan dengan turunnya makhluk. Syubhat 3 : Yang turun adalah malaikat AllahMemaknai hadits di atas bahwa yang turun adalah malaikat Allah adalah makna yang batil. Lafadz hadits menunjukkan penyandaran perbuatan turun kepada Allah dan bukan kepada selain-Nya. Ini menunjukkan bahwa yang turun adalah Allah sendiri. Jika yang turun adalah malaikat, apakah masuk akal jika malaikat berkata : “Barang siapa berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku akan Aku beri, barang siapa memohon ampun kepadaku akan Aku ampuni ?”. Tidak mungkin ada yang mengatakan dengan perkataan seperti ini kecuali hanya Allah saja. Dengan ini jelaslah kebatilan penyelewengan makna seperti ini.Syubhat 4 : Yang Turun Adalah amrullah Ada pula yang memaknai bahwa yang turun adalah  amrullah (urusan/perintah Allah) yang Allah tetapkan. Ini juga makna yang batil. Karena turunnya urusan Allah akan senantiasa ada pada setiap waktu, tidak khusus pada sepertiga malam terakhir saja . Allah Ta’ala berfirman :يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ” Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya “(As Sajadah :5)وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الأَمْرُ كُلُّهُ“Dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya” (Huud: 123)Syubhat 5 : Yang Turun Adalah Rahmat Allah Dikatakan pula yang turun adalah rahmat Allah Ta’ala ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. Ini juga merupakan makna yang batil. Apakah rahmat Allah tidak turun kecuali hanya pada waktu itu saja?! Ini sama saja dengan membatasi rahmat Allah, padahal Allah berfirman :وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)” (An Nahl : 53).Seluruh nikmat Allah merupakan buah dari rahmat Allah dan itu turun pada setiap waktu. Selain itu jika yang turun adalah rahmat Allah, apa faidahnya dengan turunnya rahmat Allah hanya sampai ke langit dunia dan tidak sampai ke bumi ?!Syubhat 6 : Bukankah Bumi Itu Bulat ?Lain lagi dengan pertanyaan orang-orang zaman sekarang. Mereka mempertentangkan masalah ini dengan pengetahuan bahwa bumi ini bulat. Mereka mengatakan bagaimana mungkin Allah turun ke langit dunia di sepertiga malam terakhir? Sepertiga malam jika berpindah dari satu tempat akan terjadi selanjutnya di daerah dekatnya dan seterusnya sesuai arah berputarnya bumi. Jika demikian, Allah akan selalu turun ke langit dunia karena akan ada dalam setiap waktu bagian bumi yang mengalami sepertiga malam?Kita katakan bahwa kita mengimani Allah turun ke langit dunia pada tiap sepertiga malam terakhir. Jika kita sudah beriman dengan yakin, tidak ada lagi keraguan sedikit pun di balik keyakinan tersebut. Kita tidak perlu dan tidak pantas bertanya bagaimana dan mengapa. Kewajiban kita beriman jika sepertiga malam terjadi di satu daerah, maka ketika itu pula Allah  turun. Jika sepertiga malam terakhir terjadi di daerah lain, maka ketika itu pula Allah turun di daerah tersebut. Jika telah terbit fajar di daerah tersebut maka berakhir sudah waktu turun-Nya Allah di daerah tersebut.KesimpulanAhlus Sunnah menetapkan tentang sifat turun-Nya Allah Ta’ala ke langit dunia setiap malam sebagaimana mereka menetapkan seluruh sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Al-Qur-an dan As-Sunnah. Kewajiban kita adalah beriman terhadap sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan rasul-Nya tanpa menyelewengkan dari maknanya yang hakiki. Demikian pula sifat nuzul, wajib kita beriman bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia secara hakiki pada sepertiga malam terakhir dan tidak sama dengan turunnya makhluk. Pada saat turun, Allah akan mengabulkan orang yang berdoa, akan memberi orang yang meminta, dan akan mengampuni orang yang memohon ampun. Oleh karena itu  hendaknya kita senantiasa mencari waktu yang mulia ini untuk mendapatkan karunia Allah Ta’ala dan rahmat-Nya, melaksanakan ibadah kepada Allah dengan khusyu’, memohon ampunan kepada-Nya, dan memohon kebaikan di dunia dan di akhirat. Tidak selayaknya seorang muslim melewatkan waktu yang sangat berharga ini. Inilah buah keimanan yang benar terhadap sifat turun-Nya Allah Ta’ala. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bisa memanfaatkan waktu yang mulia ini. Wallahu a’lam.Penulis : Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idReferensi :  Al ‘Uquud adz Dzahabiyyah ‘alaa Maqaasid al ‘Aqiidah al Waasithiiyyah karya Syaikh Dr. Sulthon bin ‘Abdirrahman al ‘Umairi Syarh al ‘Aqiidah al Waasithiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin Syarh al ‘Aqiidah al Waasithiyyah karya Syaikh Shalih Alu Syaikh  Syarh Fathi Rabbil Bariyyah bi Talkhiisi al Hamawiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin

Jawaban Bagi Yang Mengingkari Sifat Nuzul

Dalil Tentang Sifat NuzulPenetapan aqidah mengenai sifat nuzul (Allah turun ke langit dunia) telah diterangkan oleh banyak hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mencapai derajat mutawatir (melalui jalur yang banyak). Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ “ Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam pada sepertiga malam yang terakhir, kemudian berfirman : “ Barang siapa berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku akan Aku beri, barang siapa memohon ampun kepadaku akan Aku ampuni” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini secara jelas  dan gamblang menunjukkan penetapan sifat nuzul bagi Allah, yakni Allah turun ke langit dunia.Keyakinan Yang Benar tentang Sifat NuzulMakna nuzul dalam hadits di atas yaitu bahwa Allah turun secara hakiki ke langit dunia. Wajib bagi kita mengimaninya dan membenarkannya. Allah turun ke langit dunia yang merupakan langit yang paling dekat dengan dunia. Turun-Nya Allah adalah sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya, tidak seperti turunnya makhluk. Allah Ta’ala berfirman :لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah.” (Asy-Syura: 11).Oleh karena itu kita menetapkan nuzul dari sisi makna dan bukan dari sisi kaifyah (bagaimana cara turun). Kita menetapkannya tanpa tamsil (menyerupakan dengan sifat makhluk) dan Allah turun sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya. Tidak boleh menolak sifat ini ataupun menyelewengkan maknanya dengan makna yang lain. Baca Juga: Jawaban Global Bagi Yang Menolak Sifat NuzulSudah menjadi kebiasaan ahlul bid’ah bahwasanya mereka akan menolak atau menyelewengkan sifat-sifat Allah yang tidak mereka imani, termasuk sifat nuzul ini. Mereka menolak sifat nuzul dengan berbagai alasan yang sebenarnya merupakan syubhat yang lemah.Jawaban secara global terhadap setiap penolak sifat Allah, termasuk bagi yang mengingkari sifat nuzul, adalah sebagai berikut : Ketika mereka menolak dan menyelewengkan makna nuzul maka ini menyelisihi dhohir nash, bahwa yang dimaksud nuzul dari dalil-dalil yang menyebutkan sifat nuzul adalah turun-Nya Allah secara hakiki sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Allah dan tidak sama dengan turunnya makhluk. Yang mereka lakukan ketika menolak atau menyelewengkan makna sifat nuzul adalah menyelisih jalannya para sahabat dan para salafus shalih sesudahnya dalam memahami dan mengimani sifat nuzul. Tidak ada satupun dari salafus shalih yang menolak dan menyelewengkan makna nuzul dengan makna yang lain. Bahkan mereka telah ijma’ dalam masalah ini. Baca Juga: Berbagai Syubhat Penolak Sifat Nuzul dan Jawabannya Berikutnya akan kita bahas perincian beberapa syubhat yang dilontarkan untuk menolak sifat nuzul dan jawaban atas batilnya alasan dari syubhat tersebut. Syubhat 1 : Menetapkan Allah turun bertentangan dengan akal dan turun adalah perbuatan makhluk. Jika ada yang mengatakan : “Mengapa engkau katakan Allah turun? Jika Allah turun, bagaimana dengan ke-Maha Tinggian Allah ? Jika Allah turun, bagaimana dengan istiwa’-Nya Allah di atas ‘arsy ? Jika Allah turun, maka turun adalah bergerak dan berpindah. Jika Allah turun, maka turun adalah perbuatan makhluk. ”Kita katakan bahwa itu semua itu adalah anggapan yang batil dan itu semua tidak bertentangan dengan hakikat turun-Nya Allah. Apakah kalian lebih tahu tentang hakikat turun-Nya Allah  daripada sahabat Rasulullah?. Para sahabat tidak pernah sama sekali mengatakan kemungkinan-kemungkinan seperti yang kalian katakan. Mereka semua (para sahabat) mengatakan. : kami mendengar, kami beriman, kami menerima, dan kami membenarkan. Sedangkan ahlu ta’thil (para penolak sifat) mereka memperdebatkan dengan perdebatan yang batil dengan bertanya mengapa begini dan mengapa begitu. Cukuplah kita katakan Allah Ta’ala turun dan kita tidak perlu memperdebatkan tentang apakah ‘arsy Allah kosong atau tidak. Adapun sifat ke-Maha Tinggian Allah, kita katakan bahwa Allah turun akan tetapi Allah tetap di atas para makhluk-Nya, karena bukanlah makna dari turun-Nya Allah akan diliputi dan dinaungi langit, karena tidak ada satu makhluk pun yang dapat meliputi Allah Ta’ala.Syubhat 2 : Kalau Allah turun berarti Allah akan dilingkupi langit yang merupakan makhluk dan akan berada di bawahnya.Perlu kita camkan baik-baik, bahwa ketika kita menetapkan sifat bagi Allah, maka sifat tersebut adalah sifat yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Allah dan sama sekali berbeda dengan sifat yang ada pada makhluk. Demikian pula dengan sifat nuzul. Ketika kita menetapkan Allah turun, maka turun-Nya Allah tidak sama dengan makhluk. Turun yang bermakna berpindah dari atas ke bawah sehingga tempat yang di atas akan melingkupi dzat yang telah turun ke tempat yang lebih rendah, ini adalah sifat turun yang ada pada makhluk. Adapun Allah berbeda dengan makhluk, karena Allah sendiri yang berfirman :لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah.” (Asy-Syura: 11).Anggapan yang dilontarkan syubhat ini akan terjadi pada turunnya makhluk. Adapun Allah tidak sama dengan makhluk. Maha suci Allah dari keserupaan dengan makhluk. Allah turun ke langit dunia dan sama sekali tidak ada satu pun makhluk yang melingkupinya. Oleh karena itu kita wajib menetapkan sifat nuzul bagi Allah, kita tetapkan maknanya tanpa menentukan kaifiyah-nya dan tanpa menyerupakan dengan turunnya makhluk. Syubhat 3 : Yang turun adalah malaikat AllahMemaknai hadits di atas bahwa yang turun adalah malaikat Allah adalah makna yang batil. Lafadz hadits menunjukkan penyandaran perbuatan turun kepada Allah dan bukan kepada selain-Nya. Ini menunjukkan bahwa yang turun adalah Allah sendiri. Jika yang turun adalah malaikat, apakah masuk akal jika malaikat berkata : “Barang siapa berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku akan Aku beri, barang siapa memohon ampun kepadaku akan Aku ampuni ?”. Tidak mungkin ada yang mengatakan dengan perkataan seperti ini kecuali hanya Allah saja. Dengan ini jelaslah kebatilan penyelewengan makna seperti ini.Syubhat 4 : Yang Turun Adalah amrullah Ada pula yang memaknai bahwa yang turun adalah  amrullah (urusan/perintah Allah) yang Allah tetapkan. Ini juga makna yang batil. Karena turunnya urusan Allah akan senantiasa ada pada setiap waktu, tidak khusus pada sepertiga malam terakhir saja . Allah Ta’ala berfirman :يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ” Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya “(As Sajadah :5)وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الأَمْرُ كُلُّهُ“Dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya” (Huud: 123)Syubhat 5 : Yang Turun Adalah Rahmat Allah Dikatakan pula yang turun adalah rahmat Allah Ta’ala ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. Ini juga merupakan makna yang batil. Apakah rahmat Allah tidak turun kecuali hanya pada waktu itu saja?! Ini sama saja dengan membatasi rahmat Allah, padahal Allah berfirman :وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)” (An Nahl : 53).Seluruh nikmat Allah merupakan buah dari rahmat Allah dan itu turun pada setiap waktu. Selain itu jika yang turun adalah rahmat Allah, apa faidahnya dengan turunnya rahmat Allah hanya sampai ke langit dunia dan tidak sampai ke bumi ?!Syubhat 6 : Bukankah Bumi Itu Bulat ?Lain lagi dengan pertanyaan orang-orang zaman sekarang. Mereka mempertentangkan masalah ini dengan pengetahuan bahwa bumi ini bulat. Mereka mengatakan bagaimana mungkin Allah turun ke langit dunia di sepertiga malam terakhir? Sepertiga malam jika berpindah dari satu tempat akan terjadi selanjutnya di daerah dekatnya dan seterusnya sesuai arah berputarnya bumi. Jika demikian, Allah akan selalu turun ke langit dunia karena akan ada dalam setiap waktu bagian bumi yang mengalami sepertiga malam?Kita katakan bahwa kita mengimani Allah turun ke langit dunia pada tiap sepertiga malam terakhir. Jika kita sudah beriman dengan yakin, tidak ada lagi keraguan sedikit pun di balik keyakinan tersebut. Kita tidak perlu dan tidak pantas bertanya bagaimana dan mengapa. Kewajiban kita beriman jika sepertiga malam terjadi di satu daerah, maka ketika itu pula Allah  turun. Jika sepertiga malam terakhir terjadi di daerah lain, maka ketika itu pula Allah turun di daerah tersebut. Jika telah terbit fajar di daerah tersebut maka berakhir sudah waktu turun-Nya Allah di daerah tersebut.KesimpulanAhlus Sunnah menetapkan tentang sifat turun-Nya Allah Ta’ala ke langit dunia setiap malam sebagaimana mereka menetapkan seluruh sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Al-Qur-an dan As-Sunnah. Kewajiban kita adalah beriman terhadap sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan rasul-Nya tanpa menyelewengkan dari maknanya yang hakiki. Demikian pula sifat nuzul, wajib kita beriman bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia secara hakiki pada sepertiga malam terakhir dan tidak sama dengan turunnya makhluk. Pada saat turun, Allah akan mengabulkan orang yang berdoa, akan memberi orang yang meminta, dan akan mengampuni orang yang memohon ampun. Oleh karena itu  hendaknya kita senantiasa mencari waktu yang mulia ini untuk mendapatkan karunia Allah Ta’ala dan rahmat-Nya, melaksanakan ibadah kepada Allah dengan khusyu’, memohon ampunan kepada-Nya, dan memohon kebaikan di dunia dan di akhirat. Tidak selayaknya seorang muslim melewatkan waktu yang sangat berharga ini. Inilah buah keimanan yang benar terhadap sifat turun-Nya Allah Ta’ala. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bisa memanfaatkan waktu yang mulia ini. Wallahu a’lam.Penulis : Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idReferensi :  Al ‘Uquud adz Dzahabiyyah ‘alaa Maqaasid al ‘Aqiidah al Waasithiiyyah karya Syaikh Dr. Sulthon bin ‘Abdirrahman al ‘Umairi Syarh al ‘Aqiidah al Waasithiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin Syarh al ‘Aqiidah al Waasithiyyah karya Syaikh Shalih Alu Syaikh  Syarh Fathi Rabbil Bariyyah bi Talkhiisi al Hamawiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin
Dalil Tentang Sifat NuzulPenetapan aqidah mengenai sifat nuzul (Allah turun ke langit dunia) telah diterangkan oleh banyak hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mencapai derajat mutawatir (melalui jalur yang banyak). Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ “ Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam pada sepertiga malam yang terakhir, kemudian berfirman : “ Barang siapa berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku akan Aku beri, barang siapa memohon ampun kepadaku akan Aku ampuni” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini secara jelas  dan gamblang menunjukkan penetapan sifat nuzul bagi Allah, yakni Allah turun ke langit dunia.Keyakinan Yang Benar tentang Sifat NuzulMakna nuzul dalam hadits di atas yaitu bahwa Allah turun secara hakiki ke langit dunia. Wajib bagi kita mengimaninya dan membenarkannya. Allah turun ke langit dunia yang merupakan langit yang paling dekat dengan dunia. Turun-Nya Allah adalah sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya, tidak seperti turunnya makhluk. Allah Ta’ala berfirman :لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah.” (Asy-Syura: 11).Oleh karena itu kita menetapkan nuzul dari sisi makna dan bukan dari sisi kaifyah (bagaimana cara turun). Kita menetapkannya tanpa tamsil (menyerupakan dengan sifat makhluk) dan Allah turun sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya. Tidak boleh menolak sifat ini ataupun menyelewengkan maknanya dengan makna yang lain. Baca Juga: Jawaban Global Bagi Yang Menolak Sifat NuzulSudah menjadi kebiasaan ahlul bid’ah bahwasanya mereka akan menolak atau menyelewengkan sifat-sifat Allah yang tidak mereka imani, termasuk sifat nuzul ini. Mereka menolak sifat nuzul dengan berbagai alasan yang sebenarnya merupakan syubhat yang lemah.Jawaban secara global terhadap setiap penolak sifat Allah, termasuk bagi yang mengingkari sifat nuzul, adalah sebagai berikut : Ketika mereka menolak dan menyelewengkan makna nuzul maka ini menyelisihi dhohir nash, bahwa yang dimaksud nuzul dari dalil-dalil yang menyebutkan sifat nuzul adalah turun-Nya Allah secara hakiki sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Allah dan tidak sama dengan turunnya makhluk. Yang mereka lakukan ketika menolak atau menyelewengkan makna sifat nuzul adalah menyelisih jalannya para sahabat dan para salafus shalih sesudahnya dalam memahami dan mengimani sifat nuzul. Tidak ada satupun dari salafus shalih yang menolak dan menyelewengkan makna nuzul dengan makna yang lain. Bahkan mereka telah ijma’ dalam masalah ini. Baca Juga: Berbagai Syubhat Penolak Sifat Nuzul dan Jawabannya Berikutnya akan kita bahas perincian beberapa syubhat yang dilontarkan untuk menolak sifat nuzul dan jawaban atas batilnya alasan dari syubhat tersebut. Syubhat 1 : Menetapkan Allah turun bertentangan dengan akal dan turun adalah perbuatan makhluk. Jika ada yang mengatakan : “Mengapa engkau katakan Allah turun? Jika Allah turun, bagaimana dengan ke-Maha Tinggian Allah ? Jika Allah turun, bagaimana dengan istiwa’-Nya Allah di atas ‘arsy ? Jika Allah turun, maka turun adalah bergerak dan berpindah. Jika Allah turun, maka turun adalah perbuatan makhluk. ”Kita katakan bahwa itu semua itu adalah anggapan yang batil dan itu semua tidak bertentangan dengan hakikat turun-Nya Allah. Apakah kalian lebih tahu tentang hakikat turun-Nya Allah  daripada sahabat Rasulullah?. Para sahabat tidak pernah sama sekali mengatakan kemungkinan-kemungkinan seperti yang kalian katakan. Mereka semua (para sahabat) mengatakan. : kami mendengar, kami beriman, kami menerima, dan kami membenarkan. Sedangkan ahlu ta’thil (para penolak sifat) mereka memperdebatkan dengan perdebatan yang batil dengan bertanya mengapa begini dan mengapa begitu. Cukuplah kita katakan Allah Ta’ala turun dan kita tidak perlu memperdebatkan tentang apakah ‘arsy Allah kosong atau tidak. Adapun sifat ke-Maha Tinggian Allah, kita katakan bahwa Allah turun akan tetapi Allah tetap di atas para makhluk-Nya, karena bukanlah makna dari turun-Nya Allah akan diliputi dan dinaungi langit, karena tidak ada satu makhluk pun yang dapat meliputi Allah Ta’ala.Syubhat 2 : Kalau Allah turun berarti Allah akan dilingkupi langit yang merupakan makhluk dan akan berada di bawahnya.Perlu kita camkan baik-baik, bahwa ketika kita menetapkan sifat bagi Allah, maka sifat tersebut adalah sifat yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Allah dan sama sekali berbeda dengan sifat yang ada pada makhluk. Demikian pula dengan sifat nuzul. Ketika kita menetapkan Allah turun, maka turun-Nya Allah tidak sama dengan makhluk. Turun yang bermakna berpindah dari atas ke bawah sehingga tempat yang di atas akan melingkupi dzat yang telah turun ke tempat yang lebih rendah, ini adalah sifat turun yang ada pada makhluk. Adapun Allah berbeda dengan makhluk, karena Allah sendiri yang berfirman :لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah.” (Asy-Syura: 11).Anggapan yang dilontarkan syubhat ini akan terjadi pada turunnya makhluk. Adapun Allah tidak sama dengan makhluk. Maha suci Allah dari keserupaan dengan makhluk. Allah turun ke langit dunia dan sama sekali tidak ada satu pun makhluk yang melingkupinya. Oleh karena itu kita wajib menetapkan sifat nuzul bagi Allah, kita tetapkan maknanya tanpa menentukan kaifiyah-nya dan tanpa menyerupakan dengan turunnya makhluk. Syubhat 3 : Yang turun adalah malaikat AllahMemaknai hadits di atas bahwa yang turun adalah malaikat Allah adalah makna yang batil. Lafadz hadits menunjukkan penyandaran perbuatan turun kepada Allah dan bukan kepada selain-Nya. Ini menunjukkan bahwa yang turun adalah Allah sendiri. Jika yang turun adalah malaikat, apakah masuk akal jika malaikat berkata : “Barang siapa berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku akan Aku beri, barang siapa memohon ampun kepadaku akan Aku ampuni ?”. Tidak mungkin ada yang mengatakan dengan perkataan seperti ini kecuali hanya Allah saja. Dengan ini jelaslah kebatilan penyelewengan makna seperti ini.Syubhat 4 : Yang Turun Adalah amrullah Ada pula yang memaknai bahwa yang turun adalah  amrullah (urusan/perintah Allah) yang Allah tetapkan. Ini juga makna yang batil. Karena turunnya urusan Allah akan senantiasa ada pada setiap waktu, tidak khusus pada sepertiga malam terakhir saja . Allah Ta’ala berfirman :يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ” Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya “(As Sajadah :5)وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الأَمْرُ كُلُّهُ“Dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya” (Huud: 123)Syubhat 5 : Yang Turun Adalah Rahmat Allah Dikatakan pula yang turun adalah rahmat Allah Ta’ala ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. Ini juga merupakan makna yang batil. Apakah rahmat Allah tidak turun kecuali hanya pada waktu itu saja?! Ini sama saja dengan membatasi rahmat Allah, padahal Allah berfirman :وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)” (An Nahl : 53).Seluruh nikmat Allah merupakan buah dari rahmat Allah dan itu turun pada setiap waktu. Selain itu jika yang turun adalah rahmat Allah, apa faidahnya dengan turunnya rahmat Allah hanya sampai ke langit dunia dan tidak sampai ke bumi ?!Syubhat 6 : Bukankah Bumi Itu Bulat ?Lain lagi dengan pertanyaan orang-orang zaman sekarang. Mereka mempertentangkan masalah ini dengan pengetahuan bahwa bumi ini bulat. Mereka mengatakan bagaimana mungkin Allah turun ke langit dunia di sepertiga malam terakhir? Sepertiga malam jika berpindah dari satu tempat akan terjadi selanjutnya di daerah dekatnya dan seterusnya sesuai arah berputarnya bumi. Jika demikian, Allah akan selalu turun ke langit dunia karena akan ada dalam setiap waktu bagian bumi yang mengalami sepertiga malam?Kita katakan bahwa kita mengimani Allah turun ke langit dunia pada tiap sepertiga malam terakhir. Jika kita sudah beriman dengan yakin, tidak ada lagi keraguan sedikit pun di balik keyakinan tersebut. Kita tidak perlu dan tidak pantas bertanya bagaimana dan mengapa. Kewajiban kita beriman jika sepertiga malam terjadi di satu daerah, maka ketika itu pula Allah  turun. Jika sepertiga malam terakhir terjadi di daerah lain, maka ketika itu pula Allah turun di daerah tersebut. Jika telah terbit fajar di daerah tersebut maka berakhir sudah waktu turun-Nya Allah di daerah tersebut.KesimpulanAhlus Sunnah menetapkan tentang sifat turun-Nya Allah Ta’ala ke langit dunia setiap malam sebagaimana mereka menetapkan seluruh sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Al-Qur-an dan As-Sunnah. Kewajiban kita adalah beriman terhadap sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan rasul-Nya tanpa menyelewengkan dari maknanya yang hakiki. Demikian pula sifat nuzul, wajib kita beriman bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia secara hakiki pada sepertiga malam terakhir dan tidak sama dengan turunnya makhluk. Pada saat turun, Allah akan mengabulkan orang yang berdoa, akan memberi orang yang meminta, dan akan mengampuni orang yang memohon ampun. Oleh karena itu  hendaknya kita senantiasa mencari waktu yang mulia ini untuk mendapatkan karunia Allah Ta’ala dan rahmat-Nya, melaksanakan ibadah kepada Allah dengan khusyu’, memohon ampunan kepada-Nya, dan memohon kebaikan di dunia dan di akhirat. Tidak selayaknya seorang muslim melewatkan waktu yang sangat berharga ini. Inilah buah keimanan yang benar terhadap sifat turun-Nya Allah Ta’ala. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bisa memanfaatkan waktu yang mulia ini. Wallahu a’lam.Penulis : Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idReferensi :  Al ‘Uquud adz Dzahabiyyah ‘alaa Maqaasid al ‘Aqiidah al Waasithiiyyah karya Syaikh Dr. Sulthon bin ‘Abdirrahman al ‘Umairi Syarh al ‘Aqiidah al Waasithiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin Syarh al ‘Aqiidah al Waasithiyyah karya Syaikh Shalih Alu Syaikh  Syarh Fathi Rabbil Bariyyah bi Talkhiisi al Hamawiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin


Dalil Tentang Sifat NuzulPenetapan aqidah mengenai sifat nuzul (Allah turun ke langit dunia) telah diterangkan oleh banyak hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mencapai derajat mutawatir (melalui jalur yang banyak). Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ “ Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam pada sepertiga malam yang terakhir, kemudian berfirman : “ Barang siapa berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku akan Aku beri, barang siapa memohon ampun kepadaku akan Aku ampuni” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini secara jelas  dan gamblang menunjukkan penetapan sifat nuzul bagi Allah, yakni Allah turun ke langit dunia.Keyakinan Yang Benar tentang Sifat NuzulMakna nuzul dalam hadits di atas yaitu bahwa Allah turun secara hakiki ke langit dunia. Wajib bagi kita mengimaninya dan membenarkannya. Allah turun ke langit dunia yang merupakan langit yang paling dekat dengan dunia. Turun-Nya Allah adalah sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya, tidak seperti turunnya makhluk. Allah Ta’ala berfirman :لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah.” (Asy-Syura: 11).Oleh karena itu kita menetapkan nuzul dari sisi makna dan bukan dari sisi kaifyah (bagaimana cara turun). Kita menetapkannya tanpa tamsil (menyerupakan dengan sifat makhluk) dan Allah turun sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya. Tidak boleh menolak sifat ini ataupun menyelewengkan maknanya dengan makna yang lain. Baca Juga: Jawaban Global Bagi Yang Menolak Sifat NuzulSudah menjadi kebiasaan ahlul bid’ah bahwasanya mereka akan menolak atau menyelewengkan sifat-sifat Allah yang tidak mereka imani, termasuk sifat nuzul ini. Mereka menolak sifat nuzul dengan berbagai alasan yang sebenarnya merupakan syubhat yang lemah.Jawaban secara global terhadap setiap penolak sifat Allah, termasuk bagi yang mengingkari sifat nuzul, adalah sebagai berikut : Ketika mereka menolak dan menyelewengkan makna nuzul maka ini menyelisihi dhohir nash, bahwa yang dimaksud nuzul dari dalil-dalil yang menyebutkan sifat nuzul adalah turun-Nya Allah secara hakiki sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Allah dan tidak sama dengan turunnya makhluk. Yang mereka lakukan ketika menolak atau menyelewengkan makna sifat nuzul adalah menyelisih jalannya para sahabat dan para salafus shalih sesudahnya dalam memahami dan mengimani sifat nuzul. Tidak ada satupun dari salafus shalih yang menolak dan menyelewengkan makna nuzul dengan makna yang lain. Bahkan mereka telah ijma’ dalam masalah ini. Baca Juga: Berbagai Syubhat Penolak Sifat Nuzul dan Jawabannya Berikutnya akan kita bahas perincian beberapa syubhat yang dilontarkan untuk menolak sifat nuzul dan jawaban atas batilnya alasan dari syubhat tersebut. Syubhat 1 : Menetapkan Allah turun bertentangan dengan akal dan turun adalah perbuatan makhluk. Jika ada yang mengatakan : “Mengapa engkau katakan Allah turun? Jika Allah turun, bagaimana dengan ke-Maha Tinggian Allah ? Jika Allah turun, bagaimana dengan istiwa’-Nya Allah di atas ‘arsy ? Jika Allah turun, maka turun adalah bergerak dan berpindah. Jika Allah turun, maka turun adalah perbuatan makhluk. ”Kita katakan bahwa itu semua itu adalah anggapan yang batil dan itu semua tidak bertentangan dengan hakikat turun-Nya Allah. Apakah kalian lebih tahu tentang hakikat turun-Nya Allah  daripada sahabat Rasulullah?. Para sahabat tidak pernah sama sekali mengatakan kemungkinan-kemungkinan seperti yang kalian katakan. Mereka semua (para sahabat) mengatakan. : kami mendengar, kami beriman, kami menerima, dan kami membenarkan. Sedangkan ahlu ta’thil (para penolak sifat) mereka memperdebatkan dengan perdebatan yang batil dengan bertanya mengapa begini dan mengapa begitu. Cukuplah kita katakan Allah Ta’ala turun dan kita tidak perlu memperdebatkan tentang apakah ‘arsy Allah kosong atau tidak. Adapun sifat ke-Maha Tinggian Allah, kita katakan bahwa Allah turun akan tetapi Allah tetap di atas para makhluk-Nya, karena bukanlah makna dari turun-Nya Allah akan diliputi dan dinaungi langit, karena tidak ada satu makhluk pun yang dapat meliputi Allah Ta’ala.Syubhat 2 : Kalau Allah turun berarti Allah akan dilingkupi langit yang merupakan makhluk dan akan berada di bawahnya.Perlu kita camkan baik-baik, bahwa ketika kita menetapkan sifat bagi Allah, maka sifat tersebut adalah sifat yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Allah dan sama sekali berbeda dengan sifat yang ada pada makhluk. Demikian pula dengan sifat nuzul. Ketika kita menetapkan Allah turun, maka turun-Nya Allah tidak sama dengan makhluk. Turun yang bermakna berpindah dari atas ke bawah sehingga tempat yang di atas akan melingkupi dzat yang telah turun ke tempat yang lebih rendah, ini adalah sifat turun yang ada pada makhluk. Adapun Allah berbeda dengan makhluk, karena Allah sendiri yang berfirman :لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah.” (Asy-Syura: 11).Anggapan yang dilontarkan syubhat ini akan terjadi pada turunnya makhluk. Adapun Allah tidak sama dengan makhluk. Maha suci Allah dari keserupaan dengan makhluk. Allah turun ke langit dunia dan sama sekali tidak ada satu pun makhluk yang melingkupinya. Oleh karena itu kita wajib menetapkan sifat nuzul bagi Allah, kita tetapkan maknanya tanpa menentukan kaifiyah-nya dan tanpa menyerupakan dengan turunnya makhluk. Syubhat 3 : Yang turun adalah malaikat AllahMemaknai hadits di atas bahwa yang turun adalah malaikat Allah adalah makna yang batil. Lafadz hadits menunjukkan penyandaran perbuatan turun kepada Allah dan bukan kepada selain-Nya. Ini menunjukkan bahwa yang turun adalah Allah sendiri. Jika yang turun adalah malaikat, apakah masuk akal jika malaikat berkata : “Barang siapa berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku akan Aku beri, barang siapa memohon ampun kepadaku akan Aku ampuni ?”. Tidak mungkin ada yang mengatakan dengan perkataan seperti ini kecuali hanya Allah saja. Dengan ini jelaslah kebatilan penyelewengan makna seperti ini.Syubhat 4 : Yang Turun Adalah amrullah Ada pula yang memaknai bahwa yang turun adalah  amrullah (urusan/perintah Allah) yang Allah tetapkan. Ini juga makna yang batil. Karena turunnya urusan Allah akan senantiasa ada pada setiap waktu, tidak khusus pada sepertiga malam terakhir saja . Allah Ta’ala berfirman :يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ” Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya “(As Sajadah :5)وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الأَمْرُ كُلُّهُ“Dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya” (Huud: 123)Syubhat 5 : Yang Turun Adalah Rahmat Allah Dikatakan pula yang turun adalah rahmat Allah Ta’ala ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. Ini juga merupakan makna yang batil. Apakah rahmat Allah tidak turun kecuali hanya pada waktu itu saja?! Ini sama saja dengan membatasi rahmat Allah, padahal Allah berfirman :وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)” (An Nahl : 53).Seluruh nikmat Allah merupakan buah dari rahmat Allah dan itu turun pada setiap waktu. Selain itu jika yang turun adalah rahmat Allah, apa faidahnya dengan turunnya rahmat Allah hanya sampai ke langit dunia dan tidak sampai ke bumi ?!Syubhat 6 : Bukankah Bumi Itu Bulat ?Lain lagi dengan pertanyaan orang-orang zaman sekarang. Mereka mempertentangkan masalah ini dengan pengetahuan bahwa bumi ini bulat. Mereka mengatakan bagaimana mungkin Allah turun ke langit dunia di sepertiga malam terakhir? Sepertiga malam jika berpindah dari satu tempat akan terjadi selanjutnya di daerah dekatnya dan seterusnya sesuai arah berputarnya bumi. Jika demikian, Allah akan selalu turun ke langit dunia karena akan ada dalam setiap waktu bagian bumi yang mengalami sepertiga malam?Kita katakan bahwa kita mengimani Allah turun ke langit dunia pada tiap sepertiga malam terakhir. Jika kita sudah beriman dengan yakin, tidak ada lagi keraguan sedikit pun di balik keyakinan tersebut. Kita tidak perlu dan tidak pantas bertanya bagaimana dan mengapa. Kewajiban kita beriman jika sepertiga malam terjadi di satu daerah, maka ketika itu pula Allah  turun. Jika sepertiga malam terakhir terjadi di daerah lain, maka ketika itu pula Allah turun di daerah tersebut. Jika telah terbit fajar di daerah tersebut maka berakhir sudah waktu turun-Nya Allah di daerah tersebut.KesimpulanAhlus Sunnah menetapkan tentang sifat turun-Nya Allah Ta’ala ke langit dunia setiap malam sebagaimana mereka menetapkan seluruh sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Al-Qur-an dan As-Sunnah. Kewajiban kita adalah beriman terhadap sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan rasul-Nya tanpa menyelewengkan dari maknanya yang hakiki. Demikian pula sifat nuzul, wajib kita beriman bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia secara hakiki pada sepertiga malam terakhir dan tidak sama dengan turunnya makhluk. Pada saat turun, Allah akan mengabulkan orang yang berdoa, akan memberi orang yang meminta, dan akan mengampuni orang yang memohon ampun. Oleh karena itu  hendaknya kita senantiasa mencari waktu yang mulia ini untuk mendapatkan karunia Allah Ta’ala dan rahmat-Nya, melaksanakan ibadah kepada Allah dengan khusyu’, memohon ampunan kepada-Nya, dan memohon kebaikan di dunia dan di akhirat. Tidak selayaknya seorang muslim melewatkan waktu yang sangat berharga ini. Inilah buah keimanan yang benar terhadap sifat turun-Nya Allah Ta’ala. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bisa memanfaatkan waktu yang mulia ini. Wallahu a’lam.Penulis : Adika MianokiArtikel: Muslim.or.idReferensi :  Al ‘Uquud adz Dzahabiyyah ‘alaa Maqaasid al ‘Aqiidah al Waasithiiyyah karya Syaikh Dr. Sulthon bin ‘Abdirrahman al ‘Umairi Syarh al ‘Aqiidah al Waasithiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin Syarh al ‘Aqiidah al Waasithiyyah karya Syaikh Shalih Alu Syaikh  Syarh Fathi Rabbil Bariyyah bi Talkhiisi al Hamawiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin

Senyum Bagian dari Akhlak Islam

Jarir bin Abdullah al-Bajali mengatakan, ما رآني ﷺ إلا تبسم في وجهي   “Tidaklah Rasulullah melihatku kecuali beliau tersenyum kepadaku.” (HR. Bukhari Muslim) Hadits ini dikomentari oleh al-Hafizh adz-Dzahabi sebagai berikut: هذا ‎خُلق الإسلام .. وينبغي لمن كان عبوسا مُنقبضا أن يتبسّم ، ويُحسِّن خلُقه ، ويمقت نفسه على رداءة خلقه ، ولا بد للنفس من مجاهدة وتأديب .. “Inilah (baca: suka tersenyum) adalah akhlak Islam. Sepatutnya orang yang punya sifat bawaan cemberut dan tegang, sulit senyum untuk berlatih suka senyum, memperbagus akhlaknya dan membenci dirinya yang memiliki akhlak yang buruk. Sebuah keniscayaan melawan dan menghukum diri sendiri agar bisa menjadi orang yang mudah tersenyum.” (Siyar 10/141) Syarat vital agar menjadi seorang yang berakhak mulia adalah berwajah ceria, berhias senyum manis yang tulus tanpa rekayasa.  Orang yang suka menolong orang lain namun dengan wajah datar tanpa ekspresi akan dinilai gagal menjadi orang yang berakhak mulia.  Jika senyum dengan orang lain itu bernilai pahala maka senyum di hadapan isteri, suami, ayah dan ibu jauh lebih berpahala.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Senyum Bagian dari Akhlak Islam

