Ini Dia Perhiasan Seorang Muslim 

Imam Asy-Syafi’i mengatakan:   عَلَيْكَ بِالزُّهْدِ فَالزُّهْدُ عَلَى الزَّاهِدِ أَحْسَنُ مِنَ الْحُلِيِّ عَلَى النَّاهِدِ   “Miliki sifat zuhud karena zuhud itu lebih indah dibandingkan perhiasan emas perak bagi gadis cantik.” (Bustanul Arifin karya Imam an-Nawawi hlm 137) Yang memperindah seorang muslim adalah akhlak mulia. Diantara akhlak mulia adalah zuhud.  Zuhud tidak berarti miskin papa tanpa harta. Zuhud adalah akhlak mulia yang levelnya di atas wara’. Wara’ adalah meninggalkan semua yang berbahaya di akhirat.  Ucapan, perbuatan, hobi, pekerjaan, uang, postingan medsos, chat, komentar, tertawa dll yang berbuah dosa di akhirat akan ditinggalkan oleh orang yang wara’. Sedangkan zuhud adalah meninggalkan semua yang tidak bermanfaat di akherat Semua ucapan, perbuatan, kebiasaan, hobi, pekerjaan, uang, postingan medsos chat, komentar, tertawa dll yang tidak bisa diniatkan pahala di akherat akan ditinggalkan oleh pemilik sifat zuhud. Betapa indahnya seorang muslim yang memiliki sifat zuhud.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Ini Dia Perhiasan Seorang Muslim 

Imam Asy-Syafi’i mengatakan:   عَلَيْكَ بِالزُّهْدِ فَالزُّهْدُ عَلَى الزَّاهِدِ أَحْسَنُ مِنَ الْحُلِيِّ عَلَى النَّاهِدِ   “Miliki sifat zuhud karena zuhud itu lebih indah dibandingkan perhiasan emas perak bagi gadis cantik.” (Bustanul Arifin karya Imam an-Nawawi hlm 137) Yang memperindah seorang muslim adalah akhlak mulia. Diantara akhlak mulia adalah zuhud.  Zuhud tidak berarti miskin papa tanpa harta. Zuhud adalah akhlak mulia yang levelnya di atas wara’. Wara’ adalah meninggalkan semua yang berbahaya di akhirat.  Ucapan, perbuatan, hobi, pekerjaan, uang, postingan medsos, chat, komentar, tertawa dll yang berbuah dosa di akhirat akan ditinggalkan oleh orang yang wara’. Sedangkan zuhud adalah meninggalkan semua yang tidak bermanfaat di akherat Semua ucapan, perbuatan, kebiasaan, hobi, pekerjaan, uang, postingan medsos chat, komentar, tertawa dll yang tidak bisa diniatkan pahala di akherat akan ditinggalkan oleh pemilik sifat zuhud. Betapa indahnya seorang muslim yang memiliki sifat zuhud.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Imam Asy-Syafi’i mengatakan:   عَلَيْكَ بِالزُّهْدِ فَالزُّهْدُ عَلَى الزَّاهِدِ أَحْسَنُ مِنَ الْحُلِيِّ عَلَى النَّاهِدِ   “Miliki sifat zuhud karena zuhud itu lebih indah dibandingkan perhiasan emas perak bagi gadis cantik.” (Bustanul Arifin karya Imam an-Nawawi hlm 137) Yang memperindah seorang muslim adalah akhlak mulia. Diantara akhlak mulia adalah zuhud.  Zuhud tidak berarti miskin papa tanpa harta. Zuhud adalah akhlak mulia yang levelnya di atas wara’. Wara’ adalah meninggalkan semua yang berbahaya di akhirat.  Ucapan, perbuatan, hobi, pekerjaan, uang, postingan medsos, chat, komentar, tertawa dll yang berbuah dosa di akhirat akan ditinggalkan oleh orang yang wara’. Sedangkan zuhud adalah meninggalkan semua yang tidak bermanfaat di akherat Semua ucapan, perbuatan, kebiasaan, hobi, pekerjaan, uang, postingan medsos chat, komentar, tertawa dll yang tidak bisa diniatkan pahala di akherat akan ditinggalkan oleh pemilik sifat zuhud. Betapa indahnya seorang muslim yang memiliki sifat zuhud.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Imam Asy-Syafi’i mengatakan:   عَلَيْكَ بِالزُّهْدِ فَالزُّهْدُ عَلَى الزَّاهِدِ أَحْسَنُ مِنَ الْحُلِيِّ عَلَى النَّاهِدِ   “Miliki sifat zuhud karena zuhud itu lebih indah dibandingkan perhiasan emas perak bagi gadis cantik.” (Bustanul Arifin karya Imam an-Nawawi hlm 137) Yang memperindah seorang muslim adalah akhlak mulia. Diantara akhlak mulia adalah zuhud.  Zuhud tidak berarti miskin papa tanpa harta. Zuhud adalah akhlak mulia yang levelnya di atas wara’. Wara’ adalah meninggalkan semua yang berbahaya di akhirat.  Ucapan, perbuatan, hobi, pekerjaan, uang, postingan medsos, chat, komentar, tertawa dll yang berbuah dosa di akhirat akan ditinggalkan oleh orang yang wara’. Sedangkan zuhud adalah meninggalkan semua yang tidak bermanfaat di akherat Semua ucapan, perbuatan, kebiasaan, hobi, pekerjaan, uang, postingan medsos chat, komentar, tertawa dll yang tidak bisa diniatkan pahala di akherat akan ditinggalkan oleh pemilik sifat zuhud. Betapa indahnya seorang muslim yang memiliki sifat zuhud.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Shalat, Sebab Penggugur Dosa

Salah satu buah (pahala) yang agung dari ibadah shalat adalah bahwa shalat tersebut adalah sebab dosa-dosa terampuni dan terhapusnya kesalahan-kesalahan kita. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ“Shalat lima waktu dan shalat Jumat ke Jumat berikutnya adalah penghapus untuk dosa di antaranya selama tidak melakukan dosa besar.” (HR. Muslim no. 233)Juga diceritakan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ“Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu rumah salah seorang dari kalian, lalu dia mandi lima kali setiap hari? Apakah kalian menganggap masih akan ada kotoran (daki) yang tersisa padanya?”Para sahabat menjawab,لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا“Tidak akan ada yang tersisa sedikit pun kotoran padanya.”Lalu beliau bersabda,فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُواللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا“Seperti itu pula dengan shalat lima waktu, dengannya Allah akan menghapus semua kesalahan.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 283)Baca Juga: Jangan Sia-Siakan Waktu Shalat!Memohon Ampunan dalam Semua Posisi ShalatDalam semua posisi shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa memohon ampunan. Hadits-hadits yang semakna dengan dua hadits di atas sangatlah banyak. Oleh karena itu, disyariatkan untuk memperbanyak doa memohon ampunan ketika shalat, baik dalam doa istiftah, ruku’, sujud, duduk antara dua sujud, dan juga sebelum dan sesudah salam.Ketika ruku’ dan sujud, kita disyariatkan membaca,سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي“Subhaanakallahumma rabbanaa wa bihamdika allahummagh firlii (Mahasuci Engkau wahai Tuhan kami, segala pujian bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku.)” (HR. Bukhari no. 794 dan Muslim no. 484)Hadits di atas diceritakan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.Doa lain yang disyaritkan dibaca ketika sujud adalah,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ“Allahummaghfirli dzanbi kullahu, diqqahu wajullahu, wa awwalahu wa akhirahu, wa ‘alaniyatahu wa sirrahu (Ya Allah, ampunilah semua dosa-dosaku, yang kecil maupun yang besar, yang awal maupun yang akhir, dan yang terang-terangan, maupun yang sembunyi-sembunyi).” (HR. Muslim no. 483)Hadits di atas diceritakan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Saat duduk di antara dua sujud, kita pun disyariatkan untuk memperbanyak doa memohon ampunan. Dari sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di antara dua sujud dan lamanya seperti ketika beliau sujud. Dan dalam duduk di antara dua sujud, beliau mengucapkan,رَبِّ اغْفِرْ لِي رَبِّ اغْفِرْ لِي“Rabbighfirlii, Rabbighfirlii. (Wahai Rabbku, ampunilah aku. Wahai Rabbku, ampunilah aku.)” (HR. Abu Dawud no. 874, sanadnya dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud no. 818)Baca Juga: Mengulang Bacaan Imam dalam Shalat Jama’ahBegitu juga sebelum salam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa meminta ampunan. Diceritakan oleh ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, bahwa pada akhir tasyahud sebelum memberi salam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca,اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ“Allahummagh firlii maa qaddamtu wa maa akhkhartu wamaa asrartu wa maa a’lantu wa asraftu wa maa anta a’lamu bihi minnii antal muqaddimu wa antal mu`akhkhiru laa ilaaha illaa anta (Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang lama dan yang baru, yang tersembunyi dan yang terlihat, yang aku telah melampaui batas. Dan Engkau lebih tahu daripadaku. Engkaulah yang memajukan dan memundurkan. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau).” (HR. Muslim no. 771)Demikian pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa meminta ampunan setelah salam. Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Jika Rasulullah selesai shalat, beliau akan meminta ampunan tiga kali dan memanjatkan doa,اللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Allaahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarakta dzal jalaalil wal ikroom (Ya Allah, Engkau adalah Dzat yang memberi keselamatan, dan dari-Mulah segala keselamatan. Maha Besar Engkau, wahai Dzat Pemilik kebesaran dan kemuliaan.”Kata Walid, maka kukatakan kepada Auza’i, “Lalu bagaimana bila hendak meminta ampunan?”Jawabnya, “Engkau ucapkan saja, ‘Astaghfirullah, Astaghfirullah.'” (HR. Muslim no. 591)Demikianlah kondisi shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memohon ampunan sejak awal shalat ketika membaca doa istiftah [1], ketika ruku’, ketika mengangkat kepala dari ruku’ [2], ketika sujud, ketika duduk di antara dua sujud, ketika duduk tasyahhud sebelum salam, dan bahkan setelah salam. Sebagian haditsnya telah kami sebutkan di atas.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,“Maka tidaklah beliau berada dalam suatu keadaan (posisi) ketika shalat, juga ketika berada dalam salah satu rukun shalat, kecuali beliau akan meminta ampunan kepada Allah ketika itu.” (Jaami’ul Masaa’il, 6: 274-275) [3]Baca Juga:***@Rumah Kasongan, 10 Shafar 1442/ 27 September 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. Muslim no. 201.[2] HR. Muslim no. 771.[3] Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 111-114, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.🔍 Penuntut Ilmu, Kalimat Tauhid Dan Artinya, As Sunnah Salafi, Ibnu Jarir, Tata Cara Menuntut Ilmu

Shalat, Sebab Penggugur Dosa

Salah satu buah (pahala) yang agung dari ibadah shalat adalah bahwa shalat tersebut adalah sebab dosa-dosa terampuni dan terhapusnya kesalahan-kesalahan kita. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ“Shalat lima waktu dan shalat Jumat ke Jumat berikutnya adalah penghapus untuk dosa di antaranya selama tidak melakukan dosa besar.” (HR. Muslim no. 233)Juga diceritakan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ“Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu rumah salah seorang dari kalian, lalu dia mandi lima kali setiap hari? Apakah kalian menganggap masih akan ada kotoran (daki) yang tersisa padanya?”Para sahabat menjawab,لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا“Tidak akan ada yang tersisa sedikit pun kotoran padanya.”Lalu beliau bersabda,فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُواللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا“Seperti itu pula dengan shalat lima waktu, dengannya Allah akan menghapus semua kesalahan.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 283)Baca Juga: Jangan Sia-Siakan Waktu Shalat!Memohon Ampunan dalam Semua Posisi ShalatDalam semua posisi shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa memohon ampunan. Hadits-hadits yang semakna dengan dua hadits di atas sangatlah banyak. Oleh karena itu, disyariatkan untuk memperbanyak doa memohon ampunan ketika shalat, baik dalam doa istiftah, ruku’, sujud, duduk antara dua sujud, dan juga sebelum dan sesudah salam.Ketika ruku’ dan sujud, kita disyariatkan membaca,سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي“Subhaanakallahumma rabbanaa wa bihamdika allahummagh firlii (Mahasuci Engkau wahai Tuhan kami, segala pujian bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku.)” (HR. Bukhari no. 794 dan Muslim no. 484)Hadits di atas diceritakan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.Doa lain yang disyaritkan dibaca ketika sujud adalah,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ“Allahummaghfirli dzanbi kullahu, diqqahu wajullahu, wa awwalahu wa akhirahu, wa ‘alaniyatahu wa sirrahu (Ya Allah, ampunilah semua dosa-dosaku, yang kecil maupun yang besar, yang awal maupun yang akhir, dan yang terang-terangan, maupun yang sembunyi-sembunyi).” (HR. Muslim no. 483)Hadits di atas diceritakan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Saat duduk di antara dua sujud, kita pun disyariatkan untuk memperbanyak doa memohon ampunan. Dari sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di antara dua sujud dan lamanya seperti ketika beliau sujud. Dan dalam duduk di antara dua sujud, beliau mengucapkan,رَبِّ اغْفِرْ لِي رَبِّ اغْفِرْ لِي“Rabbighfirlii, Rabbighfirlii. (Wahai Rabbku, ampunilah aku. Wahai Rabbku, ampunilah aku.)” (HR. Abu Dawud no. 874, sanadnya dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud no. 818)Baca Juga: Mengulang Bacaan Imam dalam Shalat Jama’ahBegitu juga sebelum salam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa meminta ampunan. Diceritakan oleh ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, bahwa pada akhir tasyahud sebelum memberi salam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca,اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ“Allahummagh firlii maa qaddamtu wa maa akhkhartu wamaa asrartu wa maa a’lantu wa asraftu wa maa anta a’lamu bihi minnii antal muqaddimu wa antal mu`akhkhiru laa ilaaha illaa anta (Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang lama dan yang baru, yang tersembunyi dan yang terlihat, yang aku telah melampaui batas. Dan Engkau lebih tahu daripadaku. Engkaulah yang memajukan dan memundurkan. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau).” (HR. Muslim no. 771)Demikian pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa meminta ampunan setelah salam. Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Jika Rasulullah selesai shalat, beliau akan meminta ampunan tiga kali dan memanjatkan doa,اللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Allaahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarakta dzal jalaalil wal ikroom (Ya Allah, Engkau adalah Dzat yang memberi keselamatan, dan dari-Mulah segala keselamatan. Maha Besar Engkau, wahai Dzat Pemilik kebesaran dan kemuliaan.”Kata Walid, maka kukatakan kepada Auza’i, “Lalu bagaimana bila hendak meminta ampunan?”Jawabnya, “Engkau ucapkan saja, ‘Astaghfirullah, Astaghfirullah.'” (HR. Muslim no. 591)Demikianlah kondisi shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memohon ampunan sejak awal shalat ketika membaca doa istiftah [1], ketika ruku’, ketika mengangkat kepala dari ruku’ [2], ketika sujud, ketika duduk di antara dua sujud, ketika duduk tasyahhud sebelum salam, dan bahkan setelah salam. Sebagian haditsnya telah kami sebutkan di atas.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,“Maka tidaklah beliau berada dalam suatu keadaan (posisi) ketika shalat, juga ketika berada dalam salah satu rukun shalat, kecuali beliau akan meminta ampunan kepada Allah ketika itu.” (Jaami’ul Masaa’il, 6: 274-275) [3]Baca Juga:***@Rumah Kasongan, 10 Shafar 1442/ 27 September 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. Muslim no. 201.[2] HR. Muslim no. 771.[3] Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 111-114, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.🔍 Penuntut Ilmu, Kalimat Tauhid Dan Artinya, As Sunnah Salafi, Ibnu Jarir, Tata Cara Menuntut Ilmu
Salah satu buah (pahala) yang agung dari ibadah shalat adalah bahwa shalat tersebut adalah sebab dosa-dosa terampuni dan terhapusnya kesalahan-kesalahan kita. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ“Shalat lima waktu dan shalat Jumat ke Jumat berikutnya adalah penghapus untuk dosa di antaranya selama tidak melakukan dosa besar.” (HR. Muslim no. 233)Juga diceritakan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ“Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu rumah salah seorang dari kalian, lalu dia mandi lima kali setiap hari? Apakah kalian menganggap masih akan ada kotoran (daki) yang tersisa padanya?”Para sahabat menjawab,لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا“Tidak akan ada yang tersisa sedikit pun kotoran padanya.”Lalu beliau bersabda,فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُواللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا“Seperti itu pula dengan shalat lima waktu, dengannya Allah akan menghapus semua kesalahan.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 283)Baca Juga: Jangan Sia-Siakan Waktu Shalat!Memohon Ampunan dalam Semua Posisi ShalatDalam semua posisi shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa memohon ampunan. Hadits-hadits yang semakna dengan dua hadits di atas sangatlah banyak. Oleh karena itu, disyariatkan untuk memperbanyak doa memohon ampunan ketika shalat, baik dalam doa istiftah, ruku’, sujud, duduk antara dua sujud, dan juga sebelum dan sesudah salam.Ketika ruku’ dan sujud, kita disyariatkan membaca,سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي“Subhaanakallahumma rabbanaa wa bihamdika allahummagh firlii (Mahasuci Engkau wahai Tuhan kami, segala pujian bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku.)” (HR. Bukhari no. 794 dan Muslim no. 484)Hadits di atas diceritakan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.Doa lain yang disyaritkan dibaca ketika sujud adalah,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ“Allahummaghfirli dzanbi kullahu, diqqahu wajullahu, wa awwalahu wa akhirahu, wa ‘alaniyatahu wa sirrahu (Ya Allah, ampunilah semua dosa-dosaku, yang kecil maupun yang besar, yang awal maupun yang akhir, dan yang terang-terangan, maupun yang sembunyi-sembunyi).” (HR. Muslim no. 483)Hadits di atas diceritakan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Saat duduk di antara dua sujud, kita pun disyariatkan untuk memperbanyak doa memohon ampunan. Dari sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di antara dua sujud dan lamanya seperti ketika beliau sujud. Dan dalam duduk di antara dua sujud, beliau mengucapkan,رَبِّ اغْفِرْ لِي رَبِّ اغْفِرْ لِي“Rabbighfirlii, Rabbighfirlii. (Wahai Rabbku, ampunilah aku. Wahai Rabbku, ampunilah aku.)” (HR. Abu Dawud no. 874, sanadnya dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud no. 818)Baca Juga: Mengulang Bacaan Imam dalam Shalat Jama’ahBegitu juga sebelum salam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa meminta ampunan. Diceritakan oleh ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, bahwa pada akhir tasyahud sebelum memberi salam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca,اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ“Allahummagh firlii maa qaddamtu wa maa akhkhartu wamaa asrartu wa maa a’lantu wa asraftu wa maa anta a’lamu bihi minnii antal muqaddimu wa antal mu`akhkhiru laa ilaaha illaa anta (Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang lama dan yang baru, yang tersembunyi dan yang terlihat, yang aku telah melampaui batas. Dan Engkau lebih tahu daripadaku. Engkaulah yang memajukan dan memundurkan. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau).” (HR. Muslim no. 771)Demikian pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa meminta ampunan setelah salam. Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Jika Rasulullah selesai shalat, beliau akan meminta ampunan tiga kali dan memanjatkan doa,اللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Allaahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarakta dzal jalaalil wal ikroom (Ya Allah, Engkau adalah Dzat yang memberi keselamatan, dan dari-Mulah segala keselamatan. Maha Besar Engkau, wahai Dzat Pemilik kebesaran dan kemuliaan.”Kata Walid, maka kukatakan kepada Auza’i, “Lalu bagaimana bila hendak meminta ampunan?”Jawabnya, “Engkau ucapkan saja, ‘Astaghfirullah, Astaghfirullah.'” (HR. Muslim no. 591)Demikianlah kondisi shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memohon ampunan sejak awal shalat ketika membaca doa istiftah [1], ketika ruku’, ketika mengangkat kepala dari ruku’ [2], ketika sujud, ketika duduk di antara dua sujud, ketika duduk tasyahhud sebelum salam, dan bahkan setelah salam. Sebagian haditsnya telah kami sebutkan di atas.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,“Maka tidaklah beliau berada dalam suatu keadaan (posisi) ketika shalat, juga ketika berada dalam salah satu rukun shalat, kecuali beliau akan meminta ampunan kepada Allah ketika itu.” (Jaami’ul Masaa’il, 6: 274-275) [3]Baca Juga:***@Rumah Kasongan, 10 Shafar 1442/ 27 September 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. Muslim no. 201.[2] HR. Muslim no. 771.[3] Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 111-114, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.🔍 Penuntut Ilmu, Kalimat Tauhid Dan Artinya, As Sunnah Salafi, Ibnu Jarir, Tata Cara Menuntut Ilmu


Salah satu buah (pahala) yang agung dari ibadah shalat adalah bahwa shalat tersebut adalah sebab dosa-dosa terampuni dan terhapusnya kesalahan-kesalahan kita. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ“Shalat lima waktu dan shalat Jumat ke Jumat berikutnya adalah penghapus untuk dosa di antaranya selama tidak melakukan dosa besar.” (HR. Muslim no. 233)Juga diceritakan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ“Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu rumah salah seorang dari kalian, lalu dia mandi lima kali setiap hari? Apakah kalian menganggap masih akan ada kotoran (daki) yang tersisa padanya?”Para sahabat menjawab,لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا“Tidak akan ada yang tersisa sedikit pun kotoran padanya.”Lalu beliau bersabda,فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُواللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا“Seperti itu pula dengan shalat lima waktu, dengannya Allah akan menghapus semua kesalahan.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 283)Baca Juga: Jangan Sia-Siakan Waktu Shalat!Memohon Ampunan dalam Semua Posisi ShalatDalam semua posisi shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa memohon ampunan. Hadits-hadits yang semakna dengan dua hadits di atas sangatlah banyak. Oleh karena itu, disyariatkan untuk memperbanyak doa memohon ampunan ketika shalat, baik dalam doa istiftah, ruku’, sujud, duduk antara dua sujud, dan juga sebelum dan sesudah salam.Ketika ruku’ dan sujud, kita disyariatkan membaca,سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي“Subhaanakallahumma rabbanaa wa bihamdika allahummagh firlii (Mahasuci Engkau wahai Tuhan kami, segala pujian bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku.)” (HR. Bukhari no. 794 dan Muslim no. 484)Hadits di atas diceritakan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.Doa lain yang disyaritkan dibaca ketika sujud adalah,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ“Allahummaghfirli dzanbi kullahu, diqqahu wajullahu, wa awwalahu wa akhirahu, wa ‘alaniyatahu wa sirrahu (Ya Allah, ampunilah semua dosa-dosaku, yang kecil maupun yang besar, yang awal maupun yang akhir, dan yang terang-terangan, maupun yang sembunyi-sembunyi).” (HR. Muslim no. 483)Hadits di atas diceritakan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.Saat duduk di antara dua sujud, kita pun disyariatkan untuk memperbanyak doa memohon ampunan. Dari sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di antara dua sujud dan lamanya seperti ketika beliau sujud. Dan dalam duduk di antara dua sujud, beliau mengucapkan,رَبِّ اغْفِرْ لِي رَبِّ اغْفِرْ لِي“Rabbighfirlii, Rabbighfirlii. (Wahai Rabbku, ampunilah aku. Wahai Rabbku, ampunilah aku.)” (HR. Abu Dawud no. 874, sanadnya dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud no. 818)Baca Juga: Mengulang Bacaan Imam dalam Shalat Jama’ahBegitu juga sebelum salam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa meminta ampunan. Diceritakan oleh ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, bahwa pada akhir tasyahud sebelum memberi salam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca,اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ“Allahummagh firlii maa qaddamtu wa maa akhkhartu wamaa asrartu wa maa a’lantu wa asraftu wa maa anta a’lamu bihi minnii antal muqaddimu wa antal mu`akhkhiru laa ilaaha illaa anta (Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang lama dan yang baru, yang tersembunyi dan yang terlihat, yang aku telah melampaui batas. Dan Engkau lebih tahu daripadaku. Engkaulah yang memajukan dan memundurkan. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau).” (HR. Muslim no. 771)Demikian pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa meminta ampunan setelah salam. Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Jika Rasulullah selesai shalat, beliau akan meminta ampunan tiga kali dan memanjatkan doa,اللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ“Allaahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarakta dzal jalaalil wal ikroom (Ya Allah, Engkau adalah Dzat yang memberi keselamatan, dan dari-Mulah segala keselamatan. Maha Besar Engkau, wahai Dzat Pemilik kebesaran dan kemuliaan.”Kata Walid, maka kukatakan kepada Auza’i, “Lalu bagaimana bila hendak meminta ampunan?”Jawabnya, “Engkau ucapkan saja, ‘Astaghfirullah, Astaghfirullah.'” (HR. Muslim no. 591)Demikianlah kondisi shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memohon ampunan sejak awal shalat ketika membaca doa istiftah [1], ketika ruku’, ketika mengangkat kepala dari ruku’ [2], ketika sujud, ketika duduk di antara dua sujud, ketika duduk tasyahhud sebelum salam, dan bahkan setelah salam. Sebagian haditsnya telah kami sebutkan di atas.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,“Maka tidaklah beliau berada dalam suatu keadaan (posisi) ketika shalat, juga ketika berada dalam salah satu rukun shalat, kecuali beliau akan meminta ampunan kepada Allah ketika itu.” (Jaami’ul Masaa’il, 6: 274-275) [3]Baca Juga:***@Rumah Kasongan, 10 Shafar 1442/ 27 September 2020Penulis: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] HR. Muslim no. 201.[2] HR. Muslim no. 771.[3] Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 111-114, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.🔍 Penuntut Ilmu, Kalimat Tauhid Dan Artinya, As Sunnah Salafi, Ibnu Jarir, Tata Cara Menuntut Ilmu

Kitabul Jami’ Bab 2 – Hadits 9 – Setiap Kebaikan adalah Sedekah

Masjid Dubai @unsplashSetiap Kebaikan adalah SedekahOleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: قاَلَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم  : “كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ .” أَخْرَجَهُ الْبُخارِيُّ.Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, dia berkata, Rasūlullāh ﷺ bersabda, “Seluruh perbuatan baik merupakan shadaqah.” (HR. Al-Bukhari)Yang dimaksud ma’rūf (مَعْرُوْفٍ) dalam sabda Nabi ﷺ ini adalah lawan dari munkar. Munkar, yaitu perbuatan munkar dan ma’ruf adalah perbuatan kebaikan. Lafal kullu pada kalimat kullu ma’rūfin (كُلُّ مَعْرُوْف) adalah lafal yang menunjukkan keumuman, yang kalau kita artikan ke dalam bahasa kita yaitu “Seluruh perbuatan baik merupakan sedekah“.Hadits ini menjelaskan bahwasanya sedekah di mata syari’at bukan hanya terbatas pada harta, tetapi seluruh perbuatan baik (segala perbuatan kebaikan) juga merupakan sedekah. Kebaikan apapun juga, entah kebaikan yang berkaitan dengan diri sendiri maupun kebaikan yang berkaitan dengan orang lain. Asal ia merupakan kebaikan maka ia pun merupakan sedekah.Telah datang pula dalam hadits-hadits yang lain dimana Rasūlullāh ﷺ menjelaskan bahwasanya seluruh kebaikan secara rinci juga merupakan sedekah. Dalam sebuah hadits, Rasūlullāh ﷺ bersabda,وَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ“Setiap tasbih merupakan sedekah. Setiap tahmid (mengucapan alhamdulillāh) juga merupakan sedekah. Setiap bertahlil (mengucapkan lā ilāha illa Allāh) merupakan sedekah. Setiap takbir (mengucapkan Allāhu akbar) juga bersedekah. Menyeru orang lain untuk melakukan kebaikan juga sedekah. Dan mencegah orang lain (nahyi munkar) dari perbuatan kemungkaran juga termasuk.”Tashbih, tahmid, tahlil dan takbir adalah perbuatan yang berkaitan antara seorang hamba dengan Allāh. Mengagungkan Allāh termasuk sedekah. Maka yang dimaksud di sini adalah bersedekah kepada dirinya sendiri. Adapun yang berkaitan dengan orang lain, seperti amr bin ma’ruf adalah sedekah untuk orang lain. Menyuruh orang lain untuk melakukan kebaikan berarti dia sedang bersedekah kepadanya.Bahkan Nabi ﷺ menyebutkan perkara yang dianggap oleh para sahabat sebagai perkara duniawi semata ternyata juga mengandung pahala sedekah. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,وَفِـيْ بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ“Engkau menggauli istrimu juga termasuk sedekah.” (HR. Muslim)Jadi, menyenangkan hati istri dengan berhubungan dengan istri dinilai sedekah menurut kacamata syari’at.Rasulullah ﷺ juga menyebutkan,تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ“Demikian juga jika ada dua orang datang kemudian menjadikan engkau sebagai hakim (pengambil keputusan) jika engkau berbuat adil kepada keduanya maka berarti engkau telah bersedekah.”وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ“Demikian juga jika engkau membantu seseorang pada hewan tunggangannya yaitu engkau membantu mengangkatnya untuk naik di hewan tunggangannya atau engkau mengangkatkan barangnya di atas tunggangannya ini juga merupakan sedekah.” (HR. Bukhari no. 2.989 dan Muslim no. 1.009)Dari hadits-hadit di atas kita mengetahui bahwa sedekah tidak mesti dengan uang/harta. Membantu orang lain seperti mengangkatkan barang bawaannya, meletakkannya di atas tung-gangannya atau di atas mobilnya juga merupakan bentuk sedekah, yaitu sedekah dengan tenaga.Dalam hadits yang lain Rasūlullāh ﷺ menyebutkan,وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ“Dan berkata-kata yang baik merupakan sedekah.” (HR. Al-Bukhari no. 2.707 dan Muslim no. 2.332)Seseorang menahan dirinya dari perkataan buruk dan  berusaha berbicara dengan perkataan yang baik dikatakan telah bersedekah. Jika sedang berbicara dengan saudaranya, orangtuanya, istrinya, atau yang lainnya, ia berusaha memilih kata-kata yang baik. Ketika seseorang berusaha memilih kata-kata yang baik dalam berbicara, sesungguhnya dia sedang bersedekah.Semua hadits-hadit di atas menunjukkan bahwasanya seluruh bentuk kebaikan merupakan sedekah dan tidak terbatas dengan harta saja. Hal ini juga menunjukkan bahwa sedekah tidak hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kaya saja. Orang-orang miskin  pun bisa bersedekah. Allāh membuka cara sedekah yang bermacam-macam, tidak mesti dengan harta.Sebagian ulama mengatakan bahwa hal ini merupakan bentuk kasih sayang Allāh ﷻ, yaitu Dia menjadikan ibadah itu bermacam-macam. Hal ini tentu akan memudahkan bagi setiap hamba. Bagi mereka yang memiliki kelapangan harta, maka bersedekahlah dengan hartanya. Bagi yang bisa bersedekah dengan tenaganya, maka bersedekahlah dengan tenaganya. Demikian pula seseorang dapat bersedekah dengan pikirannya, idenya, atau bahkan dengan senyumnya. Bahkan jika seseorang tidak memiliki semua kemampuan itu dan ditakdirkan oleh Allah hanya bisa tinggal di dalam rumahnya sendiri, ia pun masih bisa bersedekah dengan tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan dzikir-dzikir lainnya.Namun hal ini sekaligus juga merupakan ujian bagi hamba apakah ia berusaha memasuki sebanyak-banyaknya pintu-pintu kebaikan atau tetap lalai meskipun pintu-pintu kebaikan itu dibuka dalam bentuk yang bermacam-macam.Oleh karena itu, hendaknya kita bisa memanfaatkan pintu-pintu sedekah dan pintu-pintu kebaikan yang banyak itu. Jika kita bisa memasuki banyak pintu-pintu kebaikan tersebut, maka itulah yang terbaik. Namun jika kita tidak bisa masuk ke seluruh pintu-pintu kebaikan yang disediakan Allah, maka hendaknya kita masuk ke pintu kebaikan yang dimudahkan Allāh ﷻ bagi kita.Wallahu a’lam.

