Allah Menunda Ampunanmu Jika Kamu Lakukan Dosa Ini – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Allah Menunda Ampunanmu Jika Kamu Lakukan Dosa Ini – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama Di setiap saat, seorang mukmin tidak boleh mendiamkan mukmin yang lain lebih dari tiga hari demi kepentingan dunia. Dan tidak diragukan lagi, permusuhan antara dua orang mukmin lebih dari tiga hari dapat menunda datangnya ampunan bagi mereka berdua. Di setiap kesempatan Allah mengampuni orang-orang yang bertauhid,namun dua orang yang saling bermusuhan tidak diampuni. Dikatakan, “Akhirkanlah dua orang ini (dari ampunan) hingga mereka saling berdamai.” Akhirkanlah dua orang ini hingga mereka saling berdamai. Hai hamba Allah, Hai hamba Allah. Keuntungan di dunia seperti apa yang setara dengan terhalangnya kamu dari ampunan Allah? Anggap saja dengan perselisihanmu kamu dapat meraih yang kamu inginkan, namun setelah itu apa yang terjadi padamu? Dikatakan tentangmu, “Akhirkanlah (ampunan baginya) hingga dia berdamai dengan saudaranya!” Manfaat apa yang kamu dapatkan? Keuntungan apa ini?! Demi Allah itu adalah kerugian! Demi Allah, seandainya kamu dapat menggapai dunia seluruhnya namun kamu diakhirkan dari ampunan Allah meski hanya satu hari maka itu adalah kerugian besar. Oleh sebab itu wahai ikhwah kita wajib bertakwa kepada Allah. Kemudian wahai ikhwah, terdapat suatu kesaksian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan: “Orang yang paling baik di antara keduanya adalah yang mengawali mengucapkan salam.” Jika kamu ingin meraih kesaksian Rasulullah ini dan termasuk orang yang berhak atasnya maka kamu yang memulainya. Jika antara dirimu dan sepupumu terdapat permusuhan, maka datanglah kepadanya. Jangan katakan, “Aku yang lebih tua dan jenggotku sudah putih.” Itu merupakan bukti atas kebaikan yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bagaimana kamu dapat melewatkannya? Jangan katakan, “Dia yang salah!” Itu merupakan bukti atas kebaikan yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bagaimana kamu akan melewatkannya? Datanglah kepadanya dengan segera! Terlebih lagi jika kamu berada sebelum malam pertengahan bulan Sya’ban meskipun dalam hadits itu menurutku terdapat kelemahan namun boleh diharapkan keutamaannya. Maka jangan halangi dirimu (dari ampunan Allah) =============================================================================== فَفِي كُلِّ حِينٍ لَا يَجُوزُ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَهْجُرَ مُؤْمِنًا فَوْقَ ثَلَاثٍ مِنْ أَجْلِ الدُّنْيَا وَلَا شَكَّ أَنَّ الْمُشَاحَنَةَ بَيْنَ الْمُؤْمِنَيْنِ فَوْقَ ثَلَاثٍ تُؤَخِّرُ عَنْهُمَا الْمَغْفِرَةَ فِي كُلِّ مَوْطِنٍ يَغْفِرُ اللهُ فِيهِ لِلْمُوَحِّدِيْنَ لَا يُغْفَرُ لِلْمُتَشَاحِنَيْنِ يُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا يَا عَبْدَ اللهِ يَا عَبْدَ اللهِ أَيُّ رِبْحٍ فِي الدُّنْيَا يُسَاوِي حِرْمَانَكَ مِنْ مَغْفِرَةِ اللهِ هَبْ أَنَّكَ بِهُجْرَانِكَ نِلْتَ مَا نِلْتَ لَكِنْ مَا الَّذِيْ حَصَلَ لَكَ؟ قِيلَ فِيكَ أَنْظِرَاهُ حَتَّى يَصْطَلِحَ مَعَ أَخِيهِ مَاذَا تَسْتَفِيدُ؟ أَيُّ رِبْحٍ هَذَا؟ وَاللهِ خُسْرَانٌ وَاللهِ لَوْ جَمَعْتَ الدُّنْيَا كُلَّهَا أَنْ تُؤَخَّرَ عَنْ مَغْفِرَةِ اللهِ وَلَوْ يَوْمًا فَهَذَا خُسْرَانٌ عَظِيمٌ وَلِذَلِكَ يَا إِخْوَةُ يَجِبُ أَنْ نَتَّقِيَ اللهَ ثَمَّ يَا إِخْوَةُ هُنَاكَ شَهَادَةٌ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْخَيْرِيَّةِ وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَنَالَ هَذِهِ الشَّهَادَةَ وَأَنْ تَكُونَ مِنْ أَهْلِهَا فَابْدَأْ أَنْتَ بَيْنَكَ وَبَيْنَ ابْنِ عَمِّكَ خُصُومَةٌ اذْهَبْ أَنْتَ لَا تَقُلْ أَنَا الْكَبِيرُ وَلِحْيَتِي بَيْضَاءُ هِيَ شَهَادَةُ الْخَيْرِيَّةِ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْف تَجْعَلُهَا تَفُوْتُكَ؟ لَا تَقُلْ هُوَ الْمُخْطِئُ هِيَ شَهَادَةٌ بِالْخَيْرِيَّة مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ تَجْعَلُهَا تَفُوْتُكَ؟ اذْهَبْ وَبَادِرْ وَلَا سِيَّمَا قَبْلَ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَإِنَّ الْحَدِيثَ وَإِنْ كُنْتُ أُرَجِّحُ أَنَّ فِيهِ مَقَالًا إِلَّا أَنَّهُ يُرْجَى فَلَا تَحْرِمْ نَفْسَكَ                                                 Di setiap saat, seorang mukmin tidak boleh mendiamkan mukmin yang lain lebih dari tiga hari demi kepentingan dunia. Dan tidak diragukan lagi, permusuhan antara dua orang mukmin lebih dari tiga hari dapat menunda datangnya ampunan bagi mereka berdua. Di setiap kesempatan Allah mengampuni orang-orang yang bertauhid,namun dua orang yang saling bermusuhan tidak diampuni. Dikatakan, “Akhirkanlah dua orang ini (dari ampunan) hingga mereka saling berdamai.” Akhirkanlah dua orang ini hingga mereka saling berdamai. Hai hamba Allah, Hai hamba Allah.Keuntungan di dunia seperti apa yang setara dengan terhalangnya kamu dari ampunan Allah? Anggap saja dengan perselisihanmu kamu dapat meraih yang kamu inginkan, namun setelah itu apa yang terjadi padamu? Dikatakan tentangmu, “Akhirkanlah (ampunan baginya) hingga dia berdamai dengan saudaranya!” Manfaat apa yang kamu dapatkan? Keuntungan apa ini?! Demi Allah itu adalah kerugian! Demi Allah, seandainya kamu dapat menggapai dunia seluruhnya namun kamu diakhirkan dari ampunan Allah meski hanya satu hari maka itu adalah kerugian besar. Oleh sebab itu wahai ikhwah kita wajib bertakwa kepada Allah. Kemudian wahai ikhwah, terdapat suatu kesaksian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan: “Orang yang paling baik di antara keduanya adalah yang mengawali mengucapkan salam.” Jika kamu ingin meraih kesaksian Rasulullah ini dan termasuk orang yang berhak atasnya maka kamu yang memulainya. Jika antara dirimu dan sepupumu terdapat permusuhan, maka datanglah kepadanya. Jangan katakan, “Aku yang lebih tua dan jenggotku sudah putih.” Itu merupakan bukti atas kebaikan yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bagaimana kamu dapat melewatkannya? Jangan katakan, “Dia yang salah!” Itu merupakan bukti atas kebaikan yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bagaimana kamu akan melewatkannya? Datanglah kepadanya dengan segera! Terlebih lagi jika kamu berada sebelum malam pertengahan bulan Sya’ban meskipun dalam hadits itu menurutku terdapat kelemahan namun boleh diharapkan keutamaannya. Maka jangan halangi dirimu (dari ampunan Allah)                                            

Allah Menunda Ampunanmu Jika Kamu Lakukan Dosa Ini – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Allah Menunda Ampunanmu Jika Kamu Lakukan Dosa Ini – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama Di setiap saat, seorang mukmin tidak boleh mendiamkan mukmin yang lain lebih dari tiga hari demi kepentingan dunia. Dan tidak diragukan lagi, permusuhan antara dua orang mukmin lebih dari tiga hari dapat menunda datangnya ampunan bagi mereka berdua. Di setiap kesempatan Allah mengampuni orang-orang yang bertauhid,namun dua orang yang saling bermusuhan tidak diampuni. Dikatakan, “Akhirkanlah dua orang ini (dari ampunan) hingga mereka saling berdamai.” Akhirkanlah dua orang ini hingga mereka saling berdamai. Hai hamba Allah, Hai hamba Allah. Keuntungan di dunia seperti apa yang setara dengan terhalangnya kamu dari ampunan Allah? Anggap saja dengan perselisihanmu kamu dapat meraih yang kamu inginkan, namun setelah itu apa yang terjadi padamu? Dikatakan tentangmu, “Akhirkanlah (ampunan baginya) hingga dia berdamai dengan saudaranya!” Manfaat apa yang kamu dapatkan? Keuntungan apa ini?! Demi Allah itu adalah kerugian! Demi Allah, seandainya kamu dapat menggapai dunia seluruhnya namun kamu diakhirkan dari ampunan Allah meski hanya satu hari maka itu adalah kerugian besar. Oleh sebab itu wahai ikhwah kita wajib bertakwa kepada Allah. Kemudian wahai ikhwah, terdapat suatu kesaksian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan: “Orang yang paling baik di antara keduanya adalah yang mengawali mengucapkan salam.” Jika kamu ingin meraih kesaksian Rasulullah ini dan termasuk orang yang berhak atasnya maka kamu yang memulainya. Jika antara dirimu dan sepupumu terdapat permusuhan, maka datanglah kepadanya. Jangan katakan, “Aku yang lebih tua dan jenggotku sudah putih.” Itu merupakan bukti atas kebaikan yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bagaimana kamu dapat melewatkannya? Jangan katakan, “Dia yang salah!” Itu merupakan bukti atas kebaikan yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bagaimana kamu akan melewatkannya? Datanglah kepadanya dengan segera! Terlebih lagi jika kamu berada sebelum malam pertengahan bulan Sya’ban meskipun dalam hadits itu menurutku terdapat kelemahan namun boleh diharapkan keutamaannya. Maka jangan halangi dirimu (dari ampunan Allah) =============================================================================== فَفِي كُلِّ حِينٍ لَا يَجُوزُ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَهْجُرَ مُؤْمِنًا فَوْقَ ثَلَاثٍ مِنْ أَجْلِ الدُّنْيَا وَلَا شَكَّ أَنَّ الْمُشَاحَنَةَ بَيْنَ الْمُؤْمِنَيْنِ فَوْقَ ثَلَاثٍ تُؤَخِّرُ عَنْهُمَا الْمَغْفِرَةَ فِي كُلِّ مَوْطِنٍ يَغْفِرُ اللهُ فِيهِ لِلْمُوَحِّدِيْنَ لَا يُغْفَرُ لِلْمُتَشَاحِنَيْنِ يُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا يَا عَبْدَ اللهِ يَا عَبْدَ اللهِ أَيُّ رِبْحٍ فِي الدُّنْيَا يُسَاوِي حِرْمَانَكَ مِنْ مَغْفِرَةِ اللهِ هَبْ أَنَّكَ بِهُجْرَانِكَ نِلْتَ مَا نِلْتَ لَكِنْ مَا الَّذِيْ حَصَلَ لَكَ؟ قِيلَ فِيكَ أَنْظِرَاهُ حَتَّى يَصْطَلِحَ مَعَ أَخِيهِ مَاذَا تَسْتَفِيدُ؟ أَيُّ رِبْحٍ هَذَا؟ وَاللهِ خُسْرَانٌ وَاللهِ لَوْ جَمَعْتَ الدُّنْيَا كُلَّهَا أَنْ تُؤَخَّرَ عَنْ مَغْفِرَةِ اللهِ وَلَوْ يَوْمًا فَهَذَا خُسْرَانٌ عَظِيمٌ وَلِذَلِكَ يَا إِخْوَةُ يَجِبُ أَنْ نَتَّقِيَ اللهَ ثَمَّ يَا إِخْوَةُ هُنَاكَ شَهَادَةٌ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْخَيْرِيَّةِ وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَنَالَ هَذِهِ الشَّهَادَةَ وَأَنْ تَكُونَ مِنْ أَهْلِهَا فَابْدَأْ أَنْتَ بَيْنَكَ وَبَيْنَ ابْنِ عَمِّكَ خُصُومَةٌ اذْهَبْ أَنْتَ لَا تَقُلْ أَنَا الْكَبِيرُ وَلِحْيَتِي بَيْضَاءُ هِيَ شَهَادَةُ الْخَيْرِيَّةِ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْف تَجْعَلُهَا تَفُوْتُكَ؟ لَا تَقُلْ هُوَ الْمُخْطِئُ هِيَ شَهَادَةٌ بِالْخَيْرِيَّة مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ تَجْعَلُهَا تَفُوْتُكَ؟ اذْهَبْ وَبَادِرْ وَلَا سِيَّمَا قَبْلَ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَإِنَّ الْحَدِيثَ وَإِنْ كُنْتُ أُرَجِّحُ أَنَّ فِيهِ مَقَالًا إِلَّا أَنَّهُ يُرْجَى فَلَا تَحْرِمْ نَفْسَكَ                                                 Di setiap saat, seorang mukmin tidak boleh mendiamkan mukmin yang lain lebih dari tiga hari demi kepentingan dunia. Dan tidak diragukan lagi, permusuhan antara dua orang mukmin lebih dari tiga hari dapat menunda datangnya ampunan bagi mereka berdua. Di setiap kesempatan Allah mengampuni orang-orang yang bertauhid,namun dua orang yang saling bermusuhan tidak diampuni. Dikatakan, “Akhirkanlah dua orang ini (dari ampunan) hingga mereka saling berdamai.” Akhirkanlah dua orang ini hingga mereka saling berdamai. Hai hamba Allah, Hai hamba Allah.Keuntungan di dunia seperti apa yang setara dengan terhalangnya kamu dari ampunan Allah? Anggap saja dengan perselisihanmu kamu dapat meraih yang kamu inginkan, namun setelah itu apa yang terjadi padamu? Dikatakan tentangmu, “Akhirkanlah (ampunan baginya) hingga dia berdamai dengan saudaranya!” Manfaat apa yang kamu dapatkan? Keuntungan apa ini?! Demi Allah itu adalah kerugian! Demi Allah, seandainya kamu dapat menggapai dunia seluruhnya namun kamu diakhirkan dari ampunan Allah meski hanya satu hari maka itu adalah kerugian besar. Oleh sebab itu wahai ikhwah kita wajib bertakwa kepada Allah. Kemudian wahai ikhwah, terdapat suatu kesaksian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan: “Orang yang paling baik di antara keduanya adalah yang mengawali mengucapkan salam.” Jika kamu ingin meraih kesaksian Rasulullah ini dan termasuk orang yang berhak atasnya maka kamu yang memulainya. Jika antara dirimu dan sepupumu terdapat permusuhan, maka datanglah kepadanya. Jangan katakan, “Aku yang lebih tua dan jenggotku sudah putih.” Itu merupakan bukti atas kebaikan yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bagaimana kamu dapat melewatkannya? Jangan katakan, “Dia yang salah!” Itu merupakan bukti atas kebaikan yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bagaimana kamu akan melewatkannya? Datanglah kepadanya dengan segera! Terlebih lagi jika kamu berada sebelum malam pertengahan bulan Sya’ban meskipun dalam hadits itu menurutku terdapat kelemahan namun boleh diharapkan keutamaannya. Maka jangan halangi dirimu (dari ampunan Allah)                                            
Allah Menunda Ampunanmu Jika Kamu Lakukan Dosa Ini – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama Di setiap saat, seorang mukmin tidak boleh mendiamkan mukmin yang lain lebih dari tiga hari demi kepentingan dunia. Dan tidak diragukan lagi, permusuhan antara dua orang mukmin lebih dari tiga hari dapat menunda datangnya ampunan bagi mereka berdua. Di setiap kesempatan Allah mengampuni orang-orang yang bertauhid,namun dua orang yang saling bermusuhan tidak diampuni. Dikatakan, “Akhirkanlah dua orang ini (dari ampunan) hingga mereka saling berdamai.” Akhirkanlah dua orang ini hingga mereka saling berdamai. Hai hamba Allah, Hai hamba Allah. Keuntungan di dunia seperti apa yang setara dengan terhalangnya kamu dari ampunan Allah? Anggap saja dengan perselisihanmu kamu dapat meraih yang kamu inginkan, namun setelah itu apa yang terjadi padamu? Dikatakan tentangmu, “Akhirkanlah (ampunan baginya) hingga dia berdamai dengan saudaranya!” Manfaat apa yang kamu dapatkan? Keuntungan apa ini?! Demi Allah itu adalah kerugian! Demi Allah, seandainya kamu dapat menggapai dunia seluruhnya namun kamu diakhirkan dari ampunan Allah meski hanya satu hari maka itu adalah kerugian besar. Oleh sebab itu wahai ikhwah kita wajib bertakwa kepada Allah. Kemudian wahai ikhwah, terdapat suatu kesaksian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan: “Orang yang paling baik di antara keduanya adalah yang mengawali mengucapkan salam.” Jika kamu ingin meraih kesaksian Rasulullah ini dan termasuk orang yang berhak atasnya maka kamu yang memulainya. Jika antara dirimu dan sepupumu terdapat permusuhan, maka datanglah kepadanya. Jangan katakan, “Aku yang lebih tua dan jenggotku sudah putih.” Itu merupakan bukti atas kebaikan yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bagaimana kamu dapat melewatkannya? Jangan katakan, “Dia yang salah!” Itu merupakan bukti atas kebaikan yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bagaimana kamu akan melewatkannya? Datanglah kepadanya dengan segera! Terlebih lagi jika kamu berada sebelum malam pertengahan bulan Sya’ban meskipun dalam hadits itu menurutku terdapat kelemahan namun boleh diharapkan keutamaannya. Maka jangan halangi dirimu (dari ampunan Allah) =============================================================================== فَفِي كُلِّ حِينٍ لَا يَجُوزُ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَهْجُرَ مُؤْمِنًا فَوْقَ ثَلَاثٍ مِنْ أَجْلِ الدُّنْيَا وَلَا شَكَّ أَنَّ الْمُشَاحَنَةَ بَيْنَ الْمُؤْمِنَيْنِ فَوْقَ ثَلَاثٍ تُؤَخِّرُ عَنْهُمَا الْمَغْفِرَةَ فِي كُلِّ مَوْطِنٍ يَغْفِرُ اللهُ فِيهِ لِلْمُوَحِّدِيْنَ لَا يُغْفَرُ لِلْمُتَشَاحِنَيْنِ يُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا يَا عَبْدَ اللهِ يَا عَبْدَ اللهِ أَيُّ رِبْحٍ فِي الدُّنْيَا يُسَاوِي حِرْمَانَكَ مِنْ مَغْفِرَةِ اللهِ هَبْ أَنَّكَ بِهُجْرَانِكَ نِلْتَ مَا نِلْتَ لَكِنْ مَا الَّذِيْ حَصَلَ لَكَ؟ قِيلَ فِيكَ أَنْظِرَاهُ حَتَّى يَصْطَلِحَ مَعَ أَخِيهِ مَاذَا تَسْتَفِيدُ؟ أَيُّ رِبْحٍ هَذَا؟ وَاللهِ خُسْرَانٌ وَاللهِ لَوْ جَمَعْتَ الدُّنْيَا كُلَّهَا أَنْ تُؤَخَّرَ عَنْ مَغْفِرَةِ اللهِ وَلَوْ يَوْمًا فَهَذَا خُسْرَانٌ عَظِيمٌ وَلِذَلِكَ يَا إِخْوَةُ يَجِبُ أَنْ نَتَّقِيَ اللهَ ثَمَّ يَا إِخْوَةُ هُنَاكَ شَهَادَةٌ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْخَيْرِيَّةِ وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَنَالَ هَذِهِ الشَّهَادَةَ وَأَنْ تَكُونَ مِنْ أَهْلِهَا فَابْدَأْ أَنْتَ بَيْنَكَ وَبَيْنَ ابْنِ عَمِّكَ خُصُومَةٌ اذْهَبْ أَنْتَ لَا تَقُلْ أَنَا الْكَبِيرُ وَلِحْيَتِي بَيْضَاءُ هِيَ شَهَادَةُ الْخَيْرِيَّةِ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْف تَجْعَلُهَا تَفُوْتُكَ؟ لَا تَقُلْ هُوَ الْمُخْطِئُ هِيَ شَهَادَةٌ بِالْخَيْرِيَّة مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ تَجْعَلُهَا تَفُوْتُكَ؟ اذْهَبْ وَبَادِرْ وَلَا سِيَّمَا قَبْلَ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَإِنَّ الْحَدِيثَ وَإِنْ كُنْتُ أُرَجِّحُ أَنَّ فِيهِ مَقَالًا إِلَّا أَنَّهُ يُرْجَى فَلَا تَحْرِمْ نَفْسَكَ                                                 Di setiap saat, seorang mukmin tidak boleh mendiamkan mukmin yang lain lebih dari tiga hari demi kepentingan dunia. Dan tidak diragukan lagi, permusuhan antara dua orang mukmin lebih dari tiga hari dapat menunda datangnya ampunan bagi mereka berdua. Di setiap kesempatan Allah mengampuni orang-orang yang bertauhid,namun dua orang yang saling bermusuhan tidak diampuni. Dikatakan, “Akhirkanlah dua orang ini (dari ampunan) hingga mereka saling berdamai.” Akhirkanlah dua orang ini hingga mereka saling berdamai. Hai hamba Allah, Hai hamba Allah.Keuntungan di dunia seperti apa yang setara dengan terhalangnya kamu dari ampunan Allah? Anggap saja dengan perselisihanmu kamu dapat meraih yang kamu inginkan, namun setelah itu apa yang terjadi padamu? Dikatakan tentangmu, “Akhirkanlah (ampunan baginya) hingga dia berdamai dengan saudaranya!” Manfaat apa yang kamu dapatkan? Keuntungan apa ini?! Demi Allah itu adalah kerugian! Demi Allah, seandainya kamu dapat menggapai dunia seluruhnya namun kamu diakhirkan dari ampunan Allah meski hanya satu hari maka itu adalah kerugian besar. Oleh sebab itu wahai ikhwah kita wajib bertakwa kepada Allah. Kemudian wahai ikhwah, terdapat suatu kesaksian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan: “Orang yang paling baik di antara keduanya adalah yang mengawali mengucapkan salam.” Jika kamu ingin meraih kesaksian Rasulullah ini dan termasuk orang yang berhak atasnya maka kamu yang memulainya. Jika antara dirimu dan sepupumu terdapat permusuhan, maka datanglah kepadanya. Jangan katakan, “Aku yang lebih tua dan jenggotku sudah putih.” Itu merupakan bukti atas kebaikan yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bagaimana kamu dapat melewatkannya? Jangan katakan, “Dia yang salah!” Itu merupakan bukti atas kebaikan yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bagaimana kamu akan melewatkannya? Datanglah kepadanya dengan segera! Terlebih lagi jika kamu berada sebelum malam pertengahan bulan Sya’ban meskipun dalam hadits itu menurutku terdapat kelemahan namun boleh diharapkan keutamaannya. Maka jangan halangi dirimu (dari ampunan Allah)                                            


Allah Menunda Ampunanmu Jika Kamu Lakukan Dosa Ini – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama Di setiap saat, seorang mukmin tidak boleh mendiamkan mukmin yang lain lebih dari tiga hari demi kepentingan dunia. Dan tidak diragukan lagi, permusuhan antara dua orang mukmin lebih dari tiga hari dapat menunda datangnya ampunan bagi mereka berdua. Di setiap kesempatan Allah mengampuni orang-orang yang bertauhid,namun dua orang yang saling bermusuhan tidak diampuni. Dikatakan, “Akhirkanlah dua orang ini (dari ampunan) hingga mereka saling berdamai.” Akhirkanlah dua orang ini hingga mereka saling berdamai. Hai hamba Allah, Hai hamba Allah. Keuntungan di dunia seperti apa yang setara dengan terhalangnya kamu dari ampunan Allah? Anggap saja dengan perselisihanmu kamu dapat meraih yang kamu inginkan, namun setelah itu apa yang terjadi padamu? Dikatakan tentangmu, “Akhirkanlah (ampunan baginya) hingga dia berdamai dengan saudaranya!” Manfaat apa yang kamu dapatkan? Keuntungan apa ini?! Demi Allah itu adalah kerugian! Demi Allah, seandainya kamu dapat menggapai dunia seluruhnya namun kamu diakhirkan dari ampunan Allah meski hanya satu hari maka itu adalah kerugian besar. Oleh sebab itu wahai ikhwah kita wajib bertakwa kepada Allah. Kemudian wahai ikhwah, terdapat suatu kesaksian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan: “Orang yang paling baik di antara keduanya adalah yang mengawali mengucapkan salam.” Jika kamu ingin meraih kesaksian Rasulullah ini dan termasuk orang yang berhak atasnya maka kamu yang memulainya. Jika antara dirimu dan sepupumu terdapat permusuhan, maka datanglah kepadanya. Jangan katakan, “Aku yang lebih tua dan jenggotku sudah putih.” Itu merupakan bukti atas kebaikan yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bagaimana kamu dapat melewatkannya? Jangan katakan, “Dia yang salah!” Itu merupakan bukti atas kebaikan yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bagaimana kamu akan melewatkannya? Datanglah kepadanya dengan segera! Terlebih lagi jika kamu berada sebelum malam pertengahan bulan Sya’ban meskipun dalam hadits itu menurutku terdapat kelemahan namun boleh diharapkan keutamaannya. Maka jangan halangi dirimu (dari ampunan Allah) =============================================================================== فَفِي كُلِّ حِينٍ لَا يَجُوزُ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَهْجُرَ مُؤْمِنًا فَوْقَ ثَلَاثٍ مِنْ أَجْلِ الدُّنْيَا وَلَا شَكَّ أَنَّ الْمُشَاحَنَةَ بَيْنَ الْمُؤْمِنَيْنِ فَوْقَ ثَلَاثٍ تُؤَخِّرُ عَنْهُمَا الْمَغْفِرَةَ فِي كُلِّ مَوْطِنٍ يَغْفِرُ اللهُ فِيهِ لِلْمُوَحِّدِيْنَ لَا يُغْفَرُ لِلْمُتَشَاحِنَيْنِ يُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا يَا عَبْدَ اللهِ يَا عَبْدَ اللهِ أَيُّ رِبْحٍ فِي الدُّنْيَا يُسَاوِي حِرْمَانَكَ مِنْ مَغْفِرَةِ اللهِ هَبْ أَنَّكَ بِهُجْرَانِكَ نِلْتَ مَا نِلْتَ لَكِنْ مَا الَّذِيْ حَصَلَ لَكَ؟ قِيلَ فِيكَ أَنْظِرَاهُ حَتَّى يَصْطَلِحَ مَعَ أَخِيهِ مَاذَا تَسْتَفِيدُ؟ أَيُّ رِبْحٍ هَذَا؟ وَاللهِ خُسْرَانٌ وَاللهِ لَوْ جَمَعْتَ الدُّنْيَا كُلَّهَا أَنْ تُؤَخَّرَ عَنْ مَغْفِرَةِ اللهِ وَلَوْ يَوْمًا فَهَذَا خُسْرَانٌ عَظِيمٌ وَلِذَلِكَ يَا إِخْوَةُ يَجِبُ أَنْ نَتَّقِيَ اللهَ ثَمَّ يَا إِخْوَةُ هُنَاكَ شَهَادَةٌ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْخَيْرِيَّةِ وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَنَالَ هَذِهِ الشَّهَادَةَ وَأَنْ تَكُونَ مِنْ أَهْلِهَا فَابْدَأْ أَنْتَ بَيْنَكَ وَبَيْنَ ابْنِ عَمِّكَ خُصُومَةٌ اذْهَبْ أَنْتَ لَا تَقُلْ أَنَا الْكَبِيرُ وَلِحْيَتِي بَيْضَاءُ هِيَ شَهَادَةُ الْخَيْرِيَّةِ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْف تَجْعَلُهَا تَفُوْتُكَ؟ لَا تَقُلْ هُوَ الْمُخْطِئُ هِيَ شَهَادَةٌ بِالْخَيْرِيَّة مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ تَجْعَلُهَا تَفُوْتُكَ؟ اذْهَبْ وَبَادِرْ وَلَا سِيَّمَا قَبْلَ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَإِنَّ الْحَدِيثَ وَإِنْ كُنْتُ أُرَجِّحُ أَنَّ فِيهِ مَقَالًا إِلَّا أَنَّهُ يُرْجَى فَلَا تَحْرِمْ نَفْسَكَ                                                 Di setiap saat, seorang mukmin tidak boleh mendiamkan mukmin yang lain lebih dari tiga hari demi kepentingan dunia. Dan tidak diragukan lagi, permusuhan antara dua orang mukmin lebih dari tiga hari dapat menunda datangnya ampunan bagi mereka berdua. Di setiap kesempatan Allah mengampuni orang-orang yang bertauhid,namun dua orang yang saling bermusuhan tidak diampuni. Dikatakan, “Akhirkanlah dua orang ini (dari ampunan) hingga mereka saling berdamai.” Akhirkanlah dua orang ini hingga mereka saling berdamai. Hai hamba Allah, Hai hamba Allah.Keuntungan di dunia seperti apa yang setara dengan terhalangnya kamu dari ampunan Allah? Anggap saja dengan perselisihanmu kamu dapat meraih yang kamu inginkan, namun setelah itu apa yang terjadi padamu? Dikatakan tentangmu, “Akhirkanlah (ampunan baginya) hingga dia berdamai dengan saudaranya!” Manfaat apa yang kamu dapatkan? Keuntungan apa ini?! Demi Allah itu adalah kerugian! Demi Allah, seandainya kamu dapat menggapai dunia seluruhnya namun kamu diakhirkan dari ampunan Allah meski hanya satu hari maka itu adalah kerugian besar. Oleh sebab itu wahai ikhwah kita wajib bertakwa kepada Allah. Kemudian wahai ikhwah, terdapat suatu kesaksian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan: “Orang yang paling baik di antara keduanya adalah yang mengawali mengucapkan salam.” Jika kamu ingin meraih kesaksian Rasulullah ini dan termasuk orang yang berhak atasnya maka kamu yang memulainya. Jika antara dirimu dan sepupumu terdapat permusuhan, maka datanglah kepadanya. Jangan katakan, “Aku yang lebih tua dan jenggotku sudah putih.” Itu merupakan bukti atas kebaikan yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bagaimana kamu dapat melewatkannya? Jangan katakan, “Dia yang salah!” Itu merupakan bukti atas kebaikan yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bagaimana kamu akan melewatkannya? Datanglah kepadanya dengan segera! Terlebih lagi jika kamu berada sebelum malam pertengahan bulan Sya’ban meskipun dalam hadits itu menurutku terdapat kelemahan namun boleh diharapkan keutamaannya. Maka jangan halangi dirimu (dari ampunan Allah)                                            

Maksiat Membuatmu Lemah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Maksiat Membuatmu Lemah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Penulis rahimahullah berkata, “Di antaranya, maksiat dapat melemahkan hati dan badan. Adapun tentang maksiat dapat melemahkan hati maka itu sudah sangat jelas, bahkan maksiat terus melemahkan hati hingga dapat mematikan hati itu seluruhnya. Adapun tentang maksiat dapat melemahkan badan, maka sesungguhnya kekuatan seorang mukmin ada pada hatinya, sehingga semakin kuat hatinya, maka semakin kuat pula badannya. Adapun seorang pelaku dosa, meskipun ia memiliki badan yang kuat, namun badannya akan menjadi lemah sekali ketika dibutuhkan, dan kekuatannya mengecewakannya ketika ia sangat membutuhkannya. Perhatikan saja kekuatan badan kaum Persia dan Romawi, bagaimana mereka dikecewakan kekuatan mereka sendiri saat sangat membutuhkannya, dan akhirnya dikalahkan oleh orang-orang beriman berkat kekuatan badan dan hati mereka.” Ini juga termasuk pengaruh dari maksiat yang dapat menyebabkan kelemahan bagi orang yang bermaksiat itu terhadap hati dan badannya. Maksiat menyebabkan ‘wahn’, yakni kelemahan pada hati dan badannya. Adapun kelemahan hati maka maksiat yang dilakukan oleh seorang hamba atau maksiat yang diperbuat oleh seseorang akan membuat hati menjadi berpenyakit. Membuat hati menjadi berpenyakit, karena maksiat itu adalah penyakit. Dan penyakit merupakan bentuk kelemahan. Sehingga akibat maksiat, hati menjadi berpenyakit dan lemah. Dan semakin banyak maksiat yang dilakukan maka akan bertambah pula kelemahan pada hatinya, hingga sebagaimana dikatakan penulis, sampai pada kemaksiatan itu melenyapkan kehidupan hati itu sepenuhnya. Yakni kemaksiatan itu terus menerus melemahkan kehidupan dalam hati hingga hati itu benar-benar kehilangan kehidupannya. Inilah makna ungkapan sebelumnya bahwa MAKSIAT ADALAH PENGANTAR MENUJU KEKAFIRAN. Maksiat adalah pengantar menuju kekafiran; yakni maksiat itu melemahkan hati dan terus melemahkannya hingga dapat melenyapkan seluruh kehidupan dalam hati itu. Dan yang dimaksud dengan kehidupan di sini adalah kehidupan iman yang merupakan kehidupan yang hakiki. Sedangkan maksiat dapat melemahkan badan adalah karena badan mengikuti keadaan hati. Dan ini dijelaskan pada kita melalui sabda Nabi kita ‘alaihis shalatu wassalam. “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal darah, jika ia baik maka seluruh tubuh akan baik; dan jika rusak maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah, itu adalah hati.” Jadi pergerakan hati akan diikuti oleh badan; jika hati itu kuat maka badan juga ikut menjadi kuat. Namun jika hati itu lemah, maka badan juga ikut menjadi lemah. ============================================================================ قَالَ رَحِمَهُ اللهُ وَمِنْهَا أَنَّ الْمَعَاصِي تُوْهِنُ الْقَلْبَ وَالْبَدَنَ أَمَّا وَهَنُهَا لِلْقَلْبِ فَأَمْرٌ ظَاهِرٌ بَلْ لَا تَزَالُ تُوْهِنُهُ حَتَّى تُزِيْلَ حَيَاتَهُ بِالْكُلِّيَّةِ وَأَمَّا وَهَنُهَا لِلْبَدَنِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ قُوَّتُهُ فِي قَلْبِهِ وَكُلَّمَا قَوِيَ قَلْبُهُ قَوِيَ بَدَنُهُ وَأَمَّا الْفَاجِرُ فَإِنَّهُ وَإِنْ كَانَ قَوِيَّ الْبَدَنِ فَهُوَ أَضْعَفُ شَيْءٍ عِنْدَ الْحَاجَةِ فَتَخُونُهُ قُوَّتُهُ أَحْوَجَ مَا يَكُونُ إِلَى نَفْسِهِ وَتَأَمَّلْ قُوَّةَ أَبْدَانِ فَارِسَ وَالرُّومِ كَيْفَ خَانَتْهُمْ أَحْوَجَ مَا كَانُوا إِلَيْهَا وَقَهَرَهُمْ أَهْلُ الْإِيمَانِ بِقُوَّةِ أَبْدَانِهِمْ وَقُلُوبِهِمْ هَذَا أَيْضًا مِنْ آثَارِ الْمَعَاصِي أَنَّهَا تُسَبِّبُ الْوَهْنَ لِلْعَاصِي فِي قَلْبِهِ وَبَدَنِهِ تُسَبِّبُ الْوَهْنَ أَيْ الضَّعْفَ فِي قَلْبِهِ وَبَدَنِهِ أَمَّا وَهْنُ الْقَلْبِ فَمَا يَقَعُ فِيهَا الْعَبْدُ أَوْ مَا يَقَعُ فِيهِ الْمَرْءُ مِنْ مَعَاصِي يُمْرِضُ الْقَلْبَ يُمْرِضُ الْقَلْبَ لِأَنَّ الْمَعْصِيَةَ مَرَضٌ وَالْمَرَضُ ضَعْفٌ وَوَهْنٌ فَيَكُونُ الْقَلْبُ بِسَبَبِ الْمَعَاصِي مَرِيْضًا ضَعِيْفًا وَكُلَّمَا زَادَتْ الْمَعَاصِي زَادَ هَذَا الْوَهْنُ وَالضَّعْفُ فِي قَلْبِهِ إِلَى أَنْ يَصِلَ كَمَا قَالَ الْمُصَنِّفُ بِأَن تُزِيلَ حَيَاتَهُ بِالْكُلِّيَّةِ يَعْنِي لَا تَزَالُ بِهِ الْمَعَاصِي تُضْعِفُهُ أَيْ تُضْعِفُ حَيَاتَهُ إِلَى أَنْ تُذْهِبَ حَيَاتَهُ وَهَذَا مَعْنَى مَا تَقَدَّمَ إِنَّ الْمَعَاصِي بَرِيدُ الْكُفْرِ إِنَّ الْمَعَاصِي بَرِيدُ الْكُفْرِ فَالْمَعَاصِي لَا تَزَالُ تُضْعِفُ الْقَلْبَ تُضْعِفُ الْقَلْبَ إِلَى أَنْ تُذْهِبَ عَنْهُ حَيَاتَهُ وَالْمُرَادُ بِالْحَيَاةِ حَيَاةُ الْإِيْمَانِ الَّتِي هِيَ الْحَيَاةُ الْحَقِيقِيَّةُ وَإِضْعَافُهَا لِلْبَدَنِ لِأَنَّ الْبَدَنَ تَبَعٌ لِلْقَلْبِ وَيُوَضِّحُ لَنَا ذَلِكَ قَوْلُ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَلَا إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ فَالْقَلْبُ فِي تَحَرُّكَاتِهِ هُوَ تَبَعٌ لِلْبَدَنِ فَإِذَا كَانَ الْقَلْبُ قَوِيًّا كَانَ الْبَدَنُ تَبَعًا لَهُ فِي الْقُوَّةِ وَإِذَا كَانَ ضَعِيفًا كَانَ الْبَدَنُ تَبَعًا لَهُ فِي الضَّعْفِ

Maksiat Membuatmu Lemah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Maksiat Membuatmu Lemah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Penulis rahimahullah berkata, “Di antaranya, maksiat dapat melemahkan hati dan badan. Adapun tentang maksiat dapat melemahkan hati maka itu sudah sangat jelas, bahkan maksiat terus melemahkan hati hingga dapat mematikan hati itu seluruhnya. Adapun tentang maksiat dapat melemahkan badan, maka sesungguhnya kekuatan seorang mukmin ada pada hatinya, sehingga semakin kuat hatinya, maka semakin kuat pula badannya. Adapun seorang pelaku dosa, meskipun ia memiliki badan yang kuat, namun badannya akan menjadi lemah sekali ketika dibutuhkan, dan kekuatannya mengecewakannya ketika ia sangat membutuhkannya. Perhatikan saja kekuatan badan kaum Persia dan Romawi, bagaimana mereka dikecewakan kekuatan mereka sendiri saat sangat membutuhkannya, dan akhirnya dikalahkan oleh orang-orang beriman berkat kekuatan badan dan hati mereka.” Ini juga termasuk pengaruh dari maksiat yang dapat menyebabkan kelemahan bagi orang yang bermaksiat itu terhadap hati dan badannya. Maksiat menyebabkan ‘wahn’, yakni kelemahan pada hati dan badannya. Adapun kelemahan hati maka maksiat yang dilakukan oleh seorang hamba atau maksiat yang diperbuat oleh seseorang akan membuat hati menjadi berpenyakit. Membuat hati menjadi berpenyakit, karena maksiat itu adalah penyakit. Dan penyakit merupakan bentuk kelemahan. Sehingga akibat maksiat, hati menjadi berpenyakit dan lemah. Dan semakin banyak maksiat yang dilakukan maka akan bertambah pula kelemahan pada hatinya, hingga sebagaimana dikatakan penulis, sampai pada kemaksiatan itu melenyapkan kehidupan hati itu sepenuhnya. Yakni kemaksiatan itu terus menerus melemahkan kehidupan dalam hati hingga hati itu benar-benar kehilangan kehidupannya. Inilah makna ungkapan sebelumnya bahwa MAKSIAT ADALAH PENGANTAR MENUJU KEKAFIRAN. Maksiat adalah pengantar menuju kekafiran; yakni maksiat itu melemahkan hati dan terus melemahkannya hingga dapat melenyapkan seluruh kehidupan dalam hati itu. Dan yang dimaksud dengan kehidupan di sini adalah kehidupan iman yang merupakan kehidupan yang hakiki. Sedangkan maksiat dapat melemahkan badan adalah karena badan mengikuti keadaan hati. Dan ini dijelaskan pada kita melalui sabda Nabi kita ‘alaihis shalatu wassalam. “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal darah, jika ia baik maka seluruh tubuh akan baik; dan jika rusak maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah, itu adalah hati.” Jadi pergerakan hati akan diikuti oleh badan; jika hati itu kuat maka badan juga ikut menjadi kuat. Namun jika hati itu lemah, maka badan juga ikut menjadi lemah. ============================================================================ قَالَ رَحِمَهُ اللهُ وَمِنْهَا أَنَّ الْمَعَاصِي تُوْهِنُ الْقَلْبَ وَالْبَدَنَ أَمَّا وَهَنُهَا لِلْقَلْبِ فَأَمْرٌ ظَاهِرٌ بَلْ لَا تَزَالُ تُوْهِنُهُ حَتَّى تُزِيْلَ حَيَاتَهُ بِالْكُلِّيَّةِ وَأَمَّا وَهَنُهَا لِلْبَدَنِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ قُوَّتُهُ فِي قَلْبِهِ وَكُلَّمَا قَوِيَ قَلْبُهُ قَوِيَ بَدَنُهُ وَأَمَّا الْفَاجِرُ فَإِنَّهُ وَإِنْ كَانَ قَوِيَّ الْبَدَنِ فَهُوَ أَضْعَفُ شَيْءٍ عِنْدَ الْحَاجَةِ فَتَخُونُهُ قُوَّتُهُ أَحْوَجَ مَا يَكُونُ إِلَى نَفْسِهِ وَتَأَمَّلْ قُوَّةَ أَبْدَانِ فَارِسَ وَالرُّومِ كَيْفَ خَانَتْهُمْ أَحْوَجَ مَا كَانُوا إِلَيْهَا وَقَهَرَهُمْ أَهْلُ الْإِيمَانِ بِقُوَّةِ أَبْدَانِهِمْ وَقُلُوبِهِمْ هَذَا أَيْضًا مِنْ آثَارِ الْمَعَاصِي أَنَّهَا تُسَبِّبُ الْوَهْنَ لِلْعَاصِي فِي قَلْبِهِ وَبَدَنِهِ تُسَبِّبُ الْوَهْنَ أَيْ الضَّعْفَ فِي قَلْبِهِ وَبَدَنِهِ أَمَّا وَهْنُ الْقَلْبِ فَمَا يَقَعُ فِيهَا الْعَبْدُ أَوْ مَا يَقَعُ فِيهِ الْمَرْءُ مِنْ مَعَاصِي يُمْرِضُ الْقَلْبَ يُمْرِضُ الْقَلْبَ لِأَنَّ الْمَعْصِيَةَ مَرَضٌ وَالْمَرَضُ ضَعْفٌ وَوَهْنٌ فَيَكُونُ الْقَلْبُ بِسَبَبِ الْمَعَاصِي مَرِيْضًا ضَعِيْفًا وَكُلَّمَا زَادَتْ الْمَعَاصِي زَادَ هَذَا الْوَهْنُ وَالضَّعْفُ فِي قَلْبِهِ إِلَى أَنْ يَصِلَ كَمَا قَالَ الْمُصَنِّفُ بِأَن تُزِيلَ حَيَاتَهُ بِالْكُلِّيَّةِ يَعْنِي لَا تَزَالُ بِهِ الْمَعَاصِي تُضْعِفُهُ أَيْ تُضْعِفُ حَيَاتَهُ إِلَى أَنْ تُذْهِبَ حَيَاتَهُ وَهَذَا مَعْنَى مَا تَقَدَّمَ إِنَّ الْمَعَاصِي بَرِيدُ الْكُفْرِ إِنَّ الْمَعَاصِي بَرِيدُ الْكُفْرِ فَالْمَعَاصِي لَا تَزَالُ تُضْعِفُ الْقَلْبَ تُضْعِفُ الْقَلْبَ إِلَى أَنْ تُذْهِبَ عَنْهُ حَيَاتَهُ وَالْمُرَادُ بِالْحَيَاةِ حَيَاةُ الْإِيْمَانِ الَّتِي هِيَ الْحَيَاةُ الْحَقِيقِيَّةُ وَإِضْعَافُهَا لِلْبَدَنِ لِأَنَّ الْبَدَنَ تَبَعٌ لِلْقَلْبِ وَيُوَضِّحُ لَنَا ذَلِكَ قَوْلُ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَلَا إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ فَالْقَلْبُ فِي تَحَرُّكَاتِهِ هُوَ تَبَعٌ لِلْبَدَنِ فَإِذَا كَانَ الْقَلْبُ قَوِيًّا كَانَ الْبَدَنُ تَبَعًا لَهُ فِي الْقُوَّةِ وَإِذَا كَانَ ضَعِيفًا كَانَ الْبَدَنُ تَبَعًا لَهُ فِي الضَّعْفِ
Maksiat Membuatmu Lemah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Penulis rahimahullah berkata, “Di antaranya, maksiat dapat melemahkan hati dan badan. Adapun tentang maksiat dapat melemahkan hati maka itu sudah sangat jelas, bahkan maksiat terus melemahkan hati hingga dapat mematikan hati itu seluruhnya. Adapun tentang maksiat dapat melemahkan badan, maka sesungguhnya kekuatan seorang mukmin ada pada hatinya, sehingga semakin kuat hatinya, maka semakin kuat pula badannya. Adapun seorang pelaku dosa, meskipun ia memiliki badan yang kuat, namun badannya akan menjadi lemah sekali ketika dibutuhkan, dan kekuatannya mengecewakannya ketika ia sangat membutuhkannya. Perhatikan saja kekuatan badan kaum Persia dan Romawi, bagaimana mereka dikecewakan kekuatan mereka sendiri saat sangat membutuhkannya, dan akhirnya dikalahkan oleh orang-orang beriman berkat kekuatan badan dan hati mereka.” Ini juga termasuk pengaruh dari maksiat yang dapat menyebabkan kelemahan bagi orang yang bermaksiat itu terhadap hati dan badannya. Maksiat menyebabkan ‘wahn’, yakni kelemahan pada hati dan badannya. Adapun kelemahan hati maka maksiat yang dilakukan oleh seorang hamba atau maksiat yang diperbuat oleh seseorang akan membuat hati menjadi berpenyakit. Membuat hati menjadi berpenyakit, karena maksiat itu adalah penyakit. Dan penyakit merupakan bentuk kelemahan. Sehingga akibat maksiat, hati menjadi berpenyakit dan lemah. Dan semakin banyak maksiat yang dilakukan maka akan bertambah pula kelemahan pada hatinya, hingga sebagaimana dikatakan penulis, sampai pada kemaksiatan itu melenyapkan kehidupan hati itu sepenuhnya. Yakni kemaksiatan itu terus menerus melemahkan kehidupan dalam hati hingga hati itu benar-benar kehilangan kehidupannya. Inilah makna ungkapan sebelumnya bahwa MAKSIAT ADALAH PENGANTAR MENUJU KEKAFIRAN. Maksiat adalah pengantar menuju kekafiran; yakni maksiat itu melemahkan hati dan terus melemahkannya hingga dapat melenyapkan seluruh kehidupan dalam hati itu. Dan yang dimaksud dengan kehidupan di sini adalah kehidupan iman yang merupakan kehidupan yang hakiki. Sedangkan maksiat dapat melemahkan badan adalah karena badan mengikuti keadaan hati. Dan ini dijelaskan pada kita melalui sabda Nabi kita ‘alaihis shalatu wassalam. “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal darah, jika ia baik maka seluruh tubuh akan baik; dan jika rusak maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah, itu adalah hati.” Jadi pergerakan hati akan diikuti oleh badan; jika hati itu kuat maka badan juga ikut menjadi kuat. Namun jika hati itu lemah, maka badan juga ikut menjadi lemah. ============================================================================ قَالَ رَحِمَهُ اللهُ وَمِنْهَا أَنَّ الْمَعَاصِي تُوْهِنُ الْقَلْبَ وَالْبَدَنَ أَمَّا وَهَنُهَا لِلْقَلْبِ فَأَمْرٌ ظَاهِرٌ بَلْ لَا تَزَالُ تُوْهِنُهُ حَتَّى تُزِيْلَ حَيَاتَهُ بِالْكُلِّيَّةِ وَأَمَّا وَهَنُهَا لِلْبَدَنِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ قُوَّتُهُ فِي قَلْبِهِ وَكُلَّمَا قَوِيَ قَلْبُهُ قَوِيَ بَدَنُهُ وَأَمَّا الْفَاجِرُ فَإِنَّهُ وَإِنْ كَانَ قَوِيَّ الْبَدَنِ فَهُوَ أَضْعَفُ شَيْءٍ عِنْدَ الْحَاجَةِ فَتَخُونُهُ قُوَّتُهُ أَحْوَجَ مَا يَكُونُ إِلَى نَفْسِهِ وَتَأَمَّلْ قُوَّةَ أَبْدَانِ فَارِسَ وَالرُّومِ كَيْفَ خَانَتْهُمْ أَحْوَجَ مَا كَانُوا إِلَيْهَا وَقَهَرَهُمْ أَهْلُ الْإِيمَانِ بِقُوَّةِ أَبْدَانِهِمْ وَقُلُوبِهِمْ هَذَا أَيْضًا مِنْ آثَارِ الْمَعَاصِي أَنَّهَا تُسَبِّبُ الْوَهْنَ لِلْعَاصِي فِي قَلْبِهِ وَبَدَنِهِ تُسَبِّبُ الْوَهْنَ أَيْ الضَّعْفَ فِي قَلْبِهِ وَبَدَنِهِ أَمَّا وَهْنُ الْقَلْبِ فَمَا يَقَعُ فِيهَا الْعَبْدُ أَوْ مَا يَقَعُ فِيهِ الْمَرْءُ مِنْ مَعَاصِي يُمْرِضُ الْقَلْبَ يُمْرِضُ الْقَلْبَ لِأَنَّ الْمَعْصِيَةَ مَرَضٌ وَالْمَرَضُ ضَعْفٌ وَوَهْنٌ فَيَكُونُ الْقَلْبُ بِسَبَبِ الْمَعَاصِي مَرِيْضًا ضَعِيْفًا وَكُلَّمَا زَادَتْ الْمَعَاصِي زَادَ هَذَا الْوَهْنُ وَالضَّعْفُ فِي قَلْبِهِ إِلَى أَنْ يَصِلَ كَمَا قَالَ الْمُصَنِّفُ بِأَن تُزِيلَ حَيَاتَهُ بِالْكُلِّيَّةِ يَعْنِي لَا تَزَالُ بِهِ الْمَعَاصِي تُضْعِفُهُ أَيْ تُضْعِفُ حَيَاتَهُ إِلَى أَنْ تُذْهِبَ حَيَاتَهُ وَهَذَا مَعْنَى مَا تَقَدَّمَ إِنَّ الْمَعَاصِي بَرِيدُ الْكُفْرِ إِنَّ الْمَعَاصِي بَرِيدُ الْكُفْرِ فَالْمَعَاصِي لَا تَزَالُ تُضْعِفُ الْقَلْبَ تُضْعِفُ الْقَلْبَ إِلَى أَنْ تُذْهِبَ عَنْهُ حَيَاتَهُ وَالْمُرَادُ بِالْحَيَاةِ حَيَاةُ الْإِيْمَانِ الَّتِي هِيَ الْحَيَاةُ الْحَقِيقِيَّةُ وَإِضْعَافُهَا لِلْبَدَنِ لِأَنَّ الْبَدَنَ تَبَعٌ لِلْقَلْبِ وَيُوَضِّحُ لَنَا ذَلِكَ قَوْلُ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَلَا إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ فَالْقَلْبُ فِي تَحَرُّكَاتِهِ هُوَ تَبَعٌ لِلْبَدَنِ فَإِذَا كَانَ الْقَلْبُ قَوِيًّا كَانَ الْبَدَنُ تَبَعًا لَهُ فِي الْقُوَّةِ وَإِذَا كَانَ ضَعِيفًا كَانَ الْبَدَنُ تَبَعًا لَهُ فِي الضَّعْفِ


Maksiat Membuatmu Lemah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Penulis rahimahullah berkata, “Di antaranya, maksiat dapat melemahkan hati dan badan. Adapun tentang maksiat dapat melemahkan hati maka itu sudah sangat jelas, bahkan maksiat terus melemahkan hati hingga dapat mematikan hati itu seluruhnya. Adapun tentang maksiat dapat melemahkan badan, maka sesungguhnya kekuatan seorang mukmin ada pada hatinya, sehingga semakin kuat hatinya, maka semakin kuat pula badannya. Adapun seorang pelaku dosa, meskipun ia memiliki badan yang kuat, namun badannya akan menjadi lemah sekali ketika dibutuhkan, dan kekuatannya mengecewakannya ketika ia sangat membutuhkannya. Perhatikan saja kekuatan badan kaum Persia dan Romawi, bagaimana mereka dikecewakan kekuatan mereka sendiri saat sangat membutuhkannya, dan akhirnya dikalahkan oleh orang-orang beriman berkat kekuatan badan dan hati mereka.” Ini juga termasuk pengaruh dari maksiat yang dapat menyebabkan kelemahan bagi orang yang bermaksiat itu terhadap hati dan badannya. Maksiat menyebabkan ‘wahn’, yakni kelemahan pada hati dan badannya. Adapun kelemahan hati maka maksiat yang dilakukan oleh seorang hamba atau maksiat yang diperbuat oleh seseorang akan membuat hati menjadi berpenyakit. Membuat hati menjadi berpenyakit, karena maksiat itu adalah penyakit. Dan penyakit merupakan bentuk kelemahan. Sehingga akibat maksiat, hati menjadi berpenyakit dan lemah. Dan semakin banyak maksiat yang dilakukan maka akan bertambah pula kelemahan pada hatinya, hingga sebagaimana dikatakan penulis, sampai pada kemaksiatan itu melenyapkan kehidupan hati itu sepenuhnya. Yakni kemaksiatan itu terus menerus melemahkan kehidupan dalam hati hingga hati itu benar-benar kehilangan kehidupannya. Inilah makna ungkapan sebelumnya bahwa MAKSIAT ADALAH PENGANTAR MENUJU KEKAFIRAN. Maksiat adalah pengantar menuju kekafiran; yakni maksiat itu melemahkan hati dan terus melemahkannya hingga dapat melenyapkan seluruh kehidupan dalam hati itu. Dan yang dimaksud dengan kehidupan di sini adalah kehidupan iman yang merupakan kehidupan yang hakiki. Sedangkan maksiat dapat melemahkan badan adalah karena badan mengikuti keadaan hati. Dan ini dijelaskan pada kita melalui sabda Nabi kita ‘alaihis shalatu wassalam. “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal darah, jika ia baik maka seluruh tubuh akan baik; dan jika rusak maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah, itu adalah hati.” Jadi pergerakan hati akan diikuti oleh badan; jika hati itu kuat maka badan juga ikut menjadi kuat. Namun jika hati itu lemah, maka badan juga ikut menjadi lemah. ============================================================================ قَالَ رَحِمَهُ اللهُ وَمِنْهَا أَنَّ الْمَعَاصِي تُوْهِنُ الْقَلْبَ وَالْبَدَنَ أَمَّا وَهَنُهَا لِلْقَلْبِ فَأَمْرٌ ظَاهِرٌ بَلْ لَا تَزَالُ تُوْهِنُهُ حَتَّى تُزِيْلَ حَيَاتَهُ بِالْكُلِّيَّةِ وَأَمَّا وَهَنُهَا لِلْبَدَنِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ قُوَّتُهُ فِي قَلْبِهِ وَكُلَّمَا قَوِيَ قَلْبُهُ قَوِيَ بَدَنُهُ وَأَمَّا الْفَاجِرُ فَإِنَّهُ وَإِنْ كَانَ قَوِيَّ الْبَدَنِ فَهُوَ أَضْعَفُ شَيْءٍ عِنْدَ الْحَاجَةِ فَتَخُونُهُ قُوَّتُهُ أَحْوَجَ مَا يَكُونُ إِلَى نَفْسِهِ وَتَأَمَّلْ قُوَّةَ أَبْدَانِ فَارِسَ وَالرُّومِ كَيْفَ خَانَتْهُمْ أَحْوَجَ مَا كَانُوا إِلَيْهَا وَقَهَرَهُمْ أَهْلُ الْإِيمَانِ بِقُوَّةِ أَبْدَانِهِمْ وَقُلُوبِهِمْ هَذَا أَيْضًا مِنْ آثَارِ الْمَعَاصِي أَنَّهَا تُسَبِّبُ الْوَهْنَ لِلْعَاصِي فِي قَلْبِهِ وَبَدَنِهِ تُسَبِّبُ الْوَهْنَ أَيْ الضَّعْفَ فِي قَلْبِهِ وَبَدَنِهِ أَمَّا وَهْنُ الْقَلْبِ فَمَا يَقَعُ فِيهَا الْعَبْدُ أَوْ مَا يَقَعُ فِيهِ الْمَرْءُ مِنْ مَعَاصِي يُمْرِضُ الْقَلْبَ يُمْرِضُ الْقَلْبَ لِأَنَّ الْمَعْصِيَةَ مَرَضٌ وَالْمَرَضُ ضَعْفٌ وَوَهْنٌ فَيَكُونُ الْقَلْبُ بِسَبَبِ الْمَعَاصِي مَرِيْضًا ضَعِيْفًا وَكُلَّمَا زَادَتْ الْمَعَاصِي زَادَ هَذَا الْوَهْنُ وَالضَّعْفُ فِي قَلْبِهِ إِلَى أَنْ يَصِلَ كَمَا قَالَ الْمُصَنِّفُ بِأَن تُزِيلَ حَيَاتَهُ بِالْكُلِّيَّةِ يَعْنِي لَا تَزَالُ بِهِ الْمَعَاصِي تُضْعِفُهُ أَيْ تُضْعِفُ حَيَاتَهُ إِلَى أَنْ تُذْهِبَ حَيَاتَهُ وَهَذَا مَعْنَى مَا تَقَدَّمَ إِنَّ الْمَعَاصِي بَرِيدُ الْكُفْرِ إِنَّ الْمَعَاصِي بَرِيدُ الْكُفْرِ فَالْمَعَاصِي لَا تَزَالُ تُضْعِفُ الْقَلْبَ تُضْعِفُ الْقَلْبَ إِلَى أَنْ تُذْهِبَ عَنْهُ حَيَاتَهُ وَالْمُرَادُ بِالْحَيَاةِ حَيَاةُ الْإِيْمَانِ الَّتِي هِيَ الْحَيَاةُ الْحَقِيقِيَّةُ وَإِضْعَافُهَا لِلْبَدَنِ لِأَنَّ الْبَدَنَ تَبَعٌ لِلْقَلْبِ وَيُوَضِّحُ لَنَا ذَلِكَ قَوْلُ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَلَا إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ فَالْقَلْبُ فِي تَحَرُّكَاتِهِ هُوَ تَبَعٌ لِلْبَدَنِ فَإِذَا كَانَ الْقَلْبُ قَوِيًّا كَانَ الْبَدَنُ تَبَعًا لَهُ فِي الْقُوَّةِ وَإِذَا كَانَ ضَعِيفًا كَانَ الْبَدَنُ تَبَعًا لَهُ فِي الضَّعْفِ