Jarir bin Abdullah al-Bajali mengatakan, ما رآني ﷺ إلا تبسم في وجهي   “Tidaklah Rasulullah melihatku kecuali beliau tersenyum kepadaku.” (HR. Bukhari Muslim) Hadits ini dikomentari oleh al-Hafizh adz-Dzahabi sebagai berikut: هذا ‎خُلق الإسلام .. وينبغي لمن كان عبوسا مُنقبضا أن يتبسّم ، ويُحسِّن خلُقه ، ويمقت نفسه على رداءة خلقه ، ولا بد للنفس من مجاهدة وتأديب .. “Inilah (baca: suka tersenyum) adalah akhlak Islam. Sepatutnya orang yang punya sifat bawaan cemberut dan tegang, sulit senyum untuk berlatih suka senyum, memperbagus akhlaknya dan membenci dirinya yang memiliki akhlak yang buruk. Sebuah keniscayaan melawan dan menghukum diri sendiri agar bisa menjadi orang yang mudah tersenyum.” (Siyar 10/141) Syarat vital agar menjadi seorang yang berakhak mulia adalah berwajah ceria, berhias senyum manis yang tulus tanpa rekayasa.  Orang yang suka menolong orang lain namun dengan wajah datar tanpa ekspresi akan dinilai gagal menjadi orang yang berakhak mulia.  Jika senyum dengan orang lain itu bernilai pahala maka senyum di hadapan isteri, suami, ayah dan ibu jauh lebih berpahala.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Jarir bin Abdullah al-Bajali mengatakan, ما رآني ﷺ إلا تبسم في وجهي   “Tidaklah Rasulullah melihatku kecuali beliau tersenyum kepadaku.” (HR. Bukhari Muslim) Hadits ini dikomentari oleh al-Hafizh adz-Dzahabi sebagai berikut: هذا ‎خُلق الإسلام .. وينبغي لمن كان عبوسا مُنقبضا أن يتبسّم ، ويُحسِّن خلُقه ، ويمقت نفسه على رداءة خلقه ، ولا بد للنفس من مجاهدة وتأديب .. “Inilah (baca: suka tersenyum) adalah akhlak Islam. Sepatutnya orang yang punya sifat bawaan cemberut dan tegang, sulit senyum untuk berlatih suka senyum, memperbagus akhlaknya dan membenci dirinya yang memiliki akhlak yang buruk. Sebuah keniscayaan melawan dan menghukum diri sendiri agar bisa menjadi orang yang mudah tersenyum.” (Siyar 10/141) Syarat vital agar menjadi seorang yang berakhak mulia adalah berwajah ceria, berhias senyum manis yang tulus tanpa rekayasa.  Orang yang suka menolong orang lain namun dengan wajah datar tanpa ekspresi akan dinilai gagal menjadi orang yang berakhak mulia.  Jika senyum dengan orang lain itu bernilai pahala maka senyum di hadapan isteri, suami, ayah dan ibu jauh lebih berpahala.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Jarir bin Abdullah al-Bajali mengatakan, ما رآني ﷺ إلا تبسم في وجهي   “Tidaklah Rasulullah melihatku kecuali beliau tersenyum kepadaku.” (HR. Bukhari Muslim) Hadits ini dikomentari oleh al-Hafizh adz-Dzahabi sebagai berikut: هذا ‎خُلق الإسلام .. وينبغي لمن كان عبوسا مُنقبضا أن يتبسّم ، ويُحسِّن خلُقه ، ويمقت نفسه على رداءة خلقه ، ولا بد للنفس من مجاهدة وتأديب .. “Inilah (baca: suka tersenyum) adalah akhlak Islam. Sepatutnya orang yang punya sifat bawaan cemberut dan tegang, sulit senyum untuk berlatih suka senyum, memperbagus akhlaknya dan membenci dirinya yang memiliki akhlak yang buruk. Sebuah keniscayaan melawan dan menghukum diri sendiri agar bisa menjadi orang yang mudah tersenyum.” (Siyar 10/141) Syarat vital agar menjadi seorang yang berakhak mulia adalah berwajah ceria, berhias senyum manis yang tulus tanpa rekayasa.  Orang yang suka menolong orang lain namun dengan wajah datar tanpa ekspresi akan dinilai gagal menjadi orang yang berakhak mulia.  Jika senyum dengan orang lain itu bernilai pahala maka senyum di hadapan isteri, suami, ayah dan ibu jauh lebih berpahala.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Muslimah, Jadilah Mulia dengan Tinggal di Rumahnya

Wahai Muslimah, Allah Telah MemuliakanmuWahai saudariku muslimah, sungguh Allah Ta’ala telah mengkhususkan ayat ini untuk kalian:وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى“Dan hendaklah kalian tetap berada di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah terdahulu” (Al Ahzab: 33).Marilah kita mencoba mengambil pelajaran dari perintah Allah dalam ayat di atas.Kemuliaan Muslimah Diraih di Dalam RumahAyat di atas bisa dibaca dengan dua bacaan : Yang pertama dibaca  (وَقَرْنَ) (Wa qarna), berasal dari kata (القَرَار). Maknanya adalah tinggal dan menetap di dalam rumah dan tidak keluar rumah kecuali untuk keperluan yang mendesak. Dibaca (وَقِرْنَ) (Wa qirna), berasal dari kata (ألوَقَار) yang artinya kewibawaan dan kemuliaan. Kedua makna di atas saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Wanita yang tinggal di rumahnya maka akan memiliki kewibawaan dan kemuliaan. Apabila mereka sering keluar rumah dan tidak berada di rumahnya maka dirinya akan jauh dari kewibaan dan akan berganti dengan kondisi yang sebaliknya.Tanggung Jawab Besar di Dalam RumahAllah berfirman,وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ“Dan hendaklah kalian tetap berada di dalam rumah-rumah kalian.”Dinisbatkan ‘‘rumah-rumah kalian” kepada wanita, padahal secara umum para wanita tinggal di rumah milik suaminya, ini menunjukkan bahwa ada kekhususn wanita dengan rumah, yaitu dengan tinggal di rumah, menjaganya, dan tanggung jawab yang besar terhadap rumah yang dia tempati. Oleh karena itu, dinisbatkan rumah itu kepada wanita. Dengan demikian para wanita tertuntut untuk tetap tinggal di dalamnya dan tidak keluar rumah kecuali jika memang ada kebutuhan yang mengharuskan untuk keluar rumah.Penjelasan atas Larangan Berhias (Tabarruj)Selanjutnya Allah berfrman,وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى“janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah terdahulu.”Jika wanita keluar rumah untuk suatu keperluan maka dia wajib berpegang teguh dengan aturan dan adab syariat Islam. Termasuk perbuatan tabarruj yang terlarang adalah membuka aurat, menampakkan keindahan dan perhiasan, memakai parfum, berdandan, dan menimbulkan fitnah serta menggoda pandangan laki-laki. Ini semua merupakan perbuatan jahiliyah orang-orang terdahulu yang apabila wanita melakukannya maka akan jatuh dan rendah harga dirinya. Wal’iyadzubillah.Rujukan : Mau’idhotun Nisaa’ karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al’ Abbad al Badr hafidzahumallah.Penyusun : dr. Adika Mianoki Artikel: Muslim.or.id

Muslimah, Jadilah Mulia dengan Tinggal di Rumahnya

Wahai Muslimah, Allah Telah MemuliakanmuWahai saudariku muslimah, sungguh Allah Ta’ala telah mengkhususkan ayat ini untuk kalian:وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى“Dan hendaklah kalian tetap berada di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah terdahulu” (Al Ahzab: 33).Marilah kita mencoba mengambil pelajaran dari perintah Allah dalam ayat di atas.Kemuliaan Muslimah Diraih di Dalam RumahAyat di atas bisa dibaca dengan dua bacaan : Yang pertama dibaca  (وَقَرْنَ) (Wa qarna), berasal dari kata (القَرَار). Maknanya adalah tinggal dan menetap di dalam rumah dan tidak keluar rumah kecuali untuk keperluan yang mendesak. Dibaca (وَقِرْنَ) (Wa qirna), berasal dari kata (ألوَقَار) yang artinya kewibawaan dan kemuliaan. Kedua makna di atas saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Wanita yang tinggal di rumahnya maka akan memiliki kewibawaan dan kemuliaan. Apabila mereka sering keluar rumah dan tidak berada di rumahnya maka dirinya akan jauh dari kewibaan dan akan berganti dengan kondisi yang sebaliknya.Tanggung Jawab Besar di Dalam RumahAllah berfirman,وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ“Dan hendaklah kalian tetap berada di dalam rumah-rumah kalian.”Dinisbatkan ‘‘rumah-rumah kalian” kepada wanita, padahal secara umum para wanita tinggal di rumah milik suaminya, ini menunjukkan bahwa ada kekhususn wanita dengan rumah, yaitu dengan tinggal di rumah, menjaganya, dan tanggung jawab yang besar terhadap rumah yang dia tempati. Oleh karena itu, dinisbatkan rumah itu kepada wanita. Dengan demikian para wanita tertuntut untuk tetap tinggal di dalamnya dan tidak keluar rumah kecuali jika memang ada kebutuhan yang mengharuskan untuk keluar rumah.Penjelasan atas Larangan Berhias (Tabarruj)Selanjutnya Allah berfrman,وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى“janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah terdahulu.”Jika wanita keluar rumah untuk suatu keperluan maka dia wajib berpegang teguh dengan aturan dan adab syariat Islam. Termasuk perbuatan tabarruj yang terlarang adalah membuka aurat, menampakkan keindahan dan perhiasan, memakai parfum, berdandan, dan menimbulkan fitnah serta menggoda pandangan laki-laki. Ini semua merupakan perbuatan jahiliyah orang-orang terdahulu yang apabila wanita melakukannya maka akan jatuh dan rendah harga dirinya. Wal’iyadzubillah.Rujukan : Mau’idhotun Nisaa’ karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al’ Abbad al Badr hafidzahumallah.Penyusun : dr. Adika Mianoki Artikel: Muslim.or.id
Wahai Muslimah, Allah Telah MemuliakanmuWahai saudariku muslimah, sungguh Allah Ta’ala telah mengkhususkan ayat ini untuk kalian:وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى“Dan hendaklah kalian tetap berada di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah terdahulu” (Al Ahzab: 33).Marilah kita mencoba mengambil pelajaran dari perintah Allah dalam ayat di atas.Kemuliaan Muslimah Diraih di Dalam RumahAyat di atas bisa dibaca dengan dua bacaan : Yang pertama dibaca  (وَقَرْنَ) (Wa qarna), berasal dari kata (القَرَار). Maknanya adalah tinggal dan menetap di dalam rumah dan tidak keluar rumah kecuali untuk keperluan yang mendesak. Dibaca (وَقِرْنَ) (Wa qirna), berasal dari kata (ألوَقَار) yang artinya kewibawaan dan kemuliaan. Kedua makna di atas saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Wanita yang tinggal di rumahnya maka akan memiliki kewibawaan dan kemuliaan. Apabila mereka sering keluar rumah dan tidak berada di rumahnya maka dirinya akan jauh dari kewibaan dan akan berganti dengan kondisi yang sebaliknya.Tanggung Jawab Besar di Dalam RumahAllah berfirman,وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ“Dan hendaklah kalian tetap berada di dalam rumah-rumah kalian.”Dinisbatkan ‘‘rumah-rumah kalian” kepada wanita, padahal secara umum para wanita tinggal di rumah milik suaminya, ini menunjukkan bahwa ada kekhususn wanita dengan rumah, yaitu dengan tinggal di rumah, menjaganya, dan tanggung jawab yang besar terhadap rumah yang dia tempati. Oleh karena itu, dinisbatkan rumah itu kepada wanita. Dengan demikian para wanita tertuntut untuk tetap tinggal di dalamnya dan tidak keluar rumah kecuali jika memang ada kebutuhan yang mengharuskan untuk keluar rumah.Penjelasan atas Larangan Berhias (Tabarruj)Selanjutnya Allah berfrman,وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى“janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah terdahulu.”Jika wanita keluar rumah untuk suatu keperluan maka dia wajib berpegang teguh dengan aturan dan adab syariat Islam. Termasuk perbuatan tabarruj yang terlarang adalah membuka aurat, menampakkan keindahan dan perhiasan, memakai parfum, berdandan, dan menimbulkan fitnah serta menggoda pandangan laki-laki. Ini semua merupakan perbuatan jahiliyah orang-orang terdahulu yang apabila wanita melakukannya maka akan jatuh dan rendah harga dirinya. Wal’iyadzubillah.Rujukan : Mau’idhotun Nisaa’ karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al’ Abbad al Badr hafidzahumallah.Penyusun : dr. Adika Mianoki Artikel: Muslim.or.id


Wahai Muslimah, Allah Telah MemuliakanmuWahai saudariku muslimah, sungguh Allah Ta’ala telah mengkhususkan ayat ini untuk kalian:وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى“Dan hendaklah kalian tetap berada di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah terdahulu” (Al Ahzab: 33).Marilah kita mencoba mengambil pelajaran dari perintah Allah dalam ayat di atas.Kemuliaan Muslimah Diraih di Dalam RumahAyat di atas bisa dibaca dengan dua bacaan : Yang pertama dibaca  (وَقَرْنَ) (Wa qarna), berasal dari kata (القَرَار). Maknanya adalah tinggal dan menetap di dalam rumah dan tidak keluar rumah kecuali untuk keperluan yang mendesak. Dibaca (وَقِرْنَ) (Wa qirna), berasal dari kata (ألوَقَار) yang artinya kewibawaan dan kemuliaan. Kedua makna di atas saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Wanita yang tinggal di rumahnya maka akan memiliki kewibawaan dan kemuliaan. Apabila mereka sering keluar rumah dan tidak berada di rumahnya maka dirinya akan jauh dari kewibaan dan akan berganti dengan kondisi yang sebaliknya.Tanggung Jawab Besar di Dalam RumahAllah berfirman,وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ“Dan hendaklah kalian tetap berada di dalam rumah-rumah kalian.”Dinisbatkan ‘‘rumah-rumah kalian” kepada wanita, padahal secara umum para wanita tinggal di rumah milik suaminya, ini menunjukkan bahwa ada kekhususn wanita dengan rumah, yaitu dengan tinggal di rumah, menjaganya, dan tanggung jawab yang besar terhadap rumah yang dia tempati. Oleh karena itu, dinisbatkan rumah itu kepada wanita. Dengan demikian para wanita tertuntut untuk tetap tinggal di dalamnya dan tidak keluar rumah kecuali jika memang ada kebutuhan yang mengharuskan untuk keluar rumah.Penjelasan atas Larangan Berhias (Tabarruj)Selanjutnya Allah berfrman,وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى“janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah terdahulu.”Jika wanita keluar rumah untuk suatu keperluan maka dia wajib berpegang teguh dengan aturan dan adab syariat Islam. Termasuk perbuatan tabarruj yang terlarang adalah membuka aurat, menampakkan keindahan dan perhiasan, memakai parfum, berdandan, dan menimbulkan fitnah serta menggoda pandangan laki-laki. Ini semua merupakan perbuatan jahiliyah orang-orang terdahulu yang apabila wanita melakukannya maka akan jatuh dan rendah harga dirinya. Wal’iyadzubillah.Rujukan : Mau’idhotun Nisaa’ karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin al’ Abbad al Badr hafidzahumallah.Penyusun : dr. Adika Mianoki Artikel: Muslim.or.id

Al-‘Aradh – Serial Menuju Akhirat #5

Ilustrasi gambar padang pasir #unsplashAl-‘AradhOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja. Lc, MA.Dinamakan al-‘Aradh karena seluruh manusia ditampakkan di hadapan Allah ﷻ dan tidak ada yang bisa bersembunyi. Tidak ada lembah, gunung, bangunan-bangunan, dan pohon sekalipun. Kata Nabi ﷺ,يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَ عَفْرَاءَ، كَقُرْصَةِ نَقِيٍّ لَيْسَ فِيهَا مَعْلَمٌ لِأَحَدٍ} صحيح البخاري (8/ 109{(“Pada hari kiamat, manusia dikumpulkan di atas tanah putih cemerlang berbentuk bundar pipih dan datar. Tidak ada satu tandapun bagi seseorang.” (HR. Bukhari 8/109 no. 6521)Semua manusia tampak dan tidak ada yang tersembunyi dari pandangan Allah ﷻ. Maka setelah itu mulailah persidangan di antara para hamba.Wallahu a’lam.Artikel ini serial penggalan dari Ebook – Perjalanan Setelah Kematian (DOWNLOAD PDF)

Al-‘Aradh – Serial Menuju Akhirat #5

Ilustrasi gambar padang pasir #unsplashAl-‘AradhOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja. Lc, MA.Dinamakan al-‘Aradh karena seluruh manusia ditampakkan di hadapan Allah ﷻ dan tidak ada yang bisa bersembunyi. Tidak ada lembah, gunung, bangunan-bangunan, dan pohon sekalipun. Kata Nabi ﷺ,يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَ عَفْرَاءَ، كَقُرْصَةِ نَقِيٍّ لَيْسَ فِيهَا مَعْلَمٌ لِأَحَدٍ} صحيح البخاري (8/ 109{(“Pada hari kiamat, manusia dikumpulkan di atas tanah putih cemerlang berbentuk bundar pipih dan datar. Tidak ada satu tandapun bagi seseorang.” (HR. Bukhari 8/109 no. 6521)Semua manusia tampak dan tidak ada yang tersembunyi dari pandangan Allah ﷻ. Maka setelah itu mulailah persidangan di antara para hamba.Wallahu a’lam.Artikel ini serial penggalan dari Ebook – Perjalanan Setelah Kematian (DOWNLOAD PDF)
Ilustrasi gambar padang pasir #unsplashAl-‘AradhOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja. Lc, MA.Dinamakan al-‘Aradh karena seluruh manusia ditampakkan di hadapan Allah ﷻ dan tidak ada yang bisa bersembunyi. Tidak ada lembah, gunung, bangunan-bangunan, dan pohon sekalipun. Kata Nabi ﷺ,يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَ عَفْرَاءَ، كَقُرْصَةِ نَقِيٍّ لَيْسَ فِيهَا مَعْلَمٌ لِأَحَدٍ} صحيح البخاري (8/ 109{(“Pada hari kiamat, manusia dikumpulkan di atas tanah putih cemerlang berbentuk bundar pipih dan datar. Tidak ada satu tandapun bagi seseorang.” (HR. Bukhari 8/109 no. 6521)Semua manusia tampak dan tidak ada yang tersembunyi dari pandangan Allah ﷻ. Maka setelah itu mulailah persidangan di antara para hamba.Wallahu a’lam.Artikel ini serial penggalan dari Ebook – Perjalanan Setelah Kematian (DOWNLOAD PDF)


Ilustrasi gambar padang pasir #unsplashAl-‘AradhOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja. Lc, MA.Dinamakan al-‘Aradh karena seluruh manusia ditampakkan di hadapan Allah ﷻ dan tidak ada yang bisa bersembunyi. Tidak ada lembah, gunung, bangunan-bangunan, dan pohon sekalipun. Kata Nabi ﷺ,يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَ عَفْرَاءَ، كَقُرْصَةِ نَقِيٍّ لَيْسَ فِيهَا مَعْلَمٌ لِأَحَدٍ} صحيح البخاري (8/ 109{(“Pada hari kiamat, manusia dikumpulkan di atas tanah putih cemerlang berbentuk bundar pipih dan datar. Tidak ada satu tandapun bagi seseorang.” (HR. Bukhari 8/109 no. 6521)Semua manusia tampak dan tidak ada yang tersembunyi dari pandangan Allah ﷻ. Maka setelah itu mulailah persidangan di antara para hamba.Wallahu a’lam.Artikel ini serial penggalan dari Ebook – Perjalanan Setelah Kematian (DOWNLOAD PDF)