Kitabul Jami’ Bab 2 – Hadits 9 – Setiap Kebaikan adalah Sedekah

Masjid Dubai @unsplashSetiap Kebaikan adalah SedekahOleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: قاَلَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم  : “كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ .” أَخْرَجَهُ الْبُخارِيُّ.Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, dia berkata, Rasūlullāh ﷺ bersabda, “Seluruh perbuatan baik merupakan shadaqah.” (HR. Al-Bukhari)Yang dimaksud ma’rūf (مَعْرُوْفٍ) dalam sabda Nabi ﷺ ini adalah lawan dari munkar. Munkar, yaitu perbuatan munkar dan ma’ruf adalah perbuatan kebaikan. Lafal kullu pada kalimat kullu ma’rūfin (كُلُّ مَعْرُوْف) adalah lafal yang menunjukkan keumuman, yang kalau kita artikan ke dalam bahasa kita yaitu “Seluruh perbuatan baik merupakan sedekah“.Hadits ini menjelaskan bahwasanya sedekah di mata syari’at bukan hanya terbatas pada harta, tetapi seluruh perbuatan baik (segala perbuatan kebaikan) juga merupakan sedekah. Kebaikan apapun juga, entah kebaikan yang berkaitan dengan diri sendiri maupun kebaikan yang berkaitan dengan orang lain. Asal ia merupakan kebaikan maka ia pun merupakan sedekah.Telah datang pula dalam hadits-hadits yang lain dimana Rasūlullāh ﷺ menjelaskan bahwasanya seluruh kebaikan secara rinci juga merupakan sedekah. Dalam sebuah hadits, Rasūlullāh ﷺ bersabda,وَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ“Setiap tasbih merupakan sedekah. Setiap tahmid (mengucapan alhamdulillāh) juga merupakan sedekah. Setiap bertahlil (mengucapkan lā ilāha illa Allāh) merupakan sedekah. Setiap takbir (mengucapkan Allāhu akbar) juga bersedekah. Menyeru orang lain untuk melakukan kebaikan juga sedekah. Dan mencegah orang lain (nahyi munkar) dari perbuatan kemungkaran juga termasuk.”Tashbih, tahmid, tahlil dan takbir adalah perbuatan yang berkaitan antara seorang hamba dengan Allāh. Mengagungkan Allāh termasuk sedekah. Maka yang dimaksud di sini adalah bersedekah kepada dirinya sendiri. Adapun yang berkaitan dengan orang lain, seperti amr bin ma’ruf adalah sedekah untuk orang lain. Menyuruh orang lain untuk melakukan kebaikan berarti dia sedang bersedekah kepadanya.Bahkan Nabi ﷺ menyebutkan perkara yang dianggap oleh para sahabat sebagai perkara duniawi semata ternyata juga mengandung pahala sedekah. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,وَفِـيْ بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ“Engkau menggauli istrimu juga termasuk sedekah.” (HR. Muslim)Jadi, menyenangkan hati istri dengan berhubungan dengan istri dinilai sedekah menurut kacamata syari’at.Rasulullah ﷺ juga menyebutkan,تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ“Demikian juga jika ada dua orang datang kemudian menjadikan engkau sebagai hakim (pengambil keputusan) jika engkau berbuat adil kepada keduanya maka berarti engkau telah bersedekah.”وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ“Demikian juga jika engkau membantu seseorang pada hewan tunggangannya yaitu engkau membantu mengangkatnya untuk naik di hewan tunggangannya atau engkau mengangkatkan barangnya di atas tunggangannya ini juga merupakan sedekah.” (HR. Bukhari no. 2.989 dan Muslim no. 1.009)Dari hadits-hadit di atas kita mengetahui bahwa sedekah tidak mesti dengan uang/harta. Membantu orang lain seperti mengangkatkan barang bawaannya, meletakkannya di atas tung-gangannya atau di atas mobilnya juga merupakan bentuk sedekah, yaitu sedekah dengan tenaga.Dalam hadits yang lain Rasūlullāh ﷺ menyebutkan,وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ“Dan berkata-kata yang baik merupakan sedekah.” (HR. Al-Bukhari no. 2.707 dan Muslim no. 2.332)Seseorang menahan dirinya dari perkataan buruk dan  berusaha berbicara dengan perkataan yang baik dikatakan telah bersedekah. Jika sedang berbicara dengan saudaranya, orangtuanya, istrinya, atau yang lainnya, ia berusaha memilih kata-kata yang baik. Ketika seseorang berusaha memilih kata-kata yang baik dalam berbicara, sesungguhnya dia sedang bersedekah.Semua hadits-hadit di atas menunjukkan bahwasanya seluruh bentuk kebaikan merupakan sedekah dan tidak terbatas dengan harta saja. Hal ini juga menunjukkan bahwa sedekah tidak hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kaya saja. Orang-orang miskin  pun bisa bersedekah. Allāh membuka cara sedekah yang bermacam-macam, tidak mesti dengan harta.Sebagian ulama mengatakan bahwa hal ini merupakan bentuk kasih sayang Allāh ﷻ, yaitu Dia menjadikan ibadah itu bermacam-macam. Hal ini tentu akan memudahkan bagi setiap hamba. Bagi mereka yang memiliki kelapangan harta, maka bersedekahlah dengan hartanya. Bagi yang bisa bersedekah dengan tenaganya, maka bersedekahlah dengan tenaganya. Demikian pula seseorang dapat bersedekah dengan pikirannya, idenya, atau bahkan dengan senyumnya. Bahkan jika seseorang tidak memiliki semua kemampuan itu dan ditakdirkan oleh Allah hanya bisa tinggal di dalam rumahnya sendiri, ia pun masih bisa bersedekah dengan tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan dzikir-dzikir lainnya.Namun hal ini sekaligus juga merupakan ujian bagi hamba apakah ia berusaha memasuki sebanyak-banyaknya pintu-pintu kebaikan atau tetap lalai meskipun pintu-pintu kebaikan itu dibuka dalam bentuk yang bermacam-macam.Oleh karena itu, hendaknya kita bisa memanfaatkan pintu-pintu sedekah dan pintu-pintu kebaikan yang banyak itu. Jika kita bisa memasuki banyak pintu-pintu kebaikan tersebut, maka itulah yang terbaik. Namun jika kita tidak bisa masuk ke seluruh pintu-pintu kebaikan yang disediakan Allah, maka hendaknya kita masuk ke pintu kebaikan yang dimudahkan Allāh ﷻ bagi kita.Wallahu a’lam.
Masjid Dubai @unsplashSetiap Kebaikan adalah SedekahOleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: قاَلَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم  : “كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ .” أَخْرَجَهُ الْبُخارِيُّ.Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, dia berkata, Rasūlullāh ﷺ bersabda, “Seluruh perbuatan baik merupakan shadaqah.” (HR. Al-Bukhari)Yang dimaksud ma’rūf (مَعْرُوْفٍ) dalam sabda Nabi ﷺ ini adalah lawan dari munkar. Munkar, yaitu perbuatan munkar dan ma’ruf adalah perbuatan kebaikan. Lafal kullu pada kalimat kullu ma’rūfin (كُلُّ مَعْرُوْف) adalah lafal yang menunjukkan keumuman, yang kalau kita artikan ke dalam bahasa kita yaitu “Seluruh perbuatan baik merupakan sedekah“.Hadits ini menjelaskan bahwasanya sedekah di mata syari’at bukan hanya terbatas pada harta, tetapi seluruh perbuatan baik (segala perbuatan kebaikan) juga merupakan sedekah. Kebaikan apapun juga, entah kebaikan yang berkaitan dengan diri sendiri maupun kebaikan yang berkaitan dengan orang lain. Asal ia merupakan kebaikan maka ia pun merupakan sedekah.Telah datang pula dalam hadits-hadits yang lain dimana Rasūlullāh ﷺ menjelaskan bahwasanya seluruh kebaikan secara rinci juga merupakan sedekah. Dalam sebuah hadits, Rasūlullāh ﷺ bersabda,وَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ“Setiap tasbih merupakan sedekah. Setiap tahmid (mengucapan alhamdulillāh) juga merupakan sedekah. Setiap bertahlil (mengucapkan lā ilāha illa Allāh) merupakan sedekah. Setiap takbir (mengucapkan Allāhu akbar) juga bersedekah. Menyeru orang lain untuk melakukan kebaikan juga sedekah. Dan mencegah orang lain (nahyi munkar) dari perbuatan kemungkaran juga termasuk.”Tashbih, tahmid, tahlil dan takbir adalah perbuatan yang berkaitan antara seorang hamba dengan Allāh. Mengagungkan Allāh termasuk sedekah. Maka yang dimaksud di sini adalah bersedekah kepada dirinya sendiri. Adapun yang berkaitan dengan orang lain, seperti amr bin ma’ruf adalah sedekah untuk orang lain. Menyuruh orang lain untuk melakukan kebaikan berarti dia sedang bersedekah kepadanya.Bahkan Nabi ﷺ menyebutkan perkara yang dianggap oleh para sahabat sebagai perkara duniawi semata ternyata juga mengandung pahala sedekah. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,وَفِـيْ بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ“Engkau menggauli istrimu juga termasuk sedekah.” (HR. Muslim)Jadi, menyenangkan hati istri dengan berhubungan dengan istri dinilai sedekah menurut kacamata syari’at.Rasulullah ﷺ juga menyebutkan,تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ“Demikian juga jika ada dua orang datang kemudian menjadikan engkau sebagai hakim (pengambil keputusan) jika engkau berbuat adil kepada keduanya maka berarti engkau telah bersedekah.”وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ“Demikian juga jika engkau membantu seseorang pada hewan tunggangannya yaitu engkau membantu mengangkatnya untuk naik di hewan tunggangannya atau engkau mengangkatkan barangnya di atas tunggangannya ini juga merupakan sedekah.” (HR. Bukhari no. 2.989 dan Muslim no. 1.009)Dari hadits-hadit di atas kita mengetahui bahwa sedekah tidak mesti dengan uang/harta. Membantu orang lain seperti mengangkatkan barang bawaannya, meletakkannya di atas tung-gangannya atau di atas mobilnya juga merupakan bentuk sedekah, yaitu sedekah dengan tenaga.Dalam hadits yang lain Rasūlullāh ﷺ menyebutkan,وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ“Dan berkata-kata yang baik merupakan sedekah.” (HR. Al-Bukhari no. 2.707 dan Muslim no. 2.332)Seseorang menahan dirinya dari perkataan buruk dan  berusaha berbicara dengan perkataan yang baik dikatakan telah bersedekah. Jika sedang berbicara dengan saudaranya, orangtuanya, istrinya, atau yang lainnya, ia berusaha memilih kata-kata yang baik. Ketika seseorang berusaha memilih kata-kata yang baik dalam berbicara, sesungguhnya dia sedang bersedekah.Semua hadits-hadit di atas menunjukkan bahwasanya seluruh bentuk kebaikan merupakan sedekah dan tidak terbatas dengan harta saja. Hal ini juga menunjukkan bahwa sedekah tidak hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kaya saja. Orang-orang miskin  pun bisa bersedekah. Allāh membuka cara sedekah yang bermacam-macam, tidak mesti dengan harta.Sebagian ulama mengatakan bahwa hal ini merupakan bentuk kasih sayang Allāh ﷻ, yaitu Dia menjadikan ibadah itu bermacam-macam. Hal ini tentu akan memudahkan bagi setiap hamba. Bagi mereka yang memiliki kelapangan harta, maka bersedekahlah dengan hartanya. Bagi yang bisa bersedekah dengan tenaganya, maka bersedekahlah dengan tenaganya. Demikian pula seseorang dapat bersedekah dengan pikirannya, idenya, atau bahkan dengan senyumnya. Bahkan jika seseorang tidak memiliki semua kemampuan itu dan ditakdirkan oleh Allah hanya bisa tinggal di dalam rumahnya sendiri, ia pun masih bisa bersedekah dengan tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan dzikir-dzikir lainnya.Namun hal ini sekaligus juga merupakan ujian bagi hamba apakah ia berusaha memasuki sebanyak-banyaknya pintu-pintu kebaikan atau tetap lalai meskipun pintu-pintu kebaikan itu dibuka dalam bentuk yang bermacam-macam.Oleh karena itu, hendaknya kita bisa memanfaatkan pintu-pintu sedekah dan pintu-pintu kebaikan yang banyak itu. Jika kita bisa memasuki banyak pintu-pintu kebaikan tersebut, maka itulah yang terbaik. Namun jika kita tidak bisa masuk ke seluruh pintu-pintu kebaikan yang disediakan Allah, maka hendaknya kita masuk ke pintu kebaikan yang dimudahkan Allāh ﷻ bagi kita.Wallahu a’lam.


Masjid Dubai @unsplashSetiap Kebaikan adalah SedekahOleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA.وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: قاَلَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم  : “كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ .” أَخْرَجَهُ الْبُخارِيُّ.Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, dia berkata, Rasūlullāh ﷺ bersabda, “Seluruh perbuatan baik merupakan shadaqah.” (HR. Al-Bukhari)Yang dimaksud ma’rūf (مَعْرُوْفٍ) dalam sabda Nabi ﷺ ini adalah lawan dari munkar. Munkar, yaitu perbuatan munkar dan ma’ruf adalah perbuatan kebaikan. Lafal kullu pada kalimat kullu ma’rūfin (كُلُّ مَعْرُوْف) adalah lafal yang menunjukkan keumuman, yang kalau kita artikan ke dalam bahasa kita yaitu “Seluruh perbuatan baik merupakan sedekah“.Hadits ini menjelaskan bahwasanya sedekah di mata syari’at bukan hanya terbatas pada harta, tetapi seluruh perbuatan baik (segala perbuatan kebaikan) juga merupakan sedekah. Kebaikan apapun juga, entah kebaikan yang berkaitan dengan diri sendiri maupun kebaikan yang berkaitan dengan orang lain. Asal ia merupakan kebaikan maka ia pun merupakan sedekah.Telah datang pula dalam hadits-hadits yang lain dimana Rasūlullāh ﷺ menjelaskan bahwasanya seluruh kebaikan secara rinci juga merupakan sedekah. Dalam sebuah hadits, Rasūlullāh ﷺ bersabda,وَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ“Setiap tasbih merupakan sedekah. Setiap tahmid (mengucapan alhamdulillāh) juga merupakan sedekah. Setiap bertahlil (mengucapkan lā ilāha illa Allāh) merupakan sedekah. Setiap takbir (mengucapkan Allāhu akbar) juga bersedekah. Menyeru orang lain untuk melakukan kebaikan juga sedekah. Dan mencegah orang lain (nahyi munkar) dari perbuatan kemungkaran juga termasuk.”Tashbih, tahmid, tahlil dan takbir adalah perbuatan yang berkaitan antara seorang hamba dengan Allāh. Mengagungkan Allāh termasuk sedekah. Maka yang dimaksud di sini adalah bersedekah kepada dirinya sendiri. Adapun yang berkaitan dengan orang lain, seperti amr bin ma’ruf adalah sedekah untuk orang lain. Menyuruh orang lain untuk melakukan kebaikan berarti dia sedang bersedekah kepadanya.Bahkan Nabi ﷺ menyebutkan perkara yang dianggap oleh para sahabat sebagai perkara duniawi semata ternyata juga mengandung pahala sedekah. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,وَفِـيْ بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ“Engkau menggauli istrimu juga termasuk sedekah.” (HR. Muslim)Jadi, menyenangkan hati istri dengan berhubungan dengan istri dinilai sedekah menurut kacamata syari’at.Rasulullah ﷺ juga menyebutkan,تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ“Demikian juga jika ada dua orang datang kemudian menjadikan engkau sebagai hakim (pengambil keputusan) jika engkau berbuat adil kepada keduanya maka berarti engkau telah bersedekah.”وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ“Demikian juga jika engkau membantu seseorang pada hewan tunggangannya yaitu engkau membantu mengangkatnya untuk naik di hewan tunggangannya atau engkau mengangkatkan barangnya di atas tunggangannya ini juga merupakan sedekah.” (HR. Bukhari no. 2.989 dan Muslim no. 1.009)Dari hadits-hadit di atas kita mengetahui bahwa sedekah tidak mesti dengan uang/harta. Membantu orang lain seperti mengangkatkan barang bawaannya, meletakkannya di atas tung-gangannya atau di atas mobilnya juga merupakan bentuk sedekah, yaitu sedekah dengan tenaga.Dalam hadits yang lain Rasūlullāh ﷺ menyebutkan,وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ“Dan berkata-kata yang baik merupakan sedekah.” (HR. Al-Bukhari no. 2.707 dan Muslim no. 2.332)Seseorang menahan dirinya dari perkataan buruk dan  berusaha berbicara dengan perkataan yang baik dikatakan telah bersedekah. Jika sedang berbicara dengan saudaranya, orangtuanya, istrinya, atau yang lainnya, ia berusaha memilih kata-kata yang baik. Ketika seseorang berusaha memilih kata-kata yang baik dalam berbicara, sesungguhnya dia sedang bersedekah.Semua hadits-hadit di atas menunjukkan bahwasanya seluruh bentuk kebaikan merupakan sedekah dan tidak terbatas dengan harta saja. Hal ini juga menunjukkan bahwa sedekah tidak hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kaya saja. Orang-orang miskin  pun bisa bersedekah. Allāh membuka cara sedekah yang bermacam-macam, tidak mesti dengan harta.Sebagian ulama mengatakan bahwa hal ini merupakan bentuk kasih sayang Allāh ﷻ, yaitu Dia menjadikan ibadah itu bermacam-macam. Hal ini tentu akan memudahkan bagi setiap hamba. Bagi mereka yang memiliki kelapangan harta, maka bersedekahlah dengan hartanya. Bagi yang bisa bersedekah dengan tenaganya, maka bersedekahlah dengan tenaganya. Demikian pula seseorang dapat bersedekah dengan pikirannya, idenya, atau bahkan dengan senyumnya. Bahkan jika seseorang tidak memiliki semua kemampuan itu dan ditakdirkan oleh Allah hanya bisa tinggal di dalam rumahnya sendiri, ia pun masih bisa bersedekah dengan tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan dzikir-dzikir lainnya.Namun hal ini sekaligus juga merupakan ujian bagi hamba apakah ia berusaha memasuki sebanyak-banyaknya pintu-pintu kebaikan atau tetap lalai meskipun pintu-pintu kebaikan itu dibuka dalam bentuk yang bermacam-macam.Oleh karena itu, hendaknya kita bisa memanfaatkan pintu-pintu sedekah dan pintu-pintu kebaikan yang banyak itu. Jika kita bisa memasuki banyak pintu-pintu kebaikan tersebut, maka itulah yang terbaik. Namun jika kita tidak bisa masuk ke seluruh pintu-pintu kebaikan yang disediakan Allah, maka hendaknya kita masuk ke pintu kebaikan yang dimudahkan Allāh ﷻ bagi kita.Wallahu a’lam.

Riba dalam e-wallet, dompet digital (Go Pay, OVO, dkk)

Dompet digital atau e-wallet adalah sebuah perangkat elektronik, layanan jasa, atau bahkan program perangkat lunak (aplikasi) yang memungkinkan para penggunanya untuk melakukan transaksi secara online dengan pengguna lainnya untuk membeli barang dan jasa. Menitip uang pada e-wallet, itu sama seperti kita menitip uang pada suatu toko/ warung. Jika mau belanja, akan didebet langsung dari saldo kita.  Daftar Isi tutup 1. Qardhun ataukah Wadi’ah? 1.1. Mau pastikan lagi apakah dana pada e-wallet adalah wadi’ah ataukah qardhun 2. Riba dalam Go Pay, OVO, dkk? 3. Hukum menggunakan e-wallet bagaimana? Qardhun ataukah Wadi’ah? Akad yang ada di e-wallet adalah meminjamkan (qardhun), bukan menitip (wadi’ah). Karena uang kita ada di e-wallet dimanfaatkan oleh pihak pemilik aplikasi. Buktinya, pihak aplikasi akan memberikan kita pelayanan istimewa dengan memberikan diskon, promo, dan semacamnya. Tujuannya adalah supaya uang kita tetap berada di e-wallet. Kalau itu cuma sekadar titip pada pihak aplikasi (baca: wadi’ah), baik hati sekali yah sampai kita dapat hadiah macam-macaam.   Mau pastikan lagi apakah dana pada e-wallet adalah wadi’ah ataukah qardhun Sifat qardhun (peminjaman) adalah dana dijamin balik, walau pihak peminjam itu merugi. Sifat wadi’ah (penitipan) adalah dana yang dititip bersifat amanat, jika ada kehilangan karena bukan kesengajaan pihak yang dititip, tidak ada ganti rugi. Pertanyaannya mudah: Apakah jika dana di dompet e-wallet tiba-tiba dicuri padahal sudah dijaga oleh pemilik aplikasi, apakah yang menitipkan siap kalau uangnya hilang gitu saja ataukah tetap menuntut? Dari sini Anda akan tahu hakikat dana yang tersimpan pada e-wallet adalah qardhun, bukan wadi’ah.    Baca juga artikel Rumaysho: Apa itu Wadi’ah? Tabungan Bank itu Qardhun, Bukan Wadi’ah Apa Beda Investasi, Wadi’ah, dan Utang Piutang?   Riba dalam Go Pay, OVO, dkk? Go-pay, OVO, dkk = muqtaridh = penerima pinjaman Konsumen = muqridh = pemberi pinjaman Kaidah: Tidak boleh ada manfaat/ keuntungan yang diterima oleh muqridh (pemberi pinjaman)  Kaidah riba: kullu qordhin jarro manfa’atan fahuwa ribaa, setiap utang piutang yang di dalamnya ada manfaat/ keuntungan untuk kreditur, maka termasuk riba.   Hukum menggunakan e-wallet bagaimana? Kalau sekadar menyimpan pada e-wallet, terus kita gunakan : hukumnya BOLEH. Kalau menyimpan pada e-wallet dan mendapatkan manfaat “free ongkir”, “masa promo” karena top-up pada e-wallet: inilah RIBA. Kalau kami sih lebih tentram bisa transfer saja langsung kalau belanja di marketplace, tanpa manfaatin top-up e-wallet (yang ada manfaat bagi kami). Bahkan yang kami harapkan bisa ada marketplace Islami yang bebas dari trik-trik topup riba semacam tadi. Namun, kapan yah marketplace seperti itu hadir?  Semoga segera insya Allah. Baca Juga: Berbagai Masalah dalam Marketplace Saat Ini —   Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbahaya riba dampak harta haram dana riba harta haram solusi utang riba

Riba dalam e-wallet, dompet digital (Go Pay, OVO, dkk)