Kabar Gembira untuk Orang yang Sabar – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Kabar Gembira untuk Orang yang Sabar – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Semua orang yang mendapat musibah akan melihat akhir yang baik jika ia dapat bersabar. Semua yang terkena musibah. Oleh sebab itu, semua yang terkena musibah dihibur, yakni tidak dikatakan di sini hanya Nabi Yusuf ‘alaihissalam dihibur dengan firman-Nya, “Dan Kami wahyukan kepadanya, ‘Kamu akan menceritakan kepada mereka. Namun semua yang terkena musibah jika bersabar akan melihat kesudahan yang membahagiakan, dan akhir yang baik, baik itu di dunia atau di akhirat. Oleh sebab itu, kita diperintahkan untuk memberi kabar gembira bagi orang-orang sabar. Kita diperintah untuk memberi kabar gembira, “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar.” Oleh sebab itu, orang yang tertimpa musibah pada hartanya, kehilangan anaknya, kehilangan orang yang dicintai, seperti dalam firman Allah, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kekurangan jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 155) Allah berfirman: “Dan berikanlah berita gembira bagi orang-orang yang sabar.” Apakah Allah menentukan jenis kabar gembira itu atau tidak? Allah menyebutnya secara mutlak. Dan kaidah dari para ulama berbunyi: Jika hal yang terkait dihapus maka menunjukkan keumuman. Dan ini Allah berfirman, “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar.” Tidak menyebutkan dengan surga sebagai contoh. Tidak pula menentukan sebagai contoh dengan. ketenangan di dunia, kenikmatan di dunia, atau lainnya. Allah tidak menentukan. ketenangan di dunia, kenikmatan di dunia, atau lainnya. Allah tidak menentukan.Allah berfirman, “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar.” Jadi kabar gembira ini mencakup segala kebaikan di dunia dan di akhirat. Maka semua orang sabar -sebesar dan sesulit apapun musibahnya- tetap mendapatkan kabar gembira. Dan ini adalah hiburan baginya. Oleh sebab itu firman Allah, “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar” disebut sebagai hiburan bagi setiap orang yang tertimpa musibah. Salah seorang ulama memiliki kitab yang berjudul “Tasliyah al-Mushab” (Hiburan Bagi yang Mendapat Musibah) Ulama dari madzhab hambali memiliki kitab yang telah dicetak dengan judul Tasliyah al-Mushab. Inti dari kitab ini, firman-Nya “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar.” Inilah inti dalam perkara ini. Inti dalam perkara ini. Oleh sebab itu hendaknya selalu diingat ketika terjadi musibah agar dapat menghiasi diri dengan kesabaran sehingga dapat meraih apa? Meraih kabar gembira itu! Namun -subhanallah- seandainya ia tidak menghiasi diri dengan kesabaran maka kerugiannya muncul dari mana saja? Dari dua “Shaub” dengan bahasa Emirat ini. yakni dari dua sisi. Dari dua sisi; pertama dari sisi perkara yang menjadi musibahnya dan yang kedua, ia tidak mendapatkan kabar gembira. Tapi jika ia bersabar maka ia akan mendapatkan ganti karena kata ‘kabar gembira’ mengandung isyarat akan mendapat ganti. Dia akan mendapat ganti. Dan mendapat pahala; dan ini lebih agung. Pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang disiapkan bagi orang-orang yang sabar; “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar. yaitu orang-orang yang jika tertimpa musibah mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun”. Merekalah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka …”dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 156 – 157) Umar bin Khattab pernah membaca ayat ini lalu berkata, “Inilah sebaik-baik dua tempat muatan dan sebaik-baik tambahan.” Karena unta jika diberi muatan akan dipasang tempat muatan, sebagai tempat muatan. Dan jika itu penuh maka ditambah di atas punuknya sebagai tambahan dari sebelumnya. “Inilah sebaik-baik dua tempat muatan dan sebaik-baik tambahan.” “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar, yaitu orang-orang yang jika tertimpa musibah mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun”. Merekalah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka…” Inilah dua tempat muatan itu. Dan tambahan atas itu: “Dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” =============================================================================== وَكُلُّ مُصَابٍ كُلُّ مُصَابٍ يُبْصِرُ بِالْعَاقِبَةِ الْحَمِيدَةِ إِنْ صَبَرَ كُلُّ مُصَابٍ وَلِهَذَا يُسَلَّى كُلُّ مُصَابٍ يَعْنِي لَا يُقَالُ هُنَا يُوسُفُ عَلَيْهِ السَّلَامُ سُلِّيَ بِـ وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ لَتُنَبِّئَنَّهُمْ ‘ كُلُّ مُصَابٍ إِنْ صَبَرَ يُبْصِرُ بِالْعَاقِبَةِ الْحَمِيدَةِ وَالْمَآلِ الطَّيِّبِ فِي دُنْيَاهُ أَوْ أُخْرَاهُ وَلِهَذَا أُمِرْنَا أَنْ نُبَشِّرَ الصَّابِرِيْنَ أُمِرْنَا أَنْ نُبَشِّرَ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ وَلِهَذَا يَعْنِي الْإِنْسَانُ عِنْدَمَا يُصَابُ فِي مَالِهِ فِي فَقْدِ وَلَدِهِ فَقْدِ مَحْبُوبٍ عَلَيْهِ مِثْلُ مَا قَالَ اللهُ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ قَالَ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ وَحَدَّدَ نَوْعَ الْبِشَارَةِ وَإِلَّا أَطْلَقَهَا؟ أَطْلَقَ وَالْقَاعِدَةُ عِنْدَ الْعُلَمَاءِ أَنَّ الْمُتَعَلَّقَ إِذَا حُذِفَ يُفِيدُ الْعُمُومَ الْآنَ قَالَ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ مَا قَالَ مَثَلًا بِالْجَنَّةِ مَا قَالَ مَثَلًا بِـ مَثَلًا رَاحَةً فِي الدُّنْيَا أَوْ نَعِيْمًا فِي الدُّنْيَا أَوْ مَا حَدَّدَ قَالَ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ فَيَتَنَاوَلُ الْبِشَارَةَ بِكُلِّ خَيْرٍ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَكُلُّ صَابِرٍ عَلَى شِدَّتِهِ وَمُصَابِهِ لَهُ الْبِشَارَةُ وَهَذِه تَسْلِيَةٌ لَهُ وَلِهَذَا يُعَدُّ قَوْلُهُ تَعَالَى وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ تَسْلِيَةٌ لِجَمِيْعِ مَنْ أُصِيبَ بِمُصِيبَةٍ وَأَحَدُ الْعُلَمَاءِ لَهُ كِتَابٌ اسْمُهُ تَسْلِيَةُ الْمُصَابِ عُلَمَاءُ الْحَنَابِلَةِ مَطْبُوعٌ لَهُ كِتَابُ تَسْلِيَةُ الْمُصَابِ عُمْدَتُهُ فِيْهِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ هَذِهِ عُمْدَةٌ فِي الْبَابِ عُمْدَةٌ فِي الْبَابِ وَلِهَذَا يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ حَاضِرَةً عِنْدَ الْمُصِيبَةِ حَتَّى يَتَحَلَّى بِالصَّبْرِ فَيَفُوزُ بِمَاذَا؟ بِالْبِشَارَةِ لَكِنْ سُبْحَانَ اللهِ لَوْ أَنَّهُ لَمْ يَتَحَلَّ بِالصَّبْرِ تَكُونُ خَسَارَتُهُ مِنْ أَيْنَ؟ مِنْ صَوْبَيْنِ عَلَى الْإِمَارَاتِيَّةِ الْحِلْوَةِ هَذِهِ مِنْ جِهَتَيْنِ مِنْ جِهَتَيْنِ الْجِهَةُ الْأُولَى الشَّيْءُ الَّذِي خَسِرَهُ وَالشَّيْءُ الثَّانِي فَقَدَ الْبِشَارَةَ لَكِنْ إِنْ صَبَرَ فِيهِ عِوَضٌ لِأَنَّ كَلِمَةَ بِشَارَةٍ فِيهَا الْعِوَضُ فِيهَا الْعِوَضُ وَفِيهَا الثَّوَابُ وَهُوَ أَعْظَمُ ثَوَابُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِي أَعَدَّهُ لِلصَّابِرِيْنَ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَرَأَ الْآيَةَ وَقَالَ نِعْمَ الْعِدْلَانِ وَنِعْمَتِ الْعِلَاوَةُ لِأَنَّ الْبَعِيرَ إِذَا حُمِّلَ فِيهِ عِدْلَانِ تُحَمَّلُ فَإِذَا مُلِئَتْ وَزِيْدَ لَهُ أَيْضًا فَوْقَ سَنَامِهِ أَيْضًا عِلَاوَةً عَلَى ذَلِكَ قَالَ نِعْمَ الْعِدْلَانِ وَنِعْمَتِ الْعِلَاوَةُ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ هَذَانِ عِدْلَانِ وَعِلَاوَةً عَلَى ذَلِكَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Kabar Gembira untuk Orang yang Sabar – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Kabar Gembira untuk Orang yang Sabar – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Semua orang yang mendapat musibah akan melihat akhir yang baik jika ia dapat bersabar. Semua yang terkena musibah. Oleh sebab itu, semua yang terkena musibah dihibur, yakni tidak dikatakan di sini hanya Nabi Yusuf ‘alaihissalam dihibur dengan firman-Nya, “Dan Kami wahyukan kepadanya, ‘Kamu akan menceritakan kepada mereka. Namun semua yang terkena musibah jika bersabar akan melihat kesudahan yang membahagiakan, dan akhir yang baik, baik itu di dunia atau di akhirat. Oleh sebab itu, kita diperintahkan untuk memberi kabar gembira bagi orang-orang sabar. Kita diperintah untuk memberi kabar gembira, “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar.” Oleh sebab itu, orang yang tertimpa musibah pada hartanya, kehilangan anaknya, kehilangan orang yang dicintai, seperti dalam firman Allah, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kekurangan jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 155) Allah berfirman: “Dan berikanlah berita gembira bagi orang-orang yang sabar.” Apakah Allah menentukan jenis kabar gembira itu atau tidak? Allah menyebutnya secara mutlak. Dan kaidah dari para ulama berbunyi: Jika hal yang terkait dihapus maka menunjukkan keumuman. Dan ini Allah berfirman, “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar.” Tidak menyebutkan dengan surga sebagai contoh. Tidak pula menentukan sebagai contoh dengan. ketenangan di dunia, kenikmatan di dunia, atau lainnya. Allah tidak menentukan. ketenangan di dunia, kenikmatan di dunia, atau lainnya. Allah tidak menentukan.Allah berfirman, “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar.” Jadi kabar gembira ini mencakup segala kebaikan di dunia dan di akhirat. Maka semua orang sabar -sebesar dan sesulit apapun musibahnya- tetap mendapatkan kabar gembira. Dan ini adalah hiburan baginya. Oleh sebab itu firman Allah, “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar” disebut sebagai hiburan bagi setiap orang yang tertimpa musibah. Salah seorang ulama memiliki kitab yang berjudul “Tasliyah al-Mushab” (Hiburan Bagi yang Mendapat Musibah) Ulama dari madzhab hambali memiliki kitab yang telah dicetak dengan judul Tasliyah al-Mushab. Inti dari kitab ini, firman-Nya “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar.” Inilah inti dalam perkara ini. Inti dalam perkara ini. Oleh sebab itu hendaknya selalu diingat ketika terjadi musibah agar dapat menghiasi diri dengan kesabaran sehingga dapat meraih apa? Meraih kabar gembira itu! Namun -subhanallah- seandainya ia tidak menghiasi diri dengan kesabaran maka kerugiannya muncul dari mana saja? Dari dua “Shaub” dengan bahasa Emirat ini. yakni dari dua sisi. Dari dua sisi; pertama dari sisi perkara yang menjadi musibahnya dan yang kedua, ia tidak mendapatkan kabar gembira. Tapi jika ia bersabar maka ia akan mendapatkan ganti karena kata ‘kabar gembira’ mengandung isyarat akan mendapat ganti. Dia akan mendapat ganti. Dan mendapat pahala; dan ini lebih agung. Pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang disiapkan bagi orang-orang yang sabar; “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar. yaitu orang-orang yang jika tertimpa musibah mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun”. Merekalah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka …”dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 156 – 157) Umar bin Khattab pernah membaca ayat ini lalu berkata, “Inilah sebaik-baik dua tempat muatan dan sebaik-baik tambahan.” Karena unta jika diberi muatan akan dipasang tempat muatan, sebagai tempat muatan. Dan jika itu penuh maka ditambah di atas punuknya sebagai tambahan dari sebelumnya. “Inilah sebaik-baik dua tempat muatan dan sebaik-baik tambahan.” “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar, yaitu orang-orang yang jika tertimpa musibah mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun”. Merekalah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka…” Inilah dua tempat muatan itu. Dan tambahan atas itu: “Dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” =============================================================================== وَكُلُّ مُصَابٍ كُلُّ مُصَابٍ يُبْصِرُ بِالْعَاقِبَةِ الْحَمِيدَةِ إِنْ صَبَرَ كُلُّ مُصَابٍ وَلِهَذَا يُسَلَّى كُلُّ مُصَابٍ يَعْنِي لَا يُقَالُ هُنَا يُوسُفُ عَلَيْهِ السَّلَامُ سُلِّيَ بِـ وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ لَتُنَبِّئَنَّهُمْ ‘ كُلُّ مُصَابٍ إِنْ صَبَرَ يُبْصِرُ بِالْعَاقِبَةِ الْحَمِيدَةِ وَالْمَآلِ الطَّيِّبِ فِي دُنْيَاهُ أَوْ أُخْرَاهُ وَلِهَذَا أُمِرْنَا أَنْ نُبَشِّرَ الصَّابِرِيْنَ أُمِرْنَا أَنْ نُبَشِّرَ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ وَلِهَذَا يَعْنِي الْإِنْسَانُ عِنْدَمَا يُصَابُ فِي مَالِهِ فِي فَقْدِ وَلَدِهِ فَقْدِ مَحْبُوبٍ عَلَيْهِ مِثْلُ مَا قَالَ اللهُ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ قَالَ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ وَحَدَّدَ نَوْعَ الْبِشَارَةِ وَإِلَّا أَطْلَقَهَا؟ أَطْلَقَ وَالْقَاعِدَةُ عِنْدَ الْعُلَمَاءِ أَنَّ الْمُتَعَلَّقَ إِذَا حُذِفَ يُفِيدُ الْعُمُومَ الْآنَ قَالَ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ مَا قَالَ مَثَلًا بِالْجَنَّةِ مَا قَالَ مَثَلًا بِـ مَثَلًا رَاحَةً فِي الدُّنْيَا أَوْ نَعِيْمًا فِي الدُّنْيَا أَوْ مَا حَدَّدَ قَالَ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ فَيَتَنَاوَلُ الْبِشَارَةَ بِكُلِّ خَيْرٍ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَكُلُّ صَابِرٍ عَلَى شِدَّتِهِ وَمُصَابِهِ لَهُ الْبِشَارَةُ وَهَذِه تَسْلِيَةٌ لَهُ وَلِهَذَا يُعَدُّ قَوْلُهُ تَعَالَى وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ تَسْلِيَةٌ لِجَمِيْعِ مَنْ أُصِيبَ بِمُصِيبَةٍ وَأَحَدُ الْعُلَمَاءِ لَهُ كِتَابٌ اسْمُهُ تَسْلِيَةُ الْمُصَابِ عُلَمَاءُ الْحَنَابِلَةِ مَطْبُوعٌ لَهُ كِتَابُ تَسْلِيَةُ الْمُصَابِ عُمْدَتُهُ فِيْهِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ هَذِهِ عُمْدَةٌ فِي الْبَابِ عُمْدَةٌ فِي الْبَابِ وَلِهَذَا يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ حَاضِرَةً عِنْدَ الْمُصِيبَةِ حَتَّى يَتَحَلَّى بِالصَّبْرِ فَيَفُوزُ بِمَاذَا؟ بِالْبِشَارَةِ لَكِنْ سُبْحَانَ اللهِ لَوْ أَنَّهُ لَمْ يَتَحَلَّ بِالصَّبْرِ تَكُونُ خَسَارَتُهُ مِنْ أَيْنَ؟ مِنْ صَوْبَيْنِ عَلَى الْإِمَارَاتِيَّةِ الْحِلْوَةِ هَذِهِ مِنْ جِهَتَيْنِ مِنْ جِهَتَيْنِ الْجِهَةُ الْأُولَى الشَّيْءُ الَّذِي خَسِرَهُ وَالشَّيْءُ الثَّانِي فَقَدَ الْبِشَارَةَ لَكِنْ إِنْ صَبَرَ فِيهِ عِوَضٌ لِأَنَّ كَلِمَةَ بِشَارَةٍ فِيهَا الْعِوَضُ فِيهَا الْعِوَضُ وَفِيهَا الثَّوَابُ وَهُوَ أَعْظَمُ ثَوَابُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِي أَعَدَّهُ لِلصَّابِرِيْنَ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَرَأَ الْآيَةَ وَقَالَ نِعْمَ الْعِدْلَانِ وَنِعْمَتِ الْعِلَاوَةُ لِأَنَّ الْبَعِيرَ إِذَا حُمِّلَ فِيهِ عِدْلَانِ تُحَمَّلُ فَإِذَا مُلِئَتْ وَزِيْدَ لَهُ أَيْضًا فَوْقَ سَنَامِهِ أَيْضًا عِلَاوَةً عَلَى ذَلِكَ قَالَ نِعْمَ الْعِدْلَانِ وَنِعْمَتِ الْعِلَاوَةُ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ هَذَانِ عِدْلَانِ وَعِلَاوَةً عَلَى ذَلِكَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
Kabar Gembira untuk Orang yang Sabar – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Semua orang yang mendapat musibah akan melihat akhir yang baik jika ia dapat bersabar. Semua yang terkena musibah. Oleh sebab itu, semua yang terkena musibah dihibur, yakni tidak dikatakan di sini hanya Nabi Yusuf ‘alaihissalam dihibur dengan firman-Nya, “Dan Kami wahyukan kepadanya, ‘Kamu akan menceritakan kepada mereka. Namun semua yang terkena musibah jika bersabar akan melihat kesudahan yang membahagiakan, dan akhir yang baik, baik itu di dunia atau di akhirat. Oleh sebab itu, kita diperintahkan untuk memberi kabar gembira bagi orang-orang sabar. Kita diperintah untuk memberi kabar gembira, “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar.” Oleh sebab itu, orang yang tertimpa musibah pada hartanya, kehilangan anaknya, kehilangan orang yang dicintai, seperti dalam firman Allah, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kekurangan jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 155) Allah berfirman: “Dan berikanlah berita gembira bagi orang-orang yang sabar.” Apakah Allah menentukan jenis kabar gembira itu atau tidak? Allah menyebutnya secara mutlak. Dan kaidah dari para ulama berbunyi: Jika hal yang terkait dihapus maka menunjukkan keumuman. Dan ini Allah berfirman, “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar.” Tidak menyebutkan dengan surga sebagai contoh. Tidak pula menentukan sebagai contoh dengan. ketenangan di dunia, kenikmatan di dunia, atau lainnya. Allah tidak menentukan. ketenangan di dunia, kenikmatan di dunia, atau lainnya. Allah tidak menentukan.Allah berfirman, “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar.” Jadi kabar gembira ini mencakup segala kebaikan di dunia dan di akhirat. Maka semua orang sabar -sebesar dan sesulit apapun musibahnya- tetap mendapatkan kabar gembira. Dan ini adalah hiburan baginya. Oleh sebab itu firman Allah, “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar” disebut sebagai hiburan bagi setiap orang yang tertimpa musibah. Salah seorang ulama memiliki kitab yang berjudul “Tasliyah al-Mushab” (Hiburan Bagi yang Mendapat Musibah) Ulama dari madzhab hambali memiliki kitab yang telah dicetak dengan judul Tasliyah al-Mushab. Inti dari kitab ini, firman-Nya “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar.” Inilah inti dalam perkara ini. Inti dalam perkara ini. Oleh sebab itu hendaknya selalu diingat ketika terjadi musibah agar dapat menghiasi diri dengan kesabaran sehingga dapat meraih apa? Meraih kabar gembira itu! Namun -subhanallah- seandainya ia tidak menghiasi diri dengan kesabaran maka kerugiannya muncul dari mana saja? Dari dua “Shaub” dengan bahasa Emirat ini. yakni dari dua sisi. Dari dua sisi; pertama dari sisi perkara yang menjadi musibahnya dan yang kedua, ia tidak mendapatkan kabar gembira. Tapi jika ia bersabar maka ia akan mendapatkan ganti karena kata ‘kabar gembira’ mengandung isyarat akan mendapat ganti. Dia akan mendapat ganti. Dan mendapat pahala; dan ini lebih agung. Pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang disiapkan bagi orang-orang yang sabar; “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar. yaitu orang-orang yang jika tertimpa musibah mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun”. Merekalah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka …”dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 156 – 157) Umar bin Khattab pernah membaca ayat ini lalu berkata, “Inilah sebaik-baik dua tempat muatan dan sebaik-baik tambahan.” Karena unta jika diberi muatan akan dipasang tempat muatan, sebagai tempat muatan. Dan jika itu penuh maka ditambah di atas punuknya sebagai tambahan dari sebelumnya. “Inilah sebaik-baik dua tempat muatan dan sebaik-baik tambahan.” “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar, yaitu orang-orang yang jika tertimpa musibah mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun”. Merekalah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka…” Inilah dua tempat muatan itu. Dan tambahan atas itu: “Dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” =============================================================================== وَكُلُّ مُصَابٍ كُلُّ مُصَابٍ يُبْصِرُ بِالْعَاقِبَةِ الْحَمِيدَةِ إِنْ صَبَرَ كُلُّ مُصَابٍ وَلِهَذَا يُسَلَّى كُلُّ مُصَابٍ يَعْنِي لَا يُقَالُ هُنَا يُوسُفُ عَلَيْهِ السَّلَامُ سُلِّيَ بِـ وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ لَتُنَبِّئَنَّهُمْ ‘ كُلُّ مُصَابٍ إِنْ صَبَرَ يُبْصِرُ بِالْعَاقِبَةِ الْحَمِيدَةِ وَالْمَآلِ الطَّيِّبِ فِي دُنْيَاهُ أَوْ أُخْرَاهُ وَلِهَذَا أُمِرْنَا أَنْ نُبَشِّرَ الصَّابِرِيْنَ أُمِرْنَا أَنْ نُبَشِّرَ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ وَلِهَذَا يَعْنِي الْإِنْسَانُ عِنْدَمَا يُصَابُ فِي مَالِهِ فِي فَقْدِ وَلَدِهِ فَقْدِ مَحْبُوبٍ عَلَيْهِ مِثْلُ مَا قَالَ اللهُ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ قَالَ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ وَحَدَّدَ نَوْعَ الْبِشَارَةِ وَإِلَّا أَطْلَقَهَا؟ أَطْلَقَ وَالْقَاعِدَةُ عِنْدَ الْعُلَمَاءِ أَنَّ الْمُتَعَلَّقَ إِذَا حُذِفَ يُفِيدُ الْعُمُومَ الْآنَ قَالَ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ مَا قَالَ مَثَلًا بِالْجَنَّةِ مَا قَالَ مَثَلًا بِـ مَثَلًا رَاحَةً فِي الدُّنْيَا أَوْ نَعِيْمًا فِي الدُّنْيَا أَوْ مَا حَدَّدَ قَالَ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ فَيَتَنَاوَلُ الْبِشَارَةَ بِكُلِّ خَيْرٍ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَكُلُّ صَابِرٍ عَلَى شِدَّتِهِ وَمُصَابِهِ لَهُ الْبِشَارَةُ وَهَذِه تَسْلِيَةٌ لَهُ وَلِهَذَا يُعَدُّ قَوْلُهُ تَعَالَى وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ تَسْلِيَةٌ لِجَمِيْعِ مَنْ أُصِيبَ بِمُصِيبَةٍ وَأَحَدُ الْعُلَمَاءِ لَهُ كِتَابٌ اسْمُهُ تَسْلِيَةُ الْمُصَابِ عُلَمَاءُ الْحَنَابِلَةِ مَطْبُوعٌ لَهُ كِتَابُ تَسْلِيَةُ الْمُصَابِ عُمْدَتُهُ فِيْهِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ هَذِهِ عُمْدَةٌ فِي الْبَابِ عُمْدَةٌ فِي الْبَابِ وَلِهَذَا يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ حَاضِرَةً عِنْدَ الْمُصِيبَةِ حَتَّى يَتَحَلَّى بِالصَّبْرِ فَيَفُوزُ بِمَاذَا؟ بِالْبِشَارَةِ لَكِنْ سُبْحَانَ اللهِ لَوْ أَنَّهُ لَمْ يَتَحَلَّ بِالصَّبْرِ تَكُونُ خَسَارَتُهُ مِنْ أَيْنَ؟ مِنْ صَوْبَيْنِ عَلَى الْإِمَارَاتِيَّةِ الْحِلْوَةِ هَذِهِ مِنْ جِهَتَيْنِ مِنْ جِهَتَيْنِ الْجِهَةُ الْأُولَى الشَّيْءُ الَّذِي خَسِرَهُ وَالشَّيْءُ الثَّانِي فَقَدَ الْبِشَارَةَ لَكِنْ إِنْ صَبَرَ فِيهِ عِوَضٌ لِأَنَّ كَلِمَةَ بِشَارَةٍ فِيهَا الْعِوَضُ فِيهَا الْعِوَضُ وَفِيهَا الثَّوَابُ وَهُوَ أَعْظَمُ ثَوَابُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِي أَعَدَّهُ لِلصَّابِرِيْنَ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَرَأَ الْآيَةَ وَقَالَ نِعْمَ الْعِدْلَانِ وَنِعْمَتِ الْعِلَاوَةُ لِأَنَّ الْبَعِيرَ إِذَا حُمِّلَ فِيهِ عِدْلَانِ تُحَمَّلُ فَإِذَا مُلِئَتْ وَزِيْدَ لَهُ أَيْضًا فَوْقَ سَنَامِهِ أَيْضًا عِلَاوَةً عَلَى ذَلِكَ قَالَ نِعْمَ الْعِدْلَانِ وَنِعْمَتِ الْعِلَاوَةُ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ هَذَانِ عِدْلَانِ وَعِلَاوَةً عَلَى ذَلِكَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ


Kabar Gembira untuk Orang yang Sabar – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Semua orang yang mendapat musibah akan melihat akhir yang baik jika ia dapat bersabar. Semua yang terkena musibah. Oleh sebab itu, semua yang terkena musibah dihibur, yakni tidak dikatakan di sini hanya Nabi Yusuf ‘alaihissalam dihibur dengan firman-Nya, “Dan Kami wahyukan kepadanya, ‘Kamu akan menceritakan kepada mereka. Namun semua yang terkena musibah jika bersabar akan melihat kesudahan yang membahagiakan, dan akhir yang baik, baik itu di dunia atau di akhirat. Oleh sebab itu, kita diperintahkan untuk memberi kabar gembira bagi orang-orang sabar. Kita diperintah untuk memberi kabar gembira, “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar.” Oleh sebab itu, orang yang tertimpa musibah pada hartanya, kehilangan anaknya, kehilangan orang yang dicintai, seperti dalam firman Allah, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kekurangan jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 155) Allah berfirman: “Dan berikanlah berita gembira bagi orang-orang yang sabar.” Apakah Allah menentukan jenis kabar gembira itu atau tidak? Allah menyebutnya secara mutlak. Dan kaidah dari para ulama berbunyi: Jika hal yang terkait dihapus maka menunjukkan keumuman. Dan ini Allah berfirman, “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar.” Tidak menyebutkan dengan surga sebagai contoh. Tidak pula menentukan sebagai contoh dengan. ketenangan di dunia, kenikmatan di dunia, atau lainnya. Allah tidak menentukan. ketenangan di dunia, kenikmatan di dunia, atau lainnya. Allah tidak menentukan.Allah berfirman, “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar.” Jadi kabar gembira ini mencakup segala kebaikan di dunia dan di akhirat. Maka semua orang sabar -sebesar dan sesulit apapun musibahnya- tetap mendapatkan kabar gembira. Dan ini adalah hiburan baginya. Oleh sebab itu firman Allah, “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar” disebut sebagai hiburan bagi setiap orang yang tertimpa musibah. Salah seorang ulama memiliki kitab yang berjudul “Tasliyah al-Mushab” (Hiburan Bagi yang Mendapat Musibah) Ulama dari madzhab hambali memiliki kitab yang telah dicetak dengan judul Tasliyah al-Mushab. Inti dari kitab ini, firman-Nya “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar.” Inilah inti dalam perkara ini. Inti dalam perkara ini. Oleh sebab itu hendaknya selalu diingat ketika terjadi musibah agar dapat menghiasi diri dengan kesabaran sehingga dapat meraih apa? Meraih kabar gembira itu! Namun -subhanallah- seandainya ia tidak menghiasi diri dengan kesabaran maka kerugiannya muncul dari mana saja? Dari dua “Shaub” dengan bahasa Emirat ini. yakni dari dua sisi. Dari dua sisi; pertama dari sisi perkara yang menjadi musibahnya dan yang kedua, ia tidak mendapatkan kabar gembira. Tapi jika ia bersabar maka ia akan mendapatkan ganti karena kata ‘kabar gembira’ mengandung isyarat akan mendapat ganti. Dia akan mendapat ganti. Dan mendapat pahala; dan ini lebih agung. Pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang disiapkan bagi orang-orang yang sabar; “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar. yaitu orang-orang yang jika tertimpa musibah mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun”. Merekalah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka …”dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 156 – 157) Umar bin Khattab pernah membaca ayat ini lalu berkata, “Inilah sebaik-baik dua tempat muatan dan sebaik-baik tambahan.” Karena unta jika diberi muatan akan dipasang tempat muatan, sebagai tempat muatan. Dan jika itu penuh maka ditambah di atas punuknya sebagai tambahan dari sebelumnya. “Inilah sebaik-baik dua tempat muatan dan sebaik-baik tambahan.” “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang sabar, yaitu orang-orang yang jika tertimpa musibah mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun”. Merekalah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka…” Inilah dua tempat muatan itu. Dan tambahan atas itu: “Dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” =============================================================================== وَكُلُّ مُصَابٍ كُلُّ مُصَابٍ يُبْصِرُ بِالْعَاقِبَةِ الْحَمِيدَةِ إِنْ صَبَرَ كُلُّ مُصَابٍ وَلِهَذَا يُسَلَّى كُلُّ مُصَابٍ يَعْنِي لَا يُقَالُ هُنَا يُوسُفُ عَلَيْهِ السَّلَامُ سُلِّيَ بِـ وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ لَتُنَبِّئَنَّهُمْ ‘ كُلُّ مُصَابٍ إِنْ صَبَرَ يُبْصِرُ بِالْعَاقِبَةِ الْحَمِيدَةِ وَالْمَآلِ الطَّيِّبِ فِي دُنْيَاهُ أَوْ أُخْرَاهُ وَلِهَذَا أُمِرْنَا أَنْ نُبَشِّرَ الصَّابِرِيْنَ أُمِرْنَا أَنْ نُبَشِّرَ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ وَلِهَذَا يَعْنِي الْإِنْسَانُ عِنْدَمَا يُصَابُ فِي مَالِهِ فِي فَقْدِ وَلَدِهِ فَقْدِ مَحْبُوبٍ عَلَيْهِ مِثْلُ مَا قَالَ اللهُ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ قَالَ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ وَحَدَّدَ نَوْعَ الْبِشَارَةِ وَإِلَّا أَطْلَقَهَا؟ أَطْلَقَ وَالْقَاعِدَةُ عِنْدَ الْعُلَمَاءِ أَنَّ الْمُتَعَلَّقَ إِذَا حُذِفَ يُفِيدُ الْعُمُومَ الْآنَ قَالَ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ مَا قَالَ مَثَلًا بِالْجَنَّةِ مَا قَالَ مَثَلًا بِـ مَثَلًا رَاحَةً فِي الدُّنْيَا أَوْ نَعِيْمًا فِي الدُّنْيَا أَوْ مَا حَدَّدَ قَالَ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ فَيَتَنَاوَلُ الْبِشَارَةَ بِكُلِّ خَيْرٍ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَكُلُّ صَابِرٍ عَلَى شِدَّتِهِ وَمُصَابِهِ لَهُ الْبِشَارَةُ وَهَذِه تَسْلِيَةٌ لَهُ وَلِهَذَا يُعَدُّ قَوْلُهُ تَعَالَى وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ تَسْلِيَةٌ لِجَمِيْعِ مَنْ أُصِيبَ بِمُصِيبَةٍ وَأَحَدُ الْعُلَمَاءِ لَهُ كِتَابٌ اسْمُهُ تَسْلِيَةُ الْمُصَابِ عُلَمَاءُ الْحَنَابِلَةِ مَطْبُوعٌ لَهُ كِتَابُ تَسْلِيَةُ الْمُصَابِ عُمْدَتُهُ فِيْهِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ هَذِهِ عُمْدَةٌ فِي الْبَابِ عُمْدَةٌ فِي الْبَابِ وَلِهَذَا يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ حَاضِرَةً عِنْدَ الْمُصِيبَةِ حَتَّى يَتَحَلَّى بِالصَّبْرِ فَيَفُوزُ بِمَاذَا؟ بِالْبِشَارَةِ لَكِنْ سُبْحَانَ اللهِ لَوْ أَنَّهُ لَمْ يَتَحَلَّ بِالصَّبْرِ تَكُونُ خَسَارَتُهُ مِنْ أَيْنَ؟ مِنْ صَوْبَيْنِ عَلَى الْإِمَارَاتِيَّةِ الْحِلْوَةِ هَذِهِ مِنْ جِهَتَيْنِ مِنْ جِهَتَيْنِ الْجِهَةُ الْأُولَى الشَّيْءُ الَّذِي خَسِرَهُ وَالشَّيْءُ الثَّانِي فَقَدَ الْبِشَارَةَ لَكِنْ إِنْ صَبَرَ فِيهِ عِوَضٌ لِأَنَّ كَلِمَةَ بِشَارَةٍ فِيهَا الْعِوَضُ فِيهَا الْعِوَضُ وَفِيهَا الثَّوَابُ وَهُوَ أَعْظَمُ ثَوَابُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِي أَعَدَّهُ لِلصَّابِرِيْنَ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَرَأَ الْآيَةَ وَقَالَ نِعْمَ الْعِدْلَانِ وَنِعْمَتِ الْعِلَاوَةُ لِأَنَّ الْبَعِيرَ إِذَا حُمِّلَ فِيهِ عِدْلَانِ تُحَمَّلُ فَإِذَا مُلِئَتْ وَزِيْدَ لَهُ أَيْضًا فَوْقَ سَنَامِهِ أَيْضًا عِلَاوَةً عَلَى ذَلِكَ قَالَ نِعْمَ الْعِدْلَانِ وَنِعْمَتِ الْعِلَاوَةُ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ هَذَانِ عِدْلَانِ وَعِلَاوَةً عَلَى ذَلِكَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Bolehkah Ghibah Terhadap Orang yang Zalim – Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri

Bolehkah Ghibah Terhadap Orang yang Zalim – Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri Wanita ini bertanya, “Apa perbedaan antara ghibah dan mengeluhkan perbuatan seseorang kepada orang lain dengan menceritakan perbuatan orang yang menzaliminya hanya sekedar untuk membela diri saja, tidak lebih dari itu.” Ghibah hukumnya haram karena Allah Ta’alā berfirman, “Dan janganlah kalian menggunjing satu sama lain. …Adakah seorang di antara kalian suka jika memakan daging saudaranya yang sudah meninggal? …Tentulah kalian akan merasa jijik.” (QS. Al-Hujurat: 12) Dan pengertian ghibah telah dijelaskan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan sabda beliau, “Ghibah itu adalah membicarakan kejelekan saudaramu yang tidak dia sukai.” (HR. Muslim) Yakni, kejelekan yang benar-benar ada pada dirinya, sehingga hukum asal ghibah adalah haram. Di antara bentuk ghibah adalah membicarakan aib orang lain dan menceritakan apa yang telah dia lakukan, berupa perbuatan-perbuatannya yang tidak terpuji. Ini semua adalah ghibah. Dengan demikian, apa yang disebutkan oleh penanya adalah salah satu bentuk ghibah. Ketika seorang wanita bercerita kepada temannya, “Si fulanah telah berbuat ini dan itu kepadaku.” Bahwa si fulanah telah berkata ini dan itu tentang aku. Bahwa si fulanah telah membicarakanku dengan perkataan begini dan begitu. Ini semua adalah ghibah, tidak boleh dilakukan, walaupun menceritakan tentang kezaliman orang lain. Seseorang berkata, “Si fulanah telah menzalimi saya.” Atau dia berkata, “Si fulanah telah mengambil hak saya.”Ini juga kezaliman, ini adalah ghibah walaupun yang dikatakan benar adanya. Dan ghibah diperbolehkan dalam beberapa kondisi, di antaranya di majelis pengadilan. Dia bisa menggugat, “Si fulan telah berbuat ini dan itu kepada saya.” Agar tergugat bisa diadili dan penggugat bisa mendapatkan haknya. Seperti ini tidak mengapa. Begitu pula ketika ada orang yang datang melamar, ketika pelamar datang. Kemudian dikabarkan tentangnya bahwa dia pernah berbuat ini dan itu atau dia sifatnya begini dan begitu. Namun hendaknya dia berusaha menyampaikan dengan bahasa yang santun dan tidak vulgar selagi memungkinkan.  Begitu pula ketika ingin menggugurkan kesaksian saksi. Begitu pula ketika ada orang yang melakukan penyimpangan dan penyimpangan tersebut diikuti orang-orang padahal dia adalah orang yang menyelisihi kebenaran. Kesimpulannya, hukum asal ghibah adalah haram, haram hukumnya menceritakan aib orang lain, kecuali ada alasan-alasan yang dibenarkan syariat. ================================================================================ سَأَلَتْ تَقُولُ: هَلْ هُنَاكَ فَرْقٌ بَيْنَ الْغِيْبَةِ وَبَيْنَ أَنْ يَشْتَكِيَ الْإِنْسَانُ لِآخَرَ يَقُولُ مَا ظُلْمَ إِنْسَانٍ لَهُ مِنْ بَابِ فَضْفَضَةٍ فَقَطْ لَا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ الْغِيْبَةُ مُحَرَّمَةٌ قَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ – الحجرات: ١٢ وَالْغِيْبَةُ فَسَّرَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ هِيَ ذِكرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ يَعْنِي مِمَّا هُوَ فِيهِ وَبِالتَّالِي الْأَصْلُ فِي الْغِيبَةِ هُوَ التَّحْرِيمُ مِنَ الْغِيْبَةِ ذِكْرُ مَعَايِبِ الْآخَرِينَ ذِكْرُ مَا فَعَلُوهُ مِنْ أُمُورٍ غَيْرِ مُسْتَحْسَنَةٍ كُلُّ هَذَا غِيْبَةٌ وَمِنْ ثَمَّ مَا ذَكَرَتْهُ سَائِلَةٌ هَذَا نَوْعٌ مِنْ أَنْوَاعِ الْغِيْبَةِ عِنْدَمَا تَتَحَدَّثُ الْمَرْأَةُ عِنْدَ زَمِيلَتِهَا: فُلَانَةٌ فَعَلَتْ بِي فُلَانَةٌ قَالَتْ فِيهِ لِي فُلَانَةٌ تَكَلَّمَتْ فِيَّ بِالْكَلَامِ الْفُلَانِيِّ هَذَا كُلُّهُ غِيْبَةٌ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُقَالَ حَتَّى مَسَائِلِ الظُّلْمِ تَقُولُ فُلَانَةٌ ظَلَمَتْنِي تَقُولُ أَنَّ فُلَانَةً أَخَذَتْ حَقِّيْ هَذَا ظُلْمٌ هَذَا غِيْبَةٌ وَلَوْ أَنَّهُ كَانَ حَقِيقَةً وَإِنَّمَا تَجُوزُ الْغِيْبَةُ فِي مَوَاطِنَ مِنْهَا عِنْدَمَا فِي مَجْلِسِ الْقَضَاءِ اِشْتَكَتْ فُلَانٌ فَعَلَ بِي ذَلِكَ مِنْ أَجْلِ أَنْ يُحْكُمَ عَلَيْهِ وَيُؤْخَذَ الْحَقُّ هَذَا لَا بَأْسَ بِهِ وَمِثْلُهُ مَا لَوْ تَقَدَّمَ خَاطِبٌ مَا لَوْ تَقَدَّمَ خَاطِبٌ فَيُقَالُ فِيهِ أَنَّهُ فَعَلَ الشَّيْءَ الْفُلَانِيَّ أَوْ كَانَ مِنْ صِفَاتِهِ كَذَا وَيَنْبَغِي أَنْ يُقْتَصَرَ بِالتَّلْمِيحِ عَنِ التَّصْرِيحِ مَتَى أَمْكَنَ ذَلِكَ وَهَكَذَا فِي الطَّعْنِ فِي شَهَادَةِ الشُّهُودِ وَهَكَذَا إِذَا كَانَ هُنَاكَ مَنْ يُغَرُّ بِهِ وَيَكُونُ هُنَاكَ مَنْ يَتَّبِعُ عَلَى طَرِيقَتِهِ وَهُوَ مُخَالِفٌ لِلْحَقِّ فَالْأَصْلُ تَحْرِيمُ الْغِيْبَةِ تَحْرِيمُ الْكَلَامِ فِي مَعَايِبِ الْآخَرِينَ إِلَّا لِمُقْتَضٍ شَرْعِيٍّ  

Bolehkah Ghibah Terhadap Orang yang Zalim – Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri

Bolehkah Ghibah Terhadap Orang yang Zalim – Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri Wanita ini bertanya, “Apa perbedaan antara ghibah dan mengeluhkan perbuatan seseorang kepada orang lain dengan menceritakan perbuatan orang yang menzaliminya hanya sekedar untuk membela diri saja, tidak lebih dari itu.” Ghibah hukumnya haram karena Allah Ta’alā berfirman, “Dan janganlah kalian menggunjing satu sama lain. …Adakah seorang di antara kalian suka jika memakan daging saudaranya yang sudah meninggal? …Tentulah kalian akan merasa jijik.” (QS. Al-Hujurat: 12) Dan pengertian ghibah telah dijelaskan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan sabda beliau, “Ghibah itu adalah membicarakan kejelekan saudaramu yang tidak dia sukai.” (HR. Muslim) Yakni, kejelekan yang benar-benar ada pada dirinya, sehingga hukum asal ghibah adalah haram. Di antara bentuk ghibah adalah membicarakan aib orang lain dan menceritakan apa yang telah dia lakukan, berupa perbuatan-perbuatannya yang tidak terpuji. Ini semua adalah ghibah. Dengan demikian, apa yang disebutkan oleh penanya adalah salah satu bentuk ghibah. Ketika seorang wanita bercerita kepada temannya, “Si fulanah telah berbuat ini dan itu kepadaku.” Bahwa si fulanah telah berkata ini dan itu tentang aku. Bahwa si fulanah telah membicarakanku dengan perkataan begini dan begitu. Ini semua adalah ghibah, tidak boleh dilakukan, walaupun menceritakan tentang kezaliman orang lain. Seseorang berkata, “Si fulanah telah menzalimi saya.” Atau dia berkata, “Si fulanah telah mengambil hak saya.”Ini juga kezaliman, ini adalah ghibah walaupun yang dikatakan benar adanya. Dan ghibah diperbolehkan dalam beberapa kondisi, di antaranya di majelis pengadilan. Dia bisa menggugat, “Si fulan telah berbuat ini dan itu kepada saya.” Agar tergugat bisa diadili dan penggugat bisa mendapatkan haknya. Seperti ini tidak mengapa. Begitu pula ketika ada orang yang datang melamar, ketika pelamar datang. Kemudian dikabarkan tentangnya bahwa dia pernah berbuat ini dan itu atau dia sifatnya begini dan begitu. Namun hendaknya dia berusaha menyampaikan dengan bahasa yang santun dan tidak vulgar selagi memungkinkan.  Begitu pula ketika ingin menggugurkan kesaksian saksi. Begitu pula ketika ada orang yang melakukan penyimpangan dan penyimpangan tersebut diikuti orang-orang padahal dia adalah orang yang menyelisihi kebenaran. Kesimpulannya, hukum asal ghibah adalah haram, haram hukumnya menceritakan aib orang lain, kecuali ada alasan-alasan yang dibenarkan syariat. ================================================================================ سَأَلَتْ تَقُولُ: هَلْ هُنَاكَ فَرْقٌ بَيْنَ الْغِيْبَةِ وَبَيْنَ أَنْ يَشْتَكِيَ الْإِنْسَانُ لِآخَرَ يَقُولُ مَا ظُلْمَ إِنْسَانٍ لَهُ مِنْ بَابِ فَضْفَضَةٍ فَقَطْ لَا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ الْغِيْبَةُ مُحَرَّمَةٌ قَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ – الحجرات: ١٢ وَالْغِيْبَةُ فَسَّرَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ هِيَ ذِكرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ يَعْنِي مِمَّا هُوَ فِيهِ وَبِالتَّالِي الْأَصْلُ فِي الْغِيبَةِ هُوَ التَّحْرِيمُ مِنَ الْغِيْبَةِ ذِكْرُ مَعَايِبِ الْآخَرِينَ ذِكْرُ مَا فَعَلُوهُ مِنْ أُمُورٍ غَيْرِ مُسْتَحْسَنَةٍ كُلُّ هَذَا غِيْبَةٌ وَمِنْ ثَمَّ مَا ذَكَرَتْهُ سَائِلَةٌ هَذَا نَوْعٌ مِنْ أَنْوَاعِ الْغِيْبَةِ عِنْدَمَا تَتَحَدَّثُ الْمَرْأَةُ عِنْدَ زَمِيلَتِهَا: فُلَانَةٌ فَعَلَتْ بِي فُلَانَةٌ قَالَتْ فِيهِ لِي فُلَانَةٌ تَكَلَّمَتْ فِيَّ بِالْكَلَامِ الْفُلَانِيِّ هَذَا كُلُّهُ غِيْبَةٌ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُقَالَ حَتَّى مَسَائِلِ الظُّلْمِ تَقُولُ فُلَانَةٌ ظَلَمَتْنِي تَقُولُ أَنَّ فُلَانَةً أَخَذَتْ حَقِّيْ هَذَا ظُلْمٌ هَذَا غِيْبَةٌ وَلَوْ أَنَّهُ كَانَ حَقِيقَةً وَإِنَّمَا تَجُوزُ الْغِيْبَةُ فِي مَوَاطِنَ مِنْهَا عِنْدَمَا فِي مَجْلِسِ الْقَضَاءِ اِشْتَكَتْ فُلَانٌ فَعَلَ بِي ذَلِكَ مِنْ أَجْلِ أَنْ يُحْكُمَ عَلَيْهِ وَيُؤْخَذَ الْحَقُّ هَذَا لَا بَأْسَ بِهِ وَمِثْلُهُ مَا لَوْ تَقَدَّمَ خَاطِبٌ مَا لَوْ تَقَدَّمَ خَاطِبٌ فَيُقَالُ فِيهِ أَنَّهُ فَعَلَ الشَّيْءَ الْفُلَانِيَّ أَوْ كَانَ مِنْ صِفَاتِهِ كَذَا وَيَنْبَغِي أَنْ يُقْتَصَرَ بِالتَّلْمِيحِ عَنِ التَّصْرِيحِ مَتَى أَمْكَنَ ذَلِكَ وَهَكَذَا فِي الطَّعْنِ فِي شَهَادَةِ الشُّهُودِ وَهَكَذَا إِذَا كَانَ هُنَاكَ مَنْ يُغَرُّ بِهِ وَيَكُونُ هُنَاكَ مَنْ يَتَّبِعُ عَلَى طَرِيقَتِهِ وَهُوَ مُخَالِفٌ لِلْحَقِّ فَالْأَصْلُ تَحْرِيمُ الْغِيْبَةِ تَحْرِيمُ الْكَلَامِ فِي مَعَايِبِ الْآخَرِينَ إِلَّا لِمُقْتَضٍ شَرْعِيٍّ  
Bolehkah Ghibah Terhadap Orang yang Zalim – Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri Wanita ini bertanya, “Apa perbedaan antara ghibah dan mengeluhkan perbuatan seseorang kepada orang lain dengan menceritakan perbuatan orang yang menzaliminya hanya sekedar untuk membela diri saja, tidak lebih dari itu.” Ghibah hukumnya haram karena Allah Ta’alā berfirman, “Dan janganlah kalian menggunjing satu sama lain. …Adakah seorang di antara kalian suka jika memakan daging saudaranya yang sudah meninggal? …Tentulah kalian akan merasa jijik.” (QS. Al-Hujurat: 12) Dan pengertian ghibah telah dijelaskan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan sabda beliau, “Ghibah itu adalah membicarakan kejelekan saudaramu yang tidak dia sukai.” (HR. Muslim) Yakni, kejelekan yang benar-benar ada pada dirinya, sehingga hukum asal ghibah adalah haram. Di antara bentuk ghibah adalah membicarakan aib orang lain dan menceritakan apa yang telah dia lakukan, berupa perbuatan-perbuatannya yang tidak terpuji. Ini semua adalah ghibah. Dengan demikian, apa yang disebutkan oleh penanya adalah salah satu bentuk ghibah. Ketika seorang wanita bercerita kepada temannya, “Si fulanah telah berbuat ini dan itu kepadaku.” Bahwa si fulanah telah berkata ini dan itu tentang aku. Bahwa si fulanah telah membicarakanku dengan perkataan begini dan begitu. Ini semua adalah ghibah, tidak boleh dilakukan, walaupun menceritakan tentang kezaliman orang lain. Seseorang berkata, “Si fulanah telah menzalimi saya.” Atau dia berkata, “Si fulanah telah mengambil hak saya.”Ini juga kezaliman, ini adalah ghibah walaupun yang dikatakan benar adanya. Dan ghibah diperbolehkan dalam beberapa kondisi, di antaranya di majelis pengadilan. Dia bisa menggugat, “Si fulan telah berbuat ini dan itu kepada saya.” Agar tergugat bisa diadili dan penggugat bisa mendapatkan haknya. Seperti ini tidak mengapa. Begitu pula ketika ada orang yang datang melamar, ketika pelamar datang. Kemudian dikabarkan tentangnya bahwa dia pernah berbuat ini dan itu atau dia sifatnya begini dan begitu. Namun hendaknya dia berusaha menyampaikan dengan bahasa yang santun dan tidak vulgar selagi memungkinkan.  Begitu pula ketika ingin menggugurkan kesaksian saksi. Begitu pula ketika ada orang yang melakukan penyimpangan dan penyimpangan tersebut diikuti orang-orang padahal dia adalah orang yang menyelisihi kebenaran. Kesimpulannya, hukum asal ghibah adalah haram, haram hukumnya menceritakan aib orang lain, kecuali ada alasan-alasan yang dibenarkan syariat. ================================================================================ سَأَلَتْ تَقُولُ: هَلْ هُنَاكَ فَرْقٌ بَيْنَ الْغِيْبَةِ وَبَيْنَ أَنْ يَشْتَكِيَ الْإِنْسَانُ لِآخَرَ يَقُولُ مَا ظُلْمَ إِنْسَانٍ لَهُ مِنْ بَابِ فَضْفَضَةٍ فَقَطْ لَا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ الْغِيْبَةُ مُحَرَّمَةٌ قَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ – الحجرات: ١٢ وَالْغِيْبَةُ فَسَّرَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ هِيَ ذِكرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ يَعْنِي مِمَّا هُوَ فِيهِ وَبِالتَّالِي الْأَصْلُ فِي الْغِيبَةِ هُوَ التَّحْرِيمُ مِنَ الْغِيْبَةِ ذِكْرُ مَعَايِبِ الْآخَرِينَ ذِكْرُ مَا فَعَلُوهُ مِنْ أُمُورٍ غَيْرِ مُسْتَحْسَنَةٍ كُلُّ هَذَا غِيْبَةٌ وَمِنْ ثَمَّ مَا ذَكَرَتْهُ سَائِلَةٌ هَذَا نَوْعٌ مِنْ أَنْوَاعِ الْغِيْبَةِ عِنْدَمَا تَتَحَدَّثُ الْمَرْأَةُ عِنْدَ زَمِيلَتِهَا: فُلَانَةٌ فَعَلَتْ بِي فُلَانَةٌ قَالَتْ فِيهِ لِي فُلَانَةٌ تَكَلَّمَتْ فِيَّ بِالْكَلَامِ الْفُلَانِيِّ هَذَا كُلُّهُ غِيْبَةٌ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُقَالَ حَتَّى مَسَائِلِ الظُّلْمِ تَقُولُ فُلَانَةٌ ظَلَمَتْنِي تَقُولُ أَنَّ فُلَانَةً أَخَذَتْ حَقِّيْ هَذَا ظُلْمٌ هَذَا غِيْبَةٌ وَلَوْ أَنَّهُ كَانَ حَقِيقَةً وَإِنَّمَا تَجُوزُ الْغِيْبَةُ فِي مَوَاطِنَ مِنْهَا عِنْدَمَا فِي مَجْلِسِ الْقَضَاءِ اِشْتَكَتْ فُلَانٌ فَعَلَ بِي ذَلِكَ مِنْ أَجْلِ أَنْ يُحْكُمَ عَلَيْهِ وَيُؤْخَذَ الْحَقُّ هَذَا لَا بَأْسَ بِهِ وَمِثْلُهُ مَا لَوْ تَقَدَّمَ خَاطِبٌ مَا لَوْ تَقَدَّمَ خَاطِبٌ فَيُقَالُ فِيهِ أَنَّهُ فَعَلَ الشَّيْءَ الْفُلَانِيَّ أَوْ كَانَ مِنْ صِفَاتِهِ كَذَا وَيَنْبَغِي أَنْ يُقْتَصَرَ بِالتَّلْمِيحِ عَنِ التَّصْرِيحِ مَتَى أَمْكَنَ ذَلِكَ وَهَكَذَا فِي الطَّعْنِ فِي شَهَادَةِ الشُّهُودِ وَهَكَذَا إِذَا كَانَ هُنَاكَ مَنْ يُغَرُّ بِهِ وَيَكُونُ هُنَاكَ مَنْ يَتَّبِعُ عَلَى طَرِيقَتِهِ وَهُوَ مُخَالِفٌ لِلْحَقِّ فَالْأَصْلُ تَحْرِيمُ الْغِيْبَةِ تَحْرِيمُ الْكَلَامِ فِي مَعَايِبِ الْآخَرِينَ إِلَّا لِمُقْتَضٍ شَرْعِيٍّ  


Bolehkah Ghibah Terhadap Orang yang Zalim – Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri Wanita ini bertanya, “Apa perbedaan antara ghibah dan mengeluhkan perbuatan seseorang kepada orang lain dengan menceritakan perbuatan orang yang menzaliminya hanya sekedar untuk membela diri saja, tidak lebih dari itu.” Ghibah hukumnya haram karena Allah Ta’alā berfirman, “Dan janganlah kalian menggunjing satu sama lain. …Adakah seorang di antara kalian suka jika memakan daging saudaranya yang sudah meninggal? …Tentulah kalian akan merasa jijik.” (QS. Al-Hujurat: 12) Dan pengertian ghibah telah dijelaskan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan sabda beliau, “Ghibah itu adalah membicarakan kejelekan saudaramu yang tidak dia sukai.” (HR. Muslim) Yakni, kejelekan yang benar-benar ada pada dirinya, sehingga hukum asal ghibah adalah haram. Di antara bentuk ghibah adalah membicarakan aib orang lain dan menceritakan apa yang telah dia lakukan, berupa perbuatan-perbuatannya yang tidak terpuji. Ini semua adalah ghibah. Dengan demikian, apa yang disebutkan oleh penanya adalah salah satu bentuk ghibah. Ketika seorang wanita bercerita kepada temannya, “Si fulanah telah berbuat ini dan itu kepadaku.” Bahwa si fulanah telah berkata ini dan itu tentang aku. Bahwa si fulanah telah membicarakanku dengan perkataan begini dan begitu. Ini semua adalah ghibah, tidak boleh dilakukan, walaupun menceritakan tentang kezaliman orang lain. Seseorang berkata, “Si fulanah telah menzalimi saya.” Atau dia berkata, “Si fulanah telah mengambil hak saya.”Ini juga kezaliman, ini adalah ghibah walaupun yang dikatakan benar adanya. Dan ghibah diperbolehkan dalam beberapa kondisi, di antaranya di majelis pengadilan. Dia bisa menggugat, “Si fulan telah berbuat ini dan itu kepada saya.” Agar tergugat bisa diadili dan penggugat bisa mendapatkan haknya. Seperti ini tidak mengapa. Begitu pula ketika ada orang yang datang melamar, ketika pelamar datang. Kemudian dikabarkan tentangnya bahwa dia pernah berbuat ini dan itu atau dia sifatnya begini dan begitu. Namun hendaknya dia berusaha menyampaikan dengan bahasa yang santun dan tidak vulgar selagi memungkinkan.  Begitu pula ketika ingin menggugurkan kesaksian saksi. Begitu pula ketika ada orang yang melakukan penyimpangan dan penyimpangan tersebut diikuti orang-orang padahal dia adalah orang yang menyelisihi kebenaran. Kesimpulannya, hukum asal ghibah adalah haram, haram hukumnya menceritakan aib orang lain, kecuali ada alasan-alasan yang dibenarkan syariat. ================================================================================ سَأَلَتْ تَقُولُ: هَلْ هُنَاكَ فَرْقٌ بَيْنَ الْغِيْبَةِ وَبَيْنَ أَنْ يَشْتَكِيَ الْإِنْسَانُ لِآخَرَ يَقُولُ مَا ظُلْمَ إِنْسَانٍ لَهُ مِنْ بَابِ فَضْفَضَةٍ فَقَطْ لَا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ الْغِيْبَةُ مُحَرَّمَةٌ قَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ – الحجرات: ١٢ وَالْغِيْبَةُ فَسَّرَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ هِيَ ذِكرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ يَعْنِي مِمَّا هُوَ فِيهِ وَبِالتَّالِي الْأَصْلُ فِي الْغِيبَةِ هُوَ التَّحْرِيمُ مِنَ الْغِيْبَةِ ذِكْرُ مَعَايِبِ الْآخَرِينَ ذِكْرُ مَا فَعَلُوهُ مِنْ أُمُورٍ غَيْرِ مُسْتَحْسَنَةٍ كُلُّ هَذَا غِيْبَةٌ وَمِنْ ثَمَّ مَا ذَكَرَتْهُ سَائِلَةٌ هَذَا نَوْعٌ مِنْ أَنْوَاعِ الْغِيْبَةِ عِنْدَمَا تَتَحَدَّثُ الْمَرْأَةُ عِنْدَ زَمِيلَتِهَا: فُلَانَةٌ فَعَلَتْ بِي فُلَانَةٌ قَالَتْ فِيهِ لِي فُلَانَةٌ تَكَلَّمَتْ فِيَّ بِالْكَلَامِ الْفُلَانِيِّ هَذَا كُلُّهُ غِيْبَةٌ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُقَالَ حَتَّى مَسَائِلِ الظُّلْمِ تَقُولُ فُلَانَةٌ ظَلَمَتْنِي تَقُولُ أَنَّ فُلَانَةً أَخَذَتْ حَقِّيْ هَذَا ظُلْمٌ هَذَا غِيْبَةٌ وَلَوْ أَنَّهُ كَانَ حَقِيقَةً وَإِنَّمَا تَجُوزُ الْغِيْبَةُ فِي مَوَاطِنَ مِنْهَا عِنْدَمَا فِي مَجْلِسِ الْقَضَاءِ اِشْتَكَتْ فُلَانٌ فَعَلَ بِي ذَلِكَ مِنْ أَجْلِ أَنْ يُحْكُمَ عَلَيْهِ وَيُؤْخَذَ الْحَقُّ هَذَا لَا بَأْسَ بِهِ وَمِثْلُهُ مَا لَوْ تَقَدَّمَ خَاطِبٌ مَا لَوْ تَقَدَّمَ خَاطِبٌ فَيُقَالُ فِيهِ أَنَّهُ فَعَلَ الشَّيْءَ الْفُلَانِيَّ أَوْ كَانَ مِنْ صِفَاتِهِ كَذَا وَيَنْبَغِي أَنْ يُقْتَصَرَ بِالتَّلْمِيحِ عَنِ التَّصْرِيحِ مَتَى أَمْكَنَ ذَلِكَ وَهَكَذَا فِي الطَّعْنِ فِي شَهَادَةِ الشُّهُودِ وَهَكَذَا إِذَا كَانَ هُنَاكَ مَنْ يُغَرُّ بِهِ وَيَكُونُ هُنَاكَ مَنْ يَتَّبِعُ عَلَى طَرِيقَتِهِ وَهُوَ مُخَالِفٌ لِلْحَقِّ فَالْأَصْلُ تَحْرِيمُ الْغِيْبَةِ تَحْرِيمُ الْكَلَامِ فِي مَعَايِبِ الْآخَرِينَ إِلَّا لِمُقْتَضٍ شَرْعِيٍّ  