Sesal Anak Belum Berbakti

Abu Laits as-Samarqandi mengatakan,  “Jika ortu meninggal dunia dalam keadaan marah dengan anaknya apakah anak masih bisa membuat orang tua ridho kepada anak setelah wafatnya ortu? Jawabannya adalah bisa dengan tiga cara: Men-sholih-kan diri karena tidak ada yang lebih disukai ortu dibandingkan dengan keshalihan anak. Menjalin hubungan baik dengan kerabat dan teman dekat orang tua Mendoakan orang tua agar mendapatkan ampunan Allah, mendoakan kebaikan untuk orang tua secara umum dan bersedekah atas nama orang tua. (Tanbih al-Ghafilih hlm 124-125, Dar Ibnu Katsir) Kiat pokok menshalihkan diri adalah: Semangat untuk serius belajar agama. Berkawan dengan dengan orang-orang shalih baik di dunia nyata maupun dunia maya. Akrab dengan tempat-tempat kebaikan semisal masjid, tempat majelis ilmu. Seorang anak yang shalih itu mendoakan orang tua minimal lima kali dalam sehari semalam yaitu di akhir sholat wajib baik sebelum salam ataupun setelah salam. Doa yang dipanjatkan kepada Allah adalah memohon agar Allah melimpahkan kasih sayang dan ampunan-Nya untuk orang tua, diluaskan alam kuburnya, dimudahkan dalam menjalani proses hisab dll.  Sedekah atas nama orang yang sudah meninggal dunia itu manfaat dan sampai baik orang tua ataupun bukan dengan sepakat ulama sebagaimana yang diutarakan oleh Imam an-Nawawi. Sedekah atas nama orang tua yang paling bermanfaat adalah wakaf yang dikelola dengan baik sehingga manfaatnya terus mengalir.  Sudahkah kita bersedekah jariyah atas nama orang tua kita masing-masing? Sudahkah hari ini kita doakan orang tua kita? Semoga Allah berikan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini anak keturunan yang berbakti, yang tidak pernah bosan mendoakan kebaikan untuk kita. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Sesal Anak Belum Berbakti

Abu Laits as-Samarqandi mengatakan,  “Jika ortu meninggal dunia dalam keadaan marah dengan anaknya apakah anak masih bisa membuat orang tua ridho kepada anak setelah wafatnya ortu? Jawabannya adalah bisa dengan tiga cara: Men-sholih-kan diri karena tidak ada yang lebih disukai ortu dibandingkan dengan keshalihan anak. Menjalin hubungan baik dengan kerabat dan teman dekat orang tua Mendoakan orang tua agar mendapatkan ampunan Allah, mendoakan kebaikan untuk orang tua secara umum dan bersedekah atas nama orang tua. (Tanbih al-Ghafilih hlm 124-125, Dar Ibnu Katsir) Kiat pokok menshalihkan diri adalah: Semangat untuk serius belajar agama. Berkawan dengan dengan orang-orang shalih baik di dunia nyata maupun dunia maya. Akrab dengan tempat-tempat kebaikan semisal masjid, tempat majelis ilmu. Seorang anak yang shalih itu mendoakan orang tua minimal lima kali dalam sehari semalam yaitu di akhir sholat wajib baik sebelum salam ataupun setelah salam. Doa yang dipanjatkan kepada Allah adalah memohon agar Allah melimpahkan kasih sayang dan ampunan-Nya untuk orang tua, diluaskan alam kuburnya, dimudahkan dalam menjalani proses hisab dll.  Sedekah atas nama orang yang sudah meninggal dunia itu manfaat dan sampai baik orang tua ataupun bukan dengan sepakat ulama sebagaimana yang diutarakan oleh Imam an-Nawawi. Sedekah atas nama orang tua yang paling bermanfaat adalah wakaf yang dikelola dengan baik sehingga manfaatnya terus mengalir.  Sudahkah kita bersedekah jariyah atas nama orang tua kita masing-masing? Sudahkah hari ini kita doakan orang tua kita? Semoga Allah berikan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini anak keturunan yang berbakti, yang tidak pernah bosan mendoakan kebaikan untuk kita. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Abu Laits as-Samarqandi mengatakan,  “Jika ortu meninggal dunia dalam keadaan marah dengan anaknya apakah anak masih bisa membuat orang tua ridho kepada anak setelah wafatnya ortu? Jawabannya adalah bisa dengan tiga cara: Men-sholih-kan diri karena tidak ada yang lebih disukai ortu dibandingkan dengan keshalihan anak. Menjalin hubungan baik dengan kerabat dan teman dekat orang tua Mendoakan orang tua agar mendapatkan ampunan Allah, mendoakan kebaikan untuk orang tua secara umum dan bersedekah atas nama orang tua. (Tanbih al-Ghafilih hlm 124-125, Dar Ibnu Katsir) Kiat pokok menshalihkan diri adalah: Semangat untuk serius belajar agama. Berkawan dengan dengan orang-orang shalih baik di dunia nyata maupun dunia maya. Akrab dengan tempat-tempat kebaikan semisal masjid, tempat majelis ilmu. Seorang anak yang shalih itu mendoakan orang tua minimal lima kali dalam sehari semalam yaitu di akhir sholat wajib baik sebelum salam ataupun setelah salam. Doa yang dipanjatkan kepada Allah adalah memohon agar Allah melimpahkan kasih sayang dan ampunan-Nya untuk orang tua, diluaskan alam kuburnya, dimudahkan dalam menjalani proses hisab dll.  Sedekah atas nama orang yang sudah meninggal dunia itu manfaat dan sampai baik orang tua ataupun bukan dengan sepakat ulama sebagaimana yang diutarakan oleh Imam an-Nawawi. Sedekah atas nama orang tua yang paling bermanfaat adalah wakaf yang dikelola dengan baik sehingga manfaatnya terus mengalir.  Sudahkah kita bersedekah jariyah atas nama orang tua kita masing-masing? Sudahkah hari ini kita doakan orang tua kita? Semoga Allah berikan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini anak keturunan yang berbakti, yang tidak pernah bosan mendoakan kebaikan untuk kita. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Abu Laits as-Samarqandi mengatakan,  “Jika ortu meninggal dunia dalam keadaan marah dengan anaknya apakah anak masih bisa membuat orang tua ridho kepada anak setelah wafatnya ortu? Jawabannya adalah bisa dengan tiga cara: Men-sholih-kan diri karena tidak ada yang lebih disukai ortu dibandingkan dengan keshalihan anak. Menjalin hubungan baik dengan kerabat dan teman dekat orang tua Mendoakan orang tua agar mendapatkan ampunan Allah, mendoakan kebaikan untuk orang tua secara umum dan bersedekah atas nama orang tua. (Tanbih al-Ghafilih hlm 124-125, Dar Ibnu Katsir) Kiat pokok menshalihkan diri adalah: Semangat untuk serius belajar agama. Berkawan dengan dengan orang-orang shalih baik di dunia nyata maupun dunia maya. Akrab dengan tempat-tempat kebaikan semisal masjid, tempat majelis ilmu. Seorang anak yang shalih itu mendoakan orang tua minimal lima kali dalam sehari semalam yaitu di akhir sholat wajib baik sebelum salam ataupun setelah salam. Doa yang dipanjatkan kepada Allah adalah memohon agar Allah melimpahkan kasih sayang dan ampunan-Nya untuk orang tua, diluaskan alam kuburnya, dimudahkan dalam menjalani proses hisab dll.  Sedekah atas nama orang yang sudah meninggal dunia itu manfaat dan sampai baik orang tua ataupun bukan dengan sepakat ulama sebagaimana yang diutarakan oleh Imam an-Nawawi. Sedekah atas nama orang tua yang paling bermanfaat adalah wakaf yang dikelola dengan baik sehingga manfaatnya terus mengalir.  Sudahkah kita bersedekah jariyah atas nama orang tua kita masing-masing? Sudahkah hari ini kita doakan orang tua kita? Semoga Allah berikan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini anak keturunan yang berbakti, yang tidak pernah bosan mendoakan kebaikan untuk kita. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Sumber Kebaikan Itu Adalah…

Ali bin Abi Thalib mengatakan: لَيْسَ الْخَيْرُ أَنْ يَكْثُرَ مَالُكَ وَوَلَدُكَ وَلَكِنَّ الْخَيْرَ أَنْ يَكْثُرَ عَمَلُكَ وَيَعْظُمَ حِلْمُكَ “Bukanlah sumber kebaikan itu memiliki harta berlimpah dan anak yang banyak. Akan tetapi sumber kebaikan itu dengan banyak beramal dan pandai mengendalikan emosi.” (Hilyah al-Auliya‘ 2/75) Harta berlimpah bukanlah sumber kebaikan kecuali jika berada di tangan orang yang rajin berinfak di jalan kebaikan.  Banyak anak juga sumber kebaikan kecuali jika dianugerahkan kepada ortu yang peduli untuk mencetak anak sholih dan sholihah.  Banyak beramal bukanlah hal yang tercela. Yang tercela adalah orientasi kepada kuantitas amal dengan mengesampingkan peningkatan kualitas amal.  Amal yang banyak dan berkualitas adalah hal yang terpuji terlebih di bulan Ramadhan, terlebih lagi di sepuluh hari terakhir dari Bulan Ramadhan. Tidak mampu mengendalikan amarah adalah sumber keburukan. Betapa banyak penyesalan terjadi karena marah marah tanpa kendali. Oleh karena kemampuan mengontrol amarah atau hilm adalah sumber kebaikan. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Sumber Kebaikan Itu Adalah…

Ali bin Abi Thalib mengatakan: لَيْسَ الْخَيْرُ أَنْ يَكْثُرَ مَالُكَ وَوَلَدُكَ وَلَكِنَّ الْخَيْرَ أَنْ يَكْثُرَ عَمَلُكَ وَيَعْظُمَ حِلْمُكَ “Bukanlah sumber kebaikan itu memiliki harta berlimpah dan anak yang banyak. Akan tetapi sumber kebaikan itu dengan banyak beramal dan pandai mengendalikan emosi.” (Hilyah al-Auliya‘ 2/75) Harta berlimpah bukanlah sumber kebaikan kecuali jika berada di tangan orang yang rajin berinfak di jalan kebaikan.  Banyak anak juga sumber kebaikan kecuali jika dianugerahkan kepada ortu yang peduli untuk mencetak anak sholih dan sholihah.  Banyak beramal bukanlah hal yang tercela. Yang tercela adalah orientasi kepada kuantitas amal dengan mengesampingkan peningkatan kualitas amal.  Amal yang banyak dan berkualitas adalah hal yang terpuji terlebih di bulan Ramadhan, terlebih lagi di sepuluh hari terakhir dari Bulan Ramadhan. Tidak mampu mengendalikan amarah adalah sumber keburukan. Betapa banyak penyesalan terjadi karena marah marah tanpa kendali. Oleh karena kemampuan mengontrol amarah atau hilm adalah sumber kebaikan. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Ali bin Abi Thalib mengatakan: لَيْسَ الْخَيْرُ أَنْ يَكْثُرَ مَالُكَ وَوَلَدُكَ وَلَكِنَّ الْخَيْرَ أَنْ يَكْثُرَ عَمَلُكَ وَيَعْظُمَ حِلْمُكَ “Bukanlah sumber kebaikan itu memiliki harta berlimpah dan anak yang banyak. Akan tetapi sumber kebaikan itu dengan banyak beramal dan pandai mengendalikan emosi.” (Hilyah al-Auliya‘ 2/75) Harta berlimpah bukanlah sumber kebaikan kecuali jika berada di tangan orang yang rajin berinfak di jalan kebaikan.  Banyak anak juga sumber kebaikan kecuali jika dianugerahkan kepada ortu yang peduli untuk mencetak anak sholih dan sholihah.  Banyak beramal bukanlah hal yang tercela. Yang tercela adalah orientasi kepada kuantitas amal dengan mengesampingkan peningkatan kualitas amal.  Amal yang banyak dan berkualitas adalah hal yang terpuji terlebih di bulan Ramadhan, terlebih lagi di sepuluh hari terakhir dari Bulan Ramadhan. Tidak mampu mengendalikan amarah adalah sumber keburukan. Betapa banyak penyesalan terjadi karena marah marah tanpa kendali. Oleh karena kemampuan mengontrol amarah atau hilm adalah sumber kebaikan. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Ali bin Abi Thalib mengatakan: لَيْسَ الْخَيْرُ أَنْ يَكْثُرَ مَالُكَ وَوَلَدُكَ وَلَكِنَّ الْخَيْرَ أَنْ يَكْثُرَ عَمَلُكَ وَيَعْظُمَ حِلْمُكَ “Bukanlah sumber kebaikan itu memiliki harta berlimpah dan anak yang banyak. Akan tetapi sumber kebaikan itu dengan banyak beramal dan pandai mengendalikan emosi.” (Hilyah al-Auliya‘ 2/75) Harta berlimpah bukanlah sumber kebaikan kecuali jika berada di tangan orang yang rajin berinfak di jalan kebaikan.  Banyak anak juga sumber kebaikan kecuali jika dianugerahkan kepada ortu yang peduli untuk mencetak anak sholih dan sholihah.  Banyak beramal bukanlah hal yang tercela. Yang tercela adalah orientasi kepada kuantitas amal dengan mengesampingkan peningkatan kualitas amal.  Amal yang banyak dan berkualitas adalah hal yang terpuji terlebih di bulan Ramadhan, terlebih lagi di sepuluh hari terakhir dari Bulan Ramadhan. Tidak mampu mengendalikan amarah adalah sumber keburukan. Betapa banyak penyesalan terjadi karena marah marah tanpa kendali. Oleh karena kemampuan mengontrol amarah atau hilm adalah sumber kebaikan. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Tips Agar Allah Jaga

Salah satu pendahulu kita yang sholih memberi nasehat,  من اتقى الله فقد حفظ نفسه ومن ضيع تقواه فقد ضيع نفسه والله غني عنه “Siapa saja yang bertakwa kepada Allah sungguh dia telah menjaga dirinya. Sebaliknya siapa yang tidak bertakwa sungguh dia telah menelantarkan dirinya sendiri dan Allah pun tidak membutuhkan dirinya.” (Jami’ al-Ulum wal Hikam, penjelasan hadits ke-19) Siapa yang bertakwa Allah akan menjaga dirinya yaitu menjaga agama dan dunianya. Menjaga agamanya mencakup dua hal: Pertama: Menjaga imannya agar tidak rusak dengan maksiat ataupun racun pemikiran.  Kedua: Menjaga imannya saat datangnya ajal sehingga meninggal dunia dalam keadaan beriman.  Menjaga dunianya mencakup banyak hal: Pertama: Badannya Kedua: Isteri, anak dan keturunannya Ketiga: Hartanya dengan memberi kemudahan untuknya agar bisa mendapatkan harta dari sumber yang halal dan membelanjakan pada sasaran yang tepat.  Keempat: Kesehatan anggota tubuhnya. Kelima: Sehatnya pemikiran dan kualitas akalnya.  Sebaliknya orang yang tidak bertakwa berarti tidak menjaga dirinya sendiri karena Allah tidak akan menjaganya.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.  

Tips Agar Allah Jaga

Salah satu pendahulu kita yang sholih memberi nasehat,  من اتقى الله فقد حفظ نفسه ومن ضيع تقواه فقد ضيع نفسه والله غني عنه “Siapa saja yang bertakwa kepada Allah sungguh dia telah menjaga dirinya. Sebaliknya siapa yang tidak bertakwa sungguh dia telah menelantarkan dirinya sendiri dan Allah pun tidak membutuhkan dirinya.” (Jami’ al-Ulum wal Hikam, penjelasan hadits ke-19) Siapa yang bertakwa Allah akan menjaga dirinya yaitu menjaga agama dan dunianya. Menjaga agamanya mencakup dua hal: Pertama: Menjaga imannya agar tidak rusak dengan maksiat ataupun racun pemikiran.  Kedua: Menjaga imannya saat datangnya ajal sehingga meninggal dunia dalam keadaan beriman.  Menjaga dunianya mencakup banyak hal: Pertama: Badannya Kedua: Isteri, anak dan keturunannya Ketiga: Hartanya dengan memberi kemudahan untuknya agar bisa mendapatkan harta dari sumber yang halal dan membelanjakan pada sasaran yang tepat.  Keempat: Kesehatan anggota tubuhnya. Kelima: Sehatnya pemikiran dan kualitas akalnya.  Sebaliknya orang yang tidak bertakwa berarti tidak menjaga dirinya sendiri karena Allah tidak akan menjaganya.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.  
Salah satu pendahulu kita yang sholih memberi nasehat,  من اتقى الله فقد حفظ نفسه ومن ضيع تقواه فقد ضيع نفسه والله غني عنه “Siapa saja yang bertakwa kepada Allah sungguh dia telah menjaga dirinya. Sebaliknya siapa yang tidak bertakwa sungguh dia telah menelantarkan dirinya sendiri dan Allah pun tidak membutuhkan dirinya.” (Jami’ al-Ulum wal Hikam, penjelasan hadits ke-19) Siapa yang bertakwa Allah akan menjaga dirinya yaitu menjaga agama dan dunianya. Menjaga agamanya mencakup dua hal: Pertama: Menjaga imannya agar tidak rusak dengan maksiat ataupun racun pemikiran.  Kedua: Menjaga imannya saat datangnya ajal sehingga meninggal dunia dalam keadaan beriman.  Menjaga dunianya mencakup banyak hal: Pertama: Badannya Kedua: Isteri, anak dan keturunannya Ketiga: Hartanya dengan memberi kemudahan untuknya agar bisa mendapatkan harta dari sumber yang halal dan membelanjakan pada sasaran yang tepat.  Keempat: Kesehatan anggota tubuhnya. Kelima: Sehatnya pemikiran dan kualitas akalnya.  Sebaliknya orang yang tidak bertakwa berarti tidak menjaga dirinya sendiri karena Allah tidak akan menjaganya.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.  


Salah satu pendahulu kita yang sholih memberi nasehat,  من اتقى الله فقد حفظ نفسه ومن ضيع تقواه فقد ضيع نفسه والله غني عنه “Siapa saja yang bertakwa kepada Allah sungguh dia telah menjaga dirinya. Sebaliknya siapa yang tidak bertakwa sungguh dia telah menelantarkan dirinya sendiri dan Allah pun tidak membutuhkan dirinya.” (Jami’ al-Ulum wal Hikam, penjelasan hadits ke-19) Siapa yang bertakwa Allah akan menjaga dirinya yaitu menjaga agama dan dunianya. Menjaga agamanya mencakup dua hal: Pertama: Menjaga imannya agar tidak rusak dengan maksiat ataupun racun pemikiran.  Kedua: Menjaga imannya saat datangnya ajal sehingga meninggal dunia dalam keadaan beriman.  Menjaga dunianya mencakup banyak hal: Pertama: Badannya Kedua: Isteri, anak dan keturunannya Ketiga: Hartanya dengan memberi kemudahan untuknya agar bisa mendapatkan harta dari sumber yang halal dan membelanjakan pada sasaran yang tepat.  Keempat: Kesehatan anggota tubuhnya. Kelima: Sehatnya pemikiran dan kualitas akalnya.  Sebaliknya orang yang tidak bertakwa berarti tidak menjaga dirinya sendiri karena Allah tidak akan menjaganya.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.  

