Saudara-Saudara Nabi Yusuf Bukanlah Nabi

Fatwa Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad hafizhahullah Ta’ala [1]Pertanyaan: Apakah saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihis salaam adalah para Nabi?Jawaban: الإجابة: نص الإجابة: ليسوا بأنبياء، وقد ذكر ذلك ابن كثير وغيره، ومعلوم أن الصفات التي ذكرها الله عنهم في القرآن تدل على أنهم ليسوا بأنبياءMereka bukanlah Nabi. Ibnu Katsir [2] dan ulama lain Rahimahumullah telah menyebutkan perkara ini. Telah diketahui bersama bahwa sifat-sifat mereka yang telah difirmankan Allah Ta’ala menunjukkan bahwa mereka bukanlah Nabi.Baca Juga:[Selesai]Sumber: http://iswy.co/e42lsPenerjemah: Muhammad Fadhli, ST.Artikel: www.muslim.or.id_________________________Catatan kaki:[1] Beliau adalah seorang ahli hadis, ahli fikih, pengajar di masjid Nabawi asy-Syarif. Beliau juga rektor Universitas Islam Madinah periode 1384-1399 H.[2] Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan,وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَمْ يَقُمْ دَلِيلٌ عَلَى نُبُوَّةِ إِخْوَةِ يُوسُفَ، وَظَاهِرُ هَذَا السِّيَاقِ يَدُلُّ عَلَى خِلَافِ ذَلِكَ، وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَزْعُمُ أَنَّهُمْ أُوحِيَ إِلَيْهِمْ بَعْدَ ذَلِكَ، وَفِي هَذَا نَظَرٌ. وَيَحْتَاجُ مُدّعي ذَلِكَ إِلَى دَلِيلٍ، وَلَمْ يَذْكُرُوا سوَى قَوْلِهِ تَعَالَى: {قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ} [الْبَقَرَةِ: 136] ، وَهَذَا فِيهِ احْتِمَالٌ؛ لِأَنَّ بُطُونَ بَنِي إِسْرَائِيلَ يُقَالُ لَهُمُ: الْأَسْبَاطُ، كَمَا يُقَالُ لِلْعَرَبِ: قَبَائِلُ، وَلِلْعَجَمِ: شُعُوبٌ؛ يَذْكُرُ تَعَالَى أَنَّهُ أَوْحَى إِلَى الْأَنْبِيَاءِ مِنْ أَسْبَاطِ بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَذَكَرَهُمْ إِجْمَالًا لِأَنَّهُمْ كَثِيرُونَ، وَلَكِنَّ كُلَّ سِبْطٍ مِنْ نَسْلِ رَجُلٍ مِنْ إِخْوَةِ يُوسُفَ، وَلَمْ يَقُمْ دَلِيلٌ عَلَى أَعْيَانِ هَؤُلَاءِ أَنَّهُمْ أُوحِيَ إِلَيْهِمْ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.“Ketauilah bahwa tidak ada satu dalil pun yang menunjukkan kenabian dari saudara-saudara laki-laki Nabi Yusuf Alaihissalam. Zahir dari rangkaian ayat-ayat ini (dalam surat Yusuf, red.) bahkan menunjukkan yang sebaliknya. Ada di antara ulama yang mengklaim bahwasanya mereka -para saudara laki-laki Nabi Yusuf Alaihissalam- diberi wahyu setelah itu. Pembawa argumen ini dituntut untuk mendatangkan dalil. Dan mereka tidaklah membawakan dalil kecuali firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Katakanlah, kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan Al-Ashbath” (QS. Al-Baqarah: 136).Terdapat beberapa probabilitas di sini. Karena suku-suku Bani Israil memang disebut dengan al-Ashbath. Sebagaimana suku-suku Arab disebut dengan al-Qaba’il (kabilah-kabilah). Dan di kalangan ‘ajam (non-Arab) disebut dengan syu’ub. Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Dia menurunkan wahyu kepada para Nabi dari al-Ashbath di kalangan Bani Israil. Maka di sini, Allah Ta’ala menyebutkannya secara umum saja. Dikarenakan jumlah al-Ashbath itu yang banyak. Dan setiap orang dari kalangan al-Ashbath itu memang termasuk saudara Nabi Yusuf Alaihissalam. Tapi tidak terdapat dalil yang menunjukkan bahwa setiap individu dari mereka diberi wahyu. Wallahu a’lam.” (Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 4: 327, Asy-Syamilah)🔍 Hadits Menundukkan Pandangan, Ilmu Dasar Islam, Wanita Sholikhah, Hadits Tentang Silaturahim, Dzikir Sore Sesuai Sunnah

Saudara-Saudara Nabi Yusuf Bukanlah Nabi

Fatwa Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad hafizhahullah Ta’ala [1]Pertanyaan: Apakah saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihis salaam adalah para Nabi?Jawaban: الإجابة: نص الإجابة: ليسوا بأنبياء، وقد ذكر ذلك ابن كثير وغيره، ومعلوم أن الصفات التي ذكرها الله عنهم في القرآن تدل على أنهم ليسوا بأنبياءMereka bukanlah Nabi. Ibnu Katsir [2] dan ulama lain Rahimahumullah telah menyebutkan perkara ini. Telah diketahui bersama bahwa sifat-sifat mereka yang telah difirmankan Allah Ta’ala menunjukkan bahwa mereka bukanlah Nabi.Baca Juga:[Selesai]Sumber: http://iswy.co/e42lsPenerjemah: Muhammad Fadhli, ST.Artikel: www.muslim.or.id_________________________Catatan kaki:[1] Beliau adalah seorang ahli hadis, ahli fikih, pengajar di masjid Nabawi asy-Syarif. Beliau juga rektor Universitas Islam Madinah periode 1384-1399 H.[2] Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan,وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَمْ يَقُمْ دَلِيلٌ عَلَى نُبُوَّةِ إِخْوَةِ يُوسُفَ، وَظَاهِرُ هَذَا السِّيَاقِ يَدُلُّ عَلَى خِلَافِ ذَلِكَ، وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَزْعُمُ أَنَّهُمْ أُوحِيَ إِلَيْهِمْ بَعْدَ ذَلِكَ، وَفِي هَذَا نَظَرٌ. وَيَحْتَاجُ مُدّعي ذَلِكَ إِلَى دَلِيلٍ، وَلَمْ يَذْكُرُوا سوَى قَوْلِهِ تَعَالَى: {قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ} [الْبَقَرَةِ: 136] ، وَهَذَا فِيهِ احْتِمَالٌ؛ لِأَنَّ بُطُونَ بَنِي إِسْرَائِيلَ يُقَالُ لَهُمُ: الْأَسْبَاطُ، كَمَا يُقَالُ لِلْعَرَبِ: قَبَائِلُ، وَلِلْعَجَمِ: شُعُوبٌ؛ يَذْكُرُ تَعَالَى أَنَّهُ أَوْحَى إِلَى الْأَنْبِيَاءِ مِنْ أَسْبَاطِ بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَذَكَرَهُمْ إِجْمَالًا لِأَنَّهُمْ كَثِيرُونَ، وَلَكِنَّ كُلَّ سِبْطٍ مِنْ نَسْلِ رَجُلٍ مِنْ إِخْوَةِ يُوسُفَ، وَلَمْ يَقُمْ دَلِيلٌ عَلَى أَعْيَانِ هَؤُلَاءِ أَنَّهُمْ أُوحِيَ إِلَيْهِمْ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.“Ketauilah bahwa tidak ada satu dalil pun yang menunjukkan kenabian dari saudara-saudara laki-laki Nabi Yusuf Alaihissalam. Zahir dari rangkaian ayat-ayat ini (dalam surat Yusuf, red.) bahkan menunjukkan yang sebaliknya. Ada di antara ulama yang mengklaim bahwasanya mereka -para saudara laki-laki Nabi Yusuf Alaihissalam- diberi wahyu setelah itu. Pembawa argumen ini dituntut untuk mendatangkan dalil. Dan mereka tidaklah membawakan dalil kecuali firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Katakanlah, kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan Al-Ashbath” (QS. Al-Baqarah: 136).Terdapat beberapa probabilitas di sini. Karena suku-suku Bani Israil memang disebut dengan al-Ashbath. Sebagaimana suku-suku Arab disebut dengan al-Qaba’il (kabilah-kabilah). Dan di kalangan ‘ajam (non-Arab) disebut dengan syu’ub. Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Dia menurunkan wahyu kepada para Nabi dari al-Ashbath di kalangan Bani Israil. Maka di sini, Allah Ta’ala menyebutkannya secara umum saja. Dikarenakan jumlah al-Ashbath itu yang banyak. Dan setiap orang dari kalangan al-Ashbath itu memang termasuk saudara Nabi Yusuf Alaihissalam. Tapi tidak terdapat dalil yang menunjukkan bahwa setiap individu dari mereka diberi wahyu. Wallahu a’lam.” (Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 4: 327, Asy-Syamilah)🔍 Hadits Menundukkan Pandangan, Ilmu Dasar Islam, Wanita Sholikhah, Hadits Tentang Silaturahim, Dzikir Sore Sesuai Sunnah
Fatwa Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad hafizhahullah Ta’ala [1]Pertanyaan: Apakah saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihis salaam adalah para Nabi?Jawaban: الإجابة: نص الإجابة: ليسوا بأنبياء، وقد ذكر ذلك ابن كثير وغيره، ومعلوم أن الصفات التي ذكرها الله عنهم في القرآن تدل على أنهم ليسوا بأنبياءMereka bukanlah Nabi. Ibnu Katsir [2] dan ulama lain Rahimahumullah telah menyebutkan perkara ini. Telah diketahui bersama bahwa sifat-sifat mereka yang telah difirmankan Allah Ta’ala menunjukkan bahwa mereka bukanlah Nabi.Baca Juga:[Selesai]Sumber: http://iswy.co/e42lsPenerjemah: Muhammad Fadhli, ST.Artikel: www.muslim.or.id_________________________Catatan kaki:[1] Beliau adalah seorang ahli hadis, ahli fikih, pengajar di masjid Nabawi asy-Syarif. Beliau juga rektor Universitas Islam Madinah periode 1384-1399 H.[2] Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan,وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَمْ يَقُمْ دَلِيلٌ عَلَى نُبُوَّةِ إِخْوَةِ يُوسُفَ، وَظَاهِرُ هَذَا السِّيَاقِ يَدُلُّ عَلَى خِلَافِ ذَلِكَ، وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَزْعُمُ أَنَّهُمْ أُوحِيَ إِلَيْهِمْ بَعْدَ ذَلِكَ، وَفِي هَذَا نَظَرٌ. وَيَحْتَاجُ مُدّعي ذَلِكَ إِلَى دَلِيلٍ، وَلَمْ يَذْكُرُوا سوَى قَوْلِهِ تَعَالَى: {قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ} [الْبَقَرَةِ: 136] ، وَهَذَا فِيهِ احْتِمَالٌ؛ لِأَنَّ بُطُونَ بَنِي إِسْرَائِيلَ يُقَالُ لَهُمُ: الْأَسْبَاطُ، كَمَا يُقَالُ لِلْعَرَبِ: قَبَائِلُ، وَلِلْعَجَمِ: شُعُوبٌ؛ يَذْكُرُ تَعَالَى أَنَّهُ أَوْحَى إِلَى الْأَنْبِيَاءِ مِنْ أَسْبَاطِ بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَذَكَرَهُمْ إِجْمَالًا لِأَنَّهُمْ كَثِيرُونَ، وَلَكِنَّ كُلَّ سِبْطٍ مِنْ نَسْلِ رَجُلٍ مِنْ إِخْوَةِ يُوسُفَ، وَلَمْ يَقُمْ دَلِيلٌ عَلَى أَعْيَانِ هَؤُلَاءِ أَنَّهُمْ أُوحِيَ إِلَيْهِمْ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.“Ketauilah bahwa tidak ada satu dalil pun yang menunjukkan kenabian dari saudara-saudara laki-laki Nabi Yusuf Alaihissalam. Zahir dari rangkaian ayat-ayat ini (dalam surat Yusuf, red.) bahkan menunjukkan yang sebaliknya. Ada di antara ulama yang mengklaim bahwasanya mereka -para saudara laki-laki Nabi Yusuf Alaihissalam- diberi wahyu setelah itu. Pembawa argumen ini dituntut untuk mendatangkan dalil. Dan mereka tidaklah membawakan dalil kecuali firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Katakanlah, kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan Al-Ashbath” (QS. Al-Baqarah: 136).Terdapat beberapa probabilitas di sini. Karena suku-suku Bani Israil memang disebut dengan al-Ashbath. Sebagaimana suku-suku Arab disebut dengan al-Qaba’il (kabilah-kabilah). Dan di kalangan ‘ajam (non-Arab) disebut dengan syu’ub. Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Dia menurunkan wahyu kepada para Nabi dari al-Ashbath di kalangan Bani Israil. Maka di sini, Allah Ta’ala menyebutkannya secara umum saja. Dikarenakan jumlah al-Ashbath itu yang banyak. Dan setiap orang dari kalangan al-Ashbath itu memang termasuk saudara Nabi Yusuf Alaihissalam. Tapi tidak terdapat dalil yang menunjukkan bahwa setiap individu dari mereka diberi wahyu. Wallahu a’lam.” (Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 4: 327, Asy-Syamilah)🔍 Hadits Menundukkan Pandangan, Ilmu Dasar Islam, Wanita Sholikhah, Hadits Tentang Silaturahim, Dzikir Sore Sesuai Sunnah


Fatwa Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad hafizhahullah Ta’ala [1]Pertanyaan: Apakah saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihis salaam adalah para Nabi?Jawaban: الإجابة: نص الإجابة: ليسوا بأنبياء، وقد ذكر ذلك ابن كثير وغيره، ومعلوم أن الصفات التي ذكرها الله عنهم في القرآن تدل على أنهم ليسوا بأنبياءMereka bukanlah Nabi. Ibnu Katsir [2] dan ulama lain Rahimahumullah telah menyebutkan perkara ini. Telah diketahui bersama bahwa sifat-sifat mereka yang telah difirmankan Allah Ta’ala menunjukkan bahwa mereka bukanlah Nabi.Baca Juga:[Selesai]Sumber: http://iswy.co/e42lsPenerjemah: Muhammad Fadhli, ST.Artikel: www.muslim.or.id_________________________Catatan kaki:[1] Beliau adalah seorang ahli hadis, ahli fikih, pengajar di masjid Nabawi asy-Syarif. Beliau juga rektor Universitas Islam Madinah periode 1384-1399 H.[2] Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan,وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَمْ يَقُمْ دَلِيلٌ عَلَى نُبُوَّةِ إِخْوَةِ يُوسُفَ، وَظَاهِرُ هَذَا السِّيَاقِ يَدُلُّ عَلَى خِلَافِ ذَلِكَ، وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَزْعُمُ أَنَّهُمْ أُوحِيَ إِلَيْهِمْ بَعْدَ ذَلِكَ، وَفِي هَذَا نَظَرٌ. وَيَحْتَاجُ مُدّعي ذَلِكَ إِلَى دَلِيلٍ، وَلَمْ يَذْكُرُوا سوَى قَوْلِهِ تَعَالَى: {قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ} [الْبَقَرَةِ: 136] ، وَهَذَا فِيهِ احْتِمَالٌ؛ لِأَنَّ بُطُونَ بَنِي إِسْرَائِيلَ يُقَالُ لَهُمُ: الْأَسْبَاطُ، كَمَا يُقَالُ لِلْعَرَبِ: قَبَائِلُ، وَلِلْعَجَمِ: شُعُوبٌ؛ يَذْكُرُ تَعَالَى أَنَّهُ أَوْحَى إِلَى الْأَنْبِيَاءِ مِنْ أَسْبَاطِ بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَذَكَرَهُمْ إِجْمَالًا لِأَنَّهُمْ كَثِيرُونَ، وَلَكِنَّ كُلَّ سِبْطٍ مِنْ نَسْلِ رَجُلٍ مِنْ إِخْوَةِ يُوسُفَ، وَلَمْ يَقُمْ دَلِيلٌ عَلَى أَعْيَانِ هَؤُلَاءِ أَنَّهُمْ أُوحِيَ إِلَيْهِمْ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.“Ketauilah bahwa tidak ada satu dalil pun yang menunjukkan kenabian dari saudara-saudara laki-laki Nabi Yusuf Alaihissalam. Zahir dari rangkaian ayat-ayat ini (dalam surat Yusuf, red.) bahkan menunjukkan yang sebaliknya. Ada di antara ulama yang mengklaim bahwasanya mereka -para saudara laki-laki Nabi Yusuf Alaihissalam- diberi wahyu setelah itu. Pembawa argumen ini dituntut untuk mendatangkan dalil. Dan mereka tidaklah membawakan dalil kecuali firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Katakanlah, kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan Al-Ashbath” (QS. Al-Baqarah: 136).Terdapat beberapa probabilitas di sini. Karena suku-suku Bani Israil memang disebut dengan al-Ashbath. Sebagaimana suku-suku Arab disebut dengan al-Qaba’il (kabilah-kabilah). Dan di kalangan ‘ajam (non-Arab) disebut dengan syu’ub. Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Dia menurunkan wahyu kepada para Nabi dari al-Ashbath di kalangan Bani Israil. Maka di sini, Allah Ta’ala menyebutkannya secara umum saja. Dikarenakan jumlah al-Ashbath itu yang banyak. Dan setiap orang dari kalangan al-Ashbath itu memang termasuk saudara Nabi Yusuf Alaihissalam. Tapi tidak terdapat dalil yang menunjukkan bahwa setiap individu dari mereka diberi wahyu. Wallahu a’lam.” (Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 4: 327, Asy-Syamilah)🔍 Hadits Menundukkan Pandangan, Ilmu Dasar Islam, Wanita Sholikhah, Hadits Tentang Silaturahim, Dzikir Sore Sesuai Sunnah

Antara Berlebihan dan Merendahkan Orang Shalih (Bag. 4)

Baca pembahasan sebelumnya Antara Berlebihan dan Merendahkan Orang Shalih (Bag. 3)Bismillah walhamdulillah wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.Dahulu, manusia bersatu di atas tauhidPada awalnya, manusia itu umat yang satu, karena mereka bersatu di atas agama tauhid. Allah Ta’ala berfirman,كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan” (QS. Al-Baqarah: 213).Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata,كان بين نوح وآدم عشرة قرون كلهم على شريعة من الحق فاختلفوا فبعث الله النبيين مبشرين ومنذرين“Antara Nabi Adam (Nabi dan manusia pertama) dan Rasul Nuh (Rasul pertama) ada 10 abad. Mereka semua berada di atas syariat dari Al-Haq (Allah). Kemudian mereka saling berselisih [1]. Kemudian Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan [2].”Ikrimah Rahimahullah berkata,كان بين آدم ونوح عشرة قرون كلهم على الإسلام“Antara Nabi Adam dan Rasul Nuh ada 10 abad. Mereka semua berada di atas Islam (Tauhid) [3].”Baca Juga: Bagaimana Jalan Meraih KeshalihanSebab kesyirikan pertama di muka bumiTahukah Anda, apa penyebab kesyirikan pertama kali yang terjadi di muka bumi ini?Penyebabnya adalah karena mereka bersikap melampaui batas (ghuluw) terhadap orang-orang saleh pada kaum Rasul Nuh Alaihis salaam.Dalam Shahihain, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma tentang firman Allah Ta’ala,وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا“Dan mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr’” (QS. Nuuh: 23).Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata,هذه أسماء رجال صالحين من قوم نوح، فلما هلكوا أوحى الشيطان إلى قومهم أن انصبوا إلى مجالسهم التي كانوا يجلسون فيها أنصابا، وسموها بأسمائهم، ففعلوا. ولم تعبد حتى إذا هلك أولئك ونُسي العلم عُبدت“Ini adalah nama-nama orang-orang saleh di kaum Nabi Nuh Alaihis salam. Ketika mereka meninggal dunia, setan membisikkan godaannya kepada kaum mereka,’Dirikanlah patung-patung di majelis-majelis yang dahulu didatangi orang-orang saleh itu, dan namailah patung-patung itu dengan nama-nama mereka.’ Kemudian kaum itu pun melaksanakan bisikan setan tersebut. Dan sewaktu itu, patung-patung tersebut belumlah disembah. Sampai orang-orang yang mendirikan patung tersebut telah mati dan (ketika itu) ilmu (tentang tauhid dan tujuan awal pembuatan patung) telah dilupakan, akhirnya disembahlah patung-patung tersebut.”Ibnul Qayyim Rahimahullah Ta’ala menjelaskan, lebih dari seorang Salafusshalih yang mengatakan,لما ماتوا عكفوا على قبورهم، ثم صوروا تماثيلهم، ثم طال عليهم الأمد فعبدوهم“Tatkala orang-orang shalih itu meninggal dunia, mulailah orang-orang berlama-lama berdiam diri di makam mereka. Kemudian mereka membuat patung-patung orang-orang saleh tersebut. Berlalulah masa yang panjang, hingga mereka pun menyembah orang-orang shalih tersebut.”Dari kutipan di atas, nampak bahwa pakar tafsir di kalangan sahabat Radhiyallahu ‘anhum, Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, menafsirkan ayat di atas bahwa kaum Nabi Nuh Alaihis salam berwasiat agar manusia terus menyembah tuhan-tuhan selain Allah tersebut. Padahal Nabi mereka, Nuh Alaihis salam, telah melarang mereka berbuat syirik.Dan pada asalnya, tuhan-tuhan mereka itu adalah orang-orang saleh di kalangan mereka. Namun setan menggoda kaum tersebut agar bersikap melampaui batas terhadap orang-orang saleh itu setelah mereka meninggal dunia. Berawal dari sikap berlebihan dengan cara mendirikan patung-patung mereka, sampai akhirnya keturunan kaum pendiri patung itu menyembah orang-orang saleh tersebut.Baca Juga: Pengaruh Keshalihan Orang Tua Pada Anak-Cucu Beberapa Karakter Terbaik dan Terburuk Seorang Wanita Sekilas tahapan kesyirikan pertama di muka bumiTahap PertamaKaum Rasul Nuh Alaihis salam, mereka turun temurun berasal dari keturunan Nabi Adam Alaihis salam. Sedangkan keturunan Nabi Adam Alaihis salam berada di atas tauhid hingga kehadiran orang-orang saleh yang taat kepada Allah Ta’ala, yaitu Wadd, Suwa’, Yaghuuts, Ya’uuq, dan Nasr.Kemudian ketika mereka meninggal dunia, tersebar di tengah-tengah manusia sikap cinta dunia dan jauh dari mengingat akhirat. Sehingga banyak orang-orang ketika itu – jika ingin menambah semangat dalam beribadah – mereka pergi ke makam orang-orang saleh tersebut, berlama-lama berdiam diri, merenung, dan menangis di sisi makam tersebut, lalu menjadi bertambahlah semangat manusia dalam beribadah sepulang dari makam tersebut.Suatu saat setan pun datang di makam tersebut dan membisiki mereka agar membuat patung dari orang-orang saleh itu, lalu orang-orang itu pun membuat patung-patung tersebut dan mereka letakkan di makam-makam mereka. Memang awal mulanya mereka tidak menyembah patung-patung tersebut. Mereka sebatas memandang patung-patung itu, sehingga mereka mengenang kembali kesalehan orang-orang saleh yang dipatungkan tersebut.Tahap KeduaUmur kaum Rasul Nuh Alaihis salam itu panjang, sehingga setan memiliki kesempatan untuk membuat tipu daya pada tahapan tipu daya yang kedua, yaitu agar mereka meletakkan patung-patung tersebut di rumah-rumah mereka, agar semangat mereka dalam beribadah bisa semakin mudah terdorong, seperti ibadahnya orang-orang saleh tersebut. Lalu mereka pun memindahkan patung-patung itu di rumah-rumah mereka, bahkan terkadang mereka pun membawanya ketika sedang safar.Jadi, pada tahapan awal patung-patung tersebut tidaklah disembah, namun sekedar untuk mengenang kesalehan orang-orang saleh tersebut. Sehingga diharapkan bisa mendorong semangat mereka dalam beribadah.Tahap KetigaMasa panjang pun berlalu. Ketika ilmu tauhid sudah banyak hilang dan hilang pula (ilmu tentang) maksud awal pembuatan patung di dada-dada banyak manusia, lalu orang-orang yang tidak memiliki ilmu itu pun beranggapan bahwa tidaklah kakek moyang kami membuat patung-patung itu kecuali karena patung-patung tersebut adalah sesembahan yang layak untuk disembah atau karena patung-patung tersebut dikeramatkan.Akhirnya, mereka pun berdoa kepada patung-patung tersebut dengan anggapan ruh-ruh orang-orang saleh itu bisa memperantarai diri mereka dan menyampaikan kebutuhan mereka kepada Allah. Mereka menyembah patung-patung tersebut.Dengan sebab inilah mereka terjatuh dalam kesyirikan akbar [4].[Bersambung]Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Sebagian mereka menjadi kafir, sedangkan sebagian lainnya masih beriman, sehingga terjadi perselisihan di antara mereka.[2] Riwayat Ath-Thabari dan Al-Hakim, beliau menyatakan bahwa hadis ini sahih, sesuai dengan syarat Al-Bukhari.[3] Riwayat Ath-Thabari dan Al-Hakim, beliau menyatakan bahwa hadits ini sahih, sesuai dengan syarat Al-Bukhari.[4] Diringkas dari Syarh Kasyf Asy-Syubuhat, karya Syekh Shalih Alu Asy-Syaikh, hal. 46. 

Antara Berlebihan dan Merendahkan Orang Shalih (Bag. 4)