Jangan Bilang Amin di Beberapa Kalimat Doa Qunut Ini – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Jangan Bilang Amin di Beberapa Kalimat Doa Qunut Ini – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Dan pendalilan terhadap kesesuaian dengan judul ini ada dua sisi: Yang pertama pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah kalian berkata, ‘Keselamatan atas Allah.'” Ini adalah larangan untuk berkata demikian. Larangan ini berarti hukumnya haram. Dan pendalilan kedua pada sabda beliau, “Karena sesungguhnya Allah adalah as-Salām (Yang Maha Selamat)” (Muttafaqun ‘Alaihi) Maksudnya, karena Maha sempurna keselamatan-Nya sehingga tidak membutuhkan doa-doa kalian. Maksudnya, Maha sempurna keselamatan-Nya sehingga tidak membutuhkan doa-doa kalian. Jelas? Jelas? Masalah ini jelas atau tidak? Jelas? baiklah! Baiklah, sekarang, seseorang yang berada di belakang imam yang membaca doa qunut, perhatikan semua! Dia berdoa dalam qunut, “Ya Allah, tunjukilah kami sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk, … Kalian ucapkan apa? Amin. “… Dan berilah kami kesehatan dan keselamatan sebagaimana orang yang telah Engkau beri kesehatan dan keselamatan…” Kalian ucapkan, “Amin.” Baiklah, jika imam berdoa, “Sungguh tidak terhina orang yang menjadikan-Mu sebagai pelindung, …”… Dan tidak akan mulia orang yang menjadikan-Mu sebagai musuh, … Maha Suci Engkau, wahai Tuhan kami, dan Maha Tinggi Engkau.” Apa yang kalian ucapkan? Ya? Apa yang kalian ucapkan? Kalian Diam? Baiklah, yang lain? Ahmad? Kalian diam saja? Yang lebih sesuai dengan sunah adalah diam, kalian diam saja pada bagian ucapan doa tersebut (jangan di-amin-kan) Tapi jika kalian mengucapkan, “Subhanallah,” tidaklah mengapa. Tapi tidak boleh kalian berkata, “Amin.” Kenapa? Karena makna amin adalah, “Kabulkan, ya Allah!” “Kabulkan, ya Allah!” Seolah-olah Anda berdoa kepada Allah semoga tidak terhinakan orang yang menjadikan-Nya sebagai pelindung. Dan semoga tidak berjaya orang menjadikan-Nya sebagai musuh. Maksudnya, itu sudah jadi sifatnya, itu sudah pasti, begitu juga ketika seseorang berdoa, misalkan: “Ya Allah, wahai Zat yang menggerakkan awan dan yang mengalahkan pasukan Ahzāb….” Doa ini terdapat dalam hadis Nabi yang termaktub dalam kitab Sāhih. Kemudian kalian berkata, “Amin.”? Tidak! Jangan ucapkan “Amin.” Yang lebih utama adalah kalian diam atau ucapkan, “Subhanallah” juga boleh. Tapi jangan berkata, “Amin.” Karena artinya, “Ya Allah, kabulkan agar Engkau jadi seperti itu!” Itu seperti hadis ini, seperti hadis ini, “Janganlah kalian berkata, ‘Keselamatan atas Allah.'” Maksudnya, jangan mendoakan keselamatan untuk Allah! Jelas? Oleh sebab itu, pemahaman terhadap ilmu amat penting! Kalian dapati hal-hal seperti ini terjadi namun orang-orang, bahkan mereka yang termasuk penuntut ilmu berkata, “Seperti ini tidak masalah.” Tidak! Ini bermasalah! Kalian harus pahami ilmu dan berbagai masalah dengan benar. Seperti yang telah kita bahas tentang menjadikan Allah perantara, sebagian orang berkata, “Ini tidak mengapa.” Tidak. Ini bermasalah, maka ada pembahasan tentang “Tidak boleh menjadikan Allah sebagai perantara kepada salah satu makhluk-Nya.” Maksudnya, jangan menjadikan Allah sebagai wasilah ketika meminta kepada makhluk Allah. Dan begitu pula berbagai kesalahan yang sering terjadi dalam masalah tauhid kepada Allah Subḥāhu wa Ta’alā. Hal ini banyak terjadi di tengah manusia karena mereka tidak paham tentang hakikat masalah-masalah ini dalam perspektif tauhid dan syirik. Namun, bagi orang yang memiliki pemahaman yang mendalam terhadap tauhid, sungguh dia pasti mengerti seberapa besar keburukan ucapan ini. Oleh sebab itu, salah seorang ulama -semoga Allah merahmati beliau- pernah suatu ketika beliau memberi nasihat kepada raja Abdul Aziz kemudian raja Abdul Aziz -semoga Allah merahmatinya- berkata kepada Syeikh tersebut. Dia berkata, “Wahai syeikh, semoga Allah perlakukan kami dengan keadilan-Nya.” “Semoga Allah perlakukan kami dengan keadilan-Nya.” Syeikh berkata, “Jangan berkata, ‘Semoga Allah memperlakukan kami dengan keadilan-Nya.'” Katakan, “Semoga Allah perlakukan kami dengan kemurahan dan kasih sayang-Nya.” Kenapa demikian? Karena jika Allah memperlakukan kita dengan keadilan-Nya, kita semua akan binasa! Seseorang tetap tidak layak, walaupun dia memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah, yang akan dihitung dan diganjar amal perbuatannya dan diharapkan pahalanya yang banyak, tetaplah dia memiliki banyak kekurangan, maka perhatikan kejelian dalam memahami tauhid menjadikan beliau tidak mengatakan ucapan seperti ini, sehingga beliau melarang ucapan seperti itu dengan berkata: Jangan berdoa, “Ya Allah, perlakukan kami dengan keadilan-Mu.” Ucapkan, “Perlakukan kami dengan kemurahan dan kasih sayang-Mu.” Demikian. ================================================================================ وَدِلَالَتُهَا عَلَى حُصُولِ التَّرْجَمَةِ مِنْ وَجْهَينَ أَحَدُهُمَا فِي قَوْلِهِ: لَا تَقُولُوا: السَّلَامُ عَلَى اللهِ وَهُوَ وَنَهْيٌ عَنْ قَوْلِ ذَلِكَ وَالنَّهْيُ لِلتَّحْرِيمِ وَالْآخَرُ فِي قَوْلِهِ: فَإِنَّ اللهَ هُوَ السَّلَامُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ أَيْ الْمُسْتَغْنِي بِكَمَالِ سَلَامَتِهِ عَنْ دُعَائِكُمْ أَيْ الْمُسْتَغْنِي بِكَمَالِ سَلَامَتِهِ عَنْ دُعَائِكُمْ وَاضِحٌ؟ وَاضِحٌ؟ الْبَابُ أَمَا وَاضِحٌ؟ طَيِّبٌ وَاضِحٌ طَيِّبٌ الْآنَ الْإِنْسَانُ فِي خَلْفِ الْإِمَامِ فِي الْقُنُوتِ اِنْتَبِهُوا كُلُّكُمْ يَقُولُ فِي الْقُنُوتِ: اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيمَنْ هَدَيْتَ تَقَولُ مَاذَا؟ آمِين وَعَافِنَا فِيمَنْ عَافَيْتَ. تَقُولُ: آمِين طَيِّبٌ إِذَا قَالَ: فَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ مَاذَا تَقُولُ؟ نَعَمْ أَيشْ تَقُولُ؟ تَسْكُتُ؟ طَيِّبٌ وَغَيْرُهُ؟ أَحَمْدُ يَعْنِي تَسْكُتُ؟ الْأَشْبَهُ أَنَّ السُّنَّةَ السُّكُوتُ أَنَّكَ تَسْكُتُ لَكِنْ إِذَا قُلْتَ سُبْحَانَ اللهِ هَذَا جَائِزٌ لَكِنْ لَا يَجُوزُ أَنْ تَقُوْلَ: آمِين لِمَاذَا؟ لِأَنَّ مَعْنَى آمِين اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ كَأَنَّكَ تَدْعُو لِلهِ بِأَنْ لَا يَذِلَّ مَنْ وَالَاهُ وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَاهُ يَعْنِي هَذَا وَصْفُهُ هَذَا وَصْفُهُ كَأَنْ يَقُولَ الْإِنْسَانُ يَدْعُو يَقُولُ مَثَلًا اللَّهُمَّ أَنْتَ مُجْرِي السَّحَابِ وَهَازِمُ الْأَحْزَابِ هَذَا وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ النَّبَوِيِّ فِي الصَّحِيحِ أَنْ تَقُوْلَ الْآنَ: آمِين؟ لَا! مَا تَقُوْلُ آمِين تَسْكُتُ هَذَا الْأَفْضَلُ أَوْ تَقُولُ: سُبْحَانَ الله جَائِزٌ لَكِنْ مَا تَقُوْلُ: آمِين. لِأَنَّ مَعْنَاهَا اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ أَنْ تَكُونَ كَذَلِكَ فَهِيَ كَهَذَا الْحَدِيثِ كَهَذَا الْحَدِيثِ لَا تَقُولُوا: السَّلَامُ عَلَى اللهِ أَيْ لَا تَدْعُوا لِلهِ بِالسَّلَامَةِ وَاضِحٌ ؟ وَلِذَلِكَ فَهْمُ الْعِلْمِ مُهِمٌّ فَهْمُ الْعِلْمِ مُهِمٌّ تَجِدُ تَجْرِيْ مِثْلُ هَذِهِ الْأَحْوَالِ وَالنَّاسُ حَتَّى مِمَّنْ يَنْتَسِبُ إِلَى الْعِلْمِ يَقُولُ: هَذِهِ مَا فِيهَا شَيْءٌ لَا! فِيهِ! لَا بُدَّ أَنْ تَفْهَمَ الْعِلْمَ الْمَسَائِلَ فَهْمًا صَحِيحًا كَالَّذِي ذَكَرْنَا وَاسِطَةً مِنَ اللهِ بَعْضُهُمْ يَقُولُ: هَذَا مَا فِيهِ شَيْءٌ لَا هَذَا فِيهِ شَيْءٌ يَأْتِي بَابُ لَا يُسْتَشْفَعُ بِاللهِ عَلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ يَعْنيِ لَا يُجْعَلُ اللهُ وَاسِطَةً عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ وَهَكَذَا كَثِيرٌ مِنَ الْأَشْيَاءِ الَّتِي يَقَعُ فِيهَا غَلَطٌ فِي تَوْحِيدِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَالَتْ عَلَى النَّاسِ بِعَدَمِ مَعْرِفَةِ حَقَائِقِ هَذِهِ الْأُمُورِ فِي التَّوْحِيدِ وَالشِّرْكِ لَكِنْ إِذَا كَانَ عِنْدَ الْإِنْسَانِ بَصِيرَةٌ فِي تَوْحِيدِهِ فَإِنَّهُ يَعْرِفُ مَنْزِلَةَ هَذِهِ مَنْزِلَةَ هَذَا القَوْلِ لِذَلِكَ أَحَدُ الْعُلَمَاءِ رَحِمَهُمُ اللهُ مَرَّةً يَعْنِي وَعَظَ الْمَلِكَ عَبْدَ الْعَزِيزِ فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ عَبْدُ الْعَزِيزِ رَحِمَهُ اللهُ قَالَ: يَا شَيْخُ اللهُ يُعَامِلُنَا بِعَدْلِهِ اللهُ يُعَامِلُنَا بِعَدْلِهِ قَالَ: لَا تَقُلْ اللهُ يُعَامِلُنَا بِعَدْلِهِ قُلْ: اللهُ يُعَامِلُنَا بِفَضْلِهِ، لِأَيْش؟ لِأَنَّهُ لَوْ عَامَلَنَا بِعَدْلِهِ لَهَلَكْنَا إِنْسَانٌ غَيْرُ مُسْتَحِقٍّ لَهُ مَرْتَبَةٌ عِنْدَ اللهِ يَعْنِي يَعُدُّهَا وَيَحْسِبُهَا وَهُوَ لَهُ أَعْمَالٌ يَنْتَظِرُ ثَوَابَهَا فِيهِ تَقْصِيرٌ عَظِيمٌ لِذَلِكَ اُنْظُرْ شُغُوفَ النَّظَرِ فِي فَهْمِ التَّوْحِيدِ اِمْتَنَعَ مِنْ هَذِهِ الكَلِمَةِ مَنَعَ مِنْ هَذِهِ الْكَلِمَةِ وَقَالَ يَقُولُ: لَا! اللَّهُمَّ عَامِلْنَا بِعَدْلِكَ أَيْ عَامِلْنَا بِفَضْلِكَ نَعَمْ

Jangan Bilang Amin di Beberapa Kalimat Doa Qunut Ini – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Jangan Bilang Amin di Beberapa Kalimat Doa Qunut Ini – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Dan pendalilan terhadap kesesuaian dengan judul ini ada dua sisi: Yang pertama pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah kalian berkata, ‘Keselamatan atas Allah.'” Ini adalah larangan untuk berkata demikian. Larangan ini berarti hukumnya haram. Dan pendalilan kedua pada sabda beliau, “Karena sesungguhnya Allah adalah as-Salām (Yang Maha Selamat)” (Muttafaqun ‘Alaihi) Maksudnya, karena Maha sempurna keselamatan-Nya sehingga tidak membutuhkan doa-doa kalian. Maksudnya, Maha sempurna keselamatan-Nya sehingga tidak membutuhkan doa-doa kalian. Jelas? Jelas? Masalah ini jelas atau tidak? Jelas? baiklah! Baiklah, sekarang, seseorang yang berada di belakang imam yang membaca doa qunut, perhatikan semua! Dia berdoa dalam qunut, “Ya Allah, tunjukilah kami sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk, … Kalian ucapkan apa? Amin. “… Dan berilah kami kesehatan dan keselamatan sebagaimana orang yang telah Engkau beri kesehatan dan keselamatan…” Kalian ucapkan, “Amin.” Baiklah, jika imam berdoa, “Sungguh tidak terhina orang yang menjadikan-Mu sebagai pelindung, …”… Dan tidak akan mulia orang yang menjadikan-Mu sebagai musuh, … Maha Suci Engkau, wahai Tuhan kami, dan Maha Tinggi Engkau.” Apa yang kalian ucapkan? Ya? Apa yang kalian ucapkan? Kalian Diam? Baiklah, yang lain? Ahmad? Kalian diam saja? Yang lebih sesuai dengan sunah adalah diam, kalian diam saja pada bagian ucapan doa tersebut (jangan di-amin-kan) Tapi jika kalian mengucapkan, “Subhanallah,” tidaklah mengapa. Tapi tidak boleh kalian berkata, “Amin.” Kenapa? Karena makna amin adalah, “Kabulkan, ya Allah!” “Kabulkan, ya Allah!” Seolah-olah Anda berdoa kepada Allah semoga tidak terhinakan orang yang menjadikan-Nya sebagai pelindung. Dan semoga tidak berjaya orang menjadikan-Nya sebagai musuh. Maksudnya, itu sudah jadi sifatnya, itu sudah pasti, begitu juga ketika seseorang berdoa, misalkan: “Ya Allah, wahai Zat yang menggerakkan awan dan yang mengalahkan pasukan Ahzāb….” Doa ini terdapat dalam hadis Nabi yang termaktub dalam kitab Sāhih. Kemudian kalian berkata, “Amin.”? Tidak! Jangan ucapkan “Amin.” Yang lebih utama adalah kalian diam atau ucapkan, “Subhanallah” juga boleh. Tapi jangan berkata, “Amin.” Karena artinya, “Ya Allah, kabulkan agar Engkau jadi seperti itu!” Itu seperti hadis ini, seperti hadis ini, “Janganlah kalian berkata, ‘Keselamatan atas Allah.'” Maksudnya, jangan mendoakan keselamatan untuk Allah! Jelas? Oleh sebab itu, pemahaman terhadap ilmu amat penting! Kalian dapati hal-hal seperti ini terjadi namun orang-orang, bahkan mereka yang termasuk penuntut ilmu berkata, “Seperti ini tidak masalah.” Tidak! Ini bermasalah! Kalian harus pahami ilmu dan berbagai masalah dengan benar. Seperti yang telah kita bahas tentang menjadikan Allah perantara, sebagian orang berkata, “Ini tidak mengapa.” Tidak. Ini bermasalah, maka ada pembahasan tentang “Tidak boleh menjadikan Allah sebagai perantara kepada salah satu makhluk-Nya.” Maksudnya, jangan menjadikan Allah sebagai wasilah ketika meminta kepada makhluk Allah. Dan begitu pula berbagai kesalahan yang sering terjadi dalam masalah tauhid kepada Allah Subḥāhu wa Ta’alā. Hal ini banyak terjadi di tengah manusia karena mereka tidak paham tentang hakikat masalah-masalah ini dalam perspektif tauhid dan syirik. Namun, bagi orang yang memiliki pemahaman yang mendalam terhadap tauhid, sungguh dia pasti mengerti seberapa besar keburukan ucapan ini. Oleh sebab itu, salah seorang ulama -semoga Allah merahmati beliau- pernah suatu ketika beliau memberi nasihat kepada raja Abdul Aziz kemudian raja Abdul Aziz -semoga Allah merahmatinya- berkata kepada Syeikh tersebut. Dia berkata, “Wahai syeikh, semoga Allah perlakukan kami dengan keadilan-Nya.” “Semoga Allah perlakukan kami dengan keadilan-Nya.” Syeikh berkata, “Jangan berkata, ‘Semoga Allah memperlakukan kami dengan keadilan-Nya.'” Katakan, “Semoga Allah perlakukan kami dengan kemurahan dan kasih sayang-Nya.” Kenapa demikian? Karena jika Allah memperlakukan kita dengan keadilan-Nya, kita semua akan binasa! Seseorang tetap tidak layak, walaupun dia memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah, yang akan dihitung dan diganjar amal perbuatannya dan diharapkan pahalanya yang banyak, tetaplah dia memiliki banyak kekurangan, maka perhatikan kejelian dalam memahami tauhid menjadikan beliau tidak mengatakan ucapan seperti ini, sehingga beliau melarang ucapan seperti itu dengan berkata: Jangan berdoa, “Ya Allah, perlakukan kami dengan keadilan-Mu.” Ucapkan, “Perlakukan kami dengan kemurahan dan kasih sayang-Mu.” Demikian. ================================================================================ وَدِلَالَتُهَا عَلَى حُصُولِ التَّرْجَمَةِ مِنْ وَجْهَينَ أَحَدُهُمَا فِي قَوْلِهِ: لَا تَقُولُوا: السَّلَامُ عَلَى اللهِ وَهُوَ وَنَهْيٌ عَنْ قَوْلِ ذَلِكَ وَالنَّهْيُ لِلتَّحْرِيمِ وَالْآخَرُ فِي قَوْلِهِ: فَإِنَّ اللهَ هُوَ السَّلَامُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ أَيْ الْمُسْتَغْنِي بِكَمَالِ سَلَامَتِهِ عَنْ دُعَائِكُمْ أَيْ الْمُسْتَغْنِي بِكَمَالِ سَلَامَتِهِ عَنْ دُعَائِكُمْ وَاضِحٌ؟ وَاضِحٌ؟ الْبَابُ أَمَا وَاضِحٌ؟ طَيِّبٌ وَاضِحٌ طَيِّبٌ الْآنَ الْإِنْسَانُ فِي خَلْفِ الْإِمَامِ فِي الْقُنُوتِ اِنْتَبِهُوا كُلُّكُمْ يَقُولُ فِي الْقُنُوتِ: اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيمَنْ هَدَيْتَ تَقَولُ مَاذَا؟ آمِين وَعَافِنَا فِيمَنْ عَافَيْتَ. تَقُولُ: آمِين طَيِّبٌ إِذَا قَالَ: فَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ مَاذَا تَقُولُ؟ نَعَمْ أَيشْ تَقُولُ؟ تَسْكُتُ؟ طَيِّبٌ وَغَيْرُهُ؟ أَحَمْدُ يَعْنِي تَسْكُتُ؟ الْأَشْبَهُ أَنَّ السُّنَّةَ السُّكُوتُ أَنَّكَ تَسْكُتُ لَكِنْ إِذَا قُلْتَ سُبْحَانَ اللهِ هَذَا جَائِزٌ لَكِنْ لَا يَجُوزُ أَنْ تَقُوْلَ: آمِين لِمَاذَا؟ لِأَنَّ مَعْنَى آمِين اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ كَأَنَّكَ تَدْعُو لِلهِ بِأَنْ لَا يَذِلَّ مَنْ وَالَاهُ وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَاهُ يَعْنِي هَذَا وَصْفُهُ هَذَا وَصْفُهُ كَأَنْ يَقُولَ الْإِنْسَانُ يَدْعُو يَقُولُ مَثَلًا اللَّهُمَّ أَنْتَ مُجْرِي السَّحَابِ وَهَازِمُ الْأَحْزَابِ هَذَا وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ النَّبَوِيِّ فِي الصَّحِيحِ أَنْ تَقُوْلَ الْآنَ: آمِين؟ لَا! مَا تَقُوْلُ آمِين تَسْكُتُ هَذَا الْأَفْضَلُ أَوْ تَقُولُ: سُبْحَانَ الله جَائِزٌ لَكِنْ مَا تَقُوْلُ: آمِين. لِأَنَّ مَعْنَاهَا اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ أَنْ تَكُونَ كَذَلِكَ فَهِيَ كَهَذَا الْحَدِيثِ كَهَذَا الْحَدِيثِ لَا تَقُولُوا: السَّلَامُ عَلَى اللهِ أَيْ لَا تَدْعُوا لِلهِ بِالسَّلَامَةِ وَاضِحٌ ؟ وَلِذَلِكَ فَهْمُ الْعِلْمِ مُهِمٌّ فَهْمُ الْعِلْمِ مُهِمٌّ تَجِدُ تَجْرِيْ مِثْلُ هَذِهِ الْأَحْوَالِ وَالنَّاسُ حَتَّى مِمَّنْ يَنْتَسِبُ إِلَى الْعِلْمِ يَقُولُ: هَذِهِ مَا فِيهَا شَيْءٌ لَا! فِيهِ! لَا بُدَّ أَنْ تَفْهَمَ الْعِلْمَ الْمَسَائِلَ فَهْمًا صَحِيحًا كَالَّذِي ذَكَرْنَا وَاسِطَةً مِنَ اللهِ بَعْضُهُمْ يَقُولُ: هَذَا مَا فِيهِ شَيْءٌ لَا هَذَا فِيهِ شَيْءٌ يَأْتِي بَابُ لَا يُسْتَشْفَعُ بِاللهِ عَلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ يَعْنيِ لَا يُجْعَلُ اللهُ وَاسِطَةً عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ وَهَكَذَا كَثِيرٌ مِنَ الْأَشْيَاءِ الَّتِي يَقَعُ فِيهَا غَلَطٌ فِي تَوْحِيدِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَالَتْ عَلَى النَّاسِ بِعَدَمِ مَعْرِفَةِ حَقَائِقِ هَذِهِ الْأُمُورِ فِي التَّوْحِيدِ وَالشِّرْكِ لَكِنْ إِذَا كَانَ عِنْدَ الْإِنْسَانِ بَصِيرَةٌ فِي تَوْحِيدِهِ فَإِنَّهُ يَعْرِفُ مَنْزِلَةَ هَذِهِ مَنْزِلَةَ هَذَا القَوْلِ لِذَلِكَ أَحَدُ الْعُلَمَاءِ رَحِمَهُمُ اللهُ مَرَّةً يَعْنِي وَعَظَ الْمَلِكَ عَبْدَ الْعَزِيزِ فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ عَبْدُ الْعَزِيزِ رَحِمَهُ اللهُ قَالَ: يَا شَيْخُ اللهُ يُعَامِلُنَا بِعَدْلِهِ اللهُ يُعَامِلُنَا بِعَدْلِهِ قَالَ: لَا تَقُلْ اللهُ يُعَامِلُنَا بِعَدْلِهِ قُلْ: اللهُ يُعَامِلُنَا بِفَضْلِهِ، لِأَيْش؟ لِأَنَّهُ لَوْ عَامَلَنَا بِعَدْلِهِ لَهَلَكْنَا إِنْسَانٌ غَيْرُ مُسْتَحِقٍّ لَهُ مَرْتَبَةٌ عِنْدَ اللهِ يَعْنِي يَعُدُّهَا وَيَحْسِبُهَا وَهُوَ لَهُ أَعْمَالٌ يَنْتَظِرُ ثَوَابَهَا فِيهِ تَقْصِيرٌ عَظِيمٌ لِذَلِكَ اُنْظُرْ شُغُوفَ النَّظَرِ فِي فَهْمِ التَّوْحِيدِ اِمْتَنَعَ مِنْ هَذِهِ الكَلِمَةِ مَنَعَ مِنْ هَذِهِ الْكَلِمَةِ وَقَالَ يَقُولُ: لَا! اللَّهُمَّ عَامِلْنَا بِعَدْلِكَ أَيْ عَامِلْنَا بِفَضْلِكَ نَعَمْ
Jangan Bilang Amin di Beberapa Kalimat Doa Qunut Ini – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Dan pendalilan terhadap kesesuaian dengan judul ini ada dua sisi: Yang pertama pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah kalian berkata, ‘Keselamatan atas Allah.'” Ini adalah larangan untuk berkata demikian. Larangan ini berarti hukumnya haram. Dan pendalilan kedua pada sabda beliau, “Karena sesungguhnya Allah adalah as-Salām (Yang Maha Selamat)” (Muttafaqun ‘Alaihi) Maksudnya, karena Maha sempurna keselamatan-Nya sehingga tidak membutuhkan doa-doa kalian. Maksudnya, Maha sempurna keselamatan-Nya sehingga tidak membutuhkan doa-doa kalian. Jelas? Jelas? Masalah ini jelas atau tidak? Jelas? baiklah! Baiklah, sekarang, seseorang yang berada di belakang imam yang membaca doa qunut, perhatikan semua! Dia berdoa dalam qunut, “Ya Allah, tunjukilah kami sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk, … Kalian ucapkan apa? Amin. “… Dan berilah kami kesehatan dan keselamatan sebagaimana orang yang telah Engkau beri kesehatan dan keselamatan…” Kalian ucapkan, “Amin.” Baiklah, jika imam berdoa, “Sungguh tidak terhina orang yang menjadikan-Mu sebagai pelindung, …”… Dan tidak akan mulia orang yang menjadikan-Mu sebagai musuh, … Maha Suci Engkau, wahai Tuhan kami, dan Maha Tinggi Engkau.” Apa yang kalian ucapkan? Ya? Apa yang kalian ucapkan? Kalian Diam? Baiklah, yang lain? Ahmad? Kalian diam saja? Yang lebih sesuai dengan sunah adalah diam, kalian diam saja pada bagian ucapan doa tersebut (jangan di-amin-kan) Tapi jika kalian mengucapkan, “Subhanallah,” tidaklah mengapa. Tapi tidak boleh kalian berkata, “Amin.” Kenapa? Karena makna amin adalah, “Kabulkan, ya Allah!” “Kabulkan, ya Allah!” Seolah-olah Anda berdoa kepada Allah semoga tidak terhinakan orang yang menjadikan-Nya sebagai pelindung. Dan semoga tidak berjaya orang menjadikan-Nya sebagai musuh. Maksudnya, itu sudah jadi sifatnya, itu sudah pasti, begitu juga ketika seseorang berdoa, misalkan: “Ya Allah, wahai Zat yang menggerakkan awan dan yang mengalahkan pasukan Ahzāb….” Doa ini terdapat dalam hadis Nabi yang termaktub dalam kitab Sāhih. Kemudian kalian berkata, “Amin.”? Tidak! Jangan ucapkan “Amin.” Yang lebih utama adalah kalian diam atau ucapkan, “Subhanallah” juga boleh. Tapi jangan berkata, “Amin.” Karena artinya, “Ya Allah, kabulkan agar Engkau jadi seperti itu!” Itu seperti hadis ini, seperti hadis ini, “Janganlah kalian berkata, ‘Keselamatan atas Allah.'” Maksudnya, jangan mendoakan keselamatan untuk Allah! Jelas? Oleh sebab itu, pemahaman terhadap ilmu amat penting! Kalian dapati hal-hal seperti ini terjadi namun orang-orang, bahkan mereka yang termasuk penuntut ilmu berkata, “Seperti ini tidak masalah.” Tidak! Ini bermasalah! Kalian harus pahami ilmu dan berbagai masalah dengan benar. Seperti yang telah kita bahas tentang menjadikan Allah perantara, sebagian orang berkata, “Ini tidak mengapa.” Tidak. Ini bermasalah, maka ada pembahasan tentang “Tidak boleh menjadikan Allah sebagai perantara kepada salah satu makhluk-Nya.” Maksudnya, jangan menjadikan Allah sebagai wasilah ketika meminta kepada makhluk Allah. Dan begitu pula berbagai kesalahan yang sering terjadi dalam masalah tauhid kepada Allah Subḥāhu wa Ta’alā. Hal ini banyak terjadi di tengah manusia karena mereka tidak paham tentang hakikat masalah-masalah ini dalam perspektif tauhid dan syirik. Namun, bagi orang yang memiliki pemahaman yang mendalam terhadap tauhid, sungguh dia pasti mengerti seberapa besar keburukan ucapan ini. Oleh sebab itu, salah seorang ulama -semoga Allah merahmati beliau- pernah suatu ketika beliau memberi nasihat kepada raja Abdul Aziz kemudian raja Abdul Aziz -semoga Allah merahmatinya- berkata kepada Syeikh tersebut. Dia berkata, “Wahai syeikh, semoga Allah perlakukan kami dengan keadilan-Nya.” “Semoga Allah perlakukan kami dengan keadilan-Nya.” Syeikh berkata, “Jangan berkata, ‘Semoga Allah memperlakukan kami dengan keadilan-Nya.'” Katakan, “Semoga Allah perlakukan kami dengan kemurahan dan kasih sayang-Nya.” Kenapa demikian? Karena jika Allah memperlakukan kita dengan keadilan-Nya, kita semua akan binasa! Seseorang tetap tidak layak, walaupun dia memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah, yang akan dihitung dan diganjar amal perbuatannya dan diharapkan pahalanya yang banyak, tetaplah dia memiliki banyak kekurangan, maka perhatikan kejelian dalam memahami tauhid menjadikan beliau tidak mengatakan ucapan seperti ini, sehingga beliau melarang ucapan seperti itu dengan berkata: Jangan berdoa, “Ya Allah, perlakukan kami dengan keadilan-Mu.” Ucapkan, “Perlakukan kami dengan kemurahan dan kasih sayang-Mu.” Demikian. ================================================================================ وَدِلَالَتُهَا عَلَى حُصُولِ التَّرْجَمَةِ مِنْ وَجْهَينَ أَحَدُهُمَا فِي قَوْلِهِ: لَا تَقُولُوا: السَّلَامُ عَلَى اللهِ وَهُوَ وَنَهْيٌ عَنْ قَوْلِ ذَلِكَ وَالنَّهْيُ لِلتَّحْرِيمِ وَالْآخَرُ فِي قَوْلِهِ: فَإِنَّ اللهَ هُوَ السَّلَامُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ أَيْ الْمُسْتَغْنِي بِكَمَالِ سَلَامَتِهِ عَنْ دُعَائِكُمْ أَيْ الْمُسْتَغْنِي بِكَمَالِ سَلَامَتِهِ عَنْ دُعَائِكُمْ وَاضِحٌ؟ وَاضِحٌ؟ الْبَابُ أَمَا وَاضِحٌ؟ طَيِّبٌ وَاضِحٌ طَيِّبٌ الْآنَ الْإِنْسَانُ فِي خَلْفِ الْإِمَامِ فِي الْقُنُوتِ اِنْتَبِهُوا كُلُّكُمْ يَقُولُ فِي الْقُنُوتِ: اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيمَنْ هَدَيْتَ تَقَولُ مَاذَا؟ آمِين وَعَافِنَا فِيمَنْ عَافَيْتَ. تَقُولُ: آمِين طَيِّبٌ إِذَا قَالَ: فَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ مَاذَا تَقُولُ؟ نَعَمْ أَيشْ تَقُولُ؟ تَسْكُتُ؟ طَيِّبٌ وَغَيْرُهُ؟ أَحَمْدُ يَعْنِي تَسْكُتُ؟ الْأَشْبَهُ أَنَّ السُّنَّةَ السُّكُوتُ أَنَّكَ تَسْكُتُ لَكِنْ إِذَا قُلْتَ سُبْحَانَ اللهِ هَذَا جَائِزٌ لَكِنْ لَا يَجُوزُ أَنْ تَقُوْلَ: آمِين لِمَاذَا؟ لِأَنَّ مَعْنَى آمِين اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ كَأَنَّكَ تَدْعُو لِلهِ بِأَنْ لَا يَذِلَّ مَنْ وَالَاهُ وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَاهُ يَعْنِي هَذَا وَصْفُهُ هَذَا وَصْفُهُ كَأَنْ يَقُولَ الْإِنْسَانُ يَدْعُو يَقُولُ مَثَلًا اللَّهُمَّ أَنْتَ مُجْرِي السَّحَابِ وَهَازِمُ الْأَحْزَابِ هَذَا وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ النَّبَوِيِّ فِي الصَّحِيحِ أَنْ تَقُوْلَ الْآنَ: آمِين؟ لَا! مَا تَقُوْلُ آمِين تَسْكُتُ هَذَا الْأَفْضَلُ أَوْ تَقُولُ: سُبْحَانَ الله جَائِزٌ لَكِنْ مَا تَقُوْلُ: آمِين. لِأَنَّ مَعْنَاهَا اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ أَنْ تَكُونَ كَذَلِكَ فَهِيَ كَهَذَا الْحَدِيثِ كَهَذَا الْحَدِيثِ لَا تَقُولُوا: السَّلَامُ عَلَى اللهِ أَيْ لَا تَدْعُوا لِلهِ بِالسَّلَامَةِ وَاضِحٌ ؟ وَلِذَلِكَ فَهْمُ الْعِلْمِ مُهِمٌّ فَهْمُ الْعِلْمِ مُهِمٌّ تَجِدُ تَجْرِيْ مِثْلُ هَذِهِ الْأَحْوَالِ وَالنَّاسُ حَتَّى مِمَّنْ يَنْتَسِبُ إِلَى الْعِلْمِ يَقُولُ: هَذِهِ مَا فِيهَا شَيْءٌ لَا! فِيهِ! لَا بُدَّ أَنْ تَفْهَمَ الْعِلْمَ الْمَسَائِلَ فَهْمًا صَحِيحًا كَالَّذِي ذَكَرْنَا وَاسِطَةً مِنَ اللهِ بَعْضُهُمْ يَقُولُ: هَذَا مَا فِيهِ شَيْءٌ لَا هَذَا فِيهِ شَيْءٌ يَأْتِي بَابُ لَا يُسْتَشْفَعُ بِاللهِ عَلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ يَعْنيِ لَا يُجْعَلُ اللهُ وَاسِطَةً عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ وَهَكَذَا كَثِيرٌ مِنَ الْأَشْيَاءِ الَّتِي يَقَعُ فِيهَا غَلَطٌ فِي تَوْحِيدِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَالَتْ عَلَى النَّاسِ بِعَدَمِ مَعْرِفَةِ حَقَائِقِ هَذِهِ الْأُمُورِ فِي التَّوْحِيدِ وَالشِّرْكِ لَكِنْ إِذَا كَانَ عِنْدَ الْإِنْسَانِ بَصِيرَةٌ فِي تَوْحِيدِهِ فَإِنَّهُ يَعْرِفُ مَنْزِلَةَ هَذِهِ مَنْزِلَةَ هَذَا القَوْلِ لِذَلِكَ أَحَدُ الْعُلَمَاءِ رَحِمَهُمُ اللهُ مَرَّةً يَعْنِي وَعَظَ الْمَلِكَ عَبْدَ الْعَزِيزِ فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ عَبْدُ الْعَزِيزِ رَحِمَهُ اللهُ قَالَ: يَا شَيْخُ اللهُ يُعَامِلُنَا بِعَدْلِهِ اللهُ يُعَامِلُنَا بِعَدْلِهِ قَالَ: لَا تَقُلْ اللهُ يُعَامِلُنَا بِعَدْلِهِ قُلْ: اللهُ يُعَامِلُنَا بِفَضْلِهِ، لِأَيْش؟ لِأَنَّهُ لَوْ عَامَلَنَا بِعَدْلِهِ لَهَلَكْنَا إِنْسَانٌ غَيْرُ مُسْتَحِقٍّ لَهُ مَرْتَبَةٌ عِنْدَ اللهِ يَعْنِي يَعُدُّهَا وَيَحْسِبُهَا وَهُوَ لَهُ أَعْمَالٌ يَنْتَظِرُ ثَوَابَهَا فِيهِ تَقْصِيرٌ عَظِيمٌ لِذَلِكَ اُنْظُرْ شُغُوفَ النَّظَرِ فِي فَهْمِ التَّوْحِيدِ اِمْتَنَعَ مِنْ هَذِهِ الكَلِمَةِ مَنَعَ مِنْ هَذِهِ الْكَلِمَةِ وَقَالَ يَقُولُ: لَا! اللَّهُمَّ عَامِلْنَا بِعَدْلِكَ أَيْ عَامِلْنَا بِفَضْلِكَ نَعَمْ


Jangan Bilang Amin di Beberapa Kalimat Doa Qunut Ini – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Dan pendalilan terhadap kesesuaian dengan judul ini ada dua sisi: Yang pertama pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah kalian berkata, ‘Keselamatan atas Allah.'” Ini adalah larangan untuk berkata demikian. Larangan ini berarti hukumnya haram. Dan pendalilan kedua pada sabda beliau, “Karena sesungguhnya Allah adalah as-Salām (Yang Maha Selamat)” (Muttafaqun ‘Alaihi) Maksudnya, karena Maha sempurna keselamatan-Nya sehingga tidak membutuhkan doa-doa kalian. Maksudnya, Maha sempurna keselamatan-Nya sehingga tidak membutuhkan doa-doa kalian. Jelas? Jelas? Masalah ini jelas atau tidak? Jelas? baiklah! Baiklah, sekarang, seseorang yang berada di belakang imam yang membaca doa qunut, perhatikan semua! Dia berdoa dalam qunut, “Ya Allah, tunjukilah kami sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk, … Kalian ucapkan apa? Amin. “… Dan berilah kami kesehatan dan keselamatan sebagaimana orang yang telah Engkau beri kesehatan dan keselamatan…” Kalian ucapkan, “Amin.” Baiklah, jika imam berdoa, “Sungguh tidak terhina orang yang menjadikan-Mu sebagai pelindung, …”… Dan tidak akan mulia orang yang menjadikan-Mu sebagai musuh, … Maha Suci Engkau, wahai Tuhan kami, dan Maha Tinggi Engkau.” Apa yang kalian ucapkan? Ya? Apa yang kalian ucapkan? Kalian Diam? Baiklah, yang lain? Ahmad? Kalian diam saja? Yang lebih sesuai dengan sunah adalah diam, kalian diam saja pada bagian ucapan doa tersebut (jangan di-amin-kan) Tapi jika kalian mengucapkan, “Subhanallah,” tidaklah mengapa. Tapi tidak boleh kalian berkata, “Amin.” Kenapa? Karena makna amin adalah, “Kabulkan, ya Allah!” “Kabulkan, ya Allah!” Seolah-olah Anda berdoa kepada Allah semoga tidak terhinakan orang yang menjadikan-Nya sebagai pelindung. Dan semoga tidak berjaya orang menjadikan-Nya sebagai musuh. Maksudnya, itu sudah jadi sifatnya, itu sudah pasti, begitu juga ketika seseorang berdoa, misalkan: “Ya Allah, wahai Zat yang menggerakkan awan dan yang mengalahkan pasukan Ahzāb….” Doa ini terdapat dalam hadis Nabi yang termaktub dalam kitab Sāhih. Kemudian kalian berkata, “Amin.”? Tidak! Jangan ucapkan “Amin.” Yang lebih utama adalah kalian diam atau ucapkan, “Subhanallah” juga boleh. Tapi jangan berkata, “Amin.” Karena artinya, “Ya Allah, kabulkan agar Engkau jadi seperti itu!” Itu seperti hadis ini, seperti hadis ini, “Janganlah kalian berkata, ‘Keselamatan atas Allah.'” Maksudnya, jangan mendoakan keselamatan untuk Allah! Jelas? Oleh sebab itu, pemahaman terhadap ilmu amat penting! Kalian dapati hal-hal seperti ini terjadi namun orang-orang, bahkan mereka yang termasuk penuntut ilmu berkata, “Seperti ini tidak masalah.” Tidak! Ini bermasalah! Kalian harus pahami ilmu dan berbagai masalah dengan benar. Seperti yang telah kita bahas tentang menjadikan Allah perantara, sebagian orang berkata, “Ini tidak mengapa.” Tidak. Ini bermasalah, maka ada pembahasan tentang “Tidak boleh menjadikan Allah sebagai perantara kepada salah satu makhluk-Nya.” Maksudnya, jangan menjadikan Allah sebagai wasilah ketika meminta kepada makhluk Allah. Dan begitu pula berbagai kesalahan yang sering terjadi dalam masalah tauhid kepada Allah Subḥāhu wa Ta’alā. Hal ini banyak terjadi di tengah manusia karena mereka tidak paham tentang hakikat masalah-masalah ini dalam perspektif tauhid dan syirik. Namun, bagi orang yang memiliki pemahaman yang mendalam terhadap tauhid, sungguh dia pasti mengerti seberapa besar keburukan ucapan ini. Oleh sebab itu, salah seorang ulama -semoga Allah merahmati beliau- pernah suatu ketika beliau memberi nasihat kepada raja Abdul Aziz kemudian raja Abdul Aziz -semoga Allah merahmatinya- berkata kepada Syeikh tersebut. Dia berkata, “Wahai syeikh, semoga Allah perlakukan kami dengan keadilan-Nya.” “Semoga Allah perlakukan kami dengan keadilan-Nya.” Syeikh berkata, “Jangan berkata, ‘Semoga Allah memperlakukan kami dengan keadilan-Nya.'” Katakan, “Semoga Allah perlakukan kami dengan kemurahan dan kasih sayang-Nya.” Kenapa demikian? Karena jika Allah memperlakukan kita dengan keadilan-Nya, kita semua akan binasa! Seseorang tetap tidak layak, walaupun dia memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah, yang akan dihitung dan diganjar amal perbuatannya dan diharapkan pahalanya yang banyak, tetaplah dia memiliki banyak kekurangan, maka perhatikan kejelian dalam memahami tauhid menjadikan beliau tidak mengatakan ucapan seperti ini, sehingga beliau melarang ucapan seperti itu dengan berkata: Jangan berdoa, “Ya Allah, perlakukan kami dengan keadilan-Mu.” Ucapkan, “Perlakukan kami dengan kemurahan dan kasih sayang-Mu.” Demikian. ================================================================================ وَدِلَالَتُهَا عَلَى حُصُولِ التَّرْجَمَةِ مِنْ وَجْهَينَ أَحَدُهُمَا فِي قَوْلِهِ: لَا تَقُولُوا: السَّلَامُ عَلَى اللهِ وَهُوَ وَنَهْيٌ عَنْ قَوْلِ ذَلِكَ وَالنَّهْيُ لِلتَّحْرِيمِ وَالْآخَرُ فِي قَوْلِهِ: فَإِنَّ اللهَ هُوَ السَّلَامُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ أَيْ الْمُسْتَغْنِي بِكَمَالِ سَلَامَتِهِ عَنْ دُعَائِكُمْ أَيْ الْمُسْتَغْنِي بِكَمَالِ سَلَامَتِهِ عَنْ دُعَائِكُمْ وَاضِحٌ؟ وَاضِحٌ؟ الْبَابُ أَمَا وَاضِحٌ؟ طَيِّبٌ وَاضِحٌ طَيِّبٌ الْآنَ الْإِنْسَانُ فِي خَلْفِ الْإِمَامِ فِي الْقُنُوتِ اِنْتَبِهُوا كُلُّكُمْ يَقُولُ فِي الْقُنُوتِ: اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيمَنْ هَدَيْتَ تَقَولُ مَاذَا؟ آمِين وَعَافِنَا فِيمَنْ عَافَيْتَ. تَقُولُ: آمِين طَيِّبٌ إِذَا قَالَ: فَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ مَاذَا تَقُولُ؟ نَعَمْ أَيشْ تَقُولُ؟ تَسْكُتُ؟ طَيِّبٌ وَغَيْرُهُ؟ أَحَمْدُ يَعْنِي تَسْكُتُ؟ الْأَشْبَهُ أَنَّ السُّنَّةَ السُّكُوتُ أَنَّكَ تَسْكُتُ لَكِنْ إِذَا قُلْتَ سُبْحَانَ اللهِ هَذَا جَائِزٌ لَكِنْ لَا يَجُوزُ أَنْ تَقُوْلَ: آمِين لِمَاذَا؟ لِأَنَّ مَعْنَى آمِين اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ كَأَنَّكَ تَدْعُو لِلهِ بِأَنْ لَا يَذِلَّ مَنْ وَالَاهُ وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَاهُ يَعْنِي هَذَا وَصْفُهُ هَذَا وَصْفُهُ كَأَنْ يَقُولَ الْإِنْسَانُ يَدْعُو يَقُولُ مَثَلًا اللَّهُمَّ أَنْتَ مُجْرِي السَّحَابِ وَهَازِمُ الْأَحْزَابِ هَذَا وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ النَّبَوِيِّ فِي الصَّحِيحِ أَنْ تَقُوْلَ الْآنَ: آمِين؟ لَا! مَا تَقُوْلُ آمِين تَسْكُتُ هَذَا الْأَفْضَلُ أَوْ تَقُولُ: سُبْحَانَ الله جَائِزٌ لَكِنْ مَا تَقُوْلُ: آمِين. لِأَنَّ مَعْنَاهَا اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ أَنْ تَكُونَ كَذَلِكَ فَهِيَ كَهَذَا الْحَدِيثِ كَهَذَا الْحَدِيثِ لَا تَقُولُوا: السَّلَامُ عَلَى اللهِ أَيْ لَا تَدْعُوا لِلهِ بِالسَّلَامَةِ وَاضِحٌ ؟ وَلِذَلِكَ فَهْمُ الْعِلْمِ مُهِمٌّ فَهْمُ الْعِلْمِ مُهِمٌّ تَجِدُ تَجْرِيْ مِثْلُ هَذِهِ الْأَحْوَالِ وَالنَّاسُ حَتَّى مِمَّنْ يَنْتَسِبُ إِلَى الْعِلْمِ يَقُولُ: هَذِهِ مَا فِيهَا شَيْءٌ لَا! فِيهِ! لَا بُدَّ أَنْ تَفْهَمَ الْعِلْمَ الْمَسَائِلَ فَهْمًا صَحِيحًا كَالَّذِي ذَكَرْنَا وَاسِطَةً مِنَ اللهِ بَعْضُهُمْ يَقُولُ: هَذَا مَا فِيهِ شَيْءٌ لَا هَذَا فِيهِ شَيْءٌ يَأْتِي بَابُ لَا يُسْتَشْفَعُ بِاللهِ عَلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ يَعْنيِ لَا يُجْعَلُ اللهُ وَاسِطَةً عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ وَهَكَذَا كَثِيرٌ مِنَ الْأَشْيَاءِ الَّتِي يَقَعُ فِيهَا غَلَطٌ فِي تَوْحِيدِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَالَتْ عَلَى النَّاسِ بِعَدَمِ مَعْرِفَةِ حَقَائِقِ هَذِهِ الْأُمُورِ فِي التَّوْحِيدِ وَالشِّرْكِ لَكِنْ إِذَا كَانَ عِنْدَ الْإِنْسَانِ بَصِيرَةٌ فِي تَوْحِيدِهِ فَإِنَّهُ يَعْرِفُ مَنْزِلَةَ هَذِهِ مَنْزِلَةَ هَذَا القَوْلِ لِذَلِكَ أَحَدُ الْعُلَمَاءِ رَحِمَهُمُ اللهُ مَرَّةً يَعْنِي وَعَظَ الْمَلِكَ عَبْدَ الْعَزِيزِ فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ عَبْدُ الْعَزِيزِ رَحِمَهُ اللهُ قَالَ: يَا شَيْخُ اللهُ يُعَامِلُنَا بِعَدْلِهِ اللهُ يُعَامِلُنَا بِعَدْلِهِ قَالَ: لَا تَقُلْ اللهُ يُعَامِلُنَا بِعَدْلِهِ قُلْ: اللهُ يُعَامِلُنَا بِفَضْلِهِ، لِأَيْش؟ لِأَنَّهُ لَوْ عَامَلَنَا بِعَدْلِهِ لَهَلَكْنَا إِنْسَانٌ غَيْرُ مُسْتَحِقٍّ لَهُ مَرْتَبَةٌ عِنْدَ اللهِ يَعْنِي يَعُدُّهَا وَيَحْسِبُهَا وَهُوَ لَهُ أَعْمَالٌ يَنْتَظِرُ ثَوَابَهَا فِيهِ تَقْصِيرٌ عَظِيمٌ لِذَلِكَ اُنْظُرْ شُغُوفَ النَّظَرِ فِي فَهْمِ التَّوْحِيدِ اِمْتَنَعَ مِنْ هَذِهِ الكَلِمَةِ مَنَعَ مِنْ هَذِهِ الْكَلِمَةِ وَقَالَ يَقُولُ: لَا! اللَّهُمَّ عَامِلْنَا بِعَدْلِكَ أَيْ عَامِلْنَا بِفَضْلِكَ نَعَمْ

Bagaimanakah Cara Membalas Kebaikan Orang Lain?

Jangan menjadi orang yang kufur nikmatKita tahu bahwa di antara yang sangat banyak berbuat baik dan berjasa kepada kita adalah orang tua. Allah Ta’ala berfirman,وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ“Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada orang tua-mu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu” (QS. Luqman [31]: 14).Akan tetapi, banyak kita jumpai seorang anak yang tidak mau membalas kebaikan dan jasa orang tuanya. Mereka inilah orang-orang yang telah kufur nikmat, tidak tahu diri sehingga tidak mau berterima kasih atas kebaikan orang tua yang telah dilakukan kepadanya.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لا يَشْكُرُ النَّاسَ“Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia” (HR. Abu Dawud no. 4811, Tirmidzi no. 1954, sahih).Hadis ini mengandung dua penafsiran sebagai berikut.Tafsir pertama, tidak mungkin ada seorang manusia yang bisa bersyukur kepada Allah Ta’ala jika dirinya tidak bisa berterima kasih atas kebaikan orang lain (sesama manusia). Padahal, kebaikan yang diberikan orang lain kepadanya tersebut sangat sedikit jika dibandingkan dengan limpahan kebaikan dan nikmat dari Allah Ta’ala kepadanya. Jika dia tidak bisa berterima kasih atas kebaikan yang diberikan manusia kepadanya -yang itu jumlahnya sedikit-, tentunya lebih-lebih lagi dia tidak akan bisa bersyukur (berterima kasih) atas banyaknya kebaikan yang telah Allah Ta’ala limpahkan kepadanya.Tafsir kedua, hadis tersebut bermakna bahwa Allah Ta’ala tidak menerima (ibadah) syukur seorang hamba kepada-Nya, jika orang tersebut belum bersyukur dan berterima kasih atas kebaikan manusia yang lainnya. Terdapat orang yang (mungkin banyak) bersyukur kepada Allah Ta’ala, namun syukurnya ini tidak diterima oleh Allah Ta’ala sampai dia bersyukur atas kebaikan yang telah diberikan manusia kepadanya.Bagaimana cara membalas kebaikan orang lain?Bersyukur atau berterima kasih atas kebaikan orang lain dapat dilakukan dengan cara membalas kebaikan yang telah dia lakukan tersebut. Jika dia tidak bisa membalas, maka balaslah dengan mendoakan kebaikan kepada orang tersebut.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ، فَقَالَ لِفَاعِلهِ : جَزَاكَ اللهُ خَيْراً ، فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ“Barang siapa yang mendapat kebaikan dari orang lain, hendaklah dia mengatakan jazakallah khaira. (Dengan begitu), dia telah maksimal dalam memuji orang tersebut” (HR. Tirmidzi no. 2035, sahih).Jika ada orang lain yang berbuat baik kepada kita, baik dengan harta, tenaga, atau bentuk kebaikan yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk membalas kebaikan orang tersebut.Membalas kebaikan orang lain dapat dilakukan dengan beberapa bentuk. Pertama, membalas dengan memberikan kebaikan sejenis yang telah dia terima; Kedua, membalas dengan memberikan kebaikan yang lebih banyak dari kebaikan yang telah dia terima; atau Ketiga, membalas dengan mendoakan orang yang telah memberikan kepadanya.Sebagai contoh, ada seseorang yang menghadiahkan sebuah baju kepada kita. Kita bisa membalas kebaikan orang tersebut dengan menghadiahkan baju yang jenis dan jumlahnya sama (kurang lebih harganya sama) (bentuk pertama); atau kita balas dengan memberikan baju dengan jumlah yang lebih banyak (bentuk kedua); atau dengan mendoakan kebaikan terhadap orang yang memberikan hadiah baju tersebut (bentuk ketiga).Manakah yang paling tepat dalam membalas kebaikan seseorang, perlu melihat kondisi orang yang telah memberikan hadiah atau berbuat baik tersebut. Karena terdapat sebagian orang yang memang lebih tepat dibalas dengan mendoakannya atas perbuatan kebaikan yang dilakukannya. Karena jika dibalas dengan memberikan sesuatu yang sejenis atau lebih mahal, boleh jadi orang tersebut justru akan merasa diremehkan atau dilecehkan, atau sejenisnya.Jika kita tidak bisa membalas kebaikan yang telah diberikan orang lain kepadanya dengan kebaikan yang sejenis atau kebaikan yang lebih banyak, maka doakanlah dirinya dengan berulang-ulang sampai yakin bahwa kita telah membalas dengan balasan yang setimpal. Di antara doa tersebut adalah ucapan “jazakallah khairan”. Dengan mengucapkan “jazakallah khairan” kepada orang yang berbuat baik kepada kita, maka kita telah berusaha maksimal dalam memuji orang tersebut. Karena jika Allah Ta’ala membalas kebaikannya atas ucapan (doa) kita tersebut, maka dia akan menjadi orang yang bahagia di dunia dan di akhirat.Baca Juga: ***@Rumah Kasongan, 23 Dzulhijah 1442/2 Agustus 2021Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc., PhD.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Al-Kabaair karya Adz-Dzahabi rahimahullah, ditambah dengan penjelasan guru kami, Ustadz Dr. Aris Munandar, SS., MPI., ketika menjelaskan kandungan kitab tersebut.🔍 Adab Ziarah Kubur, Manusia Luar Angkasa Menurut Al Quran, Dimana Letak Lauhul Mahfudz, Fidyah Untuk Orang Meninggal, Wa'alaikum

Bagaimanakah Cara Membalas Kebaikan Orang Lain?

