Larangan Meminta-Minta Kepada Orang Lain

Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 17508),حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، وَيَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ حُبْشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ، فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ»Yahya bin Adam dan Yahya bin Abi Bukair menuturkan kepada kami, mereka berdua mengatakan, Israil menuturkan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Hubsyi bin Junadah radhiallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta padahal ia tidak fakir maka seakan-seakan ia memakan bara api”.Dikeluarkan juga oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (no. 2446), Ath-Thahawi dalam Syarah Ma’anil Atsar (no. 3021), dan Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (no. 3506), semuanya dari jalan Israil.Berikut penjelasan tentang hadits larangan meminta-minta.Derajat haditsRiwayat ini lemah karena terdapat Abu Ishaq Amr bin Abdillah bin Ubaid As -Sabi’i Al-Kufi. Ibnu Hajar mengatakan: “Ia tsiqah, banyak riwayatnya, ahli ibadah, namun mukhtalith di akhir usianya”. Adz-Dzahabi mengatakan: “Ia tsiqah, namun berubah hafalannya menjadi buruk ketika di masa tua yaitu masa-masa sebelum wafatnya”.Namun Abu Ishaq di-mutaba’ah oleh Asy-Sya’bi dalam riwayat yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (no. 3504),حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ غَنَّامٍ، ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، ح وَحَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، ثنا ابْنُ الْأَصْبَهَانِيِّ، قَالَا: ثنا عَبْدُ الرَّحِيمِ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ مُجَالِدٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ حَبَشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ وَاقِفٌ بِعَرَفَةَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَأَتَى أَعْرَابِيٌّ فَأَخَذَ بِطَرَفِ رِدَائِهِ وَسَأَلَهُ إِيَّاهُ فَأَعْطَاهُ، فَذَهَبَ بِهِ فَعِنْدَ ذَلِكَ حُرِّمَتِ الْمَسْأَلَةُ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ وَلَا لِذِي مِرَّةٍ سَوِيٍّ، إِلَّا فِي فَقْرٍ مُدْقِعٍ، أَوْ غُرْمٍ مُفْظِعٍ» ، وَقَالَ: «مَنْ سَأَلَ النَّاسَ لِيُثْرِيَ مَالَهُ كَانَ خُمُوشًا فِي وَجْهِهِ وَرَضْفًا يَأْكُلُهُ مِنْ جَهَنَّمَ، فَمَنْ شَاءَ فَلْيُقِلَّ، وَمَنْ شَاءَ فَلْيُكْثِرْ»Ubaid bin Ghannam menuturkan kepadaku, Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepadaku, juga Ali bin Abdil Aziz menuturkan kepadaku, Ibnu Al-Ashbahan menuturkan kepadaku. Keduanya (Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Ibnu Al-Ashbahan) mengatakan: Abdurrahim bin Sulaiman menuturkan kepadaku, dari Mujalid, dari Asy-Sya’bi, dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di Arafah pada haji wada’, lalu datang seorang badui yang tiba-tiba menarik ujung selendang Nabi dan memintanya, maka Nabi pun memberikan selendang itu kepadanya, lalu orang badui itu pun pergi. Dan ketika itulah mulai diharamkan meminta-minta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak halal menerima sedekah bagi orang yang kaya juga bagi orang yang punya kemampuan untuk bekerja, kecuali orang fakir yang sangat sengsara atau orang yang punya tunggakan hutang dan sangat kesulitan membayarnya”. Beliau juga bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk menumpuk harta maka pada hari kiamat akan ada cakaran di wajahnya dan akan memakan batu panas dari neraka jahanam. Maka silakan pilih sendiri, kurangilah meminta-minta atau perbanyaklah”.Riwayat ini sendiri lemah karena terdapat Mujalid. Ibnu Hajar mengatakan: “Laysa bi qawiy, hafalannya berubah di akhir usianya”. Ad-Daruquthni mengatakan: “Ia tidak dianggap haditsnya”. Yahya bin Ma’in mengatakan: “Haditsnya bukan hujjah”. Al-Bukhari mengatakan: “Shaduq”. Ibnu Hibban mengatakan: “Tidak boleh berhujjah dengannya”. Namun riwayat ini bisa menjadi i’tibar.Abu Ishaq di-mutaba’ah oleh Asy-Sya’bi dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (no. 3505),حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْحَضْرَمِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ شَقِيقٍ، ثنا أَبِي، ثنا أَبُو حَمْزَةَ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ حَبَشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ السَّلُولِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ سَأَلَ النَّاسَ فِي غَيْرِ مُصِيبَةِ حَاجَتِهِ فَكَأَنَّمَا يَلْتَقِمُ الرَّضْفَةَ»Muhammad bin Abdillah Al-Hadhrami menuturkan kepadaku, Muhammad bin Ali bin Al-Hasan bin Syaqiq menuturkan kepadaku, ayahku (Ali bin Al-Hasan bin Syaqiq) menuturkan kepadaku, Abu Hamzah menuturkan kepadaku, dari Asy-Sya’bi, dari Hubsyi bin Junadah As-Saluli, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain padahal ia tidak sedang dalam kebutuhan mendesak disebabkan musibah yang ia derita, maka seakan-seakan ia memakan bara api”.Riwayat ini sendiri juga lemah, karena terdapat Abu Hamzah yaitu Tsabit bin Abi Shafiyyah. Imam Ahmad berkata: “Dha’iful hadits, laysa bisya’in”. Yahya bin Ma’in mengatakan: “Laysa bisya’in”. Abu Zur’ah mengatakan: “Layyin”. Abu Hatim mengatakan: “Haditsnya lemah, ditulis haditsnya namun bukan hujjah”. Adz-Dzahabi mengatakan: “Para ulama melemahkannya”. Ibnu Hajar mengatakan: “lLmah, seorang rafidhah”. Namun riwayat ini masih bisa menjadi i’tibar.Sampai di sini dari keseluruhan riwayat yang ada, hadits Hubsyi bin Junadah ini statusnya hasan, karena riwayat-riwayatnya saling menguatkan.Terdapat jalan dari sahabat Wahb bin Khanbasy Ath-Tha’i radhiyallahu ‘anhu. Dikeluarkan oleh Ath-Thahawi dalam Syarah Ma’anil Atsar (no. 3020),حَدَّثَنَا أَبُو أُمَيَّةَ , قَالَ: ثنا الْمُعَلَّى بْنُ مَنْصُورٍ , قَالَ: أَخْبَرَنِي يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ , قَالَ: أَخْبَرَنِي مُجَالِدٌ , عَنِ الشَّعْبِيِّ , عَنْ وَهْبٍ , قَالَ: «جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ وَاقِفٌ بِعَرَفَةَ , فَسَأَلَهُ رِدَاءَهُ , فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ , فَذَهَبَ بِهِ , ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا مِنْ مُدْقِعٍ أَوْ غُرْمٍ مُفْظِعٍ , وَمَنْ سَأَلَ النَّاسَ لِيُثْرِيَ بِهِ لَهُ , فَإِنَّهُ خُمُوشٌ فِي وَجْهِهِ , وَرَضْفٌ يَأْكُلُهُ مِنْ جَهَنَّمَ , إِنْ قَلِيلًا فَقَلِيلٌ , وَإِنْ كَثِيرًا فَكَثِيرٌ»Abu Umayyah menuturkan kepadaku, ia berkata: Al-Mu’alla bin Masnhur menuturkan kepadaku, ia berkata: Yahya bin Sa’id menuturkan kepadaku, ia berkata: Mujalid mengabarkan kepadaku, dari Asy-Sya’bi, dari Wahb, ia berkata: Seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sedang berdiri di Arafah. Orang tersebut meminta selendang Nabi dan beliau pun memberikannya. Orang tersebut lalu pergi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Tidak halal meminta-minta kecuali bagi orang fakir yang sangat sengsara atau orang yang punya tunggakan hutang dan sangat kesulitan membayarnya. Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk menumpuk harta maka pada hari kiamat akan ada cakaran di wajahnya dan akan memakan batu panas dari neraka jahanam. Jika ia meminta-minta hanya sedikit, maka sedikit pula azab yang ia terima, jika ia meminta-minta banyak maka banyak pula azab yang ia terima”.Riwayat ini juga lemah karena terdapat Mujalid, namun bisa menjadi syahid yang menguatkan, sehingga hadits di atas dengan keseluruhan jalannya, statusnya menjadi shahih lighairihi.Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (3/99) mengatakan: “hadits ini perawinya adalah perawi Ash Shahih”. Syaikh Muqbil Al Wadi’i dalam Shahih Al Musnad (298) mengatakan: “hadits ini shahih”. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib (802) mengatakan hadits ini shahih li ghairihi.Baca Juga: Profesi PengemisFaidah hadits Meminta-minta hukum asalnya terlarang. Banyak sekali dalil yang menunjukkan larangan hal ini, diantaranya: مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ “Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain dengan tujuan untuk memperbanyak kekayaannya, sesungguhnya ia telah meminta bara api; terserah kepadanya, apakah ia akan mengumpulkan sedikit atau memperbanyaknya” (HR. Muslim no. 1041).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:لَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ، فَيَحْطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَتَصَدَّقَ بِهِ وَيَسْتَغْنِيَ بِهِ مِنَ النَّاسِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلًا، أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ ذَلِكَ، فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ“Jika salah seorang di antara kalian pergi di pagi hari lalu mencari kayu bakar yang di panggul di punggungnya (lalu menjualnya), kemudian bersedekah dengan hasilnya dan merasa cukup dari apa yang ada di tangan orang lain, maka itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi ataupun tidak, karena tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dan mulailah dengan menafkahi orang yang engkau tanggung” (HR. Bukhari no. 2075, Muslim no. 1042).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ“Seseorang yang selalu meminta-minta kepada orang lain, di hari kiamat ia akan menghadap Allah dalam keadaan tidak sekerat daging sama sekali di wajahnya” (HR. Bukhari no. 1474, Muslim no. 1040 ).Dari Auf bin Malik Al-Asyja’i beliau berkata,قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، فَعَلَامَ نُبَايِعُكَ؟ قَالَ: «عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَتُطِيعُوا – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – وَلَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا»“Kami telah berbai’at kepadamu wahai Rasulullah, namun apa saja perjanjian yang wajib kami pegang dalam bai’at ini? Rasulullah bersabda: ‘Wajib bagi kalian untuk menyembah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik kepada Allah sedikitpun, mengerjakan shalat lima waktu, taat kepada pemimpin, (lalu beliau melirihkan perkataannya) dan tidak meminta-meminta kepada orang lain sedikit pun‘” (HR. Muslim no. 1043).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إِنْ الْمَسْأَلَةَ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ“Sesungguhnya, meminta-minta itu adalah topeng yang dikenakan seseorang pada dirinya sendiri, kecuali bila seseorang meminta kepada penguasa atau karena keadaan yang sangat memaksa” (HR. At-Tirmidzi no. 681, ia berkata: “hasan shahih”). Dibolehkan seseorang meminta-minta kepada orang lain jika dalam keadaan fakir dan darurat sebagaimana ditegaskan dalam hadits Junadah. Ulama sepakat akan haramnya meminta-minta jika tidak dalam keadaan darurat. An-Nawawi ketika menjelaskan bab “An-Nahyu ‘anil Mas’alah” (larangan meminta-minta) beliau mengatakan: مَقْصُودُ الْبَابِ وَأَحَادِيثِهِ النَّهْيُ عَنِ السُّؤَالِ وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَيْهِ إِذَا لَمْ تَكُنْ ضَرُورَةٌ “Maksud dari bab ini dan hadits-hadits yang ada di dalamnya adalah larangan meminta-minta. Ulama sepakat hukumnya terlarang jika tidak dalam keadaan darurat” (Syarah Shahih Muslim, 7/127). Meminta-minta dalam keadaan tidak fakir dan tidak darurat, termasuk dosa besar, karena diancam dengan azab di akhirat. Jika dalam keadaan darurat, namun tidak fakir dan mampu bekerja, ulama berselisih pendapat mengenai hukumnya. An-Nawawi menjelaskan: أَصْحَابُنَا فِي مَسْأَلَةِ الْقَادِرِ عَلَى الْكَسْبِ عَلَى وَجْهَيْنِ أَصَحُّهُمَا أَنَّهَا حَرَامٌ لِظَاهِرِ الْأَحَادِيثِ وَالثَّانِي حَلَالٌ مَعَ الْكَرَاهَةِ بِثَلَاثِ شُرُوطٍ أَنْ لَا يُذِلَّ نَفْسَهُ وَلَا يُلِحَّ فِي السُّؤَالِ وَلَا يُؤْذِيَ المسؤول فَإِنْ فُقِدَ أَحَدُ هَذِهِ الشُّرُوطِ فَهِيَ حَرَامٌ بِالِاتِّفَاقِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ “Para ulama berselisih pendapat mengenai hukum meminta-minta bagi orang yang mampu bekerja, dalam dua pendapat. Pendapat yang lebih tepat, hukumnya haram, berdasarkan zahir hadits-hadits yang ada. Pendapat yang kedua, hukumnya boleh namun disertai kemakruhan, jika memenuhi tiga syarat: [1] tidak menghinakan dirinya, [2] tidak memaksa ketika meminta, dan [3] tidak memberikan gangguan kepada orang yang dimintai. Jika salah satu syarat ini tidak dipenuhi, maka hukumnya menjadi haram dengan sepakat ulama. Wallahu a’lam” (Syarah Shahih Muslim, 7/127).   Meminta-minta untuk memperkaya diri itu perbuatan tercela. Al-‘Aini mengatakan: من سَأَلَ النَّاس لأجل التكثر فَهُوَ مَذْمُوم “Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk memperkaya diri itu tercela” (Umdatul Qari, 9/56). Baca Juga: Hukum Meminta-Minta di Dalam Masjid***Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id

Larangan Meminta-Minta Kepada Orang Lain

Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 17508),حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، وَيَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ حُبْشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ، فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ»Yahya bin Adam dan Yahya bin Abi Bukair menuturkan kepada kami, mereka berdua mengatakan, Israil menuturkan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Hubsyi bin Junadah radhiallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta padahal ia tidak fakir maka seakan-seakan ia memakan bara api”.Dikeluarkan juga oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (no. 2446), Ath-Thahawi dalam Syarah Ma’anil Atsar (no. 3021), dan Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (no. 3506), semuanya dari jalan Israil.Berikut penjelasan tentang hadits larangan meminta-minta.Derajat haditsRiwayat ini lemah karena terdapat Abu Ishaq Amr bin Abdillah bin Ubaid As -Sabi’i Al-Kufi. Ibnu Hajar mengatakan: “Ia tsiqah, banyak riwayatnya, ahli ibadah, namun mukhtalith di akhir usianya”. Adz-Dzahabi mengatakan: “Ia tsiqah, namun berubah hafalannya menjadi buruk ketika di masa tua yaitu masa-masa sebelum wafatnya”.Namun Abu Ishaq di-mutaba’ah oleh Asy-Sya’bi dalam riwayat yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (no. 3504),حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ غَنَّامٍ، ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، ح وَحَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، ثنا ابْنُ الْأَصْبَهَانِيِّ، قَالَا: ثنا عَبْدُ الرَّحِيمِ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ مُجَالِدٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ حَبَشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ وَاقِفٌ بِعَرَفَةَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَأَتَى أَعْرَابِيٌّ فَأَخَذَ بِطَرَفِ رِدَائِهِ وَسَأَلَهُ إِيَّاهُ فَأَعْطَاهُ، فَذَهَبَ بِهِ فَعِنْدَ ذَلِكَ حُرِّمَتِ الْمَسْأَلَةُ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ وَلَا لِذِي مِرَّةٍ سَوِيٍّ، إِلَّا فِي فَقْرٍ مُدْقِعٍ، أَوْ غُرْمٍ مُفْظِعٍ» ، وَقَالَ: «مَنْ سَأَلَ النَّاسَ لِيُثْرِيَ مَالَهُ كَانَ خُمُوشًا فِي وَجْهِهِ وَرَضْفًا يَأْكُلُهُ مِنْ جَهَنَّمَ، فَمَنْ شَاءَ فَلْيُقِلَّ، وَمَنْ شَاءَ فَلْيُكْثِرْ»Ubaid bin Ghannam menuturkan kepadaku, Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepadaku, juga Ali bin Abdil Aziz menuturkan kepadaku, Ibnu Al-Ashbahan menuturkan kepadaku. Keduanya (Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Ibnu Al-Ashbahan) mengatakan: Abdurrahim bin Sulaiman menuturkan kepadaku, dari Mujalid, dari Asy-Sya’bi, dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di Arafah pada haji wada’, lalu datang seorang badui yang tiba-tiba menarik ujung selendang Nabi dan memintanya, maka Nabi pun memberikan selendang itu kepadanya, lalu orang badui itu pun pergi. Dan ketika itulah mulai diharamkan meminta-minta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak halal menerima sedekah bagi orang yang kaya juga bagi orang yang punya kemampuan untuk bekerja, kecuali orang fakir yang sangat sengsara atau orang yang punya tunggakan hutang dan sangat kesulitan membayarnya”. Beliau juga bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk menumpuk harta maka pada hari kiamat akan ada cakaran di wajahnya dan akan memakan batu panas dari neraka jahanam. Maka silakan pilih sendiri, kurangilah meminta-minta atau perbanyaklah”.Riwayat ini sendiri lemah karena terdapat Mujalid. Ibnu Hajar mengatakan: “Laysa bi qawiy, hafalannya berubah di akhir usianya”. Ad-Daruquthni mengatakan: “Ia tidak dianggap haditsnya”. Yahya bin Ma’in mengatakan: “Haditsnya bukan hujjah”. Al-Bukhari mengatakan: “Shaduq”. Ibnu Hibban mengatakan: “Tidak boleh berhujjah dengannya”. Namun riwayat ini bisa menjadi i’tibar.Abu Ishaq di-mutaba’ah oleh Asy-Sya’bi dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (no. 3505),حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْحَضْرَمِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ شَقِيقٍ، ثنا أَبِي، ثنا أَبُو حَمْزَةَ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ حَبَشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ السَّلُولِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ سَأَلَ النَّاسَ فِي غَيْرِ مُصِيبَةِ حَاجَتِهِ فَكَأَنَّمَا يَلْتَقِمُ الرَّضْفَةَ»Muhammad bin Abdillah Al-Hadhrami menuturkan kepadaku, Muhammad bin Ali bin Al-Hasan bin Syaqiq menuturkan kepadaku, ayahku (Ali bin Al-Hasan bin Syaqiq) menuturkan kepadaku, Abu Hamzah menuturkan kepadaku, dari Asy-Sya’bi, dari Hubsyi bin Junadah As-Saluli, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain padahal ia tidak sedang dalam kebutuhan mendesak disebabkan musibah yang ia derita, maka seakan-seakan ia memakan bara api”.Riwayat ini sendiri juga lemah, karena terdapat Abu Hamzah yaitu Tsabit bin Abi Shafiyyah. Imam Ahmad berkata: “Dha’iful hadits, laysa bisya’in”. Yahya bin Ma’in mengatakan: “Laysa bisya’in”. Abu Zur’ah mengatakan: “Layyin”. Abu Hatim mengatakan: “Haditsnya lemah, ditulis haditsnya namun bukan hujjah”. Adz-Dzahabi mengatakan: “Para ulama melemahkannya”. Ibnu Hajar mengatakan: “lLmah, seorang rafidhah”. Namun riwayat ini masih bisa menjadi i’tibar.Sampai di sini dari keseluruhan riwayat yang ada, hadits Hubsyi bin Junadah ini statusnya hasan, karena riwayat-riwayatnya saling menguatkan.Terdapat jalan dari sahabat Wahb bin Khanbasy Ath-Tha’i radhiyallahu ‘anhu. Dikeluarkan oleh Ath-Thahawi dalam Syarah Ma’anil Atsar (no. 3020),حَدَّثَنَا أَبُو أُمَيَّةَ , قَالَ: ثنا الْمُعَلَّى بْنُ مَنْصُورٍ , قَالَ: أَخْبَرَنِي يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ , قَالَ: أَخْبَرَنِي مُجَالِدٌ , عَنِ الشَّعْبِيِّ , عَنْ وَهْبٍ , قَالَ: «جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ وَاقِفٌ بِعَرَفَةَ , فَسَأَلَهُ رِدَاءَهُ , فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ , فَذَهَبَ بِهِ , ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا مِنْ مُدْقِعٍ أَوْ غُرْمٍ مُفْظِعٍ , وَمَنْ سَأَلَ النَّاسَ لِيُثْرِيَ بِهِ لَهُ , فَإِنَّهُ خُمُوشٌ فِي وَجْهِهِ , وَرَضْفٌ يَأْكُلُهُ مِنْ جَهَنَّمَ , إِنْ قَلِيلًا فَقَلِيلٌ , وَإِنْ كَثِيرًا فَكَثِيرٌ»Abu Umayyah menuturkan kepadaku, ia berkata: Al-Mu’alla bin Masnhur menuturkan kepadaku, ia berkata: Yahya bin Sa’id menuturkan kepadaku, ia berkata: Mujalid mengabarkan kepadaku, dari Asy-Sya’bi, dari Wahb, ia berkata: Seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sedang berdiri di Arafah. Orang tersebut meminta selendang Nabi dan beliau pun memberikannya. Orang tersebut lalu pergi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Tidak halal meminta-minta kecuali bagi orang fakir yang sangat sengsara atau orang yang punya tunggakan hutang dan sangat kesulitan membayarnya. Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk menumpuk harta maka pada hari kiamat akan ada cakaran di wajahnya dan akan memakan batu panas dari neraka jahanam. Jika ia meminta-minta hanya sedikit, maka sedikit pula azab yang ia terima, jika ia meminta-minta banyak maka banyak pula azab yang ia terima”.Riwayat ini juga lemah karena terdapat Mujalid, namun bisa menjadi syahid yang menguatkan, sehingga hadits di atas dengan keseluruhan jalannya, statusnya menjadi shahih lighairihi.Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (3/99) mengatakan: “hadits ini perawinya adalah perawi Ash Shahih”. Syaikh Muqbil Al Wadi’i dalam Shahih Al Musnad (298) mengatakan: “hadits ini shahih”. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib (802) mengatakan hadits ini shahih li ghairihi.Baca Juga: Profesi PengemisFaidah hadits Meminta-minta hukum asalnya terlarang. Banyak sekali dalil yang menunjukkan larangan hal ini, diantaranya: مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ “Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain dengan tujuan untuk memperbanyak kekayaannya, sesungguhnya ia telah meminta bara api; terserah kepadanya, apakah ia akan mengumpulkan sedikit atau memperbanyaknya” (HR. Muslim no. 1041).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:لَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ، فَيَحْطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَتَصَدَّقَ بِهِ وَيَسْتَغْنِيَ بِهِ مِنَ النَّاسِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلًا، أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ ذَلِكَ، فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ“Jika salah seorang di antara kalian pergi di pagi hari lalu mencari kayu bakar yang di panggul di punggungnya (lalu menjualnya), kemudian bersedekah dengan hasilnya dan merasa cukup dari apa yang ada di tangan orang lain, maka itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi ataupun tidak, karena tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dan mulailah dengan menafkahi orang yang engkau tanggung” (HR. Bukhari no. 2075, Muslim no. 1042).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ“Seseorang yang selalu meminta-minta kepada orang lain, di hari kiamat ia akan menghadap Allah dalam keadaan tidak sekerat daging sama sekali di wajahnya” (HR. Bukhari no. 1474, Muslim no. 1040 ).Dari Auf bin Malik Al-Asyja’i beliau berkata,قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، فَعَلَامَ نُبَايِعُكَ؟ قَالَ: «عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَتُطِيعُوا – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – وَلَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا»“Kami telah berbai’at kepadamu wahai Rasulullah, namun apa saja perjanjian yang wajib kami pegang dalam bai’at ini? Rasulullah bersabda: ‘Wajib bagi kalian untuk menyembah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik kepada Allah sedikitpun, mengerjakan shalat lima waktu, taat kepada pemimpin, (lalu beliau melirihkan perkataannya) dan tidak meminta-meminta kepada orang lain sedikit pun‘” (HR. Muslim no. 1043).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إِنْ الْمَسْأَلَةَ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ“Sesungguhnya, meminta-minta itu adalah topeng yang dikenakan seseorang pada dirinya sendiri, kecuali bila seseorang meminta kepada penguasa atau karena keadaan yang sangat memaksa” (HR. At-Tirmidzi no. 681, ia berkata: “hasan shahih”). Dibolehkan seseorang meminta-minta kepada orang lain jika dalam keadaan fakir dan darurat sebagaimana ditegaskan dalam hadits Junadah. Ulama sepakat akan haramnya meminta-minta jika tidak dalam keadaan darurat. An-Nawawi ketika menjelaskan bab “An-Nahyu ‘anil Mas’alah” (larangan meminta-minta) beliau mengatakan: مَقْصُودُ الْبَابِ وَأَحَادِيثِهِ النَّهْيُ عَنِ السُّؤَالِ وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَيْهِ إِذَا لَمْ تَكُنْ ضَرُورَةٌ “Maksud dari bab ini dan hadits-hadits yang ada di dalamnya adalah larangan meminta-minta. Ulama sepakat hukumnya terlarang jika tidak dalam keadaan darurat” (Syarah Shahih Muslim, 7/127). Meminta-minta dalam keadaan tidak fakir dan tidak darurat, termasuk dosa besar, karena diancam dengan azab di akhirat. Jika dalam keadaan darurat, namun tidak fakir dan mampu bekerja, ulama berselisih pendapat mengenai hukumnya. An-Nawawi menjelaskan: أَصْحَابُنَا فِي مَسْأَلَةِ الْقَادِرِ عَلَى الْكَسْبِ عَلَى وَجْهَيْنِ أَصَحُّهُمَا أَنَّهَا حَرَامٌ لِظَاهِرِ الْأَحَادِيثِ وَالثَّانِي حَلَالٌ مَعَ الْكَرَاهَةِ بِثَلَاثِ شُرُوطٍ أَنْ لَا يُذِلَّ نَفْسَهُ وَلَا يُلِحَّ فِي السُّؤَالِ وَلَا يُؤْذِيَ المسؤول فَإِنْ فُقِدَ أَحَدُ هَذِهِ الشُّرُوطِ فَهِيَ حَرَامٌ بِالِاتِّفَاقِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ “Para ulama berselisih pendapat mengenai hukum meminta-minta bagi orang yang mampu bekerja, dalam dua pendapat. Pendapat yang lebih tepat, hukumnya haram, berdasarkan zahir hadits-hadits yang ada. Pendapat yang kedua, hukumnya boleh namun disertai kemakruhan, jika memenuhi tiga syarat: [1] tidak menghinakan dirinya, [2] tidak memaksa ketika meminta, dan [3] tidak memberikan gangguan kepada orang yang dimintai. Jika salah satu syarat ini tidak dipenuhi, maka hukumnya menjadi haram dengan sepakat ulama. Wallahu a’lam” (Syarah Shahih Muslim, 7/127).   Meminta-minta untuk memperkaya diri itu perbuatan tercela. Al-‘Aini mengatakan: من سَأَلَ النَّاس لأجل التكثر فَهُوَ مَذْمُوم “Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk memperkaya diri itu tercela” (Umdatul Qari, 9/56). Baca Juga: Hukum Meminta-Minta di Dalam Masjid***Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id
Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 17508),حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، وَيَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ حُبْشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ، فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ»Yahya bin Adam dan Yahya bin Abi Bukair menuturkan kepada kami, mereka berdua mengatakan, Israil menuturkan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Hubsyi bin Junadah radhiallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta padahal ia tidak fakir maka seakan-seakan ia memakan bara api”.Dikeluarkan juga oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (no. 2446), Ath-Thahawi dalam Syarah Ma’anil Atsar (no. 3021), dan Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (no. 3506), semuanya dari jalan Israil.Berikut penjelasan tentang hadits larangan meminta-minta.Derajat haditsRiwayat ini lemah karena terdapat Abu Ishaq Amr bin Abdillah bin Ubaid As -Sabi’i Al-Kufi. Ibnu Hajar mengatakan: “Ia tsiqah, banyak riwayatnya, ahli ibadah, namun mukhtalith di akhir usianya”. Adz-Dzahabi mengatakan: “Ia tsiqah, namun berubah hafalannya menjadi buruk ketika di masa tua yaitu masa-masa sebelum wafatnya”.Namun Abu Ishaq di-mutaba’ah oleh Asy-Sya’bi dalam riwayat yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (no. 3504),حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ غَنَّامٍ، ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، ح وَحَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، ثنا ابْنُ الْأَصْبَهَانِيِّ، قَالَا: ثنا عَبْدُ الرَّحِيمِ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ مُجَالِدٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ حَبَشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ وَاقِفٌ بِعَرَفَةَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَأَتَى أَعْرَابِيٌّ فَأَخَذَ بِطَرَفِ رِدَائِهِ وَسَأَلَهُ إِيَّاهُ فَأَعْطَاهُ، فَذَهَبَ بِهِ فَعِنْدَ ذَلِكَ حُرِّمَتِ الْمَسْأَلَةُ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ وَلَا لِذِي مِرَّةٍ سَوِيٍّ، إِلَّا فِي فَقْرٍ مُدْقِعٍ، أَوْ غُرْمٍ مُفْظِعٍ» ، وَقَالَ: «مَنْ سَأَلَ النَّاسَ لِيُثْرِيَ مَالَهُ كَانَ خُمُوشًا فِي وَجْهِهِ وَرَضْفًا يَأْكُلُهُ مِنْ جَهَنَّمَ، فَمَنْ شَاءَ فَلْيُقِلَّ، وَمَنْ شَاءَ فَلْيُكْثِرْ»Ubaid bin Ghannam menuturkan kepadaku, Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepadaku, juga Ali bin Abdil Aziz menuturkan kepadaku, Ibnu Al-Ashbahan menuturkan kepadaku. Keduanya (Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Ibnu Al-Ashbahan) mengatakan: Abdurrahim bin Sulaiman menuturkan kepadaku, dari Mujalid, dari Asy-Sya’bi, dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di Arafah pada haji wada’, lalu datang seorang badui yang tiba-tiba menarik ujung selendang Nabi dan memintanya, maka Nabi pun memberikan selendang itu kepadanya, lalu orang badui itu pun pergi. Dan ketika itulah mulai diharamkan meminta-minta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak halal menerima sedekah bagi orang yang kaya juga bagi orang yang punya kemampuan untuk bekerja, kecuali orang fakir yang sangat sengsara atau orang yang punya tunggakan hutang dan sangat kesulitan membayarnya”. Beliau juga bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk menumpuk harta maka pada hari kiamat akan ada cakaran di wajahnya dan akan memakan batu panas dari neraka jahanam. Maka silakan pilih sendiri, kurangilah meminta-minta atau perbanyaklah”.Riwayat ini sendiri lemah karena terdapat Mujalid. Ibnu Hajar mengatakan: “Laysa bi qawiy, hafalannya berubah di akhir usianya”. Ad-Daruquthni mengatakan: “Ia tidak dianggap haditsnya”. Yahya bin Ma’in mengatakan: “Haditsnya bukan hujjah”. Al-Bukhari mengatakan: “Shaduq”. Ibnu Hibban mengatakan: “Tidak boleh berhujjah dengannya”. Namun riwayat ini bisa menjadi i’tibar.Abu Ishaq di-mutaba’ah oleh Asy-Sya’bi dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (no. 3505),حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْحَضْرَمِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ شَقِيقٍ، ثنا أَبِي، ثنا أَبُو حَمْزَةَ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ حَبَشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ السَّلُولِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ سَأَلَ النَّاسَ فِي غَيْرِ مُصِيبَةِ حَاجَتِهِ فَكَأَنَّمَا يَلْتَقِمُ الرَّضْفَةَ»Muhammad bin Abdillah Al-Hadhrami menuturkan kepadaku, Muhammad bin Ali bin Al-Hasan bin Syaqiq menuturkan kepadaku, ayahku (Ali bin Al-Hasan bin Syaqiq) menuturkan kepadaku, Abu Hamzah menuturkan kepadaku, dari Asy-Sya’bi, dari Hubsyi bin Junadah As-Saluli, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain padahal ia tidak sedang dalam kebutuhan mendesak disebabkan musibah yang ia derita, maka seakan-seakan ia memakan bara api”.Riwayat ini sendiri juga lemah, karena terdapat Abu Hamzah yaitu Tsabit bin Abi Shafiyyah. Imam Ahmad berkata: “Dha’iful hadits, laysa bisya’in”. Yahya bin Ma’in mengatakan: “Laysa bisya’in”. Abu Zur’ah mengatakan: “Layyin”. Abu Hatim mengatakan: “Haditsnya lemah, ditulis haditsnya namun bukan hujjah”. Adz-Dzahabi mengatakan: “Para ulama melemahkannya”. Ibnu Hajar mengatakan: “lLmah, seorang rafidhah”. Namun riwayat ini masih bisa menjadi i’tibar.Sampai di sini dari keseluruhan riwayat yang ada, hadits Hubsyi bin Junadah ini statusnya hasan, karena riwayat-riwayatnya saling menguatkan.Terdapat jalan dari sahabat Wahb bin Khanbasy Ath-Tha’i radhiyallahu ‘anhu. Dikeluarkan oleh Ath-Thahawi dalam Syarah Ma’anil Atsar (no. 3020),حَدَّثَنَا أَبُو أُمَيَّةَ , قَالَ: ثنا الْمُعَلَّى بْنُ مَنْصُورٍ , قَالَ: أَخْبَرَنِي يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ , قَالَ: أَخْبَرَنِي مُجَالِدٌ , عَنِ الشَّعْبِيِّ , عَنْ وَهْبٍ , قَالَ: «جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ وَاقِفٌ بِعَرَفَةَ , فَسَأَلَهُ رِدَاءَهُ , فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ , فَذَهَبَ بِهِ , ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا مِنْ مُدْقِعٍ أَوْ غُرْمٍ مُفْظِعٍ , وَمَنْ سَأَلَ النَّاسَ لِيُثْرِيَ بِهِ لَهُ , فَإِنَّهُ خُمُوشٌ فِي وَجْهِهِ , وَرَضْفٌ يَأْكُلُهُ مِنْ جَهَنَّمَ , إِنْ قَلِيلًا فَقَلِيلٌ , وَإِنْ كَثِيرًا فَكَثِيرٌ»Abu Umayyah menuturkan kepadaku, ia berkata: Al-Mu’alla bin Masnhur menuturkan kepadaku, ia berkata: Yahya bin Sa’id menuturkan kepadaku, ia berkata: Mujalid mengabarkan kepadaku, dari Asy-Sya’bi, dari Wahb, ia berkata: Seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sedang berdiri di Arafah. Orang tersebut meminta selendang Nabi dan beliau pun memberikannya. Orang tersebut lalu pergi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Tidak halal meminta-minta kecuali bagi orang fakir yang sangat sengsara atau orang yang punya tunggakan hutang dan sangat kesulitan membayarnya. Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk menumpuk harta maka pada hari kiamat akan ada cakaran di wajahnya dan akan memakan batu panas dari neraka jahanam. Jika ia meminta-minta hanya sedikit, maka sedikit pula azab yang ia terima, jika ia meminta-minta banyak maka banyak pula azab yang ia terima”.Riwayat ini juga lemah karena terdapat Mujalid, namun bisa menjadi syahid yang menguatkan, sehingga hadits di atas dengan keseluruhan jalannya, statusnya menjadi shahih lighairihi.Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (3/99) mengatakan: “hadits ini perawinya adalah perawi Ash Shahih”. Syaikh Muqbil Al Wadi’i dalam Shahih Al Musnad (298) mengatakan: “hadits ini shahih”. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib (802) mengatakan hadits ini shahih li ghairihi.Baca Juga: Profesi PengemisFaidah hadits Meminta-minta hukum asalnya terlarang. Banyak sekali dalil yang menunjukkan larangan hal ini, diantaranya: مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ “Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain dengan tujuan untuk memperbanyak kekayaannya, sesungguhnya ia telah meminta bara api; terserah kepadanya, apakah ia akan mengumpulkan sedikit atau memperbanyaknya” (HR. Muslim no. 1041).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:لَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ، فَيَحْطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَتَصَدَّقَ بِهِ وَيَسْتَغْنِيَ بِهِ مِنَ النَّاسِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلًا، أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ ذَلِكَ، فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ“Jika salah seorang di antara kalian pergi di pagi hari lalu mencari kayu bakar yang di panggul di punggungnya (lalu menjualnya), kemudian bersedekah dengan hasilnya dan merasa cukup dari apa yang ada di tangan orang lain, maka itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi ataupun tidak, karena tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dan mulailah dengan menafkahi orang yang engkau tanggung” (HR. Bukhari no. 2075, Muslim no. 1042).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ“Seseorang yang selalu meminta-minta kepada orang lain, di hari kiamat ia akan menghadap Allah dalam keadaan tidak sekerat daging sama sekali di wajahnya” (HR. Bukhari no. 1474, Muslim no. 1040 ).Dari Auf bin Malik Al-Asyja’i beliau berkata,قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، فَعَلَامَ نُبَايِعُكَ؟ قَالَ: «عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَتُطِيعُوا – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – وَلَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا»“Kami telah berbai’at kepadamu wahai Rasulullah, namun apa saja perjanjian yang wajib kami pegang dalam bai’at ini? Rasulullah bersabda: ‘Wajib bagi kalian untuk menyembah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik kepada Allah sedikitpun, mengerjakan shalat lima waktu, taat kepada pemimpin, (lalu beliau melirihkan perkataannya) dan tidak meminta-meminta kepada orang lain sedikit pun‘” (HR. Muslim no. 1043).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إِنْ الْمَسْأَلَةَ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ“Sesungguhnya, meminta-minta itu adalah topeng yang dikenakan seseorang pada dirinya sendiri, kecuali bila seseorang meminta kepada penguasa atau karena keadaan yang sangat memaksa” (HR. At-Tirmidzi no. 681, ia berkata: “hasan shahih”). Dibolehkan seseorang meminta-minta kepada orang lain jika dalam keadaan fakir dan darurat sebagaimana ditegaskan dalam hadits Junadah. Ulama sepakat akan haramnya meminta-minta jika tidak dalam keadaan darurat. An-Nawawi ketika menjelaskan bab “An-Nahyu ‘anil Mas’alah” (larangan meminta-minta) beliau mengatakan: مَقْصُودُ الْبَابِ وَأَحَادِيثِهِ النَّهْيُ عَنِ السُّؤَالِ وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَيْهِ إِذَا لَمْ تَكُنْ ضَرُورَةٌ “Maksud dari bab ini dan hadits-hadits yang ada di dalamnya adalah larangan meminta-minta. Ulama sepakat hukumnya terlarang jika tidak dalam keadaan darurat” (Syarah Shahih Muslim, 7/127). Meminta-minta dalam keadaan tidak fakir dan tidak darurat, termasuk dosa besar, karena diancam dengan azab di akhirat. Jika dalam keadaan darurat, namun tidak fakir dan mampu bekerja, ulama berselisih pendapat mengenai hukumnya. An-Nawawi menjelaskan: أَصْحَابُنَا فِي مَسْأَلَةِ الْقَادِرِ عَلَى الْكَسْبِ عَلَى وَجْهَيْنِ أَصَحُّهُمَا أَنَّهَا حَرَامٌ لِظَاهِرِ الْأَحَادِيثِ وَالثَّانِي حَلَالٌ مَعَ الْكَرَاهَةِ بِثَلَاثِ شُرُوطٍ أَنْ لَا يُذِلَّ نَفْسَهُ وَلَا يُلِحَّ فِي السُّؤَالِ وَلَا يُؤْذِيَ المسؤول فَإِنْ فُقِدَ أَحَدُ هَذِهِ الشُّرُوطِ فَهِيَ حَرَامٌ بِالِاتِّفَاقِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ “Para ulama berselisih pendapat mengenai hukum meminta-minta bagi orang yang mampu bekerja, dalam dua pendapat. Pendapat yang lebih tepat, hukumnya haram, berdasarkan zahir hadits-hadits yang ada. Pendapat yang kedua, hukumnya boleh namun disertai kemakruhan, jika memenuhi tiga syarat: [1] tidak menghinakan dirinya, [2] tidak memaksa ketika meminta, dan [3] tidak memberikan gangguan kepada orang yang dimintai. Jika salah satu syarat ini tidak dipenuhi, maka hukumnya menjadi haram dengan sepakat ulama. Wallahu a’lam” (Syarah Shahih Muslim, 7/127).   Meminta-minta untuk memperkaya diri itu perbuatan tercela. Al-‘Aini mengatakan: من سَأَلَ النَّاس لأجل التكثر فَهُوَ مَذْمُوم “Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk memperkaya diri itu tercela” (Umdatul Qari, 9/56). Baca Juga: Hukum Meminta-Minta di Dalam Masjid***Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id


Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 17508),حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، وَيَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ حُبْشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ، فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ»Yahya bin Adam dan Yahya bin Abi Bukair menuturkan kepada kami, mereka berdua mengatakan, Israil menuturkan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Hubsyi bin Junadah radhiallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta padahal ia tidak fakir maka seakan-seakan ia memakan bara api”.Dikeluarkan juga oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (no. 2446), Ath-Thahawi dalam Syarah Ma’anil Atsar (no. 3021), dan Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (no. 3506), semuanya dari jalan Israil.Berikut penjelasan tentang hadits larangan meminta-minta.Derajat haditsRiwayat ini lemah karena terdapat Abu Ishaq Amr bin Abdillah bin Ubaid As -Sabi’i Al-Kufi. Ibnu Hajar mengatakan: “Ia tsiqah, banyak riwayatnya, ahli ibadah, namun mukhtalith di akhir usianya”. Adz-Dzahabi mengatakan: “Ia tsiqah, namun berubah hafalannya menjadi buruk ketika di masa tua yaitu masa-masa sebelum wafatnya”.Namun Abu Ishaq di-mutaba’ah oleh Asy-Sya’bi dalam riwayat yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (no. 3504),حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ غَنَّامٍ، ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، ح وَحَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، ثنا ابْنُ الْأَصْبَهَانِيِّ، قَالَا: ثنا عَبْدُ الرَّحِيمِ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ مُجَالِدٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ حَبَشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ وَاقِفٌ بِعَرَفَةَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَأَتَى أَعْرَابِيٌّ فَأَخَذَ بِطَرَفِ رِدَائِهِ وَسَأَلَهُ إِيَّاهُ فَأَعْطَاهُ، فَذَهَبَ بِهِ فَعِنْدَ ذَلِكَ حُرِّمَتِ الْمَسْأَلَةُ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ وَلَا لِذِي مِرَّةٍ سَوِيٍّ، إِلَّا فِي فَقْرٍ مُدْقِعٍ، أَوْ غُرْمٍ مُفْظِعٍ» ، وَقَالَ: «مَنْ سَأَلَ النَّاسَ لِيُثْرِيَ مَالَهُ كَانَ خُمُوشًا فِي وَجْهِهِ وَرَضْفًا يَأْكُلُهُ مِنْ جَهَنَّمَ، فَمَنْ شَاءَ فَلْيُقِلَّ، وَمَنْ شَاءَ فَلْيُكْثِرْ»Ubaid bin Ghannam menuturkan kepadaku, Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepadaku, juga Ali bin Abdil Aziz menuturkan kepadaku, Ibnu Al-Ashbahan menuturkan kepadaku. Keduanya (Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Ibnu Al-Ashbahan) mengatakan: Abdurrahim bin Sulaiman menuturkan kepadaku, dari Mujalid, dari Asy-Sya’bi, dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di Arafah pada haji wada’, lalu datang seorang badui yang tiba-tiba menarik ujung selendang Nabi dan memintanya, maka Nabi pun memberikan selendang itu kepadanya, lalu orang badui itu pun pergi. Dan ketika itulah mulai diharamkan meminta-minta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak halal menerima sedekah bagi orang yang kaya juga bagi orang yang punya kemampuan untuk bekerja, kecuali orang fakir yang sangat sengsara atau orang yang punya tunggakan hutang dan sangat kesulitan membayarnya”. Beliau juga bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk menumpuk harta maka pada hari kiamat akan ada cakaran di wajahnya dan akan memakan batu panas dari neraka jahanam. Maka silakan pilih sendiri, kurangilah meminta-minta atau perbanyaklah”.Riwayat ini sendiri lemah karena terdapat Mujalid. Ibnu Hajar mengatakan: “Laysa bi qawiy, hafalannya berubah di akhir usianya”. Ad-Daruquthni mengatakan: “Ia tidak dianggap haditsnya”. Yahya bin Ma’in mengatakan: “Haditsnya bukan hujjah”. Al-Bukhari mengatakan: “Shaduq”. Ibnu Hibban mengatakan: “Tidak boleh berhujjah dengannya”. Namun riwayat ini bisa menjadi i’tibar.Abu Ishaq di-mutaba’ah oleh Asy-Sya’bi dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (no. 3505),حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْحَضْرَمِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ شَقِيقٍ، ثنا أَبِي، ثنا أَبُو حَمْزَةَ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ حَبَشِيِّ بْنِ جُنَادَةَ السَّلُولِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ سَأَلَ النَّاسَ فِي غَيْرِ مُصِيبَةِ حَاجَتِهِ فَكَأَنَّمَا يَلْتَقِمُ الرَّضْفَةَ»Muhammad bin Abdillah Al-Hadhrami menuturkan kepadaku, Muhammad bin Ali bin Al-Hasan bin Syaqiq menuturkan kepadaku, ayahku (Ali bin Al-Hasan bin Syaqiq) menuturkan kepadaku, Abu Hamzah menuturkan kepadaku, dari Asy-Sya’bi, dari Hubsyi bin Junadah As-Saluli, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain padahal ia tidak sedang dalam kebutuhan mendesak disebabkan musibah yang ia derita, maka seakan-seakan ia memakan bara api”.Riwayat ini sendiri juga lemah, karena terdapat Abu Hamzah yaitu Tsabit bin Abi Shafiyyah. Imam Ahmad berkata: “Dha’iful hadits, laysa bisya’in”. Yahya bin Ma’in mengatakan: “Laysa bisya’in”. Abu Zur’ah mengatakan: “Layyin”. Abu Hatim mengatakan: “Haditsnya lemah, ditulis haditsnya namun bukan hujjah”. Adz-Dzahabi mengatakan: “Para ulama melemahkannya”. Ibnu Hajar mengatakan: “lLmah, seorang rafidhah”. Namun riwayat ini masih bisa menjadi i’tibar.Sampai di sini dari keseluruhan riwayat yang ada, hadits Hubsyi bin Junadah ini statusnya hasan, karena riwayat-riwayatnya saling menguatkan.Terdapat jalan dari sahabat Wahb bin Khanbasy Ath-Tha’i radhiyallahu ‘anhu. Dikeluarkan oleh Ath-Thahawi dalam Syarah Ma’anil Atsar (no. 3020),حَدَّثَنَا أَبُو أُمَيَّةَ , قَالَ: ثنا الْمُعَلَّى بْنُ مَنْصُورٍ , قَالَ: أَخْبَرَنِي يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ , قَالَ: أَخْبَرَنِي مُجَالِدٌ , عَنِ الشَّعْبِيِّ , عَنْ وَهْبٍ , قَالَ: «جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ وَاقِفٌ بِعَرَفَةَ , فَسَأَلَهُ رِدَاءَهُ , فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ , فَذَهَبَ بِهِ , ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا مِنْ مُدْقِعٍ أَوْ غُرْمٍ مُفْظِعٍ , وَمَنْ سَأَلَ النَّاسَ لِيُثْرِيَ بِهِ لَهُ , فَإِنَّهُ خُمُوشٌ فِي وَجْهِهِ , وَرَضْفٌ يَأْكُلُهُ مِنْ جَهَنَّمَ , إِنْ قَلِيلًا فَقَلِيلٌ , وَإِنْ كَثِيرًا فَكَثِيرٌ»Abu Umayyah menuturkan kepadaku, ia berkata: Al-Mu’alla bin Masnhur menuturkan kepadaku, ia berkata: Yahya bin Sa’id menuturkan kepadaku, ia berkata: Mujalid mengabarkan kepadaku, dari Asy-Sya’bi, dari Wahb, ia berkata: Seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sedang berdiri di Arafah. Orang tersebut meminta selendang Nabi dan beliau pun memberikannya. Orang tersebut lalu pergi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Tidak halal meminta-minta kecuali bagi orang fakir yang sangat sengsara atau orang yang punya tunggakan hutang dan sangat kesulitan membayarnya. Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk menumpuk harta maka pada hari kiamat akan ada cakaran di wajahnya dan akan memakan batu panas dari neraka jahanam. Jika ia meminta-minta hanya sedikit, maka sedikit pula azab yang ia terima, jika ia meminta-minta banyak maka banyak pula azab yang ia terima”.Riwayat ini juga lemah karena terdapat Mujalid, namun bisa menjadi syahid yang menguatkan, sehingga hadits di atas dengan keseluruhan jalannya, statusnya menjadi shahih lighairihi.Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (3/99) mengatakan: “hadits ini perawinya adalah perawi Ash Shahih”. Syaikh Muqbil Al Wadi’i dalam Shahih Al Musnad (298) mengatakan: “hadits ini shahih”. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib (802) mengatakan hadits ini shahih li ghairihi.Baca Juga: Profesi PengemisFaidah hadits Meminta-minta hukum asalnya terlarang. Banyak sekali dalil yang menunjukkan larangan hal ini, diantaranya: مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ “Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain dengan tujuan untuk memperbanyak kekayaannya, sesungguhnya ia telah meminta bara api; terserah kepadanya, apakah ia akan mengumpulkan sedikit atau memperbanyaknya” (HR. Muslim no. 1041).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:لَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ، فَيَحْطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَتَصَدَّقَ بِهِ وَيَسْتَغْنِيَ بِهِ مِنَ النَّاسِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلًا، أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ ذَلِكَ، فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ“Jika salah seorang di antara kalian pergi di pagi hari lalu mencari kayu bakar yang di panggul di punggungnya (lalu menjualnya), kemudian bersedekah dengan hasilnya dan merasa cukup dari apa yang ada di tangan orang lain, maka itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi ataupun tidak, karena tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dan mulailah dengan menafkahi orang yang engkau tanggung” (HR. Bukhari no. 2075, Muslim no. 1042).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ“Seseorang yang selalu meminta-minta kepada orang lain, di hari kiamat ia akan menghadap Allah dalam keadaan tidak sekerat daging sama sekali di wajahnya” (HR. Bukhari no. 1474, Muslim no. 1040 ).Dari Auf bin Malik Al-Asyja’i beliau berkata,قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، فَعَلَامَ نُبَايِعُكَ؟ قَالَ: «عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَتُطِيعُوا – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – وَلَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا»“Kami telah berbai’at kepadamu wahai Rasulullah, namun apa saja perjanjian yang wajib kami pegang dalam bai’at ini? Rasulullah bersabda: ‘Wajib bagi kalian untuk menyembah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik kepada Allah sedikitpun, mengerjakan shalat lima waktu, taat kepada pemimpin, (lalu beliau melirihkan perkataannya) dan tidak meminta-meminta kepada orang lain sedikit pun‘” (HR. Muslim no. 1043).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إِنْ الْمَسْأَلَةَ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ“Sesungguhnya, meminta-minta itu adalah topeng yang dikenakan seseorang pada dirinya sendiri, kecuali bila seseorang meminta kepada penguasa atau karena keadaan yang sangat memaksa” (HR. At-Tirmidzi no. 681, ia berkata: “hasan shahih”). Dibolehkan seseorang meminta-minta kepada orang lain jika dalam keadaan fakir dan darurat sebagaimana ditegaskan dalam hadits Junadah. Ulama sepakat akan haramnya meminta-minta jika tidak dalam keadaan darurat. An-Nawawi ketika menjelaskan bab “An-Nahyu ‘anil Mas’alah” (larangan meminta-minta) beliau mengatakan: مَقْصُودُ الْبَابِ وَأَحَادِيثِهِ النَّهْيُ عَنِ السُّؤَالِ وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَيْهِ إِذَا لَمْ تَكُنْ ضَرُورَةٌ “Maksud dari bab ini dan hadits-hadits yang ada di dalamnya adalah larangan meminta-minta. Ulama sepakat hukumnya terlarang jika tidak dalam keadaan darurat” (Syarah Shahih Muslim, 7/127). Meminta-minta dalam keadaan tidak fakir dan tidak darurat, termasuk dosa besar, karena diancam dengan azab di akhirat. Jika dalam keadaan darurat, namun tidak fakir dan mampu bekerja, ulama berselisih pendapat mengenai hukumnya. An-Nawawi menjelaskan: أَصْحَابُنَا فِي مَسْأَلَةِ الْقَادِرِ عَلَى الْكَسْبِ عَلَى وَجْهَيْنِ أَصَحُّهُمَا أَنَّهَا حَرَامٌ لِظَاهِرِ الْأَحَادِيثِ وَالثَّانِي حَلَالٌ مَعَ الْكَرَاهَةِ بِثَلَاثِ شُرُوطٍ أَنْ لَا يُذِلَّ نَفْسَهُ وَلَا يُلِحَّ فِي السُّؤَالِ وَلَا يُؤْذِيَ المسؤول فَإِنْ فُقِدَ أَحَدُ هَذِهِ الشُّرُوطِ فَهِيَ حَرَامٌ بِالِاتِّفَاقِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ “Para ulama berselisih pendapat mengenai hukum meminta-minta bagi orang yang mampu bekerja, dalam dua pendapat. Pendapat yang lebih tepat, hukumnya haram, berdasarkan zahir hadits-hadits yang ada. Pendapat yang kedua, hukumnya boleh namun disertai kemakruhan, jika memenuhi tiga syarat: [1] tidak menghinakan dirinya, [2] tidak memaksa ketika meminta, dan [3] tidak memberikan gangguan kepada orang yang dimintai. Jika salah satu syarat ini tidak dipenuhi, maka hukumnya menjadi haram dengan sepakat ulama. Wallahu a’lam” (Syarah Shahih Muslim, 7/127).   Meminta-minta untuk memperkaya diri itu perbuatan tercela. Al-‘Aini mengatakan: من سَأَلَ النَّاس لأجل التكثر فَهُوَ مَذْمُوم “Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain untuk memperkaya diri itu tercela” (Umdatul Qari, 9/56). Baca Juga: Hukum Meminta-Minta di Dalam Masjid***Penulis: Yulian Purnama Artikel: Muslim.or.id