Baca pembahasan sebelumnya Antara Berlebihan dan Merendahkan Orang Shalih (Bag. 3)Bismillah walhamdulillah wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.Dahulu, manusia bersatu di atas tauhidPada awalnya, manusia itu umat yang satu, karena mereka bersatu di atas agama tauhid. Allah Ta’ala berfirman,كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan” (QS. Al-Baqarah: 213).Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata,كان بين نوح وآدم عشرة قرون كلهم على شريعة من الحق فاختلفوا فبعث الله النبيين مبشرين ومنذرين“Antara Nabi Adam (Nabi dan manusia pertama) dan Rasul Nuh (Rasul pertama) ada 10 abad. Mereka semua berada di atas syariat dari Al-Haq (Allah). Kemudian mereka saling berselisih [1]. Kemudian Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan [2].”Ikrimah Rahimahullah berkata,كان بين آدم ونوح عشرة قرون كلهم على الإسلام“Antara Nabi Adam dan Rasul Nuh ada 10 abad. Mereka semua berada di atas Islam (Tauhid) [3].”Baca Juga: Bagaimana Jalan Meraih KeshalihanSebab kesyirikan pertama di muka bumiTahukah Anda, apa penyebab kesyirikan pertama kali yang terjadi di muka bumi ini?Penyebabnya adalah karena mereka bersikap melampaui batas (ghuluw) terhadap orang-orang saleh pada kaum Rasul Nuh Alaihis salaam.Dalam Shahihain, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma tentang firman Allah Ta’ala,وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا“Dan mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr’” (QS. Nuuh: 23).Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata,هذه أسماء رجال صالحين من قوم نوح، فلما هلكوا أوحى الشيطان إلى قومهم أن انصبوا إلى مجالسهم التي كانوا يجلسون فيها أنصابا، وسموها بأسمائهم، ففعلوا. ولم تعبد حتى إذا هلك أولئك ونُسي العلم عُبدت“Ini adalah nama-nama orang-orang saleh di kaum Nabi Nuh Alaihis salam. Ketika mereka meninggal dunia, setan membisikkan godaannya kepada kaum mereka,’Dirikanlah patung-patung di majelis-majelis yang dahulu didatangi orang-orang saleh itu, dan namailah patung-patung itu dengan nama-nama mereka.’ Kemudian kaum itu pun melaksanakan bisikan setan tersebut. Dan sewaktu itu, patung-patung tersebut belumlah disembah. Sampai orang-orang yang mendirikan patung tersebut telah mati dan (ketika itu) ilmu (tentang tauhid dan tujuan awal pembuatan patung) telah dilupakan, akhirnya disembahlah patung-patung tersebut.”Ibnul Qayyim Rahimahullah Ta’ala menjelaskan, lebih dari seorang Salafusshalih yang mengatakan,لما ماتوا عكفوا على قبورهم، ثم صوروا تماثيلهم، ثم طال عليهم الأمد فعبدوهم“Tatkala orang-orang shalih itu meninggal dunia, mulailah orang-orang berlama-lama berdiam diri di makam mereka. Kemudian mereka membuat patung-patung orang-orang saleh tersebut. Berlalulah masa yang panjang, hingga mereka pun menyembah orang-orang shalih tersebut.”Dari kutipan di atas, nampak bahwa pakar tafsir di kalangan sahabat Radhiyallahu ‘anhum, Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, menafsirkan ayat di atas bahwa kaum Nabi Nuh Alaihis salam berwasiat agar manusia terus menyembah tuhan-tuhan selain Allah tersebut. Padahal Nabi mereka, Nuh Alaihis salam, telah melarang mereka berbuat syirik.Dan pada asalnya, tuhan-tuhan mereka itu adalah orang-orang saleh di kalangan mereka. Namun setan menggoda kaum tersebut agar bersikap melampaui batas terhadap orang-orang saleh itu setelah mereka meninggal dunia. Berawal dari sikap berlebihan dengan cara mendirikan patung-patung mereka, sampai akhirnya keturunan kaum pendiri patung itu menyembah orang-orang saleh tersebut.Baca Juga: Pengaruh Keshalihan Orang Tua Pada Anak-Cucu Beberapa Karakter Terbaik dan Terburuk Seorang Wanita Sekilas tahapan kesyirikan pertama di muka bumiTahap PertamaKaum Rasul Nuh Alaihis salam, mereka turun temurun berasal dari keturunan Nabi Adam Alaihis salam. Sedangkan keturunan Nabi Adam Alaihis salam berada di atas tauhid hingga kehadiran orang-orang saleh yang taat kepada Allah Ta’ala, yaitu Wadd, Suwa’, Yaghuuts, Ya’uuq, dan Nasr.Kemudian ketika mereka meninggal dunia, tersebar di tengah-tengah manusia sikap cinta dunia dan jauh dari mengingat akhirat. Sehingga banyak orang-orang ketika itu – jika ingin menambah semangat dalam beribadah – mereka pergi ke makam orang-orang saleh tersebut, berlama-lama berdiam diri, merenung, dan menangis di sisi makam tersebut, lalu menjadi bertambahlah semangat manusia dalam beribadah sepulang dari makam tersebut.Suatu saat setan pun datang di makam tersebut dan membisiki mereka agar membuat patung dari orang-orang saleh itu, lalu orang-orang itu pun membuat patung-patung tersebut dan mereka letakkan di makam-makam mereka. Memang awal mulanya mereka tidak menyembah patung-patung tersebut. Mereka sebatas memandang patung-patung itu, sehingga mereka mengenang kembali kesalehan orang-orang saleh yang dipatungkan tersebut.Tahap KeduaUmur kaum Rasul Nuh Alaihis salam itu panjang, sehingga setan memiliki kesempatan untuk membuat tipu daya pada tahapan tipu daya yang kedua, yaitu agar mereka meletakkan patung-patung tersebut di rumah-rumah mereka, agar semangat mereka dalam beribadah bisa semakin mudah terdorong, seperti ibadahnya orang-orang saleh tersebut. Lalu mereka pun memindahkan patung-patung itu di rumah-rumah mereka, bahkan terkadang mereka pun membawanya ketika sedang safar.Jadi, pada tahapan awal patung-patung tersebut tidaklah disembah, namun sekedar untuk mengenang kesalehan orang-orang saleh tersebut. Sehingga diharapkan bisa mendorong semangat mereka dalam beribadah.Tahap KetigaMasa panjang pun berlalu. Ketika ilmu tauhid sudah banyak hilang dan hilang pula (ilmu tentang) maksud awal pembuatan patung di dada-dada banyak manusia, lalu orang-orang yang tidak memiliki ilmu itu pun beranggapan bahwa tidaklah kakek moyang kami membuat patung-patung itu kecuali karena patung-patung tersebut adalah sesembahan yang layak untuk disembah atau karena patung-patung tersebut dikeramatkan.Akhirnya, mereka pun berdoa kepada patung-patung tersebut dengan anggapan ruh-ruh orang-orang saleh itu bisa memperantarai diri mereka dan menyampaikan kebutuhan mereka kepada Allah. Mereka menyembah patung-patung tersebut.Dengan sebab inilah mereka terjatuh dalam kesyirikan akbar [4].[Bersambung]Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Sebagian mereka menjadi kafir, sedangkan sebagian lainnya masih beriman, sehingga terjadi perselisihan di antara mereka.[2] Riwayat Ath-Thabari dan Al-Hakim, beliau menyatakan bahwa hadis ini sahih, sesuai dengan syarat Al-Bukhari.[3] Riwayat Ath-Thabari dan Al-Hakim, beliau menyatakan bahwa hadits ini sahih, sesuai dengan syarat Al-Bukhari.[4] Diringkas dari Syarh Kasyf Asy-Syubuhat, karya Syekh Shalih Alu Asy-Syaikh, hal. 46. 
Baca pembahasan sebelumnya Antara Berlebihan dan Merendahkan Orang Shalih (Bag. 3)Bismillah walhamdulillah wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.Dahulu, manusia bersatu di atas tauhidPada awalnya, manusia itu umat yang satu, karena mereka bersatu di atas agama tauhid. Allah Ta’ala berfirman,كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan” (QS. Al-Baqarah: 213).Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata,كان بين نوح وآدم عشرة قرون كلهم على شريعة من الحق فاختلفوا فبعث الله النبيين مبشرين ومنذرين“Antara Nabi Adam (Nabi dan manusia pertama) dan Rasul Nuh (Rasul pertama) ada 10 abad. Mereka semua berada di atas syariat dari Al-Haq (Allah). Kemudian mereka saling berselisih [1]. Kemudian Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan [2].”Ikrimah Rahimahullah berkata,كان بين آدم ونوح عشرة قرون كلهم على الإسلام“Antara Nabi Adam dan Rasul Nuh ada 10 abad. Mereka semua berada di atas Islam (Tauhid) [3].”Baca Juga: Bagaimana Jalan Meraih KeshalihanSebab kesyirikan pertama di muka bumiTahukah Anda, apa penyebab kesyirikan pertama kali yang terjadi di muka bumi ini?Penyebabnya adalah karena mereka bersikap melampaui batas (ghuluw) terhadap orang-orang saleh pada kaum Rasul Nuh Alaihis salaam.Dalam Shahihain, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma tentang firman Allah Ta’ala,وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا“Dan mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr’” (QS. Nuuh: 23).Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata,هذه أسماء رجال صالحين من قوم نوح، فلما هلكوا أوحى الشيطان إلى قومهم أن انصبوا إلى مجالسهم التي كانوا يجلسون فيها أنصابا، وسموها بأسمائهم، ففعلوا. ولم تعبد حتى إذا هلك أولئك ونُسي العلم عُبدت“Ini adalah nama-nama orang-orang saleh di kaum Nabi Nuh Alaihis salam. Ketika mereka meninggal dunia, setan membisikkan godaannya kepada kaum mereka,’Dirikanlah patung-patung di majelis-majelis yang dahulu didatangi orang-orang saleh itu, dan namailah patung-patung itu dengan nama-nama mereka.’ Kemudian kaum itu pun melaksanakan bisikan setan tersebut. Dan sewaktu itu, patung-patung tersebut belumlah disembah. Sampai orang-orang yang mendirikan patung tersebut telah mati dan (ketika itu) ilmu (tentang tauhid dan tujuan awal pembuatan patung) telah dilupakan, akhirnya disembahlah patung-patung tersebut.”Ibnul Qayyim Rahimahullah Ta’ala menjelaskan, lebih dari seorang Salafusshalih yang mengatakan,لما ماتوا عكفوا على قبورهم، ثم صوروا تماثيلهم، ثم طال عليهم الأمد فعبدوهم“Tatkala orang-orang shalih itu meninggal dunia, mulailah orang-orang berlama-lama berdiam diri di makam mereka. Kemudian mereka membuat patung-patung orang-orang saleh tersebut. Berlalulah masa yang panjang, hingga mereka pun menyembah orang-orang shalih tersebut.”Dari kutipan di atas, nampak bahwa pakar tafsir di kalangan sahabat Radhiyallahu ‘anhum, Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, menafsirkan ayat di atas bahwa kaum Nabi Nuh Alaihis salam berwasiat agar manusia terus menyembah tuhan-tuhan selain Allah tersebut. Padahal Nabi mereka, Nuh Alaihis salam, telah melarang mereka berbuat syirik.Dan pada asalnya, tuhan-tuhan mereka itu adalah orang-orang saleh di kalangan mereka. Namun setan menggoda kaum tersebut agar bersikap melampaui batas terhadap orang-orang saleh itu setelah mereka meninggal dunia. Berawal dari sikap berlebihan dengan cara mendirikan patung-patung mereka, sampai akhirnya keturunan kaum pendiri patung itu menyembah orang-orang saleh tersebut.Baca Juga: Pengaruh Keshalihan Orang Tua Pada Anak-Cucu Beberapa Karakter Terbaik dan Terburuk Seorang Wanita Sekilas tahapan kesyirikan pertama di muka bumiTahap PertamaKaum Rasul Nuh Alaihis salam, mereka turun temurun berasal dari keturunan Nabi Adam Alaihis salam. Sedangkan keturunan Nabi Adam Alaihis salam berada di atas tauhid hingga kehadiran orang-orang saleh yang taat kepada Allah Ta’ala, yaitu Wadd, Suwa’, Yaghuuts, Ya’uuq, dan Nasr.Kemudian ketika mereka meninggal dunia, tersebar di tengah-tengah manusia sikap cinta dunia dan jauh dari mengingat akhirat. Sehingga banyak orang-orang ketika itu – jika ingin menambah semangat dalam beribadah – mereka pergi ke makam orang-orang saleh tersebut, berlama-lama berdiam diri, merenung, dan menangis di sisi makam tersebut, lalu menjadi bertambahlah semangat manusia dalam beribadah sepulang dari makam tersebut.Suatu saat setan pun datang di makam tersebut dan membisiki mereka agar membuat patung dari orang-orang saleh itu, lalu orang-orang itu pun membuat patung-patung tersebut dan mereka letakkan di makam-makam mereka. Memang awal mulanya mereka tidak menyembah patung-patung tersebut. Mereka sebatas memandang patung-patung itu, sehingga mereka mengenang kembali kesalehan orang-orang saleh yang dipatungkan tersebut.Tahap KeduaUmur kaum Rasul Nuh Alaihis salam itu panjang, sehingga setan memiliki kesempatan untuk membuat tipu daya pada tahapan tipu daya yang kedua, yaitu agar mereka meletakkan patung-patung tersebut di rumah-rumah mereka, agar semangat mereka dalam beribadah bisa semakin mudah terdorong, seperti ibadahnya orang-orang saleh tersebut. Lalu mereka pun memindahkan patung-patung itu di rumah-rumah mereka, bahkan terkadang mereka pun membawanya ketika sedang safar.Jadi, pada tahapan awal patung-patung tersebut tidaklah disembah, namun sekedar untuk mengenang kesalehan orang-orang saleh tersebut. Sehingga diharapkan bisa mendorong semangat mereka dalam beribadah.Tahap KetigaMasa panjang pun berlalu. Ketika ilmu tauhid sudah banyak hilang dan hilang pula (ilmu tentang) maksud awal pembuatan patung di dada-dada banyak manusia, lalu orang-orang yang tidak memiliki ilmu itu pun beranggapan bahwa tidaklah kakek moyang kami membuat patung-patung itu kecuali karena patung-patung tersebut adalah sesembahan yang layak untuk disembah atau karena patung-patung tersebut dikeramatkan.Akhirnya, mereka pun berdoa kepada patung-patung tersebut dengan anggapan ruh-ruh orang-orang saleh itu bisa memperantarai diri mereka dan menyampaikan kebutuhan mereka kepada Allah. Mereka menyembah patung-patung tersebut.Dengan sebab inilah mereka terjatuh dalam kesyirikan akbar [4].[Bersambung]Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Sebagian mereka menjadi kafir, sedangkan sebagian lainnya masih beriman, sehingga terjadi perselisihan di antara mereka.[2] Riwayat Ath-Thabari dan Al-Hakim, beliau menyatakan bahwa hadis ini sahih, sesuai dengan syarat Al-Bukhari.[3] Riwayat Ath-Thabari dan Al-Hakim, beliau menyatakan bahwa hadits ini sahih, sesuai dengan syarat Al-Bukhari.[4] Diringkas dari Syarh Kasyf Asy-Syubuhat, karya Syekh Shalih Alu Asy-Syaikh, hal. 46. 


Baca pembahasan sebelumnya Antara Berlebihan dan Merendahkan Orang Shalih (Bag. 3)Bismillah walhamdulillah wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.Dahulu, manusia bersatu di atas tauhidPada awalnya, manusia itu umat yang satu, karena mereka bersatu di atas agama tauhid. Allah Ta’ala berfirman,كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan” (QS. Al-Baqarah: 213).Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata,كان بين نوح وآدم عشرة قرون كلهم على شريعة من الحق فاختلفوا فبعث الله النبيين مبشرين ومنذرين“Antara Nabi Adam (Nabi dan manusia pertama) dan Rasul Nuh (Rasul pertama) ada 10 abad. Mereka semua berada di atas syariat dari Al-Haq (Allah). Kemudian mereka saling berselisih [1]. Kemudian Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan [2].”Ikrimah Rahimahullah berkata,كان بين آدم ونوح عشرة قرون كلهم على الإسلام“Antara Nabi Adam dan Rasul Nuh ada 10 abad. Mereka semua berada di atas Islam (Tauhid) [3].”Baca Juga: Bagaimana Jalan Meraih KeshalihanSebab kesyirikan pertama di muka bumiTahukah Anda, apa penyebab kesyirikan pertama kali yang terjadi di muka bumi ini?Penyebabnya adalah karena mereka bersikap melampaui batas (ghuluw) terhadap orang-orang saleh pada kaum Rasul Nuh Alaihis salaam.Dalam Shahihain, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma tentang firman Allah Ta’ala,وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا“Dan mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr’” (QS. Nuuh: 23).Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata,هذه أسماء رجال صالحين من قوم نوح، فلما هلكوا أوحى الشيطان إلى قومهم أن انصبوا إلى مجالسهم التي كانوا يجلسون فيها أنصابا، وسموها بأسمائهم، ففعلوا. ولم تعبد حتى إذا هلك أولئك ونُسي العلم عُبدت“Ini adalah nama-nama orang-orang saleh di kaum Nabi Nuh Alaihis salam. Ketika mereka meninggal dunia, setan membisikkan godaannya kepada kaum mereka,’Dirikanlah patung-patung di majelis-majelis yang dahulu didatangi orang-orang saleh itu, dan namailah patung-patung itu dengan nama-nama mereka.’ Kemudian kaum itu pun melaksanakan bisikan setan tersebut. Dan sewaktu itu, patung-patung tersebut belumlah disembah. Sampai orang-orang yang mendirikan patung tersebut telah mati dan (ketika itu) ilmu (tentang tauhid dan tujuan awal pembuatan patung) telah dilupakan, akhirnya disembahlah patung-patung tersebut.”Ibnul Qayyim Rahimahullah Ta’ala menjelaskan, lebih dari seorang Salafusshalih yang mengatakan,لما ماتوا عكفوا على قبورهم، ثم صوروا تماثيلهم، ثم طال عليهم الأمد فعبدوهم“Tatkala orang-orang shalih itu meninggal dunia, mulailah orang-orang berlama-lama berdiam diri di makam mereka. Kemudian mereka membuat patung-patung orang-orang saleh tersebut. Berlalulah masa yang panjang, hingga mereka pun menyembah orang-orang shalih tersebut.”Dari kutipan di atas, nampak bahwa pakar tafsir di kalangan sahabat Radhiyallahu ‘anhum, Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, menafsirkan ayat di atas bahwa kaum Nabi Nuh Alaihis salam berwasiat agar manusia terus menyembah tuhan-tuhan selain Allah tersebut. Padahal Nabi mereka, Nuh Alaihis salam, telah melarang mereka berbuat syirik.Dan pada asalnya, tuhan-tuhan mereka itu adalah orang-orang saleh di kalangan mereka. Namun setan menggoda kaum tersebut agar bersikap melampaui batas terhadap orang-orang saleh itu setelah mereka meninggal dunia. Berawal dari sikap berlebihan dengan cara mendirikan patung-patung mereka, sampai akhirnya keturunan kaum pendiri patung itu menyembah orang-orang saleh tersebut.Baca Juga: Pengaruh Keshalihan Orang Tua Pada Anak-Cucu Beberapa Karakter Terbaik dan Terburuk Seorang Wanita Sekilas tahapan kesyirikan pertama di muka bumiTahap PertamaKaum Rasul Nuh Alaihis salam, mereka turun temurun berasal dari keturunan Nabi Adam Alaihis salam. Sedangkan keturunan Nabi Adam Alaihis salam berada di atas tauhid hingga kehadiran orang-orang saleh yang taat kepada Allah Ta’ala, yaitu Wadd, Suwa’, Yaghuuts, Ya’uuq, dan Nasr.Kemudian ketika mereka meninggal dunia, tersebar di tengah-tengah manusia sikap cinta dunia dan jauh dari mengingat akhirat. Sehingga banyak orang-orang ketika itu – jika ingin menambah semangat dalam beribadah – mereka pergi ke makam orang-orang saleh tersebut, berlama-lama berdiam diri, merenung, dan menangis di sisi makam tersebut, lalu menjadi bertambahlah semangat manusia dalam beribadah sepulang dari makam tersebut.Suatu saat setan pun datang di makam tersebut dan membisiki mereka agar membuat patung dari orang-orang saleh itu, lalu orang-orang itu pun membuat patung-patung tersebut dan mereka letakkan di makam-makam mereka. Memang awal mulanya mereka tidak menyembah patung-patung tersebut. Mereka sebatas memandang patung-patung itu, sehingga mereka mengenang kembali kesalehan orang-orang saleh yang dipatungkan tersebut.Tahap KeduaUmur kaum Rasul Nuh Alaihis salam itu panjang, sehingga setan memiliki kesempatan untuk membuat tipu daya pada tahapan tipu daya yang kedua, yaitu agar mereka meletakkan patung-patung tersebut di rumah-rumah mereka, agar semangat mereka dalam beribadah bisa semakin mudah terdorong, seperti ibadahnya orang-orang saleh tersebut. Lalu mereka pun memindahkan patung-patung itu di rumah-rumah mereka, bahkan terkadang mereka pun membawanya ketika sedang safar.Jadi, pada tahapan awal patung-patung tersebut tidaklah disembah, namun sekedar untuk mengenang kesalehan orang-orang saleh tersebut. Sehingga diharapkan bisa mendorong semangat mereka dalam beribadah.Tahap KetigaMasa panjang pun berlalu. Ketika ilmu tauhid sudah banyak hilang dan hilang pula (ilmu tentang) maksud awal pembuatan patung di dada-dada banyak manusia, lalu orang-orang yang tidak memiliki ilmu itu pun beranggapan bahwa tidaklah kakek moyang kami membuat patung-patung itu kecuali karena patung-patung tersebut adalah sesembahan yang layak untuk disembah atau karena patung-patung tersebut dikeramatkan.Akhirnya, mereka pun berdoa kepada patung-patung tersebut dengan anggapan ruh-ruh orang-orang saleh itu bisa memperantarai diri mereka dan menyampaikan kebutuhan mereka kepada Allah. Mereka menyembah patung-patung tersebut.Dengan sebab inilah mereka terjatuh dalam kesyirikan akbar [4].[Bersambung]Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id Catatan kaki:[1] Sebagian mereka menjadi kafir, sedangkan sebagian lainnya masih beriman, sehingga terjadi perselisihan di antara mereka.[2] Riwayat Ath-Thabari dan Al-Hakim, beliau menyatakan bahwa hadis ini sahih, sesuai dengan syarat Al-Bukhari.[3] Riwayat Ath-Thabari dan Al-Hakim, beliau menyatakan bahwa hadits ini sahih, sesuai dengan syarat Al-Bukhari.[4] Diringkas dari Syarh Kasyf Asy-Syubuhat, karya Syekh Shalih Alu Asy-Syaikh, hal. 46. 

Antara Berlebihan dan Merendahkan Orang Shalih (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Antara Berlebihan dan Merendahkan Orang Shalih (Bag. 2)Bismillah walhamdulillah wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.Penjelasan dalil-dalil larangan ghuluw terhadap orang salehAllah Ta’ala berfirman,يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ “Wahai ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian!” (QS. An-Nisa: 171).PenjelasanAllah Ta’ala melarang ahli Kitab, yaitu orang-orang Yahudi dan Nashara, bersikap melampaui batasan yang telah Allah Ta’ala tetapkan. Maksudnya berupa perbuatan mengangkat orang ssaleh di atas kedudukan yang Allah Ta’ala telah tetapkan dalam syariat-Nya, seperti sikap orang Yahudi yang melampaui batas terhadap ‘Uzair dan sikap Nashara yang melampaui batas terhadap Nabi Isa Alaihis salam.Ayat ini, meski seruannya kepada ahli Kitab, akan tetapi tujuan ayat ini bersifat umum untuk seluruh umat. Hal ini dalam rangka memperingatkan mereka agar jangan sampai bersikap kepada nabi mereka dan orang saleh secara melampaui batas.Sifat larangan dalam ayat ini umum, mencakup larangan dari berbagai macam bentuk melampaui batas (ghuluw) dalam beragama, termasuk melampaui batas terhadap orang-orang saleh. Karena dalam ayat ini, (تَغْلُوا) disebutkan dalam konteks kalimat larangan. Secara kaidah, hal ini menunjukkan cakupan yang bersifat umum, yaitu mencakup seluruh bentuk melampaui batas (ghuluw) dalam beragama.Baca Juga: Madrasah Salafus ShalihWahai kaum muslimin, hindari sikap melampaui batas ahli Kitab!Sikap melampaui batas (ghuluw) ahli Kitab dari kalangan Nashara terhadap Nabi Isa Alaihis salam disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,لَقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَۖ وَقَالَ ٱلۡمَسِيحُ يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۖ إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ (٧٢) لَّقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَٰثَةٖۘ وَمَا مِنۡ إِلَٰهٍ إِلَّآ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۚ وَإِن لَّمۡ يَنتَهُواْ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٧٣)“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam.’ Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.’ Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, ‘Bahwasanya Allah adalah salah seorang dari yang tiga.’ Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. Al-Maidah: 72-73).Sikap melampaui batas (ghuluw) dari orang-orang Nashara terhadap Nabi Isa Alaihis salam tersebut yang diluruskan dalam firman Allah Ta’ala,يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ ۚ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ ۚ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ ۘ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا“Wahai ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.  Sesungguhnya Al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. Maka berimanlah kalian kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kalian mengatakan, ‘(Tuhan itu) tiga’, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagi kalian. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara” (QS. An-Nisa: 171).Dan alhamdulillah, sebenarnya kaum Nashara termasuk kaum yang lebih besar potensinya dalam menerima kebenaran daripada Yahudi dan musyrikin. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا ۖ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ  “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani’. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri” (QS. Al-Maidah: 82).Sedangkan sikap melampaui batas (ghuluw) ahli Kitab dari kalangan Yahudi terhadap orang saleh mereka sebagaimana disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ“Orang-orang Yahudi berkata, ‘Uzair itu putera Allah’ dan orang-orang Nasrani berkata, ‘Al-Masih itu putera Allah’. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka. Mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Laknat Allah untuk mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At-Taubah : 30)Tentunya, baik Yahudi dan Nashrani terjatuh ke dalam sikap berlebihan terhadap orang saleh. Karena keduanya menganggap orang saleh sebagai anak Tuhan.RenunganMasalah tercelanya sikap berlebihan (ghuluw) ini penting diketahui oleh umat Islam khususnya, agar mereka tidak terjerumus ke dalam cara beragama yang berlebihan. Di antaranya dengan bersikap melampaui batas terhadap orang-orang saleh sehingga dikhawatirkan sampai puncaknya, yaitu terjerumus kedalam kesyirikan besar berupa menuhankan orang saleh yang hal ini mengeluarkan pelakunya dari agama Islam.Ingatlah, bukankah penyebab kesyirikan pertama kali yang terjadi di muka bumi adalah ghuluw terhadap orang-orang saleh?Baca Juga:Dan hal ini akan dijelaskan pada serial artikel berikutnya, insyaAllah.[Bersambung]Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id

Antara Berlebihan dan Merendahkan Orang Shalih (Bag. 3)

Baca pembahasan sebelumnya Antara Berlebihan dan Merendahkan Orang Shalih (Bag. 2)Bismillah walhamdulillah wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.Penjelasan dalil-dalil larangan ghuluw terhadap orang salehAllah Ta’ala berfirman,يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ “Wahai ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian!” (QS. An-Nisa: 171).PenjelasanAllah Ta’ala melarang ahli Kitab, yaitu orang-orang Yahudi dan Nashara, bersikap melampaui batasan yang telah Allah Ta’ala tetapkan. Maksudnya berupa perbuatan mengangkat orang ssaleh di atas kedudukan yang Allah Ta’ala telah tetapkan dalam syariat-Nya, seperti sikap orang Yahudi yang melampaui batas terhadap ‘Uzair dan sikap Nashara yang melampaui batas terhadap Nabi Isa Alaihis salam.Ayat ini, meski seruannya kepada ahli Kitab, akan tetapi tujuan ayat ini bersifat umum untuk seluruh umat. Hal ini dalam rangka memperingatkan mereka agar jangan sampai bersikap kepada nabi mereka dan orang saleh secara melampaui batas.Sifat larangan dalam ayat ini umum, mencakup larangan dari berbagai macam bentuk melampaui batas (ghuluw) dalam beragama, termasuk melampaui batas terhadap orang-orang saleh. Karena dalam ayat ini, (تَغْلُوا) disebutkan dalam konteks kalimat larangan. Secara kaidah, hal ini menunjukkan cakupan yang bersifat umum, yaitu mencakup seluruh bentuk melampaui batas (ghuluw) dalam beragama.Baca Juga: Madrasah Salafus ShalihWahai kaum muslimin, hindari sikap melampaui batas ahli Kitab!Sikap melampaui batas (ghuluw) ahli Kitab dari kalangan Nashara terhadap Nabi Isa Alaihis salam disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,لَقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَۖ وَقَالَ ٱلۡمَسِيحُ يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۖ إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ (٧٢) لَّقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَٰثَةٖۘ وَمَا مِنۡ إِلَٰهٍ إِلَّآ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۚ وَإِن لَّمۡ يَنتَهُواْ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٧٣)“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam.’ Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.’ Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, ‘Bahwasanya Allah adalah salah seorang dari yang tiga.’ Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. Al-Maidah: 72-73).Sikap melampaui batas (ghuluw) dari orang-orang Nashara terhadap Nabi Isa Alaihis salam tersebut yang diluruskan dalam firman Allah Ta’ala,يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ ۚ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ ۚ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ ۘ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا“Wahai ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.  Sesungguhnya Al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. Maka berimanlah kalian kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kalian mengatakan, ‘(Tuhan itu) tiga’, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagi kalian. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara” (QS. An-Nisa: 171).Dan alhamdulillah, sebenarnya kaum Nashara termasuk kaum yang lebih besar potensinya dalam menerima kebenaran daripada Yahudi dan musyrikin. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا ۖ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ  “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani’. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri” (QS. Al-Maidah: 82).Sedangkan sikap melampaui batas (ghuluw) ahli Kitab dari kalangan Yahudi terhadap orang saleh mereka sebagaimana disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ“Orang-orang Yahudi berkata, ‘Uzair itu putera Allah’ dan orang-orang Nasrani berkata, ‘Al-Masih itu putera Allah’. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka. Mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Laknat Allah untuk mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At-Taubah : 30)Tentunya, baik Yahudi dan Nashrani terjatuh ke dalam sikap berlebihan terhadap orang saleh. Karena keduanya menganggap orang saleh sebagai anak Tuhan.RenunganMasalah tercelanya sikap berlebihan (ghuluw) ini penting diketahui oleh umat Islam khususnya, agar mereka tidak terjerumus ke dalam cara beragama yang berlebihan. Di antaranya dengan bersikap melampaui batas terhadap orang-orang saleh sehingga dikhawatirkan sampai puncaknya, yaitu terjerumus kedalam kesyirikan besar berupa menuhankan orang saleh yang hal ini mengeluarkan pelakunya dari agama Islam.Ingatlah, bukankah penyebab kesyirikan pertama kali yang terjadi di muka bumi adalah ghuluw terhadap orang-orang saleh?Baca Juga:Dan hal ini akan dijelaskan pada serial artikel berikutnya, insyaAllah.[Bersambung]Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id
Baca pembahasan sebelumnya Antara Berlebihan dan Merendahkan Orang Shalih (Bag. 2)Bismillah walhamdulillah wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.Penjelasan dalil-dalil larangan ghuluw terhadap orang salehAllah Ta’ala berfirman,يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ “Wahai ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian!” (QS. An-Nisa: 171).PenjelasanAllah Ta’ala melarang ahli Kitab, yaitu orang-orang Yahudi dan Nashara, bersikap melampaui batasan yang telah Allah Ta’ala tetapkan. Maksudnya berupa perbuatan mengangkat orang ssaleh di atas kedudukan yang Allah Ta’ala telah tetapkan dalam syariat-Nya, seperti sikap orang Yahudi yang melampaui batas terhadap ‘Uzair dan sikap Nashara yang melampaui batas terhadap Nabi Isa Alaihis salam.Ayat ini, meski seruannya kepada ahli Kitab, akan tetapi tujuan ayat ini bersifat umum untuk seluruh umat. Hal ini dalam rangka memperingatkan mereka agar jangan sampai bersikap kepada nabi mereka dan orang saleh secara melampaui batas.Sifat larangan dalam ayat ini umum, mencakup larangan dari berbagai macam bentuk melampaui batas (ghuluw) dalam beragama, termasuk melampaui batas terhadap orang-orang saleh. Karena dalam ayat ini, (تَغْلُوا) disebutkan dalam konteks kalimat larangan. Secara kaidah, hal ini menunjukkan cakupan yang bersifat umum, yaitu mencakup seluruh bentuk melampaui batas (ghuluw) dalam beragama.Baca Juga: Madrasah Salafus ShalihWahai kaum muslimin, hindari sikap melampaui batas ahli Kitab!Sikap melampaui batas (ghuluw) ahli Kitab dari kalangan Nashara terhadap Nabi Isa Alaihis salam disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,لَقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَۖ وَقَالَ ٱلۡمَسِيحُ يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۖ إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ (٧٢) لَّقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَٰثَةٖۘ وَمَا مِنۡ إِلَٰهٍ إِلَّآ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۚ وَإِن لَّمۡ يَنتَهُواْ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٧٣)“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam.’ Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.’ Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, ‘Bahwasanya Allah adalah salah seorang dari yang tiga.’ Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. Al-Maidah: 72-73).Sikap melampaui batas (ghuluw) dari orang-orang Nashara terhadap Nabi Isa Alaihis salam tersebut yang diluruskan dalam firman Allah Ta’ala,يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ ۚ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ ۚ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ ۘ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا“Wahai ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.  Sesungguhnya Al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. Maka berimanlah kalian kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kalian mengatakan, ‘(Tuhan itu) tiga’, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagi kalian. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara” (QS. An-Nisa: 171).Dan alhamdulillah, sebenarnya kaum Nashara termasuk kaum yang lebih besar potensinya dalam menerima kebenaran daripada Yahudi dan musyrikin. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا ۖ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ  “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani’. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri” (QS. Al-Maidah: 82).Sedangkan sikap melampaui batas (ghuluw) ahli Kitab dari kalangan Yahudi terhadap orang saleh mereka sebagaimana disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ“Orang-orang Yahudi berkata, ‘Uzair itu putera Allah’ dan orang-orang Nasrani berkata, ‘Al-Masih itu putera Allah’. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka. Mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Laknat Allah untuk mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At-Taubah : 30)Tentunya, baik Yahudi dan Nashrani terjatuh ke dalam sikap berlebihan terhadap orang saleh. Karena keduanya menganggap orang saleh sebagai anak Tuhan.RenunganMasalah tercelanya sikap berlebihan (ghuluw) ini penting diketahui oleh umat Islam khususnya, agar mereka tidak terjerumus ke dalam cara beragama yang berlebihan. Di antaranya dengan bersikap melampaui batas terhadap orang-orang saleh sehingga dikhawatirkan sampai puncaknya, yaitu terjerumus kedalam kesyirikan besar berupa menuhankan orang saleh yang hal ini mengeluarkan pelakunya dari agama Islam.Ingatlah, bukankah penyebab kesyirikan pertama kali yang terjadi di muka bumi adalah ghuluw terhadap orang-orang saleh?Baca Juga:Dan hal ini akan dijelaskan pada serial artikel berikutnya, insyaAllah.[Bersambung]Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id


Baca pembahasan sebelumnya Antara Berlebihan dan Merendahkan Orang Shalih (Bag. 2)Bismillah walhamdulillah wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.Penjelasan dalil-dalil larangan ghuluw terhadap orang salehAllah Ta’ala berfirman,يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ “Wahai ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian!” (QS. An-Nisa: 171).PenjelasanAllah Ta’ala melarang ahli Kitab, yaitu orang-orang Yahudi dan Nashara, bersikap melampaui batasan yang telah Allah Ta’ala tetapkan. Maksudnya berupa perbuatan mengangkat orang ssaleh di atas kedudukan yang Allah Ta’ala telah tetapkan dalam syariat-Nya, seperti sikap orang Yahudi yang melampaui batas terhadap ‘Uzair dan sikap Nashara yang melampaui batas terhadap Nabi Isa Alaihis salam.Ayat ini, meski seruannya kepada ahli Kitab, akan tetapi tujuan ayat ini bersifat umum untuk seluruh umat. Hal ini dalam rangka memperingatkan mereka agar jangan sampai bersikap kepada nabi mereka dan orang saleh secara melampaui batas.Sifat larangan dalam ayat ini umum, mencakup larangan dari berbagai macam bentuk melampaui batas (ghuluw) dalam beragama, termasuk melampaui batas terhadap orang-orang saleh. Karena dalam ayat ini, (تَغْلُوا) disebutkan dalam konteks kalimat larangan. Secara kaidah, hal ini menunjukkan cakupan yang bersifat umum, yaitu mencakup seluruh bentuk melampaui batas (ghuluw) dalam beragama.Baca Juga: Madrasah Salafus ShalihWahai kaum muslimin, hindari sikap melampaui batas ahli Kitab!Sikap melampaui batas (ghuluw) ahli Kitab dari kalangan Nashara terhadap Nabi Isa Alaihis salam disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,لَقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَۖ وَقَالَ ٱلۡمَسِيحُ يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۖ إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ (٧٢) لَّقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَٰثَةٖۘ وَمَا مِنۡ إِلَٰهٍ إِلَّآ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۚ وَإِن لَّمۡ يَنتَهُواْ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٧٣)“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam.’ Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.’ Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, ‘Bahwasanya Allah adalah salah seorang dari yang tiga.’ Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. Al-Maidah: 72-73).Sikap melampaui batas (ghuluw) dari orang-orang Nashara terhadap Nabi Isa Alaihis salam tersebut yang diluruskan dalam firman Allah Ta’ala,يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ ۚ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ ۚ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ ۘ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا“Wahai ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.  Sesungguhnya Al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. Maka berimanlah kalian kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kalian mengatakan, ‘(Tuhan itu) tiga’, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagi kalian. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara” (QS. An-Nisa: 171).Dan alhamdulillah, sebenarnya kaum Nashara termasuk kaum yang lebih besar potensinya dalam menerima kebenaran daripada Yahudi dan musyrikin. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا ۖ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ  “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani’. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri” (QS. Al-Maidah: 82).Sedangkan sikap melampaui batas (ghuluw) ahli Kitab dari kalangan Yahudi terhadap orang saleh mereka sebagaimana disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ“Orang-orang Yahudi berkata, ‘Uzair itu putera Allah’ dan orang-orang Nasrani berkata, ‘Al-Masih itu putera Allah’. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka. Mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Laknat Allah untuk mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At-Taubah : 30)Tentunya, baik Yahudi dan Nashrani terjatuh ke dalam sikap berlebihan terhadap orang saleh. Karena keduanya menganggap orang saleh sebagai anak Tuhan.RenunganMasalah tercelanya sikap berlebihan (ghuluw) ini penting diketahui oleh umat Islam khususnya, agar mereka tidak terjerumus ke dalam cara beragama yang berlebihan. Di antaranya dengan bersikap melampaui batas terhadap orang-orang saleh sehingga dikhawatirkan sampai puncaknya, yaitu terjerumus kedalam kesyirikan besar berupa menuhankan orang saleh yang hal ini mengeluarkan pelakunya dari agama Islam.Ingatlah, bukankah penyebab kesyirikan pertama kali yang terjadi di muka bumi adalah ghuluw terhadap orang-orang saleh?Baca Juga:Dan hal ini akan dijelaskan pada serial artikel berikutnya, insyaAllah.[Bersambung]Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id