Tidak Kalah Mulia Dibandingkan Jihad

Ibnu Umar mengatakan: مَا جَاءَنِي أَجَلِي فِي مَكَانٍ مَا عَدَا فِي سَبِيْلِ اللَّهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ يَأْتِيْنِيْ وَأَنَا بَيْنَ شِعْبَتَيْ رَحْلِيْ أَطْلُبُ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ “Tidaklah kematian menjemputku di suatu tempat, selain medan perang jihad di jalan Allah, yang lebih kusukai dibandingkan mati ketika bekerja mencari rezeki, diantara sisi kanan dan sisi kiri pelana ontaku.” (Mushannaf Abdurrazaq 11/464) Mati dalam kondisi bekerja mencari harta yang halal adalah mati yang mulia. Mati ketika itu tidak kalah mulia dengan mati di medan perang jihad fi sabilillah.  Mati ketika kerja itu mulia dengan syarat: Pertama: Kerja yang halal. Kedua: Niat yang benar ketika kerja. Semisal niat untuk jaga kehormatan agar tidak ngemis, menafkahi keluarga yang Allahﷻ wajibkan dll. Ketiga: Tidak menjadikan dunia sebagai orientasi hidup.  Mati ketika kerja mencari harta halal adalah mati mulia. Ini menunjukkan bahwa kegiatan kerja mencari rezeki halal adalah aktivitas mulia.  Seorang lelaki muslim semestinya rajin bekerja.  Di masa wabah seperti sekarang seorang laki-laki bertanggung jawab untuk lebih kreatif agar bisa menafkahi keluarga.  Cukuplah seorang laki-laki itu berdosa ketika kebutuhan keluarga terlantar karena rasa malas untuk bekerja. Menolong orang lain itu berpahala. Menolong anak isteri dari kesusahan hidup itu lebih besar lagi pahalanya. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Tidak Kalah Mulia Dibandingkan Jihad

Ibnu Umar mengatakan: مَا جَاءَنِي أَجَلِي فِي مَكَانٍ مَا عَدَا فِي سَبِيْلِ اللَّهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ يَأْتِيْنِيْ وَأَنَا بَيْنَ شِعْبَتَيْ رَحْلِيْ أَطْلُبُ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ “Tidaklah kematian menjemputku di suatu tempat, selain medan perang jihad di jalan Allah, yang lebih kusukai dibandingkan mati ketika bekerja mencari rezeki, diantara sisi kanan dan sisi kiri pelana ontaku.” (Mushannaf Abdurrazaq 11/464) Mati dalam kondisi bekerja mencari harta yang halal adalah mati yang mulia. Mati ketika itu tidak kalah mulia dengan mati di medan perang jihad fi sabilillah.  Mati ketika kerja itu mulia dengan syarat: Pertama: Kerja yang halal. Kedua: Niat yang benar ketika kerja. Semisal niat untuk jaga kehormatan agar tidak ngemis, menafkahi keluarga yang Allahﷻ wajibkan dll. Ketiga: Tidak menjadikan dunia sebagai orientasi hidup.  Mati ketika kerja mencari harta halal adalah mati mulia. Ini menunjukkan bahwa kegiatan kerja mencari rezeki halal adalah aktivitas mulia.  Seorang lelaki muslim semestinya rajin bekerja.  Di masa wabah seperti sekarang seorang laki-laki bertanggung jawab untuk lebih kreatif agar bisa menafkahi keluarga.  Cukuplah seorang laki-laki itu berdosa ketika kebutuhan keluarga terlantar karena rasa malas untuk bekerja. Menolong orang lain itu berpahala. Menolong anak isteri dari kesusahan hidup itu lebih besar lagi pahalanya. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Ibnu Umar mengatakan: مَا جَاءَنِي أَجَلِي فِي مَكَانٍ مَا عَدَا فِي سَبِيْلِ اللَّهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ يَأْتِيْنِيْ وَأَنَا بَيْنَ شِعْبَتَيْ رَحْلِيْ أَطْلُبُ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ “Tidaklah kematian menjemputku di suatu tempat, selain medan perang jihad di jalan Allah, yang lebih kusukai dibandingkan mati ketika bekerja mencari rezeki, diantara sisi kanan dan sisi kiri pelana ontaku.” (Mushannaf Abdurrazaq 11/464) Mati dalam kondisi bekerja mencari harta yang halal adalah mati yang mulia. Mati ketika itu tidak kalah mulia dengan mati di medan perang jihad fi sabilillah.  Mati ketika kerja itu mulia dengan syarat: Pertama: Kerja yang halal. Kedua: Niat yang benar ketika kerja. Semisal niat untuk jaga kehormatan agar tidak ngemis, menafkahi keluarga yang Allahﷻ wajibkan dll. Ketiga: Tidak menjadikan dunia sebagai orientasi hidup.  Mati ketika kerja mencari harta halal adalah mati mulia. Ini menunjukkan bahwa kegiatan kerja mencari rezeki halal adalah aktivitas mulia.  Seorang lelaki muslim semestinya rajin bekerja.  Di masa wabah seperti sekarang seorang laki-laki bertanggung jawab untuk lebih kreatif agar bisa menafkahi keluarga.  Cukuplah seorang laki-laki itu berdosa ketika kebutuhan keluarga terlantar karena rasa malas untuk bekerja. Menolong orang lain itu berpahala. Menolong anak isteri dari kesusahan hidup itu lebih besar lagi pahalanya. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Ibnu Umar mengatakan: مَا جَاءَنِي أَجَلِي فِي مَكَانٍ مَا عَدَا فِي سَبِيْلِ اللَّهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ يَأْتِيْنِيْ وَأَنَا بَيْنَ شِعْبَتَيْ رَحْلِيْ أَطْلُبُ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ “Tidaklah kematian menjemputku di suatu tempat, selain medan perang jihad di jalan Allah, yang lebih kusukai dibandingkan mati ketika bekerja mencari rezeki, diantara sisi kanan dan sisi kiri pelana ontaku.” (Mushannaf Abdurrazaq 11/464) Mati dalam kondisi bekerja mencari harta yang halal adalah mati yang mulia. Mati ketika itu tidak kalah mulia dengan mati di medan perang jihad fi sabilillah.  Mati ketika kerja itu mulia dengan syarat: Pertama: Kerja yang halal. Kedua: Niat yang benar ketika kerja. Semisal niat untuk jaga kehormatan agar tidak ngemis, menafkahi keluarga yang Allahﷻ wajibkan dll. Ketiga: Tidak menjadikan dunia sebagai orientasi hidup.  Mati ketika kerja mencari harta halal adalah mati mulia. Ini menunjukkan bahwa kegiatan kerja mencari rezeki halal adalah aktivitas mulia.  Seorang lelaki muslim semestinya rajin bekerja.  Di masa wabah seperti sekarang seorang laki-laki bertanggung jawab untuk lebih kreatif agar bisa menafkahi keluarga.  Cukuplah seorang laki-laki itu berdosa ketika kebutuhan keluarga terlantar karena rasa malas untuk bekerja. Menolong orang lain itu berpahala. Menolong anak isteri dari kesusahan hidup itu lebih besar lagi pahalanya. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Dapat Dua Dosa

Ibrahim an-Nakha’i, seorang ulama era tabiin mengatakan bahwa para ulama berkata,  إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ يا حِمَارُ يَا كَلْبُ يَا خِنْزِيْرُ قَالَ اللَّهُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَتَرَانِيْ خَلَقْتُ كَلْبًا أَوْ حِمَارًا أَوْ خِنْزِيْرًا “Jika seorang itu memaki orang lain dengan kata-kata hei keledai, hei anjing, hei babi maka nanti pada hari Kiamat Allah akan mencelanya dengan mengatakan, ‘Apakah kau lihat aku menciptakannya sebagai anjing, keledai atau babi?!’” (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah nomor 25585) Diantara dosa besar adalah mencaci seorang muslim. Dosa besar itu dosanya tidak terhapus dengan sholat lima waktu, puasa Ramadhan dll. Dosa besar hanya terhapus dengan sungguh-sungguh bertaubat dan menyesal dengan mendalam.  Jika cacian yang ditujukan kepada seorang muslim itu dengan menyebut-nyebut jenis hewan tertentu dosanya dobel: ✅ Dosa mencaci maki ✅ Dosa bohong karena yang dia caci itu manusia bukan hewan. Semua ucapan dan tulisan itu harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.  Semoga Allah jadikan penulis dan semua pembaca tulisan ini orang-orang yang bisa menjadikan lisan dan jarinya sumber pahala.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.  

Dapat Dua Dosa

Ibrahim an-Nakha’i, seorang ulama era tabiin mengatakan bahwa para ulama berkata,  إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ يا حِمَارُ يَا كَلْبُ يَا خِنْزِيْرُ قَالَ اللَّهُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَتَرَانِيْ خَلَقْتُ كَلْبًا أَوْ حِمَارًا أَوْ خِنْزِيْرًا “Jika seorang itu memaki orang lain dengan kata-kata hei keledai, hei anjing, hei babi maka nanti pada hari Kiamat Allah akan mencelanya dengan mengatakan, ‘Apakah kau lihat aku menciptakannya sebagai anjing, keledai atau babi?!’” (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah nomor 25585) Diantara dosa besar adalah mencaci seorang muslim. Dosa besar itu dosanya tidak terhapus dengan sholat lima waktu, puasa Ramadhan dll. Dosa besar hanya terhapus dengan sungguh-sungguh bertaubat dan menyesal dengan mendalam.  Jika cacian yang ditujukan kepada seorang muslim itu dengan menyebut-nyebut jenis hewan tertentu dosanya dobel: ✅ Dosa mencaci maki ✅ Dosa bohong karena yang dia caci itu manusia bukan hewan. Semua ucapan dan tulisan itu harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.  Semoga Allah jadikan penulis dan semua pembaca tulisan ini orang-orang yang bisa menjadikan lisan dan jarinya sumber pahala.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.  
Ibrahim an-Nakha’i, seorang ulama era tabiin mengatakan bahwa para ulama berkata,  إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ يا حِمَارُ يَا كَلْبُ يَا خِنْزِيْرُ قَالَ اللَّهُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَتَرَانِيْ خَلَقْتُ كَلْبًا أَوْ حِمَارًا أَوْ خِنْزِيْرًا “Jika seorang itu memaki orang lain dengan kata-kata hei keledai, hei anjing, hei babi maka nanti pada hari Kiamat Allah akan mencelanya dengan mengatakan, ‘Apakah kau lihat aku menciptakannya sebagai anjing, keledai atau babi?!’” (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah nomor 25585) Diantara dosa besar adalah mencaci seorang muslim. Dosa besar itu dosanya tidak terhapus dengan sholat lima waktu, puasa Ramadhan dll. Dosa besar hanya terhapus dengan sungguh-sungguh bertaubat dan menyesal dengan mendalam.  Jika cacian yang ditujukan kepada seorang muslim itu dengan menyebut-nyebut jenis hewan tertentu dosanya dobel: ✅ Dosa mencaci maki ✅ Dosa bohong karena yang dia caci itu manusia bukan hewan. Semua ucapan dan tulisan itu harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.  Semoga Allah jadikan penulis dan semua pembaca tulisan ini orang-orang yang bisa menjadikan lisan dan jarinya sumber pahala.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.  


Ibrahim an-Nakha’i, seorang ulama era tabiin mengatakan bahwa para ulama berkata,  إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ يا حِمَارُ يَا كَلْبُ يَا خِنْزِيْرُ قَالَ اللَّهُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَتَرَانِيْ خَلَقْتُ كَلْبًا أَوْ حِمَارًا أَوْ خِنْزِيْرًا “Jika seorang itu memaki orang lain dengan kata-kata hei keledai, hei anjing, hei babi maka nanti pada hari Kiamat Allah akan mencelanya dengan mengatakan, ‘Apakah kau lihat aku menciptakannya sebagai anjing, keledai atau babi?!’” (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah nomor 25585) Diantara dosa besar adalah mencaci seorang muslim. Dosa besar itu dosanya tidak terhapus dengan sholat lima waktu, puasa Ramadhan dll. Dosa besar hanya terhapus dengan sungguh-sungguh bertaubat dan menyesal dengan mendalam.  Jika cacian yang ditujukan kepada seorang muslim itu dengan menyebut-nyebut jenis hewan tertentu dosanya dobel: ✅ Dosa mencaci maki ✅ Dosa bohong karena yang dia caci itu manusia bukan hewan. Semua ucapan dan tulisan itu harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.  Semoga Allah jadikan penulis dan semua pembaca tulisan ini orang-orang yang bisa menjadikan lisan dan jarinya sumber pahala.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.  

Menyibukkan diri dengan Dzikir dan Membaca Al-Qur’an di Hari Jum’at

Hari Jumat adalah hari yang mulia, dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia memuliakannya. Keutamaan yang besar tersebut menuntut umat Islam untuk mempelajari petunjuk Rasulullah dan sahabatnya, bagaimana seharusnya menyambut hari tersebut agar amal kita tidak sia-sia dan mendapatkan pahala dari Allah ta’alaMemperbanyak membaca Al-Qur’an di hari Jum’atDianjurkan bagi orang yang menghadiri shalat Jum’at untuk memperbanyak shalat sunnah, sebanyak yang dia mampu. [1]Jika selesai dari ibadah shalat sunnah, dia bisa membaca Al-Qur’an, jika memang bisa (mampu) membaca Al-Qur’an. Para ulama telah menyebutkan dianjurkannya membaca surat Al-Kahfi di hari Jum’at, berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ“Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An-Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dalam Shahihul Jami’ no. 6470)Yang dimaksud dengan hari Jum’at adalah antara terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Maka di antara dua hal tersebut adalah waktu dianjurkannya membaca surat Al-Kahfi. Sehingga dianjurkannya membaca surat Al-Kahfi tidaklah khusus hanya ketika shalat Jum’at saja, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian manusia. Jika seseorang membaca surat Al-Kahfi setelah shalat subuh atau setelah shalat ‘ashar, itu pun sudah mencukupi, insyaa Allah. (Lihat Majmu’ Al-Fataawa, 24: 215)Baca Juga: Keutamaan Waktu Ba’da Ashar Hari JumatMenyibukkan diri dengan dzikir dan berdoaJika tidak mampu membaca Al-Qur’an, hendaknya dia menyibukkan diri berdzikir kepada Allah Ta’ala dan berdoa kepada-Nya. Bertambahlah pahala dari membaca dzikir tersebut karena keutamaan hari Jum’at.Dianjurkan pula untuk memperbanyak berdoa di sepanjang hari Jum’at tersebut, sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari, dengan penuh harap bersesuaian dengan waktu dikabulkannya doa (waktu ijabah). Waktu ijabah tersebut diperselisihkan oleh para ulama dengan perbedaan pendapat yang banyak sekali. Waktu tersebut diisyaratkan dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan hari Jum’at, kemudian beliau berkata,فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى ، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ“Di hari Jum’at terdapat suatu waktu, yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri melaksanakan shalat, kemudian dia memanjatkan suatu doa pada Allah bertepatan dengan waktu tersebut, melainkan Allah akan memberi apa yang dia minta.” (HR. Bukhari no. 935 dan Muslim 2006)Wallahu Ta’ala a’lam, dari pendapat-pendapat ulama terkait masalah ini, pendapat yang paling kuat adalah yang mengatakan bahwa waktu tersebut adalah setelah shalat ‘ashar di hari Jum’at. [2]Baca Juga: Adab Pada Hari Jumat Sesuai Sunnah NabiMemperbanyak shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamPara ulama juga menyebutkan dianjurkannya memperbanyak shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari Jum’at. Orang yang sudah hadir di masjid untuk shalat Jum’at, namun tidak berkehendak untuk memperbanyak shalat sunnah, dianjurkan untuk memperbanyak shalawat.Hali ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari sahabat Aus bin Aus radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيهِ قُبِضَ، وَفِيهِ النَّفْخَةُ، وَفِيهِ الصَّعْقَةُ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ قَالَ: قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ – يَقُولُونَ: بَلِيتَ -؟ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ“Sesungguhnya di antara hari-harimu yang paling utama adalah hari Jum’at, pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu beliau wafat, pada hari itu juga ditiup (sangkakala), dan pada hari itu juga mereka pingsan. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku -karena- shalawat kalian akan disampaikan kepadaku.”Aus bin Aus berkata, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin shalawat kami bisa disampaikan kepadamu, sementara Anda telah tiada (meninggal)? -atau mereka berkata, “Telah hancur (menjadi tulang belulang).”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi.” (HR. Abu Dawud no. 1047, An-Nasa’i no. 1374, Ibnu Majah no. 1636, dan lain-lain. Dinilai shahih oleh Al-Albani)Sebagian orang, ketika selesai mengerjakan shalat sunnah, mereka pun mulai mengantuk sampai ketika khatib naik mimbar. Perbuatan semacam ini berarti telah menghalangi dari kebaikan yang sangat banyak, dia pun terlewat dari mendapatkan kebaikan yang sangat banyak di hari Jum’at. Terdapat hadits yang diriwayatkan dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ إِلَى غَيْرِهِ“Apabila salah seorang mengantuk di dalam masjid (ketika khutbah Jumat), hendaknya dia pindah tempat duduk ke tempat duduk yang lain.” (HR. Abu Dawud no. 1119, dinilai shahih oleh Al-Albani)Adapun hikmah adanya perintah berpindah tempat adalah agar orang tersebut kemudian bisa menggerakkan badannya untuk mengusir rasa kantuk tersebut. Kemungkinan hikmah yang lain adalah agar seseorang berpindah dari tempat yang telah membuat dia lalai (dengan mengantuk), ke tempat yang baru. Wallahu a’lam. (Lihat Nailul Authar, 3: 284)Baca Juga:Demikian pembahasan ini, semoga bermanfaat. [3][Selesai]***@Rumah Kasongan, 4 Muharram 1442/ 23 Agustus 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Adakah Shalat Sunnah Khusus Sebelum Shalat Jumat?Waktu Mustajab di Hari JumatAhkaam Khudhuuril Masaajidhafidzahullah,