Tauhid dan Terangkatnya Musibah

Bismillah.Sebuah perkara yang menjadi prinsip dan diterangkan oleh para ulama dalam karya-karya mereka adalah bahwa tauhid merupakan kewajiban terbesar. Tauhid itu adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Inilah hak Allah atas segenap hamba.Sebagaimana telah dijelaskan oleh Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibadah kepada Allah tidak akan diterima tanpa tauhid. Artinya, sebanyak apapun ibadah dan amal ketaatan, jika terkotori oleh syirik; peribadatan kepada selain Allah -di samping ibadahnya kepada Allah- maka semua amal itu akan tertolak.Allah Ta’ala berfirman, وَلَوۡ أَشۡرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ“Dan seandainya mereka berbuat syirik, pasti akan lenyap semua amal yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. al-An’am: 88)Di antara keutamaan tauhid yang sangat agung adalah bahwa tauhid menjadi sebab -bahkan sebab terbesar- untuk mendapatkan jalan keluar bagi segala bentuk kesulitan dan musibah yang menimpa di dunia maupun di akhirat. Artinya, tauhid akan membuka kemudahan atas kesulitan yang menimpa, begitu juga tauhid dapat menolak bahaya yang mengancam hamba (lihat keterangan Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid)Ketika terjebak di dalam perut ikan, Dzun Nun atau Nabi Yunus ‘alaihis salam berdoa kepada Allah dengan menyebutkan keesaan-Nya dalam hal uluhiyah dan mengakui kesalahannya, dan hal itu menjadi sebab Allah menyelamatkan dirinya. Beliau membaca doa “laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh zhalimin” yang artinya adalah “tidak ada ilah (sesembahan) yang benar selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang zalim”.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Tidaklah seorang muslim membaca doa ini dalam suatu kesulitan yang dia alami kecuali Allah penuhi permintaannya.” (HR. Tirmidzi, disahihkan al-Hakim dan adz-Dzahabi tidak membantah hal itu, hadis ini dinyatakan hasan oleh Ibnu Hajar) (lihat al-Wabil ash-Shayyib karya Imam Ibnul Qayyim, hal. 224 tahqiq Abdurrahman bin Hasan bin Qa’id)Hal ini perkara yang dimaklumi/bisa dipahami dengan jelas oleh para ulama karena sesungguhnya keimanan dan tauhid merupakan sebab keamanan dan hidayah bagi hamba.Allah Ta’ala berfirman,ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman (syirik), maka mereka itulah yang diberikan keamanan dan mereka itulah yang diberi petunjuk.” (al-An’am : 82).Dengan keamanan, ia akan terbebas dari rasa takut dan dengan petunjuk, ia akan selamat dari kesesatan. Besar kecilnya keamanan dan hidayah itu tergantung pada besar kecilnya tauhid dan keimanan yang ada pada diri seorang hamba. Semakin sempurna tauhid dan imannya, semakin sempurna pula keamanan dan hidayah yang didapatkan olehnya (lihat keterangan Syekh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah dalam Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin, hal. 10-11)Oleh sebab itu, Allah memberikan jaminan untuk selamat dari azab bagi mereka yang beriman dan senantiasa bersyukur kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,مَّا یَفۡعَلُ ٱللَّهُ بِعَذَابِكُمۡ إِن شَكَرۡتُمۡ وَءَامَنتُمۡۚ“Allah tidak akan mengazab kalian; jika kalian bersyukur dan tetap beriman.” (QS. an-Nisaa’ : 147)Dan sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama bahwa tauhid merupakan pokok keimanan dan juga pilar utama dalam mewujudkan rasa syukur kepada Allah. Karena syukur itu mencakup pengakuan dari dalam hati bahwa semua nikmat adalah berasal dari Allah, memuji Allah atas segala nikmat-Nya, dan menggunakan nikmat dalam ketaatan kepada-Nya. Oleh sebab itu, Allah mengingatkan seluruh manusia tentang nikmat penciptaan dan memerintahkan mereka untuk mengesakan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِی خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah : 21)Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan -sebagaimana dinukil oleh al-Baghawi dalam tafsirnya- bahwa semua perintah ibadah dalam al-Qur’an maka maknanya adalah perintah untuk mentauhidkan-Nya. Demikian pula, di antara tafsiran ‘supaya kalian bertakwa’ adalah supaya kalian bisa menjaga diri dari azab Allah, yaitu dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Dari sinilah kita mengetahui mengapa para ulama -bahkan para nabi- senantiasa memprioritaskan dakwah tauhid, karena inilah pokok ajaran agama dan kunci kebahagiaan umat manusia. Dengan memahami tauhid, seorang hamba akan menyadari bahwa Allah punya hak yang harus dia tunaikan, yaitu ibadah kepada-Nya tanpa dicampuri oleh syirik. Inilah dakwah setiap rasul kepada umatnya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ“Dan sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, “Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut”.” (QS. an-Nahl: 36)Baca Juga: Musibah Ini Apakah Ujian Atau Azab?Tauhid inilah keadilan terbesar, sedangkan syirik kepada Allah merupakan kezaliman paling jahat di muka bumi. Oleh sebab itu, Allah menceritakan wasiat Luqman kepada putranya,یَـٰبُنَیَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِیمࣱ“Wahai anakku, janganlah kamu berbuat syirik kepada Allah. Sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman : 13).Syirik kepada Allah merupakan kezaliman sekaligus bentuk kekufuran yang sangat jelas. Bagaimana mungkin seorang hamba yang diberikan nikmat oleh Allah semata lantas menujukan ibadah kepada selain-Nya? Tentu hal ini bukan termasuk syukur kepada Allah, bahkan inilah kekufuran atas nikmat-Nya.Bahkan hal ini -keyakinan bahwa tauhid merupakan sebab keselamatan- pun telah diakui oleh orang-orang musyrik di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu, apabila mereka sedang terjebak oleh ombak dahsyat di tengah lautan dan khawatir tenggelam/binasa, mereka pun memurnikan doanya hanya kepada Allah dan membuang berhala-berhala mereka. Sebagaimana hal itu dikisahkan oleh Ikrimah bin Abi Jahal, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya (tafsir al-Ankabut ayat 65).Hal ini tentu mengingatkan kita akan keagungan doa, yang itu merupakan intisari dari segala bentuk ibadah.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِیۤ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِینَ یَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِی سَیَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِینَ“Dan Rabb kalian mengatakan; Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir : 60).Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah selain doa. Karena doa yang murni dan tulus kepada Allah mencerminkan perendahan diri dan ketundukan yang itu merupakan asas dalam penghambaan kepada Allah.Oleh sebab itu pula, Allah melarang menjadikan sekutu bagi-Nya dalam hal doa. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنَّ ٱلۡمَسَـٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدࣰا“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyeru bersama Allah siapa pun juga.” (QS. al-Jin : 18).Allah tidak rida dipersekutukan bersama-Nya dalam hal ibadah, apakah itu berupa malaikat ataupun nabi.Oleh karena itulah para ulama menasihatkan bahwa salah satu kiat untuk keluar dari musibah dan bencana yang kita alami adalah dengan menunjukkan sikap iftiqar/merasa miskin dan butuh di hadapan Allah. Karena Allah telah berjanji untuk mencukupi orang-orang yang menghamba kepada-Nya semata. Allah pun berjanji untuk memberikan kecukupan kepada orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. Allah pun berjanji memberikan jalan keluar bagi orang-orang yang bertakwa. Orang-orang yang dicintai Allah, yang hidupnya di atas iman dan berhias ketakwaan, maka Allah janjikan kepada mereka rasa aman dan bebas dari segala kesedihan.Apabila mereka meninggal di atas kalimat tauhid laa ilaha illallah, maka itu pun menjadi pintu kebahagiaan yang abadi di akhirat nanti. Kematian menjadi tempat istirahat mereka dari segala keburukan.Semoga Allah mengangkat wabah ini dari tengah kaum muslimin, dan semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan kita. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa‘ala alihi wasallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Baca Juga:Yogyakarta, 1 Dzulhijjah 1442 HDisusun di Perpustakaan al-MubarokPenulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Dalil Tentang Bid Ah, Sholat Pakai Masker, Dalil Tentang Wanita Sholehah, Bacaan Iqamah, Dimana Letak Nur Muhammad

Tauhid dan Terangkatnya Musibah

Bismillah.Sebuah perkara yang menjadi prinsip dan diterangkan oleh para ulama dalam karya-karya mereka adalah bahwa tauhid merupakan kewajiban terbesar. Tauhid itu adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Inilah hak Allah atas segenap hamba.Sebagaimana telah dijelaskan oleh Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibadah kepada Allah tidak akan diterima tanpa tauhid. Artinya, sebanyak apapun ibadah dan amal ketaatan, jika terkotori oleh syirik; peribadatan kepada selain Allah -di samping ibadahnya kepada Allah- maka semua amal itu akan tertolak.Allah Ta’ala berfirman, وَلَوۡ أَشۡرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ“Dan seandainya mereka berbuat syirik, pasti akan lenyap semua amal yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. al-An’am: 88)Di antara keutamaan tauhid yang sangat agung adalah bahwa tauhid menjadi sebab -bahkan sebab terbesar- untuk mendapatkan jalan keluar bagi segala bentuk kesulitan dan musibah yang menimpa di dunia maupun di akhirat. Artinya, tauhid akan membuka kemudahan atas kesulitan yang menimpa, begitu juga tauhid dapat menolak bahaya yang mengancam hamba (lihat keterangan Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid)Ketika terjebak di dalam perut ikan, Dzun Nun atau Nabi Yunus ‘alaihis salam berdoa kepada Allah dengan menyebutkan keesaan-Nya dalam hal uluhiyah dan mengakui kesalahannya, dan hal itu menjadi sebab Allah menyelamatkan dirinya. Beliau membaca doa “laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh zhalimin” yang artinya adalah “tidak ada ilah (sesembahan) yang benar selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang zalim”.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Tidaklah seorang muslim membaca doa ini dalam suatu kesulitan yang dia alami kecuali Allah penuhi permintaannya.” (HR. Tirmidzi, disahihkan al-Hakim dan adz-Dzahabi tidak membantah hal itu, hadis ini dinyatakan hasan oleh Ibnu Hajar) (lihat al-Wabil ash-Shayyib karya Imam Ibnul Qayyim, hal. 224 tahqiq Abdurrahman bin Hasan bin Qa’id)Hal ini perkara yang dimaklumi/bisa dipahami dengan jelas oleh para ulama karena sesungguhnya keimanan dan tauhid merupakan sebab keamanan dan hidayah bagi hamba.Allah Ta’ala berfirman,ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman (syirik), maka mereka itulah yang diberikan keamanan dan mereka itulah yang diberi petunjuk.” (al-An’am : 82).Dengan keamanan, ia akan terbebas dari rasa takut dan dengan petunjuk, ia akan selamat dari kesesatan. Besar kecilnya keamanan dan hidayah itu tergantung pada besar kecilnya tauhid dan keimanan yang ada pada diri seorang hamba. Semakin sempurna tauhid dan imannya, semakin sempurna pula keamanan dan hidayah yang didapatkan olehnya (lihat keterangan Syekh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah dalam Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin, hal. 10-11)Oleh sebab itu, Allah memberikan jaminan untuk selamat dari azab bagi mereka yang beriman dan senantiasa bersyukur kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,مَّا یَفۡعَلُ ٱللَّهُ بِعَذَابِكُمۡ إِن شَكَرۡتُمۡ وَءَامَنتُمۡۚ“Allah tidak akan mengazab kalian; jika kalian bersyukur dan tetap beriman.” (QS. an-Nisaa’ : 147)Dan sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama bahwa tauhid merupakan pokok keimanan dan juga pilar utama dalam mewujudkan rasa syukur kepada Allah. Karena syukur itu mencakup pengakuan dari dalam hati bahwa semua nikmat adalah berasal dari Allah, memuji Allah atas segala nikmat-Nya, dan menggunakan nikmat dalam ketaatan kepada-Nya. Oleh sebab itu, Allah mengingatkan seluruh manusia tentang nikmat penciptaan dan memerintahkan mereka untuk mengesakan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِی خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah : 21)Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan -sebagaimana dinukil oleh al-Baghawi dalam tafsirnya- bahwa semua perintah ibadah dalam al-Qur’an maka maknanya adalah perintah untuk mentauhidkan-Nya. Demikian pula, di antara tafsiran ‘supaya kalian bertakwa’ adalah supaya kalian bisa menjaga diri dari azab Allah, yaitu dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Dari sinilah kita mengetahui mengapa para ulama -bahkan para nabi- senantiasa memprioritaskan dakwah tauhid, karena inilah pokok ajaran agama dan kunci kebahagiaan umat manusia. Dengan memahami tauhid, seorang hamba akan menyadari bahwa Allah punya hak yang harus dia tunaikan, yaitu ibadah kepada-Nya tanpa dicampuri oleh syirik. Inilah dakwah setiap rasul kepada umatnya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ“Dan sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, “Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut”.” (QS. an-Nahl: 36)Baca Juga: Musibah Ini Apakah Ujian Atau Azab?Tauhid inilah keadilan terbesar, sedangkan syirik kepada Allah merupakan kezaliman paling jahat di muka bumi. Oleh sebab itu, Allah menceritakan wasiat Luqman kepada putranya,یَـٰبُنَیَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِیمࣱ“Wahai anakku, janganlah kamu berbuat syirik kepada Allah. Sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman : 13).Syirik kepada Allah merupakan kezaliman sekaligus bentuk kekufuran yang sangat jelas. Bagaimana mungkin seorang hamba yang diberikan nikmat oleh Allah semata lantas menujukan ibadah kepada selain-Nya? Tentu hal ini bukan termasuk syukur kepada Allah, bahkan inilah kekufuran atas nikmat-Nya.Bahkan hal ini -keyakinan bahwa tauhid merupakan sebab keselamatan- pun telah diakui oleh orang-orang musyrik di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu, apabila mereka sedang terjebak oleh ombak dahsyat di tengah lautan dan khawatir tenggelam/binasa, mereka pun memurnikan doanya hanya kepada Allah dan membuang berhala-berhala mereka. Sebagaimana hal itu dikisahkan oleh Ikrimah bin Abi Jahal, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya (tafsir al-Ankabut ayat 65).Hal ini tentu mengingatkan kita akan keagungan doa, yang itu merupakan intisari dari segala bentuk ibadah.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِیۤ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِینَ یَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِی سَیَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِینَ“Dan Rabb kalian mengatakan; Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir : 60).Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah selain doa. Karena doa yang murni dan tulus kepada Allah mencerminkan perendahan diri dan ketundukan yang itu merupakan asas dalam penghambaan kepada Allah.Oleh sebab itu pula, Allah melarang menjadikan sekutu bagi-Nya dalam hal doa. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنَّ ٱلۡمَسَـٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدࣰا“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyeru bersama Allah siapa pun juga.” (QS. al-Jin : 18).Allah tidak rida dipersekutukan bersama-Nya dalam hal ibadah, apakah itu berupa malaikat ataupun nabi.Oleh karena itulah para ulama menasihatkan bahwa salah satu kiat untuk keluar dari musibah dan bencana yang kita alami adalah dengan menunjukkan sikap iftiqar/merasa miskin dan butuh di hadapan Allah. Karena Allah telah berjanji untuk mencukupi orang-orang yang menghamba kepada-Nya semata. Allah pun berjanji untuk memberikan kecukupan kepada orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. Allah pun berjanji memberikan jalan keluar bagi orang-orang yang bertakwa. Orang-orang yang dicintai Allah, yang hidupnya di atas iman dan berhias ketakwaan, maka Allah janjikan kepada mereka rasa aman dan bebas dari segala kesedihan.Apabila mereka meninggal di atas kalimat tauhid laa ilaha illallah, maka itu pun menjadi pintu kebahagiaan yang abadi di akhirat nanti. Kematian menjadi tempat istirahat mereka dari segala keburukan.Semoga Allah mengangkat wabah ini dari tengah kaum muslimin, dan semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan kita. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa‘ala alihi wasallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Baca Juga:Yogyakarta, 1 Dzulhijjah 1442 HDisusun di Perpustakaan al-MubarokPenulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Dalil Tentang Bid Ah, Sholat Pakai Masker, Dalil Tentang Wanita Sholehah, Bacaan Iqamah, Dimana Letak Nur Muhammad
Bismillah.Sebuah perkara yang menjadi prinsip dan diterangkan oleh para ulama dalam karya-karya mereka adalah bahwa tauhid merupakan kewajiban terbesar. Tauhid itu adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Inilah hak Allah atas segenap hamba.Sebagaimana telah dijelaskan oleh Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibadah kepada Allah tidak akan diterima tanpa tauhid. Artinya, sebanyak apapun ibadah dan amal ketaatan, jika terkotori oleh syirik; peribadatan kepada selain Allah -di samping ibadahnya kepada Allah- maka semua amal itu akan tertolak.Allah Ta’ala berfirman, وَلَوۡ أَشۡرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ“Dan seandainya mereka berbuat syirik, pasti akan lenyap semua amal yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. al-An’am: 88)Di antara keutamaan tauhid yang sangat agung adalah bahwa tauhid menjadi sebab -bahkan sebab terbesar- untuk mendapatkan jalan keluar bagi segala bentuk kesulitan dan musibah yang menimpa di dunia maupun di akhirat. Artinya, tauhid akan membuka kemudahan atas kesulitan yang menimpa, begitu juga tauhid dapat menolak bahaya yang mengancam hamba (lihat keterangan Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid)Ketika terjebak di dalam perut ikan, Dzun Nun atau Nabi Yunus ‘alaihis salam berdoa kepada Allah dengan menyebutkan keesaan-Nya dalam hal uluhiyah dan mengakui kesalahannya, dan hal itu menjadi sebab Allah menyelamatkan dirinya. Beliau membaca doa “laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh zhalimin” yang artinya adalah “tidak ada ilah (sesembahan) yang benar selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang zalim”.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Tidaklah seorang muslim membaca doa ini dalam suatu kesulitan yang dia alami kecuali Allah penuhi permintaannya.” (HR. Tirmidzi, disahihkan al-Hakim dan adz-Dzahabi tidak membantah hal itu, hadis ini dinyatakan hasan oleh Ibnu Hajar) (lihat al-Wabil ash-Shayyib karya Imam Ibnul Qayyim, hal. 224 tahqiq Abdurrahman bin Hasan bin Qa’id)Hal ini perkara yang dimaklumi/bisa dipahami dengan jelas oleh para ulama karena sesungguhnya keimanan dan tauhid merupakan sebab keamanan dan hidayah bagi hamba.Allah Ta’ala berfirman,ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman (syirik), maka mereka itulah yang diberikan keamanan dan mereka itulah yang diberi petunjuk.” (al-An’am : 82).Dengan keamanan, ia akan terbebas dari rasa takut dan dengan petunjuk, ia akan selamat dari kesesatan. Besar kecilnya keamanan dan hidayah itu tergantung pada besar kecilnya tauhid dan keimanan yang ada pada diri seorang hamba. Semakin sempurna tauhid dan imannya, semakin sempurna pula keamanan dan hidayah yang didapatkan olehnya (lihat keterangan Syekh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah dalam Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin, hal. 10-11)Oleh sebab itu, Allah memberikan jaminan untuk selamat dari azab bagi mereka yang beriman dan senantiasa bersyukur kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,مَّا یَفۡعَلُ ٱللَّهُ بِعَذَابِكُمۡ إِن شَكَرۡتُمۡ وَءَامَنتُمۡۚ“Allah tidak akan mengazab kalian; jika kalian bersyukur dan tetap beriman.” (QS. an-Nisaa’ : 147)Dan sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama bahwa tauhid merupakan pokok keimanan dan juga pilar utama dalam mewujudkan rasa syukur kepada Allah. Karena syukur itu mencakup pengakuan dari dalam hati bahwa semua nikmat adalah berasal dari Allah, memuji Allah atas segala nikmat-Nya, dan menggunakan nikmat dalam ketaatan kepada-Nya. Oleh sebab itu, Allah mengingatkan seluruh manusia tentang nikmat penciptaan dan memerintahkan mereka untuk mengesakan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِی خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah : 21)Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan -sebagaimana dinukil oleh al-Baghawi dalam tafsirnya- bahwa semua perintah ibadah dalam al-Qur’an maka maknanya adalah perintah untuk mentauhidkan-Nya. Demikian pula, di antara tafsiran ‘supaya kalian bertakwa’ adalah supaya kalian bisa menjaga diri dari azab Allah, yaitu dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Dari sinilah kita mengetahui mengapa para ulama -bahkan para nabi- senantiasa memprioritaskan dakwah tauhid, karena inilah pokok ajaran agama dan kunci kebahagiaan umat manusia. Dengan memahami tauhid, seorang hamba akan menyadari bahwa Allah punya hak yang harus dia tunaikan, yaitu ibadah kepada-Nya tanpa dicampuri oleh syirik. Inilah dakwah setiap rasul kepada umatnya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ“Dan sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, “Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut”.” (QS. an-Nahl: 36)Baca Juga: Musibah Ini Apakah Ujian Atau Azab?Tauhid inilah keadilan terbesar, sedangkan syirik kepada Allah merupakan kezaliman paling jahat di muka bumi. Oleh sebab itu, Allah menceritakan wasiat Luqman kepada putranya,یَـٰبُنَیَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِیمࣱ“Wahai anakku, janganlah kamu berbuat syirik kepada Allah. Sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman : 13).Syirik kepada Allah merupakan kezaliman sekaligus bentuk kekufuran yang sangat jelas. Bagaimana mungkin seorang hamba yang diberikan nikmat oleh Allah semata lantas menujukan ibadah kepada selain-Nya? Tentu hal ini bukan termasuk syukur kepada Allah, bahkan inilah kekufuran atas nikmat-Nya.Bahkan hal ini -keyakinan bahwa tauhid merupakan sebab keselamatan- pun telah diakui oleh orang-orang musyrik di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu, apabila mereka sedang terjebak oleh ombak dahsyat di tengah lautan dan khawatir tenggelam/binasa, mereka pun memurnikan doanya hanya kepada Allah dan membuang berhala-berhala mereka. Sebagaimana hal itu dikisahkan oleh Ikrimah bin Abi Jahal, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya (tafsir al-Ankabut ayat 65).Hal ini tentu mengingatkan kita akan keagungan doa, yang itu merupakan intisari dari segala bentuk ibadah.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِیۤ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِینَ یَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِی سَیَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِینَ“Dan Rabb kalian mengatakan; Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir : 60).Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah selain doa. Karena doa yang murni dan tulus kepada Allah mencerminkan perendahan diri dan ketundukan yang itu merupakan asas dalam penghambaan kepada Allah.Oleh sebab itu pula, Allah melarang menjadikan sekutu bagi-Nya dalam hal doa. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنَّ ٱلۡمَسَـٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدࣰا“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyeru bersama Allah siapa pun juga.” (QS. al-Jin : 18).Allah tidak rida dipersekutukan bersama-Nya dalam hal ibadah, apakah itu berupa malaikat ataupun nabi.Oleh karena itulah para ulama menasihatkan bahwa salah satu kiat untuk keluar dari musibah dan bencana yang kita alami adalah dengan menunjukkan sikap iftiqar/merasa miskin dan butuh di hadapan Allah. Karena Allah telah berjanji untuk mencukupi orang-orang yang menghamba kepada-Nya semata. Allah pun berjanji untuk memberikan kecukupan kepada orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. Allah pun berjanji memberikan jalan keluar bagi orang-orang yang bertakwa. Orang-orang yang dicintai Allah, yang hidupnya di atas iman dan berhias ketakwaan, maka Allah janjikan kepada mereka rasa aman dan bebas dari segala kesedihan.Apabila mereka meninggal di atas kalimat tauhid laa ilaha illallah, maka itu pun menjadi pintu kebahagiaan yang abadi di akhirat nanti. Kematian menjadi tempat istirahat mereka dari segala keburukan.Semoga Allah mengangkat wabah ini dari tengah kaum muslimin, dan semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan kita. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa‘ala alihi wasallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Baca Juga:Yogyakarta, 1 Dzulhijjah 1442 HDisusun di Perpustakaan al-MubarokPenulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Dalil Tentang Bid Ah, Sholat Pakai Masker, Dalil Tentang Wanita Sholehah, Bacaan Iqamah, Dimana Letak Nur Muhammad


Bismillah.Sebuah perkara yang menjadi prinsip dan diterangkan oleh para ulama dalam karya-karya mereka adalah bahwa tauhid merupakan kewajiban terbesar. Tauhid itu adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Inilah hak Allah atas segenap hamba.Sebagaimana telah dijelaskan oleh Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim)Ibadah kepada Allah tidak akan diterima tanpa tauhid. Artinya, sebanyak apapun ibadah dan amal ketaatan, jika terkotori oleh syirik; peribadatan kepada selain Allah -di samping ibadahnya kepada Allah- maka semua amal itu akan tertolak.Allah Ta’ala berfirman, وَلَوۡ أَشۡرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ“Dan seandainya mereka berbuat syirik, pasti akan lenyap semua amal yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. al-An’am: 88)Di antara keutamaan tauhid yang sangat agung adalah bahwa tauhid menjadi sebab -bahkan sebab terbesar- untuk mendapatkan jalan keluar bagi segala bentuk kesulitan dan musibah yang menimpa di dunia maupun di akhirat. Artinya, tauhid akan membuka kemudahan atas kesulitan yang menimpa, begitu juga tauhid dapat menolak bahaya yang mengancam hamba (lihat keterangan Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid)Ketika terjebak di dalam perut ikan, Dzun Nun atau Nabi Yunus ‘alaihis salam berdoa kepada Allah dengan menyebutkan keesaan-Nya dalam hal uluhiyah dan mengakui kesalahannya, dan hal itu menjadi sebab Allah menyelamatkan dirinya. Beliau membaca doa “laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh zhalimin” yang artinya adalah “tidak ada ilah (sesembahan) yang benar selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang zalim”.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Tidaklah seorang muslim membaca doa ini dalam suatu kesulitan yang dia alami kecuali Allah penuhi permintaannya.” (HR. Tirmidzi, disahihkan al-Hakim dan adz-Dzahabi tidak membantah hal itu, hadis ini dinyatakan hasan oleh Ibnu Hajar) (lihat al-Wabil ash-Shayyib karya Imam Ibnul Qayyim, hal. 224 tahqiq Abdurrahman bin Hasan bin Qa’id)Hal ini perkara yang dimaklumi/bisa dipahami dengan jelas oleh para ulama karena sesungguhnya keimanan dan tauhid merupakan sebab keamanan dan hidayah bagi hamba.Allah Ta’ala berfirman,ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَلَمۡ یَلۡبِسُوۤا۟ إِیمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman (syirik), maka mereka itulah yang diberikan keamanan dan mereka itulah yang diberi petunjuk.” (al-An’am : 82).Dengan keamanan, ia akan terbebas dari rasa takut dan dengan petunjuk, ia akan selamat dari kesesatan. Besar kecilnya keamanan dan hidayah itu tergantung pada besar kecilnya tauhid dan keimanan yang ada pada diri seorang hamba. Semakin sempurna tauhid dan imannya, semakin sempurna pula keamanan dan hidayah yang didapatkan olehnya (lihat keterangan Syekh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah dalam Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin, hal. 10-11)Oleh sebab itu, Allah memberikan jaminan untuk selamat dari azab bagi mereka yang beriman dan senantiasa bersyukur kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,مَّا یَفۡعَلُ ٱللَّهُ بِعَذَابِكُمۡ إِن شَكَرۡتُمۡ وَءَامَنتُمۡۚ“Allah tidak akan mengazab kalian; jika kalian bersyukur dan tetap beriman.” (QS. an-Nisaa’ : 147)Dan sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama bahwa tauhid merupakan pokok keimanan dan juga pilar utama dalam mewujudkan rasa syukur kepada Allah. Karena syukur itu mencakup pengakuan dari dalam hati bahwa semua nikmat adalah berasal dari Allah, memuji Allah atas segala nikmat-Nya, dan menggunakan nikmat dalam ketaatan kepada-Nya. Oleh sebab itu, Allah mengingatkan seluruh manusia tentang nikmat penciptaan dan memerintahkan mereka untuk mengesakan-Nya.Allah Ta’ala berfirman,یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِی خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah : 21)Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan -sebagaimana dinukil oleh al-Baghawi dalam tafsirnya- bahwa semua perintah ibadah dalam al-Qur’an maka maknanya adalah perintah untuk mentauhidkan-Nya. Demikian pula, di antara tafsiran ‘supaya kalian bertakwa’ adalah supaya kalian bisa menjaga diri dari azab Allah, yaitu dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Dari sinilah kita mengetahui mengapa para ulama -bahkan para nabi- senantiasa memprioritaskan dakwah tauhid, karena inilah pokok ajaran agama dan kunci kebahagiaan umat manusia. Dengan memahami tauhid, seorang hamba akan menyadari bahwa Allah punya hak yang harus dia tunaikan, yaitu ibadah kepada-Nya tanpa dicampuri oleh syirik. Inilah dakwah setiap rasul kepada umatnya.Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ“Dan sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, “Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut”.” (QS. an-Nahl: 36)Baca Juga: Musibah Ini Apakah Ujian Atau Azab?Tauhid inilah keadilan terbesar, sedangkan syirik kepada Allah merupakan kezaliman paling jahat di muka bumi. Oleh sebab itu, Allah menceritakan wasiat Luqman kepada putranya,یَـٰبُنَیَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِیمࣱ“Wahai anakku, janganlah kamu berbuat syirik kepada Allah. Sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman : 13).Syirik kepada Allah merupakan kezaliman sekaligus bentuk kekufuran yang sangat jelas. Bagaimana mungkin seorang hamba yang diberikan nikmat oleh Allah semata lantas menujukan ibadah kepada selain-Nya? Tentu hal ini bukan termasuk syukur kepada Allah, bahkan inilah kekufuran atas nikmat-Nya.Bahkan hal ini -keyakinan bahwa tauhid merupakan sebab keselamatan- pun telah diakui oleh orang-orang musyrik di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu, apabila mereka sedang terjebak oleh ombak dahsyat di tengah lautan dan khawatir tenggelam/binasa, mereka pun memurnikan doanya hanya kepada Allah dan membuang berhala-berhala mereka. Sebagaimana hal itu dikisahkan oleh Ikrimah bin Abi Jahal, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya (tafsir al-Ankabut ayat 65).Hal ini tentu mengingatkan kita akan keagungan doa, yang itu merupakan intisari dari segala bentuk ibadah.Allah Ta’ala berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِیۤ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِینَ یَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِی سَیَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِینَ“Dan Rabb kalian mengatakan; Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir : 60).Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah selain doa. Karena doa yang murni dan tulus kepada Allah mencerminkan perendahan diri dan ketundukan yang itu merupakan asas dalam penghambaan kepada Allah.Oleh sebab itu pula, Allah melarang menjadikan sekutu bagi-Nya dalam hal doa. Allah Ta’ala berfirman,وَأَنَّ ٱلۡمَسَـٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدࣰا“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyeru bersama Allah siapa pun juga.” (QS. al-Jin : 18).Allah tidak rida dipersekutukan bersama-Nya dalam hal ibadah, apakah itu berupa malaikat ataupun nabi.Oleh karena itulah para ulama menasihatkan bahwa salah satu kiat untuk keluar dari musibah dan bencana yang kita alami adalah dengan menunjukkan sikap iftiqar/merasa miskin dan butuh di hadapan Allah. Karena Allah telah berjanji untuk mencukupi orang-orang yang menghamba kepada-Nya semata. Allah pun berjanji untuk memberikan kecukupan kepada orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. Allah pun berjanji memberikan jalan keluar bagi orang-orang yang bertakwa. Orang-orang yang dicintai Allah, yang hidupnya di atas iman dan berhias ketakwaan, maka Allah janjikan kepada mereka rasa aman dan bebas dari segala kesedihan.Apabila mereka meninggal di atas kalimat tauhid laa ilaha illallah, maka itu pun menjadi pintu kebahagiaan yang abadi di akhirat nanti. Kematian menjadi tempat istirahat mereka dari segala keburukan.Semoga Allah mengangkat wabah ini dari tengah kaum muslimin, dan semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan kita. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa‘ala alihi wasallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Baca Juga:Yogyakarta, 1 Dzulhijjah 1442 HDisusun di Perpustakaan al-MubarokPenulis: Ari WahyudiArtikel: Muslim.or.id🔍 Dalil Tentang Bid Ah, Sholat Pakai Masker, Dalil Tentang Wanita Sholehah, Bacaan Iqamah, Dimana Letak Nur Muhammad

Mencuri Adalah Dosa Besar

Setiap orang yang berakal pasti akan sepakat bahwa mencuri adalah perbuatan yang zalim dan merupakan kejahatan. Oleh karena itu Islam juga menetapkan larangan mencuri harta orang lain. Bahkan ia termasuk dosa besar dan kezaliman yang nyata.Mencuri Adalah Dosa BesarAllah Ta’ala berfirman:وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al Maidah: 38).Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menetapkan hukuman hadd bagi pencuri adalah dipotong tangannya. Ini menunjukkan bahwa mencuri adalah dosa besar. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengatakan:الكبائر هي ما رتب عليه عقوبة خاصة بمعنى أنها ليست مقتصرة على مجرد النهي أو التحريم، بل لا بد من عقوبة خاصة مثل أن يقال من فعل هذا فليس بمؤمن، أو فليس منا، أو ما أشبه ذلك، هذه هي الكبائر، والصغائر هي المحرمات التي ليس عليها عقوبة“Dosa besar adalah yang Allah ancam dengan suatu hukuman khusus. Maksudnya perbuatan tersebut tidak sekedar dilarang atau diharamkan, namun diancam dengan suatu hukuman khusus. Semisal disebutkan dalam dalil ‘barangsiapa yang melakukan ini maka ia bukan mukmin’, atau ‘bukan bagian dari kami’, atau semisal dengan itu. Ini adalah dosa besar. Dan dosa kecil adalah dosa yang tidak diancam dengan suatu hukuman khusus” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi libni Al-‘Utsaimin, 2/24, Asy-Syamilah).Ibnu Shalah rahimahullah mengatakan:لَهَا أَمَارَات مِنْهَا إِيجَاب الْحَدّ , وَمِنْهَا الْإِيعَاد عَلَيْهَا بِالْعَذَابِ بِالنَّارِ وَنَحْوهَا فِي الْكِتَاب أَوْ السُّنَّة , وَمِنْهَا وَصْف صَاحِبهَا بِالْفِسْقِ , وَمِنْهَا اللَّعْن“Dosa besar ada beberapa indikasinya, diantaranya diwajibkan hukuman hadd kepadanya, juga diancam dengan azab neraka atau semisalnya, di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Demikian juga, pelakunya disifati dengan kefasikan dan laknat ” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/285).Pencuri Mendapat LaknatPencuri juga dilaknat oleh Allah Ta’ala. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:لعن الله السارق يسرق البيضة فتقطع يده ويسرق الحبل فتقطع يده“Allah melaknat pencuri yang mencuri sebutir telur, lalu di lain waktu ia dipotong tangannya karena mencuri tali.” (HR. Bukhari no. 6285).Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan:أن يراد بذلك أن هذا السارق قد يسرق البيضة فتهون السرقة في نفسه، ثم يسرق ما يبلغ النصاب فيقطع“Maksud hadits ini adalah seorang yang mencuri telur lalu dia menganggap remeh perbuatan tersebut sehingga kemudian ia mencuri barang yang melewati nishab hadd pencurian, sehingga ia dipotong tangannya” (Syarhul Mumthi‘, 14/336-337).Mencuri Adalah KezalimanDan secara umum mencuri termasuk perbuatan mengambil harta orang lain dengan cara batil. Padahal harta seorang Muslim itu haram. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas sesama kalian darah kalian (untuk ditumpakan) dan harta kalian (untuk dirampais) dan kehormatan (untuk dirusak). Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini dan haramnya negeri ini” (HR. Bukhari no. 1742).Dan mencuri juga termasuk perbuatan zalim. Padahal Allah Ta’ala berfirman:أَلاَ لَعْنَةُ اللّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ“Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim” (QS. Hud: 18).وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ“Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.” (QS. Hud: 102).إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak mendapat keberuntungan” (QS. Al An’am: 21).Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:قال الله تبارك وتعالى: يا عبادي، إني حرمت الظلم على نفسي، وجعلته بينكم محرمًا؛ فلا تظالموا“Allah Tabaaraka wa ta’ala berfirman: ‘Wahai hambaku, sesungguhnya aku haramkan kezaliman atas Diriku, dan aku haramkan juga kezaliman bagi kalian, maka janganlah saling berbuat zalim‘.” (HR. Muslim no. 2577).Baca Juga: Mencuri Adalah Sebuah KezalimanHukuman Hadd Bagi PencuriBerdasarkan surat Al Maidah ayat 38 di atas, hukuman hadd bagi pencuri dalam Islam adalah di potong tangannya. Juga berdasarkan hadits dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, beliau berkata:أنَّ قريشًا أهمَّهم شأنُ المرأةِ المخزوميَّةِ التي سرقت في عهدِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . في غزوةِ الفتحِ . فقالوا : من يُكلِّمُ فيها رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ؟ فقالوا : ومن يجترئُ عليه إلا أسامةُ بنُ زيدٍ ، حِبُّ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ؟ فأتى بها رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . فكلَّمه فيها أسامةُ بنُ زيدٍ . فتلوَّنَ وجهُ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . فقال ( أتشفعُ في حدٍّ من حدودِ اللهِ ؟ ) فقال له أسامةُ : استغفِرْ لي . يا رسولَ اللهِ ! فلما كان العشيُّ قام رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فاختطب . فأثنى على اللهِ بما هو أهلُه . ثم قال ( أما بعد . فإنما أهلك الذين مَن قبلكم ، أنهم كانوا إذا سرق فيهم الشريفُ ، تركوه . وإذا سرق فيهم الضعيفُ ، أقاموا عليه الحدَّ . وإني ، والذي نفسي بيدِه ! لو أنَّ فاطمةَ بنتَ محمدٍ سرقت لقطعتُ يدَها ) ثم أمر بتلك المرأةِ التي سرقتْ فقُطعَتْ يدُها . …قالت عائشةُ : فحسنُتْ توبتُها بعد . وتزوَّجتْ . وكانت تأتيني بعد ذلك فأرفعُ حاجتَها إلى رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ“Bahwa orang-orang Quraisy pernah digemparkan oleh kasus seorang wanita dari Bani Mahzum yang mencuri di masa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tepatnya ketika masa perang Al Fath. Lalu mereka berkata: “Siapa yang bisa berbicara dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam? Siapa yang lebih berani selain Usamah bin Zaid, orang yang dicintai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam?”. Maka Usamah bin Zaid pun menyampaikan kasus tersebut kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, hingga berubahlah warna wajah Rasulullah. Lalu beliau bersabda: “Apakah kamu hendak memberi syafa’ah (pertolongan) terhadap seseorang dari hukum Allah?”. Usamah berkata: “Mohonkan aku ampunan wahai Rasulullah”. Kemudian sore harinya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berdiri seraya berkhutbah. Beliau memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, kemudian bersabda: “Amma ba’du. Sesungguhnya sebab hancurnya umat sebelum kalian adalah bahwa mereka itu jika ada pencuri dari kalangan orang terhormat, mereka biarkan. Dan jika ada pencuri dari kalangan orang lemah, mereka tegakkan hukum pidana. Adapun aku, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika Fatimah bintu Muhammad mencuri maka akan aku potong tangannya”. Lalu Rasulullah memerintahkan wanita yang mencuri tersebut untuk dipotong tangannya. Aisyah berkata:”Setelah itu wanita tersebut benar-benar bertaubat, lalu menikah. Dan ia pernah datang kepadaku setelah peristiwa tadi, lalu aku sampaikan hajatnya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.” (HR. Al Bukhari 3475, 4304, 6788, Muslim 1688, dan ini adalah lafadz Muslim).Namun tidak dikenai hukuman potongan tangan jika: Barang yang dicuri nilainya kecil. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: لاَ تُقْطَعُ يَدُ السَّارِقِ إِلاَّ فِي رُبْعِ دِيْنَارٍ فَصَاعِدًا “Pencuri tidak dipotong tangannya kecuali barang yang dicuri senilai seperempat dinar atau lebih.” (Muttafaqun ‘alahi). Yang ini disebut juga sebagai nisab pencurian. Barang yang dicuri bukan sesuatu yang disimpan dalam tempat penyimpanan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: لا تقطع اليد في تمر معلق “Tidak dipotong tangan pencuri bila mencuri kurma yang tergantung.” (HR. Ibnu Hazm dalam Al Muhalla 11/323, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ 7398) Syaikh As Sa’di menjelaskan:ومن سرق ربع دينار من الذهب، أو ما يساويه من المال من حرزه : قطعت يده اليمنى من مفصل الكف، وحسمت فإن عاد قطعت رجله اليسرى من مفصل الكعب وحسمت فإن عاد حبس“Orang yang mencuri 1/4 dinar emas (atau lebih) atau yang senilai dengan itu, dari tempat penyimpanannya, maka ia dipotong tangannya yang kanan mulai dari pergelangan tangan. Kemudian dihentikan pendarahannya. Jika ia mengulang lagi, maka dipotong kakinya yang kiri dari mata kakinya. Kemudian dihentikan pendarahannya. Jika mengulang lagi, maka dipenjara.” (Minhajus Salikin, 231-232).Adapun jika mencurinya tidak sampai nisab pencurian, sehingga ia tidak dipotong tangan, maka hukumannya adalah ta’zir. Ta’zir adalah hukuman yang ditentukan oleh ijtihad hakim, bisa jadi berupa penjara, hukuman cambuk, hukuman kerja sosial atau lainnya. Syaikh As Sa’di menjelaskan:التعزير واجب في كل معصية لا حد فيه و لا كفارة“Ta’zir hukumnya wajib bagi semua maksiat yang tidak ada hadd-nya dan tidak ada kafarahnya” (Minhajus Salikin, 231).Baca Juga: Penegakkan Hukum di Masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamHarta Hasil Mencuri Tidak HalalRasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:كل لحم نبت من سحت فالنار أولى به“Setiap daging yang tumbuh dari suhtun, maka api neraka lebih layak baginya” (HR. Ahmad no. 14481, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami no. 4519).Makna suhtun adalah:السُّحُتُ: كلُّ حرام قبيح الذِّكر؛ وقيل: هو ما خَبُثَ من المَكاسب وحَرُم فلَزِمَ عنه العارُ“As suhtu adalah semua yang haram dan buruk untuk disebutkan. Sebagian mengatakan artinya: setiap penghasilan yang buruk dan haram serta layak dicela.” (Lisaanul ‘Arab).Bertaubat Dari Mencuri, Harus Kembalikan Barang CuriannyaIbnul Qayyim rahimahullah mengatakan,مَنْ قَبَضَ مَا لَيْسَ لَهُ قَبْضُهُ شَرْعًا، ثُمَّ أَرَادَ التَّخَلُّصَ مِنْهُ، فَإِنْ كَانَ الْمَقْبُوضُ قَدْ أُخِذَ بِغَيْرِ رِضَى صَاحِبِهِ، وَلَا اسْتَوْفَى عِوَضَهُ رَدَّهُ عَلَيْهِ. فَإِنْ تَعَذَّرَ رَدُّهُ عَلَيْهِ، قَضَى بِهِ دَيْنًا يَعْلَمُهُ عَلَيْهِ، فَإِنْ تَعَذَّرَ ذَلِكَ، رَدَّهُ إِلَى وَرَثَتِهِ، فَإِنْ تَعَذَّرَ ذَلِكَ، تَصَدَّقَ بِهِ عَنْهُ، فَإِنِ اخْتَارَ صَاحِبُ الْحَقِّ ثَوَابَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، كَانَ لَهُ. وَإِنْ أَبَى إِلَّا أَنْ يَأْخُذَ مِنْ حَسَنَاتِ الْقَابِضِ، اسْتَوْفَى مِنْهُ نَظِيرَ مَالِهِ، وَكَانَ ثَوَابُ الصَّدَقَةِ لِلْمُتَصَدِّقِ بِهَا“Orang yang mengambil barang orang lain tanpa dibenarkan oleh syariat, kemudian ia ingin bertaubat, maka jika pemiliknya tidak ridha dan tidak mau menerima ganti rugi, barang tersebut wajib dikembalikan. Jika sudah tidak bisa dikembalikan, maka menjadi beban hutang yang wajib diberitahukan kepada pemiliknya. Jika tidak bisa ditunaikan kepada pemiliknya, maka wajib ditunaikan kepada ahli warisnya. Jika tidak bisa pula, maka disedekahkan atas nama pemiliknya” (Zaadul Ma’ad, 5/690).Baca Juga: Serial 12 Alam Jin: Kemampuan Mencuri Berita LangitPencuri Akan Diqishash Di Hari KiamatOrang yang mencuri harta orang lain, yang ia belum bertaubat serta belum mengembalikan atau mengganti barang curiannya, maka ia akan dituntut oleh orang tersebut di hari kiamat. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya:أتدرون ما المفلِسُ ؟ قالوا : المفلِسُ فينا من لا درهمَ له ولا متاعَ . فقال : إنَّ المفلسَ من أمَّتي ، يأتي يومَ القيامةِ بصلاةٍ وصيامٍ وزكاةٍ ، ويأتي قد شتم هذا ، وقذف هذا ، وأكل مالَ هذا ، وسفك دمَ هذا ، وضرب هذا . فيُعطَى هذا من حسناتِه وهذا من حسناتِه . فإن فَنِيَتْ حسناتُه ، قبل أن يقضيَ ما عليه ، أخذ من خطاياهم فطُرِحت عليه . ثمَّ طُرِح في النَّارِ“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”. Para shahabat pun menjawab, ”Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda”. Nabi bersabda, ”Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan, sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa orang yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 2581).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ“Siapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezholimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizhaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya”. (HR. Al-Bukhari no. 2449)Semoga Allah Ta’ala memberi kita taufik agar kita dijauhkan dari perbuatan mencuri harta orang lain.Baca Juga: Pencuri Berita Langit***Penulis: Yulian Purnama, S.Kom.Artikel: Muslim.Or.Id