Antara Berlebihan dan Merendahkan Orang Shalih (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Antara Berlebihan dan Merendahkan Orang Shalih (Bag. 1)Dalil-dalil larangan ghuluw terhadap orang salehBismillah walhamdulillah, wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du. Disebutkan oleh Syekh Muhammad At-Tamimi Rahimahullah dalam Kitabut Tauhid alladzi huwa haqqullah ‘alal ‘abiid sebuah bab yang berjudulباب ما جاء أن سبب كفر بني آدم وتركهم دينهم هو الغلو في الصالحين“Bab (tentang) sebab kekafiran manusia dan sebab mereka meninggalkan agama Islam adalah melampaui batas terhadap orang saleh.”Lalu beliau menyebutkan beberapa dalil tentang larangan bersikap melampaui batas terhadap orang saleh atau yang dikenal dengan istilah ghuluw terhadap orang saleh.Allah Ta’ala berfirman, يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ“Wahai ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian!” (QS. An-Nisa: 171) Dalam Ash-Shahihain, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma tentang firman Allah Ta’ala,وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا  “Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr” (QS. Nuh: 23).Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata,هذه أسماء رجال صالحين من قوم نوح، فلما هلكوا أوحى الشيطان إلى قومهم أن انصبوا إلى مجالسهم التي كانوا يجلسون فيها أنصابا، وسموها بأسمائهم، ففعلوا. ولم تعبد حتى إذا هلك أولئك ونُسي العلم عُبدت“Ini adalah nama-nama orang-orang saleh di kalangan kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam. Ketika mereka meninggal dunia, setan membisikkan godaannya kepada kaum mereka, ‘Dirikanlah patung-patung di majelis-majelis yang dahulu didatangi oleh orang-orang shalih itu. Dan namailah patung-patung itu dengan nama-nama mereka.’ Kemudian kaum itu pun melaksanakan bisikan setan tersebut, dan sewaktu itu patung-patung tersebut belumlah disembah. Sampai orang-orang yang mendirikan patung tersebut telah mati dan (ketika itu) ilmu tauhid telah dilupakan, akhirnya patung-patung tersebut disembah.”Ibnul Qayyim Rahimahullah Ta’ala menjelaskan,“Lebih dari seorang salafusshalih yang berkata,لما ماتوا عكفوا على قبورهم، ثم صوروا تماثيلهم، ثم طال عليهم الأمد فعبدوهم“Tatkala orang-orang saleh itu meninggal dunia, mulailah orang-orang berlama-lama berdiam diri di makam mereka. Kemudian mereka membuat patung-patung orang-orang saleh tersebut. Berlalulah masa yang panjang, hingga mereka pun menyembah orang-orang saleh tersebut.”Dari ‘Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا تُطروني كما أطرت النصارى ابن مريم؛ إنما أنا عبد، فقولوا: عبد الله ورسوله“Janganlah kalian melampaui batas dalam menyanjungku, sebagaimana kaum Nashara melampaui batas dalam menyanjung Nabi Isa putra Maryam! Sesungguhnya aku adalah seorang hamba. Oleh karena itu, katakanlah (bahwa aku adalah ) hamba Allah dan Rasul-Nya!” (HR. Bukhari dan Muslim).Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إياكم والغلو؛ فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو“Awas, jauhilah sikap melampaui batas! Karena sikap melampaui batas adalah perkara yang membinasakan kaum sebelum kalian!” (HR. An-Nasa’i dan selainnya, dinilai sahih oleh Al-Albani Rahimahumallah)Imam Muslim Rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,هلك المتنطعون ، قالها ثلاثا“Binasalah orang-orang yang melampaui batas, (Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda tiga kali.”Baca Juga:[Bersambung]Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id

Antara Berlebihan dan Merendahkan Orang Shalih (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Antara Berlebihan dan Merendahkan Orang Shalih (Bag. 1)Dalil-dalil larangan ghuluw terhadap orang salehBismillah walhamdulillah, wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du. Disebutkan oleh Syekh Muhammad At-Tamimi Rahimahullah dalam Kitabut Tauhid alladzi huwa haqqullah ‘alal ‘abiid sebuah bab yang berjudulباب ما جاء أن سبب كفر بني آدم وتركهم دينهم هو الغلو في الصالحين“Bab (tentang) sebab kekafiran manusia dan sebab mereka meninggalkan agama Islam adalah melampaui batas terhadap orang saleh.”Lalu beliau menyebutkan beberapa dalil tentang larangan bersikap melampaui batas terhadap orang saleh atau yang dikenal dengan istilah ghuluw terhadap orang saleh.Allah Ta’ala berfirman, يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ“Wahai ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian!” (QS. An-Nisa: 171) Dalam Ash-Shahihain, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma tentang firman Allah Ta’ala,وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا  “Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr” (QS. Nuh: 23).Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata,هذه أسماء رجال صالحين من قوم نوح، فلما هلكوا أوحى الشيطان إلى قومهم أن انصبوا إلى مجالسهم التي كانوا يجلسون فيها أنصابا، وسموها بأسمائهم، ففعلوا. ولم تعبد حتى إذا هلك أولئك ونُسي العلم عُبدت“Ini adalah nama-nama orang-orang saleh di kalangan kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam. Ketika mereka meninggal dunia, setan membisikkan godaannya kepada kaum mereka, ‘Dirikanlah patung-patung di majelis-majelis yang dahulu didatangi oleh orang-orang shalih itu. Dan namailah patung-patung itu dengan nama-nama mereka.’ Kemudian kaum itu pun melaksanakan bisikan setan tersebut, dan sewaktu itu patung-patung tersebut belumlah disembah. Sampai orang-orang yang mendirikan patung tersebut telah mati dan (ketika itu) ilmu tauhid telah dilupakan, akhirnya patung-patung tersebut disembah.”Ibnul Qayyim Rahimahullah Ta’ala menjelaskan,“Lebih dari seorang salafusshalih yang berkata,لما ماتوا عكفوا على قبورهم، ثم صوروا تماثيلهم، ثم طال عليهم الأمد فعبدوهم“Tatkala orang-orang saleh itu meninggal dunia, mulailah orang-orang berlama-lama berdiam diri di makam mereka. Kemudian mereka membuat patung-patung orang-orang saleh tersebut. Berlalulah masa yang panjang, hingga mereka pun menyembah orang-orang saleh tersebut.”Dari ‘Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا تُطروني كما أطرت النصارى ابن مريم؛ إنما أنا عبد، فقولوا: عبد الله ورسوله“Janganlah kalian melampaui batas dalam menyanjungku, sebagaimana kaum Nashara melampaui batas dalam menyanjung Nabi Isa putra Maryam! Sesungguhnya aku adalah seorang hamba. Oleh karena itu, katakanlah (bahwa aku adalah ) hamba Allah dan Rasul-Nya!” (HR. Bukhari dan Muslim).Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إياكم والغلو؛ فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو“Awas, jauhilah sikap melampaui batas! Karena sikap melampaui batas adalah perkara yang membinasakan kaum sebelum kalian!” (HR. An-Nasa’i dan selainnya, dinilai sahih oleh Al-Albani Rahimahumallah)Imam Muslim Rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,هلك المتنطعون ، قالها ثلاثا“Binasalah orang-orang yang melampaui batas, (Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda tiga kali.”Baca Juga:[Bersambung]Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id
Baca pembahasan sebelumnya Antara Berlebihan dan Merendahkan Orang Shalih (Bag. 1)Dalil-dalil larangan ghuluw terhadap orang salehBismillah walhamdulillah, wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du. Disebutkan oleh Syekh Muhammad At-Tamimi Rahimahullah dalam Kitabut Tauhid alladzi huwa haqqullah ‘alal ‘abiid sebuah bab yang berjudulباب ما جاء أن سبب كفر بني آدم وتركهم دينهم هو الغلو في الصالحين“Bab (tentang) sebab kekafiran manusia dan sebab mereka meninggalkan agama Islam adalah melampaui batas terhadap orang saleh.”Lalu beliau menyebutkan beberapa dalil tentang larangan bersikap melampaui batas terhadap orang saleh atau yang dikenal dengan istilah ghuluw terhadap orang saleh.Allah Ta’ala berfirman, يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ“Wahai ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian!” (QS. An-Nisa: 171) Dalam Ash-Shahihain, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma tentang firman Allah Ta’ala,وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا  “Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr” (QS. Nuh: 23).Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata,هذه أسماء رجال صالحين من قوم نوح، فلما هلكوا أوحى الشيطان إلى قومهم أن انصبوا إلى مجالسهم التي كانوا يجلسون فيها أنصابا، وسموها بأسمائهم، ففعلوا. ولم تعبد حتى إذا هلك أولئك ونُسي العلم عُبدت“Ini adalah nama-nama orang-orang saleh di kalangan kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam. Ketika mereka meninggal dunia, setan membisikkan godaannya kepada kaum mereka, ‘Dirikanlah patung-patung di majelis-majelis yang dahulu didatangi oleh orang-orang shalih itu. Dan namailah patung-patung itu dengan nama-nama mereka.’ Kemudian kaum itu pun melaksanakan bisikan setan tersebut, dan sewaktu itu patung-patung tersebut belumlah disembah. Sampai orang-orang yang mendirikan patung tersebut telah mati dan (ketika itu) ilmu tauhid telah dilupakan, akhirnya patung-patung tersebut disembah.”Ibnul Qayyim Rahimahullah Ta’ala menjelaskan,“Lebih dari seorang salafusshalih yang berkata,لما ماتوا عكفوا على قبورهم، ثم صوروا تماثيلهم، ثم طال عليهم الأمد فعبدوهم“Tatkala orang-orang saleh itu meninggal dunia, mulailah orang-orang berlama-lama berdiam diri di makam mereka. Kemudian mereka membuat patung-patung orang-orang saleh tersebut. Berlalulah masa yang panjang, hingga mereka pun menyembah orang-orang saleh tersebut.”Dari ‘Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا تُطروني كما أطرت النصارى ابن مريم؛ إنما أنا عبد، فقولوا: عبد الله ورسوله“Janganlah kalian melampaui batas dalam menyanjungku, sebagaimana kaum Nashara melampaui batas dalam menyanjung Nabi Isa putra Maryam! Sesungguhnya aku adalah seorang hamba. Oleh karena itu, katakanlah (bahwa aku adalah ) hamba Allah dan Rasul-Nya!” (HR. Bukhari dan Muslim).Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إياكم والغلو؛ فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو“Awas, jauhilah sikap melampaui batas! Karena sikap melampaui batas adalah perkara yang membinasakan kaum sebelum kalian!” (HR. An-Nasa’i dan selainnya, dinilai sahih oleh Al-Albani Rahimahumallah)Imam Muslim Rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,هلك المتنطعون ، قالها ثلاثا“Binasalah orang-orang yang melampaui batas, (Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda tiga kali.”Baca Juga:[Bersambung]Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id


Baca pembahasan sebelumnya Antara Berlebihan dan Merendahkan Orang Shalih (Bag. 1)Dalil-dalil larangan ghuluw terhadap orang salehBismillah walhamdulillah, wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du. Disebutkan oleh Syekh Muhammad At-Tamimi Rahimahullah dalam Kitabut Tauhid alladzi huwa haqqullah ‘alal ‘abiid sebuah bab yang berjudulباب ما جاء أن سبب كفر بني آدم وتركهم دينهم هو الغلو في الصالحين“Bab (tentang) sebab kekafiran manusia dan sebab mereka meninggalkan agama Islam adalah melampaui batas terhadap orang saleh.”Lalu beliau menyebutkan beberapa dalil tentang larangan bersikap melampaui batas terhadap orang saleh atau yang dikenal dengan istilah ghuluw terhadap orang saleh.Allah Ta’ala berfirman, يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ“Wahai ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian!” (QS. An-Nisa: 171) Dalam Ash-Shahihain, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma tentang firman Allah Ta’ala,وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا  “Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr” (QS. Nuh: 23).Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata,هذه أسماء رجال صالحين من قوم نوح، فلما هلكوا أوحى الشيطان إلى قومهم أن انصبوا إلى مجالسهم التي كانوا يجلسون فيها أنصابا، وسموها بأسمائهم، ففعلوا. ولم تعبد حتى إذا هلك أولئك ونُسي العلم عُبدت“Ini adalah nama-nama orang-orang saleh di kalangan kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam. Ketika mereka meninggal dunia, setan membisikkan godaannya kepada kaum mereka, ‘Dirikanlah patung-patung di majelis-majelis yang dahulu didatangi oleh orang-orang shalih itu. Dan namailah patung-patung itu dengan nama-nama mereka.’ Kemudian kaum itu pun melaksanakan bisikan setan tersebut, dan sewaktu itu patung-patung tersebut belumlah disembah. Sampai orang-orang yang mendirikan patung tersebut telah mati dan (ketika itu) ilmu tauhid telah dilupakan, akhirnya patung-patung tersebut disembah.”Ibnul Qayyim Rahimahullah Ta’ala menjelaskan,“Lebih dari seorang salafusshalih yang berkata,لما ماتوا عكفوا على قبورهم، ثم صوروا تماثيلهم، ثم طال عليهم الأمد فعبدوهم“Tatkala orang-orang saleh itu meninggal dunia, mulailah orang-orang berlama-lama berdiam diri di makam mereka. Kemudian mereka membuat patung-patung orang-orang saleh tersebut. Berlalulah masa yang panjang, hingga mereka pun menyembah orang-orang saleh tersebut.”Dari ‘Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا تُطروني كما أطرت النصارى ابن مريم؛ إنما أنا عبد، فقولوا: عبد الله ورسوله“Janganlah kalian melampaui batas dalam menyanjungku, sebagaimana kaum Nashara melampaui batas dalam menyanjung Nabi Isa putra Maryam! Sesungguhnya aku adalah seorang hamba. Oleh karena itu, katakanlah (bahwa aku adalah ) hamba Allah dan Rasul-Nya!” (HR. Bukhari dan Muslim).Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,إياكم والغلو؛ فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو“Awas, jauhilah sikap melampaui batas! Karena sikap melampaui batas adalah perkara yang membinasakan kaum sebelum kalian!” (HR. An-Nasa’i dan selainnya, dinilai sahih oleh Al-Albani Rahimahumallah)Imam Muslim Rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,هلك المتنطعون ، قالها ثلاثا“Binasalah orang-orang yang melampaui batas, (Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda tiga kali.”Baca Juga:[Bersambung]Penulis: Sa’id Abu UkkasyahArtikel: Muslim.or.id

Apakah Doa Bisa Mengubah Takdir?

Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahPertanyaan:Ada yang mengatakan bahwa sesungguhnya doa dan takdir bisa saling mengubah. Doa bisa menolak sebagian takdir atau bencana, sebagaimana berbuat baik kepada orang tua akan memberkahi (menambah kebaikan) umur seorang hamba. Kami memohon penjelasan bagaimana kaidah dalam masalah ini?Baca Juga: Memahami Macam-macam TakdirJawaban:Terdapat dalam hadis Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda,إن العبد ليحرم الرزق بالذنب يصيبه، وإن القضاء لا يرده إلا الدعاء، وإن الدعاء مع القضاء يعتلجان إلى يوم القيامة، وإن البر يزيد في العمر“Sesungguhnya seorang hamba terhalangi dari rizkinya karena dosa yang dilakukannya. Sesungguhnya takdir itu tidaklah berubah kecuali dengan doa. Sesungguhnya doa dan takdir saling berusaha untuk mendahului, hingga hari kiamat. Dan sesungguhnya perbuatan baik (kepada orang tua) itu memperpanjang umur.” (HR. Ahmad no. 22438, Ibnu Majah no. 22438, dihasankan oleh Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Al-Musnad)Maka, perbuatan berdoa itu adalah bagian dari takdir, dan takdir itu pasti terjadi. Atas kehendak Allah-lah terjadi dan tercegahnya segala sesuatu. Dia juga yang menakdirkan dan mencegah segala sesuatu baik dengan sebab doa, sedekah, atau amal salih. Dan Dia menjadikan perkara-perkara ini sebagai sebab-sebab dari semua itu (rizki, panjang umur, dll), yang tidak lepas dari ketetapan-Nya.Suatu takdir bisa saja diperbaiki dengan takdir lain. Takdir dan doa saling mendahului satu sama lain. Contohnya, ketika Anda menggembala kambing atau unta, terkadang Engkau mendapati mereka di ladang yang sangat baik. Ini terjadi karena takdir Allah. Terkadang Engkau mendapati mereka berada di ladang yang cukup baik dan terkadang Engkau dapati mereka di ladang yang buruk dan tandus. Ini juga karena takdir Allah. Bahkan terkadang yang buruk adalah perlakuanmu kepada mereka. Namun yang menjadi kewajiban bagimu adalah berusaha memastikan bahwa hewan ternak tersebut dalam keadaan baik serta menjauhkannya dari keburukan. Namun, semua ini terjadi atas takdir Allah.Hal tersebut serupa dengan apa yang dikatakan ‘Umar radiyallahu ‘anhu kepada orang-orang terkait turunnya tha’un (wabah menular) di Syam yang merupakan wilayah kaum Muslimin. ‘Umar memerintahkan agar manusia masuk ke rumahnya masing-masing dan melarang orang-orang masuk ke Syam (karena sedang terjadi tha’un). Sebagian orang berkata, “Bukankah ini bentuk lari dari takdir Allah?” ‘Umar radiyallahu ‘anhu pun berkata,نفر من قدر الله إلى قدر الله“Kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah (yang lain).”Maksudnya, kita tetap di Syam adalah atas takdir Allah dan kita kembali (ke tempat asal) juga atas takdir Allah. Semuanya adalah takdir Allah. Maka, kita (hakikatnya) berlari dari takdir Allah yang satu, menuju takdir Allah yang lain.Sebagaimana Engkau berlari dari keburukan dengan bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla. Engkau berlari dari penyakit dengan melakukan pengobatan menggunakan jarum, biji-bijian, atau obat yang lainnya, semuanya adalah bentuk lari dari takdir Allah yang satu, menuju takdir Allah yang lain. Kemudian ‘Umar membuat permisalan kepada manusia, dia berkata,أرأيتم لو كان إنسان عنده إبل أو غنم فأراعها في روضة مخصبة أليس بقدر الله؟ وهو بهذا مشكور- فإن راعها أو ذهب بها إلى أرض مجدبة مقحطة أو أرض خالية من الماء والعشب لكان مسيئا -وهو بقدر الله“Tidakkah kalian melihat ketika seseorang menggembala unta atau kambing ke sebuah ladang yang subur, bukankah itu terjadi atas takdir Allah? Dan hal ini wajib untuk disyukuri. Jika dia menggembala atau membawanya ke ladang yang tandus dan gersang, atau ladang yang tidak tersedia air dan rerumputan, maka hal ini akan merugikannya. Dan ini juga terjadi atas takdir Allah.”Kesimpulan, sesungguhnya ketika manusia mengikuti sesuatu yang benar, itu adalah takdir Allah. Dan ketika dia mengikuti sesuatu yang salah, itu juga merupakan takdir Allah. Seluruhnya terjadi karena takdir Allah. Kita berlari dari takdir Allah yang satu, menuju takdir Allah yang lain. Kalaupun manusia bermaksiat, maka maksiatnya terjadi dan dia tidak bisa berdalil untuk lepas dari hukuman yang telah Allah syariatkan. Hal itu (maksiat dan hukuman) juga merupakan takdir Allah. Maka, tegaknya hukuman adalah karena takdir Allah. Maksiat apa pun yang terjadi juga merupakan takdir Allah. Seseorang memperoleh yang halal adalah takdir, memperoleh yang haram adalah takdir. Akan tetapi, dia diperintahkan untuk memperoleh yang halal dan dilarang untuk memperoleh yang haram, dan semuanya terjadi karena takdir Allah.Tidak mungkin seseorang keluar dari takdir Allah. Akan tetapi, dia diperintahkan untuk berusaha memperbaikinya. Dia diperintahkan untuk melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan. Allah menjadikan baginya (manusia) akal pikiran, Allah ciptakan baginya kemampuan memilih untuk membedakan antara yang satu dan yang lainnya. Oleh karena itu, manusia hendaknya menyalahkan dirinya jika dia tunduk kepada keburukan dan kemaksiatan, seperti mabuk-mabukan, zina, dan selainnya.Hendaknya, dia (manusia) bersyukur ketika dia condong untuk berbuat taat, berpegang teguh pada ketaatan, istiqamah dalam ketaatan, karena dia memiliki akal, kehendak, kemampuan memilih, serta kemampuan membedakan yang baik dan yang buruk, yang bermanfaat dan yang mudharat, yang benar dan yang salah. Demikianlah syariat dan takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Allah jalla wa‘ala tetapkan takdir bagi hamba-Nya dan memberi akal kepada para hamba-Nya yang dapat mereka gunakan untuk membedakan yang benar dengan yang salah, membedakan petunjuk dan bimbingan Allah dengan kesesatan, dan membedakan petunjuk Allah dengan selainnya.Baca Juga:Sumber: Mauqi’ Ibn Baz, https://bit.ly/2IH2S4UPenerjemah: Rafi PohanArtikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Usaha, Hadits 9 Dari 10 Pintu Rezeki Ada Di Perdagangan, Arti Ilmu Tasawuf, Tulisan Walimatul Ursy Yang Benar, Sholat Id

Apakah Doa Bisa Mengubah Takdir?

Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahPertanyaan:Ada yang mengatakan bahwa sesungguhnya doa dan takdir bisa saling mengubah. Doa bisa menolak sebagian takdir atau bencana, sebagaimana berbuat baik kepada orang tua akan memberkahi (menambah kebaikan) umur seorang hamba. Kami memohon penjelasan bagaimana kaidah dalam masalah ini?Baca Juga: Memahami Macam-macam TakdirJawaban:Terdapat dalam hadis Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda,إن العبد ليحرم الرزق بالذنب يصيبه، وإن القضاء لا يرده إلا الدعاء، وإن الدعاء مع القضاء يعتلجان إلى يوم القيامة، وإن البر يزيد في العمر“Sesungguhnya seorang hamba terhalangi dari rizkinya karena dosa yang dilakukannya. Sesungguhnya takdir itu tidaklah berubah kecuali dengan doa. Sesungguhnya doa dan takdir saling berusaha untuk mendahului, hingga hari kiamat. Dan sesungguhnya perbuatan baik (kepada orang tua) itu memperpanjang umur.” (HR. Ahmad no. 22438, Ibnu Majah no. 22438, dihasankan oleh Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Al-Musnad)Maka, perbuatan berdoa itu adalah bagian dari takdir, dan takdir itu pasti terjadi. Atas kehendak Allah-lah terjadi dan tercegahnya segala sesuatu. Dia juga yang menakdirkan dan mencegah segala sesuatu baik dengan sebab doa, sedekah, atau amal salih. Dan Dia menjadikan perkara-perkara ini sebagai sebab-sebab dari semua itu (rizki, panjang umur, dll), yang tidak lepas dari ketetapan-Nya.Suatu takdir bisa saja diperbaiki dengan takdir lain. Takdir dan doa saling mendahului satu sama lain. Contohnya, ketika Anda menggembala kambing atau unta, terkadang Engkau mendapati mereka di ladang yang sangat baik. Ini terjadi karena takdir Allah. Terkadang Engkau mendapati mereka berada di ladang yang cukup baik dan terkadang Engkau dapati mereka di ladang yang buruk dan tandus. Ini juga karena takdir Allah. Bahkan terkadang yang buruk adalah perlakuanmu kepada mereka. Namun yang menjadi kewajiban bagimu adalah berusaha memastikan bahwa hewan ternak tersebut dalam keadaan baik serta menjauhkannya dari keburukan. Namun, semua ini terjadi atas takdir Allah.Hal tersebut serupa dengan apa yang dikatakan ‘Umar radiyallahu ‘anhu kepada orang-orang terkait turunnya tha’un (wabah menular) di Syam yang merupakan wilayah kaum Muslimin. ‘Umar memerintahkan agar manusia masuk ke rumahnya masing-masing dan melarang orang-orang masuk ke Syam (karena sedang terjadi tha’un). Sebagian orang berkata, “Bukankah ini bentuk lari dari takdir Allah?” ‘Umar radiyallahu ‘anhu pun berkata,نفر من قدر الله إلى قدر الله“Kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah (yang lain).”Maksudnya, kita tetap di Syam adalah atas takdir Allah dan kita kembali (ke tempat asal) juga atas takdir Allah. Semuanya adalah takdir Allah. Maka, kita (hakikatnya) berlari dari takdir Allah yang satu, menuju takdir Allah yang lain.Sebagaimana Engkau berlari dari keburukan dengan bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla. Engkau berlari dari penyakit dengan melakukan pengobatan menggunakan jarum, biji-bijian, atau obat yang lainnya, semuanya adalah bentuk lari dari takdir Allah yang satu, menuju takdir Allah yang lain. Kemudian ‘Umar membuat permisalan kepada manusia, dia berkata,أرأيتم لو كان إنسان عنده إبل أو غنم فأراعها في روضة مخصبة أليس بقدر الله؟ وهو بهذا مشكور- فإن راعها أو ذهب بها إلى أرض مجدبة مقحطة أو أرض خالية من الماء والعشب لكان مسيئا -وهو بقدر الله“Tidakkah kalian melihat ketika seseorang menggembala unta atau kambing ke sebuah ladang yang subur, bukankah itu terjadi atas takdir Allah? Dan hal ini wajib untuk disyukuri. Jika dia menggembala atau membawanya ke ladang yang tandus dan gersang, atau ladang yang tidak tersedia air dan rerumputan, maka hal ini akan merugikannya. Dan ini juga terjadi atas takdir Allah.”Kesimpulan, sesungguhnya ketika manusia mengikuti sesuatu yang benar, itu adalah takdir Allah. Dan ketika dia mengikuti sesuatu yang salah, itu juga merupakan takdir Allah. Seluruhnya terjadi karena takdir Allah. Kita berlari dari takdir Allah yang satu, menuju takdir Allah yang lain. Kalaupun manusia bermaksiat, maka maksiatnya terjadi dan dia tidak bisa berdalil untuk lepas dari hukuman yang telah Allah syariatkan. Hal itu (maksiat dan hukuman) juga merupakan takdir Allah. Maka, tegaknya hukuman adalah karena takdir Allah. Maksiat apa pun yang terjadi juga merupakan takdir Allah. Seseorang memperoleh yang halal adalah takdir, memperoleh yang haram adalah takdir. Akan tetapi, dia diperintahkan untuk memperoleh yang halal dan dilarang untuk memperoleh yang haram, dan semuanya terjadi karena takdir Allah.Tidak mungkin seseorang keluar dari takdir Allah. Akan tetapi, dia diperintahkan untuk berusaha memperbaikinya. Dia diperintahkan untuk melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan. Allah menjadikan baginya (manusia) akal pikiran, Allah ciptakan baginya kemampuan memilih untuk membedakan antara yang satu dan yang lainnya. Oleh karena itu, manusia hendaknya menyalahkan dirinya jika dia tunduk kepada keburukan dan kemaksiatan, seperti mabuk-mabukan, zina, dan selainnya.Hendaknya, dia (manusia) bersyukur ketika dia condong untuk berbuat taat, berpegang teguh pada ketaatan, istiqamah dalam ketaatan, karena dia memiliki akal, kehendak, kemampuan memilih, serta kemampuan membedakan yang baik dan yang buruk, yang bermanfaat dan yang mudharat, yang benar dan yang salah. Demikianlah syariat dan takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Allah jalla wa‘ala tetapkan takdir bagi hamba-Nya dan memberi akal kepada para hamba-Nya yang dapat mereka gunakan untuk membedakan yang benar dengan yang salah, membedakan petunjuk dan bimbingan Allah dengan kesesatan, dan membedakan petunjuk Allah dengan selainnya.Baca Juga:Sumber: Mauqi’ Ibn Baz, https://bit.ly/2IH2S4UPenerjemah: Rafi PohanArtikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Usaha, Hadits 9 Dari 10 Pintu Rezeki Ada Di Perdagangan, Arti Ilmu Tasawuf, Tulisan Walimatul Ursy Yang Benar, Sholat Id
Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahPertanyaan:Ada yang mengatakan bahwa sesungguhnya doa dan takdir bisa saling mengubah. Doa bisa menolak sebagian takdir atau bencana, sebagaimana berbuat baik kepada orang tua akan memberkahi (menambah kebaikan) umur seorang hamba. Kami memohon penjelasan bagaimana kaidah dalam masalah ini?Baca Juga: Memahami Macam-macam TakdirJawaban:Terdapat dalam hadis Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda,إن العبد ليحرم الرزق بالذنب يصيبه، وإن القضاء لا يرده إلا الدعاء، وإن الدعاء مع القضاء يعتلجان إلى يوم القيامة، وإن البر يزيد في العمر“Sesungguhnya seorang hamba terhalangi dari rizkinya karena dosa yang dilakukannya. Sesungguhnya takdir itu tidaklah berubah kecuali dengan doa. Sesungguhnya doa dan takdir saling berusaha untuk mendahului, hingga hari kiamat. Dan sesungguhnya perbuatan baik (kepada orang tua) itu memperpanjang umur.” (HR. Ahmad no. 22438, Ibnu Majah no. 22438, dihasankan oleh Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Al-Musnad)Maka, perbuatan berdoa itu adalah bagian dari takdir, dan takdir itu pasti terjadi. Atas kehendak Allah-lah terjadi dan tercegahnya segala sesuatu. Dia juga yang menakdirkan dan mencegah segala sesuatu baik dengan sebab doa, sedekah, atau amal salih. Dan Dia menjadikan perkara-perkara ini sebagai sebab-sebab dari semua itu (rizki, panjang umur, dll), yang tidak lepas dari ketetapan-Nya.Suatu takdir bisa saja diperbaiki dengan takdir lain. Takdir dan doa saling mendahului satu sama lain. Contohnya, ketika Anda menggembala kambing atau unta, terkadang Engkau mendapati mereka di ladang yang sangat baik. Ini terjadi karena takdir Allah. Terkadang Engkau mendapati mereka berada di ladang yang cukup baik dan terkadang Engkau dapati mereka di ladang yang buruk dan tandus. Ini juga karena takdir Allah. Bahkan terkadang yang buruk adalah perlakuanmu kepada mereka. Namun yang menjadi kewajiban bagimu adalah berusaha memastikan bahwa hewan ternak tersebut dalam keadaan baik serta menjauhkannya dari keburukan. Namun, semua ini terjadi atas takdir Allah.Hal tersebut serupa dengan apa yang dikatakan ‘Umar radiyallahu ‘anhu kepada orang-orang terkait turunnya tha’un (wabah menular) di Syam yang merupakan wilayah kaum Muslimin. ‘Umar memerintahkan agar manusia masuk ke rumahnya masing-masing dan melarang orang-orang masuk ke Syam (karena sedang terjadi tha’un). Sebagian orang berkata, “Bukankah ini bentuk lari dari takdir Allah?” ‘Umar radiyallahu ‘anhu pun berkata,نفر من قدر الله إلى قدر الله“Kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah (yang lain).”Maksudnya, kita tetap di Syam adalah atas takdir Allah dan kita kembali (ke tempat asal) juga atas takdir Allah. Semuanya adalah takdir Allah. Maka, kita (hakikatnya) berlari dari takdir Allah yang satu, menuju takdir Allah yang lain.Sebagaimana Engkau berlari dari keburukan dengan bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla. Engkau berlari dari penyakit dengan melakukan pengobatan menggunakan jarum, biji-bijian, atau obat yang lainnya, semuanya adalah bentuk lari dari takdir Allah yang satu, menuju takdir Allah yang lain. Kemudian ‘Umar membuat permisalan kepada manusia, dia berkata,أرأيتم لو كان إنسان عنده إبل أو غنم فأراعها في روضة مخصبة أليس بقدر الله؟ وهو بهذا مشكور- فإن راعها أو ذهب بها إلى أرض مجدبة مقحطة أو أرض خالية من الماء والعشب لكان مسيئا -وهو بقدر الله“Tidakkah kalian melihat ketika seseorang menggembala unta atau kambing ke sebuah ladang yang subur, bukankah itu terjadi atas takdir Allah? Dan hal ini wajib untuk disyukuri. Jika dia menggembala atau membawanya ke ladang yang tandus dan gersang, atau ladang yang tidak tersedia air dan rerumputan, maka hal ini akan merugikannya. Dan ini juga terjadi atas takdir Allah.”Kesimpulan, sesungguhnya ketika manusia mengikuti sesuatu yang benar, itu adalah takdir Allah. Dan ketika dia mengikuti sesuatu yang salah, itu juga merupakan takdir Allah. Seluruhnya terjadi karena takdir Allah. Kita berlari dari takdir Allah yang satu, menuju takdir Allah yang lain. Kalaupun manusia bermaksiat, maka maksiatnya terjadi dan dia tidak bisa berdalil untuk lepas dari hukuman yang telah Allah syariatkan. Hal itu (maksiat dan hukuman) juga merupakan takdir Allah. Maka, tegaknya hukuman adalah karena takdir Allah. Maksiat apa pun yang terjadi juga merupakan takdir Allah. Seseorang memperoleh yang halal adalah takdir, memperoleh yang haram adalah takdir. Akan tetapi, dia diperintahkan untuk memperoleh yang halal dan dilarang untuk memperoleh yang haram, dan semuanya terjadi karena takdir Allah.Tidak mungkin seseorang keluar dari takdir Allah. Akan tetapi, dia diperintahkan untuk berusaha memperbaikinya. Dia diperintahkan untuk melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan. Allah menjadikan baginya (manusia) akal pikiran, Allah ciptakan baginya kemampuan memilih untuk membedakan antara yang satu dan yang lainnya. Oleh karena itu, manusia hendaknya menyalahkan dirinya jika dia tunduk kepada keburukan dan kemaksiatan, seperti mabuk-mabukan, zina, dan selainnya.Hendaknya, dia (manusia) bersyukur ketika dia condong untuk berbuat taat, berpegang teguh pada ketaatan, istiqamah dalam ketaatan, karena dia memiliki akal, kehendak, kemampuan memilih, serta kemampuan membedakan yang baik dan yang buruk, yang bermanfaat dan yang mudharat, yang benar dan yang salah. Demikianlah syariat dan takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Allah jalla wa‘ala tetapkan takdir bagi hamba-Nya dan memberi akal kepada para hamba-Nya yang dapat mereka gunakan untuk membedakan yang benar dengan yang salah, membedakan petunjuk dan bimbingan Allah dengan kesesatan, dan membedakan petunjuk Allah dengan selainnya.Baca Juga:Sumber: Mauqi’ Ibn Baz, https://bit.ly/2IH2S4UPenerjemah: Rafi PohanArtikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Usaha, Hadits 9 Dari 10 Pintu Rezeki Ada Di Perdagangan, Arti Ilmu Tasawuf, Tulisan Walimatul Ursy Yang Benar, Sholat Id


Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahPertanyaan:Ada yang mengatakan bahwa sesungguhnya doa dan takdir bisa saling mengubah. Doa bisa menolak sebagian takdir atau bencana, sebagaimana berbuat baik kepada orang tua akan memberkahi (menambah kebaikan) umur seorang hamba. Kami memohon penjelasan bagaimana kaidah dalam masalah ini?Baca Juga: Memahami Macam-macam TakdirJawaban:Terdapat dalam hadis Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda,إن العبد ليحرم الرزق بالذنب يصيبه، وإن القضاء لا يرده إلا الدعاء، وإن الدعاء مع القضاء يعتلجان إلى يوم القيامة، وإن البر يزيد في العمر“Sesungguhnya seorang hamba terhalangi dari rizkinya karena dosa yang dilakukannya. Sesungguhnya takdir itu tidaklah berubah kecuali dengan doa. Sesungguhnya doa dan takdir saling berusaha untuk mendahului, hingga hari kiamat. Dan sesungguhnya perbuatan baik (kepada orang tua) itu memperpanjang umur.” (HR. Ahmad no. 22438, Ibnu Majah no. 22438, dihasankan oleh Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Al-Musnad)Maka, perbuatan berdoa itu adalah bagian dari takdir, dan takdir itu pasti terjadi. Atas kehendak Allah-lah terjadi dan tercegahnya segala sesuatu. Dia juga yang menakdirkan dan mencegah segala sesuatu baik dengan sebab doa, sedekah, atau amal salih. Dan Dia menjadikan perkara-perkara ini sebagai sebab-sebab dari semua itu (rizki, panjang umur, dll), yang tidak lepas dari ketetapan-Nya.Suatu takdir bisa saja diperbaiki dengan takdir lain. Takdir dan doa saling mendahului satu sama lain. Contohnya, ketika Anda menggembala kambing atau unta, terkadang Engkau mendapati mereka di ladang yang sangat baik. Ini terjadi karena takdir Allah. Terkadang Engkau mendapati mereka berada di ladang yang cukup baik dan terkadang Engkau dapati mereka di ladang yang buruk dan tandus. Ini juga karena takdir Allah. Bahkan terkadang yang buruk adalah perlakuanmu kepada mereka. Namun yang menjadi kewajiban bagimu adalah berusaha memastikan bahwa hewan ternak tersebut dalam keadaan baik serta menjauhkannya dari keburukan. Namun, semua ini terjadi atas takdir Allah.Hal tersebut serupa dengan apa yang dikatakan ‘Umar radiyallahu ‘anhu kepada orang-orang terkait turunnya tha’un (wabah menular) di Syam yang merupakan wilayah kaum Muslimin. ‘Umar memerintahkan agar manusia masuk ke rumahnya masing-masing dan melarang orang-orang masuk ke Syam (karena sedang terjadi tha’un). Sebagian orang berkata, “Bukankah ini bentuk lari dari takdir Allah?” ‘Umar radiyallahu ‘anhu pun berkata,نفر من قدر الله إلى قدر الله“Kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah (yang lain).”Maksudnya, kita tetap di Syam adalah atas takdir Allah dan kita kembali (ke tempat asal) juga atas takdir Allah. Semuanya adalah takdir Allah. Maka, kita (hakikatnya) berlari dari takdir Allah yang satu, menuju takdir Allah yang lain.Sebagaimana Engkau berlari dari keburukan dengan bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla. Engkau berlari dari penyakit dengan melakukan pengobatan menggunakan jarum, biji-bijian, atau obat yang lainnya, semuanya adalah bentuk lari dari takdir Allah yang satu, menuju takdir Allah yang lain. Kemudian ‘Umar membuat permisalan kepada manusia, dia berkata,أرأيتم لو كان إنسان عنده إبل أو غنم فأراعها في روضة مخصبة أليس بقدر الله؟ وهو بهذا مشكور- فإن راعها أو ذهب بها إلى أرض مجدبة مقحطة أو أرض خالية من الماء والعشب لكان مسيئا -وهو بقدر الله“Tidakkah kalian melihat ketika seseorang menggembala unta atau kambing ke sebuah ladang yang subur, bukankah itu terjadi atas takdir Allah? Dan hal ini wajib untuk disyukuri. Jika dia menggembala atau membawanya ke ladang yang tandus dan gersang, atau ladang yang tidak tersedia air dan rerumputan, maka hal ini akan merugikannya. Dan ini juga terjadi atas takdir Allah.”Kesimpulan, sesungguhnya ketika manusia mengikuti sesuatu yang benar, itu adalah takdir Allah. Dan ketika dia mengikuti sesuatu yang salah, itu juga merupakan takdir Allah. Seluruhnya terjadi karena takdir Allah. Kita berlari dari takdir Allah yang satu, menuju takdir Allah yang lain. Kalaupun manusia bermaksiat, maka maksiatnya terjadi dan dia tidak bisa berdalil untuk lepas dari hukuman yang telah Allah syariatkan. Hal itu (maksiat dan hukuman) juga merupakan takdir Allah. Maka, tegaknya hukuman adalah karena takdir Allah. Maksiat apa pun yang terjadi juga merupakan takdir Allah. Seseorang memperoleh yang halal adalah takdir, memperoleh yang haram adalah takdir. Akan tetapi, dia diperintahkan untuk memperoleh yang halal dan dilarang untuk memperoleh yang haram, dan semuanya terjadi karena takdir Allah.Tidak mungkin seseorang keluar dari takdir Allah. Akan tetapi, dia diperintahkan untuk berusaha memperbaikinya. Dia diperintahkan untuk melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan. Allah menjadikan baginya (manusia) akal pikiran, Allah ciptakan baginya kemampuan memilih untuk membedakan antara yang satu dan yang lainnya. Oleh karena itu, manusia hendaknya menyalahkan dirinya jika dia tunduk kepada keburukan dan kemaksiatan, seperti mabuk-mabukan, zina, dan selainnya.Hendaknya, dia (manusia) bersyukur ketika dia condong untuk berbuat taat, berpegang teguh pada ketaatan, istiqamah dalam ketaatan, karena dia memiliki akal, kehendak, kemampuan memilih, serta kemampuan membedakan yang baik dan yang buruk, yang bermanfaat dan yang mudharat, yang benar dan yang salah. Demikianlah syariat dan takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Allah jalla wa‘ala tetapkan takdir bagi hamba-Nya dan memberi akal kepada para hamba-Nya yang dapat mereka gunakan untuk membedakan yang benar dengan yang salah, membedakan petunjuk dan bimbingan Allah dengan kesesatan, dan membedakan petunjuk Allah dengan selainnya.Baca Juga:Sumber: Mauqi’ Ibn Baz, https://bit.ly/2IH2S4UPenerjemah: Rafi PohanArtikel: Muslim.or.id🔍 Hadits Tentang Usaha, Hadits 9 Dari 10 Pintu Rezeki Ada Di Perdagangan, Arti Ilmu Tasawuf, Tulisan Walimatul Ursy Yang Benar, Sholat Id

Shalat Menjadi Kesenangan Hati (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Shalat Menjadi Kesenangan Hati (Bag. 1)Salat bisa menjadi qurratul ‘ain (kesenangan hati) dan istirahatnya hati ketika salat tersebut bisa menghadirkan 6 hal, yaitu: (1) ikhlas, (2) kejujuran dan ketulusan, (3) mengikuti dan mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) ihsan, (5) menyadari anugerah dari Allah Ta’ala, dan (6) merasa kurang dalam amal.Empat poin pertama telah kami jelaskan pada artikel Shalat menjadi Kesenangan Hati (Bag. 1). Pada artikel ini akan kami jelaskan dua poin terakhir.Menyadari anugerah dari AllahSeorang hamba haruslah senantiasa menyadari dan mengingat bahwa semua anugerah hanya milik Allah Ta’ala. Dia mampu untuk mendirikan salat dengan baik disebabkan karena anugerah dari Allah Ta’ala. Sahabat radhiyallaahu ‘anhum berkata di hadapan Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam,وَاللهِ لَـوْلَا اللهُ مَـا اهْتَـدَيْنَـاوَلَا تَصَـدَّقْنَـا وَلَا صَلَّيْنَـا“Demi Allah, jikalau bukan karena Allah, maka kami tidak akan mendapat petunjukTidak bisa bersedekah, tidak bisa pula shalat”Allah Ta’ala berfirman,يَمُنُّوْنَ عَلَيْكَ اَنْ اَسْلَمُوْا ۗ قُلْ لَّا تَمُنُّوْا عَلَيَّ اِسْلَامَكُمْ ۚبَلِ اللّٰهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ اَنْ هَدٰىكُمْ لِلْاِيْمَانِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ“Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu. Sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar.” (QS. Al Hujurat: 17)Jadi, Allah Ta’ala lah yang menjadikan seseorang menjadi muslim dan mampu mendirikan shalat. Ini sebagaimana perkataan Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam,رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَآ اُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَۖ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۚ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu, dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah taubat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima taubat, lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 128)رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibarhim: 40)Anugerah hanyalah milik Allah Ta’ala dalam menjadikan seorang hamba melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Ketaatan ini merupakan nikmat paling agung bagi seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِلَيْهِ تَجْـَٔرُوْنَۚ“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” (QS. An Nahl: 53) وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ فِيْكُمْ رَسُوْلَ اللّٰهِ ۗ لَوْ يُطِيْعُكُمْ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنَ الْاَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ حَبَّبَ اِلَيْكُمُ الْاِيْمَانَ وَزَيَّنَه فِيْ قُلُوْبِكُمْ وَكَرَّهَ اِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الرَّاشِدُوْنَۙ“Dan ketahuilah olehmu bahwa di tengah-tengahmu ada Rasulullah. Kalau dia menuruti (kemauan)mu dalam banyak hal, pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Tetapi Allah menjadikanmu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Al Hujurat: 7)Kesadaran seseorang terhadap anugerah yang Allah Ta’ala berikan ini akan berbanding lurus dengan kadar kesempurnaan tauhid seseorang. Semakin dia sempurna tauhidnya maka semakin tinggi pula kesadarannya akan anugerah yang telah Allah Ta’ala berikan kepada Nya.Apabila hamba menyadari bahwa ketaatan yang bisa dia laksanakan itu semata-mata adalah anugerah dari Allah Ta’ala, maka dia akan lebih terjaga dari sifat berbangga diri dengan amalannya. Hal ini disebabkan karena dia menyadari bahwa semua itu adalah anugerah dan nikmat yang Allah Ta’ala  berikan kepada Nya.Baca Juga: Tata Cara Shalat Malam dan Witir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamMerasa kurang dalam amalannyaSebesar apapun usaha seorang hamba untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala, tetap saja dia dikatakan sebagai orang yang kurang. Hal ini disebabkan karena hak Allah Ta’ala yang harus ditunaikan jauh lebih besar daripada amalan yang telah dilaksanakan hamba. Oleh karena itu, setiap hamba hendaknya menyadari akan kekurangannya tersebut dan memperbanyak istighfar.Empat hal yang menjadi pokok permasalahan di atas adalah niat yang benar, semangat yang tinggi, raghbah (rasa berharap yang khusus) dan rahbah (rasa takut yang khusus). Empat hal ini merupakan kaidah-kaidah dalam permasalahan tersebut. Apabila terdapat kekurangan di dalam kondisi keimanan seseorang, maka ada kekurangan di dalam keempat hal tersebut atau kekurangan di sebagiannya. Oleh karena itu, orang yang cerdas akan merenungkan keempat hal ini dan akan bersungguh-sungguh menjadikannya sebagai jalan hidupnya.Allah Ta’ala tempat meminta pertolongan, kita bertawakal kepada-Nya, memohon taufik kepada-Nya, cukuplah Dia menjadi penolong kita dan Dia lah sebaik-baik Pelindung.Baca Juga:[Selesai]* * *Sumber:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 83-87, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al fadhiilah. Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id

Shalat Menjadi Kesenangan Hati (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Shalat Menjadi Kesenangan Hati (Bag. 1)Salat bisa menjadi qurratul ‘ain (kesenangan hati) dan istirahatnya hati ketika salat tersebut bisa menghadirkan 6 hal, yaitu: (1) ikhlas, (2) kejujuran dan ketulusan, (3) mengikuti dan mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) ihsan, (5) menyadari anugerah dari Allah Ta’ala, dan (6) merasa kurang dalam amal.Empat poin pertama telah kami jelaskan pada artikel Shalat menjadi Kesenangan Hati (Bag. 1). Pada artikel ini akan kami jelaskan dua poin terakhir.Menyadari anugerah dari AllahSeorang hamba haruslah senantiasa menyadari dan mengingat bahwa semua anugerah hanya milik Allah Ta’ala. Dia mampu untuk mendirikan salat dengan baik disebabkan karena anugerah dari Allah Ta’ala. Sahabat radhiyallaahu ‘anhum berkata di hadapan Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam,وَاللهِ لَـوْلَا اللهُ مَـا اهْتَـدَيْنَـاوَلَا تَصَـدَّقْنَـا وَلَا صَلَّيْنَـا“Demi Allah, jikalau bukan karena Allah, maka kami tidak akan mendapat petunjukTidak bisa bersedekah, tidak bisa pula shalat”Allah Ta’ala berfirman,يَمُنُّوْنَ عَلَيْكَ اَنْ اَسْلَمُوْا ۗ قُلْ لَّا تَمُنُّوْا عَلَيَّ اِسْلَامَكُمْ ۚبَلِ اللّٰهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ اَنْ هَدٰىكُمْ لِلْاِيْمَانِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ“Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu. Sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar.” (QS. Al Hujurat: 17)Jadi, Allah Ta’ala lah yang menjadikan seseorang menjadi muslim dan mampu mendirikan shalat. Ini sebagaimana perkataan Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam,رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَآ اُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَۖ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۚ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu, dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah taubat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima taubat, lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 128)رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibarhim: 40)Anugerah hanyalah milik Allah Ta’ala dalam menjadikan seorang hamba melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Ketaatan ini merupakan nikmat paling agung bagi seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِلَيْهِ تَجْـَٔرُوْنَۚ“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” (QS. An Nahl: 53) وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ فِيْكُمْ رَسُوْلَ اللّٰهِ ۗ لَوْ يُطِيْعُكُمْ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنَ الْاَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ حَبَّبَ اِلَيْكُمُ الْاِيْمَانَ وَزَيَّنَه فِيْ قُلُوْبِكُمْ وَكَرَّهَ اِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الرَّاشِدُوْنَۙ“Dan ketahuilah olehmu bahwa di tengah-tengahmu ada Rasulullah. Kalau dia menuruti (kemauan)mu dalam banyak hal, pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Tetapi Allah menjadikanmu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Al Hujurat: 7)Kesadaran seseorang terhadap anugerah yang Allah Ta’ala berikan ini akan berbanding lurus dengan kadar kesempurnaan tauhid seseorang. Semakin dia sempurna tauhidnya maka semakin tinggi pula kesadarannya akan anugerah yang telah Allah Ta’ala berikan kepada Nya.Apabila hamba menyadari bahwa ketaatan yang bisa dia laksanakan itu semata-mata adalah anugerah dari Allah Ta’ala, maka dia akan lebih terjaga dari sifat berbangga diri dengan amalannya. Hal ini disebabkan karena dia menyadari bahwa semua itu adalah anugerah dan nikmat yang Allah Ta’ala  berikan kepada Nya.Baca Juga: Tata Cara Shalat Malam dan Witir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamMerasa kurang dalam amalannyaSebesar apapun usaha seorang hamba untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala, tetap saja dia dikatakan sebagai orang yang kurang. Hal ini disebabkan karena hak Allah Ta’ala yang harus ditunaikan jauh lebih besar daripada amalan yang telah dilaksanakan hamba. Oleh karena itu, setiap hamba hendaknya menyadari akan kekurangannya tersebut dan memperbanyak istighfar.Empat hal yang menjadi pokok permasalahan di atas adalah niat yang benar, semangat yang tinggi, raghbah (rasa berharap yang khusus) dan rahbah (rasa takut yang khusus). Empat hal ini merupakan kaidah-kaidah dalam permasalahan tersebut. Apabila terdapat kekurangan di dalam kondisi keimanan seseorang, maka ada kekurangan di dalam keempat hal tersebut atau kekurangan di sebagiannya. Oleh karena itu, orang yang cerdas akan merenungkan keempat hal ini dan akan bersungguh-sungguh menjadikannya sebagai jalan hidupnya.Allah Ta’ala tempat meminta pertolongan, kita bertawakal kepada-Nya, memohon taufik kepada-Nya, cukuplah Dia menjadi penolong kita dan Dia lah sebaik-baik Pelindung.Baca Juga:[Selesai]* * *Sumber:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 83-87, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al fadhiilah. Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id
Baca pembahasan sebelumnya Shalat Menjadi Kesenangan Hati (Bag. 1)Salat bisa menjadi qurratul ‘ain (kesenangan hati) dan istirahatnya hati ketika salat tersebut bisa menghadirkan 6 hal, yaitu: (1) ikhlas, (2) kejujuran dan ketulusan, (3) mengikuti dan mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) ihsan, (5) menyadari anugerah dari Allah Ta’ala, dan (6) merasa kurang dalam amal.Empat poin pertama telah kami jelaskan pada artikel Shalat menjadi Kesenangan Hati (Bag. 1). Pada artikel ini akan kami jelaskan dua poin terakhir.Menyadari anugerah dari AllahSeorang hamba haruslah senantiasa menyadari dan mengingat bahwa semua anugerah hanya milik Allah Ta’ala. Dia mampu untuk mendirikan salat dengan baik disebabkan karena anugerah dari Allah Ta’ala. Sahabat radhiyallaahu ‘anhum berkata di hadapan Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam,وَاللهِ لَـوْلَا اللهُ مَـا اهْتَـدَيْنَـاوَلَا تَصَـدَّقْنَـا وَلَا صَلَّيْنَـا“Demi Allah, jikalau bukan karena Allah, maka kami tidak akan mendapat petunjukTidak bisa bersedekah, tidak bisa pula shalat”Allah Ta’ala berfirman,يَمُنُّوْنَ عَلَيْكَ اَنْ اَسْلَمُوْا ۗ قُلْ لَّا تَمُنُّوْا عَلَيَّ اِسْلَامَكُمْ ۚبَلِ اللّٰهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ اَنْ هَدٰىكُمْ لِلْاِيْمَانِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ“Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu. Sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar.” (QS. Al Hujurat: 17)Jadi, Allah Ta’ala lah yang menjadikan seseorang menjadi muslim dan mampu mendirikan shalat. Ini sebagaimana perkataan Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam,رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَآ اُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَۖ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۚ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu, dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah taubat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima taubat, lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 128)رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibarhim: 40)Anugerah hanyalah milik Allah Ta’ala dalam menjadikan seorang hamba melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Ketaatan ini merupakan nikmat paling agung bagi seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِلَيْهِ تَجْـَٔرُوْنَۚ“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” (QS. An Nahl: 53) وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ فِيْكُمْ رَسُوْلَ اللّٰهِ ۗ لَوْ يُطِيْعُكُمْ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنَ الْاَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ حَبَّبَ اِلَيْكُمُ الْاِيْمَانَ وَزَيَّنَه فِيْ قُلُوْبِكُمْ وَكَرَّهَ اِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الرَّاشِدُوْنَۙ“Dan ketahuilah olehmu bahwa di tengah-tengahmu ada Rasulullah. Kalau dia menuruti (kemauan)mu dalam banyak hal, pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Tetapi Allah menjadikanmu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Al Hujurat: 7)Kesadaran seseorang terhadap anugerah yang Allah Ta’ala berikan ini akan berbanding lurus dengan kadar kesempurnaan tauhid seseorang. Semakin dia sempurna tauhidnya maka semakin tinggi pula kesadarannya akan anugerah yang telah Allah Ta’ala berikan kepada Nya.Apabila hamba menyadari bahwa ketaatan yang bisa dia laksanakan itu semata-mata adalah anugerah dari Allah Ta’ala, maka dia akan lebih terjaga dari sifat berbangga diri dengan amalannya. Hal ini disebabkan karena dia menyadari bahwa semua itu adalah anugerah dan nikmat yang Allah Ta’ala  berikan kepada Nya.Baca Juga: Tata Cara Shalat Malam dan Witir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamMerasa kurang dalam amalannyaSebesar apapun usaha seorang hamba untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala, tetap saja dia dikatakan sebagai orang yang kurang. Hal ini disebabkan karena hak Allah Ta’ala yang harus ditunaikan jauh lebih besar daripada amalan yang telah dilaksanakan hamba. Oleh karena itu, setiap hamba hendaknya menyadari akan kekurangannya tersebut dan memperbanyak istighfar.Empat hal yang menjadi pokok permasalahan di atas adalah niat yang benar, semangat yang tinggi, raghbah (rasa berharap yang khusus) dan rahbah (rasa takut yang khusus). Empat hal ini merupakan kaidah-kaidah dalam permasalahan tersebut. Apabila terdapat kekurangan di dalam kondisi keimanan seseorang, maka ada kekurangan di dalam keempat hal tersebut atau kekurangan di sebagiannya. Oleh karena itu, orang yang cerdas akan merenungkan keempat hal ini dan akan bersungguh-sungguh menjadikannya sebagai jalan hidupnya.Allah Ta’ala tempat meminta pertolongan, kita bertawakal kepada-Nya, memohon taufik kepada-Nya, cukuplah Dia menjadi penolong kita dan Dia lah sebaik-baik Pelindung.Baca Juga:[Selesai]* * *Sumber:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 83-87, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al fadhiilah. Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id


Baca pembahasan sebelumnya Shalat Menjadi Kesenangan Hati (Bag. 1)Salat bisa menjadi qurratul ‘ain (kesenangan hati) dan istirahatnya hati ketika salat tersebut bisa menghadirkan 6 hal, yaitu: (1) ikhlas, (2) kejujuran dan ketulusan, (3) mengikuti dan mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) ihsan, (5) menyadari anugerah dari Allah Ta’ala, dan (6) merasa kurang dalam amal.Empat poin pertama telah kami jelaskan pada artikel Shalat menjadi Kesenangan Hati (Bag. 1). Pada artikel ini akan kami jelaskan dua poin terakhir.Menyadari anugerah dari AllahSeorang hamba haruslah senantiasa menyadari dan mengingat bahwa semua anugerah hanya milik Allah Ta’ala. Dia mampu untuk mendirikan salat dengan baik disebabkan karena anugerah dari Allah Ta’ala. Sahabat radhiyallaahu ‘anhum berkata di hadapan Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam,وَاللهِ لَـوْلَا اللهُ مَـا اهْتَـدَيْنَـاوَلَا تَصَـدَّقْنَـا وَلَا صَلَّيْنَـا“Demi Allah, jikalau bukan karena Allah, maka kami tidak akan mendapat petunjukTidak bisa bersedekah, tidak bisa pula shalat”Allah Ta’ala berfirman,يَمُنُّوْنَ عَلَيْكَ اَنْ اَسْلَمُوْا ۗ قُلْ لَّا تَمُنُّوْا عَلَيَّ اِسْلَامَكُمْ ۚبَلِ اللّٰهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ اَنْ هَدٰىكُمْ لِلْاِيْمَانِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ“Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu. Sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar.” (QS. Al Hujurat: 17)Jadi, Allah Ta’ala lah yang menjadikan seseorang menjadi muslim dan mampu mendirikan shalat. Ini sebagaimana perkataan Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam,رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَآ اُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَۖ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۚ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu, dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah taubat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima taubat, lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 128)رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibarhim: 40)Anugerah hanyalah milik Allah Ta’ala dalam menjadikan seorang hamba melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Ketaatan ini merupakan nikmat paling agung bagi seorang hamba. Allah Ta’ala berfirman,وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِلَيْهِ تَجْـَٔرُوْنَۚ“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” (QS. An Nahl: 53) وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ فِيْكُمْ رَسُوْلَ اللّٰهِ ۗ لَوْ يُطِيْعُكُمْ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنَ الْاَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ حَبَّبَ اِلَيْكُمُ الْاِيْمَانَ وَزَيَّنَه فِيْ قُلُوْبِكُمْ وَكَرَّهَ اِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الرَّاشِدُوْنَۙ“Dan ketahuilah olehmu bahwa di tengah-tengahmu ada Rasulullah. Kalau dia menuruti (kemauan)mu dalam banyak hal, pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Tetapi Allah menjadikanmu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Al Hujurat: 7)Kesadaran seseorang terhadap anugerah yang Allah Ta’ala berikan ini akan berbanding lurus dengan kadar kesempurnaan tauhid seseorang. Semakin dia sempurna tauhidnya maka semakin tinggi pula kesadarannya akan anugerah yang telah Allah Ta’ala berikan kepada Nya.Apabila hamba menyadari bahwa ketaatan yang bisa dia laksanakan itu semata-mata adalah anugerah dari Allah Ta’ala, maka dia akan lebih terjaga dari sifat berbangga diri dengan amalannya. Hal ini disebabkan karena dia menyadari bahwa semua itu adalah anugerah dan nikmat yang Allah Ta’ala  berikan kepada Nya.Baca Juga: Tata Cara Shalat Malam dan Witir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamMerasa kurang dalam amalannyaSebesar apapun usaha seorang hamba untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala, tetap saja dia dikatakan sebagai orang yang kurang. Hal ini disebabkan karena hak Allah Ta’ala yang harus ditunaikan jauh lebih besar daripada amalan yang telah dilaksanakan hamba. Oleh karena itu, setiap hamba hendaknya menyadari akan kekurangannya tersebut dan memperbanyak istighfar.Empat hal yang menjadi pokok permasalahan di atas adalah niat yang benar, semangat yang tinggi, raghbah (rasa berharap yang khusus) dan rahbah (rasa takut yang khusus). Empat hal ini merupakan kaidah-kaidah dalam permasalahan tersebut. Apabila terdapat kekurangan di dalam kondisi keimanan seseorang, maka ada kekurangan di dalam keempat hal tersebut atau kekurangan di sebagiannya. Oleh karena itu, orang yang cerdas akan merenungkan keempat hal ini dan akan bersungguh-sungguh menjadikannya sebagai jalan hidupnya.Allah Ta’ala tempat meminta pertolongan, kita bertawakal kepada-Nya, memohon taufik kepada-Nya, cukuplah Dia menjadi penolong kita dan Dia lah sebaik-baik Pelindung.Baca Juga:[Selesai]* * *Sumber:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 83-87, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al fadhiilah. Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id

24 Kandungan Penting dari Surat Al-Kahfi

Apa saja kandungan penting dari surat Al-Kahfi? Berikut Rumaysho.Com ringkaskan dari kitab Kunuz Riyadh Ash-Shalihin: Diturunkannya Al-Qur’an sebagai pembimbing pada jalan yang lurus. Menghibur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena orang kafir yang belum beriman. Keajaiban dalam kisah Ashabul Kahfi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan sabar menghadapi orang-orang fakir. Ancaman bagi orang kafir yang akan mendapatkan siksa dan bala’ (musibah). Janji pada orang beriman bahwa mereka akan mendapatkan balasan yang baik. Permisalan orang beriman dan orang kafir dalam menyikapi dunia. Permisalan dunia dengan hujan yang turun dari langit dan tanaman yang tumbuh. Dunia yang teranggap hanyalah ketaatan pada Allah saja. Penyebutan kejadian pada hari kiamat. Pembacaan kitab catatan amal. Manusia ditampakkan kebenaran. Iblis enggan sujud pada Adam. Keadaan orang kafir ketika masuk neraka. Orang yang membela kebatilan ketika berdebat dengan orang yang berpegang pada kebenaran. Cerita tentang umat sebelum kita yang hancur, supaya kita pun takut akan hal itu. Kisah Nabi Musa dan Khidr. Kisah Dzulqarnain. Bangunan yang menghalangi Ya’juj dan Ma’juj. Rahmat yang akan datang pada hari kiamat. Sia-sianya amalan orang kafir. Balasan bagi orang beriman dan yang berbuat baik. Ilmu Allah tak mungkin habis untuk dicatat. Perintah untuk ikhlas dalam beribadah dan perintah untuk mengikuti tuntunan Rasul (ittiba’ Rasul) lewat amalan shalih. (Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 13: 117) Semoga kandungan surat Al-Kahfi ini bermanfaat.   Baca juga: Keutamaan Menghafal Sepuluh Ayat Surat Al Kahfi Keutamaan Menghafal Surah Al-Kahfi   Referensi: Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, tahun 1430 H. Rais Al-Fariq Al-‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al-‘Ammar. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya.   — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 23 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan hari jumat hari jumat keutamaan surat al kahfi surat al kahfi

24 Kandungan Penting dari Surat Al-Kahfi

Apa saja kandungan penting dari surat Al-Kahfi? Berikut Rumaysho.Com ringkaskan dari kitab Kunuz Riyadh Ash-Shalihin: Diturunkannya Al-Qur’an sebagai pembimbing pada jalan yang lurus. Menghibur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena orang kafir yang belum beriman. Keajaiban dalam kisah Ashabul Kahfi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan sabar menghadapi orang-orang fakir. Ancaman bagi orang kafir yang akan mendapatkan siksa dan bala’ (musibah). Janji pada orang beriman bahwa mereka akan mendapatkan balasan yang baik. Permisalan orang beriman dan orang kafir dalam menyikapi dunia. Permisalan dunia dengan hujan yang turun dari langit dan tanaman yang tumbuh. Dunia yang teranggap hanyalah ketaatan pada Allah saja. Penyebutan kejadian pada hari kiamat. Pembacaan kitab catatan amal. Manusia ditampakkan kebenaran. Iblis enggan sujud pada Adam. Keadaan orang kafir ketika masuk neraka. Orang yang membela kebatilan ketika berdebat dengan orang yang berpegang pada kebenaran. Cerita tentang umat sebelum kita yang hancur, supaya kita pun takut akan hal itu. Kisah Nabi Musa dan Khidr. Kisah Dzulqarnain. Bangunan yang menghalangi Ya’juj dan Ma’juj. Rahmat yang akan datang pada hari kiamat. Sia-sianya amalan orang kafir. Balasan bagi orang beriman dan yang berbuat baik. Ilmu Allah tak mungkin habis untuk dicatat. Perintah untuk ikhlas dalam beribadah dan perintah untuk mengikuti tuntunan Rasul (ittiba’ Rasul) lewat amalan shalih. (Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 13: 117) Semoga kandungan surat Al-Kahfi ini bermanfaat.   Baca juga: Keutamaan Menghafal Sepuluh Ayat Surat Al Kahfi Keutamaan Menghafal Surah Al-Kahfi   Referensi: Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, tahun 1430 H. Rais Al-Fariq Al-‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al-‘Ammar. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya.   — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 23 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan hari jumat hari jumat keutamaan surat al kahfi surat al kahfi
Apa saja kandungan penting dari surat Al-Kahfi? Berikut Rumaysho.Com ringkaskan dari kitab Kunuz Riyadh Ash-Shalihin: Diturunkannya Al-Qur’an sebagai pembimbing pada jalan yang lurus. Menghibur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena orang kafir yang belum beriman. Keajaiban dalam kisah Ashabul Kahfi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan sabar menghadapi orang-orang fakir. Ancaman bagi orang kafir yang akan mendapatkan siksa dan bala’ (musibah). Janji pada orang beriman bahwa mereka akan mendapatkan balasan yang baik. Permisalan orang beriman dan orang kafir dalam menyikapi dunia. Permisalan dunia dengan hujan yang turun dari langit dan tanaman yang tumbuh. Dunia yang teranggap hanyalah ketaatan pada Allah saja. Penyebutan kejadian pada hari kiamat. Pembacaan kitab catatan amal. Manusia ditampakkan kebenaran. Iblis enggan sujud pada Adam. Keadaan orang kafir ketika masuk neraka. Orang yang membela kebatilan ketika berdebat dengan orang yang berpegang pada kebenaran. Cerita tentang umat sebelum kita yang hancur, supaya kita pun takut akan hal itu. Kisah Nabi Musa dan Khidr. Kisah Dzulqarnain. Bangunan yang menghalangi Ya’juj dan Ma’juj. Rahmat yang akan datang pada hari kiamat. Sia-sianya amalan orang kafir. Balasan bagi orang beriman dan yang berbuat baik. Ilmu Allah tak mungkin habis untuk dicatat. Perintah untuk ikhlas dalam beribadah dan perintah untuk mengikuti tuntunan Rasul (ittiba’ Rasul) lewat amalan shalih. (Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 13: 117) Semoga kandungan surat Al-Kahfi ini bermanfaat.   Baca juga: Keutamaan Menghafal Sepuluh Ayat Surat Al Kahfi Keutamaan Menghafal Surah Al-Kahfi   Referensi: Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, tahun 1430 H. Rais Al-Fariq Al-‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al-‘Ammar. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya.   — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 23 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan hari jumat hari jumat keutamaan surat al kahfi surat al kahfi


Apa saja kandungan penting dari surat Al-Kahfi? Berikut Rumaysho.Com ringkaskan dari kitab Kunuz Riyadh Ash-Shalihin: Diturunkannya Al-Qur’an sebagai pembimbing pada jalan yang lurus. Menghibur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena orang kafir yang belum beriman. Keajaiban dalam kisah Ashabul Kahfi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan sabar menghadapi orang-orang fakir. Ancaman bagi orang kafir yang akan mendapatkan siksa dan bala’ (musibah). Janji pada orang beriman bahwa mereka akan mendapatkan balasan yang baik. Permisalan orang beriman dan orang kafir dalam menyikapi dunia. Permisalan dunia dengan hujan yang turun dari langit dan tanaman yang tumbuh. Dunia yang teranggap hanyalah ketaatan pada Allah saja. Penyebutan kejadian pada hari kiamat. Pembacaan kitab catatan amal. Manusia ditampakkan kebenaran. Iblis enggan sujud pada Adam. Keadaan orang kafir ketika masuk neraka. Orang yang membela kebatilan ketika berdebat dengan orang yang berpegang pada kebenaran. Cerita tentang umat sebelum kita yang hancur, supaya kita pun takut akan hal itu. Kisah Nabi Musa dan Khidr. Kisah Dzulqarnain. Bangunan yang menghalangi Ya’juj dan Ma’juj. Rahmat yang akan datang pada hari kiamat. Sia-sianya amalan orang kafir. Balasan bagi orang beriman dan yang berbuat baik. Ilmu Allah tak mungkin habis untuk dicatat. Perintah untuk ikhlas dalam beribadah dan perintah untuk mengikuti tuntunan Rasul (ittiba’ Rasul) lewat amalan shalih. (Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 13: 117) Semoga kandungan surat Al-Kahfi ini bermanfaat.   Baca juga: Keutamaan Menghafal Sepuluh Ayat Surat Al Kahfi Keutamaan Menghafal Surah Al-Kahfi   Referensi: Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, tahun 1430 H. Rais Al-Fariq Al-‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al-‘Ammar. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya.   — Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 23 Muharram 1437 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan hari jumat hari jumat keutamaan surat al kahfi surat al kahfi

Allah di Atas ‘Arsy Ataukah Dekat Bersama Kita?