Jangan menjadi orang yang kufur nikmatKita tahu bahwa di antara yang sangat banyak berbuat baik dan berjasa kepada kita adalah orang tua. Allah Ta’ala berfirman,وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ“Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada orang tua-mu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu” (QS. Luqman [31]: 14).Akan tetapi, banyak kita jumpai seorang anak yang tidak mau membalas kebaikan dan jasa orang tuanya. Mereka inilah orang-orang yang telah kufur nikmat, tidak tahu diri sehingga tidak mau berterima kasih atas kebaikan orang tua yang telah dilakukan kepadanya.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لا يَشْكُرُ النَّاسَ“Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia” (HR. Abu Dawud no. 4811, Tirmidzi no. 1954, sahih).Hadis ini mengandung dua penafsiran sebagai berikut.Tafsir pertama, tidak mungkin ada seorang manusia yang bisa bersyukur kepada Allah Ta’ala jika dirinya tidak bisa berterima kasih atas kebaikan orang lain (sesama manusia). Padahal, kebaikan yang diberikan orang lain kepadanya tersebut sangat sedikit jika dibandingkan dengan limpahan kebaikan dan nikmat dari Allah Ta’ala kepadanya. Jika dia tidak bisa berterima kasih atas kebaikan yang diberikan manusia kepadanya -yang itu jumlahnya sedikit-, tentunya lebih-lebih lagi dia tidak akan bisa bersyukur (berterima kasih) atas banyaknya kebaikan yang telah Allah Ta’ala limpahkan kepadanya.Tafsir kedua, hadis tersebut bermakna bahwa Allah Ta’ala tidak menerima (ibadah) syukur seorang hamba kepada-Nya, jika orang tersebut belum bersyukur dan berterima kasih atas kebaikan manusia yang lainnya. Terdapat orang yang (mungkin banyak) bersyukur kepada Allah Ta’ala, namun syukurnya ini tidak diterima oleh Allah Ta’ala sampai dia bersyukur atas kebaikan yang telah diberikan manusia kepadanya.Bagaimana cara membalas kebaikan orang lain?Bersyukur atau berterima kasih atas kebaikan orang lain dapat dilakukan dengan cara membalas kebaikan yang telah dia lakukan tersebut. Jika dia tidak bisa membalas, maka balaslah dengan mendoakan kebaikan kepada orang tersebut.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ، فَقَالَ لِفَاعِلهِ : جَزَاكَ اللهُ خَيْراً ، فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ“Barang siapa yang mendapat kebaikan dari orang lain, hendaklah dia mengatakan jazakallah khaira. (Dengan begitu), dia telah maksimal dalam memuji orang tersebut” (HR. Tirmidzi no. 2035, sahih).Jika ada orang lain yang berbuat baik kepada kita, baik dengan harta, tenaga, atau bentuk kebaikan yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk membalas kebaikan orang tersebut.Membalas kebaikan orang lain dapat dilakukan dengan beberapa bentuk. Pertama, membalas dengan memberikan kebaikan sejenis yang telah dia terima; Kedua, membalas dengan memberikan kebaikan yang lebih banyak dari kebaikan yang telah dia terima; atau Ketiga, membalas dengan mendoakan orang yang telah memberikan kepadanya.Sebagai contoh, ada seseorang yang menghadiahkan sebuah baju kepada kita. Kita bisa membalas kebaikan orang tersebut dengan menghadiahkan baju yang jenis dan jumlahnya sama (kurang lebih harganya sama) (bentuk pertama); atau kita balas dengan memberikan baju dengan jumlah yang lebih banyak (bentuk kedua); atau dengan mendoakan kebaikan terhadap orang yang memberikan hadiah baju tersebut (bentuk ketiga).Manakah yang paling tepat dalam membalas kebaikan seseorang, perlu melihat kondisi orang yang telah memberikan hadiah atau berbuat baik tersebut. Karena terdapat sebagian orang yang memang lebih tepat dibalas dengan mendoakannya atas perbuatan kebaikan yang dilakukannya. Karena jika dibalas dengan memberikan sesuatu yang sejenis atau lebih mahal, boleh jadi orang tersebut justru akan merasa diremehkan atau dilecehkan, atau sejenisnya.Jika kita tidak bisa membalas kebaikan yang telah diberikan orang lain kepadanya dengan kebaikan yang sejenis atau kebaikan yang lebih banyak, maka doakanlah dirinya dengan berulang-ulang sampai yakin bahwa kita telah membalas dengan balasan yang setimpal. Di antara doa tersebut adalah ucapan “jazakallah khairan”. Dengan mengucapkan “jazakallah khairan” kepada orang yang berbuat baik kepada kita, maka kita telah berusaha maksimal dalam memuji orang tersebut. Karena jika Allah Ta’ala membalas kebaikannya atas ucapan (doa) kita tersebut, maka dia akan menjadi orang yang bahagia di dunia dan di akhirat.Baca Juga: ***@Rumah Kasongan, 23 Dzulhijah 1442/2 Agustus 2021Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc., PhD.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Al-Kabaair karya Adz-Dzahabi rahimahullah, ditambah dengan penjelasan guru kami, Ustadz Dr. Aris Munandar, SS., MPI., ketika menjelaskan kandungan kitab tersebut.🔍 Adab Ziarah Kubur, Manusia Luar Angkasa Menurut Al Quran, Dimana Letak Lauhul Mahfudz, Fidyah Untuk Orang Meninggal, Wa'alaikum
Jangan menjadi orang yang kufur nikmatKita tahu bahwa di antara yang sangat banyak berbuat baik dan berjasa kepada kita adalah orang tua. Allah Ta’ala berfirman,وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ“Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada orang tua-mu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu” (QS. Luqman [31]: 14).Akan tetapi, banyak kita jumpai seorang anak yang tidak mau membalas kebaikan dan jasa orang tuanya. Mereka inilah orang-orang yang telah kufur nikmat, tidak tahu diri sehingga tidak mau berterima kasih atas kebaikan orang tua yang telah dilakukan kepadanya.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لا يَشْكُرُ النَّاسَ“Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia” (HR. Abu Dawud no. 4811, Tirmidzi no. 1954, sahih).Hadis ini mengandung dua penafsiran sebagai berikut.Tafsir pertama, tidak mungkin ada seorang manusia yang bisa bersyukur kepada Allah Ta’ala jika dirinya tidak bisa berterima kasih atas kebaikan orang lain (sesama manusia). Padahal, kebaikan yang diberikan orang lain kepadanya tersebut sangat sedikit jika dibandingkan dengan limpahan kebaikan dan nikmat dari Allah Ta’ala kepadanya. Jika dia tidak bisa berterima kasih atas kebaikan yang diberikan manusia kepadanya -yang itu jumlahnya sedikit-, tentunya lebih-lebih lagi dia tidak akan bisa bersyukur (berterima kasih) atas banyaknya kebaikan yang telah Allah Ta’ala limpahkan kepadanya.Tafsir kedua, hadis tersebut bermakna bahwa Allah Ta’ala tidak menerima (ibadah) syukur seorang hamba kepada-Nya, jika orang tersebut belum bersyukur dan berterima kasih atas kebaikan manusia yang lainnya. Terdapat orang yang (mungkin banyak) bersyukur kepada Allah Ta’ala, namun syukurnya ini tidak diterima oleh Allah Ta’ala sampai dia bersyukur atas kebaikan yang telah diberikan manusia kepadanya.Bagaimana cara membalas kebaikan orang lain?Bersyukur atau berterima kasih atas kebaikan orang lain dapat dilakukan dengan cara membalas kebaikan yang telah dia lakukan tersebut. Jika dia tidak bisa membalas, maka balaslah dengan mendoakan kebaikan kepada orang tersebut.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ، فَقَالَ لِفَاعِلهِ : جَزَاكَ اللهُ خَيْراً ، فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ“Barang siapa yang mendapat kebaikan dari orang lain, hendaklah dia mengatakan jazakallah khaira. (Dengan begitu), dia telah maksimal dalam memuji orang tersebut” (HR. Tirmidzi no. 2035, sahih).Jika ada orang lain yang berbuat baik kepada kita, baik dengan harta, tenaga, atau bentuk kebaikan yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk membalas kebaikan orang tersebut.Membalas kebaikan orang lain dapat dilakukan dengan beberapa bentuk. Pertama, membalas dengan memberikan kebaikan sejenis yang telah dia terima; Kedua, membalas dengan memberikan kebaikan yang lebih banyak dari kebaikan yang telah dia terima; atau Ketiga, membalas dengan mendoakan orang yang telah memberikan kepadanya.Sebagai contoh, ada seseorang yang menghadiahkan sebuah baju kepada kita. Kita bisa membalas kebaikan orang tersebut dengan menghadiahkan baju yang jenis dan jumlahnya sama (kurang lebih harganya sama) (bentuk pertama); atau kita balas dengan memberikan baju dengan jumlah yang lebih banyak (bentuk kedua); atau dengan mendoakan kebaikan terhadap orang yang memberikan hadiah baju tersebut (bentuk ketiga).Manakah yang paling tepat dalam membalas kebaikan seseorang, perlu melihat kondisi orang yang telah memberikan hadiah atau berbuat baik tersebut. Karena terdapat sebagian orang yang memang lebih tepat dibalas dengan mendoakannya atas perbuatan kebaikan yang dilakukannya. Karena jika dibalas dengan memberikan sesuatu yang sejenis atau lebih mahal, boleh jadi orang tersebut justru akan merasa diremehkan atau dilecehkan, atau sejenisnya.Jika kita tidak bisa membalas kebaikan yang telah diberikan orang lain kepadanya dengan kebaikan yang sejenis atau kebaikan yang lebih banyak, maka doakanlah dirinya dengan berulang-ulang sampai yakin bahwa kita telah membalas dengan balasan yang setimpal. Di antara doa tersebut adalah ucapan “jazakallah khairan”. Dengan mengucapkan “jazakallah khairan” kepada orang yang berbuat baik kepada kita, maka kita telah berusaha maksimal dalam memuji orang tersebut. Karena jika Allah Ta’ala membalas kebaikannya atas ucapan (doa) kita tersebut, maka dia akan menjadi orang yang bahagia di dunia dan di akhirat.Baca Juga: ***@Rumah Kasongan, 23 Dzulhijah 1442/2 Agustus 2021Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc., PhD.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Al-Kabaair karya Adz-Dzahabi rahimahullah, ditambah dengan penjelasan guru kami, Ustadz Dr. Aris Munandar, SS., MPI., ketika menjelaskan kandungan kitab tersebut.🔍 Adab Ziarah Kubur, Manusia Luar Angkasa Menurut Al Quran, Dimana Letak Lauhul Mahfudz, Fidyah Untuk Orang Meninggal, Wa'alaikum


Jangan menjadi orang yang kufur nikmatKita tahu bahwa di antara yang sangat banyak berbuat baik dan berjasa kepada kita adalah orang tua. Allah Ta’ala berfirman,وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ“Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada orang tua-mu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu” (QS. Luqman [31]: 14).Akan tetapi, banyak kita jumpai seorang anak yang tidak mau membalas kebaikan dan jasa orang tuanya. Mereka inilah orang-orang yang telah kufur nikmat, tidak tahu diri sehingga tidak mau berterima kasih atas kebaikan orang tua yang telah dilakukan kepadanya.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,لا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لا يَشْكُرُ النَّاسَ“Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia” (HR. Abu Dawud no. 4811, Tirmidzi no. 1954, sahih).Hadis ini mengandung dua penafsiran sebagai berikut.Tafsir pertama, tidak mungkin ada seorang manusia yang bisa bersyukur kepada Allah Ta’ala jika dirinya tidak bisa berterima kasih atas kebaikan orang lain (sesama manusia). Padahal, kebaikan yang diberikan orang lain kepadanya tersebut sangat sedikit jika dibandingkan dengan limpahan kebaikan dan nikmat dari Allah Ta’ala kepadanya. Jika dia tidak bisa berterima kasih atas kebaikan yang diberikan manusia kepadanya -yang itu jumlahnya sedikit-, tentunya lebih-lebih lagi dia tidak akan bisa bersyukur (berterima kasih) atas banyaknya kebaikan yang telah Allah Ta’ala limpahkan kepadanya.Tafsir kedua, hadis tersebut bermakna bahwa Allah Ta’ala tidak menerima (ibadah) syukur seorang hamba kepada-Nya, jika orang tersebut belum bersyukur dan berterima kasih atas kebaikan manusia yang lainnya. Terdapat orang yang (mungkin banyak) bersyukur kepada Allah Ta’ala, namun syukurnya ini tidak diterima oleh Allah Ta’ala sampai dia bersyukur atas kebaikan yang telah diberikan manusia kepadanya.Bagaimana cara membalas kebaikan orang lain?Bersyukur atau berterima kasih atas kebaikan orang lain dapat dilakukan dengan cara membalas kebaikan yang telah dia lakukan tersebut. Jika dia tidak bisa membalas, maka balaslah dengan mendoakan kebaikan kepada orang tersebut.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ، فَقَالَ لِفَاعِلهِ : جَزَاكَ اللهُ خَيْراً ، فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ“Barang siapa yang mendapat kebaikan dari orang lain, hendaklah dia mengatakan jazakallah khaira. (Dengan begitu), dia telah maksimal dalam memuji orang tersebut” (HR. Tirmidzi no. 2035, sahih).Jika ada orang lain yang berbuat baik kepada kita, baik dengan harta, tenaga, atau bentuk kebaikan yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk membalas kebaikan orang tersebut.Membalas kebaikan orang lain dapat dilakukan dengan beberapa bentuk. Pertama, membalas dengan memberikan kebaikan sejenis yang telah dia terima; Kedua, membalas dengan memberikan kebaikan yang lebih banyak dari kebaikan yang telah dia terima; atau Ketiga, membalas dengan mendoakan orang yang telah memberikan kepadanya.Sebagai contoh, ada seseorang yang menghadiahkan sebuah baju kepada kita. Kita bisa membalas kebaikan orang tersebut dengan menghadiahkan baju yang jenis dan jumlahnya sama (kurang lebih harganya sama) (bentuk pertama); atau kita balas dengan memberikan baju dengan jumlah yang lebih banyak (bentuk kedua); atau dengan mendoakan kebaikan terhadap orang yang memberikan hadiah baju tersebut (bentuk ketiga).Manakah yang paling tepat dalam membalas kebaikan seseorang, perlu melihat kondisi orang yang telah memberikan hadiah atau berbuat baik tersebut. Karena terdapat sebagian orang yang memang lebih tepat dibalas dengan mendoakannya atas perbuatan kebaikan yang dilakukannya. Karena jika dibalas dengan memberikan sesuatu yang sejenis atau lebih mahal, boleh jadi orang tersebut justru akan merasa diremehkan atau dilecehkan, atau sejenisnya.Jika kita tidak bisa membalas kebaikan yang telah diberikan orang lain kepadanya dengan kebaikan yang sejenis atau kebaikan yang lebih banyak, maka doakanlah dirinya dengan berulang-ulang sampai yakin bahwa kita telah membalas dengan balasan yang setimpal. Di antara doa tersebut adalah ucapan “jazakallah khairan”. Dengan mengucapkan “jazakallah khairan” kepada orang yang berbuat baik kepada kita, maka kita telah berusaha maksimal dalam memuji orang tersebut. Karena jika Allah Ta’ala membalas kebaikannya atas ucapan (doa) kita tersebut, maka dia akan menjadi orang yang bahagia di dunia dan di akhirat.Baca Juga: ***@Rumah Kasongan, 23 Dzulhijah 1442/2 Agustus 2021Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc., PhD.Artikel: Muslim.or.id Catatan kaki:Disarikan dari kitab Al-Kabaair karya Adz-Dzahabi rahimahullah, ditambah dengan penjelasan guru kami, Ustadz Dr. Aris Munandar, SS., MPI., ketika menjelaskan kandungan kitab tersebut.🔍 Adab Ziarah Kubur, Manusia Luar Angkasa Menurut Al Quran, Dimana Letak Lauhul Mahfudz, Fidyah Untuk Orang Meninggal, Wa'alaikum

Cara Mengobati Hati yang Sempit dan Depresi

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahPertanyaan:Fadhilatusy-Syaikh, terkadang saya merasakan sempitnya hati dan depresi. Apakah sebabnya dan bagaimanakah cara mengobati keduanya? Semoga Allah membalas Anda dengan pahala.Jawaban:Tentang sebabnya, saya tidak dapat mengetahui hal itu. Karena penyebab depresi dan sempitnya hati itu berbeda-beda.Tetapi, ada satu hal yang bisa bermanfaat untuk seseorang dalam keadaan ini. Yaitu hendaknya ia berdoa dengan doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين/lā ilāha illā anta subhānaka innī kuntu minazhzhālimīn/“Tiada Ilah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Engkau, Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim” [1].Ini yang pertama. Kedua, hendaknya ia membaca doa dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,«اللهم إني عبدك ابن عبدك ابن أمتك، ناصيتي بيدك، ماضٍ في حكمك، عدلٌ في قضاؤك، أسألك اللهم بكل اسمٍ هو لك سميت به نفسك، أو أنزلته في كتابك، أو علمته أحداً من خلقك، أو استأثرت به في علم الغيب عندك، أن تجعل القرآن العظيم ربيع قلبي ونور صدري وجلاء جزني وذهاب همي وغمي»/Allāhumma innī ‘abduk, ibnu ‘abdik, ibnu amatik, nāshiyatī biyadik, mādhin fiyya hukmuk, ‘adlun fiyya qadhā’uk, as’alukallāhumma bikullismin huwa lak, sammaita bihī nafsak, au anzaltahu fī kitābik, au a’lantahū ahadan min khalqik, awista’tsarta fī ‘ilmilgaibi ‘indak, an taj’alal qur’āna rabī‘a qalbī wa nūra shadrī wa jalā’a huznī wa dzahaba hammī wa ghammī/Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba laki-laki-Mu, anak dari hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku berada di tangan-Mu, telah berlalu keputusan-Mu padaku, keputusan-Mu adil untukku. Aku meminta, Ya Allah, dengan seluruh nama yang menjadi milik Engkau, yang Engkau menamai diri-Mu dengannya, yang Engkau turunkan di kitab-Mu, yang Engkau telah ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau simpan dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau menjadikan Al-Qur’an Al-’Azhim sebagai musim semi (penyejuk) hatiku, cahaya bagi dadaku, pengusir kesedihanku, dan penghilang rasa gundah gulanaku” [2].Sesungguhnya ini adalah obat yang ampuh dan bermanfaat. Setiap insan hendaknya memperbanyak dzikrullah (mengingat Allah). Allah Ta’ala akan angkat darinya rasa duka dan gundah gulana berdasarkan firman Allah Ta’ala,ألا بذكر الله تطمئن القلوب“… Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28).Seyogyanya setiap insan memperbanyak zikir-zikir yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam di pagi dan petang hari. Kebanyakan yang memudaratkan manusia pada perkara-perkara ini adalah karena lalai dari mengingat Allah Ta’ala dan lalai dari zikir-zikir syar’i. Na’am.Sumber:https://binothaimeen.net/content/12783Baca Juga:***Penulis: Muhammad Fadhli, ST.Artikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:radhiallahu’anhushallallahu ‘alaihi wasallam«دَعْوَةُ ذِي النونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الحُوتِ: ﴿ لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِني كُنْتُ مِنَ الظالِمِينَ ﴾ [الأنبياء: 87]، فَإِنهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَط إِلا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ»“Doa Dzun-Nun ketika ia berdoa di dalam perut ikan paus (adalah), ‘Tiada Ilah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.’ (QS. Al-Anbiya: 87). Tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam keadaan apapun, melainkan Allah akan ijabah (kabulkan) untuknya” (HR. At-Tirmidzi no. 3505, disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi).radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seseorang tertimpa kegelisahan atau kesedihan, lalu ia membaca, [lalu disebutkan doa di atas]. Lalu Nabi bersabda,إلا أذهبَ اللهُ همَّهُ و حزنَه ، و أبدلَه مكانَه فرجًا قال : فقيل : يا رسولَ اللهِ ألا نتعلَّمُها ؟ فقال بلى ، ينبغي لمن سمعَها أن يتعلَّمَها“ … kecuali Allah ‘Azza wa Jalla singkirkan kesedihannya dan gantikan rasa sedihnya dengan rasa bahagia.” Mereka (para Sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah semestinya kami mempelajari kalimat-kalimat tersebut?” Beliau bersabda, “Tentu saja! Sepatutnya bagi yang telah mendengarnya untuk mempelajarinya” (HR. Ahmad no. 3712, Ibnu Hibban no. 972, disahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 199).🔍 Al Ushul Ats Tsalatsah, Sejarah Berdirinya Syiah, Dilarang Judi, Dilipatgandakan, Mengapa Kita Dianjurkan Untuk Saling Menasehati Antar Sesama

Cara Mengobati Hati yang Sempit dan Depresi

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahPertanyaan:Fadhilatusy-Syaikh, terkadang saya merasakan sempitnya hati dan depresi. Apakah sebabnya dan bagaimanakah cara mengobati keduanya? Semoga Allah membalas Anda dengan pahala.Jawaban:Tentang sebabnya, saya tidak dapat mengetahui hal itu. Karena penyebab depresi dan sempitnya hati itu berbeda-beda.Tetapi, ada satu hal yang bisa bermanfaat untuk seseorang dalam keadaan ini. Yaitu hendaknya ia berdoa dengan doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين/lā ilāha illā anta subhānaka innī kuntu minazhzhālimīn/“Tiada Ilah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Engkau, Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim” [1].Ini yang pertama. Kedua, hendaknya ia membaca doa dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,«اللهم إني عبدك ابن عبدك ابن أمتك، ناصيتي بيدك، ماضٍ في حكمك، عدلٌ في قضاؤك، أسألك اللهم بكل اسمٍ هو لك سميت به نفسك، أو أنزلته في كتابك، أو علمته أحداً من خلقك، أو استأثرت به في علم الغيب عندك، أن تجعل القرآن العظيم ربيع قلبي ونور صدري وجلاء جزني وذهاب همي وغمي»/Allāhumma innī ‘abduk, ibnu ‘abdik, ibnu amatik, nāshiyatī biyadik, mādhin fiyya hukmuk, ‘adlun fiyya qadhā’uk, as’alukallāhumma bikullismin huwa lak, sammaita bihī nafsak, au anzaltahu fī kitābik, au a’lantahū ahadan min khalqik, awista’tsarta fī ‘ilmilgaibi ‘indak, an taj’alal qur’āna rabī‘a qalbī wa nūra shadrī wa jalā’a huznī wa dzahaba hammī wa ghammī/Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba laki-laki-Mu, anak dari hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku berada di tangan-Mu, telah berlalu keputusan-Mu padaku, keputusan-Mu adil untukku. Aku meminta, Ya Allah, dengan seluruh nama yang menjadi milik Engkau, yang Engkau menamai diri-Mu dengannya, yang Engkau turunkan di kitab-Mu, yang Engkau telah ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau simpan dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau menjadikan Al-Qur’an Al-’Azhim sebagai musim semi (penyejuk) hatiku, cahaya bagi dadaku, pengusir kesedihanku, dan penghilang rasa gundah gulanaku” [2].Sesungguhnya ini adalah obat yang ampuh dan bermanfaat. Setiap insan hendaknya memperbanyak dzikrullah (mengingat Allah). Allah Ta’ala akan angkat darinya rasa duka dan gundah gulana berdasarkan firman Allah Ta’ala,ألا بذكر الله تطمئن القلوب“… Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28).Seyogyanya setiap insan memperbanyak zikir-zikir yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam di pagi dan petang hari. Kebanyakan yang memudaratkan manusia pada perkara-perkara ini adalah karena lalai dari mengingat Allah Ta’ala dan lalai dari zikir-zikir syar’i. Na’am.Sumber:https://binothaimeen.net/content/12783Baca Juga:***Penulis: Muhammad Fadhli, ST.Artikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:radhiallahu’anhushallallahu ‘alaihi wasallam«دَعْوَةُ ذِي النونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الحُوتِ: ﴿ لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِني كُنْتُ مِنَ الظالِمِينَ ﴾ [الأنبياء: 87]، فَإِنهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَط إِلا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ»“Doa Dzun-Nun ketika ia berdoa di dalam perut ikan paus (adalah), ‘Tiada Ilah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.’ (QS. Al-Anbiya: 87). Tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam keadaan apapun, melainkan Allah akan ijabah (kabulkan) untuknya” (HR. At-Tirmidzi no. 3505, disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi).radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seseorang tertimpa kegelisahan atau kesedihan, lalu ia membaca, [lalu disebutkan doa di atas]. Lalu Nabi bersabda,إلا أذهبَ اللهُ همَّهُ و حزنَه ، و أبدلَه مكانَه فرجًا قال : فقيل : يا رسولَ اللهِ ألا نتعلَّمُها ؟ فقال بلى ، ينبغي لمن سمعَها أن يتعلَّمَها“ … kecuali Allah ‘Azza wa Jalla singkirkan kesedihannya dan gantikan rasa sedihnya dengan rasa bahagia.” Mereka (para Sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah semestinya kami mempelajari kalimat-kalimat tersebut?” Beliau bersabda, “Tentu saja! Sepatutnya bagi yang telah mendengarnya untuk mempelajarinya” (HR. Ahmad no. 3712, Ibnu Hibban no. 972, disahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 199).🔍 Al Ushul Ats Tsalatsah, Sejarah Berdirinya Syiah, Dilarang Judi, Dilipatgandakan, Mengapa Kita Dianjurkan Untuk Saling Menasehati Antar Sesama
Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahPertanyaan:Fadhilatusy-Syaikh, terkadang saya merasakan sempitnya hati dan depresi. Apakah sebabnya dan bagaimanakah cara mengobati keduanya? Semoga Allah membalas Anda dengan pahala.Jawaban:Tentang sebabnya, saya tidak dapat mengetahui hal itu. Karena penyebab depresi dan sempitnya hati itu berbeda-beda.Tetapi, ada satu hal yang bisa bermanfaat untuk seseorang dalam keadaan ini. Yaitu hendaknya ia berdoa dengan doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين/lā ilāha illā anta subhānaka innī kuntu minazhzhālimīn/“Tiada Ilah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Engkau, Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim” [1].Ini yang pertama. Kedua, hendaknya ia membaca doa dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,«اللهم إني عبدك ابن عبدك ابن أمتك، ناصيتي بيدك، ماضٍ في حكمك، عدلٌ في قضاؤك، أسألك اللهم بكل اسمٍ هو لك سميت به نفسك، أو أنزلته في كتابك، أو علمته أحداً من خلقك، أو استأثرت به في علم الغيب عندك، أن تجعل القرآن العظيم ربيع قلبي ونور صدري وجلاء جزني وذهاب همي وغمي»/Allāhumma innī ‘abduk, ibnu ‘abdik, ibnu amatik, nāshiyatī biyadik, mādhin fiyya hukmuk, ‘adlun fiyya qadhā’uk, as’alukallāhumma bikullismin huwa lak, sammaita bihī nafsak, au anzaltahu fī kitābik, au a’lantahū ahadan min khalqik, awista’tsarta fī ‘ilmilgaibi ‘indak, an taj’alal qur’āna rabī‘a qalbī wa nūra shadrī wa jalā’a huznī wa dzahaba hammī wa ghammī/Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba laki-laki-Mu, anak dari hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku berada di tangan-Mu, telah berlalu keputusan-Mu padaku, keputusan-Mu adil untukku. Aku meminta, Ya Allah, dengan seluruh nama yang menjadi milik Engkau, yang Engkau menamai diri-Mu dengannya, yang Engkau turunkan di kitab-Mu, yang Engkau telah ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau simpan dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau menjadikan Al-Qur’an Al-’Azhim sebagai musim semi (penyejuk) hatiku, cahaya bagi dadaku, pengusir kesedihanku, dan penghilang rasa gundah gulanaku” [2].Sesungguhnya ini adalah obat yang ampuh dan bermanfaat. Setiap insan hendaknya memperbanyak dzikrullah (mengingat Allah). Allah Ta’ala akan angkat darinya rasa duka dan gundah gulana berdasarkan firman Allah Ta’ala,ألا بذكر الله تطمئن القلوب“… Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28).Seyogyanya setiap insan memperbanyak zikir-zikir yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam di pagi dan petang hari. Kebanyakan yang memudaratkan manusia pada perkara-perkara ini adalah karena lalai dari mengingat Allah Ta’ala dan lalai dari zikir-zikir syar’i. Na’am.Sumber:https://binothaimeen.net/content/12783Baca Juga:***Penulis: Muhammad Fadhli, ST.Artikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:radhiallahu’anhushallallahu ‘alaihi wasallam«دَعْوَةُ ذِي النونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الحُوتِ: ﴿ لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِني كُنْتُ مِنَ الظالِمِينَ ﴾ [الأنبياء: 87]، فَإِنهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَط إِلا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ»“Doa Dzun-Nun ketika ia berdoa di dalam perut ikan paus (adalah), ‘Tiada Ilah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.’ (QS. Al-Anbiya: 87). Tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam keadaan apapun, melainkan Allah akan ijabah (kabulkan) untuknya” (HR. At-Tirmidzi no. 3505, disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi).radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seseorang tertimpa kegelisahan atau kesedihan, lalu ia membaca, [lalu disebutkan doa di atas]. Lalu Nabi bersabda,إلا أذهبَ اللهُ همَّهُ و حزنَه ، و أبدلَه مكانَه فرجًا قال : فقيل : يا رسولَ اللهِ ألا نتعلَّمُها ؟ فقال بلى ، ينبغي لمن سمعَها أن يتعلَّمَها“ … kecuali Allah ‘Azza wa Jalla singkirkan kesedihannya dan gantikan rasa sedihnya dengan rasa bahagia.” Mereka (para Sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah semestinya kami mempelajari kalimat-kalimat tersebut?” Beliau bersabda, “Tentu saja! Sepatutnya bagi yang telah mendengarnya untuk mempelajarinya” (HR. Ahmad no. 3712, Ibnu Hibban no. 972, disahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 199).🔍 Al Ushul Ats Tsalatsah, Sejarah Berdirinya Syiah, Dilarang Judi, Dilipatgandakan, Mengapa Kita Dianjurkan Untuk Saling Menasehati Antar Sesama


Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahPertanyaan:Fadhilatusy-Syaikh, terkadang saya merasakan sempitnya hati dan depresi. Apakah sebabnya dan bagaimanakah cara mengobati keduanya? Semoga Allah membalas Anda dengan pahala.Jawaban:Tentang sebabnya, saya tidak dapat mengetahui hal itu. Karena penyebab depresi dan sempitnya hati itu berbeda-beda.Tetapi, ada satu hal yang bisa bermanfaat untuk seseorang dalam keadaan ini. Yaitu hendaknya ia berdoa dengan doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين/lā ilāha illā anta subhānaka innī kuntu minazhzhālimīn/“Tiada Ilah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Engkau, Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim” [1].Ini yang pertama. Kedua, hendaknya ia membaca doa dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,«اللهم إني عبدك ابن عبدك ابن أمتك، ناصيتي بيدك، ماضٍ في حكمك، عدلٌ في قضاؤك، أسألك اللهم بكل اسمٍ هو لك سميت به نفسك، أو أنزلته في كتابك، أو علمته أحداً من خلقك، أو استأثرت به في علم الغيب عندك، أن تجعل القرآن العظيم ربيع قلبي ونور صدري وجلاء جزني وذهاب همي وغمي»/Allāhumma innī ‘abduk, ibnu ‘abdik, ibnu amatik, nāshiyatī biyadik, mādhin fiyya hukmuk, ‘adlun fiyya qadhā’uk, as’alukallāhumma bikullismin huwa lak, sammaita bihī nafsak, au anzaltahu fī kitābik, au a’lantahū ahadan min khalqik, awista’tsarta fī ‘ilmilgaibi ‘indak, an taj’alal qur’āna rabī‘a qalbī wa nūra shadrī wa jalā’a huznī wa dzahaba hammī wa ghammī/Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba laki-laki-Mu, anak dari hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku berada di tangan-Mu, telah berlalu keputusan-Mu padaku, keputusan-Mu adil untukku. Aku meminta, Ya Allah, dengan seluruh nama yang menjadi milik Engkau, yang Engkau menamai diri-Mu dengannya, yang Engkau turunkan di kitab-Mu, yang Engkau telah ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau simpan dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau menjadikan Al-Qur’an Al-’Azhim sebagai musim semi (penyejuk) hatiku, cahaya bagi dadaku, pengusir kesedihanku, dan penghilang rasa gundah gulanaku” [2].Sesungguhnya ini adalah obat yang ampuh dan bermanfaat. Setiap insan hendaknya memperbanyak dzikrullah (mengingat Allah). Allah Ta’ala akan angkat darinya rasa duka dan gundah gulana berdasarkan firman Allah Ta’ala,ألا بذكر الله تطمئن القلوب“… Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28).Seyogyanya setiap insan memperbanyak zikir-zikir yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam di pagi dan petang hari. Kebanyakan yang memudaratkan manusia pada perkara-perkara ini adalah karena lalai dari mengingat Allah Ta’ala dan lalai dari zikir-zikir syar’i. Na’am.Sumber:https://binothaimeen.net/content/12783Baca Juga:***Penulis: Muhammad Fadhli, ST.Artikel: Muslim.or.id Catatan Kaki:radhiallahu’anhushallallahu ‘alaihi wasallam«دَعْوَةُ ذِي النونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الحُوتِ: ﴿ لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِني كُنْتُ مِنَ الظالِمِينَ ﴾ [الأنبياء: 87]، فَإِنهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَط إِلا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ»“Doa Dzun-Nun ketika ia berdoa di dalam perut ikan paus (adalah), ‘Tiada Ilah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.’ (QS. Al-Anbiya: 87). Tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam keadaan apapun, melainkan Allah akan ijabah (kabulkan) untuknya” (HR. At-Tirmidzi no. 3505, disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi).radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seseorang tertimpa kegelisahan atau kesedihan, lalu ia membaca, [lalu disebutkan doa di atas]. Lalu Nabi bersabda,إلا أذهبَ اللهُ همَّهُ و حزنَه ، و أبدلَه مكانَه فرجًا قال : فقيل : يا رسولَ اللهِ ألا نتعلَّمُها ؟ فقال بلى ، ينبغي لمن سمعَها أن يتعلَّمَها“ … kecuali Allah ‘Azza wa Jalla singkirkan kesedihannya dan gantikan rasa sedihnya dengan rasa bahagia.” Mereka (para Sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah semestinya kami mempelajari kalimat-kalimat tersebut?” Beliau bersabda, “Tentu saja! Sepatutnya bagi yang telah mendengarnya untuk mempelajarinya” (HR. Ahmad no. 3712, Ibnu Hibban no. 972, disahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 199).🔍 Al Ushul Ats Tsalatsah, Sejarah Berdirinya Syiah, Dilarang Judi, Dilipatgandakan, Mengapa Kita Dianjurkan Untuk Saling Menasehati Antar Sesama

Ilmu Tidak Didapatkan dengan Tubuh yang Santai

Semua manusia sepakat bahwa ilmu sangat penting bagi manusia. Baik ilmu dunia maupun ilmu agama, karena ilmu bisa meningkatkan derajat manusia.Allah berfirman,يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” [Al-Mujadilah : 11]Karena ilmu ini yang bisa mengarahkan orang untuk beramal dengan amal yang benar. Jika tidak berilmu, bagaimana ia bisa beramal? Ath-habari rahimahullahu berkata,ويرفع الله الذين أوتوا العلم من أهل الإيمان على المؤمنين، الذين لم يؤتوا العلم بفضل علمهم درجات، إذا عملوا بما أمروا به“Allah mengangkat derajat orang beriman yang berilmu di hadapan orang beriman yang tidak berilmu karena keutamaan ilmu mereka, jika mereka mengamalkan ilmu tersebut.”[1]Salah satu keutamaan ilmu juga sebagimana dalam ayat berikut.يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ ۖ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۙ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِMereka menanyakan kepadamu, “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah, “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajari dengan melatihnya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya) dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allâh amat cepat hisab-Nya.” [Al-Maidah/5:4].Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa anjing yang “berilmu/terlatih” (kalbun mu’allam/anjing terlatih) dihalalkan buruannya padahal anjing berburu dengan gigitan mulut dan ada air liurnya. Beliau berkata,ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﺟﻌﻞ ﺻﻴﺪ ﺍﻟﻜﻠﺐ ﺍﻟﺠﺎﻫﻞ ﻣﻴﺘﺔ ﻳﺤﺮُﻡ ﺃﻛﻠﻬﺎ ، ﻭﺃﺑﺎﺡ ﺻﻴﺪ ﺍﻟﻜﻠﺐ ﺍﻟﻤﻌﻠّﻢ ﻭﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺷﺮﻑ ﺍﻟﻌﻠﻢ“Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan buruan anjing yang “bodoh/tidak dilatih” sebagai bangkai yang haram di makan dan Allah membolehkan buruan anjing terlatih. Hal ini menunjukkan kemuliaan ilmu.”[2]Banyak orang yang sangat ingin berilmu dan menjadi orang yang memiliki ilmu, akan tetapi mereka tidak tahan dengan lelah dan letihnya menuntut ilmu. Ilmu tidak mungkin didapatkan, seseorang harus melawan nafsu bersantai-santainya.Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata,ولا يستطاع العلم براحة الجسد“Ilmu tidak akan didapatkan dengan tubuh yang santai (tidak bersungguh-sungguh)”[3]Semakin tinggi cita-cira kita, maka semakin sedikit juga waktu luang dan waktu untuk badan kita bersantai-ria.Imam Syafi’i rahimahullah juga mengisyaratkan perjalanan dan perjuangan berat menuntut ilmu dengan hasil yang baik. Beliau berkata,لا يطلب هذا العلم من يطلبه بالتملل وغنى النفس فيفلح، ولكن من طلبه بذلة النفس، وضيق العيش، وخدمة العلم، أفلح“Tidak mungkin menuntut ilmu orang yang pembosan, merasa puas jiwanya kemudian ia menjadi beruntung, akan tetapi ia harus menuntut ilmu dengan menahan diri, merasakan kesempitan hidup dan berkhidmat untuk ilmu, maka ia akan beruntung.”[4]Abu ‘Amr bin Ash-Shalah menceritakan biografi Imam Muslim rahimahullah, beliau berkata,وَكَانَ لمَوْته سَبَب غَرِيب نَشأ عَن غمرة فكرية علمية“Tentang sebab wafatnya (imam muslim) adalah suatu yang aneh (bagiku), timbul karena kepedihan/kesusahan hidup dalam (menuntut) ilmu.”[5]Menuntur ilmu selain meletihkan pikiran, juga terkadang meletihkan badan. Yahya Abu zakaria berkata,وذكر لي عمي عبيد الله قال: قفلت من خراسان ومعي عشرون وقرا من الكتب، فنزلت عند هذا البئر -يعني: بئر مجنة- فنزلت عنده اقتداء بالوالد“Pamanku Ubaidillah bercerita kepadaku, “aku kembali dari Khurasan dan bersamaku ada 20 beban berat yang berisikan buku-buku. Aku singgah di sebuah sumur –yaitu sumur Majannah- aku lakukan karena mencontoh ayahku.”[6]Imam Syafi’i rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang menanggung letihnya menuntut ilmu adalah orang yang beruntung dengan ilmunya kelak. Beliau berkata,ما أفلح فى العلم إلا من طلبه فى القلة، ولقد كنت أطلب القرطاس فيعسر علىَّ. وقال: لا يطلب أحد هذا العلم بالملك وعز النفس فيفلح“Tidak akan beruntung orang yang menuntut ilmu, kecuali orang yang menuntutnya dalam keadaan serba kekurangan aku dahulu mencari sehelai kertaspun sangat sulit. Tidak mungkin seseorang menuntut ilmu dengan keadaan serba ada dan harga diri yang tinggi kemudian ia beruntung.”[7]Semoga ini menjadi motivasi kita terutama di zaman ini yang ilmu sangat mudah diperoleh melalui internet, youtube dan sosial media. Jangan sampai kita terlena dengan kemudahan ini dan tidak berniat menuntut ilmu dengan baik. Silahkan bandingkan bagaimana cara kita menuntut ilmu dengan ulama zaman dulu.Baca juga: 60 Adab Dalam Menuntut Ilmu Ilmu Dicabut dengan Wafatnya Ulama Ilmu yang Dibutuhkan oleh Juru Dakwah  Catatan kaki: @ Yogyakarta TercintaPenulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel: Muslim.or.id🔍 Sholat Tasbih Menurut Salaf, Dalil Tentang Istighfar, Surah Al Baqarah Ayat 120, Membaca Alquran Di Bulan Ramadhan, Materi Tentang Shalat

Ilmu Tidak Didapatkan dengan Tubuh yang Santai

Semua manusia sepakat bahwa ilmu sangat penting bagi manusia. Baik ilmu dunia maupun ilmu agama, karena ilmu bisa meningkatkan derajat manusia.Allah berfirman,يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” [Al-Mujadilah : 11]Karena ilmu ini yang bisa mengarahkan orang untuk beramal dengan amal yang benar. Jika tidak berilmu, bagaimana ia bisa beramal? Ath-habari rahimahullahu berkata,ويرفع الله الذين أوتوا العلم من أهل الإيمان على المؤمنين، الذين لم يؤتوا العلم بفضل علمهم درجات، إذا عملوا بما أمروا به“Allah mengangkat derajat orang beriman yang berilmu di hadapan orang beriman yang tidak berilmu karena keutamaan ilmu mereka, jika mereka mengamalkan ilmu tersebut.”[1]Salah satu keutamaan ilmu juga sebagimana dalam ayat berikut.يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ ۖ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۙ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِMereka menanyakan kepadamu, “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah, “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajari dengan melatihnya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya) dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allâh amat cepat hisab-Nya.” [Al-Maidah/5:4].Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa anjing yang “berilmu/terlatih” (kalbun mu’allam/anjing terlatih) dihalalkan buruannya padahal anjing berburu dengan gigitan mulut dan ada air liurnya. Beliau berkata,ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﺟﻌﻞ ﺻﻴﺪ ﺍﻟﻜﻠﺐ ﺍﻟﺠﺎﻫﻞ ﻣﻴﺘﺔ ﻳﺤﺮُﻡ ﺃﻛﻠﻬﺎ ، ﻭﺃﺑﺎﺡ ﺻﻴﺪ ﺍﻟﻜﻠﺐ ﺍﻟﻤﻌﻠّﻢ ﻭﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺷﺮﻑ ﺍﻟﻌﻠﻢ“Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan buruan anjing yang “bodoh/tidak dilatih” sebagai bangkai yang haram di makan dan Allah membolehkan buruan anjing terlatih. Hal ini menunjukkan kemuliaan ilmu.”[2]Banyak orang yang sangat ingin berilmu dan menjadi orang yang memiliki ilmu, akan tetapi mereka tidak tahan dengan lelah dan letihnya menuntut ilmu. Ilmu tidak mungkin didapatkan, seseorang harus melawan nafsu bersantai-santainya.Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata,ولا يستطاع العلم براحة الجسد“Ilmu tidak akan didapatkan dengan tubuh yang santai (tidak bersungguh-sungguh)”[3]Semakin tinggi cita-cira kita, maka semakin sedikit juga waktu luang dan waktu untuk badan kita bersantai-ria.Imam Syafi’i rahimahullah juga mengisyaratkan perjalanan dan perjuangan berat menuntut ilmu dengan hasil yang baik. Beliau berkata,لا يطلب هذا العلم من يطلبه بالتملل وغنى النفس فيفلح، ولكن من طلبه بذلة النفس، وضيق العيش، وخدمة العلم، أفلح“Tidak mungkin menuntut ilmu orang yang pembosan, merasa puas jiwanya kemudian ia menjadi beruntung, akan tetapi ia harus menuntut ilmu dengan menahan diri, merasakan kesempitan hidup dan berkhidmat untuk ilmu, maka ia akan beruntung.”[4]Abu ‘Amr bin Ash-Shalah menceritakan biografi Imam Muslim rahimahullah, beliau berkata,وَكَانَ لمَوْته سَبَب غَرِيب نَشأ عَن غمرة فكرية علمية“Tentang sebab wafatnya (imam muslim) adalah suatu yang aneh (bagiku), timbul karena kepedihan/kesusahan hidup dalam (menuntut) ilmu.”[5]Menuntur ilmu selain meletihkan pikiran, juga terkadang meletihkan badan. Yahya Abu zakaria berkata,وذكر لي عمي عبيد الله قال: قفلت من خراسان ومعي عشرون وقرا من الكتب، فنزلت عند هذا البئر -يعني: بئر مجنة- فنزلت عنده اقتداء بالوالد“Pamanku Ubaidillah bercerita kepadaku, “aku kembali dari Khurasan dan bersamaku ada 20 beban berat yang berisikan buku-buku. Aku singgah di sebuah sumur –yaitu sumur Majannah- aku lakukan karena mencontoh ayahku.”[6]Imam Syafi’i rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang menanggung letihnya menuntut ilmu adalah orang yang beruntung dengan ilmunya kelak. Beliau berkata,ما أفلح فى العلم إلا من طلبه فى القلة، ولقد كنت أطلب القرطاس فيعسر علىَّ. وقال: لا يطلب أحد هذا العلم بالملك وعز النفس فيفلح“Tidak akan beruntung orang yang menuntut ilmu, kecuali orang yang menuntutnya dalam keadaan serba kekurangan aku dahulu mencari sehelai kertaspun sangat sulit. Tidak mungkin seseorang menuntut ilmu dengan keadaan serba ada dan harga diri yang tinggi kemudian ia beruntung.”[7]Semoga ini menjadi motivasi kita terutama di zaman ini yang ilmu sangat mudah diperoleh melalui internet, youtube dan sosial media. Jangan sampai kita terlena dengan kemudahan ini dan tidak berniat menuntut ilmu dengan baik. Silahkan bandingkan bagaimana cara kita menuntut ilmu dengan ulama zaman dulu.Baca juga: 60 Adab Dalam Menuntut Ilmu Ilmu Dicabut dengan Wafatnya Ulama Ilmu yang Dibutuhkan oleh Juru Dakwah  Catatan kaki: @ Yogyakarta TercintaPenulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel: Muslim.or.id🔍 Sholat Tasbih Menurut Salaf, Dalil Tentang Istighfar, Surah Al Baqarah Ayat 120, Membaca Alquran Di Bulan Ramadhan, Materi Tentang Shalat
Semua manusia sepakat bahwa ilmu sangat penting bagi manusia. Baik ilmu dunia maupun ilmu agama, karena ilmu bisa meningkatkan derajat manusia.Allah berfirman,يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” [Al-Mujadilah : 11]Karena ilmu ini yang bisa mengarahkan orang untuk beramal dengan amal yang benar. Jika tidak berilmu, bagaimana ia bisa beramal? Ath-habari rahimahullahu berkata,ويرفع الله الذين أوتوا العلم من أهل الإيمان على المؤمنين، الذين لم يؤتوا العلم بفضل علمهم درجات، إذا عملوا بما أمروا به“Allah mengangkat derajat orang beriman yang berilmu di hadapan orang beriman yang tidak berilmu karena keutamaan ilmu mereka, jika mereka mengamalkan ilmu tersebut.”[1]Salah satu keutamaan ilmu juga sebagimana dalam ayat berikut.يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ ۖ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۙ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِMereka menanyakan kepadamu, “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah, “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajari dengan melatihnya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya) dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allâh amat cepat hisab-Nya.” [Al-Maidah/5:4].Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa anjing yang “berilmu/terlatih” (kalbun mu’allam/anjing terlatih) dihalalkan buruannya padahal anjing berburu dengan gigitan mulut dan ada air liurnya. Beliau berkata,ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﺟﻌﻞ ﺻﻴﺪ ﺍﻟﻜﻠﺐ ﺍﻟﺠﺎﻫﻞ ﻣﻴﺘﺔ ﻳﺤﺮُﻡ ﺃﻛﻠﻬﺎ ، ﻭﺃﺑﺎﺡ ﺻﻴﺪ ﺍﻟﻜﻠﺐ ﺍﻟﻤﻌﻠّﻢ ﻭﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺷﺮﻑ ﺍﻟﻌﻠﻢ“Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan buruan anjing yang “bodoh/tidak dilatih” sebagai bangkai yang haram di makan dan Allah membolehkan buruan anjing terlatih. Hal ini menunjukkan kemuliaan ilmu.”[2]Banyak orang yang sangat ingin berilmu dan menjadi orang yang memiliki ilmu, akan tetapi mereka tidak tahan dengan lelah dan letihnya menuntut ilmu. Ilmu tidak mungkin didapatkan, seseorang harus melawan nafsu bersantai-santainya.Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata,ولا يستطاع العلم براحة الجسد“Ilmu tidak akan didapatkan dengan tubuh yang santai (tidak bersungguh-sungguh)”[3]Semakin tinggi cita-cira kita, maka semakin sedikit juga waktu luang dan waktu untuk badan kita bersantai-ria.Imam Syafi’i rahimahullah juga mengisyaratkan perjalanan dan perjuangan berat menuntut ilmu dengan hasil yang baik. Beliau berkata,لا يطلب هذا العلم من يطلبه بالتملل وغنى النفس فيفلح، ولكن من طلبه بذلة النفس، وضيق العيش، وخدمة العلم، أفلح“Tidak mungkin menuntut ilmu orang yang pembosan, merasa puas jiwanya kemudian ia menjadi beruntung, akan tetapi ia harus menuntut ilmu dengan menahan diri, merasakan kesempitan hidup dan berkhidmat untuk ilmu, maka ia akan beruntung.”[4]Abu ‘Amr bin Ash-Shalah menceritakan biografi Imam Muslim rahimahullah, beliau berkata,وَكَانَ لمَوْته سَبَب غَرِيب نَشأ عَن غمرة فكرية علمية“Tentang sebab wafatnya (imam muslim) adalah suatu yang aneh (bagiku), timbul karena kepedihan/kesusahan hidup dalam (menuntut) ilmu.”[5]Menuntur ilmu selain meletihkan pikiran, juga terkadang meletihkan badan. Yahya Abu zakaria berkata,وذكر لي عمي عبيد الله قال: قفلت من خراسان ومعي عشرون وقرا من الكتب، فنزلت عند هذا البئر -يعني: بئر مجنة- فنزلت عنده اقتداء بالوالد“Pamanku Ubaidillah bercerita kepadaku, “aku kembali dari Khurasan dan bersamaku ada 20 beban berat yang berisikan buku-buku. Aku singgah di sebuah sumur –yaitu sumur Majannah- aku lakukan karena mencontoh ayahku.”[6]Imam Syafi’i rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang menanggung letihnya menuntut ilmu adalah orang yang beruntung dengan ilmunya kelak. Beliau berkata,ما أفلح فى العلم إلا من طلبه فى القلة، ولقد كنت أطلب القرطاس فيعسر علىَّ. وقال: لا يطلب أحد هذا العلم بالملك وعز النفس فيفلح“Tidak akan beruntung orang yang menuntut ilmu, kecuali orang yang menuntutnya dalam keadaan serba kekurangan aku dahulu mencari sehelai kertaspun sangat sulit. Tidak mungkin seseorang menuntut ilmu dengan keadaan serba ada dan harga diri yang tinggi kemudian ia beruntung.”[7]Semoga ini menjadi motivasi kita terutama di zaman ini yang ilmu sangat mudah diperoleh melalui internet, youtube dan sosial media. Jangan sampai kita terlena dengan kemudahan ini dan tidak berniat menuntut ilmu dengan baik. Silahkan bandingkan bagaimana cara kita menuntut ilmu dengan ulama zaman dulu.Baca juga: 60 Adab Dalam Menuntut Ilmu Ilmu Dicabut dengan Wafatnya Ulama Ilmu yang Dibutuhkan oleh Juru Dakwah  Catatan kaki: @ Yogyakarta TercintaPenulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel: Muslim.or.id🔍 Sholat Tasbih Menurut Salaf, Dalil Tentang Istighfar, Surah Al Baqarah Ayat 120, Membaca Alquran Di Bulan Ramadhan, Materi Tentang Shalat


Semua manusia sepakat bahwa ilmu sangat penting bagi manusia. Baik ilmu dunia maupun ilmu agama, karena ilmu bisa meningkatkan derajat manusia.Allah berfirman,يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” [Al-Mujadilah : 11]Karena ilmu ini yang bisa mengarahkan orang untuk beramal dengan amal yang benar. Jika tidak berilmu, bagaimana ia bisa beramal? Ath-habari rahimahullahu berkata,ويرفع الله الذين أوتوا العلم من أهل الإيمان على المؤمنين، الذين لم يؤتوا العلم بفضل علمهم درجات، إذا عملوا بما أمروا به“Allah mengangkat derajat orang beriman yang berilmu di hadapan orang beriman yang tidak berilmu karena keutamaan ilmu mereka, jika mereka mengamalkan ilmu tersebut.”[1]Salah satu keutamaan ilmu juga sebagimana dalam ayat berikut.يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ ۖ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۙ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِMereka menanyakan kepadamu, “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah, “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajari dengan melatihnya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya) dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allâh amat cepat hisab-Nya.” [Al-Maidah/5:4].Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa anjing yang “berilmu/terlatih” (kalbun mu’allam/anjing terlatih) dihalalkan buruannya padahal anjing berburu dengan gigitan mulut dan ada air liurnya. Beliau berkata,ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﺟﻌﻞ ﺻﻴﺪ ﺍﻟﻜﻠﺐ ﺍﻟﺠﺎﻫﻞ ﻣﻴﺘﺔ ﻳﺤﺮُﻡ ﺃﻛﻠﻬﺎ ، ﻭﺃﺑﺎﺡ ﺻﻴﺪ ﺍﻟﻜﻠﺐ ﺍﻟﻤﻌﻠّﻢ ﻭﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺷﺮﻑ ﺍﻟﻌﻠﻢ“Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan buruan anjing yang “bodoh/tidak dilatih” sebagai bangkai yang haram di makan dan Allah membolehkan buruan anjing terlatih. Hal ini menunjukkan kemuliaan ilmu.”[2]Banyak orang yang sangat ingin berilmu dan menjadi orang yang memiliki ilmu, akan tetapi mereka tidak tahan dengan lelah dan letihnya menuntut ilmu. Ilmu tidak mungkin didapatkan, seseorang harus melawan nafsu bersantai-santainya.Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata,ولا يستطاع العلم براحة الجسد“Ilmu tidak akan didapatkan dengan tubuh yang santai (tidak bersungguh-sungguh)”[3]Semakin tinggi cita-cira kita, maka semakin sedikit juga waktu luang dan waktu untuk badan kita bersantai-ria.Imam Syafi’i rahimahullah juga mengisyaratkan perjalanan dan perjuangan berat menuntut ilmu dengan hasil yang baik. Beliau berkata,لا يطلب هذا العلم من يطلبه بالتملل وغنى النفس فيفلح، ولكن من طلبه بذلة النفس، وضيق العيش، وخدمة العلم، أفلح“Tidak mungkin menuntut ilmu orang yang pembosan, merasa puas jiwanya kemudian ia menjadi beruntung, akan tetapi ia harus menuntut ilmu dengan menahan diri, merasakan kesempitan hidup dan berkhidmat untuk ilmu, maka ia akan beruntung.”[4]Abu ‘Amr bin Ash-Shalah menceritakan biografi Imam Muslim rahimahullah, beliau berkata,وَكَانَ لمَوْته سَبَب غَرِيب نَشأ عَن غمرة فكرية علمية“Tentang sebab wafatnya (imam muslim) adalah suatu yang aneh (bagiku), timbul karena kepedihan/kesusahan hidup dalam (menuntut) ilmu.”[5]Menuntur ilmu selain meletihkan pikiran, juga terkadang meletihkan badan. Yahya Abu zakaria berkata,وذكر لي عمي عبيد الله قال: قفلت من خراسان ومعي عشرون وقرا من الكتب، فنزلت عند هذا البئر -يعني: بئر مجنة- فنزلت عنده اقتداء بالوالد“Pamanku Ubaidillah bercerita kepadaku, “aku kembali dari Khurasan dan bersamaku ada 20 beban berat yang berisikan buku-buku. Aku singgah di sebuah sumur –yaitu sumur Majannah- aku lakukan karena mencontoh ayahku.”[6]Imam Syafi’i rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang menanggung letihnya menuntut ilmu adalah orang yang beruntung dengan ilmunya kelak. Beliau berkata,ما أفلح فى العلم إلا من طلبه فى القلة، ولقد كنت أطلب القرطاس فيعسر علىَّ. وقال: لا يطلب أحد هذا العلم بالملك وعز النفس فيفلح“Tidak akan beruntung orang yang menuntut ilmu, kecuali orang yang menuntutnya dalam keadaan serba kekurangan aku dahulu mencari sehelai kertaspun sangat sulit. Tidak mungkin seseorang menuntut ilmu dengan keadaan serba ada dan harga diri yang tinggi kemudian ia beruntung.”[7]Semoga ini menjadi motivasi kita terutama di zaman ini yang ilmu sangat mudah diperoleh melalui internet, youtube dan sosial media. Jangan sampai kita terlena dengan kemudahan ini dan tidak berniat menuntut ilmu dengan baik. Silahkan bandingkan bagaimana cara kita menuntut ilmu dengan ulama zaman dulu.Baca juga: 60 Adab Dalam Menuntut Ilmu Ilmu Dicabut dengan Wafatnya Ulama Ilmu yang Dibutuhkan oleh Juru Dakwah  Catatan kaki: @ Yogyakarta TercintaPenulis: dr. Raehanul Bahraen Artikel: Muslim.or.id🔍 Sholat Tasbih Menurut Salaf, Dalil Tentang Istighfar, Surah Al Baqarah Ayat 120, Membaca Alquran Di Bulan Ramadhan, Materi Tentang Shalat

Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang Meninggalkannya

Di akhir zaman, Islam akan kembali asing. Sampai-sampai kaum Muslimin tidak mengenal ajaran-ajaran agamanya sendiri. Mereka asing terhadap sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga sunnah Nabi banyak ditinggalkan oleh kaum Muslimin. Orang yang mengamalkan sunnah pun dianggap asing dan aneh. Maka di masa ketika itulah, orang yang istiqamah mengamalkan sunnah Nabi diuji kesabarannya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita” [1].Allah Ta’ala juga berfirman,وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا“Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak)” [2].Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,يأتي على النَّاسِ زمانٌ الصَّابرُ فيهم على دينِه كالقابضِ على الجمرِ“Akan datang suatu masa, orang yang bersabar berpegang pada agamanya, seperti menggenggam bara api” [3].Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda,بدأَ الإسلامُ غريبًا، وسيعودُ كما بدأَ غريبًا، فطوبى للغرباءِ“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah ghuraba (orang-orang yang asing)” [4].Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah menjelaskan hadis ini dengan mengatakan, “Artinya bahwa Islam dimulai dalam keadan asing sebagaimana keadaan di Mekkah dan di Madinah ketika awal-awal hijrah. Islam tidak diketahui dan tidak ada yang mengamalkan kecuali sedikit orang saja. Kemudian ia mulai tersebar dan orang-orang masuk (Islam) dengan jumlah yang banyak dan dominan di atas agama-agama yang lain.Dan Islam akan kembali asing di akhir zaman, sebagaimana awal kemunculannya. Ia tidak dikenal dengan baik kecuali oleh sedikit orang dan tidak diterapkan sesuai dengan yang disyariatkan kecuali sedikit dari manusia dan mereka itu asing. Dan hadis lengkapnya adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,فطوبى للغرباء“Maka beruntunglah orang-orang yang asing”.Dan dalam riwayat yang lain,قيل يا رسول الله ومن الغرباء؟ فقال: الذين يصلحون إذا فسد الناس“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang asing itu (al-Ghuraba)?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Yaitu orang-orang yang mengadakan perbaikan di tengah manusia yang berbuat kerusakan”.Dan dalam lafaz yang lain,هم الذين يصلحون ما أفسد الناس من سنتي”Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki sunnahku yang dirusak manusia” [5].Orang-orang yang bisa bersabar dan tetap istiqamah di masa itu, ia akan mendapatkan pahala yang besar dan kedudukan yang tinggi. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ“Beribadah di masa haraj (sulit), seperti berhijrah kepadaku” [6].Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,المراد بالهرج هنا الفتنة واختلاط أمور الناس“Yang dimaksud dengan al-haraj adalah fitnah (kekacauan) dan kesemrawutan perkara di tengah manusia” [7].Bahkan orang-orang yang istiqamah ketika itu dikatakan sebagai orang yang beruntung mendapatkan surga. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,بدأَ الإسلامُ غريبًا، وسيعودُ كما بدأَ غريبًا، فطوبى للغرباءِ“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah ghuraba (orang-orang yang asing)” [8].Kata طوبى dalam hadis ini maknanya adalah surga. Dalam sebuah hadis disebutkan,طوبى شجرةٌ في الجنَّةِ ، مسيرةُ مائَةِ عامٍ“Tuba adalah pohon di surga, tingginya sepanjang perjalanan 100 tahun” [9].Maka tidak mungkin bisa mendapatkan “tuba” ini kecuali orang yang masuk surga. Maka tetaplah istiqamah, dan bersabarlah. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.idFootnote:[1]QS Al-Ahqaf : 13[2]QS. Al-Jin: 16[3]HR. Tirmidzi no. 2260, disahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi[4]HR. Muslim no. 145[5]Diterjemahkan dari http://ar.islamway.net/fatwa/46079[6]HR. Muslim no. 2948[7]Syarah Shahih Muslim, 18/391[8]HR. Muslim no. 145[9]HR. Ahmad no.11673, Abu Ya’la dalam Musnad-nya no.1374, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami, no. 3918🔍 Cara Kb Alami Menurut Islam, Mengadu Kepada Allah, Hadist Anak Perempuan, Apa Buktinya Kalian Cinta Kepada Nabi Dan Rasul Jelaskan, Keutamaan Shalawat Nabi Muhammad Saw

Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang Meninggalkannya

Di akhir zaman, Islam akan kembali asing. Sampai-sampai kaum Muslimin tidak mengenal ajaran-ajaran agamanya sendiri. Mereka asing terhadap sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga sunnah Nabi banyak ditinggalkan oleh kaum Muslimin. Orang yang mengamalkan sunnah pun dianggap asing dan aneh. Maka di masa ketika itulah, orang yang istiqamah mengamalkan sunnah Nabi diuji kesabarannya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita” [1].Allah Ta’ala juga berfirman,وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا“Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak)” [2].Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,يأتي على النَّاسِ زمانٌ الصَّابرُ فيهم على دينِه كالقابضِ على الجمرِ“Akan datang suatu masa, orang yang bersabar berpegang pada agamanya, seperti menggenggam bara api” [3].Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda,بدأَ الإسلامُ غريبًا، وسيعودُ كما بدأَ غريبًا، فطوبى للغرباءِ“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah ghuraba (orang-orang yang asing)” [4].Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah menjelaskan hadis ini dengan mengatakan, “Artinya bahwa Islam dimulai dalam keadan asing sebagaimana keadaan di Mekkah dan di Madinah ketika awal-awal hijrah. Islam tidak diketahui dan tidak ada yang mengamalkan kecuali sedikit orang saja. Kemudian ia mulai tersebar dan orang-orang masuk (Islam) dengan jumlah yang banyak dan dominan di atas agama-agama yang lain.Dan Islam akan kembali asing di akhir zaman, sebagaimana awal kemunculannya. Ia tidak dikenal dengan baik kecuali oleh sedikit orang dan tidak diterapkan sesuai dengan yang disyariatkan kecuali sedikit dari manusia dan mereka itu asing. Dan hadis lengkapnya adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,فطوبى للغرباء“Maka beruntunglah orang-orang yang asing”.Dan dalam riwayat yang lain,قيل يا رسول الله ومن الغرباء؟ فقال: الذين يصلحون إذا فسد الناس“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang asing itu (al-Ghuraba)?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Yaitu orang-orang yang mengadakan perbaikan di tengah manusia yang berbuat kerusakan”.Dan dalam lafaz yang lain,هم الذين يصلحون ما أفسد الناس من سنتي”Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki sunnahku yang dirusak manusia” [5].Orang-orang yang bisa bersabar dan tetap istiqamah di masa itu, ia akan mendapatkan pahala yang besar dan kedudukan yang tinggi. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ“Beribadah di masa haraj (sulit), seperti berhijrah kepadaku” [6].Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,المراد بالهرج هنا الفتنة واختلاط أمور الناس“Yang dimaksud dengan al-haraj adalah fitnah (kekacauan) dan kesemrawutan perkara di tengah manusia” [7].Bahkan orang-orang yang istiqamah ketika itu dikatakan sebagai orang yang beruntung mendapatkan surga. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,بدأَ الإسلامُ غريبًا، وسيعودُ كما بدأَ غريبًا، فطوبى للغرباءِ“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah ghuraba (orang-orang yang asing)” [8].Kata طوبى dalam hadis ini maknanya adalah surga. Dalam sebuah hadis disebutkan,طوبى شجرةٌ في الجنَّةِ ، مسيرةُ مائَةِ عامٍ“Tuba adalah pohon di surga, tingginya sepanjang perjalanan 100 tahun” [9].Maka tidak mungkin bisa mendapatkan “tuba” ini kecuali orang yang masuk surga. Maka tetaplah istiqamah, dan bersabarlah. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.idFootnote:[1]QS Al-Ahqaf : 13[2]QS. Al-Jin: 16[3]HR. Tirmidzi no. 2260, disahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi[4]HR. Muslim no. 145[5]Diterjemahkan dari http://ar.islamway.net/fatwa/46079[6]HR. Muslim no. 2948[7]Syarah Shahih Muslim, 18/391[8]HR. Muslim no. 145[9]HR. Ahmad no.11673, Abu Ya’la dalam Musnad-nya no.1374, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami, no. 3918🔍 Cara Kb Alami Menurut Islam, Mengadu Kepada Allah, Hadist Anak Perempuan, Apa Buktinya Kalian Cinta Kepada Nabi Dan Rasul Jelaskan, Keutamaan Shalawat Nabi Muhammad Saw
Di akhir zaman, Islam akan kembali asing. Sampai-sampai kaum Muslimin tidak mengenal ajaran-ajaran agamanya sendiri. Mereka asing terhadap sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga sunnah Nabi banyak ditinggalkan oleh kaum Muslimin. Orang yang mengamalkan sunnah pun dianggap asing dan aneh. Maka di masa ketika itulah, orang yang istiqamah mengamalkan sunnah Nabi diuji kesabarannya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita” [1].Allah Ta’ala juga berfirman,وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا“Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak)” [2].Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,يأتي على النَّاسِ زمانٌ الصَّابرُ فيهم على دينِه كالقابضِ على الجمرِ“Akan datang suatu masa, orang yang bersabar berpegang pada agamanya, seperti menggenggam bara api” [3].Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda,بدأَ الإسلامُ غريبًا، وسيعودُ كما بدأَ غريبًا، فطوبى للغرباءِ“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah ghuraba (orang-orang yang asing)” [4].Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah menjelaskan hadis ini dengan mengatakan, “Artinya bahwa Islam dimulai dalam keadan asing sebagaimana keadaan di Mekkah dan di Madinah ketika awal-awal hijrah. Islam tidak diketahui dan tidak ada yang mengamalkan kecuali sedikit orang saja. Kemudian ia mulai tersebar dan orang-orang masuk (Islam) dengan jumlah yang banyak dan dominan di atas agama-agama yang lain.Dan Islam akan kembali asing di akhir zaman, sebagaimana awal kemunculannya. Ia tidak dikenal dengan baik kecuali oleh sedikit orang dan tidak diterapkan sesuai dengan yang disyariatkan kecuali sedikit dari manusia dan mereka itu asing. Dan hadis lengkapnya adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,فطوبى للغرباء“Maka beruntunglah orang-orang yang asing”.Dan dalam riwayat yang lain,قيل يا رسول الله ومن الغرباء؟ فقال: الذين يصلحون إذا فسد الناس“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang asing itu (al-Ghuraba)?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Yaitu orang-orang yang mengadakan perbaikan di tengah manusia yang berbuat kerusakan”.Dan dalam lafaz yang lain,هم الذين يصلحون ما أفسد الناس من سنتي”Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki sunnahku yang dirusak manusia” [5].Orang-orang yang bisa bersabar dan tetap istiqamah di masa itu, ia akan mendapatkan pahala yang besar dan kedudukan yang tinggi. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ“Beribadah di masa haraj (sulit), seperti berhijrah kepadaku” [6].Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,المراد بالهرج هنا الفتنة واختلاط أمور الناس“Yang dimaksud dengan al-haraj adalah fitnah (kekacauan) dan kesemrawutan perkara di tengah manusia” [7].Bahkan orang-orang yang istiqamah ketika itu dikatakan sebagai orang yang beruntung mendapatkan surga. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,بدأَ الإسلامُ غريبًا، وسيعودُ كما بدأَ غريبًا، فطوبى للغرباءِ“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah ghuraba (orang-orang yang asing)” [8].Kata طوبى dalam hadis ini maknanya adalah surga. Dalam sebuah hadis disebutkan,طوبى شجرةٌ في الجنَّةِ ، مسيرةُ مائَةِ عامٍ“Tuba adalah pohon di surga, tingginya sepanjang perjalanan 100 tahun” [9].Maka tidak mungkin bisa mendapatkan “tuba” ini kecuali orang yang masuk surga. Maka tetaplah istiqamah, dan bersabarlah. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.idFootnote:[1]QS Al-Ahqaf : 13[2]QS. Al-Jin: 16[3]HR. Tirmidzi no. 2260, disahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi[4]HR. Muslim no. 145[5]Diterjemahkan dari http://ar.islamway.net/fatwa/46079[6]HR. Muslim no. 2948[7]Syarah Shahih Muslim, 18/391[8]HR. Muslim no. 145[9]HR. Ahmad no.11673, Abu Ya’la dalam Musnad-nya no.1374, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami, no. 3918🔍 Cara Kb Alami Menurut Islam, Mengadu Kepada Allah, Hadist Anak Perempuan, Apa Buktinya Kalian Cinta Kepada Nabi Dan Rasul Jelaskan, Keutamaan Shalawat Nabi Muhammad Saw


Di akhir zaman, Islam akan kembali asing. Sampai-sampai kaum Muslimin tidak mengenal ajaran-ajaran agamanya sendiri. Mereka asing terhadap sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga sunnah Nabi banyak ditinggalkan oleh kaum Muslimin. Orang yang mengamalkan sunnah pun dianggap asing dan aneh. Maka di masa ketika itulah, orang yang istiqamah mengamalkan sunnah Nabi diuji kesabarannya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita” [1].Allah Ta’ala juga berfirman,وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا“Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak)” [2].Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,يأتي على النَّاسِ زمانٌ الصَّابرُ فيهم على دينِه كالقابضِ على الجمرِ“Akan datang suatu masa, orang yang bersabar berpegang pada agamanya, seperti menggenggam bara api” [3].Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda,بدأَ الإسلامُ غريبًا، وسيعودُ كما بدأَ غريبًا، فطوبى للغرباءِ“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah ghuraba (orang-orang yang asing)” [4].Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah menjelaskan hadis ini dengan mengatakan, “Artinya bahwa Islam dimulai dalam keadan asing sebagaimana keadaan di Mekkah dan di Madinah ketika awal-awal hijrah. Islam tidak diketahui dan tidak ada yang mengamalkan kecuali sedikit orang saja. Kemudian ia mulai tersebar dan orang-orang masuk (Islam) dengan jumlah yang banyak dan dominan di atas agama-agama yang lain.Dan Islam akan kembali asing di akhir zaman, sebagaimana awal kemunculannya. Ia tidak dikenal dengan baik kecuali oleh sedikit orang dan tidak diterapkan sesuai dengan yang disyariatkan kecuali sedikit dari manusia dan mereka itu asing. Dan hadis lengkapnya adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,فطوبى للغرباء“Maka beruntunglah orang-orang yang asing”.Dan dalam riwayat yang lain,قيل يا رسول الله ومن الغرباء؟ فقال: الذين يصلحون إذا فسد الناس“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang asing itu (al-Ghuraba)?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Yaitu orang-orang yang mengadakan perbaikan di tengah manusia yang berbuat kerusakan”.Dan dalam lafaz yang lain,هم الذين يصلحون ما أفسد الناس من سنتي”Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki sunnahku yang dirusak manusia” [5].Orang-orang yang bisa bersabar dan tetap istiqamah di masa itu, ia akan mendapatkan pahala yang besar dan kedudukan yang tinggi. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ“Beribadah di masa haraj (sulit), seperti berhijrah kepadaku” [6].Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,المراد بالهرج هنا الفتنة واختلاط أمور الناس“Yang dimaksud dengan al-haraj adalah fitnah (kekacauan) dan kesemrawutan perkara di tengah manusia” [7].Bahkan orang-orang yang istiqamah ketika itu dikatakan sebagai orang yang beruntung mendapatkan surga. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,بدأَ الإسلامُ غريبًا، وسيعودُ كما بدأَ غريبًا، فطوبى للغرباءِ“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah ghuraba (orang-orang yang asing)” [8].Kata طوبى dalam hadis ini maknanya adalah surga. Dalam sebuah hadis disebutkan,طوبى شجرةٌ في الجنَّةِ ، مسيرةُ مائَةِ عامٍ“Tuba adalah pohon di surga, tingginya sepanjang perjalanan 100 tahun” [9].Maka tidak mungkin bisa mendapatkan “tuba” ini kecuali orang yang masuk surga. Maka tetaplah istiqamah, dan bersabarlah. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik.Baca Juga:Penulis: Yulian PurnamaArtikel: Muslim.or.idFootnote:[1]QS Al-Ahqaf : 13[2]QS. Al-Jin: 16[3]HR. Tirmidzi no. 2260, disahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi[4]HR. Muslim no. 145[5]Diterjemahkan dari http://ar.islamway.net/fatwa/46079[6]HR. Muslim no. 2948[7]Syarah Shahih Muslim, 18/391[8]HR. Muslim no. 145[9]HR. Ahmad no.11673, Abu Ya’la dalam Musnad-nya no.1374, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami, no. 3918🔍 Cara Kb Alami Menurut Islam, Mengadu Kepada Allah, Hadist Anak Perempuan, Apa Buktinya Kalian Cinta Kepada Nabi Dan Rasul Jelaskan, Keutamaan Shalawat Nabi Muhammad Saw

7 Pertengkaran Para Penghuni Neraka yang Wajib Kita Ketahui

Ilustrasi lampu @unsplash.comPertengkaran Penghuni NerakaOleh Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Pembahasan pada kesempatan kali ini, kita akan membahas suatu hal yang berkaitan dengan iman dengan hari akhir (kiamat). Tentunya, ada banyak hal perlu untuk kita imani terkait dengan hari akhir, di antaranya kita harus mengimani adanya neraka jahanam.Sebagaimana dalil-dalil yang kita ketahui tentang neraka jahanam, kita tentu menjadi tahu tentang betapa dahsyatnya azab neraka jahanam yang akan dirasakan oleh penghuninya kelak, baik dari sisi apinya, makanannya, minumannya, pakaiannya, dan berbagai macam siksaan lainnya.Di antara siksaan-siksaan yang Allah ﷻ berikan kepada penghuni neraka jahanam adalah siksaan mental. Di antaranya penghuni neraka akan dipermalukan dengan dipertemukannya mereka dengan makhluk yang mereka sembah ketika di dunia, sehingga terjadi pertengkaran di antara mereka. Dari pertengkaran tersebut, para penghuni neraka tidak hanya disiksa dengan siksaan fisik, akan tetapi mereka juga disiksa dengan siksaan mental yang menambah penderitaan mereka di akhirat kelak.Siksaan yang beragam yang diterima oleh penghuni neraka kelak menjadikan mereka akhirnya menyesal dengan penyesalan yang panjang. Namun, penyesalan mereka tersebut tidak lagi memiliki manfaat sedikit pun bagi mereka saat itu. Oleh karenanya, di antara nama dari hari kiamat yang Allah ﷻ sebutkan adalah Yaumul Hasrah (يَوْمَ الْحَسْرَةِ) yang artinya hari penyesalan. Hari kiamat disebut dengan hari penyesalan karena pada hari itu akan banyak penyesalan yang sangat mendalam yang akan diungkapkan oleh penghuni neraka.([1])Pertengkaran-pertengkaran Penghuni NerakaBentuk pertengkaran penghuni neraka pada hari kiamat kelak bisa kita klasifikasikan menjadi tujuh bentuk pertengkaran, berdasarkan urutan ayat-ayat yang datang di dalam Al-Qur’an.Mereka saling berlepas diriHal ini Allah ﷻ sebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 166, di mana antara orang yang mengikuti dan diikuti saling berlepas diri. Allah ﷻ berfirman,﴿إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ، وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذٰلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ﴾“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa di hadapan mereka; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti, ‘Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami’. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya sebagai bentuk penyesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS. Al-Baqarah: 166-167)Ayat ini menggambarkan bagaimana Allah ﷻ mempertemukan antara orang yang diikuti dan yang mengikuti, dan mereka sama-sama menuju neraka jahanam dan sama-sama melihat azab di hadapan mereka. Ketika melihat azab di hadapan mereka, maka terputuslah hubungan mereka kala itu. Mungkin yang dahulu di dunia mereka saling dekat, saling jalan bersama, saling bersama dalam melakukan kemaksiatan dan kesyirikan, saling mencintai di antara mereka, namun seluruh hubungan akan terputus ketika itu. Allah ﷻ berfirman,﴿الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ﴾“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)Yang pertama kali berlepas diri kelak adalah para pemimpin (yang diikuti). Para pemimpin tidak mau didekati oleh para pengikutnya. Mereka telah sadar bahwasanya mereka akan masuk neraka, akan tetapi hadirnya pengikut mereka menjadi tambahan azab baginya, sehingga mereka akhirnya ingin berlepas diri dari pengikutnya sejak awal.Tentunya, para pengikut ketika melihat pemimpin mereka berlepas diri dari mereka akan sangat kecewa. Orang yang dahulu di dunia mereka harap-harapkan, ternyata ketika hari itu berlepas diri dari mereka. Hal ini tentunya memberikan penderitaan yang tidak ringan, karena hari itu mereka tidak tahu ke mana lagi harus meminta pertolongan, sementara penderitaan telah mereka rasakan meskipun mereka belum dimasukkan ke dalam neraka. Oleh karenanya, ketika itu mereka akan berkata,﴿لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا﴾“Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” (QS. Al-Baqarah: 167)Angan-angan tersebut pastinya menjadi sebuah penyesalan karena mereka tidak bisa lagi kembali ke dunia untuk berlepas diri dari pemimpin-pemimpin mereka. Namun, penyesalan pada hari itu tiada guna, karena mereka tidak akan bisa keluar dari neraka jahanam sebagaimana firman Allah ﷻ,﴿وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ﴾“Dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS. Al-Baqarah: 167)Kata هُم dalam ayat ini memiliki dua tafsiran di kalangan para ulama. Sebagian mengatakan bahwa هُم maksudnya adalah untuk penekanan bahwa mereka tidak akan keluar dari neraka jahanam, namun sebagian yang lain mengatakan bahwa maksud هُم di sini adalah penyebutan spesifik bagi orang-orang kafir di mana mereka tidak akan keluar dari neraka jahanam.([2]) Intinya, Allah ﷻ telah menekankan bahwasanya orang-orang yang masuk ke dalam neraka jahanam tersebut tidak akan keluar dari neraka jahanam. Hal ini menjadi sebuah siksaan yang sangat mengerikan, ketika seseorang masuk ke dalam neraka dan tidak bisa keluar darinya. Adapun orang-orang bertauhid yang masuk ke dalam neraka karena maksiat mereka, mereka bisa keluar dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga setelah dicuci dosa-dosa mereka terlebih dahulu.Perlu kita ketahui bahwasanya sebelum Allah ﷻ memasukkan orang-orang musyrikin ke dalam neraka jahanam, Allah ﷻ mengejek mereka terlebih dahulu bahwasanya sabar atau tidaknya mereka dalam menghadapi siksaan, tidak akan memberikan faedah bagi mereka. Dalam surah Ath-Thur Allah ﷻ berfirman,﴿اصْلَوْهَا فَاصْبِرُوا أَوْ لَا تَصْبِرُوا سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ﴾“Masuklah kalian ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); baik kalian bersabar atau tidak, sama saja bagi kalian, kalian diberi balasan terhadap apa yang telah kalian kerjakan.” (QS. Ath-Thur: 16)Hal ini berbeda ketika seseorang bersabar di dunia. Ketika seseorang tertimpa penderitaan di dunia, kesabarannya atas hal tersebut memberikan faedah baginya, dan ada sebab-sebab yang membuat dia bisa bersabar. Bisa jadi dia bersabar karena dia tahu ada orang lain yang mendapatkan musibah yang sama. Bisa jadi dia bersabar karena dia tahu bahwasanya musibah yang dia alami akan ada ujungnya, sebagaimana ungkapan “badai pasti berlalu”. Namun, ketika kita berbicara tentang azab neraka, maka kesabaran dengan segala sebab-sebabnya akan percuma. Benar bahwa yang disiksa bukan hanya mereka, antara pemimpin dan pengikut juga disiksa. Namun meskipun itu menjadikan mereka lebih bisa bersabar, maka percuma saja, karena siksaan mereka tidak akan dikurangi, bahkan bisa jadi akan semakin ditambah, dan mereka tidak akan keluar dari neraka jahanam barang sesaat pun. Oleh karenanya, mereka kelak mengungkapkan hal tersebut sebagaimana yang Allah ﷻ gambarkan dalam firman-Nya,﴿سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ﴾“Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.” (QS. Ibrahim: 21)Inilah bentuk pertengkaran pertama antara penghuni neraka, bahwasanya mereka akan saling berlepas diri satu sama lain.Mereka saling melaknatDi antara pertengkaran para penghuni neraka adalah kelak mereka akan saling melaknat. Hal ini digambarkan oleh firman Allah ﷻ dalam surah Al-A’raf ayat ke-38 sampai ayat ke-39. Allah ﷻ berfirman,﴿قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُم مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ فِي النَّارِ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَّعَنَتْ أُخْتَهَا حَتَّىٰ إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لِأُولَاهُمْ رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِّنَ النَّارِ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَٰكِن لَّا تَعْلَمُونَ، وَقَالَتْ أُولَاهُمْ لِأُخْرَاهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْسِبُونَ﴾“Allah berfirman, ‘Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia melaknat kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu, ‘Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka’. Allah berfirman, ‘Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui’.  Dan berkata orang-orang yang masuk terdahulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk kemudian, ‘Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan’.” (QS. Al-A’raf: 38-39)Ayat ini menggambarkan bagaimana penghuni neraka antara satu umat dengan umat  lainnya saling melaknat dan saling melemparkan tuduhan setiap kali masuk satu umat ke dalam neraka. Tatkala mereka seluruhnya sudah saling bertemu, antara yang diikuti dan yang mengikuti, maka yang belakangan masuk neraka mengadu kepada Allah ﷻ bahwasanya mereka tersesat karena umat sebelum mereka. Di sini, seakan-akan mereka meminta untuk dikurangi azabnya dan dipindahkan azab tersebut kepada kaum yang menjadikan mereka sesat, atau kaum tersebut ditambahkan azab baginya. Permintaan seperti ini tentunya permintaan yang wajar, karena demikianlah orang yang kecewa terhadap orang lain, mereka pasti akan mencurahkan kekecewaannya.Namun apa kata Allah ﷻ? Mereka semua akan ditimpakan azab yang berlipat ganda. Tidak hanya bagi yang menyesatkan, yang disesatkan pun juga akan ditimpakan azab yang berlipat ganda. Sungguh ini perkara yang menyedihkan lagi menghinakan, di mana mereka meminta azab ditambahkan kepada kaum yang menyesatkan mereka, namun ternyata mereka pun dapat tambahan azab dari Allah ﷻ.Ketika itu, yang menyesatkan juga akan berkata kepada kaum yang merasa disesatkan, bahwasanya tidak ada yang utama di antara mereka, sehingga mereka sama-sama diberi azab yang berlipat ganda. Seakan-akan mereka menyalahkan kaum yang merasa disesatkan bahwasanya kesesatan mereka itu disebabkan kesalahan mereka sendiri karena mengikuti kesesatan mereka. Mereka pun mengejek kaum yang merasa disesatkan dengan berkata,﴿فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْسِبُونَ﴾“Maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kalian lakukan.” (QS. Al-A’raf: 39)Kata فَذُوقُوا atau الذَّوْقُ dalam bahasa kita artinya “ciciplah”. Sesuatu yang dicicip, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Arab maksudnya adalah mencicipi (baca: merasakan) dengan lidah, baik itu makanan atau minuman.([3]) Di sini menunjukkan bagaimana parahnya azab yang akan mereka rasakan, sampai-sampai mereka menggunakan ungkapan “Ciciplah azab karena perbuatan yang kalian telah lakukan”. Artinya, azab tersebut benar-benar akan mereka rasakan sampai terasa masuk ke dalam tubuh mereka. Ungkapan ini merupakan ejekan, karena seakan-akan mereka mengatakan “Silakan kalian berlezat-lezat dengan azab karena perbuatan kalian”.Intinya, para penghuni neraka akan saling mengejek satu sama lain, yang belakangan datang mengadu kepada Allah ﷻ terhadap kaum yang lebih dahulu masuk ke dalam neraka, namun ternyata mereka pun diberikan siksaan yang berlipat ganda. Akhirnya, yang kaum yang lebih dahulu masuk ke dalam neraka pun akhirnya mengejek kaum yang belakangan. Tentunya, selain siksaan fisik, apa yang akan mereka alami ini juga menjadi siksaan mental yang sangat menyedihkan.Pertengkaran antara orang zalim dengan setanHal ini Allah ﷻ gambarkan dalam surah Ibrahim. Allah ﷻ berfirman,﴿وَبَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِن شَيْءٍ قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ، وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدتُّكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ إِلَّا أَن دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنفُسَكُم مَّا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنتُم بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri’. Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu  pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu’. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (QS. Ibrahim: 21-22)Firman Allah ﷻ,﴿وَبَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِن شَيْءٍ قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ﴾“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri’.” (QS. Ibrahim: 21)Para ahli tafsir ketika membahas ayat ini, mereka terbagi menjadi dua pendapat tentang apakah permintaan orang-orang lemah terhadap orang-orang yang menyombongkan diri dalam ayat ini murni permohonan atau ejekan? Banyak dari ahli tafsir menyebutkan bahwa permohonan tersebut adalah ejekan. Permohonan orang-orang lemah tersebut merupakan istifham inkari ‘pertanyaan untuk penafian’, artinya mereka mengejek orang-orang sombong yang menjadi sebab mereka masuk neraka bahwa mereka sedikit pun tidak  bisa menanggung azab mereka. Intinya, kalau benar maksud dari pertanyaan mereka adalah untuk istifham inkari, maka tentu ini adalah bentuk penghinaan bagi kaum yang menyombongkan diri, yang dahulunya mengaku bahwa akan menolong dan menyelamatkan mereka, namun saat ini mereka tidak memiliki kekuasaan sedikit pun.Para ahli tafsir yang berpendapat bahwa pertanyaan orang-orang lemah itu merupakan istifham inkari beralasan bahwa orang-orang lemah tersebut sudah tahu bahwasanya masing-masing akan disiksa dan tidak akan menanggung siksaan orang lain. Sehingga, pertanyaan mereka tersebut maksudnya adalah mengejek dan penghinaan, karena saat itu orang-orang yang menyombongkan diri tidak bisa menanggung azab orang-orang yang lemah sedikit pun.Apa jawaban orang-orang yang menyombongkan diri?﴿لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ﴾“Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.”Artinya, meskipun orang-orang lemah ini mengejek dan menghina mereka, atau mereka semuanya bersabar, atau bahkan mereka semua meronta-ronta, maka itu semua tidak akan mengubah kondisi mereka, karena bagi mereka tidak ada jalan sedikit pun untuk dikurangi azabnya, dan tidak ada jalan keluar sedikit pun dari azab tersebut.Kemudian, disebutkan oleh para ahli tafsir bahwa ketika pertengkaran mereka tidak memberikan faedah bagi mereka, mulailah mereka mengadu kepada setan (Iblis). Maka setan pun menjawab mereka dengan berkhutbah di atas mimbar yang terbuat dari api([4]). Allah ﷻ berfirman tentang khutbah setan,﴿وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدتُّكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ إِلَّا أَن دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنفُسَكُم مَّا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنتُم بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾“Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyelisihinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu  pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih’.” (QS. Ibrahim: 22)Setan membantah tuduhan mereka dengan mengatakan bahwasanya mereka hanya menyelisihi janjinya, sementara Allah ﷻ membenarkan janji-Nya. Setan membantah mereka bahwa ia hanyalah membisikkan semata dan mereka sendirilah yang mengikuti bujukan setan, sementara setan tidak punya kuasa untuk hal tersebut. Setan berkata agar mereka tidak perlu mencelanya, tapi hendaknya mereka mencela diri mereka sendiri, karena mereka masuk neraka karena kesalahan mereka sendiri. Setan juga berlepas diri dari kesyirikan yang mereka lakukan dahulu di dunia. Di akhir khutbahnya, setan seakan-akan mengatakan bahwa tidak perlu ada celaan di antara mereka, karena baik setan maupun yang lainnya sama-sama berbuat zalim, sehingga semuanya mendapatkan siksaan yang pedih.Peristiwa ini menjadi hal yang akan menyesakkan dada mereka. Dalam hal ini, dua kali mental mereka jatuh. Pertama, ketika yang lemah bertemu dengan yang kuat dan saling bertengkar, namun tidak memberikan perubahan kondisi mereka. Kedua, ketika yang lemah dan yang kuat bergabung untuk bertengkar dengan setan, namun pertengkaran mereka pun tidak mengubah kondisi mereka.Mereka saling menuduhAllah ﷻ berfirman dalam surah Saba’,﴿وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَن نُّؤْمِنَ بِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَلَا بِالَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ مَوْقُوفُونَ عِندَ رَبِّهِمْ يَرْجِعُ بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ الْقَوْلَ يَقُولُ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لَوْلَا أَنتُمْ لَكُنَّا مُؤْمِنِينَ، قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا أَنَحْنُ صَدَدْنَاكُمْ عَنِ الْهُدَىٰ بَعْدَ إِذْ جَاءَكُم بَلْ كُنتُم مُّجْرِمِينَ، وَقَالَ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا بَلْ مَكْرُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ إِذْ تَأْمُرُونَنَا أَن نَّكْفُرَ بِاللَّهِ وَنَجْعَلَ لَهُ أَندَادًا وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ وَجَعَلْنَا الْأَغْلَالَ فِي أَعْنَاقِ الَّذِينَ كَفَرُوا هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴾“Dan orang-orang kafir berkata, ‘Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al-Qur’an ini dan tidak (pula) kepada kitab yang sebelumnya’. Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadapkan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman’. Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah, ‘Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa’. Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘(Tidak) sebenarnya tipu dayamu di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya’. Kedua belah pihak menyembunyikan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Saba’: 31-33)Khitab ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang membaca Al-Qur’an, yaitu kita semua. Allah ﷻ menggambarkan kepada kita tentang bagaimana pembangkangan orang-orang kafir itu, mereka tidak mau beriman kepada Al-Qur’an dan bahkan tidak kepada kitab-kitab sebelumnya.Allah ﷻ dalam ayat ini menggambarkan bagaimana ketika kelak orang-orang zalim yaitu orang-orang musyrikin([5]) dihadapkan kepada Allah ﷻ dan mereka saling menuduh antara yang satu dengan yang lainnya. Allah ﷻ menggunakan kata اسْتَكْبَرُوا bagi kelompok yang menganggap diri mereka besar, padahal mereka sama sekali tidak besar. Adapun kata اسْتُضْعِفُوا digunakan bagi kelompok yang lemah, di mana mereka memang lemah baik dari sisi akal maupun harta, yang mereka mengikuti orang-orang yang menganggap diri mereka besar.([6])Orang-orang yang lemah (baca: pengikut) mengadu kepada Allah ﷻ bahwasanya kalau bukan karena orang-orang yang sombong tentu mereka akan beriman kepada Allah ﷻ. Hal tersebut mereka sampaikan dengan harapan azab mereka bisa selamat dari azab.([7]) Namun, orang-orang yang sombong tersebut membantah dan balik menuduh mereka, bahwasanya mereka tidak pernah menghalangi mereka dari jalan kebenaran. Tentunya perkataan orang-orang sombong tersebut adalah kedustaan, karena benar dahulu mereka menghalangi orang-orang yang lemah dari jalan kebenaran. Akan tetapi, mereka akhirnya berdusta karena tidak ingin beban kesalahan orang-orang lemah dipikulkan kepada mereka.Sebagian para ulama juga menggambarkan bahwa orang-orang yang menyombongkan diri bahkan langsung memotong perkataan pengikut mereka yang mengadu kepada Allah ﷻ. Oleh karenanya kita tidak mendapat dalam perkataan mereka didahului dengan kata وَ ‘dan’, sehingga mereka langsung memotong perkataan pengikutnya karena khawatir keluhan pengikutnya menjadikan azab mereka ditambah. Adapun pada ayat setelahnya menggunakan kata و ‘dan’ yang menunjukkan bahwa para pengikut berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara, sehingga tampak ada jeda di antara perkataan mereka.Para pengikut kemudian membantah perkataan orang-orang yang menyombongkan diri tersebut dengan mengatakan bahwasanya benar mereka tersesat karena kesalahan mereka sendiri, akan tetapi kesalahan mereka itu disebabkan karena bujukan, rayuan, dan tipuan setiap hari, siang dan malam, sehingga orang-orang lemah tersebut pun teperdaya.Intinya, mereka saling tuduh yang satu dengan yang lainnya. Namun, kata Allah ﷻ bahwasanya mereka semua, baik orang-orang yang menyombongkan diri dan orang-orang yang mengikutinya, memendam penyesalan tatkala mereka telah melihat azab, karena mereka malu di hadapan khalayak. Sebenarnya, mereka semua jengkel dan dendam, akan tetapi mereka tidak berani mengungkapkan penyesalannya, dan ini merupakan tambahan siksaan bagi mereka yang tidak bisa mengungkapkannya.Pertengkaran dan saling tuduh menuduh di antara mereka sedikit pun tidak mengubah kondisi mereka yang akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam.Mereka saling beradu argumentasiAllah ﷻ berfirman dalam surah Ash-Shaffat,﴿احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ، مِن دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ، وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ، مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ، بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ، وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ، قَالُوا إِنَّكُمْ كُنتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ، قَالُوا بَل لَّمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ، وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ بَلْ كُنتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ، فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَا إِنَّا لَذَائِقُونَ، فَأَغْوَيْنَاكُمْ إِنَّا كُنَّا غَاوِينَ، فَإِنَّهُمْ يَوْمَئِذٍ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ﴾“(kepada malaikat diperintahkan) Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya, ‘Kenapa kamu tidak tolong menolong?’ Bahkan mereka pada hari itu berserah diri. Sebagian dan mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka), ‘Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari arah kanan’. Pemimpin-pemimpin mereka menjawab, ‘Sebenarnya kamulah yang tidak beriman. Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas. Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu). Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat’ Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab.” (QS. Ash-Shaffat: 22-33)Firman Allah ﷻ,﴿احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ، مِن دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ﴾“(kepada malaikat diperintahkan) Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.” (QS. Ash-Shaffat: 22-23)Orang-orang musyrikin atau para pelaku maksiat kelak akan dikumpulkan bersama-sama dengan orang-orang yang satu golongan dengan mereka, seperti orang yang beragama tertentu akan dikumpulkan dengan yang seagama dengannya, atau pelaku suatu maksiat akan dikumpulkan dengan para pelaku maksiat yang semisal, dan seterusnya. Selain itu, mereka juga dikumpulkan bersama dengan apa-apa yang mereka sembah selain Allah ﷻ.Pada ayat ini, Allah ﷻ menggunakan kata فَاهْدُوهُمْ yang biasa kita pakai untuk penunjukan jalan kepada kebaikan. Namun, mengapa Allah ﷻ menggunakan istilah tersebut untuk jalan keburukan yaitu neraka? Sebagian ulama mengatakan bahwa hal tersebut merupakan bentuk ejekan kepada mereka, bahwasanya dahulu mereka dahulu di dunia diberi hidayah, diberi petunjuk kepada jalan kebenaran, diutus para rasul, diturunkan Al-Qur’an, namun mereka tidak mau, maka saat itu mereka diberi hidayah (petunjuk) menuju neraka jahanam.Firman Allah ﷻ,﴿وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ، مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ، بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ﴾“Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya, ‘Kenapa kamu tidak tolong menolong?’ Bahkan mereka pada hari itu berserah diri.” (QS. Ash-Shaffat: 24-26)Belum sampai mereka masuk ke dalam neraka, mereka kemudian dipanggil untuk ditanya. Mereka ditanya bahwa mengapa mereka tidak saling tolong menolong satu sama lain ketika itu? Bukankah dahulu ketika di dunia mereka saling tolong menolong, saling bahu membahu, dan saling mendukung dalam menyebarkan kesyirikan dan syubhat agar orang-orang tersesat? Maka mengapa tidak saling tolong menolong ketika itu? Bukankah mereka satu golongan? Mereka tidak menjawab sedikit pun, bahkan saat itu mereka pasrah dan tidak bisa berkata-kata lagi, karena di depan mereka sudah ada neraka jahanam.Maka, yang terjadi kemudian adalah mereka saling berhadap-hadapan satu sama lain, dan terjadilah adu argumen di antara mereka. Allah ﷻ berfirman,﴿وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ، قَالُوا إِنَّكُمْ كُنتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ، قَالُوا بَل لَّمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ، وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ بَلْ كُنتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ، فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَا إِنَّا لَذَائِقُونَ، فَأَغْوَيْنَاكُمْ إِنَّا كُنَّا غَاوِينَ﴾“Sebagian dan mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka), ‘Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari arah kanan’. Pemimpin-pemimpin mereka menjawab, ‘Sebenarnya kamulah yang tidak beriman. Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas. Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu). Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat’.” (QS. Ash-Shaffat: 27-32)Para pengikut memberikan pembelaan bahwasanya karena sebab pemimpin-pemimpin mereka yang datang dari arah kanan itulah sehingga mereka tersesat. Maksud dari kalimat “datang dari kanan” ini memiliki dua tafsiran:Tafsiran pertama: Maksudnya adalah pemimpin-pemimpin mereka datang dengan berbagai kekuatan untuk menyesatkan mereka.Tafsiran kedua: Maksudnya adalah dahulu di dunia mereka dihalang-halangi kepada kebaikan (agama) sehingga akhirnya mereka benar-benar tersesat.([8])Namun, para pemimpin-pemimpin tersebut memberikan pembelaan. Mereka mengatakan bahwa para pengikut mereka itu sejak awal memang telah rusak imannya, karena godaan yang sedikit telah mampu menyesatkan mereka. Mereka juga memberikan pembelaan bahwasanya mereka tidak memiliki kemampuan untuk menyesatkan mereka. Bahkan mereka mengakui bahwa dahulu mereka sama-sama sesat, sehingga azab pasti akan mereka rasakan bersama.Di akhir ayat Allah ﷻ menegaskan,﴿فَإِنَّهُمْ يَوْمَئِذٍ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ﴾“Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab.” (QS. Ash-Shaffat: 33)Sekali lagi, pertengkaran mereka tidak mengubah kondisi mereka sedikit pun. Bahkan, kesamaan dalam azab pun tidak akan mengurangi penderitaan mereka.Mereka saling menghinaAllah ﷻ berfirman dalam surah Shad,﴿هَٰذَا وَإِنَّ لِلطَّاغِينَ لَشَرَّ مَآبٍ، جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ الْمِهَادُ، هَٰذَا فَلْيَذُوقُوهُ حَمِيمٌ وَغَسَّاقٌ، وَآخَرُ مِن شَكْلِهِ أَزْوَاجٌ، هَٰذَا فَوْجٌ مُّقْتَحِمٌ مَّعَكُمْ لَا مَرْحَبًا بِهِمْ إِنَّهُمْ صَالُو النَّارِ، قَالُوا بَلْ أَنتُمْ لَا مَرْحَبًا بِكُمْ أَنتُمْ قَدَّمْتُمُوهُ لَنَا فَبِئْسَ الْقَرَارُ، قَالُوا رَبَّنَا مَن قَدَّمَ لَنَا هَٰذَا فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِي النَّارِ، وَقَالُوا مَا لَنَا لَا نَرَىٰ رِجَالًا كُنَّا نَعُدُّهُم مِّنَ الْأَشْرَارِ، أَتَّخَذْنَاهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصَارُ، إِنَّ ذَٰلِكَ لَحَقٌّ تَخَاصُمُ أَهْلِ النَّارِ﴾“Demikianlah (keadaan mereka penghuni surga). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang durhaka benar-benar (disediakan) tempat kembali yang buruk, (yaitu) neraka Jahanam, yang mereka masuk ke dalamnya; maka amat buruklah Jahanam itu sebagai tempat tinggal. Inilah (azab neraka), biarlah mereka merasakannya, (minuman mereka) air yang sangat panas dan air yang sangat dingin. Dan azab yang lain yang serupa itu berbagai macam. (Dikatakan kepada mereka), ‘Ini rombongan besar (pengikut-pengikutmu) yang masuk berdesak-desak bersama kamu (ke neraka)’. (Berkata pemimpin-pemimpin mereka yang durhaka) ‘Tidak ada ucapan selamat datang bagi mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka’. Pengikut-pengikut mereka menjawab, ‘Sebenarnya kamulah yang (lebih pantas) tidak menerima ucapan selamat datang, karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab, maka itulah seburuk-buruk tempat menetap’. Mereka berkata (lagi), ‘Ya Tuhan kami, barang siapa yang menjerumuskan kami ke dalam azab ini maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka’. Dan (orang-orang durhaka) berkata, ‘Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina)?  Dahulu kami menjadikan mereka olok-olokan, ataukah karena penglihatan kami yang tidak melihat mereka?’  Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran di antara penghuni neraka.” (QS. Shad: 55-64)Allah ﷻ dalam firman-Nya ini menggambarkan bahwasanya orang-orang yang melampaui batas (durhaka) akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam, dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. Di sini, Allah ﷻ menggunakan kata فَبِئْسَ الْمِهَادُ, yang di mana kalimat tersebut merupakan ungkapan untuk tempat tidur yang disiapkan untuk bayi.([9]) Sehingga, seakan-akan dengan kalimat tersebut Allah ﷻ ingin mengejek mereka bahwa neraka adalah tempat mereka beristirahat. Kita katakan, bagaimana mungkin mereka bisa istirahat sementara azab setiap waktu akan mereka cicipi?Di dalam neraka jahanam, mereka akan diberi hamiin (حَمِيمٌ)dan ghassaq (غَسَّاقٌ). Hamiin adalah air yang sangat panas, yang jika di minum akan menghancurkan usus-usus mereka. Adapun ghassaq adalah minuman dari nanah, darah, rasanya pahit dan berbau busuk, yang kemudian diberikan kepada penghuni neraka jahanam sebagai minuman mereka.([10])Apa hanya azab itu yang mereka rasakan? Sekali-kali tidak, bahkan Allah ﷻ mengatakan,﴿وَآخَرُ مِن شَكْلِهِ أَزْوَاجٌ﴾“Dan azab yang lain yang serupa itu berbagai macam.” (QS. Shad: 58)Ada beberapa azab lain yang Allah ﷻ siapkan bagi penghuni neraka jahanam, waliya’udzubillah.Setelah itu, Allah ﷻ mengabarkan bahwasanya ada sekelompok orang yang akan masuk ke dalam neraka. Allah ﷻ menyifati mereka dengan kata مُّقْتَحِمٌ yang maknanya adalah mereka masuk tanpa berpikir panjang. Para ulama menjelaskan bahwasanya ini di antara azab bagi mereka, bahwa sebagaimana mereka dahulu para pengikut yang mengikuti pemimpin-pemimpin mereka tanpa berpikir panjang, maka demikianlah keadaan mereka tatkala dimasukkan ke dalam neraka jahanam.([11])Namun, para pemimpin-pemimpin mereka tidak senang ketika pengikutnya dimasukkan bersama mereka. sampai-sampai mereka mengatakan bahwa tidak ada ucapan selamat datang bagi mereka, karena mereka juga sama-sama masuk ke dalam neraka.Akhirnya, para pengikut pun memberikan bantahan bahwa justru bagi pemimpin-pemimpin mereka yang tidak ada keselamatan, karena mereka menganggap bahwa pemimpin-pemimpin merekalah yang mengantarkan azab kepada mereka. Oleh karenanya, para pengikut pun kemudian berdoa kepada Allah ﷻ,﴿رَبَّنَا مَن قَدَّمَ لَنَا هَٰذَا فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِي النَّارِ﴾“Ya Tuhan kami, barang siapa yang menjerumuskan kami ke dalam azab ini maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka.” (QS. Shad: 61)Namun, sebagaimana telah kita sebutkan sebelum-sebelumnya bahwa baik para pengikut maupun yang diikuti sama-sama akan mendapatkan siksaan yang berlipat ganda.Setelah itu, mereka (para pengikut dan yang diikuti) sama-sama berkata,﴿وَقَالُوا مَا لَنَا لَا نَرَىٰ رِجَالًا كُنَّا نَعُدُّهُم مِّنَ الْأَشْرَارِ، أَتَّخَذْنَاهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصَارُ﴾“Dan (orang-orang durhaka) berkata, ‘Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina)?  Dahulu kami menjadikan mereka olok-olokan, ataukah karena penglihatan kami yang tidak melihat mereka?’.” (QS. Shad: 61-62)Mereka kini sama-sama menyesal. Mereka dahulu menganggap orang-orang yang beriman sebagai orang-orang yang sesat, mereka menganggap hina orang-orang miskin. Namun, yang terjadi saat itu adalah sebaliknya, merekalah yang menjadi orang yang paling hina.Kemudian, Allah ﷻ menutup pertengkaran dengan berfirman,﴿إِنَّ ذَٰلِكَ لَحَقٌّ تَخَاصُمُ أَهْلِ النَّارِ﴾“Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran di antara penghuni neraka.” (QS. Shad: 64)Ini menunjukkan bahwasanya hal tersebut benar-benar akan terjadi.Saling adu argumen yang lemah dan kuatAllah ﷻ berfirman dalam surah Ghafir,﴿وَإِذْ يَتَحَاجُّونَ فِي النَّارِ فَيَقُولُ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا نَصِيبًا مِّنَ النَّارِ، قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُلٌّ فِيهَا إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَكَمَ بَيْنَ الْعِبَادِ، وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِّنَ الْعَذَابِ، قَالُوا أَوَلَمْ تَكُ تَأْتِيكُمْ رُسُلُكُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا بَلَىٰ قَالُوا قَالُوا فَادْعُوا وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ﴾“Dan (Ingatlah), ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu melepaskan sebagian (azab) api neraka yang menimpa kami?’ Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab, ‘Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya)’. Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahanam, ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu agar Dia meringankan azab atas kami sehari saja’. Maka (penjaga-penjaga Jahanam) berkata, ‘Apakah rasul-rasul belum datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata?’ Mereka menjawab, ‘Benar, sudah datang’. (Penjaga-penjaga Jahanam) berkata, ‘Berdoalah kamu (sendiri)!’ Namun doa orang-orang kafir itu sia-sia belaka.” (QS. Ghafir: 47-50)Pada ayat ini, Allah ﷻ lagi-lagi menggambarkan bahwasanya para penghuni neraka akan saling beradu argumen. Orang-orang lemah (baca: para pengikut) akan berkata kepada pemimpin-pemimpin mereka agar azab mereka bisa dikurangi. Namun, sebagaimana yang kita sebutkan dalam surah Ibrahim, bahwasanya pertanyaan tersebut merupakan bentuk ejekan kepada para pemimpin-pemimpin mereka. kemudian, lagi-lagi, para pemimpin mereka tentu tidak bisa memberikan keringanan azab, bahkan dalam ayat ini mereka seakan-akan pasrah dengan mengatakan bahwa mereka pun telah masuk ke dalam neraka jahanam dan keputusan Allah ﷻ telah ditetapkan.Akhirnya, setelah mereka tidak mendapat solusi dari pertengkaran dan perdebatan mereka, para pemimpin dan para pengikutnya mencari solusi lain dengan meminta kepada penjaga neraka jahanam. Kepada penjaga neraka mereka meminta untuk dimohonkan kepada Allah ﷻ agar azab mereka dikurangi barang sehari saja. Namun, para malaikat penjaga neraka justru balik bertanya kepada mereka tentang utusan Allah ﷻ kepada mereka yang membawa dalil-dalil dan hujah-hujah. Mereka pun membenarkan dan mengakui adanya utusan tersebut. Maka, malaikat penjaga neraka tersebut menolak permintaan mereka, dan meminta untuk mereka berdoa sendiri kepada Allah ﷻ, karena utusan telah datang sementara mereka sendiri yang menolaknya.Namun, di akhir ayat Allah ﷻ berfirman,﴿وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ﴾“Namun doa orang-orang kafir itu sia-sia belaka.” (QS. Ghafir: 50)Artinya, bagaimana pun permohonan mereka di akhirat kelak, tidak satu pun permintaan mereka yang akan dikabulkan oleh Allah ﷻ.Inilah beberapa pertengkaran para penghuni neraka yang Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Qur’an. Hal ini memberikan penjelasan kepada kita bahwasanya penghuni neraka tidak hanya akan disiksa dengan siksaan fisik belaka, akan tetapi mereka juga disiksa secara mental dengan berupa hinaan dan pertengkaran yang terjadi di antara mereka. Namun, semua itu tidak memberikan manfaat sedikit pun bagi mereka, bahkan dalam sebagian kondisi mereka justru semakin terpuruk akibat pertengkaran mereka. Kita berdoa semoga Allah ﷻ menyelamatkan kita dari azab neraka jahanam. Aamiin.Artikel ini telah terbit cetak dengan Judul “Syarah Rukun Iman – Bab Iman Kepada Hari Akhir” Versi online Bekalislam.firanda.comFootnote: ________([1]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (16/806).([2]) Lihat: Fath al-Qadir Li asy-Syaukani (1/192).([3]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (8/124).([4]) Sebagaimana perkataan Hasan al-Bashri. [Lihat: Tafsir ath-Thabari (16/563)].([5]) Orang-orang zalim yang disebutkan di dalam Al-Qur’an kebanyakan maksudnya adalah orang-orang musyrikin, karena Allah ﷻ telah berfirman bahwasanya syirik adalah perbuatan zalim yang paling besar.([6]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (22/205).([7]) Lihat: Tafsir as-Sa’di (hlm. 680).([8]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (15/75).([9]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (15/221).([10]) Lihat: Tafsir as-Sa’di (hlm. 715).([11]) Lihat: At-Tharir wa At-Tanwir (23/288)