Mencuri Adalah Dosa Besar

Setiap orang yang berakal pasti akan sepakat bahwa mencuri adalah perbuatan yang zalim dan merupakan kejahatan. Oleh karena itu Islam juga menetapkan larangan mencuri harta orang lain. Bahkan ia termasuk dosa besar dan kezaliman yang nyata.Mencuri Adalah Dosa BesarAllah Ta’ala berfirman:وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al Maidah: 38).Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menetapkan hukuman hadd bagi pencuri adalah dipotong tangannya. Ini menunjukkan bahwa mencuri adalah dosa besar. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengatakan:الكبائر هي ما رتب عليه عقوبة خاصة بمعنى أنها ليست مقتصرة على مجرد النهي أو التحريم، بل لا بد من عقوبة خاصة مثل أن يقال من فعل هذا فليس بمؤمن، أو فليس منا، أو ما أشبه ذلك، هذه هي الكبائر، والصغائر هي المحرمات التي ليس عليها عقوبة“Dosa besar adalah yang Allah ancam dengan suatu hukuman khusus. Maksudnya perbuatan tersebut tidak sekedar dilarang atau diharamkan, namun diancam dengan suatu hukuman khusus. Semisal disebutkan dalam dalil ‘barangsiapa yang melakukan ini maka ia bukan mukmin’, atau ‘bukan bagian dari kami’, atau semisal dengan itu. Ini adalah dosa besar. Dan dosa kecil adalah dosa yang tidak diancam dengan suatu hukuman khusus” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi libni Al-‘Utsaimin, 2/24, Asy-Syamilah).Ibnu Shalah rahimahullah mengatakan:لَهَا أَمَارَات مِنْهَا إِيجَاب الْحَدّ , وَمِنْهَا الْإِيعَاد عَلَيْهَا بِالْعَذَابِ بِالنَّارِ وَنَحْوهَا فِي الْكِتَاب أَوْ السُّنَّة , وَمِنْهَا وَصْف صَاحِبهَا بِالْفِسْقِ , وَمِنْهَا اللَّعْن“Dosa besar ada beberapa indikasinya, diantaranya diwajibkan hukuman hadd kepadanya, juga diancam dengan azab neraka atau semisalnya, di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Demikian juga, pelakunya disifati dengan kefasikan dan laknat ” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/285).Pencuri Mendapat LaknatPencuri juga dilaknat oleh Allah Ta’ala. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:لعن الله السارق يسرق البيضة فتقطع يده ويسرق الحبل فتقطع يده“Allah melaknat pencuri yang mencuri sebutir telur, lalu di lain waktu ia dipotong tangannya karena mencuri tali.” (HR. Bukhari no. 6285).Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan:أن يراد بذلك أن هذا السارق قد يسرق البيضة فتهون السرقة في نفسه، ثم يسرق ما يبلغ النصاب فيقطع“Maksud hadits ini adalah seorang yang mencuri telur lalu dia menganggap remeh perbuatan tersebut sehingga kemudian ia mencuri barang yang melewati nishab hadd pencurian, sehingga ia dipotong tangannya” (Syarhul Mumthi‘, 14/336-337).Mencuri Adalah KezalimanDan secara umum mencuri termasuk perbuatan mengambil harta orang lain dengan cara batil. Padahal harta seorang Muslim itu haram. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas sesama kalian darah kalian (untuk ditumpakan) dan harta kalian (untuk dirampais) dan kehormatan (untuk dirusak). Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini dan haramnya negeri ini” (HR. Bukhari no. 1742).Dan mencuri juga termasuk perbuatan zalim. Padahal Allah Ta’ala berfirman:أَلاَ لَعْنَةُ اللّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ“Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim” (QS. Hud: 18).وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ“Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.” (QS. Hud: 102).إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak mendapat keberuntungan” (QS. Al An’am: 21).Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:قال الله تبارك وتعالى: يا عبادي، إني حرمت الظلم على نفسي، وجعلته بينكم محرمًا؛ فلا تظالموا“Allah Tabaaraka wa ta’ala berfirman: ‘Wahai hambaku, sesungguhnya aku haramkan kezaliman atas Diriku, dan aku haramkan juga kezaliman bagi kalian, maka janganlah saling berbuat zalim‘.” (HR. Muslim no. 2577).Baca Juga: Mencuri Adalah Sebuah KezalimanHukuman Hadd Bagi PencuriBerdasarkan surat Al Maidah ayat 38 di atas, hukuman hadd bagi pencuri dalam Islam adalah di potong tangannya. Juga berdasarkan hadits dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, beliau berkata:أنَّ قريشًا أهمَّهم شأنُ المرأةِ المخزوميَّةِ التي سرقت في عهدِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . في غزوةِ الفتحِ . فقالوا : من يُكلِّمُ فيها رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ؟ فقالوا : ومن يجترئُ عليه إلا أسامةُ بنُ زيدٍ ، حِبُّ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ؟ فأتى بها رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . فكلَّمه فيها أسامةُ بنُ زيدٍ . فتلوَّنَ وجهُ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . فقال ( أتشفعُ في حدٍّ من حدودِ اللهِ ؟ ) فقال له أسامةُ : استغفِرْ لي . يا رسولَ اللهِ ! فلما كان العشيُّ قام رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فاختطب . فأثنى على اللهِ بما هو أهلُه . ثم قال ( أما بعد . فإنما أهلك الذين مَن قبلكم ، أنهم كانوا إذا سرق فيهم الشريفُ ، تركوه . وإذا سرق فيهم الضعيفُ ، أقاموا عليه الحدَّ . وإني ، والذي نفسي بيدِه ! لو أنَّ فاطمةَ بنتَ محمدٍ سرقت لقطعتُ يدَها ) ثم أمر بتلك المرأةِ التي سرقتْ فقُطعَتْ يدُها . …قالت عائشةُ : فحسنُتْ توبتُها بعد . وتزوَّجتْ . وكانت تأتيني بعد ذلك فأرفعُ حاجتَها إلى رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ“Bahwa orang-orang Quraisy pernah digemparkan oleh kasus seorang wanita dari Bani Mahzum yang mencuri di masa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tepatnya ketika masa perang Al Fath. Lalu mereka berkata: “Siapa yang bisa berbicara dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam? Siapa yang lebih berani selain Usamah bin Zaid, orang yang dicintai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam?”. Maka Usamah bin Zaid pun menyampaikan kasus tersebut kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, hingga berubahlah warna wajah Rasulullah. Lalu beliau bersabda: “Apakah kamu hendak memberi syafa’ah (pertolongan) terhadap seseorang dari hukum Allah?”. Usamah berkata: “Mohonkan aku ampunan wahai Rasulullah”. Kemudian sore harinya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berdiri seraya berkhutbah. Beliau memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, kemudian bersabda: “Amma ba’du. Sesungguhnya sebab hancurnya umat sebelum kalian adalah bahwa mereka itu jika ada pencuri dari kalangan orang terhormat, mereka biarkan. Dan jika ada pencuri dari kalangan orang lemah, mereka tegakkan hukum pidana. Adapun aku, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika Fatimah bintu Muhammad mencuri maka akan aku potong tangannya”. Lalu Rasulullah memerintahkan wanita yang mencuri tersebut untuk dipotong tangannya. Aisyah berkata:”Setelah itu wanita tersebut benar-benar bertaubat, lalu menikah. Dan ia pernah datang kepadaku setelah peristiwa tadi, lalu aku sampaikan hajatnya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.” (HR. Al Bukhari 3475, 4304, 6788, Muslim 1688, dan ini adalah lafadz Muslim).Namun tidak dikenai hukuman potongan tangan jika: Barang yang dicuri nilainya kecil. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: لاَ تُقْطَعُ يَدُ السَّارِقِ إِلاَّ فِي رُبْعِ دِيْنَارٍ فَصَاعِدًا “Pencuri tidak dipotong tangannya kecuali barang yang dicuri senilai seperempat dinar atau lebih.” (Muttafaqun ‘alahi). Yang ini disebut juga sebagai nisab pencurian. Barang yang dicuri bukan sesuatu yang disimpan dalam tempat penyimpanan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: لا تقطع اليد في تمر معلق “Tidak dipotong tangan pencuri bila mencuri kurma yang tergantung.” (HR. Ibnu Hazm dalam Al Muhalla 11/323, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ 7398) Syaikh As Sa’di menjelaskan:ومن سرق ربع دينار من الذهب، أو ما يساويه من المال من حرزه : قطعت يده اليمنى من مفصل الكف، وحسمت فإن عاد قطعت رجله اليسرى من مفصل الكعب وحسمت فإن عاد حبس“Orang yang mencuri 1/4 dinar emas (atau lebih) atau yang senilai dengan itu, dari tempat penyimpanannya, maka ia dipotong tangannya yang kanan mulai dari pergelangan tangan. Kemudian dihentikan pendarahannya. Jika ia mengulang lagi, maka dipotong kakinya yang kiri dari mata kakinya. Kemudian dihentikan pendarahannya. Jika mengulang lagi, maka dipenjara.” (Minhajus Salikin, 231-232).Adapun jika mencurinya tidak sampai nisab pencurian, sehingga ia tidak dipotong tangan, maka hukumannya adalah ta’zir. Ta’zir adalah hukuman yang ditentukan oleh ijtihad hakim, bisa jadi berupa penjara, hukuman cambuk, hukuman kerja sosial atau lainnya. Syaikh As Sa’di menjelaskan:التعزير واجب في كل معصية لا حد فيه و لا كفارة“Ta’zir hukumnya wajib bagi semua maksiat yang tidak ada hadd-nya dan tidak ada kafarahnya” (Minhajus Salikin, 231).Baca Juga: Penegakkan Hukum di Masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamHarta Hasil Mencuri Tidak HalalRasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:كل لحم نبت من سحت فالنار أولى به“Setiap daging yang tumbuh dari suhtun, maka api neraka lebih layak baginya” (HR. Ahmad no. 14481, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami no. 4519).Makna suhtun adalah:السُّحُتُ: كلُّ حرام قبيح الذِّكر؛ وقيل: هو ما خَبُثَ من المَكاسب وحَرُم فلَزِمَ عنه العارُ“As suhtu adalah semua yang haram dan buruk untuk disebutkan. Sebagian mengatakan artinya: setiap penghasilan yang buruk dan haram serta layak dicela.” (Lisaanul ‘Arab).Bertaubat Dari Mencuri, Harus Kembalikan Barang CuriannyaIbnul Qayyim rahimahullah mengatakan,مَنْ قَبَضَ مَا لَيْسَ لَهُ قَبْضُهُ شَرْعًا، ثُمَّ أَرَادَ التَّخَلُّصَ مِنْهُ، فَإِنْ كَانَ الْمَقْبُوضُ قَدْ أُخِذَ بِغَيْرِ رِضَى صَاحِبِهِ، وَلَا اسْتَوْفَى عِوَضَهُ رَدَّهُ عَلَيْهِ. فَإِنْ تَعَذَّرَ رَدُّهُ عَلَيْهِ، قَضَى بِهِ دَيْنًا يَعْلَمُهُ عَلَيْهِ، فَإِنْ تَعَذَّرَ ذَلِكَ، رَدَّهُ إِلَى وَرَثَتِهِ، فَإِنْ تَعَذَّرَ ذَلِكَ، تَصَدَّقَ بِهِ عَنْهُ، فَإِنِ اخْتَارَ صَاحِبُ الْحَقِّ ثَوَابَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، كَانَ لَهُ. وَإِنْ أَبَى إِلَّا أَنْ يَأْخُذَ مِنْ حَسَنَاتِ الْقَابِضِ، اسْتَوْفَى مِنْهُ نَظِيرَ مَالِهِ، وَكَانَ ثَوَابُ الصَّدَقَةِ لِلْمُتَصَدِّقِ بِهَا“Orang yang mengambil barang orang lain tanpa dibenarkan oleh syariat, kemudian ia ingin bertaubat, maka jika pemiliknya tidak ridha dan tidak mau menerima ganti rugi, barang tersebut wajib dikembalikan. Jika sudah tidak bisa dikembalikan, maka menjadi beban hutang yang wajib diberitahukan kepada pemiliknya. Jika tidak bisa ditunaikan kepada pemiliknya, maka wajib ditunaikan kepada ahli warisnya. Jika tidak bisa pula, maka disedekahkan atas nama pemiliknya” (Zaadul Ma’ad, 5/690).Baca Juga: Serial 12 Alam Jin: Kemampuan Mencuri Berita LangitPencuri Akan Diqishash Di Hari KiamatOrang yang mencuri harta orang lain, yang ia belum bertaubat serta belum mengembalikan atau mengganti barang curiannya, maka ia akan dituntut oleh orang tersebut di hari kiamat. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya:أتدرون ما المفلِسُ ؟ قالوا : المفلِسُ فينا من لا درهمَ له ولا متاعَ . فقال : إنَّ المفلسَ من أمَّتي ، يأتي يومَ القيامةِ بصلاةٍ وصيامٍ وزكاةٍ ، ويأتي قد شتم هذا ، وقذف هذا ، وأكل مالَ هذا ، وسفك دمَ هذا ، وضرب هذا . فيُعطَى هذا من حسناتِه وهذا من حسناتِه . فإن فَنِيَتْ حسناتُه ، قبل أن يقضيَ ما عليه ، أخذ من خطاياهم فطُرِحت عليه . ثمَّ طُرِح في النَّارِ“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”. Para shahabat pun menjawab, ”Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda”. Nabi bersabda, ”Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan, sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa orang yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 2581).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ“Siapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezholimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizhaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya”. (HR. Al-Bukhari no. 2449)Semoga Allah Ta’ala memberi kita taufik agar kita dijauhkan dari perbuatan mencuri harta orang lain.Baca Juga: Pencuri Berita Langit***Penulis: Yulian Purnama, S.Kom.Artikel: Muslim.Or.Id
Setiap orang yang berakal pasti akan sepakat bahwa mencuri adalah perbuatan yang zalim dan merupakan kejahatan. Oleh karena itu Islam juga menetapkan larangan mencuri harta orang lain. Bahkan ia termasuk dosa besar dan kezaliman yang nyata.Mencuri Adalah Dosa BesarAllah Ta’ala berfirman:وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al Maidah: 38).Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menetapkan hukuman hadd bagi pencuri adalah dipotong tangannya. Ini menunjukkan bahwa mencuri adalah dosa besar. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengatakan:الكبائر هي ما رتب عليه عقوبة خاصة بمعنى أنها ليست مقتصرة على مجرد النهي أو التحريم، بل لا بد من عقوبة خاصة مثل أن يقال من فعل هذا فليس بمؤمن، أو فليس منا، أو ما أشبه ذلك، هذه هي الكبائر، والصغائر هي المحرمات التي ليس عليها عقوبة“Dosa besar adalah yang Allah ancam dengan suatu hukuman khusus. Maksudnya perbuatan tersebut tidak sekedar dilarang atau diharamkan, namun diancam dengan suatu hukuman khusus. Semisal disebutkan dalam dalil ‘barangsiapa yang melakukan ini maka ia bukan mukmin’, atau ‘bukan bagian dari kami’, atau semisal dengan itu. Ini adalah dosa besar. Dan dosa kecil adalah dosa yang tidak diancam dengan suatu hukuman khusus” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi libni Al-‘Utsaimin, 2/24, Asy-Syamilah).Ibnu Shalah rahimahullah mengatakan:لَهَا أَمَارَات مِنْهَا إِيجَاب الْحَدّ , وَمِنْهَا الْإِيعَاد عَلَيْهَا بِالْعَذَابِ بِالنَّارِ وَنَحْوهَا فِي الْكِتَاب أَوْ السُّنَّة , وَمِنْهَا وَصْف صَاحِبهَا بِالْفِسْقِ , وَمِنْهَا اللَّعْن“Dosa besar ada beberapa indikasinya, diantaranya diwajibkan hukuman hadd kepadanya, juga diancam dengan azab neraka atau semisalnya, di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Demikian juga, pelakunya disifati dengan kefasikan dan laknat ” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/285).Pencuri Mendapat LaknatPencuri juga dilaknat oleh Allah Ta’ala. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:لعن الله السارق يسرق البيضة فتقطع يده ويسرق الحبل فتقطع يده“Allah melaknat pencuri yang mencuri sebutir telur, lalu di lain waktu ia dipotong tangannya karena mencuri tali.” (HR. Bukhari no. 6285).Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan:أن يراد بذلك أن هذا السارق قد يسرق البيضة فتهون السرقة في نفسه، ثم يسرق ما يبلغ النصاب فيقطع“Maksud hadits ini adalah seorang yang mencuri telur lalu dia menganggap remeh perbuatan tersebut sehingga kemudian ia mencuri barang yang melewati nishab hadd pencurian, sehingga ia dipotong tangannya” (Syarhul Mumthi‘, 14/336-337).Mencuri Adalah KezalimanDan secara umum mencuri termasuk perbuatan mengambil harta orang lain dengan cara batil. Padahal harta seorang Muslim itu haram. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas sesama kalian darah kalian (untuk ditumpakan) dan harta kalian (untuk dirampais) dan kehormatan (untuk dirusak). Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini dan haramnya negeri ini” (HR. Bukhari no. 1742).Dan mencuri juga termasuk perbuatan zalim. Padahal Allah Ta’ala berfirman:أَلاَ لَعْنَةُ اللّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ“Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim” (QS. Hud: 18).وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ“Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.” (QS. Hud: 102).إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak mendapat keberuntungan” (QS. Al An’am: 21).Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:قال الله تبارك وتعالى: يا عبادي، إني حرمت الظلم على نفسي، وجعلته بينكم محرمًا؛ فلا تظالموا“Allah Tabaaraka wa ta’ala berfirman: ‘Wahai hambaku, sesungguhnya aku haramkan kezaliman atas Diriku, dan aku haramkan juga kezaliman bagi kalian, maka janganlah saling berbuat zalim‘.” (HR. Muslim no. 2577).Baca Juga: Mencuri Adalah Sebuah KezalimanHukuman Hadd Bagi PencuriBerdasarkan surat Al Maidah ayat 38 di atas, hukuman hadd bagi pencuri dalam Islam adalah di potong tangannya. Juga berdasarkan hadits dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, beliau berkata:أنَّ قريشًا أهمَّهم شأنُ المرأةِ المخزوميَّةِ التي سرقت في عهدِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . في غزوةِ الفتحِ . فقالوا : من يُكلِّمُ فيها رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ؟ فقالوا : ومن يجترئُ عليه إلا أسامةُ بنُ زيدٍ ، حِبُّ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ؟ فأتى بها رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . فكلَّمه فيها أسامةُ بنُ زيدٍ . فتلوَّنَ وجهُ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . فقال ( أتشفعُ في حدٍّ من حدودِ اللهِ ؟ ) فقال له أسامةُ : استغفِرْ لي . يا رسولَ اللهِ ! فلما كان العشيُّ قام رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فاختطب . فأثنى على اللهِ بما هو أهلُه . ثم قال ( أما بعد . فإنما أهلك الذين مَن قبلكم ، أنهم كانوا إذا سرق فيهم الشريفُ ، تركوه . وإذا سرق فيهم الضعيفُ ، أقاموا عليه الحدَّ . وإني ، والذي نفسي بيدِه ! لو أنَّ فاطمةَ بنتَ محمدٍ سرقت لقطعتُ يدَها ) ثم أمر بتلك المرأةِ التي سرقتْ فقُطعَتْ يدُها . …قالت عائشةُ : فحسنُتْ توبتُها بعد . وتزوَّجتْ . وكانت تأتيني بعد ذلك فأرفعُ حاجتَها إلى رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ“Bahwa orang-orang Quraisy pernah digemparkan oleh kasus seorang wanita dari Bani Mahzum yang mencuri di masa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tepatnya ketika masa perang Al Fath. Lalu mereka berkata: “Siapa yang bisa berbicara dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam? Siapa yang lebih berani selain Usamah bin Zaid, orang yang dicintai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam?”. Maka Usamah bin Zaid pun menyampaikan kasus tersebut kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, hingga berubahlah warna wajah Rasulullah. Lalu beliau bersabda: “Apakah kamu hendak memberi syafa’ah (pertolongan) terhadap seseorang dari hukum Allah?”. Usamah berkata: “Mohonkan aku ampunan wahai Rasulullah”. Kemudian sore harinya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berdiri seraya berkhutbah. Beliau memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, kemudian bersabda: “Amma ba’du. Sesungguhnya sebab hancurnya umat sebelum kalian adalah bahwa mereka itu jika ada pencuri dari kalangan orang terhormat, mereka biarkan. Dan jika ada pencuri dari kalangan orang lemah, mereka tegakkan hukum pidana. Adapun aku, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika Fatimah bintu Muhammad mencuri maka akan aku potong tangannya”. Lalu Rasulullah memerintahkan wanita yang mencuri tersebut untuk dipotong tangannya. Aisyah berkata:”Setelah itu wanita tersebut benar-benar bertaubat, lalu menikah. Dan ia pernah datang kepadaku setelah peristiwa tadi, lalu aku sampaikan hajatnya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.” (HR. Al Bukhari 3475, 4304, 6788, Muslim 1688, dan ini adalah lafadz Muslim).Namun tidak dikenai hukuman potongan tangan jika: Barang yang dicuri nilainya kecil. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: لاَ تُقْطَعُ يَدُ السَّارِقِ إِلاَّ فِي رُبْعِ دِيْنَارٍ فَصَاعِدًا “Pencuri tidak dipotong tangannya kecuali barang yang dicuri senilai seperempat dinar atau lebih.” (Muttafaqun ‘alahi). Yang ini disebut juga sebagai nisab pencurian. Barang yang dicuri bukan sesuatu yang disimpan dalam tempat penyimpanan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: لا تقطع اليد في تمر معلق “Tidak dipotong tangan pencuri bila mencuri kurma yang tergantung.” (HR. Ibnu Hazm dalam Al Muhalla 11/323, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ 7398) Syaikh As Sa’di menjelaskan:ومن سرق ربع دينار من الذهب، أو ما يساويه من المال من حرزه : قطعت يده اليمنى من مفصل الكف، وحسمت فإن عاد قطعت رجله اليسرى من مفصل الكعب وحسمت فإن عاد حبس“Orang yang mencuri 1/4 dinar emas (atau lebih) atau yang senilai dengan itu, dari tempat penyimpanannya, maka ia dipotong tangannya yang kanan mulai dari pergelangan tangan. Kemudian dihentikan pendarahannya. Jika ia mengulang lagi, maka dipotong kakinya yang kiri dari mata kakinya. Kemudian dihentikan pendarahannya. Jika mengulang lagi, maka dipenjara.” (Minhajus Salikin, 231-232).Adapun jika mencurinya tidak sampai nisab pencurian, sehingga ia tidak dipotong tangan, maka hukumannya adalah ta’zir. Ta’zir adalah hukuman yang ditentukan oleh ijtihad hakim, bisa jadi berupa penjara, hukuman cambuk, hukuman kerja sosial atau lainnya. Syaikh As Sa’di menjelaskan:التعزير واجب في كل معصية لا حد فيه و لا كفارة“Ta’zir hukumnya wajib bagi semua maksiat yang tidak ada hadd-nya dan tidak ada kafarahnya” (Minhajus Salikin, 231).Baca Juga: Penegakkan Hukum di Masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamHarta Hasil Mencuri Tidak HalalRasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:كل لحم نبت من سحت فالنار أولى به“Setiap daging yang tumbuh dari suhtun, maka api neraka lebih layak baginya” (HR. Ahmad no. 14481, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami no. 4519).Makna suhtun adalah:السُّحُتُ: كلُّ حرام قبيح الذِّكر؛ وقيل: هو ما خَبُثَ من المَكاسب وحَرُم فلَزِمَ عنه العارُ“As suhtu adalah semua yang haram dan buruk untuk disebutkan. Sebagian mengatakan artinya: setiap penghasilan yang buruk dan haram serta layak dicela.” (Lisaanul ‘Arab).Bertaubat Dari Mencuri, Harus Kembalikan Barang CuriannyaIbnul Qayyim rahimahullah mengatakan,مَنْ قَبَضَ مَا لَيْسَ لَهُ قَبْضُهُ شَرْعًا، ثُمَّ أَرَادَ التَّخَلُّصَ مِنْهُ، فَإِنْ كَانَ الْمَقْبُوضُ قَدْ أُخِذَ بِغَيْرِ رِضَى صَاحِبِهِ، وَلَا اسْتَوْفَى عِوَضَهُ رَدَّهُ عَلَيْهِ. فَإِنْ تَعَذَّرَ رَدُّهُ عَلَيْهِ، قَضَى بِهِ دَيْنًا يَعْلَمُهُ عَلَيْهِ، فَإِنْ تَعَذَّرَ ذَلِكَ، رَدَّهُ إِلَى وَرَثَتِهِ، فَإِنْ تَعَذَّرَ ذَلِكَ، تَصَدَّقَ بِهِ عَنْهُ، فَإِنِ اخْتَارَ صَاحِبُ الْحَقِّ ثَوَابَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، كَانَ لَهُ. وَإِنْ أَبَى إِلَّا أَنْ يَأْخُذَ مِنْ حَسَنَاتِ الْقَابِضِ، اسْتَوْفَى مِنْهُ نَظِيرَ مَالِهِ، وَكَانَ ثَوَابُ الصَّدَقَةِ لِلْمُتَصَدِّقِ بِهَا“Orang yang mengambil barang orang lain tanpa dibenarkan oleh syariat, kemudian ia ingin bertaubat, maka jika pemiliknya tidak ridha dan tidak mau menerima ganti rugi, barang tersebut wajib dikembalikan. Jika sudah tidak bisa dikembalikan, maka menjadi beban hutang yang wajib diberitahukan kepada pemiliknya. Jika tidak bisa ditunaikan kepada pemiliknya, maka wajib ditunaikan kepada ahli warisnya. Jika tidak bisa pula, maka disedekahkan atas nama pemiliknya” (Zaadul Ma’ad, 5/690).Baca Juga: Serial 12 Alam Jin: Kemampuan Mencuri Berita LangitPencuri Akan Diqishash Di Hari KiamatOrang yang mencuri harta orang lain, yang ia belum bertaubat serta belum mengembalikan atau mengganti barang curiannya, maka ia akan dituntut oleh orang tersebut di hari kiamat. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya:أتدرون ما المفلِسُ ؟ قالوا : المفلِسُ فينا من لا درهمَ له ولا متاعَ . فقال : إنَّ المفلسَ من أمَّتي ، يأتي يومَ القيامةِ بصلاةٍ وصيامٍ وزكاةٍ ، ويأتي قد شتم هذا ، وقذف هذا ، وأكل مالَ هذا ، وسفك دمَ هذا ، وضرب هذا . فيُعطَى هذا من حسناتِه وهذا من حسناتِه . فإن فَنِيَتْ حسناتُه ، قبل أن يقضيَ ما عليه ، أخذ من خطاياهم فطُرِحت عليه . ثمَّ طُرِح في النَّارِ“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”. Para shahabat pun menjawab, ”Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda”. Nabi bersabda, ”Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan, sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa orang yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 2581).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ“Siapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezholimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizhaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya”. (HR. Al-Bukhari no. 2449)Semoga Allah Ta’ala memberi kita taufik agar kita dijauhkan dari perbuatan mencuri harta orang lain.Baca Juga: Pencuri Berita Langit***Penulis: Yulian Purnama, S.Kom.Artikel: Muslim.Or.Id


Setiap orang yang berakal pasti akan sepakat bahwa mencuri adalah perbuatan yang zalim dan merupakan kejahatan. Oleh karena itu Islam juga menetapkan larangan mencuri harta orang lain. Bahkan ia termasuk dosa besar dan kezaliman yang nyata.Mencuri Adalah Dosa BesarAllah Ta’ala berfirman:وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al Maidah: 38).Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menetapkan hukuman hadd bagi pencuri adalah dipotong tangannya. Ini menunjukkan bahwa mencuri adalah dosa besar. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengatakan:الكبائر هي ما رتب عليه عقوبة خاصة بمعنى أنها ليست مقتصرة على مجرد النهي أو التحريم، بل لا بد من عقوبة خاصة مثل أن يقال من فعل هذا فليس بمؤمن، أو فليس منا، أو ما أشبه ذلك، هذه هي الكبائر، والصغائر هي المحرمات التي ليس عليها عقوبة“Dosa besar adalah yang Allah ancam dengan suatu hukuman khusus. Maksudnya perbuatan tersebut tidak sekedar dilarang atau diharamkan, namun diancam dengan suatu hukuman khusus. Semisal disebutkan dalam dalil ‘barangsiapa yang melakukan ini maka ia bukan mukmin’, atau ‘bukan bagian dari kami’, atau semisal dengan itu. Ini adalah dosa besar. Dan dosa kecil adalah dosa yang tidak diancam dengan suatu hukuman khusus” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi libni Al-‘Utsaimin, 2/24, Asy-Syamilah).Ibnu Shalah rahimahullah mengatakan:لَهَا أَمَارَات مِنْهَا إِيجَاب الْحَدّ , وَمِنْهَا الْإِيعَاد عَلَيْهَا بِالْعَذَابِ بِالنَّارِ وَنَحْوهَا فِي الْكِتَاب أَوْ السُّنَّة , وَمِنْهَا وَصْف صَاحِبهَا بِالْفِسْقِ , وَمِنْهَا اللَّعْن“Dosa besar ada beberapa indikasinya, diantaranya diwajibkan hukuman hadd kepadanya, juga diancam dengan azab neraka atau semisalnya, di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Demikian juga, pelakunya disifati dengan kefasikan dan laknat ” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/285).Pencuri Mendapat LaknatPencuri juga dilaknat oleh Allah Ta’ala. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:لعن الله السارق يسرق البيضة فتقطع يده ويسرق الحبل فتقطع يده“Allah melaknat pencuri yang mencuri sebutir telur, lalu di lain waktu ia dipotong tangannya karena mencuri tali.” (HR. Bukhari no. 6285).Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan:أن يراد بذلك أن هذا السارق قد يسرق البيضة فتهون السرقة في نفسه، ثم يسرق ما يبلغ النصاب فيقطع“Maksud hadits ini adalah seorang yang mencuri telur lalu dia menganggap remeh perbuatan tersebut sehingga kemudian ia mencuri barang yang melewati nishab hadd pencurian, sehingga ia dipotong tangannya” (Syarhul Mumthi‘, 14/336-337).Mencuri Adalah KezalimanDan secara umum mencuri termasuk perbuatan mengambil harta orang lain dengan cara batil. Padahal harta seorang Muslim itu haram. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas sesama kalian darah kalian (untuk ditumpakan) dan harta kalian (untuk dirampais) dan kehormatan (untuk dirusak). Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini dan haramnya negeri ini” (HR. Bukhari no. 1742).Dan mencuri juga termasuk perbuatan zalim. Padahal Allah Ta’ala berfirman:أَلاَ لَعْنَةُ اللّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ“Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim” (QS. Hud: 18).وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ“Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.” (QS. Hud: 102).إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak mendapat keberuntungan” (QS. Al An’am: 21).Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:قال الله تبارك وتعالى: يا عبادي، إني حرمت الظلم على نفسي، وجعلته بينكم محرمًا؛ فلا تظالموا“Allah Tabaaraka wa ta’ala berfirman: ‘Wahai hambaku, sesungguhnya aku haramkan kezaliman atas Diriku, dan aku haramkan juga kezaliman bagi kalian, maka janganlah saling berbuat zalim‘.” (HR. Muslim no. 2577).Baca Juga: Mencuri Adalah Sebuah KezalimanHukuman Hadd Bagi PencuriBerdasarkan surat Al Maidah ayat 38 di atas, hukuman hadd bagi pencuri dalam Islam adalah di potong tangannya. Juga berdasarkan hadits dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, beliau berkata:أنَّ قريشًا أهمَّهم شأنُ المرأةِ المخزوميَّةِ التي سرقت في عهدِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . في غزوةِ الفتحِ . فقالوا : من يُكلِّمُ فيها رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ؟ فقالوا : ومن يجترئُ عليه إلا أسامةُ بنُ زيدٍ ، حِبُّ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ؟ فأتى بها رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . فكلَّمه فيها أسامةُ بنُ زيدٍ . فتلوَّنَ وجهُ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . فقال ( أتشفعُ في حدٍّ من حدودِ اللهِ ؟ ) فقال له أسامةُ : استغفِرْ لي . يا رسولَ اللهِ ! فلما كان العشيُّ قام رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فاختطب . فأثنى على اللهِ بما هو أهلُه . ثم قال ( أما بعد . فإنما أهلك الذين مَن قبلكم ، أنهم كانوا إذا سرق فيهم الشريفُ ، تركوه . وإذا سرق فيهم الضعيفُ ، أقاموا عليه الحدَّ . وإني ، والذي نفسي بيدِه ! لو أنَّ فاطمةَ بنتَ محمدٍ سرقت لقطعتُ يدَها ) ثم أمر بتلك المرأةِ التي سرقتْ فقُطعَتْ يدُها . …قالت عائشةُ : فحسنُتْ توبتُها بعد . وتزوَّجتْ . وكانت تأتيني بعد ذلك فأرفعُ حاجتَها إلى رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ“Bahwa orang-orang Quraisy pernah digemparkan oleh kasus seorang wanita dari Bani Mahzum yang mencuri di masa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tepatnya ketika masa perang Al Fath. Lalu mereka berkata: “Siapa yang bisa berbicara dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam? Siapa yang lebih berani selain Usamah bin Zaid, orang yang dicintai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam?”. Maka Usamah bin Zaid pun menyampaikan kasus tersebut kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, hingga berubahlah warna wajah Rasulullah. Lalu beliau bersabda: “Apakah kamu hendak memberi syafa’ah (pertolongan) terhadap seseorang dari hukum Allah?”. Usamah berkata: “Mohonkan aku ampunan wahai Rasulullah”. Kemudian sore harinya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berdiri seraya berkhutbah. Beliau memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, kemudian bersabda: “Amma ba’du. Sesungguhnya sebab hancurnya umat sebelum kalian adalah bahwa mereka itu jika ada pencuri dari kalangan orang terhormat, mereka biarkan. Dan jika ada pencuri dari kalangan orang lemah, mereka tegakkan hukum pidana. Adapun aku, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika Fatimah bintu Muhammad mencuri maka akan aku potong tangannya”. Lalu Rasulullah memerintahkan wanita yang mencuri tersebut untuk dipotong tangannya. Aisyah berkata:”Setelah itu wanita tersebut benar-benar bertaubat, lalu menikah. Dan ia pernah datang kepadaku setelah peristiwa tadi, lalu aku sampaikan hajatnya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.” (HR. Al Bukhari 3475, 4304, 6788, Muslim 1688, dan ini adalah lafadz Muslim).Namun tidak dikenai hukuman potongan tangan jika: Barang yang dicuri nilainya kecil. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: لاَ تُقْطَعُ يَدُ السَّارِقِ إِلاَّ فِي رُبْعِ دِيْنَارٍ فَصَاعِدًا “Pencuri tidak dipotong tangannya kecuali barang yang dicuri senilai seperempat dinar atau lebih.” (Muttafaqun ‘alahi). Yang ini disebut juga sebagai nisab pencurian. Barang yang dicuri bukan sesuatu yang disimpan dalam tempat penyimpanan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: لا تقطع اليد في تمر معلق “Tidak dipotong tangan pencuri bila mencuri kurma yang tergantung.” (HR. Ibnu Hazm dalam Al Muhalla 11/323, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ 7398) Syaikh As Sa’di menjelaskan:ومن سرق ربع دينار من الذهب، أو ما يساويه من المال من حرزه : قطعت يده اليمنى من مفصل الكف، وحسمت فإن عاد قطعت رجله اليسرى من مفصل الكعب وحسمت فإن عاد حبس“Orang yang mencuri 1/4 dinar emas (atau lebih) atau yang senilai dengan itu, dari tempat penyimpanannya, maka ia dipotong tangannya yang kanan mulai dari pergelangan tangan. Kemudian dihentikan pendarahannya. Jika ia mengulang lagi, maka dipotong kakinya yang kiri dari mata kakinya. Kemudian dihentikan pendarahannya. Jika mengulang lagi, maka dipenjara.” (Minhajus Salikin, 231-232).Adapun jika mencurinya tidak sampai nisab pencurian, sehingga ia tidak dipotong tangan, maka hukumannya adalah ta’zir. Ta’zir adalah hukuman yang ditentukan oleh ijtihad hakim, bisa jadi berupa penjara, hukuman cambuk, hukuman kerja sosial atau lainnya. Syaikh As Sa’di menjelaskan:التعزير واجب في كل معصية لا حد فيه و لا كفارة“Ta’zir hukumnya wajib bagi semua maksiat yang tidak ada hadd-nya dan tidak ada kafarahnya” (Minhajus Salikin, 231).Baca Juga: Penegakkan Hukum di Masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamHarta Hasil Mencuri Tidak HalalRasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:كل لحم نبت من سحت فالنار أولى به“Setiap daging yang tumbuh dari suhtun, maka api neraka lebih layak baginya” (HR. Ahmad no. 14481, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami no. 4519).Makna suhtun adalah:السُّحُتُ: كلُّ حرام قبيح الذِّكر؛ وقيل: هو ما خَبُثَ من المَكاسب وحَرُم فلَزِمَ عنه العارُ“As suhtu adalah semua yang haram dan buruk untuk disebutkan. Sebagian mengatakan artinya: setiap penghasilan yang buruk dan haram serta layak dicela.” (Lisaanul ‘Arab).Bertaubat Dari Mencuri, Harus Kembalikan Barang CuriannyaIbnul Qayyim rahimahullah mengatakan,مَنْ قَبَضَ مَا لَيْسَ لَهُ قَبْضُهُ شَرْعًا، ثُمَّ أَرَادَ التَّخَلُّصَ مِنْهُ، فَإِنْ كَانَ الْمَقْبُوضُ قَدْ أُخِذَ بِغَيْرِ رِضَى صَاحِبِهِ، وَلَا اسْتَوْفَى عِوَضَهُ رَدَّهُ عَلَيْهِ. فَإِنْ تَعَذَّرَ رَدُّهُ عَلَيْهِ، قَضَى بِهِ دَيْنًا يَعْلَمُهُ عَلَيْهِ، فَإِنْ تَعَذَّرَ ذَلِكَ، رَدَّهُ إِلَى وَرَثَتِهِ، فَإِنْ تَعَذَّرَ ذَلِكَ، تَصَدَّقَ بِهِ عَنْهُ، فَإِنِ اخْتَارَ صَاحِبُ الْحَقِّ ثَوَابَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، كَانَ لَهُ. وَإِنْ أَبَى إِلَّا أَنْ يَأْخُذَ مِنْ حَسَنَاتِ الْقَابِضِ، اسْتَوْفَى مِنْهُ نَظِيرَ مَالِهِ، وَكَانَ ثَوَابُ الصَّدَقَةِ لِلْمُتَصَدِّقِ بِهَا“Orang yang mengambil barang orang lain tanpa dibenarkan oleh syariat, kemudian ia ingin bertaubat, maka jika pemiliknya tidak ridha dan tidak mau menerima ganti rugi, barang tersebut wajib dikembalikan. Jika sudah tidak bisa dikembalikan, maka menjadi beban hutang yang wajib diberitahukan kepada pemiliknya. Jika tidak bisa ditunaikan kepada pemiliknya, maka wajib ditunaikan kepada ahli warisnya. Jika tidak bisa pula, maka disedekahkan atas nama pemiliknya” (Zaadul Ma’ad, 5/690).Baca Juga: Serial 12 Alam Jin: Kemampuan Mencuri Berita LangitPencuri Akan Diqishash Di Hari KiamatOrang yang mencuri harta orang lain, yang ia belum bertaubat serta belum mengembalikan atau mengganti barang curiannya, maka ia akan dituntut oleh orang tersebut di hari kiamat. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya:أتدرون ما المفلِسُ ؟ قالوا : المفلِسُ فينا من لا درهمَ له ولا متاعَ . فقال : إنَّ المفلسَ من أمَّتي ، يأتي يومَ القيامةِ بصلاةٍ وصيامٍ وزكاةٍ ، ويأتي قد شتم هذا ، وقذف هذا ، وأكل مالَ هذا ، وسفك دمَ هذا ، وضرب هذا . فيُعطَى هذا من حسناتِه وهذا من حسناتِه . فإن فَنِيَتْ حسناتُه ، قبل أن يقضيَ ما عليه ، أخذ من خطاياهم فطُرِحت عليه . ثمَّ طُرِح في النَّارِ“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”. Para shahabat pun menjawab, ”Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda”. Nabi bersabda, ”Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan, sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa orang yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 2581).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ“Siapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezholimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizhaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya”. (HR. Al-Bukhari no. 2449)Semoga Allah Ta’ala memberi kita taufik agar kita dijauhkan dari perbuatan mencuri harta orang lain.Baca Juga: Pencuri Berita Langit***Penulis: Yulian Purnama, S.Kom.Artikel: Muslim.Or.Id

Cerita Menginspirasi: Begini Para Ulama Menjaga Waktunya – Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama

Cerita Menginspirasi: Begini Para Ulama Menjaga Waktunya – Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama Beliau menyebutkan apa yang disebutkan oleh ar-Rabi’untuk menguatkan perkataan ini, yaitu tentang keadaan Imam asy-Syafi’i beliau berkata: ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata, “Aku tidak pernah melihat asy-Syafi’i -radhiyallahu ‘anhu- makan di waktu siang dan tidur di waktu malam karena beliau sibuk menulis buku.” Dan yang dimaksud adalah kesungguhan beliau -rahimahullahu Ta’ala- dalam ilmu. Dari kesungguhan para ulama ini, terjadilah berbagai fenomena yang tidak masuk akal; akan tetapi orang yang sehat jiwanya dan suci hatinya maka ia akan melihatnya sebagai fenomena yang muncul dari orang-orang yang menyambut perkara agung. Dahulu para ulama sibuk dengan ilmu ketika sedang makan, sebagaimana dibacakan pada al-Bulqasi -rahimahullahu Ta’ala- ilmu qiraat ketika beliau sedang makan. Sebagian mereka juga dibacakan ilmu ketika dia sedang berada di dalam kamar mandi saat hendak buang hajat, sebagaimana dahulu Abdurrahman bin Abu Hatim yang membacakan pada ayahnya ketika ayahnya sedang buang hajat. Dan di antara para ulama juga, yaitu asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz -rahimahullahu Ta’ala- yang termasuk orang yang menghafal matan di saat berwudhu. Beliau hafal Alfiyah al-‘Iraqi di waktu-waktu beliau berwudhu. Ada orang yang membacakannya untuk beliau, lalu beliau menghafalnya dengan mendengar hingga beliau selesai menghafal matan ini di saat beliau berwudhu. Dan sebagian ulama di zaman dulu, dibacakan kepadanya -sebagai bentuk kesungguhan mereka dalam menuntut ilmu-, dibacakan kepadanya ketika dia berwudhu. Hal itu karena keinginan mereka terhadap ilmu sangat besar sehingga itu mengambil waktu-waktu mereka. Padahal perbekalan mereka sangat minim,dan berada dalam kekurangan dan kemiskinan, serta tidak adanya kitab-kitab; namun tetap saja semangat mereka terhadap ilmu begitu besar. Adapun sekarang, keadaan telah berubah telah tersedia bagi orang-orang berbagai fasilitas dan alat-alat yang dapat membantu mereka menuntut ilmu, andai mereka benar-benar menginginkannya, Akan tetapi keinginan mereka dalam menuntut ilmu telah melemah sehingga usaha mereka menuntut ilmu juga melemah. ================================ وَقَالَ ذَاكِرًا مَا ذَكَرَهُ الرَّبِيْعُ فِي تَصْدِيقِ قَوْلِ هَذَا الْقَائِلِ وَهُوَ حَالُ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ قَالَ قَالَ الرَّبِيعُ يَعْنِي ابْنُ سُلَيْمَانَ لَمْ أَرَ الشَّافِعِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ آكِلًا بِنَهَارٍ وَلَا نَائِمًا بِلَيْلٍ لِاشْتِغَالِهِ بِالتَّصْنِيْفِ وَالْمُرَادُ بِذَلِكَ كَمَالُ إِقْبَالِهِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى عَلَى الْعِلْمِ وَمِنْ كَمَالِ إِقْبَالِهِمْ صَارَتْ لَهُمْ أَحْوَالٌ لَا تُدْرِكُهَا الْعُقُولُ وَلَكِنْ مَنْ شَفَّتْ نَفْسُهُ وَصَفَا قَلْبُهُ رَأَى أَنَّ تِلْكَ الْأَحْوَالَ هِيَ أَحْوَالُ الْمُقْبِلِيْنَ عَلَى الْأُمُورِ الْعِظَامِ فَكَانُوا يَشْتَغِلُوْنَ بِالْعِلْمِ وَهُمْ عَلَى الطَّعَامِ كَمَا كَانَ يُقْرَأُ عَلَى الْبُلْقَاسِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى الْقِرَاءَاتِ وَهُوَ يَتَنَاوَلُ طَعَامَهُ وَكَمَا كَانَ بَعْضُهُمْ يُقْرَأُ عَلَيْهِ وَهُوَ فِي الْحَمَّامِ إِذَا أَرَادَ قَضَاءَ حَاجَتِهِ كَمَا كَانَ عَبْدُ الرَحْمَنِ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ يَقْرَأُ عَلَى أَبِيهِ وَهُوَ فِي حَالِ قَضَاءِ حَاجَتِهِ وَمِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ الشَّيْخُ عَبْدُ العَزِيزِ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى مَنْ حَفِظَ مَتْنًا حَالَ وُضُوئِهِ فَقَدْ حَفِظَ أَلْفِيَّةَ الْعِرَاقِيِّ فِي الْأَوْقَاتِ الَّتِي كَانَ يَتَوَضَّأُ فِيهَا فَكَانَ هُنَاكَ مَنْ يَعْرِضُ عَلَيْهِ وَهُوَ يَحْفَظُ بِسَمْعِهِ حَتَّى أَتَمَّ حِفْظَ هَذَا الْمَتْنِ حَالَ وُضُوئِهِ وَكَانَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الزَّمَنِ الْمَاضِي يُقْرَأُ عَلَيْهِ مِنْ مَزِيدِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِلْمِ كَانَ يُقْرَأُ عَلَيْهِ حَالَ وُضُوئِهِ كَذَلِكَ أَنَّ شَهْوَتَهُم لِلْعِلْمِ كَانَتْ عَظِيْمَةً فَكَانَتْ تَسْتَغْرِقُ أَوْقَاتَهُمْ مَعَ ضَعْفِ الْعُدَّةِ وَمَزِيْدِ الْحَاجَةِ وَالْعِوَجِ وَفُقْدَانِ الْكُتُبِ وَمَعَ ذَلِكَ كَانَتْ رَغْبَتُهُمْ فِي الْعِلْمِ عَظِيْمَةً أَمَّا الْيَوْمُ فَقَدْ تَبَدَّلَ الْحَالُ فَتَهَيَّأَ لِلنَّاسِ مِنْ أَنْوَاعِ الْعُدَدِ وَالْآلَاتِ مَا يُعِينُهُمْ عَلَى الْعِلْمِ لَوْ صَدَقُوا فِي طَلَبِهِ لَكِنَّ شَهْوَتَهُم لِلْعِلْم ضَعُفَتْ فَضَعُفَ أَخْذُهُمْ لَهُ  

Cerita Menginspirasi: Begini Para Ulama Menjaga Waktunya – Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama

Cerita Menginspirasi: Begini Para Ulama Menjaga Waktunya – Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama Beliau menyebutkan apa yang disebutkan oleh ar-Rabi’untuk menguatkan perkataan ini, yaitu tentang keadaan Imam asy-Syafi’i beliau berkata: ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata, “Aku tidak pernah melihat asy-Syafi’i -radhiyallahu ‘anhu- makan di waktu siang dan tidur di waktu malam karena beliau sibuk menulis buku.” Dan yang dimaksud adalah kesungguhan beliau -rahimahullahu Ta’ala- dalam ilmu. Dari kesungguhan para ulama ini, terjadilah berbagai fenomena yang tidak masuk akal; akan tetapi orang yang sehat jiwanya dan suci hatinya maka ia akan melihatnya sebagai fenomena yang muncul dari orang-orang yang menyambut perkara agung. Dahulu para ulama sibuk dengan ilmu ketika sedang makan, sebagaimana dibacakan pada al-Bulqasi -rahimahullahu Ta’ala- ilmu qiraat ketika beliau sedang makan. Sebagian mereka juga dibacakan ilmu ketika dia sedang berada di dalam kamar mandi saat hendak buang hajat, sebagaimana dahulu Abdurrahman bin Abu Hatim yang membacakan pada ayahnya ketika ayahnya sedang buang hajat. Dan di antara para ulama juga, yaitu asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz -rahimahullahu Ta’ala- yang termasuk orang yang menghafal matan di saat berwudhu. Beliau hafal Alfiyah al-‘Iraqi di waktu-waktu beliau berwudhu. Ada orang yang membacakannya untuk beliau, lalu beliau menghafalnya dengan mendengar hingga beliau selesai menghafal matan ini di saat beliau berwudhu. Dan sebagian ulama di zaman dulu, dibacakan kepadanya -sebagai bentuk kesungguhan mereka dalam menuntut ilmu-, dibacakan kepadanya ketika dia berwudhu. Hal itu karena keinginan mereka terhadap ilmu sangat besar sehingga itu mengambil waktu-waktu mereka. Padahal perbekalan mereka sangat minim,dan berada dalam kekurangan dan kemiskinan, serta tidak adanya kitab-kitab; namun tetap saja semangat mereka terhadap ilmu begitu besar. Adapun sekarang, keadaan telah berubah telah tersedia bagi orang-orang berbagai fasilitas dan alat-alat yang dapat membantu mereka menuntut ilmu, andai mereka benar-benar menginginkannya, Akan tetapi keinginan mereka dalam menuntut ilmu telah melemah sehingga usaha mereka menuntut ilmu juga melemah. ================================ وَقَالَ ذَاكِرًا مَا ذَكَرَهُ الرَّبِيْعُ فِي تَصْدِيقِ قَوْلِ هَذَا الْقَائِلِ وَهُوَ حَالُ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ قَالَ قَالَ الرَّبِيعُ يَعْنِي ابْنُ سُلَيْمَانَ لَمْ أَرَ الشَّافِعِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ آكِلًا بِنَهَارٍ وَلَا نَائِمًا بِلَيْلٍ لِاشْتِغَالِهِ بِالتَّصْنِيْفِ وَالْمُرَادُ بِذَلِكَ كَمَالُ إِقْبَالِهِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى عَلَى الْعِلْمِ وَمِنْ كَمَالِ إِقْبَالِهِمْ صَارَتْ لَهُمْ أَحْوَالٌ لَا تُدْرِكُهَا الْعُقُولُ وَلَكِنْ مَنْ شَفَّتْ نَفْسُهُ وَصَفَا قَلْبُهُ رَأَى أَنَّ تِلْكَ الْأَحْوَالَ هِيَ أَحْوَالُ الْمُقْبِلِيْنَ عَلَى الْأُمُورِ الْعِظَامِ فَكَانُوا يَشْتَغِلُوْنَ بِالْعِلْمِ وَهُمْ عَلَى الطَّعَامِ كَمَا كَانَ يُقْرَأُ عَلَى الْبُلْقَاسِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى الْقِرَاءَاتِ وَهُوَ يَتَنَاوَلُ طَعَامَهُ وَكَمَا كَانَ بَعْضُهُمْ يُقْرَأُ عَلَيْهِ وَهُوَ فِي الْحَمَّامِ إِذَا أَرَادَ قَضَاءَ حَاجَتِهِ كَمَا كَانَ عَبْدُ الرَحْمَنِ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ يَقْرَأُ عَلَى أَبِيهِ وَهُوَ فِي حَالِ قَضَاءِ حَاجَتِهِ وَمِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ الشَّيْخُ عَبْدُ العَزِيزِ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى مَنْ حَفِظَ مَتْنًا حَالَ وُضُوئِهِ فَقَدْ حَفِظَ أَلْفِيَّةَ الْعِرَاقِيِّ فِي الْأَوْقَاتِ الَّتِي كَانَ يَتَوَضَّأُ فِيهَا فَكَانَ هُنَاكَ مَنْ يَعْرِضُ عَلَيْهِ وَهُوَ يَحْفَظُ بِسَمْعِهِ حَتَّى أَتَمَّ حِفْظَ هَذَا الْمَتْنِ حَالَ وُضُوئِهِ وَكَانَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الزَّمَنِ الْمَاضِي يُقْرَأُ عَلَيْهِ مِنْ مَزِيدِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِلْمِ كَانَ يُقْرَأُ عَلَيْهِ حَالَ وُضُوئِهِ كَذَلِكَ أَنَّ شَهْوَتَهُم لِلْعِلْمِ كَانَتْ عَظِيْمَةً فَكَانَتْ تَسْتَغْرِقُ أَوْقَاتَهُمْ مَعَ ضَعْفِ الْعُدَّةِ وَمَزِيْدِ الْحَاجَةِ وَالْعِوَجِ وَفُقْدَانِ الْكُتُبِ وَمَعَ ذَلِكَ كَانَتْ رَغْبَتُهُمْ فِي الْعِلْمِ عَظِيْمَةً أَمَّا الْيَوْمُ فَقَدْ تَبَدَّلَ الْحَالُ فَتَهَيَّأَ لِلنَّاسِ مِنْ أَنْوَاعِ الْعُدَدِ وَالْآلَاتِ مَا يُعِينُهُمْ عَلَى الْعِلْمِ لَوْ صَدَقُوا فِي طَلَبِهِ لَكِنَّ شَهْوَتَهُم لِلْعِلْم ضَعُفَتْ فَضَعُفَ أَخْذُهُمْ لَهُ  
Cerita Menginspirasi: Begini Para Ulama Menjaga Waktunya – Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama Beliau menyebutkan apa yang disebutkan oleh ar-Rabi’untuk menguatkan perkataan ini, yaitu tentang keadaan Imam asy-Syafi’i beliau berkata: ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata, “Aku tidak pernah melihat asy-Syafi’i -radhiyallahu ‘anhu- makan di waktu siang dan tidur di waktu malam karena beliau sibuk menulis buku.” Dan yang dimaksud adalah kesungguhan beliau -rahimahullahu Ta’ala- dalam ilmu. Dari kesungguhan para ulama ini, terjadilah berbagai fenomena yang tidak masuk akal; akan tetapi orang yang sehat jiwanya dan suci hatinya maka ia akan melihatnya sebagai fenomena yang muncul dari orang-orang yang menyambut perkara agung. Dahulu para ulama sibuk dengan ilmu ketika sedang makan, sebagaimana dibacakan pada al-Bulqasi -rahimahullahu Ta’ala- ilmu qiraat ketika beliau sedang makan. Sebagian mereka juga dibacakan ilmu ketika dia sedang berada di dalam kamar mandi saat hendak buang hajat, sebagaimana dahulu Abdurrahman bin Abu Hatim yang membacakan pada ayahnya ketika ayahnya sedang buang hajat. Dan di antara para ulama juga, yaitu asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz -rahimahullahu Ta’ala- yang termasuk orang yang menghafal matan di saat berwudhu. Beliau hafal Alfiyah al-‘Iraqi di waktu-waktu beliau berwudhu. Ada orang yang membacakannya untuk beliau, lalu beliau menghafalnya dengan mendengar hingga beliau selesai menghafal matan ini di saat beliau berwudhu. Dan sebagian ulama di zaman dulu, dibacakan kepadanya -sebagai bentuk kesungguhan mereka dalam menuntut ilmu-, dibacakan kepadanya ketika dia berwudhu. Hal itu karena keinginan mereka terhadap ilmu sangat besar sehingga itu mengambil waktu-waktu mereka. Padahal perbekalan mereka sangat minim,dan berada dalam kekurangan dan kemiskinan, serta tidak adanya kitab-kitab; namun tetap saja semangat mereka terhadap ilmu begitu besar. Adapun sekarang, keadaan telah berubah telah tersedia bagi orang-orang berbagai fasilitas dan alat-alat yang dapat membantu mereka menuntut ilmu, andai mereka benar-benar menginginkannya, Akan tetapi keinginan mereka dalam menuntut ilmu telah melemah sehingga usaha mereka menuntut ilmu juga melemah. ================================ وَقَالَ ذَاكِرًا مَا ذَكَرَهُ الرَّبِيْعُ فِي تَصْدِيقِ قَوْلِ هَذَا الْقَائِلِ وَهُوَ حَالُ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ قَالَ قَالَ الرَّبِيعُ يَعْنِي ابْنُ سُلَيْمَانَ لَمْ أَرَ الشَّافِعِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ آكِلًا بِنَهَارٍ وَلَا نَائِمًا بِلَيْلٍ لِاشْتِغَالِهِ بِالتَّصْنِيْفِ وَالْمُرَادُ بِذَلِكَ كَمَالُ إِقْبَالِهِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى عَلَى الْعِلْمِ وَمِنْ كَمَالِ إِقْبَالِهِمْ صَارَتْ لَهُمْ أَحْوَالٌ لَا تُدْرِكُهَا الْعُقُولُ وَلَكِنْ مَنْ شَفَّتْ نَفْسُهُ وَصَفَا قَلْبُهُ رَأَى أَنَّ تِلْكَ الْأَحْوَالَ هِيَ أَحْوَالُ الْمُقْبِلِيْنَ عَلَى الْأُمُورِ الْعِظَامِ فَكَانُوا يَشْتَغِلُوْنَ بِالْعِلْمِ وَهُمْ عَلَى الطَّعَامِ كَمَا كَانَ يُقْرَأُ عَلَى الْبُلْقَاسِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى الْقِرَاءَاتِ وَهُوَ يَتَنَاوَلُ طَعَامَهُ وَكَمَا كَانَ بَعْضُهُمْ يُقْرَأُ عَلَيْهِ وَهُوَ فِي الْحَمَّامِ إِذَا أَرَادَ قَضَاءَ حَاجَتِهِ كَمَا كَانَ عَبْدُ الرَحْمَنِ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ يَقْرَأُ عَلَى أَبِيهِ وَهُوَ فِي حَالِ قَضَاءِ حَاجَتِهِ وَمِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ الشَّيْخُ عَبْدُ العَزِيزِ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى مَنْ حَفِظَ مَتْنًا حَالَ وُضُوئِهِ فَقَدْ حَفِظَ أَلْفِيَّةَ الْعِرَاقِيِّ فِي الْأَوْقَاتِ الَّتِي كَانَ يَتَوَضَّأُ فِيهَا فَكَانَ هُنَاكَ مَنْ يَعْرِضُ عَلَيْهِ وَهُوَ يَحْفَظُ بِسَمْعِهِ حَتَّى أَتَمَّ حِفْظَ هَذَا الْمَتْنِ حَالَ وُضُوئِهِ وَكَانَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الزَّمَنِ الْمَاضِي يُقْرَأُ عَلَيْهِ مِنْ مَزِيدِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِلْمِ كَانَ يُقْرَأُ عَلَيْهِ حَالَ وُضُوئِهِ كَذَلِكَ أَنَّ شَهْوَتَهُم لِلْعِلْمِ كَانَتْ عَظِيْمَةً فَكَانَتْ تَسْتَغْرِقُ أَوْقَاتَهُمْ مَعَ ضَعْفِ الْعُدَّةِ وَمَزِيْدِ الْحَاجَةِ وَالْعِوَجِ وَفُقْدَانِ الْكُتُبِ وَمَعَ ذَلِكَ كَانَتْ رَغْبَتُهُمْ فِي الْعِلْمِ عَظِيْمَةً أَمَّا الْيَوْمُ فَقَدْ تَبَدَّلَ الْحَالُ فَتَهَيَّأَ لِلنَّاسِ مِنْ أَنْوَاعِ الْعُدَدِ وَالْآلَاتِ مَا يُعِينُهُمْ عَلَى الْعِلْمِ لَوْ صَدَقُوا فِي طَلَبِهِ لَكِنَّ شَهْوَتَهُم لِلْعِلْم ضَعُفَتْ فَضَعُفَ أَخْذُهُمْ لَهُ  


Cerita Menginspirasi: Begini Para Ulama Menjaga Waktunya – Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama Beliau menyebutkan apa yang disebutkan oleh ar-Rabi’untuk menguatkan perkataan ini, yaitu tentang keadaan Imam asy-Syafi’i beliau berkata: ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata, “Aku tidak pernah melihat asy-Syafi’i -radhiyallahu ‘anhu- makan di waktu siang dan tidur di waktu malam karena beliau sibuk menulis buku.” Dan yang dimaksud adalah kesungguhan beliau -rahimahullahu Ta’ala- dalam ilmu. Dari kesungguhan para ulama ini, terjadilah berbagai fenomena yang tidak masuk akal; akan tetapi orang yang sehat jiwanya dan suci hatinya maka ia akan melihatnya sebagai fenomena yang muncul dari orang-orang yang menyambut perkara agung. Dahulu para ulama sibuk dengan ilmu ketika sedang makan, sebagaimana dibacakan pada al-Bulqasi -rahimahullahu Ta’ala- ilmu qiraat ketika beliau sedang makan. Sebagian mereka juga dibacakan ilmu ketika dia sedang berada di dalam kamar mandi saat hendak buang hajat, sebagaimana dahulu Abdurrahman bin Abu Hatim yang membacakan pada ayahnya ketika ayahnya sedang buang hajat. Dan di antara para ulama juga, yaitu asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz -rahimahullahu Ta’ala- yang termasuk orang yang menghafal matan di saat berwudhu. Beliau hafal Alfiyah al-‘Iraqi di waktu-waktu beliau berwudhu. Ada orang yang membacakannya untuk beliau, lalu beliau menghafalnya dengan mendengar hingga beliau selesai menghafal matan ini di saat beliau berwudhu. Dan sebagian ulama di zaman dulu, dibacakan kepadanya -sebagai bentuk kesungguhan mereka dalam menuntut ilmu-, dibacakan kepadanya ketika dia berwudhu. Hal itu karena keinginan mereka terhadap ilmu sangat besar sehingga itu mengambil waktu-waktu mereka. Padahal perbekalan mereka sangat minim,dan berada dalam kekurangan dan kemiskinan, serta tidak adanya kitab-kitab; namun tetap saja semangat mereka terhadap ilmu begitu besar. Adapun sekarang, keadaan telah berubah telah tersedia bagi orang-orang berbagai fasilitas dan alat-alat yang dapat membantu mereka menuntut ilmu, andai mereka benar-benar menginginkannya, Akan tetapi keinginan mereka dalam menuntut ilmu telah melemah sehingga usaha mereka menuntut ilmu juga melemah. ================================ وَقَالَ ذَاكِرًا مَا ذَكَرَهُ الرَّبِيْعُ فِي تَصْدِيقِ قَوْلِ هَذَا الْقَائِلِ وَهُوَ حَالُ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ قَالَ قَالَ الرَّبِيعُ يَعْنِي ابْنُ سُلَيْمَانَ لَمْ أَرَ الشَّافِعِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ آكِلًا بِنَهَارٍ وَلَا نَائِمًا بِلَيْلٍ لِاشْتِغَالِهِ بِالتَّصْنِيْفِ وَالْمُرَادُ بِذَلِكَ كَمَالُ إِقْبَالِهِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى عَلَى الْعِلْمِ وَمِنْ كَمَالِ إِقْبَالِهِمْ صَارَتْ لَهُمْ أَحْوَالٌ لَا تُدْرِكُهَا الْعُقُولُ وَلَكِنْ مَنْ شَفَّتْ نَفْسُهُ وَصَفَا قَلْبُهُ رَأَى أَنَّ تِلْكَ الْأَحْوَالَ هِيَ أَحْوَالُ الْمُقْبِلِيْنَ عَلَى الْأُمُورِ الْعِظَامِ فَكَانُوا يَشْتَغِلُوْنَ بِالْعِلْمِ وَهُمْ عَلَى الطَّعَامِ كَمَا كَانَ يُقْرَأُ عَلَى الْبُلْقَاسِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى الْقِرَاءَاتِ وَهُوَ يَتَنَاوَلُ طَعَامَهُ وَكَمَا كَانَ بَعْضُهُمْ يُقْرَأُ عَلَيْهِ وَهُوَ فِي الْحَمَّامِ إِذَا أَرَادَ قَضَاءَ حَاجَتِهِ كَمَا كَانَ عَبْدُ الرَحْمَنِ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ يَقْرَأُ عَلَى أَبِيهِ وَهُوَ فِي حَالِ قَضَاءِ حَاجَتِهِ وَمِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ الشَّيْخُ عَبْدُ العَزِيزِ بْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى مَنْ حَفِظَ مَتْنًا حَالَ وُضُوئِهِ فَقَدْ حَفِظَ أَلْفِيَّةَ الْعِرَاقِيِّ فِي الْأَوْقَاتِ الَّتِي كَانَ يَتَوَضَّأُ فِيهَا فَكَانَ هُنَاكَ مَنْ يَعْرِضُ عَلَيْهِ وَهُوَ يَحْفَظُ بِسَمْعِهِ حَتَّى أَتَمَّ حِفْظَ هَذَا الْمَتْنِ حَالَ وُضُوئِهِ وَكَانَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الزَّمَنِ الْمَاضِي يُقْرَأُ عَلَيْهِ مِنْ مَزِيدِ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَى الْعِلْمِ كَانَ يُقْرَأُ عَلَيْهِ حَالَ وُضُوئِهِ كَذَلِكَ أَنَّ شَهْوَتَهُم لِلْعِلْمِ كَانَتْ عَظِيْمَةً فَكَانَتْ تَسْتَغْرِقُ أَوْقَاتَهُمْ مَعَ ضَعْفِ الْعُدَّةِ وَمَزِيْدِ الْحَاجَةِ وَالْعِوَجِ وَفُقْدَانِ الْكُتُبِ وَمَعَ ذَلِكَ كَانَتْ رَغْبَتُهُمْ فِي الْعِلْمِ عَظِيْمَةً أَمَّا الْيَوْمُ فَقَدْ تَبَدَّلَ الْحَالُ فَتَهَيَّأَ لِلنَّاسِ مِنْ أَنْوَاعِ الْعُدَدِ وَالْآلَاتِ مَا يُعِينُهُمْ عَلَى الْعِلْمِ لَوْ صَدَقُوا فِي طَلَبِهِ لَكِنَّ شَهْوَتَهُم لِلْعِلْم ضَعُفَتْ فَضَعُفَ أَخْذُهُمْ لَهُ  