Dompet digital atau e-wallet adalah sebuah perangkat elektronik, layanan jasa, atau bahkan program perangkat lunak (aplikasi) yang memungkinkan para penggunanya untuk melakukan transaksi secara online dengan pengguna lainnya untuk membeli barang dan jasa. Menitip uang pada e-wallet, itu sama seperti kita menitip uang pada suatu toko/ warung. Jika mau belanja, akan didebet langsung dari saldo kita.  Daftar Isi tutup 1. Qardhun ataukah Wadi’ah? 1.1. Mau pastikan lagi apakah dana pada e-wallet adalah wadi’ah ataukah qardhun 2. Riba dalam Go Pay, OVO, dkk? 3. Hukum menggunakan e-wallet bagaimana? Qardhun ataukah Wadi’ah? Akad yang ada di e-wallet adalah meminjamkan (qardhun), bukan menitip (wadi’ah). Karena uang kita ada di e-wallet dimanfaatkan oleh pihak pemilik aplikasi. Buktinya, pihak aplikasi akan memberikan kita pelayanan istimewa dengan memberikan diskon, promo, dan semacamnya. Tujuannya adalah supaya uang kita tetap berada di e-wallet. Kalau itu cuma sekadar titip pada pihak aplikasi (baca: wadi’ah), baik hati sekali yah sampai kita dapat hadiah macam-macaam.   Mau pastikan lagi apakah dana pada e-wallet adalah wadi’ah ataukah qardhun Sifat qardhun (peminjaman) adalah dana dijamin balik, walau pihak peminjam itu merugi. Sifat wadi’ah (penitipan) adalah dana yang dititip bersifat amanat, jika ada kehilangan karena bukan kesengajaan pihak yang dititip, tidak ada ganti rugi. Pertanyaannya mudah: Apakah jika dana di dompet e-wallet tiba-tiba dicuri padahal sudah dijaga oleh pemilik aplikasi, apakah yang menitipkan siap kalau uangnya hilang gitu saja ataukah tetap menuntut? Dari sini Anda akan tahu hakikat dana yang tersimpan pada e-wallet adalah qardhun, bukan wadi’ah.    Baca juga artikel Rumaysho: Apa itu Wadi’ah? Tabungan Bank itu Qardhun, Bukan Wadi’ah Apa Beda Investasi, Wadi’ah, dan Utang Piutang?   Riba dalam Go Pay, OVO, dkk? Go-pay, OVO, dkk = muqtaridh = penerima pinjaman Konsumen = muqridh = pemberi pinjaman Kaidah: Tidak boleh ada manfaat/ keuntungan yang diterima oleh muqridh (pemberi pinjaman)  Kaidah riba: kullu qordhin jarro manfa’atan fahuwa ribaa, setiap utang piutang yang di dalamnya ada manfaat/ keuntungan untuk kreditur, maka termasuk riba.   Hukum menggunakan e-wallet bagaimana? Kalau sekadar menyimpan pada e-wallet, terus kita gunakan : hukumnya BOLEH. Kalau menyimpan pada e-wallet dan mendapatkan manfaat “free ongkir”, “masa promo” karena top-up pada e-wallet: inilah RIBA. Kalau kami sih lebih tentram bisa transfer saja langsung kalau belanja di marketplace, tanpa manfaatin top-up e-wallet (yang ada manfaat bagi kami). Bahkan yang kami harapkan bisa ada marketplace Islami yang bebas dari trik-trik topup riba semacam tadi. Namun, kapan yah marketplace seperti itu hadir?  Semoga segera insya Allah. Baca Juga: Berbagai Masalah dalam Marketplace Saat Ini —   Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbahaya riba dampak harta haram dana riba harta haram solusi utang riba
Dompet digital atau e-wallet adalah sebuah perangkat elektronik, layanan jasa, atau bahkan program perangkat lunak (aplikasi) yang memungkinkan para penggunanya untuk melakukan transaksi secara online dengan pengguna lainnya untuk membeli barang dan jasa. Menitip uang pada e-wallet, itu sama seperti kita menitip uang pada suatu toko/ warung. Jika mau belanja, akan didebet langsung dari saldo kita.  Daftar Isi tutup 1. Qardhun ataukah Wadi’ah? 1.1. Mau pastikan lagi apakah dana pada e-wallet adalah wadi’ah ataukah qardhun 2. Riba dalam Go Pay, OVO, dkk? 3. Hukum menggunakan e-wallet bagaimana? Qardhun ataukah Wadi’ah? Akad yang ada di e-wallet adalah meminjamkan (qardhun), bukan menitip (wadi’ah). Karena uang kita ada di e-wallet dimanfaatkan oleh pihak pemilik aplikasi. Buktinya, pihak aplikasi akan memberikan kita pelayanan istimewa dengan memberikan diskon, promo, dan semacamnya. Tujuannya adalah supaya uang kita tetap berada di e-wallet. Kalau itu cuma sekadar titip pada pihak aplikasi (baca: wadi’ah), baik hati sekali yah sampai kita dapat hadiah macam-macaam.   Mau pastikan lagi apakah dana pada e-wallet adalah wadi’ah ataukah qardhun Sifat qardhun (peminjaman) adalah dana dijamin balik, walau pihak peminjam itu merugi. Sifat wadi’ah (penitipan) adalah dana yang dititip bersifat amanat, jika ada kehilangan karena bukan kesengajaan pihak yang dititip, tidak ada ganti rugi. Pertanyaannya mudah: Apakah jika dana di dompet e-wallet tiba-tiba dicuri padahal sudah dijaga oleh pemilik aplikasi, apakah yang menitipkan siap kalau uangnya hilang gitu saja ataukah tetap menuntut? Dari sini Anda akan tahu hakikat dana yang tersimpan pada e-wallet adalah qardhun, bukan wadi’ah.    Baca juga artikel Rumaysho: Apa itu Wadi’ah? Tabungan Bank itu Qardhun, Bukan Wadi’ah Apa Beda Investasi, Wadi’ah, dan Utang Piutang?   Riba dalam Go Pay, OVO, dkk? Go-pay, OVO, dkk = muqtaridh = penerima pinjaman Konsumen = muqridh = pemberi pinjaman Kaidah: Tidak boleh ada manfaat/ keuntungan yang diterima oleh muqridh (pemberi pinjaman)  Kaidah riba: kullu qordhin jarro manfa’atan fahuwa ribaa, setiap utang piutang yang di dalamnya ada manfaat/ keuntungan untuk kreditur, maka termasuk riba.   Hukum menggunakan e-wallet bagaimana? Kalau sekadar menyimpan pada e-wallet, terus kita gunakan : hukumnya BOLEH. Kalau menyimpan pada e-wallet dan mendapatkan manfaat “free ongkir”, “masa promo” karena top-up pada e-wallet: inilah RIBA. Kalau kami sih lebih tentram bisa transfer saja langsung kalau belanja di marketplace, tanpa manfaatin top-up e-wallet (yang ada manfaat bagi kami). Bahkan yang kami harapkan bisa ada marketplace Islami yang bebas dari trik-trik topup riba semacam tadi. Namun, kapan yah marketplace seperti itu hadir?  Semoga segera insya Allah. Baca Juga: Berbagai Masalah dalam Marketplace Saat Ini —   Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbahaya riba dampak harta haram dana riba harta haram solusi utang riba


Dompet digital atau e-wallet adalah sebuah perangkat elektronik, layanan jasa, atau bahkan program perangkat lunak (aplikasi) yang memungkinkan para penggunanya untuk melakukan transaksi secara online dengan pengguna lainnya untuk membeli barang dan jasa. Menitip uang pada e-wallet, itu sama seperti kita menitip uang pada suatu toko/ warung. Jika mau belanja, akan didebet langsung dari saldo kita.  Daftar Isi tutup 1. Qardhun ataukah Wadi’ah? 1.1. Mau pastikan lagi apakah dana pada e-wallet adalah wadi’ah ataukah qardhun 2. Riba dalam Go Pay, OVO, dkk? 3. Hukum menggunakan e-wallet bagaimana? Qardhun ataukah Wadi’ah? Akad yang ada di e-wallet adalah meminjamkan (qardhun), bukan menitip (wadi’ah). Karena uang kita ada di e-wallet dimanfaatkan oleh pihak pemilik aplikasi. Buktinya, pihak aplikasi akan memberikan kita pelayanan istimewa dengan memberikan diskon, promo, dan semacamnya. Tujuannya adalah supaya uang kita tetap berada di e-wallet. Kalau itu cuma sekadar titip pada pihak aplikasi (baca: wadi’ah), baik hati sekali yah sampai kita dapat hadiah macam-macaam.   Mau pastikan lagi apakah dana pada e-wallet adalah wadi’ah ataukah qardhun Sifat qardhun (peminjaman) adalah dana dijamin balik, walau pihak peminjam itu merugi. Sifat wadi’ah (penitipan) adalah dana yang dititip bersifat amanat, jika ada kehilangan karena bukan kesengajaan pihak yang dititip, tidak ada ganti rugi. Pertanyaannya mudah: Apakah jika dana di dompet e-wallet tiba-tiba dicuri padahal sudah dijaga oleh pemilik aplikasi, apakah yang menitipkan siap kalau uangnya hilang gitu saja ataukah tetap menuntut? Dari sini Anda akan tahu hakikat dana yang tersimpan pada e-wallet adalah qardhun, bukan wadi’ah.    Baca juga artikel Rumaysho: Apa itu Wadi’ah? Tabungan Bank itu Qardhun, Bukan Wadi’ah Apa Beda Investasi, Wadi’ah, dan Utang Piutang?   Riba dalam Go Pay, OVO, dkk? Go-pay, OVO, dkk = muqtaridh = penerima pinjaman Konsumen = muqridh = pemberi pinjaman Kaidah: Tidak boleh ada manfaat/ keuntungan yang diterima oleh muqridh (pemberi pinjaman)  Kaidah riba: kullu qordhin jarro manfa’atan fahuwa ribaa, setiap utang piutang yang di dalamnya ada manfaat/ keuntungan untuk kreditur, maka termasuk riba.   Hukum menggunakan e-wallet bagaimana? Kalau sekadar menyimpan pada e-wallet, terus kita gunakan : hukumnya BOLEH. Kalau menyimpan pada e-wallet dan mendapatkan manfaat “free ongkir”, “masa promo” karena top-up pada e-wallet: inilah RIBA. Kalau kami sih lebih tentram bisa transfer saja langsung kalau belanja di marketplace, tanpa manfaatin top-up e-wallet (yang ada manfaat bagi kami). Bahkan yang kami harapkan bisa ada marketplace Islami yang bebas dari trik-trik topup riba semacam tadi. Namun, kapan yah marketplace seperti itu hadir?  Semoga segera insya Allah. Baca Juga: Berbagai Masalah dalam Marketplace Saat Ini —   Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbahaya riba dampak harta haram dana riba harta haram solusi utang riba

Istri Sholihah Bukan Bagian dari Dunia

قال أبو سليمان الداراني رحمه الله: الزوجة الصالحة ليست من الدنيا فإنها تفرغك للآخرة وإنما تفريغها بتدبير المنزل وبقضاء الشهوة جميعاً. Abu Sulaiman ad-Darani mengatakan, “Isteri sholihah itu bukan bagian dari dunia yang melalaikan karena isteri sholihah itu membuat Anda wahai suami menjadi fokus. Hal itu karena isteri bertanggung jawab membereskan pekerjaan rumah dan menyebabkan tersalurnya syahwat biologis suami.” (Ihya Ulumuddin 2/35, Darul Fikr) Wanita sholihah bukanlah bagian dari dunia yang melalaikan dari akherat.  Wanita sholihah adalah bagian dari akherat karena wanita sholihah mendorong dan mendukung suami untuk bisa menggandeng tangan isteri, bersama menuju surga.  Ada dua jasa besar isteri yang mengharuskan suami untuk senantiasa berterimakasih kepada isteri: Terpenuhinya kebutuhan biologis yang halal dan berpahala. Beresnya pekerjaan rumah. Dua hal di atas adalah modal penting suami untuk mendapatkan ketenangan jiwa sehingga bisa maksimal berkontribusi bagi Islam dan kaum muslimin. “Di balik lelaki yang banyak berkontribusi untuk agama dan umat terdapat wanita sholihah yang taat Allah dan rasul-Nya dan berbakti kepada suami” Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Istri Sholihah Bukan Bagian dari Dunia

قال أبو سليمان الداراني رحمه الله: الزوجة الصالحة ليست من الدنيا فإنها تفرغك للآخرة وإنما تفريغها بتدبير المنزل وبقضاء الشهوة جميعاً. Abu Sulaiman ad-Darani mengatakan, “Isteri sholihah itu bukan bagian dari dunia yang melalaikan karena isteri sholihah itu membuat Anda wahai suami menjadi fokus. Hal itu karena isteri bertanggung jawab membereskan pekerjaan rumah dan menyebabkan tersalurnya syahwat biologis suami.” (Ihya Ulumuddin 2/35, Darul Fikr) Wanita sholihah bukanlah bagian dari dunia yang melalaikan dari akherat.  Wanita sholihah adalah bagian dari akherat karena wanita sholihah mendorong dan mendukung suami untuk bisa menggandeng tangan isteri, bersama menuju surga.  Ada dua jasa besar isteri yang mengharuskan suami untuk senantiasa berterimakasih kepada isteri: Terpenuhinya kebutuhan biologis yang halal dan berpahala. Beresnya pekerjaan rumah. Dua hal di atas adalah modal penting suami untuk mendapatkan ketenangan jiwa sehingga bisa maksimal berkontribusi bagi Islam dan kaum muslimin. “Di balik lelaki yang banyak berkontribusi untuk agama dan umat terdapat wanita sholihah yang taat Allah dan rasul-Nya dan berbakti kepada suami” Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
قال أبو سليمان الداراني رحمه الله: الزوجة الصالحة ليست من الدنيا فإنها تفرغك للآخرة وإنما تفريغها بتدبير المنزل وبقضاء الشهوة جميعاً. Abu Sulaiman ad-Darani mengatakan, “Isteri sholihah itu bukan bagian dari dunia yang melalaikan karena isteri sholihah itu membuat Anda wahai suami menjadi fokus. Hal itu karena isteri bertanggung jawab membereskan pekerjaan rumah dan menyebabkan tersalurnya syahwat biologis suami.” (Ihya Ulumuddin 2/35, Darul Fikr) Wanita sholihah bukanlah bagian dari dunia yang melalaikan dari akherat.  Wanita sholihah adalah bagian dari akherat karena wanita sholihah mendorong dan mendukung suami untuk bisa menggandeng tangan isteri, bersama menuju surga.  Ada dua jasa besar isteri yang mengharuskan suami untuk senantiasa berterimakasih kepada isteri: Terpenuhinya kebutuhan biologis yang halal dan berpahala. Beresnya pekerjaan rumah. Dua hal di atas adalah modal penting suami untuk mendapatkan ketenangan jiwa sehingga bisa maksimal berkontribusi bagi Islam dan kaum muslimin. “Di balik lelaki yang banyak berkontribusi untuk agama dan umat terdapat wanita sholihah yang taat Allah dan rasul-Nya dan berbakti kepada suami” Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


قال أبو سليمان الداراني رحمه الله: الزوجة الصالحة ليست من الدنيا فإنها تفرغك للآخرة وإنما تفريغها بتدبير المنزل وبقضاء الشهوة جميعاً. Abu Sulaiman ad-Darani mengatakan, “Isteri sholihah itu bukan bagian dari dunia yang melalaikan karena isteri sholihah itu membuat Anda wahai suami menjadi fokus. Hal itu karena isteri bertanggung jawab membereskan pekerjaan rumah dan menyebabkan tersalurnya syahwat biologis suami.” (Ihya Ulumuddin 2/35, Darul Fikr) Wanita sholihah bukanlah bagian dari dunia yang melalaikan dari akherat.  Wanita sholihah adalah bagian dari akherat karena wanita sholihah mendorong dan mendukung suami untuk bisa menggandeng tangan isteri, bersama menuju surga.  Ada dua jasa besar isteri yang mengharuskan suami untuk senantiasa berterimakasih kepada isteri: Terpenuhinya kebutuhan biologis yang halal dan berpahala. Beresnya pekerjaan rumah. Dua hal di atas adalah modal penting suami untuk mendapatkan ketenangan jiwa sehingga bisa maksimal berkontribusi bagi Islam dan kaum muslimin. “Di balik lelaki yang banyak berkontribusi untuk agama dan umat terdapat wanita sholihah yang taat Allah dan rasul-Nya dan berbakti kepada suami” Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Sifat dan Ciri Firqatun Najiyah

Fatwa Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-FauzanPertanyaan:Siapakah firqatun naajiyah (golongan yang selamat) di zaman ini? Bagaimanakah sifat dan ciri khasnya?Jawaban:Al-firqatun naajiyah al-manshurah (golongan yang selamat dan mendapatkan pertolongan) di zaman ini, hingga datangnya hari kiamat, adalah yang dikatakan (dijelaskan) oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau ditanya masalah ini.Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,إفترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة. وافترقت النصارى على اثنين وسبعين فرقة. وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة “Orang Yahudi berpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan. Orang Nasrani berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Sedangkan umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya (terancam) masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan saja.”Para sahabat bertanya,من هي يارسول الله؟“Siapakah mereka, wahai Rasulullah?”Beliau menjawab,ماكان على مثل ما أنا عليه اليوم وأصحابي“Mereka adalah golongan yang mana aku dan para sahabatku berpegang teguh padanya.” (HR. Tirmidzi no. 2641, Hakim 1: 129, dan lain-lain. Lihat Ash-Shahihah no. 203, 204, dan 1492)Allah Ta’ala mengatakan tentang mereka,وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah [9]: 100)Di antara sifat mereka adalah: berpegang teguh pada jalan (sunnah) yang ditempuh oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.Di antara sifat mereka adalah: mereka bersabar di atas kebenaran, tidak berpaling kepada ucapan (pendapat) orang-orang yang menyelisihi mereka, dan mereka tidak mempedulikan celaan orang-orang yang mencela mereka.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ“Senantiasa ada sekelompok umatku yang dimenangkan atas kebenaran, tidak akan membahayakan mereka orang yang memusuhi mereka hingga hari kiamat, sedangkan mereka tetap seperti itu” (HR. Muslim no. 1920).Di antara sifat mereka adalah: mereka mencintai as-salaf ash-shalih [1], memuji mereka, mendoakan mereka, dan berpegang teguh dengan atsar [2] mereka.Di antara sifat mereka adalah: tidak merendahkan satu pun generasi salaf, baik dari kalangan sahabat atau generasi setelahnya. [3]Sedangkan di antara sifat golongan yang menyimpang adalah: mereka membenci generasi salaf, membenci manhaj salaf, dan memperingatkan agar menjauhinya. [4] [5]***@Rumah Kasongan, 7 Muharram 1442/ 26 Agustus 2020Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Catatan kaki:[1] Yaitu generasi pendahulu yang shalih, baik dari kalangan sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan ulama terpecaya sesudah generasi mereka.[2] Yaitu jejak peninggalan mereka berupa contoh teladan, baik ucapan maupun perbuatan.[3] Imam Al-Barbahari rahimahullah berkata,“Jika Engkau melihat seseorang yang mencintai Abu Hurairah, Anas bin Malik, Usaid bin Khudhair, maka ketahuilah bahwa mereka adalah orang yang berpegang dengan sunnah, insyaa Allah.”Beliau rahimahullah juga berkata,“Dan jika Engkau melihat seseorang yang mencintai Ahmad bin Hambal, Al-Hajjaj bin Al-Minhal, Ahmad bin Nashr, menyebut mereka dengan kebaikan, dan mengambil perkataan mereka, maka ketahuilah bahwa mereka adalah orang yang berpegang dengan sunnah.” (Lihat Syarhus Sunnah karya Al-Barbahari, hal. 120-121)[4] Imam Al-Barbahari rahimahullah juga berkata,“Jika Engkau melihat seseorang yang mencela satu orang saja dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa mereka itu adalah pengikut hawa nafsu.”  (Lihat Syarhus Sunnah karya Al-Barbahari, hal. 115)Qutaibah bin Sa’id rahimahullah berkata,“Jika Engkau melihat seseorang yang mencintai ahli hadits, maka mereka di atas sunnah. Dan yang menyelisihi mereka, ketahuilah bahwa mereka itu ahli bid’ah.” (Lihat Muqaddimah Syi’ar Ash-haabul Hadits, hal. 7)[5] Diterjemahkan dari kitab Al-Ajwibah Al-Mufiidah ‘an As-ilati Al-Manaahij Al-Jadiidah, hal. 115-116 (penerbit Maktabah Al-Hadyu Al-Muhammadi Kairo, cetakan pertama tahun 1429)🔍 Sutrah Adalah, Aqidah Yang Benar, 3 Pembagian Bulan Ramadhan, Hadits Tentang Silaturrahim

Sifat dan Ciri Firqatun Najiyah

Fatwa Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-FauzanPertanyaan:Siapakah firqatun naajiyah (golongan yang selamat) di zaman ini? Bagaimanakah sifat dan ciri khasnya?Jawaban:Al-firqatun naajiyah al-manshurah (golongan yang selamat dan mendapatkan pertolongan) di zaman ini, hingga datangnya hari kiamat, adalah yang dikatakan (dijelaskan) oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau ditanya masalah ini.Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,إفترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة. وافترقت النصارى على اثنين وسبعين فرقة. وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة “Orang Yahudi berpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan. Orang Nasrani berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Sedangkan umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya (terancam) masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan saja.”Para sahabat bertanya,من هي يارسول الله؟“Siapakah mereka, wahai Rasulullah?”Beliau menjawab,ماكان على مثل ما أنا عليه اليوم وأصحابي“Mereka adalah golongan yang mana aku dan para sahabatku berpegang teguh padanya.” (HR. Tirmidzi no. 2641, Hakim 1: 129, dan lain-lain. Lihat Ash-Shahihah no. 203, 204, dan 1492)Allah Ta’ala mengatakan tentang mereka,وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah [9]: 100)Di antara sifat mereka adalah: berpegang teguh pada jalan (sunnah) yang ditempuh oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.Di antara sifat mereka adalah: mereka bersabar di atas kebenaran, tidak berpaling kepada ucapan (pendapat) orang-orang yang menyelisihi mereka, dan mereka tidak mempedulikan celaan orang-orang yang mencela mereka.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ“Senantiasa ada sekelompok umatku yang dimenangkan atas kebenaran, tidak akan membahayakan mereka orang yang memusuhi mereka hingga hari kiamat, sedangkan mereka tetap seperti itu” (HR. Muslim no. 1920).Di antara sifat mereka adalah: mereka mencintai as-salaf ash-shalih [1], memuji mereka, mendoakan mereka, dan berpegang teguh dengan atsar [2] mereka.Di antara sifat mereka adalah: tidak merendahkan satu pun generasi salaf, baik dari kalangan sahabat atau generasi setelahnya. [3]Sedangkan di antara sifat golongan yang menyimpang adalah: mereka membenci generasi salaf, membenci manhaj salaf, dan memperingatkan agar menjauhinya. [4] [5]***@Rumah Kasongan, 7 Muharram 1442/ 26 Agustus 2020Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Catatan kaki:[1] Yaitu generasi pendahulu yang shalih, baik dari kalangan sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan ulama terpecaya sesudah generasi mereka.[2] Yaitu jejak peninggalan mereka berupa contoh teladan, baik ucapan maupun perbuatan.[3] Imam Al-Barbahari rahimahullah berkata,“Jika Engkau melihat seseorang yang mencintai Abu Hurairah, Anas bin Malik, Usaid bin Khudhair, maka ketahuilah bahwa mereka adalah orang yang berpegang dengan sunnah, insyaa Allah.”Beliau rahimahullah juga berkata,“Dan jika Engkau melihat seseorang yang mencintai Ahmad bin Hambal, Al-Hajjaj bin Al-Minhal, Ahmad bin Nashr, menyebut mereka dengan kebaikan, dan mengambil perkataan mereka, maka ketahuilah bahwa mereka adalah orang yang berpegang dengan sunnah.” (Lihat Syarhus Sunnah karya Al-Barbahari, hal. 120-121)[4] Imam Al-Barbahari rahimahullah juga berkata,“Jika Engkau melihat seseorang yang mencela satu orang saja dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa mereka itu adalah pengikut hawa nafsu.”  (Lihat Syarhus Sunnah karya Al-Barbahari, hal. 115)Qutaibah bin Sa’id rahimahullah berkata,“Jika Engkau melihat seseorang yang mencintai ahli hadits, maka mereka di atas sunnah. Dan yang menyelisihi mereka, ketahuilah bahwa mereka itu ahli bid’ah.” (Lihat Muqaddimah Syi’ar Ash-haabul Hadits, hal. 7)[5] Diterjemahkan dari kitab Al-Ajwibah Al-Mufiidah ‘an As-ilati Al-Manaahij Al-Jadiidah, hal. 115-116 (penerbit Maktabah Al-Hadyu Al-Muhammadi Kairo, cetakan pertama tahun 1429)🔍 Sutrah Adalah, Aqidah Yang Benar, 3 Pembagian Bulan Ramadhan, Hadits Tentang Silaturrahim
Fatwa Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-FauzanPertanyaan:Siapakah firqatun naajiyah (golongan yang selamat) di zaman ini? Bagaimanakah sifat dan ciri khasnya?Jawaban:Al-firqatun naajiyah al-manshurah (golongan yang selamat dan mendapatkan pertolongan) di zaman ini, hingga datangnya hari kiamat, adalah yang dikatakan (dijelaskan) oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau ditanya masalah ini.Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,إفترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة. وافترقت النصارى على اثنين وسبعين فرقة. وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة “Orang Yahudi berpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan. Orang Nasrani berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Sedangkan umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya (terancam) masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan saja.”Para sahabat bertanya,من هي يارسول الله؟“Siapakah mereka, wahai Rasulullah?”Beliau menjawab,ماكان على مثل ما أنا عليه اليوم وأصحابي“Mereka adalah golongan yang mana aku dan para sahabatku berpegang teguh padanya.” (HR. Tirmidzi no. 2641, Hakim 1: 129, dan lain-lain. Lihat Ash-Shahihah no. 203, 204, dan 1492)Allah Ta’ala mengatakan tentang mereka,وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah [9]: 100)Di antara sifat mereka adalah: berpegang teguh pada jalan (sunnah) yang ditempuh oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.Di antara sifat mereka adalah: mereka bersabar di atas kebenaran, tidak berpaling kepada ucapan (pendapat) orang-orang yang menyelisihi mereka, dan mereka tidak mempedulikan celaan orang-orang yang mencela mereka.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ“Senantiasa ada sekelompok umatku yang dimenangkan atas kebenaran, tidak akan membahayakan mereka orang yang memusuhi mereka hingga hari kiamat, sedangkan mereka tetap seperti itu” (HR. Muslim no. 1920).Di antara sifat mereka adalah: mereka mencintai as-salaf ash-shalih [1], memuji mereka, mendoakan mereka, dan berpegang teguh dengan atsar [2] mereka.Di antara sifat mereka adalah: tidak merendahkan satu pun generasi salaf, baik dari kalangan sahabat atau generasi setelahnya. [3]Sedangkan di antara sifat golongan yang menyimpang adalah: mereka membenci generasi salaf, membenci manhaj salaf, dan memperingatkan agar menjauhinya. [4] [5]***@Rumah Kasongan, 7 Muharram 1442/ 26 Agustus 2020Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Catatan kaki:[1] Yaitu generasi pendahulu yang shalih, baik dari kalangan sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan ulama terpecaya sesudah generasi mereka.[2] Yaitu jejak peninggalan mereka berupa contoh teladan, baik ucapan maupun perbuatan.[3] Imam Al-Barbahari rahimahullah berkata,“Jika Engkau melihat seseorang yang mencintai Abu Hurairah, Anas bin Malik, Usaid bin Khudhair, maka ketahuilah bahwa mereka adalah orang yang berpegang dengan sunnah, insyaa Allah.”Beliau rahimahullah juga berkata,“Dan jika Engkau melihat seseorang yang mencintai Ahmad bin Hambal, Al-Hajjaj bin Al-Minhal, Ahmad bin Nashr, menyebut mereka dengan kebaikan, dan mengambil perkataan mereka, maka ketahuilah bahwa mereka adalah orang yang berpegang dengan sunnah.” (Lihat Syarhus Sunnah karya Al-Barbahari, hal. 120-121)[4] Imam Al-Barbahari rahimahullah juga berkata,“Jika Engkau melihat seseorang yang mencela satu orang saja dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa mereka itu adalah pengikut hawa nafsu.”  (Lihat Syarhus Sunnah karya Al-Barbahari, hal. 115)Qutaibah bin Sa’id rahimahullah berkata,“Jika Engkau melihat seseorang yang mencintai ahli hadits, maka mereka di atas sunnah. Dan yang menyelisihi mereka, ketahuilah bahwa mereka itu ahli bid’ah.” (Lihat Muqaddimah Syi’ar Ash-haabul Hadits, hal. 7)[5] Diterjemahkan dari kitab Al-Ajwibah Al-Mufiidah ‘an As-ilati Al-Manaahij Al-Jadiidah, hal. 115-116 (penerbit Maktabah Al-Hadyu Al-Muhammadi Kairo, cetakan pertama tahun 1429)🔍 Sutrah Adalah, Aqidah Yang Benar, 3 Pembagian Bulan Ramadhan, Hadits Tentang Silaturrahim