7 Pertengkaran Para Penghuni Neraka yang Wajib Kita Ketahui

Ilustrasi lampu @unsplash.comPertengkaran Penghuni NerakaOleh Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Pembahasan pada kesempatan kali ini, kita akan membahas suatu hal yang berkaitan dengan iman dengan hari akhir (kiamat). Tentunya, ada banyak hal perlu untuk kita imani terkait dengan hari akhir, di antaranya kita harus mengimani adanya neraka jahanam.Sebagaimana dalil-dalil yang kita ketahui tentang neraka jahanam, kita tentu menjadi tahu tentang betapa dahsyatnya azab neraka jahanam yang akan dirasakan oleh penghuninya kelak, baik dari sisi apinya, makanannya, minumannya, pakaiannya, dan berbagai macam siksaan lainnya.Di antara siksaan-siksaan yang Allah ﷻ berikan kepada penghuni neraka jahanam adalah siksaan mental. Di antaranya penghuni neraka akan dipermalukan dengan dipertemukannya mereka dengan makhluk yang mereka sembah ketika di dunia, sehingga terjadi pertengkaran di antara mereka. Dari pertengkaran tersebut, para penghuni neraka tidak hanya disiksa dengan siksaan fisik, akan tetapi mereka juga disiksa dengan siksaan mental yang menambah penderitaan mereka di akhirat kelak.Siksaan yang beragam yang diterima oleh penghuni neraka kelak menjadikan mereka akhirnya menyesal dengan penyesalan yang panjang. Namun, penyesalan mereka tersebut tidak lagi memiliki manfaat sedikit pun bagi mereka saat itu. Oleh karenanya, di antara nama dari hari kiamat yang Allah ﷻ sebutkan adalah Yaumul Hasrah (يَوْمَ الْحَسْرَةِ) yang artinya hari penyesalan. Hari kiamat disebut dengan hari penyesalan karena pada hari itu akan banyak penyesalan yang sangat mendalam yang akan diungkapkan oleh penghuni neraka.([1])Pertengkaran-pertengkaran Penghuni NerakaBentuk pertengkaran penghuni neraka pada hari kiamat kelak bisa kita klasifikasikan menjadi tujuh bentuk pertengkaran, berdasarkan urutan ayat-ayat yang datang di dalam Al-Qur’an.Mereka saling berlepas diriHal ini Allah ﷻ sebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 166, di mana antara orang yang mengikuti dan diikuti saling berlepas diri. Allah ﷻ berfirman,﴿إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ، وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذٰلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ﴾“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa di hadapan mereka; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti, ‘Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami’. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya sebagai bentuk penyesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS. Al-Baqarah: 166-167)Ayat ini menggambarkan bagaimana Allah ﷻ mempertemukan antara orang yang diikuti dan yang mengikuti, dan mereka sama-sama menuju neraka jahanam dan sama-sama melihat azab di hadapan mereka. Ketika melihat azab di hadapan mereka, maka terputuslah hubungan mereka kala itu. Mungkin yang dahulu di dunia mereka saling dekat, saling jalan bersama, saling bersama dalam melakukan kemaksiatan dan kesyirikan, saling mencintai di antara mereka, namun seluruh hubungan akan terputus ketika itu. Allah ﷻ berfirman,﴿الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ﴾“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)Yang pertama kali berlepas diri kelak adalah para pemimpin (yang diikuti). Para pemimpin tidak mau didekati oleh para pengikutnya. Mereka telah sadar bahwasanya mereka akan masuk neraka, akan tetapi hadirnya pengikut mereka menjadi tambahan azab baginya, sehingga mereka akhirnya ingin berlepas diri dari pengikutnya sejak awal.Tentunya, para pengikut ketika melihat pemimpin mereka berlepas diri dari mereka akan sangat kecewa. Orang yang dahulu di dunia mereka harap-harapkan, ternyata ketika hari itu berlepas diri dari mereka. Hal ini tentunya memberikan penderitaan yang tidak ringan, karena hari itu mereka tidak tahu ke mana lagi harus meminta pertolongan, sementara penderitaan telah mereka rasakan meskipun mereka belum dimasukkan ke dalam neraka. Oleh karenanya, ketika itu mereka akan berkata,﴿لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا﴾“Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” (QS. Al-Baqarah: 167)Angan-angan tersebut pastinya menjadi sebuah penyesalan karena mereka tidak bisa lagi kembali ke dunia untuk berlepas diri dari pemimpin-pemimpin mereka. Namun, penyesalan pada hari itu tiada guna, karena mereka tidak akan bisa keluar dari neraka jahanam sebagaimana firman Allah ﷻ,﴿وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ﴾“Dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS. Al-Baqarah: 167)Kata هُم dalam ayat ini memiliki dua tafsiran di kalangan para ulama. Sebagian mengatakan bahwa هُم maksudnya adalah untuk penekanan bahwa mereka tidak akan keluar dari neraka jahanam, namun sebagian yang lain mengatakan bahwa maksud هُم di sini adalah penyebutan spesifik bagi orang-orang kafir di mana mereka tidak akan keluar dari neraka jahanam.([2]) Intinya, Allah ﷻ telah menekankan bahwasanya orang-orang yang masuk ke dalam neraka jahanam tersebut tidak akan keluar dari neraka jahanam. Hal ini menjadi sebuah siksaan yang sangat mengerikan, ketika seseorang masuk ke dalam neraka dan tidak bisa keluar darinya. Adapun orang-orang bertauhid yang masuk ke dalam neraka karena maksiat mereka, mereka bisa keluar dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga setelah dicuci dosa-dosa mereka terlebih dahulu.Perlu kita ketahui bahwasanya sebelum Allah ﷻ memasukkan orang-orang musyrikin ke dalam neraka jahanam, Allah ﷻ mengejek mereka terlebih dahulu bahwasanya sabar atau tidaknya mereka dalam menghadapi siksaan, tidak akan memberikan faedah bagi mereka. Dalam surah Ath-Thur Allah ﷻ berfirman,﴿اصْلَوْهَا فَاصْبِرُوا أَوْ لَا تَصْبِرُوا سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ﴾“Masuklah kalian ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); baik kalian bersabar atau tidak, sama saja bagi kalian, kalian diberi balasan terhadap apa yang telah kalian kerjakan.” (QS. Ath-Thur: 16)Hal ini berbeda ketika seseorang bersabar di dunia. Ketika seseorang tertimpa penderitaan di dunia, kesabarannya atas hal tersebut memberikan faedah baginya, dan ada sebab-sebab yang membuat dia bisa bersabar. Bisa jadi dia bersabar karena dia tahu ada orang lain yang mendapatkan musibah yang sama. Bisa jadi dia bersabar karena dia tahu bahwasanya musibah yang dia alami akan ada ujungnya, sebagaimana ungkapan “badai pasti berlalu”. Namun, ketika kita berbicara tentang azab neraka, maka kesabaran dengan segala sebab-sebabnya akan percuma. Benar bahwa yang disiksa bukan hanya mereka, antara pemimpin dan pengikut juga disiksa. Namun meskipun itu menjadikan mereka lebih bisa bersabar, maka percuma saja, karena siksaan mereka tidak akan dikurangi, bahkan bisa jadi akan semakin ditambah, dan mereka tidak akan keluar dari neraka jahanam barang sesaat pun. Oleh karenanya, mereka kelak mengungkapkan hal tersebut sebagaimana yang Allah ﷻ gambarkan dalam firman-Nya,﴿سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ﴾“Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.” (QS. Ibrahim: 21)Inilah bentuk pertengkaran pertama antara penghuni neraka, bahwasanya mereka akan saling berlepas diri satu sama lain.Mereka saling melaknatDi antara pertengkaran para penghuni neraka adalah kelak mereka akan saling melaknat. Hal ini digambarkan oleh firman Allah ﷻ dalam surah Al-A’raf ayat ke-38 sampai ayat ke-39. Allah ﷻ berfirman,﴿قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُم مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ فِي النَّارِ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَّعَنَتْ أُخْتَهَا حَتَّىٰ إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لِأُولَاهُمْ رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِّنَ النَّارِ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَٰكِن لَّا تَعْلَمُونَ، وَقَالَتْ أُولَاهُمْ لِأُخْرَاهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْسِبُونَ﴾“Allah berfirman, ‘Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia melaknat kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu, ‘Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka’. Allah berfirman, ‘Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui’.  Dan berkata orang-orang yang masuk terdahulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk kemudian, ‘Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan’.” (QS. Al-A’raf: 38-39)Ayat ini menggambarkan bagaimana penghuni neraka antara satu umat dengan umat  lainnya saling melaknat dan saling melemparkan tuduhan setiap kali masuk satu umat ke dalam neraka. Tatkala mereka seluruhnya sudah saling bertemu, antara yang diikuti dan yang mengikuti, maka yang belakangan masuk neraka mengadu kepada Allah ﷻ bahwasanya mereka tersesat karena umat sebelum mereka. Di sini, seakan-akan mereka meminta untuk dikurangi azabnya dan dipindahkan azab tersebut kepada kaum yang menjadikan mereka sesat, atau kaum tersebut ditambahkan azab baginya. Permintaan seperti ini tentunya permintaan yang wajar, karena demikianlah orang yang kecewa terhadap orang lain, mereka pasti akan mencurahkan kekecewaannya.Namun apa kata Allah ﷻ? Mereka semua akan ditimpakan azab yang berlipat ganda. Tidak hanya bagi yang menyesatkan, yang disesatkan pun juga akan ditimpakan azab yang berlipat ganda. Sungguh ini perkara yang menyedihkan lagi menghinakan, di mana mereka meminta azab ditambahkan kepada kaum yang menyesatkan mereka, namun ternyata mereka pun dapat tambahan azab dari Allah ﷻ.Ketika itu, yang menyesatkan juga akan berkata kepada kaum yang merasa disesatkan, bahwasanya tidak ada yang utama di antara mereka, sehingga mereka sama-sama diberi azab yang berlipat ganda. Seakan-akan mereka menyalahkan kaum yang merasa disesatkan bahwasanya kesesatan mereka itu disebabkan kesalahan mereka sendiri karena mengikuti kesesatan mereka. Mereka pun mengejek kaum yang merasa disesatkan dengan berkata,﴿فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْسِبُونَ﴾“Maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kalian lakukan.” (QS. Al-A’raf: 39)Kata فَذُوقُوا atau الذَّوْقُ dalam bahasa kita artinya “ciciplah”. Sesuatu yang dicicip, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Arab maksudnya adalah mencicipi (baca: merasakan) dengan lidah, baik itu makanan atau minuman.([3]) Di sini menunjukkan bagaimana parahnya azab yang akan mereka rasakan, sampai-sampai mereka menggunakan ungkapan “Ciciplah azab karena perbuatan yang kalian telah lakukan”. Artinya, azab tersebut benar-benar akan mereka rasakan sampai terasa masuk ke dalam tubuh mereka. Ungkapan ini merupakan ejekan, karena seakan-akan mereka mengatakan “Silakan kalian berlezat-lezat dengan azab karena perbuatan kalian”.Intinya, para penghuni neraka akan saling mengejek satu sama lain, yang belakangan datang mengadu kepada Allah ﷻ terhadap kaum yang lebih dahulu masuk ke dalam neraka, namun ternyata mereka pun diberikan siksaan yang berlipat ganda. Akhirnya, yang kaum yang lebih dahulu masuk ke dalam neraka pun akhirnya mengejek kaum yang belakangan. Tentunya, selain siksaan fisik, apa yang akan mereka alami ini juga menjadi siksaan mental yang sangat menyedihkan.Pertengkaran antara orang zalim dengan setanHal ini Allah ﷻ gambarkan dalam surah Ibrahim. Allah ﷻ berfirman,﴿وَبَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِن شَيْءٍ قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ، وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدتُّكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ إِلَّا أَن دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنفُسَكُم مَّا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنتُم بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri’. Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu  pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu’. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (QS. Ibrahim: 21-22)Firman Allah ﷻ,﴿وَبَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِن شَيْءٍ قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ﴾“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri’.” (QS. Ibrahim: 21)Para ahli tafsir ketika membahas ayat ini, mereka terbagi menjadi dua pendapat tentang apakah permintaan orang-orang lemah terhadap orang-orang yang menyombongkan diri dalam ayat ini murni permohonan atau ejekan? Banyak dari ahli tafsir menyebutkan bahwa permohonan tersebut adalah ejekan. Permohonan orang-orang lemah tersebut merupakan istifham inkari ‘pertanyaan untuk penafian’, artinya mereka mengejek orang-orang sombong yang menjadi sebab mereka masuk neraka bahwa mereka sedikit pun tidak  bisa menanggung azab mereka. Intinya, kalau benar maksud dari pertanyaan mereka adalah untuk istifham inkari, maka tentu ini adalah bentuk penghinaan bagi kaum yang menyombongkan diri, yang dahulunya mengaku bahwa akan menolong dan menyelamatkan mereka, namun saat ini mereka tidak memiliki kekuasaan sedikit pun.Para ahli tafsir yang berpendapat bahwa pertanyaan orang-orang lemah itu merupakan istifham inkari beralasan bahwa orang-orang lemah tersebut sudah tahu bahwasanya masing-masing akan disiksa dan tidak akan menanggung siksaan orang lain. Sehingga, pertanyaan mereka tersebut maksudnya adalah mengejek dan penghinaan, karena saat itu orang-orang yang menyombongkan diri tidak bisa menanggung azab orang-orang yang lemah sedikit pun.Apa jawaban orang-orang yang menyombongkan diri?﴿لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ﴾“Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.”Artinya, meskipun orang-orang lemah ini mengejek dan menghina mereka, atau mereka semuanya bersabar, atau bahkan mereka semua meronta-ronta, maka itu semua tidak akan mengubah kondisi mereka, karena bagi mereka tidak ada jalan sedikit pun untuk dikurangi azabnya, dan tidak ada jalan keluar sedikit pun dari azab tersebut.Kemudian, disebutkan oleh para ahli tafsir bahwa ketika pertengkaran mereka tidak memberikan faedah bagi mereka, mulailah mereka mengadu kepada setan (Iblis). Maka setan pun menjawab mereka dengan berkhutbah di atas mimbar yang terbuat dari api([4]). Allah ﷻ berfirman tentang khutbah setan,﴿وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدتُّكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ إِلَّا أَن دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنفُسَكُم مَّا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنتُم بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾“Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyelisihinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu  pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih’.” (QS. Ibrahim: 22)Setan membantah tuduhan mereka dengan mengatakan bahwasanya mereka hanya menyelisihi janjinya, sementara Allah ﷻ membenarkan janji-Nya. Setan membantah mereka bahwa ia hanyalah membisikkan semata dan mereka sendirilah yang mengikuti bujukan setan, sementara setan tidak punya kuasa untuk hal tersebut. Setan berkata agar mereka tidak perlu mencelanya, tapi hendaknya mereka mencela diri mereka sendiri, karena mereka masuk neraka karena kesalahan mereka sendiri. Setan juga berlepas diri dari kesyirikan yang mereka lakukan dahulu di dunia. Di akhir khutbahnya, setan seakan-akan mengatakan bahwa tidak perlu ada celaan di antara mereka, karena baik setan maupun yang lainnya sama-sama berbuat zalim, sehingga semuanya mendapatkan siksaan yang pedih.Peristiwa ini menjadi hal yang akan menyesakkan dada mereka. Dalam hal ini, dua kali mental mereka jatuh. Pertama, ketika yang lemah bertemu dengan yang kuat dan saling bertengkar, namun tidak memberikan perubahan kondisi mereka. Kedua, ketika yang lemah dan yang kuat bergabung untuk bertengkar dengan setan, namun pertengkaran mereka pun tidak mengubah kondisi mereka.Mereka saling menuduhAllah ﷻ berfirman dalam surah Saba’,﴿وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَن نُّؤْمِنَ بِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَلَا بِالَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ مَوْقُوفُونَ عِندَ رَبِّهِمْ يَرْجِعُ بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ الْقَوْلَ يَقُولُ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لَوْلَا أَنتُمْ لَكُنَّا مُؤْمِنِينَ، قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا أَنَحْنُ صَدَدْنَاكُمْ عَنِ الْهُدَىٰ بَعْدَ إِذْ جَاءَكُم بَلْ كُنتُم مُّجْرِمِينَ، وَقَالَ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا بَلْ مَكْرُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ إِذْ تَأْمُرُونَنَا أَن نَّكْفُرَ بِاللَّهِ وَنَجْعَلَ لَهُ أَندَادًا وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ وَجَعَلْنَا الْأَغْلَالَ فِي أَعْنَاقِ الَّذِينَ كَفَرُوا هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴾“Dan orang-orang kafir berkata, ‘Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al-Qur’an ini dan tidak (pula) kepada kitab yang sebelumnya’. Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadapkan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman’. Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah, ‘Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa’. Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘(Tidak) sebenarnya tipu dayamu di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya’. Kedua belah pihak menyembunyikan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Saba’: 31-33)Khitab ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang membaca Al-Qur’an, yaitu kita semua. Allah ﷻ menggambarkan kepada kita tentang bagaimana pembangkangan orang-orang kafir itu, mereka tidak mau beriman kepada Al-Qur’an dan bahkan tidak kepada kitab-kitab sebelumnya.Allah ﷻ dalam ayat ini menggambarkan bagaimana ketika kelak orang-orang zalim yaitu orang-orang musyrikin([5]) dihadapkan kepada Allah ﷻ dan mereka saling menuduh antara yang satu dengan yang lainnya. Allah ﷻ menggunakan kata اسْتَكْبَرُوا bagi kelompok yang menganggap diri mereka besar, padahal mereka sama sekali tidak besar. Adapun kata اسْتُضْعِفُوا digunakan bagi kelompok yang lemah, di mana mereka memang lemah baik dari sisi akal maupun harta, yang mereka mengikuti orang-orang yang menganggap diri mereka besar.([6])Orang-orang yang lemah (baca: pengikut) mengadu kepada Allah ﷻ bahwasanya kalau bukan karena orang-orang yang sombong tentu mereka akan beriman kepada Allah ﷻ. Hal tersebut mereka sampaikan dengan harapan azab mereka bisa selamat dari azab.([7]) Namun, orang-orang yang sombong tersebut membantah dan balik menuduh mereka, bahwasanya mereka tidak pernah menghalangi mereka dari jalan kebenaran. Tentunya perkataan orang-orang sombong tersebut adalah kedustaan, karena benar dahulu mereka menghalangi orang-orang yang lemah dari jalan kebenaran. Akan tetapi, mereka akhirnya berdusta karena tidak ingin beban kesalahan orang-orang lemah dipikulkan kepada mereka.Sebagian para ulama juga menggambarkan bahwa orang-orang yang menyombongkan diri bahkan langsung memotong perkataan pengikut mereka yang mengadu kepada Allah ﷻ. Oleh karenanya kita tidak mendapat dalam perkataan mereka didahului dengan kata وَ ‘dan’, sehingga mereka langsung memotong perkataan pengikutnya karena khawatir keluhan pengikutnya menjadikan azab mereka ditambah. Adapun pada ayat setelahnya menggunakan kata و ‘dan’ yang menunjukkan bahwa para pengikut berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara, sehingga tampak ada jeda di antara perkataan mereka.Para pengikut kemudian membantah perkataan orang-orang yang menyombongkan diri tersebut dengan mengatakan bahwasanya benar mereka tersesat karena kesalahan mereka sendiri, akan tetapi kesalahan mereka itu disebabkan karena bujukan, rayuan, dan tipuan setiap hari, siang dan malam, sehingga orang-orang lemah tersebut pun teperdaya.Intinya, mereka saling tuduh yang satu dengan yang lainnya. Namun, kata Allah ﷻ bahwasanya mereka semua, baik orang-orang yang menyombongkan diri dan orang-orang yang mengikutinya, memendam penyesalan tatkala mereka telah melihat azab, karena mereka malu di hadapan khalayak. Sebenarnya, mereka semua jengkel dan dendam, akan tetapi mereka tidak berani mengungkapkan penyesalannya, dan ini merupakan tambahan siksaan bagi mereka yang tidak bisa mengungkapkannya.Pertengkaran dan saling tuduh menuduh di antara mereka sedikit pun tidak mengubah kondisi mereka yang akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam.Mereka saling beradu argumentasiAllah ﷻ berfirman dalam surah Ash-Shaffat,﴿احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ، مِن دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ، وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ، مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ، بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ، وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ، قَالُوا إِنَّكُمْ كُنتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ، قَالُوا بَل لَّمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ، وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ بَلْ كُنتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ، فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَا إِنَّا لَذَائِقُونَ، فَأَغْوَيْنَاكُمْ إِنَّا كُنَّا غَاوِينَ، فَإِنَّهُمْ يَوْمَئِذٍ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ﴾“(kepada malaikat diperintahkan) Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya, ‘Kenapa kamu tidak tolong menolong?’ Bahkan mereka pada hari itu berserah diri. Sebagian dan mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka), ‘Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari arah kanan’. Pemimpin-pemimpin mereka menjawab, ‘Sebenarnya kamulah yang tidak beriman. Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas. Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu). Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat’ Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab.” (QS. Ash-Shaffat: 22-33)Firman Allah ﷻ,﴿احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ، مِن دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ﴾“(kepada malaikat diperintahkan) Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.” (QS. Ash-Shaffat: 22-23)Orang-orang musyrikin atau para pelaku maksiat kelak akan dikumpulkan bersama-sama dengan orang-orang yang satu golongan dengan mereka, seperti orang yang beragama tertentu akan dikumpulkan dengan yang seagama dengannya, atau pelaku suatu maksiat akan dikumpulkan dengan para pelaku maksiat yang semisal, dan seterusnya. Selain itu, mereka juga dikumpulkan bersama dengan apa-apa yang mereka sembah selain Allah ﷻ.Pada ayat ini, Allah ﷻ menggunakan kata فَاهْدُوهُمْ yang biasa kita pakai untuk penunjukan jalan kepada kebaikan. Namun, mengapa Allah ﷻ menggunakan istilah tersebut untuk jalan keburukan yaitu neraka? Sebagian ulama mengatakan bahwa hal tersebut merupakan bentuk ejekan kepada mereka, bahwasanya dahulu mereka dahulu di dunia diberi hidayah, diberi petunjuk kepada jalan kebenaran, diutus para rasul, diturunkan Al-Qur’an, namun mereka tidak mau, maka saat itu mereka diberi hidayah (petunjuk) menuju neraka jahanam.Firman Allah ﷻ,﴿وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ، مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ، بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ﴾“Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya, ‘Kenapa kamu tidak tolong menolong?’ Bahkan mereka pada hari itu berserah diri.” (QS. Ash-Shaffat: 24-26)Belum sampai mereka masuk ke dalam neraka, mereka kemudian dipanggil untuk ditanya. Mereka ditanya bahwa mengapa mereka tidak saling tolong menolong satu sama lain ketika itu? Bukankah dahulu ketika di dunia mereka saling tolong menolong, saling bahu membahu, dan saling mendukung dalam menyebarkan kesyirikan dan syubhat agar orang-orang tersesat? Maka mengapa tidak saling tolong menolong ketika itu? Bukankah mereka satu golongan? Mereka tidak menjawab sedikit pun, bahkan saat itu mereka pasrah dan tidak bisa berkata-kata lagi, karena di depan mereka sudah ada neraka jahanam.Maka, yang terjadi kemudian adalah mereka saling berhadap-hadapan satu sama lain, dan terjadilah adu argumen di antara mereka. Allah ﷻ berfirman,﴿وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ، قَالُوا إِنَّكُمْ كُنتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ، قَالُوا بَل لَّمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ، وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ بَلْ كُنتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ، فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَا إِنَّا لَذَائِقُونَ، فَأَغْوَيْنَاكُمْ إِنَّا كُنَّا غَاوِينَ﴾“Sebagian dan mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka), ‘Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari arah kanan’. Pemimpin-pemimpin mereka menjawab, ‘Sebenarnya kamulah yang tidak beriman. Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas. Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu). Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat’.” (QS. Ash-Shaffat: 27-32)Para pengikut memberikan pembelaan bahwasanya karena sebab pemimpin-pemimpin mereka yang datang dari arah kanan itulah sehingga mereka tersesat. Maksud dari kalimat “datang dari kanan” ini memiliki dua tafsiran:Tafsiran pertama: Maksudnya adalah pemimpin-pemimpin mereka datang dengan berbagai kekuatan untuk menyesatkan mereka.Tafsiran kedua: Maksudnya adalah dahulu di dunia mereka dihalang-halangi kepada kebaikan (agama) sehingga akhirnya mereka benar-benar tersesat.([8])Namun, para pemimpin-pemimpin tersebut memberikan pembelaan. Mereka mengatakan bahwa para pengikut mereka itu sejak awal memang telah rusak imannya, karena godaan yang sedikit telah mampu menyesatkan mereka. Mereka juga memberikan pembelaan bahwasanya mereka tidak memiliki kemampuan untuk menyesatkan mereka. Bahkan mereka mengakui bahwa dahulu mereka sama-sama sesat, sehingga azab pasti akan mereka rasakan bersama.Di akhir ayat Allah ﷻ menegaskan,﴿فَإِنَّهُمْ يَوْمَئِذٍ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ﴾“Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab.” (QS. Ash-Shaffat: 33)Sekali lagi, pertengkaran mereka tidak mengubah kondisi mereka sedikit pun. Bahkan, kesamaan dalam azab pun tidak akan mengurangi penderitaan mereka.Mereka saling menghinaAllah ﷻ berfirman dalam surah Shad,﴿هَٰذَا وَإِنَّ لِلطَّاغِينَ لَشَرَّ مَآبٍ، جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ الْمِهَادُ، هَٰذَا فَلْيَذُوقُوهُ حَمِيمٌ وَغَسَّاقٌ، وَآخَرُ مِن شَكْلِهِ أَزْوَاجٌ، هَٰذَا فَوْجٌ مُّقْتَحِمٌ مَّعَكُمْ لَا مَرْحَبًا بِهِمْ إِنَّهُمْ صَالُو النَّارِ، قَالُوا بَلْ أَنتُمْ لَا مَرْحَبًا بِكُمْ أَنتُمْ قَدَّمْتُمُوهُ لَنَا فَبِئْسَ الْقَرَارُ، قَالُوا رَبَّنَا مَن قَدَّمَ لَنَا هَٰذَا فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِي النَّارِ، وَقَالُوا مَا لَنَا لَا نَرَىٰ رِجَالًا كُنَّا نَعُدُّهُم مِّنَ الْأَشْرَارِ، أَتَّخَذْنَاهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصَارُ، إِنَّ ذَٰلِكَ لَحَقٌّ تَخَاصُمُ أَهْلِ النَّارِ﴾“Demikianlah (keadaan mereka penghuni surga). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang durhaka benar-benar (disediakan) tempat kembali yang buruk, (yaitu) neraka Jahanam, yang mereka masuk ke dalamnya; maka amat buruklah Jahanam itu sebagai tempat tinggal. Inilah (azab neraka), biarlah mereka merasakannya, (minuman mereka) air yang sangat panas dan air yang sangat dingin. Dan azab yang lain yang serupa itu berbagai macam. (Dikatakan kepada mereka), ‘Ini rombongan besar (pengikut-pengikutmu) yang masuk berdesak-desak bersama kamu (ke neraka)’. (Berkata pemimpin-pemimpin mereka yang durhaka) ‘Tidak ada ucapan selamat datang bagi mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka’. Pengikut-pengikut mereka menjawab, ‘Sebenarnya kamulah yang (lebih pantas) tidak menerima ucapan selamat datang, karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab, maka itulah seburuk-buruk tempat menetap’. Mereka berkata (lagi), ‘Ya Tuhan kami, barang siapa yang menjerumuskan kami ke dalam azab ini maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka’. Dan (orang-orang durhaka) berkata, ‘Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina)?  Dahulu kami menjadikan mereka olok-olokan, ataukah karena penglihatan kami yang tidak melihat mereka?’  Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran di antara penghuni neraka.” (QS. Shad: 55-64)Allah ﷻ dalam firman-Nya ini menggambarkan bahwasanya orang-orang yang melampaui batas (durhaka) akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam, dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. Di sini, Allah ﷻ menggunakan kata فَبِئْسَ الْمِهَادُ, yang di mana kalimat tersebut merupakan ungkapan untuk tempat tidur yang disiapkan untuk bayi.([9]) Sehingga, seakan-akan dengan kalimat tersebut Allah ﷻ ingin mengejek mereka bahwa neraka adalah tempat mereka beristirahat. Kita katakan, bagaimana mungkin mereka bisa istirahat sementara azab setiap waktu akan mereka cicipi?Di dalam neraka jahanam, mereka akan diberi hamiin (حَمِيمٌ)dan ghassaq (غَسَّاقٌ). Hamiin adalah air yang sangat panas, yang jika di minum akan menghancurkan usus-usus mereka. Adapun ghassaq adalah minuman dari nanah, darah, rasanya pahit dan berbau busuk, yang kemudian diberikan kepada penghuni neraka jahanam sebagai minuman mereka.([10])Apa hanya azab itu yang mereka rasakan? Sekali-kali tidak, bahkan Allah ﷻ mengatakan,﴿وَآخَرُ مِن شَكْلِهِ أَزْوَاجٌ﴾“Dan azab yang lain yang serupa itu berbagai macam.” (QS. Shad: 58)Ada beberapa azab lain yang Allah ﷻ siapkan bagi penghuni neraka jahanam, waliya’udzubillah.Setelah itu, Allah ﷻ mengabarkan bahwasanya ada sekelompok orang yang akan masuk ke dalam neraka. Allah ﷻ menyifati mereka dengan kata مُّقْتَحِمٌ yang maknanya adalah mereka masuk tanpa berpikir panjang. Para ulama menjelaskan bahwasanya ini di antara azab bagi mereka, bahwa sebagaimana mereka dahulu para pengikut yang mengikuti pemimpin-pemimpin mereka tanpa berpikir panjang, maka demikianlah keadaan mereka tatkala dimasukkan ke dalam neraka jahanam.([11])Namun, para pemimpin-pemimpin mereka tidak senang ketika pengikutnya dimasukkan bersama mereka. sampai-sampai mereka mengatakan bahwa tidak ada ucapan selamat datang bagi mereka, karena mereka juga sama-sama masuk ke dalam neraka.Akhirnya, para pengikut pun memberikan bantahan bahwa justru bagi pemimpin-pemimpin mereka yang tidak ada keselamatan, karena mereka menganggap bahwa pemimpin-pemimpin merekalah yang mengantarkan azab kepada mereka. Oleh karenanya, para pengikut pun kemudian berdoa kepada Allah ﷻ,﴿رَبَّنَا مَن قَدَّمَ لَنَا هَٰذَا فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِي النَّارِ﴾“Ya Tuhan kami, barang siapa yang menjerumuskan kami ke dalam azab ini maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka.” (QS. Shad: 61)Namun, sebagaimana telah kita sebutkan sebelum-sebelumnya bahwa baik para pengikut maupun yang diikuti sama-sama akan mendapatkan siksaan yang berlipat ganda.Setelah itu, mereka (para pengikut dan yang diikuti) sama-sama berkata,﴿وَقَالُوا مَا لَنَا لَا نَرَىٰ رِجَالًا كُنَّا نَعُدُّهُم مِّنَ الْأَشْرَارِ، أَتَّخَذْنَاهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصَارُ﴾“Dan (orang-orang durhaka) berkata, ‘Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina)?  Dahulu kami menjadikan mereka olok-olokan, ataukah karena penglihatan kami yang tidak melihat mereka?’.” (QS. Shad: 61-62)Mereka kini sama-sama menyesal. Mereka dahulu menganggap orang-orang yang beriman sebagai orang-orang yang sesat, mereka menganggap hina orang-orang miskin. Namun, yang terjadi saat itu adalah sebaliknya, merekalah yang menjadi orang yang paling hina.Kemudian, Allah ﷻ menutup pertengkaran dengan berfirman,﴿إِنَّ ذَٰلِكَ لَحَقٌّ تَخَاصُمُ أَهْلِ النَّارِ﴾“Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran di antara penghuni neraka.” (QS. Shad: 64)Ini menunjukkan bahwasanya hal tersebut benar-benar akan terjadi.Saling adu argumen yang lemah dan kuatAllah ﷻ berfirman dalam surah Ghafir,﴿وَإِذْ يَتَحَاجُّونَ فِي النَّارِ فَيَقُولُ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا نَصِيبًا مِّنَ النَّارِ، قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُلٌّ فِيهَا إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَكَمَ بَيْنَ الْعِبَادِ، وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِّنَ الْعَذَابِ، قَالُوا أَوَلَمْ تَكُ تَأْتِيكُمْ رُسُلُكُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا بَلَىٰ قَالُوا قَالُوا فَادْعُوا وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ﴾“Dan (Ingatlah), ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu melepaskan sebagian (azab) api neraka yang menimpa kami?’ Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab, ‘Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya)’. Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahanam, ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu agar Dia meringankan azab atas kami sehari saja’. Maka (penjaga-penjaga Jahanam) berkata, ‘Apakah rasul-rasul belum datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata?’ Mereka menjawab, ‘Benar, sudah datang’. (Penjaga-penjaga Jahanam) berkata, ‘Berdoalah kamu (sendiri)!’ Namun doa orang-orang kafir itu sia-sia belaka.” (QS. Ghafir: 47-50)Pada ayat ini, Allah ﷻ lagi-lagi menggambarkan bahwasanya para penghuni neraka akan saling beradu argumen. Orang-orang lemah (baca: para pengikut) akan berkata kepada pemimpin-pemimpin mereka agar azab mereka bisa dikurangi. Namun, sebagaimana yang kita sebutkan dalam surah Ibrahim, bahwasanya pertanyaan tersebut merupakan bentuk ejekan kepada para pemimpin-pemimpin mereka. kemudian, lagi-lagi, para pemimpin mereka tentu tidak bisa memberikan keringanan azab, bahkan dalam ayat ini mereka seakan-akan pasrah dengan mengatakan bahwa mereka pun telah masuk ke dalam neraka jahanam dan keputusan Allah ﷻ telah ditetapkan.Akhirnya, setelah mereka tidak mendapat solusi dari pertengkaran dan perdebatan mereka, para pemimpin dan para pengikutnya mencari solusi lain dengan meminta kepada penjaga neraka jahanam. Kepada penjaga neraka mereka meminta untuk dimohonkan kepada Allah ﷻ agar azab mereka dikurangi barang sehari saja. Namun, para malaikat penjaga neraka justru balik bertanya kepada mereka tentang utusan Allah ﷻ kepada mereka yang membawa dalil-dalil dan hujah-hujah. Mereka pun membenarkan dan mengakui adanya utusan tersebut. Maka, malaikat penjaga neraka tersebut menolak permintaan mereka, dan meminta untuk mereka berdoa sendiri kepada Allah ﷻ, karena utusan telah datang sementara mereka sendiri yang menolaknya.Namun, di akhir ayat Allah ﷻ berfirman,﴿وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ﴾“Namun doa orang-orang kafir itu sia-sia belaka.” (QS. Ghafir: 50)Artinya, bagaimana pun permohonan mereka di akhirat kelak, tidak satu pun permintaan mereka yang akan dikabulkan oleh Allah ﷻ.Inilah beberapa pertengkaran para penghuni neraka yang Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Qur’an. Hal ini memberikan penjelasan kepada kita bahwasanya penghuni neraka tidak hanya akan disiksa dengan siksaan fisik belaka, akan tetapi mereka juga disiksa secara mental dengan berupa hinaan dan pertengkaran yang terjadi di antara mereka. Namun, semua itu tidak memberikan manfaat sedikit pun bagi mereka, bahkan dalam sebagian kondisi mereka justru semakin terpuruk akibat pertengkaran mereka. Kita berdoa semoga Allah ﷻ menyelamatkan kita dari azab neraka jahanam. Aamiin.Artikel ini telah terbit cetak dengan Judul “Syarah Rukun Iman – Bab Iman Kepada Hari Akhir” Versi online Bekalislam.firanda.comFootnote: ________([1]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (16/806).([2]) Lihat: Fath al-Qadir Li asy-Syaukani (1/192).([3]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (8/124).([4]) Sebagaimana perkataan Hasan al-Bashri. [Lihat: Tafsir ath-Thabari (16/563)].([5]) Orang-orang zalim yang disebutkan di dalam Al-Qur’an kebanyakan maksudnya adalah orang-orang musyrikin, karena Allah ﷻ telah berfirman bahwasanya syirik adalah perbuatan zalim yang paling besar.([6]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (22/205).([7]) Lihat: Tafsir as-Sa’di (hlm. 680).([8]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (15/75).([9]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (15/221).([10]) Lihat: Tafsir as-Sa’di (hlm. 715).([11]) Lihat: At-Tharir wa At-Tanwir (23/288)
Ilustrasi lampu @unsplash.comPertengkaran Penghuni NerakaOleh Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Pembahasan pada kesempatan kali ini, kita akan membahas suatu hal yang berkaitan dengan iman dengan hari akhir (kiamat). Tentunya, ada banyak hal perlu untuk kita imani terkait dengan hari akhir, di antaranya kita harus mengimani adanya neraka jahanam.Sebagaimana dalil-dalil yang kita ketahui tentang neraka jahanam, kita tentu menjadi tahu tentang betapa dahsyatnya azab neraka jahanam yang akan dirasakan oleh penghuninya kelak, baik dari sisi apinya, makanannya, minumannya, pakaiannya, dan berbagai macam siksaan lainnya.Di antara siksaan-siksaan yang Allah ﷻ berikan kepada penghuni neraka jahanam adalah siksaan mental. Di antaranya penghuni neraka akan dipermalukan dengan dipertemukannya mereka dengan makhluk yang mereka sembah ketika di dunia, sehingga terjadi pertengkaran di antara mereka. Dari pertengkaran tersebut, para penghuni neraka tidak hanya disiksa dengan siksaan fisik, akan tetapi mereka juga disiksa dengan siksaan mental yang menambah penderitaan mereka di akhirat kelak.Siksaan yang beragam yang diterima oleh penghuni neraka kelak menjadikan mereka akhirnya menyesal dengan penyesalan yang panjang. Namun, penyesalan mereka tersebut tidak lagi memiliki manfaat sedikit pun bagi mereka saat itu. Oleh karenanya, di antara nama dari hari kiamat yang Allah ﷻ sebutkan adalah Yaumul Hasrah (يَوْمَ الْحَسْرَةِ) yang artinya hari penyesalan. Hari kiamat disebut dengan hari penyesalan karena pada hari itu akan banyak penyesalan yang sangat mendalam yang akan diungkapkan oleh penghuni neraka.([1])Pertengkaran-pertengkaran Penghuni NerakaBentuk pertengkaran penghuni neraka pada hari kiamat kelak bisa kita klasifikasikan menjadi tujuh bentuk pertengkaran, berdasarkan urutan ayat-ayat yang datang di dalam Al-Qur’an.Mereka saling berlepas diriHal ini Allah ﷻ sebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 166, di mana antara orang yang mengikuti dan diikuti saling berlepas diri. Allah ﷻ berfirman,﴿إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ، وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذٰلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ﴾“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa di hadapan mereka; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti, ‘Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami’. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya sebagai bentuk penyesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS. Al-Baqarah: 166-167)Ayat ini menggambarkan bagaimana Allah ﷻ mempertemukan antara orang yang diikuti dan yang mengikuti, dan mereka sama-sama menuju neraka jahanam dan sama-sama melihat azab di hadapan mereka. Ketika melihat azab di hadapan mereka, maka terputuslah hubungan mereka kala itu. Mungkin yang dahulu di dunia mereka saling dekat, saling jalan bersama, saling bersama dalam melakukan kemaksiatan dan kesyirikan, saling mencintai di antara mereka, namun seluruh hubungan akan terputus ketika itu. Allah ﷻ berfirman,﴿الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ﴾“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)Yang pertama kali berlepas diri kelak adalah para pemimpin (yang diikuti). Para pemimpin tidak mau didekati oleh para pengikutnya. Mereka telah sadar bahwasanya mereka akan masuk neraka, akan tetapi hadirnya pengikut mereka menjadi tambahan azab baginya, sehingga mereka akhirnya ingin berlepas diri dari pengikutnya sejak awal.Tentunya, para pengikut ketika melihat pemimpin mereka berlepas diri dari mereka akan sangat kecewa. Orang yang dahulu di dunia mereka harap-harapkan, ternyata ketika hari itu berlepas diri dari mereka. Hal ini tentunya memberikan penderitaan yang tidak ringan, karena hari itu mereka tidak tahu ke mana lagi harus meminta pertolongan, sementara penderitaan telah mereka rasakan meskipun mereka belum dimasukkan ke dalam neraka. Oleh karenanya, ketika itu mereka akan berkata,﴿لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا﴾“Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” (QS. Al-Baqarah: 167)Angan-angan tersebut pastinya menjadi sebuah penyesalan karena mereka tidak bisa lagi kembali ke dunia untuk berlepas diri dari pemimpin-pemimpin mereka. Namun, penyesalan pada hari itu tiada guna, karena mereka tidak akan bisa keluar dari neraka jahanam sebagaimana firman Allah ﷻ,﴿وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ﴾“Dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS. Al-Baqarah: 167)Kata هُم dalam ayat ini memiliki dua tafsiran di kalangan para ulama. Sebagian mengatakan bahwa هُم maksudnya adalah untuk penekanan bahwa mereka tidak akan keluar dari neraka jahanam, namun sebagian yang lain mengatakan bahwa maksud هُم di sini adalah penyebutan spesifik bagi orang-orang kafir di mana mereka tidak akan keluar dari neraka jahanam.([2]) Intinya, Allah ﷻ telah menekankan bahwasanya orang-orang yang masuk ke dalam neraka jahanam tersebut tidak akan keluar dari neraka jahanam. Hal ini menjadi sebuah siksaan yang sangat mengerikan, ketika seseorang masuk ke dalam neraka dan tidak bisa keluar darinya. Adapun orang-orang bertauhid yang masuk ke dalam neraka karena maksiat mereka, mereka bisa keluar dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga setelah dicuci dosa-dosa mereka terlebih dahulu.Perlu kita ketahui bahwasanya sebelum Allah ﷻ memasukkan orang-orang musyrikin ke dalam neraka jahanam, Allah ﷻ mengejek mereka terlebih dahulu bahwasanya sabar atau tidaknya mereka dalam menghadapi siksaan, tidak akan memberikan faedah bagi mereka. Dalam surah Ath-Thur Allah ﷻ berfirman,﴿اصْلَوْهَا فَاصْبِرُوا أَوْ لَا تَصْبِرُوا سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ﴾“Masuklah kalian ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); baik kalian bersabar atau tidak, sama saja bagi kalian, kalian diberi balasan terhadap apa yang telah kalian kerjakan.” (QS. Ath-Thur: 16)Hal ini berbeda ketika seseorang bersabar di dunia. Ketika seseorang tertimpa penderitaan di dunia, kesabarannya atas hal tersebut memberikan faedah baginya, dan ada sebab-sebab yang membuat dia bisa bersabar. Bisa jadi dia bersabar karena dia tahu ada orang lain yang mendapatkan musibah yang sama. Bisa jadi dia bersabar karena dia tahu bahwasanya musibah yang dia alami akan ada ujungnya, sebagaimana ungkapan “badai pasti berlalu”. Namun, ketika kita berbicara tentang azab neraka, maka kesabaran dengan segala sebab-sebabnya akan percuma. Benar bahwa yang disiksa bukan hanya mereka, antara pemimpin dan pengikut juga disiksa. Namun meskipun itu menjadikan mereka lebih bisa bersabar, maka percuma saja, karena siksaan mereka tidak akan dikurangi, bahkan bisa jadi akan semakin ditambah, dan mereka tidak akan keluar dari neraka jahanam barang sesaat pun. Oleh karenanya, mereka kelak mengungkapkan hal tersebut sebagaimana yang Allah ﷻ gambarkan dalam firman-Nya,﴿سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ﴾“Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.” (QS. Ibrahim: 21)Inilah bentuk pertengkaran pertama antara penghuni neraka, bahwasanya mereka akan saling berlepas diri satu sama lain.Mereka saling melaknatDi antara pertengkaran para penghuni neraka adalah kelak mereka akan saling melaknat. Hal ini digambarkan oleh firman Allah ﷻ dalam surah Al-A’raf ayat ke-38 sampai ayat ke-39. Allah ﷻ berfirman,﴿قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُم مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ فِي النَّارِ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَّعَنَتْ أُخْتَهَا حَتَّىٰ إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لِأُولَاهُمْ رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِّنَ النَّارِ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَٰكِن لَّا تَعْلَمُونَ، وَقَالَتْ أُولَاهُمْ لِأُخْرَاهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْسِبُونَ﴾“Allah berfirman, ‘Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia melaknat kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu, ‘Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka’. Allah berfirman, ‘Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui’.  Dan berkata orang-orang yang masuk terdahulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk kemudian, ‘Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan’.” (QS. Al-A’raf: 38-39)Ayat ini menggambarkan bagaimana penghuni neraka antara satu umat dengan umat  lainnya saling melaknat dan saling melemparkan tuduhan setiap kali masuk satu umat ke dalam neraka. Tatkala mereka seluruhnya sudah saling bertemu, antara yang diikuti dan yang mengikuti, maka yang belakangan masuk neraka mengadu kepada Allah ﷻ bahwasanya mereka tersesat karena umat sebelum mereka. Di sini, seakan-akan mereka meminta untuk dikurangi azabnya dan dipindahkan azab tersebut kepada kaum yang menjadikan mereka sesat, atau kaum tersebut ditambahkan azab baginya. Permintaan seperti ini tentunya permintaan yang wajar, karena demikianlah orang yang kecewa terhadap orang lain, mereka pasti akan mencurahkan kekecewaannya.Namun apa kata Allah ﷻ? Mereka semua akan ditimpakan azab yang berlipat ganda. Tidak hanya bagi yang menyesatkan, yang disesatkan pun juga akan ditimpakan azab yang berlipat ganda. Sungguh ini perkara yang menyedihkan lagi menghinakan, di mana mereka meminta azab ditambahkan kepada kaum yang menyesatkan mereka, namun ternyata mereka pun dapat tambahan azab dari Allah ﷻ.Ketika itu, yang menyesatkan juga akan berkata kepada kaum yang merasa disesatkan, bahwasanya tidak ada yang utama di antara mereka, sehingga mereka sama-sama diberi azab yang berlipat ganda. Seakan-akan mereka menyalahkan kaum yang merasa disesatkan bahwasanya kesesatan mereka itu disebabkan kesalahan mereka sendiri karena mengikuti kesesatan mereka. Mereka pun mengejek kaum yang merasa disesatkan dengan berkata,﴿فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْسِبُونَ﴾“Maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kalian lakukan.” (QS. Al-A’raf: 39)Kata فَذُوقُوا atau الذَّوْقُ dalam bahasa kita artinya “ciciplah”. Sesuatu yang dicicip, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Arab maksudnya adalah mencicipi (baca: merasakan) dengan lidah, baik itu makanan atau minuman.([3]) Di sini menunjukkan bagaimana parahnya azab yang akan mereka rasakan, sampai-sampai mereka menggunakan ungkapan “Ciciplah azab karena perbuatan yang kalian telah lakukan”. Artinya, azab tersebut benar-benar akan mereka rasakan sampai terasa masuk ke dalam tubuh mereka. Ungkapan ini merupakan ejekan, karena seakan-akan mereka mengatakan “Silakan kalian berlezat-lezat dengan azab karena perbuatan kalian”.Intinya, para penghuni neraka akan saling mengejek satu sama lain, yang belakangan datang mengadu kepada Allah ﷻ terhadap kaum yang lebih dahulu masuk ke dalam neraka, namun ternyata mereka pun diberikan siksaan yang berlipat ganda. Akhirnya, yang kaum yang lebih dahulu masuk ke dalam neraka pun akhirnya mengejek kaum yang belakangan. Tentunya, selain siksaan fisik, apa yang akan mereka alami ini juga menjadi siksaan mental yang sangat menyedihkan.Pertengkaran antara orang zalim dengan setanHal ini Allah ﷻ gambarkan dalam surah Ibrahim. Allah ﷻ berfirman,﴿وَبَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِن شَيْءٍ قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ، وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدتُّكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ إِلَّا أَن دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنفُسَكُم مَّا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنتُم بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri’. Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu  pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu’. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (QS. Ibrahim: 21-22)Firman Allah ﷻ,﴿وَبَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِن شَيْءٍ قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ﴾“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri’.” (QS. Ibrahim: 21)Para ahli tafsir ketika membahas ayat ini, mereka terbagi menjadi dua pendapat tentang apakah permintaan orang-orang lemah terhadap orang-orang yang menyombongkan diri dalam ayat ini murni permohonan atau ejekan? Banyak dari ahli tafsir menyebutkan bahwa permohonan tersebut adalah ejekan. Permohonan orang-orang lemah tersebut merupakan istifham inkari ‘pertanyaan untuk penafian’, artinya mereka mengejek orang-orang sombong yang menjadi sebab mereka masuk neraka bahwa mereka sedikit pun tidak  bisa menanggung azab mereka. Intinya, kalau benar maksud dari pertanyaan mereka adalah untuk istifham inkari, maka tentu ini adalah bentuk penghinaan bagi kaum yang menyombongkan diri, yang dahulunya mengaku bahwa akan menolong dan menyelamatkan mereka, namun saat ini mereka tidak memiliki kekuasaan sedikit pun.Para ahli tafsir yang berpendapat bahwa pertanyaan orang-orang lemah itu merupakan istifham inkari beralasan bahwa orang-orang lemah tersebut sudah tahu bahwasanya masing-masing akan disiksa dan tidak akan menanggung siksaan orang lain. Sehingga, pertanyaan mereka tersebut maksudnya adalah mengejek dan penghinaan, karena saat itu orang-orang yang menyombongkan diri tidak bisa menanggung azab orang-orang yang lemah sedikit pun.Apa jawaban orang-orang yang menyombongkan diri?﴿لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ﴾“Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.”Artinya, meskipun orang-orang lemah ini mengejek dan menghina mereka, atau mereka semuanya bersabar, atau bahkan mereka semua meronta-ronta, maka itu semua tidak akan mengubah kondisi mereka, karena bagi mereka tidak ada jalan sedikit pun untuk dikurangi azabnya, dan tidak ada jalan keluar sedikit pun dari azab tersebut.Kemudian, disebutkan oleh para ahli tafsir bahwa ketika pertengkaran mereka tidak memberikan faedah bagi mereka, mulailah mereka mengadu kepada setan (Iblis). Maka setan pun menjawab mereka dengan berkhutbah di atas mimbar yang terbuat dari api([4]). Allah ﷻ berfirman tentang khutbah setan,﴿وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدتُّكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ إِلَّا أَن دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنفُسَكُم مَّا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنتُم بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾“Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyelisihinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu  pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih’.” (QS. Ibrahim: 22)Setan membantah tuduhan mereka dengan mengatakan bahwasanya mereka hanya menyelisihi janjinya, sementara Allah ﷻ membenarkan janji-Nya. Setan membantah mereka bahwa ia hanyalah membisikkan semata dan mereka sendirilah yang mengikuti bujukan setan, sementara setan tidak punya kuasa untuk hal tersebut. Setan berkata agar mereka tidak perlu mencelanya, tapi hendaknya mereka mencela diri mereka sendiri, karena mereka masuk neraka karena kesalahan mereka sendiri. Setan juga berlepas diri dari kesyirikan yang mereka lakukan dahulu di dunia. Di akhir khutbahnya, setan seakan-akan mengatakan bahwa tidak perlu ada celaan di antara mereka, karena baik setan maupun yang lainnya sama-sama berbuat zalim, sehingga semuanya mendapatkan siksaan yang pedih.Peristiwa ini menjadi hal yang akan menyesakkan dada mereka. Dalam hal ini, dua kali mental mereka jatuh. Pertama, ketika yang lemah bertemu dengan yang kuat dan saling bertengkar, namun tidak memberikan perubahan kondisi mereka. Kedua, ketika yang lemah dan yang kuat bergabung untuk bertengkar dengan setan, namun pertengkaran mereka pun tidak mengubah kondisi mereka.Mereka saling menuduhAllah ﷻ berfirman dalam surah Saba’,﴿وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَن نُّؤْمِنَ بِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَلَا بِالَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ مَوْقُوفُونَ عِندَ رَبِّهِمْ يَرْجِعُ بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ الْقَوْلَ يَقُولُ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لَوْلَا أَنتُمْ لَكُنَّا مُؤْمِنِينَ، قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا أَنَحْنُ صَدَدْنَاكُمْ عَنِ الْهُدَىٰ بَعْدَ إِذْ جَاءَكُم بَلْ كُنتُم مُّجْرِمِينَ، وَقَالَ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا بَلْ مَكْرُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ إِذْ تَأْمُرُونَنَا أَن نَّكْفُرَ بِاللَّهِ وَنَجْعَلَ لَهُ أَندَادًا وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ وَجَعَلْنَا الْأَغْلَالَ فِي أَعْنَاقِ الَّذِينَ كَفَرُوا هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴾“Dan orang-orang kafir berkata, ‘Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al-Qur’an ini dan tidak (pula) kepada kitab yang sebelumnya’. Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadapkan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman’. Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah, ‘Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa’. Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘(Tidak) sebenarnya tipu dayamu di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya’. Kedua belah pihak menyembunyikan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Saba’: 31-33)Khitab ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang membaca Al-Qur’an, yaitu kita semua. Allah ﷻ menggambarkan kepada kita tentang bagaimana pembangkangan orang-orang kafir itu, mereka tidak mau beriman kepada Al-Qur’an dan bahkan tidak kepada kitab-kitab sebelumnya.Allah ﷻ dalam ayat ini menggambarkan bagaimana ketika kelak orang-orang zalim yaitu orang-orang musyrikin([5]) dihadapkan kepada Allah ﷻ dan mereka saling menuduh antara yang satu dengan yang lainnya. Allah ﷻ menggunakan kata اسْتَكْبَرُوا bagi kelompok yang menganggap diri mereka besar, padahal mereka sama sekali tidak besar. Adapun kata اسْتُضْعِفُوا digunakan bagi kelompok yang lemah, di mana mereka memang lemah baik dari sisi akal maupun harta, yang mereka mengikuti orang-orang yang menganggap diri mereka besar.([6])Orang-orang yang lemah (baca: pengikut) mengadu kepada Allah ﷻ bahwasanya kalau bukan karena orang-orang yang sombong tentu mereka akan beriman kepada Allah ﷻ. Hal tersebut mereka sampaikan dengan harapan azab mereka bisa selamat dari azab.([7]) Namun, orang-orang yang sombong tersebut membantah dan balik menuduh mereka, bahwasanya mereka tidak pernah menghalangi mereka dari jalan kebenaran. Tentunya perkataan orang-orang sombong tersebut adalah kedustaan, karena benar dahulu mereka menghalangi orang-orang yang lemah dari jalan kebenaran. Akan tetapi, mereka akhirnya berdusta karena tidak ingin beban kesalahan orang-orang lemah dipikulkan kepada mereka.Sebagian para ulama juga menggambarkan bahwa orang-orang yang menyombongkan diri bahkan langsung memotong perkataan pengikut mereka yang mengadu kepada Allah ﷻ. Oleh karenanya kita tidak mendapat dalam perkataan mereka didahului dengan kata وَ ‘dan’, sehingga mereka langsung memotong perkataan pengikutnya karena khawatir keluhan pengikutnya menjadikan azab mereka ditambah. Adapun pada ayat setelahnya menggunakan kata و ‘dan’ yang menunjukkan bahwa para pengikut berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara, sehingga tampak ada jeda di antara perkataan mereka.Para pengikut kemudian membantah perkataan orang-orang yang menyombongkan diri tersebut dengan mengatakan bahwasanya benar mereka tersesat karena kesalahan mereka sendiri, akan tetapi kesalahan mereka itu disebabkan karena bujukan, rayuan, dan tipuan setiap hari, siang dan malam, sehingga orang-orang lemah tersebut pun teperdaya.Intinya, mereka saling tuduh yang satu dengan yang lainnya. Namun, kata Allah ﷻ bahwasanya mereka semua, baik orang-orang yang menyombongkan diri dan orang-orang yang mengikutinya, memendam penyesalan tatkala mereka telah melihat azab, karena mereka malu di hadapan khalayak. Sebenarnya, mereka semua jengkel dan dendam, akan tetapi mereka tidak berani mengungkapkan penyesalannya, dan ini merupakan tambahan siksaan bagi mereka yang tidak bisa mengungkapkannya.Pertengkaran dan saling tuduh menuduh di antara mereka sedikit pun tidak mengubah kondisi mereka yang akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam.Mereka saling beradu argumentasiAllah ﷻ berfirman dalam surah Ash-Shaffat,﴿احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ، مِن دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ، وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ، مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ، بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ، وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ، قَالُوا إِنَّكُمْ كُنتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ، قَالُوا بَل لَّمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ، وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ بَلْ كُنتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ، فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَا إِنَّا لَذَائِقُونَ، فَأَغْوَيْنَاكُمْ إِنَّا كُنَّا غَاوِينَ، فَإِنَّهُمْ يَوْمَئِذٍ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ﴾“(kepada malaikat diperintahkan) Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya, ‘Kenapa kamu tidak tolong menolong?’ Bahkan mereka pada hari itu berserah diri. Sebagian dan mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka), ‘Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari arah kanan’. Pemimpin-pemimpin mereka menjawab, ‘Sebenarnya kamulah yang tidak beriman. Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas. Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu). Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat’ Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab.” (QS. Ash-Shaffat: 22-33)Firman Allah ﷻ,﴿احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ، مِن دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ﴾“(kepada malaikat diperintahkan) Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.” (QS. Ash-Shaffat: 22-23)Orang-orang musyrikin atau para pelaku maksiat kelak akan dikumpulkan bersama-sama dengan orang-orang yang satu golongan dengan mereka, seperti orang yang beragama tertentu akan dikumpulkan dengan yang seagama dengannya, atau pelaku suatu maksiat akan dikumpulkan dengan para pelaku maksiat yang semisal, dan seterusnya. Selain itu, mereka juga dikumpulkan bersama dengan apa-apa yang mereka sembah selain Allah ﷻ.Pada ayat ini, Allah ﷻ menggunakan kata فَاهْدُوهُمْ yang biasa kita pakai untuk penunjukan jalan kepada kebaikan. Namun, mengapa Allah ﷻ menggunakan istilah tersebut untuk jalan keburukan yaitu neraka? Sebagian ulama mengatakan bahwa hal tersebut merupakan bentuk ejekan kepada mereka, bahwasanya dahulu mereka dahulu di dunia diberi hidayah, diberi petunjuk kepada jalan kebenaran, diutus para rasul, diturunkan Al-Qur’an, namun mereka tidak mau, maka saat itu mereka diberi hidayah (petunjuk) menuju neraka jahanam.Firman Allah ﷻ,﴿وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ، مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ، بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ﴾“Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya, ‘Kenapa kamu tidak tolong menolong?’ Bahkan mereka pada hari itu berserah diri.” (QS. Ash-Shaffat: 24-26)Belum sampai mereka masuk ke dalam neraka, mereka kemudian dipanggil untuk ditanya. Mereka ditanya bahwa mengapa mereka tidak saling tolong menolong satu sama lain ketika itu? Bukankah dahulu ketika di dunia mereka saling tolong menolong, saling bahu membahu, dan saling mendukung dalam menyebarkan kesyirikan dan syubhat agar orang-orang tersesat? Maka mengapa tidak saling tolong menolong ketika itu? Bukankah mereka satu golongan? Mereka tidak menjawab sedikit pun, bahkan saat itu mereka pasrah dan tidak bisa berkata-kata lagi, karena di depan mereka sudah ada neraka jahanam.Maka, yang terjadi kemudian adalah mereka saling berhadap-hadapan satu sama lain, dan terjadilah adu argumen di antara mereka. Allah ﷻ berfirman,﴿وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ، قَالُوا إِنَّكُمْ كُنتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ، قَالُوا بَل لَّمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ، وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ بَلْ كُنتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ، فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَا إِنَّا لَذَائِقُونَ، فَأَغْوَيْنَاكُمْ إِنَّا كُنَّا غَاوِينَ﴾“Sebagian dan mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka), ‘Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari arah kanan’. Pemimpin-pemimpin mereka menjawab, ‘Sebenarnya kamulah yang tidak beriman. Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas. Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu). Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat’.” (QS. Ash-Shaffat: 27-32)Para pengikut memberikan pembelaan bahwasanya karena sebab pemimpin-pemimpin mereka yang datang dari arah kanan itulah sehingga mereka tersesat. Maksud dari kalimat “datang dari kanan” ini memiliki dua tafsiran:Tafsiran pertama: Maksudnya adalah pemimpin-pemimpin mereka datang dengan berbagai kekuatan untuk menyesatkan mereka.Tafsiran kedua: Maksudnya adalah dahulu di dunia mereka dihalang-halangi kepada kebaikan (agama) sehingga akhirnya mereka benar-benar tersesat.([8])Namun, para pemimpin-pemimpin tersebut memberikan pembelaan. Mereka mengatakan bahwa para pengikut mereka itu sejak awal memang telah rusak imannya, karena godaan yang sedikit telah mampu menyesatkan mereka. Mereka juga memberikan pembelaan bahwasanya mereka tidak memiliki kemampuan untuk menyesatkan mereka. Bahkan mereka mengakui bahwa dahulu mereka sama-sama sesat, sehingga azab pasti akan mereka rasakan bersama.Di akhir ayat Allah ﷻ menegaskan,﴿فَإِنَّهُمْ يَوْمَئِذٍ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ﴾“Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab.” (QS. Ash-Shaffat: 33)Sekali lagi, pertengkaran mereka tidak mengubah kondisi mereka sedikit pun. Bahkan, kesamaan dalam azab pun tidak akan mengurangi penderitaan mereka.Mereka saling menghinaAllah ﷻ berfirman dalam surah Shad,﴿هَٰذَا وَإِنَّ لِلطَّاغِينَ لَشَرَّ مَآبٍ، جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ الْمِهَادُ، هَٰذَا فَلْيَذُوقُوهُ حَمِيمٌ وَغَسَّاقٌ، وَآخَرُ مِن شَكْلِهِ أَزْوَاجٌ، هَٰذَا فَوْجٌ مُّقْتَحِمٌ مَّعَكُمْ لَا مَرْحَبًا بِهِمْ إِنَّهُمْ صَالُو النَّارِ، قَالُوا بَلْ أَنتُمْ لَا مَرْحَبًا بِكُمْ أَنتُمْ قَدَّمْتُمُوهُ لَنَا فَبِئْسَ الْقَرَارُ، قَالُوا رَبَّنَا مَن قَدَّمَ لَنَا هَٰذَا فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِي النَّارِ، وَقَالُوا مَا لَنَا لَا نَرَىٰ رِجَالًا كُنَّا نَعُدُّهُم مِّنَ الْأَشْرَارِ، أَتَّخَذْنَاهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصَارُ، إِنَّ ذَٰلِكَ لَحَقٌّ تَخَاصُمُ أَهْلِ النَّارِ﴾“Demikianlah (keadaan mereka penghuni surga). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang durhaka benar-benar (disediakan) tempat kembali yang buruk, (yaitu) neraka Jahanam, yang mereka masuk ke dalamnya; maka amat buruklah Jahanam itu sebagai tempat tinggal. Inilah (azab neraka), biarlah mereka merasakannya, (minuman mereka) air yang sangat panas dan air yang sangat dingin. Dan azab yang lain yang serupa itu berbagai macam. (Dikatakan kepada mereka), ‘Ini rombongan besar (pengikut-pengikutmu) yang masuk berdesak-desak bersama kamu (ke neraka)’. (Berkata pemimpin-pemimpin mereka yang durhaka) ‘Tidak ada ucapan selamat datang bagi mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka’. Pengikut-pengikut mereka menjawab, ‘Sebenarnya kamulah yang (lebih pantas) tidak menerima ucapan selamat datang, karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab, maka itulah seburuk-buruk tempat menetap’. Mereka berkata (lagi), ‘Ya Tuhan kami, barang siapa yang menjerumuskan kami ke dalam azab ini maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka’. Dan (orang-orang durhaka) berkata, ‘Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina)?  Dahulu kami menjadikan mereka olok-olokan, ataukah karena penglihatan kami yang tidak melihat mereka?’  Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran di antara penghuni neraka.” (QS. Shad: 55-64)Allah ﷻ dalam firman-Nya ini menggambarkan bahwasanya orang-orang yang melampaui batas (durhaka) akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam, dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. Di sini, Allah ﷻ menggunakan kata فَبِئْسَ الْمِهَادُ, yang di mana kalimat tersebut merupakan ungkapan untuk tempat tidur yang disiapkan untuk bayi.([9]) Sehingga, seakan-akan dengan kalimat tersebut Allah ﷻ ingin mengejek mereka bahwa neraka adalah tempat mereka beristirahat. Kita katakan, bagaimana mungkin mereka bisa istirahat sementara azab setiap waktu akan mereka cicipi?Di dalam neraka jahanam, mereka akan diberi hamiin (حَمِيمٌ)dan ghassaq (غَسَّاقٌ). Hamiin adalah air yang sangat panas, yang jika di minum akan menghancurkan usus-usus mereka. Adapun ghassaq adalah minuman dari nanah, darah, rasanya pahit dan berbau busuk, yang kemudian diberikan kepada penghuni neraka jahanam sebagai minuman mereka.([10])Apa hanya azab itu yang mereka rasakan? Sekali-kali tidak, bahkan Allah ﷻ mengatakan,﴿وَآخَرُ مِن شَكْلِهِ أَزْوَاجٌ﴾“Dan azab yang lain yang serupa itu berbagai macam.” (QS. Shad: 58)Ada beberapa azab lain yang Allah ﷻ siapkan bagi penghuni neraka jahanam, waliya’udzubillah.Setelah itu, Allah ﷻ mengabarkan bahwasanya ada sekelompok orang yang akan masuk ke dalam neraka. Allah ﷻ menyifati mereka dengan kata مُّقْتَحِمٌ yang maknanya adalah mereka masuk tanpa berpikir panjang. Para ulama menjelaskan bahwasanya ini di antara azab bagi mereka, bahwa sebagaimana mereka dahulu para pengikut yang mengikuti pemimpin-pemimpin mereka tanpa berpikir panjang, maka demikianlah keadaan mereka tatkala dimasukkan ke dalam neraka jahanam.([11])Namun, para pemimpin-pemimpin mereka tidak senang ketika pengikutnya dimasukkan bersama mereka. sampai-sampai mereka mengatakan bahwa tidak ada ucapan selamat datang bagi mereka, karena mereka juga sama-sama masuk ke dalam neraka.Akhirnya, para pengikut pun memberikan bantahan bahwa justru bagi pemimpin-pemimpin mereka yang tidak ada keselamatan, karena mereka menganggap bahwa pemimpin-pemimpin merekalah yang mengantarkan azab kepada mereka. Oleh karenanya, para pengikut pun kemudian berdoa kepada Allah ﷻ,﴿رَبَّنَا مَن قَدَّمَ لَنَا هَٰذَا فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِي النَّارِ﴾“Ya Tuhan kami, barang siapa yang menjerumuskan kami ke dalam azab ini maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka.” (QS. Shad: 61)Namun, sebagaimana telah kita sebutkan sebelum-sebelumnya bahwa baik para pengikut maupun yang diikuti sama-sama akan mendapatkan siksaan yang berlipat ganda.Setelah itu, mereka (para pengikut dan yang diikuti) sama-sama berkata,﴿وَقَالُوا مَا لَنَا لَا نَرَىٰ رِجَالًا كُنَّا نَعُدُّهُم مِّنَ الْأَشْرَارِ، أَتَّخَذْنَاهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصَارُ﴾“Dan (orang-orang durhaka) berkata, ‘Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina)?  Dahulu kami menjadikan mereka olok-olokan, ataukah karena penglihatan kami yang tidak melihat mereka?’.” (QS. Shad: 61-62)Mereka kini sama-sama menyesal. Mereka dahulu menganggap orang-orang yang beriman sebagai orang-orang yang sesat, mereka menganggap hina orang-orang miskin. Namun, yang terjadi saat itu adalah sebaliknya, merekalah yang menjadi orang yang paling hina.Kemudian, Allah ﷻ menutup pertengkaran dengan berfirman,﴿إِنَّ ذَٰلِكَ لَحَقٌّ تَخَاصُمُ أَهْلِ النَّارِ﴾“Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran di antara penghuni neraka.” (QS. Shad: 64)Ini menunjukkan bahwasanya hal tersebut benar-benar akan terjadi.Saling adu argumen yang lemah dan kuatAllah ﷻ berfirman dalam surah Ghafir,﴿وَإِذْ يَتَحَاجُّونَ فِي النَّارِ فَيَقُولُ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا نَصِيبًا مِّنَ النَّارِ، قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُلٌّ فِيهَا إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَكَمَ بَيْنَ الْعِبَادِ، وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِّنَ الْعَذَابِ، قَالُوا أَوَلَمْ تَكُ تَأْتِيكُمْ رُسُلُكُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا بَلَىٰ قَالُوا قَالُوا فَادْعُوا وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ﴾“Dan (Ingatlah), ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu melepaskan sebagian (azab) api neraka yang menimpa kami?’ Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab, ‘Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya)’. Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahanam, ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu agar Dia meringankan azab atas kami sehari saja’. Maka (penjaga-penjaga Jahanam) berkata, ‘Apakah rasul-rasul belum datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata?’ Mereka menjawab, ‘Benar, sudah datang’. (Penjaga-penjaga Jahanam) berkata, ‘Berdoalah kamu (sendiri)!’ Namun doa orang-orang kafir itu sia-sia belaka.” (QS. Ghafir: 47-50)Pada ayat ini, Allah ﷻ lagi-lagi menggambarkan bahwasanya para penghuni neraka akan saling beradu argumen. Orang-orang lemah (baca: para pengikut) akan berkata kepada pemimpin-pemimpin mereka agar azab mereka bisa dikurangi. Namun, sebagaimana yang kita sebutkan dalam surah Ibrahim, bahwasanya pertanyaan tersebut merupakan bentuk ejekan kepada para pemimpin-pemimpin mereka. kemudian, lagi-lagi, para pemimpin mereka tentu tidak bisa memberikan keringanan azab, bahkan dalam ayat ini mereka seakan-akan pasrah dengan mengatakan bahwa mereka pun telah masuk ke dalam neraka jahanam dan keputusan Allah ﷻ telah ditetapkan.Akhirnya, setelah mereka tidak mendapat solusi dari pertengkaran dan perdebatan mereka, para pemimpin dan para pengikutnya mencari solusi lain dengan meminta kepada penjaga neraka jahanam. Kepada penjaga neraka mereka meminta untuk dimohonkan kepada Allah ﷻ agar azab mereka dikurangi barang sehari saja. Namun, para malaikat penjaga neraka justru balik bertanya kepada mereka tentang utusan Allah ﷻ kepada mereka yang membawa dalil-dalil dan hujah-hujah. Mereka pun membenarkan dan mengakui adanya utusan tersebut. Maka, malaikat penjaga neraka tersebut menolak permintaan mereka, dan meminta untuk mereka berdoa sendiri kepada Allah ﷻ, karena utusan telah datang sementara mereka sendiri yang menolaknya.Namun, di akhir ayat Allah ﷻ berfirman,﴿وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ﴾“Namun doa orang-orang kafir itu sia-sia belaka.” (QS. Ghafir: 50)Artinya, bagaimana pun permohonan mereka di akhirat kelak, tidak satu pun permintaan mereka yang akan dikabulkan oleh Allah ﷻ.Inilah beberapa pertengkaran para penghuni neraka yang Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Qur’an. Hal ini memberikan penjelasan kepada kita bahwasanya penghuni neraka tidak hanya akan disiksa dengan siksaan fisik belaka, akan tetapi mereka juga disiksa secara mental dengan berupa hinaan dan pertengkaran yang terjadi di antara mereka. Namun, semua itu tidak memberikan manfaat sedikit pun bagi mereka, bahkan dalam sebagian kondisi mereka justru semakin terpuruk akibat pertengkaran mereka. Kita berdoa semoga Allah ﷻ menyelamatkan kita dari azab neraka jahanam. Aamiin.Artikel ini telah terbit cetak dengan Judul “Syarah Rukun Iman – Bab Iman Kepada Hari Akhir” Versi online Bekalislam.firanda.comFootnote: ________([1]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (16/806).([2]) Lihat: Fath al-Qadir Li asy-Syaukani (1/192).([3]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (8/124).([4]) Sebagaimana perkataan Hasan al-Bashri. [Lihat: Tafsir ath-Thabari (16/563)].([5]) Orang-orang zalim yang disebutkan di dalam Al-Qur’an kebanyakan maksudnya adalah orang-orang musyrikin, karena Allah ﷻ telah berfirman bahwasanya syirik adalah perbuatan zalim yang paling besar.([6]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (22/205).([7]) Lihat: Tafsir as-Sa’di (hlm. 680).([8]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (15/75).([9]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (15/221).([10]) Lihat: Tafsir as-Sa’di (hlm. 715).([11]) Lihat: At-Tharir wa At-Tanwir (23/288)