Kita mengetahui Allah ta’ala menetapkan bahwa Ia istiwa’ di atas ‘Arsy. Dan ini adalah akidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan merupakan ijma salaf dan imam Ahlussunnah. Tidak ada khilaf di antara mereka.Dalam tujuh surah, yaitu Al-A’raf ayat 54, surah Yunus ayat 3, surah Ar-Ra’d ayat 2, surah Al-Furqan ayat 59, surah As-Sajdah ayat 4 dan surah Al-Hadid ayat 4, Allah ta’ala berfirman,ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Kemudian Dia (Allah) istiwa’ di atas ‘Arsy.”Di sisi lain, Allah ta’ala juga berfirman bahwa Ia dekat bersama hamba-Nya. Allah ta’ala berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ“Dan Dia (Allah) bersama kalian di mana pun kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian ketahui.” (QS. Al Hadid: 4).Allah juga berfirman,وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf : 16).Ayat-ayat ini disebut juga ayat-ayat ma’iyyah. Ma’iyyah artinya kebersamaan. Karena ayat-ayat ini menetapkan bahwa Allah dekat bersama hamba-Nya.Lalu bagaimana memahami hal ini? Allah di atas ‘Arsy ataukah dekat bersama kita?Simak penjelasan Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berikut ini. Beliau mengatakan,“Jika ada yang bertanya, ‘Bagaimana kita mengkompromi antara sifat al ‘Uluw (Maha Tinggi) dengan al Ma’iyyah (bersama hamba-Nya)?’ Maka kita jawab dari tiga sisi.Baca Juga: Imam Syafi’i Meyakini Bahwa Allah Berada di Atas ArsyJawaban pertamaAllah ta’ala telah menyifati diri-Nya dengan kedua sifat tersebut, yaitu bahwa Ia Maha Tinggi dan bersama hamba-Nya. Dan tidak mungkin Allah menggabungkan dua hal yang bertentangan pada diri-Nya. Sehingga ketika Allah mengumpulkan dua sifat tersebut pada diri-Nya, ini menunjukkan bahwa hal tersebut adalah hal yang bisa dikumpulkan pada diri Allah. Karena dua hal yang bertentangan tidak mungkin bisa digabungkan.Sedangkan Allah ta’ala menyifati diri-Nya dengan sifat yang pertama dan kedua. Allah berfirman,ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Kemudian Dia (Allah) istiwa’ di atas ‘Arsy.”Untuk sifat yang kedua, Ia berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ“Dan Dia (Allah) bersama kalian di mana pun kalian berada.”Ketika Allah mengumpulkan dua sifat tersebut para diri-Nya, ini menunjukkan bahwa dua sifat tersebut tidak bertentangan. Karena dua hal yang bertentangan tidak mungkin bisa digabungkan.Jawaban keduaSifat al ‘Uluw (Maha Tinggi) tidak menafikan sifat al Ma’iyyah (bersama hamba-Nya). Oleh karena itu, di antara gaya bahasa yang biasa diucapkan oleh orang Arab adalah,مازلنا نسير و القمر معنا“Selama kami berjalan, sang rembulan senantiasa bersama kami.”Atau mereka mengatakan,مازلنا نسير و النجم الفلاني معنا“Selama kami berjalan, bintang itu senantiasa bersama kami.”Bulan itu tinggi, namun disifati “bersama kita” dalam bahasa Arab. Ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab al Aqidah al Wasithiyyah. Demikian juga beliau sebutkan hal ini dalam kitab al Fatawa al Hamawiyyah dan kitab-kitab beliau yang lain.Baca Juga: ‘Arsy adalah Makhluk Allah yang Terbesar, Paling Tinggi dan yang Pertama Kali Allah CiptakanJawaban ketigaJika kita asumsikan bahwa dua sifat di atas itu bertentangan dan mustahil jika diterapkan pada makhluk, maka tidak berarti berlaku hal yang sama pada diri al Khaliq (Allah). Karena Allah itu tidak ada yang semisal dengan-Nya.Maka tidak boleh meng-qiyas-kan Allah dengan makhluk-Nya. Sesuatu yang mustahil bagi makhluk, tidak berarti itu mustahil juga bagi Allah. Dan sesuatu yang mustahil bagi Allah,  tidak berarti itu mustahil juga bagi makhluk. Bukankah Allah itu tidak tidur dan tidak mengantuk? Sedangkan makhluk tidur dan mengantuk?Demikian juga, manusia tidak layak disifati dengan At-Takabbur (Maha Agung), sedangkan Allah disifati dengan sifat tersebut dan itu merupakan kesempurnaan bagi Allah.” (Syarah Aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah, 200 – 201).Beliau juga menjelaskan,“Tidak layak bagi Allah jika kita memahami bahwa sifat al Ma’iyyah (bersama hamba-Nya) itu artinya Allah bercampur dengan hamba dan menyatu tempatnya dengan hamba, sebagaimana perkataan Jahmiyah.Oleh karena itu, ketika akidah yang bidah dan sesat ini mulai menyebar, para salaf gencar menjelaskan bahwa,هو معنا بعلمه“Allah itu bersama kita dengan ilmu-Nya.”Mereka menafsirkan al Ma’iyyah dengan kelazimannya, yaitu ilmu. Walaupun kelaziman dari ma’iyyah tidak hanya ilmu saja.Sebagaimana ini ditegaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Ibnu Katsir, juga ditegaskan oleh Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ Al ‘Ulum wal Hikam, yaitu bahwa Allah bersama kita dengan ilmu-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, kekuasaan-Nya, kekuatan-Nya, rububiyah-Nya dan sifat-sifat rububiyah lainnya. Namun para salaf menafsirkan al Ma’iyyah dengan ilmu dalam rangka membantah Jahmiyyah yang mengatakan bahwa dzat Allah bersatu bersama kita.” (Syarah Aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah, 201 – 202).Kesimpulannya, Allah ta’ala Maha Tinggi ber-istiwa’ di atas ‘Arsy, namun juga Ia senantiasa dekat bersama kita dengan ilmu-Nya, yaitu Ia selalu mengetahui apa yang kita lakukan. Ayat-ayat ma’iyyah tidak menunjukkan bahwa dzat Allah ada bersama kita di mana-mana sebagaimana dipahami oleh Jahmiyah. Namun yang dekat bersama kita adalah ilmu Allah. Artinya, Allah  selalu mengetahui apa yang kita lakukan dimana pun dan kapan pun kita berada.Wallahu a’lam.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Allah di Atas ‘Arsy Ataukah Dekat Bersama Kita?

Kita mengetahui Allah ta’ala menetapkan bahwa Ia istiwa’ di atas ‘Arsy. Dan ini adalah akidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan merupakan ijma salaf dan imam Ahlussunnah. Tidak ada khilaf di antara mereka.Dalam tujuh surah, yaitu Al-A’raf ayat 54, surah Yunus ayat 3, surah Ar-Ra’d ayat 2, surah Al-Furqan ayat 59, surah As-Sajdah ayat 4 dan surah Al-Hadid ayat 4, Allah ta’ala berfirman,ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Kemudian Dia (Allah) istiwa’ di atas ‘Arsy.”Di sisi lain, Allah ta’ala juga berfirman bahwa Ia dekat bersama hamba-Nya. Allah ta’ala berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ“Dan Dia (Allah) bersama kalian di mana pun kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian ketahui.” (QS. Al Hadid: 4).Allah juga berfirman,وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf : 16).Ayat-ayat ini disebut juga ayat-ayat ma’iyyah. Ma’iyyah artinya kebersamaan. Karena ayat-ayat ini menetapkan bahwa Allah dekat bersama hamba-Nya.Lalu bagaimana memahami hal ini? Allah di atas ‘Arsy ataukah dekat bersama kita?Simak penjelasan Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berikut ini. Beliau mengatakan,“Jika ada yang bertanya, ‘Bagaimana kita mengkompromi antara sifat al ‘Uluw (Maha Tinggi) dengan al Ma’iyyah (bersama hamba-Nya)?’ Maka kita jawab dari tiga sisi.Baca Juga: Imam Syafi’i Meyakini Bahwa Allah Berada di Atas ArsyJawaban pertamaAllah ta’ala telah menyifati diri-Nya dengan kedua sifat tersebut, yaitu bahwa Ia Maha Tinggi dan bersama hamba-Nya. Dan tidak mungkin Allah menggabungkan dua hal yang bertentangan pada diri-Nya. Sehingga ketika Allah mengumpulkan dua sifat tersebut pada diri-Nya, ini menunjukkan bahwa hal tersebut adalah hal yang bisa dikumpulkan pada diri Allah. Karena dua hal yang bertentangan tidak mungkin bisa digabungkan.Sedangkan Allah ta’ala menyifati diri-Nya dengan sifat yang pertama dan kedua. Allah berfirman,ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Kemudian Dia (Allah) istiwa’ di atas ‘Arsy.”Untuk sifat yang kedua, Ia berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ“Dan Dia (Allah) bersama kalian di mana pun kalian berada.”Ketika Allah mengumpulkan dua sifat tersebut para diri-Nya, ini menunjukkan bahwa dua sifat tersebut tidak bertentangan. Karena dua hal yang bertentangan tidak mungkin bisa digabungkan.Jawaban keduaSifat al ‘Uluw (Maha Tinggi) tidak menafikan sifat al Ma’iyyah (bersama hamba-Nya). Oleh karena itu, di antara gaya bahasa yang biasa diucapkan oleh orang Arab adalah,مازلنا نسير و القمر معنا“Selama kami berjalan, sang rembulan senantiasa bersama kami.”Atau mereka mengatakan,مازلنا نسير و النجم الفلاني معنا“Selama kami berjalan, bintang itu senantiasa bersama kami.”Bulan itu tinggi, namun disifati “bersama kita” dalam bahasa Arab. Ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab al Aqidah al Wasithiyyah. Demikian juga beliau sebutkan hal ini dalam kitab al Fatawa al Hamawiyyah dan kitab-kitab beliau yang lain.Baca Juga: ‘Arsy adalah Makhluk Allah yang Terbesar, Paling Tinggi dan yang Pertama Kali Allah CiptakanJawaban ketigaJika kita asumsikan bahwa dua sifat di atas itu bertentangan dan mustahil jika diterapkan pada makhluk, maka tidak berarti berlaku hal yang sama pada diri al Khaliq (Allah). Karena Allah itu tidak ada yang semisal dengan-Nya.Maka tidak boleh meng-qiyas-kan Allah dengan makhluk-Nya. Sesuatu yang mustahil bagi makhluk, tidak berarti itu mustahil juga bagi Allah. Dan sesuatu yang mustahil bagi Allah,  tidak berarti itu mustahil juga bagi makhluk. Bukankah Allah itu tidak tidur dan tidak mengantuk? Sedangkan makhluk tidur dan mengantuk?Demikian juga, manusia tidak layak disifati dengan At-Takabbur (Maha Agung), sedangkan Allah disifati dengan sifat tersebut dan itu merupakan kesempurnaan bagi Allah.” (Syarah Aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah, 200 – 201).Beliau juga menjelaskan,“Tidak layak bagi Allah jika kita memahami bahwa sifat al Ma’iyyah (bersama hamba-Nya) itu artinya Allah bercampur dengan hamba dan menyatu tempatnya dengan hamba, sebagaimana perkataan Jahmiyah.Oleh karena itu, ketika akidah yang bidah dan sesat ini mulai menyebar, para salaf gencar menjelaskan bahwa,هو معنا بعلمه“Allah itu bersama kita dengan ilmu-Nya.”Mereka menafsirkan al Ma’iyyah dengan kelazimannya, yaitu ilmu. Walaupun kelaziman dari ma’iyyah tidak hanya ilmu saja.Sebagaimana ini ditegaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Ibnu Katsir, juga ditegaskan oleh Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ Al ‘Ulum wal Hikam, yaitu bahwa Allah bersama kita dengan ilmu-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, kekuasaan-Nya, kekuatan-Nya, rububiyah-Nya dan sifat-sifat rububiyah lainnya. Namun para salaf menafsirkan al Ma’iyyah dengan ilmu dalam rangka membantah Jahmiyyah yang mengatakan bahwa dzat Allah bersatu bersama kita.” (Syarah Aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah, 201 – 202).Kesimpulannya, Allah ta’ala Maha Tinggi ber-istiwa’ di atas ‘Arsy, namun juga Ia senantiasa dekat bersama kita dengan ilmu-Nya, yaitu Ia selalu mengetahui apa yang kita lakukan. Ayat-ayat ma’iyyah tidak menunjukkan bahwa dzat Allah ada bersama kita di mana-mana sebagaimana dipahami oleh Jahmiyah. Namun yang dekat bersama kita adalah ilmu Allah. Artinya, Allah  selalu mengetahui apa yang kita lakukan dimana pun dan kapan pun kita berada.Wallahu a’lam.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id
Kita mengetahui Allah ta’ala menetapkan bahwa Ia istiwa’ di atas ‘Arsy. Dan ini adalah akidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan merupakan ijma salaf dan imam Ahlussunnah. Tidak ada khilaf di antara mereka.Dalam tujuh surah, yaitu Al-A’raf ayat 54, surah Yunus ayat 3, surah Ar-Ra’d ayat 2, surah Al-Furqan ayat 59, surah As-Sajdah ayat 4 dan surah Al-Hadid ayat 4, Allah ta’ala berfirman,ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Kemudian Dia (Allah) istiwa’ di atas ‘Arsy.”Di sisi lain, Allah ta’ala juga berfirman bahwa Ia dekat bersama hamba-Nya. Allah ta’ala berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ“Dan Dia (Allah) bersama kalian di mana pun kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian ketahui.” (QS. Al Hadid: 4).Allah juga berfirman,وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf : 16).Ayat-ayat ini disebut juga ayat-ayat ma’iyyah. Ma’iyyah artinya kebersamaan. Karena ayat-ayat ini menetapkan bahwa Allah dekat bersama hamba-Nya.Lalu bagaimana memahami hal ini? Allah di atas ‘Arsy ataukah dekat bersama kita?Simak penjelasan Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berikut ini. Beliau mengatakan,“Jika ada yang bertanya, ‘Bagaimana kita mengkompromi antara sifat al ‘Uluw (Maha Tinggi) dengan al Ma’iyyah (bersama hamba-Nya)?’ Maka kita jawab dari tiga sisi.Baca Juga: Imam Syafi’i Meyakini Bahwa Allah Berada di Atas ArsyJawaban pertamaAllah ta’ala telah menyifati diri-Nya dengan kedua sifat tersebut, yaitu bahwa Ia Maha Tinggi dan bersama hamba-Nya. Dan tidak mungkin Allah menggabungkan dua hal yang bertentangan pada diri-Nya. Sehingga ketika Allah mengumpulkan dua sifat tersebut pada diri-Nya, ini menunjukkan bahwa hal tersebut adalah hal yang bisa dikumpulkan pada diri Allah. Karena dua hal yang bertentangan tidak mungkin bisa digabungkan.Sedangkan Allah ta’ala menyifati diri-Nya dengan sifat yang pertama dan kedua. Allah berfirman,ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Kemudian Dia (Allah) istiwa’ di atas ‘Arsy.”Untuk sifat yang kedua, Ia berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ“Dan Dia (Allah) bersama kalian di mana pun kalian berada.”Ketika Allah mengumpulkan dua sifat tersebut para diri-Nya, ini menunjukkan bahwa dua sifat tersebut tidak bertentangan. Karena dua hal yang bertentangan tidak mungkin bisa digabungkan.Jawaban keduaSifat al ‘Uluw (Maha Tinggi) tidak menafikan sifat al Ma’iyyah (bersama hamba-Nya). Oleh karena itu, di antara gaya bahasa yang biasa diucapkan oleh orang Arab adalah,مازلنا نسير و القمر معنا“Selama kami berjalan, sang rembulan senantiasa bersama kami.”Atau mereka mengatakan,مازلنا نسير و النجم الفلاني معنا“Selama kami berjalan, bintang itu senantiasa bersama kami.”Bulan itu tinggi, namun disifati “bersama kita” dalam bahasa Arab. Ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab al Aqidah al Wasithiyyah. Demikian juga beliau sebutkan hal ini dalam kitab al Fatawa al Hamawiyyah dan kitab-kitab beliau yang lain.Baca Juga: ‘Arsy adalah Makhluk Allah yang Terbesar, Paling Tinggi dan yang Pertama Kali Allah CiptakanJawaban ketigaJika kita asumsikan bahwa dua sifat di atas itu bertentangan dan mustahil jika diterapkan pada makhluk, maka tidak berarti berlaku hal yang sama pada diri al Khaliq (Allah). Karena Allah itu tidak ada yang semisal dengan-Nya.Maka tidak boleh meng-qiyas-kan Allah dengan makhluk-Nya. Sesuatu yang mustahil bagi makhluk, tidak berarti itu mustahil juga bagi Allah. Dan sesuatu yang mustahil bagi Allah,  tidak berarti itu mustahil juga bagi makhluk. Bukankah Allah itu tidak tidur dan tidak mengantuk? Sedangkan makhluk tidur dan mengantuk?Demikian juga, manusia tidak layak disifati dengan At-Takabbur (Maha Agung), sedangkan Allah disifati dengan sifat tersebut dan itu merupakan kesempurnaan bagi Allah.” (Syarah Aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah, 200 – 201).Beliau juga menjelaskan,“Tidak layak bagi Allah jika kita memahami bahwa sifat al Ma’iyyah (bersama hamba-Nya) itu artinya Allah bercampur dengan hamba dan menyatu tempatnya dengan hamba, sebagaimana perkataan Jahmiyah.Oleh karena itu, ketika akidah yang bidah dan sesat ini mulai menyebar, para salaf gencar menjelaskan bahwa,هو معنا بعلمه“Allah itu bersama kita dengan ilmu-Nya.”Mereka menafsirkan al Ma’iyyah dengan kelazimannya, yaitu ilmu. Walaupun kelaziman dari ma’iyyah tidak hanya ilmu saja.Sebagaimana ini ditegaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Ibnu Katsir, juga ditegaskan oleh Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ Al ‘Ulum wal Hikam, yaitu bahwa Allah bersama kita dengan ilmu-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, kekuasaan-Nya, kekuatan-Nya, rububiyah-Nya dan sifat-sifat rububiyah lainnya. Namun para salaf menafsirkan al Ma’iyyah dengan ilmu dalam rangka membantah Jahmiyyah yang mengatakan bahwa dzat Allah bersatu bersama kita.” (Syarah Aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah, 201 – 202).Kesimpulannya, Allah ta’ala Maha Tinggi ber-istiwa’ di atas ‘Arsy, namun juga Ia senantiasa dekat bersama kita dengan ilmu-Nya, yaitu Ia selalu mengetahui apa yang kita lakukan. Ayat-ayat ma’iyyah tidak menunjukkan bahwa dzat Allah ada bersama kita di mana-mana sebagaimana dipahami oleh Jahmiyah. Namun yang dekat bersama kita adalah ilmu Allah. Artinya, Allah  selalu mengetahui apa yang kita lakukan dimana pun dan kapan pun kita berada.Wallahu a’lam.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id


Kita mengetahui Allah ta’ala menetapkan bahwa Ia istiwa’ di atas ‘Arsy. Dan ini adalah akidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan merupakan ijma salaf dan imam Ahlussunnah. Tidak ada khilaf di antara mereka.Dalam tujuh surah, yaitu Al-A’raf ayat 54, surah Yunus ayat 3, surah Ar-Ra’d ayat 2, surah Al-Furqan ayat 59, surah As-Sajdah ayat 4 dan surah Al-Hadid ayat 4, Allah ta’ala berfirman,ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Kemudian Dia (Allah) istiwa’ di atas ‘Arsy.”Di sisi lain, Allah ta’ala juga berfirman bahwa Ia dekat bersama hamba-Nya. Allah ta’ala berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ“Dan Dia (Allah) bersama kalian di mana pun kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian ketahui.” (QS. Al Hadid: 4).Allah juga berfirman,وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf : 16).Ayat-ayat ini disebut juga ayat-ayat ma’iyyah. Ma’iyyah artinya kebersamaan. Karena ayat-ayat ini menetapkan bahwa Allah dekat bersama hamba-Nya.Lalu bagaimana memahami hal ini? Allah di atas ‘Arsy ataukah dekat bersama kita?Simak penjelasan Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berikut ini. Beliau mengatakan,“Jika ada yang bertanya, ‘Bagaimana kita mengkompromi antara sifat al ‘Uluw (Maha Tinggi) dengan al Ma’iyyah (bersama hamba-Nya)?’ Maka kita jawab dari tiga sisi.Baca Juga: Imam Syafi’i Meyakini Bahwa Allah Berada di Atas ArsyJawaban pertamaAllah ta’ala telah menyifati diri-Nya dengan kedua sifat tersebut, yaitu bahwa Ia Maha Tinggi dan bersama hamba-Nya. Dan tidak mungkin Allah menggabungkan dua hal yang bertentangan pada diri-Nya. Sehingga ketika Allah mengumpulkan dua sifat tersebut pada diri-Nya, ini menunjukkan bahwa hal tersebut adalah hal yang bisa dikumpulkan pada diri Allah. Karena dua hal yang bertentangan tidak mungkin bisa digabungkan.Sedangkan Allah ta’ala menyifati diri-Nya dengan sifat yang pertama dan kedua. Allah berfirman,ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ“Kemudian Dia (Allah) istiwa’ di atas ‘Arsy.”Untuk sifat yang kedua, Ia berfirman,وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ“Dan Dia (Allah) bersama kalian di mana pun kalian berada.”Ketika Allah mengumpulkan dua sifat tersebut para diri-Nya, ini menunjukkan bahwa dua sifat tersebut tidak bertentangan. Karena dua hal yang bertentangan tidak mungkin bisa digabungkan.Jawaban keduaSifat al ‘Uluw (Maha Tinggi) tidak menafikan sifat al Ma’iyyah (bersama hamba-Nya). Oleh karena itu, di antara gaya bahasa yang biasa diucapkan oleh orang Arab adalah,مازلنا نسير و القمر معنا“Selama kami berjalan, sang rembulan senantiasa bersama kami.”Atau mereka mengatakan,مازلنا نسير و النجم الفلاني معنا“Selama kami berjalan, bintang itu senantiasa bersama kami.”Bulan itu tinggi, namun disifati “bersama kita” dalam bahasa Arab. Ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab al Aqidah al Wasithiyyah. Demikian juga beliau sebutkan hal ini dalam kitab al Fatawa al Hamawiyyah dan kitab-kitab beliau yang lain.Baca Juga: ‘Arsy adalah Makhluk Allah yang Terbesar, Paling Tinggi dan yang Pertama Kali Allah CiptakanJawaban ketigaJika kita asumsikan bahwa dua sifat di atas itu bertentangan dan mustahil jika diterapkan pada makhluk, maka tidak berarti berlaku hal yang sama pada diri al Khaliq (Allah). Karena Allah itu tidak ada yang semisal dengan-Nya.Maka tidak boleh meng-qiyas-kan Allah dengan makhluk-Nya. Sesuatu yang mustahil bagi makhluk, tidak berarti itu mustahil juga bagi Allah. Dan sesuatu yang mustahil bagi Allah,  tidak berarti itu mustahil juga bagi makhluk. Bukankah Allah itu tidak tidur dan tidak mengantuk? Sedangkan makhluk tidur dan mengantuk?Demikian juga, manusia tidak layak disifati dengan At-Takabbur (Maha Agung), sedangkan Allah disifati dengan sifat tersebut dan itu merupakan kesempurnaan bagi Allah.” (Syarah Aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah, 200 – 201).Beliau juga menjelaskan,“Tidak layak bagi Allah jika kita memahami bahwa sifat al Ma’iyyah (bersama hamba-Nya) itu artinya Allah bercampur dengan hamba dan menyatu tempatnya dengan hamba, sebagaimana perkataan Jahmiyah.Oleh karena itu, ketika akidah yang bidah dan sesat ini mulai menyebar, para salaf gencar menjelaskan bahwa,هو معنا بعلمه“Allah itu bersama kita dengan ilmu-Nya.”Mereka menafsirkan al Ma’iyyah dengan kelazimannya, yaitu ilmu. Walaupun kelaziman dari ma’iyyah tidak hanya ilmu saja.Sebagaimana ini ditegaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Ibnu Katsir, juga ditegaskan oleh Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ Al ‘Ulum wal Hikam, yaitu bahwa Allah bersama kita dengan ilmu-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, kekuasaan-Nya, kekuatan-Nya, rububiyah-Nya dan sifat-sifat rububiyah lainnya. Namun para salaf menafsirkan al Ma’iyyah dengan ilmu dalam rangka membantah Jahmiyyah yang mengatakan bahwa dzat Allah bersatu bersama kita.” (Syarah Aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah, 201 – 202).Kesimpulannya, Allah ta’ala Maha Tinggi ber-istiwa’ di atas ‘Arsy, namun juga Ia senantiasa dekat bersama kita dengan ilmu-Nya, yaitu Ia selalu mengetahui apa yang kita lakukan. Ayat-ayat ma’iyyah tidak menunjukkan bahwa dzat Allah ada bersama kita di mana-mana sebagaimana dipahami oleh Jahmiyah. Namun yang dekat bersama kita adalah ilmu Allah. Artinya, Allah  selalu mengetahui apa yang kita lakukan dimana pun dan kapan pun kita berada.Wallahu a’lam.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Pendaftaran Santri Baru KAMI SIAP (Kajian Mendalami Islam Setiap Akhir Pekan

 Pendaftaran Santri Baru KAMI SIAP (Kajian Mendalami Islam Setiap Akhir Pekan) KAMI SIAP (Kajian Mendalami Islam Setiap Akhir Pekan) adalah sebuah program kajian online secara intensif & terstruktur bagi pemula yang ingin mempelajari dasar-dasar ilmu agama. KAMI SIAP berlangsung selama 2 tahun (4 semester).Keunggulan: Dimulai dari 0 Santai namun terarah Diselenggarakan setiap akhir pekan Pengajar lulusan Kairo dan Madinah Metode pengajaran lebih interaktif Biaya pendidikan yang terjangkau Istiqomah bersama-sama Fasilitas: Ilmu bermanfaat Teman online shalih/ah Panitia yang ramah Kitab cetak (dikirim sesuai alamat santri) BPS (Buku Panduan Santri) Kelas virtual Dauroh spesial _e-Rapor_ Semester Syahadah (sertifikat kelulusan) Tazkiyah Universitas Islam Madinah (bagi yang memenuhi syarat) Pengajar: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah) Ustadz Muhammad Fathoni, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah) Ustadz Muhammad Reza, Lc. (Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir)Materi Pembelajaran: Bahasa Arab (Khusus Semester 1) Durusul Lughah Al-‘Arabiyyah jilid 1 (Bahasa Arab dasar) Mukhtarot Qawa’idil Lughatil ‘Arabiyyah (Bahasa Arab lanjutan)Aqidah Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah  (Penjelasan 3 Landasan Pokok)  Syarah Qowa’idul Arba’ (Penjelasan 4 Kaidah Penting) Nubdzah Fiil ‘Aqidah (Penjelasan Singkat tentang Aqidah)  Syarah Nawaqidhul Islam (Penjelasan 10 Pembatal Keislaman) Fiqih Fiqh Al-Muyassar fii Dhou-i Al-Kitab wa As-Sunnah (Fikih Dasar) – Thaharah– Shalat – Zakat – Puasa – Jual Beli– RibaUshul Fiqih Al-Ushul Min ‘Ilmi Al-Ushul (Dasar-Dasar Ilmu Ushul Fiqih) Qawaid Fiqhiyah  (Kaedah-Kaedah Fiqih) Dauroh Spesial Syarah Hadits Jibril (Penjelasan Hadits tentang Iman, Islam, dan Ihsan)  Maqashid As-Syari’ah (Tujuan Pensyariatan) Fiqih Nikah  Waktu Pembelajaran: Jumat: 16.00 – 17.30 WIB Sabtu: 07.30 – 09.00 WIB Ahad: 06.00 – 07.30 WIB  Sistematika Pembelajaran: KBM dilaksanakan secara online (via Zoom, channel YouTube Majeedr TV, Grup WhatsApp, dan Google Classroom). Santri dilatih membaca kitab Arab gundul (semua buku mapel full berbahasa Arab). Terdapat Presensi Harian, Tugas Kelompok, Kuis Pekanan dan UAS. UKT (Uang Kajian Tunggal): Rp 300.000/semester_*Kurang dari Rp7.000/pertemuan!*_(belum termasuk ongkir kitab) Persyaratan Peserta: Muslim/muslimah Pernah belajar bahasa Arab dasar Memiliki niat yang kuat untuk menuntut ilmu Usia minimal 17 tahun Memiliki smartphone/perangkat lain yang mampu menyimak pelajaran daring Bisa mengoperasikan Microsoft Word/WPS/semisal Masa Pendaftaran: Insyaallah 30 Rabi’uts Tsani – 5 Jumadil Awwal /14 – 19 Desember 2020 Mulai Pembelajaran: Insyaallah 17 Jumadil ‘Awwal 1442/1 Januari 2021 _Diawali *Kajian Pembukaan* insyaallah pada tanggal 12 Jumadil’ Awwal 1442/26 Desember 2020._Kuota: Terbatas 200 santri_Insyaallah akan diadakan tes seleksi masuk_Cara Mendaftar: Share info ini ke 3 grup Anda Masuk grup WhatsApp  dengan meng-klik link berikut bit.ly/kamisiap Info seleksi akan dikabarkan melalui grup 📞 Contact Person: Ikhwan: http://wa.me/6289659498010 Akhwat: http://wa.me/62895355830009 Buruan daftar! Untuk kebaikan jangan ditunda-tunda!Yuk share kebaikan ini kepada teman & kerabat!“Barangsiapa menunjukkan seseorang kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pelaku kebaikan tersebut.” (HR Muslim)_____“Kesibukanku Tak Menghalangiku dari Menuntut Ilmu”#SelaluAdaJalan🔍 Muslim Or Id Wahabi, Tafsir Surah Al Asr, Hukum Islam Tentang Orang Mati Gantung Diri, Sifat Dua Puluh Dan Maksudnya, Macam2 Doa