Fatwa Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-FauzanPertanyaan:Siapakah firqatun naajiyah (golongan yang selamat) di zaman ini? Bagaimanakah sifat dan ciri khasnya?Jawaban:Al-firqatun naajiyah al-manshurah (golongan yang selamat dan mendapatkan pertolongan) di zaman ini, hingga datangnya hari kiamat, adalah yang dikatakan (dijelaskan) oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau ditanya masalah ini.Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,إفترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة. وافترقت النصارى على اثنين وسبعين فرقة. وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة “Orang Yahudi berpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan. Orang Nasrani berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Sedangkan umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya (terancam) masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan saja.”Para sahabat bertanya,من هي يارسول الله؟“Siapakah mereka, wahai Rasulullah?”Beliau menjawab,ماكان على مثل ما أنا عليه اليوم وأصحابي“Mereka adalah golongan yang mana aku dan para sahabatku berpegang teguh padanya.” (HR. Tirmidzi no. 2641, Hakim 1: 129, dan lain-lain. Lihat Ash-Shahihah no. 203, 204, dan 1492)Allah Ta’ala mengatakan tentang mereka,وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah [9]: 100)Di antara sifat mereka adalah: berpegang teguh pada jalan (sunnah) yang ditempuh oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.Di antara sifat mereka adalah: mereka bersabar di atas kebenaran, tidak berpaling kepada ucapan (pendapat) orang-orang yang menyelisihi mereka, dan mereka tidak mempedulikan celaan orang-orang yang mencela mereka.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ“Senantiasa ada sekelompok umatku yang dimenangkan atas kebenaran, tidak akan membahayakan mereka orang yang memusuhi mereka hingga hari kiamat, sedangkan mereka tetap seperti itu” (HR. Muslim no. 1920).Di antara sifat mereka adalah: mereka mencintai as-salaf ash-shalih [1], memuji mereka, mendoakan mereka, dan berpegang teguh dengan atsar [2] mereka.Di antara sifat mereka adalah: tidak merendahkan satu pun generasi salaf, baik dari kalangan sahabat atau generasi setelahnya. [3]Sedangkan di antara sifat golongan yang menyimpang adalah: mereka membenci generasi salaf, membenci manhaj salaf, dan memperingatkan agar menjauhinya. [4] [5]***@Rumah Kasongan, 7 Muharram 1442/ 26 Agustus 2020Penerjemah: M. Saifudin HakimArtikel: Muslim.Or.Id Catatan kaki:[1] Yaitu generasi pendahulu yang shalih, baik dari kalangan sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan ulama terpecaya sesudah generasi mereka.[2] Yaitu jejak peninggalan mereka berupa contoh teladan, baik ucapan maupun perbuatan.[3] Imam Al-Barbahari rahimahullah berkata,“Jika Engkau melihat seseorang yang mencintai Abu Hurairah, Anas bin Malik, Usaid bin Khudhair, maka ketahuilah bahwa mereka adalah orang yang berpegang dengan sunnah, insyaa Allah.”Beliau rahimahullah juga berkata,“Dan jika Engkau melihat seseorang yang mencintai Ahmad bin Hambal, Al-Hajjaj bin Al-Minhal, Ahmad bin Nashr, menyebut mereka dengan kebaikan, dan mengambil perkataan mereka, maka ketahuilah bahwa mereka adalah orang yang berpegang dengan sunnah.” (Lihat Syarhus Sunnah karya Al-Barbahari, hal. 120-121)[4] Imam Al-Barbahari rahimahullah juga berkata,“Jika Engkau melihat seseorang yang mencela satu orang saja dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa mereka itu adalah pengikut hawa nafsu.”  (Lihat Syarhus Sunnah karya Al-Barbahari, hal. 115)Qutaibah bin Sa’id rahimahullah berkata,“Jika Engkau melihat seseorang yang mencintai ahli hadits, maka mereka di atas sunnah. Dan yang menyelisihi mereka, ketahuilah bahwa mereka itu ahli bid’ah.” (Lihat Muqaddimah Syi’ar Ash-haabul Hadits, hal. 7)[5] Diterjemahkan dari kitab Al-Ajwibah Al-Mufiidah ‘an As-ilati Al-Manaahij Al-Jadiidah, hal. 115-116 (penerbit Maktabah Al-Hadyu Al-Muhammadi Kairo, cetakan pertama tahun 1429)🔍 Sutrah Adalah, Aqidah Yang Benar, 3 Pembagian Bulan Ramadhan, Hadits Tentang Silaturrahim

Menangis dan Menceritakan Musibah Kepada Orang Lain

Salah satu tanda tinggi tauhid seseorang adalah menyandarkan diri kepada Allah. Allah adalah tempat paling pertama sebagai tempat ia mengadu semua permasalahannya, curhat dan bahkan menangis kepada Allah. Sebaliknya, salah satu tanda kurangnya tauhid seseorang adalah ia lupa kepada Allah. Ketika ada masalah, ia langsung mengadu kepada makhluk, mengadu kepada keluarga dan sahabat, bahkan menangis dan menceritakan masalahnya kepada keluarga dan sahabatnya.Baca Juga: Menangis Karena Allah, Bukti Iman Yang Tidak Bisa DirekayasaMengadu dan curhat kepada Allah pertama kaliSeorang hamba hendaknya memprioritaskan Allah dalam segala urusan, karena Allah adalah Rabbnya yang telah menciptakan dan memberikan segalanya. Ketika mendapatkan masalah dan musibah, hendaknya ia langsung mengadu kepada Allah pertama kali. Sebagaimana teladan dari para nabi dan orang shalih.Nabi Ya’qub ‘alaihis salam ketika mendengar berita sangat menyedihkan, yaitu anak kesayangannya Nabi Yusuf diberitakan telah di makan oleh srigala. Beliau langsung mengadu kepada Allah dan berkata,قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَYa’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.” (Yusuf : 86)Demikian juga Nabi Ayyub ‘alaihis salam, yang sangat terkenal dengan cobaan yang sangat berat menimpa beliau dengan cobaan bertubi-tubi, ia sangat sabar dan mengadu kepada Allah. Allah berfirman,إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia Amat taat (kepada Tuhan-nya)” (Shad : 44)Baca Juga: Bala’ dan Musibah Turun karena Dosa dan Terangkat karena TaubatOrang yang bersabar dan tidak menceritakan masalah/musibah pada orang lain akan mendapatkan keutamaan yang besar. Allah berfirman dalam hadits qudsi,قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِى الْمُؤْمِنَ فَلَمْ يَشْكُنِى إِلَى عُوَّادِهِ أَطْلَقْتُهُ مِنْ إِسَارِى ثُمَّ أَبْدَلْتُهُ لَحْمًا خَيْرًا مِنْ لَحْمِهِ وَدَمًا خَيْرًا مِنْ دَمِهِ ، ثُمَّ يَسْتَأْنِفُ الْعَمَلَ“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Jika Aku (Allah) memberikan cobaan (musibah) kepada hambaKu yang beriman sedang ia tidak mengeluh kepada orang yang mengunjunginya maka Aku akan melepaskannya dari tahananKu (penyakit) kemudian Aku gantikan dengan daging yang lebih baik dari dagingnya juga dengan darah yang lebih baik dari darahnya. Kemudian dia memulai amalnya (bagaikan bayi yang baru lahir).” [HR. Al Hakim, shahih] Pertanyaan yang muncul, apakah benar-benar tidak boleh bagi seseorang untuk menceritakan musibahnya kepada orang lain secara mutlak? Jawabannya: boleh saja, asalkan ia menceritakan dalam keadaan tegar, memuji dan bersyukur kepada Allah serta dengan tujuan musyawarah dan untuk mencari solusi dari musibah yang sedang ia hadapi. Penting diperhatikan juga bahwa orang yang ia ceritakan itu adalah orang yang benar-benar bisa membantunya dalam masalah/musibah ini, bukan menceritakan musibah kepada semua orang.Baca Juga: Mengharap Pahala Dari Tiap MusibahPerharikan fatwa berikut, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya,الأخت تقول في سؤالها أنا مريضة وأحيانا أبكي لما صارت إليه حالتي بعد مرضي فهل هذا البكاء معناه اعتراض على الله عز وجل وعدم الرضا بقضائه وهذا الفعل خارج عن إرادتي وكذلك هل التحدث مع المقربين عن المرض يدخل في ذلك ؟Seorang wanita berkata: Aku sedang sakit dan kadang aku menangisi keadaanku ketika tertimpa penyakit. Apakah tangisan ini menunjukkan rasa tidak terima dan tidak ridha terhadap takdir Allah? Padahal perasaan sedih ini muncul begitu saja. Lalu apakah menceritakan keadaanku tersebut kepada teman-teman dekat juga termasuk sikap tidak ridha terhadap takdir?Beliau menjawab:لا حرج عليك في البكاء إذا كان بدمع العين فقط لا بصوت لقول النبي صلى الله عليه وسلم لما مات ابنه إبراهيم: ((العين تدمع والقلب يحزن ولا نقول إلا ما يرضي الرب وإنا لفراقك يا إبراهيم لمحزونون))، والأحاديث في هذا المعنى كثيرة ولا حرج عليك أيضا في إخبار الأقارب والأصدقاء بمرضك مع حمد الله وشكره والثناء عليه وسؤاله العافية وتعاطي الأسباب المباحة، نوصيك بالصبر والاحتساب وأبشري بالخير لقول الله سبحانه وتعالى: إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ[1]، ولقوله تعالى: وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ[2]، ولقول النبي صلى الله عليه وسلم: ((لا يصيب المسلم هم ولا غم ولا نصب ولا وصب وهو المرض ولا أذى حتى الشوكة إلا كفر الله بها من خطاياه))، وقوله عليه الصلاة والسلام : ((من يرد الله به خيرا يصب منه)) نسأل الله أن يمن عليك بالشفاء والعافية وصلاح القلب والعمل إنه سميع مجيبAnda boleh saja menangis, namun cukup dengan linangan air mata saja, jangan bersuara. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ketika anaknya, Ibrahim, meninggal,العين تدمع والقلب يحزن ولا نقول إلا ما يرضي الرب وإنا لفراقك يا إبراهيم لمحزونون“Air mata berlinang dan hati bersedih, namun kami tidak mengatakan sesuatu kecuali yang diridhai Allah. Dengan kepergianmu ini wahai Ibrahim, kami sangat bersedih.” (HR. Al Bukhari bab Al Jana’iz no 1241, Muslim bab Al Fadhail no.2315, Abu Daud bab Al Jana’iz no.3126, Ahmad 3/194)Anda pun boleh mengabarkan teman dan sahabat anda tentang keadaan anda, namun dengan memuji Allah, bersyukur kepada Allah, dengan menyebutkan bahwa anda telah memohon kesembuhan kepada Allah dan telah menjalani upaya untuk sembuh yang mubah. Aku menasehatkan anda agar bersabar dan mengharap pahala dari Allah. Aku akan memberi anda kabar gembira, yaitu bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Qs. Az Zumar: 10)Allah Ta’ala juga berfirman:وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun“. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. Al-Baqarah: 156-158)Juga sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,لا يصيب المسلم هم ولا غم ولا نصب ولا وصب( وهو المرض) ولا أذى حتى الشوكة إلا كفر الله بها من خطاياه“Seorang Muslim tertimpa kesedihan, kesusahan, penyakit, gangguan walau sekedar tertusuk duri, pasti Allah akan menjadikannya penghapus dosa-dosa yang ia miliki.” (HR. Al Bukhari bab Al Mardhi no.5318, Muslim bab Al Birr Was Shilah Wal Adab no.2573, At Tirmidzi bab Al Jana’iz no.966, Ahmad 3/19)Juga sabda beliau,من يرد الله به خيرا يصب منه“Jika Allah menginginkan kebaikan kepada seseorang, Allah akan memberinya cobaan.” (HR. Al Bukhari bab Al Mardhi no.5321, Ahmad 2/237, Malik dalam Al Muwatha, 1752)Aku memohon kepada Allah semoga anda diberikan kesembuhan dan kesehatan, serta kebaikan lahir dan batin. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi mengabulkan doa.” [Majmu’ Fatawa 4/144] Baca Juga: Sering Menangis Karena Film Sedih, Namun Tidak Pernah Menangis Karena Allah Pernahkah Hati Bergetar Dan Menangis Ketika Membaca Al Quran? Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Perbudakan Dalam Islam, Fiqh Rumah Tangga, Isa Almasih Menurut Alquran, Tulisan Arab Firdaus, Qs Luqman 18

Menangis dan Menceritakan Musibah Kepada Orang Lain

Salah satu tanda tinggi tauhid seseorang adalah menyandarkan diri kepada Allah. Allah adalah tempat paling pertama sebagai tempat ia mengadu semua permasalahannya, curhat dan bahkan menangis kepada Allah. Sebaliknya, salah satu tanda kurangnya tauhid seseorang adalah ia lupa kepada Allah. Ketika ada masalah, ia langsung mengadu kepada makhluk, mengadu kepada keluarga dan sahabat, bahkan menangis dan menceritakan masalahnya kepada keluarga dan sahabatnya.Baca Juga: Menangis Karena Allah, Bukti Iman Yang Tidak Bisa DirekayasaMengadu dan curhat kepada Allah pertama kaliSeorang hamba hendaknya memprioritaskan Allah dalam segala urusan, karena Allah adalah Rabbnya yang telah menciptakan dan memberikan segalanya. Ketika mendapatkan masalah dan musibah, hendaknya ia langsung mengadu kepada Allah pertama kali. Sebagaimana teladan dari para nabi dan orang shalih.Nabi Ya’qub ‘alaihis salam ketika mendengar berita sangat menyedihkan, yaitu anak kesayangannya Nabi Yusuf diberitakan telah di makan oleh srigala. Beliau langsung mengadu kepada Allah dan berkata,قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَYa’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.” (Yusuf : 86)Demikian juga Nabi Ayyub ‘alaihis salam, yang sangat terkenal dengan cobaan yang sangat berat menimpa beliau dengan cobaan bertubi-tubi, ia sangat sabar dan mengadu kepada Allah. Allah berfirman,إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia Amat taat (kepada Tuhan-nya)” (Shad : 44)Baca Juga: Bala’ dan Musibah Turun karena Dosa dan Terangkat karena TaubatOrang yang bersabar dan tidak menceritakan masalah/musibah pada orang lain akan mendapatkan keutamaan yang besar. Allah berfirman dalam hadits qudsi,قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِى الْمُؤْمِنَ فَلَمْ يَشْكُنِى إِلَى عُوَّادِهِ أَطْلَقْتُهُ مِنْ إِسَارِى ثُمَّ أَبْدَلْتُهُ لَحْمًا خَيْرًا مِنْ لَحْمِهِ وَدَمًا خَيْرًا مِنْ دَمِهِ ، ثُمَّ يَسْتَأْنِفُ الْعَمَلَ“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Jika Aku (Allah) memberikan cobaan (musibah) kepada hambaKu yang beriman sedang ia tidak mengeluh kepada orang yang mengunjunginya maka Aku akan melepaskannya dari tahananKu (penyakit) kemudian Aku gantikan dengan daging yang lebih baik dari dagingnya juga dengan darah yang lebih baik dari darahnya. Kemudian dia memulai amalnya (bagaikan bayi yang baru lahir).” [HR. Al Hakim, shahih] Pertanyaan yang muncul, apakah benar-benar tidak boleh bagi seseorang untuk menceritakan musibahnya kepada orang lain secara mutlak? Jawabannya: boleh saja, asalkan ia menceritakan dalam keadaan tegar, memuji dan bersyukur kepada Allah serta dengan tujuan musyawarah dan untuk mencari solusi dari musibah yang sedang ia hadapi. Penting diperhatikan juga bahwa orang yang ia ceritakan itu adalah orang yang benar-benar bisa membantunya dalam masalah/musibah ini, bukan menceritakan musibah kepada semua orang.Baca Juga: Mengharap Pahala Dari Tiap MusibahPerharikan fatwa berikut, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya,الأخت تقول في سؤالها أنا مريضة وأحيانا أبكي لما صارت إليه حالتي بعد مرضي فهل هذا البكاء معناه اعتراض على الله عز وجل وعدم الرضا بقضائه وهذا الفعل خارج عن إرادتي وكذلك هل التحدث مع المقربين عن المرض يدخل في ذلك ؟Seorang wanita berkata: Aku sedang sakit dan kadang aku menangisi keadaanku ketika tertimpa penyakit. Apakah tangisan ini menunjukkan rasa tidak terima dan tidak ridha terhadap takdir Allah? Padahal perasaan sedih ini muncul begitu saja. Lalu apakah menceritakan keadaanku tersebut kepada teman-teman dekat juga termasuk sikap tidak ridha terhadap takdir?Beliau menjawab:لا حرج عليك في البكاء إذا كان بدمع العين فقط لا بصوت لقول النبي صلى الله عليه وسلم لما مات ابنه إبراهيم: ((العين تدمع والقلب يحزن ولا نقول إلا ما يرضي الرب وإنا لفراقك يا إبراهيم لمحزونون))، والأحاديث في هذا المعنى كثيرة ولا حرج عليك أيضا في إخبار الأقارب والأصدقاء بمرضك مع حمد الله وشكره والثناء عليه وسؤاله العافية وتعاطي الأسباب المباحة، نوصيك بالصبر والاحتساب وأبشري بالخير لقول الله سبحانه وتعالى: إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ[1]، ولقوله تعالى: وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ[2]، ولقول النبي صلى الله عليه وسلم: ((لا يصيب المسلم هم ولا غم ولا نصب ولا وصب وهو المرض ولا أذى حتى الشوكة إلا كفر الله بها من خطاياه))، وقوله عليه الصلاة والسلام : ((من يرد الله به خيرا يصب منه)) نسأل الله أن يمن عليك بالشفاء والعافية وصلاح القلب والعمل إنه سميع مجيبAnda boleh saja menangis, namun cukup dengan linangan air mata saja, jangan bersuara. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ketika anaknya, Ibrahim, meninggal,العين تدمع والقلب يحزن ولا نقول إلا ما يرضي الرب وإنا لفراقك يا إبراهيم لمحزونون“Air mata berlinang dan hati bersedih, namun kami tidak mengatakan sesuatu kecuali yang diridhai Allah. Dengan kepergianmu ini wahai Ibrahim, kami sangat bersedih.” (HR. Al Bukhari bab Al Jana’iz no 1241, Muslim bab Al Fadhail no.2315, Abu Daud bab Al Jana’iz no.3126, Ahmad 3/194)Anda pun boleh mengabarkan teman dan sahabat anda tentang keadaan anda, namun dengan memuji Allah, bersyukur kepada Allah, dengan menyebutkan bahwa anda telah memohon kesembuhan kepada Allah dan telah menjalani upaya untuk sembuh yang mubah. Aku menasehatkan anda agar bersabar dan mengharap pahala dari Allah. Aku akan memberi anda kabar gembira, yaitu bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Qs. Az Zumar: 10)Allah Ta’ala juga berfirman:وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun“. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. Al-Baqarah: 156-158)Juga sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,لا يصيب المسلم هم ولا غم ولا نصب ولا وصب( وهو المرض) ولا أذى حتى الشوكة إلا كفر الله بها من خطاياه“Seorang Muslim tertimpa kesedihan, kesusahan, penyakit, gangguan walau sekedar tertusuk duri, pasti Allah akan menjadikannya penghapus dosa-dosa yang ia miliki.” (HR. Al Bukhari bab Al Mardhi no.5318, Muslim bab Al Birr Was Shilah Wal Adab no.2573, At Tirmidzi bab Al Jana’iz no.966, Ahmad 3/19)Juga sabda beliau,من يرد الله به خيرا يصب منه“Jika Allah menginginkan kebaikan kepada seseorang, Allah akan memberinya cobaan.” (HR. Al Bukhari bab Al Mardhi no.5321, Ahmad 2/237, Malik dalam Al Muwatha, 1752)Aku memohon kepada Allah semoga anda diberikan kesembuhan dan kesehatan, serta kebaikan lahir dan batin. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi mengabulkan doa.” [Majmu’ Fatawa 4/144] Baca Juga: Sering Menangis Karena Film Sedih, Namun Tidak Pernah Menangis Karena Allah Pernahkah Hati Bergetar Dan Menangis Ketika Membaca Al Quran? Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Perbudakan Dalam Islam, Fiqh Rumah Tangga, Isa Almasih Menurut Alquran, Tulisan Arab Firdaus, Qs Luqman 18
Salah satu tanda tinggi tauhid seseorang adalah menyandarkan diri kepada Allah. Allah adalah tempat paling pertama sebagai tempat ia mengadu semua permasalahannya, curhat dan bahkan menangis kepada Allah. Sebaliknya, salah satu tanda kurangnya tauhid seseorang adalah ia lupa kepada Allah. Ketika ada masalah, ia langsung mengadu kepada makhluk, mengadu kepada keluarga dan sahabat, bahkan menangis dan menceritakan masalahnya kepada keluarga dan sahabatnya.Baca Juga: Menangis Karena Allah, Bukti Iman Yang Tidak Bisa DirekayasaMengadu dan curhat kepada Allah pertama kaliSeorang hamba hendaknya memprioritaskan Allah dalam segala urusan, karena Allah adalah Rabbnya yang telah menciptakan dan memberikan segalanya. Ketika mendapatkan masalah dan musibah, hendaknya ia langsung mengadu kepada Allah pertama kali. Sebagaimana teladan dari para nabi dan orang shalih.Nabi Ya’qub ‘alaihis salam ketika mendengar berita sangat menyedihkan, yaitu anak kesayangannya Nabi Yusuf diberitakan telah di makan oleh srigala. Beliau langsung mengadu kepada Allah dan berkata,قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَYa’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.” (Yusuf : 86)Demikian juga Nabi Ayyub ‘alaihis salam, yang sangat terkenal dengan cobaan yang sangat berat menimpa beliau dengan cobaan bertubi-tubi, ia sangat sabar dan mengadu kepada Allah. Allah berfirman,إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia Amat taat (kepada Tuhan-nya)” (Shad : 44)Baca Juga: Bala’ dan Musibah Turun karena Dosa dan Terangkat karena TaubatOrang yang bersabar dan tidak menceritakan masalah/musibah pada orang lain akan mendapatkan keutamaan yang besar. Allah berfirman dalam hadits qudsi,قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِى الْمُؤْمِنَ فَلَمْ يَشْكُنِى إِلَى عُوَّادِهِ أَطْلَقْتُهُ مِنْ إِسَارِى ثُمَّ أَبْدَلْتُهُ لَحْمًا خَيْرًا مِنْ لَحْمِهِ وَدَمًا خَيْرًا مِنْ دَمِهِ ، ثُمَّ يَسْتَأْنِفُ الْعَمَلَ“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Jika Aku (Allah) memberikan cobaan (musibah) kepada hambaKu yang beriman sedang ia tidak mengeluh kepada orang yang mengunjunginya maka Aku akan melepaskannya dari tahananKu (penyakit) kemudian Aku gantikan dengan daging yang lebih baik dari dagingnya juga dengan darah yang lebih baik dari darahnya. Kemudian dia memulai amalnya (bagaikan bayi yang baru lahir).” [HR. Al Hakim, shahih] Pertanyaan yang muncul, apakah benar-benar tidak boleh bagi seseorang untuk menceritakan musibahnya kepada orang lain secara mutlak? Jawabannya: boleh saja, asalkan ia menceritakan dalam keadaan tegar, memuji dan bersyukur kepada Allah serta dengan tujuan musyawarah dan untuk mencari solusi dari musibah yang sedang ia hadapi. Penting diperhatikan juga bahwa orang yang ia ceritakan itu adalah orang yang benar-benar bisa membantunya dalam masalah/musibah ini, bukan menceritakan musibah kepada semua orang.Baca Juga: Mengharap Pahala Dari Tiap MusibahPerharikan fatwa berikut, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya,الأخت تقول في سؤالها أنا مريضة وأحيانا أبكي لما صارت إليه حالتي بعد مرضي فهل هذا البكاء معناه اعتراض على الله عز وجل وعدم الرضا بقضائه وهذا الفعل خارج عن إرادتي وكذلك هل التحدث مع المقربين عن المرض يدخل في ذلك ؟Seorang wanita berkata: Aku sedang sakit dan kadang aku menangisi keadaanku ketika tertimpa penyakit. Apakah tangisan ini menunjukkan rasa tidak terima dan tidak ridha terhadap takdir Allah? Padahal perasaan sedih ini muncul begitu saja. Lalu apakah menceritakan keadaanku tersebut kepada teman-teman dekat juga termasuk sikap tidak ridha terhadap takdir?Beliau menjawab:لا حرج عليك في البكاء إذا كان بدمع العين فقط لا بصوت لقول النبي صلى الله عليه وسلم لما مات ابنه إبراهيم: ((العين تدمع والقلب يحزن ولا نقول إلا ما يرضي الرب وإنا لفراقك يا إبراهيم لمحزونون))، والأحاديث في هذا المعنى كثيرة ولا حرج عليك أيضا في إخبار الأقارب والأصدقاء بمرضك مع حمد الله وشكره والثناء عليه وسؤاله العافية وتعاطي الأسباب المباحة، نوصيك بالصبر والاحتساب وأبشري بالخير لقول الله سبحانه وتعالى: إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ[1]، ولقوله تعالى: وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ[2]، ولقول النبي صلى الله عليه وسلم: ((لا يصيب المسلم هم ولا غم ولا نصب ولا وصب وهو المرض ولا أذى حتى الشوكة إلا كفر الله بها من خطاياه))، وقوله عليه الصلاة والسلام : ((من يرد الله به خيرا يصب منه)) نسأل الله أن يمن عليك بالشفاء والعافية وصلاح القلب والعمل إنه سميع مجيبAnda boleh saja menangis, namun cukup dengan linangan air mata saja, jangan bersuara. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ketika anaknya, Ibrahim, meninggal,العين تدمع والقلب يحزن ولا نقول إلا ما يرضي الرب وإنا لفراقك يا إبراهيم لمحزونون“Air mata berlinang dan hati bersedih, namun kami tidak mengatakan sesuatu kecuali yang diridhai Allah. Dengan kepergianmu ini wahai Ibrahim, kami sangat bersedih.” (HR. Al Bukhari bab Al Jana’iz no 1241, Muslim bab Al Fadhail no.2315, Abu Daud bab Al Jana’iz no.3126, Ahmad 3/194)Anda pun boleh mengabarkan teman dan sahabat anda tentang keadaan anda, namun dengan memuji Allah, bersyukur kepada Allah, dengan menyebutkan bahwa anda telah memohon kesembuhan kepada Allah dan telah menjalani upaya untuk sembuh yang mubah. Aku menasehatkan anda agar bersabar dan mengharap pahala dari Allah. Aku akan memberi anda kabar gembira, yaitu bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Qs. Az Zumar: 10)Allah Ta’ala juga berfirman:وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun“. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. Al-Baqarah: 156-158)Juga sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,لا يصيب المسلم هم ولا غم ولا نصب ولا وصب( وهو المرض) ولا أذى حتى الشوكة إلا كفر الله بها من خطاياه“Seorang Muslim tertimpa kesedihan, kesusahan, penyakit, gangguan walau sekedar tertusuk duri, pasti Allah akan menjadikannya penghapus dosa-dosa yang ia miliki.” (HR. Al Bukhari bab Al Mardhi no.5318, Muslim bab Al Birr Was Shilah Wal Adab no.2573, At Tirmidzi bab Al Jana’iz no.966, Ahmad 3/19)Juga sabda beliau,من يرد الله به خيرا يصب منه“Jika Allah menginginkan kebaikan kepada seseorang, Allah akan memberinya cobaan.” (HR. Al Bukhari bab Al Mardhi no.5321, Ahmad 2/237, Malik dalam Al Muwatha, 1752)Aku memohon kepada Allah semoga anda diberikan kesembuhan dan kesehatan, serta kebaikan lahir dan batin. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi mengabulkan doa.” [Majmu’ Fatawa 4/144] Baca Juga: Sering Menangis Karena Film Sedih, Namun Tidak Pernah Menangis Karena Allah Pernahkah Hati Bergetar Dan Menangis Ketika Membaca Al Quran? Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Perbudakan Dalam Islam, Fiqh Rumah Tangga, Isa Almasih Menurut Alquran, Tulisan Arab Firdaus, Qs Luqman 18