Kisah Keluarga yang Allah Jaga karena Tauhid – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Kisah Keluarga yang Allah Jaga karena Tauhid – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Ketika tauhid mereka sempurna, hal itu membawa dampak besar pada mereka. Kamu mendapati dampak ketauhidan mereka terlihat pada rezeki, kesehatan, dan keturunan mereka. Sungguh hal yang menakjubkan. Saudara-saudara, sebagian keluarga yang pendahulu mereka dikenal memiliki ketauhidan yang kuat, kalian mendapati, Allah menjaga mereka hingga kini berkat tauhid mereka. Ada seseorang yang bernama Fulan Mukhalif al-Fulani. Dia berasal dari keluarga terkenal. Saudara-saudaraku, mengapa ia disebut dengan Mukhalif (penyelisih)? Apa sebabnya menurut kalian? Ya? Karena ia menyelisihi kesyirikan! Orang ini berasal dari tempat yang jauh dari negeri Najd. Ia mendengar dakwah tauhid. Lalu ia datang ke negeri Najd, dan kecintaan kepada tauhid merasuk ke dalam hatinya. Kemudian ia pergi ke kaumnya dan mengajak mereka kepada tauhid. Ketika itu negara Saudi yang pertama cukup kuat dan berkuasa atas negeri-negeri itu. Kemudian terjadilah tragedi ad-Dir’iyah, dan kekuatan negara Saudi yang pertama tersebut menjadi melemah, sehingga ia dikuasai oleh para musuhnya. Orang itu difitnah dan diadu domba dengan orang-orang Turki, dengan mengatakan bahwa orang ini kita panggil dengan sebutan “Fulan al-Fulani”. Orang turki berkata kepadanya, “Mengapa kamu dipanggil Fulan Mukhalif al-Fulani? Ia menjawab, “Karena aku menyelisihi orang-orang musyrik”. Ia menjawab, “Karena aku menyelisihi orang-orang musyrik”. Maka orang-orang turki menangkapnya, dan mengikat kedua tangannya dengan borgol. Namun ketika pagi tiba, mereka mendapati borgol yang mengikatnya telah terlepas. Maka pemimpin mereka berkata, “Ikat dia lagi. Siapa yang telah melepas ikatannya?” Maka mereka mengikatnya lagi. Pada pagi hari di hari kedua, mereka mendapati borgolnya terlepas lagi. Orang turki bertanya kepadanya, “Kamu memberi suap kepada salah satu tentara? Ataukah salah seorang terdekatmu memberi suap kepada mereka?” Dia menjawab “Aku sama sekali tidak memberi suap.” “Lalu siapa yang melepasnya?” Ia menjawab, “Aku tidak tau siapa yang melepaskan aku. Di pagi hari aku mendapatinya telah terlepas.” Pada malam ketiga, Ia menugaskan sekitar 20 pasukan untuk menjaganya, dan mengetatkan penjagaan. Namun ketika datang pagi di hari ketiga, dan saat itu mereka akan menjemputnya untuk membunuhnya. Pagi hari di hari ketiga itu, mereka mendapati borgolnya kembali terlepas. Maka orang turki itu berkata, “Jika orang ini kita bunuh, maka akan datang musibah kepada kita, bebaskan saja orang ini agar kembali kepada anak-anaknya.” Maka orang ini kembali kepada anak-anaknya. Ia memiliki banyak anak. Dan kaumnya berencana untuk membunuh satu anaknya setiap tahun, karena ia berada di atas tauhid. Mereka berkata, “Jika mereka tetap hidup, akan membawa keburukan bagi kita.” Sehingga mereka membunuh satu demi satu anaknya, hingga tersisa satu anak saja. Namun satu anak itu dikaruniai banyak keturunan yang masih ada hingga kini, dan mereka memiliki keimanan, keberkahan dan keshalihan yang baik. Lihatlah, bagaimana tauhid menjaga manusia? Dan orangtua mereka, lihatlah bagaimana ia diikat dengan borgol? Allah Subhanahu wa Ta’ala melepaskan borgol tersebut, membebaskan orang yang mengesakan-Nya. Tauhid-lah yang membebaskannya (Yaitu dengan sebab ia bertauhid) Pernah ada seseorang yang berkata kepadaku, “Aku pernah memasukkan tanganku ke lubang di kebun, berdasarkan bahasa asy-Syiban al-Awli, lalu tiba-tiba aku disengat kalajengking. Ia berkata, “Kalajengking, lalu aku membongkar pasirnya. Itu kalajengking yang hitam dan besar. Lalu aku memukulnya dan membunuhnya.” Ia berkata, “Aku membaca al-Fatihah tujuh kali dan aku tiupkan ke jariku, dan alhamdulillah aku sembuh.” Aku bertanya, “Kamu tidak pergi ke rumah sakit?” Ia menjawab, “Tidak, aku sudah sembuh alhamdulillah.” Lihatlah, dengan bacaan al-Fatihah tujuh kali,racun yang mematikan tidak bisa membunuhnya. Mengapa? Karena tauhid, aqidah. Aqidah yang benar. Ia mengimani al-Fatihah dengan makna-maknanya yang sesungguhnya. Sehingga setelah ia membacanya tujuh kali, ia tidak butuh dokter lagi. Mengapa? Karena tauhid tertanam kuat dalam hatinya. Maka saudara-saudara, manusia harus memperhatikan tauhid agar dapat mendekatkan dirinya kepada Allah. mendekatkan dirinya kepada Allah. Tauhid adalah yang terbaik bagimu; pada agamamu, duniamu, rezekimu, kesehatanmu, dan anak-anakmu. Tidak ada hal yang lebih agung dari mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak akan pernah ada. Kenikmatan yang kamu rasakan hari ini adalah berkat tauhid. Berkat tauhid! Bukan karena kekuatan, bukan pula pemilihan dari Allah ‘Azza wa Jalla bagi kalian bukan karena nasab, negeri, atau lainnya. Bukan! Itu berkat mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala! Inilah tauhid! Kamu bisa dapati orang-orang…Aku mengenal orang-orang yang bertauhid, Salah satu dari mereka mendirikan shalat 4 jam dalam semalam padahal ia berumur lebih dari 100 tahun. Ia berkata, “Tidaklah aku melewatkan satupun penduduk negeri ini; baik itu orang awam atau lainnya, melainkan aku berdoa untuknya. Dengan orang-orang seperti inilah manusia terjaga. Dengan orang-orang shalih, yang benar keimanannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Orang-orang yang tidak mengenal popularitas, kedudukan, dan pangkat. Berkat merekalah Allah ‘Azza wa Jalla menjaga manusia dalam perkara agama dan dunia mereka. Maka hendaklah setiap orang mempelajari tauhid agar dapat menjaga dirinya agar tidak menjadi penghuni Jahannam. Tauhid lebih baik bagimu di dunia dan akhirat. Maka ketika kamu menghadiri pelajaran tauhid, kamu jangan memandangnya sebagai wawasan saja, namun itu adalah agama yang mendekatkanmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika kamu membaca ayat, atau salah satu pelajaran tauhid, atau hadits tentang tauhid, lihatlah kandungan makna-makna tentang tauhidnya. Dan fokuskan hatimu padanya! Serta hayati makna-makna itu agar kamu mendapat pengaruhnya dalam dirimu. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menghidupkan kita di atas tauhid, Dan mewafatkan kita di atas tauhid. Demikian. ================================================= وَلِذَلِك هَؤُلَاءِ لَمَّا كَمُلَ تَوْحِيْدُهُمْ عَظُمَ أَثَرُهُ عَلَيْهِمْ أَثَرُهُ عَلَيْهِم تَجِدُهُ ظَاهِرٌ فِي أَرْزَاقِهِمْ فِي صِحَّتِهِمْ فِي ذُرِّيَّتِهِمْ شَيْءٌ عَجِيبٌ بَعْضُ الْبُيُوتِ يَا إِخْوَانُ الَّتِي شُهِرَ أَجْدَادُهُمْ بِالتَّوْحِيدِ تَجِدُ اللهَ حَافَظَهُمْ بِالتَّوْحِيْدِ إِلَى الْآنَ رَجُلٌ كَانَ اسْمَهُ فُلَانٌ مُخَالِفٌ الْفُلَانِيّ مِنْ إِحْدَى العَوَائِلِ الْمَعْرُوفَةِ لِأَيِّ شَيْئٍ هَذَا يَا إِخْوَانُ اسْمُهُ مُخَالِفٌ ؟ أَيَّ شَيْءٍ تَتَوَقَّعُوْنَ ؟ هَا ؟ مُخَالِفٌ لِلشِّرْكِ هَذَا الرَّجُلُ مِنْ بَلَدٍ مِنَ الْبُلْدَانِ الْبَعِيدَةِ عَنْ نَجْدٍ وَسَمِع بِدَعْوَةِ التَّوْحِيدِ فَقَدِمَ عَلَى نَجْدٍ وَأُشْرِبَ فِي قَلْبِهِ حُبُّ التَّوْحِيدِ وَذَهَبَ إِلَى قَوْمِهِ صَارَ يَدْعُوهُم بِالتَّوْحِيدِ وَكَانَتِ الدَّوْلَةُ السَّعُودِيَّةُ الْأُولَى قَوِيَّةٌ وَظَاهِرَةٌ عَلَى تِلْكَ الْبِلَادِ ثُمَّ صَارَ مَا صَارَ مِنَ النَّكْبَةِ الدِّرْعِيَّةِ وَتَقَاصُرِ حُكْمِ الدَّوْلَةِ السَّعُودِيَّةِ الْأُولَى فَتَسَلَّطَ عَلَيْهِ أَعْدَاؤُهُ وَوَشَوْا بِهِ إِلَى الْأَتْرَاكِ وَقَالُوا هَذَا نُسَمِّيْهِ فُلَانَ الْفُلَانِيّ قَالَ لَهُ التُّرْكِيُّ أَنْتَ لِأَيِّ شَيْئٍ فُلَانٌ مُخَالِفٌ الْفُلَانِيّ ؟ قَالَ لِأَنِّي مُخَالِفُ الْمُشْرِكِينَ قَالَ لِأَنِّي مُخَالِفُ الْمُشْرِكِينَ فَأَخَذُوهُ الْأَتْرَاكُ وَوَضَعُوا فِي يَدَيْهِ السَّلَاسِلَ فَلَمَّا أَصْبَحُوا وَجَدُوا هَذِهِ السَّلَاسِلَ مَفْكُوْكَةً فَقَالَ لَهُمُ الْقَائِدُ قَيِّدُوْهُ مَرَّةً ثَانِيَةً هَذَا مَنِ الَّذِي فَكَّهَا؟ فَقَيَّدُوْهُ لَمَّا جَاءُوا الْيَوْمَ الثَّانِي فِي الصَّبَاحِ وَجَدُوهَا مَفْكُوْكَةً قَالَ لَهُ التُّرْكِيُّ أَنْتَ مُعْطٍ هَذَا لِأَحَدِ الْعَسْكَرِ رِشْوَةً ؟ أَوْ أَحَدٌ مِنْ أَقَارِبِكَ مُعْطِي هَؤُلَاءِ رِشْوَةً ؟ قَال أَبَدًا مَا أَعْطَيْتُهُ قَالَ مَنِ الَّذِي فَكَّكَ ؟ قَالَ مَا أَدْرِي مَنِ الَّذِي فَكَّنِي أَنَا أَصْبَحْتُ وَأَنَا مَفْكُوكٌ فِي اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ وَضَعَ عِنْدَهُ نَحْوَ عِشْرِيْنَ جُنْدِيًّا وَأَكَّدَ عَلَيْهِ لَمَّا أَصْبَحَ اللَّيْلَةَ الثَّالِثَةَ وَكَانُوا يُرِيدُونَ أَنْ يَأْخُذُوهُ وَيَقْتُلُوْهُ لَمَّا أَصْبَحَ اللَّيْلَةَ الثَّالِثَةَ وَجَدَ هَذِهِ السَّلَاسِلَ مَحْلُولَةً مَفْكُوْكَةً فَقَالَ هَذَا التُّرْكِيُّ هَذَا الرَّجُلُ لَوْ قَتَلْنَاهُ سَيَأْتِيْنَا مِنْهُ بَلَاءٌ وَلَكِن أَطْلِقُوهُ يَرْجِعُ إِلَى أَوْلَادِهِ هَذَا الرَّجُلُ رَجَعَ إِلَى أَوْلَادِهِ وَكَانَ لَهُ عِدَّةُ أَوْلَادٍ فَتَآمَرَ قَوْمُهُ أَنْ يَقْتُلُوا مِنْ أَوْلَادِهِ كُلَّ سَنَةٍ وَاحِدًا لِأَنَّهُ عَلَى التَّوْحِيدِ قَالُوا هَذَا إِذَا بَقُوا شَرًّا عَلَيْنَا فَلَمْ يَزَالُوا يَقْتُلُونَ وَاحِدًا وَاحِدًا حَتَّى بَقِيَ مِنْهُمْ وَاحِدٌ وَأَنْجَبَ ذُرِّيَّةً مَوْجُودِينَ إِلَى الْيَوْمِ فِيهِمْ دِيْنٌ وَخَيْرٌ وَصَلَاحٌ شُفْ التَّوْحِيدَ كَيْفَ يَحْفَظُ الْإِنْسَانَ ؟ وَوَالِدُهُمْ أَنْ تَنْظُرَ كَيْفَ أَنَّ هَذَا يُقَيَّدُ بِالسَّلَاسِلَ؟ يُفَكِّكُهَا مَنْ وَحَّدَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى التَّوْحِيدُ هُوَ الَّذِي يُفَكِّكُهَا عَنْه رَجُلٌ مَرَّةً قَالَ لِي أَنَا كُنْتُ دَخَّلْتُ يَدِي فِي الْمَزْرَعَةِ فِي الْحِيَالَةِ عَلَى لُغَةِ الشِّيْبَانِ الْأَوْلِيّ وَقَرَصَتْنِي عَقْرَبٌ يَقُولُ عَقْرَبٌ يَقُولُ اليَوْمَ رَفَعْتُ الْحَصَى وَقَالَ لِي ذَلِكَ الْعَقْرَبَةُ السَّوْدَاءُ الْكَبِيرَةُ وَأَنَا أَضْرِبُهَا وَأَذْبَحُهَا يَقُولُ وَأَنَا أَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ سَبْعَ مَرَّاتٍ وَأَنْفُثُ عَلَى أُصْبُعِي وَالْحَمْدُ لِلهِ طِبْتُ قُلْت لَهُ مَا رَحْتَ فِي الْمُسْتَشْفَى ؟ قَالَ لَا طِبْتُ الْحَمْدُ لِلهِ شُفْ الْفَاتِحَةَ سَبْعَ مَرَّاتٍ السُّمُّ الَّذِي يَقْتُلُ مَا قَتَلَهُ لِيْش ؟ التَّوْحِيْدُ الْعَقِيدَةُ الْعَقِيدَةُ الصَّادِقَةُ يُؤْمِنُ بِهَذِه الْفَاتِحَةِ بِمَعَانِيهَا الْحَقَّةِ فَلِذَلِك قَرَأَهَا سَبْعَ مَرَّاتٍ مَا احْتَاجَ إِلَى طَبِيبٍ لِمَاذَا ؟ لِأَنَّ التَّوْحِيدَ قَوِيٌّ فِي قَلْبِهِ وَلِذَلِك الْإِنْسَانُ يَا إِخْوَانِي يَحْرِصُ عَلَى التَّوْحِيدِ لِيُقَرِّبَهُ إِلَى اللهِ يُقَرِّبَهُ إِلَى اللهِ التَّوْحِيدُ خَيْرٌ لَكَ فِي دِينِكَ فِي دُنْيَاكَ فِي رِزْقِكَ فِي صِحَّتِكَ فِي أَوْلَادِكَ لَا تَجِدُ الشَّيْءَ أَعْظَمَ مِنْ تَوْحِيدِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَبَدًا مَا أَنْتُمْ فِيهِ الْيَوْمَ هُوَ مِنَ التَّوْحِيدِ مِنَ التَّوْحِيدِ، تَرَى مَا هُوَ بِقُوَّةٍ وَلَا اصْطِفَاءٍ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَكُمْ لِأَجْلِ أَنْسَابِكُم وَلَا أَرْضِكُم وَلَا غَيْرِهَا، لَا هُوَ بِتَوْحِيدِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذَا التَّوْحِيدُ تَجِدُ فِيْهِ أُنَاسًا أَعْرِفُ أُنَاسًا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ يُصَلِّي أَحَدُهُمْ فِي اللَّيْلِ أَرْبَعَ سَاعَاتٍ مِمَّنْ هُوَ فَوْقَ الْمِئَةِ يَقُولُ لَا أَتْرُكُ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ هَذِهِ الْبَلَدِ خَاصٍّ وَعَامٍّ إِلَّا دَعَوْتُ لَهُ بِهَؤُلَاء يُحْفَظُ النَّاسُ بِالصَّالِحِينَ هَؤُلَاءِ الصَّادِقِينَ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِينَ لَا يَعْرِفُونَ الفَلَاشَاتِ وَلَا الْمَنَاصِبَ وَلَا الرِّئَاسَاتِ هُمُ الَّذِينَ يَحْفَظُ بِهِمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَحْفَظُ بِهِمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ النَّاسَ فِي دِينِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ وَلِذَلِك الْإِنْسَانُ يَتَعَلَّمُ التَّوْحِيدَ كَي يَحْفَظَ نَفْسَهُ مِنْ أَنْ يَكُونَ مِنْ جُثَى جَهَنَّمَ التَّوْحِيْدُ خَيرٌ لَكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَأَنْتَ عِنْدَمَا تَأْتِي عَنْ دَرْسِ التَّوْحِيدِ تَرَى مَا هُوَ بِثَقَافَةٍ إِنَّمَا هُوَ دِينٌ يُقَرِّبُكَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَأَنْتَ إِذًا قَرَأْتَ آيَةً أَوْ بَابًا مِنْ أَبْوَابِ التَّوْحِيدِ أَوْ حَدِيثًا فِيهِ أَنْتَ اُنْظُرْ مَا فِيهَا مِنَ الْمَعَانِي التَّوْحِيدِيَّةِ وَاجْمَعْ قَلْبَكَ عَلَيْهَا وَتَلَذُّذْ بِهَا كَي تَجِدَ أَثَرَهَا فِي نَفْسِكَ نَسْأَلُ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُحْيِيَنَا وَإِيَّاكُمْ عَلَى التَّوْحِيدِ وَأَنْ يَتَوَفَّنَا عَلَى التَّوْحِيدِ. نَعَمْ

Kisah Keluarga yang Allah Jaga karena Tauhid – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Kisah Keluarga yang Allah Jaga karena Tauhid – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Ketika tauhid mereka sempurna, hal itu membawa dampak besar pada mereka. Kamu mendapati dampak ketauhidan mereka terlihat pada rezeki, kesehatan, dan keturunan mereka. Sungguh hal yang menakjubkan. Saudara-saudara, sebagian keluarga yang pendahulu mereka dikenal memiliki ketauhidan yang kuat, kalian mendapati, Allah menjaga mereka hingga kini berkat tauhid mereka. Ada seseorang yang bernama Fulan Mukhalif al-Fulani. Dia berasal dari keluarga terkenal. Saudara-saudaraku, mengapa ia disebut dengan Mukhalif (penyelisih)? Apa sebabnya menurut kalian? Ya? Karena ia menyelisihi kesyirikan! Orang ini berasal dari tempat yang jauh dari negeri Najd. Ia mendengar dakwah tauhid. Lalu ia datang ke negeri Najd, dan kecintaan kepada tauhid merasuk ke dalam hatinya. Kemudian ia pergi ke kaumnya dan mengajak mereka kepada tauhid. Ketika itu negara Saudi yang pertama cukup kuat dan berkuasa atas negeri-negeri itu. Kemudian terjadilah tragedi ad-Dir’iyah, dan kekuatan negara Saudi yang pertama tersebut menjadi melemah, sehingga ia dikuasai oleh para musuhnya. Orang itu difitnah dan diadu domba dengan orang-orang Turki, dengan mengatakan bahwa orang ini kita panggil dengan sebutan “Fulan al-Fulani”. Orang turki berkata kepadanya, “Mengapa kamu dipanggil Fulan Mukhalif al-Fulani? Ia menjawab, “Karena aku menyelisihi orang-orang musyrik”. Ia menjawab, “Karena aku menyelisihi orang-orang musyrik”. Maka orang-orang turki menangkapnya, dan mengikat kedua tangannya dengan borgol. Namun ketika pagi tiba, mereka mendapati borgol yang mengikatnya telah terlepas. Maka pemimpin mereka berkata, “Ikat dia lagi. Siapa yang telah melepas ikatannya?” Maka mereka mengikatnya lagi. Pada pagi hari di hari kedua, mereka mendapati borgolnya terlepas lagi. Orang turki bertanya kepadanya, “Kamu memberi suap kepada salah satu tentara? Ataukah salah seorang terdekatmu memberi suap kepada mereka?” Dia menjawab “Aku sama sekali tidak memberi suap.” “Lalu siapa yang melepasnya?” Ia menjawab, “Aku tidak tau siapa yang melepaskan aku. Di pagi hari aku mendapatinya telah terlepas.” Pada malam ketiga, Ia menugaskan sekitar 20 pasukan untuk menjaganya, dan mengetatkan penjagaan. Namun ketika datang pagi di hari ketiga, dan saat itu mereka akan menjemputnya untuk membunuhnya. Pagi hari di hari ketiga itu, mereka mendapati borgolnya kembali terlepas. Maka orang turki itu berkata, “Jika orang ini kita bunuh, maka akan datang musibah kepada kita, bebaskan saja orang ini agar kembali kepada anak-anaknya.” Maka orang ini kembali kepada anak-anaknya. Ia memiliki banyak anak. Dan kaumnya berencana untuk membunuh satu anaknya setiap tahun, karena ia berada di atas tauhid. Mereka berkata, “Jika mereka tetap hidup, akan membawa keburukan bagi kita.” Sehingga mereka membunuh satu demi satu anaknya, hingga tersisa satu anak saja. Namun satu anak itu dikaruniai banyak keturunan yang masih ada hingga kini, dan mereka memiliki keimanan, keberkahan dan keshalihan yang baik. Lihatlah, bagaimana tauhid menjaga manusia? Dan orangtua mereka, lihatlah bagaimana ia diikat dengan borgol? Allah Subhanahu wa Ta’ala melepaskan borgol tersebut, membebaskan orang yang mengesakan-Nya. Tauhid-lah yang membebaskannya (Yaitu dengan sebab ia bertauhid) Pernah ada seseorang yang berkata kepadaku, “Aku pernah memasukkan tanganku ke lubang di kebun, berdasarkan bahasa asy-Syiban al-Awli, lalu tiba-tiba aku disengat kalajengking. Ia berkata, “Kalajengking, lalu aku membongkar pasirnya. Itu kalajengking yang hitam dan besar. Lalu aku memukulnya dan membunuhnya.” Ia berkata, “Aku membaca al-Fatihah tujuh kali dan aku tiupkan ke jariku, dan alhamdulillah aku sembuh.” Aku bertanya, “Kamu tidak pergi ke rumah sakit?” Ia menjawab, “Tidak, aku sudah sembuh alhamdulillah.” Lihatlah, dengan bacaan al-Fatihah tujuh kali,racun yang mematikan tidak bisa membunuhnya. Mengapa? Karena tauhid, aqidah. Aqidah yang benar. Ia mengimani al-Fatihah dengan makna-maknanya yang sesungguhnya. Sehingga setelah ia membacanya tujuh kali, ia tidak butuh dokter lagi. Mengapa? Karena tauhid tertanam kuat dalam hatinya. Maka saudara-saudara, manusia harus memperhatikan tauhid agar dapat mendekatkan dirinya kepada Allah. mendekatkan dirinya kepada Allah. Tauhid adalah yang terbaik bagimu; pada agamamu, duniamu, rezekimu, kesehatanmu, dan anak-anakmu. Tidak ada hal yang lebih agung dari mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak akan pernah ada. Kenikmatan yang kamu rasakan hari ini adalah berkat tauhid. Berkat tauhid! Bukan karena kekuatan, bukan pula pemilihan dari Allah ‘Azza wa Jalla bagi kalian bukan karena nasab, negeri, atau lainnya. Bukan! Itu berkat mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala! Inilah tauhid! Kamu bisa dapati orang-orang…Aku mengenal orang-orang yang bertauhid, Salah satu dari mereka mendirikan shalat 4 jam dalam semalam padahal ia berumur lebih dari 100 tahun. Ia berkata, “Tidaklah aku melewatkan satupun penduduk negeri ini; baik itu orang awam atau lainnya, melainkan aku berdoa untuknya. Dengan orang-orang seperti inilah manusia terjaga. Dengan orang-orang shalih, yang benar keimanannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Orang-orang yang tidak mengenal popularitas, kedudukan, dan pangkat. Berkat merekalah Allah ‘Azza wa Jalla menjaga manusia dalam perkara agama dan dunia mereka. Maka hendaklah setiap orang mempelajari tauhid agar dapat menjaga dirinya agar tidak menjadi penghuni Jahannam. Tauhid lebih baik bagimu di dunia dan akhirat. Maka ketika kamu menghadiri pelajaran tauhid, kamu jangan memandangnya sebagai wawasan saja, namun itu adalah agama yang mendekatkanmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika kamu membaca ayat, atau salah satu pelajaran tauhid, atau hadits tentang tauhid, lihatlah kandungan makna-makna tentang tauhidnya. Dan fokuskan hatimu padanya! Serta hayati makna-makna itu agar kamu mendapat pengaruhnya dalam dirimu. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menghidupkan kita di atas tauhid, Dan mewafatkan kita di atas tauhid. Demikian. ================================================= وَلِذَلِك هَؤُلَاءِ لَمَّا كَمُلَ تَوْحِيْدُهُمْ عَظُمَ أَثَرُهُ عَلَيْهِمْ أَثَرُهُ عَلَيْهِم تَجِدُهُ ظَاهِرٌ فِي أَرْزَاقِهِمْ فِي صِحَّتِهِمْ فِي ذُرِّيَّتِهِمْ شَيْءٌ عَجِيبٌ بَعْضُ الْبُيُوتِ يَا إِخْوَانُ الَّتِي شُهِرَ أَجْدَادُهُمْ بِالتَّوْحِيدِ تَجِدُ اللهَ حَافَظَهُمْ بِالتَّوْحِيْدِ إِلَى الْآنَ رَجُلٌ كَانَ اسْمَهُ فُلَانٌ مُخَالِفٌ الْفُلَانِيّ مِنْ إِحْدَى العَوَائِلِ الْمَعْرُوفَةِ لِأَيِّ شَيْئٍ هَذَا يَا إِخْوَانُ اسْمُهُ مُخَالِفٌ ؟ أَيَّ شَيْءٍ تَتَوَقَّعُوْنَ ؟ هَا ؟ مُخَالِفٌ لِلشِّرْكِ هَذَا الرَّجُلُ مِنْ بَلَدٍ مِنَ الْبُلْدَانِ الْبَعِيدَةِ عَنْ نَجْدٍ وَسَمِع بِدَعْوَةِ التَّوْحِيدِ فَقَدِمَ عَلَى نَجْدٍ وَأُشْرِبَ فِي قَلْبِهِ حُبُّ التَّوْحِيدِ وَذَهَبَ إِلَى قَوْمِهِ صَارَ يَدْعُوهُم بِالتَّوْحِيدِ وَكَانَتِ الدَّوْلَةُ السَّعُودِيَّةُ الْأُولَى قَوِيَّةٌ وَظَاهِرَةٌ عَلَى تِلْكَ الْبِلَادِ ثُمَّ صَارَ مَا صَارَ مِنَ النَّكْبَةِ الدِّرْعِيَّةِ وَتَقَاصُرِ حُكْمِ الدَّوْلَةِ السَّعُودِيَّةِ الْأُولَى فَتَسَلَّطَ عَلَيْهِ أَعْدَاؤُهُ وَوَشَوْا بِهِ إِلَى الْأَتْرَاكِ وَقَالُوا هَذَا نُسَمِّيْهِ فُلَانَ الْفُلَانِيّ قَالَ لَهُ التُّرْكِيُّ أَنْتَ لِأَيِّ شَيْئٍ فُلَانٌ مُخَالِفٌ الْفُلَانِيّ ؟ قَالَ لِأَنِّي مُخَالِفُ الْمُشْرِكِينَ قَالَ لِأَنِّي مُخَالِفُ الْمُشْرِكِينَ فَأَخَذُوهُ الْأَتْرَاكُ وَوَضَعُوا فِي يَدَيْهِ السَّلَاسِلَ فَلَمَّا أَصْبَحُوا وَجَدُوا هَذِهِ السَّلَاسِلَ مَفْكُوْكَةً فَقَالَ لَهُمُ الْقَائِدُ قَيِّدُوْهُ مَرَّةً ثَانِيَةً هَذَا مَنِ الَّذِي فَكَّهَا؟ فَقَيَّدُوْهُ لَمَّا جَاءُوا الْيَوْمَ الثَّانِي فِي الصَّبَاحِ وَجَدُوهَا مَفْكُوْكَةً قَالَ لَهُ التُّرْكِيُّ أَنْتَ مُعْطٍ هَذَا لِأَحَدِ الْعَسْكَرِ رِشْوَةً ؟ أَوْ أَحَدٌ مِنْ أَقَارِبِكَ مُعْطِي هَؤُلَاءِ رِشْوَةً ؟ قَال أَبَدًا مَا أَعْطَيْتُهُ قَالَ مَنِ الَّذِي فَكَّكَ ؟ قَالَ مَا أَدْرِي مَنِ الَّذِي فَكَّنِي أَنَا أَصْبَحْتُ وَأَنَا مَفْكُوكٌ فِي اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ وَضَعَ عِنْدَهُ نَحْوَ عِشْرِيْنَ جُنْدِيًّا وَأَكَّدَ عَلَيْهِ لَمَّا أَصْبَحَ اللَّيْلَةَ الثَّالِثَةَ وَكَانُوا يُرِيدُونَ أَنْ يَأْخُذُوهُ وَيَقْتُلُوْهُ لَمَّا أَصْبَحَ اللَّيْلَةَ الثَّالِثَةَ وَجَدَ هَذِهِ السَّلَاسِلَ مَحْلُولَةً مَفْكُوْكَةً فَقَالَ هَذَا التُّرْكِيُّ هَذَا الرَّجُلُ لَوْ قَتَلْنَاهُ سَيَأْتِيْنَا مِنْهُ بَلَاءٌ وَلَكِن أَطْلِقُوهُ يَرْجِعُ إِلَى أَوْلَادِهِ هَذَا الرَّجُلُ رَجَعَ إِلَى أَوْلَادِهِ وَكَانَ لَهُ عِدَّةُ أَوْلَادٍ فَتَآمَرَ قَوْمُهُ أَنْ يَقْتُلُوا مِنْ أَوْلَادِهِ كُلَّ سَنَةٍ وَاحِدًا لِأَنَّهُ عَلَى التَّوْحِيدِ قَالُوا هَذَا إِذَا بَقُوا شَرًّا عَلَيْنَا فَلَمْ يَزَالُوا يَقْتُلُونَ وَاحِدًا وَاحِدًا حَتَّى بَقِيَ مِنْهُمْ وَاحِدٌ وَأَنْجَبَ ذُرِّيَّةً مَوْجُودِينَ إِلَى الْيَوْمِ فِيهِمْ دِيْنٌ وَخَيْرٌ وَصَلَاحٌ شُفْ التَّوْحِيدَ كَيْفَ يَحْفَظُ الْإِنْسَانَ ؟ وَوَالِدُهُمْ أَنْ تَنْظُرَ كَيْفَ أَنَّ هَذَا يُقَيَّدُ بِالسَّلَاسِلَ؟ يُفَكِّكُهَا مَنْ وَحَّدَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى التَّوْحِيدُ هُوَ الَّذِي يُفَكِّكُهَا عَنْه رَجُلٌ مَرَّةً قَالَ لِي أَنَا كُنْتُ دَخَّلْتُ يَدِي فِي الْمَزْرَعَةِ فِي الْحِيَالَةِ عَلَى لُغَةِ الشِّيْبَانِ الْأَوْلِيّ وَقَرَصَتْنِي عَقْرَبٌ يَقُولُ عَقْرَبٌ يَقُولُ اليَوْمَ رَفَعْتُ الْحَصَى وَقَالَ لِي ذَلِكَ الْعَقْرَبَةُ السَّوْدَاءُ الْكَبِيرَةُ وَأَنَا أَضْرِبُهَا وَأَذْبَحُهَا يَقُولُ وَأَنَا أَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ سَبْعَ مَرَّاتٍ وَأَنْفُثُ عَلَى أُصْبُعِي وَالْحَمْدُ لِلهِ طِبْتُ قُلْت لَهُ مَا رَحْتَ فِي الْمُسْتَشْفَى ؟ قَالَ لَا طِبْتُ الْحَمْدُ لِلهِ شُفْ الْفَاتِحَةَ سَبْعَ مَرَّاتٍ السُّمُّ الَّذِي يَقْتُلُ مَا قَتَلَهُ لِيْش ؟ التَّوْحِيْدُ الْعَقِيدَةُ الْعَقِيدَةُ الصَّادِقَةُ يُؤْمِنُ بِهَذِه الْفَاتِحَةِ بِمَعَانِيهَا الْحَقَّةِ فَلِذَلِك قَرَأَهَا سَبْعَ مَرَّاتٍ مَا احْتَاجَ إِلَى طَبِيبٍ لِمَاذَا ؟ لِأَنَّ التَّوْحِيدَ قَوِيٌّ فِي قَلْبِهِ وَلِذَلِك الْإِنْسَانُ يَا إِخْوَانِي يَحْرِصُ عَلَى التَّوْحِيدِ لِيُقَرِّبَهُ إِلَى اللهِ يُقَرِّبَهُ إِلَى اللهِ التَّوْحِيدُ خَيْرٌ لَكَ فِي دِينِكَ فِي دُنْيَاكَ فِي رِزْقِكَ فِي صِحَّتِكَ فِي أَوْلَادِكَ لَا تَجِدُ الشَّيْءَ أَعْظَمَ مِنْ تَوْحِيدِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَبَدًا مَا أَنْتُمْ فِيهِ الْيَوْمَ هُوَ مِنَ التَّوْحِيدِ مِنَ التَّوْحِيدِ، تَرَى مَا هُوَ بِقُوَّةٍ وَلَا اصْطِفَاءٍ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَكُمْ لِأَجْلِ أَنْسَابِكُم وَلَا أَرْضِكُم وَلَا غَيْرِهَا، لَا هُوَ بِتَوْحِيدِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذَا التَّوْحِيدُ تَجِدُ فِيْهِ أُنَاسًا أَعْرِفُ أُنَاسًا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ يُصَلِّي أَحَدُهُمْ فِي اللَّيْلِ أَرْبَعَ سَاعَاتٍ مِمَّنْ هُوَ فَوْقَ الْمِئَةِ يَقُولُ لَا أَتْرُكُ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ هَذِهِ الْبَلَدِ خَاصٍّ وَعَامٍّ إِلَّا دَعَوْتُ لَهُ بِهَؤُلَاء يُحْفَظُ النَّاسُ بِالصَّالِحِينَ هَؤُلَاءِ الصَّادِقِينَ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِينَ لَا يَعْرِفُونَ الفَلَاشَاتِ وَلَا الْمَنَاصِبَ وَلَا الرِّئَاسَاتِ هُمُ الَّذِينَ يَحْفَظُ بِهِمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَحْفَظُ بِهِمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ النَّاسَ فِي دِينِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ وَلِذَلِك الْإِنْسَانُ يَتَعَلَّمُ التَّوْحِيدَ كَي يَحْفَظَ نَفْسَهُ مِنْ أَنْ يَكُونَ مِنْ جُثَى جَهَنَّمَ التَّوْحِيْدُ خَيرٌ لَكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَأَنْتَ عِنْدَمَا تَأْتِي عَنْ دَرْسِ التَّوْحِيدِ تَرَى مَا هُوَ بِثَقَافَةٍ إِنَّمَا هُوَ دِينٌ يُقَرِّبُكَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَأَنْتَ إِذًا قَرَأْتَ آيَةً أَوْ بَابًا مِنْ أَبْوَابِ التَّوْحِيدِ أَوْ حَدِيثًا فِيهِ أَنْتَ اُنْظُرْ مَا فِيهَا مِنَ الْمَعَانِي التَّوْحِيدِيَّةِ وَاجْمَعْ قَلْبَكَ عَلَيْهَا وَتَلَذُّذْ بِهَا كَي تَجِدَ أَثَرَهَا فِي نَفْسِكَ نَسْأَلُ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُحْيِيَنَا وَإِيَّاكُمْ عَلَى التَّوْحِيدِ وَأَنْ يَتَوَفَّنَا عَلَى التَّوْحِيدِ. نَعَمْ
Kisah Keluarga yang Allah Jaga karena Tauhid – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Ketika tauhid mereka sempurna, hal itu membawa dampak besar pada mereka. Kamu mendapati dampak ketauhidan mereka terlihat pada rezeki, kesehatan, dan keturunan mereka. Sungguh hal yang menakjubkan. Saudara-saudara, sebagian keluarga yang pendahulu mereka dikenal memiliki ketauhidan yang kuat, kalian mendapati, Allah menjaga mereka hingga kini berkat tauhid mereka. Ada seseorang yang bernama Fulan Mukhalif al-Fulani. Dia berasal dari keluarga terkenal. Saudara-saudaraku, mengapa ia disebut dengan Mukhalif (penyelisih)? Apa sebabnya menurut kalian? Ya? Karena ia menyelisihi kesyirikan! Orang ini berasal dari tempat yang jauh dari negeri Najd. Ia mendengar dakwah tauhid. Lalu ia datang ke negeri Najd, dan kecintaan kepada tauhid merasuk ke dalam hatinya. Kemudian ia pergi ke kaumnya dan mengajak mereka kepada tauhid. Ketika itu negara Saudi yang pertama cukup kuat dan berkuasa atas negeri-negeri itu. Kemudian terjadilah tragedi ad-Dir’iyah, dan kekuatan negara Saudi yang pertama tersebut menjadi melemah, sehingga ia dikuasai oleh para musuhnya. Orang itu difitnah dan diadu domba dengan orang-orang Turki, dengan mengatakan bahwa orang ini kita panggil dengan sebutan “Fulan al-Fulani”. Orang turki berkata kepadanya, “Mengapa kamu dipanggil Fulan Mukhalif al-Fulani? Ia menjawab, “Karena aku menyelisihi orang-orang musyrik”. Ia menjawab, “Karena aku menyelisihi orang-orang musyrik”. Maka orang-orang turki menangkapnya, dan mengikat kedua tangannya dengan borgol. Namun ketika pagi tiba, mereka mendapati borgol yang mengikatnya telah terlepas. Maka pemimpin mereka berkata, “Ikat dia lagi. Siapa yang telah melepas ikatannya?” Maka mereka mengikatnya lagi. Pada pagi hari di hari kedua, mereka mendapati borgolnya terlepas lagi. Orang turki bertanya kepadanya, “Kamu memberi suap kepada salah satu tentara? Ataukah salah seorang terdekatmu memberi suap kepada mereka?” Dia menjawab “Aku sama sekali tidak memberi suap.” “Lalu siapa yang melepasnya?” Ia menjawab, “Aku tidak tau siapa yang melepaskan aku. Di pagi hari aku mendapatinya telah terlepas.” Pada malam ketiga, Ia menugaskan sekitar 20 pasukan untuk menjaganya, dan mengetatkan penjagaan. Namun ketika datang pagi di hari ketiga, dan saat itu mereka akan menjemputnya untuk membunuhnya. Pagi hari di hari ketiga itu, mereka mendapati borgolnya kembali terlepas. Maka orang turki itu berkata, “Jika orang ini kita bunuh, maka akan datang musibah kepada kita, bebaskan saja orang ini agar kembali kepada anak-anaknya.” Maka orang ini kembali kepada anak-anaknya. Ia memiliki banyak anak. Dan kaumnya berencana untuk membunuh satu anaknya setiap tahun, karena ia berada di atas tauhid. Mereka berkata, “Jika mereka tetap hidup, akan membawa keburukan bagi kita.” Sehingga mereka membunuh satu demi satu anaknya, hingga tersisa satu anak saja. Namun satu anak itu dikaruniai banyak keturunan yang masih ada hingga kini, dan mereka memiliki keimanan, keberkahan dan keshalihan yang baik. Lihatlah, bagaimana tauhid menjaga manusia? Dan orangtua mereka, lihatlah bagaimana ia diikat dengan borgol? Allah Subhanahu wa Ta’ala melepaskan borgol tersebut, membebaskan orang yang mengesakan-Nya. Tauhid-lah yang membebaskannya (Yaitu dengan sebab ia bertauhid) Pernah ada seseorang yang berkata kepadaku, “Aku pernah memasukkan tanganku ke lubang di kebun, berdasarkan bahasa asy-Syiban al-Awli, lalu tiba-tiba aku disengat kalajengking. Ia berkata, “Kalajengking, lalu aku membongkar pasirnya. Itu kalajengking yang hitam dan besar. Lalu aku memukulnya dan membunuhnya.” Ia berkata, “Aku membaca al-Fatihah tujuh kali dan aku tiupkan ke jariku, dan alhamdulillah aku sembuh.” Aku bertanya, “Kamu tidak pergi ke rumah sakit?” Ia menjawab, “Tidak, aku sudah sembuh alhamdulillah.” Lihatlah, dengan bacaan al-Fatihah tujuh kali,racun yang mematikan tidak bisa membunuhnya. Mengapa? Karena tauhid, aqidah. Aqidah yang benar. Ia mengimani al-Fatihah dengan makna-maknanya yang sesungguhnya. Sehingga setelah ia membacanya tujuh kali, ia tidak butuh dokter lagi. Mengapa? Karena tauhid tertanam kuat dalam hatinya. Maka saudara-saudara, manusia harus memperhatikan tauhid agar dapat mendekatkan dirinya kepada Allah. mendekatkan dirinya kepada Allah. Tauhid adalah yang terbaik bagimu; pada agamamu, duniamu, rezekimu, kesehatanmu, dan anak-anakmu. Tidak ada hal yang lebih agung dari mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak akan pernah ada. Kenikmatan yang kamu rasakan hari ini adalah berkat tauhid. Berkat tauhid! Bukan karena kekuatan, bukan pula pemilihan dari Allah ‘Azza wa Jalla bagi kalian bukan karena nasab, negeri, atau lainnya. Bukan! Itu berkat mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala! Inilah tauhid! Kamu bisa dapati orang-orang…Aku mengenal orang-orang yang bertauhid, Salah satu dari mereka mendirikan shalat 4 jam dalam semalam padahal ia berumur lebih dari 100 tahun. Ia berkata, “Tidaklah aku melewatkan satupun penduduk negeri ini; baik itu orang awam atau lainnya, melainkan aku berdoa untuknya. Dengan orang-orang seperti inilah manusia terjaga. Dengan orang-orang shalih, yang benar keimanannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Orang-orang yang tidak mengenal popularitas, kedudukan, dan pangkat. Berkat merekalah Allah ‘Azza wa Jalla menjaga manusia dalam perkara agama dan dunia mereka. Maka hendaklah setiap orang mempelajari tauhid agar dapat menjaga dirinya agar tidak menjadi penghuni Jahannam. Tauhid lebih baik bagimu di dunia dan akhirat. Maka ketika kamu menghadiri pelajaran tauhid, kamu jangan memandangnya sebagai wawasan saja, namun itu adalah agama yang mendekatkanmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika kamu membaca ayat, atau salah satu pelajaran tauhid, atau hadits tentang tauhid, lihatlah kandungan makna-makna tentang tauhidnya. Dan fokuskan hatimu padanya! Serta hayati makna-makna itu agar kamu mendapat pengaruhnya dalam dirimu. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menghidupkan kita di atas tauhid, Dan mewafatkan kita di atas tauhid. Demikian. ================================================= وَلِذَلِك هَؤُلَاءِ لَمَّا كَمُلَ تَوْحِيْدُهُمْ عَظُمَ أَثَرُهُ عَلَيْهِمْ أَثَرُهُ عَلَيْهِم تَجِدُهُ ظَاهِرٌ فِي أَرْزَاقِهِمْ فِي صِحَّتِهِمْ فِي ذُرِّيَّتِهِمْ شَيْءٌ عَجِيبٌ بَعْضُ الْبُيُوتِ يَا إِخْوَانُ الَّتِي شُهِرَ أَجْدَادُهُمْ بِالتَّوْحِيدِ تَجِدُ اللهَ حَافَظَهُمْ بِالتَّوْحِيْدِ إِلَى الْآنَ رَجُلٌ كَانَ اسْمَهُ فُلَانٌ مُخَالِفٌ الْفُلَانِيّ مِنْ إِحْدَى العَوَائِلِ الْمَعْرُوفَةِ لِأَيِّ شَيْئٍ هَذَا يَا إِخْوَانُ اسْمُهُ مُخَالِفٌ ؟ أَيَّ شَيْءٍ تَتَوَقَّعُوْنَ ؟ هَا ؟ مُخَالِفٌ لِلشِّرْكِ هَذَا الرَّجُلُ مِنْ بَلَدٍ مِنَ الْبُلْدَانِ الْبَعِيدَةِ عَنْ نَجْدٍ وَسَمِع بِدَعْوَةِ التَّوْحِيدِ فَقَدِمَ عَلَى نَجْدٍ وَأُشْرِبَ فِي قَلْبِهِ حُبُّ التَّوْحِيدِ وَذَهَبَ إِلَى قَوْمِهِ صَارَ يَدْعُوهُم بِالتَّوْحِيدِ وَكَانَتِ الدَّوْلَةُ السَّعُودِيَّةُ الْأُولَى قَوِيَّةٌ وَظَاهِرَةٌ عَلَى تِلْكَ الْبِلَادِ ثُمَّ صَارَ مَا صَارَ مِنَ النَّكْبَةِ الدِّرْعِيَّةِ وَتَقَاصُرِ حُكْمِ الدَّوْلَةِ السَّعُودِيَّةِ الْأُولَى فَتَسَلَّطَ عَلَيْهِ أَعْدَاؤُهُ وَوَشَوْا بِهِ إِلَى الْأَتْرَاكِ وَقَالُوا هَذَا نُسَمِّيْهِ فُلَانَ الْفُلَانِيّ قَالَ لَهُ التُّرْكِيُّ أَنْتَ لِأَيِّ شَيْئٍ فُلَانٌ مُخَالِفٌ الْفُلَانِيّ ؟ قَالَ لِأَنِّي مُخَالِفُ الْمُشْرِكِينَ قَالَ لِأَنِّي مُخَالِفُ الْمُشْرِكِينَ فَأَخَذُوهُ الْأَتْرَاكُ وَوَضَعُوا فِي يَدَيْهِ السَّلَاسِلَ فَلَمَّا أَصْبَحُوا وَجَدُوا هَذِهِ السَّلَاسِلَ مَفْكُوْكَةً فَقَالَ لَهُمُ الْقَائِدُ قَيِّدُوْهُ مَرَّةً ثَانِيَةً هَذَا مَنِ الَّذِي فَكَّهَا؟ فَقَيَّدُوْهُ لَمَّا جَاءُوا الْيَوْمَ الثَّانِي فِي الصَّبَاحِ وَجَدُوهَا مَفْكُوْكَةً قَالَ لَهُ التُّرْكِيُّ أَنْتَ مُعْطٍ هَذَا لِأَحَدِ الْعَسْكَرِ رِشْوَةً ؟ أَوْ أَحَدٌ مِنْ أَقَارِبِكَ مُعْطِي هَؤُلَاءِ رِشْوَةً ؟ قَال أَبَدًا مَا أَعْطَيْتُهُ قَالَ مَنِ الَّذِي فَكَّكَ ؟ قَالَ مَا أَدْرِي مَنِ الَّذِي فَكَّنِي أَنَا أَصْبَحْتُ وَأَنَا مَفْكُوكٌ فِي اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ وَضَعَ عِنْدَهُ نَحْوَ عِشْرِيْنَ جُنْدِيًّا وَأَكَّدَ عَلَيْهِ لَمَّا أَصْبَحَ اللَّيْلَةَ الثَّالِثَةَ وَكَانُوا يُرِيدُونَ أَنْ يَأْخُذُوهُ وَيَقْتُلُوْهُ لَمَّا أَصْبَحَ اللَّيْلَةَ الثَّالِثَةَ وَجَدَ هَذِهِ السَّلَاسِلَ مَحْلُولَةً مَفْكُوْكَةً فَقَالَ هَذَا التُّرْكِيُّ هَذَا الرَّجُلُ لَوْ قَتَلْنَاهُ سَيَأْتِيْنَا مِنْهُ بَلَاءٌ وَلَكِن أَطْلِقُوهُ يَرْجِعُ إِلَى أَوْلَادِهِ هَذَا الرَّجُلُ رَجَعَ إِلَى أَوْلَادِهِ وَكَانَ لَهُ عِدَّةُ أَوْلَادٍ فَتَآمَرَ قَوْمُهُ أَنْ يَقْتُلُوا مِنْ أَوْلَادِهِ كُلَّ سَنَةٍ وَاحِدًا لِأَنَّهُ عَلَى التَّوْحِيدِ قَالُوا هَذَا إِذَا بَقُوا شَرًّا عَلَيْنَا فَلَمْ يَزَالُوا يَقْتُلُونَ وَاحِدًا وَاحِدًا حَتَّى بَقِيَ مِنْهُمْ وَاحِدٌ وَأَنْجَبَ ذُرِّيَّةً مَوْجُودِينَ إِلَى الْيَوْمِ فِيهِمْ دِيْنٌ وَخَيْرٌ وَصَلَاحٌ شُفْ التَّوْحِيدَ كَيْفَ يَحْفَظُ الْإِنْسَانَ ؟ وَوَالِدُهُمْ أَنْ تَنْظُرَ كَيْفَ أَنَّ هَذَا يُقَيَّدُ بِالسَّلَاسِلَ؟ يُفَكِّكُهَا مَنْ وَحَّدَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى التَّوْحِيدُ هُوَ الَّذِي يُفَكِّكُهَا عَنْه رَجُلٌ مَرَّةً قَالَ لِي أَنَا كُنْتُ دَخَّلْتُ يَدِي فِي الْمَزْرَعَةِ فِي الْحِيَالَةِ عَلَى لُغَةِ الشِّيْبَانِ الْأَوْلِيّ وَقَرَصَتْنِي عَقْرَبٌ يَقُولُ عَقْرَبٌ يَقُولُ اليَوْمَ رَفَعْتُ الْحَصَى وَقَالَ لِي ذَلِكَ الْعَقْرَبَةُ السَّوْدَاءُ الْكَبِيرَةُ وَأَنَا أَضْرِبُهَا وَأَذْبَحُهَا يَقُولُ وَأَنَا أَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ سَبْعَ مَرَّاتٍ وَأَنْفُثُ عَلَى أُصْبُعِي وَالْحَمْدُ لِلهِ طِبْتُ قُلْت لَهُ مَا رَحْتَ فِي الْمُسْتَشْفَى ؟ قَالَ لَا طِبْتُ الْحَمْدُ لِلهِ شُفْ الْفَاتِحَةَ سَبْعَ مَرَّاتٍ السُّمُّ الَّذِي يَقْتُلُ مَا قَتَلَهُ لِيْش ؟ التَّوْحِيْدُ الْعَقِيدَةُ الْعَقِيدَةُ الصَّادِقَةُ يُؤْمِنُ بِهَذِه الْفَاتِحَةِ بِمَعَانِيهَا الْحَقَّةِ فَلِذَلِك قَرَأَهَا سَبْعَ مَرَّاتٍ مَا احْتَاجَ إِلَى طَبِيبٍ لِمَاذَا ؟ لِأَنَّ التَّوْحِيدَ قَوِيٌّ فِي قَلْبِهِ وَلِذَلِك الْإِنْسَانُ يَا إِخْوَانِي يَحْرِصُ عَلَى التَّوْحِيدِ لِيُقَرِّبَهُ إِلَى اللهِ يُقَرِّبَهُ إِلَى اللهِ التَّوْحِيدُ خَيْرٌ لَكَ فِي دِينِكَ فِي دُنْيَاكَ فِي رِزْقِكَ فِي صِحَّتِكَ فِي أَوْلَادِكَ لَا تَجِدُ الشَّيْءَ أَعْظَمَ مِنْ تَوْحِيدِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَبَدًا مَا أَنْتُمْ فِيهِ الْيَوْمَ هُوَ مِنَ التَّوْحِيدِ مِنَ التَّوْحِيدِ، تَرَى مَا هُوَ بِقُوَّةٍ وَلَا اصْطِفَاءٍ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَكُمْ لِأَجْلِ أَنْسَابِكُم وَلَا أَرْضِكُم وَلَا غَيْرِهَا، لَا هُوَ بِتَوْحِيدِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذَا التَّوْحِيدُ تَجِدُ فِيْهِ أُنَاسًا أَعْرِفُ أُنَاسًا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ يُصَلِّي أَحَدُهُمْ فِي اللَّيْلِ أَرْبَعَ سَاعَاتٍ مِمَّنْ هُوَ فَوْقَ الْمِئَةِ يَقُولُ لَا أَتْرُكُ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ هَذِهِ الْبَلَدِ خَاصٍّ وَعَامٍّ إِلَّا دَعَوْتُ لَهُ بِهَؤُلَاء يُحْفَظُ النَّاسُ بِالصَّالِحِينَ هَؤُلَاءِ الصَّادِقِينَ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِينَ لَا يَعْرِفُونَ الفَلَاشَاتِ وَلَا الْمَنَاصِبَ وَلَا الرِّئَاسَاتِ هُمُ الَّذِينَ يَحْفَظُ بِهِمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَحْفَظُ بِهِمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ النَّاسَ فِي دِينِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ وَلِذَلِك الْإِنْسَانُ يَتَعَلَّمُ التَّوْحِيدَ كَي يَحْفَظَ نَفْسَهُ مِنْ أَنْ يَكُونَ مِنْ جُثَى جَهَنَّمَ التَّوْحِيْدُ خَيرٌ لَكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَأَنْتَ عِنْدَمَا تَأْتِي عَنْ دَرْسِ التَّوْحِيدِ تَرَى مَا هُوَ بِثَقَافَةٍ إِنَّمَا هُوَ دِينٌ يُقَرِّبُكَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَأَنْتَ إِذًا قَرَأْتَ آيَةً أَوْ بَابًا مِنْ أَبْوَابِ التَّوْحِيدِ أَوْ حَدِيثًا فِيهِ أَنْتَ اُنْظُرْ مَا فِيهَا مِنَ الْمَعَانِي التَّوْحِيدِيَّةِ وَاجْمَعْ قَلْبَكَ عَلَيْهَا وَتَلَذُّذْ بِهَا كَي تَجِدَ أَثَرَهَا فِي نَفْسِكَ نَسْأَلُ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُحْيِيَنَا وَإِيَّاكُمْ عَلَى التَّوْحِيدِ وَأَنْ يَتَوَفَّنَا عَلَى التَّوْحِيدِ. نَعَمْ