Pendaftaran Santri Baru KAMI SIAP (Kajian Mendalami Islam Setiap Akhir Pekan

 Pendaftaran Santri Baru KAMI SIAP (Kajian Mendalami Islam Setiap Akhir Pekan) KAMI SIAP (Kajian Mendalami Islam Setiap Akhir Pekan) adalah sebuah program kajian online secara intensif & terstruktur bagi pemula yang ingin mempelajari dasar-dasar ilmu agama. KAMI SIAP berlangsung selama 2 tahun (4 semester).Keunggulan: Dimulai dari 0 Santai namun terarah Diselenggarakan setiap akhir pekan Pengajar lulusan Kairo dan Madinah Metode pengajaran lebih interaktif Biaya pendidikan yang terjangkau Istiqomah bersama-sama Fasilitas: Ilmu bermanfaat Teman online shalih/ah Panitia yang ramah Kitab cetak (dikirim sesuai alamat santri) BPS (Buku Panduan Santri) Kelas virtual Dauroh spesial _e-Rapor_ Semester Syahadah (sertifikat kelulusan) Tazkiyah Universitas Islam Madinah (bagi yang memenuhi syarat) Pengajar: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah) Ustadz Muhammad Fathoni, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah) Ustadz Muhammad Reza, Lc. (Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir)Materi Pembelajaran: Bahasa Arab (Khusus Semester 1) Durusul Lughah Al-‘Arabiyyah jilid 1 (Bahasa Arab dasar) Mukhtarot Qawa’idil Lughatil ‘Arabiyyah (Bahasa Arab lanjutan)Aqidah Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah  (Penjelasan 3 Landasan Pokok)  Syarah Qowa’idul Arba’ (Penjelasan 4 Kaidah Penting) Nubdzah Fiil ‘Aqidah (Penjelasan Singkat tentang Aqidah)  Syarah Nawaqidhul Islam (Penjelasan 10 Pembatal Keislaman) Fiqih Fiqh Al-Muyassar fii Dhou-i Al-Kitab wa As-Sunnah (Fikih Dasar) – Thaharah– Shalat – Zakat – Puasa – Jual Beli– RibaUshul Fiqih Al-Ushul Min ‘Ilmi Al-Ushul (Dasar-Dasar Ilmu Ushul Fiqih) Qawaid Fiqhiyah  (Kaedah-Kaedah Fiqih) Dauroh Spesial Syarah Hadits Jibril (Penjelasan Hadits tentang Iman, Islam, dan Ihsan)  Maqashid As-Syari’ah (Tujuan Pensyariatan) Fiqih Nikah  Waktu Pembelajaran: Jumat: 16.00 – 17.30 WIB Sabtu: 07.30 – 09.00 WIB Ahad: 06.00 – 07.30 WIB  Sistematika Pembelajaran: KBM dilaksanakan secara online (via Zoom, channel YouTube Majeedr TV, Grup WhatsApp, dan Google Classroom). Santri dilatih membaca kitab Arab gundul (semua buku mapel full berbahasa Arab). Terdapat Presensi Harian, Tugas Kelompok, Kuis Pekanan dan UAS. UKT (Uang Kajian Tunggal): Rp 300.000/semester_*Kurang dari Rp7.000/pertemuan!*_(belum termasuk ongkir kitab) Persyaratan Peserta: Muslim/muslimah Pernah belajar bahasa Arab dasar Memiliki niat yang kuat untuk menuntut ilmu Usia minimal 17 tahun Memiliki smartphone/perangkat lain yang mampu menyimak pelajaran daring Bisa mengoperasikan Microsoft Word/WPS/semisal Masa Pendaftaran: Insyaallah 30 Rabi’uts Tsani – 5 Jumadil Awwal /14 – 19 Desember 2020 Mulai Pembelajaran: Insyaallah 17 Jumadil ‘Awwal 1442/1 Januari 2021 _Diawali *Kajian Pembukaan* insyaallah pada tanggal 12 Jumadil’ Awwal 1442/26 Desember 2020._Kuota: Terbatas 200 santri_Insyaallah akan diadakan tes seleksi masuk_Cara Mendaftar: Share info ini ke 3 grup Anda Masuk grup WhatsApp  dengan meng-klik link berikut bit.ly/kamisiap Info seleksi akan dikabarkan melalui grup 📞 Contact Person: Ikhwan: http://wa.me/6289659498010 Akhwat: http://wa.me/62895355830009 Buruan daftar! Untuk kebaikan jangan ditunda-tunda!Yuk share kebaikan ini kepada teman & kerabat!“Barangsiapa menunjukkan seseorang kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pelaku kebaikan tersebut.” (HR Muslim)_____“Kesibukanku Tak Menghalangiku dari Menuntut Ilmu”#SelaluAdaJalan🔍 Muslim Or Id Wahabi, Tafsir Surah Al Asr, Hukum Islam Tentang Orang Mati Gantung Diri, Sifat Dua Puluh Dan Maksudnya, Macam2 Doa
 Pendaftaran Santri Baru KAMI SIAP (Kajian Mendalami Islam Setiap Akhir Pekan) KAMI SIAP (Kajian Mendalami Islam Setiap Akhir Pekan) adalah sebuah program kajian online secara intensif & terstruktur bagi pemula yang ingin mempelajari dasar-dasar ilmu agama. KAMI SIAP berlangsung selama 2 tahun (4 semester).Keunggulan: Dimulai dari 0 Santai namun terarah Diselenggarakan setiap akhir pekan Pengajar lulusan Kairo dan Madinah Metode pengajaran lebih interaktif Biaya pendidikan yang terjangkau Istiqomah bersama-sama Fasilitas: Ilmu bermanfaat Teman online shalih/ah Panitia yang ramah Kitab cetak (dikirim sesuai alamat santri) BPS (Buku Panduan Santri) Kelas virtual Dauroh spesial _e-Rapor_ Semester Syahadah (sertifikat kelulusan) Tazkiyah Universitas Islam Madinah (bagi yang memenuhi syarat) Pengajar: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah) Ustadz Muhammad Fathoni, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah) Ustadz Muhammad Reza, Lc. (Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir)Materi Pembelajaran: Bahasa Arab (Khusus Semester 1) Durusul Lughah Al-‘Arabiyyah jilid 1 (Bahasa Arab dasar) Mukhtarot Qawa’idil Lughatil ‘Arabiyyah (Bahasa Arab lanjutan)Aqidah Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah  (Penjelasan 3 Landasan Pokok)  Syarah Qowa’idul Arba’ (Penjelasan 4 Kaidah Penting) Nubdzah Fiil ‘Aqidah (Penjelasan Singkat tentang Aqidah)  Syarah Nawaqidhul Islam (Penjelasan 10 Pembatal Keislaman) Fiqih Fiqh Al-Muyassar fii Dhou-i Al-Kitab wa As-Sunnah (Fikih Dasar) – Thaharah– Shalat – Zakat – Puasa – Jual Beli– RibaUshul Fiqih Al-Ushul Min ‘Ilmi Al-Ushul (Dasar-Dasar Ilmu Ushul Fiqih) Qawaid Fiqhiyah  (Kaedah-Kaedah Fiqih) Dauroh Spesial Syarah Hadits Jibril (Penjelasan Hadits tentang Iman, Islam, dan Ihsan)  Maqashid As-Syari’ah (Tujuan Pensyariatan) Fiqih Nikah  Waktu Pembelajaran: Jumat: 16.00 – 17.30 WIB Sabtu: 07.30 – 09.00 WIB Ahad: 06.00 – 07.30 WIB  Sistematika Pembelajaran: KBM dilaksanakan secara online (via Zoom, channel YouTube Majeedr TV, Grup WhatsApp, dan Google Classroom). Santri dilatih membaca kitab Arab gundul (semua buku mapel full berbahasa Arab). Terdapat Presensi Harian, Tugas Kelompok, Kuis Pekanan dan UAS. UKT (Uang Kajian Tunggal): Rp 300.000/semester_*Kurang dari Rp7.000/pertemuan!*_(belum termasuk ongkir kitab) Persyaratan Peserta: Muslim/muslimah Pernah belajar bahasa Arab dasar Memiliki niat yang kuat untuk menuntut ilmu Usia minimal 17 tahun Memiliki smartphone/perangkat lain yang mampu menyimak pelajaran daring Bisa mengoperasikan Microsoft Word/WPS/semisal Masa Pendaftaran: Insyaallah 30 Rabi’uts Tsani – 5 Jumadil Awwal /14 – 19 Desember 2020 Mulai Pembelajaran: Insyaallah 17 Jumadil ‘Awwal 1442/1 Januari 2021 _Diawali *Kajian Pembukaan* insyaallah pada tanggal 12 Jumadil’ Awwal 1442/26 Desember 2020._Kuota: Terbatas 200 santri_Insyaallah akan diadakan tes seleksi masuk_Cara Mendaftar: Share info ini ke 3 grup Anda Masuk grup WhatsApp  dengan meng-klik link berikut bit.ly/kamisiap Info seleksi akan dikabarkan melalui grup 📞 Contact Person: Ikhwan: http://wa.me/6289659498010 Akhwat: http://wa.me/62895355830009 Buruan daftar! Untuk kebaikan jangan ditunda-tunda!Yuk share kebaikan ini kepada teman & kerabat!“Barangsiapa menunjukkan seseorang kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pelaku kebaikan tersebut.” (HR Muslim)_____“Kesibukanku Tak Menghalangiku dari Menuntut Ilmu”#SelaluAdaJalan🔍 Muslim Or Id Wahabi, Tafsir Surah Al Asr, Hukum Islam Tentang Orang Mati Gantung Diri, Sifat Dua Puluh Dan Maksudnya, Macam2 Doa


 Pendaftaran Santri Baru KAMI SIAP (Kajian Mendalami Islam Setiap Akhir Pekan) <img class="size-medium wp-image-60089 aligncenter" src="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2020/12/Photo-from-Ngaji-Sunnah-240x300.jpg" alt="" width="240" height="300" srcset="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2020/12/Photo-from-Ngaji-Sunnah-240x300.jpg 240w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2020/12/Photo-from-Ngaji-Sunnah-819x1024.jpg 819w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2020/12/Photo-from-Ngaji-Sunnah-768x960.jpg 768w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2020/12/Photo-from-Ngaji-Sunnah.jpg 1024w" sizes="(max-width: 240px) 100vw, 240px" />KAMI SIAP (Kajian Mendalami Islam Setiap Akhir Pekan) adalah sebuah program kajian online secara intensif & terstruktur bagi pemula yang ingin mempelajari dasar-dasar ilmu agama. KAMI SIAP berlangsung selama 2 tahun (4 semester).Keunggulan: Dimulai dari 0 Santai namun terarah Diselenggarakan setiap akhir pekan Pengajar lulusan Kairo dan Madinah Metode pengajaran lebih interaktif Biaya pendidikan yang terjangkau Istiqomah bersama-sama Fasilitas: Ilmu bermanfaat Teman online shalih/ah Panitia yang ramah Kitab cetak (dikirim sesuai alamat santri) BPS (Buku Panduan Santri) Kelas virtual Dauroh spesial _e-Rapor_ Semester Syahadah (sertifikat kelulusan) Tazkiyah Universitas Islam Madinah (bagi yang memenuhi syarat) Pengajar: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah) Ustadz Muhammad Fathoni, Lc. (Alumnus Universitas Islam Madinah) Ustadz Muhammad Reza, Lc. (Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir)Materi Pembelajaran: Bahasa Arab (Khusus Semester 1) Durusul Lughah Al-‘Arabiyyah jilid 1 (Bahasa Arab dasar) Mukhtarot Qawa’idil Lughatil ‘Arabiyyah (Bahasa Arab lanjutan)Aqidah Syarah Al-Ushul Ats-Tsalatsah  (Penjelasan 3 Landasan Pokok)  Syarah Qowa’idul Arba’ (Penjelasan 4 Kaidah Penting) Nubdzah Fiil ‘Aqidah (Penjelasan Singkat tentang Aqidah)  Syarah Nawaqidhul Islam (Penjelasan 10 Pembatal Keislaman) Fiqih Fiqh Al-Muyassar fii Dhou-i Al-Kitab wa As-Sunnah (Fikih Dasar) – Thaharah– Shalat – Zakat – Puasa – Jual Beli– RibaUshul Fiqih Al-Ushul Min ‘Ilmi Al-Ushul (Dasar-Dasar Ilmu Ushul Fiqih) Qawaid Fiqhiyah  (Kaedah-Kaedah Fiqih) Dauroh Spesial Syarah Hadits Jibril (Penjelasan Hadits tentang Iman, Islam, dan Ihsan)  Maqashid As-Syari’ah (Tujuan Pensyariatan) Fiqih Nikah  Waktu Pembelajaran: Jumat: 16.00 – 17.30 WIB Sabtu: 07.30 – 09.00 WIB Ahad: 06.00 – 07.30 WIB  Sistematika Pembelajaran: KBM dilaksanakan secara online (via Zoom, channel YouTube Majeedr TV, Grup WhatsApp, dan Google Classroom). Santri dilatih membaca kitab Arab gundul (semua buku mapel full berbahasa Arab). Terdapat Presensi Harian, Tugas Kelompok, Kuis Pekanan dan UAS. UKT (Uang Kajian Tunggal): Rp 300.000/semester_*Kurang dari Rp7.000/pertemuan!*_(belum termasuk ongkir kitab) Persyaratan Peserta: Muslim/muslimah Pernah belajar bahasa Arab dasar Memiliki niat yang kuat untuk menuntut ilmu Usia minimal 17 tahun Memiliki smartphone/perangkat lain yang mampu menyimak pelajaran daring Bisa mengoperasikan Microsoft Word/WPS/semisal Masa Pendaftaran: Insyaallah 30 Rabi’uts Tsani – 5 Jumadil Awwal /14 – 19 Desember 2020 Mulai Pembelajaran: Insyaallah 17 Jumadil ‘Awwal 1442/1 Januari 2021 _Diawali *Kajian Pembukaan* insyaallah pada tanggal 12 Jumadil’ Awwal 1442/26 Desember 2020._Kuota: Terbatas 200 santri_Insyaallah akan diadakan tes seleksi masuk_Cara Mendaftar: Share info ini ke 3 grup Anda Masuk grup WhatsApp  dengan meng-klik link berikut bit.ly/kamisiap Info seleksi akan dikabarkan melalui grup 📞 Contact Person: Ikhwan: http://wa.me/6289659498010 Akhwat: http://wa.me/62895355830009 Buruan daftar! Untuk kebaikan jangan ditunda-tunda!Yuk share kebaikan ini kepada teman & kerabat!“Barangsiapa menunjukkan seseorang kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pelaku kebaikan tersebut.” (HR Muslim)_____“Kesibukanku Tak Menghalangiku dari Menuntut Ilmu”#SelaluAdaJalan🔍 Muslim Or Id Wahabi, Tafsir Surah Al Asr, Hukum Islam Tentang Orang Mati Gantung Diri, Sifat Dua Puluh Dan Maksudnya, Macam2 Doa

Nasehat Bagi yang Sulit Jodoh (Bag. 1)

Bagi anda yang sudah ingin nikah namun sulit untuk menikah atau sulit untuk menemukan calon pasangan idaman, maka renungkan dan perhatikanlah beberapa nasehat ringkas berikut ini:1. Luruskan niat, menikah untuk mencari rida AllahKarena menikah adalah ibadah dan perintah dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menikah dalam firnan-Nya,وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. An-Nur: 32).Dalam ayat di atas menggunakan kata وَأَنْكِحُوا (nikahkanlah) yang merupakan fi’il amr (kata perintah).Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam juga memerintahkan kita untuk menikah, beliau bersabda,يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ“Wahai para pemuda, barangsiapa yang sudah sanggup menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu obat pengekang nafsunya” (HR. Bukhari no. 5056, Muslim no. 1400).Dalam hadis di atas juga digunakan fi’il amr فَلْيَتَزَوَّجْ (menikahlah).Maka jika niat sudah benar, apapun kekurangan yang ada pada calon pasanganmu, maka bersikap longgarlah, selama ia adalah orang yang mau diajak bersama-sama mencari rida Allah.Baca Juga: Orang Tua Mencarikan Jodoh untuk Anak2. Sulit jodoh itu adalah musibah, dan musibah terjadi karena maksiat, maka banyak-banyaklah bertaubat kepada Allah dari semua maksiat.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Qs. Asy-Syuura: 30).Akuilah semua dosa-dosa dan kesalahanmu selama ini, baik yang kecil-kecilan apalagi dosa yang besar. Tinggalkan itu semua dan sesalilah. Bertaubatlah kepada Allah. Semoga Allah angkat musibah darimu.Jauhi juga maksiat-maksiat dalam proses mencari pasangan seperti: pacaran, berdua-duaan, chatting dengan lawan jenis tanpa kebutuhan, flirting/ rayu-merayu padahal belum halal, melihat-lihat foto para akhwat berbohong dan menipu demi tampil baik dihadapan calon pasangan, merusak rumah tangga orang lain, dan lain-lain, karena ini hanya akan menambah musibahmu.Orang yang banyak bertaubat dan meminta ampunan kepada Allah, akan diberikan kemudahan dalam memperoleh keturunan dan jodoh tentunya. Karena tidaklah orang memiliki keturunan kecuali ia menikah terlebih dahulu. Allah ta’ala berfirman,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا“Aku mengatakan: beristighfarlah kepada Rabb kalian, karena ia Maha Pengampun. Ia akan mengirimkan hujan yang melimpah melalui langit kepada kalian. Dan Ia akan memberikan harta serta anak-anak kepada kalian, serta menumbuhkan kebun-kebun kalian dan mengalirkan sungai-sungai kalian” (QS. Nuh: 10-12).Baca Juga: Tidak Ada Jomblo atau Bujangan Di Surga3. Sulit jodoh adalah masalah. Allah menjanjikan jalan keluar dari masalah, bagi orang yang bertakwa.Allah ta’ala berfirman,ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak ia duga” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).Dijelaskan dengan indah oleh Ibnu Abi Izz Al-Hanafi rahimahullah,فقد ضمن الله للمتقين أن يجعل لهم مخرجا مما يضيق على الناس، وأن يرزقهم من حيث لا يحتسبون، فإذا لم يحصل ذلك دل على أن في التقوى خللا، فليستغفر الله وليتب إليه“Allah ta’ala menjamin bagi orang-orang bertakwa bahwa Ia akan memberikan jalan keluar dari perkara yang menyulitkannya dalam hubungan terhadap manusia. Dan Allah menjamin bahwa Ia akan memberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.Jika itu belum terjadi, maka ini menunjukkan bahwa dalam ketakwaannya masih ada cacat. Maka hendaknya ia meminta ampunan kepada Allah dan bertaubat kepadanya” (Syarah Al Aqidah Ath Thahawiyah dengan ta’liq Syaikh Yasin Abul Abbas Al-Adeni hal. 333-334).Maka bagi yang punya masalah dan solusi belum kunjung datang, coba renungkan, mungkin akidahmu belum lurus, mungkin shalatmu belum benar, mungkin belajar agamamu masih kurang semangat, mungkin zikirmu belum banyak, mungkin menutup auratmu belum sempurna, mungkin baktimu kepada orang tua masih kurang, mungkin sedekahmu kurang banyak, mungkin lisanmu masih suka offside, dan mungkin semua yang kau lakukan di atas masih kurang ikhlas. Baca Juga: Hukum Membaca Ramalan Bintang, Zodiak dan Shio4. Utamakan sisi agama, perkara lain bersikap longgarlah!Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأرْبَعٍ: لِمالِها ولِحَسَبِها وجَمالِها ولِدِينِها، فاظْفَرْ بذاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَداكَ“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi” (HR. Bukhari no.5090, Muslim no.1466).Dari Abu Hatim Al Muzanni radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إذا جاءَكم مَن ترضَونَ دينَه وخُلقَه فأنكِحوهُ ، إلَّا تفعلوا تَكن فتنةٌ في الأرضِ وفسادٌ“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi” (HR. Tirmidzi no.1085. Al-Albani berkata dalam Shahih At-Tirmidzi bahwa hadis ini hasan lighairihi).Carilah pasangan yang shalih atau shalihah, yang mau taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mau tunduk kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Itulah yang utama. Andaipun ada kekurangan dalam hal lain: kurang ganteng / cantik, kurang pintar, kurang kaya, kurang besar gajinya, kurang modis, kurang kurus, kurang gemuk, dan lainnya, maka bersikap longgarlah. Sebab semua hal-hal ini pun kelak akan sirna juga. Namun apa yang diniatkan untuk Allah ta’ala, akan senantiasa abadi. Allah ta’ala berfirman,مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ۖ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ“Apa yang ada pada kalian akan sirna. Dan apa yang ada di sisi Allah akan abadi” (QS. An-Nahl: 96).Boleh saja mempertimbangkan hal-hal di atas, namun jangan jadikan patokan utama sehingga membuatmu menjauh dari calon pasangan yang shalih atau shalihah.Baca Juga:[Bersambung]Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Nasehat Bagi yang Sulit Jodoh (Bag. 1)

Bagi anda yang sudah ingin nikah namun sulit untuk menikah atau sulit untuk menemukan calon pasangan idaman, maka renungkan dan perhatikanlah beberapa nasehat ringkas berikut ini:1. Luruskan niat, menikah untuk mencari rida AllahKarena menikah adalah ibadah dan perintah dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menikah dalam firnan-Nya,وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. An-Nur: 32).Dalam ayat di atas menggunakan kata وَأَنْكِحُوا (nikahkanlah) yang merupakan fi’il amr (kata perintah).Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam juga memerintahkan kita untuk menikah, beliau bersabda,يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ“Wahai para pemuda, barangsiapa yang sudah sanggup menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu obat pengekang nafsunya” (HR. Bukhari no. 5056, Muslim no. 1400).Dalam hadis di atas juga digunakan fi’il amr فَلْيَتَزَوَّجْ (menikahlah).Maka jika niat sudah benar, apapun kekurangan yang ada pada calon pasanganmu, maka bersikap longgarlah, selama ia adalah orang yang mau diajak bersama-sama mencari rida Allah.Baca Juga: Orang Tua Mencarikan Jodoh untuk Anak2. Sulit jodoh itu adalah musibah, dan musibah terjadi karena maksiat, maka banyak-banyaklah bertaubat kepada Allah dari semua maksiat.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Qs. Asy-Syuura: 30).Akuilah semua dosa-dosa dan kesalahanmu selama ini, baik yang kecil-kecilan apalagi dosa yang besar. Tinggalkan itu semua dan sesalilah. Bertaubatlah kepada Allah. Semoga Allah angkat musibah darimu.Jauhi juga maksiat-maksiat dalam proses mencari pasangan seperti: pacaran, berdua-duaan, chatting dengan lawan jenis tanpa kebutuhan, flirting/ rayu-merayu padahal belum halal, melihat-lihat foto para akhwat berbohong dan menipu demi tampil baik dihadapan calon pasangan, merusak rumah tangga orang lain, dan lain-lain, karena ini hanya akan menambah musibahmu.Orang yang banyak bertaubat dan meminta ampunan kepada Allah, akan diberikan kemudahan dalam memperoleh keturunan dan jodoh tentunya. Karena tidaklah orang memiliki keturunan kecuali ia menikah terlebih dahulu. Allah ta’ala berfirman,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا“Aku mengatakan: beristighfarlah kepada Rabb kalian, karena ia Maha Pengampun. Ia akan mengirimkan hujan yang melimpah melalui langit kepada kalian. Dan Ia akan memberikan harta serta anak-anak kepada kalian, serta menumbuhkan kebun-kebun kalian dan mengalirkan sungai-sungai kalian” (QS. Nuh: 10-12).Baca Juga: Tidak Ada Jomblo atau Bujangan Di Surga3. Sulit jodoh adalah masalah. Allah menjanjikan jalan keluar dari masalah, bagi orang yang bertakwa.Allah ta’ala berfirman,ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak ia duga” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).Dijelaskan dengan indah oleh Ibnu Abi Izz Al-Hanafi rahimahullah,فقد ضمن الله للمتقين أن يجعل لهم مخرجا مما يضيق على الناس، وأن يرزقهم من حيث لا يحتسبون، فإذا لم يحصل ذلك دل على أن في التقوى خللا، فليستغفر الله وليتب إليه“Allah ta’ala menjamin bagi orang-orang bertakwa bahwa Ia akan memberikan jalan keluar dari perkara yang menyulitkannya dalam hubungan terhadap manusia. Dan Allah menjamin bahwa Ia akan memberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.Jika itu belum terjadi, maka ini menunjukkan bahwa dalam ketakwaannya masih ada cacat. Maka hendaknya ia meminta ampunan kepada Allah dan bertaubat kepadanya” (Syarah Al Aqidah Ath Thahawiyah dengan ta’liq Syaikh Yasin Abul Abbas Al-Adeni hal. 333-334).Maka bagi yang punya masalah dan solusi belum kunjung datang, coba renungkan, mungkin akidahmu belum lurus, mungkin shalatmu belum benar, mungkin belajar agamamu masih kurang semangat, mungkin zikirmu belum banyak, mungkin menutup auratmu belum sempurna, mungkin baktimu kepada orang tua masih kurang, mungkin sedekahmu kurang banyak, mungkin lisanmu masih suka offside, dan mungkin semua yang kau lakukan di atas masih kurang ikhlas. Baca Juga: Hukum Membaca Ramalan Bintang, Zodiak dan Shio4. Utamakan sisi agama, perkara lain bersikap longgarlah!Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأرْبَعٍ: لِمالِها ولِحَسَبِها وجَمالِها ولِدِينِها، فاظْفَرْ بذاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَداكَ“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi” (HR. Bukhari no.5090, Muslim no.1466).Dari Abu Hatim Al Muzanni radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إذا جاءَكم مَن ترضَونَ دينَه وخُلقَه فأنكِحوهُ ، إلَّا تفعلوا تَكن فتنةٌ في الأرضِ وفسادٌ“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi” (HR. Tirmidzi no.1085. Al-Albani berkata dalam Shahih At-Tirmidzi bahwa hadis ini hasan lighairihi).Carilah pasangan yang shalih atau shalihah, yang mau taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mau tunduk kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Itulah yang utama. Andaipun ada kekurangan dalam hal lain: kurang ganteng / cantik, kurang pintar, kurang kaya, kurang besar gajinya, kurang modis, kurang kurus, kurang gemuk, dan lainnya, maka bersikap longgarlah. Sebab semua hal-hal ini pun kelak akan sirna juga. Namun apa yang diniatkan untuk Allah ta’ala, akan senantiasa abadi. Allah ta’ala berfirman,مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ۖ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ“Apa yang ada pada kalian akan sirna. Dan apa yang ada di sisi Allah akan abadi” (QS. An-Nahl: 96).Boleh saja mempertimbangkan hal-hal di atas, namun jangan jadikan patokan utama sehingga membuatmu menjauh dari calon pasangan yang shalih atau shalihah.Baca Juga:[Bersambung]Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id
Bagi anda yang sudah ingin nikah namun sulit untuk menikah atau sulit untuk menemukan calon pasangan idaman, maka renungkan dan perhatikanlah beberapa nasehat ringkas berikut ini:1. Luruskan niat, menikah untuk mencari rida AllahKarena menikah adalah ibadah dan perintah dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menikah dalam firnan-Nya,وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. An-Nur: 32).Dalam ayat di atas menggunakan kata وَأَنْكِحُوا (nikahkanlah) yang merupakan fi’il amr (kata perintah).Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam juga memerintahkan kita untuk menikah, beliau bersabda,يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ“Wahai para pemuda, barangsiapa yang sudah sanggup menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu obat pengekang nafsunya” (HR. Bukhari no. 5056, Muslim no. 1400).Dalam hadis di atas juga digunakan fi’il amr فَلْيَتَزَوَّجْ (menikahlah).Maka jika niat sudah benar, apapun kekurangan yang ada pada calon pasanganmu, maka bersikap longgarlah, selama ia adalah orang yang mau diajak bersama-sama mencari rida Allah.Baca Juga: Orang Tua Mencarikan Jodoh untuk Anak2. Sulit jodoh itu adalah musibah, dan musibah terjadi karena maksiat, maka banyak-banyaklah bertaubat kepada Allah dari semua maksiat.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Qs. Asy-Syuura: 30).Akuilah semua dosa-dosa dan kesalahanmu selama ini, baik yang kecil-kecilan apalagi dosa yang besar. Tinggalkan itu semua dan sesalilah. Bertaubatlah kepada Allah. Semoga Allah angkat musibah darimu.Jauhi juga maksiat-maksiat dalam proses mencari pasangan seperti: pacaran, berdua-duaan, chatting dengan lawan jenis tanpa kebutuhan, flirting/ rayu-merayu padahal belum halal, melihat-lihat foto para akhwat berbohong dan menipu demi tampil baik dihadapan calon pasangan, merusak rumah tangga orang lain, dan lain-lain, karena ini hanya akan menambah musibahmu.Orang yang banyak bertaubat dan meminta ampunan kepada Allah, akan diberikan kemudahan dalam memperoleh keturunan dan jodoh tentunya. Karena tidaklah orang memiliki keturunan kecuali ia menikah terlebih dahulu. Allah ta’ala berfirman,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا“Aku mengatakan: beristighfarlah kepada Rabb kalian, karena ia Maha Pengampun. Ia akan mengirimkan hujan yang melimpah melalui langit kepada kalian. Dan Ia akan memberikan harta serta anak-anak kepada kalian, serta menumbuhkan kebun-kebun kalian dan mengalirkan sungai-sungai kalian” (QS. Nuh: 10-12).Baca Juga: Tidak Ada Jomblo atau Bujangan Di Surga3. Sulit jodoh adalah masalah. Allah menjanjikan jalan keluar dari masalah, bagi orang yang bertakwa.Allah ta’ala berfirman,ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak ia duga” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).Dijelaskan dengan indah oleh Ibnu Abi Izz Al-Hanafi rahimahullah,فقد ضمن الله للمتقين أن يجعل لهم مخرجا مما يضيق على الناس، وأن يرزقهم من حيث لا يحتسبون، فإذا لم يحصل ذلك دل على أن في التقوى خللا، فليستغفر الله وليتب إليه“Allah ta’ala menjamin bagi orang-orang bertakwa bahwa Ia akan memberikan jalan keluar dari perkara yang menyulitkannya dalam hubungan terhadap manusia. Dan Allah menjamin bahwa Ia akan memberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.Jika itu belum terjadi, maka ini menunjukkan bahwa dalam ketakwaannya masih ada cacat. Maka hendaknya ia meminta ampunan kepada Allah dan bertaubat kepadanya” (Syarah Al Aqidah Ath Thahawiyah dengan ta’liq Syaikh Yasin Abul Abbas Al-Adeni hal. 333-334).Maka bagi yang punya masalah dan solusi belum kunjung datang, coba renungkan, mungkin akidahmu belum lurus, mungkin shalatmu belum benar, mungkin belajar agamamu masih kurang semangat, mungkin zikirmu belum banyak, mungkin menutup auratmu belum sempurna, mungkin baktimu kepada orang tua masih kurang, mungkin sedekahmu kurang banyak, mungkin lisanmu masih suka offside, dan mungkin semua yang kau lakukan di atas masih kurang ikhlas. Baca Juga: Hukum Membaca Ramalan Bintang, Zodiak dan Shio4. Utamakan sisi agama, perkara lain bersikap longgarlah!Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأرْبَعٍ: لِمالِها ولِحَسَبِها وجَمالِها ولِدِينِها، فاظْفَرْ بذاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَداكَ“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi” (HR. Bukhari no.5090, Muslim no.1466).Dari Abu Hatim Al Muzanni radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إذا جاءَكم مَن ترضَونَ دينَه وخُلقَه فأنكِحوهُ ، إلَّا تفعلوا تَكن فتنةٌ في الأرضِ وفسادٌ“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi” (HR. Tirmidzi no.1085. Al-Albani berkata dalam Shahih At-Tirmidzi bahwa hadis ini hasan lighairihi).Carilah pasangan yang shalih atau shalihah, yang mau taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mau tunduk kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Itulah yang utama. Andaipun ada kekurangan dalam hal lain: kurang ganteng / cantik, kurang pintar, kurang kaya, kurang besar gajinya, kurang modis, kurang kurus, kurang gemuk, dan lainnya, maka bersikap longgarlah. Sebab semua hal-hal ini pun kelak akan sirna juga. Namun apa yang diniatkan untuk Allah ta’ala, akan senantiasa abadi. Allah ta’ala berfirman,مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ۖ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ“Apa yang ada pada kalian akan sirna. Dan apa yang ada di sisi Allah akan abadi” (QS. An-Nahl: 96).Boleh saja mempertimbangkan hal-hal di atas, namun jangan jadikan patokan utama sehingga membuatmu menjauh dari calon pasangan yang shalih atau shalihah.Baca Juga:[Bersambung]Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id