Ilustrasi lampu @unsplash.comPertengkaran Penghuni NerakaOleh Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA.Pembahasan pada kesempatan kali ini, kita akan membahas suatu hal yang berkaitan dengan iman dengan hari akhir (kiamat). Tentunya, ada banyak hal perlu untuk kita imani terkait dengan hari akhir, di antaranya kita harus mengimani adanya neraka jahanam.Sebagaimana dalil-dalil yang kita ketahui tentang neraka jahanam, kita tentu menjadi tahu tentang betapa dahsyatnya azab neraka jahanam yang akan dirasakan oleh penghuninya kelak, baik dari sisi apinya, makanannya, minumannya, pakaiannya, dan berbagai macam siksaan lainnya.Di antara siksaan-siksaan yang Allah ﷻ berikan kepada penghuni neraka jahanam adalah siksaan mental. Di antaranya penghuni neraka akan dipermalukan dengan dipertemukannya mereka dengan makhluk yang mereka sembah ketika di dunia, sehingga terjadi pertengkaran di antara mereka. Dari pertengkaran tersebut, para penghuni neraka tidak hanya disiksa dengan siksaan fisik, akan tetapi mereka juga disiksa dengan siksaan mental yang menambah penderitaan mereka di akhirat kelak.Siksaan yang beragam yang diterima oleh penghuni neraka kelak menjadikan mereka akhirnya menyesal dengan penyesalan yang panjang. Namun, penyesalan mereka tersebut tidak lagi memiliki manfaat sedikit pun bagi mereka saat itu. Oleh karenanya, di antara nama dari hari kiamat yang Allah ﷻ sebutkan adalah Yaumul Hasrah (يَوْمَ الْحَسْرَةِ) yang artinya hari penyesalan. Hari kiamat disebut dengan hari penyesalan karena pada hari itu akan banyak penyesalan yang sangat mendalam yang akan diungkapkan oleh penghuni neraka.([1])Pertengkaran-pertengkaran Penghuni NerakaBentuk pertengkaran penghuni neraka pada hari kiamat kelak bisa kita klasifikasikan menjadi tujuh bentuk pertengkaran, berdasarkan urutan ayat-ayat yang datang di dalam Al-Qur’an.Mereka saling berlepas diriHal ini Allah ﷻ sebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 166, di mana antara orang yang mengikuti dan diikuti saling berlepas diri. Allah ﷻ berfirman,﴿إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ، وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذٰلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ﴾“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa di hadapan mereka; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti, ‘Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami’. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya sebagai bentuk penyesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS. Al-Baqarah: 166-167)Ayat ini menggambarkan bagaimana Allah ﷻ mempertemukan antara orang yang diikuti dan yang mengikuti, dan mereka sama-sama menuju neraka jahanam dan sama-sama melihat azab di hadapan mereka. Ketika melihat azab di hadapan mereka, maka terputuslah hubungan mereka kala itu. Mungkin yang dahulu di dunia mereka saling dekat, saling jalan bersama, saling bersama dalam melakukan kemaksiatan dan kesyirikan, saling mencintai di antara mereka, namun seluruh hubungan akan terputus ketika itu. Allah ﷻ berfirman,﴿الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ﴾“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)Yang pertama kali berlepas diri kelak adalah para pemimpin (yang diikuti). Para pemimpin tidak mau didekati oleh para pengikutnya. Mereka telah sadar bahwasanya mereka akan masuk neraka, akan tetapi hadirnya pengikut mereka menjadi tambahan azab baginya, sehingga mereka akhirnya ingin berlepas diri dari pengikutnya sejak awal.Tentunya, para pengikut ketika melihat pemimpin mereka berlepas diri dari mereka akan sangat kecewa. Orang yang dahulu di dunia mereka harap-harapkan, ternyata ketika hari itu berlepas diri dari mereka. Hal ini tentunya memberikan penderitaan yang tidak ringan, karena hari itu mereka tidak tahu ke mana lagi harus meminta pertolongan, sementara penderitaan telah mereka rasakan meskipun mereka belum dimasukkan ke dalam neraka. Oleh karenanya, ketika itu mereka akan berkata,﴿لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا﴾“Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” (QS. Al-Baqarah: 167)Angan-angan tersebut pastinya menjadi sebuah penyesalan karena mereka tidak bisa lagi kembali ke dunia untuk berlepas diri dari pemimpin-pemimpin mereka. Namun, penyesalan pada hari itu tiada guna, karena mereka tidak akan bisa keluar dari neraka jahanam sebagaimana firman Allah ﷻ,﴿وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ﴾“Dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS. Al-Baqarah: 167)Kata هُم dalam ayat ini memiliki dua tafsiran di kalangan para ulama. Sebagian mengatakan bahwa هُم maksudnya adalah untuk penekanan bahwa mereka tidak akan keluar dari neraka jahanam, namun sebagian yang lain mengatakan bahwa maksud هُم di sini adalah penyebutan spesifik bagi orang-orang kafir di mana mereka tidak akan keluar dari neraka jahanam.([2]) Intinya, Allah ﷻ telah menekankan bahwasanya orang-orang yang masuk ke dalam neraka jahanam tersebut tidak akan keluar dari neraka jahanam. Hal ini menjadi sebuah siksaan yang sangat mengerikan, ketika seseorang masuk ke dalam neraka dan tidak bisa keluar darinya. Adapun orang-orang bertauhid yang masuk ke dalam neraka karena maksiat mereka, mereka bisa keluar dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga setelah dicuci dosa-dosa mereka terlebih dahulu.Perlu kita ketahui bahwasanya sebelum Allah ﷻ memasukkan orang-orang musyrikin ke dalam neraka jahanam, Allah ﷻ mengejek mereka terlebih dahulu bahwasanya sabar atau tidaknya mereka dalam menghadapi siksaan, tidak akan memberikan faedah bagi mereka. Dalam surah Ath-Thur Allah ﷻ berfirman,﴿اصْلَوْهَا فَاصْبِرُوا أَوْ لَا تَصْبِرُوا سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ﴾“Masuklah kalian ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); baik kalian bersabar atau tidak, sama saja bagi kalian, kalian diberi balasan terhadap apa yang telah kalian kerjakan.” (QS. Ath-Thur: 16)Hal ini berbeda ketika seseorang bersabar di dunia. Ketika seseorang tertimpa penderitaan di dunia, kesabarannya atas hal tersebut memberikan faedah baginya, dan ada sebab-sebab yang membuat dia bisa bersabar. Bisa jadi dia bersabar karena dia tahu ada orang lain yang mendapatkan musibah yang sama. Bisa jadi dia bersabar karena dia tahu bahwasanya musibah yang dia alami akan ada ujungnya, sebagaimana ungkapan “badai pasti berlalu”. Namun, ketika kita berbicara tentang azab neraka, maka kesabaran dengan segala sebab-sebabnya akan percuma. Benar bahwa yang disiksa bukan hanya mereka, antara pemimpin dan pengikut juga disiksa. Namun meskipun itu menjadikan mereka lebih bisa bersabar, maka percuma saja, karena siksaan mereka tidak akan dikurangi, bahkan bisa jadi akan semakin ditambah, dan mereka tidak akan keluar dari neraka jahanam barang sesaat pun. Oleh karenanya, mereka kelak mengungkapkan hal tersebut sebagaimana yang Allah ﷻ gambarkan dalam firman-Nya,﴿سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ﴾“Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.” (QS. Ibrahim: 21)Inilah bentuk pertengkaran pertama antara penghuni neraka, bahwasanya mereka akan saling berlepas diri satu sama lain.Mereka saling melaknatDi antara pertengkaran para penghuni neraka adalah kelak mereka akan saling melaknat. Hal ini digambarkan oleh firman Allah ﷻ dalam surah Al-A’raf ayat ke-38 sampai ayat ke-39. Allah ﷻ berfirman,﴿قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُم مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ فِي النَّارِ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَّعَنَتْ أُخْتَهَا حَتَّىٰ إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لِأُولَاهُمْ رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِّنَ النَّارِ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَٰكِن لَّا تَعْلَمُونَ، وَقَالَتْ أُولَاهُمْ لِأُخْرَاهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْسِبُونَ﴾“Allah berfirman, ‘Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia melaknat kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu, ‘Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka’. Allah berfirman, ‘Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui’.  Dan berkata orang-orang yang masuk terdahulu di antara mereka kepada orang-orang yang masuk kemudian, ‘Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan’.” (QS. Al-A’raf: 38-39)Ayat ini menggambarkan bagaimana penghuni neraka antara satu umat dengan umat  lainnya saling melaknat dan saling melemparkan tuduhan setiap kali masuk satu umat ke dalam neraka. Tatkala mereka seluruhnya sudah saling bertemu, antara yang diikuti dan yang mengikuti, maka yang belakangan masuk neraka mengadu kepada Allah ﷻ bahwasanya mereka tersesat karena umat sebelum mereka. Di sini, seakan-akan mereka meminta untuk dikurangi azabnya dan dipindahkan azab tersebut kepada kaum yang menjadikan mereka sesat, atau kaum tersebut ditambahkan azab baginya. Permintaan seperti ini tentunya permintaan yang wajar, karena demikianlah orang yang kecewa terhadap orang lain, mereka pasti akan mencurahkan kekecewaannya.Namun apa kata Allah ﷻ? Mereka semua akan ditimpakan azab yang berlipat ganda. Tidak hanya bagi yang menyesatkan, yang disesatkan pun juga akan ditimpakan azab yang berlipat ganda. Sungguh ini perkara yang menyedihkan lagi menghinakan, di mana mereka meminta azab ditambahkan kepada kaum yang menyesatkan mereka, namun ternyata mereka pun dapat tambahan azab dari Allah ﷻ.Ketika itu, yang menyesatkan juga akan berkata kepada kaum yang merasa disesatkan, bahwasanya tidak ada yang utama di antara mereka, sehingga mereka sama-sama diberi azab yang berlipat ganda. Seakan-akan mereka menyalahkan kaum yang merasa disesatkan bahwasanya kesesatan mereka itu disebabkan kesalahan mereka sendiri karena mengikuti kesesatan mereka. Mereka pun mengejek kaum yang merasa disesatkan dengan berkata,﴿فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْسِبُونَ﴾“Maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kalian lakukan.” (QS. Al-A’raf: 39)Kata فَذُوقُوا atau الذَّوْقُ dalam bahasa kita artinya “ciciplah”. Sesuatu yang dicicip, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Arab maksudnya adalah mencicipi (baca: merasakan) dengan lidah, baik itu makanan atau minuman.([3]) Di sini menunjukkan bagaimana parahnya azab yang akan mereka rasakan, sampai-sampai mereka menggunakan ungkapan “Ciciplah azab karena perbuatan yang kalian telah lakukan”. Artinya, azab tersebut benar-benar akan mereka rasakan sampai terasa masuk ke dalam tubuh mereka. Ungkapan ini merupakan ejekan, karena seakan-akan mereka mengatakan “Silakan kalian berlezat-lezat dengan azab karena perbuatan kalian”.Intinya, para penghuni neraka akan saling mengejek satu sama lain, yang belakangan datang mengadu kepada Allah ﷻ terhadap kaum yang lebih dahulu masuk ke dalam neraka, namun ternyata mereka pun diberikan siksaan yang berlipat ganda. Akhirnya, yang kaum yang lebih dahulu masuk ke dalam neraka pun akhirnya mengejek kaum yang belakangan. Tentunya, selain siksaan fisik, apa yang akan mereka alami ini juga menjadi siksaan mental yang sangat menyedihkan.Pertengkaran antara orang zalim dengan setanHal ini Allah ﷻ gambarkan dalam surah Ibrahim. Allah ﷻ berfirman,﴿وَبَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِن شَيْءٍ قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ، وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدتُّكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ إِلَّا أَن دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنفُسَكُم مَّا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنتُم بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri’. Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu  pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu’. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (QS. Ibrahim: 21-22)Firman Allah ﷻ,﴿وَبَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِن شَيْءٍ قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ﴾“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri’.” (QS. Ibrahim: 21)Para ahli tafsir ketika membahas ayat ini, mereka terbagi menjadi dua pendapat tentang apakah permintaan orang-orang lemah terhadap orang-orang yang menyombongkan diri dalam ayat ini murni permohonan atau ejekan? Banyak dari ahli tafsir menyebutkan bahwa permohonan tersebut adalah ejekan. Permohonan orang-orang lemah tersebut merupakan istifham inkari ‘pertanyaan untuk penafian’, artinya mereka mengejek orang-orang sombong yang menjadi sebab mereka masuk neraka bahwa mereka sedikit pun tidak  bisa menanggung azab mereka. Intinya, kalau benar maksud dari pertanyaan mereka adalah untuk istifham inkari, maka tentu ini adalah bentuk penghinaan bagi kaum yang menyombongkan diri, yang dahulunya mengaku bahwa akan menolong dan menyelamatkan mereka, namun saat ini mereka tidak memiliki kekuasaan sedikit pun.Para ahli tafsir yang berpendapat bahwa pertanyaan orang-orang lemah itu merupakan istifham inkari beralasan bahwa orang-orang lemah tersebut sudah tahu bahwasanya masing-masing akan disiksa dan tidak akan menanggung siksaan orang lain. Sehingga, pertanyaan mereka tersebut maksudnya adalah mengejek dan penghinaan, karena saat itu orang-orang yang menyombongkan diri tidak bisa menanggung azab orang-orang yang lemah sedikit pun.Apa jawaban orang-orang yang menyombongkan diri?﴿لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ﴾“Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.”Artinya, meskipun orang-orang lemah ini mengejek dan menghina mereka, atau mereka semuanya bersabar, atau bahkan mereka semua meronta-ronta, maka itu semua tidak akan mengubah kondisi mereka, karena bagi mereka tidak ada jalan sedikit pun untuk dikurangi azabnya, dan tidak ada jalan keluar sedikit pun dari azab tersebut.Kemudian, disebutkan oleh para ahli tafsir bahwa ketika pertengkaran mereka tidak memberikan faedah bagi mereka, mulailah mereka mengadu kepada setan (Iblis). Maka setan pun menjawab mereka dengan berkhutbah di atas mimbar yang terbuat dari api([4]). Allah ﷻ berfirman tentang khutbah setan,﴿وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدتُّكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ إِلَّا أَن دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنفُسَكُم مَّا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنتُم بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾“Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyelisihinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu  pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih’.” (QS. Ibrahim: 22)Setan membantah tuduhan mereka dengan mengatakan bahwasanya mereka hanya menyelisihi janjinya, sementara Allah ﷻ membenarkan janji-Nya. Setan membantah mereka bahwa ia hanyalah membisikkan semata dan mereka sendirilah yang mengikuti bujukan setan, sementara setan tidak punya kuasa untuk hal tersebut. Setan berkata agar mereka tidak perlu mencelanya, tapi hendaknya mereka mencela diri mereka sendiri, karena mereka masuk neraka karena kesalahan mereka sendiri. Setan juga berlepas diri dari kesyirikan yang mereka lakukan dahulu di dunia. Di akhir khutbahnya, setan seakan-akan mengatakan bahwa tidak perlu ada celaan di antara mereka, karena baik setan maupun yang lainnya sama-sama berbuat zalim, sehingga semuanya mendapatkan siksaan yang pedih.Peristiwa ini menjadi hal yang akan menyesakkan dada mereka. Dalam hal ini, dua kali mental mereka jatuh. Pertama, ketika yang lemah bertemu dengan yang kuat dan saling bertengkar, namun tidak memberikan perubahan kondisi mereka. Kedua, ketika yang lemah dan yang kuat bergabung untuk bertengkar dengan setan, namun pertengkaran mereka pun tidak mengubah kondisi mereka.Mereka saling menuduhAllah ﷻ berfirman dalam surah Saba’,﴿وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَن نُّؤْمِنَ بِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَلَا بِالَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ مَوْقُوفُونَ عِندَ رَبِّهِمْ يَرْجِعُ بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ الْقَوْلَ يَقُولُ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لَوْلَا أَنتُمْ لَكُنَّا مُؤْمِنِينَ، قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا أَنَحْنُ صَدَدْنَاكُمْ عَنِ الْهُدَىٰ بَعْدَ إِذْ جَاءَكُم بَلْ كُنتُم مُّجْرِمِينَ، وَقَالَ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا بَلْ مَكْرُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ إِذْ تَأْمُرُونَنَا أَن نَّكْفُرَ بِاللَّهِ وَنَجْعَلَ لَهُ أَندَادًا وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ وَجَعَلْنَا الْأَغْلَالَ فِي أَعْنَاقِ الَّذِينَ كَفَرُوا هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴾“Dan orang-orang kafir berkata, ‘Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al-Qur’an ini dan tidak (pula) kepada kitab yang sebelumnya’. Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadapkan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman’. Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah, ‘Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa’. Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘(Tidak) sebenarnya tipu dayamu di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya’. Kedua belah pihak menyembunyikan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Saba’: 31-33)Khitab ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang membaca Al-Qur’an, yaitu kita semua. Allah ﷻ menggambarkan kepada kita tentang bagaimana pembangkangan orang-orang kafir itu, mereka tidak mau beriman kepada Al-Qur’an dan bahkan tidak kepada kitab-kitab sebelumnya.Allah ﷻ dalam ayat ini menggambarkan bagaimana ketika kelak orang-orang zalim yaitu orang-orang musyrikin([5]) dihadapkan kepada Allah ﷻ dan mereka saling menuduh antara yang satu dengan yang lainnya. Allah ﷻ menggunakan kata اسْتَكْبَرُوا bagi kelompok yang menganggap diri mereka besar, padahal mereka sama sekali tidak besar. Adapun kata اسْتُضْعِفُوا digunakan bagi kelompok yang lemah, di mana mereka memang lemah baik dari sisi akal maupun harta, yang mereka mengikuti orang-orang yang menganggap diri mereka besar.([6])Orang-orang yang lemah (baca: pengikut) mengadu kepada Allah ﷻ bahwasanya kalau bukan karena orang-orang yang sombong tentu mereka akan beriman kepada Allah ﷻ. Hal tersebut mereka sampaikan dengan harapan azab mereka bisa selamat dari azab.([7]) Namun, orang-orang yang sombong tersebut membantah dan balik menuduh mereka, bahwasanya mereka tidak pernah menghalangi mereka dari jalan kebenaran. Tentunya perkataan orang-orang sombong tersebut adalah kedustaan, karena benar dahulu mereka menghalangi orang-orang yang lemah dari jalan kebenaran. Akan tetapi, mereka akhirnya berdusta karena tidak ingin beban kesalahan orang-orang lemah dipikulkan kepada mereka.Sebagian para ulama juga menggambarkan bahwa orang-orang yang menyombongkan diri bahkan langsung memotong perkataan pengikut mereka yang mengadu kepada Allah ﷻ. Oleh karenanya kita tidak mendapat dalam perkataan mereka didahului dengan kata وَ ‘dan’, sehingga mereka langsung memotong perkataan pengikutnya karena khawatir keluhan pengikutnya menjadikan azab mereka ditambah. Adapun pada ayat setelahnya menggunakan kata و ‘dan’ yang menunjukkan bahwa para pengikut berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara, sehingga tampak ada jeda di antara perkataan mereka.Para pengikut kemudian membantah perkataan orang-orang yang menyombongkan diri tersebut dengan mengatakan bahwasanya benar mereka tersesat karena kesalahan mereka sendiri, akan tetapi kesalahan mereka itu disebabkan karena bujukan, rayuan, dan tipuan setiap hari, siang dan malam, sehingga orang-orang lemah tersebut pun teperdaya.Intinya, mereka saling tuduh yang satu dengan yang lainnya. Namun, kata Allah ﷻ bahwasanya mereka semua, baik orang-orang yang menyombongkan diri dan orang-orang yang mengikutinya, memendam penyesalan tatkala mereka telah melihat azab, karena mereka malu di hadapan khalayak. Sebenarnya, mereka semua jengkel dan dendam, akan tetapi mereka tidak berani mengungkapkan penyesalannya, dan ini merupakan tambahan siksaan bagi mereka yang tidak bisa mengungkapkannya.Pertengkaran dan saling tuduh menuduh di antara mereka sedikit pun tidak mengubah kondisi mereka yang akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam.Mereka saling beradu argumentasiAllah ﷻ berfirman dalam surah Ash-Shaffat,﴿احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ، مِن دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ، وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ، مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ، بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ، وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ، قَالُوا إِنَّكُمْ كُنتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ، قَالُوا بَل لَّمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ، وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ بَلْ كُنتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ، فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَا إِنَّا لَذَائِقُونَ، فَأَغْوَيْنَاكُمْ إِنَّا كُنَّا غَاوِينَ، فَإِنَّهُمْ يَوْمَئِذٍ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ﴾“(kepada malaikat diperintahkan) Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya, ‘Kenapa kamu tidak tolong menolong?’ Bahkan mereka pada hari itu berserah diri. Sebagian dan mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka), ‘Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari arah kanan’. Pemimpin-pemimpin mereka menjawab, ‘Sebenarnya kamulah yang tidak beriman. Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas. Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu). Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat’ Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab.” (QS. Ash-Shaffat: 22-33)Firman Allah ﷻ,﴿احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ، مِن دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ﴾“(kepada malaikat diperintahkan) Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.” (QS. Ash-Shaffat: 22-23)Orang-orang musyrikin atau para pelaku maksiat kelak akan dikumpulkan bersama-sama dengan orang-orang yang satu golongan dengan mereka, seperti orang yang beragama tertentu akan dikumpulkan dengan yang seagama dengannya, atau pelaku suatu maksiat akan dikumpulkan dengan para pelaku maksiat yang semisal, dan seterusnya. Selain itu, mereka juga dikumpulkan bersama dengan apa-apa yang mereka sembah selain Allah ﷻ.Pada ayat ini, Allah ﷻ menggunakan kata فَاهْدُوهُمْ yang biasa kita pakai untuk penunjukan jalan kepada kebaikan. Namun, mengapa Allah ﷻ menggunakan istilah tersebut untuk jalan keburukan yaitu neraka? Sebagian ulama mengatakan bahwa hal tersebut merupakan bentuk ejekan kepada mereka, bahwasanya dahulu mereka dahulu di dunia diberi hidayah, diberi petunjuk kepada jalan kebenaran, diutus para rasul, diturunkan Al-Qur’an, namun mereka tidak mau, maka saat itu mereka diberi hidayah (petunjuk) menuju neraka jahanam.Firman Allah ﷻ,﴿وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ، مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ، بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ﴾“Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya, ‘Kenapa kamu tidak tolong menolong?’ Bahkan mereka pada hari itu berserah diri.” (QS. Ash-Shaffat: 24-26)Belum sampai mereka masuk ke dalam neraka, mereka kemudian dipanggil untuk ditanya. Mereka ditanya bahwa mengapa mereka tidak saling tolong menolong satu sama lain ketika itu? Bukankah dahulu ketika di dunia mereka saling tolong menolong, saling bahu membahu, dan saling mendukung dalam menyebarkan kesyirikan dan syubhat agar orang-orang tersesat? Maka mengapa tidak saling tolong menolong ketika itu? Bukankah mereka satu golongan? Mereka tidak menjawab sedikit pun, bahkan saat itu mereka pasrah dan tidak bisa berkata-kata lagi, karena di depan mereka sudah ada neraka jahanam.Maka, yang terjadi kemudian adalah mereka saling berhadap-hadapan satu sama lain, dan terjadilah adu argumen di antara mereka. Allah ﷻ berfirman,﴿وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ، قَالُوا إِنَّكُمْ كُنتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ، قَالُوا بَل لَّمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ، وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ بَلْ كُنتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ، فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَا إِنَّا لَذَائِقُونَ، فَأَغْوَيْنَاكُمْ إِنَّا كُنَّا غَاوِينَ﴾“Sebagian dan mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka), ‘Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari arah kanan’. Pemimpin-pemimpin mereka menjawab, ‘Sebenarnya kamulah yang tidak beriman. Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas. Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu). Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat’.” (QS. Ash-Shaffat: 27-32)Para pengikut memberikan pembelaan bahwasanya karena sebab pemimpin-pemimpin mereka yang datang dari arah kanan itulah sehingga mereka tersesat. Maksud dari kalimat “datang dari kanan” ini memiliki dua tafsiran:Tafsiran pertama: Maksudnya adalah pemimpin-pemimpin mereka datang dengan berbagai kekuatan untuk menyesatkan mereka.Tafsiran kedua: Maksudnya adalah dahulu di dunia mereka dihalang-halangi kepada kebaikan (agama) sehingga akhirnya mereka benar-benar tersesat.([8])Namun, para pemimpin-pemimpin tersebut memberikan pembelaan. Mereka mengatakan bahwa para pengikut mereka itu sejak awal memang telah rusak imannya, karena godaan yang sedikit telah mampu menyesatkan mereka. Mereka juga memberikan pembelaan bahwasanya mereka tidak memiliki kemampuan untuk menyesatkan mereka. Bahkan mereka mengakui bahwa dahulu mereka sama-sama sesat, sehingga azab pasti akan mereka rasakan bersama.Di akhir ayat Allah ﷻ menegaskan,﴿فَإِنَّهُمْ يَوْمَئِذٍ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ﴾“Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab.” (QS. Ash-Shaffat: 33)Sekali lagi, pertengkaran mereka tidak mengubah kondisi mereka sedikit pun. Bahkan, kesamaan dalam azab pun tidak akan mengurangi penderitaan mereka.Mereka saling menghinaAllah ﷻ berfirman dalam surah Shad,﴿هَٰذَا وَإِنَّ لِلطَّاغِينَ لَشَرَّ مَآبٍ، جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ الْمِهَادُ، هَٰذَا فَلْيَذُوقُوهُ حَمِيمٌ وَغَسَّاقٌ، وَآخَرُ مِن شَكْلِهِ أَزْوَاجٌ، هَٰذَا فَوْجٌ مُّقْتَحِمٌ مَّعَكُمْ لَا مَرْحَبًا بِهِمْ إِنَّهُمْ صَالُو النَّارِ، قَالُوا بَلْ أَنتُمْ لَا مَرْحَبًا بِكُمْ أَنتُمْ قَدَّمْتُمُوهُ لَنَا فَبِئْسَ الْقَرَارُ، قَالُوا رَبَّنَا مَن قَدَّمَ لَنَا هَٰذَا فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِي النَّارِ، وَقَالُوا مَا لَنَا لَا نَرَىٰ رِجَالًا كُنَّا نَعُدُّهُم مِّنَ الْأَشْرَارِ، أَتَّخَذْنَاهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصَارُ، إِنَّ ذَٰلِكَ لَحَقٌّ تَخَاصُمُ أَهْلِ النَّارِ﴾“Demikianlah (keadaan mereka penghuni surga). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang durhaka benar-benar (disediakan) tempat kembali yang buruk, (yaitu) neraka Jahanam, yang mereka masuk ke dalamnya; maka amat buruklah Jahanam itu sebagai tempat tinggal. Inilah (azab neraka), biarlah mereka merasakannya, (minuman mereka) air yang sangat panas dan air yang sangat dingin. Dan azab yang lain yang serupa itu berbagai macam. (Dikatakan kepada mereka), ‘Ini rombongan besar (pengikut-pengikutmu) yang masuk berdesak-desak bersama kamu (ke neraka)’. (Berkata pemimpin-pemimpin mereka yang durhaka) ‘Tidak ada ucapan selamat datang bagi mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka’. Pengikut-pengikut mereka menjawab, ‘Sebenarnya kamulah yang (lebih pantas) tidak menerima ucapan selamat datang, karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab, maka itulah seburuk-buruk tempat menetap’. Mereka berkata (lagi), ‘Ya Tuhan kami, barang siapa yang menjerumuskan kami ke dalam azab ini maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka’. Dan (orang-orang durhaka) berkata, ‘Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina)?  Dahulu kami menjadikan mereka olok-olokan, ataukah karena penglihatan kami yang tidak melihat mereka?’  Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran di antara penghuni neraka.” (QS. Shad: 55-64)Allah ﷻ dalam firman-Nya ini menggambarkan bahwasanya orang-orang yang melampaui batas (durhaka) akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam, dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. Di sini, Allah ﷻ menggunakan kata فَبِئْسَ الْمِهَادُ, yang di mana kalimat tersebut merupakan ungkapan untuk tempat tidur yang disiapkan untuk bayi.([9]) Sehingga, seakan-akan dengan kalimat tersebut Allah ﷻ ingin mengejek mereka bahwa neraka adalah tempat mereka beristirahat. Kita katakan, bagaimana mungkin mereka bisa istirahat sementara azab setiap waktu akan mereka cicipi?Di dalam neraka jahanam, mereka akan diberi hamiin (حَمِيمٌ)dan ghassaq (غَسَّاقٌ). Hamiin adalah air yang sangat panas, yang jika di minum akan menghancurkan usus-usus mereka. Adapun ghassaq adalah minuman dari nanah, darah, rasanya pahit dan berbau busuk, yang kemudian diberikan kepada penghuni neraka jahanam sebagai minuman mereka.([10])Apa hanya azab itu yang mereka rasakan? Sekali-kali tidak, bahkan Allah ﷻ mengatakan,﴿وَآخَرُ مِن شَكْلِهِ أَزْوَاجٌ﴾“Dan azab yang lain yang serupa itu berbagai macam.” (QS. Shad: 58)Ada beberapa azab lain yang Allah ﷻ siapkan bagi penghuni neraka jahanam, waliya’udzubillah.Setelah itu, Allah ﷻ mengabarkan bahwasanya ada sekelompok orang yang akan masuk ke dalam neraka. Allah ﷻ menyifati mereka dengan kata مُّقْتَحِمٌ yang maknanya adalah mereka masuk tanpa berpikir panjang. Para ulama menjelaskan bahwasanya ini di antara azab bagi mereka, bahwa sebagaimana mereka dahulu para pengikut yang mengikuti pemimpin-pemimpin mereka tanpa berpikir panjang, maka demikianlah keadaan mereka tatkala dimasukkan ke dalam neraka jahanam.([11])Namun, para pemimpin-pemimpin mereka tidak senang ketika pengikutnya dimasukkan bersama mereka. sampai-sampai mereka mengatakan bahwa tidak ada ucapan selamat datang bagi mereka, karena mereka juga sama-sama masuk ke dalam neraka.Akhirnya, para pengikut pun memberikan bantahan bahwa justru bagi pemimpin-pemimpin mereka yang tidak ada keselamatan, karena mereka menganggap bahwa pemimpin-pemimpin merekalah yang mengantarkan azab kepada mereka. Oleh karenanya, para pengikut pun kemudian berdoa kepada Allah ﷻ,﴿رَبَّنَا مَن قَدَّمَ لَنَا هَٰذَا فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِي النَّارِ﴾“Ya Tuhan kami, barang siapa yang menjerumuskan kami ke dalam azab ini maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka.” (QS. Shad: 61)Namun, sebagaimana telah kita sebutkan sebelum-sebelumnya bahwa baik para pengikut maupun yang diikuti sama-sama akan mendapatkan siksaan yang berlipat ganda.Setelah itu, mereka (para pengikut dan yang diikuti) sama-sama berkata,﴿وَقَالُوا مَا لَنَا لَا نَرَىٰ رِجَالًا كُنَّا نَعُدُّهُم مِّنَ الْأَشْرَارِ، أَتَّخَذْنَاهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصَارُ﴾“Dan (orang-orang durhaka) berkata, ‘Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina)?  Dahulu kami menjadikan mereka olok-olokan, ataukah karena penglihatan kami yang tidak melihat mereka?’.” (QS. Shad: 61-62)Mereka kini sama-sama menyesal. Mereka dahulu menganggap orang-orang yang beriman sebagai orang-orang yang sesat, mereka menganggap hina orang-orang miskin. Namun, yang terjadi saat itu adalah sebaliknya, merekalah yang menjadi orang yang paling hina.Kemudian, Allah ﷻ menutup pertengkaran dengan berfirman,﴿إِنَّ ذَٰلِكَ لَحَقٌّ تَخَاصُمُ أَهْلِ النَّارِ﴾“Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran di antara penghuni neraka.” (QS. Shad: 64)Ini menunjukkan bahwasanya hal tersebut benar-benar akan terjadi.Saling adu argumen yang lemah dan kuatAllah ﷻ berfirman dalam surah Ghafir,﴿وَإِذْ يَتَحَاجُّونَ فِي النَّارِ فَيَقُولُ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا نَصِيبًا مِّنَ النَّارِ، قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُلٌّ فِيهَا إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَكَمَ بَيْنَ الْعِبَادِ، وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِّنَ الْعَذَابِ، قَالُوا أَوَلَمْ تَكُ تَأْتِيكُمْ رُسُلُكُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا بَلَىٰ قَالُوا قَالُوا فَادْعُوا وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ﴾“Dan (Ingatlah), ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu melepaskan sebagian (azab) api neraka yang menimpa kami?’ Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab, ‘Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya)’. Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahanam, ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu agar Dia meringankan azab atas kami sehari saja’. Maka (penjaga-penjaga Jahanam) berkata, ‘Apakah rasul-rasul belum datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata?’ Mereka menjawab, ‘Benar, sudah datang’. (Penjaga-penjaga Jahanam) berkata, ‘Berdoalah kamu (sendiri)!’ Namun doa orang-orang kafir itu sia-sia belaka.” (QS. Ghafir: 47-50)Pada ayat ini, Allah ﷻ lagi-lagi menggambarkan bahwasanya para penghuni neraka akan saling beradu argumen. Orang-orang lemah (baca: para pengikut) akan berkata kepada pemimpin-pemimpin mereka agar azab mereka bisa dikurangi. Namun, sebagaimana yang kita sebutkan dalam surah Ibrahim, bahwasanya pertanyaan tersebut merupakan bentuk ejekan kepada para pemimpin-pemimpin mereka. kemudian, lagi-lagi, para pemimpin mereka tentu tidak bisa memberikan keringanan azab, bahkan dalam ayat ini mereka seakan-akan pasrah dengan mengatakan bahwa mereka pun telah masuk ke dalam neraka jahanam dan keputusan Allah ﷻ telah ditetapkan.Akhirnya, setelah mereka tidak mendapat solusi dari pertengkaran dan perdebatan mereka, para pemimpin dan para pengikutnya mencari solusi lain dengan meminta kepada penjaga neraka jahanam. Kepada penjaga neraka mereka meminta untuk dimohonkan kepada Allah ﷻ agar azab mereka dikurangi barang sehari saja. Namun, para malaikat penjaga neraka justru balik bertanya kepada mereka tentang utusan Allah ﷻ kepada mereka yang membawa dalil-dalil dan hujah-hujah. Mereka pun membenarkan dan mengakui adanya utusan tersebut. Maka, malaikat penjaga neraka tersebut menolak permintaan mereka, dan meminta untuk mereka berdoa sendiri kepada Allah ﷻ, karena utusan telah datang sementara mereka sendiri yang menolaknya.Namun, di akhir ayat Allah ﷻ berfirman,﴿وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ﴾“Namun doa orang-orang kafir itu sia-sia belaka.” (QS. Ghafir: 50)Artinya, bagaimana pun permohonan mereka di akhirat kelak, tidak satu pun permintaan mereka yang akan dikabulkan oleh Allah ﷻ.Inilah beberapa pertengkaran para penghuni neraka yang Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Qur’an. Hal ini memberikan penjelasan kepada kita bahwasanya penghuni neraka tidak hanya akan disiksa dengan siksaan fisik belaka, akan tetapi mereka juga disiksa secara mental dengan berupa hinaan dan pertengkaran yang terjadi di antara mereka. Namun, semua itu tidak memberikan manfaat sedikit pun bagi mereka, bahkan dalam sebagian kondisi mereka justru semakin terpuruk akibat pertengkaran mereka. Kita berdoa semoga Allah ﷻ menyelamatkan kita dari azab neraka jahanam. Aamiin.Artikel ini telah terbit cetak dengan Judul “Syarah Rukun Iman – Bab Iman Kepada Hari Akhir” Versi online Bekalislam.firanda.comFootnote: ________([1]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (16/806).([2]) Lihat: Fath al-Qadir Li asy-Syaukani (1/192).([3]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (8/124).([4]) Sebagaimana perkataan Hasan al-Bashri. [Lihat: Tafsir ath-Thabari (16/563)].([5]) Orang-orang zalim yang disebutkan di dalam Al-Qur’an kebanyakan maksudnya adalah orang-orang musyrikin, karena Allah ﷻ telah berfirman bahwasanya syirik adalah perbuatan zalim yang paling besar.([6]) Lihat: At-Tahrir wa at-Tanwir (22/205).([7]) Lihat: Tafsir as-Sa’di (hlm. 680).([8]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (15/75).([9]) Lihat: Tafsir al-Qurthubi (15/221).([10]) Lihat: Tafsir as-Sa’di (hlm. 715).([11]) Lihat: At-Tharir wa At-Tanwir (23/288)

Bahaya Misinformasi dalam Bidang Kesehatan dan Bagaimana Seorang Muslim Bersikap

Selama masa pandemi, banyak sekali kita jumpai informasi, berita, dan kabar yang belum tentu teruji kebenarannya. Sayangnya, sebagian di antara kita tanpa sadar ikut serta langsung percaya berita-berita tersebut dan lebih parah lagi, langsung menyebarkannya. Fenomena ini menjadi salah satu sebab mengapa penanganan pandemi di negeri kita menjadi lebih sulit. Karena jika banyak di antara kita yang mudah percaya suatu kabar yang seharusnya tidak benar, itu akan berpengaruh pada sikap dan perilaku kita dalam menyikapi pandemi ini.Jika seseorang langsung percaya ketika ada yang mengatakan, “Virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 itu tidak ada”, buat apa dia harus repot memakai masker? Jika seseorang itu langsung percaya ketika ada yang mengatakan, “Vaksin Covid-19 itu berbahaya”, buat apa dia ikut program vaksinasi Covid-19? Jika ada yang percaya bahwa “Covid-19 itu hanya seperti flu biasa, jadi seharusnya tidak ada status pandemi”, hampir bisa dipastikan bahwa dia akan menjadi orang yang sangat abai terhadap protokol kesehatan.Sebaliknya, ada sebagian orang yang langsung percaya klaim “suatu bahan dapat mencegah Covid-19”. Akhirnya, dia memakai atau menggunakan bahan tersebut, dan percaya bahwa dirinya sudah kebal Covid-19, padahal tidak sama sekali. Informasi-informasi yang tidak valid (tidak benar) semacam ini yang kita kenal dengan istilah “misinformasi”, “disinformasi”, atau “hoaks medis”.Hendaknya seorang muslim selalu memeriksa dengan cermat setiap berita atau kabar yang dia terima. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 6)Dan sebelum menyebarkan berita-berita yang tidak jelas tersebut, hendaknya kita selalu mengingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ“Cukuplah seseorang itu sebagai pendusta (pembohong), ketika dia menceritakan semua (berita) yang dia dengar.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim no. 5, Abu Dawud no. 4992 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 11845)Beberapa kiat memilih sumber informasi kesehatan yang kredibelMasalah kesehatan merupakan salah satu masalah penting dalam kehidupan kita. Sehingga selayaknya seorang muslim ketika mendapati berita seputar kesehatan, dia memeriksa kebenaran berita tersebut melalui beberapa kiat berikut ini:Pertama, periksa sumber berita. Cek terlebih dahulu, siapa yang membagikan dan dari mana mereka mendapatkan informasi tersebut? Jika berita tersebut dari akun sosial media, cek terlebih dahulu, apakah akun asli atau palsu? Bagaimana aktivitas isi postingan selama ini? Apakah isi postingan terbaru? Jika sumbernya berasal dari website, maka selalu cek siapa yang mengelola website tersebut. Apakah organisasi profesi kesehatan yang resmi? Seperti IDI, IDAI, PAPDI, dan sebagainya. Hal ini bisa dilihat di bagian “about us” atau “contact us”.Baca Juga: Fikih Kesehatan Kontemporer Terkait Puasa Dan RamadhanKedua, baca keseluruhan isi berita.Judul berita terkadang dibuat sensasional untuk menambah jumlah “clicks”. Oleh karena itu, jangan hanya membaca judul berita, bacalah keseluruhan berita. Jangan hanya bergantung pada satu sumber berita, tetapi lacak berita sejenis di media yang lain.Kadang kita mendapatkan broadcast WA yang sangat panjang. Katakanlah ada 10 poin yang disampaikan, 2-3 poin sudah terbukti tidak valid, jangan habiskan waktu untuk membaca sisanya.Ketiga, cek siapakah penulis berita. Lacaklah profil narasumber berita. Dalam bidang kesehatan, ada banyak profesi yang terlibat, bisa jadi dokter, dokter hewan, perawat, bidan, apoteker, dan lain-lain. Jika mereka mengklaim sebagai “profesor”, sangat mudah untuk dilacak melalui google scholar, website institusi afiliasi (universitas, lembaga penelitian, laboratorium, dan sejenisnya), atau akun yang lain. Selain itu, selalu cek, apakah mereka riil? Benar-benar ada di dunia nyata? Rekam jejak publikasi penelitian orang-orang tersebut juga sangat mudah untuk kita cek.Dulu, seorang artis memviralkan seorang tokoh bernama “Profesor Hadi Pranoto”. Setelah dilacak, gelar profesor itu dusta. Dia juga bukan akademisi. Jadi, sangat mudah untuk mengecek kredibilitas seorang “tokoh” di era digital seperti sekarang ini.Keempat, cek tanggal update berita.Selalu cek terlebih dahulu, apakah ini berita terbaru? Apakah masih relevan dengan konteks peristiwa atau kejadian saat ini? Atau ini adalah berita lama yang sudah tidak relevan lagi untuk saat ini? Ilmu kesehatan itu sangat cepat perkembangannya. Sehingga saat membaca suatu informasi di website, website-website yang kredibel akan selalu mencantumkan, kapan terakhir meng-update informasi yang dia tampilkan tersebut.Kelima, periksa bukti ilmiah pendukung.Tips kelima ini membutuhkan sedikit pengalaman dan proses belajar. Apakah informasi tersebut sesuai dengan fakta yang didapatkan melalui penelitian ilmiah? Apakah pernyataan ini masih berupa hipotesis yang masih perlu diklarifikasi lebih lanjut? Jika informasi tersebut disampaikan oleh “pakar”, apakah didukung oleh fakta ilmiah yang sesuai?Intinya, jangan terlalu silau dengan deretan gelar yang ditulis oleh penyampai berita, orang luar (baca: bule) sekalipun. Akan tetapi, jika ada informasi yang sepertinya “kurang pas” atau “meragukan”, jangan ragu untuk melakukan kroscek lebih lanjut. Atau tanyakan ke orang-orang yang Anda percaya.Keenam, apakah Anda memiliki bias?Apakah Anda cenderung percaya dengan informasi model tertentu? Apakah Anda hanya ingin mendapatkan informasi sesuai dengan apa yang Anda inginkan? Apakah Anda cenderung menolak informasi yang tidak sesuai dengan asumsi Anda?Seseorang yang sudah sangat termakan dengan teori konspirasi, dia akan sangat mudah percaya jika ada yang mengatakan, “Pandemi ini hanya akal-akalan”; “Tenaga kesehatan mengeruk keuntungan besar-besaran dari status pandemi”; dan informasi-informasi sejenis.Ketujuh, “Fact checkers”Jika ragu, konsultasikan dengan orang yang lebih ahli, atau media yang bisa membantu mengecek kebenaran isi berita. Terkadang, berita-berita hoaks tersebut sudah dikupas tuntas oleh komunitas atau orang-orang tertentu yang memang pakar dalam masalah tersebut.Beberapa ciri informasi hoaks medisSetelah mengetahui bagaimana kita melakukan kroscek suatu informasi, berikut ini beberapa ciri informasi yang patut kita curigai kalau itu adalah informasi hoaks.Pertama, tidak mencantumkan sumber berita yang jelas atau mencatut nama tokoh (dokter) tertentu. Misalnya, nama dokter tertentu, baik dari dalam maupun luar negeri.Kedua, diksi yang digunakan cenderung berlebihan (“ajaib”; “super”).Ketiga, diakhiri dengan ajakan untuk menyebarkan (share) berita tersebut.Keempat, jika disertai gambar/video, maka bagian yang dimaksud tidak jelas.Kelima, alamat media dan penanggung jawab tidak jelas.Terakhir, jika kita ragu apakah informasi tersebut valid ataukah tidak, tentu mengambil sikap diam, itulah yang lebih selamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ صَمَتَ نَجَا“Barangsiapa yang diam, dia selamat.” (HR. Tirmidzi no. 2501, sahih)Baca Juga:***@Rumah Kasongan, 22 Dzulhijah 1442/1 Agustus 2021Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc., PhD.Artikel: Muslim.or.id

Bahaya Misinformasi dalam Bidang Kesehatan dan Bagaimana Seorang Muslim Bersikap

Selama masa pandemi, banyak sekali kita jumpai informasi, berita, dan kabar yang belum tentu teruji kebenarannya. Sayangnya, sebagian di antara kita tanpa sadar ikut serta langsung percaya berita-berita tersebut dan lebih parah lagi, langsung menyebarkannya. Fenomena ini menjadi salah satu sebab mengapa penanganan pandemi di negeri kita menjadi lebih sulit. Karena jika banyak di antara kita yang mudah percaya suatu kabar yang seharusnya tidak benar, itu akan berpengaruh pada sikap dan perilaku kita dalam menyikapi pandemi ini.Jika seseorang langsung percaya ketika ada yang mengatakan, “Virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 itu tidak ada”, buat apa dia harus repot memakai masker? Jika seseorang itu langsung percaya ketika ada yang mengatakan, “Vaksin Covid-19 itu berbahaya”, buat apa dia ikut program vaksinasi Covid-19? Jika ada yang percaya bahwa “Covid-19 itu hanya seperti flu biasa, jadi seharusnya tidak ada status pandemi”, hampir bisa dipastikan bahwa dia akan menjadi orang yang sangat abai terhadap protokol kesehatan.Sebaliknya, ada sebagian orang yang langsung percaya klaim “suatu bahan dapat mencegah Covid-19”. Akhirnya, dia memakai atau menggunakan bahan tersebut, dan percaya bahwa dirinya sudah kebal Covid-19, padahal tidak sama sekali. Informasi-informasi yang tidak valid (tidak benar) semacam ini yang kita kenal dengan istilah “misinformasi”, “disinformasi”, atau “hoaks medis”.Hendaknya seorang muslim selalu memeriksa dengan cermat setiap berita atau kabar yang dia terima. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 6)Dan sebelum menyebarkan berita-berita yang tidak jelas tersebut, hendaknya kita selalu mengingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ“Cukuplah seseorang itu sebagai pendusta (pembohong), ketika dia menceritakan semua (berita) yang dia dengar.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim no. 5, Abu Dawud no. 4992 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 11845)Beberapa kiat memilih sumber informasi kesehatan yang kredibelMasalah kesehatan merupakan salah satu masalah penting dalam kehidupan kita. Sehingga selayaknya seorang muslim ketika mendapati berita seputar kesehatan, dia memeriksa kebenaran berita tersebut melalui beberapa kiat berikut ini:Pertama, periksa sumber berita. Cek terlebih dahulu, siapa yang membagikan dan dari mana mereka mendapatkan informasi tersebut? Jika berita tersebut dari akun sosial media, cek terlebih dahulu, apakah akun asli atau palsu? Bagaimana aktivitas isi postingan selama ini? Apakah isi postingan terbaru? Jika sumbernya berasal dari website, maka selalu cek siapa yang mengelola website tersebut. Apakah organisasi profesi kesehatan yang resmi? Seperti IDI, IDAI, PAPDI, dan sebagainya. Hal ini bisa dilihat di bagian “about us” atau “contact us”.Baca Juga: Fikih Kesehatan Kontemporer Terkait Puasa Dan RamadhanKedua, baca keseluruhan isi berita.Judul berita terkadang dibuat sensasional untuk menambah jumlah “clicks”. Oleh karena itu, jangan hanya membaca judul berita, bacalah keseluruhan berita. Jangan hanya bergantung pada satu sumber berita, tetapi lacak berita sejenis di media yang lain.Kadang kita mendapatkan broadcast WA yang sangat panjang. Katakanlah ada 10 poin yang disampaikan, 2-3 poin sudah terbukti tidak valid, jangan habiskan waktu untuk membaca sisanya.Ketiga, cek siapakah penulis berita. Lacaklah profil narasumber berita. Dalam bidang kesehatan, ada banyak profesi yang terlibat, bisa jadi dokter, dokter hewan, perawat, bidan, apoteker, dan lain-lain. Jika mereka mengklaim sebagai “profesor”, sangat mudah untuk dilacak melalui google scholar, website institusi afiliasi (universitas, lembaga penelitian, laboratorium, dan sejenisnya), atau akun yang lain. Selain itu, selalu cek, apakah mereka riil? Benar-benar ada di dunia nyata? Rekam jejak publikasi penelitian orang-orang tersebut juga sangat mudah untuk kita cek.Dulu, seorang artis memviralkan seorang tokoh bernama “Profesor Hadi Pranoto”. Setelah dilacak, gelar profesor itu dusta. Dia juga bukan akademisi. Jadi, sangat mudah untuk mengecek kredibilitas seorang “tokoh” di era digital seperti sekarang ini.Keempat, cek tanggal update berita.Selalu cek terlebih dahulu, apakah ini berita terbaru? Apakah masih relevan dengan konteks peristiwa atau kejadian saat ini? Atau ini adalah berita lama yang sudah tidak relevan lagi untuk saat ini? Ilmu kesehatan itu sangat cepat perkembangannya. Sehingga saat membaca suatu informasi di website, website-website yang kredibel akan selalu mencantumkan, kapan terakhir meng-update informasi yang dia tampilkan tersebut.Kelima, periksa bukti ilmiah pendukung.Tips kelima ini membutuhkan sedikit pengalaman dan proses belajar. Apakah informasi tersebut sesuai dengan fakta yang didapatkan melalui penelitian ilmiah? Apakah pernyataan ini masih berupa hipotesis yang masih perlu diklarifikasi lebih lanjut? Jika informasi tersebut disampaikan oleh “pakar”, apakah didukung oleh fakta ilmiah yang sesuai?Intinya, jangan terlalu silau dengan deretan gelar yang ditulis oleh penyampai berita, orang luar (baca: bule) sekalipun. Akan tetapi, jika ada informasi yang sepertinya “kurang pas” atau “meragukan”, jangan ragu untuk melakukan kroscek lebih lanjut. Atau tanyakan ke orang-orang yang Anda percaya.Keenam, apakah Anda memiliki bias?Apakah Anda cenderung percaya dengan informasi model tertentu? Apakah Anda hanya ingin mendapatkan informasi sesuai dengan apa yang Anda inginkan? Apakah Anda cenderung menolak informasi yang tidak sesuai dengan asumsi Anda?Seseorang yang sudah sangat termakan dengan teori konspirasi, dia akan sangat mudah percaya jika ada yang mengatakan, “Pandemi ini hanya akal-akalan”; “Tenaga kesehatan mengeruk keuntungan besar-besaran dari status pandemi”; dan informasi-informasi sejenis.Ketujuh, “Fact checkers”Jika ragu, konsultasikan dengan orang yang lebih ahli, atau media yang bisa membantu mengecek kebenaran isi berita. Terkadang, berita-berita hoaks tersebut sudah dikupas tuntas oleh komunitas atau orang-orang tertentu yang memang pakar dalam masalah tersebut.Beberapa ciri informasi hoaks medisSetelah mengetahui bagaimana kita melakukan kroscek suatu informasi, berikut ini beberapa ciri informasi yang patut kita curigai kalau itu adalah informasi hoaks.Pertama, tidak mencantumkan sumber berita yang jelas atau mencatut nama tokoh (dokter) tertentu. Misalnya, nama dokter tertentu, baik dari dalam maupun luar negeri.Kedua, diksi yang digunakan cenderung berlebihan (“ajaib”; “super”).Ketiga, diakhiri dengan ajakan untuk menyebarkan (share) berita tersebut.Keempat, jika disertai gambar/video, maka bagian yang dimaksud tidak jelas.Kelima, alamat media dan penanggung jawab tidak jelas.Terakhir, jika kita ragu apakah informasi tersebut valid ataukah tidak, tentu mengambil sikap diam, itulah yang lebih selamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ صَمَتَ نَجَا“Barangsiapa yang diam, dia selamat.” (HR. Tirmidzi no. 2501, sahih)Baca Juga:***@Rumah Kasongan, 22 Dzulhijah 1442/1 Agustus 2021Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc., PhD.Artikel: Muslim.or.id
Selama masa pandemi, banyak sekali kita jumpai informasi, berita, dan kabar yang belum tentu teruji kebenarannya. Sayangnya, sebagian di antara kita tanpa sadar ikut serta langsung percaya berita-berita tersebut dan lebih parah lagi, langsung menyebarkannya. Fenomena ini menjadi salah satu sebab mengapa penanganan pandemi di negeri kita menjadi lebih sulit. Karena jika banyak di antara kita yang mudah percaya suatu kabar yang seharusnya tidak benar, itu akan berpengaruh pada sikap dan perilaku kita dalam menyikapi pandemi ini.Jika seseorang langsung percaya ketika ada yang mengatakan, “Virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 itu tidak ada”, buat apa dia harus repot memakai masker? Jika seseorang itu langsung percaya ketika ada yang mengatakan, “Vaksin Covid-19 itu berbahaya”, buat apa dia ikut program vaksinasi Covid-19? Jika ada yang percaya bahwa “Covid-19 itu hanya seperti flu biasa, jadi seharusnya tidak ada status pandemi”, hampir bisa dipastikan bahwa dia akan menjadi orang yang sangat abai terhadap protokol kesehatan.Sebaliknya, ada sebagian orang yang langsung percaya klaim “suatu bahan dapat mencegah Covid-19”. Akhirnya, dia memakai atau menggunakan bahan tersebut, dan percaya bahwa dirinya sudah kebal Covid-19, padahal tidak sama sekali. Informasi-informasi yang tidak valid (tidak benar) semacam ini yang kita kenal dengan istilah “misinformasi”, “disinformasi”, atau “hoaks medis”.Hendaknya seorang muslim selalu memeriksa dengan cermat setiap berita atau kabar yang dia terima. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 6)Dan sebelum menyebarkan berita-berita yang tidak jelas tersebut, hendaknya kita selalu mengingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ“Cukuplah seseorang itu sebagai pendusta (pembohong), ketika dia menceritakan semua (berita) yang dia dengar.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim no. 5, Abu Dawud no. 4992 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 11845)Beberapa kiat memilih sumber informasi kesehatan yang kredibelMasalah kesehatan merupakan salah satu masalah penting dalam kehidupan kita. Sehingga selayaknya seorang muslim ketika mendapati berita seputar kesehatan, dia memeriksa kebenaran berita tersebut melalui beberapa kiat berikut ini:Pertama, periksa sumber berita. Cek terlebih dahulu, siapa yang membagikan dan dari mana mereka mendapatkan informasi tersebut? Jika berita tersebut dari akun sosial media, cek terlebih dahulu, apakah akun asli atau palsu? Bagaimana aktivitas isi postingan selama ini? Apakah isi postingan terbaru? Jika sumbernya berasal dari website, maka selalu cek siapa yang mengelola website tersebut. Apakah organisasi profesi kesehatan yang resmi? Seperti IDI, IDAI, PAPDI, dan sebagainya. Hal ini bisa dilihat di bagian “about us” atau “contact us”.Baca Juga: Fikih Kesehatan Kontemporer Terkait Puasa Dan RamadhanKedua, baca keseluruhan isi berita.Judul berita terkadang dibuat sensasional untuk menambah jumlah “clicks”. Oleh karena itu, jangan hanya membaca judul berita, bacalah keseluruhan berita. Jangan hanya bergantung pada satu sumber berita, tetapi lacak berita sejenis di media yang lain.Kadang kita mendapatkan broadcast WA yang sangat panjang. Katakanlah ada 10 poin yang disampaikan, 2-3 poin sudah terbukti tidak valid, jangan habiskan waktu untuk membaca sisanya.Ketiga, cek siapakah penulis berita. Lacaklah profil narasumber berita. Dalam bidang kesehatan, ada banyak profesi yang terlibat, bisa jadi dokter, dokter hewan, perawat, bidan, apoteker, dan lain-lain. Jika mereka mengklaim sebagai “profesor”, sangat mudah untuk dilacak melalui google scholar, website institusi afiliasi (universitas, lembaga penelitian, laboratorium, dan sejenisnya), atau akun yang lain. Selain itu, selalu cek, apakah mereka riil? Benar-benar ada di dunia nyata? Rekam jejak publikasi penelitian orang-orang tersebut juga sangat mudah untuk kita cek.Dulu, seorang artis memviralkan seorang tokoh bernama “Profesor Hadi Pranoto”. Setelah dilacak, gelar profesor itu dusta. Dia juga bukan akademisi. Jadi, sangat mudah untuk mengecek kredibilitas seorang “tokoh” di era digital seperti sekarang ini.Keempat, cek tanggal update berita.Selalu cek terlebih dahulu, apakah ini berita terbaru? Apakah masih relevan dengan konteks peristiwa atau kejadian saat ini? Atau ini adalah berita lama yang sudah tidak relevan lagi untuk saat ini? Ilmu kesehatan itu sangat cepat perkembangannya. Sehingga saat membaca suatu informasi di website, website-website yang kredibel akan selalu mencantumkan, kapan terakhir meng-update informasi yang dia tampilkan tersebut.Kelima, periksa bukti ilmiah pendukung.Tips kelima ini membutuhkan sedikit pengalaman dan proses belajar. Apakah informasi tersebut sesuai dengan fakta yang didapatkan melalui penelitian ilmiah? Apakah pernyataan ini masih berupa hipotesis yang masih perlu diklarifikasi lebih lanjut? Jika informasi tersebut disampaikan oleh “pakar”, apakah didukung oleh fakta ilmiah yang sesuai?Intinya, jangan terlalu silau dengan deretan gelar yang ditulis oleh penyampai berita, orang luar (baca: bule) sekalipun. Akan tetapi, jika ada informasi yang sepertinya “kurang pas” atau “meragukan”, jangan ragu untuk melakukan kroscek lebih lanjut. Atau tanyakan ke orang-orang yang Anda percaya.Keenam, apakah Anda memiliki bias?Apakah Anda cenderung percaya dengan informasi model tertentu? Apakah Anda hanya ingin mendapatkan informasi sesuai dengan apa yang Anda inginkan? Apakah Anda cenderung menolak informasi yang tidak sesuai dengan asumsi Anda?Seseorang yang sudah sangat termakan dengan teori konspirasi, dia akan sangat mudah percaya jika ada yang mengatakan, “Pandemi ini hanya akal-akalan”; “Tenaga kesehatan mengeruk keuntungan besar-besaran dari status pandemi”; dan informasi-informasi sejenis.Ketujuh, “Fact checkers”Jika ragu, konsultasikan dengan orang yang lebih ahli, atau media yang bisa membantu mengecek kebenaran isi berita. Terkadang, berita-berita hoaks tersebut sudah dikupas tuntas oleh komunitas atau orang-orang tertentu yang memang pakar dalam masalah tersebut.Beberapa ciri informasi hoaks medisSetelah mengetahui bagaimana kita melakukan kroscek suatu informasi, berikut ini beberapa ciri informasi yang patut kita curigai kalau itu adalah informasi hoaks.Pertama, tidak mencantumkan sumber berita yang jelas atau mencatut nama tokoh (dokter) tertentu. Misalnya, nama dokter tertentu, baik dari dalam maupun luar negeri.Kedua, diksi yang digunakan cenderung berlebihan (“ajaib”; “super”).Ketiga, diakhiri dengan ajakan untuk menyebarkan (share) berita tersebut.Keempat, jika disertai gambar/video, maka bagian yang dimaksud tidak jelas.Kelima, alamat media dan penanggung jawab tidak jelas.Terakhir, jika kita ragu apakah informasi tersebut valid ataukah tidak, tentu mengambil sikap diam, itulah yang lebih selamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ صَمَتَ نَجَا“Barangsiapa yang diam, dia selamat.” (HR. Tirmidzi no. 2501, sahih)Baca Juga:***@Rumah Kasongan, 22 Dzulhijah 1442/1 Agustus 2021Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc., PhD.Artikel: Muslim.or.id