Kisah Keluarga yang Allah Jaga karena Tauhid – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Ketika tauhid mereka sempurna, hal itu membawa dampak besar pada mereka. Kamu mendapati dampak ketauhidan mereka terlihat pada rezeki, kesehatan, dan keturunan mereka. Sungguh hal yang menakjubkan. Saudara-saudara, sebagian keluarga yang pendahulu mereka dikenal memiliki ketauhidan yang kuat, kalian mendapati, Allah menjaga mereka hingga kini berkat tauhid mereka. Ada seseorang yang bernama Fulan Mukhalif al-Fulani. Dia berasal dari keluarga terkenal. Saudara-saudaraku, mengapa ia disebut dengan Mukhalif (penyelisih)? Apa sebabnya menurut kalian? Ya? Karena ia menyelisihi kesyirikan! Orang ini berasal dari tempat yang jauh dari negeri Najd. Ia mendengar dakwah tauhid. Lalu ia datang ke negeri Najd, dan kecintaan kepada tauhid merasuk ke dalam hatinya. Kemudian ia pergi ke kaumnya dan mengajak mereka kepada tauhid. Ketika itu negara Saudi yang pertama cukup kuat dan berkuasa atas negeri-negeri itu. Kemudian terjadilah tragedi ad-Dir’iyah, dan kekuatan negara Saudi yang pertama tersebut menjadi melemah, sehingga ia dikuasai oleh para musuhnya. Orang itu difitnah dan diadu domba dengan orang-orang Turki, dengan mengatakan bahwa orang ini kita panggil dengan sebutan “Fulan al-Fulani”. Orang turki berkata kepadanya, “Mengapa kamu dipanggil Fulan Mukhalif al-Fulani? Ia menjawab, “Karena aku menyelisihi orang-orang musyrik”. Ia menjawab, “Karena aku menyelisihi orang-orang musyrik”. Maka orang-orang turki menangkapnya, dan mengikat kedua tangannya dengan borgol. Namun ketika pagi tiba, mereka mendapati borgol yang mengikatnya telah terlepas. Maka pemimpin mereka berkata, “Ikat dia lagi. Siapa yang telah melepas ikatannya?” Maka mereka mengikatnya lagi. Pada pagi hari di hari kedua, mereka mendapati borgolnya terlepas lagi. Orang turki bertanya kepadanya, “Kamu memberi suap kepada salah satu tentara? Ataukah salah seorang terdekatmu memberi suap kepada mereka?” Dia menjawab “Aku sama sekali tidak memberi suap.” “Lalu siapa yang melepasnya?” Ia menjawab, “Aku tidak tau siapa yang melepaskan aku. Di pagi hari aku mendapatinya telah terlepas.” Pada malam ketiga, Ia menugaskan sekitar 20 pasukan untuk menjaganya, dan mengetatkan penjagaan. Namun ketika datang pagi di hari ketiga, dan saat itu mereka akan menjemputnya untuk membunuhnya. Pagi hari di hari ketiga itu, mereka mendapati borgolnya kembali terlepas. Maka orang turki itu berkata, “Jika orang ini kita bunuh, maka akan datang musibah kepada kita, bebaskan saja orang ini agar kembali kepada anak-anaknya.” Maka orang ini kembali kepada anak-anaknya. Ia memiliki banyak anak. Dan kaumnya berencana untuk membunuh satu anaknya setiap tahun, karena ia berada di atas tauhid. Mereka berkata, “Jika mereka tetap hidup, akan membawa keburukan bagi kita.” Sehingga mereka membunuh satu demi satu anaknya, hingga tersisa satu anak saja. Namun satu anak itu dikaruniai banyak keturunan yang masih ada hingga kini, dan mereka memiliki keimanan, keberkahan dan keshalihan yang baik. Lihatlah, bagaimana tauhid menjaga manusia? Dan orangtua mereka, lihatlah bagaimana ia diikat dengan borgol? Allah Subhanahu wa Ta’ala melepaskan borgol tersebut, membebaskan orang yang mengesakan-Nya. Tauhid-lah yang membebaskannya (Yaitu dengan sebab ia bertauhid) Pernah ada seseorang yang berkata kepadaku, “Aku pernah memasukkan tanganku ke lubang di kebun, berdasarkan bahasa asy-Syiban al-Awli, lalu tiba-tiba aku disengat kalajengking. Ia berkata, “Kalajengking, lalu aku membongkar pasirnya. Itu kalajengking yang hitam dan besar. Lalu aku memukulnya dan membunuhnya.” Ia berkata, “Aku membaca al-Fatihah tujuh kali dan aku tiupkan ke jariku, dan alhamdulillah aku sembuh.” Aku bertanya, “Kamu tidak pergi ke rumah sakit?” Ia menjawab, “Tidak, aku sudah sembuh alhamdulillah.” Lihatlah, dengan bacaan al-Fatihah tujuh kali,racun yang mematikan tidak bisa membunuhnya. Mengapa? Karena tauhid, aqidah. Aqidah yang benar. Ia mengimani al-Fatihah dengan makna-maknanya yang sesungguhnya. Sehingga setelah ia membacanya tujuh kali, ia tidak butuh dokter lagi. Mengapa? Karena tauhid tertanam kuat dalam hatinya. Maka saudara-saudara, manusia harus memperhatikan tauhid agar dapat mendekatkan dirinya kepada Allah. mendekatkan dirinya kepada Allah. Tauhid adalah yang terbaik bagimu; pada agamamu, duniamu, rezekimu, kesehatanmu, dan anak-anakmu. Tidak ada hal yang lebih agung dari mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak akan pernah ada. Kenikmatan yang kamu rasakan hari ini adalah berkat tauhid. Berkat tauhid! Bukan karena kekuatan, bukan pula pemilihan dari Allah ‘Azza wa Jalla bagi kalian bukan karena nasab, negeri, atau lainnya. Bukan! Itu berkat mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala! Inilah tauhid! Kamu bisa dapati orang-orang…Aku mengenal orang-orang yang bertauhid, Salah satu dari mereka mendirikan shalat 4 jam dalam semalam padahal ia berumur lebih dari 100 tahun. Ia berkata, “Tidaklah aku melewatkan satupun penduduk negeri ini; baik itu orang awam atau lainnya, melainkan aku berdoa untuknya. Dengan orang-orang seperti inilah manusia terjaga. Dengan orang-orang shalih, yang benar keimanannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Orang-orang yang tidak mengenal popularitas, kedudukan, dan pangkat. Berkat merekalah Allah ‘Azza wa Jalla menjaga manusia dalam perkara agama dan dunia mereka. Maka hendaklah setiap orang mempelajari tauhid agar dapat menjaga dirinya agar tidak menjadi penghuni Jahannam. Tauhid lebih baik bagimu di dunia dan akhirat. Maka ketika kamu menghadiri pelajaran tauhid, kamu jangan memandangnya sebagai wawasan saja, namun itu adalah agama yang mendekatkanmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika kamu membaca ayat, atau salah satu pelajaran tauhid, atau hadits tentang tauhid, lihatlah kandungan makna-makna tentang tauhidnya. Dan fokuskan hatimu padanya! Serta hayati makna-makna itu agar kamu mendapat pengaruhnya dalam dirimu. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menghidupkan kita di atas tauhid, Dan mewafatkan kita di atas tauhid. Demikian. ================================================= وَلِذَلِك هَؤُلَاءِ لَمَّا كَمُلَ تَوْحِيْدُهُمْ عَظُمَ أَثَرُهُ عَلَيْهِمْ أَثَرُهُ عَلَيْهِم تَجِدُهُ ظَاهِرٌ فِي أَرْزَاقِهِمْ فِي صِحَّتِهِمْ فِي ذُرِّيَّتِهِمْ شَيْءٌ عَجِيبٌ بَعْضُ الْبُيُوتِ يَا إِخْوَانُ الَّتِي شُهِرَ أَجْدَادُهُمْ بِالتَّوْحِيدِ تَجِدُ اللهَ حَافَظَهُمْ بِالتَّوْحِيْدِ إِلَى الْآنَ رَجُلٌ كَانَ اسْمَهُ فُلَانٌ مُخَالِفٌ الْفُلَانِيّ مِنْ إِحْدَى العَوَائِلِ الْمَعْرُوفَةِ لِأَيِّ شَيْئٍ هَذَا يَا إِخْوَانُ اسْمُهُ مُخَالِفٌ ؟ أَيَّ شَيْءٍ تَتَوَقَّعُوْنَ ؟ هَا ؟ مُخَالِفٌ لِلشِّرْكِ هَذَا الرَّجُلُ مِنْ بَلَدٍ مِنَ الْبُلْدَانِ الْبَعِيدَةِ عَنْ نَجْدٍ وَسَمِع بِدَعْوَةِ التَّوْحِيدِ فَقَدِمَ عَلَى نَجْدٍ وَأُشْرِبَ فِي قَلْبِهِ حُبُّ التَّوْحِيدِ وَذَهَبَ إِلَى قَوْمِهِ صَارَ يَدْعُوهُم بِالتَّوْحِيدِ وَكَانَتِ الدَّوْلَةُ السَّعُودِيَّةُ الْأُولَى قَوِيَّةٌ وَظَاهِرَةٌ عَلَى تِلْكَ الْبِلَادِ ثُمَّ صَارَ مَا صَارَ مِنَ النَّكْبَةِ الدِّرْعِيَّةِ وَتَقَاصُرِ حُكْمِ الدَّوْلَةِ السَّعُودِيَّةِ الْأُولَى فَتَسَلَّطَ عَلَيْهِ أَعْدَاؤُهُ وَوَشَوْا بِهِ إِلَى الْأَتْرَاكِ وَقَالُوا هَذَا نُسَمِّيْهِ فُلَانَ الْفُلَانِيّ قَالَ لَهُ التُّرْكِيُّ أَنْتَ لِأَيِّ شَيْئٍ فُلَانٌ مُخَالِفٌ الْفُلَانِيّ ؟ قَالَ لِأَنِّي مُخَالِفُ الْمُشْرِكِينَ قَالَ لِأَنِّي مُخَالِفُ الْمُشْرِكِينَ فَأَخَذُوهُ الْأَتْرَاكُ وَوَضَعُوا فِي يَدَيْهِ السَّلَاسِلَ فَلَمَّا أَصْبَحُوا وَجَدُوا هَذِهِ السَّلَاسِلَ مَفْكُوْكَةً فَقَالَ لَهُمُ الْقَائِدُ قَيِّدُوْهُ مَرَّةً ثَانِيَةً هَذَا مَنِ الَّذِي فَكَّهَا؟ فَقَيَّدُوْهُ لَمَّا جَاءُوا الْيَوْمَ الثَّانِي فِي الصَّبَاحِ وَجَدُوهَا مَفْكُوْكَةً قَالَ لَهُ التُّرْكِيُّ أَنْتَ مُعْطٍ هَذَا لِأَحَدِ الْعَسْكَرِ رِشْوَةً ؟ أَوْ أَحَدٌ مِنْ أَقَارِبِكَ مُعْطِي هَؤُلَاءِ رِشْوَةً ؟ قَال أَبَدًا مَا أَعْطَيْتُهُ قَالَ مَنِ الَّذِي فَكَّكَ ؟ قَالَ مَا أَدْرِي مَنِ الَّذِي فَكَّنِي أَنَا أَصْبَحْتُ وَأَنَا مَفْكُوكٌ فِي اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ وَضَعَ عِنْدَهُ نَحْوَ عِشْرِيْنَ جُنْدِيًّا وَأَكَّدَ عَلَيْهِ لَمَّا أَصْبَحَ اللَّيْلَةَ الثَّالِثَةَ وَكَانُوا يُرِيدُونَ أَنْ يَأْخُذُوهُ وَيَقْتُلُوْهُ لَمَّا أَصْبَحَ اللَّيْلَةَ الثَّالِثَةَ وَجَدَ هَذِهِ السَّلَاسِلَ مَحْلُولَةً مَفْكُوْكَةً فَقَالَ هَذَا التُّرْكِيُّ هَذَا الرَّجُلُ لَوْ قَتَلْنَاهُ سَيَأْتِيْنَا مِنْهُ بَلَاءٌ وَلَكِن أَطْلِقُوهُ يَرْجِعُ إِلَى أَوْلَادِهِ هَذَا الرَّجُلُ رَجَعَ إِلَى أَوْلَادِهِ وَكَانَ لَهُ عِدَّةُ أَوْلَادٍ فَتَآمَرَ قَوْمُهُ أَنْ يَقْتُلُوا مِنْ أَوْلَادِهِ كُلَّ سَنَةٍ وَاحِدًا لِأَنَّهُ عَلَى التَّوْحِيدِ قَالُوا هَذَا إِذَا بَقُوا شَرًّا عَلَيْنَا فَلَمْ يَزَالُوا يَقْتُلُونَ وَاحِدًا وَاحِدًا حَتَّى بَقِيَ مِنْهُمْ وَاحِدٌ وَأَنْجَبَ ذُرِّيَّةً مَوْجُودِينَ إِلَى الْيَوْمِ فِيهِمْ دِيْنٌ وَخَيْرٌ وَصَلَاحٌ شُفْ التَّوْحِيدَ كَيْفَ يَحْفَظُ الْإِنْسَانَ ؟ وَوَالِدُهُمْ أَنْ تَنْظُرَ كَيْفَ أَنَّ هَذَا يُقَيَّدُ بِالسَّلَاسِلَ؟ يُفَكِّكُهَا مَنْ وَحَّدَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى التَّوْحِيدُ هُوَ الَّذِي يُفَكِّكُهَا عَنْه رَجُلٌ مَرَّةً قَالَ لِي أَنَا كُنْتُ دَخَّلْتُ يَدِي فِي الْمَزْرَعَةِ فِي الْحِيَالَةِ عَلَى لُغَةِ الشِّيْبَانِ الْأَوْلِيّ وَقَرَصَتْنِي عَقْرَبٌ يَقُولُ عَقْرَبٌ يَقُولُ اليَوْمَ رَفَعْتُ الْحَصَى وَقَالَ لِي ذَلِكَ الْعَقْرَبَةُ السَّوْدَاءُ الْكَبِيرَةُ وَأَنَا أَضْرِبُهَا وَأَذْبَحُهَا يَقُولُ وَأَنَا أَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ سَبْعَ مَرَّاتٍ وَأَنْفُثُ عَلَى أُصْبُعِي وَالْحَمْدُ لِلهِ طِبْتُ قُلْت لَهُ مَا رَحْتَ فِي الْمُسْتَشْفَى ؟ قَالَ لَا طِبْتُ الْحَمْدُ لِلهِ شُفْ الْفَاتِحَةَ سَبْعَ مَرَّاتٍ السُّمُّ الَّذِي يَقْتُلُ مَا قَتَلَهُ لِيْش ؟ التَّوْحِيْدُ الْعَقِيدَةُ الْعَقِيدَةُ الصَّادِقَةُ يُؤْمِنُ بِهَذِه الْفَاتِحَةِ بِمَعَانِيهَا الْحَقَّةِ فَلِذَلِك قَرَأَهَا سَبْعَ مَرَّاتٍ مَا احْتَاجَ إِلَى طَبِيبٍ لِمَاذَا ؟ لِأَنَّ التَّوْحِيدَ قَوِيٌّ فِي قَلْبِهِ وَلِذَلِك الْإِنْسَانُ يَا إِخْوَانِي يَحْرِصُ عَلَى التَّوْحِيدِ لِيُقَرِّبَهُ إِلَى اللهِ يُقَرِّبَهُ إِلَى اللهِ التَّوْحِيدُ خَيْرٌ لَكَ فِي دِينِكَ فِي دُنْيَاكَ فِي رِزْقِكَ فِي صِحَّتِكَ فِي أَوْلَادِكَ لَا تَجِدُ الشَّيْءَ أَعْظَمَ مِنْ تَوْحِيدِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَبَدًا مَا أَنْتُمْ فِيهِ الْيَوْمَ هُوَ مِنَ التَّوْحِيدِ مِنَ التَّوْحِيدِ، تَرَى مَا هُوَ بِقُوَّةٍ وَلَا اصْطِفَاءٍ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَكُمْ لِأَجْلِ أَنْسَابِكُم وَلَا أَرْضِكُم وَلَا غَيْرِهَا، لَا هُوَ بِتَوْحِيدِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذَا التَّوْحِيدُ تَجِدُ فِيْهِ أُنَاسًا أَعْرِفُ أُنَاسًا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ يُصَلِّي أَحَدُهُمْ فِي اللَّيْلِ أَرْبَعَ سَاعَاتٍ مِمَّنْ هُوَ فَوْقَ الْمِئَةِ يَقُولُ لَا أَتْرُكُ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ هَذِهِ الْبَلَدِ خَاصٍّ وَعَامٍّ إِلَّا دَعَوْتُ لَهُ بِهَؤُلَاء يُحْفَظُ النَّاسُ بِالصَّالِحِينَ هَؤُلَاءِ الصَّادِقِينَ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِينَ لَا يَعْرِفُونَ الفَلَاشَاتِ وَلَا الْمَنَاصِبَ وَلَا الرِّئَاسَاتِ هُمُ الَّذِينَ يَحْفَظُ بِهِمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَحْفَظُ بِهِمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ النَّاسَ فِي دِينِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ وَلِذَلِك الْإِنْسَانُ يَتَعَلَّمُ التَّوْحِيدَ كَي يَحْفَظَ نَفْسَهُ مِنْ أَنْ يَكُونَ مِنْ جُثَى جَهَنَّمَ التَّوْحِيْدُ خَيرٌ لَكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَأَنْتَ عِنْدَمَا تَأْتِي عَنْ دَرْسِ التَّوْحِيدِ تَرَى مَا هُوَ بِثَقَافَةٍ إِنَّمَا هُوَ دِينٌ يُقَرِّبُكَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَأَنْتَ إِذًا قَرَأْتَ آيَةً أَوْ بَابًا مِنْ أَبْوَابِ التَّوْحِيدِ أَوْ حَدِيثًا فِيهِ أَنْتَ اُنْظُرْ مَا فِيهَا مِنَ الْمَعَانِي التَّوْحِيدِيَّةِ وَاجْمَعْ قَلْبَكَ عَلَيْهَا وَتَلَذُّذْ بِهَا كَي تَجِدَ أَثَرَهَا فِي نَفْسِكَ نَسْأَلُ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُحْيِيَنَا وَإِيَّاكُمْ عَلَى التَّوْحِيدِ وَأَنْ يَتَوَفَّنَا عَلَى التَّوْحِيدِ. نَعَمْ

Dua Waktu Mustajab Berdoa 5X Sehari – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Dua Waktu Mustajab Berdoa 5X Sehari – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Dan beliau berkata, “Dan ketika azan, dan ketika azan.” Ketika azan maksudnya selepas azan langsung, dan ini adalah waktu yang tepat untuk sungguh-sungguh dalam berdoa. Dan setelah itu beliau menyebutkan waktu ketiga, yaitu waktu antara azan dan iqamah. Beliau menyebutkan dua waktu yaitu: (1) Langsung seketika setelah azan. (2) Antara azan dan iqamah. Dan keduanya merupakan waktu yang sangat agung untuk terkabulnya doa. Adapun waktu setelah azan langsung, berdasarkan hadis Abdullah bin Amr dalam Sunan Abu Dawud, bahwa ada seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, para muazin telah mengungguli kami.” Mereka mengalahkan kami dalam amal kebaikan. Mereka mengumpulkan pahala yang teramat banyak, “Para muazin telah mengungguli kami.” Ini adalah bentuk berlomba dalam kebaikan dan kesungguhan dan keseriusan mereka terhadap kebaikan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika kau mendengarkan muazin mengumandangkan azan, maka ucapkanlah sebagaimana yang muazin ucapkan, dan apabila sudah selesai, mintalah niscaya akan diberi.” Jika telah selesai, ucapkan seperti apa yang diucapkan muazin dan jika Anda telah selesai, mintalah niscaya akan diberi, maka perhatikanlah keterkaitan ini: Mendengar azan, sembari mengucapkan seperti apa yang diucapkan muazin, kemudian melakukan apa yang dianjurkan dalam sunah, bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu memohonkan kedudukan yang mulia kepada Allah untuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam seketika setelah itu terbuka bagi Anda pintu untuk berdoa, terbuka bagi Anda pintu untuk berdoa, yang waktu itu merupakan waktu yang mulia dan sangat tepat agar doa Anda dikabulkan. Anda telah mendengar azan, inilah perantara menuju doa Anda, kemudian Anda bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Anda memohon kepada Allah untuk beliau ‘alaihis shalatu was salam kedudukan yang mulia, setelah itu jangan berhenti! (Kemudian langsung setelah itu) berdoalah kepada Allah dan bersungguh-sungguhlah dalam berdoa untuk meminta kepada Allah apa saja yang Anda mau karena doa pada waktu itu mustajab. Waktu ketiga adalah waktu antara azan dan iqamah, terdapat hadis dalam kitab Sunan, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda “Doa antara azan dan iqamah tidak akan tertolak.” (HR. Abu Dawud) Oleh sebab itu, waktu antara azan dan iqamah inilah seharusnya memperbanyak doa. Inilah waktu untuk memperbanyak doa dan seorang hamba harus menyempatkan diri bermunajat kepada Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi dan meminta kepada-Nya yang Maha Mulia ketinggian-Nya. =========== قَالَ وَعِنْدَ الْأَذَانِ وَعِنْدَ الْأَذَانِ عِنْدَ الْأَذَانِ أَيْ بُعَيدَ الْأَذَانِ مُبَاشَرَةً وَهَذَا وَقْتٌ عَظِيمٌ فِي تَحَرِّي الدُّعَاءِ وَذَكَرَ بَعْدَهُ الْمَوْضِعَ الثَّالِثَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ ذَكَرَهُمَا مَوْضِعَيْنِ بَعْدَ الْأَذَانِ مُبَاشِرَةً وَبَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَكِلَاهُمَا وَقْتَانِ عَظِيمَانِ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ أَمَّا الَّذِي بَعْدَ الأَدَانِ مُبَاشَرَةً فَهَذَا دَلَّ عَلَيْهِ حَدِيثُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو فِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا سَبَقُونَا بِالْفَضْلِ حَازُوا فَضِيلَةً عَظِيمَةً إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا هَذَا مِنَ التَّنَافُسِ فِي الْخَيْرِ وَحِرْصِهِمْ وَحِرْصُهُمْ عَلَى الْخَيْرِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَمِعْتَ الْمُؤَذِّنَ فَقُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ فَإِذَا انْتَهَيْتَ سَلْ تُعْطَهُ إِذَا انْتَهَيْتَ قُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ إِذَا انْتَهَيْتَ سَلْ تُعْطَهُ فَلَاحِظْ هَذَا الْاِرْتِبَاطَ بِسَمَاعِ الْأَذَانِ وَأَنْ تَقُولَ مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ ثُمَّ تَأْتِي مَا جَاءَتْ بِهِ السُّنَّةُ الصَّلاَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمُ ثُمَّ سُؤَالَ اللهَ الْوَسِيلَةَ لَهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ ثُمَّ انْفَتَحَ لَكَ بَابُ الدُّعَاءِ انْفَتَحَ لَكَ بَابُ الدُّعَاءِ وَهُوَ وَقْتٌ عَظِيمٌ حَرِيٌّ بِأَنْ يُجَابَ دُعَائُكَ فِيهِ سَمِعْتَ الْأَذَانَ هَذِهِ وَسَائِلُ بَيْنَ يَدَيْ دُعَائِكَ صَلَّيْتَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلْتَ اللهَ لَهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسّلامُ الْوَسِيلَةَ بَعْدَ هَذَا لَا تَقِفْ اُدْعُ اللهَ وَتَحَرَّ مِنَ الدُّعَاءِ مَا شِئْتَ لِاَنَّ الدُّعَاءَ حِينَئِذٍ مُسْتَجَابٌ الْمَوْطِنُ الثَّالِثُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ جَاءَ فِي السُّنَنِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَلِهَذَا هَذَا الْوَقْتُ الَّذِي هُوَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَقْتٌ يَنْبَغِي أَنْ يُسْتَكْثَرَ فِيهِ مِنَ الدُّعَاءِ أَنْ يُسْتَكْثَرَ فِيهِ مِنَ الدُّعَاءِ وَأَنْ يَجْعَلَ الْعَبْدُ لِنَفْسِهِ فِيه نَصِيبًا مِنْ دُعَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَسُؤَالِهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ

Dua Waktu Mustajab Berdoa 5X Sehari – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Dua Waktu Mustajab Berdoa 5X Sehari – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Dan beliau berkata, “Dan ketika azan, dan ketika azan.” Ketika azan maksudnya selepas azan langsung, dan ini adalah waktu yang tepat untuk sungguh-sungguh dalam berdoa. Dan setelah itu beliau menyebutkan waktu ketiga, yaitu waktu antara azan dan iqamah. Beliau menyebutkan dua waktu yaitu: (1) Langsung seketika setelah azan. (2) Antara azan dan iqamah. Dan keduanya merupakan waktu yang sangat agung untuk terkabulnya doa. Adapun waktu setelah azan langsung, berdasarkan hadis Abdullah bin Amr dalam Sunan Abu Dawud, bahwa ada seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, para muazin telah mengungguli kami.” Mereka mengalahkan kami dalam amal kebaikan. Mereka mengumpulkan pahala yang teramat banyak, “Para muazin telah mengungguli kami.” Ini adalah bentuk berlomba dalam kebaikan dan kesungguhan dan keseriusan mereka terhadap kebaikan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika kau mendengarkan muazin mengumandangkan azan, maka ucapkanlah sebagaimana yang muazin ucapkan, dan apabila sudah selesai, mintalah niscaya akan diberi.” Jika telah selesai, ucapkan seperti apa yang diucapkan muazin dan jika Anda telah selesai, mintalah niscaya akan diberi, maka perhatikanlah keterkaitan ini: Mendengar azan, sembari mengucapkan seperti apa yang diucapkan muazin, kemudian melakukan apa yang dianjurkan dalam sunah, bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu memohonkan kedudukan yang mulia kepada Allah untuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam seketika setelah itu terbuka bagi Anda pintu untuk berdoa, terbuka bagi Anda pintu untuk berdoa, yang waktu itu merupakan waktu yang mulia dan sangat tepat agar doa Anda dikabulkan. Anda telah mendengar azan, inilah perantara menuju doa Anda, kemudian Anda bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Anda memohon kepada Allah untuk beliau ‘alaihis shalatu was salam kedudukan yang mulia, setelah itu jangan berhenti! (Kemudian langsung setelah itu) berdoalah kepada Allah dan bersungguh-sungguhlah dalam berdoa untuk meminta kepada Allah apa saja yang Anda mau karena doa pada waktu itu mustajab. Waktu ketiga adalah waktu antara azan dan iqamah, terdapat hadis dalam kitab Sunan, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda “Doa antara azan dan iqamah tidak akan tertolak.” (HR. Abu Dawud) Oleh sebab itu, waktu antara azan dan iqamah inilah seharusnya memperbanyak doa. Inilah waktu untuk memperbanyak doa dan seorang hamba harus menyempatkan diri bermunajat kepada Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi dan meminta kepada-Nya yang Maha Mulia ketinggian-Nya. =========== قَالَ وَعِنْدَ الْأَذَانِ وَعِنْدَ الْأَذَانِ عِنْدَ الْأَذَانِ أَيْ بُعَيدَ الْأَذَانِ مُبَاشَرَةً وَهَذَا وَقْتٌ عَظِيمٌ فِي تَحَرِّي الدُّعَاءِ وَذَكَرَ بَعْدَهُ الْمَوْضِعَ الثَّالِثَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ ذَكَرَهُمَا مَوْضِعَيْنِ بَعْدَ الْأَذَانِ مُبَاشِرَةً وَبَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَكِلَاهُمَا وَقْتَانِ عَظِيمَانِ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ أَمَّا الَّذِي بَعْدَ الأَدَانِ مُبَاشَرَةً فَهَذَا دَلَّ عَلَيْهِ حَدِيثُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو فِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا سَبَقُونَا بِالْفَضْلِ حَازُوا فَضِيلَةً عَظِيمَةً إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا هَذَا مِنَ التَّنَافُسِ فِي الْخَيْرِ وَحِرْصِهِمْ وَحِرْصُهُمْ عَلَى الْخَيْرِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَمِعْتَ الْمُؤَذِّنَ فَقُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ فَإِذَا انْتَهَيْتَ سَلْ تُعْطَهُ إِذَا انْتَهَيْتَ قُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ إِذَا انْتَهَيْتَ سَلْ تُعْطَهُ فَلَاحِظْ هَذَا الْاِرْتِبَاطَ بِسَمَاعِ الْأَذَانِ وَأَنْ تَقُولَ مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ ثُمَّ تَأْتِي مَا جَاءَتْ بِهِ السُّنَّةُ الصَّلاَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمُ ثُمَّ سُؤَالَ اللهَ الْوَسِيلَةَ لَهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ ثُمَّ انْفَتَحَ لَكَ بَابُ الدُّعَاءِ انْفَتَحَ لَكَ بَابُ الدُّعَاءِ وَهُوَ وَقْتٌ عَظِيمٌ حَرِيٌّ بِأَنْ يُجَابَ دُعَائُكَ فِيهِ سَمِعْتَ الْأَذَانَ هَذِهِ وَسَائِلُ بَيْنَ يَدَيْ دُعَائِكَ صَلَّيْتَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلْتَ اللهَ لَهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسّلامُ الْوَسِيلَةَ بَعْدَ هَذَا لَا تَقِفْ اُدْعُ اللهَ وَتَحَرَّ مِنَ الدُّعَاءِ مَا شِئْتَ لِاَنَّ الدُّعَاءَ حِينَئِذٍ مُسْتَجَابٌ الْمَوْطِنُ الثَّالِثُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ جَاءَ فِي السُّنَنِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَلِهَذَا هَذَا الْوَقْتُ الَّذِي هُوَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَقْتٌ يَنْبَغِي أَنْ يُسْتَكْثَرَ فِيهِ مِنَ الدُّعَاءِ أَنْ يُسْتَكْثَرَ فِيهِ مِنَ الدُّعَاءِ وَأَنْ يَجْعَلَ الْعَبْدُ لِنَفْسِهِ فِيه نَصِيبًا مِنْ دُعَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَسُؤَالِهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ
Dua Waktu Mustajab Berdoa 5X Sehari – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Dan beliau berkata, “Dan ketika azan, dan ketika azan.” Ketika azan maksudnya selepas azan langsung, dan ini adalah waktu yang tepat untuk sungguh-sungguh dalam berdoa. Dan setelah itu beliau menyebutkan waktu ketiga, yaitu waktu antara azan dan iqamah. Beliau menyebutkan dua waktu yaitu: (1) Langsung seketika setelah azan. (2) Antara azan dan iqamah. Dan keduanya merupakan waktu yang sangat agung untuk terkabulnya doa. Adapun waktu setelah azan langsung, berdasarkan hadis Abdullah bin Amr dalam Sunan Abu Dawud, bahwa ada seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, para muazin telah mengungguli kami.” Mereka mengalahkan kami dalam amal kebaikan. Mereka mengumpulkan pahala yang teramat banyak, “Para muazin telah mengungguli kami.” Ini adalah bentuk berlomba dalam kebaikan dan kesungguhan dan keseriusan mereka terhadap kebaikan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika kau mendengarkan muazin mengumandangkan azan, maka ucapkanlah sebagaimana yang muazin ucapkan, dan apabila sudah selesai, mintalah niscaya akan diberi.” Jika telah selesai, ucapkan seperti apa yang diucapkan muazin dan jika Anda telah selesai, mintalah niscaya akan diberi, maka perhatikanlah keterkaitan ini: Mendengar azan, sembari mengucapkan seperti apa yang diucapkan muazin, kemudian melakukan apa yang dianjurkan dalam sunah, bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu memohonkan kedudukan yang mulia kepada Allah untuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam seketika setelah itu terbuka bagi Anda pintu untuk berdoa, terbuka bagi Anda pintu untuk berdoa, yang waktu itu merupakan waktu yang mulia dan sangat tepat agar doa Anda dikabulkan. Anda telah mendengar azan, inilah perantara menuju doa Anda, kemudian Anda bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Anda memohon kepada Allah untuk beliau ‘alaihis shalatu was salam kedudukan yang mulia, setelah itu jangan berhenti! (Kemudian langsung setelah itu) berdoalah kepada Allah dan bersungguh-sungguhlah dalam berdoa untuk meminta kepada Allah apa saja yang Anda mau karena doa pada waktu itu mustajab. Waktu ketiga adalah waktu antara azan dan iqamah, terdapat hadis dalam kitab Sunan, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda “Doa antara azan dan iqamah tidak akan tertolak.” (HR. Abu Dawud) Oleh sebab itu, waktu antara azan dan iqamah inilah seharusnya memperbanyak doa. Inilah waktu untuk memperbanyak doa dan seorang hamba harus menyempatkan diri bermunajat kepada Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi dan meminta kepada-Nya yang Maha Mulia ketinggian-Nya. =========== قَالَ وَعِنْدَ الْأَذَانِ وَعِنْدَ الْأَذَانِ عِنْدَ الْأَذَانِ أَيْ بُعَيدَ الْأَذَانِ مُبَاشَرَةً وَهَذَا وَقْتٌ عَظِيمٌ فِي تَحَرِّي الدُّعَاءِ وَذَكَرَ بَعْدَهُ الْمَوْضِعَ الثَّالِثَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ ذَكَرَهُمَا مَوْضِعَيْنِ بَعْدَ الْأَذَانِ مُبَاشِرَةً وَبَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَكِلَاهُمَا وَقْتَانِ عَظِيمَانِ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ أَمَّا الَّذِي بَعْدَ الأَدَانِ مُبَاشَرَةً فَهَذَا دَلَّ عَلَيْهِ حَدِيثُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو فِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا سَبَقُونَا بِالْفَضْلِ حَازُوا فَضِيلَةً عَظِيمَةً إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا هَذَا مِنَ التَّنَافُسِ فِي الْخَيْرِ وَحِرْصِهِمْ وَحِرْصُهُمْ عَلَى الْخَيْرِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَمِعْتَ الْمُؤَذِّنَ فَقُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ فَإِذَا انْتَهَيْتَ سَلْ تُعْطَهُ إِذَا انْتَهَيْتَ قُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ إِذَا انْتَهَيْتَ سَلْ تُعْطَهُ فَلَاحِظْ هَذَا الْاِرْتِبَاطَ بِسَمَاعِ الْأَذَانِ وَأَنْ تَقُولَ مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ ثُمَّ تَأْتِي مَا جَاءَتْ بِهِ السُّنَّةُ الصَّلاَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمُ ثُمَّ سُؤَالَ اللهَ الْوَسِيلَةَ لَهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ ثُمَّ انْفَتَحَ لَكَ بَابُ الدُّعَاءِ انْفَتَحَ لَكَ بَابُ الدُّعَاءِ وَهُوَ وَقْتٌ عَظِيمٌ حَرِيٌّ بِأَنْ يُجَابَ دُعَائُكَ فِيهِ سَمِعْتَ الْأَذَانَ هَذِهِ وَسَائِلُ بَيْنَ يَدَيْ دُعَائِكَ صَلَّيْتَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلْتَ اللهَ لَهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسّلامُ الْوَسِيلَةَ بَعْدَ هَذَا لَا تَقِفْ اُدْعُ اللهَ وَتَحَرَّ مِنَ الدُّعَاءِ مَا شِئْتَ لِاَنَّ الدُّعَاءَ حِينَئِذٍ مُسْتَجَابٌ الْمَوْطِنُ الثَّالِثُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ جَاءَ فِي السُّنَنِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَلِهَذَا هَذَا الْوَقْتُ الَّذِي هُوَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَقْتٌ يَنْبَغِي أَنْ يُسْتَكْثَرَ فِيهِ مِنَ الدُّعَاءِ أَنْ يُسْتَكْثَرَ فِيهِ مِنَ الدُّعَاءِ وَأَنْ يَجْعَلَ الْعَبْدُ لِنَفْسِهِ فِيه نَصِيبًا مِنْ دُعَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَسُؤَالِهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ


Dua Waktu Mustajab Berdoa 5X Sehari – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama Dan beliau berkata, “Dan ketika azan, dan ketika azan.” Ketika azan maksudnya selepas azan langsung, dan ini adalah waktu yang tepat untuk sungguh-sungguh dalam berdoa. Dan setelah itu beliau menyebutkan waktu ketiga, yaitu waktu antara azan dan iqamah. Beliau menyebutkan dua waktu yaitu: (1) Langsung seketika setelah azan. (2) Antara azan dan iqamah. Dan keduanya merupakan waktu yang sangat agung untuk terkabulnya doa. Adapun waktu setelah azan langsung, berdasarkan hadis Abdullah bin Amr dalam Sunan Abu Dawud, bahwa ada seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, para muazin telah mengungguli kami.” Mereka mengalahkan kami dalam amal kebaikan. Mereka mengumpulkan pahala yang teramat banyak, “Para muazin telah mengungguli kami.” Ini adalah bentuk berlomba dalam kebaikan dan kesungguhan dan keseriusan mereka terhadap kebaikan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika kau mendengarkan muazin mengumandangkan azan, maka ucapkanlah sebagaimana yang muazin ucapkan, dan apabila sudah selesai, mintalah niscaya akan diberi.” Jika telah selesai, ucapkan seperti apa yang diucapkan muazin dan jika Anda telah selesai, mintalah niscaya akan diberi, maka perhatikanlah keterkaitan ini: Mendengar azan, sembari mengucapkan seperti apa yang diucapkan muazin, kemudian melakukan apa yang dianjurkan dalam sunah, bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu memohonkan kedudukan yang mulia kepada Allah untuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam seketika setelah itu terbuka bagi Anda pintu untuk berdoa, terbuka bagi Anda pintu untuk berdoa, yang waktu itu merupakan waktu yang mulia dan sangat tepat agar doa Anda dikabulkan. Anda telah mendengar azan, inilah perantara menuju doa Anda, kemudian Anda bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Anda memohon kepada Allah untuk beliau ‘alaihis shalatu was salam kedudukan yang mulia, setelah itu jangan berhenti! (Kemudian langsung setelah itu) berdoalah kepada Allah dan bersungguh-sungguhlah dalam berdoa untuk meminta kepada Allah apa saja yang Anda mau karena doa pada waktu itu mustajab. Waktu ketiga adalah waktu antara azan dan iqamah, terdapat hadis dalam kitab Sunan, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda “Doa antara azan dan iqamah tidak akan tertolak.” (HR. Abu Dawud) Oleh sebab itu, waktu antara azan dan iqamah inilah seharusnya memperbanyak doa. Inilah waktu untuk memperbanyak doa dan seorang hamba harus menyempatkan diri bermunajat kepada Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi dan meminta kepada-Nya yang Maha Mulia ketinggian-Nya. =========== قَالَ وَعِنْدَ الْأَذَانِ وَعِنْدَ الْأَذَانِ عِنْدَ الْأَذَانِ أَيْ بُعَيدَ الْأَذَانِ مُبَاشَرَةً وَهَذَا وَقْتٌ عَظِيمٌ فِي تَحَرِّي الدُّعَاءِ وَذَكَرَ بَعْدَهُ الْمَوْضِعَ الثَّالِثَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ ذَكَرَهُمَا مَوْضِعَيْنِ بَعْدَ الْأَذَانِ مُبَاشِرَةً وَبَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَكِلَاهُمَا وَقْتَانِ عَظِيمَانِ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ أَمَّا الَّذِي بَعْدَ الأَدَانِ مُبَاشَرَةً فَهَذَا دَلَّ عَلَيْهِ حَدِيثُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو فِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا سَبَقُونَا بِالْفَضْلِ حَازُوا فَضِيلَةً عَظِيمَةً إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا هَذَا مِنَ التَّنَافُسِ فِي الْخَيْرِ وَحِرْصِهِمْ وَحِرْصُهُمْ عَلَى الْخَيْرِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَمِعْتَ الْمُؤَذِّنَ فَقُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ فَإِذَا انْتَهَيْتَ سَلْ تُعْطَهُ إِذَا انْتَهَيْتَ قُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ إِذَا انْتَهَيْتَ سَلْ تُعْطَهُ فَلَاحِظْ هَذَا الْاِرْتِبَاطَ بِسَمَاعِ الْأَذَانِ وَأَنْ تَقُولَ مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ ثُمَّ تَأْتِي مَا جَاءَتْ بِهِ السُّنَّةُ الصَّلاَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمُ ثُمَّ سُؤَالَ اللهَ الْوَسِيلَةَ لَهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ ثُمَّ انْفَتَحَ لَكَ بَابُ الدُّعَاءِ انْفَتَحَ لَكَ بَابُ الدُّعَاءِ وَهُوَ وَقْتٌ عَظِيمٌ حَرِيٌّ بِأَنْ يُجَابَ دُعَائُكَ فِيهِ سَمِعْتَ الْأَذَانَ هَذِهِ وَسَائِلُ بَيْنَ يَدَيْ دُعَائِكَ صَلَّيْتَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلْتَ اللهَ لَهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسّلامُ الْوَسِيلَةَ بَعْدَ هَذَا لَا تَقِفْ اُدْعُ اللهَ وَتَحَرَّ مِنَ الدُّعَاءِ مَا شِئْتَ لِاَنَّ الدُّعَاءَ حِينَئِذٍ مُسْتَجَابٌ الْمَوْطِنُ الثَّالِثُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ جَاءَ فِي السُّنَنِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَلِهَذَا هَذَا الْوَقْتُ الَّذِي هُوَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَقْتٌ يَنْبَغِي أَنْ يُسْتَكْثَرَ فِيهِ مِنَ الدُّعَاءِ أَنْ يُسْتَكْثَرَ فِيهِ مِنَ الدُّعَاءِ وَأَنْ يَجْعَلَ الْعَبْدُ لِنَفْسِهِ فِيه نَصِيبًا مِنْ دُعَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَسُؤَالِهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ

Hukum Membaca Alquran dengan Irama (Maqamat) – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Hukum Membaca Alquran dengan Irama (Maqamat) – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama Membaca al-Qur’an dengan irama, tentu ini bukan pembahasan musik. Musik adalah pembahasan lain lagi, kita sekarang tidak sedang membahas musik. Kita membahas tentang suara manusia, suara asli manusia. Seseorang yang membaca al-Qur’an dengan suaranya, tidak lepas dari dua kondisi: KONDISI PERTAMA: Lahn (irama). Tentu irama yang dimaksud sekarang adalah cara mengeluarkan suara ini dengan merdu. Cara melantunkan suara semacam ini apabila muncul secara spontan dan apa adanya, tanpa dipaksakan dan tidak dibuat-buat maka tidak mengapa walaupun iramanya mencocoki salah satu irama dari maqamat yang ada. Yakni misalnya, saya misalnya, saya tidak pernah belajar irama maqamat dan tidak mengerti sama sekali maqamat. Saya bertakbir kemudian saya membaca, yakni saya berusaha untuk memperbagus suara saya, dan memperindah suara saya dalam membaca al-Qur’an karena demikian sunahnya. Lantunannya alami, namun mencocoki salah satu irama maqamat, yakni ada seseorang yang paham tentang irama-irama maqamat ini. Setelah shalat, ia berkata, “Wahai Syaikh, demi Allah, hari ini Anda bagus sekali melantunkan maqam Hijaz.” Atau entah apa nama maqam-nya, Saka? Sika? Saki? Sika? Sika sepertinya, wallahu a’lam. Yakni Anda menguasai maqam ini, Anda bagus sekali melantunkan irama ini, merdu sekali, pas sekali iramanya. Anda… … baiklah, saya jawab, “Saya tidak berniat demikian, seperti itu irama saya keluar.” Ini tidak masalah sama sekali! Dan ini termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Barangsiapa yang tidak melagukan bacaan Al-Qur’an, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Bukhari) Apa maksud melagukan bacaan al-Qur’an? Maksudnya memperbagus suaranya ketika membaca al-Qur’an dan memperindah lantunan bacaannya. Ini sunah. “Allah tidak mendengar sesuatu sebagaimana Ia mendengar seorang nabi yang bagus suaranya dalam melantunkan Al-Qur’an.” (HR. Abu Daud) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara dengan Abu Musa, dan apa yang Abu Musa katakan? “Aku sungguh akan memperbagus untuk Anda.” (Muttafaqun ‘Alaihi) Maksudnya aku akan memperindah dan memerdukan suaraku. Baiklah… KONDISI KEDUA: Irama yang dibuat-buat dan intonasi suara yang tidak mungkin didapat kecuali dengan belajar dan berlatih. Yang menggunakan nada-nada, notasi-notasi suara, irama maqamat yang telah dikenal di kalangan mereka. Mereka menyebutnya maqam Hijaz, Nawahand, dan entah apa namanya, itulah maqam irama di kalangan mereka. Semacam ini pasti dan harus ada seseorang yang mengajari Anda atau Anda mengunduh video-video kemudian Anda pelajari, dari YouTube atau dari jejaring sosial lainnya. Ini bentuk membebani diri, tercela lagi buruk, kenapa? Karena ini sama sekali bukan pembawaan para ahli al-Qur’an, ini adalah pembawaan para penyanyi. Ada orang yang datang kemudian memasukkannya ke dalam bacaan al-Qur’an. Dia berkata agar suaranya tidak sumbang, agar begini dan agar begitu, sehingga mereka menyerupai para penyanyi. Dan mereka belajar dari para penyanyi dan menerapkan kaidah-kaidah dalam nyanyian, menerapkannya dalam bacaan al-Qur’an. Apa kata Ibnul Qayyim -Semoga Allah merahmati beliau- dalam kitab Zadul Ma’ad? Beliau berkata, “Semua orang yang paham keadaan orang-orang shaleh terdahulu akan sangat mengerti bahwa mereka berlepas diri dari cara membaca al-Qur’an dengan irama-irama musik yang dipaksa-paksakan, yang merupakan ritme dan intonasi yang terukur, terbatas, dan tertata. Dan sungguh mereka paling takut pada Allah sehingga tidak membaca dengan irama-irama ini dan tidak pula memperkenankannya. Dan akan paham betul bahwa mereka, -yakni para ulama salaf- membaca dengan penuh penghayatan … dan memperbagus suara mereka ketika membaca al-Qur’an, terkadang membacanya dengan irama yang merdu dan terkadang dengan penuh kerinduan. Dan ini adalah hal yang sudah tertanam dalam tabiat manusia, syariat tidak melarang hal ini bahkan memerintahkannya dan menganjurkannya, Jadi apabila muncul secara spontan dan natural maka tidak terlarang. Adapun dengan mempelajari irama-irama dari para pemusik dan penyanyi kemudian mempraktikkannya. Tidak! Tidak! Naik! Turun! Perlembut! Pendekkan!” Yakni dia melatih mereka seperti itu, -Subhanallah!-Sebagian orang, sebagian mereka adalah orang yang gemar bermaksiat kepada Allah, menyertai para qari al-Qur’an dan melatih mereka dengan suara-suara dengan intonasi modern yang terdiri dari notasi, intonasi dan aturan-aturan bernyanyi. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan kebaikan. ====================== الْقِرَاءةُ بِالْأَلْحَانِ طَبْعًا غَيْرُ مَوْضُوعِ الْمُوسِيقَى الْمُوسِيقَى هَذِهِ عَالَمٌ آخَرُ فَمَا نَتَكَلَّمُ الْآنَ عَنِ الْمُوسِيقَى نَتَكَلَّمُ عَنِ الصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ الصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ قِرَاءةُ الْإِنْسَانِ بِالصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ لِلْقُرْآنِ لَا تَخْرُجُ عَنْ حَالَتَيْنِ لَحْنٌ يَعْنِي الْمَقْصُودُ بِاللَّحْنِ طَبْعًا الْآنَ الْأَدَاءُ هَذَا الصَّوْتِ الشَّجِيِّ هَذَا طَرِيقَةُ الْأَدَاءِ الصَّوْتِيَّةِ إِذَا كَانَتْ تِلْقَائِيًّا عَفَوِيًّا مِنْ غَيْرِ تَكَلُّفٍ وَلَا تَصَنُّعٍ لَا بَأْسَ وَلَوْ وَافَقَتْ مَقَامًا مِنَ الْمَقَامَاتِ يَعْنِي مَثَلًا أَنَا مَثَلًا مَا دَرَسْتُ الْمَقَامَاتِ وَلَا أَعْرِفُ مَا هِيَ الْمَقَامَاتُ كَبَّرْتُ قَرَأْتُ يَعْنِي اجْتَهَدْتُ يَعْنِي أُحَسِّنُ صَوْتِيْ وَأُجَمِّلُ صَوْتِي بِالْقُرْآنِ كَمَا هِيَ السُّنَّةُ الْأَدَاءُ الطَّبِيعِيُّ وَافَقَ مَقَامًا مِنَ الْمَقَامَاتِ يَعْنِي جَاءَ وَاحِدٌ يَعْرِفُ الْمَقَامَاتِ بَعْدَ الصَّلَاةِ قَالَ وَاللهِ يَا شَيْخُ أَنْتَ الْيَوْمَ ضَبَطْتَ مَقَامَ الْحِجَازِ وَلَا مَقَامَ مَا أَدْرِي أَيْش ؟ سَكَّ؟ سِيْكَ ؟ السَّاكِ ؟ سِيكَا ؟ السِّيكَا يُمْكِنُ وَاللهُ أَعْلَمُ يَعْنِي ضَبَطْتَ أَنْتَ جَيِّدٌ مَقَامًا يَعْنِي مَقَامًا جَيِّدٌ مَقَامًا الْيَوْمَ يَعْنِي إِبْدَاعُ مَقَامٍ ضَبَطْتَ الْمَقَامَ أَنْتَ طَيِّبٌ أَنَا مَا قَصَدْتُ هُوَ طَلَعَ كَذَا لَا حَرَجَ أَبَدًا وَيُعْتَبَرُ هَذَا مِنْ قَوْلِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ – رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ أَيْش يَعْنِي يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ ؟ يَعْنِي يُجَمِّلُ صَوْتَهُ بِالْقُرْآنِ يُحَسِّنُ أَدَاءَهُ بِالْقُرْآنِ هَذَا مُسْتَحَبٌّ مَا أَذِنَ اللهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِأَبِي مُوسَى يَعْنِي أَيْش قَالَ أَبُو مُوسَى؟ لَحَبَّرْتُ لَكَ تَحْبِيرًا – مُتَّفَقٌ عَلَيهِ جَوَّدْتُهُ وَحَسَّنْتُهُ طَيِّبٌ الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ الْأَلْحَانُ الْمَصْنُوعَةُ وَالْإِيقَاعَاتُ الصَّوْتِيَّةُ الَّتِي لَا تَحْصُلُ إِلَّا بِالتَّعَلُّمِ وَالتَّمْرِيْنِ وَلَهَا مَقَادِيرُ وَنِسَبٌ صَوْتِيَّةٌ مَقَامَاتٌ مَعْرُوفَةٌ عِنْدَهُمْ يَقُولُونَ الْحِجَازُ نَهَاوَنْد مَا أَدْرِي أَيْش عِنْدَهُمْ كَذَا مَقَامٌ وَهَذِهِ لَازِمٌ تُوجِبُ الْوَاحِدَ أَنْ يُعَلِّمَكَ أَوْ أَنْتَ تَأْخُذُ مَقَاطِعًا وَتَتَعَلَّمُهَا أَوْ مِنَ اليُوتُيوب وَلَا مِنْ…يَعْنِي إِلَى آخِرِهِ هَذَا تَكَلُّفٌ مَذْمُومٌ قَبِيحٌ لِأَيْش؟ لِأَنَّهُ أَصْلًا مَا هُوَ تَبَعَةُ أَهْلِ الْقُرْآنِ هَذَا تَبَعَةُ أَهْلِ الْغِنَاءِ فَجَاءَ مَنْ جَاءَ وَأَدْخَلَهُ فِي أَيْش ؟ فِي قِرَاءةِ الْقُرْآنِ وَقَالَ عَشَانِ مَا يُصِيْرُ نَشَازًا عَلَشَان عَلَشَان وَهُمْ يُوَافِقُونَ أَصْحَابَ الْغِنَاءِ وَيَتَعَلَّمُونَ مِنْ أَصْحَابِ الْغِنَاءِ وَيُطَبِّقُونَ قَوَاعِدَ الْغِنَاءِ يُطَبِّقُونَ فِي الْقُرْآنِ مَاذَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي زَادِ الْمَعَادِ؟ قَالَ وَكُلُّ مَنْ لَهُ عِلْمٌ بِأَحْوَالِ السَّلَفِ يَعْلَمُ قَطْعًا أَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنَ الْقِرَاءَةِ بِأَلْحَانِ الْمُوسِيقَى الْمُتَكَلَّفَةِ الَّتِي هِيَ إِيقَاعَاتٌ وَحَرَكَاتٌ مَوْزُونَةٌ مَعْدُودَةٌ مَحْدُودَةٌ وَأَنَّهُمْ أَتْقَى لِلهِ مِنْ أَنْ يَقْرَأُوا بِهَا وَيُسَوِّغُوهَا وَيَعْلَمُ قَطْعًا أَنَّهُمْ يَعْنِي السَّلَفَ كَانُوا يَقْرَؤُونَ بِالتَّحْزِينِ وَيُحَسِّنُونَ أَصْوَاتَهُمْ بِالْقُرْآنِ وَيَقْرَؤُونَهُ بِشَجِيٍّ تَارَةً وَبِشَوْقٍ تَارَةً وَهَذَا أَمْرٌ مَرْكُوزٌ فِي الطِّبَاعِ لَمْ يَنْهَ عَنْهُ الشَّرْعُ بَلْ أَرْشَدَ إِلَيْهِ وَنَدَبَ إِلَيْهِ إِذَنْ إِذَا جَاءَ تِلْقَائِيٌّ عَفَوِيٌّ لَا مَانِعَ بِالتَّعَلُّمِ مِنْ عِنْدَ أَهْلِ الْمُوسِيقَى أَهْلِ الأَغَانِي مَقَامَاتٍ وَطَبَّقُوا لَا لَا اُطْلُعْ اِنْزِلْ زَوِّقْ قَصِّرْ لِأَنْ يُدَرِّبُوهُمْ عَلَيْهَا سُبْحَانَ اللهِ بَعْضُ مَنْ لَا… بَعْضُ… بَعْضُ مَنْ يَعْنِي يَعْصِي اللهَ يُجِيبُ قُرَّاءَ الْقُرْآنِ وَيُدَرِّبُهُمْ عَلَيْهَا الْأَصْوَاتُ بِالنَّغَمَاتِ الْمُحْدَثَةِ الْمُرَكَّبَةِ عَنْ أَوْزَانٍ وَالْأَوْضَاعِ وَالْقَوَانِينِ الْغِنَائِيَّةِ نَسْأَلُ اللهَ السَّلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ  