Bagi anda yang sudah ingin nikah namun sulit untuk menikah atau sulit untuk menemukan calon pasangan idaman, maka renungkan dan perhatikanlah beberapa nasehat ringkas berikut ini:1. Luruskan niat, menikah untuk mencari rida AllahKarena menikah adalah ibadah dan perintah dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menikah dalam firnan-Nya,وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. An-Nur: 32).Dalam ayat di atas menggunakan kata وَأَنْكِحُوا (nikahkanlah) yang merupakan fi’il amr (kata perintah).Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam juga memerintahkan kita untuk menikah, beliau bersabda,يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ“Wahai para pemuda, barangsiapa yang sudah sanggup menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu obat pengekang nafsunya” (HR. Bukhari no. 5056, Muslim no. 1400).Dalam hadis di atas juga digunakan fi’il amr فَلْيَتَزَوَّجْ (menikahlah).Maka jika niat sudah benar, apapun kekurangan yang ada pada calon pasanganmu, maka bersikap longgarlah, selama ia adalah orang yang mau diajak bersama-sama mencari rida Allah.Baca Juga: Orang Tua Mencarikan Jodoh untuk Anak2. Sulit jodoh itu adalah musibah, dan musibah terjadi karena maksiat, maka banyak-banyaklah bertaubat kepada Allah dari semua maksiat.Allah Ta’ala berfirman,وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Qs. Asy-Syuura: 30).Akuilah semua dosa-dosa dan kesalahanmu selama ini, baik yang kecil-kecilan apalagi dosa yang besar. Tinggalkan itu semua dan sesalilah. Bertaubatlah kepada Allah. Semoga Allah angkat musibah darimu.Jauhi juga maksiat-maksiat dalam proses mencari pasangan seperti: pacaran, berdua-duaan, chatting dengan lawan jenis tanpa kebutuhan, flirting/ rayu-merayu padahal belum halal, melihat-lihat foto para akhwat berbohong dan menipu demi tampil baik dihadapan calon pasangan, merusak rumah tangga orang lain, dan lain-lain, karena ini hanya akan menambah musibahmu.Orang yang banyak bertaubat dan meminta ampunan kepada Allah, akan diberikan kemudahan dalam memperoleh keturunan dan jodoh tentunya. Karena tidaklah orang memiliki keturunan kecuali ia menikah terlebih dahulu. Allah ta’ala berfirman,فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا“Aku mengatakan: beristighfarlah kepada Rabb kalian, karena ia Maha Pengampun. Ia akan mengirimkan hujan yang melimpah melalui langit kepada kalian. Dan Ia akan memberikan harta serta anak-anak kepada kalian, serta menumbuhkan kebun-kebun kalian dan mengalirkan sungai-sungai kalian” (QS. Nuh: 10-12).Baca Juga: Tidak Ada Jomblo atau Bujangan Di Surga3. Sulit jodoh adalah masalah. Allah menjanjikan jalan keluar dari masalah, bagi orang yang bertakwa.Allah ta’ala berfirman,ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak ia duga” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).Dijelaskan dengan indah oleh Ibnu Abi Izz Al-Hanafi rahimahullah,فقد ضمن الله للمتقين أن يجعل لهم مخرجا مما يضيق على الناس، وأن يرزقهم من حيث لا يحتسبون، فإذا لم يحصل ذلك دل على أن في التقوى خللا، فليستغفر الله وليتب إليه“Allah ta’ala menjamin bagi orang-orang bertakwa bahwa Ia akan memberikan jalan keluar dari perkara yang menyulitkannya dalam hubungan terhadap manusia. Dan Allah menjamin bahwa Ia akan memberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.Jika itu belum terjadi, maka ini menunjukkan bahwa dalam ketakwaannya masih ada cacat. Maka hendaknya ia meminta ampunan kepada Allah dan bertaubat kepadanya” (Syarah Al Aqidah Ath Thahawiyah dengan ta’liq Syaikh Yasin Abul Abbas Al-Adeni hal. 333-334).Maka bagi yang punya masalah dan solusi belum kunjung datang, coba renungkan, mungkin akidahmu belum lurus, mungkin shalatmu belum benar, mungkin belajar agamamu masih kurang semangat, mungkin zikirmu belum banyak, mungkin menutup auratmu belum sempurna, mungkin baktimu kepada orang tua masih kurang, mungkin sedekahmu kurang banyak, mungkin lisanmu masih suka offside, dan mungkin semua yang kau lakukan di atas masih kurang ikhlas. Baca Juga: Hukum Membaca Ramalan Bintang, Zodiak dan Shio4. Utamakan sisi agama, perkara lain bersikap longgarlah!Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأرْبَعٍ: لِمالِها ولِحَسَبِها وجَمالِها ولِدِينِها، فاظْفَرْ بذاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَداكَ“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi” (HR. Bukhari no.5090, Muslim no.1466).Dari Abu Hatim Al Muzanni radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,إذا جاءَكم مَن ترضَونَ دينَه وخُلقَه فأنكِحوهُ ، إلَّا تفعلوا تَكن فتنةٌ في الأرضِ وفسادٌ“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi” (HR. Tirmidzi no.1085. Al-Albani berkata dalam Shahih At-Tirmidzi bahwa hadis ini hasan lighairihi).Carilah pasangan yang shalih atau shalihah, yang mau taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mau tunduk kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Itulah yang utama. Andaipun ada kekurangan dalam hal lain: kurang ganteng / cantik, kurang pintar, kurang kaya, kurang besar gajinya, kurang modis, kurang kurus, kurang gemuk, dan lainnya, maka bersikap longgarlah. Sebab semua hal-hal ini pun kelak akan sirna juga. Namun apa yang diniatkan untuk Allah ta’ala, akan senantiasa abadi. Allah ta’ala berfirman,مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ۖ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ“Apa yang ada pada kalian akan sirna. Dan apa yang ada di sisi Allah akan abadi” (QS. An-Nahl: 96).Boleh saja mempertimbangkan hal-hal di atas, namun jangan jadikan patokan utama sehingga membuatmu menjauh dari calon pasangan yang shalih atau shalihah.Baca Juga:[Bersambung]Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id

Beliau Pun Menyimak dan Mencatat (Ikatlah Ilmu dengan Menulis)

Kami tahu beliau sangat-sangat sibuk, namun masih menyempatkan waktu untuk hadir dalam Kajian “Gunungkidul Mengaji” yang diadakan setiap Ahad Pon di Masjid Al-Ikhlas Wonosari Gunungkidul di lantai Basement. Kala itu giliran kami yang mengisi. Kami lihat Bu Badingah, Bupati Gunungkidul hadir dan duduk di depan. Ketika kajian dimulai, kami melihat beliau mengeluarkan buku catatan, beliau pun mencatat, merangkum kalimat-kalimat yang kami sampaikan. Kala itu membahas masalah puasa. Salah satu point pengantar adalah boleh bermadzhab namun jangan sampai fanatik buta. Ketika itu kami sedang menyampaikan pembahasan fikih Syafi’i tentang puasa dari Matan Abi Syuja’ (Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib). Kata Abu Darda’, jadilah di antara empat orang berikut. 1. Seorang alim 2. Orang yang mau mengkaji ilmu. 3. Orang yang mau mendengar ilmu. 4. Orang yang mau mencintai ilmu. Jangan jadi yang kelima, yaitu ahli bid’ah (yang beramal tanpa ilmu). (Al-Ibanah Al-Kubra karya Ibnu Batthah). Bacaan tentang nukilan tersebut, bisa dikaji di sini: https://rumaysho.com/12940-mereka-yang-terkena-laknat.html   Imam Asy-Sya’bi pernah berkata, “Apabila engkau mendengar sesuatu, maka tulislah sekali pun di tembok.” Imam Syafi’i rahimahullah juga pernah bertutur, الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ * قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja. (Diwan Asy-Syafi’i)   Ikatlah Ilmu dengan Tulisan Dari ‘Abdullah bin ‘Amr dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قيِّدُوا العِلمَ بالكِتابِ “Jagalah ilmu dengan menulis.” (Shahih Al-Jami’, no.4434. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Yang dimaksud qayyidul ‘ilma adalah kuatkan dan hafalkan serta jaga jangan sampai lepas. Ilmu jika terus didengar, hati akan sulit mengingatnya. Ilmu itu diikat lalu dijaga. Jika hati sering lupa, ilmu itu perlahan-lahan akan hilang. Itulah sebabnya kenapa penting untuk mencatat. Allah pun telah mengajarkan kepada hamba-Nya untuk mencatat karena itu bermaslahat untuk mereka.  Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al-Baqarah: 282) Referensi: https://www.dorar.net/hadith/sharh/120709    Semoga kita bisa mencontoh. — Ditulis, pagi hari 9 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com Baca Juga: Keutamaan Belajar dan Mengajar di Masjid Biar Tertarik Belajar Agama (1) Tagsbelajar cara belajar ikat ilmu ilmu keutamaan ilmu menulis

Beliau Pun Menyimak dan Mencatat (Ikatlah Ilmu dengan Menulis)

Kami tahu beliau sangat-sangat sibuk, namun masih menyempatkan waktu untuk hadir dalam Kajian “Gunungkidul Mengaji” yang diadakan setiap Ahad Pon di Masjid Al-Ikhlas Wonosari Gunungkidul di lantai Basement. Kala itu giliran kami yang mengisi. Kami lihat Bu Badingah, Bupati Gunungkidul hadir dan duduk di depan. Ketika kajian dimulai, kami melihat beliau mengeluarkan buku catatan, beliau pun mencatat, merangkum kalimat-kalimat yang kami sampaikan. Kala itu membahas masalah puasa. Salah satu point pengantar adalah boleh bermadzhab namun jangan sampai fanatik buta. Ketika itu kami sedang menyampaikan pembahasan fikih Syafi’i tentang puasa dari Matan Abi Syuja’ (Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib). Kata Abu Darda’, jadilah di antara empat orang berikut. 1. Seorang alim 2. Orang yang mau mengkaji ilmu. 3. Orang yang mau mendengar ilmu. 4. Orang yang mau mencintai ilmu. Jangan jadi yang kelima, yaitu ahli bid’ah (yang beramal tanpa ilmu). (Al-Ibanah Al-Kubra karya Ibnu Batthah). Bacaan tentang nukilan tersebut, bisa dikaji di sini: https://rumaysho.com/12940-mereka-yang-terkena-laknat.html   Imam Asy-Sya’bi pernah berkata, “Apabila engkau mendengar sesuatu, maka tulislah sekali pun di tembok.” Imam Syafi’i rahimahullah juga pernah bertutur, الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ * قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja. (Diwan Asy-Syafi’i)   Ikatlah Ilmu dengan Tulisan Dari ‘Abdullah bin ‘Amr dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قيِّدُوا العِلمَ بالكِتابِ “Jagalah ilmu dengan menulis.” (Shahih Al-Jami’, no.4434. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Yang dimaksud qayyidul ‘ilma adalah kuatkan dan hafalkan serta jaga jangan sampai lepas. Ilmu jika terus didengar, hati akan sulit mengingatnya. Ilmu itu diikat lalu dijaga. Jika hati sering lupa, ilmu itu perlahan-lahan akan hilang. Itulah sebabnya kenapa penting untuk mencatat. Allah pun telah mengajarkan kepada hamba-Nya untuk mencatat karena itu bermaslahat untuk mereka.  Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al-Baqarah: 282) Referensi: https://www.dorar.net/hadith/sharh/120709    Semoga kita bisa mencontoh. — Ditulis, pagi hari 9 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com Baca Juga: Keutamaan Belajar dan Mengajar di Masjid Biar Tertarik Belajar Agama (1) Tagsbelajar cara belajar ikat ilmu ilmu keutamaan ilmu menulis
Kami tahu beliau sangat-sangat sibuk, namun masih menyempatkan waktu untuk hadir dalam Kajian “Gunungkidul Mengaji” yang diadakan setiap Ahad Pon di Masjid Al-Ikhlas Wonosari Gunungkidul di lantai Basement. Kala itu giliran kami yang mengisi. Kami lihat Bu Badingah, Bupati Gunungkidul hadir dan duduk di depan. Ketika kajian dimulai, kami melihat beliau mengeluarkan buku catatan, beliau pun mencatat, merangkum kalimat-kalimat yang kami sampaikan. Kala itu membahas masalah puasa. Salah satu point pengantar adalah boleh bermadzhab namun jangan sampai fanatik buta. Ketika itu kami sedang menyampaikan pembahasan fikih Syafi’i tentang puasa dari Matan Abi Syuja’ (Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib). Kata Abu Darda’, jadilah di antara empat orang berikut. 1. Seorang alim 2. Orang yang mau mengkaji ilmu. 3. Orang yang mau mendengar ilmu. 4. Orang yang mau mencintai ilmu. Jangan jadi yang kelima, yaitu ahli bid’ah (yang beramal tanpa ilmu). (Al-Ibanah Al-Kubra karya Ibnu Batthah). Bacaan tentang nukilan tersebut, bisa dikaji di sini: https://rumaysho.com/12940-mereka-yang-terkena-laknat.html   Imam Asy-Sya’bi pernah berkata, “Apabila engkau mendengar sesuatu, maka tulislah sekali pun di tembok.” Imam Syafi’i rahimahullah juga pernah bertutur, الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ * قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja. (Diwan Asy-Syafi’i)   Ikatlah Ilmu dengan Tulisan Dari ‘Abdullah bin ‘Amr dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قيِّدُوا العِلمَ بالكِتابِ “Jagalah ilmu dengan menulis.” (Shahih Al-Jami’, no.4434. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Yang dimaksud qayyidul ‘ilma adalah kuatkan dan hafalkan serta jaga jangan sampai lepas. Ilmu jika terus didengar, hati akan sulit mengingatnya. Ilmu itu diikat lalu dijaga. Jika hati sering lupa, ilmu itu perlahan-lahan akan hilang. Itulah sebabnya kenapa penting untuk mencatat. Allah pun telah mengajarkan kepada hamba-Nya untuk mencatat karena itu bermaslahat untuk mereka.  Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al-Baqarah: 282) Referensi: https://www.dorar.net/hadith/sharh/120709    Semoga kita bisa mencontoh. — Ditulis, pagi hari 9 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com Baca Juga: Keutamaan Belajar dan Mengajar di Masjid Biar Tertarik Belajar Agama (1) Tagsbelajar cara belajar ikat ilmu ilmu keutamaan ilmu menulis


Kami tahu beliau sangat-sangat sibuk, namun masih menyempatkan waktu untuk hadir dalam Kajian “Gunungkidul Mengaji” yang diadakan setiap Ahad Pon di Masjid Al-Ikhlas Wonosari Gunungkidul di lantai Basement. Kala itu giliran kami yang mengisi. Kami lihat Bu Badingah, Bupati Gunungkidul hadir dan duduk di depan. Ketika kajian dimulai, kami melihat beliau mengeluarkan buku catatan, beliau pun mencatat, merangkum kalimat-kalimat yang kami sampaikan. Kala itu membahas masalah puasa. Salah satu point pengantar adalah boleh bermadzhab namun jangan sampai fanatik buta. Ketika itu kami sedang menyampaikan pembahasan fikih Syafi’i tentang puasa dari Matan Abi Syuja’ (Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib). Kata Abu Darda’, jadilah di antara empat orang berikut. 1. Seorang alim 2. Orang yang mau mengkaji ilmu. 3. Orang yang mau mendengar ilmu. 4. Orang yang mau mencintai ilmu. Jangan jadi yang kelima, yaitu ahli bid’ah (yang beramal tanpa ilmu). (Al-Ibanah Al-Kubra karya Ibnu Batthah). Bacaan tentang nukilan tersebut, bisa dikaji di sini: https://rumaysho.com/12940-mereka-yang-terkena-laknat.html   Imam Asy-Sya’bi pernah berkata, “Apabila engkau mendengar sesuatu, maka tulislah sekali pun di tembok.” Imam Syafi’i rahimahullah juga pernah bertutur, الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ * قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja. (Diwan Asy-Syafi’i)   Ikatlah Ilmu dengan Tulisan Dari ‘Abdullah bin ‘Amr dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, قيِّدُوا العِلمَ بالكِتابِ “Jagalah ilmu dengan menulis.” (Shahih Al-Jami’, no.4434. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Yang dimaksud qayyidul ‘ilma adalah kuatkan dan hafalkan serta jaga jangan sampai lepas. Ilmu jika terus didengar, hati akan sulit mengingatnya. Ilmu itu diikat lalu dijaga. Jika hati sering lupa, ilmu itu perlahan-lahan akan hilang. Itulah sebabnya kenapa penting untuk mencatat. Allah pun telah mengajarkan kepada hamba-Nya untuk mencatat karena itu bermaslahat untuk mereka.  Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al-Baqarah: 282) Referensi: https://www.dorar.net/hadith/sharh/120709    Semoga kita bisa mencontoh. — Ditulis, pagi hari 9 Sya’ban 1437 H Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Rumaysho.Com Baca Juga: Keutamaan Belajar dan Mengajar di Masjid Biar Tertarik Belajar Agama (1) Tagsbelajar cara belajar ikat ilmu ilmu keutamaan ilmu menulis

Pendaftaran Santri Baru Ma’had Mekkah Tahfidzul Qur’an

MA’HAD MEKKAH Tahfidzul Qur’an CILEGON BANTENTelah dibuka pendaftaran santri baru Tahun Pelajaran 2021-2022.Pesantren Tahfidzul Qur’an ber-asrama dan non-asrama bertempat di Cilegon Banten yang dibimbing serta Dibina oleh Syaikh dan Asatidz alumni Timur Tengah dan Dalam Negeri bermanhaj Salaf, menjembatani agar santri ikut tes masuk universitas Timur Tengah.VISI & MISI : Membentuk Generasi Qur’ani di atas Manhaj Para Sahabat Rasulullah ﷺ Menjadi wadah untuk mencetak generasi Qur’ani unggulan yang berkarakter Islami. KURIKULUM : Tahfidzul Qur’an Aqidah Tauhid Manhaj Bahasa Arab Ilmu Islam lainnya (Fiqih, hadits, tafsir) Umum, PKBM paket B (2 kali sepekan) PEMBINA :Syaikh Rusydi Bin Muhammad Al-Adni (ex. Pengajar di Darul Hadits Ma’rib, Yaman)Ayo daftar segera…Tunggu apa lagi? KUOTA TERBATAS (Hanya 25 santri)PILIHAN PROGRAM : Mutawassithah/ Setara SMP (Untuk Putra, Mukim & Non-Mukim) Ditempuh dalam 3 Tahun. Pengkaderan Dai (Untuk Putra, Usia 16-24 Thn) Ditempuh dalam 2 Tahun TPA/ TPQ (Usia 6-12 Thn) 📱 DAFTAR ONLINE :https://forms.gle/xrPnixtQcPkCwmNg7 Atau https://forms.gle/VH5jLn9EKbWPvEJv7Biaya Terjangkau;infaq Pendaftaran: 150.000 SPP/ bulan : 200.000 infaq makan santri asrama : Semampunya *Gratis, jika kurang mampuREKENING TRANSFER :BNI SYARIAH 1121338365 A.n Yayasan Mekah Al IslamiMUAMALAT 3330015912 A.n Yayasan Mekah Al IslamiDaftar Gelombang I (Oktober-Desember 2020) Tes masuk awal januari. Gelombang II (Januari-Maret) ditutup jika sudah memenuhi kuota.ALAMAT :Komplek PCI Blok B30/No 27 Cibeber, Cilegon, Banten WA.082223339964Fb. Yayasanmekah Alislami IG. Yayasan Mekah Al Islami www.mahadmekkah.com🔍 Keutamaan Bulan Ramadhan Dan Dalilnya, Manfaat Sakit, Arti Basmalah, Quote Menuntut Ilmu, Tobat Sambel

Pendaftaran Santri Baru Ma’had Mekkah Tahfidzul Qur’an

MA’HAD MEKKAH Tahfidzul Qur’an CILEGON BANTENTelah dibuka pendaftaran santri baru Tahun Pelajaran 2021-2022.Pesantren Tahfidzul Qur’an ber-asrama dan non-asrama bertempat di Cilegon Banten yang dibimbing serta Dibina oleh Syaikh dan Asatidz alumni Timur Tengah dan Dalam Negeri bermanhaj Salaf, menjembatani agar santri ikut tes masuk universitas Timur Tengah.VISI & MISI : Membentuk Generasi Qur’ani di atas Manhaj Para Sahabat Rasulullah ﷺ Menjadi wadah untuk mencetak generasi Qur’ani unggulan yang berkarakter Islami. KURIKULUM : Tahfidzul Qur’an Aqidah Tauhid Manhaj Bahasa Arab Ilmu Islam lainnya (Fiqih, hadits, tafsir) Umum, PKBM paket B (2 kali sepekan) PEMBINA :Syaikh Rusydi Bin Muhammad Al-Adni (ex. Pengajar di Darul Hadits Ma’rib, Yaman)Ayo daftar segera…Tunggu apa lagi? KUOTA TERBATAS (Hanya 25 santri)PILIHAN PROGRAM : Mutawassithah/ Setara SMP (Untuk Putra, Mukim & Non-Mukim) Ditempuh dalam 3 Tahun. Pengkaderan Dai (Untuk Putra, Usia 16-24 Thn) Ditempuh dalam 2 Tahun TPA/ TPQ (Usia 6-12 Thn) 📱 DAFTAR ONLINE :https://forms.gle/xrPnixtQcPkCwmNg7 Atau https://forms.gle/VH5jLn9EKbWPvEJv7Biaya Terjangkau;infaq Pendaftaran: 150.000 SPP/ bulan : 200.000 infaq makan santri asrama : Semampunya *Gratis, jika kurang mampuREKENING TRANSFER :BNI SYARIAH 1121338365 A.n Yayasan Mekah Al IslamiMUAMALAT 3330015912 A.n Yayasan Mekah Al IslamiDaftar Gelombang I (Oktober-Desember 2020) Tes masuk awal januari. Gelombang II (Januari-Maret) ditutup jika sudah memenuhi kuota.ALAMAT :Komplek PCI Blok B30/No 27 Cibeber, Cilegon, Banten WA.082223339964Fb. Yayasanmekah Alislami IG. Yayasan Mekah Al Islami www.mahadmekkah.com🔍 Keutamaan Bulan Ramadhan Dan Dalilnya, Manfaat Sakit, Arti Basmalah, Quote Menuntut Ilmu, Tobat Sambel
MA’HAD MEKKAH Tahfidzul Qur’an CILEGON BANTENTelah dibuka pendaftaran santri baru Tahun Pelajaran 2021-2022.Pesantren Tahfidzul Qur’an ber-asrama dan non-asrama bertempat di Cilegon Banten yang dibimbing serta Dibina oleh Syaikh dan Asatidz alumni Timur Tengah dan Dalam Negeri bermanhaj Salaf, menjembatani agar santri ikut tes masuk universitas Timur Tengah.VISI & MISI : Membentuk Generasi Qur’ani di atas Manhaj Para Sahabat Rasulullah ﷺ Menjadi wadah untuk mencetak generasi Qur’ani unggulan yang berkarakter Islami. KURIKULUM : Tahfidzul Qur’an Aqidah Tauhid Manhaj Bahasa Arab Ilmu Islam lainnya (Fiqih, hadits, tafsir) Umum, PKBM paket B (2 kali sepekan) PEMBINA :Syaikh Rusydi Bin Muhammad Al-Adni (ex. Pengajar di Darul Hadits Ma’rib, Yaman)Ayo daftar segera…Tunggu apa lagi? KUOTA TERBATAS (Hanya 25 santri)PILIHAN PROGRAM : Mutawassithah/ Setara SMP (Untuk Putra, Mukim & Non-Mukim) Ditempuh dalam 3 Tahun. Pengkaderan Dai (Untuk Putra, Usia 16-24 Thn) Ditempuh dalam 2 Tahun TPA/ TPQ (Usia 6-12 Thn) 📱 DAFTAR ONLINE :https://forms.gle/xrPnixtQcPkCwmNg7 Atau https://forms.gle/VH5jLn9EKbWPvEJv7Biaya Terjangkau;infaq Pendaftaran: 150.000 SPP/ bulan : 200.000 infaq makan santri asrama : Semampunya *Gratis, jika kurang mampuREKENING TRANSFER :BNI SYARIAH 1121338365 A.n Yayasan Mekah Al IslamiMUAMALAT 3330015912 A.n Yayasan Mekah Al IslamiDaftar Gelombang I (Oktober-Desember 2020) Tes masuk awal januari. Gelombang II (Januari-Maret) ditutup jika sudah memenuhi kuota.ALAMAT :Komplek PCI Blok B30/No 27 Cibeber, Cilegon, Banten WA.082223339964Fb. Yayasanmekah Alislami IG. Yayasan Mekah Al Islami www.mahadmekkah.com🔍 Keutamaan Bulan Ramadhan Dan Dalilnya, Manfaat Sakit, Arti Basmalah, Quote Menuntut Ilmu, Tobat Sambel


MA’HAD MEKKAH Tahfidzul Qur’an CILEGON BANTEN<img class="size-medium wp-image-60025 aligncenter" src="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2020/12/iklan-mahad-1-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" srcset="https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2020/12/iklan-mahad-1-300x300.jpg 300w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2020/12/iklan-mahad-1-1024x1024.jpg 1024w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2020/12/iklan-mahad-1-150x150.jpg 150w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2020/12/iklan-mahad-1-768x768.jpg 768w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2020/12/iklan-mahad-1-250x250.jpg 250w, https://static.muslim.or.id/wp-content/uploads/2020/12/iklan-mahad-1.jpg 1280w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" />Telah dibuka pendaftaran santri baru Tahun Pelajaran 2021-2022.Pesantren Tahfidzul Qur’an ber-asrama dan non-asrama bertempat di Cilegon Banten yang dibimbing serta Dibina oleh Syaikh dan Asatidz alumni Timur Tengah dan Dalam Negeri bermanhaj Salaf, menjembatani agar santri ikut tes masuk universitas Timur Tengah.VISI & MISI : Membentuk Generasi Qur’ani di atas Manhaj Para Sahabat Rasulullah ﷺ Menjadi wadah untuk mencetak generasi Qur’ani unggulan yang berkarakter Islami. KURIKULUM : Tahfidzul Qur’an Aqidah Tauhid Manhaj Bahasa Arab Ilmu Islam lainnya (Fiqih, hadits, tafsir) Umum, PKBM paket B (2 kali sepekan) PEMBINA :Syaikh Rusydi Bin Muhammad Al-Adni (ex. Pengajar di Darul Hadits Ma’rib, Yaman)Ayo daftar segera…Tunggu apa lagi? KUOTA TERBATAS (Hanya 25 santri)PILIHAN PROGRAM : Mutawassithah/ Setara SMP (Untuk Putra, Mukim & Non-Mukim) Ditempuh dalam 3 Tahun. Pengkaderan Dai (Untuk Putra, Usia 16-24 Thn) Ditempuh dalam 2 Tahun TPA/ TPQ (Usia 6-12 Thn) 📱 DAFTAR ONLINE :https://forms.gle/xrPnixtQcPkCwmNg7 Atau https://forms.gle/VH5jLn9EKbWPvEJv7Biaya Terjangkau;infaq Pendaftaran: 150.000 SPP/ bulan : 200.000 infaq makan santri asrama : Semampunya *Gratis, jika kurang mampuREKENING TRANSFER :BNI SYARIAH 1121338365 A.n Yayasan Mekah Al IslamiMUAMALAT 3330015912 A.n Yayasan Mekah Al IslamiDaftar Gelombang I (Oktober-Desember 2020) Tes masuk awal januari. Gelombang II (Januari-Maret) ditutup jika sudah memenuhi kuota.ALAMAT :Komplek PCI Blok B30/No 27 Cibeber, Cilegon, Banten WA.082223339964Fb. Yayasanmekah Alislami IG. Yayasan Mekah Al Islami www.mahadmekkah.com🔍 Keutamaan Bulan Ramadhan Dan Dalilnya, Manfaat Sakit, Arti Basmalah, Quote Menuntut Ilmu, Tobat Sambel

Benarkah Godaan Wanita Lebih Besar daripada Godaan Setan?

Jawaban dari pertanyaan ini dijawab seorang ulama, yaitu Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi Rahimahullah. Beliau menjelaskan bahwa bisa jadi godaan (tipu daya) wanita itu lebih besar daripada godaan atau tipu daya setan.Beliau menjelaskan ayat tentang fitnah/godaan setan yang lemah, yaitu firman Allah Ta’ala,إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا“Sesungguhnya tipu daya (godaan) setan itu lemah” (QS. An-Nisa’: 76).Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman dentang tipu daya/godaan wanita yang dahsyat,إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ“Sesungguhnya tipu daya (godaan) kalian wahai para wanita begitu besar” (QS. Yusuf: 28).Lalu beliau menjelaskan,هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ إِذَا ضُمَّتْ لَهَا آيَةٌ أُخْرَى حَصَلَ بِذَلِكَ بَيَانُ أَنَّ كَيْدَ النِّسَاءِ أَعْظَمُ مِنْ كَيْدِ الشَّيْطَانِ“Ayat yang mulia ini (QS. An-Nisa: 76), apabila dipadukan dengan ayat yang lain (QS. Yusuf: 28), akan menghasilkan penjelasan bahwa tipu daya (godaan) wanita lebih dahsyat dibandingkan tipu daya (godaan) setan” (Adhw’aul Bayan, 3: 84).Namun hal ini bukanlah untuk meremehkan godaan dan tipu daya setan sama sekali. Akan tetapi menunjukkan bahwa begitu besarnya godaan dan fitnah wanita bagi kaum laki-laki. Penjelasan beliau di atas dikaitkan dengan berbagai dalil yang menunjukkan bahwa wanita adalah fitnah/godaan terbesar laki-laki dari semua fitnah/godaan yang ada.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalanku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki, yaitu (fitnah) wanita” (HR. Bukhari dan Muslim).Baca Juga: Bolehkah Wanita Memakai Parfum?Godaan wanita juga dapat menghilangkan akal sehat laki-laki, walaupun laki-laki itu adalah orang yang kokoh dan istikamah beragama.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita” (HR. Bukhari).Semoga laki-laki kaum muslimin dijaga oleh Allah dari fitnah dan ujian wanita, karena ini adalah salah satu cara setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam lumpur maksiat.Perhatikan nasihat dari seorang tabiin senior, yaitu Said bin Mussayyib Rahimahullah. Beliau Rahimahullah berkata,ما يئس الشيطان من شيء ؛ إلا أتاه من قبل النساء“Tidaklah setan berputus asa (untuk menaklukkan manusia), kecuali dia akan datang memperdaya (menaklukkannya) dengan wanita” (Siyar A’lam An-Nubala’, 4: 237).Demikian, semoga artikel singkat ini bermanfaat bagi para pembaca.Baca Juga:@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Mahrom, Apa Itu Arsy Allah, Orang Serakah Harta Warisan, Hukum Undian Berhadiah Dalam Islam, Hadits Tentang Minuman Keras

Benarkah Godaan Wanita Lebih Besar daripada Godaan Setan?