Salah satu tanda tinggi tauhid seseorang adalah menyandarkan diri kepada Allah. Allah adalah tempat paling pertama sebagai tempat ia mengadu semua permasalahannya, curhat dan bahkan menangis kepada Allah. Sebaliknya, salah satu tanda kurangnya tauhid seseorang adalah ia lupa kepada Allah. Ketika ada masalah, ia langsung mengadu kepada makhluk, mengadu kepada keluarga dan sahabat, bahkan menangis dan menceritakan masalahnya kepada keluarga dan sahabatnya.Baca Juga: Menangis Karena Allah, Bukti Iman Yang Tidak Bisa DirekayasaMengadu dan curhat kepada Allah pertama kaliSeorang hamba hendaknya memprioritaskan Allah dalam segala urusan, karena Allah adalah Rabbnya yang telah menciptakan dan memberikan segalanya. Ketika mendapatkan masalah dan musibah, hendaknya ia langsung mengadu kepada Allah pertama kali. Sebagaimana teladan dari para nabi dan orang shalih.Nabi Ya’qub ‘alaihis salam ketika mendengar berita sangat menyedihkan, yaitu anak kesayangannya Nabi Yusuf diberitakan telah di makan oleh srigala. Beliau langsung mengadu kepada Allah dan berkata,قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَYa’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.” (Yusuf : 86)Demikian juga Nabi Ayyub ‘alaihis salam, yang sangat terkenal dengan cobaan yang sangat berat menimpa beliau dengan cobaan bertubi-tubi, ia sangat sabar dan mengadu kepada Allah. Allah berfirman,إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia Amat taat (kepada Tuhan-nya)” (Shad : 44)Baca Juga: Bala’ dan Musibah Turun karena Dosa dan Terangkat karena TaubatOrang yang bersabar dan tidak menceritakan masalah/musibah pada orang lain akan mendapatkan keutamaan yang besar. Allah berfirman dalam hadits qudsi,قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِى الْمُؤْمِنَ فَلَمْ يَشْكُنِى إِلَى عُوَّادِهِ أَطْلَقْتُهُ مِنْ إِسَارِى ثُمَّ أَبْدَلْتُهُ لَحْمًا خَيْرًا مِنْ لَحْمِهِ وَدَمًا خَيْرًا مِنْ دَمِهِ ، ثُمَّ يَسْتَأْنِفُ الْعَمَلَ“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Jika Aku (Allah) memberikan cobaan (musibah) kepada hambaKu yang beriman sedang ia tidak mengeluh kepada orang yang mengunjunginya maka Aku akan melepaskannya dari tahananKu (penyakit) kemudian Aku gantikan dengan daging yang lebih baik dari dagingnya juga dengan darah yang lebih baik dari darahnya. Kemudian dia memulai amalnya (bagaikan bayi yang baru lahir).” [HR. Al Hakim, shahih] Pertanyaan yang muncul, apakah benar-benar tidak boleh bagi seseorang untuk menceritakan musibahnya kepada orang lain secara mutlak? Jawabannya: boleh saja, asalkan ia menceritakan dalam keadaan tegar, memuji dan bersyukur kepada Allah serta dengan tujuan musyawarah dan untuk mencari solusi dari musibah yang sedang ia hadapi. Penting diperhatikan juga bahwa orang yang ia ceritakan itu adalah orang yang benar-benar bisa membantunya dalam masalah/musibah ini, bukan menceritakan musibah kepada semua orang.Baca Juga: Mengharap Pahala Dari Tiap MusibahPerharikan fatwa berikut, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya,الأخت تقول في سؤالها أنا مريضة وأحيانا أبكي لما صارت إليه حالتي بعد مرضي فهل هذا البكاء معناه اعتراض على الله عز وجل وعدم الرضا بقضائه وهذا الفعل خارج عن إرادتي وكذلك هل التحدث مع المقربين عن المرض يدخل في ذلك ؟Seorang wanita berkata: Aku sedang sakit dan kadang aku menangisi keadaanku ketika tertimpa penyakit. Apakah tangisan ini menunjukkan rasa tidak terima dan tidak ridha terhadap takdir Allah? Padahal perasaan sedih ini muncul begitu saja. Lalu apakah menceritakan keadaanku tersebut kepada teman-teman dekat juga termasuk sikap tidak ridha terhadap takdir?Beliau menjawab:لا حرج عليك في البكاء إذا كان بدمع العين فقط لا بصوت لقول النبي صلى الله عليه وسلم لما مات ابنه إبراهيم: ((العين تدمع والقلب يحزن ولا نقول إلا ما يرضي الرب وإنا لفراقك يا إبراهيم لمحزونون))، والأحاديث في هذا المعنى كثيرة ولا حرج عليك أيضا في إخبار الأقارب والأصدقاء بمرضك مع حمد الله وشكره والثناء عليه وسؤاله العافية وتعاطي الأسباب المباحة، نوصيك بالصبر والاحتساب وأبشري بالخير لقول الله سبحانه وتعالى: إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ[1]، ولقوله تعالى: وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ[2]، ولقول النبي صلى الله عليه وسلم: ((لا يصيب المسلم هم ولا غم ولا نصب ولا وصب وهو المرض ولا أذى حتى الشوكة إلا كفر الله بها من خطاياه))، وقوله عليه الصلاة والسلام : ((من يرد الله به خيرا يصب منه)) نسأل الله أن يمن عليك بالشفاء والعافية وصلاح القلب والعمل إنه سميع مجيبAnda boleh saja menangis, namun cukup dengan linangan air mata saja, jangan bersuara. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ketika anaknya, Ibrahim, meninggal,العين تدمع والقلب يحزن ولا نقول إلا ما يرضي الرب وإنا لفراقك يا إبراهيم لمحزونون“Air mata berlinang dan hati bersedih, namun kami tidak mengatakan sesuatu kecuali yang diridhai Allah. Dengan kepergianmu ini wahai Ibrahim, kami sangat bersedih.” (HR. Al Bukhari bab Al Jana’iz no 1241, Muslim bab Al Fadhail no.2315, Abu Daud bab Al Jana’iz no.3126, Ahmad 3/194)Anda pun boleh mengabarkan teman dan sahabat anda tentang keadaan anda, namun dengan memuji Allah, bersyukur kepada Allah, dengan menyebutkan bahwa anda telah memohon kesembuhan kepada Allah dan telah menjalani upaya untuk sembuh yang mubah. Aku menasehatkan anda agar bersabar dan mengharap pahala dari Allah. Aku akan memberi anda kabar gembira, yaitu bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Qs. Az Zumar: 10)Allah Ta’ala juga berfirman:وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun“. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. Al-Baqarah: 156-158)Juga sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,لا يصيب المسلم هم ولا غم ولا نصب ولا وصب( وهو المرض) ولا أذى حتى الشوكة إلا كفر الله بها من خطاياه“Seorang Muslim tertimpa kesedihan, kesusahan, penyakit, gangguan walau sekedar tertusuk duri, pasti Allah akan menjadikannya penghapus dosa-dosa yang ia miliki.” (HR. Al Bukhari bab Al Mardhi no.5318, Muslim bab Al Birr Was Shilah Wal Adab no.2573, At Tirmidzi bab Al Jana’iz no.966, Ahmad 3/19)Juga sabda beliau,من يرد الله به خيرا يصب منه“Jika Allah menginginkan kebaikan kepada seseorang, Allah akan memberinya cobaan.” (HR. Al Bukhari bab Al Mardhi no.5321, Ahmad 2/237, Malik dalam Al Muwatha, 1752)Aku memohon kepada Allah semoga anda diberikan kesembuhan dan kesehatan, serta kebaikan lahir dan batin. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi mengabulkan doa.” [Majmu’ Fatawa 4/144] Baca Juga: Sering Menangis Karena Film Sedih, Namun Tidak Pernah Menangis Karena Allah Pernahkah Hati Bergetar Dan Menangis Ketika Membaca Al Quran? Demikian semoga bermanfaat@ Yogyakarta TercintaPenyusun: Raehanul BahraenArtikel www.muslim.or.id🔍 Perbudakan Dalam Islam, Fiqh Rumah Tangga, Isa Almasih Menurut Alquran, Tulisan Arab Firdaus, Qs Luqman 18

Inti Dari Adab

Al-Fudhail bin Iyadh mengatakan : رَأْسُ الْأَدَبِ عِنْدَنَا أَنْ يَعْرِفَ الرَّجُلُ قَدْرَهُ  “Inti atau kata kunci adab menurut kami adalah tahu diri kapasitas.” (Al-Muntakhab Min Mu’jam Syuyukh as-Sam’ani hlm 668 ) Kiat inti agar seorang itu menjadi orang yang beradab, beretika dan punya sopan santun adalah tahu kapasitas diri, menyadari siapa dan bagaimana dirinya serta tahu aib dan kekurangan diri sendiri.  Kiat ini berlaku di berbagai bidang, situasi dan kondisi.  Dalam ibadah dan ketaatan, orang yang sadar diri bahwa banyak maksiat pada dirinya tentu tidak akan merasa dan bersikap seakan sudah benar benar sholih dan bertakwa.  Dalam ilmu agama, jika seorang itu menyadari bahwa bukanlah seorang pembelajar dalam beragam ilmu agama dia tidak akan komentar bidang ilmu yang tidak dia kuasai.  Jika seorang itu menyadari bahwa dirinya bukan seorang pakar dalam bidang fikih dia tidak akan mendebat orang yang puluhan tahun mengkaji masalah fikih, tidak akan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas kepada para imam, raksasa ilmu dan seterusnya.  Dalam ilmu dunia, jika seorang itu sadar bahwa dia bukanlah pakar ilmu kesehatan tentu akan memberikan penghormatan yang semestinya ketika pakar di bidang tersebut berbicara berdasarkan ilmunya.  Dalam masalah akhlak, jika seorang itu sadar bahwa dirinya punya banyak kekurangan dalam bidang akhlak lalu melihat orang lain punya akhlak yang buruk dia akan banyak bercermin.  Di bidang interaksi, ketika seorang itu sadar bahwa dia belum bisa menjadi ayah yang baik, ibu yang sempurna, suami yang perfect, isteri yang bagai bidadari, tetangga yang baik, sahabat yang ideal dst akan mudah baginya meminta maaf bila melakukan kesalahan dan mudah memaafkan orang lain.  Mudah meminta maaf dan ringan memaafkan adalah diantara kunci pokok terwujudnya kehidupan yang penuh kenyamanan dan kebahagiaan Inti pokok pendidikan adalah menanamkan adab pada anak didik.  Sehingga nilai pokok yang wajib ditanamkan oleh ortu, guru dan dosen, guru ngaji dan para pendidik secara umum kepada anak didiknya adalah nilai sadar dan tahu kapasitas diri.  Kegagalan penanaman nilai ini adalah kegagalan pendidikan. Pendidikan yang hanya menghasilkan orang-orang yang sombong dengan kepandaiannya, memiliki kesombongan akademik dan tidak sadar kekurangan diri adalah kegagalan terbesar sebuah proses pendidikan. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.  

Inti Dari Adab

Al-Fudhail bin Iyadh mengatakan : رَأْسُ الْأَدَبِ عِنْدَنَا أَنْ يَعْرِفَ الرَّجُلُ قَدْرَهُ  “Inti atau kata kunci adab menurut kami adalah tahu diri kapasitas.” (Al-Muntakhab Min Mu’jam Syuyukh as-Sam’ani hlm 668 ) Kiat inti agar seorang itu menjadi orang yang beradab, beretika dan punya sopan santun adalah tahu kapasitas diri, menyadari siapa dan bagaimana dirinya serta tahu aib dan kekurangan diri sendiri.  Kiat ini berlaku di berbagai bidang, situasi dan kondisi.  Dalam ibadah dan ketaatan, orang yang sadar diri bahwa banyak maksiat pada dirinya tentu tidak akan merasa dan bersikap seakan sudah benar benar sholih dan bertakwa.  Dalam ilmu agama, jika seorang itu menyadari bahwa bukanlah seorang pembelajar dalam beragam ilmu agama dia tidak akan komentar bidang ilmu yang tidak dia kuasai.  Jika seorang itu menyadari bahwa dirinya bukan seorang pakar dalam bidang fikih dia tidak akan mendebat orang yang puluhan tahun mengkaji masalah fikih, tidak akan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas kepada para imam, raksasa ilmu dan seterusnya.  Dalam ilmu dunia, jika seorang itu sadar bahwa dia bukanlah pakar ilmu kesehatan tentu akan memberikan penghormatan yang semestinya ketika pakar di bidang tersebut berbicara berdasarkan ilmunya.  Dalam masalah akhlak, jika seorang itu sadar bahwa dirinya punya banyak kekurangan dalam bidang akhlak lalu melihat orang lain punya akhlak yang buruk dia akan banyak bercermin.  Di bidang interaksi, ketika seorang itu sadar bahwa dia belum bisa menjadi ayah yang baik, ibu yang sempurna, suami yang perfect, isteri yang bagai bidadari, tetangga yang baik, sahabat yang ideal dst akan mudah baginya meminta maaf bila melakukan kesalahan dan mudah memaafkan orang lain.  Mudah meminta maaf dan ringan memaafkan adalah diantara kunci pokok terwujudnya kehidupan yang penuh kenyamanan dan kebahagiaan Inti pokok pendidikan adalah menanamkan adab pada anak didik.  Sehingga nilai pokok yang wajib ditanamkan oleh ortu, guru dan dosen, guru ngaji dan para pendidik secara umum kepada anak didiknya adalah nilai sadar dan tahu kapasitas diri.  Kegagalan penanaman nilai ini adalah kegagalan pendidikan. Pendidikan yang hanya menghasilkan orang-orang yang sombong dengan kepandaiannya, memiliki kesombongan akademik dan tidak sadar kekurangan diri adalah kegagalan terbesar sebuah proses pendidikan. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.  
Al-Fudhail bin Iyadh mengatakan : رَأْسُ الْأَدَبِ عِنْدَنَا أَنْ يَعْرِفَ الرَّجُلُ قَدْرَهُ  “Inti atau kata kunci adab menurut kami adalah tahu diri kapasitas.” (Al-Muntakhab Min Mu’jam Syuyukh as-Sam’ani hlm 668 ) Kiat inti agar seorang itu menjadi orang yang beradab, beretika dan punya sopan santun adalah tahu kapasitas diri, menyadari siapa dan bagaimana dirinya serta tahu aib dan kekurangan diri sendiri.  Kiat ini berlaku di berbagai bidang, situasi dan kondisi.  Dalam ibadah dan ketaatan, orang yang sadar diri bahwa banyak maksiat pada dirinya tentu tidak akan merasa dan bersikap seakan sudah benar benar sholih dan bertakwa.  Dalam ilmu agama, jika seorang itu menyadari bahwa bukanlah seorang pembelajar dalam beragam ilmu agama dia tidak akan komentar bidang ilmu yang tidak dia kuasai.  Jika seorang itu menyadari bahwa dirinya bukan seorang pakar dalam bidang fikih dia tidak akan mendebat orang yang puluhan tahun mengkaji masalah fikih, tidak akan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas kepada para imam, raksasa ilmu dan seterusnya.  Dalam ilmu dunia, jika seorang itu sadar bahwa dia bukanlah pakar ilmu kesehatan tentu akan memberikan penghormatan yang semestinya ketika pakar di bidang tersebut berbicara berdasarkan ilmunya.  Dalam masalah akhlak, jika seorang itu sadar bahwa dirinya punya banyak kekurangan dalam bidang akhlak lalu melihat orang lain punya akhlak yang buruk dia akan banyak bercermin.  Di bidang interaksi, ketika seorang itu sadar bahwa dia belum bisa menjadi ayah yang baik, ibu yang sempurna, suami yang perfect, isteri yang bagai bidadari, tetangga yang baik, sahabat yang ideal dst akan mudah baginya meminta maaf bila melakukan kesalahan dan mudah memaafkan orang lain.  Mudah meminta maaf dan ringan memaafkan adalah diantara kunci pokok terwujudnya kehidupan yang penuh kenyamanan dan kebahagiaan Inti pokok pendidikan adalah menanamkan adab pada anak didik.  Sehingga nilai pokok yang wajib ditanamkan oleh ortu, guru dan dosen, guru ngaji dan para pendidik secara umum kepada anak didiknya adalah nilai sadar dan tahu kapasitas diri.  Kegagalan penanaman nilai ini adalah kegagalan pendidikan. Pendidikan yang hanya menghasilkan orang-orang yang sombong dengan kepandaiannya, memiliki kesombongan akademik dan tidak sadar kekurangan diri adalah kegagalan terbesar sebuah proses pendidikan. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.  


Al-Fudhail bin Iyadh mengatakan : رَأْسُ الْأَدَبِ عِنْدَنَا أَنْ يَعْرِفَ الرَّجُلُ قَدْرَهُ  “Inti atau kata kunci adab menurut kami adalah tahu diri kapasitas.” (Al-Muntakhab Min Mu’jam Syuyukh as-Sam’ani hlm 668 ) Kiat inti agar seorang itu menjadi orang yang beradab, beretika dan punya sopan santun adalah tahu kapasitas diri, menyadari siapa dan bagaimana dirinya serta tahu aib dan kekurangan diri sendiri.  Kiat ini berlaku di berbagai bidang, situasi dan kondisi.  Dalam ibadah dan ketaatan, orang yang sadar diri bahwa banyak maksiat pada dirinya tentu tidak akan merasa dan bersikap seakan sudah benar benar sholih dan bertakwa.  Dalam ilmu agama, jika seorang itu menyadari bahwa bukanlah seorang pembelajar dalam beragam ilmu agama dia tidak akan komentar bidang ilmu yang tidak dia kuasai.  Jika seorang itu menyadari bahwa dirinya bukan seorang pakar dalam bidang fikih dia tidak akan mendebat orang yang puluhan tahun mengkaji masalah fikih, tidak akan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas kepada para imam, raksasa ilmu dan seterusnya.  Dalam ilmu dunia, jika seorang itu sadar bahwa dia bukanlah pakar ilmu kesehatan tentu akan memberikan penghormatan yang semestinya ketika pakar di bidang tersebut berbicara berdasarkan ilmunya.  Dalam masalah akhlak, jika seorang itu sadar bahwa dirinya punya banyak kekurangan dalam bidang akhlak lalu melihat orang lain punya akhlak yang buruk dia akan banyak bercermin.  Di bidang interaksi, ketika seorang itu sadar bahwa dia belum bisa menjadi ayah yang baik, ibu yang sempurna, suami yang perfect, isteri yang bagai bidadari, tetangga yang baik, sahabat yang ideal dst akan mudah baginya meminta maaf bila melakukan kesalahan dan mudah memaafkan orang lain.  Mudah meminta maaf dan ringan memaafkan adalah diantara kunci pokok terwujudnya kehidupan yang penuh kenyamanan dan kebahagiaan Inti pokok pendidikan adalah menanamkan adab pada anak didik.  Sehingga nilai pokok yang wajib ditanamkan oleh ortu, guru dan dosen, guru ngaji dan para pendidik secara umum kepada anak didiknya adalah nilai sadar dan tahu kapasitas diri.  Kegagalan penanaman nilai ini adalah kegagalan pendidikan. Pendidikan yang hanya menghasilkan orang-orang yang sombong dengan kepandaiannya, memiliki kesombongan akademik dan tidak sadar kekurangan diri adalah kegagalan terbesar sebuah proses pendidikan. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.  

Merasa Sial Karena Kemaksiatan

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al AbbadDari Abdullah bin Masud radiyallahu’anhu, ia berkata: إن كان الشؤم في شيء فهو فيما بين اللحيين يعني اللسان وما شيء أحوج إلى سجن طويل من اللسان“Seandainya kesialan itu ada, maka ia ada pada sesuatu di antara dua tulang rahang, yakni lisan. Dan tidak ada sesuatu yang lebih pantas dipenjara dalam waktu yang lama daripada lisan.” (Mushannaf Abdurrazzaq, no. 19528)Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Adapun mengkhususkan kesialan pada suatu waktu dibanding waktu lain seperti bulan Safar, atau selainnya, maka tidaklah dibenarkan. Sesungguhnya seluruh waktu itu diciptakan oleh Allah ta’ala dan di dalamnya terjadi perbuatan anak Adam.” Maka seluruh waktu dimana seorang mukmin disibukkan dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala, maka itulah waktu yang diberkahi. Dan seluruh waktu yang mana seorang hamba sibuk dengan kemaksiatan kepada Allah Ta’ala, maka itulah waktu yang penuh kesialan. Maka, kesialan pada hakikatnya adalah (ketika) bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Kesimpulannya, tidaklah ada kesialan kecuali karena kemaksiatan dan dosa. Maka sesungguhnya kedua hal itu yang membuat Allah ‘azza wa jalla marah. Maka, ketika Allah marah kepada hamba-Nya, hamba tersebut akan sengsara di dunia dan akhirat. Sebagaimana jika Allah meridhoi seorang hamba, hamba tersebut akan bahagia di dunia dan akhirat. Sebagian orang shalih ketika dikeluhkan tentang musibah yang menimpa manusia, orang-orang shalih tersebut berkata,ما أرى ما أنتم فيه إلا بشؤم الذنوب“Tidaklah aku mengira (musibah) yang terjadi pada kalian, kecuali karena kesialan akibat dosa-dosa kalian”.Demikian juga, Abu Hazim rahimahullah berkata: كل ما يشغلك عن الله من أهل أو مال أو ولد فهو عليك مشؤم“Apapun yang membuat engkau lalai terhadap Allah, baik itu keluargamu, hartamu, atau anakmu, maka itu adalah kesialan bagimu.” (Lathaiful Ma’arif: 151)Baca Juga: Sumber https://www.al-badr.net/muqolat/6290Penerjemah: Rafi PohanArtikel: Muslim.or.id🔍 Walimah, Hukum Mengangkat Tangan Saat Berdoa, Keutamaan Memelihara Anak Yatim, Sejarah Natal Menurut Islam, Arkanul Iman

Merasa Sial Karena Kemaksiatan

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al AbbadDari Abdullah bin Masud radiyallahu’anhu, ia berkata: إن كان الشؤم في شيء فهو فيما بين اللحيين يعني اللسان وما شيء أحوج إلى سجن طويل من اللسان“Seandainya kesialan itu ada, maka ia ada pada sesuatu di antara dua tulang rahang, yakni lisan. Dan tidak ada sesuatu yang lebih pantas dipenjara dalam waktu yang lama daripada lisan.” (Mushannaf Abdurrazzaq, no. 19528)Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Adapun mengkhususkan kesialan pada suatu waktu dibanding waktu lain seperti bulan Safar, atau selainnya, maka tidaklah dibenarkan. Sesungguhnya seluruh waktu itu diciptakan oleh Allah ta’ala dan di dalamnya terjadi perbuatan anak Adam.” Maka seluruh waktu dimana seorang mukmin disibukkan dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala, maka itulah waktu yang diberkahi. Dan seluruh waktu yang mana seorang hamba sibuk dengan kemaksiatan kepada Allah Ta’ala, maka itulah waktu yang penuh kesialan. Maka, kesialan pada hakikatnya adalah (ketika) bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Kesimpulannya, tidaklah ada kesialan kecuali karena kemaksiatan dan dosa. Maka sesungguhnya kedua hal itu yang membuat Allah ‘azza wa jalla marah. Maka, ketika Allah marah kepada hamba-Nya, hamba tersebut akan sengsara di dunia dan akhirat. Sebagaimana jika Allah meridhoi seorang hamba, hamba tersebut akan bahagia di dunia dan akhirat. Sebagian orang shalih ketika dikeluhkan tentang musibah yang menimpa manusia, orang-orang shalih tersebut berkata,ما أرى ما أنتم فيه إلا بشؤم الذنوب“Tidaklah aku mengira (musibah) yang terjadi pada kalian, kecuali karena kesialan akibat dosa-dosa kalian”.Demikian juga, Abu Hazim rahimahullah berkata: كل ما يشغلك عن الله من أهل أو مال أو ولد فهو عليك مشؤم“Apapun yang membuat engkau lalai terhadap Allah, baik itu keluargamu, hartamu, atau anakmu, maka itu adalah kesialan bagimu.” (Lathaiful Ma’arif: 151)Baca Juga: Sumber https://www.al-badr.net/muqolat/6290Penerjemah: Rafi PohanArtikel: Muslim.or.id🔍 Walimah, Hukum Mengangkat Tangan Saat Berdoa, Keutamaan Memelihara Anak Yatim, Sejarah Natal Menurut Islam, Arkanul Iman
Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al AbbadDari Abdullah bin Masud radiyallahu’anhu, ia berkata: إن كان الشؤم في شيء فهو فيما بين اللحيين يعني اللسان وما شيء أحوج إلى سجن طويل من اللسان“Seandainya kesialan itu ada, maka ia ada pada sesuatu di antara dua tulang rahang, yakni lisan. Dan tidak ada sesuatu yang lebih pantas dipenjara dalam waktu yang lama daripada lisan.” (Mushannaf Abdurrazzaq, no. 19528)Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Adapun mengkhususkan kesialan pada suatu waktu dibanding waktu lain seperti bulan Safar, atau selainnya, maka tidaklah dibenarkan. Sesungguhnya seluruh waktu itu diciptakan oleh Allah ta’ala dan di dalamnya terjadi perbuatan anak Adam.” Maka seluruh waktu dimana seorang mukmin disibukkan dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala, maka itulah waktu yang diberkahi. Dan seluruh waktu yang mana seorang hamba sibuk dengan kemaksiatan kepada Allah Ta’ala, maka itulah waktu yang penuh kesialan. Maka, kesialan pada hakikatnya adalah (ketika) bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Kesimpulannya, tidaklah ada kesialan kecuali karena kemaksiatan dan dosa. Maka sesungguhnya kedua hal itu yang membuat Allah ‘azza wa jalla marah. Maka, ketika Allah marah kepada hamba-Nya, hamba tersebut akan sengsara di dunia dan akhirat. Sebagaimana jika Allah meridhoi seorang hamba, hamba tersebut akan bahagia di dunia dan akhirat. Sebagian orang shalih ketika dikeluhkan tentang musibah yang menimpa manusia, orang-orang shalih tersebut berkata,ما أرى ما أنتم فيه إلا بشؤم الذنوب“Tidaklah aku mengira (musibah) yang terjadi pada kalian, kecuali karena kesialan akibat dosa-dosa kalian”.Demikian juga, Abu Hazim rahimahullah berkata: كل ما يشغلك عن الله من أهل أو مال أو ولد فهو عليك مشؤم“Apapun yang membuat engkau lalai terhadap Allah, baik itu keluargamu, hartamu, atau anakmu, maka itu adalah kesialan bagimu.” (Lathaiful Ma’arif: 151)Baca Juga: Sumber https://www.al-badr.net/muqolat/6290Penerjemah: Rafi PohanArtikel: Muslim.or.id🔍 Walimah, Hukum Mengangkat Tangan Saat Berdoa, Keutamaan Memelihara Anak Yatim, Sejarah Natal Menurut Islam, Arkanul Iman


Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al AbbadDari Abdullah bin Masud radiyallahu’anhu, ia berkata: إن كان الشؤم في شيء فهو فيما بين اللحيين يعني اللسان وما شيء أحوج إلى سجن طويل من اللسان“Seandainya kesialan itu ada, maka ia ada pada sesuatu di antara dua tulang rahang, yakni lisan. Dan tidak ada sesuatu yang lebih pantas dipenjara dalam waktu yang lama daripada lisan.” (Mushannaf Abdurrazzaq, no. 19528)Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Adapun mengkhususkan kesialan pada suatu waktu dibanding waktu lain seperti bulan Safar, atau selainnya, maka tidaklah dibenarkan. Sesungguhnya seluruh waktu itu diciptakan oleh Allah ta’ala dan di dalamnya terjadi perbuatan anak Adam.” Maka seluruh waktu dimana seorang mukmin disibukkan dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala, maka itulah waktu yang diberkahi. Dan seluruh waktu yang mana seorang hamba sibuk dengan kemaksiatan kepada Allah Ta’ala, maka itulah waktu yang penuh kesialan. Maka, kesialan pada hakikatnya adalah (ketika) bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Kesimpulannya, tidaklah ada kesialan kecuali karena kemaksiatan dan dosa. Maka sesungguhnya kedua hal itu yang membuat Allah ‘azza wa jalla marah. Maka, ketika Allah marah kepada hamba-Nya, hamba tersebut akan sengsara di dunia dan akhirat. Sebagaimana jika Allah meridhoi seorang hamba, hamba tersebut akan bahagia di dunia dan akhirat. Sebagian orang shalih ketika dikeluhkan tentang musibah yang menimpa manusia, orang-orang shalih tersebut berkata,ما أرى ما أنتم فيه إلا بشؤم الذنوب“Tidaklah aku mengira (musibah) yang terjadi pada kalian, kecuali karena kesialan akibat dosa-dosa kalian”.Demikian juga, Abu Hazim rahimahullah berkata: كل ما يشغلك عن الله من أهل أو مال أو ولد فهو عليك مشؤم“Apapun yang membuat engkau lalai terhadap Allah, baik itu keluargamu, hartamu, atau anakmu, maka itu adalah kesialan bagimu.” (Lathaiful Ma’arif: 151)Baca Juga: Sumber https://www.al-badr.net/muqolat/6290Penerjemah: Rafi PohanArtikel: Muslim.or.id🔍 Walimah, Hukum Mengangkat Tangan Saat Berdoa, Keutamaan Memelihara Anak Yatim, Sejarah Natal Menurut Islam, Arkanul Iman