Hukum Membaca Alquran dengan Irama (Maqamat) – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Hukum Membaca Alquran dengan Irama (Maqamat) – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama Membaca al-Qur’an dengan irama, tentu ini bukan pembahasan musik. Musik adalah pembahasan lain lagi, kita sekarang tidak sedang membahas musik. Kita membahas tentang suara manusia, suara asli manusia. Seseorang yang membaca al-Qur’an dengan suaranya, tidak lepas dari dua kondisi: KONDISI PERTAMA: Lahn (irama). Tentu irama yang dimaksud sekarang adalah cara mengeluarkan suara ini dengan merdu. Cara melantunkan suara semacam ini apabila muncul secara spontan dan apa adanya, tanpa dipaksakan dan tidak dibuat-buat maka tidak mengapa walaupun iramanya mencocoki salah satu irama dari maqamat yang ada. Yakni misalnya, saya misalnya, saya tidak pernah belajar irama maqamat dan tidak mengerti sama sekali maqamat. Saya bertakbir kemudian saya membaca, yakni saya berusaha untuk memperbagus suara saya, dan memperindah suara saya dalam membaca al-Qur’an karena demikian sunahnya. Lantunannya alami, namun mencocoki salah satu irama maqamat, yakni ada seseorang yang paham tentang irama-irama maqamat ini. Setelah shalat, ia berkata, “Wahai Syaikh, demi Allah, hari ini Anda bagus sekali melantunkan maqam Hijaz.” Atau entah apa nama maqam-nya, Saka? Sika? Saki? Sika? Sika sepertinya, wallahu a’lam. Yakni Anda menguasai maqam ini, Anda bagus sekali melantunkan irama ini, merdu sekali, pas sekali iramanya. Anda… … baiklah, saya jawab, “Saya tidak berniat demikian, seperti itu irama saya keluar.” Ini tidak masalah sama sekali! Dan ini termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Barangsiapa yang tidak melagukan bacaan Al-Qur’an, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Bukhari) Apa maksud melagukan bacaan al-Qur’an? Maksudnya memperbagus suaranya ketika membaca al-Qur’an dan memperindah lantunan bacaannya. Ini sunah. “Allah tidak mendengar sesuatu sebagaimana Ia mendengar seorang nabi yang bagus suaranya dalam melantunkan Al-Qur’an.” (HR. Abu Daud) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara dengan Abu Musa, dan apa yang Abu Musa katakan? “Aku sungguh akan memperbagus untuk Anda.” (Muttafaqun ‘Alaihi) Maksudnya aku akan memperindah dan memerdukan suaraku. Baiklah… KONDISI KEDUA: Irama yang dibuat-buat dan intonasi suara yang tidak mungkin didapat kecuali dengan belajar dan berlatih. Yang menggunakan nada-nada, notasi-notasi suara, irama maqamat yang telah dikenal di kalangan mereka. Mereka menyebutnya maqam Hijaz, Nawahand, dan entah apa namanya, itulah maqam irama di kalangan mereka. Semacam ini pasti dan harus ada seseorang yang mengajari Anda atau Anda mengunduh video-video kemudian Anda pelajari, dari YouTube atau dari jejaring sosial lainnya. Ini bentuk membebani diri, tercela lagi buruk, kenapa? Karena ini sama sekali bukan pembawaan para ahli al-Qur’an, ini adalah pembawaan para penyanyi. Ada orang yang datang kemudian memasukkannya ke dalam bacaan al-Qur’an. Dia berkata agar suaranya tidak sumbang, agar begini dan agar begitu, sehingga mereka menyerupai para penyanyi. Dan mereka belajar dari para penyanyi dan menerapkan kaidah-kaidah dalam nyanyian, menerapkannya dalam bacaan al-Qur’an. Apa kata Ibnul Qayyim -Semoga Allah merahmati beliau- dalam kitab Zadul Ma’ad? Beliau berkata, “Semua orang yang paham keadaan orang-orang shaleh terdahulu akan sangat mengerti bahwa mereka berlepas diri dari cara membaca al-Qur’an dengan irama-irama musik yang dipaksa-paksakan, yang merupakan ritme dan intonasi yang terukur, terbatas, dan tertata. Dan sungguh mereka paling takut pada Allah sehingga tidak membaca dengan irama-irama ini dan tidak pula memperkenankannya. Dan akan paham betul bahwa mereka, -yakni para ulama salaf- membaca dengan penuh penghayatan … dan memperbagus suara mereka ketika membaca al-Qur’an, terkadang membacanya dengan irama yang merdu dan terkadang dengan penuh kerinduan. Dan ini adalah hal yang sudah tertanam dalam tabiat manusia, syariat tidak melarang hal ini bahkan memerintahkannya dan menganjurkannya, Jadi apabila muncul secara spontan dan natural maka tidak terlarang. Adapun dengan mempelajari irama-irama dari para pemusik dan penyanyi kemudian mempraktikkannya. Tidak! Tidak! Naik! Turun! Perlembut! Pendekkan!” Yakni dia melatih mereka seperti itu, -Subhanallah!-Sebagian orang, sebagian mereka adalah orang yang gemar bermaksiat kepada Allah, menyertai para qari al-Qur’an dan melatih mereka dengan suara-suara dengan intonasi modern yang terdiri dari notasi, intonasi dan aturan-aturan bernyanyi. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan kebaikan. ====================== الْقِرَاءةُ بِالْأَلْحَانِ طَبْعًا غَيْرُ مَوْضُوعِ الْمُوسِيقَى الْمُوسِيقَى هَذِهِ عَالَمٌ آخَرُ فَمَا نَتَكَلَّمُ الْآنَ عَنِ الْمُوسِيقَى نَتَكَلَّمُ عَنِ الصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ الصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ قِرَاءةُ الْإِنْسَانِ بِالصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ لِلْقُرْآنِ لَا تَخْرُجُ عَنْ حَالَتَيْنِ لَحْنٌ يَعْنِي الْمَقْصُودُ بِاللَّحْنِ طَبْعًا الْآنَ الْأَدَاءُ هَذَا الصَّوْتِ الشَّجِيِّ هَذَا طَرِيقَةُ الْأَدَاءِ الصَّوْتِيَّةِ إِذَا كَانَتْ تِلْقَائِيًّا عَفَوِيًّا مِنْ غَيْرِ تَكَلُّفٍ وَلَا تَصَنُّعٍ لَا بَأْسَ وَلَوْ وَافَقَتْ مَقَامًا مِنَ الْمَقَامَاتِ يَعْنِي مَثَلًا أَنَا مَثَلًا مَا دَرَسْتُ الْمَقَامَاتِ وَلَا أَعْرِفُ مَا هِيَ الْمَقَامَاتُ كَبَّرْتُ قَرَأْتُ يَعْنِي اجْتَهَدْتُ يَعْنِي أُحَسِّنُ صَوْتِيْ وَأُجَمِّلُ صَوْتِي بِالْقُرْآنِ كَمَا هِيَ السُّنَّةُ الْأَدَاءُ الطَّبِيعِيُّ وَافَقَ مَقَامًا مِنَ الْمَقَامَاتِ يَعْنِي جَاءَ وَاحِدٌ يَعْرِفُ الْمَقَامَاتِ بَعْدَ الصَّلَاةِ قَالَ وَاللهِ يَا شَيْخُ أَنْتَ الْيَوْمَ ضَبَطْتَ مَقَامَ الْحِجَازِ وَلَا مَقَامَ مَا أَدْرِي أَيْش ؟ سَكَّ؟ سِيْكَ ؟ السَّاكِ ؟ سِيكَا ؟ السِّيكَا يُمْكِنُ وَاللهُ أَعْلَمُ يَعْنِي ضَبَطْتَ أَنْتَ جَيِّدٌ مَقَامًا يَعْنِي مَقَامًا جَيِّدٌ مَقَامًا الْيَوْمَ يَعْنِي إِبْدَاعُ مَقَامٍ ضَبَطْتَ الْمَقَامَ أَنْتَ طَيِّبٌ أَنَا مَا قَصَدْتُ هُوَ طَلَعَ كَذَا لَا حَرَجَ أَبَدًا وَيُعْتَبَرُ هَذَا مِنْ قَوْلِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ – رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ أَيْش يَعْنِي يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ ؟ يَعْنِي يُجَمِّلُ صَوْتَهُ بِالْقُرْآنِ يُحَسِّنُ أَدَاءَهُ بِالْقُرْآنِ هَذَا مُسْتَحَبٌّ مَا أَذِنَ اللهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِأَبِي مُوسَى يَعْنِي أَيْش قَالَ أَبُو مُوسَى؟ لَحَبَّرْتُ لَكَ تَحْبِيرًا – مُتَّفَقٌ عَلَيهِ جَوَّدْتُهُ وَحَسَّنْتُهُ طَيِّبٌ الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ الْأَلْحَانُ الْمَصْنُوعَةُ وَالْإِيقَاعَاتُ الصَّوْتِيَّةُ الَّتِي لَا تَحْصُلُ إِلَّا بِالتَّعَلُّمِ وَالتَّمْرِيْنِ وَلَهَا مَقَادِيرُ وَنِسَبٌ صَوْتِيَّةٌ مَقَامَاتٌ مَعْرُوفَةٌ عِنْدَهُمْ يَقُولُونَ الْحِجَازُ نَهَاوَنْد مَا أَدْرِي أَيْش عِنْدَهُمْ كَذَا مَقَامٌ وَهَذِهِ لَازِمٌ تُوجِبُ الْوَاحِدَ أَنْ يُعَلِّمَكَ أَوْ أَنْتَ تَأْخُذُ مَقَاطِعًا وَتَتَعَلَّمُهَا أَوْ مِنَ اليُوتُيوب وَلَا مِنْ…يَعْنِي إِلَى آخِرِهِ هَذَا تَكَلُّفٌ مَذْمُومٌ قَبِيحٌ لِأَيْش؟ لِأَنَّهُ أَصْلًا مَا هُوَ تَبَعَةُ أَهْلِ الْقُرْآنِ هَذَا تَبَعَةُ أَهْلِ الْغِنَاءِ فَجَاءَ مَنْ جَاءَ وَأَدْخَلَهُ فِي أَيْش ؟ فِي قِرَاءةِ الْقُرْآنِ وَقَالَ عَشَانِ مَا يُصِيْرُ نَشَازًا عَلَشَان عَلَشَان وَهُمْ يُوَافِقُونَ أَصْحَابَ الْغِنَاءِ وَيَتَعَلَّمُونَ مِنْ أَصْحَابِ الْغِنَاءِ وَيُطَبِّقُونَ قَوَاعِدَ الْغِنَاءِ يُطَبِّقُونَ فِي الْقُرْآنِ مَاذَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي زَادِ الْمَعَادِ؟ قَالَ وَكُلُّ مَنْ لَهُ عِلْمٌ بِأَحْوَالِ السَّلَفِ يَعْلَمُ قَطْعًا أَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنَ الْقِرَاءَةِ بِأَلْحَانِ الْمُوسِيقَى الْمُتَكَلَّفَةِ الَّتِي هِيَ إِيقَاعَاتٌ وَحَرَكَاتٌ مَوْزُونَةٌ مَعْدُودَةٌ مَحْدُودَةٌ وَأَنَّهُمْ أَتْقَى لِلهِ مِنْ أَنْ يَقْرَأُوا بِهَا وَيُسَوِّغُوهَا وَيَعْلَمُ قَطْعًا أَنَّهُمْ يَعْنِي السَّلَفَ كَانُوا يَقْرَؤُونَ بِالتَّحْزِينِ وَيُحَسِّنُونَ أَصْوَاتَهُمْ بِالْقُرْآنِ وَيَقْرَؤُونَهُ بِشَجِيٍّ تَارَةً وَبِشَوْقٍ تَارَةً وَهَذَا أَمْرٌ مَرْكُوزٌ فِي الطِّبَاعِ لَمْ يَنْهَ عَنْهُ الشَّرْعُ بَلْ أَرْشَدَ إِلَيْهِ وَنَدَبَ إِلَيْهِ إِذَنْ إِذَا جَاءَ تِلْقَائِيٌّ عَفَوِيٌّ لَا مَانِعَ بِالتَّعَلُّمِ مِنْ عِنْدَ أَهْلِ الْمُوسِيقَى أَهْلِ الأَغَانِي مَقَامَاتٍ وَطَبَّقُوا لَا لَا اُطْلُعْ اِنْزِلْ زَوِّقْ قَصِّرْ لِأَنْ يُدَرِّبُوهُمْ عَلَيْهَا سُبْحَانَ اللهِ بَعْضُ مَنْ لَا… بَعْضُ… بَعْضُ مَنْ يَعْنِي يَعْصِي اللهَ يُجِيبُ قُرَّاءَ الْقُرْآنِ وَيُدَرِّبُهُمْ عَلَيْهَا الْأَصْوَاتُ بِالنَّغَمَاتِ الْمُحْدَثَةِ الْمُرَكَّبَةِ عَنْ أَوْزَانٍ وَالْأَوْضَاعِ وَالْقَوَانِينِ الْغِنَائِيَّةِ نَسْأَلُ اللهَ السَّلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ  
Hukum Membaca Alquran dengan Irama (Maqamat) – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama Membaca al-Qur’an dengan irama, tentu ini bukan pembahasan musik. Musik adalah pembahasan lain lagi, kita sekarang tidak sedang membahas musik. Kita membahas tentang suara manusia, suara asli manusia. Seseorang yang membaca al-Qur’an dengan suaranya, tidak lepas dari dua kondisi: KONDISI PERTAMA: Lahn (irama). Tentu irama yang dimaksud sekarang adalah cara mengeluarkan suara ini dengan merdu. Cara melantunkan suara semacam ini apabila muncul secara spontan dan apa adanya, tanpa dipaksakan dan tidak dibuat-buat maka tidak mengapa walaupun iramanya mencocoki salah satu irama dari maqamat yang ada. Yakni misalnya, saya misalnya, saya tidak pernah belajar irama maqamat dan tidak mengerti sama sekali maqamat. Saya bertakbir kemudian saya membaca, yakni saya berusaha untuk memperbagus suara saya, dan memperindah suara saya dalam membaca al-Qur’an karena demikian sunahnya. Lantunannya alami, namun mencocoki salah satu irama maqamat, yakni ada seseorang yang paham tentang irama-irama maqamat ini. Setelah shalat, ia berkata, “Wahai Syaikh, demi Allah, hari ini Anda bagus sekali melantunkan maqam Hijaz.” Atau entah apa nama maqam-nya, Saka? Sika? Saki? Sika? Sika sepertinya, wallahu a’lam. Yakni Anda menguasai maqam ini, Anda bagus sekali melantunkan irama ini, merdu sekali, pas sekali iramanya. Anda… … baiklah, saya jawab, “Saya tidak berniat demikian, seperti itu irama saya keluar.” Ini tidak masalah sama sekali! Dan ini termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Barangsiapa yang tidak melagukan bacaan Al-Qur’an, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Bukhari) Apa maksud melagukan bacaan al-Qur’an? Maksudnya memperbagus suaranya ketika membaca al-Qur’an dan memperindah lantunan bacaannya. Ini sunah. “Allah tidak mendengar sesuatu sebagaimana Ia mendengar seorang nabi yang bagus suaranya dalam melantunkan Al-Qur’an.” (HR. Abu Daud) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara dengan Abu Musa, dan apa yang Abu Musa katakan? “Aku sungguh akan memperbagus untuk Anda.” (Muttafaqun ‘Alaihi) Maksudnya aku akan memperindah dan memerdukan suaraku. Baiklah… KONDISI KEDUA: Irama yang dibuat-buat dan intonasi suara yang tidak mungkin didapat kecuali dengan belajar dan berlatih. Yang menggunakan nada-nada, notasi-notasi suara, irama maqamat yang telah dikenal di kalangan mereka. Mereka menyebutnya maqam Hijaz, Nawahand, dan entah apa namanya, itulah maqam irama di kalangan mereka. Semacam ini pasti dan harus ada seseorang yang mengajari Anda atau Anda mengunduh video-video kemudian Anda pelajari, dari YouTube atau dari jejaring sosial lainnya. Ini bentuk membebani diri, tercela lagi buruk, kenapa? Karena ini sama sekali bukan pembawaan para ahli al-Qur’an, ini adalah pembawaan para penyanyi. Ada orang yang datang kemudian memasukkannya ke dalam bacaan al-Qur’an. Dia berkata agar suaranya tidak sumbang, agar begini dan agar begitu, sehingga mereka menyerupai para penyanyi. Dan mereka belajar dari para penyanyi dan menerapkan kaidah-kaidah dalam nyanyian, menerapkannya dalam bacaan al-Qur’an. Apa kata Ibnul Qayyim -Semoga Allah merahmati beliau- dalam kitab Zadul Ma’ad? Beliau berkata, “Semua orang yang paham keadaan orang-orang shaleh terdahulu akan sangat mengerti bahwa mereka berlepas diri dari cara membaca al-Qur’an dengan irama-irama musik yang dipaksa-paksakan, yang merupakan ritme dan intonasi yang terukur, terbatas, dan tertata. Dan sungguh mereka paling takut pada Allah sehingga tidak membaca dengan irama-irama ini dan tidak pula memperkenankannya. Dan akan paham betul bahwa mereka, -yakni para ulama salaf- membaca dengan penuh penghayatan … dan memperbagus suara mereka ketika membaca al-Qur’an, terkadang membacanya dengan irama yang merdu dan terkadang dengan penuh kerinduan. Dan ini adalah hal yang sudah tertanam dalam tabiat manusia, syariat tidak melarang hal ini bahkan memerintahkannya dan menganjurkannya, Jadi apabila muncul secara spontan dan natural maka tidak terlarang. Adapun dengan mempelajari irama-irama dari para pemusik dan penyanyi kemudian mempraktikkannya. Tidak! Tidak! Naik! Turun! Perlembut! Pendekkan!” Yakni dia melatih mereka seperti itu, -Subhanallah!-Sebagian orang, sebagian mereka adalah orang yang gemar bermaksiat kepada Allah, menyertai para qari al-Qur’an dan melatih mereka dengan suara-suara dengan intonasi modern yang terdiri dari notasi, intonasi dan aturan-aturan bernyanyi. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan kebaikan. ====================== الْقِرَاءةُ بِالْأَلْحَانِ طَبْعًا غَيْرُ مَوْضُوعِ الْمُوسِيقَى الْمُوسِيقَى هَذِهِ عَالَمٌ آخَرُ فَمَا نَتَكَلَّمُ الْآنَ عَنِ الْمُوسِيقَى نَتَكَلَّمُ عَنِ الصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ الصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ قِرَاءةُ الْإِنْسَانِ بِالصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ لِلْقُرْآنِ لَا تَخْرُجُ عَنْ حَالَتَيْنِ لَحْنٌ يَعْنِي الْمَقْصُودُ بِاللَّحْنِ طَبْعًا الْآنَ الْأَدَاءُ هَذَا الصَّوْتِ الشَّجِيِّ هَذَا طَرِيقَةُ الْأَدَاءِ الصَّوْتِيَّةِ إِذَا كَانَتْ تِلْقَائِيًّا عَفَوِيًّا مِنْ غَيْرِ تَكَلُّفٍ وَلَا تَصَنُّعٍ لَا بَأْسَ وَلَوْ وَافَقَتْ مَقَامًا مِنَ الْمَقَامَاتِ يَعْنِي مَثَلًا أَنَا مَثَلًا مَا دَرَسْتُ الْمَقَامَاتِ وَلَا أَعْرِفُ مَا هِيَ الْمَقَامَاتُ كَبَّرْتُ قَرَأْتُ يَعْنِي اجْتَهَدْتُ يَعْنِي أُحَسِّنُ صَوْتِيْ وَأُجَمِّلُ صَوْتِي بِالْقُرْآنِ كَمَا هِيَ السُّنَّةُ الْأَدَاءُ الطَّبِيعِيُّ وَافَقَ مَقَامًا مِنَ الْمَقَامَاتِ يَعْنِي جَاءَ وَاحِدٌ يَعْرِفُ الْمَقَامَاتِ بَعْدَ الصَّلَاةِ قَالَ وَاللهِ يَا شَيْخُ أَنْتَ الْيَوْمَ ضَبَطْتَ مَقَامَ الْحِجَازِ وَلَا مَقَامَ مَا أَدْرِي أَيْش ؟ سَكَّ؟ سِيْكَ ؟ السَّاكِ ؟ سِيكَا ؟ السِّيكَا يُمْكِنُ وَاللهُ أَعْلَمُ يَعْنِي ضَبَطْتَ أَنْتَ جَيِّدٌ مَقَامًا يَعْنِي مَقَامًا جَيِّدٌ مَقَامًا الْيَوْمَ يَعْنِي إِبْدَاعُ مَقَامٍ ضَبَطْتَ الْمَقَامَ أَنْتَ طَيِّبٌ أَنَا مَا قَصَدْتُ هُوَ طَلَعَ كَذَا لَا حَرَجَ أَبَدًا وَيُعْتَبَرُ هَذَا مِنْ قَوْلِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ – رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ أَيْش يَعْنِي يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ ؟ يَعْنِي يُجَمِّلُ صَوْتَهُ بِالْقُرْآنِ يُحَسِّنُ أَدَاءَهُ بِالْقُرْآنِ هَذَا مُسْتَحَبٌّ مَا أَذِنَ اللهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِأَبِي مُوسَى يَعْنِي أَيْش قَالَ أَبُو مُوسَى؟ لَحَبَّرْتُ لَكَ تَحْبِيرًا – مُتَّفَقٌ عَلَيهِ جَوَّدْتُهُ وَحَسَّنْتُهُ طَيِّبٌ الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ الْأَلْحَانُ الْمَصْنُوعَةُ وَالْإِيقَاعَاتُ الصَّوْتِيَّةُ الَّتِي لَا تَحْصُلُ إِلَّا بِالتَّعَلُّمِ وَالتَّمْرِيْنِ وَلَهَا مَقَادِيرُ وَنِسَبٌ صَوْتِيَّةٌ مَقَامَاتٌ مَعْرُوفَةٌ عِنْدَهُمْ يَقُولُونَ الْحِجَازُ نَهَاوَنْد مَا أَدْرِي أَيْش عِنْدَهُمْ كَذَا مَقَامٌ وَهَذِهِ لَازِمٌ تُوجِبُ الْوَاحِدَ أَنْ يُعَلِّمَكَ أَوْ أَنْتَ تَأْخُذُ مَقَاطِعًا وَتَتَعَلَّمُهَا أَوْ مِنَ اليُوتُيوب وَلَا مِنْ…يَعْنِي إِلَى آخِرِهِ هَذَا تَكَلُّفٌ مَذْمُومٌ قَبِيحٌ لِأَيْش؟ لِأَنَّهُ أَصْلًا مَا هُوَ تَبَعَةُ أَهْلِ الْقُرْآنِ هَذَا تَبَعَةُ أَهْلِ الْغِنَاءِ فَجَاءَ مَنْ جَاءَ وَأَدْخَلَهُ فِي أَيْش ؟ فِي قِرَاءةِ الْقُرْآنِ وَقَالَ عَشَانِ مَا يُصِيْرُ نَشَازًا عَلَشَان عَلَشَان وَهُمْ يُوَافِقُونَ أَصْحَابَ الْغِنَاءِ وَيَتَعَلَّمُونَ مِنْ أَصْحَابِ الْغِنَاءِ وَيُطَبِّقُونَ قَوَاعِدَ الْغِنَاءِ يُطَبِّقُونَ فِي الْقُرْآنِ مَاذَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي زَادِ الْمَعَادِ؟ قَالَ وَكُلُّ مَنْ لَهُ عِلْمٌ بِأَحْوَالِ السَّلَفِ يَعْلَمُ قَطْعًا أَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنَ الْقِرَاءَةِ بِأَلْحَانِ الْمُوسِيقَى الْمُتَكَلَّفَةِ الَّتِي هِيَ إِيقَاعَاتٌ وَحَرَكَاتٌ مَوْزُونَةٌ مَعْدُودَةٌ مَحْدُودَةٌ وَأَنَّهُمْ أَتْقَى لِلهِ مِنْ أَنْ يَقْرَأُوا بِهَا وَيُسَوِّغُوهَا وَيَعْلَمُ قَطْعًا أَنَّهُمْ يَعْنِي السَّلَفَ كَانُوا يَقْرَؤُونَ بِالتَّحْزِينِ وَيُحَسِّنُونَ أَصْوَاتَهُمْ بِالْقُرْآنِ وَيَقْرَؤُونَهُ بِشَجِيٍّ تَارَةً وَبِشَوْقٍ تَارَةً وَهَذَا أَمْرٌ مَرْكُوزٌ فِي الطِّبَاعِ لَمْ يَنْهَ عَنْهُ الشَّرْعُ بَلْ أَرْشَدَ إِلَيْهِ وَنَدَبَ إِلَيْهِ إِذَنْ إِذَا جَاءَ تِلْقَائِيٌّ عَفَوِيٌّ لَا مَانِعَ بِالتَّعَلُّمِ مِنْ عِنْدَ أَهْلِ الْمُوسِيقَى أَهْلِ الأَغَانِي مَقَامَاتٍ وَطَبَّقُوا لَا لَا اُطْلُعْ اِنْزِلْ زَوِّقْ قَصِّرْ لِأَنْ يُدَرِّبُوهُمْ عَلَيْهَا سُبْحَانَ اللهِ بَعْضُ مَنْ لَا… بَعْضُ… بَعْضُ مَنْ يَعْنِي يَعْصِي اللهَ يُجِيبُ قُرَّاءَ الْقُرْآنِ وَيُدَرِّبُهُمْ عَلَيْهَا الْأَصْوَاتُ بِالنَّغَمَاتِ الْمُحْدَثَةِ الْمُرَكَّبَةِ عَنْ أَوْزَانٍ وَالْأَوْضَاعِ وَالْقَوَانِينِ الْغِنَائِيَّةِ نَسْأَلُ اللهَ السَّلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ  


Hukum Membaca Alquran dengan Irama (Maqamat) – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama Membaca al-Qur’an dengan irama, tentu ini bukan pembahasan musik. Musik adalah pembahasan lain lagi, kita sekarang tidak sedang membahas musik. Kita membahas tentang suara manusia, suara asli manusia. Seseorang yang membaca al-Qur’an dengan suaranya, tidak lepas dari dua kondisi: KONDISI PERTAMA: Lahn (irama). Tentu irama yang dimaksud sekarang adalah cara mengeluarkan suara ini dengan merdu. Cara melantunkan suara semacam ini apabila muncul secara spontan dan apa adanya, tanpa dipaksakan dan tidak dibuat-buat maka tidak mengapa walaupun iramanya mencocoki salah satu irama dari maqamat yang ada. Yakni misalnya, saya misalnya, saya tidak pernah belajar irama maqamat dan tidak mengerti sama sekali maqamat. Saya bertakbir kemudian saya membaca, yakni saya berusaha untuk memperbagus suara saya, dan memperindah suara saya dalam membaca al-Qur’an karena demikian sunahnya. Lantunannya alami, namun mencocoki salah satu irama maqamat, yakni ada seseorang yang paham tentang irama-irama maqamat ini. Setelah shalat, ia berkata, “Wahai Syaikh, demi Allah, hari ini Anda bagus sekali melantunkan maqam Hijaz.” Atau entah apa nama maqam-nya, Saka? Sika? Saki? Sika? Sika sepertinya, wallahu a’lam. Yakni Anda menguasai maqam ini, Anda bagus sekali melantunkan irama ini, merdu sekali, pas sekali iramanya. Anda… … baiklah, saya jawab, “Saya tidak berniat demikian, seperti itu irama saya keluar.” Ini tidak masalah sama sekali! Dan ini termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Barangsiapa yang tidak melagukan bacaan Al-Qur’an, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Bukhari) Apa maksud melagukan bacaan al-Qur’an? Maksudnya memperbagus suaranya ketika membaca al-Qur’an dan memperindah lantunan bacaannya. Ini sunah. “Allah tidak mendengar sesuatu sebagaimana Ia mendengar seorang nabi yang bagus suaranya dalam melantunkan Al-Qur’an.” (HR. Abu Daud) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara dengan Abu Musa, dan apa yang Abu Musa katakan? “Aku sungguh akan memperbagus untuk Anda.” (Muttafaqun ‘Alaihi) Maksudnya aku akan memperindah dan memerdukan suaraku. Baiklah… KONDISI KEDUA: Irama yang dibuat-buat dan intonasi suara yang tidak mungkin didapat kecuali dengan belajar dan berlatih. Yang menggunakan nada-nada, notasi-notasi suara, irama maqamat yang telah dikenal di kalangan mereka. Mereka menyebutnya maqam Hijaz, Nawahand, dan entah apa namanya, itulah maqam irama di kalangan mereka. Semacam ini pasti dan harus ada seseorang yang mengajari Anda atau Anda mengunduh video-video kemudian Anda pelajari, dari YouTube atau dari jejaring sosial lainnya. Ini bentuk membebani diri, tercela lagi buruk, kenapa? Karena ini sama sekali bukan pembawaan para ahli al-Qur’an, ini adalah pembawaan para penyanyi. Ada orang yang datang kemudian memasukkannya ke dalam bacaan al-Qur’an. Dia berkata agar suaranya tidak sumbang, agar begini dan agar begitu, sehingga mereka menyerupai para penyanyi. Dan mereka belajar dari para penyanyi dan menerapkan kaidah-kaidah dalam nyanyian, menerapkannya dalam bacaan al-Qur’an. Apa kata Ibnul Qayyim -Semoga Allah merahmati beliau- dalam kitab Zadul Ma’ad? Beliau berkata, “Semua orang yang paham keadaan orang-orang shaleh terdahulu akan sangat mengerti bahwa mereka berlepas diri dari cara membaca al-Qur’an dengan irama-irama musik yang dipaksa-paksakan, yang merupakan ritme dan intonasi yang terukur, terbatas, dan tertata. Dan sungguh mereka paling takut pada Allah sehingga tidak membaca dengan irama-irama ini dan tidak pula memperkenankannya. Dan akan paham betul bahwa mereka, -yakni para ulama salaf- membaca dengan penuh penghayatan … dan memperbagus suara mereka ketika membaca al-Qur’an, terkadang membacanya dengan irama yang merdu dan terkadang dengan penuh kerinduan. Dan ini adalah hal yang sudah tertanam dalam tabiat manusia, syariat tidak melarang hal ini bahkan memerintahkannya dan menganjurkannya, Jadi apabila muncul secara spontan dan natural maka tidak terlarang. Adapun dengan mempelajari irama-irama dari para pemusik dan penyanyi kemudian mempraktikkannya. Tidak! Tidak! Naik! Turun! Perlembut! Pendekkan!” Yakni dia melatih mereka seperti itu, -Subhanallah!-Sebagian orang, sebagian mereka adalah orang yang gemar bermaksiat kepada Allah, menyertai para qari al-Qur’an dan melatih mereka dengan suara-suara dengan intonasi modern yang terdiri dari notasi, intonasi dan aturan-aturan bernyanyi. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan kebaikan. ====================== الْقِرَاءةُ بِالْأَلْحَانِ طَبْعًا غَيْرُ مَوْضُوعِ الْمُوسِيقَى الْمُوسِيقَى هَذِهِ عَالَمٌ آخَرُ فَمَا نَتَكَلَّمُ الْآنَ عَنِ الْمُوسِيقَى نَتَكَلَّمُ عَنِ الصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ الصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ قِرَاءةُ الْإِنْسَانِ بِالصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ لِلْقُرْآنِ لَا تَخْرُجُ عَنْ حَالَتَيْنِ لَحْنٌ يَعْنِي الْمَقْصُودُ بِاللَّحْنِ طَبْعًا الْآنَ الْأَدَاءُ هَذَا الصَّوْتِ الشَّجِيِّ هَذَا طَرِيقَةُ الْأَدَاءِ الصَّوْتِيَّةِ إِذَا كَانَتْ تِلْقَائِيًّا عَفَوِيًّا مِنْ غَيْرِ تَكَلُّفٍ وَلَا تَصَنُّعٍ لَا بَأْسَ وَلَوْ وَافَقَتْ مَقَامًا مِنَ الْمَقَامَاتِ يَعْنِي مَثَلًا أَنَا مَثَلًا مَا دَرَسْتُ الْمَقَامَاتِ وَلَا أَعْرِفُ مَا هِيَ الْمَقَامَاتُ كَبَّرْتُ قَرَأْتُ يَعْنِي اجْتَهَدْتُ يَعْنِي أُحَسِّنُ صَوْتِيْ وَأُجَمِّلُ صَوْتِي بِالْقُرْآنِ كَمَا هِيَ السُّنَّةُ الْأَدَاءُ الطَّبِيعِيُّ وَافَقَ مَقَامًا مِنَ الْمَقَامَاتِ يَعْنِي جَاءَ وَاحِدٌ يَعْرِفُ الْمَقَامَاتِ بَعْدَ الصَّلَاةِ قَالَ وَاللهِ يَا شَيْخُ أَنْتَ الْيَوْمَ ضَبَطْتَ مَقَامَ الْحِجَازِ وَلَا مَقَامَ مَا أَدْرِي أَيْش ؟ سَكَّ؟ سِيْكَ ؟ السَّاكِ ؟ سِيكَا ؟ السِّيكَا يُمْكِنُ وَاللهُ أَعْلَمُ يَعْنِي ضَبَطْتَ أَنْتَ جَيِّدٌ مَقَامًا يَعْنِي مَقَامًا جَيِّدٌ مَقَامًا الْيَوْمَ يَعْنِي إِبْدَاعُ مَقَامٍ ضَبَطْتَ الْمَقَامَ أَنْتَ طَيِّبٌ أَنَا مَا قَصَدْتُ هُوَ طَلَعَ كَذَا لَا حَرَجَ أَبَدًا وَيُعْتَبَرُ هَذَا مِنْ قَوْلِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ – رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ أَيْش يَعْنِي يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ ؟ يَعْنِي يُجَمِّلُ صَوْتَهُ بِالْقُرْآنِ يُحَسِّنُ أَدَاءَهُ بِالْقُرْآنِ هَذَا مُسْتَحَبٌّ مَا أَذِنَ اللهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِأَبِي مُوسَى يَعْنِي أَيْش قَالَ أَبُو مُوسَى؟ لَحَبَّرْتُ لَكَ تَحْبِيرًا – مُتَّفَقٌ عَلَيهِ جَوَّدْتُهُ وَحَسَّنْتُهُ طَيِّبٌ الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ الْأَلْحَانُ الْمَصْنُوعَةُ وَالْإِيقَاعَاتُ الصَّوْتِيَّةُ الَّتِي لَا تَحْصُلُ إِلَّا بِالتَّعَلُّمِ وَالتَّمْرِيْنِ وَلَهَا مَقَادِيرُ وَنِسَبٌ صَوْتِيَّةٌ مَقَامَاتٌ مَعْرُوفَةٌ عِنْدَهُمْ يَقُولُونَ الْحِجَازُ نَهَاوَنْد مَا أَدْرِي أَيْش عِنْدَهُمْ كَذَا مَقَامٌ وَهَذِهِ لَازِمٌ تُوجِبُ الْوَاحِدَ أَنْ يُعَلِّمَكَ أَوْ أَنْتَ تَأْخُذُ مَقَاطِعًا وَتَتَعَلَّمُهَا أَوْ مِنَ اليُوتُيوب وَلَا مِنْ…يَعْنِي إِلَى آخِرِهِ هَذَا تَكَلُّفٌ مَذْمُومٌ قَبِيحٌ لِأَيْش؟ لِأَنَّهُ أَصْلًا مَا هُوَ تَبَعَةُ أَهْلِ الْقُرْآنِ هَذَا تَبَعَةُ أَهْلِ الْغِنَاءِ فَجَاءَ مَنْ جَاءَ وَأَدْخَلَهُ فِي أَيْش ؟ فِي قِرَاءةِ الْقُرْآنِ وَقَالَ عَشَانِ مَا يُصِيْرُ نَشَازًا عَلَشَان عَلَشَان وَهُمْ يُوَافِقُونَ أَصْحَابَ الْغِنَاءِ وَيَتَعَلَّمُونَ مِنْ أَصْحَابِ الْغِنَاءِ وَيُطَبِّقُونَ قَوَاعِدَ الْغِنَاءِ يُطَبِّقُونَ فِي الْقُرْآنِ مَاذَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي زَادِ الْمَعَادِ؟ قَالَ وَكُلُّ مَنْ لَهُ عِلْمٌ بِأَحْوَالِ السَّلَفِ يَعْلَمُ قَطْعًا أَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنَ الْقِرَاءَةِ بِأَلْحَانِ الْمُوسِيقَى الْمُتَكَلَّفَةِ الَّتِي هِيَ إِيقَاعَاتٌ وَحَرَكَاتٌ مَوْزُونَةٌ مَعْدُودَةٌ مَحْدُودَةٌ وَأَنَّهُمْ أَتْقَى لِلهِ مِنْ أَنْ يَقْرَأُوا بِهَا وَيُسَوِّغُوهَا وَيَعْلَمُ قَطْعًا أَنَّهُمْ يَعْنِي السَّلَفَ كَانُوا يَقْرَؤُونَ بِالتَّحْزِينِ وَيُحَسِّنُونَ أَصْوَاتَهُمْ بِالْقُرْآنِ وَيَقْرَؤُونَهُ بِشَجِيٍّ تَارَةً وَبِشَوْقٍ تَارَةً وَهَذَا أَمْرٌ مَرْكُوزٌ فِي الطِّبَاعِ لَمْ يَنْهَ عَنْهُ الشَّرْعُ بَلْ أَرْشَدَ إِلَيْهِ وَنَدَبَ إِلَيْهِ إِذَنْ إِذَا جَاءَ تِلْقَائِيٌّ عَفَوِيٌّ لَا مَانِعَ بِالتَّعَلُّمِ مِنْ عِنْدَ أَهْلِ الْمُوسِيقَى أَهْلِ الأَغَانِي مَقَامَاتٍ وَطَبَّقُوا لَا لَا اُطْلُعْ اِنْزِلْ زَوِّقْ قَصِّرْ لِأَنْ يُدَرِّبُوهُمْ عَلَيْهَا سُبْحَانَ اللهِ بَعْضُ مَنْ لَا… بَعْضُ… بَعْضُ مَنْ يَعْنِي يَعْصِي اللهَ يُجِيبُ قُرَّاءَ الْقُرْآنِ وَيُدَرِّبُهُمْ عَلَيْهَا الْأَصْوَاتُ بِالنَّغَمَاتِ الْمُحْدَثَةِ الْمُرَكَّبَةِ عَنْ أَوْزَانٍ وَالْأَوْضَاعِ وَالْقَوَانِينِ الْغِنَائِيَّةِ نَسْأَلُ اللهَ السَّلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ  

Hukum Shalat Membaca Al-Quran – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama

Hukum Shalat Membaca Al-Quran – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama Baiklah, apa hukum membaca al-Qur’an dari mushaf ketika shalat? Membaca al-Qur’an dari mushaf ketika shalat dibolehkan, baik itu di bulan Ramadhan maupun lainnya, di shalat sunnah maupun shalat wajib saat shalat jahriyah, jika itu memang dibutuhkan. Dalilnya adalah dahulu Dzakwan, budak ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjadi imam shalatnya di bulan Ramadhan dengan membaca dari mushaf. Imam al-Bukhari menyebutkan dalam ash-Shahih komentar yang tegas; “Jika seorang imam tidak menghafal surat-surat mufasshal, tidak pula surat-surat lainnya dalam al-Qur’an, maka boleh baginya membaca dari mushaf.” Di sebagian negeri, sebagian kampung, dan bahkan sebagian kota mungkin saja ada imam masjid yang tidak memiliki hafalan; Kami katakan, “Bacalah surat-surat pendek.” – Bahkan di Shalat Subuh? – Kami katakan, “Bahkan di Shalat Subuh.” Kamu dapat membaca lebih dari satu surat dalam satu rakaat. Kita umpamakan saja ada orang awam yang hanya menghafal surat-surat pendek, namun ia ingin shalat malam selama 2 jam. Maka bagaimana caranya agar ia dapat shalat malam selama 2 jam. Kami katakan, “Bacalah surat-surat pendek setelah al-Fatihah dengan mengulang-ulanginya. Ulangi 10 kali… atau 20 kali… Tidak mengapa. Dan jika kamu ingin membaca dari mushaf juga tidak mengapa. =============== طَيِّبٌ مَا حُكْمُ الْقِرَاءَةِ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الْمُصْحَفِ؟ تَجُوزُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الْمُصْحَفِ فِي رَمَضَانَ وَفِي غَيْرِهِ فِي النَّافِلَةِ وَفِي الْفَرِيضَةِ أَثْنَاءَ الصَّلَاةِ الْجَهْرِيَّةِ إِذَا دَعَتِ الْحَاجَةُ إِلَى ذَلِكَ الدَّلِيلُ كَانَ ذَكْوَانُ مَوْلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا يُصَلِّي بِهَا فِي رَمَضَانَ مِنْ مُصْحَفٍ ذَكَرَهَا الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ تَعْلِيْقًا مَجْزُوْمًا بِهِ فَإِذَا كَانَ الْإِمَامُ لَا يَحْفَظُ الْمُفَصَّلَ وَلَا غَيْرَهُ مِنْ بَقِيَّةِ الْقُرْآنِ جَازَ لَهُ أَنْ يَقْرَأَ مِنَ الْمُصْحَفِ فِي بَعْضِ البُلْدَانِ فِي بَعْضِ الْقُرَى حَتَّى الْمُدُنِ مُمْكِنٌ يَعْنِي يَصِيرُ فِيهِ إِمَامٌ لِلْمَسْجِدِ بَسْ مَا يَحْفَظُ نَقُولُ اقْرَأْ مِنْ قِصَارِ السُّوَرِ – يَقُولُ حَتَّى فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ؟ – نَقُولُ حَتَّى فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ مُمْكِنٌ تَقْرَأُ أَكْثَرَ مِنْ سُورَةِ فِي الرَّكْعَةِ الْوَاحِدَةِ يَعْنِي لِنَفْتَرِضَ أَنَّ هُنَاكَ شَخْصٌ عَامِّيٌّ لَا يَحْفَظُ إِلَّا قِصَارَ السُّوَرِ وَيُرِيدُ أَنْ يُصَلِّيَ اللَّيْلَ سَاعَتَيْنِ كَيْفَ يُصَلِّي اللَّيْلَ سَاعَتَيْن؟ نَقُولُ اقْرَأْ قِصَارَ السُّوَرِ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ وَكَرِّرْهَا كَرِّرْهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ عِشْرِينَ مَرَّةً لَا مَانِعَ وَإِنْ أَرَدْتَ أَنْ تَقْرَأَ مِنْ مُصْحَفٍ فَلَا مَانِعَ

Hukum Shalat Membaca Al-Quran – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama

Hukum Shalat Membaca Al-Quran – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama Baiklah, apa hukum membaca al-Qur’an dari mushaf ketika shalat? Membaca al-Qur’an dari mushaf ketika shalat dibolehkan, baik itu di bulan Ramadhan maupun lainnya, di shalat sunnah maupun shalat wajib saat shalat jahriyah, jika itu memang dibutuhkan. Dalilnya adalah dahulu Dzakwan, budak ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjadi imam shalatnya di bulan Ramadhan dengan membaca dari mushaf. Imam al-Bukhari menyebutkan dalam ash-Shahih komentar yang tegas; “Jika seorang imam tidak menghafal surat-surat mufasshal, tidak pula surat-surat lainnya dalam al-Qur’an, maka boleh baginya membaca dari mushaf.” Di sebagian negeri, sebagian kampung, dan bahkan sebagian kota mungkin saja ada imam masjid yang tidak memiliki hafalan; Kami katakan, “Bacalah surat-surat pendek.” – Bahkan di Shalat Subuh? – Kami katakan, “Bahkan di Shalat Subuh.” Kamu dapat membaca lebih dari satu surat dalam satu rakaat. Kita umpamakan saja ada orang awam yang hanya menghafal surat-surat pendek, namun ia ingin shalat malam selama 2 jam. Maka bagaimana caranya agar ia dapat shalat malam selama 2 jam. Kami katakan, “Bacalah surat-surat pendek setelah al-Fatihah dengan mengulang-ulanginya. Ulangi 10 kali… atau 20 kali… Tidak mengapa. Dan jika kamu ingin membaca dari mushaf juga tidak mengapa. =============== طَيِّبٌ مَا حُكْمُ الْقِرَاءَةِ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الْمُصْحَفِ؟ تَجُوزُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الْمُصْحَفِ فِي رَمَضَانَ وَفِي غَيْرِهِ فِي النَّافِلَةِ وَفِي الْفَرِيضَةِ أَثْنَاءَ الصَّلَاةِ الْجَهْرِيَّةِ إِذَا دَعَتِ الْحَاجَةُ إِلَى ذَلِكَ الدَّلِيلُ كَانَ ذَكْوَانُ مَوْلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا يُصَلِّي بِهَا فِي رَمَضَانَ مِنْ مُصْحَفٍ ذَكَرَهَا الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ تَعْلِيْقًا مَجْزُوْمًا بِهِ فَإِذَا كَانَ الْإِمَامُ لَا يَحْفَظُ الْمُفَصَّلَ وَلَا غَيْرَهُ مِنْ بَقِيَّةِ الْقُرْآنِ جَازَ لَهُ أَنْ يَقْرَأَ مِنَ الْمُصْحَفِ فِي بَعْضِ البُلْدَانِ فِي بَعْضِ الْقُرَى حَتَّى الْمُدُنِ مُمْكِنٌ يَعْنِي يَصِيرُ فِيهِ إِمَامٌ لِلْمَسْجِدِ بَسْ مَا يَحْفَظُ نَقُولُ اقْرَأْ مِنْ قِصَارِ السُّوَرِ – يَقُولُ حَتَّى فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ؟ – نَقُولُ حَتَّى فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ مُمْكِنٌ تَقْرَأُ أَكْثَرَ مِنْ سُورَةِ فِي الرَّكْعَةِ الْوَاحِدَةِ يَعْنِي لِنَفْتَرِضَ أَنَّ هُنَاكَ شَخْصٌ عَامِّيٌّ لَا يَحْفَظُ إِلَّا قِصَارَ السُّوَرِ وَيُرِيدُ أَنْ يُصَلِّيَ اللَّيْلَ سَاعَتَيْنِ كَيْفَ يُصَلِّي اللَّيْلَ سَاعَتَيْن؟ نَقُولُ اقْرَأْ قِصَارَ السُّوَرِ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ وَكَرِّرْهَا كَرِّرْهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ عِشْرِينَ مَرَّةً لَا مَانِعَ وَإِنْ أَرَدْتَ أَنْ تَقْرَأَ مِنْ مُصْحَفٍ فَلَا مَانِعَ
Hukum Shalat Membaca Al-Quran – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama Baiklah, apa hukum membaca al-Qur’an dari mushaf ketika shalat? Membaca al-Qur’an dari mushaf ketika shalat dibolehkan, baik itu di bulan Ramadhan maupun lainnya, di shalat sunnah maupun shalat wajib saat shalat jahriyah, jika itu memang dibutuhkan. Dalilnya adalah dahulu Dzakwan, budak ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjadi imam shalatnya di bulan Ramadhan dengan membaca dari mushaf. Imam al-Bukhari menyebutkan dalam ash-Shahih komentar yang tegas; “Jika seorang imam tidak menghafal surat-surat mufasshal, tidak pula surat-surat lainnya dalam al-Qur’an, maka boleh baginya membaca dari mushaf.” Di sebagian negeri, sebagian kampung, dan bahkan sebagian kota mungkin saja ada imam masjid yang tidak memiliki hafalan; Kami katakan, “Bacalah surat-surat pendek.” – Bahkan di Shalat Subuh? – Kami katakan, “Bahkan di Shalat Subuh.” Kamu dapat membaca lebih dari satu surat dalam satu rakaat. Kita umpamakan saja ada orang awam yang hanya menghafal surat-surat pendek, namun ia ingin shalat malam selama 2 jam. Maka bagaimana caranya agar ia dapat shalat malam selama 2 jam. Kami katakan, “Bacalah surat-surat pendek setelah al-Fatihah dengan mengulang-ulanginya. Ulangi 10 kali… atau 20 kali… Tidak mengapa. Dan jika kamu ingin membaca dari mushaf juga tidak mengapa. =============== طَيِّبٌ مَا حُكْمُ الْقِرَاءَةِ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الْمُصْحَفِ؟ تَجُوزُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الْمُصْحَفِ فِي رَمَضَانَ وَفِي غَيْرِهِ فِي النَّافِلَةِ وَفِي الْفَرِيضَةِ أَثْنَاءَ الصَّلَاةِ الْجَهْرِيَّةِ إِذَا دَعَتِ الْحَاجَةُ إِلَى ذَلِكَ الدَّلِيلُ كَانَ ذَكْوَانُ مَوْلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا يُصَلِّي بِهَا فِي رَمَضَانَ مِنْ مُصْحَفٍ ذَكَرَهَا الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ تَعْلِيْقًا مَجْزُوْمًا بِهِ فَإِذَا كَانَ الْإِمَامُ لَا يَحْفَظُ الْمُفَصَّلَ وَلَا غَيْرَهُ مِنْ بَقِيَّةِ الْقُرْآنِ جَازَ لَهُ أَنْ يَقْرَأَ مِنَ الْمُصْحَفِ فِي بَعْضِ البُلْدَانِ فِي بَعْضِ الْقُرَى حَتَّى الْمُدُنِ مُمْكِنٌ يَعْنِي يَصِيرُ فِيهِ إِمَامٌ لِلْمَسْجِدِ بَسْ مَا يَحْفَظُ نَقُولُ اقْرَأْ مِنْ قِصَارِ السُّوَرِ – يَقُولُ حَتَّى فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ؟ – نَقُولُ حَتَّى فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ مُمْكِنٌ تَقْرَأُ أَكْثَرَ مِنْ سُورَةِ فِي الرَّكْعَةِ الْوَاحِدَةِ يَعْنِي لِنَفْتَرِضَ أَنَّ هُنَاكَ شَخْصٌ عَامِّيٌّ لَا يَحْفَظُ إِلَّا قِصَارَ السُّوَرِ وَيُرِيدُ أَنْ يُصَلِّيَ اللَّيْلَ سَاعَتَيْنِ كَيْفَ يُصَلِّي اللَّيْلَ سَاعَتَيْن؟ نَقُولُ اقْرَأْ قِصَارَ السُّوَرِ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ وَكَرِّرْهَا كَرِّرْهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ عِشْرِينَ مَرَّةً لَا مَانِعَ وَإِنْ أَرَدْتَ أَنْ تَقْرَأَ مِنْ مُصْحَفٍ فَلَا مَانِعَ


Hukum Shalat Membaca Al-Quran – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama Baiklah, apa hukum membaca al-Qur’an dari mushaf ketika shalat? Membaca al-Qur’an dari mushaf ketika shalat dibolehkan, baik itu di bulan Ramadhan maupun lainnya, di shalat sunnah maupun shalat wajib saat shalat jahriyah, jika itu memang dibutuhkan. Dalilnya adalah dahulu Dzakwan, budak ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjadi imam shalatnya di bulan Ramadhan dengan membaca dari mushaf. Imam al-Bukhari menyebutkan dalam ash-Shahih komentar yang tegas; “Jika seorang imam tidak menghafal surat-surat mufasshal, tidak pula surat-surat lainnya dalam al-Qur’an, maka boleh baginya membaca dari mushaf.” Di sebagian negeri, sebagian kampung, dan bahkan sebagian kota mungkin saja ada imam masjid yang tidak memiliki hafalan; Kami katakan, “Bacalah surat-surat pendek.” – Bahkan di Shalat Subuh? – Kami katakan, “Bahkan di Shalat Subuh.” Kamu dapat membaca lebih dari satu surat dalam satu rakaat. Kita umpamakan saja ada orang awam yang hanya menghafal surat-surat pendek, namun ia ingin shalat malam selama 2 jam. Maka bagaimana caranya agar ia dapat shalat malam selama 2 jam. Kami katakan, “Bacalah surat-surat pendek setelah al-Fatihah dengan mengulang-ulanginya. Ulangi 10 kali… atau 20 kali… Tidak mengapa. Dan jika kamu ingin membaca dari mushaf juga tidak mengapa. =============== طَيِّبٌ مَا حُكْمُ الْقِرَاءَةِ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الْمُصْحَفِ؟ تَجُوزُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الْمُصْحَفِ فِي رَمَضَانَ وَفِي غَيْرِهِ فِي النَّافِلَةِ وَفِي الْفَرِيضَةِ أَثْنَاءَ الصَّلَاةِ الْجَهْرِيَّةِ إِذَا دَعَتِ الْحَاجَةُ إِلَى ذَلِكَ الدَّلِيلُ كَانَ ذَكْوَانُ مَوْلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا يُصَلِّي بِهَا فِي رَمَضَانَ مِنْ مُصْحَفٍ ذَكَرَهَا الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ تَعْلِيْقًا مَجْزُوْمًا بِهِ فَإِذَا كَانَ الْإِمَامُ لَا يَحْفَظُ الْمُفَصَّلَ وَلَا غَيْرَهُ مِنْ بَقِيَّةِ الْقُرْآنِ جَازَ لَهُ أَنْ يَقْرَأَ مِنَ الْمُصْحَفِ فِي بَعْضِ البُلْدَانِ فِي بَعْضِ الْقُرَى حَتَّى الْمُدُنِ مُمْكِنٌ يَعْنِي يَصِيرُ فِيهِ إِمَامٌ لِلْمَسْجِدِ بَسْ مَا يَحْفَظُ نَقُولُ اقْرَأْ مِنْ قِصَارِ السُّوَرِ – يَقُولُ حَتَّى فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ؟ – نَقُولُ حَتَّى فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ مُمْكِنٌ تَقْرَأُ أَكْثَرَ مِنْ سُورَةِ فِي الرَّكْعَةِ الْوَاحِدَةِ يَعْنِي لِنَفْتَرِضَ أَنَّ هُنَاكَ شَخْصٌ عَامِّيٌّ لَا يَحْفَظُ إِلَّا قِصَارَ السُّوَرِ وَيُرِيدُ أَنْ يُصَلِّيَ اللَّيْلَ سَاعَتَيْنِ كَيْفَ يُصَلِّي اللَّيْلَ سَاعَتَيْن؟ نَقُولُ اقْرَأْ قِصَارَ السُّوَرِ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ وَكَرِّرْهَا كَرِّرْهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ عِشْرِينَ مَرَّةً لَا مَانِعَ وَإِنْ أَرَدْتَ أَنْ تَقْرَأَ مِنْ مُصْحَفٍ فَلَا مَانِعَ

Khutbah Jumat: 4 Hal Terkait Kubur yang Mesti Kita Tahu

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait kubur. Semoga jadi pelajaran berharga bagi kita dari khutbah Jumat berikut ini. Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Ada Tiga Pertanyaan di Alam Kubur 3. Kubur akan Menjadi Sempit 4. Ada Tiga Larangan Penting Terkait Kubur 5. Ada Larangan Shalat di Kubur Kecuali Shalat Jenazah 6. Khutbah Kedua Khutbah Pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah. Mengawali khutbah kali ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jamaah sekalian agar kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena kita itu semakin mulia dengan takwa. Ingatlah, takwa diperoleh dari belajar, mendalami ilmu agama. Semakin seseorang memahami agama, ketakwaannya akan semakin meningkat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi mulia, suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya. Ada Tiga Pertanyaan di Alam Kubur Allah Ta’ala berfirman, يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27) Dari Al-Bara’ bin ‘Azib pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan tentang ayat “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”, beliau mengatakan, فِى الْقَبْرِ إِذَا قِيلَ لَهُ مَنْ رَبُّكَ وَمَا دِينُكَ وَمَنْ نَبِيُّكَ “Di dalam kubur akan ditanyakan siapa Rabbmu, apa agamamu, dan siapa nabimu.” (HR. Tirmidzi, no. 3120. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Hadits ini dikeluarkan pula oleh Bukhari, no. 1369 dan Muslim, no. 2871)   Kubur akan Menjadi Sempit Setelah mayat diletakkan di dalam kubur, kubur akan menghimpit dan menjepit dirinya. Tidak seorang pun yang dapat selamat dari himpitannya. Beberapa hadis menerangkan bahwa kubur menghimpit Sa’ad bin Muadz radhiyallahu ‘anhu, padahal kematiannya membuat ‘Arsy bergerak, pintu-pintu langit terbuka, serta malaikat sebanyak tujuh puluh ribu menyaksikannya. Dalam Sunan An-Nasa’i diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, هَذَا الَّذِى تَحَرَّكَ لَهُ الْعَرْشُ وَفُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَشَهِدَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنَ الْمَلاَئِكَةِ لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ فُرِّجَ عَنْهُ “Inilah yang membuat ‘Arsy bergerak, pintu-pintu langit dibuka, dan disaksikan oleh tujuh puluh ribu malaikat. Sungguh ia dihimpit dan dijepit (oleh kubur). Akan tetapi kemudian dibebaskan.” (Disahihkan oleh syaikh al-Albani rahimahullah. Lihat Misykah Al-Mashabih 1:49; Silsilah Ash-Shahihah, no. 1695) Dalam hadits dalam musnad Imam Ahmad disebutkan, إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِياً مِنْهَا نَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ “Sesungguhnya kubur mempunyai penyempitan, jika ada seorang yang selamat darinya niscaya selamat darinya adalah Sa’ad bin Mu’adz.” (HR. Ahmad, 6:55. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini sahih). ‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ نَجَا أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَنَجَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ و لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ روخي عَنْهُ “Jikalau ada seorang yang selamat dari penyempitan kubur, niscaya Sa’ad bin Mu’adz akan selamat. Akan tetapi, sungguh kuburnya telah disempitkan dengan sangat sempit, kemudian dilapangkan (setelah itu) untuknya. (HR. Thabrani dan disahihkan oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih Al-Jaami’, no. 5306) Bahkan sampai kuburan bayi dan anak kecil tidak selamat. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَأَفْلَتَ هَذَا الصَّبِيُّ. “Jikalau seorang selamat dari penyempitan kubur niscaya selamatlah bayi ini.” (HR. Ath Thabrany dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih Al-Jaami’, 5:56) Al-Hakim At-Tirmidzi berkata, “Sebab penyempitan ini adalah bahwa tiada seorang pun kecuali ia telah melakukan sebuah dosa, maka diganjar dengan penyempitan ini sebagai balasan atasnya, kemudian rahmat Allah menghampirinya.” Baca juga: Kubur Jadi Sempit dan Pertanyaan Kubur   Ada Tiga Larangan Penting Terkait Kubur Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memberi kapur pada kubur, duduk di atas kubur, dan memberi bangunan di atas kubur.” (HR. Muslim, no. 970). Dampak jelek membut bangunan di atas kubur: Perantara untuk menyembah kubur, apalagi kubur itu adalah kubur orang shalih atau kubur seorang yang dianggap wali. Termasuk tasyabbuh (menyerupai) peribadahan pada berhala dan peribadahan pada kubur. Di mana kita saksikan para penyembah kubur biasa menjadikan kubur menjadi begitu megah dan indah. Perantara menuju kesyirikan. Termasuk pemborosan dan buang-buang harta. Termasuk mempersempit kubur dan area pekuburan. Baca juga: Larangan Terhadap Kubur   Ada Larangan Shalat di Kubur Kecuali Shalat Jenazah Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اَلْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا اَلْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ “Bumi itu seluruhnya adalah masjid (tempat shalat), kecuali kuburan dan kamar mandi.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi, namun ada cacat di dalamnya). [HR. Tirmidzi, no. 317; Abu Daud, no. 492; Ibnu Majah, no. 745; Ahmad, 18:312. Hadits ini sesuai syarat Bukhari dan Muslim, namun hanya berbeda dalam mawshul ataukah mursal. Yang menshahihkan hadits ini adalah Syaikh Ahmad Syakir, Syaikh Al-Albani, dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz]. Larangan shalat di perkuburan (dengan adanya rukuk dan sujud) adalah karena sebagai pencegahan dari beribadah pada kubur, ini adalah perantara terbesar menuju syirik dan perbuatan ini termasuk tasyabbuh dengan orang musyrik. Baca juga: Dilarang Shalat di Kubur   Demikian hal-hal yang perlu diperhatikan terkait kubur. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Kedua   اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Disusun #DarushSholihin, 20 Dzulhijjah 1442 H (30 Juli 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsalam kubur khutbah jumat kubur pertanyaan kubur siksa kubur