Menyibukkan diri dengan Dzikir dan Membaca Al-Qur’an di Hari Jum’at

Hari Jumat adalah hari yang mulia, dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia memuliakannya. Keutamaan yang besar tersebut menuntut umat Islam untuk mempelajari petunjuk Rasulullah dan sahabatnya, bagaimana seharusnya menyambut hari tersebut agar amal kita tidak sia-sia dan mendapatkan pahala dari Allah ta’alaMemperbanyak membaca Al-Qur’an di hari Jum’atDianjurkan bagi orang yang menghadiri shalat Jum’at untuk memperbanyak shalat sunnah, sebanyak yang dia mampu. [1]Jika selesai dari ibadah shalat sunnah, dia bisa membaca Al-Qur’an, jika memang bisa (mampu) membaca Al-Qur’an. Para ulama telah menyebutkan dianjurkannya membaca surat Al-Kahfi di hari Jum’at, berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ“Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An-Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dalam Shahihul Jami’ no. 6470)Yang dimaksud dengan hari Jum’at adalah antara terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Maka di antara dua hal tersebut adalah waktu dianjurkannya membaca surat Al-Kahfi. Sehingga dianjurkannya membaca surat Al-Kahfi tidaklah khusus hanya ketika shalat Jum’at saja, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian manusia. Jika seseorang membaca surat Al-Kahfi setelah shalat subuh atau setelah shalat ‘ashar, itu pun sudah mencukupi, insyaa Allah. (Lihat Majmu’ Al-Fataawa, 24: 215)Baca Juga: Keutamaan Waktu Ba’da Ashar Hari JumatMenyibukkan diri dengan dzikir dan berdoaJika tidak mampu membaca Al-Qur’an, hendaknya dia menyibukkan diri berdzikir kepada Allah Ta’ala dan berdoa kepada-Nya. Bertambahlah pahala dari membaca dzikir tersebut karena keutamaan hari Jum’at.Dianjurkan pula untuk memperbanyak berdoa di sepanjang hari Jum’at tersebut, sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari, dengan penuh harap bersesuaian dengan waktu dikabulkannya doa (waktu ijabah). Waktu ijabah tersebut diperselisihkan oleh para ulama dengan perbedaan pendapat yang banyak sekali. Waktu tersebut diisyaratkan dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan hari Jum’at, kemudian beliau berkata,فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى ، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ“Di hari Jum’at terdapat suatu waktu, yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri melaksanakan shalat, kemudian dia memanjatkan suatu doa pada Allah bertepatan dengan waktu tersebut, melainkan Allah akan memberi apa yang dia minta.” (HR. Bukhari no. 935 dan Muslim 2006)Wallahu Ta’ala a’lam, dari pendapat-pendapat ulama terkait masalah ini, pendapat yang paling kuat adalah yang mengatakan bahwa waktu tersebut adalah setelah shalat ‘ashar di hari Jum’at. [2]Baca Juga: Adab Pada Hari Jumat Sesuai Sunnah NabiMemperbanyak shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamPara ulama juga menyebutkan dianjurkannya memperbanyak shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari Jum’at. Orang yang sudah hadir di masjid untuk shalat Jum’at, namun tidak berkehendak untuk memperbanyak shalat sunnah, dianjurkan untuk memperbanyak shalawat.Hali ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari sahabat Aus bin Aus radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيهِ قُبِضَ، وَفِيهِ النَّفْخَةُ، وَفِيهِ الصَّعْقَةُ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ قَالَ: قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ – يَقُولُونَ: بَلِيتَ -؟ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ“Sesungguhnya di antara hari-harimu yang paling utama adalah hari Jum’at, pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu beliau wafat, pada hari itu juga ditiup (sangkakala), dan pada hari itu juga mereka pingsan. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku -karena- shalawat kalian akan disampaikan kepadaku.”Aus bin Aus berkata, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin shalawat kami bisa disampaikan kepadamu, sementara Anda telah tiada (meninggal)? -atau mereka berkata, “Telah hancur (menjadi tulang belulang).”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi.” (HR. Abu Dawud no. 1047, An-Nasa’i no. 1374, Ibnu Majah no. 1636, dan lain-lain. Dinilai shahih oleh Al-Albani)Sebagian orang, ketika selesai mengerjakan shalat sunnah, mereka pun mulai mengantuk sampai ketika khatib naik mimbar. Perbuatan semacam ini berarti telah menghalangi dari kebaikan yang sangat banyak, dia pun terlewat dari mendapatkan kebaikan yang sangat banyak di hari Jum’at. Terdapat hadits yang diriwayatkan dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ إِلَى غَيْرِهِ“Apabila salah seorang mengantuk di dalam masjid (ketika khutbah Jumat), hendaknya dia pindah tempat duduk ke tempat duduk yang lain.” (HR. Abu Dawud no. 1119, dinilai shahih oleh Al-Albani)Adapun hikmah adanya perintah berpindah tempat adalah agar orang tersebut kemudian bisa menggerakkan badannya untuk mengusir rasa kantuk tersebut. Kemungkinan hikmah yang lain adalah agar seseorang berpindah dari tempat yang telah membuat dia lalai (dengan mengantuk), ke tempat yang baru. Wallahu a’lam. (Lihat Nailul Authar, 3: 284)Baca Juga:Demikian pembahasan ini, semoga bermanfaat. [3][Selesai]***@Rumah Kasongan, 4 Muharram 1442/ 23 Agustus 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Adakah Shalat Sunnah Khusus Sebelum Shalat Jumat?Waktu Mustajab di Hari JumatAhkaam Khudhuuril Masaajidhafidzahullah,
Hari Jumat adalah hari yang mulia, dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia memuliakannya. Keutamaan yang besar tersebut menuntut umat Islam untuk mempelajari petunjuk Rasulullah dan sahabatnya, bagaimana seharusnya menyambut hari tersebut agar amal kita tidak sia-sia dan mendapatkan pahala dari Allah ta’alaMemperbanyak membaca Al-Qur’an di hari Jum’atDianjurkan bagi orang yang menghadiri shalat Jum’at untuk memperbanyak shalat sunnah, sebanyak yang dia mampu. [1]Jika selesai dari ibadah shalat sunnah, dia bisa membaca Al-Qur’an, jika memang bisa (mampu) membaca Al-Qur’an. Para ulama telah menyebutkan dianjurkannya membaca surat Al-Kahfi di hari Jum’at, berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ“Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An-Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dalam Shahihul Jami’ no. 6470)Yang dimaksud dengan hari Jum’at adalah antara terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Maka di antara dua hal tersebut adalah waktu dianjurkannya membaca surat Al-Kahfi. Sehingga dianjurkannya membaca surat Al-Kahfi tidaklah khusus hanya ketika shalat Jum’at saja, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian manusia. Jika seseorang membaca surat Al-Kahfi setelah shalat subuh atau setelah shalat ‘ashar, itu pun sudah mencukupi, insyaa Allah. (Lihat Majmu’ Al-Fataawa, 24: 215)Baca Juga: Keutamaan Waktu Ba’da Ashar Hari JumatMenyibukkan diri dengan dzikir dan berdoaJika tidak mampu membaca Al-Qur’an, hendaknya dia menyibukkan diri berdzikir kepada Allah Ta’ala dan berdoa kepada-Nya. Bertambahlah pahala dari membaca dzikir tersebut karena keutamaan hari Jum’at.Dianjurkan pula untuk memperbanyak berdoa di sepanjang hari Jum’at tersebut, sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari, dengan penuh harap bersesuaian dengan waktu dikabulkannya doa (waktu ijabah). Waktu ijabah tersebut diperselisihkan oleh para ulama dengan perbedaan pendapat yang banyak sekali. Waktu tersebut diisyaratkan dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan hari Jum’at, kemudian beliau berkata,فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى ، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ“Di hari Jum’at terdapat suatu waktu, yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri melaksanakan shalat, kemudian dia memanjatkan suatu doa pada Allah bertepatan dengan waktu tersebut, melainkan Allah akan memberi apa yang dia minta.” (HR. Bukhari no. 935 dan Muslim 2006)Wallahu Ta’ala a’lam, dari pendapat-pendapat ulama terkait masalah ini, pendapat yang paling kuat adalah yang mengatakan bahwa waktu tersebut adalah setelah shalat ‘ashar di hari Jum’at. [2]Baca Juga: Adab Pada Hari Jumat Sesuai Sunnah NabiMemperbanyak shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamPara ulama juga menyebutkan dianjurkannya memperbanyak shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari Jum’at. Orang yang sudah hadir di masjid untuk shalat Jum’at, namun tidak berkehendak untuk memperbanyak shalat sunnah, dianjurkan untuk memperbanyak shalawat.Hali ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari sahabat Aus bin Aus radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيهِ قُبِضَ، وَفِيهِ النَّفْخَةُ، وَفِيهِ الصَّعْقَةُ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ قَالَ: قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ – يَقُولُونَ: بَلِيتَ -؟ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ“Sesungguhnya di antara hari-harimu yang paling utama adalah hari Jum’at, pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu beliau wafat, pada hari itu juga ditiup (sangkakala), dan pada hari itu juga mereka pingsan. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku -karena- shalawat kalian akan disampaikan kepadaku.”Aus bin Aus berkata, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin shalawat kami bisa disampaikan kepadamu, sementara Anda telah tiada (meninggal)? -atau mereka berkata, “Telah hancur (menjadi tulang belulang).”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi.” (HR. Abu Dawud no. 1047, An-Nasa’i no. 1374, Ibnu Majah no. 1636, dan lain-lain. Dinilai shahih oleh Al-Albani)Sebagian orang, ketika selesai mengerjakan shalat sunnah, mereka pun mulai mengantuk sampai ketika khatib naik mimbar. Perbuatan semacam ini berarti telah menghalangi dari kebaikan yang sangat banyak, dia pun terlewat dari mendapatkan kebaikan yang sangat banyak di hari Jum’at. Terdapat hadits yang diriwayatkan dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ إِلَى غَيْرِهِ“Apabila salah seorang mengantuk di dalam masjid (ketika khutbah Jumat), hendaknya dia pindah tempat duduk ke tempat duduk yang lain.” (HR. Abu Dawud no. 1119, dinilai shahih oleh Al-Albani)Adapun hikmah adanya perintah berpindah tempat adalah agar orang tersebut kemudian bisa menggerakkan badannya untuk mengusir rasa kantuk tersebut. Kemungkinan hikmah yang lain adalah agar seseorang berpindah dari tempat yang telah membuat dia lalai (dengan mengantuk), ke tempat yang baru. Wallahu a’lam. (Lihat Nailul Authar, 3: 284)Baca Juga:Demikian pembahasan ini, semoga bermanfaat. [3][Selesai]***@Rumah Kasongan, 4 Muharram 1442/ 23 Agustus 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Adakah Shalat Sunnah Khusus Sebelum Shalat Jumat?Waktu Mustajab di Hari JumatAhkaam Khudhuuril Masaajidhafidzahullah,


Hari Jumat adalah hari yang mulia, dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia memuliakannya. Keutamaan yang besar tersebut menuntut umat Islam untuk mempelajari petunjuk Rasulullah dan sahabatnya, bagaimana seharusnya menyambut hari tersebut agar amal kita tidak sia-sia dan mendapatkan pahala dari Allah ta’alaMemperbanyak membaca Al-Qur’an di hari Jum’atDianjurkan bagi orang yang menghadiri shalat Jum’at untuk memperbanyak shalat sunnah, sebanyak yang dia mampu. [1]Jika selesai dari ibadah shalat sunnah, dia bisa membaca Al-Qur’an, jika memang bisa (mampu) membaca Al-Qur’an. Para ulama telah menyebutkan dianjurkannya membaca surat Al-Kahfi di hari Jum’at, berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ“Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An-Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dalam Shahihul Jami’ no. 6470)Yang dimaksud dengan hari Jum’at adalah antara terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Maka di antara dua hal tersebut adalah waktu dianjurkannya membaca surat Al-Kahfi. Sehingga dianjurkannya membaca surat Al-Kahfi tidaklah khusus hanya ketika shalat Jum’at saja, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian manusia. Jika seseorang membaca surat Al-Kahfi setelah shalat subuh atau setelah shalat ‘ashar, itu pun sudah mencukupi, insyaa Allah. (Lihat Majmu’ Al-Fataawa, 24: 215)Baca Juga: Keutamaan Waktu Ba’da Ashar Hari JumatMenyibukkan diri dengan dzikir dan berdoaJika tidak mampu membaca Al-Qur’an, hendaknya dia menyibukkan diri berdzikir kepada Allah Ta’ala dan berdoa kepada-Nya. Bertambahlah pahala dari membaca dzikir tersebut karena keutamaan hari Jum’at.Dianjurkan pula untuk memperbanyak berdoa di sepanjang hari Jum’at tersebut, sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari, dengan penuh harap bersesuaian dengan waktu dikabulkannya doa (waktu ijabah). Waktu ijabah tersebut diperselisihkan oleh para ulama dengan perbedaan pendapat yang banyak sekali. Waktu tersebut diisyaratkan dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan hari Jum’at, kemudian beliau berkata,فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى ، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ“Di hari Jum’at terdapat suatu waktu, yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri melaksanakan shalat, kemudian dia memanjatkan suatu doa pada Allah bertepatan dengan waktu tersebut, melainkan Allah akan memberi apa yang dia minta.” (HR. Bukhari no. 935 dan Muslim 2006)Wallahu Ta’ala a’lam, dari pendapat-pendapat ulama terkait masalah ini, pendapat yang paling kuat adalah yang mengatakan bahwa waktu tersebut adalah setelah shalat ‘ashar di hari Jum’at. [2]Baca Juga: Adab Pada Hari Jumat Sesuai Sunnah NabiMemperbanyak shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamPara ulama juga menyebutkan dianjurkannya memperbanyak shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari Jum’at. Orang yang sudah hadir di masjid untuk shalat Jum’at, namun tidak berkehendak untuk memperbanyak shalat sunnah, dianjurkan untuk memperbanyak shalawat.Hali ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari sahabat Aus bin Aus radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيهِ قُبِضَ، وَفِيهِ النَّفْخَةُ، وَفِيهِ الصَّعْقَةُ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ قَالَ: قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ – يَقُولُونَ: بَلِيتَ -؟ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ“Sesungguhnya di antara hari-harimu yang paling utama adalah hari Jum’at, pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu beliau wafat, pada hari itu juga ditiup (sangkakala), dan pada hari itu juga mereka pingsan. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku -karena- shalawat kalian akan disampaikan kepadaku.”Aus bin Aus berkata, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin shalawat kami bisa disampaikan kepadamu, sementara Anda telah tiada (meninggal)? -atau mereka berkata, “Telah hancur (menjadi tulang belulang).”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi.” (HR. Abu Dawud no. 1047, An-Nasa’i no. 1374, Ibnu Majah no. 1636, dan lain-lain. Dinilai shahih oleh Al-Albani)Sebagian orang, ketika selesai mengerjakan shalat sunnah, mereka pun mulai mengantuk sampai ketika khatib naik mimbar. Perbuatan semacam ini berarti telah menghalangi dari kebaikan yang sangat banyak, dia pun terlewat dari mendapatkan kebaikan yang sangat banyak di hari Jum’at. Terdapat hadits yang diriwayatkan dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ إِلَى غَيْرِهِ“Apabila salah seorang mengantuk di dalam masjid (ketika khutbah Jumat), hendaknya dia pindah tempat duduk ke tempat duduk yang lain.” (HR. Abu Dawud no. 1119, dinilai shahih oleh Al-Albani)Adapun hikmah adanya perintah berpindah tempat adalah agar orang tersebut kemudian bisa menggerakkan badannya untuk mengusir rasa kantuk tersebut. Kemungkinan hikmah yang lain adalah agar seseorang berpindah dari tempat yang telah membuat dia lalai (dengan mengantuk), ke tempat yang baru. Wallahu a’lam. (Lihat Nailul Authar, 3: 284)Baca Juga:Demikian pembahasan ini, semoga bermanfaat. [3][Selesai]***@Rumah Kasongan, 4 Muharram 1442/ 23 Agustus 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.idCatatan kaki:Adakah Shalat Sunnah Khusus Sebelum Shalat Jumat?<iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" style="position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);" title="“Adakah Shalat Sunnah Khusus Sebelum Shalat Jumat?” — PengusahaMuslim.com" src="https://pengusahamuslim.com/1993-adakah-shalat-sunnah-khusus-sebelum-shalat-jumat.html/embed#?secret=rzFRV3xr3s" data-secret="rzFRV3xr3s" width="500" height="282" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>Waktu Mustajab di Hari Jumat<iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" style="position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);" title="“Waktu Mustajab di Hari Jumat” — Konsultasi Agama dan Tanya Jawab Pendidikan Islam" src="https://konsultasisyariah.com/24097-waktu-mustajab-di-hari-jumat.html/embed#?secret=E5Csv0nmXc" data-secret="E5Csv0nmXc" width="500" height="282" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>Ahkaam Khudhuuril Masaajidhafidzahullah,

Dampak Dosa

قال الثوري حرمت قيام الليل خمسة أشهر بذنب أذنبته Sufyan Ats-Tsauri mengatakan, “Aku tidak bisa bangun malam untuk sholat malam selama lima bulan lamanya gara-gara sebuah dosa yang kulakukan.” (Mukhtasar Minhajul Qashidin hal. 83, al-Maktab al-Islami) Semua dosa itu berbuah adzab namun adzab karena dosa itu tidak harus hal-hal yang mengerikan semisal tersambar halilintar.  Boleh jadi di antara bentuk adzab adalah sulit melakukan ibadah semisal sulit untuk bangun di akhir malam. Lebih jelek lagi jika berupa sulit bangun di waktu subuh. Kutipan di atas patut untuk dijadikan sebagai bahan renungan untuk orang yang sulit sholat malam atau malah tidak pernah sholat malam. Moga Allah senantiasa memberi kemudahan bagi kita untuk beribadah kepada-Nya. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Dampak Dosa

قال الثوري حرمت قيام الليل خمسة أشهر بذنب أذنبته Sufyan Ats-Tsauri mengatakan, “Aku tidak bisa bangun malam untuk sholat malam selama lima bulan lamanya gara-gara sebuah dosa yang kulakukan.” (Mukhtasar Minhajul Qashidin hal. 83, al-Maktab al-Islami) Semua dosa itu berbuah adzab namun adzab karena dosa itu tidak harus hal-hal yang mengerikan semisal tersambar halilintar.  Boleh jadi di antara bentuk adzab adalah sulit melakukan ibadah semisal sulit untuk bangun di akhir malam. Lebih jelek lagi jika berupa sulit bangun di waktu subuh. Kutipan di atas patut untuk dijadikan sebagai bahan renungan untuk orang yang sulit sholat malam atau malah tidak pernah sholat malam. Moga Allah senantiasa memberi kemudahan bagi kita untuk beribadah kepada-Nya. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
قال الثوري حرمت قيام الليل خمسة أشهر بذنب أذنبته Sufyan Ats-Tsauri mengatakan, “Aku tidak bisa bangun malam untuk sholat malam selama lima bulan lamanya gara-gara sebuah dosa yang kulakukan.” (Mukhtasar Minhajul Qashidin hal. 83, al-Maktab al-Islami) Semua dosa itu berbuah adzab namun adzab karena dosa itu tidak harus hal-hal yang mengerikan semisal tersambar halilintar.  Boleh jadi di antara bentuk adzab adalah sulit melakukan ibadah semisal sulit untuk bangun di akhir malam. Lebih jelek lagi jika berupa sulit bangun di waktu subuh. Kutipan di atas patut untuk dijadikan sebagai bahan renungan untuk orang yang sulit sholat malam atau malah tidak pernah sholat malam. Moga Allah senantiasa memberi kemudahan bagi kita untuk beribadah kepada-Nya. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


قال الثوري حرمت قيام الليل خمسة أشهر بذنب أذنبته Sufyan Ats-Tsauri mengatakan, “Aku tidak bisa bangun malam untuk sholat malam selama lima bulan lamanya gara-gara sebuah dosa yang kulakukan.” (Mukhtasar Minhajul Qashidin hal. 83, al-Maktab al-Islami) Semua dosa itu berbuah adzab namun adzab karena dosa itu tidak harus hal-hal yang mengerikan semisal tersambar halilintar.  Boleh jadi di antara bentuk adzab adalah sulit melakukan ibadah semisal sulit untuk bangun di akhir malam. Lebih jelek lagi jika berupa sulit bangun di waktu subuh. Kutipan di atas patut untuk dijadikan sebagai bahan renungan untuk orang yang sulit sholat malam atau malah tidak pernah sholat malam. Moga Allah senantiasa memberi kemudahan bagi kita untuk beribadah kepada-Nya. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Sahabat Sejati