Jawaban dari pertanyaan ini dijawab seorang ulama, yaitu Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi Rahimahullah. Beliau menjelaskan bahwa bisa jadi godaan (tipu daya) wanita itu lebih besar daripada godaan atau tipu daya setan.Beliau menjelaskan ayat tentang fitnah/godaan setan yang lemah, yaitu firman Allah Ta’ala,إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا“Sesungguhnya tipu daya (godaan) setan itu lemah” (QS. An-Nisa’: 76).Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman dentang tipu daya/godaan wanita yang dahsyat,إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ“Sesungguhnya tipu daya (godaan) kalian wahai para wanita begitu besar” (QS. Yusuf: 28).Lalu beliau menjelaskan,هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ إِذَا ضُمَّتْ لَهَا آيَةٌ أُخْرَى حَصَلَ بِذَلِكَ بَيَانُ أَنَّ كَيْدَ النِّسَاءِ أَعْظَمُ مِنْ كَيْدِ الشَّيْطَانِ“Ayat yang mulia ini (QS. An-Nisa: 76), apabila dipadukan dengan ayat yang lain (QS. Yusuf: 28), akan menghasilkan penjelasan bahwa tipu daya (godaan) wanita lebih dahsyat dibandingkan tipu daya (godaan) setan” (Adhw’aul Bayan, 3: 84).Namun hal ini bukanlah untuk meremehkan godaan dan tipu daya setan sama sekali. Akan tetapi menunjukkan bahwa begitu besarnya godaan dan fitnah wanita bagi kaum laki-laki. Penjelasan beliau di atas dikaitkan dengan berbagai dalil yang menunjukkan bahwa wanita adalah fitnah/godaan terbesar laki-laki dari semua fitnah/godaan yang ada.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalanku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki, yaitu (fitnah) wanita” (HR. Bukhari dan Muslim).Baca Juga: Bolehkah Wanita Memakai Parfum?Godaan wanita juga dapat menghilangkan akal sehat laki-laki, walaupun laki-laki itu adalah orang yang kokoh dan istikamah beragama.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita” (HR. Bukhari).Semoga laki-laki kaum muslimin dijaga oleh Allah dari fitnah dan ujian wanita, karena ini adalah salah satu cara setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam lumpur maksiat.Perhatikan nasihat dari seorang tabiin senior, yaitu Said bin Mussayyib Rahimahullah. Beliau Rahimahullah berkata,ما يئس الشيطان من شيء ؛ إلا أتاه من قبل النساء“Tidaklah setan berputus asa (untuk menaklukkan manusia), kecuali dia akan datang memperdaya (menaklukkannya) dengan wanita” (Siyar A’lam An-Nubala’, 4: 237).Demikian, semoga artikel singkat ini bermanfaat bagi para pembaca.Baca Juga:@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Mahrom, Apa Itu Arsy Allah, Orang Serakah Harta Warisan, Hukum Undian Berhadiah Dalam Islam, Hadits Tentang Minuman Keras
Jawaban dari pertanyaan ini dijawab seorang ulama, yaitu Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi Rahimahullah. Beliau menjelaskan bahwa bisa jadi godaan (tipu daya) wanita itu lebih besar daripada godaan atau tipu daya setan.Beliau menjelaskan ayat tentang fitnah/godaan setan yang lemah, yaitu firman Allah Ta’ala,إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا“Sesungguhnya tipu daya (godaan) setan itu lemah” (QS. An-Nisa’: 76).Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman dentang tipu daya/godaan wanita yang dahsyat,إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ“Sesungguhnya tipu daya (godaan) kalian wahai para wanita begitu besar” (QS. Yusuf: 28).Lalu beliau menjelaskan,هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ إِذَا ضُمَّتْ لَهَا آيَةٌ أُخْرَى حَصَلَ بِذَلِكَ بَيَانُ أَنَّ كَيْدَ النِّسَاءِ أَعْظَمُ مِنْ كَيْدِ الشَّيْطَانِ“Ayat yang mulia ini (QS. An-Nisa: 76), apabila dipadukan dengan ayat yang lain (QS. Yusuf: 28), akan menghasilkan penjelasan bahwa tipu daya (godaan) wanita lebih dahsyat dibandingkan tipu daya (godaan) setan” (Adhw’aul Bayan, 3: 84).Namun hal ini bukanlah untuk meremehkan godaan dan tipu daya setan sama sekali. Akan tetapi menunjukkan bahwa begitu besarnya godaan dan fitnah wanita bagi kaum laki-laki. Penjelasan beliau di atas dikaitkan dengan berbagai dalil yang menunjukkan bahwa wanita adalah fitnah/godaan terbesar laki-laki dari semua fitnah/godaan yang ada.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalanku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki, yaitu (fitnah) wanita” (HR. Bukhari dan Muslim).Baca Juga: Bolehkah Wanita Memakai Parfum?Godaan wanita juga dapat menghilangkan akal sehat laki-laki, walaupun laki-laki itu adalah orang yang kokoh dan istikamah beragama.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita” (HR. Bukhari).Semoga laki-laki kaum muslimin dijaga oleh Allah dari fitnah dan ujian wanita, karena ini adalah salah satu cara setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam lumpur maksiat.Perhatikan nasihat dari seorang tabiin senior, yaitu Said bin Mussayyib Rahimahullah. Beliau Rahimahullah berkata,ما يئس الشيطان من شيء ؛ إلا أتاه من قبل النساء“Tidaklah setan berputus asa (untuk menaklukkan manusia), kecuali dia akan datang memperdaya (menaklukkannya) dengan wanita” (Siyar A’lam An-Nubala’, 4: 237).Demikian, semoga artikel singkat ini bermanfaat bagi para pembaca.Baca Juga:@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Mahrom, Apa Itu Arsy Allah, Orang Serakah Harta Warisan, Hukum Undian Berhadiah Dalam Islam, Hadits Tentang Minuman Keras


Jawaban dari pertanyaan ini dijawab seorang ulama, yaitu Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi Rahimahullah. Beliau menjelaskan bahwa bisa jadi godaan (tipu daya) wanita itu lebih besar daripada godaan atau tipu daya setan.Beliau menjelaskan ayat tentang fitnah/godaan setan yang lemah, yaitu firman Allah Ta’ala,إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا“Sesungguhnya tipu daya (godaan) setan itu lemah” (QS. An-Nisa’: 76).Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman dentang tipu daya/godaan wanita yang dahsyat,إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ“Sesungguhnya tipu daya (godaan) kalian wahai para wanita begitu besar” (QS. Yusuf: 28).Lalu beliau menjelaskan,هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ إِذَا ضُمَّتْ لَهَا آيَةٌ أُخْرَى حَصَلَ بِذَلِكَ بَيَانُ أَنَّ كَيْدَ النِّسَاءِ أَعْظَمُ مِنْ كَيْدِ الشَّيْطَانِ“Ayat yang mulia ini (QS. An-Nisa: 76), apabila dipadukan dengan ayat yang lain (QS. Yusuf: 28), akan menghasilkan penjelasan bahwa tipu daya (godaan) wanita lebih dahsyat dibandingkan tipu daya (godaan) setan” (Adhw’aul Bayan, 3: 84).Namun hal ini bukanlah untuk meremehkan godaan dan tipu daya setan sama sekali. Akan tetapi menunjukkan bahwa begitu besarnya godaan dan fitnah wanita bagi kaum laki-laki. Penjelasan beliau di atas dikaitkan dengan berbagai dalil yang menunjukkan bahwa wanita adalah fitnah/godaan terbesar laki-laki dari semua fitnah/godaan yang ada.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalanku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki, yaitu (fitnah) wanita” (HR. Bukhari dan Muslim).Baca Juga: Bolehkah Wanita Memakai Parfum?Godaan wanita juga dapat menghilangkan akal sehat laki-laki, walaupun laki-laki itu adalah orang yang kokoh dan istikamah beragama.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menghilangkan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita” (HR. Bukhari).Semoga laki-laki kaum muslimin dijaga oleh Allah dari fitnah dan ujian wanita, karena ini adalah salah satu cara setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam lumpur maksiat.Perhatikan nasihat dari seorang tabiin senior, yaitu Said bin Mussayyib Rahimahullah. Beliau Rahimahullah berkata,ما يئس الشيطان من شيء ؛ إلا أتاه من قبل النساء“Tidaklah setan berputus asa (untuk menaklukkan manusia), kecuali dia akan datang memperdaya (menaklukkannya) dengan wanita” (Siyar A’lam An-Nubala’, 4: 237).Demikian, semoga artikel singkat ini bermanfaat bagi para pembaca.Baca Juga:@ Lombok, Pulau Seribu MasjidPenyusun: Raehanul BahraenArtikel: www.muslim.or.id🔍 Mahrom, Apa Itu Arsy Allah, Orang Serakah Harta Warisan, Hukum Undian Berhadiah Dalam Islam, Hadits Tentang Minuman Keras

Shalat Menjadi Kesenangan Hati (Bag. 1)

Salat merupakan penyejuk hati dan penenang jiwa. Momen untuk bermunajat bagi orang-orang yang hatinya sedang gundah dan jiwanya sedang resah adalah saat salat, terutama di dalam sujud. Posisi sujud itulah saat terdekatnya seorang hamba dengan Rabbnya. Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا بِلَالُ ! أَرِحْنـــَا بِالصَّلَاة“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat” (HR. Ahmad no. 23088 dan Abu Dawud no. 4985. Dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 7892).Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa istirahat Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang cinta kepada Allah Ta’ala terletak pada salat. Adapun orang yang lalai dan berpaling, maka dia tidak merasakan kenikmatan tersebut. Bahkan mereka merasakan salat sebagai sesuatu yang sangat berat dilaksanakan, ibarat mereka sedang berdiri di atas bara api. Oleh karena itu, mereka sangat ingin segera menyelesaikan salatnya dikarenakan tidak adanya kesenangan di hatinya dan tidak ada istirahat baginya di dalam salat tersebut.Jika seseorang senang terhadap sesuatu dan hatinya merasa bisa istirahat dengan hal tersebut, maka hal yang paling berat adalah berpisah dengannya. Sebaliknya, orang yang terpaksa melakukan sesuatu yang tidak disenanginya akan sangat bahagia ketika berpisah dengan sesuatu tersebut. Orang yang merasa terpaksa melaksanakan salat akan tersiksa dengan lamanya salat, sekalipun dia memiliki waktu luang dan badan yang sehat.Enam hal yang perlu dihadirkan saat shalatSalat bisa menjadi qurratul ‘ain (kesenangan hati) dan istirahatnya hati ketika salat tersebut menghadirkan 6 hal, yaitu: (1) ikhlas, (2) kejujuran dan ketulusan, (3) mengikuti dan mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) ihsan, (5) menyadari anugerah dari Allah Ta’ala, (6) merasa kurang dalam amalan.Pada artikel ini akan kami bahas empat poin yang pertama. Dua poin terakhir insyaallah akan kami bahas pada artikel selanjutnya.IkhlasHal yang membawa dan mendorong orang yang ikhlas dalam salatnya untuk melaksanakan salat adalah harapannya kepada Allah, rasa cinta kepada-Nya, mencari rida-Nya, mendekat kepada-Nya, mencari cinta-Nya dan karena melaksanakan perintah-Nya. Hamba tersebut mendirikan salat sama sekali bukan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dunia.Kejujuran dan ketulusanHamba yang jujur dan tulus dalam salat akan memusatkan hatinya dalam salat untuk Allah Ta’ala dan berusaha semaksimal mungkin untuk menyempurnakan secara lahir maupun batin. Secara lahir, seorang hamba akan berusaha agar gerakan dan ucapan dalam rangkaian salat bisa sesempurna mungkin. Adapun secara batin, seorang hamba akan berusaha supaya bisa khusyuk dan merasa senantiasa dilihat oleh Allah Ta’ala. Aspek batin ini ibarat ruh salat, sedangkan gerakan dan ucapan dalam salat ibarat badannya.Jika salat kosong dari ruh, maka salat tersebut seperti badan yang tidak memiliki ruh. Adapun salat yang sempurna secara lahir dan batin, maka dia akan diberikan cahaya seperti cahaya matahari. Allah Ta’ala akan meridainya, dan salat itu berkata kepada orang yang salatnya sempurna tersebut, “Semoga Allah Ta’ala menjagamu sebagaimana Engkau telah menjagaku.”Baca Juga: Menghukum Diri Karena Tertinggal ShalatMengikuti dan mencontoh Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallamSeorang hamba harus bersungguh-sungguh melaksanakan salat, sebagaimana salat Rasululllaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam. Dia berpaling dari hal-hal baru yang dibuat manusia dalam salat, baik berupa penambahan maupun pengurangan yang sama sekali tidak ada nukilan dari Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam maupun seorang pun dari para sahabat.IhsanIhsan yakni beribadah kepada Allah Ta’ala dalam keadaan seolah-olah melihat-Nya. Hal ini bisa bisa terwujud bagi hamba yang sempurna keimanannya kepada Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Sampai seolah-olah dia melihat Allah beristiwa’ di atas Arsy, berbicara dengan perintah-Nya dan larangan-Nya, mengatur urusan makhluk Nya, semua perkara turun dari sisi-Nya dan juga naik kepada-Nya, amalan hamba dan ruh hamba akan dihadapkan kepada-Nya ketika matinya. Dia menyaksikan semua itu dengan hatinya. Menyaksikan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, menyaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang berdiri sendiri, tidak membutuhkan makhluk dan terus menerus mengurus makhluk-Nya. Dia menyaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang Maha Hidup, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Perkasa, Maha Bijaksana, memerintah dan melarang, mencintai dan membenci, rida dan murka, melakukan apa yang dikehendaki, menghukumi dengan apa yang diingini-Nya, dan mengetahui seluruh perbuatan hamba yang lahir maupun batin.Ihsan ini merupakan pokok bagi seluruh amalan hati. Jika hamba beribadah kepada Allah Ta’ala dengan keadaan seolah-olah melihat-Nya, maka akan muncul sifat malu, mengagungkan Allah, rasa takut, cinta, kembali kepada Allah dengan bertaubat dan mengikhlaskan amal, tawakal, menghinakan diri di hadapan-Nya, memotong bisikan setan serta mengumpulkan tujuannya untuk Allah Ta’ala.Kadar kedekatan hamba kepada Allah Ta’ala sesuai dengan kadar ihsannya. Oleh karena itu, salat yang dilakukan oleh setiap orang memiliki kadar yang berbeda-beda pula karena kadar ihsan setiap orang berbeda. Bisa jadi salat dua orang terlihat sama namun nilai keutamaannya jauh berbeda ibarat jauhnya langit dengan bumi.Baca Juga:[Bersambung]Sumber:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 83-87, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al fadhiilah.* * *Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id

Shalat Menjadi Kesenangan Hati (Bag. 1)

Salat merupakan penyejuk hati dan penenang jiwa. Momen untuk bermunajat bagi orang-orang yang hatinya sedang gundah dan jiwanya sedang resah adalah saat salat, terutama di dalam sujud. Posisi sujud itulah saat terdekatnya seorang hamba dengan Rabbnya. Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا بِلَالُ ! أَرِحْنـــَا بِالصَّلَاة“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat” (HR. Ahmad no. 23088 dan Abu Dawud no. 4985. Dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 7892).Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa istirahat Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang cinta kepada Allah Ta’ala terletak pada salat. Adapun orang yang lalai dan berpaling, maka dia tidak merasakan kenikmatan tersebut. Bahkan mereka merasakan salat sebagai sesuatu yang sangat berat dilaksanakan, ibarat mereka sedang berdiri di atas bara api. Oleh karena itu, mereka sangat ingin segera menyelesaikan salatnya dikarenakan tidak adanya kesenangan di hatinya dan tidak ada istirahat baginya di dalam salat tersebut.Jika seseorang senang terhadap sesuatu dan hatinya merasa bisa istirahat dengan hal tersebut, maka hal yang paling berat adalah berpisah dengannya. Sebaliknya, orang yang terpaksa melakukan sesuatu yang tidak disenanginya akan sangat bahagia ketika berpisah dengan sesuatu tersebut. Orang yang merasa terpaksa melaksanakan salat akan tersiksa dengan lamanya salat, sekalipun dia memiliki waktu luang dan badan yang sehat.Enam hal yang perlu dihadirkan saat shalatSalat bisa menjadi qurratul ‘ain (kesenangan hati) dan istirahatnya hati ketika salat tersebut menghadirkan 6 hal, yaitu: (1) ikhlas, (2) kejujuran dan ketulusan, (3) mengikuti dan mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) ihsan, (5) menyadari anugerah dari Allah Ta’ala, (6) merasa kurang dalam amalan.Pada artikel ini akan kami bahas empat poin yang pertama. Dua poin terakhir insyaallah akan kami bahas pada artikel selanjutnya.IkhlasHal yang membawa dan mendorong orang yang ikhlas dalam salatnya untuk melaksanakan salat adalah harapannya kepada Allah, rasa cinta kepada-Nya, mencari rida-Nya, mendekat kepada-Nya, mencari cinta-Nya dan karena melaksanakan perintah-Nya. Hamba tersebut mendirikan salat sama sekali bukan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dunia.Kejujuran dan ketulusanHamba yang jujur dan tulus dalam salat akan memusatkan hatinya dalam salat untuk Allah Ta’ala dan berusaha semaksimal mungkin untuk menyempurnakan secara lahir maupun batin. Secara lahir, seorang hamba akan berusaha agar gerakan dan ucapan dalam rangkaian salat bisa sesempurna mungkin. Adapun secara batin, seorang hamba akan berusaha supaya bisa khusyuk dan merasa senantiasa dilihat oleh Allah Ta’ala. Aspek batin ini ibarat ruh salat, sedangkan gerakan dan ucapan dalam salat ibarat badannya.Jika salat kosong dari ruh, maka salat tersebut seperti badan yang tidak memiliki ruh. Adapun salat yang sempurna secara lahir dan batin, maka dia akan diberikan cahaya seperti cahaya matahari. Allah Ta’ala akan meridainya, dan salat itu berkata kepada orang yang salatnya sempurna tersebut, “Semoga Allah Ta’ala menjagamu sebagaimana Engkau telah menjagaku.”Baca Juga: Menghukum Diri Karena Tertinggal ShalatMengikuti dan mencontoh Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallamSeorang hamba harus bersungguh-sungguh melaksanakan salat, sebagaimana salat Rasululllaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam. Dia berpaling dari hal-hal baru yang dibuat manusia dalam salat, baik berupa penambahan maupun pengurangan yang sama sekali tidak ada nukilan dari Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam maupun seorang pun dari para sahabat.IhsanIhsan yakni beribadah kepada Allah Ta’ala dalam keadaan seolah-olah melihat-Nya. Hal ini bisa bisa terwujud bagi hamba yang sempurna keimanannya kepada Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Sampai seolah-olah dia melihat Allah beristiwa’ di atas Arsy, berbicara dengan perintah-Nya dan larangan-Nya, mengatur urusan makhluk Nya, semua perkara turun dari sisi-Nya dan juga naik kepada-Nya, amalan hamba dan ruh hamba akan dihadapkan kepada-Nya ketika matinya. Dia menyaksikan semua itu dengan hatinya. Menyaksikan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, menyaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang berdiri sendiri, tidak membutuhkan makhluk dan terus menerus mengurus makhluk-Nya. Dia menyaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang Maha Hidup, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Perkasa, Maha Bijaksana, memerintah dan melarang, mencintai dan membenci, rida dan murka, melakukan apa yang dikehendaki, menghukumi dengan apa yang diingini-Nya, dan mengetahui seluruh perbuatan hamba yang lahir maupun batin.Ihsan ini merupakan pokok bagi seluruh amalan hati. Jika hamba beribadah kepada Allah Ta’ala dengan keadaan seolah-olah melihat-Nya, maka akan muncul sifat malu, mengagungkan Allah, rasa takut, cinta, kembali kepada Allah dengan bertaubat dan mengikhlaskan amal, tawakal, menghinakan diri di hadapan-Nya, memotong bisikan setan serta mengumpulkan tujuannya untuk Allah Ta’ala.Kadar kedekatan hamba kepada Allah Ta’ala sesuai dengan kadar ihsannya. Oleh karena itu, salat yang dilakukan oleh setiap orang memiliki kadar yang berbeda-beda pula karena kadar ihsan setiap orang berbeda. Bisa jadi salat dua orang terlihat sama namun nilai keutamaannya jauh berbeda ibarat jauhnya langit dengan bumi.Baca Juga:[Bersambung]Sumber:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 83-87, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al fadhiilah.* * *Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id
Salat merupakan penyejuk hati dan penenang jiwa. Momen untuk bermunajat bagi orang-orang yang hatinya sedang gundah dan jiwanya sedang resah adalah saat salat, terutama di dalam sujud. Posisi sujud itulah saat terdekatnya seorang hamba dengan Rabbnya. Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا بِلَالُ ! أَرِحْنـــَا بِالصَّلَاة“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat” (HR. Ahmad no. 23088 dan Abu Dawud no. 4985. Dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 7892).Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa istirahat Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang cinta kepada Allah Ta’ala terletak pada salat. Adapun orang yang lalai dan berpaling, maka dia tidak merasakan kenikmatan tersebut. Bahkan mereka merasakan salat sebagai sesuatu yang sangat berat dilaksanakan, ibarat mereka sedang berdiri di atas bara api. Oleh karena itu, mereka sangat ingin segera menyelesaikan salatnya dikarenakan tidak adanya kesenangan di hatinya dan tidak ada istirahat baginya di dalam salat tersebut.Jika seseorang senang terhadap sesuatu dan hatinya merasa bisa istirahat dengan hal tersebut, maka hal yang paling berat adalah berpisah dengannya. Sebaliknya, orang yang terpaksa melakukan sesuatu yang tidak disenanginya akan sangat bahagia ketika berpisah dengan sesuatu tersebut. Orang yang merasa terpaksa melaksanakan salat akan tersiksa dengan lamanya salat, sekalipun dia memiliki waktu luang dan badan yang sehat.Enam hal yang perlu dihadirkan saat shalatSalat bisa menjadi qurratul ‘ain (kesenangan hati) dan istirahatnya hati ketika salat tersebut menghadirkan 6 hal, yaitu: (1) ikhlas, (2) kejujuran dan ketulusan, (3) mengikuti dan mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) ihsan, (5) menyadari anugerah dari Allah Ta’ala, (6) merasa kurang dalam amalan.Pada artikel ini akan kami bahas empat poin yang pertama. Dua poin terakhir insyaallah akan kami bahas pada artikel selanjutnya.IkhlasHal yang membawa dan mendorong orang yang ikhlas dalam salatnya untuk melaksanakan salat adalah harapannya kepada Allah, rasa cinta kepada-Nya, mencari rida-Nya, mendekat kepada-Nya, mencari cinta-Nya dan karena melaksanakan perintah-Nya. Hamba tersebut mendirikan salat sama sekali bukan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dunia.Kejujuran dan ketulusanHamba yang jujur dan tulus dalam salat akan memusatkan hatinya dalam salat untuk Allah Ta’ala dan berusaha semaksimal mungkin untuk menyempurnakan secara lahir maupun batin. Secara lahir, seorang hamba akan berusaha agar gerakan dan ucapan dalam rangkaian salat bisa sesempurna mungkin. Adapun secara batin, seorang hamba akan berusaha supaya bisa khusyuk dan merasa senantiasa dilihat oleh Allah Ta’ala. Aspek batin ini ibarat ruh salat, sedangkan gerakan dan ucapan dalam salat ibarat badannya.Jika salat kosong dari ruh, maka salat tersebut seperti badan yang tidak memiliki ruh. Adapun salat yang sempurna secara lahir dan batin, maka dia akan diberikan cahaya seperti cahaya matahari. Allah Ta’ala akan meridainya, dan salat itu berkata kepada orang yang salatnya sempurna tersebut, “Semoga Allah Ta’ala menjagamu sebagaimana Engkau telah menjagaku.”Baca Juga: Menghukum Diri Karena Tertinggal ShalatMengikuti dan mencontoh Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallamSeorang hamba harus bersungguh-sungguh melaksanakan salat, sebagaimana salat Rasululllaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam. Dia berpaling dari hal-hal baru yang dibuat manusia dalam salat, baik berupa penambahan maupun pengurangan yang sama sekali tidak ada nukilan dari Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam maupun seorang pun dari para sahabat.IhsanIhsan yakni beribadah kepada Allah Ta’ala dalam keadaan seolah-olah melihat-Nya. Hal ini bisa bisa terwujud bagi hamba yang sempurna keimanannya kepada Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Sampai seolah-olah dia melihat Allah beristiwa’ di atas Arsy, berbicara dengan perintah-Nya dan larangan-Nya, mengatur urusan makhluk Nya, semua perkara turun dari sisi-Nya dan juga naik kepada-Nya, amalan hamba dan ruh hamba akan dihadapkan kepada-Nya ketika matinya. Dia menyaksikan semua itu dengan hatinya. Menyaksikan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, menyaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang berdiri sendiri, tidak membutuhkan makhluk dan terus menerus mengurus makhluk-Nya. Dia menyaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang Maha Hidup, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Perkasa, Maha Bijaksana, memerintah dan melarang, mencintai dan membenci, rida dan murka, melakukan apa yang dikehendaki, menghukumi dengan apa yang diingini-Nya, dan mengetahui seluruh perbuatan hamba yang lahir maupun batin.Ihsan ini merupakan pokok bagi seluruh amalan hati. Jika hamba beribadah kepada Allah Ta’ala dengan keadaan seolah-olah melihat-Nya, maka akan muncul sifat malu, mengagungkan Allah, rasa takut, cinta, kembali kepada Allah dengan bertaubat dan mengikhlaskan amal, tawakal, menghinakan diri di hadapan-Nya, memotong bisikan setan serta mengumpulkan tujuannya untuk Allah Ta’ala.Kadar kedekatan hamba kepada Allah Ta’ala sesuai dengan kadar ihsannya. Oleh karena itu, salat yang dilakukan oleh setiap orang memiliki kadar yang berbeda-beda pula karena kadar ihsan setiap orang berbeda. Bisa jadi salat dua orang terlihat sama namun nilai keutamaannya jauh berbeda ibarat jauhnya langit dengan bumi.Baca Juga:[Bersambung]Sumber:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 83-87, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al fadhiilah.* * *Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id


Salat merupakan penyejuk hati dan penenang jiwa. Momen untuk bermunajat bagi orang-orang yang hatinya sedang gundah dan jiwanya sedang resah adalah saat salat, terutama di dalam sujud. Posisi sujud itulah saat terdekatnya seorang hamba dengan Rabbnya. Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,يَا بِلَالُ ! أَرِحْنـــَا بِالصَّلَاة“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat” (HR. Ahmad no. 23088 dan Abu Dawud no. 4985. Dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 7892).Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa istirahat Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang cinta kepada Allah Ta’ala terletak pada salat. Adapun orang yang lalai dan berpaling, maka dia tidak merasakan kenikmatan tersebut. Bahkan mereka merasakan salat sebagai sesuatu yang sangat berat dilaksanakan, ibarat mereka sedang berdiri di atas bara api. Oleh karena itu, mereka sangat ingin segera menyelesaikan salatnya dikarenakan tidak adanya kesenangan di hatinya dan tidak ada istirahat baginya di dalam salat tersebut.Jika seseorang senang terhadap sesuatu dan hatinya merasa bisa istirahat dengan hal tersebut, maka hal yang paling berat adalah berpisah dengannya. Sebaliknya, orang yang terpaksa melakukan sesuatu yang tidak disenanginya akan sangat bahagia ketika berpisah dengan sesuatu tersebut. Orang yang merasa terpaksa melaksanakan salat akan tersiksa dengan lamanya salat, sekalipun dia memiliki waktu luang dan badan yang sehat.Enam hal yang perlu dihadirkan saat shalatSalat bisa menjadi qurratul ‘ain (kesenangan hati) dan istirahatnya hati ketika salat tersebut menghadirkan 6 hal, yaitu: (1) ikhlas, (2) kejujuran dan ketulusan, (3) mengikuti dan mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) ihsan, (5) menyadari anugerah dari Allah Ta’ala, (6) merasa kurang dalam amalan.Pada artikel ini akan kami bahas empat poin yang pertama. Dua poin terakhir insyaallah akan kami bahas pada artikel selanjutnya.IkhlasHal yang membawa dan mendorong orang yang ikhlas dalam salatnya untuk melaksanakan salat adalah harapannya kepada Allah, rasa cinta kepada-Nya, mencari rida-Nya, mendekat kepada-Nya, mencari cinta-Nya dan karena melaksanakan perintah-Nya. Hamba tersebut mendirikan salat sama sekali bukan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dunia.Kejujuran dan ketulusanHamba yang jujur dan tulus dalam salat akan memusatkan hatinya dalam salat untuk Allah Ta’ala dan berusaha semaksimal mungkin untuk menyempurnakan secara lahir maupun batin. Secara lahir, seorang hamba akan berusaha agar gerakan dan ucapan dalam rangkaian salat bisa sesempurna mungkin. Adapun secara batin, seorang hamba akan berusaha supaya bisa khusyuk dan merasa senantiasa dilihat oleh Allah Ta’ala. Aspek batin ini ibarat ruh salat, sedangkan gerakan dan ucapan dalam salat ibarat badannya.Jika salat kosong dari ruh, maka salat tersebut seperti badan yang tidak memiliki ruh. Adapun salat yang sempurna secara lahir dan batin, maka dia akan diberikan cahaya seperti cahaya matahari. Allah Ta’ala akan meridainya, dan salat itu berkata kepada orang yang salatnya sempurna tersebut, “Semoga Allah Ta’ala menjagamu sebagaimana Engkau telah menjagaku.”Baca Juga: Menghukum Diri Karena Tertinggal ShalatMengikuti dan mencontoh Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallamSeorang hamba harus bersungguh-sungguh melaksanakan salat, sebagaimana salat Rasululllaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam. Dia berpaling dari hal-hal baru yang dibuat manusia dalam salat, baik berupa penambahan maupun pengurangan yang sama sekali tidak ada nukilan dari Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam maupun seorang pun dari para sahabat.IhsanIhsan yakni beribadah kepada Allah Ta’ala dalam keadaan seolah-olah melihat-Nya. Hal ini bisa bisa terwujud bagi hamba yang sempurna keimanannya kepada Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Sampai seolah-olah dia melihat Allah beristiwa’ di atas Arsy, berbicara dengan perintah-Nya dan larangan-Nya, mengatur urusan makhluk Nya, semua perkara turun dari sisi-Nya dan juga naik kepada-Nya, amalan hamba dan ruh hamba akan dihadapkan kepada-Nya ketika matinya. Dia menyaksikan semua itu dengan hatinya. Menyaksikan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, menyaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang berdiri sendiri, tidak membutuhkan makhluk dan terus menerus mengurus makhluk-Nya. Dia menyaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang Maha Hidup, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Perkasa, Maha Bijaksana, memerintah dan melarang, mencintai dan membenci, rida dan murka, melakukan apa yang dikehendaki, menghukumi dengan apa yang diingini-Nya, dan mengetahui seluruh perbuatan hamba yang lahir maupun batin.Ihsan ini merupakan pokok bagi seluruh amalan hati. Jika hamba beribadah kepada Allah Ta’ala dengan keadaan seolah-olah melihat-Nya, maka akan muncul sifat malu, mengagungkan Allah, rasa takut, cinta, kembali kepada Allah dengan bertaubat dan mengikhlaskan amal, tawakal, menghinakan diri di hadapan-Nya, memotong bisikan setan serta mengumpulkan tujuannya untuk Allah Ta’ala.Kadar kedekatan hamba kepada Allah Ta’ala sesuai dengan kadar ihsannya. Oleh karena itu, salat yang dilakukan oleh setiap orang memiliki kadar yang berbeda-beda pula karena kadar ihsan setiap orang berbeda. Bisa jadi salat dua orang terlihat sama namun nilai keutamaannya jauh berbeda ibarat jauhnya langit dengan bumi.Baca Juga:[Bersambung]Sumber:Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 83-87, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al fadhiilah.* * *Penulis: Apt. PridiyantoArtikel: Muslim.or.id
Prev     Next