Kisah Seorang Ulama dan Penggembala Unta

Allah Ta’ala memerintahkan kepada umatnya untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Sebagaimana banyak ayat dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran: 110)خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ سَيَرۡحَمُهُمُ ٱللَّهُۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma´ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71)لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ ٧٨ كَانُواْ لَا يَتَنَاهَوۡنَ عَن مُّنكَرٖ فَعَلُوهُۚ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Maidah: 78-79)Baca Juga: Beberapa Faidah dari Kisah Meninggalnya Abu ThalibAkan kami sampaikan sebuah kisah mutiara tentang seorang ulama dengan penggembala unta. Kisah ini kami bawakan dari Kitab Syarh Riyadhus Shalihin, karya Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.ويذكر – قديما – أن رجلا من أهل الحسبة – يعني من الذين يأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر – مر على شخص يستخرج الماء من البئر على إبله عند أذان المغرب ، وكان من عادة هؤلاء العمال أن يحدوا بالإبل، يعني ينشدون شعرا من أجل أن تخف الإبل ؛ لأن الإبل تطرب النشيد الشعر“Disebutkan dulu ada seorang dari Ahlu Hisbah (badan khusus yang dibentuk pemerintah untuk menegakkan syariat, biasanya ada pada negara-negara Islam di masa silam pent.). Maksud (Ahli Hisbah) adalah orang yang tugasnya melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Suatu ketika salah satu anggotanya melewati seorang yang sedang menimba air dari sumur untuk unta-untanya saat adzan magrib. Di antara kebiasaan mereka (pengembala unta) saat bekerja adalah mereka membaca hida (satu jenis syair yang biasa dibaca oleh para penggembala, pent.) bersama unta-untanya. Maksud (hida) adalah  mereka membaca syair agar membuat unta-untanya energik; karena untanya akan (terlihat) energik ketika dibacakan syair tertentu.”فجاء هذا الرجل ومعه غيره ، وتكلم بكلام قبيح على العامل الذي كان متعبا من العمل وضاقت عليه نفسه فضرب الرجل بعصا طويلة متينة كانت معه – فشرد الرجل وذهب إلى المسجد والتقى بالشيخ – عالم من العلماء من أحفاد الشيخ محمد بن عبد الوهاب – رحمه الله – وقال : إني فعلت كذا وكذا، وإن الرجل ضربني بالعصا“Maka datanglah orang Ahlu Hisbah bersama kawan-kawannya. Dia menegur dengan kata-kata kasar kepada pengembala unta yang telah lelah bekerja, maka dipukulah Ahlu Hisbah tersebut dengan tongkat panjang kokoh yang dibawa oleh pengembala unta. Larilah Ahlu Hisbah tersebut ke masjid dan berjumpa dengan seorang syaikh – seorang ulama yang termasuk keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab – rahimahullah – Lantas dia menceritakan (apa yang terjadi), ‘Aku melakukan demikian dan demikian, dan orang itu memukul aku dengan tongkatnya.’”فلما كان من اليوم الثاني ذهب الشيخ بنفسه إلى المكان قبل غروب الشمس،  وتوضأ ووضع مشلحه على خشبة حول البئر ، ثم أذن المغرب فوقف كأنه يريد أن يأخذ المشلح ، فقال له : يا فلان .. يا أخي جزاك الله خيرا ، أنت تطلب الخير في العمل هذا ، وأنت على خير ، لكن الآن أذن للمغرب ، لو أنك تذهب وتصلي المغرب وترجع ما فاتك شيء ، وقال له كلاما هيئا“Maka keesokan harinya, sebelum tenggalm matahari, Syaikh pergi sendiri ke tempat yang diceritakan. Dia berwudhu dan meletakkan jubahnya di suatu kayu yang ada di dekat sumur. Kemudian terdengarlah adzan magrib lantas dia berhenti seakan-akan ingin mengambil jubah. Kemudian syaikh berkata kepada pengembala unta (yang ada didekatnya), ‘Wahai fulan … wahai saudaraku semoga Alalh membalasmu dengan kebaikan. Kamu adalah orang yang mencari kebaikan dengan amal ini (amalan yang dimaksud adalah menimba air di sumur yang bisa dimanfaatkan oleh orang lain, unta-untanya, dan oleh syaikh ini untuk berwudhu pent.). Dan kamu seorang yang baik. Akan tetapi, saat ini sudah terdengar adzan magrib. Andai kamu berkenan pergi shalat magrib terlebih dahulu, lalu kembali lagi maka kamu tidak akan rugi.’ Syaikh mengatakan hal tersebut dengan perkataan yang lembut.”فقال له: جزاك الله خيرا ، مر علي أمس رجل جلف قام ينتهرني ، وقال لي كلاما سيئا أغضبني ، وما ملكت نفسي حتى ضربته بالعصا ،“Lantas pengembala unta itu menjawab, ‘Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. (Kemudian dia bercerita) kemarin ada orang kasar yang lewat, dia membentakku. Dia mengucapkan perkataan yang buruk yang membuatku marah. Maka aku tidak bisa mengendalikan diri sehingga aku memukulnya dengan tongkat.’”قال : الأمر لا يحتاج إلى ضرب ، أنت عاقل ، ثم تكلم معه بكلام لين ، فأسند العصا التي يضرب بها الإبل ثم ذهب يصلي بانقیاد ورضا.“Maka syaikh mengatakan, ‘Masalah seperti itu tidak perlu menggunakan kekerasan. Kamu adalah orang yang cerdas.’ Syaikh berbicara dengan lembut kepadanya. Setelah itu pengembala unta tersebut menyandarkan tongkatnya yang (biasa) ia gunakan untuk memukul unta, kemudian pergi shalat dengan kepatuhan dan dengan hati yang lapang.” [1]Baca Juga: Kisah Ibnu Taimiyah Dan Pencaci NabiMaka ini adalah contoh tentang bagaimana cara menyampaikan sesuatu. Apabila cara menyampaikan dilakukan dengan cara yang baik maka akan mewujudkan maksud yang diinginkan. Lain halnya jika niatnya baik namun caranya dengan cara-cara yang kasar maka akan terjadi hal-hal yang tidak diharapkan.Dalam kisah tersebut yang terjadi adalah orang yang pertama menyikapi pengembala unta dengan keras. Bukannya si pengembala mau diajak pergi ke masjid, namun orang yang diajak marah dan memukul orang yang mengajak. Sedangkan orang yang kedua berhasil mengajak pergi ke masjid, sebabnya karena dia bersikap dengan sikap yang lembut.Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaإن الله يعطي على الرفق ما لا يعطي على العنف“Sesungguhnya Allah akan memberikan (manfaat) terhadap sikap lembut (suatu hal) yang Allah tidak berikan kepada sikap kasar.” [2]Juga beliau Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaما كان الرفق في شيء إلا زانه ، وما ينزع من شيء إلا شانه“Tidaklah lemah lembut ada pada sesuatu, kecuali membuat sesuatu tersebut nampak indah, dan tidaklah lemah lembut dicabut dari sesuatu kecuali menyebabkan sesuatu tersebut menjadi buruk.” [3]Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasannya kelembutan adalah sesuatu hal yang bermanfaat. Jauh lebih memberikan manfaat daripada manfaat yang dirasa atau didapatkan dengan cara-cara yang kasar dan keras. Maka kewajiban orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar adalah dia antusias melakukannya dengan cara yang lembutSemoga kisah ini memberikan pelajaran kepada kita semua dan menanamkan kepada diri kita semua sikap lembut.Baca Juga:—Penulis: Azka Hariz SartonoArtikel: Muslim.or.idCatatan Kaki:[1] Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, Syarh Riyadhus Shalihin, Jilid 2, Bab 23 tentang Amar Ma’ruf Nahi Mungkar.[2] HR. Muslim No. 2593[3] HR. Muslim No. 2594🔍 Ayat Riba, Aplikasi Ceramah Islam, Kriteria Fakir Miskin, Ibadah Artinya, Video Kebesaran Allah Swt

Kisah Seorang Ulama dan Penggembala Unta

Allah Ta’ala memerintahkan kepada umatnya untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Sebagaimana banyak ayat dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran: 110)خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ سَيَرۡحَمُهُمُ ٱللَّهُۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma´ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71)لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ ٧٨ كَانُواْ لَا يَتَنَاهَوۡنَ عَن مُّنكَرٖ فَعَلُوهُۚ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Maidah: 78-79)Baca Juga: Beberapa Faidah dari Kisah Meninggalnya Abu ThalibAkan kami sampaikan sebuah kisah mutiara tentang seorang ulama dengan penggembala unta. Kisah ini kami bawakan dari Kitab Syarh Riyadhus Shalihin, karya Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.ويذكر – قديما – أن رجلا من أهل الحسبة – يعني من الذين يأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر – مر على شخص يستخرج الماء من البئر على إبله عند أذان المغرب ، وكان من عادة هؤلاء العمال أن يحدوا بالإبل، يعني ينشدون شعرا من أجل أن تخف الإبل ؛ لأن الإبل تطرب النشيد الشعر“Disebutkan dulu ada seorang dari Ahlu Hisbah (badan khusus yang dibentuk pemerintah untuk menegakkan syariat, biasanya ada pada negara-negara Islam di masa silam pent.). Maksud (Ahli Hisbah) adalah orang yang tugasnya melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Suatu ketika salah satu anggotanya melewati seorang yang sedang menimba air dari sumur untuk unta-untanya saat adzan magrib. Di antara kebiasaan mereka (pengembala unta) saat bekerja adalah mereka membaca hida (satu jenis syair yang biasa dibaca oleh para penggembala, pent.) bersama unta-untanya. Maksud (hida) adalah  mereka membaca syair agar membuat unta-untanya energik; karena untanya akan (terlihat) energik ketika dibacakan syair tertentu.”فجاء هذا الرجل ومعه غيره ، وتكلم بكلام قبيح على العامل الذي كان متعبا من العمل وضاقت عليه نفسه فضرب الرجل بعصا طويلة متينة كانت معه – فشرد الرجل وذهب إلى المسجد والتقى بالشيخ – عالم من العلماء من أحفاد الشيخ محمد بن عبد الوهاب – رحمه الله – وقال : إني فعلت كذا وكذا، وإن الرجل ضربني بالعصا“Maka datanglah orang Ahlu Hisbah bersama kawan-kawannya. Dia menegur dengan kata-kata kasar kepada pengembala unta yang telah lelah bekerja, maka dipukulah Ahlu Hisbah tersebut dengan tongkat panjang kokoh yang dibawa oleh pengembala unta. Larilah Ahlu Hisbah tersebut ke masjid dan berjumpa dengan seorang syaikh – seorang ulama yang termasuk keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab – rahimahullah – Lantas dia menceritakan (apa yang terjadi), ‘Aku melakukan demikian dan demikian, dan orang itu memukul aku dengan tongkatnya.’”فلما كان من اليوم الثاني ذهب الشيخ بنفسه إلى المكان قبل غروب الشمس،  وتوضأ ووضع مشلحه على خشبة حول البئر ، ثم أذن المغرب فوقف كأنه يريد أن يأخذ المشلح ، فقال له : يا فلان .. يا أخي جزاك الله خيرا ، أنت تطلب الخير في العمل هذا ، وأنت على خير ، لكن الآن أذن للمغرب ، لو أنك تذهب وتصلي المغرب وترجع ما فاتك شيء ، وقال له كلاما هيئا“Maka keesokan harinya, sebelum tenggalm matahari, Syaikh pergi sendiri ke tempat yang diceritakan. Dia berwudhu dan meletakkan jubahnya di suatu kayu yang ada di dekat sumur. Kemudian terdengarlah adzan magrib lantas dia berhenti seakan-akan ingin mengambil jubah. Kemudian syaikh berkata kepada pengembala unta (yang ada didekatnya), ‘Wahai fulan … wahai saudaraku semoga Alalh membalasmu dengan kebaikan. Kamu adalah orang yang mencari kebaikan dengan amal ini (amalan yang dimaksud adalah menimba air di sumur yang bisa dimanfaatkan oleh orang lain, unta-untanya, dan oleh syaikh ini untuk berwudhu pent.). Dan kamu seorang yang baik. Akan tetapi, saat ini sudah terdengar adzan magrib. Andai kamu berkenan pergi shalat magrib terlebih dahulu, lalu kembali lagi maka kamu tidak akan rugi.’ Syaikh mengatakan hal tersebut dengan perkataan yang lembut.”فقال له: جزاك الله خيرا ، مر علي أمس رجل جلف قام ينتهرني ، وقال لي كلاما سيئا أغضبني ، وما ملكت نفسي حتى ضربته بالعصا ،“Lantas pengembala unta itu menjawab, ‘Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. (Kemudian dia bercerita) kemarin ada orang kasar yang lewat, dia membentakku. Dia mengucapkan perkataan yang buruk yang membuatku marah. Maka aku tidak bisa mengendalikan diri sehingga aku memukulnya dengan tongkat.’”قال : الأمر لا يحتاج إلى ضرب ، أنت عاقل ، ثم تكلم معه بكلام لين ، فأسند العصا التي يضرب بها الإبل ثم ذهب يصلي بانقیاد ورضا.“Maka syaikh mengatakan, ‘Masalah seperti itu tidak perlu menggunakan kekerasan. Kamu adalah orang yang cerdas.’ Syaikh berbicara dengan lembut kepadanya. Setelah itu pengembala unta tersebut menyandarkan tongkatnya yang (biasa) ia gunakan untuk memukul unta, kemudian pergi shalat dengan kepatuhan dan dengan hati yang lapang.” [1]Baca Juga: Kisah Ibnu Taimiyah Dan Pencaci NabiMaka ini adalah contoh tentang bagaimana cara menyampaikan sesuatu. Apabila cara menyampaikan dilakukan dengan cara yang baik maka akan mewujudkan maksud yang diinginkan. Lain halnya jika niatnya baik namun caranya dengan cara-cara yang kasar maka akan terjadi hal-hal yang tidak diharapkan.Dalam kisah tersebut yang terjadi adalah orang yang pertama menyikapi pengembala unta dengan keras. Bukannya si pengembala mau diajak pergi ke masjid, namun orang yang diajak marah dan memukul orang yang mengajak. Sedangkan orang yang kedua berhasil mengajak pergi ke masjid, sebabnya karena dia bersikap dengan sikap yang lembut.Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaإن الله يعطي على الرفق ما لا يعطي على العنف“Sesungguhnya Allah akan memberikan (manfaat) terhadap sikap lembut (suatu hal) yang Allah tidak berikan kepada sikap kasar.” [2]Juga beliau Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaما كان الرفق في شيء إلا زانه ، وما ينزع من شيء إلا شانه“Tidaklah lemah lembut ada pada sesuatu, kecuali membuat sesuatu tersebut nampak indah, dan tidaklah lemah lembut dicabut dari sesuatu kecuali menyebabkan sesuatu tersebut menjadi buruk.” [3]Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasannya kelembutan adalah sesuatu hal yang bermanfaat. Jauh lebih memberikan manfaat daripada manfaat yang dirasa atau didapatkan dengan cara-cara yang kasar dan keras. Maka kewajiban orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar adalah dia antusias melakukannya dengan cara yang lembutSemoga kisah ini memberikan pelajaran kepada kita semua dan menanamkan kepada diri kita semua sikap lembut.Baca Juga:—Penulis: Azka Hariz SartonoArtikel: Muslim.or.idCatatan Kaki:[1] Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, Syarh Riyadhus Shalihin, Jilid 2, Bab 23 tentang Amar Ma’ruf Nahi Mungkar.[2] HR. Muslim No. 2593[3] HR. Muslim No. 2594🔍 Ayat Riba, Aplikasi Ceramah Islam, Kriteria Fakir Miskin, Ibadah Artinya, Video Kebesaran Allah Swt
Allah Ta’ala memerintahkan kepada umatnya untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Sebagaimana banyak ayat dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran: 110)خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ سَيَرۡحَمُهُمُ ٱللَّهُۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma´ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71)لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ ٧٨ كَانُواْ لَا يَتَنَاهَوۡنَ عَن مُّنكَرٖ فَعَلُوهُۚ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Maidah: 78-79)Baca Juga: Beberapa Faidah dari Kisah Meninggalnya Abu ThalibAkan kami sampaikan sebuah kisah mutiara tentang seorang ulama dengan penggembala unta. Kisah ini kami bawakan dari Kitab Syarh Riyadhus Shalihin, karya Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.ويذكر – قديما – أن رجلا من أهل الحسبة – يعني من الذين يأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر – مر على شخص يستخرج الماء من البئر على إبله عند أذان المغرب ، وكان من عادة هؤلاء العمال أن يحدوا بالإبل، يعني ينشدون شعرا من أجل أن تخف الإبل ؛ لأن الإبل تطرب النشيد الشعر“Disebutkan dulu ada seorang dari Ahlu Hisbah (badan khusus yang dibentuk pemerintah untuk menegakkan syariat, biasanya ada pada negara-negara Islam di masa silam pent.). Maksud (Ahli Hisbah) adalah orang yang tugasnya melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Suatu ketika salah satu anggotanya melewati seorang yang sedang menimba air dari sumur untuk unta-untanya saat adzan magrib. Di antara kebiasaan mereka (pengembala unta) saat bekerja adalah mereka membaca hida (satu jenis syair yang biasa dibaca oleh para penggembala, pent.) bersama unta-untanya. Maksud (hida) adalah  mereka membaca syair agar membuat unta-untanya energik; karena untanya akan (terlihat) energik ketika dibacakan syair tertentu.”فجاء هذا الرجل ومعه غيره ، وتكلم بكلام قبيح على العامل الذي كان متعبا من العمل وضاقت عليه نفسه فضرب الرجل بعصا طويلة متينة كانت معه – فشرد الرجل وذهب إلى المسجد والتقى بالشيخ – عالم من العلماء من أحفاد الشيخ محمد بن عبد الوهاب – رحمه الله – وقال : إني فعلت كذا وكذا، وإن الرجل ضربني بالعصا“Maka datanglah orang Ahlu Hisbah bersama kawan-kawannya. Dia menegur dengan kata-kata kasar kepada pengembala unta yang telah lelah bekerja, maka dipukulah Ahlu Hisbah tersebut dengan tongkat panjang kokoh yang dibawa oleh pengembala unta. Larilah Ahlu Hisbah tersebut ke masjid dan berjumpa dengan seorang syaikh – seorang ulama yang termasuk keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab – rahimahullah – Lantas dia menceritakan (apa yang terjadi), ‘Aku melakukan demikian dan demikian, dan orang itu memukul aku dengan tongkatnya.’”فلما كان من اليوم الثاني ذهب الشيخ بنفسه إلى المكان قبل غروب الشمس،  وتوضأ ووضع مشلحه على خشبة حول البئر ، ثم أذن المغرب فوقف كأنه يريد أن يأخذ المشلح ، فقال له : يا فلان .. يا أخي جزاك الله خيرا ، أنت تطلب الخير في العمل هذا ، وأنت على خير ، لكن الآن أذن للمغرب ، لو أنك تذهب وتصلي المغرب وترجع ما فاتك شيء ، وقال له كلاما هيئا“Maka keesokan harinya, sebelum tenggalm matahari, Syaikh pergi sendiri ke tempat yang diceritakan. Dia berwudhu dan meletakkan jubahnya di suatu kayu yang ada di dekat sumur. Kemudian terdengarlah adzan magrib lantas dia berhenti seakan-akan ingin mengambil jubah. Kemudian syaikh berkata kepada pengembala unta (yang ada didekatnya), ‘Wahai fulan … wahai saudaraku semoga Alalh membalasmu dengan kebaikan. Kamu adalah orang yang mencari kebaikan dengan amal ini (amalan yang dimaksud adalah menimba air di sumur yang bisa dimanfaatkan oleh orang lain, unta-untanya, dan oleh syaikh ini untuk berwudhu pent.). Dan kamu seorang yang baik. Akan tetapi, saat ini sudah terdengar adzan magrib. Andai kamu berkenan pergi shalat magrib terlebih dahulu, lalu kembali lagi maka kamu tidak akan rugi.’ Syaikh mengatakan hal tersebut dengan perkataan yang lembut.”فقال له: جزاك الله خيرا ، مر علي أمس رجل جلف قام ينتهرني ، وقال لي كلاما سيئا أغضبني ، وما ملكت نفسي حتى ضربته بالعصا ،“Lantas pengembala unta itu menjawab, ‘Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. (Kemudian dia bercerita) kemarin ada orang kasar yang lewat, dia membentakku. Dia mengucapkan perkataan yang buruk yang membuatku marah. Maka aku tidak bisa mengendalikan diri sehingga aku memukulnya dengan tongkat.’”قال : الأمر لا يحتاج إلى ضرب ، أنت عاقل ، ثم تكلم معه بكلام لين ، فأسند العصا التي يضرب بها الإبل ثم ذهب يصلي بانقیاد ورضا.“Maka syaikh mengatakan, ‘Masalah seperti itu tidak perlu menggunakan kekerasan. Kamu adalah orang yang cerdas.’ Syaikh berbicara dengan lembut kepadanya. Setelah itu pengembala unta tersebut menyandarkan tongkatnya yang (biasa) ia gunakan untuk memukul unta, kemudian pergi shalat dengan kepatuhan dan dengan hati yang lapang.” [1]Baca Juga: Kisah Ibnu Taimiyah Dan Pencaci NabiMaka ini adalah contoh tentang bagaimana cara menyampaikan sesuatu. Apabila cara menyampaikan dilakukan dengan cara yang baik maka akan mewujudkan maksud yang diinginkan. Lain halnya jika niatnya baik namun caranya dengan cara-cara yang kasar maka akan terjadi hal-hal yang tidak diharapkan.Dalam kisah tersebut yang terjadi adalah orang yang pertama menyikapi pengembala unta dengan keras. Bukannya si pengembala mau diajak pergi ke masjid, namun orang yang diajak marah dan memukul orang yang mengajak. Sedangkan orang yang kedua berhasil mengajak pergi ke masjid, sebabnya karena dia bersikap dengan sikap yang lembut.Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaإن الله يعطي على الرفق ما لا يعطي على العنف“Sesungguhnya Allah akan memberikan (manfaat) terhadap sikap lembut (suatu hal) yang Allah tidak berikan kepada sikap kasar.” [2]Juga beliau Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaما كان الرفق في شيء إلا زانه ، وما ينزع من شيء إلا شانه“Tidaklah lemah lembut ada pada sesuatu, kecuali membuat sesuatu tersebut nampak indah, dan tidaklah lemah lembut dicabut dari sesuatu kecuali menyebabkan sesuatu tersebut menjadi buruk.” [3]Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasannya kelembutan adalah sesuatu hal yang bermanfaat. Jauh lebih memberikan manfaat daripada manfaat yang dirasa atau didapatkan dengan cara-cara yang kasar dan keras. Maka kewajiban orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar adalah dia antusias melakukannya dengan cara yang lembutSemoga kisah ini memberikan pelajaran kepada kita semua dan menanamkan kepada diri kita semua sikap lembut.Baca Juga:—Penulis: Azka Hariz SartonoArtikel: Muslim.or.idCatatan Kaki:[1] Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, Syarh Riyadhus Shalihin, Jilid 2, Bab 23 tentang Amar Ma’ruf Nahi Mungkar.[2] HR. Muslim No. 2593[3] HR. Muslim No. 2594🔍 Ayat Riba, Aplikasi Ceramah Islam, Kriteria Fakir Miskin, Ibadah Artinya, Video Kebesaran Allah Swt


Allah Ta’ala memerintahkan kepada umatnya untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Sebagaimana banyak ayat dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran: 110)خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ سَيَرۡحَمُهُمُ ٱللَّهُۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma´ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71)لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ ٧٨ كَانُواْ لَا يَتَنَاهَوۡنَ عَن مُّنكَرٖ فَعَلُوهُۚ لَبِئۡسَ مَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Maidah: 78-79)Baca Juga: Beberapa Faidah dari Kisah Meninggalnya Abu ThalibAkan kami sampaikan sebuah kisah mutiara tentang seorang ulama dengan penggembala unta. Kisah ini kami bawakan dari Kitab Syarh Riyadhus Shalihin, karya Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu Ta’ala.ويذكر – قديما – أن رجلا من أهل الحسبة – يعني من الذين يأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر – مر على شخص يستخرج الماء من البئر على إبله عند أذان المغرب ، وكان من عادة هؤلاء العمال أن يحدوا بالإبل، يعني ينشدون شعرا من أجل أن تخف الإبل ؛ لأن الإبل تطرب النشيد الشعر“Disebutkan dulu ada seorang dari Ahlu Hisbah (badan khusus yang dibentuk pemerintah untuk menegakkan syariat, biasanya ada pada negara-negara Islam di masa silam pent.). Maksud (Ahli Hisbah) adalah orang yang tugasnya melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Suatu ketika salah satu anggotanya melewati seorang yang sedang menimba air dari sumur untuk unta-untanya saat adzan magrib. Di antara kebiasaan mereka (pengembala unta) saat bekerja adalah mereka membaca hida (satu jenis syair yang biasa dibaca oleh para penggembala, pent.) bersama unta-untanya. Maksud (hida) adalah  mereka membaca syair agar membuat unta-untanya energik; karena untanya akan (terlihat) energik ketika dibacakan syair tertentu.”فجاء هذا الرجل ومعه غيره ، وتكلم بكلام قبيح على العامل الذي كان متعبا من العمل وضاقت عليه نفسه فضرب الرجل بعصا طويلة متينة كانت معه – فشرد الرجل وذهب إلى المسجد والتقى بالشيخ – عالم من العلماء من أحفاد الشيخ محمد بن عبد الوهاب – رحمه الله – وقال : إني فعلت كذا وكذا، وإن الرجل ضربني بالعصا“Maka datanglah orang Ahlu Hisbah bersama kawan-kawannya. Dia menegur dengan kata-kata kasar kepada pengembala unta yang telah lelah bekerja, maka dipukulah Ahlu Hisbah tersebut dengan tongkat panjang kokoh yang dibawa oleh pengembala unta. Larilah Ahlu Hisbah tersebut ke masjid dan berjumpa dengan seorang syaikh – seorang ulama yang termasuk keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab – rahimahullah – Lantas dia menceritakan (apa yang terjadi), ‘Aku melakukan demikian dan demikian, dan orang itu memukul aku dengan tongkatnya.’”فلما كان من اليوم الثاني ذهب الشيخ بنفسه إلى المكان قبل غروب الشمس،  وتوضأ ووضع مشلحه على خشبة حول البئر ، ثم أذن المغرب فوقف كأنه يريد أن يأخذ المشلح ، فقال له : يا فلان .. يا أخي جزاك الله خيرا ، أنت تطلب الخير في العمل هذا ، وأنت على خير ، لكن الآن أذن للمغرب ، لو أنك تذهب وتصلي المغرب وترجع ما فاتك شيء ، وقال له كلاما هيئا“Maka keesokan harinya, sebelum tenggalm matahari, Syaikh pergi sendiri ke tempat yang diceritakan. Dia berwudhu dan meletakkan jubahnya di suatu kayu yang ada di dekat sumur. Kemudian terdengarlah adzan magrib lantas dia berhenti seakan-akan ingin mengambil jubah. Kemudian syaikh berkata kepada pengembala unta (yang ada didekatnya), ‘Wahai fulan … wahai saudaraku semoga Alalh membalasmu dengan kebaikan. Kamu adalah orang yang mencari kebaikan dengan amal ini (amalan yang dimaksud adalah menimba air di sumur yang bisa dimanfaatkan oleh orang lain, unta-untanya, dan oleh syaikh ini untuk berwudhu pent.). Dan kamu seorang yang baik. Akan tetapi, saat ini sudah terdengar adzan magrib. Andai kamu berkenan pergi shalat magrib terlebih dahulu, lalu kembali lagi maka kamu tidak akan rugi.’ Syaikh mengatakan hal tersebut dengan perkataan yang lembut.”فقال له: جزاك الله خيرا ، مر علي أمس رجل جلف قام ينتهرني ، وقال لي كلاما سيئا أغضبني ، وما ملكت نفسي حتى ضربته بالعصا ،“Lantas pengembala unta itu menjawab, ‘Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. (Kemudian dia bercerita) kemarin ada orang kasar yang lewat, dia membentakku. Dia mengucapkan perkataan yang buruk yang membuatku marah. Maka aku tidak bisa mengendalikan diri sehingga aku memukulnya dengan tongkat.’”قال : الأمر لا يحتاج إلى ضرب ، أنت عاقل ، ثم تكلم معه بكلام لين ، فأسند العصا التي يضرب بها الإبل ثم ذهب يصلي بانقیاد ورضا.“Maka syaikh mengatakan, ‘Masalah seperti itu tidak perlu menggunakan kekerasan. Kamu adalah orang yang cerdas.’ Syaikh berbicara dengan lembut kepadanya. Setelah itu pengembala unta tersebut menyandarkan tongkatnya yang (biasa) ia gunakan untuk memukul unta, kemudian pergi shalat dengan kepatuhan dan dengan hati yang lapang.” [1]Baca Juga: Kisah Ibnu Taimiyah Dan Pencaci NabiMaka ini adalah contoh tentang bagaimana cara menyampaikan sesuatu. Apabila cara menyampaikan dilakukan dengan cara yang baik maka akan mewujudkan maksud yang diinginkan. Lain halnya jika niatnya baik namun caranya dengan cara-cara yang kasar maka akan terjadi hal-hal yang tidak diharapkan.Dalam kisah tersebut yang terjadi adalah orang yang pertama menyikapi pengembala unta dengan keras. Bukannya si pengembala mau diajak pergi ke masjid, namun orang yang diajak marah dan memukul orang yang mengajak. Sedangkan orang yang kedua berhasil mengajak pergi ke masjid, sebabnya karena dia bersikap dengan sikap yang lembut.Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaإن الله يعطي على الرفق ما لا يعطي على العنف“Sesungguhnya Allah akan memberikan (manfaat) terhadap sikap lembut (suatu hal) yang Allah tidak berikan kepada sikap kasar.” [2]Juga beliau Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaما كان الرفق في شيء إلا زانه ، وما ينزع من شيء إلا شانه“Tidaklah lemah lembut ada pada sesuatu, kecuali membuat sesuatu tersebut nampak indah, dan tidaklah lemah lembut dicabut dari sesuatu kecuali menyebabkan sesuatu tersebut menjadi buruk.” [3]Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasannya kelembutan adalah sesuatu hal yang bermanfaat. Jauh lebih memberikan manfaat daripada manfaat yang dirasa atau didapatkan dengan cara-cara yang kasar dan keras. Maka kewajiban orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar adalah dia antusias melakukannya dengan cara yang lembutSemoga kisah ini memberikan pelajaran kepada kita semua dan menanamkan kepada diri kita semua sikap lembut.Baca Juga:—Penulis: Azka Hariz SartonoArtikel: Muslim.or.idCatatan Kaki:[1] Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, Syarh Riyadhus Shalihin, Jilid 2, Bab 23 tentang Amar Ma’ruf Nahi Mungkar.[2] HR. Muslim No. 2593[3] HR. Muslim No. 2594🔍 Ayat Riba, Aplikasi Ceramah Islam, Kriteria Fakir Miskin, Ibadah Artinya, Video Kebesaran Allah Swt