Khutbah Jumat: 4 Hal Terkait Kubur yang Mesti Kita Tahu

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait kubur. Semoga jadi pelajaran berharga bagi kita dari khutbah Jumat berikut ini. Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Ada Tiga Pertanyaan di Alam Kubur 3. Kubur akan Menjadi Sempit 4. Ada Tiga Larangan Penting Terkait Kubur 5. Ada Larangan Shalat di Kubur Kecuali Shalat Jenazah 6. Khutbah Kedua Khutbah Pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah. Mengawali khutbah kali ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jamaah sekalian agar kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena kita itu semakin mulia dengan takwa. Ingatlah, takwa diperoleh dari belajar, mendalami ilmu agama. Semakin seseorang memahami agama, ketakwaannya akan semakin meningkat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi mulia, suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya. Ada Tiga Pertanyaan di Alam Kubur Allah Ta’ala berfirman, يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27) Dari Al-Bara’ bin ‘Azib pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan tentang ayat “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”, beliau mengatakan, فِى الْقَبْرِ إِذَا قِيلَ لَهُ مَنْ رَبُّكَ وَمَا دِينُكَ وَمَنْ نَبِيُّكَ “Di dalam kubur akan ditanyakan siapa Rabbmu, apa agamamu, dan siapa nabimu.” (HR. Tirmidzi, no. 3120. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Hadits ini dikeluarkan pula oleh Bukhari, no. 1369 dan Muslim, no. 2871)   Kubur akan Menjadi Sempit Setelah mayat diletakkan di dalam kubur, kubur akan menghimpit dan menjepit dirinya. Tidak seorang pun yang dapat selamat dari himpitannya. Beberapa hadis menerangkan bahwa kubur menghimpit Sa’ad bin Muadz radhiyallahu ‘anhu, padahal kematiannya membuat ‘Arsy bergerak, pintu-pintu langit terbuka, serta malaikat sebanyak tujuh puluh ribu menyaksikannya. Dalam Sunan An-Nasa’i diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, هَذَا الَّذِى تَحَرَّكَ لَهُ الْعَرْشُ وَفُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَشَهِدَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنَ الْمَلاَئِكَةِ لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ فُرِّجَ عَنْهُ “Inilah yang membuat ‘Arsy bergerak, pintu-pintu langit dibuka, dan disaksikan oleh tujuh puluh ribu malaikat. Sungguh ia dihimpit dan dijepit (oleh kubur). Akan tetapi kemudian dibebaskan.” (Disahihkan oleh syaikh al-Albani rahimahullah. Lihat Misykah Al-Mashabih 1:49; Silsilah Ash-Shahihah, no. 1695) Dalam hadits dalam musnad Imam Ahmad disebutkan, إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِياً مِنْهَا نَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ “Sesungguhnya kubur mempunyai penyempitan, jika ada seorang yang selamat darinya niscaya selamat darinya adalah Sa’ad bin Mu’adz.” (HR. Ahmad, 6:55. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini sahih). ‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ نَجَا أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَنَجَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ و لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ روخي عَنْهُ “Jikalau ada seorang yang selamat dari penyempitan kubur, niscaya Sa’ad bin Mu’adz akan selamat. Akan tetapi, sungguh kuburnya telah disempitkan dengan sangat sempit, kemudian dilapangkan (setelah itu) untuknya. (HR. Thabrani dan disahihkan oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih Al-Jaami’, no. 5306) Bahkan sampai kuburan bayi dan anak kecil tidak selamat. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَأَفْلَتَ هَذَا الصَّبِيُّ. “Jikalau seorang selamat dari penyempitan kubur niscaya selamatlah bayi ini.” (HR. Ath Thabrany dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih Al-Jaami’, 5:56) Al-Hakim At-Tirmidzi berkata, “Sebab penyempitan ini adalah bahwa tiada seorang pun kecuali ia telah melakukan sebuah dosa, maka diganjar dengan penyempitan ini sebagai balasan atasnya, kemudian rahmat Allah menghampirinya.” Baca juga: Kubur Jadi Sempit dan Pertanyaan Kubur   Ada Tiga Larangan Penting Terkait Kubur Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memberi kapur pada kubur, duduk di atas kubur, dan memberi bangunan di atas kubur.” (HR. Muslim, no. 970). Dampak jelek membut bangunan di atas kubur: Perantara untuk menyembah kubur, apalagi kubur itu adalah kubur orang shalih atau kubur seorang yang dianggap wali. Termasuk tasyabbuh (menyerupai) peribadahan pada berhala dan peribadahan pada kubur. Di mana kita saksikan para penyembah kubur biasa menjadikan kubur menjadi begitu megah dan indah. Perantara menuju kesyirikan. Termasuk pemborosan dan buang-buang harta. Termasuk mempersempit kubur dan area pekuburan. Baca juga: Larangan Terhadap Kubur   Ada Larangan Shalat di Kubur Kecuali Shalat Jenazah Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اَلْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا اَلْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ “Bumi itu seluruhnya adalah masjid (tempat shalat), kecuali kuburan dan kamar mandi.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi, namun ada cacat di dalamnya). [HR. Tirmidzi, no. 317; Abu Daud, no. 492; Ibnu Majah, no. 745; Ahmad, 18:312. Hadits ini sesuai syarat Bukhari dan Muslim, namun hanya berbeda dalam mawshul ataukah mursal. Yang menshahihkan hadits ini adalah Syaikh Ahmad Syakir, Syaikh Al-Albani, dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz]. Larangan shalat di perkuburan (dengan adanya rukuk dan sujud) adalah karena sebagai pencegahan dari beribadah pada kubur, ini adalah perantara terbesar menuju syirik dan perbuatan ini termasuk tasyabbuh dengan orang musyrik. Baca juga: Dilarang Shalat di Kubur   Demikian hal-hal yang perlu diperhatikan terkait kubur. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Kedua   اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Disusun #DarushSholihin, 20 Dzulhijjah 1442 H (30 Juli 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsalam kubur khutbah jumat kubur pertanyaan kubur siksa kubur
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait kubur. Semoga jadi pelajaran berharga bagi kita dari khutbah Jumat berikut ini. Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Ada Tiga Pertanyaan di Alam Kubur 3. Kubur akan Menjadi Sempit 4. Ada Tiga Larangan Penting Terkait Kubur 5. Ada Larangan Shalat di Kubur Kecuali Shalat Jenazah 6. Khutbah Kedua Khutbah Pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah. Mengawali khutbah kali ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jamaah sekalian agar kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena kita itu semakin mulia dengan takwa. Ingatlah, takwa diperoleh dari belajar, mendalami ilmu agama. Semakin seseorang memahami agama, ketakwaannya akan semakin meningkat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi mulia, suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya. Ada Tiga Pertanyaan di Alam Kubur Allah Ta’ala berfirman, يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27) Dari Al-Bara’ bin ‘Azib pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan tentang ayat “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”, beliau mengatakan, فِى الْقَبْرِ إِذَا قِيلَ لَهُ مَنْ رَبُّكَ وَمَا دِينُكَ وَمَنْ نَبِيُّكَ “Di dalam kubur akan ditanyakan siapa Rabbmu, apa agamamu, dan siapa nabimu.” (HR. Tirmidzi, no. 3120. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Hadits ini dikeluarkan pula oleh Bukhari, no. 1369 dan Muslim, no. 2871)   Kubur akan Menjadi Sempit Setelah mayat diletakkan di dalam kubur, kubur akan menghimpit dan menjepit dirinya. Tidak seorang pun yang dapat selamat dari himpitannya. Beberapa hadis menerangkan bahwa kubur menghimpit Sa’ad bin Muadz radhiyallahu ‘anhu, padahal kematiannya membuat ‘Arsy bergerak, pintu-pintu langit terbuka, serta malaikat sebanyak tujuh puluh ribu menyaksikannya. Dalam Sunan An-Nasa’i diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, هَذَا الَّذِى تَحَرَّكَ لَهُ الْعَرْشُ وَفُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَشَهِدَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنَ الْمَلاَئِكَةِ لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ فُرِّجَ عَنْهُ “Inilah yang membuat ‘Arsy bergerak, pintu-pintu langit dibuka, dan disaksikan oleh tujuh puluh ribu malaikat. Sungguh ia dihimpit dan dijepit (oleh kubur). Akan tetapi kemudian dibebaskan.” (Disahihkan oleh syaikh al-Albani rahimahullah. Lihat Misykah Al-Mashabih 1:49; Silsilah Ash-Shahihah, no. 1695) Dalam hadits dalam musnad Imam Ahmad disebutkan, إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِياً مِنْهَا نَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ “Sesungguhnya kubur mempunyai penyempitan, jika ada seorang yang selamat darinya niscaya selamat darinya adalah Sa’ad bin Mu’adz.” (HR. Ahmad, 6:55. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini sahih). ‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ نَجَا أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَنَجَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ و لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ روخي عَنْهُ “Jikalau ada seorang yang selamat dari penyempitan kubur, niscaya Sa’ad bin Mu’adz akan selamat. Akan tetapi, sungguh kuburnya telah disempitkan dengan sangat sempit, kemudian dilapangkan (setelah itu) untuknya. (HR. Thabrani dan disahihkan oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih Al-Jaami’, no. 5306) Bahkan sampai kuburan bayi dan anak kecil tidak selamat. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَأَفْلَتَ هَذَا الصَّبِيُّ. “Jikalau seorang selamat dari penyempitan kubur niscaya selamatlah bayi ini.” (HR. Ath Thabrany dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih Al-Jaami’, 5:56) Al-Hakim At-Tirmidzi berkata, “Sebab penyempitan ini adalah bahwa tiada seorang pun kecuali ia telah melakukan sebuah dosa, maka diganjar dengan penyempitan ini sebagai balasan atasnya, kemudian rahmat Allah menghampirinya.” Baca juga: Kubur Jadi Sempit dan Pertanyaan Kubur   Ada Tiga Larangan Penting Terkait Kubur Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memberi kapur pada kubur, duduk di atas kubur, dan memberi bangunan di atas kubur.” (HR. Muslim, no. 970). Dampak jelek membut bangunan di atas kubur: Perantara untuk menyembah kubur, apalagi kubur itu adalah kubur orang shalih atau kubur seorang yang dianggap wali. Termasuk tasyabbuh (menyerupai) peribadahan pada berhala dan peribadahan pada kubur. Di mana kita saksikan para penyembah kubur biasa menjadikan kubur menjadi begitu megah dan indah. Perantara menuju kesyirikan. Termasuk pemborosan dan buang-buang harta. Termasuk mempersempit kubur dan area pekuburan. Baca juga: Larangan Terhadap Kubur   Ada Larangan Shalat di Kubur Kecuali Shalat Jenazah Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اَلْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا اَلْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ “Bumi itu seluruhnya adalah masjid (tempat shalat), kecuali kuburan dan kamar mandi.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi, namun ada cacat di dalamnya). [HR. Tirmidzi, no. 317; Abu Daud, no. 492; Ibnu Majah, no. 745; Ahmad, 18:312. Hadits ini sesuai syarat Bukhari dan Muslim, namun hanya berbeda dalam mawshul ataukah mursal. Yang menshahihkan hadits ini adalah Syaikh Ahmad Syakir, Syaikh Al-Albani, dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz]. Larangan shalat di perkuburan (dengan adanya rukuk dan sujud) adalah karena sebagai pencegahan dari beribadah pada kubur, ini adalah perantara terbesar menuju syirik dan perbuatan ini termasuk tasyabbuh dengan orang musyrik. Baca juga: Dilarang Shalat di Kubur   Demikian hal-hal yang perlu diperhatikan terkait kubur. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Kedua   اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Disusun #DarushSholihin, 20 Dzulhijjah 1442 H (30 Juli 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsalam kubur khutbah jumat kubur pertanyaan kubur siksa kubur


Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait kubur. Semoga jadi pelajaran berharga bagi kita dari khutbah Jumat berikut ini. Daftar Isi tutup 1. Khutbah Pertama 2. Ada Tiga Pertanyaan di Alam Kubur 3. Kubur akan Menjadi Sempit 4. Ada Tiga Larangan Penting Terkait Kubur 5. Ada Larangan Shalat di Kubur Kecuali Shalat Jenazah 6. Khutbah Kedua Khutbah Pertama السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ. إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah. Mengawali khutbah kali ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jamaah sekalian agar kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena kita itu semakin mulia dengan takwa. Ingatlah, takwa diperoleh dari belajar, mendalami ilmu agama. Semakin seseorang memahami agama, ketakwaannya akan semakin meningkat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi mulia, suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya. Ada Tiga Pertanyaan di Alam Kubur Allah Ta’ala berfirman, يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27) Dari Al-Bara’ bin ‘Azib pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan tentang ayat “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”, beliau mengatakan, فِى الْقَبْرِ إِذَا قِيلَ لَهُ مَنْ رَبُّكَ وَمَا دِينُكَ وَمَنْ نَبِيُّكَ “Di dalam kubur akan ditanyakan siapa Rabbmu, apa agamamu, dan siapa nabimu.” (HR. Tirmidzi, no. 3120. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Hadits ini dikeluarkan pula oleh Bukhari, no. 1369 dan Muslim, no. 2871)   Kubur akan Menjadi Sempit Setelah mayat diletakkan di dalam kubur, kubur akan menghimpit dan menjepit dirinya. Tidak seorang pun yang dapat selamat dari himpitannya. Beberapa hadis menerangkan bahwa kubur menghimpit Sa’ad bin Muadz radhiyallahu ‘anhu, padahal kematiannya membuat ‘Arsy bergerak, pintu-pintu langit terbuka, serta malaikat sebanyak tujuh puluh ribu menyaksikannya. Dalam Sunan An-Nasa’i diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, هَذَا الَّذِى تَحَرَّكَ لَهُ الْعَرْشُ وَفُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَشَهِدَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنَ الْمَلاَئِكَةِ لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ فُرِّجَ عَنْهُ “Inilah yang membuat ‘Arsy bergerak, pintu-pintu langit dibuka, dan disaksikan oleh tujuh puluh ribu malaikat. Sungguh ia dihimpit dan dijepit (oleh kubur). Akan tetapi kemudian dibebaskan.” (Disahihkan oleh syaikh al-Albani rahimahullah. Lihat Misykah Al-Mashabih 1:49; Silsilah Ash-Shahihah, no. 1695) Dalam hadits dalam musnad Imam Ahmad disebutkan, إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِياً مِنْهَا نَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ “Sesungguhnya kubur mempunyai penyempitan, jika ada seorang yang selamat darinya niscaya selamat darinya adalah Sa’ad bin Mu’adz.” (HR. Ahmad, 6:55. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini sahih). ‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ نَجَا أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَنَجَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ و لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ روخي عَنْهُ “Jikalau ada seorang yang selamat dari penyempitan kubur, niscaya Sa’ad bin Mu’adz akan selamat. Akan tetapi, sungguh kuburnya telah disempitkan dengan sangat sempit, kemudian dilapangkan (setelah itu) untuknya. (HR. Thabrani dan disahihkan oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih Al-Jaami’, no. 5306) Bahkan sampai kuburan bayi dan anak kecil tidak selamat. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَأَفْلَتَ هَذَا الصَّبِيُّ. “Jikalau seorang selamat dari penyempitan kubur niscaya selamatlah bayi ini.” (HR. Ath Thabrany dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih Al-Jaami’, 5:56) Al-Hakim At-Tirmidzi berkata, “Sebab penyempitan ini adalah bahwa tiada seorang pun kecuali ia telah melakukan sebuah dosa, maka diganjar dengan penyempitan ini sebagai balasan atasnya, kemudian rahmat Allah menghampirinya.” Baca juga: Kubur Jadi Sempit dan Pertanyaan Kubur   Ada Tiga Larangan Penting Terkait Kubur Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memberi kapur pada kubur, duduk di atas kubur, dan memberi bangunan di atas kubur.” (HR. Muslim, no. 970). Dampak jelek membut bangunan di atas kubur: Perantara untuk menyembah kubur, apalagi kubur itu adalah kubur orang shalih atau kubur seorang yang dianggap wali. Termasuk tasyabbuh (menyerupai) peribadahan pada berhala dan peribadahan pada kubur. Di mana kita saksikan para penyembah kubur biasa menjadikan kubur menjadi begitu megah dan indah. Perantara menuju kesyirikan. Termasuk pemborosan dan buang-buang harta. Termasuk mempersempit kubur dan area pekuburan. Baca juga: Larangan Terhadap Kubur   Ada Larangan Shalat di Kubur Kecuali Shalat Jenazah Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اَلْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا اَلْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ “Bumi itu seluruhnya adalah masjid (tempat shalat), kecuali kuburan dan kamar mandi.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi, namun ada cacat di dalamnya). [HR. Tirmidzi, no. 317; Abu Daud, no. 492; Ibnu Majah, no. 745; Ahmad, 18:312. Hadits ini sesuai syarat Bukhari dan Muslim, namun hanya berbeda dalam mawshul ataukah mursal. Yang menshahihkan hadits ini adalah Syaikh Ahmad Syakir, Syaikh Al-Albani, dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz]. Larangan shalat di perkuburan (dengan adanya rukuk dan sujud) adalah karena sebagai pencegahan dari beribadah pada kubur, ini adalah perantara terbesar menuju syirik dan perbuatan ini termasuk tasyabbuh dengan orang musyrik. Baca juga: Dilarang Shalat di Kubur   Demikian hal-hal yang perlu diperhatikan terkait kubur. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah Kedua   اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ   — Disusun #DarushSholihin, 20 Dzulhijjah 1442 H (30 Juli 2020) Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumasyho.Com Tagsalam kubur khutbah jumat kubur pertanyaan kubur siksa kubur

Yang Sering Menjadi Pertanyaan Seputar Dzikir Pagi Petang

Hal-hal berikut yang sering ditanyakan mengenai dzikir pagi dan petang. Daftar Isi tutup 1. + Kalau ada uzur tidak bisa membaca dzikir pagi, batasan waktunya sampai kapan? 2. + Dzikir pagi petang apakah boleh tidak berurutan? Apakah boleh tidak baca semua dzikir pagi yang ada? 2.1. Baca juga: 3. + Apa akibat dari tidak baca dzikir pagi petang? 4. + Bagaimana menggabungkan dzikir pagi petang dengan dzikir bakda shalat, karena ada sebagian dzikir yang sama? 5. + Saya belum hafal dzikir pagi petang, apakah boleh baca dari buku? 6. + Ustadz, buku dzikir pagi petang yang ustadz sebut tadi bisa dapatkan di mana? 6.1. 085200171222 6.2. Keunggulan buku dzikir pagi petang terbitan Rumaysho: 7. Video Kajian Keutamaan Dzikir Pagi Petang + Kalau ada uzur tidak bisa membaca dzikir pagi, batasan waktunya sampai kapan? Batas waktu dzikir pagi adalah sampai sebelum waktu Zhuhur, kira-kira 10 menit sebelum Zhuhur, sama seperti waktu shalat Dhuha. Namun, yang lebih aman membacanya sebelum matahari terbit. Baca juga: Kapan Waktu Dzikir Pagi dan Petang?   + Dzikir pagi petang apakah boleh tidak berurutan? Apakah boleh tidak baca semua dzikir pagi yang ada? Baca dzikir pagi petang tidak mesti semua. Seandainya hanya membaca sebagian saja pun dibolehkan. Baca juga: Bacaan Dzikir Pagi Bacaan Dzikir Petang   + Apa akibat dari tidak baca dzikir pagi petang? Coba perhatikan keadaan ulama, ia semakin kuat karena berdzikir. Barangkali ini bisa jadi pelajaran untuk kita. Dalam Al-Wabil Ash-Shayyib disebutkan cerita berikut ini. Ibnul Qayyim rahimahullah menceritakan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sesekali pernah shalat Shubuh dan beliau duduk berdzikir pada Allah Ta’ala sampai beranjak siang. Setelah itu beliau berpaling padaku dan berkata, ‘Ini adalah kebiasaanku di pagi hari. Jika aku tidak berdzikir seperti ini, hilanglah kekuatanku’ –atau perkataan beliau yang semisal ini-. Baca juga: 51 Keutamaan Dzikir    + Bagaimana menggabungkan dzikir pagi petang dengan dzikir bakda shalat, karena ada sebagian dzikir yang sama? Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah menyatakan bolehnya membaca ayat kursi serta tiga surah (yang disebut mu’awwidzat) setelah shalat fardhu yaitu untuk dzikir pagi setelah shalat Shubuh dan dzikir petang setelah shalat Ashar dan itu sudah disatukan antara dzikir pagi petang dan dzikir bakda shalat. Namun, untuk membaca surah Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas masing-masing tiga kali bakda Shubuh dan bakda Ashar. Lihat Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 60420. Baca juga: Empat Waktu Istimewa Membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas   + Saya belum hafal dzikir pagi petang, apakah boleh baca dari buku? Awalnya bisa belajar baca dzikir pagi petang sambil membaca buku, itu tidaklah masalah. Namun, Insya-Allah lama kelamaan setelah 100 kali baca dzikir tersebut pasti hafal. Itu kan diulang-ulang terus.   + Ustadz, buku dzikir pagi petang yang ustadz sebut tadi bisa dapatkan di mana? Silakan memesan lewat berbagai cara berikut: WA Ruwaifi/ Rumaysho Store: 085200171222 Reseller dan agen Ruwaifi Store: https://www.ruwaifi.store/reseller/  https://www.ruwaifi.store/agen/  Market place Rumasyho Store: Muslim Life Shop lagi gratis ongkir: https://muslimlifeshop.com/supplier/RUMAYSHO_STORE  2. Shopee : RumayshoStore1 https://shopee.co.id/rumayshostore1?smtt=0.0.9  3. Tokopedia : RumayshoStore https://tokopedia.link/CsEmpU23Scb  4. Bukalapak : RumayshoStore1 https://www.bukalapak.com/u/rumayshostore1  Harga buku Dzikir Pagi Petang: 22K Keunggulan buku dzikir pagi petang terbitan Rumaysho: Dilengkapi bacaan dzikir pagi dan petang, dzikir bakda shalat, dzikir sebelum tidur, dan dzikir bakda bangun tidur Disertakan terjemahan bacaan dan transliterasi, sehingga memudahkan bagi yang tidak bisa baca tulisan Arab Disertakan faedah dari bacaan dzikir sehingga tidak hanya sekadar dibaca, tetapi bisa direnungkan dan ditadaburi tiap bacaannya. Dzikir yang dimuat disertakan penilaian hadits oleh para ulama sehingga lebih yakin untuk diamalkan. Ukuran saku, ringan, dan mudah dibawa ke mana pun, bahkan layak dijadikan hadiah kepada orang terdekat. Harga relatif murah dengan isi yang yang super lengkap. Terus semangat jaga dzikir yah! Semoga Allah terus menjaga kita.   Video Kajian Keutamaan Dzikir Pagi Petang    — Jumat penuh berkah di Darush Sholihin, 20 Dzulhijjah 1442 H Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbuku dzikir pagi petang Dzikir dzikir pagi dzikir pagi petang dzikir petang tanya jawab dzikir pagi petang

Yang Sering Menjadi Pertanyaan Seputar Dzikir Pagi Petang

Hal-hal berikut yang sering ditanyakan mengenai dzikir pagi dan petang. Daftar Isi tutup 1. + Kalau ada uzur tidak bisa membaca dzikir pagi, batasan waktunya sampai kapan? 2. + Dzikir pagi petang apakah boleh tidak berurutan? Apakah boleh tidak baca semua dzikir pagi yang ada? 2.1. Baca juga: 3. + Apa akibat dari tidak baca dzikir pagi petang? 4. + Bagaimana menggabungkan dzikir pagi petang dengan dzikir bakda shalat, karena ada sebagian dzikir yang sama? 5. + Saya belum hafal dzikir pagi petang, apakah boleh baca dari buku? 6. + Ustadz, buku dzikir pagi petang yang ustadz sebut tadi bisa dapatkan di mana? 6.1. 085200171222 6.2. Keunggulan buku dzikir pagi petang terbitan Rumaysho: 7. Video Kajian Keutamaan Dzikir Pagi Petang + Kalau ada uzur tidak bisa membaca dzikir pagi, batasan waktunya sampai kapan? Batas waktu dzikir pagi adalah sampai sebelum waktu Zhuhur, kira-kira 10 menit sebelum Zhuhur, sama seperti waktu shalat Dhuha. Namun, yang lebih aman membacanya sebelum matahari terbit. Baca juga: Kapan Waktu Dzikir Pagi dan Petang?   + Dzikir pagi petang apakah boleh tidak berurutan? Apakah boleh tidak baca semua dzikir pagi yang ada? Baca dzikir pagi petang tidak mesti semua. Seandainya hanya membaca sebagian saja pun dibolehkan. Baca juga: Bacaan Dzikir Pagi Bacaan Dzikir Petang   + Apa akibat dari tidak baca dzikir pagi petang? Coba perhatikan keadaan ulama, ia semakin kuat karena berdzikir. Barangkali ini bisa jadi pelajaran untuk kita. Dalam Al-Wabil Ash-Shayyib disebutkan cerita berikut ini. Ibnul Qayyim rahimahullah menceritakan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sesekali pernah shalat Shubuh dan beliau duduk berdzikir pada Allah Ta’ala sampai beranjak siang. Setelah itu beliau berpaling padaku dan berkata, ‘Ini adalah kebiasaanku di pagi hari. Jika aku tidak berdzikir seperti ini, hilanglah kekuatanku’ –atau perkataan beliau yang semisal ini-. Baca juga: 51 Keutamaan Dzikir    + Bagaimana menggabungkan dzikir pagi petang dengan dzikir bakda shalat, karena ada sebagian dzikir yang sama? Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah menyatakan bolehnya membaca ayat kursi serta tiga surah (yang disebut mu’awwidzat) setelah shalat fardhu yaitu untuk dzikir pagi setelah shalat Shubuh dan dzikir petang setelah shalat Ashar dan itu sudah disatukan antara dzikir pagi petang dan dzikir bakda shalat. Namun, untuk membaca surah Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas masing-masing tiga kali bakda Shubuh dan bakda Ashar. Lihat Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 60420. Baca juga: Empat Waktu Istimewa Membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas   + Saya belum hafal dzikir pagi petang, apakah boleh baca dari buku? Awalnya bisa belajar baca dzikir pagi petang sambil membaca buku, itu tidaklah masalah. Namun, Insya-Allah lama kelamaan setelah 100 kali baca dzikir tersebut pasti hafal. Itu kan diulang-ulang terus.   + Ustadz, buku dzikir pagi petang yang ustadz sebut tadi bisa dapatkan di mana? Silakan memesan lewat berbagai cara berikut: WA Ruwaifi/ Rumaysho Store: 085200171222 Reseller dan agen Ruwaifi Store: https://www.ruwaifi.store/reseller/  https://www.ruwaifi.store/agen/  Market place Rumasyho Store: Muslim Life Shop lagi gratis ongkir: https://muslimlifeshop.com/supplier/RUMAYSHO_STORE  2. Shopee : RumayshoStore1 https://shopee.co.id/rumayshostore1?smtt=0.0.9  3. Tokopedia : RumayshoStore https://tokopedia.link/CsEmpU23Scb  4. Bukalapak : RumayshoStore1 https://www.bukalapak.com/u/rumayshostore1  Harga buku Dzikir Pagi Petang: 22K Keunggulan buku dzikir pagi petang terbitan Rumaysho: Dilengkapi bacaan dzikir pagi dan petang, dzikir bakda shalat, dzikir sebelum tidur, dan dzikir bakda bangun tidur Disertakan terjemahan bacaan dan transliterasi, sehingga memudahkan bagi yang tidak bisa baca tulisan Arab Disertakan faedah dari bacaan dzikir sehingga tidak hanya sekadar dibaca, tetapi bisa direnungkan dan ditadaburi tiap bacaannya. Dzikir yang dimuat disertakan penilaian hadits oleh para ulama sehingga lebih yakin untuk diamalkan. Ukuran saku, ringan, dan mudah dibawa ke mana pun, bahkan layak dijadikan hadiah kepada orang terdekat. Harga relatif murah dengan isi yang yang super lengkap. Terus semangat jaga dzikir yah! Semoga Allah terus menjaga kita.   Video Kajian Keutamaan Dzikir Pagi Petang    — Jumat penuh berkah di Darush Sholihin, 20 Dzulhijjah 1442 H Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbuku dzikir pagi petang Dzikir dzikir pagi dzikir pagi petang dzikir petang tanya jawab dzikir pagi petang
Hal-hal berikut yang sering ditanyakan mengenai dzikir pagi dan petang. Daftar Isi tutup 1. + Kalau ada uzur tidak bisa membaca dzikir pagi, batasan waktunya sampai kapan? 2. + Dzikir pagi petang apakah boleh tidak berurutan? Apakah boleh tidak baca semua dzikir pagi yang ada? 2.1. Baca juga: 3. + Apa akibat dari tidak baca dzikir pagi petang? 4. + Bagaimana menggabungkan dzikir pagi petang dengan dzikir bakda shalat, karena ada sebagian dzikir yang sama? 5. + Saya belum hafal dzikir pagi petang, apakah boleh baca dari buku? 6. + Ustadz, buku dzikir pagi petang yang ustadz sebut tadi bisa dapatkan di mana? 6.1. 085200171222 6.2. Keunggulan buku dzikir pagi petang terbitan Rumaysho: 7. Video Kajian Keutamaan Dzikir Pagi Petang + Kalau ada uzur tidak bisa membaca dzikir pagi, batasan waktunya sampai kapan? Batas waktu dzikir pagi adalah sampai sebelum waktu Zhuhur, kira-kira 10 menit sebelum Zhuhur, sama seperti waktu shalat Dhuha. Namun, yang lebih aman membacanya sebelum matahari terbit. Baca juga: Kapan Waktu Dzikir Pagi dan Petang?   + Dzikir pagi petang apakah boleh tidak berurutan? Apakah boleh tidak baca semua dzikir pagi yang ada? Baca dzikir pagi petang tidak mesti semua. Seandainya hanya membaca sebagian saja pun dibolehkan. Baca juga: Bacaan Dzikir Pagi Bacaan Dzikir Petang   + Apa akibat dari tidak baca dzikir pagi petang? Coba perhatikan keadaan ulama, ia semakin kuat karena berdzikir. Barangkali ini bisa jadi pelajaran untuk kita. Dalam Al-Wabil Ash-Shayyib disebutkan cerita berikut ini. Ibnul Qayyim rahimahullah menceritakan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sesekali pernah shalat Shubuh dan beliau duduk berdzikir pada Allah Ta’ala sampai beranjak siang. Setelah itu beliau berpaling padaku dan berkata, ‘Ini adalah kebiasaanku di pagi hari. Jika aku tidak berdzikir seperti ini, hilanglah kekuatanku’ –atau perkataan beliau yang semisal ini-. Baca juga: 51 Keutamaan Dzikir    + Bagaimana menggabungkan dzikir pagi petang dengan dzikir bakda shalat, karena ada sebagian dzikir yang sama? Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah menyatakan bolehnya membaca ayat kursi serta tiga surah (yang disebut mu’awwidzat) setelah shalat fardhu yaitu untuk dzikir pagi setelah shalat Shubuh dan dzikir petang setelah shalat Ashar dan itu sudah disatukan antara dzikir pagi petang dan dzikir bakda shalat. Namun, untuk membaca surah Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas masing-masing tiga kali bakda Shubuh dan bakda Ashar. Lihat Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 60420. Baca juga: Empat Waktu Istimewa Membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas   + Saya belum hafal dzikir pagi petang, apakah boleh baca dari buku? Awalnya bisa belajar baca dzikir pagi petang sambil membaca buku, itu tidaklah masalah. Namun, Insya-Allah lama kelamaan setelah 100 kali baca dzikir tersebut pasti hafal. Itu kan diulang-ulang terus.   + Ustadz, buku dzikir pagi petang yang ustadz sebut tadi bisa dapatkan di mana? Silakan memesan lewat berbagai cara berikut: WA Ruwaifi/ Rumaysho Store: 085200171222 Reseller dan agen Ruwaifi Store: https://www.ruwaifi.store/reseller/  https://www.ruwaifi.store/agen/  Market place Rumasyho Store: Muslim Life Shop lagi gratis ongkir: https://muslimlifeshop.com/supplier/RUMAYSHO_STORE  2. Shopee : RumayshoStore1 https://shopee.co.id/rumayshostore1?smtt=0.0.9  3. Tokopedia : RumayshoStore https://tokopedia.link/CsEmpU23Scb  4. Bukalapak : RumayshoStore1 https://www.bukalapak.com/u/rumayshostore1  Harga buku Dzikir Pagi Petang: 22K Keunggulan buku dzikir pagi petang terbitan Rumaysho: Dilengkapi bacaan dzikir pagi dan petang, dzikir bakda shalat, dzikir sebelum tidur, dan dzikir bakda bangun tidur Disertakan terjemahan bacaan dan transliterasi, sehingga memudahkan bagi yang tidak bisa baca tulisan Arab Disertakan faedah dari bacaan dzikir sehingga tidak hanya sekadar dibaca, tetapi bisa direnungkan dan ditadaburi tiap bacaannya. Dzikir yang dimuat disertakan penilaian hadits oleh para ulama sehingga lebih yakin untuk diamalkan. Ukuran saku, ringan, dan mudah dibawa ke mana pun, bahkan layak dijadikan hadiah kepada orang terdekat. Harga relatif murah dengan isi yang yang super lengkap. Terus semangat jaga dzikir yah! Semoga Allah terus menjaga kita.   Video Kajian Keutamaan Dzikir Pagi Petang    — Jumat penuh berkah di Darush Sholihin, 20 Dzulhijjah 1442 H Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbuku dzikir pagi petang Dzikir dzikir pagi dzikir pagi petang dzikir petang tanya jawab dzikir pagi petang


Hal-hal berikut yang sering ditanyakan mengenai dzikir pagi dan petang. Daftar Isi tutup 1. + Kalau ada uzur tidak bisa membaca dzikir pagi, batasan waktunya sampai kapan? 2. + Dzikir pagi petang apakah boleh tidak berurutan? Apakah boleh tidak baca semua dzikir pagi yang ada? 2.1. Baca juga: 3. + Apa akibat dari tidak baca dzikir pagi petang? 4. + Bagaimana menggabungkan dzikir pagi petang dengan dzikir bakda shalat, karena ada sebagian dzikir yang sama? 5. + Saya belum hafal dzikir pagi petang, apakah boleh baca dari buku? 6. + Ustadz, buku dzikir pagi petang yang ustadz sebut tadi bisa dapatkan di mana? 6.1. 085200171222 6.2. Keunggulan buku dzikir pagi petang terbitan Rumaysho: 7. Video Kajian Keutamaan Dzikir Pagi Petang + Kalau ada uzur tidak bisa membaca dzikir pagi, batasan waktunya sampai kapan? Batas waktu dzikir pagi adalah sampai sebelum waktu Zhuhur, kira-kira 10 menit sebelum Zhuhur, sama seperti waktu shalat Dhuha. Namun, yang lebih aman membacanya sebelum matahari terbit. Baca juga: Kapan Waktu Dzikir Pagi dan Petang?   + Dzikir pagi petang apakah boleh tidak berurutan? Apakah boleh tidak baca semua dzikir pagi yang ada? Baca dzikir pagi petang tidak mesti semua. Seandainya hanya membaca sebagian saja pun dibolehkan. Baca juga: Bacaan Dzikir Pagi Bacaan Dzikir Petang   + Apa akibat dari tidak baca dzikir pagi petang? Coba perhatikan keadaan ulama, ia semakin kuat karena berdzikir. Barangkali ini bisa jadi pelajaran untuk kita. Dalam Al-Wabil Ash-Shayyib disebutkan cerita berikut ini. Ibnul Qayyim rahimahullah menceritakan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sesekali pernah shalat Shubuh dan beliau duduk berdzikir pada Allah Ta’ala sampai beranjak siang. Setelah itu beliau berpaling padaku dan berkata, ‘Ini adalah kebiasaanku di pagi hari. Jika aku tidak berdzikir seperti ini, hilanglah kekuatanku’ –atau perkataan beliau yang semisal ini-. Baca juga: 51 Keutamaan Dzikir    + Bagaimana menggabungkan dzikir pagi petang dengan dzikir bakda shalat, karena ada sebagian dzikir yang sama? Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah menyatakan bolehnya membaca ayat kursi serta tiga surah (yang disebut mu’awwidzat) setelah shalat fardhu yaitu untuk dzikir pagi setelah shalat Shubuh dan dzikir petang setelah shalat Ashar dan itu sudah disatukan antara dzikir pagi petang dan dzikir bakda shalat. Namun, untuk membaca surah Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas masing-masing tiga kali bakda Shubuh dan bakda Ashar. Lihat Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 60420. Baca juga: Empat Waktu Istimewa Membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas   + Saya belum hafal dzikir pagi petang, apakah boleh baca dari buku? Awalnya bisa belajar baca dzikir pagi petang sambil membaca buku, itu tidaklah masalah. Namun, Insya-Allah lama kelamaan setelah 100 kali baca dzikir tersebut pasti hafal. Itu kan diulang-ulang terus.   + Ustadz, buku dzikir pagi petang yang ustadz sebut tadi bisa dapatkan di mana? Silakan memesan lewat berbagai cara berikut: WA Ruwaifi/ Rumaysho Store: 085200171222 Reseller dan agen Ruwaifi Store: https://www.ruwaifi.store/reseller/  https://www.ruwaifi.store/agen/  Market place Rumasyho Store: Muslim Life Shop lagi gratis ongkir: https://muslimlifeshop.com/supplier/RUMAYSHO_STORE  2. Shopee : RumayshoStore1 https://shopee.co.id/rumayshostore1?smtt=0.0.9  3. Tokopedia : RumayshoStore https://tokopedia.link/CsEmpU23Scb  4. Bukalapak : RumayshoStore1 https://www.bukalapak.com/u/rumayshostore1  Harga buku Dzikir Pagi Petang: 22K Keunggulan buku dzikir pagi petang terbitan Rumaysho: Dilengkapi bacaan dzikir pagi dan petang, dzikir bakda shalat, dzikir sebelum tidur, dan dzikir bakda bangun tidur Disertakan terjemahan bacaan dan transliterasi, sehingga memudahkan bagi yang tidak bisa baca tulisan Arab Disertakan faedah dari bacaan dzikir sehingga tidak hanya sekadar dibaca, tetapi bisa direnungkan dan ditadaburi tiap bacaannya. Dzikir yang dimuat disertakan penilaian hadits oleh para ulama sehingga lebih yakin untuk diamalkan. Ukuran saku, ringan, dan mudah dibawa ke mana pun, bahkan layak dijadikan hadiah kepada orang terdekat. Harga relatif murah dengan isi yang yang super lengkap. Terus semangat jaga dzikir yah! Semoga Allah terus menjaga kita.   Video Kajian Keutamaan Dzikir Pagi Petang   <span style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height: 0;" data-mce-type="bookmark" class="mce_SELRES_start"></span> — Jumat penuh berkah di Darush Sholihin, 20 Dzulhijjah 1442 H Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsbuku dzikir pagi petang Dzikir dzikir pagi dzikir pagi petang dzikir petang tanya jawab dzikir pagi petang

Hukum dan Keutamaan Haji dan Umrah

Haji dan umrah adalah dua ibadah yang mulia, yang dikerjakan di tanah suci Makkah. Bahkan ibadah haji adalah salah satu dari lima rukun Islam. Hal ini menunjukkan betapa urgen dan pentingnya ibadah tersebut. Umrah dan haji juga dua ibadah yang menguji kita untuk mengorbankan harta, tenaga, dan juga mengorbankan hawa nafsu.Hukum HajiUlama sepakat bahwa ibadah haji hukumnya wajib ‘ain bagi yang mampu. Allah Ta’ala berfirman,وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (QS. Ali Imran: 97).Bahkan, ibadah haji adalah salah satu rukun Islam. Dari Abdullah bin ‘Umar radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengaku Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji, dan berpuasa di bulan Ramadhan” (HR. Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16).Sampai sebagian ulama, seperti Al Hasan Al Bashri, Nafi’, Ibnu Habib Al Maliki, menganggap kafirnya orang yang tidak berhaji padahal mampu. Salah satu dalil mereka adalah riwayat dari Umar bin Khathab radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan,مَن أطاقَ الحجَّ، فلم يحُجَّ فسواءٌ عليه مات يهوديًّا أو نصرانيًّا“Barangsiapa yang mampu berhaji namun tidak berangkat haji, maka sama saja apakah ia mati sebagai orang Yahudi atau sebagai orang Nashrani” (HR. Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya, 1: 387, dishahihkan Hafizh Al Hakami dalam Ma’arijul Qabul, 2: 639).Perkataan semisal ini juga diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhuma. Namun, riwayat ini tidak secara tegas menunjukkan kafirnya orang yang tidak menunaikan ibadah haji. Oleh karena itu, jumhur ulama tidak menganggap kafir orang yang tidak berhaji padahal mampu. Dan ini adalah kesepakatan para sahabat Nabi. Abdullah bin Syaqiq Al ‘Uqaili rahimahullah mengatakan,لم يكن أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم يرون شيئا من الأعمال تركه كفر غير الصلاة“Dahulu para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam tidak memandang ada amalan yang bisa menyebabkan kekufuran jika meninggalkannya, kecuali shalat” (HR. At Tirmidzi no. 2622, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi). Syarat Wajib HajiPara ulama menjelaskan, ada lima syarat agar seseorang dikatakan sudah terkena kewajiban haji. Jika lima syarat ini tidak terpenuhi, maka tidak ada kewajiban untuk berhaji. Syarat-syarat tersebut adalah: Beragama Islam Berakal, bukan orang gila Baligh, bukan anak kecil yang belum baligh Merdeka, bukan hamba sahaya Mampu Syarat mampu ini sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala,وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ< إِلَيْهِ سَبِيلًا“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” (QS. Ali Imran: 97).Dan patokan “mampu”, dijelaskan dalam kitab Al Fiqhul Muyassar (hal. 173), adalah dengan melihat empat poin: Mampu secara harta, sehingga ia memiliki bekal untuk perjalanan dan mampu meninggalkan nafkah yang cukup untuk keluarga yang ditinggalkan Mampu melakukan perjalanan ke Baitullah Mampu secara fisik, tidak sedang sakit parah atau tua renta yang membuat ia tidak bisa melakukan perjalanan ke Baitullah Jalur perjalanan menuju ke Baitullah dalam kondisi aman, tidak ada bahaya seperti perampok, wabah, perang, dan semisalnya. Jika salah satu kriteria ini tidak terpenuhi, maka belum dikatakan mampu sehingga belum wajib untuk berhaji.Dan ada satu kriteria lagi bagi wanita yang ini diperselisihkan oleh para ulama. Yaitu mampu menghadirkan mahram untuk melakukan perjalanan haji, ketika tempat tinggalnya jauh dari Mekkah. Ulama Hanabilah berpendapat wajibnya hal ini secara mutlak. Ulama Syafi’iyyah berpendapat tidak wajibnya. Adapun Ulama Malikiyah berpendapat wajib bersama mahram jika ada, namun boleh tanpa mahram jika tidak ada. Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.Yang kuat, wanita wajib menghadirkan mahram untuk haji maupun umrah. Berdasarkan hadits dari Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu, Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بامْرَأَةٍ إلَّا وَمعهَا ذُو مَحْرَمٍ، وَلَا تُسَافِرِ المَرْأَةُ إلَّا مع ذِي مَحْرَمٍ، فَقَامَ رَجُلٌ، فَقالَ: يا رَسولَ اللهِ، إنَّ امْرَأَتي خَرَجَتْ حَاجَّةً، وإنِّي اكْتُتِبْتُ في غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا، قالَ: انْطَلِقْ فَحُجَّ مع امْرَأَتِكَ“Tidak boleh seorang lelaki berduaan dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya. Dan seorang wanita tidak boleh melakukan safar kecuali bersama mahramnya”. Maka seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya istri hendak berhaji, dan sudah terdaftar untuk berangkat (jihad) perang ini dan itu”. Nabi bersabda, “Pulanglah dan temanilah istrimu berhaji”” (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341).Dalam hadits ini, lelaki yang ingin pergi berjihad diminta oleh Nabi untuk tidak berangkat berjihad demi untuk menemani istrinya berhaji. Ini mengindikasikan wajibnya hal tersebut. Dan tidak boleh wanita berhaji atau berumrah tanpa ditemani oleh mahramnya. Ini pendapat yang dikuatkan oleh ulama kibar mu’ashirin seperti Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, dan Syaikh Shalih Al Fauzan.Baca Juga: Adab Ziarah ke Masjid Nabawi agar Sesuai dengan Tuntunan (Hukum UmrahPara ulama sepakat bahwa ibadah umrah adalah ibadah yang disyariatkan dalam Islam. Namun mereka berbeda pendapat tentang hukumnya. Ulama Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat hukumnya wajib bagi yang mampu. Ulama Malikiyah dan Hanafiyah berpendapat hukumnya sunnah. Pendapat yang rajih, umrah hukumnya wajib bagi yang mampu. Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahumallah. Berdasarkan firman Allah Ta’ala,وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ“Sempurnakan haji dan umrah untuk Allah semata” (QS. Al Baqarah: 196).Dalam ayat ini, umrah digandengkan dengan haji yang hukumnya wajib. Demikian juga didahului dengan fi’il amr (kata perintah). Demikian juga dalam hadits dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau bertanya kepada Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam,يَا رَسَوْلَ اللهِ، هَلْ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ؟ قَالَ: جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيْهِ، اَلْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ.“Wahai Rasulullah, apakah ada jihad bagi wanita?” Beliau menjawab, “Bagi mereka ada jihad yang tidak ada peperangan di dalamnya, yaitu haji dan umrah” (HR. Ibnu Majah no. 2901, dishahihkan Al Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 2345).Di sini juga umrah digandengkan dengan haji. Ini semua menunjukkan bahwa umrah hukumnya wajib bagi yang mampu. Wallahu a’lam.Maka bagi kaum Muslimin yang belum mampu berhaji namun mampu berumrah, hendaknya tidak menunda-nunda untuk berangkat umrah. Adapun yang mampu berhaji, dapat sekaligus menjalankan haji dan umrah dalam sekali perjalanan.Syarat Wajib UmrahSyarat-syarat agar seseorang dikatakan sudah jatuh kewajiban untuk mengerjakan umrah sama seperti syarat-syarat wajib haji.Sekali Seumur HidupKewajiban haji dan umrah, bagi yang mampu melakukannya, adalah hanya sekali seumur hidup. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَيُّهَا النَّاسُ قدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الحَجَّ، فَحُجُّوا، فَقالَ رَجُلٌ: أَكُلَّ عَامٍ يا رَسولَ اللهِ؟ فَسَكَتَ حتَّى قالَهَا ثَلَاثًا، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: لو قُلتُ: نَعَمْ لَوَجَبَتْ، وَلَما اسْتَطَعْتُمْ، ثُمَّ قالَ: ذَرُونِي ما تَرَكْتُكُمْ، فإنَّما هَلَكَ مَن كانَ قَبْلَكُمْ بكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ علَى أَنْبِيَائِهِمْ، فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بشيءٍ فَأْتُوا منه ما اسْتَطَعْتُمْ، وإذَا نَهَيْتُكُمْ عن شيءٍ فَدَعُوهُ“Wahai manusia, telah diwajibkan atas kalian berhaji, maka berhajilah”. Kemudian ada seorang yang bertanya, “Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah?” Beliau tidak menjawabnya, sampai orang tadi bertanya lagi hingga tiga kali. Barulah Rasulullah shallallahu‘ alaihi wasallam menjawab, “Jika aku katakan “ya”, maka niscaya akan diwajibkan setiap tahun dan belum tentu kalian sanggup melakukannya. Maka tidak perlu membahas apa yang aku tidak singgung kepada kalian. Karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa akibat banyak bertanya dan banyak menentang para Nabi mereka. Jika aku perintahkan sesuatu, kerjakanlah darinya sesuai dengan kemampuan kalian. Jika aku telah melarang sesuatu atas kalian, maka tinggalkanlah” (HR. Muslim no. 1337).Hadits ini menunjukkan kewajiban haji hanya sekali seumur hidup. Demikian juga umrah, karena umrah disebut sebagai al hajjul ashghar (haji kecil). Ketika seseorang sudah menunaikan haji atau umrah yang wajib tersebut, maka ibadah haji dan umrah tetap boleh dilakukan kembali namun hukumnya sunnah.Keutamaan Haji dan Umrah Orang yang beribadah haji dijanjikan surga dan umrah menggugurkan dosa Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,العمرةُ إلى العمرةِ كفَّارَةٌ لمَا بينَهمَا ، والحجُّ المبرورُ ليسَ لهُ جزاءٌ إلا الجنَّةُ“Satu umrah hingga umrah berikutnya adalah penggugur dosa-dosa di antara keduanya. Dan haji yang mabrur, tiada ganjaran bagi pelakunya melainkan surga” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349). Haji menghapuskan dosa-dosa Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ“Siapa yang berhaji ke Ka’bah, lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan, maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya” (HR. Bukhari no. 1521). Haji dan umrah menghilangkan kefakiran Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ“Iringi umrah dengan haji atau sebaliknya, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Dan tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An-Nasa’i no. 2629, dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa’i). Umrah adalah haji kecil Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,واختلف في المراد بالحج الأصغر، فالجمهور على أنه العمرة“Para ulama berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan al hajj al ashghar (haji kecil). Jumhur ulama mengatakan bahwa maksudnya adalah umrah” (Fathul Bari, 8: 178). Mendapat keutamaan dari berbagai ibadah yang agung Dalam ibadah haji atau umrah ada berbagai ibadah yang agung yang memiliki keutamaan-keutamaan. Di antaranya: mengucapkan talbiyah, thawaf di Ka’bah, sa’i, minum air zam-zam, shalat di Masjidil Haram, tahallul, dan ibadah-ibadah lainnya.Demikian penjelasan ringkas tentang hukum dan keutamaan dari ibadah haji dan umrah. Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk beribadah kepada-Nya dengan baik, termasuk memudahkan kita untuk berhaji dan umrah.Wallahul muwaffiq.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Kitab Ushul Tsalatsah, Sami Allahu Liman Hamidah, Surat Al Baqarah Ayat 185 Beserta Artinya, Ustadz Harits Abu Naufal, Berbohong Demi Kebaikan Menurut Islam