Selama masa pandemi, banyak sekali kita jumpai informasi, berita, dan kabar yang belum tentu teruji kebenarannya. Sayangnya, sebagian di antara kita tanpa sadar ikut serta langsung percaya berita-berita tersebut dan lebih parah lagi, langsung menyebarkannya. Fenomena ini menjadi salah satu sebab mengapa penanganan pandemi di negeri kita menjadi lebih sulit. Karena jika banyak di antara kita yang mudah percaya suatu kabar yang seharusnya tidak benar, itu akan berpengaruh pada sikap dan perilaku kita dalam menyikapi pandemi ini.Jika seseorang langsung percaya ketika ada yang mengatakan, “Virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 itu tidak ada”, buat apa dia harus repot memakai masker? Jika seseorang itu langsung percaya ketika ada yang mengatakan, “Vaksin Covid-19 itu berbahaya”, buat apa dia ikut program vaksinasi Covid-19? Jika ada yang percaya bahwa “Covid-19 itu hanya seperti flu biasa, jadi seharusnya tidak ada status pandemi”, hampir bisa dipastikan bahwa dia akan menjadi orang yang sangat abai terhadap protokol kesehatan.Sebaliknya, ada sebagian orang yang langsung percaya klaim “suatu bahan dapat mencegah Covid-19”. Akhirnya, dia memakai atau menggunakan bahan tersebut, dan percaya bahwa dirinya sudah kebal Covid-19, padahal tidak sama sekali. Informasi-informasi yang tidak valid (tidak benar) semacam ini yang kita kenal dengan istilah “misinformasi”, “disinformasi”, atau “hoaks medis”.Hendaknya seorang muslim selalu memeriksa dengan cermat setiap berita atau kabar yang dia terima. Allah Ta’ala berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 6)Dan sebelum menyebarkan berita-berita yang tidak jelas tersebut, hendaknya kita selalu mengingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ“Cukuplah seseorang itu sebagai pendusta (pembohong), ketika dia menceritakan semua (berita) yang dia dengar.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim no. 5, Abu Dawud no. 4992 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 11845)Beberapa kiat memilih sumber informasi kesehatan yang kredibelMasalah kesehatan merupakan salah satu masalah penting dalam kehidupan kita. Sehingga selayaknya seorang muslim ketika mendapati berita seputar kesehatan, dia memeriksa kebenaran berita tersebut melalui beberapa kiat berikut ini:Pertama, periksa sumber berita. Cek terlebih dahulu, siapa yang membagikan dan dari mana mereka mendapatkan informasi tersebut? Jika berita tersebut dari akun sosial media, cek terlebih dahulu, apakah akun asli atau palsu? Bagaimana aktivitas isi postingan selama ini? Apakah isi postingan terbaru? Jika sumbernya berasal dari website, maka selalu cek siapa yang mengelola website tersebut. Apakah organisasi profesi kesehatan yang resmi? Seperti IDI, IDAI, PAPDI, dan sebagainya. Hal ini bisa dilihat di bagian “about us” atau “contact us”.Baca Juga: Fikih Kesehatan Kontemporer Terkait Puasa Dan RamadhanKedua, baca keseluruhan isi berita.Judul berita terkadang dibuat sensasional untuk menambah jumlah “clicks”. Oleh karena itu, jangan hanya membaca judul berita, bacalah keseluruhan berita. Jangan hanya bergantung pada satu sumber berita, tetapi lacak berita sejenis di media yang lain.Kadang kita mendapatkan broadcast WA yang sangat panjang. Katakanlah ada 10 poin yang disampaikan, 2-3 poin sudah terbukti tidak valid, jangan habiskan waktu untuk membaca sisanya.Ketiga, cek siapakah penulis berita. Lacaklah profil narasumber berita. Dalam bidang kesehatan, ada banyak profesi yang terlibat, bisa jadi dokter, dokter hewan, perawat, bidan, apoteker, dan lain-lain. Jika mereka mengklaim sebagai “profesor”, sangat mudah untuk dilacak melalui google scholar, website institusi afiliasi (universitas, lembaga penelitian, laboratorium, dan sejenisnya), atau akun yang lain. Selain itu, selalu cek, apakah mereka riil? Benar-benar ada di dunia nyata? Rekam jejak publikasi penelitian orang-orang tersebut juga sangat mudah untuk kita cek.Dulu, seorang artis memviralkan seorang tokoh bernama “Profesor Hadi Pranoto”. Setelah dilacak, gelar profesor itu dusta. Dia juga bukan akademisi. Jadi, sangat mudah untuk mengecek kredibilitas seorang “tokoh” di era digital seperti sekarang ini.Keempat, cek tanggal update berita.Selalu cek terlebih dahulu, apakah ini berita terbaru? Apakah masih relevan dengan konteks peristiwa atau kejadian saat ini? Atau ini adalah berita lama yang sudah tidak relevan lagi untuk saat ini? Ilmu kesehatan itu sangat cepat perkembangannya. Sehingga saat membaca suatu informasi di website, website-website yang kredibel akan selalu mencantumkan, kapan terakhir meng-update informasi yang dia tampilkan tersebut.Kelima, periksa bukti ilmiah pendukung.Tips kelima ini membutuhkan sedikit pengalaman dan proses belajar. Apakah informasi tersebut sesuai dengan fakta yang didapatkan melalui penelitian ilmiah? Apakah pernyataan ini masih berupa hipotesis yang masih perlu diklarifikasi lebih lanjut? Jika informasi tersebut disampaikan oleh “pakar”, apakah didukung oleh fakta ilmiah yang sesuai?Intinya, jangan terlalu silau dengan deretan gelar yang ditulis oleh penyampai berita, orang luar (baca: bule) sekalipun. Akan tetapi, jika ada informasi yang sepertinya “kurang pas” atau “meragukan”, jangan ragu untuk melakukan kroscek lebih lanjut. Atau tanyakan ke orang-orang yang Anda percaya.Keenam, apakah Anda memiliki bias?Apakah Anda cenderung percaya dengan informasi model tertentu? Apakah Anda hanya ingin mendapatkan informasi sesuai dengan apa yang Anda inginkan? Apakah Anda cenderung menolak informasi yang tidak sesuai dengan asumsi Anda?Seseorang yang sudah sangat termakan dengan teori konspirasi, dia akan sangat mudah percaya jika ada yang mengatakan, “Pandemi ini hanya akal-akalan”; “Tenaga kesehatan mengeruk keuntungan besar-besaran dari status pandemi”; dan informasi-informasi sejenis.Ketujuh, “Fact checkers”Jika ragu, konsultasikan dengan orang yang lebih ahli, atau media yang bisa membantu mengecek kebenaran isi berita. Terkadang, berita-berita hoaks tersebut sudah dikupas tuntas oleh komunitas atau orang-orang tertentu yang memang pakar dalam masalah tersebut.Beberapa ciri informasi hoaks medisSetelah mengetahui bagaimana kita melakukan kroscek suatu informasi, berikut ini beberapa ciri informasi yang patut kita curigai kalau itu adalah informasi hoaks.Pertama, tidak mencantumkan sumber berita yang jelas atau mencatut nama tokoh (dokter) tertentu. Misalnya, nama dokter tertentu, baik dari dalam maupun luar negeri.Kedua, diksi yang digunakan cenderung berlebihan (“ajaib”; “super”).Ketiga, diakhiri dengan ajakan untuk menyebarkan (share) berita tersebut.Keempat, jika disertai gambar/video, maka bagian yang dimaksud tidak jelas.Kelima, alamat media dan penanggung jawab tidak jelas.Terakhir, jika kita ragu apakah informasi tersebut valid ataukah tidak, tentu mengambil sikap diam, itulah yang lebih selamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,مَنْ صَمَتَ نَجَا“Barangsiapa yang diam, dia selamat.” (HR. Tirmidzi no. 2501, sahih)Baca Juga:***@Rumah Kasongan, 22 Dzulhijah 1442/1 Agustus 2021Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc., PhD.Artikel: Muslim.or.id

Memetik Buah Amal

Allah Ta’ala berfirman,مَّنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ“Barangsiapa melakukan amal salih, maka demi kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang melakukan keburukan, maka hal itu akan merugikan dirinya sendiri. Dan tidaklah Rabbmu berbuat zalim kepada hamba.” (QS. Fushshilat: 46)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Artinya, barangsiapa yang melakukan suatu amal salih, maka sesungguhnya kemanfaatan amalnya itu akan kembali kepada dirinya sendiri. Karena sesungguhnya Allah itu Maha kaya, sehingga tidak membutuhkan perbuatan hamba. Meskipun mereka semuanya berada dalam keadaan sebagaimana orang yang hatinya paling bertakwa, maka hal itu pun tidak akan menambah apa-apa terhadap keagungan kerajaan-Nya barang sedikit pun.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [6: 264] cet. Dar Thaibah)Allah Ta’ala berfirman,وَمَن جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ“Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka hanya saja [manfaat] hal itu [juga] demi kepentingan dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar maha kaya sehingga tidak membutuhkan alam semesta.” (QS. al-’Ankabut: 6)Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya bisa jadi ada seorang yang senantiasa berjihad walaupun tidak pernah menyabetkan pedang -di medan perang- suatu hari pun.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [6: 264] cet. Dar Thaibah)Hidup di dunia tidaklah sepi dari ujian dan cobaan. Oleh sebab itu, hendaknya setiap diri berjuang dan bersungguh-sungguh dalam berupaya menyelamatkan dirinya dari kebinasaan dan demi menggapai kebahagiaan. Allah Ta’ala berfirman,أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan begitu saja masuk surga sedangkan Allah belum mengetahui [melihat] siapakah orang-orang yang bersungguh-sungguh di antara kalian dan untuk mengetahui siapakah orang-orang yang sabar?” (QS. Ali ‘Imran: 142)Dengan ujian inilah akan tampak siapakah orang yang benar keimanannya dengan orang yang hanya berpura-pura. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ“Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka benar-benar Allah akan mengetahui [membuktikan] siapakah orang-orang yang jujur dan akan mengetahui siapakah orang-orang yang dusta.” (QS. al-’Ankabut: 3)Oleh sebab itu, semestinya setiap hamba yang takut akan perjumpaan dirinya dengan Allah dalam keadaan hina untuk mengisi waktunya dengan amal salih dan nilai-nilai keimanan serta menghadapi berbagai fitnah dengan kesabaran. Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Barangsiapa yang berharap bertemu dengan Allah, maka sesungguhnya ketetapan ajal dari Allah itu pasti datang, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-’Ankabut: 5)Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan maksud ayat ini, “Para ulama ahli tafsir sepakat bahwa maksud ayat ini adalah barangsiapa yang merasa takut akan kematian, hendaklah dia melakukan amal salih. Karena sesungguhnya kematian itu pasti akan mendatanginya.” (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an [16: 338-339])Kematian tidak bisa dielakkan. Tidak ada yang bisa berlari untuk menghindar darinya. Oleh sebab itu, -wahai saudaraku- membekali diri untuk menyambutnya adalah sebuah keniscayaan. Allah Ta’ala telah menegaskan,قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ“Katakanlah, Sesungguhnya kematian yang kalian senantiasa berusaha lari darinya, sesungguhnya ia pasti datang menemui kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada Dzat yang mengetahui perkara yang gaib dan yang tampak, lalu Allah akan mengabarkan kepada kalian dengan apa yang dahulu kalian kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah: 8)Baca Juga: Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang MeninggalkannyaMembekali diri dengan keimanan, meninggalkan segala bentuk kemaksiatan, dan berjuang di jalan Allah. Membekali diri dengan sabar dan syukur. Membekali diri dengan tauhid dan amal salih. Membekali diri dengan pundi-pundi ketakwaan. Inilah jalan orang-orang yang merindukan rahmat dan ampunan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah serta berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 218)Dikisahkan, bahwa suatu hari Abud Darda’ radhiyallahu ’anhu melihat seorang lelaki ketika menghadiri jenazah. Lelaki itu berkata, “Jenazah siapakah ini?” Maka Abud Darda’ berkata, “Inilah dirimu, inilah dirimu. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ“Sesungguhnya Engkau pasti mati dan mereka pun pasti akan mati.” (QS. Az-Zumar: 30) (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i karya Abdul Malik al-Qasim, hal. 110)Dikisahkan bahwa Muhammad bin al-Munkadir rahimahullah menangis sejadi-jadinya menjelang kematiannya. Lalu ada orang yang bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Maka beliau mengangkat pandangan matanya ke langit seraya berkata, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah memerintah dan melarang kepadaku. Lalu aku justru berbuat durhaka. Jika Engkau mengampuni [diriku] sungguh Engkau telah memberikan anugerah [kepadaku]. Dan apabila Engkau menghukum [aku], sungguh Engkau tidak melakukan kezaliman [kepadaku].” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 94)Allah Ta’ala berfirman,تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ“Itulah negeri akhirat yang Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menginginkan ketinggian [keangkuhan] di atas muka bumi dan berbuat kerusakan. Dan sesungguhnya, kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Masuk ke alam dunia ini adalah sesuatu yang ringan (mudah). Akan tetapi, keluar darinya -dengan sukses dan selamat, pent- adalah sesuatu yang berat (tidak sederhana).” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 94)Abud Darda radhiyallahu ’anhu berkata, “Jika disebut nama-nama orang yang sudah mati, maka anggaplah keadaan dirimu seperti halnya salah satu di antara mereka.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 68)Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita kesudahan yang baik di alam dunia ini dan menjadikan kita sebagai penghuni surga-Nya. Allahul musta’aan.Baca Juga:**Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id🔍 Dalil Bid'ah, Fatwa Mui Tentang Koperasi Simpan Pinjam, Kapan Harta Waris Dapat Dibagi Menurut Qs. An-nisa 4 11, Hadits Tentang Iri Dengki, Ciri-ciri Keluarnya Air Mani

Memetik Buah Amal

Allah Ta’ala berfirman,مَّنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ“Barangsiapa melakukan amal salih, maka demi kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang melakukan keburukan, maka hal itu akan merugikan dirinya sendiri. Dan tidaklah Rabbmu berbuat zalim kepada hamba.” (QS. Fushshilat: 46)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Artinya, barangsiapa yang melakukan suatu amal salih, maka sesungguhnya kemanfaatan amalnya itu akan kembali kepada dirinya sendiri. Karena sesungguhnya Allah itu Maha kaya, sehingga tidak membutuhkan perbuatan hamba. Meskipun mereka semuanya berada dalam keadaan sebagaimana orang yang hatinya paling bertakwa, maka hal itu pun tidak akan menambah apa-apa terhadap keagungan kerajaan-Nya barang sedikit pun.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [6: 264] cet. Dar Thaibah)Allah Ta’ala berfirman,وَمَن جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ“Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka hanya saja [manfaat] hal itu [juga] demi kepentingan dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar maha kaya sehingga tidak membutuhkan alam semesta.” (QS. al-’Ankabut: 6)Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya bisa jadi ada seorang yang senantiasa berjihad walaupun tidak pernah menyabetkan pedang -di medan perang- suatu hari pun.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [6: 264] cet. Dar Thaibah)Hidup di dunia tidaklah sepi dari ujian dan cobaan. Oleh sebab itu, hendaknya setiap diri berjuang dan bersungguh-sungguh dalam berupaya menyelamatkan dirinya dari kebinasaan dan demi menggapai kebahagiaan. Allah Ta’ala berfirman,أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan begitu saja masuk surga sedangkan Allah belum mengetahui [melihat] siapakah orang-orang yang bersungguh-sungguh di antara kalian dan untuk mengetahui siapakah orang-orang yang sabar?” (QS. Ali ‘Imran: 142)Dengan ujian inilah akan tampak siapakah orang yang benar keimanannya dengan orang yang hanya berpura-pura. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ“Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka benar-benar Allah akan mengetahui [membuktikan] siapakah orang-orang yang jujur dan akan mengetahui siapakah orang-orang yang dusta.” (QS. al-’Ankabut: 3)Oleh sebab itu, semestinya setiap hamba yang takut akan perjumpaan dirinya dengan Allah dalam keadaan hina untuk mengisi waktunya dengan amal salih dan nilai-nilai keimanan serta menghadapi berbagai fitnah dengan kesabaran. Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Barangsiapa yang berharap bertemu dengan Allah, maka sesungguhnya ketetapan ajal dari Allah itu pasti datang, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-’Ankabut: 5)Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan maksud ayat ini, “Para ulama ahli tafsir sepakat bahwa maksud ayat ini adalah barangsiapa yang merasa takut akan kematian, hendaklah dia melakukan amal salih. Karena sesungguhnya kematian itu pasti akan mendatanginya.” (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an [16: 338-339])Kematian tidak bisa dielakkan. Tidak ada yang bisa berlari untuk menghindar darinya. Oleh sebab itu, -wahai saudaraku- membekali diri untuk menyambutnya adalah sebuah keniscayaan. Allah Ta’ala telah menegaskan,قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ“Katakanlah, Sesungguhnya kematian yang kalian senantiasa berusaha lari darinya, sesungguhnya ia pasti datang menemui kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada Dzat yang mengetahui perkara yang gaib dan yang tampak, lalu Allah akan mengabarkan kepada kalian dengan apa yang dahulu kalian kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah: 8)Baca Juga: Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang MeninggalkannyaMembekali diri dengan keimanan, meninggalkan segala bentuk kemaksiatan, dan berjuang di jalan Allah. Membekali diri dengan sabar dan syukur. Membekali diri dengan tauhid dan amal salih. Membekali diri dengan pundi-pundi ketakwaan. Inilah jalan orang-orang yang merindukan rahmat dan ampunan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah serta berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 218)Dikisahkan, bahwa suatu hari Abud Darda’ radhiyallahu ’anhu melihat seorang lelaki ketika menghadiri jenazah. Lelaki itu berkata, “Jenazah siapakah ini?” Maka Abud Darda’ berkata, “Inilah dirimu, inilah dirimu. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ“Sesungguhnya Engkau pasti mati dan mereka pun pasti akan mati.” (QS. Az-Zumar: 30) (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i karya Abdul Malik al-Qasim, hal. 110)Dikisahkan bahwa Muhammad bin al-Munkadir rahimahullah menangis sejadi-jadinya menjelang kematiannya. Lalu ada orang yang bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Maka beliau mengangkat pandangan matanya ke langit seraya berkata, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah memerintah dan melarang kepadaku. Lalu aku justru berbuat durhaka. Jika Engkau mengampuni [diriku] sungguh Engkau telah memberikan anugerah [kepadaku]. Dan apabila Engkau menghukum [aku], sungguh Engkau tidak melakukan kezaliman [kepadaku].” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 94)Allah Ta’ala berfirman,تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ“Itulah negeri akhirat yang Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menginginkan ketinggian [keangkuhan] di atas muka bumi dan berbuat kerusakan. Dan sesungguhnya, kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Masuk ke alam dunia ini adalah sesuatu yang ringan (mudah). Akan tetapi, keluar darinya -dengan sukses dan selamat, pent- adalah sesuatu yang berat (tidak sederhana).” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 94)Abud Darda radhiyallahu ’anhu berkata, “Jika disebut nama-nama orang yang sudah mati, maka anggaplah keadaan dirimu seperti halnya salah satu di antara mereka.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 68)Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita kesudahan yang baik di alam dunia ini dan menjadikan kita sebagai penghuni surga-Nya. Allahul musta’aan.Baca Juga:**Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id🔍 Dalil Bid'ah, Fatwa Mui Tentang Koperasi Simpan Pinjam, Kapan Harta Waris Dapat Dibagi Menurut Qs. An-nisa 4 11, Hadits Tentang Iri Dengki, Ciri-ciri Keluarnya Air Mani
Allah Ta’ala berfirman,مَّنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ“Barangsiapa melakukan amal salih, maka demi kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang melakukan keburukan, maka hal itu akan merugikan dirinya sendiri. Dan tidaklah Rabbmu berbuat zalim kepada hamba.” (QS. Fushshilat: 46)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Artinya, barangsiapa yang melakukan suatu amal salih, maka sesungguhnya kemanfaatan amalnya itu akan kembali kepada dirinya sendiri. Karena sesungguhnya Allah itu Maha kaya, sehingga tidak membutuhkan perbuatan hamba. Meskipun mereka semuanya berada dalam keadaan sebagaimana orang yang hatinya paling bertakwa, maka hal itu pun tidak akan menambah apa-apa terhadap keagungan kerajaan-Nya barang sedikit pun.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [6: 264] cet. Dar Thaibah)Allah Ta’ala berfirman,وَمَن جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ“Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka hanya saja [manfaat] hal itu [juga] demi kepentingan dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar maha kaya sehingga tidak membutuhkan alam semesta.” (QS. al-’Ankabut: 6)Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya bisa jadi ada seorang yang senantiasa berjihad walaupun tidak pernah menyabetkan pedang -di medan perang- suatu hari pun.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [6: 264] cet. Dar Thaibah)Hidup di dunia tidaklah sepi dari ujian dan cobaan. Oleh sebab itu, hendaknya setiap diri berjuang dan bersungguh-sungguh dalam berupaya menyelamatkan dirinya dari kebinasaan dan demi menggapai kebahagiaan. Allah Ta’ala berfirman,أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan begitu saja masuk surga sedangkan Allah belum mengetahui [melihat] siapakah orang-orang yang bersungguh-sungguh di antara kalian dan untuk mengetahui siapakah orang-orang yang sabar?” (QS. Ali ‘Imran: 142)Dengan ujian inilah akan tampak siapakah orang yang benar keimanannya dengan orang yang hanya berpura-pura. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ“Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka benar-benar Allah akan mengetahui [membuktikan] siapakah orang-orang yang jujur dan akan mengetahui siapakah orang-orang yang dusta.” (QS. al-’Ankabut: 3)Oleh sebab itu, semestinya setiap hamba yang takut akan perjumpaan dirinya dengan Allah dalam keadaan hina untuk mengisi waktunya dengan amal salih dan nilai-nilai keimanan serta menghadapi berbagai fitnah dengan kesabaran. Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Barangsiapa yang berharap bertemu dengan Allah, maka sesungguhnya ketetapan ajal dari Allah itu pasti datang, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-’Ankabut: 5)Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan maksud ayat ini, “Para ulama ahli tafsir sepakat bahwa maksud ayat ini adalah barangsiapa yang merasa takut akan kematian, hendaklah dia melakukan amal salih. Karena sesungguhnya kematian itu pasti akan mendatanginya.” (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an [16: 338-339])Kematian tidak bisa dielakkan. Tidak ada yang bisa berlari untuk menghindar darinya. Oleh sebab itu, -wahai saudaraku- membekali diri untuk menyambutnya adalah sebuah keniscayaan. Allah Ta’ala telah menegaskan,قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ“Katakanlah, Sesungguhnya kematian yang kalian senantiasa berusaha lari darinya, sesungguhnya ia pasti datang menemui kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada Dzat yang mengetahui perkara yang gaib dan yang tampak, lalu Allah akan mengabarkan kepada kalian dengan apa yang dahulu kalian kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah: 8)Baca Juga: Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang MeninggalkannyaMembekali diri dengan keimanan, meninggalkan segala bentuk kemaksiatan, dan berjuang di jalan Allah. Membekali diri dengan sabar dan syukur. Membekali diri dengan tauhid dan amal salih. Membekali diri dengan pundi-pundi ketakwaan. Inilah jalan orang-orang yang merindukan rahmat dan ampunan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah serta berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 218)Dikisahkan, bahwa suatu hari Abud Darda’ radhiyallahu ’anhu melihat seorang lelaki ketika menghadiri jenazah. Lelaki itu berkata, “Jenazah siapakah ini?” Maka Abud Darda’ berkata, “Inilah dirimu, inilah dirimu. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ“Sesungguhnya Engkau pasti mati dan mereka pun pasti akan mati.” (QS. Az-Zumar: 30) (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i karya Abdul Malik al-Qasim, hal. 110)Dikisahkan bahwa Muhammad bin al-Munkadir rahimahullah menangis sejadi-jadinya menjelang kematiannya. Lalu ada orang yang bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Maka beliau mengangkat pandangan matanya ke langit seraya berkata, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah memerintah dan melarang kepadaku. Lalu aku justru berbuat durhaka. Jika Engkau mengampuni [diriku] sungguh Engkau telah memberikan anugerah [kepadaku]. Dan apabila Engkau menghukum [aku], sungguh Engkau tidak melakukan kezaliman [kepadaku].” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 94)Allah Ta’ala berfirman,تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ“Itulah negeri akhirat yang Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menginginkan ketinggian [keangkuhan] di atas muka bumi dan berbuat kerusakan. Dan sesungguhnya, kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Masuk ke alam dunia ini adalah sesuatu yang ringan (mudah). Akan tetapi, keluar darinya -dengan sukses dan selamat, pent- adalah sesuatu yang berat (tidak sederhana).” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 94)Abud Darda radhiyallahu ’anhu berkata, “Jika disebut nama-nama orang yang sudah mati, maka anggaplah keadaan dirimu seperti halnya salah satu di antara mereka.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 68)Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita kesudahan yang baik di alam dunia ini dan menjadikan kita sebagai penghuni surga-Nya. Allahul musta’aan.Baca Juga:**Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id🔍 Dalil Bid'ah, Fatwa Mui Tentang Koperasi Simpan Pinjam, Kapan Harta Waris Dapat Dibagi Menurut Qs. An-nisa 4 11, Hadits Tentang Iri Dengki, Ciri-ciri Keluarnya Air Mani


Allah Ta’ala berfirman,مَّنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ“Barangsiapa melakukan amal salih, maka demi kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang melakukan keburukan, maka hal itu akan merugikan dirinya sendiri. Dan tidaklah Rabbmu berbuat zalim kepada hamba.” (QS. Fushshilat: 46)Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Artinya, barangsiapa yang melakukan suatu amal salih, maka sesungguhnya kemanfaatan amalnya itu akan kembali kepada dirinya sendiri. Karena sesungguhnya Allah itu Maha kaya, sehingga tidak membutuhkan perbuatan hamba. Meskipun mereka semuanya berada dalam keadaan sebagaimana orang yang hatinya paling bertakwa, maka hal itu pun tidak akan menambah apa-apa terhadap keagungan kerajaan-Nya barang sedikit pun.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [6: 264] cet. Dar Thaibah)Allah Ta’ala berfirman,وَمَن جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ“Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka hanya saja [manfaat] hal itu [juga] demi kepentingan dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar maha kaya sehingga tidak membutuhkan alam semesta.” (QS. al-’Ankabut: 6)Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya bisa jadi ada seorang yang senantiasa berjihad walaupun tidak pernah menyabetkan pedang -di medan perang- suatu hari pun.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [6: 264] cet. Dar Thaibah)Hidup di dunia tidaklah sepi dari ujian dan cobaan. Oleh sebab itu, hendaknya setiap diri berjuang dan bersungguh-sungguh dalam berupaya menyelamatkan dirinya dari kebinasaan dan demi menggapai kebahagiaan. Allah Ta’ala berfirman,أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan begitu saja masuk surga sedangkan Allah belum mengetahui [melihat] siapakah orang-orang yang bersungguh-sungguh di antara kalian dan untuk mengetahui siapakah orang-orang yang sabar?” (QS. Ali ‘Imran: 142)Dengan ujian inilah akan tampak siapakah orang yang benar keimanannya dengan orang yang hanya berpura-pura. Allah Ta’ala berfirman,وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ“Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka benar-benar Allah akan mengetahui [membuktikan] siapakah orang-orang yang jujur dan akan mengetahui siapakah orang-orang yang dusta.” (QS. al-’Ankabut: 3)Oleh sebab itu, semestinya setiap hamba yang takut akan perjumpaan dirinya dengan Allah dalam keadaan hina untuk mengisi waktunya dengan amal salih dan nilai-nilai keimanan serta menghadapi berbagai fitnah dengan kesabaran. Allah Ta’ala berfirman,مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ“Barangsiapa yang berharap bertemu dengan Allah, maka sesungguhnya ketetapan ajal dari Allah itu pasti datang, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-’Ankabut: 5)Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan maksud ayat ini, “Para ulama ahli tafsir sepakat bahwa maksud ayat ini adalah barangsiapa yang merasa takut akan kematian, hendaklah dia melakukan amal salih. Karena sesungguhnya kematian itu pasti akan mendatanginya.” (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an [16: 338-339])Kematian tidak bisa dielakkan. Tidak ada yang bisa berlari untuk menghindar darinya. Oleh sebab itu, -wahai saudaraku- membekali diri untuk menyambutnya adalah sebuah keniscayaan. Allah Ta’ala telah menegaskan,قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ“Katakanlah, Sesungguhnya kematian yang kalian senantiasa berusaha lari darinya, sesungguhnya ia pasti datang menemui kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada Dzat yang mengetahui perkara yang gaib dan yang tampak, lalu Allah akan mengabarkan kepada kalian dengan apa yang dahulu kalian kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah: 8)Baca Juga: Mengamalkan Sunnah Nabi ketika Banyak yang MeninggalkannyaMembekali diri dengan keimanan, meninggalkan segala bentuk kemaksiatan, dan berjuang di jalan Allah. Membekali diri dengan sabar dan syukur. Membekali diri dengan tauhid dan amal salih. Membekali diri dengan pundi-pundi ketakwaan. Inilah jalan orang-orang yang merindukan rahmat dan ampunan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah serta berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 218)Dikisahkan, bahwa suatu hari Abud Darda’ radhiyallahu ’anhu melihat seorang lelaki ketika menghadiri jenazah. Lelaki itu berkata, “Jenazah siapakah ini?” Maka Abud Darda’ berkata, “Inilah dirimu, inilah dirimu. Allah Ta’ala berfirman,إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ“Sesungguhnya Engkau pasti mati dan mereka pun pasti akan mati.” (QS. Az-Zumar: 30) (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i karya Abdul Malik al-Qasim, hal. 110)Dikisahkan bahwa Muhammad bin al-Munkadir rahimahullah menangis sejadi-jadinya menjelang kematiannya. Lalu ada orang yang bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Maka beliau mengangkat pandangan matanya ke langit seraya berkata, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah memerintah dan melarang kepadaku. Lalu aku justru berbuat durhaka. Jika Engkau mengampuni [diriku] sungguh Engkau telah memberikan anugerah [kepadaku]. Dan apabila Engkau menghukum [aku], sungguh Engkau tidak melakukan kezaliman [kepadaku].” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 94)Allah Ta’ala berfirman,تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ“Itulah negeri akhirat yang Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menginginkan ketinggian [keangkuhan] di atas muka bumi dan berbuat kerusakan. Dan sesungguhnya, kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Masuk ke alam dunia ini adalah sesuatu yang ringan (mudah). Akan tetapi, keluar darinya -dengan sukses dan selamat, pent- adalah sesuatu yang berat (tidak sederhana).” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 94)Abud Darda radhiyallahu ’anhu berkata, “Jika disebut nama-nama orang yang sudah mati, maka anggaplah keadaan dirimu seperti halnya salah satu di antara mereka.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 68)Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita kesudahan yang baik di alam dunia ini dan menjadikan kita sebagai penghuni surga-Nya. Allahul musta’aan.Baca Juga:**Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.Artikel: Muslim.or.id🔍 Dalil Bid'ah, Fatwa Mui Tentang Koperasi Simpan Pinjam, Kapan Harta Waris Dapat Dibagi Menurut Qs. An-nisa 4 11, Hadits Tentang Iri Dengki, Ciri-ciri Keluarnya Air Mani

Kaidah Rezeki: Jika Satu Pintu Rezeki Ditutup, Harus Yakin Masih Ada Pintu yang Lain

Kaidah rezeki berikut sangat manfaat sekali. Jika kita memahaminya dengan baik, kita akan jadi orang yang optimis, semangat kerja, cepat move on dalam hal rezeki. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu. Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari SATU JALAN, yaitu pusar. Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya DUA JALAN REZEKI yang lain (yakni dua puting susu ibunya), dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama. Itulah rezeki susu murni lagi lezat. Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka EMPAT JALAN REZEKI lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan yaitu dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman yaitu dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya. Lalu ketika dia meninggal dunia, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Allah –Ta’ala– membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- DELAPAN JALAN REZEKI, itulah pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja yang ia kehendaki. Dan begitulah Allah Ta’ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhal dan lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga.” (Al-Fawaid, hlm. 94) Intinya, kalau satu pintu rezeki ditutup, akan dibuka pintu rezeki yang lain. Karena rezeki itu sudah dijamin oleh Allah. Baca juga: Mencari Pekerjaan yang Halal   Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ “Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah no. 2144, dikatakan sahih oleh Syaikh Al Albani). Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتَبْطَاءَ الرِّزْقُ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهَ ؛ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ “Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8: 166, hadits sahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 2866). Dalam hadits disebutkan bahwa kita diperintah untuk mencari rezeki dengan cara yang baik atau diperintahkan untuk “ajmilu fit tholab”. Apa maksudnya? Janganlah berputus asa ketika belum mendapatkan rezeki yang halal sehingga menempuh cara dengan maksiat pada Allah. Jangan sampai kita berucap, “Rezeki yang halal, mengapa sulit sekali untuk datang?” Jangan sampai engkau mencelakakan dirimu untuk sekedar meraih rezeki. Baca juga: Syarhus Sunnah, Rezeki dan Ajal   Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan rezeki pada kita semua.   — Selasa pagi, 24 Dzulhijjah 1442 H, 3 Agustus 2021 @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan pembuka pintu rezeki pembuka pintu rezeki rezeki

Kaidah Rezeki: Jika Satu Pintu Rezeki Ditutup, Harus Yakin Masih Ada Pintu yang Lain

Kaidah rezeki berikut sangat manfaat sekali. Jika kita memahaminya dengan baik, kita akan jadi orang yang optimis, semangat kerja, cepat move on dalam hal rezeki. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu. Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari SATU JALAN, yaitu pusar. Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya DUA JALAN REZEKI yang lain (yakni dua puting susu ibunya), dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama. Itulah rezeki susu murni lagi lezat. Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka EMPAT JALAN REZEKI lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan yaitu dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman yaitu dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya. Lalu ketika dia meninggal dunia, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Allah –Ta’ala– membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- DELAPAN JALAN REZEKI, itulah pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja yang ia kehendaki. Dan begitulah Allah Ta’ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhal dan lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga.” (Al-Fawaid, hlm. 94) Intinya, kalau satu pintu rezeki ditutup, akan dibuka pintu rezeki yang lain. Karena rezeki itu sudah dijamin oleh Allah. Baca juga: Mencari Pekerjaan yang Halal   Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ “Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah no. 2144, dikatakan sahih oleh Syaikh Al Albani). Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتَبْطَاءَ الرِّزْقُ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهَ ؛ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ “Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8: 166, hadits sahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 2866). Dalam hadits disebutkan bahwa kita diperintah untuk mencari rezeki dengan cara yang baik atau diperintahkan untuk “ajmilu fit tholab”. Apa maksudnya? Janganlah berputus asa ketika belum mendapatkan rezeki yang halal sehingga menempuh cara dengan maksiat pada Allah. Jangan sampai kita berucap, “Rezeki yang halal, mengapa sulit sekali untuk datang?” Jangan sampai engkau mencelakakan dirimu untuk sekedar meraih rezeki. Baca juga: Syarhus Sunnah, Rezeki dan Ajal   Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan rezeki pada kita semua.   — Selasa pagi, 24 Dzulhijjah 1442 H, 3 Agustus 2021 @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan pembuka pintu rezeki pembuka pintu rezeki rezeki
Kaidah rezeki berikut sangat manfaat sekali. Jika kita memahaminya dengan baik, kita akan jadi orang yang optimis, semangat kerja, cepat move on dalam hal rezeki. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu. Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari SATU JALAN, yaitu pusar. Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya DUA JALAN REZEKI yang lain (yakni dua puting susu ibunya), dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama. Itulah rezeki susu murni lagi lezat. Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka EMPAT JALAN REZEKI lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan yaitu dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman yaitu dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya. Lalu ketika dia meninggal dunia, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Allah –Ta’ala– membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- DELAPAN JALAN REZEKI, itulah pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja yang ia kehendaki. Dan begitulah Allah Ta’ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhal dan lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga.” (Al-Fawaid, hlm. 94) Intinya, kalau satu pintu rezeki ditutup, akan dibuka pintu rezeki yang lain. Karena rezeki itu sudah dijamin oleh Allah. Baca juga: Mencari Pekerjaan yang Halal   Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ “Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah no. 2144, dikatakan sahih oleh Syaikh Al Albani). Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتَبْطَاءَ الرِّزْقُ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهَ ؛ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ “Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8: 166, hadits sahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 2866). Dalam hadits disebutkan bahwa kita diperintah untuk mencari rezeki dengan cara yang baik atau diperintahkan untuk “ajmilu fit tholab”. Apa maksudnya? Janganlah berputus asa ketika belum mendapatkan rezeki yang halal sehingga menempuh cara dengan maksiat pada Allah. Jangan sampai kita berucap, “Rezeki yang halal, mengapa sulit sekali untuk datang?” Jangan sampai engkau mencelakakan dirimu untuk sekedar meraih rezeki. Baca juga: Syarhus Sunnah, Rezeki dan Ajal   Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan rezeki pada kita semua.   — Selasa pagi, 24 Dzulhijjah 1442 H, 3 Agustus 2021 @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan pembuka pintu rezeki pembuka pintu rezeki rezeki


Kaidah rezeki berikut sangat manfaat sekali. Jika kita memahaminya dengan baik, kita akan jadi orang yang optimis, semangat kerja, cepat move on dalam hal rezeki. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu. Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari SATU JALAN, yaitu pusar. Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya DUA JALAN REZEKI yang lain (yakni dua puting susu ibunya), dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama. Itulah rezeki susu murni lagi lezat. Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka EMPAT JALAN REZEKI lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan yaitu dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman yaitu dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya. Lalu ketika dia meninggal dunia, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Allah –Ta’ala– membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- DELAPAN JALAN REZEKI, itulah pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja yang ia kehendaki. Dan begitulah Allah Ta’ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhal dan lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga.” (Al-Fawaid, hlm. 94) Intinya, kalau satu pintu rezeki ditutup, akan dibuka pintu rezeki yang lain. Karena rezeki itu sudah dijamin oleh Allah. Baca juga: Mencari Pekerjaan yang Halal   Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ “Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah no. 2144, dikatakan sahih oleh Syaikh Al Albani). Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتَبْطَاءَ الرِّزْقُ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهَ ؛ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ “Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8: 166, hadits sahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 2866). Dalam hadits disebutkan bahwa kita diperintah untuk mencari rezeki dengan cara yang baik atau diperintahkan untuk “ajmilu fit tholab”. Apa maksudnya? Janganlah berputus asa ketika belum mendapatkan rezeki yang halal sehingga menempuh cara dengan maksiat pada Allah. Jangan sampai kita berucap, “Rezeki yang halal, mengapa sulit sekali untuk datang?” Jangan sampai engkau mencelakakan dirimu untuk sekedar meraih rezeki. Baca juga: Syarhus Sunnah, Rezeki dan Ajal   Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan rezeki pada kita semua.   — Selasa pagi, 24 Dzulhijjah 1442 H, 3 Agustus 2021 @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsamalan pembuka pintu rezeki pembuka pintu rezeki rezeki

Fenomena Mengemis Online

Saat ini ada fenomena mengemis online. Ada orang yang menawarkan program ini. Siapa saja yang butuh bantuan, silakan kirim ke inbox atau DM instagramnya. Akhirnya, banyak netizen memanfaatkan program ini untuk mengatasi masalah hidupnya. Beberapa nasihat dari kami, moga bisa dijadikan pertimbangan bagi para netizen. Daftar Isi tutup 1. Optimis dalam Hal Rezeki dan Rajinlah Bekerja 2. Mengemis itu Terlarang 3. Pengecualian dalam Hukum Mengemis 4. Rincian Hukum Meminta 5. Nasihat Kami untuk yang Membuka Program Ini 6. Buka Donasi Apakah Boleh? 6.1. Baca juga: Optimis dalam Hal Rezeki dan Rajinlah Bekerja Jalani masa pandemi saat ini memang berat. Kami akui itu. Namun, seorang muslim itu diajarkan optimis pada rezeki. Ingat kaidah dari Imam Ibnul Qayyim dari kitab Al-Fawaid: “Jika satu pintu rezeki ditutup, masih akan terbuka pintu rezeki yang lain.” Tak usah mengemis. Karena mengemis itu tanda kita hina di hadapan manusia. Mengemis itu tanda kita malas kerja. Ingat, Abdurrahman bin Auf, bakda hijrah ke Madinah, ia tak punya apa-apa lagi. Ia tetap tak mau dapat gratisan dari Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari. Ketika itu Sa’ad Al-Anshari memiliki dua orang istri dan memang ia terkenal sangat kaya. Lantas ia menawarkan kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf untuk berbagi dalam istri dan harta. Artinya, istri Sa’ad yang disukai oleh ‘Abdurrahman akan diceraikan lalu diserahkan kepada ‘Abdurrahman setelah ‘iddahnya. ‘Abdurrahman ketika itu menjawab, بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِى أَهْلِكَ وَمَالِكَ ، دُلُّونِى عَلَى السُّوقِ “Semoga Allah memberkahimu dalam keluarga dan hartamu. Cukuplah tunjukkan kepadaku di manakah pasar.” Coba lihat, Abdurrahman maunya apa? Kerja bukan! Lihatlah, ia lebih memilih kerja di pasar. Abdurrahman bukan mau dapat gratisan, apalagi mengemis. Baca juga: Kisah Abdurrahman bin Auf yang Didahulukan Saudaranya dalam Hal Harta   Mengemis itu Terlarang Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ “Jika seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia, ia akan datang pada hari kiamat tanpa memiliki sekerat daging di wajahnya.” (HR. Bukhari, no. 1474; Muslim, no. 1040) Dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ “Barangsiapa meminta-minta padahal dirinya tidaklah fakir, maka ia seakan-akan memakan bara api.” (HR. Ahmad 4: 165. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lain) Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ “Meminta-minta adalah seperti seseorang mencakar wajahnya sendiri kecuali jika ia meminta-minta pada penguasa atau pada perkara yang benar-benar ia butuh.” (HR. An-Nasa’i, no. 2600; Tirmidzi, no. 681; Ahmad, 5: 19. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Pengecualian dalam Hukum Mengemis Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir berkata, “Jika seseorang itu butuh, tetapi ia belum mampu bekerja dengan pekerjaan yang layak, maka dibolehkan dengan syarat ia tidak menghinakan dirinya, tidak meminta dengan terus mendesak, tidak pula menyakiti yang diminta. Jika syarat-syarat tadi tidak terpenuhi, maka haram menurut kesepakatan para ulama.” (Fatwa IslamWeb) Al-Munawi disebutkan mengemis atau meminta-minta yang tercela jika terpenuhi syarat: Bukan dalam keadaan butuh. Belum mampu bekerja. Meminta dengan menghinakan diri. Meminta dengan terus mendesak. Menyakiti orang yang diminta. Abu Hamid Al-Ghazali menyatakan dalam Ihya’ Al-‘Ulumuddin, “Meminta-minta itu haram, pada asalnya. Meminta-minta dibolehkan jika dalam keadaan darurat atau ada kebutuhan penting yang hampir darurat. Namun kalau tidak darurat atau tidak penting seperti itu, maka tetap haram.” Baca juga: Meminta Traktir Teman Apa Sama dengan Mengemis Rincian Hukum Meminta Hukum meminta sedekah adalah haram. Hukum meminta diberi hadiah termasuk makruh. Minta-minta salam tempel atau minta ditraktir teman termasuk dalam meminta-minta hadiah. Meminta dalam hajat dunia seperti “tolong dong ambilkan kursi di pojok sana”, permintaan seperti ini tidak masalah sama sekali. Ini termasuk meminta tolong dalam perkara mubah. Seperti halnya pula meminta tolong untuk diambilkan air wudhu, dihukumi boleh. Baca juga: Fikih Meminta-Minta   Nasihat Kami untuk yang Membuka Program Ini Mudah-mudahan niatan ini baik dan berpahala, semoga ikhlas dan mencari rida Allah, tidak berniat cari pujian dan popularitas. Bantulah orang yang benar-benar membutuhkan dengan super selektif. Semoga tidak menjadikan netizen untuk menjadi pengemis online, artinya di lain waktu minta kembali dan akhirnya malas kerja atau bahkan akhirnya membuat netizen mengemis pada influencer lainnya. Memberi sekaligus menasihati dan mendoakan yang diberi, itu lebih baik.   Baca juga: Inilah Pekerjaan Terbaik Menurut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam    Buka Donasi Apakah Boleh? Membuka donasi untuk kemaslahatan umat, misal “donasi untuk penderita covid”, “donasi bangun masjid”, ini bukan membuka jalan kepada kebiasaan mengemis. Ini menjadi pelopor dalam kebaikan sehingga orang lain atau umat terbantukan. Ini pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar para sahabat membantu sahabat lainnya yang susah. Baca juga: Menjadi Pelopor Kebaikan   Ayo kerja! Teruslah berpikir positif dalam berbagai kondisi. Anggap saja semua masalah membuat dirimu naik level. Kita harus yakin, badai kan berlalu. Baca juga: Kerja Dong Jangan Jadi Pengangguran 6 Tips Mencari Kerja   — Selasa pagi, 24 Dzulhijjah 1442 H, 3 Agustus 2021 @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfikih meminta kerja keras mengemis pekerjaan terbaik pekerjaan yang paling baik

Fenomena Mengemis Online

Saat ini ada fenomena mengemis online. Ada orang yang menawarkan program ini. Siapa saja yang butuh bantuan, silakan kirim ke inbox atau DM instagramnya. Akhirnya, banyak netizen memanfaatkan program ini untuk mengatasi masalah hidupnya. Beberapa nasihat dari kami, moga bisa dijadikan pertimbangan bagi para netizen. Daftar Isi tutup 1. Optimis dalam Hal Rezeki dan Rajinlah Bekerja 2. Mengemis itu Terlarang 3. Pengecualian dalam Hukum Mengemis 4. Rincian Hukum Meminta 5. Nasihat Kami untuk yang Membuka Program Ini 6. Buka Donasi Apakah Boleh? 6.1. Baca juga: Optimis dalam Hal Rezeki dan Rajinlah Bekerja Jalani masa pandemi saat ini memang berat. Kami akui itu. Namun, seorang muslim itu diajarkan optimis pada rezeki. Ingat kaidah dari Imam Ibnul Qayyim dari kitab Al-Fawaid: “Jika satu pintu rezeki ditutup, masih akan terbuka pintu rezeki yang lain.” Tak usah mengemis. Karena mengemis itu tanda kita hina di hadapan manusia. Mengemis itu tanda kita malas kerja. Ingat, Abdurrahman bin Auf, bakda hijrah ke Madinah, ia tak punya apa-apa lagi. Ia tetap tak mau dapat gratisan dari Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari. Ketika itu Sa’ad Al-Anshari memiliki dua orang istri dan memang ia terkenal sangat kaya. Lantas ia menawarkan kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf untuk berbagi dalam istri dan harta. Artinya, istri Sa’ad yang disukai oleh ‘Abdurrahman akan diceraikan lalu diserahkan kepada ‘Abdurrahman setelah ‘iddahnya. ‘Abdurrahman ketika itu menjawab, بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِى أَهْلِكَ وَمَالِكَ ، دُلُّونِى عَلَى السُّوقِ “Semoga Allah memberkahimu dalam keluarga dan hartamu. Cukuplah tunjukkan kepadaku di manakah pasar.” Coba lihat, Abdurrahman maunya apa? Kerja bukan! Lihatlah, ia lebih memilih kerja di pasar. Abdurrahman bukan mau dapat gratisan, apalagi mengemis. Baca juga: Kisah Abdurrahman bin Auf yang Didahulukan Saudaranya dalam Hal Harta   Mengemis itu Terlarang Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ “Jika seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia, ia akan datang pada hari kiamat tanpa memiliki sekerat daging di wajahnya.” (HR. Bukhari, no. 1474; Muslim, no. 1040) Dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ “Barangsiapa meminta-minta padahal dirinya tidaklah fakir, maka ia seakan-akan memakan bara api.” (HR. Ahmad 4: 165. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lain) Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ “Meminta-minta adalah seperti seseorang mencakar wajahnya sendiri kecuali jika ia meminta-minta pada penguasa atau pada perkara yang benar-benar ia butuh.” (HR. An-Nasa’i, no. 2600; Tirmidzi, no. 681; Ahmad, 5: 19. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Pengecualian dalam Hukum Mengemis Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir berkata, “Jika seseorang itu butuh, tetapi ia belum mampu bekerja dengan pekerjaan yang layak, maka dibolehkan dengan syarat ia tidak menghinakan dirinya, tidak meminta dengan terus mendesak, tidak pula menyakiti yang diminta. Jika syarat-syarat tadi tidak terpenuhi, maka haram menurut kesepakatan para ulama.” (Fatwa IslamWeb) Al-Munawi disebutkan mengemis atau meminta-minta yang tercela jika terpenuhi syarat: Bukan dalam keadaan butuh. Belum mampu bekerja. Meminta dengan menghinakan diri. Meminta dengan terus mendesak. Menyakiti orang yang diminta. Abu Hamid Al-Ghazali menyatakan dalam Ihya’ Al-‘Ulumuddin, “Meminta-minta itu haram, pada asalnya. Meminta-minta dibolehkan jika dalam keadaan darurat atau ada kebutuhan penting yang hampir darurat. Namun kalau tidak darurat atau tidak penting seperti itu, maka tetap haram.” Baca juga: Meminta Traktir Teman Apa Sama dengan Mengemis Rincian Hukum Meminta Hukum meminta sedekah adalah haram. Hukum meminta diberi hadiah termasuk makruh. Minta-minta salam tempel atau minta ditraktir teman termasuk dalam meminta-minta hadiah. Meminta dalam hajat dunia seperti “tolong dong ambilkan kursi di pojok sana”, permintaan seperti ini tidak masalah sama sekali. Ini termasuk meminta tolong dalam perkara mubah. Seperti halnya pula meminta tolong untuk diambilkan air wudhu, dihukumi boleh. Baca juga: Fikih Meminta-Minta   Nasihat Kami untuk yang Membuka Program Ini Mudah-mudahan niatan ini baik dan berpahala, semoga ikhlas dan mencari rida Allah, tidak berniat cari pujian dan popularitas. Bantulah orang yang benar-benar membutuhkan dengan super selektif. Semoga tidak menjadikan netizen untuk menjadi pengemis online, artinya di lain waktu minta kembali dan akhirnya malas kerja atau bahkan akhirnya membuat netizen mengemis pada influencer lainnya. Memberi sekaligus menasihati dan mendoakan yang diberi, itu lebih baik.   Baca juga: Inilah Pekerjaan Terbaik Menurut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam    Buka Donasi Apakah Boleh? Membuka donasi untuk kemaslahatan umat, misal “donasi untuk penderita covid”, “donasi bangun masjid”, ini bukan membuka jalan kepada kebiasaan mengemis. Ini menjadi pelopor dalam kebaikan sehingga orang lain atau umat terbantukan. Ini pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar para sahabat membantu sahabat lainnya yang susah. Baca juga: Menjadi Pelopor Kebaikan   Ayo kerja! Teruslah berpikir positif dalam berbagai kondisi. Anggap saja semua masalah membuat dirimu naik level. Kita harus yakin, badai kan berlalu. Baca juga: Kerja Dong Jangan Jadi Pengangguran 6 Tips Mencari Kerja   — Selasa pagi, 24 Dzulhijjah 1442 H, 3 Agustus 2021 @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfikih meminta kerja keras mengemis pekerjaan terbaik pekerjaan yang paling baik
Saat ini ada fenomena mengemis online. Ada orang yang menawarkan program ini. Siapa saja yang butuh bantuan, silakan kirim ke inbox atau DM instagramnya. Akhirnya, banyak netizen memanfaatkan program ini untuk mengatasi masalah hidupnya. Beberapa nasihat dari kami, moga bisa dijadikan pertimbangan bagi para netizen. Daftar Isi tutup 1. Optimis dalam Hal Rezeki dan Rajinlah Bekerja 2. Mengemis itu Terlarang 3. Pengecualian dalam Hukum Mengemis 4. Rincian Hukum Meminta 5. Nasihat Kami untuk yang Membuka Program Ini 6. Buka Donasi Apakah Boleh? 6.1. Baca juga: Optimis dalam Hal Rezeki dan Rajinlah Bekerja Jalani masa pandemi saat ini memang berat. Kami akui itu. Namun, seorang muslim itu diajarkan optimis pada rezeki. Ingat kaidah dari Imam Ibnul Qayyim dari kitab Al-Fawaid: “Jika satu pintu rezeki ditutup, masih akan terbuka pintu rezeki yang lain.” Tak usah mengemis. Karena mengemis itu tanda kita hina di hadapan manusia. Mengemis itu tanda kita malas kerja. Ingat, Abdurrahman bin Auf, bakda hijrah ke Madinah, ia tak punya apa-apa lagi. Ia tetap tak mau dapat gratisan dari Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari. Ketika itu Sa’ad Al-Anshari memiliki dua orang istri dan memang ia terkenal sangat kaya. Lantas ia menawarkan kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf untuk berbagi dalam istri dan harta. Artinya, istri Sa’ad yang disukai oleh ‘Abdurrahman akan diceraikan lalu diserahkan kepada ‘Abdurrahman setelah ‘iddahnya. ‘Abdurrahman ketika itu menjawab, بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِى أَهْلِكَ وَمَالِكَ ، دُلُّونِى عَلَى السُّوقِ “Semoga Allah memberkahimu dalam keluarga dan hartamu. Cukuplah tunjukkan kepadaku di manakah pasar.” Coba lihat, Abdurrahman maunya apa? Kerja bukan! Lihatlah, ia lebih memilih kerja di pasar. Abdurrahman bukan mau dapat gratisan, apalagi mengemis. Baca juga: Kisah Abdurrahman bin Auf yang Didahulukan Saudaranya dalam Hal Harta   Mengemis itu Terlarang Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ “Jika seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia, ia akan datang pada hari kiamat tanpa memiliki sekerat daging di wajahnya.” (HR. Bukhari, no. 1474; Muslim, no. 1040) Dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ “Barangsiapa meminta-minta padahal dirinya tidaklah fakir, maka ia seakan-akan memakan bara api.” (HR. Ahmad 4: 165. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lain) Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ “Meminta-minta adalah seperti seseorang mencakar wajahnya sendiri kecuali jika ia meminta-minta pada penguasa atau pada perkara yang benar-benar ia butuh.” (HR. An-Nasa’i, no. 2600; Tirmidzi, no. 681; Ahmad, 5: 19. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Pengecualian dalam Hukum Mengemis Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir berkata, “Jika seseorang itu butuh, tetapi ia belum mampu bekerja dengan pekerjaan yang layak, maka dibolehkan dengan syarat ia tidak menghinakan dirinya, tidak meminta dengan terus mendesak, tidak pula menyakiti yang diminta. Jika syarat-syarat tadi tidak terpenuhi, maka haram menurut kesepakatan para ulama.” (Fatwa IslamWeb) Al-Munawi disebutkan mengemis atau meminta-minta yang tercela jika terpenuhi syarat: Bukan dalam keadaan butuh. Belum mampu bekerja. Meminta dengan menghinakan diri. Meminta dengan terus mendesak. Menyakiti orang yang diminta. Abu Hamid Al-Ghazali menyatakan dalam Ihya’ Al-‘Ulumuddin, “Meminta-minta itu haram, pada asalnya. Meminta-minta dibolehkan jika dalam keadaan darurat atau ada kebutuhan penting yang hampir darurat. Namun kalau tidak darurat atau tidak penting seperti itu, maka tetap haram.” Baca juga: Meminta Traktir Teman Apa Sama dengan Mengemis Rincian Hukum Meminta Hukum meminta sedekah adalah haram. Hukum meminta diberi hadiah termasuk makruh. Minta-minta salam tempel atau minta ditraktir teman termasuk dalam meminta-minta hadiah. Meminta dalam hajat dunia seperti “tolong dong ambilkan kursi di pojok sana”, permintaan seperti ini tidak masalah sama sekali. Ini termasuk meminta tolong dalam perkara mubah. Seperti halnya pula meminta tolong untuk diambilkan air wudhu, dihukumi boleh. Baca juga: Fikih Meminta-Minta   Nasihat Kami untuk yang Membuka Program Ini Mudah-mudahan niatan ini baik dan berpahala, semoga ikhlas dan mencari rida Allah, tidak berniat cari pujian dan popularitas. Bantulah orang yang benar-benar membutuhkan dengan super selektif. Semoga tidak menjadikan netizen untuk menjadi pengemis online, artinya di lain waktu minta kembali dan akhirnya malas kerja atau bahkan akhirnya membuat netizen mengemis pada influencer lainnya. Memberi sekaligus menasihati dan mendoakan yang diberi, itu lebih baik.   Baca juga: Inilah Pekerjaan Terbaik Menurut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam    Buka Donasi Apakah Boleh? Membuka donasi untuk kemaslahatan umat, misal “donasi untuk penderita covid”, “donasi bangun masjid”, ini bukan membuka jalan kepada kebiasaan mengemis. Ini menjadi pelopor dalam kebaikan sehingga orang lain atau umat terbantukan. Ini pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar para sahabat membantu sahabat lainnya yang susah. Baca juga: Menjadi Pelopor Kebaikan   Ayo kerja! Teruslah berpikir positif dalam berbagai kondisi. Anggap saja semua masalah membuat dirimu naik level. Kita harus yakin, badai kan berlalu. Baca juga: Kerja Dong Jangan Jadi Pengangguran 6 Tips Mencari Kerja   — Selasa pagi, 24 Dzulhijjah 1442 H, 3 Agustus 2021 @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfikih meminta kerja keras mengemis pekerjaan terbaik pekerjaan yang paling baik


Saat ini ada fenomena mengemis online. Ada orang yang menawarkan program ini. Siapa saja yang butuh bantuan, silakan kirim ke inbox atau DM instagramnya. Akhirnya, banyak netizen memanfaatkan program ini untuk mengatasi masalah hidupnya. Beberapa nasihat dari kami, moga bisa dijadikan pertimbangan bagi para netizen. Daftar Isi tutup 1. Optimis dalam Hal Rezeki dan Rajinlah Bekerja 2. Mengemis itu Terlarang 3. Pengecualian dalam Hukum Mengemis 4. Rincian Hukum Meminta 5. Nasihat Kami untuk yang Membuka Program Ini 6. Buka Donasi Apakah Boleh? 6.1. Baca juga: Optimis dalam Hal Rezeki dan Rajinlah Bekerja Jalani masa pandemi saat ini memang berat. Kami akui itu. Namun, seorang muslim itu diajarkan optimis pada rezeki. Ingat kaidah dari Imam Ibnul Qayyim dari kitab Al-Fawaid: “Jika satu pintu rezeki ditutup, masih akan terbuka pintu rezeki yang lain.” Tak usah mengemis. Karena mengemis itu tanda kita hina di hadapan manusia. Mengemis itu tanda kita malas kerja. Ingat, Abdurrahman bin Auf, bakda hijrah ke Madinah, ia tak punya apa-apa lagi. Ia tetap tak mau dapat gratisan dari Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari. Ketika itu Sa’ad Al-Anshari memiliki dua orang istri dan memang ia terkenal sangat kaya. Lantas ia menawarkan kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf untuk berbagi dalam istri dan harta. Artinya, istri Sa’ad yang disukai oleh ‘Abdurrahman akan diceraikan lalu diserahkan kepada ‘Abdurrahman setelah ‘iddahnya. ‘Abdurrahman ketika itu menjawab, بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِى أَهْلِكَ وَمَالِكَ ، دُلُّونِى عَلَى السُّوقِ “Semoga Allah memberkahimu dalam keluarga dan hartamu. Cukuplah tunjukkan kepadaku di manakah pasar.” Coba lihat, Abdurrahman maunya apa? Kerja bukan! Lihatlah, ia lebih memilih kerja di pasar. Abdurrahman bukan mau dapat gratisan, apalagi mengemis. Baca juga: Kisah Abdurrahman bin Auf yang Didahulukan Saudaranya dalam Hal Harta   Mengemis itu Terlarang Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ “Jika seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia, ia akan datang pada hari kiamat tanpa memiliki sekerat daging di wajahnya.” (HR. Bukhari, no. 1474; Muslim, no. 1040) Dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ “Barangsiapa meminta-minta padahal dirinya tidaklah fakir, maka ia seakan-akan memakan bara api.” (HR. Ahmad 4: 165. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lain) Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ “Meminta-minta adalah seperti seseorang mencakar wajahnya sendiri kecuali jika ia meminta-minta pada penguasa atau pada perkara yang benar-benar ia butuh.” (HR. An-Nasa’i, no. 2600; Tirmidzi, no. 681; Ahmad, 5: 19. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)   Pengecualian dalam Hukum Mengemis Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir berkata, “Jika seseorang itu butuh, tetapi ia belum mampu bekerja dengan pekerjaan yang layak, maka dibolehkan dengan syarat ia tidak menghinakan dirinya, tidak meminta dengan terus mendesak, tidak pula menyakiti yang diminta. Jika syarat-syarat tadi tidak terpenuhi, maka haram menurut kesepakatan para ulama.” (Fatwa IslamWeb) Al-Munawi disebutkan mengemis atau meminta-minta yang tercela jika terpenuhi syarat: Bukan dalam keadaan butuh. Belum mampu bekerja. Meminta dengan menghinakan diri. Meminta dengan terus mendesak. Menyakiti orang yang diminta. Abu Hamid Al-Ghazali menyatakan dalam Ihya’ Al-‘Ulumuddin, “Meminta-minta itu haram, pada asalnya. Meminta-minta dibolehkan jika dalam keadaan darurat atau ada kebutuhan penting yang hampir darurat. Namun kalau tidak darurat atau tidak penting seperti itu, maka tetap haram.” Baca juga: Meminta Traktir Teman Apa Sama dengan Mengemis Rincian Hukum Meminta Hukum meminta sedekah adalah haram. Hukum meminta diberi hadiah termasuk makruh. Minta-minta salam tempel atau minta ditraktir teman termasuk dalam meminta-minta hadiah. Meminta dalam hajat dunia seperti “tolong dong ambilkan kursi di pojok sana”, permintaan seperti ini tidak masalah sama sekali. Ini termasuk meminta tolong dalam perkara mubah. Seperti halnya pula meminta tolong untuk diambilkan air wudhu, dihukumi boleh. Baca juga: Fikih Meminta-Minta   Nasihat Kami untuk yang Membuka Program Ini Mudah-mudahan niatan ini baik dan berpahala, semoga ikhlas dan mencari rida Allah, tidak berniat cari pujian dan popularitas. Bantulah orang yang benar-benar membutuhkan dengan super selektif. Semoga tidak menjadikan netizen untuk menjadi pengemis online, artinya di lain waktu minta kembali dan akhirnya malas kerja atau bahkan akhirnya membuat netizen mengemis pada influencer lainnya. Memberi sekaligus menasihati dan mendoakan yang diberi, itu lebih baik.   Baca juga: Inilah Pekerjaan Terbaik Menurut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam    Buka Donasi Apakah Boleh? Membuka donasi untuk kemaslahatan umat, misal “donasi untuk penderita covid”, “donasi bangun masjid”, ini bukan membuka jalan kepada kebiasaan mengemis. Ini menjadi pelopor dalam kebaikan sehingga orang lain atau umat terbantukan. Ini pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar para sahabat membantu sahabat lainnya yang susah. Baca juga: Menjadi Pelopor Kebaikan   Ayo kerja! Teruslah berpikir positif dalam berbagai kondisi. Anggap saja semua masalah membuat dirimu naik level. Kita harus yakin, badai kan berlalu. Baca juga: Kerja Dong Jangan Jadi Pengangguran 6 Tips Mencari Kerja   — Selasa pagi, 24 Dzulhijjah 1442 H, 3 Agustus 2021 @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Tagsfikih meminta kerja keras mengemis pekerjaan terbaik pekerjaan yang paling baik
Prev     Next