Adab Berinteraksi Dengan Wanita Di Internet

Fatwa Syaikh Muhammad Ali FarkusSoal: Apa hukum menjadi pengajar atau da’i yang mengajarkan pelajaran agama yang pesertanya terdiri dari lelaki dan wanita, melalui media tulisan di internet?Jawab:الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدِّين، أمَّا بعدBerinteraksi, berkomunikasi verbal, berkomunikasi melalui tulisan ataupun verbal dan tulisan sekaligus, terhadap wanita ajnabiyah (non-mahram) itu merupakan bahaya yang besar dan nyata bagi agama dan kehormatan seorang lelaki, jika tidak dibarengi dengan aturan-aturan yang membuatnya aman dari fitnah serta jika dilakukan dengan sering dan terus-menerus. Terdapat dalam hadits:مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ“tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku, fitnah (godaan) yang lebih besar bagi lelaki melainkan wanita” (HR. Bukhari no. 5096, Muslim no. 6740).Dan kita ketahui bersama bahwasanya hendaknya seorang lelaki ketika berinteraksi dengan wanita non mahram ia menjaga dirinya dengan adab-adab yang ketat dan hanya sebatas keperluan saja. Agar tidak muncul di hati sang lelaki suatu keterkaitan yang bisa tumbuh di dalam hati yang memiliki penyakit hati.Oleh karena itu, semua interaksi verbal atau tulisan antara lelaki dan wanita yang mengandung nada yang lembut, gaya bahasa yang gemulai, mendayu-dayu, juga yang penuh kekaguman, melucu, saling tertawa, interaksi yang terlalu akrab, canda ria, dan semacamnya yang menimbulkan bekas di hati dan dapat menimbulkan desiran-desiran syahwat, ini hukumnya terlarang dalam rangka menutup celah keburukan. Tidak termasuk di larangan ini, perkataan yang penuh wibawa dan adab serta perkataan yang ma’ruf. Bahkan nada yang lembut dan gaya bahasa yang gemulai tidak ragu lagi akan menyentuh hati dan memicu syahwat sehingga nantinya akan menimbulkan angan-angan serta munculnya syahwat, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.Allah Ta’ala berfirman:يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَعْرُوفًا“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik” (QS. Al Ahzab: 32).Ketika banyak wanita yang tidak berpegang pada adab-adab ini dan tidak mengindahkan batasan-batasan syariat dalam pembicaraan mereka atau tulisan-tulisan mereka, maka yang lebih selamat bagi para lelaki adalah meninggalkan interaksi dengan para wanita tersebut kecuali pada keperluan-keperluan yang mendesak dengan tetap menjaga aturan-aturan agama dengan syarat aman dari fitnah, serta dalam keperluan yang dibolehkan syariat. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ“Berhati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah dari wanita” (HR. Muslim no. 2742).والعلم عند الله تعالى، وآخر دعوانا أن الحمد لله ربِّ العالمين وصلَّى الله على محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين وسلَّم تسليمًا.Sumber: http://ferkous.com/home/?q=fatwa-1116Penerjemah: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id🔍 Ayat Alquran Tentang Bumi Datar, Hukum Menjual Rokok, Nama Nama Surga Allah, Keutamaan Di Bulan Ramadhan, Syahadat Yang Benar

Adab Berinteraksi Dengan Wanita Di Internet

Fatwa Syaikh Muhammad Ali FarkusSoal: Apa hukum menjadi pengajar atau da’i yang mengajarkan pelajaran agama yang pesertanya terdiri dari lelaki dan wanita, melalui media tulisan di internet?Jawab:الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدِّين، أمَّا بعدBerinteraksi, berkomunikasi verbal, berkomunikasi melalui tulisan ataupun verbal dan tulisan sekaligus, terhadap wanita ajnabiyah (non-mahram) itu merupakan bahaya yang besar dan nyata bagi agama dan kehormatan seorang lelaki, jika tidak dibarengi dengan aturan-aturan yang membuatnya aman dari fitnah serta jika dilakukan dengan sering dan terus-menerus. Terdapat dalam hadits:مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ“tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku, fitnah (godaan) yang lebih besar bagi lelaki melainkan wanita” (HR. Bukhari no. 5096, Muslim no. 6740).Dan kita ketahui bersama bahwasanya hendaknya seorang lelaki ketika berinteraksi dengan wanita non mahram ia menjaga dirinya dengan adab-adab yang ketat dan hanya sebatas keperluan saja. Agar tidak muncul di hati sang lelaki suatu keterkaitan yang bisa tumbuh di dalam hati yang memiliki penyakit hati.Oleh karena itu, semua interaksi verbal atau tulisan antara lelaki dan wanita yang mengandung nada yang lembut, gaya bahasa yang gemulai, mendayu-dayu, juga yang penuh kekaguman, melucu, saling tertawa, interaksi yang terlalu akrab, canda ria, dan semacamnya yang menimbulkan bekas di hati dan dapat menimbulkan desiran-desiran syahwat, ini hukumnya terlarang dalam rangka menutup celah keburukan. Tidak termasuk di larangan ini, perkataan yang penuh wibawa dan adab serta perkataan yang ma’ruf. Bahkan nada yang lembut dan gaya bahasa yang gemulai tidak ragu lagi akan menyentuh hati dan memicu syahwat sehingga nantinya akan menimbulkan angan-angan serta munculnya syahwat, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.Allah Ta’ala berfirman:يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَعْرُوفًا“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik” (QS. Al Ahzab: 32).Ketika banyak wanita yang tidak berpegang pada adab-adab ini dan tidak mengindahkan batasan-batasan syariat dalam pembicaraan mereka atau tulisan-tulisan mereka, maka yang lebih selamat bagi para lelaki adalah meninggalkan interaksi dengan para wanita tersebut kecuali pada keperluan-keperluan yang mendesak dengan tetap menjaga aturan-aturan agama dengan syarat aman dari fitnah, serta dalam keperluan yang dibolehkan syariat. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ“Berhati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah dari wanita” (HR. Muslim no. 2742).والعلم عند الله تعالى، وآخر دعوانا أن الحمد لله ربِّ العالمين وصلَّى الله على محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين وسلَّم تسليمًا.Sumber: http://ferkous.com/home/?q=fatwa-1116Penerjemah: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id🔍 Ayat Alquran Tentang Bumi Datar, Hukum Menjual Rokok, Nama Nama Surga Allah, Keutamaan Di Bulan Ramadhan, Syahadat Yang Benar
Fatwa Syaikh Muhammad Ali FarkusSoal: Apa hukum menjadi pengajar atau da’i yang mengajarkan pelajaran agama yang pesertanya terdiri dari lelaki dan wanita, melalui media tulisan di internet?Jawab:الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدِّين، أمَّا بعدBerinteraksi, berkomunikasi verbal, berkomunikasi melalui tulisan ataupun verbal dan tulisan sekaligus, terhadap wanita ajnabiyah (non-mahram) itu merupakan bahaya yang besar dan nyata bagi agama dan kehormatan seorang lelaki, jika tidak dibarengi dengan aturan-aturan yang membuatnya aman dari fitnah serta jika dilakukan dengan sering dan terus-menerus. Terdapat dalam hadits:مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ“tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku, fitnah (godaan) yang lebih besar bagi lelaki melainkan wanita” (HR. Bukhari no. 5096, Muslim no. 6740).Dan kita ketahui bersama bahwasanya hendaknya seorang lelaki ketika berinteraksi dengan wanita non mahram ia menjaga dirinya dengan adab-adab yang ketat dan hanya sebatas keperluan saja. Agar tidak muncul di hati sang lelaki suatu keterkaitan yang bisa tumbuh di dalam hati yang memiliki penyakit hati.Oleh karena itu, semua interaksi verbal atau tulisan antara lelaki dan wanita yang mengandung nada yang lembut, gaya bahasa yang gemulai, mendayu-dayu, juga yang penuh kekaguman, melucu, saling tertawa, interaksi yang terlalu akrab, canda ria, dan semacamnya yang menimbulkan bekas di hati dan dapat menimbulkan desiran-desiran syahwat, ini hukumnya terlarang dalam rangka menutup celah keburukan. Tidak termasuk di larangan ini, perkataan yang penuh wibawa dan adab serta perkataan yang ma’ruf. Bahkan nada yang lembut dan gaya bahasa yang gemulai tidak ragu lagi akan menyentuh hati dan memicu syahwat sehingga nantinya akan menimbulkan angan-angan serta munculnya syahwat, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.Allah Ta’ala berfirman:يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَعْرُوفًا“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik” (QS. Al Ahzab: 32).Ketika banyak wanita yang tidak berpegang pada adab-adab ini dan tidak mengindahkan batasan-batasan syariat dalam pembicaraan mereka atau tulisan-tulisan mereka, maka yang lebih selamat bagi para lelaki adalah meninggalkan interaksi dengan para wanita tersebut kecuali pada keperluan-keperluan yang mendesak dengan tetap menjaga aturan-aturan agama dengan syarat aman dari fitnah, serta dalam keperluan yang dibolehkan syariat. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ“Berhati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah dari wanita” (HR. Muslim no. 2742).والعلم عند الله تعالى، وآخر دعوانا أن الحمد لله ربِّ العالمين وصلَّى الله على محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين وسلَّم تسليمًا.Sumber: http://ferkous.com/home/?q=fatwa-1116Penerjemah: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id🔍 Ayat Alquran Tentang Bumi Datar, Hukum Menjual Rokok, Nama Nama Surga Allah, Keutamaan Di Bulan Ramadhan, Syahadat Yang Benar


Fatwa Syaikh Muhammad Ali FarkusSoal: Apa hukum menjadi pengajar atau da’i yang mengajarkan pelajaran agama yang pesertanya terdiri dari lelaki dan wanita, melalui media tulisan di internet?Jawab:الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدِّين، أمَّا بعدBerinteraksi, berkomunikasi verbal, berkomunikasi melalui tulisan ataupun verbal dan tulisan sekaligus, terhadap wanita ajnabiyah (non-mahram) itu merupakan bahaya yang besar dan nyata bagi agama dan kehormatan seorang lelaki, jika tidak dibarengi dengan aturan-aturan yang membuatnya aman dari fitnah serta jika dilakukan dengan sering dan terus-menerus. Terdapat dalam hadits:مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ“tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku, fitnah (godaan) yang lebih besar bagi lelaki melainkan wanita” (HR. Bukhari no. 5096, Muslim no. 6740).Dan kita ketahui bersama bahwasanya hendaknya seorang lelaki ketika berinteraksi dengan wanita non mahram ia menjaga dirinya dengan adab-adab yang ketat dan hanya sebatas keperluan saja. Agar tidak muncul di hati sang lelaki suatu keterkaitan yang bisa tumbuh di dalam hati yang memiliki penyakit hati.Oleh karena itu, semua interaksi verbal atau tulisan antara lelaki dan wanita yang mengandung nada yang lembut, gaya bahasa yang gemulai, mendayu-dayu, juga yang penuh kekaguman, melucu, saling tertawa, interaksi yang terlalu akrab, canda ria, dan semacamnya yang menimbulkan bekas di hati dan dapat menimbulkan desiran-desiran syahwat, ini hukumnya terlarang dalam rangka menutup celah keburukan. Tidak termasuk di larangan ini, perkataan yang penuh wibawa dan adab serta perkataan yang ma’ruf. Bahkan nada yang lembut dan gaya bahasa yang gemulai tidak ragu lagi akan menyentuh hati dan memicu syahwat sehingga nantinya akan menimbulkan angan-angan serta munculnya syahwat, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.Allah Ta’ala berfirman:يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَعْرُوفًا“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik” (QS. Al Ahzab: 32).Ketika banyak wanita yang tidak berpegang pada adab-adab ini dan tidak mengindahkan batasan-batasan syariat dalam pembicaraan mereka atau tulisan-tulisan mereka, maka yang lebih selamat bagi para lelaki adalah meninggalkan interaksi dengan para wanita tersebut kecuali pada keperluan-keperluan yang mendesak dengan tetap menjaga aturan-aturan agama dengan syarat aman dari fitnah, serta dalam keperluan yang dibolehkan syariat. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ“Berhati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah dari wanita” (HR. Muslim no. 2742).والعلم عند الله تعالى، وآخر دعوانا أن الحمد لله ربِّ العالمين وصلَّى الله على محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين وسلَّم تسليمًا.Sumber: http://ferkous.com/home/?q=fatwa-1116Penerjemah: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id🔍 Ayat Alquran Tentang Bumi Datar, Hukum Menjual Rokok, Nama Nama Surga Allah, Keutamaan Di Bulan Ramadhan, Syahadat Yang Benar

Jalan Surga

Ibnul Qoyyim mengatakan,    إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَرَادَ بِعَبْدٍ خَيْرًا سَلَبَ رُؤْيَةَ أَعْمَالِهِ الْحَسَنَةِ مِنْ قَلْبِهِ وَالْإِِخْبَارَ بِهَا مِنْ لِسَانِهِ وَشَغَلَهُ بِرُؤْيَةِ ذَنْبِهِ فَلَا يَزَالُ نَصْبَ عَيْنَيْهِ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ “Jika Allah ingin memberikan kebaikan yang besar untuk seorang hamba, Allah buat hati orang tersebut tidak ingat dengan amal kebaikan yang pernah dilakukan ataupun menceritakannya kepada orang lain. Di samping itu Allah jadikan orang tersebut selalu ingat dengan dosa-dosanya. Dosa itu terpampang jelas di hadapannya sehingga orang tersebut akhirnya masuk surga.” (Thariq al-Hijratain 169-172) Ada dua langkah untuk meniti jalan surga. Menjaga kualitas keikhlasan dalam beramal shalih dengan melupakan amal kebajikan yang pernah dilakukan dan tidak menceritakan amal kebajikan  kepada publik lewat medsos ataupun sarana lainnya.  Senantiasa ingat  kekurangan dan maksiat diri sehingga tidak merasa lebih baik dari pada orang lain. Orang tersebut senantiasa terbayang-bayang dosanya sehingga punya nafas yang stabil untuk selalu memperbaiki kualitas diri. Pada akhirnya, buah ini semua adalah masuk surga Allah.  Memang surga itu di akhirat namun jalan menuju surga itu ada di dunia. Pilihan ada di hadapan kita masing-masing antara meniti jalan surga ataukah jalan neraka. Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini agar diberi kemudahan masuk surga tanpa mampir di neraka. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Jalan Surga

Ibnul Qoyyim mengatakan,    إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَرَادَ بِعَبْدٍ خَيْرًا سَلَبَ رُؤْيَةَ أَعْمَالِهِ الْحَسَنَةِ مِنْ قَلْبِهِ وَالْإِِخْبَارَ بِهَا مِنْ لِسَانِهِ وَشَغَلَهُ بِرُؤْيَةِ ذَنْبِهِ فَلَا يَزَالُ نَصْبَ عَيْنَيْهِ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ “Jika Allah ingin memberikan kebaikan yang besar untuk seorang hamba, Allah buat hati orang tersebut tidak ingat dengan amal kebaikan yang pernah dilakukan ataupun menceritakannya kepada orang lain. Di samping itu Allah jadikan orang tersebut selalu ingat dengan dosa-dosanya. Dosa itu terpampang jelas di hadapannya sehingga orang tersebut akhirnya masuk surga.” (Thariq al-Hijratain 169-172) Ada dua langkah untuk meniti jalan surga. Menjaga kualitas keikhlasan dalam beramal shalih dengan melupakan amal kebajikan yang pernah dilakukan dan tidak menceritakan amal kebajikan  kepada publik lewat medsos ataupun sarana lainnya.  Senantiasa ingat  kekurangan dan maksiat diri sehingga tidak merasa lebih baik dari pada orang lain. Orang tersebut senantiasa terbayang-bayang dosanya sehingga punya nafas yang stabil untuk selalu memperbaiki kualitas diri. Pada akhirnya, buah ini semua adalah masuk surga Allah.  Memang surga itu di akhirat namun jalan menuju surga itu ada di dunia. Pilihan ada di hadapan kita masing-masing antara meniti jalan surga ataukah jalan neraka. Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini agar diberi kemudahan masuk surga tanpa mampir di neraka. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Ibnul Qoyyim mengatakan,    إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَرَادَ بِعَبْدٍ خَيْرًا سَلَبَ رُؤْيَةَ أَعْمَالِهِ الْحَسَنَةِ مِنْ قَلْبِهِ وَالْإِِخْبَارَ بِهَا مِنْ لِسَانِهِ وَشَغَلَهُ بِرُؤْيَةِ ذَنْبِهِ فَلَا يَزَالُ نَصْبَ عَيْنَيْهِ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ “Jika Allah ingin memberikan kebaikan yang besar untuk seorang hamba, Allah buat hati orang tersebut tidak ingat dengan amal kebaikan yang pernah dilakukan ataupun menceritakannya kepada orang lain. Di samping itu Allah jadikan orang tersebut selalu ingat dengan dosa-dosanya. Dosa itu terpampang jelas di hadapannya sehingga orang tersebut akhirnya masuk surga.” (Thariq al-Hijratain 169-172) Ada dua langkah untuk meniti jalan surga. Menjaga kualitas keikhlasan dalam beramal shalih dengan melupakan amal kebajikan yang pernah dilakukan dan tidak menceritakan amal kebajikan  kepada publik lewat medsos ataupun sarana lainnya.  Senantiasa ingat  kekurangan dan maksiat diri sehingga tidak merasa lebih baik dari pada orang lain. Orang tersebut senantiasa terbayang-bayang dosanya sehingga punya nafas yang stabil untuk selalu memperbaiki kualitas diri. Pada akhirnya, buah ini semua adalah masuk surga Allah.  Memang surga itu di akhirat namun jalan menuju surga itu ada di dunia. Pilihan ada di hadapan kita masing-masing antara meniti jalan surga ataukah jalan neraka. Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini agar diberi kemudahan masuk surga tanpa mampir di neraka. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Ibnul Qoyyim mengatakan,    إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَرَادَ بِعَبْدٍ خَيْرًا سَلَبَ رُؤْيَةَ أَعْمَالِهِ الْحَسَنَةِ مِنْ قَلْبِهِ وَالْإِِخْبَارَ بِهَا مِنْ لِسَانِهِ وَشَغَلَهُ بِرُؤْيَةِ ذَنْبِهِ فَلَا يَزَالُ نَصْبَ عَيْنَيْهِ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ “Jika Allah ingin memberikan kebaikan yang besar untuk seorang hamba, Allah buat hati orang tersebut tidak ingat dengan amal kebaikan yang pernah dilakukan ataupun menceritakannya kepada orang lain. Di samping itu Allah jadikan orang tersebut selalu ingat dengan dosa-dosanya. Dosa itu terpampang jelas di hadapannya sehingga orang tersebut akhirnya masuk surga.” (Thariq al-Hijratain 169-172) Ada dua langkah untuk meniti jalan surga. Menjaga kualitas keikhlasan dalam beramal shalih dengan melupakan amal kebajikan yang pernah dilakukan dan tidak menceritakan amal kebajikan  kepada publik lewat medsos ataupun sarana lainnya.  Senantiasa ingat  kekurangan dan maksiat diri sehingga tidak merasa lebih baik dari pada orang lain. Orang tersebut senantiasa terbayang-bayang dosanya sehingga punya nafas yang stabil untuk selalu memperbaiki kualitas diri. Pada akhirnya, buah ini semua adalah masuk surga Allah.  Memang surga itu di akhirat namun jalan menuju surga itu ada di dunia. Pilihan ada di hadapan kita masing-masing antara meniti jalan surga ataukah jalan neraka. Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini agar diberi kemudahan masuk surga tanpa mampir di neraka. Aamiin.  Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Istri yang Pedas Lisannya: Ujian Para Kekasih Allah

Abu Hamid al-Ghazali mengatakan: فَإِنَْهَا إِذَا كَانَتْ سَلِيْطَةً بَذِيْئَةَ اللِّسَانِ سَيَّةَ الْخُلُقِ كَافِرَةً لِلنِّعَمِ كَانَ الضَّرَرُ مِنْهَا أَكْثَرُ مِنَ النَّفْعُ وَالصَّبْرُ عَلَى لِسَانِ النِّسَاءِ مِمَّا يُمْتَحَنُ بِهِ الْأَوْلِيَاءُ “Jika isteri itu lisannya pedas, kosa katanya jelek, buruk perangainya dan suka lupa kebaikan suami, dampak buruk menikahinya itu lebih besar dibandingkan manfaatnya. Bersabar menghadapi jeleknya lisan perempuan adalah ujian yang jamak dirasakan oleh para kekasih Allah.” (Ihya’ Ulumuddin 2/44, Dar al-Fikr) Tidak semua orang itu mendapatkan bahagia dengan berumah tangga. Salah pilih pasangan sehingga mendapatkan yang jelek akhlak dan perangai menyebabkan menikah lebih menderita dibandingkan sebelum menikah. Jangan jadikan menikah itu segalanya dalam hidup ini.  Yang paling “bengkok” dari perempuan adalah lisan dan kata-katanya.  Para kekasih Allah, lelaki yang paling baik adalah orang yang paling semangat berbuat baik isterinya.  Karenanya ketika lisan isteri sedang “bengkok” sering kali para kekasih Allah ini lebih memilih untuk diam dari pada melayani isteri pedas menusuk kata-katanya.  Karena mengalah itu bukan berarti kalah. Semoga Allah Ta’ala memberikan kebahagiaan hidup berumah tangga untuk semua orang yang membaca dan menshare pesan ini. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Istri yang Pedas Lisannya: Ujian Para Kekasih Allah

Abu Hamid al-Ghazali mengatakan: فَإِنَْهَا إِذَا كَانَتْ سَلِيْطَةً بَذِيْئَةَ اللِّسَانِ سَيَّةَ الْخُلُقِ كَافِرَةً لِلنِّعَمِ كَانَ الضَّرَرُ مِنْهَا أَكْثَرُ مِنَ النَّفْعُ وَالصَّبْرُ عَلَى لِسَانِ النِّسَاءِ مِمَّا يُمْتَحَنُ بِهِ الْأَوْلِيَاءُ “Jika isteri itu lisannya pedas, kosa katanya jelek, buruk perangainya dan suka lupa kebaikan suami, dampak buruk menikahinya itu lebih besar dibandingkan manfaatnya. Bersabar menghadapi jeleknya lisan perempuan adalah ujian yang jamak dirasakan oleh para kekasih Allah.” (Ihya’ Ulumuddin 2/44, Dar al-Fikr) Tidak semua orang itu mendapatkan bahagia dengan berumah tangga. Salah pilih pasangan sehingga mendapatkan yang jelek akhlak dan perangai menyebabkan menikah lebih menderita dibandingkan sebelum menikah. Jangan jadikan menikah itu segalanya dalam hidup ini.  Yang paling “bengkok” dari perempuan adalah lisan dan kata-katanya.  Para kekasih Allah, lelaki yang paling baik adalah orang yang paling semangat berbuat baik isterinya.  Karenanya ketika lisan isteri sedang “bengkok” sering kali para kekasih Allah ini lebih memilih untuk diam dari pada melayani isteri pedas menusuk kata-katanya.  Karena mengalah itu bukan berarti kalah. Semoga Allah Ta’ala memberikan kebahagiaan hidup berumah tangga untuk semua orang yang membaca dan menshare pesan ini. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.
Abu Hamid al-Ghazali mengatakan: فَإِنَْهَا إِذَا كَانَتْ سَلِيْطَةً بَذِيْئَةَ اللِّسَانِ سَيَّةَ الْخُلُقِ كَافِرَةً لِلنِّعَمِ كَانَ الضَّرَرُ مِنْهَا أَكْثَرُ مِنَ النَّفْعُ وَالصَّبْرُ عَلَى لِسَانِ النِّسَاءِ مِمَّا يُمْتَحَنُ بِهِ الْأَوْلِيَاءُ “Jika isteri itu lisannya pedas, kosa katanya jelek, buruk perangainya dan suka lupa kebaikan suami, dampak buruk menikahinya itu lebih besar dibandingkan manfaatnya. Bersabar menghadapi jeleknya lisan perempuan adalah ujian yang jamak dirasakan oleh para kekasih Allah.” (Ihya’ Ulumuddin 2/44, Dar al-Fikr) Tidak semua orang itu mendapatkan bahagia dengan berumah tangga. Salah pilih pasangan sehingga mendapatkan yang jelek akhlak dan perangai menyebabkan menikah lebih menderita dibandingkan sebelum menikah. Jangan jadikan menikah itu segalanya dalam hidup ini.  Yang paling “bengkok” dari perempuan adalah lisan dan kata-katanya.  Para kekasih Allah, lelaki yang paling baik adalah orang yang paling semangat berbuat baik isterinya.  Karenanya ketika lisan isteri sedang “bengkok” sering kali para kekasih Allah ini lebih memilih untuk diam dari pada melayani isteri pedas menusuk kata-katanya.  Karena mengalah itu bukan berarti kalah. Semoga Allah Ta’ala memberikan kebahagiaan hidup berumah tangga untuk semua orang yang membaca dan menshare pesan ini. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.