Hukum dan Keutamaan Haji dan Umrah

Haji dan umrah adalah dua ibadah yang mulia, yang dikerjakan di tanah suci Makkah. Bahkan ibadah haji adalah salah satu dari lima rukun Islam. Hal ini menunjukkan betapa urgen dan pentingnya ibadah tersebut. Umrah dan haji juga dua ibadah yang menguji kita untuk mengorbankan harta, tenaga, dan juga mengorbankan hawa nafsu.Hukum HajiUlama sepakat bahwa ibadah haji hukumnya wajib ‘ain bagi yang mampu. Allah Ta’ala berfirman,وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (QS. Ali Imran: 97).Bahkan, ibadah haji adalah salah satu rukun Islam. Dari Abdullah bin ‘Umar radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengaku Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji, dan berpuasa di bulan Ramadhan” (HR. Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16).Sampai sebagian ulama, seperti Al Hasan Al Bashri, Nafi’, Ibnu Habib Al Maliki, menganggap kafirnya orang yang tidak berhaji padahal mampu. Salah satu dalil mereka adalah riwayat dari Umar bin Khathab radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan,مَن أطاقَ الحجَّ، فلم يحُجَّ فسواءٌ عليه مات يهوديًّا أو نصرانيًّا“Barangsiapa yang mampu berhaji namun tidak berangkat haji, maka sama saja apakah ia mati sebagai orang Yahudi atau sebagai orang Nashrani” (HR. Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya, 1: 387, dishahihkan Hafizh Al Hakami dalam Ma’arijul Qabul, 2: 639).Perkataan semisal ini juga diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhuma. Namun, riwayat ini tidak secara tegas menunjukkan kafirnya orang yang tidak menunaikan ibadah haji. Oleh karena itu, jumhur ulama tidak menganggap kafir orang yang tidak berhaji padahal mampu. Dan ini adalah kesepakatan para sahabat Nabi. Abdullah bin Syaqiq Al ‘Uqaili rahimahullah mengatakan,لم يكن أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم يرون شيئا من الأعمال تركه كفر غير الصلاة“Dahulu para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam tidak memandang ada amalan yang bisa menyebabkan kekufuran jika meninggalkannya, kecuali shalat” (HR. At Tirmidzi no. 2622, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi). Syarat Wajib HajiPara ulama menjelaskan, ada lima syarat agar seseorang dikatakan sudah terkena kewajiban haji. Jika lima syarat ini tidak terpenuhi, maka tidak ada kewajiban untuk berhaji. Syarat-syarat tersebut adalah: Beragama Islam Berakal, bukan orang gila Baligh, bukan anak kecil yang belum baligh Merdeka, bukan hamba sahaya Mampu Syarat mampu ini sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala,وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ< إِلَيْهِ سَبِيلًا“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” (QS. Ali Imran: 97).Dan patokan “mampu”, dijelaskan dalam kitab Al Fiqhul Muyassar (hal. 173), adalah dengan melihat empat poin: Mampu secara harta, sehingga ia memiliki bekal untuk perjalanan dan mampu meninggalkan nafkah yang cukup untuk keluarga yang ditinggalkan Mampu melakukan perjalanan ke Baitullah Mampu secara fisik, tidak sedang sakit parah atau tua renta yang membuat ia tidak bisa melakukan perjalanan ke Baitullah Jalur perjalanan menuju ke Baitullah dalam kondisi aman, tidak ada bahaya seperti perampok, wabah, perang, dan semisalnya. Jika salah satu kriteria ini tidak terpenuhi, maka belum dikatakan mampu sehingga belum wajib untuk berhaji.Dan ada satu kriteria lagi bagi wanita yang ini diperselisihkan oleh para ulama. Yaitu mampu menghadirkan mahram untuk melakukan perjalanan haji, ketika tempat tinggalnya jauh dari Mekkah. Ulama Hanabilah berpendapat wajibnya hal ini secara mutlak. Ulama Syafi’iyyah berpendapat tidak wajibnya. Adapun Ulama Malikiyah berpendapat wajib bersama mahram jika ada, namun boleh tanpa mahram jika tidak ada. Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.Yang kuat, wanita wajib menghadirkan mahram untuk haji maupun umrah. Berdasarkan hadits dari Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu, Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بامْرَأَةٍ إلَّا وَمعهَا ذُو مَحْرَمٍ، وَلَا تُسَافِرِ المَرْأَةُ إلَّا مع ذِي مَحْرَمٍ، فَقَامَ رَجُلٌ، فَقالَ: يا رَسولَ اللهِ، إنَّ امْرَأَتي خَرَجَتْ حَاجَّةً، وإنِّي اكْتُتِبْتُ في غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا، قالَ: انْطَلِقْ فَحُجَّ مع امْرَأَتِكَ“Tidak boleh seorang lelaki berduaan dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya. Dan seorang wanita tidak boleh melakukan safar kecuali bersama mahramnya”. Maka seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya istri hendak berhaji, dan sudah terdaftar untuk berangkat (jihad) perang ini dan itu”. Nabi bersabda, “Pulanglah dan temanilah istrimu berhaji”” (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341).Dalam hadits ini, lelaki yang ingin pergi berjihad diminta oleh Nabi untuk tidak berangkat berjihad demi untuk menemani istrinya berhaji. Ini mengindikasikan wajibnya hal tersebut. Dan tidak boleh wanita berhaji atau berumrah tanpa ditemani oleh mahramnya. Ini pendapat yang dikuatkan oleh ulama kibar mu’ashirin seperti Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, dan Syaikh Shalih Al Fauzan.Baca Juga: Adab Ziarah ke Masjid Nabawi agar Sesuai dengan Tuntunan (Hukum UmrahPara ulama sepakat bahwa ibadah umrah adalah ibadah yang disyariatkan dalam Islam. Namun mereka berbeda pendapat tentang hukumnya. Ulama Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat hukumnya wajib bagi yang mampu. Ulama Malikiyah dan Hanafiyah berpendapat hukumnya sunnah. Pendapat yang rajih, umrah hukumnya wajib bagi yang mampu. Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahumallah. Berdasarkan firman Allah Ta’ala,وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ“Sempurnakan haji dan umrah untuk Allah semata” (QS. Al Baqarah: 196).Dalam ayat ini, umrah digandengkan dengan haji yang hukumnya wajib. Demikian juga didahului dengan fi’il amr (kata perintah). Demikian juga dalam hadits dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau bertanya kepada Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam,يَا رَسَوْلَ اللهِ، هَلْ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ؟ قَالَ: جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيْهِ، اَلْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ.“Wahai Rasulullah, apakah ada jihad bagi wanita?” Beliau menjawab, “Bagi mereka ada jihad yang tidak ada peperangan di dalamnya, yaitu haji dan umrah” (HR. Ibnu Majah no. 2901, dishahihkan Al Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 2345).Di sini juga umrah digandengkan dengan haji. Ini semua menunjukkan bahwa umrah hukumnya wajib bagi yang mampu. Wallahu a’lam.Maka bagi kaum Muslimin yang belum mampu berhaji namun mampu berumrah, hendaknya tidak menunda-nunda untuk berangkat umrah. Adapun yang mampu berhaji, dapat sekaligus menjalankan haji dan umrah dalam sekali perjalanan.Syarat Wajib UmrahSyarat-syarat agar seseorang dikatakan sudah jatuh kewajiban untuk mengerjakan umrah sama seperti syarat-syarat wajib haji.Sekali Seumur HidupKewajiban haji dan umrah, bagi yang mampu melakukannya, adalah hanya sekali seumur hidup. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَيُّهَا النَّاسُ قدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الحَجَّ، فَحُجُّوا، فَقالَ رَجُلٌ: أَكُلَّ عَامٍ يا رَسولَ اللهِ؟ فَسَكَتَ حتَّى قالَهَا ثَلَاثًا، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: لو قُلتُ: نَعَمْ لَوَجَبَتْ، وَلَما اسْتَطَعْتُمْ، ثُمَّ قالَ: ذَرُونِي ما تَرَكْتُكُمْ، فإنَّما هَلَكَ مَن كانَ قَبْلَكُمْ بكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ علَى أَنْبِيَائِهِمْ، فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بشيءٍ فَأْتُوا منه ما اسْتَطَعْتُمْ، وإذَا نَهَيْتُكُمْ عن شيءٍ فَدَعُوهُ“Wahai manusia, telah diwajibkan atas kalian berhaji, maka berhajilah”. Kemudian ada seorang yang bertanya, “Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah?” Beliau tidak menjawabnya, sampai orang tadi bertanya lagi hingga tiga kali. Barulah Rasulullah shallallahu‘ alaihi wasallam menjawab, “Jika aku katakan “ya”, maka niscaya akan diwajibkan setiap tahun dan belum tentu kalian sanggup melakukannya. Maka tidak perlu membahas apa yang aku tidak singgung kepada kalian. Karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa akibat banyak bertanya dan banyak menentang para Nabi mereka. Jika aku perintahkan sesuatu, kerjakanlah darinya sesuai dengan kemampuan kalian. Jika aku telah melarang sesuatu atas kalian, maka tinggalkanlah” (HR. Muslim no. 1337).Hadits ini menunjukkan kewajiban haji hanya sekali seumur hidup. Demikian juga umrah, karena umrah disebut sebagai al hajjul ashghar (haji kecil). Ketika seseorang sudah menunaikan haji atau umrah yang wajib tersebut, maka ibadah haji dan umrah tetap boleh dilakukan kembali namun hukumnya sunnah.Keutamaan Haji dan Umrah Orang yang beribadah haji dijanjikan surga dan umrah menggugurkan dosa Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,العمرةُ إلى العمرةِ كفَّارَةٌ لمَا بينَهمَا ، والحجُّ المبرورُ ليسَ لهُ جزاءٌ إلا الجنَّةُ“Satu umrah hingga umrah berikutnya adalah penggugur dosa-dosa di antara keduanya. Dan haji yang mabrur, tiada ganjaran bagi pelakunya melainkan surga” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349). Haji menghapuskan dosa-dosa Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ“Siapa yang berhaji ke Ka’bah, lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan, maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya” (HR. Bukhari no. 1521). Haji dan umrah menghilangkan kefakiran Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ“Iringi umrah dengan haji atau sebaliknya, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Dan tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An-Nasa’i no. 2629, dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa’i). Umrah adalah haji kecil Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,واختلف في المراد بالحج الأصغر، فالجمهور على أنه العمرة“Para ulama berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan al hajj al ashghar (haji kecil). Jumhur ulama mengatakan bahwa maksudnya adalah umrah” (Fathul Bari, 8: 178). Mendapat keutamaan dari berbagai ibadah yang agung Dalam ibadah haji atau umrah ada berbagai ibadah yang agung yang memiliki keutamaan-keutamaan. Di antaranya: mengucapkan talbiyah, thawaf di Ka’bah, sa’i, minum air zam-zam, shalat di Masjidil Haram, tahallul, dan ibadah-ibadah lainnya.Demikian penjelasan ringkas tentang hukum dan keutamaan dari ibadah haji dan umrah. Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk beribadah kepada-Nya dengan baik, termasuk memudahkan kita untuk berhaji dan umrah.Wallahul muwaffiq.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Kitab Ushul Tsalatsah, Sami Allahu Liman Hamidah, Surat Al Baqarah Ayat 185 Beserta Artinya, Ustadz Harits Abu Naufal, Berbohong Demi Kebaikan Menurut Islam
Haji dan umrah adalah dua ibadah yang mulia, yang dikerjakan di tanah suci Makkah. Bahkan ibadah haji adalah salah satu dari lima rukun Islam. Hal ini menunjukkan betapa urgen dan pentingnya ibadah tersebut. Umrah dan haji juga dua ibadah yang menguji kita untuk mengorbankan harta, tenaga, dan juga mengorbankan hawa nafsu.Hukum HajiUlama sepakat bahwa ibadah haji hukumnya wajib ‘ain bagi yang mampu. Allah Ta’ala berfirman,وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (QS. Ali Imran: 97).Bahkan, ibadah haji adalah salah satu rukun Islam. Dari Abdullah bin ‘Umar radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengaku Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji, dan berpuasa di bulan Ramadhan” (HR. Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16).Sampai sebagian ulama, seperti Al Hasan Al Bashri, Nafi’, Ibnu Habib Al Maliki, menganggap kafirnya orang yang tidak berhaji padahal mampu. Salah satu dalil mereka adalah riwayat dari Umar bin Khathab radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan,مَن أطاقَ الحجَّ، فلم يحُجَّ فسواءٌ عليه مات يهوديًّا أو نصرانيًّا“Barangsiapa yang mampu berhaji namun tidak berangkat haji, maka sama saja apakah ia mati sebagai orang Yahudi atau sebagai orang Nashrani” (HR. Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya, 1: 387, dishahihkan Hafizh Al Hakami dalam Ma’arijul Qabul, 2: 639).Perkataan semisal ini juga diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhuma. Namun, riwayat ini tidak secara tegas menunjukkan kafirnya orang yang tidak menunaikan ibadah haji. Oleh karena itu, jumhur ulama tidak menganggap kafir orang yang tidak berhaji padahal mampu. Dan ini adalah kesepakatan para sahabat Nabi. Abdullah bin Syaqiq Al ‘Uqaili rahimahullah mengatakan,لم يكن أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم يرون شيئا من الأعمال تركه كفر غير الصلاة“Dahulu para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam tidak memandang ada amalan yang bisa menyebabkan kekufuran jika meninggalkannya, kecuali shalat” (HR. At Tirmidzi no. 2622, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi). Syarat Wajib HajiPara ulama menjelaskan, ada lima syarat agar seseorang dikatakan sudah terkena kewajiban haji. Jika lima syarat ini tidak terpenuhi, maka tidak ada kewajiban untuk berhaji. Syarat-syarat tersebut adalah: Beragama Islam Berakal, bukan orang gila Baligh, bukan anak kecil yang belum baligh Merdeka, bukan hamba sahaya Mampu Syarat mampu ini sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala,وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ< إِلَيْهِ سَبِيلًا“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” (QS. Ali Imran: 97).Dan patokan “mampu”, dijelaskan dalam kitab Al Fiqhul Muyassar (hal. 173), adalah dengan melihat empat poin: Mampu secara harta, sehingga ia memiliki bekal untuk perjalanan dan mampu meninggalkan nafkah yang cukup untuk keluarga yang ditinggalkan Mampu melakukan perjalanan ke Baitullah Mampu secara fisik, tidak sedang sakit parah atau tua renta yang membuat ia tidak bisa melakukan perjalanan ke Baitullah Jalur perjalanan menuju ke Baitullah dalam kondisi aman, tidak ada bahaya seperti perampok, wabah, perang, dan semisalnya. Jika salah satu kriteria ini tidak terpenuhi, maka belum dikatakan mampu sehingga belum wajib untuk berhaji.Dan ada satu kriteria lagi bagi wanita yang ini diperselisihkan oleh para ulama. Yaitu mampu menghadirkan mahram untuk melakukan perjalanan haji, ketika tempat tinggalnya jauh dari Mekkah. Ulama Hanabilah berpendapat wajibnya hal ini secara mutlak. Ulama Syafi’iyyah berpendapat tidak wajibnya. Adapun Ulama Malikiyah berpendapat wajib bersama mahram jika ada, namun boleh tanpa mahram jika tidak ada. Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.Yang kuat, wanita wajib menghadirkan mahram untuk haji maupun umrah. Berdasarkan hadits dari Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu, Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بامْرَأَةٍ إلَّا وَمعهَا ذُو مَحْرَمٍ، وَلَا تُسَافِرِ المَرْأَةُ إلَّا مع ذِي مَحْرَمٍ، فَقَامَ رَجُلٌ، فَقالَ: يا رَسولَ اللهِ، إنَّ امْرَأَتي خَرَجَتْ حَاجَّةً، وإنِّي اكْتُتِبْتُ في غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا، قالَ: انْطَلِقْ فَحُجَّ مع امْرَأَتِكَ“Tidak boleh seorang lelaki berduaan dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya. Dan seorang wanita tidak boleh melakukan safar kecuali bersama mahramnya”. Maka seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya istri hendak berhaji, dan sudah terdaftar untuk berangkat (jihad) perang ini dan itu”. Nabi bersabda, “Pulanglah dan temanilah istrimu berhaji”” (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341).Dalam hadits ini, lelaki yang ingin pergi berjihad diminta oleh Nabi untuk tidak berangkat berjihad demi untuk menemani istrinya berhaji. Ini mengindikasikan wajibnya hal tersebut. Dan tidak boleh wanita berhaji atau berumrah tanpa ditemani oleh mahramnya. Ini pendapat yang dikuatkan oleh ulama kibar mu’ashirin seperti Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, dan Syaikh Shalih Al Fauzan.Baca Juga: Adab Ziarah ke Masjid Nabawi agar Sesuai dengan Tuntunan (Hukum UmrahPara ulama sepakat bahwa ibadah umrah adalah ibadah yang disyariatkan dalam Islam. Namun mereka berbeda pendapat tentang hukumnya. Ulama Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat hukumnya wajib bagi yang mampu. Ulama Malikiyah dan Hanafiyah berpendapat hukumnya sunnah. Pendapat yang rajih, umrah hukumnya wajib bagi yang mampu. Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahumallah. Berdasarkan firman Allah Ta’ala,وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ“Sempurnakan haji dan umrah untuk Allah semata” (QS. Al Baqarah: 196).Dalam ayat ini, umrah digandengkan dengan haji yang hukumnya wajib. Demikian juga didahului dengan fi’il amr (kata perintah). Demikian juga dalam hadits dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau bertanya kepada Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam,يَا رَسَوْلَ اللهِ، هَلْ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ؟ قَالَ: جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيْهِ، اَلْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ.“Wahai Rasulullah, apakah ada jihad bagi wanita?” Beliau menjawab, “Bagi mereka ada jihad yang tidak ada peperangan di dalamnya, yaitu haji dan umrah” (HR. Ibnu Majah no. 2901, dishahihkan Al Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 2345).Di sini juga umrah digandengkan dengan haji. Ini semua menunjukkan bahwa umrah hukumnya wajib bagi yang mampu. Wallahu a’lam.Maka bagi kaum Muslimin yang belum mampu berhaji namun mampu berumrah, hendaknya tidak menunda-nunda untuk berangkat umrah. Adapun yang mampu berhaji, dapat sekaligus menjalankan haji dan umrah dalam sekali perjalanan.Syarat Wajib UmrahSyarat-syarat agar seseorang dikatakan sudah jatuh kewajiban untuk mengerjakan umrah sama seperti syarat-syarat wajib haji.Sekali Seumur HidupKewajiban haji dan umrah, bagi yang mampu melakukannya, adalah hanya sekali seumur hidup. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَيُّهَا النَّاسُ قدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الحَجَّ، فَحُجُّوا، فَقالَ رَجُلٌ: أَكُلَّ عَامٍ يا رَسولَ اللهِ؟ فَسَكَتَ حتَّى قالَهَا ثَلَاثًا، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: لو قُلتُ: نَعَمْ لَوَجَبَتْ، وَلَما اسْتَطَعْتُمْ، ثُمَّ قالَ: ذَرُونِي ما تَرَكْتُكُمْ، فإنَّما هَلَكَ مَن كانَ قَبْلَكُمْ بكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ علَى أَنْبِيَائِهِمْ، فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بشيءٍ فَأْتُوا منه ما اسْتَطَعْتُمْ، وإذَا نَهَيْتُكُمْ عن شيءٍ فَدَعُوهُ“Wahai manusia, telah diwajibkan atas kalian berhaji, maka berhajilah”. Kemudian ada seorang yang bertanya, “Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah?” Beliau tidak menjawabnya, sampai orang tadi bertanya lagi hingga tiga kali. Barulah Rasulullah shallallahu‘ alaihi wasallam menjawab, “Jika aku katakan “ya”, maka niscaya akan diwajibkan setiap tahun dan belum tentu kalian sanggup melakukannya. Maka tidak perlu membahas apa yang aku tidak singgung kepada kalian. Karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa akibat banyak bertanya dan banyak menentang para Nabi mereka. Jika aku perintahkan sesuatu, kerjakanlah darinya sesuai dengan kemampuan kalian. Jika aku telah melarang sesuatu atas kalian, maka tinggalkanlah” (HR. Muslim no. 1337).Hadits ini menunjukkan kewajiban haji hanya sekali seumur hidup. Demikian juga umrah, karena umrah disebut sebagai al hajjul ashghar (haji kecil). Ketika seseorang sudah menunaikan haji atau umrah yang wajib tersebut, maka ibadah haji dan umrah tetap boleh dilakukan kembali namun hukumnya sunnah.Keutamaan Haji dan Umrah Orang yang beribadah haji dijanjikan surga dan umrah menggugurkan dosa Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,العمرةُ إلى العمرةِ كفَّارَةٌ لمَا بينَهمَا ، والحجُّ المبرورُ ليسَ لهُ جزاءٌ إلا الجنَّةُ“Satu umrah hingga umrah berikutnya adalah penggugur dosa-dosa di antara keduanya. Dan haji yang mabrur, tiada ganjaran bagi pelakunya melainkan surga” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349). Haji menghapuskan dosa-dosa Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ“Siapa yang berhaji ke Ka’bah, lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan, maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya” (HR. Bukhari no. 1521). Haji dan umrah menghilangkan kefakiran Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ“Iringi umrah dengan haji atau sebaliknya, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Dan tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An-Nasa’i no. 2629, dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa’i). Umrah adalah haji kecil Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,واختلف في المراد بالحج الأصغر، فالجمهور على أنه العمرة“Para ulama berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan al hajj al ashghar (haji kecil). Jumhur ulama mengatakan bahwa maksudnya adalah umrah” (Fathul Bari, 8: 178). Mendapat keutamaan dari berbagai ibadah yang agung Dalam ibadah haji atau umrah ada berbagai ibadah yang agung yang memiliki keutamaan-keutamaan. Di antaranya: mengucapkan talbiyah, thawaf di Ka’bah, sa’i, minum air zam-zam, shalat di Masjidil Haram, tahallul, dan ibadah-ibadah lainnya.Demikian penjelasan ringkas tentang hukum dan keutamaan dari ibadah haji dan umrah. Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk beribadah kepada-Nya dengan baik, termasuk memudahkan kita untuk berhaji dan umrah.Wallahul muwaffiq.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Kitab Ushul Tsalatsah, Sami Allahu Liman Hamidah, Surat Al Baqarah Ayat 185 Beserta Artinya, Ustadz Harits Abu Naufal, Berbohong Demi Kebaikan Menurut Islam


Haji dan umrah adalah dua ibadah yang mulia, yang dikerjakan di tanah suci Makkah. Bahkan ibadah haji adalah salah satu dari lima rukun Islam. Hal ini menunjukkan betapa urgen dan pentingnya ibadah tersebut. Umrah dan haji juga dua ibadah yang menguji kita untuk mengorbankan harta, tenaga, dan juga mengorbankan hawa nafsu.Hukum HajiUlama sepakat bahwa ibadah haji hukumnya wajib ‘ain bagi yang mampu. Allah Ta’ala berfirman,وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (QS. Ali Imran: 97).Bahkan, ibadah haji adalah salah satu rukun Islam. Dari Abdullah bin ‘Umar radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengaku Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji, dan berpuasa di bulan Ramadhan” (HR. Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16).Sampai sebagian ulama, seperti Al Hasan Al Bashri, Nafi’, Ibnu Habib Al Maliki, menganggap kafirnya orang yang tidak berhaji padahal mampu. Salah satu dalil mereka adalah riwayat dari Umar bin Khathab radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan,مَن أطاقَ الحجَّ، فلم يحُجَّ فسواءٌ عليه مات يهوديًّا أو نصرانيًّا“Barangsiapa yang mampu berhaji namun tidak berangkat haji, maka sama saja apakah ia mati sebagai orang Yahudi atau sebagai orang Nashrani” (HR. Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya, 1: 387, dishahihkan Hafizh Al Hakami dalam Ma’arijul Qabul, 2: 639).Perkataan semisal ini juga diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhuma. Namun, riwayat ini tidak secara tegas menunjukkan kafirnya orang yang tidak menunaikan ibadah haji. Oleh karena itu, jumhur ulama tidak menganggap kafir orang yang tidak berhaji padahal mampu. Dan ini adalah kesepakatan para sahabat Nabi. Abdullah bin Syaqiq Al ‘Uqaili rahimahullah mengatakan,لم يكن أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم يرون شيئا من الأعمال تركه كفر غير الصلاة“Dahulu para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam tidak memandang ada amalan yang bisa menyebabkan kekufuran jika meninggalkannya, kecuali shalat” (HR. At Tirmidzi no. 2622, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi). Syarat Wajib HajiPara ulama menjelaskan, ada lima syarat agar seseorang dikatakan sudah terkena kewajiban haji. Jika lima syarat ini tidak terpenuhi, maka tidak ada kewajiban untuk berhaji. Syarat-syarat tersebut adalah: Beragama Islam Berakal, bukan orang gila Baligh, bukan anak kecil yang belum baligh Merdeka, bukan hamba sahaya Mampu Syarat mampu ini sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala,وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ< إِلَيْهِ سَبِيلًا“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” (QS. Ali Imran: 97).Dan patokan “mampu”, dijelaskan dalam kitab Al Fiqhul Muyassar (hal. 173), adalah dengan melihat empat poin: Mampu secara harta, sehingga ia memiliki bekal untuk perjalanan dan mampu meninggalkan nafkah yang cukup untuk keluarga yang ditinggalkan Mampu melakukan perjalanan ke Baitullah Mampu secara fisik, tidak sedang sakit parah atau tua renta yang membuat ia tidak bisa melakukan perjalanan ke Baitullah Jalur perjalanan menuju ke Baitullah dalam kondisi aman, tidak ada bahaya seperti perampok, wabah, perang, dan semisalnya. Jika salah satu kriteria ini tidak terpenuhi, maka belum dikatakan mampu sehingga belum wajib untuk berhaji.Dan ada satu kriteria lagi bagi wanita yang ini diperselisihkan oleh para ulama. Yaitu mampu menghadirkan mahram untuk melakukan perjalanan haji, ketika tempat tinggalnya jauh dari Mekkah. Ulama Hanabilah berpendapat wajibnya hal ini secara mutlak. Ulama Syafi’iyyah berpendapat tidak wajibnya. Adapun Ulama Malikiyah berpendapat wajib bersama mahram jika ada, namun boleh tanpa mahram jika tidak ada. Ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.Yang kuat, wanita wajib menghadirkan mahram untuk haji maupun umrah. Berdasarkan hadits dari Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu, Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بامْرَأَةٍ إلَّا وَمعهَا ذُو مَحْرَمٍ، وَلَا تُسَافِرِ المَرْأَةُ إلَّا مع ذِي مَحْرَمٍ، فَقَامَ رَجُلٌ، فَقالَ: يا رَسولَ اللهِ، إنَّ امْرَأَتي خَرَجَتْ حَاجَّةً، وإنِّي اكْتُتِبْتُ في غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا، قالَ: انْطَلِقْ فَحُجَّ مع امْرَأَتِكَ“Tidak boleh seorang lelaki berduaan dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya. Dan seorang wanita tidak boleh melakukan safar kecuali bersama mahramnya”. Maka seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya istri hendak berhaji, dan sudah terdaftar untuk berangkat (jihad) perang ini dan itu”. Nabi bersabda, “Pulanglah dan temanilah istrimu berhaji”” (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341).Dalam hadits ini, lelaki yang ingin pergi berjihad diminta oleh Nabi untuk tidak berangkat berjihad demi untuk menemani istrinya berhaji. Ini mengindikasikan wajibnya hal tersebut. Dan tidak boleh wanita berhaji atau berumrah tanpa ditemani oleh mahramnya. Ini pendapat yang dikuatkan oleh ulama kibar mu’ashirin seperti Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, dan Syaikh Shalih Al Fauzan.Baca Juga: Adab Ziarah ke Masjid Nabawi agar Sesuai dengan Tuntunan (Hukum UmrahPara ulama sepakat bahwa ibadah umrah adalah ibadah yang disyariatkan dalam Islam. Namun mereka berbeda pendapat tentang hukumnya. Ulama Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat hukumnya wajib bagi yang mampu. Ulama Malikiyah dan Hanafiyah berpendapat hukumnya sunnah. Pendapat yang rajih, umrah hukumnya wajib bagi yang mampu. Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahumallah. Berdasarkan firman Allah Ta’ala,وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ“Sempurnakan haji dan umrah untuk Allah semata” (QS. Al Baqarah: 196).Dalam ayat ini, umrah digandengkan dengan haji yang hukumnya wajib. Demikian juga didahului dengan fi’il amr (kata perintah). Demikian juga dalam hadits dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau bertanya kepada Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam,يَا رَسَوْلَ اللهِ، هَلْ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ؟ قَالَ: جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيْهِ، اَلْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ.“Wahai Rasulullah, apakah ada jihad bagi wanita?” Beliau menjawab, “Bagi mereka ada jihad yang tidak ada peperangan di dalamnya, yaitu haji dan umrah” (HR. Ibnu Majah no. 2901, dishahihkan Al Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 2345).Di sini juga umrah digandengkan dengan haji. Ini semua menunjukkan bahwa umrah hukumnya wajib bagi yang mampu. Wallahu a’lam.Maka bagi kaum Muslimin yang belum mampu berhaji namun mampu berumrah, hendaknya tidak menunda-nunda untuk berangkat umrah. Adapun yang mampu berhaji, dapat sekaligus menjalankan haji dan umrah dalam sekali perjalanan.Syarat Wajib UmrahSyarat-syarat agar seseorang dikatakan sudah jatuh kewajiban untuk mengerjakan umrah sama seperti syarat-syarat wajib haji.Sekali Seumur HidupKewajiban haji dan umrah, bagi yang mampu melakukannya, adalah hanya sekali seumur hidup. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,أَيُّهَا النَّاسُ قدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الحَجَّ، فَحُجُّوا، فَقالَ رَجُلٌ: أَكُلَّ عَامٍ يا رَسولَ اللهِ؟ فَسَكَتَ حتَّى قالَهَا ثَلَاثًا، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: لو قُلتُ: نَعَمْ لَوَجَبَتْ، وَلَما اسْتَطَعْتُمْ، ثُمَّ قالَ: ذَرُونِي ما تَرَكْتُكُمْ، فإنَّما هَلَكَ مَن كانَ قَبْلَكُمْ بكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ علَى أَنْبِيَائِهِمْ، فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بشيءٍ فَأْتُوا منه ما اسْتَطَعْتُمْ، وإذَا نَهَيْتُكُمْ عن شيءٍ فَدَعُوهُ“Wahai manusia, telah diwajibkan atas kalian berhaji, maka berhajilah”. Kemudian ada seorang yang bertanya, “Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah?” Beliau tidak menjawabnya, sampai orang tadi bertanya lagi hingga tiga kali. Barulah Rasulullah shallallahu‘ alaihi wasallam menjawab, “Jika aku katakan “ya”, maka niscaya akan diwajibkan setiap tahun dan belum tentu kalian sanggup melakukannya. Maka tidak perlu membahas apa yang aku tidak singgung kepada kalian. Karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa akibat banyak bertanya dan banyak menentang para Nabi mereka. Jika aku perintahkan sesuatu, kerjakanlah darinya sesuai dengan kemampuan kalian. Jika aku telah melarang sesuatu atas kalian, maka tinggalkanlah” (HR. Muslim no. 1337).Hadits ini menunjukkan kewajiban haji hanya sekali seumur hidup. Demikian juga umrah, karena umrah disebut sebagai al hajjul ashghar (haji kecil). Ketika seseorang sudah menunaikan haji atau umrah yang wajib tersebut, maka ibadah haji dan umrah tetap boleh dilakukan kembali namun hukumnya sunnah.Keutamaan Haji dan Umrah Orang yang beribadah haji dijanjikan surga dan umrah menggugurkan dosa Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,العمرةُ إلى العمرةِ كفَّارَةٌ لمَا بينَهمَا ، والحجُّ المبرورُ ليسَ لهُ جزاءٌ إلا الجنَّةُ“Satu umrah hingga umrah berikutnya adalah penggugur dosa-dosa di antara keduanya. Dan haji yang mabrur, tiada ganjaran bagi pelakunya melainkan surga” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349). Haji menghapuskan dosa-dosa Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ“Siapa yang berhaji ke Ka’bah, lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan, maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya” (HR. Bukhari no. 1521). Haji dan umrah menghilangkan kefakiran Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ“Iringi umrah dengan haji atau sebaliknya, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Dan tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An-Nasa’i no. 2629, dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa’i). Umrah adalah haji kecil Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,واختلف في المراد بالحج الأصغر، فالجمهور على أنه العمرة“Para ulama berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan al hajj al ashghar (haji kecil). Jumhur ulama mengatakan bahwa maksudnya adalah umrah” (Fathul Bari, 8: 178). Mendapat keutamaan dari berbagai ibadah yang agung Dalam ibadah haji atau umrah ada berbagai ibadah yang agung yang memiliki keutamaan-keutamaan. Di antaranya: mengucapkan talbiyah, thawaf di Ka’bah, sa’i, minum air zam-zam, shalat di Masjidil Haram, tahallul, dan ibadah-ibadah lainnya.Demikian penjelasan ringkas tentang hukum dan keutamaan dari ibadah haji dan umrah. Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk beribadah kepada-Nya dengan baik, termasuk memudahkan kita untuk berhaji dan umrah.Wallahul muwaffiq.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Kitab Ushul Tsalatsah, Sami Allahu Liman Hamidah, Surat Al Baqarah Ayat 185 Beserta Artinya, Ustadz Harits Abu Naufal, Berbohong Demi Kebaikan Menurut Islam

Dalil bahwa al-Quran Kitab Suci Terakhir – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Dalil bahwa al-Quran Kitab Suci Terakhir – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Yang kedua: Al-Qur’an merupakan kitab terakhir. Oleh sebab itu, al-Qur’an adalah penentu kebenaran yang ada dalam kitab-kitab sebelumnya. Apa dalil yang menyebutkan bahwa al-Qur’an adalah kitab terakhir? Dalil dari al-Qur’an. Ya? Dalil ini dari al-Qur’an? dari al-Qur’an atau dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ya, bagus. Baik, apa dalilnya bahwa wahyu tidak diturunkan kepada Nabi? Sedangkan ayat-ayat dalam surat an-Nahl dan al-Qasas disebutkan bahwa wahyu diturunkan kepada selain Nabi. Kamu harus menyusun jawaban dengan baik, kamu telah mendekati jawaban yang benar. Ya? Apa? “Pada hari ini Aku telah menyempurnakan bagi kalian… Apa? agama kalian dan Aku telah menyempurnakan bagi kalian kenikmatan-Ku.” Ya? Saudara ini bilang bahwa di ayat ini (Ali Imran ayat 2) disebutkan bahwa Allah menurunkan kitab Taurat dan Injil sebelum menurunkan al-Quran. Ini dalil melalui isyarat… yang dimaksud bukan seperti ini. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala. Kamu, susunlah jawaban akhi tadi, karena itulah ayat jawabannya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala… “Muhammad bukanlah ayah dari salah satu lelaki dari kalian akan tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40) Jika beliau adalah penutup para Nabimaka kitab yang diturunkan kepada beliau.adalah kitab yang terakhir. Karena wahyu yang menunjukkan pengutusan yang diturunkan kepada seorang Nabi yang berupa kitab pasti diturunkan kepada orang yang memiliki kenabian. Jadi tidak ada kitab kecuali diturunkan kepada Nabi namun bisa jadi ada nabi yang tidak diturunkan kitab kepadanya. Jelas? Allah Ta’ala berfirman, “Dahulu manusia adalah satu umat, (lalu terjadi perselisihan) maka Allah mengutus para Nabi untuk memberi kabar gembira dan peringatan dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar.” (QS. Al-Baqarah: 213) Jadi tidak ada kitab yang diturunkan dari Allah kecuali kitab itu diturunkan kepada seorang Nabi atau Rasul. Namun bisa jadi ada seorang Rasul dan Nabi yang tidak diturunkan kepadanya… Apa? tidak diturunkan kepadanya kitab. Maka ayat ini merupakan dalil bahwa al-Qur’an adalah kitab yang terakhir. ============== نِيهَا كَوْنُ الْقُرْآنِ آخِرَ الْكُتُبِ فَلِأَجْلِ ذَلِكَ فَهُوَ مُهَيْمِنٌ عَلَيْهَا مَا الدَّلِيلُ عَلَى أَنَّ الْقُرْآنَ آخِرُ الْكُتُبِ؟ مِنَ الْقُرْآنِ نَعَم هَذَا مِنْهُ؟ الْقُرْآنُ أَمِ الرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ أَيْ أَحْسَنْتَ طَيِّبٌ وَمَا الدَّلِيلُ عَلَى أَنَّ الْوَحْيَ لاَ يُنْزَلُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْآيَاتُ فِي سُورَةِ النَّحْلِ وَالْقَصَصِ ذِكْرُ الْوَحْيِ عَلَى غَيْرِ النَّبِيِّ لاَ بُدَّ أَنْ تُرَتِّبَ إِجَابَتَكَ . أَنْتَ تَحُومُ حَوْلَ الْحِمَى نَعَمْ أَيْش؟ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ أَيْش؟ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي نَعَمْ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ -الْأَخُ يَقُولُ- مِنْ قَبْلُ وَأَنْزَلَ الْقُرْآنَ هَذَا دَلِيلٌ بِالْإِشَارَةِ . مَا يَجْرِي هَكَذَا الدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى يَعْنِي أَنْتَ رَتِّبْ دَلِيلَ الْأَخِ . بَسْ هُوَ الَّذِيّ إِجَابَةُ الْآيَةِ الدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَإِذَا كَانَ هُوَ خَاتَمَ النَّبِيِّينَ فَمَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ مِنْ كِتَابٍ هُوَ آخِرُ الْكُتُبِ لِأَنَّ وَحْيَ الْبَعْثِ الْمُنْزَلِ عَلَى نَبِيٍّ كِتَابًا لَا بُدَّ فِيهِ مِنْ وُجُودِ النُّبُوَّةِ فَلَا يُوجَدُ كِتَابٌ إِلَّا بِنَبِيٍّ وَقَدْ يُوجَدُ نَبِيٌّ بِلَا كِتَابٍ وَاضِحٌ؟ قَالَ تَعَالَى كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَلَا يُوجَدُ كِتَابٌ نَازِلٌ مِنَ اللهِ إِلَّا وَنُزُولُهُ عَلَى نَبِيٍّ أَوْ رَسُولٍ لَكِنْ قَدْ يُوجَدُ رَسُوْلٌ وَنَبِيٌّ بِلَا أَيْش؟ بِلَا كِتَابٍ فَهَذِهِ الْآيَةُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْقُرْآنَ هُوَ آخِرُ الْكُتُبِ

Dalil bahwa al-Quran Kitab Suci Terakhir – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Dalil bahwa al-Quran Kitab Suci Terakhir – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Yang kedua: Al-Qur’an merupakan kitab terakhir. Oleh sebab itu, al-Qur’an adalah penentu kebenaran yang ada dalam kitab-kitab sebelumnya. Apa dalil yang menyebutkan bahwa al-Qur’an adalah kitab terakhir? Dalil dari al-Qur’an. Ya? Dalil ini dari al-Qur’an? dari al-Qur’an atau dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ya, bagus. Baik, apa dalilnya bahwa wahyu tidak diturunkan kepada Nabi? Sedangkan ayat-ayat dalam surat an-Nahl dan al-Qasas disebutkan bahwa wahyu diturunkan kepada selain Nabi. Kamu harus menyusun jawaban dengan baik, kamu telah mendekati jawaban yang benar. Ya? Apa? “Pada hari ini Aku telah menyempurnakan bagi kalian… Apa? agama kalian dan Aku telah menyempurnakan bagi kalian kenikmatan-Ku.” Ya? Saudara ini bilang bahwa di ayat ini (Ali Imran ayat 2) disebutkan bahwa Allah menurunkan kitab Taurat dan Injil sebelum menurunkan al-Quran. Ini dalil melalui isyarat… yang dimaksud bukan seperti ini. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala. Kamu, susunlah jawaban akhi tadi, karena itulah ayat jawabannya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala… “Muhammad bukanlah ayah dari salah satu lelaki dari kalian akan tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40) Jika beliau adalah penutup para Nabimaka kitab yang diturunkan kepada beliau.adalah kitab yang terakhir. Karena wahyu yang menunjukkan pengutusan yang diturunkan kepada seorang Nabi yang berupa kitab pasti diturunkan kepada orang yang memiliki kenabian. Jadi tidak ada kitab kecuali diturunkan kepada Nabi namun bisa jadi ada nabi yang tidak diturunkan kitab kepadanya. Jelas? Allah Ta’ala berfirman, “Dahulu manusia adalah satu umat, (lalu terjadi perselisihan) maka Allah mengutus para Nabi untuk memberi kabar gembira dan peringatan dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar.” (QS. Al-Baqarah: 213) Jadi tidak ada kitab yang diturunkan dari Allah kecuali kitab itu diturunkan kepada seorang Nabi atau Rasul. Namun bisa jadi ada seorang Rasul dan Nabi yang tidak diturunkan kepadanya… Apa? tidak diturunkan kepadanya kitab. Maka ayat ini merupakan dalil bahwa al-Qur’an adalah kitab yang terakhir. ============== نِيهَا كَوْنُ الْقُرْآنِ آخِرَ الْكُتُبِ فَلِأَجْلِ ذَلِكَ فَهُوَ مُهَيْمِنٌ عَلَيْهَا مَا الدَّلِيلُ عَلَى أَنَّ الْقُرْآنَ آخِرُ الْكُتُبِ؟ مِنَ الْقُرْآنِ نَعَم هَذَا مِنْهُ؟ الْقُرْآنُ أَمِ الرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ أَيْ أَحْسَنْتَ طَيِّبٌ وَمَا الدَّلِيلُ عَلَى أَنَّ الْوَحْيَ لاَ يُنْزَلُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْآيَاتُ فِي سُورَةِ النَّحْلِ وَالْقَصَصِ ذِكْرُ الْوَحْيِ عَلَى غَيْرِ النَّبِيِّ لاَ بُدَّ أَنْ تُرَتِّبَ إِجَابَتَكَ . أَنْتَ تَحُومُ حَوْلَ الْحِمَى نَعَمْ أَيْش؟ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ أَيْش؟ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي نَعَمْ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ -الْأَخُ يَقُولُ- مِنْ قَبْلُ وَأَنْزَلَ الْقُرْآنَ هَذَا دَلِيلٌ بِالْإِشَارَةِ . مَا يَجْرِي هَكَذَا الدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى يَعْنِي أَنْتَ رَتِّبْ دَلِيلَ الْأَخِ . بَسْ هُوَ الَّذِيّ إِجَابَةُ الْآيَةِ الدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَإِذَا كَانَ هُوَ خَاتَمَ النَّبِيِّينَ فَمَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ مِنْ كِتَابٍ هُوَ آخِرُ الْكُتُبِ لِأَنَّ وَحْيَ الْبَعْثِ الْمُنْزَلِ عَلَى نَبِيٍّ كِتَابًا لَا بُدَّ فِيهِ مِنْ وُجُودِ النُّبُوَّةِ فَلَا يُوجَدُ كِتَابٌ إِلَّا بِنَبِيٍّ وَقَدْ يُوجَدُ نَبِيٌّ بِلَا كِتَابٍ وَاضِحٌ؟ قَالَ تَعَالَى كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَلَا يُوجَدُ كِتَابٌ نَازِلٌ مِنَ اللهِ إِلَّا وَنُزُولُهُ عَلَى نَبِيٍّ أَوْ رَسُولٍ لَكِنْ قَدْ يُوجَدُ رَسُوْلٌ وَنَبِيٌّ بِلَا أَيْش؟ بِلَا كِتَابٍ فَهَذِهِ الْآيَةُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْقُرْآنَ هُوَ آخِرُ الْكُتُبِ
Dalil bahwa al-Quran Kitab Suci Terakhir – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Yang kedua: Al-Qur’an merupakan kitab terakhir. Oleh sebab itu, al-Qur’an adalah penentu kebenaran yang ada dalam kitab-kitab sebelumnya. Apa dalil yang menyebutkan bahwa al-Qur’an adalah kitab terakhir? Dalil dari al-Qur’an. Ya? Dalil ini dari al-Qur’an? dari al-Qur’an atau dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ya, bagus. Baik, apa dalilnya bahwa wahyu tidak diturunkan kepada Nabi? Sedangkan ayat-ayat dalam surat an-Nahl dan al-Qasas disebutkan bahwa wahyu diturunkan kepada selain Nabi. Kamu harus menyusun jawaban dengan baik, kamu telah mendekati jawaban yang benar. Ya? Apa? “Pada hari ini Aku telah menyempurnakan bagi kalian… Apa? agama kalian dan Aku telah menyempurnakan bagi kalian kenikmatan-Ku.” Ya? Saudara ini bilang bahwa di ayat ini (Ali Imran ayat 2) disebutkan bahwa Allah menurunkan kitab Taurat dan Injil sebelum menurunkan al-Quran. Ini dalil melalui isyarat… yang dimaksud bukan seperti ini. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala. Kamu, susunlah jawaban akhi tadi, karena itulah ayat jawabannya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala… “Muhammad bukanlah ayah dari salah satu lelaki dari kalian akan tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40) Jika beliau adalah penutup para Nabimaka kitab yang diturunkan kepada beliau.adalah kitab yang terakhir. Karena wahyu yang menunjukkan pengutusan yang diturunkan kepada seorang Nabi yang berupa kitab pasti diturunkan kepada orang yang memiliki kenabian. Jadi tidak ada kitab kecuali diturunkan kepada Nabi namun bisa jadi ada nabi yang tidak diturunkan kitab kepadanya. Jelas? Allah Ta’ala berfirman, “Dahulu manusia adalah satu umat, (lalu terjadi perselisihan) maka Allah mengutus para Nabi untuk memberi kabar gembira dan peringatan dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar.” (QS. Al-Baqarah: 213) Jadi tidak ada kitab yang diturunkan dari Allah kecuali kitab itu diturunkan kepada seorang Nabi atau Rasul. Namun bisa jadi ada seorang Rasul dan Nabi yang tidak diturunkan kepadanya… Apa? tidak diturunkan kepadanya kitab. Maka ayat ini merupakan dalil bahwa al-Qur’an adalah kitab yang terakhir. ============== نِيهَا كَوْنُ الْقُرْآنِ آخِرَ الْكُتُبِ فَلِأَجْلِ ذَلِكَ فَهُوَ مُهَيْمِنٌ عَلَيْهَا مَا الدَّلِيلُ عَلَى أَنَّ الْقُرْآنَ آخِرُ الْكُتُبِ؟ مِنَ الْقُرْآنِ نَعَم هَذَا مِنْهُ؟ الْقُرْآنُ أَمِ الرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ أَيْ أَحْسَنْتَ طَيِّبٌ وَمَا الدَّلِيلُ عَلَى أَنَّ الْوَحْيَ لاَ يُنْزَلُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْآيَاتُ فِي سُورَةِ النَّحْلِ وَالْقَصَصِ ذِكْرُ الْوَحْيِ عَلَى غَيْرِ النَّبِيِّ لاَ بُدَّ أَنْ تُرَتِّبَ إِجَابَتَكَ . أَنْتَ تَحُومُ حَوْلَ الْحِمَى نَعَمْ أَيْش؟ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ أَيْش؟ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي نَعَمْ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ -الْأَخُ يَقُولُ- مِنْ قَبْلُ وَأَنْزَلَ الْقُرْآنَ هَذَا دَلِيلٌ بِالْإِشَارَةِ . مَا يَجْرِي هَكَذَا الدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى يَعْنِي أَنْتَ رَتِّبْ دَلِيلَ الْأَخِ . بَسْ هُوَ الَّذِيّ إِجَابَةُ الْآيَةِ الدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَإِذَا كَانَ هُوَ خَاتَمَ النَّبِيِّينَ فَمَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ مِنْ كِتَابٍ هُوَ آخِرُ الْكُتُبِ لِأَنَّ وَحْيَ الْبَعْثِ الْمُنْزَلِ عَلَى نَبِيٍّ كِتَابًا لَا بُدَّ فِيهِ مِنْ وُجُودِ النُّبُوَّةِ فَلَا يُوجَدُ كِتَابٌ إِلَّا بِنَبِيٍّ وَقَدْ يُوجَدُ نَبِيٌّ بِلَا كِتَابٍ وَاضِحٌ؟ قَالَ تَعَالَى كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَلَا يُوجَدُ كِتَابٌ نَازِلٌ مِنَ اللهِ إِلَّا وَنُزُولُهُ عَلَى نَبِيٍّ أَوْ رَسُولٍ لَكِنْ قَدْ يُوجَدُ رَسُوْلٌ وَنَبِيٌّ بِلَا أَيْش؟ بِلَا كِتَابٍ فَهَذِهِ الْآيَةُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْقُرْآنَ هُوَ آخِرُ الْكُتُبِ


Dalil bahwa al-Quran Kitab Suci Terakhir – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Yang kedua: Al-Qur’an merupakan kitab terakhir. Oleh sebab itu, al-Qur’an adalah penentu kebenaran yang ada dalam kitab-kitab sebelumnya. Apa dalil yang menyebutkan bahwa al-Qur’an adalah kitab terakhir? Dalil dari al-Qur’an. Ya? Dalil ini dari al-Qur’an? dari al-Qur’an atau dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ya, bagus. Baik, apa dalilnya bahwa wahyu tidak diturunkan kepada Nabi? Sedangkan ayat-ayat dalam surat an-Nahl dan al-Qasas disebutkan bahwa wahyu diturunkan kepada selain Nabi. Kamu harus menyusun jawaban dengan baik, kamu telah mendekati jawaban yang benar. Ya? Apa? “Pada hari ini Aku telah menyempurnakan bagi kalian… Apa? agama kalian dan Aku telah menyempurnakan bagi kalian kenikmatan-Ku.” Ya? Saudara ini bilang bahwa di ayat ini (Ali Imran ayat 2) disebutkan bahwa Allah menurunkan kitab Taurat dan Injil sebelum menurunkan al-Quran. Ini dalil melalui isyarat… yang dimaksud bukan seperti ini. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala. Kamu, susunlah jawaban akhi tadi, karena itulah ayat jawabannya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala… “Muhammad bukanlah ayah dari salah satu lelaki dari kalian akan tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40) Jika beliau adalah penutup para Nabimaka kitab yang diturunkan kepada beliau.adalah kitab yang terakhir. Karena wahyu yang menunjukkan pengutusan yang diturunkan kepada seorang Nabi yang berupa kitab pasti diturunkan kepada orang yang memiliki kenabian. Jadi tidak ada kitab kecuali diturunkan kepada Nabi namun bisa jadi ada nabi yang tidak diturunkan kitab kepadanya. Jelas? Allah Ta’ala berfirman, “Dahulu manusia adalah satu umat, (lalu terjadi perselisihan) maka Allah mengutus para Nabi untuk memberi kabar gembira dan peringatan dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar.” (QS. Al-Baqarah: 213) Jadi tidak ada kitab yang diturunkan dari Allah kecuali kitab itu diturunkan kepada seorang Nabi atau Rasul. Namun bisa jadi ada seorang Rasul dan Nabi yang tidak diturunkan kepadanya… Apa? tidak diturunkan kepadanya kitab. Maka ayat ini merupakan dalil bahwa al-Qur’an adalah kitab yang terakhir. ============== نِيهَا كَوْنُ الْقُرْآنِ آخِرَ الْكُتُبِ فَلِأَجْلِ ذَلِكَ فَهُوَ مُهَيْمِنٌ عَلَيْهَا مَا الدَّلِيلُ عَلَى أَنَّ الْقُرْآنَ آخِرُ الْكُتُبِ؟ مِنَ الْقُرْآنِ نَعَم هَذَا مِنْهُ؟ الْقُرْآنُ أَمِ الرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ أَيْ أَحْسَنْتَ طَيِّبٌ وَمَا الدَّلِيلُ عَلَى أَنَّ الْوَحْيَ لاَ يُنْزَلُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْآيَاتُ فِي سُورَةِ النَّحْلِ وَالْقَصَصِ ذِكْرُ الْوَحْيِ عَلَى غَيْرِ النَّبِيِّ لاَ بُدَّ أَنْ تُرَتِّبَ إِجَابَتَكَ . أَنْتَ تَحُومُ حَوْلَ الْحِمَى نَعَمْ أَيْش؟ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ أَيْش؟ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي نَعَمْ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ -الْأَخُ يَقُولُ- مِنْ قَبْلُ وَأَنْزَلَ الْقُرْآنَ هَذَا دَلِيلٌ بِالْإِشَارَةِ . مَا يَجْرِي هَكَذَا الدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى يَعْنِي أَنْتَ رَتِّبْ دَلِيلَ الْأَخِ . بَسْ هُوَ الَّذِيّ إِجَابَةُ الْآيَةِ الدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَإِذَا كَانَ هُوَ خَاتَمَ النَّبِيِّينَ فَمَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ مِنْ كِتَابٍ هُوَ آخِرُ الْكُتُبِ لِأَنَّ وَحْيَ الْبَعْثِ الْمُنْزَلِ عَلَى نَبِيٍّ كِتَابًا لَا بُدَّ فِيهِ مِنْ وُجُودِ النُّبُوَّةِ فَلَا يُوجَدُ كِتَابٌ إِلَّا بِنَبِيٍّ وَقَدْ يُوجَدُ نَبِيٌّ بِلَا كِتَابٍ وَاضِحٌ؟ قَالَ تَعَالَى كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَلَا يُوجَدُ كِتَابٌ نَازِلٌ مِنَ اللهِ إِلَّا وَنُزُولُهُ عَلَى نَبِيٍّ أَوْ رَسُولٍ لَكِنْ قَدْ يُوجَدُ رَسُوْلٌ وَنَبِيٌّ بِلَا أَيْش؟ بِلَا كِتَابٍ فَهَذِهِ الْآيَةُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْقُرْآنَ هُوَ آخِرُ الْكُتُبِ

Apakah Agama Nabi Musa Yahudi dan Nabi Isa Nasrani? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Apakah Agama Nabi Musa Yahudi dan Nabi Isa Nasrani? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Penanya ini berkata, “Apakah agama yang Allah turunkan kepada Musa dan Isa adalah agama Yahudi dan Nasrani?” Jawabannya BUKAN, Yahudi dan Nasrani adalah nama agama Bani Israil. Mereka dulu bersama para Nabi tersebut, setelah itu agama ini diganti dan diubah oleh mereka. ========================================== يَقُولُ هَذَا السَّائِلُ هَلِ الدِّينُ الَّذِي أَنْزَلَهُ اللهُ عَلَى مُوسَى وَعِيسَى هُوَ الْيَهُودِيَّةُ وَالنَّصْرَانِيَّةُ؟ الْجَوَابُ لَا الْيَهُودِيَّةُ وَالنَّصْرَانِيَّةُ اِسْمٌ لِدِينِ بَنِي إِسْرَائِيلَ الَّذِينَ كَانُوا مَعَ هَؤُلَاءِ الْأَنْبِيَاءِ بَعْدَ التَّبْدِيلِ وَالتَّغْيِيرِ

Apakah Agama Nabi Musa Yahudi dan Nabi Isa Nasrani? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Apakah Agama Nabi Musa Yahudi dan Nabi Isa Nasrani? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Penanya ini berkata, “Apakah agama yang Allah turunkan kepada Musa dan Isa adalah agama Yahudi dan Nasrani?” Jawabannya BUKAN, Yahudi dan Nasrani adalah nama agama Bani Israil. Mereka dulu bersama para Nabi tersebut, setelah itu agama ini diganti dan diubah oleh mereka. ========================================== يَقُولُ هَذَا السَّائِلُ هَلِ الدِّينُ الَّذِي أَنْزَلَهُ اللهُ عَلَى مُوسَى وَعِيسَى هُوَ الْيَهُودِيَّةُ وَالنَّصْرَانِيَّةُ؟ الْجَوَابُ لَا الْيَهُودِيَّةُ وَالنَّصْرَانِيَّةُ اِسْمٌ لِدِينِ بَنِي إِسْرَائِيلَ الَّذِينَ كَانُوا مَعَ هَؤُلَاءِ الْأَنْبِيَاءِ بَعْدَ التَّبْدِيلِ وَالتَّغْيِيرِ
Apakah Agama Nabi Musa Yahudi dan Nabi Isa Nasrani? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Penanya ini berkata, “Apakah agama yang Allah turunkan kepada Musa dan Isa adalah agama Yahudi dan Nasrani?” Jawabannya BUKAN, Yahudi dan Nasrani adalah nama agama Bani Israil. Mereka dulu bersama para Nabi tersebut, setelah itu agama ini diganti dan diubah oleh mereka. ========================================== يَقُولُ هَذَا السَّائِلُ هَلِ الدِّينُ الَّذِي أَنْزَلَهُ اللهُ عَلَى مُوسَى وَعِيسَى هُوَ الْيَهُودِيَّةُ وَالنَّصْرَانِيَّةُ؟ الْجَوَابُ لَا الْيَهُودِيَّةُ وَالنَّصْرَانِيَّةُ اِسْمٌ لِدِينِ بَنِي إِسْرَائِيلَ الَّذِينَ كَانُوا مَعَ هَؤُلَاءِ الْأَنْبِيَاءِ بَعْدَ التَّبْدِيلِ وَالتَّغْيِيرِ


Apakah Agama Nabi Musa Yahudi dan Nabi Isa Nasrani? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Penanya ini berkata, “Apakah agama yang Allah turunkan kepada Musa dan Isa adalah agama Yahudi dan Nasrani?” Jawabannya BUKAN, Yahudi dan Nasrani adalah nama agama Bani Israil. Mereka dulu bersama para Nabi tersebut, setelah itu agama ini diganti dan diubah oleh mereka. ========================================== يَقُولُ هَذَا السَّائِلُ هَلِ الدِّينُ الَّذِي أَنْزَلَهُ اللهُ عَلَى مُوسَى وَعِيسَى هُوَ الْيَهُودِيَّةُ وَالنَّصْرَانِيَّةُ؟ الْجَوَابُ لَا الْيَهُودِيَّةُ وَالنَّصْرَانِيَّةُ اِسْمٌ لِدِينِ بَنِي إِسْرَائِيلَ الَّذِينَ كَانُوا مَعَ هَؤُلَاءِ الْأَنْبِيَاءِ بَعْدَ التَّبْدِيلِ وَالتَّغْيِيرِ

Fatwa Ulama: Membaca Āmīn Setelah Membaca Al-Fatihah di Luar Salat

Pertanyaan:Kita sudah mengetahui ada bacaan yang dibaca setelah surat al-Fatihah, yaitu bacaan “āmīn”. Yang dibaca setelah bacaan “walādh-dhāllīn”. Apakah bacaan ini bagian dari ayat ataukah hanya sunnah saja untuk dibaca?Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjawab:قول (آمين) بعد الفاتحة ليست من آيات الفاتحة وإنما هي دعاء بمعنى: استجب يا ربنا، فهي سنة وليست واجبة، سنة بعد الفاتحة، يقولها القارئ في الصلاة وغيرها، يقول آمين إذا قرأ الفاتحة، يقولها الإمام، يقولها المأموم، يقولها المنفرد، في الصلاة وخارجها. آمين، هذه السنة، ليست واجبة ولكنها مستحبة، وهي دعاء وليست آية من الفاتحة ولا من غيرها، وإنما هي دعاء. نعم“Perkataan “āmīn” setelah Al-Fatihah ini bukan termasuk ayat surat Al-Fatihah. Ia adalah doa yang maknanya, “Ya Allah kabulkanlah”. Hukumnya sunnah, tidak wajib. Disunnahkan membacanya setelah membaca Al-Fatihah di dalam salat ataupun di luar salat. Disunnahkan membaca “āmīn” ketika imam membacanya, maka makmum membacanya. Demikian juga orang yang salat sendirian. Di dalam salat maupun di luar salat, ucapkanlah “āmīn“. Hukumnya mustahab (dianjurkan), tidak wajib. Dan ucapan ini adalah doa, bukan bagian dari surat Al-Fatihah ataupun surat yang lain. Namun ia adalah doa. Demikian”.Baca Juga:(Fatawa Nurun ‘alad Darbi li Samahatis Syaikh Ibni Baz, hal. 923)Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Udzur Adalah, Cara Allah Menyayangi Hambanya, Definisi Fakir Miskin, Dilarang Hutang, Kultum Singkat Tentang Pacaran

Fatwa Ulama: Membaca Āmīn Setelah Membaca Al-Fatihah di Luar Salat

Pertanyaan:Kita sudah mengetahui ada bacaan yang dibaca setelah surat al-Fatihah, yaitu bacaan “āmīn”. Yang dibaca setelah bacaan “walādh-dhāllīn”. Apakah bacaan ini bagian dari ayat ataukah hanya sunnah saja untuk dibaca?Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjawab:قول (آمين) بعد الفاتحة ليست من آيات الفاتحة وإنما هي دعاء بمعنى: استجب يا ربنا، فهي سنة وليست واجبة، سنة بعد الفاتحة، يقولها القارئ في الصلاة وغيرها، يقول آمين إذا قرأ الفاتحة، يقولها الإمام، يقولها المأموم، يقولها المنفرد، في الصلاة وخارجها. آمين، هذه السنة، ليست واجبة ولكنها مستحبة، وهي دعاء وليست آية من الفاتحة ولا من غيرها، وإنما هي دعاء. نعم“Perkataan “āmīn” setelah Al-Fatihah ini bukan termasuk ayat surat Al-Fatihah. Ia adalah doa yang maknanya, “Ya Allah kabulkanlah”. Hukumnya sunnah, tidak wajib. Disunnahkan membacanya setelah membaca Al-Fatihah di dalam salat ataupun di luar salat. Disunnahkan membaca “āmīn” ketika imam membacanya, maka makmum membacanya. Demikian juga orang yang salat sendirian. Di dalam salat maupun di luar salat, ucapkanlah “āmīn“. Hukumnya mustahab (dianjurkan), tidak wajib. Dan ucapan ini adalah doa, bukan bagian dari surat Al-Fatihah ataupun surat yang lain. Namun ia adalah doa. Demikian”.Baca Juga:(Fatawa Nurun ‘alad Darbi li Samahatis Syaikh Ibni Baz, hal. 923)Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Udzur Adalah, Cara Allah Menyayangi Hambanya, Definisi Fakir Miskin, Dilarang Hutang, Kultum Singkat Tentang Pacaran
Pertanyaan:Kita sudah mengetahui ada bacaan yang dibaca setelah surat al-Fatihah, yaitu bacaan “āmīn”. Yang dibaca setelah bacaan “walādh-dhāllīn”. Apakah bacaan ini bagian dari ayat ataukah hanya sunnah saja untuk dibaca?Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjawab:قول (آمين) بعد الفاتحة ليست من آيات الفاتحة وإنما هي دعاء بمعنى: استجب يا ربنا، فهي سنة وليست واجبة، سنة بعد الفاتحة، يقولها القارئ في الصلاة وغيرها، يقول آمين إذا قرأ الفاتحة، يقولها الإمام، يقولها المأموم، يقولها المنفرد، في الصلاة وخارجها. آمين، هذه السنة، ليست واجبة ولكنها مستحبة، وهي دعاء وليست آية من الفاتحة ولا من غيرها، وإنما هي دعاء. نعم“Perkataan “āmīn” setelah Al-Fatihah ini bukan termasuk ayat surat Al-Fatihah. Ia adalah doa yang maknanya, “Ya Allah kabulkanlah”. Hukumnya sunnah, tidak wajib. Disunnahkan membacanya setelah membaca Al-Fatihah di dalam salat ataupun di luar salat. Disunnahkan membaca “āmīn” ketika imam membacanya, maka makmum membacanya. Demikian juga orang yang salat sendirian. Di dalam salat maupun di luar salat, ucapkanlah “āmīn“. Hukumnya mustahab (dianjurkan), tidak wajib. Dan ucapan ini adalah doa, bukan bagian dari surat Al-Fatihah ataupun surat yang lain. Namun ia adalah doa. Demikian”.Baca Juga:(Fatawa Nurun ‘alad Darbi li Samahatis Syaikh Ibni Baz, hal. 923)Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Udzur Adalah, Cara Allah Menyayangi Hambanya, Definisi Fakir Miskin, Dilarang Hutang, Kultum Singkat Tentang Pacaran


Pertanyaan:Kita sudah mengetahui ada bacaan yang dibaca setelah surat al-Fatihah, yaitu bacaan “āmīn”. Yang dibaca setelah bacaan “walādh-dhāllīn”. Apakah bacaan ini bagian dari ayat ataukah hanya sunnah saja untuk dibaca?Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjawab:قول (آمين) بعد الفاتحة ليست من آيات الفاتحة وإنما هي دعاء بمعنى: استجب يا ربنا، فهي سنة وليست واجبة، سنة بعد الفاتحة، يقولها القارئ في الصلاة وغيرها، يقول آمين إذا قرأ الفاتحة، يقولها الإمام، يقولها المأموم، يقولها المنفرد، في الصلاة وخارجها. آمين، هذه السنة، ليست واجبة ولكنها مستحبة، وهي دعاء وليست آية من الفاتحة ولا من غيرها، وإنما هي دعاء. نعم“Perkataan “āmīn” setelah Al-Fatihah ini bukan termasuk ayat surat Al-Fatihah. Ia adalah doa yang maknanya, “Ya Allah kabulkanlah”. Hukumnya sunnah, tidak wajib. Disunnahkan membacanya setelah membaca Al-Fatihah di dalam salat ataupun di luar salat. Disunnahkan membaca “āmīn” ketika imam membacanya, maka makmum membacanya. Demikian juga orang yang salat sendirian. Di dalam salat maupun di luar salat, ucapkanlah “āmīn“. Hukumnya mustahab (dianjurkan), tidak wajib. Dan ucapan ini adalah doa, bukan bagian dari surat Al-Fatihah ataupun surat yang lain. Namun ia adalah doa. Demikian”.Baca Juga:(Fatawa Nurun ‘alad Darbi li Samahatis Syaikh Ibni Baz, hal. 923)Penerjemah: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.id🔍 Udzur Adalah, Cara Allah Menyayangi Hambanya, Definisi Fakir Miskin, Dilarang Hutang, Kultum Singkat Tentang Pacaran
Prev     Next