Sahabat Sejati, Sahabat yang Memberikan Manfaat Dunia maupun Akhirat Guruku, Hamam, kata Bisyr bin Harits berpesan kepadaku,  كُلُّ صَدِيْقٍ لَكَ لَا تَنْتَفِعُ بِصَدَاقَتِهِ فَانْفِ صَدَاقَتِهِ عَنْكَ “Semua sahabat yang engkau tidak bisa mendapatkan manfaat dengan bersahabat dengannya tinggalkanlah bersahabat dengannya.” Kutanyakan kepada beliau tentang indikator mendapatkan manfaat dari bersahabat dengan seseorang. Jawaban Sang Guru sebagai berikut: يُعَلِّمُكَ خَيْرًا أَوْ يَدُلُّكَ إِلَى خَيْرٍ أَوْ يَصْطَنِعُ إِلَيْكَ خَيْرًا “Mengajarkan kebaikan kepadamu atau memberikan informasi tentang kebaikan kepadamu atau sungguh-sungguh berbuat baik kepadamu.” (Tarikh Baghdad 13/18) Tidak semua orang yang ada di sekitar kita layak kita jadikan sebagai sahabat. Sebagiannya cukup dijadikan sebagai kenalan, sekedar kita sapa dengan baik ketika berjumpa. Orang yang layak kita jadikan sebagai sahabat adalah orang yang bisa memberi manfaat kepada kita ketika kita bersahabat dengannya.  Ada tiga ciri orang yang layak dijadikan sebagai sahabat.  Mengajarkan hal yang manfaat baik terkait agama ataupun urusan dunia.  Memberi info manfaat baik terkait agama maupun info manfaat terkait dunia.  Terbukti suka berbuat baik kepada kita.  Sahabat yang memenuhi kriteria di atas semestinya kita pertahankan dengan cara: Banyak memaklumi kekurangannya. Segera meminta maaf ketika kita berbuat salah kepadanya. Mudah memaafkan ketika dia tergelincir melakukan kesalahan kepada kita. Suka berbuat baik kepadanya. Sahabat dalam konteks ini mencakup sahabat dunia nyata ataupun sahabat dunia maya. Termasuk sahabat dunia maya adalah grup WA, situs yang sering dibuka, channel youtube yang di subscribe, akun medsos yang diikuti dll.  Orang yang sayang dengan dirinya akan meninggalkan sahabat-sahabat dunia maya yang tidak memberi manfaat untuk hidupnya di dunia ataupun di akhirat. Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini agar dikelilingi sahabat-sahabat yang baik yang tetap akan menjadi sahabat ketika di dunia dan berlanjut di surga-Nya. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Sahabat Sejati

Sahabat Sejati, Sahabat yang Memberikan Manfaat Dunia maupun Akhirat Guruku, Hamam, kata Bisyr bin Harits berpesan kepadaku,  كُلُّ صَدِيْقٍ لَكَ لَا تَنْتَفِعُ بِصَدَاقَتِهِ فَانْفِ صَدَاقَتِهِ عَنْكَ “Semua sahabat yang engkau tidak bisa mendapatkan manfaat dengan bersahabat dengannya tinggalkanlah bersahabat dengannya.” Kutanyakan kepada beliau tentang indikator mendapatkan manfaat dari bersahabat dengan seseorang. Jawaban Sang Guru sebagai berikut: يُعَلِّمُكَ خَيْرًا أَوْ يَدُلُّكَ إِلَى خَيْرٍ أَوْ يَصْطَنِعُ إِلَيْكَ خَيْرًا “Mengajarkan kebaikan kepadamu atau memberikan informasi tentang kebaikan kepadamu atau sungguh-sungguh berbuat baik kepadamu.” (Tarikh Baghdad 13/18) Tidak semua orang yang ada di sekitar kita layak kita jadikan sebagai sahabat. Sebagiannya cukup dijadikan sebagai kenalan, sekedar kita sapa dengan baik ketika berjumpa. Orang yang layak kita jadikan sebagai sahabat adalah orang yang bisa memberi manfaat kepada kita ketika kita bersahabat dengannya.  Ada tiga ciri orang yang layak dijadikan sebagai sahabat.  Mengajarkan hal yang manfaat baik terkait agama ataupun urusan dunia.  Memberi info manfaat baik terkait agama maupun info manfaat terkait dunia.  Terbukti suka berbuat baik kepada kita.  Sahabat yang memenuhi kriteria di atas semestinya kita pertahankan dengan cara: Banyak memaklumi kekurangannya. Segera meminta maaf ketika kita berbuat salah kepadanya. Mudah memaafkan ketika dia tergelincir melakukan kesalahan kepada kita. Suka berbuat baik kepadanya. Sahabat dalam konteks ini mencakup sahabat dunia nyata ataupun sahabat dunia maya. Termasuk sahabat dunia maya adalah grup WA, situs yang sering dibuka, channel youtube yang di subscribe, akun medsos yang diikuti dll.  Orang yang sayang dengan dirinya akan meninggalkan sahabat-sahabat dunia maya yang tidak memberi manfaat untuk hidupnya di dunia ataupun di akhirat. Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini agar dikelilingi sahabat-sahabat yang baik yang tetap akan menjadi sahabat ketika di dunia dan berlanjut di surga-Nya. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Sahabat Sejati, Sahabat yang Memberikan Manfaat Dunia maupun Akhirat Guruku, Hamam, kata Bisyr bin Harits berpesan kepadaku,  كُلُّ صَدِيْقٍ لَكَ لَا تَنْتَفِعُ بِصَدَاقَتِهِ فَانْفِ صَدَاقَتِهِ عَنْكَ “Semua sahabat yang engkau tidak bisa mendapatkan manfaat dengan bersahabat dengannya tinggalkanlah bersahabat dengannya.” Kutanyakan kepada beliau tentang indikator mendapatkan manfaat dari bersahabat dengan seseorang. Jawaban Sang Guru sebagai berikut: يُعَلِّمُكَ خَيْرًا أَوْ يَدُلُّكَ إِلَى خَيْرٍ أَوْ يَصْطَنِعُ إِلَيْكَ خَيْرًا “Mengajarkan kebaikan kepadamu atau memberikan informasi tentang kebaikan kepadamu atau sungguh-sungguh berbuat baik kepadamu.” (Tarikh Baghdad 13/18) Tidak semua orang yang ada di sekitar kita layak kita jadikan sebagai sahabat. Sebagiannya cukup dijadikan sebagai kenalan, sekedar kita sapa dengan baik ketika berjumpa. Orang yang layak kita jadikan sebagai sahabat adalah orang yang bisa memberi manfaat kepada kita ketika kita bersahabat dengannya.  Ada tiga ciri orang yang layak dijadikan sebagai sahabat.  Mengajarkan hal yang manfaat baik terkait agama ataupun urusan dunia.  Memberi info manfaat baik terkait agama maupun info manfaat terkait dunia.  Terbukti suka berbuat baik kepada kita.  Sahabat yang memenuhi kriteria di atas semestinya kita pertahankan dengan cara: Banyak memaklumi kekurangannya. Segera meminta maaf ketika kita berbuat salah kepadanya. Mudah memaafkan ketika dia tergelincir melakukan kesalahan kepada kita. Suka berbuat baik kepadanya. Sahabat dalam konteks ini mencakup sahabat dunia nyata ataupun sahabat dunia maya. Termasuk sahabat dunia maya adalah grup WA, situs yang sering dibuka, channel youtube yang di subscribe, akun medsos yang diikuti dll.  Orang yang sayang dengan dirinya akan meninggalkan sahabat-sahabat dunia maya yang tidak memberi manfaat untuk hidupnya di dunia ataupun di akhirat. Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini agar dikelilingi sahabat-sahabat yang baik yang tetap akan menjadi sahabat ketika di dunia dan berlanjut di surga-Nya. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Sahabat Sejati, Sahabat yang Memberikan Manfaat Dunia maupun Akhirat Guruku, Hamam, kata Bisyr bin Harits berpesan kepadaku,  كُلُّ صَدِيْقٍ لَكَ لَا تَنْتَفِعُ بِصَدَاقَتِهِ فَانْفِ صَدَاقَتِهِ عَنْكَ “Semua sahabat yang engkau tidak bisa mendapatkan manfaat dengan bersahabat dengannya tinggalkanlah bersahabat dengannya.” Kutanyakan kepada beliau tentang indikator mendapatkan manfaat dari bersahabat dengan seseorang. Jawaban Sang Guru sebagai berikut: يُعَلِّمُكَ خَيْرًا أَوْ يَدُلُّكَ إِلَى خَيْرٍ أَوْ يَصْطَنِعُ إِلَيْكَ خَيْرًا “Mengajarkan kebaikan kepadamu atau memberikan informasi tentang kebaikan kepadamu atau sungguh-sungguh berbuat baik kepadamu.” (Tarikh Baghdad 13/18) Tidak semua orang yang ada di sekitar kita layak kita jadikan sebagai sahabat. Sebagiannya cukup dijadikan sebagai kenalan, sekedar kita sapa dengan baik ketika berjumpa. Orang yang layak kita jadikan sebagai sahabat adalah orang yang bisa memberi manfaat kepada kita ketika kita bersahabat dengannya.  Ada tiga ciri orang yang layak dijadikan sebagai sahabat.  Mengajarkan hal yang manfaat baik terkait agama ataupun urusan dunia.  Memberi info manfaat baik terkait agama maupun info manfaat terkait dunia.  Terbukti suka berbuat baik kepada kita.  Sahabat yang memenuhi kriteria di atas semestinya kita pertahankan dengan cara: Banyak memaklumi kekurangannya. Segera meminta maaf ketika kita berbuat salah kepadanya. Mudah memaafkan ketika dia tergelincir melakukan kesalahan kepada kita. Suka berbuat baik kepadanya. Sahabat dalam konteks ini mencakup sahabat dunia nyata ataupun sahabat dunia maya. Termasuk sahabat dunia maya adalah grup WA, situs yang sering dibuka, channel youtube yang di subscribe, akun medsos yang diikuti dll.  Orang yang sayang dengan dirinya akan meninggalkan sahabat-sahabat dunia maya yang tidak memberi manfaat untuk hidupnya di dunia ataupun di akhirat. Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini agar dikelilingi sahabat-sahabat yang baik yang tetap akan menjadi sahabat ketika di dunia dan berlanjut di surga-Nya. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Sikap Terhadap Pencela Allah, Pencela Nabi Atau Pencela Islam

Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahHukum mencela Allah, mencela Rasulullah atau mencela IslamSoal:Apa hukum mencela Allah atau mencela Rasul-Nya, atau merendahkan keduanya? Dan apa hukum menentang satu saja dari perintah yang Allah wajibkan? Atau menghalalkan apa yang Allah haramkan? Mohon jelaskan kepada kami, karena banyak sekali hal ini terjadi di tengah masyarakat.Syaikh menjawab:Semua orang yang mencela Allah subhanahu wa ta’ala, apapun bentuk celaannya, atau mencela Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, atau para Rasul yang lainnya, apapun bentuk celaannya, atau mencela Islam, atau merendahkan Allah atau Rasul-Nya, maka ia kafir dan murtad dari Islam. Walaupun orang tersebut mengaku Muslim. Ulama ijma’ (sepakat) akan hal ini. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ۝ لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Katakanlah: apakah dengan ayat-ayat Allah dan Rasul-Nya, kalian berolok-olok? Tidak perlu minta maaf, kalian telah kafir setelah sebelumnya beriman” (QS. At Taubah: 65-66).Al Allamah Abul Abbas Ibn Taimiyyah rahimahullah telah berpanjang lebar membahas masalah ini dalam kitab beliau berjudul Ash Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul. Siapa yang ingin mempelajari masalah ini lebih banyak beserta dalil-dalilnya, silakan merujuk pada kitab tersebut. Karena kitab ini agung dan penulisnya juga mulia, serta sangat luas ilmunya, rahimahullah.Demikian juga hukum bagi orang yang menentang satu saja dari perintah yang Allah wajibkan, atau menghalalkan apa yang Allah haramkan yang termasuk perkara ma’lum minad diin bid dharurah (perkara yang secara gamblang diketahui oleh orang Muslim). Seperti menentang wajibnya shalat, menentang wajibnya zakat, menentang wajibnya puasa Ramadhan, menentang wajibnya haji bagi orang yang mampu, menentang wajibnya berbakti kepada orang tua, dan semisalnya, atau menghalalkan minum khamr, menghalalkan durhaka kepada orang tua, menghalalkan harta dan darah orang lain tanpa hak, menghalalkan riba, dan semisalnya, yang termasuk perkara  ma’lum minad diin bid dharurah, berdasarkan ijma ulama ia kafir murtad dari Islam, walaupun mengaku Muslim.Para ulama telah berpanjang lebar dalam pembatal-pembatal keislaman ini, khususnya dalam bab tentang murtad. Mereka telah menjelaskan dalil-dalilnya. Siapa yang ingin mempelajarinya lebih lanjut, silakan merujuk kepada kitab-kitab para ulama dalam bab ini. Baik ulama dari kalangan Hanabilah, Syafi’iyyah, Malikiyyah, Hanafiyyah dan yang selain mereka. InsyaAllah akan didapatkan penjelasan yang memuaskan dari kitab-kitab mereka.Dan tidak boleh memberikan udzur bil jahl kepada mereka. Karena ini perkara-perkara yang sudah gamblang diketahui oleh kaum Muslimin. Dan hukumnya sudah jelas dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu’alaihi Wasallam.Wallahu waliyyut taufiq, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa aalihi wasallam.(Majmu Fatawa wal Maqalat Mutanawwi’ah, 7/45).Baca Juga: Menyikapi Penghina Nabi Di Negeri Non-MuslimSikap terhadap pencela agamaSoal:Ketika ada da’i yang mendakwahkan Islam dan mendakwahkan tentang shalat, lalu ketika itu ada orang yang mencela agama dan menghina Rasul serta mencela Allah, bagaimana sikap kita?Syaikh bertanya: siapa yang mencela?Penanya:  yang mencela adalah yang didakwahiSyaikh menjawab: Pertama, hendaknya dia dinasehati dan dijelaskan bahwasanya itu perbuatan kufur dan sesat. Orang-orang yang hadir juga hendaknya menasehatinya, berbicara dengannya dan menjelaskan kekeliruannya. Jika ia bertaubat, alhamdulillah. Jika tidak, maka diangkat perkaranya kepada pemerintah. Jika pemerintahnya menerapkan syari’at Allah, maka diangkat perkaranya kepada pemerintah. Untuk kasus seperti ini, pelaku harus diberi hukuman, bahkan dipenjara.Namun jangan langsung serahkan kepada pemerintah, namun nasehati terlebih dahulu. Ajak bicara ia dengan perkataan tegas jika ia terus-menerus melakukan perbuatan batil tersebut. Ancam dia bahwa ia akan dilaporkan kepada ulil amri. Mudah-mudahan ia mau kembali ke jalan yang benar.Karena mencela agama itu perbuatan riddah (mengeluarkan pelakunya) dari Islam, na’udzubillah. Mencela Rasulullah juga perbuatan riddah dari Islam. Andaikan seseorang mengatakan: “Rasulullah tidak paham masalah seperti ini, tidak tahu masalah ini…”, atau mengatakan: “Rasulullah orang kampung, tidak paham masalah seperti ini dan itu…” ini adalah riddah dari Islam, dan merupakan kufur akbar,  na’udzubillah. Atau seseorang mengatakan: “Aturan syariat ini tidak benar…”, “Aturan syariat ini tidak cocok untuk zaman sekarang…”, “Syariat ini itu hanya cocok untuk zaman dulu…”, ini juga riddah,  na’udzubillah.Sumber: https://bit.ly/2PJZ6YH Baca juga: Siapa Yang Berhak Menghukum Penghina Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam?Pencela agama, jika ia shalat apakah dianggap bertaubat?Soal:Bagaimana hukum orang yang pernah mencela agama atau mencela Allah? Namun ketika datang waktu shalat, ia pun berwudhu dan shalat wajib. Apakah dengan ia melaksanakan shalat wajib dapat dianggap bahwa ia telah mengumumkan taubatnya?Syaikh menjawab: Mencela agama dan mencela Allah adalah kemurtadan yang besar. Sekali lagi saya katakan, ini kemurtadan yang besar dari Islam. Na’udzubillah.Yang wajib dilakukan oleh pelakunya adalah bersegera untuk bertaubat, menyesal dan berhenti melakukan perbuatan tersebut. Tidak cukup dengan shalat. Karena shalat belum memenuhi (syarat taubat dari murtad). Namun wajib bertaubat dengan tulus atas perbuatan yang ia lakukan. Dan bertekad untuk tidak mengulang lagi perbuatan tersebut. Karena perbuatan jahat yang ia lakukan ini sangat fatal. Maka tidak boleh bermudah-mudahan dalam perkara ini. Wajib bagi dia untuk taubat dengan segera.Dan hakikat dari taubat adalah menyesal atas perbuatan yang telah dilakukan, dengan penuh menyesal dan kesedihan yang mendalam karena telah melakukannya. Disertai tekad yang tulus untuk tidak mengulanginya lagi. Dan sebelum ia lakukan ini semua, shalatnya tidaklah sah. Karena shalatnya dianggap sebagai shalat orang yang kafir. Maka wajib untuk bertaubat sebelum ia shalat. Baca Juga:Sumber: https://bit.ly/2XTfNFF ***Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Sikap Terhadap Pencela Allah, Pencela Nabi Atau Pencela Islam

Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahHukum mencela Allah, mencela Rasulullah atau mencela IslamSoal:Apa hukum mencela Allah atau mencela Rasul-Nya, atau merendahkan keduanya? Dan apa hukum menentang satu saja dari perintah yang Allah wajibkan? Atau menghalalkan apa yang Allah haramkan? Mohon jelaskan kepada kami, karena banyak sekali hal ini terjadi di tengah masyarakat.Syaikh menjawab:Semua orang yang mencela Allah subhanahu wa ta’ala, apapun bentuk celaannya, atau mencela Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, atau para Rasul yang lainnya, apapun bentuk celaannya, atau mencela Islam, atau merendahkan Allah atau Rasul-Nya, maka ia kafir dan murtad dari Islam. Walaupun orang tersebut mengaku Muslim. Ulama ijma’ (sepakat) akan hal ini. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ۝ لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Katakanlah: apakah dengan ayat-ayat Allah dan Rasul-Nya, kalian berolok-olok? Tidak perlu minta maaf, kalian telah kafir setelah sebelumnya beriman” (QS. At Taubah: 65-66).Al Allamah Abul Abbas Ibn Taimiyyah rahimahullah telah berpanjang lebar membahas masalah ini dalam kitab beliau berjudul Ash Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul. Siapa yang ingin mempelajari masalah ini lebih banyak beserta dalil-dalilnya, silakan merujuk pada kitab tersebut. Karena kitab ini agung dan penulisnya juga mulia, serta sangat luas ilmunya, rahimahullah.Demikian juga hukum bagi orang yang menentang satu saja dari perintah yang Allah wajibkan, atau menghalalkan apa yang Allah haramkan yang termasuk perkara ma’lum minad diin bid dharurah (perkara yang secara gamblang diketahui oleh orang Muslim). Seperti menentang wajibnya shalat, menentang wajibnya zakat, menentang wajibnya puasa Ramadhan, menentang wajibnya haji bagi orang yang mampu, menentang wajibnya berbakti kepada orang tua, dan semisalnya, atau menghalalkan minum khamr, menghalalkan durhaka kepada orang tua, menghalalkan harta dan darah orang lain tanpa hak, menghalalkan riba, dan semisalnya, yang termasuk perkara  ma’lum minad diin bid dharurah, berdasarkan ijma ulama ia kafir murtad dari Islam, walaupun mengaku Muslim.Para ulama telah berpanjang lebar dalam pembatal-pembatal keislaman ini, khususnya dalam bab tentang murtad. Mereka telah menjelaskan dalil-dalilnya. Siapa yang ingin mempelajarinya lebih lanjut, silakan merujuk kepada kitab-kitab para ulama dalam bab ini. Baik ulama dari kalangan Hanabilah, Syafi’iyyah, Malikiyyah, Hanafiyyah dan yang selain mereka. InsyaAllah akan didapatkan penjelasan yang memuaskan dari kitab-kitab mereka.Dan tidak boleh memberikan udzur bil jahl kepada mereka. Karena ini perkara-perkara yang sudah gamblang diketahui oleh kaum Muslimin. Dan hukumnya sudah jelas dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu’alaihi Wasallam.Wallahu waliyyut taufiq, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa aalihi wasallam.(Majmu Fatawa wal Maqalat Mutanawwi’ah, 7/45).Baca Juga: Menyikapi Penghina Nabi Di Negeri Non-MuslimSikap terhadap pencela agamaSoal:Ketika ada da’i yang mendakwahkan Islam dan mendakwahkan tentang shalat, lalu ketika itu ada orang yang mencela agama dan menghina Rasul serta mencela Allah, bagaimana sikap kita?Syaikh bertanya: siapa yang mencela?Penanya:  yang mencela adalah yang didakwahiSyaikh menjawab: Pertama, hendaknya dia dinasehati dan dijelaskan bahwasanya itu perbuatan kufur dan sesat. Orang-orang yang hadir juga hendaknya menasehatinya, berbicara dengannya dan menjelaskan kekeliruannya. Jika ia bertaubat, alhamdulillah. Jika tidak, maka diangkat perkaranya kepada pemerintah. Jika pemerintahnya menerapkan syari’at Allah, maka diangkat perkaranya kepada pemerintah. Untuk kasus seperti ini, pelaku harus diberi hukuman, bahkan dipenjara.Namun jangan langsung serahkan kepada pemerintah, namun nasehati terlebih dahulu. Ajak bicara ia dengan perkataan tegas jika ia terus-menerus melakukan perbuatan batil tersebut. Ancam dia bahwa ia akan dilaporkan kepada ulil amri. Mudah-mudahan ia mau kembali ke jalan yang benar.Karena mencela agama itu perbuatan riddah (mengeluarkan pelakunya) dari Islam, na’udzubillah. Mencela Rasulullah juga perbuatan riddah dari Islam. Andaikan seseorang mengatakan: “Rasulullah tidak paham masalah seperti ini, tidak tahu masalah ini…”, atau mengatakan: “Rasulullah orang kampung, tidak paham masalah seperti ini dan itu…” ini adalah riddah dari Islam, dan merupakan kufur akbar,  na’udzubillah. Atau seseorang mengatakan: “Aturan syariat ini tidak benar…”, “Aturan syariat ini tidak cocok untuk zaman sekarang…”, “Syariat ini itu hanya cocok untuk zaman dulu…”, ini juga riddah,  na’udzubillah.Sumber: https://bit.ly/2PJZ6YH Baca juga: Siapa Yang Berhak Menghukum Penghina Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam?Pencela agama, jika ia shalat apakah dianggap bertaubat?Soal:Bagaimana hukum orang yang pernah mencela agama atau mencela Allah? Namun ketika datang waktu shalat, ia pun berwudhu dan shalat wajib. Apakah dengan ia melaksanakan shalat wajib dapat dianggap bahwa ia telah mengumumkan taubatnya?Syaikh menjawab: Mencela agama dan mencela Allah adalah kemurtadan yang besar. Sekali lagi saya katakan, ini kemurtadan yang besar dari Islam. Na’udzubillah.Yang wajib dilakukan oleh pelakunya adalah bersegera untuk bertaubat, menyesal dan berhenti melakukan perbuatan tersebut. Tidak cukup dengan shalat. Karena shalat belum memenuhi (syarat taubat dari murtad). Namun wajib bertaubat dengan tulus atas perbuatan yang ia lakukan. Dan bertekad untuk tidak mengulang lagi perbuatan tersebut. Karena perbuatan jahat yang ia lakukan ini sangat fatal. Maka tidak boleh bermudah-mudahan dalam perkara ini. Wajib bagi dia untuk taubat dengan segera.Dan hakikat dari taubat adalah menyesal atas perbuatan yang telah dilakukan, dengan penuh menyesal dan kesedihan yang mendalam karena telah melakukannya. Disertai tekad yang tulus untuk tidak mengulanginya lagi. Dan sebelum ia lakukan ini semua, shalatnya tidaklah sah. Karena shalatnya dianggap sebagai shalat orang yang kafir. Maka wajib untuk bertaubat sebelum ia shalat. Baca Juga:Sumber: https://bit.ly/2XTfNFF ***Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id
Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahHukum mencela Allah, mencela Rasulullah atau mencela IslamSoal:Apa hukum mencela Allah atau mencela Rasul-Nya, atau merendahkan keduanya? Dan apa hukum menentang satu saja dari perintah yang Allah wajibkan? Atau menghalalkan apa yang Allah haramkan? Mohon jelaskan kepada kami, karena banyak sekali hal ini terjadi di tengah masyarakat.Syaikh menjawab:Semua orang yang mencela Allah subhanahu wa ta’ala, apapun bentuk celaannya, atau mencela Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, atau para Rasul yang lainnya, apapun bentuk celaannya, atau mencela Islam, atau merendahkan Allah atau Rasul-Nya, maka ia kafir dan murtad dari Islam. Walaupun orang tersebut mengaku Muslim. Ulama ijma’ (sepakat) akan hal ini. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ۝ لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Katakanlah: apakah dengan ayat-ayat Allah dan Rasul-Nya, kalian berolok-olok? Tidak perlu minta maaf, kalian telah kafir setelah sebelumnya beriman” (QS. At Taubah: 65-66).Al Allamah Abul Abbas Ibn Taimiyyah rahimahullah telah berpanjang lebar membahas masalah ini dalam kitab beliau berjudul Ash Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul. Siapa yang ingin mempelajari masalah ini lebih banyak beserta dalil-dalilnya, silakan merujuk pada kitab tersebut. Karena kitab ini agung dan penulisnya juga mulia, serta sangat luas ilmunya, rahimahullah.Demikian juga hukum bagi orang yang menentang satu saja dari perintah yang Allah wajibkan, atau menghalalkan apa yang Allah haramkan yang termasuk perkara ma’lum minad diin bid dharurah (perkara yang secara gamblang diketahui oleh orang Muslim). Seperti menentang wajibnya shalat, menentang wajibnya zakat, menentang wajibnya puasa Ramadhan, menentang wajibnya haji bagi orang yang mampu, menentang wajibnya berbakti kepada orang tua, dan semisalnya, atau menghalalkan minum khamr, menghalalkan durhaka kepada orang tua, menghalalkan harta dan darah orang lain tanpa hak, menghalalkan riba, dan semisalnya, yang termasuk perkara  ma’lum minad diin bid dharurah, berdasarkan ijma ulama ia kafir murtad dari Islam, walaupun mengaku Muslim.Para ulama telah berpanjang lebar dalam pembatal-pembatal keislaman ini, khususnya dalam bab tentang murtad. Mereka telah menjelaskan dalil-dalilnya. Siapa yang ingin mempelajarinya lebih lanjut, silakan merujuk kepada kitab-kitab para ulama dalam bab ini. Baik ulama dari kalangan Hanabilah, Syafi’iyyah, Malikiyyah, Hanafiyyah dan yang selain mereka. InsyaAllah akan didapatkan penjelasan yang memuaskan dari kitab-kitab mereka.Dan tidak boleh memberikan udzur bil jahl kepada mereka. Karena ini perkara-perkara yang sudah gamblang diketahui oleh kaum Muslimin. Dan hukumnya sudah jelas dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu’alaihi Wasallam.Wallahu waliyyut taufiq, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa aalihi wasallam.(Majmu Fatawa wal Maqalat Mutanawwi’ah, 7/45).Baca Juga: Menyikapi Penghina Nabi Di Negeri Non-MuslimSikap terhadap pencela agamaSoal:Ketika ada da’i yang mendakwahkan Islam dan mendakwahkan tentang shalat, lalu ketika itu ada orang yang mencela agama dan menghina Rasul serta mencela Allah, bagaimana sikap kita?Syaikh bertanya: siapa yang mencela?Penanya:  yang mencela adalah yang didakwahiSyaikh menjawab: Pertama, hendaknya dia dinasehati dan dijelaskan bahwasanya itu perbuatan kufur dan sesat. Orang-orang yang hadir juga hendaknya menasehatinya, berbicara dengannya dan menjelaskan kekeliruannya. Jika ia bertaubat, alhamdulillah. Jika tidak, maka diangkat perkaranya kepada pemerintah. Jika pemerintahnya menerapkan syari’at Allah, maka diangkat perkaranya kepada pemerintah. Untuk kasus seperti ini, pelaku harus diberi hukuman, bahkan dipenjara.Namun jangan langsung serahkan kepada pemerintah, namun nasehati terlebih dahulu. Ajak bicara ia dengan perkataan tegas jika ia terus-menerus melakukan perbuatan batil tersebut. Ancam dia bahwa ia akan dilaporkan kepada ulil amri. Mudah-mudahan ia mau kembali ke jalan yang benar.Karena mencela agama itu perbuatan riddah (mengeluarkan pelakunya) dari Islam, na’udzubillah. Mencela Rasulullah juga perbuatan riddah dari Islam. Andaikan seseorang mengatakan: “Rasulullah tidak paham masalah seperti ini, tidak tahu masalah ini…”, atau mengatakan: “Rasulullah orang kampung, tidak paham masalah seperti ini dan itu…” ini adalah riddah dari Islam, dan merupakan kufur akbar,  na’udzubillah. Atau seseorang mengatakan: “Aturan syariat ini tidak benar…”, “Aturan syariat ini tidak cocok untuk zaman sekarang…”, “Syariat ini itu hanya cocok untuk zaman dulu…”, ini juga riddah,  na’udzubillah.Sumber: https://bit.ly/2PJZ6YH Baca juga: Siapa Yang Berhak Menghukum Penghina Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam?Pencela agama, jika ia shalat apakah dianggap bertaubat?Soal:Bagaimana hukum orang yang pernah mencela agama atau mencela Allah? Namun ketika datang waktu shalat, ia pun berwudhu dan shalat wajib. Apakah dengan ia melaksanakan shalat wajib dapat dianggap bahwa ia telah mengumumkan taubatnya?Syaikh menjawab: Mencela agama dan mencela Allah adalah kemurtadan yang besar. Sekali lagi saya katakan, ini kemurtadan yang besar dari Islam. Na’udzubillah.Yang wajib dilakukan oleh pelakunya adalah bersegera untuk bertaubat, menyesal dan berhenti melakukan perbuatan tersebut. Tidak cukup dengan shalat. Karena shalat belum memenuhi (syarat taubat dari murtad). Namun wajib bertaubat dengan tulus atas perbuatan yang ia lakukan. Dan bertekad untuk tidak mengulang lagi perbuatan tersebut. Karena perbuatan jahat yang ia lakukan ini sangat fatal. Maka tidak boleh bermudah-mudahan dalam perkara ini. Wajib bagi dia untuk taubat dengan segera.Dan hakikat dari taubat adalah menyesal atas perbuatan yang telah dilakukan, dengan penuh menyesal dan kesedihan yang mendalam karena telah melakukannya. Disertai tekad yang tulus untuk tidak mengulanginya lagi. Dan sebelum ia lakukan ini semua, shalatnya tidaklah sah. Karena shalatnya dianggap sebagai shalat orang yang kafir. Maka wajib untuk bertaubat sebelum ia shalat. Baca Juga:Sumber: https://bit.ly/2XTfNFF ***Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id


Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahHukum mencela Allah, mencela Rasulullah atau mencela IslamSoal:Apa hukum mencela Allah atau mencela Rasul-Nya, atau merendahkan keduanya? Dan apa hukum menentang satu saja dari perintah yang Allah wajibkan? Atau menghalalkan apa yang Allah haramkan? Mohon jelaskan kepada kami, karena banyak sekali hal ini terjadi di tengah masyarakat.Syaikh menjawab:Semua orang yang mencela Allah subhanahu wa ta’ala, apapun bentuk celaannya, atau mencela Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, atau para Rasul yang lainnya, apapun bentuk celaannya, atau mencela Islam, atau merendahkan Allah atau Rasul-Nya, maka ia kafir dan murtad dari Islam. Walaupun orang tersebut mengaku Muslim. Ulama ijma’ (sepakat) akan hal ini. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ۝ لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ“Katakanlah: apakah dengan ayat-ayat Allah dan Rasul-Nya, kalian berolok-olok? Tidak perlu minta maaf, kalian telah kafir setelah sebelumnya beriman” (QS. At Taubah: 65-66).Al Allamah Abul Abbas Ibn Taimiyyah rahimahullah telah berpanjang lebar membahas masalah ini dalam kitab beliau berjudul Ash Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul. Siapa yang ingin mempelajari masalah ini lebih banyak beserta dalil-dalilnya, silakan merujuk pada kitab tersebut. Karena kitab ini agung dan penulisnya juga mulia, serta sangat luas ilmunya, rahimahullah.Demikian juga hukum bagi orang yang menentang satu saja dari perintah yang Allah wajibkan, atau menghalalkan apa yang Allah haramkan yang termasuk perkara ma’lum minad diin bid dharurah (perkara yang secara gamblang diketahui oleh orang Muslim). Seperti menentang wajibnya shalat, menentang wajibnya zakat, menentang wajibnya puasa Ramadhan, menentang wajibnya haji bagi orang yang mampu, menentang wajibnya berbakti kepada orang tua, dan semisalnya, atau menghalalkan minum khamr, menghalalkan durhaka kepada orang tua, menghalalkan harta dan darah orang lain tanpa hak, menghalalkan riba, dan semisalnya, yang termasuk perkara  ma’lum minad diin bid dharurah, berdasarkan ijma ulama ia kafir murtad dari Islam, walaupun mengaku Muslim.Para ulama telah berpanjang lebar dalam pembatal-pembatal keislaman ini, khususnya dalam bab tentang murtad. Mereka telah menjelaskan dalil-dalilnya. Siapa yang ingin mempelajarinya lebih lanjut, silakan merujuk kepada kitab-kitab para ulama dalam bab ini. Baik ulama dari kalangan Hanabilah, Syafi’iyyah, Malikiyyah, Hanafiyyah dan yang selain mereka. InsyaAllah akan didapatkan penjelasan yang memuaskan dari kitab-kitab mereka.Dan tidak boleh memberikan udzur bil jahl kepada mereka. Karena ini perkara-perkara yang sudah gamblang diketahui oleh kaum Muslimin. Dan hukumnya sudah jelas dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu’alaihi Wasallam.Wallahu waliyyut taufiq, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa aalihi wasallam.(Majmu Fatawa wal Maqalat Mutanawwi’ah, 7/45).Baca Juga: Menyikapi Penghina Nabi Di Negeri Non-MuslimSikap terhadap pencela agamaSoal:Ketika ada da’i yang mendakwahkan Islam dan mendakwahkan tentang shalat, lalu ketika itu ada orang yang mencela agama dan menghina Rasul serta mencela Allah, bagaimana sikap kita?Syaikh bertanya: siapa yang mencela?Penanya:  yang mencela adalah yang didakwahiSyaikh menjawab: Pertama, hendaknya dia dinasehati dan dijelaskan bahwasanya itu perbuatan kufur dan sesat. Orang-orang yang hadir juga hendaknya menasehatinya, berbicara dengannya dan menjelaskan kekeliruannya. Jika ia bertaubat, alhamdulillah. Jika tidak, maka diangkat perkaranya kepada pemerintah. Jika pemerintahnya menerapkan syari’at Allah, maka diangkat perkaranya kepada pemerintah. Untuk kasus seperti ini, pelaku harus diberi hukuman, bahkan dipenjara.Namun jangan langsung serahkan kepada pemerintah, namun nasehati terlebih dahulu. Ajak bicara ia dengan perkataan tegas jika ia terus-menerus melakukan perbuatan batil tersebut. Ancam dia bahwa ia akan dilaporkan kepada ulil amri. Mudah-mudahan ia mau kembali ke jalan yang benar.Karena mencela agama itu perbuatan riddah (mengeluarkan pelakunya) dari Islam, na’udzubillah. Mencela Rasulullah juga perbuatan riddah dari Islam. Andaikan seseorang mengatakan: “Rasulullah tidak paham masalah seperti ini, tidak tahu masalah ini…”, atau mengatakan: “Rasulullah orang kampung, tidak paham masalah seperti ini dan itu…” ini adalah riddah dari Islam, dan merupakan kufur akbar,  na’udzubillah. Atau seseorang mengatakan: “Aturan syariat ini tidak benar…”, “Aturan syariat ini tidak cocok untuk zaman sekarang…”, “Syariat ini itu hanya cocok untuk zaman dulu…”, ini juga riddah,  na’udzubillah.Sumber: https://bit.ly/2PJZ6YH Baca juga: Siapa Yang Berhak Menghukum Penghina Nabi Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam?Pencela agama, jika ia shalat apakah dianggap bertaubat?Soal:Bagaimana hukum orang yang pernah mencela agama atau mencela Allah? Namun ketika datang waktu shalat, ia pun berwudhu dan shalat wajib. Apakah dengan ia melaksanakan shalat wajib dapat dianggap bahwa ia telah mengumumkan taubatnya?Syaikh menjawab: Mencela agama dan mencela Allah adalah kemurtadan yang besar. Sekali lagi saya katakan, ini kemurtadan yang besar dari Islam. Na’udzubillah.Yang wajib dilakukan oleh pelakunya adalah bersegera untuk bertaubat, menyesal dan berhenti melakukan perbuatan tersebut. Tidak cukup dengan shalat. Karena shalat belum memenuhi (syarat taubat dari murtad). Namun wajib bertaubat dengan tulus atas perbuatan yang ia lakukan. Dan bertekad untuk tidak mengulang lagi perbuatan tersebut. Karena perbuatan jahat yang ia lakukan ini sangat fatal. Maka tidak boleh bermudah-mudahan dalam perkara ini. Wajib bagi dia untuk taubat dengan segera.Dan hakikat dari taubat adalah menyesal atas perbuatan yang telah dilakukan, dengan penuh menyesal dan kesedihan yang mendalam karena telah melakukannya. Disertai tekad yang tulus untuk tidak mengulanginya lagi. Dan sebelum ia lakukan ini semua, shalatnya tidaklah sah. Karena shalatnya dianggap sebagai shalat orang yang kafir. Maka wajib untuk bertaubat sebelum ia shalat. Baca Juga:Sumber: https://bit.ly/2XTfNFF ***Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id
Prev     Next