Abu Hamid al-Ghazali mengatakan: فَإِنَْهَا إِذَا كَانَتْ سَلِيْطَةً بَذِيْئَةَ اللِّسَانِ سَيَّةَ الْخُلُقِ كَافِرَةً لِلنِّعَمِ كَانَ الضَّرَرُ مِنْهَا أَكْثَرُ مِنَ النَّفْعُ وَالصَّبْرُ عَلَى لِسَانِ النِّسَاءِ مِمَّا يُمْتَحَنُ بِهِ الْأَوْلِيَاءُ “Jika isteri itu lisannya pedas, kosa katanya jelek, buruk perangainya dan suka lupa kebaikan suami, dampak buruk menikahinya itu lebih besar dibandingkan manfaatnya. Bersabar menghadapi jeleknya lisan perempuan adalah ujian yang jamak dirasakan oleh para kekasih Allah.” (Ihya’ Ulumuddin 2/44, Dar al-Fikr) Tidak semua orang itu mendapatkan bahagia dengan berumah tangga. Salah pilih pasangan sehingga mendapatkan yang jelek akhlak dan perangai menyebabkan menikah lebih menderita dibandingkan sebelum menikah. Jangan jadikan menikah itu segalanya dalam hidup ini.  Yang paling “bengkok” dari perempuan adalah lisan dan kata-katanya.  Para kekasih Allah, lelaki yang paling baik adalah orang yang paling semangat berbuat baik isterinya.  Karenanya ketika lisan isteri sedang “bengkok” sering kali para kekasih Allah ini lebih memilih untuk diam dari pada melayani isteri pedas menusuk kata-katanya.  Karena mengalah itu bukan berarti kalah. Semoga Allah Ta’ala memberikan kebahagiaan hidup berumah tangga untuk semua orang yang membaca dan menshare pesan ini. Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Al-Hisab – Serial Menuju Akhirat #7

Wallpaper TImbanganAl-HisabOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja. Lc, MA.Hisab kalau kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bisa berarti audit. Hanya saja dalam hal ini yang diperiksa adalah amalan seseorang untuk dikasifikasikan yang mana amal salih dan mana amal buruk (maksiat). Kata para ulama hisab terbagi menjadi dua yaitu,  hisab yasir dan munaqasyah. Orang-orang beriman pada hari kiamat akan dihisab dengan hisaban yasir (hisab yang ringan). Maksudnya adalah seseorang akan dihisab oleh Allah secara rahasia, yaitu berdua dengan Allah dan tidak ditampakkan di hadapan orang lain. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar bahwa ada seseorang bertanya kepadanya dengan mengatakan,كَيْفَ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي النَّجْوَى؟ فَقَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي المُؤْمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ، فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا، أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ أَيْ رَبِّ، حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ، وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ اليَوْمَ} صحيح البخاري (3/ 128{(“Bagaimana kamu mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata tentang An-Najwaa (pembicaraan rahasia antara Allah dengan hambaNya pada hari kiamat)?” Maka dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesunggunnya Allah pada hari kiamat akan akan mendekatkan orang beriman kepadaNya. Kemudian Allah meletakkan naunganNya di atasnya sehingga mentupinya, lalu Allah berfirman: “Apakah kamu mengenal dosamu yang begini? apakah kamu mengenal dosamu yang begini?” Orang beriman itu berkata: “Ya, wahai Tuhanku”. Hingga ketika sudah diakui dosa-dosanya dan dia melihat bahwa dirinya akan celaka, Allah berfirman: “Aku telah merahasiakannya bagimu di dunia dan Aku mengampuninya buatmu hari ini“. (HR. Bukhari 3/128 no. 2441)Pada saat menghisab orang-orang beriman, Allah ﷻ tidak menghisab mereka dengan hisab yang panjang. Bahkan Allah tidak menampakkan dosanya-dosanya melainkan hanya sebagian saja. Hal ini dikarenakan agar seorang hamba tahu betapa Allah sangat menyayangi hamba-hambanya. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita semua hisaban yasir.Adapun jenis hisab yang kedua adalah munaqasyah. Hisab munaqasayah adalah perhitungan secara menyeluruh dan secara detail baik kecil maupun besar, dan membedakan antara kebaikan dan keburukan. Hisab munaqasyah akan diberikan oleh Allah ﷻ kepada orang-orang yang akan binasa. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,مَنْ حُوسِبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، عُذِّبَ. فَقُلْتُ: أَلَيْسَ قَدْ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا} [الانشقاق: 8]؟ فَقَالَ: لَيْسَ ذَاكِ الْحِسَابُ، إِنَّمَا ذَاكِ الْعَرْضُ، مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عُذِّبَ.} صحيح مسلم (4/ 2204{(“Barangsiapa dihisab pada hari kiamat, ia disiksa.” Aku (‘Aisyah) berkata: Bukankah Allah ‘azza wajalla telah berfirman: “Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” (QS. Al-Insyiqaaq: 8) beliau menjawab: “Itu bukan hisab, itu hanya pemaparan. Barangsiapa dimunaqasyah (dihisab) saat penghisaban pada hari kiamat, ia disiksa.” (HR. Muslim 4/2204 no. 2876)Orang yang diperiksa oleh Allah dengan hisab munaqasyah akan merasa tersiksa dengan pemeriksaan tersebut. Karena orang-orang yang dihisab munaqasyah akan dihisab didepan banyak orang, sehingga dia akan merasa malu dengan dosa-dosanya. Kemudian yang lebih menyiksa dirinya adalah dia akan dimasukkan ke dalam neraka.Setelah proses hisab dilakukan, maka kemudian ada yang namanya penerimaan catatan amal. Maka pada saat itu berdatanganlah catatan amal seseorang selama di dunia. Orang-orang akan menerima catatan amalnya pada hari kiamat dengan tangan kanannya, dan ada pula orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kirinya. Orang-orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanannya, maka mereka adalah orang-orang yang berbahagia. Allah ﷻ berfirman,فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ (19)“Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: “Ambillah, bacalah kitabku (ini)“. (QS. Al-Haqqah : 19)Orang-orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanannya akan berbangga pada hari kiamat dengan isi catatannya yang bergitu indah. Sehingga dia mengatakan kepada manusia untuk membaca isi catatan amalnya. Dan memang pantas bagi orang-orang seperti itu berbangga pada hari itu. Karena selama di dunia mereka yakin bahwa mereka akan bertemu dengan Allah, sehingga mereka mempersiapkan dirinya ketika di dunia. Sehingga mereka mengatakan,إِنِّي ظَنَنْتُ أَنِّي مُلَاقٍ حِسَابِيَهْ (20)“Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku.” (QS. Al-Haqqah : 20)Maka Allah berfirman tentang mereka,فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ (21) فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ (22) قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ (23) كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ (24)“Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu“. (QS. Al-Haqqah 21-24)Adapun orang-orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kirinya, Allah ﷻ berfirman,وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَالَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ (25) وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ (26) يَالَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ (27) مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ (28) هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ (29) خُذُوهُ فَغُلُّوهُ (30) ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ (31)“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku daripadaku”. (Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Haqqah 25-31)Dalam ayat yang lain Allah ﷻ mengatakan,وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ (10) فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا (11) وَيَصْلَى سَعِيرًا (12) إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا (13) إِنَّهُ ظَنَّ أَنْ لَنْ يَحُورَ (14)“Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (QS. Al-Insyiqaq : 10-14)Ada khilaf di kalangan para ulama tentang bagaimana cara orang-orang yang menerima catatan amalnya dari belakang. Intinya adalah dia akan menerima dengan tangan kirinya, kemudian dia akan mencela dan menyesali dirinya. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang lupa bahwa hidupnya hanya sebentar, dia menyangka bahwa dia tidak akan kembali kepada Allah sehingga hidunya di dunia hanya bersenang-senang. Sungguh celakalah orang-orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kirinya.Setelah mereka semua telah diberikan catatan amalnya, maka Allah akan berfirman kepada mereka,اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا (14)“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu“. (QS. Al-Isra’ : 14)Maka pada hari itu semua catatan amal akan terbuka. Bahkan ketika orang-orang tidak ingin membuka catatan mereka, tetap akan terbuka catatan amal tersebut. maka jadilah orang kafir dan pelaku maksiat menjadi orang yang sangat menyesal pada hari itu. Allah ﷻ berfirman,وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَاوَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا (49)“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya”, dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorangpun“. (QS. Al-Kahfi ” 49)Wallahu a’lam.Artikel ini serial penggalan dari Ebook – Perjalanan Setelah Kematian (DOWNLOAD PDF)

Al-Hisab – Serial Menuju Akhirat #7

Wallpaper TImbanganAl-HisabOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja. Lc, MA.Hisab kalau kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bisa berarti audit. Hanya saja dalam hal ini yang diperiksa adalah amalan seseorang untuk dikasifikasikan yang mana amal salih dan mana amal buruk (maksiat). Kata para ulama hisab terbagi menjadi dua yaitu,  hisab yasir dan munaqasyah. Orang-orang beriman pada hari kiamat akan dihisab dengan hisaban yasir (hisab yang ringan). Maksudnya adalah seseorang akan dihisab oleh Allah secara rahasia, yaitu berdua dengan Allah dan tidak ditampakkan di hadapan orang lain. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar bahwa ada seseorang bertanya kepadanya dengan mengatakan,كَيْفَ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي النَّجْوَى؟ فَقَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي المُؤْمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ، فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا، أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ أَيْ رَبِّ، حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ، وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ اليَوْمَ} صحيح البخاري (3/ 128{(“Bagaimana kamu mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata tentang An-Najwaa (pembicaraan rahasia antara Allah dengan hambaNya pada hari kiamat)?” Maka dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesunggunnya Allah pada hari kiamat akan akan mendekatkan orang beriman kepadaNya. Kemudian Allah meletakkan naunganNya di atasnya sehingga mentupinya, lalu Allah berfirman: “Apakah kamu mengenal dosamu yang begini? apakah kamu mengenal dosamu yang begini?” Orang beriman itu berkata: “Ya, wahai Tuhanku”. Hingga ketika sudah diakui dosa-dosanya dan dia melihat bahwa dirinya akan celaka, Allah berfirman: “Aku telah merahasiakannya bagimu di dunia dan Aku mengampuninya buatmu hari ini“. (HR. Bukhari 3/128 no. 2441)Pada saat menghisab orang-orang beriman, Allah ﷻ tidak menghisab mereka dengan hisab yang panjang. Bahkan Allah tidak menampakkan dosanya-dosanya melainkan hanya sebagian saja. Hal ini dikarenakan agar seorang hamba tahu betapa Allah sangat menyayangi hamba-hambanya. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita semua hisaban yasir.Adapun jenis hisab yang kedua adalah munaqasyah. Hisab munaqasayah adalah perhitungan secara menyeluruh dan secara detail baik kecil maupun besar, dan membedakan antara kebaikan dan keburukan. Hisab munaqasyah akan diberikan oleh Allah ﷻ kepada orang-orang yang akan binasa. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,مَنْ حُوسِبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، عُذِّبَ. فَقُلْتُ: أَلَيْسَ قَدْ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا} [الانشقاق: 8]؟ فَقَالَ: لَيْسَ ذَاكِ الْحِسَابُ، إِنَّمَا ذَاكِ الْعَرْضُ، مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عُذِّبَ.} صحيح مسلم (4/ 2204{(“Barangsiapa dihisab pada hari kiamat, ia disiksa.” Aku (‘Aisyah) berkata: Bukankah Allah ‘azza wajalla telah berfirman: “Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” (QS. Al-Insyiqaaq: 8) beliau menjawab: “Itu bukan hisab, itu hanya pemaparan. Barangsiapa dimunaqasyah (dihisab) saat penghisaban pada hari kiamat, ia disiksa.” (HR. Muslim 4/2204 no. 2876)Orang yang diperiksa oleh Allah dengan hisab munaqasyah akan merasa tersiksa dengan pemeriksaan tersebut. Karena orang-orang yang dihisab munaqasyah akan dihisab didepan banyak orang, sehingga dia akan merasa malu dengan dosa-dosanya. Kemudian yang lebih menyiksa dirinya adalah dia akan dimasukkan ke dalam neraka.Setelah proses hisab dilakukan, maka kemudian ada yang namanya penerimaan catatan amal. Maka pada saat itu berdatanganlah catatan amal seseorang selama di dunia. Orang-orang akan menerima catatan amalnya pada hari kiamat dengan tangan kanannya, dan ada pula orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kirinya. Orang-orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanannya, maka mereka adalah orang-orang yang berbahagia. Allah ﷻ berfirman,فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ (19)“Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: “Ambillah, bacalah kitabku (ini)“. (QS. Al-Haqqah : 19)Orang-orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanannya akan berbangga pada hari kiamat dengan isi catatannya yang bergitu indah. Sehingga dia mengatakan kepada manusia untuk membaca isi catatan amalnya. Dan memang pantas bagi orang-orang seperti itu berbangga pada hari itu. Karena selama di dunia mereka yakin bahwa mereka akan bertemu dengan Allah, sehingga mereka mempersiapkan dirinya ketika di dunia. Sehingga mereka mengatakan,إِنِّي ظَنَنْتُ أَنِّي مُلَاقٍ حِسَابِيَهْ (20)“Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku.” (QS. Al-Haqqah : 20)Maka Allah berfirman tentang mereka,فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ (21) فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ (22) قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ (23) كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ (24)“Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu“. (QS. Al-Haqqah 21-24)Adapun orang-orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kirinya, Allah ﷻ berfirman,وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَالَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ (25) وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ (26) يَالَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ (27) مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ (28) هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ (29) خُذُوهُ فَغُلُّوهُ (30) ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ (31)“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku daripadaku”. (Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Haqqah 25-31)Dalam ayat yang lain Allah ﷻ mengatakan,وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ (10) فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا (11) وَيَصْلَى سَعِيرًا (12) إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا (13) إِنَّهُ ظَنَّ أَنْ لَنْ يَحُورَ (14)“Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (QS. Al-Insyiqaq : 10-14)Ada khilaf di kalangan para ulama tentang bagaimana cara orang-orang yang menerima catatan amalnya dari belakang. Intinya adalah dia akan menerima dengan tangan kirinya, kemudian dia akan mencela dan menyesali dirinya. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang lupa bahwa hidupnya hanya sebentar, dia menyangka bahwa dia tidak akan kembali kepada Allah sehingga hidunya di dunia hanya bersenang-senang. Sungguh celakalah orang-orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kirinya.Setelah mereka semua telah diberikan catatan amalnya, maka Allah akan berfirman kepada mereka,اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا (14)“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu“. (QS. Al-Isra’ : 14)Maka pada hari itu semua catatan amal akan terbuka. Bahkan ketika orang-orang tidak ingin membuka catatan mereka, tetap akan terbuka catatan amal tersebut. maka jadilah orang kafir dan pelaku maksiat menjadi orang yang sangat menyesal pada hari itu. Allah ﷻ berfirman,وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَاوَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا (49)“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya”, dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorangpun“. (QS. Al-Kahfi ” 49)Wallahu a’lam.Artikel ini serial penggalan dari Ebook – Perjalanan Setelah Kematian (DOWNLOAD PDF)
Wallpaper TImbanganAl-HisabOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja. Lc, MA.Hisab kalau kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bisa berarti audit. Hanya saja dalam hal ini yang diperiksa adalah amalan seseorang untuk dikasifikasikan yang mana amal salih dan mana amal buruk (maksiat). Kata para ulama hisab terbagi menjadi dua yaitu,  hisab yasir dan munaqasyah. Orang-orang beriman pada hari kiamat akan dihisab dengan hisaban yasir (hisab yang ringan). Maksudnya adalah seseorang akan dihisab oleh Allah secara rahasia, yaitu berdua dengan Allah dan tidak ditampakkan di hadapan orang lain. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar bahwa ada seseorang bertanya kepadanya dengan mengatakan,كَيْفَ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي النَّجْوَى؟ فَقَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي المُؤْمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ، فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا، أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ أَيْ رَبِّ، حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ، وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ اليَوْمَ} صحيح البخاري (3/ 128{(“Bagaimana kamu mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata tentang An-Najwaa (pembicaraan rahasia antara Allah dengan hambaNya pada hari kiamat)?” Maka dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesunggunnya Allah pada hari kiamat akan akan mendekatkan orang beriman kepadaNya. Kemudian Allah meletakkan naunganNya di atasnya sehingga mentupinya, lalu Allah berfirman: “Apakah kamu mengenal dosamu yang begini? apakah kamu mengenal dosamu yang begini?” Orang beriman itu berkata: “Ya, wahai Tuhanku”. Hingga ketika sudah diakui dosa-dosanya dan dia melihat bahwa dirinya akan celaka, Allah berfirman: “Aku telah merahasiakannya bagimu di dunia dan Aku mengampuninya buatmu hari ini“. (HR. Bukhari 3/128 no. 2441)Pada saat menghisab orang-orang beriman, Allah ﷻ tidak menghisab mereka dengan hisab yang panjang. Bahkan Allah tidak menampakkan dosanya-dosanya melainkan hanya sebagian saja. Hal ini dikarenakan agar seorang hamba tahu betapa Allah sangat menyayangi hamba-hambanya. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita semua hisaban yasir.Adapun jenis hisab yang kedua adalah munaqasyah. Hisab munaqasayah adalah perhitungan secara menyeluruh dan secara detail baik kecil maupun besar, dan membedakan antara kebaikan dan keburukan. Hisab munaqasyah akan diberikan oleh Allah ﷻ kepada orang-orang yang akan binasa. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,مَنْ حُوسِبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، عُذِّبَ. فَقُلْتُ: أَلَيْسَ قَدْ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا} [الانشقاق: 8]؟ فَقَالَ: لَيْسَ ذَاكِ الْحِسَابُ، إِنَّمَا ذَاكِ الْعَرْضُ، مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عُذِّبَ.} صحيح مسلم (4/ 2204{(“Barangsiapa dihisab pada hari kiamat, ia disiksa.” Aku (‘Aisyah) berkata: Bukankah Allah ‘azza wajalla telah berfirman: “Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” (QS. Al-Insyiqaaq: 8) beliau menjawab: “Itu bukan hisab, itu hanya pemaparan. Barangsiapa dimunaqasyah (dihisab) saat penghisaban pada hari kiamat, ia disiksa.” (HR. Muslim 4/2204 no. 2876)Orang yang diperiksa oleh Allah dengan hisab munaqasyah akan merasa tersiksa dengan pemeriksaan tersebut. Karena orang-orang yang dihisab munaqasyah akan dihisab didepan banyak orang, sehingga dia akan merasa malu dengan dosa-dosanya. Kemudian yang lebih menyiksa dirinya adalah dia akan dimasukkan ke dalam neraka.Setelah proses hisab dilakukan, maka kemudian ada yang namanya penerimaan catatan amal. Maka pada saat itu berdatanganlah catatan amal seseorang selama di dunia. Orang-orang akan menerima catatan amalnya pada hari kiamat dengan tangan kanannya, dan ada pula orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kirinya. Orang-orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanannya, maka mereka adalah orang-orang yang berbahagia. Allah ﷻ berfirman,فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ (19)“Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: “Ambillah, bacalah kitabku (ini)“. (QS. Al-Haqqah : 19)Orang-orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanannya akan berbangga pada hari kiamat dengan isi catatannya yang bergitu indah. Sehingga dia mengatakan kepada manusia untuk membaca isi catatan amalnya. Dan memang pantas bagi orang-orang seperti itu berbangga pada hari itu. Karena selama di dunia mereka yakin bahwa mereka akan bertemu dengan Allah, sehingga mereka mempersiapkan dirinya ketika di dunia. Sehingga mereka mengatakan,إِنِّي ظَنَنْتُ أَنِّي مُلَاقٍ حِسَابِيَهْ (20)“Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku.” (QS. Al-Haqqah : 20)Maka Allah berfirman tentang mereka,فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ (21) فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ (22) قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ (23) كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ (24)“Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu“. (QS. Al-Haqqah 21-24)Adapun orang-orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kirinya, Allah ﷻ berfirman,وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَالَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ (25) وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ (26) يَالَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ (27) مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ (28) هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ (29) خُذُوهُ فَغُلُّوهُ (30) ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ (31)“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku daripadaku”. (Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Haqqah 25-31)Dalam ayat yang lain Allah ﷻ mengatakan,وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ (10) فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا (11) وَيَصْلَى سَعِيرًا (12) إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا (13) إِنَّهُ ظَنَّ أَنْ لَنْ يَحُورَ (14)“Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (QS. Al-Insyiqaq : 10-14)Ada khilaf di kalangan para ulama tentang bagaimana cara orang-orang yang menerima catatan amalnya dari belakang. Intinya adalah dia akan menerima dengan tangan kirinya, kemudian dia akan mencela dan menyesali dirinya. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang lupa bahwa hidupnya hanya sebentar, dia menyangka bahwa dia tidak akan kembali kepada Allah sehingga hidunya di dunia hanya bersenang-senang. Sungguh celakalah orang-orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kirinya.Setelah mereka semua telah diberikan catatan amalnya, maka Allah akan berfirman kepada mereka,اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا (14)“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu“. (QS. Al-Isra’ : 14)Maka pada hari itu semua catatan amal akan terbuka. Bahkan ketika orang-orang tidak ingin membuka catatan mereka, tetap akan terbuka catatan amal tersebut. maka jadilah orang kafir dan pelaku maksiat menjadi orang yang sangat menyesal pada hari itu. Allah ﷻ berfirman,وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَاوَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا (49)“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya”, dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorangpun“. (QS. Al-Kahfi ” 49)Wallahu a’lam.Artikel ini serial penggalan dari Ebook – Perjalanan Setelah Kematian (DOWNLOAD PDF)


Wallpaper TImbanganAl-HisabOleh: Ustadz DR. Firanda Andirja. Lc, MA.Hisab kalau kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bisa berarti audit. Hanya saja dalam hal ini yang diperiksa adalah amalan seseorang untuk dikasifikasikan yang mana amal salih dan mana amal buruk (maksiat). Kata para ulama hisab terbagi menjadi dua yaitu,  hisab yasir dan munaqasyah. Orang-orang beriman pada hari kiamat akan dihisab dengan hisaban yasir (hisab yang ringan). Maksudnya adalah seseorang akan dihisab oleh Allah secara rahasia, yaitu berdua dengan Allah dan tidak ditampakkan di hadapan orang lain. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar bahwa ada seseorang bertanya kepadanya dengan mengatakan,كَيْفَ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي النَّجْوَى؟ فَقَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي المُؤْمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ، فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا، أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ أَيْ رَبِّ، حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ، وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ اليَوْمَ} صحيح البخاري (3/ 128{(“Bagaimana kamu mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata tentang An-Najwaa (pembicaraan rahasia antara Allah dengan hambaNya pada hari kiamat)?” Maka dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesunggunnya Allah pada hari kiamat akan akan mendekatkan orang beriman kepadaNya. Kemudian Allah meletakkan naunganNya di atasnya sehingga mentupinya, lalu Allah berfirman: “Apakah kamu mengenal dosamu yang begini? apakah kamu mengenal dosamu yang begini?” Orang beriman itu berkata: “Ya, wahai Tuhanku”. Hingga ketika sudah diakui dosa-dosanya dan dia melihat bahwa dirinya akan celaka, Allah berfirman: “Aku telah merahasiakannya bagimu di dunia dan Aku mengampuninya buatmu hari ini“. (HR. Bukhari 3/128 no. 2441)Pada saat menghisab orang-orang beriman, Allah ﷻ tidak menghisab mereka dengan hisab yang panjang. Bahkan Allah tidak menampakkan dosanya-dosanya melainkan hanya sebagian saja. Hal ini dikarenakan agar seorang hamba tahu betapa Allah sangat menyayangi hamba-hambanya. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita semua hisaban yasir.Adapun jenis hisab yang kedua adalah munaqasyah. Hisab munaqasayah adalah perhitungan secara menyeluruh dan secara detail baik kecil maupun besar, dan membedakan antara kebaikan dan keburukan. Hisab munaqasyah akan diberikan oleh Allah ﷻ kepada orang-orang yang akan binasa. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,مَنْ حُوسِبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، عُذِّبَ. فَقُلْتُ: أَلَيْسَ قَدْ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا} [الانشقاق: 8]؟ فَقَالَ: لَيْسَ ذَاكِ الْحِسَابُ، إِنَّمَا ذَاكِ الْعَرْضُ، مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عُذِّبَ.} صحيح مسلم (4/ 2204{(“Barangsiapa dihisab pada hari kiamat, ia disiksa.” Aku (‘Aisyah) berkata: Bukankah Allah ‘azza wajalla telah berfirman: “Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” (QS. Al-Insyiqaaq: 8) beliau menjawab: “Itu bukan hisab, itu hanya pemaparan. Barangsiapa dimunaqasyah (dihisab) saat penghisaban pada hari kiamat, ia disiksa.” (HR. Muslim 4/2204 no. 2876)Orang yang diperiksa oleh Allah dengan hisab munaqasyah akan merasa tersiksa dengan pemeriksaan tersebut. Karena orang-orang yang dihisab munaqasyah akan dihisab didepan banyak orang, sehingga dia akan merasa malu dengan dosa-dosanya. Kemudian yang lebih menyiksa dirinya adalah dia akan dimasukkan ke dalam neraka.Setelah proses hisab dilakukan, maka kemudian ada yang namanya penerimaan catatan amal. Maka pada saat itu berdatanganlah catatan amal seseorang selama di dunia. Orang-orang akan menerima catatan amalnya pada hari kiamat dengan tangan kanannya, dan ada pula orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kirinya. Orang-orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanannya, maka mereka adalah orang-orang yang berbahagia. Allah ﷻ berfirman,فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ (19)“Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: “Ambillah, bacalah kitabku (ini)“. (QS. Al-Haqqah : 19)Orang-orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanannya akan berbangga pada hari kiamat dengan isi catatannya yang bergitu indah. Sehingga dia mengatakan kepada manusia untuk membaca isi catatan amalnya. Dan memang pantas bagi orang-orang seperti itu berbangga pada hari itu. Karena selama di dunia mereka yakin bahwa mereka akan bertemu dengan Allah, sehingga mereka mempersiapkan dirinya ketika di dunia. Sehingga mereka mengatakan,إِنِّي ظَنَنْتُ أَنِّي مُلَاقٍ حِسَابِيَهْ (20)“Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku.” (QS. Al-Haqqah : 20)Maka Allah berfirman tentang mereka,فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ (21) فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ (22) قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ (23) كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ (24)“Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu“. (QS. Al-Haqqah 21-24)Adapun orang-orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kirinya, Allah ﷻ berfirman,وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَالَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ (25) وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ (26) يَالَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ (27) مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ (28) هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ (29) خُذُوهُ فَغُلُّوهُ (30) ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ (31)“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku daripadaku”. (Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Haqqah 25-31)Dalam ayat yang lain Allah ﷻ mengatakan,وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ (10) فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا (11) وَيَصْلَى سَعِيرًا (12) إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا (13) إِنَّهُ ظَنَّ أَنْ لَنْ يَحُورَ (14)“Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (QS. Al-Insyiqaq : 10-14)Ada khilaf di kalangan para ulama tentang bagaimana cara orang-orang yang menerima catatan amalnya dari belakang. Intinya adalah dia akan menerima dengan tangan kirinya, kemudian dia akan mencela dan menyesali dirinya. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang lupa bahwa hidupnya hanya sebentar, dia menyangka bahwa dia tidak akan kembali kepada Allah sehingga hidunya di dunia hanya bersenang-senang. Sungguh celakalah orang-orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kirinya.Setelah mereka semua telah diberikan catatan amalnya, maka Allah akan berfirman kepada mereka,اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا (14)“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu“. (QS. Al-Isra’ : 14)Maka pada hari itu semua catatan amal akan terbuka. Bahkan ketika orang-orang tidak ingin membuka catatan mereka, tetap akan terbuka catatan amal tersebut. maka jadilah orang kafir dan pelaku maksiat menjadi orang yang sangat menyesal pada hari itu. Allah ﷻ berfirman,وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَاوَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا (49)“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya”, dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorangpun“. (QS. Al-Kahfi ” 49)Wallahu a’lam.Artikel ini serial penggalan dari Ebook – Perjalanan Setelah Kematian (DOWNLOAD PDF)
Prev     Next